Baru 50 Tahun, cerita masih belumlah usai


Harapan pada kenyataannya adalah yang terburuk dari segala hal jahat, karena memperpanjang siksaan ~ Friedrich Nietzsche


Tak terasa, 10 tahun telah berlalu sejak tulisan terakhir, banyak pasang-surut terjadi dan mengevaluasinya pun bukan hal mudah, jika dalam skala 100, bisa jadi, kaum karir dan keuangan, menilai tidak lebih dari 50, kaum spritual, juga tidak lebih dari 50, tapi nilai ini tidak berarti apapun, juga tidak pernah final, bukan karena belum usai hingga maut menjemput, namun karena akan tetap dinilai, bahkan hingga sampai belulang raib ditelan masa.

Survey bilang rata-rata harapan hidup orang Indonesia antara 69-72 tahun (di situs ini, konon Aku sampai usia 76 tahun), tentang 50 tahun ke atas, bukanlah halangan, beberapa ikon bahkan baru memulai debutnya, sebut saja: Henry Nestley (50 tahun); Gordon Bwoker, Starcbucks (51 tahun); Ray Croc, Mc Donald (52 tahun); John Stith, Coca Cola (55 tahun); Porsche (56 tahun); Charles Flint, IBM (61 tahun); Kolonel Harland Sanders, KFC (62 tahun); Krishna+Pandawa VS Kurawa, di Kuruksetra (Usia mereka, 80-an tahun); Musa menjadi Nabi (80 tahun) dan milyaran lainnya yang tak terpantau media, tentu saja, juga milyaran lainnya yang hidup terpuruk dan milyaran lainnya yang hidup biasa saja. Bahkan mereka yang tampak menjadi Matahari dan Bulan-pun adalah seperti kata pepatah tentang rumput tetangga selalu tampak lebih hijau, yang bak melihat bulan, indah dikejauhan, tidak dikedekatan.

Walau perubahan dan maut adalah pasti, namun belum sampai di taraf ramai keluh kesah akibat berharap berada di episode lain bukan dalam realita ini, yang bisa jadi, masih ada 50 tahun lagi hingga cerita ini benarlah usai dan jika hendak tidak usaipun, toh tidak ada cerita yang tidak usai, semua akan usai pada waktunya.


Kisah Para Rasul Taianjing


Di suatu hari, Sangaloh taianjing, membangun taman, dan menjadikan si Udin tukang tamannya, ketika, si Udin bangun tidur, disisinya ada cewe, sebutlah dia si Ewe. Sebagai upah ngurus taman, mereka boleh makan buah, tapi hanya gara-gara makan satu jenis buah tok, si Udin dan Ewe diusir keluar taman, disuruh jadi tukang taman di luaran dan dijanjikan setelah mati nanti, boleh balik ke taman dan bahkan taman itu bakal jadi warisan turunannya, untuk kapan waktunya, pokoknya nanti, setelah kiamat kuda.

Jadilah si Udin, rasul taianjing pertama.

Ribuan taun kemudian, seorang anak haram, tukang angon kambing, bernama si Emut, ketiban rejeki nomplok dapat kawin dengan janda yang tuaan 15 tahun, beranak, gatelan karena bekas kawin 2x tapi kaya raya, sebutlah dia si Ijah. Pada suatu hari, si Emut ngaku dapat wangsit via pewisik dan mengklam diri sebagai rasul taianjing terakhir, ajarannya dikenal sebagai ajaran ngewe abadi di taman dengan ratusan pelacur taman. Entah itu gubahannya sendiri ato dari si pewisik, yaitu si Japri, tapi tampaknya tidak tahu bahwa si rasul taianjing pertama saja, yaitu si Udin cuma jadi tukang taman belaka, bukannya tukang ngewe, kebetulan saja, istrinya yang bernama si Ewe.

Si Emut, awalnya mengajar ngumpet-ngumpet sambil menghina sesembahan dan istiadat sukunya, maka akibatnya, Ia ditegur sukunya dan si Emut pun berdalih bahwa Sangaloh taianjing sekarang sudah melarangnya menghina, tapi pada kenyataannya, hinaan terhadap sesembahan dan istiadat sukunya tetap berlanjut, akibatnya, sukunya jengkel, si Emut dan kawanannya kemudian di isolir sampe miskin dan si Ijah pun mati dalam keadaan miskin.

Abis bini mati, dengan dalih memperkuat persodaraan, si Emut berhasil ngembat anak perempuan kawannya sendiri yang baru berusia 6 tahun, sebutlah dia si Isah dan gak tanggung-tanggung, sekalian juga Ia embat berikut babunya, sebutlah dia si Idah. Karena emang dasarnya gatelan, ketika sedang asik ngendon dirumah gebetan lamanya, sebutlah dia si Edun, Massa menggrebeknya, lantas terbitlah dongengan naik kuda lumping istimewa ke 7 taman, dimana Ia bertemu para rasul taianjing lainnya, plus diberi ilmu nungging dari Sangaloh taianjing, yang awalnya harus nungging 50 jurus, berkat kepiawaiannya nawar, sukses, jadi cuma 5 jurus nungging.

Sejak peristiwa dongeng naik kuda lumping istimewa, si miskin tukang hina lagi gatelan ini, makin gak dipercaya, bukannya instropeksi diri, tapi malah makin kesumat, saban ada suku lain lewat kampungnya, Ia hasut agar mau gebuk sukunya sendiri, tentu saja usahanya gagal dan membuat sukunya makin jengkel, Ia jadi ketakutan dan dirancanglah rencana kabur, tapi demi jaga gengsi dihadapan pengikut, lantas Ia buat karangan bahwa Sangaloh taianjing nyuruh mereka merantau ke lain kampung. Di kampung baru, jadilah Ia kepala preman yang idup dari hasil palak iuran keamanan dan disela-sela itu, gatelnya kumat, demi bisa ngembat si Jembut, bini anak angkatnya, Ia bikin karangan bahwa itu perintah Sangaloh taianjing dan tak luput juga beberapa cewe muda lainnya sebagai pemuas dahaga kegatelannya.

Sebagai kepala preman, tak elok, jika merampok di areanya sendiri, maka Ia dan pengikutnya beroperasi dengan kekerasan di area lain, akibatnya, koleksi cewe dan hartanya melimpah, tentu saja, Ia sempatkan diri mengajar bahwa Ia utusan terakhir Sangaloh taianjing, bahwa kiamat kuda sudah sangat dekat, saking dekatnya hampir saja mendahului kedatangannya, pokoknya, kiamat kuda sudah sangat teramat dekat, dan saat itu terjadi, Ia dan pengikutnya, bebas ngewe abadi di taman dengan ratusan pelacur taman. Syarat keanggotaan mudah saja, cukup taat perintahnya, walau membuat mati sekalipun, entah saat ngerampok yang diperintahkan ataupun saat membela ajaran Sangaloh taianjing, pokoknya jika nurut maka selamat dan dapat hadiah ngewe abadi

Ajaran ngewe abadi di taman dengan ratusan pelacur taman dalam waktu yang teramat sangat dekat, bikin ngiler dan linu peler pengikutnya, juga menarik minat para ahli peler lainnya, maka semakin giatlah mereka beroperasi, karena rajin ngerampok, pangkal kaya, bukan cuma harta tapi juga koleksi tawanan cewe untuk ajang asah peler, dan saat mati nanti, saat kiamat kuda tiba, plus hak ngewe abadi di taman bersama ratusan pelacur taman. Mantap betul! Rupanya mereka tidak tahu bahwa si rasul taianjing pertama saja, yaitu si Udin hanya jadi tukang taman belaka, bukan tukang ngewe, kebetulan saja, istrinya yang bernama si Ewe

Disuatu hari, selepas operasi kilat ngerampok, mereka pun pesta daging panggang hadiah si janda yahud yang sukunya baru saja mereka habisi, satu peserta pesta setelah ngembat daging itu, kulitnya berubah jadi hijau, maka tahulah Ia bahwa itu beracun tapi sempat-sempatnya pula Ia ngibul bahwa dagingnya sendiri yang ngomong ada racunnya dan 3 taunan kemudian, akibat racun si janda yahud, sekaratlah si Emut dalam keadaan kesakitan dipangkuan Isah sambil ngutuki si yahud kalang kabut dan ngigo merengek-rengek pada Sangaloh taianjing agar bisa dapet taman.

Pengikut si Emut udah gak tau kenapa mereka lahir, tujuan terlahir, berlagak tahu bahwa tujuan hidup adalah agar bisa masuk taman, kuburan aman, tempat menetap yang bisa bebas makan buah taman, kayak monyet utan, bisa bebas mabok tuak taman bak preman, sambil ngewe ratusan pelacur taman, sementara pengikutnya yang cewe, tidak tahu kalo mereka saat mati gak dapet apa, kecuali bareng jadi objek MULTISOM ABADI, bersama ratusan pelacur taman lainnya.

Mereka tidak tau, bahwa si Udin yang jadi rasul taianjing pertama saja, cuma jadi tukang taman belaka, bukannya tukang ngewe, istrinya saja yang kebetulan bernama si Ewe, sementara pendiri ajaran ngewe abadi di taman bersama ratusan pelacur taman, yaitu si Emut, bahkan sampe wafatnya, gak dapet taman, karena ketika sedang kesakitan saat sekarat sampai mati, sang pewisiknya sendiri, yaitu si Japri, malah bolos, gak nongol lagi.

….Tamat…


Disclaimer:
Kisah ini hanyalah fiksi belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, hanya kebetulan semata. Mencocokloginya, hanya akan membuat anda menjadi tampak sangat, sangat dan sangat tolol.


Apakah Pemakaian PENGERAS SUARA/TOA di MESJID adalah BIDAH?


Konon Allah mengatakan di Quran:

    “..(alyawma) Pada hari ini (akmaltu) telah Kusempurnakan (lakum diinakum) untukmu agamamu, (wa-atmamtu) dan telah Ku-cukupkan (‘alaykum) kepadamu (ni’matii) ni’mat-Ku, (waradhiitu lakumu) dan telah Ku-ridhai bagimu (al-islaama diinan) Islam sebagai agama..” (AQ 5.3)

    Ibn Kathir:
    ..Sehingga, tidak ada yang halal kecuali yang beliau halalkan, tidak ada yang haram kecuali yang diharamkannya, dan tidak ada agama kecuali yang di syari’atkannya.. [Lubaabut Tafsiir Min Ibni Katsiir, Pentahqiq: Dr Abdullah bin Muhammad, Cet ke-1, 1994, Juz 6, hal.18. Pada hal.19: “Asbath mengatakan dari As-Suddi: “Ayat ini turun pada hari Arafah dan setelah itu tidak ada lagi ayat yang turun, yang menyangkut halal dan haram. Kemudian Rasullullah SAW kembali dan setelah itu meninggal dunia”]

Tampaknya, selain dari hal ini, disebut Bi’dah, yang hadis lebih lanjut mendefinisikannya:

    Riwayat [(Ya’qub – Ibrahim bin Sa’ad) dan (‘ Abdullah bin Ja’far Al Makhramiy dan ‘Abdul Wahid bin Abu ‘Aun)] – Sa’ad bin Ibrahim bin ‘Abdur Rahman bin ‘Auf – Al Qasim bin Muhammad – ‘Aisyah – Rasulullah SAW: “Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak” [Bukhari no.2499 dan juga di hadis Muslim no.3242]

Dan menurut Ulama:

  • Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat yang menyerupai syari’at, yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. [Imam Asy Syatibi (w. 790 H/1388 M) dalam Al I’tisham]
  • “Bid’ah adalah i’tiqod (keyakinan) dan ibadah yang menyelishi Al Kitab dan As Sunnah atau ijma’ (kesepakatan) salaf.” (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al Fatawa, 18/346, Asy Syamilah) [Lihat Mengenal Seluk Beluk BID’AH (1): Pengertian Bid’ah]

Jadi, bagaimana dengan TOA MESJID sebagai ALAT BANTU memanggil Shalat?


Jaman Nabi, segala alat bantu panggilan shalat tidak diperkenankan kecuali dengan suara orang:

    Riwayat ‘Imran bin Maisarah – ‘Abdul Warits – Khalid Al Hadza’ – Abu Qilabah – Anas bin Malik: “Orang-orang menyebut-nyebut tentang api dan lonceng (dalam mengusulkan cara memanggil shalat). Lalu ada juga di antara mereka yang mengusulkan seperti kebiasaan orang-orang Yahudi dan Nahrani. Maka Bilal diperintahkan untuk mengumandangkan adzan dengan dua kali dua kali dan iqamat dengan bilangan ganjil.” [Bukhari no.568, 571, juga no.3198]

Suara TOA bukanlah suara manusia tapi suara yang keluar dari alat bantu untuk memperbesar suara, sehingga TIDAK WAJIB DIJAWAB, bagi mereka yang membantah ini, maka bagaimana dengan siaran langsung di TV saat shalat tarawih di Masjidilharam, apakah para muslim akan bermakmum pada televisi?

Maka, tidak mengherankan ada sebuah masjid di Kebon Jeruk, Jakarta, justru mengharamkan penggunaan pengeras suara pada 1970-an. “Karena tidak ada pada zaman Nabi,” kata A.M. Fatwa, koordinator Dakwah Islam Jakarta, kepada Kompas, 12 Januari 1977. [Historia.id]

Lagi pula Quran pun telah mengatakan:

    “(walaa ) dan janganlah (tajhar) kamu mengeraskan suaramu (bishalaatika) dalam shalatmu (walaa) dan janganlah (tukhaafit bihaa) merendahkannya (waibtaghi bayna dzaalika sabiilaan) dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” ” (AQ 17.110).
    “(ud’uu rabbakum) Serulah Tuhanmu (tadharru’an) dengan merendah diri (wakhufyatan) dan suara yang lembut. (innahu laa yuhibbu almu’tadiina) Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (AQ 7.55).
    “(waudzkur rabbaka) Dan ingatlah Tuhanmu (fii nafsika) dalam hatimu (tadharru’an) dengan merendah (wakhiifatan) dan lembut (waduuna) dan tanpa (aljahri mina alqawli) mengeraskan suara (bialghuduwwi waal-aasaali) pada pagi dan petang (walaa takun minaalghaafiliina) dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (AQ 7.205)

Yang juga didukung hadis:

    Riwayat Musa bin Isma’il – ‘Abdul Wahid – ‘Ashim – Abu ‘Utsman – Abu Musa Al Asy’ari: Ketika Rasulullah SAW perang melawan Khaibar, -atau dia berkata- Ketika Rasulullah SAW melihat orang-orang menuruni lembah sambil meninggikan suara dengan bertakbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar laa ilaaha illallah (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah), maka Rasulullah SAW bersabda: “Rendahkanlah, karena kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan Dzat yang ghaib. Sesungguhnya kalian menyeru Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat dan Dia selalu bersama kalian”. [Bukhari no.3883, juga Bukkhari no.2770, 5905, 5930, 6838 juga di hadis muslim no.4873-4, Juga di Musnad Ahmad no.18920]

Kecuali tentunya ditempat sepi yang jarang ada manusia, Nabi telah menyarankannya agar orang itu mengeraskan suaranya sendiri:

    ‘Abdullah bin Yusuf – Malik – Abdurrahman bin Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Abu Sha’sha’ah Al Anshari Al Mazini – Bapaknya -Abu Sa’id Al Khudri: “Aku lihat kamu suka kambing dan lembah (pengembalaan). Jika kamu sedang mengembala kambingmu atau berada di lembah, lalu kamu mengumandangkan adzan shalat, maka keraskanlah suaramu. Karena tidak ada yang mendengar suara mu’adzin, baik manusia, jin atau apapun dia, kecuali akan menjadi saksi pada hari kiamat.” [Bukhari no.574, 861, 3053, 6993]

Beberapa kemudian memasang TOA di tempat tertinggi di Mesjid, konon, mereka menyandarkan pendapatnya dengan hadis ini:

    Riwayat Ahmad bin Muhammad bin Ayyub – Ibrahim bin Sa’d – Muhammad bin Ishaq – Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair – Urwah bin Az-Zubair – seorang wanita dari Bani Najjar: Rumahku adalah rumah yang paling tinggi di antara rumah-rumah yang lain di sekitar Masjid, dan Bilal mengumandangkan adzan subuh di atasnya, dia datang pada waktu sahur lalu duduk di atas rumah untuk melihat fajar, apabila dia telah melihatnya,….Wanita tersebut berkata; Kemudian Bilal mengumandangkan adzan. Katanya; Demi Allah, saya tidak melihat Bilal meninggalkannya satu malam pun, yakni kalimat-kalimat adzan ini. [Abud Dawud no.435, dihukumi hasan oleh Albani]

Entah mengapa Albani meng-hasankan hadis ini, padahal saya saja dapat melihat bahwa hadis ini sekurangnya punya 2 penyakit, yaitu majhul karena satu perawi tidak diketahui namanya, tidak diketahui apakah Ia dapat dipercaya atau tidak. Juga, mengapa Bilal tiap malam mendatangi rumah seorang wanita, siapa wanita ini, istrinya kah? jika istrinya maka rumah Bilal kebetulan ada di tempat tinggi dan jika bukan, maka sangatlah runyam.

Oleh karenanya, bukankah ini artinya pemakaian PENGERAS SUARA/SPEAKER/TOA DI MESJID untuk keperluan adzan (dan ibadah lainnya) menjadi tidak sesuai sunnah Nabi dan para sahabat?


Note:
Untuk persoalan Toa Mesjid, di Indonesia, sekurangnya terjadi 4 kasus yaitu pada kasus:
Bogor: Mesjid Al Hikmah,
Tanjung Balai: Meiliana,
Papua: Tolikara dan
Banda Aceh: Syeh Hasan

Di mancanegara:
Malaysia: Mufti Malaysia Dukung Fatwa Larangan Pengeras Suara Selain Adzan dan Di Penang, Masjid Dilarang Pakai Pengeras Suara Luar Kecuali Azan,
Singapura: Mesjid Sultan, satu satunya yang boleh menggunakan pengeras suara
Rwanda: menutup 700 gereja dan satu masjid terkait urusan pengeras suara;
Jerman: Melarang Adzan dengan pengeras Suara

China: larangan Menggunakan pengeras suara
Jepang: Adzan tidak boleh terdengar di luar Mesjid
Israel: Parlemen menyetujui RUU larangan pengeras suara Adzan
India: Pengeras suara dilarang di seluruh tempat Ibadah (Hindu, Islam, dll) kecuali dengan izin
Saudi Arabia dan Bahrain: Pengeras suara eksternal hanya boleh saat Adzan
Beograd (Serbia): Adzan tidak boleh pake pengeras suara


NENEK MOYANG ADAM-HAWA dan KERA


Tahun 1937-1941, Karl Landsteiner, ahli Kimia, Austria menemukan penggolongan darah type Rhesus dari hasil percobaan ADA atau TIDAKNYA antigen D (faktor rhesus/Rh atau “D”) dan antibodi (anti-Rh) ketika kelinci (belakangan juga tikus Belanda) disuntik sel darah spesies monyet “Rhesus Macaque“. Sel darah Kelinci ini menanggapinya dengan membentuk antibodi terhadapnya. Antigen adalah zat/substansi yang dianggap asing atau berbahaya oleh tubuh yang memicu respon imun berupa produksi antibodi. Antibodi kelinci ini kemudian diujikan pada sel-sel merah penduduk kulit putih kota New York dan 85%-nya mengalami penggumpalan/aglunasi. Nama spesies monyet (Rhesus) kemudian lebih dikenal sebagai nama tes ini dan disebut faktor rhesus (atau faktor antigen D).

Protein Rh/”D” sebagai penanda genetik sfesifik ini bukan hanya ditemukan pada spesies monyet Rhesus namun juga pada ordo primata lainnya termasuk Manusia. Ini menunjukkan, ADANYA PERTALIAN WARISAN DARI LELUHUR UMUM SEBELUM kemunculan kera, monyet, dan manusia. [lihat juga: “Evolution of RH genes in hominoids: characterization of a gorilla RHCE-like gene“, Blancher A1, Apoil PA; “Human Blood Group”, Geoff Daniels, Ch.5.2, hal.197; “The complexities of the Rh system“, M.L.Scott; “Rh Blood Group System” dan “Non-ABO blood group systems phenotyping in non-human primates for blood banking laboratory and xenotransplantation“]

Jadi, ketika darah di test dengan protein antigen D, hasilnya:

  • Bereaksi menjadi senyawa faktor penggumpalan darah, ini disebut Rhesus positif (Rh+ atau antigen D) aau disingkat “+” atau “D”;
  • Tidak bereaksi, ini disebut Rhesus negatif (Rh- atau d) atau disingkat “-” atau “d”.

Masing-masing dari 4 golongan type darah pada system ABO, juga diklasifikasikan sesuai faktor rhesus/Rh, yaitu “-” atau “+”, menjadi A+, A-, B+, B-, AB+, AB-, O+ dan O-. Diantara 8 ini, O- adalah donor paling universal.

Seperti golongan darah, Grup rhesus/Rh atau grup D juga terdiri dari:

  • Rh+/”DD” (homozigot) = “antigen D” diwarisi dari kedua induk;
  • Rh+/”Dd” (heterozigot/hemizigot) = “antigen D diwarisi dari salah satu induk (heterozigot) atau satu induk tidak punya “d” (hemizigot);
  • Rh-/”dd” (nullizigot) = Null atau TIDAK ADA “D” diwarisi dari kedua induk.
  • Kemudian terdapat mutasi genetik yang disebut Du Varian, yaitu hasil seharusnya adalah Rh+ (D), namun karena dalam tes (D) sangat lemah terlihat, ini menjadi terbaca sebagai Rh-/”d”

Secara kasar, dikatakan 85% populasi manusia mempunyai Rh+, sedangkan 15%nya Rh-. [“Rh factor“, The Columbia Encyclopedia, 6th ed. dan “Immunology for Pharmacy – E-Book”, Dennis Fleherty, hal.26. Wikipedia memuat variasi sejumlah negara dengan Rh+ antara 71% s.d 99 %]

Apa implikasinya dengan Faktor Rhesus di atas?
Abarahamik mengklaim bahwa seluruh manusia berasal dari ADAM-HAWA dan HAWA berasal dari RUSUK ADAM, jika benar demikian, maka mereka ini seharusnya kembar identik dalam susunan DNA, namun masalahnya:

  • Jika benar mereka ini perintis, maka seharusnya, sel darah mereka TIDAK MENGANDUNG “zat yang dianggap asing/berbahaya oleh tubuh” (antigen D), sehingga TIDAK juga ada anti D. tapi TIDAK MUNGKIN KEDUANYA mempunyai Rh-/”dd” (homozigot), karena turunannya menjadi TIDAK AKAN PERNAH mewarisi Rh+/”D”
  • Juga, TIDAK MUNGKIN KEDUANYA mempunyai Rh+/”DD” (homozigot), karena turunannya menjadi TIDAK AKAN PERNAH mewarisi Rh-/”dd”
  • Malah, keduanya PASTI mempunyai Rh+/”Dd” (heterozigot), karena 75% turunannya, akan mewarisi Rh+/”D”.

Karena keduanya Rh+/”Dd” (heterozigot) maka TIDAK MUNGKIN mereka manusia pertama, karena mereka-pun harus mewaris gen tersebut dari kedua orang tuanya, oleh karenanya, kedua orang tua mereka-pun, pastilah berbagi LELUHUR YANG SAMA dengan spesies KERA (karena harus Rh+/”D”).

Sebelumnya,
Di tahun 1901, Karl Landsteiner, telah menemukan penggolongan dengan system ABO, yaitu ADA atau TIDAKNYA 2 protein yang disebut antibodi A atau antibodi B pada plasma darah/serum DAN ADA atau TIDAKNYA 2 protein yang disebut antigen A atau antigen B pada sel darah merah/eritrosit manusia, hewan pengerat dan kelompok kera (misal: simpanse, bonobo, dan gorila):

  • Disebut golongan darah A adalah karena adanya antigen A dan adanya antibodi B (antibodi ini melawan antigen B/golongan darah B yang reaksinya adalah terjadinya penggumpalan/aglutinasi dalam darah). Golongan darah A merupakan GRUP/KELOMPOK dari warisan gen sepasang induk yang masing-masing memberikan 1 gen A dan/atau O, sehingga warisannya bisa AA atau AO
  • Golongan darah B (antigen B, antibodi A), genotifnya adalah BB dan BO,
  • Golongan darah AB (ada antigen A & antigen B, tidak ada antibodi A & B), genotifnya adalah AA, BB dan AB
  • Golongan darah O (tidak ada antigen A & B, ada antibodi A & B), genotifnya adalah OO. (awalnya namanya bukan “O” tapi “C” sebagai bagian dari ABC tapi kemudian ABC diubah menjadi ABO, dimana O adalah zero/null)

Tidak hanya pada manusia, bahkan primata pun, beberapa diantaranya, punya 4 type darah system ABO (A, B, AB dan O) seperti manusia, sample:

  • Monyet dunia baru, spesies: Cebus apella, Cebus apella apella, Saimiri ustus
  • Monyet dunia lama, spesies: Macaca fascicularis, Macaca mulatta, Macaca irus, Babon Papio anubis
  • Kera/Hominoid, spesies Orang utan Kalimantan: Pongo pygmaeus pygmaeus [Lihat: “Blood ties: ABO is a trans-species polymorphism in primates”, lihat tabel hal.41 dan “The ABO blood group is a trans-species polymorphism in primates“]

Konon golongan darah type AB adalah spesial (karena ada yang mengklaim bahwa golongan darah ADAM-HAWA adalah AB), namun selain monyet dan kera di atas, golongan darah type AB juga dipunyai orang utan Sumatera, owa/gibbon, monyet tupai, monyet malam, tamarin Saguinus midas niger.

Golongan darah system ABO pada primata modern semuanya berevolusi dari nenek moyang yang sama, sekitar 20 juta tahun lalu, sebelum terpisah menjadi spesies unik, berevolusi pada leluhur yang sama dan bertahan pada setiap spesies sejak saat itu. [“The ABO blood group is a trans-species polymorphism in primates“,
Laure Ségurel]

Apa implikasi dengan golongan darah system ABO?
Karena dikatakan bahwa HAWA berasal dari rusuk ADAM, maka ADAM-HAWA seharusnya mempunyai susunan DNA yang sama yang mengandung SEMUA jejak genetik untuk kelompok golongan darah dan juga pada SEMUA variasinya, jika tidak, maka HAWA TIDAK MUNGKIN berasal dari rusuknya ADAM, malah:

  • Jika benar mereka ini perintis, maka seharusnya sel darah mereka, TIDAK MENGANDUNG “zat yang dianggap asing/berbahaya oleh tubuh” (antigen), dan itu adalah O, namun yang bergenotip OO, TIDAK AKAN PERNAH turunannya mewarisi golongan darah A, B dan AB
  • Juga, TIDAK MUNGKIN KEDUANYA, entah bergenotif AA atau BB, karena turunannya menjadi TIDAK AKAN PERNAH mewarisi golongan darah O
  • Juga, TIDAK MUNGKIN KEDUANYA, bergenotip AO, karena turunannya menjadi TIDAK AKAN PERNAH mewarisi golongan darah B dan AB
  • Juga, TIDAK MUNGKIN KEDUANYA, bergenotip BO, karena turunannya menjadi TIDAK AKAN PERNAH mewarisi golongan darah A dan AB
  • Oleh karenanya, salah satu dari ADAM atau HAWA, HARUS bergenotip AO dan lainnya BO, agar turunannya, mewarisi golongan darah A, B, AB dan O

Malah, misalkan ADAM bergenotip AO, maka ADAM-pun harus mewarisinya dari kedua orang tuanya, salah satu dari kombinasi pasangan: AA x OO atau AO x OO atau AO x AO atau AO x AB atau AO x BO. Demikian pula HAWA jika bergenotip BO, punya 5 kemungkinan kombinasi pasangan orang tua, namun, di antara kombinasi tersebut, hanya AO x AB dan AO x BO yang berpeluang berketurunan yang bergenotip AO (ADAM) maupun BO (HAWA) dari orang tua yang sama.

Jadi, ADAM-HAWA JELAS TIDAK BERKODE DNA sama atau dengan kata lain, HAWA BUKAN BERASAL dari rusuk ADAM, dan ADAM-pun, BUKAN BERASAL dari KENDI atau TANAH, malah, DAPAT DIPASTIKANADAM-HAWA dan kedua orang tua mereka, juga berbagi leluhur yang sama dengan monyet.


Taman di Eden, Yeru-Salem dan Yeru-Salem Baru: PL VS PB


Ditemukan pemukiman berusia 7000 tahun, di Shu’fat, Utara Yerusalem
Ditemukan pemukiman berusia 10.000 tahun, 15 mil di luar Yerusalem, di Jericho
Ditemukan sisa-sisa kamp berusia 23.000 tahun, berikut pisau sabit batu api dan sisa-sisa botani di pantai Laut Galilea
Ditemukan landskap buatan manusia berusia 500.000 tahun dengan 75 alat di tiap meter perseginya, di Pleistocene, Libya
Ditemukan alat canggih dari batu berusia 3,3 juta tahun di Lomekwi, Kenya

…keberadaan manusia,  jauh lebih lama dari berita usang kaum Abrahamik melalui keberadaan Adam-nya..


Menurut Abrahamik (Yahudi, Kristen dan Islam), umur semesta dari Adam sampai kiamat, hanyalah berusia 6000 – 7000 tahun saja:

    R. Kattina: 6000 TAHUN LAMANYA DUNIA INI ADA, dan 1000, akan menjadi senyap, seperti ada tertulis: Hanya Tuhan sendiri yang akan ditinggikan pada hari itu (Yes 2.11). R.Abaye: Itu akan menjadi senyap 2000 TAHUN, seperti yang dikatakan, Setelah 2 HARI, Ia akan menghidupkan kita: PADA HARI KE-3, Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup dihadapannya (Hos 6.2). Ini telah diajarkan sesuai dengan R. Kattina:…1000 tahun dari ke-7 akan menjadi kosong, seperti ada tertulis, Dan Tuhan sendiri akan ditinggikan pada hari itu, ‘dan selanjutnya dikatakan, Mazmur dan nyanyian untuk hari Sabat (Mazm 92.1), artinya hari itu seluruhnya Sabat – dan juga dikatakan, Sebab 1000 tahun dimatamu, namun seperti kemarin, ketika berlalu (Mazm 90.4). Dalam Tanna yang diajarkan Elijah: DUNIA INI ADA 6000 TAHUN. 2000 TAHUN PERTAMA SEPI (tanpa taurat); 2000 TAHUN TAURAT BERKEMBANG; DAN 2000 TAHUN BERIKUTNYA ERA MESIANIK

    [Babylonian Talmud: Tractate Sanhedrin 97a. Tahun ke-6000, sebagai akhir dunia terjadi di tahun 2240 M. ERA MESIANIK, mulai dari hari ke-1 bulan Tishiri/ mulai di TAHUN 239 M atau sekitar 172 tahun setelah kehancuran kuil ke-2/69 M]

    Menurut PENANGGALAN Rabbi Yose bin Halafta (Abad ke-2 M, Rabbi periode Mishana dari Sepphoris, Galile): Dunia diciptakan tanggal 25 Elul tahun ke-0 AM/Julian: 22 Sep 3760 SM dan di hari ke-6, Adam dan Hawa diciptakan: tanggal 1 Tishri 0 AM/Juslian: 7 Ocktober 3761 SM (AM = Anno Mundi, “dalam tahun di dunia”, Lihat juga: “History of the World“, R. Rachel M. Solomin; Juga “Haaretz)

    Elijah berkata kepada R.Yehuda, saudara laki-laki R. Salia: ‘Dunia akan ada tidak kurang dari 85 TAHUN JUBILE, dan DI JUBILE TERAKHIRNYA, anak Daud akan datang (Mazm Sulaiman 17.21). R. Yehuda: ‘Di awal atau di akhir (Jubile terakhir)?, Elijah: ‘Aku tidak tahu’. R Yehuda: ‘Akan selesai penuh atau tidak [Jubile terakhir]?’. Elijah: ‘Aku tidak tahu,’. R. Ashi: Elijah kemudian berkata padanya, ‘Sebelum itu, jangan berharap (kedatangannya), setelahnya engkau boleh menunggunya.’.

    R. Hanan b.Tahlifa lewat R. Joseph: Saya pernah bertemu seorang pria yang punya sebuah gulungan/naskah dalam bahasa Ibrani dengan karakter Asyur…Di dalamnya dinyatakan bahwa 4231 tahun (atau 4291 tahun) setelah penciptaan dunia akan seperti yatim-piatu/tak ada yang urus. [Tahunan kemudian] beberapa akan dalam perang MONSTER LAUT/tanninim, dan beberapa dalam perang GOG dan MAGOG (Yeh 38/39), sisa [periode] akan menjadi era Mesianik, sementara Yang Kudus, yang diberkatiNya, akan memperbarui dunia hanya setelah 7000 tahun. R. Abba putra Raba: Statementnya adalah setelah 5000 tahun”

    [Tractate Sanhedrin 97b. 1 jubile = 50 tahun, 85 Jubile = 4250 Tahun yaitu di tahun 489 M. Jubile terakhir mulai tahun 449 M. Untuk 4231/4291 Tahun = di tahun 470 M/530 M]

    Nasrani:
    Barnabas
    : “dalam 6 hari, yaitu, dalam 6000 tahun, semua ini akan selesai. . . Ini berarti: ketika AnakNya, datang [lagi], akan menghancurkan waktu orang-sesat, dan menghakimi orang durhaka, dan mengganti matahari, dan bulan, dan bintang-bintang, maka akan Dia benar-benar beristirahat pada hari ke-7. (Epistle of Barnabas 15.4-6, sekurangnya dari abad ke-4 M, namun telah dikutip Bapak gereja Alexandria, Titus flavius Clement di abad ke-2)

    Irenaus (Abad ke-2 M): “..Karena hari Tuhan sama seperti 1000 tahun; 2 Petrus 3.8 dan dalam 6 hari tercipta hal-hal yang telah diselesaikan: itu adalah bukti, oleh karena itu, bahwa semua akan berakhir pada tahun ke-6000.” [Against Heresies, 5.28.3]

    Lactantius: “dunia harus terus berada di kondisi sekarang melalui 6 usia, yaitu, 6000 tahun. . . pada akhir 6000 tahun semua kejahatan harus dihapuskan dari bumi, dan kebenaran berkuasa selama 1000 tahun … ” [THE ANTE-NICENE FATHERS, buku 7, ch 15]

    Hippolytus dari Roma (abad ke-2/3 M): “Untuk kemunculan pertama Tuhan kita di dalam daging terjadi di Betlehem, di bawah (Kaisar) Augustus, pada tahun 5500; dan Dia menderita pada tahun 33. Dan 6.000 tahun harus dipenuhi, agar Sabat dapat datang, selebihnya, hari suci “di mana Allah beristirahat dari semua pekerjaan-Nya.”…ketika mereka “akan memerintah bersama dengan Kristus,” ketika Dia datang dari surga, seperti yang dikatakan Yohanes dalam wahyu-nya: karena “1 hari dengan Tuhan adalah sama dengan 1000 tahun.” Karena, kemudian, dalam 6 hari Tuhan menciptakan segalanya, maka itu berarti bahwa 6.000 tahun harus dipenuhi. Dan mereka belum digenapi, seperti yang dikatakan Yohanes: “5 jatuh; 1 sekarang, ”yaitu, yang ke-6; “Yang lain belum datang.”

    Islam:
    7000 tahun dan 6200 tahun telah berlalu
    (Riwayat Ibn Humayd -Yahya b. Wadilh -Yahya b. Ya’qub – Hammad – Sa’id b. Jubayr – Ibn ‘Abbas) VS 6000 tahun dan 5600 tahun telah berlalu (Riwayat Abu Hisham -Mu’awiyah b. Hisham – Sufyan – al-A’mash – Abu Salih – Ka’b dan Riwayat Muhammad b. Sahl b. ‘Askar – Ismail b. ‘Abd al-Karim -‘Abd al-Samad b. Ma’qil -Wahb)

    [“The History of Al-Tabari, Vol I, “General Introduction and From the Creation to the Flood, Franz Roshenthal, 1989, hal.172-174]

    Riwayat Musaddad – Yahya – Sufyan – Abdullah bin Dinar – Ibnu Umar – Nabi SAW: “Sesungguhnya perumpamaan jaman kalian dan jaman umat-umat sebelum kalian, hanyalah bagaikan jarak atara shalat Ashar dan terbenamnya matahari…

    [Bukhari no.4633; Ahmad no.5641; Tabari, Ibid, hal.174-175 (Musaddad – Yahya – Sufyan – Abdullah bin Dinar – Ibnu Umar – Nabi SAW), menurut Tabari hadis ini Sahih; Juga Bukhari no.3200 (Qutaibah bin Sa’id – Laits – Nafi’ – Ibnu ‘Umar – Rasulullah SAW) dan Tirmidhi no.2797]

    Riwayat al-Hasan b. ‘Arafah – Abu al-Yagzan ‘Ammar b.Muhammad, anak adik perempuan Sufyan al-Thawri – Layth b.Abi Sulaym – Mughirah b.Hakim – Abdallah b.’Umar – Rasullullah: hanya tersisa dari dunia ini punahnya umatku dari matahari ketika shalat azhar. [Ibid, Hal 174-175]

    Tabari:
    ..Lebih lanjut, panjang waktu rata-rata shalat Azhar adalah ketika bayangan apapun 2x ukurannya, menurut asumsi terbaik (‘ald al-taharri) -[hingga magrib] adalah panjang waktu 1/2 x 1/7 [= 1/14] hari kurang lebihnya. [Ibid, Hal 182]

    Ini seharusnya 1/14 x 1000 tahun = 71.42 tahun tersisa, namun Tabari berpendapat bukan tentang hari itu tapi 1 minggu.

    Tabari:
    ..hadis sahih dari Ahmad b. ‘Abd al-Rahman b. Wahb – ‘Abdallah b. Wahb – Mu’awiyah b. Salih – ‘Abd al-Rahman b. Jubayr b. Nufayr – Ayahnya Jubayr b. Nufayr – Sahabat Nabi, Abu Tha’labah al-Khushani – Rasullullah: “Tentunya, Allah tidak akan membuat bangsa ini tidak mampu (bertahan) 1/2 hari – mengacu pada hari 1000 tahun“…karena 500 tahun adalah 1/2 hari dari 1000 tahun, .. waktu yang telah berlalu hingga pernyataan Nabi adalah 6500 tahun” [Ibid, 182-183]

YHWH, sejak membuat Taman Eden dan mengusir tukang tamanNya, yaitu Adam, TIDAKLAH PERNAH, Ia nyatakan kepada ADAM, NUH, ABARAHAM, MUSA, YOSUA BIN NUN, DAUD, SULAIMAN, hingga ke AMOZ bahwa ada taman lainnya. Adalah Yesaya bin Amoz, melalui penglihatan/chazown (atau mimpi/chalown, kata ini, saling menggantikan, lihat: Yes 29.7, Daniel 2.28, 4.5) bahwa di satu masa, segenap tentara langit akan hancur, dan langit akan digulung [Yesaya 34.4], kemudian, YHWH menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru YANG DISEBUTNYA SEBAGAI YERUSALEM [Yes 65.17-18], sejak itulah, terutama setelah kehancuran kuil ke-1 dan ke-2, bermunculanlah spekulasi surga alternatif selain TAMAN EDEN di kalangan Yahudi dan Nasrani, yang kemudian disebut sebagai YERUSALEM BARU. Bahkan, Islam-pun mengembangkan varietas lainnya dari spekulasi ini dan menjadikannya makin aneh.

Untuk kronologinya, karena Islam sendiri masih kebingungan dengan ADA atau TIDAK, GAJAH yang menyerang KABAH, juga TIDAK JELAS kapan kepastian tahun kelahiran Nabinya, maka, kronologinya, kita gunakan Alkitab (Perjanjian lama) yang digunakan bersama oleh kaum Yahudi dan Kristen, maka, dengan asumsi bahwa kata tahun hanya berarti tahun, tanpa membedakan tahun lunar/solar atau tahun definisi lainnya, berikut kronologinya:

ADAM – BANJIR (Adam – Nuh, 10 Generasi):
Adam (Hari ke-6, , 1 Tishri 0/7 Ocktober 3761 SM/Kalender Julian) + Set (lahir ketika usia Adam 130) + Enos (ketika usia Set 105) + Kenan (90) + Mahalaleel (70) + Yared (65) + Henokh (162) + Metusalah (65) + Lamekh (187) + Nuh (182) + Sem/SEMIT (500) + Banjir (100) = 1656 Tahun (I) + Arpakhsad lahir (2 tahun setelah air bah) = 1658 Tahun

    Kapan mulai Banjir Nuh?
    Walau tertulis terjadi di tahun 1656 setelah Adam, ini tidak sederhana, karena ada 2 versi pengakuan tentang kapan bulan ke-2 yang dimaksud, sehingga akan berselisih 6 bulan, yaitu, jika menurut versi Rabbi Yehoshua, adalah setelah Nissan = 17 Iyyar 1656 (4 May 2104 SM), tapi jika menurut Rabbi Eliezer, adalah setelah Tishri = 17 Heshvan 1656 (9 Oktober 2105 SM)

    Banjir Nuh, rupanya tidak menghancurkan TAMAN di EDEN (Masoretik: “GAN BA EDEN” atau LXX: “PARADEISON EN EDEM“/”παραδεισον εν εδεμ”, kej 2.8,15) yang setelah banjir, area itu menjadi milik turunan SEM bin NUH (JUBILEE Ch 8.18 atau ini)

    Kata TAMAN/KEBUN = (Yunani/LXX: PARADEISO/”παραδεισω”/KE’PO/”κηπω”) = FIRDAUS = (Persia: PAIRIDAEZA, arti: tertutup tembok) = (Akkadian: Pardesu) = (Ibrani: PARDES/GAN) = (Arab: JANNAH) merujuk pada BARANG YANG SAMA yang ada di EDEN yaitu taman tempat Adam sebelum di usir BUKAN 2 TAMAN BERBEDA, namun di Islam, arti kata yang sama itu digabung sehingga menjadi aneh, “jannaatu al firdawsi” (“TAMAN-TAMAN TAMAN”, AQ 18.107).

    Padahal dari asal usulnya, harusnya ini adalah barang yang sama dengan “jannaati/taman-taman ‘adnin/EDEN” (AQ 16.61, 20.76, 35.33, 38.50, 40.8) yang konon adalah “jannaati/taman-taman al nna’iimi/kenikmatan”(AQ 20.56), “jannatu/taman al khuldi/kekal” (AQ 25.15) dan “jannaatu/taman-taman al ma’waa/kediaman” (AQ 32.19), juga sebagai: “maqaamin/kuburan-kuburan amiinin/aman” (AQ 44.51. Misal: Maqam Ibrahim, AQ 2.193/3.97) atau “daara/tempat al muqaamati/menetap”(AQ 35.35. maqām = tempat, muqām = tinggal + “-ati“) atau “daaru/tempat alssalaami/aman” (AQ 6.127)

    Di sebut Jannah/kebun karena “ada pohon kurma dan anggurnya” (Lisan al-Arab, ibn Manzur, Jilid 13. hal.100) atau “lebatnya pohon yang menghalangi pandangan” (Mu’jam Mufradat Alfaz al-Qur’an, Al-Asfahani, Beirut, hal.204). Taman yang juga kuburan, misalnya: taman Uza tempat Manasye dan putranya, Amon dikubur (2 Raja 21.18, 26), Sirus yang Agung (546 SM) dan banyak lainnya. Taman tersebut merupakan sebuah warisan (AQ 43.72-73, AQ 19.63, AQ 7.43) ketika “KAMI” menciptakan manusia dari suatu saripati dari tanah (AQ 23.10-12) dan kemudian mengusirnya.

    Lokasi taman-Nya Allah adalah di Bumi, Ia gunakan kata “Ihbituu”/”ַותָצ״ץזתַ” [AQ 2.36,38, 7.24, artinya “turun” atau “pergi”: misal AQ 2:61, “ihbithuu mishran“/”Pergilah ke suatu kota”, yaitu dalam kisah Musa dan kaum Israel di padang gurun, dan Sinai jika dibandingkan Mesir, berada pada ketinggian yang sama], yaitu dekat pohon bidara terujung (Sidratil Muntahaa) yang berada DI UFUK YANG TERANG (bialufuqi almubiini, AQ 53.7, 81.23) tempat jibril dilihat Muhammad (AQ 81.23), yaitu, “raaahu (Ia dilihatnya) nazlatan ukhraa (datang lagi/turun lagi) inda (di sisi) sidratil muntahaa (pohon bidara/bekul ujung. Sidra = pohon Bidara/bekul, AQ 34.16, 56.28 + Muntaha = ujung/akhir, AQ 5.91, 53.42, 79.44) indahaa (dekat itu) jannatu almawaa (taman tempat tinggal)” (AQ 53.13-17).

    kata Ufuk = batas/horizon, misalnya, ufuk timur/barat tempat terbit/tenggelamnya matahari, “dan awal waktu maghrib saat matahari terbenam dan waktu akhir saat menghilang di ufuk dan awal waktu isya saat menghilang di ufuk” [Tirmizi no.139] dan lokasi pohon bidara ter-ujung/Sidratul Muntahal bervariasi: di surga ke-6 (Muslim no.252) atau di surga ke-7 (Muslim no.234. Bukhari no.2698, 3598, 6963. Ahmad no.12047, 12212). “..Di bawah Sidratil Muntahal terdapat 4 sungai, 2 tak terlihat dan 2 terlihat..adapun 2 sungai tak terlihat adalah 2 sungai yang berada di surga, sedangkan 2 sungai yang terlihat adalah NIL dan EUFRAT” [Bukhari no.3598, 2968, 5179]. Bahkan, sungai Nil dan Eufrat-pun bervariasi, yaitu di surga ke-1 [Bukhari no.6963], surga ke-2 [Bukhari 9.93.608] atau di surga ke-7 [Muslim 1.314 dan Bukhari 4.54.429; 5.58.227] sesuai yang dilihat Nabi ketika Isra’ Miraj, dengan menunggangi Buraq

    Imam Sadiq (Jaffar al Sadiq, w.148 H) tentang keberadaan Adam: “Di taman, taman di bumi tempat di mana matahari dan bulan meneranginya, dan jika itu surga yang dijanjikan, Mereka tidak pernah keluar” (“جنة من جنات الدنيا يطلع فيها الشمس و القمر و لو كان من جنان الاخرة خرج منها ابد”)[Syiah: Shaykh Saduq (w. 381/991 AH), ‘Ilal al-Sharayi’, vol. 2, hal. 600 dan al-Qummi, Ali bin Ibrahim (W. 307 AH), Tafsir al-Qummi, vol. 1, hal. 43].

    Di manapun itu, BEDA TINGGINYA LANGIT VS DARATAN, TIDAKLAH TERLALU BERJAUHAN, karena: Ketika Adam diturunkan dari surga, kepalanya menyentuh langit sehingga menjadi botak, turunannya mewarisi kebotakannya [“Kitab Al-Tabaqat Al Kabir”, Vol.1, 1.3.42 (Riwayat Ibn Sa`d – Hisham Ibn Muhammad – Ayahnya – Abu Salih – Ibn `Abbas). Juga di Tabari, Vol.1 hal.297]

ADAM – ABRAHAM LAHIR (Nuh – Abraham = 10 Generasi):
Banjir (2) + Selah/Salikh (Usia Arpakshsad 35 tahun) + Abir/Eber/HEBREW (saat Selah 30) + Peleg/Qasim (34) + Rehu (30) + Serug (32) + Nahor (30) + Terah/Azar (29) + Abraham (70) = 292 Tahun (II)
Banjir – Abraham lahir = 100 + (II) = 392 Tahun (IIa)
Nuh lahir – Abraham lahir = 500 + 100 + (II) = 892 Taun (IIb)
Adam – Abraham lahir = (I) + (II) = 1948 Tahun (III)

    Saat Abraham lahir, 292 tahun setelah banjir, SEMUA MOYANGNYA, MASIH HIDUP:
    NUH wafat350 tahun sesudah air bah (Kej 9.28. Abraham: 58);
    SEM/SEMIT wafat 500 tahun setelah Arpakshad lahir (Kej 11.11. Ishak: 110, Yakub: 50);
    ARPAKSHAD wafat 403 tahun setelah Selah lahir (Kej 11.13. Abraham 148, Ishak: 48);
    SELAH wafat 403 tahun setelah Eber lahir (kej 11.15. Ishak: 178, Yakub: 118);
    EBER/HEBREW wafat 430 tahun setelah peleg lahir (Kej 11.17. Ishak: 139, Yakub: 79);
    PELEG/QASIM wafat 209 tahun setelah Rehu lahir (Kej 11.19. Abraham: 48);
    REHU wafat 207 tahun setelah Seruq lahir (Kej 11.21. Abraham: 78);
    SERUQ wafat 200 tahun setelah Nahor lahir (Kej 11.23. Abraham: 101, Yakub: 1);
    NAHOR wafat 119 setelah Terah lahir (Kej 11.25. Abraham: 49) dan
    TERAH wafat 135 tahun setelah Abraham lahir (Kej 11.32)

MENARA BABEL, PENYEBARAN BANGSA dan BAHASA (Abraham: 48 tahun):
NIMROD (atau AMRAFEL) bin KUSH bin HAM bin NUH mendirikan menara Babel di Sinear (Kej 10.6-12) disekitar masa dewasanya ABRAHAM dan PELEG MASIH HIDUP (“DI MASANYA (Peleg) BUMI TERPECAH“, Kej 10.25. Juga Flavius Josephus, “Antiquities of the Jews” (93 M), Buku 1, Bab.6). Setelah wafatnya Peleg (usia Abraham 48), NAHOR (usia Abraham 49) dan Haran, Terah membawa keluarganya MENUJU Kanaan/Haran dan menetap disana [Kej 11.31], sehingga waktu pecahnya bangsa dan bahasa, tidak lebih dari ketika Abraham berusia 48 tahun.

    Kitab Genesis Rabba XXXVII 6-7, tentang Kej 1.25, “Bagi Eber lahir dua anak laki-laki; nama yang seorang ialah Peleg, sebab dalam zamannya bumi terbagi”, R. Jose b. R. Halafta: Eber pastilah nabi yang hebat, mengingat bahwa ia menamai anaknya berdasarkan peristiwa masa depan.

    Seder Olam Rabbah 1.2: ..Nuh hidup 10 tahun setelah perpecahan bahasa, Umur Abraham 48 Tahun diperpecahaan bahasa
    Kitab Jasher bab.10.1 (Abad ke-13 M): Umur Abraham 48 Tahun.
    Kitab Jubilee (Abad ke-2 SM): Kota dan menara mulai dibangun 14 tahun sebelum Nuh wafat, selama 43 tahun, kemudian bangsa dan bahasa pecah [Jubile, translasi R. H. Charles, 1917, bab 10.18-27].
    Pierke Rabbi Elizer: “Rabbi Jehudah: “Pakaian yang dibuat Allah untuk Adam dan istri, diberikan HAM kepada NIMROD sehingga semua binatang bersujud padanya, Para turunan manusia anggap karena kekuatannya, maka mereka menjadikannya raja..”. Nimrod mengajak mereka membangun kota dan menara.. ABRAHAM PUTERA TERAH, LEWAT tempat itu, saat mereka membangunnya dan mengutuk mereka.. Rabi Simeon: Allah bersama 70 malaikat menyerakkan mereka menjadi 70 bangsa dan 70 bahasa.. Rabi Meir: ESAU/EDOM, saudara YAKUB, melihat pakaian NIMROD dan menginginkannya, Ia membunuh NIMROD…” [Pirkei DeRabbi Eliezer, Talmud babilon, 630 – 1030 M, terjemahan Gerald Friedlander, London, 1916, Ch 24.4-12. Tabari, “Prophets and Patriarchs”, Trans. William M. Brinner, 1987, Vol.2, hal 108: “..di hari itu manusia menjadi 73 bahasa dan sebelumnya hanya satu yaitu Syria..” untuk tafsir AQ 16.26].
    L. Ginzberg: 10 TAHUN SEBELUM NUH WAFAT, turunannya menjadi jutaan…Dari 12 orang alim, ABRAHAM menolak pembangunan kota dan menara BABEL oleh Nimrod bin Kush..[Legends of the Jews, pengarang: Louis Ginzberg, 1909, Vol 1.4.93. Tabari, opcit, hal.15, 16: “Nimrod bin Kush bin Ham”, Hal.18: “Nimrod bin Kush bin Kanaan bin Ham”. Hal. 50: “Nimrod bin Kanaan bin Kush bin SEM”, Hal 105: “Nimrod bin Kush bin Kanaan bin Ham”]

    Untuk asumsi populasi, kita gunakan rumus ke-2, Henry M. Moris, apologi Kristen Amerika, pendiri riset dan masyarakat penciptaan dan Institut riset penciptaan, yaitu Sn = 2 x [C(n+1) – 1] / (C – 1), di mana, sepasang orang tua = 2; C = Jumlah pasang anak (laki & perempuan) yang dilahirkan, dan n = jumlah generasi yang diasumsikan TIDAK ADA KEMATIAN hingga 10 Generasi, jadi, jika masing-masing orang tua, dianggap punya 4 pasang anak (Nuh punya 3 anak laki-laki, Yafet = 7, Ham = 5 (Nimrod di usia tua), Sem = 5), maka total jumlah keluarga hingga generasi ke-10 (saat Abraham lahir) = 2.796.202 orang (pria dan wanita) dan untuk 4 pasang orang tua = 11.184.808 orang [Variasi lain: World Population Since Creation, Lambert Dolphin atau lihat populasi tahun pertahun sejak 10.000 SM (Chart di atas)]

    Banjir – Hancurnya menara Babel/Pecahnya bangsa dan bahasa: IIA (392) + 48 = 440 tahun (1665/4 SM)

MELKI/ADONI-SEDEK (Abraham: 78) dan SODOM-GOMORAH (Abraham: 99 tahun):
Abraham meninggalkan Haran menuju Mesir diusia 75 tahun (Kej 12.4) dan menetap di Kanaan (Kej 13.12), bertemu raja Salem, Melkisedek (Kej 14.18. namun di Jasher 16.11-12, Adoni-SEDEK, raja Yerusalem = Sem, masalahnya, SEDEK adalah dewa utama kaum Yebusit, sementara arti Adoni adalah “Tu(h)anku”. Usia Abraham saat itu, 78 tahun). Abraham mengawini Hagar, setelah 10 tahun di Kanaan (Abraham 85 tahun, Kej 16.3) Ismail lahir (Abraham 86 Tahun, Kej 16.16) dan terjadi kehancuran Sodom-Gomoroh (Abraham 99 tahun, Kej 17.1, 19).

ADAM – YAHUDI KELUAR DARI MESIR:
Abraham lahir – Keluar dari Mesir = Ishak (Usia Abraham = 100, 1 tahun setelah Sodom-Gomora/391 tahun setelah banjir, Kej 18.4) + Yakub (Ishak berusia 60) + Yakub dan keluarga di mulai Mesir (Yakub berusia 130) + Musa membawa Yahudi keluar Mesir (430) = 720 Tahun (IV)

    Note:
    Musa adalah Piutnya Yakub: Levi (anak: wafat 137 tahun) – Kehat (cucu: wafat 133 tahun) – Amram (cicit/buyut: wafat 137 tahun) – Musa (Piut: 80 tahun saat eksodus) [Kej.46.11; Kel 6.15-19]. Yakub berusia 130 tahun saat tiba di Mesir (Kej 47.9) = Usia Yusuf 39 tahun (usia 30 tahun bertemu Firaun, Kej 41.46 + 7 tahun masa berlimpah, Kej 41.53 + 2 tahun masa kelaparan, ketika Yakub sekeluarga tiba di Mesir, Kej 45.6) dan Yakub wafat di Mesir pada usia 147 tahun (Kej 48.28):

    • saat Yusuf lahir, Yakub berusia 91 tahun (130 – 39 tahun),
    • saat Lewi lahir, Yakub berusia 79 tahun (91 – 12 tahun),
    • saat tiba di Mesir, Yakub berusia 130 tahun, Lewi berusia 51 tahun (130-79 tahun) atau 48 tahun (“Wasiat Levi” no.58),
    • saat Kehat lahir, Lewi berusia 35 tahun (Wasiat Lewi no.51), saat di Mesir, Kehat berusia 13/16 tahun (48/51 – 35),
    • saat Amram (cucu Levi dari Kehat) dan Yokhebed (anak perempuan Lewi) lahir, Lewi berusia 64 tahun (Wasiat Lewi no.55, 57), Kehat berusia 29 tahun (64 – 35 tahun), Jarak tahun saat tiba di Mesir sampai Amran/Yokhebed lahir = 13/16 tahun 
    • saat Amram mengawini Yokhebed, Lewi berusia 94 tahun (Wasiat Lewi no.57), Kehat berusia 49 tahun (94 – 35 tahun), Amram berusia 30 tahun,
    • saat Musa lahir, Yokhebed berusia 130 tahun (Midrash Rabbah 1.19), artinya kaum Israel sudah 143/146 tahun di Mesir (13/16 + 130 tahun) atau menurut sumber lain, jarak waktu antara wafatnya Levi – Musa = 48 tahun (“The Annals of the World”, James Ussher, hal.34), artinya saat Musa lahir: kaum Israel sudah 134/137 tahun di Mesir (137 – 48/51 + 48) dan Yokhebed berusia 121 tahun (137 – 64 + 48). Usia Yokhebed melahirkan ini bahkan jadi lebih tua dari Sarah (istri Abraham, yaitu 90 tahun, Kej 17.17)

    Menurut Alkitab, lama jarak tahun saat di Mesir sampai Eksodus adalah 400 tahun (Kej 15.13) / 430 tahun (Kel 12.40-41), namun jika merujuk pada jumlah umur para ayah saat mereka lahir sejak di Mesir hingga Musa berumur 80 tahun saat eksodus, maka hanya: 134/137 atau 143/146 (hingga Musa lahir) + 80 (usia Musa saat eksodus) = 214/217 atau 223/226 tahun

    • Tabari: Riwayat Ibn Humayd – Salamah b.Al-Fadl – Muhammad b.Ishaq: Seseorang selain Ibn Ishaq berkata: Lewi lahir ketika Yakub 89 tahun, Kohat lahir ketika Lewi berusia 46 tahun, Izar/Yizhar lahir dari Kohat, Amram lahir dari Izar/Yizhar. Amram dan Jochebed lahir, ketika Izar/Yizahar berusia 60 tahun..Musa lahir dari Amram ketika Amran berusia 70 tahun.. [Tabari, Vol.3, hal.30-31. Di Alkitab, Amram dan Izar adalah saudara kandung karena keduanya anak Kohat, Kel.6.17], maka maka jaraknya adalah 210 tahun [60+70+80 tahun].
    • Josephus: Jarak wafatnya Yusuf dan Musa adalah 4 generasi sejumlah hampir 170 tahun [“Against Apion” buku ke-1 no.35], oleh karena Yusuf wafat di usia 110 tahun [Kej 50.22, 26], Ia hidup 71 tahun (110-39 tahun) sejak Yakub sekeluarga tiba di Mesir, sehingga lama waktu kaum Isrel di Mesir sampai eksodus, jika mengikuti petunjuk Josephus, adalah hanya: 241 tahun

Yakub di Mesir – Musa lahir = 430 – 80 = 350 Tahun (V)
Abraham lahir – Musa lahir = (IV) – 80 = 640 Tahun (VI)
Banjir – Musa lahir = (IIa) + (VI) = 1032 Tahun (VIa)
Nuh lahir – Musa lahir = (IIb) + (VI) = 1532 Tahun (VIb)
Adam – Musa lahir = (III) + (VI) = 2588 Tahun (VII)
Adam – Yahudi keluar dari Mesir = (III) + (IV) = 2668 Tahun (VIII)

ADAM – KUIL KE-1/KUIL SULAIMAN:

Setelah keluar dari Mesir – Daud lahir = Daud memerintah di usia 30 tahun, lamanya 40 tahun, hingga tahun ke-4 Sulaiman/Tahun ke-480 setelah keluar dari Mesir = 480 – 4 – 40 – 30 = 406 Tahun (IX)
Setelah keluar dari Mesir – Kuil Selesai = Tahun ke-4 Sulaiman mulai bangun kuil/480 tahun setelah keluar Mesir dan selesai di tahun ke-11 = 480 + 11 – 7 = 487 Tahun (X)

Musa lahir – Daud lahir = 80 + (IX) = 486 Tahun (XI)
Abraham lahir – Daud lahir = (IV) + (IX) = 1126 Tahun (XII)
Banjir – Daud lahir = (VIA) + (XI) = 1518 Tahun (XIIa)
Nuh lahir – Daud lahir = (VIb) + (XI) = 2018 Tahun (XIIb)
Adam – Daud lahir = (VIII) + (IX) = 3074 Tahun (XIII)
Adam – Kuil Sulaiman = (VIII) + (X) = 3155 Tahun (XIV)

ADAM – KUIL SULAIMAN HANCUR:
Kuil ke-1 Selesai – Kuil ke-1 Hancur = Tahun ke-11 sampai tahun ke-40 pemerintahan Sulaiman (29) + Rehabeam (Lamanya memerintah = 17 tahun) + Abia (3) + Asa (41) + Yosafat (25) + Yoram (8) + Ahazia (1) + Ratu Atalya/Yoas sembunyi (6) + Yoas (40) + Amazia (29) + UZIAH/Azarya (52) + Yotam (16) + Ahas (16) + HIZKIA (29) + Manasye (55) + Amon (2) + Yosia (31) + Yoahas (3 bulan) + Yoyakim (11) + YOYAKHIN (3 bulan) + Hari ke-7 Bulan ke-5 (AV) tahun ke-11 Zedekia/Tahun ke-19 Nebukadnezar II/587 SM, (Memerintah: 605 – 562 SM)/Kuil ke-1/Kuil Sulaiman hancur = 422.5 Tahun (XV)

    Abraham Ibn Ezra dalam komentar Yesaya 6.1: “..kematian Uziah harus diletakan ditahun yang sama ketika YESAYA menjadi Nabi“.  Adam – tahun ke-14 Raja Hizkia = 3155 + 297 = 3452 Tahun. Yesaya menyebut tentang Taman Eden namun dalam perumpamaan (Yes 51.3). Pembicaraan Yerusalem, di langit dan bumi baru, mulai antara tahun ke-15 sampai tahun ke-29-nya Hizkia atau 125 tahun sebelum kehancuran kuil Sulaiman. Yesaya – Hancurnya Kuil ke-1 = 171.5 tahun. YEHEZKIEL (Yeh 28.13, 31.9, 16, 18) menjadi nabi dari tahun ke-30 pembuangan BABEL/tahun ke-5 pembuangan raja YOYAKHIN (Yeh 1.1-2) dan di tahun ke-11, YHWH menyampaikan tentang taman di Eden-Nya kepada Yehezkiel (Yeh 31.1). Kitab Yehezkiel (terutama bab 40-48) berisi catatan awal tentang Yerusalem Baru, berikut deskripsi ukuran Bait Suci dan lainnya. Kitab Zakharia berisi pengembangan Yerusalem barunya Yehezkiel, harapan mereka saat pembuangan Babel, setelah hancurnya kuil ke-1, Yehezkiel fokusnya di membangun Kuil, sementara Zakharia fokus bergeser menjadi perantaraan tuhan dalam pendirian Yerusalem Baru.

Musa lahir – Kuil ke-1/Kuil Sulaiman Hancur = 80 + (X) + (XV) = 989.5 Tahun
Abraham lahir – Kuil ke-1 hancur = (VI) + (XVa) = 1629.5 Tahun
Banjir – Kuil ke-1 hancur = (VIa) + (XVa) = 2021.5 Tahun
Nuh lahir – Kuil ke-1 hancur = (VIb) + (XVa) = 2521.5 Tahun
Adam – Kuil ke-1 hancur = (XIV) + (XV) = 3577. 5 Tahun (XVI)

    Tahun ke-11 Zedekia/Tahun ke-19 Nebukadnezar II 587 SM. Karena, 7 AV 3575 (Kalender Yahudi) = 2 Agustus 186 SM (Julian)/12 Juli 185 SM (Gregorian) atau jika dikonversi agar mendapat 587 SM, maka 27 Juli 587 SM (Julian)/21 Juli 586 (Gregorian) = 7 AV 3174 (Kalender Yahudi). Sama-sama berselisih 401 tahun, setara dengan membuang seluruh tahun pemerintahan raja-raja dari selesainya kuil Sulaiman s.d Yoyakim. Walaupun dengan rata-rata hari tiap bulan (29.53 hari) kalender Yahudi (x 12), maka untuk 3575 tahun = 106.52 tahun, selisih 295.48 tahun untuk menjadi 587 SM

ADAM – KUIL KE-2 (walau bukan herod yang buat, namun disebut kuil Herod/Tembok Ratapan):
Kuil ke-1 Hancur/587 SM – Kuil ke-2 selesai tahun ke-6 Darius I/517 SM (Memerintah: 522 – 486 SM) = 70 Tahun (XVII) [Masa ini disebut masa pembuangan Babel. Hitungan ini menurut kalender Solar/Matahari]

Kuil ke-1 selesai – Kuil ke-2 selesai = (XV) + 70 = 492.5 Tahun
Adam – Kuil ke-2 selesai = (XVI) + (XVII) = 3647.5 Tahun (XVIII)

Kuil ke-2 selesai – 0 MASEHI = 517 Tahun
Kuil ke-1 selesai – 0 MASEHI = 492.5 + 517 = 1009.5 Tahun
Musa Lahir – 0 MASEHI = 989.5 + 587 = 1576.5 Tahun
Menara BABEL/Penyebaran BANGSA dan BAHASA – 0 MASEHI 1629.5 – 48 + 587 = 2168.5 Tahun
Abraham lahir – 0 MASEHI = 1629.5 + 587 = 2216.5 Tahun
Banjir – 0 MASEHI = 2021.5 + 587 = 2608.5 Tahun
Nuh – 0 MASEHI = 2521.5 + 587 = 3108.5 Tahun
Adam – 0 MASEHI = (XVIII) + 517 = 4164.5 Tahun

Kuil ke-2 selesai – Hancur oleh Titus/70 M = 517 +70 = 587 Tahun
ADAM – KUIL KE-2/KUIL HEROD HANCUR oleh Titus = 4164.5 + 70 = 4244.5 Tahun

Demikianlah kronologinya, banjir Nuh, di 2608an tahun SM, TIDAKLAH MUNGKIN terjadi di kehidupan nyata (apalagi jika terjadinya di tahun 2104/5 SM menurut kaum Yahudi), sementara Yerusalem, telah ada lama, jauh sebelum perpecahan bangsa di jaman Abraham dan milik bangsa lainnya.

YERUSALEM (“اورشليم / “ירושלם)


  • KAUM YEBUSIT
    : NUH – HAM – KANAAN – YEBUSIT (Kej 10.6.16)
  • KAUM FILISTIN: NUH – HAM – MISRAIN -… – FILISTIN (Kej 10.6,10-13-14)
  • KAUM ISRAEL/YAHUDI: NUH – SEM/SEMIT – ARPAKSAD – SELAH/SALIKH – ABIR/EBER/IBRANI/HEBREW – PELEG/QASIM – … – ABRAM/ABRAHAM/IBRAHIM – ISHAK – YAKUB/ISRELYEHUDA/YAHUDI – … (Alkitab Kej 11.11-26, Kej 25.19, Kej 29.35, “Sirah Nabawiyah”, Ibn Ishaq, jilid 1, hal.4)
  • KAUM ISMAIL: NUH – SEM/SEMIT – … – EBER/IBRANI/HEBREW – PELEG/QASIM -… – ABRAM/ABRAHAM – ISMAIL – … (Alkitab Kej 11.11-26, Kej 25.19, Ibn Ishaq, op.cit, hal.4)
  • KAUM JURHUM/Istri ISMAIL: NUH – SEM/SEMIT – ARPAKSAD – SELAH/SALIKH – EBER/ABIR – QATHAN/YOKTAN – … [Ibn Ishaq, hal.3, Tabari Vol.2, hal.15]
  • KAUM ARAB: NUH – SEM/SEMIT – [ARAM/IRAM dan LAWAD/LAWID], yaitu:

    SEM – IRAM – AUS – AD
    SEM – IRAM – EBER/ABIR – TSAMUD, JADIS/JUDAIS
    SEM – LAWAD – TASM, IMLAQ, UMAIM.

    Jadi, KAUM ARAB: Turunan dari AD, THAMUD, JADIS/JUDAIS, TASM, IMLAQ dan UMAIM (“Sirah Nabawiyah”, Ibn Ishaq, jilid 1, hal.4, Tabari, Vol.2, hal.17-18]

Dari kronologi versi Alkitab, sebelum bangsa-bangsa tersebar dengan ragam bahasanya, TELAH ADA kaum Yebusit bin Kanaan bin Ham bin Nuh, di Yerusalem, kota Sikhem (Kej 12.6. Kej 33.18, “salem ir sikhem”/”שלם עיר שכם”/Kota Sikhem, Salem), rajanya bernama Melki-SEDEK (Kej. 14.18, Namun di Jasher 16.11-12: Adoni-Sedek BUKAN Melki-sedek, tempatnya Yerusalem BUKAN Salem). Oleh karenanya, dari sejak awal, Yerusalem, memang BUKAN MILIK Yahweh, TIDAK TERKAIT Kaum Israel NAMUN MILIK kaum YEBUSIT, yang menyembah Dewa lain.

YHWH berjanji kepada Musa akan memberikan tanah KANAAN, jika kaum Israel keluar dari Mesir, namun, hingga 40 tahun kemudian, sampai Musa wafat di tanah MOAB, janji ini tidak pernah terpenuhi, malah kaum Israel hanya terlunta-lunta di padang pasir Moab. Musa wafat digantikan Yosua bin Nun, mereka menyebrangi sungai Yordan, di tanah Kanaan, di situ pula, YHWH berjanji akan menghalau suku Yebusit (turunan Kanaan, Kej 10.15-16) penduduk Yerusalem (Yos 3.10).

Sampai tahun ke-5 setelah wafatnya Musa (Yos 14.10), dikatakan, Yosua bin Nun berhasil membunuh Adoni-Sedek, raja Yerusalem (Yos 10.26) maka seharusnya Yerusalem sudah berhasil dikuasai, namun bahkan hingga Yosua wafat dan digantikan kaum Yehuda, ternyata Yerusalem masih tetap milik Yebusit, kaum Yehuda tidak mampu menghalau mereka (Yos 15.65) dan Kanaan masih milik bangsa lain (Hakim 1.1).

Malah, jika sebelumnya Adoni-SEDEK, dikatakan mati ditangan Yosua, namun dikitab hakim-hakim, dinyatakan mati ditangan kaum Yehuda dan namanya-pun, Alkitab ubah menjadi Adoni-BEZEK (Hakim 1.7) kemudian dikatakan kaum Yehuda membakar musnah Yerusalem (Hakim 1.8), namun anehnya, juga dikatakan, Yebusit tetap menduduki Yerusalem (Hak 1.21).

Bahkan 436 tahun kemudian, yaitu jaman Raja Daud/David-pun, Yebusit tetap sebagai penduduk asli Yerusalem (2 Sam 5, 1 Taw 11.4) dan David hanya mampu menguasai bagian bawah Timur gunung Sion ( = benteng/kota david dan Istana David) (2 sam 5.6-9, 1 Taw 11.5-6) dan 44 tahun kemudian, di jaman Raja Shlomo, lokasi kuil Sulaiman-pun hanya di arah Utara kota David, yaitu tempat tertinggi pada bagian Timur gunung Sion. Sementara, bagian Baratnya, tetap milik Yebusit.

Asal-usul Yerusalem
Josephus, sejarahwan Yunani suku Yahudi abad ke-1 M menyatakan bahwa Jerusalem dahulu disebut “SOLYMA” (“Antiquities Of The Jews” VII 3.2) atau “SALEM” (“War Of The Jews”, VI 10.1). Mitologi Yunani: Musuh BELLEROPHON adalah para SOLIMI (Iliad.6, Homer/8 SM), yang merupakan anak-anak SALMA/SALEM, Dewi musim Semi dan sebagai maskulin, Ia adalah Dewa Matahari Solyma atau Selim, Salomo, atau Ab-Salom [“The Greek Myths”, Robert Graves, hal.363]. Solyma tinggal di area pegunungan (Odyssey.5, Homer) di Lykia (Iliad.6). Di Krete, Minos (anak Zeus-Europa) mengusir Sarpedon (anak Zeus-Laodamia) dan lainnya hingga menyingkir ke Milya di Asia, area yang dulu dihuni bangsa Lykia disebut Milya, dan waktu itu bangsa Milyus disebut Solymoi (History of Herodotus, 1.173). Tactitus (56-120 M), sejarahwan Yunani yang hidup sejaman Josephus, dalam “Histories”, buku 5. 2-5 (atau ini), menuliskan:

    Asal-usul Yahudi, ada yang berkata berasal: dari buronan/pengungsi pulau Kreta yang menetap di pantai terdekat Afrika/perbatasan Libya saat Saturnus digulingkan Jupiter, merujuk nama gunung Ida di Kreta yang dihuni kaum Idaei (Idae adalah mahluk supranatual pelayan Juptiter/Saturnus) kemudian menjadi Yudaei; lainnya: dari masa pemerintahan Isis di Mesir dan populasi berlebihan, Hierosolymus dan Yuda memimpin mereka pergi ke daerah-daerah tetangga; lainnya: dari turunan Ethiopia/Aethiopia (Punisia) bermigrasi karena takut/tidak suka pada Raja Cepheus (Ayah dari Andromeda, raja Iope/Joppa); Lainnya: dari pengungsi Asyur, mereka tidak punya tanah sendiri, menduduki daerah di Mesir dan membangun kota; lainnya: dari turunan Solymi (nama Pahlawan di epik/itihasa-nya Homer, anak-nya Zeus/Ares), mendirikan kota yang disebut Hiero-solyma.

    Sebagian besar penulis sepakat bahwa ada suatu penyakit mengerikan yang mengubah bentuk tubuh melanda Mesir. Setelah raja Bocchoris (dinasti ke-24, Mesir, abad ke-8 SM, memerintah 5/6 tahun) berkonsultasi dengan peramal dari Amon/Hamon, mereka mengumpulkan para penderita penyakit tersebut mengangkutnya ke tempat lain dan ditinggalkan di Padang pasir, ketika dalam kesedihan, salah satunya bernama Musa/Moyses menyatakan agar mereka tidak minta bantuan kepada dewa atau manusia, karena keduanya telah meninggalkan mereka, agar percaya pada diri sendiri. Ia kemudian menjadi pimpinan mereka, setelah berjalan panjang, di hari ke-7, sampai di sebuah kota, mengusir penduduknya dan mendirikan kota dan kuil. Moyses mengenalkan kultus baru, kebalikan dari semua agama saat itu. Di kuil mengkuduskan hanya satu binatang (yaitu keledai), mengurbankan domba jantan olok-olok bagi Dewa Amon/Hamon, Lembu jantan karena Mesir menghormati Dewa Apis, tidak makan Babi, karena derita mereka terinfeksi kusta dan dianggap berasal dari hewan ini, Puasa mengenang peristiwa kelaparan panjang yang mereka alami, Roti tanpa ragi mengenang peristiwa perebutan jagung, hari ke-7 penghentian kerja, mengenang Dewa Saturnus, karena berasal dari Idaei terkait terusirnya Saturnus, atau dari 7 benda langit, orbitnya terjauh. (Hari Sabbath/ke-7, di Midrash kitab Kejadian/abad ke-5 M: benda langit ke-7 Saturnus/Saturn shabtai. Penyair Latin bernama Tibulus, abad ke-1 SM: “dies Saturni sacra“/hari saturnus/ke-7 keramat)

Arti dari Hiero/Jeru-Solyma/Salem:

  • Hiero biasanya diartikan suci/sakral/keramat. Namun tampaknya Hiero berasal dari hēr = “penjaga/pelayan/pelindung”. Hero dalam epik-nya homer no.75: Sebutan untuk Anchises, Pria kecintaan Aphrodite; Bentuk feminim adalah Hera = ciri-ciri yang menonjolkan/terlihat.
  • YIREH (“יִרְאֶה” = Melihat BUKAN menyediakan: “pelihat” di 1 SAM 9.9; 1 Taw 9.22; Amos 7.12) + SHALEM (“שלם” = Dewa Shalem/Dewa Fajar atau “Adil/damai” atau lembah Syawe, Moria, raja Sodom, Melkisedek dari Salem menuju tempat Abraham yang dalam pelarian dan memberkatinya, Kej 14.13-20).

    Tempat ini, oleh Abraham, menurut teks versi Masoretik kej 22.14, disebut, Y@HOVA YIREH/Tuhan melihat. NAMUN di teks Qumran/4QGen-Exod, Kej 22.14, yang lebih tua dari Masoretik, kalimatnya: ELOHIM YIREH/Para Allah melihat dan ini justru konsisten dengan Kej 22.8-nya teks Masoretik, yang menggunakan: ELOHIM YIREH. Gambar di samping ini dari: “The Dead Sea Scrolls: A Very Short Introduction”, Timothy H. Lim, hal.53-54).

    Namun, karena telah ada pula kata “Yeru-el/Yeru-baal/Yeru-sha/Yeru-yah”, JUGA, Yerusalem telah ada sebelum Abraham lahir, maka “Yireh” BUKANLAH asal dari “Yeru”-nya Yeru-salem.

  • Yeru (“יְרוּ”/Yarah) = diletakkan/didirikan (Ayub 38.6) → terdapat 5 kata terkait “Yeru”:

    (1) “ירו-אל”/Yeru-EL (2 taw 20.16, Yeru/”ירו” + EL/”אֵל”/Tuhan);
    (2) “יר-בעל”/Yeru-Baal (Hakim 6.32, “בעל”/Baal/Tu(h)an);
    (3) “צרו-יה”/Zeru-Yah/Yeru-Yah (2 Sam 2.13. Yoab bin Yeruyah. Kata “Yah” dianggap kependekan dari “YAHWEH”);
    (4) “ירו-שׁא”/ (2 Raja 15.33, “שׁא”/Sha (har?), “Yerusha bat zadok (“בת צדוק”/anak perempuan Zadok/Sedek)”. Sangat mungkin kata “Sha” juga kependekan dari “Shahar”/Dewa Fajar) dan
    (5) “ירו-שׁלם”/Yeru-Salem (Yosua 10.1, Adoni-Zedek/”אדני צדק”, Raja/”מלך” Yerusalem) dan di Kej 14.18, “Melki-Sedek/”ומלכי צדק”, Raja/”מלך” Salem/”שלם” atau di Jasher 16.11-12: disebut Adoni-Sedek BUKAN Melki-Sedek, tempatnya disebut Yerusalem BUKAN Salem. Dewa Salem = Dewa Senja, Sementara, Dewa Sedek = Dewa Fajar”.

    Di 5 kata di atas, “El”, “BAAL”, “SALEM” adalah nama-nama Tuhan/Dewa lain, oleh karenanya, asal kata Yerusalem, TIDAK TERKAIT bangsa Yahudi dan Yahweh

Kaum Yebusit, pemuja Dewa EL-LYON yang punya nama lain, SEDEK dan SALIM. Nama SALIM menjadi nama anaknya David, yaitu SHLOMO (Ibunya orang kanaan, Batsheba) dan juga nama kota itu. [“A History of Religion East and West: An Introduction and Interpretation”, Trevor Ling, hal.45].

SEDEK, kata “Sidki-ilu” muncul dalam nama Jalan (764 SM), “Sidki-Milk” dalam koin phoenisia, 449-420 SM dan Sabean: “Sidki-el”. Philo dari Byblos menyatakan dewa Sydyk/SEDEK adalah dewa Phunisia. [“The Book of Judges: with Introduction and Notes”, C. F. Burney, hal. 41-42] dan juga terkait dengan Shamas. ZEDEQ adalah ANAK DEWI MATAHARI, SHAMAS [“Reinstating the Divine Woman in Judaism”, Jenny Kien, hal.65]. EL-SEDEK, Dewa Utama Kanaan kuno, disebut MELCHI/MALKI/MALEK/ADONI-SEDEK atau “SEDEK adalah RAJAKU” [“Why Priests?: A Failed Tradition“, Garry Wills].

SALEM/”שלם”, di kebudayaan Ugarit/kanaan adalah Dewa SENJA. Kata “SALEM” muncul di tablet EBIA, abad ke-24 SM, di Tell Mardik, Syria, juga di teks Mesir, abad ke-18/19 SM, dalam kata “RUSHALIMUM”, di surat Armana abad ke-14 SM, permintaan bantuan raja Abdi-Heba, “URUSALIM” ke Raja Mesir untuk melawan Habiru dan di teks Assyria, Sennachrib abad ke-8 SM dalam kata “URSALIMMU”. Arti Yeru = “diletakan”, dari kata Yeru-el, “Diletakan Tuhan”, jadi Yerusalem = “Diletakan Salem”, salah satu dari 2 dewa kaum Ugarit (Shahar/Dewa Fajar dan Shalim/Dewa Senja). Dalam Sumeria, tanda URU di “URUSALIM” berarti KOTA. Dalam latin, “Ieroysalem” dan “HeieroSOLyma”. Di mana, SOL = Dewa Matahari [“Cities of the Biblical World: An Introduction to the Archaeology, Geography, and History of Biblical Sites”, LaMoine F. DeVries, hal.200, juga di “The Archaeology of the Jerusalem Area, W. Harold Mare, hal.20, juga “The International Standard Bible Encyclopedia, Vol.2, Geoffrey W. Bromiley, hal.1000 dan “Getting Back Into the Garden of Eden”, Edward Conklin, hal.22]

Salem, Dewa senja Kanaan, adalah Dewa KETERATURAN dan KEADILAN. Baik David maupun Shlomo menghindari friksi, tidak hanya antar dua kebudayaan, yaitu Kanaan dan kaum pendatang baru Yahudi, namun juga antar Dewa SALEM dan Dewa YAHWE, Dewa perang kaum Yahudi. Untuk menghormati Salem, Shlomo mengubah kuil yang asalnya terbuka menjadi beratap dan mengayomi dua grup kepercayaan berbeda. Bernhard Lang, menambahkan dalam catatan kakinya, tulisan Keel, “Die Geschichte Yerusalem undi Entstehung des Monotheismus”, vol. 1, hlm. 264-333: “bukti yang berasal dari nubuat alkitabiah yang kata-kata aslinya, meski dikaburkan dalam teks Ibrani, dapat direkonstruksi berdasarkan teks Septuagiant/Yunani: ‘Matahari tahu dari langit bahwa Yahweh akan tinggal dalam kegelapan. Jadi, bangunlah rumah bagiku, sebuah rumah yang agung sehingga aku dapat tinggal di dalamnya lagi ‘(direkonstruksi dari 1 Raja-raja 8:53 teks Yunani; bahasa Ibrani hanya memiliki fragmen yang diedit dalam 1 Raja-raja 8: 12-13). Implikasinya adalah Dewa matahari butuh sebuah kuil dengan ruang gelap untuk menampung tamunya, Yahweh” [“Hebrew Life and Literature: Selected Essays“, Bernhard Lang].

Kuil yang dibangun Shlomo dalam masa emas ini disebut kuil pertama, namun TIDAK ADA BUKTI tentang masa keemasan tersebut, TIDAK ADA BUKTI Israel merupakan bangsa besar dan TIDAK ADA BUKTI keberadaan kota-kota dengan kemegahan struktur bangunannya. Karakter Shlomo, Dewa Matahari dari On merupakan versi Israel dari Dewa matahari Mesir, Ra, dari Heliopolis. TIDAK ADA BUKTI ARKEOLOGI kuil Shlomo kecuali hanya dari alkitab Ibrani. [“Hiramic Brotherhood: Ezekiel’s Temple Prophesy“, William Hanna].

Malahan, ditemukan pemukiman berusia 7000 tahun, di Shu’fat, Utara Yerusalem atau penemuan pemukiman berusia 10.000 tahun, 15 mil di luar Yerusalem, di Jericho atau penemuan sisa-sisa kamp berusia 23.000 tahun, berikut pisau sabit batu api dan sisa-sisa botani di pantai Laut Galilea atau penemuan landskap buatan manusia berusia 500.000 tahun dengan 75 alat di tiap meter perseginya, di Pleistocene, Libya atau penemuan alat canggih terbuat dari batu berusia 3,3 juta tahun di Lomekwi, Kenya.
.
…Keberadaan manusia jauh lebih lama dari berita usang kaum Abrahamik melalui keberadaan Adam-nya..

YERUSALEM BARU: PL VS PB
Dalam penglihatan/mimpi YESAYA bin AMOZ, dikatakan bahwa YHWH menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru YANG DISEBUTNYA SEBAGAI YERUSALEM [Yes 65.17-18], jika Yerusalem-nya Yesaya adalah Yerusalem baru, maka ini berbeda dengan Yerusalem baru versi Yohanes entah siapa di kitab Wahyu.

Pada perjanjian lama, di Yerusalem di langit dan bumi yang baru-nya Yesaya, maka kelahiran dan kematian, MASIH AKAN ADA:

    “Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan LANGIT YANG BARU DAN BUMI YANG BARU hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati…YERUSALEM penuh sorak dan penduduknya penuh kegirangan..tidak akan kedengaran lagi bunyi tangisan dan bunyi erangan..(masih ada kematian dan kelahiran:) Tidak ada lagi bayi yang berumur beberapa hari atau orang tua yang tidak genap harinya, SEBAB SIAPA YANG MATI DI UMUR 100 TAHUN MASIH AKAN DIANGGAP MUDA, DAN SIAPA YANG TIDAK MENCAPAI UMUR 100 TAHUN AKAN DIANGGAP KENA KUTUK. Mereka akan mendirikan rumah-rumah dan mendiaminya juga; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan memakan buahnya juga..umur umat-Ku akan sepanjang umur pohon,..TIDAK AKAN MELAHIRKAN ANAK YANG AKAN MATI MENDADAK..[Yes 65.17-25]

Tampaknya Yerusalem di sini diartikan menjadi “ditegakkannya (Yeru) kedamaian (salem)”

    ..kamu akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan. Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah .. kamu akan dihibur di Yerusalem….Mereka itu akan membawa semua saudaramu …ke atas gunung-Ku yang kudus, ke Yerusalem…dari antara mereka akan Kuambil imam-imam dan orang-orang Lewi,..Sebab sama seperti langit yang baru dan bumi yang baru yang akan Kujadikan itu, tinggal tetap di hadapan-Ku,..demikianlah keturunanmu dan namamu akan tinggal tetap..seluruh umat manusia akan datang untuk sujud menyembah di hadapan-Ku..Mereka akan keluar dan akan memandangi bangkai orang-orang yang telah memberontak kepada-Ku. Di situ ulat-ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam… [Yes 66.12-24]

Namun ternyata terdapat variasi lainnya tentang maksud tersebut, antar kitab-kitab belakangan agama Yahudi sendiri, terutama setelah Yerusalem yang jatuh ketangan Nebukadnezar, yaitu, ada yang beranggapan bahwa ini janji tentang Yerusalem akan di bangun kembali [Tobit 13.8-18j, lainnya, menganggap sebagai taman lain yang berbeda, “para orang suci beristirahat di Eden dan para orang benar beristirahat di Yerusalem baru” [Tambahan Dan, 5.12-13, Terjemahan Charles R.H] yang lokasi rumah baru pun ada di bekas rumah lama:

    Tuhan..memukul bumi..bumi terbelah..semua..jatuh dari antara domba-domba itu dan ditelan di bumi..sebuah takhta dipasang di tanah yang menyenangkan..Tuhan..duduk di atasnya.. dan yang lainnya..membuka buku-buku itu di hadapan Tuhan..Tuhan memanggil..membawa ke hadapan-Nya…semua terikat..berdiri di hadapan-Nya..penghakiman diadakan.. dinyatakan bersalah..dilemparkan ke dalam JURANG MAUT di tengah bumi..di sebelah kanan bangunan/rumah itu..penuh api dan pilar api yang menyala..mereka melipat bangunan lama itu..menenggelamkan..meletakkannya di suatu tempat di selatan negeri ini…di sisi kanan bumi…Tuhan membawa sebuah rumah baru…lebih besar dan lebih tinggi dari yang pertama..memasangnya di tempat yang pertama yang telah dilipat..[“The Book of Enoch”, R.H. Charles, 1917, Bab 90.28-29]

Sementara di sisi lain, para Rabi memaknai “langit dan bumi baru” (sebagai komentar Kej 1.3 dan Kej. 2), dengan cara yang lain pula:

    R. Judah b. R. Simon: “..’jadilah malam’ tidak tertulis di sana namun malam telah ada. maka kita tahu ada tatanan waktu sebelum ini. R. Abbahu: Ini menunjukan bahwa yang Kuasa, terus menciptakan dunia dan menghancurkannya sampai Dia menciptakan yang satu ini..Rabbi Phinehas: Ini adalah alasan R.Rabbahu: Dan Tuhan melihat segala sesuatu yang Dia buat dan lihatlah, itu sangat baik ini menyenangkanKu, tapi yang lainnya tidak menyenangkanKu [Genesis Rabbah 3.7. Juga dalam 9.2: “..R. Tanhuma: Dunia diciptakan saat itu karenanya, dan dunia yang diciptakan sebelumnya tidak cocok..”]

Jadi, bahkan antar kitab Yahudi sendiripun, tidak ada kesatuan pendapat tentang maksud mimpi Yesaya ini

Pada perjanjian baru,
Mimpi Yesaya, dikemas dengan mimpi lainnya, oleh Yohanes tentang event yang dekat dan akan terjadi, mulai saat itu hingga kemudian dalam 2x termin per 1000 tahunan, yang jika dilihat dari sekarang, 2000 tahun hampir berlalu sejak Yesus “dibangkitkan” dan ini TIDAK BERJALAN seperti dalam mimpinya::

  • Masa 1000 tahun, mulai setelah disalib, Yesus dibangkitkan dan bertahtah di Yerusalem baru:
    Yesus Kristus,..yang pertama bangkit dari antara orang mati [Wahyu 1.5]..di dalam Bait Suci Allah-Ku…kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru [Wahyu 3.12-13].. Akupun..duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya [Wahyu 3.21] seorang malaikat turun dari sorga.. menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan..mengikatnya 1000 tahun lamanya..melemparkannya ke dalam JURANG MAUT (Abussos/Abyss), menutup jurang maut dan memeteraikannya supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa sebelum berakhir masa 1000 tahun itu; kemudian dari pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya…Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus..dan mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa 1000 tahun…Inilah kebangkitan pertama [Wahyu 20.1-6]

—> TIDAK TERJADI

  • Masa 1000 tahun berikutnya:
    “..Dan setelah masa 1000 tahun itu berakhir, Iblis akan dilepaskan.. pergi menyesatkan bangsa-bangsa..dan mengumpulkan mereka untuk berperang..mengepung tentara orang-orang kudus dan kota yang dikasihi..Tetapi dari langit turunlah api menghanguskan mereka..disiksa siang malam sampai selama-lamanya…Lalu dari hadapan-Nya lenyaplah BUMI (Gaia) dan LANGIT (Ouranos)LAUT (Thallassa), menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan MAUT (Thanatos) dan KERAJAAN MAUT (Hades) menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya.. dihakimi.. menurut perbuatannya…maut dan kerajaan maut itu dilemparkan ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu dilemparkan ke dalam lautan api itu… mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan..akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya [Wahyu 20.6-15]

—> TIDAK TERJADI

Jika begini, Surga yang di dambakan kaum Nasrani lenyap hanya karena Yohanes SALAH NGELINDUR atau karena Yesus bukanlah Mesias yang ditunggu.

Kapan Kedatangan Mesiah menurut Yahudi?
Mesiah adalah “yang diurapi”. Benda pertama sebagai Mesiah/yang diurapi (dengan minyak) adalah batu yang jadi alas kepala Yakub saat tidur diperjalanan dan itu kemudian ia jadikan tugu di kanaan (Kej 28.18-20, 31.3), benda-benda berikutnya adalah Bejana pembasuhan (Kej 40.11), Kemah pertemuan dan tabut hukum (Kel 30.26), Mezbah (Kel 29.36), Perisai (Yes 21.5), dll.

Untuk kategori Manusia, maka para Mesias/Yang diurapi (dengan minyak) ada yang berasal dari kalangan Israel (Para Raja, Para Imam: Harun adalah manusia pertama yang diurapi (28.41; 30.30; 40.13) dan para Hakim), juga ada yang dari kalangan Non Israel (Misal, Koresh: Yesaya 45.1, 13; Ezra 1.2). Sample lain Nabi kalangan NON ISRAEL, yaitu: Ayub dan 3 temannya + Bapaknya Balaam (Beor) + Balaam.

URUSAN MESIAH/NABI kategori orang, SELALU HARUS terkait dengan:

  • Menolong/menyelamatkan bangsa ISRAEL dari bangsa lain atau dari mengikuti tatacara Tuhan lain dan menegakkan Taurat, sample: Musa, Samson (Hak 14-16) dan Balaam (Bilangan 22), atau
  • Urusan tentang Kuil di Yerusalem, harus memerintahkan/membangun kuil (Yehezkiel 37.25-26) atau HARUS memastikan KUIL TIDAK BERALIH FUNGSI untuk menyembah tuhan lain, misalnya 2 Makabe 4, yang terkait Daniel 9.24-27, tentang Imam yang diurapi: Onias namun sering dicocoklogi sebagai nubuatan Yesus, padahal ini adalah rangkaian peristiwa 490 tahun sejak pengepungan Yerusalem oleh Nebudkadnezar:

    Yeremia:
    ..demikianlah firman TUHAN–menyuruh memanggil Nebukadnezar, raja Babel, hamba-Ku ..dan bangsa-bangsa ini akan menjadi hamba kepada raja Babel 70 tahun lamanya. Kemudian sesudah genap ke-70 tahun itu,..Aku akan melakukan pembalasan kepada raja Babel. [Yeremia 25.9-12] ..kepada nabi-nabi dan kepada seluruh rakyat yang telah diangkut ke dalam pembuangan oleh Nebukadnezar dari Yerusalem ke Babel….Apabila telah genap 70 tahun bagi Babel,..Aku akan menepati janji-Ku kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini [29.1-10]

    Daniel:
    Pada tahun pertama pemerintahan Darius, ..aku, Daniel, memperhatikan ..firman TUHAN kepada nabi Yeremia akan berlaku atas timbunan puing Yerusalem, yakni 70 tahun [9.1-2]….sementara aku berbicara dalam doa, terbanglah dengan cepat ke arahku Gabriel [9.21]..mengajari aku..: 70 minggu (“שבעים שבעים”/sabuim sibim) telah ditetapkan atas bangsamu dan atas kotamu yang kudus [9.24]…Yerusalem akan dipulihkan dan dibangun kembali, sampai pada kedatangan seorang yang diurapi, seorang raja, 7 minggu; dan 62 minggu (“שבעים שבעה ושבעים ששים ושנים”/sabuim sibah wa-sabuim sissim usenayim) kota itu akan dibangun dengan tanah lapang dan paritnya, tetapi di tengah-tengah kesulitan. [9.25] dan sesudah (wa ahare) ke-62 minggu (wa-sabuim sissim usenayim) akan disingkirkan seorang yang diurapi, padahal tidak ada salahnya apa-apa. Maka datanglah kaum dari seorang raja (‘am nagid) memusnahkan kota dan tempat kudus itu, tetapi raja itu akan menemui ajalnya dalam air bah; dan sampai pada akhir zaman akan ada peperangan dan pemusnahan, seperti yang telah ditetapkan. [9.26] Raja itu akan membuat perjanjian itu menjadi berat bagi banyak orang selama satu minggu (sabua ehad) dan pertengahan minggu itu (wa-hasi has-sabua) akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan; dan di atas sayap kekejian akan datang yang membinasakan, sampai pemusnahan yang telah ditetapkan menimpa yang membinasakan itu” [9.27]

    Kurun waktu 70 minggu (70 x 7 = 490 tahun) mulai dari Nebudkadnezar:

    • Awal dari 70 Tahun: Mulai dari tahun ke-3 Yoyakim, Nebudkadnezar mengepung Yerusalem [Daniel 1.1]. Tahun ke-4 Yoyakim = tahun ke-1 Nebudkadnezar (605 SM) [Yeremia 25.1] dan tahun ke-19 kehancuran Yerusalem (Yer 52.12/587 SM)
    • 7 minggu (7 x 7 tahun = 49 tahun): Kehancuran Kuil ke-1 (587 SM) sampai runtuhnya kekaisaran Babilonia baru (Raja Nabbonidus, 559 SM – 538 SM) = 587 SM – 538 SM = 49 tahun, oleh Koresh yang Agung/Persia dan di tahun itu, perintah membangun kuil ke-2 (Ezra 1.1, 5.13; 2 Taw 36.22), selesai 21 tahun kemudian di tahun ke-6 Darius ke-1/517 SM. (ini juga 70 tahun sejak kehancuran kuil ke-1). Jumlah 49 tahun + 19 tahun = 68 tahun, selisih 2 tahun adalah dari perintah, masa kepulangan dan menetap untuk membangun kuil.
    • 62 minggu (62 x 7 = 434 tahun): Mulai pengepungan Yerusalem (605 SM) – 434 = 171 SM, kisaran waktu ONIAS yang diurapi terbunuh.
    • Dalam 1 minggu (= 7 tahun): 171 SM – 7 tahun, masa penderitaan jaman raja Antiokus IV, Epifanes (175 SM – 164 SM), setelah kematian Onias, selama 3.5 tahun (pertengahan minggu) terjadi perampokan bait Allah, membuat kaum Yahudi menyembah Zeus hellenios (II Makabe 5.15-16, 6.2), memotong babi di bait Allah (1 Makabe 1.47, II Makabe 6.21, 7.1, Antiquity of the Jews, XII) dan menghentikan praktik rutin kurban penebusan selama 3.5 tahun (“The Jewish War”, 1.32) dan di megilat Antiokhus/gulungan Hasmonian (Abad ke-2 M) dikatakan bahwa ia menenggelamkan diri ke laut

Sampai dengan hari ini, BARU TERJADI 2x pembangunan Kuil di Yerusalem: Kuil ke-1/kuil Sulaiman, hancur oleh Nebudkadnezar II. Kuil ke-2/Kuil Herod, dibangun jaman Koresh oleh Ezra dan Nehemia, hancur oleh Titus di tahun 70 M. Kuil ke-3 belum terjadi (lihat Yehezkiel 40)

Untuk urutan kehadiran, Balaam, tampaknya hadir paling akhir, karena setelah balaam, roh kudus meninggalkan (dicabut dari) bangsa NON Israel secara permanen:

    “ונביאי אומות העולם, היו במידת אכזריות, שזה עמד לעקור אומה שלמה חנם על לא דבר. לכך נכתבה פרשת בלעם, להודיע למה סלק הקדוש ברוך הוא רוח הקדש מאומות העולם, שזה עמד מהם, וראה מה עשה” (Para nabi bangsa kafir berprilaku kejam, Itulah Ia (Balaam) yang membasmi seluruh orang tanpa alasan. Oleh karenanya kisah tentang Balaam dituliskan sebagai informasi mengapa Tuhan mencabut roh kudus dari bangsa-bangsa dan hanya melihatnya) [midrash Tanchuma 4.7.1, tentang Balaam]

Namun akhirnya, Roh kudus-pun meninggalkan kaum Israel untuk jangka waktu tertentu:

    ”Ketika Nabi Haggai, Nabi Zechariah dan Nabi Malachi wafat, Roh kudus-pun meninggalkan Israel; namun masih dapat menerima Bath-kol (suara suci, kelas-2 kenabian) [Yoma 9bSotah 48b, Sanhedrin 11a]

Sehingga disetelah wafatnya Haggai, Zacharia dan Malachi, TIDAK ADA LAGI nabi HINGGA KEMUDIAN, “Ingatlah kepada Taurat yang telah Kuperintahkan kepada Musa, hamba-Ku, di gunung Horeb untuk disampaikan kepada seluruh Israel, yakni ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum. Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu MENJELANG DATANGNYA HARI TUHAN yang besar dan dahsyat itu [Maleakhi 4.4-5]

Elia datang tidak sendiri namun bersama Musa:

    Johannan ben Zakkai (Abad ke-1 M/w.80 M) menyampaikan perkataan Allah pada Musa: “Saat Aku kirim Elijah, KAMU BERDUA AKAN DATANG BERSAMA” [Neverim/Ulangan Rabba, 10.1/ Neverim Rabba 3.17].
Alkitab Yahudi menginformasikan adanya 4 MESIAH MASA DEPAN atau 4 orang tukang (Zachkria 1.20-21/Zachkaria-Tanakh: 2.3) dan di Babilon Talmud, Sukkah 52b katakan mereka adalah:
  • Keturunan DAVID-SULAIMAN (2 Sam 7:12-16, Mazmur 89:28-38, 1 Taw 17:11-14, 22:9-10, 28:6-7),
  • Keturunan Yusuf/Effrain: Mesiah bin Efraim/Yusuf (juga: Who is the Moshiach ben Yosef?). Di Sukkah 52a: Mesiah bin Yusuf/Efraim akan terbunuh dalam perang dengan GOG di tanah MAGOG pada masa depan. Dalam Zerubbabel: Pada 990 tahun setelah kehancuran kuil ke-2/herod (69/70 + 990 = 1059/1060 M), Nehemiah ben Hushiel (Mesiah bin Yusuf), Menahem ben Amiel (calon Mesiah ben David) dan Elijah datang, mereka berperang melawan Armilus di Magog
  • Elia, dan
  • Imam benar/Manasseh/Melkisedekh

Mengenai waktu kedatangan:

    Rabbi. Alexandri: Rabbi. Joshua b. Levi menunjukkan sebuah kontradiksi. Ada tertulis, di waktuNya [datangnya Mesiah], sementara itu juga tertulis, Aku [TUHAN] akan mempercepatnya (Yes 60.22), jika mereka layak, jika tidak, [dia akan datang] di waktuNya. R. Alexandri: R. Yosua mempertentangkan dua ayat: Ada tertulis, Dan lihatlah, ANAK MANUSIA DATANG DENGAN AWAN DI SURGA [Dan 7.13], sementara [di tempat lainnya] ada tertulis, [LIHAT RAJAMU DATANG KEPADAMU…] MERENDAH DAN NAIK DI ATAS SEEKOR KELEDAI! (Zakh 9.9] – jika mereka layak, [dia akan datang] dengan awan di surga; jika tidak, merendah dan naik di atas keledai…

    Para murid R. Jose b. Kisam: ’Kapankah Mesiah datang? ’. R. Jose (110 M): ’..Ketika GERBANG INI rubuh/jatuh, dibangun kembali, rubuh lagi dan dibangun kembali dan rubuh ke-3xnya, SEBELUM ITU dibangun anak David telah datang’

    [Tractate Sanhedrin, 98a. Untuk gerbang yang mana yang dimaksudkan, di catatan kaki no.45: ‘Gerbang kaisar Philippi/Banias, rumah/kampungnya Rabbi. Jose, simbol kejatuhan Romawi]

Jadi, dalam umur dunia yang 6000 tahun ini, SETELAH 4000 tahun (2000+2000) sejak Adam muncul (mulai tahun 239 M) disebut ERA MESIANIK yang berlangsung hingga 2000 tahun lamanya (hingga tahun 2239 M, sebagai tahun ke-6000) dan berlanjut dengan kiamat. Sehingga, SIAPAPUN yang MENGKLAIM DIRI sebagai NABI/MESIAS, SEBELUM terjadinya perang GOG dan MAGOG, maka Ia BUKANLAH MESIAS

Lucunya, di Kaisaraea Filipi, Yesus sebagai Mesiah ternyata berdasarkan klaim dari Simon Petrus:

    ”…Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi..bertanya kepada mereka: “..siapakah Aku ini?” Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias..” Kata Yesus: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga…Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapapun bahwa Ia Mesias. [Mat 16.15-20. Mark 8.29-30; Lukas 9.20-21 dan TIDAK ADA di Kitab Yohanes]

HINGGA RABBI JOSE WAFAT, Gerbang Kaisarea Filipi BELUM RUBUH. DAN BAHKAN, walaupun kerajaan Romawi terbagi 2, Barat dan Timur di tahun 285 M, bagian Timur yang kemudian bernama Byzantium, itupun baru rubuh di tahun 1453 sementara, Gempa bumi yang merubuhkan Kaisarea Philippi terjadi di tahun: 346, 1202 dan 1837

Tampaknya penulis Alkitab berusaha menyatakan Yesus sebagai Mesiah yang datang di dekat kiamat:


    6 HARI
    [Lukas 9.28 → 8 HARI] kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan YOHANES saudaranya..naik ke sebuah gunung..Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia/Helias sedang berbicara dengannya [Mat 17.1-3 dan Mark 9.2-5. Lukas 9.28-31].. Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus: “..Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu..Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenalnya,…Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis [Mat 17.10-13; Mark 9.11-13]

Disamping tidak jelas apakah 6 hari atau 8 hari yang dimaksud, BAHKAN Kitab Yohanes, TIDAK MEMUAT kejadian penting ini, padahal BUKAN Matius, BUKAN Lukas dan juga BUKAN Markus yang jadi saksi di saat itu, MELAINKAN YOHANES.

Hingga Rabbi Johannan ben Zakkai wafat, BAHKAN HAMPIR 2000 tahun BERLALU-PUN, Musa dan Elia belum juga datang.

Dan juga, kita tahu bahwa Yohanes pembaptis sendiri MENOLAK DISEBUT ELIA:

    “..orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan Yohanes pembaptis: “.. siapakah engkau? Elia?” Dan Yohanes pembaptis menjawab: “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Dan ia menjawab: “Bukan!” [Yohanes 1.19-21]

Jadi dijaman Yohanes pembaptis, ELIA BELUMLAH MUNCUL, konsekuensinya, Yesus BUKAN yang Malachi maksudkan. Maka wajarlah terjadi inkonsistensi pernyataaan Yohanes Pembaptis yang konon sebagai SAKSI yang MELIHAT dan MENDENGAR tanda Allah dan roh kudus tentang Yesus:

    Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya.. Sesudah dibaptis,..pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan. [Mat 3.13-17; Lukas 3.21-22; juga di Yohanes 1.29-34 DAN 1.35-36]

NAMUN ketika di penjara, Yohanes Pembaptis JELAS SEKALI MERAGUKAN Yesus:

    Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” [Matius 11.2-3. Juga Lukas 7.18-19]

Berita kenabian/kemesiahan Yesus ini SANGATLAH MERAGUKAN

Biarpun demikian, para murid Yesus tetap mengklaim bahwa Yesus telah dibangkitkan dan memerintah di Surga:

    Kotbah Petrus setelah penyaliban Yesus: “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah.. ditinggikan oleh tangan kanan Allah..Sebab bukan Daud yang naik ke sorga, malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku..Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” [KPR 2.32-36], atau

    Yohanes tentang keadaan Yesus dalam mimpinya: “..ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Ku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya” [Wahyu 3.21]

Ini aneh, karena Yesus sendiri, dihadapan sidang resmi para tua-tua bangsa Yahudi dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, di Mahkamah Agama Yahudi, ketika diperiksa sebelum dihukum salib, MENGELAK memberikan konfirmasi apakah dirinya Anak Allah dan Raja Orang Yahudi atau bukan:

    katanya: “Jikalau Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami.” Jawab Yesus: “Sekalipun Aku mengatakannya kepada kamu, namun kamu tidak akan percaya..Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa. Kata mereka semua: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah/Huios Theos?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.” [Lukas 22:67-70] atau “[..]Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias Anak Allah/Christos Huios Theos?. Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia [..] [Matius 26:63]

    Dalam Markus 14.61-62, tidak disebutkan Anak Allah tapi anak terpuji:

    “Imam besar di sidang Mahkamah Agama Yahudi: “‘Apakah Engkau Mesias anak terpuji/christos huios eulogetos?’ Yesus: ‘Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit'”.

    Padahal, seorang bernama Bar Kozeba (132/135 M), JAUH LEBIH TEGAS LAGI dari Yesus, karena Kozeba tegas berkata: “AKULAH MESIAH”. Walaupun klaim Kozeba diterima R Akiba dengan merujuk Bilangan 24.17, namun Kozeba tetap dibunuh.

    Tentang kalimat Yesus: “anak manusia duduk disebelah kanan Tuhan” SEHARUSYA INI merujuk kepada DAUD, “Mazmur Daud. Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: “Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu” [Mazm 110.1].

    Tentang kalimat Yesus: “anak manusia..datang di tengah-tengah awan-awan di langit”, ini dikutipnya dari Daniel 7.13-14, “..datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja,..

    Sehingga, jika memang Yesus bermaksud menyatakan bahwa dirinya, adalah anak manusia yang diberikan kekuasaan dan kemuliaan sebagai raja, sebagaimana tertulis di Daniel 7.13-14, maka harusnya Ia akui itu dengan tegas, NAMUN MASALAHNYA, Yesus juga MENGELAK ketika ditanya statusnya sebagai “Raja orang Yahudi”: “Tapi, ketika Pilatus bertanya: ‘Apakah engkau raja orang Yahudi?’. Yesus: “Engkau sendiri mengatakannya” [Matius 27.11, Markus 15.2, Lukas 23.3 dan Yohanes 18.37]

Tampaknya, Yesus menjadi kebingungan sendiri, disamping Ia tidak menjawab apa yang ditanya, Ia juga tidak bisa membedakan antara orang yang bertanya vs orang yang menyatakan sesuatu. Padahal keluaran 19.11, telah menyampaikan jelas maksud tujuan tuhan berada di dalam awan kepada Musa: “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Sesungguhnya Aku akan datang kepadamu dalam awan yang tebal, DENGAN MAKSUD SUPAYA DAPAT DIDENGAR BANGSA ITU APABILA AKU BERBICARA DENGAN ENGKAU, DAN JUGA SUPAYA MEREKA SENANTIASA PERCAYA KEPADAMU

Dan memang…Yesus tidak pernah datang di tengah-tengah awan-awan kepada khalayak ramai para Yahudi maupun bukan.

Kemudian,
Untuk masalah Raja orang Yahudi, ini seharusnya terkait peristiwa menunggangi keledai

    Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah dekat Yerusalem dan tiba di Betfage yang terletak di Bukit Zaitun, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan:

    “Pergilah ke kampung yang di depanmu itu, dan di situ kamu akan segera menemukan (Heurisko) SEEKOR KELEDAI BETINA (ONOS) TERTAMBAT DAN ANAKNYA (POLOS) ada dekatnya. LEPASKANLAH/AMBIL/LANGGAR (Luo) keledai itu dan BAWALAH KEDUANYA kepada-Ku. (MARKUS 11.2 -> ..Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan segera HEURISKO SEEKOR KELEDAI MUDA (POLOS) TERTAMBAT, yang belum pernah ditunggangi orang. LUO keledai itu dan bawalah ke mari. LUKAS 19.30 -> Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan HEURISKO SEEKOR KELEDAI MUDA (POLOS) TERTAMBAT, yang belum pernah ditunggangi orang. LUO keledai itu dan bawalah ke mari). DAN JIKALAU ADA ORANG YANG MENEGOR KAMU, katakanlah: TUHAN (KURIOS) MEMERLUKANNYA. Ia akan segera mengembalikannya.” (MARKUS 11.3 -> DAN JIKA ADA YANG MENGATAKAN KEPADAMU: Mengapa kamu lakukan itu, jawablah: TUHAN (KURIOS) MEMERLUKANNYA. Ia akan segera mengembalikannya ke sini. LUKAS 19.31 -> 19:31 DAN JIKA ADA ORANG YANG BERTANYA KEPADAMU: Mengapa kamu melepaskannya? jawablah begini: TUHAN (KURIOS) MEMERLUKANNYA. YOHANES 12.4 -> YESUS MENEMUKAN (Heurisko) SEEKOR KELEDAI MUDA LALU IA NAIK KE ATASNYA,..).

    HAL ITU TERJADI SUPAYA GENAPLAH FIRMAH YANG DISAMPAIKAN OLEH NABI: “Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” Maka pergilah murid-murid itu dan berbuat seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka. Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesuspun naik ke atasnya. [Matius 21:2-7, Markus 11:2-7 dan Lukas 19:30-35. Juga Yohanes 12.12-16]

3 Injil sinoptik: Yesus menyuruh muridnya + “JIKA ADA YANG MENEGURMU/BERTANYA” VS Kitab Yohanes: Yesus sendiri yang melakukannya (YESUS MENEMUKAN SEEKOR KELEDAI MUDA LALU IA NAIK KE ATASNYA).

Bagaimana mungkin kejadian sepenting ini, INGATAN MEREKA TIDAK SAMA? dan KELEDAI itu jelas diperolehnya SECARA MENGGELAP/tanpa IJIN (baik dilakukan sendiri atau menyuruh orang lain), padahal Keluaran 23.4 sudah menyampaikan dengan jelas, “Apabila engkau melihat lembu musuhmu atau keledainya yang sesat, maka segeralah kaukembalikan” bahkan para Nabi lainnya misal: Abraham (Kej 22.3), Musa (Kel 4.20), dan lainnya pun TIDAK ADA yang melakukannya dengan mencuri.

Terjemahkan “kurios” = TUHAN bukan TUAN/PEMILIK, membuat Yesus, hanya di 3 tempat ini saja TAMPAK menyebut diri sebagai TUHAN, namun INI MENJADI TIDAK SINGKRON dengan ayat selanjutnya, karena PARA MURIDNYA SENDIRI TIDAK menyebutnya TUHAN tapi “RAJA..” [Lukas 19.38]. Anehnya, di YOHANES 12.13, yang berucap BUKAN MURIDNYA melainkan KHALAYAK: “mereka .. berseru-seru: …Raja Israel!” atau di MATIUS 21.11: “Dan orang banyak itu menyahut: “Inilah NABI..” atau di Markus 11. 9, “Dia yang datang..” Jadi, seluruh lanjutan ayat di 4 injil TIDAK ADA yang menyebutnya TUHAN.

Menterjemahkannya menjadi TUHAN, maka NAS menjadi tidak terpenuhi, karena SEHARUSNYA YANG DATANG ADALAH RAJA bukan TUHAN/NABI: “Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, RAJAMU DATANG kepadamu“. Namun, apapun terjemahannya, baik itu TUHAN/TUAN/PEMILIK, tetap saja aneh, karena BUAT APA Tuan/Pemiliknya PERLU BERJANJI AKAN MENGEMBALIKAN BARANGNYA SENDIRI?. Bahkan hingga Yesus wafat, TIDAK ADA keledai itu dikembalikannya

Bahkan, kalimat “HAL ITU TERJADI SUPAYA GENAPLAH FIRMAH YANG DISAMPAIKAN OLEH NABI..” menunjukan ADA TUJUAN MENIPU DENGAN MEREKAYASA KEJADIAN dan klaim Alkitab bahwa para khalayak mengelu-elukannya sebagai raja Israel adalah TIDAK BENAR, sekurangnya 3 penulis lainnya menyampaikan bahwa di abad ke-1 MASEHI, yaitu puluhan tahun setelah Yesus wafat, Kaum Yahudi TIDAK PERNAH menganggap Mesiah sudah datang, mereka disaat itupun, masih terus menantikan kedatangannya:

    Di kisaran sebelum pemberontakan Yahudi ke-1 (66-70 M), di kalangan Yahudi beredar kepercayaan bahwa Mesias dari kalangan mereka, akan menjadi gubernur di muka bumi. [“The War of The Jews”, Josephus, Ch.6.5 dan “Hitories”, Tacitus 5.13.] Juga dalam “The Life of Vespasia”, Suetonius, 4.5: “Telah tersebar di seluruh Timur Tengah kepercayaan kuno yang mapan, bahwa saat itu telah ditakdirkan, orang-orang yang datang dari Yudea akan memerintah dunia. Prediksi ini mengacu pada Kaisar Roma..”

Pemberotakan Yahudi ke-1 ini dipadamkan Titus dan berimbas pada hancurnya kuil ke-2/Kuil Herod (Pada bagian Barat kuil ini terdapat tembok yang kelak disebut TEMBOK RATAPAN). Ini di sebut kuil ke-2 karena dibangun setelah kuil ke-1/kuil Sulaiman dihancurkan Nebukadnesar II.

Memang BELUM TENTU para khalayak Yahudi itu benar, namun, apakah pertimbangan dan ramalan Yesus benar? SAMA SEKALI TIDAK.

    “Yesus keluar dari Bait Allah…datanglah murid-murid-Nya dan menunjuk kepada bangunan-bangunan Bait Allah (HIERON). Ia berkata kepada mereka: “Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya TIDAK SATU BATUPUN DI SINI AKAN DIBIARKAN TERLETAK DI ATAS BATU YANG LAIN; SEMUANYA AKAN DIRUNTUHKAN” [Mat 24.1-2. Bait Allah yang sama di Yoh 2.19-20]

Yesus TELAH KELIRU, karena BAHKAN hingga kini, batu-batu yang terletak di atas batu lainnya, masih dapat kita lihat sebagai TEMBOK RATAPAN.

Yesus dalam kisah kehidupannya, tidak berurusan dengan menyelamatkan Israel dari tangan bangsa lain, atau dari penyembahan terhadap Tuhan lain. Yesus lahir, besar dan wafat pada masa kuil ke-2 masih ada dan saat itu kuil di Yerusalem JUGA TIDAK BERALIH fungsi untuk menyembah tuhan lainnya. Oleh karenanya, Yesus BUKANLAH Mesiah [Lihat juga: Laws Concerning Kings and the Messiah]

Mari kita kembali ke mimpi Yohanes,
Dalam mimpinya ini, Yerusalem baru digambarkan mirip taman di Eden, sebagai tujuan akhir yang tidak ada kelahiran dan kematian lagi setelah kiamat. yang merupakan konsep berbeda dari mimpinya Yesaya bin Amoz, namun sayangnya penghuninya masih bisa sakit:

    Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan yang jernih bagaikan kristal dan MENGALIR (ekporeuomai) ke luar (ex) dari takhta (thronos) Allah (theos) dan Anak Domba (arnion). Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa [22:1-2]

Masalahnya pengobatannya dengan menganggu pohon kehidupan, seharusnya, TIDAKLAH DIMUNGKINKAN:

    Berfirmanlah TUHAN Allah: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya.” Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil.Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyala beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan [Kejadian 3:22-24]

Allah saja menjauhkan dan melarang pohon kehidupan dijangkau ADAM dan HAWA, maka apalagi pada turunan mereka. Juga, sepanjang kitab perjanjian lama, TIDAK PERNAH ADA KOREKSI ucapan Allah tentang pohon kehidupan, jadi, Allah TIDAK AKAN PERNAH membiarkan pohon kehidupan terjamah siapapun dan sampai kapanpun juga.

Figur Dewa-dewi Yunani dalam mimpu Yohanes
Tentu saja mimpi tidak wajib masuk akal, sehingga tidak perlu heran mengapa di mimpi Yohanes, LAUT masih ada padahal BUMI dan LANGIT sudah hilang. Namun, jika melihatnya sebagai figur, dewa-dewi, yang mana Yohanes gunakan figur dewa-dewi YUNANI, yaitu: GAIA/Dewa Bumi, istri dari OURANOS/Dewa langit, juga THALLASSA/Dewi Laut, THANATOS/Dewa maut dan HADES/Dewa alam bawah, maka dapat dimengerti jika Dewa Gaia dan Dewa Ouranos sudah tidak lagi ada lagi tapi dewi Thallassa tetap ada. Sayangnya, dewa-dewi Yunani tidak pernah menyatakan akan berkediaman di Yerusalem baru.

Mimpi Yohanes mengkaitkan antara Abaddon/Apollyon, Yohanes mendengar Yesus berkata “Aku memegang kunci maut/Thanato dan kerajaan maut/Hades (echō tas kleis tou thanatou kai tou Hades)” [Wahyu 1.18], kemudian Yohanes:

  • Melihat: “bintang yang jatuh dari langit ke atas bumi, dan kepadanya diberikan anak kunci lobang jurang maut/Abussos” [Wahyu 9.1] “Dan raja yang memerintah mereka ialah malaikat jurang maut; namanya dalam bahasa Ibrani ialah ABADON dan dalam bahasa Yunani ialah APOLION” [Wahyu 9.11]
  • Melihat: “malaikat turun dari sorga memegang anak kunci jurang maut dan suatu rantai besar di tangannya; menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan. Dan ia mengikatnya 1000 tahun lamanya, melemparkannya ke dalam jurang maut, dan menutup jurang maut itu dan memeteraikannya di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa, sebelum berakhir masa 1000 TAHUN itu..” [Wahyu 20.1-3]. Tempat peperangan antara tentara langit vs Tentara IBLIS/SETAN adalah di har-magedon (Wahyu 16.16, “bukit kota Magiddo”, tempat Saul dan Yosia mati terbunuh)

Dewa Apollyon, di risalah Syiria (6 M), tertulis Apollo, merupakan Dewa Yunani penunggang griffin yang bersenjata panah dan TITUS, sang penghancur kuil ke-2 adalah pemimpin legiun XV Apollinaris.

Abbadon kadang berpasangan dengan mitologi kanaan: Dewa Mawuth/mot (lawannya Baal) kadang dengan mitologi Amorit: dewi Sheol: “Terbuka SHEOL di hadapannya, dan tanpa tertutup ABBADON/arowm saowl negdow waen kasut la abbadon” (Ayub 26.6); “Sheol dan abadon dihadapan Yahwe/saowl wa abbadon neged Yhwh” (Amsal 15.11) dan “ABBADON dan MAWUTH berkata: Hanya desas-desusnya yang sampai ke telinga kami” (Ayub 28.22), hanya di ayat terakhir, Abadon adalah mahluk, selain itu, Abadon adalah nama salah satu dari 7 tempat alam bawah, namun sayangnya tidak ada dewa/dewi dan tempat yang terkait Abadon di tablet Ugarit dan Kanaan

Bisa jadi juga ini berasal “abba”/Ayah + “DAN” (keadilan atau Hakim, anak ke-5 YAKUB, yang akan mengahakimi suku bangsanya sebagai suku Israel, Kej 49.16), nama yang tercantum di pintu gerbang Timur Yerusalem-nya Yehezkiel, yaitu Yusuf, Benyamin dan DAN (Yeh 48.32) tapi entah mengapa, Yohanes di kitab Wahyu-nya, membuang nama DAN serta menggantikannya dengan MANASYE bin YUSUF (Wahyu 7.3-8).

Ini akhirnya akan menjadi pertanyaan, mimpi manakah yang lebih benar? Versi Yehezkiel-kah ataukah Yohanes? Dan walaupun Apollo bukanlah dewa kematian, tidak ada kaitannya antara Abadon dan Apollyon, namun Yohanes mengkaitkannya dengan Titus.

Dinasti dan Raja-raja sebelum kiamat
Yohanes tampak mengenal baik mimpi Daniel, yang menyatakan adanya binatang ke-4 bertanduk 10, yang disebut melambangkan kerajaan ke-4 dengan 10 raja dari dinasti itu (Daniel 7), ini dikemasnya ulang menjadi binatang berkepala 7 dengan 10 tanduk, di mana 7 kepala yang melambangkan 7 raja

    ke-7 nya adalah 7 raja: 5 di antaranya sudah jatuh, yang 1 ada dan yang lain belum datang, dan jika ia datang, ia akan tinggal seketika saja. binatang ..adalah raja ke-8..Dan ke-10 tanduk adalah 10 raja, yang belum mulai memerintah, tetapi satu jam lamanya mereka akan menerima kuasa sebagai raja, bersama-sama dengan binatang itu.” [Wahyu 17.10-12].

Kaum Kristen biasanya mengkaitkan 7 raja ini sebagai DINASTI: Mesir, Asyur, Babel, Media-Persia, dan Yunani. Entah kenapa, mereka MENGECUALIKAN dinasti kuat lainnya yang ada di belahan buminya, alasannya mungkin saja karena dinasti lain di belahan lain ini tidak terkait dengan Yerusalem

Namun, juga tidak jelas mengapa ini harus mulai dari MESIR dan mengecualikan beberapa DINASTI LAIN yang terkait Yerusalem dan tidak memasukan Romawi kedalamnya, padahal, jika turunnya TAURAT yang dijadikan ACUAN, maka, para rabbi TANNA, telah menyampaikan bahwa periode taurat mulai sejak tahun ke-2001 sejak Adam atau dari 1761 SM, maka akan LEBIH BANYAK dinasti yang terkait Yerusalem, yaitu: (9) Hasmonian, (8) Masedonian, (7) Persia, (6) Babilonia (5) Asyria, (4) Israel-Judah, (3) Yebusit, (2) Mesir dan (1) Kanaan. Kemudian, jika merujuk pada tahun ke-4001 atau mulai dari 361 M, yang dikatakan sebagai masa Mesianik, maka menjadi makin runyam, karena kemunculan Yesus jauh sebelum masa Mesianik. Pun, jika dibatasi, misalnya SETELAH DANIEL atau dinasti YANG MENGHANCURKAN KUIL ke-1/kuil SULAIMAN, maka pilihannya dimulai dengan BABILONIA atau dinasti YANG MEMBANGUN KUIL KE-2, yaitu PERSIA.

Namun yang manapun juga, JUMLAH DINASTINYA TETAP BUKAN 5 dan masalahnya tetap sama, karena SETELAH ROMAWI, yaitu menjadi dinasti Byzantium, KEKUASAANNYA di Yerusalem, tidaklah sekejap namun ke-2 terlama di antara 6 sebelumnya.

Karena mimpi Yohanes berkaitan dengan Yesus, maka harusnya merujuk di saat Yesus hidup yaitu dinasti Romawi, sehingga raja-raja yang dimaksudkan, HARUS ada di masa dinasti Romawi, HARUS terkait Yesus, HARUS terkait kehancuran kuil ke-2 dan HARUS terkait pengasingan Yohanes di pulau Patmos (nama pulau ini tidak dikenal, namun kemudian dianggap ada di Yunani).

Beberapa bapak gereja percaya bahwa Yohanes hidup di masa Kaisar Domitian. Maka 5 raja dinasti ROMAWI adalah SETELAH Nero (54-68, 13 tahun, di masa akhir, terjadi pemberontakan Yahudi), yaitu:

  1. Galba/7 bulan,
  2. Otho/3 bulan,
  3. Vitellius/8 bulan,
  4. Vespasian (69-79, 10 tahun, Ia diperintahkan Nero memadamkan kerusuhan kemudian dilanjutkan anaknya, Titus, saat itulah kuil ke2 hancur) dan
  5. Titus (79-81, 2 tahun 3 bulan).

Raja ke-6, Domitian (81-96, 15 tahun) dan raja ke-7, Nerva (15 bulan). Sayangnya ini tidak tepat, karena dalam mimpi Yohanes, BAIT ALLAH, MASIH ADA,

    Bangunlah dan ukurlah Bait Suci (NAOS) Allah dan mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya. Tetapi kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain” [Wahyu 11.1-2]

Sedangkan hancurnya kuil ke-2, terjadi pada masa kaisar Vepassian, yang ketika itu, memerintahkan anaknya, Titus memadamkan kerusuhan dan berujung pada hancurnya kuil ke-2. Oleh karenanya, beberapa lainnya berpendapat bahwa Yohanes hidup di masa Kaisar Nero,

    “Seluruh penulis kristen terawal untuk urusan wahyu, dimulai oleh Irenaeus berlanjut ke Victorinus dari Pettau dan Commodian di 4 M, Andreas di 5 M, dan St. Beatus di 8M, mengkaitkan Nero, atau beberapa kaisar Rowawi, dengan wahyu tentang Iblis” [“The Early Days of Christianity”, Farrar, F.W, 1882, Hal.472]

Yang mengakibatkan Nero dikaitkan dengan angka setan 666, yaitu menggutak-gatuk aksara Yunani = Neron Kesar/“nrwn qsr” (n=50, r=200, w=6, n=50, q=100, s=60, r=200. Total = 666) biarpun fragmen MSS Kitab Wahyu, P155, yang tertulis 616 BUKAN 666, gutak-gatuknya tetap digunakan dalam aksara Latin = Nero Caesar/”nrw qsr” (n =50-nya hilang, total = 616).

Walau dianggap ada di masa Kaisar Nero-pun, jumlah Raja TETAP TIDAK 5 (Agustus/27 SM – 14 M, Tiberius/14-37, Caligula/37-41 dan Claudius/41-54) beberapa bahkan menambahkan Yulius Caesar (49 SM – 44 SM) sebagai raja terawal. Ini TIDAK TEPAT, karena di periode antara Julius – Agustus, TIDAK ADA penguasa tunggal Romawi

Malah, sepanjang keberadaan kekaisaran romawi-pun terdapat begitu banyaknya DINASTI dan begitu banyaknya RAJA, dan tidak satupun dapat dikaitkan dengan kreteria mimpi-nya YOHANES.

Jadi, Yohanes entah yang mana ini, jangankan melihat masa yang LEBIH PANJANG, bahkan untuk melihat yang segera terjadi di masanya saja pun, GAGAL. Maka wajar saja, jika kemudian, kitab wahyu diragukan keasliannya baik terhadap penulisnya sendiri maupun terhadap isinya, misal:

    Paus Dionysius dari Alexandria (w. 264 M):
    “..Orang-orang tertentu yang karenanya sebelum sekarang mendiskreditkan dan sekaligus menolak buku ini, telah memeriksa bab demi bab dan menyatakan ini sebagai tidak dapat dipahami dan tidak meyakinkan dan membuat pernyataan salah dalam judulnya. Karenanya mereka katakan itu bukan Yohanes, juga bukan “Wahyu,” karena beratnya selubung tebal ketidakjelasan yang menutupinya: dan tidak hanya pengarang buku ini bukan salah satu dari para Rasul tapi bahkan juga bukan salah satu dari orang-orang kudus dan juga bukan gerejawan; Ini adalah Cerinthus, pendiri ajaran sesat yang disebut Cerinthian…

    ..Karena saya simpulkan bahwa dia tidak sama (1) dari karakter masing-masing, (2) dari gaya bahasa dan (3) dari apa yang disebut sebagai susunan buku ini..

    ..tapi John mana tidak jelas. Karena dia tidak mengatakan, seperti di banyak tempat di dalam Injil,,,,Tentunya dia akan menggunakan salah satu uraian yang disebutkan…tapi tidak dilakukan..Saya kira banyak orang memiliki nama yang sama dengan Rasul Yohanes,..bahkan sebanyak..Paulus atau Petrus. Juga ada Yohanes lain di Kisah Para Rasul, yang disebut Markus,..dan dikatakan: “Dan mereka menyuruh Yohanes sebagai pelayan mereka.” jika dia penulisnya, saya harus mengatakan tidak. Karena tidak tertulis bahwa ia tiba di Asia bersama mereka, tetapi “Paulus dan kawannya,” katanya, “berlayar dari Paphos dan sampai ke Perga di Pamfilia; dan Yohanes berpisah dari mereka dan kembali ke Yerusalem.” Dan saya pikir ada lagi yang lainnya di antara orang-orang yang ada di Asia, karena mereka katakan ada dua makam di Efesus dan masing-masing sebagai makam Yohanes…

    ..saya mengamati dialek dan gaya Yunaninya yang tidak tepat, memakai ungkapan-ungkapan barbar dan terkadang bahkan konstruksinya salah, yang mana sekarang tidak diperlukan untuk disampaikan, karena saya tidak menyebutkan hal ini untuk mencemooh, jangan biarkan orang berpikir demikian, tapi hanya untuk menunjukkan ketidaksamaan tulisan-tulisannya…” [St. Dionysius of Alexandria, Letters and Treatises, “On the Promises” juga, “WHY THE BOOK OF REVELATION IS HERESY“]

    Uskup Eusebius dari Caesarea (w. 340 M): kitab Yakobus, Judas, 2 Petrus, surat Yohanes 2 dan 3 sebagai KITAB BERMASALAH meski dikenal banyak orang; Kitab Wahyu sebagai “kitab yang diketahui” dan NON KANONIK, bermasalah, ditolak oleh sebagian, diakui oleh lainnya; Juga menyebutkan Kitab-kitab NON KANONIK LAINNYA: Kisah Rasul Paulus, Gembala Hermas, Wahyu Petrus, Didache, Surat Barnabas dan Injil kepada orang Ibrani.

    Uskup Cyril dari Yerusalem (w. 386 M) dalam susunan kitabnya, TIDAK DIMASUKKAN kitab wahyu.

Demikianlah, gutak-gatuk mimpi sia-sia belaka, tidak juga akan mengubah asal usul kepemilikan YERUSALEM YANG BUKAN MILIK kaum YAHUDI, ARAB, KRISTEN ataupun MUSLIM. Walaupun YHWH dan ALLAH SWT adalah anak-anaknya EL-YON yang masing-masing telah diberikan warisan oleh El-Yon, namun YERUSALEM, bukan milik mereka, tapi milik Dewa SEDEK-SALEM

    Mau traktir Wirajhana, kopi? Kirim ke: Bank Mandiri, no. 116 000 1111 591

Perang Antar Dewa di Lintasan Waktu


Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa? [Roma 3:7]


ini tentang perang dewa di lintasan waktu… [↓]
tentang satu dewa bagi bangsa satu, dewa lain untuk lain bangsa.. [↓]
tentang Yahweh, tentang Baal, tentang Allah SWT, dan tentang AL-Rahman.. [↓]

Pendahuluan: Abraham Sang Politeis
Abraham/Ibrahin diakui sebagai leluhur 3 agama (Yahudi, Kristen dan Islam), kerap dianggap monoteis (bertuhan satu), namun ini TIDAKLAH BENAR:

Ketika “TUHAN” menampakkan diri ke Abraham, jumlahnya bertiga:

    (וירא אליו יהוה/wayyera elaw yahwe) Muncul kemudian YAHWEH…[Kejadian 18.1] (וישא עיניו וירא והנה/wayissa enaw wayar wahinneh) dan mengangkat matanya dan terlihat dan bahwa (שלשה אנשים/salosah anasim) tiga pria (עליו וירא/nissabim alaw) berdiri di depannya….(לִקְרָאתָם֙/liqratam) menyongsong mereka, (וישתחו ארצה/wayyistahu arasah) dan bersujud sampai ke tanah.. [Kej 18.2] (ויאמר/wayyomar) dan berkata: (אדני/Adonay) Tuanku,.. [Kej 18.2]

    Setelah itu Abraham menawarkan tuannya cuci kaki dan makanan berupa roti, dadih, susu dan daging anak lembu. Ia berdiri dan mereka makan [Kej 18.4-8]

Dari 3 orang, yang 2 menuju Sodom, disebut malaikat:

    (ויבאו/wayyabou) dan datang (שני המלאכים/sane hammalakim) dua malaikat (סדמה/sadomah) ke Sodom..(וירא־/wayyar) dan ketika melihat,..(לִקְרָאתָם֙/liqratam) menyongsong mereka, (וישתחו אפים ארצה/wayyistahu appayum arasah) dan bersujud mukanya sampai ke tanah [Kej 19.1] (ויאמר הנה נא־/wayyomer hinneh na) dan berkata: di sini sekarang (אדני/Adonay) Tuanku [Kej 19.2]

Apakah 1 orang lagi adalah TUHAN? TIDAK, di kisah Musa, 1 orang itu disebutnya MALAIKAT YAHWE:

    (Wayyabo el Har Haelohim horebah) dan sampailah ia ke gunung Allah, Horeb. [Keluaran 3.1] (וירא/wayyera) dan tampak (מלאך יהוה/malak yahwe) Malaikat Yahwe (אליו בלבת־אש מתוך הסנה/elaw balabbat es mittowk hassaneh) dalam nyala api di semak duri [Kel 3.2]…(wayyar yahwe) dan di lihat yahwe (ki sar lirowt) bahwa Ia/musa melihat kesamping (wayyiqra elaw elohim) dan berserulah kemudian Allah (mittowk hassaneh) di semak duri[Kel 3.4]

Juga multi Allah ketika Abraham bertemu Melkisedek, Raja Salem:

    “Dan Ia (Melkisedek, raja Salem) memberkati nya (Abram) (waybārəkehu) dan berkata (wayomar): “Diberkatilah (baruk) Abram oleh ALLAH (le el) ALLAH MAHA TINGGI (El Yon/לאל עליון), QONEH (קנה) langit dan bumi (samayim wa eres/שמים וארץ”) [Kej 14.19. Melki Sedek (“ומלכי צדק”/”ملكي صادق”) = Adoni-Sedek (“אדני צדק”/”ادوني صادق”); Melki = Adoni (“אדני”/”ادوني”) = Tu(h)anku/RajaKu; Malik/Melek (“מלך”/”ملك”) = Raja; Salem (“שלם”/”شاليم”); Yerusalem (“ירושלם”/”اورشليم”)]

    ” … dan berkata (wayomar) Abram pada raja negeri Sodom (Abram el melek Sodom) itu: “Aku mengangkat tanganku pada (harimoti yadi el) YAHWEH/יהוה, ALLAH (EL) ALLAH MAHA TINGGI (El Yon/אל עליון), QONEH (קנה) langit dan bumi (samayim wa ares/שמים וארץ)” [Kej 14.22]

Pada teks Masoretik di atas ini (yang biasa digunakan sekarang, dari abad ke-10 M), terdapat kata: “EL”, “EL YON”, “Yahweh”, “QONEH”, SHAMAYIM dan ERETS yang kesemuanya ini adalah NAMA PARA DEWA KUNO.

  • El Yon, di legenda Phunisia-nya Herennius Philo dari Byblos (64-141 M) Dewa ELIOUN adalah yang tertinggi (Hupsistos), berpasangan dengan dewi Beruth dan bersemayam di Byblos, anak mereka: Ouranos dan Ge, cucunya: El/Kronos, Baitulos, Dagon dan atlas. Kemudian, di inskripsi Sefire I, ditemukan di Al Shafira, dekat Aleppo, dalam bahasa Aramaik, 8 SM, berisi perjanjian damai antara Raja Bir Ga’yah dari KTK dan Matiel dari Arpad dan didalamnya, memuat daftar pasangan dewa-dewa, di antaranya: “‘l w’lyn” (El dan ElYon), Inuarta dan Hadad, dll [“Dictionary of Deities and Demons in the Bible”, Karel van der Toorn, …, hal.294 dan ini].
  • EL dan YAHWEH, Di teks Mesir, kaum Ugarit, tahun 1928 di bukit Fennel/Ras Samra, menyatakan: Istri, El, yaitu Athirat/Aserah/ELAT, melahirkan 70 Dewa, sehingga disebut “Athirat ibu dari 70 Dewa” (“šb‘m.bn.atrt”, KTU 1.4.VI.46, “Canaanite Myths and Legends”, John C. Gibson, hal.63) dan juga, EL berkata: “Nama anak-KU adalah YAW/YAHWEH, oh, ELAT/ATHIRAT, jadi apa kau sebut namanya YAM” (“sm.bny.yw.ilt [.w wp’r.sm.ym”, KTU 1.1 IV 14, ibid. hal.39]. Penulisan Yahwe dengan “YW/YAW”, juga ditemukan dalam Samaria Ostraca (tax/perbekalan Samaria), abad ke-8 SM, yang tidak seperti teks dari Yudah, dengan “ywh” dan “yh”, tapi dengan “yw”.
  • El Qoneh, Dewa kanaan kuno. “..dalam mitologi Hittie dari Kanaan sebelum 1200 SM El adalah ElKUNIRSA (“‘l qn ars”, “EL Pencipta bumi”) [“On Elkenah as Canaanite El”. Kevin L. Barney, hal.28 dan “Old Testament Turning Points: The Narratives That Shaped a Nation”, Victor H. Matthews, hal.146].
  • SHAMAYIM (shin (שָׁ = menghabiskan, memusnahkan) + mayim/מַ֖יִם/air = Air menguap/air yang menuju ke atas; juga adalah dewa Shamu (Dewa langit Kanaan/Phonesia), pemimpin para dewa kota Alalakh, Syria + “-ayim” (dual, sepasang) [Lihat juga: “A STUDY ON THE DUAL FORM OF MAYIM, WATER“, Min Suc Kee]. Di mitologi Yunani dewa langit adalah Ouranos dan dan dewa bumi adalah Ge/Gaia, mereka ini berpasangan, Di mitologi Ugarit, Dewa Shamayim berpasangan dengan dewa Eretz.
  • AERETZ (אֶרֶץ = erṣetu (Akkadian); rṣ/arṣ (Ugarit) = bumi, tanah). Di teks RAS-SHAMRA 24.643 (abad ke-12 SM), para dewa lapisan kedua, diantaranya adalah “Arzu-wa-Shamuma” (“Arz-w-shmm”, bumi dan langit) [“When the Gods Were Born: Greek Cosmogonies and the Near East”, Carolina López-Ruiz, Hal 107. Untuk Tabel perbandingan dengan legenda lainnya, termasuk Yahudi, di hal.88]. Di Inkrispsi Sendschirli, Arsu/Arsa adalah dewa kuno Semitis, mungkin pasangan dewa Arq-Reshef yang terkait dengan kedewabumian [Arza and Aziza, And Other Archaelogical Notes, Joseph Offord, hal.244]

Sehingga tidak mengherankan, jika Hartmut Gese, seorang Teolog Protestan dan juga profesor Perjanjian Lama di Eberhard Karls University Tübingen, berpikir bahwa ini: “Triad dewa yang terdiri dari, ‘El Elyon, El Qone ares dan El Qone Samayim‘” [“Dictionary of Deities and Demons in the Bible”, Karel van der Toorn,.., Hal.281]. Sementara Robert M. Kerr, seorang pakar bahasa semit, menyatakan: “Sekarang ini kita tahu bahwa pemberian berkat kepada Abraham oleh Melkisedek (Kejadian 14:19) tidak menunjuk pada 1 Tuhan…Sebaliknya, ayat ini mengacu pada 3 Dewa (terjemahan yang lebih tepatnya adalah: “diberkatilah Abraham oleh Elyon, El, [dan El], Pencipta langit dan bumi.”) Hal yang sama berlaku untuk Musa. Tidak mungkin dia menjadi pendiri Monoteisme Israel..” [“Aramaisms in the Quran and their Significance”, Robert M Ker, hal.151]

Kemudian, tentunya anda juga lihat kata “Yahweh” pada teks Masoretik Kej 14.22 di atas. Kata itu, ternyata TAMBAHAN BELAKANGAN, karena, di teks-teks lain yang lebih tua, kata “YAHWE/TUHAN” TIDAKLAH ADA:

    Qumran 1Q20/Kejadian Apocryphon (167 SM – 233 M): “..kata Abram kepada raja Sodom, “Aku mengangkat tanganku hari ini pada Allah Maha Tinggi/EL YON (אֵל עֶלְיוֹן), tuhan langit dan bumi (מרה שמיא וארעא)“,
    Septuagiant/LXX (Abad ke-2 SM – 1 M): “..μου προς τον θεον τον υψιστον (“..pada tuhan yang tertinggi) ος εκτισεν τον ουρανον και την γην (yang menciptakan langit dan bumi)”,
    Vulgate (Abad ke-4 M): “..Levo manum meam (aku mengangkat tanganku) ad Dominum Deum excelsum (pada tuhan yang maha tinggi) possessorem cזli et terrז (pembuat langit dan bumi)”
    Peshitta (Abad ke-4 M): “… ܐܿܪܝܡܬ/mengangkat ܐܝ̈ܕܝ/tangannya ܠܘܬ/pada ܐܠܗܐ/alaha, tuhan ܡܪܝܡܐ/yang tinggi ܕܩܢܝܢܗ/pemilik ܫܡܝܐ/langit ܘܐܪܥܐ/bumi”

Pada semua teks di atas ini, TIDAK ADA kata “YAHWEH”, sementara pada teks Taurat Samaritan (Abad ke-1 SM – 1 M), bahkan tertulis, “האלהים אל עליון”/ha-elohim El Yon/sang Elohim Tuhan tertinggi [“Abraham and Melchizedek”, Vol 23, Gard Granerרd, hal.32-33]

Kemudian, jika dilihat dari nama para malaikat, misal: MichaEL, GabriEL, RaphaEL, UriEL, dan lainnya, TIDAK ADA yang mengandung kata YAHWE melainkan kata EL. Tentang kapan kemunculan Malaikat? Para rabbi punya ragam opini:

    Pada hari ke-1, Ia menciptakan..dan para malaikat yang melayaninya [Jubilee, 2.2, Abad ke-2 SM].
    R. Johanan: Mereka diciptakan di hari ke-2, merujuk kaitannya dengan air di Mazmur 104.3-4]. R. Hanina: Mereka diciptakan di hari ke-5, merujuk Kej 1.20 dan Yesaya 6.2. R. Luliani b. Tabri atas nama R. Isaac: Apakah menerima opini R. Hanina ataukah R. Johanan, semua sepakat tidak tercipta di hari ke-1 [Midrash Rabbah, edisi ke-1, 1939, hal.5 dan hal.24].
    Setelah pemisahan air diatas dan air di bawah, maka dari air yang di bawah, Allah menciptakan 2 setan pria dan wanita yang disebut Nachash (serpent) dan Apheth (viper) [Zohar: Bereshith to Lekh Lekha, Ch.2].

Di banyak ayat Alkitab, terdapat kata “malaikat Yahweh” (מלאך יהוה, sample: Kej 16.7, Kel 3.14, dst, tanpa kata sambung ataupun kepunyaan) mengindikasikan bahwa Yahwe juga malaikat

Kemudian nama-nama orang di Kitab kejadian SEBELUM KEBERADAAN MUSA, misalnya: IsraEL, MehuyaEL, MetusaEL, MahalEL, IsmaEL, UzziEL (paman Musa) dan ELzaphan (sepupu Musa), TIDAK ADA yang mengandung kata YAHWEH melainkan kata EL. Ini menunjukan nama YAHWE memang muncul belakangan.

Setelah berdirinya kuil ke-2 (setelah kepulangan dari babel), secara gradual, terjadi pembatasan penyebutan nama “YHWH” dan menjadi terlarang diucapkan pasca wafatnya Rabbi Simon yang benar (menjadi harus diucapkan Adonai/Tuhanku) [Yoma 39b, catatan kaki no.4], ini mungkin akibat over intepretasi tentang jangan mengucapkan nama yhwh secara sia-sia/sembarangan (Keluaran 20.11 dan Ulangan 5.11).

Di tahun 1518, seorang peterjemah Jerman bernama Peter Gallatin, dalam pengakuan dosanya kepada PAUS LEO ke-10, mengaku telah keliru menuliskan YHWH menjadi IAHOVAH yang kemudian menjadi JEHOVAH. [De Arcanis Catholic Veritates 1518, Folio XLIII]. Kata ini, diikuti penggunaannya oleh Paul Fagius Buchelein (1504-1549) dan orang pertama yang mengkaitkan kata Jehovah berasal dari Gallatin adalah John Drusius (Van de Derische, 1550-1616) [jewishencyclopedia: Jehovah].

Menurut Dr. Rotherham, kata JEHOVAH adalah ‘monstrous’ (= ngaco), Ia analogikan dengan vowel di kata “Portugal (yaitu: O,U,A), diselipkan pada konsonan kata “GERMANY” (yaitu: G,R,M,N,Y) sehingga menjadi : GORMUNA (kata buatan, yang tidak punya arti apapun). [“The emphasised Bible”, Joseph Bryant Rotherham, 1902, Vol.1, Introduction, CH.4, hal. 25]. Sementara itu, arti “YHWH” (“יהוה”) sendiri pun beragam, misalnya:

  • Huruf “י”/(Y = Dia) + (stong’s 1961: “HYH/HAYAH/HYHA (“היה”/”אֶֽהְיֶ֣ה” = MENJADI/DATANG (kel 3.13-14: Musa berkata kepada elohim: “..bagaimana tentang nama-Nya? .. ELOHIM kepada Musa: “AHAYAH ‘AHER AHAYAH/”datang yang datang”) ATAU
  • “י”/ (Y = Dia) + (strong’s 1943: “הוה”/HWH/HOVAH (BENCANA, Yes 47.11/Yeh 7.26)” ATAU
  • “י”/(Y = Dia) + (strong 5753: “עוה”/AWH/AWAH (Memutarbalikan/Bersalah, Yeh 21.27/ratapan 3:9)” ATAU
  • “י”/(Y = Dia) + strong 5773: “עִוְעִים”/AVEH (kekacauan, Yes 19.14)” ATAU
  • Huruf “יְה”/YH atau “יְהֹוָ”/YHW (misal: 1 taw 8.36) + 1 huruf saja (strong’s 5933: (“על”/”AL”: “עליה” (Setan)/“עלוה” (Kejahatan)) -> “וה”/WH atau “יה”/YH tidak diketahui artinya)

Jika dari bentukan hurufnya, malah “YHWH”, lebih dekat ke Y+HWH (DIA BENCANA) daripada ke Y+HYH (DIA DATANG)

Demikianlah, yang “sakral” mengakar belum tentu benar, bukan?. Selamat Membaca. [↑]

    Mau traktir Wirajhana, kopi? Kirim ke: Bank Mandiri, no. 116 000 1111 591


PERANG ANTAR DEWA

    (BARESITH/בראשית BARA/ברא ELHAYAM/ELOHIM/אלהים ‘ET/את HA-SHAMAYIM/השמים WA’ET/ואת HA-ERETS/הארץ”)
    PADA PERMULAAN [beresith] MEMBENTUK [bara] ELHAYAM/ELOHIM [‘et] LANGIT [shamayim] DAN BUMI [wa’et ha-eres]. DAN BUMI [wa-ha-eres] YANG MENJADI [“היתה”/HA-yetah] KACAU [“תהו”/tohu] DAN RUSAK/TERSIA-SIA [“ובהו”/WA bohu] DALAM TEROR/KESENGSARAAN/KETIDAKJELASAN/GELAP [“וחשך”/WA-hosek] MENGHADAPI [“על פני”/al pene] TEHOM [“תהום”] DAN ROH [“ורוח”/waru’ah] ELHAYAM/Elohim BERGETAR [“מרחפת”/merahefet] MENGHADAPI [al pene] HA-MAYIM [“המים”/air, banjir] [Kej 1.1-2. Juga lihat Yes 45.18]

    Di dua ayat di atas, TIDAK ADA kata Vayomer [“ויאמר” = berkata/firman] dari ELHAYAM/ELOHIM, kata itu baru ada mulai dari kejadian 1.3, di bawah ini

    Berfirmanlah ELHAYAM/ELOHIM: DATANGLAH [“יהי”/Yehi] OWR [“אור” = TERANG, cahaya, FAJAR, KILAT] DAN DATANGLAH TERANG [wayhi ‘owr]. DAN DILIHAT [“וירא”/WAYYAR] ELHAYAM/elohim Ha-owr KI [yang terang KARENA] TOWB [baik, lebih baik, menyenangkan]. WAYYABDEL [“ויבדל” = dan + (dipisahkan/dikhususkan/kucilkan)] ELHAYAM/ELOHIM BEYN [“בין” = antara] YANG TERANG [HA-OWR] DENGAN [“ובין”/UBEYN] HA-HOSEK [yang gelap, kesengsaraan]. DAN DINAMAI [“ויקרא”/wayiqra] ELHAYAM/elohim YANG TERANG INI [“לאור”/LAOWR] HARI/SIANG [“יוֹם“/ywm = waktu, siang, hari. Sementara ada pula “ים”/ym = Dewa YAM] dan yang gelap itu [“ולחשך”/walahosek] DISEBUT [“קרא”/Qara] LAYIL/LAYLA [malam, LILITH]. DAN DATANGLAH [wayhi] PETANG [“ערב”/ereb] DAN DATANGLAH [wayhi] PAGI [“בקר”/boqer], Yowm [hari] SATU/TUNGGAL [“אחד”/ehad. Sekarang, AHAD = MINGGU, jadi harusnya hari yang ke-1, bukan ke-7] [Kej 1.3-5]

Legenda di atas, jika mengikuti terjemahan umum, maka langit, bumi, samudera, siang, malam, pagi petang keberadaannya, semuanya mendahului kemunculan matahari, bintang dan bulan. Tidak jelas di mana Allah sebelumnya, bagaimana kemunculannya, apa keperluan Ruh Allah di sana, mengapa melayang di atas samudera dan apa motif Ruh Allah mengadakan ini semua.

Kata “BARESITH” = mulainya episode tertentu contoh: Yer 26:1, “pada permulaan pemerintahan..”. Di Septugiant/LXX: “Ἐν ἀρχῇ”/”En archí” (tempat pertama); Di Aquila dari Sinope: “Ἐν κεφαλαίῳ”/”En kefalaío” (dalam bab); di Vetus Latina, Vulgate (Jerome): “In principio” (pada prinsipnya)

Kata “BARA/ברא” = membentuk, menggemukan [setelah tohuw], memotong/membangun [sejalan dengan mulainya episode baru, baresith] BUKAN menciptakan. Sample kata bara’ yang BUKAN mencipta NAMUN: GEMUK/MENGGEMUKAN [Kej 41.4; 1 Sam 2.29], MEMBUKA/MEMOTONG: “..MEMBUKA/”ובראת” untuk dirimu sendiri lahan..” [Yosua 17.15], “..MEMACUNG/”וברא” mereka dengan pedangnya..” [Yehezkiel 23.47]

Frase “ELOHIM ‘ET HA-SHAMAYIM WA’ET HA-ERES” atau “El HA-YAM ET HA-SHA-MAYIM WA ET HA-ERES”:

    HA (ה = Si/Sang/ini/itu/”the”); WA (וְ = dan); ‘ET (את, א = Aleph/huruf ke-1 + ת = tav/huruf terakhir), tidak pernah diartikan, ada banyak tafsirannya, mungkin berfungsi seperti “koma” atau sebagai tanda suatu urutan kejadian yang berkaitan bukan terpisah);

    Kata ‘iL/elah/EL/ILU (אל = TUHAN/TUAN: Dewa di banyak mitologi, di antaranya KANAAN/UGARIT);

    ELOHIM/”אלהים“/Allah Jamak atau EL/אל – HA/ה – YAM/ים (“Tuhan YAM”/”EL si/itu/ini/the YAM”). Di legenda Ugarit/Kanaan/Punisia/Mesopotamia “YAM” = Dewa laut, untuk Dewa sungai = Nahar dan Kata “ים”/ym ada dalam “אלהים“/ELHAYAM. Lilinah biti-Anat: “Variasi penulisan Dewi laut Yam, Yamm, atau Yamu..pengucapannya lebih seperti Yom“. Di teks-teks Alkitab lainnya ditulis: YY/”יְיָ” atau ELAHA/”אלהה” atau ALAHA/”ܐܠܗܐ”.

    Sementara itu, kata Arab ALLAH PLURAL/ELOHIM adalah allāhumma (اللَّهُمَّ) = Allahu (اللَّهُ) + mm (مَّ) muncul dalam 5 ayat: AQ 3.26, 8.32, 10.10, 39.46 dan AQ 5.114, “qaala ‘iisaa ibnu maryama/kata Isa bin Maryam: allaahumma rabbanaa../Allahumma tuan kami..”) yang tampaknya arabisasi kata Ibrani “Elohim”, karena, hadis katakan bahwa Waraqa bin Naufal (Sepupu Khadijah), biasa menulis injil ke bahasa Arab [Bukhari no.6467/9.87.111, 4572/1.1.3]. Juga, TIDAKLAH BERDASAR, menyatakan akhiran MM/”مَّ” sama arti dengan awalan “Yaa/”يا” sehingga “ALLAHUMMA” diartikan “YA ALLAH”. Malah, menurut Shari Lowin: “…bentuk plural, diindikasikan dengan bunyi akhir “m” (huruf arab mim)..mirip kata..(allāhumma), plural dari الله (Allāh)..” [“Arabic and Hebrew Love Poems in Al-Andalus”, Shari Lowin, hal.152].

    YOWM/”יוֹם“/ywm = “hari” (sebagai lawan dari malam/gelap), NAMUN jika kata YAM/”ים” + mim/”יָמִ” -> “יָמִים‎” = “hari-hari”.

    MAYIM/”מים”, yaitu mim (מ = dari) + YAM (ים = Dewa Yam atau Samudera) = air, banjir

    SHAMAYIM (shin (שָׁ = menghabiskan, memusnahkan) + mayim/מַ֖יִם/air = Air menguap/air yang menuju ke atas; juga adalah dewa Shamu (Dewa langit Kanaan/Phonesia), pemimpin para dewa kota Alalakh, Syria + “-ayim” (dual, sepasang) [Lihat juga: “A STUDY ON THE DUAL FORM OF MAYIM, WATER“, Min Suc Kee]. Di mitologi Yunani dewa langit adalah Ouranos dan dan dewa bumi adalah Ge/Gaia, mereka ini berpasangan, Di mitologi Ugarit, Dewa Shamayim berpasangan dengan dewa Eretz.

    AERETZ (אֶרֶץ = erṣetu (Akkadian); rṣ/arṣ (Ugarit) = bumi, tanah). Di teks RAS-SHAMRA 24.643 (abad ke-12 SM), para dewa lapisan kedua, diantaranya adalah “Arzu-wa-Shamuma” (“Arz-w-shmm”, bumi dan langit) [“When the Gods Were Born: Greek Cosmogonies and the Near East”, Carolina López-Ruiz, Hal 107. Untuk Tabel perbandingan dengan legenda lainnya, termasuk Yahudi, di hal.88]. Di Inkrispsi Sendschirli, Arsu/Arsa adalah dewa kuno Semitis, mungkin pasangan dewa Arq-Reshef yang terkait dengan kedewabumian [Arza and Aziza, And Other Archaelogical Notes, Joseph Offord, hal.244]

Jadi, “el ha-yam et ha-Sha-mayim wa et ha-eretz” = “Tuan/Dewa laut, langit dan bumi”

Kata “LAYLA/LAYLI/LILITH” selain muncul di Kejadian 1, juga di Yesaya 34.14 (“LIYLIYTH”, yang bertempat di sungai-sungai EDOM) dan Mazmur 91.5 (“PACHAD LAYLA/LAYLI” = Teror Malam). LILITH/”lilitu” di Babilon-Asyria = Dewi angin, salah satu 3 dewa Babilonia. “Lillake” di tablet Sumeria dalam Gilgamesh yang ada di tepi sungai Eufrat. Di etimologi popular Ibrani, ‘Lilith’ dari ‘layil’, monster malam berbulu [“Hebrew Myths: The Book of Genesis”, Robert Graves dan Raphael Patailihat. Juga lihat “The Book of Lilith, Barbara Black Koltuv, Introduction]

Kata “merahefet, kerap diterjemahkan “melayang/hover”. Padahal, di Ulangan 32.11, “..yarahep/”ירחף” (MENGGETARKAN) yipros/”יפרש” (mengembangkan) kenapaw/”כנפיו” (sayap)..” atau di Yeremia 23.9, “..asmowtat/”עצמותי” (tulang-rulangku) kāl/”כָּל־” (semua) rahapu/”רחפו” (BERGETAR)..”. Sehingga “merahepet” lebih konsisten diterjemahkan BERGETAR.

Kata “TEHOM”, adalah bentuk feminim dan di Mitologi Babilon/Akkadian, TIAMAT/TIHAMAT adalah Dewi laut. kata Tehom dan Tiham-(at), keduanya, punya akar kata “THM” yang sama.

    Dalam tablet tanah liat Assurbanipal, legenda Babilonia, tertulis: Dahulu, di atas dan bawah bumi tertutup lautan purba yang bersumber dari TIHAMA (Alkitab Kej.1.1: TEHOM, Dalam tulisan Eusebius, mengutip pendeta Babilon, Berossus: THAMTE/Laut), air menjadi satu, tampaklah langit..kemudian lahir para dewa..salah satu yang utama adalah MARDUK (Berrosus: BEL).. terjadi pertikaian diantara para dewa baru, TIHAMAT tidak puas dan memberontak dari penguasa yang lebih tinggi, sukses dan memperoleh banyak pengikut. Ia juga menciptakan MONSTER-MONSTER untuk membantunya.. Kemudian Marduk menawarkan diri untuk memerangi TIHAMAT dengan syarat jika berhasil, Ia menjadi raja jagat. Rapat dewa memberikannya nama Dewa langit..Marduk berhasil membunuh Tihamat memotong tubuhnya menjadi dua, memisahkan air diatas dan dibawah, air diatas menjadi langit..membasmi para monsternya TIHAMAT salah satunya adalah naga berkepala 7..(dan seterusnya yang hampir mirip dengan versi kejadian 1) [“The Babilonian and the Hebrew Genesis”, Heinrich Ziemmern, mulai hal.24 dan juga: “The book of Genesis. 1. Chapters 1 – 17”, Victor P. Hamilton, hal.110-111]

    “..Di point lainnya pada lingkaran Anat, juga, disebutkan membunuh Yamm. “Pasti Aku akan melawan Yamm, kesayangan EL,” Ia tambahkan, “Pasti Aku ikat Tunnan dan memusnahkannya / Aku bertarung dengan ular gemerlap, / si Kepala 7 yang hebat.” Tampaknya Yam terbunuh lebih dari sekali dan bangkit lagi, Sulit melenyapkan selamanya monster kekacauan [“Religion and Its Monsters”, Timothy K. Beal, hal.20]

    “..Meski Ular, BTN, Naga, TNN disebutkan terkait Yam dalam Baal/Yam text, Kebanyakan Ahli berpendapat bahwa Naga dan Ular identik dengan Yam-Nahar…Persamaan Ular dan Naga dengan Yam dalam Ugarit Text terkait kemunculan ular di text setelahnya (CTA 5.1.1) yang menyebutkan Ltn, Lotan atau Leviathan, namun bukan Yam. Berdasarkan teks ini, disamakan Lotan dengan ular, dan diteks untuk Dewi ANAT (Istri BAAL) yang dikutip sebelumnya yang menyebutkan Yam berurutan dengan ular dan naga, banyak ahli berasumsi bahwa para mahluk ini adalah manifestasi Yam” [“Ancient Seals and the Bible”, Leonard Gorelick, ‎E. Williams-Forte, 1983, hal.33]

Dengan melihat legenda para bangsa lainnya, kita menjadi paham, mengapa ruh EL-HA-YAM/ELOHIM berada di sana dan bergetar berhadapan dengan air, juga, kita menjadi paham, mengapa begitu banyaknya kecemburuan/kemarahan ELHAYAM, di perjanjian lama maupun baru, karena kaum Israel memuja “ELOHIM NEKAR” (Para Allah asing), yaitu BAAL dan lainnya [Misal: 1 raja 19.18; Yeremia 23.27; Hosea 2.15; Roma 11.4], padahal, kata “BA’AL/BAAL/BEEL/EL” [Ugarit, Phoenisian, Ibrani, amorit, Aramaik] atau “BEL” (di Babilon) atau EN (Sumeria) selain sebagai tuhan, adalah sama seperti ADON (TUAN)/ADONAI (TUANKU)-nya bahasa Yahudi, yang berarti TUAN/TUHAN atau PEMILIK.

Kita ambil contoh nama salah satu pejuang Daud/David, yang bernama BEALIAH/BAAL YAH (1 Taw 12.5) yang artinya “YAHWE adalah Ba’al“. Nama ini menunjukan bahwa orang dijaman itu, menganggap Baal dan Yahwe adalah sama, sehingga tidak mengherankan, banyak orang menggunakan nama yang mengandung kata Yahweh dan Baal, misal di Samaria ostraca, abad ke-8 SM, pada nama pembayar pajak, nama yang mengandung kata Baal, muncul sama seringnya dengan nama yang mengandung “Yah” [Lihat: “The Encyclopedic Dictionary of Religion”, Vol. F-N, hal. 1343], Di Babilonia, Daniel dinamai BELTSAZAR/dewa Baal (Dan 4.8); Hakim GIDEON bernama YERUBAAL (Baal berjuang bersamanya); Salah satu turunan Ruben, BAAL (1 Taw 5.5], salah satu paman Raja Saul, BAAL (1 Taw 8.30), Salah satu anak Raja Daud yang lahir di Yerusalem, BAALIADA (1 Taw 14.7 atau ELIYADA/2 Sam 5.16, 1 Taw 3.8), anaknya Raja Saul, ISHBAAL (1 Taw 8.33, 9.39, artinya orangnya BAAL atau ISBOSEHT/2 Sam 2.8, 3.7 dan 5.4); Cucu Saul, MERIBAAL (1 taw 8.34, 9.40 atau MEFIBOSET (2 sam 4.4 dan 9.6. Arti “Meri” = “Lawan, pelindung, kesayangan”, “boset” = “memalukan”, dengan maksud untuk merendahkan BAAL)

Bukan cuma orang tapi juga daerah, misal: Kaum Ruben menamai kotanya BAAL MEON (Bilangan 32.38 atau BEON/Bilangan 32.3 atau BET MEON/Yeremia 48.23) atau juga ketika Daud pergi ke Baal Yehuda untuk mengangkut tabut ELOHIM yang disebut YAHWEH yang bertakhta di kerubim [2 Sam 2.6].

Padahal, BAAL/BEEL-ZEBUL (zebul = terbang/tempat tertinggi/Surga = Tuhan yang tertinggi. kaum Nasrani, mengubah BEELZEBUL menjadi BEELZEBUB) adalah TUHAN TERTINGGI suku Palestina, namun ratusan tahun kemudian, Ia dianggap sebagai setan, bahkan kitab “Kesaksian Sulaiman” 6.2,7 tertulis Ia menjadi pangeran para setan yang dulunya pemimpin para malaikat dan terkait dengan bintang malam/HESPERUS

Demikian pula dengan nasib BAAL/HADAD, yang di legenda Ugarit, adalah TUHAN bersenjata petir, angin dan hujan yang menyuburkan, sang penunggang awan, yang berperang dan mengalahkan Dewa YAM, yang membuat Istri BAAL/HADAD, ANAT/Asytoret, sampai memberikan pujian penghormatan kepada BAAL [Ba`al Battles Yahm the Ocean; Ba`al Celebrates his Victory dan Ba’al cycle]. Frase pujian ini, memang muncul di Alkitab, namun tentu saja, nama yang tertera bukanlah BAAL melainkan ELHAYAM/ELOHIM

    Bernyanyilah bagi ELHAYAM/ELOHIM, mazmurkanlah nama-Nya, buatlah jalan bagi Dia yang berkendaraan melintasi awan-awan! Nama-Nya Yah; beria-rialah di hadapan-Nya!” [Mazmur 68.5]

Bahkan atribut BAAL dengan petirnya pun berubah menjadi milih Yahweh

    “..berikan/kepada (hābū) YAHWEH (YHWH) turunan (bəni) para tuhan (elim), hābū YAHWEH kemuliaan dan kekuatan (kābowd wā ‘oz). hābū YAHWE kemuliaan nama (kabōwd šamow), sembah (hišstahawu) YAHWEH yang mulia (bahadrat) kudus (qodeš) Suara (qowl) YAHWEH yang di air (‘al hammāyim), Allah (El) dalam kemuliaan (hakkābōwd) guntur/petir (hir‘im), YAHWEH di air (‘al mayim) melimpah (rabbim) Suara YAHWEH yang kuat (bakkoaḥ), suara TUHAN yang semarak (be hādār)…Suara YHWH menyemburkan (hoseb) nyala api (lahabowt ‘esš)…YAHWEH di air bah (lammabbul) bersemayam (yāšāb) dan bersemayam (wa yaab) YAHWE sebagai Raja (melek) selama-lamanya (lə ‘owlām)” [Mazmur 29.1-10]

Jika kata Yahwe diganti Baal, ini menjadi Mazmur-nya Kanaan [“Psalm 29 through Time and Tradition”, Lowell K. Handy, mulai hal.11] yang atau secara motif, juga dekat dengan kisah Baal versi Libanon [“The Oxford Handbook of the Psalms”, William P. Brown, hal.48-50]

Terdapat banyak rekam jejak keperkasaan BAAL/BEL/MARDUK ketika berperang melawan Yam dan pengikutnya, yang di Alkitab, tokohnya berubah nama menjadi YAHWEH, misalnya:

    Engkaulah yang menguasai kecongkakan YAM (laut). Pada waktu naik gelombang-gelombangnya, Engkau juga yang meredakannya. Engkaulah yang meremukkan RAHAB seperti orang terbunuh [Mazmur 89.10-11]

    Ia telah MENGISTIRAHATKAN/meneduhkan (raga’) YAM (laut) dengan kekuatanNYA dan meremukkan RAHAB dengan KEAHLIANNYA/kebijaksanaan-Nya (tabuwn). ROH/Oleh nafas-Nya (ruwach) langit menjadi cerah, tangan-Nya menembus ULAR (nahas) yang meluncur (bariah) [Ayub 26.12-13]

    Terjagalah, terjagalah! ..hai tangan TUHAN! Terjagalah seperti pada zaman purbakala, pada zaman keturunan yang dahulu kala! Bukankah Engkau yang meremukkan RAHAB, menikam NAGA (TANNIYN) sampai mati? Bukankah Engkau MENEMPUR/mengeringkan [Charab], YAM (laut) AIR (MAYIM) DALAM/samudera (TEHOM) LUAS/hebat (RAB)? (suwm ma’mag yam derek ‘abal ga’al: memukul dalam Yam membinasakan hidupnya sebagai balasan?/yang membuat laut yang dalam menjadi jalan, supaya orang-orang yang diselamatkan dapat menyeberang? [Yesaya 51.9-10]

    Engkau, ya Allah adalah Rajaku dari zaman purbakala, yang melakukan penyelamatan di atas bumi. Engkaulah yang MEMBELAH LAUT dengan kekuatan-Mu, yang memecahkan KEPALA NAGA (TANNIYN) di atas muka air. Engkaulah yang meremukkan KEPALA LEWIATAN, yang memberikannya menjadi makanan penghuni-penghuni padang belantar [Mazmur 74.12-14]

    “BAY YOWM HAHU YHWH (“pada waktu itu YHWH”) PAQAD (MENGHUKUM) CEREB QASHEH GADOL CHASAQ (dengan pedang keras, besar, kuat) AL LIVYATHAN (atas LEWIATAN) NAHASH (ULAR) BARIYAH (meluncur) WA AL LIVYATHAN (dan atas LEWIATAN) NAHASH (ULAR) AQALLATHOWN (melingkar), WA HARAQ (dan membunuh) HA-TANNIYN (NAGA) ‘ASER (yang/KEPUNYAAN) YAM (laut/Dewa Yam)” [Yesaya 27.1. Di Mazmur 104.26 “..Lewiatan dibuat untuk mainannya (Lewiathan yatsar sachaq)..”]

Namun di perjanjian baru, dalam mimpi Yohanes, yang bertempur dengan Monster BUKANLAH ELOHIM melainkan para Malaikat pimpinan Mikael [Wahyu 12.3, 7,9 20.2]. LEWIATHAN tidak disebut sebagai NAGA berkepala 7 namun hanya di perjanjian baru, dalam mimpi Yohanes, muncul NAGA yang berkepala 7

Di legenda Ugarit, BAAL/HADAD VS YAM dan Ular/naga berkepala 7 yang bernama Lotan/LITAN (LTN, literal: Melingkar. Juga dalam kata “btn.brh”, “btn.qltn” dan “tnn”/Tannin). Walau kata “RAHAB” tidak muncul di legenda Ugarit, namun ini adalah LEWIATAN, yang persamaannya, dapat dilihat lewat pasangan kata RAHAB + NAGA (Yesaya 51.9-10) VS LEWIATAN + NAGA (Mazmur 74.12-14).

Di pertikaian ini, jika di legenda bangsa lain, yang berusia lebih tua dari Alkitab, PEMENANGNYA adalah BAAL/BEL/MARDUK, maka di Alkitab, PEMENANGNYA adalah ELHAYAM/ELOHIM dan seluruh TUHAN BANGSA LAINNYA (BAAL/ADAD/MARDUK/BEL/EL), berubah menjadi SETAN/BERHALA. [↑]

Satu Allah bagi Bangsa Satu, Allah lain bagi Lain Bangsa
Teks Mesir, kaum Ugarit, ditemukan pada tahun 1928 di bukit Fennel/Ras Samra, menyatakan ADA BANYAK ALLAH:

Adakah teks lain mengakui ini? Ada, yaitu ALKITAB/Taurat:

    ELOHIM (ALLAH dalam bentuk JAMAK) berada/berdiri (nissāb) dalam sidang (ba‘adat) TUHAN (EL/”אל”), di antara (bəqereb) PARA ALLAH (ELOHIM) Ia menghakimi (yispot) … Aku (דnמ) telah berfirman (’āmarti): “Para Allah (ELOHIM) kamu (’attem), TURUNAN (ūbəne) TUHAN YANG MAHA TINGGI (El YON) semua (kulləkem.), NAMUN (’āken) SEPERTI ADAM (kə’ādām) KAMU AKAN MATI (təmutun), SEPERTI SEORANG (ūkə’ahad) PEMBESAR (hassarim) KAMU AKAN TEWAS/JATUH (tippolu). “Bangunlah (qūmāh) PARA ALLAH (ELOHIM), hakimilah (saapatāh) bumi (ha-ares), KARENA (ki) ENGKAU (’attāh) MEWARISI (tinhal) MASING-MASING (bəkāl) BANGSA (haggōwyim) [Mazmur 82.1-8]

Kata BN/BEN/BAR/BANI adalah kelas keanggotaan atau keturunan, di mana anjing memperanakan anjing, manusia memperanakan manusia, Allah memperanakkan Allah, sehingga tidaklah mengherankan, jika Alkitab juga menyebutkan siapakah nama-nama ALLAH lain milik bangsa lainnya:

    Orang Israel… itu melakukan pula apa yang jahat di mata YHWH; mereka beribadah kepada PARA BAAL (hab-bəalim/”הבעלים”) dan (ואת) PARA ASYTORET (ha-‘atarowt/”העשתרות”), kepada para Allah (elohe/”אלהי”): orang Aram, para Allah orang Sidon, para Allah orang MOAB, para Allah bani Amon dan para Allah orang Filistin, tetapi YHWH ditinggalkan mereka dan kepada Dia mereka tidak beribadah [Hakim 10.6]

    Dewa Kamos bagi kaum MOAB/Amori (Bilangan 21.29. Juga di 1 Hakim 11.24, Yefta: “Engkau memiliki apa yang diberi oleh Kamos, allahmu? Demikianlah kami memiliki segala yang direbut bagi kami oleh YAHWEH, Allah kami“). Para Allah bagi kaum Mesir (Keluaran 12.12), Allah bagi kaum Damsyik/Aram (2 Taw 28.23), Dewa Amon bagi kaum Tebe (Yer 26.25; Nah 3.8), dan lainnya

Allah-Allah ini, BUKANLAH BERHALA/PATUNG BATU, melainkan PARA ALLAH sesama turunan EL YON (Lihat juga Yahweh was the Son of El Elyon). Lucunya, walaupun kaum Israel tahu ada Allah lainnya, namun mereka merendahkan Allah lainnya, meninggikan Alahnya sendiri, sebagai yang ter-dewa dari segala dewa, misal: Keluaran 15.11, 18.11, Ulangan 10.17, Yosua 22.22, Mazmur 86.9, 89.6, 95.3, 97.9, 136.2-3. Atau malah, bisa jadi, ada upaya pemutarbalikan kejadian, misalnya, pada kasus kaum Moab, yang diinformasikan buruk di Alkitab:

    ..Dodo bisa jadi merupakan dewa lokal yang disembah kaum Israel di Timur sungai Yordan. Ashtor-Kamos bisa jadi sebuah keilahian majemuk, jenis yang tidak dikenal dalam mitologi Semit, Ashtor representasi dari Ashtoreth Funisia. Yang penting adalah begitu banyaknya frase dan ungkapan pada KAMOS, yang teraplikasi untuk YAHWEH di Perjanjian Lama. Konsep religius kaum Moab yang tercermin dalam inkripsi sangat mencolok persis dengan kaum Israel bahwa SEANDAINYA NAMA YAHWEH DIGANTI DENGAN KAMOS, KITA MUNGKIN BERPIKIR BAHWA KITA SEDANG MEMBACA SEBUAH BAB DARI KITAB RAJA-RAJA. Adalah BUKAN DI DALAM INSKRIPSI NAMUN di NARASI PERJANJIAN LAMA terdapat permitaan kaum KAMOS untuk pengorbanan manusia. “Ia mengambil anaknya yang sulung,” kata sejarawan Ibrani, “bahwa yang akan menjadi raja menggantikannya, dan mempersembahkannya sebagai korban bakaran di atas pagar tembok, dan menggusarkan orang Israel, sehingga mereka berangkat meninggalkannya dan pulang ke negeri mereka” (2 Raja 3:27). Ini menunjukkan kaum israel mundur dengan tangan hampa..dan utamanya tentang pengorbanan manusia, yang dengannya Ia TERFITNAH [“Internasional Standad Bible”, artikel: Chemosh]

    Sementara keperkasaan KAMOS melebihi YAHWE tertulis di Inkripsi Mesha:
    Mesha membangun monumen antara lain karena Kamos marah dan membiarkan Omri menindas Moab. Omri menguasai tanah Medeba, dan Israel berdiam disana, Kamos memulihkannya lagi di zaman Mesha. Mesha mengambil Atarot, yang dibangun raja Israel, membunuh semua orang di kota, membuat mereka dipermalukan dihadapan Kamos dan Moab. Mesha membawa api altar Dodo, menyeretnya di hadapan Kamos di Kerioth. Mesha menuju Nebo memerangi Israel, membunuhi penduduknya, 7.000 pria-wanita dan pelayan wanita, mendedikasikan kota itu untuk Ashtor-Kamos dan menyeret altar Yahweh dihadapan Kamos. Juga dari Yahas, yang dibangun raja Israel, Kamos..tidak gagal mengembalikannya ke wilayah kekuasaan Mesha. [Juga lihat: “Dongeng tentang David, Sulaiman, Ratu Sheba, Muhammad sampai ke paha kambing bicara..“]

Alkitab menegaskan, yang mewarisi bangsa Israel adalah YAHWE:

    WARISAN (bəhanhel) EL YON (“עליון”/TuhanTertinggi) BANGSA-BANGSA (gowyim) IA PISAHKAN (bəhapridow) TURUNAN ADAM (bəne adam) IA TETAPKAN (yasseb) WILAYAH (gəbulot) DARI BANGSA-BANGSA (‘ammim), MENURUT JUMLAH (ləmispar) XXXX XXXX. UNTUK PORSI (ki heleq) YAHWEH (YHWH) KAUM (‘ammow) YAKUB (yaaqob) BAGIAN (hebel) WARISANNYA (nahalatow) [Ulangan 32.8-9]
    Untuk XXXX XXXX,
    Di teks Masoretik tertulis: “Bani Yisrael” (“בני ישראל”) NAMUN di teks Septugiant/LXX dan teks QUMRAN tertulis: “turunan ALLAH“/bəni elohim (“בְּנֵי אֱלֹהִים”) atau “turunan EL-YAM (“ְּנֵי אֱלֹים”) yang sekurangnya frase ini, masih ditemukan di 12 terjemahan.

    …MT [Text masoretik] keliru di “turunan Israel” [bene yisrael], tapi pada versi-versi [misal, LXX, Symm, latin kuno] dan sebuah gulungan dari Qumran mendukung bacaan, “turunan Allah” [bene elim]. Dengan kata lain, Yang Maha Tinggi menugaskan ke setiap bangsa di dunia masing-masing makhluk ilahi di dewan tersebut. Sebagaimana ditunjukkan di ayat 9, bagian Yahweh adalah Israel. Gagasannya adalah bahwa Yahweh, Allah Israel, bersama allah Nasional lainnya berada di sebuah dewan pimpinan Yang Maha Tinggi” [“International Standard Bible Encyclopedia”, Vol. 4, Geoffrey W. Bromiley, hal. 584, artikel. ‘sons of God’]

    ELYON, nama dewa pra-Israel, mungkin kaum Yerusalem (Kej 14: 18-22; Bil 24:16). Untuk “anak-anak Israel” dibaca “anak-anak Allah” di Septuagint. Dengan Ide bahwa Elyon, dewa tinggi Kanaan, menugaskan setiap dari 70 bangsa di dunia (Kej 10) pada satu dari 70 dewa dan Israel beruntung ditugaskan kepada Yahweh” [“The New Jerome biblical commentary”, hal.108]

    Sample lain, misalnya:
    YAHWEH telah mengambil kamu dan membawa kamu keluar dari dapur peleburan besi, dari Mesir, SEBAGAI (lihyowt) UMATNYA (low lə‘am) WARISANNYA/MILIKNYA (nahalāh)… [Ulangan 4.20]

    Menurut Tafsir Yerusalem: Tuhan begitu erat terikat pada tanah Israel, milik pusaka Tuhan, sehingga orang berpendapat bahwa Ia tidak dapat dipuja semestinya di luar negeri, tempat allah lain berkuasa. Itulah sebabnya mengapa Naaman membawa sedikit tanah Israel ke kota Damsyik, serupa atas tanah Israel itu dapat memuja Allah Israel, 2Ra 5:17. Memaksa Daud pergi ke luar negeri berarti memaksa dia meninggalkan Tuhan.

    David/Daud tahu tentang adanya Allah-allah lainnya, “Aku hendak bersyukur dengan segenap hatiku, di hadapan (neged) para allah (elohim) aku akan bermazmur bagi-Mu” [Mazmur 138.1] atau ketika di usir Saul: “..Jika YAHWEH yang membujuk engkau melawan aku,..sehingga aku TIDAK MENDAPAT BAGIAN DARIPADA MILIK YAHWEH, dengan berkata: Pergilah, beribadahlah KEPADA ALLAH LAIN. Sebab itu, janganlah kiranya darahku tertumpah ke tanah, jauh dari hadapan YAHWEH [1 Sam 26.19-20]

QURAN menegaskan, yang mewarisi KAUM ARAB adalah ALLAH SWT:

  • Sesungguhnya KAMI (inNAA. Kata, “naa” = orang ke-1, jamak) YANG MEWARISI (nahnu naritsu. “nahnu” = kata ganti orang ke-1, JAMAK) bumi/tanah (al-ardha) dan semua orang (wa-man) yang ada di atasnya (‘alayhaa), dan kepada KAMI (wa-ilayNAA) mereka dikembalikan (yurja’uuna). [AQ 19.40, Dalam kisah Isa. Al Makiyya, urutan turun ke-44]
  • “Dan sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan KAMI PARA PEWARISNYA (wa-nahnu alwaaritsUUNA)” [AQ 15.23.,Al Makiyya, urutan turun ke-54]
  • Dan berapa banyaknya negeri yang telah KAMI binasakan (“أَهْلَكْنَا”/ahlakNAA),..; maka itulah tempat kediaman mereka yang tiada di diami sesudah mereka, kecuali sebahagian kecil. DAN adalah KAMI (“وَكُنَّا”/WA-kunNAA) kami (“نَحْنُ”/nahnu) PARA PEWARISNYA (“الْوَارِثِينَ”/alwaaritsīna) [AQ 28.58, kepada kaum Alkitab. Al Makiyya, urutan turun ke-49]

Sehingga tidaklah mengherankan, bacaan pun dalam Arab, karena warisanNYA adalah kaum Arab:

  • Dan kemudian Kami wahyukan kepadamu (wakadzaalika awhaynaa ilayka) bacaan Arab (qur-aanan ‘arabiyyan), supaya kamu memberi peringatan (litundzira) ummul Qura dan siapa saja yang disekitarnya (waman hawlahaa)…[AQ 42.7]
  • Dan sesungguhnya Kami tahu mereka berkata (walaqad na’lamu annahum yaquuluuna): Sesungguhna Ia diajari seseorang (innamaa yu’allimuhu basyarun) bahasa orang yang mereka sebutnya asing (lisaanu alladzii yulhiduuna ilayhi a’jamiyyun) padahal ini dalam bahasa Arab yang terang (wahaadzaalisaanun ‘arabiyyun mubiinun) [AQ 16.103]
  • Diturunkan dari (tanziilun mina) AL RAHMAN AL RAHIM kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya (kitaabun fushshilat aayaatuhu) bacaan arab (qur-aanan ‘arabiyyan) bagi kaum yang tahu (liqawmin ya’lamuuna) [AQ 41:3]
  • Dan jika Kami jadikan (walaw ja’alnaahu) bacaan asing (qur-aanan a’jamiyyan) mereka katakan (laqaaluu): “janganlah dijelaskan ayat-ayatnya (lawlaa fushshilat aayaatuhu) dalam asing sedangkan Arab (a-a’jamiyyun wa’arabiyyun)..[AQ 41.44]

Tampak jelas, ke-monotheis-an kitab-kitab ini TERBATAS hanya kepada Allah yang memewarisi mereka saja, oleh karenanya, kalian BANGSA INDONESIA, TUHAN mana yang mewarisimu? [↑]

BAAL/HUBAL, YAHWEH, RAHMAN dan ALLAH SWT
Tentang Allah, Prof. Hitti, seorang kelahiran Kristen Moronit Libanon, Ulama Islam, Profesor literatur Semitik, Ketua Bahasa Oriental, Peneliti, dan Bidang studi Budaya Arab, menyampaikan,

    “..Bagi masyarakat Hijaz, Allah (Allah, Al-Ilah) adalah yang utama, meski bukan satu-satunya dewa di Makkah. Nama ini berusia sangat tua. Muncul di 2 inkripsi, satu dari Minean ditemukan di al-‘Ula dan satu lagi Sabian. Namun terbentuk dari “HLH” di inkripsi Lihyan abad ke-5 SM. Dewa kaum Lihyan berasal dari Syria yang merupakan sentra pertama pemujaan dewa ini di Arab. Ia disebut HALLAH di inkripsi Safa, 5 abad sebelum kemunculan Islam dan juga di Inkripsi Arab Kristen pra Islam yang ditemukan di Umm al Jimal, Syria yang berasal dari abad ke-6. Nama ayah Muhammad adalah ‘Abd-Allah (‘Abdullah, pelayan atau penyembah Allah). Besarnya penghormatan pada Allah di kalangan kaum Mekkah Pra-Isam sebagai Pencipta dan pemberi nikmat dan yang diseru saat musibah tergambar di AQ 31.24, 31, 6.137, 109; 10.23, tertera bahwa Dia-lah dewanya suku Quraish. [“History of The Arabs”, hal.126-127 atau hal.90]

Ibn Ishaq menyampaikan bahwa tradisi penyembahan Allah telah lama termasuk juga ritual hajinya:

    “..Ada yang mengatakan bahwa penyebab anak keturunan Ismail menyembah batu ialah jika mereka mengalami kesulitan di Makkah, dan ingin pergi mencari rezki di negeri-negeri lain, mereka membawa salah satu batu dari batu-batu tanah suci Makkah sebagai bentuk penghormatan mereka terhadap Makkah. Jika mereka berhenti di suatu tempat, mereka meletakkan batu tersebut, kemudian thawaf di sekelilingnya persis seperti mereka thawaf di sekeliling Ka’bah..Jika orang-orang Kinanah dan orang-orang Quraisy melakukan talbiyah mereka berkata, “LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIKA. LABBAIKAN LAA SYARIIKA LAKA ILLA SYARIIKUN HUWA LAKA. TAMLIKUHI WA MAA MALAKA (Aku sambut panggilan-Mu Allah, aku sambut panggilan-Mu. Aku sambut panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu milik-Mu. Engkau memilikinya dan tidak ada yang memilikinya).” [Sirat Nabawiyah, Ibn Ishaq, Jilid 1, Bab. 10, hal.61]

Juga, Quran sendiri menyampaikan bahwa kata “ilah” adalah kata umum untuk sebutan TUHAN, baik ditujukan kepada ALLAH SWT maupun ALLAH LAINNYA (jamak maupun tunggal), sample:

    (“Janganlah kalian ambil/laa tattakhidzuu dua tuhan/ilaahayni itsnayni; hanya Dialah/innamaa huwa Tuhan yang tunggal/ilaahun waahidun”, AQ 16.51); (“Ilahukum ilahun wahidan/Tuhan kalian Tuhan yang satu”, AQ 16.22; 21.108); (Pada para Ahlu Kitab: “ilahuna wa-ilahukum wahidun/Tuhan kami dan Tuhan kalian satu”, AQ 29.46); (“aja’ala/Mengapa ia jadikan tuhan-tuhan itu/al-aalihata Tuhan yang tunggal/ilaahan waahidan?”, AQ 38.5 dan dalam 35 ayat lainnya untuk tuhan-tuhan/aalihat)

Bahkan, Quran juga menyampaikan bahwa kaum Musyrikin QURAISH, kaum kafir YAHUDI/KRISTEN di PRA ISLAM-pun, ketika menyebut DEWANYA sendiri, mereka sebut sebagai, ALLAH, sample:

  • “wala-in (dan jika) sa-altahum (kamu tanya mereka) man (siapa) khalaqa alssamaawaati waal-ardha (menciptakan langit-langit dan bumi) wasakhkhara alsysyamsa waalqamara (dan menundukkan matahari dan bulan)? layaquulunna (tentunya mereka berkata) allaahu/اللَّهُ (Allah)..” [AQ 29.61]..”..man nazzala mina alssamaa-i maa-an fa-ahyaa bihi al-ardha min ba’di mawtihaa (siapa menurunkan dari langit air lalu menghidupkan dengan itu bumi sesudah matinya)? layaquulunna (tentunya mereka berkata): allaahu (Allah)..” [AQ 29.63, Al Makiyah, urutan turun ke-85]
  • “..alladziina qaaluu (mereka yang berkata) inna (Sesungguhnya) allaaha/اللَّهَ (Allah) huwa (Ia) almasiihu ibnu maryama (Al masih putra maryam)..” [AQ 5.17] .. “waqaalati (dan berkata) alyahuudu waalnnashaaraa (kaum Yahudi dan Nasrani): “nahnu abnaau (Kami anak-anak) allaahi/اللَّهِ (Allah)..” [AQ 5.18, Al Madaniyah, urutan turun ke-112]
  • waqaalati alyahuudu (dan berkatalah kaum Yahudi) ‘uzayrun ibnu (Uzzair anak) allaahi/اللَّهِ (Allah) waqaalati alnnashaaraa (dan berkatalah) almasiihu ibnu (Al masih anak) allaahi/اللَّهِ (Allah) dzaalika qawluhum bi-afwaahihim (Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka) yudaahi-uuna qawla alladziina kafaruu min (mereka meniru perkataan kaum kafir terdahulu) [AQ 9.30, Al Madaniyah, urutan turun ke-113]

Jadi, ketika menyebut kata tuhan secara umum atau tuhan orang lain, mereka gunakan “illah” namun ketika menyebut DEWANYA SENDIRI (tunggal), mereka gunakan “ALLAH”.

Karena kaum musyrikin Mekkah percaya bahwa masing-masing bangsa punya tuhan yang berbeda, maka wajar saja mereka berkata, “aja’ala (Mengapa ia jadikan) tuhan-tuhan itu (al-aalihata) Tuhan yang tunggal (ilaahan waahidan)? inna haadzaa lasyay-un ‘ujaabun (Sungguh ini suatu hal yang sangat mengherankan)” [AQ 38.5, Al Makiyah urutan turun ke-38]

Apakah Hubal/Baal = ALLAH SWT?
Asal usul Hubal:

    Ibnu Hisyam berkata bahwa salah seorang dari orang berilmu berkata kepadaku bahwa AMR BIN LUHAI pergi dari Makkah ke Syam untuk satu keperluan. Ketika tiba di Ma’arib, daerah di Balqa’. Ketika itu, Ma’arib didiami Al-Amaliq–anak keturunan Imlaq (ada yang mengatakan Amliq) bin Lawudz bin Sam bin Nuh. Di sana, Amr bin Luhai melihat mereka menyembah Ilah. Ia berkata kepada mereka, “ilah-ilah apa yang kalian sembah seperti yang aku lihat ini?” Mereka berkata kepada Amr bin Luhai, “Kami menyembah ilah-ilah ini guna meminta hujan kepadanya, kemudian ia memberi kami hujan. Kami meminta pertolongan kepadanya kemudian ia memberikan pertolongan kepada kami.” Amr bin Luhai berkata kepada mereka, “Apakah kalian mau memberiku satu ilah untuk aku bawa ke jazirah Arab kemudian mereka menyembahnya?” Mereka memberi Amr bin Luhai satu ilah yang bernama HUBAL. Amr bin Luhai tiba di Makkah dengan membawanya. memasangnya, kemudian memerintahkan manusia menyembahnya dan mendewakannya [Sirat Nabawiyah Ibn ishaq, Jilid ke-1, Bab.10, hal 60-61]

Hubal kemudian menjadi sesembahan kaum Quraish, termasuk pula Kakek dan Ayah Muhammad SAW:

    Riwayat ‘Amru bin Kholid – Zuhair – Abu Ishaq – Al Baro’ bin ‘Azib bercerita: “..Kemudian Abu Sufyan mulai menyenandungkan sya’ir: ‘Tinggilah HUBAL, Tinggilah HUBAL (أُعْلُ هُبَلْ، أُعْلُ هُبَلْ‏‏)’ Maka Nabi SAW berkata: “Mengapa kalian tidak membalasnya?”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang harus kami katakan?”. Beliau berkata: “Ucapkanlah: Allah tinggi dan Agung (اللَّهُ أَعْلَى وَأَجَلُّ)”. [Bukhari no. 2812, 3737. Ahmad no.17853. Juga di Ahmad no.4182 (beda perawi, dari Ibn Mas’ud), namun di Ahmad no.2478, Riwayat Sulaiman bin Dawud – Abdurrahman bin Abu Az Zinad – ayahnya – Ubaidullah – Ibnu Abbas: “..Tiba-tiba Abu Sufyan berteriak dibawah gunung; “Tinggilah Hubal” sebanyak 2x, yaitu nama tuhannya, “dimana Ibnu Kabsyah, dimana Ibn Quhafah dimana Ibn Khaththab, ” lalu berkatalah Umar: “ya Rasulullah bolehkah aku menjawabnya?” beliau bersabda: “iya, ” ketika ia mengatakan Tinggilah Hubal, Umar berkata; “Allah Tinggi dan agung”)] Abu Sufyan berkata lagi: “kami punya ‘Uzza dan tidak memaafkan kalian (إِنَّ لَنَا الْعُزَّى وَلاَ عُزَّى لَكُمْ)” Maka Nabi SAW berkata lagi: “Mengapa kalian tidak membalasnya?”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang harus kami katakan?”. Beliau berkata: “Ucapkanlah: Allah Pelindung kami dan tidak melindungi kalian (اللَّهُ مَوْلاَنَا وَلاَ مَوْلَى لَكُمْ)” [Bukhari no. 2812, 3737, Ahmad no.17853]

    Ibnu Ishaq berkata ..Abdul Muththalib (Kakek Muhammad SAW) bernadzar bahwa jika ia mempunyai 10 anak kemudian mereka besar dan mampu melindunginya, ia akan menyembelih salah seorang dari mereka untuk Allah di samping Ka’bah. Ketika anaknya genap 10, dan..mampu melindunginya, ia kumpulkan mereka dan menjelaskan nadzarnya serta mengajak mereka menetapi nadzar tersebut untuk Allah. Mereka mentaatinya..Kemudian Abdul Muththalib membawa mereka ke Patung Hubal di Ka’bah. Patung Hubal terletak di atas sumur di dalam Ka’bah. Sumur tersebut adalah tempat pengumpulan hewan sembelihan untuk Ka’bah. Di samping Patung Hubal terdapat 7 dadu dan pada setiap dadu terdapat tulisan…Abdul Muththalib berkata kepada penjaga kotak dadu, “Undilah anak-anakku sesuai dengan dadu mereka.” ..Abdul Muththalib bangkit dari duduknya kemudian berdoa kepada Allah di samping Patung Hubal, sedang penjaga kotak dadu mengkocok kotak dadunya, dan dadu keluar atas nama Abdullah (Ayah Muhammad SAW). Abdul Muththalib menggandeng tangan Abdullah dan mengambil parang, kemudian membawa Abdullah ke Patung Isaf dan Nailah untuk disembelih…Orang-orang Quraisy bangkit dari balai pertemuan mereka dan menemui Abdul Muththalib..Orang-orang Quraisy dan anak-anak Abdul Muththalib berkata kepadanya, “Demi Allah, engkau tidak boleh membunuhnya untuk selama-lamanya hingga engkau bisa memberi alasan untuk tindakanmu ini. Jika engkau bersikeras menyembelihnya, maka setiap orang akan menyembelih anaknya. Kalau begitu, apa artinya manusia seperti itu?”.. [Sirat Nabawiyah, Ibn Ishaq, bab 29. hal. 124-128]

Namun Al Quran telah menyatakan bahwa Baal BUKANLAH Allah SWT:

    Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul-rasul. ketika ia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu tidak bertakwa? Patutkah kamu menyembah Ba’l (“بَعْلًا”/ba’lan) dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, yaitu Allah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu?” Maka mereka mendustakannya,..Dan Kami abadikan untuk Ilyas di kalangan orang-orang yang datang kemudian. “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas?” [AQ 37.123-130]

Jadi, walau kata “HUBAL” TIDAK PERNAH ADA di Quran (yang tertulis: BAAL), namun di hadis ada, jadi Baal = Hubal, dan ini, BUKANLAH Allah SWT.

Di Alkitab, Elias yang keturunan ISRAEL/YAKUB menentang pemujaan terhadap BAAL dan Asytoret dikalangan kaum Israel:

    “Segera sesudah Ahab melihat Elia, ia berkata kepadanya: “Engkaukah itu, yang mencelakakan Israel?” Jawab Elia kepadanya: “Bukan aku yang mencelakakan Israel, melainkan engkau ini dan kaum keluargamu, sebab kamu telah meninggalkan perintah-perintah YHWH dan engkau ini telah mengikuti para Baal/Habaalim [1 Raja 18.17-18. Di kisah ini, Elia menyembelih 450 nabi pemuja Baal dan 400 nabi pemuja Asyera.(1 raja 18.19,40)]

Untuk urusan Allah yang dipersekutukan, Muhammad tidak kalah tegas dengan Elia, di saat “pembebasan” kota mekkah, Ia babat 360 Patung di Kabah:

    Diriwayatkan Abdullah bin Masud:
    Rasullullah SAW memasuki Mekkah (pada tahun penaklukan Mekkah) dan terdapat 360 berhala di sekitar Ka’bah. kemudian Ia mulai memukul mereka dengan tongkat di tangan dan berkata, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”(AQ 17.81) ‘”Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak akan mengulangi (AQ 34.49) [Bukhari 6.60.244]

    Yang tersisa hanya 1 (Satu), yaitu batu hitam yang Muhammad sebut sebagai ALLAHUAKBAR (Allah yang lebih besar).

    Diriwayatkan Ibn Abbas:
    Rasullullah melakukan tawaf di Ka’bah Baitullah di atas unta. Setiap kali sampai di sudut (ar-rukun, tempat hajar aswad/batu hitam) Ia menunjuk batu itu dengan sesuatu pada tangannya dan menyebut “Allahu-Akbar” (takbir) [Bukkhari 2.26.697/no.1525, Bukhari 2.26.681,682/no.1508, 1509; Bukhari no.4483; Musnad Ahmad no.2258; Darimi no. 1774]

Apakah YAHWEH = ALLAH SWT?
Kepada MUSA, telah disampaikan bahwa SEBUTAN dan NAMA sesembahan mereka, turun temurun dan selamanya, adalah YAHWEH dan BUKAN YANG LAINNYA, sample:

    Dan berfirmanlah (“ויאמר”/wayyōmer) selanjutnya (ōwḏ) ELOHIM (אֱלֹהִים) kepada Musa (“אל משה”/’el-moseh): “Beginilah kaukatakan (“כה תאמר”/kōh-ṯōmar) kepada KAUM ISRAEL (“אל בני ישראל”/’el-bəni Yisrael): YHWH (יהוה), Allah (“ואלהי”/elohe) moyangmu (abotekem), Allah ABRAHAM, Allah ISHAK dan Allah YAKUB/ISRAEL, telah mengutus aku (šselahani) padamu: (alekem) inilah (zeh) NAMA-KU (“שמי”/semi) UNTUK SELAMANYA (“לעלם”/lə‘ōlām) dan itulah (wəzeh) SEBUTAN-KU (“זכרי”/Zikri) TURUN-TEMURUN (lədor dor) [Keluaran 3.15]

    Alkitab bahasa Arab:
    Dan berfirmanlah (“وقال”/wa qal) ALLAH (“الله”/) selanjutnya (“ايضا”/’aydaan) kepada Musa (“لموسى”/lamusaa): beginilah kau katakan (“هكذا تقول”/hkdha taqul) kepada kaum Israel (“لبني اسرائيل”/libani ‘iisrayiyl): YHWH (“يهوه”/Yehuwa), ALLAH (“اله”/alah/ilah) moyangmu (“آبائكم”/abayikum), Allah ABRAHAM, Allah Ishak dan Allah YAKUB/ISRAEL (“اله ابراهيم واله اسحق واله يعقوب”/alh ‘iibrahim walh ashaq walh yaequb), telah mengutusku (“ارسلني”/arsiluni) padamu: (“اليكم”/’iilaykum) inilah (“هذا”/idha) NAMA-KU (“اسمي”/aismi) UNTUK SELAMANYA (“الى الابد”/’iilaa al’abad) dan inilah (waidha) SEBUTAN-KU (“ذكري”/dhikri) TURUN TEMURUN (“الى دور فدور”/’iilaa dawr fadur) [Keluaran 3.15]

    Berkatalah Allah/Elohim kepada Musa: “Aku adalah YAHWEH (“אני יהוה”/ani yahweh). Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub (“וארא אל אברהם אל יצחק ואל יעקב”) sebagai Allah gunung (“באל שדי”/El Shaddai), tetapi nama-Ku (“ושמי”/usemi) YHWH (יהוה) belum Aku nyatakan pada mereka (“לא נודעתי להם”/lo nowdati lahem) [Keluaran 6.2-3], juga “YHWH jagoan (“איש”/’iysh) perang; YHWH, nama-Nya” [Kel 15.3], juga, “(mereka) agar tahu (wayedau) bahwa (ki) Engkau (’attāh) bernama (šimḵā) YHWH, cabang (ləbaddeka) El-Yon di seluruh bumi (al kal ha-ares)” [Mazmur 83.18]

Juga, MUSA telah berpesan keras:

    “Apabila di tengah-tengahmu muncul SEORANG NABI (“נביא”/nabi) ATAU SEORANG PEMIMPI (holem), dan memberitahukan kepadamu suatu tanda atau mujizat, dan itu terjadi,

    [ATAU: saudaramu laki-laki, anak ibumu, atau anakmu laki-laki atau anakmu perempuan atau isterimu sendiri atau sahabat karibmu; ATAU: Orang tertentu (anasim) anak-anak BELIAL (bani Beliyaal) dari tengah-tengahmu, yang mengajak para penduduk kota]

    dan membujukmu: untuk mengikuti ALLAH LAIN (ELOHIM AHERIM), YANG TIDAK KAU KENAL (ataupun oleh moyangmu, salah satu Allah (me Elohe) BANGSA-BANGSA sekelilingmu, yang dekat maupun jauh, dari ujung ke ujung bumi), mengajak berbakti kepadanya, maka JANGAN KAU DENGARKAN PERKATAAN NABI ATAU PEMIMPI ITU [ATAU semua yang ada di dalam kurung];

    sebab YHWH, Allahmu (YHWH ELOHE KEM), mencobaimu agar tahu, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi YHWH, Allahmu, dengan segenap hati dan jiwamu…

    NABI ATAU PEMIMPI ITU [ATAU semua yang ada di dalam kurung] HARUSLAH DI HUKUM MATI (Pertama-tama tanganmu sendiri .. kemudian seluruh rakyat. Engkau harus lempari dia batu, hingga mati) KARENA TELAH MENGAJAK MURTAD TERHADAP YHWH, Allahmu,..karena telah menyesatkanmu dari jalan yang diperintahkan YHWH, Allahmu, untuk dijalani..”. [Ulangan 13.1-18]

Quran menyampaikan banyak kisah Musa dan para nabi lain kaum Israel, yang tampaknya, Quran bermaksud menyatakan bahwa leluhur Muhammad, yaitu ISMAIL adalah sama seperti kaum Israel, juga sebagai warisannya YAHWEH dan juga menyembah YAHWEH.

Namun, Alkitab telah menyampaikan bahwa kaum Ismail BUKANLAH warisannya YAHWEH:

    ..Mereka mengadakan permufakatan licik MELAWAN UMAT-MU (“على شعبك مكروا مؤامرة”), dan mereka berunding untuk melawan orang-orang yang Kaulindungi (“وتشاوروا على أحميائك”). Kata mereka: “Marilah KITA LENYAPKAN MEREKA SEBAGAI BANGSA (“قالوا هلم نبدهم من بين الشعوب”), sehingga nama Israel tidak diingat lagi! (ولا يذكر اسم اسرائيل بعد)” Sungguh, mereka telah berunding dengan satu hati (“لانهم تآمروا بالقلب معا”), mereka telah mengadakan perjanjian melawan Engkau (“عليك تعاهدوا عهدا”): Penghuni kemah-kemah Edom (“خيام ادوم”) dan ORANG ISMAEL (“والاسمعيليين”), MOAB (“موآب”) dan orang Hagar (“والهاجريون”), Gebal dan Amon dan Amalek, Filistea beserta penduduk Tirus (“جبال وعمون وعماليق. فلسطين مع سكان صور”), Asyur telah bergabung dengan mereka (“اشور ايضا اتفق معهم”), menjadi kaki tangan bani Lot (“صاروا ذراعا لبني لوط”). [Mazmur 83.4-9, ALKITAB BAHASA ARAB]

Problemnya, BUKAN HANYA karena kaumnya Ismael TIDAK TERMASUK warisannya Yahweh, (Apakah Muhammad turunan Ismail? Lihat ini dan ini). NAMUN JUGA, kaum ARAB punya jalur leluhur yang berbeda dengan Abraham/Ibrahim:

  • KAUM ISRAEL/YAHUDI: NUH – SEM/SEMIT – ARPAKSAD – SELAH/SALIKH – ABIR/EBER/IBRANI/HEBREW – PELEG/QASIM – … – ABRAM/ABRAHAM/IBRAHIM – ISHAK – YAKUB/ISRELYEHUDA/YAHUDI – … (Alkitab Kej 11.11-26, Kej 25.19, Kej 29.35, “Sirah Nabawiyah”, Ibn Ishaq, jilid 1, hal.4)
  • KAUM ISMAIL: NUH – SEM/SEMIT – … – EBER/IBRANI/HEBREW – PELEG/QASIM -… – ABRAM/ABRAHAM – ISMAIL – … (Alkitab Kej 11.11-26, Kej 25.19, Ibn Ishaq, op.cit, hal.4). Ibraham, Ismail dan 12 anak Ismail, TIDAK PERNAH ke Mekkah, lebih spesifiknya di Kej 25.13-18, “Mereka itu mendiami daerah dari Hawila sampai Syur, di timur Mesir ke arah Asyur. Mereka menetap berhadapan dengan semua saudara mereka
  • KAUM JURHUM/Istri ISMAIL: NUH – SEM/SEMIT – ARPAKSAD – SELAH/SALIKH – EBER/ABIR – QATHAN/YOKTAN – … [Ibn Ishaq, hal.3, Tabari Vol.2, hal.15]
  • KAUM ARAB: NUH – SEM/SEMIT – [ARAM/IRAM dan LAWAD/LAWID], yaitu:

    SEM – IRAM – AUS – AD
    SEM – IRAM – EBER/ABIR – TSAMUD, JADIS/JUDAIS
    SEM – LAWAD – TASM, IMLAQ, UMAIM.

    Jadi, KAUM ARAB: Turunan dari AD, THAMUD, JADIS/JUDAIS, TASM, IMLAQ dan UMAIM (“Sirah Nabawiyah”, Ibn Ishaq, jilid 1, hal.4, Tabari, Vol.2, hal.17-18]

Dari ringkasan garis leluhur di atas, Ismail dan istrinya yang orang Jurhum itu, di samping BUKAN termasuk kaum ARAB, juga BUKAN termasuk warisannya YAHWEH.

Juga, bukankah Quran sendiri telah manyampaikan bahwa “..laa mubaddila likalimaatihi..” (“tidak akan berubah kalimat-kalimat-NYA”, AQ 18.27, AQ 6.34, 115)? Maka, mengapa Muhammad TIDAK PERNAH MENYEBUT tuhannya sebagai YAHWEH? Dan TIDAK 1X PUN, kata “YAHWEH” muncul di QURAN dan HADIS?

Hanya 1 (satu) penjelasan LOGIS untuk menjelaskan ini, yaitu YAHWEH BUKANLAH Tuhan-nya Muhammad, BUKAN TUHANNYA keturunan Ismail atau TUHAN turunan Ismail adalah SELAIN YAHWEH.

SIAPAKAH ALLAH SWT?
Quran telah berkali-kali menyampaikan bahwa Allah yang MUHAMMAD sembah bernama AL RAHMAN yang sekurangnya muncul 57x (6x sebagai AL Rahmaan AL Rahiim, 2x sebagai Allah Al Rahman Al Rahim dan sisanya berdiri sendiri sebagai nama dan tampak jelas pada perintah agar menyerukan NAMA TUHAN, yaitu Allah atau AL RAHMAN saja), sample:

  • Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah AL-RAHMAN (ud’uu allaaha awi ud’uu alrrahmaana). Mana saja (ayyan) apa yang kau seru (maa tad’uu), maka baginya (falahu) nama-nama (al asmaaul) baik (husna) [AQ 17.110, Al Makiyah, urutan turun ke-50]
  • “wais-al (dan tanyakanlah) man (siapa) arsalnaa (kami utus) min qablika (dari sebelum kamu) min rusulinaa (dari rasul-rasul kami) aja’alnaa (adakah kami buat) min duuni (dari selain) alrrahmaani (AL-RAHMAN) aalihatan (Allah-allah) yu’baduuna (untuk disembah) [34.45, Al Makiyah, urutan turun ke-63]
  • qul (katakan) huwa (Ia) alrrahmaanu AL-RAHMAN aamannaa bihi (kami beriman padanya) wa’alayhi (dan padanya) tawakkalnaa (kami bertawakal). fasata’lamuuna man huwa fiidhalaalin mubiinin (Kelak kamu akan mengetahui siapakah yang berada dalam kesesatan yang nyata) [AQ 67.29, Al Makiyah, urutan turun ke-77]
  • “Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam 6 hari, kemudian dia bersemayam di Arsy AL-RAHMAN (alrrahmaanu)..Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Sujudlah kamu sekalian kepada Rahman (lilrrahmaani)“, mereka menjawab: ” dan Siapakah (wa maa) Al-Rahman (alrrahmaanu)..” [AQ 25.59-60, Al Madaniyah, urutan turun ke-91]
  • “dan tuhan kalian (wa-ilaahukum) tuhan yang satu (ilaahun waahidun) tiada tuhan (laa ilaaha) selain dia (illaa huwa) AL-RAHMAN AL-RAHIM (alrrahmaanu alrrahiim)” [AQ 2.163, Al Madaniyah, urutan turun ke-87]
  • “Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir Kepada AL-RAHMAN (bialrrahmaani). Katakanlah (Qul): “Dia-lah (huwa) Tuhanku (rabbii) tidak ada Tuhan (laa ilaaha) selain Dia (illaa huwa); hanya pada-Nya (‘alayhi) aku bertawakkal (tawakkaltu) dan hanya pada-Nya (wa-ilayhi) aku bertaubat (mataabi)” [AQ 13.30, Al Madaniyah, urutan turun ke-96]
  • “Tidak Kami turunkan Al Qur’an padamu agar kamu susah (maa anzalnaa ‘alayka alqur-aana litasyqaa); tapi sebagai peringatan bagi mereka yang takut (illaa tadzkiratan liman yakhsyaa), diturunkan dari Ia pencipta bumi dan langit yang tinggi (tanziilan mimman khalaqa al-ardha waalssamaawaati al’ulaa), AL RAHMAN yang bersemayam di ‘Arsy (alrrahmaanu ‘alaa al’arsyi istawaa)” [AQ 20.2-5, Al Madaniyah, urutan turun ke-112]

Bukan cuma Quran, bahkan, hadis Qudsipun menegaskan nama Allah adalah AL-RAHMAN:

    Riwayat [Musaddad dan Abu Bakr bin Abu Syaibah] – Sufyan – Az Zuhri – Abu Salamah – Abdurrahman bin ‘Auf – Rasulullah SAW: “Allah berfirman: “AKU ADALAH AL RAHMAN(“قَالَ اللَّهُ أَنَا الرَّحْمَنُ”/qal alllah ‘ana alrrahman), yang mana rahim pecahan bagian nama dari Namaku (“وَهِيَ الرَّحِمُ شَقَقْتُ لَهَا اسْمًا مِنَ اسْمِي”/wahi alrrahim shaqaqt laha asmana min asmi)…[Abu Dawud no.1444 (Sahih), juga di Ahmad no.10064, 1571, 1589, 1590,1594,1595. Tirmdhi no.1830 (Sahih)]

Tentang Al RAHMAN, Quran menyampaikan bahwa Ia, tidak punya anak dan/atau sekutu dikerajaannya, misal:

  • Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Al-Rahman (ud’uu allaaha awi ud’uu alrrahmaana). Mana saja (ayyan) apa yang kau seru (maa tad’uu), maka baginya (falahu) nama-nama (al asmaaul) baik (husna)..Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah (aquli alhamdu lillaahi) Yang tidak punya anak (alladzii lam yattakhidz waladan) dan tidak ada baginya sekutu di kerajaan-Nya (walam yakun lahu syariikun fii almulki).[AQ 17.110-111, Al Makiyah, urutan turun ke-50]
  • Dan mereka berkata (waqaaluu) AL RAHMAN PUNYA ANAK (ittakhadza alrrahmaanu waladaan) sungguh kalian suatu yang buruk (laqad ji/tum syay-an iddaan) .. bahwa mereka mendakwakan AL Rahman BERANAK (an da’aw lilrrahmaani waladaan) dan tidak pantas bahwa AL RAHMAN punya anak (wamaa yanbaghii lilrrahmaani an yattakhidza waladaan) [AQ 19.88-92, Al Makiyah, urutan turun ke-44]
  • Tidaklah Allah punya anak manapun dan tidaklah tuhan manapun besertanya (maa ittakhadza allaahu min waladin wamaa kaana ma’ahu min ilaahin), tentunya setiap tuhan akan bawa apa yang ciptakannya (idzan ladzahaba kullu ilaahin bimaa khalaqa), dan tentunya akan mengatasi sebagian mereka atas lainnya (wala’alaaba’dhuhum ‘alaa ba’dhin). Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu (subhaana allaahi ‘ammaa yashifuuna) [AQ 23.91, Al Makiyah, urutan turun ke-74], juga di banyak ayat lainnya, antara lain: AQ 2.116, AQ 6.100-101, AQ 10.68, AQ 18.4, AQ 19.35, AQ 25.2, AQ 27.149-152, AQ 39.4, AQ 43.81, AQ 72.3, dll

Jika demikian, seharusnya, kaum Quraish kenal baik dengan Al RAHMAN, namun ternyata TIDAK:

    Ibn Sa’d:
    Riwayat ‘Ali Ibn Muhammad – Abu ‘Ali al-`Abdi – Muhammad Ibn al-Sa’ib – Abu Salih – Ibn `Abbas: “Para Quraish mengutus Al-Nadr Ibn al-Harith Ibn ‘Alqamah dan ‘Uqbah Ibn Abi Mu’ayt dan lainnya kepada kaum YAHUDI Yathrib dan berkata dan bertanya pada mereka: Kamu datang kapadamu karena masalah besar muncul diantara kami. Ada seorang Yatim-Piatu biasa yang membuat klaim besar, menganggap dirinya adalah utusan AL-RAHMAN, sementara itu KAMI TIDAK KENAL AL RAHMAN SELAIN RAHMAN dari AL YAMAMAH …” (Al-Tabaqat Al-Kabir, Ibn Sa’d, vol.1, bagian 1, bab 40.1.37)

    Ibn Kathir:
    Pada hari perjanjian Hudaibiyah, riwayat dari Ma’mar – Ayub – ‘Ikrimah: Suhail bin ‘Amr (Kafir Mekkah) datang…dan berkata, “‘Tuliskan perjanjian antara kami dan dirimu’. Nabi memanggil Ali dan berkata: ‘Tulis lah Bismillaahirrahmaanirrahiim (Dengan nama ALLAH ar-Rahman Ar Rahim)’. Suhail bin `Amr: ‘Mengenai Ar-Rahman, DEMI ALLAH, AKU SAMA SEKALI TIDAK TAU ARTINYA. Tetapi tulislah, ‘Bismikallaahumma (Dengan Namamu, ya ALLAH), seperti yang BIASA KAU TULIS’. Kaum Muslim: ‘Demi Allah kami tidak akan menuliskan kecuali: Dengan nama Allah, ar-Rahman ar Rahim.’. Rasullullah: ‘Tulislah Bismikaallahumma (dengan menyebut Nama-mu, Ya Allah)’ Beliau berkata: ‘Inilah yang ditetapkan oleh Muhammad Rasullullah’. Suhail: ‘DEMI ALLAH, seandainya kami tahu bahwa engkau Rasul ALLAH, niscaya kami tidak akan menghalangimu dari BAITULLAH dan tidak pula kami memerangimu. TAPI TULISLAH, ‘MUHAMMAD BIN ‘ABDILLAH’. Rasullulah: ‘…TULISLAH: “Muhammad bin ‘Abdillah.” (“Lubaabut tafsiir Min Ibni Katsiir”, Pentaqih Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdurahman bin Ishaq, cet ke-1, 2004, Vol 7, Juz 26, hal.453, untuk AQ 48.25-26. (online). Juga versi ringkasnya di: Vol.6, Juz 19, hal.125. Untuk AQ 25.59-60)

    Riwayat ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah – Yusuf bin Al Majisyun – Shalih bin Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf – bapaknya – kakeknya, ‘Abdurrahman bin ‘Auf: “Aku mengirim surat kepada Umayah bin Khalaf agar ia menjagaku dalam urusan keluargaku dan harta bendaku di Makkah dan aku akan menjaganya dalam urusan keluarganya dan harta bendanya di Madinah. Ketika aku menyebut nama Ar-Rahman ia berkata; “Aku tidak mengenal Ar-Rahman, tulislah namamu ketika engkau masih di jahiliyah”. Maka aku menulis namaku ‘Abdu ‘Amru [Bukhari no.2137]

    Ibnu Ishaq – Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Az-Zubair – ayahnya. Ibnu Ishaq juga berkata bahwa Abdullah bin Abu Bakar berkata kepada keduanya dan kepada selain keduanya dari Abdurrahman bin Auf: “Umayyah bin Khalaf adalah sahabat karibku di Makkah. Nama asliku Abdu Amr. Ketika aku masuk Islam, aku mengubah namaku dengan nama baru, yaitu Abdurrahman. Ini terjadi ketika kami tinggal di Makkah. Semasa masih di Makkah, Umayyah bin Khalaf sering menemuiku dan berkata, ‘Hai Abdu Amr, apakah engkau benci dengan nama yang diberikan kedua orang tuamu?’ Aku menjawab, ‘Ya betul.’ Umayyah bin Khalaf berkata, ‘Aku tidak kenal dengan Ar-Rahman…Abdurrahman bin Auf berkata, “Jika Umayyah bin Khalaf memanggilku dengan panggilan, ‘Hai Abdu Amr,’ aku tidak menyahutnya. Aku berkata kepada Umaiyyah bin Khalaf, ‘Hai Abu Ali, panggil aku sesukamu!’ Umayyah bin Khalaf berkata, ‘Engkau aku panggil dengan nama Abdul Ilah.’ Aku berkata, ‘Ya, tidak apa-apa!’ Sejak saat itu, jika aku berjalan melewati Umayyah bin Khalaf, ia berkata, ‘Hai Abdul Ilah!’ Aku menjawab panggilannya dan aku ngobrol dengannya. Pada Perang Badar, aku berjalan melewati Umaiyyah bin Khalaf..Ketika ia melihatku, ia berkata kepadaku, ‘Hai Abdu Amr!’ Aku tidak menyahut panggilannya. Umaiyyah bin Khalaf berkata lagi, ‘Hai Abdu Ilah!’ Aku menyahut, ‘Ya.’..[Sirah Nabawiyah, Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, jilid ke-1, Bab.117, hal.607. Juga di Tabari, “The Foundation of the Community”, Vol.7, Hal.58-59]

[Debat mengenai RAHMAN: Situs Islam (ini) VS Situs Kristen (ini dan ini)]

Al RAHMAN ternyata DEWA ASING bagi kaum Quraish MEKKAH, sehingga keberatan Quran tentang Al-Rahman yang dikatakan punya anak dan sekutu, tampaknya terkait dengan kebiasaan kaum Arab area lainnya, sebagaimana terekam di beberapa inskripsi Sabian, di Selatan Arabia (terdapat 58 epigraph yang mengandung “Hrmnn”/Rahman), misal:

  • Ry 506 (Tahun 662 Him/559 M): (“1 b-hyl Rhmnn w-ms¹h-hw mlkn ʾbrh z-b-Ymn ((ʾbrh Zybmn))mlk S¹bʾ w-d-Rydn w-Hdrmwt.. 9 [b]n [b-]hyl Rhmnn..“/”Dalam kuasa Rhmnn dan mesiahnya, Raja Abraha di Yaman, Raja Saba, Du Raydan… 9 bn dalam kuasa Rhmnn,..”)
  • CIS 541 (Tahun 658 Him/Jun 547): (“1 b-hyl w-[r]dʾ w-rh—2 mt Rhmnn w-Ms¹—3 h-hw w-Rh [q]ds¹ s¹trw“/”Dalam kuasa, bantuan dan kemurahan Rhmnn, mesiahnya dan roh kudus, telah ditulis..”)
  • Ist 7608 bis Res 3904 (Beberapa tahun setelah kekalahan Raja dhu-Nuwas, sekitar tahun 525 M): (“16 [… …]s¹m Rhmnn w-bn-hw krs³ts³ ġlbn [… …]“/”16 Dalam nama Rhmnn dan anaknya, Kristus, pemenang”). Inkrispsi ini oleh Bseston dianggap terkait dengan Wellcome A 103664: (“5 [… …]w Rḥmnn w-b[… …]“/”5 [… …] Rhmnn dan anaknya [… …] “)

Menariknya arti Sabian/Shbabii sendiri adalah MURTAD: “…Abu ‘Abdullah: ‘..Shabi’i adalah KELUAR DARI SUATU AGAMA KE AGAMA LAIN’ Abu’ ‘Aliyah: ‘Ash-Shabi’un adalah kelompok dari Ahlul Kitab yang membaca Kitab Zabur/MAZMUR’” [Bukhari no.331]. Pendapat Abu ‘Abdullah punya dukungan contoh-contoh sebagaimana termaktub juga di hadis Bukhari no.3261 dan Muslim no.4520 (tentang Abu Dhar, orang Ghiffar, yang pindah ke Islam ketika di Mekkah dan disebut Shabii/Murtad oleh kaum Quraish Mekkah), juga di Bukhari no.4024 dan Muslim no.3310 (tentang Tsumamah, penduduk Yamamah, ketika menjadi tawanan Muhammad, ia pindah Islam dan ketika umroh ke Mekkah, ia ditanya keshabiiannya/kemurtadnya oleh orang-orang]

Di beberapa inkripsi Sabian lain, bahkan para Yahudi di area itupun, terekam tidak menyembah YHWH malah ikut menuhankan, Al Rahman, misal:

  • Ry 508, 633 Him/523 M (tentang Raja Yusuf/Dhu Nuwas): (“10 ..lhn d-l-hw s¹myn w-ʾrdn.. 11… w-b-]hfr rhmnn (d)n ms’ndn bn kl hs’s'[s’]m w-mhdʿm w-trhm ʿly kl ʿlm rhmnn rhmk mrʾʾt“/”10 ..Tuhan langit dan bumi.. 11…dan dengan perlindungan dari Rahman pada inkripsi ini dari kerusakan dan pencurian. Karena engkau Rahman adalah pengasih untuk seluruh dunia, engkaulah Tuhan maha pengasih”).

    Inkripsi ini yang paling jelas menunjukan tuhan nasional daerah itu, walaupun Ia Yahudi adalah Rhmnn

  • CIH 543: “1 [b]rk w-tbrk s¹m Rhmnn d-b-s¹myn w-Ys³rʾl w-2 ʾlh-hmw rb-Yhd“/”1 Semoga berkat dan diberkati, dalam nama Rhmnn, yang ada di langit dan Israel dan tuhan mereka, tuhan para yahudi”). Juga Ry 520, Tahun 574 Him/464 M (“w Rhmnn bʿl s¹myn“/”Tuhan di Langit”). Untuk Doa, Hamilton 11 (“3 l-ys¹mʿn R—4 hmnn slt-s¹“/”Semoga Hrmnn mendengar doanya”)
  • Ja 1028 (Tahun 633 Him/523 M): (“1 l-ybrkn ʾln d-l-hw s¹myn w-ʾrdn.. 9 ….Rhmnn bny-hw.. 11…w-k-b-hfrt s¹myn w-ʾrdn..w-Rhmnn ʿlyn b—12..ʿly s¹m Rhmnn..rb-Hd b-mhmd“/”1 Semoga Tuhan pemilik Langit dan bumi…9 …semoga Hrmnn memberkati anak-anak mereka.. 11…dibawah perlindungan Langit dan bumi..dan Hrmnn yang maha tinggi. 12 …dalam nama Rhmnn…Rb-Hd maha mulia”). Kata “Rb-Hd”, “Rb-Yhd” (CIH 543) dan “Rb-Hwd” (Ry 515), entah kenapa, semua diterjemahkan sebagai “Tuhan kaum Yahudi”.

Semua Inkripsi di atas, menunjukan bahwa Rahman BUKAN sebagai sifat Tuhan, melainkan NAMA TUHAN yang mereka sembah di area itu.

SIAPA AL-RAHMAN?
Inskripsi Tell el Fakhariya, yang tertulis dalam 2 bahasa (Akkadian dan Aramik) di patung Hadad (Raja Guzana dan Sikan, Hadd-yith’i mendirikannya sebagai nazar) yang berasal dari tahun 850 SM (atau dari abad ke-11 SM) [“The Date of the Tell Fekherye Inscription”, J. Naveh, Shnaton 5-6, hal.130-140, 1978-79. Juga di wikipedia], menyampaikan Hadad adalah Al-Rahman, berikut inskripsi dan Translasi-nya:

    dmwtʾ zy hdysʿy zy šm qdm hdd skn gwgl šmyn wʾrq mhnht ʿsr wntn rʿy wmšqy lmt kln wntn šlh wʾdqwr lʾlhyn klm ʾhwh gwgl nhr klm mʿdnmt kln ʾlh rhmn zy tslwth tbh ysb skn mrʾ rb mrʾ hdysʿy mlk gwzn br ssnwry mlk gwzn lhyy nbšh wlmʾrk ywmwhw lkbr šnwh wlšlm byth wlšlm zrʿh wlšlm ʾnšwh wlmld mrq mnh wlmšmʿ tslwth wlmlqh ʾmrt pmh knn wyhb lh wmn ʾhr kn ybl lknnh hds wšmyn lšm bh wzy yld šmy mnh wyšym šmh hdd gbr lhwy qblh […]

    Arti:
    Patung oleh Haddu-Yith’ī, untuk Hadad dari Sikan, pemelihara (jalur-) langit dan bumi, pemberi kekayaan dan penyedia padang gembalaan dan pengairan di semua area, pengisi wadah adagarru untuk para dewa, saudaranya, (jalur-) pemelihara semua sungai penyubur dunia, DEWA PEMURAH bagi yang berdoa baik [Healey: TUHAN MAHA PENGASIH, bagi yang berdoa baik]. Ia yang bersemayam di Sikan, TUHAN MAHA BESAR dari Had-Yith’ī, penguasa Gozan, putra Sas-Nuri, penguasa Gozan mendirikan patung untuk mendapatkan kesehatan, umur panjang, tahun panjang pemerintahan, terlindungi keluarga, keturunan dan rakyatnya, dijauhkan dari penyakit, mohon dikabulkan, Semoga siapapun dimasa depan, menemukannya rusak, berkenan memperbaikinya dan mencantumkan kembali namaku dan siapa yang menghapus dan menggati namaku dengan namanya, semoga HADAD, Sang Penakluk, berkenan menjadi hakimnya [..]

Krzysztof Kocielniak menyatakan, “Inkripsi ini untuk Dewa kaum Aram, Hadad..di versi Akkadian, Adad disebut rēmēnȗ. Perlu ditambahkan bahwa rēmēnȗ sebagai gelar dewa Marduk. Raḥmān dalam versi tulis “rḥmn” punya akar pagan dan sebagai gelar raja maupun Dewa Marduk” [“Jewish and Christian religious influences on pre-Islamic Arabia on the example of the term RḤMNN (“the Merciful”)“]. Juga, Robert M Kerr, dengan merujuk inkripsi yang sama, menyatakan tentang Dewa Hadad sebagai AL Rahman [“Aramaisms in the Qur’an and their Significance“, hal.185]

Bahkan Prof Hitti-pun, seorang ulama Islam yang juga Profesor literatur Semitic, Ketua Bahasa Oriental, Peneliti, dan Bidang studi Budaya Arab menyatakan, “..kata Rahman sangat penting karena memiliki padanan pada bahasa Arab Utara, al-Rahman…Meskipun digunakan dalam berbagai tulisan untuk merujuk pada Tuhan orang-orang Kristen, kata itu jelas di pinjam dari nama salah satu dewa tertua di Arab selatan. Al Rahim juga muncul sebagai nama dewa (RHM) dalam tulisan-tulisan pra Islam dan tulisan orang-orang Sabian” [“History of The Arabs“, hal.132]

Jadi, RAHMAN tampaknya memang Dewa utama Selatan Arab. Namun, apakah Hadad/Marduk mewarisi turunan kaum Arab atau bahkan Ismail? ini yang menjadi pertanyaan pada akhirnya dan tentunya, sangatlah tidaklah patut, seorang atau sekelompok orang, ngotot menyembah Allah lain yang bukan menjadi porsi untuk bangsanya. Bagaimana dengan Anda? [↑]


Latifayah VS Maria Sang Perawan Suci: “Anak Yesus” VS “Yesus Anak Malaikat Allah”


Jika anda percaya kebenaran berita di bawah ini, maka seluruh tulisan setelahnya, TIDAK PERLU dibaca lagi, namun jika tidak, maka aplikasikanlah juga pada 2 buku suci (Alkitab dan Quran) yang memberitakan kehamilan Ilahi perawan Maria:

    Cincinati – Remaja Ohio berusia 15 tahun mengklaim mengandung anaknya Yesus Kristus, setelah “dihamili secara ilahi” saat didatangi malaikat
    Latifah Smith-Nabengana mengatakan bahwa dirinya didatangi malaikat Allah di bulan Juli 2015, yang berkata bahwa ia seorang yang terpilih untuk melahirkan anak Kristus..

    “Ia mengatakan padaku bahwa Ia adalah Nephilim, seperti yang tertulis di Alkitab,” kata gadis muda itu. “Ia katakan bahwa Ia membawa pesan dari Yesus, Ia berkata bahwa Aku akan hamil dan bahwa aku akan melahirkan seorang putera, anak Yesus”

    Nephilim adalah benar makhluk mitologi yang ada di Kejadian 6:4: “Pada waktu itu Nefilim ada di bumi, dan juga sesudahnya, ketika anak-anak Allah mendatangi anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; mereka adalah orang perkasa di jaman lalu, orang-orang yang terkenal”

    Jenis makhluk ini tidak terdengar lagi selama ribuan tahun terakhir, sehingga klaim remaja ini mengejutkan semua orang di keluarganya saat ia umumkan. Mereka sendiri adalah para orang yang sangat berkeyakinan, mereka dapat dengan cepat menerima klaimnya dan memberikan dukungan penuh pada remaja 15 tahunan ini.

    Dokter medis yang mengikuti kehamilannya, Dr. William Franklin Murphy, mengatakan ia tahu versi pasiennya, tetapi Ia tidak dapat untuk menerima atau menolak klaimnya.

    “Dari yang aku tahu, kehamilannya normal,” kata dokter kandungan itu. “Klaimnya tentang “kehamilan perawan” secara teknis benar, namun tidak berarti itu ada campur tangan ilahi. Aku dapat sampaikan anaknya laki-laki, tapi tidak ada cara bagiku untuk menentukan apakah itu adalah anak Yesus sampai dia lahir. Jika Ia meminta tes DNA nanti, maka kami dapat memberitahukan kalian siapa bapaknya”.. [Worldnewsdailyreport, “PREGNANT TEENAGER CLAIMS JESUS CHRIST IS THE FATHER OF HER BABY“, 11 Feb 2016]

Deja vu? Wajar, karena klaim yang sama yaitu setelah “didatangi Malaikat” kemudian hamil tercantum dalam Alkitab dan Quran untuk kelahiran Isa/Yesus.

Artikel ini kita bagi dalam 4 topik, yaitu:

  • Bagian ke-1: Kehamilan Perawan Maria dan Siapa bapak biologisnya Yesus?
  • Apakah Yesus Nabi/Mesias? []
  • Bagian ke-2: Di mana Yesus Lahir []
  • Bagian ke-3: Kapan Yesus Lahir [] dan
  • Bagian ke-4: Bulan apa Yesus Lahir []

Selamat membaca!

    Mau traktir Wirajhana, kopi? Kirim ke: Bank Mandiri, no. 116 000 1111 591


Hamilnya Maria/Mary/Maryam
Malaikat Allah mendatangi Maria tercantum dalam Alkitab dan AlQuran:

    Alkitab:
    “.. Di bulan ke-6, Allah menyuruh malaikat Gabriel ke Galilea, Nazaret, ke perempuan bujang (parthenos) yang bertunangan dengan pria bernama Yusuf dari rumah Daud, perempuan bujang bernama Maria dan mendatanginya (kai eiser chomai) berkata..bahwa Ia akan mengandung dan akan melahirkan anak bernama Yesus” [Lukas 1.26-31]

    “..Maria, ibu-Nya, tunangan Yusuf, sebelum dengan disetubuhinya (prin e suner chomai autos), ternyata ada hamil oleh roh Kudus (herisko en gaster echo ex Pneuma hagios), Yusuf adalah lelaki jujur yang tidak mau dirinya tercemar (Ioseph de aner autos dikaios eimi kai me thelo autos deigmatizo), bermaksud menyuruh dirinya pergi diam-diam (boulomai lathra apaluo autos), Ketika mempertimbangkan demikian, malaikat Tuhan nampak dalam mimpinya berkata: “Yusuf, anak Daud, jangan engkau kuatir menerima Maria sebagai isteri karena diturunkan oleh yang kudus (gar en gennao ex hegios) lahir anak itu dan disebut dengan nama Yesus (tikto de huios kai kaleo ho onoma autos Iesous) esudah bangun dari tidur, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan kepadanya. Ia mengambil perempuan itu, tetapi tidak bersetubuh/intim dengannya sampai lahir anaknya (au also ginosko autos heos tikto huis dan disebut dengan nama Yesus (kai kaleo onoma Iesous) [Mat 1.19-25]

      Note:
      Ayat terakhir menunjukan SETELAH MARIA MELAHIRKAN, Ia juga disetubuhi Yusuf/Yosep. Ini adalah bukti internal kanonikal bahwa TIDAK BENAR Maria tidak pernah disetubuhi lelaki lainnya lagi. Oleh karenanya, “saudara-saudara Yesus” adalah anak-anak kandung mereka, yaitu (satu atau seluruhnya dari nama-nama ini): Yakobus, Yoses/Yusuf, Simon dan Yudas, ref. Markus 6.3 dan Matius 13.55.

      Dalam Catholic Encyclopedia, yang mengutip dari sumber Apocrypha (Kitab James, arti Apocrypha = rahasia) dan “Yusuf si tukang Kayu” (abad ke-6/7 M): Yusuf/Yosep berusia 90 tahun dan Maria berumur 12-14 saat menikah. Yusuf/Yosep adalah duda, yang dulu di usia 40 tahun mengawini: Melcha/Elcha, mereka punya 6 anak, 4 nama anak laki-lakinya bernama sama dengan nama saudara-saudara Yesus.

      Sampai dengan Konsili Trent (1545 M), gereja hanya memutuskan menerima 9 kitab tambahan ke dalam kanon (termasuk makabe 1 dan 2, namun itu tidak termasuk kitab James). ke-9 kitab ini disebut kanon deutero (arti deutero = muda, kedua)

    AlQuran:
    ..fa-arsalnaa (kemudian kami mengirim) ilayhaa (padanya) ruuhanaa (roh kami) fatamatstsala (kemudian menyerupai) lahaa (baginya) basyaran (manusia) sawiyyaan (proporsional)..qaala innamaa anaa rasuulu rabbiki li-ahaba laki ghulaaman zakiyyaan (berkata (diterjemahan dan tafsir menyatakan ini adalah jibril): “Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”)..[AQ 19.17-21]

    wamaryama ibnata ‘imraana allatii ahsanat (dan Maryam binti Imran yang memelihara) vaginanya (farjahaa: “Farj” AQ 21.91, 23.5, 24.30, 24.31, 33.35, 50.6, 66.12, 70.29), maka Kami tiupkan (fanafakhnaa) ke dalam itu (fiihi) dari (min) ruh kami (ruuhinaa) [AQ 66.12. juga di 21.91: waallatii ahsanat farjahaa fanafakhnaa fiihaa (ke dalamnya) min ruuhinaa]

    Tafsir ibn kathir (1301 M – 1373 M):
    maksudnya “Ia hadir padanya dalam rupa manusia sempurna dan utuh”. Mujahid, Ad-Dahhak, Qatadah, Ibn Jurayj, Wahb bin Munabbih dan As-Suddi mengomentari statement allah bahwa “kami kirimkan ruh kami” maksudnya jibril..Ketika Jibril muncul di hadapannya dalam bentuk manusia, ia ketakutan dan berpikir akan diperkosa [AQ 19.16-21] ..Allah mengirimkan malaikat Jibril kepada Maryam, dan ia datang dalam rupa manusia dalam segala hal. Allah memerintahkannya untuk meniup kedalam celah dari pakaiannya dan nafas itu masuk ke kandungannya melalui bagian pribadinya. ini cara kehamilan Isa. [AQ 66.12]. Allah menyampaikan pada Maryam itu ketika Jibril sampaikan yang Allah sampaikan, Ia menerima ketetapan Allah. Banyak ulama kalangan awal (Salaf) telah menyebutkan bahwa di saat itu Malaikat meniup ke bagian terbuka pakaian yang dipakainya. Kemudian nafas itu turun hingga memasuki vaginanya..[AQ 19.22-23]

    Ibn Arabi (561 AH/1165 M – 638 AH/1240 M)
    :
    “Sesungguhnya seperti ‘Isa di sisi AllAh, adalah seperti Adam. Allah menciptakannya [khalaqahu, orang ke-3, pria tunggal] dari tanah, kemudian Allah berfirman padanya [lahu, orang ke-3, pria, tunggal]: “Jadilah”, maka jadilah ia [fayakuunu, orang ke-3, pria, tunggal]. [AQ 3.59].

    Kata dia/nya/ia merujuk pada “ADAM [Futûhât, ed. Yahya, Vol. 2, pp. 250 and 299. Kitâb al-Alif,in the Rasâ’il, p. 8: Allah berkata “menciptakannya dari tanah” dan tidak “menciptakan mereka”, dan kata ganti merujuk pada yang disebut terakhir]. Isa diciptakan dari cairan Maryam [Maa muhaqqaq] dan cairan tak tampaknya (Maa mutawahham) Jibril [Fusûs al-Hikam, Futûhât al-Makkîya, “The spirit and the son of the spirit, A reading of Jesus according to Ibn ‘Arabi”]. Isa dalam kandungan terjadi secara biologis, kedua orang tua menyumbangkan cairan mereka [Aisha’s Cushion: Religious Art, Perception, and Practice in Islam, Jamal J Elias, hal 233 atau di sini].

      Penggunaan nasab dengan nama perempuan (Isa bin Maryam):
      Dilakukan juga di bangsa Yahudi, misal: 1 SAM 26.6 (Abisai bin Zeruya + 2 saudaranya juga ben Zeruya). Zeruya adalah adik perempuan Raja Nahash dari Amon. Juga oleh bangsa Arab, misal: satu anak laki-laki `Ali bin Abi Talib (w. 661): Muhammad bin al-Hanifiyya atau contoh lain: Marwan bin al-Hakam (w. 684) dikenal sebagai bin al-Zarqa (anak dari perempuan bermata biru)


    Hadis Qudsi Imam Ahmad
    tentang dua Malaikat (Harut dan Marut): mabuk, menyetubuhi perempuan dan membunuh anak kecil:

      Yahya bin Abi Bukair – Zuhair bin MuhammadMusa bin Jubair – Nafi’ (budak Abdullah bin Umar) – Abdullah bin Umar – Nabi SAW:

      “Ketika Nabi Adam SAW diturunkan Allah ke muka bumi, para malaikat berkata: ‘Wahai Rabb, apakah Engkau jadikan disana orang-orang yang suka berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami selalu memuji-mujiMu dan mensucikanMu.’ Dia berkata “Aku Maha Mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.’ Para malaikat: ‘Wahai Rabb, kami adalah para makhluq yang lebih ta’at kepadaMu daripada anak cucu Adam.’ Allah Ta’ala berkata pada para malaikat:

      (note: terjemahan kitab 9 hadis lidwa terhenti sampai “..para malaikat:“. Selebihnya di bawah ini, lanjutannya diambil dari “1000 Qudsi Hadiths: An Encyclopedia of Divine Sayings”, Arabic Virtual Translation Center”, hadis Qudsi no.1019 dan dinyatakan sebagai hadis SAHIH)

      -> “datangkan dua malaikat yang akan turun ke bumi dan lihat apa yang akan diperbuat keduanya”. (Para malaikat) menjawab: “Tuhan kami, turunkanlah Harut dan Marut ke bumi”. Kemudian diciptakan perawan kembang yang tercantik dari manusia untuk mendatangi keduanya. Keduanya menjadi bernafsu (untuk menggaulinya). Wanita: “Tidak, demi Allah, kecuali kalian menyebutkan syirik pada Allah”. Malaikat: “Demi Allah, kami tidak berbuat syirik pada Allah”. Wanita itu pergi dan kembali dengan seorang bayi. Keduanya menjadi bernafsu (untuk menggaulinya). Wanita: “Tidak, demi Allah, kecuali kalian membunuh bayi ini”. Kedua malaikat: “Demi Allah, kami tidak membunuh”. Wanita itu pergi dan kembali membawa minuman keras (Khamar). Keduanya menjadi bernafsu padanya (untuk menggaulinya). Wanita: “Tidak, demi Allah, kecuali kalian meminum khamar ini”. KEMUDIAN KEDUANYA MEMINUM KHAMAR, MENGGAULI WANITA ITU DAN MEMBUNUH BAYI

      [Hadis Qudsi no.1019 yang berasal dari Imam Ahmad no.5902/No.6009 (arab). Musnad Bazzar no.1600. Ibn Hibban dalam sahih XIV/63 no.6186. Ibn Abi Ad-Dunya di Al-Uqubat no.222. Abdul ibn Humaid di Al-Muntakhab no.787. Variasi hadis lihat juga di “Angels in Islam: Jalal al-Din al-Suyuti’s al-Haba’ik fi akhbar al-mala’ik”, Stephen Burge, hal. 154-157. Untuk urusan sihir, terkait harut dan Marut, tafsir Ibn Kathir AQ 2.102 (arab) menyatakannya sebagai Israiliyat.

      Penilaian perawi hadis di atas untuk: Zuhair (Yahya bin Ma’in, Ahmad bin Hanbal: Tsiqah/jujur. An Nasa’i: da’if. Ibnu Hibban: disebutkan dalam ‘ats tsiqaat. Adz Dzahabi: Tsiqah Yughrab). Untuk Musa (Ibnu Hibban: disebutkan dalam ‘ats tsiqaat, Ibnul Qaththan: karakternya tidak dikenal. Ibnu Hajar al ‘Asqalani: mastuur (adil dan jujur, tapi belum tercapai kebulatan kesepakatan di antara para ulama). Adz Dzahabi: Tsiqah).

      Disebut Qudsi, karena merupakan ucapan ALLAH SWT bukan ucapan Nabi SAW, jadi hadis Qudsi adalah mirip Quran. Baik Quran dan hadis (arti hadis = berita) yang berujung pada nabi/sahabat sama-sama disampaikan melalui rantai perawi. Bedanya rantai perawi Quran lebih pendek, terhenti di Nabi. Para sahabatnya kemudian mengumpulkannya di jaman Khalifah Usman]

    Lebih lanjut tentang Islam: “Tentang Quran, Ayat Setan, Nabi, Kabah, Ibrahim, Qurban, Tradisi Jahiliyah dan Allah..” dan “SURGA di ISLAM: Jumlah Quota Maksimum? Dapat Apa Aja? Kapan?

Yesus jelas bukan anak kandung Yusuf/Yosep dan karena kaum Yahudi menganut “..yalad al mishpachah bayith ‘ab..” (turunan suku rumah bapaknya) (Bilangan 1.18), maka apakah Yesus masih dapat disebut turunan Yahudi?

Seseorang disebut sebagai anggota suku tertentu Yahudi/Ibrani adalah karena:

    (1) Lahir dari: Bapak dan Bbu Yahudi/Ibrani.
    (2) Lahir dari: Ibu NON Yahudi/Ibrani namun BAPAK Yahudi (sample: David anak Rut (perempuan turunan MOAB/non Israel: Ruth 1.22; 2.2) dan Boaz (Lelaki tturunan Yehuda: 1 taw 2).
    (3) Lahir dari: Ibu Yahudi bapak NON Yahudi (sample: Imanat 24.10 ikut Musa keluar dari Mesir) namun harus ikut agama Yahudi, dan
    (4) Merupakan budak milik kaum Yahudi dan/atau melalui adopsi oleh orang Yahudi dan/atau melalui konversi/IKUT agama Yahudi [Lihat juga: Who Is a Jew?]

Pastinya, Yesus adalah turunan Yahudi/Ibrani, NAMUN KEMUDIAN, karena

    “..milik pusaka perempuan itu (lahir dari kandungannya) AKAN DITAMBAHKAN KEPADA milik pusaka SUKU YANG AKAN DIMASUKINYA (berasal dari sperma suaminya) DAN AKAN DIKURANGKAN DARI milik pusaka SUKU NENEK MOYANG KAMI” (Bilangan 36.4)

    Maka berbicaralah Sekhanya bin Yehiel, dari bani Elam, katanya kepada Ezra: “Kami telah melakukan perbuatan tidak setia terhadap Allah kita, oleh karena kami telah memperisteri perempuan asing dari antara penduduk negeri. Marilah kita sekarang.. mengusir semua perempuan itu dengan anak-anak yang dilahirkan mereka, menurut nasihat tuan dan orang-orang yang gemetar karena perintah Allah kita. Dan biarlah orang bertindak menurut hukum Taurat [Ezra 10.2-3: Ini karena diantara 2 hal: Istri + turunan tidak ikut ajaran Yahudi atau pihak suami memuja Allah pihak Istri]

    ”dan dari antara kaum imam (Turunan Harun):..Barzilai itu memperisteri seorang anak perempuan Barzilai, orang Gilead itu (Suku Israel), DAN SEJAK ITU DINAMAI MENURUT NAMA KELUARGA ITU. Mereka itu menyelidiki apakah nama mereka tercatat dalam silsilah, TETAPI KARENA ITU TIDAK DIDAPATI, MAKA MEREKA DINYATAKAN TIDAK TAHIR UNTUK JABATAN IMAM [Ezra 2.61-62]

Walaupun silsilah Yesus di Lukas 3.23-27 dan Matius 1.1-16 merujuk Yusuf sebagai bapaknya namun Ia BUKAN ANAK KANDUNGnya dan penggunaan garis Ibu sebagai dasar klaim adalah TIDAK RELEVAN, pun jika dipaksakan, Maria ternyata turunan DAVID-NATHAN (Lukas 3.31) BUKAN turunan DAVID-SULAIMAN.

Jadi baik melalui garis Ayah dan Ibu, Yesus BUKAN PEWARIS PUSAKA garis DAVID-SULAIMAN dan Efraim/Yusuf. [juga lihat: Persoalan silsilah antara Lukas vs Matius].

Kemudian,
Jika benar Mary dan Yusuf tahu bahwa Yesus anak Allah dan benar bahwa mereka mengalami sendiri keajaiban seputar kelahiran Yesus, maka:

  • MENGAPA MEREKA HERAN mendengar cerita para gembala yang didatangi para malaikat dan tentara surga yang memberitakan kelahiran bayi mereka? (Luk 2.8-20) atau
  • MENGAPA MEREKA HERAN mendengar pernyataan Simon (dan Hana) tentang bayi mereka dan masa depannya, ketika Yesus di usia 40 hari? (Luk 2.21-40), atau
  • MENGAPA MEREKA HERAN MELIHAT YESUS dan MALAH MENEGURNYA? ketika Yesus di usia 12 tahun, menghilang dan 4 hari kemudian ditemukan di bait Allah sedang mendengarkan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada para alim ulama? (Luk 2.42-51), dan
  • MENGAPA Mary MALAH TIDAK MENGERTI dan Yusuf juga TIDAK MENGERTI dengan jawaban Yesus: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di tahta/urusan bapaKu (en pater mou)?” [Luk 2.42-51]

PADAHAL, bukankah:

  • 10 bulan sebelum kelahirannya, Mary mengklaim dirinya didatangi Malaikat yang menyampaikan bahwa dirinya terpilih melahirkan Yesus?
  • di rumah sanaknya (sugenes), Elizabeth, Ia berkata pada Mary: “..Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Lukas 1: 42-43) dan Mary menjawab: “..Sesungguhnya..Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus” (Lukas 1: 46-49)
  • di saat Yesus lahir, konon ada bintang berhenti di atas tempat bayinya, juga serombongan Magi datang menyembah bayinya dan mepersembahkan emas, kemenyan dan Mur (Mat 2.1-11)
  • Yusuf juga mengkaim didatangi Malaikat dalam mimpi: di 5-6 bulan sebelum kelahiran Yesus bahwa dirinya terpilih menjadi bapak anaknya Roh kudus (Mat 1.18-25) dan saat Yesus lahir agar keluarganya segera ke Mesir sehingga terhindar dari tangan kejam raja Herodes (Mat 2.13-18)

Lantas, mengapa Mary dan Yusuf tetap masih HERAN? masih tidak mengerti jawaban Yesus? dan koq malah nekad berani menegur anak Allah?

Jika benar Yesus anak Allah, seperti klaim Maria dan Yusuf, maka:

  • Mengapa ditempat asal Yesus sendiri, orang-orang MALAH TIDAK TAHU bahwa Yesus itu anak Allah atau bahkan Allah dan MALAH SAMPAI NEKAD BERANI MENOLAKNYA [Mat 13.57]?
  • Mengapa keluarga Yesus sendiri MALAH TIDAK TAHU Yesus itu anak Allah dan NEKAD BERANI menangkapNya dan mengatakan bahwa Yesus SUDAH TIDAK WARAS LAGI (Markus 3.21)
  • Mengapa bahkan “saudara-saudara-Nya sendiripun tidak percaya kepada-Nya” (Yohanes 7.5)?

Mengapa Mary dan Yusuf tega-teganya tidak memberitahukan keluarga dan para tetangga asal-usul ilahi-Nya?
Mengapa Mary dan Yusuf tega-teganya tidak memberitahukan keluarga dan para tetangga bahwa Yesus adalah Mesiah?
Mengapa Mary dan Yusuf tega-teganya TIDAK MEMBERIKAN KABAR BAIK ITU pada keluarga dan para tetangganya agar juga beroleh kesempatan untuk percaya dan agar juga beroleh KESELAMATAN SURGA yang konon tidak akan didapat JIKA TIDAK melalui Yesus? Benarkah Yesus anak Allah?

Yesus Bin Panthera?
Tampaknya klaim kaum Yahudi bahwa Yesus anak Haram telah ada dari awal kehidupannya, misalnya:

  • Yohanes 8.41, “..Jawab mereka: “Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah” (Ayat ini bisa punya 2 maksud: (1) kami (tidak seperti mu) bukan anak haram atau (2) kami tidak menduakan Allah)
  • Dalam kitab Apocrypha, “Gospel of Nicodemus” (pertengahan abad ke-4 M), Part 1, Act of Pilate, Ch.2, pesidangan Yesus dihadapan Pontius Pilate: “Dan para tetua Yahudi menjawab, berkata pada Yesus: ‘Apa yang kita lihat? Pertama, Kamu lahir dari perzinahan..’.. Annas dan Caiaphas berkata pada Pilate: ‘Kami bersama banyak orang berkata bahwa Ia lahir dari perzinahan..’

Sehingga tidaklah mengherankan, jika kemudian, pria bernama “Panthera”, seorang serdadu kerajaan Romawi, disebut-sebut sebagai bapak biologis Yesus berkembang luas di abad-abad awal kekristenan dan juga diketahui para bapak Gereja, misalnya: Origen (185-254 M) dalam “Origen conta Celcius” dan Santo Epiphanius (Uskup dari Salami, 315 – 403 M) dan bahkan termuat dalam Talmud Babilon (abad ke 3 s.d 5 M)

    Celcus (178 M):
    Tapi mari kita kembali ke tempat yang kaum Yahudi katakan, berbicara tentang Ibunda Yesus: “ketika Ia hamil Ia diusir oleh tukang kayu yang menjadi tunangannya, karena bersalah telah berzinah, dan bahwa ia melahirkan anak dari seorang prajurit tertentu bernama Panthera” [Pernyataan Celcus dikenali, karena Origen mengulangi lagi apa yang dinyatakan Celcus dalam “Origen contra Celcius”, bab.32], Juga Origen: “..Sebagaimana yang Celcus pikirkan, dengan tindakan perzinahan antara Panthera dan sang perawan” [Bab. 33] dan Origen tentang Celcus: “..Ia tdak percaya pembuahan oleh roh kudus dan percaya bahwa Ia dibuahi oleh seorang Panthera, yang merusak sang perawan” [Bab. 69]

    Epiphanius (315 -403 M):
    Mencoba membelokkan ini menjadi suatu cerita bahwa Panther adalah kakeknya Yesus dengan menyatakan, “..Joseph adalah saudara Cleopas anak dari Jacob yang bermarga/nama keluarga Panther. Kedua kakak beradik ini anak-anak dari yang bermarga/nama keluarga Panther” [The Panarion of Epiphanius of Salamis, Book II and III.De Fide 2nd Revise ed., Translated by Frank Williams, “Anachepalaeosis VII: 78 Againts Antidicomarians”, hal.620]

      Note:
      Di Jerman, pada bulan Oktober 1859, ditemukan batu Nisan yang tertulis: Tiberius Iulius Abdes Panthera (22 SM – 40 M) berasal dari Sidonia (sekarang adalah Sidon, sedikit di utara Judea), anggota pasukan pemanah [Lihat juga: James Tabor].

      Menariknya Alkitab menyatakan: Yesus lahir di jaman Pendaftaran ketika Kirenius menjabat sebagai wali Suriah [Luk 2.2], yaitu di 6 M, saat itu umur Panther adalah 28 tahun, walaupun tidak membuktikan apapun, namun ini suatu kebetulan yang menarik.

      Juga di Markus 7.22, “Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus dan Sidon. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan”.[Entah mengapa di terjemahan baru, kata SIDON hilang, padahal dalam bahasa Yunaninya tertulis: horion turos kai sidon], yaitu tahun ke-3nya pelayanan Yesus. walaupun ini tidak membuktikan apapun, namun juga suatu kebetulan yang menarik

    Talmud
    Rabbi Siemon b. Azzai mengatakan: Aku temukan gulungan buku silsilah di Yerusalem; di dalamnya tertulis bahwa bla-bla adalah anak haram.. [Yebamoth Folio 49a, Mishna/Pengulangan, catatan tertulis dari hukum lisan taurat dari generasi ke generasi. Note: “bla-bla” merujuk pada Yesus]

    ..Rabbi Eliezer:, “Tidakkah bin Stada membawa mantra dari Mesir..Mereka berkata kepadanya, “..Bin Stada adalah Bin Pantera. Rabbi Hisda:, “Suaminya adalah Stada, kekasihnya adalah Pantera.” Suaminya adalah “sebenarnya” Pappos bin Yehuda, ibunya adalah Stada. Ibunya adalah Miriam “Mary” penata rambut (penghalusan kata untuk maksud yang sangat miring. dalam bahasa Ibrani: “Miriam m’gaddela nashaia”, ini mungkin asal-usul nama Magdalena). Seperti yang kita katakan di Pumbeditha (nama kota di Babilonia, sekarang dekat Fallujah, Irak), “Ia telah curang “satath da/stada” pada suaminya.” (Talmud Babilon, Abad ke 3-5 SM: Shabbat 104b, Gamara/Komentar cat kaki no.19, Talmud yang tidak di sensor dan di Sanhedrin/Mahkamah Agama 67a, cat kaki no.12)

Karena jelas Yesus bukan bin Daud dan jika Yesus juga bukan bukan bin Gabriel, maka bisa jadi bahwa Yesus memang bin Panthera []

Apakah Yesus Nabi (nevi’i) dan/atau Mesiah (mashiach)?
Nabi adalah pembawa berita KEPADA RAKYAT (Bangsa yahudi dan/atau bangsa lain) tentang masa depan dan/atau orang terpilih (Mesiah): di masanya atau penerusnya DAN Nabi bertugas menegakan HUKUM Yahwe DAN menolong/menyelamatkan Israel dari bangsa lain dan atau dari memuja tuhan lain.

Nabi dari kalangan Yahudi jumlahnya 2x jumlah orang Israel yang keluar dari Mesir [Megillah 14a] yaitu untuk menyampaikan suatu bagian nubuatan yang dicatat, karena hanya nubuatan yang dibutuhkan untuk keturunan dan generasi masa depan yang ditulis di dalam Alkitab, namun yang tidak diperlukan, karena tidak berkaitan dengan generasi berikutnya, tidak ditulis, oleh karenanya, hanya terdapat 55 NAMA NABI (48 laki dan 7 perempuan: Sarah/Icah, Miriam, Deborah, Hannah, Abigail, Huldah dan Esther) tercantum di ALKITAB dan dari 55 nabi tersebut, nama Daniel TIDAK TECANTUM SEBAGAI NABI, ini artinya, Matius 24.15 TELAH KELIRU MENUDUH Daniel sebagai Nabi.

Terdapat 6 Nabi kalangan NON ISRAEL, yaitu: Ayub dan 3 temannya + Bapaknya Balaam (Beor) + Balaam. Untuk urutan kehadiran, Balaam, tampaknya hadir paling akhir, karena setelah balaam, roh kudus meninggalkan (dicabut dari) bangsa NON Israel secara permanen:

    “ונביאי אומות העולם, היו במידת אכזריות, שזה עמד לעקור אומה שלמה חנם על לא דבר. לכך נכתבה פרשת בלעם, להודיע למה סלק הקדוש ברוך הוא רוח הקדש מאומות העולם, שזה עמד מהם, וראה מה עשה” (Para nabi bangsa kafir berprilaku kejam, Itulah Ia (Balaam) yang membasmi seluruh orang tanpa alasan. Oleh karenanya kisah tentang Balaam dituliskan sebagai informasi mengapa Tuhan mencabut roh kudus dari bangsa-bangsa dan hanya melihatnya) [midrash Tanchuma 4.7.1, tentang Balaam]

Bahkan Roh kudus, akhirnya juga meninggalkan kaum Israel untuk jangka waktu tertentu:

    ”Ketika Nabi Haggai, Nabi Zechariah dan Nabi Malachi wafat, Roh kudus-pun meninggalkan Israel; namun masih dapat menerima Bath-kol (suara suci, kelas-2 kenabian) [Yoma 9bSotah 48b, Sanhedrin 11a]

Sehingga disetelah wafatnya Haggai, Zacharia dan Malachi, TIDAK ADA LAGI nabi HINGGA KEMUDIAN, “Ingatlah kepada Taurat yang telah Kuperintahkan kepada Musa, hamba-Ku, di gunung Horeb untuk disampaikan kepada seluruh Israel, yakni ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum. Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu MENJELANG DATANGNYA HARI TUHAN yang besar dan dahsyat itu [Maleakhi 4.4-5]

Elia datang tidak sendiri namun bersama Musa:

    Johannan ben Zakkai (Abad ke-1 M/w.80 M) menyampaikan perkataan Allah pada Musa: “Saat Aku kirim Elijah, KAMU BERDUA AKAN DATANG BERSAMA” [Neverim/Ulangan Rabba, 10.1/ Neverim Rabba 3.17].

KAPAN?

PENANGGALAN YAHUDI dibuat oleh Rabbi Yose bin Halafta (Abad ke-2 M), seorang Rabbi periode Mishana dari Sepphoris, Galile. Berdasarkan penanggalan itu, Penciptaan dunia mulai pada tanggal 25 Elul tahun ke-0/Julian: 22 Sep 3760 SM dan hari ke-6, ketika Adam dan Hawa diciptakan adalah hari ke-1 bulan Tishri/Julian: 7 Ocktober 3761 SM, oleh karenanya, tahun baru Yahudi/Rosh Hashana, yaitu hari ke-1, bulan Tishri/hari peniupan mulai pada tahun ke-2. Juga dalam Mishnah Torah-nya kaum Maimunit (Dari Musa bin Maimun, filsuf dan saintis Yahudi abad ke-12 M) yang menghitungnya dari hari ke-3 Nissan tahun itu (yaitu 22 maret 1178 M), maka, pada 4398 tahun sebelumnya, yaitu sewaktu PENCIPTAAN DUNIA adalah tahun ke-0 (dalam bahasa latin AM = Anno Mundi = “dalam tahun di dunia”) dan PENCIPTAAN MANUSIA terjadi di AM 1/3761 SM. [Lihat juga: “History of the World“, R. Rachel M. Solomin; Juga “Haaretz]

UMUR DUNIA 6000 TAHUN, 3 FASE-NYA DAN KEDANGANGAN MESIAH:

    R. Kattina: 6000 TAHUN LAMANYA DUNIA INI ADA, dan 1000, akan menjadi senyap, seperti ada tertulis: Hanya Tuhan sendiri yang akan ditinggikan pada hari itu (Yes 2.11). R.Abaye: Itu akan menjadi senyap 2000 TAHUN, seperti yang dikatakan, Setelah 2 HARI, Ia akan menghidupkan kita: PADA HARI KE-3, Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup dihadapannya (Hos 6.2). Ini telah diajarkan sesuai dengan R. Kattina:…1000 tahun dari ke-7 akan menjadi kosong, seperti ada tertulis, Dan Tuhan sendiri akan ditinggikan pada hari itu, ‘dan selanjutnya dikatakan, Mazmur dan nyanyian untuk hari Sabat (Mazm 92.1), artinya hari itu seluruhnya Sabat – dan juga dikatakan, Sebab 1000 tahun dimatamu, namun seperti kemarin, ketika berlalu (Mazm 90.4). Dalam Tanna yang diajarkan Elijah: DUNIA INI ADA 6000 TAHUN. 2000 TAHUN PERTAMA SEPI (tanpa taurat); 2000 TAHUN TAURAT BERKEMBANG; DAN 2000 TAHUN BERIKUTNYA ERA MESIANIK

    [Babylonian Talmud: Tractate Sanhedrin 97a. Tahun ke-6000, sebagai akhir dunia terjadi di tahun 2240 M. ERA MESIANIK, mulai dari hari ke-1 bulan Tishiri/ mulai di TAHUN 239 M atau sekitar 172 tahun setelah kehancuran kuil ke-2/69 M]

    Elijah berkata kepada R.Yehuda, saudara laki-laki R. Salia: ‘Dunia akan ada tidak kurang dari 85 TAHUN JUBILE, dan DI JUBILE TERAKHIRNYA, anak Daud akan datang (Mazm Sulaiman 17.21). R. Yehuda: ‘Di awal atau di akhir (Jubile terakhir)?, Elijah: ‘Aku tidak tahu’. R Yehuda: ‘Akan selesai penuh atau tidak [Jubile terakhir]?’. Elijah: ‘Aku tidak tahu,’. R. Ashi: Elijah kemudian berkata padanya, ‘Sebelum itu, jangan berharap (kedatangannya), setelahnya engkau boleh menunggunya.’.

    R. Hanan b.Tahlifa lewat R. Joseph: Saya pernah bertemu seorang pria yang punya sebuah gulungan/naskah dalam bahasa Ibrani dengan karakter Asyur…Di dalamnya dinyatakan bahwa 4231 tahun (atau 4291 tahun) setelah penciptaan dunia akan seperti yatim-piatu/tak ada yang urus. [Tahunan kemudian] beberapa akan dalam perang MONSTER LAUT/tanninim, dan beberapa dalam perang GOG dan MAGOG (Yeh 38/39), sisa [periode] akan menjadi era Mesianik, sementara Yang Kudus, yang diberkatiNya, akan memperbarui dunia hanya setelah 7000 tahun. R. Abba putra Raba: Statementnya adalah setelah 5000 tahun”

    [Tractate Sanhedrin 97b. 1 jubile = 50 tahun, 85 Jubile = 4250 Tahun yaitu di tahun 489 M. Jubile terakhir mulai tahun 449 M. Untuk 4231/4291 Tahun = di tahun 470 M/530 M]

    Islam juga mengatakan umur dunia hanya 6000 atau 7000 tahun:

      Terdapat 2 pendapat sahabat Nabi tentang umur dunia:
      7000 tahun dan 6200 tahun telah berlalu (Riwayat Ibn Humayd -Yahya b. Wadilh -Yahya b. Ya’qub – Hammad – Sa’id b. Jubayr – Ibn ‘Abbas) VS 6000 tahun dan 5600 tahun telah berlalu (Riwayat Abu Hisham -Mu’awiyah b. Hisham – Sufyan – al-A’mash – Abu Salih – Ka’b dan Riwayat Muhammad b. Sahl b. ‘Askar – Ismail b. ‘Abd al-Karim -‘Abd al-Samad b. Ma’qil -Wahb) [“The History of Al-Tabari, Vol I, “General Introduction and From the Creation to the Flood, Franz Roshenthal, 1989, hal.172-174]

      Riwayat Musaddad – Yahya – Sufyan – Abdullah bin Dinar – Ibnu Umar – Nabi SAW: “Sesungguhnya perumpamaan jaman kalian dan jaman umat-umat sebelum kalian, hanyalah bagaikan jarak atara shalat Ashar dan terbenamnya matahari…[Bukhari no.4633; Ahmad no.5641; Tabari, Ibid, hal.174-175 (Musaddad – Yahya – Sufyan – Abdullah bin Dinar – Ibnu Umar – Nabi SAW), menurut Tabari hadis ini Sahih; Juga Bukhari no.3200 (Qutaibah bin Sa’id – Laits – Nafi’ – Ibnu ‘Umar – Rasulullah SAW) dan Tirmidhi no.2797]

      Riwayat al-Hasan b. ‘Arafah – Abu al-Yagzan ‘Ammar b.Muhammad, anak adik perempuan Sufyan al-Thawri – Layth b.Abi Sulaym – Mughirah b.Hakim – Abdallah b.’Umar – Rasullullah: hanya tersisa dari dunia ini punahnya umatku dari matahari ketika shalat azhar. [Ibid, Hal 174-175]

      Tabari:
      ..Lebih lanjut, panjang waktu rata-rata shalat Azhar adalah ketika bayangan apapun 2x ukurannya, menurut asumsi terbaik (‘ald al-taharri) -[hingga magrib] adalah panjang waktu 1/2 x 1/7 [= 1/14] hari kurang lebihnya. [Ibid, Hal 182]

      Ini seharusnya 1/14 x 1000 tahun = 71.42 tahun tersisa, namun Tabari berpendapat bukan tentang hari itu tapi 1 minggu.

      Tabari:
      ..hadis sahih dari Ahmad b. ‘Abd al-Rahman b. Wahb – ‘Abdallah b. Wahb – Mu’awiyah b. Salih – ‘Abd al-Rahman b. Jubayr b. Nufayr – Ayahnya Jubayr b. Nufayr – Sahabat Nabi, Abu Tha’labah al-Khushani – Rasullullah: “Tentunya, Allah tidak akan membuat bangsa ini tidak mampu (bertahan) 1/2 hari – mengacu pada hari 1000 tahun“…karena 500 tahun adalah 1/2 hari dari 1000 tahun, .. waktu yang telah berlalu hingga pernyataan Nabi adalah 6500 tahun” [Ibid, 182-183]

    Ya’juj Ma’juj sebagai PERTANDA bahwa KIAMAT SUDAH SANGAT DEKAT dan AKAN SANGAT CEPAT TERJADINYA

      Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”..Dzulkarnain berkata: “..maka tolonglah aku dengan kekuatan, agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka….berilah aku potongan-potongan besi..Berilah aku tembaga agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu..Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya…Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar.” [AQ 18.94-97, Al Makiyya, turun urutan ke-69]

      Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir..[AQ 21.96, Al Makiyya, turun urutan ke-73]

    Kapan tembok/benteng Yajuj dan Majuj terbuka?

      Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – ‘Uqail – Ibnu Syihab – ‘Urwah bin Az Zubair – Zainab binti Abu Salamah – Ummu Habibah binti Abu Sufyan – Zainab binti Jahsy: Nabi SAW datang kepadanya dengan gemetar sambil berkata: “Laa ilaaha illallah, celakalah bangsa Arab karena keburukan yang telah dekat, HARI INI TELAH dibuka benteng Ya’juj dan Ma’juj seperti ini”. Beliau memberi isyarat dengan mendekatkan telunjuknya dengan jari sebelahnya. Zainab binti Jahsy berkata, Aku bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa sedangkan di tengah-tengah kita banyak orang-orang yang shalih?”. Beliau menjawab: “Ya, benar jika keburukan telah merajalela”. [Bukhari no. 3097, 3331. Di Bukhari no.6535, 3098 dan Muslim 5139, menyampaikan dari riwayat Zainab binti Jahsy bahwa Nabi SAW bangun tidur dalam keadaan wajahnya memerah]

    Hadis di atas menyampaikan bahwa Muhammad bangun tidur bercerita kepada Zaynab bint Jashy tentang Yajuj dan Majuj, ini menunjukan mereka telah berada di perkawinan sehingga berita telah bolongnya tembok ini terjadi di setelah turunnya surat AQ 33.63 (5 H)

    Kapan Kedatangan Mesiah menurut Yahudi?
    Rabbi. Alexandri:
    Rabbi. Joshua b. Levi menunjukkan sebuah kontradiksi. Ada tertulis, di waktuNya [datangnya Mesiah], sementara itu juga tertulis, Aku [TUHAN] akan mempercepatnya (Yes 60.22), jika mereka layak, jika tidak, [dia akan datang] di waktuNya. R. Alexandri: R. Yosua mempertentangkan dua ayat: Ada tertulis, Dan lihatlah, ANAK MANUSIA DATANG DENGAN AWAN DI SURGA [Dan 7.13], sementara [di tempat lainnya] ada tertulis, [LIHAT RAJAMU DATANG KEPADAMU…] MERENDAH DAN NAIK DI ATAS SEEKOR KELEDAI! (Zakh 9.9] – jika mereka layak, [dia akan datang] dengan awan di surga; jika tidak, merendah dan naik di atas keledai…

    Para murid R. Jose b. Kisam: ’Kapankah Mesiah datang? ’. R. Jose (110 M): ’..Ketika GERBANG INI rubuh/jatuh, dibangun kembali, rubuh lagi dan dibangun kembali dan rubuh ke-3xnya, SEBELUM ITU dibangun anak David telah datang’

    [Tractate Sanhedrin, 98a. Untuk gerbang yang mana yang dimaksudkan, di catatan kaki no.45: ‘Gerbang kaisar Philippi/Banias, rumah/kampungnya Rabbi. Jose, simbol kejatuhan Romawi]

Jadi, Tuhan kaum Yahudi menyampaikan bahwa umur dunia adalah 6000 tahun, SETELAH 4000 tahun (2000+2000) sejak Adam muncul (mulai tahun 239 M) disebut ERA MESIANIK yang berlangsung hingga 2000 tahun lamanya (hingga tahun 2239 M, sebagai tahun ke-6000) dan berlanjut dengan kiamat. Sehingga, SIAPAPUN yang MENGKLAIM DIRI sebagai NABI/MESIAS, SEBELUM terjadinya perang GOG dan MAGOG, maka Ia BUKANLAH MESIAS

Lucunya, di Kaisaraea Filipi, Yesus sebagai Mesiah ternyata berdasarkan klaim dari Simon Petrus:

    ”…Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi..bertanya kepada mereka: “..siapakah Aku ini?” Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias..” Kata Yesus: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga…Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapapun bahwa Ia Mesias. [Mat 16.15-20. Mark 8.29-30; Lukas 9.20-21 dan TIDAK ADA di Kitab Yohanes]

HINGGA RABBI JOSE WAFAT, Gerbang Kaisarea Filipi BELUM RUBUH. DAN BAHKAN, walaupun kerajaan Romawi terbagi 2, Barat dan Timur di tahun 285 M, bagian Timur yang kemudian bernama Byzantium, itupun baru rubuh di tahun 1453 sementara, Gempa bumi yang merubuhkan Kaisarea Philippi terjadi di tahun: 346, 1202 dan 1837

Sama seperti kaum Yahudi dan Islam, Kristen juga berpikir bahwa umur bumi ini juga 6000 tahun dan Mesiah datang di dekat kiamat:

    6 HARI [Lukas 9.28 → 8 HARI] kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan YOHANES saudaranya..naik ke sebuah gunung..Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia/Helias sedang berbicara dengannya [Mat 17.1-3 dan Mark 9.2-5. Lukas 9.28-31].. Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus: “..Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu..Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenalnya,…Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis [Mat 17.10-13; Mark 9.11-13]

Disamping tidak jelas apakah 6 hari atau 8 hari yang dimaksud, BAHKAN Kitab Yohanes, TIDAK MEMUAT kejadian penting ini, padahal BUKAN Matius, BUKAN Lukas dan juga BUKAN Markus yang jadi saksi di saat itu, MELAINKAN YOHANES.

Hingga Rabbi Johannan ben Zakkai wafat, BAHKAN HAMPIR 2000 tahun BERLALU-PUN, Musa dan Elia belum juga datang.

Dan juga, kita tahu bahwa Yohanes pembaptis sendiri MENOLAK DISEBUT ELIA:

    “..orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan Yohanes pembaptis: “.. siapakah engkau? Elia?” Dan Yohanes pembaptis menjawab: “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Dan ia menjawab: “Bukan!” [Yohanes 1.19-21]

Jadi dijaman Yohanes pembaptis, ELIA BELUMLAH MUNCUL, konsekuensinya, Yesus BUKAN yang Malachi maksudkan. Maka wajarlah terjadi inkonsistensi pernyataaan Yohanes Pembaptis yang konon sebagai SAKSI yang MELIHAT dan MENDENGAR tanda Allah dan roh kudus tentang Yesus:

    Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya.. Sesudah dibaptis,..pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan. [Mat 3.13-17; Lukas 3.21-22; juga di Yohanes 1.29-34 DAN 1.35-36]

NAMUN ketika di penjara, Yohanes Pembaptis JELAS SEKALI MERAGUKAN Yesus:

    Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” [Matius 11.2-3. Juga Lukas 7.18-19]

Berita kenabian/kemesiahan Yesus ini SANGATLAH MERAGUKAN

Biarpun demikian, para murid Yesus tetap mengklaim bahwa Yesus telah dibangkitkan dan memerintah di Surga:

  • Kotbah Petrus setelah penyaliban Yesus: “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah.. ditinggikan oleh tangan kanan Allah..Sebab bukan Daud yang naik ke sorga, malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku..Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” [KPR 2.32-36], atau
  • Yohanes tentang keadaan Yesus dalam mimpinya: “..ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Ku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya” [Wahyu 3.21]

Ini aneh, karena Yesus sendiri, dihadapan sidang resmi para tua-tua bangsa Yahudi dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, di Mahkamah Agama Yahudi, ketika diperiksa sebelum dihukum salib, MENGELAK memberikan konfirmasi apakah dirinya Anak Allah dan Raja Orang Yahudi atau bukan:

    katanya: “Jikalau Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami.” Jawab Yesus: “Sekalipun Aku mengatakannya kepada kamu, namun kamu tidak akan percaya..Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa. Kata mereka semua: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah/Huios Theos?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.” [Lukas 22:67-70] atau “[..]Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias Anak Allah/Christos Huios Theos?. Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia [..] [Matius 26:63]

    Dalam Markus 14.61-62, tidak disebutkan Anak Allah tapi anak terpuji:

    “Imam besar di sidang Mahkamah Agama Yahudi: “‘Apakah Engkau Mesias anak terpuji/christos huios eulogetos?’ Yesus: ‘Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit'”.

    Padahal, seorang bernama Bar Kozeba (132/135 M), JAUH LEBIH TEGAS LAGI dari Yesus, karena Kozeba tegas berkata: “AKULAH MESIAH”. Walaupun klaim Kozeba diterima R Akiba dengan merujuk Bilangan 24.17, namun Kozeba tetap dibunuh.

    Tentang kalimat Yesus: “anak manusia duduk disebelah kanan Tuhan” SEHARUSYA INI merujuk kepada DAUD, “Mazmur Daud. Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: “Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu” [Mazm 110.1].

    Tentang kalimat Yesus: “anak manusia..datang di tengah-tengah awan-awan di langit”, ini dikutipnya dari Daniel 7.13-14, “..datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja,..

    Sehingga, jika memang Yesus bermaksud menyatakan bahwa dirinya, adalah anak manusia yang diberikan kekuasaan dan kemuliaan sebagai raja, sebagaimana tertulis di Daniel 7.13-14, maka harusnya Ia akui itu dengan tegas, NAMUN MASALAHNYA, Yesus juga MENGELAK ketika ditanya statusnya sebagai “Raja orang Yahudi”: “Tapi, ketika Pilatus bertanya: ‘Apakah engkau raja orang Yahudi?‘. Yesus: “Engkau sendiri mengatakannya” [Matius 27.11, Markus 15.2, Lukas 23.3 dan Yohanes 18.37]

    Tampaknya, Yesus menjadi kebingungan sendiri, disamping Ia tidak menjawab apa yang ditanya, Ia juga tidak bisa membedakan antara orang yang bertanya vs orang yang menyatakan sesuatu.

    Padahal keluaran 19.11, telah menyampaikan jelas maksud tujuan tuhan berada di dalam awan kepada Musa: “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Sesungguhnya Aku akan datang kepadamu dalam awan yang tebal, DENGAN MAKSUD SUPAYA DAPAT DIDENGAR BANGSA ITU APABILA AKU BERBICARA DENGAN ENGKAU, DAN JUGA SUPAYA MEREKA SENANTIASA PERCAYA KEPADAMU“.

Dan memang…Yesus tidak pernah datang di tengah-tengah awan-awan kepada khalayak ramai para Yahudi maupun bukan.

Kemudian,
Untuk masalah Raja orang Yahudi, ini seharusnya terkait peristiwa menunggangi keledai

    Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah dekat Yerusalem dan tiba di Betfage yang terletak di Bukit Zaitun, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan:

    “Pergilah ke kampung yang di depanmu itu, dan di situ kamu akan segera menemukan (Heurisko) SEEKOR KELEDAI BETINA (ONOS) TERTAMBAT DAN ANAKNYA (POLOS) ada dekatnya. LEPASKANLAH/AMBIL/LANGGAR (Luo) keledai itu dan BAWALAH KEDUANYA kepada-Ku. (MARKUS 11.2 -> ..Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan segera HEURISKO SEEKOR KELEDAI MUDA (POLOS) TERTAMBAT, yang belum pernah ditunggangi orang. LUO keledai itu dan bawalah ke mari. LUKAS 19.30 -> Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan HEURISKO SEEKOR KELEDAI MUDA (POLOS) TERTAMBAT, yang belum pernah ditunggangi orang. LUO keledai itu dan bawalah ke mari). DAN JIKALAU ADA ORANG YANG MENEGOR KAMU, katakanlah: TUHAN (KURIOS) MEMERLUKANNYA. Ia akan segera mengembalikannya.” (MARKUS 11.3 -> DAN JIKA ADA YANG MENGATAKAN KEPADAMU: Mengapa kamu lakukan itu, jawablah: TUHAN (KURIOS) MEMERLUKANNYA. Ia akan segera mengembalikannya ke sini. LUKAS 19.31 -> 19:31 DAN JIKA ADA ORANG YANG BERTANYA KEPADAMU: Mengapa kamu melepaskannya? jawablah begini: TUHAN (KURIOS) MEMERLUKANNYA. YOHANES 12.4 -> YESUS MENEMUKAN (Heurisko) SEEKOR KELEDAI MUDA LALU IA NAIK KE ATASNYA,..).

    HAL ITU TERJADI SUPAYA GENAPLAH FIRMAH YANG DISAMPAIKAN OLEH NABI: “Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” Maka pergilah murid-murid itu dan berbuat seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka. Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesuspun naik ke atasnya. [Matius 21:2-7, Markus 11:2-7 dan Lukas 19:30-35. Juga Yohanes 12.12-16]

3 Injil sinoptik: Yesus menyuruh muridnya + “JIKA ADA YANG MENEGURMU/BERTANYA” VS Kitab Yohanes: Yesus sendiri yang melakukannya (YESUS MENEMUKAN SEEKOR KELEDAI MUDA LALU IA NAIK KE ATASNYA).

Bagaimana mungkin kejadian sepenting ini, INGATAN MEREKA TIDAK SAMA? dan KELEDAI itu jelas diperolehnya SECARA MENGGELAP/tanpa IJIN (baik dilakukan sendiri atau menyuruh orang lain), padahal Keluaran 23.4 sudah menyampaikan dengan jelas, “Apabila engkau melihat lembu musuhmu atau keledainya yang sesat, maka segeralah kaukembalikan” bahkan para Nabi lainnya misal: Abraham (Kej 22.3), Musa (Kel 4.20), dan lainnya pun tidak ada yang melakukannya dengan mencuri.

Terjemahkan “kurios” = TUHAN bukan TUAN/PEMILIK, membuat Yesus, hanya di 3 tempat ini saja TAMPAK menyebut diri sebagai TUHAN, namun INI MENJADI TIDAK SINGKRON dengan ayat selanjutnya, karena PARA MURIDNYA SENDIRI TIDAK menyebutnya TUHAN tapi “RAJA..” [Lukas 19.38]. Anehnya, di YOHANES 12.13, yang berucap BUKAN MURIDNYA melainkan KHALAYAK: “mereka .. berseru-seru: …Raja Israel!” atau di MATIUS 21.11: “Dan orang banyak itu menyahut: “Inilah NABI..” atau di Markus 11. 9, “Dia yang datang..” Jadi, seluruh lanjutan ayat di 4 injil TIDAK ADA yang menyebutnya TUHAN.

Menterjemahkannya menjadi TUHAN, maka NAS menjadi tidak terpenuhi, karena SEHARUSNYA YANG DATANG ADALAH RAJA bukan TUHAN/NABI: “Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, RAJAMU DATANG kepadamu”. Namun, apapun terjemahannya, baik itu TUHAN/TUAN/PEMILIK, tetap saja aneh, karena BUAT APA Tuan/Pemiliknya PERLU BERJANJI AKAN MENGEMBALIKAN BARANGNYA SENDIRI?. Bahkan hingga Yesus wafat, TIDAK ADA keledai itu dikembalikannya

Bahkan, kalimat “HAL ITU TERJADI SUPAYA GENAPLAH FIRMAH YANG DISAMPAIKAN OLEH NABI..” jelas menunjukan ADA TUJUAN MENIPU DENGAN MEREKAYASA KEJADIAN. Ide ini brilian bagi yang terjepit! Karena toh SUDAH BANYAK yang marah padanya hingga melemparinya dengan batu [Yoh 8:59, Yoh 10:31]. “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.”[Yoh 10:33] demikian mereka katakan, menurut hukum taurat, mereka yang: menghujat Allah [Imanat 24:16], melanggar sabath [kel 31:14-15, 35:2] bagiannya adalah MATI. TUHAN akan membinasakannya [Imanat 23:30] dan memerintahkan untuk DIBINASAKAN [Bil 9:13].

Oleh karenanya, “Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya” [Yoh 11:53-54]. Hingga 2 hari menjelang paskah. Para Yahudipun mencarinya dan bertanya-tanya apakah di hari paskah Yesus akan ke Yerusalem, sementara itu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi telah memberikan perintah supaya setiap orang yang tahu di mana Dia berada memberitahukannya, agar mereka dapat menangkap Dia.[Yoh 11:55-57].

Siapa tahu, kali ini manjur, karena untuk level tuhan, dilempari batu dan sembunyi tidaklah elok. Namun itu tetap tidak berhasil, Ia tetap di adil dan bahkan Ia pun ketakutan dimenjelangnya: “..Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia SANGAT KETAKUTAN (Di matius 26.37, “..Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar“) dan makin bersungguh-sungguh berdoa. PELUHNYA MENJADI SEPERTI TITIK-TITIK DARAH YANG BERTETESAN KE TANAH [Lukas 22.41-44]

Klaim Alkitab bahwa para khalayak mengelu-elukannya sebagai raja Israel JELAS TIDAK BENAR, sekurangnya 3 penulis lainnya menyampaikan bahwa di abad ke-1 MASEHI, yaitu puluhan tahun setelah Yesus wafat, Kaum Yahudi TIDAK PERNAH menganggap Mesiah sudah datang, mereka disaat itupun, masih terus menantikan kedatangannya:

    Di kisaran sebelum pemberontakan Yahudi ke-1 (66-70 M), di kalangan Yahudi beredar kepercayaan bahwa Mesias dari kalangan mereka, akan menjadi gubernur di muka bumi. [“The War of The Jews”, Josephus, Ch.6.5 dan “Hitories”, Tacitus 5.13.] Juga dalam “The Life of Vespasia”, Suetonius, 4.5: “Telah tersebar di seluruh Timur Tengah kepercayaan kuno yang mapan, bahwa saat itu telah ditakdirkan, orang-orang yang datang dari Yudea akan memerintah dunia. Prediksi ini mengacu pada Kaisar Roma..

Pemberotakan Yahudi ke-1 ini dipadamkan Titus dan berimbas pada hancurnya kuil ke-2/Kuil Herod (Pada bagian Barat kuil ini terdapat tembok yang kelak disebut TEMBOK RATAPAN). Ini di sebut kuil ke-2 karena dibangun setelah kuil ke-1/kuil Sulaiman dihancurkan Nebukadnesar II.

Memang BELUM TENTU para khalayak Yahudi itu benar, namun, apakah pertimbangan dan ramalan Yesus benar? SAMA SEKALI TIDAK.

    “Yesus keluar dari Bait Allah…datanglah murid-murid-Nya dan menunjuk kepada bangunan-bangunan Bait Allah (HIERON). Ia berkata kepada mereka: “Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya TIDAK SATU BATUPUN DI SINI AKAN DIBIARKAN TERLETAK DI ATAS BATU YANG LAIN; SEMUANYA AKAN DIRUNTUHKAN” [Mat 24.1-2. Bait Allah yang sama di Yoh 2.19-20]

Yesus TELAH KELIRU, karena BAHKAN hingga kini, batu-batu yang terletak di atas batu lainnya, masih dapat kita lihat sebagai TEMBOK RATAPAN!

Apa itu Mesiah?
Mesiah adalah “yang diurapi”. Benda pertama sebagai Mesiah/yang diurapi (dengan minyak) adalah batu yang jadi alas kepala Yakub saat tidur diperjalanan dan itu kemudian ia jadikan tugu di kanaan (Kej 28.18-20, 31.3), benda-benda berikutnya adalah Bejana pembasuhan (Kej 40.11), Kemah pertemuan dan tabut hukum (Kel 30.26), Mezbah (Kel 29.36), Perisai (Yes 21.5), dll.

Untuk kategori Manusia, maka para Mesias/Yang diurapi (dengan minyak) ada yang berasal dari kalangan Israel (Para Raja, Para Imam: Harun adalah manusia pertama yang diurapi (28.41; 30.30; 40.13) dan para Hakim) dan ada yang dari kalangan Non Israel (Misal, Koresh: Yesaya 45.1, 13; Ezra 1.2). Jadi TIDAK HARUS dari ras Yahudi.

Alkitab Yahudi menginformasikan adanya 4 MESIAH MASA DEPAN atau 4 orang tukang (Zachkria 1.20-21/Zachkaria-Tanakh: 2.3) dan di Babilon Talmud, Sukkah 52b katakan mereka adalah:

  1. Keturunan DAVID-SULAIMAN (2 Sam 7:12-16, Mazmur 89:28-38, 1 Taw 17:11-14, 22:9-10, 28:6-7),
  2. Keturunan Yusuf/Effrain: Mesiah bin Efraim/Yusuf (juga: Who is the Moshiach ben Yosef?). Di Sukkah 52a: Mesiah bin Yusuf/Efraim akan terbunuh dalam perang dengan GOG di tanah MAGOG pada masa depan. Dalam Zerubbabel: Pada 990 tahun setelah kehancuran kuil ke-2/herod (69/70 + 990 = 1059/1060 M), Nehemiah ben Hushiel (Mesiah bin Yusuf), Menahem ben Amiel (calon Mesiah ben David) dan Elijah datang, mereka berperang melawan Armilus di Magog
  3. Elia, dan
  4. Imam benar/Manasseh/Melkisedekh

Oleh karenanya, URUSAN MESIAH/NABI SELALU HARUS terkait dengan:

  • Menolong/menyelamatkan bangsa ISRAEL dari bangsa lain atau dari mengikuti tatacara Tuhan lain dan menegakkan Taurat, sample: Musa, Samson (Hak 14-16) dan Balaam (Bilangan 22), atau
  • Urusan tentang Kuil di Yerusalem, harus memerintahkan/membangun kuil (Yehezkiel 37.25-26) atau HARUS memastikan KUIL TIDAK BERALIH FUNGSI untuk menyembah tuhan lain (2 Makabe 4 tampaknya terkait ramalan di Daniel 9.27, yaitu tentang Imam yang diurapi: Onias )

    Sampai dengan hari ini, BARU TERJADI 2x pembangunan Kuil di Yerusalem: Kuil ke-1/kuil Sulaiman, hancur oleh Nebudkadnezar II. Kuil ke-2/Kuil Herod, dibangun jaman Koresh oleh Ezra dan Nehemia, hancur oleh Titus di tahun 70 M. Kuil ke-3 belum terjadi (lihat Yehezkiel 40)

Yesus dalam kisah kehidupannya, tidak berurusan dengan menyelamatkan Israel dari tangan bangsa lain, atau dari penyembahan terhadap Tuhan lain. Yesus lahir, besar dan wafat pada masa kuil ke-2 masih ada dan saat itu kuil di Yerusalem JUGA TIDAK BERALIH fungsi untuk menyembah tuhan lainnya. Oleh karenanya, Yesus BUKANLAH Mesiah [Lihat juga: Laws Concerning Kings and the Messiah] []



Di mana Yesus Lahir?

    Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem Yudea (en bethleem Ioudaia) pada zaman raja Herodes datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem .. Kami telah melihat bintang-Nya di Timur.. dan kami datang untuk menyembah Dia. Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem [Mat 2.1-4] .. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.[Mat 2.9]

      Note:
      Yang seharusnya mengejutkan adalah TIDAK SATUPUN dari SELURUH warga yang terkejut ini, ada yang menjadi saksi munculnya BINTANG yang mampu BERHENTI?

      Faktanya juga, 3 injil lainnya TIDAK MEMBERIKAN dukungan untuk dongeng yang dibuat Matius. Bahkan Lukas MENENTANG DONGENG ITU dengan menceritakan dongeng lainnya yang berbeda total bahwa yang datang itu BUKANLAH para Magi melainkan para gembala dan sinar itu BUKANLAH BINTANG yang DIAM melainkan kedatangan para malaikat + tentara surga:

        dan para gembala (kai poimen) yang hidupnya di padang terbuka (eimi en ho chora ho autos agrauleo) dan berjaga mengawal ternaknya di malam hari (kai phulasso phulake ho nux epi ho poimne autos) [luk 2.8]. Malaikat Tuhan mendatangi dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka da memberitahukan bahwa christos kurios telah lahir, di kota Daud (en polis dabid), sebagai tanda, mereka akan: dapati (heurisko) bayi (brephos) terbungkus (sparganoo) dan terbaring (kai keimai) di tempat makan ternak (en phatne. Berasal dari Pateomai = makan) [Lukas 2.9-14].

        Setelah Para Malaikat pergi, salah seorangnya mengajak ke Betlehem (bet = tempat/rumah + lechem = makanan hewan/manusia) untuk melihat apa yang terjadi di sana, mereka berangkat dan menjumpai Maria, Yusuf dan bayi yang terbungkus dan terbaring DI TEMPAT MAKAN TERNAK. ketika mereka menceritakan yang mereka alami, SEMUA ORANG HERAN mendengarkan cerita mereka [Lukas 2.15-20]

      Kata “Polis”, 11x juga diterjemahkan secara jamak: “kota-kota” namun, untuk “kota Daud”, dari 49x penggunaannya di Perjanjian Lama (PL), selalu merujuk ke Yerusalem/Sion dan TIDAK PERNAH merujuk ke Betlehem [Flavius Josephus di Antiquities of Jews, buku ke-7, ch.3: “Kota Daud adalah Yerusalem”. Malah Yohanes 7.42 menyatakan bahwa Betlehem itu KAMPUNG (kome), yaitu: “KAMPUNG DAUD”].

      Sementara itu, narasi Lukas menunjukan lokasi berbeda, yaitu di bethlehem = di tempat makan ternak, ketika para gembala menjaga ternak mereka di PADANG bukan di LEMBAH.

      Tampaknya injil-injil ini kebingungan sendiri membedakan antara Betlehem vs Yerusalem dan juga antara Betlehem sebagai suatu daerah vs Betlehem sebagai Phatne (tempat makan ternak).

      YERUSALEM (“اورشليم”/ירושלם)
      Dari kronologi versi Alkitab, sebelum bangsa-bangsa tersebar dengan ragam bahasanya, TELAH ADA kaum Yebusit bin Kanaan bin Ham bin Nuh (Kej 10.6-16), di Yerusalem, kota Sikhem (Kej 12.6. Kej 33.18, “salem ir sikhem”/”שלם עיר שכם”/Salem kota Sikhem), rajanya bernama Melki-SEDEK (Kej. 14.18, Namun di Jasher 16.11-12: Adoni-Sedek BUKAN Melki-sedek, tempatnya Yerusalem BUKAN Salem). Oleh karenanya, dari sejak awal, Yerusalem, memang BUKAN MILIK Yahweh, TIDAK TERKAIT Kaum Israel NAMUN MILIK kaum YEBUSIT, yang menyembah Dewa lain.

      YHWH berjanji kepada Musa akan memberikan tanah KANAAN, jika kaum Israel keluar dari Mesir, namun, hingga 40 tahun kemudian, sampai Musa wafat di tanah MOAB, janji ini tidak pernah terpenuhi, malah kaum Israel hanya terlunta-lunta di padang pasir Moab. Musa wafat digantikan Yosua bin Nun, mereka menyebrangi sungai Yordan, di tanah Kanaan, di situ pula, YHWH berjanji akan menghalau suku Yebusit (turunan Kanaan, Kej 10.15-16) penduduk Yerusalem (Yos 3.10).

      Sampai tahun ke-5 setelah wafatnya Musa (Yos 14.10), dikatakan, Yosua bin Nun berhasil membunuh Adoni-Sedek, raja Yerusalem (Yos 10.26) maka seharusnya Yerusalem sudah berhasil dikuasai, namun bahkan hingga Yosua wafat dan digantikan kaum Yehuda, ternyata Yerusalem masih tetap milik Yebusit, kaum Yehuda tidak mampu menghalau mereka (Yos 15.65) dan Kanaan masih milik bangsa lain (Hakim 1.1).

      Malah, jika sebelumnya Adoni-SEDEK, dikatakan mati ditangan Yosua, namun dikitab hakim-hakim, dinyatakan mati ditangan kaum Yehuda dan namanya-pun, Alkitab ubah menjadi Adoni-BEZEK (Hakim 1.7) kemudian dikatakan kaum Yehuda membakar musnah Yerusalem (Hakim 1.8), namun anehnya, juga dikatakan, Yebusit tetap menduduki Yerusalem (Hak 1.21).

      Bahkan 436 tahun kemudian, yaitu jaman Raja Daud/David-pun, Yebusit tetap sebagai penduduk asli Yerusalem (2 Sam 5, 1 Taw 11.4) dan David hanya mampu menguasai bagian bawah Timur gunung Sion ( = benteng/kota david dan Istana David) (2 sam 5.6-9, 1 Taw 11.5-6) dan 44 tahun kemudian, di jaman Raja Shlomo, lokasi kuil Sulaiman-pun hanya di arah Utara kota David, yaitu tempat tertinggi pada bagian Timur gunung Sion. Sementara, bagian Baratnya, tetap milik Yebusit.

      Berikut ini, berapa dugaan tentang asal-usul kata Yerusalem:

      • Josephus: “Jerusalem dahulu disebut ‘SOLYMA’” (“Antiquities Of The Jews” VII 3.2) atau “SALEM” (“War Of The Jews”, VI 10.1). Mitologi Yunani: Musuh BELLEROPHON adalah para SOLIMI (Iliad.6, Homer/8 SM), yang merupakan anak-anak SALMA/SALEM, Dewi musim Semi dan sebagai maskulin, Ia adalah Dewa Matahari Solyma atau Selim, Salomo, atau Ab-Salom [“The Greek Myths”, Robert Graves, hal.363]. Solyma tinggal di area pegunungan (Odyssey.5, Homer) di Lykia (Iliad.6). Di Krete, Minos (anak Zeus-Europa) mengusir Sarpedon (anak Zeus-Laodamia) dan lainnya hingga menyingkir ke Milya di Asia, area yang dulu dihuni bangsa Lykia disebut Milya, dan waktu itu bangsa Milyus disebut Solymoi (History of Herodotus, 1.173).

        Hiero biasanya diartikan suci/sakral/keramat. Namun tampaknya Hiero berasal dari hēr = “penjaga/pelayan/pelindung”. Dalam epik-nya homer no.75: Sebutan untuk Anchises, Pria kecintaan Aphrodite; Bentuk feminim Hera = ciri-ciri yang menonjolkan/terlihat. [Selebihnya lihat di: Kisah Musa (Membelah Laut) di Hindu, Romawi/Yunani, Yahudi/Kristen, Islam & Logika]

      • YIREH (“יִרְאֶה” = Melihat BUKAN menyediakan: “pelihat” di 1 SAM 9.9; 1 Taw 9.22; Amos 7.12) + SHALEM (“שלם” = Dewa Shalem/Dewa Fajar atau “Adil/damai” atau lembah Syawe, Moria, raja Sodom, Melkisedek dari Salem menuju tempat Abraham yang dalam pelarian dan memberkatinya, Kej 14.13-20).

        Tempat ini, oleh Abraham, menurut teks versi Masoretik kej 22.14, disebut, Y@HOVA YIREH/Tuhan melihat. NAMUN di teks Qumran/4QGen-Exod, Kej 22.14, yang lebih tua dari Masoretik, kalimatnya: ELOHIM YIREH/Para Allah melihat dan ini justru konsisten dengan Kej 22.8-nya teks Masoretik, yang menggunakan: ELOHIM YIREH. Gambar di samping ini dari: “The Dead Sea Scrolls: A Very Short Introduction”, Timothy H. Lim, hal.53-54).

        Namun, karena telah ada pula kata “Yeru-el/Yeru-baal/Yeru-sha/Yeru-yah”, JUGA, Yerusalem telah ada sebelum Abraham lahir, maka “Yireh” BUKANLAH asal dari “Yeru”-nya Yeru-salem.

      • Yeru (“יְרוּ”/Yarah) = diletakkan/didirikan (Ayub 38.6) → terdapat 5 kata terkait “Yeru”:

        (1) “ירו-אל”/Yeru-EL (2 taw 20.16, Yeru/”ירו” + EL/”אֵל”/Tuhan);
        (2) “יר-בעל”/Yeru-Baal (Hakim 6.32, “בעל”/Baal/Tu(h)an);
        (3) “צרו-יה”/Zeru-Yah/Yeru-Yah (2 Sam 2.13. Yoab bin Yeruyah. Kata “Yah” dianggap kependekan dari “YAHWEH”);
        (4) “ירו-שׁא”/ (2 Raja 15.33, “שׁא”/Sha (har?), “Yerusha bat zadok (“בת צדוק”/anak perempuan Zadok/Sedek)”. Sangat mungkin kata “Sha” juga kependekan dari “Shahar”/Dewa Fajar) dan
        (5) “ירו-שׁלם”/Yeru-Salem (Yosua 10.1, Adoni-Zedek/”אדני צדק”, Raja/”מלך” Yerusalem) dan di Kej 14.18, “Melki-Sedek/”ומלכי צדק”, Raja/”מלך” Salem/”שלם” atau di Jasher 16.11-12: disebut Adoni-Sedek BUKAN Melki-Sedek, tempatnya disebut Yerusalem BUKAN Salem. Dewa Salem = Dewa Senja, Sementara, Dewa Sedek = Dewa Fajar”.

        Di 5 kata di atas, “El”, “BAAL”, “SALEM” adalah nama-nama Tuhan/Dewa lain, oleh karenanya, asal kata Yerusalem, TIDAK TERKAIT bangsa Yahudi dan Yahweh

      Kaum Yebusit, pemuja Dewa EL-LYON yang punya nama lain, SEDEK dan SALIM. Nama SALIM menjadi nama anaknya David, yaitu SHLOMO (Ibunya orang kanaan, Batsheba) dan juga nama kota itu. [“A History of Religion East and West: An Introduction and Interpretation”, Trevor Ling, hal.45].

      SEDEK, kata “Sidki-ilu” muncul dalam nama Jalan (764 SM), “Sidki-Milk” dalam koin phoenisia, 449-420 SM dan Sabean: “Sidki-el”. Philo dari Byblos menyatakan dewa Sydyk/SEDEK adalah dewa Phunisia. [“The Book of Judges: with Introduction and Notes”, C. F. Burney, hal. 41-42] dan juga terkait dengan Shamas. ZEDEQ adalah ANAK DEWI MATAHARI, SHAMAS [“Reinstating the Divine Woman in Judaism”, Jenny Kien, hal.65]. EL-SEDEK, Dewa Utama Kanaan kuno, disebut MELCHI/MALKI/MALEK/ADONI-SEDEK atau “SEDEK adalah RAJAKU” [“Why Priests?: A Failed Tradition“, Garry Wills].

      SALEM/”שלם”, di kebudayaan Ugarit/kanaan adalah Dewa SENJA. Kata “SALEM” muncul di tablet EBIA, abad ke-24 SM, di Tell Mardik, Syria, juga di teks Mesir, abad ke-18/19 SM, dalam kata “RUSHALIMUM”, di surat Armana abad ke-14 SM, permintaan bantuan raja Abdi-Heba, “URUSALIM” ke Raja Mesir untuk melawan Habiru dan di teks Assyria, Sennachrib abad ke-8 SM dalam kata “URSALIMMU”. Arti Yeru = “diletakan”, dari kata Yeru-el, “Diletakan Tuhan”, jadi Yerusalem = “Diletakan Salem”, salah satu dari 2 dewa kaum Ugarit (Shahar/Dewa Fajar dan Shalim/Dewa Senja). Dalam Sumeria, tanda URU di “URUSALIM” berarti KOTA. Dalam latin, “Ieroysalem” dan “HeieroSOLyma”. Di mana, SOL = Dewa Matahari [“Cities of the Biblical World: An Introduction to the Archaeology, Geography, and History of Biblical Sites”, LaMoine F. DeVries, hal.200, juga di “The Archaeology of the Jerusalem Area, W. Harold Mare, hal.20, juga “The International Standard Bible Encyclopedia, Vol.2, Geoffrey W. Bromiley, hal.1000 dan “Getting Back Into the Garden of Eden”, Edward Conklin, hal.22].

      Salem, Dewa senja Kanaan, adalah Dewa KETERATURAN dan KEADILAN. Baik David maupun Shlomo menghindari friksi, tidak hanya antar dua kebudayaan, yaitu Kanaan dan kaum pendatang baru Yahudi, namun juga antar Dewa SALEM dan Dewa YAHWE, Dewa perang kaum Yahudi. Untuk menghormati Salem, Shlomo mengubah kuil yang asalnya terbuka menjadi beratap dan mengayomi dua grup kepercayaan berbeda. Bernhard Lang, menambahkan dalam catatan kakinya, tulisan Keel, “Die Geschichte Yerusalem undi Entstehung des Monotheismus”, vol. 1, hlm. 264-333: “bukti yang berasal dari nubuat alkitabiah yang kata-kata aslinya, meski dikaburkan dalam teks Ibrani, dapat direkonstruksi berdasarkan teks Septuagiant/Yunani: ‘Matahari tahu dari langit bahwa Yahweh akan tinggal dalam kegelapan. Jadi, bangunlah rumah bagiku, sebuah rumah yang agung sehingga aku dapat tinggal di dalamnya lagi ‘(direkonstruksi dari 1 Raja-raja 8:53 teks Yunani; bahasa Ibrani hanya memiliki fragmen yang diedit dalam 1 Raja-raja 8: 12-13). Implikasinya adalah Dewa matahari butuh sebuah kuil dengan ruang gelap untuk menampung tamunya, Yahweh” [“Hebrew Life and Literature: Selected Essays“, Bernhard Lang].

      Kuil yang dibangun Shlomo dalam masa emas ini disebut kuil pertama, namun TIDAK ADA BUKTI tentang masa keemasan tersebut, TIDAK ADA BUKTI Israel merupakan bangsa besar dan TIDAK ADA BUKTI keberadaan kota-kota dengan kemegahan struktur bangunannya. Karakter Shlomo, Dewa Matahari dari On merupakan versi Israel dari Dewa matahari Mesir, Ra, dari Heliopolis. TIDAK ADA BUKTI ARKEOLOGI kuil Shlomo kecuali hanya dari alkitab Ibrani. [“Hiramic Brotherhood: Ezekiel’s Temple Prophesy“, William Hanna].

      Malahan, ditemukan pemukiman berusia 7000 tahun, di Shu’fat, area Utara Yerusalem, Juga 15 mil dil uar Yerusalem, yaitu di Jericho, ditemukan pemukiman berusia 10.000 tahun. Ini artinya, keberadaan manusia, BAHKAN JAUH LEBIH AWAL daripada ADAM-nya Alkitab
      —————

    (Herodes) mengumpulkan semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem Yudea (en Bethleem Ioudaia), karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem tanah Yehuda (kai su bethleem ge Iouda), engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel. [Mat 2.4-6]

      note:
      Lukas menyatakan adanya kejadian tertentu yang menyebabkan banyak orang kembali ke-kotanya masing-masing. Yusuf dan Maria, juga beberapa orang, pergi dari Nazareth ke Yudea, ke kota Daud, Bethlehem (di atas, kita tahu bahwa yang dimaksudkan kota Daud seharusnya adalah Yerusalem BUKAN Betlehem).

        Pada waktu Kaisar Agustus (de hemera ekeinos kaisar augoustos) Keluar (exerchomai) perintah (dogma) pendaftaran (apograho) bagi semua (pas) dalam kerajaan (oikoumenên). [Luk 2.1] Ini (houtus) pendaftaran (apegraphe) pertama (protos) terjadi (ginomai) Kirenius (kurenious) wali negeri (hegemoneuo) Siria (Suriah) Maka pergilah semua mendaftarkan, di kotanya sendiri [Luk 2.1-3]

        Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem.. supaya didaftarkan bersama Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. [Luk 2.4-5]

        Terjadi (ginomai) di situ/tempat/peti itu (en ekei) genap (pletho) waktu (hemera) lahir (tikto), dan lahir (kai tiktos) turunannya yang pertama (huios autos protokos) dan dibungkusnya (kai sparganoo autos) dan dibaringkannya (kai anaklino autos) di tempat makan ternak (kai phatne. Berasal dari Pateomai = makan) karena tidak ada tempat (dioti ou topos) di persinggahan (en kataluma) [Luk 2.6-7]

      Alur perjalanan adalah ke Selatan: Nazaret – Yerusalem – Betlehem (total sekitar 175 km). Betlehem dicapai setelah lewat Yerusalem. Narasi Lukas di atas, menunjukan dalam perjalanan menuju Yudea, Yesus keburu lahir, BAHKAN itu terjadi masih sangat jauh dari Yerusalem karena sekelompok orang YANG TAHU lokasi Yesus lahir BERSAKSI bahwa Yesus lahir di area NAZARETH, GALILEA

        Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya sendiri (patris autos) [Mark 6.1, yaitu di Nazareth, Galilea] Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri (patris autos) [Mark 6.4]

        Tetapi yang lain lagi berkata: “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan (sperma) Daud dan dari kampung (kome) Betlehem tempat Daud dahulu [Yohanes 7.41-42]

      Jika saja perjalanan mereka SUDAH LEWAT Yerusalem, tidaklah orang-orang mengatakan demikian. Ke-3 Injil saling mendukung Yesus lahir BAHKAN BELUM KELUAR WILAYAH NAZARET, Galilea

      Kemudian, kitab Mikha sendiri TIDAK MENYATAKAN Betlehem-YUDEA:

        Tetapi engkau, hai Betlehem EFRATA, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda (eleph Yahuwdah), dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel.. Apabila Asyur masuk ke negeri kita dan apabila ia menginjak tanah kita, maka kita akan membangkitkan melawan dia 7 gembala, bahkan 8 pemimpin manusia. Mereka itu akan mencukur negeri Asyur dengan pedang dan negeri Nimrod dengan pedang terhunus; mereka akan melepaskan kita dari Asyur [Mikkah 5.2-7]

      Ada kata “eleph” yang artinya “kaum” atau “pasukan yang dikomandoi oleh 1 orang”. Ini menunjukan bahwa yang diajak bicara adalah manusianya/kaumnya dan BUKAN tentang kota/tempat. Disamping itu, Mikha jelas menyebutkan HARUS ADA syarat lain, yaitu ADANYA penyerangan tentara ASYUR DAN BUKANNYA tentara ROMAWI serta orangnya nanti HARUSLAH bertindak sebagai pempimpin pasukan pembebasan dengan persenjataan pedang, sayangnya, ratusan tahun sebelum Yesus lahir, yaitu 612 SM dan bahkan hingga sekarang, tentara Asyur/Assyrian BELUM PERNAH ADA LAGI, malah kehancuran tentara Asyur telah terjadi JAUH SEBELUM kitab MIKHA pasal 5 ini ada!

      Perlu diketahui, terdapat beberapa Betlehem berbeda:

      1. Nama seorang turunan dari moyang pria bernama ZEBULON (Yosua 19.15). Ini adalah BETLEHEM-ZEBULON. Lokasi suku Zebulon dan Naftali adalah: jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea [Mat 4.15, juga: Yesaya 9.1-2 dan Zebulon Nazaret]. Sehingga Betlehem ini disebut BETLEHEM-GALILEA. Di SETELAH ABAD ke-2 M, yaitu setelah Nazaret ada, maka letak Betlehem-Galilea/Zebulon, dekat Nazaret sekarang (Barat Lautnya)
      2. Nama seorang turunan dari moyang perempuan yang bernama EFRAT. Ini adalah BETLEHEM-EFRAT. Efrat adalah juga nama tempat saat Rahel, istri Yakub, melahirkan Benyamin, wafat dan dikubur di situ, yaitu: tepi jalan Efrat Betlehem (derek ephraath Beyt lechem), jadi Efrat = Betlehem (Kej 35.19; 48.7; Rut 4.11). Kitab 1 Samuel 10.2, DENGAN JELAS menyatakan Efrat ada di DAERAH BENYAMIN (gobul Binyamiyn), di Zelzah, sehingga Efrat = Betlehem = daerah Benyamin, Zelzah! Jadi BETLEHEM ini TIDAK BERADA di daerah Yehuda, letaknya di Selatan Yerusalem.
      3. Kerajaan Israel, setelah kematian Raja Sulaiman bin Daud, pecah menjadi 2, yaitu Kerajaan Israel (terdiri dari 9/10 suku, lokasi di Utara, Ibu kota: Samaria) dan Kerajaan Yehuda (awalnya hanya suku Yehuda dan Benyamin, namun belakangan suku Lewi kembali bergabung. Lokasi di Selatan, Ibukota: Yerusalem/kota Daud. Dari 49 x “Kota Daud” di PL, selalu merujuk pada Yerusalem/Sion TIDAK Betlehem. Josephus, juga menyatakan bahwa kota Daud adalah Yerusalem)

        Sejak itu, untuk membedakan 2 Betlehem yang ada di 2 kerajaan ini, maka BETLEHEM-EFRATA/BENYAMIN = BETLEHEM-YEHUDA

      Perbedaan antar Betlehem dari sisi rantai moyang:

      Abraham –> Ishak –> Esau/Edom dan Yakub/Israel.

        Esau/Edom -> Elifas [Kej 36.1-4) -> Kenas (Kej 36.11) -> Kaleb disebut saudara/kakak Otnil anak Kenas (Yos 15.17; Hakim 1.13) dan juga disebut Kaleb bin Yefune bin Yater, orang Kenas (bil 32.12; Yos 14.6,14), di Jaman Musa, setelah Yosua bin Nun dan Keleb bin Yefune menaklukan Kanaan (Yosua 10), Yosua bin Nun memberikan HEBRON (= kiryat arba = negeri/kota arba, Yos 14.15; 15.13, 54; Kej 23.2; 35.27, Hakim 1.10) kepada Kaleb bin Yefune (Yos 14.13-14, Yos 15.13, Hakim 1.20)

        Turunan Yakub dari istrinya: (1) Lea -> Esau/Edom, Ruben, Simeon, Lewi, YEHUDA, Isakhar, ZEBULON; (2) Dari Rahel -> Yusuf, BENYAMIN; (3) dari Bilha -> Dan, Naftali; (4) dari Zilpa -> Gad dan Asyer/Asher (35.22-26, 1 Taw 2.1-2).

        Dari garis moyang ini, maka ZEBULON YEHUDA

        Garis turunan Lewi -> Kehat (Kej 46.11) -> Amran dan Istrinya Yokhebed (Kel 6.20)-> MUSA, Harun dan Miryam (Kel 6.20).

      Yehuda bin Israel mengawini menantunya Tamar (ex istri anak sulung Yehuda yang mati: Er) (Kej 38; 1 Taw 2:4). Dari Yehuda dan Tamar lahirlah Perez (Kej 38; 1 Taw 2:4) -> Perez bin Yehuda mempunyai anak HEZRON (1 Taw 2.5) -> HEZRON mempunyai 3 anak: Yerameel bin Hezron dan adiknya: kaleb/Kelubai bin Hezron (1 taw 2.42) + Ram bin Hezron (1 Taw 2.9)

      Dari garis moyang ini, maka Kaleb/Kalubai bin Hezron Kaleb bin Yefune

      • Keturunan Ram bin Hezron: Aminadab (1 Taw 2.10) -> Nahason (1 taw 2.10) -> Salma (1 taw 2.11) -> Boaz (1 taddw 2.11) kawin dengan Ruth (Ruth 4) -> Obed (1 taw 2.12)-> Isai (1 taw 2.12) -> David/Daud (1 taw 2.15)

        Dari jalur ini, TIDAK SATUPUN ada yang bernama Bethlehem sehingga tidak mungkin pula mengkaitkan David sebagai Betlehem-YEHUDA dan juga Betlehem-Efrat

      • Kaleb/Kalubai bin Hezron, setelah kematian bapaknya (Hezron), Ia mengawini ibu tirinya sendiri, yaitu Efrat/Ephraath/Ephrathah dan lahirlah Hur bin Kaleb bin Hezron, sebagai anak Sulung Efrat dari Kaleb bin Hezron (1 Taw 2.19, 50, 4.4) -> Keturunan Hur bin Kaleb: Salma (1 taw 2.51) -> turunan Salma adalah Betlehem (1 Taw 2.54)

        Dari jalur ini, maka hanya turunan Betlehem, dari Hur sajalah YANG BERHAK disebut Betlehem-EFRAT dan Betlehem-YEHUDA, karena adanya keterkaitan langsung dengan Betlehem, Efrat dan juga Yehuda

      Namun kemudian ada frase “Daud turunan EFRAT Betlehem-Yehuda” (Daud bin iysh Ephraath Betlehem Yehuda) (1 Sam 17.12). Jika frase ini BUKAN SUATU KESALAHAN DALAM MENGIDENTIFIKASI GARIS MOYANG, maka INI MEMBERIKAN PETUNJUK PASTI bahwa perempuan bernama Efrat ini ternyata dikawini ayah-anak keturunan Peres:

      • Kawin dengan Herzon bin Peras, Efrat melahirkan Ram bin Hezron
      • Setelah Hezron mati, janda yang telah beranak ini, dikawini anak tirinya, anaknya Herzon juga, yaitu Kaleb bin Hezrom bin peres dan dari perkawinan ini, Efrat melahirkan Hur bin Kaleb

      Pun, dengan jalur ini, untuk menyatakan Daud sebagai BETLEHEM-YEHUDA masihlah ½ BENAR, karena walaupun Daud sekarang sudah terkait langsung dengan Efrat melalui garis moyang Herzon->Ram yang juga adalah turunan YEHUDA, namun TIDAK untuk BETLEHEM-nya, karena nama itu, ada di kaki cabang jalur turunan LAINNYA

      Karena Matius TIDAK PERNAH menyatakan moyang langsungnya Yesus adalah Hur, maka walaupun nubuatan Mikha, telah diperkosa paksa dari Betlehem-Efrat menjadi Betlehem-Yehuda, ini tetap saja masih ½ COCOK. Apalagi dengan kesaksian masyarakat jaman itu yang dihimpun Yohanes 7.41-42 dan markus 6.4 bahwa YESUS TIDAK LAHIR DI YERUSALEM ataupun di Betlehem-Yehuda namun di Galilea.

    Malaikat datang dalam mimpi Yusuf/Yosep agar Ia dan keluarga segera ke Mesir menghindar dari raja Herodes yang akan membunuhi para bayi yang berusia di bawah 2 tahun (Mat 2.13-18). Supaya genap firman tuhan: “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku” (Hosea 11.1). Setelah Herodes wafat dan digantikan Arkhelaus menjadi raja Yudea, Yusuf dan keluarga kembali dari Mesir ke daerah Galilea, tinggal di kota bernama Nazaret (eis polis lego Nazareth). supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret [Mat 2.19-23. Atau “yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret” di Yoh 1.45]

      Note:
      Tentang firman “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku” (Hosea 11.1) sebagai klaim nubuatan tentang Yesus, ini justru menjadi aneh, karena Hosea (atau Joshua bin Nun) justru sedang menceritakan DIRINYA sendiri, sebagai salah satu orang Israel yang lahir di Mesir bersama ribuan lainnya, ketika ikut Musa keluar dari Mesir karena dipanggil Tuhan. Jadi ini menceritakan tentang KEJADIAN LAMPAU dan BUKAN PERTANDA

      Bahkan klaim Matius bahwa Yusuf sekeluarga menyingkir ke Mesir, LUKAS JELAS TIDAK SEPAKAT, karena Yesus dan keluarga ada di Yerusalem saat Yesus berusia 40 hari untuk urusan upacara pengkudusannya dan setelah upacara selesai, mereka kembali Ke Nazareth, Galilea. Tiap tahun orang tuanya ke Yerusalem untuk merayakan Paskah dan ketika Yesus berusia 12 tahun, Ia ikut orang tuanya ke Yerusalem untuk merayakan Paskah (Lukas 2.21-42)

      Tentang Nazaret sebagai nama KOTA (Polis Nazareth, juga Lukas 1.26; 2.4,39), MASALAHNYA:

      • Di seluruh PL sendiri, TIDAK SATUPUN ada kata “NAZARET” yang terkait dengan nama tempat atau desa atau kota, bahkan, dari list daerah untuk kaum Zebulon yang tinggal di Galilea (yaitu: 12 kota dan 6 desa. Ref. Yosua 19.10-16) TIDAK SATUPUN adalah Nazaret
      • Dari 63 kota di Galilea yang disebutkan dalam Talmud, TIDAK SATUPUN adalah Nazaret. Juga, dari 45 kota di Galilea yang dituliskan oleh Flavius Josephus (37 M-101 M) TIDAK SATUPUN adalah Nazaret
      • Bahkan TIDAK ADA SATUPUN BUKTI arkeologi yang bisa disimpulkan bahwa pernah ada kota Nazaret pada jaman kehidupan Yesus
      • TIDAK ADA SATUPUN PETA sebelum abad ke-4 yang memuat nama Nazareth sebagi kota (atau bahkan DESA atau wilayah kecil) [Lebih detailnya lihat: BLOG INI atau BLOG INI atau BLOG INI]

      Untuk itu, bagi yang ingin membantah ini, maka cukup bawakan 1 (satu) saja bukti bahwa ada Nazaret sebagai KOTA di kisaran kehidupan YESUS. BUKTI ini harusnya BUKAN BERUPA 1 rumah/bangunan atau 1 TANAH pertanian seluas 400 m2 atau kuburan dan TERLEBIH LAGI harus BUKAN SETELAH tahun WAFATNYA Yesus

      Di PL, ada kata “nazarith” (Hakim 13.5,7; 16.17; Bil 6.2,13,18-21), sayangnya kata ini tidak merujuk pada nama tempat atau kaum, namun merujuk arti karena nazarnya rambutnya tidak dicukur melayani tuhan. Orang Nazarith Allah, juru selamat kaum Israel yang disebutkan PL adalah Samson, berambut panjang, keturunan Dan yang tinggal di Zora (Filistin) [Hak 13.1 – 16.31]

      Jadi, SANGATLAH TIDAK BENAR untuk klaim bahwa Musa dalam Taurat dan juga para nabi ada menyebutkan “akan disebut orang/dari Nazaret”

Kronologi di atas menunjukan lokasi kelahiran Yesus BUKAN di Bethlehem Yudea, MALAH BELUM KELUAR WILAYAH NAZARET, Galilea

Juga, jika konsistem dengan klaim keturunan Daud, maka di jaman kerajaan Yehuda, para Hakim benar dan Nabi benar, ketika wafat, di kubur di Betlehem. Raja Israel yang benar dikubur di kuburan Raja di Yerusalem, Sementara Yesus, ketika wafat pun, tidak dikuburkan di Betlehem juga tidak di kuburan Raja, di Yerusalem, Kenapa? []

Kapan Yesus Lahir?

Kisaran kehidupan Yesus, konon ada pada jaman 2 Kaisar Romawi, yaitu: Agustus (23 September 63 SM – 19 Agustus 14 M) dan Tiberius (18 September 14 M – 16 Maret 37 M). Saat itu, dinasti Herodes ada di bawah kekuasaan ROMAWI.

Josephus mengatakan:
Raja Herodes Yang Agung memerintah selama 34 tahun, sejak dibunuhnya Antigonus II Mattathias (raja terakhir Hasmonean, 37/36 SM), namun jika dihitung sejak dinobatkan menjadi raja oleh Romawi, maka Ia memerintah selama 37 tahun (41 SM) [Antiquities, Buku ke-17, ch.8].

Wilayah Raja Herodes Yang Agung (37 SM – 4 SM) meliputi: Yudea, edom, Samaria, Galilea, Perea, Gaulanitis (Dataran Tinggi Golan), Batanaea (Suriah selatan), Trakhonitis dan Auranitis (Hauran). Setelah Herodes wafat, melalui surat wasiatnya, Kaisar Agustus membagikan wilayah itu pada pada 3 anak Herodes:

  • Herodes Arkhelaus (Lahir: 23 SM, memerintah: 4 SM – 6 M, wafat: 18 M): Edom, Yudea dan Samaria. Plus beberapa kota seperti: Menara Strato, Sebaste, Joppa dan Jerusalem (Antiquities XVII, ch.11)
  • Herodes Antipas: Galilea dan Perea (Antiquities XVII, ch.11)
  • Filipus: menurut Lukas (Iturea dan Trakhonitis), menurut Flavius Yosephus (Batanea, Gaulanitis, Trakhonitis dan Paneas, ref: Antiquities XVII, ch.8, Ch.11)
  • Salome, saudara perempuan Herodes Yang Agung: Jarnnia, Ashdod, dan Phasaelis (Antiquities XVII, ch.8)

Baik kitab Matius maupun kitab Lukas ada menyebutkan nama Herodes:

    Matius:
    Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes (de Iesous gennao en bethleem Ioudaia en hemera basileus herodes) [Mat 2.1].. Ketika Herodes tahu, Ia menyuruh membunuh semua anak yang berumur 2 tahun ke bawah [Mat 2.16]. Setelah Herodes mati, Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan ayahnya [Mat 2.19, 22]

Jadi Herodes yang terkait dengan lahirnya Yesus yang Matius maksudkan adalah Herodes Yang Agung

Karena Herodes yang agung wafat 4 SM. Dengan kronologi Matius maka YESUS LAHIR MINIMUM DI TAHUN 6 SM (4 SM wafatnya Herodes yang agung + 2 tahun usia bayi yang diperintahkan Herodes untuk di bunuh + sisa waktu wafatnya Herodes setelah perintah membunuh bayi)

    Lukas:
    Pada zaman Herodes, raja Yudea (en hemera herodes basileus Ioudaia) ada seorang imam (hierus) bernama Zakharia dari kelompok (ephemeria) Abia, Isterinya adalah Elisabet. Suatu ketika, tiba giliran kelompok Zakharia melakukan tugas keimaman, ketika diundi, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan. Waktu itu adalah waktu pembakaran ukupan. Hadir malaikat berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan dan berkata bahwa Elisabet, akan melahirkan seorang anak laki-laki bernama Yohanes. [1.5-13]

    Ketika genap waktunya bertugas, ia pulang ke rumah. Beberapa lama kemudian Elisabet, isterinya, hamil dan selama 5 bulan ia tidak menampakkan diri (1.23-24)

    .. Di bulan ke-6, Allah menyuruh malaikat Gabriel ke Galilea, Nazaret, menemui Maria yang bertunangan dengan Yusuf menyampaikan bahwa Ia akan mengandung dan akan melahirkan anak bernama Yesus dan Elisabet, sanaknya sekarang sedang mengandung anak laki-laki dan ini hamil bulan yang ke-6 (1.26-36) Maria pergi ke Yehuda ke rumah Zakharia tinggal kira-kira 3 bulan bersama Elisabet, lalu pulang kembali ke rumah (1.39-56)

    Pada waktu itu Kaisar Agustus (de hemera ekeinos kaisar augoustos) mengeluarkan (exerchomai) perintah (dogma) mendaftar (apograho) bagi semua orang (pas) dalam kerajaan (oikoumenên). [2.1] Ini/hal ini (houtus) pendaftaran (apegraphe) pertama (protos) terjadi (ginomai) Kirenius (kurenious) wali negeri (hegemoneuo) Suriah (Siria) [Luk 2.1-2] Maka pergilah semua mendaftarkan, di kotanya sendiri. Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem.. supaya didaftarkan bersama Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. [Lukas 2.3-5]

    Terjadi (ginomai) di situ/tempat/peti itu (en ekei) genap (pletho) waktu (hemera) lahir (tikto), dan lahir (kai tiktos) turunannya yang pertama (huios autos protokos) dan dibungkusnya (kai sparganoo autos) dan dibaringkannya (kai anaklino autos) di tempat makan ternak (kai phatne. Phatne berasal dari kata Pateomai = makan) karena tidak ada tempat (dioti ou topos) di persinggahan (en kataluma) [Luk 2.6-7]

    Dalam tahun ke-15 pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi wali negeri (hegemoneuo) Yudea (26 M – 36 M), dan Herodes raja wilayah (tetrarcheo) Galilea (4 SM – 39 M), Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis (4 SM -34 M), dan Lisanias raja wilayah Abilene (3:1). Pada waktu Hanas (Dalam tulisan Yunani untuk Lukas 3.2 dan 2.36, baik itu: Hana dan Hanas dituliskan sama yaitu: anna) dan Kayafas menjadi Imam Besar, Yohanes memulai Misinya.[3.2], setelah menyinggung raja wilayah Herodes, Ia masukkan Yohanes ke Penjara [3:19-20]. Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis [3:21].

    Ketika (Kai) Yesus (Iesous) memulai (archomai) sendiri (autos) seperti tiga puluh tahun (hosei triakonta etos) [3:23]

Lukas menekankan bahwa kelahiran Yesus TERKAIT nama Herodes DAN PENDAFTARAN yang ada di jaman Kirenius sebagai penguasa Suriah.

Josephus mengatakan:
Tahun ke-10, pada masa jabatan raja wilayah Arkhelaus, Ia dicopot dari jabatanya dan dibuang ke Vienna. Daerahnya digabungkan ke provinsi Suriah. Kirenius dan Koponius dikirim ke Suriah untuk menjadi hakim bagi mereka. Kirenius, untuk urusan penghitungan harta, menjual rumah Arkhaelaus dan melucuti keuangan Arkhelaus. Koponius, ditugaskan untuk membawahi para Yahudi. Kirenius dan Koponius juga ke Judea, yang sekarang menjadi bagian Provinsi Suriah, untuk urusan yang sama. Kejadian Kirenius melucuti keuangan Arkhelaus dan penghitungan pajak terjadi di tahun ke-37 kemenangan Caesar atas Antony di Actium [Josephus, Antiquities of Jews, buku ke-17, ch.13, buku ke-18, ch.1-2]

Jad Herodes yang terkait dengan lahirnya Yesus yang Lukas maksudkan adalah Herodes Arkhelaus!

  • Kemenangan Caesar melawan Antony terjadi di tahun 31 SM, Sehingga tahun ke-37 sebagai tahun terjadinya pendaftaran di jaman Kirenius adalah TAHUN 6 M.

    Apakah Kirenius pernah menjadi penguasa Suriah SEBELUM 6 M? Tidak.

    13 – 10 SM
    Marcus Titius
    7 – 4 SM
    Quintilius Varus
    10 – 7 SM
    Sentius Saturninus
    4 – 1 SM
    Calpurnius Piso

    Apakah ada inskripsi yang mendukung bahwa kirenius pernah menjadi pejabat pendaftaran di Suriah SEBELUM 6 M? Tidak.

    Yang ada malahan Inskripsi yang mendukung pernyataaan Josephus bahwa Kirenius menjalankan pendataan kekayaan pertama kalinya di Judea/Syiria sebagai penguasa Suriah, yaitu Inkripis Lapis Venetus atau Aemilius Secundus. Inskripsi ini dituliskan setelah kematian Kaisar Agustus, karena ada kata Divine/Almarhum

    Juga ditemukan 3 Inskripsi lainnya, yaitu:

    (1) Lapis Tiburtinus (dituliskan setelah kematian Kaisar Agustus, karena ada kata Div/Deified atau Almarhum). Inskripsi ini tidak mengandung material yang merujuk pada Kirenius.

    (2) Inskripsi pada batu di Antioch, Turki yang terdiri dari 2 buah Inkripsi yang menceritakan Gaius Caristanius Sergius anak dari Gaius Sergius Fronto (Gaius Caristanius Sergius masih hidup pada 68/69 M) dan potongan curriculum VItae/sejarah pos-pos dari jabatan yang pernah diraih Gaius Caristanius, yaitu: Pejabat Senat/Office in charge of Work, Komandan Legiun petir ke-12, Pegawai perfektus di Bosporan, Kepala Pendeta/Pontifex, Pendeta, Pegawai perfektus saat Kirenius menjabat sebagai duumvirate atau pejabat bersama dalam satu penugasan (yaitu ketika Agustus mengirim Kirenius dan Koponius ke Suriah), Perfectus masa Marcus Servilius (wafat 3 M). Inkripsi ini mendukung statement Josephus mengenai masa jabatan Kirenius di Suriah.

  • Sejak Tahun 6 M, Yudea BUKAN LAGI di bawah dinasti Herodes manapun, karena telah dilebur menjadi bagian Provinsi Suriah
  • Karena Yusuf pergi untuk mengikuti pendaftaran jaman Kirenius terjadi di tahun 6 M, maka YESUS LAHIR DI TAHUN 6 M dan jelas sudah bahwa Ia lahir BUKAN di jaman pemerintahan Herodes manapun (Herodes yang agng dan Herodes Arkhelaus)
  • Karena dikatakan Herodes Arkhelaus telah memerintah selama 10 tahun sebelum dicopot dan daerahnya dilebur ke dalam provinsi Suriah, yaitu di 6 M, maka wafatnya Herodes yang agung adalah tahun 4 SM

    Kemudian,
    menurut Lukas 3.21, 23, Yesus memulai pekerjaannya, adalah SETELAH Yohanes pembaptis dipenjara. Dikatakan saat itu, Yesus seperti 30 tahun.

    • Lukas 1.36 menyatakan selisih kehamilan Elizabeth (Ibu Yohanes Pembaptis) VS Mary (Ibu Yesus) adalah 6 bulan, ini artinya mereka nyaris sebaya. Karena Yesus lahir bertepatan dengan pendaftaran jaman Kirenius wali Suriah, maka, umur Yesus sejak tahun 6 M s.d tahun ke-15 kaisar Tiberius = 23/24 tahun. Saat itu Yohanes pembaptis berumur tidak lebih dari 25 tahun. Yohanes lahir mungkin saja di akhir pemerintahan Herodes Arkhelaus.
    • frase “seperti tiga puluh tahun“(hosei triakonta etos) [3:23]”, menunjukan walaupn usianya di bawah 30 tahun namun tampilannya saja yang tampak 30-an.

Dari kronologi Matius kita dapatkan Yesus lahir di 6 SM, sedangkan dari kronologi Lukas kita dapatkan Yesus lahir di 6 M!

Ini menunjukan beda tahun kelahiran Yesus antara 2 kitab Injil ini adalah Minimum 12 tahun! [Penting: The Date of the Nativity in Luke (6th ed., 2011), Richard Carrier] []

Bulan apa Yesus Lahir?

    ..Namun Lupi telah menunjukan bahwa TAK ADA BULAN dalam tahun yang para otoritas terhormat TIDAK CANTUMKAN sebagai lahirnya Yesus [Catholic Encyclopedia, Christmas, Zaccaria, Dissertazioni ecc. del p. A.M. Lupi, Faenza, 1785, p. 219]

Jadi, setiap bulan dari Januari s.d Desember, ada saja yang pernah diklaim sebagai bulan kelahiran Yesus, berikut samplenya:

    Clement Alexandria (150-215 M):
    “Dari lahirnya Kristus, karenanya, wafatnya Commodus, secara keseluruhan adalah 194 tahun, 1 bulan dan 13 hari . Dan ada juga mereka yang menentukan tidak hanya tahun dari Tuan kita lahir, namun juga harinya; Dan mereka katakana itu terjadi di tahun ke-28 Agustus, dan di hari ke-25 bulan Pachon. Dan para pengikut Basilide (sekitar 130 M) memegang hari baptisanNya sebagai sebuah festival.. Dan mereka katakan bahwa tahun ke-15 Tiberus Caesar adalah hari ke-15 Tubi dan beberapa katakan itu adalah hari ke-11 di bulan yang sama..Lebih lanjut, beberapa berkata bahwa Ia lahir di hari ke-24 atau 25 bulan Pharmuthi”

      Note:
      Commodus wafat: 31 Desember 192 AD (Kalender Julian) / 30 Desember 192 M (Kalender Gregorian). Dengan selisih lahir Yesus vs wafat Commodus sebanyak 194 tahun, 1 bulan, 13 hari (Julian), maka dari kalender conventer Julian – Gregorian , didapat tanggal: 20 November 3 SM (Julian) atau 18 November 2 SM (Gregorian). Jadi Yesus lahir di: 20/18 November

      Untuk tahun ke-28 Kaisar Agustus, yaitu hari ke-25 bulan ke-9 (Pachon) kalender Mesir, maka dari kalender converter Mesir – Julian/Gregorian didapat tanggal: 20 May 2 SM (Julian) atau 18 May 2 SM (Gregorian). Jadi Yesus lahir di: 20/18 May

      Untuk hari ke-24/25 Pharmuthi, dengan kalender converter yang sama seperti di atas, maka didapat tanggal Yesus lahir: 19/20 April (Julian) dan 17/18 April (Gregorian).

      Untuk hari baptisan Basillide, Catholic Ensikopedia menyatakan Basillide merayakan hari Epiphany (hari 3 raja magi, yang datang saat yesus Lahir), maka dari kelender conventer yang sama, tanggal yang clement maksudkan sebagai 11/15 Tubi adalah: 6/12 January (Julian) atau 4/10 January (Gregorian)

    Hippolytus (murid Clement: 170 -235 M), yaitu dari 7 manusriptnya yang ditemukan di abad yang berbeda-beda, namun untuk “komentar untuk Daniel” yang sama dan pada pasal 4.23.3-4 [Lihat gambar], terdapat 3 tanggal rekaan kelahiran Yesus yang berbeda, yaitu Maret, 2 April dan 25 Desember. Tidak jelas mana yang asli diantara ke-7 manuskrip tersebut.

    Desember:
    Pendeta Romawi Dionysius Exiguus di tahun 527 AD (Julian) membuat kalender Julian, dengan menetapkan tahun 754 AUC (ab urbe condita = Sejak berdirinya kota Roma) sebagai inkarnasi Yesus. Tahun 754 AUC = 25 Maret 1 AD dan 9 Bulan kemudian adalah 25 Desember. Namun, penetapan resmi tanggal 25 Desember sebagai tanggal lahir Yesus, tampaknya karena Paus Julius (di 350 M atau di 385 M).

    Dewa-dewa yang lahir di 25 Desember, diantaranya adalah: Apollo (Yunani), Attis (Yunani), Baal (dewa kanaan), Bacchus (romawi)/Dionisus (Yunani, Helios (Yunani), Hercules/Heracles (Yunani), Horus (Mesir), Jupiter (Romawi), Mithra (India), Nimrod (Babilon), Osiris (Mesir), Perseus (Yunani), Tammuz (Summerian)/Adonis (Yunani), Sol Invictus (Romawi: Dewa utama kota roma, penetapan penyembahannya dilakukan oleh Raja Aurelian, 274 M, dirayakan dengan festival Dies Natalis Solis Invicti/lahirnya sang matahari yang tak tertaklukan).

    Karena dianggap terkait perayaan banyak dewa-dewa pagan, maka aliran Advent dan Saksi Yehuwa, berhenti merayakan natal di tanggal itu. Saksi Yehuwa berhenti merayakannya sejak tahun 1926.

    Februari:
    “Hari libur Quirinus: ..Hari libur ini, mempunyai nama yang sama dengan nama Gubernur yang berkontribusi pada masa sensus. Inilah mengapa Lukas 2.2, perlu mengingatkan dalam kisahnya. Ini menyampaikan tanggal Yusuf dan Mary harus ada di Bethlehem. Ini adalah tanggal Yesus Lahir 17 Februari” [Dari: Paleo Institute Project: “Jesus Birth Date Riddle“].

    Pendukung lain bulan Februari: “When Was Jesus Christ REALLY Born?“, dari William F. Dankenbring: “Juga, mereka yang percaya bahwa Ia dilahirkan di musim gugur, sekitar September-Oktober, juga sama salahnya. Bukti baru ini, jelas menunjukan kelahiran di bulan February atau akhir musim dingin, sebelum musim semi di 4 SM”

    Juni:
    Astronom, Dave Reneke menyatakan Yesus lahir tanggal 17 Juni [The Telegraph.co.uk”‘Jesus was born in June’, astronomers claim“, 9 Desember 2008]

    July:

    “Yesus lahir di 25 Juli 7 SM berdasarkan: 3 Magi yang datang dari Timur ke Barat (Kombinasi Jupiter-Saturnus segaris dengan matahari, merkurius dan Matahari yang ada di timur). 3 hadiah yang diberikannya (simbol matahari, bulan dan merkurius) dan Yesus yang lahir di kandang (kumpulan bintang yang ada dikonstelasi cancer) diapit lembu dan bagal (Asellus Borealis & Australis).

    Dari 3 kunci ini, satu-satunya tanggal yang memungkinkan adalah 25 Juli 7 SM: Saat subuh di tanggal itu, bulan “berjalan” menuju Cancer, sementara Matahari berada sedikit dibelakang di Leo. Lebih lanjut, Matahari beralih menjadi yang paling terang di Leo: Regulus (latin: Raja kecil), mengumumkan kelahiran raja kecil yang spesial. Pertemuan di dua busur bulan menyinari kandang bintang dengan dua keledai (Asellus Borealis & Australis) dan seperti yang diramalkan, Merkurius berjalan di antara 2 “induk” yang bersinar (bulan dan matahari)” [Blog ini].

    Pendukung lain bulan Juli: “6 Juli 6 SM: The Decree of Augustus Caesar and the Birth of Christ (Lk 2:1-7)” [Chart – The Life of Jesus in Chronological Order]

    Agustus:
    “..Yesus lahir pada atau dekat tanggal 27 Agustus”.[Old Scholl baptist: “When was Jesus Born?]. Pendukung lain bulan Agustus tercantum dalam buku Urantia 122.8.1: “Siang hari, 21 Agustus 7 SM.. Yesus dari Nazareth lahir” (Urantia: sebuah kelompok 30 orang di Chicago ditahun 1930/1934 yang menerima wahyu dari malaikat).

    September:
    “Jika Yesus lahir ketika Sukkot/hari pondok daun, hari berpuasa untuk Tabernacle/Kemah pertemuan Allah dengan umatnya, (yang mulai pada 29 September) di 5 SM” [It’s About Time: “When was Jesus Born?“, Dr. James Ya’akov Hugg].

    Pendukung lain bulan September: “Faktanya adalah,…di awal malam 11 September. Aku dapat nyatakan dengan yakin bahwa matahari terbenam di 11 September 11 3 SM adalah awal dari tahun baru Yahudi (Rosh ha-Shanah ― Hari Kemenangan)..Jika seseorang sadari bahwa PB menunjukan Yesus lahir di hari kemenangan (Hari ke-1 bulan Tishri ― awal tahun kaum Yahudi” [“The Star of Bethlehem: The Star that Astonished the World, Extended 2nd ed., Ernest L. Martin, Ph.D., ch.6, “The Birth of Jesus and the Day of Trumpets”]

    Oktober:
    “Dalam penanggalan modern Gregorian kita, yang tidak ada di jaman kelahiran Yesus, Ia lahir di 4 Oktober 4 SM” [FAQ: “WHEN WAS CHRIST JESUS BORN ?“].

    Pendukung lain bulan Oktober: “..dan pada permulaan ke-6 kehamilannya, Gabriel muncul dihadapan Mary, Keluarga Elizabeth (1:26). Waktunya adalah minggu pertama bulan January 2SM. Yesus lahir kira-kira 280 hari kemudian, yaitu sekitar tanggal 13 Oktober 2 SM. Ini adalah hari ke-15 bulan Tishri” [“Fixing the Month of Jesus’ Birth]

Variasi pendapat bulan kelahiran Yesus di atas ini wajar terjadi karena memang TIDAK ADA CATATAN tentang hari, bulan dan tahun kelahiran Yesus di Alkitab.

Bagaimana cara mereka mengklaim bulan tersebut?
Selain melalui pendekatan astronomi, cara lainnya misalnya dengan pendekatan ROTASI TUGAS PARA IMAM. Ini merujuk petunjuk: “tiba giliran Zakaria turunan Abia/Abijah untuk memimpin penyelenggaraan Ibadah” [Luk 1.5].

Rotasi Tugas 24 Imam
1 tahun kelender Yahudi, normalnya terdiri dari 12 bulan (jumlah hari antara 353 s.d 355 hari) dan pada tahun-tahun tertentu ada tambahan 1 bulan (30 hari) sebagai bulan ke-13. Tambahan ini terjadi dalam SIKLUS 19 TAHUNAN dan Bulan ke-13 HANYA muncul di tahun ke-3, 6, 8, 11, 14, 17 dan 19 dari siklus 19 tahunan. Jadi di tahun-tahun SPESIAL itu, jumlah bulan = 13 dan jumlah hari = 385.

Tentang penugasan para Imam,
Daud membagi giliran tugas 24 turunan Harun: 16 dari turunan Eleazar dan 8 dari turunan Itamar melalui undian, yaitu ke-1 (Yoyarib) s.d ke-24 (Mazya) (1 Taw 24.1-19) dan Abia/Abijah mendapatkan jatah giliran ke-8 (1 Taw 24.10). Waktu penugasan mulai dari Sabat s.d sebelum Sabat (2 taw 23.8) atau 7 hari lamanya (1 taw 9.25) [Josephus juga memuatnya di Antiquities of Jews, buku ke-7, ch.14]. Selain itu, pada 3 hari raya, ke-24 IMAM HARUS HADIR SELURUHNYA:

  • Roti tidak beragi (atau Paskah: Bulan ke-1/Nisan tanggal 15, selama 7 hari)
  • 7 minggu (panen atau hari raya pentakosta: 1 hari setelah sabat + 7 minggu, yaitu di bulan ke-2/Tamuz, ini hari turunnya taurat dan hari lahir dan wafatnya daud) dan
  • Pondok daun (atau hari kemah pertemuan/tabernakel: Bulan ke-7/Tishri, tanggal 15 selama 7 hari. Ini mirip pengulangan bulan ke-1)

3 hari raya di atas, tidak mempengaruhi jadwal rotasi penugasan, karena di 3 even itu, jumlah imamnya bukan cuma 1 (yang bertugas) namun ditambah lagi 23. Alkitab tidak memberikan petunjuk mengenai tahun dan bulan apa, pertama kalinya giliran sesuai undian itu dilakukan.

Namun untuk memahami metode ini, kita misalkan saja pada jaman Daud, ditetapkan awal mulainya adalah di bulan ke-1/Nisan, hari ke-1 dan tahun ketika pelaksaannya adalah TAHUN SPESIAL (jumlah bulan 13 atau 385 hari), maka:

Pada tahun ke-1,
Imam Abia (undian ke-8) akan mendapat giliran bekerja pada minggu ke-8 (akhir bulan ke-2/Tamuz) dan minggu ke-32 (akhir bulan ke-8/Shevat) + hari raya paskah di bulan ke-1/Nisan + hari raya pondok daun di bulan ke-7/Tishri = total 4x tugas (karena di hari Pentakosta, Ia bertugas pada gilirannya sendiri).

Saat rotasi berjalan 2 x 24 = 48 minggu = 336 hari dan itu masih selisih 49 hari/7 minggu sampai dengan berakhir tahun spesial (385 hari), oleh karenanya, rotasi berlanjut untuk Imam undian ke-1 s.d Imam undian ke-7 = 49 hari.

Pada tahun ke-2,
bulan ke-1/Nisan, hari ke-1, Imam yang bertugas adalah Abia (undian ke-8) demikian seterusnya.

Sehingga, SELURUH IMAM pada akhirnya AKAN PERNAH BERTUGAS DI SELURUH NAMA BULAN.

Jika saja ini berlangsung TIDAK TERPUTUS (setelah dapat dipastikan dengan jelas kapan tahun dan bulan pertama kali berlakunya giliran tersebut), maka akan cukup mudah untuk menentukan kapan gilirannya Zackharia dari keluarga Abia bertugas di lukas 1.5 namun sayangnya, setelah wafatnya raja Sulaiman bin Daud, kerajaan terpecah dan pada beberapa abad kemudian musnah.

    Rahabean bin Sulaiman menggantikan ayahnya Sulaiman bin Daud menjadi raja Israel. Ketika Rahabean baru 3 hari berkuasa, Ia menolak tuntutan rakyat Israel untuk menurunkan pajak dan malah meningkatkan pajak, oleh karenanya, DARI 12 SUKU ISRAEL, 10 suku memberontak dan hanya 2 suku saja yang setia, yaitu suku YEHUDA dan BENYAMIN (belakangan suku LEWI kembali).

    Kerajaan menudian terpecah dua, yaitu Kerajaan dari 2 atau 3 suku (Yehuda, Benyamin dan Lewi) disebut KERAJAAN YEHUDA dan rajanya adalah Rahabean. Sementara 9/10 suku sisanya, membentuk kerajaan baru yang bernama KERAJAAN ISRAEL (Samaria) dan rajanya adalah: Yerobeam bin Nabat.

    ± 200 tahun kemudian, jaman raja Yehuda-Hizkia (ref. Mikha 5.2) kerajaan Asyur/Assyrian menghancurkan kerajaan Israel (Raja terakhir: Hosea) yang merupakan puncak realisasi nubuatan Yesaya untuk menjawab tanda yang diminta Raja Yehuda Ahaz (Ayah dari Hizkia), sehingga Yesaya 7.14 TIDAKLAH merujuk pada Maria dan Yesus (Mat 1.22-23):

      seorang perempuan muda (almah (istri Yesaya) bukan betulah = Perawan) mengandung dan akan melahirkan anak laki-laki dan menyebutnya “tuhan bersama kita” (Immanu-el: Pujian karena “Tuhan bersama-kerajaan Yehuda”, dengan terbunuhnya raja Rezin dan raja Pekah). Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti (yaitu Pekah, raja Israel dan Rezin raja Suriah, ref 2 raja 16.5) akan ditinggalkan kosong. TUHAN akan mendatangkan atasmu dan atas rakyatmu dan atas kaum keluargamu hari-hari seperti yang belum pernah datang sejak Efraim menjauhkan diri dari Yehuda — yakni raja Asyur. [Yesaya 7.14-17]

    Perempuan muda dan anak laki-laki dinubuatan UNTUK RAJA AHAZ terpenuhi tidak lama setelah YESAYA menyatakannya, karena di Yesaya 8.1-4, perempuan muda itu adalah ISTRI YESAYA dan anak itu adalah ANAK YESAYA “sebab sebelum anak itu tahu memanggil: Bapa! Ibu! maka kekayaan Damsyik dan jarahan Samaria akan diangkut di depan raja Asyur.“, Nubuatan Tuhan bersama kerajaan Yehuda terjadi SEBELUM tahun ke-4, pemerintahan raja Yehuda, Ahaz, ketika kerajaan Asyhur membunuh raja Suriah, Rezin dan di tahun ke-4, ketika Raja Israel, Pekah dibunuh Hosea serta di tahun ke-13, ketika kerajaan Asyhur melumatkan kerajaan Israel-Samaria (raja terakhir: Hosea) dan mengangkut hampir seluruh penduduknya ke Asyhur.

    Setelah kejadian itu, mulailah dongeng tentang 10 suku Israel yang hilang.

    ± 135 tahun setelah hancurnya Kerajaan Israel-Samaria, Kerajaan Babilonia menyerbu kerajaan Yehuda (Raja terakhir: Zedekia), penduduk Yerusalem dipindahkan, sejak itulah Yerusalem tidak berpenghuni lagi.

    Grabbe, Lester L. dalam “A History of the Jews and Judaism in the Second Temple Period”, T&T Clark International. 2004, hal.28: Selama 6 abad Yerusalem tidak berpenghuni. Dalam “Between Myth & Mandate: Geopolitics, Pseudohistory & the Hebrew Bible”, Ch 13, Ezra dan Nehemia, mulai hal.349, Michael Nathanson meragukan isi naratif kitab-kitab tersebut mengenai pembangunan ulang Kuil di Yerusalem pada jaman kerajaan Persia

Ini menghentikan rotasi penugasan para Imam untuk waktu yang lama!

Kitab Ezra dan Kitab Nehemia kemudian memuat kisah kepulangan orang-orang provinsi Yehuda dari Babel. Ezra dan Nehemia konon hidup di jaman raja Persia, Ataxerses 1 (465 SM – 424 SM), Ezra datang di tahun ke-7. Ia adalah ahli Taurat dan menjadi Imam selama 40 tahun. Nehemia datang di tahun ke-20 (pemerintahan Raja persia, atau tahun ke-13-nya Imam Ezra). Kitab Ezra dan Kitab Nehemia memuat nama-nama keluarga Imam yang pulang dari pembuangan:

  • Di Ezra 2.36-39, ada 4 keluarga/Bani Imam: Yedaya, Harim, Imer dan Pasyhur. Bani Pasyhur sendiri keturunan Bani Imer. Nama Yoyarib ada di Ezra 8.16. Keluarga Imam lainnya di Ezra 2.61 adalah: Habaya dan Hakos. Sedangkan bani Abia, leluhur Zackharia TIDAK ADA.
  • Di Nehemia 12.12-21, ada 21 keluarga Imam dan bani Abia ada di no.11 (Yoyarib di no.16)
  • Di Nehemia 12.1-7, ada 22 nama Imam bukan nama keluarga Imam/Bani. nama Abia sebagai Imam ada di no.12 (Yoyarib di no.17)
  • Di Nehemia 11.10-14, ada 6 keluarga/Bani Imam untuk Yerusalem: Yedaya dari keluarga Yoyarib, Yakhin, Seraya, Adaya dari keluarga Malkia dan Amasai dari Keluarga Imer. Sedangkan Keluarga Imam Abia TIDAK ADA. Sedangkan di kota-kota Yehuda lainnya tidak disebutkan.
  • Di Nehemia 10.1-8, ada 22 nama Imam bukan nama keluarga Imam/Bani. Nama Abia sebagai Imam ada di no. 18
  • Di Nehemia 7.39-42, Ada 4 nama keluarga Imam: Yedaya, Harim, Imer dan Pasyhur (= Ezra 2-36-39) dan di Nehemia 7.63 Imam keluarga Habaya dan Hakos (= Ezra 2.61)

Apakah bani Abia punah? Sampai bagian akhir kitab Ezra, TIDAK ADA disebutkan Bani Abia kembali dari pembuangan.

Jika tidak punah, no. berapa giliran penugasannya? Ini sulit karena kitab Nehemia sendiri menyatakan ada 3 no. urutan (semuanya BUKAN di urutan ke-8), yaitu nama Abia sebagai Imam dan nama Abia sebagai keluarga Imam.

    Note:
    Sanhendrin 93b: Derajat Nehemia di bawah Ezra karena Nehemia melakukan beberapa kesalahan sehingga kitab itu tidak disebutkan dengan namanya (Bible versi Yahudi menuliskan Ezra-Nehemia sebagai 1 buku, sementara versi Kristen 2 buku terpisah).

    Oleh karenanya, atas dasar apa versi Nehemia lebih benar dari Ezra berkenaan dengan eksistensi Imam keluarga Abia?

Permasalahan-permasalahan di atas ini saja sudah membuat TIDAK MUNGKIN LAGI meneruskan hitungan berdasarkan METODE ROTASI PARA IMAM.

Permasalahanpun belum selesai,
Yerusalem di abad ke-2 SM, dihancurkan lagi. Kali ini oleh Raja Antiokhus Epifanes, yang juga membuat para penduduk Yerusalem dan Yehuda diangkut pergi. (Lihat di kitab Makabe buku ke-1. Kitab ini bersama 8 kitab lainnya diakui konsili Trent namun tidak diakui Kristen Protestan). Kehancuran Yerusalem ini membuat para Imam juga tidak dapat melaksanakan tugasnya untuk waktu yang lama.

9 kitab kanon deutero (termasuk didalamnya kitab Makabe 1 dan 2) juga tidak mencatat nama-nama keluarga para imam dan urutannya, sehingga permasalahan ada/tidaknya keberadaan keluarga Abia (kitab Ezra vs kitab Nehemia) juga tidak terselesaikan, maka atas dasar apa keluarga Abia punya keturunan bernama Zacharia di beberapa ratus tahun kemudian?

    Note:
    Flavius Yosephus menyatakan metoda partisi 24 Imam (BUKAN 24 nama-nama keluarga Imam) tetap digunakan hingga di jamannya [Antiquities buku ke-7 bab.14.7] dan Uskup Kaisarea, bapak dari sejarah gereja-gereja, Eusebius (263 M – 339 M) dengan mengutip Julis Africanus (140-240 M) menyatakan Herodes TELAH MEMBAKAR SEMUA CATATAN SILSILAH ORANG-ORANG YAHUDI [Ch 7.13].

    Untuk “Zachkaria dari keluarga Abia”, yang mana yang dimaksud: keluarga Imam jaman David atau nama Imam jaman Ezra?

Persoalan terakhir yang menghadang adalah berapa lama selisih waktu antara selesainya penugasan Zachkaria dan hamilnya Elizabet pada frase, “Ketika genap waktunya bertugas, ia pulang ke rumah. Beberapa lama kemudian Elisabet, isterinya, hamil dan selama 5 bulan ia tidak menampakkan diri [Lukas 1.23-24]”?

Dengan kendala-kendala di atas, penggunaan metoda rotasi tugas para Imam untuk menentukan hitungan kapan Yesus lahir, jelas tidak dapat diandalkan.

Adakah cara yang lebih mudah dan kitabiah dalam menentukan kapan Yesus lahir? Ada.

    ..Di bulan ke-6, Allah menyuruh malaikat Gabriel ke Galilea, Nazaret untuk menemui Maria yang bertunangan dengan Yusuf menyampaikan bahwa Ia akan mengandung dan akan melahirkan anak bernama Yesus dan Elisabet, sanaknya sekarang sedang mengandung anak laki-laki dan ini hamil bulan yang ke-6 (1.26-36) Maria pergi ke Yehuda ke rumah Zakharia tinggal kira-kira 3 bulan bersama Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya (Lukas 1.39-56)

Mengapa Maria tinggal 3 bulan lamanya di tempat Elizabeth dan kemudian pulang tanpa menunggu Yohanes pembaptis lahir?

Maria tinggal 3 bulan di tempat Elizabeth karena saat Ia datang adalah musim dingin. Alkitab mempunyai rujukan bahwa orang memang menetap ketika bepergian dan bertemu musim dingin.

    Tiga bulan kemudian kami berangkat dari situ naik sebuah kapal dari Aleksandria yang selama musim dingin berlabuh di pulau itu.[KPR 28.11. Lokasi pulau di Alexandria secara garis lintang adalah lebih jauh dari kutub Utara dibandingkan Yerusalem. Jadi untuk urusan musim dingin, bisa dianggap sama]. Dan di Korintus .. aku akan tinggal selama musim dingin..[1 kor 16.16]. ..karena sudah kuputuskan untuk tinggal di tempat itu selama musim dingin ini. [Tit 3.12]

Jika demikian, mengapa Ia pulang tanpa menunggu kelahiran Yohanes pembaptis? Karena saat itu sudah dekat dengan Paskah (Bulan ke-1/Nisan, tanggal 14), Ia harus segera pulang untuk bersiap merayakannya. Selama 3 bulan di tempat Elizabeth, kandungannya berusia lebih dari 3 bulan

  • Dengan menggunakam kronologi Lukas bahwa Yesus lahir saat pelaksaanan pendataan oleh Kirenius di 6 M, maka 1 Nisan jatuh pada tanggal 18/20 Maret dan 6 bulan kemudian lahirlah Yesus di bulan September 6 M
  • Dengan kronologi Matius bahwa Yesus lahir minimum di 6 SM jaman Herod yang Agung, maka, 1 Nisan-pun jatuh pada 18/20 Maret dan 6 bulan kemudian lahirlah Yesus di bulan September 6 SM.

Di bulan September para gembala menggembalakan ternaknya di padang rumput:

    dan para gembala (kai poimen) yang hidupnya di padang terbuka (eimi en ho chora ho autos agrauleo) dan berjaga mengawal ternaknya di malam hari (kai phulasso phulake ho nux epi ho poimne autos) [luk 2.8].

Namun herannya, bapak-bapak gereja tampaknya lebih suka menumpang hari kelahiran para dewa Pagan untuk menetapkan waktu kelahiran tuhan mereka, Yesus Kristus, Kenapa? [Lihat juga ini] []

[Kembali]


Samädhi/Meditasi dan Paññā


Meditasi BUKAN aktifitas mengosongkan pikiran,
TIDAK mengosongkan pikiran.
TIDAK HARUS dalam postur duduk,
DAPAT dalam postur: berdiri, berjalan, berbaring.
Jikapun duduk bersila, TIDAK HARUS dalam posisi LOTUS.
TIDAK HARUS dilakukan berjam-jam,
DAPAT dilakukan beberapa menit.
dan TIDAK TERKAIT DENGAN AGAMA MANAPUN.


Sang Buddha pernah berkata bahwa 5 Indriya/Pañcindriyāni/5 kemampuan (saat mahir tak tergoyahkan/mencapai kesucian disebut 5 Kekuatan/pañca balā), jika dikembangkan dan dilatih (bhāvitāni bahulīkatāni), akan menuntun pada (saṃvattanti): Hancurnya noda-noda (āsavānaṃ khayāya) atau Hancurnya belenggu-belenggu (saṃyojanappahānāya) atau Tercabutnya kecenderungan tersembunyi (anusayasamug-ghātāya) atau Pemahaman penuh pada sang jalan (addhā-napariññāya)” [SN 48.61-64]. 5 Indriya (atau 5 kekuatan, SN 48.3), yang dimaksud adalah:

  1. Kemampuan/Kekuatan-Keyakinan (Saddha-Indriya/Bala), harus terlihat dalam (daṭṭhabba) 4 faktor memasuki-arus (Catūsu sotāpattiyaṅgesu) [SN 48.8, AN 5.15] atau CERMIN DHAMMA/dhammādāso (SN 55.8-10): Keyakinan kokoh tak tergoyahkan pada (1) Buddha, (2) Dhamma, (3) sangha, dan (4) moralitas yang disenangi para mulia yaitu moralitas yang tidak rusak, tidak robek, tanpa noda, tanpa bercak, membebaskan, tidak digenggam/melekat dan menuntun pada pikiran terpusat [SN 55.1,2]. Pengelompokan lain 4 faktor pemasuk arus: (1) Pergaulan dengan orang Mulia (Sappurisasaṃseva), (2) mengikuti dhamma sejati (saddhammassavana), (3) perhatian benar (yonisomanasikāra) dan (4) berprilaku sesuai dhamma/ajaran (dhammānudhammappaṭi-patti). Arus adalah 8 jalan mulia (pandangan benar..pemusatan pikiran yang benar). Pemasuk arus adalah yang memiliki 8 jalan mulia [SN 55.5, 50; DN 33]
      Note:
      Sang Buddha: “..Sekarang, Ānanda, penghidupan BRAHMA/menyucikan diri menjadi tidak bertahan lama. Sekarang, Ānanda, DHAMMA SEJATI hanya bertahan 500 tahun (na dāni, ānanda, brahmacariyaṃ ciraṭṭhitikaṃ bhavissati. Pañceva dāni, ānanda, vassasatāni saddhammo ṭhassati)” [AN 8.51, Cullavagga X.1.6], maka, setelah tahun ke-500nya penahbisan Mahapajapati Gotami, Dhamma sejati lenyap, pencapaian sotāpanna TIDAK DIMUNGKINKAN di alam Manusia. Mereka yang berkeyakinan terhadap Buddha, Dhamma, seharusnya juga YAKIN pada sabda sang Buddha tentang ini

    Sidharta Gautama dengan usahanya sendiri, menembus pencerahan, pengetahuan ini diajarkanNya pada yang patut dijinakkan. Jadi, seseorang, melihat orang yang dikenalnya, menjalani latihan ajaran ini dan mencapai pencapaian. Ini menginspirasikannya untuk mengikutinya atau untuk membuktikannya, ATAU Seseorang, setelah mendengar/membaca ajaran, Ia merenungkannya dan melihat manfaatnya ada, Ini adalah benih awal keyakinannya, Ia ingin membuktikan kelanjutannya dan Ia mencapai beberapa kemajuan mental seperti yang tertera di ajaran, oleh karenanya, keyakinannya mengokoh dan makin tak goyah.

    Alur maju dari indriya Keyakinan:

      “..yang berbakti sepenuhnya kepada Sang Tathāgata dan berkeyakinan penuh pada-Nya tidak memiliki kebingungan atau keraguan terhadapNya atau ajaranNya → akan terbangkitkan kegigihannya untuk meninggalkan kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan mendapatkan kondisi-kondisi yang bermanfaat → menjadi mengingat ini, berdaya ingat kuat, cerdas dalam mengingat, ingat akan ingatan, perkataan dan perbuatan yang telah lama → akan memperoleh keterpusatan pikiran, akan memperoleh pikiran yang terpusat, setelah melepaskan objek → dan akan memahami..

      Ketika ia, berulang-ulang berusaha dengan cara demikian, berulang-ulang merenungkan demikian, berulang-ulang memusatkan pikiran demikian, berulang-ulang mengetahuinya dengan cara demikian, siswa mulia itu memperoleh keyakinan penuh sebagai berikut: ‘Sehubungan dengan hal-hal ini yang hanya pernah kudengar sebelumnya, Aku, sekarang, setelah menyentuhnya dengan jasmani dan, setelah menembusnya melalui kebijaksanaan, aku melihat.’ Keyakinannya itu adalah indriya keyakinan.” [SN 48.50. Juga lihat: MN 68 dan MN 11]

    Perumpamaan tentang Kereta Dhamma dari Sang Buddha:

      Adalah keyakinan dan kebijaksanaan (yassa saddhā ca paññā ca)
      pasangan yang terjalin bersama (dhammā yuttā sadā dhuraṃ)
      rasa malu tiangnya, pikiran gandar-ikatnya (Hirī īsā mano yottaṃ)
      ingatan kusir pengarahnya (sati ārakkhasārathi)

      moralitas perlengkapan keretanya (ratho sīlaparikkhāro)
      jhana as-nya kegigihan rodanya (jhānakkho cakkavīriyo)
      keseimbangan terjalin pikiran terpusat (upekkhā dhurasamādhi)
      dan ketiadaan keinginan sebagai penutupnya (an-icchā parivāraṇaṃ)

      tanpa niat buruk tanpa kekejaman (Abyāpādo avihiṃsā)
      dan melepaskan adalah persenjataannya (viveko yassa āvudhaṃ)
      ketahanan diri perisai zirahnya (Titikkhā cammasannāho)
      bebas kemelekatan arahnya (yogakkhemāya vattati)

      berasal dari diri sendiri (tadattani sambhūtaṃ)
      kendaraan brahma yang tiadatara (brahmayānaṃ anuttaraṃ)
      dikendarai para bijak dunia kita (Niyyanti dhīrā lokamhā)
      pasti berjaya dengan kemenangan (aññadatthu jayaṃ jayan”ti) [SN 45.4]

  2. Kemampuan/Kekuatan-Kegigihan (vīriya-Indriya/Bala), harus terlihat dalam 4 usaha benar (Catūsu sammappadhānesu) [SN 48.8, AN 5.15], Membangkitkan kegigihan untuk:
    • meninggalkan kondisi-kondisi tak bermanfaat dan mendapatkan kondisi-kondisi bermanfaat; kuat, teguh dalam usaha, tidak melalaikan tanggung jawab untuk melatih kondisi-kondisi bermanfaat. Membangkitkan keinginan untuk tak memunculkan kondisi-kondisi buruk tak bermanfaat yang belum muncul;
    • Mengarahkan pikirannya, berupaya dan membangkitkan keinginan untuk: meninggalkan kondisi-kondisi buruk tak bermanfaat yang telah muncul dan membangkitkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul;
    • Mengarahkan pikirannya, berupaya dan membangkitkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul dan;
    • mengarahkan pikirannya, berupaya dan membangkitkan keinginan untuk mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul, untuk ketidak-rusakannya, meningkatkannya, memperluasnya, dan memenuhinya melalui pengembangan [SN 48.10; DN 16]

    Sang Buddha: Jika 4 Indriya/kemampuan (catunnaṃ indriyānaṃ) yaitu: Kebijaksanaan, Pikiran terpusat, Ingatan dan Kegigihan, telah dikembangkan dan dilatih, ini akan menuntun pada hancurnya noda-noda [SN 48.47]

  3. Kemampuan/Kekuatan-Ingatan (sati-indriya/bala), yaitu berdaya ingat kuat (satimā hoti paramena) cerdas dalam mengingat (satinepakkena samannāgato) ingat akan ingatan, perkataan dan perbuatan yang telah lama (cirakatampi cirabhāsitampi saritā anussaritā). Indriya ingatan harus terlihat dalam 4 landasan ingatan (Catūsu satipaṭṭhānesu), yaitu setelah meninggalkan kerinduan kegundahan dunia berdiam tekun mengingat untuk sepenuhnya mengatahui terkait: (1) Jasmani mengamati jasmani (kāye kāyānupassī) ..(2) Perasaan mengamati perasaan (vedanāsu vedanānupassī) ..(3) Pikiran mengamati pikiran (citte cittānupassī) .. (4) Dhamma/hal (berkondisi, terkondisi, tak terkondisi) mengamati dhamma (dhammesu dhammānupassī) [SN 48.8, 48.10, AN 5.15]

    Sang Buddha: Mereka yang BELUM meninggalkan 6 hal, TIDAK AKAN MAMPU terkait jasmani mengamati jasmani secara ke dalam/diri sendiri atau ke luar/selain diri sendiri.. perasaan.. pikiran.. dhamma adalah dhamma secara ke dalam atau ke luar. 6 hal yang dimaksud adalah senang/gemar dalam:

    1. kesibukan/menyibukan diri bekerja (Kammārāmata)
    2. berbicara/ngobrol (tulis dan ucapan) (bhassārāmata)
    3. tidur (niddārāmata)
    4. berkumpul/kumpul-kumpul (saṅgaṇikārāmata)
    5. tidak menjaga pintu-pintu indriya (indriyesu aguttadvārata), dan
    6. makan berlebihan/tak membatasi (bhojane amattaññuta) [AN 6.118]

    Sang Buddha: Jika 3 Indriya/kemampuan (tiṇṇannaṃ indriyāna) yaitu: Kebijaksanaan, Pikiran terpusat dan Ingatan, telah dikembangkan dan dilatih, ini akan menuntun pada hancurnya noda-noda. [SN 48.49]

  4. Kemampuan/Kekuatan-Pikiran Terpusat (samādhi-indriya/bala) atau juga disebut Samatha (AN 6.54) yaitu memperoleh samadhi, memperoleh keterpusatan pikiran, setelah melepaskan objek. Indriya keterpusatan pikiran harus terlihat dalam 4 Jhana (Catūsu jhānesu): Jhana ke-1 s.d Jhana ke-4 [SN 48.8, 9; AN 5.15].

    “Sammā-samādhi” dengan pendukung dan perlengkapan berupa Pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar, usaha benar dan ingatan benar, mengarah pada nibbana atau hancurnya kekotoran mental [SN 45.28].

    Sang Buddha: Jika 2 Indriya/kemampuan (dvinnaṃ indriyānaṃ), yaitu: kebijaksanaan/Kebijaksanaan mulia dan Kebebasan mulia/Indriya pikiran terpusat, telah dikembangkan dan dilatih, ini akan menuntun pada hancurnya noda-noda [SN 48.46]

  5. Kemampuan/Kekuatan-Kebijaksanaan (pañña-Indriya/Bala) atau Pengetahuan Mulia (Ariyā paññā) atau vipassana (AN 6.54): Mengarah pada muncul-lenyapnya dan dapat menembus, menuntun pada hancurnya penderitaan [SN 48.9], Indriya Kebijaksanaan harus terlihat dalam 4 Kebenaran Mulia, yaitu: tentang dukkha, asalmulanya, lenyapnya dan jalan menuju lenyapnya dukkha [SN 48.8, AN 5.15].

    Sang Buddha: Jika 1 indriya/kemampuan (ekassa indriyassa), yaitu kebijaksanaan atau pengetahuan Mulia, telah dikembangkan dan dilatihnya, ini akan menuntun pada hancurnya noda-noda. Selama pengetahuan mulia belum muncul, maka selama itu tidak ada: kekokohan (saṇṭhiti) dan kekuatan (avaṭṭhiti) pada 4 indriya/kemampuan lainnya. Dengan memiliki kebijaksanaan, maka 4 Indriya/kemampuan lainnya akan menjadi stabil (saṇṭhāti). Oleh karenanya, Indriya/Kemampuan kebijaksanan adalah yang terunggul dari 4 Indriya lainnya dalam kondisi-kondisi yang mendukung pencapaian pencerahan (bodhipakkhiyā dhammā) atau dalam tahap-tahap menuju tercapainya pencerahan (padāni bodhāya saṃvattanti)) [SN 48.45, 51, 52, 54, 67-70]

Kemudian, Sang buddha juga menyampaikan ajarannya tentang: “Yang tak terkondisi” (asaṅkhata = Nibbana, yaitu: hancurnya (kkhayo): Ketagihan/rāga, Kebencian/dosa dan Kekeliruan tahu/moha) dan jalan-jalan menuju “yang tak terkondisi” (asaṅkhatagāmiñca maggaṃ) [SN 43.12], yaitu:

  • Ingatan pada jasmani (Kāyagatāsati), Setelah mengajarkan itu, beliau menginstruksikan muridnya untuk, “jhāyatha” [SN 43.1], atau juga
  • Ketenangan (samatha: tenang/hening) dan melihat secara khusus (vipassanā: vi = pemisahan/khusus/dalam + “passana/passati” = melihat, mengamati). Setelah mengajarkan samatha dan vipassana sebagai jalan menuju yang tak terkondisi, beliau menginstruksikan muridnya untuk, “jhāyatha” [SN 43.1,2]

    Ada 2 hal yang mendukung pada pengetahuan (vijjābhāgiyā), yaitu Samatha dan Vipassanā. Ketika Samatha dikembangkan, apa tujuannya? Citta/Pikiran dikembangkan. Ketika pikiran dikembangkan, apa tujuannya? Kemelekatan ditinggalkan. Ketika Vipassana dikembangkan, apa tujuannya? Paññā/Kebijaksanaan dikembangkan. Ketika Paññā dikembangkan, apa tujuannya? Avijjā/ketidaktahuan ditinggalkan. Dikotori kemelekatan, pikiran tak terbebaskan. Dikotori ketidaktahuan, Paññā tak berkembang. ketiadaan ketagihan (rāgavirāgā) adalah cetovimutti (Kebebasan pikiran). Ketiadaan ketagihan karena ketidaktahuan (avijjāvirāgā: tentang paticcasamupada/sebab kemunculan) adalah Paññāvimutti (kebebasan kebijaksanaan) [AN 2.31]

    “..mencapai kearahatan melalui salah satu dari 4 jalan ini:

    1. mengembangkan Vipassana yang didahului Samatha [samathapubbaṅgamaṃ vipassanaṃ bhāveti]
    2. mengembangkan Samatha yang didahului Vipassana [vipassanāpubbaṅgamaṃ samathaṃ bhāveti]
    3. mengembangkan gabungan Samatha dan Vipassana. [samathavipassanaṃ yuganaddhaṃ bhāveti]
    4. pikiran yang dicengkram kegelisahan akan Dhamma (hal yang berkondisi maupun bukan) [dhamma+uddhacca+viggahitaṃ mānasaṃ hoti], di suatu waktu kemudian [Hoti so,..samayo yaṃ taṃ] secara internal pikirannya kokoh, tersusun, manunggal menjadi terpusat [cittaṃ ajjhattaṃyeva santiṭṭhati sannisīdati ekodi hoti samādhiyati] [AN 4.170]

    Ke-4 jalan di atas ini berkorelasi dengan 4 tipe orang di AN 4.92-94 (juga AN 10.54), sehingga:

    1. Untuk Samatha: “cittaṃ/pikiran saṇṭha(i)petabba (dibangun/teguhkan/kokohkan/selaraskan), sanni­sā­detab­ba (disusun/tenangkan), ekodi (manunggal)”. Variasi/detail caranya di MN 119 dan MN 122
    2. Untuk Vipassana: bagaimana seharusnya saṅkhārā/fenomena/dhamma: dilihat/digigit (daṭṭhabbā), bergantung pada/disentuh/digali (sammasitabbā) dan dilihat khusus (vipassitabba)”. AN 4.177 menyampaikan cara melihat/menggigit yaitu dengan sebagaimana adanya (yathābhūtaṃ) yaitu ini bukan milikku, bukan aku, bukan diriku (netaṃ mama, nesohamasmi, na meso attā). SN 12.66 dan Cnd 23 menyampaikan cara menggali dan melihat khusus melalui 4 kebenaran mulia yaitu ini anicca.
    3. Untuk no.4 AN 4.170, kegelisahan (akan dhamma) dihilangkan dengan Samatha (AN 6.116), menenang seiring tahu bahwa: (1) menyukai (assādo) muncul disebabkan kesenangan dan kenikmatan (paṭicca uppajjati sukhaṃ somanassaṃ) pada hal-hal; (2) kesedihan/kesusahan (ādīna­vo) karena hal-hal adalah anicca, dukkha, mengalami perubahan (vipari­ṇāma­dhammā); (3) jalan keluar/bebas (nissaraṇam) dengan mendisiplinkan/menyingkirkan (vinayo) dan menanggalkan (­pahāna) hasrat-ketagihan (­chanda­rāga) [SN 22.26-27; 22.129-130; 35.13-16]

    Karena ke-4 jalan di AN 4.170 semuanya merujuk pada pemusatan pikiran/samadhi, maka ini harus terlihat dalam 4 Jhana (SN 48.8,9)

    Samatha-Vipassana disebut sepasang utusan cepat (sīghaṃ dūtayuga) karena dilakukan berpasangan berada di jalan 8 mulia, masuk dan keluarnya melalui satu pintu indriya yang sama yang dijaga sati yang bertugas mengawal kesadaran indriya sehingga melihat secara apa adanya (yathābhūta) sebagai suatu pesan Nibbana. Jadi: Dengan pikiran terpusat pada 1 objek yang sama di 1 pintu indriya yang sama, memperhatikan MENENANGNYA segala bentukan kehendak/saṅkhāra dan melihatnya secara apa adanya sebagai suatu kemunculan dan kelenyapan. [SN 4.91-94, SN 35.245] → tidak terkesan → tidak menginginkannya → pengetahuan kebebasan

    Jika mengharapkan (Ākaṅkheyya): ‘dengan hancurnya noda-noda (āsavānaṃ khayā), merealisasikan bagi dirinya pengetahuan langsung di kehidupan ini: kebebasan pikiran tanpa noda dan kebebasan kebijaksanaan (anāsavaṃ cetovimuttiṃ paññāvimuttiṃ diṭṭheva dhamme sayaṃ abhiññā sacchikatvā) dan setelah mencapainya, Ia berada di dalamnya (upasampajja vihareyyan’ti)’, Ia haruslah seorang yang penuh moralitas, menekuni ketenangan pikiran internal, tidak mengabaikan jhāna-jhāna, berpandangan terang (sīlesvevassa paripūrakārī ajjhattaṃ cetosamathamanuyutto anirākatajjhāno vipassanāya samannāgato brūhetā)..”. [AN 10.71, MN 6] → Samatha-Vipasana membutuhkan prasyarat kesempurnaan moralitas dan kepiawaian dalam jhana!

    Samatha dan Vipassana dilakukan dengan pemusatan pikiran, namun di setelah abad masehi, Vipassana menjadi sebuah teknik konsentrasi bergerak, pegangan awal satu objek, namun JIKA MUNCUL objek dominan LAIN, objek tersebut diamati/dicatat, tidak dinilai, terus demikian, padahal arti samadhi sendiri justru terpusatnya pikiran. Juga, muncul jenis samadhi lain, yaitu Khaṇikā samadhi (konsentrasinya bersifat sementara) dan Upacāra samadhi (dekat atau hampir di samadhi), yang tidak pernah diajarkan sang Buddha dan para Arahat lainnya. Entah mengapa Buddhaghosa berani sekali menambahkan hal-hal yang tidak pernah diajarkan Sang Buddha dan para Arahat lainnya []

  • Samādhi/Pikiran terpusat, melalui: Savitakkasavicāra (awal (pikiran) menggenggam dan mempertahankan objek, atau Jhana ke-1), avitakkavicāramatta (tanpa awal menggenggam objek dan hanya mempertahankan objek, Jhana ke-1 menjelang jhana ke-2), avitakkaavicāra (dengan tanpa awal menggenggam dan tanpa mempertahankan objek, Jhana ke-2 s.d 9), Suññata (Landasan kekosongan), animitta (landasan tanpa gambaran), appaṇihita (Landasan tanpa tujuan/keinginan). Setelah mengajarkan itu, beliau menginstruksikan muridnya untuk, “jhāyatha” [SN 43.3-4], atau juga
  • 4 landasan ingatan/Cattāro satipaṭṭhānā atau juga disebut gambaran samadhi/samādhi-nimittā (MN 44, AN 8.63, Cattāro satipaṭṭhānā secara eksplisit disebut sebagai pikiran terpusat atau samadhi); 4 Usaha benar/Cattāro sammappadhānā atau juga disebut Perlengkapan Samadhi/samādhi-parikkhārā (MN 44). Setelah mengajarkan ini, beliau menginstruksikan muridnya untuk, “jhāyatha” [SN 43.5, 6], atau juga
  • 4 landasan kemahiran supra-mental/Cattāro iddhipādā memiliki upaya kreatif dari pikiran terpusat dengan: (1) hasrat (chanda-samādhippadhānasaṅkhārasamannāgata) (2) kegigihan (vīriya..samannāgata) (3) pemikiran (citta..samannāgata) (4) penyelidikan (vīmaṃsā-samādhippadhānasaṅ-khārasamannāgata) [SN 51.11]. Setelah mengajarkan ini, beliau menginstruksikan para muridnya untuk, “jhāyatha” [SN 43.5, 6], atau juga
  • 5 Indrya/Pañcindriyāni atau juga disebut 5 Kekuatan/Pañca balāni; 7 faktor pencerahan/Satta bojjhaṅgā; 8 jalan mulia/aṭṭhaṅgiko magga (Pandangan benar..Pemusatan pikiran yang benar). Setelah mengajarkan ini, beliau menginstruksikan muridnya untuk, “jhāyatha” [SN 43.7- 11]

Setiap telah mengajarkan jalan-jalan menuju “yang tak terkondisi” tersebut, Sang Buddha, selalu menginstruksikan mereka untuk, “Jhāya” [SN 43.12, dll]

    Note:
    Di SN 48.10 ada kalimat, “Katamañca, bhikkhave, samādhindriyaṃ? ..labhati samādhiṃ, labhati cittassa ekaggataṃ—idaṃ vuccati, bhikkhave, samādhindriyaṃ” (Dan apakah, para bhikkhu, indriya samadhi?..memperoleh samādhi, memperoleh keterpusatan pikiran. Ini disebut indriya samādhi) dan di MN 44 ada kalimat, “Katamo panāyye, samādhi?..cittassa ekaggatā ayaṃ samādhi” (Sekarang, Yang mulia, apakah samadhi?…keterpusatan pikiran adalah samadhi). “Sammā-samādhi” (sammā = benar; sama = seimbang/tenang/tentram/rata/serupa; adhi = menuju/ke/pada/ke atas). Secara literal Sammā-samādhi = “menuju ketenangan yang benar”, namun, 2 sutta di atas, sfesifik mendefinisikan Samādhi = “Pikiran yang terpusat”, jadi sammā-samādhi = “pikiran terpusat yang benar”.

    Di SN 34.11 ada frase “ekacco jhāyī samādhismiṃ” (seorang jhāyi bersamadhi). Di Sutta SN 43.12, ada kata Jhāyatha dan Samādhi. Di SN 40.8, ada kalimat: “Kattha ca, bhikkhave, samādhindriyaṃ daṭṭhabbaṃ? Catūsu jhānesu” (Dan di manakah, para bhikkhu, indriya samādhi harus terlihat? dalam 4 jhāna). Di DN 27 ada kalimat,

      ..araññāyatane paṇṇakuṭīsu jhāyantī’ti. jhāyantīti kho, vāseṭṭha, ‘jhāyakā, jhāyakā’..sattānaṃ ekacce sattā araññāyatane paṇṇakuṭīsu taṃ jhānaṃ anabhisambhuṇamānā (di gubuk-gubuk daun di hutan mereka ber-jhāyanti. Mereka ber-jhāyanti, Vasettha, ‘jhāyakā, jhāyakā’..beberapa yang tinggal di gubuk-gubuk daun di hutan tidak mampu mencapai jhana)

    Di SN 34.11:

      “ber-jhāya-lah seperti jhāyi seekor kuda berdarah murni, Sandha/nama orang (jānīyajhāyitaṃ kho, saddha, jhāya), bukan jhāyi sekor anak kuda liar (mā khaḷuṅkajhāyitaṃ). Bagaimanakah jhāyi seekor anak kuda liar? (Kathañca, khaḷuṅkajhāyitaṃ hoti)? Ketika seekor anak kuda liar, Sandha, diikat di tempat makanan, ia ber-jhāyati: ‘rumput, rumput!’ (Assakhaḷuṅko hi, saddha, doṇiyā baddho ‘yavasaṃ yavasan’ti jhāyati)”

    Di SN 4.23 ada kata “jhāyī jhāna-rato sadā” (jhāyī selalu gemar-Jhana) dan di DN 19 ada kata “karuṇaṃ jhānaṃ jhāyati” (jhāyati jhana tanpa kekejaman, yaitu meditator mencapai pikiran yang disertai tanpa kekejaman mencapai jhana ke-2)

    “jhāya” (kata kerja orang ke-2 jamak: Jhāyatha, Orang ke-2 tunggal: Jhāyati, Orang ke-3 jamak: jhāyantī) = Memusatkan pikiran, mengarahkan pikiran atau membuat pikiran tercerap, terpesona, terbakar. Pelakunya disebut “jhāyī” atau “jhāyakā”. Hasil jhāya atau samadhi atau “hasil dari kegiatan agar pikiran tercerap/terpesona/terbakar dengan pikiran terpusat” disebut jhāna

    Apakah yang disebut dengan mengembangkan samadhi (samādhi-bhāvanā)? Pengulangan [dhammāna āsevanā], praktek/mengolah [bhavana] hingga mahir [bahulīkammaṃ] adalah mengembangkan Samadhi [MN 44]

    Pencapaian samadhi jhana ke-1 s.d ke-4 disebut kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini (Diṭṭhadhammasukhavihārā). Pencapaian samadhi jhana ke-5 s.d ke-8 disebut kediaman yang damai (Santā ete vihārā) [MN 8]

    Untuk mencapai jhana, TIDAKLAH PERLU menjadi bhikkhu dulu, karena di jaman sang Buddha, para umat awampun telah mencapainya, misal: Perumah tangga Pria Citta (SN 48.1, 41.9) dan perumah tangga wanita Nandamātā (AN 7.53)

Jadi, apapun jalan untuk menghancurkan āsava, beliau selalu instruksikan dengan melalui jhana.

Tugas pelaku Samadhi
Tekun dalam ingatan yang sepenuhnya mengetahui apapun yang dilakukannya.

    Pengendalian Indriya Jasmani dan Moralitas → pikiran tak tercemari hal buruk (abyāsittacittassa) dan ketidakmenyesalan (Avippaṭisāro) → timbul sukacita (Pāmojja) → timbul girang (pīti) → muncul ketenangan (passaddhi) → timbul bahagia (Sukhaṃ) → Pikiran terpusat (Samādhi) → mengetahui dan melihat sebagaimana adanya (Yathā bhūta ñāṇa dassana) → menjadi tidak terkesan (nibbidā) → menjadi tidak menginginkan (viraga) → mengetahui dan melihat kebebasan (vimuttiñāṇadassana) [Gabungan dari AN 11.1 dan SN 35.97]

4 postur/sikap Samadhi
Posisi/sikap/postur (Iriyapatha) 4 posisi (cattaro iriyapatha), yaitu: berbaring (sayano), berdiri (caram/ṭhito), duduk (nissino) atau berjalan (gacchanto atau cankama). Ketika Ia berbaring.. berdiri.. duduk.. berjalan, Ia mengetahui sepenuhnya bahwa dirinya sedang: berbaring.. berdiri.. duduk.. berjalan. Ia mengetahui sepenuhnya bagaimanapun tubuhnya berposisi. Ketika hal ini dilakukan dengan rajin, tekun, bersungguh-sungguh, maka ingatan-ingatan dan kehendak-kehendak sehubungan keduniawian menjadi ditinggalkan; dengan ditinggalkannya itu, pikirannya menjadi kokoh ke dalam, tenang, manunggal dan pikirannya menjadi terpusat [ajjhattameva cittaṃ santiṭṭhati, sannisīdati, ekodi hoti, samādhiyati] [MN 119].

sati
Berdaya ingat kuat, cerdas dalam mengingat, ingat akan ingatan, perkataan dan perbuatan yang telah lama. [SN 48.8, 48.10, AN 5.14]

sampajañña/sampajāna (mengetahui sepenuhnya)
Kemunculan-berlangsung-berakhirnya vedanā/perasaan, vitakkā/awal pemikiran dan saññā/persepsi/ingatan (SN 47.35) saat: bertindak bolak-balik (abhikkante paṭikkante); melihat ke depan, ke samping (ālokite vilokite); menarik atau merentangkan tangan-kaki (samiñjite pasārite); menggunakan jubah/pakaian, jubah luar dan mangkuk (saṅghāṭi patta cīvara dhāraṇe); makan (asita), minum (pīta), mengunyah (khāyita), dan mengecap (sāyita); buang air besar (uccāra) dan kencing (passāva); berjalan (gata), berdiri (thita), duduk (nisinna), tidur (sutte), terbangun/terjaga (jāgarite), berbicara (bhāsita), dan tidak berbicara (tuṇhībhāva) [SN 47.2]

    Note:
    ‘Sutte’ (keadaan tidur: di kursi, pembaringan, bersender, duduk, berdiri) ingatannya tetap sepenuhnya mengetahui. ‘Jagarite’ (terjaga: selain tidur, termasuk saat berbaring sakit atau keadaan yang tidak memungkinkan bangkit dari posisi berbaring) ingatananya tetap sepenuhnya mengetahui, bahkan di sebelum membuka mata ketika terjaga. Ingatannya sepenuhnya mengetahui ini dilakukan terus menerus tanpa putus, seperti sabda sang Buddha, “yang senantiasa waspada, giat berlatih siang-malam, mengarahkan diri ke nibbana, kekotoran mentalnya akan musnah” [Dhammapada syair no.226]’

Sewaktu berada rajin, tekun dalam ingatan yang sepenuhnya mengetahui secara demikian, jika muncul perasaan: menyenangkan atau menyakitkan atau bukan keduanya, dalam dirinya,

Ia mengetahui:
Telah muncul perasaan (menyenangkan atau menyakitkan atau bukan keduanya) dalam diriku. Perasaan itu muncul disebabkan jasmani ini dan jasmani ini tidak kekal, terkondisi dan muncul karena sebab sebabnya. Maka perasaan yang muncul adalah juga tidak kekal, terkondisi dan muncul karena sebab-sebabnya

    Ia mengamati ketidakkekalan jasmani dan perasaan itu,
    Ia mengamati kelapukannya (awal – akhir dari jasmani dan perasaan itu),
    Ia mengamati memudarnya (minat / pencarian / mendapatkan / mempertahankan jasmani dan perasaan: menyenangkan atau bukan menyakitkan bukan menyenangkan atau menolak jasmani dan perasaan: menyakitkan),
    Ia mengamati melenyapnya (minat/pencarian atau penolakan) jasmani dan perasaan itu,
    Ia mengamati kejenuhan (minat/pencarian atau penolakan) jasmani dan perasaan itu.

Ketika berada secara demikian, kecenderungan tersembunyi (minat/pencarian atau penolakan) sehubungan dengan jasmani dan perasaan itu menjadi ditinggalkannya

Jika merasakan perasaan (menyenangkan atau menyakitkan atau bukan keduanya), Ia mengetahui: ‘ini: tidak kekal, tidak menyenangkan, tidak meminatinya’ (anicca, anajjhosita, anabhinandita)
Jika merasakan perasaan (menyenangkan atau menyakitkan atau bukan keduanya), Ia merasakannya dengan tidak terkait/melekat.

Ketika ia merasakan perasaan yang berujung pada berakhirnya jasmani, Ia mengetahui: Aku merasakan perasaan yang berujung pada berakhirnya jasmani’
Ketika ia merasakan perasaan yang berujung pada berakhirnya kehidupan, ia mengetahui: ‘Aku merasakan perasaan yang berujung pada berakhirnya kehidupan’ Ia mengetahui: ‘Dengan hancurnya jasmani, berujung pada berakhirnya kehidupan, semua yang dirasakan, tidak menyenangkan (untuk tertarik atau menolak) (anabhinanditāni), akan mendingin di sini’.

Seperti halnya, sebuah lampu minyak menyala yang bergantung pada minyak dan sumbu, dengan habisnya minyak dan sumbu maka lampu itu menjadi padam karena kehabisan minyak [SN 36.7]

Objek Meditasi/Samadhi
Objek/Kammatthana dari Samatha jumlahnya lebih dari 40. Buddhaghosa (abad ke-5 M) menyatakan objek/Kammathana berjumlah 40[13]. Di abad ke-19, Mahasi Sayadaw, memperkenalkan 1 objek lagi yaitu kembang kempis-nya perut, Objek ini juga menggunakan “badan dan nafas” sebagai landasan, sehingga jumlahnya memang lebih dari 40

Oleh karenanya, pilih dan tekuni cukup 1 objek saja karena apapun objeknya, tujuan dan hasilnya adalah untuk menghancurkan kekotoran mental. Dari sekian banyak objek Samadhi, salah satunya adalah bernafas [ānāpāna: āna/menarik nafas + apāna/mengeluarkan nafas]. Nafas adalah kondisi alami manusia. Juga, ānāpānasati [ingatan pada nafas yang keluar/masuk] adalah objek samadhi yang digunakan seluruh SammasamBuddha. Buddha Gotama, selama masa vassa berdiam pada objek ini [SN 54.11].

    Note:
    Indriya (perasa) dan objeknya (udara/tekanan) → persentuhan (di sekitar hidung atau perut atau dada) = kesadaran hidung/badan, ke-3nya (Indriya perasa, objek: udara/tekanan dan kesadaran) = kontak hidung/badan. Kontak memunculkan perasaan (menyenangkan, menyakitkan atau bukan ke-2nya). Apa yang dirasakan, itu yang dipersepsikan, itu yang dipikirkan, itu yang berkembang biak berupa: sumber, persepsi, gagasan di masa lalu (ingatan), depan atau sekarang (misal tentang nafas yang panjang/pendek, cepat/lambat, halus/kasar, menyenangkan/menyakitkan, bukan ke-2nya, dll) yang dikenali oleh indriya perasa

    Ketika sedang menggunakan objek bernafas sebagai landasan ingatan, maka:

    • Jika pikiran berkeliaran (Pikiran apa saja: baik, buruk, indah, jahat, erotis, berguna/tidak), maka jangan senang dengan pikiran baik dan jangan murung dengan pikiran buruk, cukup diketahui, tidak melibatkan diri secara emosi, akal; tidak mengomentari, menyalahkan, menilai maupun memuji dan segera kembalikan ingatan pada gerak napas
    • Jika mendengar suara, hanya dikenali dan segera kembalikan ingatan pada gerak napas
    • Begitu pula dengan bau, rasa, sentuhan: menyenangkan, sakit, gatal, maka cukup diketahui, tidak terlibat dengan menolak atau menerima, meditator, bertahan untuk tidak meladeni dan segera kembalikan ingatan pada gerak napas
    • Bisa juga akan muncul bayangan yang dihasilkan dari ingatan dan khayalan, seperti cahaya, warna, bentukan dan sebagainya. Jangan terpengaruh dengan mengira bahwa inilah kehebatan mental. Ini jauh dari itu, semua ini hanyalah rintangan yang menghambat kemajuan. Waspada terhadap semua bayangan ini tanpa terlibat, segera kembalikan ingatan pada gerak napas

    Seiring waktu, pengulangan ingatan pada napas keluar dan masuk, napas bisa menjadi amat lembut dan halus hingga tidak terasa atau bahkan tidak dapat dibedakan apakah itu tarikan atau hembusan nafas. Perhatian benar berarti mengamati nafas secara apa adanya, tanpa menilai baik/buruknya, hanya mengawasi, mengenali kemunculannya hingga kelenyapannya baik di setiap tarikan dan/atau ketika menghembus.

    Dengan menguatnya pemusatan perhatian, yang ada hanya hembusan keluar dan masuknya napas tanpa ada pelaku di baliknya. Mungkin saja keadaan ini hanya sebentar dan pikiran berkelana kembali, terasa sulit untuk berkonsentrasi, merasa malas atau ingin tidur, bosan dan gelisah, merasa jemu dengan latihan samadhi. Tidak mengapa, yang diperlukan adalah menumbuhkan kembali kemauan, menetapkan ketekunan, siap bertempur.

    Mengembangkan mental seperti ini bukanlah sesuatu yang dapat dicapai dalam satu malam. Keteraturan dan kesinambungan merupakan aturan yang harus ditaati. Seluruh latihan mental harus dilaksanakan secara wajar dan penuh kewaspadaan; sebab ‘berkobar-kobar saja tanpa kewaspadaan bagaikan berlari-lari di malam yang gelap gulita’. [Beberapa paragraph di atas ini, berasal dari: “Buddhis Meditation”, Piyadassi Thera]

    Sangat dianjurkan untuk tidak percaya begitu saja, selidiki secara empiris [KBBI: EMPIRIS = berdasarkan pengalaman] atau EHIPASSIKO [datang dan alamilah sendiri]

ĀNĀPĀNASATI (Ingatan pada nafas) DENGAN SAMMĀSAMĀDHI (Samadhi benar)

    Ananda:
    Yang Mulia, apakah 1 hal (ekadhammo) yang serius dikembangkan (bhāvito bahulīkato) terdapat 4 hal (cattāro dhamme paripūrenti); 4 hal yang serius dikembangkan terdapat 7 hal (satta dhamme paripūrenti); 7 hal yang serius dikembangkan terdapat 2 hal (dve dhamme paripūrenti)?”

    Sang Buddha:
    Pikiran terpusat dengan ingatan pada nafas (Ānāpānassati samādhi), Ānanda, 1 hal yang serius dikembangkan terdapat 4 landasan ingatan (cattāro satipaṭṭhāna). 4 landasan ingatan yang serius dikembangkan terdapat 7 faktor pencerahan (satta bojjhaṅga). 7 faktor pencerahan yang serius dikembangkan terdapat pengetahuan dan kebebasan (vijjā-vimuttiṃ) [SN 54.7, 10, 13; DN 22; MN 10, 62, 118, 119, dll]

    Note:
    1 hal: Objeknya (salah satu dari 40 objek);
    4 landasan ingatan (satipaṭṭhāna):

    1. kāye kāyānupassī (kāye = terkait tubuh/jasmani; anupassī = mengamati/merenungkan; kāyānupassī = mengamati tubuh; terkait tubuh mengamati tubuh)
    2. vedanāsu vedanānupassī (vedanāsu = terkait perasaan; terkait perasaan mengamati perasaan)
    3. citte cittānupassī (citte = terkait pikiran; terkait pikiran mengamati pikiran)
    4. dhammesu dhammānupassī (dhammesu = terkait dhamma/hal/bentukan pikiran: berkondisi, terkondisi, tak terkondisi, yaitu tentang anicca/tidak kekal; terkait dhamma mengamati dhamma)

    7 faktor pencerahan (samboj­jhaṅ­ga/sam+bōdhi+aṅga: sam = penuh/komplit + bōdhi = tercerahkan + aṅga = bagian; faktor pencerahan):

    1. Sati­-sam­boj­jhaṅ­ga (ingatan)
    2. dhamma­vicaya­-sam­boj­jhaṅ­ga (dhamma = hal + vicaya/vi+ci = pencarian, investigasi, pemeriksaan; vicayaso = secara menyeluruh)
    3. vīriya-­sam­boj­jhaṅ­ga (kegigihan)
    4. pīti­-sam­boj­jhaṅ­gaṃ (kegembiraan)
    5. passad­dhi-­sam­boj­jhaṅ­ga (ketenangan)
    6. samā­dhi­-sam­boj­jhaṅ­ga (pikiran terpusat)
    7. upekkhā-­sam­boj­jhaṅ­ga (keseimbangan)

ĀNĀPĀ­NASSATI DENGAN CATTĀRO SATIPAṬṬHĀNA (4 x 4 = 16 ingatan pada nafas)
Duduk bersila (nisīdati pallaṅkaṃ ābhujitvā), tubuh tegak/lurus (ujuṃ kāyaṃ paṇidhāya), wajah menghadap ke depan, ingatan ditegakkan (parimukhaṃ satiṃ upaṭṭhapetvā). Ingatan hanya [satova: sato+va/eva] ingat sedang menarik nafas [assa-sati], ingatan hanya [satova] ingat sedang mengembuskan nafas [passa-sati]

    Note:
    Kitab Abhidhamma buku ke-2, Vibhanga 12 (buku ke-2, bagian matika, dibuat jauh lebih belakangan dari buku ke-4 dan sebagian buku ke-1 Abhidhamma, yaitu s.d tahun 50 SM) dan Ps 1.3 (dibuat jauh lebih belakangan lagi daripada Vibhanga-nya Abhidhamma, karena kerap mengutip Vibhanga), menyatakan bahwa kata “parimukha” adalah nāsikagge (ujung hidung) dan/atau parimukhanimitta diterjemahkan “ujung bibir atas”. Dukungan 2 text ini menyebabkan “parimukha” banyak diterjemahkan sebagai “ujung hidung/bibir atas”. Maksud dan terjemahan ini menjadi aneh, mengingat arti kata mukha = “mulut, wajah, di depan/di hadapan”; nāsika = hidung; nāsikasota = lubang hidung; ottha = bibir.

    Di banyak sutta (misal AN 5.193, SN 22.83, MN 77) kata parimukhanimitta diterjemahkan “bayangan/pantulan wajah”, vinaya Cullavagga KhuddakaVatthu (V.27.3-6), tentang aturan bulu/rambut, “parimukhaṃ kārāpenti dan parimukhaṃ kārāpetabbaṃ” (yang ditulis tanpa ada kata massu/jenggot) diartikan: “bulu dada” bukan ”bulu wajah/bibir/hidung”.

    Di MN 62: saat Rahula duduk bersila menegakkan ingatan adalah dalam rangka Pañcakkhandhā, tidak ada kaitannya dengan ujung atas bibir/mulut, wajah atau ujung hidung. Sehingga, sutta-sutta dengan frase “..parimukhaṃ satiṃ upaṭṭhapetvā” (misal: SN 7.18, AN 6.28) adalah tentang duduk bersila, tubuh tegak/lurus, wajah menghadap ke depan, ingatan (tentang sesuatu) ditegakkan, jika objeknya nafas, maka, ingatan TIDAKLAH pada hidung/ujung bibir atas, melainkan HANYA pada NAFAS.

Postur duduk idealnya dilakukan dengan kaki bersila (dengan sikap teratai sempurna atau tidak, duduk di lantai dengan alas tebal ataupun tidak atau di atas kursi dengan bersila atau tidak). Saat duduk, tulang belakang dan kepala tegak, seimbang dan lurus namun tidak kaku. Posisi kedua tangan diletakkan lemas di atas pangkuan paha (boleh juga tidak, yang penting dalam keadaan lemas dan nyaman). Mata boleh dipejamkan ataupun tidak, selama hal ini menunjang pemusatan pikiran (karena yang aktif adalah Indriya perasa, pikiran ketika bersentuhan dengan objeknya). Badan diupayakan tidak bergerak sekecil apapun.

Kenyamanan duduk adalah upaya diri untuk menerima kondisi. Perubahan apapun untuk memperbaiki kenyamanan, hanya berhasil sementara, namun posisi itupun lambat laun akan kembali tidak nyaman karena Sabbe sankhāra anicca.. dukkha (semua yang berkondisi adalah tidak kekal dan tidak memuaskan) sehingga kemampuan bertahan sangatlah diperlukan, berusaha untuk membiasakan tubuh menerima posisi tersebut, berusaha untuk tidak bergerak atau merubah posisi sekecil apapun selama waktu yang ditetapkannya

    Note:
    āsava/noda-noda ada yang harus diatasi melalui menerima dengan menahan (adhivāsanāya) bertahan terhadap: dingin-panas, lapar-haus; kontak dengan: lalat, nyamuk, angin, panas matahari, ular-ular; ucapan: kasar dan menghina;perasaan jasmani: menyakitkan, menyiksa, tajam, menusuk, mengerikan, tidak menyenangkan, melemahkan vitalitas. Noda-noda, gangguan/yang menyusahkan dan gejolak/menyebabkan demam, dapat saja muncul pada mereka yang tidak dapat menerima melalui menahan namun tidak muncul pada mereka yang menerima melalui menahan. [MN 2, AN 6.58]

Ketika lelah duduk (atau karena perasaan menyakitkan yang tak tertahankan lagi), Ia mengiingat untuk sepenuhnya mengetahui (bahwa ini bukan karena penolakan atau kemalasan atau perasaan baru yang tak bermanfaat/akusala atau meningkatkan perasaan akusala sebelumnya), setelah menimbang demikian, ingatannya sepenuhnya mengetahui: dalam berkehendak, merubah posisi: badan, kaki, lengan dan tangan atau menggosok tangan ke bagian yang penat atau melemaskan otot dengan cara berdiri, berjalan, memutar, berhenti bergerak, saat berjalan kaki menyentuh lantai/tanah, atau saat mata memandang sekitar, dll. Ketika melakukan pergerakan, maka objek nafas TIDAK LAGI DIGUNAKANNYA, ingatan dan objeknya saat itu adalah pada gerakan) dan ini semua dilakukan dalam ingatan yang sepenuhnya mengetahui

4 SET KE-1: [terkait tubuh mengamati/merenungkan tubuh]

  1. mengetahui (pajānāti) nafas panjang/dalam (dīgha):

    ‘Aku mengetahui sedang menarik nafas panjang’; atau
    ‘Aku mengetahui sedang mengembuskan nafas panjang’

  2. mengetahui (pajānāti) nafas pendek (rassa):

    ‘Aku mengetahui sedang menarik nafas pendek’; atau
    ‘Aku mengetahui sedang mengembuskan nafas pendek

  3. Berlatih (sikkhati] merasakan/mengalami sepenuhnya (paṭisaṃvedī) seluruh tubuh (sabbakāya):

    ‘berlatih merasakan sepenuhnya seluruh tubuh nafas, aku menarik nafas’;
    ‘berlatih merasakan sepenuhnya seluruh tubuh nafas, aku mengembuskan nafas’

  4. Berlatih (sikkhati), menenangnya (Passambhaya) bentukan tubuh (kāyasaṅkhāra):

    ‘dengan menenangnya bentukan tubuh nafas, aku menarik nafas’;
    ‘dengan menenangnya bentukan tubuh nafas, aku menghembuskan nafas’

    Bagaikan seorang pekerja bubut yang terampil atau muridnya:

    Ketika melakukan putaran panjang, Ia mengetahui: ‘Aku melakukan putaran panjang’; atau
    ketika melakukan putaran pendek, Ia mengetahui : ‘Aku melakukan putaran pendek’;

    Demikian pula, menarik nafas panjang, Ia mengetahui: ‘Aku sedang menarik nafas panjang’.. aku sedang menghembuskan nafas panjang”.. pendek.. seluruh tubuh nafas.. dengan menenangnya bentukan tubuh nafas, aku menghembuskan nafas’ [MN 10, 118]

Suatu tubuh tertentu (kāyaññatarāhaṃ) yaitu nafas masuk dan keluar (assāsapassāsā) demikian disebut, terkait jasmani mengamati jasmani, dengan tekun mengigat untuk sepenuhnya mengetahui (viharati ātāpī sampajāno satimā), setelah melepaskan ketamakan dan kesuraman akan dunia (vineyya loke abhijjhādomanassaṃ) [SN 54.13, MN 118]

Note:
pajānāti: tahu, mengenali, mengerti, memahami, ‘melihat’ jelas
Passambhaya: tenang, reda, hening, diam, berhenti, lenyap.

Ada 3 bentukan [sankhāra] dalam konteks samädhi:

  1. Bentukan jasmani/kaya sankhāra: (Seluruh) tubuh nafas/(sabba)kāya adalah (seluruh) nafas masuk-keluar/assāsapassāsā [MN 118]. Karena nafas keluar-masuk terikat dengan jasmani (kāyap­paṭi­baddhā), disebut kāyasaṅkhāra [SN 41.6, MN 44]
  2. Bentukan ucapan/vaci sankhāra: usaha pikiran menggenggam obyek nafas [vitakka] dan mempertahan objek nafas [vicara] dan kemudian terjadi kegiatan mengungkapkannya [membatin] [SN 41.6, MN 44]
  3. Bentukan-kehendak pikiran/cittasankhāra: Persepsi dan perasaan dan yang menyertai pikiran, kondisi ini terikat dengan pikiran. Itulah persepsi, perasaan, bentukan pikiran [SN 41.6, MN 44]. Perasaan, persepsi dan kesadaran, kondisi ini tergabung bukan terpisah. tidak dapat memisahkan kondisi ini satu sama lainnya untuk menggambarkan beda antaranya. Karena apa yang dirasakan, itulah yang dipersepsikan; dan yang dipersepsikan, itulah yang dikenali [MN 43]

Meditator, ketika menarik nafas, akan mengetahui bahwa ketika nafas ditarik secara perlahan, tidak berbunyi, tarikan menjadi panjang. Demikian pula ketika menghembus nafas secara perlahan, tidak perbunyi, hembusan menjadi panjang. Karena bukan nafas yang biasa dilakukan, sejenak terjadi fase kekurangan oksigen, ada keinginan untuk cepat menarik nafas berikutnya (keinginan ini salah satu yang timbul dan tidak harus diikuti), ketika nafas ditarik, menjadi pendek dan ketika dihembus, menjadi pendek. Ini adalah kondisi atau bentukan pada jasmani

    ‘mengetahui (Pajānāti), mengetahui (Pajānāti),’ teman (avuso), itulah mengapa (tasmā) disebut ‘memiliki kebijaksanaan” (paññavāti vuccati).’ mengetahui apa? Mengetahui: “ini tidak memuaskan (dukkha), “ini asalmula (samudayo), “ini lenyapnya (nirodho) dan “ini jalan menuju lenyapnya (nirodhagāminī paṭipadā) dukkha” [MN.43]

Ketika telah terbiasa dalam melatih ingatan pada nafas, tidak ada keinginan terburu-buru dalam menarik dan menghembuskan nafas, tidak ada perbedaan putaran panjang dan pendek, di suatu saat, bahkan tidak ada perbedaan antara tarikan dan hembuskan nafas, seolah-olah tercampur antara menarik nafas dan mengeluarkan nafas, seolah-olah tidak lagi sedang bernafas.

Kata terampil mengindikasikan ADANYA PENGULANGAN yang cukup. PENGULANGAN tarikan/keluaran nafas panjang kemudian PENDEK yang berulang: dari kasar menjadi halus, mengetahui: dari kasar menjadi halus, merasakan sepenuhnya: dari kasar menjadi halus, dan mereda dalam kehalusan. Seperti seorang yang mulai belajar naik sepeda, permulaan sekali ia akan menggenggam (vitakka) stang dan mempertahankan (vicara) erat sedemikian rupa hingga memahami teknik keseimbangan. Setelah mahir tidak perlu erat menggenggam bahkan dapat melepas stang namun tetap di keseimbangan.

Sabbakāya (keseluruhan tubuh, yaitu nafas): masing-masing terdapat 2 atau 3 fase dalam setiap tarikan atau hembusan nafas: (awal – akhir) atau (awal – berlangsungnya – akhir).

Kata berlatih bisa juga mengindikasikan ada semacam kesengajaan (awalnya) MENGATUR NAFAS ketika menarik dan menghembuskan nafas. Namun nafas, baik itu sengaja diatur maupun alami, perhatian dan ingaan adalah pada keseluruhan tubuh nafas, untuk diketahui dan dialami sepenuhnya: awal, berlangsung dan berakhirnya

Kemudian, dalam upaya mencapai 5 faktor Jhana, langkah ke-3 adalah bagian penting untuk mendapatkan cittekaggatā/pemusatan pikiran melalui vitakka (menggenggam objek) dan juga vicara (mempertahankan objek), oleh karenanya, beberapa cara yang sering disampaikan para pengajar untuk memantapkan perhatian agar ingatan hanya pada napas, misalnya dengan cara menghitung:

  • Hitungan ‘satu’ pada saat masuknya napas dan ‘dua’ pada saat napas keluar, mencatat dalam pikiran: ‘satu’ pada akhir masuknya napas dan ‘dua’ pada akhir hembusan dan keluarnya napas dan begitu pula seterusnya. Saat sudah tertuju pada nafas, hitungan dihentikan, atau
  • dalam satu kesatuan tarikan nafas masuk hingga nafas keluar, ditandai sebagai hitungan: ‘satu’, demikian seterusnya hingga hitungan ke-‘lima’ dan ulangi dari “satu”. Saat sudah tertuju pada nafas, hitungan dihentikan

HARUS DIHINDARI

Cara menghitung akan berakibat membuyarkan lagi ingatan yang akan dan sedang dibentuk melalui latihan merasakan sepenuhnya seluruh tubuh nafas. Cara menghitung MENJADI MENGGANGGU, namun jikapun tetap memaksakan untuk menggunakan hitungan, itu juga tidak mengapa, karena dapat juga dianggap sebagai latihan pembuyaran pikiran-pikiran lain hingga ingatannya hanya terpusat pada nafas masuk dan nafas keluar, yang ketika telah terbiasa, cara menghitung pun dengan sendirinya akan tinggalkan. Namun, cara menghitung, hanya memperpanjang rute atau memperlama proses yang seharusnya dapat ditempuh

4 SET KE-2: [terkait perasaan mengamati perasaan]

  1. Berlatih (sikkhati] merasakan sepenuhnya (paṭisaṃvedī) gembira (Pīti):

    ’Dengan merasakan sepenuhnya gembira, aku menarik nafas’; atau
    ‘Dengan merasakan sepenuhnya gembira, Aku mengembuskan nafas’

  2. Berlatih (sikkhati] merasakan sepenuhnya (paṭisaṃvedī) bahagia (sukha):

    ’Dengan merasakan sepenuhnya bahagia, aku menarik nafas’; atau
    ‘’Dengan merasakan sepenuhnya bahagia, aku mengembuskan nafas’

  3. Berlatih (sikkhati] merasakan sepenuhnya (paṭisaṃvedī) bentukan-kehendak pikiran (citta-saṅkhāra):

    ’Dengan merasakan sepenuhnya bentukan-kehendak pikiran, aku menarik nafas’; atau
    ’Dengan merasakan sepenuhnya bentukan-kehendak pikiran, aku mengembuskan nafas’

  4. Berlatih (sikkhati), menenangnya (Passambhaya) bentukan-kehendak pikiran (citta-saṅkhāra):

    ’Dengan menenangnya bentukan-kehendak pikiran, aku menarik nafas’; atau
    ’Dengan menenangnya bentukan-kehendak pikiran, aku mengembuskan nafas’

Suatu perasaan tertentu (vedanāññatarāhaṃ) yaitu memperhatikan seksama keluar masuknya nafas/assāsapassāsānaṃ sādhukaṃ manasikāraṃ), demikian disebut, terkait perasaan mengamati perasaan, dengan tekun mengingat untuk sepenuhnya mengetahui, setelah melepaskan ketamakan dan kesuraman akan dunia. [SN 54.13, MN 118]

Note:
Pīti = gembira/girang; sukha = bahagia/nikmat/senang; passambhaya = menenangnya. Kemunculan pīti dan sukha menunjukan ini telah memasuki jhana ke-1/ke-2.

Disebut Pañña/Kebijaksanaan, karena MENGETAHUI/PAHAM/Pajānāti [MN 43], misal: tentang Dukkha, ASAL-MULA, LENYAPNYA, JALAN LENYAPNYA DUKKHA. Disebut Viññāṇa/Kesadaran, karena MENGENALI BEDA/Vijānāti: pahit vs asin vs manis dll, menyenangkan vs menyakitkan vs bukan keduanya. Biru, vs merah, dll. Disebut Saññā/Persepsi, karena MENGANGGAP/MEMPERSEPSIKAN/MEMBAYANGKAN/INGAT/Sañjānāti: biru atau merah dll. Disebut saṅkhāra karena mengkondisikan terkondisinya: bentukan, sensasi/rasa, kreativitas persepsi, formasi kehendak dan stimulus kesadaran [SN 22.79]

Pañña dan Viññāṇa kondisi ini tergabung bukan terpisah, TIDAK DAPAT memisahkan kondisi satu sama lainnya untuk menggambarkan beda antaranya, yang DIPAHAMI/Pajānāti, itu yang DIKENALI/Vijānāti, yang DIKENALI, itu YANG DIPAHAMI. Pañña perlu dikembangkan (bhāvetabbā) sedang Viññāṇa agar diketahui baik (pariññeyyaṃ) …Vedana, sañña dan viññāṇa, kondisi ini tergabung bukan terpisah. Tidak dapat memisahkan kondisi ini satu sama lainnya untuk menggambarkan beda antaranya. Yang dirasakan, itu yang DIPERSEPSIKAN/sañjānāti; Yang dipersepsikan, itu yang DIKENALI/Vijānāti [MN.43]. “Persepsi, perasaan, yang menyertai pikiran, kondisi ini terikat dengan pikiran/Citta. Itulah persepsi, perasaan, bentukan pikiran/cittasaṅkhāroti” [MN.44]

Seseorang merasakan:

  • perasaan menyenangkan (sukha vedana) atau perasaan jasmani/material yang menyenangkan (sāmisā sukha) atau perasaan non-material yang menyenangkan (nirāmisa sukha) atau
  • perasaan menyakitkan (dukkha vedana) atau perasaan jasmani/material yang menyakitkan (sāmisā dukkha) atau perasaan non-material yang menyakitkan (nirāmisa dukkha) atau
  • perasaan bukan keduanya (adukkhamasukha vedana) atau perasaan jasmani/materi yang bukan keduanya (sāmisā adukkhamasukha) atau perasaan non-material yang bukan keduannya (nirāmisa adukkhamasukha)

Ia mengetahui sedang merasakan perasaan itu. terkait perasan ia mengamati perasaan secara ke dalam/diri sendiri rasakan atau keluar/pihak lain merasakannya, munculnya, lenyapnya, muncul-lenyapnya perasaan itu atau memperhatikan “ada perasaan” di dirinya hanya sejauh yang diperlukannya untuk diketahui dan diperhatikannya tanpa bergantung tanpa melekati apapun di dunia ini [DN 22 dan MN 10]

  • Ada 3 jenis perasaan gembira (pīti), dari: tubuh jasmani/material (sāmisā pīti), non-material (nirāmisā pīti), yang melebihi non-material (nirāmisā nirāmisatarā pīti)
  • Ada 3 jenis perasaan bahagia (sukha), dari: tubuh jasmani/material (sāmisaṃ sukha), non-material (nirāmisā sukha), yang melebihi non-material (nirāmisā nirāmisatarā sukha)
  • Ada 3 jenis perasaan tenang-seimbang (upekkhā), dari: tubuh jasmani/material (sāmisaṃ upekkhā), non-material (nirāmisā upekkhā), yang melebihi non-material (nirāmisā nirāmisatarā upekkhā)

Perasaan Indriya/tubuh jasmani/material, baik itu: gembira (sāmisā pīti) atau bahagia (sāmisaṃ sukha) atau tenang-seimbang (sāmisaṃ upekkhā), kemunculannya adalah karena 5 utas kenikmatan indriya (pañca kāmaguṇe): bentukan yang dikenali mata, … , objek-objek sentuh yang dikenali badan, yang disukai, indah, menyenangkan, nikmat, memikat indriya, menggoda)

Perasaan gembira non-material (nirāmisā pīti) kemunculannya sehubungan dengan jhana ke-1 dan ke-2; Perasaan bahagia non-material (nirāmisā sukha) kemunculannya sehubungan dengan Jhana ke-1 s.d Jhana ke-3; Perasaan yang tenang-seimbang non-material (nirāmisā upekkhā) kemunculannya sehubungan dengan jhana ke-4

Perasaan gembira atau bahagia atau tenang-seimbang yang melebihi non material, kemunculannya sehubungan dengan yang noda-nodanya telah dihancurkan, meninjau mentalnya terbebas dari ketagihan, kebencian, kekeliruan tahu [SN 36.31]

Hubungan 5 perasaan (atau 5 indriya, SN 48.31) dan pencapaian jhana:

  • Indriya menyakitkan (dukkhindriyaṃ): rasa sakit tubuh (kāyikaṃ dukkhaṃ) dan tidaknyaman tubuh (kāyikaṃ asātaṃ). Rasa menyakitkan tidak nyaman yang berasal dari kontak jasmani (kāyasamphassajaṃ dukkhaṃ asātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36]. Di manakah indriya menyakitkan lenyap tanpa sisa? ..Di Jhana ke-1 [SN 48.39,40]
  • Indriya kepedihan (domanassindriyaṃ): rasa sakit mental (cetasikaṃ dukkhaṃ) dan tidaknyaman mental (cetasikaṃ asātaṃ). Perasaan menyakitkan tidak nyaman yang berasal dari kontak pikiran (manosamphassajaṃ dukkhaṃ asātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36]. Di mana indriya kepedihan lenyap tanpa sisa? ..Di Jhana ke-2 [SN 48.39,40]

    Indriya menyakitkan dan indriya kepedihan = perasaan menyakitkan (dukkhā sā vedanā) [SN 48.37-38]

  • Indriya menyenangkan (Sukhindriyaṃ): rasa senang tubuh (kāyikaṃ sukhaṃ) dan nyaman tubuh (kāyikaṃ sātaṃ). Perasaan menyenangkan nyaman yang berasal dari kontak jasmani (kāyasamphassajaṃ sukhaṃ sātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36] akibat ada pīti [SN 48.40]. Di mana indriya menyenangkan lenyap tanpa sisa? ..Di Jhana ke-3 [SN 48.39,40]
  • Indriya kebahagiaan (somanassindriyaṃ): bahagia mental (cetasikaṃ sukhaṃ) dan kenyamanan mental (cetasikaṃ sātaṃ), perasaan menyenangkan nyaman yang berasal dari kontak pikiran (manosamphassajaṃ sukhaṃ sātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36]. Di mana indriya kegembiraan lenyap tanpa sisa? ..Di Jhana ke-4 [SN 48.39,40]

    Indriya menyenangkan dan indriya kebahagiaan = perasaan menyenangkan (sukhā sā vedanā) [SN 48.37-38]

  • Indriya keseimbangan (upekkhindriyaṃ): Perasaan tubuh dan mental bukan-nyaman bukan tidaknyaman (kāyikaṃ vā cetasikaṃ vā nevasātaṃ nāsātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36]. Indriya keseimbangan harus dilihat sebagai perasaan bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan (adukkhamasukhā sā vedanā) [SN 48.37-38]. Di mana indriya keseimbangan lenyap tanpa sisa? ..di pencapaian “lenyapnya persepsi dan perasaan” (saññāvedayitanirodhaṃ) [SN 48.39, 40]

    Terdapat perbedaan untuk perasaan upekkha/netral antara sutta vs Abhidhamma. Menurut Abhidhamma, semua perasaan jasmani yang muncul melalui sensitivitas jasmani (kāyappasāda) hanyalah menyenangkan atau menyakitkan. Tidak ada perasaan netral yang muncul melalui sensitivitas Jasmani [Lihat: ini dan ini]. SN 36.19: ada 2 perasaan: sukhā vedanā, dukkhā vedanā (perasaan nikmat, perasaan menyakitkan) dan tentang adukkhamasukhā vedanā, santasmiṃ esā paṇīte sukhe (perasaan bukan menyakitkan bukan menyenangkan adalah kenikmatan yang damai luhur)

4 SET KE-3: [terkait pikiran mengamati pikiran]

  1. Berlatih (sikkhati] merasakan/mengalami sepenuhnya (paṭisaṃvedī) pikiran (citta):

    ’Dengan merasakan sepenuhnya pikiran, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan merasakan sepenuhnya pikiran, aku menghembuskan nafas’

  2. Berlatih (sikkhati] pikiran gembira/puas (abhippamodayaṃ cittaṃ):

    ’Dengan pikiran senang, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan pikiran senang, aku menghembuskan nafas’

  3. Berlatih (sikkhati] memusatkan pikiran (samādahaṃ cittaṃ):

    ’Dengan memusatnya pikiran, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan memusatnya pikiran, aku menghembuskan nafas’

  4. Berlatih (sikkhati] bebasnya pikiran (vimocayaṃ cittaṃ):

    ’Dengan terbebasnya pikiran, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan terbebasnya pikiran, aku menghembuskan nafas’

Tidak ada (nāhaṃ) pengembangan pikiran terpusat melalui ingatan pada nafas bagi seseorang yang ingatannya kacau dan tidak sepenuhnya mengetahui (muṭṭhassatissa asampajānassa ānāpānassatisamādhibhāvanaṃ vadāmi), demikian disebut, terkait pikiran mengamati pikiran, dengan tekun mengingat untuk sepenuhnya mengetahui, setelah melepaskan ketamakan dan kesuraman akan dunia. [SN 54.13, MN 118]

Note:
Cit (merasa, tahu, berpikir) + suffix “-ta”; abhi/punya-p-pamoda/puas/senang; samadaha = manunggal, terpusat, terkonsentrasi, menjadi satu; vimocaya = bebas, lepas, longgar

Ketika indriya pikiran/mano bertemu objeknya (ingatan/persepsi, dsb) muncullah kesadaran pikiran/manoviññāṇa. Di sinilah Viññāṇa = Citta (kesadaran = pikiran). Dalam landasan ingatan: Nāmarūpasamudayā cittassa samudayo; nāmarūpanirodhā cittassa atthaṅgamo. Manasikārasamudayā dhammānaṃ samudayo; manasikāranirodhā dhammānaṃ atthaṅgamo (mentalmateri muncul pikiran muncul; mentalmateri berhenti pikiran lenyap; pengarahan pikiran/Perhatian muncul fenomena/hal berkondisi atau terkondisi muncul; Pengarahan pikiran berhenti fenomena lenyap) [SN 47.42].

Variasi lain, ..mengetahui (pajānāti): “pikiran yang [(disertai/sa: ketagihan/rāga, kebencian/dosa, kebodohan/moha); tersusun/saṅkhitta; luhur/mahaggata; melampaui/sauttara; memperoleh pencapaian/samāhita; terbebaskan/vimutta] sebagai pikiran yang [(disertai: ketagihan, kebencian, kebodohan);..; terbebaskan/vimutta] dan pikiran yang [(tidak disertai/vita: ketagihan, kebencian, kebodohan); berserakan/kacau/vikkhitta; tidak luhur/amahaggata; unggul/anuttaraṃ; tidak memperoleh pencapaian/asamāhita; tidak terbebaskan/avimutta] sebagai pikiran yang [(tidak disertai/vita: ketagihan, kebencian, kebodohan);..; tidak terbebaskan/avimutta]”

Demikian terkait pikiran, Ia mengamati pikiran: secara ke dalam atau ke luar, munculnya, lenyapnya, muncul-lenyapnya di pikiran atau memperhatikan “ada pikiran” dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukannya untuk diketahui dan diperhatikan tanpa bergantung tanpa melekati apapun di dunia ini [DN22 dan MN 10/Satipatthana sutta]

apapun (yaitu dhamma/kondisi/fenomena: di AN 9.36: Pañcakkhandhā dan jhana 1-8, Di AN 11.18, 8: Indriya dan objeknya, catumahabhuta, jhana ke-5-8, persepsi/pikiran tentang dunia ini dan dunia lain, apapun yang dilihat, didengar, diindriya, dikenali, dijangkau, dicari, dan diperiksa pikiran) dilihat sebagai: tidak kekal, tidak memuaskan, penyakit, tumor, duri, bencana, malapetaka, asing, kehancuran, kehampaan, bukan diri.

dari kondisi-kondisi itu, pikirannya dibebaskan, Ia arahkan pikiran pada unsur amatāya (tanpa kematian: fenomena dilihat sebagai: anicca, dukkha…anatta atau terbelenggu taṇhā – SN 48.50): ‘ini damai, ini luhur, yaitu, tenangnya segala bentukan, lepasnya segala kehausan, hancurnya ketagihan, tidak menginginkannya, berhenti, padam’ [MN 64, AN 9.36]

4 SET KE-4: [terkait dhamma mengamati dhamma]

  1. Berlatih (sikkhati] mengamati (anupassī) ketidakkekalan (anicca: adanya awal dan akhir):

    ’Dengan mengamati ketidak-kekalan, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan mengamati ketidak-kekalan, aku menghembuskan nafas’

  2. Berlatih (sikkhati] mengamati pemudaran (virāga: tidak terkesan → tidak minat → tidak menginginkan):

    ’Dengan mengamati pemudaran, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan mengamati pemudaran, aku menghembuskan nafas’

  3. Berlatih (sikkhati] mengamati penghentian (nirodha: tidak menginginkan → berhenti):

    ’Dengan mengamati penghentian, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan mengamati penghentian, aku menghembuskan nafas’

  4. Berlatih (sikkhati] mengamati pelepasan (paṭinissagga: berhenti → melepaskan → bebas darinya):

    ’Dengan mengamati pelepasan, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan mengamati pelepasan, aku menghembuskan nafas’

Karena ketamakan dan kesuraman telah ditinggalkan (so yaṃ taṃ hoti abhij­jhā­do­manas­sā­naṃ pahānaṃ), terlihat telah menemukan keseimbangan sepenuhnya tanpa meminati (taṃ paññāya disvā sādhukaṃ ajjhupekkhitā hoti), terkait dhamma mengamati dhamma, dengan tekun mengingat untuk sepenuhnya mengetahui, setelah melepaskan ketamakan dan kesuraman akan dunia. [SN 54.13, MN 118]

    Note:
    Yang terkait dhamma: 5 nivarana/5 rintangan, pañcupādā­nak­khan­dā (5 kelompok yang melekati), 6 landasan indriya, 7 faktor pencerahan, 5 unsur (catumahabhuta+akasa), 4 kebenaran mulia [MN 10, 62, DN 2], yaitu tentang kemunculan dan kelenyapannya, ada dan tidaknya.

    Sang Buddha: Rāhula, bentukan/materi apapun, di masa lampau, depan, atau sekarang, di bagian dalam/luar, kasar/halus, rendah/mulia, jauh/dekat, semua bentukan/materi harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar (yathābhūtaṃ sammappaññāya daṭṭhabba) sebagai:

    Ini bukan milik-KU [Netaṁ mama],
    ini bukan AKU [nesoham-asmi],
    ini bukan diri-KU [na meso attā ti].

    Rahula: Hanya materi [rupa], Sang Bhagavā? Hanya materi, Yang Sempurna?

    Sang Buddha: materi [rupa], perasaan [vedanā], persepsi/ingatan [saññā], bentukan kehendak [saṅkhārā], dan kesadaran [viññāṇa].” [= Pañcakkhandhā].. [MN 62]

Ketika pikiran terpusat melalui ingatan pada pernafasan dikembangkan dan dilatih dengan cara ini, maka 4 Landasan ingatan terpenuhi [MN 118]

5 RINTANGAN (PAÑCA NĪVARAṆĀ)
Ada 5 rintangan [nivarana] yang muncul ketika berupaya membangun pemusatan pikiran. Berikut ini adalah yang tercantum dalam TEVIJJA SUTTA (dan DN 2):

    Setelah menjalani kehidupan yang terkendali dengan pengendalian lewat aturan-aturan (pātimokkha saṃvara saṃvuto viharati), mempertahankan perilaku benar (ācāra gocara sampanno), melihat bahaya dalam kesalahan terkecil (aṇumattesu vajjesu bhayadassāvī), melatih diri dalam latihan (samādāya sikkhati sikkhāpadesu) perbuatan jasmani dan ucapan yang penuh manfaat (kāyakamma vacīkammena samannāgato kusalena), berpenghidupan murni (parisuddhājīvo), sempurna dalam moralitas (sīlasampanno), menjaga indriyanya (indriyesu guttadvāro), memiliki ingatan untuk sepenuhnya mengetahui (satisampajaññena samannāgato) berpuas diri (santuṭṭho)

    Ia memilih tempat-tempat sunyi, duduk bersila, tubuh tegak/lurus wajah menghadap ke depan ingatan ditegakkan… Dengan menyingkirkan, rintangan:

    1. hasrat indriya/duniawi (abhijjha = kamacchanda = lobha), Pikirannya bebas dari hasrat duniawi, Ia membersihkan pikiran dari hasrat duniawi
    2. memusuhi/kemarahan/menolak karena benci (Byāpādapadosa), Pikirannya bebas dari permusuhan (abyāpannacitto), dengan pikiran bersahabat penuh kasih pada semua makhluk, semua yang hidup, ia membersihkan pikiran dari permusuhan
    3. malas (thina) – lamban/ngantuk (middha), pikirannya bebas dari malas-lamban; dengan memusatkan perhatian/ingatan pada āloka-saññi (persepsi penglihatan), Ia membersihkan pikiran dari malas dan lamban.

      Note:
      āloka = melihat, penglihatan, pandangan, pemandangan, cahaya; anāloka = buta; saññi = persepsi

      Nasehat Sang Buddha kepada Mahamoggalana tentang mengatasi kantuk, “jika engkau tak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus memperhatikan persepsi penglihatan (ālokasañña); engkau harus mempersepsikan siang hari (divāsañña) sebagai berikut: ‘Seperti halnya siang, demikian pula malam; seperti halnya malam, demikian pula siang.’ Demikianlah, dengan pikiran terbuka dan tidak tertutup, engkau harus mengembangkan pikiran yang dipenuhi dengan kecemerlangan (sappabhāsa: “kecemerlangan pikiran dapat dikotori oleh kotoran dari luar”, AN 1.51-52). Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan” [AN 7.61]. Namun rupanya kitab komentar menyampaikan secara literal: Saat mengantuk agar memperhatikan cahaya (bintang/lilin/bulan). Ini pendapat yang bermasalah, karena samadhi di jaman itupun, dilakukan dalam ruangan tertutup yang gelap tanpa cahaya, sehingga maksudnya JELAS BUKANLAH persepsi cahaya, namun persepsi yang jelas dalam hal: materi (4 bhuta), perasaan, persepsi, sankhāra, kesadaran

      Di MN 128 dan AN 8.64, sang Buddha menyampaikan kepada mereka yang ingin mendapatkan pengetahuan penglihatan (ñāṇadassana) tentang landasan perenungan (anussatiṭṭhānānī): “persepsi kejelasan terlihatnya bentukan” (obhāsañceva sañjānāmi dassanañca rūpānaṃ).

      Arti kata obhāsa: “cahaya, jelas”. Misalnya untuk arti “jelas”: “telah diberikan isyarat yang nyata oleh Sang Bhagavā, walaupun ia diberikan petunjuk yang jelas (bhagavatā oḷārike nimitte kayiramāne oḷārike obhāse kayiramāne nāsakkhi paṭivijjhituṃ, SN 51.10/Ud 6.1/AN 8.70/DN 16)

      ”Pencerapan kejelasan dan terlihatnya bentukan” dapat jatuh karena keterpusatan pikiran jatuh. Keterpusatan pikiran jatuh karena: keragu-raguan (vicikicchā), tidak mengarahkan pikiran/perhatian (amanasikāro), malas-lamban (thinamiddha), ketakutan (chambhitatta), menggelembung/kegirangan (uppila), cabul (duṭṭhulla), gigih yang berlebihan (accāraddhavīriya), kurang gigih (atilīnavīriya), mengharapkan/rindu (abhijappā), ragam persepsi (nānattasaññā) dan samadhi berlebihan pada bentukan (atinij-jhāyitattaṃ rūpānaṃ)

    4. gelisah (Uddhacca) dan cemas (kukkucca), pikirannya bebas dari kekacauan (anuddhato); pikirannya tenang ke dalam (ajjhattaṃ vūpasantacitto), Ia membersihkan pikiran dari kegelisahan dan kekhawatiran.
    5. keragu-raguan (vicikiccha), pikirannya bebas dari keraguan; tanpa ragu pada hal yang bermanfaat (akathaṅkathī kusalesu dhammesu), Ia membersihkan pikiran dari keragu-raguan’.

      Note:
      Makanan kamacchanda adalah subhanimitta (Gambaran keindahan)
      Makanan byapada adalah paṭighanimitta (Gambaran kejenuhan)
      Makanan thina-midha adalah arati tandi vijambhitā bhattasammado cetaso ca līnattaṃ (enggan, lesu menggerakan badan, pikiran mengantuk setelah makan atau segan)
      Makanan uddhacca-kukkucca adalah cetaso avūpasama (pikiran yang tidak tenang → bergejolak)
      Makanan vicikiccha adalah vicikicchāṭṭhānīyā dhammā (hal-hal yang membuat ragu)
      Perhatian tidak benar (ayonisomanasika) secara berulang adalah makanan bagi munculnya 5 Nivarana yang belum muncul; Meningkatkan/ mengembangkan 5 nivarana yang telah muncul [SN 46.51]

    ‘Vasettha, seperti seseorang yang berhutang untuk berdagang, setelah berhasil, bukan saja ia mampu membayar hutangnya, namun masih ada kelebihan untuk merawat istrinya. Ia berpikir: “Dulu aku berhutang dan berdagang sampai berhasil, kini bukan saja aku dapat membayar hutangku, tetapi masih ada kelebihan untuk merawat istriku”.

    Karenanya ia bersukacita, menjadi lega (labhetha pāmojjaṃ, adhigaccheyya somanassaṃ)’.

    ‘Vasettha, seperti seorang yang sakit, menderita, amat parah, tak dapat makan, sehingga badannya lemah; namun setelah sembuh, dapat makan, sehingga badannya pulih. Ia berpikir: ‘Dulu aku sakit, menderita, amat parah, tak dapat makan, badanku lemah, namun kini aku telah sembuh, dapat makan sehingga badanku pulih’.

    Karenanya ia bersukacita, menjadi lega’.

    ‘Vasettha, seperti seorang yang dipenjara, kemudian bebas dari penjara, aman dan sehat, barang-barangnya tak ada yang dirampas. Ia berpikir: ‘Dulu aku dipenjara, kini aku telah bebas dari penjara, aman dan sehat, barang-barangku tak ada yang dirampas’.

    Karenanya ia bersukacita, menjadi lega’

    ‘Vasettha, seperti seseorang yang menjadi budak, bukan tuan dirinya sendiri, tunduk pada orang lain, tak dapat pergi ke mana ia suka; Kemudian ia bebas dari perbudakan, menjadi tuan dirinya sendiri, tak tunduk pada orang lain, bebas pergi ke mana ia suka. Ia berpikir: ‘Dulu aku seorang budak, bukan tuan diriku sendiri, tunduk pada orang lain, tak dapat pergi ke mana aku suka; kini aku telah bebas dari perbudakan, menjadi tuan diriku sendiri, tak tunduk pada orang lain, bebas pergi ke mana aku suka’.

    Karenanya ia bersukacita, menjadi lega’.

    ‘Vasettha, seperti seorang yang membawa kekayaan dan barang, melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tak ada makanan selain banyak bahaya; kemudian Ia berhasil keluar dari padang pasir selamat tiba di perbatasan desanya, suatu tempat yang aman, tak ada bahaya. Ia berpikir: ‘Dulu, dengan membawa kekayaan dan barang, aku melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tak ada makanan selain banyak bahaya; kini aku telah keluar dari padang pasir itu, selamat tiba di perbatasan desaku, suatu tempat yang aman, tak ada bahaya’.

    Karenanya ia bersukacita, menjadi riang’.

    ‘Vasettha, demikianlah selama 5 rintangan (panca nivarana) belum disingkirkan, seorang bhikkhu merasakan seperti seorang yang sedang berhutang, terserang penyakit, dipenjara, menjadi budak, melakukan perjalanan di padang pasir. Vasettha, tetapi setelah 5 rintangan disingkirkan, maka seorang bhikkhu merasakan seperti orang yang telah bebas dari hutang, penyakit, penjara, perbudakan, sampai di tempat yang aman.

    ‘Apabila ia tahu (samanupassato) 5 rintangan telah disingkirkannya:

    1. memperoleh sukacita (pāmojjaṃ jāyati),
    2. lega/sukacita menimbukan girang (pamuditassa pīti jāyati),
    3. pikiran girang membuat tubuh nyaman (pītimanassa kāyo passambhati),
    4. tubuh nyaman bahagia dirasakan (passaddhakāyo sukhaṃ vedeti),
    5. dalam pikiran bahagia pikirannya terpusat (sukhino cittaṃ samādhiyati).

    Kemudian, setelah lepas dari kenikmatan indriya yang tak bermanfaat, (melalui pemusatan pikiran) dengan: menggenggam dan mempertahankan (objek tertentu: agar dapat meninggalkan 5 nivarana). Dari meninggalkan/melepas itu merasakan girang-bahagia (pīti-sukha), Keberadaan jhana ke-1 dicapai. Pīti-sukha yang muncul dari melepas ini memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya. Tak ada satu bagian tubuhnya yang tak diliputi perasaan girang-bahagia yang muncul dari melepas itu.

      Note:
      samadhinimitta berupa Jhana, tidak serta merta mereda setelah keluar dari keadaan samadhi. Keadaan tersebut masih dirasakannya dibeberapa waktu lamanya: “..Di malam hari, ketika seorang bhikkhu terhormat telah keluar dari keterasingan dan sedang duduk bersila di bawah keteduhan tempat kediamannya, tubuh tegak/lurus, wajah menghadap ke depan, ingatan ditegakkan, gambaran pikiran terpusat (samadhinimitta) yang ia perhatikan selama siang hari masih ada padanya..” [AN 6.28]

    ‘Kemudian pikiran yang disertai tanpa memusuhi (mettā = abyapada –AN 6.13) memancar ke satu arah, 2 arah, 3 arah dan 4 arah, ke: atas, bawah, bulak-balik, ke mana saja, pada mahluk alam apapun, pikiran yang disertai tanpa memusuhi memancar: berlimpah, luhur, tak berbatas, lembut, tanpa halang rintang

    ‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara tanpa kesulitan ke semua arah; begitu pula semua bentukan dan ragam ukuran makhluk, tanpa terkecuali, dengan memperhatikan itu semua dikembangkannya pikiran tanpa memusuhi yang bebas dan penuh’.

    ‘Vasettha, inilah jalan bersatu dengan Brahma’.

    “Kemudian pikiran yang disertai tanpa kekejaman/tanpa keinginan mencelakai/kesal/sakit hati (karuṇā = avihesā/avihimsa) … dikembangkannya pikiran tanpa kekejaman/kesal/sakit hati yang bebas dan penuh’ … ‘Vasettha, inilah jalan bersatu dengan Brahma’.

    dalam kepuasan tanpa membedakan (muditā = rati) … dikembangkannya pikiran yang disertai dalam kepuasan tanpa membedakan yang bebas dan penuh ‘ … ‘Vasettha, inilah jalan bersatu dengan Brahma’.

    tenang seimbang/tidak condong ke sukha-dukkha (upekkhā = a-raga/a-patigha) … dikembangkannya pikiran tenang seimbang tidak condong ke sukha-dukkha yang bebas dan penuh’ … ‘Vasettha, inilah jalan bersatu dengan Brahma’. [..] []

CATTĀRO SATIPAṬṬHĀNA DENGAN SATTA BOJJHAṄGA:

  1. Sewaktu, mengamati jasmani, ..perasaan, ..pikiran, ..dhamma, saat itu, ingatan yang tidak kacau muncul dalam dirinya, saat itu, faktor pencerahan ingatan (satisambojjhaṅga) bangkit, berkembang; Faktor pencerahan ingatan terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya
  2. Sewaktu, melakukan ingatan demikian (So tathā sato viharanto), hal tersebut dilihat dengan (taṃ dhammaṃ paññāya) pemeriksaan (pavicinati), penyelidikan menyeluruh (pavicarati), hati-hati dipertimbangkan seluruhnya (pari-­vīmaṃ­sam-ā­pajjati), maka saat itu, faktor pencerahan penyelidikan kondisi (dhammavicayasambojjhaṅga) bangkit, berkembang; Faktor pencerahan peyelidikan kondisi terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya.
  3. Sewaktu, hal tersebut dilihat dengan pemeriksaan, penyelidikan menyeluruh, hati-hati dipertimbangkan seluruhnya, maka, kegigihan dibangkitkannya tanpa mengendur, Saat itu faktor pencerahan kegigihan (vīriyasambojjhaṅga) bangkit, berkembang; Faktor pencerahan kegigihan terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya
  4. Sewaktu, kegigihan bangkit, muncul perasaan gembira (pīti) yang bebas hasrat sensual (nirāmisā). Maka saat itu faktor pencerahan kegembiraan (pītisambojjhaṅga) bangkit, berkembang; Faktor pencerahan kegembiraan terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya
  5. Seorang dengan pikiran yang diliputi kegembiraan, tubuh dan pikirannya menjadi tenang (kāyopi passambhati, cittampi passambhati), maka saat itu faktor pencerahan ketenangan (passaddhisambojjhaṅga) bangkit, berkembang; Faktor pencerahan ketenangan terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya
  6. Seseorang dengan tubuh tenang dan pikiran bahagia, pikirannya menjadi terpusat (Passaddhakāyassa sukhino cittaṃ samādhiyati), maka saat itu faktor pencerahan pikiran terpusat (samādhisambojjhaṅga) bangkit, berkembang; Faktor pencerahan pikiran terpusat terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya
  7. Seorang dengan pikiran terpusat demikian, dalam keseimbangan sepenuhnya tanpa meminati (So tathāsamāhitaṃ cittaṃ sādhukaṃ ajjhupekkhitā hoti), maka, saat itu, faktor pencerahan keseimbangan (upekkhāsambojjhaṅga) bangkit berkembang; Faktor pencerahan keseimbangan terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya [SN 54.13, MN 118]

SATTA BOJJHAṄGA DENGAN PENGETAHUAN DAN KEBEBASAN:

    Seorang yang mengembangkan 7 faktor pencerahan, maka, saat itu, Ia bersandar pada: keterasingan, tidak menginginkan, penghentian, siap dalam melepas (vivekanissitaṃ virāganissitaṃ nirodhanissitaṃ vossaggapariṇāmiṃ) [SN 54.13, MN 118]

—————

JHANA ke-1 s.d ke-9

Kesempurnaan atau hasil samädhi ditandai dengan tercapainya jhana. Sang Buddha menyamakan pencapaian jhana sebagai makna sementara keterbebasan/vimutti seorang melalui: pikiran (AN 9.41) atau saksi tubuh (AN 9.43) atau kebijaksanaan (AN 9.44) atau dalam kedua aspek (AN 9.45: kebijaksanaan dan pikiran) atau dhamma yang terlihat langsung (AN 9.46) atau nibbāna yang terlihat langsung (AN 9.47) atau nibbāna (AN 9.48) atau parinibbana (AN 9.49) atau nibbāna dalam aspek tertentu (AN 9.50) atau nibbāna dalam kehidupan ini (AN 9.51) dan lainnya.

Dalam AN 9.35/Gavi Sutta, sang Buddha mengingatkan agar MENGUASAI dengan baik setiap pencapaian samadhi SEBELUM berlanjut kepencapaian berikutnya melalui perumpamaan sapi gunung yang bodoh, tidak berpengalaman, tidak terbiasa dengan padang rumputnya, tidak pula terampil menjelajah pegunungan terjal namun pergi ke daerah yang tak dikenal dan tak pernah didatanginya untuk mencoba rumput dan air yang tak pernah ia makan dan minum sebelumnya, sehingga ketika melangkah, Ia tidak dapat meletakan kakinya dengan baik dan membuatnya tak dapat maju maupun kembali

Pencapaian jhana bukan monopoli ajaran Buddha.
Sebelum mencapai pencerahan, Sidhartha Gotama belajar samadhi pada beberapa guru (visvamitta/sabbamitta, Alara Kalama, Uddaka ramaputta), oleh karennya, tahu cara mencapai alam rupa dan arupa. Dikehidupan lampunya-pun, beliau melatih Jhana.

    Di jaman lampau yang berbeda, terdapat 7 guru (Sunetta, Mūgapakkha, Aranemi, Kuddālaka, Hatthipala, Jotipāla dan Araka) yang bebas hasrat indriya dan mengajarkan pada banyak muridnya cara terlahir di alam Brahma. [AN 6.54, AN 7.66, AN 7.73, AN 7.74]

    Para murid yang memahami ajaran, setelah kematian terlahir di ALAM Brahma. Beberapa yang tidak memahami penuh, terlahir di alam paranimmitavasavattīnaṃ.. nimmānaratīnaṃ.. tusitānaṃ.. yāmānaṃ.. tāvatiṃsānaṃ.. cātumahārājikānaṃ.. sebagai Ksatria, Brahma dan perumah tangga [AN 7.66]. Mereka yang tidak memahami dan tidak menjalankan ajaran dan mempunyai keyakinan pada ajaran gurunya, muncul di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka [AN 6.54, AN 7.73, AN 7.74].

    Guru-guru ini berpikir tidak pantas jika mereka terlahir di alam yang sama dengan para muridnya, oleh karenanya, mereka mengembangkan pikiran Mettā selama 7 tahun. Setelah wafat, selama 7 kalpa menyusut dan mengembang, tidak pernah kembali ke alam ini. Bila kappa menyusut, muncul di alam brahma ābhassara. Ketika kappa mengembang, muncul di alam brahma yang kosong [suññaṃ brahmavimānaṃ] menjadi Brahma yang agung/mahābrahmā, 36 x menjadi Sakka, raja para dewa. Ratusan kali terlahir sebagai Raja dunia/cakkavattī dhammiko dhammarājā

    Walaupun guru-guru ini hidup panjang namun tidak terbebas dari kelahiran, pelakukan, kematian, duka, lara, ketidakpuasan dan penderitaan karena mereka tidak menjalankan moralitas, samädhi, kebijaksanaan dan pembebasan yang mulia [AN 7.66]

Jhana ke-1,
kenikmatan sensualitas adalah kenikmatan kasar, sehingga: Harus secara total melepas: Perhatian persepsi terkait sensualitas (kāmasahagatā saññāmanasikārā). Karena pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.1]

Deskripsi Jhana ke-1 (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta/pikiran menjelang kematian-nya di jhana ke-1):

Ia memilih tempat-tempat sunyi, duduk bersila, tubuh tegak/lurus wajah menghadap ke depan dan ingatan ditegakkan. Setelah melewati 5 rintangan (5 nivarana) dan/atau cukup terasing dari kenikmatan indriya, terasing dari hal yang tak bermanfaat (vivicceva kāmehi vivicca akusalehi dhammehi ):

    (melalui pemusatan pikiran) dengan: menggenggam dan mempertahankan (objek tertentu: agar 5 nivarana dapat ditinggalkan/dilepaskan) (savitakka savicāra) dari meninggalkan/melepas itu merasakan pīti-sukha (vivekajaṃ pītisukhaṃ), Keberadaan jhana ke-1 dicapai (paṭhamaṃ jhānaṃ upasampajja viharati) [MN 111, AN 4.123, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

    atau

    Yang menggunakan keindahan/subha sebagai landasan: (Dalam dirinya) muncul sukacita (pāmojjaṃ jāyati), sukacita menimbukan kegirangan (pamuditassa pīti jāyati), pikiran girang membuat tubuh nyaman (pītimanassa kāyo passambhati), tubuh nyaman bahagia dirasakannya (passaddhakāyo sukhaṃ vedeti), dalam pikiran yang bahagia, terpusat pikirannya (sukhino cittaṃ samādhiyati: artinya masuk jhana ke-1)

    Pikiran yang disertai tanpa memusuhi (mettāsahagatena cetasā. Mettā = abhyapada = tidak memusuhi, bersahabat – AN 6.13) memancar ke 1 arah (ekaṃ disaṃ pharitvā viharati), 2 arah, 3 arah dan 4 arah (tathā dutiyaṃ tathā tatiyaṃ tathā catutthiṃ), ke: atas, bawah, bulak-balik, ke mana saja, pada mahluk alam apapun (termasuk dirinya) (iti uddhamadho tiriyaṃ sabbadhi sabbattatāya sabbāvantaṃ lokaṃ) pikiran yang disertai tanpa memusuhi memancar: berlimpah, luhur, tak berbatas, lembut, tanpa halang rintang (mettāsahagatena cetasā vipulena mahaggatena appamāṇena averena abyāpajjhena pharitvā viharati) [AN 4.125, DN 13: Kesempurnaan mettā terjadi setelah tercapainya jhana ke-1]

    Versi MN 21: ‘..Tañca puggalaṃ mettā­saha­gatena cetasā pharitvā viharissāma (pikiran mettā memancar ke orang itu), tadārammaṇañca (dalam pikiran yang sama) sabbāvantaṃ lokaṃ (ke segala alam) mettā­saha­gatena cittena vipulena... (pikiran mettā memancar: berlimpah..)

Perasaan pīti-sukha memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya. Tak ada satu bagian dari tubuhnya yang tidak diliputi perasaan girang-bahagia yang muncul dari pelepasan itu.

‘Bagaikan seorang petugas pemandian yang terampil atau pembantunya, mengadon bubuk-sabun yang telah dibasahi air, membentuknya dalam sebuah piringan logam, menjadi bongkahan lunak, sehingga bola bubuk-sabun itu menjadi satu bongkahan berminyak, terekat oleh minyak sehingga tak ada yang berserakan—demikian pula pīti-sukha meliputi, basah seluruhnya, mengisi dan memenuhi tubuhnya sehingga tak ada bagian tubuhnya yang tak tersentuh..’ [DN 2, 9, 13; MN 39, 77, 119].

    Ilustrasi bedanya pīti vs sukha:
    Seseorang di padang pasir, kehabisan air, dilanda haus, lemah dan pegal. Ketika berjalan tertatih, dari kejauhan dilihatnya Oasis [sumber mata air]. Pikirannya makin dipusatkan sehingga Ia yakin itu adalah oasis, perasaan girang muncul dan terus menguat, rasa haus dan payahnya teralihkan, Ia bersemangat ke Oasis. Keadaan ini menyerupai pīti. bahagia/nikmat dirasakannya saat meminum air. menyerupai SUKHA

    Seseorang di kemacetan lalulintas dilanda keinginan buang air yang hebat. Saat itu, Pikirannya terpusat pada kakus. Ketika menemukannya, muncul perasaan girang. Ini menyerupai pīti, bahagianya saat membuang hajat/kencing menyerupai sukha

“Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap didalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva Brahmakayika dengan batasan kehidupan 1 kappa” (So tadassādeti taṃ nikāmeti tena ca vittiṃ āpajjati. Tattha ṭhito tadadhimutto tabbahulavihārī aparihīno kālaṃ kurumāno. brahmakāyikānaṃ devānaṃ sahavyataṃ upapajjati. Brahmakāyikānaṃ bhikkhave devānaṃ kappo āyuppamāṇaṃ) [AN 4.123, 125][alam ↑]

Saat mencapai Jhana ke-1:
Ia meninggalkan 5 rintangan/nivarana dan meraih 5 faktor jhana diraih (MN 43). Keadaan ini disebut berada di luar jangkauan Mara (MN 25, AN 9.39).

    5 rintangan:
    Kamacchanda/hasrat indriya;
    byapada (kehendak buruk, memusuhi);
    Thina-middha (malas-lamban/ngantuk);
    Uddhacca-kukkucca (gelisah-cemas) dan
    Vicikiccha (keragu-raguan)

    5 Faktor Jhana:

    Vitakka
    (pikiran menggenggam/mengarahkan pikiran pada objek);
    Vicāra (pikiran mempertahankan objek/mempertahankan pikiran pada objek);
    Pīti (gembira/girang/tergiur) → bagian dari saṅkhārakkhandha bukan vedanākkhandha (Abhidhamma Ds 2.1.5), namun di sutta: di jhana ke-3, ketika Pīti lenyap, sukhindriyaṃ lenyap [SN 48.40], sukhindriyaṃ dan somanas­sindriyaṃ harus diihat sebagai perasaan bahagia (sukhā sā vedanā) [SN 48.38];
    Sukha (bahagia/nikmat);
    Pikiran terpusat (cittekaggatā) [MN 111, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

Lenyap tanpa sisa dukkhindriyam/Indriya menyakitkan: Perasaan menyakitkan dan tidak nyaman yang berasal dari kontak jasmani [SN 48.36, 39, 40]

Lenyapnya persepsi Indriya/kamasanna niruddha (DN 9, AN 9.31). Lenyapnya “bicara” [vaca niruddha] (SN 36.11, SN 36.15). Oleh karenanya, kebisingan adalah duri (saddo kaṇṭako) bagi jhāna ke-1 (AN 10.72)

Lenyap tanpa sisa kehendak YANG TIDAK bermanfaat/akusalānaṃ saṅkappānaṃ, yaitu kehendak: keinginan indriya, kehendak buruk/memusuhi, dan kehendak kekejaman.

    Dan dari manakah kehendak YANG TIDAK bermanfaat ini berasal-mula?
    Kehendak YANG TIDAK bermanfaat ini harus dikatakan bermula dari persepsi. Persepsi apakah?.. persepsi keinginan indriya, persepsi kehendak buruk/permusuhan, dan persepsi kekejaman.

    Dan dimanakah kehendak YANG TIDAK bermanfaat ini lenyap tanpa sisa?.. jhana ke-1.. [MN 78]

    Tanpa meninggalkan/melenyapkan 6 Hal, seseorang tidak akan mencapai Jhana ke-1, yaitu: Pikiran indriya (Kāmavitakka), pikiran buruk/memusuhi (byāpādavitakka), pikiran mencelakai (vihiṃsāvitakka), persepsi indriya (kāmasañña), persepsi buruk (byāpādasañña), dan persepsi mencelakai (vihiṃsāsañña) [AN 6.74]

Mengapa mettā dikaitkan dengan keadaan Jhana ke-1?

Lenyapnya dukkhindriyaṃ (rasa sakit tubuh/kāyikaṃ dukkhaṃ + tidak nyaman tubuh/kāyikaṃ asātaṃ atau perasaan menyakitkan tidak nyaman dari kontak jasmani/kāyasamphassajaṃ dukkhaṃ asātaṃ vedayitaṃ – SN 48.38, 40), sehingga byāpādo (itikad buruk/memusuhi) tidak menguasai pikirannya (byāpādo cittaṃ pariyādāya ṭhassati, netaṃ ṭhānaṃ vijjati) [AN 6.13], kehendak tak bermanfaat lenyap tanpa sisa (MN 78). Pikirannya dipenuhi perasaan menyenangkan: girang-bahagia (pīti-sukha) ingin dibagikannya ke seluruh dunia, karena “Apa yang dirasakan, itu yang dipersepsikan, itu yang dipikirkan, itu yang berkembang biak berupa sumber, gagasan, Ide di masa lalu, depan atau sekarang yang dikenali Indriyanya (pikiran, mata, dll)“.

Terdapat 11 manfaat ketika kebebasan pikiran melalui tanpa permusuhan telah diusahakan, dikembangkan, dan dilatih, dijadikan kendaraan dan landasan, dijalankan, dikokohkan, dan dengan benar dilakukan:

(1) Tidur nyaman (sukham supati); (2) terjaga nyaman (sukham paṭibujjhati); (3) tidak mimpi buruk (na pāpakaṃ supinaṃ passati); (4) disukai orang (manussānaṃ piyo hoti); (5) disukai makhluk bukan orang (amanussānaṃ piyo hoti); (6) dilindungi Devata (devata rakkhanti) (7) lolos/terhindar dari api, racun dan senjata (nassa aggi va visam va satthaṃ va kamati); (8) pikirannya terpusat dengan cepat (tuvaṭaṃ cittam samādhiyati); (9) raut wajahnya tenang (mukhavaṇṇo vippasīdati); (10) ketika tiba waktunya (untuk wafat) tidak dalam kebingungan (asammūḷho kālaṃ karoti); dan (11) jika tidak menembus lebih jauh, terlahir di alam brahmā (uttari appaṭivijjhanto brahmalokūpago hoti) [AN 8.1, AN 11.15]. Agar tidak tiba waktunya (untuk wafat) karena digigit ular [atau digigit tidak menyuntikan bisa: gigitan kering atau ini] (na hi so..ahinā daṭṭho kālaṃ kareyya).. agar mahluk tak berkaki, berkaki 2, 4, banyak tak mencelakai (ma mam apada.. dvi.. catu.. himsi bahuppado) [AN 4.67]

Jhana ke-2,
kenikmatan menggenggam dan mempertahankan objek adalah kenikmatan kasar, sehingga: Harus secara total melepas: Perhatian persepsi terkait usaha awal pikiran menggenggam obyek (vitakkasahagatā saññāmanasikārā). Karena pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.2, SN 21.1].

Deskripsi Jhana ke-2 (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di jhana ke-2):

    Meredanya pemusatan pikiran melalui menggenggam dan mempertahankan objek [vitakkavicārānaṃ vūpasamā], terjadi keheningan di dalam [ajjhattaṃ sampasādo], pikirannya menjadi terpusat tanpa dengan usaha menggenggam dan mempertahankan objek [cetaso ekodibhāvaṃ avitakkaṃ avicāraṃ]. Dari pikiran yang terpusat seperti ini, Ia merasakan girang-bahagia [samādhijaṃ pītisukhaṃ], jhana ke-2 dicapai (dutiyaṃ jhānaṃ upasampajja viharati) [MN 111, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

    atau

    Yang menggunakan keindahan/subha sebagai landasan: Pikiran yang disertai Tanpa kekejaman (karuṇāsahagatena cetasā. Karuṇā = avihesā = tanpa kekejaman/tanpa keinginan mencelakai, tanpa kesal/sakit hati) memancar ke satu arah, 2 arah, 3 arah dan 4 arah, ke: atas, bawah, bulak-balik, ke mana saja, pada mahluk alam apapun (termasuk dirinya), pikiran yang disertai tanpa keinginan mencelakai memancar: berlimpah, luhur, tak berbatas, lembut, tanpa halang rintang [AN 4.125; DN 13]

Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva ābhassarā. Deva ābhassarā dengan batasan kehidupan 2 kappa (ābhassarānaṃ devānaṃ sahavyataṃ upapajjati. Ābhassarānaṃ bhikkhave devānaṃ dve kappā āyuppamāṇaṃ) [AN 4.123, 125][alam ↑]

Kondisi/faktor di Jhana ke-2 adalah: hening di dalam (tanpa vitakkavicara), pīti, sukha dan pikiran terpusat [cittekaggatā]

Saat mencapai jhana ke-2:
Jika pada sebelumnya pemusatan pikiran dengan vitakka-vicara, untuk melepas memunculkan persepsi girang dan nikmat, maka ketika pemusatan pikiran dapat dilakukannya tanpa melalui vitakka-vicara, dari pikiran terpusat dengan cara itu, persepsi perasaan girang-bahagia memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya. Tak ada satu bagian dari tubuhnya yang tidak diliputi perasaan girang-bahagia yang muncul dari keterpusatan pikiran dengan cara itu.

‘Bagaikan sebuah danau yang bersumber dari sebuah mata air, tak ada air yang mengalir dari timur, barat, utara atau selatan, tidak bertambah dengan hujan dari waktu ke waktu, kemudian mata air sejuk memenuhi, mengisi, meliputi seluruh danau itu, sehingga tak ada bagian danau itu yang tidak terliputi air sejuk itu—demikian pula dengan kegirangan dan kenikmatan yang muncul dari pikiran terpusat meliputi seluruh tubuhnya sehingga tak ada bagian yang tidak tersentuh. [DN 2, DN 9, MN 39, MN 77, MN 119]

Jhana ke-2 disebut keheningan ariya/noble Silence (“ariya tuṇhībhāva”, SN 21.1), yaitu lenyapnya/niruddha: awal pikiran menggenggam dan mempertahankan objek [avitakkavicārā] (SN 36.11, 36.15, AN 9.31) atau berhentinya vacīsaṅkhāra [MN 44, SN 41.6], sekarang ini vitakkavicārā adalah duri di jhāna ke-2 [AN 10.72]

    Note:
    Melatih ariya tuṇhībhāva mulai dari menyempurnakan sila (sila ke-4: tidak musavada, tidak bergosip, dst) mengendalikan indriyanya, dengan ingatan untuk sepenuhnya mengetahui, Ia berpuas diri, Ia membatasi pikiran dan dirinya untuk berkata seperlunya. Sang Buddha: Seorang yang melakukan praktek brahmacariya (Penghidupan BRAHMA), ketika berkumpul, Ia melakukan salah satu dari 2 hal: berdiskusi Dhamma atau mempertahankan keheningan mulia [MN 26].

    Sample lain, misalnya cara YM Anuruddha dan 2 teman seperjuangan dalam keseharian mereka: “..Siapapun yang melihat kendi air minum, air untuk mencuci, atau kakus sudah hampir habis atau sudah habis maka ia akan melakukan apa yang harus ia lakukan. Jika terlalu berat baginya, maka ia akan memanggil seseorang lain dengan isyarat tangan dan mereka bersama-sama memindahkannya, tetapi hal ini tidak membuat kami terlibat dalam percakapan. Tetapi setiap 5 hari kami duduk bersama sepanjang malam mendiskusikan Dhamma”. [MN 128]

Lenyap tanpa sisanya domanassindriyaṃ/Indriya kepedihan: Perasaan menyakitkan tidak nyaman yang berasal dari kontak pikiran [SN 48.36, 39, 40]

Lenyap tanpa sisanya kehendak YANG bermanfaat/kusalā saṅkappā, yaitu kehendak: pelepasan keduniawian (Nekkhammasaṅkappo), tanpa memusuhi/kehendak buruk (abyāpādasaṅkappo) dan tanpa-kekejaman (avihiṃsāsaṅkappo)

    dari manakah YANG kehendak bermanfaat ini berasal-mula?
    Kehendak YANG bermanfaat ini harus dikatakan bermula dari persepsi. Persepsi apakah?..persepsi pelepasan keduniawian (Nekkhammasaññā), persepsi tanpa kehendak buruk (abyāpādasaññā), dan persepsi tanpa-kekejaman (avihiṃsāsaññā)

    Dan di manakah kehendak YANG bermanfaat ini lenyap tanpa sisa?.. Jhana ke-2. [MN 78]

Mengapa karuṇā dikaitkan dengan keadaan Jhana ke-2?

Di samping telah lenyapnya dukkhindriyaṃ sebelumnya, maka sekarang bahkan lenyap pula domanas­sindriyaṃ (rasa sakit mental/cetasikaṃ dukkhaṃ + tidak nyaman mental/cetasikaṃ asātaṃ atau perasan menyakitkan tidak nyaman dari kontak pikiran/mano­samphas­sa­jaṃ dukkhaṃ asātaṃ vedayitaṃ – SN 48.38, 40), sehingga vihesā (kekejaman/ingin mencelakai/kesal/sakit hati) tidak menguasai pikirannya (vihesā cittaṃ pariyādāya ṭhassati, netaṃ ṭhānaṃ vijjati) [AN 6.13]. Pikirannya hening di dalam dan penuh perasaan menyenangkan: girang-bahagia (pīti-sukha) ingin dibagikannya ke seluruh dunia

Jhana ke-3,
Kenikmatan pīti adalah kenikmatan kasar, sehingga: Harus secara total melepas: Perhatian persepsi terkait perasaan gembira/girang (pītisahagatā saññāmanasikārā). Karena pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.3].

Deskripsi Jhana ke-3 (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di jhana ke-3):

    Perasaaan gembira mereda (pītiyā ca virāgā), (pikirannya) berada dalam ketenangan (upekkhako ca viharati) ingatannya sepenuhnya mengetahui (sato ca sampajāno), tubuhnya merasa bahagia (sukhañca kāyena paṭisaṃvedeti), sebagaimana dikatakan para ariya (Yaṃ taṃ ariyā ācikkhanti): “ingatan berdiam nyaman diketenangan” (upekkhako satimā sukhavihārī’ti). jhana ke-3 dicapai [MN 111, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

    atau

    Yang menggunakan keindahan/subha sebagai landasan: Pikiran yang disertai dalam kepuasan tanpa membedakan (muditāsahagatena cetasā. Muditā = rati = nyaman/puas tanpa diskriminasi) memancar ke satu arah, 2 arah, 3 arah dan 4 arah, ke: atas, bawah, bulak-balik, ke mana saja, pada mahluk alam apapun (termasuk dirinya), pikiran yang disertai dalam kepuasan tanpa membedakan memancar: berlimpah, luhur, tak berbatas, lembut, tanpa halang rintang [AN 4.125; DN 13]

Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva subhakiṇhā. Deva subhakiṇhā dengan batasan kehidupan 4 kappa (subhakiṇhānaṃ devānaṃ sahavyataṃ upapajjati. Subhakiṇhānaṃ bhikkhave devānaṃ cattāro kappā āyuppamāṇaṃ) [AN 4.123, 125]. [alam ↑]

Kondisi/faktor di Jhana ke-3 adalah sukha, sati, sampajāna dan cittekaggatā. Sementara itu, perasaan gembira (pīti) adalah duri bagi jhana ke-3 [AN 10.72]

Saat mencapai Jhana ke-3:
Jika sebelumnya persepsi kegirangan dan kebahagian setelah lenyapnya vitakka dan vicara muncul dari pikiran terpusat, maka ketika kegirangan (pīti) melenyap, munculah bahagia yang memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya. Tak ada satu bagian dari tubuhnya yang tidak diliputi bahagia yang muncul karena lenyapnya kegirangan itu

‘Bagaikan, di sebuah kolam, teratai biru atau merah atau putih tumbuh dan berkembang dalam air tanpa keluar dari air, dan air sejuk membasahi, merendam, mengisi, dan meliputi teratai-teratai itu dari pucuk hingga ke akarnya; demikian pula, bahagia yang memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya. Tak ada satu bagian dari tubuhnya yang tidak diliputi bahagia yang muncul karena lenyapnya kegirangan itu [DN 2, DN 9, MN 39, MN 77, MN 119]

Lenyap tanpa sisanya sukhindriyaṃ/Indriya menyenangkan: Perasaan menyenangkan nyaman yang berasal dari kontak jasmani [SN 48.36, 39, 40]

Mengapa muditā dikaitkan dengan keadaan Jhana ke-3?

Disamping telah lenyapnya: dukkhindriyaṃ + domanas­sindriyaṃ sebelumnya, maka sekarang akibat lenyapnya pīti, lenyap pula sukhindriyaṃ (rasa senang tubuh/kāyikaṃ sukhaṃ + nyaman tubuh/kāyikaṃ sātaṃ atau perasaan menyenangkan nyaman dari kontak jasmani/kāya­samphas­sa­jaṃ sukhaṃ sātaṃ vedayitaṃ – SN 48.38, 40), sehingga arati (ketidak-puasan) tidak menguasai pikirannya (arati cittaṃ pariyādāya ṭhassati, netaṃ ṭhānaṃ vijjati) [AN 6.13]. Pikiran yang dalam keadaan bahagia nyaman dalam memperhatikan, ingin dibagikannya ke seluruh dunia

Jhana ke-4,
Kenikmatan sukha adalah kenikmatan kasar, sehingga: Harus secara total melepas: Perhatian persepsi terkait perasaan bahagia (sukhasahagatā saññāmanasikārā). Karena pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.4].

Deskripsi Jhana ke-4 (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di jhana ke-4):

    Perasaan menyenangkan dan perasaan menyakitkan telah ditinggalkannya (sukhassa ca pahānā dukkhassa ca pahānā), kebahagiaan-kepedihan sebelumnya mereda (pubbeva somanassadomanassānaṃ atthaṅgamā), merasakan perasaan yang tanpa menyakitkan – tanpa menyenangkan (adukkhaṃasukhaṃ) ingatannya murni seimbang (upekkhā-sati-pārisuddhiṃ), jhana ke-4 dicapai [MN 111, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

    atau

    Yang menggunakan keindahan/subha sebagai landasan: Pikiran yang disertai tenang seimbang/tidak condong (upekkhāsahagatena cetasā. Upekkhā = a-rāgo = tidak ketagihan/tanpa keterikatan = a-patigha/menolak akibat benci/jijik) memancar ke satu arah, 2 arah, 3 arah dan 4 arah, ke: atas, bawah, bulak-balik, ke mana saja, pada mahluk alam apapun (termasuk dirinya), pikiran yang disertai tenang seimbang/tidak condong memancar: berlimpah, luhur, tak berbatas, lembut, tanpa halang rintang [AN 4.125; DN 13]

Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva vehapphalā. Deva vehapphalā dengan batasan kehidupan 500 kappa (Vehapphalānaṃ bhikkhave devānaṃ pañcakappasatāni āyuppamāṇaṃ) [AN 4.123, 125][alam ↑]

Kondisi/faktor di Jhana ke-4 adalah keseimbangan (upekkhā), perasaan tanpa menyakitkan tanpa menyenangkan (adukkhamasukhā vedanā), Pikirannya lentur tidak condong, ingatannya murni dalam keterpusatan pikiran (passaddhattā cetaso anābhogo satipārisuddhi cittekaggatā) [MN 111]

Jika sebelumnya persepsi kenyamanan dan perasaan bahagia muncul dari ketiadaan kegirangan, maka persepsi kenyamanan mereda, muncul ingatan murni seimbang dari persepsi perasaan tanpa menyakitkan tanpa menyenangkan, ini memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya dengan pikiran murni

Bagaikan seorang yang duduk dan ditutupi dengan kain putih dari kepala ke bawah, sehingga tak ada bagian dari tubuhnya yang tidak tertutupi oleh kain putih itu; Demikianlah Tak ada satu bagian dari tubuhnya yang tidak diliputi pikiran murni itu.

Ia berdiam bersama dengan para dewa yang telah muncul dalam alam yang sepenuhnya nikmat, berbicara dan berbincang-bincang dengan mereka [Yā tā devatā ekantasukhaṃ lokaṃ upapannā tāhi devatāhi saddhiṃ santiṭṭhati sallapati sākacchaṃ samāpajjati]. Pada titik ini alam yang sungguh menyenangkan itu telah tercapai (MN 79)

Lenyap tanpa sisanya somanassindriyaṃ/Indriya kebahagiaan: Perasaan menyenangkan nyaman yang berasal dari kontak pikiran [SN 48.36, 39, 40]

Berhentinya pernafasan (SN 36.11, 36.15, AN 9.31). Kayasankhāra (semua formasi rupa/kaya [nafas keluar/masuk]) terhenti = ditenangkan sempurna. Sehingga dikatakan bahwa napas-masuk dan napas-keluar adalah duri bagi jhāna ke-4 [AN 10.72]

Keluar dari tahap ini, Ia berjalan, berdiri dan seterusnya dengan kebahagiaan yang muncul dari ketenangan (AN 3.63)

Pikiran kokoh/terpusat (samāhite citte), murni (parisuddhe), bersih (pariyodāte), tidak ternoda (anaṅgaṇe), bebas kekotoran (vigatūpakkilese), lentur (mudubhūte), mudah dibentuk (kammaniye), kokoh (ṭhite), setelah mendapatkan (pāpuṇāti) kondisi tanpa-gangguan/tenang sekali (āneñja/āneñjappatte), diarahkan (abhinīharati) condong (abhininnāmeti) pikirannya untuk merelisasikan ragam pengetahuan langsung:

  1. pengetahuan melihat (ñāṇadassanāya) badan jasmani adalah materi catumahabutha, tidak kekal, dapat luka dan usang, rusak dan hancur, kesadaran melekat dan bergantung padanya,
  2. menghasilkan tubuh ciptaan-pikiran (manomayaṃ kāyaṃ abhinimmānāya) dari tubuhnya, menghasilkan tubuh lain, berbentuk, ciptaan-pikiran, lengkap dengan semua bagian tubuh dan indriyanya,
  3. bermacam kekuatan mental (anekavihitaṃ iddhividhāya): memperbanyak diri, dari banyak menjadi satu; menjadi tampak, menjadi lenyap; menembus dinding, benteng, gunung seolah berjalan di ruangan; masuk keluar tanah seolah di air; berjalan di air tanpa tenggelam seolah di tanah; duduk bersila melayang di udara seperti burung; (ime pi candimasūriye evaṃ mahiddhike evaṃ ma­hānu­bhāve pāṇinā parimasati parimajjati yāva brahmalokāpi kāyena vasaṃ vatteti) dan juga bulan matahari yang sangat kuat-perkasa yang menyentuh, menghanyutkan kehidupan/dengan tangannya bahkan sejauh alam brahma kemahiran jasmaninya berlanjut
  4. telinga deva (dibbāya sotadhātuyā) mendengar suara alam dewa dan manusia jauh maupun dekat
  5. pengetahuan atas pikiran makhluk lainnya (cetopariyañāṇāya),
  6. pengetahuan kehidupan lampau (pubbenivāsānussatiñāṇāya)

    Note:
    Beberapa, karena kamma lampaunya, walau tidak punya Jhana, dapat juga ingat satu/beberapa kehidupan lampau, misal: para dewa (DN 21), peta (Petavatthu 2.2), untuk orang misal DN 1 (beberapa petapa/Brahmana, mungkin punya jhana, mungkin tidak), komentar Jataka Mahānārada Kassapa (no.544): Jendral Alāta ingat sebagai jagal sapi bernama Piṅgala..budak bernama Vījaka, ingat sebagai orang kaya..Putri raja Aṅgati negara Videha bernama Rujā (Kelak adalah Bhikkhu Ānandā) dapat ingat 7 kehidupan lampau dan 7 kehidupan mendatang. Komentar Jataka Kummāsapiṇḍi (no.415): Putra Ratu Benares, Brahmadatta, sejak dapat berjalan ingat kelahiran-kelahiran lampaunya, semua yang dilakukannya, seperti melihat bayangannya di cermin bening. Jadi, beberapa ini dapat mengingat (anussara) 5 kelompok unsur kehidupan (Rupa, vedana, .., viññāṇa) yang tunduk pada kemelekatan atau salah satu di antaranya pada masa lalunya (SN 22.79)

  7. pengetahuan lenyapnya dan munculnya makhluk-makhluk dengan mata dewa (sattānaṃ cutūpapātañāṇāya),
  8. pengetahuan hancurnya noda-noda (āsavānaṃ khayañāṇāya) [DN2, MN 76-79, dll]

Penting untuk diketahui bahwa di AN 9.35/Gavi sutta, dinyatakan bahwa 8 pengetahuan langsung di atas (di AN 9.35 hanya tercatat 6 abhinna/pengetahuan langsung), DAPAT MULAI di tiap tingkatan manapun:

    Ketika,.. seorang.. masuk dan keluar dari tiap-tiap pencapaian tersebut (jhana ke-1 s.d jhana ke-9), pikirannya menjadi lunak dan lentur [.. taṁ tad eva samāpattiṁ samāpajjatipi vuṭṭhāti pi]. Dengan pikiran lentur dan mudah dibentuk, tak terbatas pengembangan dari pemusatan pikiran [Tassa muduṁ cittaṁ hoti kammaññaṁ, mudunā citte kammaññena, appamāṇo samādhi hoti subhāvito]. Dengan tak terbatas pengembangan dari pemusatan pikiran, apa pun pengetahuan tinggi yang seharusnya dengan mengarahkan pikirannya ia mendapatkannya [So appamāṇena samādhinā subhāvitena, yassa yassa abhiññā,sacchikaraṇīyassa, dhammassa cittaṁ abhininnāmeti, abhiññā,sacchikiriyāya]. Ia mengalami sendiri aspek di dalamnya, bila kondisinya tepat [Tatra tatr’eva sakkhi,bhabbataṁ pāpuṇāti sati sati āyatane]

Mengapa upekkhā dikaitkan dengan keadaan Jhana ke-4?

Disamping telah lenyapnya: dukkhindriyaṃ + domanas­sindriyaṃ + sukhindriyaṃ sebelumnya, maka sekarang lenyap pula somanas­sindriyaṃ (rasa bahagia mental/cetasikaṃ sukhaṃ + rasa nyaman mental/cetasikaṃ sātaṃ, atau perasaan menyenangkan nyaman dari kontak pikiran/mano­samphas­sa­jaṃ sukhaṃ sātaṃ vedayitaṃ – SN 48.38, 40) atau seluruh perasaan tubuh dan mental yang menyenangkan dan menyakitkan yang berasal dari kontak jasmani dan pikiran telah lenyap sepenuhnya, Ia berada pada perasaan bukan menyakitkan dan bukan menyenangkan, Pikirannya seimbang/lentur tidak condong, ingatannya murni dalam keterpusatan pikiran [MN 111], sehingga rāgo (keterikatan. Di MN 62 digunakan kata paṭigha/menolak karena benci/jijik) tidak menguasai pikirannya (rāgo cittaṃ pariyādāya ṭhassati, netaṃ ṭhānaṃ vijjati) [AN 6.13]. Pikiran dalam ingatan murni seimbang ingin dibagikannya ke seluruh dunia

Ke-5,
Landasan ruang tak berbatas (ākāsaañancaāyatana: ākāsa = ruang; ananca = tak berbatas, tanpa akhir; āyatana = landasan),

Keseimbangan terkait pesepsi rupa (objek) adalah keseimbangan kasar, sehingga: Harus secara total melepas: Perhatian persepsi terkait Jasmani/materi (rūpasahagatā saññāmanasikārā). Karena pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.5]

Deskripsi landasan ini (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di landasan ini):

    Setelah sepenuhnya melampaui persepsi bentuk/materi penolakan pada/reaksi persepsi mereda ragam persepsi tidak diperhatikan [Merasakan:] ‘ākāso (ruang/melihat) ananto (tak berbatas)’, landasan ruang/penglihatan tak berbatas dicapai [MN 111, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva ākāsānañcāyatana. Deva ākāsānañcāyatana dengan batasan kehidupan 20.000 kappa (ākāsānañcāyatanūpagānaṃ devānaṃ sahabyataṃ upapajjati. Ākāsānañcāyatanūpagānaṃ, bhikkhave, devānaṃ vīsati kappasahassāni āyuppamāṇaṃ) [AN 3.116][alam ↑]

Kondisi/faktor di landasan ini adalah: Perasaan adukkhamasukhā, Persepsi landasan ruang tak berbatas dan keterpusatan pikiran.

    note:
    Di Brahmajala sutta: Para Brahma itu melayang di ruang antar batasan [antalikkhe], jadi ruang tanpa batas = bebas dari batas-batasan materi/fisikal

Pencapaian arupa di 4 Nikaya disebutkan sebagai pencapaian [samapatti: DN 3, MN 3, AN 1,4,5] atau keadaaan arupa [aruppa: MN 1, It 61, Kvu 325] atau alam dengan landasan citta [DN 2, MN 2, AN 4]

Ke-6,
Landasan Kesadaran tak berbatas (viññāṇaañancaāyatana)

Keseimbangan terkait ruang tak berbatas adalah keseimbangan kasar, sehingga: Harus secara total melepas: Perhatian persepsi terkait landasan ruang tak berbatas (ākāsānañcāyatanasahagatā saññāmanasikārā). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.6]

Deskripsi landasan ini (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di landasan ini):

    Setelah sepenuhnya melampaui landasan ruang/penglihatan tak berbatas, [merasakan:] ‘viññāṇa (Kesadaran) ananta (tak berbatas)’, landasan kesadaran tak berbatas tercapai (viññāṇaanañcaāyatana upasampajja viharati) [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva viññāṇañcāyatana. Deva viññāṇañcāyatana dengan batasan kehidupan 40.000 kappa (viññāṇañcāyatanūpagānaṃ devānaṃ sahabyataṃ upapajjati. Viññāṇañcāyatanūpagānaṃ, bhikkhave, devānaṃ cattārīsaṃ kappasahassāni āyuppamāṇaṃ) [AN 3.116][alam ↑]

Kondisi/faktor di landasan ini adalah: Perasaan adukkhamasukhā, Persepsi landasan kesadaran tak berbatas dan keterpusatan pikiran

Ke-7,
Landasan tak ada apapun (ākiñ­cañ­ñā­yatana. ākiñcañña = tak ada apapun)

Keseimbangan terkait kesadaran tak berbatas adalah keseimbangan kasar, sehingga: Harus secara total melepas: Perhatian persepsi terkait landasan kesadaran tak berbatas (viññāṇañcāyatanasahagatā saññāmanasikārā). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.7]

Deskripsi landasan ini (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di landasan ini):

    Setelah sepenuhnya melampaui landasan kesadaran tak berbatas, [merasakan:] ‘natthi (tak ada) kinci (apapun)’, landasan tak ada apapun tercapai (ākiñcaññāyatanaṃ upasampajja viharati) [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva ākiñcaññāyatana. Deva ākiñcaññāyatana dengan batasan kehidupan 60.000 kappa (ākiñcaññāyatanūpagānaṃ devānaṃ sahabyataṃ upapajjati. Ākiñcaññāyatanūpagānaṃ, bhikkhave, devānaṃ saṭṭhi kappasahassāni āyuppamāṇaṃ) [AN 3.116][alam ↑]

Kondisi/faktor di landasan ini adalah: Perasaan adukkhamasukhā, persepsi landasan tak ada apapun dan keterpusatan pikiran.

Ke-8,
Landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatana. sañña = Persepsi, sumber, gagasan, ide, cerapan, ingatan)

Keseimbangan terkait persepsi tak ada apapun adalah keseimbangan kasar, sehingga: Harus secara total melepas: Perhatian persepsi terkait landasan tak ada apapun (ākiñcaññāyatanasahagatā saññāmanasikārā). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.8]

Deskripsi landasan ini (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di landasan ini):

  • Setelah sepenuhnya melampaui landasan tak ada apapun, [Mengetahui:] landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi tercapai (nevasaññānaasaññaayatanaṃ upasampajja viharati) [MN 111, AN 9.31, 32, 33, 35, 36], atau
  • Tidak perhatian pada (amanasikaritvā) persepsi: landasan kesadaran tidak berbatas dan landasan tak ada apapun (viññāṇañcāyatanasaññaṃ ākiñcaññāyatanasaññaṃ), Perhatian hanya terkait pada (paṭicca manasi karoti ekattaṃ) landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatanasañña). Di persepsi landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (tassa nevasaññānāsaññāyatanasaññāya) pikirannya (cittaṃ) mendapatkan kepuasan (pakkhandati), kejelasan (pasīdati), kokoh (santiṭṭhati), dan menetap (adhimuccati) [MN 121]

Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (wafat). Ia terlahir di antara Deva nevasaññānāsaññāyatana (nevasaññānāsaññāyatanūpagānaṃ devānaṃ sahavyataṃ upapajjati) [AN 4.171]

Di Sutta (di 5 Nikaya), TIDAK ditemukan berapa panjang umur kehidupan deva alam ini, jika melihat peningkatan dari urutan sebelumnya, maka umur kehidupan deva ini tampaknya atau bisa jadi MELEBIHI dari umur deva ākiñcaññāyatana. Namun demikian, di kitab Vibhanga 18, umur kehidupan deva alam ini disebutkan sepanjang 84.000 Kappa (Caturāsīti kappasahassānīti ) dan informasi tersebut, dikutip ulang di kitab non kanon pali, Patisandhicatukka, Abhidhammattha-sangaha. Walau kelihatannya, ini mengikuti pola, namun jelas bukan sabda sang buddha (Atau para arahat lain yang hidup di jaman sang Buddha di konsili ke-1 atau para Arahat yang merupakan murid para Arahat jaman sang Buddha, yang ikut di konsili ke-2), maka informasi ini bisa saja kita abaikan.[alam ↑]

Kondisi/faktor di landasan ini adalah: perasaan adukkhamasukhā, persepsi landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi dan pikiran terpusat.

***

Sebelum melanjutkan ke pencapaian ke-9,
Perbedaan para siswa agung (ariyasāvakassa, murid Sang Buddha), yang berlatih (sutavato) [mahluk suci: deva/manusia, mulai dari sotāpanna] vs Puthujjana yang tidak terlatih [bukan mahluk suci: deva dan manusia]: Para puthujjana, setelah habis umur di alam itu, Ia dapat telahir kembali ke alam: Neraka, binatang atau Peta (Mahluk halus). Sedangkan para ariya savaka, setelah habis umur di alam itu, Ia mencapai Nibbana akhir [Bhagavato pana sāvako tattha yāvatāyukaṃ ṭhatvā yāvatakaṃ tesaṃ devānaṃ āyuppamāṇaṃ taṃ sabbaṃ khepetvā tasmiṃ yeva bhave parinibbāyati] [AN 4.123, AN 4.125, AN 3.116]

siswa sang Buddha melihat,
apapun (yaitu dhamma/kondisi/fenomena: di AN 9.36: Pañcakkhandhā dan jhana 1-8, Di AN 11.18, 8: Indriya dan objeknya, catumahabhuta, jhana ke-5-8, persepsi/pikiran tentang dunia ini dan dunia lain, apapun yang dilihat, didengar, diindriya, dikenali, dijangkau, dicari, dan diperiksa pikiran) sebagai: tidak kekal, tidak memuaskan, penyakit, tumor, duri, bencana, malapetaka, asing, kehancuran, kehampaan, bukan diri. [AN 124, 126, MN 64, AN 9.36]:

  • dari kondisi-kondisi itu, pikirannya dibebaskan, Ia arah pikiran pada unsur amatāya (tanpa kematian: fenomena dilihat sebagai: anicca, dukkha…anatta atau terbelenggu taṇhā – SN 48.50): ‘ini damai, ini luhur, yaitu, tenangnya segala bentukan, lepasnya segala kehausan, hancurnya ketagihan, tidak menginginkannya, berhenti, padam’, Jika ia [MN 64, AN 9.36]:
    • kokoh di dalam itu, maka ia mencapai hancurnya noda-noda.
    • tidak mencapai hancurnya noda-noda karena keinginan akan Dhamma itu, kegembiraan dalam Dhamma itu, maka dengan hancurnya 5 belenggu yang lebih rendah, muncul kembali secara spontan dan di sana mencapai Nibbāna akhir tanpa pernah kembali ke alam ini. [MN 64, AN 9.36]
  • Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, Ia muncul kembali di alam suddhavasa. [AN 124, AN 4.126]

——
Note:

  • AN 123, 125: Mereka yang telah menghancurkan 5 belenggu yang lebih rendah dan berada di alam jhana ke-1 s.d ke-4, namun belum mencapai Nibbana saat wafat, Ia akan terlahir di alam Suddhavasa.
  • AN 3.117: Mereka yang telah menghancurkan 5 belenggu yang lebih rendah berada di alam landasan: ruang tak berbatas, kesadaran tak berbatas dan tak ada apapun, namun belum mencapai Nibbana saat wafat, Ia akan terlahir di alam Suddhavasa.
  • AN 4.171: Tujuan kematian mereka yang belum menghancurkan 5 belenggu lebih rendah vs yang telah menghancurkan 5 belenggu lebih rendah namun saat ada di landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi:
      Mahluk tertentu (ekaccassa puggala) yang tidak menghancurkan (appahīṇā) belenggu (saññojanāni) lebih rendah (orambhāgiyāni), Ia, sekarang dan saat ini (diṭṭheva dhamme) berada di landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi. Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva nevasaññānāsaññāyatana. Ia dari sini [So tato] setelah wafat [cuto] menjadi kembali [āgāmī hoti] kembali ke alam ini [āgantā itthattaṃ: selain alam suddhavasa].

      Mahluk tertentu yang menghancurkan (pahīṇā) belenggu lebih rendah yang mengikatnya di alam sensual, Ia, sekarang dan saat ini berada di landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi. Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva nevasaññānāsaññāyatana. Ketika wafat ia TIDAK kembali lagi (ānagāmī) tidak kembali ke alam ini [anāgantā itthattaṃ: Terlahir di alam Suddhavasa] [AN 4.171]

    Di sutta MN 106/Āneñjasappāya Sutta[↓] latihan dilakukan oleh seorang bhikkhu/manusia, tidak tertulis apakah latihan itu dapat juga dilakukan deva di alam bukan persepsi bukan tanpa persepsi

    Namun, para ariya yang menjadi deva bukan persepsi bukan tanpa persepsi, jika sudah menghancurkan 5 belenggu, saat kematian, Ia terlahir kembali di alam Suddhavasa, jika telah menghancurkan 3 belenggu namun kurang dari 5 belenggu, Ia terlahir kembali ke alam deva lainnya namun tidak di alam manusia (dan di bawahnya), sampai Ia dapat menghancurkan seluruh belenggu dan mencapai nibbana.

***

Ke-9,
Pikiran terpusat tanpa bentukan/ciptaan pikiran (animitta cetosamādhi. Nimitta = ciptaan/buatan; hiasan; membangun; menghasilkan; penetapan ukuran; berencana; gambaran)

Harus secara total melepas: kesadaran mengikuti bentukan (nimittânusāri viññāṇaṁ). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.9, MN 43, SN 41.7].

Deskripsi samädhi ini:

    Segala gambaran tidak diperhatikan (sabbanimittānaṃ amanasikārā); pikiran dengan pikiran terpusat tanpa gambaran dicapai keberadaannya (animittaṃ cetosamādhiṃ upasampajja viharati) [SN 40.9]

Atau:

    Tidak perhatian pada (amanasikaritvā):

    • Persepsi landasan tak ada apapun (ākiñcaññāyatanasañña),
    • Persepsi landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatanasañña)

    Perhatian hanya terkait pada pikiran yang terpusat tanpa gambaran (animittaṃ cetosamādhiṃ paṭicca manasi karoti ekattaṃ). Pada pikiran yang terpusat tanpa gambaran (Tassa animitte cetosamādhimhi) pikirannya (cittaṃ) mendapatkan kepuasan (pakkhandati) kejelasan (pasīdati), kokoh (santiṭṭhati), dan menetap (adhimuccati) [MN 121]

Ada 2 kondisi bagi pencapaian kebebasan tanpa gambaran pikiran: (1) tanpa-perhatian pada segala bentukan/ciptaan dan (2) perhatian pada unsur tanpa bentukan/ciptaan.

Ada 3 kondisi bagi pencapaian kebebasan pikiran tanpa gambaran yang terus-menerus: (1) tanpa-perhatian pada segala gambaran dan (2) perhatian pada unsur tanpa gambaran dan dan tekad sebelumnya (pubbe ca abhisaṅkhāro) [MN 43]

Di SN 43.4: pikiran terpusat pada kekosongan (Suññato samādhi), Pikiran terpusat pada tanpa gambaran/bentukan/ciptaan pikiran (animitto samādhi) dan Pikiran terpusat pada tanpa tujuan/keinginan (appaṇihito samādhi)

Karena lenyapnya Indriya upekkha terjadi setelah melampaui landasan tak ada apapun dan bukan persepsi dan bukan tanpa persepsi, maka lenyap juga di animitta samadhi [SN 48.40]

Deskripsi samädhi saññāvedayitanirodhaṃ:

    Setelah sepenuhnya melampaui landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatanaṃ samatikkamma) [mengetahui:] Keberadaan lenyapnya persepsi dan perasaan dicapai (saññāvedayitanirodhaṃ upasampajja viharati) [MN 111]

Lenyap tanpa sisanya upekkhindriyaṃ/Indriya keseimbangan atau perasaan tubuh dan mental bukan nyaman bukan tidak nyaman/ perasaan bukan-menyakitkan bukan-menyenangkan/adukkhamasukhā sā vedanā: Perasaan tubuh dan mental yang bukan-nyaman bukan tidak-nyaman (kāyikaṃ vā cetasikaṃ vā nevasātaṃ nāsātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36-38] Di manakah indriya keseimbangan lenyap tanpa sisa? ..di pencapaian “lenyapnya persepsi dan perasaan” (saññāvedayitanirodhaṃ) [SN 48.39, 40]

Berikut dari MN.44 [dan juga SN 41.7]

    Visakha: Yang Mulia, ada berapakah bentukan kehendak (saṅkhārā) itu?”

    Dhammadinna: “Ada 3: bentukan jasmani [kāyasaṅkhāro], bentukan ucapan [vacīsaṅkhāro], dan bentukan pikiran [cittasaṅkhāro]..Nafas masuk dan keluar [Assāsa-passāsā] adalah bentukan jasmani; vitakkavicārā adalah bentukan ucapan; persepsi dan perasaan [saññā ca vedanā], bentukan pikiran”

    Visakha: “..mengapa: nafas-masuk dan nafas-keluar adalah bentukan jasmani? awal pikiran dan kelangsungan pikiran adalah bentukan ucapan? persepsi dan perasaan, bentukan pikiran?

    Dhammadinna: “nafas-masuk dan nafas-keluar adalah jasmani, kondisi-kondisi ini terikat dengan jasmani; itulah sebabnya mengapa nafas-masuk dan nafas-keluar adalah bentukan jasmani. Pertama-tama seseorang mulai berpikir dan mempertahankan pikiran, dan selanjutnya ia mengungkapkannya melalui ucapan; itulah sebabnya mengapa awal-pikiran dan kelangsungan pikiran adalah bentukan ucapan. Persepsi dan perasaan, yang menyertai pikiran, kondisi-kondisi ini terikat dengan pikiran; itulah persepsi dan perasaan, bentukan pikiran.” …

    Visakha: “..ketika..sedang mencapai lenyapnya persepsi dan perasaan [saññāvedayita-nirodha-samāpatti], kondisi manakah yang pertama lenyap dalam dirinya: bentukan jasmani, bentukan ucapan, atau bentukan pikiran?”

    Dhammadina: “.., pertama-tama bentukan ucapan lenyap [ini jhana ke-2], kemudian bentukan jasmani [ini jhana ke-4], kemudian bentukan pikiran [ini pencapaian ke-9].” …

    Visakha: “..ketika..keluar dari pencapaian lenyapnya persepsi dan perasaan, kondisi manakah yang pertama muncul dalam dirinya: bentukan jasmani, bentukan ucapan, atau bentukan pikiran?”

    Dhammadina: “.., pertama-tama bentukan pikiran muncul, kemudian bentukan jasmani, kemudian bentukan ucapan

    Visakha: “..ketika..keluar dari pencapaian lenyapnya persepsi dan perasaan, ada berapakah kontak yang menyentuhnya?”

    Dhammadina: “..3 jenis kontak menyentuhnya: kontak kehampaan/kekosongan [Suññato phasso], kontak tanpa gambaran, bentukan/ciptaan pikiran [animitto phasso], kontak tanpa: mengarahkan, berkeinginan, mengarahkan, menuju [appaṇihito phasso]”

      Note:
      Karena kontak memuncukan perasaan, maka perasaan adukkhamasukhā akan juga muncul di samadhi: sunnato, animitto dan appanihito

    Visakha: “..ketika..keluar (vuṭṭhita) dari pencapaian lenyapnya persepsi dan perasaan, pada apakah pikirannya: condong (ninna)?, bersandar (poṇa)?, mengarah (pabbhāra)?”

    Dhammadina: “.., pikirannya condong, bersandar, dan mengarah pada: pelepasan (viveka).”

Di pencapaian samädhi lenyapnya persepsi dan perasaan, kondisinya mirip orang mati:

    Teman, dalam hal seorang yang mati, yang telah menyelesaikan waktunya, bentukan jasmaninya [kaya sankhāra], bentukan ucapannya [vici sankhāra] dan bentukan pikirannya [citta sankhāra] telah memudar dan sirna, vitalitasnya [ayu] padam, panasnya [usma] berhamburan, dan indriyanya hancur seluruhnya.

    Dalam hal seorang bhikkhu yang memasuki lenyapnya persepsi dan perasaan, bentukan jasmaninya dan bentukan ucapannya telah memudar dan sirna, tetapi vitalitasnya tidak padam, panasnya tidak berhamburan, dan indriyanya menjadi sangat jernih.

    Ini adalah perbedaan antara seseorang yang mati, yang telah menyelesaikan waktunya, dan seorang yang memasuki lenyapnya persepsi dan perasaan [MN 43 dan SN 41.6] []

BEBERAPA VERIFIKASI ILMIAH MEDITASI:
Berikut beberapa KEGUNAAN MEDITASI YANG TELAH TERVALIDASI SECARA ILMIAH (mengutip tulisan, Emma M Seppala PhD):


Terbentuknya Tipitaka dan Perpecahan Buddhisme Menjadi Banyak Aliran


Bahasa dan pengertian manusia tidaklah terbentuk dengan sendirinya, ini membutuhkan pengajaran agar dapat membentuk suatu ingatan berbahasa dan pengertian lainnya. Beberapa percobaan telah dilakukan untuk membuktikan hal ini, dengan mengisolasi sejumlah bayi selama jangka waktu tertentu untuk diketahui kata pertama apa yang diucapkannya:

  1. Dalam catatan Sejarah Herodotus. Ia mencatat raja Mesir, Psamtik 1 (664 SM – 610 SM) mengasingkan 2 bayi selama 2 tahun untuk diketahui apa kata pertama yang diucapkannya
  2. Raja frederik II abad ke-13, melakukan percobaan yang sama untuk diketahui bahasa apa yang keluar dari mulut mereka apakah Ibrani, Yunani, Latin, Arab atau bahasa ibu yang melahirkan mereka, namun percobaannya gagal
  3. Di abad ke 14/15, James IV dari Skotland, mengasingkan 2 bayi yang diasuh oleh orang bisu
  4. Di Abad ke-15/16, Akbar, raja mughal melakukan percobaan, dengan asumsi bahwa kemampuan berbicara muncul dari pendengaran, jadi manusia yang dibesarkan tanpa pernah mendengar suara manusia akan tuli. Hasilnya, anak-anak itu tidak tuli, namun tidak satupun dari mereka yang dapat berbicara jelas [Lihat juga: ini dan ini]

Demikian pula, dengan proses terjadinya suatu ajaran, ini memerlukan peran aktif para pengajar, institusi (organisasi/negara) dan juga pengulangan yang dilakukan secara masif, sistimatis dan intensif. Pelestarian Buddhisme, dilakukan dengan menghafal. Tercatat, dalam inskripsi Bharbut dari abad 3-2 SM, beberapa penghafal super pria/wanita yang digelari: Bhanaka atau Dhammakathika (pengujar Dhamma) atau Petakin (pengujar keranjang) atau Suttantika (pengujar sutta) atau Pancanekayika (pengujar 5 nikaya) [misal: “A History of Indian Literature: Buddhist literature and Jaina literature“, Moriz Winternitz, hal.18]. Bahkan sampai sekarang, kegiatan menghafal ini masih dilakukan, Guiness Book of record, tahun 1985, mencatat nama Sayadaw Mingun, seorang Bikkhu dari desa Mingun, Myanmar. Bertempat di Rangoon, Burma pada bulan May 1954, beliau berhasil mengalunkan 16,000 halaman kanon teks Buddhist dan ketika dibandingkan dengan teks tertulis Tipitaka, hasilnya adalah tanpa salah satu huruf-pun. Ia dianugerahi gelar Tipitakadhara Dhammabhandagarika (Pembaca TiPitaka dan penjaga Dhamma). Tercatat 11 Bikkhu saat itu yang berkemampuan sepertinya.

Untuk tahu lebih lanjut tentang pendiri dan ajaran ini, silakan buka “Riwayat Buddha Gotama” dan juga “Ringkasan Ajaran Buddha


Bagaimana Tipitaka terbentuk?

Konsili ke-1,
Di menjelang Parinibbananya, yaitu di Rajagaha, Sang Buddha menyampaikan 7 faktor kemajuan bukan kemunduran (Aparihāniyā dhammā), yaitu selama para Bhikkhu:

  1. sering mengadakan pertemuan rutin,
  2. bertemu dalam damai, berpisah dalam damai, dan melakukan tugas-tugas mereka dalam damai,
  3. tidak menetapkan apa yang belum ditetapkan sebelumnya, dan tidak meniadakan apa yang telah ditetapkan, melainkan meneruskan apa yang telah ditetapkan,
  4. menghormati para senior yang lebih dulu ditahbiskan, ayah dan pemimpin dari Sangha/kumpulan Bhikkhu,
  5. tidak menjadi mangsa dari keinginan yang muncul dalam diri mereka dan mengarah menuju kelahiran kembali,
  6. setia menjalani kehidupan dalam kesunyian hutan dan
  7. menjaga perhatian mereka masing-masing [DN 16/MahaParinibbana sutta]

Selama hal di atas dilakukan maka yang terjadi adalah kemajuan dan bukan kemunduran. Kemudian, ketika di Bhojanegara, beliau menyampaikan cara menyikapi klaim-klaim bahwa itu adalah ajaran sang Buddha atau bukan, yaitu dengan membandingkan klaim-klaim itu dengan sutta-sutta dan vinaya:

  1. Buddha. ..“Di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar hal ini; di hadapan Beliau aku mempelajari hal ini: inilah Dhamma/Sutta, inilah Vinaya/Patimokha/disiplin, inilah Ajaran Sang Guru (ayaṃ dhammo, ayaṃ vinayo, idaṃ satthusāsana)” maka, kalian tidak boleh menerima atau menolak kata-katanya. Kemudian tanpa menerima atau menolak, kata-kata dan frasenya harus dengan baik dipelajari (padabyañjanāni sādhukaṁ uggahetvā), dibandingkan dengan sutta-sutta dan dilihat di vinaya (sutte otāretabbāni, vinaye sandassetabbāni), Jika telah dibandingkan dengan sutta-sutta dan telah dilihat di vinaya, tidak selaras dengan sutta-sutta dan tidak ada di vinaya (na ceva sutte otaranti na vinaye sandissanti), maka “Pasti ini bukan kata-kata Sang Buddha, hal ini telah keliru dipahami bhikkhu ini,” dan kata-katanya harus ditolak. Jika telah dibandingkan dengan sutta-sutta dan telah dilihat di vinaya, selaras dengan sutta-sutta dan ada di vinaya, maka “Pasti ini adalah kata-kata Sang Buddha, hal ini telah dengan benar dipahami bhikkhu ini.” Ini adalah kriteria ke-1.
  2. Sangha. ..“dihadapan sangha itu, Aku mendengar, mempelajari hal ini: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” maka, kalian tidak boleh menerima atau menolak kata-katanya … (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke-2.’
  3. Para Bhikkhu Senior. ..“di hadapan beberapa bhikkhu senior terpelajar yang menguasai ajaran, ahli dalam Dhamma, vinaya dan kerangka ajaran itu, Aku mendengar, mempelajari hal ini: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” … (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke-3.’
  4. Seorang Bhikkhu Senior. ..“ di hadapan seorang bhikkhu senior terpelajar yang menguasai ajaran, ahli dalam Dhamma, vinaya dan kerangka ajaran, Aku mendengar, mempelajari hal ini: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” … (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke-4′ [DN 16/MahaParinibbana sutta dan AN 4.180/Maha Padesa Sutta]

[Di 1 minggu setelah Sang Buddha Parinibbana]: Yang Mulia Kassapa Yang Agung sedang melakukan perjalanan dari Pāvā menuju Kusinārā bersama sejumlah besar bhikkhu, sekitar 500 orang. Setelah keluar dari jalan utama, YM Kassapa Yang Agung duduk di bawah pohon. Saat itu seorang Ājīvaka (petapa telanjang) yang tengah memegang sekuntum bunga pohon-koral berjalan dari Kusinārā menuju Pava. YM Kassapa melihatnya dari jauh dan ketika telah mendekat, beliau berkata kepadanya: ‘Sahabat, apakah engkau mengenal guru kami?’ ‘Ya, sahabat, aku mengenal Beliau. Hari ini adalah seminggu setelah Petapa Gotama Parinibbana. Oleh karenanya, Aku menggenggam bunga pohon-koral ini.’ Para bhikkhu yang belum terbebas nafsu, beberapa menjulurkan lengan, meratapi, menjatuhkan diri berguling maju mundur, berkata: “Terlalu cepat Sang Bhagavā, sang Sugato, mencapai nibbāna, terlalu cepat Sang Mata Dunia menghilang” Tetapi para bhikkhu yang telah terbebas nafsu, dengan penuh perhatian, berkewaspadaan, menahannya, berkata: (aniccā saṅkhārā, taṃ kutettha labbhā’ti) ‘Segala yang terbentuk adalah tidak kekal, bagaimana mungkin tidak’.

Duduk dalam kumpulan bhikkhu itu, Subhadda, seorang yang menjadi bhikkhu di usia tua, berkata kepada para bhikkhu yang menangis: ‘Cukup, teman-teman, jangan menangis dan meratap. (sumuttā mayaṁ tena Mahāsamaṇena) Kita telah terbebas dari Sang Petapa Agung (upaddutā ca homa) sebagai korban kecamannya: “Ini baik untukmu, ini tidak baik bagimu lakukanlah ini!” (Idāni pana mayaṁ yaṁ icchissāma taṁ karissāma) Sekarang kita dapat lakukan apa yang kita inginkan, (yaṁ na icchissāma taṁ na karissāmā’ti) dan tidak lagi lakukan apa yang tidak kita inginkan’ [DN 16/MahaParinibbana Sutta, Vinaya: Cullavaga XI]

[Mengetahui bahaya tentang ini, sesampainya di tempat] YM Kassapa kemudian mengajak para Bhikkhu untuk mengumpulkan Dhamma dan Vinaya Sang Buddha dan berikut ini adalah narasi dari Cullavagga XI:

    Marilah, para Yang Mulia, kita mengulangi dhamma dan disiplin, sebelum APA YANG BUKAN dhamma dan APA YANG BUKAN disiplin menjadi bersinar dan apa yang merupakan Dhamma dan disiplin menjadi tersembunyi, sebelum mereka yang mangatakan APA YANG BUKAN dhamma dan APA YANG BUKAN disiplin menjadi kuat dan mereka yang mengatakan dhamma dan disiplin menjadi lemah

    Kemudian Para Bhikkhu sepuh meminta YM Kassapa untuk memilih para Bhikkhu dan YM Kassapa memilih 500 Arahat namun kurang 1. Para Bhikkhu berkata pada YM Kassapa bahwa YM Ānanda walaupun masih dalam tahap berlatih, tidak mungkin mengikuti jalan salah melalui nafsu, kemarahan, kebodohan, ketakutan; dan Iapun telah menguasai banyak dhamma dan disiplin dari sang Buddha oleh karenanya mereka meminta YM Kassapa untuk memilih YM Ānanda juga. YM Kassapa kemudian memilih YM Ānanda.

    Kemudian Para sesepuh berpikir untuk memilih Rājagaha sebagai tempat bervassa/melewati musim hujan, juga sebagai tempat untuk membacakan dhamma dan disiplin dan bahwa TIDAK ADA BHIKKHU LAIN yang akan bervassa di Rājagaha selama musim hujan ini.

    YM Kassapa kemudian menyampaikan kepada Sangha agar menyetujui penunjukan 500 bhikkhu ini untuk membacakan dhamma dan disiplin selagi menjalani masa musim hujan di Rājagaha, dan agar selama musim vassa itu TIDAK ADA BHIKKHU LAINNYA yang bervassa di Rājagaha. Saṅgha menyetujui dengan berdiam diri.

    Kemudian di awal masa vassa (paṭhama māsa), di Rājagaha, para Bhikkhu sepuh memperbaiki bagian-bagian yang rusak dan dipertengahan masa vassa (majjhima māsa) mereka membacakan Dhamma dan Disiplin.

    Sehari sebelum pertemuan, YM Ānanda berpikir: “Besok adalah hari pertemuan, tidak selayaknya bagiku, seorang yang masih berlatih, pergi ke pertemuan itu,”. Setelah melewatkan banyak waktu di malam itu dalam perhatian pada jasmani, ketika malam hampir berlalu, ia berpikir akan berbaring, ketika Ia sedang merebahkan tubuh, yaitu ketika kepala BELUM menyentuh alas tidur dan ketika kaki TELAH terangkat dari tanah. Di interval waktu itulah, pikirannya terbebaskan dari kekotoran mental (anupādāya āsavehi cittaṃ vimucci) dan keesokan harinya, YM Ānanda, pergi kepertemuan itu sebagai Arahat.

    Kemudian YM Kassapa memberitahu Sangha bahwa beliau akan menanyai YM Upāli tentang disiplin. YM Upāli memberitahukan Saṅgha bahwa Beliau akan menjawab pertanyaan tentang disiplin yang diajukan YM Kassapa yaitu dimulai dengan pelanggaran pertama parajika, latar belakangnya, pelakunya, apa yang ditetapkan, apa yang ditetapkan lebih lanjut, apa yang merupakan pelanggaran dan apa yang bukan merupakan pelanggaran.. parajika ke-2.. Parajika ke-3.. Parajika ke-4..

    Dengan cara yang sama, YM Kassapa terus menerus menanyai YM Upali tentang ke dua disiplin dan YM Upāli pun menjawabnya

    Kemudian YM Kassapa memberitahu Sangha bahwa beliau akan menanyai YM Ānanda tentang dhamma. YM Ānanda memberitahukan Saṅgha bahwa Beliau akan menjawab pertanyaan dhamma yang diajukan YM Kassapa yaitu dimulai dengan Brahmajāla, tempat pembabarannya, kepada siapa dan latar belakangnya..Sāmaññaphala..

    Dengan cara yang sama, YM Kassapa terus menerus menanyai YM Ananda tentang 5 Nikāya (pañcapi nikāye) dan YM Ānanda pun menjawabnya

    Kemudian, di hadapan para bhikkhu sepuh, Ānanda menyampaikan pesan Sang Buddha yaitu setelah beliau wafat, jika Saṅgha menghendaki, peraturan-peraturan latihan yang kecil dan minor boleh dihapuskan. Para bhikkhu sepuh bertanya apakah YM Ananda juga menanyakan pada Sang Buddha mengenai peraturan-peraturan latihan yang kecil dan minor mana yang dimaksudkan? YM Ananda menjawab tidak dan bertanya kembali kepada Sangha, mengenai yang mana yang dimaksudkan sebagai peraturan-peraturan latihan yang kecil dan minor itu? Menanggapi ini, munculah ragam pendapat di antara para sepuh:

    • Beberapa sesepuh berkata: Kecuali 4 pārājikā (telah kalah karena melanggar kehidupan kesucian), maka selebihnya adalah peraturan-peraturan latihan yang kecil dan minor
    • Beberapa sesepuh berkata: Kecuali 4 pārājikā + 13 saṃghādisesa (pelanggaran yang keputusannya memerlukan sidang resmi Saṅgha), maka selebihnya adalah peraturan-peraturan latihan yang kecil..
    • Beberapa sesepuh berkata: Kecuali 4 pārājikā + 13 saṃghādisesa + 2 aniyata (memerlukan pengakuan bhikkhu/ni apakah Ia melanggar/tidak berduaan dengan lawan jenis ditempat sunyi/tertutup), maka selebihnya adalah..
    • Beberapa sesepuh berkata: Kecuali 4 pārājikā + 13 saṃghādisesa + 2 aniyata + 30 nissaggiya pācittiya (pelanggaran perolehan yang memerlukan pengakuan dan pelepasan benda yang diterimanya),…
    • Beberapa sesepuh berkata: Kecuali 4 pārājikā + 13 saṃghādisesa + 2 aniyata + 30 nissaggiya pācittiya + 92 pācittiya (pelanggaran moralitas yang memerlukan pengakuan),..
    • Beberapa sesepuh berkata: Kecuali 4 pārājikā + 13 saṃghādisesa + 2 aniyata + 30 nissaggiya pācittiya + 92 pācittiya + 4 pāṭidesanīya (pelanggaran tentang sikap yang harus diketahui dan diakui kesalahannya), selebihnya adalah peraturan-peraturan latihan yang kecil dan minor

    Kemudian YM Kassapa memberitahukan Saṅgha bahwa terdapat peraturan-peraturan latihan yang berpengaruh pada para perumah tangga dan juga pada petapa yang diketahui oleh perumah tangga: ‘Ini pasti tidak diperbolehkan bagi para petapa, ini pasti diperbolehkan.’ Jika hendak menghapuskan maka akan ada di antara mereka yang berkata: ‘Sewaktu Sang Guru masih berada bersama mereka, mereka berlatih dalam peraturan-peraturan itu, namun ketika Sang Guru telah wafat, mereka tidak lagi berlatih dalam peraturan-peraturan itu”

    Untuk itu Saṅgha tidak boleh menetapkan apa yang belum ditetapkan, juga tidak menghapuskan apa yang telah ditetapkan. Sangha menyetujui dengan berdiam diri. [Cullavagga XI]

    Note:
    Kejadian adanya konsili ke-1, juga ada di teks-teks tradisi Utara, misal: Mahavastu dan Dulva vinaya tibet, aliran Sarvastivada, catatan Fa-hian dan Fiuen Thsang, namun untuk jumlah arahatnya berbeda, Fiuen Thsang: 1000 [“Mahavamsa, Geiger, Introduction, hal. liv]. Tempat konsili di Gua Sattapani, Rajagraha tidak ada Cullavagga XI, namun di Mahavamsa 3.19 dan Dipavamsa 4.14. Lama waktu konsili 7 bulan tidak ada di Cullavagga namun di Mhv 3.37 dan Dipv 5.5

Setelah selesai konsili ke-1, kitab Buddhisme saat itu BUKANLAH Tipitaka/Tripitaka (3 keranjang) melainkan DvePitaka (2 keranjang): Dhamma/sutta-sutta [sebanyak 5 nikaya/agama. Arti Nikaya = Agama = Kumpulan] dan vinaya, sedangkan kitab Abhidhamma [yang sebanyak 7 kitab] BELUMLAH ADA

Kapan susunan Tipitaka mencapai bentuk seperti sekarang?
Ketika Mahakassapa menanyai Upali tentang kedua vinaya adalah tentang Bhikkhu dan Bhikkhuni. Vinaya Pitaka terbagi tiga:

  1. Suttavibhanga (Maha/Bhikkhuvibhanga dan Bhikkhunivibhanga),
  2. Khandaka (Maha dan Culla Vagga) dan
  3. Parivara.

Suttavibhanga adalah pātimokkha (yang harus dilakukan, aturan) dan terdapat 2 pātimokkha, yaitu ovada (nasihat) dan āṇā (intruksi, perintah). Jumlah āṇā pātimokkha: “Sādhikamidaṃ (lebih dari)..diyaḍ­ḍha­sikkhā­pada­sataṃ (150 aturan latihan)” yang dibacakan per 2 minggu [AN 3.384, 386, 387, 388. Milanda 5.2.1 dan 6.2.8], jumlah tepat untuk Patimokha/Vinaya Bhikkhu 227 aturan dan Bhikkhuni 311 aturan:

(1) Parajika (Kalah, bisa sukarela diakui tanpa kehadiran sangha atau terpaksa melalui kehadiran sangha, hasilnya lepas jubah/dikeluarkan, tidak dapat menjadi bhikkhu seumur hidupnya. Ini disebut pelanggaran yang tidak bisa diperbaiki. Bhikkhu = 4, Bhikkhuni = 8),
(2) Saṃghādisesa (Pertemuan Formal: Keputusan yang memerlukan kehadiran sangha, hasilnya bisa lepas jubah/dikeluarkan ataupun tidak. Bhikkhu = 13, Bhikkhuni = 17. Disamping itu, pertemuan formal dilakukan juga untuk menentukan Thullaccaya/Pelanggaran yang detail itemnya hampir seperti parajika dan Sanghadisesa namun hasilnya tidak persis sama/tidak sempurna terjadi atau jika sempurna menjadi sebuah pelanggaran. Detail jenis Thullaccaya TIDAK ADA satupun di 227/311 aturan, oleh karenanya membutuhkan kehadiran Sangha, sample: parajika: membunuh dan mati, thullaccaya: tidak mati. Sanghadisesa: melakukan martubasi dan ejakulasi, Thullaccaya: martubasi namun tidak ejakulasi. Juga item selanjutnya di bawah ini juga terkadang memerlukan pertemuan formal, yang lebih ringan berupa dukkaṭa/tindakan salah dan dubbhāsita/ucapan salah.
(3) Aniyata (Belum pasti pelanggaran, butuh pengakuan yang bersangkutan: Bhikkhu = 2),
(4) Nissaggiya Pācittiya (Pācittiya/Pelanggaran yang membutuhkan penebusan dan melepas barang/nissaggiya. Bhikkhu/Bhikkhuni = 30),
(5) Pācittiya (Pelanggaran yang membutuhkan penebusan. Bhikkhu = 92, Bhikkhuni = 166, yaitu 96+70 dari bhikkhu),
(6) Pāṭidesanīya (Yang harus disadari dan diakui kesalahannya. Bhikkhu = 4, Bhikkhuni = 8),
(7) Sekhiya (Latihan: Bhikkhu/Bhikkhuni = 75),
(8) Adikharanasamathā dhammā (Penyelesaian masalah: Bhikkhu/Bhikkhuni = 7)

Jenis pelanggaran terbagi sebagai Lahuka/ringan (Thullaccaya, Pācittiya + Nissaggiya, Pāṭidesanīya, Dukkaṭa dan Dubbhāsita. ) dan sebagai Garuka/berat (Parajika dan Saṃghādisesa). Pelanggaran yang dapat diperbaiki disebut Sappatikamma (yaitu SELAIN Parajika).

Komentar Vinaya Pada-bajaniya, dengan penjelasan kata perkata mirip dengan Niddesa (di sutta) sehingga berada pada jaman yang sama [“History of Indian Literature”, Norman K.R, vol.2, 1983, hal.19]. Norman K.R meyakini bahwa Vinaya dengan bentuk seperti sekarang (3 bagian) telah ada sebelum konsili ke-2 [Ibid, hal. 24]. Parivara Vinaya menyampaikan jalur bhikkhu yang bertanggungjawab menurunkan sutta dan vinaya dari konsili ke-1 hingga di Tambapaṇṇi, Srilanka. Mahinda tiba di Srilanka (32 tahun, 12 tahun sejak ditahbiskan/upasampada: 20 tahun/DipV.5.82 + 12.5 tahun/Mhv 13.1-5) dan tinggal 48 tahun hingga Parinibbana (wafat 80 tahun, 60 tahun sejak ditahbiskan: 40 tahun Raja Devanampiyatissa/Dipv 17.92, Mhv 20.28 + 8 tahun Raja Uttiya/Dipv 17.92-85,Mhv 20.32). Dipavamsa mencatat bahwa dari sebelum era raja Srilanka Vattagamani, Srilanka (abad ke-1 SM), para Bhikkhu secara oral menurunkan 3 teks pitaka dan Aṭṭhakathā [Dipv 13.20].

Konsili ke-1 menyebutkan jelas bahwa dhamma/sutta terhimpun dalam 5 Nikaya. Isi Dhamma adalah: khotbah-khotbah/sutta, campuran prosa dan syair/geyya, penjelasan-penjelasan/veyyākaraṇaṃ, syair-syair/gātha, ucapan-ucapan inspiratif/udāna, kutipan-kutipan/ itivutta, kisah-kisah kelahiran/jātaka, kisah-kisah menakjubkan/abbhutadhamma, dan serial pertanyaan dan jawaban/vedalla (misal: MN 122, AN 4.6, 5.155, 6.51). Para Thera di konsili ini menyusunnya menurut Vagga/Digha/Panjang, Paññāsaka/Majjhima/menengah, Saṁyutta/berkaitan, dan Nipāta/Aṅguttara/bagian lanjutan [Dipv 4.15-15. MiliandaPanha menyebutnya Ekuttara-Nikaya]. YM Nārada ketika bersama YM Ananda, YM Musīla, YM Saviṭṭha menyampaikan dirinya belum Arahat [SN 6.68] dan telah Arahat di jaman raja Munda [AN 5.50, wafat 48 tahun pasca Buddha Parinibbana], ini menunjukan bahwa 5 nikaya seperti yang ada saat ini, mencapai bentuk final sebelum konsili ke-2 jaman Kalasoka (100 setelah wafatnya Buddha).

Tentang Khuddaka Nikaya,
Buddhaghosa (Abad ke-5 M): Ucapan sang Buddha yang tidak ada di 4 nikaya, ada di Khuddaka Nikaya/KN [Samantapasadika 16.14-15], KN berisi 15 daftar/buku (Khuddakapatha, Dhammapada, Udana, Itivuttaka, Suttanipata, Vimanavatthu, Petavatthu, Theragatha, Therigatha, Jataka, Niddesa, Patisambhidamagga, Apadana, Buddhavamsa dan Cariyapitaka) [SP 18. 12-15], Para pengujar Digha/Digha Bhanaka tidak memasukan daftar 4 buku (Khuddakapatha, Apadana, Buddhavamsa dan Cariyapitaka) ke KN, para Thera konsili ke-1 mengujarkan 12 lainnya (Niddesa terbagi menjadi Maha dan Cula) sebagai bagian Khuddakagantha, sub dari Abhidhamma-pitaka. Para pengujar Majjhima memasukan daftar 3 buku (Cariyapitaka, Apadana dan Buddhavamsa) sebagai daftar dari para pengunjar Digha, masuk dalam Khuddakagantha, sub dari Suttanta-pitaka [Sumangalavilasini 15.22-29]. Tipitaka Burma untuk KN, di samping 15 tersebut, juga 4 buku lagi (Petakopadesa, Nettippakarana, Suttasangaha dan Milindapanha) [“History of Indian Literature” Pali Literature, Norman K.R, vol.2, 1983, hal.30-31]

Oliver Abeynayake: KN terbagi dalam dua strata:

  • (1) Sutta Nipata, (2) Itivuttaka, (3) Dhammapada, (4-5) Therigatha dan Theragatha, (6) Udana dan (7) Jataka -> pada strata awal
  • (8) Khuddakapatha, (9) Vimanavatthu, (10) Petavatthu, (11) Niddesa, (12) Patisambhida, (13) Apadana, (14) Buddhavamsa dan (15) Cariyapitaka -> pada strata belakangan [“A textual and Historical Analysis of the Khuddaka Nikaya”, Oliver Abeynayake Ph.D,1984, hal.113]

J.S Walters dan B.M Barua: Cariyapitaka, Buddhavamsa dan Apadana dibuat SETELAH jaman raja Asoka. A.K Warder: Patisambhidamagga dan Buddhavamsa dibuat paling awal pada akhir abad ke-2 SM dan Apadana dibuat paling awal pada abad ke-1 SM [“Journal pali text society”, Vol.20, hal.32]. K.R Norman: Di Buddhavamsa 24.6 disebutkan Buddha Konagamana menyampaikan kotbah 7 buah kitab dan kitab komentar Buddhavamsa menyatakan 7 kitab yang dimaksudkan adalah kitab Abhidhamma, jadi Buddhavamsa ada setelah konsili ke-3. [“A History of Indian Literature”, K.R Norman, 1983, hal.97]. APADANA/”komentar” Thera/Therigatha memuat 2 syair yang memuah kata kitab Kathavatthu Abhidhamma:

  • “Saṃkhittenapi desemi, vitthārena tathevahaṃ; Abhidhammanayaññūhaṃ, kathāvatthuvisuddhiyā; Sabbesaṃ viññāpetvāna, viharāmi anāsavo” (Belajar detail metoda Abhidhamma, menguasai kathavatthu, memahaminya semua, Aku bebas dari kebingungan) (Tha Apadana 7/Puṇ-ṇamantāṇiputtattheraapadāna) dan
  • “Kusalāhaṃ visuddhīsu, kathāvatthuvisāradā; Abhidhamma-nayaññū ca, vasippattāmhi sāsane” (Aku menguasai baik, kemahiran kathavatthu, metoda Abhidhamma, di sasana ini) (Thi Apadana 18/Khemātherīapadāna)

Paul William: Bechert menyatakan Buddhaapadāna baru ada di abad ke-1 atau awal abad ke-2 M [“Mahayana Buddhism: The Doctrinal Foundations“]. K.R Norman: Bechert menyatakan Buddhaapadāna TIDAK ADA di versi ke-1 kitab Apadana dan baru ada di abad ke-1 atau ke-2 M bersamaan dengan sukhavativyuha-nya Mahayana. [“Journal pali text society” vol.20, hal.31]. Petavathu dan Vimanavathu, dibuat SETELAH abad 3 SM, sample:

    Rājā piṅgalako nāma,
    Suraṭṭhānaṃ adhipati ahu;
    Moriyānaṃ upaṭṭhānaṃ gantvā,
    Suraṭṭhaṃ punarāgamā. [Petavathu 4.3.1]

T. W. Rhys (Thomas William Rhys) Davids “Dialogues of the Buddha” di bagian pembuka: “[..] tentang raja Pingalaka. DHAMMAPALA (abad ke-6 M)….raja ini..hidup 200 tahun setelah Sang Buddha. Oleh karenanya, syair ini, juga cerita PETA VATTHU dan VIMANA VATTHU, selambat-lambatnya ada setelah Pingalaka… Buku-buku ini jelas, dari isinya, komposisinya adalah lebih belakangan dari semua yang di 5 Nikaya. Dalam hal 30-31, Mr Rhys menyatakan bahwa raja itu ada di 300 SM.

Apakah Dhamma itu?

Cakupan artinya sangatlah luas, yaitu: ajaran, bentukan, tradisi, cara menjadi kaya, mengelola: perusahaan, hidup, anak, membuat sepatu, meja, atau bahkan juga bendanya: kotak kayu, game online, rokok dan lainnya. Jadi, apapun dapat disebut dhamma namun dalam konteks ini adalah ajaran.

Perumpamaan rakit sering digunakan untuk mengklaim bahwa jika ingin pembebasan, maka sabbe dhamma [SEMUA AJARAN] termasuk AJARAN dari sang BUDDHA [Dhamma] harus dibuang karena itu hanyalah konsep belaka atau dengan kata lain TINGGALKAN SEMUA KONSEP! Klaim ini akan menjadi benar JIKA Ia melekat/menggenggam [gahaṇatthāya] erat Dhamma itu dan BUKAN sebagai sarana untuk mencapai ke-padam-an

Juga, KALAMA SUTTA [AN 3.65/Kesamutti sutta] mengajarkan kita untuk berhati-hati TIDAK SERTA MERTA MENGIKUTI:

  1. Tradisi: lisan/penyampaian berulang [anussavena/itihitihaṃ = tradisi]
  2. Tradisi: turun-temurun [paramparāya]
  3. Tradisi: kabar angin/gossip/kata orang/desas-desus [itikirāya]
  4. Tradisi: kumpulan teks tertulis [piṭakasampadānena]
  5. Penalaran: berdasarkan kesangsian/logika [takkahetu]
  6. Penalaran: berdasarkan makna/tindak-tanduk [nayahetu]
  7. Penalaran: berdasarkan sifatnya atau lewat analogi [kbbi: persamaan/persesuaian 2 hal yang berlainan/ākāraparivitakkena]
  8. Penalaran: berdasarkan spekulasi pandangan yang disetujui/opini yang dianggap beralasan [diṭṭhinijjhānakkhantiyā]
  9. Pembabarnya: tampak meyakinkan [bhabbarūpatāya], atau
  10. Pembabarnya: Petapa yang tidak lain adalah gurunya [samaṇo no garūti]

Perlu disidik agar mengetahui sendiri [attanāva jāneyyātha], apakah dhammā tersebut:

  1. BERMANFAAT/TIDAK? [KUSALA/A-KUSALA];
  2. DICELA/TIDAK? [anavajjā/sāvajjā];
  3. DIPUJI/DIHINDARI para bijaksana? [viññuppasatthā/viññugarahitā];
  4. MENUJU: bahagia sejahtera/penderitaan? [hitāya sukhāya/ahitāya dukkhāya saṃvattantīti]’

yang jika dijalankan, membuat atau TIDAK dirinya: tergairahkan, terbanjiri dan tertaklukkan oleh keserakahan [lobha], kebencian [dosa] dan kekeliruan tahu [moha] melakukan:

  1. penghancuran kehidupan,
  2. pengambilan apa yang tidak diberikan,
  3. perilaku seksual dengan istri orang lain,
  4. pernyataan yang salah, dan
  5. mendorong orang lain ikut melakukan tersebut.

Jika TIDAK menyebabkan hal-hal tersebut, maka agar diikuti. [AN 3.65]

Apakah semua Dhamma?

Ketika berada di Hutan siṃsapā, Kosambi, sang Buddha menyampaikan bahwa daun Siṃsapā yang ada di telapak tanganNya jauh lebih sedikit dari daun yang ada di hutan siṃsapā dan apa yang beliau ajarkan bahkan tidak lebih banyak dari beberapa lembar daun yang ada ditangannya

Perumpamaan daun siṃsapā ini kerap digunakan sebagai dasar argument bahwa bukan hanya ajaran Buddha atau ajaran Theravada saja yang dapat digunakan untuk mencapai kesucian. Argumen ini salah alamat karena dalam sutta tersebut disampaikan juga alasannya, yaitu yang beliau ajarkan HANYALAH Cattari Ariya Saccani [4 kesunyataan mulia], yaitu hal-hal yang berhubungan dengan: (1) Dukkha, (2) asal-muasalnya, (3) lenyapnya dan (4) jalan menuju lenyapnya Dukkha, yaitu: Jalan mulia berunsur 8

Mengapa?

Karena hal-hal tersebut berhubungan dengan tujuan [atthasaṃhitaṃ], prinsip prilaku luhur menuju kesucian [ādibrahmacariyakam], dan membawa pada kejenuhan duniawi [nibbidāya], ketiadaan nafsu [virāgāya], penghentian [nirodhāya], ketenangan [upasamāya], pengetahuan langsung [abhiññā], pencerahan [sambodhāya], pemadaman [nibbānāya]. [SN 56.31/Siṃsapā/Sīsapāvana Sutta]

    “[..]dalam dhamma dan vinaya mana pun, jika tidak terdapat Jalan Mulia Berunsur 8, maka di sana pun takkan terdapat seorang petapa sejati yang telah mencapai tingkat ke-1, ke-2, ke-3 atau ke-4. Tetapi dalam dhamma dan vinaya yang mana pun, jika terdapat Jalan Mulia Berunsur 8, maka di sana pun akan terdapat petapa yang sejati yang telah mencapai tingkat ke-1, ke-2, ke-3 atau ke-4. Kini, dalam dhamma dan vinaya yang kami ajarkan terdapat Jalan Mulia Berunsur 8 itu, maka dengan sendirinya juga terdapat petapa-petapa sejati yang telah mencapai tingkat ke-1, ke-2, ke-3 atau ke-4. Ajaran guru-guru lainnya yang tidak memiliki Jalan Mulia Berunsur 8 adalah kosong dan bukan petapa yang sejati” [DN.16/MahaParinibbana sutta]

Seberapa banyak “daun siṃsapā dhamma” yang dibabarkan sang Buddha?

    Dvāsīti buddhato gaṇhiṃ, dve sahassāni bhikkhuto; Caturāsītisahassāni, ye me dhammā pavattino’ (Aku mendapatkan 82.000nya dari Sang Buddha, 2.000nya dari para bhikkhu; 84.000 ini ajaran-ajaran yang ada padaku [Thag 17.3/Ananda]

Apakah ada kemungkinan ujaran-ujaran sang Buddha luput tidak terhimpun?

Ananda dan 5 Pangeran (Bhaddiya, Anuruddhà, Bhagu, Kimbila, Devadatta) bersama Upali (tukang cukur para pangeran) menjadi Bhikkhu di hutan Anupiya, yaitu sebelum sang Buddha pergi ke Kosambi untuk kemudian menetap di Ghositārāma (Cullavagga, Sanghabheda: Oleh karenanya, ini terjadi sekurangnya di masa vassa ke-8. Lihat: Riwayat Buddha Gotama). Mulai tahun ke-20, Ananda menjadi upatthaka/pendamping Sang Buddha (bhagavantaṃ upaṭṭhahiṃ) selama 25 tahun (Paṇṇavīsativassāni – Thag 17.3) hingga parinibbananya sang Buddha, setelah beliau menyetujui 8 syarat yang diminta Ananda, utamanya pada syarat ke-7 dan ke-8, yang menjamin keutuhan Dhamma:

  1. (labhissāmi yadā me kaṅkhā uppajjati, tasmiṃ khaṇeyeva Bhagavantaṃ upasaṅkamituṃ labhissāmi) dapat mendatangi beliau kapanpun keraguanku muncul
  2. (sace yaṃ bhagavā mama parammukhā dhammaṃ katheti, taṃ āgantvā mayhaṃ kathessati) bersedia menyampaikan kembali dhamma yang telah disampaikannya, ketika Aku tidak hadir – [RAPB buku ke-2, cetakan ke-1, Mei 2008, hal.1642-1644 yang mengutip kitab komentar: (1) Jataka no.456/JunhaJataka atau (2) DN 14/Mahapadana Sutta]

Selain itu, Sang Buddha menyatakan bahwa Ananda adalah siswanya yang paling terpelajar/bahussuta, paling kuat daya ingatnya/Satimantā dan paling luas/gatimanta [AN 1.210-223], inilah mengapa TIDAK ADA kemungkinan kotbah Sang Buddha luput terlewatkan, implementasinya, misal 2 sutta pertama (Dhammacakkappavattana Sutta dan Anatta-lakkhana Sutta) yang dibabarkan kepada 5 petapa di Taman Rusa Isipatana. Saat itu, Ananda belum menjadi bhikkhu dan tidak ada di sana. Pada ke-2 sutta tersebut, ada kalimat, “evam me Sutam” (Demikian yang ku dengar). Kemudian, Itivuttaka, kumpulan 112 Dhamma yang diperoleh Khujjuttara (Seorang pengikut awam wanita yang sangat dipujikan Sang Buddha. SN 17.24, AN 1.258-267, AN 4.176, Ud 7.10. Tampaknya pencapaian kesuciannya setara Nandamātā, Citta dan Hatthaka), Khujjuttara awali dengan kalimat, “vuttañhetaṃ bhagavatā, vuttamarahatāti me sutaṃ” [Ini diucapkan sang Buddha, para arahat dan yang didengar olehku] dan kumpulan dhamma ini adalah bagian dari 5 nikaya. Kekuatan ingatan Ananda akan Dhamma inilah yang juga menjadi alasan mengapa Ananda dijuluki sebagai Bendahara Dhamma

    Note:
    Terdapat satu “sutra”, yaitu: Anagatavamsa, yang menyelipkan kalimat, “evam me suttam”. Sutra ini bukanlah kanon pali, tidak berasal dari sang Buddha, Ananda atau dari arahat lainnya, bahkan inipun tidak ada di konsili ke-1 s.d 4, Para ahli menemukan bahwa kitab ini berasal dari abad 14 Masehi, yang merupakan produk tambal sulam

Pendapat bahwa saat konsili berlangsung tidak semua arahat datang dan/atau tidak diundang dan atau tertinggal datang dan/atau telat datang kemudian menolak hasil konsili dengan merujuk pada Bhikkhu Purana, yang tinggal di Dakkhinagiri adalah tidak benar.

Wafatnya Sang Buddha adalah peristiwa penting yang mengguncangkan para pengikut dan juga kalangan non Buddhis. Juga, konsili diumumkan akan dilakukan pada 3 bulan setelahnya, di musim Vassa. Jadi, tidak ada kemungkinannya ada Arahat yang tidak terundang, tertinggal, telat datang atau tidak mengetahui ini. Apalagi, keputusan mengadakan konsili, memilih 500 arahat dan pengumpulan dhamma dan Vinaya merupakan keputusan Sangha yang lengkap bukan sangha yang tidak lengkap. Juga, merujuk pada kejadian MAGHAPUJA, ketika Sang Buddha di Rajagaha, 1250 Arahat datang berkumpul di Veluvanarama (hutan pohon bambu) memiliki 4 Faktor yang salah satunya adalah mereka berkumpul tanpa ada 1 pemberitahuan terlebih dulu.

Mereka yang TIDAK ADA di konsili ke-1 saat itu, bukanlah Arahat. Di Di cullavaga, khanda 11, disampaikan tentang Bhikkhu Purana, yang tengah melakukan perjalanan setelah musim Vassa, artinya setelah konsili berakhir. Tidak disebutkan apakah beliau telah mencapai kesucian atau tidak. Vinaya mencatat Bhikkhu Purana menyatakan bahwa dhamma-vinaya telah para Thera sampaikan dengan baik, sama dengan yang beliau ingat dan pelajari langsung dari sang Bhagava:

    11. Pada saat itu, Bhikku Purâna sedang berkelana melewati bukit selatan bersama sedikitnya 500 Bhikkhu. Dan ketika para Thera Bhikkhu telah selesai mengulang Dhamma dan Vinaya, Ia tinggal di perbukitan selatan selama waktu yang ia anggap cukup dan pergi ke Rajagaha menuju Veluvana ke Kalandaka Nivâpa, di mana para bhikkhu thera berada dan menyampaikan salam, serta duduk di satu sisi. ketika ia telah duduk, para Thera Bhikkhu berkata padanya, “Para sepuh, Teman Purâna, telah menyampaikan Dhamma dan Vinaya [therehi, āvuso purāṇa, dhammo ca vinayo ca saṅgīto]. Apakah anda datang mendekat tekait penyampaian tersebut? [upehi taṃ saṅgītin”ti]”

    ‘kawan, Para sepuh telah menyampaikan baik dhamma dan vinaya [Susaṅgītāvuso, therehi dhammo ca vinayo ca]. Dan bahkan dengan cara sama seperti aku pelajari langsung dari sang Bhagava [Api ca yatheva mayā bhagavato sammukhā sutaṃ], menerima langsung demikian sama seperti dalam ingatanku’ [sammukhā paṭiggahitaṃ, tathevāhaṃ dhāressāmī”ti]

Juga, Sang Buddha telah menyatakan bahwa Dhamma dan vinaya agar TIDAK DISAMPAIKAN dalam bahasa Sanskrit Veda [Cullavaga, khanda 5]:

    Pada saat itu, dua Bikkhu bersaudara, yaitu Yamelu dan Tekula. Keturunan Brahmana, bersuara merdu dengan pengucapan yang menyenangkan..Mereka bertanya pada Sang Buddha:

    ”Sekarang ini, Guru, Bkhikkhu-Bhikkhu dari berbagai nama, klan, kelompok dan strata sosial telah menempuh kehidupan tanpa keluarga. Mereka dengan “sakāya niruttiyā“ merusak sabda-sabda Buddha (Te sakāya niruttiyā buddhavacanaṃ dūsenti). Marilah, Guru, gunakan ‘chandaso‘ pada sabda-sabda sang Buddha (Handa mayaṃ, bhante, buddhavacanaṃ chandaso āropemā”ti)

    Sang Buddha mencela mereka, “Orang-orang bodoh, bagaimana kalian dapat berkata: ‘Marilah, guru, gunakan ‘chandaso‘ pada sabda-sabda Sang Buddha?’. Ini tidaklah membangkitkan keyakinan yang tidak berkeyakinan dan tidak meningkatkan keyakinan yang telah berkeyakinan; bahkan akan membuat yang tidak berkeyakinan tetap tidak berkeyakinan, merusak sebagian dari yang telah berkeyakinan.”

    Setelah memberikan teguran, Beliau memberikan wejangan pada para Bhikkhu:

    “Para Bhikkhu, janganlah gunakan ‘chandaso‘ pada sabda-sabda Sang Buddha. Siapapun yang melakukannya telah berbuat salah (āpatti dukkaṭa). Aku ijinkan, para bhikkhu, dengan ‘sakāya niruttiyā’ menguasai sepenuhnya sabda-sabda sang Buddha”

    Note:
    sakāya nirutti: sakāya = sendiri; nirutti = penjelasan, bahasa, pengucapan, dialek. Jadi artinya: dengan bahasanya sendiri. Chandaso: matra/ukuran metrik bahasa seperti di Veda dan BUKAN dalam artian irama/intonasi. Jika maksudnya sekedar irama, maka kata yang lebih tepat ada di AN 5.209, yaitu gāyanti/nyanyian, āyatakena gitasara/lantunan nyanyian yang panjang. Jadi chandaso adalah standarisasi aturan berbahasa yang lazim digunakan para brahmana dalam keagamaan, entah itu dalam bahasa prakrit ataupun sanskrit

    Menurut Bimala C. Law: Kata ‘nirutti’ = bahasa, sementara kata “sakāya” bahasa ‘asal’ atau bahasa ‘ibu’ (History of Buddha’s Religion, 1952). Norman: Kebanyakan ahli menyatakan maksudnya adalah bahasa ‘Māgadha’. (Pāli and the Language of Early Buddhism, 2002, hal 135-150) Buddhaghosa: sakaya niruttiya ti ettha saka nirutti nama sammāsambuddhena vuttappakaro māghadhako vohāra (Sakaya nirutti adalah bahasa Māgadha yang digunakan Sammsambuddha) (Komentar vinaya 1214). Rhys Davids dan Oldenberg: maksudnya adalah ‘dialek masing-masing’.

    Kata Âropema = menggunakan, Chandaso = sanskrit atau bentuk awal sanskrit. Alasannya:

    (1) kata “Chandasi” oleh Panini selalu diartikan dialek yang ada di Veda,
    (2) mereka yang meminta ini adalah dari turunan Brahmana,
    (3) maksud kata ini telah disampaikan di antara para Bhikkhu dan
    (4) Buddhaghosa menyatakan, “chandaso âropemâ ti Vedam viya sakkata-bhâsâya vâkanâ-maggam âropema” (Chandaso aropema adalah menggunakan bahasa samkrta/sakkata yang digunakan veda) (Samantapāsādikā 306) dan Buddha mempercayakan sabdanya hanya dalam bahasa Māgadhi (VibA 388).

    Kerajaan Magadha, di jaman Bimbisara, meliputi sebagian besar area masa kebuddhaan dan area sentral aktivitas Buddhisme setelah wafatnya beliau. Di Jaman Asoka, abad ke-3 SM, Mahinda membawa Tipiṭaka dan kitab komentarnya ke Srilanka. Abad ke-5 M, Buddhaghosa, diminta gurunya menterjemahkan kembali sabda Sang Buddha ke bahasa Māgadha.

    Abad ke-12, Magadhi adalah bahasa yang dimengerti 2 negara: Burma dan Srilanka. Di Srilanka, Bhikkhu Dhammakitti (pengarang Duthavamsa) dan Vacissara (pengarang Thupavamsa) menuliskan karyanya dalam bahasa Magadha dan raja Srilanka Vijayabāhu II (1186-87 M) menulis surat dengan bahasa Magadha untuk dikirim ke Burma (Cūlavaṃsa 86.6-7). Di Burma, bhikkhu Aggavaṁsa, mengarang Saddanīti (grammar Pali terlengkap, di mana di bagian ke-3 bukunya berdasarkan tatabahasa pali karya Kaccāyana). Ini artinya Pālibhāsā dan magadhībhāsā adalah sama.

    Francis Mason (“A Pali grammar on the basis of Kachchayano”, tahun 1868, Introduction, hal.i-ii) menyampaikan: “Dr E. Buhler menunjukan sebuah naskah bahwa Panini, “Bapak tatabahasa Sanksrit” mengutip dari Kaccayana, pendahulunya dan banyak meminjam istilah tatabahasa darinya”. Kemudian, di hal. 7, dinyatakan: “bentukan alpabhet Pali telah ada selambatnya SEBELUM abad ke-6 SM

    Sutta/Vinaya menunjukkan bahwa di sebelum jaman Buddha Gotama-pun telah ada angka, aksara dan tulisan:

    • DN 1, 2,3, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 13: “..akkharika..” (bermain menerka huruf yang ditulis di udara atau punggung seseorang)
    • AN 3.65/Kalama Sutta: “..Marilah, para penduduk Kālāma,…, jangan karena kumpulan teks tertulis (mā piṭakasampadānena), ..”
    • Udana 3.39/Sippa Sutta: “..beberapa bhikkhu: “Keahlian naik gajah adalah yang utama”;.. berkuda.. berkereta.. Memanah.. Bermain pedang, .. Berkomunikasi lewat gerak.. Menghitung angka.. menulis (lekhā).. puisi.. berdebat.. Ilmu politik adalah keahlian utama”
    • Vinaya, Mahakhanda: “Sekarang, seorang tertentu, setelah mencuri, setelah melarikan diri, Ia ditahbiskan dalam kehidupan suci. Di pengumuman kerajaan, tertulis, “Dimanapun orang ini terlihat, Ia dihukum mati” Orang melihatnya dan berkata, “Ini dia pencuri dalam tulisan itu. Mari kita hukum mati dia”.. Menyebarlah desas desus, “..mengapa mereka menahbiskan pencuri yang ada dalam tulisan itu?”.. Sang Buddha, berkata, “Para Bhikkhu, seorang pencuri dalam pengumuman tertulis, tidak boleh ditahbiskan, siapapun yang menahbiskannya melakukan pelanggaran dukkata”
    • Vinaya, Parajika ke-3: “..memuji melalui tulisan: Ia menulis (lekhaṃ), “Siapapun yang mati, akan mendapatkan kekayaan, kemashyuran dan menuju surga”. Pelanggaran Dukkata untuk setiap huruf (akkhara) yang ditulisnya. Setelah melihat tulisannya, orang menjadi berpikir, “Aku ingin Mati”, Ia menyakiti dirinya, maka pelanggaran Thullaccaya terjadi, jika Ia mati, maka pelanggaran parajika terjadi”
    • Vinaya, Pacittiya no.49: “..Bukan pelanggaran jika (bhikkhuni) belajar menulis..” (Anāpatti—lekhaṃ pariyāpuṇāti)
    • Vinaya, Pacittiya no.65: “..Jika Upāli belajar menulis (lekha)…jika Upāli belajar menulis, jari-jarinya akan sakit..”
    • Juga dalam kehidupan lampau Sang Buddha, di kitab komentar jataka, misal:

      no.159: “..Raja sangat gusar..Dia memerintahkan agar sebuah pesan ditulis di atas papan emas: ‘Di antara pegunungan Himalaya terdapat sebuah bukit emas di Gunung Daṇḍaka..'”
      no. 181: “..kemudian menggores sebuah pesan di panahnya dengan tulisan: ‘Saya, Asadisa, telah kembali. Saya bertekad untuk membunuh kalian semua dengan satu panah yang akan saya tembakkan kepada kalian. Bagi mereka yang masih mau hidup, silakan pergi.'”
      no.214: “…Maka, dia menulis bait berikut di atas daun: ‘Apakah yang dapat minum ketika sungai banjir;…Teka-teki saya dibaca dengan benar..'”
      no.276: “..Kemudian raja berkata, “..kembalikan kepada rajanya. Tulislah di atas sebuah papan emas norma Kuru yang dijalankannya dan bawalah itu ke sini.”

Jadi, kotbah-kotbah yang disampaikan/ditulis dalam sanskrit [kemudian ke berbagai bahasa di antaranya Tibet dan Tiongkok] dan mengklaimnya sebagai sabda sang Buddha NAMUN bertentangan dengan Dhamma dan Vinaya konsili ke-1 dan ke-2, maka ITU BUKAN ajaran sang Buddha [Ini juga mengindikasikan bahwa terjemahan sutta dan vinaya sekalipun, juga merupakam sebuah dhamma tiruan]

Lama setelah Konsili ke-1, Aliran-aliran dalam Buddhisme pun bermunculan.

Konsili ke-2,
Diselenggarakan di Vesali pada tahun ke-10 pemerintahan raja Kalasoka [Dipavamsa 4.44,47; Mahavamsa 4.8] karena dasa vatthuni (10 poin/hal, detailnya di bawah) yang dilakukan para Vajjiputtaka/Vatsiputriya.

    Ajatasattu (32 tahun, Sang Buddha wafat di tahun ke-8 pemerintahannya = 24 tahun) + Udayin-Bhadda (16 tahun) + Anuruddha dan Munda (8 tahun) + Nagadasaka (24 tahun) + Shisunaga (18 tahun) + Kalasoka (28 tahun) [“The Cambridge History of India”, hal.189 “Mahavamsa: Great Chronicle of Ceylon”, Wilhelm Geiger, hal. xlvi] = 24+16+8+24+18+10 = 100 tahun.

    Ketika 100 tahun pertama telah selesai dan abad ke-2 telah dimulai, perpecahan besar terjadi, 12.000 Vajjiputta dari Vesālī berkumpul (di Mahavamsa: 10.000, Mhv 4.55, 5.4) dan menyatakan di Vesali 10 poin/hal [Dipv 5.16-17]

Terdapat 5 teks tradisi Utara yang mencatat keberadaan konsili ke-2 di Vesali ini, yaitu:

  • Mahisāsaka nikāya pancavarga vinaya 30, (T.E.T.22, P.192a-b), 100 tahun setelah parinirvana.
  • Mahāsangika vinaya 32, (T.E.T.22, P.493a-b), tanpa tahun.
  • Dharmagupta vinaya 54, (T.E.T.22, P.96Sc), 100 tahun setelah Parinirvana
  • Sarvāstivāda Vinaya 60, (T.E.T.23, P.449b-c). 110 tahun setelah parinirvana.
  • Sudarsana Vibhāsā Vinaya I, (T.E.T.24.P677c), 100 tahun setelah parinirvana
  • dari 5 ini, 4 Vinaya menuliskan karena dasa vathuni, sedangkan Vinaya Mahisangika hanya menuliskan karena menerima emas dan perak dan tidak 9 lainnya.

Berikut di bawah ini adalah narasi konsili ke-2 di Vesali, dari Cullavagga, Khandaka 12 (juga dituliskan hampir serupa di kitab sejarah Srilanka: Dipavamsa dan Mahavamsa):

    100 tahun setelah Parinibananya Sang Buddha, Vajjiputtaka/Vatsiputriya (para bhikkhu yang adalah orang-orang Vajji dari Vesālī) mengajarkan dan memperbolehkan praktik: garam disimpan dalam tanduk; masih makan setelah 2 jari; Menolak makan yang telah dipersembahkan, pergi ke lain tempat untuk makan yang belum diserahkan; uposatha terpisah dalam satu batas wilayah yang sama; Melakukan tindakan ketika Saṅgha yang tidak lengkap; Melakukan sesuatu berdasarkan kebiasaan; Minum susu yang hampir menjadi dadih; minum yang difermentasikan tetapi belum terfermentasi; menggunakan kain alas duduk tanpa ada batasan dan menerima emas dan perak

      Note:
      Dalam Cullavagga, Khandakka, Sanghabheda, terdapat 500 murid baru yang berasal dari para orang Vajji dari Vesali/Vajjiputtaka/Vatsiputriya, yang bergabung dengan kelompok Sangha pimpinan Devadatta. Setelah sang Buddha mengutus Sariputta dan MahaMoggallana, 500 Vajjiputtaka/Vatsiputriya ini mencapai kesucian tertentu dan kembali. Selain itu, Kokalika adalah murid kepala dari kelompok pria dan Tullananda adalah murid kepala dari kelompok bhikkhuni, masing-masing dari mereka ini membawa juga kelompoknya bergabung sehingga ada saja kemungkinannya bahwa Vajjiputtaka/Vatsiputriya di 100 tahun kemudian ini adalah ex sisa kelompok Devadatta murid dari yang lainnya.

      Di samping itu, hingga beberapa abad setelah masehi, keberadaan pengikut Devadatta dilaporkan masih ada: (1) Faxian/Fa-Hien (awal abad ke-5), setelah mengidentifikasi 96 aliran heretik Buddhisme yang tersebar di bagian Tengah India berkata bahwa para pengikut Devadatta memberikan donasi pada 3 Buddha masalalu namun tidak pada Buddha Sakyamuni; (2) Xuanzang/Hsuan-Tsang (awal abad ke-7) bahwa 3 vihara di Bengali Barat di Karnasuvarna adalah milik pengikut Devadatta; dan (3) Yujing/I-Cing (akhir abad ke-7) dalam komentarnya di Karmavacana teks Mulasavarstivadin bahwa dimasanya para petapa pengikut Devadatta tersebar di area Barat India dan pernah bertanya langsung pada satu di antara mereka apakah Ia pengikut aliran Devadatta yang dijawab samar yang mengindikasikan kekhawatiran orang akan tidak mau melayaninya lagi jika telak mengaku [“The Sangha of Devadatta: Fiction and History of a Heresy in the Buddhist Tradition”, Max Deeg, hal 183-195]

    Suatu ketika YM Yasa Kākaṇḍakā (Murid YM Ananda) sedang menetap di Vesālī dan pada hari Uposatha, para Vajjiputtaka/Vatsiputriya, meletakan sebuah kendi perunggu berisi air ditengah-tengah para bhikkhu dan berkata kepada para umat awam Vesālī yang datang agar memberikan 1 Kahapana atau 1/2 Pada atau 1 Masaka untuk Sangha karena ada yang harus dilakukan Saṅgha sehubungan dengan barang kebutuhan.

      Note:
      Ananda lahir pada hari yang sama dengan Sidhartha Gautama dan wafat diusia 120 tahun [DhA ii.99] sehingga saat kejadian ini, YM Yasa telah memiliki > 60 tahun masa vassa/tahun menjalani kebhikkhuan
      Kahapana = koin uang jaman itu yang terbuat dari emas atau perak atau perunggu

    Mendengar itu, YM Yasa berkata kepada para umat awam agar tidak memberikannya, karena tidak diperbolehkan bagi para petapa, para bhikkhu putera Sakya tidak menyetujuinya, tidak menerima emas dan perak, tidak menggunakannya dan telah meninggalkannya, walaupun telah diberitahu demikian para umat awam Vesālī tetap memberikan koin uang. Sebelum malam berakhir, para bhikkhu membagi rata uang tersebut diantara mereka dan menyisihkan untuk porsi YM Yasa namun beliau berkata tidak memerlukannya dan tidak menyetujuinya.

    Para Vajjiputtaka/Vatsiputriya berkata bahwa YM Yasa telah mencela dan menghina umat awam yang berkeyakinan dan berkepercayaan penuh oleh karenanya dikenakan tindakan resmi Patisaraniya-kamma (Seorang Bhikkhu secara terbuka harus memohon maaf pada umat awam atas tindakannya yang tidak pantas). Karena ada aturan bahwa Bhikkhu yang dihadapkan pada tindakan tersebut harus diberikan utusan pendamping, maka YM Yasa memintanya.

    Bersama Bhikkhu utusan pendampingnya, YM Yasa pergi ke Vesali dan dihadapan para umat awam Vesali, beliau berkata bahwa Vajjiputtaka/Vatsiputriya katakan beliau telah mencela dan menghina umat awam yang berkeyakinan dan berkepercayaan penuh dengan menyampaikan apa yang bukan-dhamma sebagai bukan-dhamma, apa yang merupakan dhamma sebagai dhamma, apa yang bukan-disiplin sebagai bukan-disiplin dan apa yang merupakan disiplin sebagai disiplin yang dilanjutkan dengan penyampaian sabda sang Buddha, yaitu

    1. AN 4.50/Upakilesa bahwa emas dan perak MERUPAKAN NODA bagi petapa
    2. SN 42.10/Maniculaka Sutta bahwa samana/petapa TIDAK membolehkan, TIDAK menyetujui, telah melepaskan dan meninggalkan emas-perak, TIDAK ADA alasan untuk membenarkan emas dan perak
        Note:
        Di samping itu, Sang Buddha telah menetapkan Nissaggiya no.18 (juga no.19) (yang muncul sehubungan kasus bhikkhu Upananda yang menerima dan tidak meninggalkan kepingan uang kahapana) bahwa seorang bhikkhu yang menerima uang dengan tangannya sendiri atau membuat orang lain menerima uang untuknya, atau menyetujuinya diletakkan di dekatnya atau disimpan untuknya, dia telah melakukan pelanggaran

        Ia hanya dapat berkata, “Kami tidak menerima uang, kami hanya menerima keperluan bhikkhu yang diperbolehkan dan di saat yang tepat.”. Jika pendana bertanya apa yang seharusnya dia lakukan dengan uang tersebut setelah sang bhikkhu menolaknya, bhikkhu tersebut dapat menjelaskan peraturan Vinaya, tetapi dia tidak boleh memberitahu pendana apa yang harus dilakukannya dengan uang tersebut. Jika pendana bertanya apakah ada kappiya yang mengurus keperluannya, sang bhikkhu dapat memberitahukannya. Kemudian, pendana dapat memberikan uang tersebut kepada sang kappiya dan uang itu tetap milik si pendana bukan milik bhikkhu ataupun kapiyya. Jika kappiya itu tidak menyediakan kebutuhan bhikkhu, bhikkhu dapat memberitahu pendana tentang ini, tetapi dia tidak boleh memaksa kappiya untuk membelikan apa yang diinginkannya (atau hal lain selain tujuan itu). Jika bhikkhu tersebut melakukannya, Ia terkena Nissaggiya pacittiya/pelanggaran yang memerlukan pengakuan dan pelepasan benda yang diterimanya (Lihat juga Pacittiya no. 10)

        Kemudian,
        Jika mengutip MN 55/Jivaka sutta: “Yampi so Tathāgataṃ vā tathāgatasāvakaṃ vā akappiyena āsādeti, iminā pañcamena thānena bahuṃ apuññaṃ pasavati” (Ketika Ia memberikan dengan pengharapan sesuatu yang tidak diperbolehkan kepada Sang Tathāgata atau siswaNya,..Ia mendapatkan banyak keburukan). Walaupun sutta ini tentang memberikan daging yang berasal dari pembunuhan, namun ada poin yang berlaku umum yaitu memberikan sesuatu yang merupakan NODA/tidak patut, itu adalah perbuatan AKUSALA/tidak bermanfaat

    Mendengar itu, para umat awam Vesālī berkata bahwa YM Yasa adalah satu-satunya petapa, satu-satunya putera Sakya sedangkan Vajjiputtaka/Vatsiputriya, semuanya bukan petapa, bukan para putera Sakya dan memohon agar YM Yasa berkenan menetap di Vesali agar berkesempatan melayaninya. Setelah YM Yasa meyakinkan para umat awam Vesālī, beliau bersama bhikhu yang menjadi utusan pendampingnya kembali ke vihara

    Para Vajjiputtaka/Vatsiputriya kemudian bertanya kepada bhikkhu yang menjadi utusan pendamping apakah YM Yasa telah meminta maaf pada para umat awam Vesali. Bhikkhu itu menyatakan bahwa para umat awam sekarang malah menyatakan YM Yasa adalah petapa sedangkan mereka semua bukan.

    Para Vajjiputtaka/Vatsiputriya berkata bahwa YM Yasa tidak ditunjuk mereka untuk memberikan Informasi kepada para perumah tangga, oleh karenanya mereka melakukan ukkhepanīyakamma (mengeluarkan seorang bhikkhu dari sangha) kepadaNya dan mereka berkumpul untuk tujuan melaksanakan tindakan tersebut.

      Note:
      Tindakan ini hanya bisa diambil dalam sangha yang lengkap (misal: Jumlah yang hadir lengkap tidak kurangnya, tidak kurang referensi, ada kehadiran para pihak, ada persetujuan kedua pihak, dll)

    YM Yasa kemudian mengirim utusan mengundang kehadiran bhikkhu sepuh di Pāvā dan wilayah selatan Avantī, untuk penyelesaian perkara (Adhikarana) sebelum apa yang bukan-dhamma bersinar dan apa yang merupakan dhamma tersembunyi, sebelum apa yang bukan-disiplin bersinar dan apa yang merupakan disiplin tersembunyi, sebelum mereka yang mengatakan apa yang bukan dhamma menjadi kuat dan mereka yang mengatakan dhamma menjadi lemah, sebelum mereka yang mengatakan apa yang bukan disiplin menjadi kuat dan mereka yang mengatakan disiplin menjadi lemah.

    Beliau kemudian mengunjungi Bhikkhu sepuh Sambhūta Sāṇavāsī (Murid YM Ananda. Sambutha sāṇavāsī = Sambhuta pemakai jubah dari sāṇa/rami kasar) yang menetap di lereng gunung Ahoganga dan menyampaikan 10 hal yang diajarkan oleh Vajjiputtaka/Vatsiputriya.

      Note:
      Kunjungan YM Yasa kepada YM Sambhuta Sanavasin, menunjukan YM Yasa lebih junior

    Beliau sepakat bahwa ini memerlukan penyelesaian perkara dan demikian pula dengan 60 Bhikkhu sepuh dari Pava dan 88 Bhikkhu sepuh dari Avanti.

    Kemudian para Bhikkhu sepuh ini bermaksud mengunjungi Bhikkhu sepuh Revata (murid YM Ananda) yang menetap di Soreyya, seorang yang terpelajar, pewaris ajaran, ahli dalam Dhamma, vinaya dan kerangka ajaran, bijaksana, berpengalaman, cerdas; teliti, seksama, menyukai latihan. Mereka berpikir jika dapat memasukkan Yang Mulia Revata ke dalam kelompok, mereka menjadi lebih kuat sehubungan dengan penyelesaian perkara ini.

    Saat itu Bhikkhu sepuh Revata telah meninggalkan Soreyya dan menuju Saṃkassa dan ketika para bhikkhu sepuh tiba di Soreyya dan bertanya dimana YM Revata, mereka menjawab bahwa YM Revata telah menuju Saṃkassa.. Kaṇṇakujja.. Udumbara.. Aggaḷapura.. Kemudian para bhikkhu sepuh tiba di Aggalapura dan bertanya dimana YM Revata, mereka menjawab bahwa YM Revata telah menuju Sahajāti. Kemudian para bhikkhu sesepuh itu bertemu dengan Yang Mulia Revata di Sahajāti.

    Kemudian Bhikkhu Sepuh Sambhūta Sanavasin meminta kepada Bhikkhu sepuh Yasa, putera Kākaṇḍakā untuk mengajukan pertanyaan kepada Bhikkhu sepuh Revata mengenai 10 hal yang diajarkan oleh para Vajjiputtaka/Vatsiputriya apakah diperbolehkan atau tidak. Bhikkhu sepuh Yasa menghadap Bhikkhu sepuh Revata dan menanyakan 10 hal yang diajarkan Vajjputtaka dan Bhikkhu Sepuh Revata mengatakan bahwa 9 Hal yang diajarkan adalah tidak diperbolehkan, sedangkan mengajarkan melakukan praktek dengan alasan itu telah menjadi kebiasaan (atau biasa dilakukan) penahbis/upajjhāya atau guru/ācariya, kadang itu diperbolehkan dan kadang itu tidak diperbolehkan. Setelah mendapatkan jawaban ini Bhikkhu sepuh Yasa mengundang Bhikkhu sepuh Revata untuk hadir menyelesaikan perkara sehubungan dengan ini dan Bhikkhu Sepuh Revata menyanggupinya

    Di lain tempat, Bhikkhu sepuh Sāḷha, ketika sedang bermeditasi, suatu pemikiran muncul dalam pikirannnya mengenai siapa pembabar Dhamma apakah para Bhikkhu dari Timur atau dari Pava, setelah merenungkannya, beliau berkesimpulan bahwa para bhikkhu dari Timur BUKANLAH pembabar dhamma dan para bhikkhu dari Pāvā adalah pembabar dhamma. Seorang Deva dari alam murni Suddhavasa yang muncul di hadapannya mendukung kesimpulannya dan juga memohonnya untuk menegakkan Dhamma, beliau menjawab bahwa dulu maupun sekarang, beliau telah menegakkan Dhamma dan akan menyampaikan pandangannya saat beliau ditunjuk sehubungan dengan penyelesaian masalah.

    Para Vajjiputtaka/Vatsiputriya mendengar bahwa Bhikkhu Yasa, putera Kākaṇḍakā, yang hendak menghadiri pernyelesaian perkara sedang membentuk kelompok dan telah memperoleh kelompok. Kemudian Para Vajjiputtaka/Vatsiputriya berpikir untuk mengumpulkan kelompok agar menjadi lebih kuat sehubungan penyelesaian perkara dan bermasud untuk membujuk Bhikkhu sepuh Revata yang mereka juga kenal pula sebagai seorang terpelajar, pewaris ajaran, ahli dalam Dhamma, vinaya dan kerangka ajaran, bijaksana, berpengalaman, cerdas; teliti, seksama, menyukai latihan agar memihak mereka sehubungan dengan penyelesaian perkara.

    Untuk itu, kemudian Para Vajjiputtaka/Vatsiputriya menuju Sahajati dengan membawa barang-barang kebutuhan para petapa yang berlimpah – mangkuk-mangkuk dan jubah-jubah dan helai-helai kain alas duduk dan kotak jarum dan sabuk pinggang dan saringan-saringan dan kendi-kendi air.

    Dengan barang-barang itu mereka mendatangi bhikkhu sepuh Revata dan memohon atas nama sangha agar beliau sudi menerima persembahan mereka, Namun, Bhikkhu sepuh Revata tidak ingin menerima itu karena telah memiliki cukup. Karena gagal, mereka kemudian pergi menghadap murid dari Bhikkhu sepuh Revata, yaitu Bhikkhu Uttara yang telah 20 tahun (20 masa vassa) menjadi bhikkhu agar sudi menerima persembahan mereka, namun Bhikkhu Uttara juga tidak ingin menerima itu karena telah memiliki cukup, mereka kemudian mendesaknya untuk menerima, karena didesak, bhikkhu Uttara akhirnya mengambil 1 jubah saja dan menanyakan keperluan mereka.

    Para Vajjiputtaka/Vatsiputriya memohon pada Bhikkhu Uttara agar Bhikkhu sepuh Revata di tengah-tengah sangha mengatakan bahwa para bhikkhu dari Timur adalah pembabar-dhamma, para bhikkhu dari Pāvā adalah bukan pembabar-dhamma. Bhikkhu Uttara menyanggupi hal itu dan menyampaikan kepada Bhikkhu sepuh Revata. Setelah mendengar itu, Bhikkhu sepuh Revata berkata bahwa Bhikkhu Uttara sedang membujuknya melakukan yang bukan-dhamma dan mengusir Bhikkhu Uttara. Kemudian Bhikkhu Uttara menyampaikan kepada para Vajjiputtaka/Vatsiputriya bahwa gurunya telah mengusirnya karena menyetujui hal yang bukan Dhamma. Berkenaan dengan Bhikkhu Uttara, Para Vajjiputtaka/Vatsiputriya kemudian memintanya menjadi pembimbing mereka (garunissayaṃ gaṇhāmā).

      Note:
      Meminta seseorang dengan masa 20 tahun sebagai pembimbing, mengindikasikan masa vassa yang dimiliki para Vajjiputtaka/Vatsiputriya adalah jauh di bawah 20 tahun

    Kemudian Saṅgha berkumpul untuk penyelesaian Perkara. Agar tidak terjadi para bhikkhu yang memulai pertama kali perkara akan membuka kembali untuk tindakan resmi lainnya lagi, maka YM Revata mengajak sangha untuk menyelesaikan perkara ini di mana perkara ini muncul dan mereka pun pergi ke Vesali

    YM Revata kemudian berkata pada YM Sambhuta bahwa Ia akan mengunjungi Bhikkhu sepuh Sabbakāmi (Murid YM Ananda), yang telah menjalani 120 tahun masa vassa kebhikkuan, bhikkhu dengan masa Vassa tertua di dunia saat itu dan meminta YM Sambhuta untuk mendatangi beliau juga dan menanyakan pendapat beliau mengenai 10 hal yang diajarkan para Vajjiputtaka/Vatsiputriya

    YM Sambhūta Sanavasin sampai ketempat kediaman YM Sabbakāmin ketika beliau sedang berbincang-bincang dengan YM Revata dan kepada dua bhikkhu sepuh itu, YM Sambhūta Sanavasin bertanya mengenai 10 hal yang diajarkan para Vajjiputtaka/Vatsiputriya dan apakah kesimpulan para beliau mengenai siapakah yang pembabar dhamma, apakah para bhikkhu dari Timur atau para bhikkhu dari Pāvā?”

    Kedua Sepuh itu berkata bahwa mereka telah menyimpulkan bahwa para bhikkhu dari Timur BUKANLAH pembabar dhamma dan para bhikkhu dari Pāvā adalah pembabar dhamma, namun demikian mereka tidak akan mengemukakan pandangan mereka hingga mereka ditunjuk sehubungan dengan penyelesaian perkara ini

    Kemudian Saṅgha berkumpul untuk penyelesaian perkara, setelah mengkonfrontasikan secara langsung KEDUA BELAH PIHAK (Para Vajjiputtaka/Vatsiputriya vs YM Yasa) dihadapan sangha namun tidak mendapat hasil penyelesaian, YM Revata kemudian mengusulkan agar dilakukan penyelesaian permasalahan dengan menyerahkan keputusan kepada orang-orang yang dipilih dan disepakati para pihak, Sangha menyetujuinya dengan berdiam diri. YM Revata kemudian memilih 4 Bhikkhu dari Timur (YM Sabbakāmin; YM Sāḷha/murid YM Ananda; YM Khujjasobhita/murid YM Ananda dan YM Vāsabhagāmika/murid YM Anuruddha) dan 4 bhikkhu dari Barat (YM Revata; YM Sambhūta; YM Yasa (semuanya murid YM Ananda) dan YM Sumana/murid YM Anuruddha) dan memberitahukan Sangha mengenai komite yang dibentuknya. Sangha menyetujuinya dengan berdiam diri.

      Note:
      Bhikkhu Anuruddha adalah saudara terkecil dari Mahanama, wafat di area Vajji pada usia 115 tahun (DhA ii.413). Tidak diketahui umur awalnya, namun jika beliau ini wafat sebelum YM Ananda, maka masa Vassa YM Vasabhagamika dan YM Sumana, tampaknya jauh diatas 60 tahun
      Murid Sang Buddha lainnya, misalnya Upali (wafat 30 tahun setelah Sang Buddha Parinibbana), dilanjutkan dengan muridnya, Dasaka (50 tahun setelah Upali) dan dilanjutkan muridnya Sonaka (selama 44 tahun setelah Dasaka), maka ketika konsili ini berjalan, Sonaka baru memiliki 40 massa vassa [Mhv 5.104-153 dan Dipv 5.95-99]

    Sangha kemudian menunjuk Bhikkhu Ajita yang mempunyai 10 masa vassa sebagai pembaca Patimokha (aturan dan/atau disiplin) dan penentu tempat duduk bagi para Bhikkhu sepuh. Kemudian komite yang terdiri dari para bhikkhu sepuh ini pergi ke Vihara Vālika untuk menyelesaikan perkara.

    YM Revata kemudian memberitahu Sangha bahwa Ia akan menanyai YM Sabbakamim sehubungan dengan Vinaya/Patimokha. Sangha menyetujuinya dengan berdiam diri. YM Sabbakamin memberitahu sangha bahwa Ia akan menjawab pertanyaan yang diajukan YM Revata. Sangha menyetujuinya dengan berdiam diri. YM Revata kemudian menanyakan 10 hal yang diajarkan oleh para Vajjiputtaka/Vatsiputriya kepada YM Sabbakamin dan jawaban beliau:

    1. Singilona Kappa menyimpan garam dalam tanduk dengan pikiran untuk ditambahkan pada makanan yang tidak/kurang garam. (Melanggar: Pācittiya ke-38: menyimpan makanan yang telah diserahkan lebih dari 1 hari. Versi Mahasanghika Praktimoksa: Pacattika ke-37)

      Ini dilarang di Sāvatthī, dalam Suttavibhaṅga masuk pelanggaran yang menuntut penebusan

    2. Dvangula Kappa: Masih makan saat bayangan yang terkena sinar matahari lewat tengah hari melebihi dua ruas jari (dvangula) (atau beranggapan boleh makan selama matahari yang melewati tengah hari tertutup awan). (Melanggar: Pācittiya ke-37: Makan di waktu yang salah (lewat tengah hari). Versi Mahasanghika Praktimoksa: Pacattika ke-36)

      Ini dilarang Di Rājagaha, dalam Suttavibhaṅga masuk pelanggaran yang menuntut penebusan

    3. Gāmantara Kappa: Telah selesai makan, menolak persembahan berikutnya tapi pergi ke lain tempat untuk makan yang belum dimakan dan/atau yang belum diserahkan kepadanya. (Melanggar: Pācittiya ke-35. Versi Mahasanghika Praktimoksa: Pacattika ke-33)

      Ini dilarang di Sāvatthī, dalam Suttavibhaṅga masuk pelanggaran yang menuntut penebusan

    4. Avāsa Kappa: Sekelompok Bhikkhu tinggal di batas area yang sama namun melakukan uposatha secara terpisah. (Pelanggaran Dukkaṭa: Maha Vagga 2,8,3. Versi Dharmagupta dan Mahisasaka ada padanannya: “Buddhist Sects in India”. Nalinaksha Dutt, hal.18)

      Ini dilarang di Rājagaha, dalam apa yang berhubungan dengan Uposatha masuk pelanggaran perbuatan-salah karena di luar disiplin

    5. Anumati Kappa: Mengambil putusan terhadap bhikkhu tertentu ketika sangha tidak lengkap dengan pikiran, “Persetujuan akan didapatkan/dimintakan dari bhikkhu yang datang/tiba”. (Pelanggaran Dukkaṭa: Mahavagga IX.3.5. Versi Mahisasaka ada padanannya)

      Ini dilarang dalam materi disiplin tentang hal-hal yang berhubungan dengan para bhikkhu Campa dan masuk pelanggaran perbuatan-salah karena di luar disiplin

    6. Ācīṇṇa Kappa: Melakukan praktek dengan alasan itu telah menjadi kebiasaan (atau biasa dilakukan) oleh penahbis/upajjhāya atau guru/ācariya. (Ini kadang-kadang diperbolehkan dan kadang-kadang tidak diperbolehkan: Lihat di: MahaVagga 1.25-35. Versi Mahisasaka ada padanannya)
    7. Amathita Kappa: Telah selesai makan, menolak persembahan berikutnya, namun minum susu apa pun yang tidak diserahkan yang telah melewati tahap sebagai susu namun belum menjadi dadih (disebut Yoghurt jika berbentuk pasta, dadih jika bertektur lebih padat. Proses fermentasi alami gula susu akan menghasilkan alkohol). (Melanggar: Pācittiya ke-35, juga Pacittiya ke-37, 39. Versi Mahasanghika Praktimoksa: Pacattika ke-36, 39)

      Ini dilarang di Sāvatthī, dalam Suttavibhaṅga masuk pelanggaran yang menuntut penebusan

    8. Jalogiṁ pātuṁ: Minum air tuak yang difermentasikan tetapi belum terfermentasi dan belum sampai pada tahap menjadi minuman keras. (Melanggar: Pācittiya ke-51 (Versi Mahasanghika Praktimoksa: Pacattika ke-76)

      Ini dilarang di Kosambi, dalam Suttavibhaṅga masuk pelanggaran yang menuntut penebusan

    9. Adasakaṁ nisīdanaṁ: Menggunakan kain alas duduk diluar batas yang dibolehkan. (Melanggar: Pācittiya ke-89: ukuran panjang: 2 sugata, lebar: 1.5 sugata dan tinggi: 1 sugata. Versi Mahasanghika Praktimoksa: Pacattika ke-86)

      Ini dilarang di Sāvatthī, dalam Suttavibhaṅga masuk pelanggaran yang menuntut penebusan

    10. Jātarūpa-rajataṁ: Menerima emas, perak dan koin/uang. (Melanggar: Nissaggiya Pācittiya ke-18/19. Versi Mahasanghika Praktimoksa: Nihsarghika Pacattika ke-18)

      Ini dilarang di Rājagaha, dalam Suttavibhaṅga masuk pelanggaran yang menuntut penebusan

    Kepada Sangha, Beliau sampaikan bahwa setelah diselidiki Sangha, 10 hal Ini adalah materi yang bertentangan dengan dhamma, bertentangan dengan disiplin, bukan instruksi Sang Guru. Pertanyaan resmi kemudian ditutup dan YM Sabbakamin juga menawarkan bahwa untuk meyakinkan para bhikkhu, agar menanyainya di tengah-tengah Saṅgha. YM Revatapun menanyai YM Sabbakāmin di tengah-tengah Saṅgha tentang 10 hal ini dan YM Sabbakāmin menjawabnya seperti di atas. 700 Bhikkhu hadir saat pembacaan disiplin

Setelah selesai konsili ke-2, kitab Buddhisme saat itu MASIH BUKAN Tipitaka/Tripitaka (3 keranjang) melainkan DvePitaka (2 keranjang), yaitu: Dhamma/sutta-sutta dan vinaya, sedangkan kitab Abhidhamma [sebanyak 7 kitab] MASIH BELUMLAH ADA.

Memperhatikan 10 pelanggaran di atas, Vinaya “mahasanghika” mempunyai kesamaan di 7 point sedang 3 point sisanya (no.4 – no.6) tidak ada:

    “agar Mahasanghika dapat bersepakat mengutuk point-poin ini, kita harus tunda pemakaian teks chinese, karena tidak ada lagi padanan sanskrit porsi skandhaka vinaya. Ada ringkasan Bhiksu-Prakirnaka (Yang adalah padanan Mahasanghika-lokottaravadin untuk vastu yang memuat skandhaka dari berbagai macam vinaya lainnya), namun itu sedikit membantu”[“Mahasamghika Origins: The Beginnings of Buddhist Sectarianism”, Janice J. Nattier dan Charles S. Prebish, hal.241-245].

    Perbish dan Nattier, tidak menuliskan detail padanannya, namun sudah berani menyimpulkan bahwa vinaya Pali dan vinaya Mahasanghika berkesesuaian penuh pada 10 point ini.

Catatan di Cullavagga (bagian dari kanon pali kelompok vinaya) berhenti sampai KONSILI ke-2. Tidak ada catatan lanjutan mengenai kejadian sesudahnya, misalnya apa yang kemudian dilakukan oleh Vajjiputtaka/Vatsiputriya, tentang Konsili ke-3 di jaman raja Asoka dan narasi di Cullavagga tentang konsili ke-1 dan ke-2, sama sekali tidak memuat kata “tipitaka”/Keranjang, hanya menuliskan dhamma, vinaya saja. Kejadian lanjutan setelah berakhirnya konsili ke-2, tercantum dalam kitab sejarah Srilanka yaitu: Dipavamsa dan Mahavamsa, juga di Kathāvatthu-aṭṭhakathā, Nidānakathā, karya Buddhaghosa (Abad ke-5) yang juga mengutip dari Dipavamsa:

    Konsili diadakan 100 tahun setelah Sang Buddha Parinibbana [Mhv 4.8; Dipv 4.47,48] diakhir tahun ke-10 jaman raja Kalasoka [Mhv 5.8]. Jumlah bhikkhu Vajjiputta yang berkumpul dan mengajarkan 10 hal adalah 10.000 [Mhv. 4.55 dan 5.4, Dipv 5.18 menyatakan: 12.000 Vajjiputtaka/Vatsiputriya berkonsili duluan untuk menetapkan 10 aturan yang akan mereka gunakan di Vesali]. Total bhikkhu yang hadir di Konsili ke-2 pimpinan YM Revata adalah 112.000 [Mhv 4.60, Dipv 5.20], kemudian beliau memilih 700 bhikkhu yang semuanya adalah Arahat yang membunyai Abhinna [Mhv 4.61; Dipv 4.52, 5.28]. Konsili dilakukan di Valikarama selama 8 bulan di jaman Raja Kalasoka, mengulang kembali pembacaan Dhamma [Mhv 5.62-63. Dipv 4.29]. Kejadian ini disebut Konsili ke-2 [Mhv 4. 66; Dipv 4.29]

    Setelah berakhir konsili ke-2, 10.000 Vajjiputtaka/Vatsiputriya dikeluarkan dari Sangha dan melakukan konsili sendiri. Jumlah yang besar ini menyebabkan ini disebut Mahāsāṃghika/Mahasanghika (kumpulan dengan jumlah besar) [Mhv 5.4; Di Dipv 5.31: Dinamakan Mahāsaṅgīti/kumpulan dengan jumlah besar].

    Mahasanghika/Mahāsaṅgīti kemudian juga menetap doktrin yang bertentangan; mengubah redaksi asli dan membuat redaksi lain; memindahkan sutta dari satu kumpulan ke kumpulan lain; mereka menghancurkan makna dan keyakinan; Di 5 koleksi dan di Vinaya, Biksu yang mengerti ataupun yang tidak tentang kotbah panjang ataupun kotbah tanpa penjelasan berupa makna literal ataupun tersirat menetapkan maksud yang salah sehubungan dengan kotbah-kotbah sang Buddha. Para biksu menghancurkan banyak makna, menolak kalimat-kalimat tunggal mendalam di sutta dan vinaya, membuat Sutta-sutta dan vinaya-vinaya lainnya, menolak teks berikut: Parivara yang merupakan abstrak dari isi, 6 bagian Abhidhamma, Patisambhida, Niddesa, dan beberapa bagian Jataka. Mereka membuat yang baru. Menjauhkan aturan asli tentang kata benda, jenis kelamin, komposisi, dan gaya ungkapan, mereka mengubah semua itu. [Dipv 5.30-38]

      Note:
      Dipavamsa menyatakan “6 bagian” Abhidhamma DAN BUKAN 7 bagian, ini menunjukan, periode waktu ketika hal ini dicatatkan, adalah di SETELAH konsili ke-3 namun SEBELUM 1 bagian Abhidhamma lainnya rampung. Setelah 7 bagian rampung, MAHINDA membawanya ke Srilanka, seperti disebutkan Parivara Vinaya: MAHINDA (Murid Moggaliputta Tissa, pemimpin Konsili ke-3) pergi dari Jambudipa/India menuju Tambapanni/Pantai Utara Srilanka mengajarkan vinaya, 5 nikaya dan satta ceva pakaraṇe (7 kitab). Beberapa paragraph lanjutannya berisi tradisi urutan pengajar di Srilanka s.d Khema Thera yang mengajarkan tipetako/tipitaka. Sehingga disebut Tipitaka adalah setelah tambahan 7 kitab Abhidhamma

Setelah konsili ke-2, mulai abad ke-2 setelah wafatnya sang Buddha, tradisi Selatan mencatat Sangha Theravada/Sthavira TIDAK PERNAH terpecah dan yang disebut Mahāsāṃghika/Mahāsaṅgīti (dari ex Vajjiputtaka) adalah mereka yang tidak lagi dalam persekutuan dan membentuk sendiri persekutuan [Mhv 5.2-13, Dipv 5.39-51] jadi sudah bukan persekutuan Bhikhu lagi. Pada perjalanan waktu kemudian, terjadi lagi mereka yang dikeluarkan dari sangha Theravada dan membentuk persekutuan sendiri hingga totalnya terdapat 17 lebih [Mhv 5.4-13, Dipv 5.39-49] perkumpulan umat awam. Inilah yang kemudian disebut sebagai aliran atau sekte:

  • Dari Mahasanghika/Mahāsaṅgīti (2) [= Vajjiputtaka/Vatsiputriya] → Ekavyoharika/Ekabboharika (5) dan Gokulika/Kaukkutika (6). Dari Gokulika/Kaukkutika → Pannatti/Prajnapti (7) dan Bahulika/Bahussutiya/Bahusrutiya (8). Dari Bahulika/Bahusrutiya → Cetiya/Caityasaila (9).
  • Dari Vajjiputtaka/Vatsiputriya (3) [= Mahasanghika/Mahāsaṅgīti] → Dhammuttariya/Dharmottariya (10), Bhaddayanika/Bhadrayaniya (11), Channagarika/Channagirika (12) dan Sammitiya/Sammatiya (13)
  • Dari Mahimsasaka/Mahisasaka (4) → Dhammaguttika/Dharmaguptika (14) dan Sabbathivada/Sarvastivada (15). Dari Sabbathivada/Sarvastivada → [Kassapiya/Kasyapiya (15) → Samkantika/Samkrantika (17) → Suttavada/Sauttrantika (18)]

Disamping aliran-aliran di atas, di Jambudwipa (sebutan untuk India jaman dulu) terdapat pula 6 aliran lainnya, yaitu: Hemavata, Rajagiriya, Siddhatthaka, Seliya I, Seliya II [Mhv 5.11-13; Dipv 5.54] dan Vajiriya [Mhv 5.13] atau Apararajagirika [Dipv 5.54]. Untuk Sri Lanka: Dhammaruci dan Segaliya [Mhv 5.13] dan menurut komentar Kathavatthu Abhidhamma jumlahnya mencapai 27 aliran:

Untuk tradisi Utara, semua versi mulai dari pernyataan bahwa sangha terpecah dan diperjalanan waktu, masing-masingnya pecah lagi menjadi banyak aliran dan semuanya ini adalah masih bhikkhu di bawah sangha. Sudut pandang bahwa setelah dikeluarkan dari persekutuan adalah masih bhikkhu TIDAK DIMUNGKINKAN dalam tradisi vinaya Theravada, karena sejak tidak lagi dalam persekutuan (yaitu dilepas jubah), mereka sudah bukan lagi bhikkhu namun umat awam:

  • Vinitadeva (abad ke-8 M, Mūla-sarvāstivādin) jumlahnya 22 aliran, diawali Sangha terpecah menjadi 4 aliran (tidak ada record setelah konsili ke-2, terpecah sebanyak ini), yaitu (dikutip dari buku Baruah): 1. Sthaviravāda menjadi 3 aliran (Jetavaniya, Abhayagirivasin, Mahaviharavasin); 2. Sammatiya menjadi 3 aliran (Kaurukullaka, Avantaka, Vatsīputrīya); 3. Sarvastivadin menjadi 7 aliran (Mūlasarvāstivādin, Kasyapiya, Mahisasaka, Dharmaguptaka, Bahuśrutīya, Tamrasatiya, Vibhajyavadin) dan 4. Mahāsāṃghika menjadi 5 aliran (Purvasaila, Aparasaila, Haimavata, Lottaravadin, Prajñaptivāda)
  • Vasumitra (“Samayabhedo Paracana Cakra”, Sarvāstivādin, dalam teksnya ada kalimat : “..Buddha menyampaikan gâtha berikut: ‘..Semua ini akan muncul dari Mahâyâna, Yang tidak mengakui penegasan atau kontradiksi. Sekarang saya katakan bahwa di masa depan akan muncul, banyak tulisan Master Kumârajiva..“. Ini mengindikasikan teks baru ada setelah abad ke-5) untuk jumlahnya, Baruah: 20 aliran, Rhys Davids (dari translasi Tibet): 21 aliran.
  • Dari versi: Bhavya I/Bhāvaviveka (“Nikāyabhedavibhaṅgavyakhyāna”, Madhyamaka, abad ke-6 M) untuk jumlahnya, Baruah: 18 aliran, Rhys Davids: 25 aliran. Bhavya II untuk jumlahnya, Baruah: total 21 aliran, Rhys Davids: 22 aliran. Bhavya III untuk jumlahnya, Baruah: 22 aliran, Rhys Davids: 18 Aliran

[“Buddhist Sects and Sectarianism“, Bibhuti Baruah, hal 42-45; “Art. I.—Schools of Buddhist Belief“, T. W. Rhys Davids, hal.5-7 dan “Art. IX.—The Sects of the Buddhists“, T. W. Rhys Davids, hal.409]

Asal usul Mahayana:

  • Seishi Karashima: di Sūtra Teratai versi Gandhāri (Saddharma Puṇḍarīka Sūtra) kata Prakrit mahājāna (dalam arti mahājñāna/pengetahuan besar) ketika ditranslasi ke Sanskrit yang secara fonetik ambivalen (punya 2 arti berbeda) menjadi keliru diterjemahkan sebagai mahāyāna [“Who Composed the Mahāyāna Scriptures? ––– The Mahāsāṃghikas and Vaitulya Scriptures”, hal. 114-115; “Vehicle (yāna) and Wisdom (jñāna) in the Lotus Sutra ––– the Origin of the Notion of yāna in Mahāyāna Buddhism”, hal.163-196]
  • Paul Williams: “Tidak ada keraguan bahwa setidaknya beberapa sutra Mahāyāna awal berasal dari lingkaran Mahāsāṃghika” [“Mahayana Buddhism: The Doctrinal Foundations”, hal.21]
  • Guang Xing: “Beberapa ahli berpendapat bahwa Prajñāpāramitā mungkin dikembangkan dari Mahāsāṃghika India selatan, area Āndhra, sungai Kṛṣṇa” [“The Concept of the Buddha: Its Evolution from Early Buddhism to the Trikaya Theory”, hal.66]
  • Hendrik Kern (orang pertama) dan AK Warder: Mahāyāna dan sutra-sutranya (misal versi awal Prajñāpāramitā) muncul dari Mahāsāṃghika Nikaya (mulai abad ke-1 SM) [“Histoire du bouddhisme dans l’Inde”, H Kern dan “Indian Buddhism”, AK Warder, hal. 335]
  • Untuk kemunculan Mahayana/kendaraan besar, kitab “Tarkajvala” (pemikiran yang berkobar), Bavya (500 M – 578 M) dari aliran Madyamaka, Mahayana, menyampaikan:
      Para pengumpul ajaran Mahayana adalah para Bodhisatva seperti Samantha Bhadra, Manjushri, Vajrapani, Maitreya dan banyak lagi. Aliran hinayana tidak mengumpulkan itu karena mereka tidak mempelajari kitab Mahayana..Setelah Buddha Parinibbana, para pengikut aliran Hinayana, sangat melekat pada ajaran yang mereka terima. Tidak ada yang mengumpulkan ajaran Mahayana. Ajaran Mahayana tersimpan di alam Naga, kemudian Nagarjuna mengumpulkan ajaran Mahayana dari alam Naga dan menyebarkannya di alam Manusia.” [“Jewelled Staircase“, Geshe Wangyal, hal. hal.47]
  • Beberapa meragukan Sutra Prajñaparamita terkait dengan Nagarjuna, misalnya Max Walleser, di tahun 1923: “…pemikiran kesunyataan yang ditetapkan di Sutra Prajñaparamita dibawa untuk dikaitkan dengan nama yang kita bahkan tidak dapat secara positif mengatakan bahwa dia benar-benar ada, yang sekurangnya tetap Ia adalah penulis karya-karya yang dianggap berasal darinya: nama ini adalah Nagarjuna” [“Nagarjuna And The Ratnavali: New Ways To Date an Old Philosopher”, Joseph Walser, JIABS, vol.25, hal. 209].
  • Lamotte pada lampiran 9 “Maha Prajnaparamita Sastra” tentang para penulis pertama Madhyamika. Untuk Aryadeva, Ia mengutip awal komentar Candrakīrti (sekitar 600–650 M) tentang Catuḥśataka: “Āryadeva lahir di Siṃhala (Sri Lanka) putra raja negeri itu. Setelah menjadi putra mahkota, Ia pergi ke Dakṣina, menjadi murid Nāgārjuna” [Kalimat di Xuanzang, abad ke-7 M, di buku ke-4 ch.9: “ada seorang Bodhisattva dari Siṃhala (Chi-sse-tseu — Sri Lanka) yang disebut Deva“], kemudian mengkaitkan nama Aryadeva dengan Thera Deva (Dīpv 22.41,50 dan Mhv 36.29) yang ada saat Vetullavāda, dari Mahāyāna melanda Sri Lanka jaman raja Vohārikatissa (269-291 M), sehingga Nagarjuna berada pada abad ke-3 M, juga menjelaskan bagaimana Vetullavada adalah juga bagian dari Mahayana.
“Buddhism: The early Buddhist schools and doctrinal history; Theravāda doctrine”
Paul Williams, Vol 2, Hal.222

Gambar ini memuat tabulasi jumlah aturan di setiap topik dalam Patimokha di beberapa aliran. Selintas tabulasi ini tidak banyak berbeda dan tidak tampak signifikan berbeda.

Terdapat 20 alasan yang menjadi landasan penyebab perpecahan dalam sangha, yaitu ketika Bhikkhu (satu atau beberapa atau sangha) mengajarkan bhikkhu lainnya mengenai apa

  1. yang BUKAN dhamma sebagai dhamma
  2. yang dhamma sebagai BUKAN Dhamma
  3. yang BUKAN vinaya sebagai vinaya
  4. yang vinaya sebagai bukan vinaya
  5. yang TIDAK diucapkan, TIDAK disampaikan Sang Buddha sebagai ucapannya
  6. yang diucapkan, disampaikan Sang Buddha sebagai TIDAK ucapannya
  7. yang TIDAK dipraktekkan Sang Buddha sebagai yang dipraktekkannya
  8. dipraktekkan Sang Buddha sebagai TIDAK dipraktekkannya
  9. yang BUKAN ditetapkan sang buddha sebagai yang ditetapkan
  10. yang ditetapkan sang buddha sebagai BUKAN yang ditetapkannya [List 1-10 di AN 1.140-149, AN 10.37/38]
  11. yang BUKAN pelanggaran sebagai pelanggaran
  12. yang merupakan pelanggaran (āpatti) sebagai BUKAN pelanggaran (anāpatti āpatti)
  13. yang pelanggaran ringan (lāhuka āpatti) sebagai pelanggaran berat (gārukā)
  14. yang pelanggaran berat sebagai pelanggaran ringan
  15. yang pelanggaran besar (duṭṭhulla āpatti) sebagai BUKAN besar (aduṭṭhulla āpatti)
  16. yang BUKAN pelanggaran besar sebagai besar
  17. yang pelanggaran dapat ditebus (sâvesasa āpatti) sebagai pelanggaran yang tidak dapat ditebus (anavasesā āpatti)
  18. yang pelanggaran tidak dapat ditebus sebagai yang dapat ditebus
  19. pelanggaran yang dapat diperbaiki (sappaṭikamma āpatti) sebagai tidak dapat diperbaiki (appaṭikamma āpatti)
  20. yang pelanggaran tidak dapat diperbaiki sebagai yang dapat diperbaiki [List 11-20 di: AN AN 1.150-169, AN 10.43]

Cullavagga, Khandakha 7 menyatakan PERPECAHAN SANGHA adalah karena Bhikkhu:

    ..Jika, 4 orang di satu pihak dan 4 orang di pihak lain (total = 8) dan jika seorang yang ke-9 berkata dan membagikan kupon suara, dengan mengatakan: ‘Ini adalah aturan, ini adalah disiplin, ini adalah instruksi Sang Guru, ambillah (kupon suara) ini, setujuilah ini’ ini adalah perselisihan dalam Saṅgha yang juga merupakan perpecahan dalam Saṅgha. Perpecahan Saṅgha terjadi karena 9 orang atau lebih.

    Seorang bhikkhunī atau calon samaneri atau samaṇera atau samaṇerī atau umat awam pria atau umat awam wanita TIDAK MEMECAH BELAH Saṅgha bahkan jika ia melakukan tindakan memecah-belah. Hanya seorang bhikkhu, yang berasal dari komunitas yang sama, menetap di tempat yang sama, yang dapat memecah-belah Saṅgha

TIDAK SEMUA PERPECAHAN SANGHA adalah BURUK, misalnya dalam kasus dibawah ini.

    Seorang Bhikkhu yang menjelaskan:

    • apa yang bukan-dhamma sebagai dhamma dan/atau
    • apa yang dhamma sebagai bukan-dhamma … menjelaskan apa yang bukan pelanggaran berat sebagai pelanggaran berat

    jika ia memiliki pandangan bahwa dalam ini terdapat dhamma, jika ia memiliki pandangan bahwa dalam perpecahan terdapat dhamma namun tidak salah menyampaikan pendapat, tidak salah menyampaikan persetujuan, tidak salah menyampaikan kesenangan, tidak salah menyampaikan kehendak, ia berkata dan membagikan kupon suara, dengan mengatakan: ‘Ini adalah aturan, ini adalah disiplin, ini adalah instruksi Sang Guru, ambillah (kupon suara) ini, setujuilah ini’ – bahkan penyebab perpecahan dalam Saṅgha ini, TIDAK MENGALAMI kejatuhan, TIDAK MENUJU neraka, TIDAK MENETAP di sana selama satu kappa, dapat terselamatkan. [Cullavagga, Khandakha 7]

Sang Buddha menyatakan terdapat 4 KEUNTUNGAN yang menjadi MOTIF seorang bhikkhu melakukan perpecahan di dalam sangha dan bersenang dengan hal itu, sabda beliau ini sehubungan dengan Bāhiya, murid YM Anuruddha yang masih saja berniat menciptakan perpecahan di dalam sangha:

  • Seorang bhikkhu jahat tidak bermoral, berkarakter buruk, tidak murni, berperilaku mencurigakan, merahasiakan perbuatannya, bukan seorang petapa walaupun mengaku sebagai petapa, tidak hidup selibat walaupun mengaku hidup selibat, busuk dalam batinnya, jahat, rusak. Ia berpikir: ‘Jika para bhikkhu mengetahui bahwa aku adalah seorang yang tidak bermoral … rusak, dan mereka bersatu, maka mereka akan mengusirku, tetapi jika mereka terpecah dalam kelompok-kelompok maka mereka tidak akan mengusirku.’
  • seorang bhikkhu jahat berpandangan salah; ia menganut pandangan ekstrim. Ia berpikir: ‘Jika para bhikkhu mengetahui bahwa aku menganut pandangan salah, bahwa aku menganut pandangan ekstrim, dan mereka bersatu, maka mereka akan mengusirku, tetapi jika mereka terpecah dalam kelompok-kelompok maka mereka tidak akan mengusirku.’
  • seorang bhikkhu jahat berpenghidupan salah; ia mencari penghidupannya melalui penghidupan salah. Ia berpikir: ‘Jika para bhikkhu mengetahui bahwa aku berpenghidupan salah dan mencari penghidupanku melalui penghidupan salah, dan mereka bersatu, maka mereka akan mengusirku, tetapi jika mereka terpecah dalam kelompok-kelompok maka mereka tidak akan mengusirku.’
  • seorang bhikkhu menginginkan perolehan, kehormatan, dan penghargaan. Ia berpikir: ‘Jika para bhikkhu mengetahui bahwa aku menginginkan perolehan, kehormatan, dan penghargaan, dan mereka bersatu, maka mereka tidak akan menerima, menghormati, menghargai, dan memuliakanku; tetapi jika mereka terpecah dalam kelompok-kelompok maka mereka akan menerima, menghormati, menghargai, dan memuliakanku

Melihat ke-4 keuntungan ini, Ānanda, seorang bhikkhu jahat bersenang dalam perpecahan di dalam Saṅgha [AN 4.243/Sanghabhedaka sutta]

ASOKA – DINASTI MAURYA
Tradisi Buddhis Utara/Sarvaastivaada, pada 2 teks Vasumitra (100-200 M), Shibabu-lun [Risalah 18 aliran] dan Buzhiyi-lun [Risalah aliran-aliran]:

  • menurut translasi Paramaartha (499-569 M): “116 TAHUN setelah wafatnya Bhagawan Buddha … Terdapat sebuah negara yang besar bernama Paataliputra yang rajanya bernama Asoka memerintah Jambudviipa” [T 49 No. 2033, hal. 20a. juga No. 2032, p. 18a]
  • menurut tripitaka versi Tiongkok, jaman dinasti Song, Yuan, Ming, dan Qing untuk Buzhiyi-lun: Penobatan Asoka menjadi raja adalah 160 TAHUN setelah wafatnya Buddha [misal: T 49, No. 2033, p. 20, note 7; Qian-long (Qing dynasty) vol. 102, No. 14, p. 468], namun Shibabu-lun pada edisi yang sama: 116 TAHUN.

Menurut Bhavya (abad ke-6), di kanon Tibet, Sde-pa tha-dad-par byed-pa da”n rnam-par b”sad-pa/Nikaayabheda-vibha’nga-vyaakhyaa [risalah perpecahan aliran]: 160 TAHUN di beberapa edisi kanon Tibet dan juga: 116 TAHUN di edisi-edisi lainnya.

Contoh translasi BAREAU untuk versi Narthang (1741-42 M) dan Peking (1724 M): “160 TAHUN (lo-brgya-drug-cu, Edisi Peking Tripitaka Tibet, vol. 127, No. 5640, p. 253, lembar daun 1, baris ke-3) telah berlalu sejak parinibbana sang Buddha, pada waktu itu, ketika raja bernama Dharmaa’soka memerintah di kota bernama Kusumapura, di sana berkembang pertikaian hebat dalam sangha sebagai konsekuensi kemunculan variasi pokok-pokok kontroversi” [Andre BAREAU, “Trois traites sur les sectes bouddhiques attribues a Vasumitra, Bhavya et Vinitadeva: Deuxieme partie”, Journal asiatique 244 (1956), hal. 167-8. Translansi ke Perancis. Cf. BECHERT (1989), hal. 107-8].

Menurut translasi Watanabe untuk versi tripitaka Tibet Derge (1744 M): 116 TAHUN. [Watanabe Zuigan, versi Tripitaka Jepang, Osaki Gakuho, No. 94 (July 1939), hal.71, note 1].

[Diringkas dari: “A Discussion on the Determination of the Date of the Historical Buddha”, Choong, Mun-keat (Wei-keat), Journal of Indian History, Vol. LXXVI-LXXVIII, 1997-1999, March, 2004]

Tradisi Buddhis Selatan:
“Genap 218 tahun setelah wafatnya Tathagata (= tahun ke-219), Seorang raja memerintah seluruh Jambudwipa (Tathaagatassa parinibbaanato dvinnam vassasataanam upari athaarasame vasse sakala-Jambudiipe ekarajjaabhisekam paapuni).” [Dipavamsa, VI, pp. 1, 19-20; Mahavamsa, V, p. 21; kitab komentar Vinaya Pali karya Buddhaghosa abad ke 5 M, Samantapasadika, I, pp. 41-42 (cf. Taisho, Tripitaka edisi China (ringkasan T) vol. 24, No. 1462, p. 679c)]. [Diringkas dari: Choong Mun-Keat]

Menurut Mahavamsa, kronologi Dinasti dan Raja yang memerintah mulai dari wafatnya Sang Buddha sampai dengan pemerintahan raja Asoka [“The Cambridge History of India”, hal.189 “Mahavamsa: Great Chronicle of Ceylon”, Wilhelm Geiger, hal. xlvi] adalah:

    Ajatasattu (32 tahun, Sang Buddha wafat di tahun ke-8 pemerintahannya = 24 tahun) + Udayin-Bhadda (16 tahun) + Anuruddha dan Munda (8 tahun) + Nagadasaka (24 tahun) + Shisunaga (18 tahun) + Kalasoka (28 tahun) + keturunan Kalasoka (22 tahun) + Nanda dan Keturunannya (22 tahun) + Candragupta (24 tahun) + Bindusara (28 Tahun) + Asoka dinobatkan (tahun ke-5 setelah bindusara wafat)

Jadi total 24 + 16 + 8 + 24 + 18 + 28 + 22 + 22 + 24 + 28 + 5 = 219 tahun setelah parinibannanya sang Buddha, adalah tahun ketika Asoka menjadi raja. Asoka wafat setelah memerintah 37 tahun lamanya (Mhv 20.6, Dipv 5.101), sehingga 256 tahun telah berlalu sejak parinibannanya sang Budha

Penemuan arkeologi Inskripsi-Inskripsi di atas batu tentang Devanampiya Piyadasi raja Magadha, Asoka:
terdapat sekurangnya 19 inskripsi berupa pilar batu dengan tinggi ± 12 – 15 Meter dan berat: ± 50 ton, 14 inskripsi pada batu yang besar dan beratnya bervariasi [“Asoka Maurya – His attitudes towards reformist sects of Jainas, Ajivikas and Buddhist as reflected in his Dhamma Edict?”, Bipin Shah].

  • Inskripsi maklumat batu di Maski, tahun 1915, di baris pertama, tertulis “Devanampiya asokasa“, dilanjutkan dengan kalimat, “Selama 2.5 tahun Saya sebagai umat awam…..Aku menemui (upagate)…Sangha…jambudwipa”. pada Inskripsi Bhabru/Bairat, tertulis kalimat “Piyadasi laja magadhe sangham abhivademanam” (Raja Magadha yang ramah menyampaikan hormat pada Sangha’). Kata “Piyadassi” yang merujuk pada Asoka, tercantum dalam text Dipavamsa 6.1-18. Seluruh rangkaian ini, menegaskan bahwa Inkripsi-inkripsi yang ditemukan dengan memuat kata devanampiya dan piyadasi adalah memang merujuk pada Asoka, sehingga keberadaan Asoka adalah nyata
  • Maklumat kecil batu I, yang ditemukan di 3 tempat (Brahmagiri, Rupanath dan Sahasram) terdapat tulisan angka “256”:

    Brahmagiri: Iyam cha savan(e) sav(a)p(i)te vyuthena 200 50 6
    Rupnath: V(y)uthena savane kate 200 50 6 sata vivasa ta (atau ti)
    Sahasram: Iyam (cha savane v)ivuthena duve sapamnalatisata (atau dve satpancasaratrisate?) vivutha ti 200 50 6

    Tentang arti angka 256 yang tidak berisi petunjuk apakah itu sebagai tahun, hari atau orang:

    Geiger menuliskan bahwa Buhller dan fleet menyatakan sebagai “tahun” (256 tahun berlalu sejak nirwana), F.W Thomas menyatakan sebagai “hari” (256 hari), dengan mengartikan “lati” = “ratri” = malam. Geiger (dan bisa jadi, seluruh para ahli bahasa serupa) menyatakan: Fleet dan Buhler pastinya tahu ada kata “lati” dan mereka temukan bahwa konteknya tidak tepat untuk diterjemahkan demikian (Mahavamsa, Geiger, introduction, xxvii-xxviii. Sample ahli yang juga menolak ide bahwa kata lati = ratri, misal: ”Asoka”, Mookerji Radhakumud, hal. 114-115, cat kaki 3).

    Fleet menyampaikan: Nama-nama ahli-ahli bahasa, selain Buhller yang mengartikan sebagai “256 tahun”, nama para ahli lain yang menterjemahkan sebagai “256 hari” atau “256 orang” atau “256 kali”. Ia memahami bahwa tidak ada kata “tahun” (juga tidak ada kata hari atau orang atau kali) di inkripsi-inkripsi tersebut, namun kemudian, Ia menjadi bersepakat penuh dengan Buhller, dengan alasan bahwa penulisan angkat tahun namun tidak menyebutkan kata “tahun” adalah lazim dilakukan para ahli pali ketika menuliskan tahun karya mereka, Ia mengambil contoh Pannasami (seorang ahli pali dan buddhis dari Burma, tahun 1861), dalam karyanya “Sasanavamsa” atau “Sasanavamsappadipika”, menuliskan tanggal selesai karyanya dengan kalimat, “Dvi-sate cha sahasse cha tevis-adhike gate punnayam Migasirassa nittham gata va sabbaso (Ini telah diselesaikan dalam menghormati purnama bulan Migasira, yang telah berlalu 1223) tanpa menambahkan kata “tahun” namun jelas yang dimaksudkan adalah “1223 tahun” dan bukan hari atau lainnya [“The Date of Buddha’s Death, as Determined By a Record of Asoka”, J.F. Fleet, I.C.S.(Retd.), Ph.D., C.I.E. Journal of The Royal Asiatic Society, hal. 1-26, 1904].

    Kata 256 ini menjadi bahan kontroversi menarik karena 219 (tahun penobatan) + 37 (lamanya memerintah ref Mhv 20.6, Dipv 5.101) = 256 tahun berlalu sejak parinibannya sang Buddha

  • Kemudian, Inskripsi maklumat Asoka pada pilar batu ke-13 (girnar dan kalsi), tertulis, “Yatra Aṃtiyoko nāma Y[o]na-raja paraṃ ca tena Atiyok[e]na cature 4 rajani Turamaye nama Aṃtikini nama Maka nama Alikasudaro nama” (Disana ada Yunani, rajanya bernama Antiochos, lebih jauh lagi ada 4 raja yang bernama Ptolemy, Antigonos, Maga dan Alexander)

    Antiochos II Theos (261 – 246 SM), Ptolemy II Philadelphos (285 – 247 SM), Antigonos Gonatos (278(1)/276(2) SM – 239 SM), Maga (300 – 258/wafat sebelum 250(2)(3) SM) dan Alexander of Epirus (272 – 258/255(2) SM) atau Alexander of Corinth (252 – 244 SM)

    [Sumber: (1)”The Edicts of King Asoka an English rendering“,Ven. S. Dhammika, 1994; (2) “Early Buddhist Transmission and Trade Networks: Mobility and Exchange Within and Beyond the Northwestern Borderlands of South Asia”, Jason Neelis , hal .82, cat kaki no.52; (3) Magas of Cyrene, cat kaki no.7]

    Irisan tahun kehidupan 4 raja tersebut berada pada dikisaran 260 SM s.d 256 SM. Pilar ini dinyatakan buatan tahun 256 SM (catatan kaki no.25), yaitu tahun pemerintahan Asoka ke-12 (“The Past Before Us”, Romila Thapar, hal.390, cat kaki no.14) atau ke-13 (“Early Buddhist Transmission and Trade Networks:..”, Jason Neelis, hal.82, Cat kaki no.52)

    Jadi, setelah 37 tahun memerintah (Mhv 20.6, Dipv 5.101), Asoka wafat di ± tahun 232 SM atau 256 tahun setelah parinibananya sang Buddha

Purana Hindu:
Bhavishya Purana, DINASTI: Shishunaga – Nanda – Maurya – Shunga


Dinasti Shishunaga:
Dinasti Shishunaga (40 tahun) + Kakavarna (Geiger dan Jacobi menyatakan kakavarna (warna gagak) dan kalasoka (asoka hitam) orang yang sama tapi beda nama: 36/26 tahun) + Ksemadharman (20/36 tahun) Ksemajit/Ksatraujas (40/24 tahun) + Bimbisara (28 tahun) + Ajatashatru (25/27) + Darsaka (22/24 tahun) + Udayin (33 tahun) + Nandiwardana (40 tahun) + Mahanandin/Mahananda (43 tahun) = 328 tahun(1) atau 321 tahun(2)

Mulai Ajatasatru (setelah dikurangi 8 tahun saat wafatnya Buddha) s.d akhir dinasti = 155 tahun(1)/159 tahun(2)

Dinasti Nanda:
Mahapadma Nanda (Visnu Purana: 28 Tahun/Matsya dan Bhavishya Purana: 88 Tahun) + ke-3 anaknya (12 tahun) = 40/100 tahun. (Ada GAP 60 Tahun, Sumber Visnu Purana, lebih dekat ke versi Buddhis/Jain)

Dinasti Maurya:
Chandragupta (24 tahun) + Bindusara (25 tahun) + ASOKA (36 tahun) + Kunala (8 Tahun) + Bandupalita (8 Tahun) + Indrapalita (10 Tahun) + Devavarmana (7 tahun) + Shatadanu (7 Tahun) + Brihadratha (12 tahun) = 137 tahun
Sampai Asoka = 24+24 = 49 Tahun
Ajatasatru – Asoka = 155/159+40/100+ 49 = 244/308 Tahun.
Asoka – Akhir dinasti Maurya = 88 Tahun

Dinasti Shunga:
Pushyamitra, ex-jendralnya Brihadratha (36 tahun) + Agnimitra (8 tahun) +…

    Note:
    (1) “Bhavishya Purana”, B.K. Chaturvedi, hal.65
    (2) “History of Ancient India”, Rama Shankar Tripathi, hal.113.
    Tentang Darsaka,
    Bhasvishya Purana dan Chaturvedi TIDAK menyebutkan berapa lama pemerintahannya namun Chaturvedi menuliskan mulai dari Ajatasatru s.d berakhirnya dinasti = 163 tahun, sehingga Ia memerintah selama 22 tahun. Rama Shankar juga TIDAK menyebutkan lama pemerintahan Darsaka. Literature belakangan, yang menyebutkan adanya pemerintahan Darsaka adalah di Vasavadattanya-nya Bhasa (abad ke-3 Masehi), namun tidak menyebutkan berapa lama Ia memerintah dan diambil dari purana mana. Jadi angka 24 tahun adalah hasil perkiraan para Pengarangnya. Baik literature Buddhism dan Jain, TIDAK menyatakan Darsaka memerintah setelah Ajatasatu.

Karena di Buddhis dan Jain tidak ada nama Darsaka setelah Ajatasatru dan TIDAK semua Purana memuat nama Darsaka, juga nama dan tahun kehidupannya berasal dari literature belakangan, juga 2 litratur purana (Bhavisya/Matsya vs Vayu) untuk Mahapadma Nanda, berselisih 60 tahun, jika ini dikoreksi 22/24 tahun + 60 tahun = 82/84 tahun, maka jumlah tahun wafatnya Buddha sampai Asoka menjadi raja = 222 tahun /224 tahun. Purana juga menyatakan bahwa Asoka memerintah 36 tahun, maka total jumlah tahun berlalu hingga wafatnya Asoka adalah 258 – 260 tahun.

Angka ini TIDAK JAUH berbeda dengan kronologis tahun versi Buddhis Selatan dan juga versi inkripsi-inkripsi yang ditemukan yang menyatakan kisaran 256 tahun berlalu sejak Parinibannanya sang Buddha

Konsili ke-3,
Penemuan arkeologi di beberapa inskripsi pilar Saranath-Kosambi-Sanchi jaman Asoka, menyampaikan pernah terjadi perpecahan dalam Sangha dan telah dibuat bersatu dijamannya (“Asoka”, D.R. Bhandarkar,R. G. Bhandarkar, hal.91-94; Terjemahan Inskripsi dari “Sects & Sectarianism“, Bhikkhu Sujato)

    Sangha bhikkhu dan bhikkhuni telah dibuat bersatu.
    Sepanjang anak-anak dan cucu-cucuku masih hidup, dan sepanjang matahari dan bulan masih bersinar, siapa pun bhikkhu atau bhikkhuni yang memecah belah Sangha akan memakai jubah putih dan tinggal di luar vihara
    Apakah keinginanku?
    Agar kesatuan Sangha akan bertahan lama.

    ’Raja Aśoka,
    Minor Pillar Edict, Sāñchī

Beberapa teks tradisi Utara menyatakan alasan perpecahan aliran diakibatkan oleh bhikkhu tertentu yang penyampai 5 teori tentang Arahat dan nama Bhikkhu yang dituduhkan ini adalah “Mahadeva”, misal:

  • “San louen hiuan yi” karya Ki-tsang dari aliran Mahayana (berdasarkan karya Paramartha dari aliran mahayana), kitab komentar dari “Samayabhedo paracana cakra”, Visumitra: Pemicu pecahnya Mahasamghika dan Sthaviriya adalah karena aktivitas dari Mahadeva yang menambahkan 5 point dan juga MEMASUKAN sutra MAHAYANA ke dalam TRIPITAKA
  • “Samayabhedo paracana cakra”, Vasumitra, aliran Sarvastivada: Nama Bhikkhu yang menyampaikan 5 point: Mahadeva, yang menerima: Aliran Mahasanghika, yang menolak: aliran Stravira [“Mahasamghika Origins: The Beginnings of Buddhist Sectarianism”, hal.247]

    Terdapat 3 terjemahan china untuk kitab ini, yaitu (i) ‘Shi-pa’ pu’ lun, terjemahan entah oleh kumarajiva (401-413) atau Paramartha (546-569). (ii) Pu’ chi-i-lun, Paramartha dan (iii) I-pu’-tsung-lun, Hiuen Tsang (662) [“Buddhist Sects in India”, Dutt, Introduction]

  • “Abhidharma mahavibhasa sastra”, Katyāyāniputra, aliran Sarvastivada: Nama Bhikkhu yang menyampaikan 5 point: Mahadeva, yang menerima: Mahasanghika, yang menolak: Sarvastivadin [“Mahasamghika Origins: The Beginnings of Buddhist Sectarianism”, hal.247]

Berikut ini adalah narasi versi Mahāvibhāṣā (Vasumitra, T 1545):

    Di masa lalu, tersebutlah seorang pedagang dari Mathura, yang beristri cantik dan mempunyai anak rupawan bernama Mahadeva. Ayahnya kemudian dalam waktu yang lama, pergi keluar daerah untuk berdagang. Mahadevapun beranjak dewasa. Ia kemudian melakukan inses dengan ibunya, Ketika tahu ayahnya akan datang, karena takut perbuatannya diketahui, Ia membuat rencana dangan Ibunya dan kemudian, Ia bunuh ayahnya. Perbuatannya perlahan terungkap hingga Ibu-Anak pindah ke Pāṭaliputta. Di sana Ia bertemu seorang Arahat, yang dulu, di daerah asalnya, Ia pernah berdana padanya, karena takut perbuatannya terungkap, Ia bunuh bhikkhu itu. Belakangan karena ibunya bersetubuh dengan lelaki lain, Ia bunuh ibunya.

    Hidupnya penuh keresahan, kemudian Ia mendengar bahwa ajaran Buddha mengajarkan Dhamma untuk melenyapkan kesalahan masa lalu. Ia kemudian pergi ke vihara Kukkuṭārāma dan saat itu, seorang bhikkhu yang sedang berlatih meditasi jalan sambil melantunkan syair, “Jika seseorang melakukan kesalahan berat, dengan melakukan kebajikan, Ia membuatnya berakhir, Orang ini menyinari dunia bagaikan bulan yang muncul dari awan”. Ia tertarik dan girang mendengar ini, maka Iapun memohon penahbisan dan Bhikkhu itu menahbiskannya tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu akan masa lalunya.

      Note:
      Prosedur STANDAR penahbisan bhikkhu yang telah berjalan RATUSAN TAHUN sebelum konsili ke-3 (dan masih BERJALAN RATUSAN TAHUN kemudian) adalah:

      • Kehadiran MINIMUM 10 bhikkhu [dengan pengecualian di daerah yang kekurangan Bhikkhu, misalnya pada kasus YM Soma di Avanti boleh 4 bhikkhu + 1 Vinayadhara] dan harus mempunyai masa vassa MINIMUM 10 tahun, terpelajar dan Kompeten untuk menahbiskan
      • UPAJJHAYA HARUS menyelidiki calon Bhikkhu, yaitu: harus manusia, tidak pernah membunuh: Ibu, ayah, Arahat, melecehkan Bhikkhuni dan banyak lagi yang jika SALAH SATUNYA SAJA atau malah BEBERAPA dari hal itu dilakukan, maka jika Ia belum ditahbiskan maka ia TIDAK BOLEH ditahbiskan, jika IA SUDAH DITAHBISKAN, maka Ia HARUS DIKELUARKAN dari persekutuan.
      • Setelah ditahbiskan, Ia pun harus tinggal 5 tahun untuk mendapat bimbingan dari Upajjhaya/Achariyanya [Mahavagga, Khandaka ke-1, penahbisan]

      Jadi, bagaimana mungkin dari 10 Bhikkhu yang menahbiskan ini, TIDAK 1 PUN yang menanyakan pertanyaan standar berupa asal-usul calonnya?
      Sutra juga telah menghinformasikan bahwa di tempat lamanya perbuatan kejinya telah menyebar, maka BAGAIMANA MUNGKIN dari seluruh bhikkhu di Vihara itu TIDAK 1 PUN yang mendengar masa lalunya disebelum, disaat atau disesudah penahbisan bahkan hingga bertahun-tahun kemudian?

      Untuk itu, ada beberapa kemungkinan tentang ini:

      (1) Kisah ini bohong dan/atau
      (2) Mahadeva tidak pernah membunuh ayah, ibu, arahat tersebut dan/atau
      (3) Para bhikkhu di Vihara itu bukanlah bhikkhu karena TIDAK TAHU prosedur standar dalam menahbiskan dan/atau
      (4) Pengarang kisah ini memakai kacamata aturan vinaya alirannya sendiri sebagai dasar mengarang dan menganggap dimasa lalupun terjadi seperti itu..

    Karena cerdas, tak lama setelah penahbisan, Mahadeva HAFAL SELURUH TRIPITAKA juga trampil dalam berkata-kata, para penduduk Pataliputta menganggapnya pembimbing dan bahkan dianggap Arahat. Karenanya, Raja kerap mengundangnya ke istana untuk berdana dan memohon dhamma. Kemudian, Ia mengajarkan 5 hal kepada para muridnya:

    (1) Ketika Ia mimpi basah, Ia berkata itu terjadi karena gangguan mara yang iri dan bahwa arahat masih memiliki kotoran.
    (2) Arahat masih memiliki ketidaktahuan.
    (3) Arahat dan Pacekka Buddha masih memiliki keragu-raguan.
    (4) Karena muridnya melihat dirinya tidak ingat jalan ketika memasuki kota, Ia berkata Arahat masih belajar dari orang lain dan tidak dapat mengetahui dengan sendirinya.
    (5) Karena telah melakukan sejumlah besar kejahatan, ketika sendirian di tengah malam, kesalahan membebaninya yang membuatnya tertekan dan takut sehingga seringkali berteriak: “Oh (Aho), betapa menderitanya!”. Ketika ditanya muridnya, Ia berkata bahwa Jalan Mulia dapat dimunculkan dengan meneriakan “Aho betapa menderitanya”

      Note:
      Seluruh Bhikkhu, baik atau buruk, arahat atau bukan yang ditahbiskan sebelum konsili ke-3, TIDAKLAH MENGENAL Tripitaka. SEBELUM konsili ke-3, yang ada hanya Sutta dan Vinaya (dvepitaka/dua keranjang) namun SETELAH konsili ke-3, keranjang bertambah satu lagi dengan Abhidhamma sehingga disebut Ti-Pitaka/Tripitaka. Di Cullavagga, Vinaya dan di banyak sutta hanya menyebutkan kata Dhamma/sutta dan Vinaya (+ matika: ringkasan/topik sutta dan/atau patimokha/227 aturan, terkadang matika adalah sinonim dari patimokkha), TIDAK PERNAH menyatakan kata TIPITAKA,

      Jadi teks-teks yang berasal dari tradisi Utara maupun tradisi Selatan yang menggunakan kata TIPITAKA/TRIPITAKA dalam narasinya, maka ini dibuat paling cepat setelah berakhirnya KONSILI ke-3.

      Tanggapan Theravada untuk klaim pandangan tentang arahat ada di KathaVatthu, KV 2.1 s.d KV 2.6. Kathavatthu adalah 1 bagian/kitab Abhidhamma berupa detail point kontroversi saat pembersihan para bhikkhu berpandangan salah di MENJELANG Konsili ke-3.

      Di Katavatthu, terdapat 2 variasi klaim pandangan untuk topik kata “aho”, yaitu: klaim saat memasuki jhana (KV 2.5) dan “aho betapa menderitanya” untuk klaim saat memasuki sang jalan (KV 2.6).

      Karena Mahadeva dikatakan HAFAL TRIPITAKA, maka 5 pandangan yang Ia sampaikan di kisah ini, bisa jadi bukanlah ide orsinilnya, namun berasal dari daftar yang telah ada,

    Kemudian, para bhikkhu sepuh di Vihara Kukkuṭārāma satu persatu wafat. Pada hari ke-15, tibalah waktu untuk Upasatha. Giliran Mahadeva untuk mengajarkan Sila. Ia kemudian mengajarkan pandangannya. Saat itu di sangha ada beberapa siswa yang sedang dalam latihan dan telah mahir yang sangat terpelajar, kokoh dalam sila dan seorang yang mencapai Jhana. Ketika mereka mendengar ajaran itu tanpa kecuali mereka waspada dan berkeberatan, mereka mengeritik bahwa hanya seorang bodoh yang membuat statement itu dengan berkata “Ini tidak ditemukan dalam TRIPITAKA” dan kemudian terjadi debat berkepanjangan yang memunculkan kelompok-kelompok hingga berita ini menyebar ke kota, sampai kementrian negara dan tidak kunjung berhenti, Raja mendengar tentang ini kemudian datang dan ikut mendengarkan perdebatan dan menjadi ragu mana yang Ia percayai. Ketika Raja bertanya bagaimana menyelesaikannya, Mahadeva berkata bahwa dalam vinaya dikatakan untuk menyelesaikan masalah, seharusnya bergantung pada apa yang dikatakan mayoritas.

    Raja memerintahkan kedua kelompok Sangha untuk berdiri terpisah. Kelompok yang tidak setuju adalah kelompok orang mulia, walau tua, jumlahnya sedikit sedangkan kelompok yang setuju adalah kelompok Mahadeva, muda, dan berjumlah banyak. Karenanya mereka Mayoritas. Yang lebih sedikit disebut Sthavira dan yang lebih banyak disebut Mahāsaṅghika, Para orang mulia kemudian meninggalkan vihara Kukkuṭārāma menuju Kashmir dan tinggal di sana. Raja kemudian membangun vihara di Kashmir.. [“Sects and Sectarianism, Bab.5“, Juga lihat di: di sini, di sini, di sini, di sini dan di sini]

      Note:
      Dari 7 cara penyelesaian perkaran (Adhikarana) di Vinaya, salah satunya melalui suara terbanyak/Yebhuyyasika (lihat di MN 104/samagama untuk aplikasinya) yaitu dengan metoda membisikan di telinga, secara rahasia atau terbuka. Apapun itu, SELALU:

      • TIDAK DIMUNGKINKAN adanya campur tangan umat awam dalam pelaksanaan urusan kebhikkuan dan TIDAK DIMUNGKINKAN menyerahkan keputusan penyelesaian perkara kepada umat awam. Penyelenggara kupon suara tetap HARUS Bhikkhu dengan 5 kualitas, yaitu: TIDAK memihak, TIDAK melalui kebencian, kebodohan, ketakutan dan tahu apa yang diambil/tidak. Bhikkhu itu harus diminta kesediannya terlebih dahulu dan kemudian Sangha pun harus diberitahu oleh seorang Bhikkhu lainnya yang berkompeten dan berpengalaman mengenai kesediannya
      • HARUS MEMENUHI 10 SYARAT SAH, diantaranya: JUMLAH Yang menganut dhamma HARUS lebih banyak dan/atau HARUS PASTI bahwa jika dilakukan maka SANGHA TIDAK AKAN TERPECAH atau TIDAK MUNGKIN TERPECAH dan harus diselenggarakan oleh SANGHA YANG LENGKAP bukan SANGHA YANG TIDAK LENGKAP

      Jadi bagaimana mungkin seorang ahli Tripitaka dan juga kumpulan para bhikkhu terpelajar paham dhamma dan vinaya yang ada dalam kisah ini TIDAK TAHU cara MENYELESAIKAN perkara yang NYATA-NYATA ada di 220 aturan+7 aturan penyelesaian masalah dan juga di MN 104/Samagama?

Menariknya,
teks-teks tradisi Utara sendiri, TIDAK KONSISTEN untuk menetapkan nama Mahadeva sebagai pihak yang bertanggung jawab. TERDAPAT BANYAK VARIASI NAMA LAINNYA yang terkait dengan 5 point tentang arahat, misalnya, Nāga (atau Mahāraṭṭha dalam terjemahan Paramārtha), Pratyantika, Bahuśruta, Mahābhadra dan Bhadra (yang kemudian 5 pandangan ini diadopsi oleh Nāga dan Sāramati/Sthiramati) [“Sects and Schims”, Bhikkhu sujato, Bab 4.1]. Mari kita ambil sebagai sample nama Bhadra dalam 2 teks tradisi Utara:

  • “Nikayabheda vibhanga vyakhyana” karya Bhavya, dari Aliran Sammitiya: Nama Bhikkhu yang menyampaikan 5 point: Bhadra
  • Dari Tarkajvala: “137 tahun setelah wafatnya Yang sempurna, Di masa Raja Nanda dan Mahāpadma diselenggarakan pertemuan para Arya di kota Pataliputra yaitu YM Mahakasyapa, Mahāloma (SPU tchen-po), Mahātyaga (gtang-ha tchen-po), Uttara (bla-ma) & (Di buku: ini dan ini ada tambahan nama YM Revata) lainnya. Ketika mereka berkumpul, Mara mengambil bentuk Biksu Badra memamerkan mukjizat menentang mereka dan menyampaikan 5 pandangan yang menyebabkan perpecahan dalam Sangha. Para Sthavira yang bernama Naga, Sthiramati dan Bahuśrutīya mengadopsi pandangan itu dan mengajarkannya (Di buku lainnya nama bahusrutiya/Bahusastra tidak ada dan kalimatnya menjadi: Para Sthavira yang bahusastra (sangat terpelajar) bernama Naga dan Sthiramati). Mereka katakan itu ajaran Buddha. Kemudian sangha terpecah menjadi dua aliran Sthavira dan Mahāsāṃghika. Selama 63 tahun terjadi pertengkaran.

Teks-teks dari tradisi Utara sendiri mengalami perpecahan ketika mencoba menyampaikan siapakah bhikkhu x, sang penyampai 5 point tentang arahat.

Moggaliputta vs Upagupta, Tradisi garis ajaran dan Konsili ke-3

  • Tradisi Utara [Divyavadana, Asokavadana, Abad ke-4 M]:
    Perpecahan Buddhisme
    Berikut narasi “Śāripūtraparipṛcchā sutra”, buatan anonim, abad ke-4 M, yang meminjam figure sang Buddha yang seolah meramalkan masa depan Buddisme:
      Setelah Aku memasuki Parinibbana, Mahākassapa..meneruskan kepada Ānanda. Ānanda -> Majjhantika -> Śāṇavāsin -> Upagupta.

        Note:
        NAMUN tradisi garis leluhur ajaran di teks-teks Sanskrit di tradisi Utara sendiri TIDAK KONSISTEN, walaupun sama-sama mulai dengan kalimat “100 tahun setelah Parinibbana sang Buddha”, misalnya teks aliran Sarvastivadin:

        “mama varṣaśataparinirvṛtasya mādhyandino nāma bhikṣur bhaviṣyaty ānandasya bhikṣoḥ sārdhaṃvihārī..mādhyandino nāmnā ānandasya bhikṣoḥ sārdhaṃvihārī sa upaguptaṃ pravrājayiṣyati” [mūlasarvāstivāda vinaya, khandhaka, Bhaiṣajyavastu] atau di “A-yu-wang-Chuan”/Asokarajavadana, terjemahan SanghaBadra, 506 M menyatakan: Majjhantika/mādhyandina yang menahbiskan Upagupta [“Buddhist Sects in India”, Dutt, hal.127].

        Di sini: Ananda -> Madhyandino -> Upagupta

        Sementara teks lainnya:
        “eṣa ānanda rurumuṇḍo nāma parvataḥ atra varṣaśataparinirvṛtasya tathāgatasya śāṇakavāsī nāma bhikṣurbhaviṣyati so ’tra rurumuṇḍaparvate vihāraṃ pratiṣṭhāpayiṣyati, upaguptaṃ ca pravrājayiṣyati” [Divyavadana no.26/pāṃśupradānāvadānam].

        Di sini: Ananda -> Sanakavasin -> Upagupta

        Sementara,
        Tradisi garis penahbis yang seharusnya adalah:
        Belatthasisa (dari kelompok Uruvela Kassapa) -> Ananda -> 6 Thera Konsili ke-2. Pembimbing/Achariya Ananda adalah Sang Buddha sedangkan upajjhayanya Ananda BUKANLAH Mahakassapa melainkan Belatthasisa.

        Jadi Ananda bukanlah penerus Mahakasyapa

      Setelah Upagupta terdapat raja Maurya Aśoka.. Cucunya bernama Puṣyamitra. Ia naik tahta…

        Note:
        Konon, Upagupta adalah kepala sangha di Mathura pada jaman Asoka. [“Buddhist Sects and Sectarianism”, Bibhuti Baruah, hal.51] dan Konon dikatakan bahwa Ia adalah pendiri Sarvastivada [“Buddhism: A Modern Perspective”, Charles Prebish, hal.42-43] serta konon juga, Asoka menjadi Buddhis adalah karena biksu Balapandita/Samudra dan kemudian biksu Upagupta menjadi gurunya.

        Semua legenda tentang Upagupta hanya ada dalam tradisi Utara dan berasal dari kitab-kitab yang muncul JAUH SETELAH konsili ke-3.

        Upagupta VS Mara: Di konsili ke-3 atau Bukan?
        Kitab lokadipani/lokappannatti (karya Saddhammaghosa, abad ke-11 Masehi) yang beredar di Burma, Laos dan Thailand yang diterjemahkan oleh Phra Dhammadhiraja mahamuni (Abad ke-20) membuat legenda itu TERKAIT dengan pelaksanaan konsili ke-3 namun hasil penelitian John Strong menyatakan sebaliknya bahwa legenda itu TIDAK TERKAIT dengan konsili ke-3.

        Episode di legenda itu adalah tentang sebuah festival megah yang akan diselenggarakan Raja Asoka sehubungan dengan temuan relik-relik Buddha di dalam stupa-stupa yang dulu dibangun Raja Ajatasatru. Relik-relik itu dijaga sekawanan robot mekanik galak buatan Roma yang akan menyerang siapapun yang mencoba masuk. Oleh karenanya Raja Asoka harus menemukan mekanik ahli yang dapat melumpuhkannya dan untuk mengantisipasi gangguan Mara saat berlangsungnya festival relik, Raja Asoka memohon petunjuk sangha, kemudian seorang samanera sakti menganjurkan Raja agar meminta bantuan Kisanaga Upagupta [“The Legend and Cult of Upagupta: Sanskrit Buddhism in North India and Southeast Asia”, John Strong, Ch 9. Lokapannati].

        Informasi dari John Strong dalam episode UPAGUPTA vs MARA di Lokapannatti ADALAH SELARAS dengan legenda-legenda lain tradisi Utara tentang Upagupta untuk episode yang sama.

        Dinasti Maurya atau Dinasti Shunga?
        Pushyamitra BUKAN cucu Asoka namun senapati raja terakhir dinasti Maurya, Brhihadrata, setelah membunuhnya, Pushyamitra mendirikan dinasti Shunga dan memerintah 36 tahun, kemudian digantikan Agnimitra.

        Pushyamitras-tu senanir-udhritya Sa Brihadratham-Karishyati Sa Vai rajyam- Shattrims’ati sama nripah (Pushyamitra, Panglima Tertinggi, akan mencabut Brihadratha dan memerintah selama 36 tahun – Matsya Purana)
        Tatah Pushyamitrah Senapatih Svaminam hatva rajyam Karishyati (Senapati Pushyamitra akan memerintah setelah membunuh tuannya – Vishnu Purana) [Dari: “HISTORY OF MAGADHA FROM c. 187 B.C. TO A.D. 300“, Ray, Murari Mohan, ch.2]

        Kronologis kejadian perpecahan di sutra ini terjadi pada jaman raja ke-1 atau ke-2 dinasti Shunga BUKAN di jaman Asoka.

        Jarak Asoka – akhir Dinasti Maurya = 37 + 52 = 89 tahun (Jadi jarak dari wafatnya Sang Buddha s.d mulainya Pushyamitra = 218 + 89 = 307 tahun). Kronologi raja Srilanka mulai Devanampiyatissa, memerintah 40 tahun mulai tahun ke-18 Asoka [40 + 19 (37 tahun Asoka-18/Devanampiyatissa) = 59 tahun] (Mhv 20.28. Dipv 17.82) sampai dengan 30 tahun kemudian mulai dari Raja Uttiya – Suratissa (Mhv 20.57-21.3, Dipv 17.93-18.46) = 59 + 30 = 89 Tahun. Jadi, Raja Sri Lanka yang hidup sejaman Pushyamitra adalah Raja Sena, Guttika, Asela dan Elara.

      [berikutnya diceritakan Puṣyamitra menghancurkan dan menindas Buddhisme, seperti yang diterjemahkan Lamotte, “History of Indian Buddhism”, hal.389-390. Yaitu 500 Arahat diperintahkan Sang Buddha untuk tidak memasuki Nibbana, tetapi berdiam di alam manusia untuk melindungi Dharma. Ketika Puṣyamitra hendak membakar teks Sutta-Vinaya, Maitreya menyelamatkannya dan menyembunyikannya di surga Tusita

      Klaim penindasan Pushyamitra terhadap Buddhisme berupa penghancuran vihara-vihara dan membunuhi para bhikkhu hanya muncul di tradisi Utara (contoh lain di Divyavadana: shokavadana) tapi tidak ada di tradisi Selatan. Oleh karenanya, di hal. 392, E. Lamotte menyatakan: “Untuk menghakimi lewat teks, Pushyamitra harus dibebaskan karena kurangnya bukti. Namun demikian, seperti yang dikemukakan H. Kern..ada kemungkinan di beberapa daerah, telah terjadi penjarahan vihara, dengan izin diam-diam dari gubernur“]

      Sifat raja berikutnya sangat baik. Boddhisattva Maitreya.. menciptakan 300 orang pemuda yang turun ke alam manusia untuk mencari jalan Buddha. Mengikuti ajaran Dhamma 500 Arahat, Para pria dan wanita di negeri raja ini berbondong-bondong memohon penahbisan. Demikianlah para bhikkhu dan bhikkhuni kembali ada dan berkembang. Para Arahat pergi ke alam surga dan membawa Sutta dan Vinaya kembali ke alam manusia

      Pada saat itu, ada seorang bhikkhu bernama “Bahuśruta”, memohon pendapat pada para arahat dan raja, bermaksud untuk membangun sebuah paviliun untuk Sutta-Vinaya-Ku, dengan membuat sebuah pusat pendidikan bagi mereka yang bermasalah

        Note:
        Dalam pandangan Mahayana, nibbana dan Parinibbana adalah semacam alam padahal dalam tradisi selatan, seorang disebut Arahat adalah karena Ia padam/Nibanna dan yang diajarkan sang Buddha adalah cara untuk mengakhiri dukkha/nibanna bukan mencapai alam nibanna.

        Maka bagaimana mungkin sang Buddha malah memberikan perintah mereka yang telah padam untuk tidak padam?

        Sutta-Sutta dan Vinaya hingga berakhirnya dinasti Shungga masih diturunkan secara oral dan BELUMLAH DITULISKAN, maka apa yang harus dibakar?

        Juga karena masih ada 500 Arahat, maka apa perlunya mengambil sutta dan vinaya di surga? Bukankah mereka ini juga dapat menahbikan dan mengajarkan pada 300 manusia ciptaan ini agar juga mencapai arahat?

      Pada saat itu ada seorang bhikkhu sepuh yang menginginkan kemashyuran, selalu ingin mempertahankan pandangannya sendiri. Ia mengubah, menambah dan memperluas Vinaya-ku, suatu yang dikembangkan Kassapa yang disebut “Mahāsaṅghikavinaya”. Ia mengambil dari luar dan mencampurkanya dengan yang ada, para pemula menjadi tertipu. Mereka membentuk kelompok berbeda, masing-masing membahas apa yang benar dan salah

      Pada saaat itu, ada seorang bhikkhu yang memohon putusan raja. Raja mengumpulkan dua kelompok itu, menyiapkan potongan kayu berwarna hitam dan putih untuk voting dan mengumumkan kepada mereka: ‘Jika kalian menyukai Vinaya lama, ambillah kayu hitam. Jika kalian menyukai Vinaya baru, ambillah kayu putih’. Yang mengambil kayu hitam berjumlah 10.000, hanya 100 yang mengambil kayu putih. Raja menganggap bahwa itu semuanya kata-kata Sang Buddha, tetapi karena berbeda dalam hal yang disenangi mereka seharusnya tidak berbagi tempat tinggal yang sama.

        Note:
        Selain membuat aturan baru mengajar agar tidak padam, Sutra ini juga membuat aturan vinaya baru yaitu: Penyelesaian masalah kebhikkhuan melalui Voting/Yebhuyyasika dapat dilakukan dengan campur tangan umat awam sebagai wasit pemutus padahal ini adalah kasus kebhikkhuan BUKAN kasus umat awam yang pura-pura menjadi Bhikkhu.

        Lucunya hasil campur tangan umat awam ini malah menghasilkan perpecahan dalam sangha. Dalam MN 104/Samagama, dicontohkan aplikasi pendapat mayoritas:

        “Dan bagaimanakah terjadinya pendapat mayoritas? Jika para bhikkhu itu tidak dapat menyelesaikan perkara itu di dalam tempat kediaman itu, maka mereka harus mendatangi tempat kediaman di mana terdapat lebih banyak bhikkhu. Di sana, mereka semuanya harus berkumpul bersama dalam kerukunan. Kemudian, setelah berkumpul, tuntunan Dhamma harus ditetapkan. Begitu tuntunan Dhamma telah ditetapkan, perkara itu harus diselesaikan sedemikian sesuai dengan tuntunan Dhamma itu. Demikianlah pendapat mayoritas. Dan demikianlah terjadinya penyelesaian perkara-perkara di sini dengan penghapusan perkara melalui pendapat mayoritas”

        Juga dalam Vinaya tradisi selatan ditegaskan bahwa penyelesaian perkara melalui suara mayoritas HANYA BOLEH digunakan jika tidak membuat perpecahan dalam sangha.

      Mayoritas yang melatih diri dengan (vinaya) lama karenanya disebut ‘Mahāsaṅghika’. Minoritas yang melatih diri dengan (Vinaya) baru adalah para Sesepuh, sehingga mereka disebut ‘Sthavira’. Juga, Sthavira dibentuk, aliran Sthavira

        Note:
        Kata “Sthavira” vs “Mahasanghika”
        Pemakaian kata “Sthavira/Thera (= tua/sepuh dalam masa vassa)” dan “Mahasanghika (= kelompok yang besar jumlahnya baik itu sepuh ataupun tidak)” hanyalah penamaan untuk membedakan dan tidak ada hubungannya dengan perbedaan pandangan-pandangan aliran. Di perkembangan selanjutnya, ini kemudian menjadi pembeda aliran, yaitu mereka yang belatih vinaya dan sutta dari konsili ke-1 dan 3 disebut aliran para sepuh atau Sthavira/TheraVada. Sementara yang bukan, yang jumlahnya memang lebih besar disebut aliran Mahayana.

      300 tahun setelah wafat-Ku, dari perselisihan ini muncul:

      • Sarvāstivāda dan Vātsīputrīya [Puggalavādin]
      • Dari Vātsīputrīya muncul aliran Dharmottarīya, aliran Bhadrayānika, aliran Saṁmitīya, dan aliran Ṣaṇṇagarika.
      • Dari aliran Sarvāstivādin memunculkan aliran Mahīśāsaka, Moggaliputtatissa [atau Moggali-upatissa; atau Moggala-upadeśa] memulai aliran Dharmaguptaka, aliran Suvarṣaka, dan aliran Sthavira. Lagi muncul aliran Kaśyapīya dan Sautrantika.

      Dalam 400 tahun muncul aliran Saṁkrāntika.

      Dari aliran Mahāsaṅghika, 200 tahun setelah Nibbana-Ku, karena pendapat lain muncul aliran Vyavahāra, Lokuttara, Kukkulika, Bahuśrutaka, dan Prajñaptivādin

        Note:
        Perpecahan Mahāsaṅghika yang dikatakan terjadi 200 tahun setelah wafatnya Sang Buddha ini membingungkan karena menempatkan Pushyamitra berada dikurun waktu 200 tahun setelah wafatnya sang Buddha!

      Dalam 300 tahun, karena perbedaan dalam pengajaran, dari 5 aliran ini muncul: aliran Mahādeva, aliran Caitaka, aliran Uttara [śaila]

      Demikianlah terdapat banyak [aliran] setelah suatu periode kemunduran yang panjang. Jika tidak seperti ini, akan terdapat hanya 5 aliran, yang masing-masing berkembang.

        Note:
        Sang Buddha yang membolehkan Buddhisme pecah menjadi 5 aliran untuk hidup rukun dalam perbedaan adalah membingungkan, karena TIDAK PERNAH sang Buddha menyetujui adanya SANGHABEDHA (perpecahan dalam sangha) dan menyatakan bahwa sangha harus tetap dalam satu kesatuan

      [Sumber: “Sects and Sectarianism“, Bhikkhu Sujato, bab.4.3]

  • Tradisi Selatan [Dipavamsa/Abad ke-4 M; Mahavamsa dan Samantapasadika/bad ke-5 M]:
    Hubungan antara konsili ke-2 dan konsili ke-3
    Para Thera di konsili ke-2, melihat setelah berlalu 118 tahun, kekisruhan Buddhisme akan terjadi dan seorang anak dari keluarga Bramana Moggali (Moggaliputta) akan menyelesaikannya, maka Siggava dan Candavajji diinstruksikan untuk menemukan dan mendidik anak itu [Mhv 5.95-103].

    Tradisi jalur Vinaya di konsili ke-3:
    Upali (30 tahun) -> Dasaka (50 tahun) -> Sonaka (44 tahun) -> Siggava (55 tahun) dan CandaVajji -> Moggaliputta Tissa (68 Tahun) [Mhv 5.104-153 dan Dipv 5.95-99]

    Upali menahbiskan Dasaka. Upali wafat 30 tahun setelah sang Buddha wafat, yaitu di tahun ke-6 pemerintahan UdayaBhadda (Sang Buddha wafat di tahun ke-8 pemerintahan Ajjatasattu + 24 tahun lagi sebelum UdayaBhadda) [Dipavamsa 4.38].
    Saat masa vassa Dasaka 40 tahun [Dipv 5.78] (Upasampada Dasaka tahun ke-16 Vijaya (dari 37 tahun) + tahun ke-20 Pangluvasudeva, Dipv 4.41; 5.77-78), Ia menahbiskan Sonaka.
    Saat masa vassa Sonaka 40 tahun Ia menahbiskan Siggava dan Candavajji. Saat itu adalah 100 tahun Nibannanya Sang Buddha dan 10 tahun pemerintahan Kalasoka (Dipv 4.44-46; 5.78-80).

    Apakah Sonaka = Sambhuta Sanavasin?
    Ketika Sang Buddha telah wafat selama 100 tahun maka Ananda telah wafat selama 60 tahun, Sehingga ketika konsili ke-2 berjalan, Sambhuta Sanavasin sudah bervassa > dari 60 tahun, sementara Sonaka baru 40 tahun (Ia pertama kali bertemu Dasaka saat berusia 15 tahun). Jadi Sonaka TIDAK PERNAH bertemu Ananda dan SONAKA bukanlah Sambhuta.

    Karena 700 yang dipilih Revata di konsili ke-2 adalah Bhikkhu Arahat dan mereka menugaskan murid Sonaka yaitu Siggava dan Candavajji untuk kelak menerima dan mendidik Moggaliputta, Maka Sonaka jelas ikut terlibat dalam Konsili ke-2.

    Kemudian,
    Tradisi Selatan TIDAK MENYEBUTKAN adanya Upagupta di jaman Asoka atau lebih tepatnya TIDAK ADA Upagupta di Jaman Asoka [Buddhist Saints in India: A Study in Buddhist Values and Orientations, Reginald A. Ray, hal.119]. Oleh karenanya, TIDAK ADA PULA PERTEMUAN Upagupta dengan ASOKA dan TIDAK ADA PULA episode UPAGUPTA vs MARA.

    Asoka dan Konsili ke-3
    Mulai tahun ke-3 pemerintahan Asoka,
    Asoka menjadi Buddhis (berlindung pada Tiratana dan memohon sila) setelah bertemu dan mendengar dhamma dari samanera/Calon bhikkhu bernama Nigrodha (ponakannya, anak dari Sumana/Susima) [Mhv 5.72]. Sejak itu, setiap hari, Asoka berdana pada makin banyak Bhikkhu, hingga nantinya berjumlah puluhan ribu [Mhv 5.73], Ia bertemu Moggaliputta Tissa di VIhara dan menyatakan akan membangun 84.000 Vihara di kerajaannya [Mhv.5.78]

    Di tahun ke-4,
    Saudara tirinya (Tissa) dan mantunya (Agnibrahma) menjadi Bhikkhu. [Mhv 5.171]

    Di tahun ke-6,
    Pembangunan 84.000 Vihara dan Asokaarama, selesai dan pada hari ke-7 diadakan Festifal perayaan di seluruh tempat di mana Vihara-vihara itu dibangun. Di hari perayaan, namanya berubah dari Candasoka menjadi Dharmasoka [Mhv 5.176-189] juga 2 anaknya yaitu: Mahinda (Pria, 20 tahun) menjadi Bhikkhu dan Sanghamitta (Wanita, 18 tahun) menjadi Bhikkhuni (mungkin setelah suaminya, Agnibrahma, menjadi Bhikkhu, Ia bersiap menjadi calon Bhikkhuni dengan melatih 6 sila selama 2 tahun, makanya di hari itu Ia bisa ditahbiskan). [Mhv 5.200-211; “Asoka”, Mookerji Radhakumud, hal.110].

    Ketika Mahinda ditahbiskan: (1) Mahadeva sebagai guru/ācariya-nya (ada 4 jenis ācariya: a. pabbaja-acariya/Guru penahbisnya ketika menjadi samanera dan yang memberi 10 sila; b. upasampada-acariya/Guru saat penahbisan/kamavacariya: pembaca usul dan keputusan saat upasampada; c. Dhamma-acariya/Guru pemberi dhamma; d. nissaya-acariya/Guru tempat bhikkhu baru tinggal bergantung selama maksimal 5 tahun); (2) Majjhantika sebagai guru Kammavaca-nya; (3) Moggaliputta Tissa sebagai Upajjhaya-nya (yang melantiknya menjadi Bhikkhu dan pemberi sila kebhikkhuan).

    Ketika Sanghamitta ditahbiskan: [Setelah 2 tahun menjalankan 6 Sila] (1) Bhikkhuni Ayupala sebagai acariya-nya dan (2) Bhikkhuni Dhammapala sebagai upajjhaya-nya. Setelahnya, Ia juga ditahbiskan dihadapan Sangha Bhikkhu [ini disebut ubhatosaṃghe-upasampadā/Pentahbisan dihadapan dua sangha: AN 8.51 dan Cullavaga X di aturan ke-6 aṭṭha garudhamma]

    Pentahbisan dengan natticatuttha-kammavaca (4 permakluman: 1x usulan/natti + 3x pernyataan permohonan, sample: ..Upajjhaya: “Sekarang saatnya engkau, xxxx, memohon pada sangha untuk mentahbiskanmu”. xxxx: “Yang mulia para bhante Saya memohon penahbisan, Saya mohon welas kasih para bhante untuk mengangkatku”-3x..). Jika untuk Bhikkhu dilakukan 1x dihadapan sangha Bhikkhu, namun untuk Bhikkhuni jadi 2x, yaitu pertama dihadapan sangha bhikkhuni dan kemudian dihadapan sangha Bhikkhu.

    Di tahun ke-8,
    Di satu waktu, di arama kerajaan, seorang Bhikkhu Arahat bernama Tissa kakinya digigit binatang beracun, Ia tidak ingin meminta obat ketika waktunya makan pagi, karenanya lukanye menjadi parah dan mengakibatkan kematian, Ia kemudian bersiap untuk Parinibbana dengan mengambil objek panas, tubuhnya melayang di udara, api keluar dari dalam tubuhnya membakar kulit dan dagingnya namun tidak tulangnya, Asoka mengetahui kejadian ini mengumpulkan relik tubuhnya untuk diberi penghormatan. dan kemudian memastikan tersedia juga cukup obat-obatan. Kemudian Adiknya yang juga Arahat (Sumitta) Parinibbananya bahkan dengan meditasi jalan. Karena ini, maka begitu banyaknya orang yang kemudian pindah doktrin keyakinan yang mengakibatnya sangat melimpahnya perolehan untuk Sangha [Mhv V.212-227]. Karena makin banyak yang pindah doktrin maka perolehan dan penghormatan yang diterima para petapa doktrin heretik menjadi jauh berkurang, Demi perolehan dan penghormatan, mereka berjubah kuning, menjadi bhikhhu penggelap, tinggal bersama para Bhikkhu di vihara-vihara seluruh negeri, menyampaikan doktrin-doktrin mereka sebagai ajaran Buddha dan mebawa tradisi mereka sebagaimana yang mereka inginkan [Mhv 5.228-230].

    Bhikkhu Moggaliputta Tisa, memperhatikan perkembangan ini, Ia kemudian menyerahkan kumpulan bhikkhu yang bersamanya kepada Mahinda, dan Ia menuju Ahoganga (area atas sungai Gangga, ini tidak sama dengan urumunda yang terletak di Mathura) menyepi 7 tahun lamanya. [Mhv 5.231-233]

    Karena begitu banyaknya para heretik dan kekisruhannya, para bhikkhu tak dapat mengendalikan mereka dengan aturan, akibatnya, para bikkhu seluruh negeri yang menjalankan vinaya tidak mau atau TIDAK DAPAT melakukan pemurnian diri (menyelanggarakan pembacaan Patimokha di hari Uposatha) bersama para biksu pencuri/penggelap ini.hal ini berlangsung 7 tahun lamanya. [Mhv 5.234]

      Note:
      Mengapa tidak bisa melakukan Uposatha bersama dengan para heretik?
      Karena saat Uposatha dibacakanlah Patimokha, jadi, jangankan sedang berada bersama para non bhikkhu ini, bahkan jika bersama kumpulan para bhikkhu yang di kumpulan itu ada bhikkhu yang tidak murni (melakukan pelanggaan) maka bhikkhu itu TIDAK BOLEH mendengarkan pembacaan Patimokha, karena di kumpulan itu banyak umat awam yang menyamar jadi bhikkhu, maka tidak bisa dilakukan pembacaan Patimokha. Berikut dari Cullavagga bab 9, tentang Penangguhan patimokha saat Uposatha:

      “Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Sekarang, Aku, para bhikkhu, untuk seterusnya tidak akan melaksanakan Uposatha, Aku tidak akan membacakan Pātimokkha; sekarang kalian sendiri, para bhikkhu, yang harus melaksanakan Uposatha, harus membacakan Pātimokkha. Tidaklah mungkin, para bhikkhu, tidaklah selayaknya bahwa Sang Penemu-kebenaran harus melaksanakan Uposatha, harus membacakan Pāṭimokkha bersama dengan kelompok yang tidak sepenuhnya murni.

      Juga, para bhikkhu, Pātimokkha tidak boleh didengarkan oleh seseorang yang melakukan pelanggaran. Siapa pun yang mendengarkannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah, aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk menangguhkan Pātimokkha bagi ia yang, setelah melakukan pelanggaran, mendengarkan Pātimokkha.

      Dan beginilah, para bhikkhu, penangguhan itu: Pada hari Uposatha, apakah tanggal empat belas atau lima belas, jika orang itu hadir maka hal ini harus diucapkan di tengah-tengah Saṅgha: ‘Yang Mulia, Mohon Saṅgha mendengarkan saya. orang itu melakukan pelanggaran; saya menangguhkan Pāṭimokkha baginya, Pātimokkha tidak boleh dibacakan jika ia hadir’ – (demikianlah) Pātimokkha ditangguhkan”

      Juga aturan mengenai alasan-alasan untuk menangguhkan pelaksanaan Uposatha lihat di Mahavagga, Khandhaka 2

      Theyyasaṃvāsako, bhikkhave, anupasampanno na upasampādetabbo, upasampanno nāsetabboti. Titthiyapakkantako, bhikkhave, anupasampanno na upasampādetabbo, upasampanno nāsetabbo (Para bhikkhu, Orang yang berada dipersekutuan dengan cara gelap tidak dengan penahbisan, tidak boleh ditahbiskan; jika ditahbiskan, ia harus dikeluarkan. Seorang yang pindah ke lain aliran tidak ditahbiskan, tidak boleh ditahbiskan; jika ditahbiskan, ia harus dikeluarkan) (Syarat ditahbiskan: Mahavagga, Theyyasaṃvāsakavatthu)
      mereka yang tanpa upajjhaya, grup sebagai upajjhaya, sangha sebagai upajjhaya, Theyyasamvasako sebagai upajjhaya dan Tittiyapkkhantako sebagai upajjhaya tidak boleh ditahbiskan, yang menahbiskan mereka melakukan pelanggaran perbuatan salah/dukkhata (Syarat Upasampada (tahbiskan): Mahavagga, Anupajjhāya-kādivatthu)
      Pacittiya no. 68/69: Tidak melakukan Uposatha Sanghakamma bersama: penggelap (theyya) atau mereka yang menyampaikan kotbah bertentangan dengan Dhamma Sang Buddha dan walaupun bhikkhu lain melarangnya berbuat demikian tetapi ia tetap tidak memperdulikannya

    Tahun ke-17,
    Ketika Raja Asoka tahu, beliau memerintahkan menterinya mendatangi para Bhikkhu agar melakukan pemurnian diri. Sang Menteri kemudian menemui Para Bhikkhu pemegang teguh vinaya menyampaikan pesan raja, namun mereka TETAP MENOLAK melakukan pemurnian diri bersama para bhikhu palsu. Jengkel dengan jawaban ini, Sang Menteri menghunus pedangnya dan memenggal kepala para Bhikkhu yang menolak beruposatha, satu demi satu, hingga kemudian Tissa, bergegas menghampirinya yang membuat Menteri ini tidak berani meneruskannya dan kembali pada raja memberikan laporan. Mengetahui ini, Asoka diliputi penyesalan dengan pikiran apakah dirinya ikut bertanggung jawab atau tidak atas hal ini [Mhv 5.235-244]

    Raja kemudian mengundang Moggaliputta Tissa untuk kembali dari gunung Ahoganga. Undangan raja 2x ditolaknya dan yang ke-3x, diterimanya, Ia menuju Pataliputra dengan perahu dan menetap 7 hari lamanya. Moggaliputta kemudian meminta Raja mengundang para bhikkhu di Asokarama Pataliputta dan duduk disebelah Moggaliputta Tisa, Pertanyaan diajukan Moggaliputta kepada mereka dan 60.000 yang teridentifikasi berpandangan salah, diusir raja dari kumpulan dan raja bertanya doktrin apa yang diajarkan Sang Buddha, Moggaliputta tissa mengatakan doktrin analisis dan logika. Setelah itu barulah Uposatha diselenggarakan.[Mhv 245-274]

      Note:
      Dalam kasus Devadatta dan kelompoknya, Sang Buddha TIDAK PERNAH menyatakan Devadatta dan kelompoknya TIDAK LAGI di persekutuan. Karena aturan itu, ditetapkan sang Buddha SETELAH KEMUNCULAN kasus Devadatta, oleh karenanya, seluruh bhikkhu yang ditahbiskan kelompok devadatta TETAP SAJA bhikku dan saat mereka kembali pada sangha pimpinan sang Buddha, mereka TIDAK PERLU ditahbisan ke-2 kalinya

      Pengujian pandangan akan menentukan jati diri mereka apakah mereka mengikuti tradisi yang disampaikan sang Buddha (konsili ke-1 dan 2) atau tidak, untuk itu ada 2 kategori kelompok umat awam yang menyamar sebagai bhikkhu di sangha saat itu, yaitu:

      • Garis tradisi leluhur Vajjiputtaka/Vatsiputriya eks konsili ke-2 yang sejak konsili ke-2 tidak lagi tunduk pada aturan vinaya konsili ke-1 dan 2 sehingga mereka yang memisahkan diri ini dan turunan alirannya, BUKAN LAGI BHIKKHU sangha Sang Buddha, Walaupun mereka tetap berjubah dan/atau berjubah dengan penahbisan tradisi Vajjiputtaka/Vatsiputriya grup dan kemudian apakah mereka tetap dengan pandangan dan tradisi kaumnya atau bahkan ikut tradisi dhamma sang buddha konsili ke-1 dan 2 NAMUN tidak ditahbihkan ulang, maka walaupun berjubah, bertindak seperti bhikkhu dan malah menggunakan aturan kebhikkhuan yang bahkan sama, mereka TETAP SAJA BUKAN bhikkhu
      • Yang berinisiatif sendiri untuk berjubah atau yang tidak ditahbiskan secara benar dengan aturan vinaya adalah bukan bhikkhu

      Kedua tipe di atas ini masuk kategori umat awam dan BUKAN BHIKKHU, oleh karenanya aturan vinaya untuk mengeluarkan mereka dari sangha tidak diperlukan. Mereka ini masuk kategori penipuan yang untung saja, mereka ini, tidak dipenjarakan Raja.

    Kemudian, Moggaliputtatissa, dari ribuan Bhikkhu yang telah dimurnikan ini, memilih 1000 Bhikkhu arahat untuk melakukan pertemuan. Inilah yang kemudian disebut sebagai KONSILI KE-3. Pertemuan ini diselenggarakan selama 9 bulan [Mhv 275-281] mengulang pembacaan Dhamma dan vinaya, membuat notulen konsili, menyusun ringkasan dhamma, analisis mendalam tentang berbagai topik dhamma, juga point-point kontroversi atas doktrin berbagai aliran dan sanggahannya sebanyak 7 bagian/kitab, yang disebut kitab Abhidhamma.

    Tahun ke-18/tahun ke-236 sejak parinibbananya sang Buddha,
    Moggaliputta Tisa mengutus Mahinda bersama Itthiya, Uttiya, Sambala dan Bhaddasala (Mhv 12.7, juga samanera Sumana, anak Samghmitta, Mhv 13.4) untuk menyebarkan Buddhisme ke-Srilanka, juga mengutus 8 lainnya (beserta sejumlah bhikkhu) ke beberapa negara lainnya [Mhv 12.1-8] yang diantaranya adalah Majjhantika yang diutus ke Gandhara dan Kashmir. Di Kashmir, Majjhantika menaklukan Naga dan menyebarkan Buddhism. Mathura terletak di Utara Kashmir.

      Note:
      Beberapa arti dan definisi dari Naga:

      • Nama suku yang tersebar di beberapa wilayah, missal: Kashmir, Assam, Sri Lanka, dll. (A Social History of India, S. N. Sadasivan, hal.327-329) atau kumpulan orang yang menyembah mahluk supranatural Naga (“RELIGION AND PHILOSOPHY“, Dr. Sunil Chandra Ray)
      • orang yang memiliki kekuatan dan daya tahan luar biasa. Misal: Sang Buddha disebut: nāga karena kekuatan-Nya; singa (sīha) karena tanpa-ketakutan; berdarah murni (ājāniya) karena pemahaman-Nya akan apa yang telah Ia pelajari (byattaparicayaṭṭhena), atau karena Ia mengetahui apa yang benar dan apa yang salah; sapi pemimpin (nisabha) karena Ia tanpa tandingan; binatang pembawa beban (dhorayha) karena Ia membawa beban; jinak (danta) karena ia bebas dari perilaku menyimpang) [SN 1.38/Pecahan batu]. Para Bhikkhu arahat juga disebut Naga (SN 1.37)
      • Pemikiran dan tindakannya yang luar biasa (Udana 4.4 dan 4.5. SN 1.37, 38)
      • Karena UKURANNYA luar biasa (AN 6.43/Naga sutta)
      • Mahluk supranatural yang berbentuk kobra besar, kadang berkepalanya satu, kadang banyak. Beberapa berkemampuan berubah bentuk menjadi Manusia. [Mahavagga I.63].

    Majjhantika dan Upagupta
    Berkenaan mereka berdua, terdapat beberapa kesamaan yang ada antara tradisi Utara dan Selatan:

    • Majjhantika TIDAK DISEBUTKAN KEBERADAANYA di konsili ke-2.
    • Upagupta TIDAK DISEBUTKAN KEBERADAANNYA baik di Konsili ke-2 maupun di konsili ke-3
    • Kedua Tradisi sama-sama menyebutkan bahwa Majjhantika pergi ke Gandhara dan Kashmir, menaklukan Naga dan menyebarkan Buddhism di sana
    • Mathura terletak di Utara Kashmir

    Menurut Tradisi Selatan, di SEBELUM KONSILI ke-3, Aliran-aliran yang berpandangan salah, termasuk Sarvastivada, telah dibersihkan dan Kathavatthu memuat rincian pandangan ajaran aliran yang TELAH TERTOLAK ketika diuji melalui DHAMMA dan VINAYA dan bukan melalui voting, sehingga JIKA BENAR memang ada Upagupta dan JIKA BENAR Ia yang menciptakan aliran Sarvastivadin dan juga JIKA BENAR Ia adalah murid Majjhantika, maka benang merah yang MUNGKIN adalah ketika Majjhantika ke Kashmir dan karena Mathura ada di utara Kashmir, maka di situlah Upagupta menjadi murid Majjhantika, sehingga sangat mungkin bahwa legenda tentang Upagupta baru muncul di setelah berakhirnya konsili ke-3.

    Bukti keberadaan Moggaliputta Tissa
    Walaupun Moggaliputta Tissa TIDAK ADA disebutkan dalam teks-teks tradisi Utara dan HANYA ADA di teks-teks tradisi Selatan, namun NAMANYA dan kegiatannya ditemukan dalam penemuan arkeologi dari Inskripsi pada relik peti pada stupa no.2 di Sanchi dan Sonari tertulis: Sapurisasa Mogaliputasa (Orang suci Moggaliputta), juga untuk nama Majjhima, Kassapagotta dan Dundhubhisara (Yang dikirim ke Himalaya). [Journal of the Royal Asiatic Society of Great Britain & Ireland, Vol.13, hal.110-111]

Sehingga diakhir konsili ke-3, yaitu ditahun ke-236 sejak parinibbananya sang Buddha, resmilah Buddhisme mempunyai Tipitaka/Tripitaka (3 keranjang), yaitu: Dhamma/sutta-sutta, Vinaya dan Abhidhamma.

Apakah Kitab Abhidhamma Sabda dari Sang Buddha?

Abhidhamma (yang 7 kitab) hanya terdapat di 2 aliran saja, yaitu: Theravāda (dalam bahasa Pali) dan Sarvāstivāda (Mahayana, hanya ada dalam bahasa Tionghoa, tidak ada dalam Prakrit dan Sanskrit). Walaupun sama-sama 7 kitab namun penamaannya dan juga isinya berbeda. J. Takakusu menyatakan: “Membandingkan dua set Abhidhamma, sejauh yang bisa saya akses, saya tidak menemukan point apapun, baik dalam bentuk atau materi yang bisa membawa kita untuk berpikir bahwa keduanya sama..” (“The Abhidharma Literature, Pāli and Chinese”, J. Takakusu, hal.160-162). [Abhidharma lain yang hanya 5 kitab: “Śāriputra Abhidharma Śāstra” (tampaknya setelah masehi, dari aliran Dharmagupta), lainnya lagi yang juga tidak 7 kitab: “Tattvasiddhi” oleh Harivarman (abad ke-3/4 M, asal aliran tidak jelas: Suttavada, Bahussutiya, Dharmaguptaka atau lainnya)]

Kitab komentar menyatakan: Sang Buddha, di tahun ke-7 ke-Buddha-an, pergi ke Tavamtisa mengajarkan Abhidhamma kepada IbuNya (Nama devanya: Santusita, namun di Thag.vss.533f, ThagA.i.502, nama devanya: Māyādevaputta). Saat pembabaran itu, IbundaNya mencapai sotāpanna [Kitab komentar untuk: Jataka no.483 dan Dhammapada no. 181].

Kejadian ke Tavamtisa diawali peristiwa pertunjukan kesaktian dihadapan umat awam yang dilakukan YM Pindola Bhâradvadja pada hari ke-7, setelah 6 hari lamanya, 6 guru terkemuka [Purana Kassapa, Makkhali Gosala, Ajita Kesakambali, Pakudha Kaccayana, Sanjaya Belatthiputta, Nigantha-Nataputta] gagal memberi bukti kepada seorang pedagang kaya Rajagaha yang tidak percaya arahat sejati ada karena dibingungkan begitu banyaknya yang mengaku sebagai Arahat, untuk itu, Ia membuat mangkuk dari cendana dan menggantungkannya di atas rangkaian bambu setinggi 60 lengan dan mengumumkan, “Arahanta sejati boleh mengambil mangkuk ini dengan cara terbang ke angkasa”.

Kejadian YM Pindola menghebohkan penduduk Rajagaha sehingga mereka mengekoriNya. Kegaduhan ini diketahui sang Buddha. YM Ananda menerangkan sebab terjadinya kegaduhan dan Sang Buddha menetapkan larangan, “Para bhikkhu…seorang bhikkhu tidak memperlihatkan kesaktiannya di hadapan umat awam; dan ini adalah pelanggaran, ‘Dukkata âpatti’/Pelanggaran minor”.

Pertunjukan kesaktian dari YM Pindola Bharadvaja, tercantum dalam vinaya: [Theravada Pali V.5.8; Dharmaguptaka ch 51 1916: 235-238 (96-99); Mahīśāsaka ch 26 1916: 238-243 (99-103); Sarvâstivāda ch 37 1916: 243-246 (103-105); Mūla,sarvâstivāda Divy 256.25-257.21], Kitab komentar: [AA 1:196-199; SA 393; DhA 14.2.2/3:199-201; ThaA 2:4-6; UA 252; J 4:263; SnA 570; ApA 197. S] dan hanya kitab komentar yang mencantumkan tahun kejadiannya, yaitu di tahun ke-6 masa Vassa .

Larangan tersebut menggembirakan para pengikut 6 Guru lainnya. Raja Bimbisara bertanya pada sang Buddha tentang pelarangan itu dan sang Buddha menyampaikan bahwa 4 bulan kemudian di Savatthi, beliau akan mempertunjukan keajaiban. [RAPB buku ke-1, hal 1187]. Jarak Rajagaha – Savatthi = 45 Yojana (504 km s.d 648 km).

Kemudian di Savatthi,
Beberapa dari sangha Bhikkhu dan bikkhuni, diantaranya Samaneri Cirra yang berumur 7 tahun dan Bhikkhuni Uppavalavanna memohon ijin untuk menggantikan beliau menunjukan kesaktian, namun tidak diperkenankan. Sang Buddha kemudian mempertunjukan kesaktiannya dan setelah itu ke alam Tavatimsa. Salah satu dari 6 guru, yaitu Purana Kassapa, bunuh diri terjun ke sungai karena malu akan kegagalannya di Rajagaha.

Apa yang dapat kita gali dari informasi di atas?
Di atas disampaikan bahwa YM Ananda memberitahukan kehebohan yang terjadi di Rajagaha kepada Sang Buddha. Sutta menginformasikan bahwa YM Ananda menjadi Buddhopaṭṭhāka (pembantu tetap Sang Buddha) justru mulai di tahun ke-20: “Paṇṇavīsati-vassāni (Selama 25 tahun); bhagavantaṃ upaṭṭhahiṃ (menjadi pendamping Sang Bhagava); Mettena kāya.. vacī.. manokammena (dengan cinta kasih melalui perbuatan, perkataan dan pikiran), chāyāva anapāyinī (bagai bayangan yang tak lepas)” [Thag 17.3/Ananda]. Jadi seharusnya terjadi di atas tahun ke-20.

Di atas ada Samaneri dan Bhikkhuni. Ini seharusnya terjadi di atas tahun ke-20.

Sutta Di DN2/Sāmaññaphala Sutta:
Raja Ajjatasattu pernah berkonsultasi dan kemudian disarankan juga untuk berkonsultasi lagi dengan 6 guru terkemuka, yang salah satunya adalah Purana Kassapa.

Raja Bimbisara wafat ketika Sang Buddha berusia 72 tahun (Sang Buddha wafat di tahun ke-8 masa pemerintahan Ajjatasattu). Dalam waktu 4 bulan, setelah pertunjukan Pindola Bhavadraja, Raja Magadha telah berganti dari Bimbisara menjadi Ajjatasattu. Ketika Purana Kassapa bunuh diri ini terjadi beberapa bulan setelah Ajjatasattu menjadi Raja

Oleh karenanya, perjalanan ke Tavatimsa, yang konon untuk urusan mengajar Abhidhamma, seharusnya terjadi di tahun ke-37

Sementara itu,
hasil konsili ke-1 dan ke-2, sama sekali tidak memuat adanya Abhidhamma sebagai ajaran yang khusus terpisah (atau kelak sebagai 7 kitab yang menjadi 1/3 tipitaka) dan 7 kitab Abhidhamma baru ada di tahun ke-3 SM, setelah konsili ke-3.

Mereka yang Pro: bahwa “Abhidhamma merupakan sabda sang Buddha”, memberikan bukti, misal [Juga ini atau ini]:

  1. Vinaya Pitaka, Mahâvibhanga, Dabbamalaputta Thera-vatthu, “…YE TE BHIKKHÛ ABHIDHAMMIKÂ TESAM EKAJJHAM SENÂSANAM PAÑÑÂPETI TE AÑÑAMAÑÑAM ABHIDHAMMAM SÂKACCHISANTÎTI…” -> Kalimat yang mengandung kata “Abhi” TIDAK ADA di mahavibhanga, namun ada kalimat yang MIRIP dengan itu, yaitu di Mahavibhanga dan cullavagga: “Ye te bhikkhū dhammakathikā tesaṃ ekajjhaṃ senāsanaṃ paññapeti – te aññamaññaṃ dhammaṃ sākacchissantīti” (Para bhikkhu ahli dhamma tergabungkan dalam satu kelompok mengatur tempat duduk dengan berpikir agar mereka dapat saling berbincang dhamma). Tampak jelas BUKAN “abhidhammika dan abhidhamma” namun “Dhammakathika dan dhamma”
  2. ..abhisamācārikāya sikkhāya sikkhāpetuṃ ādibrahmacariyikāya sikkhāya vinetuṃ abhidhamme vinetuṃ abhivinaye vinetuṃ..” (..membimbing latihan bentukan prilaku yang lebih dalam mendisiplinkan dengan latihan awal bentukan kehidupan suci mendisiplinkan dengan dhamma yang lebih dalam mendisiplinkan dengan disiplin yang lebih dalam) [Vinaya: Mahavagga Bodhikatha: Upasampādetabbapañcaka dan juga Parivara pali, bab 17:Upalipancaka]. Jika kata abhisamācārikāya dan abhivinaya di sini bukan sebagai ajaran/kitab tersendiri, maka begitu pula dengan abhidhamma.
  3. Vinaya Pitaka, Bhikkhuni Vibhanga, yaitu pada paragraph YANG BUKAN ucapan sang Buddha namun pada bagian bawah, yaitu bagian kalimat komentar kata-perkatanya atau penjelasan lanjutan kata-perkatanya:

    Pañhaṃ puccheyyāti suttante okāsaṃ kārāpetvā vinayaṃ vā abhidhammaṃ vā pucchati, āpatti pācittiyassa. Vinaye okāsaṃ kārāpetvā suttantaṃ vā abhidhammaṃ vā pucchati, āpatti pācittiyassa. Abhidhamme okāsaṃ kārāpetvā suttantaṃ vā vinayaṃ vā pucchati, āpatti pācittiyassa” (Bertanya tentang Sutta tetapi malah berbalik bertanya Vinaya atau Abhidhamma; melanggar Pâcittiya. Bertanya tentang Vinaya tetapi malah berbalik bertanya Sutta atau Abhidhamma; melanggar Pâcittiya. Bertanya tentang Abhidhamma tetapi malah berbalik bertanya Sutta atau Vinaya; melangar Pâcittiya) [Pacittiya no.95]

    Sabbasattuttamo sīho, piṭake tīṇi desayi; Suttantamabhidhammañca, vinayañca mahāguṇaṃ” (Yang terbaik dari segala mahluk, sang Singa, mengajarkan 3 pitaka: Suttanta, Abhidhamma, dan Vinaya—yang sangat berguna). [Vinaya: Parivara Pali, Samuṭṭhānasīsasaṅkhepa (ringkasan), bab ke-3]

    Thanissaro Bhikkhu:
    “Catatan Horner di Book of Disipline, kalimat komentar dalam aturan ini adalah 1 dari sedikit tempat di vinaya yang tampaknya merujuk pada abhidhamma sebagai sebuah teks (kitab) – ini mengindikasikan bahwa entah aturan atau kalimat komentarnya yang merupakan formulasi belakangan”.

    Tampaknya Horner benar, karena Parivara Vinaya, buku paling akhir yang muncul dalam Vinaya, sebagai penjelasan Vinaya, menyampaikan: MAHINDA (Murid Moggaliputta Tissa, pemimpin Konsili ke-3, abad ke-3 SM) dan beberapa bhikkhu lainnya (Iṭṭiya, Sambala, Bhaddanāma) pergi dari India menuju Srilanka mengajarkan: Vinaya, 5 nikaya dan “satta ceva pakaraṇe (7 kitab)”. Beberapa paragraph lanjutannya berisi tradisi urutan pengajar di Srilanka s.d Khema Thera yang mengajarkan tipetako/tipitaka (tiga keranjang). Kemudian pada bab ke-3nya (Samuṭṭhānasīsasaṅkhepa/ringkasan), kata satta ceva pakaraṇe (7 kitab) yang muncul di bab awal berubah menjadi kata “Abhidhamma”. Inilah Tipitaka yaitu setelah adanya tambahan 7 kitab Abhidhamma

  4. Tena kho pana samayena sambahulā therā bhikkhū pacchābhattaṃ piṇḍapātapaṭikkantā maṇḍalamāḷe sannisinnā sannipatitā abhidhammakathaṃ kathenti. Tatra sudaṃ āyasmā citto hatthisāriputto therānaṃ bhikkhūnaṃ abhidhammakathaṃ kathentānaṃ antarantarā kathaṃ opāteti” (Pada saat itu, setelah makan dana makanan, sejumlah bhikkhu senior berkumpul duduk bersama di paviliun terlibat diskusi lebih dalam tentang Dhamma. Selagi para bhikkhu senior berdiskusi lebih dalam tentang Dhamma, YM Citta Hatthisāriputta berulang-ulang menyela pembicaraan mereka) [AN 6.60/Hatthisāriputta]. Maksud sutta ini BUKANLAH sedang mendiskusikan suatu ajaran khusus yang disebut dengan nama abhidhamma, namun mendiskusikan lebih dalam tentang Dhamma.

    Sample lain klaim:
    ..Idamassa javasmiṃ vadāmi. Abhidhamme kho pana abhivinaye pañhaṃ puṭṭho..” (..Ini, Aku katakan, adalah kecepatannya. Tetapi ketika ditanyai pertanyaan Dhamma yang lebih dalam dan disiplin yang lebih dalam..) [AN 3.141-142, AN 9.22]. Maksud sutta ini BUKANLAH bertanya tentang suatu ajaran khusus yang disebut abhidhamma dan abhivinaya, namun tentang pertanyaan yang lebih mendalam lagi mengenai dhamma dan vinaya.

    ..Puna caparaṃ, bhikkhave, bhikkhu dhammakāmo hoti piyasamudāhāro, abhidhamme abhivinaye uḷārapāmojjo..” (..Kemudian, Para Bhikkhu, seorang bhikkhu pencinta Dhamma dengan kata-taka yang menyenangkan sangat bergembira dengan dhamma yang lebih dalam dan disiplin yang lebih dalam..) [AN 10.17, 18, 50, 98; AN 11.14; DN 33, 34]. Maksud sutta ini BUKANLAH menggemari suatu ajaran khusus yang disebut abhidhamma dan abhivinaya, namun menggemari dhamma dan vinaya yang lebih mendalam lagi

    Āraññikenāvuso, bhikkhunā abhidhamme abhivinaye yogo karaṇīyo. Santāvuso, āraññikaṃ bhikkhuṃ abhidhamme abhivinaye pañhaṃ pucchitāro. Sace, āvuso, āraññiko bhikkhu abhidhamme abhivinaye pañhaṃ puṭṭho na sampāyati, tassa bhavanti vattāro. ‘Kiṃ panimassāyasmato āraññikassa ekassāraññe serivihārena yo ayamāyasmā abhidhamme abhivinaye pañhaṃ puṭṭho na sampāyatī’ti—tassa bhavanti vattāro. Tasmā āraññikena bhikkhunā abhidhamme abhivinaye yogo karaṇīyo” (Seorang bhikkhu penghuni hutan harus menekuni Dhamma yang lebih dalam dan Disiplin yang lebih dalam. Ada di antara mereka yang mengajukan pertanyaan kepada bhikkhu penghuni hutan tentang Dhamma yang lebih dalam dan Disiplin yang lebih dalam. Jika, ketika ditanya demikian, ia tidak mampu menjawab, maka akan ada di antara mereka yang mengatakan tentangnya: ‘Apakah yang telah diperoleh Yang Mulia penghuni hutan ini dengan menetap sendirian di dalam hutan, melakukan apa yang ia sukai, karena ketika ditanya tentang Dhamma yang lebih dalam dan Disiplin yang lebih dalam ia tidak mampu menjawab?’ Karena akan ada di antara mereka yang mengatakan hal ini tentangnya, maka seorang bhikkhu penghuni hutan harus menekuni Dhamma yang lebih dalam dan Disiplin yang lebih dalam) [MN 69/Gullisani Sutta].

    Jika sutta-sutta di atas ini dianggap sebagai bukti adanya ajaran yang khusus diturunkan dengan nama abhidhamma, tentunya harus juga ada ajaran yang khusus diturunkan dengan nama abhivinaya, bukan?. Faktanya, tidak ada ajaran yang khusus diturunkan dengan nama abhivinaya, konsekuensinya, juga tidak ada ajaran yang khusus diturunkan dengan nama abhidhamma.

    Abhidhamma seperti apa yang sang Buddha maksudkan?
    ”…hal-hal ini yang telah Kuajarkan kepada kalian setelah mengetahuinya secara langsung, yaitu:

    • 4 landasan perhatian
    • 4 jenis usaha benar
    • 4 landasan kekuatan mental
    • 5 indria
    • 5 kekuatan
    • 7 faktor pencerahan
    • 8 jalan Mulia [Total sejumlah 37 item ini juga tercantum di DN 16/Mahaparinibanna sutta sebagai 37 hal sisi pencerahan/Sattatiṁsā Bodhipakkhiya dhammā]

    dalam hal-hal ini kalian semuanya harus berlatih dalam kerukunan, dengan saling menghargai, tanpa perselisihan. Tesañca vo, bhikkhave, samaggānaṃ sammodamānānaṃ avivadamānānaṃ sikkhataṃ siyaṃsu dve bhikkhū abhidhamme nānāvādā… (Sewaktu kalian berlatih dalam kerukunan, dengan saling menghargai, tanpa perselisihan, dua bhikkhu mungkin membuat pernyataan berbeda sehubungan dengan Dhamma yang lebih dalam…)” [MN 103/Kinti Sutta]

    Jadi, Abhidhamma yang asli, yang merupakan ajaran sang Buddha ternyata adalah 37 hal sisi pencerahan/Sattatiṁsā Bodhipakkhiya dhammā!

  5. Kusalāhaṃ visuddhīsu, kathāvatthuvisāradā; Abhidhammanayaññū ca, vasippattāmhi sāsane” (Aku menguasai baik, kemahiran kathavatthu, metoda Abhidhamma, di sasana ini) [KN, Thi Apadana 18/Khemātherīapadāna]. J.S Walters dan B.M Barua: “..Apadana dibuat SETELAH jaman raja Asoka”. A.K Warder: “..Apadana dibuat paling awal pada abad ke-1 SM” [“Journal pali text society”, Vol.20, hal.32]

Meminjam logika cara berpikir yang sama, apakah karena kata “asoka” muncul di sutta dan vinaya, maka raja Asoka telah ada di jaman Buddha? atau disebut keberadaannya oleh Sang Buddha? Tentu tidak, bukan?

Bantahan mereka yang kontra, misalnya dari I.B Horner: Kata “ABHIDHAMMA” muncul tidak lebih dari 10x, [3x di vinaya pitaka], Frase tersebut dimaksudkan dalam konteks materi dan cara, dan BUKAN dalam konteks kumpulan kitab, misalnya di vinaya terdapat kata sutta, gatha (syair) dan abhidhamma sekaligus:

    [Berkenaan dengan bhikkhu yang melakukan pelanggaran karena meremehkan pembelajaran vinaya:] “Anāpatti—na vivaṇṇetukāmo, ‘iṅgha tvaṃ suttantegāthāyoabhidhammaṃ vā pariyāpuṇassu, pacchā vinayaṃ pariyāpuṇissasī..’” (Bukanlah pelanggaran, jika, tidak dimaksudkan untuk merendahkan, dia berkata, ‘dengar, apakah Anda mahir sutta, syair (Gatha) atau dhamma yang lebih dalam dan setelahnya mahir disiplin..’) [vinaya, Vol. III p.42 atau Mahavagga, Pacittiyakanda, sahadhammikavagga untuk Pacittiya no.72]”.

Keberadaan kata syair (gatha) di situ, merupakan bukti yang lebih dari cukup untuk menunjukan bahwa “abhidhamma” BUKANLAH ajaran yang terpisah sendiri, karena “gatha” tidak berarti gatha Pitaka maka “abhidhamma” tidaklah berarti Abhidhamma Pitaka.

Klaim bahwa Abhiddhama diturunkan via YM Sariputta
YM Sariputta disebut sang Buddha sebagai “Yang terunggul dalam intuisi kebijaksanaan”, di beberapa sutta, kita temukan beberapa diskusi logika analisis, misal di Mahaghosinga sutta [YM Moggalana dan YM Sariputta] juga Mahavedalla sutta [YM Kotthita dan YM Sariputta] mereka berdiskusi lebih dalam lagi tentang Dhamma. Pembicaraan Dhamma yang dalam lagi ini adalah bagian dari Dhamma itu sendiri.

    YM Sariputta:
    2 minggu setelah ditahbiskan, Aku memahami analisa: [atthapaṭisambhidā/pengertian secara luas dan mendalam; dhammapaṭisambhidā/hubungan kondisi dan sebab; niruttipaṭisambhidā/Tata bahasa asal usul interpretasi pengucapan dialek dan ekspresi; paṭibhānapaṭisambhidā/Penerangan, intelektual dan kefasihan penyampaian] dan dengan rincian ciri dan kekhasannya (sacchikatā odhiso byañjanaso) Itu saya nyatakan, terangkan, perlihatkan dan tunjukan dalam dalam berbagai cara (AN 4.173/Vibhatti sutta).

Pengakuan YM Sariputta ini adalah tentang apa yang dicapainya, tidak pernah disebutkan di manapun dalam sutta dan vinaya bahwa beliau mendapatkan suatu ajaran khusus yang disebut dengan nama Abhiddhama. Hanya kitab-kitab komentar buatan abad-abad belakanganlah yang memuat perluasan imaginasi bahwa Abhidhamma diturunkan via Sariputta yang dikaitkan dengan perjalanan fiksi sang Buddha ke Tavatimsa untuk mengajar Abhiddhama kepada IbuNya. Klaim kitab-kitab komentar ini, seharusnya mengundang beberapa pertanyaan lanjutan, misalnya

  • Mengapa IbuNya tidak ke alam manussa saja untuk mendapatkan pengajaran, karena toh, sutta dan vinaya juga menyampaikan bahwa para devapun kerap berkunjung ke alam manussa untuk mendengarkan dhamma Sang Buddha dan para Arahat lainnya?
  • Mengapa selama 3 bulan (90 hari) musim vassa alam manussa yang setara dengan 3.6 detik di Tavatimsa itu, Sang Buddha perlu turun (atau membuat proyeksi image-Nya) ke alam manussa untuk berpindapatta setiap harinya? Mengapa sang Buddha tidak kuat untuk tidak makan untuk sekedar hanya 3.6 detik saja? Atau mengapa para deva menjadi begitu pelitnya tidak menyuguhkan sesuatu jika memang waktunya pindapatta? Atau tidakkah nimittabuddha/bentukan Buddha palsu (untuk mengajar) membuat sang Buddha menjadi pelanggar sila ke-4, karena diriNya tidak menyampaikannya sendiri? Bagaimana mungkin kitab komentar (Dhammapada: Buddha vagga dan Abhidhamma: Ganthārambhakathā) sudah mengatakan ada 7 kitab (sattapakaraṇika, sattappakaraṇa = 7 kitab) Abhidhamma yang diajarkan Sang Buddha (dan Sariputta) padahal Kathāvatthu (salah satu dari 7 kitab) sendiri baru muncul di abad ke-3 SM, pasca perpecahan aliran?

[Lihat juga: “Abhidhamma Abhivinaya in the first two of the Pāli Canon“, I.B. Horner, The Indian Historical Quarterly, Vol.17:3, Sep.1941 dan “What did the Buddha mean by the word ‘abhidhamma’?“, Bhikkhu Varado] [↑]

Konsili ke-4,
Buddhisme di India mengalami kemerosotan tajam pasca runtuhnya dinasti Maurya oleh Pushyamitra (185-149 SM), pendiri dinasti Shunga (185 -75 SM):

  • Perpecahan di internal Buddhisme dan pengubahan kotbah ke dalam sanskrit (sebuah bahasa bagi kalangan eksklusif) menyumbang makin banyaknya doktrin membingungkan bagi pemeluknya, misalnya di Manjushri Mula Kalpa dan juga sejarahwan Taranatha dalam Rgya- gar-chhos-hbyung (Sejarah agama di India), tahun 1608, bab 10 yang menyatakan bahwa Panini, teman raja Nanda, mencapai Sravakabodhi dan ramalan Manjusri Mula Tantra bahwa Panini adalah Avalokitesvara [juga lihat: “Buddhist sects in India, Dutt, hal.7]
  • Kita mungkin bisa abaikan narasi Divyavadana di Asokhavadana tentang kekejaman Pushyamitra terhadap Buddhism (juga dari sejarahwan Taranatha dan di Śāripūtraparipṛcchā sutra), yang beberapa pakar tampak skeptis tentang itu. Namun, penekanan panjang dinasti Buddhist Maurya terhadap Brahmanisme dan bagaimana caranya menduduki tahta, memberikan cukup alasan bagi Pushyamitra untuk menekan bangkitnya dinasti sebelumnya. akibatnya para pendukung Buddhism lebih condong pada raja yang pro-Buddhis, misalnya Raja Bactria/Yunani Menander I/Milanda (165/155-130 SM) yang menguasai India Utara dan pemeluk Buddhism. Awalnya Pushyamitra tidak dengan kekerasan, namun seiring adanya ancaman teritorial, tindakan represif di area Shuga yang tidak pro Shunga mungkin saja terjadi. Arah politik raja berikut dinasti ini, tampaknya berubah, mencoba meraih simpati melalui perbaikan beberapa situs Buddhis yang telah dirusak sebelumnya. [Lihat: “DECLINE AND FALL OF BUDDHISM, (A tragedy in Ancient India), Ch.2].

Abad ke-3 SM, pasca konsili ke-3, Mahinda tiba di Sri Lanka dan bertemu dengan Raja Devānampiyatissa (247-207 SM) pada Purnama bulan Jettha (236 M) dan membuat Raja berlindung pada Ti-ratana. Keesokan harinya, atas permintaan raja, Mahinda menuju Anurādhapura dan Ia bermalam di taman Mahāmeghavana, esoknya taman itu diberikan raja atas nama Sangha dan menjadi bagian dari berdirinya vihara Mahavihara (Mhv, Geiger, Introduction hal. 34-35). Mahinda tinggal di taman itu selama 26 hari. Di Taman yang sama, yaitu pada hari ke-2nya Mahinda, ratu Anula dan 500 perempuan, setelah mencapai buah ke-2 kesucian, memohon penahbisan, namun ditolak karena aturan vinaya tidak mengijinkannya untuk langsung menahbiskan wanita (Mhv 15.18-20; Dipv 15.74-76), Ia usulkan agar penahbisan dilakukan dulu oleh Sanghamita (adik perempuan Mahinda), raja Devānampiyatissa kemudian mengutus mentri Arittha pergi ke India (Mhv 12.21-23; Dipv 15.77-95). Sambil menunggu Sanghamita tiba, Anula dan 500 perempuan melakukan 10 sila (Mhv 18.9-12; Dipv 15.84-85). Sanghamitta dan 10 bhikkhuni (Uttarā, Hemā, Māsagalla, Aggimittā,…,Tappā, Pabbatacchinnā, Mallā dan Dhammadāsiyā – Dipv 15.78) tiba di Srilanka dengan membawa pohon Bodhi dan menahbiskan mereka menjadi Bhikkhuni Theravada (Mhv 18; Dipv 16.3-39) [Menurut vinaya penahbisan bhikkhuni, penahbisan dapat dilakukan hanya setelah 2 tahun menjalankan 6 sila].

Ketika Vattagamani (Abad ke-1 SM), baru 5 bulan menjadi raja, terjadilah 3 peristiwa yang membuatnya kehilangan tahta dan mengungsi, yaitu pemberontakan Brahmana Tissa (Beminitiye), pendudukan oleh 7 kelompok suku Tamil/Damila [Mhv 33.37-61] dan bencana kelaparan besar selama 12 tahun. Setelah kalah dari 7 Damila, raja bersama keluarganya melarikan diri, saat itu Petapa Jain berteriak bahwa raja melarikan diri. Hal ini membuat raja bersumpah akan mendirikan Vihara di sana. Dalam perjalanan Raja ditolong Bikkhu Mahatissa dari Vihara Kupikkala yang memberikannya makanan dan lewat pembantunya, seorang umat awam bernama Tanasiva, Ia diberikan tempat tinggal. Setelah 14 tahun dan 10 bulan kemudian, Vattagamini berhasil merebut kembali tahtanya kemudian menepati sumpahnya dengan menghancurkan kuil Jainisme dan mendirikan Vihara Abhayagiri. Vihara ini kemudian diberikan kepada Mahatissa [Mhv 33.80-83].

    Note:
    Vihara Abhayagiri dibangun tahun ke-217, bulan ke-10 hari ke-10 setelah berdirinya MahaVihara [Mhv 33.80-81] atau setelah tahun ke-453 dari Parinibananya sang Buddha (tahun ke-236 setelah parinibbananya sang Buddha, Mahinda sampai di Srilanka + 217 tahun) atau ± setelah tahun ke-476 dari ditahbiskannya Mahapajapati Gotami menjadi Bhikkhuni pertama (Tahun ke-453 + 23 tahun sebelum parinibanna sang Buddha) atau ± tahun 33 SM (Asoka wafat ± tahun 232 SM + 18 tahun (37 tahun masa pemerintahannya – tahun ke-19 Mahinda ke Srilanka) – 217 tahun)

Mahatissa kemudian diundang raja untuk tinggal di Anuradhapura (MahaVihara) dan tampak memiliki pengaruh besar terhadap kalangan kelas penguasa [History of BUDDHISM IN CEYLON, WALPOLA RAHULA, B.A.PhD, hal 83-84]. Karena sering mengunjungi keluarga kalangan awam, Sangha Mahavihara mendakwa Mahatissa telah melakukan pelanggaran kulasamsattha yang berakibat Ia dikeluarkan dari persekutuan/Sangha (pabbājaniyakamma). Muridnya, Bahalamassu Tissa (Tissa si Janggut lebat) mengajukan keberatan dan didakwa melakukan ukkepaniya (berpihak pada ketidakmurnian). Akhirnya mereka dengan sekumpulan bhiksu memisahkan diri dari Mahavihara menuju Abhayagiri-vihara dan membentuk aliran terpisah, tidak lagi datang ke Mahavihara: Demikianlah para bhiksu Abhayagiri memisahkan diri dari Theravada [Mhv 33.95-97]. Para bhiksu Abhayagiri menjadi semakin kuat sejak kedatangan beberapa bhiksu dari Pallarārāma, India Selatan, yang mengikuti tradisi Vajjiputtaka/Vatsiputriya (ex konsili ke-2). Guru mereka adalah Dhammaruci, dan ketika mereka bergabung dengan para bhiksu Abhayagiri, MahāTissa sendiri mengambil nama Dhammaruci dan para pengikutnya dikenal sebagai Dhammarucika [Inkripsi Kalyani, Dhammaceti, Burma tahun 1476 M, hal 39, juga ini].

Inilah perpecahan pertama Buddhisme di Sri lanka, seperti sabda Buddha tentang 20 landasan perpecahan sangha dan 4 MOTIF KEUNTUNGAN yang penyebabnya SELALU seorang bhikkhu, yang berasal dari komunitas yang sama, menetap di tempat yang sama

PENULISAN TIPITAKA
Perang dan bencana kelaparan, membuat Tipitaka yang sejak jaman Mahinda diturunkan dengan cara dihafal/Mukhapathena, terancam punah akibat ribuan Bhikkhu wafat kelaparan atau mengungsi ke kawasan Malaya dan ke India. Dikatakan pula bahwa Mahāniddesa hanya dikenal oleh satu bhikkhu dan itupun oleh yang tidak bermoral. Setelah menemukan tempat yang jauh dari jangkauan raja Vattagamani, yang pro aliran Dhammaruci, maka sekitar 500 bhikkhu di bawah pimpinan Rakkhita Mahathera yang berpikiran, “Di masa depan, makhluk-mahluk yang lemah perhatian, kebijaksanaan dan konsentrasi, tidak akan dapat mengingat (teks kanonik) secara lisan” [lihat: “Sacred books of the Buddhists“, Vol. 17, H. Frowde, Oxford University Press, 1952, hal.26 atau “The history of Buddha’s religion” (sasanavamsa), Bimala Churn Law, Sri Satguru Publications, 1986, hal.26], menuliskan 3 Pitaka dan kitab komentar di atas daun Palem. Pertemuan ini bertempat dan di bawah perlidungan kepala desa Alulena, Mawanella (± 61 km dari Aluvihara, Matale atau ± 140 km dari Anuradhapura) [lihat juga di Mhv 33.100-103. Dipv 20.19-21]

Sidang Agung ke-5 [1871 M] dan ke-6 [1954 M] terjadi jauh setelah 500 tahun sejak ditahbiskannya Bhikkhuni pertama

    Note:
    Tradisi Utara juga mempunyai konsili ke-4 yang diselenggarakan oleh aliran Sarvāstivāda pada jaman dinasti Khushan, Raja Kanishkha, 127 M – 151 M, Kashmir. Dikatakan 500 bhikkhu pimpinan Vasumitra berkumpul menuliskan kitab-kitab mereka termasuk 7 kitab Abhidhamma versi mereka ke bahasa sanskrit. Konsili ini tidak pernah ada di literatur Theravada.

    Dutt:Ada 4 Vasumitra, yaitu: Vasumitra yang memimpin konsili Kanishkha di Khushan, Vasumitra dari aliran Sautrantika; Vasumitra yang muncul 1000 tahun setelah parinibbananya sang Buddha dan Vasumitra dari aliran Sarvastivada, yang mana Hiuen Tsang belajar doktrin Sarvastivada [“Buddhist Sects in India”, Nalinaksha Dutt, Introduction]

MAHAYANA di SRI LANKA
Dalam “History of Buddhism in Ceylon”, Walpola Rahula (hal. 89) menuliskan:

    Kedatangan Vaitulya ke Sri Lanka pada jaman raja Vohârika-Tissa (269 -291 M) Nikâyasangraha (Sejarah Srilanka belakangan, ed. Simon de Silva dan lainnya, 1907, hlm. 11) mengatakan bahwa para bhiksu Abhayagiri, yang dikenal sebagai Dhammarucika, menerimanya dan menyatakan Vaitulyapitaka disusun para brāhmana sesat yang disebut Vaitulya yang telah mengenakan pakaian para bhikkhu untuk merusak ajaran Buddha di masa Asoka; dan bahwa para bhikkhu Theriya-nikāya, setelah membandingkannya dengan dhamma dan vinaya, menolaknya dan menyatakannya sebagai ajaran palsu. Referensi ke brāhmana di sini menunjukkan bahwa Vaitulya-pitaka yang dibawa ke Sri Lanka disusun dalam bahasa Sanskrit, dan kita tahu bahwa sutra Mahāyâna semuanya dalam bahasa Sanskrit. [“The Conflict of Change in Buddhism: the Hīnayānist Reaction”, Tola Fernando, Dragonetti Carmen, 1996, hal 251]

Raja Voharika Tissa menekan Vetulya dan membuat para herestik ini di bawah pengawasan menterinya, Kapila (Mhv 36.41). aliran Dhamarucika Abhayagiri Vihara menjadi sangat kuat di jaman Raja Mahasena [334-361 M] yang saat itu hampir membuat musnah Mahavihara.

LENYAPNYA SANGHA BHIKKHUNI THERAVADA
Pada jaman Raja Gothābhaya (302-315 M), seorang Bhiksu aliran Vetullavāda dari Cola bernama Sanghamitta yang berdiam di Vihara Abhayagiri, menjadi sakit hati terhadap Para Bhikkhu Mahavihara setelah terjadinya pembersihan sangha dari doktrin Vettula. Sanghamitta adalah salah satu dari 60 bhiksu yang terusir (Mhv 36.109-113). Setelah dipercaya dalam persekutuan di vihara Thūpārāma, Sanghamitta menang debat melawan bHiksu Gothābhaya (paman raja Gothābhaya) sehingga menjadi kesayangan raja dan dipercaya mengasuh pendidikan pangeran Jetthatissa dan Mahāsena, namun Sanghamitta lebih menyukai Mahasena (Mhv 36.114-117). Ketika Gothābhaya wafat dan Jetthatisa menjadi raja (323-333 M), karena takut pada raja ini, Sanghamita kembali ke Cola, ketika Jetthatisa wafat dan Mahasena menjadi raja (334-361 M), Sanghamita kembali ke Sri Lanka (Mhv 36.122-123) dan melakukan upacara penahbisan Mahasena sebagai raja.

Sanghamitta menyatakan kepada Mahasena bahwa para Bhikkhu Mahavihara tidak mengajarkan dhamma benar, Vetulla-lah yang mengajarkan dhamma benar, akibatnya Mahasena memberikan maklumat bahwa siapapun yang berdana pada para bhikkhu Mahavihara akan dihukum. Mahavira kemudian terkucil, kosong dari para bhikkhu selama 9 tahun [Mhv 37.1-8] juga terbakar, hancur, dijarah Sanghamitta dan Menteri Sona, di mana semua yang berharga pindah ke Abhayagiri [Mhv 37.9-18], kejadian ini memicu pemberontakan menteri Meghavannabhaya, setelah raja dan mentri ini bertemu, raja menyadari kekeliruannya dan menyatakan akan membangun lagi Mahavihara. Raja kemudian membangun banyak vihara, diantaranya adalah Jetavana, tapi karena bujukan bhiksu Tissa dari vihara Dakkhinārā (dulunya para bhiksu Abhayagiri berdiam di sini), Jetavana dibangun dalam batasan area Mahavihara [Mhv 37.33-39] dan Mahasena juga membangun 2 vihara Biksuni yaitu Abhaya dan Uttara [Mhv 37.43]. Sanghamitta dan Mentri Sona terbunuh ketika berusaha menghancurkan vihara Thūpārāma. Pembunuhan ini atas perintah istri raja yang marah terhadap perbuatan mereka kepada Mahavihara [Mhv 37.26-28].

Raja Mahasena wafat sebelum selesainya vihara Jetavana, Ia digantikan anaknya, Sirimeghavanna (362-409 M). Raja baru ini kemudian mengumpulkan para bhikkhu Mahavihara [Cula Vamsa I.37.53-55] juga menyelesaikan pembangunan vihara Jetavana [Cula Vamsa I.37.65]. Vihara Jetavana mengikuti paham Sagaliya [Cula Vamsa I.78.22]. Setelah Jetavana ada, secara bertahap para bhikkhu Mahavihara kembali ke Mahavihara [Mhv 37.36-40].

Dr. H Goonatilake: Dua vihara Biksuni Abhaya dan Uttara lebih mungkin berafiliasi dan terkait Abhayagiri daripada Mahavihara (hal.8). Di jaman Raja Mahanama (409/410/412 – 431/434 M), bhiksu pengelana Tiongkok dan translator tripitaka, Fa-Hsien (429 M) tinggal 2 tahun di vihara Abhayagiri mencatat seorang pedagang Tiongkok mempersembahkan dana di Abhayagiri, beberapa Bhikṣuṇī berangkat ke Tiongkok dengan kapalnya (hal.9). Raja Mahanama pernah bersurat ke raja China dengan hadiah berupa model relik gigi yang tersimpan di vihara Abhayagiri. [“The Unbroken Lineage of the Sri Lankan Bhikkhuni Sangha from 3rd Century B.C.E. to the Present“. Dr. H Goonatilake].

Bhiksuni pertama Tiongkok, Hui-kuo (sekitar 364-433 M, “Catatan Lengkap Biografi Bhikṣuṇī”, vol.2, Cf. Tsai 36-38, biography no.14) merupakan anggota aliran Bhiksu Kashmir Gunavarman. Penahbisan Hui-kuo, Seng-kuo, dan lainnya terjadi di Nanking oleh bhikṣu Sanghavarman dan bhikṣuṇī senior Devasarā [“Buddhist Nuns’ Ordination in the Mūlasarvāstivāda Vinaya Tradition: Two Possible Approaches“, Bhikṣuṇī Jampa Tsedroen, Journal of Buddhist Ethics, Vol.23, 2016].

Valentina Stache-Rosen: Gunavarman (367 – 431 M) dalam Chiao “Lives Eminent Monks” (T 2059 Kao Seng Chuan) dikatakan mahir 9 bagian kitab suci Buddha, 4 Agama (padanan di pali untuk kata nikaya), 10.000 kata-kata sutra, aturan dan meditasi (hal.8), Di usia 30 tahun pergi ke Sri Lanka dan kemudian ke Jawa (hal.9), Ia sangat mungkin berasal dari aliran Sarvastivada dan kemudian akrab dengan sutra Mahayana (hal.27). Fa-Hsien menyatakan vihara Abhayagiri di abad ke-3 M mengadopsi paham Vetulyapada, yang menurut Senarath Paranavithana, ini adalah Mahayana, sehingga lebih mungkin bagi Bhiksu seperti Gunavarman lebih diterima di Abhayagiri daripada di Mahavihara (hal.28). Gunavarman wafat sebelum penahbisan Bhiksuni, namun sempat meninggalkan wasiat dalam 36 sloka dan memesan agar wasiatnya diserahkan pada bhiksu yang datang dari India atau kepada bhiksu negeri ini untuk penahbisan (hal.24-25), ketika Sanghavarman ke Nanking, Ia menjadi penahbis Bhiksuni (hal.23) [GUNAVARMAN (367-431), “A Comparative Analysis of the Biographies found in the Chinese Tripitaka“, Valentina Stache-Rosen].

Dapat disimpulkan bahwa jalur sangha bhiksuni Tiongkok yang didatangkan dari Sri Lanka ini adalah dari aliran Mahayana bukan Theravada.

Sekitar tahun 993 M, raja Rajaraja (985-1014 M) kerajaan Hindu, Cola, mulai menginvasi Anuradhapura/Sri Lanka dan baru sepenuhnya tertaklukan di tahun 1017 M jaman raja Cola, Rajendra 1 (1012-1044 M), Penaklukan kerajaan Cola mengaakibatkan sangha Bhikkhu dan Bhikkhuni Theravada Sri Lanka menjadi lenyap [Culavamsa I.55.19-22]. Sekitar tahun 1070 M, Raja Sri Lanka, Vijayabahu I (1059-1114 M) berhasil mengusir kerajaan Cola dan kemudian menghidupkan lagi sangha Bhikkhu Theravada Sri Lanka melalui jalur dari Burma [Culavamsa I.60.4-8; Prasasti lempengan Vēḷaikkārar dari Vijayabahu I, Polonnaruwa. Juga, “Buddhist Connections in the Indian Ocean: Changes in Monastic Mobility, 1000-1500“, Anne M. Blackburn], namun sayangnya, tidak dapat dilakukan untuk sangha bhikhuni, karena saat itu, baik di Burma, Siam, Kamboja atau Laos yang merupakan 4 negara aliran Theravada lainnya, tidak lagi terdapat sangha Bhikkhuni, Oleh karenanya, sejak saat itu, sangha bhikkhuni aliran Theravada, lenyap selamanya.

Upaya menghidupkan sangha bhikkhuni tidak mungkin lagi dapat dilakukan karena syarat pentahbisan bhikkhuni memerlukan keberadaan bhikkhuni (sebagai upajjhaya, acariya, kammavaca + beberapa lagi) yang SEMUANYA HARUS dari kalangan yang sama (Theravada), setelah itu, mereka pun akan ditahbiskan lagi dihadapan sangha Bhikkhu (Theravada).

    Note:
    Di jaman ini sudah terjadi upaya paksa untuk menghidupkan kembali sangha bhikkhuni Theravada, di antara dalih yang digunakan misalnya:

    • Masih ada jalur bhikkuni Sri Lanka yang menuju Tiongkok, padahal mereka ini bukan aliran Theravada, tapi aliran Mahayana dan penahbisan lintas aliran adalah tidak sah.
    • Ide penahbisan dengan athagarudhamma lagi seperti kepada Mahapajapati Gotami, padahal jenis penahbisan ini hanya khusus diberikan sang Buddha kepada beliau dan tidak pernah lagi dilakukan kepada orang lainnya.
    • Bahwa penahbisan 500 orang pengiring Mahapajapatigotami tidak dilakukan secara 2 sisi, karena sang Buddha berkata “Para bhikkhu, Aku ijinkan para BHIKKHUNI untuk ditahbiskan oleh para bhikkhu (anujānāmi, bhikkhave, bhikkhūhi BHIKKHUNIyo upasampādetun”ti)”. Padahal di kalimatnya saja tampak ada kata “Bhikkhuni”, ini artinya MahapajapatiGotami saat itu, telah bertindak sebagai pengusul, upajjhaya, acarya, kammavaca mereka, maka mereka ini disebut dengan kata “Bhikkhuni” bukan “calon bhikkhuni” lagi dan setelahnya, para bhikkhuni ini ditahbiskan lagi dihadapan para bhikkhu. Jadi bahkan hal ini pun merupakanmetode penahbisan 2 sisi juga.

Upaya-upaya tentunya pernah juga terpikir oleh mereka yang ada di abad ke-11 (yang juga paham bahasa pali, sutta dan vinaya), namun ketika melihat kenyataan bahwa sangha bhikkhuni di 4 negara Theravada ternyata sudah tidak ada lagi, tidaklah mereka paksakan. [(↑)]


..dan Sang Kyai pun bersyahadat..kembali


Ada seorang pemuda yang diminta belajar Islam, Ia bersedia dengan syarat dicarikan seorang ulama/ustadz yang sangat mumpuni agar dapat menjawab 3 pertanyaan yang selama ini mengganjal di hatinya dan akhirnya seorang Kyai besar berkenan datang untuk membimbingnya.

Pemuda: “Anda siapa dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?“

Sang Kyai: “Saya hanya seorang hamba Allah yang mengharapkan ridhaNya dan dengan se-izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.“

Pemuda: “Anda yakin? karena sudah banyak orang yang berpikir dirinya mampu namun tidak dapat menjawab pertanyaan saya?”

Sang Kyai: “Demi keagungan dan segala hidayah dari Allah SWT sang pemilik Ilmu, saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.“

Pemuda: “O, ya, karena jika terjawab, saya akan bersyahadat, maka bagaimana jika tidak terjawab? …mmmhhh…..misalnya di 1 jam kemudian?”

Sang Kyai: “Atas seijin Allah SWT, untuk setiap pertanyaan yang tidak terjawab, maka silakan tampar saya, karena telah menyia-nyiakan hidup dalam Ilmu Subhanahu wa ta’ala

Pemuda: “Baik, jadilah jika demikan” Dan keduanya pun bersalaman.

Pemuda: “Pertanyaan ke-1, jika memang Allah itu Tuhan, kenapa banyak kesalahan dalam Qurannya?”

Sang Kyai: “…………. “ (1 jam berlalu).

Lalu pemuda itu pun menampar sang Kyai.

Pemuda: “Pertanyaan ke-2, jika memang Quran itu sempurna, kenapa harus ada hadis. Apa Quran itu kurang lengkap?”

Sang Kyai: “…………. “ (1 jam berlalu).

Lalu pemuda itu pun menampar sang Kyai lagi

Pemuda: “Pertanyaan terakhir, “Jika memang Quran itu sempurna, lalu apa arti Alif Lam Mim?”

Sang Kyaipun tertunduk lesu dan segera memeluk si pemuda sambil berucap, Laa illaaha, Laa illaaha, Laa illaaha,” (“Tiada Tuhan, Tiada Tuhan, Tiada Tuhan“)


[Digubah dari tulisan yang aslinya ditulis: Irsan Yanuar]

A great WordPress.com site