Lho Koq..Muhammad ada di Kitab Hindu dan Buddha?


Situs-situs berbahasa Indonesia saat ini bersemangat untuk memajang tulisan-tulisan yang menyatakan bahwa:

Kemudian, bandingkan klaim tersebut dengan kenyataan yang tertulis di purananya atau suttanya sendiri:

Tulisan ini untuk menguji klaim dan juga sebagai langkah koreksi terhadap penyesatan informasi yang dilakukan para penyiar. Penyesatan informasi ini buruk tidak saja bagi para pemeluk Hindu dan Buddha namun juga pada para pemeluk Islam dimana hanya memberikan eforia semu tanpa makna yang menjauhkan mereka menggali yang sebenarnya tentang Islam itu sendiri dan tidak hanya berdasarkan hanya apa yang dikatakan oleh Ulama/Ustad mereka.

Untuk itu tulisan ini saya bagi dalam beberapa bagian yaitu:

Saya beri jaminan bahwa belum sampai artikel habis anda simak, andapun sudah dapat menilai kebenaran dan validitas klaim artikel-artikel tersebut di atas.

[Kembali]



Apakah Avatar itu?

Awatara atau Avatar (“अवतार”) dalam agama Hindu adalah inkarnasi dari Tuhan Yang Maha Esa ke dunia dengan mengambil suatu bentuk material, dalam tujuan menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kejahatan dan menegakkan dharma. Kata avatara dalam sanskrit pertama kalinya muncul dalam bukunya Panini: “अवे तॄस्त्रोर्घञ् (ave tṝstrorghañ)” (Aṣṭādhyāyī 3.3.120. Menurut Sumitra Mangesh Katre, kata ini di baca: ava-tar-a-h). Definisi Awatar dalam Bhagawad Gita:

    yadā yadā hi dharmasya glānirbhavati bhārata (Dimanapun dan kapanpun kebenaran merosot, keturunan Bharata) abhyutthānamadharmasya tadātmānaṃ sṛjāmyaham (dan kejahatan merajalela, saat itulah aku turun ke dunia) [BG 4.7]

    paritrānāya sādhūnām vināśāya ca duskrtām (untuk membebaskan yang saleh dan membinasakan yang jahat) ‘dharma samsthāpanarthāya sambavāmi yuge yuge (menegakkan kebenaran, aku sendiri menjelma dari jaman ke jaman) [BG 4.8]

Jadi avatar adalah Tuhan yang menjelma/lahir ke dunia

[Kembali]



Apakah Buddha Itu?

Kata Buddha berasal dari kata Budh yang artinya bangun atau sadar, Ini adalah sebutan bagi seorang yang telah padam (tidak terlahir kembali) dan bukan nama seseorang. Buddha dikatakan sebagai guru para deva dan manusia. Seorang Buddha selalu mempunyai:

  • 10 Kekuatan [Dasabalā] atau juga 8 kekuatan supra manusia, yaitu: pengetahuan melihat, menghasilkan tubuh ciptaan-pikiran dari tubuhnya, berbagai kekuatan supernormal, telinga dewa, pengetahuan atas pikiran makhluk-makhluk lain, pengetahuan kehidupan lampau (pubbenivāsānussatiñāṇāya), pengetahuan lenyapnya dan munculnya makhluk-makhluk dengan mata dewaNya, pengetahuan hancurnya kekotoran dan banyak lagi
  • 32 ciri manusia agung (LAKKHANA SUTTA), yang tidak boleh ada 1 pun yang kurang:
      Pada suatu ketika Sang Bhagava berada di Jetavana, Anathapindika arama, dekat kota Savatthi. Di sana Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu.” “Ya, Bhante,” jawab para bhikkhu. Selanjutnya Sang Bhagava berkata:

      “Para bhikkhu, seorang Manusia Agung (Maha Purisa) memiliki 32 tanda (lakkhana). Bagi Maha Purisa yang memiliki 32 lakkhana ini hanya ada dua kemungkinan cara hidupnya dan tidak ada yang lain. Jika ia hidup sebagai manusia biasa, maka:

      • ia akan menjadi raja dunia (cakkavati), raja berdasarkan raja-dhamma,
      • penguasa empat penjuru dunia,
      • penakluk, pelindung rakyat,
      • pemilik tujuh ratna. Tujuh ratna itu adalah: cakka, gajah, kuda, permata, wanita, kepala rumah tangga dan panglima perang.
      • Memiliki banyak anak yang gagah perkasa dan penakluk musuh
      • Namun ia akan menaklukkan muka bumi bukan dengan pedang tetapi dengan kebenaran.

      Dengan memiliki ini, jika ia hidup berumah-tangga :

      • Ia akan menjadi raja cakkavati …
      • penakluk bukan dengan tombak atau pedang melainkan dengan kebenaran (dhamma), ia menguasai dunia ini sampai ke batas lautan, kerajaan yang bebas dari penjahat, kuat, sejahtera, bahagia dan bebas dari bencanaナIa tidak akan terganggu oleh kemauan jahat manusia…
      • Ia berusia panjang, selama hidupnya tidak ada orang lain yang dapat membunuhnya …
      • ..telah terlahir sebagai manusia yang tak pernah marah, tanpa berkerut, begitu pula walaupun banyak kata-kata (jahat) telah ditujukan kepadanya ia tidak menjadi kejam, terhasut, gusar, agresif; tidak mempertunjukkan kemarahan, kebencian dan kejengkelan..
      • Ia akan memiliki anak yang banyak, lebih dari seribu anak yang perkasa dan penakluk musuh-musuh …
      • Ia tidak akan kehilangan: milik dan kekayaan, berkaki dua atau berkaki empat, istri dan anak, ia akan sukses dalam semua hal
      • ….telah terlahir sebagai manusia yang pantang membahayakan orang lain dengan tangan, batu, tongkat atau pedangナIa tidak dapat diganggu oleh maksud jahat manusia atau lawannya….
      • sebagai manusia yang pantang melakukan mata pencaharian salah, hidup dengan mata pencaharian benar, tidak menipu dengan timbangan maupun ukuran, tidak memberi suap dan tidak korupsi, tidak curang, tulus, tidak melukai, tidak membunuh, tidak mengurung orang, tidak menodong dan tidak merampok.

      Bilamana ia meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi tanpa berumah tangga (pabbajja), maka ia akan menjadi Arahat Samma Sambuddha.

      Para bhikkhu, apakah 32 Maha Purisa Lakkhana yang menyebabkan hanya ada dua kemungkinan cara hidupnya dan tidak ada yang lain, jika ia hidup sebagai manusia biasa, maka ia akan menjadi raja dunia (cakkavati), … maka ia akan menjadi Arahat Samma Sambuddha; yaitu:

      1. Telapak kaki rata (suppatitthita-pado)
      2. Di telapak kaki-Nya terdapat gambar roda-roda dengan seribu jeruji, lengkap dengan lingkar dan sumbunya. [heṭṭhā,pāda,talesu cakkāni jātānihonti sahassārānisa,nemikāni sa,nābhikāni sabbākāra paripūrāni]
      3. Tumit-Nya menonjol.[āyata paṇhi].
      4. Jari-jari panjang (digha-anguli)
      5. Tangan dan kaki yang lembut serta halus (mudutaluna).
      6. Tangan dan kaki bagaikan jala (jala-hattha-pado).
      7. Pergelangan kaki yang lebih tinggi (ussankha-pado).
      8. Kaki yang bagaikan kaki kijang (enijanghi)
      9. Kedua tangan dapat menyentuh atau menggosok kedua lutut tanpa membungkukkan badan.
      10. Kemaluan terselubung (kosohitavattha-guyho).
      11. Kulitnya cerah berwarna emas (suvannavanno)
      12. kulitnya halus, dan karena kehalusan kulitnya, debu dan kotoran tidak menempel di tubuhnya
      13. Bulu-bulu badan-Nya terpisah, satu untuk masing-masing pori-por.
      14. Ujung bulu badannya menghadap ke atas; bulu badannya yang menghadap ke atas itu berwarna hitam-kebiruan, berwarna collyrium, keriting dan melingkar ke kanan.
      15. Tubuh-Nya tegak (brahmuiu-gatta).
      16. Memiliki 7 bagian yang menggembung.
      17. Dada bagaikan dada singa (sihapubbaddha kayo).
      18. Pada kedua bahunya tak ada lekukan (citantaramso).
      19. Memiliki rentangan pohon banyan; rentang kedua lengannya sama dengan tinggi badannya, dan tinggi badannya sama dengan rentang kedua lengannya.
      20. lengkungan bahu-Nya bundar (samavattakkhandho).
      21. Indera perasa sangat peka (rasaggasaggi).
      22. Rahang bagaikan rahang singa (siha-banu).
      23. Memiliki 40 buah gigi (cattarisa-danto).
      24. Gigi-geligi rata (sama-danto).
      25. Antara gigi-gigi tak ada celah (avivara-danto).
      26. Gigi putih bersih (susukka-datho).
      27. Lidah panjang (pahuta-jivha).
      28. Suara bagaikan suara-brahma, seperti suara burung Karavika.
      29. Mata biru (abhinila netto).
      30. Bulu mata lentik, bagaikan bulu mata sapi (gopakhumo).
      31. Di antara alis-alis mata tumbuh sehelai rambut halus, putih bagaikan kapas yang lembut.
      32. Kepalanya menyerupai serban kerajaan (unhisasiso)

[Kembali]



Kapan Kalki Avatara akan hadir dimuka Bumi ini?

“..Tak akan lagi ada usia orang yang hidup melebihi umur 30 atau 20 tahun. Kemudian, di jaman Kali, kemerosotan berkelanjutan, hingga umat manusia mendekati kemusnahan. Ketika praktek yang diajarkan Veda dan aturan mendekati hilang, dan akhir jaman Kali berakhir, suatu mahluk ilahi yang hidup di alam spritualnya sendiri dalam karakter Brahma yang merupakan awal dan akhir, dan yang memahami segala hal, akan turun ke dunia: Ia akan terlahir di keluarga Vishńuyaśas, seorang Brahmana terkemuka desa Sambhala, sebagai Kalki, diberkahi dengan 8 kekuatan supra manusia, dengan keinginan yang tak terbendung, ia akan menghancurkan semua orang kotor dan pencuri, dan mereka yang pikirannya tertuju untuk kejahatan. Ia akan menegakkan kembali kebenaran di dunia dan pikiran orang-orang yang hidup di jaman kali Yuga akan terbangkitkan, akan bening bagai Kristal. Orang-orang berubah dalam waktu tertentu akan menjadi benih para manusia, dan akan melahirkan ras yang mengikuti aturan jaman Krita, atau jaman murni, seperti yang dikatakan, “Ketika matahari dan bulan, dan bulan asterism Tishya, dan planet Jupiter, dalam satu lintasan, jaman Krita akan kembali” (Vishnu Purana 4.24)

“athāsau yuga-sandhyāyāḿ (Setelah itu, di antara pergantian dua yuga) dasyu-prāyeṣu rājasu (Tuhan maha pencipta) janitā viṣṇu-yaśaso (akan terlahir dalam keluarga visnuyasa) nāmnā kalkir jagat-patiḥ (bernama Kalki, sang penguasa)” (Srimad Bhagavatam/Bhagavata Purana 1.3.25)

“śambhala-grāma-mukhyasya (pemimpin termuka di Desa Sambhala) brāhmaṇasya mahātmanaḥ (kaum brahmana yang agung) bhavane viṣṇuyaśasaḥ (di rumah Visnuyasa) kalkiḥ prādurbhaviṣyati (Kalki akan hadir) (SB/BP 12.2.18)

Dari kutipan diatas kita mengetahui bahwa Kalki Avatara itu akan hadir pada antara akhir jaman Kaliyuga dan Awal jaman Krta yuga/Satya Yuga dan kapan itu dalam perhitungan tarikh masehi?

Permulaan jaman kali yuga adalah saat meninggalnya Krishna Avatara yaitu di tahun 3102 BC dan berapa panjangkah jaman kali yuga itu ?

Dalam teks-teks hindu dikatakan bahwa panjang jaman kali yuga adalah antara 360.000 tahun (Brahmanda Purana 1.2.29.31-34) dan 432.000 tahun [Perhitungan dari Vishnu Purana 1.3, Srimad-Bhagavatam 3.11.19, Bhagavad-gita 8.17, Vayu Purana ch.57 dan Mahabharata-Santi Parwa 231]

Sehingga dapat ditarik perhitungan berakhirnya jaman kali yuga adalah dikisaran tahun 352.981 Masehi atau tahun 424.981 Masehi. Petunjuk ini juga menentukan kepastian turunnya Kalki Avatara kedunia.

[Kembali]



Kapan Kemunculan Buddha Maitreya?

DN.26/Cakkavatti sīhanāda-sutta menceritakan periode masa depan setelah berakhirnya era Buddha gautama, yaitu dimana ajaran Buddha sudah lenyap lama di dunia dan setelah waktu yang lama, barulah muncul Buddha berikutnya. Kemunculan Buddha Metteya, diawali dengan kemunculan Cakkavatin bernama Daḷhanemi dan berlanjut dengan penurunan umur dan kenaikan umur serta kemunculan raja Cakkavatin bernama Sankha.

Raja Cakkavatin Dalhanemi dan 5 keturunannya hidup lebih dari 80,000an tahun. Turunan ke-7, memecahkan tradisi yaitu turun tahta sebelum waktunya, menyerahkan tahta pada anaknya dan menjadi śamaṇa. Kemiskinan meningkat, pencurian mulai, institusi hukuman menjadi ada, pembunuhan dan kejahatan merajalela. Umur manusia menjadi berkurang dari 80,000an menjadi 100 tahun. Setiap generasi terjadi peningkatan kejahatan, kemerosotan moral, penipuan, pelecehan, penyesatan kotbah, keserakahan, kebencian, berpandangan salah, kegiatan seksual dengan saudara kandung dan abnormal lainnya, tidak menghormati orang tua dan tetua.

Kemerosotan mencapai puncak kerusakannya, umur hidup semakin berkurang hingga tidak lebih dari 10 tahun, menikah di usia 5 tahun; Makanan lebih buruk dan kurang lezat; Bentuk moralitas akan tidak dikenali. Orang yang keji dan tidak bermoral akan menjadi pemimpin. Perkawinan antar saudara kandung merajalela. Kebencian antar masyarakat, sesama anggota keluarga tumbuh hingga masing-masing orang saling ‘memangsa’.

Selekasnya perang besar terjadi, semakin beringas, kejam dan biadab. Yang kurang agresif akan bersembunyi di hutan dan beberapa tempat rahasia.,akan terjadi banyak perang.

    Di antara yang berumur 10 tahun, tidak ada yang dianggap ibu atau bibi, saudara ibu, istri guru, atau istri ayah dan lain-lain – semua dianggap sama di dunia ini seperti kambing dan domba, unggas dan babi, anjing dan serigala. Di antara mereka, permusuhan sengit akan terjadi satu sama lain, kebencian hebat, kemarahan besar, dan pikiran membunuh, antara ibu melawan anak dan anak melawan ibu, ayah melawan anak dan anak melawan ayah, saudara laki-laki melawan saudara laki-laki, saudara laki-laki melawan saudara perempuan, bagaikan pemburu yang merasakan kebencian terhadap binatang yang ia buru ….

Di akhir peperangan, yang selama keluar dari persembunyiannya dan menyesali perbuatannya, Mereka mulai berkelakuan baik, umur mereka meningkat, kesehatan dan kesejahteraan meningkat. Umur ras manusia juga meningkat. Hingga waktu yang kemudian, keturunan-keturunan mereka yang berumur rata-rata 10 tahunan akan meningkat hingga menjadi 80.000an tahun,

Saat itulah muncul raja Cakravartin bernama Sakkha dan Bodhisatva yang ketika itu ada di alam deva Tusita muncul kembali ke alam manusia dengan nama Ajita yang kemudian akan hidup sebagai Samana dan mencapai penerangan sempurna sebagai Buddha Metteyya.

Di DN 16/Mahaparinibanna sutta, usai pembagian relik Buddha Gautama, para sepuh konsili ke-1 telah menyatakan, “ratusan kappa belum tentu ada seorang Buddha” (Buddho have kappasatehi dullabhoti).

Kemudian di setiap kemunculan para Buddha manapun, akan ada 1 mahluk mahhabrahma surga Suddhavasa yang datang mengunjungi beliau. Namun umur mahluk mahabrahma ini terbatas. DN 14/Mahapadana Sutta menginformasikan:

    Ketika sang Buddha menetap di Ukkhattha, Beliau berkunjung ke alam kediaman murni Aviha (“takkan Jatuh”, alam no.9, alam terendah kelompok alam Suddhavasa). Di alam ini, Sang Buddha bertemu ribuan deva alam itu yang terlahir menjadi anagami setelah menjalani kehidupan suci di jaman Buddha Vipassi (91 Maha kappa lalu)..kemudian, bertemu ribuan deva alam itu yang terlahir menjadi anagami setelah menjalani kehidupan suci di jaman Buddha Sikhi (31 Maha Kappa).. Vesabbhu (31 Maha kappa).. Kakusandha (Kappa yang sama dengan Buddha Gautama).. Konagama.. Kassapa.. dan Gautama..

    Kemudian, Bersama ribuan deva alam murni Aviha, mereka berkunjung ke alam murni Atapa (“tenang”, alam no.8). Di alam ini, Sang Buddha bertemu ribuan deva alam itu yang terlahir menjadi anagami setelah menjalani kehidupan suci di jaman Buddha Vipassi..Sikki.. dan Buddha Gautama..

    Kemudian, Mereka semua berkunjung ke alam murni, Suddhasa (“Indah”, alam no.7). Di alam ini, Sang Buddha bertemu ribuan deva alam itu yang terlahir menjadi anagami setelah menjalani kehidupan suci di jaman Buddha Vipassi..Sikki.. dan Buddha Gautama..

    Kemudian, Mereka semua berkunjung ke alam murni Suddhasi (“Penglihatan jelas”, alam no.6). Di alam ini, Sang Buddha bertemu ribuan deva alam itu yang terlahir menjadi anagami setelah menjalani kehidupan suci di jaman Buddha Vipassi..Sikki.. dan Buddha Gautama..

    Kemudian, Mereka semua berkunjung ke alam murni Akanittha (“tidak rendah/muda”, alam no.5, alam tertinggi kelompok alam suddhavasa. Sakka, ketika menjadi anagami akan terlahir di alam ini hingga mencapai arahat). Di alam ini, Sang Buddha bertemu ribuan deva alam itu yang terlahir menjadi anagami setelah menjalani kehidupan suci di jaman Buddha Vipassi..Sikki.. dan Buddha Gautama…

Di 5 tingkatan alam murni Suddhavasa, seluruh penghuni tertuanya, menyatakan bahwa mereka mencapai anagami di jaman Buddha Vipassi dan melihat Buddha Vipassi berkunjung ke alam mereka. Tidak satupun yang menyatakan bahwa mereka mencapai anagami di jaman Buddha-Buddha sebelum Vipassi (misalnya: Buddha Phusa, muncul 92 MAHA Kappa sebelum Buddha Gautama atau 1 Kappa sebelum Buddha Vipassi), sehingga waktu MAKSIMUM tercapainya arahat di alam Suddhavasa takkan LEBIH DARI 91/92 Maha Kappa dan dari sejarah 7 Buddha, setelah para Bodhisatta berhasil mencapai Buddha, salah satu Brahma Anagami tertentu dari alam ini datang mengunjunginya, maka WAKTU TERLAMA KEKOSONGAN kemunculan seorang sammasambuddha takkan melebihi 91/92 MAHA Kappa pula.

Lebih detail mengenai kapan kemunculan dan siapakah Buddha-Buddha sebelumnya dan selanjutnya, dapat dilihat di sini.

[Kembali]



Benarkah kalky Avatar sama dengan Buddha Maitreya?

Pada Mahabharata [Santi Parva, 231.29-32], disebutkan bahwa Satu siklus Brahma (Krita/Satya-yuga, Treta-yuga, Dvapara-yuga, dan Kali-yuga) adalah 12.000 tahun Dewa atau setara dengan 4.320.000.000 tahun. Saat ini adalah baru permulaan jaman Kali Yuga di siklus terakhir Brahma. Sementara di DN 16/Mahaparibanna sutta telah menyatakan bahwa dalam ratusan kappa belum tentu seorang Buddha muncul.

Bagaimana Buddhism menghitung kalpa?

    “Di Sąvatthi. Seorang bhikkhu mendekati Sang Bhagavą, memberi hormat kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau: “Yang Mulia, berapa lamakah satu kappa?”

    “Satu kappa adalah sangat lama, bhikkhu. Tidaklah mudah menghitungnya dan menyebutkannya dalam berapa tahun, atau berapa ratus tahun, atau berapa ribu tahun, atau berapa ratus ribu tahun.”

    “Kalau begitu mungkinkah dengan memberikan perumpamaan, Yang Mulia?”

    “Mungkin saja, bhikkhu,” Sang Bhagavą berkata. “Misalnya, bhikkhu, terdapat satu kota dengan tembok besi satu yojana panjangnya, satu yojana lebarnya, dan satu yojana tingginya, diisi penuh dengan biji sawi hingga sepadat rambut yang terikat. Di akhir setiap seratus tahun seseorang mengambil sebutir biji sawi dari sana. Dengan usaha ini tumpukan biji sawi itu lama-kelamaan akan habis tetapi kappa itu masih belum berakhir. Demikian lamanya satu kappa itu, bhikkhu.

    Dan dari kappa-kappa yang selama itu, kita telah mengembara melalui begitu banyak kappa, ratusan kappa, ribuan kappa, ratusan ribu kappa.

    Karena alasan apakah?

    Karena, bhikkhu, samsąra ini adalah tanpa awal yang dapat ditemukan.. [..] [Sutta Sāsapa/Biji Sawi, SN 15.6]]

Berapa lama waktu yang dibutuhkan agar Dinding besi berdimensi 1 yojana³ menjadi penuh setelah 1 biji mustard dimasukan per seratus tahunya?

    Asumsi 1 yojana = 15 km (terdapat variasi ukuran ‘1 yojana’: 7mil – 14mil); Diameter sebiji mustard (m) = 0.15875 cm, dengan asumsi berbentuk bulat, dan di isi penuh tanpa ada lagi udara di dalamnya

    1 kappa = 100 x (y³)/(4π x(0.01m/2)³)= 5.37 x 1022 tahun

    ..tetapi kappa itu masih belum berakhir.

    Variasi hitungan lainnya:
    1 mil = 1.6 km, jadi 1 yojana setara antara 11.2 km s/d 22.4 km, utk menjadi mm = 1.41 x 1021 mm³ s/d 1.1 x 1022 mm³

    Anggap saja ukuran biji mustard adalah 2mm x 2mm x 2mm = 8mm³, Jadi, 1.41 x 1021 mm³ / 8 mm³ = 1.76 x 1020 butir s/d 1.4 x 1021 butir. Bila diambil satu butir setiap setiap seratus tahun maka 1 kappa = 1.76 x 1020 butir x 100 tahun = 1.76 x 1022 tahun s/d 1.4 x 1023 tahun.

    ..tetapi kappa itu masih belum berakhir

Nah itu baru 1 Maha kappa yang terdiri dari puluhan kappa kecil.

Berapa kappa dalam 1 Maha Kappa?

1 MK = 4 x 64 antara kappa [umur manusia naik – turun – naik] = 256 antara kappa [Visuddhimagga Mahà-Tikà, Abhidhammàttha-vibhàvani Tika] dan diantara 256 antara kappa ini, hanya 64 antara kappa saja ada kehidupan manusia.

Jadi ratusan kappa sebagai kemunculan Buddha Maitreya, dipastikan tidak terjadi di Mahakappa ini dan masih jauh lagi dan juga dari keterangan ini dapat kita ketahui bahwa Kalki Avtara tidak sama dengan Buddha Maitreya.

[Kembali]



Pondasi Dasar Agama Hindu dan Buddha

Karmaphala
Hindu:

    Karmaphala atau karma pala adalah konsep dasar dalam ajaran-ajaran Hindu. Berakar dari dua kata yaitu karma dan phala. Karma berarti perbuatan/aksi, dan phala berarti buah/hasil. Karmaphala berarti buah dari perbuatan yang telah dilakukan atau yang akan dilakukan. Dalam ajaran Karmaphala, setiap perbuatan manusia pasti membuahkan hasil (baik atau buruk).

    Karmaphala ini erat kaitannya dengan kelahiran kembali, dimana hasil perbuatan manusia akan dipetik olehnya bisa pada saat ini juga, diwaktu yang akan dating pada kehidupannya saat ini maupun pada kehidupannya mendatang. Demikian pula keadaan saat ini merupakan buah dari hasil perbuatan masal lalu atau juga berasal dari kehidupan sebelumnya. Dalam ajaran tersebut, bisa dikatakan manusia yang menentukan baik/buruk kehidupan yang akan ia jalani sementara Tuhan yang menentukan kapan hasilnya diberikan

Buddha:

    Sebagai awalan, kita ambil contoh terlahir sebagai manusia. Dari 91 alam kehidupan (biasanya 31 alam), terlahir sebagai manusia seharusnya adalah hasil kamma baik. Sang buddha memberikan perumpamaan begitu sulitnya terlahir sebagai manusia: Misal di suatu lautan terapung sebuah GENDAR berlubang satu dan misalkan ada seekor kura-kura buta yang muncul ke permukaan setiap satu abad sekali, maka di suatu saat, di akhir suatu masa yang lama, kura-kura buta itu dapat memasukan lehernya ke lubang gendar itu dan itu adalah lebih cepat waktunya daripada seorang yang memperoleh kondisi manusianya kembali.

    Perumpamaan yang diberikan sang Buddha ini menjelaskan betapa sulitnya terlahir sebagai manusia. Sehingga seharusnya, jangankan terlahir normal, bahkan terlahir cacat pun itu karena masaknya karma baik sebelumnya.

      Kondisi lengkap tidak dipunyai oleh seorang yang cacat kaki dan tubuh -> Kamma buruk.

      Namun walaupun anggota tubuh tidak lengkap, ia kaya, terkenal dan beristri cantik -> Kamma baik

      Cacat anggota tubuh seseorang adalah keunggulan, jika digunakan mengemis akan memperoleh cukup uang dan makanan -> Kamma baik.

      Nick Vujicic, turunan Serbia Australlia, tidak punya kaki dan tangan namun memiliki kehidupan luar biasa dan Ia tidak mengatakan hidupnya buah dari kamma buruk 🙂

      Pelacur menurut pandangan umum -> Kamma buruk

      Agar orang mau membayarnya, Ia haruslah berpenampilan FISIK MENARIK -> Kamma baik.

      Pelacur jarang kekurangan makan, mampu memilih menu apa yang ia makan padahal, tidak banyak di muka bumi ini yang cukup makan dan bisa memilih menu -> Kamma baik.

      Pelacur memiliki pakaian yang baik, terlindungi dari kedinginan, memiliki perhiasan karena dan untuk menambah dayatariknya, bertempat tinggal cukup nyaman dan terhindar dari hujan dan terik matahari -> Kamma baik

    Ilustrasi di atas menunjukan BAIK atau BURUKnya sebuah hasil/vipaka kamma adalah RELATIF menurut sudut pandang.

    Apa arti Kamma?
    Kamma [artinya: perbuatan], meliputi semua jenis kehendak/maksud perbuatan baik/buruk yang dilakukan melalui: pikiran, kata, atau tindakan:

      O, bhikkhu, kehendak [cetana] untuk berbuat itulah yang Kunamakan Kamma. Sesudah berkehendak orang lantas berbuat dengan badan, perkataan atau pikiran [AN 6.63, Nibbedhika Sutta]

      Makhluk-makhluk adalah pemilik perbuatan mereka, pewaris perbuatan mereka, mereka berasal-mula dari perbuatan mereka, terkait dengan perbuatan mereka, memiliki perbuatan mereka sebagai perlindungan mereka. Adalah perbuatan yang membedakan makhluk-makhluk sebagai hina dan mulia.[MN 135/Cula Kamma Vibhanga Sutta]

      “Aku adalah pemilik dari perbuatanku, pewaris dari perbuatanku, berasal dari perbuatanku, terkait dengan perbuatanku, dan memiliki perbuatanku sebagai pelindungku. Apapun yang kulakukan, baik atau buruk, akulah pewarisnya. [AN 5.57/Upajjhatthana Sutta]

    APA ITU CETANA?
    Cetana adalah apa dikehendaki/diniatkan [ceteti], diatur/dipikirkan ulang [pakappeti] dan kecenderungan/dilekati [anuseti] -> menyokong kesadaran -> menjadikan sesuatu di kemudian hari [ yang terlahir,tua, mati, dll = Dukkha] [SN 12.38/Cetana Sutta]

    Sang Buddha menyampaikan seseorang yang telah melakukan perbuatan buruk, Ia dapat saja terlahir di alam manusia dan terlihat atau menjadi: hina/mulia, berumur pendek/panjang, berpenyakit/sehat, cantik/buruk rupa, berpengaruh/tidak, miskin/kaya, berkelahiran rendah/tinggi, bodoh/bijaksana. [MN 3.135/Cula Kammavibhangga Sutta], sehingga, rumusan hasil TIDAK HARUS: “Jika melakukan A, maka akan mendapat A”, karena bisa saja seorang telah banyak berbuat baik di kehidupan ini, namun di kelahiran berikutnya, Ia terlahir ditempat buruk atau bahkan sebaliknya!

    1. Orang yang [menyakiti makhluk hidup; mengambil yang tidak diberikan; berperilaku salah dalam kenikmatan indria; menyatakan yang tidak benar/musāvādī; fitnah/pisuṇavāco, kata-kata kasar/pharusavāco; bergosip/berkata yang tak perlu/samphappalāpī; tamak/irihati/abhijjhā; berpikiran buruk/byāpannacitto: berharap ada yang terbunuh, ditangkap, dimusnahkan, tidak ada lagi; dan menganut pandangan salah/micchādiṭṭhi]. bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di:
      1. keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka [jika menjadi manusia dalam keadaan mengenaskan, Alam: mahluk halus, binatang dan neraka]
      2. keadaan bahagia di alam surga [jika jadi manusia dalam keadaan menyenangkan dan/atau di atas alam manusia]
    2. Orang yang TIDAK [menyakiti makhluk hidup…dan menganut pandangan salah]. bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di:
      1. keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka [jika menjadi manusia dalam keadaan mengenaskan, Alam: mahluk halus, binatang dan neraka]
      2. keadaan bahagia di alam surga [jika jadi manusia dalam keadaan menyenangkan dan/atau di atas alam manusia] [MN 3.136/Maha kammavibhanga sutta]

    Sehingga mereka yang menyatakan:

    • Melakukan perbuatan salah PASTI terlahir alam menderita bahkan neraka, atau
    • Tidak ada akibat dari perbuatan salah, atau
    • Melakukan perbuatan benar PASTI terlahir di Alam bahagia, atau
    • Tidak ada akibat dari perbuatan baik

    ADALAH BUKAN ajaran sang Buddha, Lebih lanjut sang Buddha menyatakan:

    1. sehubungan dengan orang yang [menyakiti makhluk hidup; mengambil yang tidak diberikan; berperilaku salah dalam kenikmatan indria; menyatakan yang tidak benar/musāvādī; fitnah/pisuṇavāco, kata-kata kasar/pharusavāco; bergosip/berkata yang tak perlu/samphappalāpī; tamak/irihati/abhijjhā; berpikiran buruk/byāpannacitto: berharap ada yang terbunuh, ditangkap, dimusnahkan, tidak ada lagi; dan menganut pandangan salah/micchādiṭṭhi], bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di:
      • keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka:

        sebelumnya telah melakukan perbuatan buruk yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan buruk yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan salah.

        Karena hal itu, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka…

      • di alam bahagia, bahkan di alam Deva:

        sebelumnya telah melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan benar.

        Karena hal itu, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan bahagia di alam Deva…

      Dan karena ia di sini telah [menyakiti makhluk hidup…; dan menganut pandangan salah/micchādiṭṭhi], ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya

    2. sehubungan dengan orang yang menghindari menyakiti makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di:
      • keadaan bahagia di alam Deva:

        sebelumnya telah melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan benar.

        Karena hal itu, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan bahagia di alam Deva…

      • dalam kondisi menderita … bahkan di neraka:

        sebelumnya telah melakukan perbuatan buruk yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan buruk yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan salah.

        Karena hal itu, bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka…

      Dan karena ia di sini telah menghindari menyakiti makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya. [MN 3.136/Maha kammavibhanga sutta]

    Untuk itu, terdapat 2 tipe Kamma:

      Kamma lama [Purana]:
      Yang telah dilakukan [abhisaṅkhataṃ], dikehendaki [abhisañcetayitaṃ] dan dirasakan [vedayitaṃ] karena/beraal dari Mata atau telinga atau hidung atau lidah atau tubuh atau pikiran

      Kamma Baru [Nava]:
      Perbuatan sekarang yang dilakukan melalui pikiran, ucapan perbuatan

    Perbuatan itu dirasakan/dialami dalam 3 cara: (1) saat sekarang/kehidupan ini atau (2) berikutnya atau (3) lain periode atau beberapa periode berkelanjutan lainnya [MN.136/Maha kamma vibhangga sutta; AN 3.34/NIDANA SUTTA; AN.10.217/Paṭhamasañcetanikasutta; AN 6.63/Nibbe Dihika (pariyaya) sutta] atau dirasakan dalam 2 cara: (1) sekarang ini atau kehidupan ini dan (2) beberapa periode ke depan [MN 101/Devadaha Sutta]

    Apa yang menjadi penyebab Kamma?
    Kontak/Indra [Phassa]

    Cara memadamkannya?
    8 Jalan mulia/utama. [SN 35.146/kamanirodha sutta]

    Sebagai kesimpulan tentang hukum kamma, berikut dari MN 57/Kukkuravatika Sutta:

      Terdapat 4 jenis perbuatan yang dinyatakan oleh Sang Buddha:

      1. Ada perbuatan gelap dengan akibat gelap:

        Seseorang menghasilkan bentukan: jasmani, ucapan, pikiran yang menyakitkan -> menghasilkan bentukan: jasmani, ucapan, dan bentukan pikiran yang menyakitkan -> muncul kembali di alam sengsara -> kontak yang menyakitkan menyentuhnya -> merasakan perasaan yang menyakitkan, sangat menyakitkan, seperti pada makhluk-makhluk di neraka

      2. Ada perbuatan terang dengan akibat terang:

        Seseorang menghasilkan bentukan: jasmani, ucapan, pikiran yang menyenangkan -> menghasilkan bentukan: jasmani, ucapan, dan bentukan pikiran yang menyenangkan -> muncul kembali di alam bahagia -> kontak yang menyenangkan menyentuhnya -> merasakan perasaan yang menyenangkan, sangat menyenangkan, seperti pada para dewa dengan Keagungan Gemilang

      3. Ada perbuatan gelap-dan-terang dengan akibat gelap-dan-terang:

        Seseorang menghasilkan bentukan: jasmani, ucapan, pikiran yang menyakitkan juga menyenangkan -> menghasilkan bentukan: jasmani, ucapan, dan bentukan pikiran yang menyakitkan juga menyenangkan -> muncul kembali di alam bahagia -> muncul kembali di alam sengsara juga bahagia -> kontak yang menyakitkan maupun menyenangkan menyentuhnya -> merasakan perasaan yang menyakitkan juga menyenangkan, campuran kenikmatan dan kesakitan, seperti pada manusia dan beberapa dewa di alam yang lebih rendah

      Demikianlah kemunculan kembali suatu makhluk adalah karena suatu makhluk; seorang yang muncul kembali melalui perbuatan yang telah ia lakukan. Ketika ia telah muncul kembali, kontak menyentuhnya. Demikianlah Aku katakan bahwa makhluk-makhluk adalah pewaris perbuatan mereka.

      1. Ada perbuatan yang bukan gelap juga bukan terang dengan akibat yang bukan gelap juga bukan terang, perbuatan yang mengarah menuju hancurnya perbuatan.

        Di sini, kehendak untuk meninggalkan jenis:

        1. perbuatan gelap dengan akibat gelap, dan
        2. perbuatan terang dengan akibat terang dan
        3. perbuatan gelap-dan-terang dengan akibat gelap-dan-terang

        Ini disebut perbuatan bukan gelap juga bukan terang dengan akibat bukan gelap juga bukan terang yang mengarah menuju hancurnya perbuatan [Nibanna]

[Kembali]



Reinkarnasi/Tumimbal lahir/Tumitis

Ada perbedaan antara Reinkarnasi vs Punarbhawa/tumimbal lahir. Reinkarnasi berasal dari terminologi Nasrani [latin: in carne] yang berasal dari bahasa yunani [en sarki: “menjadi daging”, Di AL KITAB 1 Tim 3:16; Yehezkiel 37:1-14; Yohanes 3:3-12]. Sedangkan Tumimbal lahir/Punarbhawa adalah kelahiran kembali baik dengan daging atau pun tidak (manusia ataupun bukan). Mahluk akan berhenti terlahir kembali, jika mereka padam nafsu keinginannya/Nirvana atau menyatu dengan Tuhan/moksha. Terdapat beda antara kelahiran kembali dalam Hinduism vs Buddhism, yaitu mengenai adalah ada atau tidaknya jiwa ketika terlahir kembali. Hinduism menyatakan ada jiwa yang kekal, yang setelah mati, meninggalkan badan lama mencari badan baru, sementara di Buddhism menyatakan tidak ada jiwa yang menjadi inti mahluk hidup di saat ini, dalam kelahiran kembalinya ataupun ketika mereka padam.

Hindu:

    Veda menyampaikan hubungan antara perbuatan dan kelahiran kembali ketika wafatnya seseorang, misalnya:

      Ketika Engkau telah membuatnya siap, Jātavedas (Nama lain Deva Agni. Di literature abad belakangan menjadi nama lain dari Siwa), maka kirimlah ia ke para leluhurnya. Ketika ia menuju pada kehidupan yang menunggunya, Ia akan menjadi dewa pengontrol ‘. matahari menerima matamu, angin menerima rohmu, dan pergi ke bumi, bersama jasa/kebiasaanmu (ca ghachapṛthivīṃ ca dharmaṇā) [RgVeda. 10.6.2-3]

      roh-Mu datang kepadamu lagi untuk kebijaksanaan, energi, dan lira, yang mungkin dapat menahan sang Mentari, O para leluhur, semoga para mahluk surgawi member jiwa kita sekali lagi, yang membuat kita dapat bersama mereka yang hidup [RV.10. 57.4-5]

    Kemudian, Upanisad memperjelasnya, misal:

      Tapi dirinya yang lain (ayah), setelah melakukan semua yang Ia lakukan, dan setelah mencapai waktu penuh hidupnya, Ia berangkat. Dan berangkat dari sini ia dilahirkan kembali. Itulah kelahiran ketiga. Dan ini telah dinyatakan oleh Rsi (Rv IV, 27, 1) [Aitareya-Âranyaka, II.5.1]

      “Untuk apapun objek yang melekat di pikiran seseorang, karena itu ia berkecenderungan pergi bersama perbuatannya, dan memperoleh akhir dari apapun perbuatan yang dia lakukan di bumi, ia kembali lagi dari dunia itu ke dunia ini” [Brihadâranyaka Upanishad 4.4.6]

      melalui pikiran-pikiran, sentuhan, penglihatan dan kegemaran menanggung penjelmaan diri berturut-turut di berbagai tempat dan bentuk, sesuai dengan perbuatannya…bahwa penjelmaan diri menurut kualitasnya sendiri menjadi banyak bentuk, kasar atau halus dan membuat dirinya menjadi sebab penyatuan dengan hal tersebut, Ia terlihat lain dan lain melalui kualitas perbuatannya dan kualitas tubuhnya [Svetâsvatara Upanishad 5.11-12]

      Ia yang tidak memiliki pemahaman, yang lengah dan selalu tidak murni, tidak pernah mencapai tempat itu, tapi masuk ke lingkaran kelahiran. Tapi Ia yang berpemahaman, yang sadar dan selalu murni, mencapai tempat itu, dari mana ia tidak dilahirkan kembali.” [Katha Upanisad I.3]

      Dia yang mengetahui tempat tertinggi dari Brahman itu, dimana dasar dari dunia ini bersinar dengan cemerlang. Orang bijaksana, yang, bebas dari keinginan, memuja Dia, lepas dari kelahiran kembali. Dia yang melayani nafsu, memikirkan mereka, akan lahir kembali di sini dan disana sesuai dengan keinginannya. Tapi bagi dia yang keinginannya telah terpenuhi, yang adalah jiwa sempurna, seluruh keinginannya lenyap bahkan disini. [Mundaka Upanisad 3.2.1-2]

      Atau dalam karya yang lebih belakangan lagi:
      Orang yang mengenal sifat rohani, kelahiran dan kegiatanKu, tidak akan lahir lagi di dunia material ini setelah meninggalkan badan, melainkan ia mencapai tempat tinggalKu yang kekal. [Bhagavad Gita 4.9].

    Secara prinsip Mahluk hidup tercipta karena Brahman. Brahman (Prajapati) menciptakan dua kekuatan yang disebut Purusa yaitu kekuatan hidup (batin/nama) dan Prakerti (pradana/rupa) yaitu kekuatan kebendaan. Kemudian timbul “cita” yaitu alam pikiran yang dipengaruhi oleh Tri Guna yaitu Satwam (sifat kebenaran/Dharma), Rajah (sifat kenafsuan/dinamis) dan Tamah (Adharma/kebodohan/apatis). Kemudian timbul Budi (naluri pengenal), setelah itu timbul Manah (akal dan perasaan), selanjutnya timbul Ahangkara (rasa keakuan). Setelah ini timbul Dasa indria (sepuluh indria/gerak keinginan) yang terbagi dalam kelompok

    • Panca Budi Indria yaitu lima gerak perbuatan/rangsangan: Caksu indria (penglihatan), Ghrana indria (penciuman), Srota indria (pendengaran), Jihwa indria ( pengecap), Twak indria (sentuhan atau rabaan)
    • Panca Karma Indria yaitu lima gerak perbuatan/penggerak: Wak indria(mulut), Pani (tangan), Pada indria (kaki), Payu indria (pelepasan), Upastha indria (kelamin)

    Setelah itu timbulah lima jenis benih benda alam (Panca Tanmatra): Sabda Tanmatra(suara), Sparsa Tanmatra (rasa sentuhan), Rupa Tanmatra(penglihatan), Rasa Tanmatra (rasa), Gandha Tanmatra (penciuman).

    Dari Panca Tanmatra lahirlah lima unsur-unsur materi yang dinamakan Panca Maha Bhuta, yaitu Akasa (ruang/ether), Bayu (gerak/angin), Teja (panas/api), Apah (zat cair/perekat) dan Pratiwi (zat padat/tanah)

    Perpaduan semua unsur-unsur ini menghasilkan dua unsur benih kehidupan yaitu Sukla (benih laki-laki) dan Swanita (benih perempuan). Pertemuan antara dua benih kehidupan ini adalah pertemuan Purusa dengan Pradana maka terciptalah manusia.

      Dahulu kala Prajapati mencipta manusia bersama bhakti persembahannya dan berkata dengan ini engkau akan berkembangbiak dan biarlah dunia ini jadi sapi perahanmu.-[Bhagavad-Gita 3.10]

      Beberapa jiwa memasuki kandungan untuk ditubuhkan; yang lain memasuki obyek-obyek diam sesuai dengan perbuatan dan pikiran mereka.- [Katha Upanisad 2.2.7]

      Mahluk-mahluk di dunia yang terikat ini adalah bagian percikan yang kekal (Brahman) dari Ku, mereka berjuang keras melawan 6 indria termasuk pikiran. -[Bhagavad Gita 15.7]

    Percikan dari Brahman itu dinamakan Atman/jiwatman merupakan percikan. Atman itu tak terlukai oleh senjata, tak terbakar oleh api, tak terkeringkan oleh angin, tak terbasahkan oleh air, abadi, di mana- mana ada, tak berpindah- pindah, tak bergerak, selalu sama, tak dilahirkan, tak terpikirkan, tak berubah dan sempurna tidak laki- laki ataupun perempuan.

    Percikan itulah yang menghidupkan/menggerakan manusia. Atman/roh/jiwa menghidupkan sarwa prani (makhluk di alam semesta ini). Indria tak dapat bekerja bila tak ada atman. Misalnya telinga tak dapat mendengar bila tak ada atman, mata tak dapat melihat bila tak ada atman, kulit tak dapat merasakan bila tak ada atman. Badan jasmani bisa berubah, lahir, mati, datang dan pergi, namun Atma tetap langgeng untuk selamanya.

      Setelah memakai badan ini dari masa kecil hingga muda dan tua, demikian jiwa berpindah ke badan lain, ia yang budiman tidak akan tergoyahkan -[Bhagawad Gita 2.13]

      Ibarat orang meninggalkan pakian lama dan menggantinya dengan yang baru, demikian jiwa meninggalkan badan tua dan memasuki jasmani baru. -[Bhagawad Gita 2.22]

    Atma/Jiwatman bersifat abadi, namun karena Maya, maka Jiwatma tidak mengetahui asalnya yang sesungguhnya. Keadaan itu disebut “Awidya”. Hal tersebut mengakibatkan Jiwatman mengalami proses kelahiran kembali yang berulang-ulang.

      Dan bagaimanapun keadaan mahluk-mahluk itu, apakah mereka itu selaras (sattvika), penuh nafsu (rajasa), ataupun malas (tamasa), ketahuilah bahwa semuanya itu berasal dari Aku. Aku tak ada di sana, tetapi mereka ada pada-Ku. Dikelabui oleh ketiga macam sifat alam (guna) ini, seluruh dunia tidak mengenal Aku, yang mengatasi mereka dan kekal abadi. Maya ilahi-Ku ini, yang mengandung ketiga sifat alam itu sulit untuk diatasi. Tetapi, mereka yang berlindung pada-Ku sajalah yang mampu untuk mengatasinya.-[Bhagavad Gita 7.12-14]

      Maya tanpa kecerdasan dan Material mempunyai sifat: kebaikan/selaras (satwam), nafsu/kekuatan (rajas) dan kebodohan/kelambaman (tamas)-[Siwa Samhita 1.79]

      Mahluk hidup diikat oleh sifat-sifat tersebut dan sulit dikendalikan..-[Bhagavad Gita 14.5]

      Mahluk hidup pindah dari satu badan ke badan lainnya dengan membawa kesadaran masing-masing, seperti udara yang membawa jenis bau-bauan tertentu. Berdasarkan kesadaran demikian mahluk hidup meninggalkan badan dan menerima badan baru yang lain.-[Bhagavad Gita 15.8]

      Aku memuja Keagungan Govinda [Krisna/Visnu], dengan kuasa anugrahnya memelihara semua yang belum terlahir, semua yang menjadi ada, semua kebaikan, semua keburukan, Veda-Veda, semua yang menerima hasil pencapaian, semua jiwa, dari mulai Brahma hingga ke serangga terlemah-[Sri Brahma-Samhita 53]

    Yang menghalangi Atman kembali ke Brahman adalah ketidaktahuan/Awidya sebagai selubung atma/selubung Maya, contoh penjelasannya:

      Zat Padat/Tanah, Zat cairan/perekat, Panas/api, Gerak/angin, angkasa/ruang, pikiran, kecerdasan dan keakuan palsu. Keseluruhan delapan unsur ini merupakan tenaga material yang terpisah dariku.-[Bhagavad Gita 7.4, Lima pertama disebut badan materi/ panca mahaButa/Stula sarira dan tiga terakhir disebut tripremana sebagai badan halus/sukma sarira, yaitu manah/pikiran, budhi/kecerdasan dan ahangkara/keakuan palsu. Tripremana-lah yang menyertai roh mengembara dari satu tubuh ke tubuh yang lain]

      Model penjelasan lain:
      mahluk itu terdiri dari 3 Lapisan: badan Materi disebut Stula Sarira, kemudian badan jiwa disebut sukma Sarira dan bagian di antaranya disebut Antakharana-Çarira (Lapisan badan Penyebab). Lapisan badan penyebab atau Antakharana-Çarira, inilah yang sebagai pembawa dari Karma (Karma-Wasana) makhluk sejak berbagai kelahirannya yang lampau.

      Model penjelasan lain:
      Adanya panca Maya kosa (lima selubung yang membelenggu atman):

      1. Annamaya Kosa = unsur dari sari makanan;
      2. Pranamaya Kosa = unsur dari sari nafas;
      3. Manomaya Kosa = unsur dari sari pikiran;
      4. Wijnanamaya Kosa = unsur dari sari pengetahuan;
      5. Anandamaya Kosa = unsur dari kebahagiaan.

      Nomor 3, 4, dan 5 yang dibawa Atman menuju pada kelahiran kembali. Lapisan belenggu/pembungkus yang paling didalam dan yang paling sulit dibuang adalah yang bernama Anandamaya, sehingga atman yang masih terbungkus oleh Anandamaya disebut sebagai Anandamaya atma. Anandamaya adalah kebahagian atau kesenangan hidup yang dialami ketika atman masih mempunyai stula sarira (tubuh) yakni ketika masih hidup di dunia ini contohnya: ketika masih hidup di dunia. Jadi kebahagian dan kesenangan itu sifatnya keduniawian yang dinikmati dari Panca Indria yaitu: pendengaran, penglihatan, penciuman, rasa lidah, dan rasa kulit (termasuk sex).

      Kelahiran kembali (Punarbhawa/Reinkarnasi) terjadi karena Ia harus menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang terdahulu (karma)

    Hal yang pasti adalah: manusia lahir sendirian, mati sendirian, merasakan hasil dari perbuatan baik dan buruk sendirian, jatuh ke dalam neraka sendirian, dan pulang ke dunia rohani juga sendirian.-[Canakya Niti Sastra 5.13]

    Sehingga, manusia sendiri yang menentukan nasib baik/buruk yang akan ia jalani sementara Tuhan yang menentukan kapan hasilnya diberikan (baik semasa hidup maupun setelah lahir kembali. Apabila manusia tidak sempat menikmati pada kehidupan saat ini, maka akan dinikmati pada kehidupan selanjutnya.

      Adapun perbuatan orang yang bodoh, senantiasa tetap berlaku menyalahi dharma; setelah ia lepas dari neraka, menitislah ia menjadi binatang, seperti biri-biri, kerbau dan lain sebagainya; bila kelahirannya kemudian meningkat, ia menitis menjadi orang yang hina, sengsara, diombang-ambingkan kesedihan dan kemurungan hati, dan tidak mengalami kesenangan.-[Sarasamuccaya 1.48]

      Alangkah cepat dan pendeknya kehidupan sebagai manusia ini, tak bedanya dengan sinarnya kilat dan sangat susah pula untuk didapat. Oleh karena itu berusaha benar-benarlah untuk berbuat (sadhana) berdasarkan kebenaran (dharma) untuk menghapuskan kesengsaraan hidup guna mencapai sorga -[Sarasamuscaya 2.14]

    Untuk menghentikan lingkaran kelahiran, hinduism menasehatkan untuk mensucikan 3 perbuatan/trikayaparisudha:

    • Kayika/perbuatan yang benar: tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzina),
    • Wacika/perkataan yang benar: tidak mencaci, tidak berkata keras, tidak memfitnah, tidak ingkar janji),
    • Manacika/pikiran yang benar: tidak menginginkan sesuatu yang adharma, tidak berpikir buruk pada orang/mahluk lain,)

    Perputaran itu tidaklah terputus sampai Ia melepas belenggu Maya dan menghancurkan Awidya/ketidaktahuan dan menghancurkan enam musuh diri /Sadripu: kama (nafsu), lobha (tamak), kroda (marah), mada (mabuk), moha (angkuh), matsarya (dengki irihati) melalui:

      Yamabrata:
      melatih diri untuk anrsamsa (tidak egois), ksama (memaafkan), satya (jujur), ahimsa (tidak menyakiti), dama (sabar), arjawa (tulus), pritih (welas asih), prasada (berpikiran suci), madhurya (bermuka manis), mardawa (lemah lembut).

      Niyamabrata:
      Melakukan: dana (dermawan), ijya (bersembahyang), tapa (mengekang nafsu jasmani), dhyana (sadar pada kebesaran Ida Sanghyang Widhi Wasa), swadhyaya (belajar), upasthanigraha (mengendalikan nafsu sex), brata (mengekang indria), upawasa (mengendalikan makan/minum), mona (mengendalikan kata-kata), snana (menjaga kesucian lahir bathin)

      Sadatatayi:
      Tidak melakukan kekejaman : agnida (membakar), wisuda (meracun), atharwa (menenung), sastragna (merampok), dratikrama (memperkosa), rajapisuna (memfitnah).

      Saptatimira:
      menghindari kebanggaan/keangkuhan karena surupa (cantik/tampan), dana (kaya), guna (pandai), kulina (wangsa), yowana (remaja), kasuran (kemenangan), sura (minuman keras).

    Dengan tekad dan latihan tersebut maka terhentilah roda kelahiran kembali dan mencapai penyatuan atman dan Brahman. Penjelasan lain untuk kembali pada brahman adalah melalui empat jalan yang disebut Catur Marga / Catur Yoga dan ke-empat jalan tersebut adalah sama baiknya

      Dengan jalan bagaimanapun ditempuh oleh manusia ke arahku, semuanya aku terima dan memenuhi keinginan mereka, melalui banyak jalan manusia menuju jalanku, Oh Prtha.-[Bhagawad Gita 5.2]

    Jnana Marga/Yoga (kebijaksanaan filsafat atau Penetahuan)
    Persatuan Atman dan Brahman dicapai melalui Pengetahuan atau kebijaksanaan filsafat kebenaran. Pengetahuan seorang bijaksana dimulai dengan pengetahuan dalam tingkat ajaran-ajaran suci Weda (Apara Widya)

    Kemudian berdasarkan itu menuju pada pengetahuan tingkat tinggi tentang hakikat kebenaran Atman dan Brahman (Pari Widya). Untuk mencapai kebenaran yang sempurna melalui Wiweka (logika) membedakan yang kekal dan tidak kekal, sehingga bisa melepaskan yang tidak kekal dan mencapai kekekalan yang sempurna. Jnana bermain di tataran Kebijakan dan Pikiran.

      Ia yang pikirannya tidak digoyahkan dalam keadaan dukacita dan bebas dari keinginan-keinginan ditengah-tengah kesukacitaan, ia yang dapat mengatasi nafsu, kesesatan dan kemarahan, ia disebut seorang yang bijaksana.-[Bhagawad Gita 2.56]

    Karma Marga/Yoga (Perbuatan)
    Persatuan atman dan Brahman melalui kerja/perbuatan tanpa pamrih, tulus/ ikhlas dengan melepaskan keinginan untuk memperoleh hasil atau buah dari perbuatan/kerjanya targetnya adalah melepas emosi, lepasnya atma dari unsur-unsur maya sehingga tercapailah kesempurnaan. Idenya adalah bekerjalah,lepaskan keinginan akan hasil.

      Bukan dengan jalan tiada bekerja, orang dapat mencapai kebebasan dari perbuatan. Juga tidak hanya melepaskan diri dari pekerjaan, orang akan mencapai kesempurnaannya.-[Bhagawad Gita 3.4]

      Serahkanlah segala pekerjaan kepadaku, dengan memusatkan pikiran kepada atma, melepaskan diri dari pengharapan dan perasaan keakuan, dan berjuanglah kamu, bebas dari pikiranmu yang susah-[Bhagawad Gita 3.30]

      Bekerjalah kamu selalu, yang harus dilakukan dengan tiada terikat olehnya, karena orang mendapat tujuannya yang tertinggi dengan melakukan pekerjaan yang tak terikat olehnya.-[Bhagawad Gita 3.19]

    Bakti Marga/Yoga (Sujud/Bakti)
    Persatuan atman dan Brahman melalui cinta dan sujud bakti terhadap Tuhan. Idenya adalah apapun adalah oleh, karena dan untuk Tuhan. Penyerahan diri sepenuhnya dan sujud bhakti pada Tuhan. Jalan Bakti Marga Yoga ini adalah jalan yang paling mudah dan banyak dilakukan/ditempuh oleh manusia

      Orang saleh yang menyembah aku adalah empat macam yaitu, orang yang mencari kekayaan, orang yang bijaksana, orang yang mencari pengetahuan dan orang yang dalam keadaan susah, Oh Arjuna.-[Bhagawad Gita 7.16]

      Diantara ini, orang yang bijaksana yang selalu terus menerus bersatu dengan Hyang Suci, kebaktiannya terpusat hanya kesatu arah (Tuhan) adalah yang terbaik. Sebab aku kasih sekali kepadanya dan dia kasih kepadaku.-[Bhagawad Gita 7.17]

      Dengan bentuk apapun juga mereka bakti kepadaku (Bhakta), yang dengan kepercayaan bermaksud menyembah aku (dengan Sraddha), kepercayaan itu aku tegakkan-[Bhagawad Gita 7.21]

    Raja Marga/Yoga (Samadhi/Tapa)
    Persatuan atman dengan brahman melalui konsentrasi yang benar dengan melakukan Astangga Yoga/delapan pemusatan, yaitu

    1. Yama/Larangan: Menahan diri/Nafsu,
    2. Nyama/Perintah: adat/adab yang baik, melatih dengan kebisaan,
    3. Asana: sikap duduk yang baik, tumpuan lengan dan kaki dapat membantu mengendalikan kemaluan dan perut,
    4. Pranayama: Pengendalian/ nafas (Puraka/menarik, Kumbaka/menahan, Recaka/menghembuskan),
    5. Pratyahara: Kontrol Indria,
    6. Dharana yaitu: upaya menenangkan pikiran,
    7. Dhyana: upaya memikirkan Brahman dan
    8. Semadhi: Menyamakan Gelombang dengan Brahman.

    Seorang Yogin harus tetap memusatkan pikirannya kepada atma yang maha besar (Tuhan), tinggal dalam kesunyian dan tersendiri, bebas dari angan-angan dan keinginan untuk memilikinya.-[Bhagawad Gita 6.10]

    Karena kebahagiaan tertinggi datang pada Yogin, yang pikirannya tenang, yang nafsunya tidak bergolak, yang keadaannya bersih dan bersatu dengan Tuhan (Moksa).-[Bhagawad Gita 6.27]

Buddha:
Menurut Buddhisme, Semua mahluk hidup (Brahma, deva, manusia, peta/mahluk halus, binatang, neraka) merupakan bauran dari Namarupa/PancaKhanda [SN.22.56/Parivatta Sutta juga di DN.33/sanghiti Sutta, Panca = 5; khanda = kumpulan, gugus, faktor/unsur pembentuk; agregat, kelompok], terdiri dari:

  • Viññāṇa (Kesadaran)
  • Vedanā (perasaan, sensasi)
  • Saññā (persepsi, ingatan, ide, gagasan) muncul bersamaan dengan perasaan.
  • Saṅkhāra (semua yang berkondisi; kehendak, kamma, atau Saṅkhāra adalah (dalam namarupa, tanpa Vinnana): cetanā (niat, pikiran, tujuan, kehendak), phasso (kontak, sentuhan) dan manasikāro (perhatian, pemikiran, membuat pertimbangan, bentukan pikiran)
  • Rūpa (4 elemen/materi dan turunannya: Padat/landasan/penyokong [Pathavi]; cair/rekatan [Apo]; Gerak/Getar/tekanan [Vayo]; umur/habis/gelombang partikel/temperatur/energi [Tejo]), 4 unsur ini hadir bersama tidak terpisahkan

Karena bauran ini tidak terpisahkan dan menjadi kondisi maka tidak ada suatu yang dapat disebut sebagai inti atau atma/anatta/roh yang kekal abadi yang menggerakan mahluk hidup. Untuk bagaimana memahami bauran ini kita ambil contoh misalnya Roti:

    Roti adalah paduan: tepung, ragi, gula, garam, mentega, susu, air, api, tenaga kerja dll. Setelah menjadi roti, tidak dapat kita tunjuk satu bagian tertentu dan mengatakan: ini adalah tepungnya dan/atau ini garamnya dan/atau ini menteganya, dan/atau ini airnya dan/atau ini apinya dan/atau ini tenaga kerjanya dst. Karena setelah bahan-bahan diaduk menjadi satu dan dibakar di oven, maka telah berbaur dan telah berubah.

Nah demikianlah, maka tidak inti/atman/roh dalam mahluk hidup. Bauran pancakhanda/nāmarūpa ini bertumimbal lahir (kemunculan suatu mahluk hidup di alam kehidupan yang sama atau berbeda) secara berulang: “..arus kesadaran yang tidak terputus yang ada di alam ini maupun di alam berikutnya” [DN 28/Sampasādanīya Sutta]. “Kesadaran itu muncul bergantungan, jika tanpa suatu kondisi, maka tidak ada asal-mula kesadaran.” [MN 38/Mahātaṇhāsankhaya Sutta].

Kita ambil contoh dalam kasus kelahiran sebagai manusia dan bagaimana ia meneruskan kelahiran kembalinya.

Ketika jantung berhenti, masih ada selisih sekitar 7 menit sebelum matinya otak karena kekurangan oksigen. Karena tidak ada aliran darah, maka tidak ada sinyal syaraf dari/ke Indriya. 5 Indria (mata, telinga, penciuman, pencicipan dan rabaan) menjadi tidak berfungsi namun Indria pikiran masih berfungsi. Pikiran tersebut memuat ingatan yang berisi rekaman perasaan (Menyenangkan, menyakitkan, bukan ke-2nya) dan PERSEPSI dari PERBUATAN-PERBUATAN yang: BARU DILAKUKAN, PERNAH DILAKUKAN dan/atau TERBIASA DILAKUKAN melalui pikiran, ucapan, perbuatan sepanjang hidupnya. Oleh karenanya, terdapat Pertemuan antara Indera pikiran dan objeknya yang berupa Ingatan. Kondisi ini memunculkan kesadaran pikiran atau CUTI CITTA (Kesadaran kematian atau moment pikiran menjelang kematian).

Pertemuan ini SANGAT DERAS karena tidak ada HAMBATAN LAGI dari 5 INDRIYA LAINNYA. Akan muncul ingatan yang DOMINAN yang sangat berkesan dan karenanya muncul KEINGINAN [Untuk menjadi/tidak ingin menjadi sesuatu]. Karena ada keinginan, maka ada kemelekatan, Karena ada kemelekatan, muncul nāmarūpa.

    Dengan munculnya kesadaran (dalam hal ini cuticitta) maka muncul pula nāmarūpa… [MN.9/Sammādiṭṭhi Sutta]

    Kesadaran, perasaan, persepsi itu tegabung tidak terpisah. tidak dapat memisahkan kondisi-kondisi ini satu sama lainnya untuk menggambarkan perbedaan antaranya. Karena yang dirasakan, itu yang dipersepsikannya; yang dipersepsikan, itu yang dikenalinya. [MN 43]

Apa yang dinamakan kesadaran?

Pertemuan 6 Indriya [mata, telinga,.., pikiran] dan objeknya [bentukan, suara,.., ingatan/persepsi] sebagai kondisi, memunculkan kesadaran [mata, telinga,.., pikiran].

Pertemuan ke-3nya (6 Indriya, Objek-objeknya dan kesadaran) disebut Kontak
Dengan kontak sebagai kondisi, muncul perasaan;
Apa yang dirasakan, itulah yang dikenali;
Apa yang dikenali, itulah yang dipikirkan;

    PERASAAN dan PERSEPSI terikat dengan PIKIRAN/CITTA, maka terjadi BENTUKAN-BENTUKAN PIKIRAN (Citta/Mano sankhāra) [MN 44]

Apa yang dipikirkan, itulah yang dikembangbiakkan pikiran;
Dengan apa yang dikembangbiakkan dipikirannya sebagai: sumber, persepsi dan gagasan, melanda seseorang melalui objek-objek [bentukan, suara,..] masa: lalu, sekarang dan depan yang dikenali 6 Indriya [mata, telinga,..]. [MN 18/Madhupiṇḍikasutta]

Kemunculan kesadaran ini menjadi landasan (Pathavi) saling merekat (Apo) saling terkait (vayo) dalam batasan umur tertentu (tejo) dengan perasaan, persepsi dan bentukan-bentukan pikiran. Demikianlah pancakhanda/nāmarūpa terjadi sebagai kondisi masaknya kamma tertentu yang membuatnya terlahir menjadi sesuatu

    Sang Buddha/petapa Asita Devala:
    Tuan-tuan, tahukah kalian bagaimana kehamilan terjadi [gabbhassa avakkanti]?’

    7 Brahmana:
    “’Tuan, kami mengetahui bagaimana kehamilan terjadi. Di sini, penyatuan ibu dan ayah, dan ibu sedang dalam masa subur, dan gandhabba hadir. Demikianlah kehamilan terjadi terjadi melalui perpaduan ke-3 hal ini.’

      Note:
      Gandhabba di Rig Veda 10.177.2, “Gandhava dalam rahim” (ghandharvo..gharbheantaḥ), arti: embriyo. Gandha+abba/ava: semerbaknya menarik; gam+tabba: Membuatnya menjadi. Arti lain: Penerus “kesadaran”

    Sang Buddha/petapa Asita Devala:
    “Kalau begitu, Tuan-tuan, apakah kalian mengetahui dengan pasti apakah gandhabba itu seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja?’

    7 Brahmana:
    “Tuan, kami tidak mengetahui dengan pasti apakah gandhabba itu seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja.’

    Sang Buddha/petapa Asita Devala:
    “’Kalau begitu, Tuan-tuan, jadi siapakah kalian?’

    7 Brahmana:
    “’Kalau begitu, Tuan, kami tidak mengetahui siapa kami ini.’[MN 93/assalayana sutta]

    Sang Buddha:
    “Tiga hal, Para bhikkhu, perpaduan kehamilan terjadi [sannipātā gabbhassāvakkanti]. Di sini, ada perpaduan ibu dan ayah, tetapi bukan musim kesuburan ibu, dan tidak ada kehadiran gandhabba – dalam kasus ini Kehamilan tidak terjadi.

    Di sini, ada perpaduan ibu dan ayah, dan musim kesuburan ibu, tetapi tidak ada kehadiran gandhabba – dalam kasus ini Kehamilan tidak terjadi.

    Tetapi jika ada perpaduan ibu dan ayah, dan musim kesuburan ibu, dan ada kehadiran gandhabba, melalui perpaduan ke-3 hal ini maka kehamilan janin terjadi. [MN 38/Mahātaṇhāsankhaya Sutta]

    Sang Buddha pada Ananda:

    “Kesadaran mengondisikan nāmarūpa (mentalmateri)” …jika kesadaran, Ananda [Viññāṇañca hi, ānanda] di dalam rahim ibu [mātukucchismiṃ] tidak muncul berbaur [na okkamissatha], akankah nāmarūpa di rahim ibu berkembang?’

    ‘Tidak, Bhagavā.’

    ‘Atau jika kesadaran, Ananda [Viññāṇañca hi, ānanda] di dalam rahim ibu, setelah muncul [okkamitvā] gagal terbaur [vokkamissatha], akankah nāmarūpa dilahirkan dalam kehidupan ini?’

    ‘Tidak Bhagavā.’

    ‘Dan jika kesadaran, Ananda dari makhluk muda tersebut, laki-laki atau perempuan, dipotong, akankah nāmarūpa tumbuh, berkembang dan dewasa?’

    ‘Tidak, Bhagavā.’ [DN 15/Mahānidānasutta sutta]

    Yakkha Indaka:
    Karena para Buddha berkata bentuk bukanlah roh (Rūpaṃ na jīvanti vadanti buddhā), Bagaimanakah jasmani diperoleh? Darimanakah tulang dan hatinya? Bagaimanakah Ia melekat pada rahim?”

    Sang Bhagavā:
    Pertama-tama kalala; Dari kalala (1) muncul abbuda; Dari abbuda (2) dihasilkan pesī; Dari pesī (3) muncul ghana; Dari ghana (4) muncul pasākhā (5) (organ tubuh); Rambut kepala, bulu-badan, dan kuku. Dan apa pun makanan yang dimakan ibu, makanan dan minuman yang dikonsumsinya, dengannya Ia dipelihara, di dalam rahim ibu.” [SN 10.1/Indaka Sutta, juga di Kv 14.2]

Jadi, terjadi 2 proses berlainan pada kelahiran [misal: melalui rahim/kandungan] yaitu:

  1. Proses kesadaran itu sendiri merupakan 1 hal.
  2. Proses awal janin dalam rahim merupakan hal lain lagi.

Yang kemudian membaur karena kondisi yang tepat.

Lebih detail mengenai kelahiran kembali untuk Hinduism dan Buddhisme [juga bukti-buktinya] anda dapat buka di sini

[Kembali]



Konsep Ketuhanan

Hindu:

    BhagavadGita (13:12-22) disebutkan:

      Beliau memiliki tangan, kaki, mata, kepala, dan muka yang berada dimana-mana, dan Beliau memiliki telinga di segala penjuru. Ia berada dalam segala sesuatu dan meliputi alam semesta. Beliau sumber asli segala indria, namun tanpa memiliki indria. Beliau tidak terikat, walau Beliau memelihara semua makhluk. Beliau melampaui sifat-sifat alam, dan pada waktu yang sama Beliau adalah penguasa semua sifat alam material. Beliau berada di luar dan di dalam segala insan, tidak bergerak namun senantiasa bergerak, Beliau di luar daya pemahaman indria material. Beliau amat jauh, namun juga begitu dekat kepada semua makhluk. Walaupun Beliau terbagi di antara insani, namun Beliau tidak dapat dibagi. Beliau mantap sebagai Yang Maha Tunggal. Beliau pemelihara segala makhluk, dan Beliau menciptakan sekaligus memusnahkan mereka. Beliau adalah sumber dari segala benda yang bercahaya. Baliau di luar kegelapan alam dan tidak terwujud. Beliau adalah pengetahuan dan tujuan pengetahuan. Beliau bersemayam di dalam hati sanubari segala makhluk

    Bentuk penegasan sekaligus koreksi yang dilakukan dalam mengembalikan pemahaman yang benar dalam Veda adalah seperti yang dinyatakan dalam Bhagavad Gita:

      Jalan manapun ditempuh manusia kearah-Ku semuanya Ku-terima, dari mana – mana semua mereka menuju jalan-Ku, oh Parta [Bhagavad Gita, 4.11]

      Apapun bentuk kepercayaan yang ingin dipeluk oleh penganut agama, Aku perlakukan kepercayaan mereka sama supaya tetap teguh dan sejahtera [Bhagavad Gita, 7.21]

      Setelah diberi kepercayaan tersebut, mereka berusaha menyembah Dewa tertentu dan memperoleh apa yang diinginkannya. Namun sesungguhnya hanya Aku sendiri yang menganugerahkan berkat-berkat tersebut [Bhagavad Gita, 7.22]

      Orang-orang yang menyembah Dewa-Dewa dengan penuh keyakinannya sesungguhnya hanya menyembah-Ku, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang keliru, wahai putera Kunti (Arjuna) [Bhagavad Gita, 9.23]

      Orang yang menyembah dewa akan dilahirkan di tengah masyarakat dewa, orang yang menyembah leluhur akan pergi ke leluhur, orang yang menyembah hantu dan roh halus akan dilahirkan di tengah-tengah makhluk seperti itu, dan orang yang menyembah-Ku akan hidup bersama-Ku. (Bhagavad Gita, 9.25)

    Sloka-sloka diatas secara tegas telah menyatakan bahwa tidak penting jalan mana yang ditempuh untuk mencapai pencerahan atau mencapai Yang teragung, akan tetap diterima olehNya adapun jalan yang dimaksud adalah KarmaYoga, BhaktiYoga, JnanaYoga dan Raja Yoga.

Buddha:
Sang Buddha menolak semua gagasan dan paham mengenai adanya tuhan baik itu personal maupun bukan, misal dalam AN 3.61/Tittha sutta, Sang Buddha menolak pandangan bahwa semua perbuatan (baik dan/atau buruk) dan yang dialami seseorang adalah karena kuasa/kehendak TUHAN [Issaranimmānahetū]

    “Issaranimmānahetū’ ti issaranimmānakāraṇā, issarena nimmitattā paṭisaṁvedetī ti attho” [Disebabkan kuasa Tuhan, Karena kuasa Tuhan, Dirinya mengalami dari kuasa tuhan]

Buddha menolak tegas hal itu, karena semua perbuatan dan yang dialami seseorang BUKANLAH kehendak tuhan, yang berakibat seseorang TIDAK memiliki kehendak bebas hanya ”boneka” yang tidak bisa membebaskan diri dari penderitaan serta akan menjadi seseorang yang berkewaspadaan dan pengendalian diri. Juga di Mahabodhi Jataka (no.528), Sang Bodhisatta berkata:

    “Jika Tuhan sekalian alam, yang menentukan bagi seluruh ciptaannya, kebahagiaan atau penderitaan, perbuatan baik maupun buruk, maka manusia hanya menjalankan perintahnya saja, sedangkan Tuhan itu yang diliputi dosa” (issaro sabbalokassa, sace kappeti jīvitaṃ, Iddhiṃ byasanabhāvañca, kammaṃ kalyāṇapāpakaṃ; Niddesakārī puriso, issaro tena lippati)

Kemudian kotbah Boddhisatta dalam Bhuridatta Jataka [no.543], terdapat kalimat berulang, “Sace hi so issaro sabbaloke” (Sebab jika Ia Tuhan sekalian alam):

    ”Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan; Mengapa Brahma itu tidak menciptakan secara baik? Bila kekuatannya demikian tak terbatas, mengapa tangannya begitu jarang memberkati? Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata? Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela? Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal? Saya menganggap, Brahma adalah ketak-adilan. Yang membuat dunia yang diatur keliru”

Lebih detail mengenai konsep “ketuhanan” di Buddhisme dapat anda lihat di sini
[Kembali]



Moksa/Nibana/Nirwana plus Surga dan neraka

Moksa adalah konsep agama Hindu yang artinya kelepasan atau kebebasan dari ikatan duniawi dan bersatu dengan Brahman/Tuhan. Sementara Surga dan Neraka adalah salah satu tempat sementara, ketika mahluk menerima ganjaran perbuatannya selama hidupnya dahulu.

Dalam Buddhisme nibanna/Nirvana [nir; nis = “tidak ada, lenyap, habis’; + va = “meniup”, “Musnah, Lenyap, Padam, memadamkan”]. Ini adalah keadaan/kondisi padamnya nafsu keinginan suatu mahluk jadi ini BUKAN alam/tempat atau bahkan Tuhan. Nibanna ada 2, yaitu:

  1. Sa-upadisesa-Nibbana = Nibbana dengan ‘sisa’ [5 khanda masih ada, mahluknya masih hidup]
  2. An-upadisesa-Nibbana = Parinibanna = Nibanna tanpa sisa, tidak ada lagi kemunculan di masa depan dalam bentukan apapun

Berikut beberapa cuplikan sutta yang menjelaskan tentang nibanna:

    Pertanyaan Vaccagotta:
    Ketika seorang bhikkhu terbebaskan demikian, Guru Gotama, di manakah ia muncul kembali [setelah kematian]?”

      Sang Buddha:
      “Istilah ‘muncul kembali’ tidak berlaku, Vaccha.”

    Vacchagotta:
    “Jadi apakah ia tidak muncul kembali, Guru Gotama?”

      Sang Buddha:
      “Istilah ‘tidak muncul kembali’ tidak berlaku, Vaccha.”

    Vacchagotta:
    “Jadi apakah ia muncul kembali juga tidak muncul kembali, Guru Gotama?”

      Sang Buddha:
      “Istilah ‘muncul kembali dan juga tidak muncul kembali’ tidak berlaku, Vaccha.”

    Vacchagotta:
    “Jadi apakah ia bukan muncul kembali juga bukan tidak muncul kembali, Guru Gotama?”

      Sang Buddha:
      “Istilah ‘bukan muncul kembali dan juga bukan tidak muncul kembali’ tidak berlaku, Vaccha.”

    Vacchagotta:
    “Ketika Guru Gotama ditanya 4 pertanyaan ini, Beliau menjawab:

    Istilah “muncul kembali” tidak berlaku, Vaccha;
    istilah “tidak muncul kembali” tidak berlaku, Vaccha;
    istilah ‘muncul kembali dan juga tidak muncul kembali’ tidak berlaku, Vaccha;
    Istilah ‘bukan muncul kembali dan juga bukan tidak muncul kembali’ tidak berlaku, Vaccha.’

    Di sini aku menjadi bingung, Guru Gotama, di sini aku menjadi bimbang, dan keyakinan yang telah kuperoleh melalui perbincangan sebelumnya dengan Guru Gotama sekarang telah lenyap.”

      Sang Buddha:
      “Ini memang cukup membuatmu bingung, Vaccha, cukup membuatmu bimbang. Karena Dhamma ini, Vaccha, adalah dalam, sulit dilihat dan sulit dipahami, damai dan mulia, tidak dapat dicapai hanya dengan logika, halus, untuk dialami oleh para bijaksana. Adalah sulit bagimu untuk memahaminya JIKA ENGKAU MENGANUT PANDANGAN LAIN, MENERIMA AJARAN LAIN, MENYETUJUI AJARAN LAIN, MENEKUNI LATIHAN YANG BERBEDA, MENGIKUTI GURU YANG BERBEDA.

      Aku akan mengajukan pertanyaan padamu sebagai balasan, Vacccha. Jawablah sesuai dengan apa yang menurutmu benar.

      “Bagaimana menurutmu, Vaccha? Misalkan terdapat api yang membakar di depanmu. Apakah engkau mengetahui: ‘Api ini membakar di depanku’?”

    Vacchagotta:
    “Aku mengetahuinya, Guru Gotama.”

      Sang Buddha:
      “Jika seseorang bertanya padamu, Vaccha: ‘Bergantung pada apakah api yang membakar di depanmu ini?’ – jika ditanya demikian, bagaimanakah engkau menjawab?”

    Vacchagotta:
    “Jika ditanya demikian, Guru Gotama, aku akan menjawab: ‘Api ini membakar dengan bergantung pada bahan bakar rumput dan kayu.’”

      Sang Buddha:
      “Jika api di depanmu itu padam, apakah engkau mengetahui: ‘Api di depanku ini telah padam’?”

    Vacchagotta:
    “Aku mengetahuinya, Guru Gotama.”

      Sang Buddha:
      “Jika seseorang bertanya padamu, Vaccha: ‘Ketika api di depanmu itu padam, ke arah manakah perginya: ke timur, ke barat, ke utara, atau ke selaatan?’ – jika ditanya demikian, bagaimanakah engkau menjawab?”

    Vacchagotta:
    “ITU TIDAK BERLAKU, Guru Gotama. Api itu membakar dengan bergantung pada bahan bakar rumput dan kayu. Ketika bahan bakar itu habis, jika tidak mendapatkan tambahan bahan bakar, karena tanpa bahan bakar, maka itu dikatakan sebagai padam.”

      Sang Buddha:
      “Demikian pula, Vaccha, Sang Tathāgata telah MENINGGALKAN BENTUK MATERI yang dengannya seseorang yang menggambarkan Sang Tathāgata dapat menggambarkannya; Beliau telah memotongnya pada akarnya, membuatnya menjadi seperti tunggul pohon palem, menyingkirkannya SEHINGGA TIDAK MUNGKIN MUNCUL LAGI DI MASA DEPAN.

      Sang Tathāgata terbebaskan dari penganggapan dalam hal bentuk materi, Vaccha, Beliau dalam, tidak terbatas, sulit diukur bagaikan samudera.

      ‘Beliau muncul kembali’ tidak berlaku; ‘
      ‘Beliau tidak muncul kembali’ tidak berlaku;
      ‘Beliau muncul kembali juga tidak muncul kembali’ tidak berlaku;
      ‘Beliau bukan muncul kembali juga bukan tidak muncul kembali’ tidak berlaku.

      Sang Tathāgata telah MENINGGALKAN PERASAAN yang dengannya seseorang yang menggambarkan Sang Tathāgata dapat menggambarkannya; Beliau telah memotongnya pada akarnya, membuatnya menjadi seperti tunggul pohon palem, menyingkirkannya SEHINGGA TIDAK MUNGKIN MUNCUL LAGI DI MASA DEPAN …

      Sang Tathāgata telah MENINGGALKAN PERSEPSI yang dengannya seseorang yang menggambarkan Sang Tathāgata dapat menggambarkannya; Beliau telah memotongnya pada akarnya, membuatnya menjadi seperti tunggul pohon palem, menyingkirkannya SEHINGGA TIDAK MUNGKIN MUNCUL LAGI DI MASA DEPAN …

      Sang Tathāgata telah MENINGGALKAN BENTUKAN-BENTUKAN yang dengannya seseorang yang menggambarkan Sang Tathāgata dapat menggambarkannya; Beliau telah memotongnya pada akarnya, membuatnya menjadi seperti tunggul pohon palem, menyingkirkannya SEHINGGA TIDAK MUNGKIN MUNCUL LAGI DI MASA DEPAN …

      Sang Tathāgata telah MENINGGALKAN KESADARAN yang dengannya seseorang yang menggambarkan Sang Tathāgata dapat menggambarkannya; Beliau telah memotongnya pada akarnya, membuatnya menjadi seperti tunggul pohon palem, menyingkirkannya SEHINGGA TIDAK MUNGKIN MUNCUL LAGI DI MASA DEPAN.

      Sang Tathāgata terbebaskan dari penganggapan dalam hal kesadaran, Vaccha, Beliau dalam, tidak terbatas, sulit diukur bagaikan samudera… [MN72/Aggivacchagotta Sutta]

    ***

    Demikian telah dikatakan oleh Sang Buddha … “Wahai para bhikkhu, ada 2 elemen-Nibbana (nibbānadhātu). Apakah 2 elemen itu? Elemen-Nibbana dengan sisa (saupādisesā nibbānadhātu) dan elemen-Nibbana tanpa sisa (anupādisesā nibbānadhātu)”

    “Wahai para bhikkhu, apakah elemen-Nibbana dengan sisa itu?”

    “Di sini, seorang bhikkhu merupakan Arahat, orang yang noda-nodanya telah lenyap, kehidupan sucinya telah terpenuhi, yang telah melakukan apa yang harus dilakukan, tak lagi menanggung beban, telah mencapai tujuan menghancurkan belenggu-belenggu KELAHIRAN KEMBALI dan sepenuhnya terbebas melalui pengetahuan akhir. Tetapi, ke-5 indrianya tetap berfungsi, dan dengan indria itu dia masih mengalami apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, serta merasakan sukacita dan penderitaan. Hilangnya kemelekatan, kebencian, dan kebodohan batin di dalam dirinya ITULAH YANG DISEBUT ELEMEN-NIBANNA DENGAN SISA”

    “Dan, wahai para bhikkhu, apakah elemen-Nibbana yang tanpa sisa itu?

    Di sini seorang bhikkhu merupakan Arahat … yang sepenuhnya terbebas melalui pengetahuan akhir. Baginya, di sini dalam kehidupan ini juga, segala yang dialami, karena tidak ditanggapi dengan kegembiraan, akan padam. Para Bhikkhu, ITULAH YANG DISEBUT ELEMEN-NIBANA TANPA SISA”

    “Demikianlah, wahai para bhikkhu, 2 elemen-Nibbana itu.”

    Dua elemen-Nibbana ini diperkenalkan
    Oleh Yang Melihat, yang tenang dan tidak terikat:
    Yang satu adalah elemen yang dilihat di sini dan kini
    Dengan sisa, tetapi tali kelahiran kembalinya telah dihancurkan;
    Yang lain, KARENA TIDAK MEMILIKI SISA DI MASA DEPAN,
    Di situ semua jenis kehidupan sepenuhnya berhenti.

    Setelah memahami keadaan yang tak terkondisi,
    Terbebas pikirannya karena tali kelahiran kembali yang telah dihancurkan,
    Mereka telah mencapai intisari Dhamma,
    Bergembira dalam penghancuran (nafsu keinginan),
    Mereka yang tenang telah meninggalkan semua kelahiran kembali
    . [ITIVUTTAKA no.44]

    Detail lainnya lihat di sini

[Kembali]



Uji Material Keabsahan Klaim Kalangan Islam

  • Apakah Muhammad adalah Tuhan? Tidak,

    Muhammad adalah seorang utusan Tuhan.

    Sedangkan Kalki Avatara adalah Tuhan sendiri yang turun ke dunia!

    Bahkan Muhammad-pun tidak mendekati definisi dan ciri2 Buddha. Perlu dicatat bahwa Buddha tidak pernah menganjurkan untuk Menyembah Tuhan. Setiap Buddha ada di muka bumi menganjurkan untuk TIDAK menyakiti Mahluk hidup tanpa kecuali [tidak ada pengucualian apapun! Termasuk dalam keadaan perang]

    Sedangkan Muhammad menganjurkan untuk melakukan pembunuhan

  • Apakah Muhammad Menyatakan Reinkarnasi (Punarbawa/Tumimbal Lahir)? Tidak
  • Apakah Muhammad menyatakan ada hukum Karmaphala (kamma)? Tidak
  • Apakah Muhammad menyatakan adanya Nirwana (nibbana) selain Surga dan Neraka? Tidak
  • Apakah tahun kehidupan Muhammad berada di dekat tahun-tahun yang diramalkan akan hadirnya Kalki Avatara dan/atau Buddha Maitreya didunia? Tidak
    • Kalkiy Avatara akan muncul didunia pada kisaran 352.981 Masehi atau tahun 424.981 Masehi dan Buddha Maitreya akan hadir di ratusan kalpa atau jauh melebihi 1023 tahun lagi.
    • Kalky avatar lahir pada bulan Baisakha 12 hari setelah bulan penuh (purnama), berarti 12 hari setelah tanggal 14/15 yaitu tanggal 26/27 akhir bulan Baisakha.
    • Sementara itu kepastian tanggal lahir Muhammad pun tidak diketahui saat dulu maupun sekarang. Pendapat para Ulama berbeda-beda dalam hal ini. Phillip K. Hitti berkata bahwa dia dilahirkan sekitar 571 AD (History of the Arabs, hal 111). Abdullah Yusuf Ali berkeras, “tahun yg selalu diberikan utk kelahiran sang Nabi adalah 570 AD, meski tanggalnya harus dikira-kira, jadi angkanya adalah antara 569 dan 571, kemungkinan batas paling ekstrim.” (Quran, V.2, hal 1071)
    • Walau tahun kelahirannya Muhamad misterius, Muslim tetap menetapkan bahwa dia lahir pada jam-jam awal, yaitu hari Senin, hari ke-29 bulan Agustus, 570 AD (Lihat Ghulam Mustafa, Vishva Nabi, hal 40). – Sebuah perayaan yg mereka rayakan dg pawai riuh. Namun faktanya tetap: tahun kelahiran Muhamad tidak ditetapkan berdasarkan bukti2 sejarah yg dapat dipercaya. Dengan demikian, Perayaan kelahiran Muhammad, tidak berdasarkan sumber2 kuat Islam namun hanya berdasarkan tradisi.

  • Apakah Muhammad yang mengajarkan sendiri ajarannya? Tidak,

    Ia diberitahukan melalui perantara yang bernama Jibril yang diyakini sebagai malaikat (mungkin dapat disamakan dengan Dewa).

    Buddha Maitreya tidak memerlukan perantara untuk mengajar, bahkan Buddha Maitreya adalah guru para Dewa.

    Sedangkan Kalki, adalah Pemilik para Dewa sehingga Dewapun tunduk dan patuh padaNya.

  • Apakah Muhammad memiliki 10 Kekuatan atau 8 kekuatan supra manusia? Tidak

    Para Buddha selalu mempunyai itu

    Kalki avatar digambarkan memiliki 8 kekuatan supra manusia yang melekat padanya dan dapat digunakan kapanpun Ia mau.

  • Apakah Muhammad menguasai penjuru dunia? Tidak,

    Sewaktu Muhammad hidup lingkup daerah kekuasaan yang berhasil ditaklukannya bahkan tidak sampai keluar dari Jazirah Arab

  • Apakah Muhammad mempunyai banyak anak yang gagah perkasa dan penakluk musuh? Tidak,

    Semua anak laki-lakinya telah mati muda, Dari Khadijah (Qasim dan Abdullah) meninggal selagi bayi, dari Budaknya Maria al-Qibthiya (Ibrahim) meninggal saat usia 4 tahun.

    Yang tersisa hanya berasal dari putrinya Fatimah yang menikah dengan Ali (Hasan dan Husain) yang juga tewas sekeluarga dibantai pada masa Bani Umayah dan Bani Abbas. Menurut sumber yang masih harus diuji keabsahannya dikisahkan bahwa masih ada keturunan Muhammad yang selamat dan lari ke maroko.

  • Apakah Muhammad mempunyai ciri2 32 Manussa Agung/Maha Purisa ? Tidak
  • Apakah Muhammad menaklukan tidak dengan pedang melainkan hanya dengan kebenaran? Tidak,

    Ia berperang dengan menggunakan Pedang.

    Ini sangat jauh berbeda dengan Buddha dimana saat Beliau di cacimaki, diserang Gajah dan hendak dibunuh tetap dalam keadaan diam tidak menyerang dan hanya menyampaikan kebenaran melalui ucapanNya saja dan semua yang menyerangnya menjadi Pengikutnya.

    Sementara Kalki dikisahkan bersenjatakan Petir(Bajra) yang menyerupai Pedang yang dapat menghanguskan sebuah Kota (ini lebih menyerupai senjata masa depan daripada sebuah pedang jaman dulu)

  • Apakah Muhammad mempunyai kuda putih sebagai tunggangannya setiap saat? Tidak,

    Ia tidak mempunyai tunggangan yang sama yang dipakainya setiap saat dan tidak pernah tercatat bahwa Muhammad mempunyai kuda berwarna putih sebagai tunggangannya

  • Apakah Buraq adalah Kuda putih? Tidak,

    Buraq adalah suatu mahluk menyerupai hewan berwarna putih berbadan lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari Bagal [Muslim 001.0309, Bukhari 5.58.227] bermuka Manusia dan berekor merak [The Haj, Leon Uris‘s dan Gambar Buraq dari literatur abad 16].

    Buraq tidak ditunggangi Muhammad setiap saat namun hanya satu kali yang konon terjadi pada peristiwa Isra’ Mir’aj [AQ 17:1; Bukhari 9.63.608; Tisdal, W., “Original Sources of Islam”, hal. 78] pada tanggal 27 Rajab tahun ke-11 kerasulan Muhammad.

    Buraq tidak pernah disebut dalam Al Qur’an dan hanya muncul di Hadis sahih Muslim dan Bukhari dan itupun tidak pernah disebutkan sebagai Kuda berwarna putih. Peristiwa Isra’ Miraj menyatakan:

    • Muhammad pergi menaiki Buraq [Buraq tidak pernah ada di dalam Qur’an dan hanya tercatat di hadist itupun tidak pernah dikatakan sebagai Kuda Putih].
    • Saat Isra’ Mir’aj, Nabi berada dirumah seorang sepupunya (wanita) yang baru kehilangan suami [sampai tengah malam], ini tidak lazim menurut adat istiadat setempat, sementara Nabi belumlah diterima secara luas di Mekkah [2 tahun sebelum Hijrah dan hampir 1 tahun setelah ditinggal istri dan pamannya],
    • Pada AQ 17:1 disebutkan Nabi mengunjungi Mesjid Aqsa yang justru baru dibangun setelah Nabi wafat oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Kekhalifahan Umayyah [Dinasti Bani Umayyah] pada tahun 66 H dan selesai tahun 73 H (56 tahun setelah Nabi Muhamad Wafat)
    • Merupakan awal mula Shalat 5 waktu. Pada peristiwa Isra’ Mi’raj awalnya diperintahkan 50 x shalat satu harinya dan Nabi berhasil menawar berulang kali kepada Allah hingga akhirnya menjadi 5 x (jadi, sampai dengan 11 tahun masa ke rasulan tidak ada perintah Shalat)

  • Apakah Muhammad tidak pernah Membunuh dan/atau anti pembunuhan? Tidak,

    Ia membunuh dan memerintahkan Pembunuhan dan pembantaian.

  • Seorang Buddha setelah mencapai Buddha tidak akan menikah lagi untuk alasan Apapun, apakah Muhammad juga tidak menikah lagi setelah menjadi Rasul? Tidak,

    Setelah menjadi Rasul, Paling tidak Muhammad beristri 15 orang, 2 (dua) diantaranya diceraikan.

  • Apakah Istri Muhammad ada yang bernama Padma? Tidak,

    Selain dari Khaddijah, istri-istri Muhammad lainnya adalah Saudah, Aisyah, Hafshah, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah, Juwariyah, Zainab binti Jahsyi(Mantan istri anak angkat Muhammad-Zaid ibn Haritsah), Raihanah(Budak milik Muhammad), Syafiyyah, Maemunah, Maria Qibthiyyah(budak milik Hafshah), Arkian dan masih banyak lagi [Sumber: Biografi Rasullulah, Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad, Penerbit Qisthi press, Januari 2006, hal.887: “Seandainya Rasulullah s.a.w berkehendak untuk memiliki ribuan budak perempuan dan selir, tentu saja Rasulullah s.a.w. tidak akan mengurangi haknya untuk mengambil hal tersebut. Apalagiナ”; juga lihat di: Selain Khadijah, Semua Istri Nabi berusia Muda dan Ranum]

  • Apakah maksud dari arti kata Ayahanda Kalki (Vishnuyasha), Ayahhanda Buddha Maitreya (Subrahma) sama artinya dengan nama ayahanda Muhammad (Abdullah)? Tidak,

    Vishnuyasha berarti Pengikut Wisnu, Subrahma adalah Brahma yang baik sedangkan Abdulah berarti Pengikut Allah,

    • Kata Allah pada jaman Pra-islam Allah berkonotasi dengan dewa bulan. Pada jaman sebelum islam orang Arab menyembah dewa(i). Di Mekkah, “Allah” adalah dewa tertinggi bangsa Quraish, sukunya Nabi. Allah memiliki 3 puteri: Al Uzzah [Venus]; Manah [Dewi nasib] dan Al Lat [Dewi tumbuh-tumbuhan]. Mereka dianggap paling berkuasa dan campur tangan mereka atas nama pemuja sangat penting.
    • Pernyataan Albert Hourani: “Nama Islam bagi Tuhan adalah ‘Allah’, yang sudah dipakai utk dewa2 setempat “(bahkan dipakai orang Yahudi dan Kristen yg berbicara Arab–lihat A history Of Arab people by Albert Hourani, 1991, page-16, Belknap press of Harvard University, USA).

  • Apakah Arti dari Kalky, Maitreya dan Muhammad sama? Tidak,

    Kalky= Abadi/ pejuang yang perkasa,

    Maitreya adalah nama Suku beliau dan nama sebelum menjadi Buddha adalah Ajita = pemenang, tidak tertaklukan (Buddha Gautama, Gautama adalah nama suku, nama sebelum menjadi Buddha adalah Sidharta=tercapai semua maksudnya),

    Sedangkan Nama asli Muhammad adalah Kothan:
    “…Aminah menyebut bayinya Kothan, tapi kakeknya mengubahnya menjadi Muhammad dikemudian hari” (lihat: “The Messenger: Life of Mohammed“, Ronald Victor Courtenay Bodley, hal 5; atau di: “MUHAMMAD AND HIS QURAN: BLOOD AND LIES AT THE ROOT OF ISLAM“, Mohammad Asghar, hal.20; atau di: “The story of the Saracens, from the earliest times to the fall of Bagdad“, Gilman, Arthur, 1837-1909, hal.40, 482; atau di: “Mohammed and Mohammedanism: lectures delivered at the Royal institution of Great Britain in February and March, 1874“, Smith, R. Bosworth (Reginald Bosworth), 1839-1908; Deutsch, Emanuel, 1829-1873. Islam, hal.295, lihat cat.kaki; atau di “The life of Mahomet”, Dermenghem, Emile, 1872-; Yorke, Arabella, hal.xii, yang menyebutkan nama Muhammad adalah Qotham atau Zobath).

    Bahkan para ulama Islam sendiri juga menyatakan demikian, misal: Ibn Athir (“الكامل في التاريخ/Al-Kāmil fī al-tārīkh“, hal.608) menyatakan nama Muhammad adalah ‘QTM’, “هو محمد بن عبد الله ، ويكنى عبد الله أبا قثم” (Muhammad bin Abdullah, dijuluki Abdullah Abu QTM), juga di “As-Sirat al-Halabiyya (Insan al-‘Uyun fi Sirat alAmin al-Ma’mun), vol.1, hal.117, atau hal.131: “وفي الإمتاع: لما مات قثم بن عبد المطلب قبل مولد رسول الله صلى الله عليه وسلم بثلاث سنين وهو ابن تسع سنين وجد عليه وجدا شديدا، فلما ولد رسول الله صلى الله عليه وسلم سماه قثم حتى أخبرته أمه آمنة أنها أمرت في منامها أن تسميه محمدا،” (Ketika Qathem bin Abdul Muthalib wafat 3 tahun sebelum kelahiran Nabi Saw, Ia berusia usia 9, Ia (Abdul Mutalib), sangat sedih, maka ketika Nabi lahir, Ia namakan Qathem hingga ibunya, Aminah mimpi, agar menamakan anaknya, Muhammad). Juga seorang periset Muslim dari Tunisia, Dr Hashim Djait, di islamonline.net, Sabtu, 3 Maret 2007, menyatakan nama asli Muhammad adalah Qotham! [lihat: di sini atau di sini, Lihat juga Islam QA no.184499].

    Nah, jika Muhammad artinya adalah yang terpuji namun apakah arti QTM/kothan?

    Tampaknya kata QTM artinya bervariasi, diantaranya: Dermawan, warna yang menghitam (“Consonant Spreading in Arabic Stems”, Kenneth R. BEESLEY, hal.119); memotong (“ORIGIN OF “SEMITIC” LANGUAGES”, ADEL S. BISHTAWI, hal.7); atau bahkan hewan heyna jantan. Nama terakhir ini bisa jadi lebih masuk akal, karena tampaknya ada keterbiasaan suku padang pasir menamakan anaknya dengan binatang, seperti misal salah satu leluhur Muhammad, Qusayy bin kilāb, di mana arti “kilāb” = para anjing.

  • Apakah Ayahanda Muhammad kepala suku, atau keluarga kaya atau keluarga terpandang? Tidak,
    • Muhammad bukanlah orang kaya, bukan anak kepala suku dan bukan dari keluarga terpandang, ia lahir di Mekkah.

      Suku Quraish adalah penghuni aslinya, mengingat fakta bahwa suku merekalah yg memiliki kontrol atas pengawasan dan ritual religius dari rumah Tuhan tersebut.

    • Anggota2 dari suku Quraish terdiri dari tiga kelompok
      • Satu adalah kelompok pendeta, yg mengontrol rumah Tuhan dan mendapatkan pemasukan dari para peziarah.
      • Kelompok kedua terdiri dari sejumlah kecil orang Quraish yg melakukan perdagangan.
      • Kelompok ketiga adalah yg paling besar, dan terdiri dari mereka yg menopang hidupnya dg menyediakan air dan pelayanan2 lain bagi para peziarah.

    • Pekerjaan ini tidak menjamin pemasukan yg tetap bagi mereka; ketika mereka menerima peziarah dalam jumlah yg banyak, mereka mendapat pemasukan yg besar, tapi ketika jumlah peziarah kecil pendapatan merekapun kecil. Orang2 ini spt pekerja zaman kita sekarang; mereka dibayar kalau ada pekerjaan. Lebih dari 1400 tahun yg lalu, tinggal di Mekkah seorang laki2 bernama Abdullah.

      Dia termasuk kelompok ketiga dari kaum Quraish. Istrinya bernama Aminah. Karena dia tidak mempunyai pendapatan yg tetap, keuangan rumah tangganya selalu kempas kempis. Seringkali keduanya harus tidur tanpa makan. Kemiskinan yg terus menerus akhirnya sampai pada puncaknya, mereka sering bertengkar dan bertengkar mengenai kondisi keuangan mereka dan juga mengenai masa depan mereka.

      Namun demikian,
      Terdapat detail mencurigakan yang membuat keabsahan ABDULLAH sebagai ayah kandung Muhammad SAW, layak untuk dipertanyakan. (KLIK INI, untuk detailnya!!!)


      Dalam biography yang ditulis oleh al-Halabi dan juga “The Comprehensive Compilation of the Names of the Prophet’s Companions” oleh Ibn Abd al-Barr, menyatakan bahwa Ibunda Muhammad, yaitu Amina, tinggal di rumah Wahib, paman Amina. Abd Mutallib, kakek muhammad, meminta kemenakan Wahib untuk dikawinkan dengan Abdullah dan pada saat itu, Hala diminta untuk dikawinkan dengan dirinya sendiri. Mereka kawin bersamaan.

        “Al-Sirat al-Halabiya”, Al-Halabi, vol.1, hal. 51 [atau di vol.1 hal. 62] السيرة الحلبية للحلبي

        ثم رأيت في أسد الغابة ما يوافقه، وهو أن عبد المطلب تزوج هو وعبد الله في مجلس واحد،

        [Abdul-Muttalib, dan juga anaknya, Abdullah, menikah pada saat yang sama]

        The Major Classes, Ibn Sa’d, vol. 1, hal. 94-95 الطبقات الكبرى لإبن سعد

        فمشى إليه عبد المطلب بن هاشم بن عبد مناف بن قصي بابنه عبد الله بن عبد المطلب أبي رسول الله، صلى الله عليه وسلم، فخطب عليه آمنة بنت وهب فزوجها عبد الله بن عبد المطلب، وخطب إليه عبد المطلب ابن هاشم في مجلسه ذلك ابنته هالة بنت وهيب على نفسه فزوجه إياها، فكان تزوج عبد المطلب بن هاشم وتزوج عبد الله بن عبد المطلب في مجلس واحد،

        [Jadi, Abdul Muthalib menuju kepadanya (Wahib) bersama putranya Abdullah, bapak nabi, meminta Amina dan menikahi Abdullah. Dalam saat yang sama, Ia meminta Hala untuk dirinya sendiri dan dia (Wahib) menikahkan padanya. Oleh karena itu, pernikahan Abdul Muthalib dan Abdullah, anaknya, terjadi bersamaan.]

      Beberapa saat setelah kawin Abdullah pergi ke Syiria utk berdagang, saat ia pergi Amina sedang hamil dan Abdullah wafat beberapa bulan kemudian. Contoh variasi biography Muhammad lain yang menyatakan kematian Abdullah terjadi beberapa bulan setelah menikahi Amina:

        Some months previous to the invasion of Abraha, Abdul Muttalib had affianced his then youngest son, Abdullah, who was twenty-four years of age, to Amina, the niece of Wahb of Bani Zuhra, under whose guardianship she lived. The marriage took place, and NOT LONG AFTER Abdullah left his wife, WHO WAS WITH CHILD, and set out on a mercantile expedition to Syria. ON HIS WAY BACK, he fell ill at Medina, and was left behind by the caravan with his father’s maternal relatives.

      Hala Melahirkan Hamza dan Amina melahirkan Muhammad, Hamza lebih tua 2 tahun s.d 4 tahun daripada Muhammad.

        Al-Isaba fi Tamyiz al-Sahaba, Ibn Hajar, vol.2, hal. 121 الإصابة فى تميز الصحابة لإبن حجر

        1828 حمزة بن عبد المطلب بن هاشم بن عبد مناف القرشي الهاشمي أبو عمارة عم النبي صلى الله عليه وسلم وأخوه من الرضاعة أرضعتهما ثويبة مولاة أبي لهب كما ثبت في الصحيحين وقريبه من أمه أيضا لأن أم حمزة هالة بنت أهيب بن عبد مناف بن زهرة بنت عم آمنة بنت وهب بن عبد مناف أم النبي صلى الله عليه وسلم ولد قبل النبي صلى الله عليه وسلم بسنتين وقيل بأربع

        [Hamza anak dari Abdul-Muttalib [..] lahir 2 atau 4 tahun SEBELUM Nabi]

        The Major Classes, Ibn Sa’d, vol. 3, hal. 10 الطبقات الكبرى لإبن سعد

        قال: أخبرنا محمد بن عمر، قال حدثني موسى بن محمد بن إبراهيم عن أبيه، قال: كان حمزة معلما يوم بدر بريشة نعامة. قال محمد بن عمر: وحمل حمزة لواء رسول الله، صلى الله عليه وسلم، في غزوة بني قينقاع ولم يكن الرايات يومئذ.
        وقتل، رحمه الله، يوم أحد على رأس اثنين وثلاثين شهرا من الهجرة وهو يومئذ بن تسع وخمسي سنة، كان أسن من رسول الله، صلى الله عليه وسلم، بأربع سنين،

        [Hamza [..] terbunuh di Uhud [..] Ia berusia 56 tahun [..] Ia 4 tahun lebih tua dari Rassulullah..]

      Dalam suatu wawancara dengan Zakaria Botros di TV Al-Hayat, dalam program “in Dept” episode ke-3 (Lihat terjemahan: Indonesia atau Inggris, Pendeta ini kelak di FATWAkan MATI), Ia menyampaikan pertanyaan terbuka kepada para Sheikh Muslim, Sheikh Karadawy, Sheikh Tantawy dan Sheikh Beblawy tentang “Mengapa terdapat selisih umur 2 s.d 4 antara HAMZA dan MUHAMMAD padahal karena Ibu mereka MENIKAH BERSAMAAN dan Ayahanda MUHAMMAD wafat HANYA BEBERAPA BULAN KEMUDIAN atau dengan kata lain: SIAPA AYAHNYA MUHAMMAD agar ia lahir empat tahun setelah Abdullah meninggal?”. Zakaria memberikan argument tambahan seperti di bawah ini:

      • Dalam buku “The Beginning and the End” (Awal dan Akhir) yang ditulis oleh Ibn Kathir, jilid 2 hal. 316 tentang Abdul muttalib yang mengurus pernikahan Abdullah, anaknya, dikatakan, “Nabi mendengar ada orang dari Keldah (Kindah) yang mengatakan bahwa Muhammad adalah dari suku mereka dan mereka satu suku dengan Muhammad.” [Bani Kindah adalah salah satu suku arab di jaman itu]

        Ketika Mohamad mendengar mereka berkata seperti itu, Mohamad tidak menyangkal. Ini berarti Mohamad bukan orang Quraish, bukan anak Abdullah, tetapi orang Keldah. Ini bencana. Dia berkata, “Kami tidak disangkal oleh leluhur-leluhur kami, kami adalah keturunan Elnur Ibn Kenana.”

        Dalam buku “Dalail al-Nubuwwah” yang ditulis oleh Abu Naim al-Isbahani yang mengutip kata-kata Ibn Abbas, dikatakan begini, “ketika orang-orang Quraysh bicara siapa leluhur mereka dan menggambarkan muhammad sebagai “pohon palem yang tumbuh di lereng bukit” (artinya: Tidak di kenal siapa leluhurnya) Ketika Muhammad mendengar itu Ia sangat marah.

        Abu Naim al-Isbahani melanjutkan dan berkata bahwa Ibn Abbas menyampaikan pada Muhammad, “Ketika kaum quraish bertemu dengan sesamanya, mereka saling memberikan senyum lebar. Namun ketika mereka bertemu dengan kami, mereka mengejek kami dan mengatakan tidak mengetahui darimana muhammad.” Muhammad menjadi sangat marah ketika mendengar itu. beberapa ahli sejarah menginterpretasikan ini dalam arti bahwa Bani Kindah tahu betul bahwa Muhammad berasal dari suku mereka dan bukan dari bani hasyim dan Muhammad mengakui itu. Mereka juga mengatakan bahwa statement “sebatang palem yang tumbuh dilereng bukit” artinya adalah tidak dikenal siapa ayahnya.

      • ”Dalam “Al–Sirah Al-Halabiyah”, oleh Imam Ali Burhan al-Din al-Halabi dimana ia menulis bahwa kehamilan Muhammad LEBIH MUDAH dari dari kehamilan lainnya [juga disebutkan “The Beginning and the End” -nya Ibn Kathir, dan “Al-Khasas al-Kubra”-nya Jalal al-Din al-Suyuti dan banyak hadis lainnya. [note: Jadi, berapa kali AMINAH hamil sebelumnya?]
      • Di jaman jahiliyah tidak dipermasalahkan, para wanitanya, melakukan hubungan seksual dengan lebih dari 1 orang. Misalnya: “Al-Sirah Al-Halabiyah” menceritakan bahwa Amr Ibn al-As di Mekkah tidak tahu siapa ayahnya, karena empat pria memiliki hubungan seksual dengan ibunya. Ketika ia bertanya kepada ibunya siapa ayahnya, ia memilih al-As dan Amr Ibn al-As menganggapnya sebagai ayahnya. Ini semua dalam buku-buku sejarah Islam.

      Nah,
      Demikanlah mengapa Ayah kandung Muhammad dicurigai BUKAN Abdullah dan tidak diketahui jelas siapa beliau. Jika dikemudian hari beliau mengatakan ayahnya adalah Abdullah mungkin saja seperti pada kasus Amr Ibn Al-As

    • Kalki adalah orang terpandang begitu pula dengan Maitreya, tidak pernah seorang Avatar dan Buddha lahir dikeluarga tidak perpandang.

  • Detail lebih lanjutnya ada pada satu artikel bagus yang menjawab dengan tegas dan lugas kekeliruan-kekeliruan yang dipaksakan untuk mengatakan bahwa Muhammad adalah Kalky Avatara. Silakan klik ini

[Kembali]



Kesimpulan

Berdasarkan hasil dari uji material klaim diatas, didapatkan kesimpulan bahwa:

  • Tidak ada seorang yang bernama Profesor (kadang ditulis Doktor) Pundit Vaid Parksah di Universitas Allahabad seperti yang dimaksud dalam buku/artikel itu.
      ..Saya tidak tahu darimana Mir Abdul Majeed mendapatkan asli artikel yang diterjemahkannya tetapi siapa pun penulis artikel ini, telah tidak jujur ​​dalam menulis artikel dan telah membuat banyak pernyataan yang salah di dalamnya…sebuah buku dalam bahasa Hindi berjudul sebagai Kalki Autar aur Muhammad Saheb diterbitkan pada tahun 1969/70…informasi, bahwa Pundit Ved Prakash adalah Bengali, tidak benar…Brahmana Bengali tidak menggunakan gelar “Upadhyay”…nama pengarangnya adalah Pundit Prakash Upadhyay dan bukan Pundit Ved Prakash..[Alim Husain dalam “Prophet Muhammad in Hindu Scriptures”, Milli Gazette, Indian Muslim’s leading English Newspaper, 1-15 Mar 2005]

      ..Para-3: ..Pundit Vaid Parkash..adalah nama buatan dan pastinya tidak ada sarjana Sanskrit terkenal dengan nama itu di India. Dia dikatakan memegang portofolio penting di Universitas Allahabad,..Tidak ada dalam daftar di universitas itu..Kata Pundit Vaid Parkash dikatakan berasal dari ras Bengali. Faktanya adalah bahwa orang Bengali tidak memiliki nama seperti Pundit Vaid Parkash…Dan mengapa seorang Bengali menulis buku dalam bahasa Hindi? [kesimpulan ini diambil dari sini]

      Sementara itu, ada seorang bernama Ved Prakash Upadhyaya, Master of Arts, Allahabad University, 1968. Doctor of Philosophy, Allahabad University, 1970. Bachelor of Laws, Allahabad University, 1978. Doctor of Letters, Allahabad University, 1981. Master of Arts, Gurunanak Dev University, 1975. Doctor of Astrology (honorary), Astrological Research Project, 1998. Namun, karyanya adalah: Vaidika Sahitya: Ek Vivecana, Rgvediya Sukta Sangraha. Patentee in field. TIDAK ADA yang berjudul “Kalki Autar aur Muhammad Saheb”

  • Kemunculan Kalky Avatara dan Buddha Maitreya tidak berada dijaman Muhammad bahkan tidak juga untuk beberapa ratus tahun ke depannya.
  • Kalki Avatara tidak sama dengan Buddha Maitreya, kemunculan mereka tidak pada kisaran jaman yang sama.
  • Terdapat perbedaan besar dalam pondasi ajaran antara Islam VS Hindu dan Buddha.
  • Hasil uji telah membuktikan bahwa ini merupakan propaganda pembodohan yang bernilai rendah. Namun demikian, memang ada di sebuah purana hindu yang menyebutkan tentang MAHAMADA dan LUAR BIASA mirip dengan MUHAMMAD, silakan baca: “Bhavisya Purana: Purana Hindu Yang Meramalkan Kedatangan Muhammad..

[Kembali]



Artikel-Artikel yang berkaitan

(KLIK!!!) Kalki: A rebuttal of the lies being propagated by Islamic websites paklinks.com

    http://www.paklinks.com/gs/4666635-post37.html


    This article is being circulated around the internet by email and through many Islamic websites referring to a book by one Prof. Pundit Vaid Parkash, which purportedly says that Kalki, the last Avtar of Vishnu and for Hindus who is the Awaited One, is none but the Prophet Mohammed.

    I ignored them earlier as the matter proclaimed in the article is completely based on imaginary facts, similar to the fake quatrains of Nostradamus which were being circulated after 9/11. A lie repeated thousand times is gradually accepted as truth. It is time that someone tackle this issue head-on. It has come to such a situation that a person searching the Net for Kalki will come up only with the (mis) information that Prophet Mohammed was mentioned in the Hindu scriptures as the Awaitred One.

    The article can be read in a number of Islamic websites. . I am not repeating the texts. Other sites basically copy the same article along with their own commentaries.

    The problem with the prophecies relating to Kalki is that very few people know the details of these prophecies. Due to this, it is quite easy to mislead people by presenting certain imaginary facts and interpretations. Judging from some of the Islamic websites, it seems that some of them really believe Prophet Mohammed was mentioned in the Hindu scriptures as Kalki, simply relying on that article, without bothering to verify the facts. Here is a line by line rebuttal on why it is not so. I may not be the authority on Kalki but at least I’ ve read the original book. The English translation of parts of the Kalki Puran in this site is quite good and I have referred to those below while presenting my points.

    • Para-1 : It has been wrongly said that Kalki has been mentioned in the Vedas. Nowhere in the four Vedas has Kalki been ever mentioned. Kalki has been mentioned in the Puranas namely, the Vishnu Puran¬ (one of the 18 major Puran) and the Kalki Puran¬ (a minor Puran).
    • Para-2: I have not heard any hue and cry about this purported book in India in Hindi and I’m a Hindi speaking guy. About putting the author in jail had he been a Muslim, well many Muslims in India regularly write such things about Hindu religion and still go scot-free. And when Muslims write such things about Islam, their books get banned. Example Salman Rushdie for writing Satanic Verse. You see, in a democracy, politicians are overtly conscious about minority rights but forget about majority sentiments.
    • Para-3: No one has ever heard of a Pundit Vaid Parkash in India. It’s a concocted name and there is surely no renowned Sanskrit scholar of that name in India. He is said to be holding an important portfolio in ¬Ilahabad University, which I take to be Allahabad University. The website of that University is. Check out the faculty. No such list of that university (I hope he was not a student person in the faculty. The guy writing the article thought he was clever. But everything is online these days.

      The said Pundit Vaid Parkash is said to be coming from the Bengali race. The fact is that Bengalis dont have names like Pundit Vaid Parkash. Ask any Bengali. And why would a Bengali write a book in Hindi? He could have used English (which would have a greater readership all over India) or even Bengali.

    • Para-4: Here comes Eight great Pundits. Who are they and what are their names? Maybe the author of the article could not devise more Hindu names other than Pundit Vaid Parkash.
    • Para-5: All Hindus should embrace Islam should not wait for any other Kalki Autar Ha ! thats the whole idea behind this (mis)information, isnt it? Caught ya !

      In Kalki Puran the birth place of Kalki is in a village called Sambhal. Do you think it is a codename for Mecca in some way? Beats me.

    • Para-6 (Sl.1) : It is the Purans, namely the Vishnu Puran and Kalki Puran and not the Vedas which said that Kalki will be the last Avtar of Vishnu. How does it make him Mohammed? Islamic texts themselves prophesize the second coming of the Christ (Isa, son of Mariam) in the future! This well known scholar cannot distinguish between the Vedas and the Puranas which every ordinary Hindu can !
    • Para-7 (Sl.2): Which Hindu prophecy says that Kalki will be born in an Island? Kalki Purana mentions that Kalki will be born in Sambhal village which is in the mainland; only during his marriage with Padma he will travel to the island Sinhala.
    • Para-8 (Sl.3): Absolute bull****! The father of Kalki, according to both Vishnu Puran and Kalki Puram is Vishnujasha (not Vishnu Bhagat, as the Islamic rumormongers claim) and the name of his mother is Sumati, not Somanib. To quote Kalki Puran –

      Afterwards, Sumati, the wife of Vishnujasha became pregnant…. Kalki descended to earth (as a human) in the month of Baisakha on the 12th day after the full moon ~ Kalki Purana, I[2], Verses 11 and 15

      Obviously, the twisting of the names had been done to make their names look like the translation of the names of the parents of Prophet Mohammad. Even that translation is faulty.

    • Para-9 (Sl.4): Every avtar of God is true and honest. Thats not the sole prerogative of Prophet Mohammed. As for Kalki living on olive and dates, this is completely fictitious. In fact in Kalki Purana Chapter III[17], Verse 43, Kalki and his wife is shown to have been feasting on rice, curd and other milk products.
    • Para-10 (Sl.5): All avtars are born in a noble and respected family (not dynasty the term is applied to royal families. Kalki was not born in a royal family). How does that make Kalki the same person as Prophet Mohammed? Was Mohammed the only person to be born in a noble and respected family?
    • Para-11 (Sl.6): Kalki was taught by his Guru named Ram in the mahendra mountain. Nowhere is it said in Kalki Puran that his Guru was a messenger of God. Ram lived on a mountain but nowhere is it mentioned that either he or Kalki lived in a cave.
    • Para-12 (Sl.7): Did Prophet Mohammed have two horses? Well Kalki will be provided only one. And I do not think Mohammed managed to ride to heaven and skies with his horses.
    • Para-13 (Sl.8): Its a foregone conclusion that an incarnation of God on earth will have the powers of God. How does that make Kalki the same as Prophet Mohammed? By the way, Kalki is an incarnation of God Himself. As per Islamic tradition, Mohammed was Gods messenger.
    • Para-14 (Sl.9): A very foolish conclusion. Even today, military personnel in many parts of the world are taught horse riding and swordsmanship during their training as part of military tradition and valour. Does that mean that they fight with these weapons? In a prophecy, weapons of the future are described in the nearest term understandable at that time. Similar terms had been used by Nostradamus too in his prophecies. And if you think that Kalki Puran mentions Kalki fighting with ancient weapons, how about this?

      Soon they entered the city of Bishasan, the capital of Koli, and burnt down the city using fiery missile. Alongwith the city, Koli too was burnt and his sons and relatives were destroyed. ~ Kalki Purana, III[7], Verses 9 & 10

    I hope that the para-wise rebuttal above is sufficient to prove that the concocted article, purportedly written by a Hindu Pundit yet prominently being displayed in various Islamic websites is nothing but a trash of lies and was devised with an obvious ulterior motive in mind.

    Before concluding I will provide some more quotes from Kalki Purana to show its modern context and that it could not have spoken about Prophet Mohammed

    1. Soon, Garga (an associate of Kalki) and his army killed 6000 Buddhist soldiers. Bharga and his soldiers killed and injured 11 million enemy soldiers and his mighty allies killed 2500 of them. Kobi along with his sons killed 2 million enemy soldiers, Pragya killed 1 million and Sumantu killed 5 million soldiers ~ Kalki Purana, II[7], Verses 5, 6, 8, 9

      It seems that Kalki and his allies kill or injure an army which is almost 20 million strong. How many million men did Mohammed kill in his battles? In fact this type of huge army can be conceived in the modern times only. Also, did Mohammed ever fight this many Buddhists or anyone at all?

    2. This island (Sinhala) is situated on the other side of the shore. The island has pure water and is full of people. Full of various types of Aircrafts and decorated with jewellery. The beauty of the island is enhanced by huge buildings and flags and gates decorated in front of them ~ Kalki Purana, II[1], Verses 39, 40, 41

      The interesting part of the description of the island where Kalki’s wife-to-be stays is that apart from the huge buildings that the island city has, its sky is also full of Aircrafts! Was there aircrafts in Prophet Mohammads time? In the later chapters of Kalki Puran, Kalki himself was said to be traveling on such an Aircraft. Did Mohammed do that?

    3. Lord Kalki, along with his soldiers armed with various types of weapons engaged in war with Kok and Bikok. These two brothers are supreme demons, great fanatics and adept in the art of war. These brothers are intimately connected, powerful, hard to defeat and are even feared by the Gods.~ Kalki Purana, III[6], Verses 43 & 44

      The surprise elements here are the description of the war with brothers called “Kok and Bikok”, who are allied with Koli. These are surely Gog and Magog described in the Biblical book of Revelations and “Yajooj and Majooj” described in the Islamic prophecies. This is the final nail in the coffin for the mischievous article. The Yajooj/Majooj war (Gog/Magog in the Bible) is the war, in which Christ during His second coming will fight during the end of the world. Prophet Mohammed did not fight this war. This war is predicted for the future in the Islamic and Biblical prophecies.

    We can thus definitely conclude that Kalki will appear in the future and is not Prophet Mohammed by any means. Claiming so can only be the work of a deceiver. However, it is the Muslims who are only deceived by all these crap, not the Hindus.

    Note saya:
    Saya hanya berkomentar untuk menegaskan tentang Gog dan Magog. Dimana, menurut Alkitab,

    • GOG [keturunan Sem, Ruben]..ada;
    • Magog, tubal dan meseh [keturunan Yapet]..ada;
    • Kemudian jadi bangsa dan menjadi nama negeri
    • Gog di tanah Magog..ada
    • Namun, TIDAK ADA sekaligus bersamaan nama GOG dan MAGOG dalam satu jaman yang sama di Perjanjian lama! Dan juga baik Gog ataupun Magog bukanlah Iblis!

    Jadi, karena di seluruh referensi Perjanjian lama tidak ada 2 (dua) nama itu sekaligus dalam satu jaman, maka:

    • Setiap tulisan berkategori “suci” yang memuat dan memasangkan nama Gog dan Magog, dipastikan tidak mempunyai DASAR yang KUAT dan mengada-ada (termasuk tulisan Yohanes di kitab wahyu]
    • Jika tidak ada disebelumnya maka tidak akan ada juga di kemudian hari

    [Kembali]


(KLIK!!!) Hindu Prophecies – The Kalki Purana

http://ww-iii.tripod.com/hindu.htm


    Whenever there is a withering of the law
    and an uprising of lawlessness on all sides,
    then I manifest Myself.

    For the salvation of the righteous
    and the destruction of such as do evil,
    for the firm establishing of the Law,
    I come to birth, age after age.
    ~ Bhagavad Gita, Book IV, Sutra 5, 7, 8

The Signs of the Koli Age

    “Those who are known as twice-born (Brahmins) are devoid of the Vedas, narrow-minded and always engaged in the service of the Sudras (low-born castes); they are fond of carnal desires, seller of religion, seller of the Vedas, untouchable and seller of juices; they sell meat, are cruel, engaged in sexual gratification and gratification of their appetite, attached to others’ wives, drunk and producer of cross-breeds; have a low life-span, mix with lowly people and consider their brother-in-law as the only friend.

    They like constant confrontation and are fond of argument, discontent, fond of jewellery, hair and style.

    The wealthy are respected as high-born and Brahmins are respected only if they are lenders; Men are merciful only when they are unable to harm others; express displeasure towards the poor; talk excessively to express erudition and carry out religious work to be famous;

    Monks are attached to homes in this Koli Age and the homeless are devoid of any morality; Men of this age deride their teachers, display false religious affinity but tricks the good people; Sudras in Koli are always engaged in taking over others’ possessions;

    in Koli, marriage takes place simply because the man and the woman agree to do so; Men engages in friendship with the crooked and show magnanimity while returning favours; Men are considered pious only if they are wealthy and treat only far-away waters (lands) as places of pilgrimage;

    Men are considered Brahmins simply because they have the sacred thread around their body and as explorers, simply because they have a stick in their hand; the Earth becomes infertile, rivers hit the banks, wives take pleasure in speaking like prostitutes and their minds are not attracted towards their husbands; Brahmins become greedy for others’ food, the low-born castes are not averse to becoming priests, wives mix freely even after they become widows; the clouds release rain irregularly, the land becomes infertile, the kings kill their subjects, the people are burdened with taxes; they survive by eating honey, meat, fruits and roots;

    in the first quarter of the Koli Age, people deride God;
    in the second quarter, people do not even pronounce God’s name;
    in the third quarter, men become cross-breeds;
    in the fourth quarter, men become the same (uniform) breed; nothing called race exists anymore; they forget God and pious works become extinct. ~ Kalki Purana, I[1], Verses 23-38



The appearance of Kalki

  • When the practices taught by the Vedas and the institutes of law, shall nearly have ceased, and the close of the Koli age shall be nigh, a portion of that Divine Being who exists of his own spiritual nature, in the character of Brahma, and who is the Beginning and the End, and who comprehends all things shall descend upon the earth.

    He will be born as Kalki in the family of an eminent Brahmin, of Shambhala village, endowed with the eight superhuman faculties. By his irresistible might, He will destroy all the barbarians and thieves, and all whose minds are devoted to iniquity.

    He will then re-establish righteousness upon earth; and the minds of those who live at the end of the Koli age, shall be awakened, and shall be as pellucid as crystal. The men who are thus changed by virtue of that peculiar time, shall be as the seeds of human beings, and shall give birth to a race who shall follow the laws of the Kritya Age, the Age of Purity.~ Vishnu Purana 4.24

  • Afterwards, Sumati, the wife of Vishnujasha became pregnant…. Kalki descended to earth (as a human) in the month of Baisakha on the 12th day after the full moon ~ Kalki Purana, I[2], Verses 11 and 15



The marriage of Kalki

  • You shall go to Sinhala, marry your beloved Padma and start your conjugal life…. You will then set out to conquer the world and defeat the Kings allied to Koli, defeat the Buddhists and hand over the rule to the pious kings named Devapi and Maru. ~ Kalki Purana, I[3], Verses 9 & 10
  • This island (Sinhala) is situated on the other side of the shore. The island has pure water and is full of people. Full of various types of Aircrafts and decorated with jewellery. The beauty of the island is enhanced by huge buildings and flags and gates decorated in front of them. ~ Kalki Purana, II[1], Verses 39, 40, 41
  • He (the father of the bride) gave away Padma for marriage to Kalki as per the traditions. The “King of the World”, Kalki after having his wife and having been well received by the gentlemen of the island, expressed his desire to stay in the island of Sinhala for a while in order to see the island. ~ Kalki Purana, II[3], Verses 15, 16
  • Padma is fair and Kalki is dark, both are opposites to each other… ~ Kalki Purana, II[3], Verse 19
  • Kalki, the annihilator of Koli forgot his mission and stayed there happily in that home (in Shambhala) for many years…Padma gave birth to two sons named Joy and Vijoy who were powerful and famous. ~ Kalki Purana, II[6], Verses 32 and 36
  • The great conqueror, Kalki then paid homage to his father and started for conquering Kikatpur with his army. The Buddhists live in that city. The residents of that city do not worship God or their forefathers. They do not fear after-life. Other than the body, they do not believe in any soul. They do not have any pride in their lineage or in their race; money, marriage etc. are insignificant to them. People of that place eat and drink a variety of things. When Jin (the leader) heard that Kalki has come to fight them, he gathered a huge army and went out of the city to fight Him. ~ Kalki Purana, II[6], Verses 40 to 44
  • He (Jin) took up various types of arms and started war with Kalki. Even the Gods were surprised by the techniques of war adopted by Jin. Jin injured Kalki’s horse with a javelin and made him disoriented and unconscious and attempted to take him away, but could not lift him…On seeing that, King Vishakhjupa got angry and encountered Jin and picked up unconscious Kalki in his own chariot. Kalki regained his consciousness in a while and encouraged his soldiers; following that, he rushed towards Jin after getting down from the chariot of Vishakhjupa. ~ Kalki Purana, II[7], Verses 5, 6, 8, 9
  • Soon, Garga (associate of Kalki) and his army killed 6000 Buddhist soldiers. Bharga and his soldiers killed and injured 11 million enemy soldiers and his mighty allies killed 2500 of them. Kobi along with his sons killed 2 million enemy soldiers, Pragya killed 1 million and Sumantu killed 5 million soldiers. ~ Kalki Purana, II[7], Verses 5, 6, 8, 9
  • Soon Kalki smiled and said unto Jin – O Sinner ! Don’t flee but come and face me…Soon your body will be pierced with my arrows. Soon you shall depart from this world. Then, no one will go along with you. So, you and your allies surrender before me. On hearing the words of Kalki, mighty Jin said “The fate can never be seen. I am a materialist, Buddhist. Nothing but the perceptible are accepted by us. The unseen and the imperceptible are banished by us. Hence your effort is fruitless. Even if you are Godly, I am before you; see if you manage to kill me. In that event, will the Buddhists forgive you? ~ Kalki Purana, II[7], Verses 15 to 18
  • The wives of the Buddhists, gathered for battle riding on chariots, birds, horses, camels and bulls to defend their husbands. These beautiful, powerful young ladies devoted to their husbands did not seek the shelter of their children.

    These glorious women, dressed in battle-gear and various jewellery came to the battlefield armed with swords, power-weapons, arrows and javelins. In their hands were heavenly rings. These beautiful women consisted of hair dressers, women devoted to husbands (house-wives) and even prostitutes.

    These women, troubled by the death of their husbands and fathers came forth to fight the army of Kalki. People even care to protect objects like soil, ashes, wood etc. Therefore, how can these women tolerate the death of their husbands in their presence?

    The womenfolk of the Buddhists, seeing their husbands injured and troubled came in front of them and started to fight the soldiers of Kalki. Seeing the women take to battle, the soldiers of Kalki were amazed and came to Kalki to inform him about the whole matter in details. Hearing this, Kalki, clever as he is, arrived there on a chariot accompanied by his allies and army with a cheerful mind. Seeing the women astride in various types of vehicles, standing in formations, Kalki started saying “Ladies, please hear what I have to say. It is against the principles for men to fight against women…” ~ Kalki Purana, III[1], Verses 11 to 20

  • [..] On your beautiful moon-like face, falls the locks of fine hair. Everyone’s mind become cheerful on seeing this.

    Which man can hit on such a face?
    On these beautiful faces are a pair of eyes like lotus with long eyelashes and dark pupil.

    Which man can hit such a face?
    Your breasts are decorated like the necklace of Shiva. Even the pride of the cupid gets hurt on seeing this.

    Which man can hit on such a place?
    Which man can hit the spotless face of a woman on which play the locks of fine hairs from the head?
    Which man can hit your slim waists weighed down by breasts and decorated by very fine body-hair?
    Can any man shoot an arrow in your eye-soothing and feminine pubic area covered by fine hair and untouched by sin?
    Hearing these words of Kalki, the infidel-women smiled and said – “Sir ! When our husbands died in your hand, we too have died”. Saying this, the women prepared to kill Kalki. ~ Kalki Purana, III[1], Verses 21 to 27

  • [..] However the weapons remained in their hands. The various weapons metamorphosed and stood before the infidel-women decorated in gold and said

    “Ladies! Do ye know Kalki as the Supreme God, empowered by whom we take the lives of living beings. Have confidence in our words. On His command we propagate and on his glory we have attained various forms and by His mercy we have become renowned. By His empowerment does the five elements carry out their own actions.

    He is the Supreme Being Himself. Under His wishes has the nature created the whole Universe. The creation and the continuity of the creation is nothing but His action. He is the Beginning and the End, from Him arise all the holy things in the world.

    It is He, who is our husband, our wife, son, friend and relative. From Him comes forth all these illusion-like happenings. Those who know that life and death are nothing but coming and going under the influence of love, affection and fondness, those who are devoid of any feelings of anger and hate, who are the devotees of Kalki, they know the above illusion-like happenings as false.

    How was Time created?
    Where does death come from?
    Who is Yama (Death incarnate and lord of the underworld)?
    Who are the Gods?
    By His illusion, it is Kalki who has become many. O Ladies! We are not weapons and no one gets hurt by us. He is the weapon and it is he who hits. These distinctions are nothing but the illusion (Maya) created by the Supreme Being. …

    We cannot hit the devotees of Kalki. Hearing the words of the weapons, the women were surprised. They shed their illusion of attachment and came to seek Kalki. ~ Kalki Purana, III[1], Verses 27 to 39

  • [Dharma (Righteousness or Law) said to Kalki]

    “Right now, infidels like Saka, Kamboja, Sabara etc. are under the control of Koli and that mighty Koli has defeated me taking advantage of the influence of the time. The pious men are being tortured and consigned to the flames. That’s why I have come for your protection. ~ Kalki Purana, III[6], Verse 22

  • Thus, Kalki, surrounded by his allies set out for the desired place for conquering the infidels like Khasha, Kamboja, Sabara, Barbarians etc. …

    The people who lived there carry out the orders of women. Hearing that Kalki has come for battle, the angry Koli, along with his allies, sons and grandsons came riding on a chariot out of the city of Bishasan. On seeing Koli, Kalki ordered his followers to engage in battle with him. ~ Kalki Purana, III[6], Verses 32, 33, 35, 36

  • Lord Kalki, along with his soldiers armed with various types of weapons engaged in war with Kok and Bikok. These two brothers are supreme demons, great fanatics and adept in the art of war. These brothers are intimately connected, powerful, hard to defeat and are even feared by the Gods. ~ Kalki Purana, III[6], Verses 43 & 44
  • Soon they entered the city of Bishasan, the capital of Koli, and burnt down the city using fiery missile. Alongwith the city, Koli too was burnt and his sons and relatives were destroyed. ~ Kalki Purana, III[7], Verses 9 & 10
  • Thus, after attaining victory, Kalki started for the city of Vallat ruled by the Sashyakarns along with his soldiers and allies.
    III[7], 35. His (the King of Vallat) name is Sashidhwaj. He is intelligent, handsome, tall, brave and has a huge military.
    III[8], 3. King Sashidhwaj arrived at the battlefield and dispersed the powerful soldiers of Kalki.
    III[8], 18. …Thus, King Sashidhwaj managed to defeat Kalki, capture him and some of his allies and went back to his palace.
    III[8], 18. Next, King Sashidhwaj recalled his sons from the battlefield and gave away his daughter Roma for marriage with Kalki in accordance with the wishes of his wife, Sushanta. All the allies of Kalki were invited to Vallat from the battlefield (for the marriage). ~ Kalki Purana, III[10], Verses 25 and 26


[Kembali]


(KLIK!!!) Kalki

http://encyclopedia.thefreedictionary.com


In Hindu traditions, Kalki (?????) (also rendered by some as Kalkin and Kalaki) is the tenth and final Maha Avatara (Great Avatar) of Vishnu the Preserver, who will come to end the current Kali Yuga, (The Age of Darkness and Destruction). The name Kalki is often a metaphor for “Eternity” or “Time“. The origins of the name probably lie in the word Kalka which refers to “dirt”, “filth” or “foulness” and hence denotes the “Destroyer of Foulness”, “Destroyer of Confusion”, “Destroyer of Darkness”, or “The Annihilator of Ignorance”. In Hindi kalki avatar means “tomorrow’s avatar“. Other similar and divergent interpretations (based on varying etymological derivations from the ancient Sanskrit language, -including one simply meaning “White Horse”) have been made.[1]

In the Buddhist Kalachakra tradition this legend has a more developed legend associated with the Buddha who initiates the first king of Shambhala, King Suchandra.[2] In Buddhism, he is the ruler of the legendary Kingdom of Shambhala, where the whole of society is enlighted and the Kalachakra tantra is held and widely practiced.

What is a Maha Avatara?
Hindu traditions permit numerous interpretations of what Avatars are and to what purpose they act. Avatara means “descent”, and indicates a descent of the divine awareness into manifestations of the mundane form. Prominent religious leaders like Ramakrishna are considered avatars by some, but in most Hindu traditions there are only 10 Maha Avataras (Great Avatars), though the identities of the most recent are sometimes disputed (i.e. Buddha and Balarama). The Bhagavata Purana has a list of 25 Great Avatars.

All Hindu traditions declare all people to be manifestations of the divine essence, the Atman, and Avatars to be individuals who are far more acutely and extensively aware of this fact and its implications than most, and who have entered the mortal realms voluntarily to teach important truths to humanity, and who usually have extraordinary abilities to aid in these roles.

What will Kalki do?
As with the prophecies of many traditions there are many diverse beliefs and depictions as to when, how, where and why the Kalki Avatar would appear, and the Divine purpose the descent will aim to fulfill. The popular image of the Avatar is that of a rider upon a white horse, which some sources name as Devadatta (God-given) and describe as a winged horse. The most common accounts declare Kalki will come riding upon a white horse, brandishing a flaming comet-like sword, (or wielding a comet like a sword),[citation needed] intent on eradicating the reign of evil on the Earth, vanquishing the demon Kali, reconciling all opposites, renewing the processes of the Dharma (Paths of Virtue), of Creation, and establishing a reign of righteousness. The sword is sometimes interpreted as a symbol for “discernment”, or Wisdom, slicing away the bonds of lies and foulness and liberating souls to greater awareness of truth and beauty.[citation needed]

Origins of the Kalki prophecy
One of the earliest mentions of Kalki is in the Vishnu Purana, which is dated generally to be after the Gupta Empire around the 7th Century A.D.[1] Vishnu is the Preserver, the sustainer of life in the Hindu trinity, balancing the processes of Creation and Destruction. Kalki is also mentioned in another of the 18 major Purana, the Agni Purana. Agni is the god of Fire in the Hindu pantheon, and symbolically represents the spiritual fire of life and the processes of transformation. It is one of the earliest works declaring Gautama Buddha to have been a manifestation of Vishnu, and seems to draw upon the Vishnu Purana in its mention of Kalki. A later work, the Kalki Purana, a minor Purana is an extensive exposition of expectations and predictions of when, where, and why it is said he will come, and what he is expected to do. It has a very militant perspective, and celebrates the defeat of traditions that are deemed heretical for not adhering closely enough to the traditions of the Vedas, such as Buddhism and Jainism. A few other minor Purana also mention him.

It has been theorized that the Kalki Purana may have been written as a Hindu response to the Buddhist prophecies within the Kalachakra Tantra of many leaders with the name or title of Kalki. Followers of Tibetan Buddhism have preserved the Kalachakra Tantra, and initiation rites based upon it are a prominent part of the Tibetan traditions. In the Kalachakra Tantra Kalki (or Kalaki, or Kulika) is declared to be a title or name of at least 25 rulers of the mystical realm of Shambhala. The aims and actions of some of these are prophesied in portions of the work. The 25th Kalki as an emanation of Manjushri who brings about world-wide spiritual change. “At that time, all the families of men on the earth shall be fulfilled with dharma, pleasure and wealth. Grain shall grow in the wild and the trees shall bow with fruit – these things will occur.”[2]

The Kalki within
Drawing on symbolic and metaphoric interpretations of the Buddhist Kalachakra, Shambhala, and Bodhisattva traditions at least as much as the Hindu prophecies, interpretations of the Kalki legends in ways that do not necessarily apply the designation “Kalki” uniquely to any particular person have arisen. In such interpretations “Kalki” is seen primarily as an archetypal symbol of what can be manifest in any person, whether man, woman, or child. [citation needed]

It is a designation of spiritual repose and vigor, a “beautiful life essence”, impelling people to follow diverse and harmonious paths of virtue, rather than needlessly harsh and destructive paths of bigotry and narrow minded presumptions. To those who embrace this view the term Kalki can refer to an attitude or quality of awareness that will be manifest in many enlightened people, who perceive beyond Maya (the appearances of Space and Time) and into Eternity in ways that are both rational and mystical in nature. A level of Awareness where people become destroyers of the uncharitable ways of bigotry within themselves which would otherwise lead them to unjustly oppress others, and limit themselves.

In such interpretations everyone who is enlightened enough to follow the ways of ultimate honesty and ultimate love can be declared to be an honorable manifestation of Vishnu the preserver of Life, and Kalki the Destroyer of Foulness ナ but no one person can be declared to be the ultimate manifestationナor the ultimate teacher for all people. There are many ways to point out some of the worst confusions that afflict human minds and souls, and for anyone to think that there is only one greatest and most perfect way for all, (which is of course their own), and that all others must be scorned, shunned, denigrated and vilified is itself one of the worst and most dangerous confusions that afflict many who are spiritually weak, ignorant, cowardly and vain.

It is emphasized that much is required in many spiritual paths, but the most important of all requirements are the will to speak the truth, and the capacity to love any who perceive the truth and become devoted to it, no matter how troublesome, misguided, dishonest and dangerous they may initially be. One can not force change upon others, but one can give them the information and opportunity by which they can come to desire beneficial change themselves.

Each person who is wisely charitable, “riding the white horses” of fate’s flow, and wielding the deceit destroying “sword” of honesty can become a “Kalki” – a destroyer of such foulness as could dwell within themselves first and foremost, that they may more ably assist others in destroying the capacities for evil within themselves.[citation needed]

Each person is considered a potential spiritual ruler of their own manifest span of mortal life, a universe to themselves connected to all others by bonds of awareness and sympathy; a person of utmost integrity, perceiving many connections between all people, all events, all ideas and all souls, and therefore affirming that respect for the individual integrity of all other mortals as an imperative of their own. The Kali Yuga can end within them, no matter how long it may persist in others, and a Satya Yuga of wisdom begins within their life, enabling them to help others to find their own unique paths towards enlightenment, and into their own ranges of contentment.[citation needed]

Modern variations of the Kalki prophecy Theosophy and Christianity
Some Theosophists and New Age speculators have declared the Kalki prophecies and those of the Maitreya Buddha of Buddhism, might actually refer to one and the same individual, and they and others have noted similarities of the Kalki prophecy to the Rider on the White Horse in the Christian book of Revelation who defeats the Antichrist Rev 19:11. In such interpretations the sword of Kalki is equated to the two-edged sword that proceeds from the mouth of this apocalyptic figure, and is often symbolically interpreted to be the swordlike effectiveness of words of truth against all manner of lies and deceptions. Kalki is also said to war with the twin demons Koka and Vikoka, similar to Gog and Magog who will attack the utopia established by the rider on the white horse at the his thousand year reign on earth Rev 20:7-8.

Neo-Nazism
Extending upon the bleakness of the Kalki Purana, aggressive and violent interpretations of the Kalki prophecies also exist. Adolf Hitler is well known to have incorporated myths, legends, and symbols he felt have Aryan origins into his own Nazi mysticism. Some such as Savitri Devi Mukherji believe the Kalki prophecies, among others, referred to Hitler and predict the ultimate worldwide military triumph of his Nazi Third Reich. There is currently a Neo-Nazi group in Argentina that operates under the name “Red Kalki”, and other fascist, racist and ethnocentric groups still incorporate the concept of Kalki into their mythos.

Anti-Nazism
The musical group Current 93 recorded a song “Hitler as Kalki (SDM)” for their album Thunder Perfect Mind, which the writer David Tibet dedicated to his father who fought against the Nazis.[3]

Gore Vidal
The author Gore Vidal, known for his dark witty cynicism in such works as Messiah, Live from Golgotha and other novels, wrote an extremely nightmarish and depressing satire on modern society, human motivations, and the potential consequences of extreme complacency, indifference, delusion, deceitfulness, and jealousy entitled Kalki (1978).

Claims of being Kalki
In the last few decades several leaders of relatively small religious movements in India, and a few outside of it, including some women, have at times claimed to be the Kalki Avatar of Hinduism, or their followers have declared them to be Kalki.

Some adherents of the Bah£’■ Faith have interpreted the prophecies as having referred to their messenger Bah£’u’ll£h as the Kalki Avatar.[3]Meher Baba also stated that he was the Kalki Avatar.Sri Kalki Bhagavan who is the leader of the Golden Age Foundation, also called the Oneness movement, is considered by some to be the Kalki Avatar.

American guru Adi Da has claimed to be the Kalki Avatar, briefly changing his name to “Da Kalki” from 1990 to 1991.

Other meanings of Kalki
The name Kalki is also used as a relatively rare personal name that has been given to both male and female children, and recently, a rare and somewhat untamable leopard http://www.cattales.org/Kalki.html.Kalkiwas the primary pseudonym used by Tamil writer R. Krishnamurthy.

Playa Kalki is a beach on the Caribbean island of Cura￧ao, also curiously known as “Alice in Wonderland”.

Kalki is the name of the female lead character played by Tulip Joshi in Indian Director Manish Jha’s widely acclaimed motion picture Matrubhoomi: A Nation Without Women, about a society where women have become rare because of infanticide, and are treated as a commodity. Reviewed at : Stardust IndiaPlanet BollywoodCountercurrentsImagine AsiaToronto Film Festival

Kalki is the stage name of Kostandin Georgiev, a Bulgarian musician and dentist who is in the Guinness Book of Records for the highest music concert ever performed, which occurred in 1996 on a peak near Mount Everest.[citation needed]

See also

References

  1. ^ p. lxxii, Vishnu Purana by H.H. Wilson ,2001, Ganesha Publishing, ISBN 1-86210-016-0
  2. ^ The Outer Wheel of Time; Vajrayana Buddhist cosmology in the Kalacakra tantra, by John Ronald Newman, Univ. of Wisconsin 1987
  3. ^Momen, Moojan (1990). “Hindu Prophecies”,Hinduism and the Bah£’■ Faith. Oxford: George Ronald. ISBN 0-85398-299-6.

External links Interpretations of the Kalki Avatar

[Kembali]


(KLIK!!!) Kalki: The Next Avatar of God and the End of Kali-yuga

http://www.stephen-knapp.com/kalki_the_next_avatar_of_God.htm
By Stephen Knapp
(An excerpt from The Vedic Prophecies)


The age of Kali-yuga is said to start from the year 3102 BC, after the disappearance of Lord Krishna. Lord Caitanya appeared 500 years ago, at which time the Golden Age within Kali-yuga is supposed to start and last another 10,000 years. As the Golden Age within of Kali-yuga comes to a close, the lower modes of material nature will become so strong that people will lose interest in spiritual topics. It is said that everyone will become godless. Whatever devotees, bhaktas, and sages are left on the planet will be so unique in character and peculiar compared with the rest of society that they will be ridiculed and hunted down in the cities for sport like animals. Thus, they will flee the cities to live underground in caves or high up in the mountains, or simply disengage from the earthly plane of existence. In this way, they will disappear from the face of the earth. That is the time when the dark influence of the age of Kali-yuga will become so dominant that its full influence will manifest without hindrance.

Finally, after 432,000 years from the beginning of the age of Kali, Lord Kalki will appear as the twenty-second incarnation of God. This is very similar to what some people call the second coming of Christ.

THE APPEARANCE OF LORD KALKI
There are many incarnations of the Supreme Being as stated in Srimad-Bhagavatam (1.3.26): “O brahmanas, the incarnations of the Lord are innumerable, like rivulets flowing from inexhaustible sources of water.” However, out of all the various incarnations of the Supreme, the Srimad-Bhagavatam (1.3.28) specifically states “krishnas tu bhagavan svayam,” which means that Lord Sri Krishna is the original Supreme Personality of God. All others are His plenary portions, or parts of His plenary portions, who descend into this material world to carry out certain responsibilities and to do specific things. This is especially the case when the planets are overly disturbed by miscreants and atheists. In Kali-yuga many years go by in which constant disturbances and social upheavals are allowed to happen, but the Vedic literature predicts that at the end Lord Kalki will make His appearance to change everything, as described in the following verses:

“Thereafter, at the conjunction of two yugas [Kali-yuga and Satya-yuga], the Lord of the creation will take His birth as the Kalki incarnation and become the son of Vishnuyasha. At this time the rulers of the earth will have degenerated into plunderers.” (Bhag.1.3.25)

“Lord Kalki will appear in the home of the most eminent brahmana of Shambhala village, the great soul Vishnuyasha.” (Bhag.12.2.18)

“At the end of Kali-yuga, when there exist no topics on the subject of God, even at the residences of so-called saints and respectable gentlemen of the three higher castes, and when the power of government is transferred to the hands of ministers elected from the lowborn shudra class or those less than them, and when nothing is known of the techniques of sacrifice, even by word, at that time the Lord will appear as the supreme chastiser.” (Bhag.2.7.38)

The Vishnu Purana (Book Four, Chapter 24) also explains that, “When the practices taught in the Vedas and institutes of law have nearly ceased, and the close of the Kali age shall be nigh, a portion of that divine being who exists of His own spiritual nature, and who is the beginning and end, and who comprehends all things, shall descend upon earth. He will be born in the family of Vishnuyasha, an eminent brahmana of Shambhala village, as Kalki, endowed with eight superhuman faculties.”

The Agni Purana (16.7-9) also explains that when the non-Aryans who pose as kings begin devouring men who appear righteous and feed on human beings, Kalki, as the son of Vishnuyasha, and Yajnavalkya as His priest and teacher, will destroy these non-Aryans with His weapons. He will establish moral law in the form of the fourfold varnas, or the suitable organization of society in four classes. After that people will return to the path of righteousness.

The Padma Purana (6.71.279-282) relates that Lord Kalki will end the age of Kali and will kill all the wicked mlecchas and, thus, destroy the bad condition of the world. He will gather all of the distinguished brahmanas and will propound the highest truth. He will know all the ways of life that have perished and will remove the prolonged hunger of the genuine brahmanas and the pious. He will be the only ruler of the world that cannot be controlled, and will be the banner of victory and adorable to the world.

Here in these verses we find that Lord Kalki will come as a chastiser or warrior. By this time the planet will be filled with people who will be unable to understand logical conversations. They will be too slow-minded and dull-witted, not capable of being taught much, especially in the way of high philosophy regarding the purpose of life. They will not know what they need to do or how to live. And they certainly will be unable to change their ways. Therefore, Lord Kalki does not come to teach, but simply to chastise, punish, and cleanse the planet.

Furthermore, we also find the name of the place where Lord Kalki will appear and the name of the family in which He will be born. The family will be qualified brahmanas. This means that a disciplic and family line of spiritually qualified brahmanas will remain on the planet throughout the age of Kali, no matter how bad things get. Though they may be hidden, living in a small village somewhere, it will be this line of bhaktas, spiritual devotees, from which Lord Kalki will appear in the distant future. No one knows where this village of Shambala is located. Some feel that it is yet to manifest, or that it will be a hidden underground community from which Lord Kalki will appear.

In this connection we find in the Padma Purana (6.242.8-12) the prediction that Lord Kalki will be born in the town of Shambala near the end of Kali-yuga from a brahmana who is actually an incarnation of Svayambhuva Manu. It is described that Svayambhuva performed austerities at Naimisa on the bank of the Gomati River for acquiring the privilege of having Lord Vishnu as his son in three lifetimes. Lord Vishnu, being pleased with Svayambhuva, granted the blessing that He would appear as Svayambhuva’s son as Lord Rama, Krishna, and Kalki. Thus, Svayambhuva would appear as Dasaratha, Vasudeva, and then Vishnuyasha. Also, in the Padma Purana (1.40.46) we find Lord Vishnu admits that He will be born in Kali-yuga. Thus, He will appear as Lord Kalki.

THE ACTIVITIES OF LORD KALKI
The Srimad-Bhagavatam (12.2.19-20) describes Lord Kalki’s activities as follows: “Lord Kalki, the Lord of the universe, will mount His swift white horse Devadatta and, sword in hand, travel over the earth exhibiting His eight mystic opulences and eight special qualities of Godhead. Displaying His unequaled effulgence and riding with great speed, He will kill by the millions those thieves who have dared dress as kings.”

We should make note here that, as the Vedic literature explains, when the Supreme kills anyone, that person is immediately spiritually purified by His touch and because the person is focused on the Supreme Being while leaving his body. Thus, that person attains the same destination as those yogis who spend years steadying the mind in order to meditate and leave their bodies while focused on the Supreme. So being killed by the Supreme is a great advantage for those of a demoniac mentality who would otherwise enter lower realms of existence or even the hellish planets in their next lives.

The Vishnu Purana (Book Four, Chapter 24) continues to explain Lord Kalki’s activities: “By His irresistible might he will destroy all the mlecchas and thieves, and all whose minds are devoted to iniquity. He will reestablish righteousness upon earth, and the minds of those who live at the end of the Kali age shall be awakened, and shall be as clear as crystal. The men who are thus changed by virtue of that peculiar time shall be as the seeds of human beings, and shall give birth to a race who will follow the laws of the Krita age [Satya-yuga], the age of purity. As it is said, ‘When the sun and moon, and the lunar asterism Tishya, and the planet Jupiter, are in one mansion, the Krita age shall return.'” The Agni Purana (16.10) also relates that Hari, after giving up the form of Kalki, will go to heaven. Then the Krita or Satya-yuga will return as before.

Additional information that can help us understand the activities of the next coming of God is found in the Linga Purana (40.50-92), the Brahmanda Purana (1.2.31.76-106 & 2.3.73.104-126), and the Vayu Purana (58.75-110). In these texts we find descriptions of Lord Kalki as He will appear in the future and also as how He appeared in previous incarnations as Pramiti in this time period known as the Svayambhuva Manvantara. These texts tell us that as Kali-yuga comes to a close, and after the death of Bhrigu (or in order to slay the Bhrigus), Kalki (Pramiti) took birth in the Lunar dynasty of Manu. He will wander over the planet without being seen by any living being. Then he will start His campaign in His thirty-second year and roam the earth for twenty years. He will take with Him a big army of horses, chariots, and elephants, surrounded by hundreds and thousands of spiritually purified brahmanas armed with weapons. [Being brahmanas, these weapons may be brahminical weapons that are activated by mantras, such as the powerful brahmastra rather than base weapons of combat such as knives, swords, and spears, or even guns and ordinary explosives.] Though they may try to do battle with Him, He will kill all of the heretics [and false prophets] and wicked, mleccha kings.

In a previous incarnation He killed the Udicyas (Northerners), Madhya Deshyas (residents of the middle lands), Purvatiyas (mountain dwellers), Pracyas (Easterners), Praticyas (Westerners), Dakshinatyas (of Southern India), the Simhalas (Sri Lankans), Pahlavas (the fair-skinned nomadic tribes of the Caucasus mountains), Yadavas, Tusharas (people of the area of Mandhata, India, or present day Tukharistan), Cinas (Chinese), Shulikas, Khashas, and different tribes of the Kiratas (aboriginal tribes living in north-eastern India and Nepal) and Vrishalas.

No one could stop Him as He wielded His discus and killed all the barbarians. When He was finished He rested in the middle land between the Ganges and Yamuna with His ministers and followers. He allowed only a few people to remain, scattered over the planet. These would be as seeds for the next generations that would follow in the next Satya-yuga. Thereafter, when Lord Kalki has made way for the next age of Satya-yuga, and delivered the earth and whatever is left of civilization from the effects of Kali-yuga, He will go back to His eternal abode along with His army.

Continuing with the description of Lord Kalki as described in the Linga, Brahmanda, and Vayu Puranas, they explain that after Lord Kalki returns to His eternal abode, when those subjects surviving at the end of Kali-yuga are enlightened, the yuga changes overnight. Then the minds of all people will become enlightened, and with inevitable force Krita or Satya-yuga sets in. People will then realize the soul, and acquire piety, devotion, tranquility, and clear consciousness. Then those Siddhas [the enlightened and perfected living beings who had remained invisible on a higher dimension through the end of the age of Kali] return to the earthly dimension and again are clearly visible. They establish themselves with the return of the Saptarishis, the seven sages, who instruct everyone about spiritual life, Vedic knowledge, and the progressive organization of society for a peaceful and fulfilling existence. Then again people flourish and perform the sacred rites, and the sages will remain in authority to continue the advancement of the new Satya-yuga.

THE RETURN OF THE GOLDEN AGE–SATYA-YUGA
Herein we can understand that Lord Kalki will simply chastise by killing all of the evil kings and rogues and thereby bring in a new era of enlightened beings, a race whose minds will be as clear as crystal. They will produce offspring that will follow the tendencies of real human beings as found in the age of Satya-yuga.

Srimad-Bhagavatam (12.2.21-24) further describes that after all of the devious and fake kings have been killed, the remaining residents of the towns and cities will smell the breezes that carry the sacred aroma of the Lord’s sandalwood paste and decorations, and their minds will then become spiritually purified. When the Supreme Being appears in their hearts in His form of pure goodness, the remaining citizens will abundantly repopulate the earth. With this appearance of Lord Kalki, Satya-yuga will begin again and the remaining humans will produce children in goodness. Thus, when the moon, the sun, and Jupiter are in the constellation Kartaka, Cancer, and together enter the lunar mansion of Pusya, that is when the age of Satya-yuga will begin. Therefore, as related in the Bhagavatam (12.2.34), after one thousand celestial years of Kali-yuga, Satya-yuga will again manifest. At that time the minds of men will be self-effulgent.

The Vishnu Purana (Book Four, Chapter One) also relates that the Vedas and the principles of sanatana-dharma, or the eternal nature of the soul, fade and disappear from the planet at the end of every four ages. The Bhagavatam (8.14.4-5) also confirms that there are saintly persons who help reestablish these principles in Satya-yuga along with the basis of varnashrama, which is the proper organization of society for humanity. The Vishnu Purana continues to explain that it is in the jurisdiction of the seven universal sages or rishis (the Saptarishis) to make sure the Vedic knowledge is given currency again, even if these rishis must descend from the higher planets to do so. So in every Satya-yuga the Manu [the demigod son of Brahma who is the lawgiver of humanity] of that age is the author of the body of law, while the sons of Manu and their descendants are sovereigns of the earth. This means that although the genuine spiritual knowledge or Vedic information may disappear from this planet, it is still dwelling elsewhere in the universe, and it is the duty of higher authorities to reestablish it on Earth.

To help in this regard, it is predicted in the Srimad-Bhagavatam (12.2.37-38) and the Vishnu Purana (Book Four, Chapter 24) that there are two persons who are waiting for the end of Kali-yuga: Devapi of the race of Puru and brother of King Shantanu, and Maru, a descendant of King Ikshvaku. They will be great kings and will help in the process of reestablishing the proper principles in society. These two are alive even now by their great mystic strength obtained through the power of devotion. They have lived through all four of the yugas and reside in the village of Kalapa. They are waiting for the end of Kali-yuga. Then, at the beginning of Satya-yuga, under the instructions of the Supreme, they will return to society and be members of the family of the Manu and reestablish the eternal religion of humanity, sanatana-dharma, and the institution of varnashrama, which is the proper organization of society for its continued harmony in life, and its material and spiritual progress. They will become great kings and form proper government. Thus, by the arrangement of the Supreme Being, there are those who will always be the guardians of that spiritual knowledge that contains the genuine principles for attaining the real goal of human existence.

After all of this is accomplished, as related in the Bhagavatam (12.2.39), the cycle of the four ages of Satya, Treta, Dvapara, and Kali-yugas [a Caturyuga] will continue to repeat itself along with the same general pattern of events.

IS LORD KALKI PREDICTED IN THE BOOK OF REVELATIONS?
Here are some additional interesting points to consider. There are verses from the book of Revelations in the Bible that are very similar to the above descriptions in the Puranas about Lord Kalki. These verses are so similar that they cannot be ignored and may provide additional insight for Christians and similarities they may share with Vedic culture. In Revelations (19.11-16, & 19-21) it states:

“And I saw heaven opened, and behold a white horse; and he that sat upon him was called Faithful and True, and in righteousness he doth judge and make war. His eyes were as a flame of fire, and on his head were many crowns; and he had a name written, but no man knew but he himself. And he was clothed with a vesture dipped in blood: and his name is called The Word of God. And the armies which were in heaven followed him upon white horses, clothed in fine linen, white and clean. And out of his mouth goeth a sharp sword, that with it he should smite the nations: and he shall rule them with a rod of iron: and he treadeth the winepress of the fierceness and wrath of Almighty God. And he hath on his vesture and on his thigh a name written, KING OF KINGS, AND LORD OF LORDS. And I saw the beast, and the kings of the earth, and their armies, gathered together to make war against him that sat on the horse, and against his army. And the beast was taken, and with him the false prophet that wrought miracles before him, with which he deceived them that had received the mark of the beast, and them that worshipped his image. These both were cast alive into a lake of fire burning with brimstone. And the remnant were slain with the sword of him that sat on the horse.”

This sounds so much like the incarnation of Lord Kalki that it could hardly be anyone else. Surely, by the time Lord Kalki appears, no one will have the slightest expectation of Him or His appearance. No one will know His name. And His army of brahmanas will be as pure as if they had descended from heaven. At the time of Lord Kalki’s appearance, He will kill the remaining miscreants and deliver the few saintly people from the present conditions of the earth, changing it back to the Golden Age of Satya-yuga. In this regard, Revelations (14.1-3) also describes:

“And I looked, and, lo, a Lamb [a typical symbol for the Divine or an incarnation of the Divine] stood on the mount Sion, and with him an hundred forty and four thousand, having his Father’s name written in their foreheads. And I heard a voice from heaven, as the voice of many waters, and as the voice of a great thunder: and I heard the voice of harpers harping with their harps; And they sung as it were a new song before the throne, and before the four beasts, and the elders: and no man could learn that song but the hundred and forty and four thousand, which were redeemed from the earth.”

One significant description in the above verses is that those who are redeemed from the earth will have God’s name written on their foreheads. This is a widespread custom of the brahmanas in India to write the name of God, such as Vishnu or Krishna, on their foreheads. This is tilok, which is usually put on with clay made from the banks of a holy river. We often see this in the middle of the forehead in the shape of a “V” which represents the name of God and that the body is a temple of God, or the three-lined markings of the Shaivites. The Vaishnava mark is made while reciting “Om keshavaya namaha,” which means “Salutations to Lord Keshava,” another name of Krishna.

So herein could be an indication that when the last of society is delivered from the earth during the end times, they will be those who wear the name of God on their foreheads, at least according to these verses. Also, as in accord with other Vedic prophecies, we can understand that there will be very few people left in the world who will have any piety at all. So it would fit in with the Vedic prophecies that by the time Lord Kalki appears, there may, indeed, be only 144,000 who will be left in the world worthy of being delivered from the godless and chaotic conditions of the earth. Or these may be the seeds of the new civilization that will start the beginning of the next age of Satya-yuga.

[Kembali]


(KLIK!!!) Timings of the Four Yugas

http://www.stephen-knapp.com/timings_of_the_four_yugas.htm
By Stephen Knapp


When describing the length of the yugas or ages, and which yuga we are in and how far along we are in it, there is sometimes confusion about how to calculate them. Some people think we are already in the next Satya-yuga, known as the Golden Age.

The problem is when the yugas are figured only according to the years in earth’s time, in which case any calculations will never be accurate. They are described in the Vedic literature according to the celestial years, or years of the devas, not according to the time we experience here on earth.

This is where we have to make adjustments. Nonetheless, there are specific references in the Vedic texts which make it clear how to calculate them. For starters, the Mahabharata (Shanti Parva, 231.12-20) explains it in detail:

“The rishis, measuring time, have given particular names to particular portions [of time]. Five and ten winks of the eye make what is called a Kastha. Thirty Kasthas make what is called a Kala. Thirty Kalas, with the tenth part of a Kala, make a Muhurta. Thirty Muhurtas make one day and night. Thirty days and nights form a month, and twelve months form a year. Persons well-read in mathematical science say that a year is made up of two solar motions, meaning the northern and southern. The sun makes the day and night for men. The night is for the sleep of all living creatures, and the day is for work. A month of human beings is equal to a day and night of the departed manes [ancestors who have gone on to the subtle worlds].

That division consists in this: the light half of the month is their day which is for work; and the dark fortnight is their night for sleep. A year (of men) is equal to a day and night to the gods

[devas or celestials]. This division consists in this: the half year for which the sun travels from the vernal to the autumnal equinox is the day of the gods, and the half year for which the sun moves from the latter to the former is their night. [Thus, an earth year is but a day for the devas.]

Calculating by the days and nights of human beings about which I have told you, I shall speak of the day and night of Brahma and his years also. I shall, in their order, tell you the number of years, that are for different purposes calculated differently, in the Krita, the Treta, the Dvapara, and the Kali Yugas. Four thousand celestial years is the duration of the first or Krita age. The morning of that cycle consists of four hundred years and its evening is of four hundred years.

[Note: This says celestial years, or years of the demigods on the higher planets. Such years are much longer than those of planet earth. So 4000 celestial years, with the morning or Sandhya of 400 celestial years and the evening or Sandhyansa, or intermediate period, of another 400 years, equals 4800 celestial years or 1,728,000 human years.]

“Regarding the other cycles, the duration of each gradually decreases by a quarter in respect of both the principal period with the minor portion and the conjoining portion itself. These periods always keep up the never-ending and eternal worlds. They who know Brahma, O child, regard this as Immutable Brahma.” (Mb, Shanti Parva, Chap.231, Text 21-22)

This means that as each age appears, from the Krita, Treta, Dvapara to Kali, each yuga decreases by a quarter of the previous yuga, in addition to the conjoining Sandhya and Sandhyansa periods with each yuga. In this way, it is roughly calculated that a whole cycle of the four yugas, namely Krita, Treta, Dvapara and Kali-yuga together, total about 12,000 celestial years in length.

The Mahabharata (Shanti Parva, 231.29-32) continues: “The learned say that these 12,000 celestial years form what is called a cycle. A thousand such cycles form a single day of Brahma. The same is the duration of Brahma’s night. With the beginning of Brahma’s day the universal entities come into being. During the period of universal dissolution the Creator sleeps in Yoga-meditation. When the period of sleep expires, He awakes. What is Brahma’s day covers a thousand such cycles. His night also covers a thousand similar cycles. They who know this are said to know the day and the night. On the expiry of His night, Brahma, waking up, modifies the indestructible intelligence by causing it to be overlaid with ignorance. He then causes Consciousness to spring up, whence it originates Mind which is at one with the Manifest.”

In calculating the duration of the different yugas, there are a few differences between the Puranas. The Brahmanda Purana (1.2.29.31-34) specifically states that Krita or Satya-yuga is 1,440,000 human years in length, Treta-yuga is 1,080,000 years, Dvapara-yuga is 720,000 years, and Kali-yuga is 360,000 years in length. The Linga Purana (4.24-35) also agrees with this except for Treta-yuga, which it says is 1,800,000 years in length.

[kembali]However, when explaining the various measurements of time, the Vishnu Purana (Book One, Chapter Three) and the Srimad-Bhagavatam (3.11.19), along with the Bhagavad-gita (8.17) and the Vayu Purana (Chapter 57) and others, such as the Mahabharata as quoted above, all agree on the measurements of the durations of the yugas, as explained below.

In the explanations of the measurements of time found therein, one cycle of the four yugas together is 12,000 years of the demigods, called divine years. Each of these years is composed of 360 days, and each of their days is equal to one human year. So Krita-yuga is 4000 divine years in length, Treta-yuga is 3000 divine years in length, Dvapara-yuga is 2000 divine years in length, and Kali-yuga is 1000 divine years long, with the addition of the conjoining portions of the Sandhya and Sandhyansa.

In this way, each yuga is preceded by a period called a Sandhya, which is as many hundred years in length as there are thousands of years in that particular yuga. Each yuga is also followed by a period of time known as a Sandhyansa, which is also as many hundreds of years in length as there are thousands of years in the yuga. In between these periods of time is the actual yuga. Therefore, we have:

    Krita-yuga = 4000 divine years, Sandhya = 400 divine years, Sandhyansa = 400 divine years. Total = 4800 divine years x 360 days = 1,728,000 human years.

    Treta-yuga = 3000 divine years, Sandhya = 300 divine years, Sandhyansa = 300 divine years. Total = 3600 divine years x 360 days = 1,296,000 human years.

    Dvapara-yuga = 2000 divine years, Sandhya = 200 divine years, Sandhyansa = 200 divine years. Total = 2400 divine years x 360 days = 864,000 human years.

    Kali-yuga = 1000 divine years, Sandhya = 100 divine years, Sandhyansa = 100 divine years. Total = 1200 divine years x 360 days = 432,000 human years.

This equals 4,320,000 human years in one cycle of the four yugas together, and 1000 cycles of these yugas equals 12,000 divine years and 4,320,000,000 human years in a day of Brahma.

It is also explained that Kali-yuga began with the disappearance of Lord Krishna from the planet. This has been calculated to be 3102 B.C.. Since Kali-yuga is described as being 432,000 earth years in length, with 5,000 years and more already passed, then the age of Kali-yuga has approximately 426,000 more years to go. I hope this has clarified what is sometimes a confusing issue.

[kembali]


(KLIK!!!) Prophet Muhammed (pbuh) in Hindu Scriptures

http://www.themodernreligion.com/prophet/prophet-hindu.html
By: Prof. Pundit Vaid Parkash
Tr. Mir Abdul Majeed
Broadcasted on BICNews 8 December 1997
The Message, October 1997


The Last Kalki Autar (Messenger) that the Veda has foretold and who is waited on by Hindus is the Prophet Muhammed ibn Abdullah (saw) A recently published book in Hindi has raised a lot of hue and cry all over India. In the event of the author being Muslim, he would have been jailed AND a strict ban would have certainly been imposed on the printing and the publishing of the book.

The author of this important research work “Kalki Autar” i.e. “Guide and Prophet of whole universe” comes of a Bengali race and holds an important portfolio at Ilahabad University. Pundit Vaid Parkash is a Brahman Hindu and a well known Sanskrit scholar and research worker.

Pundit Vaid Parkash, after a great deal of toil and hard-work, presented the work to as many as eight great Pundits who are themselves very well known in the field of research in India, and are amongst the learned religious leaders. Their Pundits, after thorough study of the book, have acknowledged this to be true and authentic research work.

Important religious books of India mention the guide and prophet by the specific name of “Kalki Autar” it denotes the great man Muhammed (peace and blessings of Allah be upon him) who was born in Makkah. Hence, all Hindus where-ever they may be, should wait no longer for any other ‘kalik autar’ but to embrace Islam and follow in the footsteps of the last Messenger of Allah (peace and blessings of Allah be upon him) who was sent in the world about fourteen hundred years ago with a mission from Him and after accomplishing it has long ago departed this world. As an argument to prove the authenticity of his research, Pundit Vaid Parkash quotes from the Veda, a sacred book among Hindus:

1. Veda mentions that ‘kalki autar’ will be the last Messenger/Prophet of Bhagwan (Allah) to guide the whole world. Afer quoting this reference the Pundit Parkash says that this comes true only in the case of Prophet Muhammed (peace and blessings of Allah be upon him).

2. According to a prophecy of Hinduism, ‘kalki autar’ will be born in an island and that is the Arab territory which is known as ‘jazeeratul Arab’.

3. In the ‘sacred’ book of Hindus the father’s name of ‘kalki autar’ is mentioned as ‘Vishnu Bhagat’ and his mother’s name as ‘somanib’. In sanskrit, ‘vishnu’ stands for Allah (swt) and the literal meaning of ‘bhagat’ is slave.

‘Vishnu Bhagat’ therefore, in the Arabic language will mean Allah’s slave (Abdullah). ‘Somanib’ in Sanskrit means peace and tranquilty which in arabic is denoted by the word ‘Amina’. Whereas the last Messenger Muhammed’s (peace and blessings of Allah be upon him) father and mother’s names were Abdullah and Amina respectively.

4. In the big books of Hindus, it is mentioned that ‘kalki autar’ will live on olive and dates and he will be true to his words and honest. In this regard Pundit Parkash writes, “This is true and established only in the case of Muhammed (peace and blessings of Allah be upon him)”.

5. Veda mentions that ‘kalki autar’ will be born in the respected and noble dynasty of his land. And this is also true as regards Muhammed (peace and blessings of Allah be upon him) as he was born in the respected tribe of Quraish who enjoyed great respect and high place in Makkah.

6. ‘Kalki Autar’ will be taught in the cave by Bhagwan through his own messenger. And it is very true in this matter. Muhammed (peace and blessings of Allah be upon him) was the only one person in Makkah who has taught by Allah’s Messenger Gabriel in the cave of Hira.

7. It is written in the books which Hindus believe that Bhagwan will provide ‘Kalki autar’ with the fastest of a horse and with the help of which he will ride around the world and the seven skies/heavens. The riding on ‘Buraq’ and ‘Meraj’ by the Prophet Muhammed (peace and blessings of Allah be upon him) proves what?

8. It is also written in the Hindus’ books that ‘kalki autar’ will be strengthened and heavily helped by Bhagwan. And we know this fact that Muhammed (peace and blessings of Allah be upon him) was aided and reinforced by Allah (swt) through His angels in the battle of Badr.

9. Hindus’ books also mention that ‘kalki autar’ will be an expert in horse riding, arrow shooting, and swordsmanship. What Pundit Vaid Parkash comments in this regard is very important and worth attention and consideration. He writes that the age of horses, swords, and spears is long ago gone and now is the age of modern weapons like tanks, missiles, and guns, and therefore it will be unwise to wait for ‘kalki autar’ bearing sword and arrows or spears. In reality, the mention in our books of ‘kalki autar’ is clearly indicative of Muhammed (peace and blessings of Allah be upon him) who was given the heavenly book known as Al-Qur’an.

[Kembali]


(KLIK!!!) NASKAH BUDDHISME TENTANG NABI MUHAMMAD SAW

http://www.jalal-center.com/index.php?option=com_content&task=view&id=291
KH. Jalaludin Rakhmat
[Sekarang bahkan “http://www.jalal-centre.com/”-pun sudah tidak ada, namun bekas-bekas tulisan ini masih anda bisa liat di sini dan di sini]


Tanggal 1 Juni, saudara-saudara kita yang beragama Buddha memperingati Waisak. Pada hari itu Gautama dilahirkan di Taman Lumbini tahun 623 SM, memperoleh pencerahan dan menjadi Buddha di Buddha-Gaya tahun 588 S.M, dan meninggal di Kusinara tahun 543 SM. Seperti Buddha, menurut sebagian muarrikh Nabi Muhammad lahir, mendapat wahyu, dan meninggal pada hari yang sama. Menurut Al-Quran, semua agama kembali kepada Allah swt (Al-Maidah 48), walaupun setiap agama mempunyai syariat dan aturan yang berbeda. Di bawah ini kami cantumkan pendapat salah seorang di antara sahabat kami tentang hasil penelitiannya pada naskah-naskah agama Buddha. Ia memperlihatkan kesamaan antara karakteristik Nabi Muhammad saw dan Buddha. Terpulang kepada Anda untuk merenungkannya.

Pemimpin umat Buddha Sidharta Gautama, telah meramalkan kedatangan seorang manusia yang mendapat wahyu. Dalam Kitab Buddha yang ditulis Caras (h. 217-218) termaktub bahwa tokoh besar ini akan datang ke dunia dengan nama Maitreya. Dalam Cakkavatti-Sihanada Suttana namanya disebut sebagai “Metteyya”. Kedua kata ini berarti “Yang Penuh Kasih”. Dengan merujuk pada sejarah Nabi saw, kita juga menemukan Nabi sebagai orang yang penuh kasih. Al-Quran menyebutnya “al-rauf al-rahᅪm”, sangat santun dan penuh kasih (Al-Tawbah 128).

Ada kesamaan-kesamaan lainnya antara Metteya dengan Nabi Muhammad seperti dikatakan dalam naskah Buddhis: “Pengikut Maitreya berjumlah ribuan, sedangkan jumlah pengikutku ratusan”. Ada persamaan-persamaan lainnya yang akan dijelaskan di bawah.

Dalam Kitab Buddha (oleh Carus – h 214), Buddha digambarkan berkulit bersih dan mencapai pencerahan tertinggi pada malam hari. Ia meninggalkan dunia secara alamiah dan kelihatan tampak terang sebelum kematiaanya. Setelah meninggal dunia ia tidak berada lagi di bumi. Semua keterangan ini dapat dinisbahkan kepada Nabi Islam. (Bacalah sejarah hidup Nabi Muhammad).

Dalam Si-Yu-Ki, Vol I, h.229, disebutkan bahwa “… tidak ada kata yang dapat menggambarkan keindahan Maitreya “. Saya serahkan kepada Anda untuk meneliti sejarah Islam. Baik Muslim maupun non-Muslim sepakat menyatakan bahwa Nabi Muhammad (S.A.W.) memang sangat tampan dan indah. Dalam salah satu puisinya Sa’di berkata: “ia mencapai ketinggian dengan kesempurnaannya. Ia menyingkapkan kegelapan dengan keindahannya. Sangat indah semua perilakunya. Sampaikan salawat baginya dan keluarganya”

Si-Yu-Ki Vol I. (h.229) selanjutnya menyebutkan “ナ.suara yang nyaring dari Bodhisattva (Maitreya) lembut, bening dan jelas; semua yang mendengarkannya tidak pernah bosan, semua yang mendengarnya tidak pernah puas” “Bahasa Arab terkenal keindahannya. Selanjutnya kitab suci al Qur’an dianggap sebagai karya sastra yang paling tinggi baik oleh kawan maupun lawan”

Kitab Suci Buddha menjelaskan lebih lanjut karakteristik tokoh besar ini (yang mereka sebut sebagi Buddha). Untuk memenuhi syarat menjadi Maitreya, ia harus memenuhi syarat-syarat ini.Seorang Buddha harus manusia bukan Tuhan. Seorang Buddha harus memiliki Lima anugrah istimewa, yakni, anugrah khazanah, anugrah anak, anugrah istri, anugrah kekuasaan ( kepimpinan atau kenegarawan) dan anugrah kehidupan.

Di samping itu Buddha harus tidak punya guru, artinya tidak mengalami pendidikan formal. Gautama juga menegaskan bahwa seorang Budha hanyalah seorang manusia biasa, keselamatan bergantung pada amal saleh individu. Tugas Buddha adalah memberi peringatan, ia tidak mengaku sebagai makhluk supernatural. Semua sifat ini sangat sesuai dengan kehidupan Muhammad (S.A.W.).

Kesamaan lainnya yang harus disebut ialah bahwa untuk setiap Buddha yang tercerahkan harus ada sejenis “pohon Bo”.

Sebagian peneliti modern mengatakan bahwa pohon Bo dari Maitreya adalah pohon dengan kayu yang keras dan padat. Nabi Muhammad SAW mempunyai pohon di Hudaibiyah, tempat di sahkannya perjanjian yang penting. Al QUr’an menyebut pohon ini, “Syajar” ( Surat 48:18).

“Syajar” menurut sebagian ulama berarti setiap pohon yang bercabang keras. Inipun merupakan persamaan yang menakjubkan.

[Kembali]


(KLIK!!!) Muhammad Menurut Pandangan Kitab Agama Lain

http://madinah-al-hikmah.net/modules/news/article.php?storyid=25


Ada anggapan di sebagian non-Muslim bahwa Muhammad saw hanyalah seorang nabi yang diutus untuk bangsa Arab saja. Sebagaimana Yesus (Isa as) yang diutus untuk Bani Israil, maka demikian juga Nabi Muhammad diutus hanya untuk bangsa Arab. Pendapat lainnya menilai bahwa Muhammad bukanlah seorang nabi melainkan orang yang melangkah di jalan kenabian. Pandangan ini diyakini oleh Timothy dari Gereja Nestorian, seperti yang diungkapkan Alwi Shahab dalam pengantar buku Muhammad & Isa (Mizan: 1999). Timothy menyebutnya sebagai seorang yang berjalan di tapak para nabi-walau tidak secara khusus mengakui Muhammad saw sebagai nabi.

Dalam satu sisi anggapan ini tentu baik. Sebab, kita sadar bahwa jika seorang pemeluk Kristen mengakui Muhammad sebagai nabi yang diutus untuk segenap manusia, niscaya pengakuan semacam ini akan merontokkan fondasi keyakinan Kristen yang dianutnya. Belakangan muncul kajian-kajian atas tradisi agama lain seperti Kristen, Hindu dan Budha yang banyak mengungkapkan nubuat-nubuat seputar kelahiran dan kemunculan Nabi saw berikut karakter pribadinya. Umpamanya, melalui telaah mendalam atas Yesaya 42 dari tradisi Kristen didapatkan bahwa sosok yang diceritakan dalam pasal itu mengisyaratkan kepada Nabi Muhammad saw. Demikian pula dalam tradisi Hindu dan Budha. Dijumpai dalam kitab-kitab mereka akan adanya utusan akhir zaman yang akan menyelamatkan manusia. Secara sepintas di bawah ini akan disajikan-meski selintas-nubuat dari tiga tradisi itu.

Tradisi Kristen
Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa. (Yesaya 42: 1) Dalam ayat ini, jika kita menganggap “orang pilihan-Ku” sebagai kata benda maka pilihan-Ku = pilihan Tuhan = Mushthafa (dalam bahasa Arab), yakni nama nabi kita Muhammad saw. Semua nabi setelah Ya’qub as yang disebutkan dalam Injil diutus untuk bangsa Israel bukan semua bangsa. Ini termasuk Yesus (Isa) (lihat Matius15: 21-26, Matius 10: 5-6 dan banyak lagi). Adapun Isa as tidak cukup lama tinggal di bumi untuk melakukan misinya. Namun Muhammad saw diutus untuk semua bangsa dan membawa pesan dan keputusan kepada bangsa-bangsa. Selanjutnya dalam Yesaya 42: 2 dikatakan: “Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan.” Kata “tidak menangis” diartikan sebagai “tidak mengeluh terhadap tugas yang Aku embankan kepadanya”. Sekarang jika Anda membaca Injil Matius 26: 39-42, kita tidak bisa mengatakan bahwa Isa as tidak pernah mengeluh. Artinya, ayat ini tidak cocok diterapkan kepada Isa as. Namun jika Anda membaca sejarah kehidupan Muhammad saw, kita tidak bisa mendapatkan bahkan satu kalimat keluhan yang keluar dari lisan suci Nabi Muhammad saw tentang misi yang dipikulkan oleh Allah Yang Mahakuasa. “Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.” (Yesaya 42: 4). Sejarah menceritakan kepada kita bahwa Yesus (Isa as) tidak sampai merampungkan misinya yang telah berlangsung selama tiga tahun. Pembaca bisa menemukan hal ini di banyak tempat dalam Perjanjian Baru. Ia pun tidak bisa menegakkan hukum di muka bumi, karena pengikutnya sedikit dan mereka punya sedikit iman (ini pun bisa ditemukan di banyak tempat dalam Perjanjian Baru). Dan mereka “meninggalkannya dan kabur” ketika tentara Romawi menahan Yesus. Ia sendiri berkata, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” (Yohanes 18: 36).

Sebaliknya, misi Muham-mad saw berhasil dengan tegaknya sebuah negara dan mengatur dengan hukum yang diberikan oleh Allah. Karena itu, ia menegakkan hukum di muka bumi, di bumi Madinah al-Munawarrah. Dalam frase tersebut disebutkan bahwa Tuhan menyebutkan “hukum-nya” dan ayat 9 menyebutkan “Nubuat-nubuat yang dahulu sekarang sudah menjadi kenyataan”. Ini artinya ia (nabi baru) akan membawa hukum baru. Tapi jika kita baca Injil, kita lihat bahwa Yesus berkata dalam Matius 5:17: “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Jika kita baca lebih jauh, kita paham bahwa Yesus tidak datang dengan hukum baru. Sementara Muhammad saw datang dengan hukum baru.

Kejelasan akan datangnya Muhammad saw lebih terbaca lagi dalam Yesaya 42: 8 yang berbunyi: Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung. Melihat konteks sejarahnya, kita lihat bahwa perkataan Tuhan ditujukan kepada Muhammad saw dan bukan Isa as.

Alasannya, Isa as datang untuk bangsa Israel dan mereka tidak menyembah berhala. Adapun Muhammad saw datang kepada kaum Arab yang menyembah berhala pada masa Jahiliah. Seterusnya, Nabi Muhammad saw menghancurkan berhala. Jika kita membaca Yesaya 42: 17, hal itu akan dipahami lebih jelas. “Baiklah mereka memberi penghormatan kepada TUHAN, dan memberitakan pujian yang kepada-Nya di pulau-pulau.” (Yesaya 42: 12). Ayat ini mengacu kepada lafaz azan sebagai panggilan shalat. Makna azan mengandung puji-pujian kepada TUHAN. Ayat ini secara implisit merujuk kepada kandungan azan Islam yang memuat nama Allah dan Nabi Muhammad saw. Sebagaimana terlihat, azan bergaung di mana-mana menyerukan nama Allah dan Rasul-Nya yang tiada keturunan Ibrahim as dari jalur Ismail as. Nabi Isa as sendiri keturunan Ishak (Rujuk Kejadian 25: 13-16) Jelaslah, ayat ini (ayat 11) tidak sedang membincangkan Isa as melainkan Muhammad saw.

Jika Anda melihat ritual Muslim (khususnya haji), Anda akan melihat kota-kota tersebut (Makkah dan Madinah) menyaringkan suara mereka (azan) dan orang-orang menyeru dan memuji Allah dari puncak gunung, khususnya Bukit Arafah. Tentang azan sendiri, Anda bisa melihat bahwa di setiap negeri Muslim, orang-orang diseru untuk shalat melalui panggilan azan yang mirip nyanyian. Bahkan jauh dari kota, Anda bisa mendengar azan ini. Makna azan itu sendiri adalah: Allah Mahabesar, Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, Aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah, Dan seterusnya.

Tradisi Budha
Dalam tradisi Budha, pemimpinnya sendiri Sidharta Gautama telah meramalkan kedatangan seorang manusia yang diberi wahyu. Dalam Doktrin Budha (The Gospel of Buddha) oleh Caras (hal.217-8) tercantum bahwa Budha agung yang akan datang ke dunia ini dikenal sebagai “Maitreya”. Cakkavatti-Sihanada Suttana memberinya nama “Meteyya”. Kedua kata ini bermakna “pemberi rahmat”. Dengan merujuk kepada sejarah kehidupan Muhammad saw, kentara sekali beliau adalah orang sangat penyayang dan al-Quran juga menyebut-nyebut fakta ini.

Ada sejumlah kesamaan lebih jauh, seperti yang terbaca dalam kitab suci kaum Budha: “Para pengikutnya (Maitreya) berjumlah ribuan orang, sementara jumlah pengikutku ratusan orang.” Faktanya, pengikut Nabi Muhammad saw berjumlah ribuan orang (sekarang tentunya jutaan). Ada sejumlah kesamaan lain yang akan diuraikan di bawah.

Dalam Doktrin Budha (oleh Caras, hal.214), seorang Budha yang tercerahkan itu dilukiskan sebagai memiliki kulit yang amat terang dan bahwa seorang Budha memperoleh “pandangan yang luhur di malam hari”. Dalam kenyataan sejarah, Nabi saw acap melakukan shalat malam (tahajjud) sebagai pantulan cintanya yang mendalam kepada Sang Pencipta. Selama hayatnya, Nabi saw tidak pernah meninggalkan shalat malam. Buahnya, beliau mendapatkan pandangan yang tajam untuk merekonstruksi peradaban baru manusia, peradaban Islam.

Dalam Si-Yu-Ki, jilid 1, hal.229, tertulis bahwa “ナtak satu kata pun yang mampu menguraikan kemuliaan pribadi Maitreya.” Pembaca bisa merujuk sejarah Islam secara detail. Baik Muslim maupun non-Muslim sepakat dalam menegaskan bahwa Muhammad saw sangatlah rupawan dan menarik baik dari sisi lahiriah maupun batiniah. Ketegasan dan kelembutan pribadi beliau memanifestasikan sifat-sifat Tuhannya. Inilah yang menyulitkan pemaparan kemulian pribadi Nabi saw.. Dalam kitab dan jilid yang sama, tercantum “ナsuara indah dari Bodhisatwa (Maitreya) begitu lembut, merdu, sekaligus santun. Mereka yang mendengar tidak pernah merasa bosan dan puas.” Nabi saw yang lahir dari kalangan Arab tentunya paham benar akan bahasa Arab. Dan, bahasa Arab yang digunakan al-Quran luar biasa indahnya. Karena itu, al-Quran Suci sendiri dinilai sebagai suatu karya kesusastraan khusus dengan bobot tertinggi yang memberikan manfaat kepada kawan dan lawan. Kelembutan Nabi saw dan keindahan bahasa al-Quran menjadikan setiap perkataan Nabi saw tidak pernah dikenai rasa bosan dan letih untuk disimak

Seorang Budha mestilah seorang manusia-bukan dewa. Sang Budha tersebut mesti memiliki lima karunia khusus, yakni karunia harta kekayaan, karunia anak, karunia istri, karunia kekuasaan (yakni kepemimpinan), dan karunia kehidupan dan pengikut. Sebagai tambahan, Budha tersebut tidak punya guru, yakni tanpa menempuh suatu jenjang pendidikan formal. Gautama juga menekankan bahwa Budha itu seorang yang bersahaja yang mengatakan keselamatan itu hanya tergantung pada amal perbuatan individu.

Ciri-ciri di atas jelas senapas dengan kehidupan Nabi Muhammad saw. Kita saksikan bahwa Nabi saw seorang yang memiliki lima hal tadi. Nabi saw memiliki keturunan yang banyak sampai sekarang. Di antaranya ada yang menjadi para pemimpin (imam) bagi kaum Muslim. (Tentang keturunan yang banyak ini, baca Kejadian 12: 2, 3, 7 dan Kejadian 16: 9-11, sewaktu membahas perjanjian antara Nabi Ibrahim (Kristiani; Abraham) dan Tuhan. Akhirnya, Nabi saw sendiri tidak pernah belajar sama sekali dari seorang guru pun. Ilmu yang beliau dapatkan murni dari Allah sebagai buah perenungannya akan kenya-taan semesta ditambah kesucian jiwanya.

Tradisi Hindu
Sebagaimana dalam dua tradisi agama di atas, dalam kitab suci Hindu pun ditemukan hal yang sama mengenai ciri-ciri yang mengarah kepada Nabi saw. Seorang profesor Hindu terkenal, Vedaprakash Upadhyay, dalam bukunya yang menarik mengklaim bahwa deskripsi “Avatar” yang terdapat pada kitab suci agama Hindu sejalan dengan pribadi Nabi Muhammad saw.

Baru-baru ini sebuah buku yang menyingkap fakta tersebut telah diterbitkan. Buku itu menjadi topik diskusi dan perbincangan di seluruh negeri. Penulis buku itu seorang Muslim. Ia mungkin telah ditahan atau dibunuh. Boleh jadi semua salinan buku itu telah dihilangkan. Buku itu bertajuk “Kalki Avatar”. Pundit Vedaprakash Upadhyay adalah seorang Hindu Brahmana dari Bengali. Sarjana peneliti di Universitas Allahabad-setelah bertahun-tahun melakukan riset-akhirnya menerbitkan bukunya.

Keterangan dari Pundit Vaid Parkash telah disiarkan di BICNews pada 8 Desember 1997 yang diterjemahkan oleh Mir Abdul Majeed. Sebelumnya, pernah dimuat di The Message, edisi Oktober 1997. Tidak kurang 8 pundit besar mendukung dan merestui butir-butir argumennya sebagai yang otentik. Menurut kepercayaan Hindu, dunia Hindu tengah menunggu “Pemimpin dan Pembimbing”, yang bernama “Kalki Avatar”. Akan tetapi deskripsi yang dicantumkan dalam kitab-kitab suci agama Hindu merujuk kepada Nabi Muhammad saw dari Arab. Karena itu, umat Hindu di seluruh dunia semestinya tidak menunggu lebih lama lagi kedatangan ‘Kalki Avatar’ dan harus menerima Nabi Muhammad saw sebagai Kalki Avatar. Inilah fakta-fakta yang diuji dan didukung oleh tidak kurang dari delapan pundit terkemuka. Apa yang dikatakan penulis adalah bahwa umat Hindu-yang masih harap-harap cemas menunggu kedatangan Kalki Avatar-agaknya menyerahkan diri mereka sendiri kepada penderitaan yang tak kunjung usai. Padahal utusan agung tersebut telah datang dan meninggalkan dunia ini 14 abad yang silam. Pengarang tersebut telah mengajukan bukti-bukti kuat dari kitab Veda dan kitab suci Hindu lain untuk mendukung klaimnya: Dalam kitab Purana, misalnya, disebutkan bahwa Kalki Avatar merupakan utusan terakhir di dunia ini. Ia memberi petunjuk seluruh manusia. Nabi Islam saw diutus bagi segenap manusia. Bukan untuk salah satu golongan. Menurut prediksi agama Hindu, kelahiran Kalki Avatar akan terjadi di Semenanjung (yang menurut agama Hindu kawasan Arab). Ini ramalan yang sesuai dengan faktanya di mana Islam lahir di kawasan Arab.

Masih dalam kitab-kitab Hindu juga, nama ayah dan ibu Kalki Avatar masing-masing adalah Vishnubhagath dan Sumaani. Jika kita menilik arti kedua nama tersebut, kita akan mendapatkan kesimpulan yang menarik. Dalam kosakata Hindu, Vishnu artinya Allah dan Bhagath artinya hamba. Kalau digabung berarti hamba Allah yang dalam bahasa Arab berarti Abdullah. Ia adalah ayah Nabi saw.

Sumaani artinya kedamaian atau ketenteraman. Dalam bahasa Arab sepadan dengan kata Aminah (‘kedamaian’) yang tiada lain adalah nama ibunda Nabi saw. Selanjutnya, dinyatakan dalam kitab Veda, kelahiran Kalki Avatar akan terjadi di tengah klan keluarga bangsawan. Jelas ini merujuk ke suku Quraisy di mana Nabi saw dilahirkan. Dalam kitab yang sama, Tuhan akan mengajar Kalki Avatar melalui utusan (malaikat)-Nya di dalam gua. Ini sesuai dengan riwayat kehidupan Nabi saw. Allah mengajar Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril, dalam suatu gua yang disebut Gua Hira. Tuhan pun menyiapkan Kalki Avatar dengan bantuan-Nya. Ini secara jelas terbukti dalam Perang Uhud.

Semua hal itu menjadi segelintir bukti yang mengisyaratkan universalitas pribadi Muhammad saw dan agamanya: Islam.

[Kembali]


(KLIK!!!) Silsilah Nabi Muhammad Saw

    00 IBRAHIM
    01 Isma’eel
    02 Nabit
    03 Yashjub
    04 Tayrah
    05 Nahur
    06 Muqawwam
    07 Udad
    08 ‘Adnan
    09 Mu’ad
    10 Nizar
    11 Mudar
    12 Ilyas
    13 Mudrika
    14 Khuzayma
    15 Kinana
    16 Al Nadr (Al Quraysh)
    17 Malik
    18 Fihr
    19 Ghalib
    20 Lu’ayy
    21 Ka’ab
    22 Murra
    23 Kilab
    24 Qussayy (Real name: Zayd)ナ.lahir 400M
    25 ‘Abdu Manaf (Real name: Al Mughira)
    26 Hashim (Real name: ‘Amr) as Banu Hashim
    27 ‘Abdu Al Mutallib (Real name: Shaiba)
    28 ‘Abdullah
    29 MUHAMMAD sawナ.lahir 570/571 M

The genealogies ini disusun oleh Ahmad Sibil(Astoria, New York)
dari “Sirat Rasulullah” oleh Ibn Ishaq,
diterjemahkan oleh Professor Guillaume’s, Oxford University Press.

[Kembali]


Riwayat Sidharta Gautama / Buddha Gotama


Pengantar
Ini adalah kisah kehidupan Siddhattha Gotama (Nama sebelum menjadi Buddha) yang kelak dikenal sebagai Buddha Gotama (Buddha dari keturunan keluarga Gotama) atau Samana/Petapa Gotama atau Sang Bhagava atau Buddha Sakyamuni (Buddha Petapa suku Sakya) yang hidup dikisaran 568 SM – 488 SM

Kisahnya diambil dari berbagai sumber di antaranya: Sutta dan Vinaya, kitab komentar, Buku “Riwayat Agung Para Buddha”/ (RAPB), Cetakan ke-1, Mei 2008, “Biography of Sakayamuni Buddha“, Gunapayuta et al; Dictionary of Pāli Proper Names (atau DPPN), dll. Gambar kebanyakan diambil dari: Buddhanet, dll. Untuk tahu lebih lanjut tentang ajaran ini, silakan buka “Ringkasan Ajaran Buddha” dan juga “Terbentuknya Tipitaka dan Perpecahan Buddhisme Menjadi Banyak Aliran



Kapilavatthu
Silsilah beliau: Mahāsammata – … – Okkāka – Sīhassara – Jayasena – Sīhahanu – Suddhodana – Siddhattha Gotama [Mahavamsa, Wilhelm Geiger, hal 10-12, II.12-20].

Asal usul nama Sakya terjadi pada jaman Raja Okkāka, yang merupakan leluhur suku Sakya dan Koliya. Ia mempunyai 16.000 istri (5 diantaranya bernama: Bhattā, Cittā, Jālinī, Visākhā dan Jantū. Sementara Bhattā adalah permaisurinya). Permaisuri Bhattā melahirkan 4 anak pria (Okkāmukha, Karaṇḍu, Hatthinīya dan Sīnipura) dan 5 anak perempuan (Piyā, Suppiyā, Anandā, Vijitā and Vijitasenā). Ketika Bhattā wafat, Raja menikah lagi dan lahirlah Jantukumāra (arti: anak lelaki Jantu). Permaisuri barunya ini berkeinginan untuk memberikan tahta kerajaan kepada putranya (Jantukumara). Keinginannya dikabulkan, maka kemudian, raja mengusir 9 putra-putri lainnya, yang lebih tua dari kerajaan. Mereka yang terusir ini pergi mengembara dan tiba di lereng Himālaya di sebelah kolam teratai di mana terdapat hutan pohon sāka (pohon ek). Karena khawatir akan mencemari keturunan, anak raja Okkāka yang terusir ini, para prianya menikahi saudari-saudarinya. Suatu ketika Raja Okkāka bertanya kepada para menteri dan penasihatnya: “Di manakah para pangeran menetap sekarang?” dan mereka memberitahunya. Mendengar berita ini Raja Okkāka berseru: “Mereka kuat bagaikan kayu jati sāka, para pangeran ini, mereka adalah orang Sakya sejati!” dan demikianlah bagaimana suku Sakya memperoleh namanya [DN 3/Ambattha Sutta, juga Theragata Apadana 44].

Tempat di mana para anak raja Okkāka yang terusir ini tiba dari pengembaraan, adalah tempat pertapaan Rsi/Petapa Kapila. Sang Rsi kemudian menyarankan mereka untuk membangun kediaman di situ. Saran itu diikuti dan mereka namakan tempat itu Kapilavatthu (kediaman Kapila). [Kitab komentar: DA.i.259 f; MT.132 f; SnA.ii.353]

Para ahli jaman sekarang menduga lokasi Kapilavatthu, antara dua tempat yaitu di Tilaurakot (Nepal, ± 28 Km dari Lumbini) atau di Piprahwa (Uttar Pradesh, India, ± 14,5 Km dari Lumbini). Kedua lokasi ini terletak di kaki pegunungan Himalaya. Luas Kapilavatthu diperkirakan ± 100 mil2.

Di kisaran jaman sang Buddha Gotama, terdapat 16 Kerajaan besar (Kosala, Kāsī, Anga, Magadha, Vajji, Mallā, Cetiya, Vamsā, Kuru, Pañcāla, Macchā, Sūrasena, Assaka, Avantī, Gandhāra dan Kamboja). Kapilavatthu adalah satu dari sekian kerajaan kecil yang berada di bawah kekuasaan Kosala [MN 89, AN 126]. Sebelum lahirnya Siddhatta Gotama, raja Kosala adalah Mahakosala [Komentar Dhammapada bab 14], raja Magadha adalah Bodhisa/Bhatiya [Dipavamsa, Hermann Oldenberg, hal 133, III.51-53] dan pemimpin suku Sakya Kapilavattu adalah Suddhodana. Setelah Mahakosala wafat, Pasenadi menjadi raja Kosala, setelah Bhatiya wafat, Bimbisara menjadi raja Magadha. Pasenadi berusia sebaya Sang Buddha (MN 89), Bimbisara lebih muda 5 tahun dari sang Buddha (Mhv, II.25-30) dan mereka hidup sejaman dengan Buddha Gotama.

Kepada raja Bimbisara, Sang Buddha menyampaikan tentang asal usul dan asal daerahNya: “Raja, pada arah depan ada provinsi (ujuṃ janapado rāja) Himalaya terlihat (Himavantassa passato); dengan kekayaan dan kekuatan (Dhanaviriyena sampanno), terkait Kosala (Kosalesu niketino). Matahari nama leluhurnya (Ādiccā nāma gottena), Sakya nama sukunya (Sākiyā nāma jātiyā)” [SnP 3.1], oleh sebab itu, Sang Buddha juga disebut Adiccabandhu (kerabat/turunan Matahari) [SnP 3.6, 5.18; SN 8.1, 11; AN 8.29, dll]

Ratu Mahamaya dan Raja Suddhodana
Raja Suddhodana punya dua istri, yaitu Mahāmāyā/Māyā (MayaDewi) dan Mahapajapati/pradjapati Gotami, keduanya adalah putri Raja Anjana (Pemimpin suku Koliya, 11 mil timur Kapilavatthu) yang menikahi Yasodharā (putri dari Raja Jayasena, ayah dari Suddhodana). Mahāmāyā memiliki 3 saudara kandung yaitu: Suppabuddha [Ayah dari Devadatta dan Yasodhara], Dandapāni (Pria), dan Mahāpajāpatī Gotami. Mereka lahir di Devadaha.

Mahamaya dan Mahapajapati Gotami keduanya hamil dengan selisih beberapa hari. Ratu Maya hamil di usia 45 tahun. (Mahāvamsa ii. hal .15 – dst). Ratu Maya adalah ibu kelahiran Siddhattha Gotama.

Mahāmāyā memiliki kualitas-kualitas yang diperlukan bagi seseorang untuk menjadi ibu bagi seorang Bodhisatta (calon Buddha), antara lain: ia tidak memiliki napsu yang berlebihan, ia tidak minum minuman yang memabukkan, ia berlatih pāramitā (kesempurnaan) selama ratusan ribu kappa, dan sejak lahir tidak pernah melakukan pelanggaran panca sila (lima latihan moralitas, yaitu: Tidak membunuh, tidak mengambil yang tidak diberikan, tidak memuaskan indriya dengan cara yang salah, tidak berkata yang tidak baik dan tidak memasukan asupan yang mengakibatkan lemahnya perhatian/kesadaran).

Pada masa awal pembuahan kandungan, ia mengikuti perayaan tahunan Uttarāsālhanakkhatta. Ia melakukan puasa, dan dalam tidurnya malam itu ia bermimpi: empat raja dewa mengangkat dan membawa dirinya duduk dikursi kerajaan menuju Manosilātala, di dekat Danau Anotta di Himalaya. Di sana, ia ditempatkan di bawah naungan sebatang pohon sāla. Lalu, para istri dari keempat raja dewa itu mendekati dan memandikannya di danau tersebut. Mereka memakaikan busana surgawi, mengurapinya dengan minyak wangi, dan meriasinya dengan bunga-bunga surgawi. Mereka membiarkan dirinya tidur di dalam wisma keemasan yang terletak di sebuah gunung perak yang tidak jauh dari danau tersebut. Dalam mimpi itu, tampak olehnya seekor gajah putih yang membawa sekuntum teratai dengan belalainya yang berkilau. Gajah itu muncul dan mengelilinginya tiga kali searah jarum jam, lalu memasuki kandungannya melalui sisi kanan tubuhnya. Akhirnya, gajah itu menghilang, dan sang ratu terjaga dari tidurnya.

Ratu memberitahukan mimpi ini kepada Raja. Kemudian Raja lalu memanggil para brahmana untuk menanyakan arti mimpi tersebut. Para brahmana menerangkan bahwa Ratu akan mengandung seorang bayi laki-laki yang kelak akan menjadi seorang Cakkavatti (Raja dari semua Raja) atau seorang Buddha. Memang sejak hari itu Ratu mengandung, dan Ratu Maya dapat melihat dengan jelas bayi dalam kandungannya yang duduk dalam sikap meditasi dengan muka menghadap ke depan.

Note:
Kisah mimpi Mahamaya dan Gajah putih hanya ada dalam kitab komentar: Asvaghoha (2 M) dalam “Buddha carita”; dalam Asanga (4 M) “Uttara tantra”; Butön Rin-chen-grup (1290-1364) dalam “History of Buddhism”. Buton adalah guru Tibet seorang translator dan sejarahwan dari sekte Kagyu; Dhammapala (5 M) dalam Buddhavamsa 298. Namun demikian, kisah mimpi Mahamaya dan gajah putih tampaknya SUDAH ADA di jaman Raja Asoka, 3 SM

Lahirnya Siddhattha Gotama
Di sekitar umur kandungannya tepat sepuluh bulan, Ratu mohon perkenan dari Raja untuk dapat bersalin di rumah ibunya di Devadaha. Dalam perjalanan ke Devadaha, yaitu di bulan purnama Vaisak, tibalah rombongan Ratu di Taman Lumbini (sekarang Rumminde di Pejwar, Nepal) yang indah sekali. Di kebun itu Ratu memerintahkan rombongan berhenti untuk beristirahat. Dengan gembira Ratu berjalan-jalan di taman dan berhenti di bawah pohon Sala. Pada waktu itulah Ratu merasa perutnya agak kurang enak. Dengan cepat dayang-dayang membuat tirai di sekeliling Ratu. Ratu berpegangan pada dahan pohon Sala dan dalam sikap berdiri itulah Ratu melahirkan seorang bayi laki-laki (Jātaka i.h.49-dst). Ketika itu tepat purnama sidhi. (kelak Raja Asoka mendirikan suatu Pilar untuk memperingati hal ini).

Dalam DN 14/Mahapadana sutta, MN 123/Acchariya-abbhūta sutta dan KV 7/Lakkhanakattha, disampaikan Dhammatā (kebiasaan yang selalu terjadi) pada seorang Bodhisatta yaitu:

  1. Sang Bodhisatta mahluk alam Tusita mengetahui sepenuhnya dalam perhatian telah jatuh ke rahim ibunya (bodhisatto tusitā kāyā cavitvā sato sampajāno mātukucchiṃ okkami).’
  2. Ketika Sang Bodhisatta telah jatuh ke rahim ibunya, suatu cahaya yang tidak terukur yang melampaui para dewa muncul di dunia ini bersama dengan para dewa, Māra, dan Brahmā, dalam generasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, dengan para raja dan rakyatnya. Dan alam ruang antara yang tanpa dasar, kelam, gelap gulita, di mana bulan dan matahari, yang kuat dan perkasa, tidak dapat menjangkaunya – cahaya terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para dewa juga muncul di sana. Dan makhluk-makhluk yang terlahir kembali di sana dapat saling melihat karena cahaya itu: “Sesungguhnya, Tuan, ada makhluk-makhluk lain yang terlahir kembali di sini!” Dan sepuluh ribu sistem dunia ini bergoyang dan bergoncang dan bergetar, dan di sana juga muncul cahaya terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para dewa.
  3. Ketika Sang Bodhisatta telah ada di rahim ibunya (yadā bodhisatto mātukucchiṃ okkanto hoti), empat dewa muda datang untuk menjaganya di empat penjuru agar tidak ada manusia atau bukan-manusia atau siapapun dapat mencelakai Sang Bodhisatta atau ibunya
  4. Ketika Sang Bodhisatta telah ada di rahim ibunya, sang ibu menjadi sungguh-sungguh bermoral, menghindari: (membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, kebohongan, dan anggur, meniman keras, dan minuman memabukkan), yang menjadi landasan kelengahan
  5. Ketika Sang Bodhisatta telah ada di rahim ibunya, tidak ada pikiran indriawi yang muncul pada ibunya sehubungan dengan laki-laki, dan ia tidak tersentuh oleh laki-laki manapun yang memiliki pikiran bernafsu
  6. Ketika Sang Bodhisatta telah ada di rahim ibunya, sang ibu memperoleh kelima utas kenikmatan indria, dan memilikinya, ia menikmatinya
  7. Ketika Sang Bodhisatta telah ada di rahim ibunya, tidak ada penderitaan apapun yang muncul pada sang ibu; ia bahagia dan bebas dari kelelahan jasmani. Ia mengetahui Sang Bodhisatta di dalam rahimnya dengan seluruh bagian-bagian tubuhnya, lengkap dengan organ-organ indria. Misalkan terdapat seutas benang berwarna biru, kuning, merah, putih, atau coklat menembus mengikat sebuah permata beryl yang indah sebening air yang paling jernih, bersisi-delapan, dipotong dengan baik, dan seseorang yang berpenglihatan baik, memegangnya dengan tangannya, mengamatinya sebagai berikut: “Ini adalah permata beryl yang indah sebening air yang paling jernih, bersisi-delapan, dipotong dengan baik, jernih dan cemerlang, memiliki segala kualitas baik, dan seutas benang berwarna biru, kuning, merah, putih, atau coklat menembus mengikatnya.” Demikian pula, ketika Sang Bodhisatta telah ada di rahim ibunya … lengkap dengan organ-organ indria
  8. Ibu Sang Bodhisatta akan meninggal dunia 7 hari setelah melahirkan Sang Bodhisatta dan terlahir kembali menjadi mahluk alam Tusita
  9. Ibu seorang Bodhisatta, mengandung Beliau selama tepat 10 bulan
  10. Ibu seorang Bodhisatta, melahirkan dalam posisi berdiri.
  11. Ketika Sang Bodhisatta keluar dari rahim ibunya, pertama-tama para dewa menerimaNya, kemudian manusia
  12. Ketika Sang Bodhisatta keluar dari rahim ibunya, Beliau tidak menyentuh tanah. Empat dewa muda menerimanya dan mengangkatnya di depan sang ibu dengan mengatakan: “Bergembiralah, O Ratu, seorang putera dengan kekuasaan luar biasa telah engkau lahirkan.”
  13. Ketika Sang Bodhisatta keluar dari rahim ibunya, Beliau keluar dalam keadaan bersih, tidak berlumuran air atau cairan atau darah atau kotoran apapun juga, bersih, dan tanpa noda. Misalkan terdapat sebutir permata yang diletakkan di atas sehelai kain Kāsi, maak permata itu tidak mengotori kain atau kain mengotori permata. Mengapakah? Karena kemurnian keduanya.
  14. Ketika Sang Bodhisatta keluar dari rahim ibunya, dua pancuran air memancar dari angkasa, satu sejuk dan satu hangat, untuk memandikan Sang Bodhisatta dan ibunya
  15. Segera setelah lahir, bodhisatto samehi pādehi patiṭṭhahitvā uttarābhimukho (Sang Bodhisatta berdiri mantap di kedua kaki menghadap utara), satta­pada­vī­tihā­rena gacchati (melangkah tujuh langkah), setamhi chatte anudhāriyamāne (dengan payung putih yang bantu menahanNya), sabbā ca disā anuviloketi (menatap sekeliling penjuru), āsabhiṃ vācaṃ bhāsati (berbicara kata-kata agung): “aggohamasmi lokassa (Akulah unggulan dunia); jeṭṭhohamasmi lokassa (Akulah terbaik dunia); seṭṭhohamasmi lokassa (Akulah terkemuka dunia). ayamantimā jāti (Kelahiran terakhirKu); natthi dāni punabbhavo’ti (Kini tak ada lagi penjelmaan)”
  16. Ketika Sang Bodhisatta keluar dari rahim ibunya, suatu cahaya yang tidak terukur yang melampaui para dewa muncul di dunia ini bersama dengan para dewa, Māra, dan Brahmā, dalam generasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, dengan para raja dan rakyatnya. Dan bahkan alam ruang antara yang tanpa dasar, kelam, gelap gulita, di mana bulan dan matahari, yang kuat dan perkasa, tidak dapat menjangkaunya – cahaya terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para dewa juga muncul di sana.’ Dan makhluk-makhluk yang terlahir kembali di sana dapat saling melihat karena cahaya itu: “Sesungguhnya, Tuan, ada makhluk-makhluk lain yang terlahir kembali di sini!” Dan sepuluh ribu sistem dunia ini bergoyang dan bergoncang dan bergetar, dan di sana juga muncul cahaya terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para dewa
  17. Note:
    Lazimnya tidak mungkin bayi baru lahir dapat berjalan dan berbicara. Perkembangan kemampuan melangkah/berbicara bayi tergantung dari perkembangan otak bayi dan kondisi lain yang mendukung.

    Di Lorica, Kolombia [lihat: youtube, nairaland, kualalumpurpost, nydailynews dan dailymail], saat diwawancarai oleh sebuah station radio Ana Feria Santos menyampaikan bahwa bayinya “aneh” dan telah dapat berjalan seperti orang dewasa di usia 4 minggu. Sciencenews menjelaskan tentang “primitif reflex” yang dipunyai bayi dari sejak lahir, salah satunya adalah berjalan. Video ini memperlihatkan peragaan primitif reflek pada bayi berumur 6 hari, sang bayi berada diposisi berdiri, dipegang dan ketika menyentuh tanah, kakinya reflek melangkah. Ibu Siddhattha Gotama melahirkan dalam posisi berdiri sehingga kemungkinan setelah keluar dari rahim, Siddhattha Gotama tidak berada dalam posisi terelentang terbaring namun dalam posisi berdiri dengan kaki menyentuh tanah dan terpegang/bersandar (kaki/tubuh ibu), reflek primitifnya bekerja, membuat langkah pertama, kehilangan keseimbangan, terimbangi dengan langkah kedua, demikian hingga 7 kali pertukaran kaki dan berhenti karena kekuatan kakinya tidak cukup kuat lama dalam menopang tubuhnya lagi.

    Di Norilsk, Rusia, seorang bayi baru lahir bernama Stephan dapat bicara beberapa patah kata. Kata pertama sang bayi setelah lahir adalah “Papa”, beberapa menit kemudian mengatakan “Mama”. Keesokan harinya, ketika sang Ibu (Lisa Bazheyeva, 17 tahun) mengatakan bahwa ayahnya (Rodion Bejeev) hendak mengunjungi mereka di rumah sakit municipal, bayi itu berkata, “Siapa? Papa?. Dokter Psikologi kandungan rumah sakit pemerintah (Marina Panova) yang membantu persalinan menegaskan laporan itu. “Saya mendengar dengan telinga saya sendiri bahwa bayi yang baru lahir berbicara!”, Ia menambahkan belum pernah melihat hal semacam itu selama 23 tahun bekerja di klinik bersalin. “Bayi yang baru lahir tidak bisa mengucapkan suku kata yang rumit seperti itu”, katanya “Janin bisa belajar saat masih dalam rahim ibu. Jika ibu berbicara pada janin dan memberikan hiburan seolah-olah telah lahir, bayi biasanya lahir berbakat”. kata Panova. [Sumber: Encyclopedia of safety: “In Russia spoke just born baby”, 08.05.2009. Juga di: juniorsbook.com, davidicke, nifahamishe.com, apropo.ro dan lihat juga: Baby talk: newborns recall words heard in the womb, research shows dan Babies Learn to Recognize Words in the Womb]

Pada hari yang sama saat Siddhattha Gotama lahir, muncul pula dalam dunia ini 7 pendampingnya (satta sahajātāni):

  1. Rāhulamātā, Ibu Rahula, yaitu Yasodhara
  2. Ananda [Anak dari Amitodana, saudara termuda Raja Suddhodana], yang kelak menjadi pembantu tetap Sang Buddha selama 25 tahun dan wafat di usia 120 tahun,
  3. Channa, Kusir Pangeran Siddhattha,
  4. Kanthaka/kandaka, Kuda tunggangan Pangeran Siddhattha,
  5. Nidhikumbhi, Bejana/kendi tempat harta pusaka (atau 4 bejana: cattāro nidhī).
  6. Kaludayi, Menteri yang di utus Raja Suddhodana untuk mengundang Sang Buddha ke Kapilavatthu,
  7. Pohon Bodhi, tempat Pangeran Siddhattha mencapai penerangan agung [7 nama di atas ini ada di kitab komentar untuk: DN 14 dan Buddhavamsa (no.3, 27 dan 28)]
  8. Gajah Istana: ārohanahatthī/ārohaniyahatthī [Untuk ke-8 list nama tercantum semua sebagai pendamping, lihat di kitab komentar untuk: Apadana: Kuṇḍadhānavaggo. Namun jika nama Ananda tidak ada dan digantikan nama Gajah arohanahatthi, sebagai daftar 7 nama pendamping, tercantum di kitab komentar untuk: Apadana: Bhaddiyavaggo dan Theragāthā: Dasakanipāto]

Petapa Asita
Tidak jauh dari taman itu didalam rimba, seorang Pertapa bernama Asita (Yang Tak Melekat atau julukan lainnya: Si pertapa berambut panjang, ‘Kemegahan yang gelap’), yang mempunyai kemampuan membaca perubahan tanda-tanda alam dan dapat menuju alam para Dewa. Suatu hari pada saat istirahat siang, pertapa Asita melihat bahwa 30 dewa berkumpul. dipenuhi suka cita, Ia keheranan melihat para dewa sangat bersukacita pada hari itu dan mendapatkan konfirmasi bahwa telah lahir seorang Calon Buddha. Ia kemudian menuju Istana, memohon pada raja agar dapat melihat bayi tersebut, melihat adanya 32 tanda dari seorang Mahapurisa (Manusia Agung) pada bayi tersebut, Ia pun menjadi bersukacita dan menggendong bayi tersebut.

Setelah Petapa tersebut bergembira tidak berapa lama kemudian Ia malah menangis sehingga membuat kaget semua orang akan nasib bayi tersebut. Petapa Asita kemudian menjelaskan bahwa tangisannya karena Ia tahu umurnya sudah dekat sehingga tidak berkesempatan mendengarkan pengajaranNya kelak. [SNP 3.11/Nalaka sutta. Buddhaghosa dari abad ke 5 M: Asita mempunyai corak kulit hitam (SnA.ii.483) nama lainnya adalah Kanha Devala (SnA.ii.487) atau Kanha Siri (Sn.v.689) atau Siri Kanha (SnA.487) atau Kāla Devala (J.i.54). Petapa Asita ini kemudian terlahir di alam Arupa (Sn., pp.131-36; SnA.ii.483ff.; J.i.54f)]

Lima hari setelah lahirnya Sang bayi, Raja Suddhodana memanggil sanak keluarganya untuk berkumpul dan bersama-sama dengan 108 orang Brahmana merayakan kelahiran anak pertamanya dan juga untuk memilih nama yang baik. Nama yang dipilih adalah Siddhattha yang berarti “Tercapailah segala cita-citanya”. Diantara para Brahmana terdapat 8 orang Brahmana yang mahir dalam meramal nasib, yaitu: Rama, Dhaja, Lakkhana, Manti, Kondañña, Bhoja, Suyama dan Sudatta. Para 7 peramal meramalkan bahwa Sang bayi kelak akan menjadi Cakkavati (Raja dari semua Raja) atau akan menjadi Buddha. Hanya Kondañña (Brahmana yang termuda) sajalah yang mengatakan dengan pasti bahwa Sang bayi kelak akan menjadi Buddha. Raja Suddhodana, menjadi khawatir karena Pertapa Asita (Kaladeva) juga telah meramalkan bahwa jika pangeran sudah melihat orang tua, orang sakit, orang meninggal, dan seorang Brahmana/Pertapa, maka pangeran akan meninggalkan istana untuk menjadi Pertapa, bukan menjadi seorang Raja.

Tujuh hari setelah Pangeran Siddhattha dilahirkan, Ratu Mahamaya wafat dan terlahir kembali di surga Tusita sebagai putra dewa dengan nama Mayadevaputta (Kitab Komentar Theragāthā i.502) atau Santusita. Adik Ratu Mahamaya yaitu Mahapajapati Gotami yang juga merupakan isteri Raja Suddhodana menggantikan posisi Ratu Mahamaya sebagai ratu sekaligus ibu bagi si pangeran kecil.

Dari Mahapajapati Gotami, Raja Suddhodana mempunyai lagi seorang putra bernama Nanda (lahir 2 hari setelah kelahiran Pangeran Siddhattha) dan kemudian seorang putri bernama Nanda [Sundari Nanda]. Setelah Mahamaya wafat, Mahapajapati Gotami lah yang merawat Pangeran Siddhattha.

Mahapajapati Gotami Mengurus Pangeran Siddhattha dan Pangeran Bersekolah
Adik Ratu Mahamaya, Mahapajapati Gotami mengurus pangeran yang masih bayi dengan cinta kasih seperti mengurus anaknya sendiri. Saat usianya telah lewat 8 tahun, Raja Suddhodana mengangkat Visvamitra sebagai guru pangeran.

Pangeran Siddhattha merupakan murid yang terpandai di kelasnya dan yang terbaik dalam segala permainan. Ia sangat cepat memahami segala sesuatunya dan melebihi dari apa yang diajarkan tanpa melihat buku sehingga Gurunya heran kemudian bersujud dihadapan muridnya dan berkata: “Bukan aku, hanya Kaulah yang menjadi Guru, terimalah hormatku”. Dari gurunya, Pangeran Siddhattha belajar berbagai ilmu pengetahuan, ilmu taktik perang, sejarah dan Pancavidya, yaitu: sabda (bahasa dan sastra); Silpakarmasthana (ilmu dan matematika); Cikitsa (ramuan obat-obatan); Hatri (logika); Adhyatma (filsafat agama) dan Tevijja [3 Veda: Irubbeda/Iruveda=Rg; yaju & sāma (Miln 178; DA i.247; SnA 447)].

Note:
Kisah di atas ini berasal dari “The Light of Asia“-nya Sir Edwin Arnold, hal. 18-23. Menurut Milanda Panha 5.5.11/Ācariyānācariyapañha, nama gurunya: Sabbamitta, keluarga Brahmana dari Udicca. Ia adalah guru ke-2 Pangeran Siddhattha, seorang yang ahli bahasa, grammar dan fasih 6 Vedaṅga. Di Mitologi Hinduism: Rama, avatar Wisnu, gurunya bernama: Visvamitra

Pangeran Siddhattha Melindungi Seekor Ular
Siddhattha bisa saja memilih hidup seenaknya tanpa mempedulikan banyak hal, namun tidak dilakukannya. Ia dikenal simpatik dan simpati pada para mahluk, misalnya di suatu hari pangeran Siddhattha melihat seorang anak kota memukul seekor ular dengan kayu. Pangeran Siddhattha segera menghentikannya, dan memberitahu kepadanya agar tidak melukai ular itu.

Note:
Dalam TIPITKA pali, yaitu Udana 2.3/Daṇḍa sutta, kisah tercatat setelah beliau menjadi Buddha:

..Sang Bhagava sedang menuju Savatthi untuk mengumpulkan makanan, Pada saat itu, di daerah antara Savatthi dan hutan Jeta, beliau melihat sejumlah anak laki-laki sedang memukuli seekor ular dengan tongkat, Sang Bhagava kemudian menyampaikan kotbah ini: “Siapa yang menyakiti mahluk hidup dengan tongkat untuk memperoleh kebahagiaan, walaupun dia sendiri mencari kebahagiaan, dia tidak mendapatkannya sesudah kematian. Siapa yang tidak melukai mahluk hidup dengan tongkat untuk memperoleh kebahagiaan, sementara dia sendiri mencari kebahagiaan, dia mendapatkannya sesudah kematian

Menyelamatkan Angsa Yang Dipanah Oleh Devadatta
Suatu hari, pangeran Siddhattha sedang bermain dengan teman-temannya di taman istana. Salah satu dari mereka adalah sepupunya, Pangeran Devadatta. Pangeran Siddhattha adalah seorang yang lembut dan baik, sedangkan pangeran Devadatta adalah seorang yang kejam dan suka membunuh makhluk lain. Ketika mereka sedang bermain, pangeran Devadatta membidik seekor angsa dengan panahnya. Angsa itu terluka parah. namun Pangeran Siddhattha berhasil terlebih dulu mengambil angsa itu dan dengan lembut Ia menarik anak panah yang menusuk angsa tersebut serta memberikan obat pada lukanya.

Pangeran Devadatta yang baru saja tiba menuntut agar unggas itu diserahkan kepadanya, namun Pangeran Siddhattha menolaknya. Akhirnya terjadilah perselisihan dan saling debat. Pangeran Devadatta bersikukuh bahwa angsa itu adalah miliknya karena ia yang memanahnya. Sedangkan Pangeran Siddhattha mengatakan bahwa Ia yang berhak atas angsa itu karena Ia telah menyelamatkan hidupnya, sedangkan si pemanah tidak berhak akan angsa yang masih hidup tersebut.

Akhirnya Pangeran Siddhattha mengusulkan agar permasalahan ini dibawa ke makamah para bijak untuk memperoleh jawaban atas siapa yang berhak atas angsa tersebut. Setelah diajukan ke makamah para bijak, akhirnya salah satu dari para bijak tersebut berseru, “Semua makhluk patut menjadi milik mereka yang menyelamatkan atau menjaga hidup. Kehidupan tak pantas dimiliki oleh orang yang berusaha menghancurkannya. Angsa yang terluka ini masih hidup dan diselamatkan oleh Pangeran Siddhattha. Karenanya, angsa ini mesti dimiliki oleh penyelamatnya, yaitu Pangeran Siddhattha!”

Note:
Kisah ini TIDAK ADA dalam Tipitaka Pali dan juga di komentar untuk Jataka. Kisah ini berasal dari “Abhiniṣkramaṇa Sūtra”, Bab.12, aliran Mahayana, TIDAK ADA teks Sanskritnya (abad ke-1 SM – 1 M) dan konon sudah merupakan atau telah diterjemahkan ke bahasa China di abad ke-6 Masehi. Kisah ini juga ada di “The Light of Asia“-nya Sir Edwin Arnold, hal. 25. Ada juga yang mengklaim bahwa kisah ini ada di Jataka-Mala (Sanksrit, Mahayana), namun TIDAK ditulis detail refensi no. kisahnya

Perayaan Membajak
Suatu hari ayahnya mengajaknya ke perayaan membajak sawah tahunan. Sang raja memulai upacara dengan menunggang sepasang kerbau yang telah dihias indah. Pangeran Siddhattha duduk di bawah pohon jambu dan mengamati semua orang. Pangeran Siddhattha memperhatikan ketika orang-orang sedang senang, sepasang kerbau itu harus bekerja keras dan membajak sawah. Kerbau-kerbau itu tidak tampak senang sama sekali.

Note:
Tentang Festival membajak dan duduk di pohon jambu, ada dalam komentar untuk Jataka no.547

Melihat Kehidupan Yang Alami
Pangeran Siddhattha mengamati makhluk lain disekitarnya. Ada seekor kadal sedang memakan semut-semut. Tetapi ular segera datang, menangkap kadal, dan memakannya. Kemudian, tiba-tiba seekor burung datang dari langit dan memangsa ular itu. Ia sadar bahwa semua makhluk ini senang sebentar, tetapi berakhir menderita. Meskipun hidup menyenangkan, tetap Ia merasakan sejumlah penderitaan. Ia merenungi apa yang dilihatnya. Meskipun Ia bahagia, ada sejumlah penderitaan dalam hidup. Sehingga hatinya merasa begitu bersimpati terhadap semua makhluk.

Note:
Kisah ini TIDAK ADA dalam Sutta, Vinaya dan di kitab-kitab komentar Buddhis klasik KECUALI dari buku ke-1, “The Light of Asia“-nya Sir Edwin Arnold, hal. 28

Pangeran Siddhattha Kecil Bermeditasi
Ketika sang raja dan para pembantunya menyadari sang pangeran tidak ada di antara kerumunan, Para pelayan pergi mencarinya. Mereka terkejut menemukan sang pangeran duduk dengan kaki bersila, dalam meditasi yang dalam. Dengan cepat mereka melaporkan peristiwa tersebut kepada Raja. Raja dengan diiringi para petani berbondong-bondong datang untuk menyaksikan peristiwa ganjil tersebut.

Benar saja mereka menemukan Pangeran kecil sedang bermeditasi dengan kaki bersila dan tidak menghiraukan kehadiran orang-orang yang sedang memperhatikannya. Karena Pangeran saat itu telah mencapai Jhana ke-1 (kebahagiaan dan kegembiraan yang muncul dari keterasingan setelah menghancurkan 5 rintangan). [MN 36], Ia sama sekali tidak terganggu oleh suara-suara yang berisik. Bayangan pohon jambu tidak mengikuti jalannya matahari tetapi tetap memayungi Pangeran kecil yang sedang bermeditasi. Melihat keadaan yang ganjil ini untuk kedua kalinya Raja Suddhodana memberi hormat kepada anaknya.

    Note:
    Untuk bayangan pohon jambu yang tidak bergerak, kisah ini HANYA ada di komentar untuk Jataka no.547 dan Madhyamagama no.32 (teks China), sedangkan dalam kanon teks pali, TIDAK ADA

Kolam-Kolam Teratai Dalam Istana
Raja Suddhodana yang tidak ingin anaknya berpikir hal-hal mendalam mengenai kehidupan terutama karena ingat bahwa anaknya diprediksikan akan meninggalkan istana untuk menjadi seorang bhikkhu, Untuk itu, Ia dibesarkan dalam kelembutan dan kesenangan. Sang raja memerintahkan agar di dalam istana, dibangun 3 kolam yang sangat indah, yang pada masing-masing kolam berisi bunga teratai (lotus) berwarna biru (Upala), merah (Paduma), dan putih (Pundarika). Sang Pangeran juga tidak menggunakan cendana jika bukan yang berasal dari Kāsi dan penutup kepala, jubah luar, jubah bawah, dan jubah atas yang terbuat dari kain yang berasal dari Kāsi. Siang dan malam sebuah kanopi putih selalu memayunginya agar dingin dan panas, debu, rumput, dan embun tidak mengenaiNya [MN 75, AN 3.39].

3 Istana Untuk 3 Musim
Raja Suddhodana juga membangun 3 istana: satu untuk musim dingin, satu untuk musim panas, dan satu untuk musim hujan. Ia melewatkan 4 bulan musim hujan di istana musim hujan, dengan dihibur oleh para musisi, tidak ada di antaranya yang laki-laki, dan Ia tidak meninggalkan istana. Sementara budak-budak, pekerja-pekerja, dan pelayan-pelayan di rumah-rumah orang lain diberikan nasi basi dengan bubur asam sebagai makanan, namun di kediaman Istana buatan ayahnya itu, mereka diberi beras gunung pilihan, daging pilihan, dan nasi [MN 75, AN 3.39].

Hanya orang-orang yang sehat dan muda saja yang diizinkan masuk ke dalam istana dan taman istana agar pangeran benar-benar teralih perhatiannya, tenggelam dalam kesenangan Indriya.

Perkawinan Pangeran Siddhattha dan Putri Yasodharā
Ketika Pangeran Siddhattha berusia 16 Tahun, Raja Suddhodana kemudian mengatur pernikahannya dengan sepupunya yang cantik menawan, yaitu Putri Yasodhara yang juga berusia 16 tahun.

Perlombaan: Memanah, Pedang dan Berkuda
Kisah mendapatkan Putri Yasodhara adalah melalui sebuah sayembara yang ketat, berikut ini kisah menurut versi Light of Asia, Sir Edwin Arnold, hal 48-57:

    Ayah Yasodhara (Suppabuddha, Raja Koliya) kemudian mengadakan kompetisi untuk mendapatkan Putrinya. Para pesertanya, diantaranya adalah Devadatta ahli memanah, Arjuna ahli menunggang kuda dan Nanda ahli bermain pedang. Pada pertandingan panah, karena kuatnya tarikan lengan Siddhattha, maka beberapa kali busurnya patah, sehingga ia kemudian mengambil busur yang tersimpan lama di suatu Biara. Busur itu terbuat dari baja hitam berbalut emas bernama “Sinhahanu”, busur itu sangat berat dan harus digotong 4 orang. Devadatta mencoba menarik busur itu namun tidak berhasil merentangkannya. Dengan Busur itu, ia kemudian memanah tambur yang lebih jauh dari Devadatta dan kemudian panah tersebut masuk kedalam suatu sumur.

    Pada pertandingan berikutnya, pedang Siddhattha mampu menebas pohon yang tebalnya 2 kali 9 Jari, karena kuat dan cepatnya tebasan tersebut, pohon itu tidak segera tumbang, setelah angin meniupnya baru pohon Itu tumbang.

    Sayembara terakhir adalah menunggang kuda, Siddhattha menunggangi Kanthaka dan menang, namun Nanda protes dan meminta untuk dicarikan kuda lainnya seperti kanthaka. Didapatlah seekor kuda berbulu hitam yang terikat 3 rantai besi. Devaddata, Arjuna dan Nanda berusaha menungganginya namun jatuh. Siddhattha juga ikut menjinakkan kuda liar tersebut, Ia lakukan tidak dengan memukulnya, namun berbicara dengannya dan membelainya lembut baru kemudian menungganginya. Akhirnya, pangeran Siddhattha keluar sebagai pemenang dan berhak mempersunting Putri Yasodhara.

Namun jika menurut versi kisah buatan abad ke-12 M, TIDAK ADA SAYEMBARA, melainkan hanya sebuah pertunjukan tunggal memanah:

    Setelah Raja Suddhodana, membangun 3 istana untuk anaknya, Ia hendak menjadikan pangeran yang berumur 16 tahun ini menjadi raja. Untuk itu, Ia memerintahkan mengirimkan pesan kepada 80.000 sanak saudaranya untuk mengirimkan putri-putri mereka namun mereka menolaknya karena menganggap Pangeran Siddharttha kurang trampil. Mendapatkan jawaban ini, Sang Raja menyampaikan pada pangeran dan pangeran berkata untuk menyampaikan pengumuman ke seluruh kerajaan bahwa 7 hari kemudian Ia akan mengadakan pertunjukan memanah.

    Pada hari ke-7, dihadapan seluruh 80.000 pangeran Sakya, Sang Pangeran memperlihatkan kepiawaiannya dalam memanah dengan menggunakan busur yang memerlukan 1000 orang untuk menariknya (sahassathamadhanu), yang ketika dipetiknya, suara getaran tali busur tersebut begitu kerasnya seolah petir menggelegar hingga terdengar di seluruh Kapilavatthu, Kemudian Pangeran mempertunjukan banyak teknik memanah, yaitu sarapatibahana (menghentikan dan menangkis serbuan ribuan anak panah dari 4 pejuru, di mana 4 guru panahnya masing-masing menembakan 30.000 anak panah ke arahnya dan Ia tangkis itu hanya dengan 1 anak panah), cakkavedhi (1 anak panah menembus semua target dalam bentuk melingkar, berupa 4 pohon pisang pengganti 4 guru di 4 sudut tadi), Saralatthi (menembakkan rangkaian anak panah tanpa henti hingga membentuk tanaman menjalar), Sararajju (membentuk sekumpulan kawat), Sarapàsàda (membentuk bertingkat-tingkat), Sarasopàna (membentuk tangga dengan atap bertingkat), Saramandapa (membentuk sebuah rumah), Sarapàkàra (membentuk tembok melingkar), Sarapokkharani (membentuk danau persegi empat), Sarapaduma (membentuk tanaman teratai berbunga banyak), Saravedhi (anak panah pertama tertembak oleh anak panah kedua dan seterusnya), Saravassa (seolah-olah hujan anak panah), Akkhanavedhi (menembak berondongan anak panah secepat kilat dan mengenai semua sasaran), Vàlavedhi (membelah menjadi dua sebuah sasaran sehalus bulu), Saddavedhi (menembak hanya dengan mendengarkan suara, tanpa melihat), kemudian dilanjutkan dengan kekuatan memanah menembusi benda tebal berupa 100 kumpulan kulit sapi, 100 kumpulan papan tebal 8 jari, kumpulan tembaga, besi setebal 2 jari, 8 kereta penuh pasir, dll

    Setelah Pangeran memperlihatkan keahliannya dalam memanah, mereka menghujaninya dengan puji-pujian, 40.000 putri-putri mereka yang cantik-cantik kemudian dipasangkan untuk hidup bersamanya dan yang terkemuka diantara mereka adalah Yasodharà atau juga disebut Bhaddakaccànà [RAPB buku ke-1, hal. 497-512, kisahnya diambil dari sub komentar Jinalankara, abad ke-12 M]

4 Devaduta atau 4 Tanda
Demikianlah pangeran Siddhatta kemudian hidup dalam kemewahan, kemuliaan dan para wanita cantik, meskipun ayahnya telah berupaya keras secara demikian, namun pangeran lambat launpun merasa bosan dan jemu, di usianya yang ke-28, Ia berupaya memohon ijin untuk dapat pesiar keluar dan akhirnya Rajapun mengizinkannya dan dalam perjalanannya tersebut, beliau bertemu 4 tanda (4 devadūta/4 utusan surga).

Ke-4 tanda/devaduta ini TIDAK MUNCUL SEKALIGUS dalam 1 perjalanan saja namun dari 4 perjalanan setelah JEDA WAKTU tertentu setelah perjalanan sebelumnya. Di RAPB buku ke- 1, hal.517-521. Lamanya jeda waktu dari 1 kunjungan ke kunjungan berikutnya adalah 4 bulan. Proses 4 tanda ini TERJADI JUGA PADA SELURUH CALON BUDDHA MASA LAMPAU. Menurut kitab komentar untuk DN 14, Para Brahmà Arahanta dari Alam Sudhàvàsa, dengannya, menciptakan orang tua (juga untuk orang sakit,orang mati dan petapa) di depan kereta, yang hanya terlihat oleh Pangeran dan kusirnya. Para Brahmà Arahanta dari Alam Suddhàvàsa, mempertimbangkan, “Sang Bodhisatta Pangeran sekarang telah terperosok ke dalam lumpur lima kenikmatan indria bagaikan sapi yang berkubang di rawa-rawa. Kita harus membantunya untuk mengembalikan perhatiannya,” dan memperlihatkan bentuk orang tua, sakit, mati dan petapa [RAPB buku ke-1, hal 517-521]

Paragraph tentang pertemuan dengan 4 tanda di bawah ini, diambil dari DN 14/Mahapadana sutta (kisah Pangeran Vipassi yang kelak menjadi Buddha Vipassi).

Devadutta/Tanda: Lanjut Usia
Di bulan Asalha tahun itu, Pangeran kemudian pergi bersama kusirnya, Channa dan ketika sedang berada dalam perjalanan, Pangeran Siddhattha melihat seorang tua, bungkuk bagaikan balok atap, usang, bersandar pada sebatang tongkat, berjalan terhuyung-huyung, sakit, seluruh kemudaannya lenyap. Melihat pemandangan itu, Ia berkata kepada sang kusir: “Kusir, ada apa dengan orang itu? Rambutnya tidak seperti rambut orang lain, badannya tidak seperti badan orang lain.”
“Pangeran, itu adalah apa yang disebut sebagai orang tua.”
“Tetapi mengapa ia disebut orang tua?”
“Ia disebut tua, Pangeran, karena ia hidup dalam waktu yang tidak lama lagi.”
“Tetapi apakah Aku akan menjadi tua, dan tidak terbebas dari usia tua?” “Engkau dan aku, Pangeran, pasti menjadi tua, dan tidak terbebas dari usia tua.”

Kemudian sang Pangeran menyuruh kusirnya untuk kembali ke Istana. Sesampainya di istana, Pangeran merasa sedih dan patah hati, ia meratap: “Sungguh menyakitkan kelahiran ini, karena bagi mereka yang dilahirkan, penuaan pasti terjadi!

‘Kemudian Raja memanggil sang kusir menanyakan apakah pangeran bersenang-senang dalam kunjunganya, apa saja yang dilihatnya dan sang kusir menceritakan semua yang terjadi.

Raja berpikir: “Pangeran tidak boleh meninggalkan takhta, Ia tidak boleh meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah—kata-kata para Brahmana yang terpelajar dalam tanda-tanda tidak boleh terjadi!” Maka Raja memberikan lebih banyak lagi 5 kenikmatan-indria kepada Pangeran. Demikianlah Pangeran melanjutkan kehidupannya dalam kenikmatan duniawi, dan tenggelam dalam 5 kenikmatan-indria.

Devaduta/Tanda: Penyakit
Setelah sekian lama waktu berlalu, Iapun bosan dan jemu akan kenikmatan indriya yang diberikan padanya dan Ia pun akhirnya mampu mengatasi ketakutannya akan penuaan:

    .. Aku berpikir:
    ‘Seorang kaum duniawi yang tidak terpelajar, walaupun dirinya tunduk pada penuaan, tidak terbebas dari penuaan, merasa muak, malu, dan jijik ketika ia melihat orang lain yang tua, dengan mengabaikan keadaannya sendiri. Sekarang, Aku juga tunduk pada penuaan dan tidak terbebas dari penuaan. Karena itu, jika Aku merasa muak, malu, dan jijik ketika melihat orang lain yang tua, maka itu tidaklah selayaknya bagiKu.’

    Ketika Aku merefleksikan demikian, maka kemabukanKu akan kemudaan sepenuhnya ditinggalkan [AN 3.39/Sukhumālasutta]

Iapun memutuskan untuk kembali melancong keluar, yaitu di bulan Kattika dan ketika sedang berada dalam perjalanan melancong, Pangeran melihat seorang sakit, menderita, sangat sakit, terjatuh di atas air kencing dan kotorannya sendiri, dan beberapa orang mengangkatnya, dan yang lain meletakkannya ke tempat tidur. Melihat pemandangan itu Ia berkata kepada kusirNya: “Ada apa dengan orang itu? Matanya tidak seperti mata orang lain, kepalanya tidak seperti kepala orang lain.”
‘“Pangeran, itu adalah apa yang disebut orang sakit.”
“Tetapi mengapa ia disebut orang sakit?”
‘“Pangeran, ia disebut demikian karena ia hampir tidak dapat sembuh dari penyakitnya.”
“Tetapi apakah Aku bisa sakit, dan tidak terbebas dari penyakit?”
“Engkau dan aku, Pangeran, bisa sakit, dan tidak terbebas dari penyakit.”

Kemudian sang Pangeran menyuruh kusirnya untuk kembali ke Istana. Sesampainya di istana, Pangeran merasa sedih dan patah hati, ia meratap: “Sungguh menyakitkan kelahiran ini, karena bagi mereka yang dilahirkan, pasti mengalami penyakit!

Kemudian Raja memanggil sang kusir, yang menceritakan apa yang terjadi dan Raja memberikan lebih banyak lagi lima kenikmatan-indria kepada Pangeran, agar Ia kelak memerintah kerajaan dan tidak meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah … Demikianlah Pangeran melanjutkan kehidupannya dalam kenikmatan duniawi, dan tenggelam dalam 5 kenikmatan-indria.

Devaduta/Tanda: Kematian
Setelah sekian lama waktu berlalu, Iapun bosan dan jemu akan kenikmatan indriya yang diberikan padanya dan Ia pun akhirnya mampu mengatasi ketakutannya akan penyakit:

    .. Aku berpikir:
    ‘Seorang kaum duniawi yang tidak terpelajar, walaupun dirinya tunduk pada penyakit, tidak terbebas dari penyakit, merasa muak, malu, dan jijik ketika ia melihat orang lain yang sakit, dengan mengabaikan keadaannya sendiri. Sekarang, Aku juga tunduk pada penyakit dan tidak terbebas dari penyakit. Karena itu, jika Aku merasa muak, malu, dan jijik ketika melihat orang lain yang sakit, maka itu tidaklah selayaknya bagiKu.’

    Ketika Aku merefleksikan demikian, maka kemabukanKu akan kesehatan sepenuhnya ditinggalkan [AN 3.39/Sukhumālasutta]

Iapun memutuskan untuk kembali melancong keluar, yaitu di bulan Phagguna itu dan ketika sedang berada dalam perjalanan melancong, Pangeran melihat kerumunan besar, berpakaian berwarna-warni, dan membawa tandu jenazah. Melihat pemandangan itu ia berkata kepada kusirnya: “Apa yang dilakukan orang-orang itu?”
“Pangeran, itu adalah apa yang disebut orang mati.”
“Bawa Aku ke tempat orang mati tersebut.”
“Baik, Pangeran”, jawab sang kusir dan melakukan apa yang diperintahkan.
Dan Pangeran menatap mayat orang mati tersebut. Kemudian Ia berkata kepada sang kusir: “Mengapa ia disebut orang mati?”
“Pangeran, ia disebut orang mati karena sekarang orangtuanya dan sanak saudaranya tidak akan melihatnya lagi, dan sebaliknya.”
“Tetapi, apakah Aku akan mengalami kematian, tidak terbebas dari kematian?”
“Engkau dan aku, Pangeran, pasti mengalami kematian, tidak terbebas darinya.”

Kemudian sang Pangeran menyuruh kusirnya untuk kembali ke Istana. Sesampainya di istana, Pangeran merasa sedih dan patah hati, ia meratap: “Sungguh menyakitkan kelahiran ini, karena bagi mereka yang dilahirkan, pasti mengalami kematian!

Kemudian Raja memanggil sang kusir, yang menceritakan apa yang terjadi dan Raja memberikan lebih banyak lagi lima kenikmatan-indria kepada Pangeran, agar Ia kelak memerintah kerajaan dan tidak meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah … Demikianlah Pangeran melanjutkan kehidupannya dalam kenikmatan duniawi, dan tenggelam dalam 5 kenikmatan-indria.

Devaduta/Tanda: Pertapa
Setelah sekian lama waktu berlalu, Iapun bosan dan jemu akan kenikmatan indriya yang diberikan padanya dan Ia pun akhirnya mampu mengatasi ketakutannya akan kematian:

    .. Aku berpikir:
    ‘Seorang kaum duniawi yang tidak terpelajar, walaupun dirinya tunduk pada kematian, tidak terbebas dari kematian, merasa muak, malu, dan jijik ketika ia melihat orang lain yang mati, dengan mengabaikan keadaannya sendiri. Sekarang, Aku juga tunduk pada kematian dan tidak terbebas dari kematian. Karena itu, jika Aku merasa muak, malu, dan jijik ketika melihat orang lain yang mati, maka itu tidaklah selayaknya bagiKu.’

    Ketika Aku merefleksikan demikian, maka kemabukanKu akan kehidupan sepenuhnya ditinggalkan [AN 3.39/Sukhumālasutta]

Iapun memutuskan untuk kembali melancong keluar, yaitu di bulan Asalha dan ketika sedang berada dalam perjalanan melancong, Pangeran melihat seorang rambut dan janggutnya dicukur dan mengenakan jubah kuning. Dan Ia berkata kepada kusirnya: “Ada apa dengan orang itu? Kepalanya tidak seperti kepala orang lain, dan pakaiannya tidak seperti pakaian orang lain.”
“Pangeran, ia disebut seorang yang telah meninggalkan keduniawian.”
“Mengapa ia disebut seorang yang telah meninggalkan keduniawian?”
“Pangeran, yang dimaksud dengan seorang yang telah meninggalkan keduniawian adalah seorang yang sungguh-sungguh mengikuti Dhamma, yang sungguh-sungguh hidup dalam ketenangan, melakukan perbuatan baik, melakukan kebajikan, tidak melukai dan sungguh-sungguh berbelas kasih terhadap makhluk-makhluk hidup.”
“Kusir, ia tepat sekali disebut sebagai seorang yang telah meninggalkan keduniawian … bawa Aku kepadanya.”
“Baik, Pangeran”, jawab si kusir dan melakukan apa yang diperintahkan. Dan Pangeran menanyai orang yang telah meninggalkan keduniawian tersebut.
“Pangeran, sebagai seorang yang telah meninggalkan keduniawian aku sungguh-sungguh mengikuti Dhamma … dan berbelas kasih terhadap makhluk-makhluk hidup.”
“Engkau memang tepat sekali disebut sebagai seorang yang telah meninggalkan keduniawian …” [DN 14]

Pangeran melihat petapa itu terlihat sangat damai, Ia kagum dan terinspirasi untuk mencari kebebasan dengan cara yang sama hari itu juga. Namun, kemudian datanglah kurir Istana memberitahunya bahwa Putri Yasodhara telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat. (saat itu usia pangeran Siddhattha adalah 29 tahun). Mendengar ini, Pangeran berkata, “rāhu jāto, bandhanaṃ jāta” (“belenggu terlahir, ikatan terlahir“). Karena ucapan ini, Raja menamakan cucunya dengan nama “Rahula”. [RAPB buku ke-1, hal.524-525]

    Varisi kapan Rahula lahir:

    • Pāli Jātaka, I, p. 62 dan Buddhacarita, II, 46: Rahula berusia 7 hari saat Sidharta meninggalkan rumah [Apadana Atthakata, Ganthārambhakathā: “tadā sattāhajāto rāhulakumāro hotī” (saat rahula kecil ini 7 hari lahir)]
    • Xuanben dalam syair di gunung Wutai (abad ke-9 M): Rahula 12 tahun dalam kandungan Yasodara.
    • Mahavastu (mulai abad ke-2 M, diyakini dibuat oleh Candrakirti, murid Nagarjuna), pecahan aliran Mahāsāṃghika, yaitu Lokottaravāda, kelompok aliran Mahayana, di Jataka surya dan Chandra: Rahula 6 tahun dalam kandungan Yasodara. Kisah ini di muat dalam “Lo heou lo mou pen cheng king” (Rāhulamātṛjātaka)
    • Aliran Kāśyapīya, pecahan aliran Sarvastivada, misalnya di T 190, k. 55, p. 908c3, 909c24: Rāhula berusia 2 tahun saat ayahnya meninggalkan rumah

Dalam perjalanan pulang, Pangeran melewati tempat kediaman para Bangsawan, Siddhattha bertemu dengan Kisa (Krsa) Gotami, ponakan sang Raja, yang karena kagumnya melihat Siddhattha, kemudian mengucapkan syair:

Nibbutā nūna sā mātā, nibbuto nūna so pitā; Nibbutā nūna sā nārī, yassāyaṃ īdiso patī’’ti” (“Tenanglah ibunya, Tenanglah ayahnya, Tenanglah istrinya yang bersuami sepertinya“) – [Budhavamsa 27, Jataka I-2]

Pangeran tergetar mendengar kata “Nibbuta” (yang selain berarti “tenang” juga berarti “padam”), karena kata yang menggetarkan ini, sebagai rasa terima kasih, Pangeran menghadiahi KisaGotami kalung seharga seratus ribu keping emas yang sedang dipakainya. Atas pemberian kalung itu, rupanya KisaGotami berprasangka bahwa pikiran sepupunya sedang tertuju padanya. [RAPB buku ke-1, hal.527]

    Berapa jumlah istri Siddhattha Gotama?
    Hanyalah 1, yaitu: Yasodharā (Yaso = Mulia/banyak pengikut/bereputasi baik, Dharā = Penolong/Pembawa, lihat di: KN, TheriApadana, Yaso­dharā­therī­apadāna; Divyavadana 18 dharmarucyavadānam, abad ke-2 M; Buddhacarita, karya Aśvaghoṣa, abad ke-2 M, 2.26-27; Buddhavamsa Atthakata (BuA), karya Buddhadatta, abad ke-5 M; Jinacaritaṁ, karya Ven. Medhaṅkara Thera abad ke-11/14 M, Bab.3.26 dan Mahavastu). Ia disebut juga Rāhulamātā (Vin.I.82, MahaKhandhaka dan Mahavastu, translasi dari: J.J.JONES, Vol.1, Hal.101). Arti Rāhulamātā adalah “Ibunya Rahula“.

    Selain nama Yasodhara atau Rāhulamātā, nama lain yang merujuk pada orang yang sama adalah:

    • Theri Bimbādevī (Bimba = bentuk/tubuh, Nama ini baru ada setelah Yasodhara menjadi Biksuni, lihat di: Jataka no.281/ABBHANTARA, Jataka no.292/SUPATTA; DA.ii.422) atau Bimbāsundarī (Bimba yang cantik, Jataka no.485/Canda-Kinnara, J.vi.478), atau
    • Bhaddakaccā (KN, BuddhaVamsa, terjemahan Rev.Richard Morris, 26.15, hal.65) atau Bhaddakaccānā/Subhaddakā (Su = Baik, Bhadda = keberuntungan, Kaccāna = Keemasan atau bisa juga berarti keturunan dari kati, AN I.235-247 atau di Mahavamsa.ii.24, karya Mahanama MahaThera, Paman raja Dhatusena (460-478), Dighasanda Senapathi Pirivena, dari Vihara Mahavihara, Anuradhapura, Srilanka), atau
    • Gopā (“The Life of Buddha“, A. Ferdinand Herold, bab 10 dan 16 yang banyak mengambil bahan dari Lalitavistara. Juga “Gotama Buddha: Lord of Wisdom”, Rohini Chowdhury, hal.38. Di Arya Lalitavistara: Gopā dulunya Devi bernama Yasovatī, kemudian bersamaan dengan lahirnya Bodhisatta, Ia pun terlahir kembali sebagai Gopa dan menjadi istri Bodhisatta setelah menang sayembara. Saat Bodhisatta meninggalkan Istana, tertulis: Yasovati dan para pelayan tertidur dan setelah Bodhisatta meninggalkan istana, tertulis: Gopa dan para pelayan terbangun. Hal ini menunjukan bahwa nama lain Gopa adalah Yasovati). Juga dalam karangan Nagarjuna dalam Maha-prajnaparamita-sastra, abad ke-2 masehi

    Dalam “Suramgamasamadhisutra”, Etienne Lamotte, hal.154-155, menyampaikan nama calon istri Siddhattha Gotama, saat sayembara adalah:

    • Yasodhara (Fang kuang ta chuang yen ching, T 187, ch.4, p.561c; Yin kuo ching, T 189, ch.2, p.629b; Fo pen hsing chi ching, T 190, ch.13, p.712c; Ching hsu mo ho ti ching, T 191, ch.4, p. 942c; Buddhacarita II, v.26; Mahavastu II, p.48 sq.)
    • Gopa/Gopi (Hsiu hsing pen ch’i ching, T 184, ch.l, p.465&; T’ai tzu jui ying pen ch’i ching, T 185, ch.l, p.475a; P’u yao ching, T 186, ch.3, p.500c; I ch’u p’u sa pen ch’i ching, T 188, p.619a; Lalitavistara, p. 142 sq)

    Pendapat Lamotte adalah mengutip Upadesanya Nagarjuna dari aliran Mahayana (Nagarjuna, Traite 11, pp. 1002-4), bahwa di Rahulamatrjataka dikatakan Bodhisattva Sakyamuni punya 2 Istri: Gopa/Gopiya dan Yasodhara Rahulamata. Gopa tidak mempunyai anak.

    Masalahnya,
    tidak ada rujukan lainnya yang menyebutkan adanya sayembara lain atau ada dua wanita berbeda yang diboyong dalam sayembara tersebut. Disamping itu, rujukan di aliran Mahayana sendiri jelas menyatakan bahwa kedua nama itu sama-sama juga disebut Rāhulamātā, maka ini jelas merujuk pada 1 orang yang sama tapi beda nama

    Lamotte juga menyampaikan bahwa di Vinaya Mulasarvastivada dikatakan Bodhisatta beristri 3 orang dan masing-masing ditemani 20,000 pelayan: Yaśodharā, Gopā dan Mṛgajā (Ken pen shuo…p’i nai yeh, T 1442, ch.l 8, p.720c 12-13; P’o seng shih, T 1450, ch.3, p.1146 24-26; ch.12, p.l60c 15):

    • Ia memilih Yaśodharā dari seluruh gadis perawan sukunya (T 1450, ch.3, p.l 1 lc; W.W. Rockhill, Life of the Buddha,p.20);
    • Ia berhenti di pinggiran beranda teras rumah Gopā; Melihat ini, Suddhodana mengambil Gopā untuk anaknya (T 1450, ch.3, p. 1 12c; Rockhill, op. cit., pp.2 1-2);
    • 7 Hari menjelang kepergiannya, ketika calon buddha kembali ke Istananya, Mṛgajā berkata padanya dengan syair terkenal, “nibuttā nūna sā mātā..“; Sakyamuni, karena berterima kasih, Ia melemparkan kalungnya pada gadis ini; Mengetahui ini, Suddhodana, mengambil Mṛgajā untuk anaknya (T 1450, ch.3, p. 1146; Rockhill, op. cit., pp.23-4). Versi ini disampaikan oleh Chung hsu mo ho ti ching (T 191, ch.4, pp.944c-945fl). Sumber-sumber lain menyampaikan syair tersebut diuncarkan gadis muda bernama Mrgi (Fo pen hsing chi ching, T 190, ch.15, p. 7246; Mahavastu II, p. 157) atau Kisagotami/Krsa Gotami (Jataka I, pp.60-1; Komentar Dhammapada I, p.85), namun tidak dikatakan bahwa Ia diambil istri oleh Siddhattha

    Dalam “Manual Of Indian Buddhism”, H. Kern, di catatan kaki no.3, hal.16 disebutkan bahwa Kisagotami yang disebut juga dengan nama lain Mrgi adalah Ibu dari Ananda (Mhv. If. 157 dan Bhadrak. XXXV), sedangkan Siddhattha tidak mempunyai anak lain selain Rahula. DPPN-nya G.P Malalasekera menyajikan informasi tentang 4 Kisagotami, di mana: 2 orang berada pada jaman Buddha Tissa dan Pussa, 2 Kisagotami ada di jaman Buddha Gotama, yaitu satunya merupakan penduduk Savatthi bukan Kapilavatthu, bernama Gotami, Ia disebut Kisa karena kurus dan kemudian mengalami kematian anak. Satunya lagi adalah yang melanturkan syair, “Nibbutā nūna sā mātā..“. Ini adalah sepupu Siddhattha dan tidak disebutkan Ia menikah dengan Siddhattha.

    Masalah yang menghadang untuk versi yang mengklaim Kisagotami (mungkin saat itu berusia antara 14-16 tahun) juga sebagai istri Siddhattha adalah celah waktu perkawinannya yang tidak memungkinkan. Karena, Raja dan istana sedang sangat bergembira dengan lahirnya Rahula, perhatian terpusat padanya, pastinya berlanjut dengan undangan pada sanak dan para Brahmana untuk perayaan dan pemilihan nama, seperti ketika Siddhattha lahir, yaitu pada 5 hari ke depan. Setelah perayaan usai, saat kelelahan melanda Istana, saat itulah, sang Bodhisatta meninggalkan istana untuk menjadi petapa. Tidak ada waktu untuk peristiwa pernikahan dengan Kisagotami. Bahkan di literatur-literatur pali awal pun tidak ada peristiwa pernikahan ke-2 Siddhattha

Menjauh dari para penari
Sejak melihat pertapa, pikirannya semakin tertuju pada cara membebaskan diri dari usia lanjut, penyakit dan kematian. Terhadap kekayaan, hiburan, tarian, penari dan lainnya, semakin menjemukan, membosankan dan menakutkan baginya. Ketika melihat para penari tertidur, beberapa dengan air liur mengalir keluar dari mulutnya mengotori pipi dan tubuhnya, beberapa menggemeretakkan giginya, mendengkur, mengoceh dalam tidur, mulut terbuka, telanjang tanpa busana, rambut kusut berantakan—tampak bagaikan mayat baginya, “Alangkah menakutkannya! Alangkah mengerikannya!“. [Komentar GotamaBuddhavamsa, RAPB buku ke-1, hal.528-538]. Yasodhara pun tahu hingga sampai mendapatkan pertanda dalam mimpinya: “Waktunya sudah sampai! Temponya sudah datang!” [“Old Path White Clouds: Walking in the Footsteps of the Buddha“, Thich Nhat Hanh]. Semakin waktu, semakin kuat keinginan Siddhatta Gotama untuk menempuh kehidupan sebagai petapa, hingga akhirnya, “Sekarang adalah waktunya bagi-Ku bahkan hari ini juga untuk pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga.

Siddhattha meninggalkan rumah
Suatu malam, ketika orang-orang istana sedang lelap tidur, Ia berdiri mengawasi Yasodhara yang dicintainya pulas tertidur sambil memeluk. Ia berlutut dan mencium kaki Yasodhara, mengawasi sekali lagi paras cantik itu dan ucapkan perkataan selamat tinggal padanya, Hatinya ingin memondong bayinya untuk diciumnya sebelum keberangkatannya, tapi ia khawatir Ibu dan anak itu terbangun, tiga kali ia bolak-balik keluar masuk kamar seperti tertarik besi sembrani. Sungguh suatu pergulatan yang sulit. Setelah berjanji akan kembali setelah berhasil, akhirnya ia pergi, dengan melewati tempat dayang-dayangnya yang muda dan cantik, Ia menuju tempat kusirnya, Channa dan membangunkannya, Ia memintanya untuk menyiapkan kudanya, Kanthaka.

Note:
Rata-rata kitab komentar dan juga bagian tipitaka yang muncul belakangan mengatakan bahwa Ayah, Ibu dan Istrinya tidak tahu ketika Ia pergi meninggalkan istana, namun MN 26/Ariyapariyesana Sutta, menyatakan bahwa Ayah dan Ibunya TAHU ketika beliau meninggalkan Istana:

    “…Kemudian, sewaktu Aku masih muda, seorang pemuda berambut hitam memiliki berkah kemudaan, dalam tahap kehidupan utama, walaupun ibu dan ayahku menginginkan sebaliknya dan menangis dengan wajah basah oleh air mata, Aku mencukur rambut dan janggutKu, mengenakan jubah kuning, dan pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah…” [Juga dalam MN 36,85, 95, 100, DN 4, 5]

Tampaknya pendapat kitab-kitab komentar dan bagian Tipitaka yang muncul belakangan merupakan pengembangan dari alur kejadian untuk Buddha Vipassi di DN 14/mahapadana sutta:

    ‘Kemudian Pangeran Vipassī berkata kepada kusirNya: “Engkau bawalah kereta itu dan kembalilah ke istana. Tetapi aku akan tinggal di sini dan mencukur rambut dan janggutKu, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dan menjalani kehidupan tanpa rumah.” “Baik, Pangeran”, jawab sang kusir, dan kembali ke istana. Dan Pangeran Vipassī, mencukur rambut dan janggutNya dan mengenakan jubah kuning, pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah.

Melihat Kapilavatthu untuk terakhir kalinya
Dalam kesunyian malam, Pangeran Siddhattha menunggangi Kanthaka. Bersama Channa, ia meninggalkan istana dan kota Kapilavatthu. Setelah sampai di luar kota, Pangeran berhenti sejenak dan memutar kudanya untuk melihat kota Kapilavatthu untuk terakhir kali (di tempat itu kemudian didirikan sebuah cetiya yang dinamakan Kanthakanivattana-cetiya). Saat itu terang bulan di bulan Asalha. Perjalanan diteruskan melintasi perbatasan negara Sakya, Koliya, dan Malla, kemudian dengan satu kali loncatan menyeberangi Sungai Anoma.

Pangeran turun dari kuda, melepas semua perhiasannya dan memberikannya kepada Channa, mencukur kumisnya, memotong rambut di kepalanya dengan pedang dan melemparkannya ke udara (yang disambut oleh Dewa Sakka/Sakra/Indra) dan membawanya ke surga Tavatimsa untuk dipuja di Culamani-cetiya). Rambut yang tersisa sepanjang dua anguli (± dua inci) semasa hidupnya tetap sepanjang itu dan tidak tumbuh-tumbuh lagi.

    Apakah Sang Buddha Gundul?
    Tentang rambut, dalam sutta ada “muṇḍaka” = “yang rambutnya tercukur” (Muṇḍana = bercukur/memotong, tindakan mencukur), misal: “mā te muṇḍakā samaṇakā pānīyaṃ apaṃsū” (Jangan sampai para petapa yang rambutnya tercukur ini meminum air kami, Ud 7.9/Udapānasutta) namun kata itu kerap diterjemahkan “gundul”. Sutta ini menunjukan bahwa penampilan Sang Buddha dan murid-muridnya adalah sama, yaitu dengan rambut tercukur. Rambut panjang dijaman itu adalah simbol kejayaan. Seorang dengan rambut terpotong dikarenakan beberapa sebab: Kaum rendahan atau sedang menjalani hukuman atau terbuang dari sukunya atau mereka yang tengah melakukan sumpah tertentu atau mulai menjadi Petapa namun tradisi brahmanism tertentu tidak melakukan potong rambut saat melakukan sumpah atau menjadi petapa.

    Gundul total bukanlah keharusan, karena di vinaya, culavagga V.2.2 dikatakan: “Tidak sepantasnya, Para Bhikkhu, berambut panjang, pelanggaran tentang ini adalah dukhata. Kuperkenankan, Para bhikkhu, rambut panjangnya hingga seumuran 2 bulan atau 2 anguli (2 inchi/5.08 cm)”. Ini tampaknya ukuran panjang rambut Siddhattha Gotama ketika bertekad menempuh kehidupan pertapaan dengan memotong rambut dan janggutnya. Dalam kitab komentar dikatakan rambutnya tidak lagi memanjang, bentuknya melingkar kecil seperti siput dengan panjang tidak lebih dari 2 anguli.

    Berapakah Tinggi Tubuh Siddhattha Gotama?
    Penampilan Buddha Gotama adalah seperti para Bhikkhu lainnya, misalnya Pangeran Ajjasattu tidak mengenali Sang Buddha dalam kumpulan Bhikkhu yang sedang bersila [DN.2/Samaññaphala Sutta]; Penjaga taman hutan bambu taman rusa tidak mengenali sang Buddha [MN 128/Upakkilesa Sutta] dan Pukkhusati, raja kerajaan Gandhara yang menjadi Bhikkhu dan hendak bertemu Sang Buddha, ketika bertemu, TIDAK MENGENALI beliau adalah Buddha [MN 140/Dhatu Vibhangga sutta].

    Ini mengindikasikan perawakan beliau tidak berbeda dengan bhikkhu lainnya, vinaya Paticiya ke-92 ada tertulis: “Apabila seorang bhikkhu membuat jubah yang sama atau lebih besar dari ukuran jubah sugata, maka ia melanggar peraturan pacittiya dan kain tersebut terlebih harus dipotong. Ukuran jubah sugata adalah sebagai berikut: panjang 9 sugata dan lebar 6 sugata“. Dalam DN.14; DN.30; MN.91 tentang 32 ciri manusia agung disebutkan, “rentang kedua lengannya sama dengan tinggi badannya, dan tinggi badannya sama dengan rentang kedua lengannya

    Jika lengan di tekuk dan ujung jari bertemu di depan dada, maka panjangnya = 4 x SIKU-UJUNG JARI (Hasta). Dimana, SIKU-UJUNG JARI = 2 JENGKAL tangan sendiri [vadatthi]. Jadi TOTAL PANJANG = 8 JENGKAL.

    Panjang manusia = 8 jengkalnya sendiri, yaitu PUSER – UBUN KEPALA = 3 JENGKAL; PUSER – Tapak KAKI = 5 Jengkal. Jika duduk bersila, LANTAI – UBUN KEPALA = 4 Jengkalnya sendiri. Karena Ajjasattu tidak mengenali sang Buddha dan para bhikkhunya ketika duduk bersila, maka 8 Jengkal sang Buddha TIDAK JAUH BEDANYA dengan rata-rata manusia.

    1 Jengkal [vidatthi] = 8.5 inch s/d 9 inch. 1 Inchi = 2.54 CM. 1 Jengkal = 21.59 CM – 22.86 CM. 8 Jengkal = 172.72 CM – 182.88 CM. [6 kaki = 182.88 CM].

    RAPB buku ke-1, hal 400-401: Tinggi Buddha Gotama adalah 16 hatta s/d 18 hatta [Di 32 ciri-ciri Buddha no.5 dan no.6, hatta adalah tangan], lebar tangan = 4 inch. 16 Hatta = 162.54 CM dan 18 Hatta = 182.88 CM

    Jubah: “panjang 9 (jengkal) sugata dan lebar 6 (jengkal) sugata”. Dimana, 9 jengkal = 194.31 CM – 205.74 CM. Maka 8 JENGKAL seharusnya TIDAK LEBIH dari 194.31 CM. Jadi range perkiraan tinggi beliau adalah: 172.72 CM s.d 194.31 CM

Brahma Ghatikara muncul dihadapannya mempersembahkan delapan jenis barang: jubah luar, jubah dalam, kain bawah, ikat pinggang, mangkuk makanan, pisau, jarum, dan saringan air. [RAPB buku ke-1, hal 546].

    Note:
    Brahma Ghatikara merupakan Brahma Anagami dari alam Suddhavasa, pada kehidupan lampaunya, yaitu jaman Buddha Kassapa, Ia berteman dengan siswa dari Brahmana Jotipala. Siswa ini adalah Pangeran Sidharta saat ini dan ketika itu, Ghatikara adalah umat awam, sementara siswa Brahmana Jotipala, setelah dipaksanya bertemu Sang Buddha Kassapa akhirnya murid Buddha Kassapa namun siswa Brahmana Jotipala itu tidak mencapai kesucian [MN 81]

Setelah menukar pakaiannya dengan jubah pertapa, Pangeran memerintahkan Channa untuk kembali ke istana. Pada awalnya, Channa menolak untuk kembali, tetapi pangeran Siddhattha menegaskan harus pergi dan berkata, “Jangan Channa, bawa pakaian dan perhiasan ini kembali, berikan kepada Ayahku dan sampaikan pesanku untuk Ayah, Ibu, dan Yasodhara untuk jangan terlalu bersusah hati. Aku akan mencari obat untuk menghentikan usia tua, sakit, dan mati. Segera setelah aku memperolehnya, aku kembali ke istana untuk memberikannya kepada Ayah, Ibu, Yasodhara, Rahula, dan kepada semua orang yang ada di dunia ini.”.

Dengan air mata bercucuran di wajahnya, Channa dan Kanthaka mengamati perginya pangeran Siddhattha yang berjalan kaki menjauh. Kuda Kanthaka kemudian menjadi sangat sedih dengan pikiran, “Mulai saat ini aku tidak akan dapat melihat tuanku lagi”, Ia pun meninggal dunia karena patah hati dan terlahir kembali di Surga Tavatimsa sebagai dewa bernama Kanthaka (Kelak di alam itu, setelah mendengarkan kotbah sang Buddha, Kanthaka menjadi Sotapanna). Sedangkan Channa, tertekan oleh penderitaan ganda akibat ditinggal pangeran dan wafatnya kanthaka, pulang ke Kota Kapilavatthu dengan air mata berlinang, menangis.

Kembalinya Channa ke Kapilavatthu disambut oleh Raja dan seluruh penghuni istana dengan ratapan dan tangisan. Channa menyerahkan perhiasan, pedang serta pakaian Pangeran kepada Raja, menyampaikan salam perpisahan Pangeran kepada Ibunya dan Yasodhara beserta segenap keluarga lainnya. Selanjutnya Channa memberitahukan bahwa Pangeran sekarang berada di tepi Sungai Anoma di negara Malla. Meskipun menyesali kepergian Pangeran Siddhattha, tetapi Raja tahu bahwa kepergiannya itu sesuai dengan ramalan pertapa Asita dan Kondañña dan mengharap-harap cemas bila kiranya Pangeran akan berhasil menjadi seorang Buddha. Mulai hari itu Raja selalu mengikuti keadaan Pangeran dengan menyuruh orang menyelidiki dan melaporkan kepada Raja segala sesuatu yang dikerjakan Pangeran dan dimana Beliau berada.

Hidup sebagai pertapa
Usianya saat itu 29 tahun, Siddhattha mulai menjalani kehidupan tanpa rumah sebagai seorang pertapa. Dari Kapilavatthu, Siddhattha berjalan ke arah selatan menuju Rajagaha, ibukota negara Magadha. Raja negara ini bernama Bimbisara. Sesampainya di Rajagaha, Ia mendapatkan makanannya dengan jalan seperti para pertapa lainnya yaitu terserah dari apa yang orang hendak berikan, setelahnya, Ia menuju luarkota ke arah sebuah Gunung di Timur kota (gunung Pandava), duduk di sana dan memakan makanan yang diperolehnya

Simpati terhadap seekor domba yang terluka
Setelah makan, Siddhattha memutuskan untuk pergi ke pegunungan dimana orang-orang yang hidup menyendiri dan orang-orang bijak tinggal. Dalam perjalanannya menuju kesana, Siddhattha melewati sekumpulan domba. Para penggembala mengarahkan domba-dombanya ke Rajagaha untuk dikorbankan dalam suatu upacara pembakaran. Satu domba kecil terluka. Karena simpati, Siddhattha menggendong domba itu dan mengikuti para penggembala domba kembali ke kota.

Menghentikan pengorbanan binatang
Di kota, dalam suatu pemujaan di rumah pemujaan, terdapat api menyala di atas altar, Raja Bimbisara dan sekelompok pendeta sedang melakukan upacara mereka kepada Dewa Indra diseputaran api. Di seputaran api itu telah banyak darah mengucur dan Ketika seorang pemimpin dari para pemuja api itu mengangkat pedangnya untuk membunuh domba pertama, Siddhattha menghampirinya dan meminta kepada raja untuk menghentikan ritual ini, sambil membuka tali yang mengikat domba itu. Tidak ada seorangpun yang sanggup mencegahnya. Siddhattha meminta ijin raja Bimbisara untuk berbicara bahwa semua dapat membuat musnah jiwa-jiwa mahluk lain namun tidak ada yang dapat membuat hidup mahluk yang sudah mati, Bagi yang ingin dikasihani Dewa-dewa, agar juga mengasihani mahluk lainnya, manusia tidak nanti dapat membersihkan diri mereka dengan menggunakan darah,

Siapa yang menabur penderitaan memetik buah yang sama
Sambil menghampiri Raja dengan merangkapkan kedua tangan, ia berkata pula bahwa Alangkah indahnya kalau semua mahluk hidup saling berbuat baik terhadap yang lain, karena Jika manusia mengharapkan belas kasih, maka mereka seharusnya menunjukkan belas kasih. Sesuai hukum sebab-akibat, mereka yang membunuh makhluk lain akan, pada gilirannya, akan terbunuh. Jika kita mengharapkan kebahagiaan di masa depan, kita tidak boleh melukai semua makhluk. Siapapun yang menabur penderitaan akan menuai buah yang sama. Alangkah indahnya kalau semua mahluk hidup saling berbuat yang baik terhadap yang lain. Ucapan ini mengubah pikiran raja Bimbisara yang kemudian membuat maklumat bahwa sejak saat itu dilarang menumpahkan darah binatang, baik itu untuk persembahan para Dewa maupun untuk dimakan. Raja kemudian mengundang Siddhattha untuk tinggal dan mengajari rakyatnya. Tetapi Siddhattha menolak, karena Ia belum menemukan kebenaran yang dicarinya.

    Note:
    3 Kisah Siddharttha di atas ini, yaitu mulai dari menggendong domba kecil terluka, heroisme menggagalkan pengorbanan binatang dalam upacara, menasehati raja, Raja Bimbisara menyampaikan maklumat melarang membunuh binatang dan mengundang Siddhattha TIDAK ADA dalam Sutta, Vinaya dan juga di kitab-kitab komentar Buddhis klasik KECUALI berasal dari buku “The Light of Asia“, buku ke-5, karangan Sir Edwin Arnold. Kecuali dari pengarangnya, tidak diketahui asal-usul dari kisah karangannya ini berasal. [Lihat juga: INI]

    Kitab Komentar:
    Setelah mencukur rambut dan menjadi petapa, Pangeran Siddhattha, menurut:

    • Kitab komentar untuk Buddhavamsa dan Jataka: Ia berdiam 7 hari di huta Mangga, Anupiya dan kemudian berjalan kaki 30 yojana sehari memasuki Rajagaha.
    • Kitab komentar Sutta Nipatta: Ia menjalani sila dan berjalan 30 Yojana dalam 7 hari dari tepi sungai Anoma memasuki Rajagaha

    adalah untuk mengumpulkan dana makanan.

    7 Hari sebelum Pangeran Siddhattha memasuki Rajagaha, sebuah festival sedang dirayakan oleh orang banyak. Pada hari, Pangeran Siddhattha memasuki kota, Raja Bimbisàra mengumumkan dengan tabuhan genderang bahwa Festival telah selesai. Ketika Sang Petapa mengumpukan dana makanan, para penduduk masih berkerumun dan membicarakan dirinya. Para pelayan Istana melaporkan kejadian ini pada Raja Bimbisàra, raja juga sempat melihat beliau dari teras atas dan merasa penasaran, kemudian memerintahkan menterinya untuk menyelidikinya

    Setelah selesai mengumpulkan dana makan, Pangeran Siddhattha menuju luar kota untuk memakan dana makanan yang diibawa-Nya. Awalnya, saat menyuap dan menelan makanan campur aduk berwarna-warni yang sangat menjijikan ini ke mulutnya, Ia merasa menderita dan nyaris muntah-muntah karena belum pernah melihat dan memakan makanan yang sangat menjijikan seperti itu. Setelah menenangkan diri dan menegur diri sendiri akan tujuan dan tekadnya, barulah Ia dapat dengan baik makan makanan yang sangat menjiikan itu

    Setelah mendapat laporan dari menterinya, Raja Bimbisara kemudian mendatanginya [kitab komentar Buddhavamsa dan Subkomentar Jinàlankàra. Juga lihat buku RAPB, buku ke-1, hal. 550-558]

    Raja duduk di sebelahNya, bertukar salam dan penghormatan, kemudian berkata:

      Tuan, Engkau masih muda, di puncak kehidupanmu, tampan dan rupawan. Tampaknya engkau seorang putra mahkota dari keluarga bangsawan. Engkau dapat diiringi bala tentara yang hebat dan dihormati oleh kelompok bangsawan. Nikmatilah kekayaan yang dapat kuberikan padamu. Tetapi, dapatkah engkau beritahukan dari keluarga manakah asalmu?’ [SNP 3.1/Pabbaja Sutta]

    Pangeran Siddhattha menjelaskan asal usulnya dan menolak tawaran sang Raja dengan berkata:

      Telah kulihat penderitaan akibat kesenangan. Telah kulihat kemantapan yang ada bila meninggalkan penderitaan-penderitaan itu,
      Jadi sekarang aku akan pergi,
      Aku akan menuju ke medan perjuangan,
      Inilah kebahagiaan pikiranku;
      Di sinilah pikiranku mendapat kebahagiaan
      ’ [SNP 3.1/Pabbaja Sutta]

    Mendengar ini, raja Bimbisara kemudian memohon saat sang petapa telah mencapai tujuannya, agar kunjungan pertamanya adalah ke negerinya. Setelah pertemuan ini, Sang Pangeran melanjutkan perjalanannya [kitab komentar Buddhavamsa dan Subkomentar Jinàlankàra. Juga lihat buku RAPB, buku ke-1, hal. 550-558]

    Kurban binatang berawal di jaman Raja Okkāka
    Para brahmana pada zaman dahulu tidak punya ternak, emas maupun jagung. Makanan apa pun yang disiapkan untuk mereka diletakkan di pintu… Orang-orang kaya dari berbagai propinsi dan negeri lain memuja para brahmana itu dengan pemberian jubah beraneka warna, tempat tidur dan tempat berdiam…Tak ada yang pernah menolak mereka di ambang pintu rumah mana pun.

    Sebelumnya, para brahmana mempraktekkan kehidupan selibat di masa muda sampai usia 48 tahun, tidak hidup bersama istri orang lain, tidak membeli istri… Tidak hidup bersama kecuali dengan seorang istri yang telah berhenti haid, dan hanya pada waktu yang tepat… brahmana itu bersih dari tindakan seksual yang tidak pantas, dan bahkan dalam mimpi, sekalipun dia tidak memanjakan diri dalam hubungan seksual… Mereka mengagungkan kesucian, moralitas, integritas, keramahtamahan, keprihatinan, kelembutan hati, daya tahan, dan mereka anti-kekerasan.

    … Mereka mempersembahkan benda-benda itu untuk kurban, dan untuk kurban mereka tidak membunuh sapi. Sapi-sapi, yang darinya obat-obatan dihasilkan, merupakan sahabat kita yang baik, bagaikan ibu, ayah, saudara dan sanak kita. Sapi-sapi itu memberi makanan, kekuatan, keindahan, kesehatan. Karena manfaat-manfaat ini, para brahmana itu tidak membunuh ternak.

    Namun kemudian mereka mulai melihat kekayaan dan wanita dengan aneka perhiasan, dan mulailah terjadi perubahan dalam diri mereka. Para brahmana itu mulai menginginkan sapi-sapi, wanita-wanita cantik, kereta dengan kuda-kuda terlatih baik yang dihiasi tirai-tirai indah, serta rumah dan tempat tinggal yang dibangun dan ditata baik.

    Setelah mencipta lagu-lagu pujian, mereka kemudian menghadap Raja Okkaka..Karena bujukan para brahmana, maka Raja, penguasa kereta, dengan bebas melakukan kurban kuda, kurban manusia, ritual-ritual air dan kurban minuman keras. Setelah melakukan kurban-kurban ini, Raja memberikan harta kepada para brahmana itu, yaitu: Ternak, tempat tidur, pakaian, wanita-wanita berhias, kereta-kereta kokoh yang ditarik oleh kuda-kuda indah dan dihias kain berbordir, Rumah-rumah indah, yang dirancang baik dengan masing-masing bagiannya, yang penuh dengan berbagai macam biji-bijian.

    Setelah menerima kekayaan, para brahmana pun berkeinginan untuk menimbun; dan karena dikuasai oleh keinginan memiliki kekayaan, keserakahan mereka pun meningkat. Mereka menciptakan lagu-lagu pujian dan sekali lagi menghadap Okkaka.. Kemudian, karena bujukan para brahmana, Raja, penguasa kereta, menyebabkan terbunuhnya beratus-ratus ribu ternak untuk kurban. Padahal sapi-sapi tidak menyakiti siapa pun dengan kaki maupun tanduk mereka. Mereka patuh bagaikan domba dan memberikan amat banyak susu. Namun Raja menangkap mereka ..dan memerintahkan agar sapi-sapi itu dibunuh dengan pedang.

    Maka para dewa, leluhur, Indra para asura pelindung (asurarakkhasā), ketika pedang itu terayun pada sapi, berteriak: ‘Ini Adhamma!’. Pada zaman dahulu hanya ada 3 macam penyakit: nafsu, kelaparan, dan kelapukan. Tetapi karena pembunuhan binatang, jumlah penyakit bertambah menjadi 98.. Ketidakadilan yang sudah tua ini terus terjadi turun temurun [SnP 2.7/BrahmanaDhammika Sutta]

Mendatangi Āḷāra Kālāma dan Uddaka Rāmaputta
Setelah meninggalkan Rajagaha, Siddhattha mendatangi Āḷāra Kālāma dan berkata kepadanya: ‘Teman Kālāma, Aku ingin menjalani kehidupan suci dalam Dhamma dan Disiplin ini.’ Āḷāra Kālāma menjawab: ‘Yang Mulia boleh menetap di sini. Dhamma ini adalah sedemikian sehingga seorang bijaksana dapat segera memasuki dan berdiam di dalamnya, menembus doktrin gurunya sendiri untuk dirinya sendiri melalui pengetahuan langsung.’ Aku dengan segera mempelajari Dhamma itu. Sejauh hanya mengulangi dan melafalkan ajarannya melalui mulut, Aku dapat mengatakan dengan pengetahuan dan kepastian, dan Aku mengakui, ‘Aku mengetahui dan melihat’—dan ada orang-orang lain yang juga melakukan demikian.

“Aku merenungkan: ‘Bukan hanya sekadar keyakinan saja maka Āḷāra Kālāma menyatakan: “Dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung, Aku masuk dan berdiam dalam Dhamma ini.” Āḷāra Kālāma pasti berdiam dengan mengetahui dan melihat Dhamma ini.’ Kemudian Aku mendatangi Āḷāra Kālāma dan bertanya: ‘Teman Kālāma, dalam cara bagaimanakah engkau menyatakan bahwa dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung engkau masuk dan berdiam dalam Dhamma ini?’ Sebagai jawaban ia menyatakan landasan tidak ada apapun

“Aku merenungkan: ‘Bukan hanya Āḷāra Kālāma yang memiliki keyakinan, kegigihan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Aku juga memiliki keyakinan, kegigihan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Bagaimana jika Aku berjuang untuk menembus Dhamma yang dinyatakan oleh Āḷāra Kālāma bahwa ia telah masuk dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung?’

“Aku dengan cepat memasuki dan berdiam dalam Dhamma dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung. Kemudian Aku mendatangi Āḷāra Kālāma dan bertanya: ‘Teman Kālāma, apakah dengan cara ini engkau menyatakan bahwa engkau masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung?’—‘Demikianlah, teman.’—‘Adalah dengan cara ini, teman, bahwa Aku juga masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung.’—‘Suatu keuntungan bagi kita, teman, suatu keuntungan besar bagi kita bahwa kita memiliki seorang mulia demikian bagi teman-teman kita dalam kehidupan suci. jadi Dhamma yang kunyatakan telah kumasuki dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk diriku sendiri dengan pengetahuan langsung adalah juga Dhamma yang Engkau masuki dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk diriMu sendiri dengan pengetahuan langsung. Dan Dhamma yang Engkau masuki dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk diriMu sendiri dengan pengetahuan langsung adalah Dhamma yang kunyatakan telah aku masuki dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk diriku sendiri dengan pengetahuan langsung. Jadi Engkau mengetahui Dhamma yang kuketahui dan aku mengetahui Dhamma yang Engkau ketahui. Sebagaimana aku, demikian pula Engkau; sebagaimana Engkau, demikian pula aku. Marilah, teman, mari kita memimpin komunitas ini bersama-sama.’

“Demikianlah Āḷāra Kālāma, guruKu, menempatkan Aku, muridnya, setara dengan dirinya dan menganugerahi diriku dengan penghormatan tertinggi. Tetapi aku berpikir: ‘Dhamma ini tidak menuntun menuju kekecewaan, tidak menuntun menuju kebosanan, tidak menuntun menuju lenyapnya, tidak menuntun menuju kedamaian, tidak menuntun menuju pengetahuan langsung, tidak menuntun menuju Nibbāna, tetapi hanya menuntun menuju kemunculan kembali dalam landasan kekosongan.’ Karena tidak puas dengan Dhamma itu, Aku pergi dan meninggalkan tempat itu. [MN 26]

Uddaka Rāmaputta
“Aku mendatangi Uddaka Rāmaputta dan berkata kepadanya: ‘Teman, Aku ingin menjalani kehidupan suci dalam Dhamma dan Disiplin ini.’ Uddaka Rāmaputta menjawab: ‘Yang Mulia boleh menetap di sini. Dhamma ini adalah sedemikian sehingga seorang bijaksana dapat segera memasuki dan berdiam di dalamnya, menembus doktrin gurunya sendiri untuk dirinya sendiri melalui pengetahuan langsung.’ Aku dengan segera mempelajari Dhamma itu. Sejauh hanya mengulangi dan melafalkan ajarannya melalui mulut, Aku dapat mengatakan dengan pengetahuan dan kepastian, dan Aku mengakui, ‘Aku mengetahui dan melihat’—dan ada orang-orang lain yang juga melakukan demikian.

“Aku merenungkan: ‘Bukan hanya sekadar keyakinan saja maka Rāma menyatakan: “Dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung, Aku masuk dan berdiam dalam Dhamma ini.” Rāma pasti berdiam dengan mengetahui dan melihat Dhamma ini.’ Kemudian Aku mendatangi Uddaka Rāmaputta dan bertanya: ‘Teman, dalam cara bagaimanakah Rāma menyatakan bahwa dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung ia masuk dan berdiam dalam Dhamma ini?’ Sebagai jawaban ia menyatakan landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi

“Aku merenungkan: ‘Bukan hanya Rāma yang memiliki keyakinan, kegigihan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Aku juga memiliki keyakinan, kegigihan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Bagaimana jika Aku berjuang untuk menembus Dhamma yang dinyatakan oleh Rāma bahwa ia telah masuk dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung?’

“Aku dengan cepat masuk dan berdiam dalam Dhamma dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung. Kemudian Aku mendatangi Uddaka Rāmaputta dan bertanya: ‘Teman, apakah dengan cara ini Rāma menyatakan bahwa ia masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung?’—‘Demikianlah, teman.’—‘Adalah dengan cara ini, teman, bahwa Aku juga masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung.’—‘Suatu keuntungan bagi kita, teman, suatu keuntungan besar bagi kita bahwa kita memiliki seorang mulia demikian bagi teman-teman kita dalam kehidupan suci. jadi Dhamma yang dinyatakan oleh Rāma telah ia masuki dan diami di dalamnya dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung adalah juga Dhamma yang Engkau masuki dan diami di dalamnya dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung. Dan Dhamma yang Engkau masuki dan diami di dalamnya dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung adalah Dhamma yang dinyatakan oleh Rāma telah ia masuki dan diami di dalamnya dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung. Jadi Engkau mengetahui Dhamma yang diketahui oleh Rāma dan Rāma mengetahui Dhamma yang Engkau ketahui. Sebagaimana Rāma, demikian pula Engkau; sebagaimana Engkau, demikian pula Rāma. Marilah, teman, mari kita memimpin komunitas ini bersama-sama.

“Demikianlah Uddaka Rāmaputta, temanKu dalam kehidupan suci, menempatkan Aku dalam posisi seorang guru dan menganugerahi diriku dengan penghormatan tertinggi. Tetapi aku berpikir: ‘Dhamma ini tidak menuntun menuju kekecewaan, menuju kebosanan, menuju lenyapnya, menuju kedamaian, menuju pengetahuan langsung, menuju Nibbāna, tetapi hanya menuju kemunculan kembali dalam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.’ Karena tidak puas dengan Dhamma itu, Aku pergi dan meninggalkan tempat itu. [MN 26]

Kelompok 5 pertapa
“Aku mengembara secara bertahap melewati Negeri Magadha hingga akhirnya Aku sampai di Senānigama di dekat Uruvelā. Di sana Aku melihat sepetak tanah yang nyaman, hutan yang indah dengan aliran sungai yang jernih dengan pantai yang halus dan menyenangkan dan di dekat sana terdapat sebuah desa sebagai sumber dana makanan. Aku merenungkan: ‘Ini adalah sepetak tanah yang nyaman, ini adalah hutan yang indah dengan aliran sungai yang jernih dengan pantai yang halus dan menyenangkan dan di dekat sana terdapat sebuah desa sebagai sumber dana makanan. Ini akan membantu usaha seseorang yang bersungguh-sungguh untuk berusaha.’ Dan Aku duduk di sana berpikir: ‘Ini akan membantu usaha.’ [MN 26]

Kelompok lima petapa (Kondanna, Bhaddiya, Vappa, Mahanama dan Assaji) mendengar bahwa Siddhattha telah menjadi petapa mereka mulai mengunjungi desa-desa, kota-kota, dan lain-lain satu demi satu, untuk mencari Bodhisatta dan akhirnya bertemu di Hutan Uruvelà. Karena berharap tidak lama lagi, Beliau akan menjadi seorang Buddha, maka melayani-Nya dalam praktek penyiksaan diri (dukkaracariya) selama 6 tahun; mereka bergerak ke sana ke sini memenuhi kewajiban mereka seperti menyapu, mengambil air panas, dingin, dan lain-lain [RAPB Buku ke-1, Bab.12, hal.569-570].

    Sang Buddha, ‘Para bhikkhu dari kelompok lima yang melayaniKu sewaktu aku menjalani usahaku telah sangat membantu” [MN 26]

Penderitaan dengan praktek ekstrim
Pangeran Siddhattha mempraktekkan berbagai variasi praktek pertapaan selama enam tahun perjuangannya mencapai pencerahan:

    Melakukan meditasi tanpa bernafas yang sangat keras:
    Aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui mulut dan hidungKu. Sewaktu Aku melakukan demikian, terdengar suara angin yang keras menerobos keluar dari lubang telingaKu. Bagaikan suara keras yang terdengar ketika pipa pengembus pandai besi ditiup, demikian pula, sewaktu Aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui hidung dan telingaKu, terdengar suara angin yang keras menerobos keluar dari lubang telingaKu…

    Aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui mulut, hidung, dan telingaKu. Ketika Aku melakukan demikian, angin kencang menembus kepalaKu. Seolah-olah seorang kuat menusuk kepalaKu dengan ujung pedang tajam…Aku merasakan kesakitan luar biasa di kepalaKu. Seolah-olah seorang kuat mengencangkan tali kulit di kepalaKu sebagai ikat kepala…Angin kencang menerobos keluar melalui perutKu. Bagaikan seorang tukang daging yang terampil atau muridnya membelah perut seekor sapi dengan pisau daging yang tajam…Aku merasakan kebakaran hebat di seluruh tubuhKu. Bagaikan dua orang kuat mencengkeram seseorang yang lebih lemah pada kedua lengannya dan memanggangnya di atas lubang membara..Tetapi walaupun kegigihan yang tidak kenal lelah telah dibangkitkan dalam diriKu dan perhatian yang tidak mengendur telah kokoh, tubuhKu kelelahan dan tidak tenang karena Aku terlalu letih oleh usaha yang menyakitkan. Tetapi perasaan menyakitkan demikian yang muncul padaKu tidak menyerbu pikiranKu dan tidak menetap di sana. [MN 36/Mahasaccaka Sutta]

    Pertapaan sangat keras
    “Aku bepergian dengan telanjang, menolak kebiasaan-kebiasaan, menjilat tanganKu, tidak datang ketika dipanggil, tidak berhenti ketika diminta;
    Aku tidak menerima makanan yang dibawa atau makanan yang secara khusus dipersiapkan atau suatu undangan makan;
    Aku tidak menerima dari kendi, dari mangkuk, melintasi ambang pintu, terhalang tongkat kayu, terhalang alat penumbuk, dari 2 orang yang sedang makan bersama, dari perempuan hamil, dari perempuan yang sedang menyusui, dari perempuan yang sedang berbaring bersama laki-laki, dari mana terdapat pengumuman pembagian makanan, dari mana seekor anjing sedang menunggu, dari mana lalat beterbangan;
    Aku tidak menerima ikan atau daging,
    Aku tidak meminum minuman keras, anggur, atau minuman fermentasi.
    Aku mendatangi 1 rumah, 1 suap;
    Aku mendatangi 2 rumah, 2 suap; …
    Aku mendatangi 7 rumah, 7 suap.
    Aku makan satu mangkuk sehari,
    Aku makan 2 mangkuk sehari …
    Aku makan 7 mangkuk sehari;
    Aku makan sekali dalam sehari,
    Aku makan sekali dalam 2 hari …
    Aku makan sekali dalam 7 hari, dan seterusnya hingga sekali setiap 2 minggu; Aku berdiam menjalani praktik makan pada interval waktu yang telah ditentukan.
    Aku adalah pemakan sayur-sayuran dan padi-padian atau beras kasar atau kulit kupasan buah atau lumut atau kulit padi atau sekam atau tepung wijen atau rumput atau kotoran sapi.
    Aku hidup dari akar-akaran dan buah-buahan di hutan;
    Aku memakan buah-buahan yang jatuh.
    Aku mengenakan pakaian terbuat dari rami, dari rami dan kain, dari kain pembungkus mayat, dari selimut yang dibuang, dari kulit pohon, dari kulit rusa, dari cabikan kulit rusa, dari kain rumput kusa, dari kain kulit kayu, dari kain serutan kayu, dari kain rambut, dari kain bulu binatang, dari bulu sayap burung hantu.
    Aku adalah seorang yang mencabut rambut dan janggut, menjalani praktik mencabut rambut dan janggut.
    Aku adalah seorang yang berdiri terus-menerus, menolak tempat duduk.
    Aku adalah seorang yang berjongkok terus-menerus, senantiasa mempertahankan posisi jongkok.
    Aku adalah seorang yang menggunakan alas tidur paku;
    Aku menjadikan alas tidur paku sebagai tempat tidurKu.
    Aku berdiam dengan menjalani praktik mandi 3x sehari termasuk malam hari.

    Demikianlah dalam berbagai cara Aku berdiam dengan menjalani praktik menyiksa dan menghukum diri. Demikianlah pertapaanKu.

    Kekasaran – sangat kasar

    “bagaikan batang pohon Tindukā, yang terkumpul selama bertahun-tahun, menempel dan mengelupas, demikian pula, debu dan daki, yang terkumpul selama bertahun-tahun, menempel di tubuhKu dan mengelupas. Tidak pernah terpikir olehKu: ‘Oh, Aku akan menggosok debu dan daki ini dengan tanganKu, atau membiarkan orang lain menggosok debu dan daki ini dengan tangannya’ – tidak pernah terpikirkan olehKu demikian. Demikianlah kekasaranKu.

    Kehati-hatian – sangat hati-hati

    “Aku senantiasa penuh perhatian dalam melangkah maju dan melangkah mundur. Aku selalu berbelas kasihan bahkan pada [makhluk-makhluk] dalam setetes air sebagai berikut: ‘Semoga Aku tidak menyakiti makhluk-makhluk kecil dalam celah tanah ini.’ Demikianlah kehati-hatianKu.

    Keterasingan – sangat terasing

    “Aku akan memasuki hutan dan berdiam di sana. Dan ketika Aku melihat seorang penggembala sapi atau seorang penggembala domba atau seseorang yang sedang mengumpulkan rumput atau kayu, atau seorang pekerja hutan, Aku akan pergi dari hutan ke hutan, dari belantara ke belantara, dari lembah ke lembah, dari bukit ke bukit. Mengapakah? Agar mereka tidak melihatKu atau agar Aku tidak melihat mereka. Bagaikan seekor rusa yang lahir di dalam hutan, ketika melihat manusia, akan lari dari hutan ke hutan, dari belantara ke belantara, dari lembah ke lembah, dari bukit ke bukit, demikian pula, ketika Aku melihat seorang penggembala sapi atau seorang penggembala domba … Demikianlah keterasinganKu.

    Praktek meniru Binatang dan makan kotoran
    “Aku akan bepergian dengan ke-4 tangan dan kakiKu menuju kandang sapi ketika sapi-sapi telah pergi dan si penggembala meninggalkannya, dan Aku akan memakan kotoran sapi-sapi muda. Selama kotoran dan air kencingKu masih ada, Aku akan memakan kotoran dan air kencingKu sendiri. Demikianlah praktik kerasKu dalam hal memakan kotoran.

    Praktek kediaman
    “Aku akan pergi ke hutan-hutan yang menakutkan dan berdiam di sana – hutan yang begitu menakutkan sehingga umumnya akan membuat seseorang merinding jika ia tidak terbebas dari nafsu. Pada malam-malam musim dingin selama ‘8 hari interval beku,’ Aku akan berdiam di ruang terbuka dan siang harinya di dalam hutan. Dalam bulan terakhir musim panas Aku akan berdiam di ruang terbuka pada siang hari dan di dalam hutan pada malam hari. Dan di sana secara spontan muncul dalam diriKu syair ini yang belum pernah terdengar sebelumnya:

    Kedinginan di malam hari dan terpanggang di siang hari,
    Sendirian di dalam hutan yang menakutkan,
    Telanjang, tidak ada api untuk duduk di dekatnya,
    Namun Sang Petapa tetap melanjutkan pencariannya
    .’

    “Aku membuat tempat tidur di tanah pekuburan dengan tulang-belulang orang mati sebagai bantal. Dan anak-anak penggembala datang dan meludahiKu, mengencingiKu, melemparkan tanah padaKu, dan menusukkan kayu ke dalam telingaKu. Namun Aku tidak ingat bahwa Aku pernah membangkitkan pikiran buruk terhadap mereka. Demikianlah kediamanKu dalam keseimbangan.

    Praktek mengikuti model aliran lainnya:
    “Ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui makanan.’ Mereka mengatakan: ‘Ayo kita hidup dari memakan buah kola,’ dan mereka memakan buah kola, mereka memakan tepung kola, mereka meminum air buah kola, dan mereka membuat berbagai jenis ramuan buah kola. Sekarang Aku ingat pernah memakan satu buah kola sehari.

    ..engkau mungkin berpikir bahwa buah kola pada masa itu lebih besar, namun engkau tidak boleh menganggapnya demikian; buah kola pada masa itu berukuran sama seperti sekarang.
    Karena memakan satu buah kola sehari, tubuhKu menjadi sangat kurus.
    Karena makan begitu sedikit anggota-anggota tubuhku menjadi seperti tanaman merambat atau batang bambu.
    Karena makan begitu sedikit punggungku menjadi seperti kuku unta.
    Karena makan begitu sedikit tonjolan tulang punggungku menonjol bagaikan untaian tasbih.
    Karena makan begitu sedikit tulang rusukKu menonjol karena kurus seperti kasau dari sebuah lumbung tanpa atap.
    Karena makan begitu sedikit bola mataKu masuk jauh ke dalam lubang mata, terlihat seperti kilauan air yang jauh di dalam sumur yang dalam.
    Karena makan begitu sedikit kulit kepalaKu mengerut dan layu bagaikan buah labu pahit yang mengerut dan layu oleh angin dan matahari.
    Karena makan begitu sedikit kulit perutku menempel pada tulang punggungKu; sedemikian sehingga jika Aku menyentuh kulit perutKu maka akan tersentuh tulang punggungKu, dan jika Aku menyentuh tulang punggungKu maka akan tersentuh kulit perutKu.
    Karena makan begitu sedikit, jika Aku mencoba menyamankan diriKu dengan memijat badanKu dengan tanganKu, maka bulunya, tercabut pada akarnya, berguguran dari badanKu ketika Aku menggosoknya.

    “..ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui makanan.’ Mereka mengatakan: ‘Ayo kita hidup dari memakan kacang,’ …
    ‘Ayo kita hidup dari memakan wijen,’ …
    ‘Ayo kita hidup dari memakan nasi,’ dan mereka memakan nasi, mereka memakan tepung beras, mereka meminum air beras, dan mereka membuat berbagai jenis ramuan beras. Sekarang Aku ingat pernah memakan satu butir nasi sehari.

    ..engkau mungkin berpikir bahwa butiran beras pada masa itu lebih besar, namun engkau tidak boleh menganggapnya demikian; butiran beras pada masa itu berukuran sama seperti sekarang.
    Karena memakan satu butir nasi sehari, tubuhKu menjadi sangat kurus. Karena makan begitu sedikit … maka bulunya, tercabut pada akarnya, berguguran dari badanKu ketika Aku menggosoknya. [MN 12/Mahasihanada Sutta]

Akibatnya, Pangeran Siddhattha menjadi sangat kurus, kesehatannya memburuk, jika berdiri, tak dapat Ia diam karena kakinya gemetar, namun demikian, tetap Ia tak menyerah biarpun mengalami pingsan beberapa kali karenanya.

Berikut di bawah, beberapa sample variasi kisah pertolongan yang diberikan kepada Siddhattha Gotama, dimenjelang pencerahannya:

Pertolongan dari anak penggembala dan Sitar Penyanyi
Seorang anak penggembala dengan seekor kambing lewat dan melihat keadaan pangeran Siddhattha, Ia tau bahwa tanpa makanan pangeran Siddhattha dapat menemui ajal. Pada saat itu di Hindustan terdapat pantangan bahwa apabila bersentuhan dengan kasta rendah maka hilanglah kesucian kaum Brahmana. Ia peras susu kambing tersebut dan dikucurkan kemulut Siddhattha hati-hati agar tidak menyenggol badannya. Setelah siuman, Siddhattha meminta lagi susu kambing itu dan anak tersebut menolak lantaran ia sebagai kasta Sudra, Lalu Siddhattha berkata “Darah manusia tidak mengenal perbedaan, begitu pula airmata, Siapa manusia yang lakukan perbuatan benar ialah seorang suci”

Anak Gembala itu tercengang karena anggapan itu belum pernah ia dapatkan sebelumnya dan memberinya susu kambing. Siddhattha mulai merasa lebih baik. Pangeran Siddhattha sadar bahwa tanpa pertolongan anak gembala itu, ia dapat tewas sebelum mencapai pencerahan.

Suatu ketika lewatlah kawanan penyanyi yang terdiri dari perempuan muda dan beberapak lelaki dan mendendangkan suatu lagu yang kurang lebih berbunyi “Kalau sitar dipentang terlalu keras, talinya putus, lagu pergi, kalau tali terlalu kendor iapun tidak bisa bersuara, ia punya nada tidak boleh terlalu kendor atau terlalu kencang, orang yang memainkan mesti bisa menimbang dan memperkirakannya“.

Sidartha terheran-heran dan berkata “Sungguh aneh keadaan di dunia ini bahwa seorang Bodhisatta (calon Buddha) harus menerima pelajaran dari seorang penari ronggeng. Karena bodoh aku telah menarik demikian keras tali kehidupan, sehingga hampir-hampir saja putus. Memang seharusnya aku tidak boleh menarik tali itu terlalu keras atau terlalu kendur” [“Gotama the Buddha: An Inspiring Biography for the Young Readers“, H. L. Luthra, hal.15-16]

Dua kisah di atas ini, yaitu anak penggembala diceramahi tentang kasta dan tentang nyanyian Sitar juga TIDAK ADA dalam Sutta, Vinaya dan di kitab-kitab komentar Buddhis klasik KECUALI berasal dari buku ke-6, “The Light of Asia“-nya Sir Edwin Arnold. Tidak diketahui darimana asal-usul kisah karangannya ini. Di Tipitaka pali, terdapat pula tentang “tinggi-rendahnya nada sitar”, yaitu di AN 6.55/Sona Sutta, namun nasihat ini berasal dari Buddha Gotama kepada Bhikkhu Sona dan BUKAN dari penyanyi Sitar kepada Siddhattha di sebelum pencerahannya:

    “Katakan padaKu, Soṇa, di masa lalu, ketika engkau menetap di rumah, bukankah engkau terampil dalam bermain Sitar/Dawai/kecapi (tantissare)?”
    “Benar, Bhante (guru).”
    “Bagaimana menurutmu, Soṇa? ketika senarnya terlalu kencang, apakah nadanya tertala dengan baik dan mudah dimainkan?”
    “Tidak, Bhante.”
    “Ketika senarnya terlalu kendur, apakah nadanya tertala dengan baik dan mudah dimainkan?”
    “Tidak, Bhante.”
    “Tetapi, Soṇa, ketika senarnya tidak terlalu kencang juga tidak terlalu kendur, melainkan diatur seimbang, apakah nadanya tertala dengan baik dan mudah dimainkan?”
    “Benar, Bhante.”
    “Demikian pula, Soṇa, jika kegigihan dibangkitkan terlalu kuat maka ini mengarah pada kegelisahan, dan jika kegigihan terlalu kendur maka ini mengarah pada kemalasan. Oleh karenanya, Soṇa, bertekadlah pada kegigihan yang seimbang, capailah kesetaraan indria-indria mental, dan peganglah objek di sana.”

Versi lainnya kisah pertolongan setelah pingsan, misalnya di bawah ini:

Pertolongan putri kepala kawanan gembala bernama Nandabala yang memberikan Tajin & Sujata menawarkan susu beras
Ketika Siddhattha pergi mandi, Ia tidak kuat berbangkit di air hampir tenggelam dan untunglah ada suatu cabang pohon ia merayap naik dan dengan perlahan berlalu dari sungai. menuju tempat pertapaannya, tidak berapa lama kemudian ia roboh dengan tubuh tidak bergerak. Kelima Pertapa yang bersamanya mengira bahwa ia sudah mati. Kebetulan hari itu ada seorang anak perempuan bernama Nandabala, anak seorang kepala kawanan gembala dan Siddhattha diberikan nasi Tajin olehnya [Buddhacarita, karya Asvhagosha abad ke-2 M]

    Note:
    Versi lainnya lagi ada di kitab komentar, yaitu Sujata memberikan nasi-beras pada Siddhattha yang tengah bermeditasi dan dianggapnya sebagai dewa

Di Tipitaka pali disebutkan bahwa Siddhattha memahami bahwa praktek dengan cara-cara sebelumnya tidaklah membawanya menuju Penerangan Agung. Kemudian, timbul dalam tiga buah perumpamaan yang sebelumnya tak pernah muncul sebelumnya dalam pikirannya.

Pertama:
Kalau sekiranya sepotong kayu diletakkan di dalam air dan seorang membawa sepotong kayu lain (yang biasa digunakan untuk membuat api dengan menggosok-gosoknya) dan ia pikir, “Aku ingin membuat api, aku ingin mendapatkan hawa panas.” Orang ini tidak mungkin dapat membuat api dari kayu yang basah itu dan ia hanya akan memperoleh keletihan dan kesedihan. Begitu pula para pertapa dan Brahmana yang masih terikat kepada kesenangan nafsu-nafsu indria dan mentalnya masih ingin menikmatinya pasti tak akan berhasil.

Kedua:
Kalau sekiranya sepotong kayu basah diletakkan di tanah yang kering dan seorang membawa sepotong kayu lain (yang biasa digunakan untuk membuat api dengan menggosok-gosoknya) dan ia pikir, “Aku ingin membuat api, aku ingin mendapatkan hawa panas.” Orang ini tidak mungkin dapat membuat api dari kayu yang basah itu dan ia hanya akan memperoleh keletihan dan kesedihan. Begitu pula para pertapa dan Brahmana yang tidak terikat lagi kepada kesenangan nafsu-nafsu indria tetapi mentalnya masih ingin menikmatinya pasti juga tidak akan berhasil.

Ketiga:
Kalau sekiranya sepotong kayu kering diletakkan di tanah yang kering dan seorang membawa sepotong kayu lain (yang biasa digunakan untuk membuat api dengan menggosok-gosoknya) dan ia pikir, “Aku ingin membuat api, aku ingin mendapatkan hawa panas.” Orang ini pasti dapat membuat api dari kayu kering itu. Begitu pula para pertapa dan Brahmana yang tidak terikat lagi kepada kesenangan nafsu-nafsu indria dan mentalnya juga tidak terikat lagi, maka pertapa dan Brahmana itu berada dalam keadaan yang baik sekali untuk memperoleh Penerangan Agung

Aku mempertimbangkan:
‘Aku ingat ketika ayahKu orang Sakya yang berkuasa, sewaktu Aku sedang duduk di keteduhan pohon jambu, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, Aku masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Mungkinkah itu adalah jalan menuju pencerahan?’ Kemudian, dengan mengikuti ingatan itu, muncullah pengetahuan: ‘Itu adalah jalan menuju pencerahan.’

Aku berpikir: ‘Mengapa Aku takut pada kenikmatan itu yang tidak berhubungan dengan kenikmatan indria dan kondisi-kondisi tidak bermanfaat?’ Aku berpikir: ‘Aku tidak takut pada kenikmatan itu karena tidak berhubungan dengan kenikmatan indria dan kondisi-kondisi tidak bermanfaat.’

Aku mempertimbangkan:
‘Tidaklah mudah untuk mencapai kenikmatan demikian dengan badan yang sangat kurus. Bagaimana jika Aku memakan sedikit makanan padat—sedikit nasi dan bubur.’ Dan Aku memakan sedikit makanan padat—sedikit nasi dan bubur.[MN 36/Mahasaccaka Sutta]

Aku sampai di Senānigama di dekat (hutan) Uruvelā. Di sana Aku melihat sepetak tanah yang nyaman, hutan yang indah dengan aliran sungai yang jernih dengan pesisir yang halus dan menyenangkan dan di dekat sana terdapat sebuah desa sebagai sumber dana makanan. [MN 26/ Ariyapariyesanā Sutta]

    Kitab Komentar:
    Dekat tempat Siddhattha bertapa, tinggal seorang pemilik tanah yang bernama Senani yang mempunyai anak perempuan bernama Sujata. Suatu pagi, karena terkabul harapannya, Sujata, hendak memberikan persembahan kepada Dewa. Ia kemudian melihat Siddhattha yang tengah bersemedi dan menganggapnya sebagai Dewa. Dengan keadaan yang sangat bergembira, Ia kemudian persembahkan mangkuk dengan bahan emas yang berisi susu beras kepadanya sambil berkata, “Seperti harapanku yang terwujud, semoga demikian pula dengan Yang mulia“. Siddhattha, dengan membawa mangkuk kosong, berjalan sampai di tepian Sungai Nerañjara dan melemparkannya ke tengah sungai, sambil berkata, “Jika sudah waktuku, maka mangkuk ini akan mengalir melawan arus, bukan mengikuti arus”. Mangkuk itu kemudian mengalir melawan arus. [Jinacarita, karya Medhaṁkara, abad ke-13 M, no.215-219. Juga di DPPN: Sujata]

Tetapi ketika Aku memakan nasi dan bubur, kelima petapa itu menjadi jijik dan meninggalkan Aku, dengan berpikir: ‘Petapa Gotama sekarang hidup dalam kemewahan; ia telah meninggalkan usahaNya dan kembali pada kemewahan.’ [MN 36/ Mahasaccaka Sutta]

Bertekad menemukan Kebenaran
Sebelum pencerahanNya, Pangeran Siddhattha, mengalami 5 mimpi yang semakin meneguhkan bahwa cita-citanya akan segera tercapai, yaitu mimpi mengenai:

  1. bumi besar ini menjadi ranjangnya; Himālaya, raja pegunungan, menjadi bantalNya; tangan kiriNya berada di atas lautan timur, tangan kananNya di lautan barat, dan kedua kakiNya di lautan selatan.
  2. sejenis rumput yang disebut tiriyā muncul dari pusarNya dan menjulang menyentuh langit
  3. ulat-ulat putih berkepala hitam merayap dari kaki hingga ke lututNya dan menutupinya.
  4. empat ekor burung berbeda warna datang dari empat penjuru, jatuh di kakinya, dan semuanya berubah menjadi putih.
  5. Beliau mendaki gunung kotoran yang besar tanpa terkotori oleh kotoran itu [AN 5.196]

Kemudian, seorang penjual jerami bernama Sotthiya dan memberikan rumput kepadanya. Rumput itu dijadikan alas duduknya di bawah pohon Bodhi. Kemudian, ia duduk menghadap ke Timur, dengan berbekal semangat, “walaupun kulitku, uratku, dan tulangku yang tersisa, dan walaupun daging dan darahku mengering dalam tubuhku, aku tidak akan mengendurkan usahaku sebelum aku mencapai apa yang dapat dicapai dengan kekuatan manusia, dengan kegigihan manusia, dengan usaha manusia” [syair ini berasal dari MN 70], Ia pun bermeditasi

Meditasi di bawah pohon bodhi
Ia mengabaikan semua gangguan, ingatan-ingatan kenikmatan masa lalu, pemikiran duniawi dan hanya mengarahkan pikiran pada keluar masuknya nafas.

    “Setelah memakan makanan padat dan memperoleh kembali kekuatanKu, maka dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari hal yang tak bermanfaat (melalui pemusatan pikiran) dengan menggenggam dan mempertahankan (objek) dari menanggalkan itu, munculah rasa sukacita dan nikmat, aku masuk dalam Jhana ke-1… dalam jhāna ke-2.. dalam jhāna ke-3… dalam jhāna ke-4… perasaan menyenangkan yang muncul itu tidak menyerbu pikiranKu dan tidak menetap di sana. [MN 36/Mahasaccaka Sutta]

Pada mulanya banyak imaginasi mengganggu muncul dalam pikiran seperti keinginan pada benda-benda duniawi, tidak menyukai kehidupan kesucian, kemalasan untuk tidak melakukannya, keraguan, ketakutan akan mahluk-mahluk halus, dan banyak lagi rintangan dan gangguan mental ketika berupaya melawan keinginan dan nafsu-nafsu.

    Ketika Aku berdiam di tepian sungai Neranjara, dalam pergulatanku bermeditasi mengerahkan segenap kekuatan untuk bebas dari belenggu. Namucci/Mara menghampiriku dan berbicara manis seolah bersimpati: ‘Engkau begitu kurus dan pucat, nyaris binasa, seribu bagian binasa, satu bagian hidup, Bertahanlah hidup, Yang Mulia! Lebih baik hidup, dapat mengumpulkan kebajikan jika hidup. Menjalani kesucian, melakukan persembahan pada api suci. Mendapatkan banyak kebajikan. Buat apa semua pergulatan ini? Jalan pergulatan ini sangatlah keras, melelahkan dan sulit

    Ketika Mara mengatakan ini, Ia di dekatKu. Kemudian Sang Buddha berkata:
    ‘Wahai sang jahat, sahabat bagi yang lengah? Kau datang untuk kepentinganmu sendiri. Tak ku butuhkan kebajikan seperti itu. Oh Mara, kotbah kebajikanmu, sampaikan pada yang butuh. Dengan keyakinan dan semangat juga pengetahuanku. Ketika berjuang menahan, Mengapa berbicara tentang hidup?

    Dengan bertiupnya angin, bahkan air aliran sungaipun mengering. Dengah berjuang menahan, darahku mereda. Dengan mereda darahku, demikian pula gairah dan gelora. Jasmani mereda, pikiran semakin murni, semakin perhatian dan bijak, pikiran terpusat tak goyah. Berdiam seperti ini, ku memahami lintasan perasaan, pikiran ku tak lagi merindukan kenikmatan, melihat apa adanya kehidupan.

    Bala tentaramu yang ke-1 adalah Nafsu, yang ke-2 adalah ketidakpuasan, yang ke-3 adalah kehausan, yang ke-4 adalah ketagihan, yang ke-5 lamban dan malas, yang ke-6 adalah ketakutan, yang ke-7 adalah keraguan, yang ke-8 adalah tak menghargai dan keangkuhan. Juga keuntungan materi, pujian, kehormatan dan kemasyhuran dengan cara keliru, meninggikan diri dan merendahkan lainnya.

    Semua ini, wahai Mara, tentaramu, pasukan penyerang kegelapan. Hanya keberanian menaklukan yang memperoleh kebahagiaan. Dengan anyaman rumput munja, pantang mundur, malu hidup untuk kalah di sini, lebih baik mati dalam pertempuran daripada hidup untuk dikalahkan…

    Dengan seluruh bala tentara disekelilingku, Mara siap beserta kendaraannya, Aku siap menempur, Aku tidak tergoyahkan. Seandainya seluruh dunia, termasuk para dewanya, tak dapat mengalahkan bala tentaramu, aku akan menghancurkannya dengan kekuatan kebijaksanaan, bagaikan pot tembikar yang tidak dibakar dihancurkan oleh buah batu…

    Mara:
    Selama 7 tahun ku ikuti jejak Sang Buddha,’mengamati setiap langkahnya. Tidak satu kali pun aku bisa mengalahkanNya..[SNP 3.2/Padhana Sutta]

Pencerahan sempurna
“Ketika konsentrasi pikiranKu sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas kekotoran, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan, Aku mengarahkannya pada pengetahuan mengingat kehidupan lampau:

[..] Aku mengingat banyak ragam kelahiran dikehidupan lampauKu sebagai berikut: mula-mula 1 kelahiran, 2, 5, 10, 50, 100, 1000, 100.000, banyak Kappa kontraksi kosmis, banyak Kappa kosmis mengembang, banyak Kappa dari kontraksi dan mengembangnya kosmis [..] Pengetahuan pertama ini didapat pada malam hari di waktu jaga ke-1 (18.00 s/d 22.00);

melalui mata dewaNya, melihat mahluk-mahluk wafat dan muncul kembali di bermacam alam, terhubung dengan karma mereka sendiri hingga dibedakan menjadi inferior/superior, penampilannya baik/buruk, beruntung/sial;[..]. Pengetahuan ke-2 ini pada malam waktu jaga ke-2 [22.00 s/d 02.00];

pengetahuan penyebab, cara penghancuran noda dan mengakhir kelahiran kembali [..]. Pengetahuan ke-3 ini pada malam waktu jaga ke-3 [02.00 s/d 06.00] [MN 36/Mahasaccaka Sutta]

Akhirnya, di akhir malam itu, beliau menang:
“melalui ragam lingkaran kelahiran, sia-sia berputaran mencari si ‘Pembuat Rumah’, Menyakitkan terlahir lagi dan lagi; Pembuat Rumah, telah ditemukan, Tak kan lagi dapat membuat rumah, Semua sendimu telah hancur, atapmu telah roboh, bentukan material pikiran telah dilucuti, belitan nafsu keinginan telah dihancurkan” [Dhammapada Syair 153-154].

Di usia 35 tahun, tercapailah cita-citanya, menjadi Buddha, yang tercerahkan sempurna.

Setelah mencapai pencerahan sempurna, selama berminggu-minggu kemudian, sang Buddha masih menetap di dekat sungai Neranjara, di hutan Uruvela, bermeditasi di bawah beberapa pohon, yaitu: pohon Bodhi, Beringin gembala kambing, Mucalinda dan Rajayatana.

Minggu ke-1,
Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada di hutan Uruvela, di tepi sungai Neranjara, di bawah pohon Bodhi, baru saja Sang Bhagava mencapai Penerangan Sempurna. (hari ke-2) Sang Bhagava meneruskan duduk bermeditasi selama 7 hari, menikmati kebahagian kebebasannya. Setelah lewat hari ke-7 (sattāhassa accayena) itu, Sang Bhagava keluar dari meditasinya [Udana 1.1/Bodhi Sutta, Vinaya I]

Selama minggu ke-2,
Kitab komentar:
Sang Buddha berdiri beberapa kaki dari pohon Bodhi dan memandanginya terus-menerus dengan mata tidak berkedip selama satu minggu sebagai ucapan terima kasih dan penghargaan kepada pohon yang telah memberi-Nya tempat untuk berteduh sewaktu berjuang untuk mencapai tingkat Buddha. Raja asoka membangun cetiya Amisa untuk mengenang peristiwa ini. Di komentar yang sama, dikatakan bahwa untuk meyakinkan para dewa Sang Buddha melakukan pula keajaiban ganda (yamakapāṭihāriya)[UA 52; MA 2:184; J 1:77, juga di Jinacarita 3]

Sutta dan Vinaya:
(hari ke-10) Pada malam jam jaga ke-1, Sang Buddha keluar dari Meditasinya dan memformulasikan Paticcasamuppada:

    ..Di malam jaga pertama (18.00-22.00), Sang Bhagava memperhatikan sebab musabab yang saling bergantungan dalam urutan maju: “Ini ada, itu ada; karena munculnya ini, maka muncullah itu. Yaitu:

    dengan adanya ketidaktahuan sebagai kondisi, bentuk-bentuk pemikiran/kehendak muncul;
    dengan adanya bentuk-bentuk pemikiran/kehendak sebagai kondisi, kesadaran muncul;
    dengan adanya kesadaran sebagai kondisi, mental dan jasmani muncul;
    dengan adanya mental dan jasmani sebagai kondisi, enam landasan indria sebagai kondisi, kontak terjadi,
    dengan adanya kontak sebagai kondisi, perasaan muncul;
    dengan adanya perasaan sebagai kondisi, nafsu keinginan muncul;
    dengan adanya nafsu keinginan sebagai kondisi, kemelekatan muncul;
    dengan adanya kemelekatan sebagai kondisi, dumadi/keberlangsungan muncul muncul;
    dengan adanya dumadi/keberlangsungan sebagai kondisi, kelahiran muncul;
    dengan adanya kelahiran sebagai kondisi, umur tua dan kematian, duka cita, keluh kesah, rasa sakit, kesedihan dan keputusasaan muncul.
    Inilah asal mula dari seluruh rangkaian penderitaan”.

    Kemudian karena menyadari pentingnya hal itu, Sang Bhagava pada saat itu mengungkapkan kotbah inspirasi ini: Jika Kebenaran menjadi jelas bagi Brahmana yang bermeditasi dengan giat, maka semua keraguan lenyap karena ia mengerti bagaimana tiap faktor yang muncul ada penyebabnya [Udana 1.1/Bodhi Sutta, Vinaya I]

Di jam jaga ke-2:

    ..Di malam jaga ke-2 (22.00-02.00), Sang Bhagava memperhatikan sebab musabab yang saling bergantungan dalam urutan mundur: “Ini tidak ada, itu tidak ada, dari berhentinya ini, maka itu berhenti. Yaitu:

    dari berhentinya ketidaktahuan, bentuk-bentuk pemikiran/kehendak berhenti;
    dari berhentinya bentuk-bentuk pemikiran/kehendak, kesadaran berhenti;
    dari berhentinya kesadaran, mental dan jasmani berhenti;
    dari berhentinya mental dan jasmani, enam landasan indria berhenti;
    dari berhentinya enam landasan indria, kontak berhenti;
    dari berhentinya kontak, perasaan berhenti;
    dari berhentinya perasaan, nafsu keinginan berhenti;
    dari berhentinya nafsu keinginan, kemelekatan berhenti;
    dari berhentinya kemelekatan, dumadi berhenti;
    dari berhentinya dumadi, kelahiran berhenti;
    dari berhentinya kelahiran, usia tua dan kematian, duka cita, keluh kesah, rasa sakit, kesedihan, dan keputusasaan berhenti.
    Ini merupakan berhentinya seluruh rangkaian penderitaan..” [Udana 1.2/Bodhi Sutta, Vinaya I]

Di jam jaga ke-3:

    ..di malam jaga ke-3 (02.00-06.00), Sang Bhagava memperhatikan sebab musabab yang saling bergantungan dalam urutan maju dan mundur, demikian:

    “Karena ini ada, itu ada; dari timbulnya ini, timbullah itu; karena tidak ada ini, itu tidak ada; dari berhentinya ini, itu berhenti. Yaitu: dengan adanya ketidaktahuan sebagai kondisi, bentuk-bentuk pemikiran/kehendak muncul; dengan adanya kelahiran sebagai kondisi, maka usia tua dan kematian, duka cita, keluh kesah, rasa sakit, kesedihan, dan keputusasaan muncul. Ini merupakan asal mula seluruh rangkaian penderitaan. Tapi dari lenyap dan berhentinya sama sekali ketidaktahuan keseluruhan maka bentuk-bentuk pemikiran/kehendak berhenti; dari berhentinya kelahiran maka usia tua dan kematian, duka cita, keluh kesah, rasa sakit, kesedihan, dan keputusasaan berhenti. Ini merupakan berhentinya seluruh rangkaian penderitaan..” [Udana 1.3/Bodhi Sutta, Vinaya I]

Sang Bhagava, setelah lewat hari ke-7 (sattāhassa accayena), terbangun dari meditasinya, mendatangi pohon beringin gembala kambing (Ajapala Nigrodha).. [Vinaya I]

Selama minggu ke-3,
Kitab komentar:
selama minggu ke-3, Sang Buddha berjalan mondar-mandir di jalan setapak permata yang diciptakan oleh para dewa dan brahmà dan berjalan dari timur ke barat antara singgasana Aparàjita dan cetiya ‘tatapan’; Pada saat itu Beliau merenungkan Dhamma dan tenggelam dalam Phala Samàpatti, meditasi dalam Buah Pencapaian. [RAPB, buku ke-1, hal.659]

Sutta dan Vinaya:
(hari ke-18) Di pohon beringin gembala kambing, beliau bermeditasi selama 7 hari menikmati kebahagiaan dari kebebasannya [Vinaya I]. Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu saat Sang Bhagava sedang tinggal di hutan Uruvela, di dekat sungai Neranjara, di bawah Pohon Beringin Gembala Kambing, setelah baru saja memperoleh Penerangan Sempurna. Pada saat itu Sang Bhagava duduk bermeditasi selama 7 hari menikmati kebahagiaan dari Kebebasan. Kemudian ketika 7 hari itu sudah berlalu, Sang Bhagava berhenti bermeditasi [Udana 1.4, Bodhi Sutta]

Selama minggu ke-4,
Kitab komentar:
Selama minggu ke-4, Sang Buddha berdiam di kamar batu permata (ratanagharacetiya) yang diciptakan-Nya dan bermeditasi mengenai Abhidhamma (ajaran yang lebih dalam). Mental dan badan jasmani-Nya telah menjadi demikian bersih, sehingga badannya memancarkan 6 sinar, yaitu: Biru (Nila), Kuning (Pita), Merah (Rohita), Putih (Odata), Jingga (Manjistha) dan campuran 5 warna sebelumnya (Prabhasvara). Pancaran sinar ini disebut Buddharasmi atau Sinar Buddha (warna-warna tersebut kini diabadikan sebagai bendera umat Buddha) [Kitab komentar tentang 6 warna disebutkan di sini. Contoh lain tentang pancaran 6 warna, disebutkan juga dalam komentar untuk jataka misal di no.4, 87, 536].

    Note:
    Tidak ada di Sutta maupun Vinaya yang menyatakan bahwa di minggu ke-4 (bahkan hingga akhir hayat beliau sekalipun), Sang Buddha menyusun Abhidhamma (yang kelak menjadi 1/3 bagian tipitaka: Sutta, vinaya dan Abhidhamma). Juga Tidak ada pula di sutta dan vinaya manapun yang menyebutkan bahwa 7 kitab Abhidhamma berasal dari Sang Buddha (ataupun diturunkan via Sariputta). 7 kitab Abhidhamma sendiri baru muncul di jaman raja Asoka (abad ke-3 SM) setelah konsili ke-3. Untuk jelasnya baca: Terbentuknya Tipitaka dan Perpecahan Buddhisme Menjadi Banyak Aliran

    Sementara itu,
    Abhidhamma asli yang merupakan ajaran sang Buddha adalah 37 hal sisi pencerahan/Sattatiṁsā Bodhipakkhiya dhammā:

    ”…hal-hal ini yang telah Kuajarkan kepada kalian setelah mengetahuinya secara langsung, yaitu:

    • 4 landasan perhatian
    • 4 jenis usaha benar
    • 4 landasan kekuatan mental
    • 5 indria
    • 5 kekuatan
    • 7 faktor pencerahan
    • 8 jalan Mulia [37 ini juga tercantum di DN 16/Mahaparinibanna sutta]

    dalam hal-hal ini kalian semuanya harus berlatih dalam kerukunan, dengan saling menghargai, tanpa perselisihan. Tesañca vo, bhikkhave, samaggānaṃ sammodamānānaṃ avivadamānānaṃ sikkhataṃ siyaṃsu dve bhikkhū abhidhamme nānāvādā… (Sewaktu kalian berlatih dalam kerukunan, dengan saling menghargai, tanpa perselisihan, dua bhikkhu mungkin membuat pernyataan berbeda sehubungan dengan Dhamma yang lebih dalam…)” [MN 103/Kinti Sutta]

Sutta dan Vinaya:
(hari ke-26) Setelah 7 hari, Sang Bhagava terbangun dari meditasinya. Saat itu seorang Brahmana tertentu yang mendengungkan suara hum-hum (huṃhuṅka) mendekati Sang Bhagavā; mendekati Sang Bhagava, bertegur sapa, setelah mengakhiri ramah tamah itu, Brahmana itu tetap berdiri pada satu sisi, berdiri di sana dan berkata kepada Sang Bhagava: “Gotama yang baik, bagaimanakah seseorang bisa disebut Brahmana dan apakah hal-hal yang membuat seseorang menjadi Brahmana?”. Kemudian karena menyadari pentingnya hal itu, Sang Bhagava pada saat itu mengungkapkan kotbah inspirasi ini:

Brahmana adalah seseorang yang sudah membuang semua hal buruk, tidak menyuarakan hum-hum (mantra/deheman), bebas noda, terkendali, Sempurna pengetahuannya, menjalani brahmacariya. Ia berhak dikatakan di jalan Brahma, tanpa bandingannya di alam manapun [Udana 1.4, Bodhi Sutta, Vinaya I]

Kemudian sejumlah para brahmana yang sepuh, tua, terbebani tahun demi tahun, berusia lanjut, sampai pada tahap akhir, mendatangiKu dan saling bertukar sapa denganKu. Ketika mereka telah mengakhiri ramah tamah itu, mereka duduk di satu sisi dan berkata kepadaKu:
“‘Kami telah mendengar, Guru Gotama: “Petapa Gotama tidak menghormat para brahmana yang sepuh, tua, terbebani tahun demi tahun, berusia lanjut, sampai pada tahap akhir; Beliau juga tidak bangkit untuk mereka dan menawarkan tempat duduk kepada mereka.” Hal ini memang benar, karena Guru Gotama tidak menghormat para brahmana yang sepuh, tua, terbebani tahun demi tahun, berusia lanjut, sampai pada tahap akhir; Beliau juga tidak bangkit untuk mereka dan menawarkan tempat duduk kepada mereka. Hal ini tidak selayaknya, Guru Gotama’

“Kemudian Aku berpikir: Para mulia ini tidak mengetahui apa itu sepuh dan kualitas-kualitas apa yang membuat seseorang menjadi sepuh. Walaupun seseorang berusia tua—80, 90, atau 100 tahun sejak lahir—jika ia berbicara pada waktu yang tidak tepat, tidak benar, mengatakan apa yang tidak bermanfaat, mengatakan apa yang berlawanan dengan Dhamma dan disiplin, jika pada waktu yang tidak tepat ia mengucapkan kata-kata yang tidak berguna, tidak masuk akal, berbicara tanpa tujuan, dan tidak bermanfaat, maka ia dianggap sebagai seorang sepuh yang kekanak-kanakan.

Tetapi walaupun seseorang berusia muda, seorang pemuda berambut hitam, memiliki berkah kemudaan, pada masa utama kehidupannya, jika ia berbicara pada waktu yang tepat, jujur, mengatakan apa yang bermanfaat, mengatakan apa yang sesuai dengan Dhamma dan disiplin, dan jika pada waktu yang tepat ia mengucapkan kata-kata yang layak diingat, masuk akal, ringkas, dan bermanfaat, maka ia dianggap sebagai sesepuh bijaksana’” [AN 4.22/Uruvela Sutta]

Kemudian, Sang Bhagava, setelah lewat hari ke-7 (sattāhassa accayena), terbangun dari meditasinya dan mendekati pohon Mucalinda. [Vinaya I]

Selama minggu ke- 5-6,
Sutta dan Vinaya:
(hari ke-34) Di pohon Mucalinda, sang Bhagava duduk bermeditasi selama 7 hari menikmati kebahagiaan dari Kebebasan. Saat itu walaupun bukan masanya, terjadilah hujan badai yang besar, dan selama 7 hari terdapat awan-awan hitam, angin dingin dan cuaca yang tidak menentu. Waktu itu Mucalinda, Raja-Naga, meninggalkan tempat tinggalnya dan sesudah melingkari tubuh Sang Bhagava tujuh kali dengan tubuhnya, dia berdiri dengan kerudung kepalanya yang terbentang di atas kepala Sang Bhagava, (sambil berpikir) untuk melindungi Sang Bhagava dari dingin dan panas, dari pengganggu, nyamuk, angin, matahari, dan sentuhan makhluk-makhluk yang menjalar. Pada akhir hari ke-7, Sang Bhagava berhenti dari meditasinya. Saat itu Mucalinda, Raja-Naga, melihat bahwa langit telah cerah dan awan-awan hujan telah berlalu, melepas lingkaran tubuhnya dari tubuh Sang Bhagava. Dengan merubah penampilannya dan membentuk penampilan sebagai seorang pemuda, dia berdiri di depan Sang Bhagava, dengan tangan dirangkapkan, untuk menghormat beliau. Kemudian karena menyadari pentingnya hal itu, Sang Bhagava pada saat itu mengungkapkan kotbah inspirasi ini:

Berbahagia adalah ketidakterikatan bagi seseorang yang puas hati,
bagi seseorang yang sudah belajar Dhamma dan yang melihat;
berbahagia adalah tidak adanya penderitaan di dunia ini,
mengendalikan diri terhadap makhluk-makhluk hidup;
berbahagia adalah tidak adanya nafsu di dunia ini,
mengalahkan nafsu-nafsu indria;
tetapi menghilangkan kesombongan “aku”,
itu adalah benar-benar kebahagiaan tertinggi
.


Setelah lewat hari ke-7 (sattāhassa accayena), Sang Buddha menuju pohon Rajayatana [Udana 2.1: Mucalinda Sutta, Vinaya I].

Kitab komentar menempatkan kejadian ini pada minggu ke-6.

Selama minggu ke- 6-7,
Sutta dan Vinaya:
(hari ke-42) Di pohon Rajayatana, sang Buddha bermeditasi 7 hari lamanya menikmati kebahagiaan dari Kebebasan. [Vinaya I].

(hari ke-50) Pada saat itu, dua orang pedagang lewat di dekat tempat Sang Buddha sedang duduk. Mereka, Tapussa dan Bhallika, menghampiri Sang Buddha dan mempersembahkan makanan dari beras dan madu. Muncul dalam pikiran Sang Buddha, bahwa beliau tidak memiliki mangkuk untuk menerima persembahan tersebut (mangkok yang diterima dari Sujata telah dihanyutkan di Sungai Neranjara dan sejak zaman dahulu tidak pernah seorang Buddha menerima makanan dengan kedua tangan-Nya).

Kemudian, empat raja dewa dari empat penjuru (Dhatarattha dari Timur, Virulhaka dari Selatan, Virupakkha dari Barat, dan Kuvera dari Utara) mengetahui pikiran sang Bhagava, datang dengan 4 mangkuk yang terbuat dari kristal, berkata, “mohon Yang Mulia agar menerimanya dengan ini”. Sang Bhagava menerima 4 mangkuk tersebut, mengubahnya menjadi satu dan menerima persembahan Tapussa dan Bhallika. Setelah Sang Buddha selesai makan kedua pedagang itu memohon agar diterima sebagai pengikut dan diterima sehingga mereka upasaka-upasaka pertama yang berlindung kepada Sang Buddha dan Dhamma. [Vinaya I]

    Kitab komentar:
    Tappussa dan Bhalika memohon diberikan suatu benda yang dapat mereka bawa pulang, Sang Buddha mengusap kepala-Nya dengan tangan kanan dan memberikan beberapa helai rambut (Kesa Dhatu = Relik Rambut). Tapussa dan Bhallika dengan gembira menerima Kesa Dhatu tersebut dan setelah tiba di tempat mereka tinggal di kota Pokkharawata, Ukkala [Myanmar], mereka mendirikan sebuah pagoda untuk memuja Kesa Dhatu ini [Pagoda adalah Shwedagon berlokasi di Yangon, Myanmar, telah di pugar oleh banyak generasi sesudahnya dan menjadi Pagoda terbesar di dunia]

Kemudian sang Bhagava, setelah lewat hari ke-7 (sattāhassa accayena), Sang Buddha, menuju pohon Beringin gembala kambing… [Vinaya I]

Sang Buddha memutuskan untuk mengajar
Sutta dan Vinaya:
(hari ke-50) Sang buddha menetap di pohon beringin gembala kambing.

Brahma Sahampati, sebelum melakukan permohonan pada Sang Buddha untuk mengajarkan Dhamma, telah beberapa kali muncul dan menyambut pikiran sang Buddha, misalnya dalam hal 5 Indriya (SN 48.57), 4 landasan perhatian (SN 47.18, 47.43) sebagai landasan/jalan mencapai Nibanna, juga mengenai berdiam dalam Dhamma: “..namun aku tidak melihat ada (panāhaṃ passāmi) di dunia ini bersama dengan para deva, Māra, dan Brahmā, di antara populasi brahma, para deva dan manusia, petapa atau brahmana lain yang melampauiku dalam prilaku [sila, samadhi, kebijaksanaan dan pembebasan] (..panna­taraṃ yamahaṃ) yang dapat aku hormati, hargai untuk berdiam dengannya (sakkatvā garuṃ katvā upanissāya vihareyyaṃ). “Aku berpikir: ‘Biarlah Aku menghormati (sakkatvā), menghargai (garuṃ), dan berdiam dengan Dhamma ini yang karenanya Aku menjadi tercerahkan sempurna.’..” Brahma Sahampati muncul dan berkata: “Begitulah, Bhagavā! Begitulah, Yang telah sampai (sugata)!..‘Para sang Buddha yang sempurna di masa lampau, di masa depan dan di masa sekarang, pelenyap dukacita banyak makhluk (bahūnaṃ sokanāsano): semua telah, sedang dan akan berdiam/berada (vihari) menghargai Dhamma sejati (sad­dhamma­garuno). Ini adalah ciri para Buddha..” .. dan Kemudian para bhikkhu, setelah menerima permohonan Brahmā (Atha khvāhaṃ, bhikkhave, brahmuno ca ajjhesanaṃ) dan apa yang sesuai bagi diriKu sendiri, maka Aku menghormati, menghargai, dan berdiam dengan Dhamma yang karenanya Aku menjadi tercerahkan sempurna..”[AN 4.21]

Di bawah pohon gembala kambing, saat sang Buddha bermeditasi, muncul dalam pikiran beliau: “Dhamma yang Kutemukan ini dalam (gambhīro), sulit dilihat (duddaso), sulit dimengerti (duranubodho), damai (santo) luhur (paṇīto), tidak pikiran spekulasi (atakkāvacaro) yang dapat dialami para bijak (nipuṇo ­paṇ­ḍita­veda­nīyo). Generasi ini menyenangi keduniawian, bergembira dalam keduniawian, bersukacita dalam keduniawian. Sulit bagi generasi ini untuk melihatnya terkait hubungan sebab dan kemunculan bergantungan (idappac­caya­tā­paṭic­ca­samup­pādo). Dan adalah sulit untuk melihatnya terkait tenangnya segala bentukan (sabba­saṅ­khā­ra­sama­tho), lepasnya segala kemelekatan, hancurnya keinginan, kebosanan, lenyapnya, Nibbāna. Namun jika Aku mengajarkan Dhamma ini (Ahañceva kho pana dhammaṃ deseyyaṃ) dan pihak lainnya (pare ca me) tidak memahami ini (ājāneyyuṃ), Ia akan melelahkan dan menyusahkanKu”

Selanjutnya muncul dari sang Bhagava, syair-syair yang belum pernah terdengar sebelumnya:

Sungguh sulit yang kuperoleh (Kicchena me adhigataṃ)
Kini dapat diketahui (halaṃ dāni pakāsituṃ);
yang terpengaruh nafsu dan kebencian (Rāgadosaparetehi)
tidak dapat menembus dhamma (nāyaṃ dhammo susambudho)

perlu keterampilan menembus arus (Paṭisotagāmiṃ nipuṇaṃ),
yang dalam, sulit dilihat dan halus (gambhīraṃ duddasaṃ aṇuṃ),
para budak nafsu yang tak tangkas (Rāgarattā na dakkhanti),
berada dalam kegelapan (tamokhandhena āvuṭā)

Brahmā Sahampati memahami pikiran beliau, berpikir: ‘Dunia akan musnah (nassati vata bho loko), dunia akan binasa (vinassati vata bho loko), karena Sang Tathāgata yang sempurna dan tercerahkan sempurna (yatra hi nāma tathāgatassa arahato sammāsambuddhassa), pikirannya condong untuk tidak bertindak (appossukkatāya cittaṃ namati), tidak mewejangkan Dhamma (no dhammadesanāyā)’

Secepat seorang kuat merentangkan tangannya yang tertekuk atau menekuk tangannya yang terentang, Brahmā Sahampati lenyap dari alam Brahmā dan muncul di hadapan beliau, merangkapkan tangan dan memohon: ‘Yang Mulia, sudilah Sang Bhagavā mewejangkan Dhamma, sudilah Yang Sempurna mewejangkan Dhamma. Ada makhluk-makhluk dengan sedikit debu di mata mereka akan tersia-sia karena tidak mendengarkan Dhamma. Akan ada di antara mereka yang akan memahami Dhamma’ [SN 6.1; MN 26; MN 85, sebagian di DN 14 dan Vinaya I]

Hingga kini kenangan atas kebajikan yang dimohonkan Brahma Sahampati kepada Sang Buddha, disyairkan oleh umat kepada bhikkhu, ketika hendak memohon wejangan Dhamma:

Brahmā ca lokādhipatī sahampatī, Katañjalī anadhivaraṃ ayācatha; “Santīdha sattāpparajakkha-jātikā, Desehi dhammaṃ anukampimaṃ pajaṃ” (Oh, Brahma Sahampati, Penguasa dunia ini, mencakupkan tangannya dan memohon, “Ada makhluk-mahluk yang sedikit debu di mata mereka, wejangkanlah dhamma demi kasih pada mereka”) [Budhavamsa no.1]

Sang Buddha melihat ke seputar jagad dengan Buddha cakkhu (Mata sakti Buddha) dan melihat ada yang mampu memahami Dhamma walaupun dibabarkan singkat; Ada yang mampu memahami Dhamma setelah dibimbing dan diberi penjelasan rinci; Ada yang mampu memahami Dhamma karena dibimbing dan mempraktikan Dhamma selama bertahun-tahun; Ada yang tak akan menyadari Dhamma dalam hidup ini namun akan memetik manfaat dalam kehidupan selanjutnya.

Maka Buddha lalu berkata: “Terbukalah pintu tanpa kematian (apārutā tesaṃ amatassa dvārā), bagi mereka yang mau mendengarkan dengan keyakinan (Ye sotavanto pamuñcantu saddhaṃ); Praktek kekejaman tidak lagi bersinar (Vihiṃsasaññī paguṇaṃ na bhāsiṃ), Dhamma akan dibawakan diantara manusia, O Brahma (Dhammaṃ paṇītaṃ manujesu brahme).” . Brahma Sahampati bergembira, karena sang Buddha meluluskan permohonannya, kemudian pergi menghilang [SN 6.1; MN 26; MN 85, sebagian di DN 14 dan Vinaya I]

Setelah sang Bhagava memutuskan mengajar, Mara mendatangi sang Buddha:

    Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Uruvelā di tepi sungai Nerañjarā di bawah Pohon Banyan Penggembala. Pada saat itu Māra papima telah mengikuti Sang Bhagavā selama 7 tahun, mencari peluang untuk menguasaiNya tetapi tidak berhasil, kemudian mendekati Sang Bhagavā,..Mara berkata: “Jika Engkau telah menemukan Sang Jalan, Jalan aman menuju Keabadian, Pergilah dan jalani Jalan itu sendirian; Apa gunanya mengajarkan orang lain?”

    Sang Bhagavā:
    “Orang-orang itu yang pergi ke pantai seberang, bertanya apa yang ada di alam setelah kematian. Ketika ditanya, Aku menjelaskan kepada mereka Kebenaran tanpa perolehan” [SN 4.24]

      Mara:
      ”Bhagavā, sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir”.

      Sang Buddha:
      “Mara Penggoda, Aku tidak akan mencapai Nibbāna akhir SEBELUM:

      • Para [bhikkhu, bhikkhuni, Upasaka/umat awam pria dan Upasika/umat awam wanita]-ku menjadi siswa yang sempurna, terlatih, terampil, menguasai Dhamma, terlatih dalam keselarasan dengan Dhamma, terlatih dengan baik dan berjalan di jalan Dhamma, yang telah lulus dari apa yang mereka terima dari Guru mereka, mengajarkan, menyatakan, mengukuhkan, membabarkan, menganalisa, menjelaskan; hingga mereka mampu menggunakan Dhamma untuk membantah ajaran-ajaran salah yang telah muncul, dan mengajarkan Dhamma yang memiliki hasil yang menakjubkan.
      • Kehidupan suci telah mantap dan berkembang, menyebar, dikenal luas, diajarkan baik di antara para deva dan manusia di mana-mana” [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

      [Kelak di setelah vassa terakhir beliau, di cetiya Capala, Mara datang kembali, juga memintaNya untuk parinibbana saat itu juga dengan mengingatkan bahwa segala hal ini telah tercapai. Setelahnya, Sang Buddha berkata bahwa di 3 bulan mendatang, beliau akan parinibbana]

    Mara:
    “..Yang Mulia, semua penyimpangan, muslihat, perubahanku telah dipotong, pecah, dan hancur oleh Sang Bhagavā. Sekarang, aku tidak mampu lagi mendekati Bhagavā untuk menguasaiNya.”

    Kemudian Māra Papima melantunkan syair kekecewaan di hadapan Sang Bhagavā [SN 4.24].

    Māra papima, setelah mengucapkan syair kekecewaan di hadapan Sang Bhagavā, pergi dari tempat itu dan duduk bersila di atas tanah tidak jauh dari Sang Bhagavā, diam, cemas dengan bahu turun, putus asa, merenung, tidak mampu berkata-kata, menggores tanah dengan sebatang tongkat. Kemudian putri-putri Māra—Taṇhā, Arati, dan Ragā—mendekati Māra papima dan berkata kepadanya dalam syair: “Mengapa engkau bersedih, Ayah? Siapakah orang yang membuatmu berduka? Kami akan menangkapnya dengan jerat nafsu Seperti mereka menangkap gajah hutan. Kami akan mengikatnya erat dan membawanya kembali, Dan ia akan berada di bawah kekuasaanmu.”

    Mara:
    “Sang Arahanta, Yang Sempurna di dunia ini, Tidaklah mudah ditarik dengan menggunakan nafsu. Ia telah pergi meninggalkan alam Māra: Oleh karena itu, aku berduka dengan pahit.”

    Kemudian putri-putri Māra—Taṇhā, Arati, dan Ragā—mendekati Sang Bhagavā dan berkata kepada-Nya: “Kami melayani-Mu, Petapa.”. Tetapi Sang Bhagavā tidak memperhatikan, karena Beliau terbebas dalam padamnya perolehan yang tiada bandingnya.

    Kemudian putri-putri Māra—Taṇhā, Arati, dan Ragā—pergi ke pinggir dan berembuk: “Selera laki-laki berbeda-beda. Bagaimana jika masing-masing dari kita menjelma menjadi bentuk seratus bidadari.”. Kemudian ketiga putri Māra itu, masing-masing mengubah wujudnya menjadi seratus bidadari..menjadi bentuk seratus orang perempuan yang belum pernah melahirkan…menjadi bentuk seratus orang perempuan yang pernah melahirkan satu kali..yang pernah melahirkan dua kali..perempuan setengah tua..perempuan tua, mendekati Sang Bhagavā dan berkata kepada-Nya: “Kami melayani-Mu, Petapa.” Tetapi Sang Bhagavā tidak memperhatikan, karena Beliau terbebas dalam padamnya perolehan yang tiada bandingnya.

    Kemudian putri-putri Māra—Taṇhā, Arati, dan Ragā—mendekati Sang Bhagavā dan berdiri di satu sisi. Sambil berdiri di satu sisi, Putri Māra bernama Taṇhā berkata: “Apakah karena Engkau tenggelam dalam kesedihan Maka Engkau bermeditasi di dalam hutan? Karena Engkau kehilangan harta atau menginginkan harta,
    Atau melakukan kejahatan di desa? Mengapa Engkau tidak bergaul dengan orang-orang? Mengapa Engkau tidak menjalin hubungan akrab?”

    Sang Bhagavā:
    “Setelah menaklukkan bala tentara kesenangan dan kenikmatan, bermeditasi sendirian, Aku menemukan kebahagiaan, Pencapaian tujuan, kedamaian batin. Oleh karena itu, Aku tidak bergaul dengan orang-orang, Juga, Aku tidak menjalin hubungan akrab.”

    Kemudian putri Māra bernama Arati berkata: “Bagaimanakah seorang bhikkhu di sini sering berdiam bahwa, lima banjir telah terseberangi, di sini ia menyeberangi yang ke enam? Bagaimanakah Ia bermeditasi sehingga persepsi indria dipojokkan dan tidak dapat mencengkeramnya?”

    Sang Bhagavā:
    “Tenang dalam jasmani, dalam pikiran yang terbebaskan
    sepenuhnya, Tidak menghasilkan, penuh perhatian, tanpa rumah, Mengetahui Dhamma, bermeditasi yang bebas-pikiran, Ia tidak meledak, atau hanyut, atau kaku. Ketika seorang bhikkhu di sini sering berdiam demikian, Dengan lima banjir terseberangi, ia di sini menyeberangi yang ke enam. Ketika Ia bermeditasi demikian, persepsi indria dipojokkan dan tidak dapat mencengkeramnya.”

    Kemudian putri Māra bernama Rāga berkata: “Ia telah memotong keinginan, mengembara dengan kelompoknya; Tentu saja banyak mahkluk akan menyeberang. Aduh, Yang Tanpa Rumah ini akan merampas banyak orang Dan membawa mereka melampaui Raja Kematian.”

    Sang Bhagavā:
    “Sungguh Para Tathāgata, para pahlawan besar, Dituntun oleh Dhamma sejati. Ketika mereka menuntun dengan Dhamma sejati, Kecemburuan apakah yang ada dalam diri mereka yang mengerti?”

    Kemudian putri-putri Māra—Taṇhā, Arati, dan Ragā—mendekati Māra Papima. Māra melihat mereka datang dari jauh dan berkata kepada mereka: “Bodoh! Kalian mencoba untuk menyerang gunung Dengan tangkai bunga teratai, Menggali gunung dengan kukumu, Mengunyah besi dengan gigimu. Seolah-olah, setelah mengangkat batu dengan kepalamu, Engkau mencari tempat berpijak di jurang; Seolah-olah engkau menabrak tunggul dengan dadamu, Engkau meninggalkan Gotama dengan kecewa.”

    Mereka mendatangi Beliau, gemerlap dengan kecantikan—
    Taṇhā, Arati, dan Ragā—Tetapi Sang Guru menyapu mereka dari sana Bagaikan angin, gumpalan kapas jatuh [SN 4.25]

Sang Buddha mencari orang-orang yang pernah bertapa denganNya
Setelah menerima permohonan Brahma Sahampati, beliau merenungkan: ‘Kepada siapakah pertama kali Aku mengajarkan Dhamma? Siapakah yang akan memahami Dhamma ini dengan cepat?’ Āḷāra Kālāma bijaksana, cerdas, dan dapat melihat; ia telah lama memiliki sedikit debu di matanya. Bagaimana jika Aku mengajarkan Dhamma pertama kali kepada Āḷāra Kālāma. Ia akan memahaminya dengan cepat.’ . Para deva mendatangi Sang Buddha mengatakan bahwa Āḷāra Kālāma meninggal 7 hari yang lalu dan dari pengetahuan dan penglihatannya beliau tahu bahwa benar Āḷāra Kālāma meninggal 7 hari yang lalu. Sehingga beliau berpikir: ‘Kerugian Āḷāra Kālāma sungguh besar. Jika ia mendengarkan Dhamma ini, ia akan memahaminya dengan cepat.’ [MN 26]. Alara kalama melatih meditasi dengan landasan persepsi tak ada sesuatu apapun. Ia menikmati, meminati dan berbahagia dengan persepsi tersebut dan karena mengakar menjadi kebiasaan tanpa alpa melakukannya maka disetelah wafatnya terlahir di antara Deva ākiñcaññāyatana yang akan berumur 60.000 Kappa [AN 3.116/Āneñja sutta]. Gangguan luar dapat menyebabkannya terbangun dari persepsi tersebut dan karena nafsunya belum padam, ini akan mengusiknya, sehingga dapat menyebabkannya terjatuh dari alam itu ke alam yang bawahnya bahkan sampai ke alam Neraka. Sang Buddha tentunya tidak akan melakukan itu

Demikian pula ketika beliau berpikir tentang Uddaka Rāmaputta, Para Deva menyampaikan bahwa Uddaka Rāmaputta meninggal kemarin malam dan dari pengetahuan dan penglihatannya, ia tahu bahwa benar Uddaka Rāmaputta meninggal kemarin malam [MN 26]. Uddaka Ramaputta melatih meditasi dengan landasan landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi Ia menikmati, meminati dan berbahagia dengan persepsi tersebut dan karena mengakar menjadi kebiasaan tanpa alpa melakukannya maka disetelah wafatnya terlahir di antara Deva nevasaññānāsaññāyatana (nevasaññānāsaññāyatanūpagānaṃ devānaṃ sahavyataṃ upapajjati [AN 4.172] yang menurut Vibhanga no.18 Mahluk di alam itu akan berumur hingga 84.000 Kappa, Gangguan luar dapat menyebabkannya terbangun dari persepsi tersebut dan karena nafsunya belum padam, ini akan mengusiknya, sehingga dapat menyebabkannya terjatuh dari alam itu ke alam yang bawahnya bahkan sampai ke alam Neraka. Sang Buddha tentunya tidak akan melakukan itu

Kemudian beliau teringat akan kelima teman asetiknya, Kondanna, Bhaddiya, Vappa, Mahanama and Assaji, mengetahui bahwa mereka tinggal di Sarnath, dekat Varanasi, Beliau segera pergi untuk mencari mereka.

Dalam perjalanan menuju Benares. Antara Gayā dan tempat pencerahannya, Sang Buddha bertemu petapa Ajivaka bernama Upaka. Ketika melihat Sang Buddha, dengan keheranan, ia mendekat dan berkata, “Teman, indriamu cerah, warna kulitmu bersih dan cemerlang. Di bawah siapakah Engkau meninggalkan keduniawian, teman? Siapakah guruMu? Dhamma siapakah yang Engkau anut?“. Sang Buddha memberikan jawaban sebagai berikut:

(1)Sabbābhibhū sabbavidū’ham-asmi
sabbesu dhammesu anūpalitto
sabbaɱjaho taṇhakkhaye vimutto
sayaɱ abhiññāya kam-uddiseyyaɱ

Aku seorang yang telah melampaui segalanya, pengenal segalanya, Tak ternoda di antara segalanya, meninggalkan segalanya, Terbebaskan dalam lenyapnya keinginan. Setelah mengetahui semua ini, Siapakah yang harus Kutunjuk sebagai guru?

(2)Na me ācariyo atthi
sadiso me na vijjati
sadevakasmiɱ lokasmiɱ
na-tthi me paṭipuggalo

Tidak ada guruku, Bahkan untuk yang sepertiku, Tidak ditemukan, di segala alam beserta para dewanya, Tidak ada yang sebanding denganku

(3)Ahaɱ hi arahā loke
ahaɱ satthā anuttaro
eko’mhi sammāsambuddho
sītibhūto’smi nibbuto

Aku adalah Yang Sempurna di dunia ini, Aku Guru Utama, seorang Yang Tercerahkan Sempurna, yang api-apinya telah padam.

(4) Dhammacakkaɱ pavattetuɱ gacchāmi Kāsinaɱ puraɱ
andhabhūtasmiɱ lokasmiɱ āhañchaɱ amatadundubhin ti

Untuk memutar Roda Dhamma, aku menuju Kasi (Taman Rusa Isipatana, dekat Vàrànasi), menabuh genderang tanpa kematian bagi dunia yang tengah meraba-raba dalam kebutaan

Setelah itu, Petapa Upaka berkata,
Yathā kho tvaɱ āvuso paṭijānāsi arahasi anantajino ti

Dengan pengakuanmu, teman, engkau pastinya Pemenang Segalanya

Sang Buddha menjawab:
(5)Mādisā ve jinā honti ye pattā āsavakkhayaɱ
jitā me pāpakā dhammā
tasmā’haɱ Upakā jino ti

Para penakluk (Jina) adalah yang telah menghancurkan noda-noda, Aku telah menaklukkan segala kondisi buruk, Oleh karenanya, Upaka, Aku adalah Pemenang

Selanjutnya, Petapa Upaka berkata, ‘Semoga demikian, teman.’ Dengan menggelengkan kepala, ia berjalan melalui jalan kecil dan pergi. [MN 26/Ariyapariyesanā Sutta].

Dalam kitab komentar, dikatakan bahwa selanjutnya Upaka jatuh cinta dengan puteri seorang pemburu dan menikahinya. Ketika pernikahannya tidak membuatnya bahagia, ia pergi menuju Sang Buddha, memasuki Sangha, mencapai tingkatan seorang yang-tidak-kembali (Anagami), wafat dan terlahir di alam Sudhavasa terbawah [Aviha], dan mencapai Kearahattaannya di sana [Lihat: RAPB, Buku ke-1, Hal 693-698]

Bertemu dengan lima rekannya
Di Benares, Taman Rusa di Isipatana, dan Aku mendekati lima petapa. Dari jauh mereka melihatKu mendekat, dan mereka sepakat: ‘Teman-teman, telah datang Petapa Gotama yang hidup dalam kemewahan, yang telah meninggalkan usahaNya, dan kembali kepada kemewahan. Kita tidak perlu memberi hormat kepadanya atau bangkit menyambutnya atau menerima mangkuk dan jubah luarNya. Tetapi sebuah tempat duduk boleh disediakan untukNya. Jika Ia menginginkan, Ia boleh duduk.’ Akan tetapi, ketika Aku mendekat, para bhikkhu itu tidak dapat mempertahankan kesepakatan mereka. Salah seorang datang menyambutKu dan mengambil mangkuk dan jubah luarKu, yang lain menyiapkan tempat duduk, dan yang lain lagi menyediakan air untuk membasuh kakiKu akan tetapi mereka menyapaKu dengan nama dan sebagai ‘teman.’ [MN 26]

Sang Buddha meyakinkan 5 Rekannya
Setelah duduk, sang Buddha memberitahu mereka: “Para bhikkhu, jangan menyapa Sang Tathāgata dengan nama dan sebagai “teman.” Sang Tathāgata adalah seorang yang sempurna, seorang Yang Tercerahkan Sempurna. Dengarkanlah, para bhikkhu, Keabadian telah dicapai. Aku akan memberikan instruksi kepada kalian, Aku akan mengajarkan Dhamma kepada kalian. Dengan mempraktikkan sesuai yang diinstruksikan, dengan menembusnya untuk kalian sendiri di sini dan saat ini melalui pengetahuan langsung, kalian akan segera memasuki dan berdiam dalam tujuan tertinggi kehidupan suci yang karenanya para anggota keluarga meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah” [MN 26]

Pada mulanya, kelima petapa ini meragukanNya dan memberikan banyak argumen, kemudian sang Buddha berkata pada mereka, “Para petapa, pernahkah kalian mendengar Aku berkata seperti ini sebelumnya?” Mereka menjawab: ‘Tidak, Yang Mulia.’ [MN 26]. Akhirnya mereka mulai mempercayainya dan mau mendengar ajaranNya. Maka Sang Buddha memberikan khotbah pertamaNya yang kelak dikenal sebagai Dhammacakkappavattana Sutta (Khotbah Pemutaran Roda Dhamma). Khotbah ini disampaikan tepat di saat purnama sidhi, pada bulan asadha. Inilah ringkasan kotbah pertama yang legendaris itu:

    “Para bhikkhu, Ada 2 hal ekstrim yang harus tidak dihindari oleh seorang yang menempuh kesucian;

    (1) Mengejar kebahagiaan indria dalam kenikmatan indria (kāmesu kāmasukhallikānuyogo), yang rendah, kasar, cara-cara kaum duniawi, tidak mulia, tidak bermanfaat (hīno gammo pothujjaniko anariyo anatthasaṃhito); dan

    (2) praktek penyiksaan diri (attakilamathānuyogo), yang menyakitkan, tidak mulia, tidak bermanfaat (dukkho anariyo anatthasaṃhito).

    Tanpa berbelok ke arah salah satu dari ekstrim-ekstrim ini, Sang Tathāgata telah membangkitkan jalan tengah, yang memunculkan: penglihatan, pengetahuan, yang menuntun menuju: kedamaian, pengetahuan langsung, pencerahan, menuju Nibbāna.

    Dan apakah, para bhikkhu, jalan tengah yang dibangkitkan oleh Sang Tathāgata, yang memunculkan: penglihatan,.. menuju Nibbāna?

    Adalah Jalan Mulia Berunsur 8: Pandangan benar, kehendak benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Pencaharian Benar, Daya-upaya Benar, Perhatian Benar dan Pikiran terpusat Benar.

    Ini, para bhikkhu, jalan tengah yang dibangkitkan Sang Tathāgata, yang memunculkan: penglihatan.., menuju Nibbāna.

    Kemudian, para Bhikkhu, Ini adalah kebenaran mulia penderitaan/Dukkha:
    kelahiran adalah penderitaan, penuaan adalah penderitaan… singkatnya, 5 kelompok unsur kehidupan yang tunduk pada kemelekatan adalah penderitaan.

    Kemudian, para bhikkhu, Ini adalah kebenaran mulia asal-mula penderitaan:
    adalah keinginan yang menuntun menuju penjelmaan baru, disertai dengan kesenangan dan nafsu, mencari kenikmatan di sana-sini; yaitu, keinginan pada kenikmatan indria, keinginan pada penjelmaan, keinginan pada pemusnahan.

    Kemudian, para bhikkhu, Ini adalah kebenaran mulia lenyapnya penderitaan:
    adalah peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya keinginan yang sama itu, meninggalkan dan melepaskannya, kebebasan darinya, tidak bergantung padanya.

    Kemudian, para bhikkhu, Ini adalah kebenaran mulia jalan menuju lenyapnya penderitaan:
    adalah Jalan Mulia Berunsur 8; yaitu, pandangan benar, …, pikiran terpusat benar.

    [..] Demikianlah yang dikatakan Sang Bhagavā. Bersuka-cita, Kelompok 5 Bhikkhu gembira mendengar penjelasan Sang Bhagavā. Dan selagi khotbah dibabarkan, muncullah pada Yang Mulia Kondañña penglihatan Dhamma tanpa noda, bebas dari debu: “Apa pun yang tunduk pada asal-mula semuanya tunduk pada lenyapnya.”

    Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan ucapan inspitarif ini: “Kondañña sungguh telah mengerti! Kondañña sungguh telah mengerti!”. Demikianlah YM Kondañña memperoleh nama “Aññā Kondañña – Kondañña Yang Telah Mengerti.” [SN 56.11/Dhammacakkappavattana sutta (Pemutaran roda Dhamma)]

Berdirinya Sangha (kumpulan minimum 5 Bikkhu)
Saat roda dhamma diputar, Kondañña menjadi manusia pertama yang mencapai Sotapanna di era Buddha Gotama. Setelah pemutaran roda Dhamma, Kondañña mohon ditahbiskan menjadi Bhikkhu dan Ia ditahbiskan dengan kalimat, “Mari (ehi) bhikkhu, Dhamma telah dibabarkan dengan jelas. Laksanakan kehidupan suci dan singkirkanlah penderitaan”, maka Kondañña menjadi bhikkhu pertama murid Sang Buddha dan yang pertama ditahbiskan dengan “ehi bhikkhu”.

Dua hari setelahnya, Vappa dan Bhaddiya menjadi Sotapanna dan ditahbiskan dengan kalimat “ehi bhikkhu”. Di hari ke-4, Mahanama dan Assaji menjadi Sotapanna dan ditahbiskan dengan kalimat “ehi bhikkhu”. Dengan adanya 5 Bhikkhu ini, maka terbentuklah sangha Bhikkhu pertama di era Buddha Gotama.

Pada hari ke-5, setelah memberikan khotbah pertama, Sang Buddha membabarkan khotbah kedua, Anattalakkhana sutta:

    “Jasmani/materi, para bhikkhu, adalah bukan diri. JIKA JASMANI ADALAH DIRI, JASMANI INI TAKKAN MENYEBABKAN KEKECEWAAN. Akan mungkin [untuk mengatakan] sehubungan dengan jasmani, ‘Semoga jasmani ini menjadi demikian. Semoga jasmani ini tidak menjadi demikian.’

    TETAPI KARENA JASMANI BUKAN DIRI, MAKA JASMANI MENYEBABKAN KEKECEWAAN. Dan tidaklah mungkin [untuk mengatakan] sehubungan dengan jasmani, ‘Semoga jasmani ini menjadi demikian. Semoga jasmani ini tidak menjadi demikian’

    “Perasaan bukanlah diri…
    “Persepsi bukanlah diri…
    “Bentukan [mental] bukanlah diri…

    “Kesadaran bukanlah diri. JIKA KESADARAN ADALAH DIRI, KESADARAN INI TAKKAN MENYEBABKAN KEKECEWAAN. Adalah mungkin [untuk mengatakan] sehubungan dengan kesadaran, ‘Semoga kesadaranku menjadi demikian. Semoga kesadaranku tidak menjadi demikian.’

    TETAPI KARENA KESADARAN BUKAN DIRI, KESADARAN MENYEBABKAN KEKECEWAAN. Dan tidaklah mungkin [untuk mengatakan] sehubungan dengan kesadaran, ‘Semoga kesadaranku menjadi demikian. Semoga kesadaranku tidak menjadi demikian’

    Sang Buddha: “Bagaimana menurutmu, para bhikkhu — Apakah jasmani/materi kekal atau tidak kekal?”

    5 Pertapa: “Tidak kekal, Bhante (guru).”

    Sang Buddha: “Dan apakah hal yang tidak kekal itu memberikan kenyamanan (memuaskan) atau penderitaan (tidak memuaskan)?”

    5 Pertapa: “Penderitaan (tidak memuaskan), Bhante.”

    Sang Buddha: “Dan apakah tepat sesuatu yang tidak kekal, menyebabkan penderitaan, tunduk pada hukum perubahan sebagai: ‘Ini milikku. Ini adalah diriku. Ini adalah aku’?”

    5 Pertapa: Tidak, Bhante.”

    Sang Buddha: “Apakah perasaan…, persepsi…, bentukan…, kesadaran kekal atau tidak kekal?”

    5 Pertapa: “Tidak kekal, Bhante.”

    Sang Buddha: “Bagaimana menurutmu, para bhikkhu — Apakah kesadaran kekal atau tidak kekal?”

    5 Pertapa: “Tidak kekal, Bhante.”

    Sang Buddha: “Dan apakah hal yang tidak kekal itu memberikan kenyamanan atau penderitaan?”

    5 Pertapa: “Penderitaan, Bhante.”

    Sang Buddha: “Dan apakah tepat sesuatu yang tidak kekal, menyebabkan penderitaan, tunduk pada hukum perubahan sebagai: ‘Ini milikku. Ini adalah diriku. Ini adalah aku’?”

    5 Pertapa: “Tidak, Bhante.”

    Sang Buddha: “Karena itu, para bhikkhu, apapun jasmani/materi di masa lampau, masa depan, atau masa sekarang; di dalam atau di luar; kasar atau halus; rendah atau luhur; jauh atau dekat; apapun jasmani/materi dilihat sebagaimana adanya dengan pemahaman benar sebagai: ‘Ini BUKAN MILIKKU. Ini BUKAN DIRIKU. Ini BUKAN AKU.’

    “Perasaan apapun…Persepsi apapun… Bentukan [mental] apapun… Kesadaran apapun di masa lampau, masa depan, atau masa sekarang; di dalam atau di luar; kasar atau halus; rendah atau luhur; jauh atau dekat: apapun kesadaran dilihat sebagaimana adanya dengan pemahaman benar sebagai: ‘Ini BUKAN MILIKKU. Ini BUKAN DIRIKU. Ini BUKAN AKU.’

    “Melihat demikian, siswa Ariya, yang telah memahaminya dengan baik, menjadi:

    TAK TERKESAN (hambar; tak terpesona) dengan jasmani,
    TAK TERKESAN dengan perasaan,
    TAK TERKESAN dengan persepsi,
    TAK TERKESAN dengan bentukan [mental],
    TAK TERKESAN dengan kesadaran.

    SETELAH menjadi TAK TERKESAN, hambar, tak terpesona [nibbida], PADAMLAH NAFSU KEINGINAN untuk menggenggam [viraga].

    SETELAH PADAMNYA NAFSU KEINGINAN untuk menggenggam [viraga], dia TERBEBAS SEPENUHNYA [vimutti].

    Dengan terbebas penuh [vimutti], disana ada pengetahuan [asavakkhayañana], ‘Terbebas sepenuhnya.’ Dia mengetahui ‘Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah terpenuhi, tugas telah selesai. Tidak ada lagi lebih jauh untuk dunia ini’ (lingkaran samsara terpatahkan)

    Demikian yang dikatakan Sang Bhagava. kelompok 5 petapa tersebut bergembira dengan kata-kata Beliau. Sewaktu penjelasan sedang diberikan, mental kelompok 5 bhikkhu, melalui ketidakmelekatan, terbebas sepenuhnya dari kekotoran mental [SN 22.59/Anattalakhana sutta (Karakteristik Bukan-Diri/tanpa inti)]

Pada bulan ini, di era Buddha Gotama, karena roda dhamma berputar lagi, maka untuk pertama kalinya, MANUSIA BERKESEMPATAN LAGI untuk mencapai tingkat ARAHAT, sebagai SAVAKA ARAHAT (mencapai arahat dengan bimbingan/ajaran Buddha)

Menginstruksikan Yasa
Di Benares saat itu, terdapat anak muda bernama Yasa (Anak Sujata, Perempuan yang pernah memberikan Susu beras pada Siddhattha Gotama) yang hidupnya dipenuhi kemewahan dikelilingi gadis-gadis cantik yang menyajikan berbagai macam hiburan. Seperti juga pangeran Siddhattha, Yasa memiliki tiga rumah tinggal untuk setiap musimnya.

Pada suatu malam di musim hujan, Yasa terbangun dari tidurnya dan melihat para pengikut dan penarinya tertidur bergelimpangan bagai mayat di kuburan, beberapa dengan rambut acak-acakan, beberapa dengan air liur menetes, beberapa mengigau dan banyak postur lainnya yang membuatnya menjadi jemu dengan kenikmatan indriya dan mengucapkan, “Alangkah menakutkannya! Alangkah mengerikannya!”. Dengan pikiran kalut penuh kecemasan, Ia berjalan meninggalkan kediamannya hingga sampaila di Taman Rusa di Isipatana pada waktu hampir menjelang pagi. Saat itu, Sang Buddha, baru selesai berjalan dan duduk di satu tempat. Ketika Yasa berjalan dekat Sang Buddha, Ia mengulangi ucapannya, “Alangkah menakutkan! Alangkah mengerikannya!”. Sang Buddha menyapanya, “Ini, Yasa, tidaklah menakutkan. Tidaklah mengerikan. Mari, duduklah di sini, Aku akan mengajarkannya”. Mendengar itu, Yasa berpikir, “Dikatakan ini tidak menakutkan dan tidak mengerikan?”. Merasa tertarik dan gembira, Ia melepas sandalnya, menghampiri Sang Buddha, memberi hormat dan duduk di sisiNya.

Sang Buddha mengawalinya dengan manfaat berdana, latihan moralitas, kelahiran di alam-alam bahagia karena melakukan banyak kebajikan, buruknya mengumbar nafsu dan manfaat melepas diri dari kesenangan Indriawi. Setelah Sang Buddha melihat pikiran Yasa lunak, lentur, bergembira, tanpa rintangan menerima pengajaran, beliau melanjutkannya dengan Empat Kesunyataan Mulia yang membebaskan. Setelah Sang Buddha selesai dengan uraiannya, Yasa yang dalam keadaan duduk, memperoleh Mata Dhamma (melihat ajaran) bahwa apapun yang muncul, akan berakhir.

Ketika itu, ayahnya Yasa tengah mencarinya hingga ke sana. Sang Buddha melihatnya dari kejauhan dan dengan kekuatan mentalnya, beliau membuat Yasa tidak terlihat oleh ayahnya. Setelah mendekat dan bertegur sapa, sang ayah bertanya pada Sang Buddha apakah beliau melihat Yasa. Sang Buddha menjawabnya dengan mengajaknya duduk di situ agar dapat melihat Yasa. Mendengar itu, ayah Yasa merasa tertarik dan senang, kemudian duduk di situ.

Kemudian, Sang Buddha menyampaikan kembali uraiannya seperti yang disampaikannya kepada Yasa. Setelah mendengar uraian sang Buddha, ayah Yasa melihat ajaran/Dhamma (diṭṭhadhammā), memperoleh ajaran (pattadhammā), tahu akan ajaran (viditadhammā) mengakar kokoh dalam ajaran (pariyogāḷhadhammā) melampaui keragu-raguan (tiṇṇavicikicchā), menghalau kebingungan (vigata-kathaṃkathā) ajaran, mempunyai kepercayaan diri (vesārajjappattā) akan ajaran dan tidak bergantung pada yang lain (aparappaccayā) dalam ajaran dan memohon untuk berlindung pada Buddha, Dhamma dan kumpulan para PetapaNya (sangha). Saat itu, Ayah Yasa adalah umat awam pertama yang berlindung pada ti ratana (3 permata).

    Note:
    Sebelumnya, Tapussa dan Bhallika juga telah menyatakan diri berlindung pada Sang Buddha dan DhammaNya. Namun ketika itu, Sang Buddha belum mempunyai murid yang menjadi PetapaNya, sehingga 3 permata belum ada dan baru ada setelah 5 petapa menjadi Bhikkhu. Oleh karenanya, Tapussa dan Bhallika bukanlah umat awam pertama yang berlindung pada tiratana

Sewaktu Sang Buddha menyampaikan kembali uraiannya kepada ayah Yasa. Pikiran Yasa menjadi terbebaskan, Ia mencapai arahat. Yasa adalah umat awam pertama yang mencapai arahat.

Kemudian Sang Buddha membuat ayah Yasa dapat melihat kehadiran Yasa yang tengah duduk di sana. Ayahnya Yasa menyampaikan pada Yasa bahwa ibunya sedang bersedih karena kehilangannya. Yasa kemudian menatap Sang Buddha dan Sang Buddha bertanya pada ayah Yasa mengenai bagaimana dengan ajaran yang telah dilihat dan dipahaminya yang juga telah dilihat dan dipahami oleh Yasa? Saat itu, pikiran ayah Yasa juga menjadi terbebaskan dan menjadi Arahat . Ia mengetahui bahwa dirinya dan juga anaknya, sekarang, tidak mungkin lagi kembali pada kehidupan menjadi perumah tangga

Ayah Yasa kemudian mengundang Sang Buddha untuk datang esok harinya ke rumahnya menerima dana makanan. Sang Buddha menerimanya dengan berdiam diri. Setelah permohonannya diterima, ayah Yasa berdiri berpamitan pulang dengan cara memberi penghormatan dengan berjalan memutari Sang Buddha pada sisi kanannya dan kembali pulang ke istananya.

Setelah ayahnya pulang, Yasa memohon untuk ditahbiskan. Sang Buddha mentahbiskannya dengan kalimat yang mirip dengan cara menahbiskan lima petapa pertama yaitu, “Ehi bhikkhu, Dhamma telah dibabarkan dengan jelas. Laksanakanlah kehidupan suci” TANPA kalimat “dan singkirkanlah penderitaan” karena Yasa pada waktu itu sudah mencapai tingkat Arahat sebelum ditahbiskan. Dengan demikian, pada waktu itu sudah ada 7 orang Arahat.

Keesokan harinya dengan diiringi Yasa, Sang Buddha pergi ke rumah ayah Yasa dan duduk di tempat yang telah disediakan. Ibu dan istri Yasa keluar memberi penghormatan. Sang Buddha kembali menyampaikan uraiannya dan mereka berdua pun rnemperoleh Mata Dhamma dan memohon menjadi umat awam wanita yang berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha. Ibu dan Istri Yasa adalah umat awam wanita pertama yang berlindung pada ti ratana

Di Benares, Yasa mempunyai 4 orang sahabat, semuanya anak-anak orang kaya yang bernama Vimala, Subahu, Punnaji, dan Gavampati. Mereka mendengar bahwa Yasa sekarang sudah menjadi bhikkhu. Mereka menganggap bahwa ajaran-ajaran yang benar-benar sempurnalah yang dapat menggerakkan hati Yasa untuk meninggalkan kehidupannya yang mewah. Karena itu mereka menemui bhikkhu Yasa yang kemudian membawa ke-4 kawannya menghadap Sang Buddha.

Setelah mendengar khotbah Sang Buddha, mereka semua memperoleh Mata Dhamma dan kemudian diterima menjadi bhikkhu. Setelah mendapat penjelasan tambahan, keempatnya dalam waktu singkat mencapai tingkat Arahat. Dengan demikian jumlah Arahat pada waktu itu menjadi 11 orang.

50 orang teman Yasa mendengar bahwa sahabat mereka menjadi bhikkhu, mereka pun mengambil keputusan untuk mengikuti jejak bhikkhu Yasa. Mereka semua diterima menjadi bhikkhu dan dalam waktu singkat semuanya mencapai tingkat Arahat, sehingga pada waktu itu terdapat 61 orang Arahat.

Menyebarkan Dharma
Kepada 61 Bhikkhu pengikutnya, Sang Buddha berkata: “Aku telah terbebaskan dari segala jeratan surgawi maupun manusiawi. Kalian juga, telah terbebas dari segala jeratan surgawi maupun manusiawi. Mengembaralah, Para bhikkhu, demi kesejahteraan banyak makhluk, demi kebahagiaan banyak makhluk, demi belas kasihan terhadap dunia, demi kebaikan, kesejahteraan dan kebahagiaan para deva dan manusia. Janganlah dua orang pergi bersama. Ajarilah, O para bhikkhu, Dhamma yang indah di awal, di pertengahan dan di akhir, dengan makna dan kata yang benar. Ungkapkanlah kehidupan suci yang lengkap dan murni sempurna. Ada makhluk-makhluk dengan sedikit debu di mata mereka yang akan jatuh jika mereka tidak mendengar Dhamma. Ada di antara mereka yang dapat memahami Dhamma. Aku juga, para bhikkhu, akan pergi ke Senānigama di Uruvelā untuk mengajarkan Dhamma“.

Kemudian Māra si Jahat mendekati Sang Bhagavā dan berkata:
Engkau terikat oleh segala jeratan
surgawi maupun manusiawi;
Engkau terikat oleh belenggu kuat:
Engkau tidak dapat menghindariku, Petapa!

Sang Bhagavā:
Aku terbebas dari segala jeratan
surgawi maupun manusiawi;
Aku terbebas dari belenggu kuat:
Engkau telah kalah, sang Kematian [Vinaya: Mahakhandhaka dan AN 4.5/Dutiyamārapāsasutta]

Kemudian berangkatlah ke-61 Arahat itu sendiri-sendiri ke berbagai jurusan mengajarkan Dhamma. Kerap mereka bertemu orang yang ingin menjadi bhikkhu, namun mereka belum bisa mentahbiskannya, maka orang itu mereka bawa kehadapan Sang Buddha, Ini sungguh suatu perjalanan yang melelahkan. Melihat kesulitan ini, Sang Buddha memperkenankan para bhikkhu memberikan pentahbisan:

“Aku perkenankan kalian, para Bhikkhu, untuk mentahbiskan orang di tempat-tempat yang jauh. Inilah yang harus kamu lakukan. Rambut serta kumisnya harus dicukur, mereka harus memakai jubah Kasaya (jubah yang dicelup dalam air larutan kulit kayu tertentu), bersimpuh, merangkapkan kedua tangannya dalam sikap menghormat dan kemudian berlutut di depan kaki bhikkhu. Selanjutnya kamu harus mengucapkan dan mereka harus mengulang ucapanmu, “Aku berlindung kepada Sang Buddha, aku berlindung kepada Dhamma, aku berlindung kepada Sangha

Sehingga, mulai saat itu ada dua cara pentahbisan, pertama oleh Sang Buddha sendiri dengan “ehi bhikkhu” dan kedua oleh murid-muridNya yang dinamakan pentahbisan “Tisaranagamana”.

Sepanjang Perjalanan di Desa Uruvela
Beliau menuju Uruvela dan duduk di satu akar pohon tertentu. ketika itu, datang sekumpulan orang muda dan sampai dihadapan Sang Buddha, mereka bertanya, “Yang Mulia! Apakah Yang mulia melihat seorang perempuan?”

Sang Buddha menjawab, “Para orang muda! Ada urusan apakah kalian mencari perempuan itu?” Mereka menjawab, “Yang Mulia! Kami 30 bersaudara Bhaddavaggiya (bermuka menyenangkan, tahu aturan dan bersikap) sedang pesiar bersama bersama istri-istri kami di Hutan Kappàsika. Seorang dari kami belum beristri sehingga datang dengan membawa seorang pelacur. Ketika kami tengah dalam kesenangan, pelacur tersebut mencuri hartanya dan kabur melarikan diri. Kami membantunya mencari hingga sampai di sini.
Sang Buddha berkata, “Para orang muda, mana yang lebih baik bagi kalian, mencari perempuan yang hilang itu atau mencari diri kalian sendiri?”
Mereka menjawab, “Yang Mulia! Tentu saja lebih baik mencari diri kami sendiri.”
Buddha berkata, “Jika demikian, Para orang muda, Duduklah. Aku, akan mengajarkannya”
Mereka menjawab, “Baiklah, Yang mulia”, kemudian, setelah bersujud hormat kepada Sang Buddha, 30 bersaudara inipun duduk.

Sang Buddha kemudian menjelaskan manfaat berdana, latihan moralitas, kelahiran di alam-alam bahagia karena melakukan banyak kebajikan, buruknya mengumbar nafsu dan manfaat melepas diri dari kesenangan Indriawi. Setelah Sang Buddha melihat pikiran mereka lunak, lentur, bergembira, tanpa rintangan menerima pengajaran, beliau melanjutkannya dengan Empat Kesunyataan Mulia yang membebaskan.

Mendengar uraian beliau, mereka semua: melihat Dhamma, memperoleh dhamma, tahu akan Dhamma, mengakar kokoh dalam Dhamma, melampaui keragu-raguan, menghalau kebingungan ajaran, mempunyai kepercayaan diri akan ajaran dan tidak bergantung pada yang lain dalam ajaran. Mereka kemudian memohon ditahbiskan dan sang Buddha ucapkan, “Etha bhikkhavo” (Mari, Para Bhikkhu) “Dhamma telah dibabarkan, jalani kesucian untuk mengakhiri penderitaan” (saat itu, ke-30 orang ini minimum telah sotapanna, namun belum arahat)
.

Sang Buddha kemudian meneruskan perjalanannya,
Di 3 tempat sepanjang Sungai Neranjara, tinggallah 3 Kassapa bersaudara yang menjadi pemimpin kaum Jatila, para pemuja api. Yang tertua, Uruvela Kassapa, mahir ilmu gaib, tinggal di hulu sungai dan punya 500 pengikut. Yang ke-2, Nadi Kassapa, tinggal di hilir sungai dan punya 300 pengikut. Yang ke-3, Gaya Kassapa, tinggal lebih hilir dari Nadi Kassapa dan punya 200 pengikut.

Sang Buddha menemui pertapa Uruvela Kassapa dan meminta ijin agar dapat bermalam di ruang perapiannya”. Uruvela Kassapa menyatakan di ruang perapian itu tinggal pula seekor raja ular yang ganas, berbisa dan berkemampuan tinggi, takutnya sang Buddha akan dilukai raja ular itu namun Sang Buddha berkata: “Raja Ular itu tidak dapat melukaiKu, Kassapa. Izinkanlah Saya bermalam di ruang perapian itu.”. Setelah memperoleh izin, Sang Buddha memasuki ruang perapian dan menebarkan alas tempat duduk, dan Sang Guru kemudian duduk dengan tubuh dan pikiran yang tenang.

Melihat sang Buddha, ular itu menjadi sedih, menderita dan terusik, Ia kemudian menyemburkan meniupkan asap panas dan juga api yang berkobar tanpa henti ke arah Sang Buddha. Kemudian dengan tanpa melukai dan menyakiti fisik raja ular ini, beliau kemudian menahan kekuatan sang raja ular dengan meniupkan asap panas dan juga api yang jauh lebih dahsyat. Seluruh tempat perapian tersebut terlihat seperti terbakar karena api yang diciptakan oleh Sang Buddha dan sang raja ular. Para petapa yang dipimpin oleh Uruvela-Kassapa berkumpul di sekeliling perapian dan berkata dengan ketakutan, “Teman-teman! Bhikkhu itu telah dicelakai raja ular itu!”. Pagi harinya, Sang Buddha meletakkan raja ular itu di mangkuk makananNya, menunjukkan kepada Uruvela-Kassapa, “Inikah raja ular yang engkau maksudkan. Aku telah menaklukkannya dengan kekuatan-Ku.”. Uruvela-Kassapa berpikir: “walaupun Bhikkhu ini sangat kuat dan sakti, Ia bukanlah Arahanta sepertiku”.

Terkesan dengan dengan keajaiban (pañihàriya)-Nya, Uruvela-Kassapa mengundang Sang Buddha untuk tinggal ditempatnya. Demikianlah, Sang Buddha menetap di Uruvela, selama 3 bulan, Uruvela Kassapa melihat dan mengetahui sendiri 16 keajaiban yang dilakukan beliau (yaitu: 4 raja deva, Sakka, Brahma Sahampati memohon pengajaran Dhamma, mengetahui sang Buddha dapat membaca pikiran Uruvela Kassapa, para Deva melayaniNya dalam membersihkan jubahnya dengan terciptanya kolam, batu dan pohon yang melengkung, mendatangkan buah dan bunga yang luar biasa, memecah kayu menjadi 500 ikat potongan kayu, menghidupkan api dan membakar kayu-kayu tersebut, Hujan lebat yang turun diluar musim, tidak dapat membasahinya dan walaupun berada di tempat paling rendah, banjir akibat hujan tersebut tidak dapat menghanyutkannya, kemudian Ia, dengan terbang menghampiri Uruvela Kassapa). Melihat dan mengetahui ini, Uruvela-Kassapa tetap berpikir: “walaupun Bhikkhu ini sangat kuat dan sakti, Ia bukanlah Arahanta sepertiku”

Di akhir 3 bulan itu, Sang Buddha menyampaikan kepada Uruvela Kassapa, bahwa Uruvela Kassapa bukanlah seorang Arahat seperti yang disangkanya juga tidak menempuh jalan yang benar untuk menuju kebebasan yang sempurna. Uruvela Kassapa tampaknya menyadari ini dan memohon agar diterima menjadi murid Sang Buddha. Sang Buddha mengingatkannya untuk memikirkan kesejahteraan 500 muridnya, oleh karenanya Ia berbicara kepada 500 muridnya bahwa Ia akan menjadi murid sang Buddha dan akhirnya, dengan membuang semua pakaian dan peralatan persembahyangan yang selama ini dilakukan, Ia dan 500 muridnya menjadi murid Sang Buddha.

Pada suatu hari, Nadi Kassapa yang bertempat tinggal di sebelah hilir sungai menjadi terkejut melihat banyak peralatan sembahyang terapung di sungai. Ia mengira bahwa suatu bencana hebat telah menimpa kakaknya. Dengan tergesa-gesa, beserta 300 pengikutnya, Nadi Kassapa menuju tempat Uruvela Kassapa. Setelah tiba, Nadi Kassapa melihat kakaknya sudah menjadi bhikkhu. Selanjutnya Nadi Kassapa diberi penjelasan tentang sia-sianya memuja api, sehingga akhirnya ia bersama-sama 300 pengikutnya pun menjadi bhikkhu. Hal yang sama juga terjadi pada diri Gaya Kassapa beserta 200 pengikutnya. Dengan demikian, 3 kelompok kaum Jatila berjumlah 1.003 menjadi pengikut Sang Buddha.

Setelah beberapa waktu di Uruvela, Sang Buddha beserta rombongan melanjutkan perjalanan-Nya menuju Gayasisa di tepi Sungai Gaya. Di tempat itu Sang Buddha mengumpulkan murid-muridNya dan memberikan khotbah SN 35.28/Adittapariyaya Sutta, yang ringkasan khotbah itu adalah sebagai berikut:

    Para bhikkhu, segalanya terbakar. Dan apakah, para bhikkhu, segalanya yang terbakar itu?

    Mata terbakar … Telinga terbakar … Hidung terbakar … Lidah terbakar … Badan terbakar … Pikiran terbakar,

    bentuk-bentuk terbakar … suara-suara terbakar … bebauan terbakar … rasa kecapan terbakar … objek sentuhan terbakar … fenomena pikiran terbakar,

    kesadaran-mata terbakar … kesadaran-telinga terbakar … kesadaran-hidung terbakar … kesadaran-lidah terbakar … kesadaran-badan terbakar … kesadaran-Pikiran terbakar,

    kontak-mata terbakar … kontak-telinga terbakar … kontak-hidung terbakar … kontak-lidah terbakar … kontak-badan terbakar … kontak-pikiran terbakar,

    dan perasaan apa pun yang muncul dengan:
    kontak-mata sebagai kondisi … kontak telinga sebagai kondisi … kontak hidung sebagai kondisi … kontak lidah sebagai kondisi … kontak badan sebagai kondisi … kontak pikiran sebagai kondisi
    —apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan—
    itu juga terbakar.

    Terbakar oleh apakah?

    Terbakar oleh api nafsu, oleh api ketidaknyamanan, oleh api delusi; terbakar oleh kelahiran, penuaan, dan kematian; oleh dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan, Aku katakan.

    “Melihat demikian, para bhikkhu, siswa mulia yang terpelajar mengalami kejijikan:
    terhadap mata … terhadap pikiran,
    terhadap bentuk-bentuk … terhadap fenomena pikiran,
    terhadap kesadaran-mata … terhadap kesadaran-pikiran,
    terhadap kontak-mata … terhadap kontak- pikiran,
    terhadap perasaan apa pun yang muncul dengan kontak-mata sebagai kondisi … terhadap perasaan apapun yang muncul dengan kontak pikiran sebagai kondisi
    —apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan;
    Dengan mengalami kejijikan, ia menjadi bosan. Melalui kebosanan mentalnya terbebaskan. Ketika terbebaskan muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi penjelmaan dalam kondisi makhluk apa pun.’”

Ketika kotbah ini disampaikan, mereka mencapai Arahat, yang terbebaskan melalui ketidak-melekatan

Menuju Kota Rajagaha
Setelah beberapa lama diam di Gayasisa, Sang Buddha kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Rajagaha dan berhenti di hutan kecil Latthivana.

Dalam waktu singkat tersiar berita bahwa Pertapa Gotama, putra Sakya, sekarang berada di Rajagaha dan berdiam di hutan kecil Latthivana. Mendengar berita itu, Raja Bimbisara datang mengunjungi Sang Buddha dengan diikuti pengiringnya. Setelah memberi hormat, Raja kemudian duduk di satu sisi. Tetapi para pengiringnya bersikap macam-macam dan ada yang bersikap acuh tak acuh. Ada yang berlutut, ada yang hanya memberi hormat dengan ucapan, ada yang menyembah, ada yang memberitahukan namanya dan juga nama keluarganya, dan ada yang duduk diam saja.

Melihat sikap mereka, Sang Buddha tahu bahwa mereka masih belum siap menerima ajaran dan untuk menyingkirkan keragu-raguan sebelum mereka siap untuk mendengarkan Dhamma, sang Buddha kemudian berkata kepada Uruvela Kassapa, “Oh, Kassapa, kamu sudah lama berdiam di Uruvela dan menjadi pemimpin kaum Jatila yang pandai dalam upacara keagamaan. Apakah sebabnya sehingga kamu berhenti melakukan pemujaan api yang biasa kamu lakukan? Mengapa kamu meninggalkan kebiasaan memuja api?”

Uruvela Kassapa menjawab, “Semua Yajña atau upacara dengan mempersembahkan bertujuan untuk memperoleh penglihatan, suara, rasa dan wanita yang menggiurkan, yang didambakan manusia. Persembahan itu menimbulkan harapan bahwa setelah melakukan persembahan tersebut orang akan dapat memperoleh hasil yang diinginkan. Telah kuketahui sekarang bahwa kesenangan-kesenangan indria tersebut merupakan kekotoran mental yang membuat orang dicengkeram oleh nafsu-nafsu. Karena itu aku tidak lagi tertarik melakukan praktek pemujaan api.”

Kemudian Sang Buddha bertanya lagi, “Setelah kini kamu tidak lagi tertarik kepada penglihatan, suara dan rasa yang menjadi obyek bagi kesenangan indria, oh Kassapa, apa sebenarnya yang kamu cari di alam manusia dan alam dewa ini? Coba kamu ceritakan.”

Kassapa menjawab, “Aku telah berhasil mencapai keadaan yang penuh damai, tanpa dikotori oleh nafsu-nafsu yang dapat menimbulkan penderitaan, tanpa keinginan untuk melekat, tanpa kemelekatan kepada alam kesenangan indria, tanpa perubahan, tanpa tergantung pada kekuatan luar dan hanya dapat dipahami oleh pribadi masing-masing. Karena hal-hal yang di atas itulah aku tidak lagi tertarik untuk melakukan praktek pemujaan api yang dulu kulakukan.”

Selesai memberi jawaban, Kassapa bangun dari tempat duduknya. Dengan jubah menutupi satu pundaknya (sebagai sikap menghormat) ia berlutut tiga kali di bawah kaki Sang Buddha dan mengaku bahwa Sang Buddha adalah gurunya dan ia adalah murid-Nya.

Setelah keragu-raguan para hadirin dapat disingkirkan dan siap menerima pelajaran, mulailah Sang Buddha memberikan khotbah tentang Anupubbikatha dilanjutkan dengan Empat Kesunyataan Mulia. Selesai Sang Buddha memberikan khotbah, sebelas dari dua belas orang yang hadir memperoleh Mata Dhamma dan yang lain memperoleh keyakinan yang tak tergoyahkan terhadap Sang Buddha, Dhamma, dan Sangha.

Kemudian Raja menceritakan tentang keinginannya semenjak kecil, “Dulu, sewaktu masih menjadi Putra Mahkota dan belum naik tahta kerajaan, aku mempunyai lima macam keinginan, yaitu pertama, semoga aku kelak naik di tahta kerajaan Magadha. Kedua, semoga seorang Arahat yang memperoleh Penerangan Agung datang di negeriku sewaktu aku masih memerintah. Ketiga, semoga aku memperoleh kesempatan untuk mengunjungi Arahat tersebut. Keempat, semoga Arahat tersebut memberikan khotbah kepadaku. Kelima, semoga aku mengerti apa yang harus dimengerti dari ajaran Arahat tersebut. Sekarang semua keinginanku yang berjumlah lima itu telah terpenuhi.” .

Selanjutnya Raja Bimbisara memuji khotbah Sang Buddha dan menyatakan dirinya sebagai upasaka untuk seumur hidup dibawah perlindungan dari Sang Buddha dan menjadi pengikutNya. Raja Bimbisara menyumbangkan Taman Veluvana sebagai tempat tinggal Sang Buddha dan para Bhikkhu. Ini kemudian menjadi Vihara yang pertama dan juga sumbangan tempat tinggal untuk pata bhikkhu yang pertama, mulai hari itu Sang Buddha memperbolehkan para bhikkhu menerima pemberian serupa itu.

MahaKassapa menjadi Murid Sang Buddha
Ketika sang Buddha berada dalam kuti harumnya di Veluvana, Beliau mengetahui telah terjadi gempa bumi di persimpangan jalan tempat berpisahnya pemuda Pippali (atau MahaKassapa) dan gadis Bhaddàkàpilàni yang sama-sama bertekad untuk menjadi petapa setelah tanpa ragu meninggalkan kekayaan mereka. Untuk itu, Sang Buddha keluar dari Kuti harumnya dan tanpa meminta satu pun dari muridNya untuk menyertai-Nya, pergi sejauh tiga gàvuta (3/4 Yojana) duduk bersila di bawah pohon banyan/Bahuputtaka yang terletak di antara Ràjagaha dan Nàlanda.

Pancaran keagungan beliau segera diketahui pemuda Pipphali yang berpikir, “Orang Mulia ini pasti guruku, Buddha. Sesungguhnya aku menjadi bhikkhu, mengabdikan kebhikkhuanku kepada guru ini.”. Kemudian, dari tempatnya berdiri, pemuda Pipphali berjalan, membungkukkan badannya; mendekat. Pada seluruh tiga jarak, jauh, sedang dan dekat, ia memberi hormat kepada Buddha dan menyatakan diri 3x sebagai siswa, “Satthà me Bhante Bhagavà, sàvako’hamasmi, ‘Buddha Yang Agung, Engkau adalah guruku! Aku adalah siswa-Mu, Yang Mulia!”. Sang Buddha menerimanya, Ia ditahbiskan dengan memberikan tiga nasehat:

    “Oh, Kassapa, engkau harus selalu ingat bahwa pertama, engkau harus hidup sederhana dan patuh kepada para bhikkhu yang tua, yang muda, dan yang setengah tua. Kedua, engkau harus mendengarkan Dhamma dengan baik, memperhatikannya dan merenungkannya. Ketiga, engkau harus selalu menyadari dan memperhatikan tubuhmu dan terus-menerus mengambil tubuhmu sebagai obyek meditasi.”

Setelah menerima penahbisan itu, di hari ke-8nya, MahaKassapa mencapai Kearahattaan lengkap dengan 4 Pengetahuan Analitis.

Setelah bertemu dan menahbiskan Maha Kassapa, Sang Buddha dan MahaKassapa melanjutkan perjalanannya dan pada suatu jarak tertentu, Sang Buddha berbelok dari jalan utama menuju ke sebuah pohon, hendak duduk. Mengetahui ini, MahaKassapa kemudian melipat empat jubah luarnya dan menghamparkannya sebagai alas duduk Sang Buddha. Ketika Sang Buddha memuji kehalusan jubah yang menjadi alas duduknya, MahaKassapa kemudian memohon agar Sang Buddha mau menerima jubah tersebut. Karena hal ini, Sang Buddha kemudian bertanya, “Anak-Ku Kassapa, jika demikian, maka jubah apa yang akan engkau pakai?”. MahaKassapa menjawab bahwa Ia ingin memakai jubah yang sedang dipakai Sang Buddha. Kemudian sang Buddha berkata, “Apakah engkau sanggup melakukannya? Mereka yang kurang mulia tidak akan mampu mengenakan jubah usang ini. Hanya mereka yang selalu berdiam di dalam praktik Dhamma memiliki kemuliaan seperti itu dan yang layak memakainya.” Setelah berkata demikian Sang Buddha menyerahkan jubah-Nya kepada MahaKassapa dan setelah bertukar jubah, terjadilah gempa bumi.

Karena mendapatkan jubah sang Buddha, MahaKassapa kemudian bertekad untuk seumur hidupnya menjalankan 13 praktik keras (dhutanga). Ia mewarisi tradisi pertapaan yang dijalankan sang Buddha.

Maha Kassapa sering dijadikan suri teladan tentang sikap yang baik dari seorang bhikkhu yang berdiam di hutan. Selama menjadi bhikkhu sampai berusia lanjut, Maha Kassapa selalu tinggal di hutan, tiap hari mengumpulkan makanan, selalu memakai baju bekas (pembungkus mayat), sudah puas dengan pemberian yang sedikit (kecil), selalu hidup menjauhi masyarakat ramai dan terkenal rajin sekali. Sebagai penghormatan, Beliau diberi nama Maha Kassapa/Kassapa yang Agung. [Perjumpaan awal Sang Buddha dan MahaKassapa ada di SN 16.11]

Sigala Memuja Enam Arah
Pada suatu ketika, Sang Buddha sedang berdiam di Rajagaha, di Vihara Hutan Bambu (Veluvana), di Kandakavinapa (Tempat Pemeliharaan Tupai). Pada waktu itu, Sigala, putra kepala keluarga, bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha, dengan rambut dan pakaian basah, sambil mencakupkan tangan (pañjaliko) dan memberikan hormat (namassati) ke berbagai arah, yaitu arah Timur (puratthima), Selatan (dakkhiṇa), Barat (pacchima), Utara ( uttara), Bawah (heṭṭhima) dan Atas (uparima). Dan Sang Bhagava pada pagi hari itu, setelah mengenakan jubah serta membawa mangkukNya, pergi ke Rajagaha untuk mengumpulkan dana makanan (pindapata).

    Bagaimana Cara Sang Buddha dan Para BhikkhuNya Berpindapata?
    “..dan di pagi hari dia pergi ke desa..Setelah dia sampai di desa, dia tidak bergegas dari satu rumah ke rumah lain. Dan ketika dia mengumpulkan makanan, dia tidak membicarakan itu atau memberikan tanda apa pun..Maka dia berkelana berkeliling dengan mangkuknya di tangan. Walaupun tidak bisu, namun dia bagaikan bisu. Dia menerima pemberian walau amat sedikit, dan juga menerima pemberian dari orang kecil, tanpa merendahkan serta tanpa kesombongan..” [SNP 3.11/Nalaka Sutta]

Kemudian Sang Bhagava melihat Sigala, putera kepala keluarga itu memberi hormat ke berbagai arah dan bertanya: “O Putera kepala keluarga, mengapa engkau bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha, dengan rambut dan pakaian basah sambil mencakupkan tangan dan memberikan hormat ke berbagai arah, yaitu ke arah Timur, Selatan, Barat, Utara, Bawah dan Atas?”

Sigala: “Bhagavā, ayahku, ketika menjelang meninggal dunia, menyuruhku melakukan hal ini. Dan karena itu, Bhagavā, demi hormatku kepada kata-kata ayahku, yang sangat kuhargai, kuhormati dan kusucikan, aku bangun pagi dan menyembah dengan cara ini ke enam arah”

Sang Buddha: “Tetapi, putra perumah tangga, itu bukanlah cara yang benar dalam menyembah enam arah menurut disiplin Ariya (ariyassa vinaye)”

Sigala:”Jadi, Bhagavā, bagaimanakah seharusnya seseorang menyembah ke enam arah menurut disiplin Ariya? Baik sekali jika Bhagavā mengajariku cara yang benar dalam menyembah enam arah menurut disiplin Ariya”

Memberi arahan pada Sigala
Sang Buddha: “O putera kepala keluarga, dengarkan dan perhatikan dengan baik kata-kataKu ini…siswa ariya adalah yang telah meninggalkan 4 kekotoran perbuatan (cattāro kammakilesā pahīnā honti), tidak melakukan perbuatan-perbuatan buruk dari 4 penyebab (catūhi ca ṭhānehi pāpakammaṃ na karoti), tidak mengikuti 6 cara menyia-nyiakan kekayaan (cha ca bhogānaṃ apāyamukhāni na sevati). Dengan 14 hal buruk dijauhinya (so evaṃ cuddasa pāpakāpagato) Ia melingkupi 6 arah, memperaktekan demkian menjadikannya penakluk (vijaya) dua alam, sejahtera di alam ini dan alam berikutnya dan saat hancurnya jasmani, setelah kematian ia menuju ke alam bahagia, alam surga.

Apakah 4 kekotoran perbuatan yang telah ditinggalkannya itu?

Menghancurkan kehidupan, mengambil yang tidak diberikan, menyatakan yang tidak benar, terlibat bersama istri orang lain, dicela oleh para bijak

Apakah 4 penyebab perbuatan buruk yang tidak dilakukannya itu?

  • melakukan perbuatan buruk karena kemelekatan/rasa senang (chanda agati gacchanto pāpakammaṃ),
  • melakukan perbuatan buruk karena ketidak-sukaan/kebencian (dosa agati..),
  • melakukan perbuatan buruk karena kekeliruan-tahu/ketidak-tahuan (moha agati..), dan
  • melakukan perbuatan buruk karena ketakutan (bhaya agati..).

Karena para siswa ariya dalam bertindak tidak karena kemelekatan, kebencian, kekeliruan tahu dan ketakutan, maka ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan buruk.”


“Kemelekatan, ketidak-sukaan, kekeliruan-tahu, ketakutan; siapapun yang melanggar dhamma, nama baik dan kemashyurannya akan menjadi pudar, bagaikan bulan yang susut pada masa bulan gelap.”




“Kemelekatan, kebencian, kekeliruan-tahu, ketakutan; Siapapun yang tidak melanggar dhamma, nama baik dan kemashyurannya menjadi sempurna dan penuh, bagaikan bulan purnama pada masa bulan terang.”

“Dan apakah 6 cara menyia-nyiakan kekayaan itu?”

  1. kebiasaan dengan asupan memabukan landasan bagi kelengahan (Surā­meraya­maj­jappa­mādaṭ­ṭhāna-anuyogo) terdapat 6 bahaya karena: Kerugian harta nyata saat ini, Bertambahnya pertengkaran, Tubuh mudah terserang penyakit,Kehilangan sifat baik, Terlihat tidak sopan, Kebijaksanaan melemah (paññāya dub­balika­raṇīt­veva)
  2. kebiasaan berkeliaran di jalan pada saat yang tidak pantas, (vikāla­-visi­kha-a­cariya-a­nuyogo) terdapat 6 bahaya karena: Diri sendiri tidak terjaga dan tidak terlindung, Anak isterinya tidak terjaga dan tidak terlindung, Harta kekayaannya tidak terjaga dan tidak terlindung, Dapat dicurigai sebagai pelaku suatu tindak kejahatan, Menjadi sasaran desas-desus/laporan palsu, akan menjumpai banyak kesulitan/ketidaknyamanan.
  3. mengunjungi tempat-tempat hiburan (samaj­jā­bhi­cara­ṇaṃ) terdapat 6 bahaya karena (akan berpikir): Dimanakah ada tari-tarian, nyanyi-nyanyian, pertunjukan musik, pembacaan deklamasi, permainan tambur, permainan genderang.
  4. kebiasaan berjudi (jūtappa­mādaṭ­ṭhāna-a­nuyogo) terdapat 6 bahaya karena: Bila menang dimusuhi, Bila kalah kehilangan harta, rugi harta nyata saat ini, Omongannya tidak dipercaya orang banyak (sabhāgatassa vacanaṃ na rūhati), diremehkan teman-temannya (mittāmaccānaṃ paribhūto hoti), Tidak diingikan menjadikannya menantu: penjudi tidak dapat menyokong isteri (āvāha­vivāha­kānaṃ apatthito hoti: ‘akkhadhutto ayaṃ purisapuggalo nālaṃ dārabharaṇāyā).
  5. kebiasaan bergaul dengan teman-teman jahat (pāpa­mitta-a­nuyogo) terdapat 6 bahaya karena (bergaul dengan): orang licik/curang (dhutta), Penyandu (soṇḍa), Peminum (pipāsā), Penipu (nekatika), Penghasut/manipulator (vañcanika), Penggganggu/pembuat onar (sāhasika)
  6. Kebiasaan malas (ālasya-anuyogo) terdapat 6 bahaya karena (akan berpikir): ‘Terlalu dingin’ (Atisītanti) tidak bekerja (kammaṃ na karoti), ‘Terlalu panas’ (atiuṇhanti) tidak bekerja, ‘Terlalu pagi/awal’ (atisāyanti) tidak bekerja, ‘Terlalu siang/terlambat’ (atipātoti) tidak bekerja, ‘Aku terlalu lapar’ (atichātosmīti) tidak bekerja, ‘Aku terlalu kenyang’ (atidhātosmīti) tidak bekerja. Demikianlah berdiam dalam banyak alasan yang harus dikerjakannya menjadi tidak dikerjakan (Tassa evaṃ kic­cāpa­desa­bahulassa viharato), harta kekayaan baru tidak diperolehnya dan harta kekayaan yang dimilikinya menjadi habis.

“menjadi teman-minum (Hoti pānasakhā nāma), menjadi sahabat-teman (hoti sammiyasammiyo), seseorang karena maksud/keuntungan (Yo ca atthesu jātesu) menjadi teman dan sekutu (sahāyo hoti so sakhā)

Tidur hingga matahari muncul (ussūra-seyyā) berselingkuh dengan para istri orang lain (paradārasevanā), bertengkar, melakukan kekejaman (Verappasavo ca anatthatā ca), berteman buruk dan kebaikan egois (Pāpā ca mittā sukadariyatā ca), 6 hal ini menghancurkan seseorang.
bergaul dengan teman jahat teman dalam keburukan (Pāpamitto pāpasakho), berbuat buruk dan di tempat buruk (pāpa­ācāra­gocaro), orang ini menuju kehancuran baik alam ini maupun berikutnya (Asmā lokā paramhā ca ubhayā dhaṃsate naro).
Bermain judi, perempuan, mabuk-mabukan, menari, menyanyi (Akkhitthiyo vāruṇī naccagītaṃ), tidur seharian berada di waktu salah (Divā soppaṃ pāricariyā akāle), berteman buruk dan kebaikan egois, menghancurkan seseorang
Bermain dadu minum memabukan (akkhehi dibbanti suraṃ pivanti), bersama istri orang lain sebagai hidupnya (Yantitthiyo pāṇasamā paresaṃ), mengambil jalan rendah tidak jalan mulia (Nihīnasevī na ca vuddhasevī), memudar bagai bulan menyusut ke bulan gelap.
Pemabuk bangkrut melarat, tetap haus walau minum banyak, tenggelam dalam hutang bagai dalam air, akan cepat menghilangkan reputasi keluarganya
Berkebiasaan siang harinya tidur dan terjaga dimalam harinya, selalu ketagihan mabuk, Tidak mampu mempertahankan rumah yang layak.
“Terlalu dingin! Terlalu panas! Terlalu larut!” mereka mengeluh, Kemudian mengesampingkan pekerjaannya, hingga setiap kesempatan yang dimilikinya untuk melakukan kebajikan terlepaskan.
Tetapi yang menganggap dingin dan panas, Tidak berarti apa-apa, dan seperti seorang laki-laki, Melaksanakan tugas-tugasnya, Kegembiraannya tidak akan berkurang.”

“Terdapat 4 macam orang yang dapat dilihat bukan teman tapi menyerupai teman:

  1. Yang hanya mau mengambil, dapat dilihat dalam 4 alasan: mengambil banyak, mengeluarkan sedikit meminta banyak, melakukan kewajibannya karena takut, dan mencari demi dirinya sendiri
  2. Yang banyak bicara tetapi tidak berbuat apapun, dapat dilihat dalam 4 alasan: menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang lampau, berkenaan dengan hal-hal yang mendatang, berusaha mendapatkan simpati dengan kata-kata kosong, bila ada kesempatan untuk membantu ia mengatakan tidak sanggup karena bencana
  3. Penjilat dapat dilihat dalam 4 alasan: menyetujui perubuatan salah, tidak menganjurkan hal-hal benar, memuji dirimu dihadapanmu, berbicara jelek tentang dirimu dihadapan orang-orang lain
  4. Kawan pemboros dapat dilihat dalam 4 alasan: menjadi kawanmu apabila engkau: gemar akan minum minuman keras, sering berkeliaran di jalan pada waktu yang tidak pantas, mengunjungi tempat hiburan dan pertunjukkan, gemar berjudi.

“Sahabat yang selalu mencari apa-apa untuk diambil,
yang kata-katanya berlainan dengan perbuatannya,
yang menjilat,
hanya berusaha membuat engkau senang,
yang bergembira dengan cara-cara salah.
Empat ini adalah bukan teman.
Setelah menyadarinya demikian,
biarlah orang bijaksana menghindari mereka dari jauh,
seakan mereka jalan yang berbahaya dan menakutkan.”

“Terdapat 4 macam orang yang dapat dilihat sebagai teman baik hati (mitta suhada):

  1. Penolong: menjaga dirimu sewaktu engkau lengah, menjaga milikmu sewaktu engkau lengah, menjadi pelindung dirimu sewaktu engkau dalam ketakutan, memberikan bantuan dua kali daripada apa yang engkau perlukan,
  2. Sahabat pada waktu senang dan susah: menceritakan rahasia-rahasia dirinya kepadamu, menjaga rahasia dirimu, tidak akan meninggalkan dirimu sewaktu engkau berada dalam kesulitan, bersedia mengorbankan hidupnya demi kepentinganmu
  3. Sahabat yang memberi nasehat yang baik: mencegah engkau berbuat yang buruk, menganjurkan engkau untuk berbuat yang baik, memberitahukan apa yang belum engkau pernah dengar, menunjukkan engkau jalan ke surga.
  4. Sahabat yang bersimpati: tidak bergembira atas kesengsaraanmu, merasa senang atas kesejahteraanmu, mencegah orang lain berbicara jelek tentang dirimu, membenarkan orang lain yang memuji dirimu

Teman yang suka membantu,
Teman di saat suka dan duka,
Teman yang menunjukkan jalan yang benar,
Teman yang bersimpati
Empat teman ini
Haruslah diketahui oleh seorang bijak
dihargai dengan sepenuh hati
Bagai seorang ibu kepada putera kandungnya.
Seorang bijak yang berbudi
bersinar seperti nyala api,
mengumpulkan kekayaan bagai lebah
berkeliling mengumpulkan madu,

kekayaannya bertumbuh
Bagai sarang semut yang membukit.
Dengan mengumpulkan kekayaannya seperti ini
perumah tangga telah berbuat cukup bagi keluarganya
membagi kekayaannya menjadi 4 bagian
Demikian ia menangkan persahabannya
1 bagian dinikmatinya,
2 bagian untuk pekerjaannya,
Bagian ke-4 disimpannya
Sebagai cadangan di waktu sulit.

Bagaimanakah caranya siswa ariya melindungi enam arah itu?

  1. Ibu-ayah (Mātāpitā) seperti arah Timur.

    Dengan 5 cara seorang anak memperlakukan orang tuanya:

    • Dahulu aku ditunjang mereka, sekarang aku menjadi penunjang mereka,
    • Aku akan menjalankan kewajibanku terhadap mereka
    • Aku akan pertahankan kehormatan keluargaku,
    • Aku akan mengurus warisanku,
    • Aku akan melakukan/mengatur persembahan untuk sanak keluarga yang telah meninggal.
    • [note: konteks persembahan kepada yang telah meninggal melalui pelimpahan jasa sebagaimana tercantum pada tirokudda sutta dan Sariputtattheramatupetivatthuvannana, Pembahasannya lihat di sini atau lebih detail lagi, lihat: PattiDana]

    Dengan 5 cara orang tua, menunjukkan kecintaannya:

    • Mencegah anaknya berbuat yang buruk,
    • Mendorong mereka berbuat yang baik,
    • Melatihnya dalam suatu profesi,
    • Mencarikan pasangan (suami/isteri) yang pantas,
    • Pada waktu yang tepat, mereka menyerahkan warisan kepada anaknya.

    Demikianlah arah Timur ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

  2. Guru (ācariyā) seperti arah Selatan.

    Dengan 5 cara siswa-siswa memperlakukan guru-guru mereka:

    • Dengan bangkit (dari tempat duduk untuk memberi hormat),
    • Dengan melayani mereka,
    • Dengan bersemangat untuk belajar,
    • Dengan memberikan jasa-jasa kepada mereka,
    • Dengan memberikan perhatian sewaktu menerima ajaran dari mereka.

    Dengan 5 cara guru-guru, menunjukan kecintaannya:

    • Melatihnya sedemikian rupa sehingga ia selalu baik,
    • Membuatnya menguasai apa yang telah diajarkan,
    • Mengajarnya secara menyeluruh dalam berbagai ilmu dan seni,
    • Berbicara baik tentang dirinya di antara sahabat-sahabatnya dan kawan-kawannya,
    • Menjaga keselamatannya di semua tempat.

    Demikianlah arah Selatan ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

  3. Isteri dan anak (Puttadārā) seperti arah Barat.

    Dengan 5 cara seorang isteri diperlakukan oleh suaminya:

    • Dengan menghormati,
    • Dengan bersikap ramah-tamah,
    • Dengan kesetiaan,
    • Dengan menyerahkan kekuasaan rumah-tangga kepadanya,
    • Dengan memberikan barang-barang perhiasan kepadanya.

    Dengan 6 cara seorang isteri, menunjukannya kecintaannya dengan:

    • Mencintainya,
    • Menjalankan kewajiban-kewajibannya dengan baik,
    • Bersikap ramah-tamah terhadap sanak-keluarga kedua belah pihak,
    • Dengan kesetiaan,
    • Dengan menjaga barang-barang yang diberikan suaminya,
    • Pandai dan rajin dalam melaksanakan segala tanggung-jawabnya.

    [note:
    Di AN 5.33/Uggaha sutta, arahan sang Buddha pada anak-anak gadis Uggaha: “gadis-gadis kalian harus berlatih sebagai berikut:

    1. ‘Kepada suami yang mana pun orangtua kami menyerahkan kami—yang dilakukan karena menginginkan kebaikan kami, mengupayakan kesejahteraan kami, berbelas kasihan pada kami, bertindak demi belas kasihan pada kami—kami harus bagun sebelum ia bangun tidur dan pergi tidur setelah ia pergi tidur, melakukan apa pun yang harus dilakukan, bertingkah laku menyenangkan dan ramah dalam bertutur kata.’
    2. ‘Kami akan menghormati, menghargai, dan memuliakan mereka yang dihormati oleh suami kami—ibu dan ayahnya, para petapa dan brahmana—dan ketika mereka datang kami akan mempersembahkan tempat duduk dan air kepada mereka.’
    3. ‘Kami akan terampil dan tekun dalam mengerjakan tugas-tugas rumah tangga suami kami, apakah merajut atau menenun; kami akan memiliki penilaian benar sehubungan dengan tugas-tugas itu agar dapat menjalankan dan mengurusnya dengan benar.’
    4. ‘Kami akan mencari tahu apa yang telah dikerjakan dan belum diselesaikan oleh para pembantu rumah tangga suami kami—apakah budak-budak, utusan-utusan, atau para pekerja; dan kami akan mencari tahu kondisi mereka yang sakit; dan kami akan membagikan porsi makanan yang selayaknya kepada mereka masing-masing.’
    5. ‘Kami akan menjaga dan melindungi pendapatan apa pun yang dibawa pulang oleh suami kami—apakah uang atau beras, perak atau emas—dan kami tidak akan memboroskan, mencuri, membuang-buang atau menghambur-hamburkan pendapatannya.’

    Ketika, gadis-gadis, seorang perempuan memiliki ke-5 kualitas ini, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di tengah-tengah para deva menyenangkan (­ma­nāpa­kā­yi­kānaṃ devānaṃ).”

    Ia tidak memandang rendah suaminya,
    orang yang terus-menerus menyokongnya,
    yang dengan tekun dan bersemangat
    selalu membawakan apa pun yang ia inginkan.

    Seorang perempuan yang baik juga tidak memarahi suaminya
    dengan kata-kata yang ditimbulkan dari kecemburuan;
    seorang perempuan bijaksana menunjukkan penghormatan
    kepada mereka semua yang dihormati oleh suaminya.

    Ia bangun lebih awal, bekerja dengan rajin,
    mengatur rumah tangga;
    ia memperlakukan suaminya dengan cara-cara yang menyenangkan
    dan menjaga kekayaan yang ia peroleh.

    Seorang perempuan yang memenuhi tugas-tugasnya demikian,
    diikuti kepatuhan pada keinginan suaminya,
    terlahir kembali di antara para deva
    yang disebut ‘menyenangkan.’ (Manāpā nāma)”
    ]

    Demikianlah arah Barat ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

  4. Teman dan sejawat (mittāmaccā) seperti arah Utara.

    Dengan 5 cara seorang warga keluarga memperlakukan teman dan sejawatnya:

    • Bermurah hati,
    • Berlaku ramah,
    • Memberikan bantuan,
    • Memperlakukan mereka seperti ia memperlakukan dirinya sendiri,
    • Berbuat sebaik ucapannya.

    Dengan 5 cara teman dan sejawat, menunjukan kecintaannya:

    • melindunginya sewaktu ia lengah,
    • melindungi harta miliknya sewaktu ia lengah,
    • menjadi pelindung sewaktu ia berada dalam bahaya,
    • tidak akan meninggalkannya sewaktu ia sedang dalam kesulitan,
    • menghormati keluarganya.

    Demikianlah arah Utara ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

  5. Pelayan dan karyawan (dāsakammakarā) seperti arah bawah.

    Dalam 5 cara seorang majikan memperlakukan pelayan-pelayan dan karyawan-karyawannya:

    • Dengan memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka,
    • Dengan memberikan mereka makanan dan upah,
    • Dengan merawat mereka sewaktu mereka sakit,
    • Dengan membagi barang-barang kebutuhan hidupnya,
    • Dengan memberikan cuti pada waktu-waktu tertentu.

    Dalam 5 cara pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan, menunjukan kecintaannya:

    • bangun lebih pagi daripadanya,
    • merebahkan diri untuk beristirahat setelahnya,
    • puas dengan apa yang diberikan kepada mereka,
    • melakukan kewajiban-kewajiban mereka dengan baik,
    • Dimanapun berada, memuji majikannya, memuji keharuman namanya.

    Demikianlah arah bawah ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

  6. Petapa dan Brahmana (samaṇabrāhmaṇā) seperti arah atas.

    Dalam 5 cara seorang warga keluarga harus memperlakukan para pertapa dan brahmana:

    • Dengan cinta kasih dalam perbuatan,
    • Dengan cinta kasih dalam perkataan,
    • Dengan cinta kasih dalam pikiran,
    • Membuka pintu rumah bagi mereka (mempersilahkan mereka),
    • Menunjang kebutuhan hidup mereka pada waktu-waktu tertentu.

    Dalam 6 cara para pertapa dan brahmana, menunjukkan kecintaannya dengan:

    • mencegahnya berbuat buruk,
    • menganjurkannya berbuat baik,
    • mencintainya dengan pikiran penuh kasih sayang,
    • mengajarkan apa yang belum pernah ia dengar,
    • membenarkan dan memurnikan apa yang pernah ia dengar,
    • menunjukkannya jalan ke surga.

    Demikianlah arah atas ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

Ibu-ayah arah timur
Para guru arah selatan

Istri dan anak arah barat
Teman dan rekan arah utara
Para pelayan dan pekerja arah bawah
Para petapa dan Brahmana arah atas
dengan menghormati arah-arah ini
perumah tangga telah berbuat cukup bagi keluarga
Seorang bijak yang berbudi
lembut dan berbicara baik
rendah hati dan baik hati
Yang demikian yang beroleh kemuliaan
yang rajin, tidak malas
Tidak goyah oleh kemalangan
konsisten dalam perilaku bijak
Yang demikian yang beroleh kemuliaan
yang ramah memperlakukan teman
mudah memberi dan tidak kikir
pemandu, penuntun dan pendamai
Yang demikian yang beroleh kemuliaan
Pemberi persembahan dan baik perkataannya
membawa manfaat dimanapun
berlaku sama dalam segala hal
selayaknya dalam disetiap kasus
menjadi pengikat kumpulan di dunia
Bagai sumbu roda kereta
Jika kumpulan demikian tidak ada
Tidak ada ibu yang mendapatkan dari anaknya
Penghormatan dan penghargaan
Tidak juga ayah, sebagaimana seharusnya mereka dapatkan
Tetapi karena kumpulan ini ada
para bijak menghargai baik akan hal ini
sehingga memperoleh kebesaran
dan menjadikannya layak dipuji.’

Mendengarkan ini Sigālaka berkata kepada Sang Bhagavā: ‘Sungguh menakjubkan, Bhagavā, bagus sekali! Bagaikan seseorang yang menegakkan apa yang terbalik, atau menunjukkan jalan bagi ia yang tersesat, atau menyalakan pelita di dalam gelap, sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat apa yang ada di sana. Demikian pula Yang Mulia Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara. Sudilah Yang Mulia Gotama menerimaku sejak hari ini sebagai seorang siswa-awam hingga akhir hidupku’ [DN 31/Sīgālovāda/Sīgālaka Sutta]

Upatissa/Sariputta dan Kolita/Moggallana
Selama Sang Buddha tinggal di dekat Rajagaha, waktu itu hidup dua orang pemuda dari kasta brahmana yang kaya raya, yang sejak kecil bersahabat. Yang satu bernama Upatissa, anak seorang wanita bernama Rupasari, yang lain bernama Kolita, anak seorang wanita bernama Moggalli. Mereka berdua berguru kepada Sanjaya, seorang pertapa dari golongan Paribbajaka, yang mempunyai dua ratus lima puluh orang murid.

Upatissa dan Kolita termasuk dua orang murid yang pandai dan sering mewakili gurunya memberi bimbingan kepada murid-murid yang lain. Meskipun sudah belajar lama dan memiliki seluruh kepandaian gurunya, tetapi mereka berdua masih belum puas. Mereka kemudian berjanji bahwa siapa di antara mereka kelak yang lebih dulu memperoleh ajaran sempurna akan memberitahukan hal itu kepada yang lain.

Bertemu dengan arahat Assaji
Pada suatu hari Ayasma Assaji, seorang dari lima orang bhikkhu pertama, kembali ke Rajagaha untuk memberi laporan kepada Sang Buddha tentang perjalanannya ke berbagai tempat untuk mengajar Dhamma. Sebagaimana biasa, Ayasma Assaji tiap pagi mengumpulkan makanan dan waktu itulah Beliau terlihat oleh Upatissa. Upatissa terkesan sekali melihat sikap Ayasma Assaji yang demikian tenang dan agung. Setiap gerakannya memberi kesan berwibawa dan menuntut penghormatan dari orang yang melihatnya.

Baik berjalan ke depan atau bertindak ke belakang, atau membentangkan, atau menekuk tangannya, ia selalu kelihatan penuh keseimbangan dengan kepala agak tunduk sedikit dan mata ditujukan ke arah depan Pemandangan ini membuat Upatissa terpesona dan membangkitkan perasaan ingin tahu. Seketika itu ia ingin menegur, tetapi kemudian membatalkannya karena ia menganggap waktunya kurang tepat berhubung waktu itu Ayasma Assaji sedang mengumpulkan makanan.

Ia menunggu sampai Ayasma Assaji selesai makan dan kemudian mendekati serta memberi hormat, “Saudara, pembawaan Anda luar biasa dan wajah Anda terang sekali. Dengan menjalankan kehidupan suci ini kepada siapakah Anda mengabdi? Siapakah guru Anda? Dan ajaran siapakah yang Anda ikuti?”

Ayasma Assaji menjawab, “Saudara, dengan menjalankan kehidupan suci ini aku mengabdi kepada seorang Pertapa Agung, anak dari suku Sakya, yang telah menjadi bhikkhu dari keluarga Sakya. Pertapa Agung itulah yang menjadi guruku. Dan ajaran-Nya yang aku ikuti.”

“Apakah yang diajar guru Anda, Saudara?”

“Aku seorang pendatang baru. Aku baru saja ditahbiskan. Aku belum berapa lama mengikuti ajaran ini, sehingga aku tidak dapat memberikan pelajaran itu secara terperinci. Tetapi aku akan memberitahukan Anda garis besarnya.”

“Baik sekali, Saudara. Bagi saya sama saja apakah Anda memberitahukan garis besarnya atau secara terperinci. Aku ingin mendengar intisari dari ajaran tersebut, yang lain tidak dapat membantu apa-apa.”

Ayasma Assaji kemudian mengucapkan syair di bawah ini: “Hal apapun muncul karena suatu sebab (Ye dhammā hetuppabhavā), tentang Sebab-nya telah dijelaskan Sang Tathagata, juga tentang berakhirnya (Tesaṃ hetuṃ tathāgato āha; Tesañca yo nirodho), Ini yang diajarkan Sang Petapa Agung (Evaṃvādī mahāsamaṇo”ti)”

Mendengar syair tersebut, Upatissa memperoleh Mata Dhamma (Dhammacakkhu), tanpa debu, tanpa noda, bahwa “Apapun itu yang muncul (yaṃ kiñci samuda­ya­dhammaṃ), Semua itu akan berakhir (sabbaṃ taṃ nirodhadhamman)”

Kemudian Upatissa menanyakan tempat tinggal Sang Buddha. Setelah diberitahukan bahwa Sang Buddha pada saat itu berdiam di Veluvanarama, Upatissa kemudian mohon diri dari Ayasma Assaji dan berjanji akan datang mengunjungi Sang Buddha bersama sahabatnya yang bernama Kolita. Upatissa kembali ke tempat gurunya, Sanjaya, dan memberitahukan Kolita peristiwa apa yang baru saja ia alami.

Ia mengulang syair yang diucapkan Ayasma Assaji dan seketika itu pula Kolita memperoleh Mata Dhamma dan menjadi seorang Sotapanna. Kemudian mereka berdua melaporkan berita ini kepada Sanjaya dan mohon diperkenankan untuk mengunjungi Sang Buddha. Tetapi Sanjaya menolak untuk memberi izin. Akhirnya, tanpa izin, mereka berdua dengan diikuti dua ratus lima puluh orang muridnya pergi juga berkunjung kepada Sang Buddha dan mohon ditahbiskan menjadi bhikkhu. [Vinaya, Mahavagga I]

Dari kelompok ini dapat diceritakan bahwa mereka semua mencapai tingkat Arahat, bahkan para muridnya terlebih dulu mencapai tingkat kesucian tersebut, kemudian disusul oleh Kolita dan yang terakhir Upatissa. Tujuh hari setelah ditahbiskan menjadi bhikkhu, Kolita menyepi di Desa Kallavalamuttagama di kota Magadha. Di tempat itu Kolita giat melatih meditasi dan Pada saat itu sedang duduk dan mengantuk di Kallavāmuttagāma di antara penduduk Magadha. Dengan mata dewaNya, yang murni dan melampaui manusia, Sang Bhagavā melihat Yang Mulia Mahāmoggallāna sedang duduk dan mengantuk. Kemudian, secepat seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, Sang Bhagavā lenyap dari taman rusa di Hutan Bhesakalā, dan muncul kembali di hadapan Yang Mulia Mahāmoggallāna. Sang Bhagavā duduk di tempat duduk yang telah dipersiapkan untukNya dan berkata:

“Apakah engkau mengantuk, Moggallāna? Apakah engkau mengantuk, Moggallāna?”

“Benar, Bhante.”

(1) “Oleh karena itu, Moggallāna, engkau tidak boleh memperhatikan atau melatih objek yang sedang engkau perhatikan ketika engkau mengantuk. Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan.

(2) “Tetapi jika engkau tidak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus merenungkan, memeriksa, dan dengan pikiran menyelidiki Dhamma yang telah engkau dengar dan pelajari. Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan.

(3) “Tetapi jika engkau tidak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus melafalkan Dhamma secara terperinci seperti yang telah engkau dengar dan pelajari. Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan.

(4) “Tetapi jika engkau tidak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus menarik kedua telingamu dan menggosok bagian-bagian tubuhmu dengan tanganmu. Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan.

(5) “Tetapi jika engkau tidak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus bangkit dari dudukmu, menggosok matamu dengan air, menatap segala penjuru, dan menatap konstelasi dan bintang-bintang. Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan.

(6) “Tetapi jika engkau tidak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus memperhatikan persepsi cahaya; engkau harus mempersepsikan siang hari sebagai berikut: ‘Seperti halnya siang hari, demikian pula malam hari; seperti halnya malam hari, demikian pula siang hari.’ Demikianlah, dengan pikiran terbuka dan tidak tertutup, engkau harus mengembangkan pikiran yang dipenuhi dengan kecemerlangan. Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan.

(7) “Tetapi jika engkau tidak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus melakukan [olah raga] berjalan mondar-mandir, mengawasi apa yang ada di belakangmu dan apa yang ada di depanmu, dengan organ-organ indriamu tertarik ke dalam dan pikiranmu ditenangkan. Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan.

“Tetapi jika engkau tidak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus berbaring pada sisi kanan dalam postur singa, dengan satu kaki di atas kaki lainnya, penuh perhatian dan memahami dengan jernih, setelah mencatat dalam pikiranmu gagasan untuk terjaga. Ketika engkau terjaga, engkau harus bangkit dengan segera, [dengan berpikir]: ‘Aku tidak akan terlena pada kenikmatan beristirahat, kenikmatan bermalas-malasan, kenikmatan tidur.’ Adalah dengan cara ini, Moggallāna, engkau harus berlatih.

“Oleh karena itu, Moggallāna, engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami tidak akan mendatangi keluarga-keluarga [untuk menerima dana makanan] dengan kepala menggembung oleh kesombongan.’ Dengan cara inilah, Moggallāna, engkau harus berlatih. Mungkin, Moggallāna, bahwa seorang bhikkhu mendatangi keluarga-keluarga dengan kepala menggembung oleh kesombongan. Sekarang ada pekerjaan-pekerjaan rumah yang harus dilakukan dalam keluarga-keluarga itu, dan karena alasan ini, ketika seorang bhikkhu datang, orang-orang tidak memperhatikannya. Dalam situasi demikian bhikkhu itu mungkin berpikir: ‘Siapakah yang telah menghasut keluarga ini memusuhiku? Tampaknya orang-orang ini sekarang telah menjadi tidak peduli padaku’. Dengan cara ini, karena tidak mendapatkan perolehan ia merasa terhina; ketika merasa terhina, ia menjadi gelisah; ketika ia gelisah, maka ia kehilangan pengendaliannya. Pikiran seseorang yang tanpa pengendalian adalah jauh dari konsentrasi.

“Oleh karena itu, Moggallāna, engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami tidak akan terlibat dalam perdebatan.’ Dengan cara inilah engkau harus berlatih. Ketika terjadi perdebatan, maka akan ada kata-kata yang berlebihan. Ketika ada kata-kata yang berlebihan, maka seseorang menjadi gelisah; ketika ia gelisah, maka ia kehilangan pengendaliannya. Pikiran seseorang yang tanpa pengendalian adalah jauh dari konsentrasi.

“Moggallāna, Aku tidak memuji keterikatan dengan siapa pun, juga Aku tidak memuji ketidak-terikatan sama sekali. Aku tidak memuji keterikatan dengan para perumah tangga dan kaum monastik, tetapi Aku memuji keterikatan dengan tempat-tempat tinggal yang sepi dan tidak berisik yang jauh dari kesibukan orang-orang, jauh dari pemukiman manusia, dan sesuai untuk keterasingan.”

Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Moggallāna berkata kepada Sang Bhagavā: “Secara singkat, Bhante, bagaimanakah seorang bhikkhu terbebaskan dalam padamnya ketagihan, menjadi yang terbaik di antara para deva dan manusia: seorang yang telah mencapai akhir tertinggi, telah memenangkan keamanan tertinggi dari belenggu, telah menjalankan kehidupan spiritual tertinggi, dan telah memperoleh kesempurnaan tertinggi?”

“Di sini, Moggallāna, seorang bhikkhu telah mendengar: ‘Tidak ada yang layak digenggam.’ Ketika seorang bhikkhu telah mendengar: ‘Tidak ada yang layak digenggam,’ ia secara langsung mengetahui segala sesuatu. Setelah mengetahui segala sesuatu, ia sepenuhnya memahami segala sesuatu. Setelah sepenuhnya memahami segala sesuatu, perasaan apa pun yang ia rasakan—apakah menyenangkan, menyakitkan, atau bukan menyakitkan juga bukan menyenangkan—ia berdiam dengan merenungkan ketidak-kekalan dalam hal-hal itu, merenungkan peluruhan dalam perasaan-perasaan itu, merenungkan pelenyapan dalam perasaan-perasaan itu, merenungkan pelepasan dalam perasaan-perasaan itu. Ketika ia berdiam merenungkan ketidak-kekalan … peluruhan … pelenyapan … pelepasan dalam perasaan-perasaan itu, ia tidak melekat pada apa pun di dunia. Karena tidak melekat, ia tidak bergejolak. Karena tidak bergejolak, ia secara pribadi mencapai nibbāna. Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan kembali lagi pada kondisi makhluk apa pun.’

“Secara singkat, Moggallāna, dengan cara inilah seorang bhikkhu menjadi yang terbaik di antara para deva dan manusia: seorang yang telah mencapai akhir tertinggi, telah memenangkan keamanan tertinggi dari belenggu, telah menjalankan kehidupan spiritual tertinggi, dan telah memperoleh kesempurnaan tertinggi.” [AN 7.61]

Dengan melaksanakan petunjuk tesebut, Moggallana berhasil mencapai tingkat Arahat hari itu juga. Lima belas hari setelah ditahbiskan, Upatissa (yang kemudian terkenal sebagai Sariputta, anak Sari), berdiam bersama-sama Sang Buddha di Goa Sukarakhata dari Gunung Gijjhakuta (Puncak Burung Nasar) di kota Rajagaha.

Seorang pertapa golongan Paribbajaka bernama Dighanakha dari keluarga Aggivesana pada suatu hari menghampiri Sang Buddha dan setelah saling mengucapkan kata-kata menghormat, ia berdiri di satu sisi. Ia kemudian memberikan pandangannya dengan mengatakan, “Yang Mulia Gotama, semua benda tidak menyenangkan hatiku. Aku tidak merasa tertarik kepadanya.”

“Kalau begitu, Aggivesana, pandangan yang demikian itu pasti tidak menyenangkan hatimu dan sudah semestinya kamu tidak tertarik lagi kepadanya.” Setelah itu Sang Buddha menguraikan tentang adanya tiga pandangan mengenai hal tersebut.

“Ada kelompok pertapa dan Brahmana, Aggivesana, yang mempunyai pandangan bahwa semua benda menyenangkan hati mereka, mereka tertarik kepada semua benda. Ada kelompok lain berpegang teguh kepada pandangan bahwa semua benda tidak menyenangkan hati mereka, mereka tidak tertarik kepada apa pun juga. Kelompok ketiga mempunyai pandangan bahwa ada benda-benda yang menyenangkan hati dan mereka tertarik kepada benda-benda tersebut”.

“Terhadap benda-benda lain yang tidak menyenangkan hati, mereka tidak tertarik. Pandangan kelompok pertama ialah condong ingin memiliki benda-benda tersebut. Pandangan kelompok kedua condong untuk membenci atau mempunyai pikiran buruk terhadap benda-benda. Pandangan kelompok ketiga ialah condong ingin memiliki beberapa benda-benda dan membenci benda-benda yang lain.”

“Seorang bijaksana melihat bahwa kalau ia mengambil sikap dan mengatakan bahwa ini yang benar dan yang dua itu salah, ia akan bertentangan pendapat dengan mereka yang mempunyai kedua pandangan yang lain itu. Dengan adanya pertentangan pendapat akan timbul pertengkaran. Dengan adanya pertengkaran akan timbul perasaan benci. Dengan adanya perasaan benci akan timbul permusuhan. Setelah menyelami keadaan ini, seorang bijaksana akan menyingkirkan pandangan itu dan juga tidak menganut pandangan pandangan yang lain. Dengan melakukan ini, ia telah melepaskan ketiga pandangan tersebut”.

Setelah menjelaskan tentang ketiga pandangan salah tersebut, Sang Buddha kemudian memberikan uraian tentang cara bagaimana orang dapat menyingkirkan kemelekatan.

“Tubuh ini, Aggivesana, terdiri atas empat unsur pokok (Mahabhutarupa), yaitu tanah, air, hawa udara, dan api. Ia berasal dari ayah dan ibu, dibesarkan dengan makanan nasi dan sayur-sayuran, selalu memerlukan wangi-wangian dan sabun untuk menutupi bau yang menyerang keluar, dan selalu harus dibersihkan dan digosok (untuk membersihkan kotoran yang melekat di kulit).”

“Ia ditakdirkan untuk lapuk dan membusuk. Kamu harus melihatnya sebagai sesuatu yang tidak kekal, penderitaan, sulit untuk dipertahankan, kamu harus melihatnya sebagai penyakit, sebagai bisul yang terkena anak panah dan menimbulkan kepedihan dan kesakitan, kamu harus melihatnya sebagai tanpa aku. Kalau melihat semua ini dengan terang, kamu dapat melepaskan keinginan terhadap kesenangan-kesenangan indria”.

“Selain dari itu, perasaan terdiri atas tiga jenis, yaitu yang menyenangkan, tidak menyenangkan, dan yang netral. Kalau perasaan menyenangkan timbul, maka perasaan tidak menyenangkan dan netral tidak bisa muncul. Kalau perasaan tidak menyenangkan timbul, maka perasaan menyenangkan dan netral tidak bisa muncul. Kalau perasaan netral timbul, maka perasaan menyenangkan dan tidak menyenangkan tidak bisa muncul. Itulah tiga jenis perasaan yang tidak kekal dan timbul oleh sesuatu sebab dan dilahirkan oleh sebab. Perasaan itu ditakdirkan untuk mati kembali, menyusut, menciut, dan hilang sama sekali”.

“Siswa Yang Ariya, yang mengetahui hakekat yang sebenarnya, merasa jemu terhadap perasaan yang menyenangkan, tidak menyenangkan, dan netral. Karena jemu, ia akan melepaskan diri dari nafsu-nafsu keinginan. Tanpa nafsu-nafsu keinginan, ia akan bebas dari kemelekatan”

“Dalam batin yang bebas dari kemelekatan akan timbul pengetahuan bahwa batinnya sekarang benar-benar telah bebas. Siswa Yang Ariya itu tahu bahwa ini adalah kehidupannya yang terakhir, kehidupan suci telah dilaksanakan dan selesailah tugas yang harus dikerjakan dan tidak ada sesuatu apa pun yang masih harus dikerjakan untuk memperoleh Penerangan Agung. Bhikkhu yang demikian itu tidak mungkin akan bertengkar lagi mengenai sesuatu pandangan. Apa pun dalil keduniawian yang dikemukakan orang, ia dapat mengikutinya, tetapi ia tidak menganutnya dan juga tidak melekat kepada salah satu dalil.”

Selama itu Sariputta berdiri di sisi Sang Buddha dengan kipas di tangan dan mengipasi Sang Bhagava. Mendengar khotbah kepada Dighanakha ia berpikir, “Sang Bhagava menganjurkan untuk melepaskan ikatan kepada semua benda melalui Kebijaksanaan Tertinggi.”

Merenungkan arti yang terkandung dalam khotbah tersebut, batinnya terbebas dari semua kekotoran batin dengan jalan menyingkirkan kemelekatan. Setelah khotbah selesai, Dighanakha memperoleh Mata Dhamma.

Terbebas dari keragu-raguan Dhamma. Ia menyatakan diri sebagai upasaka, “Aku berlindung kepada Sang Buddha, Dhamma, dan Sangha. Semoga Sang Bhagava menerima aku sebagai upasaka yang berlindung kepada Sang Ti-Ratana untuk seumur hidup.”

Dengan cara-cara inilah Moggallana dan Sariputta memperoleh Penerangan Agung dan menjadi Arahat. Sang Buddha sendiri pernah menerangkan di hadapan para bhikkhu dan bhikkhuni bahwa Sariputta adalah murid-Nya yang terpandai dalam kebijaksanaan dan Moggallana yang terpandai dalam kekuatan gaib. Kalau Sang Buddha dinamakan Dhammaraja (Raja Dhamma) maka Sariputta diberi gelar Dhammasenapati (Jenderal Dhamma).

Konferensi di Veluvana
Ketika Sang Buddha berada di kota Rajagaha, seribu dua ratus lima puluh orang Arahat datang berkumpul. Tempat mereka berkumpul adalah di Veluvanarama (hutan pohon bambu) dan waktu itu tengah hari pada saat purnama sidhi di bulan Magha. Peristiwa yang bersejarah ini hingga kini masih tetap dirayakan sebagai Magha-Puja, terutama oleh para bhikkhu di Muangthai / Thailand. Pertemuan para Arahat tersebut dinamakan Caturangasannipata atau Pertemuan Besar Yang Diberkahi dengan Empat Faktor, yaitu:

  • Mereka berkumpul tanpa pemberitahuan terlebih dulu.
  • Mereka semuanya Arahat dan memiliki 6 (enam) kekuatan gaib (abhiñña)
  • Semuanya ditahbiskan dengan memakai ucapan “Ehi bhikkhu”.
  • Waktu itu Sang Buddha mengucapkan Ovadda Patimokkha.

Ovada Patimokkha yang diucapkan Sang Buddha adalah sebagai berikut (Dhammapada 183;5):

“Sabba papassa akaranam, Kusalassa upasampada, Sacittapariyo dapanam, Etam Buddhana sasanam. Khanti paramam tapo titikkha, Nibbanam paramam vadanti Buddha, Na hi pabbajjito parupaghati, Samano hoti param vihethayanto. Anupavado, anupaghato, Patimokkhe ca samvaro, Mattaññuta ca bhattasmim, Pantham ca sayanasanam, Adhicitte ca ayogo, Etam Budhana sasanam.”

Artinya: “Janganlah berbuat kejahatan, Perbanyaklah perbuatan baik, Sucikan hati dan pikiranmu, Itulah ajaran semua Buddha. Kesabaran adalah cara bertapa yang paling baik, Sang Buddha bersabda; Nibbanalah yang tertinggi dari semuanya, Beliau bukan pertapa yang menindas orang lain, Beliau bukan pula pertapa yang menyebabkan kesusahan orang lain. Tidak menghina, tidak melukai, Mengendalikan diri sesuai dengan tata tertib, Makanlah secukupnya, Hidup dengan menyepi, Dan senantiasa berpikir luhur, Itulah ajaran semua Buddha.”

Kembali ke Kapilavatthu
Setelah Raja Suddhodana menerima berita bahwa Sang Buddha berada di Rajagaha, ibukota negara Magadha, maka Beliau mengirim berturut-turut sembilan orang utusan yang masing-masing disertai 1000 pengikut untuk mengundang Sang Buddha pulang ke Kapilavatthu. Namun utusan-utusan tersebut ‘lupa’ untuk menyampaikan undangan dari Raja Suddhodana, malah setelah mereka mendengarkan khotbah Sang Buddha, mereka bergabung menjadi Bhikkhu dan mencapai tingkat Arahat.

Akhirnya Raja Suddhodana mengutus Kaludayi bersama 1000 orang pengikut lagi untuk mengundang Sang Buddha. Kaludayi adalah kawan bermain Pangeran Siddhattha waktu kecil dan lahir pada hari, bulan, dan tahun yang sama. Kaludayi berangkat menuju Rajagaha. Hal yang hampir sama terjadi, Ia dan 1000 pengikutnya ketika mendengar Sang Buddha, menjadi Bhikkhu dan mencapai Arahat.

Namun kali ini, Kaludayi menyampaikan undangan Raja Suddhodana agar beliau berkunjung ke Kapilavatthu. Sang Buddha menerima baik undangan tersebut. Setelah Kaludayi berdiam tujuh hari di Rajagaha, berangkatlah Sang Bhagava beserta 20.000 bhikkhu menuju Kapilavatthu.

Perjalanan tersebut jauhnya 60 Yojana ((1 yojana = 7-9 mil, 1 mil = 1.6 km) yang ditempuh dalam waktu 60 hari.

Berita kedatangan Sang Buddha beserta rombongan ke Kapilavatthu dengan cepat sampai kepada Raja Suddhodana. Beliau memerintahkan untuk segera disiapkan tempat yang letaknya di luar kota dan dikenal dengan nama Nigrodharama (hutan pohon beringin) bagi rombongan yang akan tiba. Sewaktu rombongan tiba, Raja Suddhodana, pengiring dan penduduk Kapilavatthu berduyun-duyun datang ke Nigrodharama. Peristiwa bertemunya kembali Raja Suddhodana dengan anaknya dituturkan dalam Mhvu. III, 114-121.

Waktu rombongan mendekati Nigrodharama, Sang Buddha merenung, “Bangsa Sakya terkenal sebagai bangsa yang tinggi hati. Bila Aku menyambut mereka dengan tetap duduk di tempat duduk-Ku, mereka akan mencela sikap-Ku dan mengatakan, ‘Sungguh keterlaluan Sang Pangeran ini, Ia telah meninggalkan tahta, menjadi pertapa dan mengaku telah memperoleh Penerangan Agung Raja Dhamma namun Ia duduk dan tidak berdiri menyambut kedatangan ayah-Nya yang sudah tua dan sangat dihormati seluruh rakyat Sakya’, namun Apabila Sang Tathagata bangun untuk menghormatnya, semua kelompok makhluk yang menerima penghormatannya maka kepalanya akan terbelah belah tujuh. Untuk itu, Lebih baik Aku berjalan diudara setinggi orang dewasa”.

Karena itu, setibanya Rombongan, Sang Buddha berjalan diudara setinggi orang dewasa. Dari kejauhan, Raja dapat melihat anaknya sedang berjalan-jalan di udara dan merasa sangat kagum. Tiba di pinggir hutan Nigrodharama, Raja turun dari keretanya dan bersama-sama dengan pengiringnya berjalan kaki menuju ke tempat Sang Buddha tinggal. Sang Buddha naik keudara lebih tinggi lagi dan berdiri setinggi pohon palem, sehingga dapat dilihat oleh segenap yang hadir.

Pada waktu itulah Sang Buddha mempertontonkan Yamakapatihariya atau keajaiban ganda, yang hanya dapat dilakukan oleh seorang Buddha, yaitu Api berkobar-kobar dari badan sebelah atas dan air dingin memancar lima ratus pancaran turun dari badan sebelah bawah. kemudian air memancar dari sebelah atas badan dan api berkobar-kobar dari badan sebelah bawah. Segenap yang hadir bersorak-sorak gembira melihat kemukjizatan tersebut. [Komentar Jataka no.547. Bahwa keajaiban ganda ini hanya dapat dilakukan SammasamBuddha: MiliandaPanha 8.2]

Saat itu Yasodhara juga hadir dengan menuntun Mahapajapati. Mahapajapati mengalami kebutaan mata akibat terlalu sedih dan banyak menangis ketika Pangeran Siddhattha meninggalkan istana. Mahapajapati mendengar hadirin bersorak-sorak, namun tak dapat melihatnya, Yasodhara menceritakan kejadian tersebut kepadanya. Dengan penuh rasa haru dan kesujudan, Yasodhara menampung air yang keluar dari badan Sang Buddha sewaktu melakukan keajaiban ganda dengan kedua tangannya. Dengan air itu, Ia membasuh dan mencuci mata Mahapajapati berulang kali disertai doa semoga hal itu dapat mengembalikan penglihatan Mahapajapati. Satu mukjizat telah terjadi. Perlahan tapi pasti MahaPajapati dapat melihat kembali sehingga penglihatannya pulih seluruhnya dan dapat menyaksikan sendiri peristiwa itu. Para hadirin yang melihat itu pun semakin bersorak-sorak gembira.

Sehabis keajaiban ganda, kemudian Sang Buddha menghilang. Secara tiba-tiba di udara muncul seekor banteng besar dengan tengkuk yang bergetar-getar lari dari arah Timur dan lenyap disebelah Barat, kemudian lari dari arah Barat dan lenyap di sebelah Timur. Kemudian muncul lagi dan lari dari arah Utara dan lenyap di sebelah Selatan, dan lari dari sebelah Selatan dan lenyap di sebelah Utara. Setelah pemandangan yang di atas lenyap sama sekali, kemudian Sang Buddha terlihat duduk dengan tenang di tempat duduk-Nya.

Hilang sudah keragu-raguan seluruh hadirin, Mereka yakin dengan seluruh hati bahwa Pangeran Siddhattha telah menjadi Buddha. Mereka kemudian berlutut memberi hormat dengan kedua tangan dirangkapkan di depan dada kepada Sang Buddha.

Raja Suddhodana menghampiri anaknya dan berkata, “Ini adalah untuk ketiga kalinya aku menundukkan kepalaku dan menyerukan penghormatan (vandana), oh Yang Maha Tahu, yang pertama kali adalah sewaktu pertapa Asita meramalkan bahwa anakku kelak akan menjadi Buddha, kedua kali sewaktu aku lihat anakku bermeditasi di bawah Pohon jambu dan ini adalah yang ketiga kalinya.” [Lihat juga komentar untuk Jataka no.547]

Kemudian, Raja Suddhodana menanyakan beberapa hal yang menggambarkan begitu besarnya kasih sayang dan perhatian orang tua kepada anaknya, “Dulu anakku selalu memakai sandal terbuat dari kain wol halus, berjalan di atas permadani yang empuk dan dipayungi dengan payung putih. Tetapi sekarang kaki anakku yang halus dan berwarna tembaga serta penuh garis-garis ajaib ini harus berjalan di atas rumput kasar, duri, dan batu kerikil. Apakah kaki anakku tidak pernah merasa sakit?”

Sang Buddha menjawab, “Aku adalah Sang Penakluk, Yang Maha Tahu, tak ternoda oleh kekotoran-kekotoran batin di dunia ini. Aku telah melepaskan diri dari ikatan kebendaan dan telah terbebas dengan musnahnya semua nafsu-nafsu keinginan. Orang seperti Aku tak dapat lagi diganggu oleh perasaan enak dan tidak enak.”

Raja Suddhodana berkata, “Dulu para pelayan setiap hari memandikan dan menggosok-gosok badan anakku dengan minyak kayu cendana yang baunya harum semerbak. Tetapi sekarang anakku mengembara di waktu malam yang dingin dari satu hutan ke hutan yang lain. Siapakah yang memandikan anakku dengan air bersih dan menyegarkan apabila anakku merasa lelah?”

Sang Buddha menjawab, “Oh, Baginda, murni adalah arus air yang berasal dari pantai kebajikan yang tak ternoda dan dipujikan oleh para bijaksana. Dengan mandi dan menyelam dalam air dewata itulah Aku telah tiba di pantai seberang.”

Raja Suddhodana berkata, “Dulu anakku selalu memakai kain buatan Benares dan baju bersih yang berbau wangi bunga teratai dan cempaka, anakku adalah orang yang paling bercahaya di antara orang-orang dari suku Sakya, sebagaimana dewa Sakka yang paling bercahaya di antara dewa-dewa di langit. Tetapi sekarang anakku memakai pakaian dari kain kasar yang terbuat dari serat kayu merah. Sungguh aneh anakku berbuat seperti ini.”

Sang Buddha menjawab, “Para Penakluk, oh Baginda, tidak menghiraukan pakaian, tempat tidur atau makanan, dan juga tidak menghiraukan apakah yang semua yang diterimanya menyenangkan atau tidak.”

Raja Suddhodana berkata, “Dulu, kereta yang mahal dan bergemerlapan dengan emas dan tembaga selalu tersedia untuk dipakai kemana pun anakku pergi dan diikuti sebuah payung putih, sebuah pusaka, sebatang pedang, dan sebuah lambang kerajaan. Lagipula Kanthaka, kuda yang paling gagah dan cepat larinya di seluruh negeri selalu menyertai anakku. Meskipun hingga, kereta perang, kuda dan gajah masih ada, namun anakku lebih senang berjalan kaki dari satu kerajaan ke kerajaan lain. Coba katakan anakku, apakah anakku tidak lelah?”

Sang Buddha menjawab, “Kekuatan gaib adalah kereta-Ku. Ketetapan hati, kebijaksanaan dan pikiran yang terpusat adalah sais-Ku. Padhana yang terdiri atas Sanvara (pengekangan diri dari nafsu-nafsu), Pahana (melenyapkan kekotoran batin), Bhavana. (melaksanakan meditasi) dan Anurakkhana (menjaga watak sendiri) adalah kuda-kuda-Ku. Dengan itu Seorang diri Aku mengembara dan menjelajah ke tempat-tempat yang jauh.”

Raja Suddhodana berkata, “Dulu anakku makan dari piring perak dan minum dari mangkuk emas. Selalu tersedia makanan yang lezat-lezat dengan bumbu yang terpilih, sebagaimana layaknya disajikan kepada seorang raja. Tetapi sekarang anakku makan dengan tanpa perasaan muaknya hidangan asin atau tidak asin, kasar atau lembut, dengan bumbu atau tanpa bumbu. Sungguh aneh anakku berbuat hal seperti itu.”

Sang Buddha menjawab, “Seperti juga Buddha-Buddha dari zaman dulu hingga zaman yang akan datang, maka Aku, Sang Tathagata, makan yang lembut dan kasar, berbumbu atau tidak dengan pikiran yang terkendali hanya untuk kepentingan dunia ini.”

Raja Suddhodana berkata, “Dulu, anakku tidur di dipan tinggi yang dilapisi kulit kambing hutan dengan bantal yang empuk dilapisi sutra halus. Kaki dipan terbuat dari emas dan dibalut dengan untaian bunga yang harum semerbak, dengan lantai dialaskan permadani yang terbuat dari bahan wol dan kapas. Sekarang anakku memakai rumput dan daun-daunan sebagai kasur dan tidur di atas tanah yang kasar dan berbatu. Dan rupanya anakku menyukainya. Apakah tubuh Yang Maha Bijaksana tidak merasa sakit?”

Sang Buddha menjawab, “Oh, Baginda, orang seperti Aku senantiasa tidur dengan nyenyak. Semua duka cita dan kesedihan telah Kutinggalkan. Dengan terbebas dari duka cita dan kesedihan, Aku selalu menjaga batin-Ku agar selalu berbelas-kasih kepada semua makhluk.”

Raja Suddhodana berkata, “Dulu, anakku tinggal di istana dengan kamar (di lantai atas) menyerupai tempat kediaman para dewa, diterangi oleh sekumpulan kunang-kunang, dilengkapi jendela putar yang serasi, dimana pelayan wanita yang memakai perhiasan dan kalungan bunga menunggu dengan sabar kata-kata yang akan keluar dari mulut Tuannya.”

Sang Buddha menjawab, “Sekarang, oh Baginda, di tempat ini yang dihuni oleh manusia pun terdapat para Brahma dan Dewa Agung yang senantiasa mengikuti petunjuk-petunjuk-Ku dan juga Aku dapat pergi kemana pun yang Kukehendaki.”

Raja Suddhodana berkata, “Dulu, para penyanyi selalu menyanyikan lagu-lagu dengan iringan musik yang merdu yang anakku senangi. Dan anakku adalah orang yang paling bercahaya di antara orang-orang suku Sakya, sebagaimana Dewa Sakka yang paling bercahaya di antara dewa-dewa di langit.”

Sang Buddha menjawab, “Sekarang Aku menyanyikan lagu dengan pembabaran Dhamma dan terbebas karena memperoleh Kebijaksanaan Tertinggi. Aku sekarang paling bercahaya di antara bhikkhu-bhikkhu seperti Brahma di antara dewa-dewa di langit.”

Raja Suddhodana berkata, “Dulu, oh Yang Maha Kuat, di istana, kamar anakku menyerupai tempat kediaman para dewa, selalu dijaga oleh pengawal bersenjata yang mahir menggunakan pedang. Tetapi sekarang, di hutan anakku seorang diri berada di tengah-tengah teriakan burung hantu dan jeritan anjing-anjing hutan, yang penuh binatang buas berkeliaran mencari mangsa dimalam hari. Apakah anakku tidak takut?.”

Sang Buddha menjawab, “Justru karena Aku telah menyingkirkan semua perasaan takut. maka Aku menang dan berhasil keluar dari lingkaran tumimbal lahir meskipun semua gerombolan Yakka datang bersama gajah-gajah liar yang mengarungi hutan belantara, mereka tidak akan dapat mengganggu walaupun selembar rambut-Ku Seorang diri Aku berkelana, seorang pertapa yang selalu waspada dan tidak tergoyahkan oleh celaan atau pujian, seperti seekor singa tidak takut kepada suara, seperti angin tidak dapat dijerat oleh jala. Karena itu, oh Baginda, bagaimana Anda dapat katakan bahwa Sang Penakluk, Pemimpin yang tidak dipimpin oleh siapa pun, dapat merasa takut?”

Raja Suddhodana kembali bertanya, “Sebenarnya seluruh dunia bisa menjadi tanah milikmu dan seribu orang anak dapat pula menjadi milikmu, kalau saja anakku tidak melepaskan tujuh rupa pusaka (lambang seorang Raja) menjadi seorang pertapa.”

Sang Buddha menjawab, “Sekarang pun seluruh dunia masih tetap menjadi milik-Ku dan Aku tetap masih memiliki ribuan orang anak. Lagipula sekarang Aku memiliki Delapan Mustika yang tidak ada bandingannya di dunia ini.”

Selesai percakapan ini, Raja Suddhodana memperoleh Mata Dhamma dan menjadi seorang Sotapanna (telah menaklukan 3 belenggu dan terlahir paling banyak 7 kali lagi)

Note:
Kisah dan pencapaian sotapana Suddhodana di atas adalah versi “Riwayat Hidup Buddha Gotama”, Bab IV, “Kembali Ke Kapilavatthu”, Maha Pandita Sumedha Widyadharma, Penerbit: Cetiya Vatthu Daya; Cetakan Ke-12s, 1999.

Namun dalam buku RAPB, buku ke-1, bab 24, hal. 917-926 dan juga dalam komentar untuk Dhammapada Bab.12, Syair 168-169, disampaikan bahwa pencapaian sotapanna Raja Suddhodana terjadi ketika Sang Buddha berjalan mengumpulkan dana makanan ditengah kota Kapilavatthu dan memberikan penjelasan kepada Raja mengenai itu

    Ketika Sang Buddha datang ke Kapilavatthu pertama kalinya, setelah seluruh keluarga kerajaan melihat peristiwa hujan ajaib dan setelah mendengarkan kisah Vessantara, seluruh anggota keluarga kerajaan meninggalkan tempat; tidak seorang pun yang mengajukan undangan seperti “mohon datang dan menerima dàna makanan yang akan kami persembahkan besok”. Raja Suddhodana berpikir bahwa “Tidak ada tempat lain selain istanaku untuk putraku, Tathàgata, berkunjung; Ia pasti akan datang ke istanaku.” Merasa yakin demikian, ia pulang ke istananya tanpa mengajukan undangan secara khusus. Di istana, ia memerintahkan untuk membuat persiapan nasi lunak, dan lain-lain dan menyiapkan akomodasi sementara untuk dua puluh ribu Arahanta yang dipimpin oleh Buddha

    Pada pagi hari itu Sang Buddha berjalan untuk menerima dana makanan bersama dengan rombongan para bhikkhu, seperti kebiasaan semua Buddha. Yasodhara dan Rahula melihat Sang Buddha berjalan untuk menerima dana makanan dari jendela istana, Ini menarik perhatian Ràhula, sehingga Yasodhara mengucapkan 10 bait syair pujian terhadap keagungan fisik seorang Buddha (Narasiha Gatha) dari kening hingga telapak kaki-Nya. Setelahnya, Ia memberitahukan ayah mertuanya mengenai ini. Sang raja tergesa-gesa menghampiri dan memberitahukan Sang Buddha bahwa untuk seorang anggota keluarga kerajaan Khattiya, berkeliling meminta makanan dari pintu ke pintu adalah memalukan.

    Namun sang Buddha menjawab bahwa itu merupakan kebiasaan semua Buddha untuk berkeliling menerima dana makanan dari rumah ke rumah, dan oleh karenanya itu adalah benar dan layak bagi Beliau untuk tetap menjaga tradisi itu, kemudian beliau menyampaikan syair:

    Bangun ! Jangan lengah ! Tempuhlah kehidupan benar. Barangsiapa menempuh kehidupan benar, maka ia akan hidup bahagia di dunia ini maupun di dunia selanjutnya

    Disampaikan pula bahwa seorang bhikkhu yang menerima dàna makanan setelah berdiri dengan sopan di tiap-tiap pintu rumah para dermawan, harus selalu penuh perhatian menerima makanan; tidak boleh menerima atau mencari dàna makanan dengan cara yang salah; harus mempraktikkan berkeliling untuk menerima dàna makanan dengan cara yang patut dihargai. Seorang bhikkhu yang melatih praktik ini tanpa gagal dengan cara ini akan hidup damai dalam hidup ini dan juga pada kehidupan mendatang.

    Raja Suddhodana mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

    Setelah mencapai Sotàpanna, Raja Suddhodana mengambil mangkuk dari tangan Tathàgata dan sambil memegangnya ia mengundang Buddha dan dua puluh ribu Arahanta untuk datang ke istananya di mana ia menyediakan tempat duduk kehormatan yang khusus disiapkan. Setibanya di istana Tathàgata mengucapkan syair berikut:

    Hendaklah seseorang hidup sesuai dengan Dhamma dan tak menempuh cara-cara jahat. Barangsiapa hidup sesuai dengan Dhamma, maka ia akan hidup bahagia di dunia ini maupun di dunia selanjutnya.

    Disampaikan bahwa cara yang salah dan tidak biasa untuk mendapatkan dàna makanan harus dihindari dan cara yang benar dalam menerima dàna makanan harus dipraktikkan. Seorang bhikkhu yang melatih praktik ini tanpa gagal dengan cara demikian akan hidup damai dalam hidup ini dan juga dalam kehidupan mendatang.

    Di akhir syair kedua tersebut, Raja Suddhodana menjadi Sakadàgàmi dan ibu asuh, Mahàpajàpati Gotami mencapai Sotàpanna

    Kemudian Raja Suddhodana mendanakan berbagai jenis makanan keras dan lunak yang telah dipersiapkan sebelumnya kepada Tathàgata dan dua puluh ribu Arahanta Setelah dàna makanan selesai, seluruh pejabat istana dan para pelayan berkumpul di kaki Buddha memberikan penghormatan kepada-Nya

Yasodhara
Para pelayan perempuan memohon kepada Yasodhara, “Yang Mulia, mohon datang ke kamar istana dan beri hormat kepada Sang Buddha,” Meskipun demikian, Yasodhara menjawab, “Jika aku pernah memberikan pelayanan yang patut kepada-Nya, Yang Mulia sendiri yang akan datang kepadaku,” Ia tetap tidak bergerak dan dengan tenang diam di kamarnya.

Kemudian, sang Buddha meminta Raja Suddhodana membawakan mangkuk-Nya dan diiringi dua Siswa Utama-Nya (Sariputta dan MahaMoggallana), pergi menuju ruang rekreasi putri. Setibanya di kamar Putri Yasodharà, Tathàgata berkata, “Jangan ada yang bersuara untuk menghalang-halangi Putri Yasodharà sewaktu ia memberi hormat kepada-Ku sesuai keinginannya,” dan kemudian Ia duduk di tempat yang telah dipersiapkan untuk-Nya.

Putri Yasodharà segera datang ke hadapan Tathàgata dan kemudian merangkul kedua kaki Tathàgata dengan kedua tangannya dengan sekuat tenaga. Ia menyandarkan kepalanya di kedua kaki Tathàgata, bergantian kiri dan kanan, ia bersujud lagi dan lagi dengan penuh hormat. Raja Suddhodana berkata, “Yang mulia, Yasodhara adalah seorang isteri yang sangat setia;

Ketika mendengar bahwa Yang Mulia mulai menjadi petapa dengan memakai jubah kuning, ia pun memakai jubah kuning,

Ketika mendengar Yang Mulia hanya makan satu kali sehari, ia pun makan hanya satu hari sehari. Ia senantiasa mengikuti kehidupan Yang Mulia, Ia tidak lagi tidur di dipan yang tinggi dan mewah namun ditanah, Ia tidak lagi memakai untaian bunga dan wewangian. Apabila sanak-saudaranya mengajaknya tinggal bersama mereka, dia tidak mengikut mereka.

Ketika Yang Mulia memasuki kehidupan non-duniawi ia menjadi janda; dan menolak hadiah dari Raja lain yang menyukainya. Demikian setia hatinya padamu.”

Sang Buddha menjawab, “Itu tidaklah mengherankan, jika ibu Ràhula tetap memelihara kesetiaan dan martabatnya, karena Ia sekarang telah matang dalam kebijaksanaan dan mampu melindungi dirinya sendiri. Bahkan di kehidupan lampaunyapun, Ia telah melindungi dirinya sendiri dan juga diriku, bahkan saat itu ia belum memiliki kebijaksanaan yang matang dan tanpa pelindung”. Kemudian sang Buddha menceritakan kisah Candakinnarã (Jàtaka no. 485), yaitu ketika Siddhattha Gotama dan Yasodhara terlahir sebagai sepasang Peri/Kinnara. Pada saat itu, Seorang raja jatuh cinta kepada Peri perempuan dan memanah Peri Pria dengan panah beracun yang menyebabkan ia terluka dan tampak seperti mati. Berkat kegigihan sang peri Perempuan, bukan saja Ia tidak jadi ditangkap raja bahkan dapat membuat Deva Sakka mengobati suami perinya itu dengan racunnya sehingga Peri pria itu sehat kembali. Setelah menceritakan kisah itu, Sang Buddha kembali ke Vihàra Nigrodha diiringi oleh 20.000 Arahanta. [RAPB, buku ke-1, bab 24, hal. 926-928]

Sang Buddha juga menceritakan kisah awal pertemuan pertama Ia dan Yasodara di yang terjadi di jaman Buddha Dipankara:

4 Asekheya Kappa dan 100.000 Kappa lalu, di sebuah kota bernama Amaravatã, hiduplah seorang bernama Sumedha, Ia adalah keturunan Brahmana selama 7 generasi dengan kekayaan melimpah, pandai 3 veda dan ilmu pengetahuan lainnya. Ketika ayah dan Ibunya wafat, Ia diwarisi kekayaan keluarganya, namun kemudian Ia merenungkan bahwa dengan memiliki kekayaan sebanyak ini pun, para leluhur, saudara dan ayah ibunya bahkan tidak mampu membawa 1 keping uangpun ketika mereka wafat, oleh karenanya, Ia umumkan untuk menyumbangkan kekayaan keluarganya kepada seluruh penduduk kota tanpa membedakan status miskin atau kaya. Setelahnya, Ia pergi menuju Pegunungan Himalaya ke Gunung Dhammika untuk melepas keduniawian dan berhasil mencapai 8 penjacaian jhana meditasi serta 5 kekuatan mental.

Suatu ketika, Sumedhà, pergi meninggalkan pertapaannya dan sampailah Ia di kota Rammàvatã. Di kota itu, para penduduknya tengah bergembira bergotong royong untuk memperbaiki dan menghias jalan dalam menyambut kedatangan Buddha Dipankara ke kota mereka. Mengetahui ini, Sumedhà memohon kepada para penduduk untuk diberikan kepadanya sedikit bagian jalan untuk diperbaiki dan dihias olehnya. Para penduduk mengabulkannya dan tanpa menggunakan kekuatan mentalnya, Ia kerjakan bagiannya. Namun, sebelum pekerjaannya selesai, Buddha Dipankarà tiba dengan diiringi 400.000 Arahanta. Oleh karenanya, Ia segera menggelar matras kulit macan dan juga jubahnya di atas tanah yang becek dan berbaring tiarap di atasnya. Ia bermaksud menggunakan dirinya sebagai jembatan agar sang Buddha Dipankara dan para pengikutnya tidak menginjak lumpur saat lewat. Ketika sedang bertiarap demikian, seketika muncul keinginannya untuk menjadi Buddha.

Di tengah keramaian saat itu, terdapat pula seorang brahmana perempuan muda bernama Sumittà yang membawa 8 kuntum bunga teratai yang rencananya akan dipersembahkan kepada Buddha Dipankara. Ketika Sumedha sedang bertiarap secara demikian, Mata Sumittà menatapnya dengan terpesona dan seketika jatuh cinta padanya. Ia kemudian berkata kepada Sumedhà, “Yang mulia petapa, aku berikan padamu 5 kuntum bunga teratai, agar engkau dapat mempersembahkannya sendiri kepada Buddha. Sisa 3 kuntum ini adalah persembahanku kepada Buddha dan semoga, selama waktu yang akan engkau jalani dalam mencapai Kebuddhaan; aku selalu menjadi pendampingmu”.

Sumedhà menerima bunga teratai dari Sumittà dan di tengah-tengah keramaian,Ia persembahkan bunga itu kepada Buddha Dãpankarà yang tengah menghampiri dan berdiri dekat kepalanya yang tengah bertiarap. Sang Buddha Dipankara dengan kekuatan mental-Nya, melihat jauh ke masa depan dan berkata, “Sumedhà, engkau akan menjadi Buddha, bernama Gotama, setelah 4 Asaïkhyeyya dan 100.000 kappa sejak saat ini”. Kemudian, mengamati apa yang sedang terjadi antara Sumedhà dan Sumittà, Sang Buddha Dipankara berkata:

“O, Sumedhà, perempuan ini Sumittà, akan menjadi pendampingmu dalam berbagi hidup, membantumu dengan semangat dan perbuatan yang sama dalam usahamu mencapai Kebuddhaan, ia akan membahagiakanmu dalam setiap pikiran, perkataan, dan perbuatannya. Dalam kelahiranmu yang terakhir, ia juga akan menjadi pendampingmu, kemudian menjadi murid perempuanmu dan menjadi seorang Arahanta”. Sang Buddha Dãpankarà kemudian pergi dengan menginjakkan kaki kanan-Nya di sebelah Sumedhà

[Buddhavamsa: Sumedha patthanā kathā; RAPB buku ke-1, Bab 2, “Kisah Sumedha Sang Brahmana”, hal 29-67; Versi lain kisah masa lalu Sang Buddha ada di “Sumpah Teratai” dari buku “Jalur Tua Awan Putih”, Jilid ke-2, Bab 36 hal.66, Oleh: Thicht Nhat Hanh. Kisahnya agak berbeda, Nama pemuda bukan Sumedha namun Megha]

    Beberapa belas tahun kemudian, kitab komentar Anguttara Nikaya menyampaikan bahwa setelah Suddhodana wafat, Yasodhara bersama Janapadakalyānī (Nanda) ikut rombongan yang dipimpin Mahapajapati Gotami pergi menemui sang Buddha untuk ditahbiskan menjadi Bhikkhuni. Setelah Mahapajapati ditahbiskan menjadi Bhikkhuni pertama, Yasodhara bersama sejumlah perempuan ditahbiskan MahaPajapati Gotami. Yasodhara dikenal juga dengan nama Bhaddakaccanā theri dan menjadi salah satu Arahat (AA I.245). Di Kitab Theri Apadana disampaikan bahwa ketika Ia berusia 78 tahun, setelah berpamitan pada Sang Buddha, Ia bersama 18.000 arahat yang menemaninya, setelah melakukan berbagai Mukjizat, mereka Parinibbana bersama-sama [Theri Apadana no.28]

Nanda dan Janapada Kalyani
Pada hari ketiga, di istana berlangsung beberapa upacara, diantaranya upacara pernikahan Pangeran Nanda, Sepupu Siddhattha Gotama, yang merupakan anak dari MahaPajapati Gotami. Pada kesempatan itu Tathàgata pergi ke istana dan setelah memberikan khotbah mengenai kebajikan, Beliau secara sengaja menyerahkan mangkuk-Nya kepada Pangeran Nanda kemudian pulang ke vihàra. Karena rasa hormatnya pada saudaranya, Pangeran Nanda tidak berani berkata sepatah kata pun dan terpaksa mengikutinya. Sang Buddha terus berjalan tanpa membebaskannya dari mangkuk tersebut dan Pangeran Nanda, mengikuti dengan enggan, ingin berbalik, tetapi rasa hormatnya yang tinggi membuatnya tetap diam, dan berharap di suatu tempat nanti mangkuk tersebut akan diambil kembali. Akhirnya ia pergi bersama Tathàgata.

Tunangannya, Janapada Kalyani/Rupananda, mendengar bahwa Pangeran sedang mengikuti Sang Buddha dengan mangkok di tangan, Ia segera bergegas lari, secepat yang dapat dilakukannya untuk mengejar Pangeran Nanda, dan dengan air mata bercucuran di pipi serta rambut separuh tersisir berteriak sedih pada Pangeran Nanda, “Kembalikan cepat, Kembalilah segera, Yang Mulia !”

Sang Buddha berjalan tanpa mengambil mangkuk-Nya dari Pangeran Nanda, dan setibanya di vihàra, ia bertanya kepada Nanda, “Maukah engkau menerima penahbisan dan menjadi bhikkhu?” Karena rasa takut dan hormat, ia tidak mampu mengungkapkan keengganannya, “Tidak, aku tidak mau,” Tetapi sebaliknya ia malah menyetujuinya, dengan berkata, “Baiklah, Saudaraku Yang Mulia aku akan menerima penahbisan.”. “Jika demikian, para bhikkhu, kalian dapat menyaksikan saudara muda-Ku ditahbiskan,” kata Tathàgata dan para bhikkhu melakukan seperti yang diperintahkan. [RAPB, buku ke-1, bab 24, hal. 928-930]

Setelah menjadi Bhikkhu, Nanda tidak menemukan kebahagian di dalam Dhamma. Kerap Ia terngiang kata-kata Putri Janapadakalyani yang memohonnya untuk kembali sehingga beberapa kali Ia mencoba untuk kabur [RAPB, buku ke-3, hal 2777]

    ..Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada di dekat Savatthi, di hutan Jeta, di Vihara Anathapindika. Pada saat itu Nanda, saudara tiri Sang Bhagava, putra bibi yang membesarkannya, memberitahukan sejumlah bhikkhu: “Saya tidak puas menjalani kehidupan suci, sahabat-sahabat. Saya tidak dapat memikul kehidupan suci. Saya akan berhenti dari latihan ini dan kembali ke kehidupan rendah.”

    [Kemudian seorang bhikkhu mendekati Sang Bhagava, bersujud, duduk di satu sisi dan menyampaikan keluhan Nanda. Sang Buddha meminta kepada seorang Bhikkhu agar memanggil Nanda. Nanda kemudian mendatangi Sang Buddha, bersujud dan duduk di satu sisi]

    Sang Bhagava kemudian berkata kepadanya: “Apakah benar Nanda, bahwa kamu memberitahu sejumlah bhikkhu demikian: “Saya tidak puas menjalani kehidupan suci ….. saya akan kembali ke kehidupan rendah ?”

    “Ya, Bhante.”

    “Tetapi mengapa, Nanda, kamu tidak puas dengan menjalani kehidupan suci?”

    “Ketika berangkat dari rumah, Bhante, seorang gadis Sakya yang tercantik di negeri ini, dengan rambutnya setengah tersisir, memandang saya dan berkata “Kembalilah segera, Tuan.”. Ketika mengingat kembali hal itu, Bhante, saya tidak puas menjalani kehidupan suci ….., saya tidak dapat memikul kehidupan suci. Saya akan berhenti dari latihan ini dan kembali ke kehidupan rendah.”

    Kemudian Sang Bhagava memegang tangan Yang Ariya Nanda, dan persis seperti seorang laki-laki kuat yang menjulurkan tangannya yang lentur atau melenturkan tangannya yang terjulur, demikianlah mereka lenyap dari hutan Jeta dan muncul di antara para dewa di surga Tavatimsa. Pada saat itu, kira-kira 500 bidadari berkaki merah muda datang untuk melayani Sakka, penguasa para dewa. Dan Sang Bhagava berkata kepada Yang Ariya Nanda, “Apakah kamu melihat 500 bidadari yang berkaki merah muda itu?”

    “Ya, Bhante.”

    “Apa pendapatmu, Nanda, siapakah yang lebih cantik, lebih indah untuk dipandang, dan lebih menggiurkan – gadis Sakya yang tercantik di seluruh negeri atau 500 bidadari yang berkaki merah muda ini ?”

    “Bhante, dibanding dengan 500 bidadari yang berkaki merah muda ini, gadis Sakya, yang tercantik di seluruh negeri itu, seperti seekor monyet betina bunting yang hidung dan telinganya dipotong. Dia tidak masuk hitungan; dia tidak cukup berharga dibandingkan dengan para bidadari itu; sama sekali tidak dapat dibandingkan. Atha kho imāneva pañca accharāsatāni abhirūpatarāni ceva dassanīyatarāni ca pāsādikatarāni cā’’ti. (500 bidadari ini tentunya berbentuk lebih sempurna dan seimbang)”

    ‘‘Abhirama, nanda, abhirama, nanda, ahaṃ te pāṭibhogo pañcannaṃ accharāsatānaṃ paṭilābhāya kakuṭapādāna’’nti (munculkan sukacita, Nanda! munculkan sukacita, Nanda! Aku jamin dengannya, kau akan mendapatkan 500 bidadari ini)”

    ‘‘Sace me, bhante bhagavā, pāṭibhogo pañcannaṃ accharāsatānaṃ paṭilābhāya kakuṭapādānaṃ, abhiramissāmahaṃ, bhante, bhagavati brahmacariye’’ti (Jika guru, Bhagawa, menjamin dengannya, akan mendapatkan 500 bidadari ini, aku akan bersukacita daripada galau, dalam menjalankan prilaku menuju kesucian dalam bimbingan Sang Bhagawa)”

    Kemudian Sang Bhagava memegang tangan Yang Ariya Nanda ….. mereka lenyap dari antara para dewa di surga Tavatimsa dan muncul di hutan Jeta.

    Para bhikkhu mendengar: “Dikatakan bahwa Yang Ariya Nanda, saudara tiri Sang Bhagava, putra bibi yang mengasuhnya, menjalani kehidupan suci demi para bidadari. Dikatakan bahwa Sang Bhagava telah menjamin bahwa dia akan mendapatkan 500 bidadari berkaki merah muda.”

    Kemudian sahabat-sahabat bhikkhu dari Yang Ariya Nanda, berkeliling dengan menyebutnya “orang jaminan” dan “orang rendah”, dengan mengatakan: “Yang Ariya Nanda adalah orang jaminan! Yang Ariya Nanda adalah orang rendah! Dia menjalani hidup suci demi para bidadari! Dikatakan bahwa Sang Bhagava menjamin dia akan mendapat 500 bidadari berkaki merah muda!”

    Maka Nanda merasa terhina, malu, dan sedih karena sahabat-sahabatnya menyebutnya “orang jaminan” dan “orang rendah”. Dengan hidup menyendiri, menyepi, rajin,bersemangat dan penuh tekad, dia segera menyadari, bahkan di sini dan saat ini juga melalui pengetahuan langsungnya sendiri, tujuan kehidupan suci yang tiada bandingnya itu dimana putra keluarga baik-baik sudah pada tempatnya pergi dari keadaan berumah ke keadaan tidak berumah, dan setelah masuk, dia tinggal di dalamnya. Dan dia tahu: “Selesailah sudah kelahiran, telah dijalani kehidupan suci, telah dilakukan apa yang harus dilakukan, tidak akan ada keadaan seperti ini lagi.” Dan Yang Ariya Nanda menjadi salah seorang Arahat.

    Kemudian, setelah malam semakin larut, seorang dewata yang tampan sekali menyinari seluruh hutan Jeta, mendekati Sang Bhagava, bersujud dan berdiri di satu sisi. Sementara berdiri di sana, Sang Dewata berkata kepada Sang Bhagava: “Yang Ariya Nanda, Bhante, saudara tiri Sang Bhagava, putra bibi yang mengasuh Nya, dengan melenyapkan noda-noda, telah menyadari di sini dan saat ini juga, pembebasan batin yang tanpa noda, dan pembebasan penuh kebijaksanaan, dan setelah masuk, dia tinggal di dalamnya”. Dalam mental Sang Bhagava pun muncul pengertian: “Nanda, dengan melenyapkan noda-noda, telah menyadari di sini dan saat ini juga, pembebasan batin yang tanpa noda, dan pembebasan penuh kebijaksanaan, dan setelah masuk, dia tinggal di dalamnya”.

    Ketika malam itu telah berakhir, Yang Ariya Nanda mendekati Sang Bhagava, bersujud, duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, mengenai jaminan Sang Bhagava bahwa saya akan mendapatkan 500 bidadari berkaki merah muda tersebut, saya membebaskan Sang Bhagava dari janji itu.”

    “Tapi, Nanda, dengan memahami jalan pikiranmu melalui pikiranku, pada saat itu saya tahu: ‘Nanda telah menyadari di sini dan saat ini pembebasan batin yang tanpa noda dan pembebasan penuh kebijaksanaan’. Juga seorang dewata memberitahu saya: ‘Yang Ariya Nanda, Bhante, telah menyadari di sini dan saat ini pembebasan batin yang tanpa noda dan pembebasan penuh kebijaksanaan’. Nanda, ketika batinmu telah terbebas dari noda-noda tanpa kemelekatan, dengan demikian saya bebas dari janji itu.”

    Kemudian karena menyadari pentingnya hal itu, Sang Bhagava pada saat itu mengungkapkan kotbah inspirasi ini:


    Bhikkhu yang sudah melewati lumpur,
    Menghancurkan duri nafsu indria,
    Dan mencapai pemusnahan ketidaktahuan,
    Tak lagi terganggu oleh kesenangan dan rasa sakit
    . [Udana 3.2/Nanda]

Belasan tahun kemudian, Janapada Kalyani-pun menjadi Bhikkhuni.

Pada suatu hari dia merenung, “Kakak saya yang akan menjadi raja telah meninggalkan keduniawian menjadi bhikkhu dan telah mencapai ke-Buddha-an. Rahula, anak kakak saya, suami saya(Nanda), ibu saya, dan juga Ibu Rahula, mereka semua telah meninggalkan keduniawian untuk menjadi bhikkhu dan bhikkhuni, sekarang tinggal saya sendiri di sini!”

Setelah merenung demikian dia memutuskan pergi ke vihara dan minta ditahbiskan untuk menjadi seorang bhikkhuni, Ia melakukan itu bukan karena keyakinan tetapi hanya meniru orang lain dan merasa kesepian tinggal seorang diri.

Setelah menjadi bhikkhuni, Rupananda sering mendengar bahwa Sang Buddha mengajarkan tentang ketidakkekalan, sehingga dia berpikir kalau dia bertemu dengan Sang Buddha pasti Beliau akan mencela kecantikannya, sehingga dia berusaha untuk menghindari perjumpaan dengan Sang Buddha. Akan tetapi karena terlalu banyak orang yang memuji mengenai Sang Buddha, akhirnya dia memutuskan untuk bertemu dengan Sang Buddha bersama para bhikkhuni.

Ketika Sang Buddha bertemu dengan Rupananda, Beliau mengetahui dan berpikir, “Duri hanya dapat dikeluarkan dengan duri. Rupananda sangat bangga dan melekat terhadap tubuhnya, sangat sombong akan kecantikannya, dia harus meninggalkan kemelekatan dan kesombongan akan kecantikannya”.

Kemudian Sang Buddha dengan kemampuan batin luar biasa menciptakan seorang anak gadis yang sangat cantik, berusia kira-kira 16 tahun dan duduk di dekatnya. Anak gadis itu hanya dapat dilihat oleh Sang Buddha dan Rupananda. Ketika Rupananda melihat anak gadis tersebut, Rupananda merasa dirinya hanyalah seekor gagak yang tua dan jelek dibandingkan dengan anak gadis itu, yang terlihat seperti seekor angsa putih yang bersinar cemerlang. Rupananda begitu mengagumi wajah anak gadis tersebut yang sangat cantik jelita. Rupananda memperhatikan sungguh-sungguh anak gadis itu, kemudian dia terkejut karena anak gadis tersebut terus bertambah tua menjadi berusia 20, kemudian bertambah tua, bertambah tua lagi dan menjadi sangat tua.

Anak gadis itu berubah dari anak gadis muda, menjadi setengah baya, tua, dan sangat tua. Rupananda mulai menyadari bahwa timbulnya bayangan baru maka bayangan lama lenyap, Ia mulai menyadari proses perubahan yang terus menerus dan kelapukan dari tubuh. Dengan kesadaran ini, kemelekatan terhadap tubuhnya berkurang. Pada saat itu bayangan anak gadis yang ada di dekat Sang Buddha telah berubah menjadi wanita jompo, tidak dapat lagi mengatur gerak tubuhnya, wanita jompo itu terjatuh dan meninggal dunia. Dari tubuhnya muncul belatung, cairan tubuh keluar dari sembilan lubang, burung gagak dan pemakan bangkai mencabik-cabik bangkai itu. Setelah melihat semua ini, Rupananda merenung, “Gadis muda itu menjadi tua dan jompo kemudian meninggal dunia di sini d ihadapan mataku.

Sama halnya dengan tubuhku akan menjadi tua dan rusak, akan merupakan sarang penyakit dan juga akan meninggal dunia.” Kemudian Rupananda menyadari akan corak sebenarnya kelompok kehidupan. Pada saat itu Sang Buddha memberikan khotbah tentang ketidak-kekalan, ketidak-puasan, dan ketanpa-intian dari kelompok kehidupan (khandha) dan Rupananda mencapai tingkat kesucian sotapatti. Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 150 berikut: “Kota (tubuh) ini terbuat dari tulang belulang yang dibungkus oleh daging dan darah. Di sinilah terdapat kelapukan dan kematian, kesombongan dan iri hati”. Rupananda mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Rahula
7 hari setelah peristiwa Pangeran Nanda ditahbiskan, Sang Buddha disertai 20.000 Arahat, mengunjungi Istana untuk menerima undangan dana Makan. Putri Yasodharà memakaikan pakaian yang indah kepada putranya, Ràhula, yang saat itu berusia 7 tahun [RAPB, buku ke-1, hal. 930]. Setelah sang Buddha duduk, Kemudian, sang Permaisuri, Ibunda Rahula berkata pada anaknya: dan berkata, “Anakku, Itu adalah Ayahmu, temui dan mintalah harta pusaka untukmu”.

Kemudian Rahula mendekatiNya; setelah mendekat dan berdiri di depanNya, Ia berkata, “Ayah, bahkan bayangan ayah membuat hatiku senang” Lalu Sang Buddha berdiri dari tempat duduknya dan berangkat. Rahula terus membuntuti dibelakang sang Buddha seraya berkata: “Beri aku warisanku, Pertapa, berikan warisanku, pertapa” Kemudian Sang Buddha berkata pada YM Sāriputta: “Jika demikian, Sāriputta, tahbiskanlah Rahula menjadi samanera (calon Bikkhu)”. YM Sariputta menanyakan cara penahbisan dan sang Buddha menyampaikan aturan cara penahbisan calon Bhikkhu, yaitu “dengan mengucapkan 3 perlindungan, setelah: kepala dan janggutnya di cukur, seseorang menyediakan jubahnya, Ia memakai jubah, bernamaskara pada kaki Bhikkhu, duduk mencakupkan tangan mengucapkan 3 perlindungan (Buddha, Dhamma, Sangha) sebanyak 3x”. [Penegakkan aturan ini menunjukan bahwa Rahula merupakan samanera pertama di jaman Buddha Gotama]. YM Sariputta kemudian menahbiskannya

[Setelah mendengar kabar bahwa Rahula ditahbiskan] Raja Suddhodana kemudian menemui Sang Buddha; setelah mendekat dan duduk pada jarak terterntu, Ia berkata, “Yang mulia, ijinkan aku memohon satu berkatmu”. Sang Buddha, “Namun Aku tidak mengadakan pemberian berkat”. Raja Suddhodana, “Yang mulia, ini adalah apa dapat diijinkan, Ini adalah apa yang tidak tercela” Sang Buddha, “berbicaralah”

Raja Suddhodana, “Tak terkirakan penderitaanku sewaktu engkau meninggalkan rumah untuk menjadi seorang bikkhu. Kemudian belum lama ini, Nanda juga meninggalkanku dan terlalu berat untuk dapat menanggung kehilangan Rahula. Bagi seorang perumah tangga seperti diriku ini, ikatan antara ayah, anak, dan cucu sedemikian pentingnya. Rasa sakit yang kualami di kala engkau pergi bak sebilah pisau mengiris kulitku. Setelah mengiris kulitku, pisau itu mengiris dagingku. Setelah mengiris dagingku, pisau itu tembus hingga ke tulang. Adalah hal yang baik, jika yang mulia tidak membiarkan seorang anak ditahbisan, tanpa seijin orang tuanya”. Sang Buddha memenuhi permohonannya dan menetapkan aturan untuk hal tersebut [Vinaya: Mahavagga, Rahula]

Pada suatu harinya setelahnya, Sang Buddha datang ke istana raja untuk menerima dana makan diiringi oleh 20.000 Arahanta, Raja Suddhodana melayani Tathàgata dan Para Arahanta dan menceritakan bahwa di saat perjuangan Sang Buddha sebelum mencapai Buddha, Raja didatangi satu mahluk Deva yang mengabarkan bahwa Pangeran Siddhattha telah meninggal karena kekurangan makanan. Raja menolak kata-kata dewa tersebut karena sangat mempercayai bahwa tidak mungkin putranya meninggal sebelum mencapai kebuddhaan.

Sang Buddha berkata, “Raja, bahkan ketika dikehidupan lampau, sebagai kepala suku Mahà Dhammapàla pun engkau juga menolak kata-kata seorang guru termasyhur, Disàpàmokkha, yang memberitahukan, ‘Putramu, pemuda Dhammapàla meninggal dunia; ini adalah tulang belulang putramu’ sambil memperlihatkan tulang belulang seekor kambing sebagai bukti. Engkau menolak kata-katanya dengan berkata, ‘Dalam suku Dhammapàla kami, tidak ada yang mati dalam usia muda’ Engkau tidak mempercayainya sama sekali”. Kemudian atas permohonan Raja, Sang Buddha menceritakan kisah Mahà Dhammapàla Jàtaka (Jataka no.447) yang setelahnya, beliau lanjutkan dengan penyampaian pokok-pokok Dhamma dari Empat Kesunyataan mulia. Di akhir penjelasan, Raja Suddhodana mencapai tingkat kesucian Anàgàmi. [RAPB buku ke-1, hal. 934-935]

Setelah menjadi Samanera, Rahula banyak mendapatkan nasehat dari sang Buddha, misalnya, “Demikian pula, Rāhula, jika seseorang tidak malu mengucapkan kebohongan yang disengaja (sampajānamusāvāda), maka tidak ada kejahatan, Aku katakan, yang tidak akan ia lakukan. Oleh karenanya, Rāhula, engkau harus berlatih: ‘Aku tidak akan mengucapkan kebohongan bahkan sebagai suatu gurauan” yang dilanjutkan dengan nasehat tentang cermin (ādāso) sebagai refleksi diri (paccavekkhaṇattho), yaitu agar berulang melakukan refleksi/pertimbangan terhadap perbuatan jasmani, ucapan dan pikiran:

“Rāhula, ketika engkau [ingin/kattukāma, sedang/karomi atau telah/akāsi] melakukan suatu perbuatan [jasmani, ucapan atau pikiran], maka engkau lakukanlah pertimbangan terhadap perbuatan tersebut: ‘Apakah perbuatan yang [ingin, sedang atau telah] kulakukan ini mengarah pada merugikan/menyakiti (byābādhā): diriku, makhluk lain atau keduanya? Apakah ini perbuatan tak bermanfaat yang meningkatkan atau menghasilkan penderitaan (dukkha)?’

Ketika dari refleksi pikiran ini, engkau mengetahui: ‘Perbuatan yang [ingin, sedang atau telah] kulakukan ini mengarah pada merugikan diriku, mahluk lain atau keduanya’ ini adalah perbuatan tak bermanfaat yang meningkatkan atau menghasilkan penderitaan’, maka engkau:

  • [Jika belum melakukannya] jangan lakukan perbuatan itu
  • [Jika sedang melakukannya] harus berhenti melakukan perbuatan itu
  • [Jika telah melakukannya] harus akui, ungkapkan dan ceritakan perbuatan itu kepada guru/teman yang bijaksana dalam kehidupan suci. Setelah mengakuinya, mengungkapkannya, dan menceritakannya, lakukan pengendalian untuk ke depannya

Tetapi ketika dari refleksi pikiran ini, engkau mengetahui: ‘Perbuatan yang [ingin, sedang atau telah] kulakukan ini tidak mengarah pada merugikan diriku, makhluk lain atau keduanya; ini adalah perbuatan bermanfaat yang meningkatkan atau menghasilkan kebahagiaan,’ maka engkau:

  • [Jika belum melakukannya] lakukan perbuatan itu
  • [Jika sedang melakukannya] lanjutkan perbuatan itu
  • [Jika telah melakukannya] berada dalam bahagia dan gembira, dengan hal bermanfaat itu, latihlah siang dan malam

Rāhula, petapa dan brahmana manapun [di masa lampau/atīta, dimasa sekarang/etarahi atau dimasa depan/anāgata] telah/akan memurnikan (parisodhe) perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran mereka berulang merefleksikannya secara demikian. Oleh karenanya, Rāhula, engkau harus berlatih: ‘Aku akan memurnikan perbuatan jasmani, ucapan dan pikiranku berulang merefleksikannya secara demikian” [MN 61/Ambalaṭṭhikārāhulovāda Sutta]

Ketika sang Buddha berada di Alavi, para umat awam datang ke Vihara demi mendengarkan Dhamma, setelah selesai, para bhikkhu thera (senior) kembali ketempat mereka, namun para bhikkhu pemula/bhikkhu kecil (navaka: baru ditahbiskan, samanera) berbaring di tempat untuk tidur di aula bersama dengan para umat awam. Para bhikkhu kecil ini tidur secara ceroboh, bertelanjang (atas), bergumam, mendengkur sehingga para umat awam memandang rendah, mengkritik dan kejadian ini tersebar. Para bhikkhu tertentu kemudian berkata, “Bagaimana para bhikkhu ini berbaring di tempat untuk tidur bersama dengan yang tidak ditahbiskan?”. Kemudian sang Buddha menyampaikan aturan bahwa siapapun bhikkhu yang berbaring ditempat untuk tidur dengan orang yang tidak ditahbiskan adalah pelanggaran pacittiya. [Vinaya, untuk Pacittiya no.5]

Beberapa bhikkhu kemudian, mengaplikasikan aturan ini juga kepada Rahula yang masih samanera, karena walaupun samanera adalah juga petapa namun bukan bhikkhu

    Setelah cukup lama tinggal di Alavi, Sang Buddha bersama para bhikkhu kemudian berangkat, tiba dan menetap di Kosambi. Para bhikkhu kemudian berkata pada Rahula, “Rahula, aturan telah ditetapkan untuk tidak berbaring di tempat untuk tidur dengan orang yang tidak ditahbiskan, Rahula, carilah tempat untukmu tidur”. Rahula tidak menemukan tempat lain untuk berbaring kecuali di jamban. Di menjelang pagi, Sang Buddha bangun dan mendekati jamban, setelah mendekat beliau berdehem, Rahula pun berdehem. Sang Buddha, “Siapa di sini?” Rahula, “Saya, Yang Mulia”. Sang Buddha, “Mengapa engkau duduk di sana, Rahula?” Rahula menjelelaskan kejadiannya dan sang Buddha menetapkan aturan bahwa para Bhikkhu diperbolehkan berbaring di tempat untuk tidur dengan orang yang tidak ditahbiskan selama 2 atau 3 malam dan siapapun yang berbaring lebih dari 3 malam dengan orang yang tidak ditahbiskan adalah pelanggaran pacittiya [Vinaya, untuk Pacittiya no.5]

Terdapat pula beberapa kisah tentang Rahula yang tidak termuat dalam kanon pali namun sangat popular beredar, misal:

    Pada suatu ketika, ketika Sariputta dan Rahula sedang berpindapata di Rajagaha, Mereka bertemu seorang pembuat onar yang dengan sengaja menuangkan pasir ke mangkuk Rahula dan memukul kepala Rahula dengan sebuah tongkat. Darah mengucur deras dari kepala Rahula yang terluka. Sariputta segera mengingatkan Rahula, “Rahula, engkau adalah siswa Sang Buddha. Perlakuan apapun yang kamu terima, tidak boleh menyebabkan kemarahan masuk ke dalam hatimu. Kamu harus selalu berbelas kasihan kepada semua makhluk. Orang yang paling berani, orang yang mencari penerangan membuka kesombongannya dan memiliki keteguhan hati untuk mengatasi kemarahan”. Setelah mendengarkan Sariputta, Rahula menjadi tenang dan tersenyum. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia pergi sendiri ke tepi sungai dan mencuci darah di kepala dan wajahnya. Kemudian ia menggunakan sapu tangannya untuk membalut luka dan melanjutkan mengumpulkan dana dari umat, seolah-olah ia tidak terluka sama sekali. [“Traveling to the Other Shore: Buddha’s Stories on the Six Perfections”, Hsing Yun,Xingyun, hal.154]

    Adalah kebiasaan Sàmanera Ràhula untuk memungut segenggam pasir saat bangun pagi, dan berkata kepada diri sendiri, “Semoga aku mendapat teguran dari Bhagavà atau dari penahbisku sebanyak butir-butir pasir yang ada dalam genggamanku ini.” Kebiasaan itu menyebabkan ia memiliki reputasi sebagai seorang sàmanera yang cenderung menerima nasihat baik sebagai putra Bhagavà dan sebagai seorang putra berharga dari seorang ayah yang berharga [RAPB, buku ke-3, hal.2651]

Setelah Rahula ditahbiskan menjadi Bhikkhu, disebelum akhir vassa pertamanya, Sang Buddha membabarkan MN 147/Cūḷarāhulovāda Sutta untuk membantunya mencapai tingkat kesucian Arahatta (Ma, 3, 424/Sam, 2, 324) [RAPB, buku ke-1, hal.959]. Dalam komentar untuk Buddhavamsa no.27, syair ke-4, “Idhevāhaṃ etarahi..tatiyābhisamayo ahu” dikatakan bahwa 13 tahun setelah pencerahan, Sang Buddha mendorong seorang bhikkhu muda bernama Ràhula dengan menyampaikan khotbah MN 147 di Hutan Andhavana di Sàvatthi dan tidak terhitung banyaknya manusia, dewa, dan brahmà yang berhasil menembus [RAPB, Buku ke-1, hal.909]. Kitab komentar menyampaikan bahwa Rahula tidak tidur selama 12 tahun. Rahula parinibbana/wafat di usia 50 tahun, yaitu SEBELUM Sariputta, Maha Moggallana dan Sang Buddha wafat (DA.ii.549; SA.iii.172). Sang Buddha menyampaikan bahwa di antara para siswaNya yang menyukai teguran sehubungan dengan tiga latihan, Rahula yang terunggul [AN 1.209]

6 Pangeran menjadi Bhikkhu
Setelah membantu ayah-Nya, Raja Suddhodana, untuk mencapai tiga tingkat Buah (Sotàpatti-Phala, Sakadàgàmã-Phala, dan Anàgàmã-Phala), Sang Buddha meninggalkan Kapilavatthu diiringi oleh 20.000 ribu Arahanta dan melakukan perjalanan menuju Ràjagaha; setibanya di hutan mangga Anupiya di kerajaan Mala, Buddha menghentikan perjalanan untuk beristirahat.

Ketika itu, 6 bangsawan muda suku Sakya yang rata-rata berusia di atas 35 tahun, yaitu: Bhaddiya sang kepala suku, Anuruddha, Ānanda, Bhagu, Kimbila dan Devadatta memutuskan untuk menjadi siswa Sang Buddha. Mereka pergi meningalkan kapilavastu bersama Upāli si pemangkas rambut sebagai yang ke-7 dengan diiringi 4 barisan bala tentara. Setelah melewati wilayah lain, mereka memulangkan bala tentara itu, Kemudian mereka melepaskan perhiasan, mengikatnya dalam satu buntelan dengan jubah luar, berkata kepada Upāli: “Pergilah, Upāli, pulanglah, ini akan mencukupi untuk kehidupanmu”. Ketika Upāli dalam perjalanan pulang, Ia berpikir, “Orang-orang Sakya kejam, bisa jadi berpikir: ‘Orang ini telah membuat pemuda-pemuda itu meninggalkan keduniawian,’ mereka bahkan mungkin akan membunuhku. Tetapi jika para pemuda Sakya ini akan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah, mengapa aku tidak?”

Berpikir itu, Ia kemudian menurunkan buntelan tersebut dan menggantungnya di sebatang pohon, dengan berkata: “Siapa pun yang melihatnya, maka ini diberikan padanya dan boleh diambil”. Ia mendatangi para pemuda Sakya itu dan mereka berkata, “Upali, mengapa, engkau kembali?”. Ia menjawab dengan menceritakan pikirannya itu dan apa yang dilakukannya. Mereka dengan membawa Upāli mereka mendatangi Sang Bhagavā memohon penahbisan dan agar Upali yang terlebih dahulu dapat ditahbiskan sehingga mereka dapat mengurangi kesombongan dengan menjadikan Upali sebagai senior mereka. Dalam 1 tahun setelah penahsbisan, Bhaddiya mencapai 3 pengetahuan (Arahat); Anuruddha mencapai mata dewa yang dapat melihat timbul dan lenyapnya makhluk-makhluk; Ananda mencapai buah pemasuk arus (Sotapanna) dan Devadatta mencapai kekuatan batin biasa

Setelah menetap di Anupiyā selama yang Beliau kehendaki, Sang Bhagavā kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kosambī dan menetap di vihara Ghosita. [Vinaya, Cullavagga, Sanghabheda]

    Note:
    Untuk perjalanan lanjutan sang Buddha setelah dari hutan Anupiya. Vinaya: Sang Buddha kemudian menuju Kosambi dan menetap di vihara Ghosita, sementara kitab komentar yang dikemas di RAPB: “Sang Buddha dengan diiringi 20.000 bhikkhu arahat, meninggalkan hutan mangga Anupiya dekat Desa Anupiya di kerajaan Malla dan pergi menuju Vihàra Veluvana, Ràjagaha dan menjalani masa vassa ke-2 bersama 20.000 Bhikkhu [RAPB, buku ke-1, hal.949]

    Karena versi vinaya lebih terpercaya, oleh karenanya, kejadian penahbisan 6 Pangeran dan Upali, tidak terjadi di tahun ke-1 namun sekurangnya terjadi di tahun ke-8 ke-Buddha-an

Upali mengabdikan dirinya dalam peraturan dan latihan dan memegang teguh semua sila – mulai dari yang paling dasar yaitu tidak membunuh, mencuri, melakukan tindakan asusila, berdusta, minum minuman keras yang memabukkan – sedemikian baiknya sehingga orang-orang datang kepadanya untuk meminta nasihatnya dan bertindak sebagai penuntun bagi bagi bhikkhu-bhikkhu lainnya. Apabila menemui keragu-raguan sesedikit apapun, beliau segera menanyakannya kepada Sang Buddha. Pada suatu kali beliau bertemu dengan seorang bhikkhu tua yang sakit yang baru kembali dari perjalanan. Mendengar bahwa sakit tersebut dapat diobati dengan meminum anggur, YM Upali menemui Sang Buddha dan bertanya apa yang harus dilakukannya. Sang Buddha berkata bahwa orang yang sakit dikecualikan dari aturan yang melarang minum minuman yang diragi. YM Upali segera memberikan anggur kepada bhikku itu, yang dengan demikian menjadi sembuh dari sakitnya.

Oleh karenanya, Upali menjadi yang terkemuka di antara mereka yang mempelajari Vinaya (aturan kebhikkhuan). Beliau dihormati atas caranya menyelesaikan perselisihan yang seringkali mengganggu Sangha. Sesudah Sang Buddha mencapai Parinibbana, beliau memberikan sumbangan yang sangat besar dalam melestarikan Ajaran Sang Buddha dengan mengulang Vinaya (peraturan kebhikkhuan) dalam Sidang Agung yang diselenggarakan di bawah pimpinan YA Maha Kassapa.

Tempat Sang Buddha Selama Musim Hujan
Para petapa di India tidak berkelana sepanjang tahun namun hanya 8-9 bulan saja. Selebihnya, mereka akan menetap di suatu tempat selama 3 atau 4 bulan, yaitu selama musim hujan (Vassa). Demikian pula dengan Sang Buddha dan para Muridnya. Vassāna/Musim Hujan dibagi dua, yaitu:

  • Musim Hujan/Vassāna (Juli-Sept): Bulan Savana/Nikkhamanīya (Juli-Aug) dan Bulan Pottapada (Aug-Sept).
  • Musim Gugur/Sarada (Sept-Nov): Bulan Assayujja/Pubba kattika (Sept-Oct) dan Bulan Kattika/Paccima Kattika (Oct-Nov)

Ketika MUSIM VASSA BERAKHIR, para bhikkhu melakukan Pavarana (undangan di antara para bhikkhu) untuk mengakhiri vassa. sedangkan para umat awam di AKHIR MUSIM VASSA, merayakannya dengan memberikan persembahan untuk keperluan para Bhikkhu.

Selama 45 tahun mengajar, sang Buddha menetap bervassa di berbagai tempat, list tempat dan tahunnya massa vassa berikut ini adalah menurut kitab komentar Buddhavamsa, Madhuratthavilāsinī, Buddhadatta (abad ke-5 M) dan kitab Komentar Duka Nipata, Buddhaghosa (Abad ke-5 M), DPPN dan “The Buddha“, Piyadassi Thera, hal.126-130:

  1. Setelah mencapai KeBuddhaan, bervassa di Isipatana, Migadàya dekat vàrànasi/Kasi, Kerajaan Kosala
  2. Masa Vassa ke-2, ke-3, ke-4, di Vihàra Veluvana, Ràjagaha, Kerajaan Magadha. Di tempat ini terjadi pertemuan pertama antara Anathapindika/Sudatta dan Sang Buddha, yaitu: di tahun ke-1 (versi: DPPN, G.P. Malalasekera) atau tahun ke-3 (Versi: “The Buddha“, Piyadassi Thera, hal.126) dan mencapai Sotapanna (SN 10.8 dan Vinaya II). Vihara di Veluvana adalah Persembahan Raja Bimbisara
  1. Vihàra Aula Kutagara, Hutan Mahàvana, dekat Vesàli, Area para Licchavi, Vajji
  2. Di:
    • Vihàra di Hutan Khyaya, lereng bukit Mamkula, Kosambi, kerajaan Vamsa, 30 Yojana dari Vanarasi; atau
    • Hutan Mahavana, Kūtāgārasālā, Vesali
  3. Di Savatthi, Kerajaan Kosala
      Note:
      Kitab komentar menyatakan: Sang Buddha, di tahun ke-7, pergi ke Tavamtisa mengajarkan Abhidhamma kepada IbuNya [Kitab komentar untuk: Jataka no.483 dan Dhammapada no. 181].
      Kejadian ke Tavamtisa diawali peristiwa pertunjukan kesaktian dihadapan umat awam yang dilakukan YM Pindola Bhâradvadja pada hari ke-7, setelah 6 hari lamanya, 6 guru terkemuka [Purana Kassapa, Makkhali Gosala, Ajita Kesakambali, Pakudha Kaccayana, Sanjaya Belatthiputta, Nigantha-Nataputta] gagal memberi bukti kepada seorang pedagang kaya Rajagaha yang tidak percaya arahat sejati ada karena dibingungkan begitu banyaknya yang mengaku sebagai Arahat, untuk itu, Ia membuat mangkuk dari cendana dan menggantungkannya di atas rangkaian bambu setinggi 60 lengan dan mengumumkan, “Arahanta sejati boleh mengambil mangkuk ini dengan cara terbang ke angkasa”.

      Kejadian YM Pindola menghebohkan penduduk Rajagaha sehingga mereka mengekoriNya. Kegaduhan ini diketahui sang Buddha. YM Ananda menerangkan sebab terjadinya kegaduhan dan Sang Buddha menetapkan larangan, “Para bhikkhu…seorang bhikkhu tidak memperlihatkan kesaktiannya di hadapan umat awam; dan ini adalah pelanggaran, ‘Dukkata âpatti’/Pelanggaran minor”.

      Pertunjukan kesaktian dari YM Pindola Bharadvaja, tercantum dalam vinaya: [Theravada Pali V.5.8; Dharmaguptaka ch 51 1916: 235-238 (96-99); Mahīśāsaka ch 26 1916: 238-243 (99-103); Sarvâstivāda ch 37 1916: 243-246 (103-105); Mūla,sarvâstivāda Divy 256.25-257.21], Kitab komentar: [AA 1:196-199; SA 393; DhA 14.2.2/3:199-201; ThaA 2:4-6; UA 252; J 4:263; SnA 570; ApA 197. S] dan hanya kitab komentar yang mencantumkan tahun kejadiannya, yaitu di tahun ke-6 masa Vassa .

      Larangan tersebut menggembirakan para pengikut 6 Guru lainnya. Raja Bimbisara bertanya pada sang Buddha tentang pelarangan itu dan sang Buddha menyampaikan bahwa 4 bulan kemudian di Savatthi, beliau akan mempertunjukan keajaiban. [RAPB buku ke-1, hal 1187]. Jarak Rajagaha – Savatthi = 45 Yojana (504 km s.d 648 km).

      Kemudian di Savatthi,
      Beberapa dari sangha Bhikkhu dan bikkhuni, diantaranya Samaneri Cirra yang berumur 7 tahun dan Bhikkhuni Uppavalavanna memohon ijin untuk menggantikan beliau menunjukan kesaktian, namun tidak diperkenankan. Sang Buddha kemudian mempertunjukan kesaktiannya berupa keajaiban ganda [Komentar Jataka no.483, komentar Dhammapada no.181] dan setelah itu ke alam Tavatimsa. Salah satu dari 6 guru, yaitu Purana Kassapa, bunuh diri terjun ke sungai karena malu akan kegagalannya di Rajagaha.

      Apa yang dapat kita gali dari informasi di atas?
      Di atas disampaikan bahwa YM Ananda memberitahukan kehebohan yang terjadi di Rajagaha kepada Sang Buddha. Sutta menginformasikan bahwa YM Ananda menjadi Buddhopaṭṭhāka (pembantu tetap Sang Buddha) justru mulai di tahun ke-20: “Paṇṇavīsati-vassāni (Selama 25 tahun); bhagavantaṃ upaṭṭhahiṃ (menjadi pendamping Sang Bhagava); Mettena kāya.. vacī.. manokammena (dengan cinta kasih melalui perbuatan, perkataan dan pikiran), chāyāva anapāyinī (bagai bayangan yang tak lepas)” [Thag 17.3/Ananda]. Jadi seharusnya terjadi di atas tahun ke-20.

      Di atas ada Samaneri dan Bhikkhuni. Ini seharusnya terjadi di atas tahun ke-20.

      Sutta Di DN2/Sāmaññaphala Sutta:
      Raja Ajjatasattu pernah berkonsultasi dan kemudian disarankan juga untuk berkonsultasi lagi dengan 6 guru terkemuka, yang salah satunya adalah Purana Kassapa.

      Raja Bimbisara wafat ketika Sang Buddha berusia 72 tahun (Sang Buddha wafat di tahun ke-8 masa pemerintahan Ajjatasattu). Dalam waktu 4 bulan, setelah pertunjukan Pindola Bhavadraja, Raja Magadha telah berganti dari Bimbisara menjadi Ajjatasattu. Ketika Purana Kassapa bunuh diri ini terjadi beberapa bulan setelah Ajjatasattu menjadi Raja

      Oleh karenanya, perjalanan ke Tavatimsa, yang konon untuk urusan mengajar Abhidhamma, seharusnya terjadi di tahun ke-37

      Sementara itu,
      hasil konsili ke-1 dan ke-2, sama sekali tidak memuat adanya Abhidhamma sebagai ajaran yang khusus terpisah (atau kelak sebagai 7 kitab yang menjadi 1/3 tipitaka). Sejarah mencatat bahwa 7 kitab Abhidhamma baru ada di tahun ke-3 SM, setelah konsili ke-3 [Untuk lebih jelasnya, lihat: Terbentuknya Tipitaka dan Perpecahan Buddhisme Menjadi Banyak Aliran]

      Klaim bahwa Abhiddhama diturunkan via YM Sariputta
      YM Sariputta disebut sang Buddha sebagai “Yang terunggul dalam intuisi kebijaksanaan”, di beberapa sutta, kita temukan beberapa diskusi logika analisis, misal di Mahaghosinga sutta [YM Moggallana dan YM Sariputta] juga Mahavedalla sutta [YM Kotthita dan YM Sariputta] mereka berdiskusi lebih dalam lagi tentang Dhamma. Pembicaraan Dhamma yang dalam lagi ini adalah bagian dari Dhamma itu sendiri.

        YM Sariputta:
        2 minggu setelah ditahbiskan, Aku memahami analisa: [atthapaṭisambhidā/pengertian secara luas dan mendalam; dhammapaṭisambhidā/hubungan kondisi dan sebab; niruttipaṭisambhidā/Tata bahasa asal usul interpretasi pengucapan dialek dan ekspresi; paṭibhānapaṭisambhidā/Penerangan, intelektual dan kefasihan penyampaian] dan dengan rincian ciri dan kekhasannya (sacchikatā odhiso byañjanaso) Itu saya nyatakan, terangkan, perlihatkan dan tunjukan dalam dalam berbagai cara (AN 4.173/Vibhatti sutta).

      Pengakuan YM Sariputta ini adalah tentang apa yang dicapainya, tidak pernah disebutkan di manapun dalam sutta dan vinaya bahwa beliau mendapatkan suatu ajaran khusus yang disebut dengan nama Abhiddhama. Hanya kitab-kitab komentar buatan abad-abad belakanganlah yang memuat perluasan imaginasi bahwa Abhidhamma diturunkan via Sariputta yang dikaitkan dengan perjalanan fiksi sang Buddha ke Tavatimsa untuk mengajar Abhiddhama kepada IbuNya. Klaim kitab-kitab komentar ini, seharusnya mengundang beberapa pertanyaan lanjutan, misalnya:

      • Mengapa IbuNya tidak ke alam manussa saja untuk mendapatkan pengajaran, karena toh, sutta dan vinaya juga menyampaikan bahwa para devapun kerap berkunjung ke alam manussa untuk mendengarkan dhamma Sang Buddha dan para Arahat lainnya?
      • Mengapa selama 3 bulan (90 hari) musim vassa alam manussa yang setara dengan 3.6 detik di Tavatimsa itu, Sang Buddha perlu turun (atau membuat proyeksi image-Nya) ke alam manussa untuk berpindapata setiap harinya? Mengapa sang Buddha tidak kuat untuk tidak makan untuk sekedar hanya 3.6 detik saja? Atau mengapa para deva menjadi begitu pelitnya tidak menyuguhkan sesuatu jika memang waktunya pindapata? Atau tidakkah nimittabuddha/bentukan Buddha palsu (untuk mengajar) membuat sang Buddha menjadi pelanggar sila ke-4, karena diriNya tidak menyampaikannya sendiri? Bagaimana mungkin kitab komentar (Dhammapada: Buddha vagga dan Abhidhamma: Ganthārambhakathā) sudah mengatakan ada 7 kitab (sattapakaraṇika, sattappakaraṇa = 7 kitab) Abhidhamma yang diajarkan Sang Buddha (dan Sariputta) padahal Kathāvatthu (salah satu dari 7 kitab) sendiri baru muncul di abad ke-3 SM, pasca perpecahan aliran?

      Jadi jelas sang Buddha tidak pernah mengajarkan secara khusus tentang Abhidhamma apalagi di Tavatimsa

      Untuk itu tanpa keraguan dapat kita katakan bahwa pendapat yang menyatakan: Abhidhamma (7 kitab konsili ke-3) adalah ajaran Sang Buddha atau berasal dari sang Buddha ataupun Sang Buddha mengajarkan abhidhamma di Tavatimsa dan bahkan bahwa tahun ini sebagai tahun kepergian sang Buddha ke Tavatimsa, SEHARUSNYA DI ABAIKAN/DI TOLAK

  4. Hutan kacang merpati, tempat perlindungan hewan [area kekuasaan Yakkha Bhesakala], Bukit Sumsumara/Bukit Buaya, Kerajaan Bhagga [antara Vesali – Savatthi/Kosala]
      Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di tengah-tengah penduduk Bhagga, di Suṃsumāragira, di Taman Rusa di Hutan Bhesakalā. Kemudian, pada pagi harinya, Sang Bhagavā merapikan jubah, membawa mangkuk dan jubahNya, dan pergi ke kediaman perumah-tangga Nakulapitā, di mana Beliau duduk di tempat yang telah dipersiapkan. Kemudian perumah-tangga Nakulapitā dan istrinya, Nakulamātā mendekati Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. Nakulapitā dan Nakulamātā, secara berurutan, berkata kepada Sang Bhagavā:

      “Bhante, sejak aku masih muda, sejak dalam pernikahan, aku tidak ingat pernah memperlakukannya dengan buruk bahkan dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Kami berharap, Bhante, agar dapat saling bertemu satu sama lain bukan hanya dalam kehidupan ini tetapi juga dalam kehidupan mendatang.”

      Sang Buddha:
      “Perumah-tangga, jika baik istri maupun suami ingin dapat saling bertemu satu sama lain bukan hanya dalam kehidupan ini tetapi juga dalam kehidupan mendatang, maka mereka harus memiliki keyakinan yang sama, perilaku bermoral yang sama, kedermawanan yang sama, dan kebijaksanaan yang sama. Maka mereka akan dapat senantiasa saling bertemu satu sama lain bukan hanya dalam kehidupan ini tetapi juga dalam kehidupan mendatang.”

      Baik suami maupun istri memiliki keyakinan,
      murah hati dan terkendali oleh diri sendiri,
      menjalani kehidupan mereka dengan kebaikan,
      saling menyapa satu sama lain dengan kata-kata menyenangkan,

      Banyak keuntungan mendatangi mereka,
      dan mereka berdiam dengan nyaman.
      Musuh-musuh mereka akan kecewa
      ketika keduanya setara dalam moralitas.

      Setelah mempraktikkan Dhamma di sini,
      dalam perilaku bermoral dan pelaksanaan yang sama,
      bergembira [setelah kematian] di alam deva,
      mereka bersukacita, menikmati kenikmatan-kenikmatan indria
      [AN 4.55/Samajivi]

      Tampaknya kemudian, suami-istri ini selama 16 tahun setelahnya, melatih hidup selibat perumah tangga (sila ke-3, abrahmacariya), hal ini disampaikan di AN 6.16/Nakula Sutta, yaitu ketika sang Suami sedang sakit keras, sang Istri memintanya untuk tidak berkhawatir karena ia akan tetap dapat membiayai kehidupan keluarga mereka, tidak akan menikah, rajin berkunjug pada Sang Buddha dan siswanya, tetap menjaga moralitas, memiliki ketenangan internal dan Ia telah: mencapai pijakan kaki, pijakan yang kokoh, dan jaminan dalam Dhamma dan disiplin telah melampaui keragu-raguan, melenyapkan kebingungan, percaya diri dan tidak bergantung yang lain dalam ajaran.

  5. Vihàra Ghositàràma, Kosambi
  6. Hutan Pārileyyaka/Pàlileyyaka (palale), dekat Kosambi. Tampaknya ini tidak akurat jika terjadi di tahun ke-10, karena sutta menyatakan saat itu telah ada para Bhikkhuni, sedangkan penahbisan Bhikkhuni baru muncul setelah tahun ke-20
      Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada dekat Kosambi, di vihara Ghosita. Pada saat itu Sang Bhagava hidup dikelilingi oleh para bhikkhu dan bhikkuni, pengikut awam pria maupun wanita, raja-raja dan menteri-menteri kerajaan, guru-guru ajaran lain dan murid-murid mereka, dan beliau tinggal dalam keadaan yang tidak nyaman dan tidak tenang. Kemudian Sang Bhagava berpikir: “Pada saat ini saya tinggal terjepit diantara para bhikkhu dan bhikkuni …. oleh para guru ajaran lain dan murid-murid mereka dan saya tinggal dalam keadaan yang tidak nyaman dan tidak tenang. Seandainya saya tinggal sendirian, terpisah dari kelompok orang-orang ini?

      …dan tanpa memberitahu para umat atau mengucapkan selamat tinggal kepada bhikkhu sangha, Sang Bhagava berangkat sendirian, tanpa teman, menuju Parileyyaka. Berjalan terus tanpa berhenti, beliau tiba di Parileyyaka dan tinggal dekat Parileyyaka di suatu hutan yang terlindung di kaki pohon sala yang menyenangkan… gajah jantan itu ..mendekati Sang Bhagava di kaki pohon sala yang nyaman… menjaga tempat itu agar bebas dari lumpur dan membawakan air dengan belalainya untuk digunakan Sang Bhagava.[Udana 4.5]

  7. Dekat Maghada: di Vihàra Nàlikàràma, perkampungan Brahmana Nàla, Nalaka, Magadha (versi Buddhaghosa). Di DPPN dan Piyadassi Thera: di Ekanala, Dakkhinagiri, Magadha bertemu Brahmana Kasi Bharadvaja SN 7.11 dan SNP 1.4
  8. Dekat pohon Tragacanth [area kekuasaan Yakkha Naleru], kediaman Brahmana, di Veranjà
      Di kota Veranja (sebelah Baratnya Kapilavastu dan Koliya), ketika itu tengah dilanda masa paceklik dan kelaparan (dubbhikkhe), kepada Sang Buddha, Sariputta bertanya: “Pada Masa Buddha siapakah kehidupan suci bertahan lama dan masa Buddha siapakah tidak bertahan lama?”. Sang Buddha:

      • Pada masa Buddha Vipassī, Sikhī and Vessabhū tidak membabarkan khotbah Dhamma secara terperinci, peraturan latihan bagi para siswa (vinaya) tidak dipermaklumkan dan kumpulan peraturan tidak dirumuskan (Pàtimokkha, inti peraturan). Setelah Para Buddha, generasi para siswanya parinibbana, ajaran itu lenyap dengan cepat.
      • Pada masa Buddha Kakusandha, Konāgamana and Kassapa membabarkan khotbah Mereka secara terperinci, menetapkan Vinaya dan Pàtimokkha. Setelah Mereka dan para siswa langsung Parinibbana, generasi-generasi berikutnya menjaga ajaran itu hingga bertahan.

      Mendengar itu, YM Sariputta memohon pada sang Buddha agar menetapkan vinaya dan patimokkha. Sang Buddha: ITU BELUMLAH SAATNYA karena dari puluhan ribu anggota sangha saat itu, hanya 500nya saja yang sotāpanna dan kelak ketika jumlah anggota sangha semakin membesar akan terjadi kecenderungan berpikir, berucap dan berbuat yang menjauh dari jalan kesucian, di saat itulah vinaya dan patimokkha baru dapat ditetapkan [Suttavibhanga Vin.I.3, 2-4]

  9. Buddhadatta: Bukit Càliya/calika, Desa Jantu/Pacinavamsamigadaya, Càlika, kerajaan Cetiya. Buddhaghosa: Bukit Maliya. Meghiya menjadi pelayan tetap Sang Buddha dalam Meghiya Sutta: Udana 4.1 dan AN 9.3
  10. Vihàra Jetavana (Persembahan Anathapindika), Sàvatthi, Kerajaan Kosala [Thag. vs. 295f]. Tahun ini Rahula genap berusia 20 tahun dan ditahbiskan menjadi Bhikkhu. Sepanjang masa Kebuddhaan, dikatakan bahwa Sang Buddha bervassa 19x di Vihara ini (DhA.i.3; BuA.3; AA.i.314). Vihara ini tempat pertemuan pertama kali antara Raja Pasenadi dan Buddha Gotama yang kemudian menjadi pengikut sang Buddha [SN 3.1/Dahara Sutta]. Menurut sumber Tibet, konversi Pasenadi terjadi di tahun ke-2 (Rockhill, hal.49), namun sutta menyatakan pertemuan terjadinya di Jetavana, oleh karenanya, pertemuan pertama dan konversi terjadi di tahun ini.
  11. Vihàra Nigrodha, Kapilavatthu. Mungkin di tahun ini Raja Suddhodana wafat. Namun, Piyadassi Thera dalam buku “The Buddha”, hal 126, mengatakan tahun ini adalah wafatnya Suppabuddha, ayah Yasodhara dan Devadatta. Tampaknya kisah Suppabuddha wafat tidak terjadi di tahun ini, karena Ananda dalam kitab komentar Dhammapada bertindak sebagai pendamping/pelayan Sang Buddha oleh karenanya ini terjadi setelah tahun ke-20.
  12. Buddhadatta: Alavaka; BuddhaGhosa: Kuil Aggàlava (kuil para arwah), kerajaan âlavi. Mungkin di tahun ini Sang Buddha bertemu Yakkha Alavaka yang memintanya untuk masuk dan keluar sebanyak 3x dan yang terakhir sang Buddha tidak pergi. Sang Yakkha kemudian meminta Sang Buddha menjawab pertanyaannya, jika tidak dapat menjawab, maka Yakkha tersebut mengancam akan membuatnya gila atau memecahkan jantungnya atau mencengkram kakinya atau melemparkannya ke sungai Gangga. [Ancaman ini juga dilakukan Yakkha suciloma di SN 10.3], Sang Buddha sampaikan bahwa tidak ada 1 pun mahluk di semesta ini yang mampu melakukan itu pada seorang Buddha dan beliau menjawab pertanyaan sang Yakkha. Setelah tanya jawab selesai, Yakkha Alavaka berlindung pada Buddha, Dhamma dan sangha [Alavaka Sutta: SN 10.12 dan SNP 1.10]
  13. Vihàra Veluvana, Ràjagaha, Magadha: Mungkin di tahun ini Sirima wafat:
      [Sirima, adik dari Tabib Jivaka, Sirima berprofesi sebagai pelacur, Ia dan 500 pengiringnya mencapai Sotapanna dalam kisah di kitab komentar Dhammapada syair no.223]

      Saat itu di Rajagaha tinggal seorang pelacur yang sangat cantik bernama Sirima. Setiap hari Sirima berdana makanan kepada delapan bhikkhu. Suatu ketika, salah seorang dari bhikkhu-bhikkhu itu mengatakan kepada bhikkhu-bhikkhu lain betapa cantiknya Sirima dan setiap hari ia mempersembahkan dana makanan kepada para bhikkhu

      Mendengar hal ini, seorang bhikkhu muda langsung jatuh cinta pada Sirima meskipun belum pernah melihat Sirima. Hari berikutnya bhikkhu muda itu bersama dengan para bhikkhu yang lain pergi ke rumah Sirima untuk menerima dana makanan, pada hari itu Sirima sedang sakit. Tetapi karena Sirima ingin berdana makanan maka ia menerima kehadiran para bhikkhu. Begitu bhikkhu muda tersebut melihat Sirima lalu bhikkhu muda berpikir, “Meskipun ia sedang sakit, ia sangat cantik!”. Bhikkhu muda tersebut memiliki hawa nafsu yang kuat terhadapnya

      Larut malam itu, Sirima meninggal dunia. Raja Bimbisara pergi menghadap Sang Buddha dan memberitahukan bahwa Sirima, saudara perempuan Jivaka, telah meninggal dunia. Sang Buddha menyuruh Raja Bimbisara membawa jenazah Sirima ke kuburan dan menyimpannya di sana selama 3 hari tanpa dikubur, tetapi hendaknya dilindungi dari burung gagak dan burung hering

      Raja melakukan perintah Sang Buddha. Pada hari ke empat jenazah Sirima yang cantik sudah tidak lagi cantik dan menarik. Jenazah itu mulai membengkak dan mengeluarkan cairan dari enam lubang

      Hari itu Sang Buddha bersama para bhikkhu pergi ke kuburan untuk melihat jenazah Sirima. Raja Bimbisara dan pengawal kerajaan juga pergi ke kuburan untuk melihat jenazah Sirima. Bhikkhu muda yang telah tergila-gila kepada Sirima tidak mengetahui bahwa Sirima telah meninggal dunia

      Ketika ia mengetahui perihal itu dari Sang Buddha dan para bhikkhu yang pergi melihat jenazah Sirima, maka iapun turut serta bersama mereka. Setelah mereka tiba di makam, Sang Buddha, para bhikkhu, raja, dan pengawalnya mengelilingi jenazah Sirima

      Kemudian Sang Buddha meminta kepada Raja Bimbisara untuk mengumumkan kepada penduduk yang hadir, siapa yang menginginkan tubuh Sirima satu malam boleh membayar 1.000 tail, akan tetapi tak seorang pun yang bersedia mengambilnya dengan membayar seharga 1.000 tail, atau 500, atau 250, ataupun cuma-cuma. Kemudian Sang Buddha berkata,

      “Para bhikkhu, lihat Sirima! Ketika ia masih hidup, banyak sekali orang yang ingin membayar seribu tail untuk menghabiskan satu malam bersamanya, tetapi sekarang tak seorangpun yang ingin mengambil tubuhnya walaupun dengan cuma-cuma. Tubuh manusia sesungguhnya subyek dari kelapukan dan kehancuran”

      Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 147:

      Pandanglah tubuh yang indah ini, penuh luka, terdiri dari rangkaian tulang, berpenyakit serta memerlukan banyak perawatan. Ia tidak kekal serta tidak tetap keadaannya

      Bhikkhu muda itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma berakhir. [Kitab Dhammapada syair ke-147]

  14. Di Jetavana atau di bukit Caliya: Mungkin di tahun ini, ketika di Alavi, seorang gadis penenun mendengarkan dhamma dan 3 tahun kemudian, Sang Buddha ke Alavi untuk menemui gadis itu, ia mencapai sotapanna dan wafat:
      Pada akhir upacara pemberian dana makanan di Alavi, Sang Buddha memberikan khotbah tentang ketidak-kekalan dari kumpulan-kumpulan kehidupan (khandha). Pada hari itu Sang Buddha menekankan hal utama yang dapat dijelaskan seperti di bawah ini:

      Hidup-Ku adalah tidak pasti; bagi-Ku, hanya kematianlah satu-satunya yang pasti. Aku pasti mati; hidup-Ku berakhir dengan kematian. Hidup tidaklah pasti; kematian adalah pasti

      Sang Buddha juga menasehati orang-orang yang mendengarkan Beliau agar selalu sadar dan berusaha untuk memahami kesunyataan tentang kelompok kehidupan (Khandha). Beliau juga berkata,

      “Seperti seseorang yang bersenjatakan tongkat atau tombak telah bersiap untuk bertemu dengan musuh (misal seekor ular berbisa), demikian pula halnya seseorang yang selalu sadar terhadap kematian akan menghadapi kematian dengan penuh kesadaran.Kemudian ia akan meninggalkan dunia ini untuk mencapai tujuan kebahagiaan (sugati)”

      Banyak orang yang tidak memperhatikan penjelasan di atas dengan serius, tetapi seorang gadis penenun muda berusia enam belas tahun mengerti makna penjelasan tersebut. Setelah memberikan khotbah, Sang Buddha kembali ke Vihara Jetavana

      Selang tiga tahun kemudian, ketika Sang Buddha melihat dunia kehidupan, Beliau melihat penenun muda, dan mengetahui bahwa sudah saatnya bagi gadis itu untuk mencapai tingkat kesucian sotapatti. Sehingga Sang Buddha datang ke negara Alavi untuk menjelaskan Dhamma untuk kedua kalinya

      Ketika sang gadis mendengar bahwa Sang Buddha telah tiba beserta lima ratus bhikkhu, dia ingin pergi dan mendengarkan khotbah yang akan diberikan oleh Sang Buddha

      Tetapi, ayahnya juga meminta kepadanya untuk menggulung beberapa gulungan benang yang dibutuhkan dengan segera, sehingga dia dengan cepat menggulung beberapa gulungan dan membawanya kepada ayahnya

      Dalam perjalanan menuju ke tempat ayahnya berada, dia berhenti untuk sementara di samping orang-orang yang telah tiba untuk mendengarkan khotbah Sang Buddha

      Ketika itu Sang Buddha mengetahui bahwa gadis penenun muda akan datang untuk mendengarkan khotbah-Nya; Beliau juga mengetahui bahwa sang gadis akan meninggal pada saat dia pergi ke tempat penenunan.

      Oleh karena itu, sangatlah penting baginya untuk mendengarkan Dhamma dalam perjalanan menuju ke tempat penenunan dan bukan pada saat dia kembali. Jadi, ketika gadis penenun muda itu muncul dalam kumpulan orang-orang, Sang Buddha melihatnya.

      Ketika dia melihat Sang Buddha menatapnya, dia menjatuhkan keranjangnya dan dengan penuh hormat mendekati Sang Buddha. Kemudian, Sang Buddha memberikan empat pertanyaan kepadanya dan dia menjawab semua pertanyaan tersebut. Pertanyaan dan jawaban diberikan seperti di bawah ini:

      Pertanyaan 1, Dari mana asalmu?
      Jawaban 1, Saya tidak tahu
      Pertanyaan 2, Ke mana kamu akan pergi?
      Jawaban 2, Saya tidak tahu
      Pertanyaan 3, Tidakkah kau tahu?
      Jawaban 3, Ya, saya tahu
      Pertanyaan 4, Tahukah kamu?
      Jawaban 4, Saya tidak tahu, Bhante

      Mendengar jawaban itu, orang-orang berpikir bahwa gadis penenun muda sangat tidak hormat. Kemudian, Sang Buddha meminta untuk menjelaskan apa maksud jawabannya, dan diapun menjelaskan.

      “Bhante! Engkau tahu bahwa saya datang dari rumah saya; saya mengartikan pertanyaan pertama anda, anda bermaksud untuk menanyakan dari kehidupan yang lampau manakah saya datang. Karena itu jawaban saya, “Saya tidak tahu”

      Maksud pertanyaan kedua, pada kehidupan yang akan datang manakah akan saya tempuh setelah ini; oleh karena itu jawaban saya, “Saya tidak tahu”

      Maksud pertanyaan ketiga, apakah saya tidak tahu bahwa suatu hari saya akan meninggal dunia; oleh karena itu jawaban saya, “Ya, saya tahu”

      Maksud pertanyaan terakhir apakah saya tahu kapan saya akan meninggal dunia; oleh karena itu jawaban saya, “Saya tidak tahu”

      Sang Buddha sangat puas dengan penjelasannya dan berkata kepada orang-orang hadir, “Banyak dari kalian yang mungkin tidak mengerti dengan jelas maksud dari jawaban yang diberikan oleh gadis penenun muda. Mereka yang bodoh berada dalam kegelapan, seperti orang buta”

      Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 174:

      Dunia ini terselubung kegelapan, dan hanya sedikit orang yang dapat melihat dengan jelas. Bagaikan burung-burung kena jerat, hanya sedikit yang dapat melepaskan diri; demikian pula hanya sedikit orang yang dapat pergi ke alam surga

      Gadis penenun muda mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir. Kemudian, dia melanjutkan perjalanannya menuju tempat penenunan. Ketika dia sampai di sana, ayahnya tertidur di atas kursi peralatan tenun. Saat ayahnya terbangun dengan tiba-tiba, dia dengan tidak sengaja menarik gulungan dan ujung gulungan menusuk tepat di dada sang gadis. Gadis penenun muda meninggal dunia di tempat itu juga, dan ayahnya sangat sedih

      Dengan berlinangan air mata ayah gadis itu pergi menghadap Sang Buddha dan memohon agar Sang Buddha menerimanya sebagai bhikkhu. Kemudian, ia menjadi seorang bhikkhu, dan tidak lama setelah itu mencapai tingkat kesucian arahat [Komentar Dhammapada Syair no.174]

  15. Di:
    • Gunung Càliya/calika, Desa Jantu, Càlika; atau
    • Rajagaha, Kerajaan Magadha.
  1. Vihàra Veluvana, Ràjagaha, Kerajaan Magadha
  2. Masa Vassa ke-21 s/d ke-44, di Vihàra Jetavana dan Vihàra Pubbàràma, Sàvatthi, Kerajaan Kosala. Jarak Rajagaha – Savatthi: 45 Yojana (1 yojana = 7-9 mil, 1 mil = 1.6 km. Jadi sekitar: 504 km s.d 648 km)

    Tahun ke-21 s.d 38 di Jetavana, 6 tahun sisanya di Pubbarama. Tahun ke-31, vihara Pubbarama selesai dibuat, Sang Buddha menetap bolak-balik selama masa vassa di 2 Vihara tersebut.

  1. Desa Veluva, Vesàli [RAPB buku ke-1, hal.949-952. Peta perjalanan 8/9 bulanan sang Buddha di 25 tahun terakhirnya, menurut penuturan pengurus rumah tangga Raja Pasenadi: Isidatta dan Purana]

Penetapan Aturan KeBhikkhuan
Hingga tahun ke-12 kebuddhaan (di Veranja, yang saat itu dilanda masa Paceklik dan kelaparan), Vinaya & Patimokha sebagai aturan tatatertib kebhikkhuan belum ditetapkan Sang Buddha, ini dikarenakan PULUHAN RIBU yang menjadi muridNya, saat itu, semuanya telah mencapai kesucian dan yang terendah adalah sotāpanna [Suttavibhanga Vin.I.3, 2-4]

Bahkan,
Di paruh pertama ke-Buddhan (20 tahun), Vinaya dan Patimokkha-pun, belumlah ditetapkan, untuk itu, di MN.21/Kakacūpama Sutta, Sang Buddha menggambarkan tentang masa-masa menyenangkan, “ārādhayiṃsu vata me, bhikkhave, bhikkhū ekaṃ samayaṃ cittaṃ” [Para bhikkhu, pernah terjadi di satu masa di mana para bhikkhu memuaskan pikiranKu]. Buddhaghosa menjelaskan komentarnya di Vinaya, sub bagian parajikakhanda bahwa itu dikatakan terjadi pada 20 tahun pertama ke-Buddhaan:

    Apaññatte sikkhāpadeti paṭhamapārājikasikkhāpade aṭṭhapite. Bhagavato kira paṭhamabodhiyaṃ vīsati vassāni bhikkhū cittaṃ ārādhayiṃsu, na evarūpaṃ ajjhācāramakaṃsu. Taṃ sandhāyeva idaṃ suttamāha – ‘‘ārādhayiṃsu vata me, bhikkhave, bhikkhū ekaṃ samayaṃ citta’’nti . Atha bhagavā ajjhācāraṃ apassanto pārājikaṃ vā saṅghādisesaṃ vā na paññapesi. Tasmiṃ tasmiṃ pana vatthusmiṃ avasese pañca khuddakāpattikkhandhe eva paññapesi. Tena vuttaṃ – ‘‘apaññatte sikkhāpade’’ti

    [Aturan latihan belum diumumkan, parajika pertama belum ditetapkan. Demikian dikatakan, 20 tahun/vīsati vassāni pertama masa ke-Buddhaan, para bhikkhu memuaskan pikiran sang Buddha dengan tidak melakukan kesalahan. Dalam sutta dikatakan, ‘Para bhikkhu, pernah terjadi suatu masa di mana para bhikkhu memuaskan pikiranKu’. Sang Buddha, tidak melihat adanya kesalahan, tidak mengumumkan pārājika ataupun Sanghadisesa. Ketika muncul kasus, beliau umumkan 5 keadaan pelanggaran kecil, karena itulah beliau katakan, ‘apaññatte sikkhāpade].

Komentar Buddhaghosa, tampaknya memiliki dasar, beberapa di bawah ini terjadi mulai dari tahun ke-20:

  • Ananda menjadi Pembantu tetap Sang Buddha, di tahun ke-20
    Pada 20 tahun pertama setelah mencapai penerangan sempurna, Sang Buddha tidak mempunyai seorangpun pendamping/pembantu tetap. Dari waktu ke waktu beberapa Bhikkhu pernah melayaninya, diantaranya adalah: Nāgasamāla, Nāgita, Upavāna, Sunakkhatta, samanera Cunda, Sāgata, Rādha dan Meghiya. Di akhir tahun ke-20, di hadapan sekumpulan Bhikkhu, Sang Buddha mengumumkan bahwa Ia sekarang telah berumur [Ananda dan Sang Buddha adalah sebaya] dan menanyakan apakah ada yang berkehendak untuk menjadi pendamping/pelayan tetapnya, yaitu seorang yang akan menghormati harapannya dalam banyak cara, karena terkadang mereka yang pernah mendampinginya tidak mematuhinya, pernah menjatuhkan mangkok, jubahnya dan juga pergi meninggalkannya.

    Semua siswa utamanya, menawarkan diri mereka untuk hal ini, namun ditolak Sang Buddha. Kecuali Ānanda, Ia tidak menawarkan dirinya dan berdiam saja. Ketika ditanya mengapa Ia tidak menawarkan dirinya, ia jawab bahwa Sang Buddha tahu dengan baik siapa yang dikehendakinya. Dan Benarlah, sang Buddha kemudian menyatakan harapannya bahwa Ananda mau melakukannya. Ananda kemudian menyatakan kesediannya jika beberapa syarat yang disampaikannya ini di setujui oleh sang Buddha:

    1. Bahwa Bhagavà tidak memberikan kepadaku jubah baik yang Beliau terima.
    2. Bahwa Bhagavà tidak memberikan makanan yang baik kepadaku
    3. Bahwa Bhagavà tidak mengizinkan aku menetap di tempat yang sama dengan Beliau.
    4. Bahwa Bhagavà tidak mengajakku ke rumah umat awam yang mengundang Beliau
    5. Bahwa Bhagavà sudi pergi ke tempat aku diundang
    6. Bahwa Bhagavà sudi memberikan audisi kepada pengunjung asing segera setelah mereka tiba
    7. Bahwa Bhagavà sudi menjelaskan segala hal yang berhubungan dengan Dhamma kepadaku saat aku memerlukan penjelasan
    8. Bahwa Bhagavà sudi mengulangi semua khotbah yang telah dibabarkan tanpa kehadiranku [RAPB buku ke-2, hal.1642-1644 yang mengutip dari kitab komentar: (1) Jataka no.456/JunhaJataka atau (2) DN 14/Mahapadana Sutta]

    Sang Buddha menyetujui permintaan tersebut dan sejak saat itu Ananda resmi menjadi Buddhopaṭṭhāka (Pembantu Tetap Sang Buddha):

      Paṇṇavīsati-vassāni (Selama 25 tahun); bhagavantaṃ upaṭṭhahiṃ (menjadi pendamping Sang Bhagava); Mettena kāya.. vacī.. manokammena (dengan cinta kasih melalui perbuatan, perkataan dan pikiran), chāyāva anapāyinī (bagai bayangan yang tak lepas)” [Thag 17.3/Ananda]

    Karena syarat-syarat ini dan juga didukung daya ingat luar biasanya, Ananda bukan saja mendengarkan semua Dhamma dari sang Buddha namun juga dhamma dari para Bhikkhu lainnya, sehingga tidaklah berlebihan, jika ia kemudian dikenal sebagai ‘Bendahara Dhamma’ (Dhamma Bhandagarika)

      “Dvāsīti buddhato gaṇhiṃ, dve sahassāni bhikkhuto; Caturāsītisahassāni, ye me dhammā pavattino’.
      Dari semua Dhamma yang Saya hafalkan, 82.000 dari Sang Buddha sendiri; sedangkan 2.000 dari para bhikkhu, sehinga seluruhnya berjumlah 84.000” [Thag 17.3/Ananda]

    Ini jika dikumpulkan, setara dengan 45 Jilid buku. [Jika anda merasa ragu apakah ini mampu dilakukan manusia, silakan baca Daniel paul tammet dan ini]

    Pada suatu ketika di Jetavana dalam pertemuan para bhikkhu, Sang Buddha memuji Ananda dan menempatkannya sebagai bhikkhu yang utama dalam lima hal: kepandaian (Bahusacca), ingatan yang kuat (Sati), kelakuan baik (Gati), ketabahan (Dhiti), perhatian penuh dalam pelayanan (Upatthana).

    Walaupun demikian, sampai dengan Sang Buddha Parinibbana/wafat, Ananda belum juga mencapai tingkat Arahat dan hanya mencapai sotapanna. Tiga bulan setelah wafatnya Sang Buddha yaitu pada Sidang Agung Pertarna di Gua Sattapanni, Rajagaha. Ketika itu, YM Maha Kassapa mengusulkan untuk mengulang kembali Dhamma dan Vinaya, Para bhikkhu arahat meminta YM Kassapa memilih anggota pertemuan tersebut. Beliau memilih 499 Arahat + Ananda yang masih sotapanna karena Ananda telah menerima Dhamma dan Vinaya dari Sang Buddha sendiri.

    Ananda menyadari bahwa dirinya satu-satunya peserta yang belum Arahat, kemudian di satu hari sebelum pertemuan, YM Ānanda berpikir: “Besok adalah hari pertemuan, tidak selayaknya bagiku, seorang yang masih berlatih, pergi ke pertemuan itu,”. Setelah melewatkan banyak waktu di malam itu dalam perhatian pada jasmani, ketika malam hampir berlalu, ia berpikir akan berbaring, ketika Ia sedang merebahkan tubuh, yaitu ketika kepala BELUM menyentuh alas tidur dan ketika kaki TELAH terangkat dari tanah.

    Di interval waktu itulah, pikirannya terbebaskan dari kekotoran mental (anupādāya āsavehi cittaṃ vimucci) dan keesokan harinya, YM Ānanda, pergi kepertemuan itu sebagai Arahat [Vinaya, Cullavagga XI]. Karena itulah beliau dikatakan sebagai satu-satunya siswa yang mencapai Arahat tanpa empat sikap tubuh (Iriyapatha).

  • Parajika ke-1 vinaya ditetapkan sehubungan kasus Bhikkhu Sudinna dari desa Kalandaka (belum sotāpanna). Sang Buddha setelah akhir masa vassa di Veranja(a)(c), Beliau pergi ke Vesali dan kemungkinan di sana Sudinna ditahbiskan. Setelah ditahbiskan, Sudinna kemudian tinggal disekitar desa-desa area Vaji (Sebelah Timurnya Kapilavastu dan Devadaha)(b). Di Vajji ada paceklik dan bencana kelaparan(d) sehingga para bhikkhu sulit berpindapata (mengumpulkan dàna makanan dengan mangkuk di tangan mereka). Karenanya, Suddina bermaksud menggantungkan hidup pada sanak keluarganya di Vesali (di Timur Kapilavastu), dengan alasan, “Karena aku mereka dapat mempersembahkan dàna dan melakukan kebajikan. Dan para bhikkhu akan memperoleh keuntungan secara materi, dan aku takkan dipersulit dalam hal makanan”.

    Di Vesali, keluarganya berusaha membujuknya dengan harta agar kembali ke kehidupan lamanya, namun Ia tidak bergeming. Kemudian, Ibunya memintanya agar diberikan keturunan sebagai pewaris harta keluarga agar tidak direnggut kaum Licchavi. Permohonan sang ibu ini dikabulkannya dan Ia melakukan hubungan seksual dengan istri lamanya, Istri lamanya hamil dan lahirlah anak bernama Bijaka, Ibu anak itu dipanggil Ibu Bijaka (BijakaMata), Sudinna dipanggil teman-temanya: Bapak Bijaka (BijakaPita). Berapa lama kemudian(c), baik Bijaka dan Bijakamata, memutuskan untuk melepas keduniawian menjadi Bhikkhu dan Bhikkhuni dan akhirnya mereka menjadi Arahat.

    Sebaliknya Sudinna, Ia dilanda kecemasan dan penyesalan, tubuhnya semakin kurus dan pucat, pembuluh darahnya menonjol di seluruh anggota tubuhnya; Ia menjadi sengsara dan tertekan, teman-temannya sesama Bhikkhu bertanya apa yang melandanya dan Ia akui bahwa Ia menyesal melakukan hubungan seksual setelah menjalani kebhikkhuan. Permasalahan ini kemudian disampaikan kepada sang Buddha yang ketika itu sedang ada di Vesali dan atas kejadian ini, beliau kemudian menetapkan aturan untuk kali pertamanya bahwa barang siapa yang melakukan percabulan maka ia sudah kalah (parajika), tidak lagi dalam sangha [Suttavibhanga Vin.I.3, 2-4]

      Note:
      (a) Di Veranja adalah masa vassa ke-12. [Kitab komentar Vinaya Parajikakandha].

      (b) Sudinna di area Vaji 8 tahun lamanya [Kitab komentar Vinaya Parajikakandha] atau tahun ke-20 keBuddhaan. Aturan parajika ke-1, ditetapkan sang Buddha, juga di Vesali, namun itu terjadi di tahun ke-21. Vinaya juga menyampaikan bahwa pada masa paceklik di Vajji terjadi Parajika ke-4 (klaim memiliki supranatural agar mudah mendapatkan makanan). Masa Paceklik dan kelaparan dapat terjadi 12 tahun lamanya (saat jaman raja Vattagamini di Sri Lanka).

      (c) Bhikkhuvibhanga, Vinaya, tidak menyebutkan angka tahun-nya namun di kitab komentar Vinaya dikatakan bahwa keduanya melepas keduniawian di 7/8 tahun setelahnya dan kemudian mereka menjadi arahat, “Bījakassa kira sattaṭṭhavassakāle tassa mātā bhikkhunīsu so ca bhikkhūsu pabbajitvā kalyāṇamitte upanissāya arahatte patiṭṭhahiṃsu]

      (d) Sutta dan Vinaya menyampaikan terdapat beberapa daerah yang terkena bencana kelaparan (Dubbhikkhe), diantaranya:

      • Vesali yang berada dalam wilayah Vajji dilanda kemarau panjang, panenan gagal, terjadi kekurangan makanan, kelaparan, penyakit [kolera, ahivàta roga], kematian terjadi dimana-mana, mayat-mayat berserakan di kota. Raja Vesali kemudian mengutus 2 pangeran Licchavi untuk menemui sang Buddha yang sedang ada di Rajagaha dan Sang Buddha pun menuju Vesali. Jarak Rajagaha – Sungai Gangga (5 Yojana) – Vesali (3 Yojana) atau sekitar: 89.6 km s.d 115 km (1 yojana = 7-9 mil, 1 mil = 1.6 km). Di sana beliau membabarkan RATANA SUTTA pada YM ANANDA dan meminta YM Ananda berkeliling kota membacakan Ratana Sutta [RAPB, buku ke-2, hal 1451 s/d. 1489]
      • Rajagaha
      • Nalanda (Buddhaghosa mengatakan jaraknya 1 Yojana dari Rajagaha. Di SN 42.9/kula sutta, ada narasi tentang bencana kelaparan, Sang Buddha hanya menyebut Sangha Bhikkhu tanpa ada Bhikkhuni. Asibandhakaputta, sang pengikut Nigaṇṭha Nāṭaputta yang kemudian menjadi pengikut Sang Buddha. SN 42.7: Tanpa ada narasi tentang bencana Kelaparan, Asibandhakaputta tidak disebut lagi sebagai pengikut Jain dan Sang Buddha ada menyebutkan kata “bhikkhu dan bhikkhuni”)
      • Alavi
      • Savatthi, tempat terjadinya Parajika ke-2 (Kasus pencurian).
      • Sungai Rohini: Kapilavatthu/Sakya ada di sebelah Baratnya dan Devadaha/Koliya di Timurnya. Jarak Kapilavastu – Devadaha: 5 Yojana. Air sungai ini digunakan kedua negara dalam mengairi persawahan mereka namun kemudian ketinggian air terus menurun hingga titik terendahnya. Para petani kedua kerajaan mengadakan rapat mengenai masalah pembagian air, kesepakatan tidak terjadi dan malah meruncing yang berujung akan terjadi perang di antara 2 negara. Sang Buddha berhasil mendamaikannya dan setelahnya, 250 pria dari masing-masing suku, memutuskan untuk menjadi bhikkhu

        Pertengkaran di Sungai Rohini hanya tercantum sebagai narasi di: Jataka no.74; no.475; no.536 dan Dhammapada syair 197-199. Sedangkan Syair di Thag 10.1/Kaludayi hanya menuliskan nama 2 negara itu dan sungai Rohini tanpa ada penjelasan pertengkaran. Sang Buddha bervassa di Vihàra Jetavana, Sàvatthi [RAPB buku ke-1, hal. 1080]. Jarak Savatthi-Kapilavastu: 6 Yojana (67.2 km – 86.4 km)

      Tampaknya, paceklik besar yang berakibat bencana kelaparan hampir merata melanda wilayah Barat hingga Timur Jambudwipa diseputaran tahun ke-20 ke-Buddhaan.

Dari kejadian di atas, awal vinaya ditetapkan, tampaknya terjadi di tahun ke-21, kemudian dari pelanggaran-pelanggaran berat yang muncul, satu persatu aturan (Parajika dan Sanghadisesa) ditetapkan, maka Vinaya dan Patimokkha pun mulai menemukan bentuknya

Kematian Raja Suddhodana
Banyak tahun telah berlalu ketika Sang Buddha mengunjungi Kapilavatthu untuk pertama kalinya. Kemudian di suatu hari, ketika sang Buddha sedang berada di Vesali, beliau mengetahui bahwa Raja Suddhodana sedang menderita sakit parah dan sudah waktunya untuk wafat. Oleh karenanya, sang Buddha kembali mengunjungi Kapilavatthu. Raja Suddhodana tentu saja sangat berbahagia dapat melihat Sang Buddha lagi. Di sana sang Buddha memberikan khotbah kepada ayah-Nya dan setelah mendengarkan khotbah tersebut Raja Suddhodana mencapai tingkat Arahat. 7 hari setelah menikmati kedamaian Nibbana, Raja Suddhodana wafat.

Mahapajapati Gotami menjadi Bhikkhuni, Sangha Bhikkhuni Terbentuk, Hitungan Mundur Lenyapnya Dhamma sejati
Ketika Raja Suddhodana meninggal, Ratu Mahapajapati Gotami merasa sangat sedih dan kesepian. Ia dan beberapa wanita lain memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan bergabung dengan kelompok Bhikkhu Sang Buddha untuk mempraktekkan Dharma.

    Pada suatu ketika Yang Tercerahkan, Sang Bhagavā, sedang menetap di antara penduduk Sakya di Kapilavatthu di vihara Banyan. Kemudian Gotami Pajāpatī yang Agung, menghadap Sang Bhagavā; setelah mendekat, setelah menyapa Sang Bhagavā, ia berdiri dalam jarak selayaknya. Setelah berdiri dalam jarak selayaknya, Gotami Pajāpati yang Agung, berkata pada Sang Bhagavā sebagai berikut:

    “Yang Mulia, baik sekali jika perempuan boleh diperbolehkan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin (dhammavinaye) yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini.”

    “Hati-hati, Gotami, tentang pelepasan keduniawian perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini.” Dan untuk ke-2xnya … Dan untuk ke-3xnya Gotami Pajāpati yang Agung, berkata pada Sang Bhagavā sebagai berikut: “Yang Mulia, baik sekali …”

    “Hati-hati, Gotami, tentang pelepasan keduniawian perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini.”

    Kemudian Gotami, Pajāpati yang Agung, karena berpikir: “Sang Bhagavā tidak memperbolehkan perempuan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin ini yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran,” berduka, bersedih, dengan wajah basah oleh air mata dan menangis, setelah berpamitan dengan Sang Bhagavā, pergi dengan Beliau di sisi kanannya. ||1||

    Kemudian Sang Bhagavā setelah menetap di Kapilavatthu selama yang Beliau kehendaki, melakukan perjalanan menuju Vesālī. Secara bertahap, berjalan kaki dalam perjalanan itu, akhirnya Beliau tiba di Vesālī. Sang Bhagavā menetap di sana di Vesālī di Hutan Besar di Aula beratap segitiga. Kemudian Gotami Pajāpati yang Agung, setelah memotong rambutnya, setelah mengenakan jubah kuning, melakukan perjalanan menuju Vesālī bersama dengan beberapa perempuan Sakya, dan akhirnya mereka mendekati Vesālī, Hutan Besar, Aula beratap segitiga. Kemudian Gotami Pajāpati yang Agung, kakinya membengkak, tubuhnya tertutup debu, dengan wajah basah oleh air mata dan menangis, berdiri di luar teras utama.

      Note:
      Mahapajapati Gotami adalah adik dari MahaMaya (Ibu Siddhattha Gotama). Kakak beradik ini, dikawini bersamaan oleh Raja Suddhodana. MahaMaya hamil di usia 45 tahun [lihat: DPPN, Mahāvamsa ii.hal.15 – dst]. Ketika Siddhattha Gotama lahir 10 bulan kemudian, Ibunya berusia: ± 46 tahun dan jika selisih adik/kakak hanya 1 tahun, maka usia MahaPajapati Gotami: ± 45 tahun. Ketika Siddhattha Gotama memutuskan menjadi petapa di usia 29 tahun dan 6 tahun kemudian mencapai kebuddhaan, Ia berusia 80 tahun.

      Setelah peristiwa sungai Rohini, dimana 250 pria dari masing-masing suku Sakya dan Koliya menjadi Bhikku, maka kehidupan 500 wanita yang suaminya menjadi Bhikkhu menjadi semakin sulit di situasi paceklik tersebut sehingga mereka putuskan untuk ikut menjadi petapa. Mereka bersama Mahàpajàpati Gotami, dengan berjalan kaki, pergi dari Kapilavastu ke Hutan Mahavana di Vesali. Jarak Kapilavastu – Vesali via kusinara: 43 yojana (481,6 km – 619,2 km) atau 50 Yojana (560 km s.d 720 km) [versi RAPB, buku ke-1, hal.1128]

    Yang Mulia Ānanda melihat Gotami Pajāpati yang Agung berdiri di luar teras utama, kakinya membengkak, tubuhnya tertutup debu, dengan wajah basah oleh air mata dan menangis; melihatnya, ia berkata pada Gotami Pajāpati yang Agung sebagai berikut:

    “Mengapa engkau, Gotami, berdiri … dan menangis?”

    “Karena, Yang Mulia Ānanda, Sang Bhagavā tidak memperbolehkan perempuan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin ini yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran.”

    “Baiklah, Gotami, tunggulah sebentar di sini, hingga aku memohon pada Sang Bhagavā atas pelepasan keduniawian bagi perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin ini yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran.” ||2||

    Kemudian Yang Mulia Ānanda menghadap Sang Bhagavā; setelah mendekat, setelah menyapa Sang Bhagavā, ia duduk dalam jarak selayaknya. Setelah duduk dalam jarak selayaknya, Yang Mulia Ānanda berkata pada Sang Bhagavā sebagai berikut:

    “Yang Mulia, Gotamid, Pajāpati yang Agung, sedang berdiri di luar teras utama, kakinya membengkak, tubuhnya tertutup debu, dengan wajah basah oleh air mata dan menangis, dan mengatakan bahwa Sang Bhagavā tidak memperbolehkan perempuan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin ini yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran. Baik sekali, Yang Mulia, jika perempuan diperbolehkan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga … oleh Sang Penemu-kebenaran.”

    “Hati-hati, Ānanda, tentang pelepasan keduniawian perempuan dari kehidupan rumah tangga … oleh Sang Penemu-kebenaran ini.” Dan untuk ke-2xnya … Dan untuk ke-3xnya Yang Mulia Ānanda berkata pada Sang Bhagavā sebagai berikut: “Baik sekali, Yang Mulia, jika perempuan diperbolehkan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga … yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran.”

    “Hati-hati, Ānanda, tentang pelepasan keduniawian perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam `dhamma dan disiplin ini yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini.” Kemudian Yang Mulia Ānanda berpikir:

    “Sang Bhagavā tidak memperbolehkan pelepasan keduniawian bagi perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini. Bagaimana jika aku, dengan cara lain, memohon pada Sang Bhagavā untuk memperbolehkan pelepasan keduniawian bagi perempuan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini.” Kemudian Yang Mulia Ānanda berkata pada Sang Bhagavā sebagai berikut:

    “Yang Mulia, apakah para perempuan, setelah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran ini, mampu mencapai buah pencapaian-arus atau buah yang-kembali-sekali atau buah yang-tidak-kembali atau kesempurnaan?”

    “Para perempuan, Ānanda, setelah meninggalkan keduniawian … mampu mencapai … kesempurnaan.”

    “Jika, Yang Mulia, setelah meninggalkan keduniawian … mampu mencapai … kesempurnaan – dan, Yang Mulia, Gotami Pajāpati yang Agung, telah sagat banyak membantu: ia adalah bibi Sang Bhagavā, ibu pengasuh, perawat, pemberi susu, karena ketika ibu Sang Bhagavā meninggal dunia ia menyusui Beliau – baik sekali, Yang Mulia, jika para perempuan diperbolehkan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran.” ||3||

    “Jika, Ānanda, Gotami Pajāpati yang Agung, menerima 8 peraturan penting, maka ia boleh ditahbiskan:

    1. “Seorang bhikkhunī yang telah ditahbiskan (bahkan) selama satu abad harus menyapa dengan hormat, bangkit dari duduknya, memberi hormat dengan merangkapkan tangan, memberikan penghormatan selayaknya pada seorang bhikkhu bahkan yang baru ditahbiskan pada hari itu. Dan peraturan ini harus dihormati, dihargai, dijunjung, dimuliakan, tidak boleh dilanggar seumur hidupnya.
    2. “Seorang bhikkhunī tidak boleh melewatkan musim hujan di tempat tinggal di mana tidak terdapat bhikkhu. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.
    3. “Setiap setengah bulan seorang bhikkhunī harus mengharapkan 2 hal dari Saṅgha para bhikkhu: bertanya (sehubungan dengan tanggal) hari Uposatha, dan kedatangan untuk memberikan nasihat. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.
    4. “Setelah musim hujan seorang bhikkhunī harus ‘melakukan undangan’ di hadapan kedua Saṅgha sehubungan dengan 3 hal: apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dicurigai. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.
    5. “Seorang bhikkhunī yang melanggar suatu peraturan penting, harus menjalani mānatta (disiplin) selama setengah bulan di hadapan kedua Saṅgha. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.
    6. “Ketika, selagi menjalani masa percobaan, ia telah berlatih dalam 6 peraturan selama 2 tahun, maka ia harus memohon penahbisan dari kedua Saṅgha. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.
    7. “Seorang bhikkhu tidak boleh dicela atau ditegur dalam cara apa pun oleh seorang bhikkhunī. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.
    8. “Mulai hari ini pemberian nasihat pada para bhikkhu oleh para bhikkhunī adalah terlarang, pemberian nasihat pada para bhikkhunī oleh para bhikkhu diperbolehkan. Dan peraturan ini harus dihormati, dihargai, dijunjung, dimuliakan, tidak boleh dilanggar seumur hidupnya.

      [Kata “vacanapatha” di sini diartikan sebagai “pemberian nasihat” namun kata ini dapat bermakna “tidak berkata-kata kasar/menyakitkan”]

    “Jika, Ānanda, Gotami Pajāpati yang Agung, menerima 8 peraturan penting, maka ia boleh ditahbiskan.” ||4||

    Kemudian Yang Mulia Ānanda, setelah menghafalkan 8 peraturan penting ini dari Sang Bhagavā, mendatangi Gotami Pajāpati yang Agung; setelah mendekat, ia berkata pada Gotami Pajāpati yang Agung sebagai berikut:

    “Jika engkau, Gotami, sudi menerima 8 peraturan penting, maka engkau boleh ditahbiskan: Seorang bhikkhunī yang telah ditahbiskan (bahkan) selama satu abad … Mulai hari ini pemberian nasihat pada para bhikkhu oleh para bhikkhunī adalah terlarang … tidak boleh dilanggar seumur hidupmu. Jika engkau, Gotami, sudi menerima 8 peraturan penting, maka engkau boleh ditahbiskan.”

    “Seperti halnya, Yang Mulia Ānanda, seorang perempuan atau laki-laki muda, berusia muda, dan menyukai perhiasan, setelah mencuci (badan dan) kepala(nya), setelah memperoleh kalung bunga teratai atau kalung bunga melati atau kalung bunga tanaman merambat yang harum, setelah memegangnya dengan kedua tangan akan meletakkan di atas kepalanya – demikian pula aku, menghormati, Ānanda, dan menerima ke-8 peraturan penting ini dan takkan pernah melanggarnya seumur hidupku.” ||5||

    Kemudian Yang Mulia Ānanda menghadap Sang Bhagavā; setelah mendekat, setelah menyapa Sang Bhagavā, ia duduk dalam jarak selayaknya. Setelah duduk dalam jarak selayaknya, Yang Mulia Ānanda berkata pada Sang Bhagavā sebagai berikut: “Yang Mulia, 8 peraturan penting ini diterima Gotami Pajāpati yang Agung.”

    “Jika, Ānanda, perempuan tidak memperoleh pelepasan keduniawian kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma-disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran, maka menjalani prilaku menuju kesucian (brahmacariya) Ānanda, akan bertahan lama, dhamma sejati akan bertahan selama 1000 tahun (vassasahassaṃ saddhammo tiṭṭheyya). Tetapi karena, Ānanda, perempuan telah memperoleh pelepasan keduniawian … dhamma-disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran, Sekarang, Ānanda, prilaku menuju kesucian menjadi tidak bertahan lama. Sekarang, Ānanda, DHAMMA SEJATI hanya bertahan 500 tahun (na dāni, ānanda, brahmacariyaṃ ciraṭṭhitikaṃ bhavissati. Pañceva dāni, ānanda, vassasatāni saddhammo ṭhassati)..[AN 8.51/Gotami Sutta dan Vinaya Pitaka, Cullavagga X.1.6; Juga di “Theories on the Foundation of the Nuns’ Order – A Critical Evaluation“, ANĀLAYO, hal.134, catatan:

      2 Vinaya Dharmaguptaka, T 1428 at T XXII 923c9 tertulis: 若女人不於佛法出家者, 佛法 當得久住五百歲, dimana tampaknya yang dimaksudkan adalah ajaran buddha akan bertahan 500 tahun lebih lama jika perempuan tidak menjadi petapa ajaran buddha… Vinaya ‘Haimavata’ (Indentifikasi aliran oleh Lamotte (1958: 212) adalah benar), Vinaya Mahīśāsaka dan Vinaya (Mūla-)Sarvāstivāda berada di posisi sama dalam istilah berbeda, menurut mereka karena terbentuknya sangha bhikkhuni umur dharma sejati akan berkurang 500 tahun .., T 1463 at T XXIV 803b16: 汝今為女人求出家, 後當減吾五百歲正法, (menggunakan 宋, 元 dan 明 varian 歲 bukan 世);…Vinaya (Mūla-)Sarvāstivāda dalam bahasa tibet menyebutkan bahwa ajaran buddha tidak lagi tidak rusak selama 1000 tahun, tanpa, namun, mengacu pada 500 tahun, Q dul ba phran tshegs kyi gzhi, ne 116b5 (D da 121a6): bud med rnams legs par bshad pa’i chos kyi (D: omits kyi) ‘dul ba la rab tu ma byung na ni da yang (D: dung) nga’i bstan pa lo stong tshang bar nyes pa med cing nyams pa med par gnas par ‘gyur ro.
      3 MĀ 116 di T I 607b8 menunjukan bahwa jika wanita tidak di tahbiskan, dharma sejati akan bertahan 1000 tahun, sekarang umurnya berkurang 500 tahun, hanya selama 500 tahun, 若女人不得於此正法、律中,至信、捨家、無家、學道者,正法當住千年,今失五百歲,餘有五百年”

    Juga di T 60: “若女人不於此法律信樂出家、…遺法當住千歲,今已五百歲減,餘有五百歲” (jika wanita tidak di tahbiskan..warisan ajaran, sekarang umurnya 500 tahun, hanya selama 500 tahun)
    Juga di “Milanda Panha”, Bab 8.7: “Raja Milanda: ‘Setelah pentahbisan para wanita, Sang Buddha berkata bahwa ajaran yang murni itu hanya akan bertahan selama 500 tahun…Bhikkhu Nagasena: ‘O, baginda,..Yang satu berhubungan dengan umur ajaran yang murni..Pada saat berkata tentang 500 tahun itu Beliau memberikan batasan kepada agama..'”]

      Note:

      • Penetapan 1000 tahun menjadi 500 tahun adalah berdasarkan pemikiran Seorang Buddha, pemilik 10 kekuatan/Dasabalā yang salah satunya adalah “memahami sebagaimana adanya akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan, di masa: lalu, depan, dan sekarang, dengan kemungkinan dan penyebabnya” yang dengan kekuatan ini, beliau mengetahui dan melihat bahwa setelah tahun ke-500, tidak ada lagi manusia yang berada dalam kondisi siap atau matang dalam mencapai kesucian dan juga mampu menjalani sepenuhnya prilaku brahmacariya dhamma-vinaya
      • Terdapat selisih waktu 2 tahun antara penahbisan Mahapajapati Gotami dan 500 Puteri Sakya:
        • Dalam Attha Garudhamma ke-6, calon harus menjalani 6 Sila selama 2 tahun sebelum dapat ditahbiskan dan harus dilakukan oleh ke-2 sangha;
        • 500 puteri ini tidak ditahbiskan sang Buddha namun oleh murid-muridNya;
        • Di Cullavagga terekam penolakan para puteri sakya ketika upajaya mereka adalah Mahapajapati Gotami, mereka anggap Ia belum ditahbiskan, namun Sang Buddha menegaskan bahwa Attha Garudhamma adalah penahbisannya Mahapajapati Gotami. [Cullavagga]

        Kemudian, Mahapajapati Gotami bersama Sangha Bhikkhu menahbiskan 500 Puteri. Mahapajapati Gotami mencapai arahat setelah arahan Sang Buddha dan 500 Bhikkhuni mencapai arahat setelah kotbah YM Nandaka. Di Jetavana, Mahapajapati Gotami dianugrahi gelar “rattaññūnaṃ”. Tak lama setelah kembali ke Vesali, Ia wafat diusia 120 tahun (Tahun ke-40 Kebuddhaan) bersamaan dengan wafatnya 500 Bhikkhuni yang ditahbiskannya. [DPPN]

        Gelar “rattaññūnaṃ” diberikan di Jetavana kepada: Annasi Kondanna (Arahat pertama Pria era Buddha Gotama) dan Mahapajapati Gotami (Arahat wanita pertama). Tidak tercatat dianugerahkan secara bersamaan sehingga tampaknya pengukuhan ini disampaikan ketika yang bersangkutan hendak wafat. Annasi Kondanna menjadi arahat di tahun ke-1 keBuddhaan, Pada tahun ke-2, di Rajagaha, Ia meminta ijin menyepi dan 12 tahun kemudian (tahun ke-14) di Jetavana, beliau berpamitan pada Sang Buddha untuk parinibbana. Sang Buddha bervasa di Jetavana pertama kali tahun ke-14 dan di sana Kondanna dianugerahi gelar “rattaññūnaṃ”. Tampaknya vassa terakhir di Jetavana di tahun ke-38, Mahapajapati Gotami dianugerahi gelar yang sama.

      Kutipan syair “..karena, Ānanda, perempuan telah memperoleh pelepasan keduniawian …, sekarang, Ānanda, prilaku menuju kesucian menjadi tidak bertahan lama. Sekarang, Ananda, DHAMMA SEJATI hanya bertahan 500 tahun”, diklaim sebagai bukti bahwa sang Buddha sexist, karena telah menyalahkan wanita sebagai biang keladi umur Dhamma sejati (dan menjalani prilaku kehidupan brahmacariya menurut dhamma-vinaya) menjadi hanya 500 tahun saja. Namun, masalahnya, di sebelum itupun, sudah ada gender ke-3 (bukan pria dan wanita) misalnya: Soreyya dan Vakkali. Beberapa dari gender ke-3 menambah ragam permasalahan, misalnya: Ia berubah kelamin namun tetap ingin ditahbiskan atau tetap dalam himpunan atau Ia menjadi bhikkhu untuk merayu para bhikkhu/ni, samanera/ri, umat awam.

      Jadi, bukan gender, melainkan membesarnya jumlah yang berjenis moghapurisa (misal di SN 16.13, AN 4.160. AN 5.1503-156) yang mempercepat tenggelamnya Dhamma sejati dan prilaku menuju kesucian menurut dhamma-vinaya, mereka inilah, memperkaya ragam permasalahan internal/eksternal di kedua sangha dan/atau dengan/antar umat awam atau dengan penganut ajaran lain, penjiplakan ajaran, alasan perawatan kesehatan yang lebih terjamin, kultur, sosial, budaya, bahasa, agama, gender, perekonomian, politik, dan lainnya.

        Maha Kassapa:
        “Apa alasan dan bergantung pada kondisi apa ketika sebelumnya sedikit aturan (sikkhāpadāni), banyak bhikkhu yang memperoleh pencerahan namun sekarang ini, lebih banyak aturan yang ditetapkan namun lebih sedikit bhikkhu yang mencapai pencerahan sempurna?

        Sang Buddha:
        Ketika para mahluk merosot [sattesu hayamanesu], Dhamma sejati juga akan memudar, aturan ditetapkan semakin banyak, semakin sedikit bhikkhu yang mencapai pencerahan namun itu tidak membuat Dhamma sejati lenyap hingga kemudian dhamma tiruan bermunculan di dunia. Ketika Dhamma tiruan bermunculan di dunia maka dhamma sejati akan lenyap.

        Bagaikan, Kassapa, emas takkan lenyap selama tiruan emas tidak muncul di dunia ini, tetapi ketika tiruan emas muncul maka emas sejati lenyap, demikian pula, Dhamma sejati takkan lenyap selama tiruan dari Dhamma sejati tidak muncul. Tetapi ketika tiruan Dhamma sejati muncul di dunia ini, maka Dhamma sejati lenyap.

        Bukan karena unsur landasan/tanah, Kassapa, yang menyebabkan Dhamma sejati lenyap, juga bukan unsur rekatan/air, juga bukan unsur yang membakar/api, juga bukan unsur tekanan/gerak/angin. Adalah orang yang kosong melompong spiritualitasnya (mogha purisa) yang bermunculan di sini yang menyebabkan Dhamma sejati melenyap.

        Dhamma sejati tidak lenyap seketika bagaikan kapal tenggelam. Terdapat 5 faktor yang menyebabkan menurunnya Dhamma sejati, yaitu Bhikkhu, Bhikkhuni dan umat awam bersikap tidak hormat dan melawan pada: Guru, dhamma, sangha, pelatihan dan samadhi [SN 16.13/Saddhamma Patirūpaka Sutta]

      Sutta (SN 16.13) di atas ini menegaskan bahwa dhamma sejati MEMANG AKAN LENYAP yaitu karena para manusia yang kosong melompong, yang ketika mendapatkan dhamma dan/atau menempuh kehidupan kesucian tidak dengan seksama dan malah melakukan banyak pelanggaran hingga perlu ditetapkan banyak peraturan ditetapkan untuk mengerem laju kelenyapan dan lenyapnya Dhamma sejati adalah karena kumunculan ajaran-ajaran tiruan.

Kemudian,
Di DN 23/Payasi Sutta, kita akan temukan batas tahun terbentuknya Sangha Bhikkhuni. Sutta itu memuat kisah pertemuan antara YM Kumara Kassapa dengan pangeran Payasi dan beberapa waktu setelah berdana, Pangeran Payasi dan Brahmin muda bernama Uttara wafat. Pangeran Payasi terlahir kembali di alam deva Catumaharajika bertemu dengan YM Gavampati yang sedang berkunjung ke alam itu. Kisah kelahiran YM Kumara Kassappa tercantum dalam Jataka no. 12/Nigrodhamika:

Ibu Kumara Kassapa adalah putri seorang kaya dari Rajagaha. Ia berniat menjadi Bhikkhuni namun tidak diijin orang tuanya, setelah menikah, Ia meminta ijin suami dan diijinkan. Ibu YM Kumara Kassapa diantar suami kekumpulan bhikkhu (sangha) pimpinan Devadatta dan ditahbiskan di sana. Saat menerima penahbisan, Ia tidak tahu dirinya tengah hamil, ketika kehamilannya membesar dan diketahui, mereka melaporkan ini ke Devadatta yang kemudian memutuskan bahwa Ia tidak lagi bhikkhuni dan di usir.

(Ini mengindikasikan, ketika menahbiskan, Devadatta tidak mengikuti aturan attha Garudhamma, akan ada selisih 2 tahun karena calon harus menjalani 6 sila terlebih dahulu sebelum berhak ditahbiskan)

Bhikkhuni muda ini kemudian meminta diantar ke vihara Jetavana (Savatthi, perjalanan sejauh 45 yojana) untuk menetap di sana. Permasalahan ini kemudian dilaporkan ke sang Buddha. Walaupun Sang Buddha tahu kehamilan Bhikkhuni ini terjadi saat menjadi umat awam, namun untuk mencegah kontroversi dan gunjingan lanjutan, beliau mengundang Raja Pasenadi dari Kosala, Anathapindika, Visakha dan lainnya untuk menyelidiki hal ini dan akhirnya diketahui bahwa kehamilan telah terjadi SEBELUM Ia ditahbiskan sehingga YM Upali putuskan tidak ada aturan parajika yang dilanggar.

Ketika anak itu lahir raja Pasenadi dari Kosala memeliharannya, Ia diberi nama: Kassapa. Pada usia 7 tahun dikirim ke vihara ditahbiskan menjadi SAMANERA dan ketika ia membawa hidangan kecil seperti buah kepada Sang Buddha, Ia mendapat tambahan nama kumara, sejak itu disebut Kumara Kassapa. Arti kata kumara adalah anak atau pangeran.

Kumara Kassapa ditahbiskan menjadi Bhikkhu diusia 20 tahun yang terhitung sejak dalam kandungan ibunya. [Khandhaka, Mahavaga, Vinaya] dan setelah MN 23/Vammikka Sutta, Ia menjadi Arahat. Komentar Anguttara (AA i.159) menyatakan Sang Buddha memberinya gelar cittakathikānam (trampil dalam menyampaikan pembicaraan) yang dikaitkan dengan pembicaraan Kumara kassapa dengan Pāyāsi,

YM Gavampati wafat menjelang berlangsungnya konsili ke-1, yang diselenggarakan 3 bulan setelah wafatnya sang Buddha.

AN 3.70/Uposatha sutta menyatakan 1 hari di alam TAVATIMSA = 100 tahun di alam Manusia; 1 hari di alam CATUMAHARAJIKA = 50 tahun tahun di alam manusia:

1 jam alam Tavatimsa = 4 tahunan di alam manusia
1 jam alam Catumaharajika = 2 tahunan di alam manusia.

Penahbisan Mahapaja Gotami menjadi Bhikkhuni bisa jadi di tahun ke-21/22, dan Sangha Bhikkhuni terbentuk di tahun ke-23/24, maka saat Kumara kassapa ditahbiskan menjadi bhikkhu di usia 20 yang terhitung sejak dalam kandungan adalah di tahun ke-42/43. Ia mencapai Arahat setelah Vammika Sutta dan bertemu Payasi sebelum wafatnya Payasi. Terdapat selisih ± 2/3 tahunan antara wafatnya YM Gavampati dan 1 jam kelahiran kembali Pangeran Payasi di alam Catumaharajika.

Sehingga Sangha Bhikkhuni terbentuk paling telat di tahun ke-24 KeBuddhaan

Sang Buddha menaklukan Angulimala
Di setelah tahun ke-20 masa KeBuddhaan, di kerajaan Kosala terdapat Bandit bernama Ahimsaka yang gemar membunuh dan jari-jari korbannya dijadikan untaian kalung dan karenanya, Ia dinamakan: Anguli (jari) Mala (kalung). Latar belakang Ahimsaka melakukan pembunuhan ini adalah karena teman-temannya sesama pelajar di Taxila, cemburu karena Ahimsaka amat pandai dan menjadi kesayangan gurunya. Mereka kemudian, membagi diri menjadi 3 kelompok: Kelompok ke-1 memberitahukan kepada guru mereka bahwa Ahimsaka telah melakukan hal yang tidak pantas dengan istri sang guru. Kelompok ke-2 dan ke-3, membenarkan apa yang dikatakan kelompok ke-1. Karena gurunya masih tidak percaya, mereka mengusulkan agar guru mereka membuktikannya sendiri.

Di suatu hari, Guru Ahimsaka melihat istrinya berbicara dengan ramah kepada Ahimsaka, ini membuatnya mempercayai pernyataan mereka dan kemudian gurunya menjadi berniat melenyapkan Ahimsaka namun upaya ini tidak dilakukannya secara terbuka karena takut tidak ada lagi murid yang mau berguru kepadanya. sang guru berkata pada Ahimsaka: “Muridku, saya tidak sanggup lagi mengajarmu lebih lanjut, kecuali kamu dapat mengumpulkan 1000 jari tangan kanan manusia sebagai biaya pendidikanmu.”. [Note: Guru dhaksina (Meminta upah) biaya pendidikan berupa jari tangan, juga muncul di Mahabharata, yaitu ketika Drona meminta ibu jari Ekalavya sebagai upah mengajarnya memanah]

Harapan sang guru, ketika Ahimsaka melakukannya, maka ia akan ditangkap kerajaan karena kejahatan pembunuhan.

Ahimsaka berulang kali memohon agar ia dapat membayar biaya pendidikan dengan cara lain, tetapi gurunya tetap pada pendiriannya. Karena jika menolak, ia takut mendapat kutukan. Maka ia mempersenjatai dirinya, masuk ke hutan Jalini di Kosala dan mulai mengumpulkan jari tangan manusia sesuai permintaan gurunya.

Karena banyak pembunuhan, Rakyat kemudian menghadap raja dan rajapun memerintahkan sejumlah pasukan untuk menyelidiki dan menangkap perampok tersebut. Ayah Angulimala yaitu Bhramana Gagga saat itu adalah penasehat keraan Kosala, Ia tahu bahwa perampok kejam itu adalah anaknya sendiri. Setelah berbincang dengan istrinya (Mantani), Ibu Ahimsaka menjadi khawatir akan nasib anaknya, kemudian Ia pergi mencari Ahimsaka untuk memberitahu bahwa kerajaan hendak menangkapnya dan agar anaknya berhenti melakukan pembunuhan

Pada saat itu, Sang Buddha yang sedang berada di Vihara Jetavana, dengan Mata Buddhanya, beliau mengetahui bahwa kumpulan karma Angulimala sudah masak, Ia dapat menjadi Bhikkhu dan mencapai kesucian Arahat pada kehidupan ini sementara itu, Ibu Angulimala dapat terbunuh apabila Angulimala melihatnya, karena ia sudah amat ingin melengkapi untaian jari yang diminta gurunya.

Setelah sang Buddha kembali dari mengumpulkan dana makanan dan selesai makan, Beliau merapikan tempat istirahatnya, mengambil mangkuk dan jubah luarnya, lalu berangkat menuju jalan yang mengarah ke Angulimala. Para penggembala sapi, penggembala kambing, dan pembajak sawah yang lewat melihat Sang Buddha menuju Angulimala memberitahukan sebanyak 3x agar tidak mengambil jalan tersebut karena ada pembunuh kejam namun Sang Buddha tetap meneruskan perjalanannya.

Angulimala melihat Sang Buddha datang dari kejauhan, Kemudian dengan senjatanya, Ia mengikuti dari dekat di belakangnya. Sang Buddha dengan kekuatan supranormal, membuat bandit Angulimala, walaupun berjalan secepatnya yang ia bisa, tetap tidak sanggup mengejar beliau yang tampak hanya berjalan normal. Angulimala berpikir; “Ini hebat, ini luar biasa! Aku bisa mengejar bahkan gajah yang cepat dan menangkapnya; aku bisa mengejar bahkan kuda yang cepat dan menangkapnya; aku bisa mengejar bahkan kereta yang cepat dan menangkapnya; aku bisa mengejar bahkan rusa yang cepat dan menangkapnya; tetapi sekarang, walaupun aku berjalan secepat yang aku bisa, aku tidak sanggup mengejar petapa yangberjalan dengan kecepatan normal ini!”

Iapun berhenti dan berteriak kepada sang Buddha: “berhenti, petapa! Berhenti, petapa!”

Sang Buddha berkata, “Aku telah berhenti, Angulimala, engkau pun berhentilah juga” (Ṭhito ahaṃ, aṅgulimāla, tvañca tiṭṭhā”ti)

Angulimala keheranan dan bertanya kepada Sang Buddha, “Sementara engkau sedang berjalan, petapa, kau katakan padaku engkau telah berhenti; Tetapi sekarang, ketika aku telah berhenti, kau katakan aku belum berhenti. Aku bertanya kepadamu kini, O petapa, tentang artinya: Bagaimana bisa engkau telah berhenti dan aku belum?”

sang Buddha, “Angulimala, aku telah berdiri diam selamanya, Aku bebas dari kekerasan terhadap makhluk hidup; Tetapi engkau tidak punya pengendalian diri terhadap makhluk-makhluk hidup: Itulah sebabnya aku telah berdiri diam dan engkau belum.” [note: Jawaban Sang Buddha dengan menggunakan kata “ṭhito” (arti literal: berdiri) dimaksudkan bahwa pikiranNya telah berhenti dan tidak lagi menciptakan bentukan karma baru, Karena Angulimala masih melakukan pembunuhan, maka ia belumlah berhenti menciptakan karma baru]

Angulimala terhenyak mendengarkan itu dan kemudian berkata bahwa ia hendak meninggalkan kejahatan ini untuk selamanya, lalu Ia membuang senjatanya ke jurang, menyembah dikaki sang Buddha untuk memohon pentahbisan. Sang Buddha kemudian menahbiskan dengan kata, “Datanglah, bhikkhu.”. demikianlah Angulimala menjadi Bhikkhu dan menjadi pelayan beliau

Saat itu, Raja pasenadi dari kosala disertai dengan 500 pasukan berkuda melakukan perjalan menemui Sang Buddha dan berkeluh kesah bahwa di kerajaanya terdapat seorang Pembunuh yang meresahkan warga namun tidak pernah berhasil ditumpasnya.

Sang Buddha kemudian berkata, jika sang raja melihat Angulimala telah mencukur rambut dan jenggotnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan kehidupan umat awam menjadi petapa, tidak lagi membunuh, tidak lagi mengambil apa yang tidak diberikan, tidak lagi bicara bohong, hanya makan 1x sehari dan hidup selibat, luhur, dengan watak baik. maka bagaimanakah sang raja akan memperlakukannya?

Raja berkata bahwa mereka akan menghormatinya dirinya dan memperlakukannya dengan kehormatan sepatutnya namun Raja menyatakan bagaimana bisa seorang manusia tak-bermoral, berwatak jahat dapat memiliki moralitas dan pengendalian semacam itu?

sang Buddha kemudian mengulurkan tangan kanannya dan berkata kepada Raja Pasenadi dari Kosala: “Raja Yang agung, inilah Angulimala.”

Raja Pasenadi menjadi ketakutan dan sang Buddha menenangkan beliau bahwa tidak ada yang perlu ditakuti lagi darinya.

Raja Pasenadi, berencana hendak menyediakan jubah, dana makanan, tempat istirahat, dan kebutuhan-kebutuhan obat sebagaimana diberikan pada para bhikkhu dan pertapa kepada Angulimala, namun karena Angulimala adalah petapa hutan ia mengatakan “tiga jubahku sudah lengkap”. Raja Pasenandi menjadi kagum dan berkata, kerajaannya tidak bisa menjinakkannya dengan kekuatan dan senjata, tetapi sang Buddha telah menjinakkannya tanpa kekuatan atau pun senjata. Setelah berkata itu, Raja Pasenadi pun pulang kembali.

Di suatu pagi, Y.M. Angulimala tengah pergi Ke Savatthi untuk mengumpulkan dana makanan. Ketika itu, beliau melihat seorang perempuan sedang kesulitan melahirkan anak dan berpikir, “Betapa menderitanya para makhluk! Sungguh, betapa menderitanya para makhluk!”. Ia kemudian menyampaikan hal ini pada Sang Buddha. sang Buddha kemudian berkata, “Kalau begitu, Angulimala, pergilah ke Savatthi dan katakan kepada perempuan itu: ‘Saudari, sejak saya terlahir (yato haṃ bhagini jāto), saya tidak ingat pernah dengan sengaja membunuh makhluk hidup. Dengan kebenaran ini, semoga Anda sejahtera dan bayi Anda sejahtera'”

Rupanya Angulimala tidak menyadari makna kalimat ini, dan menyatakan pada sang Buddha, “Guru, apakah saya tidak menceritakan kebohongan yang disengaja, karena toh dengan sengaja saya telah membunuh banyak makhluk hidup?”

Sang Buddha kemudian berkata, “Kalau begitu, Agulimala, pergilah ke Savatthi dan katakan kepada perempuan itu: ‘Saudari, sejak saya terlahir dengan kelahiran mulia (yato haṃ bhagini ariyāya jātiyā jāto), saya tidak ingat pernah dengan sengaja membunuh makhluk hidup. Dengan kebenaran ini, semoga Anda sejahtera dan bayi Anda sejahtera!'” [Note: Ariya jatiya adalah kelahiran mulia, maksudnya adalah mencapai tingkat kesucian sekurangnya Sotapanna)

Kemudian Angulimala menuju Savatthi dan menyatakan kalimat itu, kemudian perempuan itu menjadi mudah melahirkan dan bayinya sejahtera.

Tak lama setelahnya, dengan berdiam sendiri, melihat ke dalam diri, rajin, bersemangat, dan mantap, Y.M. Angulimala, merealisasikan bagi dirinya melalui pengetahuan langsung, di sini dan kini masuk dan berdiam di dalam tujuan tertinggi kehidupan suci dan Ia langsung mengetahui: “Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak lagi ada kelahiran di alam mana pun juga.” Dan Y.M. Angulimala menjadi salah satu Arahat.

Di suatu pagi, Y.M. Angulimala berpakaian, mengambil mangkuk serta jubah luarnya, dan pergi ke Savatthi untuk mengumpulkan dana makanan. Ketka itu, seseorang melempar tongkat yang mengenai tubuhnya, lalu orang lain melempar pecahan tembikar yang mengenai tubuhnya. Kemudian, dengan darah yang mengalir dari kepalanya yang terluka, dengan mangkuknya yang pecah dan jubah luarnya yang robek, Y.M. Angulimala menemui Sang Buddha. Melihatnya datang, sang Buddha dari kejauhan berkata: “Tanggunglah, brahmana! Tanggunglah, brahmana! Engkau mengalami di sini dan kini akibat tindakan-tindakan yang karenanya engkau mungkin di siksa di neraka selama bertahun tahun selama beratus-ratus tahun, selama beribu-ribu tahun. [Note: Masaknya buah karma dapat terjadi pada kehidupan saat, atau di kehidupan berikutnya dan juga di beberapa kehidupan berikutnya, karena Ia telah mencapai arahat dan tidak lagi terlahirkan, maka dua jenis masaknya karma berikutnya tidak dialaminya lagi, namun tetap masih mengalami jenis pertama masaknya karma]

Y.M Angulimala hidup menyendiri, menikmati kebahagiaan kebebasan, mengucapkan pernyataan-pernyataan kebijaksanaan, wafat dan mencapai Nibbana [Sumber: MN 86/Angulimala Sutta, Theragata 16.7/Aṅguli­mālat­thera­gāthā, Komentar Dhammapada Syair 173 dan lihat juga: Vinaya Mahavagga]

Skema jahat Devadatta
Setelah penahbisan 6 pangeran dan Upali menjadi Bhikkhu, Sang Bhagavā, dari Anupiyā pergi menuju Kosambī dan menetap di vihara Ghosita. Di Vihara itu, ketika Devadatta sedang bermeditasi di dalam kamarnya suatu pemikiran muncul: “Siapakah yang dapat menjadi gembira karena aku, sehingga karena ia gembira denganku maka aku akan dapat memperoleh banyak keuntungan dan kemasyhuran?..Pangeran Ajātasattu masih muda dan juga memiliki masa depan yang cerah. Bagaimana jika aku membuatnya gembira, sehingga karena ia gembira denganku maka aku akan dapat memperoleh banyak keuntungan dan kemasyhuran?”

Kemudian Devadatta, setelah merapikan tempat tinggalnya, dengan membawa mangkuk dan jubahnya, pergi menuju Rājagaha; Kemudian Devadatta, mengubah wujudnya menjadi seorang anak kecil dengan sabuk ular muncul di pangkuan Pangeran Ajātasattu dan membuatnya menjadi khawatir, cemas, ketakutan, gelisah. Kemudian Devadatta berkata: “Apakah engkau takut padaku, Pangeran?”

“Ya, aku takut. Siapakah engkau?”

“Aku Devadatta.”

“Jika engkau, Yang Mulia, adalah sungguh Guru Devadatta, mohon engkau kembali ke wujudmu semula.” Kemudian Devadatta melepaskan wujud anak kecilnya, berdiri, dengan mengenakan jubahnya dan membawa mangkuknya, di hadapan Pangeran Ajātasattu. Kemudian Pangeran Ajātasattu, yang sangat gembira melihat kekuatan mental Devadatta, pagi dan malam hari melayaninya dengan 500 kereta, dan 500 persembahan nasi susu diberikan kepadanya. Kemudian Devadatta yang dikuasai perolehan, kehormatan, dan kemasyhuran, pikirannya dikuasai hal-hal itu, muncul salah satu di antaranya adalah keinginan: “Adalah aku yang akan memimpin perkumpulan para bhikkhu.” Pada saat Ia berpikir demikian Devadatta mengalami kejatuhan dalam hal kekuatan mentalnya. [Vinaya, Cullavagga, Sanghabheda]

Tahun demi tahun berlalu, di Rajagaha, Sang Bhagavā sedang duduk membabarkan dhamma dengan dikelilingi oleh banyak pengikut, termasuk sang raja. Devadatta bangkit dari duduknya, setelah memberi hormat kepada Sang Bhagavā dengan merangkapkan tangan, berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, sekarang Sang Bhagavā sudah tua, jompo, didera bertahun-tahun, Beliau telah menjalani umur kehidupanNya dan menjelang akhir hidupNya ; Yang Mulia, sudilah Yang Mulia sekarang merasa puas dengan kediaman nyaman di sini dan saat ini, sudilah Beliau menyerahkan kumpulan para bhikkhu ini kepadaku. Adalah aku yang akan memimpin kumpulan para bhikkhu ini.”

Sang Buddha:
“Cukup, Devadatta, jangan memimpin kumpulan para bhikkhu ini.”

Dan untuk ke dua kalinya … Dan untuk ke tiga kalinya Devadatta berkata kepada Sang Bhagavā seperti diatas

Sang Buddha:
“Aku, Devadatta, tidak dapat menyerahkan kumpulan para bhikkhu ini bahkan kepada Sāriputta dan Moggallāna. Bagaimana mungkin Aku menyerahkannya kepadamu, seorang malang yang untuk dimuntahkan bagai ludah?”

Devadatta tersinggung dengan celaan dan penolakan yang disampaikan di hadapan kumpulan, termasuk sang raja, Ia juga iri terhadap Sāriputta dan Moggallāna di puji sang Buddha. Karena marah dan tidak senang, Devadatta kemudian berpamitan kepada Sang Bhagavā. Ini adalah kali pertama Devadatta merasa dengki terhadap Sang Bhagavā

Kemudian Sangha, menunjuk Sariputta, agar menyampaikan keputusan sangha berupa tindakan resmi tentang informasi sehubungan dengan Devadatta di Rājagaha bahwa Devadatta sekarang berubah; apa pun yang dilakukan Devadatta melalui tindakan atau ucapan, maka Sang Tathāgata, dhamma atau pun Sangha tidak bertangung jawab, melainkan hanya Devadatta yang bertanggung jawab

Kemudian Devadatta mendatangi Pangeran Ajatasattu dan berkata: “Dulu, pangeran, orang-orang berumur panjang, sekarang mereka berumur pendek, dan adalah mungkin bahwa engkau, selagi masih menjadi pangeran, meninggal dunia, sekarang engkau, pangeran, setelah membunuh ayahmu, akan menjadi raja. Aku, setelah membunuh Sang Bhagavā, aku menjadi Yang Tercerahkan”

Pangeran Ajātasattu berpikir: “Guru Devadatta memiliki kekuatan mental yang luar biasa, keagungan yang luar biasa; Guru Devadatta pasti mengetahui (apa yang benar)”. Ia kemudian berusaha membunuh ayahnya dengan belati namun ketahuan. Raja diberitahu mengenai kejadian ini, raja Seniya Bimbisara berkata kepada Pangeran Ajātasattu: “Mengapa engkau, ingin membunuhku?” Pangeran Ajātasattu: “Aku menginginkan kerajaan, Yang Mulia”. Raja kemudian menyerahkan tahtanya kepada Pangeran Ajātasattu [Vinaya, Cullavagga, Sanghabheda]. Setelah naik tahta, Raja baru Magadha, Ajātasattu, memenjarakan ayahnya dan menyiksanya hingga tewas. Usia Bimbisara lebih muda 5 tahun dari Sang Buddha [Mhv, II.26]. Ketika sang Buddha wafat, adalah tahun ke-8 pemerintahan Ajatasattu [Mhv, II.32], oleh karenanya, Bimbisara wafat diusia 67 tahun.

Devadatta berusaha membunuh Sang Buddha
Kemudian Devadatta mendatangi Raja Ajàtasattu dan memintanya mengirimkan beberapa orang untuk membunuh Buddha. Raja mengirimkan beberapa orang pembunuh kepada Devadatta dengan pesan agar mematuhi instruksi gurunya.

  1. Devadatta memerintahkan orang pertama, “Pergilah, teman-teman, Petapa Gotama menetap di suatu tempat. Setelah membunuhnya, kembalilah melalui jalan lain”
  2. Kemudian ia memerintahkan 2 orang lainnya untuk membunuh orang pertama dan kembali melalui jalan lain.
  3. Kemudian ia memerintahkan kelompok 4 orang lainnya untuk membunuh 2 orang (dari kelompok kedua) dan kembali melalui jalan lain.
  4. Kemudian ia memerintahkan kelompok 8 orang lainnya untuk membunuh 4 orang (dari kelompok ketiga) dan kembali melalui jalan lain.
  5. Kemudian ia memerintahkan kelompok 16 orang lainnya (kelompok kelima) untuk membunuh 8 orang (dari kelompok keempat) dan kembali melalui jalan lain.

Bersenjatakan pedang dan perisai, busur dan sarung anak panah, orang pertama mendatangi Sang Buddha dan berdiri dengan tubuh kaku di dekat Beliau, gemetar ketakutan.

Melihatnya, Buddha berkata, “Kemarilah, sahabat, jangan takut”

Kemudian orang itu, setelah mengesampingkan pedang dan tamengnya ke satu sisi, setelah menurunkan busur dan kantung anak panah, mendekati Sang Bhagavā, mencondongkan kepalanya ke kaki Sang Bhagavā, Ia menyatakan penyesalannya atas kesalahannya dan memohon Sang Buddha menerima pengakuannya sebagai pelanggaran demi pengendalian dirinya di masa depan. Kemudian Sang Bhagavā membabarkan khotbah bertahap kepada orang ini, yaitu, kedermawanan, perilaku bermoral, alam surga … penderitaan, asal-mulanya, lenyapnya, dan Sang Jalan. Selagi orang itu duduk, Ia mencapai Sotapanna dan kemudian menyatakan diri berlindung kepada Buddha dhamma dan Sangha dan memohon diterima sebagai umat awam yang telah menerima perlindungan sejak saat itu.

Kemudian Buddha mempersilakan orang itu pergi dengan memberitahunya agar tidak melalui jalan yang diperintahkan oleh Devadatta tetapi melalui jalan lainnya.

Kemudian kelompok dua orang itu, berpikir: “Mengapa orang itu yang sendirian begitu lambat datang ke sini?” pergi untuk menjumpainya dan melihat Sang Bhagavā duduk di bawah sebatang pohon. Melihat Beliau, mereka mendekati Sang Bhagavā; setelah mendekat, setelah menyapa Sang Bhagavā, mereka duduk dalam jarak yang selayaknya. Sang Bhagavā membabarkan khotbah bertahap kepada kedua orang itu … mereka berhasil mencapai Buah Sotàpatti seperti halnya orang pertama, kemudian menyatakan diri berlindung kepada Buddha dhamma dan Sangha dan memohon diterima sebagai umat awam yang telah menerima perlindungan sejak saat itu.

Kemudian, Sang Buddha mempersilakan mereka pergi, dan memberitahu mereka agar melalui jalan lain.

Kemudian 4 orang (dari kelompok ketiga)…
Kemudian 8 orang (dari kelompok keempat)…
Kemudian 16 orang (dari kelompok kelima)…

Kemudian orang pertama mendatangi Devadatta dan berkata, “Tuan, aku tidak dapat membunuh Sang Bhagavā, Beliau sangat sakti.” Devadatta berkata, “Cukup! Jangan membunuh Petapa Gotama. Aku sendiri yang akan membunuh Petapa Gotama” [Vinaya, Cullavagga, SanghaBheda dan RAPB buku ke-2 hal. 1790 – 1798]

Sekarang Devadatta memutuskan untuk membunuh Sang Buddha. Pada saat itu Sang Bhagavā sedang berjalan mondar-mandir di bawah keteduhan Puncak Gunung Nasar. Kemudian Devadatta, setelah mendaki Puncak Gunung Nasar melemparkan sebuah batu besar ke bawah, dengan berpikir: “Dengan ini aku akan membunuh Petapa Gotama.” Tetapi dua gundukan tanah muncul dengan sendirinya menahan laju batu itu, menghancurkan batu itu, dan sepotong kecil pecahannya, mengenai kaki Sang Bhagavā hingga berdarah (walau seorang Buddha tidak dapat dibunuh atau dilukai mahluk hidup manapun, terlukanya beliau akibat masaknya kamma lampau beliau, Tha Ap.392). [Vinaya, Cullavagga, Sanghabheda]. Sang Buddha kembali ke vihara dan dirawat oleh dokter terkenal, Jivaka [tentang Tabib Jivaka, Lihat: Tabib Jivaka, Para Pelacur, Kathina dan Ayur-Veda!].

Seekor gajah yang buas dijinakkan oleh cinta kasih
Pada saat itu ada seekor gajah buas di Rājagaha, gajah pembunuh-manusia, bernama Nālāgiri. Kemudian Devadatta, setelah memasuki Rājagaha, setelah pergi ke kandang gajah, berkata kepada para pawang gajah sebagai berikut: “Kami, sahabat, adalah sahabat raja. Kami mampu menaikkan jabatan seseorang yang berjabatan rendah dan memberikan kenaikan upah dan makanan. Sekarang, sahabat, ketika Petapa Gotama berjalan melalui jalan kereta ini, maka, setelah melepaskan gajah Nālāgiri ini, bawalah ia ke jalan kereta ini.”

“Baiklah, Tuan,” para pawang gajah itu menjawab Devadatta.

Kemudian Sang Bhagavā, setelah merapikan jubah di pagi hari, dengan membawa mangkuk dan jubahNya, memasuki Rājagaha untuk menerima dana makanan bersama dengan beberapa bhikkhu. Kemudian Sang Bhagavā berjalan melalui jalan kereta. Kemudian para pawang gajah itu melihat Sang Bhagavā berjalan melalui jalan kereta itu; melihat Beliau, setelah melepaskan gajah Nālāgiri, mereka membawanya ke jalan kereta. Gajah Nālāgiri melihat Sang Bhagavā datang dari jauh; melihat Beliau, setelah mengangkat belalainya, ia berlari menuju Sang Bhagavā, telinga dan ekornya tegak. Kemudian Sang Bhagavā melingkupi gajah Nālāgiri dengan pikiran cinta kasih. Kemudian gajah Nālāgiri, yang terlingkupi oleh pikiran cinta kasih dari Sang Bhagavā, setelah menurunkan belalainya, mendekati Sang Bhagavā; setelah mendekat, ia berdiri di hadapan Sang Bhagavā. Kemudian Sang Bhagavā menepuk kening gajah Nālāgiri dengan tangan kananNya, berkata kepada gajah Nālāgiri dengan syair sebagai berikut:

Jangan gajah, menyerang gajah (di antara manusia), karena serangan gajah (di antara manusia) sungguh menyakitkan,
Karena tidak ada tujuan yang baik, bagi pembunuh gajah (di antara manusia) ketika ia telah menyeberang. Jangan sombong, jangan ceroboh, karena mereka yang ceroboh tidak akan pergi menuju tujuan yang baik; Hanya itu yang harus engkau lakukan yang dengannya engkau akan pergi menuju tujuan yang baik”

Kemudian gajah Nālāgiri, setelah meniup debu dari kaki Sang Bhagavā dengan belalainya, setelah menebarkannya di atas kepalanya, mundur berlutut sambil menatap Sang Bhagavā. kembali ke kandangnya. Pada saat itu orang-orang menyanyikan syair ini:

“Beberapa dijinakkan dengan kayu, dengan tongkat kendali dan cambuk, Gajah itu dijinakkan oleh Sang Bijaksana Agung tanpa tongkat, tanpa senjata” . [Vinaya, Cullavagga, Sanghabheda]

    Note:
    Kitab komentar menyatakan bahwa kelak Nalagiripun akan menjadi yang tercerahkan, setelah: Metteyya, Rama [Raja], Pasenadi of Kosala [Raja], Abhibhu [Deva], Dighasoni [Asura], Candani [Brahmana], Subha [Anak Muda], Todeyya [Brahmana], Nalagiri dan Palaleya [kedua2nya Gajah]

Setelah kejadian ini, Orang-orang kemudian merendahkan, mengkritik, menyebarkan, celaan terhadap Devadatta. Akibatnya, perolehan dan kehormatan Devadatta berkurang; perolehan dan kehormatan Sang Bhagavā bertambah. [Vinaya, Cullavagga, Sanghabheda]

Usaha Devadatta dalam membunuh Buddha menuai kecaman dari banyak orang. Mereka menyalahkan Raja Ajàtasattu, dengan berkata, “Devadatta yang menyebabkan kematian Raja Bimbisàra kita. Devadatta yang mengirim para pembunuh. Dialah yang menjatuhkan batu; dan sekarang ia mengirim Gajah Nalagiri untuk membunuh Guru. Namun penjahat begitu diangkat sebagai guru oleh Raja Ajàtasattu yang selalu bepergian bersamanya.”

Ketika Raja Ajàtasattu mendengar kecaman banyak orang itu, ia memerintahkan untuk menarik persembahan rutin lima ratus kendi makanan kepada Devadatta dan ia berhenti mengunjungi mantan gurunya itu. Para penduduk juga, berhenti mempersembahkan makanan kepada Devadatta yang mengunjungi rumah mereka untuk mengumpulkan makanan. [RAPB, buku ke-2, hal. 1808]

Sang Buddha memperingati Devadatta dan Perpecahan Sangha
Devadatta melihat perolehannya semakin berkurang hari demi hari, Ia memutuskan untuk melakukan sesuatu hal dramatis demi penghidupannya.

Kemudian Devadatta mendatangi Kokālika, Kaṭamorakatissaka, putera Nyonya Khaṇḍā, dan Samuddadatta: “Yang Mulia, Marilah, kita memecah-belah Saṅgha Petapa Gotama dan merusak kerukunan..Kita menghadap pada petapa Gotama dan meminta 5 hal dengan mengatakan: ‘Yang Mulia, dalam berbagai cara Yang Mulia memuji sedikit keinginan, merasa puas, melenyapkan (keburukan), berhati-hati, berbelas kasih, mengurangi (rintangan-rintangan), mengerahkan kegigihan. Yang Mulia, 5 hal ini berperan besar dalam hal sedikit keinginan,…, mengerahkan kegigihan. Baik sekali, Yang Mulia, jika para bhikkhu, seumur hidup mereka harus:

  1. menjadi penghuni-hutan; siapa pun yang bepergian ke dekat desa, maka ia melakukan pelanggaran.
  2. menjadi penerima dana makanan dengan cara berjalan untuk mengumpulkannya; siapa pun yang menerima suatu undangan, maka ia melakukan pelanggaran.
  3. menjadi pemakai jubah kain buangan; siapa pun yang menerima jubah yang diberikan oleh perumah tangga, maka ia melakukan pelanggaran.
  4. berdiam di bawah pohon; siapa pun yang berada di bawah atap, maka ia melakukan pelanggaran.
  5. tidak boleh makan ikan dan daging, siapa pun yang memakan ikan dan daging, maka ia melakukan pelanggaran’

Petapa Gotama tidak akan menyetujui hal-hal ini. Maka kemudian kita akan menarik orang-orang melalui ke-5 hal ini.”

Kemudian Devadatta bersama dengan teman-temannya menghadap Sang Bhagavā dan menyampaikan hal tersebut. Sang Buddha berkata: ”Cukup, Devadatta, Siapa pun yang menghendaki, Ia:

  1. boleh menjadi penghuni-hutan; boleh menetap di dekat desa;
  2. boleh menerima dana makanan dengan cara berjalan untuk mengumpulkannya; boleh menerima undangan;
  3. boleh menjadi pemakai jubah kain buangan; boleh menerima jubah dari para perumah tangga
  4. selama 8 bulan (selain masa vassa), Devadatta, Aku mengizinkan para bhikkhu menetap di bawah pohon
  5. boleh memakan Ikan dan daging asalkan murni dalam 3 hal: TIDAK melihat secara langsung pada saat binatang tersebut dibunuh, TIDAK Mendengar secara langsung suara binatang tersebut pada saat dibunuh dan Mengetahui bahwa hidangan daging itu, TIDAK KHUSUS dibunuh agar dapat diberikan padanya”

Devadatta merasa senang dan gembira, karena Sang Buddha tidak menyetujui 5 hal usulannya itu, Ia kemudian bangkit dari duduknya bersama dengan teman-temannya, pamit pada Sang Bhagavā.

Kemudian Devadatta pergi bersama para pengikutnya ke Ràjagaha menyebarkan ajarannya. Mereka mengatakan kepada para penduduk bahwa Guru telah menolak apa yang menurut mereka adalah permohonan yang sangat beralasan karena Lima hal itu mengarah kepada ketidakmelekatan, dan seterusnya, dan mereka sebaliknya akan hidup dengan mematuhi Lima hal itu.

Para penduduk yang tidak berkeyakinan dan kurang cerdas memuji Devadatta dan mencela Sang Buddha. Mereka yang berkeyakinan dan cerdas mengkritik Devadatta karena berusaha menciptakan perpecahan di dalam Sangha dan melangkahi kekuasaan Guru. Para bhikkhu yang mendengar kata-kata para penduduk itu juga mengkritik Devadatta dan melaporkan hal itu kepada Sang Buddha Buddha.

Kemudian Sang Buddha bertanya kepada Devadatta: “Benarkah, seperti dikatakan, bahwa engkau, Devadatta, memecah-belah Saṅgha, menghancurkan kerukunan?”

Devadatta: “Benar, Yang Mulia”. Sang Buddha: “Cukup, Devadatta, jangan memecah-belah Saṅgha, karena ini berakibat sangat serius. Siapa pun yang memecah Saṅgha yang bersatu, Ia membentuk keburukan yang bertahan selama 1 kappa; Ia menderita di neraka selama 1 kappa; tetapi siapa pun, Devadatta, yang merukunkan Saṅgha yang terpecah, maka ia membentuk kebajikan luhur, Ia bergembira di alam surga selama 1 kappa. Cukup, Devadatta, jangan memecah-belah Saṅgha, karena ini berakibat sangat serius”

Pagi harinya, ketika YM Ānanda memasuki Rājagaha untuk menerima dana makanan, Devadatta mendekatinya dan berkata: “Yang Mulia Ānanda, Mulai hari ini aku akan menjalankan Uposatha yang berbeda dengan Sang Bhagavā dan berbeda dengan Saṅgha para bhikkhu dan akan menjalankan tindakan resmi untuk kelompok ini”. YM Ananda menyampaikan hal ini kepada Sang Buddha dan setelah memahami persoalan ini, sang Buddha mengucapkan syair ini: “Adalah mudah bagi orang baik melakukan kebaikan, melakukan kebaikan bagi orang jahat adalah sulit. Adalah mudah bagi orang jahat melakukan kejahatan, melakukan kejahatan bagi para mulia adalah sulit

Di hari Uposatha itu, Devadatta membagikan kupon suara, dengan mengatakan: “Yang Mulia, Kami, setelah menghadap Petapa Gotama, memohon ke-5 hal ini … Petapa Gotama tidak menyetujui ke-5 hal ini, tetapi kami akan hidup dengan menjalankan ke5 hal ini. Jika ke-5 hal ini sesuai dengan kehendak Yang Mulia, silakan masing-masing mengambil satu kupon suara”. Saat itu sebanyak 500 bhikkhu, yaitu para orang Vajji dari Vesālī, yang baru saja ditahbiskan dan masih belum berpengalaman berpikir: “Ini adalah aturan, ini adalah disiplin, ini adalah instruksi Sang Guru,” mereka mengambil kupon suara. Hari itu, Sangha terpecah untuk pertama kalinya. Kemudian Devadatta bersama 500 bhikkhu ini melakukan perjalanan menuju Gayāsisa [Vinaya, Cullavagga, Sanghabheda]

Kelompok bhikkhu pendukung Devadatta
YM Sāriputta dan Moggallāna menghadap pada Sang Bhagavā dan YM Sāriputta menyampaikan bahwa Devadatta, setelah memecah-belah Saṅgha, pergi ke Gayāsisa dengan membawa 500 bhikkhu. Sang Buddha kemudian mengutus Sāriputta dan Moggallāna ke Gayāsisa untuk mengajarkan Dhamma kepada ke-500 bhikkhu yang dibawa Devadatta tersebut. Ketika itu, Devadatta, dengan dikelilingi sejumlah besar pengikutnya, sedang mengajarkan dhamma, melihat kedatangan mereka, Ia berkata: “Lihatlah, para bhikkhu, betapa baiknya dhamma yang kuajarkan sehingga bahkan Sāriputta dan Moggallāna – datang untuk membenarkan dhammaku”. Kokālika mengingatkan Devadatta agar mewaspadai kedatangan mereka, namun diabaikannya. Devadatta kemudian mengundang Sāriputta untuk duduk pada setengah tempat duduknya. Namun ditolaknya dan mengambil tempat duduk lainnya, demikian pula dengan Moggallāna.

Devadatta, setelah menggembirakan, menyenangkan, membangkitkan semangat, membahagiakan para bhikkhu hingga larut malam dengan khotbah dhammanya, Ia berkata pada YM Sāriputta: “Sudilah engkau, YM Sāriputta untuk membabarkan dhamma kepada para bhikkhu. Punggungku sakit dan aku akan meregangkannya”. YM Sariputta menyetujuinya. Kemudian Devadatta, setelah melipat 4 jubah luarnya, Ia berbaring namun karena lelah, lengah dan tanpa perhatian, Ia jatuh terlelap tidur.

YM Sāriputta kemudian memberikan khotbah dhamma tentang membaca-pikiran sedangkan YM Moggallāna memberikan khotbah dhamma tentang kekuatan mental. Setelah mendengarkan kotbah-kotbah tersebut, munculah pada diri ke-500 Bhikkhu tersebut suatu penglihatan-dhamma, yang tanpa debu, tanpa noda bahwa “segala sesuatu yang muncul akan lenyap”. YM Sāriputta kemudian mengajak ke-500 Bhikkhu tersebut untuk menghadap Sang Bhagavā.

Kemudian Kokālika membangunkan Devadatta mengabarkan bahwa para bhikkhu itu telah diambil alih oleh Sāriputta dan Moggallāna dan menyesali mengapa Devadatta mengabaikan peringatannya untuk tidak mempercayai mereka. [Vinaya, Cullavagga, Sanghabheda]

Kitab komentar menyampaikan Ketika Devadatta terbangun dan mengetahui bahwa ke-500 bhikkhu telah diambil alih, Ia kemudian muntah darah dan jatuh sakit. Setelah menderita sakit selama 9 bulan, dia meminta murid-muridnya untuk membawanya menghadap Sang Buddha di Vihara Jetavana. Ketika Devadatta dan rombongannya mencapai kolam di dekat Vihara Jetavana, para pengangkutnya meletakkan tandu tempat berbaringnya di tepi kolam, dan mereka pergi mandi. Devadatta bangun dari tempat berbaringnya, dan menaruhkan kedua kakinya di tanah. Pada saat itu juga kakinya masuk ke dalam bumi, dan sedikit demi sedikit dia ditelan bumi [Jatakan no.240, 404, 422, 457, 518]. Setelah kematiannya, dia terlahir di Neraka Avici [Kitab komentar untuk Jataka no. 466; RAPB, Buku ke-2, hal 1818-1820]. Setelah penderitaan di neraka Avici selama 100.000 Kalpa, Devadatta akan terlahir kembali dan menjadi Pacceka Buddha dengan nama Atthissara. [“So hi ito satasahassakappamatthake aṭṭhissaro nāma paccekabuddho bhavissati” Kitab komentar Dhammapada: Devadattavatthu dan Milianda Panha:Mendakopanho. RAPB, buku ke-2, hal.1820]. Namun sutta menyatakan lamanya Devadatta di Neraka [Iti no.89, yaitu avici] hanya 1 kappa [Iti no.89 dan MN 58]

Pergesekan Dengan Sekte Lainnya
Seiring makin banyaknya pengikut Sang Buddha, terjadilah gesekan dengan pengikut ajaran lain:

Pada saat itu, Sang Bhagavā dihormati, dihargai, dimuliakan, disembah, dan dipuja, dan Beliau memperoleh jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan. Bhikkhu Saṅgha juga dihormati, dihargai, dimuliakan, disembah, dan dipuja, dan para bhikkhu juga memperoleh jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan. Tetapi para pengembara dari sekte lain tidak dihormati, tidak dihargai, tidak dimuliakan, tidak disembah, dan tidak dipuja, dan mereka tidak memperoleh jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan. [UD 2.4, Ud 4.8, SN 12.70]

Menjatuhkan Sang Buddha (Ciñca Māṇavikā – Petapa Wanita Pengembara Sundari)
“Ciñca māṇavikā” berarti “Cinca, si wanita muda” dan “Sundari” berarti “cantik”. Ada kemungkinan, Cinca dan Sundari orang yang sama (Leon Feer dalam studi comparative tentang Ciñcā and Sundarī di “Journal Asiatique Mar-Apr 1897”, berpendapat bahwa Cinca dan Sundari berasal dari satu kejadian). Nama Cinca muncul dalam syair Jataka no. 472 (Kisah kehidupan lalu Bodhisatta, “..Ciñcamāṇavikā mātā, devadatto ca me pitā; Ānando paṇḍito nāgo, sāriputto ca devatā.. (Cinca sang wanita muda adalah ibuku, Devadatta adalah Bapakku, Ananda adalah pendeta ular Naga dan Dariputta adalah Deva..)”

    Petapa wanita pengembara bernama Cinca Manavika dikisahkan pura-pura dihamili Buddha Gotama, Ia mengikat dengan kuat sepotong kayu di perutnya, dan menutupinya dengan jubah panjang. Dewa Sakka beserta 4 dewa lainnya membongkar trik ini dengan mengubah dirinya menjadi tikus-tikus kecil. Dengan satu gigitan tali yang mengikat kayu di perut perempuan itu putus. Angin bertiup kencang hingga jubah panjangnya terlepas dari tubuh Cinca, dan sepotong kayu segera jatuh dari perutnya. Tak lama kemudian, Ia wafat dan terlahir di neraka Avici.

Kisah tentang Cinca di atas ini hanya ada di kitab komentar Jataka dan Dhammapada karangan Budhaghosa (Abad ke-5 M) juga di “Buddha Jaya Mangala Gatha”, karangan Bhikkhu Thailand, abad ke-15 M, (yang dibuat untuk Raja Naresuan ketika Thailand berperang melawan Myanmar). Sementara itu, kisah Sundari muncul dalam Sutta:

    ..Kemudian para pertapa kelana aliran lain itu, karena tidak dapat mentoleransi rasa hormat yang ditunjukkan banyak orang terhadap Sang Bhagava dan bhikkhu sangha, mendekati Sundari si pertapa kelana wanita dan berkata, “Saudari, maukah anda melakukan sesuatu yang berguna bagi kerabatmu?”

    “Apa yang dapat saya lakukan, tuan-tuan? Apa yang dapat saya lakukan? Saya akan mengorbankan bahkan hidup saya demi kerabat-kerabat saya.”

    “Kalau demikian, saudari, seringlah pergi ke Hutan Jeta.”

    “Baiklah, tuan-tuan,” Sundari si pertapa kelana wanita itu menjawab, dan dia sering pergi ke Hutan Jeta. Kemudian, ketika para pertapa kelana itu mengetahui bahwa Sundari si pertapa kelana wanita telah dilihat banyak orang sering pergi ke Hutan Jeta, mereka membunuhnya dan menguburnya di sana, di sebuah lubang yang digali di parit Hutan Jeta. Kemudian mereka pergi ke Raja Pasenadi dari Kosala dan berkata, “Raja yang Agung, Sundari si pertapa kelana wanita tidak dapat ditemukan.”

    “Kamu curiga dia berada di mana?”

    “Di Hutan Jeta, Paduka Raja.”

    “Kalau begitu, periksa Hutan Jeta.”

    Waktu memeriksa Hutan Jeta para pertapa kelana itu menggali mayat Sundari dari lubang di parit tempat dia dikuburkan, dan meletakkannya di tandu, dan membawanya ke Savatthi. Waktu berjalan dari jalan ke jalan dan dari perempatan ke perempatan, mereka menimbulkan kemarahan orang-orang dengan mengatakan: “Lihatlah, tuan-tuan, pekerjaan para pengikut putra Sakya. Para pertapa ini, para pengikut putra Sakya, adalah orang yang tidak tahu malu, tidak bermoral, tidak baik kelakuannya, pembohong, bukan penganut kehidupan suci. Mereka menyatakan bahwa mereka hidup dengan Dhamma, bahwa mereka menjalani kehidupan yang seimbang, bahwa mereka menjalani kehidupan suci, bahwa mereka adalah pembicara-pembicara kebenaran, bahwa mereka saleh dan berkelakuan baik, tetapi mereka tidak pantas sebagai pertapa, mereka tidak pantas sebagai brahmana; status pertapa mereka rusak, status brahmana mereka rusak. Dimana status pertapa mereka? Dimana status brahmana mereka? Mereka telah kehilangan status pertapa mereka, mereka telah kehilangan status brahmana mereka. Bagaimana seorang laki-laki, setelah menikmati kepuasan lelakinya, membunuh seorang wanita?”

    Karena ini, ketika orang-orang melihat para bhikkhu di Savatthi, mereka mencerca, memaki, menghasut dan menjengkelkan mereka dengan hinaan dan kata-kata kasar: “Para pertapa ini, para pengikut putra Sakya, tidak punya malu, tidak bermoral, berkelakuan buruk ….. Bagaimana seorang laki-laki, setelah menikmati kepuasan lelakinya, membunuh seorang wanita?”

    Kemudian sejumlah bhikkhu, setelah mengenakan jubah sebelum siang hari dan mengambil mangkuk serta jubah luarnya, memasuki Savatthi untuk mengumpulkan makanan dan kembali; setelah bersantap, mereka mendekati Sang Bhagava, bersujud, duduk di satu sisi dan berkata: “Saat ini, Bhante, bila orang-orang melihat bhikkhu di Savatthi, mereka mencerca, memaki, menghasut, dan menjengkelkan mereka dengan hinaan-hinaan dan kata-kata kasar…..”

    “Kegemparan ini, O, bhikkhu, tidak akan berlangsung lama. Ini akan berlangsung hanya selama tujuh hari, dan setelah itu akan lenyap. Jadi, O, bhikkhu, bila orang-orang mencerca para bhikkhu, memaki, menghasut dan menjengkelkan mereka dengan hinaan-hinaan dan kata-kata kasar, kamu harus menanggapi dengan syair ini:

    Penuduh salah pergi ke neraka,
    Dan juga ia yang menyangkal perbuatan yang telah ia lakukan,
    Keduanya ini menjadi sama di sana,
    Manusia yang perbuatannya tidak terhormat akan berada di alam sana

    Maka para bhikkhu itu mempelajari syair ini di hadapan Sang Bhagava, dan ketika orang-orang itu, waktu melihat para bhikkhu, mencerca mereka, mereka menanggapi dengan syair itu.

    Kemudian orang-orang itu berpikir: “Para pertapa ini, para pengikut putra Sakya, tidak melakukannya; itu tidak dilakukan oleh mereka. Para pertapa ini, para pengikut putra Sakya, sedang menegaskan (ketidaksalahan mereka).” Dan kegemparan itu berlangsung hanya selama tujuh hari, dan setelah itu, lenyap.

    Kemudian sejumlah bhikkhu mendekati Sang Bhagava, bersujud, duduk di satu sisi, dan berkata: “Bagus sekali, Bhante! Luar biasa! Alangkah bagusnya hal ini diramalkan Sang Bhagava: ‘Kegemparan ini, O, bhikkhu, tidak akan berlangsung lama. Setelah tujuh hari akan lenyap.’ Bhante, kegemparan itu telah lenyap.”

    Kemudian, karena menyadari pentingnya hal itu, Sang Bhagava pada saat itu mengungkapkan kotbah inspirasi ini:

    Orang yang tidak terkendali menusuk orang dengan kata-kata
    Seperti halnya gajah perang ditusuk anak panah.
    Waktu mendengar kata-kata kasar diucapkan padanya
    Seorang bhikkhu harus menahannya tanpa benci
    [Ud 4.8/Sundari Sutta]

Mencerca, Memaki, Menghasut, Menghina Para Bhikkhu
..Maka para pertapa kelana dari ajaran lain karena tidak dapat mentoleransi rasa hormat yang ditujukan terhadap Sang Bhagava dan Sangha; ketika melihat para bhikkhu di desa dan di hutan, mencerca, memaki, menghasut dan menjengkelkan para bhikkhu dengan hinaan-hinaan dan kata-kata kasar.[Ud. 2.4/Sakkārasutta]

Mencuri, Menjiplak Ajaran Sang Buddha
..Pada saat itu Pengembara Susīma sedang menetap di Rājagaha bersama dengan banyak pengembara. Kemudian teman-temannya berkata kepada Susīma: “Ayo, Sahabat Susīma, jalankan kehidupan suci di bawah Petapa Gotama. Kuasailah DhammaNya dan ajarkan kepada kami. Kita akan menguasai DhammaNya dan membabarkannya kepada umat-umat awam. Dengan demikian kita juga akan dihormati, dihargai, dimuliakan, disembah, dan dipuja, dan kita juga akan memperoleh jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan.”

“Baiklah, teman-teman,” Pengembara Susīma menjawab. Kemudian ia mendekati Yang Mulia Ānanda dan saling bertukar sapa dengannya. Ketika mereka mengakhiri ramah-tamah itu, ia duduk di satu sisi dan berkata kepadanya: “Sahabat Ānanda, aku ingin menjalani kehidupan suci dalam Dhamma dan Disiplin ini.”

Kemudian Yang Mulia Ānanda membawa Pengembara Susīma menghadap Sang Bhagavā. Ia memberi hormat kepada Sang Bhagavā, dan kemudian duduk di satu sisi dan berkata kepada Beliau: “Yang Mulia, Pengembara Susīma ini berkata bahwa ia ingin menjalani kehidupan suci dalam Dhamma dan Disiplin ini.”

“Baiklah, Ānanda, berikanlah ia pelepasan keduniawian.” Kemudian Pengembara Susīma menerima pelepasan keduniawian dan penahbisan yang lebih tinggi di bawah Sang Bhagavā. [SN 12.70/Susima Sutta]

Sunakkhata Meninggalkan Sang Buddha
Pangeran Licciavi bernama Sunakkhata, yang pernah menjadi sekretaris/pembantu Sang Buddha (anibaddhaupatthāka) meninggalkan (Dhamma dan Vinaya) sang Buddha:

    Sunakkhatta: “Bhagavā, aku meninggalkan Sang Bhagavā, aku tidak lagi di bawah aturan Sang Bhagavā.” Sang Buddha: “Sunakkhatta, apakah Aku pernah berkata kepadamu: ‘Mari, Sunakkhatta, tunduklah di bawah peraturanKu’?” “Tidak, Bhagavā.” “Atau apakah engkau pernah berkata kepadaKu: ‘Bhagavā, aku akan tunduk di bawah peraturanMu’?” “Tidak, Bhagavā.” “Jadi, Sunakkhatta, jika Aku tidak mengatakan hal itu kepadamu dan engkau tidak mengatakan hal itu kepadaKu—engkau orang bodoh, siapakah engkau dan apakah yang sedang engkau tinggalkan? Pertimbangkanlah, orang dungu, seberapa besar kesalahanmu”

    ‘“Bhagavā, Engkau tidak pernah melakukan keajaibanapapun.”“Dan apakah Aku pernah berkata kepadamu: ‘Tunduklah di bawah peraturanKu, Sunakkhatta, dan Aku akan memperlihatkan keajaiban kepadamu’?” “Tidak, Bhagavā.” “Atau apakah engkau pernah berkata kepadaKu: ‘Bhagavā, aku akan tunduk di bawah peraturanMu jika Engkau memperlihatkan keajaiban kepadaku’?” “Tidak, Bhagavā.” “Maka, sepertinya, Sunakkhatta, Aku tidak pernah menjanjikan demikian, dan engkau tidak menuntut syarat demikian. Oleh karena itu, engkau orang bodoh, siapakah engkau dan apakah yang sedang engkau tinggalkan?

    “Bagaimana menurutmu, Sunakkhatta? Apakah keajaiban dilakukan atau tidak—apakah tujuan dari Dhamma ajaranKu membimbing siapapun yang mempraktikkannya menuju kehancuran penderitaan sepenuhnya?” “Benar, Bhagavā.” “Jadi, Sunakkhatta, apakah keajaiban dilakukan atau tidak, tujuan dari Dhamma ajaranKu adalah membimbing siapapun yang mempraktikkannya menuju kehancuran penderitaan sepenuhnya. Karena itu apakah gunanya keajaiban-keajaiban itu? Pertimbangkanlah, orang dungu, seberapa besar kesalahanmu.”.. [DN 24/Patika Sutta dan juga di MN 12/Mahāsīhanāda Sutta]

Di DN 24, Sunakkhata juga mengakui bahwa “suatu keajaiban telah diperlihatkan, dan bukan sebaliknya” yang berkenaan dengan kejadian yang melanda: (1) Petapa telanjang Korakkhattiya (Petapa yang mengikuti laku anjing dan terlahir menjadi Kālakañja); (2) Petapa telanjang Kaḷāramuṭṭhaka (akhirnya mengenakan pakaian, menikah..wafat setelah kehilangan seluruh reputasinya); dan (3) Petapa telanjang Pāṭīkaputta (yang akhirnya mengalami keadaan bagaimanapun ia menggeliat, Ia tidak mampu bangkit dari duduknya atau keadaan “kepala pecah berkeping-keping“/muddhāpi tassa vipateyyā, karena telah berkata tidak benar dan tidak memperbaikinya).

Namun hingga sang Buddha wafatpun, TIDAK DICERITAKAN Sunakkhata kembali berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha

Kepala Menjadi Tujuh Keping: Saccaka dan Ambaṭṭha
Kaum Brahmanisme, Jainisme dan beberapa aliran lainnya mempunyai keyakinan bahwa kutukan dari seorang yang benar/suci/sakti, dapat mengakibatkan keadaan kepala akan menjadi tujuh keping (sattadhā muddhaṃ phālesi):

    Seorang brahmana klan Bavari, yang menguasai mantra dan Jhana meditasi, menetap di dekat sebuah desa. Ia hidup dari mengumpulkan sedikit demi sedikit yang diperolehnya dari desa itu dan dikembalikan lagi dalam bentuk ritual upacara pengorbanan. Ketika pulang ke pertapaannya, seorang brahmana datang meminta uang sedikitnya 500 keping namun Bavari berkata bahwa Ia tidak lagi mempunyai uang. Brahmana itu tidak percaya, Ia kemudian melakukan ritual-ritual dan mengatakan kutukan menakutkan kepada Bavari bahwa dalam 7 hari (Sattamese divase), kepala(nya) menjadi 7 keping (muddhā phalatu sattadhā). Bavari menjadi tersiksa kesedihan, pikirannya tidak lagi berada dalam Jhana.

    Sesosok Devi yang prihatin dengan keadaan Bavari kemudian memberitahu bahwa Brahmana itu seorang penipu yang mencoba mencari uang dengan mudah dan dipenuhi ketidaktahuan, tidak tahu apa pun tentang kepala maupun tentang pecahnya kepala. Devi itu menyarankan untuk bertanya pada Sang Buddha. Bavari menyuruh para muridnya yang juga para bijaksana dan mencapai jhana meditasi menghadap sang Buddha untuk bertanya tentang “kepala dan memecahkan kepala”. Sang Buddha menjelaskan bahwa “Tahu ketidaktahuan adalah ‘kepala’ (Avijjā muddhāti jānāhi). Pengetahuan ‘memecahkan kepala’ kombinasi dari keyakinan, perhatian, meditasi, kemauan dan usaha (Vijjā muddhādhipātinī; Saddhāsatisamādhīhi, Chandaviriyena saṃyutā)” [SnP 5.1/Vatthugāthā]

Ini adalah keadaan perasaan yang luar biasa tidak nyaman akibat melakukan perbuatan buruk: “Kepalaku menjadi tujuh keping (Sattadhā me phale muddhā), Selagi hidup aku tidak akan merasa nyaman, Jika, setelah disabdakan oleh syair Sang Buddha, Aku tidak membebaskan Candimā..Aku tidak membebaskan Suriya.” [SN 2.9,10 Suriya dan Candima Sutta]. Atau bahkan keadaan fisik yang “bagaimanapun hendak menggeliat, tidak dapat bangkit dari duduknya, walaupun terus menggeliat tanpa bisa bangkit” [adalah bentuk dari keadaan “kepala pecah berkeping-keping”/muddhāpi tassa vipateyyā, DN 24/Patika Sutta]

Oleh karenanya, ketika berhadapan dengan penganut sekte lainnya, terkadang Sang Buddha sampai perlu mengingatkan agar segera berbicara benar untuk menghindari keadaan “kepala menjadi tujuh keping”/”kepala pecah berkeping-keping”:

  • ..Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada Ambaṭṭha (Murid dari Brahmana Pokkharasāti): ‘Ambaṭṭha, Aku mempunyai satu pertanyaan wajar untukmu, yang tidak akan suka engkau jawab. Jika engkau tidak menjawab, atau menghindari pertanyaan, jika engkau berdiam diri atau pergi, maka kepalamu akan menjadi tujuh keping (sattadhā muddhā phalissati). Bagaimana menurutmu, Ambaṭṭha? Pernahkah engkau mendengar dari para Brahmana tua dan terhormat, guru dari para guru, darimana asalnya suku Kaṇhāya, atau siapakah leluhurnya?’ Atas pertanyaan ini, Ambaṭṭha berdiam diri.

    Sang Bhagavā bertanya untuk ke-2x-nya. Ambaṭṭha masih berdiam diri. Dan Sang Bhagavā berkata: ‘Ambaṭṭha, sekarang menjawablah, sekarang bukan waktunya berdiam diri. Siapapun, Ambaṭṭha, yang jika tidak menjawab pertanyaan wajar dari Sang Tathāgata untuk ke-3x-nya, maka kepalanya akan menjadi tujuh keping di sini.’

    Pada saat itu yakkha dengan vajira ditangannya (Vajirapāni yakkho), vajira (semacam penghancur/intan) dari logam (āyasaṃ vajiraṃ) dalam pandanganya pijar, menyala dan berkilauan (ādāya ādittaṃ sampajjalitaṃ sajotibhūtaṃ), melayang di angkasa tepat di atas Ambaṭṭha, ‘Jika pemuda Ambaṭṭha ini tidak menjawab pertanyaan wajar dari Sang Bhagavā untuk ke-3x-nya, maka aku akan menjadikan kepalanya tujuh keping (sattadhā muddhaṃ phālessāmī) di sini’ Sang Tathāgata melihat Vajirapāni yakkha, demikian pula Ambaṭṭha. Kemudian pemuda Ambaṭṭha menjadi ketakutan, bulu badannya berdiri, Ia mencari perlindungan, tempat bernaung dan keselamatan kepada Sang Bhagavā. Duduk mendekati Sang Bhagavā, Ia berkata: ‘Apakah yang Yang Mulia Gotama tanyakan? Sudilah yang Mulia Gotama mengulangi pertanyaannya!’ [DN 3/Ambaṭṭha Sutta]

  • …Saccaka putra Nigaṇṭha (kaum Jainisme) berdiam diri. Untuk ke-2x-nya Sang Bhagavā mengajukan pertanyaan yang sama, dan untuk ke-2x-nya Saccaka putra Nigaṇṭha berdiam diri. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya: “Aggivessana, sekarang menjawablah. Sekarang bukan waktunya berdiam diri. Siapapun, Aggivessana, yang jika ditanya pertanyaan wajar dari Sang Tathāgata untuk ke-3x-nya, masih tidak menjawab, maka kepalanya akan menjadi tujuh keping di sini

    Pada saat itu yakkha dengan vajira ditangannya, vajira (semacam penghancur/intan) dari logam dalam pandangan berpijar, menyala dan berkilauan, muncul di udara di atas Saccaka putra Nigaṇṭha, ‘Jika Saccaka putra Nigaṇṭha ini, tidak menjawab pertanyaan wajar dari Sang Bhagavā untuk ke-3xnya, maka aku akan menjadikan kepalanya tujuh keping di sini’. Sang Bhagavā melihat Vajirapāni yakkha, demikian pula Saccaka putra Nigaṇṭha. Kemudian Saccaka putra Nigaṇṭha menjadi ketakutan, bulu badannya berdiri. Ia mencari perlindungan, tempat bernaung dan keselamatan kepada Sang Bhagavā, ia berkata: “Tanyakanlah padaku, Guru Gotama, aku akan menjawab.” [MN 35/CulaSaccaka Sutta]

Dengan Metta yang begitu besarnya, Sang Buddha telah melindungi 2 pihak yaitu pendebatnya dan juga Yakkha dari menderita terjatuh ke alam bawah. Hingga sang Buddha wafatpun, baik Saccaka dan Ambhatta, TIDAK DICERITAKAN menjadi murid Sang Buddha. Hanya guru Ambhatta, Pokkharasāti (bersama dengan putra, istri, para menteri dan penasihatnya) yang kemudian menjadi murid Sang Buddha.

Dalam kasus lainnya, “kepala menjadi tujuh keping” TIDAK disampaikan Beliau:

    “Benarkah, Sarabha, bahwa engkau telah mengatakan: ‘Aku telah mempelajari Dhamma dari para petapa yang mengikuti putra Sakya. Setelah aku mempelajari Dhamma mereka, aku meninggalkan Dhamma dan disiplin itu.’?” Ketika hal ini dikatakan, Pengembara Sarabha berdiam diri

    Untuk ke-2x-nya Sang Bhagavā berkata kepada Pengembara Sarabha: “Katakan padaKu, Sarabha, bagaimanakah engkau telah mempelajari Dhamma dari para petapa yang mengikuti putra Sakya? Jika engkau belum mempelajarinya sepenuhnya, Aku akan melengkapinya. Tetapi jika engkau telah mempelajarinya sepenuhnya, Aku akan bergembira.” Tetapi untuk ke-2x-nya Pengembara Sarabha berdiam diri.

    Untuk ke-3x-nya Sang Bhagavā berkata kepada Pengembara Sarabha: “Katakan padaKu, Sarabha, bagaimanakah engkau telah mempelajari Dhamma dari para petapa yang mengikuti putra Sakya? Jika engkau belum mempelajarinya sepenuhnya, Aku akan melengkapinya. Tetapi jika engkau telah mempelajarinya sepenuhnya, Aku akan bergembira.” Tetapi untuk ke-3x-nya Pengembara Sarabha berdiam diri.

    Kemudian para pengembara berkata kepada Pengembara Sarabha: “Petapa Gotama telah menawarkan untuk memberikan apa pun yang engkau minta, teman Sarabha. Bicaralah, teman Sarabha! Bagaimanakah engkau mempelajari Dhamma dari para petapa yang mengikuti putra Sakya? Jika engkau belum mempelajarinya sepenuhnya, Petapa Gotama akan melengkapinya untukmu. Tetapi jika engkau telah mempelajarinya sepenuhnya, Beliau akan bergembira.” Ketika hal ini dikatakan, Pengembara Sarabha duduk berdiam diri, bingung, membungkuk, putus asa, muram, dan terdiam. [AN 3.64/Sarabhasutta]

TIDAK DICERITAKAN bahwa Sarabha kembali menjadi pengikut sang Buddha.

Rute Perjalanan di sekitar Tahun Akhir Sang Buddha
Ringkasan rute perjalanan disebutkan dalam DN 16/Mahā Parinibbana Sutta:

  • Pada bagian pertama, rute mulai dari Rajagaha (Puncak Nasar/Puncak Hering/gijjhakūṭe) – Ambalaṭṭhika – Nāḷandā (Bertemu Sariputta terakhir kalinya) – Pāṭaligāma – tepi Sungai Gangga – lenyap dari sana dan muncul di tepi seberang bersama para bhikkhu (Tampaknya menuju Savatthi, menetap di hutan Jeta (SN 47.13), kemudian ke area suku Sakya Medatalumpa/Ulumpa dekat Nangaraka, bertemu Raja Pasenadi terakhir kalinya, kemudian ke perbatasan Kosala dan Kapilavatthu berdiri di bawah pohon Banyan menunggu Vidūdabha/Raja baru Kosala yang hendak menyerbu Kapilavatthu, kemudian menetap di antara para Vajji, Ukkacelā tepi sungai Gangga, tidak lama setelah wafatnya Sāriputta dan Moggallāna, SN 47.14). Bagian ke-1 berakhir di situ.
  • Pada bagian ke-2, rute mulai dari Koṭigāma – Nādikā – Vesālī – Desa Beluva, menghabiskan musim Vassa terakhir di sana (selama 3 atau 4 bulan dan mengalami sakit parah ditempat ini). Bagian ke-2 berakhir di situ.
  • Pada bagian ke-3, seluruh rute ada di area Vesali, rute mulai di pagi hari dengan memasuki Vesālī – Siangnya di Altar/Cetiya Cāpāla (menetapkan waktu parinibbana yaitu 3 bulan kemudian) – Aula Segitiga/Kūtāgārasālā di Hutan Besar/Mahāvana. Bagian ke-3 berakhir di situ.
  • Pada bagian ke-4, (Perjalanan lanjutan di 3 bulan terakhir), rute mulai di pagi hari dengan memasuki Vesālī (setelahnya, keluar dari Vesali) – Bhaṇḍagāma – Hatthigāma – Ambagāma – Jambugāma – Bhoganagara – Pāvā – Kusināra – sungai Kakutthā (di sungai ini adalah siang hari terakhir sebelum mahaParinibbana yang akan terjadi pada malam harinya). Bagian ke-4 berakhir di situ.
  • Pada bagian akhir, rute hari itu berlanjut dengan menyeberangi Sungai Hiraññavatī – Hutan-sāl Malla di sekitar Kusinārā (Di tempat inilah pada jam ke-3/02.00-06.00 malam, Sang Buddha Mahaparinibbana)

Musnahnya Kapilavatthu
Raja Pasenadi dari kerajaan Kosala, walau mempunyai beberapa Istri namun tidak satupun yang memberikannya anak lelaki, ini membuatnya kecewa. Sang Buddha pernah memberikan wejangan padanya tentang keunggulan anak wanita:

    “Seorang perempuan, O, Raja manusia. Dapat lebih baik daripada seorang lelaki: Ia mungkin menjadi bijaksana dan bermoral, Seorang istri yang baik, menghormati mertuanya bagai Deva.

    “Putra yang ia lahirkan mungkin menjadi seorang pahlawan, O, Raja manusia. Putra dari seorang perempuan yang terberkahi itu mungkin bahkan akan memerintah wilayahnya. [SN 3.16/Mallika Sutta, Puteri]

Kemudian, agar dapat mempunyai hubungan kekerabatan dengan Sang Buddha, juga untuk memperbesar peluangnya mendapatkan anak lelaki, maka Raja Pasenadi mengirim utusan ke Kapilavatthu agar dapat menikahi seorang putri dari suku Sakya. Saat itu, posisi suku Sakya adalah pelayan raja Kosala

    ..suku Sakya adalah pelayan Raja Kosala. Mereka memberikan pelayanan, dan memberikan penghormatan kepadanya, bangkit dan menyembah dan memberikan layanan selayaknya. [DN 27/Agganna Sutta]

Suku Sakya enggan mengabulkan, tapi juga takut raja marah, jika menolaknya. Untuk itu, dalam rapat suku Sakya, diputuskan mengirimkan Vāsabhakhattiyā, putri raja Mahānāma yang lahir dari seorang budak. Raja Pasenadi, menjadikan Vāsabhakhattiyā sebagai Permaisuri, dari perkawinan, lahir putera bernama Vidudabha. Ketika Vidudabha berusia 16 tahun, berkunjung ke Kapilavatthu, di sana, mendengar seorang budak wanita berkata bahwa Vidudabha anak seorang budak. Raja Pasenadi akhirnya tahu bahwa permaisurinya anak seorang budak, merasa tertipu dan marah besar, atribut kehormatan isteri dan putranya dicabut, namun kemudian dipulihkan kembali. Vidudabha yang merasa terhina mendendam dan bersumpah akan menghancurkan suku Sākya

Ketika Pasenadi berusia 80 tahun dan Sang Buddha berusia 80 tahun, Raja berkunjung ke Sang Buddha di Medatalumpa/Ullumpa. [MN 89/Dhammacetiya]. Saat itulah Vidudabha merampas tahta Kosala. Mengetahui ini, raja Pasenadi bergegas menuju Rajagraha untuk meminta bantuan Ajātasattu (pernah dipulihkan tahtanya oleh Pasenadi, ketika Ajatasattu kalah darinya dan juga telah menjadi menantunya karena dinikahkan dengan anak perempuannya, Vajira). Namun ketika Pasenadi tiba di Rajagaha, hari sudah malam, gerbang kota telah ditutup. Kelelahan akibat perjalanan tersebut, malam itu juga, raja Pasenadi wafat

Vidudabha, Raja baru Kosala, ingat sumpahnya untuk membalas suku Sakya. Ia kerahkan pasukan menuju Kapilavastu. Sang Buddha, mengetahui ini akibat masaknya kondisi kamma suku Sakya, yang di kehidupan lampau, mereka meracuni sungai membunuh biota sungai.

Sang Buddha berusaha mengurungkan niat Vidudabha, beliau menuju perbatasan Kapilavatthu-Kosala, berdiri di bawah sebuah pohon yang tidak rindang, di batas kerajaan Kapilavatthu, padahal tidak jauh dari situ, di area kerajaan Kosala, terdapat sebuah pohon beringin yang sangat rindang. Ketika Vidūdabha, melihat Sang Buddha, Ia memohon agar sang Buddha duduk di bawah pohon beringin yang rindang, sang Buddha mengatakan bahwa sanak keluarganya telah meneduhkannya (karena banyak dari mereka telah menjadi arahat). Mengetahui sang Buddha mencegahnya, Vidūdabha menarik mundur pasukan. Paparan terik matahari akibat menunggu, membuat Sang Buddha menderita sakit kepala yang berlangsung hingga akhir hidupnya (UdA.265; Ap.i.300)

3x Vidudabha mencoba menyerang, 3x pula sang Buddha menantinya di bawah pohon yang sama, sehingga Vidudabha lagi menarik pasukannya, namun Vidudabha tidak berhenti, diupaya yang ke-4, Sang Buddha tidak lagi menunggu di bawah pohon. Vidūdabha meneruskan penyerangan dan membunuhi seluruh suku Sakya, termasuk bayi-bayi. Di perjalanan pulang, ketika Ia dan pasukannya beristirahat di tepian sungai Aciravatī, terjadi banjir besar yang menenggelamkan mereka. [kitab Komentar: Dhammapada no.47 dan Jataka no.465; Apadana no.392/Pubbakammapilotika, juga Pallava ke-11 dari Avadānakalpalatā].

Tujuan sang Buddha bukanlah untuk menyelamatkan kapilavatthu, tapi justru menyelamatkan Vidudabha dari kehancuran, karena saat itu, banyak penduduk Kapilavatthu yang telah mencapai kesucian, mereka tidak akan memangul senjata untuk membunuh, sehingga pembantaian ini akan membuat Vidudabha dan tentaranya melakukan perbuatan yang sangat buruk.

Sariputta dan Moggallana Parinibbana
Sariputta bertemu Sang Buddha di Nalanda dan menyampaikan “auman singa” (sīhanāda)-nya berupa syair pujian kepada Sang Buddha. Itu adalah pertemuan terakhir mereka. Dari Nalanda, Sang Buddha menuju Savatthi, sedangkan Sāriputta menuju Nālakagāma, area Magadha, tempat kelahirannya. Di sana, Sariputta jatuh sakit dan kemudian Parinibbana (nibbana akhir). Sāmaṇera Cunda, dengan membawa mangkuk dan jubah Sāriputta, pergi ke Sāvatthī, ke Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika, tempat di mana Ananda (gurunya) dan Sang Buddha berada, untuk mengabarkan hal ini [SN 47.13/Cunda Sutta]. Sāriputta nibbana akhir pada bulan purnama Kattika. Dua minggu kemudian, giliran Maha Moggallana mencapai nibbana akhir di Kālasilā, gunung Isigili, Rajagaha. [SA.iii.181; Jataka no.95], yaitu di vassa ke-44 mereka. Maha Moggalana parinibanna melalui pembunuhan yang direncanakan aliran lain yang dengki dengan menurunnya penghormatan publik kepada mereka tapi meningkatnya penghormatan kepada murid murid Sang Buddha, sehingga untuk menghilangkan kemashuran dan keberuntungan tersebut, mereka menyewa Pembunuh. kitab komentar menyampaikan tentang siapa yang menyewa pembunuhnya, yaitu para Titthiyā (Jataka no.522) atau para Nigaṇṭha (Dhp syair 137-140). Ketika Sang Bhagavā menetap di antara para Vajji di Ukkacelā di tepi sungai Gangga, yaitu tidak lama setelah nibbana akhirnya Sāriputta dan Moggallāna, sang Buddha berkata bahwa Para sammasamBuddha di masa lampau dan masa depan, juga akan punya sepasang siswa utama seperti Sāriputta dan Moggallāna. [SN 47.14/Ukkacela Sutta]

Beberapa Penyakit Yang Diderita Sang Buddha
Sekurangnya di paruh ke-2 pencerahan (di atas tahun ke-20), sang Buddha terkena beberapa penyakit, di antaranya:

  • Di Rajagaha: terkena sembelit (Vinaya: Civara)
  • Di Kapilavatu, di Nalaka/Kosala. Di Pava/Malla: menderita sakit punggung (Thera Apadana no.392: piṭṭhidukkhaṃ dan MN 53/SN 35.243; AN 10.67,68; DN 33)
  • Di perbatasan antara Kosala-Kapilavatthu terkena sakit kepala (Thera Apadana no.392: sīsadukkhaṃ)
  • Selama musim vassa terakhir di Veluva: dilanda sakit keras dengan rasa sakit menusuk terus menerus yang sangat mematikan namun beliau menahannya tanpa mengeluh, kemudian beliau mengerahkan upaya menundukan penyakitnya dan penyakitnya mereda. Oleh karenanya sang Buddha mengatakan kepada Ananda bahwa tubuh beliau semakin rentan, “Ananda, Aku sekarang ini, menua semakin rapuh, menua menjadi usang, Aku hampir mencapai 80 tahun. Ananda, bagai sebuah kereta tua yang dapat jalan dengan diikat, demikian kira-kira tubuh Sang Tathāgata dapat hidup dengan disokong. Hanya ketika Sang Tathāgata tidak memperhatikan gambaran-gambaran, dengan lenyapnya perasaan-perasaan tertentu, pikiran terpusat tanpa gambaran, maka ketika itulah tubuh Sang Tathāgata keadaan baik [DN 16/Maha Parinibbana sutta, SN 47.9]
  • Di hari terakhir beliau, di Pava: kharo ābādho uppajji (sakit keras melandanya), lohitapakkhandikā (area antara dada – diagframa/abdomen memerah) pabāḷhā vedanā vattanti māraṇantikā (dengan rasa sakit menusuk/terus menerus yang sangat mematikan), seperti yang dirasakan saat di Veluva, namun beliau menahannya tanpa mengeluh [DN 16/MahaParinibbana Sutta, Ud 8.5/Cunda Sutta]

Menetapkan Saat Parinibbana
Sekitar 10 bulan menjelang Parinibbana [kitab komentar untuk dhammapada syair ke-206-208], Sang Buddha bervasa di Beluva. Ketika telah memasuki musim hujan, beliau dilanda sakit keras dengan rasa sakit menusuk terus menerus yang sangat mematikan, namun beliau menerimanya tanpa mengeluh. Kemudian Sang Bhagava berpikir bahwa tidak tepat baginya tanpa memberitahukan pengikutnya dan juga tanpa memberikan nasehat kepada bhikkhu Sangha untuk padam sempurna, kemudian beliau mengerahkan upaya menundukkan penyakitnya yang mengarah pada berlanjutnya kehidupan. Akhirnya penyakit beliaupun mereda [DN 16/Maha Parinibbana Sutta dan SN 47.9/Gilana Sutta. Buddhaghosa, abad ke-5 M, pada komentar untuk DN dan SN: “ahaṃ dasamāsamattaṃ ṭhatvā parinibbāyissāmi .. samāpattivikkhambhitā vedanā dasa māse na uppajjiyeva” (sekitar 10 bulan menjelang Parinibbana .. perasaan-perasaan yang ditekan melalui pencapaiannya itu tak muncul lagi selama 10 bulan)]

Setelah Sang Bhagava sembuh dari sakitnya, beliau menyampaikan pada Ananda bahwa beliau menua semakin rapuh, menua menjadi usang, di usia hampir mencapai 80 tahun, tubuh beliau bagai sebuah kereta tua yang dapat jalan karena diikat, yaitu hanya ketika beliau tidak memperhatikan gambaran-gambaran dan dengan lenyapnya perasaan-perasaan tertentu, pikiran terpusat tanpa gambaran, maka ketika itulah tubuh Sang Tathāgata dalam keadaan baik. Kemudian beliau menasehati Ananda agar seperti pulau, menjadikan diri sendiri sebagai pelindung, tidak berlindung pada yang lain, menjadikan Dhamma sebagai pulau, sebagai pelindung, tidak dengan perlindungan lainnya yaitu dengan rajin melakukan 4 landasan perhatian [DN 16/Maha Parinibbana Sutta dan SN 47.9/Gilana Sutta]

Setelah musim hujan, Sang Buddha masih menetap di sekitar Vesali, diantaranya di KutagaraSala:

    Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Vesālī di Hutan Besar di Aula beratap lancip. Kemudian, pada suatu pagi, Sang Bhagavā merapikan jubah dan, membawa mangkuk dan jubahNya, memasuki Vesālī untuk menerima dana makanan.. [Udana 6.1, SN 51.10 dan AN 8.70]

Kemudian di suatu waktu, setelah menerima dana makan di Vesali, Beliau mengajak Ananda menuju cetiya Capala dan di sana Māro pāpimā (Māra penggoda) mendatangi Sang Bhagavā:

    ‘Bhagavā, sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir Karena … sekarang, para [bhikkhu, bhikkhuni, Upasaka/umat awam pria dan Upasika/umat awam wanita] sang Bhagava telah menjadi siswa yang sempurna, terlatih, terampil, menguasai Dhamma, terlatih dalam keselarasan dengan Dhamma, terlatih dengan baik dan berjalan di jalan Dhamma, yang telah lulus dari apa yang mereka terima dari Guru mereka, mengajarkan, menyatakan, mengukuhkan, membabarkan, menganalisa, menjelaskan; hingga mereka mampu menggunakan Dhamma untuk membantah ajaran-ajaran salah yang telah muncul, dan mengajarkan Dhamma yang memiliki hasil yang menakjubkan …sekarang, kehidupan suci telah mantap dan berkembang, menyebar, dikenal luas, diajarkan baik di antara para deva dan manusia di mana-mana..”

Sang Bhagava menjawab: “Pāpima, jangan kau menyusahkan dirimu. Saat parinibbana Sang Tathagata belum tiba, 3 bulan lagi Sang Tathagata akan Parinibbana”.

Kemudian, sang Buddha dengan mengetahui sepenuhnya dalam perhatian, beliau melepaskan ikatan vitalitasnya. Pelepasan ikatan vitalitas ini menimbulkan gempa bumi dahsyat yang menyeramkan, membuat merinding dengan kilat gemuruh membelah. Dan Sang Bhagava melihat pentingnya hal ini mengucapkan kata-kata:

keberlangsungan yang terukur maupun tidak
bentukan keberlangsungan telah sang muni potong
Dalam kedamaian diri
merobek segel keberlangsungan

Ananda yang merasa heran dengan terjadinya gempa bumi dahsyat yang menyeramkan, membuat merinding dengan kilat gemuruh membelah itu, kemudian mendatangi Sang Buddha untuk bertanya sebab-sebab terjadinya gempa. Sang Buddha menjelaskan 8 sebab terjadinya suatu gempa, yaitu

  1. Daratan besar ini disokong oleh cairan, cairan disokong oleh tekanan udara, tekanan udara antar rongga. Sewaktu terjadi pergerakan tekanan udara yang besar, pergerakan tekanan udara yang besar membuat cairan bergoncang. Dengan bergoncangnya cairan, daratan bergoncang. Ini adalah sebab pertama gempa bumi
  2. Ketika seorang pertapa atau brahmana yang mempunyai kekuatan pikiran yang terlatih baik atau mahluk dewa yang mempunyai kekuatan psikis yang sangat besar mengembangkan secara terbatas pada persepsi padat namun tak terbatas di persepsi rekatan, ini menyebabkan daratan bergetar, bergoyang, dan keras bergoncang
  3. Ketika sang Bodhisatta meninggalkan alam surga Tusita mengetahui sepenuhnya dalam perhatian memasuki rahim seorang ibu..
  4. Ketika sang Bodhisatta mengetahui sepenuhnya dalam perhatian keluar dari rahim seorang Ibu..
  5. Ketika sang Tathagata mencapai penerangan sempurna yang tiada banding..
  6. Ketika sang Tathāgata memutar Roda Dhamma..
  7. Ketika sang Tathagata dengan mengetahui sepenuhnya dalam perhatian melepas ikatan vitalitasnya..
  8. Ketika sang Tathagata mencapai unsur Nibbāna tanpa sisa. Semua ini, adalah delapan alasan, delapan penyebab gempa bumi dahsyat

Setelah menjelaskan hal tersebut, Sang Buddha menyampaikan bahwa hari ini Mara pāpimā memohonnya agar parinibbana hari itu juga, namun ditolaknya karena beliau akan parinibbana 3 bulan lagi. Mendengar ini, Ananda berusaha memohon agar sang Buddha memperpanjang umur dan tidak segera parinibbana, namun sang Buddha menolaknya, “Ananda, bukanlah Aku telah mengatakan bahwa segala yang kita senangi dan menyenangkan pasti akan mengalami perubahan, berpisah dan berganti? Apapun yang dilahirkan, menjelma, tersusun, pasti mengalami kerusakan—bahwa ini tidak akan menjadi rusak adalah tidak mungkin. Dan bahwa apa yang telah dilepaskan, dihentikan, ditolak, dibuang, ditinggalkan. Sang Tathāgata telah melepaskan ikatan vitalitas. Sang Tathāgata pernah mengatakan satu kali: ‘tak lama lagi adalah parinibananya sang Tathagata. Tiga bulan dari sekarang, Sang Tathāgata akan mencapai Nibbāna akhir’. Bahwa sang Tathāgata harus menarik kembali suatu pernyataan demi untuk hidup, itu adalah tidak mungkin“[DN 16/Maha Parinibbana Sutta, Udana 6.1, SN 51.10 dan AN 8.70]

    Bulan apa Sang Buddha Parinibbana?
    Sebelum kita telusuri, ada baiknya, kita kenali tentang musim dan bulan yang berlangsung di India:

    Vassāna/Musim Hujan (Jul-Nov):

    • Musim Hujan/Vassāna (Juli-Sept): Bulan Savana (Juli-Aug) dan Bulan Pottapada (Aug-Sept)
    • Musim Gugur/Sarada (Sept-Nov): Bulan Assayujja/Pubba kattika (Sept-Oct) dan Bulan Kattika/Paccima Kattika (Oct-Nov)

    Hemanta/Musim Salju (Nov-Mar):

    • Musim Salju/Hemanta (Nov-Jan): Bulan Māgasira (Nov-Des) dan Bulan Phussa (Des-Jan)
    • Musim Dingin/Sisira (Jan-Mar): Bulan Māgha (Jan-Feb) dan Bulan Phagguṇa (Feb-Mar)

    Gimhāna/Musim Panas (Mar-Jul):

    • Musim Semi/Vasanta (Mar-May): Bulan Citta/Rammaka (Mar-Apr) dan Bulan Vesākha (Apr-May)
    • Musim Panas/Gimha (May-Jul): Bulan Jettha (May-Jun) dan Bulan Asaḷha (Jun-Jul)

    Oleh karena Sutta dan Vinaya tidak menyatakan bulan Parinibbananya sang Buddha, maka terdapat beberapa variasi pendapat mengenai bulannya.

    1. Xuansang, seorang Biksu China abad ke-7 Masehi mencatat bahwa aliran Sarvastivada merayakan Parinibbana sang Buddha pada hari ke-8, minggu ke-2, di bulan Kattika (Oct-Nov). Pendapat ini beranggapan bahwa sang Buddha sakit di awal musim hujan dan sembuh tak lama kemudian, kemudian MASIH DI AWAL musim hujan, Sang Buddha pergi ke cetiya Capala (sutta TIDAK ADA menyebutkan ini terjadi di musim hujan), 3 bulan kemudian, beberapa hari setelah musim hujan berakhir, yaitu di buan Kattika, sang Buddha Parinibbana.
    2. Sang Buddha wafat 3 bulan setelah musim vassa usai, yaitu di bulan Magha (Jan-Feb). Pendapat ini beranggapan bahwa segera SETELAH masa vassa USAI, yaitu di bulan Kattika, sang Buddha pergi ke cetiya Capala (sutta juga TIDAK ADA menyebutkan ini terjadi di bulan Kattika), 3 bulan setelah bulan Kattika, yaitu bulan Magha, sang Buddha Parinibbana. Sample tradisi Mahayana Jepang, yaitu Nehan-e, di 15 Februari 468 SM (alasan penetapan tanggal ini bervariasi)
    3. Pendapat tradisional: Sang Buddha parinibbana 9 atau 10 bulan sejak dari permulaan vassa di Veluva, yaitu di bulan Vesakha (Apr-May). Pendapat ini tercantum dalam: Mahavamsa 3.2 (Buddha Parinibbana di bulan Vesakha). Mahavamsa 35.7 (Raja Vasabha/67 M – 111 M mengadakan 44x Festival Vesakha), Dipavamsa 1.24 dan 5.4 (Konsili ke-1 diadakan di bulan ke-2 musim Vassa, 4 bulan setelah Parinibbananya sang Buddha) juga Buddhaghosa dalam beberapa kitab komentarnya, (di antaranya dengan kalimat 10 bulan sebelum parinibbana bervasa di Beluva) dan lain sebagainya

    Bulan mana yang benar?

    Pertama-tama,
    VInaya telah menetapkan: TIDAK BEPERGIAN selama musim Vassa [Vinaya, Mahavagga 3.1-selesai]. Oleh karenanya, perjalanan sang Buddha dan rombongan para bhikkhunya, TIDAK DAPAT dilakukan selama musim hujan, di samping ini akan mengundang celaan masyarakat dan para petapa aliran lain, juga menjadi TIDAK KONSISTEN dengan aturan yang ditetapkan sang Buddha sendiri

    Sutta menyatakan di saat sang Buddha parinibbananya, pohon sala berbunga DILUAR MUSIMNYA

      ..pergi ke hutan Sala di daerah suku Malla, dekat Kusinara.. Setelah tiba, Sang Bhagava berkata kepada Ananda: “Ananda, tolong sediakan tempat berbaring di antara pohon-pohon Sala kembar itu, saya ingin berbaring.”…Sang Bhagava membaring diri pada sisi kanan dengan sikap bagaikan singa, meletakkan salah satu kakinya pada kakinya yang lain..Pada saat itu tiba-tiba dua pohon Sala kembar itu berbunga walaupun BUKAN PADA MUSIMNYA untuk berbunga. Bunga-bunga itu jatuh bertaburan di atas tubuh Sang Tathagata … Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ananda: “Ananda, pohon Sala kembar ini berbunga semerbak, meskipun sekarang BUKAN MUSIMNYA BERBUNGA [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

      Pohon sala (Shorea robusta) mulai berbunga di MUSIM HUJAN [Juli – November] (Paradox of leaf phenology: Shorea robusta is a semi-evergreen species in tropical dry deciduous forests in India, hal, 1822). Pohon Sala sering keliru dianggap sebagai cannonball tree [termasuk kelompok Couroupita guianensis. Sering disebut Shiva linga dan Naga lingam. Pohon canonball mulai berbunga pada pertengahan musim panas (May-Juli) – sebelum musim hujan [Juli-Agustus], namun juga dikatakan pohon ini berbunga hampir di sepanjang tahun]

    Dengan informasi ini, jika parnibanna terjadi beberapa hari setelah musim hujan usai TIDAK KONSISTEN dengan informasi sutta. Disamping itu, sutta juga TIDAK MENYEBUTKAN adanya pelaksaaan Kathina yang dilakukan penduduk Vesali. Ini karena sang Buddha MASIH MENETAP SEKIAN LAMA di sekitar Vesali walaupun musim hujan telah usai, yaitu di kūṭāgārasālā, Mahavana dan setelahnya baru beliau dan rombongan pergi ke cetiya Capala:

      Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Vesālī di Kūṭā¬gāra¬sā, Mahāvana. Kemudian, pada suatu pagi, Sang Bhagavā merapikan jubah dan, membawa mangkuk dan jubahNya, memasuki Vesālī untuk menerima dana makanan. Ketika Beliau telah berjalan menerima dana makanan di Vesālī dan telah kembali dari perjalanan itu, setelah makan Beliau berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Bawalah alas duduk, Ānanda. Mari kita pergi ke cetiya Cāpāla .. “

      … Sang Bhagava berkata kepada Mara papima: “Pāpima, jangan kau menyusahkan dirimu. Saat parinibbana Sang Tathagata belum tiba, tiga bulan lagi Sang Tathagata akan Parinibbana” [Udana 6.1, SN 51.10 dan AN 8.70]

    Berdasarkan beberapa alasan ini, maka pendapat sang Buddha wafat di bulan Kattika adalah TIDAK TEPAT

    Berapa lama sang Buddha di Kūṭāgārasālā, Mahavana sebelum ke cetiya Capala?
    Walaupun Sutta TIDAK MENYEBUTKAN kata, “yathābhirantaṃ (selama yang Beliau inginkan)” namun hanya menggunakan kata “viharati” (menetap) ketika berada di Kūṭāgārasālā, Mahavana namun lamanya waktu menetap dapat diketahui karena sutta juga memberikan indikasi jelas bahwa saat sang Buddha parinibbana adalah saat MUSIM PANAS:

    Ke-1,
    Di hari terakhir, dalam perjalanan dari Pava ke Kusinara, Sang Bhagava berhenti di bawah sebatang pohon. Beliau kehausan (pipāsito) dan meminta Ananda untuk mengambil air di sungai agar dapat beliau minum

      Sang Buddha:
      “Ananda tolonglah bawakan aku sedikit air, aku haus dan ingin minum.”

      Ananda:
      “Bhante, baru saja sejumlah 500 pedati telah menyeberangi cakkacchinna udaka paritta/nadī cakkacchinnā parittā (aliran air yang dangkal/sungai dengan air yang sedikit), dan roda-rodanya telah mengeruhkan air sungai ini. Sebaiknya kita pergi ke sungai Kakutha yang tidak jauh dari sini. Air sungai itu sangat jernih, sejuk dan bening. Sungai itu mudah dicapai dan letaknya sangat baik. Di sana bhante dapat menghilangkan rasa haus dan menyegarkan tubuh

    Sungai dengan air yang sedikit hingga dapat diseberangi rombongan pedati sangat wajar terjadi di musim panas, bukan?

    Ke-2,
    Sang Buddha mandi 2x di sungai Kakhuda:

      .. Kemudian Sang Bhagava pergi ke sungai Kakuttha bersama dengan sekumpulan para bhikkhu. Setelah tiba di tepi sungai itu, Sang Bhagava mandi. Setelah Sang Bhagava mandi, Beliau pergi ke Ambavana. Di tempat ini Beliau berkata kepada Cundaka: “Cundaka tolonglah lipat jubah luarku, lipatlah dalam empat lipatan lalu letakkan di bawah tubuhku. Aku merasa lelah dan ingin beristirahat sebentar.”… Kemudian setelah bangun, Sang Buddha pergi ke sungai Kakuttha yang airnya jernih sejuk menyegarkan. Beliau mandi untuk menyegarkan badannya yang lelah.. [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

    Mandi sampai 2x sangat wajar jika terjadi di hari yang sangat panas, di musim panas, bukan?

    Ke-3,
    Bhikkhu Upavana mengipasi Sang Buddha

      Pada waktu itu Upavana sedang di hadapan Sang Bhagava, sambil mengipasi beliau.. [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

    Mengipasi adalah kegiatan yang wajar terjadi di hari yang sangat panas, di musim panas, bukan?

    Ke-4,
    Di 1 minggu setelah wafatnya sang Buddha,

      Pada saat itu seluruh Kusinara juga tumpukan sampah, tertutup bunga-bunga pohon koral (mandārava-puppha) hingga setinggi lutut.” [DN 16] dan: “Saat itu seorang Ājīvaka (petapa telanjang) yang tengah memegang bunga pohon-koral berjalan dari Kusinārā menuju Pava. YM Kassapa melihatnya dari jauh dan ketika telah mendekat, beliau berkata kepadanya: ‘Sahabat, apakah engkau mengenal guru kami?’ ‘Ya, sahabat, aku mengenal Beliau. Hari ini adalah seminggu setelah Petapa Gotama Parinibbana. Oleh karenanya, Aku menggenggam bunga pohon-koral ini.’” [DN 16 dan Cullavaga Vinaya]

    Pohon koral berbunga di bulan Maret-April [Erythrina variegata, Indian coral tree; “A Manual of Gardening for Western India”. 2nd ed., hal.68, “Floriculture in India”. hal.216 dan “FORTY COMMON INDIAN TREES and How to Know Them”, hal.3]. Bulan Vesakha (Diawali dan diakhiri bulan mati) adalah di April-May.

    Berdasarkan beberapa alasan ini, maka pendapat sang Buddha wafat di bulan Magha adalah TIDAK TEPAT, sehingga pendapat bahwa sang Buddha parinibbana di musim panas, di bulan Vesakha (April-May) sangat wajar untuk diterima.

Ajaran-ajaran Terakhir Kepada Para Bhikkhunya
Kemudian Sang Bhagava pergi ke Kutagara Sala, Mahavana. Beliau meminta Ananda untuk mengumpulkan para Bhikkhu dan memberikan wejangan bahwa dhamma yang telah disampaikanNya berupa 37 Boddhipakkhiyadhamma, yaitu:

  • 4 landasan perhatian: perenungan pada Jasmani, Perasaan, Pikiran, & Bentukan pikiran
  • 4 usaha benar: memunculkan keinginan untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi tidak bermanfaat yang belum muncul; memunculkan keinginan untuk meninggalkan kondisi kondisi tidak bermanfaat yang telah muncul; memunculkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul dan memunculkan keinginan untuk mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul, untuk ketidakmundurannya, untuk meningkatkannya, untuk memperluasnya, dan memenuhinya melalui pengembangan
  • 4 landasan kekuatan pemusatan pikiran: dari keinginan disertai bentukan kerja keras; dari ketekunan disertai bentukan kerja keras; dari pikiran disertai bentukan kerja keras dan dari penyelidikan pikiran disertai bentukan kerja keras
  • 5 Indria spiritual dan 5 Kekuatan: keyakinan, usaha, perhatian, pemusatan pikiran dan kebijaksanaan
  • 7 faktor penerangan sejati: perhatian; Penyelidikan keadaan; ketekunan usaha; Semangat kegembiraan; Ketenangan; Pemusatan pikiran dan Kesimbangan perasaan
  • 8 jalan mulia: Pandangan benar; Kehendak benar; Ucapan benar; Perbuatan benar; Pencaharian benar; Usaha benar; Perhatian benar dan Pemusatan pikiran yang benar

Agar Dhamma tersebut dipelajari dengan seksama, dipelihara, dikembangkan dan praktekkan berulang-ulang. Dengan demikian kehidupan suci itu akan dapat diwujudkan dan Dhamma semua berlangsung lama demi kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia berdasarkan kasih sayang pada dunia ini, untuk kebaikan mahluk-mahluk dan kebahagiaan para dewa dan manusia.

Kemudian Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: ”Aku nasehati kalian: yang berkondisi tunduk pada kelapukan, dengan kewaspadaan capailah tujuan. Tak lama lagi Sang tathagatha akan paranibanna. 3 bulan dari sekarang, sang Tathagata akan Paranibanna. Dengan kewaspadaan, perhatian menjadi bermoral luhur, kendalikanlah kehendak disertai pikiran yang terjaga. Siapapun melatih ajaran dan disiplin, hidup dalam kewaspadaan, Ia akan meninggalkan lingkaran kelahiran” [DN 16/Maha Parinibbana Sutta] [Lihat juga: “Ringkasan Ajaran Buddha]

Kunjungan Terakhir ke Kota Vesali
Kemudian Sang Bhagava mempersiapkan diri untuk pindapata (menerima dana makanan) di pagi hari. Sang Bhagava mengambil patta serta jubahnya lalu pergi ke Vesali. Sesudah mendapat dana dan selesai bersantap, beliau kembali ke tempatnya. Beliau memandang Vesali dengan pandangan sebagai gajah (para Buddha, tidak menengok ke belakang, melainkan membalikkan badan Beliau, seperti lakunya para gajah) dan berkata kepada Ananda : “Ananda inilah yang terakhir kalinya Sang Tathagata meninjau Vesali. Marilah Ananda kita pergi ke Bhadagama”. Setelah Sang Bhagava cukup lama berada di Bhadagama, Beliau bersabda kepada Ananda: “Marilah Ananda, kita pergi ke Hattigama bersama-sama dengan para bhikkhu.” Demikianlah Sang Bhagava lama berdiam di Hattigama. Beliau lalu pergi ke Ambagama, kemudian ke Jambagama. Di setiap tempat yang disinggahinya, Sang Bhagava kerap berpesan kepada para bhikkhu:

    Ini adalah moralitas, ini adalah meditasi, ini adalah kebijaksanaan. Samadhi yang dilandasi sila akan menghasilkan buah dan manfaat yang besar. Kebijaksanaan yang dilandasi Samadhi akan menghasilkan buah dan manfaat yang Besar. Pikiran yang dilandasi kebijaksanaan akan sepenuhnya terbebas dari kekotoran/noda, yaitu, indria, penjelmaan, ketidaktahuan

Setelah Sang Bhagava lama berdiam di Jambagama, beliau berkata kepada Ananda : “Ananda, marilah kita pergi ke Bhoganagara. Di sana Sang Buddha beliau menyampaikan cara menyikapi klaim-klaim bahwa itu adalah ajaran sang Buddha atau bukan, yaitu dengan membandingkan klaim-klaim itu dengan sutta-sutta dan vinaya:

  1. Buddha. ..“Di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar hal ini; di hadapan Beliau aku mempelajari hal ini: inilah Dhamma/Sutta, inilah Vinaya/Patimokha/disiplin, inilah Ajaran Sang Guru” maka, kalian tidak boleh menerima atau menolak kata-katanya. Kemudian tanpa menerima atau menolak, kata-kata dan frasenya harus dengan baik dipelajari, dibandingkan dengan sutta-sutta dan dilihat di vinaya (sutte otāretabbāni, vinaye sandassetabbāni), Jika telah dibandingkan dengan sutta-sutta dan telah dilihat di vinaya, tidak selaras dengan sutta-sutta dan tidak ada di vinaya, maka “Pasti ini bukan kata-kata Sang Buddha, hal ini telah keliru dipahami bhikkhu ini,” dan kata-katanya harus ditolak. Jika telah dibandingkan dengan sutta-sutta dan telah dilihat di vinaya, selaras dengan sutta-sutta dan ada di vinaya, maka “Pasti ini adalah kata-kata Sang Buddha, hal ini telah dengan benar dipahami bhikkhu ini.” Ini adalah kriteria ke-1.
  2. Sangha. ..“dihadapan sangha itu, Aku mendengar, mempelajari hal ini: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” maka, kalian tidak boleh menerima atau menolak kata-katanya … (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke-2.’
  3. Para Bhikkhu Senior. ..“di hadapan beberapa bhikkhu senior terpelajar yang menguasai ajaran, ahli dalam Dhamma, vinaya dan kerangka ajaran itu, Aku mendengar, mempelajari hal ini: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” … (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke-3.’
  4. Seorang Bhikkhu Senior. ..“ di hadapan seorang bhikkhu senior terpelajar yang menguasai ajaran, ahli dalam Dhamma, vinaya dan kerangka ajaran, Aku mendengar, mempelajari hal ini: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” … (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke-4′ [DN 16/Maha Parinibbana Sutta dan AN 4.180/Maha Padesa Sutta]

Juga ditempat itu, lagi sang Buddha berpesan

    Ini adalah moralitas, ini adalah meditasi, ini adalah kebijaksanaan. Samadhi yang dilandasi sila akan menghasilkan buah dan manfaat yang besar. Kebijaksanaan yang dilandasi Samadhi akan menghasilkan buah dan manfaat yang Besar. Pikiran yang dilandasi kebijaksanaan akan sepenuhnya terbebas dari kekotoran/noda, yaitu, indria, penjelmaan, ketidaktahuan

Setelah itu, Sang Buddha bersama sejumlah besar para bikhhu meneruskan perjalanan ke Pava dan tinggal di di Ambavana milik Cunda, si pandai besi. [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

Makanan terakhir Sang Buddha
Di Ambavana, Sang Bhagava mengajarkan Cunda, pandai-besi, tentang dhamma yang telah membangkitkan semangatnya dan menyebabkan hatinya sangat gembira. Kemudian Cunda mengundang Sang Buddha bersama para Bhikkhu untuk datang kekediamannya esok hari untuk menerima dana makanan. Setelah sang Buddha menerima undangannya, Cunda pulang kerumahnya untuk membuat makanan yang keras serta yang lunak dan makanan yang terdiri dari Sukaramaddava (daging babi muda).

Keesokan harinya sang Buddha dan rombongan tiba, duduk di tempat yang telah disediakan. Kemudian sang Buddha berkata kepada Cunda: “Hidangan Sukaramaddava (daging babi muda) yang telah engkau sediakan, hidangkanlah itu untukKu. Sedangkan makanan lain yang keras dan lunak, saudara dapat hidangkan kepada para bhikkhu”. Cunda kemudian menghidangkannya sesuai kehendak Sang Buddha

    Apa arti Sūkara-maddava?
    Kata “Sūkara-Maddava” muncul di: DN 16/Mahaparinibbana Sutta, Ud 8.5/Cunda Sutta dan juga Milinda Panha. Kitab komentar menunjukan bahwa dikisaran abad ke-5 M, arti kata tersebut sudah bervariasi yaitu: daging, nasi campur, bambu, sejenis rasa, teknik membuat senang dan jamur:

      Sūkaramaddava adalah daging yang telah tersedia, yang tidak terlalu muda dan tua dari sebuah babi/kepala babi (Sūkaramaddavanti nātitaruṇassa nātijiṇṇassa ekajeṭṭhakasūkarassa pavattamaṃsaṃ), empuk (mudu) dan lembut/lentur adanya (Taṃ kira mudu ceva siniddhañca hoti), disiapkan dan dimasak dengan baik (taṃ paṭiyādāpetvā sādhukaṃ pacāpetvāti attho). Ada yang mengatakan ‘Sūkaramaddava adalah nasi lembut yang diproses dengan kuah campuran lima produk dari sapi, ini semacam nama sebuah masakan’ (Eke bhaṇanti – ‘sūkaramaddavanti pana muduodanassa pañcagorasayūsapācanavidhānassa nāmetaṃ, yathā gavapānaṃ nāma pākanāma’’nti). Lainnya mengatakan ‘Sūkaramaddava adalah nama teknik (vidhi) untuk membuat senang (rasāyana). Jadi, didatangkan ahli pembuat senang (guru rasāyana), yaitu Cunda, ‘agar membuat senang sehingga Parinibanna Sang Bhagawa tidak jadi’ (Keci bhaṇanti – ‘sūkaramaddavaṃ nāma rasāyanavidhi, taṃ pana rasāyanasatthe āgacchati, taṃ cundena – ‘bhagavato parinibbānaṃ na bhaveyyā’ti rasāyanaṃ paṭiyatta’’nti). Di sana para deva empat benua besar (mahādīpa) dan dua ribu pengiring memasukkan nutrisi (oja) (Tattha pana dvisahassadīpaparivāresu catūsu mahādīpesu devatā ojaṃ pakkhipiṃsu.) [Mahāparinibbānasuttavaṇṇanā: Kammāraputtacundavatthuvaṇṇanā]

      Sukara maddava adalah bagian yang lunak dari daging babi yang sudah tersedia (Sūkaramaddavanti sūkarassa mudusiniddhaṃ pavattamaṃsa) seperti kata Maha-atthakata (mahāaṭṭhakathāyaṃ vuttaṃ). yang lain..katakan (Keci pana..vadanti) sukara maddava bukanlah daging babi, batang bambu yang telah diinjak-injak babi (sūkaramaddavanti na sūkaramaṃsaṃ, sūkarehi madditavaṃsakaḷīro). lainnya (Aññe) Jamur payung yang tumbuh dari gemburan tanah injakan babi (sūkarehi madditappadese jātaṃ ahichattaka), lainnya lagi..katakan (Apare pana..bhaṇiṃsu) Sukara maddava adalah nama suatu rasa (sūkaramaddavaṃ nāma ekaṃ rasāyana) [komentar dari Maha-atthakata (Dhammapala, 5 M) yang dikutip dalam Udāna-aṭṭhakathā, Pāṭaligāmiyavaggo: Cundasuttavaṇṇanā]

    Menurut ahli botani, komposisi jamur: 90% air, kurang dari 3% protein, kurang dari 5 % karbohidrat, kurang dari 1% lemak dan 1 % mineral, garam dan vitamin, Komposisi ini KURANG COCOK untuk keperluan energi yang besar, untuk sekelompok orang yang makan hanya 1x, apalagi telah diketahui, bahwa beliau sendiri akan parinibbana.

    Sangat mengherankan melihat hubungan yang dijelaskan di kitab komentar antara jamur dan binatang babi, tampaknya, alasan mengapa jamur menjadi terkait dengan binatang babi adalah karena untuk mendapatkan jamur tersebut, babi digunakan sebagai pelacaknya:

    • Kompas, ”Mengenal Jamur Pencabut Nyawa” sub: Babi pelacak, Rabu, 05 April 2006, 20:24 WIB: ‘[..] Kalau jenis jamur beracun dikerat, kemudian dilekatkan pada benda yang terbuat dari perak asli (misal pisau, sendok, garpu, atau cincin), maka pada permukaan benda tersebut akan ada warna hitam (karena xulfida) atau kebiruan (karena cianida)..para pemburu jamur di beberapa negara Eropa, terutama tradisi-tradisi di negara-negara Skandinavia (Swedia, Norwegia, Denmark, dan sebagainya)…biasanya akan membawa binatang “pelacak jamur” andalan. Bukan anjing, tapi babi yang sebelumnya sudah diberi latihan khusus…membedakan mana jamur yang bisa dimakan/tidak.’.
    • Cara Menghindari Kematian karena Makan Jamur Liar“, H Unus Suriawiria, Senin, 31 Januari 2005: ‘(4) Kalau jenis jamur beracun dimasak/dipepes bersama nasi putih, nasi tersebut akan berubah warna menjadi coklat, kuning, merah, atau hitam…Bagi pemburu jamur di beberapa negara Eropa-misalnya, acara tradisi di negara-negara Skandinavia (Sweden, Norwegia, dan sebagainya)-kalau musimnya berburu jamur selalu akan membawa babi yang sudah terlatih, yang dapat membedakan mana jamur beracun dan mana yang tidak.’

    Seorang yang sangat berbakti, yang sedang mengundang sekelompok tamu yang sangat agung untuk makan dirumahnya, bagaimana mungkin dalam event yang sepenting itu, Ia akan menghidangkan makanan yang sangat beresiko tinggi? Oleh karenanya, kata sukara-maddava yang diartikan sebagai jamur adalah sangatlah meragukan.

    Disamping itu, di bahasa pali sendiri sudah ada kata tersendiri yang merujuk pada arti “jamur”, yaitu: “chattaka” atau “pappaṭaka”. Sample: ahihattaka/ahichattaka” = jamur ‘payung ular’. Bahasa Hindi: ‘sarpchatr’. Bahasa Bengali: ‘byaner chata’ atau ‘payung katak’ [lihat: Rhys Davis: hal.92, 274; Buddhadatta Mahatera: hal.45, 182]. Sementara kata “sūkara” = babi hutan/wild boar. Kata ini digunakan untuk membedakannya dengan babi/boar (varāha) [“Vedic Index of Names and Subjects”, Vol 2;Vol 5, Arthur Berriedale Keith, hal.461]. Kemudian kata “Maddava/Madhava” = lembut, empuk, halus.

    Prof. Rhys Davids, ketika menterjemahkan teks-teks Buddhist dan Milianda Panha, Ia terjemahkan kata itu sebagai `bagian daging babi yang empuk’ (“Milianda Panha”, buku ke-5, bab 3, hal 244, cat kaki.1). Miss I.B. Horner dalam terjemahan “Madhuratthavilāsinī” menyatakan: “..Oleh karenanya, bagian ini memberikan bukti bahwa sukara-maddava, makanan terakhir sang Buddha, seharusnya TIDAK diterjemahkan seperti yang kadang sebagai “jamur”, namun lebih sebagai bagian yang lembut, ‘maddava’, dari (daging) babi hutan..” (..Therefore, this passage provides evidence that suukara-maddava, the Buddha Gotama’s last meal, should not be translated as sometimes it has been as “truffles”, but rather as tender, ‘maddava’, (flesh or meat) from a boar..) [Introduction hal. xxxix]

    Para kelompok vegetarian cenderung mengartikan kata ini sebagai jamur, namun sayangnya, Buddhisme BUKANLAH VEGETARIAN dan BOLEH makan daging, malah ada istilah sukaramamsa, yang berarti daging babi dan juga makanan terakhir semua Buddha dalam Buddhavamsa, jelas disebutkan makanan yang mengandung daging:

    • Terdapat 3 syarat untuk dapat mengkonsumsi daging, yaitu: TIDAK melihat secara langsung pada saat binatang tersebut dibunuh, TIDAK Mendengar secara langsung suara binatang tersebut pada saat dibunuh dan Mengetahui bahwa hidangan daging itu, TIDAK KHUSUS dibunuh agar dapat diberikan padanya [MN 55/Jivaka sutta].
    • Selain 3 syarat di atas, terdapat juga 10 macam daging yang tidak diperkenankan dikonsumsi oleh para bhikkhu, yaitu: daging manusia, daging gajah, daging kuda, daging anjing, daging ular, daging singa, daging harimau, daging macan tutul, daging beruang, dan daging serigala atau hyena [Mahavagga Pali, Vinaya Pitaka, Vol.3.58], sehingga selain 10 macam daging tersebut, boleh dikonsumsi para Bhikkhu
    • Seorang perumah tangga dari Vesali bernama Ugga yang menyajikan daging babi kepada Sang Buddha: “Di hadapan Guru, aku mendengar dan tahu dari Sang Bhagava sendiri bahwa seseorang yang memberikan hal menyenangkan, akan menerima kegembiraan, aku menyenangi daging babi (sūkaramaṃsaṃ) dengan sari buah jujube. Semoga sang Bhagava menerimanya dengan perasaan kasih. Dengan perasaan kasihnya Sang Buddha menerima” (Sammukhā metaṃ, bhante, bhagavato sutaṃ sammukhā paṭiggahitaṃ: ‘manāpadāyī labhate manāpan’ti. Manāpaṃ me, bhante, sampannakolakaṃ sūkaramaṃsaṃ; taṃ me bhagavā paṭiggaṇhātu anukampaṃ upādāyā”ti. Paṭiggahesi bhagavā anukampaṃ upādāya) [AN 5.44/Manāpadāyī sutta]
    • Buddhavamsa: Buddhapakiṇṇakakathā:
      Sabbabuddhānaṃ samattiṃsavidhā dhammatā (30 hal yang selalu terjadi pada para Buddha), di no.29 ada kalimat, parinibbānadivase maṃsarasabhojanaṃ (Di hari Parinibannanya makan makanan yang mengandung daging). Arti kata “maṃsa” adalah daging. [Detail lainnya, lihat: Vegetarian, Makanan Religius? Bukan! Ia Cuma Pilihan Selera Makan..Ngga Lebih Dari Itu!]

    Sehingga sūkara-maddava TIDAK TEPAT diartikan jamur, seharusnya “daging babi yang empuk”

Sesudah makan, Sang Bhagava berkata kepada Cunda: “Cunda, sisa-sisa Sukaramaddava (daging babi muda) dari hidangan untukKu, agar ditanam di sebuah lobang, karena di dunia ini di antara para dewa, Mara, Brahmana, para samana atau Brahma, atau pun manusia, tidak ada seorang pun yang sanggup memakannya atau mencernakannya, kecuali Sang Tathagata sendiri”. Demikianlah sisa Sukaramaddava yang tertinggal itu ditanamkannya dalam sebuah lobang. kembali kepada Sang Bhagava, Ia memberi hormat dan duduk pada salah satu sisi. Kemudian Sang Bhagava mengajarkan Cunda pandai-besi itu mengenai pelajaran yang membangkitkan semangat, yang berisi penerangan yang menggembirakan hatinya. Sesudah itu beliau bangun dari tempat duduknya pergi meninggalkan Cunda

    Mengapa makanan yang diperuntukkan khusus pada sang Buddha harus dikubur?
    [..]Kemudian Kasibharadvaja mengisikan nasi-susu ke dalam mangkuk emas yang besar dan mempersembahkannya kepada Sang Buddha sambil berkata: ‘Silakan Yang Mulia Gotama menyantap nasi susu ini. Engkau memang petani karena alasan membajak itu; memang hal itu memberikan buah kekekalan.’

    ‘Apa yang diperoleh lewat pembacaan mantra-mantra bukanlah makananku. O, brahmana, ini bukanlah praktek bagi mereka yang melihat dengan benar. Para Buddha menolak apa yang diperoleh lewat pembacaan mantra.’

    ‘Engkau harus mempersembahkan makanan dan minuman lain kepada pertapa agung yang telah mantap, yang telah bebas dari kekotoran mental dan penyesalan. Itu merupakan ladang bagi dia yang mencari jasa kebajikan.’

    ‘Kalau demikian, Yang Mulia Gotama, kepada siapakah saya harus memberikan nasi-susu ini?’

    O, brahmana, di dunia termasuk para dewa, Mara, Brahma, serta di antara para brahmana dan manusia, aku tidak melihat siapa pun kecuali Sang Tathagata

    Karena itu, O brahmana, sebaiknya engkau membuang nasi-susu ini di suatu tempat yang tidak ada rumputnya, atau membuangnya ke air di mana tidak ada makhluk hidupnya.’

    Maka Kasibharadvaja membuang nasi susu itu ke dalam air yang tidak mengandung kehidupan. Pada saat itu terdengar bunyi mendesis disertai banyak uap dan asap dari semua sisi, persis seperti mata bajak yang telah dipanaskan sepanjang hari lalu dicelupkan ke dalam air menghasilkan bunyi desis dan mengeluarkan uap serta asap di semua sisi.

    Kemudian Kasibharadvaja, dengan perasaan amat terpukau dan bulu kuduk berdiri, mendekati Sang Buddha dan meletakkan kepalanya di kaki Sang Buddha. Dia berkata: ‘Sungguh menakjubkan, Yang Mulia Gotama, sungguh luar biasa, Yang Mulia Gotama! [..] [Sn 1.4/KASIBHARADVAJA SUTTA, yang terjadi di sekitar tahun ke-11 beliau setelah mencapai buddha]

    Juga di Samyutta nikaya SN 7.9/Sundarika Sutta atau di Sagatha-Vagga 7.1.9, yaitu makanan yang telah didanakan khusus kepada seorang Samma Sambuddha, tidak dapat dimakan oleh mahluk lain dan jika bersisa maka dibuang di tempat yang tidak ada rumputnya atau membuangnya ke air dimana tidak ada mahluk hidupnya. Salah satu alasan mengapa makanan tersebut tidak dapat dimakan mahluk lain, kitab komentar menyampaikan bahwa para deva ikut berpartisipasi pada dana makanan dengan memberikan nutrisi

    [Spekulasi modern seputar wafatnya sang Buddha: “Artikel Bhikkhu Mettanando dari aliran Dhammakaya: BAGAIMANA SANG BUDDHA WAFAT ?]

Sesudah Sang Bhagava menyantap santapan yang dihidangkan oleh Cunda, pandai-besi itu, sakit keras melandanya, area antara dada – diagframa/abdomen memerah (lohitapakkhandikā), rasa sakit menusuk/terus menerus yang sangat mematikan. Dengan mengetahui sepenuhnya dalam memperhatikan, sang Buddha menerimanya tanpa mengeluh. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ananda: “Ananda, marilah kita ke Kusinara”

Di perjalanan Sang Buddha bertemu pangeran dari suku Malla. Sang Buddha mengajarkannya cara untuk hidup dalam kedamaian. Sang Pangeran kemudian berlindung dalam Buddha, Dhamma dan Sangha, dan mempersembahkan 2 jubah berwarna emas kepada Sang Buddha. Sang Buddha hanya mau menerimanya 1 buah saja dan menyarankan pada sang Pangeran, agar satunya diberikan kepada Ananda. Kali ini Ananda mau menerimanya. [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]. Buddhaghosa dalam kitab komentarnya menjelaskan mengapa Ananda mau menerimanya karena tahu masa pelayanannya akan segera berakhir dan menganggap itu sebagai hadiah dari sang Buddha kepadanya atas kesetiaannya melayani selama 25 tahun (DA. Ii.570)

Di tepi Sungai Kakuttha
Kemudian Sang Bhagava pergi ke sungai Kakuttha bersama dengan sekumpulan para bhikkhu. Setelah tiba di tepi sungai itu, Sang Bhagava mandi. Setelah Sang Bhagava mandi, Beliau pergi ke Ambavana. Di tempat ini, karena merasa lelah, beliau beristirahat sebentar dengan membaringkan tubuhnya pada sisi kanannya, dengan sikap seperti singa, dan meletakkan salah satu kakinya di atas kakinya yang satu lagi, dengan sikap demikian Beliau selalu tetap sadar, penuh perhatian dan setiap saat dapat bangun dengan mudah.

Kemudian, Sang Buddha pergi lagi ke sungai Kakuttha yang airnya jernih sejuk menyegarkan. Beliau mandi untuk menyegarkan badannya yang lelah. Setelah selesai mandi dan minum, Sang Buddha lalu berjalan ke Ambavana untuk membicarakan dhamma.

Menghilangkan Kegundahan Cunda
Dikesempatan itu pula, Sang Bhagavā berkata kepada Ānanda: “Mungkin saja, Ānanda, Cunda si pandai besi merasa menyesal, dengan berpikir: ‘adalah kesalahanmu, sahabat Cunda, karena kecerobohanmu sehingga Tathāgata mencapai Nibbāna akhir setelah memakan makanan yang engkau persembahkan!

Penyesalan Cunda dapat diatasi dengan cara ini: ‘Itu adalah jasamu, sahabat Cunda, karena perbuatan baikmu sehingga Tathāgata mencapai Nibbāna akhir setelah memakan makanan yang engkau persembahkan! Karena, sahabat Cunda, aku telah mendengar dan memahami dari mulut Sang Bhagavā sendiri, bahwa 2 persembahan akan menghasilkan buah yang besar, akibat yang sangat besar, lebih berbuah dan lebih bermanfaat daripada persembahan lainnya.

Apakah dua ini? Ke-1 adalah persembahan yang setelah memakannya, Sang Tathāgata mencapai Penerangan Sempurna, dan yang lainnya adalah yang setelah memakannya, Beliau mencapai unsur-Nibbāna tanpa sisa saat meninggal dunia.

Kedua persembahan ini adalah yang lebih berbuah dan lebih bermanfaat dari semua persembahan lainnya. Perbuatan Cunda ini mendukung umur panjang, penampilan yang baik, kebahagiaan, kemasyhuran, alam surga, dan kekuasaan’ Demikianlah, Ānanda, cara mengatasi penyesalan Cunda” [DN 16/Maha Parinibbana Sutta dan Udana 8.5]

Tempat Peristirahatan Terakhir Antara Dua Pohon Sala
Demikianlah, Sang Bhagava bersama sejumlah besar bhikkhu menyeberang sungai, tiba di Hirannavati, pergi ke hutan Sala di daerah suku Malla, dekat Kusinara. Setelah tiba, Sang Bhagava berkata kepada Ananda untuk menyediakan tempat berbaring di antara pohon sala kembar itu, kemudian Sang Bhagavā berbaring pada posisi kanan dalam posisi singa, meletakkan satu kaki-Nya di atas kaki lainnya mengetahui sepenuhnya dalam memperhatikan

Pada saat itu dua pohon Sala kembar itu berbunga walaupun bukan pada musimnya. Bunga-bunga itu jatuh bertaburan di atas tubuh Sang Tathagata, juga bunga surgawi serta serbuk cendana bertaburan dari angkasa ke tubuh Sang Bhagava sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. Suara nyanyian surgawi serta suara musik surgawi dengan lagu sangat merdu terdengar di angkasa, juga sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. Melihat pentingnya hal ini, sang Buddha berkata:

    Na kho Ānanda ettāvatā (Bukan dengan seperti ini, Ananda) Tathāgato sakkato vā hoti garukato vā mānito vā pūjito vā apacito vā (Sang Tathagata dihormati, dimuliakan, dihargai, dipuja dan dijunjung). Siapa saja, apakah bhikkhu, bhikkhuni, umat awam pria dan wanita, yang berpegang pada Dhamma, hidup sesuai Dhamma, berkelakuan sesuai Dhamma, Ia menghormati, memuliakan, menghargai, memuja, menjunjung Sang Tathagata dengan pemujaan tertinggi. Oleh karenanya, Ananda, berpeganglah pada Dhamma, hidup sesuai Dhamma dan berkelakuanlah sesuai Dhamma. Demikian caramu melatih diri” [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

Sang Buddha juga menyampaikan bahwa para dewa dari sepuluh ribu tata surya, datang berkumpul di sini berkata, “kamu dari jauh datang kemari untuk menghadap Sang Tathagata. Karena jarang sekali di dunia ini muncul para Tathagata Arahat SammaSambuddha. Hari ini, di jam ke-3/02.00-06.00 malam ini, Sang Tathagata akan Parinibbana/padam sepenuhnya“. Pada dewa yang masih cenderung pada kesenangan nafsu, meratap. ‘Terlalu cepat Sang Tathagata parinibbana, terlalu cepat Sang Sugata parinibbana, terlalu cepat Sang Guru jagat parinibbana dan akan lenyap dari pandangan“, sementara para dewa yang telah terbebas-dari hawa nafsu dengan penuh kesadaran dan pengertian yang benar, merenung: “Segala sesuatu adalah tidak kekal, bersifat sementara. Bagaimanakah yang akan terjadi, jika tidak terjadi demikian?

Ananda: “Guru, Dahulu, sesudah musim hujan para bhikkhu dari berbagai tempat biasanya datang menemui Sang Tathagata. Kami ini berkesempatan melihat para bikkhu yang layak dihormati, berkesempatan untuk menemuiMu. Namun setelah Sang Bhagava tiada, Tidak berkesempatan melihat para bhikkhu yang layak dihormati, tidak dapat datang untuk menemuimu

Sang Buddha: “Ada 4 tempat, Ananda, bagi seorang yang berkeyakinan mendatanginya (saddhassa kulaputtassadassanīyāni), bangkit ketergugahannya: haru atau antusias (saṃvejanīyāni ṭhānāni), yaitu tempat di mana Sang Tathagata:

  1. 𝐷𝑖𝑙𝑎ℎ𝑖𝑟𝑘𝑎𝑛
  2. 𝑀𝑒𝑛𝑐𝑎𝑝𝑎𝑖 𝑝𝑒𝑛𝑒𝑟𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑚𝑝𝑢𝑟𝑛𝑎
  3. 𝑀𝑒𝑚𝑢𝑡𝑎𝑟 𝑅𝑜𝑑𝑎 𝐷ℎ𝑎𝑚𝑚𝑎 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑘𝑎𝑙𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑎𝑚𝑎
  4. 𝑃𝑎𝑟𝑖𝑛𝑖𝑏𝑏𝑎𝑛𝑎

Para: bhikkhu, bhikkhuni, upasaka atau upasika yang berkeyakinan (saddhā), datang dalam damai (āgamissanti) [merenungkan:] ‘Di sinilah Sang Tathagata: dilahirkan. ..mencapai Penerangan Sempurna. ..memutarkan roda dhamma untuk pertama kali. ..parinibbana’, pergi ke tempat-tempat itu (cetiyacārikaṃ āhiṇḍantā) wafat dengan pikiran yang berbahagia (pasannacittā kālaṃ karissanti), ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan terlahir bahagia di alam deva” [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

Dukacita Ananda dan Pujian Untuk Ananda
Ananda kemudian menuju vihara, bersandar pada tiang pintu dan meratap (rodamāno), “Saya masih seorang siswa (savaka) dan masih harus berjuang untuk mencapai kesempurnaan. Sungguh malang aku ini, Guru yang penuh kasih sayang padaku akan meninggal dunia”. Sang Buddha menanyakan keberadaan Ananda dan disampaikan bahwa Ia tengah meratapi diri, kemudian Sang Buddha meminta untuk memanggil Ananda. Setelah Ananda datang, sang Buddha berkata, “Ananda, cukuplah jangan bersedih (mā soci), janganlah meratap (mā paridevi), Bukankah sudah kukatakan padamu bahwa segala sesuatu yang indah dan menyenangkan pasti mengalami perubahan, pasti berpisah dan menjadi yang lain. Jadi bagaimana mungkin, Ānanda—karena segala sesuatu yang dilahirkan, menjelma, tersusun pasti mengalami kerusakan—bagaimana mungkin hal itu tidak berlalu? Sejak lama, Ānanda, engkau telah berada di sisi Sang Tathāgata, memperlihatkan cinta-kasihdalam tindakan jasmani, ucapan dan pikiran, memberikan manfaat, menyenangkan, sepenuh hati dan tidak terbatas. Engkau telah mendapatkan banyak jasa. Berusahalah, dan dalam waktu singkat engkau akan terbebas dari kekotoran”

Kemudian sang Buddha berkata kepada para Bhikkhu memuji kualitas Ananda:

  • bahwa Para Buddha di waktu-waktu yang lampau, juga mempunyai bhikkhu sebagai pendamping yang sangat tekun dan berbakti, seperti Ananda. Demikian pula di masa yang akan datang.
  • Ananda, cakap dan jujur, mengetahui waktu yang tepat untuk para bhikkhu, Bhikkhuni, para umat awam pria/wanita, para raja, patih negara dan para guru aliran lain serta pengikutnya ketika hendak menghadap Sang Buddha
  • Kualitas menarik Ananda yaitu para bhikkhu/umat awam akan sangat bergembira bila dapat bertemu Ananda, merasa senang jika membicarakan Dhamma dengan Ananda dan akan merasa kecewa jika Ananda berdiam diri [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

Rakyat Kusinara Berduka
Sang Buddha meminta Ananda pergi ke Kusinara menyampaikan pada suku Malla bahwa hari ini, di jam ke-3 (02.00-06.00) malam ini, Sang Tathagata akan Parinibbana, agar mereka tidak menyesali diri di belakang hari bahwa di daerah mereka Sang Buddha Parinibbana tetapi di saat terakhirnya, tidak melihat beliau. Ketika ini disampaikan, Para suku Malla, sedih, berduka cita dan bersusah hati, meratap, “Terlalu cepatlah Sang Tathagata Parinibbana. Terlalu cepatlah Sang Sugata Parinibbana. Terlalu cepatlah Sang Guru Jagat lenyap dari pandangan”. Mereka kemudian datang memberikan pernghormatan, Ananda mengatur pembagian menurut golongan dan rombongan, agar tidak satupersatu yang akan memakan waktu panjang. Akhirnya, pada jam pertama malam itu (18.00-22.00], semua mendapatkan kesempatannya. [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

Subhadda, Orang terakhir Yang Ditahbiskan Sang Buddha
Ketika itu seorang petapa pengembara, Subhadda, yang sedang di Kusinara mendengar kabar: “Hari ini, pada jam ke-3 (02.00-06.00) malam ini, petapa Gotama akan Parinibbana”

Karenanya timbul dipikirannya: “Aku pernah mendengar dari para petapa senior dan mulia, para guru, bahwa kemunculan para Tathagata Arahat SammaSambuddha di dunia adalah jarang sekali. Pada hari ini, pada jam ke-3 malam, petapa Gotama akan Parinibbana. Pada diriku ada suatu keraguan dan aku yakin bahwa petapa Gotama, akan dapat mengajarkanku Dhamma yang menghilangkan keraguanku.”

Kemudian petapa pengembara Subhadda mendekati Sang Bhagava menghormat dengan sopan, duduk di satu sisi, berkata: “Yang Mulia Gotama, ada para petapa dan brahmana pemimpin sejumlah besar siswa yang punya banyak pengiring, para pemimpin perguruan terkenal dan masyur yang mendapat penghormatan tinggi dari khalayak, seperti: Purana Kassapa, Makkhali Gosala, Ajita Kesakambali, Pakudha Kaccayana, Sanjaya Belatthiputta, Nigantha-Nataputta. Apakah mereka semua telah mencapai kebebasan, seperti yang dikatakan orang, atau apakah tak ada dari mereka yang mencapai kebebasan atau apakah hanya beberapa saja yang mencapai, dan yang lainnya tidak?”

“Cukuplah Subhadda. Biarkanlah apa yang dikatakan orang, apakah mereka semua telah mencapai pembebasan, seperti yang disiarkan, atau tak ada dari mereka yang mencapai kebebasan, atau hanya beberapa saja dari mereka yang mencapai kebebasan yang lain tidak. Hal itu tidak perlu dirundingkan. Kini, aku akan mengajarkan kebenaran padamu, Subhadda, dengar dan perhatikanlah dengan benar yang akan ku katakan”

“Baiklah, bhante,” jawab Subhadda.

Kemudian Sang Bhagava berkata: “Subhadda, dalam dhamma dan vinaya mana pun, jika TIDAK TERDAPAT Jalan Mulia Berunsur 8, maka di sana pun TIDAK ADA seorang petapa sejati, juga TIDAK ADA petapa sejati ke-2, ke-3 atau ke-4. Tetapi dalam dhamma dan vinaya yang mana pun, jika terdapat Jalan Mulia Berunsur 8, maka di sana pun akan ada petapa sejati, juga ada petapa sejati ke-2, ke-3 atau ke-4. Kini, dalam dhamma dan vinaya yang kuajarkan terdapat Jalan Mulia Berunsur 8 itu, maka dengan sendirinya terdapat petapa-petapa sejati, juga petapa-petapa sejati ke-2, ke-3 atau ke-4

Ajaran guru-guru lainnya yang tidak memiliki Jalan Mulia Berunsur 8 adalah kosong dan bukan petapa yang sejati. Subhadda, jika para bhikkhu ini hidup dengan baik menurut dhamma dan vinaya, maka dunia ini takkan kekosongan Arahat

Usia-Ku 29 tahun, Subhadda)
ketika meninggalkan keduniawian mencari kebajikan
Sudah lebih dari 50 tahun
Sejak Aku meninggalkan keduniawian, Subadha
Bernaung di jalur Dhamma
Yang di luarnya TIDAK ADA Petapa

Petapa ke-2 .. ke-3 .. ke-4 TIDAK ADA
Aliran lainnya mandul Petapa, Subhadda
Tetapi jika para bhikkhu menjalani benar
Dunia ini tak kekosongan Arahat

[..]

Demikianlah, pertapa pengembara Subhadda diterima dan ditahbiskan menjadi bhikkhu oleh Sang Bhagava sendiri. Ia pun tekun, rajin dan sungguh-sungguh…Bhikkhu Subhadda menjadi salah seorang di antara para Arahat dan Ia adalah siswa terakhir yang diterima Sang Bhagava [DN16/Mahaparinibana Sutta]

Kata-kata Terakhir Sang Buddha
Sang Buddha menyampaikan bahwa walaupun beliau sudah tidak ada lagi, namun yang diajarkan dan dijelaskan sebagai Dhamma dan vinaya adalah guru mereka. Kemudian sang Buddha bertanya jika ada dari para Bhikkhu yang masih memiliki keraguan atau ada yang hendak ditanyakan, namun para Bhikkhu berdiam diri, sampai 3x diulangi, para bhikkhu tetap berdiam diri. Sang Buddha berkata bahwa memang kumpulan dari 500 Bhikkhu ini, bahkan pencapaian yang terendah diantara mereka adalah sotapanna sehingga tidak ada yang memiliki keraguan terhadap Buddha, Dhamma dan sangha, tak mungkin terlahir kembali di alam penderitaan dan pasti akan mencapai penerangan sempurna di kemudian hari. Kemudian Sang Buddha menyampaikan nasehat terakhirnya, “Para bhikkhu, perhatikanlah nasehat ini: ‘yang berkondisi tunduk pada kelapukan, dengan kewaspadaan capailah tujuan‘” [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

PariNibbana
Mula-mula Sang Bhagava masuk Jhana ke-1.
Bangkit dari Jhana ke-1, masuk Jhana ke-2.
Bangkit dari Jhana ke-2, masuk Jhana ke-3.
Bangkit dari Jhana ke-3, masuk Jhana ke-4.
Bangkit dari Jhana ke-4, masuk landasan ruang tak berbatas.
Bangkit dari landasan ruang tak berbatas, masuk landasan kesadaran tak berbatas.
Bangkit dari landasan kesadaran tak berbatas, masuk landasan tak ada sesuatu apapun.
Bangkit dari landasan tak ada sesuatu apapun, masuk landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi.
Bangkit dari landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi, beliau masuk lenyapnya persepsi dan perasaan.

Kemudian Ananda berkata demikian: “Anuruddha kiranya Sang Bhagava telah padam sempurna”

“Tidak, Ananda, Sang Bhagava belum padam sempurna, Beliau masuk lenyapnya persepsi dan perasaan.”

Kemudian Sang Bhagava,
bangkit dari lenyapnya persepsi dan perasaan, beliau masuk landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi.
Bangkit dari landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi, masuk landasan tak ada sesuatu apapun,
Bangkit dari landasan tak ada sesuatu apapun, masuk landasan kesadaran tak berbatas,
Bangkit dari landasan kesadaran tak berbatas, masuk landasan ruang tak berbatas.
Bangkit dari landasan ruang tak berbatas, masuk Jhana ke-4.
Bangkit dari Jhana ke-4, masuk Jhana ke-3.
Bangkit dari Jhana ke-3, masuk Jhana ke-2.
Bangkit dari Jhana ke-2, masuk Jhana ke-1.

Bangkit dari Jhana ke-1, masuk Jhana ke-2.
Bangkit dari Jhana ke-2, masuk Jhana ke-3.
Bangkit dari Jhana ke-3, masuk Jhana ke-4.
Dan bangkit dari Jhana ke-4, lalu padam sempurna-lah, Sang Bhagava.

Demikianlah ketika Sang Bhagava telah padam sempurna, tepat saat parinibbanaNya, terjadilah gempa bumi yang sangat dahsyat, menakutkan, mengerikan, dan mengejutkan disertai halilintar sambar-menyambar di angkasa.

Ketika Sang Bhagava padam sempurna,

dewa Brahma Sahampati mengucapkan syair ini:

Mahluk apapun di dunia, bentukannya akan-lah berakhir
Juga sang Guru, yang tiada banding di dunia,
Yang tercerahkan, sang pemilik kekuatan, maha tau, juga padam sempurna
.

dewa Sakka, raja para dewa, mengucapkan syair ini:

Bentukan benarlah tiada kekal adanya,
yang muncul akan-lah lenyap,
Setelah timbul akan-lah tenggelam,
padam adalah kebahagiaan

bhikkhu Anuruddha mengucapkan syair ini:

Tak ada lagi nafas, teguh pikiranNya

bebas nafsu, dalam kedamaian, demikian akhir sang Muni
PikiranNya tak tergoyahkan, dalam menahan rasa menyakitkan
Seperti padamnya nyala api, demikian pula pikiranNya terbebaskan padam

Ananda mengucapkan syair ini:

Demikian mengerikannya, Demikian merindingnya,
Ketika yang maha tahu, yang sempurna dalam kualitas mulia, padam sempurna

Penghormatan suku Malla dan Pembakaran Mayat Sang Buddha
Setelah para suku Malla Kusinara melakukan penghormatan dengan nyanyian dan tarian selama 6 hari, yang juga dilakukan oleh para deva di hari ke-7, maka kemudian para pemimpin Malla, setelah mencuci kepala mereka dan mengenakan pakaian baru, mereka hendak menyulutkan api pemakaman Sang Bhagavā, tetapi mereka tidak dapat melakukannya. Mereka mendatangi YM Anuruddha dan menanyakan mengapa mereka tidak dapat menyalakan api. YM Anuruddha menyampaikan bahwa para deva sedang menantikan kedatangan YM MahaKassapa yang sedang dalam perjalanan dari Pāvā menuju Kusinārā bersama 500 bhikkhu. Api pemakaman Sang Bhagavā tidak akan menyala sampai YM MahaKassapa memberikan penghormatan dengan kepalanya di kaki Sang Bhagavā.

Demikianlah di hari ke-7, YM Kassapa tiba di cetiya suku Malla di Makuṭa-Bandhana menuju tempat pemakaman Sang Bhagavā. Beliau dengan menutupi satu bahunya dengan jubahnya, merangkapkan tangan memberikan penghormatan, mengelilingi tempat pemakaman 3x, membuka selubung kaki Sang Bhagavā, memberi hormat dengan kepalanya di kaki Sang Bhagavā, dan 500 bhikkhu juga melakukan hal yang sama. Dan ketika semua ini selesai, api pemakaman Sang Bhagavā menyala dengan sendirinya [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

Setelah Parinibbana Sang Buddha, yaitu di 3 bulan kemudian, diadakan pertemuan 500 arahat di Goa Satapani, Rajagraha yang dipimpin oleh YA.Maha Kassapa. Selama 2 (dua) bulan, mereka menghimpun Ajaran Sang Buddha yang diajarkan kepada orang yang berlainan, di tempat yang berlainan dan dalam waktu yang berlainan. Y.A. Upali mengulang Vinaya dan Y.A. Ananda mengulang Dhamma. Dengan cara ini, ajaran-ajaran Sang Buddha masih dapat diketahui hingga sekarang

Sekitar satu abad setelah wafatnya Beliau, terdapat sekelompok Bhikkhu yang berniat hendak mengubah Vinaya. Menghadapi ini, para Bhikkhu yang ingin mempertahankan Dhamma – Vinaya kemudian menyelenggarakan Pesamuan Agung Kedua. Kelompok Bhikkhu yang memegang teguh kemurnian Dhamma – Vinaya disebut Sthaviravada (atau Theravãda). Sedangkan kelompok Bhikkhu yang ingin mengubah Vinaya disebut Mahasanghika (kelak ini berkembang menjadi mazhab Mahayana) dan dari keduanya ini, kemudian, pecah kembali menjadi makin banyak aliran. [Lihat: Terbentuknya Tipitaka dan Perpecahan Buddhisme Menjadi Banyak Aliran]

Buddho have kappasatehi dullabho ti
Diratusan kappa, sungguhlah sulit muncul seorang Buddha

Kisah Dua Helai Kain

Pernah ada seorang bhiksu di India yang berbakti pada Tuhan, sebagaimana bhiksu yang lainnya juga. Dan dia hanya punya satu helai baju yang melindungi tubuhnya. Dan dia hanya memiliki satu mangkok, yang dia pergunakan untuk menampung air serta memasak dan menampung susu dan sebagainya.

Lalu ada suatu kejadian dimana tutup mangkok tersebut pecah. Tapi bhiksu itu tidak membeli mangkok yang baru; dia cukup menggunakan ujung bajunya untuk menutupi mangkok tersebut. Kapan saja dia sedang duduk, dia akan duduk di dekat mangkok itu. Pernah seorang lelaki yang menghampirinya dan bertanya, “Kenapa Anda tidak membeli tutupan yang baru untuk mangkok itu?” Dan dia menjawab, “Saya telah bersumpah bahwa apapun yang saya miliki di sini, saya tidak akan mau lebih banyak, dan hanya akan menggunakan apa yang saya miliki.”

Dan kemudian lelaki itu berkata, “Tapi kenapa Anda begitu keras kepala? Satu tutupan tidak akan jadi masalah; bagaimana dengan membeli mangkok yang baru?” Bhiksu itu berkata, “Tidak, tidak. Jika Anda menambahkan ini, dan besoknya akan nambah yang lain lagi dan lainnya lagi. Sama seperti seorang bhiksu…” Dia kemudian menceritakan kisah seorang bhiksu yang lain. Dan ini merupakan kisah nyata, dan ceritanya adalah demikian:

Dahulu ada seorang bhiksu di India yang sering keluar meminda sedekah. Dia memiliki sehelai kain yang menutupi bagian yang dia pikir seharusnya ditutupi. (Tertawa) Tapi tidak menjadi masalah; dia merasa puas. Setiap hari dia keluar dan meminta dana dari orang; dia akan berpindapata dan mendapatkan secukupnya untuk makan, setelah itu dia akan pergi dan bermeditasi. Sungguh amat menyenangkan. Dan dia memiliki pondok kecil.

Masalahnya adalah bahwa dia hanya memiliki dua helai kain: satunya sedang dicuci dan satunya lagi yang sedang dipakai. Jadi, adakalanya apabila dia sedang keluar, dia menjemur kainnya di atap. Dan selalu saja datang seekor tikus yang menggeroti kainnya. Dan kemudian dia harus meminta sedekah sehelai kain lagi. Kejadian ini berulang terus menerus.

Lalu bhiksu tersebut merasa bingung hendak melakukan tindakan apa. Kemudian ada tetangga yang menasehatinya, sambil berkata, “Anda tidak dapat terus menerus meminta kain. Kenapa tidak pelihara saja seekor kucing, dan kucing itu akan mengurus tikus tersebut. Sehingga Anda tidak mempunyai masalah lagi. Kalau tidak, siapakah yang mau terus menerus memberikan kain kepada Anda?”

Lalu bhiksu itu setelah sekian kali mengemis, lalu mulai sadar, “OK, itu bukan suatu ide yang buruk.” Sehingga dia pun mulai memelihara kucing. Ada seseorang yang lewat dan memberikannya seekor kucing. Dan sekarang sudah ada kucing di sana. Namun dia mempunyai lebih banyak masalah lagi. Dia harus keluar untuk meminta susu untuk kucingnya. Setelah itu, ada seorang yang baik hati datang dan memberitahukannya, “Anda tidak dapat terus menerus begitu, meminta susu dan makanan untuk kucing. Pelihara saja seekor sapi. (Guru dan semuanya tertawa.) Karena sebenarnya sih kita tidak keberatan memberikan Anda susu, tapi jika kita harus memberikan susu pada kucing juga, agak sedikit keterlaluan jadinya. Tidak apa-apa sih kami memberikan dana, tapi tidak semua orang itu sama. Mereka tidak akan memberikannya setiap hari. Sehingga Anda harus mengorbankan jatah susu Anda sendiri kepada kucing itu. Jadi, peliharalah seekor sapi. Kami memiliki sapi, dan kami dapat memberikannya kepada Anda. Dengan begitu, Anda akan dengan mudah memperoleh susu sendiri. Dan sapi itu juga akan memberikan Anda air dadih yang dapat Anda gunakan untuk memasak; semuanya akan menjadi mudah.”

Jadi mereka juga memberikan seekor sapi buatnya. Tapi di India, Anda dapat memperoleh sapi dengan gratis. Sapi-sapi itu berkeliaran di mana-mana, dan mungkin saja Anda dapat mengambil salah satunya; beberapa diantaranya tanpa pemilik, sapi tuna wisma.

Bagaimanapun juga, setelah melalui berbagai pertimbangan, bhiksu itu akhirnya menerima sapi tersebut. Dan sekarang dia harus memeras susu dan pekerjaan lainnya. Dan sekarang dia harus keluar dan meminta jerami untuk sapinya. Karena dia seorang bhiksu, dia tidak tahu harus melakukan apa. Dia tinggal di pegunungan Himalaya yang tidak ada rumputnya. Dia harus meminta jerami dan membangun kandang untuk sapi itu.

Waktu terus berjalan. Hingga kemudian seseorang datang lagi dan menasehatinya sambil berkata, “Anda tidak dapat terus menerus meminta jerami. Siapakah yang akan terus menerus memberikan Anda jerami untuk sapi itu? Kita akan memberikan makan kepada Anda, tapi kita tidak mempunyai kewajiban untuk memberikan makan kepada sapi dan kucing Anda dan segalanya itu. Jadi, carilah satu pembantu rumah tangga. Atau carilah seorang isteri; menikahlah.”

Nah, sekarang bhiksu ini memiliki masalah yang amat serius. Karena dia tidak tahu caranya bercocok tanam. Sehingga, seorang penasehat yang baik berkata padanya, “Anda dapat mencari seorang pembantu rumah tangga, seperti petani. Atau, menikah dengan seorang petani sehingga dapat bercocok tanam. Ada banyak tanah di sekitar sini, Anda dapat bercocok tanam, dan memiliki cukup banyak jerami untuk sapi Anda. Dan Anda juga akan memiliki cukup banyak jagung, gandum dan sebagainya untuk Anda makan.”

Sekarang, bhiksu ini menjadi lebih serius lagi. Sehingga dia pun memutuskan untuk menikah. Dan setelah itu, dia dan isterinya mulai bercocok tanam. Lalu mereka memiliki anak dan mereka harus merawat anak-anaknya, dan mereka harus mendapatkan seorang pengajar untuk anak-anaknya dan segalanya. Dan tentu saja ini menjadi suatu urusan yang semakin membesar.

Hingga suatu hari, Gurunya kembali. Dan sang Guru terus bertanya kepada bhiksu itu, yang tiga tahun yang lalu tinggal di pondok kecil di seberang sungai. Tapi tidak ada satu pun yang tahu bahwa ada bhiksu yang demikian yang tinggal di sana. Sehingga dia terus bertanya hingga berjalan menuju ladang tempat tinggal bhiksu tersebut.

Pada akhirnya, dia menyadari apa yang terjadi, sebab semuanya hanya karena sehelai kain, kelebihan sehelai kain saja. Jika dia hanya memiliki sehelai kain saja, dan memakainya, tidak akan ada masalah. Tapi karena dia memiliki dua helai kain, satu yang dipakai dan satunya yang lagi dicuci, maka timbullah masalah itu. Itulah kejadiannya, dan memang ini merupakan kisah nyata.

Bhiksu itu merasa amat menyesal setelah Gurunya kembali. Tapi Gurunya tidak berniat untuk menginap. Dia berkata, “Saya meminta Anda untuk berlatih rohani. Saya tidak meminta Anda untuk memelihara sapi, anjing, kucing, isteri dan anak-anak.” Dan kemudian dia memiliki seluruh ladang. Dia harus menggaji begitu banyak petani, karena banyak yang ditanam, dan tanaman itu terus tumbuh meluas. Akhirnya menjadi suatu ladang. Dia meninggalkan segalanya di dunia ini untuk menjadi seorang bhiksu, agar tidak terikat pada dunia dan memiliki kebutuhan minimal untuk hidupnya. Dan dia berakhir dengan menjadi kaya raya, petani yang besar, dengan banyak ternak dan isteri serta anak-anak dan juga banyak pekerja. Ladangnya menjadi semakin luas dan luas. Dan dia menjadi begitu sibuk menghitung uang dan memeriksa panen sehingga dia tidak memiliki waktu untuk bermeditasi lagi. Segalanya telah berakhir. Tugas bhiksu itu telah selesai; dia telah mempunyai pekerjaan yang lain.

Judul asli:Kisah Dua Helai Kain Seorang Biarawan
Diceritakan oleh Maha Guru Ching Hai
New Jersey, Amerika Serikat, 20 Juni 1992
http://www.kontaktuhan.org/cerita/dua_kain.htm

Tanpa Kekerasan Bukanlah Tanpa Perlawanan..


Ada seekor ular yang amat besar dan sadis. Ular itu tinggal di suatu lobang pohon, dan dia suka sekali memakan ayam dan menggigit orang sehingga orang-orang di desa tersebut merasa takut pada ular itu. Suatu hari, seorang yogi agung melewati tempat tersebut, kemudian duduk di dekat pohon itu dan bermeditasi. Ular itu merasakan perubahan dalam dirinya dan kedamaian yang luar biasa. Kemudian ular itu bertanya pada sang yogi, bagaimana dapat meredam sifat sadisnya, sifat-sifat jahatnya, dan bagaimana agar bisa menjadi seekor ular yang baik hati. Sang yogi mengajarkannya lima sila: jangan menyakiti orang, harus makan vegetarian, jangan berbohong, jangan melakukan ini dan itu, jangan berjudi….., yah bagaimanapun ular itu tidak tahu sama sekali tentang judi. Jadi, hal yang paling penting untuk diketahuinya adalah jangan menyakiti orang lain.

Ular itu berkata, “Mulai hari ini, aku akan berlatih meditasi, makan vegetarian, aku tidak akan memakan ayam lagi, dan juga aku tidak akan menggigit orang lagi!”

Hingga suatu hari, sang yogi harus pergi beberapa hari. Dia berpesan pada ular itu, untuk tetap tinggal di rumah, berlatih meditasi, dan tunggu dia pulang. Kebetulan, anak-anak desa lewat dan melihat ular tersebut sekarang duduk dengan amat tenang dalam meditasi dan samadhi, sehingga mereka merasa tidak takut lagi padanya. Mereka ingin membalas dendam karena sebelumnya mereka amat takut padanya. Lalu, mereka mengambil batu dan melemparkannya. Ular itu tidak melakukan apapun. Gurunya tidak mengatakan padanya bahwa dia tidak boleh marah, tapi jangan menyakiti orang lain. Maksudnya jangan menunjukkan sifat kekejaman sama sekali. Ahimsa berarti tanpa kekerasan. Sehingga ular itu tetap diam dan coba untuk bermeditasi lagi, namun anak-anak itu menendangnya, menarik ekornya, dan menggulungnya dalam bentuk lingkaran. Ular itu menjadi pusing. Kemudian mereka melemparkannya ke dahan pohon serta memukulnya, dan melakukan segala kekerasan kepadanya. Seluruh badannya biru legam, hitam dan biru; dan ular itu berbaring dalam keadaan sekarat.

Sang yogi pulang dan bertanya, “Apa yang terjadi padamu?”
Ular itu menjawab, “Ini gara-gara lima sila tersebut – tanpa kekejaman.”
Sang yogi amat kaget, “Apa??!!…tanpa kekejaman?”
Ular itu kemudian menjelaskan lebih lanjut, “Guru mengajariku untuk tidak boleh kejam, jadi kemarin anak-anak ke sini, menarik ekorku, dan menyambit batu padaku. Aku tidak bereaksi sama sekali, jadi mereka meneruskan permainannya. Sekarang aku sekarat!”
Gurunya berkata, “Ah..Kamu benar-benar bodoh. Aku tidak mengatakan bahwa kamu tidak boleh mendesis. Kamu boleh mendesis untuk menghalau orang.”

Itulah bedanya antara memiliki Kebijaksanaan dengan tidak memiliki Kebijaksanaan. Bila kita tidak memiliki Kebijaksanaan, kita akan dikendalikan oleh emosi. Bila kita memiliki Kebijaksanaan tidaklah berarti harus menghilangkan sama sekali emosi, tapi hanya perlu mengenali dan menggunakannya pada situasi, kondisi dan cara yang tepat.


Digubah dari cerita asli dengan judul: Cara menggunakan Kemarahan
Diceritakan oleh Maha Guru Ching Hai
Harvard University, Boston, USA
27 Oktober 1989
http://www.kontaktuhan.org/cerita/kemarahan.htm

Wawancara yang penuh Derita..

Seorang wartawan datang mewawancarai seorang peternak ayam yang sukses, dan mengajukan beberapa pertanyaan.

Wartawan, “Bagaimana cara bapak memelihara anak-anak ayam ini sehingga dapat berhasil seperti sekarang?”
Peternak, “Maksud Bapak anak ayam yang hitam atau yang putih?”

Wartawan, “Oh, kalau yang hitam?”
Peternak, “Yang hitam ini makanannya dedak!”

Wartawan, “Nah, Kalau yang putih?”
Peternak, “Kalau yang putih, yah dedak juga!”

Wartawan, “Kira-kira berapa lama mereka diberi dedak?”
Peternak, “Yang mana pak, yang hitam atau yang putih?”

Wartawan(?), “Kalau yang hitam?”
Peternak, “Yang hitam kira-kira tiga bulan!”

Wartawan, “Kalau yang putih?”
Peternak, “Yang putih, yah tiga bulan juga!”

Wartawan (setengah kesal), “Dari tadi Bapak kalau saya tanya selalu menanyakan anak ayam yang hitam atau yang putih, tetapi jawabannya selalu sama, saya tidak mengerti jadinya!”
Peternak, “Ooh…, begini pak, kalau yang hitam itu ayam saya sendiri!”

Wartawan (sudah tidak sabar), “Jadi, maksud Bapak yang putih bukan milik Bapak, begitu kan?”
Peternak, “Yah..yang putih ayam saya juga sih!”

Wartawan (senewen), “Wah, kalau begitu mah tidak usah dibedakan hitam dan putih dong!”
Peternak, “Beda dong pak, kalau yang hitam kan telurnya putih!”

Wartawan, “Kalau yang putih kan telurnya putih juga Bapak (giliran wartawan yang pakai kata juga)!”
Peternak, “Ya iya lah.., tetapi kan ayamnya tidak hitam!”

Wartawan, @#$%*&!@??#%#&!!!!! (…sampai ke ubun-ubun..)
Peternak, “Sudah jelaskan bedanya pak..!!!”

——

Judul asli: Pandangan berbelit-belit
http://www.dhammacakka.or.id/majalah/mj40/


Tentang Atheisme dan Tuhan yang Tak Harus Ada

KOMPAS – Sabtu, 06 Oktober 2007
GOENAWAN MOHAMAD

Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman pada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan-ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran. Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian. Sebenarnya mereka juga terkena waham, tertipu berhala.

Al-Ghazali dalam al-Maqsad al-Asnâ

Atheisme dimulai dengan kesulitan bahasa. Dan, jika kita membaca buku Christopher Hitchens, God is Not Great, kita akan tahu: ada juga salah sangka.

Atheisme tak datang dari kecerdasan semata-mata, tapi juga dari kaki yang gemetar dan tubuh yang terdesak. Kegamangan kepada agama yang sedang tampak kini mengingatkan suasana sehabis perang agama di Eropa di beberapa dasawarsa abad ke- 16. Agama nyaris identik dengan kekerasan, kesewenang- wenangan, dan penyempitan pikiran. Dari sinilah lahir semangat Pencerahan: terbit karya Montaigne dan Descartes, buah skeptisisme yang radikal. Doktrin agama diletakkan di satu jarak.

Kini berkibarnya “revivalisme” , terkadang dalam bentuk “fundamentalisme” , dan tentu saja bercabulnya kekerasan menyebabkan reaksi yang mirip: buku Hitchens terbit di dekat The End of Faith oleh Sam Harris (tahun 2004). Juga The God Delusion karya Richard Dawkins, seorang pakar biologi. Satu kutipan oleh Dawkins: “Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama.”

Namun, agaknya bukan karena waham bila dalam masa tiga dasawarsa terakhir ada “gerak” lain yang cukup berarti: mendekatnya filsafat ke iman. Dalam gerak “pascamodern” ke arah Tuhan ini diangkat kembali pendekatan fenomenologis Heidegger yang mendeskripsikan “berpikir meditatif”, atau lebih khusus lagi, “berpikir puitis”, yang lain dari cara berpikir yang melahirkan metafisika dan ilmu-ilmu.

Bersama itu, ada kritik Heidegger terhadap “tuhan menurut filsafat”, atau tuhan dalam metafisika-yang baginya harus ditinggalkan. Dengan meninggalkannya, kata Heidegger, manusia justru akan lebih dekat ke “Tuhan yang ilahi” (göttlichen Gott).

Mungkin dengan itu kita bisa memahami Derrida: ia menyebut diri atheis, tapi juga mengatakan “tetapnya Tuhan dalam hidup saya” yang “diseru dengan nama-nama lain”.

Jelas gerak “menengok kembali agama” itu bukan gerak kembali kepada asas theisme yang lama. Dalam Philosophy and the Turn to Religion, Hent de Vries mengikhtisarkan kecenderungan itu dalam sepatah kata Perancis yang mengandung dua makna: kata á Dieu ‘ke Tuhan’ atau adieu ‘selamat tinggal’, “satu gerakan ke arah Tuhan, ke arah kata atau nama Tuhan”, yang juga merupakan ucapan “selamat tinggal yang dramatis kepada tafsir yang kanonik dan dogmatik. atas pengertian ‘Tuhan’ yang itu juga”.

Syahadat Nurcholish Madjid

Tampak, tak hanya ada satu makna dalam nama “Tuhan”. Bahkan, sejak berkembang pendekatan pascastrukturalis terhadap bahasa, kita kian sadar betapa tak stabilnya makna kata.

Kata Tuhan hanyalah “penanda” (signans) yang maknanya baru kita “dapat” tapi dalam arti sesuatu yang berbeda dari, misalnya, “makhluk”. Beda ini akan terjadi terus-menerus. Sebab itu, pemaknaan “Tuhan” tak kunjung berhenti.

Penanda itu tak pernah menemukan signatum atau apa yang ditandainya Signatum (“petanda”?) itu baru akan muncul nanti, nanti, dan nanti sebab kata Tuhan akan selamanya berkecimpung dalam hubungan dengan penanda-penanda lain.

Maka, tiap kali “Tuhan” kita sebut, sebenarnya kita tak menyebut-Nya. Saya ingat satu kalimat dari sebuah sutra: “Buddha bukanlah Buddha dan sebab itu ia Buddha“. Bagi saya, ini berarti ketika kita sadar bahwa “Buddha” atau “Tuhan” yang kita acu dalam kata itu sebenarnya tak terwakili oleh kata itu, kita pun akan sadar pula tentang Sang “Buddha” dan Sang “Tuhan” yang tak terwakili oleh kata itu.

Agaknya itulah maksud Nurcholish Madjid ketika menerjemahkan kalimat syahadat Islam dengan semangat taukhid yang mendasar: “Aku bersaksi tiada tuhan selain Tuhan sendiri”. Dengan kata lain, nama “Allah” hanyalah signans, dan tak bisa dicampuradukkan dengan signatum yang tak terjangkau. Jika dicampuradukkan, seperti yang sering terjadi, “Allah” seakan-akan sebutan satu tuhan di antara tuhan-tuhan lain-satu pengertian yang bertentangan dengan monotheisme sendiri.

Di abad ke-13, di Jerman, Meister Eckhart, seorang pengkhotbah Ordo Dominikan, berdoa dengan menyebut Gottes (tuhan) dan Gottheit (Maha Tuhan). Yang pertama kurang-lebih sama dengan “pengertian” tentang Tuhan, sebuah konsep. Yang kedua: Ia yang tak terjangkau oleh konsep. Maka, Eckhart berbisik, “aku berdoa. agar dijauhkan aku dari tuhan”. Di tahun 1329 Paus Yohannes XXII menuduhnya “sesat”. Ia diadili dan ditemukan mati sebelum vonis dijatuhkan.

Masalah bahasa itulah yang membuat akidah dan teologi jadi problematis. Teologi selamanya terbatas-bahkan mencong. Jean-Luc Marion mengatakan teologi membuat penulisnya “munafik”. Sang penulis berlagak bicara tentang hal-hal yang suci, tetapi ia niscaya tak suci. Sang penulis bicara mau tak mau melampaui sarana dan kemampuannya. Maka, kata Marion, “kita harus mendapatkan pemaafan untuk tiap risalah dalam teologi”.

“Satu”, Zizek, dan ontologi Badiou

Theisme cenderung tak mengacuhkan itu. Theisme umumnya berangkat dari asumsi bahwa dalam bahasa ada makna yang menetap karena sang signatum hadir dan terjangkau-asumsi “metafisika kehadiran”.

Ini tampak ketika kita mengatakan “Tuhan yang Maha Esa”. Bukan saja di sana ada anggapan bahwa makna “Tuhan” sudah pasti. Juga kata esa menunjuk ke sesuatu yang dapat dihitung. Jika “tuhan” dapat dihitung, Ia praktis setaraf dengan benda. Ketika kita mengatakan “Tuhan itu Satu”, kita sebenarnya telah menyekutukan- Nya.

Justru di situlah atheisme bermula. Slavoj Zizek mencoba membahas ini dengan menggunakan tesis ontologis Alain Badiou. Dalam tulisannya yang menawarkan sebuah “teologi materialis” dalam jurnal Angelaki edisi April 2007, Zizek mengatakan, “Satu” adalah pengertian yang muncul belakangan.

Zizek mengacu ke Badiou: “banyak” (yang juga berarti “berbagai-bagai” ) atau multiplisitas adalah kategori ontologis yang terdasar. Multiplisitas ini bukan berasal dari “Satu” dan tak dapat diringkas jadi “Satu”. Lawan multiplisitas ini bukan “Satu”, tapi “Nol”-atau kehampaan ontologis. “Satu” muncul hanya pada tingkat “mewakili” -hanya sebuah representasi.

Monotheisme tak melihat status dan peran “Satu” itu. Tak urung, monotheisme yang menghadirkan Tuhan sebagai “Satu” memungkinkan orang mempertentangkan “Satu” dengan “Nol”. Maka, orang mudah untuk menghapus “Satu” dan memperoleh “Nol”. Lahirlah seorang atheis. Tepat kata Zizek ketika ia menyimpulkan, “atheisme dapat bisa terpikirkan hanya dalam monotheisme” .

Namun, memang tak mudah bagi kita yang dibesarkan dalam tradisi Ibrahimi untuk menerima “teologi materialis” Zizek. Umumnya tak mudah bagi para pemeluk Islam, Kristen, dan Yahudi menerima argumen ontologis Badiou yang menganggap “Satu” hanya sebuah representasi meskipun dengan demikian mereka telah memperlakukan Tuhan sama dan sebangun dengan representan- Nya-satu hal yang sebenarnya bertentangan dengan dasar taukhid Surah al-Ikhlas dalam Al Quran, yang menegaskan “tak suatu apa pun yang menyamai-Nya”

Kaum monotheis memang berada dalam posisi yang kontradiktif. Apalagi, bagi mereka, Tuhan yang Satu itu juga Tuhan yang personal. Syahdan, Emmanuel Levinas mengkritik keras Heidegger. Kita tahu, acap kali Heidegger berbicara dengan khidmat tentang Sein (Ada). Sein (Ada) adalah yang menyebabkan hal-hal-yang- ada muncul ber-ada. Bagi Levinas, dengan gambaran itu Sein (Ada) seakan-akan mendahului dan di atas segala hal yang ada (existents). Artinya, dalam ontologi Heidegger, Ada menguasai semuanya. Bagaikan “dominasi imperialis”.

Tampaknya Levinas menganggap Heidegger-pemikir Jerman yang pernah jadi pendukung Nazi itu-berbicara tentang Ada sebagai semacam tuhan yang impersonal. Juga ketika Heidegger menyebut Yang Suci (das Heilige).

Menurut Levinas, ini menunjukkan kecenderungan “paganisme”. Tanpa mendasarkan Ada dan Yang Suci dalam hubungan interpersonal, Heidegger telah mendekatkan diri bukan ke “bentuk agama yang lebih tinggi, melainkan ke bentuk yang selamanya primitif”.

Levinas-yang filsafatnya diwarnai iman Yahudi-tampaknya hanya memahami agama dengan paradigma monotheisme Ibrahimi. Tentu saja itu tak memadai. Bukan saja Levinas salah memahami pengertian Ada dalam pemikiran Heidegger. Ia juga tak konsisten dengan filsafatnya sendiri, yang menerima Yang Lain sebagaimana Yang Lain, tanpa memasukkannya ke dalam kategori yang siap.

Padahal, dengan memakai iman Ibrahimi sebagai model, Levinas meletakkan keyakinan lain-Buddhisme dan Taoisme misalnya-dalam kotak. Apabila baginya agama lain itu “primitif”, itu karena tak sesuai dengan standar Kristen dan Yahudi. Ia menyimpulkan: di ujung “agama primitif” ini tak ada yang “menyiapkan munculnya sesosok tuhan”.

Levinas tak melihat, justru dengan tak adanya “sesosok tuhan” dalam “agama primitif”, atheisme jadi tak relevan. Dengan kata lain, persoalannya terletak pada theisme sendiri. Saya teringat Paul Tillich.

Teolog Kristen itu menganggap theisme mereduksi hubungan manusia dan Tuhannya ke tingkat hubungan antara dua person, yang satu bersifat “ilahi”. Dari reduksi inilah lahir atheisme sebagai antitesis. Maka, ikhtiar Tillich ialah menggapai “Tuhan-di-atas- Tuhan-dalam- theisme”.

Tuhan “Tak Harus Ada”

Kini suara Tillich (meninggal di tahun 1965) sudah jarang didengar. Setidaknya bagi saya. Tapi, niatnya menggapai “Tuhan-di-atas- Tuhan-dalam- theisme” dan ucapannya bahwa Tuhan “tidak eksist”-sebab Ia melampaui “esensi serta eksistensi”- saya temukan reinkarnasinya dalam pemikiran Marion.

Marion, seperti Heidegger, menafikan tuhan kaum atheis yang sejak Thomas Aquinas (dan secara tak langsung juga sejak Ibnu Rushd, dengan dalil al-inaya dan dalil al-ikhtira’- nya) dibenarkan “ada”-nya dengan argumen metafisika. Baginya, Tuhan yang dianggap sebagai causa sui, sebab yang tak bersebab, adalah Tuhan yang direduksi jadi berhala: Ia hanya jadi titik terakhir penalaran tentang “ada”. Ia hanya pemberi alasan (dan jaminan) bagi adanya hal ihwal, jadi ultima ratio untuk melengkapi argumen. Tapi, di situlah metafisika tak memadai.

Sebab Tuhan bukanlah hasil keinginan dan konklusi diskursus kita. Tuhan benar-benar tak harus ada (n’a justement pas á être). Ia mengatasi Ada, tak termasuk Ada. Ia mampu tanpa Ada. Bagi Marion, Tuhanlah yang datang dengan kemerdekaannya ke kita karena Kasih-Nya yang berlimpah, sebagai karunia dalam wahyu.

Di momen yang dikaruniakan itu kita bersua dengan manifestasi les phénomènes saturés, ‘fenomena yang dilimpah-turahi’ . Di hadapan fenomena dalam surplus yang melebihi intensiku itu, aku mustahil menangkap dan memahami obyek-kalaupun itu masih bisa disebut “obyek”. Bahkan, aku dibentuk olehnya.

“Fenomena yang dilimpah-turahi” itu juga kita alami dalam pengalaman estetik ketika melihat lukisan Matisse, misalnya: sebuah pengalaman yang tak dapat diringkas jadi konsep. Apalagi pengalaman dengan yang ilahi, dalam wahyu: hanya dengan aikon kita bisa menjangkau-Nya.

Aikon, kata Marion, berbeda dengan berhala. Berhala adalah pantulan pandangan kita sendiri, terbentuk oleh arahan intensi kita. Sebaliknya pada aikon: intensi kita tak berdaya. Yang kasatmata dilimpah-turahi oleh yang tak-kasatmata, dan aikon mengarahkan pandanganku ke sesuatu di atas sana, yang lebih tinggi dari aikon itu sendiri. “Aikon” yang paling dahsyat adalah Kristus. Marion mengutip Paulus: Kristuslah “aikon dari Tuhan yang tak terlihat”.

Di sini Marion bisa sangat memesona, tetapi ia tak bebas dari kritik. Dengan memakai wahyu sebagai paradigma “fenomena yang dilimpah-turahi” , Marion-seperti Levinas-berbicara tentang “agama” dengan kacamata Ibrahimi. Bagaimana ia akan menerima Buddhisme, yang tak tergetar oleh wahyu dari “atas”, melainkan pencerahan dari dalam?

Bagi Marion, berhala terjadi hanya ketika konsep mereduksikan Tuhan sebagai “kehadiran”. Tapi, mungkinkah teologi yang ditawarkannya sepenuhnya bebas dari tendensi pemberhalaan?

Dengan pandangan khas Katolik, ia bicara tentang aikon. Tapi, bisa saja aikon itu-juga Tuhan-di-atas- Ada yang diperkenalkannya kepada kita, sebagaimana Gottheid yang hendak digayuh Eckhart-merosot jadi berhala, selama nama itu, kata itu, dibebani residu sejarah theisme yang, jika dipandang dari perspektif Buddhisme Zen, tetap berangkat dari Tuhan yang personal, bukan dari getar Ketiadaan.

Di sinilah kita butuh Derrida. Marion mengira “Tuhan-Tanpa- Ada” yang diimbaunya bisa bebas dari sejarah dan bahasa, tapi dengan Derrida kita akan ingat: kita selamanya hidup dengan bahasa yang kita warisi, dari tafsir ke tafsir. “Tuhan” tak punya makna yang hadir.

Maka Yudaisme, misalnya, cenderung tak menyebut Nama-Nya; dalam nama itu Tuhan selalu luput. “Dieu déja se contredit”, kata Derrida: belum-belum Tuhan sudah mengontradiksi diri sendiri.

Maka, lebih baik kita hidup dengan keterbatasan karena bahasa. Dengan kata lain, hidup dengan janji: kelak ada Makna Terang yang akan datang-betapapun mustahil. Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman kepada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan-ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran.

Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian. Sebenarnya mereka juga terkena waham, tertipu berhala.

Jakarta, 27 September 2007
GOENAWAN MOHAMAD Penyair, Pendiri Majalah Tempo

Biksu Tidak Berpolitik, Sampai Pemuka Agama Turun Ke Jalan, Pertanda Keadaan Sudah Sangat Kelewatan

Peristiwa tewasnya Kenji Nagai seorang wartawan warga negara Jepang akhirnya menggiring seluruh pandangan mata dunia kepada kekejaman Junta Militer Burma terhadap rakyatnya sendiri melalui penangkapan, penyiksaan dan pembunuhan rakyat sipil serta ratusan Bikkhu. Lihatlah sejenak pada foto mayat bikkhu yang nyaris telanjang akibat keganasan Junta.

Perjuangan kemanusian dilakukan juga oleh para blogger di burma. Dengan caranya mereka berbicara pada dunia ketika local media burma bungkam membisu. Saat ini ribuan pemilik blog dari 45 negara di dunia berada pada satu rasa pedih yang sama menyuarakan kecaman atas tragedi kemanusiaan di Burma. Sedangkan Di Indonesia, rasa pedih itu terlihat jelas salah satunya di situs kepolisian republik Indonesia

Apabila kita mencari di Google, tidak kurang 102.000 artikel muncul yang berkaitan dengan kekejaman junta militer di Myanmar. Salah satunya adalah situs yang ditulis oleh ko-htike, bacalah!! dan pastikan bahwa anda membawa saputangan untuk menyeka air mata anda. Kemudian apabila anda ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang Burma, bukalah myanmarnews dan mohon pastikan sekali lagi bahwa saputangan anda masih cukup kering….ketika membacanya.

Dunia Internasional pun ikut tergugah selain Jepang yang jelas sudah sangat gusar, diantarannya terdapat juga Amnesti Internasional, kemudian Amerika Serikat yang tengah berusaha untuk mencapai resolusi PBB untuk Myanmar, serta Australia. Tidak kurang puluhan organisasi Politik, kepemudaan dan keagamaan di sejumlah negara Asean ikut prihatin dan memberikan kecama dan yang justru menarik adalah tidak reaksi sama sekali dari ASEAN!!

Di Indonesia, seperti biasa SBY tidak melakukan reaksi walaupun sudah mendapat desakan dan tekanan dari berbagai kalangan dalam negeri. Justru Wapres Yusuf Kalla yang sekali lagi membuktikan kejeliannya dalam memanfaatkan peluang dengan menghimbau pemerintah Burma agar tidak mengorbankan rakyat.

Aksi solidaritas dan keprihatinan di Indonesia dilakukan oleh sejumlah pemimpin agama, 50 diplomat di Deplu dengan berpakaian merah mengheningkan cipta selama 10 menit. Para buruh dengan memakai baju merah, Para organisasi kepemudaan dan keagaaman kalangan umat Buddha menggalang aksi di depan Kedubes Burma. Sejumlah partai politik juga terlibat dalam rasa solidaritas yang sama diantaranya adalah Golkar dan PKS

Ikutnya 3000 bikkhu dalam melakukan aksi bisu menentang junta militer di Burma telah mengundang Pro/Kontra di kalangan umat Buddha. Pro-kontra tersebut bahkan berlanjut somasi oleh FKUB DKI Jakarta (Forum Komunikasi Umat Buddha) yang merasa terfitnah atas tudingan Solidaritas Umat Buddha Indonesia bahwa FKUB tidak mendukung aksi solidaritas.

Di situs Umat Buddha, Sammagi-phala, saya temukan 3 artikel (satu pengantar dan dua buah artikel utama) yang sangat informative terutama bagi mereka yang hendak mengetahui bagimana duduk perkaranya sehingga dapat menimbulkan pro/kontra dikalangan umat Buddha.

Kedua karya tulis itu masing-masing disusun oleh seorang umat Buddha dan seorang bhikkhu. Dengan demikian, diharapkan dapat mewakili kedua sudut pandang yang sering saling berhadapan tentang umat Buddha yang telah meninggalkan keduniawian dan hidup dalam vihara sebagai seorang samanera ataupun bhikkhu:

Aksi solidaritas itu sekarang sudah mulai berbuah. Telah terjadi perpecahan di dalam kalangan junta militer, seorang anak buah jendral senior, Than Shwe, melarikan diri ke Thailand dan meminta suaka politik ke Norwegia setelah menolak perintah pembantaian terhadap para biksu dan pengunjuk rasa. Laporan yang diungkapkan pejabat intelijen Thailand, menegaskan indikasi bahwa perpecahan di tubuh elite militer Myanmar telah semakin kuat.

Ya, semoga para petinggi militer itu dibukakan mata hatinya bahwa pemimpin seharusnya memperhatikan kesejahteraan rakyat dan tidak silap atas uang dan kekuasaan yang hanya bersifat sementara.

Semoga para Bikkhu mendapatkan ketenangannya kembali sehingga dapat memusatkan konsentrasinya kearah cita-cita pembebasan diri atas segala godaan.

Semoga Rakyat burma segera keluar dari kesulitan ini dan mendapatkan kesejahteraannya,

Berikut dibawah ini, saya petikan sample pro kontra yang dilakukan dengan sangat menarik di salah satu milis. Percakapan ini hanya merupakan 1 dari ribuan keprihatinan kepada para biksu yang seharusnya tidak berpolitik namun harus turun kejalan menunda kesempurnaan ketika keadaan begitu kelewatannya.

———————————


NGURAH AGUNG:

Saudaraku yang budiman …
Sehubungan dengan ‘tragedi’ di Myanmar belakangan ini, saya malah bertanya-tanya dalam hati begini:
  • Mengapa para bhikkhu mau terjebak dalam kemelut politik dan kekuasaan yang –dimanapun di muka bumi ini– tak pernah benar-benar bebas dari tindak kekerasan, intimidasi, penindasan dan yang sejenisnya itu?
  • Bagaimana peran Sangha disana sehubungan dengan keterlibatan anggotanya di wilayah yang sarat akan ambisi itu?

Menurut pandangan saya, ketika seseorang memutuskan untuk jadi bhikkhu pun bhikkhuni, ybs. telah juga memutuskan untuk menarik diri dari kehidupan duniawi, dari kehidupan profan dan sekuler, walaupunpun bukan berarti lantas jadi anti-sosial.

Gerakan ‘lintas wilayah’ manapun mengundang resiko tambahan. Itu kita sadari. Tapi …tapi ….yang membuat saya adalah, kenapa itu bisa menjadi pilihan dari para bhikkhu/bhikkhuni muda itu, dimana seolah-olah para sesepuh Sangha malah merestuinya?

Saya jadi teringat sebuah kisah begini:

Seorang Mentri dititahkan oleh rajanya untuk meminta nasehat kepada Sankaracarya mengatasi carut-marutnya negri itu.

Nasehat Sankara sederhana saja; beliau kurang-lebih berkata: “Bila setiap eksponen masyarakat menempatkan dirinya sesuai bidang profesinya dan fungsinya masing-masing dengan baik, niscaya negri akan baik-baik saja”.

Semoga Cahaya Agung-Nya senantiasa menerangi setiap gerak-langkah kita.

Semoga Saudara-saudari kita disana secepatnya menemukan apa yang didambakannya.

Sadhu,
NR.
============


HUDOYO:

Maha-Rsi Bisma adalah sesepuh Hastinapura yang sudah makan asam-garam kehidupan dan membaktikan sisa hidup pada usia tuanya guna mencapai kesempurnaan batin di pertapaan Talkanda. Namun ketika dalam perang Bharatayuda, eksistensi bangsanya, bangsa Kuru, terancam oleh serbuan Pandawa dengan senapati Rsi Seta dan kedua adiknya dari negeri Wirata–yang bukan darah Bharata–maka tak urung Maha-Rsi Bisma turun tangan menjadi senapati perang Kurawa sehingga mengorbankan nyawanya sendiri. (Baca tentang Bhisma di Wikipedia,

<http://en.wikipedia .org/wiki/ Bhisma>http://en.wikipedia .org/wiki/ Bhisma)

Para bhiksu Buddha di Tiongkok pada zaman dahulu, untuk mempertahankan eksistensi Buddha Dharma terhadap kekuatan-kekuatan yang ingin menghapuskannya dari bumi Tiongkok, terpaksa harus belajar silat, yang terkenal sampai sekarang: Siauw Liem Sie. (Baca tentang “Shaolin Monastery” di Wikipedia,

<http://en.wikipedia .org/wiki/ Shaolin_Monaster y>http://en.wikipedia .org/wiki/ Shaolin_Monaster y)

Ada ksatria yang berjiwa pandita/brahmana (ksatria-pinandita) –contoh: Maha-Rsi Bisma–dan ada brahmana/pandita yang berjiwa ksatria (pandita-sinatriya) –contoh: Parasurama (Rama Bargawa); tidak bisa ditarik garis pemisah yang tegas di antara keduanya, seperti kasta di India. (Baca tentang Parasurama Barghava di Wikipedia,

<http://en.wikipedia .org/wiki/ Parashurama>http://en.wikipedia .org/wiki/ Parashurama)

Saya melihat, apa yang dilakukan oleh para bhikkhu Theravada di Burma itu sesuai dengan Sumpah Bodhisattva Mahayana, yakni mengorbankan diri demi welas asih terhadap dunia. Salah satu dari Sumpah Tambahan Bodhisattva adalah: “Tidak menghindari perbuatan salah (pelanggaran sila) ketika cinta dan welas asih terhadap sesama mengharuskannya. ” (Lihat di bawah ini)

Salam,
Hudoyo

Lihat:

<http://www.berzinar chives.com/ web/en/archives/ practice_ material/ vows/bodhisattva /secondary_ bodhisattva_ pledges.html>http://www.berzinar chives.com/ web/en/archives/ practice_ material/ vows/bodhisattva /secondary_ bodhisattva_ pledges.html

(4) Not committing a destructive action when love and compassion call for it

Occasionally, certain extreme situations arise in which the welfare of others is seriously jeopardized and there is no alternative left to prevent a tragedy other than committing one of the seven destructive physical or verbal actions. These seven are taking a life, taking what has not been given to us, indulging in inappropriate sexual behavior, lying, speaking divisively, using harsh and cruel language, or chattering meaninglessly. If we commit such an action without any disturbing emotion at the time, such as anger, desire, or naivety about cause and effect, but are motivated only by the wish to prevent others’ suffering – being totally willing to accept on ourselves whatever negative consequences may come, even hellish pain – we do not damage our far-reaching ethical self-discipline. In fact, we build up a tremendous amount of positive force that speeds us on our spiritual paths.

Refusing to commit these destructive actions when necessity demands is at fault, however, only if we have taken and keep purely bodhisattva vows. Our reticence to exchange our happiness for the welfare of others hampers our perfection of the ethical self-discipline to help others always. There is no fault if we have only superficial compassion and do not keep bodhisattva vows or train in the conduct outlined by them. We realize that since our compassion is weak and unstable, the resulting suffering we would experience from our destructive actions might easily cause us to begrudge bodhisattva conduct. We might even give up the path of working to help others. Like the injunction that bodhisattvas on lower stages of development only damage themselves and their abilities to help others if they attempt practices of bodhisattvas on higher stages – such as feeding their flesh to a hungry tigress – it is better for us to remain cautious and hold back

Since there may be confusion about what circumstances call for such bodhisattva action, let us look at examples taken from the commentary literature. Please keep in mind that these are last resort actions when all other means fail to alleviate or prevent others’ suffering. As a budding bodhisattva, we are willing to take the life of someone about to commit a mass murder. We have no hesitation in confiscating medicines intended for relief efforts in a war-torn country that someone has taken to sell on the black market, or taking away a charity’s funds from an administrator who is squandering or mismanaging them. We are willing, if male, to with another’s wife – or with an unmarried woman whose parents forbid it, or with any other inappropriate partner – when the woman has the strong wish to develop bodhichitta but is overwhelmed with desire for sex with us and who, if she were to die not having had sex with us, would carry the grudge as an instinct into future lives. As a result, she would be extremely hostile toward bodhisattvas and the bodhisattva path.

Bodhisattvas’ willingness to engage in inappropriate when all else fails to help prevent someone from developing an extremely negative attitude toward the spiritual path of altruism raises an important point for married couples on the bodhisattva path to consider. Sometimes a couple becomes involved in Dharma and one of them, for instance the woman, wishing to be celibate, stops sexual relations with her husband when he is not of the same mind. He still has attachment to sex and takes her decision as a personal rejection. Sometimes the wife’s fanaticism and lack of sensitivity drives her husband to blame his frustration and unhappiness on the Dharma. He leaves the marriage and turns his back on Buddhism with bitter resentment. If there is no other way to avoid his hostile reaction toward the spiritual path and the woman is keeping bodhisattva vows, she would do well to evaluate her compassion to determine if it is strong enough to allow her to have occasional sex with her husband without serious harm to her ability to help others. This is very relevant in terms of the tantric vows concerning chaste behavior.

As budding bodhisattvas, we are willing to lie when it saves others’ lives or prevents others from being tortured and maimed. We have no hesitation to speak divisively to separate our children from a wrong crowd of friends – or disciples from misleading teachers – who are exerting negative influences on them and encouraging harmful attitudes and behavior. We do not refrain from using harsh language to rouse our children from negative ways, like not doing their homework, when they will not listen to reason. And when others, interested in Buddhism, are totally addicted to chattering, drinking, partying, singing, dancing, or telling off-color jokes or stories of violence, we are willing to join in if refusal would make these persons feel that bodhisattvas, and Buddhists in general, never have fun and that the spiritual path is not for them.