Benarkah Yesus pergi Ke India?


Yesus pernah ada di India! Itulah yang tersirat dari buku “La Vida Secreta De Jesus/The Secret Life of Jesus”,yaitu di kehidupan Yesus saat Ia berusia 12-30 tahun:

    Untuk menghindari perkawinan, di usia 13 Ia meninggalkan Yerusalem menuju Sindh untuk menyempurnakan pengetahuan akan firman Tuhan dan mempelajari hukum-hukum para Buddha yang agung. Di usia 14 tahun tiba di Sindh dan menetap di kalangan para Arya, daerah yang dicintai Tuhan. Kemasyhurannya menyebar luas ke seluruh utara Sindh, dan, ketika menjelajahi Ainjab/Radjiputan dan daerah lima sungai, para penyembah Tuhan Jaina mengajaknya tinggal bersama mereka. Tetapi Ia meninggalkan mereka, para penyembah yang terdelusi, menuju Jagannath di negeri Orissa, tempat bersemayam peninggalan fana Vyasa-Krishna dan para pendeta Brahma kulit putih menyambutnya dengan sukacita. Mereka mengajarinya membaca dan memahami Veda, menyembuhkan penyakit fisik melalui doa, mengajar dan menguraikan Kitab Suci, mengusir keinginan jahat dari manusia dan membuatnya kembali dalam rupa Tuhan. Ia menghabiskan 6 tahun di Jagannath, di Radjagriha, di Benares, dan di kota-kota suci lainnya. Orang-orang biasa mencintai Issa, karena Ia hidup dalam damai dengan kauim waisya dan Sudra, yang diajarinya Kitab Suci.

    Ia kemudian menentang Para Brahmana dan Ksatria dengan mengajarkan Veda kepada Waisya dan Sudra, karena para Brahmana menganggap bahwa para Sudra sebagai budak dan hanya kematianlah yang akan membebaskan mereka dari perbudakan. Para Brahmana mengajaknya meninggalkan para Sudra untuk mengagumi para dewa, yang akan marah jika tidak menaatinya, tetapi Yesus menolak dan bahkan mengajarkan kepada para Sudra untuk menentang para Brahmin dan Kesatria, Issa menyangkal inspirasi ilahi Veda dan Purana, menyangkal Trimurti dan inkarnasi Para-Brahma dalam Wisnu, Siva, dan dewa-dewa lainnya, Jangan berdoa kepada berhala, karena mereka tidak dapat mendengarmu; jangan mendengarkan Veda di mana kebenaran diubah; rendah hati dan tidak mempermalukan sesamamu. Karenanya para pendeta Brahmin membencinya dan berniat untuk menangkap dan membunuhnya, mengirim orang mencarinya. Tetapi Issa telah diperingatkan para Sudra akan bahaya yang mengancam.

Adalah janggal ketika, Yesus, seorang asing, berusia muda (14 tahun) dapat diterima baik para Brahmin India, diajari bahasa Samskerta dan Veda di zaman awal tahun masehi (lihat: Kapan Yesus lahir). Zaman itu, Para Brahmin sangat ketat dan tegas memegang Dharmasastra, tidak sembarangan mengajarkan Veda apalagi terhadap orang asing yang tidak jelas keturunan siapa. Yesus, dikatakan mempelajari Veda hanya membutuhkan waktu 6 tahun saja dan kemudian mengajarkannya kepada orang lainnya.

Yang dimaksud dengan Veda, adalah:
Saṃhitās/mantras (Rig-Veda, Sama-Veda, Yajur-Veda, dan Atharva-Veda, dengan 89,000 padas (metric feet), di mana 72,000 ada dalam 4 Samhitas), Brahmanas (Instruksi tatacara melakukan ritual dan performance yang terdiri dari 24 kitab), Aranyakas (Philosopi dan interpretasi yang terdiri dari 11 buah), dan Upanishads (antara 108-300 Upanisad mengenai diskusi Philosopi, meditasi dan Dewa). Juga literatur lain seperti Shrautasutras dan Grhyasutras. 6 (enam) vedanga [Phonetics (Śikṣā), Meter (Chandas), Grammar (Vyākaraṇa), Etymology (Nirukta), Astronomy (Jyotiṣa), Ritual (Kalpa)], Purana (18 kitab Maha Purana) dan 2 Itihasa (sejarah: Mahabharata dan Ramayana)

Nah, semua itu belum termasuk bahwa Ia datang ke India tanpa mengenal samskerta dan tentu harus belajar bahasa dahulu. Oke, mungkin ada yang berpendapat: “Kan, Yesus adalah anak Tuhan, jadi tidak ada yang tidak mungkin bagiNya!“. Apabila itu alasannya, maka ukuran sebagai Tuhan atau anak Tuhan, waktu selama 6 (enam) tahun, justru terlalu lama

***

Setelah mempelajari Veda, maka Ia tahu mengenai ketuhanan Hindu dan akan fasih menyebut Indra, Surya, Agni, Brahma, dan Visnu sebagai nama Tuhan dan/atau sebagai dewa. Namun, entah mengapa, laksana terkena amnesia, pengetahuan dan pengalaman 6 Tahun tersebut tidak pernah muncul di Alkitab. Ia bahkan tidak pernah menyebut TuhanNya sebagai Brahma atau Agni atau Surya dll. Atau, jika Ia tidak mempercayai nama-nama ini sebagai Tuhan atau mahluk suci, juga tidak pernah menyatakannya sebagai setan atau iblis

Di kisahkan, Ia getol memperjuangkan kesetaraan umat manusia dengan “nekad” mengajarkan Veda kepada kaum sudra, anehnya saat kembali ke Israel, Ia malah kembali “bodoh” dengan menyatakan bahwa Ia datang hanya untuk umat Israel. Bukankah ini amnesia yang sangat Parah?

Satu hal menarik adalah tentang Trimurti, konsep terawal 3 Dewa ini hanya muncul di Mahabharata 3.270 dan Maitri Upanisad 5.2. Keduanya menggunakan kata “Rudra” bukan “Siva” sebagai bagian Trimurti. Sementara Siva sebagai Trimurti atau penyamaan Siva = Rudra baru akan ada pada beberapa abad kemudian, maka bagaimana mungkin, para Brahmana pengajarnya bisa salah sebut dan mengajarkan Siva bukan Rudra sebagai Trimurti?

***

Lanjutannya, dikatakan,

    Malamnya Ia meninggalkan Jagannath, sampailah di pegunungan dan menuju ke negeri Gautama, di mana Sanghiyang Buddha datang ke dunia, di antara para penyembah Tuhan Yang Maha Esa yakni Brahma.

    Ketika Issa memahami bahasa Pali, Ia tenggelam mempelajari gulungan-gulungan suci Sutra. Setelah enam tahun belajar, Issa, yang dipilih Buddha untuk menyebarkan firman sucinya, dapat dengan sempurna menguraikan gulungan-gulungan suci, meninggalkan Nepal dan pegunungan Himalaya, turun ke lembah Radjiputan dan menuju Barat, di mana-mana berkhotbah kepada orang-orang tentang kesempurnaan tertinggi yang bisa dicapai manusia, mengajarkan keesaan dan hanya satu-satunya Tuhan serta menganjurkan orang-orang untuk membasmi perbudakan dan melarang menyembah berhala.

Bahasa Sanskerta adalah bahasa Veda, hanya dipahami kaum terpelajar, yaitu Brahmana dan “hampir segelintir” kaum ksatria, sedangkan bahasa Pali adalah bahasa keseharian. Yesus dikatakan bergaul dengan kaum Sudra, lantas dengan bahasa apa Ia bercakap-cakap dan mengajari Veda kepada Sudra yang tidak berbahasa Sansekerta, jika bukan dengan bahasa Pali? Entah mengapa, bagaikan amnesia berat! Tiba-tiba Ia tidak lagi dapat berbahasa Pali sehingga harus belajar pula.

***

Saat itu di Benares, yang menekuni ajaran Buddha tahu bahwa Buddha tidak membicarakan Tuhan, bahwa mahluk bukan ciptaan Tuhan, bahkan Buddha menolak eksistensi Brahma sebagai Maha Pencipta, yang diajarkannya adalah pencerahan dengan “usaha sendiri”, bahwa “Apa yang di tanam, itu yang dipetik”, maka ketika Yesus kembali ke Israel, seharusnya tidak mungkin membicarakan Allah Bapa sama sekali, tidak juga akan mengajarkan meminta apapun kepada Allah Bapa, bahkan ketika di tiang salib menjelang ajal tidak akan Ia berteriak:

    “Tuhan..Tuhan mengapa kau tinggalkan aku!”.

Karena seharusnya Ia paham bahwa Surga/Neraka, hanyalah kondisi masaknya karma/perbuatan, tidak permanen dan tak perlu menunggu kiamat, tidak perlu dibangkitkan, tujuan seharusnya adalah memutuskan rantai lahir kembali, menuju padam atau Nibanna/Nirwana. Tidak mungkin mau membicarakan adanya jiwa /roh yang kekal apalagi Roh kudus. Entah mengapa, “kabar baik” ini tidak pernah disampaikannya di Israel. Pengalaman dan kehidupan 6 tahun di negeri Buddha, tidak pernah muncul di Alkitab.

Ia malah mengajarkan hidup bergantung pada Allah Bapa, bahwa roh kudus itu ada, bahwa jiwa/roh itu adalah ada dan juga kekal. Bahwa kehidupan terjadi hanya satu kali saja dan tidak ada kelahiran kembali. serta di hari penghakiman, Ia-lah yang menjadi hakim untuk mendapatkan ganjaran surga atau neraka selamanya. Maka, bukankah Ia terkena Amnesia yang sangat Parah?

***

Setelah puas “main-main” di Benares dan Himalaya, hikayat menyatakan lanjutan perjalanannya sebagai berikut:

    Ketika Ia memasuki negeri Persi, para pendeta memperingatkan rakyat untuk tidak mendengarkan ucapan-ucapannya; tetapi rakyat masih saja mendengarkannya, maka para pendeta menangkapnya dan membawanya ke hadapan Imam besar mereka dan berbicara dengannya, Ia mencoba meyakinkan mereka agar tidak menyembah Zoroaster di Firdaus tapi menyembah Bapa di surga, agar tiak mengagguni Matahari dan Genii yang baik dan jahat. Para pendeta khawatir mereka sendiri yang akan menyakitinya; Di waktu malam, ketika orang-orang sedang nyenyak tidur, mereka membawanya ke luar tembok kota, membiarkannya di sana agar dimangsa binatang buas. Tetapi Ia selamat dan melanjutkan perjalanan dengan aman hingga kembali di Israel di usia 29 tahun.

***

Upaya bahwa seolah ini mempunyai akar dalam kepercayaan kaum Lhama terpelajar juga disiapkan, tidak tanggung-tanggung, dengan mengklaim bahwa naskah itu ada dalam bahasa Pali, misalnya dalam “The Unknown Life of Jesus Christ“, by Nicolas Notovitch [1890], A FESTIVAL IN A GONPA, hal 142-148

    “Dalam suatu kunjungan baru-baru ini ke Gonpa, salah satu lhama memberitahu saya tentang seorang nabi, atau, seperti Anda sebut, seorang buddha, dengan nama Issa. Tidak bisakah Anda memberi tahu saya tentang dia? “Saya bertanya kepadanya, memanfaatkan momen yang menguntungkan ini untuk memulai topik yang sangat menarik minat saya.

    “Nama Issa sangat dihormati di kalangan umat Buddha,”jawabnya,” tetapi Ia hanya dikenal oleh para lhama kepala, yang telah membaca gulungan naskah yang terkait kehidupannya. Tak terbatas jumlah para Buddha seperti Issa, dan 84.000 naskah yang ada penuh berisi rincian dari masing-masingnya. Tetapi hanya sedikit orang yang membaca seperseratus dari naskah itu. Sesuai kebiasaan yang berlaku, setiap murid atau lhama yang ke Lhassa membuat hadiah satu atau beberapa salinan dari naskah di sana, ke biara tempatnya berasal. di Gonpa kami, antara yang lain, memiliki sejumlah besarnya, yang telah saya baca di waktu senggang. Di antaranya adalah naskah kehidupan dan prilaku Buddha Issa, yang membabarkan doktrin yang sama di India dan di antara para anak-anak Israel, dan yang dihukum mati oleh para pagan, keturunannya, belakangan, mengadopsi keyakinan yang disabarkannya. , – dan keyakinan itu punya Anda.

    “Buddha yang agung, jiwa dari Semesta, adalah penjelmaan Brahma. Dia, hampir selalu, tetap tak bergerak, dirinya berisi segala hal, di dirinya adalah asal dari semuanya dan napasnya menghidupkan dunia. Dia telah meninggalkan manusia untuk mengendalikan kekuatannya sendiri, tetapi, pada zaman tertentu, mengesampingkan keengganannya dan memakai bentuk manusia yang Ia mau, sebagai guru dan pembimbing mereka, menyelamatkan makhluk-makhluknya dari kehancuran yang datang. Dalam perjalanan keberadaan spritualisnya dalam keserupaannya dengan manusia, Buddha menciptakan dunia baru di hati manusia yang bersalah; kemudian Ia meninggalkan dunia, untuk menjadi makhluk yang tak terlihat lagi dan melanjutkan kondisi sempurnanya. Tiga ribu tahun yang lalu, Buddha menjelma menjadi Pangeran Sakya-Muni yang terkenal, menegaskan kembali dan menyebarkan doktrin yang diajarkannya dalam dua puluh inkarnasinya sebelumnya. Dua ribu lima ratus tahun lalu, Jiwa Besar Dunia menjelma lagi di Gautama, meletakkan fondasi dunia baru di Burma, Siam dan pulau-pulau lainnya. Segera setelahnya, Buddhism mulai merambah Cina, melalui upaya gigih pada bijak, yang mengabdikan dirinya untuk penyebaran doktrin suci, dan di bawah Ming-Ti, dari dinasti Honi, hampir 2.050 tahun yang lalu, ajaran Sakya-Muni diadopsi orang-orang di negara itu. Bersamaan dengan kemunculan Buddhism di Cina, doktrin yang sama mulai menyebar di kalangan orang Israel. Sekitar 2.000 tahun yang lalu, Perfect Being, bangun sekali lagi untuk waktu yang singkat dari keengganannya, berinkarnasi menjadi anak yang lahir dari keluarga miskin. Adalah atas kehendaknya anak kecil ini harus menerangi orang-orang yang tidak bahagia atas kehidupan dunia untuk mengerucut dan membawa yang bersalah kembali ke jalan kebenaran; menunjukkan ke mereka, melalui teladannya sendiri, cara terbaik kembali ke moralitas awal dan memurnikan ras kita. Ketika anak suci ini mencapai usia tertentu, ia ke India, di mana, sampai dewasa. ia belajar doktrin-doktin Buddha yang agung, yang tinggal selamanya di surga”

    “Dalam bahasa apa gulungan nasskah utama yang berisi kehidupan Issa?” tanyaku, sembari bangkit dari tempat dudukku, karena Saya melihat bahwa teman bicaraku yang menarik ini kelelahan, dan baru saja memutar biji tahbis doa, seakan mengisyaratkan berakhirnya percakapan.

    “Naskah asli dibawa dari India ke Nepal, dan dari Nepal ke Tibet, yang terkait dengan kehidupan Issa, ditulis dalam bahasa Pali yang merupakan bahasa sebenarnya di Lhassa; tetapi salinan dalam bahasa kami – maksud saya Tibet – adalah di biara ini.”

    ” Bagaimana Issa dipandang di Tibet? Apakah Ia orang suci yang bereputasi? “

    ” Orang-orang bahkan tidak sadar bahwa Ia pernah ada hanya para lhama utama, yang mengetahui tentangnya setelah mempelajari naskah-naskah di mana kehidupannya ada, kenal dengan namanya; tetapi, karena doktrinnya bukan merupakan bagian kanonik Buddhisme, dan para penyembah Issa tidak mengenali otoritas Dalai-Lhama, nabi Issa – dengan banyak lainnya yang sepertinya – tidak diakui di Tibet sebagai salah satu orang suci utama.”

    ” Apakah Anda menjadi berdosa menyampaikan salinan kehidupan Issa kepada orang asing?” Saya bertanya kepadanya.

    “Itu adalah milik Tuhan,” jawabnya, “juga milik manusia. Tugas menuntut kita untuk mengabdikan diri dengan riang untuk menyebarkan doktrin-Nya. Hanya saja, saya tidak, saat ini, tahu di mana naskah itu. Jika Anda pernah mengunjungi Gonpa kami lagi, saya akan dengan senang hati menunjukkannya ke Anda.”

Ajaran Buddha sampai Tibet baru terjadi di abad ke 5-6 Masehi, saat itu, Yesus sudah lama meninggal, juga dari 84.000 sutra berbahasa Pali, tidak satupun menyebutkan tentang Issa, apalagi menyatakannya sebagai Buddha Issa. Maka itu, keberadaan Buddha Issa jelas janggal. Sementara alfabet Tibet saja baru dikembangkan raja yang memerintah Tibet di abad ke 7, jadi tulisan berbahasa Tibet tidak pernah muncul sebelum abad ke 7, juga yang datang ke Tibet adalah bukan Issa.

***

notovich.htm:

    Kemudian pada tahun 1895, seorang bernama J.A. Douglas, professor pada Universitas milik pemerintah di Agra, India melakukan penyisiran jejak Notovitch’s di Tibet. Ia mewawancarai kepala biara dimana Notovitch pernah mengklaim keberadaan naskah itu. Douglas akhirnya memperoleh pernyataan tertulis yang sah dari kepala biara yang menyatakan bahwa kisah Notovitch adalah bohong! Douglas memastikan bahwa tidak ada satupun naskah yang mengungkapkan keberadaan Issa atau Jesus di Tibet. Ia kemudian mempublikasikan penemuannya pada sebuah jurnal bulanan terkenal yaitu The Nineteenth Century (The Chief Lama of Himis on the Alleged Unknown Life of Christ April 1896).

***

Jesus_in_india.htm:

    Seorang peneliti India, Swami Abhenanda, mengujungi Himis dan memperoleh konfirmasi dari para Lhama bahwa biara ternyata mempunyai naskah yang menyinggung mengenai nama Issa, pengunjung lainnya yaitu Nicholas Roerich juga menyatakan cerita yang sama.

    Akhirnya Notovich mengklaim bahwa para pedagang yang berasal dari Isrel yang juga merupakan saksi dari peristiwa penyaliban Yesus-lah yang datang dan kemudian membawa cerita tentang yesus ke India bukan yesus pernah tinggal di India (halaman 32).

    Seorang bernama George, anak dari Nicholas Roerich, juga menyatakan membaca terjemahan naskah itu, dan mengungkapkan hal yang sama seperti dikemukakan Notovitch, namun itupun hanya muncul di satu naskah di Himis dan juga tidak menyatakan bahwa Issa sendiri pernah datang ke biara. Lebih jauh lagi satu-satunya naskah itu didasarkan pada cerita yang diperoleh dari pedagang yang kebetulan lewat dan tidak mewakili sama sekali sebagai saksi atas keberadaan Jesus di India dan Tibet

***

Sementara itu, Missionaries Portugis (Antonio d’Andrade dan Manuel Marques) adalah Kristen pertama yang menginjakkan kaki di Tibet (Tsaparang), yaitu di tahun pada tahun 1624, penguasa Tibet saat itu membolehkan mereka membangun Gereja, namun 6 tahun kemudian pecah perang saudara di Tibet dan mengakibatkan mereka meninggalkan Tibet. Kemudian pada tahun 1827-1831, datang seorang Hungaria bernama Sándor Kőrösi Csoma, (Alexander Csoma de Kőrös), philologist, orientologist dan pengarang pertama kamus dan tata bahasa Tibet-Inggris. Pada tahun 1831 Csoma bergabung dengan Royal Asiatic Society dari Bengal, Calcutta. “Asiatic Society of Bengal” (Calcutta) didirikan di tahun 1784 oleh Sir William Jones pada masa dan di bawah perlindungan Warren Hastings, Gubernur Jendral pertama Inggris di India. Pada bagian berikut, kita akan temukan salah satu fungsi “mengerikan” Asiatic society ini.

***

Cerita tentang Issa dikatakan tercantum dalam Purana Hindu yaitu Bhavishya Purana: Pratisarga Parva, Chaturyuga Khanda Dvitiyadhyayah, Chapter 19, Text 17 sampai 32:

Texts 17 – 22
..vikramaditya-pautrasca pitr-rajyam grhitavan
Keturunan Vikramaditya kemudian bertahta menjadi raja (diindentifikasi sebagai Shalivahana)
jitva sakanduradharsams cina-taittiridesajan bahlikankamarupasca Romajankhurajanchhatan
mengalahkan kaum saka (Skitia) yang perkasa, Cina, Tartar, Bahtria, kamrupa/Partia, Roma dan turunan khuru/Khorasan
tesam kosan-grhitva ca danda-yogyanakarayat sthapita tena maryada
Para kaum keji licik ini dihukum keras dilucuti harta-kekayaannya
mleccharyanam prthak-prthak sindhusthanam iti jneyam rastramaryasya cottamam mlecchasthanam param sindhoh krtam
Menetapkan batas-batas keberadaan kaum Arya dan Barbar/Mleecha, Sindustan tempat kaum Arya yang Agung, diseberangnya arah barat tempat kaum Barbar
tena mahatmana ekada tu sakadiso himatungam samayayau hunadeshasya madhye vai giristhan purusam shubhano dadarsha balaram raajaa
Kemudian penakluk agung Saka menuju Himatungga area tengah Huna, di sebuah puncak gunung bertemu pria berkulit cerah berpakaian putih

Saat Shalivahana/Satavahana menaklukan Saka (di beberapa versi ada menyatakan bahwa sang raja Saka adalah Vikramaditya, jadi raja ini adalah seterunya bukan kakeknya) menjadi penanda mulainya tahun Saka (yaitu tahun 78 M). Apabila Yesus lahir di antara 8-4 SM, maka ketika bertemu raja Shalivahana, usia Issa adalah 82 – 86 tahun. Bhavishya Purana, entah mengapa, tidak menyinggung bahwa Issa sebagai seorang yang lanjut usia. Untuk masalah ini, kaum Nasrani dihadapkan pada dua pilihan:

Alot, bukan?!

Text 23
ko bharam iti tam praaha
su hovacha mudanvitah
iishaa purtagm maam viddhi
kumaarigarbha sambhavam
    “Raja bertanya, ‘Siapakah engkau tuan?’ ‘Kau seharusnya tahu bahwa Aku adalah Isha Putra, anak tuhan’. jawabnya dengan gembira dan aku lahir dari perawan.’ “

Kumaari Garbha artinya Perawan, ini malah menjelaskan asal jaman kisah ini disisipkan, kerena ide tentang Maria adalah Perawan adalah BUKAN dari masa awal Kristen tapi masa jauh sesudahnya.

    Yesaya 7:14
    Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel (allah beserta kita).

    American Standard Version:
    Therefore the Lord himself will give you a sign: behold, a virgin shall conceive, and bear a son, and shall call his name Immanuel

    Matius 1:23
    Behold, a virgin shall be with child, and shall bring forth a son, and they shall call his name Emmanuel, which being interpreted is, God with us.

Dalam bahasa Hebrew (Yesaya 7:14):

    hinneh ha-almah harah ve-yeldeth ben ve-karath shem-o immanuel

Kata ‘perawan’ dalam Hebrew adalah ‘betulah‘ dan kata tidak muncul dalam ayat ini, sedangkan ‘almah‘ berarti ‘perempuan muda’. Di Yesaya, kata almah digunakan 1x dan kata betulah digunakan 5x, jadi jelas menunjukan untuk adanya perbedaan di keduanya. Pengarang Injil Matius lah yang kemudian mengartikannya sebagai Perawan dalam upaya menjadikannya sebagai “pemenuhan ramalan” Yesaya 7:14.

Text 24
mleccha dharmasya vaktaram
satyavata paraayanam
iti srutva nrpa praaha
dharmah ko bhavato matah
    “‘Aku pembabar ajaran barbar yang patuh pada kebenaran mutlak.’ Mendengar ini Raja bertanya, ‘Prinsip religi apa itu?’
Texts 25 – 26
shruto vaaca mahaaraaja
praapte satyasya samkshaye
nirmaaryaade mlechadeshe
masiiho ‘ham samagatah

iishaamasii ca dasyuunaa
praadurbhuutaa bhayankarii
taamaham mlecchataah praapya
masiihatva mupaagatah

    “menjawab Maharaja, ‘ketika hancurnya kebenaran terjadi. Aku, Masiha sang nabi, datang ke masyarakat tersesat di mana tak ada aturan dan peraturan. Menemukan kondisi menakutkan tak beragama kaum barbar, Ku jalankan kenabian’.”
Texts 27 – 29
mlecchasa sthaapito dharmo
mayaa tacchrnu bhuupate
maanasam nirmalam krtva
malam dehe subhaasbham

naiganam apamasthaya
japeta nirmalam param
nyayena satyavacasaa
manasyai kena manavah

dhyayena pujayedisham
suurya-mandala-samsthitam
acaloyam prabhuh sakshat-
athaa suuryacalah sada

    “Dengarkanlah yang kuajarkan untuk para Barbar. Mahluk terkontaminasi baik dan buruk. Pikirannya dimurnikan dengan Japa. menyebut nama suci, mencapai kemurnian tertinggi, sebagaimana matahari tak tergoyahkan menarik segala arah elemen kehidupan, mengikuti aturan, berbicara benar, mental stabil dan meditasi. Oh turunan manu, seorang seharusnya menyembah tuan yang tak tergoyahkan.”
Text 30
isha muurtirt-dradi praptaa
nityashuddha sivamkari
ishamasihah iti ca
mama nama pratishthitam
    “Setelah menempatkan sang abadi murni yang tertinggi di hati, Oh pelindung dunia, Aku babarkan prinsip ini melalui keyakinan para barbar dengan demikian aku disebut ‘isha-masiha’ (Isa-sang Mesiah).”
Text 31
iti shrutra sa bhuupale
natraa tam mlecchapujaam
sthaapayaamaasa tam tutra
mlecchasthaane hi daarune
    “setelah mendengarkan Ia memberi hormat yang disembah kaum Barbar, dan memintanya agar menetap di area kaum Barbar.”
Text 32
svaraajyam praaptavaan raajaa
hayamedhan ciikirat
raajyam kriitvaa sa shashthyabdam
svarga lokamu paayayau
    “Raja melakukan asvamedha yajna memerintah selama 60 tahun dan pergi ke Surga. Sekarang dengarkan apa yang terjadi ketika Raja ke Surga.”

Bhasvishya Purana setidaknya mempunyai 4 versi dan kesemua versi tersebut, baru muncul di 200 tahun belakangan, yaitu ketika Inggris menjajah India pada abad ke-18. Pada literatur religius Hindu India, kisah-kisah digolongkan menjadi:

  • Kavya (isinya bisa jadi tidak benar namun dituliskan dengan cara yang sungguh Indah),
  • Purana (Cerita-cerita yang tidak sungguh-sungguh terjadi namun memiliki nilai pendidikan, tujuannya agar orang mengerti bahwa dengan berbuat baik akan mendapat pahala baik),
  • Itikatha merupakan kejadian-kejadian yang disusun secara kronologis ataupun kejadian-kejadian yang berbeda-beda dan
  • Itihasa berasal dari kata ‘hasati’ = tertawa, merupakan bagian Itikata yang mempunyai nilai pendidikan

Dongeng Bhavishya, atau Bhasvisya purana disamping mengisahkan nama-nama di atas, juga memuat ramalan mengenai kedatangan Inggris di India, Jaman pemerintahan ratu victoria (24 May 1819 – 22 January 1901), ramalan tentang Inggris yang membangun pabrik di kalkuta dan revolusi Industri di jaman Ratu Victoria. Jadi, tampaknya di antara semua negara yang ada di dunia ini, Inggris tertulis sangat spesial hingga muncul di ramalan tersebut.

Entah kenapa, ramalan di kitab ramalan tersebut, menjadi terhenti di jaman ratu viktoria! Setelah jaman Ratu Victoria, “Tuhan Hindu” tiba-tiba saja berubah menjadi pelit untuk memberikan ramalan tentang:

  • Penemuan Listrik [1879,Thomas Alfa Edison [1879], telepon [1876, Alezander Graham bell], Benyamin franklin, Komputer [1882, Charles Babbage; 1941 conrqd zuse], Micro Processor,dll
  • Perang dunia I [1914-1918, yang memakan korban 40 juta nyawa]
  • Lucunya lgi, tidak ada tulisan mengnenai Kemerdekaan India [1947]. India, koq bisa-bisanya, di anggap ngga penting untuk di munculkan di kitab asli tanah India sendri oleh Tuhannya Hindu!
  • Munculnya Hitler [1889-1945] dengan Nazi-nya yang mengambil korban 11-14 juta nyawa [konon termasuk 6 juta Yahudi], Perang dunia II [1939-1949, yang memakan korban 50 juta nyawa], Jatuhnya bom atom [1945], di Hiroshima dan Nagasaki. Total nyawa hilang di 2 kota: 9-20% penduduk meninggal dan impact radiasi hingga hari ini, yaitu 220.000 nyawa, Krisis Ekonomi terburuk di tahun 1929/1930
  • Keganasan Biadab Komunisme [1917-1991]:

      • Vladimir Ilyich Lenin (1917-1923) membantai 500.000 rakyat Rusia yang menentang penerapan komunisme.
      • Joseph Stalin menghabisi 6 juta petani kulak yang rajin dan makmur. Stalin sangat kejam pada oposisi; dalam masa 28 tahun (1925-1953) ia membunuhi 40 juta rakyatnya sendiri.
      • Mao Ze-dong di RRC (1947-1976) membantai 50 juta bangsanya yang antikomunis.
      • Pol Pot, di kamboja (1975-1979) menghabisi hampir separuh rakyatnya sendiri [2,5 juta manusia].
      • Ketika perang Afghanistan (1978-1980-an), Afghan merah membantai sesama bangsanya sebanyak 1,2 juta orang.
      • Di Afrika tercatat angka 1,7 juta yang terbunuh,
      • Amerika Latin, terbunuh 150,000 orang, dan
      • Eropa Timur terdapat 1 juta korban terbunuh

      [Stephane Courtois, The Black Book of Communism-Crimes, Terror, Repression, Harvard University Press, 2000]

    • Manusia mejejakkan kaki untuk pertama kalinya di Bulan [1969, “satu langkah kecil bagi orang, satu lompatan raksasa bagi umat manusia.”]

    Pelitnya “Tuhan Hindu”, baru bisa kita maklumi ketika membaca surat Sir William Jones kepada gubernur jendral India saat itu yaitu Sir Warren Hastings, yang mengupas berbagai upaya sistemik para misionaris dan Pemerintah penjajah Inggris untuk me-murtad-kan penduduk India menjadi Kristen yaitu dengan mengubahnya menjadi Sanskrit, menyisipkan terminologi Nasrani, nabi ke dalam Sanskrit, agar tampak seolah bahwa itu juga merupakan bagian dari naskah kuno Hindu, menyampaikan beberapa kali ke publik dengan menterjemahkannya lagi, menaklukan India sekali lagi dengan jalur pendidikan untuk mencabut Hindu dari akarnya [“Dissertations And Miscellaneous Pieces Relating To The History And Antiquities, The Arts, Sciences, And Literature, Of Asia: In Two Volumes. Containing Dissertations”, Sir W. Jones, Asiatic Researches Vol. 1. Published 1979, pages 234-235. First published 1788]:

      “As to the general extension [spreading] of our pure faith [Christianity] in Hindoostan [India] there are at present many sad obstacles to it… We may assure ourselves, that Hindoos will never be converted by any mission from the church of Rome, or from any other church; and the only human mode, perhaps, of causing so great a revolution, will be to translate into Sanscrit… such chapters of the Prophets, particularly of ISAIAH, as are indisputably evangelical, together with one of the gospels, and a plain prefatory discourse, containing full evidence of the very distant ages, in which the predictions themselves, and the history of the Divine Person (Jesus) is predicted, were severally made public and then quietly to disperse the work among the well-educated natives.” [hal 62-64]

    “Scholar Extraordinary: The Life and Letters of Friedrich Max Müller.”, Nirad C. Chaudhuri, First published in 1902 (London and N.Y.). Reprint in 1976 (USA):

      “…I feel convinced, though I shall not live to see it, that this edition of mine and the translation of the Veda will hereafter tell to a great extent on the fate of India, and on the growth of millions of souls in that country. It is the root of their religion, and to show them what that root is, I feel sure, the only way of uprooting all that has sprung from it during the last 3,000 years.” (to his wife, Oxford, December 9, 1867) [hal.90]

      “India has been conquered once, but India must be conquered again, and that second conquest should be a conquest by education. Much has been done for education of late, but if the funds were tripled and quadrupled, that would hardly be enough… A new national literature may spring up, impregnated with western ideas, yet retaining its native spirit and character… A new national literature will bring with it a new national life, and new moral vigour. As to religion, that will take care of itself. The missionaries have done far more than they themselves seem to be aware of.” [hal.208]

      “The ancient religion of India is doomed, and if Christianity does not step in, whose fault will it be?” (to the duke of Argyll. Oxford, December 16, 1868)

    “The true histrory and the religion of India”:

      So, chapter three discloses such secret evidences (related to the English people) that have never been brought into the light by any of the previous researchers and scholars. For example: the secret suggestion of Sir William Jones to Warren Hastings in 1784 that tells how to confidentially fabricate a false Sanskrit scripture and betray the Hindus (p. 245); the well planned mutilation of the prime Sanskrit dictionary “Vachaspatyam” through Pandit Taranath of Calcutta (this dictionary is still being used in the Sanskrit colleges of India); fabrications in the Bhavishya Puran; the disappearance of Narayana Sastry’s research manuscripts of 20 years’ of hard work; and so on. [The true history and the religion of India: a concise encyclopedia of authentic hinduism, P.39, Prakashanand Saraswati, Edisi: berilustrasi, Diterbitkan oleh Motilal Banarsidass Publ., 2001, ISBN 8120817893, 9788120817890]

    Jadi di Chapter TIGA, disiapkan “bukti-bukti” rahasia itu, memalsukannya secara rahasia dalam bahasa Sankrit, salah satu mutilasi yang terencana bagus dari kamus Sanskrit utama, “Vachaspatyam” melalui Pandit Taranath dari Calcutta, memalsukan Bhavishya Purana, melenyapkan karya sastra dari Narayana dan seterusnya. Kemudian, dalam satu tulisannya di tahun 1784, Jones mendangkalkan berbagai bentuk kesucian Tuhan-Tuhan Hindu. Ia berusaha penuh menghancurkan keyakinan religius kaum India, seperti kata sambutannya di tahun 1786 yang berkaitan mengenai Sanskrit dan pada sambutan ke-sepuluhnya di tahun 1793 terkait kitab Purana. Juga, hal yang kurang lebih sama, bahwa purana-purana Hindu banyak yang telah diubah keasliannya di masa penjajahan Inggris di India dalam, “A review of the translation of Vishnu Puran by H.H. Wilson (1786-1860)“:

      First published 1832. Printed in India by Nag Publishers, Delhi, in 1980, and reprinted in 1989. In the preface of the Vishnu Puran, written by Mr. Wilson:

      “The facility with which any tract may be thus attached to the nonexistent original, and the advantage that has been taken of its absence to compile a variety of unauthentic fragments, have given to the Brahmanda, Skanda, and Padma, according to Wilford, the character of being the Puranas of thieves or imposters. Original copies don’t exist, thus all of them are made up and unauthentic.” [Brahmanda purana]

      “There is nothing in all this to justify the application of the name. Whether a genuine Garuda Purana exists is doubtful.” (p. lii)

      “The documents (the manuscripts of the Puranas) to which Wilford trusted proved to be in great part fabrications, and where genuine, were mixed up with so much loose and unauthenticated matter, and so overwhelmed with extravagance of speculation, that his citations need to be carefully and skillfully sifted, before they can be serviceably employed… legends apparently invented for the occasion renders the publication worse than useless.” (p. lxx)

      “The Brahm Vaivart, as it now exists… the great mass of it is taken up with tiresome descriptions of Vrindavana and Goloka, the dwellings of Krshna on earth and in heaven; with endless repetitions of prayers and invocations addressed to him; and with insipid descriptions of his person and sports, and the love of the Gopis… the stories, absurd as they are, are much compressed to make room for the original matter, still more puerile and tiresome. The Brahmavaivartta has not the slightest title to be regarded as a Purana.” (p. xl, xli)

      Condemns the description of brahmand as detailed in the Bhagwatam.

      “Mount Meru, the seven circular continents, and their surrounding oceans, to the limits of the world; all of which are mythological fictions, in which there is little reason to imagine that any topographical truths are concealed.” (p. lx)

      Criticizes the supreme Divinity of Krishn (mulai hal.286)

      “The fifth book of the Vishnu Purana is exclusively occupied with the life of Krshna. They are the creations of a puerile taste, and grovelling imagination. These chapters of the Vishnu Purana offer some difficulties as to their originality.” (p. lxviii)

      History: On p. lxii he describes that only 1,100 years passed between the Great War and Chandragupt (Maurya) whereas in the same book (Volume No. IV pp. 643-646) he relates a difference of 1,600 years. Moreover, he randomly fixes the date of Mahabharat war at 1400 BC, disregards all of our Divine records by calling them absurd, and crushes the entire history of all the dynasties of this manvantar (which is 120.5331 million years) into a period of about 4,600 years (1200 + 1400 BC + 1999 AD).

      We will now take two verses, the very first one and the very last one, of the Vishnu Puran to show the shortcomings of Wilson’s translations.

      The first verse starts like this:

      Wilson translates it, “May that Vishnu, who is the existent, imperishable Brahm, who is Ishwar, who is spirit.” The actual meaning of the word puman is the personal form of God. Thus, the meaning of the above verse is, “The eternally existing absolute brahm Who is Ishwar (the creator and maintainer of the universe), has a personal form.” Wilson changed the meaning of the word puman from ‘personal form’ to ‘spirit,’ because the Bible describes God as ‘spirit.

      A line of the last verse is:

      In this verse, roopam, prakritipar and atmmayam are the key words. Roopam means the form or the body of God. Prakritipar means beyond the realm and the effects of maya, the cosmic power. Atmmayam means that the form of God is the form of His own absolute Divine being. Material beings have soul and body configuration, not God. The body of the personal form of God is eternal (sanatan = eternal) and simultaneously omnipresent.

      Thus, the meaning of the above sentence is: “The personal form (the Divine body) of God, Hari, is eternal, is beyond maya and is the form of His own absolute Divine being.” But Wilson translates it as: “Eternal Hari, whose essence is composed of both nature and spirit.”

      How wrong and adverse these translations are, is an example in itself. These translations give the idea that God has no personal form and whatever God is, is only spirit and is of a magic nature, which means fully materialistic. The God of Wilson, in the holy Bible, is said to be ‘spirit,’ and also it is said in the Revelation that God looks like ‘a jasper and sardine stone.’ Probably Wilson was trying to bring his ‘stone, and spirit’ God into the Puranas. That’s why he has translated the Vishnu Puran like this and has tried to destroy the Divine and the Gracious theme of the Vishnu Puran

    ***

    Sekarang sudah waktunya kita lihat di Alkitab sendiri, apakah Alkitab sepakat juga bahwa Yesus pernah ke India dan Tibet serta mempelajari Buddha dan Hindu?

    Injil memuat isyarat keberadaan Yesus ketika Ia berumur 12-30 tahun.

    Umur 12: Ia Kembali ke Nazareth:

      Lukas 2:51-52
      Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya
      Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia

    Ia Datang lagi disekitar umur 30-an:

      Markus 1:9, Matius 3:13
      Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes.

    Keberadaannya di kampung, tenyata dikenali lingkungan mereka juga:

      Menurut Yoh 6:42,
      Kata mereka: “Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?”

      Matius 13:55-57,
      Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.”

      Markus 6:3-4,
      Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.”

    ***

    Jadi, jadi umur 12-30 tahun Ia hidup di Nazareth, tidak pergi kemana-mana, tinggal bersama ayahnya yang tukang kayu itu, bersama keluarganya dan saudaranya, kemudian setelah berusia 12 tahun [13 tahun] melakukan bar Mitzvah (tradisi kaum Yahudi yang juga dilakukan Musa, penanda akil baliq).

    Yup! Kehidupannya selama kurun waktu tersebut adalah sebagaimana tahapan umum yang sampaikan Rabbi Jehudah, anak Tema, Kohen Gadol (Rabbi tertinggi) Jerusalem [64 M],

      “Saat usia 5 tahun, seorang belajar kitab suci (Taurat), di usia 10 tahun belajar Mishna (hukum lisan), di usia 13, memenuhi perintah (10 Perintah), di usia 15 tahun belajar Talmud (hukum lisan dan diskusi para Rabi), di usia 18 tahun masuk pernikahan, di usia 20 mencari nafkah, di usia 30 mencapai kemapanan/otoritas, di usia 40 menjadi bijak, di usia 50 mampu memberi nasihat [..]” [Misnah Abbott 5.21]

    [Note: Ratu Alexandra dari Jerusalem, 139 – 67 SM, memerintahkan pentingnya pendidikan untuk kaum muda. Pada 63 SM, Rabbi Joshua ben Gamla menegaskan bahwa pendidikan harus mulai dari umur 6 tahun].

    Namun tentu saja ada kontroversi tentang pendidikan Yesus, misalnya:

      mengklaim bahwa orang-orang Galilea berkata bahwa pengetahuannya didapat tanpa pernah belajar saat mereka terheran Yesus mengajar di Bait Allah [Yohanes 7:15 atau Markus 6:1-6] sementara pada kitab dan pasal lainnya ada bukti bahwa Ia bisa menulis [Yohanes 8:6-8] dan membaca kitab [Lukas 4:16-30]

    Namun, paling tidak, kita dapat pastikan bahwa pada waktu mudanya Ia dan saudara-saudaranya tidak kemana-mana hidup dan tinggal bersama mereka, bersama para penduduk desanya, hidup normal layaknya anak-anak Yahudi lain, yaitu lahir, remaja dan besar sebagai seorang Yahudi. Jadi, sampai usia 30 tahunan, Yesus ternyata selalu dalam wilayah Israel/Yudea saja, tidak kemanapun dan hidup seperti tahapan kehidupan umum kaum Yahudi.

    ***

    Kapan Yesus Lahir?

    Kisaran kehidupan Yesus, konon ada pada jaman 2 Kaisar Romawi, yaitu: Agustus (23 September 63 SM – 19 Agustus 14 M) dan Tiberius (18 September 14 M – 16 Maret 37 M). Saat itu, dinasti Herodes ada di bawah kekuasaan ROMAWI.

    Josephus mengatakan:
    Raja Herodes Yang Agung memerintah selama 34 tahun, sejak dibunuhnya Antigonus II Mattathias (raja terakhir Hasmonean, 37/36 SM), namun jika dihitung sejak dinobatkan menjadi raja oleh Romawi, maka Ia memerintah selama 37 tahun (41 SM) [Antiquities, Buku ke-17, ch.8].

    Wilayah Raja Herodes Yang Agung (37 SM – 4 SM) meliputi: Yudea, edom, Samaria, Galilea, Perea, Gaulanitis (Dataran Tinggi Golan), Batanaea (Suriah selatan), Trakhonitis dan Auranitis (Hauran). Setelah Herodes wafat, melalui surat wasiatnya, Kaisar Agustus membagikan wilayah itu pada pada 3 anak Herodes:

    • Herodes Arkhelaus (Lahir: 23 SM, memerintah: 4 SM – 6 M, wafat: 18 M): Edom, Yudea dan Samaria. Plus beberapa kota seperti: Menara Strato, Sebaste, Joppa dan Jerusalem (Antiquities XVII, ch.11)
    • Herodes Antipas: Galilea dan Perea (Antiquities XVII, ch.11)
    • Filipus: menurut Lukas (Iturea dan Trakhonitis), menurut Flavius Yosephus (Batanea, Gaulanitis, Trakhonitis dan Paneas, ref: Antiquities XVII, ch.8, Ch.11)
    • Salome, saudara perempuan Herodes Yang Agung: Jarnnia, Ashdod, dan Phasaelis (Antiquities XVII, ch.8)

    Baik kitab Matius maupun kitab Lukas ada menyebutkan nama Herodes:

      Matius:
      Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes (de Iesous gennao en bethleem Ioudaia en hemera basileus herodes) [Mat 2.1].. Ketika Herodes tahu, Ia menyuruh membunuh semua anak yang berumur 2 tahun ke bawah [Mat 2.16]. Setelah Herodes mati, Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan ayahnya [Mat 2.19, 22]

    Jadi Herodes yang terkait dengan lahirnya Yesus yang Matius maksudkan adalah Herodes Yang Agung

    Karena Herodes yang agung wafat 4 SM. Dengan kronologi Matius maka YESUS LAHIR MINIMUM DI TAHUN 6 SM (4 SM wafatnya Herodes yang agung + 2 tahun usia bayi yang diperintahkan Herodes untuk di bunuh + sisa waktu wafatnya Herodes setelah perintah membunuh bayi)

      Lukas:
      Pada zaman Herodes, raja Yudea (en hemera herodes basileus Ioudaia) ada seorang imam (hierus) bernama Zakharia dari kelompok (ephemeria) Abia, Isterinya adalah Elisabet. Suatu ketika, tiba giliran kelompok Zakharia melakukan tugas keimaman, ketika diundi, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan. Waktu itu adalah waktu pembakaran ukupan. Hadir malaikat berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan dan berkata bahwa Elisabet, akan melahirkan seorang anak laki-laki bernama Yohanes. [1.5-13]

      Ketika genap waktunya bertugas, ia pulang ke rumah. Beberapa lama kemudian Elisabet, isterinya, hamil dan selama 5 bulan ia tidak menampakkan diri (1.23-24)

      .. Di bulan ke-6, Allah menyuruh malaikat Gabriel ke Galilea, Nazaret, menemui Maria yang bertunangan dengan Yusuf menyampaikan bahwa Ia akan mengandung dan akan melahirkan anak bernama Yesus dan Elisabet, sanaknya sekarang sedang mengandung anak laki-laki dan ini hamil bulan yang ke-6 (1.26-36) Maria pergi ke Yehuda ke rumah Zakharia tinggal kira-kira 3 bulan bersama Elisabet, lalu pulang kembali ke rumah (1.39-56)

      Pada waktu itu Kaisar Agustus (de hemera ekeinos kaisar augoustos) mengeluarkan (exerchomai) perintah (dogma) mendaftar (apograho) bagi semua orang (pas) dalam kerajaan (oikoumenên). [2.1] Ini/hal ini (houtus) pendaftaran (apegraphe) pertama (protos) terjadi (ginomai) Kirenius (kurenious) wali negeri (hegemoneuo) Suriah (Siria) [Luk 2.1-2] Maka pergilah semua mendaftarkan, di kotanya sendiri. Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem.. supaya didaftarkan bersama Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. [Lukas 2.3-5]

      Terjadi (ginomai) di situ/tempat/peti itu (en ekei) genap (pletho) waktu (hemera) lahir (tikto), dan lahir (kai tiktos) turunannya yang pertama (huios autos protokos) dan dibungkusnya (kai sparganoo autos) dan dibaringkannya (kai anaklino autos) di tempat makan ternak (kai phatne. Phatne berasal dari kata Pateomai = makan) karena tidak ada tempat (dioti ou topos) di persinggahan (en kataluma) [Luk 2.6-7]

      Dalam tahun ke-15 pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi wali negeri (hegemoneuo) Yudea (26 M – 36 M), dan Herodes raja wilayah (tetrarcheo) Galilea (4 SM – 39 M), Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis (4 SM -34 M), dan Lisanias raja wilayah Abilene (3:1). Pada waktu Hanas (Dalam tulisan Yunani untuk Lukas 3.2 dan 2.36, baik itu: Hana dan Hanas dituliskan sama yaitu: anna) dan Kayafas menjadi Imam Besar, Yohanes memulai Misinya.[3.2], setelah menyinggung raja wilayah Herodes, Ia masukkan Yohanes ke Penjara [3:19-20]. Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis [3:21].

      Ketika (Kai) Yesus (Iesous) memulai (archomai) sendiri (autos) seperti tiga puluh tahun (hosei triakonta etos) [3:23]

    Lukas menekankan bahwa kelahiran Yesus TERKAIT nama Herodes DAN PENDAFTARAN yang ada di jaman Kirenius sebagai penguasa Suriah.

    Josephus mengatakan:
    Tahun ke-10, pada masa jabatan raja wilayah Arkhelaus, Ia dicopot dari jabatanya dan dibuang ke Vienna. Daerahnya digabungkan ke provinsi Suriah. Kirenius dan Koponius dikirim ke Suriah untuk menjadi hakim bagi mereka. Kirenius, untuk urusan penghitungan harta, menjual rumah Arkhaelaus dan melucuti keuangan Arkhelaus. Koponius, ditugaskan untuk membawahi para Yahudi. Kirenius dan Koponius juga ke Judea, yang sekarang menjadi bagian Provinsi Suriah, untuk urusan yang sama. Kejadian Kirenius melucuti keuangan Arkhelaus dan penghitungan pajak terjadi di tahun ke-37 kemenangan Caesar atas Antony di Actium [Josephus, Antiquities of Jews, buku ke-17, ch.13, buku ke-18, ch.1-2]

    Jad Herodes yang terkait dengan lahirnya Yesus yang Lukas maksudkan adalah Herodes Arkhelaus!

    • Kemenangan Caesar melawan Antony terjadi di tahun 31 SM, Sehingga tahun ke-37 sebagai tahun terjadinya pendaftaran di jaman Kirenius adalah TAHUN 6 M.

      Apakah Kirenius pernah menjadi penguasa Suriah SEBELUM 6 M? Tidak.

      13 – 10 SM
      Marcus Titius
      7 – 4 SM
      Quintilius Varus
      10 – 7 SM
      Sentius Saturninus
      4 – 1 SM
      Calpurnius Piso

      Apakah ada inskripsi yang mendukung bahwa kirenius pernah menjadi pejabat pendaftaran di Suriah SEBELUM 6 M? Tidak.

      Yang ada malahan Inskripsi yang mendukung pernyataaan Josephus bahwa Kirenius menjalankan pendataan kekayaan pertama kalinya di Judea/Syiria sebagai penguasa Suriah, yaitu Inkripis Lapis Venetus atau Aemilius Secundus. Inskripsi ini dituliskan setelah kematian Kaisar Agustus, karena ada kata Divine/Almarhum

      Juga ditemukan 3 Inskripsi lainnya, yaitu:

      (1) Lapis Tiburtinus (dituliskan setelah kematian Kaisar Agustus, karena ada kata Div/Deified atau Almarhum). Inskripsi ini tidak mengandung material yang merujuk pada Kirenius.

      (2) Inskripsi pada batu di Antioch, Turki yang terdiri dari 2 buah Inkripsi yang menceritakan Gaius Caristanius Sergius anak dari Gaius Sergius Fronto (Gaius Caristanius Sergius masih hidup pada 68/69 M) dan potongan curriculum VItae/sejarah pos-pos dari jabatan yang pernah diraih Gaius Caristanius, yaitu: Pejabat Senat/Office in charge of Work, Komandan Legiun petir ke-12, Pegawai perfektus di Bosporan, Kepala Pendeta/Pontifex, Pendeta, Pegawai perfektus saat Kirenius menjabat sebagai duumvirate atau pejabat bersama dalam satu penugasan (yaitu ketika Agustus mengirim Kirenius dan Koponius ke Suriah), Perfectus masa Marcus Servilius (wafat 3 M). Inkripsi ini mendukung statement Josephus mengenai masa jabatan Kirenius di Suriah.

    • Sejak Tahun 6 M, Yudea BUKAN LAGI di bawah dinasti Herodes manapun, karena telah dilebur menjadi bagian Provinsi Suriah
    • Karena Yusuf pergi untuk mengikuti pendaftaran jaman Kirenius terjadi di tahun 6 M, maka YESUS LAHIR DI TAHUN 6 M dan jelas sudah bahwa Ia lahir BUKAN di jaman pemerintahan Herodes manapun (Herodes yang agng dan Herodes Arkhelaus)
    • Karena dikatakan Herodes Arkhelaus telah memerintah selama 10 tahun sebelum dicopot dan daerahnya dilebur ke dalam provinsi Suriah, yaitu di 6 M, maka wafatnya Herodes yang agung adalah tahun 4 SM

      Kemudian,
      menurut Lukas 3.21, 23, Yesus memulai pekerjaannya, adalah SETELAH Yohanes pembaptis dipenjara. Dikatakan saat itu, Yesus seperti 30 tahun.

      • Lukas 1.36 menyatakan selisih kehamilan Elizabeth (Ibu Yohanes Pembaptis) VS Mary (Ibu Yesus) adalah 6 bulan, ini artinya mereka nyaris sebaya. Karena Yesus lahir bertepatan dengan pendaftaran jaman Kirenius wali Suriah, maka, umur Yesus sejak tahun 6 M s.d tahun ke-15 kaisar Tiberius = 23/24 tahun. Saat itu Yohanes pembaptis berumur tidak lebih dari 25 tahun. Yohanes lahir mungkin saja di akhir pemerintahan Herodes Arkhelaus.
      • frase “seperti tiga puluh tahun“(hosei triakonta etos) [3:23]”, menunjukan walaupn usianya di bawah 30 tahun namun tampilannya saja yang tampak 30-an.

    Dari kronologi Matius kita dapatkan Yesus lahir di 6 SM, sedangkan dari kronologi Lukas kita dapatkan Yesus lahir di 6 M!

    Ini menunjukan beda tahun kelahiran Yesus antara 2 kitab Injil ini adalah minimum 12 tahun!

    ***


    Bulan apa Yesus Lahir?

      ..Namun Lupi telah menunjukan bahwa TAK ADA BULAN dalam tahun yang para otoritas terhormat TIDAK CANTUMKAN sebagai lahirnya Yesus [Catholic Encyclopedia, Christmas, Zaccaria, Dissertazioni ecc. del p. A.M. Lupi, Faenza, 1785, p. 219]

    Jadi, setiap bulan dari Januari s.d Desember, ada saja yang pernah diklaim sebagai bulan kelahiran Yesus, berikut samplenya:

      Clement Alexandria (150-215 M):
      “Dari lahirnya Kristus, karenanya, wafatnya Commodus, secara keseluruhan adalah 194 tahun, 1 bulan dan 13 hari . Dan ada juga mereka yang menentukan tidak hanya tahun dari Tuan kita lahir, namun juga harinya; Dan mereka katakana itu terjadi di tahun ke-28 Agustus, dan di hari ke-25 bulan Pachon. Dan para pengikut Basilide (sekitar 130 M) memegang hari baptisanNya sebagai sebuah festival.. Dan mereka katakan bahwa tahun ke-15 Tiberus Caesar adalah hari ke-15 Tubi dan beberapa katakan itu adalah hari ke-11 di bulan yang sama..Lebih lanjut, beberapa berkata bahwa Ia lahir di hari ke-24 atau 25 bulan Pharmuthi”

        Note:
        Commodus wafat: 31 Desember 192 AD (Kalender Julian) / 30 Desember 192 M (Kalender Gregorian). Dengan selisih lahir Yesus vs wafat Commodus sebanyak 194 tahun, 1 bulan, 13 hari (Julian), maka dari kalender conventer Julian – Gregorian , didapat tanggal: 20 November 3 SM (Julian) atau 18 November 2 SM (Gregorian). Jadi Yesus lahir di: 20/18 November

        Untuk tahun ke-28 Kaisar Agustus, yaitu hari ke-25 bulan ke-9 (Pachon) kalender Mesir, maka dari kalender converter Mesir – Julian/Gregorian didapat tanggal: 20 May 2 SM (Julian) atau 18 May 2 SM (Gregorian). Jadi Yesus lahir di: 20/18 May

        Untuk hari ke-24/25 Pharmuthi, dengan kalender converter yang sama seperti di atas, maka didapat tanggal Yesus lahir: 19/20 April (Julian) dan 17/18 April (Gregorian).

        Untuk hari baptisan Basillide, Catholic Ensikopedia menyatakan Basillide merayakan hari Epiphany (hari 3 raja magi, yang datang saat yesus Lahir), maka dari kelender conventer yang sama, tanggal yang clement maksudkan sebagai 11/15 Tubi adalah: 6/12 January (Julian) atau 4/10 January (Gregorian)

      Hippolytus (murid Clement: 170 -235 M), yaitu dari 7 manusriptnya yang ditemukan di abad yang berbeda-beda, namun untuk “komentar untuk Daniel” yang sama dan pada pasal 4.23.3-4 [Lihat gambar], terdapat 3 tanggal rekaan kelahiran Yesus yang berbeda, yaitu Maret, 2 April dan 25 Desember. Tidak jelas mana yang asli diantara ke-7 manuskrip tersebut.

      Desember:
      Pendeta Romawi Dionysius Exiguus di tahun 527 AD (Julian) membuat kalender Julian, dengan menetapkan tahun 754 AUC (ab urbe condita = Sejak berdirinya kota Roma) sebagai inkarnasi Yesus. Tahun 754 AUC = 25 Maret 1 AD dan 9 Bulan kemudian adalah 25 Desember. Namun, penetapan resmi tanggal 25 Desember sebagai tanggal lahir Yesus, tampaknya karena Paus Julius (di 350 M atau di 385 M).

      Dewa-dewa yang lahir di 25 Desember, diantaranya adalah: Apollo (Yunani), Attis (Yunani), Baal (dewa kanaan), Bacchus (romawi)/Dionisus (Yunani, Helios (Yunani), Hercules/Heracles (Yunani), Horus (Mesir), Jupiter (Romawi), Mithra (India), Nimrod (Babilon), Osiris (Mesir), Perseus (Yunani), Tammuz (Summerian)/Adonis (Yunani), Sol Invictus (Romawi: Dewa utama kota roma, penetapan penyembahannya dilakukan oleh Raja Aurelian, 274 M, dirayakan dengan festival Dies Natalis Solis Invicti/lahirnya sang matahari yang tak tertaklukan).

      Karena dianggap terkait perayaan banyak dewa-dewa pagan, maka aliran Advent dan Saksi Yehuwa, berhenti merayakan natal di tanggal itu. Saksi Yehuwa berhenti merayakannya sejak tahun 1926.

    [Kembali]


    "Seven Sleepers" tertidur 309 Tahun?


    Dongeng tentang mereka yang tertidur tahunan lamanya dan terbangun, terdapat di berbagai kebudayaan:

      Di kalangan Hinduisme, misalnya tentang Kumbakarna, adiknya Rahvana, dalam epik Ramayana karya Valmiki: Rahvana mengeluarkan perintah kepada pasukannya: “Bangunkan Kumbakarna yang sedang tertidur nyenyak … Ia telah tertidur selama 9, 7, 10 atau 8 bulan ..”. Mendengar kata-kata Rahwana, para raksasa dengan cepat menuju gua yang indah, tempat kediaman Kumbhakarna dan membangunkannya [buku ke-6, Yuddha Kanda, sarga ke-60].

      Alasan mengapa Kumbakarna tertidur seperti itu, Valmiki sampaikan dalam 2 versi berbeda:

      Versi Ke-1,
      Yuddha Kanda, sarga ke-61: Wibisana menjawab Rama: “…Segera setelah kelahirannya, Kumbakarna menderita kelaparan, Ia melahap ribuan makhluk, orang-orang yang ketakutan mencari perlindungan kepada Indra, namun Indra dengan petirnya kewalahan menghadapi Kumbhakarna. Kemudian para Deva, petapa, dan raksasa menghadap Brahma, menceritakan bagaimana Ia melahap para makhluk, menyerang para deva, Jika terus melahap mahluk seperti ini, dunia akan menjadi sunyi. Mendengar kata-kata Indra, Brahma, kakek buyut seluruh dunia, memanggil para Raksasa, Kumbakarna juga bersama mereka dan Brahma mengutuknya: ‘Kamu diciptakan Visravasa memusnahkan orang-orang, karenanya kamu akan tertidur dan tampak seperti mati sejak sekarang’. lalu Kumbakarna terjatuh di hadapan Rahwana. Rahwana berkata: ‘O Brahma! Tidak adil jika kau mengutuk cucu buyutmu sendiri seperti ini. Dia tentu harus tertidur, namun tetapkanlah batasan waktu tidur dan bangunnya’. Mendengar ini, Brahma berkata: ‘Dia tidur selama enam bulan dan bangun untuk satu hari'” [juga terjemahan Ralph. T.H Griffith, Buku ke-6, ch.61]

      Versi ke-2,
      buku ke-7, Uttara Kanda, Ch.9-10, hal.1584-1587: Untuk menenangkan kesedihan ibu mereka, yaitu Kaikasi, yang ingin mereka sangat kuat, Rahvana, Kumbakarna dan Wibisana pergi ke pertapaan Gokarna dan menjalani tapa sangat keras selama ribuan tahun. Kumbakarna bertapa selama 10 ribu tahun. Brahma yang terkesan atas keberhasilan tapa keras mereka, datang hendak memberikan anugrah, namun Para deva dalam satu kesatuan datang menghadap Brahma (versi lain: mereka menghadap Saraswati) bahwa Kumbakarna telah melahap para dewa dan lainnya, juga petapa dan manusia sewaktu belum mendapatkan anugerah apapun, jika Ia memperolehnya maka 3 dunia akan dilahapnya. Mereka memohon agar anugerah diganti dengan kebodohan. Dewi Saraswati berkata: ‘0 tuhan, aku hadir di sini’. Brahma berkata: ‘0 Vani! Jadilah dewi ucapan Raksasa terkemuka ini’ Sarasawi masuk ke mulut Kumbhakarna (versi lain: Saraswati mengikat lidah Kumbakarna). Ketika Kumbakarna meminta anugerah ‘Indrasasana’ (tempat Indra), terucap ‘Nidrasasana’ (tempat untuk tidur), ketika meminta ‘Nirdevatvam’ (leyapnya para deva), terucap ‘Nidravatvam’ (tertidur), setelahnya Brahma berkata, ‘Terjadilah demikian’. Kemudian Kumbakarna tersadar dan sedih, “Apa yang aku ucapkan tadi? Para deva telah memperdayaku’ [“The Ramayana Utharakandam”, Manmatha Nath Dutt. Juga lihat: Kumbhakarna: Did he suffer from the disorder of the hypothalamus?]

      Kumbakarna tertidur tidaklah bertahun-tahun, tapi dengan interval waktu selama 6 bulanan, terbangun 1 hari dan tertidur kembali. Ini berlangsung ribuan tahun, hingga Ia wafat dalam perang mempertahankan Alengka.

      Di kalangan Yunani, misalnya kisah yang disampaikan Theopompus [abad ke-4 SM] tentang Epimenides dari Cnossos [abad ke-6 SM] sewaktu masih anak-anak, diminta ayahnya mencari seekor domba terlantar, karena kepanasan dan lelah berjalan, Ia masuk ke sebuah gua dan tertidur, setelah bangun, pencarian Ia lanjutkan namun tidak menemukannya. Ia kemudian pergi ke sebuah pertanian dan menemukan semuanya telah berubah, pemiliknya sudah berganti. Dalam keadaan bingung, Ia kembali ke kota, masuk rumahnya sendiri dan ditanyai siapa dirinya, akhirnya Ia bertemu adik laki-lakinya, yang sekarang terlihat sangat tua yang berkata bahwa 57 tahun telah berlalu. Kejadian ini membuatnya terkenal di Yunani dan dipercayai sebagai favorit surga [Pliny/23-79 M, “Natural History”, Ch.49, Pliny hanya menyebutkan panjang usianya; Diogenes Laertius/abad ke-3 M, “Lives of Eminent Philosophers”, Bab 10 atau di sini].

      Kemudian tentang Aristeas dari Proconnesus (akhir abad ke-7 SM), Di sebuah toko pandai besi Ia terpeleset, jatuh dan mati. Setelah menutup toko, pandai besi ini kemudian mengabarkan ke para sanaknya, mereka datang berlarian dengan ratapan. Ketika toko dibuka, mereka tidak menemukan apapun, tidak ada yang mati atau manusia hidup, Aristeas muncul 7 tahun kemudian dan menulis epik puisi “The Arimaspea”. Kemudian terjadi lagi yang ke-2xnya, Ia mati, menghilang dan muncul lagi 240 tahun kemudian pada jaman Herodotus, namun tidak ada yang mengenalnya lagi sehingga tidak ada yang percaya. [John Tzetzes/abad ke-12 M, “Buku Sejarah (CHILIADES)”, bab 18]

      Juga, Aritotle/384 – 322 SM yang menyebutkan dibukunya tentang mereka yang tertidur dekat beberapa pahlawan di Sardinia (Sardinia ada di area yang sama dengan Ephesus, Turki), ketika bangun tidak mengetahui seberapa lama waktu berlalu [“Physics” 4.11, 218 b 23-26]. Aritotle tidak menyebutkan siapa pahlawan yang dimaksud atau merujuk pada kisah lampau yang mana. Para komentator tulisannya, menyampaikan dugaan, misalnya Tertulian (2 M): menyebutkan tentang inkubator/fanum di kuil/kuburan pahlawan Sardinia, yang bertuah untuk tidak mimpi apapun (De anima 49, 2), atau Philoponus (6 M): mereka yang pergi ini, orang yang sakit, tertidur selama 5 hari dekat para pahlawan dan sembuh ketika terbangun (Aristotelem Graeca XVII, hal.715 (Vitelli)), atau Simplicius (6 M): Para pahlawan ini adalah 9 anak lelaki Herakles/Herkules dari perkawinannya dengan para putrinya Thespios. Mereka wafat di Sardinia, mayat mereka tetap tidak rusak dan tampak seperti tidur (Aristotelem Graeca IX, hal.707–708 (Diels)) [Dari A note on Ancient Sardinian incubation].

      Di kalangan Yahudi, misalnya kitab Baruch (seketaris Jeremiah) memuat tentang Abimelek (Ebed-Melech/Abdul-Malik, budak Ethiophia milik Jeremiah) di menjelang kehancuran Yerusalem. Ia diminta Jeremiah mengambil beberapa keranjang buah ara di perkebunan Agrippa tepi jalan pegunungan, setelah mendapatkannya, Ia capek dan di bawah pohon, Ia tertidur 66 tahun. Di saat Abimelek tertidur, Jeremiah dibawa ke Babilon sebagai tawanan Raja Nebuchadnezzar. [“Paraleipomena Jeremiou”, translasi oleh Robert Kraft dan Ann Elizabeth Purintun, 3.21, 5.1-29. Kitab ini dekat kaitannya dengan versi Suriah-nya Baruch (Syriac Apocalypse of Baruch). Kitab Baruch dianggap Pseudepigraph oleh seluruh gereja Kristen KECUALI oleh gereja ortodok Ethiopia]

      Tabari (sejarahwan dan ulama muslim, 839-923 M) memuat variasi lain, yang tertidur adalah Jeremiah bukan Abimelek: Riwayat Hisham b.Muhammad: “…Ketika kaum Israel tersebar, beberapa menetap di Hijaz, di Yathrib di Wadi al-Qura, dan diberbagai tempat. Menurut riwayat yang sampai ke kami, Tuhan mengilhami Jeremiah, “Aku akan bangun Yerusalem, Ia sampai di sana dan menemukannya dalam reruntuhan, Ia kemudian berkata pada dirinya sendiri, “Terpujilah Allah, ia memerintahkanku untuk membangun ini, tapi kapan Ia bangun ulang ini..Ia kemudian menundukan kepada dan jatuh tertidur..Ia tertidur selama 70 Tahun [Tabari, Vol IV, hal.45-46]

      Juga tentang Croni [Honi/Onias, versi Yerushalmi: cucu Onias; versi Babilon: Onias sendiri], Di menjelang kehancuran Yerusalem, Suatu ketika Ia pergi ke pegunungan yang banyak pohon carob/kacang polong, Ia kemudian duduk dan makan roti. (Versi T.Yerushalmi: menuju para pekerjanya, kemudian turun hujan dan berlindung ke sebuah gua), kemudian tertidur selama 70 tahun dan terbangun ketika Kuil Yerusalem dibangun kembali. [Penjelasan Mazmur 126.1: di Talmud Yerushalmi, Ta‘aniyot 3.9.16b (dari Rabbi Yudan Giria), di Talmud Bavli/Babilon, Ta‘anit 23a (dari Rabbi Yochanan) dan Midrash Tehillim 126.1-2. Lihat: S. Baring Gould: The seven sleepers].

      Kehancuran kuil Yerusalem terjadi 2x, yang pertama kali terjadi di jaman Raja Nebudkadnezar (abad ke-6 SM dan kehancuran kuil yang kedua kali dilakukan Titus pada tahun 70 M yang saat itu bertugass untuk memadamkan pemberontakan kaum Yahudi ke-1 (66-70 M).

      Sementara itu, Josephus (34-100 M), sejarahwan Yahudi, dalam Antiquities of the Jews, bab 14 memuat kisah Onias yang berbeda, TIDAK ADA tertera peristiwa Onias yang tertidur lama, juga, di bab-bab sebelumnya, Josephus sama sekali tidak memuat adanya orang yang tertidur lama. Oleh karenanya, dongeng tentang Abimelek/Ebed-Melech dan juga Onias BELUMLAH MUNCUL di jaman Josephus, ini baru dibuat setelah masanya, yaitu setelah pemberontakan Yahudi ke-2 di 132 M (Pemberontakan oleh Simeon bar Kosiba). [Lihat John Koch, Die Siebenschlafereigende, ihr Ursprung u. ihre Verbreitung (Leipzig, 1883), Hal. 24-40].

      Di kalangan Kristen, misalnya dongeng tentang 7 pemuda yang melarikan diri dari kelaliman raja [Dikyanus] hingga tiba di sebuah gua, tertidur dan terbangun di jaman raja Theodosius. Dongeng “Tujuh Orang Ephesus yang Tertidur” (“Seven Sleepers of Ephesus”) beredar di sekitar akhir abad ke-5 M dan menyebar ke Asia Barat dan Eropa. Menurut Para ahli sejarah, dongeng ini, bermula dari tulisan Uskup Suriah Yakub dari Sarug [450-521 M, salah satu nama pemuda adalah: Iamlikha], juga dalam terjemahan Latin oleh Gregory dari Tours (sekitar 538-594), dalam “De Gloria Maryrum” yang dalam tulilsannya Gregory menyatakan “quam Syro quodam interpretante in Latinum transtulimus” tidak berarti terjadinya di Suriah, orang Suriah mentranlasikan untuk Gregery dari Latin; Penulis lainnya adalah Gerejawan, Paulus sang diakon (720-799 M) dalam “History of the Lombard“; Juga Biarawan Dominika abad ke-13, Jacobus de Voragine (James de Voragine/Iacopo da Varazze, 1230-1298), dalam “Golden Legend” (legenda Aurea, salah satu nama pemuda adalah: Iamblichus) dan juga dalam lukisan.

      Di legenda Suriah, beberapa pemuda Kristen lari menyelamatkan diri dari ancaman pembunuhan Kaisar Decius (Romawi) dan berlindung di gua daerah pegunungan. Para pengejar menemukan tempat persembunyian mereka dan menutup lubang gua. Setelah lama berselang, seorang dari mereka diutus keluar [Iamblichus dalam versi James de Voragine] dan ternyata waktu telah berlalu [versi Yakub dari sarug: 112/371/372 tahun; versi James de Voragine: 372 tahun].

      Penyebaran dongeng ini dikaitkan dengan Pendeta Stephen dari Ephesus (448-451). Ia menjadi uskup sementara setelah Bassianus, uskup sebelumnya, dijebloskan ke penjara (Stephen diduga terkait dengan insiden ini). Di konsili Chaledeon (451 M), Stephen (dan juga Bassianus) dipensiunkan, dianggap tidak layak menjadi uskup. Pada masa keuskupan Stephen, Ia gencar menghembuskan dongeng para pemuda yang tertidur (untuk pengalihan isu dari masalahnya), oleh karenanya, namanya kerap dianggap sebagai sumber pertama dongeng ini. Karena legimasinya buruk, nama Stephen tidak lagi muncul di versi-versi selanjutnya. Seiring dengan berkembangnya dongeng, dilakukanlah pekerjaan kontruksi Gereja di tempat itu. Wakil uskup Jerman, Theodosius, 518-530 M, dalam ‘De situ terrae sanctae’ mencatat adanya pekerjaan konstruksi di jaman kaisar Anastasius (491-518) dan belum selesai.

      Sejak 1894, tim expedisi arkeologi Austria, melakukan penggalian di Ephesus, Turki, di area bukit Pion (sekarang Panayir Dagi) dan telah menemukan banyak tempat bersejarah dari sebelum masehi hingga sesudahnya, pada area seputaran bukit terdapat beberapa gua, juga beberapa reruntuhan gereja kuno. Di salah satu dinding gereja yang ditemukan, terdapat ukiran tentang para pemuda yang tertidur sehingga salah satu dari gua tersebut kemudian diklaim sebagai tempat mereka tertidur. bukan cuma itu, juga sejumlah gua di Anatolia (seluas 756,000 km2) juga tidak luput di klaim (misal: Akhisar, Manisa, Sardes, Tarsus, dan Antakya atau juga di gunung Qasioun, di mana bahkan Madrasaah dibangun di atasnya). Klaim-klaim ini absurd, karena bahkan, nama gunung tempat gua berada pun masih kontroversi, dari 200an teks tentang dongeng tersebut (abad ke-9 sampai abad ke-13), ditemukan sejumah variasi nama gunung tempat gua berada, di teks Arab nama gunung adalah Bangilos, di teks Suriah adalah Onkilos atau Okhlon sedangkan di teksnya Gregorius dari Tour adalah Olympus atau Celion. Sangat diragukan nama seperti itu ada di Efesus, bahkan dengan analogi nama Coelius, satu dari 7 bukit Romawi, ini menjadi makin tidak mungkin, karena kata Celion (Latin: Coelion, Yunani: Koilion, koilos) artinya adalah gua.

      Kemudian, 7 orang Pemuda Ephesus dalam dongeng ini, dinyatakan sebagai santo/orang suci kalangan Kristen/Nasrani (juga Islam), yaitu di abad ke-9, oleh Óengus mac Óengobann, uskup Irlandia. Sementara di kalangan Katolik, pada jaman Kardinal Baronius/1596-1607 tidak dianggap santo, namun setelahnya, mungkin oleh Paus Urban VIII, dianggap sebagai santo. Nama-nama mereka adalah: Maximian, Malchus/Marcus, Martinian, Dionysius, Yohanes/John, Serapion dan Konstantin [“Buku Para Santo”, Biara St. Augustine di Ramsgate, hal.242]; atau versi Symeon Metaphrastes/abad ke-10: Maximillian, Jamblichos, Martin, John, Dionysios, Exakostodianos dan Antoninos; atau versi Gregory dari Tours: Achillides, Diomedes, Diogenus, Probatus, Stephanus, Sambatus dan Quiriacus [Catholic Encyclopedia]; atau versi Michael orang Suriah/abad ke-12: Aikilos, Dionysius, Stephanus, Probatius, Sebastius dan Cyriacus [Chronique de Michel le Syrien, Vol.2, Buku ke-8, Ch 5, hal.21]; atau versi Koptik: Archelide, Diomede, Eugenio, Probazio, Sabazio, Stefano dan Ciriaco (Ignazio Guidi, “Testi orientali inediti soprai Sette dormienti di Efeso”, 1885, hal.11)

      Di kalangan Islam, dongeng tentang para pemuda yang tertidur di gua menjadi bagian dari wahyu ALLAH SWT sehingga tercatat di Quran dalam surat golongan Al Makiyah (sebelum hijrah) yaitu Al-Kahfi/Gua 18.9-26 (Di bahas lebih detail di bagian bawah).

      Salah satu yang menarik dalam dongeng tentang orang-orang yang tertidur di kalangan Abrahamik ini adalah tentang nama, yaitu di kalangan Yahudi: Abimelech dan di kalangan Kristen: Iamlikha (Joseph dari Saruq) = Iamblichus (James de Voragine). Baik Abimelech dan Iamblichus (atau Iamlikha ataupun Malchus) ada kesamaan huruf (m-l-ch/k), sehingga tampaknya dongeng Abimalek-nya kalangan Yahudi setelah mengalami mutasi di kalangan Kristen/Nasrani, bermutasi lanjutan lagi dengan varian lainnya di kalangan Islam namun semuanya mempunyai nama dengan huruf M-L-K di dalamnya, yaitu Tamlikha atau Yamlikha (lihat bagian bawah)

      [Wikipedia: Seven Sleepers, Encyclopedia of Religion and Ethics, Bagian 21 Oleh James Hastings; “Pious Long-Sleepers in Greek, Jewish, and Christian Antiquity“, oleh Pieter W. van der Horst; SLEEPING TOWARD CHRISTIANITY]

    Karena Al Kahfi (18.9-26) diturunkan Allah melalui jibril kepada Nabi, maka ini menjadi menarik:

    • Mengapa kisah ini ada di Qur’an? (benarkah karena pertanyaan pendeta Yahudi)?
    • Seberapa cepat Nabi menjawab pertanyaan tersebut?
    • Apa arti dan maksud kata “raqim” (Betulkah sesuai dengan penjelasan di AQ yaitu berarti anjing/sejenis anjing?)
    • Berapa jumlah sebenarnya para pemuda yang tertidur di gua tersebut?
    • Benarkah mereka tertidur 300 tahun (Solar system) atau 309 tahun (lunar system)?


    Mengapa kisah ini ada di Qur’an surat Al Kahfi 18.9-26?

    Riwayat kemunculan surat karena ada pertanyaan yang diberikan Rahib Yahudi (bukan Nasrani):

      An-Nadhr bin Al-Harits..pernah pergi ke Al-Hirah dan di sana ia belajar cerita-cerita tentang raja-raja Persia, kisah-kisah tentang Rustum, dan Isfandiyar. Jika Rasulullah SAW duduk di satu tempat untuk mengajak kaumnya ingat kepada Allah, mengingatkan mereka tentang hukuman Allah yang diterima orang-orang sebelum mereka, dan beliau beranjak dari tempat tersebut, maka An-Nadhr bin Al-Harits duduk di tempat yang sama, kemudian berkata, ‘Demi Allah, wahai orang-orang Quraisy, aku lebih bagus ucapannya daripada Muhammad. Sekarang kalian ke marilah, niscaya aku katakan kepada kalian perkataan yang jauh lebih bagus daripada perkataan Muhammad!’ Kemudian An-Nadhr bin Al-Harits bercerita kepada mereka kisah-kisah tentang raja-raja Persia, Rustum, dan Isfandiyar. Ia berkata, ‘Dengan apa Muhammad lebih bagus ucapannya daripada saya?’ “

      Ibnu Hisyam berkata, “An-Nadhr bin Al-Harits inilah orang yang berkata, ‘Aku akan menurunkan ayat seperti yang diturunkan Allah’.”

      Ibnu Ishaq berkata, “Seperti disampaikan kepadaku bahwa Ibnu Abbas berkata, ‘Al-Qur’an menurunkan 8 ayat tentang An-Nadhr bin Al-Harits. Yaitu firman Allah Ta’ala, ‘Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, ‘Itu adalah dongeng orang-orang yang dahulu.’ (Al-Muthaffifin: 13). Dan semua ayat-ayat yang di dalamnya terdapat kata Al-Asaathir (dongeng orang-orang terdahulu) dalam Al-Qur’an’.”

      Ibnu Ishaq berkata, “Usai An-Nadhr bin Al-Harits berkata seperti itu, orang-orang Quraisy mengirimkannya bersama Uqbah bin Abu Mu’aith kepada rahib-rahib Madinah. Orang-orang Quraisy berkata kepada keduannya, ‘Bertanyalah kalian berdua kepada rahib-rahib Yahudi tentang Muhammad..’

      An-Nadhr bin Al-Harits dan Uqbah bin Abu Mu’aith berangkat ke Madinah. Tiba di sana, keduanya bertanya kepada rahib-rahib Yahudi tentang Muhammad SAW..Keduanya berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya kalian mempunyai Kitab Taurat, dan kami datang kepada kalian untuk bertanya tentang sahabat kami’.”

      Ibnu Ishaq berkata, “rahib-rahib Yahudi berkata kepada kedua utusan Quraisy, ‘Tanyakan tiga hal kepada sahabatmu.. Jika ia mampu menjawab ketiga hal tersebut, ia seorang Nabi yang diutus. Jika ia tidak bisa menjawabnya, maka ia berkata bohong dan kalian bebas mengeluarkan pendapat kalian tentang dia. Tanyakan kepadanya perihal pemuda-pemuda yang meninggal pada periode pertama dan bagaimana informasi tentang mereka? Karena mereka mempunyai informasi yang menarik…’.”

      Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian An-Nadhr bin Al-Harits dan Uqbah bin Abu Mu’aith bin Abu Amr bin Umaiyyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushai pulang ke Makkah. Ketika keduanya bertemu kembali dengan orang-orang Quraisy, keduanya berkata kepada mereka, ‘Hai orang-orang Quraisy, sesungguhnya kami datang kepada kalian dengan membawa kata pamungkas persoalan kita dengan Muhammad. Rahib-rahib Yahudi menyuruh kita menanyakan tiga hal kepada Muhammad. Jika ia bisa menjawabnya, ia betul-betul seorang Nabi. Jika ia tidak bisa menjawabnya, ia berkata bohong dan kalian bebas mengeluarkan pendapat kalian terhadapnya.’ [Sirat Nabawiyah Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 1, bab 56, hal.253-255]

    Seberapa cepat Nabi menjawab pertanyaan tersebut?

      Untuk menjawab ketiga pertanyaan tersebut, Muhammad SAW mengatakan, “Aku akan memberikan jawabannya besok”, namun ternyata beliau baru bisa menjawab setelah lebih dari 15 hari. [Sumber: Ibid, halaman 202 dan Tafsir Ibn Kathir utk surat 18:1-5]

      Kemudian mereka datang kepada Rasulullah SAW dan berkata kepada beliau, ‘Hai Muhammad, terangkanlah kepada kami tentang anak-anak muda yang meninggal dunia pada periode pertama, karena mereka mempunyai kisah yang menarik..’ Rasulullah SAW bersabda, “Semua pertanyaan kalian aku jawab besok pagi.’ Beliau mengatakan begitu tanpa mengatakan insya Allah. Setelah itu, mereka berpaling dari hadapan Rasulullah SAW. Menurut banyak orang, selama 15 malam Rasulullah SAW tidak mendapatkan wahyu dan Malaikat Jibril tidak datang kepada beliau, hingga membuat gusar penduduk Makkah. Mereka berkata, ‘Muhammad menjanjikan memberi jawaban atas pertanyaan kita besok pagi, dan waktu sudah berjalan 15 malam, namun ia tidak memberi jawaban atas pertanyaan kita.’ Rasulullah SAW sedih sekali, karena wahyu terputus dari beliau. Beliau terpukul dengan komentar orang-orang Quraisy terhadap dirinya. (Sayangnya orang quraish itu tidak mengepung rumah Ar-Rahman di Yamamah, orang yang mereka curigai sebagai guru muhammad agar muhammad tidak mendatangi gurunya untuk mencari informasi) Kemudian Malaikat Jibril datang kepada beliau dari Allah Azza wa Jalla dengan membawa surat Al-Kahfi..” [Sirat Nabawiyah Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 1, bab 56, hal.256]

    Konon ayat ini menyampaikan alasan mengapa Nabi SAW tidak dapat memberi jawaban esok harinya tapi baru terjadi dalam 15 hari kemudian:

      walaa taquulanna lisyay-in innii faa’ilun dzaalika ghadaan
      [18:23] Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi,
      illaa an yasyaa-a allaahu waudzkur rabbaka idzaa nasiita waqul ‘asaa an yahdiyani rabbii li-aqraba min haadzaa rasyadaan
      [18:24] kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah” (jika Allah berkehendak). Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”.

    Di ayat ini, Nabi SAW diajari tatacara yang seharusnya dilakukan mahluk yang tidak sempurna dalam melakukan sesuatu, yaitu MEMOHON KEHENDAK YANG MAHA SEMPURNA AGAR BERKENAN, karena, tatacara inipun dilakukan Allah SWT, Ia perlu juga MEMOHON KEHENDAK YANG LEBIH SEMPURNA DARINYA AGAR BERKENAN:

      laqad shadaqa allaahu rasuulahu alrru/yaa bialhaqqi latadkhulunna almasjida alharaama in syaa-a allaahu aaminiina…
      [48:27] Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman…

    Di ayat ini, Allah SWT telah memberi contoh dengan juga memohon kepada Tuhannya, meminta izin kepada Tuhannya, agar berkenan mengabulkan, karena, Allah SWT-pun, adalah juga tidak sempurna.

    Dalam kasus pertanyaan kaum Quraish, karena toh, pada 15 malam kemudian, jawaban tetap diberikan, maka alasan keterlambatan yang disebutkan di AQ 18.23-24 adalah dalih mengada-ada, Karena jelas berkehendak untuk menjawab dan sudah menjawabnya, namun tidak mampu dilakukan besok, rupanya Allah butuh waktu lama untuk memberikan jawaban, Penolong Allah terlalu lambat dalam mencarikan jawabannya dan cilakanya lagi, jawaban yang diberikan-pun salah.

      Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Allah memberi jawaban atas pertanyaan mereka tentang anak-anak muda dengan berfirman, ‘Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?’ (Al-Kahfi: 9)..[Sirat Nabawiyah Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 1, bab 56, hal.258]

    Jawaban Allah dengan membawakan kisah ini menjadi janggal dalam 2 hal, PERTAMA, Para Rabi Yahudi di jaman itu ketika merujuk pada kisah di kitab mereka, maka seharusnya, kisah yang dimaksud adalah tentang Onias dan Abimelek/Ebed-Melech, TIDAK PERNAH kalangan Yahudi di kitab mereka memuat para pemuda di Efesus, KEDUA, Allah SWT rupanya tidak tahu bahwa cerita para pemuda yang tertidur di gua itu, ternyata hanya dongeng buatan pendeta Nasrani belaka.



    Apakah arti dan maksud kata “raqim” dalam surat Al Kahfi (18:9)

      am hasibta anna ash-haaba alkahfi waalrraqiimi kaanuu min aayaatinaa ‘ajabaan
      [18:9] Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim872 itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?
      872Raqim: sebagian ahli tafsir mengartikan nama anjing dan sebagian yang lain mengartikan sebagai batu bertulisan/inkripsi

    Beberapa arti kata raqim:

      Al Rakim adalah anjing [Brewer’s Dictionary dan Nuttall Encyclopædia]

      Warna dan nama anjing yang beragam:
      Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs untuk AQ 18.18: “(dan anjing mereka) Qatmir (merentangkan cakarnya) di pintu massuk gua”

      Ibn ‘Abbas: “bulu warna abu-abu muda”. Muqatil: “bulu warna kuning”. Imam al-Qurtubi:“bulu warna kekuningan, warna merahnya yang menonjol”. Al-Kalbi: “warna antara merah dan kuning”. Ibn ‘Abbas: “namanya Qitmir”. ‘Ali Karramallahu wajhah: “namanya Rayyan.” Imam al-Auza’ie: “namanya Yathur”. Al-Suddi:: “namanya Yur”. Ka’ab: “namanya Sahban.” (Tafsir al-Baghawi, 3/183-184). Imam al-Auza’ie: “namanya Musyir”. Imam Sa’id al-Hmmal: “namanya Haran”. Abdullah bin Salam: “namanya Basit”. Ka’b al-Ahbar: “namanya Sahyan”. Wahb: “namanya Naqiyya”. (Hayat al-Hayawan al-Kubra, 2/389). Juga lihat: “AL-AFKAR #42: QITMIR“.

      Yang menafsirkan kata Raqim = Inkrispi, bersandar pada kata “kitābun marqūmun” di AQ 83.9,20, di mana huruf “rā qāf mīm” juga ada di marqūmun, karena arti marqūmun adalah tertulis, maka raqim ditafsirkan sebagai inkripsi.

        Ibnu Hisyam berkata, “Ar-Raqiimu pada ayat di atas ialah kitab yang memuat kisah tentang mereka. Jamaknya ialah ar-ruqumu. Ru’bah bin Al-Ajjaj berkata, Tempat penyimpanan kitab yang memuat Bait di atas adalah penggalan dari syair-syair Ru’bah bin Al-Ajjaj” [Sirat Nabawiyah Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 1, bab 56, hal.258]

      [Jawaban Nabi kepada kaum Quraish SEHARUSNYA TIDAK ADA di kitab Para Rabi Yahudi jaman itu, karena, yang ada adalah kisah tentang Onias dan Abimelech/Ebed-Melech BUKAN kisah para pemuda Efesus/Tarsus]

      Tafsir Ibn Kathir AQ 18:9,
      Berkenaan dengan kata Ar-Raqim, Al-‘Afi – Ibn Abbas: ini adalah lembah dekat Aylah. Ini juga dikatakan `Atiyah Al-`Awfi dan Qatadah. Ad-Dahhak: “Al-Kahfi adalah sebuah gua di lembah, dan Ar-Raqim adalah nama lembah’.’ Mujahid: “Ar-Raqim merujuk pada bangunan-bangunan mereka”. Lainnya berkata ini mengacu pada lembah di mana gua mereka berada. Tentang Ar-Raqim,`Abdur-Razzaq – Ibn Abbas: “Ka’b dulu mengatakan bahwa itu adalah kota”. ‘Ibn Jurayj – Ibn Abbas: “Ar-Raqim adalah gunung tempat gua itu berada”. Sa’id bin Jubayr: “Ar-Raqim adalah loh batu tempat mereka menulis kisah orang-orang di Gua, kemudian mereka menempatkannya di pintu masuk Gua”.

    Melihat penjelasan ar-raqim dari para sahabat nabi yang berbeda-beda yang padahal bahasa Arab adalah bahasa asal mereka, bahasa keseharian mereka, maka tampak jelas bahwa mereka ini kebingungan sendiri. Anehnya Allah SWT tidak berupaya membuatnya menjadi jelas dan terang, bukankah Allah di Quran sudah menyatakan:

      ..(bi)lisaan(in/un) arabiyy(in/un) mubiin(in/un)” (..(dengan) bahasa arab yang JELAS/TERANG) [AQ 16.103, 26.195] juga di: “quraanan ‘arabiyyan ghayra dhi iwajin..” (Quran dalam bahasa arab yang tidak bengkok (tidak belok-belok)..)” [AQ 39.28].

      Ibn Kathir dalam tafsirnya:
      “Maksudnya: `Quran ini yang kami turunkan padamu, Kami turunkan dalam kesempurnaan dan kefasihan bahasa arab, sehingga membuat JELAS, tidak ada ruang untuk alasan dan memberi BUKTI JELAS, menunjukan jalan lurus.” [AQ 26.195]. Dan: “maksudnya: ini dalam dialek arab yang sederhana/jelas, tanpa kebengkokkan, penyimpangan atau kebingungan. Ini sederhana, bukti jelas. Allah telah membuatnya menjadi seperti ini dan telah diturunkan seperti ini” [AQ 39.28]

    Jika toh tidak membuat lebih jelas, lantas apa gunanya kata tersebut disampaikan di Quran?



    Berapa jumlah para pemuda yang tertidur di gua tersebut?

      sayaquuluuna tsalaatsatun raabi’uhum kalbuhum wayaquuluuna khamsatun saadisuhum kalbuhum rajman bialghaybi wayaquuluuna sab’atun watsaaminuhum kalbuhum qul rabbii a’lamu bi’iddatihim maa ya’lamuhum illaa qaliilun falaa tumaari fiihim illaa miraa-an zhaahiran walaa tastafti fiihim minhum ahadaan
      [18:22] Nanti (ada orang yang akan) mengatakan878 (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka.
      878Yang dimaksud dengan “orang yang akan mengatakan” ini ialah orang-orang ahli kitab dan lain-lainnya pada zaman Nabi Muhammad s.a.w.

    Alqur’an tidak tegas menyatakan jumlah pemudanya, namun Tafsir Ibn Kathir, untuk AQ 18:22, menyatakan jumlah pemuda, yaitu 7 Orang:

      (Tidak ada yang mengetahui kecuali sedikit orang) Qatadah – Ibn Abbas berkata: “Aku adalah salah satu dari yang sedikit yang dimaksud dalam ayat ini; mereka ada tujuh.” (Ibn Jurayj – `Ata’ Al-Khurasani – Ibn Abbas. Ibn Jarir mencatat Ibn `Abbas menyatakan itu dan Sahih)

    Tabari, Vol.4, hal 155-156, mencatat variasi jumlah pemuda bukan cuma 7 orang, bahkan lebih:

      Riwayat Ibn Bashshar – `Abd al-Rahman – Isra’il – Simak – `Ikrimah – Ibn `Abbas: “Tidak seorangpun tahu kecuali segelintir dan Aku adalah yang segelintir itu. Mereka adalah 7
      Riwayat Bishr – Yazid – Said – Qatadah -Ibn `Abbas: Aku adalah yang segelintir yang Allah kecualikan, mereka adalah 7 dan anjing mereka adalah yang ke-8
      Riwayat`Abdallah b. Muhammad al-Zuhri – Sufyan – Mugatil: “seorang bernama Yamnikha”
      Riwayat Ibn Ishaq – Ibn Jumayd – Salamah: Namanya adalah Yamlikha. Ibn Ishaq kerap berkata: Jumah pemuda adalah 8, anjing mereka adalah yang ke-9
      Ibn Humayd – Salamah – Ibn Ishaq: Yang tertua Maksimilina; lainnya Mahsimilina; yang ke-3 Yamlikha; ke-4 Martus; ke-5 Kasutunas; ke-6 Birunas; ke-7 Rasmunas ke-8 Batunas; dan ke-9 Qalus

    Beberapa nama di Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs AQ 18.19: “..Maxmillian..Yamblichus (Yamlikha)”

    Variasi lain nama-nama mereka:

      Di lempeng marbel kuburan as-sabil al Mahmudi, di Jaffa, abad ke-19 ditemukan surat al Kahfi dan nama-nama mereka pemuda: Yemlihá (Yamlikha), Mesliná (Mathlină), Mekselina (Makthalina), Mernus (Marnush), Debernüs (Dabarnush), Sâzenūs (Shāzdhanush), Kefestatayūs (Kafastatayush) dan Kitmir (Qitmir) [“Corpus Inscriptionum Arabicarum Palaestinae, Volume Six: -J (1)-“, Moshe Sharon, hal.74]. Versi lain: Tamlikha, Miksalmina, Mikhaslimina, Martelius, Casitius, Sidemius, seorang Gembala yang tidak disebutkan namanya dan seekor anjing berwarna hitam yang bisa bicara bernama Qithmir [“Qishasul Anbiya“, kitab “Fadha ‘ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah”, Murtadha Al Huseiniy Al Faruz Aabaad]

    Jika memang jumlah dan nama dapat menimbulkan pertengkaran, mengapa Allah tidak disampaikan dengan jelas kepada para penanya yang telah sabar menunggu selama 15 hari?



    Dimana dan dijaman apa mereka hidup?
    Tafsir Jalalain untuk AQ 18.19 nama kota ketika mereka terbangun adalah Tarsus/Tarasūs atau Daqsus menurut tafsir Ibn kathir untuk AQ 18.21, sementara Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs AQ 18.19 nama kota adalah Ephesus (Afsus). Padahal jarak Ephesus dan Tarsus terpisah 900 KM jauhnya.

    Tafsir Ibn Kathir, untuk surat AQ 18:21,

      [..]Mereka [penduduk] berkata pada nya [salah satu dari 7 pemuda] siapa dirinya dan darimana Ia dapat uang itu [krn uang itu kuno]. Apakah menemukan hartakarun? Ia kemudian berkata, “Saya berasal dari sini, Saya kemarin hidup di sini dan Desianus adalah Rajanya..

      Ketika sang pemuda menceritakan kisahnya, mereka – raja dan penduduk kota – pergi bersamanya kegua, disana dia berkata, “Biarkan aku masuk dulu dan memberitahukan pada sahabat-sahabatku.” Dikisahkan bahwa mereka tidak tahu bagaimana sang pemuda masuk kedalam gua, dan bahwa penduduk tidak tahu tentang cerita mereka. Dikisahkan juga bahwa mereka akhirnya masuk dalam gua dan melihat mereka dan sang raja menyambut dan merangkul mereka.

      Tampaknya sang raja adalah seorang muslim, dan namanya adalah Tedosis. Para pemuda sangat gembira bertemu sang raja dan berbicara dengannya, kemudian mereka mengucapkan selamat tinggal kepadanya dan tidur kembali, dan Allah membuat mereka kemudian meninggal

    Apakah kaisar Teodosis seorang Muslim? dan adakah kaisar bernama Dikyanus?

      warabathnaa ‘alaa quluubihim idz qaamuu faqaaluu rabbunaa rabbu alssamaawaati waal-ardhi lan nad’uwa min duunihi ilaahan laqad qulnaa idzan syathathaan
      [18:14] Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri875, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”.
      875 Maksudnya: berdiri di hadapan raja Dikyanus (Decius) yang zalim dan menyombongkan diri.

    Sepanjang sejarah kekaisaran Romawi TIDAK PERNAH ada kaisar bernama Dikyanus yang hidup di 112 M (lihat di: From Augustus to Constantine XI Palaeologus). Terdapat kaisar bernama Decius (249 – 251), Theodosius: (Agung/379 – 395 dan Muda/408 – 450M) [Catholic Encyclopedia]. Gaius Messius Quintus Traianus Decius (ca. 201- June 251), kaisar romawi (249 – 251), pada tahun terakhirnya, menjadi pemimpin bersama dengan anaknya, Herennius Etruscus, sampai mereka berdua terbunuh di perang Abrittus.[Wikipedia]

    Tafsir Ibn Kathir menyatakan bahwa Raja Teodosis adalah seorang Muslim, namun faktanya TIDAK SATUPUN dari raja dengan nama Theodosis baik itu I s/d II yang memeluk agama Islam. Bahkan, Theodosius III-pun, masih bukan muslim walaupun menjadi kaisar ratusan tahun setelah wafatnya Muhammad (570an-632).



    Benarkah mereka tidur 300 tahun (solar system) atau 309 tahun (lunar system)?

    Quran surat Al-Kahfi 18:25, menyatakan dengan tegas mengenai kepastian lamanya tidur adalah 309 tahun:

      walabitsuu fii kahfihim tsalaatsa mi-atin siniina waizdaaduu tis’aan
      [18:25] Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).

    Dan AQ 18:26 menyatakan:

      quli allaahu a’lamu bimaa labitsuu lahu ghaybu alssamaawaati waal-ardhi abshir bihi wa-asmi’ maaaa lahum min duunihi min waliyyin wal yusyriku fii hukmihi ahadaan
      [18:26] Katakanlah: “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”.

    Hal ini, bisa juga diartikan bahwa ayat 26 merupakan sebuah re-konfirmasi. Senada sebagaimana di sampaikan dalam Tafsir Ibn Katir, untuk ayat 18:25:

      Jika kamu ditanya tentang berapa lama mereka tidur, dan kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya dan tidak ada wahyu dari Tuhan, maka jangan katakan apapun. Lebih baik katakan (Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal)

    Surat Al-Kahfi adalah golongan surat Al makiyyah [sebelum hijrah] oleh karenanya, perhitungan tanggal yang berlaku saat itu harusnya Samsyiah [berdasarkan matahari] bukan Qomariah [berdasarkan bulan]. Perhitungan Qomariyah baru mulai digunakan sejak turunnya surat golongan Madaniya (setelah hijrah) yaitu di At Taubah 9:36, 37 (tahun ke-9 setelah Hijrah).

    Banyak tafsir menyatakan bahwa 300 tahun Syamsiah = 309 tahun Qomariah. Di Tafsir Ibn Katsir, para sahabat Nabi, Mujahid dan Mutarraf bin `Abdullah, juga menyatatakan demikian.

    Pertama-tama,
    Perhitungan selisih antara kalender Matahari dan Bulan, mengutip Kisah-Kisah Al-Qur`An 2, Shalah Al-Khalidy, dari Ahmad Adil Kamal di bukunya, “Jadawil Aat-Taqwim Al-Miilaadi Al Muqaabil, Li At Taqwim Al Hijri”:

      1 hari syamsiyah lebih lama 3 menit 59 detik.
      1 hari bangsa arab = 1 hari terbenam s/d terbenam hari berikutnya.
      1 bulan qamariah = 29,530588.
      1 tahun qamariah = 354 hari, 8 jam, 48 menit, 36 detik
      1 tahun syamsiyah = 365, 6 jam, 9 menit, 9.5 detik.

      Imam Al-Alusi menyatakan perbedaan PER 1 tahun syamsiah VS qomariah adalah 10 hari, 21 jam, 1 menit. Kalau 100 tahun = 1087 hari, 13 jam, 4 menit ATAU SAMA DENGAN 3 tahun, 24 hari, 11 jam, 16 menit. Jadi jika 300 tahun adalah 9 tahun, 73 hari, 9 jam, 48 menit.

    Perhitungan ini sudah menjelaskan bahwa TIDAK BENAR 300 tahun syamsiah adalah 309 tahun qomariah, karena masih harus ditambah 73 Hari lebih!

    Pertanyaan terakhir: Benarkah mereka tidur selama 309 tahun?

    Pemerintahan Romawi Masa Pemerintahan Tahun Lamanya Tidur
    Awal Akhir Awal Akhir
    Desius 249 251
    Theodosius 1 (Yang Agung) 379 395 146 144
    Theodosius 2 408 450 201 199
    Theodosius 3 715 717 468 466

    Tabel di atas sudah menyatakan bahwa TIDAK ADA satupun angka yang mendekati lamanya tidur sebesar 300 tahun atau 309 tahun.



    Kesimpulan kisah Ashaabul Kahfi

    Kisah orang-orang yang tertidur di gua yang tercantum di Al Kahfi (18:9-26), disamping hanya dongeng buatan belaka, juga tidak akurat dengan fakta sejarah.

    Bagaimana menurut anda? (Lihat juga versi: vivaldi)


    MAHA PARINIBBANA SUTTA (hari-hari terakhir dan kemangkatan Sang Buddha)


    BAB I

    Demikianlah yang kudengar
    1. Ketika Sang Buddha berdiam di atas puncak Gijjhakuta, Rajagaha, raja Magadha Ajatasattu, putra ratu Viheda berkeinginan untuk berperang melawan suku Vajji. Raja Ajatasattu berpikir: “Suku Vajji yang berdaulat dan jaya akan aku musnahkan, celakakan dan basmi seluruhnya.”

    2. Kemudian raja Ajatasattu menitahkan patihnya Brahmana Vassakara sambil bersabda: “Brahmana, pergilah menghadap Sang Buddha. Sampaikanlah salam hormat dan sujudku kepada Beliau. Sampaikan pula harapanku, semoga Beliau selalu dalam keadaan sehat walafiat, selamat sejahtera dan selalu bahagia. Selanjutnya sampaikan pula kepada Beliau, bahwa aku raja Ajatasattu dari Magadha, hendak berperang melawan suku Vajji. Suku Vajji yang berdulat dan jaya itu, akan aku musnahkan, celakakan dan basmi seluruhnya.

    Setelah mendengar rencanaku ini, apapun jawaban Sang Buddha, simpanlah itu dalam ingatanmu dengan sebaik-baiknya, dan kemudian beritahukanlah kepadaku. Aku yakin Sang Tathagata akan menyampaikan pendapatnya dengan jujur, karena Sang Buddha tidak pernah berbicara yang tidak jujur.”

    [Vassakā­rab­rāhmaṇa]
    3. Setelah mendengar sabda dan pesan raja Ajatasattu Patih Vassakara menyatakan persetujuannya sambil berdatang sembah: “Baik, Tuanku, segala titah kami junjung tinggi di atas kepala kami.” Kemudian Brahmana Vassakara menitahkan untuk menyiapkan keretanya yang indah dan kereta-kereta lainnya bagi para pengiringnya. Setelah semuanya siap, berangkatlah Patih Brahmana Vassakara dengan diiringi oleh para pengiringnya menuju Gijjhakuta, untuk menghadap kepada Sang Buddha. Sesampai di suatu tempat di atas bukit itu, perjalanan tidak dapat di tempuh dengan naik kereta, mereka terpaksa meneruskan perjalanan dengan berjalan.

    Setelah Patih Brahmana Vassakara sampai di hadapan Sang Buddha, beliau lalu bersujud kepada Sang Buddha, setelah itu Patih Brahmana Vassakara duduk di salah satu sisi Sang Buddha. Kemudian dengan suara yang lemah lembut, Patih Brahmana Vassakara berkata : “Sang Gotama yang mulia, saya datang menghadap Yang Mulia ialah untuk menyampaikan pesan raja Ajatasattu dari Magadha. Baginda raja Ajatasattu menghaturkan hormat dan sujud ke hadapan Bhante, dan memujikan semoga Bhante selalu selamat, dalam keadaan sehat walafiat dan selamat sejahtera serta selalu berbahagia. Baginda juga memerintahkan kepada saya, untuk menyampaikan pesan baginda raja Ajattasattu yang ingin mengadakan peperangan dengan suku Vajji yang berdaulat dan jaya itu. Baginda hendak memusnahkan, mencelakakan dan akan membasmi mereka seluruhnya.”

    [Rājaa­pari­hāni­ya­dhamma] SYARAT-SYARAT KESEJAHTERAAN SUATU BANGSA
    4. Pada saat itu Ananda berdiri di belakang Sang Buddha sedang mengipasi Beliau. Kemudian Sang Buddha bersabda kepada Ananda:

    1. “Pernahkah, Ānanda, engkau mendengar bahwa vajjī abhiṇhaṃ sannipātā sanni­pāta­bahulā’”ti? (para Vajji sering mengadakan pertemuan rutin?)”

      “Demikian yang aku dengar Bhante, para Vajji sering mengadakan pertemuan rutin”

      Yāvakīvañca, ānanda, (Selama, Ananda,) Para Vaji sering mengadakan pertemuan rutin, “vuddhiyeva, ānanda, vajjīnaṃ pāṭikaṅkhā, no parihāni“(kemajuan, Ananda, yang didapatkan kaum vajji, bukan kemunduran)”

    2. “Pernahkah, Ānanda, engkau mendengar bahwa vajjī samaggā sannipatanti, samaggā vuṭṭhahanti, samaggā vajji­karaṇī­yāni karontī’”ti? (para Vajji bertemu dalam damai dan bangkit/berpisah dalam damai, dan melaksanakan tugas mereka dalam damai?)”

      “Demikian yang aku dengar Bhante, para Vajji bertemu dalam damai dan bangkit/berpisah dalam damai, dan melaksanakan tugas mereka dalam damai”

      “Selama, Ananda, para Vajji bertemu dalam damai dan bangkit/berpisah dalam damai, dan melaksanakan tugas mereka dalam damai, kemajuan, Ananda, yang didapatkan kaum vajji, bukan kemunduran”

    3. “Pernahkah, Ānanda, engkau mendengar bahwa vajjī apaññattaṃ na paññapenti, paññattaṃ na samucchindanti, yathāpaññatte porāṇe vajjidhamme samādāya vattantī’”ti? (para Vajji tidak menetapkan apa yang belum pernah ditetapkan, dan tidak meniadakan apa yang telah ditetapkan, melainkan meneruskan apa yang telah ditetapkan oleh tradisi mereka?)”

      “Demikian yang aku dengar Bhante, para Vajji tidak menetapkan apa yang belum pernah ditetapkan, dan tidak meniadakan apa yang telah ditetapkan, melainkan meneruskan apa yang telah ditetapkan oleh tradisi mereka”

      “Selama, Ananda, para Vajji tidak menetapkan apa yang belum pernah ditetapkan, dan tidak meniadakan apa yang telah ditetapkan, melainkan meneruskan apa yang telah ditetapkan oleh tradisi mereka, kemajuan, Ananda, yang didapatkan kaum vajji, bukan kemunduran”

    4. “Pernahkah, Ānanda, engkau mendengar bahwa vajjī ye te vajjīnaṃ vajjimahallakā, te sakkaronti garuṃ karonti mānenti pūjenti, tesañca sotabbaṃ maññantī’”ti? (para Vajji dengan para sesepuhnya di Vajji, merawatnya, memuliakan, menyampaikan bentuk penghormatan dan menganggap mereka layak didengarkan?)”

      “Demikian yang aku dengar Bhante, para Vajji dengan para sesepuhnya di Vajji, merawatnya, memuliakan, menyampaikan bentuk penghormatan dan menganggap mereka layak didengarkan”

      “Selama, Ananda, para Vajji dengan para sesepuhnya di Vajji, merawatnya, memuliakan, menyampaikan bentuk penghormatan dan menganggap mereka layak didengarkan, kemajuan, Ananda, yang didapatkan kaum vajji, bukan kemunduran”

    5. “Pernahkah, Ānanda, engkau mendengar bahwa vajjī yā tā kulitthiyo kulakumāriyo, tā na okkassa pasayha vāsentī’”ti? (tidak dengan paksa menculik istri-istri dan putri-putri orang lain dan memaksa mereka untuk menetap bersama mereka?)”

      “Demikian yang aku dengar Bhante, para Vajji tidak dengan paksa menculik istri-istri dan putri-putri orang lain dan memaksa mereka untuk menetap bersama mereka”

      “Selama, Ananda, para Vajji tidak dengan paksa menculik istri-istri dan putri-putri orang lain dan memaksa mereka untuk menetap bersama mereka, kemajuan, Ananda, yang didapatkan kaum vajji, bukan kemunduran”

    6. Kinti te, ānanda, sutaṃ (Pernahkah, Ānanda, engkau mendengar) vajjī yāni tāni vajjīnaṃ vajjicetiyāni abbhantarāni ceva bāhirāni ca (para Vaji dengan tempat yang dihormati mereka baik di dalam dan luar Vajji) tāni sakkaronti garuṃ karonti mānenti pūjenti (merawatnya, memuliakan, menyampaikan bentuk penghormatan) tesañca dinnapubbaṃ katapubbaṃ dhammikaṃ baliṃ no parihāpentī’”ti? (tidak menarik sokongan layak yang telah diberikan sebelumnya?)”

      “Demikian yang aku dengar Bhante, para Vaji dengan tempat yang dihormati mereka baik di dalam dan luar Vajji, merawatnya, memuliakan, menyampaikan bentuk penghormatan, tidak menarik sokongan layak yang telah diberikan sebelumnya”

      “Selama, Ananda, para Vaji dengan tempat yang dihormati mereka baik di dalam dan luar Vajji, merawatnya, memuliakan, menyampaikan bentuk penghormatan, tidak menarik sokongan layak yang telah diberikan sebelumnya, kemajuan, Ananda, yang didapatkan kaum vajji, bukan kemunduran”

    7. “Pernahkah, Ānanda, engkau mendengar bahwa vajjīnaṃ arahantesu dhammikā ­rak­khā­varaṇa­gutti susaṃvihitā, kinti anāgatā ca arahanto vijitaṃ āgaccheyyuṃ, āgatā ca arahanto vijite phāsu vihareyyun’”ti? (para Vajji mempersiapkan perbekalan yang layak untuk kesejahteraan para Arahant, sehingga para Arahant akan datang dan menetap di sana di masa depan, dan yang sudah menetap di sana, agar berdiam dalam kenyamanan?)”

      “Demikian yang aku dengar Bhante, para Vajji mempersiapkan perbekalan yang layak untuk kesejahteraan para Arahant, sehingga para Arahant akan datang dan menetap di sana di masa depan, dan yang sudah menetap di sana, agar berdiam dalam kenyamanan”

      “Selama, Ananda, para Vajji mempersiapkan perbekalan yang layak untuk kesejahteraan para Arahant, sehingga para Arahant akan datang dan menetap di sana di masa depan, dan yang sudah menetap di sana, agar berdiam dalam kenyamanan, kemajuan, Ananda, yang didapatkan kaum vajji, bukan kemunduran”

    5. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Brahmana Vassakara : “Pada suatu ketika, kami berdiam di Vesali, di cetiya Sarandada. Di cetiya itu kami telah mengajarkan kepada suku Vajji mengenai tujuh syarat untuk membina kesejahteraan suatu bangsa. Selama syarat itu dapat dihayati dan diamalkan dengan baik, maka perkembangan dan kemajuan suku Vajji yang seharusnya kita harapkan, bukan kemundurannya.”

    Setelah Sang Buddha berkata demikian, Brahmana Vassakara lalu bersujud kepada Sang Buddha dan berkata : “Wahai Gotama, jika suku Vajji benar-benar dapat menghayati dan mengamalkan salah satu atau lebih dari ke tujuh syarat tersebut untuk dapat mencapai kesejahteraan, maka perkembangan dan kemajuan suku Vajji yang seharusnya diharapkan, bukan kemundurannya. Lebih-lebih lagi kalau mereka dapat menghayati dan mengamalkan ke tujuh syarat-syarat tersebut. Jika demikian, suku Vajji tidak dapat ditaklukkan oleh raja Magadha; juga walaupun terjadi peperangan yang dilalukan oleh raja Ajatasattu dari Magadha. Kecuali, dengan diplomasi atau memecahkan persatuan mereka. Baiklah Gotama, perkenankanlah kami mohon diri, karena masih banyak tugas yang harus kami laksanakan.”

    “Silakan, Brahmana,” jawab Sang Buddha. Brahmana Vassakara bangkit dari duduknya, dan dengan perasan gembira ia menyatakan setuju pada pendapat Sang Buddha. Kemudian Brahmana Vassakara setelah menghormat kepada Sang Buddha, lalu mohon diri.

    [Bhikkhu­aparihāniyadhamma] KESEJAHTERAAN PARA BHIKKHU
    6. Setelah Brahmana Vassakara meninggalkan Sang Buddha, lalu Sang Buddha berkata kepada Ananda ; “Ananda, segera kumpulkan para bhikkhu yang ada di Rajagaha di ruangan Dhammasala ini.” “Baiklah, Bhante,” jawab Ananda.

    Setalah itu Ananda melaksanakan perintah Sang Buddha. Setalah para bhikkhu yang ada di Rajagaha berkumpul semua, Ananda menghadap Sang Buddha. “Bhante, para bhikkhu telah berkumpul. Kami persilakan Bhante untuk memberikan pembinaan dan bimbingan kepada mereka.”

    Setelah itu, Sang Buddha menuju ke ruangan Dhammasala dan duduk di tempat duduk yang telah disediakan. Sang Buddha kemudian berkata kepada para bhikkhu: “Dengarlah dan perhatikan dengan sekasama, para bhikkhu tentang tujuh syarat yang harus dihayati dan diamalkan untuk mendapat kesejahteraan hidup.” “Silakan, Bhante,” jawab para bhikkhu.

    “Para bhikkhu, kami selalu mengharapkan perkembangan dan kemajuan para bhikkhu, bukan kemundurannya. Perkembangan kemajuan akan tercapai, jika kalian dapat menghayati dan mengamalkan ketujuh syarat untuk mencapai kesejahteraan sebagai berikut :

    1. Yāvakīvañca, bhikkhave, bhikkhū abhiṇhaṃ sannipātā sanni­pāta­bahulā bhavissanti (Selama, para bhikkhu, sering melakukan pertemuan rutin), vuddhiyeva, bhikkhave, bhikkhūnaṃ pāṭikaṅkhā, no parihāni (kemajuan, Para Bhikkhu, yang para bhikkhu dapatkan dan bukan kemunduran)
    2. Yāvakīvañca, bhikkhave, bhikkhū samaggā sanni­patis­santi, samaggā vuṭṭhahissanti, samaggā saṅ­ghakara­ṇīyāni karissanti (Selama Para bhikkhu bertemu dalam damai, bangkit/berpisah dalam damai, dan melakukan tugas-tugasnya dalam damai), vuddhiyeva,.. (Kemajuan,..)
    3. Yāvakīvañca, bhikkhave, bhikkhū apaññattaṃ na paññapessanti, paññattaṃ na samucchin­dis­santi, yathāpaññat­tesu sikkhāpadesu samādāya vattissanti(Selama, para bhikkhu, tidak menetapkan apa yang belum ditetapkan sebelumnya, dan tidak meniadakan apa yang telah ditetapkan, melainkan meneruskan apa yang telah ditetapkan)..
    4. Yāvakīvañca, bhikkhave, bhikkhū ye te bhikkhū therā rattaññū cirapabbajitā saṅghapitaro saṅgha­pari­ṇāyakā, te sakkarissanti garuṃ karissanti mānessanti pūjessanti, tesañca sotabbaṃ maññissanti(Selama, para bhikkhu, menghormati bhikkhu yang lebih tua, lebih lama, lebih dulu ditahbiskan, para sesepuh dan pemimpin Sangha, menganggapnya sebagai hal yang patut untuk dihormati, dimuliakan dan didengarkan)…
    5. Yāvakīvañca, bhikkhave, bhikkhū uppannāya taṇhāya ponobbhavikāya na vasaṃ gacchissanti(Selama, para bhikkhu, tidak menjadi mangsa dari keinginan yang muncul dalam diri mereka dan mengarah menuju kelahiran kembali)…
    6. Yāvakīvañca, bhikkhave, bhikkhū āraññakesu senāsanesu sāpekkhā bhavissanti(Selama, para bhikkhu, setia menjalani kehidupan dalam kesunyian hutan)…
    7. Yāvakīvañca, bhikkhave, bhikkhū paccattaññeva satiṃ upaṭṭha­pessanti: ‘kinti anāgatā ca pesalā sabrahmacārī āgaccheyyuṃ, āgatā ca pesalā sabrahmacārī phāsu vihareyyun’ti(Selama, para bhikkhu, Bhikkhu menjaga perhatiannya, sehingga di masa depan, Rekan bhikkhu yang baik akan mendatangi, dan yang telah datang merasa nyaman berdiam dengannya)…

    Bilamana tujuh syarat ini telah diamalkan, maka kesejahteraan akan dicapai oleh bhikkhu, lebih-lebih jika para bhikkhu benar-benar telah menghayati dan memahaminya, maka perkembangan dan kemajuan para bhikkhu yang kita harapkan bukan kemunduran

    7. Tujuh syarat yang lebih lanjut untuk dapat mencapai kesejahteraan, akan kami jelaskan, perhatikan dan dengarkan dengan seksama. “Baiklah Bhante,” jawab para bhikkhu. “Perkembangan dan kemajuan para bhikkhu yang kita harapkan, bukan kemundurannya selama para bhikkhu :

    1. Yāvakīvañca, bhikkhave, bhikkhū na kammārāmā bhavissanti na kammaratā na kammārāatamanuyuttā (Selama para bhikkhu tidak bersukaria, tidak bergembira, dan tidak tenggelam dalam pekerjaan-pekerjaan duniawi), vuddhiyeva, bhikkhave, bhikkhūnaṃ pāṭikaṅkhā, no parihāni (kemajuan, Para Bhikkhu, yang para bhikkhu dapatkan dan bukan kemunduran)
    2. Yāvakīvañca, bhikkhave, bhikkhū na bhassārāmā bhavissanti na bhassaratā na bhassārāmatamanuyuttā (Selama para bhikkhu tidak bersukaria, tidak bergembira, dan tidak tenggelam dalam percakapan yang tak berguna)..
    3. Yāvakīvañca, bhikkhave, bhikkhū na niddārāmā bhavissanti na niddāratā na niddārāmatamanuyuttā (Selama para bhikkhu tidak bersukaria, tidak bergembira, dan tidak tenggelam dalam kesenangan tidur)..
    4. Yāvakīvañca, bhikkhave, bhikkhū na saṅgaṇikārāmā bhavissanti na saṅgaṇikaratā na saṅgaṇikārāmatamanuyuttā (Selama para bhikkhu tidak bersukaria, tidak bergembira, dan tidak tenggelam dalam pergaualan sosial)..
    5. Yāvakīvañca, bhikkhave, bhikkhū na pāpicchā bhavissanti na pāpikānaṃ icchānaṃ vasaṃ gatā (Selama para bhikkhu tidak menjadi, tidak dalam pengaruh keinginan jahat)..
    6. Yāvakīvañca, bhikkhave, bhikkhū na pāpamittā bhavissanti na pāpasahāyā na pāpasampavaṅkā (Selama para bhikkhu tidak berteman dengan orang jahat, tidak berteman dengan kejahatan dan tidak bergaul dengan kejahatan)..
    7. Yāvakīvañca, bhikkhave, bhikkhū na oramattakena visesā­dhi­gamena antarāvosānaṃ āpajjissanti (Selama para bhikkhu tidak merasa puas dan berhenti setelah mencapai hasil kecil, setengah-setengah, tertentu)..

    Selama para bhikkhu melaksanakan ketujuh syarat ini dan para bhikkhu benar-benar memahaminya, maka perkembangan dan kemajuan para bhikkhu yang kami harapkan, bukan kemundurannya.

    8. “Tujuh syarat selanjutnya yang dapat mengantarkan kalian memasuki kehidupan yang sejahtera, akan kami utarakan. Dengarkanlah dan perhatikanlah dengan seksama apa yang akan kuucapkan.” “Silakan, Bhante,” jawab para bhikkhu.

    TUJUH SIFAT BAIK
    “Perkembangan dan kemajuan para bhikkhu yang kami harapkan, bukan kemundurannya. Para bhikkhu akan selamanya mengalami perkembangan dan kemajuan bilamana para bhikkhu memiliki :

    1. keyakinan (saddhā)
    2. rasa malu melakukan perbuatan salah (hiri)..
    3. takut akan akibat perbuatan salah (ottapa)..
    4. pembelajaran (bahussutā)..
    5. keteguhan tekad (āraddhavīriyā)..
    6. perhatian yang kokoh (upaṭṭhitassatī)..
    7. kebijaksanaan (paññavanto)..

    Ketujuh syarat yang menuju kesejahteraan ini, bilamana para bhikkhu dapat memahami dan menghayati serta mengamalkannya, maka perkembangan dan kemajuan mereka yang kita harapkan, bukan kemundurannya.

    9. Ketujuh syarat selanjutnya yang menuju kesejahteraan, akan kami utarakan kepada kalian. Dengarkan dan perhatikanlah dengan seksama.” “Silakan, Bhante,” jawab para bhikkhu.

    TUJUH FAKTOR PENERANGAN SEJATI
    “Perkembangan dan kemajuan para bhikkhu yang seharusnya kami harapkan, bukan kemundurannya, bilamana para bhikkhu dapat menghayati dan mengamalkan faktor Penerangan Sejati yaitu :

    1. perhatian (sati sambojjhaṅgaṃ)
    2. menyelidiki dhamma (dhammavicaya sambojjhaṅgaṃ)
    3. bersemangat (vīriya sambojjhaṅgaṃ)
    4. kegairahan/kegembiraan (pīti sambojjhaṅgaṃ)
    5. ketenangan (passaddhi sambojjhaṅgaṃ)
    6. meditasi (samādhi sambojjhaṅgaṃ)
    7. keseimbangan perasaan (upekkhā sambojjhaṅgaṃ)

    Bilamana ketujuh syarat yang menuju kesejahteraan itu dapat dipahami, dihayati dan diamalkan oleh para bhikkhu, maka perkembangan dan kemajuan mereka yang kita harapkan, bukan kemundurannya.”

    10. Tujuh syarat selanjutnya yang menuju kesejahteraan akan kami utarakan kepada kalian, para bhikkhu. Dengarkan dan perhatikan dengan seksama.” “Baiklah, Bhante,” jawab para bhikkhu.

    TUJUH PENCERAPAN
    “Perkembangan dan kemajuan para bhikkhu yang kita harapkan, bukan kemundurannya, selama para bhikkhu memikirkan dengan baik:

    1. persepsi ketidakkekalan (aniccasaññaṃ)
    2. persepsi tanpa diri (anattasaññaṃ)
    3. Persepsi ketidakindahan (asubhasaññaṃ)
    4. persepsi bahaya (ādīnavasaññaṃ)
    5. persepsi penaklukan (pahānasaññaṃ)
    6. persepsi kejemuan (virāgasaññaṃ)
    7. persepsi penghentian (nirodhasaññaṃ)

    Bilamana para bhikkhu benar-benar memahami dan menghayati serta mengamalkan ketujuh syarat untuk menuju kesejahteraan ini, maka perkembangan para bhikkhu yang kita harapkan, bukan kemundurannya.”

    11. Enam syarat selanjutnya yang menuju kesejahteraan akan kami utarakan kepada kalian. Dengarkan dan perhatikanlah dengan seksama.” “Silakan Bhante,” jawab para bhikkhu.

    ENAM SYARAT YANG HARUS DIINGAT
    “Perkembangan para bhikkhu yang harus kita harapkan, bukan kemunduran, selama para bhikkhu :

    1. baik di depan umum maupun di tempat pribadi, memperlihatkan cinta kasih terhadap sesama teman dalam tindakan perbuatan (mettaṃ kāyakammaṃ)
    2. baik di depan umum maupun di tempat pribadi, memperlihatkan cinta kasih terhadap sesama teman dalam tindakan ucapan (mettaṃ vacīkammaṃ)
    3. baik di depan umum maupun di tempat pribadi, memperlihatkan cinta kasih terhadap sesama teman dalam tindakan pikiran (mettaṃ manokammaṃ)
    4. berbagi dengan sesama teman apa yang mereka terima sebagai pemberian yang benar, termasuk isi dari mangkuk dana mereka, yang tidak mereka simpan untuk diri sendiri
    5. mempertahankan dengan konsisten, tanpa cacat dan tanpa perubahan peraturan disiplin tanpa noda, mengarah menuju kebebasan, yang dipuji oleh para bijaksana, tanpa noda dan mendukung pikiran terpusat, dan mempertahankan bersama teman-teman bhikkhu baik di depan umum maupun di tempat pribadi
    6. melanjutkan pandangan mulia (diṭṭhi ariyā) yang mengarah menuju kebebasan, yang menuju penghancuran penderitaan secara total (dukkhakkhayāya) berdiam dalam kewaspadaan bersama teman-teman para bhikkhu baik di depan umum maupun di tempat pribadi

    Selama keenam syarat ini selalu ada pada para bhikkhu, selama mereka melaksanakan keenam syarat ini, maka perkembangan para bhikkhu yang diharapkan, bukan kemunduran.”

    NASEHAT KEPADA PARA BHIKKHU
    12. Ketika Sang Bhagava berada di puncak Gijjhakuta, Rajagaha, Beliau sering memberi nasehat kepada para bhikkhu:

    iti sīlaṃ, iti samādhi, iti paññā (Ini adalah moralitas, ini adalah meditasi, ini adalah kebijaksanaan). Sīlaparibhāvito samādhi mahapphalo hoti mahānisaṃso (Samadhi yang dilandasi sila akan menghasilkan buah dan manfaat yang besar). Samādhiparibhāvitā paññā mahapphalā hoti mahānisaṃsā (Kebijaksanaan yang dilandasi Samadhi akan menghasilkan buah dan manfaat yang Besar). Paññāparibhāvitaṃ cittaṃ sammadeva āsavehi vimuccati, seyyathidaṃ kāmāsavā, bhavāsavā, avijjāsavā”ti (Pikiran yang dilandasi kebijaksanaan akan sepenuhnya terbebas dari kekotoran/noda, yaitu, indria, penjelmaan, ketidaktahuan

    13. Pada waktu Sang Bhagava berdiam di Rajagaha dekat Suttamartha, Beliau berkata kepada Ananda: “Ananda, marilah kita pergi ke Ambalathika.” “Baiklah bhante,” Demikianlah Sang Bhagava berdiam di Ambalathika, bersama-sama dengan sejumlah besar para bhikkhu.

    14. Di Ambalathika, Sang Bhagava menginap di pesanggrahan raja, di tempat itu Sang Bhagava sering memberikan nasehat kepada para bhikkhu:

    Ini adalah moralitas, ini adalah meditasi, ini adalah kebijaksanaan. Samadhi yang dilandasi sila akan menghasilkan buah dan manfaat yang besar. Kebijaksanaan yang dilandasi Samadhi akan menghasilkan buah dan manfaat yang Besar. Pikiran yang dilandasi kebijaksanaan akan sepenuhnya terbebas dari kekotoran/noda, yaitu, indria, penjelmaan, ketidaktahuan

    15. Setelah Sang Bhagava merasa sudah cukup lama berdiam di Ambalathika, maka Beliau berkata: “Ananda, marilah kita pergi ke Nalanda.” “Baiklah, Bhante,” jawab Ananda. Demikianlah Sang Bhagava tinggal di Nalanda bersama sejumlah besar para bhikkhu, kemudian berdiam di Pavarikambavana.

    [Sāriputtasīhanāda] RAUNGAN SINGA SARIPUTTA
    16. Ketika Sariputta menghadap Sang Bhagava, dengan hormat Beliau lalu duduk di hadapan Sang Bhagava dan kemudian Beliau berkata kepada Sang Bhagava : “Keyakinan kami terhadap Sang Bhagava, sungguh tak ada bandingannya. Belum pernah kami menjumpai baik dulu maupun sekarang ini ada seorang brahmana atau orang lain yang lebih terpercaya dalam Penerangan Sempurna dibandingkan dengan Bhagava sendiri.”

    “Sungguh mulia dan terpuji ucapanmu itu, Sariputta. Ucapanmu yang demikian lantang itu bagaikan raungan singa. Tetapi bagaimanakah hubungan ini, Sariputta? Apakah kamu mempunyai pengetahuan yang langsung tentang para Bhagava dan para Arahat di masa yang lampau, mengenai bagaimana moral (sila), dhamma, kebijaksanaan (panna) mereka, dan bagaimana membebaskan diri?”

    “Hal itu kami tidak ketahui, Bhante.”

    “Sariputta, dalam hubungan ini, apakah kamu mempunyai pengetahuan langsung tentang semua Bhagava dan para Arahat, di masa yang akan datang mengenai bagaimana moral (sila), dhamma dan kebijaksanaan (panna) mereka, bagaimana mereka membebaskan diri?”

    “Hal itu kami tidak ketahui, Bhante.”

    “Sariputta, bagaimanakah tentang diriku sendiri yang sekarang adalah seorang Arahat Samma Sambuddha, apakah kamu mempunyai pengetahuan langsung mengenai bagaimana aku melangsungkan hidupku, bagaimana aku membebaskan diriku?”

    “Hal itu tidak kami ketahui, Bhante.”

    “Sariputta, maka jelaslah bahwa sesungguhnya kamu tidak memiliki pengetahuan langsung mengenai para Arahat Samma Sambuddha baik di waktu lampau, yang akan datang maupun di waktu sekarang ini. Lalu bagaimana kamu berani mengutarakan ucapan yang sedemikian mulia dan terpuji seperti ucapanmu yang demikian lantang bagaikan suara raungan singa mengatakan: “Keyakinan kami terhadap Sang Bhagava adalah tidak ada bandingannya, tak pernah kami menjumpai baik dahulu maupun sekarang ini, ada seorang brahmana atau orang lain yang lebih terpuji dalam kesempurnaan dibandingkan dengan yang mulia sendiri.”

    17. “Bhante, kami sebenarnya tidak mempunyai pengetahuan langsung seperti itu, mengenai para Arahat Samma Sambuddha baik dari waktu yang lampau, yang akan datang maupun di masa sekarang. Akan tetapi meskipun demikian, kami sekarang menyadari akan sifat Dhamma yang penuh sifat keadilan itu. Sebagai suatu perumpamaan, ada sebuah benteng perbatasan di sebuah kerajaan yang dijaga dengan ketat sekali. Kubu-kubu dengan menaranya yang menjulang tinggi yang mempunyai hanya sebuah pintu gerbang saja. Di sana ada seorang penjaga pintu yang cerdas berpengalaman, bersifat sangat hati-hati dan waspada. Ia akan mengusir orang-orang asing, tetapi mengijinkan orang baik-baik yang dikenalnya untuk masuk. Pada suatu hari ketika ia memeriksa jalan yang mengelilingi seluruh perbentengan itu, ia tidak melihat adanya sebuah lubang atau celah-celah di dinding perbentengan, yang cukup dilalui oleh seekor kucing. Sehubungan dengan ini maka tiba-tiba ia berkesimpulan: “Mahluk hidup yang besar maupun kecil bentuknya akan masuk dan akan meninggalkan kota ini, mau tak mau harus berjalan melalui pintu ini.”

    Demikian saya telah menyatakan sesuai dengan dhamma.

    “Oleh karena, para Arahat Samma Sambuddha dari waktu yang lampau, semua Bhagava telah meninggalkan kelima rintangan kekotoran batin dan memperoleh kesadaran. Mereka menunjukkan perhatian pada keempat Dasar Kesadaran dan mengembangkan ketujuh faktor Penerangan Sejati dengan seksama sehingga mencapai kesempurnaan sepenuhnya, dalam penerangan sejati yang tak ada bandingannya.

    “Demikian pula para Arahat Samma Sambuddha pada waktu yang akan datang, akan meninggalkan kelima rintangan kekotoran batin yang memperlemah pandangan terangnya, akan menunjukkan perhatian mereka pada keempat dasar Kesadaran dan akan mengembangkan ketujuh faktor penerangan sejati dengan seksama, dan dengan sepenuhnya akan menjadi sempurna dalam penerangan sejati yang tiada bandingannya.

    “Bhante sendiri, yang menjadi Arahat Samma Sambuddha, yang telah meninggalkan kelima rintangan kekotoran batin yang dapat memperlemah pandangan terang, yang telah mahir dalam keempat dasar kesadaran dan yang melaksanakan ketujuh faktor penerangan sejati dengan seksama dan menjadi sempurna sepenuhnya, dalam penerangan sejati yang tiada bandingnya.”

    18. Begitu pula ketika Sang Bhagava berada di Pavarikambavana, Nalanda, Beliau sering memberi nasehat kepada para bhikkhu:

    Ini adalah moralitas, ini adalah meditasi, ini adalah kebijaksanaan. Samadhi yang dilandasi sila akan menghasilkan buah dan manfaat yang besar. Kebijaksanaan yang dilandasi Samadhi akan menghasilkan buah dan manfaat yang Besar. Pikiran yang dilandasi kebijaksanaan akan sepenuhnya terbebas dari kekotoran/noda, yaitu, indria, penjelmaan, ketidaktahuan

    19. Setelah Sang Bhagava tinggal di Nalanda, Beliau lalu bersabda kepada Ananda: “Ananda, marilah kita ke Pataligama.” “Baiklah, Bhante,” jawab Ananda. Demikianlah Sang Bhagava tinggal di Pataligama bersama sejumlah besar bhikkhu.

    20. Kemudian para umat beragama Pataligama berkunjung menghadap Sang Buddha: “Kami telah mendengar bahwa Bhante telah tiba di Pataligama.”

    Kemudian mereka mendekati Sang Bhagava sambil bersujud kepada Beliau dengan hikmad. Kemudian duduk pada salah satu sisi. Lalu mereka berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, dapatkah Bhante mengunjungi kami di ruangan dhammasala?”

    Sang Bhagava bersikap diam. Dengan sikap diam ini berarti Sang Bhagava menyetujui.

    21. Mengetahui bahwa Sang Bhagava telah setuju, para utusan dari Pataligama bangkit dari tempat mereka, memberi hormat dengan penuh hikmad dan mereka mengundurkan diri. Mereka mempersiapkan segala sesuatu di ruangan Dhammasala, menutupi seluruh lantainya, menyediakan tempat duduk, dan menempatkan sebuah lampu. Sesudah semuanya selesai dipersiapkan, mereka kembali menghadap Sang Bhagava, memberi hormat dengan penuh hikmad dan duduk pada salah satu sisi sambil berkata: “Bhante, ruangan dhammasala dengan lantainya telah ditutupi, dan tempat-tempat duduk telah disiapkan demikian pula sebuah lampu minyak telah disiapkan. Sekarang kami persilakan Bhante untuk menentukan waktu sebagaimana mestinya.”

    22. Sang Bhagava lalu mempersiapkan diri, sambil membawa patta dan jubah menuju ke ruangan sidang bersama-sama dengan para bhikkhu. Sesudah mencuci kakinya Sang Bhagava masuk ke ruang Dhammasala dan duduk dekat tiang di tengah-tengah menghadap ke timur. Para bhikkhu sesudah mencuci kaki, juga memasuki ruangan Dhammasala dan duduk dekat dinding sebelah barat, menghadap ke timur, sehingga dengan demikian Sang Bhagava berada di depan mereka. Dan utusan dari Pataligama sesudah mencuci kaki, mereka memasuki ruang Dhammasala lalu duduk dekat dinding sebelah timur menghadap ke barat, sehingga Sang Bhagava berhadapan dengan mereka.

    [Dussīlaādīnava] Bahaya bermoral buruk
    23. Setelah itu, Sang Bhagava bersabda kepada para utusan dari Pataligama sebagai berikut :

    “Para perumah tangga, ada lima bahaya bagi seseorang yang bermoral buruk, yang gagal dalam moralitas. Apakah lima itu?

    1. akan menderita kehilangan harta-benda karena melalaikan tugas-tugasnya
    2. akan mendapatkan reputasi buruk karena moralitas yang buruk dan perbuatan salah
    3. kelompok apa pun yang ia datangi, apakah Khattiya, Brāhmaṇa, perumah tangga atau petapa, Ia akan merasa segan dan malu
    4. meninggal dunia dalam keadaan bingung
    5. ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali dalam kondisi kesengsaraan, di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, bahkan di neraka

    Ini adalah lima bahaya bagi seseorang yang bermoral buruk

    [Sīlavantaānisaṃsa] Keuntungan bermoral baik
    24. Dan, para perumah tangga, ada lima keuntungan dari seseorang yang bermoralitas baik dan yang berhasil dalam moralitas. Apakah lima ini?

    1. karena penuh perhatian terhadap tugas-tugasnya, ia memperoleh keuntungan dan kekayaan
    2. memperoleh reputasi baik karena moralitasnya dan perbuatan baiknya
    3. kelompok apa pun yang ia datangi, apakah Khattiya, Brāhmaṇa, perumah tangga atau petapa, ia melakukannya dengan penuh keyakinan dan penuh percaya diri
    4. meninggal dunia dengan tenang dan tidak bingung
    5. bersamaan hancurnya tubuh setelah kematian terlahir di keadaan bahagia di alam Deva

    Ini adalah lima keuntungan dari seseorang yang bermoral baik, dan yang berhasil dalam moralitas

    25. Sang Bhagava telah menggunakan banyak waktu untuk memberi pengertian kepada utusan dari Pataligama itu mengenai dhamma, membangkitkan, menunjukkan dan menggembirakan pikiran mereka dengan dhamma. Sesudah itu Beliau berpisah dengan mereka sambil berkata : “Wahai saudara-saudara berkeluarga, hari telah larut malam, sebaiknya kita akhiri pertemuan kita sampai di sini.”

    Demikianlah sabda yang mulia Sang Buddha. Utusan dari Pataligama itu lalu bangkit dari tempat mereka, bersujud dengan penuh hikmad kepada Sang Bhagava, mereka lalu mengundurkan diri dan meninggalkan ruangan Dhammasala. Sang Bhagava sesudah kepergian mereka itu segera mengundurkan diri ke tempat yang sunyi.

    26. Pada saat itu, Sunidha dan Vassakara, Patih Magadha, sedang membangun sebuah perbentengan di Pataligama, pertahanan untuk melawan suku Vajji. Mereka mengundang para dewa dalam jumlah yang besar, sampai beribu-ribu banyaknya. Mereka berada di lapangan di Pataligama. Di daerah para dewa kekuasaan besar, dengan para pekerjanya yang mempunyai kekuatan yang besar pula, sibuk membangun pertahanan.

    Demikian pula para dewa yang kekuasaan sedang maupun yang kecil keunggulan serta para pekerja yang sedang dan yang lebih kecil kekuatannya juga sibuk dalam membangun pertahanan.

    27. Sang Bhagava memandang dengan mata deva (dibbacakkhu), melihat rakyat dan para dewa yang ribuan jumlahnya yang berada di lapangan kerja masing-masing di Pataligama. Demikianlah setelah Sang Bhagava bangun waktu pagi menjelang subuh, beliau berkata kepada Ananda : “Ananda, siapakah mereka itu yang sedang membangun sebuah kota di Pataligama?”

    “Bhante, Sunidha dan Vassakara, patih Magadha. Mereka sedang membangun sebuah perbentengan di Pataligama sebagai pertahanan untuk menghadapi suku Vajji.”

    28. “Ananda, demikianlah Sunidha yang kamu saksikan serta Vassakara yang meminta nasihat kepada para dewa Tavatimsa. Dengan penglihatan batinKu nampaklah olehKu ribuan dewa mendirikan bangunan di Pataligama. Di daerah di mana para dewa dengan kekuasaan yang maha besar, serta para pekerja dengan kekuatan yang maha besar pula, sibuk dalam membangun bangunan-bangunan. Demikian pula para dewa dengan kekuasaan yang sedang dan kecil serta para pekerja dengan kekuatan sedang dan kecil sibuk pula membangun bangunan-bangunan. Ananda, sebenarnya selama suku Ariya meluas, menyebabkan perdagangan berkembang, hal ini menyebabkan kota Pataliputta menjadi pusat perdagangan yang terkenal. Tetapi Pataliputta akan ditimpa tiga bahaya, yaitu : api, air dan perpecahan.”

    29. Pada suatu hari, Sunidha dan Vassakara menghadap Sang Bhagava, sesudah memberi hormat kepada Sang Bhagava, mereka berdiri pada satu sisi dan berkata pada Sang Bhagava : “Kami menghadap sudilah kiranya Yang Mulia Gotama menerima undangan kami untuk santap besok pagi, bersama-sama dengan para bhikkhu. Sang Buddha diam, sebagi tanda Beliau menyetujuinya.

    30. Mengetahui bahwa Sang Bhagava setuju, Sunidha dan Vassakara menundurkan diri. Mereka menyuruh memilih makanan, keras dan lunak untuk disiapkan. Ketika waktunya telah tiba, mereka memberitahukan kepada Sang Bhagava, “Waktunya telah tiba, Yang Mulia Gotama, hidangan telah siap.”

    Karena itu, Sang Bhagava mempersiapkan diri sebelum tengah hari dan sambil membawa patta serta jubah, pergi bersama-sama dengan para bhikkhu ke tempat tinggal Sunidha dan Vassakara. Beliau mengambil tempat duduk yang telah disediakan. Sunidha serta Vassakara sendiri mempersilakan para bhikkhu, yang dipimpin oleh Sang Buddha. Mereka menghidangkan hidangan pilihan, keras dan lunak. Ketika Sang Bhagava selesai makan dan telah menaruh mangkoknya, maka para hadirin lalu mengambil tempat duduk yang rendah dan duduk pada tempat yang telah disediakan.

    31. Demikianlah, Sang Bhagava mengutarakan rasa terima kasihnya dengan syair sebagai berikut :

    “Di manapun ia berdiam, seorang yang bijaksana selalu melaksanakan kesucian serta kebajikan, dengan sikapnya ini ia membuat berkah jasanya telah mengikutsertakan para dewa setempat dan dengan penghormatan mereka yang meriah, sebaiknya mereka memberi anugrah dengan berkah dengan rahmat dan cinta kasih bagaikan seorang ibu bersikap terhadap putranya sendiri yang tunggal, demikianlah mereka menikmati rahmat para dewa dan ia mendapat banyak keberuntungan.”

    Kemudian, setelah Sang Bhagava mengucapkan terima kasih dengan syair tersebut kepada kedua patih Magadha, Sunidha dan Vassakara, Beliau bangkit dari tempat dudukNya dan meninggalkan tempat.

    32. Mereka mengikuti Sang Bhagava dengan berkata: “Gerbang yang akan dilalui oleh Samana Gotama pada hari ini akan dinamakan ‘Gerbang Gotama’, dan perahu yang akan digunakan oleh Beliau untuk menyeberangi Sungai Gangga akan dinamakan ‘Perahu Gotama’.”

    33. Tetapi ketika Sang Bhagava tiba di tepi sungai, air sungai Gangga sedang meluap, dan karena ingin menyeberang ada beberapa orang yang sibuk mencari perahu, ada yang membuat rakit dari kayu dan ada yang membuat rakit dari bahan pembuat keranjang; selagi Beliau melihat mereka, pada saat itu Beliau menyatakan syair berikut ini :

    “Mereka yang telah menyeberangi lautan kesuraman membuat jalan yang keras melintasi air. Ini adalah cara bijaksana, mereka selamat. Sedangkan mereka yang gagal, mengikat rakit penyeberang pada dunia.”


    BAB II

    1. Pada suatu hari Sang Bhagava berbicara dengan Ananda demikian. “Ananda, marilah kita menuju ke Kotigama.” “Baiklah bhante,” jawab Ananda. Demikianlah Sang Bhagava bersama sejumlah besar bhikkhu tinggal di Kotigama.

    [Ariyasaccakathā] EMPAT KEBENARAN MULIA
    2. Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu, demikian:

    Para bhikkhu, adalah karena tidak memahami, tidak menembus Empat Kebenaran Mulia, maka Aku dan juga kalian sejak lama berlari dan berputar dalam lingkaran kelahiran-dan-kematian. Apakah itu? (1) Karena tidak memahami Kebenaran Mulia: Penderitaan (Dukkhassa), kita telah mengembara, (2) karena tidak memahami Kebenaran Mulia: Asal-mula Penderitaan (Dukkhasamudayassa), (3) Lenyapnya Penderitaan (Dukkhanirodhassa), dan (4) Jalan Menuju Lenyapnya Penderitaan (Dukkhanirodhagāminiyā paṭipadāya), kita telah mengembara dalam lingkaran kelahiran-dan-kematian, dan dengan pemahaman, penembusan terhadap Kebenaran Mulia Penderitaan, Asal-mula Penderitaan, Lenyapnya Penderitaan, dan Jalan Menuju Lenyapnya Penderitaan, keinginan akan penjelmaan telah terpotong, dukungan terhadap penjelmaan telah dihancurkan, tidak ada lagi penjelmaan kembali.

    3. Demikianlah yang dikatakan oleh Sang Bhagava, selanjutnya berkata:

    Tidak melihat Empat Kebenaran Mulia seperti apa adanya, Setelah lama melintasi lingkaran kehidupan demi kehidupan, Hal ini telah terlihat, pendukung penjelmaan tercabut, Akar penderitaan terpotong, kelahiran kembali telah selesai.

    4. Begitu pula, di Kotigama Sang Bhagava sering memberi nasehat kepada para bhikkhu:

    Ini adalah moralitas, ini adalah meditasi, ini adalah kebijaksanaan. Samadhi yang dilandasi sila akan menghasilkan buah dan manfaat yang besar. Kebijaksanaan yang dilandasi Samadhi akan menghasilkan buah dan manfaat yang Besar. Pikiran yang dilandasi kebijaksanaan akan sepenuhnya terbebas dari kekotoran/noda, yaitu, indria, penjelmaan, ketidaktahuan

    5. Setelah Sang Bhagava tinggal agak lama di Kotigama, beliau berkata kepada Ananda: “Ananda, marilah kita ke Nadika.”

    “Baiklah, bhante,” jawab Ananda.

    Demikianlah Sang Bhagava bersama sejumlah besar bhikkhu pergi ke Nadika dan tinggal di Ginjakavasathe.

    EMPAT PENCAPAIAN YANG ISTIMEWA
    6. Kemudian Ananda mendekati Sang Bhagava dan setelah memberi hormat, duduk pada salah satu sisi. Kemudian Ananda berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, di Nadika ini bhikkhu Salha dan bhikkhuni Nanda telah meninggal. Juga yang telah meninggal adalah upasaka Sudatta, upasika Sujata serta beberapa upasaka lain yaitu Kakhuda, Kalinga, Nikata, Katissabha, Tuttho, Santuttha, Bhadda dan Subhadda. Bagaimanakah nasib mereka? Bagaimanakah keadaan tumimbal lahir mereka?”

    7. “Ananda, mengenai:

    • bhikkhu Salha, ia dengan melenyapkan kekotoran-kekotoran bathinnya selama hidupnya itu, maka ia telah memperoleh kebebasan batiniah dari noda, telah mendapatkan kebebasan melalui kebijaksanaan, dan hal itu telah dipahami dan disadarinya sendiri.
    • bhikkhuni Nanda, dengan menghancurkan lima belenggu yang lebih rendah (belenggu yang mengikat mahluk-mahluk di alam nafsu), dan menghancurkan keinginan untuk hidup di alam yang bermateri halus (alam dewa), ia telah mencapai perhentian yang terakhir dalam kehidupan yang sekarang ini dan tak akan kembali lagi di dunia ini.
    • Umat awam pria (upasaka) Sudatta, ia telah menghancurkan tiga belenggu, mengurangi hawa nafsu dan kebencian, telah menjadi seorang yang hanya dilahirkan sekali lagi; untuk mengakhiri penderitaannya, ia akan dilahirkan kembali sekali lagi di dunia ini.
    • Umat awam wanita (upasika) Sujata, dengan menghancurkan Tiga Belenggu, ia telah mencapai tingkat Sotapanna, dan telah bebas dari bahaya jatuh ke dalam keadaan yang buruk, telah terjamin dan siap untuk mencapai kesempurnaan.
    • upasaka Kakhuda, dengan menghancurkan lima belenggu yang rendah, terlahir kembali secara spontan (di alam Brahma) dan akan mencapai Nibbāna dari sana tanpa kembali ke alam ini
    • Upasaka Kalingga, Nikata, Katissabha, Tuttho, Santuttha, Bhadda dan Subhadda, beserta lebih dari lima puluh orang di Nadika, terlahir kembali secara spontan (di alam Brahma) dan akan mencapai Nibbāna dari sana tanpa kembali ke alam ini.
    • Lebih dari sembilan puluh orang telah wafat di Nadika, dengan menghancurkan Ketiga Belenggu dan pengurangan keserakahan, kebencian dan kebodohan (rāgado­samohā­naṃ), telah menjadi seorang yang akan dilahirkan sekali lagi (Sakadagami) ke alam ini (bukan alam manusia), dan kemudian mengakhiri penderitaan
    • Lebih dari lima ratus orang yang telah wafat di Nadika, dengan melenyapkan tiga belenggu, mereka adalah para sotapanna dan telah bebas dari kelahiran kembali di alam penderitaan, yang pasti akan mencapai penerangan sempurna (bodhi)”

    [Dhammādāsadhammapariyāya] CERMIN KEBENARAN
    8. “Ananda, tetapi sebenarnya tidaklah mengherankan apabila mahluk hidup akhirnya harus mati. Tetapi apabila ini terjadi pada setiap saat kamu harus datang pada Tathagata dan menanyakan soal itu maka dengan cara ini akan mengganggu Tathagata. Oleh karena itu, kami akan memberi pelajaran kepadamu yang dinamakan ‘cermin Kebenaran’ dengan memilikinya seorang siswa Ariya (ariyasāvako), apabila ia memang menghendakinya ia dapat menyatakan: ‘Tidak ada lagi Neraka bagiku, Tidak ada lagi alam binatang bagiku, tidak ada lagi alam peta bagiku, tidak ada lagi kondisi kesengsaraan bagiku, Aku adalah Sotapanna, tidak akan dalam kondisi kesengsaraan dan pasti mencapai Nibbāna’

    9. Dan apakah Cermin Dhamma yang dengannya ia dapat mengetahui hal ini? Di sini, Ānanda ariyasāvako (siswa ariya) aveccappasādena samannāgato (memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan) terhadap:

    1. Sang Buddha akan berkata (9 kualitas):
      Demikianlah beliau (itipi so) Sang pembawa keberuntungan (Bhagava), yang telah terbebas dari samsara (1) (araham), yang tercerahkan sempurna dengan cara yang benar (2) (Sammasambuddho), sempurna pengetahuan dan prilaku (3) (vijjā•caraṇa•sampanno), dalam kebahagiaan sejati (4) (sugato), pengenal alam (5) (loka•vidū), Penunjuk jalan tiada tara bagi yang patut dijinakkan (6) (anuttaro purisa•damma•sārathi), guru para deva dan manusia (7) (satthā deva•manussānaṃ), yang tercerahkan sempurna (8) (Buddho) pembawa keberuntungan (9) (Bhagavā ti)
    2. Dhamma, akan berkata (6 kualitas):
      Kemudian, Mahanama, siswa mulia merenungkan Dhamma: Ajaran Sang Bhagava telah disampaikan dengan baik (1) (svakato), nyata manfaatnya di kehidupan ini juga (2) (sandiṭṭhiko), tak bebatas waktu (3) (akāliko), mengundang untuk dibuktikan sendiri (4) (ehipassiko), memberikan tuntunan (5) (opaneyyiko), secara pribadi dirasakan/dikenali oleh yang mengetahui/melakukannya (6) (paccattaṃ veditabbo viññūhī)
    3. Sangha, akan berkata (9 kualitas):
      Kemudian, Mahanama, siswa mulia merenungkan Sangha: Kumpulan siswa mulia sang Bhagava yang telah memasuki jalan: baik (1) (Su•paṭipanno), lurus (2) (uju•paṭipanno), benar (3) (ñāya•paṭipanno), terhormat (4) (sāmīci•paṭipanno), terdiri dari empat pasangan: (sotapanna/pemasuk arus/melaju, sakadagami/sekali lagi), anagami/tidak kembali lagi, arahat/padam, terbebas samsara), delapan individu (sotapanna magga (jalan) dan phala(buah/hasil), sakadagami magga dan phala, anagami magga dan phala, arahat magga dan phala), patut menerima: persembahan (5) (āhuneyyo), pelayanan (6) (pāhuneyyo), pemberian (7) (dakkhiṇeyyo), penghormatan (8) (añjali•karaṇīyo), ladang menanam kebajikan yang tiada banding di seluruh alam (9)(anuttaraṃ puñña’k’khettaṃ lokassā)
    4. Dan ia [Ariyakantehi] yang memiliki moralitas yang tak rusak, tak robek, tak bernoda, tak bercela, membebaskan, dipujikan para bijaksana tak digenggam, mengarah pada keterpusatan pikiran

    Ananda, uraian ini dinamai ‘cermin Kebenaran’ dengan memilikinya seorang siswa Ariya (ariyasāvako), apabila ia memang menghendakinya ia dapat menyatakan: ‘Tidak ada lagi Neraka bagiku, Tidak ada lagi alam binatang bagiku, tidak ada lagi alam peta bagiku, tidak ada lagi kondisi kesengsaraan bagiku, Aku adalah Sotapanna, tidak akan dalam kondisi kesengsaraan dan pasti mencapai Nibbāna’

    10. Juga di Ginjakasavatha, Nadika, Sang Bhagava memberi nasihat kepada para bhikkhu:

    Ini adalah moralitas, ini adalah meditasi, ini adalah kebijaksanaan. Samadhi yang dilandasi sila akan menghasilkan buah dan manfaat yang besar. Kebijaksanaan yang dilandasi Samadhi akan menghasilkan buah dan manfaat yang Besar. Pikiran yang dilandasi kebijaksanaan akan sepenuhnya terbebas dari kekotoran/noda, yaitu, indria, penjelmaan, ketidaktahuan

    11. Setelah Sang Bhagava lama tinggal di Nadika beliau berkata kepada Ananda: “Ananda, marilah kita menuju ke Vesali.” “Baiklah, bhante,” jawab Ananda. Demikianlah, Sang Bhagava dengan sejumlah besar para bhikkhu pergi ke Vesali dan tinggal di Ambapalivana.

    PERHATIAN YANG BENAR DAN PENGERTIAN YANG BENAR
    12. Dan di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: ‘Dalam memperhatikan, Para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam mengetahui sepenuhnya, ini adalah tuntutan kami kepada kalian.

    Dan bagaimanakah seorang bhikkhu yang memperhatikan (sato)?

    Di sini, seorang bhikkhu:

    • kāye kāyānupassī (merenungkan jasmani sebagai jasmani), virahati ātāpī sampajāno satimā (berada tekun dalam perhatian dengan sepenuhnya mengetahui) vineyya loke abhijjhādomanassaṃ (setelah menyingkirkan kerinduan dan kegundahan akan dunia).
    • Vedanāsu vedanānupassī (merenungkan perasaan sebagai perasaan)..,
    • citte cittānupassī (pikiran sebagai pikiran)…
    • dhammesu dhammānupassī (objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran)…

    Demikianlah seorang bhikkhu yang memperhatikan.

    13. Dan bagaimanakah seorang bhikkhu yang mengetahui sepenuhnya (sampajāno)?

    Di sini, seorang bhikkhu:

    • abhikkante paṭikkante (berjalan maju atau mundur), sampajānakārī hoti (mengetahui sepenuhnya yang dilakukan);
    • ālokite vilokite (melihat ke depan atau ke sekitar), sampajānakārī hoti (mengetahui sepenuhnya yang dilakukan);
    • samiñjite pasārite (membungkuk dan menegakkan badan), sampajānakārī hoti (mengetahui sepenuhnya yang dilakukan);
    • saṅghāṭipattacīvaradhāraṇe (membawa jubah dan mangkuknya), sampajānakārī hoti (mengetahui sepenuhnya yang dilakukan);
    • asite pīte khāyite sāyite (memakan, meminum, mengunyah, dan mengecap/menelan), sampajānakārī hoti (mengetahui sepenuhnya yang dilakukan);
    • uccārapassāvakamme (membuang air besar), sampajānakārī hoti (mengetahui sepenuhnya yang dilakukan);
    • gate ṭhite nisinne sutte jāgarite bhāsite tuṇhībhāve (berjalan, berdiri, duduk, atau berbaring, terjaga, berbicara, atau berdiam diri), sampajānakārī hoti (mengetahui sepenuhnya yang dilakukan)

    Demikianlah seorang bhikkhu yang mengetahui sepenuhnya. ‘Dalam Perhatian, Para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam mengetahui sepenuhnya, ini adalah tuntutan kami kepada kalian.

    AMBAPALI DAN ORANG-ORANG LICCHAVI
    14. Ketika Ambapali, seorang selir bangsawan, mendengar bahwa Sang Bhagava telah tiba di Vesali dan beliau tinggal di kebun mangganya, ia menyuruh para pembantunya untuk mempersiapkan sejumlah kereta yang mewah, sebuah kereta untuknya dan yang lain untuk para pembantu agar mengikutinya pergi ke kebun mangganya.

    Mereka berkereta sejauh jalan yang dapat dilalui kereta. Kemudian mereka turun dan berjalan mendekati Sang Bhagava, sambil memberi hormat dengan hidmatnya, kemudian duduk pada salah satu sisi. Setelah itu Sang Bhagava mengajarkan kepada Ambapali ajaran Dhamma yang dapat menyadarkan, menyenangkan dan menggembirakan hatinya.

    Sesudah itu, maka Ambapali itu berkata kepada Sang Bhagava: “Dapatkah kiranya yang mulia menerima undangan kami untuk santap esok pagi bersama-sama dengan para bhikkhu?”

    Dengan sikapnya yang diam, berarti bahwa Sang Bhagava menyetujuinya.

    Setelah mengetahui bahwa Sang Bhagava menyetujui permohonannya, maka Ambapali bangkit sambil memberi hormat kepada Sang Bhagava, lalu mengundurkan diri.

    15. Ketika itu orang-orang Licchavi dari Vesali mengetahui pula akan kehadiran Sang Buddha dan mereka lalu berkata: “Sang Bhagava, katanya telah tiba di Vesali dan tinggal di kebun Ambapali.”

    Mereka pun menyediakan sejumlah kereta yang indah dan setiap orang mengendarai sebuah kereta, keluar dari Vesali. Di antara orang-orang Licchavi itu ada beberapa yang berpakaian biru dengan hiasan-hiasan yang biru pula, sedangkan yang lainnya memakai pakaian kuning, merah dan putih.

    16. Demikianlah di tengah jalan kereta-kereta Ambapali berpapasan dengan kereta-kereta pemuda Licchavi itu. Kereta-kereta itu saling bergeseran antara poros dengan poros, roda dengan roda dan gandar dengan gandar. Oleh karena itu orang-orang Licchavi bertanya: “Mengapa kamu berkendaraan menentang kami Ambapali?”

    “Para pangeran, sebenarnya hal ini terjadi karena kami telah mengundang Sang Bhagava bersama para bhikkhu untuk makan besok pagi di tempat kami.”

    “Ambapali, batalkan undanganmu itu, untuk itu kami akan memberimu seratus ribu.”

    Tetapi Ambapali menjawab: “Janganlah berkata begitu, saya tak akan membatalkan undanganku itu, karena itu sangat penting bagiku.”

    Orang-orang Licchavi menjadi kesal: “Kawan-kawan, lihatlah, kita dihalangi oleh wanita mangga ini.” Tetapi meski pun demikian mereka meneruskan perjalanan ke kebun mangga.

    17. Dari kejauhan Sang Bhagava melihat orang-orang Licchavi yang sedang mengendarai kereta mereka. Kemudian beliau berkata kepada para bhikkhu: “Siapa di antara para bhikkhu yang belum pernah melihat para dewa (surga) Tavatimsa? Sekarang kamu sekalian dapat melihat para Licchavi ini dan dapat memandangi mereka sebab mereka itu nampak seperti para dewa dari alam surga Tavatimsa.”

    18. Orang-orang Licchavi mengendarai kereta mereka sejauh yang dapat ditempuh, kemudian mereka turun dari kereta dan berjalan menemui Sang Bhagava dan memberi hormat kepada beliau. Setelah itu mereka duduk pada tempat yang telah disediakan. Sang Bhagava membabarkan dhamma kepada orang-orang Licchavi, menyadarkan, menyenangkan dan menggembirakan pikiran mereka.

    Sesudah itu, orang-orang Licchavi berkata kepada Sang Bhagava: “Semoga bhante sudi menerima undangan kami untuk santap esok pagi bersama-sama para bhikkhu.”

    “Undangan untuk santap esok pagi, saudara-saudara dari Licchavi, telah disampaikan oleh Ambapali dan kami telah menyetujuinya.” Orang-prang Licchavi menjadi kesal dan berkata: “Kawan-kawan, lihatlah kita disabot oleh wanita mangga itu.” Tetapi akhirnya orang-orang Licchavi menerima dengan gembira keterangan Sang Bhagava. Kemudian mereka bangkit dari duduk, menghormat beliau lalu meninggalkan Sang Bhagava.

    19. Keesokan harinya, setelah Ambapali menyiapkan makanan terpilih, lunak dan keras, di tamannya, ia memberitahukan kepada Sang Bhagava: “Bhante, telah waktunya untuk makan, makanan telah siap.” Sang Bhagava mempersiapkan diri, sambil membawa patta dan jubah, pergi bersama para bhikkhu ke tempat Ambapali. Sang Bhagava duduk di tempat yang telah disediakan. Ambapali sendiri yang melayani Sang Bhagava dan para bhikkhu, menyuguhi mereka dengan makanan terpilih, lunak dan keras.

    Setelah selesai makan, Sang Bhagava meletakkan patta, Ambapali duduk di tempat yang lebih rendah dan menempatkan dirinya pada salah satu sisi, lalu berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, taman ini saya persembahkan kepada bhikkhu sangha yang dipimpin oleh Sang Bhagava.”

    Sang Bhagava menerima taman itu, kemudian beliau membabarkan dhamma kepada Ambapali, menyadarkan, menyenangkan dan menggembirakan hatinya. Sesudah itu Sang Bhagava bangkit dari duduknya dan meninggalkan tempat itu.

    20. Di Vesali, di hutan milik Ambapali, Sang Bhagava sering memberi nasihat kepada para bhikkhu:

    Ini adalah moralitas, ini adalah meditasi, ini adalah kebijaksanaan. Samadhi yang dilandasi sila akan menghasilkan buah dan manfaat yang besar. Kebijaksanaan yang dilandasi Samadhi akan menghasilkan buah dan manfaat yang Besar. Pikiran yang dilandasi kebijaksanaan akan sepenuhnya terbebas dari kekotoran/noda, yaitu, indria, penjelmaan, ketidaktahuan

    21. Setelah Sang Bhagava tinggal lama di taman Ambapali, beliau berkata kepada Ananda: “Ananda, marilah kita pergi ke desa Beluva.” “Baiklah, bhante,” jawab Ananda. Demikianlah, Sang Bhagava bersama sejumlah besar bhikkhu tinggal di desa Beluva.

    PENYAKIT SANG BHAGAVA YANG SANGAT PARAH [Juga di: SN 47.9/Gilāna Sutta]
    22. Ketika itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Sekarang pergilah, para bhikkhu, dan carilah tempat mana saja di sekitar Vesali ini di mana kalian dapat diterima oleh para kenalan dan sahabat dan tinggallah di sana selama musim hujan ini. Aku akan vassa di tempat ini di dusun Beluva.” “Baiklah, bhante,” kata para bhikkhu, dan mereka melakukan demikian, dan Sang Bhagavā menjalani musim hujan di Beluva.
    .

    23. Atha kho bhagavā vassūpagatassa (Dan Sang Bhagava selama menjalani musim hujan) kharo ābādho uppajji (dilanda sakit keras), bāḷhā vedanā vattanti māraṇantikā (dengan rasa sakit menusuk/terus menerus yang sangat mematikan). Tā sudaṃ bhagavā sato sampajāno adhivāsesi avihaññamāno (namun Sang Bhagava dengan mengetahui sepenuhnya dalam perhatian menerimanya tanpa mengeluh)

    Atha kho bhagavato etadahosi (Kemudian terjadi pada Sang Bhagava): na kho metaṃ patirūpaṃ, yvāhaṃ anāmantetvā upaṭṭhāke anapaloketvā bhikkhusaṃghaṃ parinibbāyeyyaṃ (Tidak tepat bagiku tanpa memberitahukan pengikutku dan tanpa memberikan nasehat kepada bhikkhuSangha untuk padam sempurna). Yannūnāhaṃ imaṃ ābādhaṃ vīriyena paṭipaṇāmetvā (Aku harus mengerahkan upaya menundukan penyakit ini) jīvitasaṅkhāraṃ adhiṭṭhāya vihareyyan (yang mengarahkan pada berlanjutnya kehidupan). Atha kho bhagavā taṃ ābādhaṃ vīriyena paṭipaṇāmetvā jīvitasaṅkhāraṃ adhiṭṭhāya vihāsi (Demikianlah Sang Bhagava mengerahkan upaya menundukan penyakit ini yang mengarahkan pada berlanjutnya kehidupan). Atha kho bhagavato so ābādho paṭippassambhi (Penyakit sang Bhagavapun mereda)

    24. Kemudian, Sang Bhagava setelah sembuh dari sakitnya, segera setelah sembuh, beliau keluar ruangan pembaringannya, lalu duduk ditempat yang disediakan di bawah naungan bangunan itu. Kemudian Ananda menghampiri Sang Bhagava, memberi hormat, lalu duduk pada salah satu sisi dan Ananda berkata kepada Sang Bhagava: “Aku melihat Sang Bhagava telah sembuh, aku melihat sang Bhagava dapat bertahan. Tubuhku seperti limbung bagaikan lumpuh seolah segalanya gelap bagiku karena Sang Bhagava sakit. Tetapi hal yang menenangkanku karena aku berpikir sang Bhagava tak akan padam sepenuhnya sebelum memberikan pernyataan tentang kumpulan para bhikkhu.”

    25. [Sang Bhagava berkata]
    “Namun Ananda, Apalagi yang para bhikkhu harapkan? Dhamma telah kusampaikan di dalam maupun luar kalangan (anantaraṃ abāhiraṃ karitvā). Tidak ada Ananda, Dhamma yang Sang Tathagata sembunyikan. Bagi siapa yang berpikiran, “’akulah yang mengendalikan komunitas bhikkhu ini atau komunitas bhikkhu harus merujuk padaku’, maka Ia lah Anada, seharusnya akan menyampaikan beberapa perkataan mengenai komunitas bhikkhu. Tetapi, Sang Tathagata, Ananda, tidak punya pikiran bahwa ‘akulah yang mengendalikan komunitas bhikkhu ini atau komunitas bhikkhu harus merujuk padaku’, maka Ananda, mengapa aku perlu menyampaikan perkataan mengenai komunitas para bhikkhu?”

    Ahaṁ kho pan’ Ānanda etarahi (Ananda, Aku sekarang ini), jiṇṇo vuḍḍho mahallako (menua semakin rapuh) addhagato vayo anuppatto(menua menjadi usang) asītiko me vayo vattati (Aku hampir mencapai 80 tahun). Seyyathāpi, ānanda, jajjarasakaṭaṃveṭhamissakena yāpeti (Ananda, bagai sebuah kereta tua yang dapat jalan dengan diikat), evameva kho, ānanda, veṭhamissakena maññe tathāgatassa kāyoyāpeti (demikian kira-kira tubuh Sang Tathāgata dapat hidup dengan disokong). Yasmiṃ, ānanda, samaye tathāgato sabbanimittānaṃ amanasikārā ekaccānaṃ vedanānaṃ nirodhā animittaṃ cetosamādhiṃ upasampajja viharati(Ananda, Hanya ketika Sang Tathāgata tidak memperhatikan gambaran-gambaran dan dengan lenyapnya perasaan-perasaan tertentu, pikiran berada terpusat tanpa gambaran), phāsutaro, ānanda, tasmiṃ samaye tathāgatassa kāyo hoti. (maka Ananda, ketika itulah tubuh Sang Tathāgata dalam keadaan baik)

    26. Oleh karenanya, Ānanda, Jadikan dirimu sebagai pulau, menjadikan dirimu sebagai pelindung, tidak dengan perlindungan lain, dengan Dhamma sebagai pulau, dengan Dhamma sebagai pelindung, tidak dengan perlindungan lain. Dan bagaimanakah seorang bhikkhu menjadikan dirinya sebagai pulau, menjadi dirinya sebagai pelindung, tidak dengan perlindungan lain, dengan Dhamma sebagai pulau, dengan Dhamma sebagai pelindung, tidak dengan perlindungan lain?

    Di sini, seorang bhikkhu:

    • kāye kāyānupassī (merenungkan jasmani sebagai jasmani), virahati ātāpī sampajāno satimā (berada tekun dalam perhatian dengan sepenuhnya mengetahui) vineyya loke abhijjhādomanassaṃ (setelah menyingkirkan kerinduan dan kegundahan akan dunia).
    • Vedanāsu vedanānupassī (merenungkan perasaan sebagai perasaan)..,
    • citte cittānupassī (pikiran sebagai pikiran)…
    • dhammesu dhammānupassī (objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran)…

    Itu, Ānanda, adalah bagaimanakah seorang bhikkhu menjadikan dirinya sebagai pulau, … tidak dengan perlindungan lain. Dan siapapun, yang hidup di masa-Ku atau setelahnya menjadikan dirinya sebagai pulau, … tidak dengan perlindungan lain, tama-t-agge (akan menjadi yang tertinggi), yang menjadi para bhikkhuku itu, jika mereka mau berlatih


    BAB III

    [Nimittobhāsakathā]
    1. Kemudian Sang Bhagavā, setelah bangun pagi, merapikan jubah, mengambil jubah dan mangkukNya, dan memasuki Vesālī untuk menerima dana makanan. Setelah makan sekembalinya dari menerima dana makanan, Beliau berkata kepada Yang Mulia Ānanda:

    “Bawa alas duduk, Ānanda. Kita akan pergi ke Altar Cāpāla untuk beristirahat siang.’ ‘Baik, Bhagavā,’ jawab Ānanda, dan, mengambil alas duduk, ia mengikuti di belakang

    2. Kemudian Sang Bhagavā sampai di Altar Cāpāla, dan duduk di tempat yang dipersiapkan. Ānanda memberi hormat kepada Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi, dan Sang Bhagava berkata: ‘Ānanda, Vesālī sungguh indah, Kuil Udena sungguh indah, Kuil Gotamaka sungguh indah, Kuil Sattambaka sungguh indah, Kuil Bahuputta sungguh indah, Kuil Cāpāla sungguh indah”

    3. Yassa kassaci, ānanda (Siapapun, Ananda) cattāro iddhipādā bhāvitā bahulīkatā yānīkatā vatthukatā anuṭṭhitā paricitā susamāraddhā (yang telah mengembangkan empat landasan kekuatan, sering, membiasakannya, sebagai landasan latihan dan dilaksanakan dengan benar), so ākaṅkhamāno (Jika Ia ingin) kappaṃ vā tiṭṭheyya (semestinya dan dapat bertahan) kappāvasesaṃ vā (hingga akhir Kappa). Tathāgatassa kho, ānanda, cattāro iddhipādā bhāvitā bahulīkatā yānīkatā vatthukatā anuṭṭhitā paricitā susamāraddhā (Sang Tathagata Ananda, telah mengembangkan empat landasan kekuatan, sering, membiasakannya, sebagai landasan latihan dan dilaksanakan dengan benar), so ākaṅkhamāno, ānanda, tathāgato (Ananda, Jika sang Tathagatha inginkan) kappaṃ vā tiṭṭheyya kappāvasesaṃ vā”ti (semestinya dan dapat bertahan hingga akhir Kappa)

    4. Tetapi Yang Mulia Ānanda, karena tidak mampu menangkap petunjuk jelas ini, isyarat jelas ini, tidak memohon kepada Sang Bhagavā dengan mengatakan: ‘Tiṭṭhatu Bhante Bhagavā kappaṁ tiṭṭhatu Sugato kappaṁ (Bertahanlah guru, Sang Bhaggawa semestinya bertahan di kappa berbahagia) demi manfaat dan kebahagiaan banyak makhluk, demi belas kasih terhadap dunia, demi manfaat dan kebahagiaan para dewa dan manusia,’ yathā taṃ mārena pariyuṭṭhitacitto (pikirannya seperti teralihkan)

    5. Dan untuk ke dua kalinya …, dan ke tiga kalinya ….

    6. Kemudian Sang Bhagavā berkata: ‘Ānanda, pergilah, dan lakukanlah apa yang menurutmu baik.’ ‘Baiklah, Bhagavā,’ Ānanda menjawab dan, bangkit dari duduknya. Ia memberi hormat kepada Sang Bhagavā, berbalik dengan sisi kanan menghadap Sang Bhagavā dan duduk di bawah sebatang pohon yang agak jauh

    [Mārayācanakathā] PERMOHONAN MARA
    7-8. Segera setelah Ānanda pergi, māro pāpimā (Māra penggoda) mendatangi Sang Bhagavā, berdiri di satu sisi, dan berkata: ‘Bhagavā, sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir. Karena Bhagavā pernah berkata:

    “pāpima, Aku tak akan mengakhiri hidupku, sebelum para [bhikkhu, bhikkhuni, Upasaka/umat awam pria dan Upasika/umat awam wanita] menjadi siswa yang sempurna, terlatih, terampil, menguasai Dhamma, terlatih dalam keselarasan dengan Dhamma, terlatih dengan baik dan berjalan di jalan Dhamma, yang telah lulus dari apa yang mereka terima dari Guru mereka, mengajarkan, menyatakan, mengukuhkan, membabarkan, menganalisa, menjelaskan; hingga mereka mampu menggunakan Dhamma untuk membantah ajaran-ajaran salah yang telah muncul, dan mengajarkan Dhamma yang memiliki hasil yang menakjubkan.

    ‘Dan sekarang, Bhagavā telah memiliki para [para bhikkhu, bhikkhuni, Upasaka/umat awam pria dan Upasika/umat awam wanita] menjadi siswa yang sempurna, terlatih, …

    Sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang Jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir

    Dan Sang Bhagavā menjawab: “pāpima, Aku tidak akan mencapai Nibbāna akhir sampai kehidupan suci telah mantap dan berkembang, menyebar, dikenal luas, diajarkan baik di antara para deva dan manusia di mana-mana.”

    Dan semua ini telah terjadi. kehidupan suci telah mantap dan berkembang…

    Sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang Jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir.’

    9. Setelah hal ini diucapkan, Sang Bhagava berkata kepada Mara papima: “Pāpima, jangan kau menyusahkan dirimu. Saat parinibbana Sang Tathagata belum tiba, tiṇṇaṃ māsānaṃ accayena (tiga bulan lagi) Sang Tathagata akan Parinibbana.

      [Note:
      Seperti kata “Ananda”sebagai nama juga sebuah kata (“gembira”, “senang”), demikian pula “Mara papima” yang adalah nama. Penterjemahan Māra = si jahat kurang tepat mengingat mara adalah dewa yang tingkat kedewaannya lebih tinggi dari Sakka dan bahkan lebih tinggi dari dewa alam Tusita. Mereka yang melakukan banyak kebajikan dengan pikiran terakhir saat wafat dalam keadaan berbahagia yang dapat terlahir di sebagai Deva.

      Nama lain mara atau persamaan katanya: Antaka (kematian, batas akhir), Vasavattī (penguasa), Pāpimā (penghasut/pemitnah), Pajāpati (tuan dari awal mula), Pamattabandhu (tidak perhatian), Kaṇha (hitam), Māra (pembunuh, kematian) dan Namuci (pengikat). Atau semua kilesa (noda) adalah mara karena bersifat penghancur, pengikat terlahir kembali

    [Āyusaṅkhāraossajjana] SANG BHAGAVA MELANJUTKAN KEHIDUPANNYA
    10. Demikianlah di cetiya Capala, Sang Bhagava sato sampajāno āyusaṅkhāraṁ ossaji (mengetahui sepenuhnya dalam perhatian melepaskan ikatan vitalitasnya). Ossaṭṭhe ca Bhagavatā āyusaṅkhāre mahābhūmicālo ahosi (Pelepasan ikatan vitalitas sang Bhagava menimbulkan gempa bumi) bhiṁsanako lomahaṁso, Devadundubhiyo ca phaliṁsu (menyeramkan membuat merinding dengan kilat gemuruh membelah). Dan Sang Bhagava melihat pentingnya hal ini mengucapkan kata-kata:

    “keberlangsungan yang terukur maupun tidak
    bentukan keberlangsungan telah sang muni potong
    Dalam kedamaian diri
    merobek segel keberlangsungan”

    11. Lalu terlintaslah di pikiran Ananda: “Sungguh menakjubkan dan luarbiasa. Bumi bergetar begitu dahsyat, menyeramkan, membuat merinding dengan kilat gemuruh membelah. Apakah sebabnya dan apa alasannya terjadinya gempa bumi yang dahsyat ini?”

    (Mahābhūmicālahetu) DELAPAN SEBAB GEMPA BUMI
    12. Kemudian Ananda mendekati Sang Bhagava, duduk pada tempat yang telah tersedia dan berkata: “Bhante, Sungguh menakjubkan dan luarbiasa. Bumi bergetar begitu dahsyat,.. Apakah sebab dan alasannya sehingga gempa bumi dahsyat terjadi? Mohon kami diberi penjelasan.”

    13. Kemudian Sang Bhagava berkata: Aṭṭha kho ime, ānanda, hetū, aṭṭha paccayā mahato bhūmicālassa pātubhāvāya. Katame aṭṭha? (Adalah Delapan, Ananda, sebab, delapan alasan gempa bumi dahsyat terjadi. Apakah delapan itu?)

    Ayaṃ, ānanda mahāpathavī udake patiṭṭhitā (Ananda, daratan besar ini disokong cairan) udakaṁ vāte patiṭṭhitā vāto ākāsaṭṭho (cairan disokong tekanan udara, tekanan udara antar rongga). Hoti kho so, ānanda (Dan kemudian, Ananda), samayo yaṃ mahāvātā vāyanti (Sewaktu terjadi pergerakan tekanan udara yang besar), Mahāvātā vāyantā udakaṃ kampenti (pergerakan tekanan udara yang besar membuat cairan bergoncang). Udakaṃ kampitaṃ pathaviṃ kampeti (Dengan bergoncangnya cairan, daratan bergoncang). Ayaṃ paṭhamo (Ini yang pertama), hetu paṭhamo paccayo mahato bhūmicālassa pātubhāvāya (sebab pertama alasan gempa bumi dahsyat)

    14. Kemudian juga Ananda, samaṇo vā hoti brāhmaṇo vā iddhimā cetovasippatto (seorang pertapa atau brahmana yang mempunyai kekuatan pikiran yang telah terlatih baik), devo vā mahiddhiko mahānubhāvo (atau sesosok dewata sakti yang mempunyai kekuatan psikis yang sangat besar), tassa parittā pathavīsaññā bhāvitā hoti, appamāṇā āposaññā (mengembangkan secara terbatas pada persepsi padat namun secara tak terbatas pada persepsi rekatan), ini menyebabkan daratan bergetar, bergoyang, dan keras bergoncang. Inilah sebab yang kedua alasan gempa bumi dahsyat.

    15-20. Kemudian juga Ananda, (3) Sang Bodhisatta meninggalkan alam surga Tusita mengetahui sepenuhnya dalam perhatian memasuki rahim seorang ibu.. (4) Sang Bodhisatta mengetahui sepenuhnya dalam perhatian keluar dari rahim seorang Ibu..(5) Sang Tathagata mencapai penerangan sempurna yang tanpa bandingnya.. (6) Sang Tathāgata memutar Roda Dhamma.. (7) Sang Tathagata dengan mengetahui sepenuhnya dalam perhatian melepas ikatan vitalitasnya atau (8) Sang Tathagata mencapai unsur Nibbāna tanpa sisa. Semua ini, Ānanda, adalah delapan alasan, delapan penyebab gempa bumi dahsyat

    [Aṭṭhaparisā] DELAPAN MACAM PERHIMPUNAN [Juga di AN 8.69]
    21. “Ananda, ada delapan macam perhimpunan, yaitu Perhimpunan para kesatriya, para brahmana, orang-orang berumah tangga, para pertapa, para dewa Catummaharajika, para dewa Tavatimsa, para Mara dan para dewa Brahma.

    22-23. Ananda, kini aku ingat bagaimana aku telah pernah menghadiri undangan dari ke-8 perhimpunan (Kstaria…Dewa Brahma) yang masing-masing dihadiri oleh beratus-ratus individu itu. Sebelum dimulai percakapan atau pembahasan, aku membuat wajahku mirip dengan wajah mereka, suaraku menyerupai suara mereka. Demikianlah kami mengajarkan mereka mengenai Dhamma, dan hal ini memberikan manfaat dan kegembiraan kepada mereka. Meskipun demikian, tatkala aku sedang memberikan Dhamma kepada mereka, mereka tak mengetahui siapa sebenarnya aku ini, dan mereka saling bertanya pada kawan-kawannya, “Siapa gerangan yang sedang berbicara kepada kita? Apakah gerangan Ia seorang manusia atau dewa?” tanya mereka.

    Sesudah Aku mengajarkan Dhamma dan telah membimbing mereka, mereka menyadari manfaatnya dan gembira, lalu aku pergi. Setelah aku meninggalkan mereka, mereka belum juga mengetahui tentangku, mereka saling bertanya: “Siapakah gerangan dia yang telah pergi itu? Apakah dia manusia atau dewa?” Ananda, begitulah delapan macam perhimpunan itu.

    [Aṭṭha­abhi­bhāyatana] DELAPAN BIDANG PENGUASAAN [Juga di AN 8.65]
    24. “Ananda, ada delapan lapangan Penguasaan. Apakah delapan hal itu?

    25. Ajjhattaṃ rūpasaññī eko (membentuk persepsi tertentu secara internal), bahiddhā rūpāni passati (melihat bentuk luar) parittāni suvaṇṇadubbaṇṇāni (terbatas kesan indah-buruk), Tāni abhibhuyya jānāmi passāmī’ti evaṃsaññī hoti (Ia sangat menguasai tahu dan melihat persepsinya secara demikian) Idaṃ paṭhamaṃ abhibhāyatanaṃ (inilah bidang penguasaan yang pertama).

    26. Membentuk persepsi tertentu secara internal, bahiddhā rūpāni passati (melihat bentuk luar) appamāṇāni suvaṇṇadubbaṇṇāni (tak terbatas kesan indah-buruk), Ia sangat menguasai tahu dan melihat persepsinya secara demikian, inilah bidang penguasaan yang kedua

    27. Ajjhattaṃ arūpasaññī eko (tidak membentuk persepsi tertentu secara internal), melihat bentuk luar terbatas kesan indah-buruk, Ia sangat menguasai tahu dan melihat persepsinya secara demikian, inilah bidang penguasaan yang ketiga

    28. Tidak membentuk persepsi tertentu secara internal, melihat bentuk luar tak terbatas kesan indah-buruk, Ia sangat menguasai tahu dan melihat persepsinya secara demikian, inilah bidang penguasaan yang keempat.

    29. Tidak membentuk persepsi tertentu secara internal, bahiddhā rūpāni passati nīlāni (melihat bentuk luar biru), nīlavaṇṇāni nīla­ni­dassa­nāni nīlanibhāsāni (berwarna biru, berkilauan biru, bercorak biru). Seyyathāpi nāma umāpupphaṃ nīlaṃ nīlavaṇṇaṃ nīlanidassanaṃ nīlanibhāsaṃ (seperti nama bunga rami biru, berwarna, kilau, corak biru), Seyyathā vā pana taṃ vatthaṃ bārāṇaseyyakaṃ ubhato­bhāga­vi­maṭṭhaṃ nīlaṃ nīlavaṇṇaṃ nīlanidassanaṃ nīlanibhāsaṃ (dan atau misal seperti kain halus dari Benares yang kedua sisinya biru, warna, kilau dan corak biru). Demikianlah tidak membentuk persepsi tertentu secara internal, melihat bentuk luar biru, berwarna biru, berkilauan biru, bercorak biru, Ia sangat menguasai tahu dan melihat persepsinya secara demikian, inilah bidang penguasaan yang kelima.

    30. Tidak membentuk persepsi tertentu secara internal…bentuk luar kuning (pita)…, Demikianlah tidak membentuk persepsi tertentu secara internal, melihat bentuk luar kuning, berwarna kuning, berkilauan kuning, corak kuning, Ia sangat menguasai tahu dan melihat persepsinya secara demikian, inilah bidang penguasaan yang keenam.

    31. Tidak membentuk persepsi tertentu secara internal…bentuk luar merah (lohita)…, Demikianlah tidak membentuk persepsi tertentu secara internal, melihat bentuk luar merah, berwarna merah, berkilauan merah, corak merah, Ia sangat menguasai tahu dan melihat persepsinya secara demikian, inilah bidang penguasaan yang ketujuh.

    32. Tidak membentuk persepsi tertentu secara internal…bentuk luar putih (odata)…,Demikianlah tidak membentuk persepsi tertentu secara internal, melihat bentuk luar putih, berwarna putih, berkilauan putih, corak putih, Ia sangat menguasai tahu dan melihat persepsinya secara demikian, inilah bidang penguasaan yang kedelapan.

    Ananda, inilah delapan bidang penguasaan.”

    [Aṭṭhavimokkha] DELAPAN KEBEBASAN [juga di AN 8.66]
    33. “Ananda, ada delapan Kebebasan. Apakah delapan itu ?

    1. Rūpī rūpāni passati (Memiliki bentuk, melihat bentuk). ayaṃ paṭhamo vimokkho (ini kebebasan yang pertama)
    2. Ajjhattaṃ arūpasaññī bahiddhā rūpāni passati (Tidak membentuk persepsi secara internal melihat bentuk luar). Ini kebebasan yang kedua.
    3. Subhanteva adhimutto hoti (lebih cenderung di persepsi keindahan). Ini kebebasan yang ketiga.
    4. sabbaso (Setelah sepenuhnya) rūpasaññā samatikkamā (melampaui persepsi materi) paṭigha (penolakan terhadap) sanna (persepsi) atthaṅgamā (mereda/lenyap) nānatta•saññānaṃ (ragam persepsi) amanasikara (tidak berkembang-biak) [Merasakan:] ‘ākāso (ruang) ananto (tak berbatas)’ ākāsa•anañca•āyatana (landasan ruang tak berbatas) upasampajja viharati (tercapai keberadaannya). Ini kebebasan yang keempat.
    5. sabbaso (Setelah sepenuhnya) ākāsa•anañca•āyatana samatikkamā (melampuai landasan ruang tak berbatas), [merasakan:] ‘viññāṇa (Kesadaran) ananta (tak berbatas)’, viññāṇa•anañca•āyatana (landasan kesadaran tak berbatas) upasampajja viharati (tercapai keberadaannya). ini kebebasan yang kelima
    6. sabbaso (Setelah sepenuhnya) viññāṇa•anañca•āyatana samatikkamā (melampaui landasan kesadaran tak berbatas), [merasakan:] ‘natthi (tidak ada) kinci (sesuatu apapun)’, ākiñcaññ•āyatanaṃ (landasan tak ada sesuatu apapun) upasampajja viharati (tercapai keberadaannya). ini kebebasan yang keenam.
    7. sabbaso (Setelah sepenuhnya) ākiñcaññ•āyatanaṃ samatikkamā (melampaui landasan tak ada sesuatu apapun), nevasaññā (bukan persepsi) nāsaññā (bukan tanpa perspsi) ayata­naṃ (landasan) upasampajja viharati (tercapai keberadaannya). Ini kebebasan yang ketujuh.
    8. sabbaso (Setelah sepenuhnya) nevasaññānāsaññāyata­naṃ samatikkamma (melampaui landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi) [merasakan:] saññāvedayitanirodhaṃ (lenyapnya persepsi dan perasaan) upasampajja viharati (tercapai keberadaannya). Ini kebebasan yang kedelapan.

    Ananda, inilah delapan Kebebasan itu.”

    GODAAN MARA PADA WAKTU YANG LALU
    34. Ānanda, suatu ketika, Aku menetap di Uruvela, di tepi Sungai Nerañjarā, di bawah pohon Banyan Penggembala kambing, ketika Aku baru saja mencapai Penerangan Sempurna, Mara pāpimā mendatangi-Ku, berdiri di satu sisi, dan berkata: ‘Bhagavā, sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir. Kemudian, Aku berkata kepada Mara pāpimā:

    “pāpima, Aku tak akan mengakhiri hidupku, sebelum para [bhikkhu, bhikkhuni, Upasaka/umat awam pria dan Upasika/umat awam wanita] menjadi siswa yang sempurna, terlatih, terampil, menguasai Dhamma, terlatih dalam keselarasan dengan Dhamma, terlatih dengan baik dan berjalan di jalan Dhamma, yang telah lulus dari apa yang mereka terima dari Guru mereka, mengajarkan, menyatakan, mengukuhkan, membabarkan, menganalisa, menjelaskan; hingga mereka mampu menggunakan Dhamma untuk membantah ajaran-ajaran salah yang telah muncul, dan mengajarkan Dhamma yang memiliki hasil yang menakjubkan.

    “pāpima, Aku tidak akan mencapai Nibbāna akhir sampai kehidupan suci telah mantap dan berkembang, menyebar, dikenal luas, diajarkan baik di antara para deva dan manusia di mana-mana.”

    36. Ananda, hari ini di cetiya Capala, Mara pāpimā, mendekati aku, berdiri pada salah satu sisi, dan berkata kepadaku:

    ‘Bhagavā, sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir. Karena Bhagavā pernah berkata:

    “pāpima, Aku tak akan mengakhiri hidupku, sebelum para [bhikkhu, bhikkhuni, Upasaka/umat awam pria dan Upasika/umat awam wanita] menjadi siswa yang sempurna, terlatih,…’Dan sekarang, Bhagavā telah memiliki para [para bhikkhu, bhikkhuni, Upasaka/umat awam pria dan Upasika/umat awam wanita] menjadi siswa yang sempurna, terlatih, …Sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir,…Dan Sang Bhagavā menjawab: “pāpima, Aku tidak akan mencapai Nibbāna akhir sampai kehidupan suci telah mantap dan berkembang,… Dan semua ini telah terjadi. kehidupan suci telah mantap dan berkembang…Sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang Jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir.’

    ‘Ananda, kepada Mara papima aku menjawab: “Pāpima, jangan kau menyusahkan dirimu. Saat parinibbana Sang Tathagata belum tiba, tiṇṇaṃ māsānaṃ accayena (tiga bulan lagi) Sang Tathagata akan Parinibbana. Jadi, Ānanda, Hari ini di Kuil Cāpāla, dengan mengetahui sepenuhnya dalam perhatian, Tathāgata melepaskan ikatan vitalitasnya

    [Ānandayācanakathā] PERMOHONAN ANANDA
    38. Mendengar ucapan-ucapan tersebut, Ananda lalu berkata kepada Sang Bhagava: “Bertahanlah guru, Sang Bhaggawa semestinya bertahan di kappa berbahagia) demi manfaat dan kebahagiaan banyak makhluk, demi belas kasih terhadap dunia, demi manfaat dan kebahagiaan para dewa dan manusia”

    39. Sang Bhagava lalu menjawab demikian: “Cukuplah Ananda, janganlah menahan Sang Tathagata, karena waktunya sudahlah terlambat, untuk permintaan semacam itu.” Tapi untuk kedua dan ketiga kalinya, Ananda memohon kepada Sang Bhagava: “Bertahanlah guru, Sang Bhaggawa semestinya bertahan di kappa berbahagia) demi manfaat dan kebahagiaan banyak makhluk, demi belas kasih terhadap dunia, demi manfaat dan kebahagiaan para dewa dan manusia”

    Sang Bhagava lalu berkata: “Ananda, apakah kamu mempunyai keyakinan terhadap buah hasil Penerangan sejati dari Sang Tathagata?”

    Ananda menjawab: “Bhante, kami sangat yakin.”

    “Ananda, kalau begitu, mengapa kamu mengganggu Sang Tathagata sampai tiga kali?”

    40. Ananda menjawab: “Dari mulut Sang Tathagata sendiri kami telah mendengar:

    ‘Siapapun, Ananda yang telah mengembangkan empat landasan kekuatan, sering, membiasakannya, sebagai landasan latihan dan dilaksanakan dengan benar, Jika Ia ingin semestinya dan dapat bertahan hingga akhir Kappa. Sang Tathagata Ananda, telah mengembangkan empat landasan kekuatan, sering, membiasakannya, sebagai landasan latihan dan dilaksanakan dengan benar, Ananda, Jika sang Tathagatha inginkan semestinya dan dapat bertahan hingga akhir Kappa'”

    “Ananda, apakah kamu mempercayainya?”

    “Ya, kami mempercayainya, bhante,” jawab Ananda.

    “Ananda, dengan demikian tuyhevetaṃ dukkaṭaṃ, tuyhevetaṃ aparaddhaṃ (engkau telah salah bertindak, engkau telah keliru bertindak) dalam memahami saran yang sederhana dan bermakna serta dorongan yang berarti yang diberikan oleh Sang Tathagata”, maka seharusnya kamu tidak memohon beliau untuk tetap berada di sini.

    Jika pada waktu yang lalu kamu memohon seperti itu, untuk kedua kali Sang Tathagata mungkin menolaknya, tetapi untuk yang ketiga kalinya ia mungkinkan menyetujuinya. Ananda, oleh karena itu, engkau telah salah bertindak, engkau telah keliru bertindak, maka permohonanmu sekarang adalah sia-sia.”

    41. “Ananda, di Rajagaha, ketika kita sedang berdiam di puncak Gijjhakuta, kami telah berkata kepadamu: ‘Ananda, menyenangkan Rajagaha ini, menyenangkan pula puncak Gijjhakuta ini. Siapapun, Ananda yang telah mengembangkan empat landasan kekuatan, sering, membiasakannya, sebagai landasan latihan dan dilaksanakan dengan benar, Jika Ia ingin semestinya dan dapat bertahan hingga akhir Kappa. Sang Tathagata Ananda, telah mengembangkan empat landasan kekuatan, sering, membiasakannya, sebagai landasan latihan dan dilaksanakan dengan benar, Ananda, Jika sang Tathagatha inginkan semestinya dan dapat bertahan hingga akhir Kappa. Tapi kamu tidak dapat memahami saran yang sederhana dan bermakna serta dorongan yang berarti yang diberikan oleh Sang Tathagata …. Ananda, oleh karena itu, engkau telah salah bertindak, engkau telah keliru bertindak, maka permohonanmu sekarang adalah sia-sia.”

    42. “Begitu pula ketika kami berdiam di Gotama Nigrodha, Rajagaha … di Corapapato, Rajagaha … di goa Sattapanni pada lereng gunung Vebhara, Rajagaha … di Kalasila pada lereng gunung Isigali, Rajagaha … di hutan Sitavana dalam goa gung Sappasondika, rajagaha … di Tapodarama, Rajagaha … di Veluvana Kalandaka, Rajagaha … di Ambavana milik Jivaka, Rajagaha … di taman rusa Maddakucchi, Rajagaha.

    43-44. Ananda, pada tempat-tempat itu kami mengatakan: ‘Menyenangkan Rajagaha ini …. dan menyenangkan semua tempat ini. Siapapun, Ananda yang telah mengembangkan empat landasan kekuatan …. Ananda, oleh karena itu, engkau telah salah bertindak, engkau telah keliru bertindak, maka permohonanmu sekarang adalah sia-sia.”

    45-47. “Demikian pula di Vesali, pada waktu tertentu Sang Tathagata telah berkata kepadamu: ‘Ananda, menyenangkan sekali Vesali ini, menyenangkan Cetiya Udena, Gotamaka, Sattamba, Bakuputta,Sarandada dan Capala.’ Siapapun, Ananda yang telah mengembangkan empat landasan kekuatan, sering, membiasakannya, sebagai landasan latihan dan dilaksanakan dengan benar, Jika Ia ingin semestinya dan dapat bertahan hingga akhir Kappa. Sang Tathagata Ananda, telah mengembangkan empat landasan kekuatan, sering, membiasakannya, sebagai landasan latihan dan dilaksanakan dengan benar, Ananda, Jika sang Tathagatha inginkan semestinya dan dapat bertahan hingga akhir Kappa

    Ananda, tapi kau tak dapat memahami saran yang sederhana dan bermakna serta dorongan yang berarti yang diberikan oleh Sang Tathagata, maka seharusnya kau tidak memohon beliau untuk tetap berada di sini. Jika pada waktu yang lalu kamu memohon seperti itu, untuk kedua kali Sang Tathagata mungkin menolaknya, tetapi untuk ketiga kalinya mungkin akan menyetujuinya. Ananda, oleh karena itu engkau telah salah bertindak, engkau telah keliru bertindak”, maka permohonanmu sekarang adalah sia-sia.”

    48. “Ananda, bukanlah Aku telah mengatakan bahwa segala yang kita senangi dan menyenangkan pasti akan mengalami perubahan, berpisah dan berganti? Apapun yang dilahirkan, menjelma, tersusun, pasti mengalami kerusakan—bahwa ini tidak akan menjadi rusak adalah tidak mungkin. Dan bahwa apa yang telah dilepaskan, dihentikan, ditolak, dibuang, ditinggalkan. Sang Tathāgata telah melepaskan ikatan vitalitas. Sang Tathāgata pernah mengatakan satu kali: “’tak lama lagi adalah parinibananya sang Tathagata. Tiga bulan dari sekarang, Sang Tathāgata akan mencapai Nibbāna akhir.” Bahwa Tathāgata harus menarik kembali suatu pernyataan demi untuk hidup, itu adalah tidak mungkin’”

    “Ananda, marilah kita pergi ke Kutagara Sala di Mahavana.” “Baiklah, bhante,” jawab Ananda.

    NASEHAT YANG TERAKHIR
    49. Kemudian Sang Bhagava dengan diiringi oleh Ananda pergi ke Kutagara Sala, di Mahavana. Di sana beliau berkata kepada Ananda: “Ananda, sekarang pergilah dan himpunlah para bhikkhu yang tinggal di sekitar Vesali di ruang dhammasala.”

    “Baiklah, bhante,” jawab Ananda dan ia memanggil para bhikkhu yang berdiam di sekitar Vesali dan menghimpun mereka di ruangan Dhammasala. Kemudian, Sang Bhagava sambil berkata: “Bhante, bhikkhu Sangha telah berkumpul. Sekarang terserah kepada Sang Bhagava.”

    50. Demikianlah Sang Bhagava memasuki ruangan Dhammasala dan duduk pada tempat yang telah disediakan, lalu beliau menasehati para bhikkhu demikian: “Kini, para bhikkhu, kami katakan kepada kalian bahwa dhamma ini merupakan pengetahuan yang langsung, yang telah kuajarkan kepada kalian semuanya. Seharusnya kalian pelajari benar-benar, pelihara, kembangkan dan praktekkan berulang-ulang. Dengan demikian kehidupan yang suci akan terwujud, dan semoga dapat berlangsung lama demi manfaat dan kebahagiaan banyak makhluk, demi belas kasih terhadap dunia, demi manfaat dan kebahagiaan para dewa dan manusia

    Para bhikkhu apakah sesungguhnya dhamma yang telah kuajarkan?

    Pelajaran itu meliputi (note: 37 Boddhipakkhiyadhamma/Sattatiṁsā Bodhipakkhiyadhammā):

    • cattāro satipaṭṭhānā (4 landasan perhatian: perenungan pada Jasmani/Kāyānupassanā, Perasaan/Vedanānupassanā, Pikiran/Cittānupassanā, & Bentukan pikiran/Dhammānupassanā)
    • cattāro sammappadhānā (4 usaha benar: anuppannānaṃ pāpakānaṃ akusalānaṃ dhammānaṃ anuppādāya chandaṃ janeti (memunculkan keinginan untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi tidak bermanfaat yang belum muncul); Uppannānaṃ pāpakānaṃ akusalānaṃ dhammānaṃ pahānāya chandaṃ janeti (memunculkan keinginan untuk meninggalkan kondisi kondisi tidak bermanfaat yang telah muncul); Anuppannānaṃ kusalānaṃ dhammānaṃ uppādāya chandaṃ janeti (memunculkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul) dan; Uppannānaṃ kusalānaṃ dhammānaṃ ṭhitiyā asammosāya bhiyyobhāvāya vepullāya bhāvanāya pāripūriyā chandaṃ janeti (memunculkan keinginan untuk mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul, untuk ketidakmundurannya, untuk meningkatkannya, untuk memperluasnya, dan memenuhinya melalui pengembangan)
    • cattāro iddhipādā (4 landasan kekuatan: Chanda samādhi padhāna saṅkhāra samannāgataṁ (Keterpusatan pikiran dari keinginan disertai kerja keras); Viriya samādhi padhāna saṅkhāra samannāgataṁ (Keterpusatan pikiran dari ketekunan disertai kerja keras); Citta samādhi padhāna saṅkhāra samannāgataṁ (Keterpusatan pikiran dari pikiran disertai kerja keras) dan; Vimaṁsa samādhi padhāna saṅkhāra samannāgataṁ (Keterpusatan pikiran dari penyelidikan pikiran disertai kerja keras)
    • pañcindriyāni (5 Indria spiritual: keyakinan/saddhā), usaha/viriya, perhatian/sati, pikiran terpusat/samādhi dan kebijaksanaan/paññā)
    • pañca balāni (5 Kekuatan: Keyakinan/Saddhā; ketekukan usaha/Viriya; Perhatian/Sati; Pikiran terpusat/Samādhi dan kebijaksanaan/Paññā)
    • satta bojjhaṅgā (7 faktor penerangan sejati: perhatian/Sati; Penyelidikan keadaan/Dhammavicaya; ketekunan usaha/Viriya; Semangat kegembiraan/Pīti; Ketenangan/Passaddhi; Pikiran terpusat/Samādhi dan Kesimbangan perasaan/Upekkhā)
    • Ariyo Aṭṭhaṅgiko Maggo (8 jalan mulia: Pandangan benar/Sammādiṭṭhi; Kehendak benar/Sammāsaṅkappo; Ucapan benar/Sammāvācā; Perbuatan benar/Sammākammanto; Pencaharian benar/Sammā-Ājīvo; Usaha benar/Sammāvāyāmo; Perhatian benar/Sammāsati dan Pikiran terpusat benar/Sammāsamādhi)

    Para bhikkhu, semua ini adalah dhamma yang merupakan pengetahuan yang langsung yang telah kuajarkan kepada kalian yang seharusnya pelajari dengan saksama, dipraktikkan, dikembangkan dan dilatih berulang kali. Dengan demikian kehidupan suci itu akan dapat diwujudkan dan semoga hal itu semua berlangsung lama demi manfaat dan kebahagiaan banyak makhluk, demi belas kasih terhadap dunia, demi manfaat dan kebahagiaan para dewa dan manusia

    51. Lalu Sang Bhagava bersabda kepada para bhikkhu:
    handa dāni (dan sekarang) bhikkhave (Para Bhikkhu) āmantayāmi vo (Aku nasehati kalian): “vayadhammā saṅkhārā (yang berkondisi tunduk pada kelapukan) appamādena sampādetha (dengan kewaspadaan capailah tujuan)”. Naciraṃ tathāgatassa parinibbānaṃ bhavissati (Tak lama lagi Sang tathagatha akan paranibanna). Ito tiṇṇaṃ māsānaṃ accayena tathāgato parinibbāyissatī (3 bulan dari sekarang berlalu sang Tathagata akan Paranibanna)”

    Setelah selesai mengucapkan kata-kata ini, Sang Sugata berkata lagi:
    Paripakko vayo mayhaṃ (Diriku telah matang dalam usia); parittaṃ mama jīvitaṃ (sedikit kehidupanku tersisa); Pahāya vo gamissāmi (Aku pergi meninggalkan kalian), kataṃ me saraṇamattano (setelah menjadikan diri-Ku sebagai perlindungan). Appamattā satīmanto (Dengan kewaspadaan, perhatian) susīlā hotha bhikkhavo (menjadi bermoral luhur, Para Bhikku). Susamāhitasaṅkappā, sacittamanurakkhatha (kendalikan kehendak disertai pikiran yang terjaga). Yo imasmiṃ dhammavinaye (Siapapun dengan Ajaran dan disiplin), appamatto vihassati (Hidup dalam kewaspadaan), Pahāya jātisaṃsāraṃ dukkhassantaṃ karissatī (Ia akan meninggalkan penderitaan lingkaran kelahiran)”


    BAB IV

    [Nāgāpalokita] PANDANGAN SEPERTI GAJAH
    1. Kemudian Sang Bhagava mempersiapkan diri untuk pindapatta (menerima dana makanan) di pagi hari. Sang Bhagava mengambil patta serta jubahnya lalu pergi ke Vesali. Sesudah mendapat dana dan selesai bersantap, beliau kembali ke tempatnya. Beliau memandang Vesali dengan pandangan sebagai gajah (para Buddha, tidak menengok ke belakang, melainkan membalikkan badan Beliau, seperti lakunya para gajah) dan berkata kepada Ananda : “Ananda inilah yang terakhir kalinya Sang Tathagata meninjau Vesali. Marilah Ananda kita pergi ke Bhadagama.”

    “Baiklah,bhante,” jawab Ananda. Demikianlah Sang Bhagava bersama sejumlah bhikkhu berdiam di Bhadagama.

    EMPAT PEMBAGIAN DHAMMA YANG UTAMA
    2. Sang Bhagava menasehati para bhikkhu: “Para bhikkhu, karena tidak memahami, tidak menembus empat hal sehingga Aku dan juga kalian sejak lama mengembara dalam lingkaran kelahiran kembali. Apakah empat itu? kebajikan moral yang mulia (ariya sila), meditasi yang mulia (ariya samadhi), kebijaksanaan mulia (ariya panna) dan pembebasan yang mulia (ariya vimutti). Aku dan juga kalian sejak lama mengembara dalam lingkaran kelahiran kembali. Dan dengan memahami dan menembus moralitas Ariya, pikiran terpusat Ariya, kebijaksanaan Ariya, dan kebebasan Ariya, maka keinginan akan penjelmaan menjadi terpotong, kecenderungan ke arah penjelmaan telah dipadamkan, dan tidak akan ada lagi kelahiran kembali”

    3. Selanjutnya Sang Bhagava berkata: “Kebajikan moral, meditasi, kebijaksanaan dan kebebasan telah dimilikinya. Inilah dhamma yang tiada taranya, yang telah dilaksanakan oleh Gotama. Dengan memahami semuanya itu, Sang Bhagava telah mengajarkan dhamma kepada para bhikkhu. Beliau adalah pembasmi dukkha, maha guru yang telah melihat dan yang selalu hidupnya sejahtera.”

    4. Di Bhadagama, Sang Bhagava sering memberi nasehat kepada para bhikkhu:

    Ini adalah moralitas, ini adalah meditasi, ini adalah kebijaksanaan. Samadhi yang dilandasi sila akan menghasilkan buah dan manfaat yang besar. Kebijaksanaan yang dilandasi Samadhi akan menghasilkan buah dan manfaat yang Besar. Pikiran yang dilandasi kebijaksanaan akan sepenuhnya terbebas dari kekotoran/noda, yaitu, indria, penjelmaan, ketidaktahuan

    5-6. Setelah Sang Bhagava cukup lama berada di Bhadagama, Beliau bersabda kepada Ananda: “Marilah Ananda, kita pergi ke Hattigama bersama-sama dengan para bhikkhu.” Demikianlah Sang Bhagava lama berdiam di Hattigama. Beliau lalu pergi ke Ambagama, kemudian ke Jambagama. Di setiap tempat ini Sang Bhagava sering memberi nasehat kepada para bhikkhu:

    Ini adalah moralitas, ini adalah meditasi, ini adalah kebijaksanaan. Samadhi yang dilandasi sila akan menghasilkan buah dan manfaat yang besar. Kebijaksanaan yang dilandasi Samadhi akan menghasilkan buah dan manfaat yang Besar. Pikiran yang dilandasi kebijaksanaan akan sepenuhnya terbebas dari kekotoran/noda, yaitu, indria, penjelmaan, ketidaktahuan

    Setelah Sang Bhagava lama berdiam di Jambagama, beliau berkata kepada Ananda : “Ananda, marilah kita pergi ke Bhoganagara.” “Baiklah, bhante,” jawab Ananda. Demikianlah Sang Bhagava bersama sejumlah bhikkhu tinggal di cetiya Ananda, di Bhoganagara.

    [Catumahāpadesakathā] EMPAT MACAM KRETERIA
    7. Pada suatu hari Sang Bhagava menasehati para bhikkhu: “Para bhikkhu, sekarang kami akan menjelaskan tentang empat macam Kreterika, dengarkan dan perhatikan dengan seksama.” “Baiklah, bhante,” jawab para bhikkhu.

    8-11. Idha bhikkhave bhikkhu evaṁ vadeyya(Di sini para Bhikkhu, Seorang bhikkhu berkata seperti ini):

    Sammukhā metaṁ āvuso Bhagavato sutaṁ, sammukhā paṭiggahitaṁ (Di depanku, Kawan, Aku mendengar dan menerima pernyataan dari Sang Bhagava sendiri) ayaṃ dhammo ayaṃ vinayo idaṃ satthusāsanan’ti (Ini dhamma, ini vinaya, ini ajaran Guru)

    Tassa bhikkhave bhikkhuno bhāsitaṁ neva abhinanditabbaṁ na paṭikkositabbaṁ (Para Bhikkhu, perkataan Bhikhu tersebut tidak diterima dengan pujian tidak ditolak dengan cemoohan) An-abhinanditvā appaṭikkositvā tāni padabyañjanāni sādhukaṁ uggahetvā, (Tanpa pujian tanpa celaan, semua kata dan ungkapan itu dipelajari dengan baik) Sutte osāretabbāni Vinaye sandassetabbāni (dipaparkan/diperjelas dengan sutta dan dibandingkan denganvinaya)

    • Tāni ce Sutte osāriyamānāni Vinaye sandassiyamānāni (jika itu dipaparkan dengan sutta dan dibandingkan denganvinaya) na ceva Sutte osaranti na ca Vinaye sandissanti (dan kemudian tidak dipaparkan dalam sutta dan tidak sesuai vinaya) niṭṭhamettha gantabbaṁ: ‘Addhā idaṁ na ceva tassa Bhagavato vacanaṁ’ (Dapat disimpulkan: Ini bukan perkataan Sang Bhagava) imassa ca bhikkhuno duggahitan’-ti iti hetaṁ bhikkhave chaḍḍeyyātha (Ini telah keliru dipahami bikkhu itu dan para bhikkhu dapat mengabaikannya)
    • Tāni ce Sutte osāriyamānāni Vinaye sandassiyamānāni (jika itu dipaparkan dengan sutta dan dibandingkan dengan vinaya) Sutte ceva osaranti Vinaye ca sandissanti (dipaparkan dalam sutta dan sesuai vinaya) niṭṭhamettha gantabbaṁ: ‘Addhā idaṁ tassa Bhagavato vacanaṁ (Dapat disimpulkan: Ini perkataan Sang Bhagava) imassa ca bhikkhuno suggahitan’-ti (Ini dipelajari dengan baik oleh bhikkhu itu)

    Idaṃ, bhikkhave, paṭhamaṃ mahāpadesaṃ dhāreyyātha. (Ini Para Bhikkhu, Kreteria besar pertama yang harus diingat)

    Seorang bhikkhu berkata seperti ini: “Di tempat tertentu ada Sangha dengan para thera dan pemimpinnya. Di depan Sangha itu, Aku mendengar dan menerima pernyataan: “Ini dhamma, ini vinaya, ini ajaran Guru.” Para Bhikkhu, perkataan Bhikhu tersebut tidak diterima dengan pujian tidak ditolak dengan cemoohan… Ini Para Bhikkhu, Kreteria besar kedua yang harus diingat.

    Seorang bhikkhu berkata seperti ini: “Di tempat tertentu ada sekumpulan bhikkhu thera dalam Sangha yang telah banyak belajar, berkeyakinan sama dengan para pendahulu, banyak mengetahui dhamma, vinaya dan menguasai matika (ikhtisar). Di depan para bhikkhu thera itu, Aku mendengar dan menerima pernyataan: “Ini dhamma, ini vinaya, ini ajaran Guru.” Para Bhikkhu, perkataan Bhikhu tersebut tidak diterima dengan pujian tidak ditolak dengan cemoohan… Ini Para Bhikkhu, Kreteria besar ketiga yang harus diingat.

    Seorang bhikkhu thera berkata seperti ini: “Di tempat tertentu ada seorang bhikkhu yang telah banyak belajar, berkeyakinan sama dengan para pendahulunya, banyak mengetahui dhamma, vinaya dan menguasai matika (iktisar). Di depan seorang bhikkhu thera itu, Aku mendengar dan menerima pernyataan: “Ini dhamma, ini vinaya, ini ajaran Guru.” Para Bhikkhu, perkataan Bhikhu tersebut tidak diterima dengan pujian tidak ditolak dengan cemoohan… Ini Para Bhikkhu, Kreteria besar keempat yang harus diingat.

    12. Juga di cetiya Ananda, Bhoganagara, Sang Bhagava sering memberi nasehat kepada para bhikkhu:

    Ini adalah moralitas, ini adalah meditasi, ini adalah kebijaksanaan. Samadhi yang dilandasi sila akan menghasilkan buah dan manfaat yang besar. Kebijaksanaan yang dilandasi Samadhi akan menghasilkan buah dan manfaat yang Besar. Pikiran yang dilandasi kebijaksanaan akan sepenuhnya terbebas dari kekotoran/noda, yaitu, indria, penjelmaan, ketidaktahuan

    [Kammāraputtacundavatthu]
    13. Setelah Sang Bhagava lama berdiam di Bhoganagara, beliau berkata kepada Ananda : “Ananda, marilah kita pergi ke Pava.” “Baiklah, bhante,” jawab Ananda. Demikian Sang Bhagava tinggal di Pava bersama sejumlah besar bhikkhu dan tinggal di Ambavana milik Cunda, pandai besi.

    SANTAPAN SANG BHAGAVA YANG TERAKHIR
    14. Cunda pandai-besi, setelah mengetahui bahwa Sang Bhagava telah tiba lalu berkata: “Sang Bhagava, telah tiba di Pava dan berdiam di Ambavana milikku.” Cunda lalu menghadap Sang Bhagava, sesudah memberi hormat dengan khidmat kepada beliau, kemudian duduklah ia pada salah satu sisi. Sang Bhagava mengajarkan Cunda, pandai-besi, tentang dhamma yang telah membangkitkan semangatnya dan menyebabkan hatinya sangat gembira.

    15. Kemudian Cunda berkata kepada Sang Bhagava: “Dapatkah kiranya Sang Bhagava menerima undangan kami untuk makan esok pagi bersama dengan para bhikkhu?”

    Sang Buddha bersikap diam. Dengan sikapnya yang diam itu berarti Sang Bhagava menyetujui permohonan Cunda.

    16. Karena telah yakin akan persetujuan Sang Bhagava itu. Maka Cunda, pandai-besi, berdiri dari tempat duduknya. Menghormat dengan khidmat kepada Sang Bhagava lalu mengundurkan diri meninggalkan beliau.

    17. Cunda pandai-besi, sejak semalam telah membuat makanan yang keras serta yang lunak dan makanan yang terdiri dari Sukaramaddava. Kemudian ia memberitahukan kepada kepada Sang Bhagava: “Bhante, silahkan. Makanan telah siap.”

    18. Pada waktu pagi Sang Bhagava menyiapkan diri, membawa patta dan jubah, pergi dengan para bhikkhu ke rumah Cunda. Di sana beliau duduk di tempat yang telah disediakan, dan berkata kepada Cunda: “Hidangan Sukaramaddava (daging babi berusia muda) yang telah engkau sediakan, hidangkanlah itu untukKu. Sedangkan makanan lain yang keras dan lunak, saudara dapat hidangkan kepada para bhikkhu”

    “Baiklah, bhante,” jawab Cunda. Sukaramaddava (daging babi berusia muda) yang telah disediakannya, dihidangkannya untuk Sang Bhagava, sedangkan makanan keras dan lunak lainnya dihidangkannya kepada para bhikkhu.

      [Note:
      Apa arti Sūkara-maddava?
      Kata “Sūkara-Maddava” muncul di: DN 16/Mahaparinibbana Sutta, Ud 8.5/Cunda Sutta dan juga Milinda Panha. Kitab komentar menunjukan bahwa dikisaran abad ke-5 M, arti kata tersebut sudah bervariasi yaitu: daging, nasi campur, bambu, sejenis rasa, teknik membuat senang dan jamur:

        Sūkaramaddava adalah daging yang telah tersedia, yang tidak terlalu muda dan tua dari sebuah babi/kepala babi (Sūkaramaddavanti nātitaruṇassa nātijiṇṇassa ekajeṭṭhakasūkarassa pavattamaṃsaṃ), empuk (mudu) dan lembut/lentur adanya (Taṃ kira mudu ceva siniddhañca hoti), disiapkan dan dimasak dengan baik (taṃ paṭiyādāpetvā sādhukaṃ pacāpetvāti attho). Ada yang mengatakan ‘Sūkaramaddava adalah nasi lembut yang diproses dengan kuah campuran lima produk dari sapi, ini semacam nama sebuah masakan’ (Eke bhaṇanti – ‘sūkaramaddavanti pana muduodanassa pañcagorasayūsapācanavidhānassa nāmetaṃ, yathā gavapānaṃ nāma pākanāma’’nti). Lainnya mengatakan ‘Sūkaramaddava adalah nama teknik (vidhi) untuk membuat senang (rasāyana). Jadi, didatangkan ahli pembuat senang (guru rasāyana), yaitu Cunda, ‘agar membuat senang sehingga Parinibanna Sang Bhagawa tidak jadi’ (Keci bhaṇanti – ‘sūkaramaddavaṃ nāma rasāyanavidhi, taṃ pana rasāyanasatthe āgacchati, taṃ cundena – ‘bhagavato parinibbānaṃ na bhaveyyā’ti rasāyanaṃ paṭiyatta’’nti). Di sana para deva empat benua besar (mahādīpa) dan dua ribu pengiring memasukkan nutrisi (oja) (Tattha pana dvisahassadīpaparivāresu catūsu mahādīpesu devatā ojaṃ pakkhipiṃsu.) [Mahāparinibbānasuttavaṇṇanā: Kammāraputtacundavatthuvaṇṇanā]

        Sukara maddava adalah bagian yang lunak dari daging babi yang sudah tersedia (Sūkaramaddavanti sūkarassa mudusiniddhaṃ pavattamaṃsa) seperti kata Maha-atthakata (mahāaṭṭhakathāyaṃ vuttaṃ). yang lain..katakan (Keci pana..vadanti) sukara maddava bukanlah daging babi, batang bambu yang telah diinjak-injak babi (sūkaramaddavanti na sūkaramaṃsaṃ, sūkarehi madditavaṃsakaḷīro). lainnya (Aññe) Jamur payung yang tumbuh dari gemburan tanah injakan babi (sūkarehi madditappadese jātaṃ ahichattaka), lainnya lagi..katakan (Apare pana..bhaṇiṃsu) Sukara maddava adalah nama suatu rasa (sūkaramaddavaṃ nāma ekaṃ rasāyana) [komentar dari Maha-atthakata (Dhammapala, 5 M) yang dikutip dalam Udāna-aṭṭhakathā, Pāṭaligāmiyavaggo: Cundasuttavaṇṇanā]

      Menurut ahli botani, komposisi jamur: 90% air, kurang dari 3% protein, kurang dari 5 % karbohidrat, kurang dari 1% lemak dan 1 % mineral, garam dan vitamin, Komposisi ini KURANG COCOK untuk keperluan energi yang besar, untuk sekelompok orang yang makan hanya 1x, apalagi telah diketahui, bahwa beliau sendiri akan parinibbana.

      Sangat mengherankan melihat hubungan yang dijelaskan di kitab komentar antara jamur dan binatang babi, tampaknya, alasan mengapa jamur menjadi terkait dengan binatang babi adalah karena untuk mendapatkan jamur tersebut, babi digunakan sebagai pelacaknya:

      • Kompas, ”Mengenal Jamur Pencabut Nyawa” sub: Babi pelacak, Rabu, 05 April 2006, 20:24 WIB: ‘[..] Kalau jenis jamur beracun dikerat, kemudian dilekatkan pada benda yang terbuat dari perak asli (misal pisau, sendok, garpu, atau cincin), maka pada permukaan benda tersebut akan ada warna hitam (karena xulfida) atau kebiruan (karena cianida)..para pemburu jamur di beberapa negara Eropa, terutama tradisi-tradisi di negara-negara Skandinavia (Swedia, Norwegia, Denmark, dan sebagainya)…biasanya akan membawa binatang “pelacak jamur” andalan. Bukan anjing, tapi babi yang sebelumnya sudah diberi latihan khusus…membedakan mana jamur yang bisa dimakan/tidak.’.
      • Cara Menghindari Kematian karena Makan Jamur Liar“, H Unus Suriawiria, Senin, 31 Januari 2005: ‘(4) Kalau jenis jamur beracun dimasak/dipepes bersama nasi putih, nasi tersebut akan berubah warna menjadi coklat, kuning, merah, atau hitam…Bagi pemburu jamur di beberapa negara Eropa-misalnya, acara tradisi di negara-negara Skandinavia (Sweden, Norwegia, dan sebagainya)-kalau musimnya berburu jamur selalu akan membawa babi yang sudah terlatih, yang dapat membedakan mana jamur beracun dan mana yang tidak.’

      Seorang yang sangat berbakti, yang sedang mengundang sekelompok tamu yang sangat agung untuk makan dirumahnya, bagaimana mungkin dalam event yang sepenting itu, Ia akan menghidangkan makanan yang sangat beresiko tinggi? Oleh karenanya, kata sukara-maddava yang diartikan sebagai jamur adalah sangatlah meragukan.

      Disamping itu, di bahasa pali sendiri sudah ada kata tersendiri yang merujuk pada arti “jamur”, yaitu: “chattaka” atau “pappaṭaka”. Sample: ahihattaka/ahichattaka” = jamur ‘payung ular’. Bahasa Hindi: ‘sarpchatr’. Bahasa Bengali: ‘byaner chata’ atau ‘payung katak’ [lihat: Rhys Davis: hal.92, 274; Buddhadatta Mahatera: hal.45, 182]. Sementara kata “sūkara” = babi hutan/wild boar. Kata ini digunakan untuk membedakannya dengan babi/boar (varāha) [“Vedic Index of Names and Subjects”, Vol 2;Vol 5, Arthur Berriedale Keith, hal.461]. Kemudian kata “Maddava/Madhava” = lembut, empuk, halus.

      Prof. Rhys Davids, ketika menterjemahkan teks-teks Buddhist dan Milianda Panha, Ia terjemahkan kata itu sebagai `bagian daging babi yang empuk’ (“Milianda Panha”, buku ke-5, bab 3, hal 244, cat kaki.1). Miss I.B. Horner dalam terjemahan “Madhuratthavilāsinī” menyatakan: “..Oleh karenanya, bagian ini memberikan bukti bahwa sukara-maddava, makanan terakhir sang Buddha, seharusnya TIDAK diterjemahkan seperti yang kadang sebagai “jamur”, namun lebih sebagai bagian yang lembut, ‘maddava’, dari (daging) babi hutan..” (..Therefore, this passage provides evidence that suukara-maddava, the Buddha Gotama’s last meal, should not be translated as sometimes it has been as “truffles”, but rather as tender, ‘maddava’, (flesh or meat) from a boar..) [Introduction hal. xxxix]

      Para kelompok vegetarian cenderung mengartikan kata ini sebagai jamur, namun sayangnya, Buddhisme BUKANLAH VEGETARIAN dan BOLEH makan daging, malah ada istilah sukaramamsa, yang berarti daging babi dan juga makanan terakhir semua Buddha dalam Buddhavamsa, jelas disebutkan makanan yang mengandung daging:

      • Terdapat 3 syarat untuk dapat mengkonsumsi daging, yaitu: TIDAK melihat secara langsung pada saat binatang tersebut dibunuh, TIDAK Mendengar secara langsung suara binatang tersebut pada saat dibunuh dan Mengetahui bahwa hidangan daging itu, TIDAK KHUSUS dibunuh agar dapat diberikan padanya [MN 55/Jivaka sutta].
      • Selain 3 syarat di atas, terdapat juga 10 macam daging yang tidak diperkenankan dikonsumsi oleh para bhikkhu, yaitu: daging manusia, daging gajah, daging kuda, daging anjing, daging ular, daging singa, daging harimau, daging macan tutul, daging beruang, dan daging serigala atau hyena [Mahavagga Pali, Vinaya Pitaka, Vol.3.58], sehingga selain 10 macam daging tersebut, boleh dikonsumsi para Bhikkhu
      • Seorang perumah tangga dari Vesali bernama Ugga yang menyajikan daging babi kepada Sang Buddha: “Di hadapan Guru, aku mendengar dan tahu dari Sang Bhagava sendiri bahwa seseorang yang memberikan hal menyenangkan, akan menerima kegembiraan, aku menyenangi daging babi (sūkaramaṃsaṃ) dengan sari buah jujube. Semoga sang Bhagava menerimanya dengan perasaan kasih. Dengan perasaan kasihnya Sang Buddha menerima” (Sammukhā metaṃ, bhante, bhagavato sutaṃ sammukhā paṭiggahitaṃ: ‘manāpadāyī labhate manāpan’ti. Manāpaṃ me, bhante, sampannakolakaṃ sūkaramaṃsaṃ; taṃ me bhagavā paṭiggaṇhātu anukampaṃ upādāyā”ti. Paṭiggahesi bhagavā anukampaṃ upādāya) [AN 5.44/Manāpadāyī sutta]
      • Buddhavamsa: Buddhapakiṇṇakakathā:
        Sabbabuddhānaṃ samattiṃsavidhā dhammatā (30 hal yang selalu terjadi pada para Buddha), di no.29 ada kalimat, parinibbānadivase maṃsarasabhojanaṃ (Di hari Parinibannanya makan makanan yang mengandung daging). Arti kata “maṃsa” adalah daging. [Detail lainnya, lihat: Vegetarian, Makanan Religius? Bukan! Ia Cuma Pilihan Selera Makan..Ngga Lebih Dari Itu!]

      Sehingga sūkara-maddava TIDAK TEPAT diartikan jamur, seharusnya “daging babi yang empuk”]

    19. Sesudah itu Sang Bhagava berkata kepada Cunda: “Cunda, sisa-sisa Sukaramaddava (daging babi berusia muda) dari hidangan untukKu, agar ditanam di sebuah lobang, karena kami lihat di dunia ini di antara para dewa, Mara, Brahmana, para samana atau Brahma, atau pun manusia, tidak ada seorang pun yang sanggup memakannya atau mencernakannya, kecuali Sang Tathagata sendiri.”

    Cunda menjawab: “Baiklah, bhante.” Demikianlah sisa Sukaramaddava yang tertinggal itu ditanamkannya dalam sebuah lobang. Setelah itu ia kembali kepada Sang Bhagava memberi hormat dengan khidmat kepada beliau dan duduk pada salah satu sisi. Kemudian Sang Bhagava mengajarkan Cunda pandai-besi itu mengenai pelajaran yang membangkitkan semangat, yang berisi penerangan yang menggembirakan hatinya. Sesudah itu beliau bangun dari tempat duduknya pergi meninggalkan Cunda.

      [Note:
      Mengapa makanan yang diperuntukkan khusus pada sang Buddha harus di kubur?
      [..]Kemudian Kasibharadvaja mengisikan nasi-susu ke dalam mangkuk emas yang besar dan mempersembahkannya kepada Sang Buddha sambil berkata: ‘Silakan Yang Mulia Gotama menyantap nasi susu ini. Engkau memang petani karena alasan membajak itu; memang hal itu memberikan buah kekekalan.’

      ‘Apa yang diperoleh lewat pembacaan mantra-mantra bukanlah makananku. O, brahmana, ini bukanlah praktek bagi mereka yang melihat dengan benar. Para Buddha menolak apa yang diperoleh lewat pembacaan mantra.’

      ‘Engkau harus mempersembahkan makanan dan minuman lain kepada pertapa agung yang telah mantap, yang telah bebas dari kekotoran mental dan penyesalan. Itu merupakan ladang bagi dia yang mencari jasa kebajikan.’

      ‘Kalau demikian, Yang Mulia Gotama, kepada siapakah saya harus memberikan nasi-susu ini?’

      O, brahmana, di dunia termasuk para dewa, Mara, Brahma, serta di antara para brahmana dan manusia, aku tidak melihat siapa pun kecuali Sang Tathagata

      Karena itu, O brahmana, sebaiknya engkau membuang nasi-susu ini di suatu tempat yang tidak ada rumputnya, atau membuangnya ke air di mana tidak ada makhluk hidupnya.’

      Maka Kasibharadvaja membuang nasi susu itu ke dalam air yang tidak mengandung kehidupan. Pada saat itu terdengar bunyi mendesis disertai banyak uap dan asap dari semua sisi, persis seperti mata bajak yang telah dipanaskan sepanjang hari lalu dicelupkan ke dalam air menghasilkan bunyi desis dan mengeluarkan uap serta asap di semua sisi.

      Kemudian Kasibharadvaja, dengan perasaan amat terpukau dan bulu kuduk berdiri, mendekati Sang Buddha dan meletakkan kepalanya di kaki Sang Buddha. Dia berkata: ‘Sungguh menakjubkan, Yang Mulia Gotama, sungguh luar biasa, Yang Mulia Gotama! [..] [Sn 1.4/KASIBHARADVAJA SUTTA, yang terjadi di sekitar tahun ke-11 beliau setelah mencapai buddha]

      Juga di Samyutta nikaya SN 7.9/Sundarika Sutta atau di Sagatha-Vagga 7.1.9, yaitu makanan yang telah didanakan khusus kepada seorang Samma Sambuddha, tidak dapat dimakan oleh mahluk lain dan jika bersisa maka dibuang di tempat yang tidak ada rumputnya atau membuangnya ke air dimana tidak ada mahluk hidupnya. Salah satu alasan mengapa makanan tersebut tidak dapat dimakan mahluk lain, kitab komentar menyampaikan bahwa para deva ikut berpartisipasi pada dana makanan dengan memberikan nutrisi]

    20. Sesudah Sang Bhagava menyantap santapan yang dihidangkan oleh Cunda, pandai-besi itu, kharo ābādho uppajji (sakit keras melandanya), lohitapakkhandikā (Area antara dada – diagframa/abdomen memerah) pabāḷhā vedanā vattanti māraṇantikā (dengan rasa sakit menusuk/terus menerus yang sangat mematikan). Tā sudaṃ bhagavā sato sampajāno adhivāsesi avihaññamāno (Sang Bhagava mengetahui sepenuhnya dalam perhatian selama kejadian tanpa mengeluh). Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ananda: “Ananda, marilah kita ke Kusinara.”

    “Kami telah mendengar: ‘Setelah makan yang dihidangkan Cunda, beliau merasakan sakit hebat yang sangat mematikan’ Setelah memakan Sukaramaddava (daging babi berusia muda), sakit yang sangat hebat muncul, Setelah menyingkirkannya, beliau berkata, ‘Sekarang, Aku akan ke Kusinara'”

      [Note:
      “Lohitapakkhandikā”:

      • Lohita (adj.– nt.) [cp. Vedic lohita & rohita; see also P. rohita “red”] 1. (adj.) red: rarely by itself (e. g. M ii.17), usually in cpds. e. g. ˚abhijāti the red species (q. v.) A iii.383; ˚kasiṇa the artifice of red D iii.268;

        Arti kata lohita adalah merah, Kata rohita bisa juga berarti darah [untuk ruha/ruhira dan ruhangsa, lihat di sini]. Kata pali lain yang juga berarti darah:

          Pupphaka (nt.) [fr. puppha2] blood J iii.541 (v. l. pubbaka; C.=lohita); Miln 216 (tiṇa˚– roga, a disease, Kern. “hay– fever”). Kern, Toev. s. v. trsls the J passage with “vuil, uitwerpsel.”
      • Pakkha:
        • Pakkha1 [Ved. pakṣa in meanings 1 and 3; to Lat. pectus, see Walde, Lat. Wtb. s. v.] 1. side of the body, flank, wing, feathers (cp. pakkhin), in cpds. ˚biḷāla a flying fox (sort of bat) Bdhgh on ulūka– camma at Vin
        • Pakkha3 [cp. Sk. phakka (?)] a cripple. Cp iii.6, 10; J vi.12 (=pīṭha– sappī C.). Note BSk. phakka is enumd at Mvyut. 271120 with jātyaṇḍa, kuṇḍa [..]

        Arti latin “pectus”:

          pectus = The part of the human torso between the neck and the diaphragm or the corresponding part in other vertebrates [cross check di sini], Classified under: Nouns denoting body parts:

          Synonyms: chest; pectus; thorax

          Hypernyms: (“pectus” is a kind of…): body part (any part of an organism such as an organ or extremity)

          Meronyms (parts of “pectus”):

          • breast (the front part of the trunk from the neck to the abdomen)
          • chest cavity; thoracic cavity (the cavity in the vertebrate body enclosed by the ribs between the diaphragm and the neck and containing the lungs and heart)
          • musculus pectoralis; pecs; pectoral; pectoral muscle; pectoralis (either of two large muscles of the chest)
          • area of cardiac dullness (a triangular area of the front of the chest (determined by percussion); corresponds to the part of the heart not covered by the lungs)
          • gallbladder (a muscular sac attached to the liver that secretes bile and stores it until needed for digestion)
          • thoracic vein; vena thoracica (veins that drain the thoracic walls)
          • thoracic aorta (a branch of the descending aorta; divides into the iliac arteries)
          • breastbone; sternum (the flat bone that articulates with the clavicles and the first seven pairs of ribs)
          • rib cage (the bony enclosing wall of the chest)

          Hyponyms (each of the following is a kind of “pectus”):

          • bust; female chest (the chest of a woman)
          • male chest (the chest of a man)

          Holonyms (“pectus” is a part of…):

          • craniate; vertebrate (animals having a bony or cartilaginous skeleton with a segmented spinal column and a large brain enclosed in a skull or cranium)
          • body; torso; trunk (the body excluding the head and neck and limbs)
      • Khaṇḍikā (f.) [fr. khaṇḍa] a broken bit, a stick, in ucchu˚ Vv 3326 (=ucchu– yaṭṭhi DhA iii.315) [Arti sanskritnya, lihat di sini]
      • Kamus menyatakan bahwa kata pakkhanda/pak-khandika dalam arti diare/dysentry, TIDAK MEMPUNYAI REFERENSI:
          Pakkhandaka (adj.)=pakkhandin SnA 164. — f. pak- khandikā [Ved. (?) praskandikā, BR. without refs.] diarrhoea, dysentery D ii.127 (lohita˚); J iii.143; v.441 (lohita˚); Miln 134. [croscheck liat di sini]

        Untuk arti dysentry/diare,
        Kamus Pali: atisāra (Diare). Untuk diare yang berdarah = rattatisāra.
        Kamus Sanskrit: jvarātīsāra (diare tanpa demam cf. Bhpr. vii, 15, 1 ff). Untuk diare yang berdarah (raktātisāra) atau dysentery yang kronis (pakvātīsāra/pakātīsāra)

      Jadi arti kata “lohitapakkhandika“= “Area antara dada dan diagframa berwarna merah]

    21. Kini, dalam perjalanan itu Sang Bhagava tidak melalui jalan raya dan kemudian berhenti di bawah sebatang pohon. Beliau bersabda kepada Ananda: “Lipatlah jubah luarku empat kali Ananda dan letakkan di bawahku. Aku sangat letih, aku mau beristirahat sebentar.”

    “Baiklah, bhante,” jawab Ananda dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Sang Bhagava.

    22. Sang Buddha duduk pada tempat yang disediakan baginya dan bersabda kepada Ananda: “Ananda tolonglah bawakan aku sedikit air, aku haus dan ingin minum.”

    Ananda menjawab: “Bhante, baru saja sejumlah 500 pedati telah menyeberangi cakkacchinna udaka paritta (aliran air yang dangkal), dan roda-rodanya telah mengeruhkan air sungai ini. Sebaiknya kita pergi ke sungai Kakutha yang tidak jauh dari sini. Air sungai itu sangat jernih, sejuk dan bening. Sungai itu mudah dicapai dan letaknya sangat baik. Di sana bhante dapat menghilangkan rasa haus dan menyegarkan tubuh.

    23-24. Kemudian untuk kedua kalinya Sang Bhagava mengulangi permintaannya, tetapi Ananda menjawab seperti semula. Kemudian untuk ketiga kalinya Sang Bhagava bersabda: “Bawalah sedikit air, penuhi permintaanku Ananda, Aku amat haus dan ingin minum.”

    Lalu Ananda menjawab demikian : “Baiklah, bhante.” Ananda mengambil mangkok ke sungai itu.
    nadī cakkacchinnā parittā (sungai dengan air yang sedikit) yang telah dilalui oleh pedati-pedati sehingga airnya menjadi sangat keruh dan kotor. Tetapi sekonyong-konyong kotoran dalam air mengendap, air menjadi bening dan jernih. Dengan gembira Ananda lalu menghampirinya.

    25. Ananda berkata dalam hatinya : “Sungguh mengherankan dan luar biasa. Sebenarnya semua ini terjadi tidak lain karena kemuliaan dan kekuatan Sang Tathagata.”

    Ananda lalu mengambil air itu dengan mangkok dan membawanya kepada Sang Bhagava sambil berkata: “Sungguh mengherankan dan luar biasa. Semuanya ini terjadi karena kekuatan dan kemuliaan Sang Tathagata. nadī cakkacchinnā parittā (sungai dengan air yang sedikit) yang telah dilalui oleh pedati-pedati, airnya menjadi keruh dan kotor. Tetapi ketika saya menghampirinya tiba-tiba kotorannya mengendap, menjadi bening dan sungguh menyenangkan. Bhante, silahkan minum.” Sang Bhagava minum air itu.

    [Pukkusamallaputtavatthu] PUKKUSA SUKU MALLA
    26. Pada suatu hari ada seorang bernama Pukkusa, dari suku Malla, siswa dari Alara Kalama, lewat di situ dalam perjalanannya dari Kusinara ke Pava.

    Ketika ia melihat Sang Bhagava sedang duduk di bawah sebatang pohon, ia menghampirinya sambil memberi hormat dengan hidmat dan duduk di salah satu sisi. Kemudian ia berkata kepada Sang Bhagava demikian: “Sungguh mengherankan dan sungguh luar biasa. Hanya dengan ketenangan batin bhante dapat melewati hidup di alam keduniawian ini.”

    27. Pada suatu ketika, Alara Kalama sedang mengadakan perjalanan. Kemudian ia duduk di pinggir jalan, di bawah sebatang pohon, untuk menghindari terik sinar matahari. “Pada waktu itu kebetulan, bhante, sejumlah besar pedati bahkan lima ratus pedati, melewati tempat itu satu demi satu. Kemudian, seorang yang turut dalam iring-iringan pedati itu yang berada di belakang, menghampiri Alara Kalama yang sedang duduk itu dan berkata kepadanya demikian: “Apakah tuan melihat sejumlah besar pedati yang lewat tadi di sini?”

    Alara Kalama menjawabnya: “Saya tidak melihatnya sama sekali.” “Tetapi suaranya, tentu tuan mendengarnya bukan?” “Saya sama sekali tidak mendengarnya.” Orang itu lalu bertanya kepadanya : “Kalau demikian barangkali tuan sedang tertidur?” “Tidak saudara, saya tidak tertidur.” “Apakah tuan dalam keadaan sadar?” “Demikianlah saudara.”

    Kemudian orang itu berkata: “Jadi tuan sedang terjaga dan sadar, tetapi tuan tidak melihat sejumlah pedati, bahkan lima ratus pedati yang melewati tuan satu demi satu dan tuan juga tidak mendengar suaranya. Mengapa jubah tuan ini sangat kotor dikotori debu?”

    Alara Kalama menjawab demikian: “Demikianlah keadaannya saudara.”

    Setelah orang itu melihat kejadian tersebut lalu timbul pikirannya demikian: “Sungguh mengherankan dan sangat luar biasa ketenangan mereka yang telah dapat meninggalkan hidup keduniawian.” Maka timbullah kepercayaannya yang besar terhadap Alara Kalama. Kemudian ia pergi melanjutkan perjalanannya.

    28. Kemudian Sang Bhagava berkata: “Pukkusa, bagaimana pendapatmu? Yang mana yang lebih sukar untuk dikerjakan, yang lebih sukar untuk ditemui, seseorang yang sedang sadar dan terjaga yang tak melihat-sejumlah besar pedati, bahkan lima ratus pedati, yang melewatinya satu demi satu, dan yang juga tidak mendengar suaranya. Kalau hal ini dibandingkan dengan seseorang yang sadar dan terjaga yang duduk di tengah-tengah hujan yang lebat disertai guntur menggelegar, halilintar menyambar dan petir bergemuruh, tetapi orang itu tidak melihat maupun mendengar suara halilintar yang menggeletar itu, bagaimana pendapatmu?”

    29. “Bhante, tentu tidak sebanding, kelima ratus pedati, atau enam, tujuh, delapan, sembilan atau seribu bahkan beratus atau beribu-ribu pedati, kalau dibandingkan dengan kejadian ini.”

    30. “Pernah terjadi pada suatu ketika, Pukkusa, tatkala aku sedang di Atuma dan duduk di dalam sebuah kandang sapi di sana. Pada waktu itu terjadilah hujan lebat dengan guntur menggelegar, halilintar dan petir menggemuruh. Atas kejadian itu dua orang petani bersaudara mati dekat kandang itu bersama dengan empat ekor sapinya. Kemudian sejumlah orang berdatangan dari Atuma di tempat kejadian itu.”

    31. “Pukkusa, pada saat itu, saya keluar kandang itu sambil berjalan di depan pintu saya merenungkan sesuatu. Tiba-tiba seorang dari mereka itu datang menghampiri aku, sambil memberi hormat dengan hidmat dan berdiri di samping.”

    32. Setelah itu aku bertanya kepadanya: “Mengapa banyak orang berkumpul ke mari?” Ia lalu menjawab: “Bhante, baru saja turun hujan yang sangat lebat dan guntur menggelegar, halilintar menyambar dan petir gemuruh. Dua orang petani bersaudara telah meninggal disambar petir di dekat kandang ini bersama empat ekor sapi. Sebab itulah orang-orang ini datang berkumpul ke mari, tetapi, di manakah Bhante berada tadi?”

    “Saya ada di sini, saudara.” “Kalau demikian apakah Bhante tidak tahu kejadian tadi?” “Saya tak melihatnya, saudara.” “Tetapi suaranya, Bhante tentu mendengarnya.” “Saya juga tidak mendengarnya.” Kemudian orang itu bertanya kepadaku: “Kalau demikian, Bhante barangkali sedang tidur?” “Tidak saudara, saya tidak tidur.” “Lalu apakah Bhante pada saat itu dalam keadaan sadar?”

    Demikianlah adanya saudara. Kemudian orang itu berkata: “Jadi Bhante pada saat itu berada dalam keadaan sadar dan terjaga di tengah-tengah hujan yang lebat, yang disertai guntur yang gemuruh suaranya. Sementara ada suara halilintar menyambar-nyambar dan suara petir menggelegar tetapi Bhante tidak melihat atau mendengarnya?” Saya menjawab: “Tidak saudara.”

    33. Pukkusa berkata dalam hatinya : “Sungguh mengherankan dan sangat luar biasa, ketenangan mereka yang telah dapat membebaskan diri dari keduniawian.”

    Timbullah dalam dirinya kepercayaan yang amat besar kepadaku. Ia lalu menghormat dengan hidmat padaku dan kemudian ia mengundurkan diri.

    34. Setelah beliau berkata demikian, Pukkusa dari suku Mala itu berkata kepada Sang Bhagava : “Kepercayaan kami, terhadap Alara Kalama sekarang telah lenyap bagaikan ditiup angin topan yang maha besar. Biarlah kepercayaanku kepadanya terbawa pergi oleh angin yang bertiup kencang luar biasa ini.

    Sesungguhnya, Bhante adalah orang yang telah menegakkan kembali apa yang pernah tumbang atau mengeluarkan apa yang pernah tenggelam, atau menunjukkan jalan kepada seseorang yang telah tersesat atau menyalakan sebuah lampu di dalam kegelapan, sehingga mereka mempunyai mata dapat melihat. Di samping itu, Sang Bhagava telah mengajarkan Dhamma dengan berbagai cara. Karena itu perkenankanlah saya berlindung kepada Sang Bhagava, Dhamma dan Sangha. Semoga Sang Bhagava menerima saya sebagai siswa. Saya menyatakan berlindung kepada Sang Tiratana sampai akhir hidup saya.”

    35. Kemudian Pukkusa berkata kepada seorang pembantunya: “Berikanlah saya, dua perangkat jubah berwarna keemasan yang berkilauan yang dapat dikenakan sekarang.” Orang itu menjawab: “Baiklah tuan.” Setelah jubah itu diberikan kepadanya, Pukkusa mempersembahkanya kepada Sang Bhagava sambil berkata: “Semoga Sang Bhagava sudi menerima persembahan jubah ini.”

    Sang Bhagava menjawab: “Kuterima jubah ini sebuah saja Pukkusa, dan yang lainnya berikanlah kepada Ananda.” “Baiklah, bhante.” Kemudian ia menyerahkan jubah itu sebuah kepada Sang Bhagava dan sebuah lagi kepada Ananda.

    36. Setelah itu Sang Bhagava mengajarkan Dhamma kepada Pukkusa yang telah membangunkan semangatnya untuk mencapai penerangan dan yang sangat menggembirakan hatinya. Sesudah itu Pukkusa lalu bangun dari tempat duduknya dan memberi hormat dengan hidmat kepada Sang Bhagava lalu mengundurkan diri.

    37. Segera setelah Pukkusa pergi Ananda lalu mengatur seperangkat jubah berwarna keemasan, yang berkilauan cahayanya dan kemudian mengenakannya, di badan Sang Bhagava. Tetapi ketika jubah itu telah dikenakan di badan Sang Bhagava, tiba-tiba jubah tersebut menjadi pudar warnanya dan sirna keindahannya.

    Ananda lalu berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, sungguh mengherankan dan sangat luar biasa. Alangkah terang dan indah cahaya kulit tubuh Sang Tathagata. Jubah yang berwarna keemasan ini, yang berkilauan cahayanya, setelah bhante kenakan, cahayanya menjadi suram dan keindahannya sirna.”

    “Ananda, memang demikianlah. Ada dua kejadian di mana tubuh Sang Tathagata nampak luar biasa terangnya dan bercahaya. Apakah kedua kejadian itu? Pada, malam Sang Tathagata mencapai Penerangan Sempurna yang tidak ada bandingannya dan pada malam Sang Tathagata sampai pada akhir kehidupannya, parinibbana, di mana tidak ada lagi unsur-unsur dan sisa keinginan. Tubuh Sang Tathagata nampak luar biasa bercahaya terang benderang.

    38. Ajja kho panānanda (Dan Ananda, Hari ini) rattiyā pacchime yāme (di jam ke-3 malam ini/02.00 – 06.00) kusinārāyaṃ upavattane mallānaṃ sālavane antarena yamakasālānaṃ (di kebun Sala milik suku Mala, di dekat Kusinara, di antara dua pohon Sala kembar) tathāgatassa parinibbānaṃ bhavissati (Sang Tathagata akan padam sempurna). Karena itu marilah kita pergi ke sungai Kakuttha. Ananda menjawab: “Baiklah, bhante.” Dengan mengenakan jubah yang dipersembahkan oleh Pukkusa, jubah yang dijalin dengan benang emas, namun tubuh Sang Guru nampaknya lebih bercahaya dan indah sekali kelihatannya.

    DI TEPI SUNGAI KAKUTTHA
    39. Kemudian Sang Bhagava pergi ke sungai Kakuttha bersama dengan sekumpulan para bhikkhu. Setelah tiba di tepi sungai itu, Sang Bhagava mandi. Setelah Sang Bhagava mandi, Beliau pergi ke Ambavana. Di tempat ini Beliau berkata kepada Cundaka: “Cundaka tolonglah lipat jubah luarku, lipatlah dalam empat lipatan lalu letakkan di bawah tubuhku. Aku merasa lelah dan ingin beristirahat sebentar.”

    “Baiklah, bhante.” Cundaka pun melipat jubah itu dalam empat kali lipatan dan meletakkannya di bawah tubuh Sang Buddha.

    40. Sang Bhagava membaringkan tubuhnya pada sisi kanannya, dengan sikap seperti singa, dan meletakkan salah satu kakinya di atas kakinya yang satu lagi, dengan sikap demikian Beliau selalu tetap sadar, penuh perhatian dan setiap saat dapat bangun dengan mudah. Cundaka menempatkan dirinya di depan Sang Bhagava.

    41. Sang Buddha pergi ke sungai Kakuttha yang airnya jernih sejuk menyegarkan. Beliau mandi untuk menyegarkan badannya yang lelah. Sang Buddha yang dihormati dalam semua alam. Setelah selesai mandi dan minum, Sang Buddha lalu berjalan meliwati para bhikkhu yang kemudian mengiringnya. Sang Guru Jagat kemudian pergi ke Ambavana untuk membicarakan dhamma. Di sana Beliau berkata kepada Cundaka, tolonglah lipat jubah luarku dalam empat lipatan, kemudian letakkan di bawah tubuhku.

    Dengan segera Cundaka mengerjakannya dengan rapi. Sesuai dengan permintaan Sang Bhagava. Setelah itu Sang Bhagava berbaring di atas alas itu. Sedangkan Cundaka duduk di hadapannya.

    MENGHILANGKAN PENYESALAN CUNDA
    42. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada Yang Mulia Ānanda: ‘Mungkin saja, Ānanda, Cunda si pandai besi merasa menyesal, dengan berpikir: “Adalah kesalahanmu, sahabat Cunda, karena kecerobohanmu sehingga Tathāgata mencapai Nibbāna akhir setelah memakan makanan yang engkau persembahkan!” Tetapi penyesalan Cunda dapat diatasi dengan cara ini: “Itu adalah jasamu, sahabat Cunda, karena perbuatan baikmu sehingga Tathāgata mencapai Nibbāna akhir setelah memakan makanan yang engkau persembahkan! Karena, sahabat Cunda, aku telah mendengar dan memahami dari mulut Sang Bhagavā sendiri, bahwa dua persembahan ini menghasilkan buah yang besar, akibat yang sangat besar, lebih berbuah dan lebih bermanfaat daripada persembahan lainnya.

    Apakah dua ini?

    Pertama adalah persembahan yang setelah memakannya, Sang Tathāgata mencapai Penerangan Sempurna, dan yang lainnya adalah yang setelah memakannya, Beliau mencapai unsur-Nibbāna tanpa sisa saat meninggal dunia.

    Kedua persembahan ini adalah yang lebih berbuah dan lebih bermanfaat dari semua persembahan lainnya. Perbuatan Cunda ini mendukung umur panjang, penampilan yang baik, kebahagiaan, kemasyhuran, alam surga, dan kekuasaan.” Demikianlah, Ānanda, cara mengatasi penyesalan Cunda

    43. Sang Bhagava, karena mengerti masalah tersebut, lalu mengucapkan syair:

    Dengan memberi Jasa kebajikan bertambah;
    Dengan mengendalikan diri, kebencian dihentikan;
    Dengan yang bermanfaat kejahatan ditanggalkan;
    Dengan menghancurkan nafsu, kebencian dan kebodohan Ia terbebaskan.


    BAB V

    [Yamakasālā] POHON SALA KEMBAR, PERISTIRAHATAN TERAKHIR
    1. Kemudian Sang Bhagava mengajak Ananda dengan berkata: “Ananda, marilah kita menyeberangi sungai ini dan bila kita tiba di Hirannavati, kita pergi ke hutan Sala di daerah suku Malla, dekat Kusinara.” “Baiklah, bhante,” jawab Ananda.

    Demikianlah, Sang Bhagava bersama sejumlah besar bhikkhu menyeberang sungai, tiba di Hirannavati, pergi ke hutan Sala di daerah suku Malla, dekat Kusinara. Setelah tiba, Sang Bhagava berkata kepada Ananda: “Ananda, tolong sediakan tempat berbaring di antara pohon-pohon Sala kembar itu, saya ingin berbaring.”

    “Baiklah, bhante,” jawab Ananda. Ananda melaksanakan permintaan Sang Bhagava. Sang Bhagavā berbaring pada posisi kanan dalam posisi singa, meletakkan satu kaki-Nya di atas kaki lainnya dengan mengetahui sepenuhnya dalam perhatian

    2. Pada saat itu tiba-tiba dua pohon Sala kembar itu berbunga walaupun bukan pada musimnya untuk berbunga. Bunga-bunga itu jatuh bertaburan di atas tubuh Sang Tathagata, sebagai tanda penghormatan kepada beliau. Juga bunga surgawi serta serbuk cendana bertaburan dari angkasa ke tubuh Sang Bhagava. Bunga-bunga yang semerbak itu bertaburan di atas tubuh Sang Bhagava sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. Suara nyanyian surgawi serta suara musik surgawi dengan lagu sangat merdu terdengar di angkasa, juga sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata.

    3. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ananda: “Ananda, pohon Sala kembar ini berbunga semerbak, meskipun sekarang bukan musimnya berbunga. Bunga-bunga jatuh berhamburan di atas tubuh Sang Tathagata sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. Bunga surgawi serta serbuk cendana surgawi bertaburan dari angkasa ke tubuh Sang Bhagava sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. Suara nyanyian surgawi serta suara musik surgawi dengan lagu sangat merdu terdengar di angkasa, juga sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata.

    Na kho Ānanda ettāvatā (Namun bukan dengan seperti ini, Ananda) Tathāgato sakkato vā hoti garukato vā mānito vā pūjito vā apacito vā (Sang Tathagata dihormati, dimuliakan, dihargai, dipuja dan dijunjung). Siapa saja, apakah bhikkhu, bhikkhuni, umat awam pria dan wanita, jika Ia berpegang pada Dhamma, hidup sesuai Dhamma, berkelakuan sesuai Dhamma, dengan seperti ini, Ia menghormati, memuliakan, menghargai, memuja, menjunjung Sang Tathagata dengan pemujaan tertinggi. Oleh karenanya, Ananda, berpeganglah pada Dhamma, hidup sesuai Dhamma dan berkelakuan sesuai Dhamma. Demikian caramu melatih diri”

    [Upavāṇatthera] Bhikkhu Upavana/DUKA CITA PARA DEWA
    4. Pada waktu itu Upavana sedang di hadapan Sang Bhagava, sambil mengipasi beliau. Kemudian Sang Bhagava menegurnya: “Bhikkhu, minggirlah, jangan berdiri di depan saya.”

    Ananda berpikir: “Upavana telah biasa melayani Sang Bhagava, sudah lama dan akrab dengan beliau. Akan tetapi pada saat terakhir ini Sang Bhagava menegurnya. Apakah sebabnya, apakah alasannya sehingga Sang Bhagava menegur Upavana dengan berkata: “Bhikkhu, minggirlah, jangan berdiri di depan saya.”

    5. Ananda, kemudian menyatakan pendapatnya kepada Sang Bhagava. Sang Bhagava menjawab: “Ananda para dewa dari sepuluh ribu tata surya, hampir tidak ada yang ketinggalan, datang bersama-sama berkumpul di sini untuk menghadap Sang Tathagata. Sampai pada jarak duabelas yojana di sekeliling hutan Sala milik Suku Malla di daerah Kusinara ini tak ada tempat seujung rambut pun yang kosong, semuanya terisi, penuh sesak ditempati oleh para dewa perkasa dan para dewa agung, semuanya mengeluh: ‘Dari jauh datang kemari untuk menghadap Sang Tathagata. Karena jarang sekali di dunia ini muncul para Tathagata Arahat SammaSambuddha. Ajjeva rattiyā pacchime yāme tathāgatassa parinibbānaṃ bhavissati (Hari ini, di jam ke-3 (02.00-06.00) malam ini, Sang Tathagata akan Parinibbana/padam sepenuhnya). Tetapi, pada saat ini, seorang bhikkhu yang berkekuatan besar, telah berdiri di muka Sang Bhagava, menghalangi pandangan kami, sehingga kami sekarang tak dapat melihat Sang Bhagava. Demikianlah Ananda, keluhan para dewa itu.”

    6. “Bhante, para dewa manakah yang dimaksudkan oleh Sang Bhagava?” tanya Ananda.
    “Ananda, para dewa angkasa dan para dewa bumi yang masih cenderung pada kesenangan nafsu, dengan rambut kusut sambil mengangkat tangan, mereka menangis, membanting diri di tanah sambil berguling-guling kian ke mari. Mereka meratap sambil berkata: Terlalu cepat Sang Tathagata parinibbana, terlalu cepat Sang Sugata parinibbana, terlalu cepat Sang Guru jagat parinibbana dan akan lenyap dari pandangan.”

    Tetapi para dewa yang telah terbebas-dari hawa nafsu dengan penuh kesadaran dan pengertian yang benar, merenung: “Segala sesuatu adalah tidak kekal, bersifat sementara. Bagaimanakah yang akan terjadi, jika tidak terjadi demikian?”

    KECEMASAN ANANDA
    7. “Guru, Dahulu, sesudah musim hujan para bhikkhu dari berbagai tempat biasanya datang menemui Sang Tathagata. Kami ini berkesempatan melihat para bikkhu yang layak dihormati, berkesempatan untuk menemuiMu. Namun setelah Sang Bhagava tiada, Tidak berkesempatan melihat para bhikkhu yang layak dihormati, tidak dapat datang untuk menemuimu”

    [Catusaṃvejanīyaṭhāna] EMPAT TEMPAT YANG MENGGUGAH
    8. “Ada empat tempat, Ananda, bagi seorang yang berkeyakinan mendatanginya (saddhassa kulaputtassadassanīyāni), bangkit ketergugahannya: haru atau antusias (saṃvejanīyāni ṭhānāni), yaitu tempat di mana Sang Tathagata:

    1. Dilahirkan
    2. Mencapai penerangan sempurna
    3. Memutar Roda Dhamma untuk kali pertama
    4. Parinibbana

    Para: bhikkhu, bhikkhuni, upasaka atau upasika yang berkeyakinan (saddhā), datang dalam damai (āgamissanti) [merenungkan:] ‘Di sinilah Sang Tathagata: dilahirkan. ..mencapai Penerangan Sempurna. ..memutarkan roda dhamma untuk pertama kali. ..parinibbana’, pergi ke tempat-tempat itu (cetiyacārikaṃ āhiṇḍantā) wafat dengan pikiran yang berbahagia (pasannacittā kālaṃ karissanti), ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan terlahir bahagia di alam deva

    [Ānandapucchāka­thā]
    9.Kemudian Ananda bertanya kepada Sang Bhagava: “Bhante, bagaimanakah seharusnya kita bersikap terhadap kaum wanita?”

    Adassanaṃ, ānandā (Jangan memandang mereka, Ananda)
    “Bhante, jika kami kebetulan memandang mereka bagaimana kami harus bersikap, Bhagava?”
    “Janganlah berbicara dengan mereka Ananda.”
    “Bhante,tetapi bagaimana kalau mereka berbicara kepada kami?”
    “Ananda, melayaninya dengan tetap menjaga perhatian”

    10. Ananda berkata: “Bhante, bagaimana caranya kami menghormati sarīra (tubuh/jenasah/relik) Sang Tathagata (tathāgatassa sarīre paṭipajjāmā)?”

    “Janganlah menyusahkan dirimu Ananda, dengan menghormati sarīra Sang Tathagata (tathāgatassa sarīrapūjāya). Lebih baik kamu terus berjuang dan selalu belajar untuk kepentinganmu, untuk kebaikanmu. Janganlah mundur, rajin-rajinlah berlatih dan dengan keteguhan kembangkanlah kesadaranmu untuk kebaikanmu. Karena Ananda, terdapat banyak muliawan bijaksana, Brahmana bijaksana, orang berkeluarga yang berbudi luhur, yang telah berbakti kepada Sang Tathagata. Merekalah yang akan melakukan penghormatan pada sarīra Sang Tathagata (tathāgatassa sarīrapūjaṃ karissantī).”

    11. Kemudian Ananda berkata: “Tetapi bagaimana Yang Mulia cara mereka menghormati sarīra Sang Tathagata?”

    “Persis atau sama Ananda, seperti kalian menghormati sarīra seorang raja Dunia (Cakkavati).”

    “Tetapi bagaimanakah, cara mereka untuk menghormati sarīra seorang raja Dunia?”

    “sarīra seorang Raja Dunia, mula-mula dibungkus dengan kain linen yang baru dan kemudian diikat dengan kain wool katun dan dengan begitu ia dibalut dengan 500 lapisan kain linen dan 500 lapisan kain katun wool. Apabila itu sudah dikerjakan, maka sarīra Sang Raja Dunia itu, ditempatkan dalam sebuah peti pembuluh yang dicat meni, yang dimasukkan pula dalam peti pembuluh yang lain, kemudian ditempatkan di pembakaran sarira yang dibangun dengan beraneka macam kayu-kayu yang wangi, dan dengan demikian sarīra Sang Raja Jagat itu lalu dibakar. Di persimpangan empat (perempatan) lalu dirikan stupa untuk raja jagat itu.

    Demikianlah Ananda, yang seharusnya dilakukan kepada sarīra seorang Raja Dunia. Selanjutnya Ananda, seperti halnya dengan sarīra dari Raja Dunia itu, demikian pula yang dilakuan pada sarīra (tubuh/jenasah/relik) Sang Tathagata. Pada pertemuan empat jalan (Cātumahāpathe) juga didirikan stupa (thūpa) Sang Tathagata.

    Siapapun yang: dengan rangkaian bunga (mālaṃ va), dupa/serbuk wangi (gandhaṃ va cuṇṇakaṃ va) dan mempersembahkannya dalam damai (āropessanti va), memberikan penghormatan dalam damai (abhivādessanti va), pikirannya berbahagia (cittaṃ va pasādessanti) maka bahagia dan sejahtera menyertainya dalam waktu yang lama (tesaṃ taṃ bhavissati dīgharattaṃ hitāya sukhāya)

    [Thūpārahapuggala]
    12. “Ada 4 macam manusia, 4 jenis manusia, yang sepantasnya dibuatkan stupa, yaitu seorang:

    1. Tathagata Arahat Samma Sambuddha
    2. Pacceka Buddha
    3. Siswa dari Tathagata dan
    4. Raja Dunia

    Atas alasan apa seorang Tathagata Arahat Samma Sambuddha.. Pacceka Buddha.. Savaka Buddha.. Seorang raja dunia pantas dibuatkan sebuah stupa? Karena jika seseorang merenungkan: ‘Ini adalah stupa Sang Bhagava Arahat Samma Sambuddha.. seorang raja dunia’, pikirannya menjadi bahagia, maka dengan pikiran bahagia demikian, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan terlahir bahagia di alam deva. Karena alasan-alasan inilah ke-4 macam manusia itu pantas dibuatkan sebuah stupa”

    [Ānandaacchariyadhamma] DUKA CITA ANANDA
    13. kemudian menuju vihara, bersandar pada tiang pintu dan meratap (rodamāno): “Saya masih seorang siswa (savaka) dan masih harus berjuang untuk mencapai kesempurnaan. Sungguh malang aku ini, Guru yang penuh kasih sayang padaku akan meninggal dunia.”

    Kemudian Sang Bhagava bertanya kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu, di manakah Ananda?”

    “Bhante, Ananda telah pergi ke vihara, bersandar pada tiang pintu dan meratap: ‘Saya masih seorang siswa dan masih harus berjuang untuk mencapai kesempurnaan. Sungguh malang aku ini, Guru yang penuh kasih sayang padaku akan meninggal dunia.'”

    Sang Bhagava menyuruh seorang bhikkhu untuk memanggil Ananda dengan berkata : “Bhikkhu, katakanlah kepada Ananda bahwa Sang Guru memanggilnya.”

    “Baiklah bhante,” jawab bhikkhu itu. Bhikkhu itu pergi menjumpai Ananda dan mengatakan apa yang diperintahkan oleh Sang Bhagava.

    Kemudian Ananda pergi menemui Sang Bhagava, bersujud kepada Sang Bhagava dan menempatkan diri pada tempat yang tersedia.

    14. Sang Bhagava lalu berkata kepada Ananda: “Ananda, cukuplah jangan bersedih (mā soci), janganlah meratap (mā paridevi), Bukankah sudah kukatakan padamu bahwa segala sesuatu yang indah dan menyenangkan pasti mengalami perubahan, pasti berpisah dan menjadi yang lain. Jadi bagaimana mungkin, Ānanda—karena segala sesuatu yang dilahirkan, menjelma, tersusun pasti mengalami kerusakan—bagaimana mungkin hal itu tidak berlalu? Sejak lama, Ānanda, engkau telah berada di sisi Sang Tathāgata, memperlihatkan cinta-kasihdalam tindakan jasmani, ucapan dan pikiran, memberikan manfaat, menyenangkan, sepenuh hati dan tidak terbatas. Engkau telah mendapatkan banyak jasa. Berusahalah, dan dalam waktu singkat engkau akan terbebas dari kekotoran”

    PUJIAN KEPADA ANANDA
    15. Kemudian Sang Bhagava mengatakan kepada para bhikkhu demikian: “Para Buddha yang suci, yang maha sempurna dari waktu-waktu yang lampau, beliau itu juga mempunyai bhikkhu sebagai pelayan yang sangat tekun dan berbakti, seperti yang terlihat pada diri Ananda. Para bhikkhu, demikian pula halnya dengan para makhluk yang suci, para yang maha sempurna dari waktu yang akan datang.”

    “Para bhikkhu, Ananda adalah cakap dan jujur, karena ia mengetahui waktu yang tepat untuk para bhikkhu menghadap Sang Tathagata, dan waktu yang tepat untuk para bhikkhuni, waktu bagi laki serta wanita biasa, waktu bagi para Raja serta para patih negara, waktu bagi para guru aliran-aliran lain serta para pengikutnya untuk menghadap beliau.”

    16. “Para bhikkhu, pada diri Ananda terdapatlah empat sifat yang luar biasa dan jarang kita temui pada orang lain. Apakah keempat sifat itu? Apabila, serombongan bhikkhu berkunjung pada Ananda, mereka akan menjadi sangat gembira dapat bertemu. Apabila ia kemudian bercakap-cakap dengan mereka mengenai Dhamma mereka akan menjadi senang akan pembicaraan itu, dan kalau ia berdiam diri maka mereka akan merasa kecewa. Begitulah apabila para bhikkhu, atau orang laki-laki serta wanita biasa berkunjung pada Ananda, mereka akan menjadi gembira, apabila ia berbicara pada mereka tentang Dhamma, mereka akan menjadi senang dan apabila ia berdiam diri mereka akan merasa kecewa.

    “Para bhikkhu, pada diri seorang raja dunia terdapat sifat yang jarang ada dan utama. Apakah keempat sifat itu? Apabila, serombongan orang mulia berkunjung pada Raja Dunia itu, mereka menjadi gembira. Dan apabila ia berbicara, mereka menjadi senang oleh pembicaraannya; apabila berdiam diri mereka akan merasa kecewa. Begitu pula apabila serombongan brahmana, orang biasa, atau pertapa, berkunjung pada seorang Raja Dunia itu mereka akan mengalami keadaan yang demikian juga.”

    “Para bhikkhu, demikian pula halnya pada diri Ananda, terdapat keempat sifat yang jarang ada dan utama itu.”

    [Mahāsudassana sutta desanā] KEMEGAHAN KUSINARA PADA WAKTU YANG LAMPAU
    17. Setelah itu, Ananda lalu berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, janganlah sampai terjadi, Sang Bhagava akan wafat di tempat ini, di daerah yang sederhana dan tidak ada peradabannya, di tengah belantara, hampir di luar perbatasan dari propinsi, banyak kota besar, seperti Champa, Rajagaha, Savathi, Saketa, Kosambi dan Benares. Sebaiknya Sang Bhagava mengakhiri hidup beliau di salah satu kota tersebut. Karena di dalam kota itu berdiam banyak muliawan yang kaya dan para brahmana serta para keluarga yang merupakan para pengikut yang sangat berbakti kepada Sang Tathagata; mereka akan melakukan penghormatannya sebagaimana mestinya kepada Sang Tathagata.”

    “Janganlah berkata demikian, Ananda. Janganlah berkata: ‘Tempat ini, adalah daerah yang tidak ada peradabannya di tengah belantara hampir di luar perbatasan propinsi.’

    18. Dahulu kala di tempat ini berdiam seorang Raja yang bernama Maha Sudassana, ia adalah seorang Raja seluruh dunia, seorang Raja yang adil, seorang Pemenang dari seluruh bumi ini yang kerajaannya didirikan dengan penuh kemegahan, aman dan sentausa serta diberkahi dengan tujuh permata.

    Raja Sudassana mendirikan istana di Kusinara ini, yang kemudian dinamakan Kusavati yang luasnya dua belas yojana dari timur ke barat dan dari utara ke selatan tujuh yojana. Sangat luas istana itu.

    Megah sekali Kusavati itu, ibukota yang makmur dan penduduknya sangat baik dan beradab. Penduduknya berkembang dengan cepat, dan berlimpah dengan bahan makanan. Persis sebagai istana para dewa, Alakamanda, yang luar biasa makmurnya dan penghuninya baik sekali serta beradab, disertai para dewa serta dilimpahi sejumlah besar makanan. Begitulah ibukota kerajaan Kusavati yang kuno itu.

    Kota Kusavati, suasananya sangat ramai dan meriah, tiada hentinya siang dan malam orang bersuka ria, disertai sepuluh macam suara bunyi-bunyian, suara terompet, gajah, ringkikan kuda, gemerincingnya kereta-kereta, suara kendang-tambur dan rebana, serta irama lagu-lagu yang sangat merdu, diiringi tepuk tangan dan teriakan-teriakan yang nyaring, mengajak dengan berseru: “Mari makan, mari minum, mari bergembira, ayo makanlah minumlah mari bergembira.”

    [Mallānaṃvandanā] PARA SUKU MALLA
    19. “Pergilah sekarang, Ananda, ke Kusinara dan umumkanlah kepada suku Malla: ‘ajja kho, vāseṭṭhā, rattiyā pacchime yāme tathāgatassa parinibbānaṃ bhavissati (Hari ini, para Vassetha, di jam ke-3 (02.00-06.00) malam ini, Sang Tathagata akan padam sepenuhnya). Kunjungilah, para Vassetha dan dekatilah beliau. Supaya jangan menyesal di belakang hari dan berkata dalam hati: ‘Di daerah kamilah terjadi Parinibbana Sang Tathagata tetapi kami menyesal karena pada saat terakhir, tidak melihatnya.’ “

    “Baiklah, bhante” kemudian Ananda dengan membawa jubah serta patta, pergi ke Kusinara, dengan seorang kawannya.

    20. Pada saat itu suku Malla sedang berkumpul dalam ruang persidangan, untuk merundingkan kepentingan umum. Ananda mendekati mereka lalu berkata: “Para Vassetha, hari ini di jam ke-3 (02.00-06.00) malam ini, Sang Tathagata akan padam sepenuhnya. Kunjungilah dekatilah beliau. Supaya jangan menyesal di kemudian hari, dengan berkata dalam hati: ‘Di daerah kamilah terjadi Parinibbana Sang Tathagata tetapi kami sangat menyesal karena pada saat-saat terakhir, tidak dapat melihatnya.’

    21. Ketika mereka mendengar Ananda mengucapkan kata-kata itu, suku Malla beserta anak-anak, para isteri dan semua menantu-menantunya menjadi sangat sedih, berduka cita dan bersusah hati, ada di antaranya dengan rambut yang kusut, dan dengan menengadah menangis kesedihan sambil menyebut-nyebut Beliau. Ada pula yang mambanting dirinya di atas tanah dan berguling-guling kian kemari sambil meratap: “Terlalu cepatlah Sang Tathagata Parinibbana. Terlalu cepatlah Sang Sugata Parinibbana. Terlalu cepatlah Sang Guru Jagat lenyap dari pandangan,”

    Dengan sedih dan penuh duka cita pergilah suku Malla itu beserta anak-anak, isteri dan semua menantu menuju ke Hutan Sala, ke taman hiburan dari suku Malla itu, di mana bhikkhu Ananda berada.

    22. Timbullah pikiran pada diri Ananda “Apabila saya mengijinkan suku Malla ini menyampaikan penghormatan kepada Sang Bhagava, satu demi satu, maka akan terlalu lama, waktu akan habis, dan malam akan menjadi fajar belum juga mereka semua dapat menghadap Sang Bhagava. Oleh karena itu biarlah aku membagi mereka menurut golongan-golongan, tiap keluarga dalam rombongan, dan dengan demikian mereka bersama-sama akan menghadap kepada Sang Bhagava. “Bhante, suku Malla dengan nama-nama ini beserta istri, anak-anak, para pelayan dan kawan-kawan, menghaturkan hormat mereka kepada Sang Bhagava.”

    Kemudian Ananda membagi-bagikan suku Malla itu menurut golongan, keluarga dijadikan satu rombongan, kemudian mereka dibawa menghadap kepada Sang Bhagava.

    Dengan demikian maka Ananda telah dapat mengatur suku Malla dari Kusinara itu menghadap Sang Bhagava, dengan berombongan, tiap-tiap keluarga dalam satu rombongan, sehingga pada jam pertama dari malam itu, mereka dapat menghadap semuanya.

    [Subhaddaparibbājakavatthu] ORANG TERAKHIR YANG DITAHBISKAN
    23. Ketika itu seorang petapa pengembara bernama Subhadda sedang berdiam di Kusinara. Subhadda, petapa yang pengembara itu mendengar kabar : “Hari ini, di jam ke-3 (02.00 – 06.00) malam ini, Petapa Gotama akan Parinibbana” Karena itu timbullah pikirannya: “Aku pernah mendengar dari para petapa yang tua-tua dan mulia, dari para guru, bahwa munculnya para Tathagata Arahat Samma Sambuddha, adalah kejadian yang jarang sekali di dunia. Pada hari ini, di jam ke-3 (02.00 – 06.00) malam ini, Petapa Gotama akan Parinibbana. Kini pada diriku ada suatu keragu-raguan dan dalam hal ini aku mempunyai kepercayaan pada petapa Gautama itu, ia akan dapat mengajarkan Dhamma kepadaku untuk menghilangkan keraguan-raguanku.”

    24. Kemudian petapa pengembara Subhadda menuju ke Hutan Sala, taman hiburan milik Suku Malla itu, dan menemui Ananda, lalu menceritakan maksudnya kepada Ananda. Ia berkata kepada Ananda: “Kawan Ananda, alangkah baiknya bagi saya diperbolehkan menghadap petapa Gautama.” Tetapi Ananda menjawab; “Cukuplah kawan Subhadda, janganlah mengganggu Sang Tathagata. Sang Bhagava sedang payah.”

    Meskipun begitu sampai pada permintaan ketiga kalinya petapa pengembara itu mengulangi lagi permohonannya, untuk kedua dan ketiga kalinya Ananda tetap menolaknya.

    25. Sang Bhagava mendengar percakapan antara kedua orang itu, lalu Beliau memanggil Ananda dan berkata: “Ananda, jangan menolak Subhadda. Perbolehkanlah ia menghadap Sang Tathagata, karena apa saja yang akan ditanyakan kepadaku hal itu demi kepentingan pengetahuan dan bukan sebagai suatu pelanggaran. Jawaban yang akan aku berikan kepadanya, ia siap untuk memahaminya.”

    Oleh karena itu Ananda berkata kepada petapa pengembara Subhadda: “Silakanlah, kawan Subhadda, Sang Bhagava memperbolehkan saudara menghadap.”

    26. Kemudian petapa pengembara Subhadda itu, mendekati Sang Bhagava dan menghormat dengan sopan santun dan setelah itu, petapa pengembara Subhadda, duduk di salah satu sisi lalu berkata kepada Sang Bhagava: “Yang Mulia Gautama, ada para petapa dan brahmana yang memimpin sejumlah besar siswa yang mempunyai banyak pengiring, yang memimpin perguruan-perguruan yang terkenal dan termasyur dan mendapat penghormatan yang tinggi oleh khalayak ramai, guru-guru demikian itu adalah seperti: (1) Purana Kassapa, (2) Makkhali Gosala, (3) Ajita Kesakambali, (4) Pakudha Kaccayana, (5) Sanjaya Belatthiputta, (6) Nigantha-Nataputta. Apakah mereka itu semuanya telah mencapai kebebasan, seperti yang dikatakan oleh orang-orang itu, atau apakah tak seorang dari mereka yang mencapai kebebasan atau apakah hanya beberapa saja telah mencapai, dan yang lainnya tidak?”

    “Cukuplah Subhadda. Biarkanlah apa yang dikatakan mereka, apakah semua dari mereka itu telah mencapai pembebasan, seperti yang disiarkan orang-orang itu, atau tidak ada seorangpun dari mereka itu yang mencapai kebebasan, atau hanya beberapa saja dari mereka itu yang mencapai kebebasan yang lain tidak. Hal itu tidak perlu dirundingkan. Kini, aku akan mengajarkan kebenaran kepadamu, Subhadda, dengar dan perhatikanlah benar-benar, aku akan berbicara.”

    “Baiklah, bhante,” jawab Subhadda. Kemudian Sang Bhagava berkata:

    RAUNGAN SANG SINGA
    27. “Subhadda, dalam dhamma dan vinaya mana pun, jika TIDAK TERDAPAT Jalan Mulia Berunsur 8, maka di sana pun TIDAK ADA seorang petapa sejati, juga TIDAK ADA petapa sejati ke-2, ke-3 atau ke-4. Tetapi dalam dhamma dan vinaya yang mana pun, jika terdapat Jalan Mulia Berunsur 8, maka di sana pun akan ada petapa sejati, juga ada petapa sejati ke-2, ke-3 atau ke-4. Kini, dalam dhamma dan vinaya yang kuajarkan terdapat Jalan Mulia Berunsur 8 itu, maka dengan sendirinya terdapat petapa-petapa sejati, juga petapa-petapa sejati ke-2, ke-3 atau ke-4

    Ajaran guru-guru lainnya yang tidak memiliki Jalan Mulia Berunsur 8 adalah kosong dan bukan petapa yang sejati. Subhadda, jika para bhikkhu ini hidup dengan baik menurut dhamma dan vinaya, maka dunia ini takkan kekosongan Arahat

    Ekūnatiṃso vayasā subhadda (Usia-Ku 29 tahun, Subhadda)
    Yaṃ pabbajiṃ kiṅkusalānuesī (ketika meninggalkan keduniawian mencari kebajikan)
    Vassāni paññāsa samādhikāni (Sudah lebih dari 50 tahun)
    Yato ahaṁ pabbajito Subhadda (Sejak Aku meninggalkan keduniawian, Subadha)
    Ñāyassa Dhammassa padesavatti (Bernaung di jalur Dhamma)
    Ito bahiddhā samaṇo pi natthi (Yang di luarnya TIDAK ADA Petapa)

    dutiyo pi .. tatiyo pi .. catuttho pi samaṇo natthi (Petapa ke-2 .. ke-3 .. ke-4 TIDAK ADA)
    Suññā parappavādā samaṇebhi aññehi ime ca Subhadda (Aliran lainnya mandul Petapa, Subhadda)
    bhikkhū sammā vihareyyuṁ (Tetapi jika para bhikkhu menjalani benar)
    asuñño loko Arahantehi assā.” ti (Dunia ini tak kekosongan Arahat)

    [Note:
    10 Syair sang Buddha yang dimulai di usianya yg ke-29, PTS Text menuliskan syair ini hanya sampai baris ke-6 dan ini diikuti oleh RD dan dalam LDB. Tetapi dalam tambahan atas edisi ke dua tahun 1938, syair ini terlihat sama seperti yang dituliskan di sini dan menghilangkan nama Subhadda]

    28. Ketika hal ini telah dikatakan oleh Sang Bhagava lalu petapa pengembara Subhadda, berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, luar biasa, sangat tepat dan sungguh luar biasa. Hal ini adalah ibarat orang yang menegakkan kembali sesuatu yang telah tumbang, atau memperlihatkan sesuatu yang telah tersembunyi, atau menunjukkan jalan kepada seseorang yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan, sehingga mereka yang mempunyai mata dapat melihat, di samping itu bahkan Sang Bhagava telah mengutarakan Dhammanya dalam berbagai cara. Maka dengan ini, saya mencari perlindungan pada Sang Bhagava, Dhamma dan Sangha. Semoga kiranya saya dapat diperkenankan oleh Sang Bhagava untuk memasuki Sangha, dan juga diperkenankan menerima penabisan kebhikkhuan.”

    “Subhadda, siapa saja yang dahulunya telah menjadi pengikut suatu ajaran yang lain, kalau ingin masuk dan ditabiskan menjadi bhikkhu, di dalam dhamma vinaya yang kuajarkan ini, haruslah ia menempuh masa percobaan lebih dahulu selama empat bulan. Kemudian pada akhir bulan yang keempat itu, para mahatera akan berkenan menerimanya lalu ditabiskan menjadi seorang bhikkhu. Tetapi dalam hal ini aku sendiri dapat melihat perbedaan-perbedaan kesanggupan pribadi dari tiap-tiap orang.”

    29. “Bhante, kalau demikian, orang yang dahulunya telah menjadi pengikut suatu ajaran lain, kalau ingin masuk dan ditabiskan menjadi bhikkhu di dalam dhamma vinaya yang diajarkan oleh bhante ini, harus menempuh masa percobaan lebih dahulu selama empat bulan. Kemudian pada akhir bulan yang keempat itu, maka para mahathera berkenan akan menerimanya lalu ditabiskan menjadi seorang bhikkhu. Saya juga akan sanggup, menempuh masa percobaan yang empat bulan. Pada akhir bulan yang keempat itu, terserahlah pada kebijaksanaan para mahathera itu, berkenan menerima saya dan menabiskan menjadi seorang bhikkhu.”

    Tetapi ketika itu, Sang Bhagava memanggil Ananda, dan berkata kepadanya:

    “Ananda, kalau demikian izinkanlah Subhadda ini memasuki persaudaraan sebagai anggota Sangha.”

    Ananda menjawab: “Baiklah, Bhante.”

    30. Lalu petapa pengembara Subhadda itu berkata kepada Ananda: “Suatu keuntungan bagi Anda, sesungguhnya suatu berkah, bahwa di hadapan Sang Guru sendiri Anda telah diperkenankan menerima penabisan saya sebagai seorang siswa.”

    Demikianlah telah terjadi, bahwa pertapa pengembara Subhadda telah diterima dan ditabiskan menjadi bhikkhu, di hadapan Sang Bhagava sendiri. Ia pun tekun, rajin dan sungguh-sungguh. Maka ia mencapai tujuan, sebagai orang yang dihormati, yang hidup berkelana, meninggalkan keduniawian, menuju kehidupan yang suci, dan setelah capai kebijaksanaan yang tinggi, ia hidup di dalam kesucian. Hancurlah belengu-belengu kelahiran, kehidupan suci telah tercapai, tak ada lagi sesuatu yang harus dikerjakan, dan dalam kehidupan ini tak ada lagi sesuatu yang tertinggal.”

    Demikianlah ia telah menyadarinya.

    Bhikkhu Subhadda menjadi salah seorang di antara para Arahat dan ia adalah siswa terakhir yang diterima Sang Bhagava.


    BAB VI

    [Tathāgatapacchimavācā] NASEHAT-NASEHAT TERAKHIR DARI SANG BHAGAVA
    1. Dan Sang Bhagavā berkata kepada Ānanda: ‘Ānanda, engkau mungkin berpikir: “nasihat-nasihat Sang Guru telah tiada, sekarang kita tidak memiliki guru!” Jangan berpikiran seperti itu, Ānanda, karena apa yang telah Kuajarkan dan Kujelaskan kepada kalian sebagai Dhamma dan disiplin akan, saat Aku tiada, menjadi guru kalian’

    2. Ananda, sebagaimana pada saat ini para bhikkhu saling menegur satu dengan yang lainnya sebagai “Avuso”, namun janganlah demikian apabila Aku telah tidak ada. Para bhikkhu yang lebih tua, bolehlah menegur kepada yang lebih muda dengan menyebut namanya, atau nama keluarganya, atau dengan sebutan avuso, sedangkan bhikkhu yang lebih muda seharusnya berkata kepada yang lebih tua dengan sebutan “Bhante”.

    3. “Ananda, apabila dikehendaki Sangha dapat menghapus peraturan-peraturan kecil (Khuddaka sikkhapada) setelah Aku meninggal.”

    4. “Ananda, untuk bhikkhu Channa, setelah Aku meninggal, kenakanlah hukuman brahma (brahma danda) kepadanya.”

    “Bhante, tetapi apakah yang dimaksud dengan brahma danda itu?”

    “Ananda, bhikkhu Channa dapat berkata apa saja yang diinginkannya, tetapi para bhikkhu tidak perlu bercakap-cakap dengan dia, tidak perlu menegur atau pun memperingatkannya.”

    5. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu demikian: “Para bhikkhu, ada kemungkinan bahwa salah seorang di antara kalian merasa ragu atau bimbang terhadap Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, jalannya atau pelaksanaannya. Maka itu tanyakanlah sekarang, para bhikkhu. Janganlah sampai ada yang menyesal nanti di kemudian hari, dengan pikiran: “Tatkala Sang Guru berada di tengah-tengah kami, berhadap-hadapan dengan kami, tetapi kami tidak bertanya apa-apa kepada Beliau.”

    Walaupun hal ini telah dikatakan, tetapi para bhikkhu itu tetap diam saja.

    Kemudian diulangi lagi untuk kedua kalinya dan ketiga kalinya Sang Bhagava berkata kepada mereka : “Ada kemungkinan, para bhikkhu, bahwa salah seorang di antara kalian merasa ragu-ragu atau bimbang terhadap Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, jalannya atau pelaksanaannya. Maka itu tanyakanlah sekarang, para bhikkhu. Janganlah sampai ada yang menyesal nanti di kemudian hari, dengan pikiran : “Takkala Sang Guru masih ada di tengah-tengah kami, berhadap-hadapan dengan kami, tetapi kami tidak bertanya apa-apa kepada Beliau.”

    “Untuk kedua dan ketiga kalinya para bhikkhu, karena kalian merasa hormat atau segan kepada Sang Guru, maka kalian tidak mau mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Kalau begitu, baiklah kalian berunding bersama teman-teman lebih dulu, tentang apa yang akan ditanyakan dan kemudian salah satu di antaranya menjadi wakil untuk menanyakan pertanyaan itu kepadaKu.”

    Tetapi para bhikkhu itu masih tetap diam saja.

    6. Akhirnya Ananda berkata kepada Sang Bhagava demikian “Bhante, sungguh mengherankan, sangat luar biasa. Kami mempunyai keyakinan yang besar terhadap persaudaraan para bhikkhu ini, bahwa tak seorang bhikkhu pun yang merasa ragu-ragu atau bimbang terhadap Sang Buddha, Dhamma, Sangha, jalannya atau pun pelaksanaannya.”

    “Karena keyakinanlah Ananda, kamu berbicara begitu. Dalam hal ini Sang Tathagata mengetahui dengan pasti bahwa di antara persaudaraan para bhikkhu ini tiada seorang bhikkhu pun yang merasa ragu-ragu dan bimbang terhadap Sang Buddha, Dhamma dan Sangha mengenai jalannya atau pelaksanaannya.

    Ananda, karena di antara lima ratus bhikkhu ini, yang terendah pun adalah sotapanna, yang tak mungkin terlahir kembali di alam penderitaan, yang pasti akan mencapai penerangan sempurna (bodhi) di kemudian hari.”

    7. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu:
    Para bhikkhu, perhatikanlah nasehat ini: “vayadhammā saṅkhārā (yang berkondisi tunduk pada kelapukan) appamādena sampādetha (dengan kewaspadaan capailah tujuan)”. Inilah kata-kata terakhir Sang Tathagata.

    [Parinibbutakathā] Padam SempurnaNya SANG BHAGAVA
    8. Mula-mula Sang Bhagava masuk Jhana ke-1.
    Bangkit dari Jhana ke-1, masuk Jhana ke-2.
    Bangkit dari Jhana ke-2, masuk Jhana ke-3.
    Bangkit dari Jhana ke-3, masuk Jhana ke-4.
    Bangkit dari Jhana ke-4, masuk landasan ruang tak berbatas.
    Bangkit dari landasan ruang tak berbatas, masuk landasan kesadaran tak berbatas.
    Bangkit dari landasan kesadaran tak berbatas, masuk landasan tak ada sesuatu apapun.
    Bangkit dari landasan tak ada sesuatu apapun, masuk landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi.
    Bangkit dari landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi, beliau masuk lenyapnya persepsi dan perasaan.

    Kemudian Ananda berkata demikian: “Anuruddha kiranya Sang Bhagava telah padam sempurna”

    “Tidak, Ananda, Sang Bhagava belum padam sempurna, Beliau masuk lenyapnya persepsi dan perasaan.”

    9. Kemudian Sang Bhagava,
    bangkit dari lenyapnya persepsi dan perasaan, beliau masuk landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi.
    Bangkit dari landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi, masuk landasan tak ada sesuatu apapun,
    Bangkit dari landasan tak ada sesuatu apapun, masuk landasan kesadaran tak berbatas,
    Bangkit dari landasan kesadaran tak berbatas, masuk landasan ruang tak berbatas.
    Bangkit dari landasan ruang tak berbatas, masuk Jhana ke-4.
    Bangkit dari Jhana ke-4, masuk Jhana ke-3.
    Bangkit dari Jhana ke-3, masuk Jhana ke-2.
    Bangkit dari Jhana ke-2, masuk Jhana ke-1.

    Bangkit dari Jhana ke-1, masuk Jhana ke-2.
    Bangkit dari Jhana ke-2, masuk Jhana ke-3.
    Bangkit dari Jhana ke-3, masuk Jhana ke-4.
    Dan bangkit dari Jhana ke-4, lalu padam sempurnalah, Sang Bhagava.

    Demikianlah ketika Sang Bhagava telah Parinibbana, tepat bersamaan dengan saat parinibbanaNya, maka terjadilah gempa bumi yang dahsyat menyeramkan membuat merinding dengan kilat gemuruh membelah

    Ketika Sang Bhagava padam sempurna,
    dewa Brahma Sahampati mengucapkan syair ini:

    Mahluk apapun di dunia, bentukannya akan-lah berakhir
    Juga sang Guru, yang tiada banding di dunia,
    Yang tercerahkan, sang pemilik kekuatan, maha tau, juga padam sempurna.

    dewa Sakka, raja para dewa, mengucapkan syair ini:

    Bentukan benarlah tiada kekal adanya,
    yang muncul akan-lah lenyap,
    Setelah timbul akan-lah tenggelam,
    padam adalah kebahagiaan

    bhikkhu Anuruddha mengucapkan syair ini:

    Tak ada lagi nafas, teguh pikiranNya
    bebas nafsu, dalam kedamaian, demikian akhir sang Muni
    PikiranNya tak tergoyahkan, dalam menahan rasa menyakitkan
    Seperti padamnya nyala api, demikian pula pikiranNya terbebaskan padam

    Ananda mengucapkan syair ini:

    Demikian mengerikannya, Demikian merindingnya,
    Ketika yang maha tahu, yang sempurna dalam kualitas mulia, padam sempurna

    Demikianlah, ketika Sang Bhagava meninggal, beberapa bhikkhu yang belum melenyapkan kesenangan napsu dengan mengangkat tangan mereka menangis, membanting diri di tanah sambil berguling-guling kian ke mari. Mereka meratap sambil berkata: “Terlalu cepat Sang Tathagata parinibbana, terlalu cepat Sang Guru jagad parinibbana dan lenyap dari pandangan.”

    Tetapi para bhikkhu yang telah bebas dari hawa nafsu dengan penuh kesadaran dan pengertian yang benar, merenung dalam batin: “Segala sesuatu adalah tidak kekal, bersifat sementara. Bagaimanakah yang akan terjadi, jika tidak terjadi demikian?”

    11. Kemudian bhikkhu Anurudha berkata kepada para bhikkhu: “Cukuplah para avuso! Janganlah berduka cita, janganlah meratap! Karena bukankah Sang Bhagava dahulu telah menyatakan bahwa segala sesuatu yang disayangi dan yang dicintai itu tidaklah kekal, pastilah ada perobahan, pergeseran serta perpisahan ? Apa yang timbul dalam perwujudan, kelahiran sebagai makhluk dalam bentuk yang berpaduan itu, pasti akan mengalami kelapukan; maka hal ini tidak lenyap. Para dewa juga sangat berduka cita.”

    “Tetapi, para dewa manakah yang disadarkan oleh bhante?” tanya Ananda.

    “Ananda, para dewa angkasa dan bumi yang masih cenderung pada kesenangan nafsu, dengan rambut kusut sambil mengangkat tangan, mereka menangis, membanting diri di tanah sambil berguling-guling kian ke mari. Mereka meratap sambil berkata: “Terlalu cepat Sang Tathagata parinibbana, terlalu cepat Sang Guru Jagad parinibbana dan akan lenyap dari pandangan.”

    “Tetapi para dewa yang telah bebas dari hawa nafsu, dengan penuh kesadaran dan pengertian yang benar, merenung: “Segala sesuatu adalah tidak kekal bersifat sementara. Bagaimanakah yang akan terjadi jika tidak demikian?”

    12. Kini Anurudha dan Ananda selama satu malam suntuk memperbincangkan Dhamma. Kemudian Anurudha berkata kepada Ananda: “Ananda, sekarang pergilah ke Kusinara, umumkanlah kepada suku Malla: “Vasetha, ketahuilah bahwa Sang Bhagava telah padam sempurna. Sekarang terserahlah kepada saudara-saudara sekalian.”

    “Baiklah bhante.”

    Lalu Ananda dengan seorang kawannya mempersiapkan diri sebelum tengah hari dan sambil membawa patta serta jubahnya menuju ke Kusinara.

    Pada saat itu suku Malla dari Kusinara sedang berkumpul dalam ruang persidangan untuk merundingkan soal itu juga. Takala Ananda menemui mereka, lalu mengumumkan: “Vasetha, ketahuilah bahwa Sang Bhagava telah Parinibbana. Sekarang terserahlah kepada saudara-saudara sekalian.”

    Demikianlah, ketika mereka mendengar kata-kata Ananda, suku Malla dengan semua anak, istri, menantu mereka menjadi sedih, berduka cita dan sangat susah kelihatannya, ada di antara mereka dengan rambut yang kusut serta mengangkat tangan mereka menangis, membanting diri di tanah sambil berguling-guling kian ke mari. Mereka meratap sambil berkata: “Terlalu cepat Sang Tathagata parinibbana, terlalu cepat Sang Sugata parinibbana, terlalu cepat Sang Guru Jagad parinibbana dan lenyap dari pandangan.”

    [Buddha­sarīra­pūjā] PENGHORMATAN TERHADAP PENINGGALAN SANG BHAGAVA
    13. Kemudian suku Malla dari Kusinara itu memerintahkan kepada orang-orangnya demikian: “Kumpulkanlah sekarang semua wangi-wangian, bunga-bungaan dan para pemain musik dan apa saja yang ada di Kusinara ini.” Suku Malla dengan wewangian, bunga-bungaan dan para pemain musik, dengan membawa lima ratus perangkat pakaian, pergi ke hutan Sala, ke taman hiburan suku Malla, menuju tempat jenasah Sang Bhagava. Setelah sampai di sana, mereka melakukan penghormatan terhadap jenasah Sang Bhagava dengan tari-tarian, nyanyi-nyanyian, persembahan bunga-bunga, wewangian yang semerbaknya meliputi seluruh tempat; lalu mereka mendirikan kemah-kemah dan kubu-kubu untuk bernaung selama mereka ada di sana, melakukan upacara penghormatan terhadap jenasah Sang Bhagava itu. Kemudian mereka berunding: “Kini matahari sudah tinggi, hari sudah siang, sudah terlambat kiranya untuk memperabukan layon Sang Bhagava. Sebaiknya kita laksanakan pada hari-hari berikutnya saja.”

    Pada hari-hari yang ke-2, ke-3, ke-4, ke-5 dan ke-6 mereka terus menerus melakukan penghormatan terhadap jenasah Sang Bhagava dengan tari-tarian, nyanyi-nyanyian, persembahan bunga-bunga, wewangian yang semerbaknya meliputi seluruh tempat.

    14. Tetapi pada hari ke-7 mereka lalu berunding: “Kita telah melakukan penghormatan terhadap jenasah Sang Bhagava dengan tari-tarian, nyanyi-nyanyian, persembahan bunga-bunga, wewangian yang semerbaknya meliputi seluruh tempat, sekarang marilah kita, mengangkat dan mengusung jenasah Beliau ke arah Selatan, dan di sana di sebelah Selatan kota kita melakukan perabuan jenasah Sang Bhagava.”

    Kemudian delapan orang suku Malla dari keluarga yang terkemuka, setelah mandi dan berkeramas dengan bersih serta mengenakan pakaian yang baru, dengan pikiran: “Kita akan mengangkat jenasah Sang Bhagava” mereka pun lalu berusaha mengerjakan hal itu, tetapi mereka tak dapat mengangkatnya.

    Demikianlah diceritakan bahwa suku Malla itu bertanya kepada Anurudha demikian: “Bhante, karena apa dan apakah sebabnya, delapan orang dari suku Malla dari keluarga yang terkemuka ini, yang telah mandi dan berkeramas dengan bersih, serta mengenakan pakaian yang baru, dengan pikiran: “Kita akan mengangkat jenasah Sang Bhagava, lalu mereka berusaha melakukan hal itu tetapi mereka tidak dapat mengangkatnya?”

    “Saudara-saudara Vasettha, ketahuilah bahwa kalian mempunyai sesuatu maksud tetapi para dewa pun mempunyai maksud yang lain.”

    15. “Bhante, apakah maksud para dewa itu?”

    penghormatan terhadap jenasah Sang Bhagava dengan tari-tarian, nyanyi-nyanyian, persembahan bunga-bunga, wewangian yang semerbaknya meliputi seluruh tempat
    “Saudara-saudara Vasettha, maksud para dewa bahwa kalian telah melakukan penghormatan terhadap jenasah Sang Bhagava dengan tari-tarian, nyanyi-nyanyian, persembahan bunga-bunga, wewangian yang semerbaknya meliputi seluruh tempat dan berkata: “Marilah mengangkat dan mengusung jenasah Beliau ke arah Selatan; dan di sana, di sebelah Selatan kota kita melakukan perabuan jenasah Sang Bhagava.”

    Vasettha, sedangkan maksud Para dewa adalah: “Kita telah melakukan penghormatan terhadap jenasah Sang Bhagava dengan tari-tarian, nyanyi-nyanyian, persembahan bunga-bunga, wewangian surgawi yang semerbaknya meliputi seluruh tempat, sekarang marilah kita membawa jenasah Sang Bhagava ke arah Utara di sebelah Utara kota dan setelah sampai di sana, dengan melalui pintu gerbang kita lalu menuju ke pusat kota; dan dari situ kita lalu menuju ke Timur; dengan melalui pintu gerbang di Timur lalu kita menuju ke Cetiya dari suku Malla, Makutta Bhandana, dan di sanalah kita perabukan jenasah Sang Bhagava.”

    “Bhante, jika demikian, apa yang dikehendaki para dewa itu yang akan kita lakukan.”

    16. Dengan demikian seluruh Kusinara, di segala pelosok ditimbuni penuh dengan bunga-bungaan Mandarawa sampai setengah lutut dan Para Dewa dan suku mala melakukan penghormatan terhadap jenasah Sang Bhagava dengan tari-tarian, nyanyi-nyanyian, persembahan bunga-bunga, wewangian yang semerbaknya meliputi seluruh tempat, mengusung jenasah Sang Bhagava itu ke arah Utara, ke bagian Utara dari kota, dan sesudah melalui pintu gerbang Utara, lalu menuju ke pusat kota, dan sesudah melewati pintu gerbang sebelah Timur mereka menuju ke Cetiya dari suku Malla, Makuta-bhandhana, dan di sanalah jenasah Sang Bhagava dibaringkan.

    17. Lalu suku Malla dari Kusinara itu berkata kepada Ananda demikian: “Bagaimana seharusnya kita melakukan penghormatan dalam memperabukan jenasah Sang Bhagava?”

    “Vasetha, sama seperti cara menghormati jenasah seorang Raja Jagad.”

    “Tetapi bagaimanakah seharusnya kita berlaku untuk menghormati Raja Jagad itu?”

    “Jenasah seorang Raja Jagad itu pertama-tama di bungkus seluruhnya dengan kain linen yang baru, dan kemudian dengan kain katun wool baru pula.

    Sesudah itu dibungkus lagi seluruhnya dengan kain linen yang baru, dan lagi dengan kain katun wool yang telah dipersiapkan. Dan begitulah selanjutnya dilakukan sampai lima ratus lapisan kain linen dan lima ratus kain katun wool. Setelah itu dikerjakan jenasah Raja Jagad dibaringkan dalam suatu peti dengan dicat meni, lalu dimasukkan lagi ke dalam peti dengan dicat meni, dan suatu Pancaka (tempat perabuan) didirikan dari berbagai macam kayu wangi-wangian; di situlah jenasah seorang Raja Jagad diperabukan, dan pada perempatan (pertemuan empat jalan) didirikan sebuah stupa bagi Raja Jagad itu. Demikianlah hal itu seharusnya dilaksanakan.”

    “Vasetha, demikianlah sama seperti halnya jenasah seorang Raja Jagad begitu pula harus dilakukan pada jenasah Sang Tathagata. Tattha ye (Barang siapapun) mālaṃ vā (membawa bunga atau) gandhaṃ vā (membawa dupa/wewangian atau) cuṇṇakaṃ vā (membawa serbuk cendana atau) āropessanti vā (dengan meninggikan atau) abhivādessanti vā (dengan memberi penghormatan besar/membungkuk) cittaṃ vā (dengan pikirannya atau) pasādessanti (dengan gembira/berkeyakinan), tesaṃ taṃ bhavissati dīgharattaṃ hitāya sukhāyā”ti (maka akan mendapatkan kebahagian untuk waktu yang panjang)”

    18. Kemudian suku Malla memberi perintah kepada orang-orangnya demikian: “Kumpulkanlah sekarang segala kain katun wool yang baru dari suku Malla.” Lalu suku Malla dari Kusinara itu membungkus jenasah Sang Bhagava seluruhnya dengan kain linen baru, lalu dengan kain katun wool yang telah disiapkan; dan demikian seterusnya sehingga lima ratus lapisan kain linen dan lima ratus lapisan kain katun wool. Setelah itu dikerjakan, mereka membaringkan jenasah Sang Bhagava di dalam sebuah peti dengan dicat meni yang ditaruh lagi di dalam sebuah peti yang dicat meni yang ditaruh lagi di dalam peti yang dicat meni lainnya, kemudian mereka mendirikan pancaka pembakaran yang dibuat dari segala macam kayu-kayuan wangi-wangian dan di atas pancaka itulah jenasah Sang Bhagava ditempatkan.

    [Mahā­kassa­pat­thera­vatthu]
    19. Ketika itu Maha Kassapa sedang dalam perjalanan dari Pava ke Kusinara, bersama serombongan besar para bhikkhu yang berjumlah sampai lima ratus orang. Dalam perjalanan itu, Maha Kassapa menepi dari jalan raya dan duduk di bawah sebatang pohon.

    Demikian, suku Ajivaka telah datang di tempat itu, dalam perjalanan ke Pava; dan ia membawa setangkai bunga Mandarawa dari Kusinara. Maha Kassapa melihat Ajivaka itu datang; ketika ia sudah dekat maka beliau berkata kepadanya: “Apakah Anda mengetahui tentang Guru kita?”

    “Ya, saya mengetahui bahwa hari ini adalah hari yang ketujuh dari wafatnya Pertapa Gotama. Di sana kami telah memungut bunga Mandarava ini.”

    Mendengar jawaban itu, beberapa bhikkhu yang belum melenyapkan kesenangan nafsu, mengangkat tangan mereka menangis, membanting diri di tanah sambil berguling-guling kian ke mari. Mereka meratap sambil berkata: “Terlalu cepat Sang Tathagata parinibbana, terlalu cepat Sang Sugata parinibbana, terlalu cepat Sang Guru Jagad parinibbana dan lenyap dari pandangan.” Tetapi para bhikkhu yang telah bebas dari hawa nafsu, dengan penuh kesadaran dan pengertian yang benar, merenung: “Segala sesuatu adalah tidak kekal bersifat sementara. Bagaimanakah yang akan terjadi jika tidak demikian?”

    20. Ketika itu, seorang bernama Subhadda, yang telah mengundurkan diri dari keduniawian setelah umurnya lanjut. Ia pun terdapat di antara sekelompok bhikkhu itu, di mana ia berkata kepada mereka demikian: “Cukuplah saudara-saudara, janganlah berduka cita, janganlah meratap. Sekarang kita telah bebas dari Pertapa yang Maha Besar itu. Sudah terlalu lama, kita telah ditekan dengan kata-kata : ‘Ini cocok bagimu, itu tidak baik bagimu.’ Sekarang kita akan dapat berbuat apa saja yang kita kehendaki, dan melepaskan apa yang kita tidak senangi, tidak ada yang akan melarangnya.”

    Tetapi Maha Kassapa menegur para bhikkhu : “Cukuplah, saudara-saudara! Janganlah berduka cita, janganlah meratap! Karena bukankah Sang Bhagava dahulu telah mengatakan bahwa segala yang baik dan yang kita cintai pastilah akan mengalami perubahan, pergeseran, dan perpisahan?” Karena segala sesuatu yang timbul menjadi wujud, terlahir dalam perpaduan bentuk-bentuk tertentu akan mengalami kelapukan; bagaimana seseorang dapat berkata : “Semoga ia tidak sampai pada peleburannya.”

    21. Pada waktu itu, di tempat perabuan, tempat orang suku Malla asal dari keluarga yang terkemuka telah mandi dan berkemas dengan bersih lalu mengenakan pakaian-pakaian yang baru dengan pikiran: “Kita akan menyalakan api perabuan Sang Bhagava itu.”

    Lalu mereka berusaha mengerjakan hal itu, tetapi mereka tak dapat. Setelah itu suku Malla berkata kepada Anuruddha demikian: “Bhante Anuruddha, mengapa keempat orang dari keluarga yang terkemuka, yang telah mandi dan berkeramas dengan bersih serta mengenakan pakaian-pakaian baru mempunyai pikiran: ‘Kita akan menyalakan api perabuan Sang Bhagava.’ Mereka berusaha melakukan hal itu, tetapi tak dapat.”

    “Vasettha, kamu mempunyai satu maksud tetapi para dewa mempunyai maksud lain.”

    “Bhante, apakah maksud para dewa itu?”

    “Maksud dari para dewa adalah demikian: “Bhikkhu Maha Kassapa sedang dalam perjalanan dari Pava ke Kusinara, bersama serombongan para bhikkhu yang berjumlah sampai lima ratus orang. Jangan nyalakan api perabuan Sang Bhagava itu, sebelum bhikkhu Maha Kassapa tiba untuk menghormati jenasah Sang Bhagava.”

    ” Kalau demikian, apa yang dikehendaki para dewa itu, biarkanlah terlaksana.”

    22. Kemudian rombongan Maha Kassapa tiba di tempat pancaka Sang Bhagava di Cetiya dari suku Malla, Makuta-bandhana, di Kusinara. Beliau lalu mengatur jubahnya pada salah satu bahunya, dan dengan tangan tercakup di muka, beliau menghormat Sang Bhagava; beliau berjalan mengitari pancaka tiga kali, kemudian menghadap pada jenasah Sang Bhagava, lalu beliau berlutut menghormat pada jenasah Sang Bhagava. Hal yang serupa itu, juga dilakukan oleh kelima ratus bhikkhu itu.

    Demikianlah setelah dilakukan penghormatan oleh Maha Kassapa beserta kelima ratus bhikkhu itu, maka di pancaka Sang Bhagava lalu terlihat api menyala dengan sendirinya dan membakar seluruhnya.

    23. Demikanlah jenasah Sang Bhagava mulai dibakar; yang mula-mula terbakar adalah kulitnya, jaringan daging, urat-urat dan cairan-cairan semua itu tiada yang nampak, abu maupun bagian-bagiannya, hanya tulang-tulanglah yang tertinggal. Tepat sama seperti lemak atau minyak kalau dibakar tidak meninggalkan bagian-bagiannya atau debu-debunya, demikian pula dengan jenazah Sang Bhagava setelah terbakar, apa yang dinamakan kulit, jaringan, daging, urat-uratan serta cairan, tiada nampak debunya atau bagian-bagiannya, hanya tulang-tulanglah yang tertinggal. Dari kelima ratus lapisan kain linen pembungkusnya, hanya dua yang tidak musnah, yaitu yang paling dalam dan yang paling luar.

    Demikianlah ketika jenazah Sang Bhagava telah habis terbakar maka air seperti dicurahkan dari langit memadamkan api perabuan itu. Dari pohon Sala juga keluar air menyiramnya, suku Malla dari Kusinara juga membawa air yang telah diisi dengan berbagai wangi-wangian dan mereka juga menyirami api perabuan Sang Bhagava itu.

    Kemudian suku Malla dari Kusinara, mengambil relik (sisa jasmani) Sang Bhagava, lalu ditempatkan di tengah-tengah ruangan sidang mereka, yang kemudian dipagari sekelilingnya dengan anyaman tombak-tombak, lalu dilapisi lagi dengan pagar dari panah dan busur-busur.

    Di sanalah mereka mengadakan upacara puja bakti selama tujuh hari. Untuk menghormati relik Sang Bhagava dengan tari-tarian, nyanyian, serta mempersembahkan bunga-bungaan dan wangi-wangian, melakukan puja bakti terhadap relik Sang Bhagava.

    [Sarīra­dhātu­vibha­jana] PEMBAGIAN BENDA-BENDA PENINGGALAN SANG BHAGAVA
    24. Kemudian Raja Magadha, Ajatasattu, putera Ratu Videhi, mendengar bahwa Sang Bhagava telah parinibbana di Kusinara. Ia mengirim utusan pada suku Malla di Kusinara dan menyatakan: “Dari kesatria asal Sang Bhagava; demikianlah pula saya. Karena itu saya sangat perlu untuk menerima sebagian relik Sang Bhagava. Untuk relik Sang Bhagava itu saya akan dirikan sebuah stupa; dan untuk menghormatiNya, saya akan mengadakan suatu perayaan”

    Orang Licchavi dari Vesali setelah mendengar bahwa Sang Bhagava telah wafat di Kusinara. Mereka lalu mengirim utusan pada suku Malla di Kusinara dan mengatakan: “Dari Kesatria asal Sang Bhagava; demikianlah pula kami. Kami sangat perlu untuk menerima sebagian dari relik Sang Bhagava. Untuk relik Sang Bhagava itu kami akan mendirikan sebuah stupa. Kami akan mengadakan perayaan menghormati Beliau.”

    Suku Sakya dari Kapilavasthu juga setelah mendengar bahwa Sang Bhagava telah wafat di Kusinara. Maka mereka mengirim utusan kepada suku Malla di Kusinara dan menyatakan: “Sang Bhagava adalah keluarga kami. Berhargalah bagi kami untuk menerima sebagian dari relik Sang Bhagava. Untuk relik Sang Bhagava kami akan mendirikan sebuah stupa, dan untuk menghormati Beliau, kami akan mengadakan perayaan”

    Suku Buli dari Allakappa mendengar pula bahwa Sang Bhagava telah wafat di Kusinara. Mereka mengirim utusan pada suku Malla di Kusinara dan mengatakan: “Dari Kesatria asal Sang Bhagava; dan demikian pula kami. Berhargalah kami untuk menerima sebagian dari relik Sang Bhagava. Untuk relik Sang Bhagava itu kami akan mendirikan stupa, dan untuk menghormati Beliau, kami akan mengadakan perayaan”

    Suku Koli dari Ramagama mendengar bahwa Sang Bhagava telah wafat di Kusinara. Mereka mengirim suatu utusan pada suku Malla di Kusinara dan menyatakan: “Dari Kesatria asalnya Sang Bhagava, dan demikian pula kami. Berhargalah kami untuk menerima sebagian dari relik Sang Bhagava. Untuk relik Sang Bhagava itu kami akan mendirikan stupa, dan untuk menghormati Beliau, kami akan mengadakan perayaan”

    Brahmana Vethadipa mendengar bahwa Sang Bhagava telah wafat di Kusinara. Ia mengirim suatu utusan pada suku Malla di Kusinara dan menyatakan: “Dari Kesatria asalnya Sang Bhagava dan saya adalah seorang brahmana. Berharga bagi saya untuk menerima sebagian dari relik Sang Bhagava. Untuk relik Sang Bhagava itu saya akan mendirikan sebuah stupa, dan untuk menghormati Beliau, saya akan mengadakan perayaan”

    Suku Malla dari Pava mendengar bahwa Sang Bhagava telah wafat di Kusinara, dan mereka mengirim suatu utusan pada suku Malla di Kusinara dan menyatakan: “Dari Kesatria asalnya Sang Bhagava, dan demikian pulalah kami. Berharga bagi kami untuk menerima sebagian dari relik Sang Bhagava. Untuk relik Sang Bhagava, kami akan mendirikan sebuah stupa, dan sebagai penghormatan, kami akan mengadakan perayaan”

    25. Tetapi ketika mereka menerima pernyataan-pernyataan ini, suku Malla di Kusinara, mengadakan sidang dan menyatakan demikian: “Di kota kitalah Sang Bhagava telah wafat. Kita yang berhak atas semua relik dari Sang Bhagava.”

    Kemudian Brahmana Dona berkata kepada sidang dengan rangkaian sajak sebagai berikut :

    “Wahai saudara-saudara dengarlah sepatah kata dariku,
    Sang Buddha, Maha Guru yang kita junjung tinggi,
    Telah mengajarkan, agar kita selalu bersabar,
    Sungguh tak layak, jika timbul ketegangan nanti,
    Timbul perkelahian, peperangan karena
    Relik Beliau, Manusia Agung yang tak ternilai,
    Marilah kita bersama, wahai para hadirin,
    Dalam suasana persaudaraan yang rukun dan damai,
    Membagi menjadi delapan, peninggalan yang suci ini,
    Sehingga setiap penjuru, jauh tersebar di sana sini,
    Terdapat stupa-stupa yang megah menjulang tinggi,
    Dan jika melihat semua itu, lalu timbul dalam sanubari,
    suatu keyakinan yang teguh terhadap Beliau.”

    “Kalau begitu baiklah, Brahmana. Silahkan Brahmana membagi relik itu dalam ke delapan bagian.”

    Brahmana Dona berkata kepada sidang: “Baiklah para hadirin.”

    Kemudian dia membagi dengan adil, dalam delapan bagian yang sama, semua peninggalan Sang Bhagava itu. Setelah selesai membagi itu, ia berkata kepada sidang demikian: “Biarlah tempayan ini, saudara-saudara berikan kepadaku. Untuk tempayan ini akan kudirikan sebuah stupa, dan sebagai penghormatan, aku akan mengadakan perayaan”

    Tempayan itu lalu diberikan kepada Brahmana Dona.

    26. Kemudian suku Moriya dari Pippalivana mengetahui bahwa Sang Bhagava telah wafat di Kusinara.

    Mereka mengirim suatu utusan pada kaum Malla dari Kusinara, dan menyatakan: “Dari Kesatria asalnya Sang Bhagava, dan demikian jugalah kami. Berharga bagi kami untuk menerima sebagian dari relik Sang Bhagava. Untuk relik Sang Bhagava kami akan mendirikan sebuah stupa, dan sebagai penghormatan, kami akan mengadakan perayaan”

    Tetapi oleh karena relik sudah habis terbagi, maka ia dianjurkan demikian: “Tidak ada bagian dari relik Sang Bhagava yang masih tertinggal lagi. Sudah terbagi habis relik Sang Bhagava itu. Tetapi saudara dapat mengambil abu-abu dari peninggalan Sang Bhagava.”

    Mereka mengambil abu-abu dari Sang Bhagava, lalu dibawa pulang ke kotanya.

    [Dhātuthūpapūjā]
    27. Kemudian

    1. Raja dari Magadha, Ajatasattu, putera dari ratu Videhi, mendirikan sebuah stupa untuk relik Sang Bhagava, di Rajagaha dan sebagai penghormatan diadakan suatu perayaan
    2. Orang Licchavi dari Vesali mendirikan sebuah stupa untuk relik Sang Bhagava di Vesali dan sebagai penghormatan diadakan suatu perayaan
    3. Suku Sakya dari Kapilavasthu mendirikan sebuah stupa untuk relik Sang Bhagava di Kapilavasthu dan sebagai penghormatan diadakan suatu perayaan
    4. Suku Buli dari Allakappa mendirikan sebuah stupa untuk relik Sang Bhagava di Allakappa dan sebagai penghormatan diadakan suatu perayaan
    5. Suku Koli dari Ramagama telah mendirikan sebuah stupa untuk relik Sang Bhagava di Vethadipa dan sebagai penghormatan diadakan suatu perayaan
    6. Kaum Malla dari Pava telah mendirikan sebuah stupa untuk relik Sang Bhagava di Pava dan sebagai penghormatan diadakan suatu perayaan
    7. Brahmana Dona telah mendirikan sebuah stupa untuk Tempayan (bekas tempat relik Sang Bhagava) dan sebagai penghormatan diadakan suatu perayaan
    8. Suku Moriya dari Pipphalivana mendirikan sebuah stupa untuk abu Sang Bhagava di Pipphalivana dan sebagai penghormatan diadakan suatu perayaan

    Demikian terdapat delapan stupa untuk relik Sang Bhagava dan stupa yang ke-9 untuk tempayan dan stupa yang ke-10 untuk abu Sang Bhagava.

    Demikianlah telah terjadi pada waktu yang lalu.

    28. Terbagi delapan relik Sang Bhagava
    Beliau Yang Maha Tahu, kembangnya manusia,
    Tujuh bagian, di Jambudipa dipuja orang,
    Satu bagian, di Ramagama,
    Dipuja raja naga,
    Sebuah gigi dipuja di surga Tavatimsa.
    Sebuah gigi lagi dipuja di Kalingga, juga satu oleh raja naga.
    Karena pancaran cinta kasih yang tak terbatas,
    Tanah air ini mendapat berkah yang melimpah.
    Karena itu relik-relik Beliau dijaga dengan baik,
    oleh mereka yang turut memujanya, para dewa, para naga dan manusia bijaksana.
    Beliaulah yang paling tinggi dipuja.
    Maka itu hormatilah Dia dengan anjali,
    karena sungguh sulit adanya,
    ratusan Kappa belum pasti bertemu seorang Buddha
    seluruh relik 40 gigi yang besarnya sama,
    rambut kepala dan tubuh
    berturut-turut dibawa para deva
    ke berbagai semesta


    Salah satu sumber:
    Maha Parinibbana Sutta, Editor : Pandita Pannasiri, Disempurnakan : Cornelis Wowor, MA, Diterbitkan : CV. Lovina Indah, Jakarta 1989, kamus pali, suttacentra.net


    Membasmi Kesialan dan Menjadi Super Beruntung


    Bayangkan bahwa anda menjadi atlet Olimpiade dan berhasil memenangkan medali perunggu nomor lari atletik. Tentu Anda akan senang, gembira berbunga-bunga. Bayangkan tahun berikutnya Anda kembali mengikuti lomba atletik dan kali ini meraih medali perak. Tentu Anda semakin gembira.

    Betul demikian?

    Ternyata tidak. Riset menunjukkan bahwa atlit peraih medali perunggu lebih merasa puas dibandingkan dengan peraih perak. Mengapa demikian? Peraih medali perak relatif kurang puas karena merasa ‘dengan sedikit usaha lagi’ dia bisa meraih emas. Sedangkan peraih medali perunggu merasa sangat puas karena ‘untung tidak kurang usaha’ sehingga akhirnya masih bisa mendapat medali.

    Ada seorang Pramugari bernama Patricia. Salah satu penerbangannya terpaksa berhenti sementara karena ada penumpang mabuk dan bertindak kasar. Penerbangan lainnya tersambar petir. beberapa minggu kemudian penerbangannya terpaksa mendarat darurat. Patricia ini benar-benar pembawa sial dan juga sial. Dia juga berkali-kali putus dengan pacarnya, dan sepertinya selalu berada di waktu dan tempat yang salah.

    Hal-hal tersebut diatas akhirnya menimbulkan minat Professor Richard Wiseman, seorang Propesor bidang Psikologi dari University of Hertfordshire Inggris, Ia kemudian meneliti hal-hal yang membedakan orang-orang beruntung dengan orang-orang yang sial. Wiseman kemudian merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial.

    Jadi, di dalam salah satu penelitian tentang the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja!

    Lho kok bisa?

    Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi “berhenti menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran ini”. Kelompok sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar.

    Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah-tengah koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: “berhenti menghitung sekarang dan bilang ke peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $250!” Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Mereka memang benar2 sial!!.

    Ternyata memang benar bahwa orang-orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial. Penelitian Wiseman menunjukkan bahwa orang beruntung menggunakan ‘counter-factual thinking’ untuk meredam dampak dari kejadian buruk. Psikolog menyebut ‘counter-factual’ sebagai kemampuan imajinasi untuk membayangkan kejadian lain yang mungkin terjadi sebagai kemungkinan alternatif kejadian sesungguhnya yang kita alami.

    Menurut Profesor Richard Wiseman, keberuntungan bukan hanya sekedar tentang menciptakan dan menangkap peluang namun juga prinsip penting lainnya yaitu bagaimana cara kita menyikapi nasib buruk.

    Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya “scientific” ini, Wiseman menemukan 4 (empat) faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial:

    Sikap terhadap peluang.
    Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang.

    Bagaimana hal ini dimungkinkan?

    Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan- kemungkinan baru (klik!)

      Hilangkan Stres Dengan Kendali Gelombang Otak
      Oleh Yoddy Hendrawan

      Pernahkah Anda mengalami bencana yang datang beruntun dalam satu hari. Sebagai contoh, ketika Anda harus memberikan presentasi penting bagi kemajuan karier, tiba-tiba datang telepon dari rumah yang mengabarkan bahwa anak Anda yang masih kecil dilarikan ke rumah sakit karena mendadak badannya panas tinggi.

      Lalu ketika berusaha menenangkan diri dengan meneguk secangkir kopi, tanpa sengaja tangan tersenggol pinggiran meja sehingga sebagian kopi tumpah ke baju.

      Bisa juga saat itu Anda sedang berkonsentrasi penuh karena sedang menghadapi deadline pekerjaan. Tiba-tiba datang teman atau kerabat yang butuh pertolongan segera, atau ada berita menyedihkan yang datang dari orang yang paling kita sayangi. Tapi mungkin juga, kita memang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang “berbakat” mengubah suasana kerja atau suasana rumah menjadi tidak menyenangkan.

      Di saat muncul banyak masalah, baik di kantor maupun di rumah, kita cenderung bereaksi dengan panik dan memunculkan emosi negatif. Padahal kepanikan justru membuat kita semakin sulit berkonsentrasi. Jika konsentrasi buyar, kita menjadi semakin cemas.

      Apa yang bisa dilakukan dalam kondisi demikian?

      Sebenarnya hal-hal semacam itu akan lebih mudah diatasi kalau kita memahami cara bekerjanya otak. Kita perlu memiliki ketrampilan mengendalikan gelombang otak yang bisa memudahkan kita menenangkan diri di saat panik.

      Dengan memahami posisi gelombang otak, kita bisa mengatur mood sehingga selalu merasa bahagia, juga sukses dengan setiap hal yang kita lakukan. Untuk mencapai kebahagiaan lewat kendali gelombang otak, kita bisa belajar dari anak-anak. Pernahkah Anda memperhatikan anak-anak ketika sedang bermain dengan teman-temannya? Lihatlah betapa mudahnya mereka tertawa bahagia. Meskipun mungkin baru saja saling mencakar dan sama-sama menangis, tapi beberapa menit kemudian mereka seolah sudah melupakan tangisan dan sudah kembali bermain bersama dengan kompaknya.

      Menurut Erbe Sentanu dari Katahani Institute, hal itu karena anak-anak masih mudah menyetel gelombang otaknya memasuki frekuensi alpha-theta. Frekuensi alpha-theta ini normalnya kita alami ketika sedang rileks, melamun dan berimajinasi. Berbeda dengan kondisi beta yang dominan ketika kita dalam kondisi sadar sepenuhnya dan lebih banyak menggunakan akal pikiran.

      Memasuki frekuensi alpha-theta itu sebenarnya merupakan ketrampilan manusia yang alami. Namun, ketika mulai sekolah, kita dikondisikan menyetel gelombang otak yang dominan beta. Jadi, begitu menjadi orang dewasa , keterampilan memasuki kondisi alpha-theta itu hilang.

      Apalagi tuntutan kehidupan modern membuat pikiran orang terfokus untuk bekerja keras demi tuntutan materi dan kehidupan yang konsumtif meskipun terpaksa mengurangi waktu tidur dan istirahat. Padahal saat tidur manusia seharusnya merasakan keempat frekuensi.(klik!)

        Tidur Siang Tingkatkan Kreativitas Kerja

        JAKARTA – Jangan sepelekan tidur. Sebuah penelitian terbaru menyimpulkan bahwa manusia bisa bekerja lebih kreatif justru dengan menambah jam tidurnya. Studi yang dilakukan ilmuwan asal Inggris membuktikan bahwa 30 persen orang bisa mendapatkan ide-ide terbaiknya di tempat tidur.

        Sedangkan mereka yang bisa mendapatkan ide cemerlang di balik meja hanya 11 persen saja, demikian berdasar riset yang dilakukan East of England Development Agency (EEDA).

        Studi yang lumayan menggembirakan para karyawan ini seolah-olah menyerukan agar perusahaan menyediakan tempat tidur di tempat kerjanya. Dengan memberi kesempatan para pekerja tidur lebih banyak maka diharap mereka bisa bekerja lebih baik.

        Menggelikan?

        Tidak juga. Bill dan Camile Anthony, penulis buku The Art of Napping At Work atau Seni Tidur Siang di Sela Kerja, selama ini kita hidup dalam budaya napaphobic, yakni ketakutan atas tidur siang. Namun kebiasaan tersebut bisa diubah dengan mulai membiasakan tidur siang atau tidur sesaat di sela kesibukan kerja.

        ”Tidur siang secara sembunyi-sembunyi sebenarnya sudah banyak terjadi di kalangan pekerja, sementara tidur siang sebagai bagian dari istirahat dan jam kerja akan segera menjadi tren baru,” komentar Bill Anthony yang juga profesor di Boston University. Ia berpendapat bahwa tidur siang merupakan peristiwa alami, bahkan sama sekali tidak merugikan perusahaan dari sisi produktivitas. Dengan cara memberi waktu untuk tidur siang maka perusahaan tak perlu lagi sibuk mengawasi pekerjanya yang tidur siang dengan cara sembunyi-sembunyi.

        Richard Wiseman, seorang profesor psikologi menyatakan bahwa riset membuktikan otak kita lebih bekerja kreatif saat kita dalam kondisi rileks dan nyaman dibanding di bawah tekanan. Bahkan mimpi pada saat tidur menghasilkan kombinasi luar biasa antara ide-ide dan hal-hal yang suril. Keduanya menghasilkan solusi yang menakjubkan bagi sejumlah problem yang dihadapi saat bekerja.

        Tapi untuk bisa tidur siang dengan lelap, kita butuh situasi yang nyaman secara psikologis. Maka perlu didesain tempat khusus untuk tidur bagi karyawan di tempat kerja yang cukup nyaman pula. Dengan kenyamanan ini maka para pekerja bisa istirahat dengan rileks dan tak ubahnya dengan ”mengisi ulang” pikirannya.

        Fasilitas Tidur
        Usul pengadaan fasilitas untuk tidur siang ini didukung oleh Derk-Jan Dik, direktur Sleep Research Centre yang bermarkas di Surrey. Menurutnya usul ini bukan suatu hal yang tidak masuk akal. ”Yang menjadi masalah adalah bagaimana mengatur jadwal istirahat mereka. Sejumlah orang punya kebiasaan tidur yang berbeda dengan orang lain. Ada yang bisa tidur dalam waktu singkat, ada pula yang tidak,” ujarnya.

        Jam kerja dengan pola yang saat ini berlaku di banyak negara, yakni pukul sembilan hingga pukul lima dianggap tidak sesuai dengan pola tidur yang sehat bagi manusia. Maka diproposalkan untuk sedikit mengubah jam kerja. Survei ihwal kebiasaan tidur dilakukan selama dua tahun melalui internet. Berlaku bukan hanya di Inggris, namun secara global. Ditemukan bahwa mayoritas orang bisa menghasilkan kerja terbaiknya pada sore hari, yakni berjumlah 38 persen dari seluruh responden. Atau jika ingin yang lebih baik lagi adalah di pagi hari yang mencakup 40 persen responden.

        Pemimpin riset tersebut, Dr Chris Idzikowski, menyataan apabila hari-hari kerja dibuat lebih fleksibel sehingga membuat karyawan bisa mengikuti pola tidur yang berbeda-beda maka perusahaan bisa memperleh keuntungan. Hak tersebut bisa dilakukan dengan mengubah jam kerja menjadi pagi hari atau sore hari saja, disesuaikan dengan jam-jam terbaik mereka. Sedangkan apabila diusulkan pengadaan fasilitas untuk tidur siang, mau tak mau perusahaan harus memperpanjang jam kerja karyawannya.

        Ternyata sebagian perusahaan di Inggris dan Amerika menyambut baik usulan pengadaan fasilitas tidur tersebut. Seperti perusahaan akuntansi Deloitte Consulting di Pittsburgh, Amerika Serikat (AS) yang sudah mendesain ruangan tidur siang bagi karyawannya. Hasilnya cukup memuaskan. Perusahaan tersebut masuk ke dalam 100 besar perusahaan AS yang baik versi majalah Fortune tahun lalu.

        Sementara karyawan di seantero perkantoran New York yang tidak disediakan fasilitas tidur siang oleh perusahaannya bisa menikmati fasilitas di Empire State Building yang disediakan oleh MetroNaps. Dengan membayar 14 dolar AS, mereka bisa tidur nyenyak selama 20 menit, ditambah dengan pijatan lembut oleh alat elektrik serta sehelai handuk beraroma lemon untuk menyegarkan diri ketika hendak kembali bekerja. Kapan ya fasilitas macam itu bisa dinikmati oleh para karyawan di Jakarta atau Indonesia? (SH/merry magdalena)

      Dari frekuensi beta di mana kita dalam kesadaran penuh, gelombang otak turun ke alpha ketika kedua mata tertutup, lalu masuk ke theta, dan akhirnya ke delta saat kita tertidur pulas tanpa mimpi. Karena waktu tidur kurang, maka kita cenderung kurang mengalami kondisi alpha-theta, akibatnya kita makin mudah stres.

      Alfa-Theta, membuat tenang, bahagia dan kreatif. Kemampuan untuk secara temporer mengubah kesadaran diri satu frekuensi ke frekuensi yang lain adalah keterampilan yang sangat penting, karena efeknya akan membantu menyeimbangkan otak, hati, dan jiwa. Keterampilan itu membuat seseorang menjadi pandai membaca situasi dan pandai menempatkan diri dalam suasana apapun sehingga seolah-olah sellau berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Tentunya hal itu sangat penting untuk mendaki tangga kesuksesan dan mencapai kebahagiaan.

      Ketika masalah berdatangan dan mulai merasa stres, itulah saat yang tepat untuk mulai rileks,menurunkan vibrasi otak dan memasuki frekuensi alpha-theta. Begitu juga ketika pekerjaan kita membutuhkan pikiran-pikiran kreatif. Memasuki kedua frekuensi itu akan membantu memunculkan inspirasi yang kita butuhkan.

      Menarik lagi, kedua frekuensi tersebut juga merupakan pintu gerbang menuju pikiran bawah sadar yang dibutuhkan untuk melakukan self hypnosis, mendapatkan intuisi dan melakukan penyembuhan. Masalahnya bagaimana caranya memasuki frekuensi alpha-theta dengan cepat?

      Sebenarnya usaha untuk memasuki level alpha-theta secara sadar telah dilakukan orang sejak lama, yaitu dengan kebiasaan berdzikir yang membuat doa makin khusyuk, latihan-latihan meditasi, yoga, atau taichi.

      Latihan-latihan itu bisa sangat membantu meningkatkan kemampuan kita untuk mengubah kesadaran otak. Para penyembuh yang menggunakan energi dan tenaga dalam, karena tuntutan pekerjaannya umumnya telah menuai ketrampilan ini secara otomatis.

      Menurut Erbe Sentanu, selain cara-cara tersebut, otak juga bisa dilatih dengan teknologi audio yang disebutnya digital prayer. Teknologi berupa CD ini berisi bunyi-bunyian yang menimbulkan gelombang tertentu yang dengan mudah akan diterima otak.

      Caranya yaitu dengan melakukan entertainment. Yaitu istilah yang digunakan untuk melatih belahan otak kiri dan otak kanan agar mau bekerja sama dengan baik. Otak dengan tingkat kerjasama yang tinggi, umumnya akan membuat orang melihat kehidupan dengan lebih objektif, tanpa ketakitan dan kecemasan.

      Selain lebih mudah memasuki kondisi khusuk atau rileks yang dalam, juga memiliki kemampuan memfokuskan konsentrasi yang lebih baik. Selain itu karena kondisinya lebih sinkron dan seirama, otak akan mengeluarkan senyawa kimia penyebab rasa nyaman dan nikmat dalam jumlah besar sehingga terjadi relaksasi secara alami. Nampaknya mereka yang tidak terbiasa dengan latihan-latihan meditasi, yoga, tai chi, dan lainnya cara ini bisa membantu.

    Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New York hendak menjual toko permata nya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria di sebelahnya: “Mr. Buffet!” Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung.

    Tapi Helzber berpikir lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah Warren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang menawarkan jaringan toko permata nya. Maka Helzberg segera menyapa pria di sebelahnya, dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet. Perkenalan pun terjadi dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Warren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung kepada Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet setuju membeli jaringan toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.

    Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.
    Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan “hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari “gut feeling”. Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan.

    Ada metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur.

    Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam. Intuisi itu sering muncul dalam berbagai bentuk, misalnya: – Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. “Gue kok tiba2 deg-deg an ya, mau dapet rejeki kali”, semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat2 tertentu yang harus Anda maknakan. Contohnya, merasa tiba-tiba excited setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu. Beberapa tahun kemudian ternyata bekerja di kantor tersebut.

    Selalu berharap kebaikan akan datang.
    Orang yang beruntung ternyata selalu “Ge-eR” terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan menceritakan optimisme dan harapan.

    Mengubah hal yang buruk menjadi baik.
    Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya.

    Dalam salah satu tesnya, Prof Wiseman meminta tanggapan kepada kelompok orang beruntung dan orang yang merasa sial atas suatu kejadian imajinatif di bank. Mereka diminta membayangkan sedang berada di bank saat tiba-tiba terjadi perampokan. Tanpa sengaja perampok menembakkan senjata sehingga mengenai lengan tangan dan menyebabkan luka parah. Para partisipan percobaan diminta memberikan tanggapan tentang hal itu.

    Apakah kejadian ini untung atau sial?

    Kelompok orang yang merasa tidak beruntung cenderung mengatakan bahwa mereka sial karena berada di bank pada saat yang salah. Kelompok orang yang beruntung sebaliknya mengatakan bahwa situasi bisa lebih buruk dari yang mereka alami. “Untung cuma kena tangan, coba kalau kena kepala…” demikian komentar partisipan yang masuk kelompok orang-orang beruntung. Partisipan lain bahkan mampu membalik nasib buruk itu menjadi kemungkinan nasib baik. “Kamu bisa jual ceritamu ke koran dan mendapat uang… “,ujarnya.

    Orang beruntung cenderung mambayangkan kejadian yang mungkin lebih buruk, sehingga mereka merasa beruntung dengan kejadian yang telah menimpa mereka. Hal ini membuat mereka merasa lebih baik tentang nasib mereka, membuat mereka tetap optimis dengan masa depan, dan meningkatkan kemungkinan untuk menikmati kehidupan yang beruntung di kemudian hari.

    Setelah 10 tahun meneliti faktor keberuntungan, Profesor Richard Wiseman mengambil kesimpulan bahwa keberuntungan lebih disebabkan pikiran dan perilaku. Lebih penting lagi bahwa setiap orang mempunyai kesempatan meningkatkan peruntungan di dalam hidupnya.

    (klik!) Untuk meningkatkan keberuntungan, menurut dia, bukanlah merupakan hal mistis.

      Jimat Bisa Membawa Keberuntungan
      Selasa, 06 Jan 2004

      Hasil studi tim peneliti dari Inggris menemukan bahwa jimat keberuntungan bisa benar-benar membawa keberuntungan, tapi hanya dalam pikiran orang yang membawanya. Dalam realitas, peluang sebenarnya memang sudah ada di sana, bukan karena adanya jimat tersebut.

      Walau begitu, mereka yang membawa jimat kebanyakan merasa amat beruntung dan merasa lebih percaya diri. Studi tersebut dilakukan oleh tim peneliti dari Psychology Departmen, University of Hertfordshire, yang dipimpin oleh Profesor Richard Wiseman.

      Hasil studi menunjukkan membawa jimat keberuntungan saat mengambil nomor lotere, sama sekali tak membantu untuk menang. Akan tetapi, 30% dari mereka yang membawa jimat mengaku keberuntungan mereka meningkat dengan mendapatkan nomor-nomor yang ‘menyerempet’.

      “Intinya, jika dipakai untuk hal-hal yang amat tergantung dari peluang, seperti mendapatkan nomor lotere, jimat tidak ada efeknya,” kata Profesor Richard Wiseman. “Namun untuk keberuntungan dalam sisi kehidupan lainnya, jimat membantu orang bersangkutan memperbesar kesempatan untuk mendapatkannya.”

      Hal itu disebabkan pembawa jimat umumnya merasa lebih percaya diri, aman, dan optimis akan masa depan mereka, tambahnya.

      Dalam studi tersebut, tim peneliti meminta sekitar 100 orang yang tersebut di Inggris untuk membawa ulang logam jaman Ratu Victoria yang selama banyak yang menganggapnya sebagai jimat keberuntungan.

      Partisipan diminta untuk membawa jimat tersebut dan mencacat keberuntungan mereka dalam hal kesehatan dan keuangan. Mereka yang melaporkan jimat tersebut ada efeknya, mengatakan bahwa keberuntungan mereka naik sampai 50%.

      Ketika studi berakhir, 70% dari partisipan mengatakan mereka akan terus membawa koin keberuntungan tersebut.

    Latihan yang diberikan Wiseman adalah dengan membuat “Luck Diary”, buku harian keberuntungan. Awalnya setiap murid diminta untuk menggambarkan berapa beruntung dia dan berapa puas mereka dalam enam hal utama di kehidupannya.

    Setiap hari, peserta harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi. Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka.

    Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yang mereka tuliskan.

    Setelah itu mereka diajari empat prinsip keberuntungan dan dijelaskan bagaimana orang-orang yang beruntung menggunakan hal itu dalam kehidupannya. Dijelaskan pula bagaimana kiat sederhana untuk berperilaku seperti orang beruntung, misalnya menggunakan berbagai cara untuk menciptakan peluang, mengubah rutinitas dengan mencoba hal baru, dan berimajinasi kejadian yang lebih buruk daripada yang sedang ia hadapi sekarang.

    Para murid diminta menggunakan kiat itu selama beberapa bulan.

    Hasilnya dramatis. Sebanyak 80% murid menjadi lebih bahagia, lebih puas dengan kehidupannya, dan menjadi lebih beruntung. Yang awalnya sial berubah menjadi beruntung, dan yang awalnya beruntung menjadi lebih beruntung lagi.

    Dan ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka, mereka semakin sadar betapa beruntungnya mereka. Dan sesuai prinsip “law of attraction”, semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka.

    Masih ingat pramugari “sial” Praticia di atas?

    Nah, Patricia merupakan salah satu partisipan “sial” yang ikut dalam program latihan yang diberikan oleh Prof Wiseman dan setelah ikut pelatihan tersebut, Patricia akhirnya menjadi orang yang berbeda. Segala kesialannya lenyap, tak lagi mengalami penerbangan bermasalah, dan menjadi lebih bahagia dengan hidupnya. Murid yang lain menemukan pasangan hidup lewat pertemuan tak sengaja, dan ada juga yang mendapat promosi pekerjaan lewat suatu kesempatan tak disangka.

    Digubah dari sumber asli: