Allah Semua Agama Itu Ternyata Sama Saja!


Terdapat argument bahwa:
JIKA TUHAN dan/atau HARI PENGHAKIMAN TIDAK ADA, maka yang percaya tuhan, TIDAK AKAN RUGI selain cuma terbuangnya waktu karena ritual dan pemujaan. Tapi JIKA TUHAN dan/atau HARI PENGHAKIMAN ADA, maka YANG PERCAYA TUHAN akan UNTUNG, KEKAL di surga selamanya dan YANG TIDAK PERCAYA TUHAN akan MERUGI, KEKAL SELAMANYA di NERAKA” [Lihat: Sarasamuccaya dan Taruhan Pascal]

Cilakanya,
ada lebih dari 4200 agama di dunia ini dan kemungkinan lebih dari 72 Tuhan yang berbeda [Valentina Izmirlieva, All the names of the Lord: lists, mysticism, and magic, hal.112] atau 950 Tuhan yang berbeda [Singh, Prithi Pal (2006). The History of Sikh Gurus, hal.176] atau 100 Tuhan yang berbeda [Swami Dayananda Sarasvati, “Satyarth Prakash”, hal.87].

Mari kita asumsikan ada 72 tuhan berbeda bagi 4200 agama

Sekarang,
anggaplah ada 6.7 M manusia dan ½-nya beragama Kristen, Islam dan Yahudi, sehingga ada 3 Tuhan berbeda, sedangkan sisanya 69 Tuhan yang berbeda.

Sehingga,
Jika TUHAN ADA dan GALAK, HARUS MENYEMBAHNYA GAK BOLEH YANG LAIN, maka HANYA 1/72 penyembah tuhan yang akan masuk surga, SISANYA TIDAK!

Ini pun masih ada kendala pada beberapa agama tertentu, karena ternyata, ada batasan kesanggupan TUHAN! Misalnya: Tuhannya Yahudi hanya sanggup menjamin 144.000 orang saja yang masuk surga, Tuhannya Kristen, hanya sanggup menyediakan LAHAN seukuran 3,729,583 Km2 (12.000 stadia2 dan inipun, masih belum dipotong Ruang terbuka hijau, yang misalnya, sebesar 30% untuk aturan di Indonesia[↓]) dan Tuhannya Islam hanya sanggup menanggung 4.97 juta porsi surgawan[↓], di mana 1/3nya pria (70.000 tidak dihisab, sisanya, per 1000 orang dari 70,000 membawa 70.000 orang lainnya dihisab dulu dan bahkan jika jumlah itu GAGAL TERCAPAI, maka akan dipenuhi dari kalangan ARAB BADUI)

Jadi,
Sejak ADAM sampai KIAMAT, akan ada RIBUAN MILYAR ORANG KE NERAKA baik IA PERCAYA TUHAN MAUPUN TIDAK. Bahkan untuk yang percaya tuhan Kristen sekalipun, dengan jumlah manusia yang mati dari ADAM s.d KIAMAT, maka lahan surga akan menjadi sesempit KAKUS ukuran 1×1 M2! Ini jelas GILA untuk masih saja percaya pada TUHAN yang akan menempatkannya kekal selamanya di tempat seukuran kakus!

Masalah berikut yang mengganjal, Tau darimana, tuhan yang anda sembah pasti tuhan yang BENAR?

[Karena dalam hati anda tahu persis bahwa di kitab disebutkan bahwa bumi berbentuk piringan datar dengan cakrawala berbentuk seperti qubah, ITU JELAS TIDAK BENAR. Bahwa Bumi diciptakan mendahului langit ITU JELAS TIDAK BENAR. Bahwa Setelah bumi dan langit diciptakan baru kemudian menciptakan Matahari, bulan dan bintang, maka ITU JELAS TIDAK BENAR. Bahwa Matahari berjalan dari Timur ke Barat dan kemudian sujud, ITU JELAS TIDAK BENAR. Bahwa Matahari mengelilingi bumi ADALAH JELAS TIDAK BENAR. Bahwa kegunaan bintang diciptakan adalah sebagai alat pelempar setan ADALAH JELAS TIDAK BENAR..Namun apa boleh buat, kesemuanya itu memang demikianlah yang tertulis di kitab 3 agama yang dipeluk HAMPIR 1/2 POPULASI MANUSIA INI]

Sementara,
jika TUHAN ADA dan BAIK, maka, mereka yang PERCAYA maupun TIDAK, AKAN TETAP MASUK SURGA, ATEIS DAPAT KEUNTUNGAN TAMBAHAN, yaitu TIDAK ADA KERUGIAN WAKTU dan KETAKUTAN.

APALAGI JIKA TERNYATA TUHAN TIDAK ADA, MAKA ATEIS TIDAKLAH BUANG WAKTU SIA-SIA DENGAN RITUAL PEMUJAAN dan juga BEBAS KETAKUTAN DARI SEJAK IA MENJADI ATEIS!

Tidak semua orang yang hidup di negara komunis tidak percaya tuhan, dan tidak semua orang yang hidup di negara non komunis percaya adanya tuhan.

    note:
    A-Gnostic [tanpa+pengetahuan]: Masih membutuhkan bukti untuk meyimpulkan adanya Tuhan. A-theis [Theos, Theoi (Yunani) [theein = memerintah], dewa; thea [dewi, feminim]: Telah menyimpulkan bahwa Dewa-Dewi sebagai sang penguasa/pencipta adalah tidak ada. Setelah perkembangan nasrani (di Perjanjian Baru), arti thea/os berubah menjadi Tuhan [sang Penguasa/pencipta] yang dibuat untuk membedakan dewa vs Tuhan dan derajat dewa dibuat lebih rendah dari Tuhan, sehingga arti A Theis pun berubah menjadi tidak percaya TUHAN.

Siapa/apa sih Tuhan itu?

Hindu bilang Brahman, Muslim mengatakan Allah SWT, Kristen mengatakan Allah Bapa (plus 2 objek), Yahudi bilang Elohim/YHVH [Yahwe/Yehova di baca Adonay]/ Isra El [Allah Israel]/Yakub .

Nah, jika Muslim ditanya tentunya mereka akan katakan bahwa, “Itu tercantum di AQ [37.35 dan 47.19], disampaikan oleh Muhammad, yang berasal dari kata-katanya Allah sendiri!”

Islam mengakui bahwa Allah yang sama ini juga menurunkan kitab-kitab sebelumnya dan membenarkan kitab-kitab sebelumnya [Al Maidah 5:46, 5:48, 5:68]

Jadi seharusnya Muslim dapat menerima bahwa: Allah Swt = Allah Bapak = Adonay Isra-EL [Allah Israel]

Di manakah Allah SWT berkantor dan/atau berkediaman?

Bukan di langit namun di Ufuk, yaitu area di mana surga/Jannah/langit, Air dan BUMI dapat bertemu! Namun kemudian, Allah memutuskan sepihak untuk menetap di Ka/bah atau Masjidil Haram yang letaknya di sebuah tempat tinggi/bukit (Bukhari 4.55.583: Malaikat berkata padanya, ‘Jangan takut diabaikan, karena ini adalah Rumah Allah yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya dan Allah tidak pernah mengabaikan umat-Nya”. Rumah ini PADA WAKTU ITU ADA DI TEMPAT TINGGI YANG MENYERUPAI SEBUAH BUKIT KECIL, dan banjir datang, mengalir ke kanan dan kiri … Abraham berkata, ‘Allah telah memerintahkanku untuk membangun rumah di sini’ sambil dia MENUNJUK KE BUKIT TINGGI (“أَشَارَ إِلَى أَكَمَةٍ مُرْتَفِعَةٍ عَلَى”) dari SEKITARNYA) [Lihat: Argument untuk Islam[↓]]

Menurut PL (Perjanjian Lama), Adam, Abraham, Yakob, Iskak dan Musa pernah diperintahkan Allah untuk menghadapNya ke sebuah gunung. Beberapa gunung disebut sebagai tempat Allah, misalnya gunung TUHAN/Y@hovih tempat Allah Yakub [Mikha 4:2], juga gunung Horeb (padang pasir) / gunung Sinai (belukar), gunung Ebal (batu) dan kembarannya gunung Gerizim (terpotong), dll [Lihat: Argument untuk Kristen[↓]]

Alkitab menyatakan bahwa Allah berdiam di surga/langit [Bahasa Yahudi = Shamayim, di Perjanjian Lama: 420x; Bahasa Yunani = Ouranov/Ouranos, di Perjanjian Baru: 284x]. Dalam mitologi, Ouranos = Shamayim = Dewa langit:

  • Mitologi Yunani dari Penyair Hesiod (750-650 SM):
    Pada awalnya, Chaos, dari ketiadaan, yang pertama ada secara partheonogenesis (asexual, spontan). Dari Chaos, munculah sGaia (Bumi), Eros (Hasrat), Tartarus (Dunia Bawah), Erebus (Kegelapan) dan Nyx (Malam). Dari Erebos – Nyx muncul Aither (terang) dan Hemera (Hari). Dari Gaia muncul Ouranos (Langit), Ourea (Pegunungan) dan Pontus (Laut). Dari Ouranos – Gaia muncul: 12 Titan (Oceanos, Coeus, Crius, Hyperion, Iapetos, Theia, Rhea, Themis, Mnemosyne, Phoebe, Tethys dan Kronos). Dari Kronos – Rhea muncul Zeus dan dengan seluruh dewa bertempat tinggal di gunung Olympus (arti: langit/Uranus. Uranus = planet ke-7 dalam tata surya)
  • Kosmogoni Pantheon (Asal usul semesta, pan = semua; theon = dewa), Bangsa Ugarit mengenal ‘Ilhm (= Elohim) atau anak-anak EL (Alkitab: “Anak-anak Tuhan”). Philo dari Byblos (sejarahwan Punisia/Kanaan, 64 M -141 M) berdasarkan Sanchuniathon di Berythus (Beirut): Sang penciptanya bernama Elion (Alkitab: El ELyon = “Tuhan yang Maha Tinggi”, Kej 14.18-19), bapak para Dewa. Sumber Yunani: Ia menikah dengan Beruth (Beirut = nama kota). Pernikahan ilahi dengan kota ini, paralel dengan Alkitab: Melkart vs Tyre, Yahwe vs Yerusalem, Tanit vs Baal Hammon di Chartage. Dari perkawinan antara El Elyon dan pasangannya lahirlah Uranus dan Ge (Yunani: Langit dan Bumi) mirip Kejadian 1.1: “Awalnya, Tuhan (Elohim), menciptakan Shamayim (langit) dan bumi (Eretz)”. Ini berasal dari kepercayaan bangsa kanaan. Juga paralel dengan kepercayaan babilonia Anunaki (Langit dan Bumi, Shamayim dan Eret) [Judaism, wikipedia, hal.505]
  • Mitologi Punisia/Kanaan:
    El adalah bapak para Dewa. Bapak dari El adalah Shamayim (Dewa langit). Bapak Shamayim adalah Elioun (Elyon: Yang tertinggi). Eusebius dari kaesarea (263 – 339 M): Philo dari byblos mengidentifikasi Kronos identik dengan El (Elos). Israel adalah salah satu nama julukan dari EL. El menyunat anaknya dan mengurbankan anaknya pada bapaknya, Shamayim (dewa langit). El memberontak pada Shamayim dan mengambil tahtanya. Eusebius mengatakan bangsa Punisia mengidentifikasi El identik dengan Kronos. Dalam legenda Yunani, Kronos memberontak pada Ouranos [“A Psychoanalytic History of the Jews”, Avner Falk, hal.65-66]
  • El = pencipta dari pencipta [Al/Ilah/Yah/Eli = kekuatan atau Eloha/Elyon/El Lyon = Tuhan yang tertinggi atau Toru ‘El (Ugarit = Tuhan Sapi Jantan). Di Islam EL = Al-lah]. Di legenda Ugarit, Istri El: Athirat [Akhirat] dan Rahmay [Rahmat/murah hati]. El adalah nama generik untuk Ba’al, Yahwe [tulisan: yhvh, Yehova, baca: adonay] punya istri dan cerai bernama Aserah [2 raja 23:15], Kemudian, Yahwe dianggap sederajat dengan dewa Petir Bael
  • Terdapat frase “malkhut shamayim” (kerajaan Tuhan. malkhut = kerajaan. Jadi shamayim = Tuhan)

Jadi kesimpulannya: Allah Swt = Allah Bapak = El = Elyon = IsraEl  = Shamayim = Ouranos!

Terdapat persamaan mitologi antara bangsa Hittie dan Yunani ketika berbicara mengenai Dewa Langit mereka, yaitu Ouranos/Yunani dan Anu/Hittie sama-sama terusir oleh anaknya (Kronos/Yunani dan Kunarbi/Hittie) dan sama-sama mengawini Bumi [“A Brief Guide to the Greek Myths“, Stephen P. Kershaw].

Menariknya,
pada inskripsi Boghaz-koi yang ditemukan di Hatussa, Turki pada tahun 1907, terdapat perjanjian perdamaian antara raja Hittie (Shubbiluliuma) vs Raja Mittani (Mattiuaza) dan menyebutkan nama 4 dewa Hindu, yaitu Varuna, Mitra, Indra dan Nasatyas (Aswin).

Varuna dalam mitologi Hindu adalah dewa langit baru yang menggantikan Dyaus. Pasangan Dyaus adalah Pertivi (Bumi) [Brihadaranyaka Upanisad RV 4.20]. Di Maitriyani Upanisad, Varuna disebut sebagai pelindung langit (MS RV 3.4) dan Atharva Veda menyatakan saat malam Varuna adalah Agni, pagi adalah Mitra dan tengah hari adalah Indra. Sementara itu dalam Avesta (Agama Iran kuno) disebutkan Varuna yang melingkupi langit [“The Indian Theogony“, Sukumari Bhattacharji, mulai hal.23]. Putri Varuna (Laksmi) dan putri Ouranos (Aprhodite), keduanya, muncul dari lautan dan keduanya diasosiasikan dengan planet Venus.

Dalam tradisi India, Toru ‘El [Tuhan Banteng], punya paralelnya yaitu dewa Indra/Sanka/Sakra/Sakka = Sapi Jantan penembus Benteng [Rg Veda 2.12.12]

Kesimpulannya: Allah Swt = Allah Bapak = El = Elyon = IsraEl = Shamayim = Ouranos = Varuna = Indra = Sakka!

Menurut Hindu, para deva merupakan sinarnya Brahman/Brahma, sebutan bagi Tuhan!

    Brahman/Brahma
    Akar kata kerja brh yang artinya ‘tumbuh’ (brhati) dan menyebabkan tumbuh (brhmayati). Dalam Atharvaira Upanisad, “brhati, bhmayati tasmad ucyate parabrahma” (Itu disebut Brahma karena itu bertumbuh dan menyebabkan tumbuh).

    • Terjemahan Taittiriya Upanishad di atas berasal dari Taittiriya Upanishad 3.1.1, “atra visaya-vakyam ca bhrgur vai varunir varunam pitaram upasasara. adhihi bho bhagavo brahma ity arabhya yato va imani bhutani jayante. yena jatani jivanti. yat prayanty abhisamvisanti tad vijijnasasva tad brahma iti. tat tejo ‘srjata ity adi ca.”. Artinya: Brhgu menghampiri, Varuna, leluhurnya, dan berkata, “Yang mulia ajarkan aku tentang Brahma. Varuna menjawab, ‘DaripadaNya segala mahluk dilahirkan, Oleh-Nya mereka hidup dan kepada-Nya mereka kembali”
    • Untuk lebih memastikan, kita ambil juga Taittiriya Upanishad 2.1.1, “Brahmavid apnoti param tad esa bhyukta, Satyam jnanam anantam Brahma Veda, Nihitam guhayah parame vyman so’ snute, Kaman vipascita iti”. Artinya: Ia yang mengetahui Brahma sebagai kebenaran, pengetahuan dan tidak terbatas, Ia yang bersembunyi di dalam rongga hati dan Ia yang sangat jauh di angkasa. Ia yang terpenuhi segala keinginannya dalam kesatuan dengan Brahma, Ia yang maha mengetahui. [Teja surya.com: Sloka Mantra]
    • Aitareya Upanishad 3.3, “prajnānam brahma”. Artinya: Brahma adalah Pengetahuan
    • Brihadaranyaka Upanishad 4.4.5, “ayam ātmā brahma”. Artinya: Atma adalah Brahma 
    • Brihadaranyaka Upanishad 1.4.10, “aham brahmāsmi”. Artinya: aku adalah Brahma
    • Chhāndogya Upanishad 3.14.1-2, “sarvam khalv idam brahma, tajjalaniti santa upasita”. Artinya: Semua yang ada di dunia adalah Brahma, menurut Ramanuja, kalimat “tajjalan iti”, tidak berarti bahwa Jagad raya adalah Brahma namun Jagad raya diliputi, lahir dari dan lebur ke dalam Brahma, Seperti ikan lahir di air, hidup di air dan berakhir di air tapi ikan bukanlah air
    • Mandukya Upanisad ayat 2, “sarvam hyetad brahmāyamātmā brahma soyamātmā chatushpāt”. Artinya: Semua adalah Brahma; Ia adalah Atma; mempunyai 4 bagian [Wikipedia: Brahman]

Kesimpulannya: Allah Swt = Allah Bapak = El = Eloha = Elyon = Isra El [Allah Israel] = Shamayim = Ouranos = Varuna = Indra = Sakka = Brahman/Brahma

Berkenaan dengan penciptaan, terdapat hal menarik dalam kitab suci tertua Hinduisme:

    Siapa yang tahu, siapa yang akan memberitahu dari mana dan mengapa penciptaan ini lahir, karena dewa-dewa lahir setelah penciptaan ini. Sehingga, siapa yang tahu dari siapa semesta ini dilahirkan. Dari siapa penciptaan ini dilahirkan, Ia mendukung atau tidak. Ia bertahta di langit tertinggi, mungkin Ia tahu atau mungkin tidak. [Rgveda 10.129.6-7], bahkan Visnu-pun ternyata merupakan deva di alam yang sama dengan mereka semua [RV 1.22.1-21, terutama mulai di hymne 16-21]

Dalam Buddhism, Brahma dan asal usul Tuhan/Issara/Isvara, dibahas dalam DN 1/Brahmajala Sutta:

    ..Setelah rentang waktu yang panjang, ketika dunia ini menyusut/penghancuran [samvattati]. Pada saat penyusutan/penghancuran, sebagian besar makhluk terlahir di alam Brahmā Ābhassara. Dan di sana mereka berdiam, dengan ciptaan-pikiran [Mano mayo], dengan kegirangan [Piti] sebagai penunjang, mereka hidup demikian selama waktu yang sangat lama.

    ..Setelah rentang waktu yang panjang, ketika dunia ini mulai mengembang [vivattati]… sebuah tempat Brahmā [Brahma vimanam] muncul. Dan kemudian satu makhluk, karena habisnya masa kehidupannya atau jasa baiknya, jatuh dari alam Ābhassara dan muncul kembali dalam tempat Brahmā. Dan di sana ia berdiam, dengan ciptaan-pikiran, dengan kegembiraan sebagai penunjang/makanan, bercahaya, melayang diantara batasan [antalikkha → sankrit: antar/diantara + īkṣa/tampak/batasan], agung – dan mereka hidup demikian selama waktu yang sangat lama.’

    Kemudian dalam diri makhluk ini yang telah menyendiri sekian lama, muncullah kegelisahan, ketidakpuasan, dan kekhawatiran, ia berpikir: “Oh, seandainya makhluk lainnya muncul ke sini!”

    dan makhluk-makhluk lain, karena habisnya masa kehidupan mereka atau jasa-jasa baik mereka, jatuh dari alam Ābhassara, muncul kembali di dalam tempat Brahmā sebagai teman-teman bagi makhluk ini. Dan di sana ia berdiam, dengan ciptaan-pikiran, … dan mereka hidup demikian selama waktu yang sangat lama.’

    Dan kemudian, makhluk yang pertama muncul di sana berpikir:

    “..mahābrahmā (Brahma yang Agung) abhibhū (penakluk) anabhibhūto (yang tak tertaklukan) aññadatthudaso (melihat segalanya) vasavattī (maha menguasai/maha sakti) issaro (Tuhan/yang termulia) kattā (pembuat) nimmātā (pencipta) seṭṭho (pemilik/terbesar) sajitā (pemberi perintah) vasī (paling awal) pitā bhūtabhabyānaṃ (Ayah dari segala yang ada dan akan ada) Makhluk-makhluk ini diciptakan olehku”

    Mengapa demikian?

    Karena akulah yang pertama berpikir: ‘Oh, seandainya beberapa makhluk lain muncul ke sini!’ itu keinginanku, dan kemudian makhluk-makhluk ini muncul!”

    Makhluk-makhluk yang muncul belakangan berpikir: “Ini, Teman-teman, adalah Brahmā, Mahā-Brahmā, sang penakluk, yang tidak tertaklukkan, maha melihat, mahasakti, yang termulia, pembuat dan pencipta, penguasa, pengambil keputusan dan pemberi perintah, Ayah dari semua yang telah ada dan yang akan ada.

    Mengapa demikian?

    Kita telah melihat bahwa dia adalah yang pertama di sini, dan bahwa kita muncul setelah dia.”’

    ‘Dan makhluk yang muncul pertama ini hidup lebih lama, lebih indah dan lebih sakti daripada makhluk lainnya. Dan akan terjadi bahwa beberapa makhluk jatuh dari alam itu dan muncul di dunia ini. Setelah muncul di dunia ini, ia pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga untuk menjalani kehidupan tanpa rumah. Setelah pergi, ia melalui usaha, upaya, penerapan, ketekunan dan perhatian benar mencapai suatu kondisi tertentu dari keterpusatan pikiran hingga mampu mengingat kehidupan sebelumnya yang terakhir, tetapi tidak mampu mengingat yang sebelum itu.

    Dan ia berpikir: “Brahma pencipta itu [bhavaṃ brahmā mahābrahmā], … ia menciptakan kami, dan ia kekal, stabil, abadi, tidak mengalami perubahan, sama selamanya. Tetapi kami yang diciptakan oleh Brahmā itu, kami tidak kekal, tidak stabil, berumur pendek, ditakdirkan terjatuh, dan kami datang ke dunia ini.”

Cerita mengenai Maha pencipta ini mengalami pengulangan-pengulangan dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Terkadang terdapat beberapa mahluk yang mempunyai “kemampuan” untuk berkomunikasi dengan mahluk dari alam yang lebih tinggi atau bahkan beberapa mahluk dari alam yang lebih tinggi “berkenan” untuk berkomunikasi dengan mahluk-mahluk alam rendahan.

Komunikasi tersebut terkadang berupa validasi atas cerita yang sudah ada atau menceritakan baru sama sekali ketika sang mahluk rendahan ternyata belum mengetahui adanya sang maha pencipta ini atau melengkapi cerita yang sudah ada atau bahkan melakukan koreksi atas cerita yang diketahui oleh sang mahluk rendahan ketika cerita tersebut ternyata tidak sama dengan “pengetahuan” yang dimiliki oleh mahluk dari alam yang lebih tinggi.

Bagaimana dengan Varuna dan Indra?

Di Atanatiya Sutta disebutkan anak-anak dari 4 Raja surga [Catur Maharajika, 1 level di atas alam manusia dan berapa level dibawah Alam Brahma] semuanya disebut sebagai Indra dan salah satu mahluk surga yang menonjol di alam itu adalah Varuna!

Waduh, ternyata baik Brahma, Indra dan Varuna ternyata cuma sekedar nama Deva-Deva!

Malah dalam Buddhisme, meyakini adanya Tuhan seperti definisi kaum Samawi/non Samawi sebagai Maha Pencipta, Pengatur, Hakim Akhir dan/atau menyematkan Sang Buddha sebagai Tuhan/ketuhanan disebut sebagai Pandangan salah.

Kongres pertama dari Dewan Sangha Buddhis Dunia (WBSC: World Buddhist Sangha Council), Colombo, Sri Lanka, pada 27 Januari 1967 secara bulat menyepakati 9 point. Di point no. 3 adalah tidak meyakini bahwa dunia ini diciptakan dan diatur oleh tuhan. Pendapat ini, selain sutta di atas, juga didukung, sutta lainnya diantaranya AN 3.61/Tittha sutta, tentang 3 pandangan salah:

    ada 3 Pandangan (titthāyatanāni), yaitu: Apapun yang dialami seseorang, apakah itu perasaan: menyenangkan, menyakitkan atau perasaan bukan menyenangkan bukan menyakitkan, semua itu:

    disebabkan oleh tindakan lampau/pubbekatahetū;
    disebabkan oleh kuasa TUHAN [Issaranimmānahetū]
    “Issaranimmānahetū’ ti issaranimmānakāraṇā, issarena nimmitattā paṭisaṁvedetī ti attho” (Disebabkan kuasa tuhan, Karena kuasa TUHAN, Dirinya mengalami dari kuasa tuhan);
    tanpa penyebab dan tanpa kondisi/ahetu-appaccayā

    yang jika sepenuhnya disidik/periksa [samanuyuñjiyamānāni], diteliti [samanugāhiyamānāni] dan dibahas [samanubhāsiyamānāni], akan berakhir pada suatu doktrin tanpa tindakan, SEKALIPUN SUDAH DITERAPKAN KARENA TRADISI.

Buddha menolak pandangan-pandangan itu, karena jika semua perbuatan dan yang dialami disebabkan oleh tindakan lampau atau disebabkan oleh kehendak tuhan atau disebabkan oleh sebuah kebetulan semata sebagai faktor penentu, maka akibatnya seseorang TIDAK memiliki kehendak bebas dan hanya ”boneka” yang tidak bisa membebaskan diri dari penderitaan serta akan menjadi seseorang yang berkewaspadaan dan pengendalian diri.

    Di Mahabodhi Jataka (no.528)
    Sang Bodhisatta berkata:
    “Jika Tuhan sekalian alam, yang menentukan bagi seluruh ciptaannya, kebahagiaan atau penderitaan, perbuatan baik maupun buruk, maka manusia hanya menjalankan perintahnya saja, sedangkan Tuhan itu yang diliputi dosa” (issaro sabbalokassa, sace kappeti jīvitaṃ, Iddhiṃ byasanabhāvañca, kammaṃ kalyāṇapāpakaṃ; Niddesakārī puriso, issaro tena lippati)

    Di Bhuridatta Jataka [no.543]:
    Terdapat kalimat berulang dari sang Bodhisatta, “Sace hi so issaro sabbaloke” (Sebab jika Ia Tuhan sekalian alam): ”Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan; Mengapa Brahma itu tidak menciptakan secara baik? Bila kekuatannya demikian tak terbatas, mengapa tangannya begitu jarang memberkati? Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata? Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela? Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal? Saya menganggap, Brahma adalah ketak-adilan. Yang membuat dunia yang diatur keliru”

    [Untuk mengetahui mengapa variasi “TUHAN” dapat terjadi, silakan baca: Tuhan, Klaim Pepesan Kosong Si Buta Sejak Lahir Yang Menjelaskan Gajah!]

Kesimpulannya: Allah, Maha Pencipta dari semua agama itu ternyata 0 (nol) atau Tidak Ada!!

Tentu saja ada yang akan berkata, “Jangan dicampur adukan dong ajaran/keyakinan masing-masing ajaran”. Jika demikian, mengapa TUHAN kalangan ABRAHAMIK harus dipaksakan menjadi hanya satu-satunya TUHAN? Begitu mati-matiannya mempertahankan bahwa TUHAN itu ADA, namun apakah bisa buktikan Tuhan itu Ada?

Tentu aja akan ada yang menjawab, “apa kamu gak lihat ada hujan, gempa, dll? siapa yg buat itu!”. Mereka lupa, bahwa gejala alam bukanlah bukti keberadaan karena selalu ada penyembab-penyebab sebelumnya.

Padahal, mereka ini seharusnya paham, bahwa sesuatu yang tidak dapat di-scan oleh Indera-indera (dan alat bantunya) manapun juga, masa iya ini dianggap ada?!
Maka mulailah pada meracau, “penah liat kentut? angin? otak? gravitasi? Magnet?” Lagi-lagi mereka lupa bahwa semua yang diargumenkan itu dapat terdeteksi dengan indera lainnya atau alat bantunya.

    Beberapa cerita fiktif yang kerap dijadikan argumen keberadaan Tuhan:

    • Cerita tentang seorang professor yang berdebat dengan siswanya, di mana Sang professor tidak percaya tuhan ada karena tuhan tidak terlihat. Sang siswa menyatakan bahwa Profesor tidak punya otak, karena otak Profesor ngga kelihatan juga.
    • [Argumen ini memiliki beberapa kelemahan, diantaranya, Tau darimana siswa itu tentang otak? kecuali dari membaca [melihat], mendengar atau dikatakan guru/orang tua [mendengar] atau kalo ia beruntung pernah melihat langsung! Artinya, jika ia tau bahwa manusia memiliki otak kurang lebihnya dan ia memiliki otak maka ia seharusnya tahu bahwa Profesor itu juga memiliki otak. Ini adalah logika sederhana.

      Masalah kedua, argument itu hanya menggunakan indera penglihatan padahal untuk contoh angin, Ia juga ngga terlihat namun dapat dirasakan oleh indera perasa atau melihat berdasarkan bergoyangnya daun-daun dll..]

    • Contoh cerita lainnya yaitu kisah Kyai dan santrinya yang minta dibuktikan mengenai keberadaan tuhan, takdir dan mengapa SETAN itu dihukum di neraka padahal kedua-duanya berbahan api.

      Kyai itu tidak menjawab namun lalu menampar si santri kemudian memberikan argumen bahwa sakit itu nyata namun tidak terlihat karena bisa di rasakan; Sebelumnya apakah santri itu bermimpi di tampar, karena santri menjawab tidak dan sekarang kena tampar, nah seperti itulah Takdir; walaupun berbahan kulit yang sama, kulit tangan bertemu dengan kulit pipi namun namun bisa merasakan sakit sehingga api bertemu dengan api maka setan akan merasakan sakit.

    • [Argumen tamparan dengan keberadaan tuhan ini memiliki beberapa kelemahan, diantaranya, Pembuktian keberadaan tuhan lagi-lagi melalui indera “penglihatan” padahal indera kita bukan cuma penglihatan, sehingga keberadaan sakit adalah nyata lewat indera perasa, sementara keberadaan TUHAN tidak dapat di scan oleh semua INDERA dan itu adalah fakta.

      Argumen takdir saya lewatkan karena tidak relevan.

      Kemudian, menyatakan dengan persamaan hasil yang sama setan dan neraka yang berbahan api dengan kulit tangan dan pipi yang berbahan kulit adalan absurd dan menyesatkan.

      Kulit adalah material padat, sementara api material temperatur. Keduanya tidak memiliki kesamaan. Jika kulit digebuk kulit dan berdiri sendiri tanpa neuron dan otak maka jelas cerita diatas tidak relevan.

      Alasan kedua, Tidak diketahui apakah setan juga mempunyai neuron, otak dan memproduksi sejenis cairan semacam capsaicin.

      Rasa sakit datang ke otak melalui neuron, sel-sel khusus yang ada di seluruh tubuh mengiriman pesan ke otak. Pada serangkaian percobaan, Hargreaves dan tim penelitinya menemukan bahwa kulit menghasilkan sendiri molekul seperti capsaicin dalam menanggapi rasa sakit.

      Kami mengambil jaringan kulit tikus percobaan, dan memanaskannya pada suhu 43 atau 48 derajat Celcius. Kemudian kita mengamati apa yang dikeluarkan oleh kulit pada kondisi panas itu”, kata Hargreaves

      Panas biasanya menimbulkan rasa sakit pada sekitar 47 derajat Celcius. Ketika sampel kulit itu dipanaskan sampai 48 derajat Celcius, kulit itu memproduksi molekul seperti capsaicin dalam bentuk cairan.

      Kemampuan cairan ini untuk mengaktifkan rasa sakit pada neuron sangat tergantung pada reseptor capsaicin”, jelasnya.

      Jadi, Rasa sakit itu bisa di deteksi dan juga bisa dijelaskan. Begitu pula dengan kecemasan, emosi, ketakutan dan untuk detailnya silakan buka link ini]

Untuk masalah cipta mencipta ini, Hindu dan Buddha menyampaikan bahwa telah terjadi kehancuran berulang:

    Lebih awal atau lebih lambat, ada suatu waktu, sesudah masa waktu yang sangat panjang sekali alam semesta menciut …….Tetapi lebih awal atau lebih lambat, sesudah masa yang lama sekali, alam semesta mulai mengembang lagi [Digha Nikaya, III: 84].

    Suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini hancur…setelah selang suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini mulai terbentuk kembali. [AGANNA SUTTA (27), DIGHA NIKAYANGUTTARA NIKAYA]

Ilmu pengetahuan modern saat ini sudah sampai pada kesimpulan:

  • Bumi itu tidak datar dan merupakan 1 dari 9 Planet yang mengelilingi Matahari [Planet ke-9, Pluto, tidak lagi dianggap planet sejak 24/08/2006]
  • Massa matahari 98% dari total tata surya, bahkan massa bumi kurang dari 1/9 x 2%-nya!

Keberadaan Bumi TIDAK PERNAH dinyatakan mendahului MATAHARI!

Dan bahkan asumsi Big bang pun menjadi asumi usang! Asumsi dentuman yang selama 78 tahunan ini [sejak friedman mengatakannya, 1922] atau big bang [yang diucapkan Fred Hoyle sebagai ejekan di siaran radio tahun 1949] sesungguhnya merupakan asumsi yang g…egabah, tapi untunglah tidak semua ilmuwan tertidur selama 78 tahunan ini!

Mereka mulai menyadari adanya kontinuitas penciptaan dan menyajikan asumsi baru, misalnya di tahun 2002, Steinhardt dari Princeton University dan Turok dari Cambridge University mengatakan pengembangan dan penyusutan semesta terjadi secara terus-menerus, berlangsung bukan dalam miliar tapi triliunan tahun, Proses pembentukan semesta yang tidak memiliki awal dan akhir dan bahkan steinhard menyatakan “Waktu tidak mesti memiliki awal,” dan semesta sudah ada sebelum dentuman itu terjadi [Sumber: Fisika Net; Asumsi lainnya sebagai pengganti asumsi usang big bang silakan lihat juga di: Is the Big-Bang a Religious Hoax?, Why the Big Bang is Wrong, Big bang or Big Hoax, BIG BANG? Hah!, False vs. True science: Mini Big-bangs in a Fractal Universe, fractal universe, Fractal cosmology]

Jadi, memang tidak diciptakan Tuhan manapun!



CATATAN:


ISLAM: Di mana Allah berada?
Quran juga menyampaikan bahwa bahwa Malaikat-malaikat menghadap Allah [AQ 70:4]. Lokasi tempat menghadap tampaknya tidak berjauhan dengan area ufuk [AQ 53:7, 81.23] antah berantah

Mengapa?

    Maka apakah hendak membantahnya/meragukannya (afatumārūnahu) tentang (ʿalā) apa (mā) yang dilihatnya (yarā)? Dan sesungguhnya (walaqad) Ia telah melihatnya (raāhu) waktu turun (nazlatan) lainnya (ukh’rā), dekat (ʿinda) Sidratil Muntaha, Di dekat itu (ʿindahā) taman/surga (jannatu) tempat tinggal (al-mawā).. [AQ 53.12-15]

Kejadian ini adalah di peristiwa isra’ mira’j, yaitu sebelum tawar menawar shalat dengan Allah, ketika itu Muhammad bersama jibril dan Muhammad diperlihatkan Sidratul muntahal.

    Ufuq (bil/bi + ufuq = di kaki langit/horizon. Bentuk jamak: aafaaq (AQ 41.53) = seluruh penjuru. Jika mengadah ke atas, kita melihat langit (sama) bukan ufuk. Matahari terbit/tenggelam di ufuk timur/barat. Jadi kata ini menunjukan kaki langit). Di setelah kata “ufuq” terdapat kata (al-a’laa, “الْأَعْلَى”, “sangat tinggi, mulia, unggul”) dan juga kata (almubiini, “الْمُبِينِ”, “sangat terang, nyata”). Ini menunjukan sifat dan bukan Lokasi. Ufuk adalah tempat jibril dilihat Muhammad (AQ 53.7, 81.23). Di tempat itulah sidratil muntahal dan di dekatnya ada jannah (surga, taman) (AQ 53.14-17) dan ada sungai-sungai.

    Isi dan keadaan Jannah/Surga di quran, diantaranya terdapat tanah [adam diciptakan dari tanah], pohon, ada sungai-sungai, mata air ada istana, ada dipan, pintu, ada permadani, ada perhiasan emas mutiara, gelang [18:31, 22:23, 25:10, 38:51, 43:71] piring, gelas dari emas, pakaiannya dari sutera [35:33], 2 warna surga adalah hijau tua [55:64], ada bidadari-bidadari yang “siap bekerja” di atas permadani dan disebelahnya ada buah2an [55:54, 55:70], minumannya ada campuran jahenya [76:17]. Juga diinformasikan bahwa kekekalan surgawan/wati serta bidadarinya adalah TIDAK LANGGENG, yaitu selama LANGIT dan BUMI masih ADA [11:107-108].

    Sementara itu,
    lokasi sidratul Muntahal di sebutkan bervariasi, yaitu: di langit ke-6 (Muslim no.252) atau di langit ke-7 (Muslim no.234. Bukhari no.2698, 3598, 6963. Ahmad no.12047, 12212)

    Di bawah Sidratil Muntahal terdapat 4 sungai:

      Jibril berkata; “Ini adalah Sidratul Munahaa” Ternyata di dasarnya ada 4 sungai, 2 sungai tak terlihat dan 2 sungai terlihat..adapun 2 sungai tak terlihat adalah dua sungai yang berada di surga, sedangkan 2 sungai yang terlihat adalah NIL dan EUFRAT” [Bukhari no.3598, 2968, 5179]

    Sungai Nil dan Eufrat bukan cuma ada di Sidratul Muntahal namun juga ada:

    • Di langit ke-1 [Bukhari no.6963]
    • Di langit ke-2 [Bukhari 9.93.608]
    • Di langit ke-7 [Muslim 1.314; dan Bukhari no.4.54.4295.58.227]
    • Di langit, namun tidak disebutkan langit keberapa [Muslim 40.6807 dan Bukhari 7.69.514]

Isi surga dan kondisi macam ini JELAS TIDAK DIMUNGKINKAN dalam kosmologi modern (bulatan bumi yang merupakan anggota tata surya, mengitari matahari. Tata surya ini merupakan himpunan bagian dari galaxy dan Galaxy merupakan bagian kecil dari semesta) NAMUN SANGAT DIMUNGKINKAN dalam kosmologi islami.

Mengapa?

Dalam kosmologi Islami, bumi adalah datar, atapnya berupa 7 langit bertumpuk satu diatas yang lain berbentuk kubah! Inilah mengapa langit, surga, bumi dan air dimungkinkan bertemu!

  1. Bahwa bumi ini berada di atas punggung: seekor ikan yang sangat besar dan seekor lembu/sapi. Kelak setelah kiamat: 70.000 surgawan (kelompok pertama) yang masuk surga tanpa dihisab (siksa neraka), akan dijamu Allah dengan lauk “lembu/sapi (balaam) dan hati ikan paus (nun)” [Bukhari no.6039/8.76.527 (arab). Atau di Muslim no.5000/39.6710 (arab: terdapat penjelasan: “أَمَّا ( النُّون ) فَهُوَ الْحُوت بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاء”, artinya “Nun adalah Ikan paus menurut konsensus para ulama”)]
  2. Singgasana Allah di atas air:
    “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, dan adalah singgasana-Nya di atas air[1] (“عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ”, arsyuhu ala al-mai)..” [AQ 11.7]. Allah bersemayam di atas arsy (istawaa ‘alaa al’arsyi) [AQ 7.54, AQ 57.4, AQ 32.4, AQ 25.59, AQ 20.4, AQ 10.3]. Yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya [AQ 40.7]. Hadis meriwayatkan arsy yang berada di atas air:

      Abdan – Abu Hamzah – Al A’masy – Jami’ bin Syidad – Shafwan bin Muhriz – ‘Imran bin Hushain:

       …Nabi menjawab: ‘Allah telah ada dan tidak ada sesuatu pun terjadi sebelum-Nya, arsy-Nya berada di atas air, kemudian Allah mencipta langit dan bumi dan Allah menetapkan segala sesuatu dalam alquran’. [Bukhari no. 6868, 2953. Ibn Majah no.178 (Riwayat Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Muhammad bin Ash Shabbah – Yazid bin Harun – Hammad bin Salamah – Ya’la bin ‘Atho` – Waki’ bin Hudus – pamannya Abu Razin ia berkata; Aku bertanya; “Wahai Rasulullah, di manakah Rabb kita sebelum menciptakan makhluk-Nya?” beliau menjawab: “Dia berada di ruang kosong, di bawah dan di atasnya tidak ada udara, dan di sana tidak ada makhluk. Setelah itu Ia menciptakan Arsy-Nya di atas air“). Tirmidhi no.3034 (“Wahai Rasulullah dimanakah Allah sebelum Dia menciptakan makhlukNya? beliau menjawab: “Dia berada di awan yang tinggi, di atas dan di bawahnya tidak ada udara dan Dia menciptakan ‘arsyNya di atas air.“). Ahmad no.15599, 15611]

    Perlu juga diketahui bahwa: Singgasana Iblis juga di atas air:

      Riwayat Abu Kuraib, Muhammad bin Al Ala` dan Ishaq bin Ibrahim, teks milik Abu Kuraib — Abu Mu’awiyah – Al A’masy – Abu Sufyan – Jabir – Rasulullah SAW:

      “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu mengirim bala tentaranya, (setan) yang kedudukannya paling rendah bagi Iblis adalah yang paling besar godaannya.” [Muslim no. 5032 dan Riwayat Abu Mu’awiyah – Al ‘A’masy – Abu Sufyan – Jabir – Rasulullah SAW: “Iblis meletakkan istananya di atas air kemudian mengutus pasukannya..” [Ahmad no. 13858, 11490, 14632]

    Tentang pengertian ‘arsy (عَرْش), ulama memberikan penjelasan yang berbeda-beda.

    • Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar menjelaskan bahwa ‘arsy (عَرْش) merupakan ”pusat pengendalian segala persoalan makhluk-Nya di alam semesta”. Penjelasan Rasyid Rida di antaranya berdasarkan AQ 10.3, “Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy (عَرْش = singgasana) untuk mengatur segala urusan”.

      Jalaluddin as-Suyuthi (pengarang tafsir Ad-Durr al-Mantsur fi Tafsir bi al-Ma’tsur) mengutip hadis dari Ibnu Abi Hatim – Wahhab ibnu Munabbih bahwa Allah SWT menciptakan `arsy dan kursi dari cahaya-Nya. `Arsy melekat di kursi. Para malaikat berada di tengah-tengah kursi tersebut. `Arsy dikelilingi oleh empat buah sungai dan Para malaikat berdiri di setiap sungai sambil bertasbih/memuliakan Allah.

    • Kursi [kur’siyyuhu (AQ 2.55)/kur’siyyihi (AQ 38.34)] TIDAK SAMA dengan arsy/. Arti kursi adalah BUKAN “pengetahuan allah”, BUKAN arsy, BUKAN “bukan kekuasaan dan kekuatan Allah” NAMUN “pijakan kedua kaki Allah”.

      Ibnu ‘Abbas berkata: “الكرسي موضع قدميه و العرش لا يقدر قدره” [“Al-Kursi adalah pijakan kedua kaki (Allah), dan ‘Arsy tidak ada yang tahu ukurannya kecuali Allah.”] (‘Abdullah Bin Ahmad, as-Sunnah no. 586, isnadnya hasan – Tahqiq Muhammad Sa’id Salim al-Qahthani. Al-Hakim (al-Mustadraknya 2/310: Hadis ini sahih menurut Bukhari dan Muslim walaupun mereka tidak meriwayatkannya. Disepakati adz-Dzahabi). Fathul Bari Ibn Hajjar (8/199 : Dari Ibnu ‘Abbas bahawa al-Kursi adalah pijakan kedua kaki (Allah) sanadnya sahih). Al-Albani, Mukhtasar al-‘Uluw lil ‘aliyyil Ghoffar, Adz-Dzahabi (1/75: Perkataan ibn Abbas Sahih mauquf). Hadis ibn Abbas juga termuat di Musnad Ahmad, lihat Ibn Kathir dan “ask the scholar“]

    Sementara itu,
    terdapat klaim bahwa Quran dan hadis menyatakan ‘Arsy Allah dan Allah ada di langit, misal:

    • Apakah kamu merasa aman (a-amintum) siapa (man) di (fii) langit (tunggal: Al-samāi) bahwa/yang (an) membenamkan (yakhsifa) dengan mu (bikumu) bumi (al-ardha) ketika (fa-idzaa) Ia (hiya, feminim tunggal) bergoncang (tamuuru)? atau (am) apakah kamu merasa aman siapa di langit yang mengirimkan (yursila) padamu (‘alaykum) badai batu (hasiban). Maka kelak kalian tahu (fasata’lamuuna) bagaimana (kayfa) peringatanku [nadziiri]? [AQ 67.16-17 -> Kalimat ini dapat juga mengindikasikan itu adalah malaikat yang di langit]
    • “Tidak tahukah kamu bagaimana Allah itu? Sungguh, Arsy-Nya ada di atas semua langit-Nya seperti ini -lalu isyarat tangannya beliau mengatakan, ‘Seperti Kubah, dan Arsy itu berteriak dan menyeru kepada Allah seperti tunggangan berteriak kepada pengendara karena berat-.” [Abu dawud no.4101, juga statement Ibnu Taimiyah: “Adapun Al Arsy maka dia berupa kubah sebagaimana diriwayatkan dalam As Sunan karya Abu Daud dari jalan periwayatan Jubair bin Muth’im, dia berkata: “Telah datang menemui Rasulullah SAW seorang A’rab dan berkata: “Wahai Rasulullah jiwa-jiwa telah susah dan keluarga telah kelaparan- dan beliau menyebut hadits- sampai Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah diatas ArsyNya dan ArsyNya diatas langit-langit dan bumi, seperti begini dan memberikan isyarat dengan jari-jemarinya seperti kubah” (Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah 1/252)]
    • Termasuk hadis yang merupakan pernyataan seorang budak wanita (di hadis lain, Ia menyatakan tidak dengan ucapan namun dengan isyarat tangan):

      Riwayat Yahya – Al Hajjaj Ash Shawwaf – Yahya bin Abu Katsir – Hilal bin Abu Maimunah – ‘Atha` bin Yasar – Mu’awiyah bin Al Hakam As Sulami:

      Wahai Rasulullah, terdapat seorang budak wanita yang telah aku pukul dengan keras. Kemudian Rasulullah SAW menganggap hal tersebut sesuatu yang besar terhadap diriku, lalu aku katakan; tidakkah saya memerdekakannya? Beliau berkata: “Bawa dia kepadaku!” Kemudian aku membawanya kepada beliau.

      Beliau bertanya: “Dimanakah Allah?” Budak wanita tersebut berkata; di langit. Beliau berkata: “Siapakah aku?” Budak tersebut berkata; engkau adalah Rasulullah.”Beliau berkata; bebaskan dia! Sesungguhnya ia adalah seorang wanita mukmin.” [Abu Dawud no.2856. Muslim no.836. Abu dawud no.2857 (Riwayat Ibrahim bin Ya’qub – Yazid bin Harun – Al Mas’udi – ‘Aun bin Abdullah – Abdullah bin ‘Utbah – Abu Hurairah bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dengan membawa seorang budak wanita hitam, kemudian ia berkata; wahai Rasulullah, sesungguhnya saya berkewajiban membebaskan budak mukmin. Kemudian beliau bersabda: “Di manakah Allah?” kemudian ia mengisyaratkan ke langit dengan jari-jarinya. Kemudian beliau berkata kepadanya: “Siapakah aku?” kemudian ia menunjuk kepada Nabi SAW dan ke langit yang maksudnya adalah engkau adalah Rasulullah. Maka beliau berkata: “Bebaskan dia, sesungguhnya ia adalah wanita mukminah.”)]

    Menyatakan bahwa Allah ada di langit TIDAKLAH TEPAT karena hadis juga telah menginformasikan bahkan malaikatpun duduk di atas kursi yang terbentang diantara langit dan bumi, misal:

      Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – ‘Uqail – Ibnu Syihab (riwayat Abdullah bin Muhammad – Abdurrazzaq – Ma’mar – Az Zuhri – Abu Salamah bin Abdurrahman Jabir bin Abdullah:

      Aku mendengar Nabi SAW bersabda menceritakan peristiwa Fatratul Wahyu (Masa-masa kevakuman wahyu): “Ketika aku tengah berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara yang berasal dari langit, maka aku pun mengangkat pandanganku ke arah langit, ternyata di atas terdapat Malaikat yang sebelumnya mendatangiku di gua Hira tengah duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku merasa ketakutan hingga aku jatuh tersungkur ke tanah. Lalu aku pun segera menemui keluargaku seraya berkata, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku.’ Maka keluargaku pun segera menyelimutiku. Akhirnya Allah Ta’ala menurunkan ayat: [AQ 74.1-5]. Yakni sebelum perintah shalat diwajibkan. Ar Rijz adalah berhala. [Bukhari no.4544, 4545, 4543, 3, 2999, 4572, 5746]

    PETA LENGKAPNYA adalah: di atas 7 langit ada laut – di atas laut ada Arsy – dan allah berada di atas Arsy.

      Riwayat [(Muhammad bin Ash Shabbah – Al Walid bin Abu Tsaur) dan (Ahmad bin Abu Suraij – ‘Abdurrahman bin Abdullah bin Sa’d dan Muhammad bin Sa’id – Amru bin Abu Qais) dan (Ahmad bin Hafsh – Bapaknya – Ibrahim bin Thahman)] – Simak – Abdullah bin Amirah – Al Ahnaf bin Qais – Al Abbas bin Abdul Muthallib:

      ..Beliau (SAW) lalu bertanya: “Apakah kalian tahu berapa jarak antara langit dan bumi?” mereka menjawab, “Kami tidak tahu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya jarak antara keduanya adalah bisa 71, atau 72, atau 73 tahun perjalanan -perawi masih ragu-. kemudian langit yang di atasnya juga seperti itu.” Hingga beliau menyebutkan 7 langit. Kemudian setelah langit ke-7 terdapat lautan, jarak antara bawah dan atasnya seperti jarak antara langit dengan langit (yang lain). Kemudian di atasnya terdapat 8 malaikat yang jarak antara telapak kaki dengan lututnya sejauh langit dengan langit yang lainnya. Dan di atas mereka terdapat Arsy, yang antara bagian bawah dengan atasnya sejauh antara langit satu dengan langit yang lainnya. Dan Allah Tabaraka Wa Ta’ala ada di atasnya.” [Abu Dawud no.4100, Tirmidhi no.3242 (hasan gharib). Ibn Majjah no.189]

    Walaupun Arsy Allah ada di atas air yang ada di atas langit ke-7,
    Namun Quran memberikan 3x PENEGASAN FINAL lokasi keberadaan Allah, yaitu: TIDAK di langit namun di Mesjidil Haram:

    • Ke-1: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya..” [AQ 2.144].
    • Ke-2: “Dan dari mana saja kamu, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan”[AQ 2.149].
    • Ke-3: “Dan dari mana saja kamu, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka..” [AQ 2.150]

    Nabi berkata:

    Kenapa orang-orang mengarahkan pandangan mereka ke langit ketika mereka sedang shalat?
    Suara beliau SEMAKIN TINGGI beliau bersabda: “Hendaklah mereka menghentikannya atau Allah benar-benar akan menyambar penglihatan mereka.” [Bukhari no. 708 atau di Muslim 4.862 dari riwayat Jabir bin samura. Atau di Muslim 4.863 riwayat dari Abu huraira, “Orang2 diharuskan menghindari memandang langit di saat sedang sembahyang (See: KBBI. “الصَّلاَةِ” = Al sallata = salat], atau mata mereka akan direnggut”]

  3. Bahwa (Allah-lah yang menciptakan tujuh langit) satu di atas yang lainnya seperti KUBAH, (dan seperti itu pula bumi) tujuh bumi tapi mereka DATAR. [Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs untuk AQ 65.12. Dalil bahwa bumi BUKAN bulatan lihat juga: di sini]
  4. “Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap (saqfan) yang terpelihara,[..]” [AQ 21.32] [Tafsir Ibn Kathir: Artinya, menutupi bumi seperti kubah di atasnya.]

    “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit kanopy/kubah/atap (binaa-an) [AQ 2.22, juga di AQ 40.60, tentang “dan langit kanopy/kubah/atap (binaa-an)]. Tafsir Ibn kathir untuk AQ.2.22,29:

      Bahwa Allah mulai dengan menciptakan BUMI dulu baru kemudian membuat LANGIT menjadi 7 langit. Ini adalah bagaimana bangunan biasanya di mulai, lantai dulu baru kemudian bagian atapnya [Ini juga pendapat Mujahid, Ibn Abbas bahwa bumi diciptakan terlebih dahulu.

    “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya)..[AQ 13.2]. Tafsir Ibn kathir untuk AQ 13.2:

      Berkenaan dengan kalimat (menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan) adalah seperti yang Allah maksudkan di surat 36:38 (dan matahari berjalan di tempat peredarannya) [Ada dua pendapat dan keduanya menyatakan Matahari dan bulan yang bergerak terus menerus]. ‘arsy adalah atap dari ciptaan dan tidak berbentuk BULATAN seperti di klaim banyak astronomer. Lebih seperti KUBAH yang di topang oleh pilar. Ditandu oleh para malaikat dan di atas dunia, di atas kepala-kepala orang. Hadis Nabi dari riwayatkan Abu Dharr:

      Ketika senja [magrib], Nabi bertanya padaku, “Apakah kau tau kemana Matahari itu pergi (saat Magrib)?!

      Aku jawab, “Allah dan rasulnya yang lebih tau.”

      Ia jawab, “Ia berjalan hingga berhenti pada tempatnya di bawah Arsy lalu menyungkur sujud dan mohon ijin untuk terbit kembali, dan diijinkan dan kemudian (waktunya akan tiba) dia minta agar terus saja bersujud namun tidak diperkenankan dan minta izin namun tidak diizinkan dan dikatakan kepadanya: “Kembalilah ke tempat asal kamu datang” dan ia akan terbit dari tempatnya terbenamnya tadi (barat).

      Itulah penafsiran dari sabda Allah “dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (AQ 36:38) [Bukhari: no.2960/4.54.421, no.4428/6.60.327, no.6874/9.93.520 dan no.6881/9.93.528. Juga Muslim: no.228/1.297. Juga di Hadis Qudsi Imam Ahmad no.91 (penguatnya di Abu Dawud 3991, 4002]

      ‘Ada pilar namun tidak dapat kamu lihat’ menurut Ibn `Abbas, Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, dan beberapa lainnya.

      Iyas bin Mu`awiyah, “Langit itu seperti kubah di atas bumi’, artinya tanpa tiang. Serupa seperti Qatadah katakan.

      Ibn Kathir menyatakan bahwa pendapat terakhir [Iyas bin Mu’awiyah] adalah lebih baik mengingat Allah juga menyatakan di ayat lainnya [22:65] yaitu ‘Dia menahan langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya?’

  5. Allah menyampaikan, kisah perjalanan Zulkarnaen dari ufuk timur hingga ufuk barat:
      “Mereka menanyaimu [wayas-aluunaka] tentang Dzulkarnain. Katakanlah Aku bacakan [qul sa-atluu] padamu [ʿalaykum] cerita tentangnya. Sesungguhnya telah diberikannya kekuasaan [makkannaa lahu] di bumi, dan Kami telah berikan [waaataynaahu] dari tiap suatu [min kulli shayin] jalan [sababaan].
      Maka iapun berjalan [fa-atba’a sababaan].
      Hingga [ḥattaa] ketika [idhaa] sampai [balagha] di tempat terbenam [maghriba] matahari [al shamsi], MENDAPATI itu [WAJADAHAA] terbenam [taghrubu] di [fii] mata air yang berlumpur hitam [ayyin hamiatin], dan mendapati [wawajada] DI DEKAT ITU/SEKITAR/SISI [indahaa] segolongan umat [qawman]…
      Hingga ketika sampai ke tempat terbit [mathli’a] matahari [al shamsi], MENDAPATI itu [WAJADAHAA] menyinari [tathlu’u] pada [‘alaa] segolongan umat [qawmin]…
      Hingga ketika sampai [balagha] di antara [bayna] dua gunung [alssaddayni], MENDAPATI [WAJADA] di [min] sebelahnya [duunihimaa] suatu kaum [qawman]..” [AQ 18.83-86, 90, 93]

    Karena Allah sendirilah yang menceritakan perjalanan Zulkarnaen: hingga sampai ke ufuk barat, hingga sampai ke ufuk timur dan hingga sampai di antara dua gunung. Di mana, di setiap area itu, Ia bertemu tiga kaum yang berbeda, maka ini bukanlah sebuah kiasan.

    Tafsir ibn kathir AQ 18.86 menyatakan “Ia menemukan matahari terbenam di laut hitam, bukan KIASAN karena ia menyaksikan sendiri. kata “al hami-ah” di ambil dari salah satu dua arti yaitu dari AQ 15.28, “lumpur hitam” (ini pendapat ibn Abbas). Ali bin abi thalhah “zulkarnaen mendapati matahari terbenam di laut yang panas” (juga pendapat Al Hasan Al basri). Ibn Jarir mengatakan keduanya benar yang mana saja boleh.

Kosmologi bumi dan langit di atas Ikan paus ini benar-benar dapat menjelaskan banyak hal dalam logika berpikir yang islami, diantaranya adalah:

  • Adalah sangat wajar bumi ini didatarkan atau digepengkan seperti martabak dan gunung-gunung dipancang sebagaimana maksud surat:
    • Luqman 31:10, “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu”
    • Al-Anibiya’) 21:31, “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka (tamida bihim**).”
    • Al-Nahl 16:15 “Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu” (tamida bikum**)
    • An Naba’ 6-7, “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? dan gunung-gunung sebagai pasak?”

    Dalam tafsir Ibnu kathir surat 21:30-33,
    (Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh,) artinya, gunung-gunung yang menstabilkan bumi dan menjaganya agar tetap kokoh dan memberikannya berat, jika tidak itu seharusnya goncang bersama orang-orang, misal, bergerak dan bergetar sehingga mereka tidak dapat berdiri tegak di atasnya — karena ini diliputi oleh air, bagian dari 1/4 permukaannya.

    mengapa?

    Adalah demi mencegah daratan ikut-ikutan bergerak-gerak liar dan bahkan dapat berakibat terguling ketika sang ikan bergerak-gerak.

    Ini Sungguh suatu yang sangat cerdas dan brilian, bukan?!

  • Mengapa sangat wajar terjadinya banjir Nuh yang dapat menenggelamkan seluruh dunia hingga puncak tertinggi dunia sebagaimana terekam pada riwayat dibawah ini:

    Ibn Abbas mengatakan, [..]seluruh air menutupi seluruh permukaan bumi hingga akhirnya mengelilingi puncak2 gunung dan bahkan main tinggi melebihnya setinggi 15 hasta. Dikatakan juga bahwa gelombang itu tingginya 80 mil melampaui gunung-gunung. Perahu tersebut terus berlayar dibawah perlindungan Allah…[Tafsir Ibn Kathir untuk surat 11:40-43]

    Mengapa?

    Adalah karena bumi ini ada di atas punggung IKAN! Ikan hidupnya di air sehingga kebutuhan VOLUME AIR yang luarbiasa besar bukanlah menjadi persoalan dan sudah tersedia dengan sangat MELIMPAHnya. Jangankan cuma 80 mil, bahkan 2x dari itupun masih sangat melimpah, bukan?!

    Ini sungguh suatu yang sangat cerdas dan brilian, bukan?!

Allah kaum Muslimin
Terdapat kalimat “La ilaha illah Allahu [لا إله إلاَّ الله]” atau “tiada tuhan selain allah” [AQ 37.35 dan AQ 47.19, dimana Allah = الله (alif ا, lam ل, lam ل, ha ه) dan ilah = إِلَٰهَ/اله (alif ا, lam ل, ha ه)]. Sesembahan ini disebut “Allahu Akbar” (الله أكبر), biasanya diartikan “Allah maha besar”. Arti ini keliru, seharusnya diterjemahkan “lebih” bukan “maha”.

Untuk memahami ini,
berikut perbandingan kata “akbar” (أكبر = “lebih besar”) VS “kebir” (كبير = “besar”) di AQ.2.219, “yas-aluunaka ‘ani alkhamri waalmaysiri qul fiihimaa itsmun kabiirun wamanaafi’u lilnnaasi wa-itsmuhumaa akbaru min naf’ihimaa.. (يسالونك عن الخمر والميسر قل فيها اثمتتفكرون كبير ومنافع للناس واثمهما اكبر من نفعهما) -> “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfa’at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa’atnya”. [Juga lihat perbandingan 2 kata yang sama (kabir vs akbar) pada AQ 2.217]

Ini menunjukan bahwa dari seluruh Ilah yang ada di area itu, maka Allah yang dipuja para muslim ini diklaim sepihak lebih Allah dari lainnya.

Bagaimana Bentuk Allah YANG LEBIH BESAR ini?

    Allah menciptakan Adam menurut RupaNya [Sahih Muslim 40.6809; 32.6325, dari riwayat Abu Hurairah, silakan lihat fatwa: 20652]

    Allah mempunyai tangan dan kaki dan itu BUKANLAH kiasan.

    Kaki Allah:
    Diriwayatkan Anas dan Abu huraira, dinyatakan Nabi berkata “Orang yang akan di ceburkan ke Neraka dan akan dikatakan, ‘masih ada yang lain?’ 50:30 hingga Allah menjejakan KAKINYA di atas Neraka dan dikatakan ‘Qati! Qati! (cukup..cukup)!’ [Bukhari 6.60.371, 372]

    Betis Allah:
    Riwayat Yahya bin Bukair, Allaits bin Sa’d -> Khalid bin Yazid -> Sa’id bin Abu Hilal -> Zaid -> ‘Atha’ bin Yasar -> Abu Sa’id Al Khudzri berkata, “Kami bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita akan melihat Tuhan kita pada hari kiamat?”..Nabi balik bertanya: ..Nabi meneruskan: ..Beliau melanjutkan, “Lantas Allah (Al jabbar) mendatangi mereka dengan bentuk yang belum pernah mereka lihat pertama kali, lalu Allah firmankan: ‘Akulah Tuhan kalian.’ Mereka menjawab, ‘Engkau adalah rabb kami, dan tidak ada yang berani mengajak-Nya bicara selain para nabi SAW, lantas para nabi berkata, ‘Bukankah di antara kalian dan Allah ada tanda yang kalian mengenalnya? ‘

    Mereka menjawab, ‘Ya, yaitu betis, ‘

    maka Allah pun menyingkap BETIS-Nya sehingga setiap mukmin bersujud kepada-Nya. [Bukhari no.6886, Muslim no.269 (Dari jalur perawi: Suwaid bin Sa’id, Hafsh bin maisarah -> Zaid bin Aslam -> ‘Atha’ bin Yasar -> Abu Sa’id Al Khudri) dan Musnad Ahmad no.107103 (dari jalur perawi: Rib’i bin Ibrahim, Abdurrahman bin Ishaq, Zaid bin Aslam -> ‘Atho` bin Yasar -> Abu Sa’id Al Khudri)]

    Tangan Allah:
    [38:75] Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua TANGAN-Ku [biyadayya =(بِيَدَيَّ)]. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”

    Riwayat Harmalah bin Yahya, Ibnu Wahb, Yunus -> Ibnu Syihab, Ibnul Musayyab bahwa Abu Hurairah berkata; “Rasulullah SAW bersabda: ‘Kelak di hari kiamat Allah Tabaraka wa Ta’ala akan menggenggam bumi dan menggulung langit dengan TANGAN KANAN-Nya. Kemudian Dia berfirman.. [Muslim no.4994, Muslim 39.6703] atau Abu Bakr bin Abu Syaibah, Abu Usamah -> ‘Umar bin Hamzah -> Salim bin ‘Abdullah, Abdullah bin ‘Umar berkata; “Rasulullah SAW bersabda: ‘Pada hari kiamat kelak, Allah SWT akan melipat langit..menggenggamnya dengan TANGAN KANAN-Nya..’ Setelah itu, Allah akan melipat bumi dengan TANGAN KIRI-Nya sambil berkata:..'”[Muslim no. 4995, Muslim 39.6704]

    Jari Tangan Allah:
    Riwayat Ahmad bin ‘Abdullah bin Yunus, Fudhail bin ‘Iyadl -> Manshur -> Ibrahim -> ‘Ubaidah As Salmani -> ‘Abdullah bin Mas’ud dia berkata; “Seorang yahudi datang kepada NabiSAW, lalu dia berkata; ‘Wahai Muhammad, atau wahai Abu Qasim! Kelak di hari kiamat Allah Ta’ala memegang langit dengan 1 JARI, bumi dengan 1 JARI, gunung-gunung dan pohon-pohon dengan 1 JARI, lautan dan air dengan 1 JARI, mahluk lain dengan 1 JARI-Nya. Kemudian Dia goncangkan seluruhnya sambil berkata;….Rasulullah SAW pun tertawa mendengarnya dan membenarkannya. Kemudian beliau melafalkan AQ 39.67 [Muslim no.4992, 4993 atau Muslim 39.6699-6702]

    Allah Berlari:
    Riwayat Abu Mu’awiyah, Al A’masy -> Ma’rur bin Suwaid -> Abu Dzar, “Rasulullah SAW bersabda: “Allah Azza Wa Jalla berfirman: “Barangsiapa melakukan…Barangsiapa mendekat pada-Ku 1 jengkal maka Aku akan mendekat kepadanya 1 HASTA, dan barangsiapa mendekatkan diri pada-Ku sehasta maka Aku akan mendekat padanya 1 DEPA, dan barangsiapa mendatangi Aku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan LARI.” [Musnad Ahmad no.20398, juga di Tirmidhi no. 3527, hadis ini bisa dimaknai secara kiasan maupun bukan]

    Hadis dan Tafsir:

      Hadis riwayat al Haarith ibn Nawfal: “Allah menciptakan tiga hal dengan Tangan-Nya: Adam, menulis Tawraah, dan menanam tanaman di Firdaus” [Koleksi dari Daylami, Darqutni di ‘As Sifaat’ hal. 26 # 28 (juga riwayat Amr ‘Abdullah bin’ dari otoritas al Harits ibn Nawfal, hal. 403) dan Abu Ash Shaikh di ‘Al’ Udhmah ‘: 5/1555]

      Hadis riwayat ‘Abdullah bin’ Umar: “Allah menciptakan empat hal dengan Tangan-Nya: ‘arsy, Pena, Adam dan Surga ‘Adn. Kemudian untuk seluruh sisa penciptaan lainnya berkata ‘Kun’ [menjadi] dan terjadilah itu.” [Adh Dhahabi di ‘Al ‘Uluw’ menyatakan ‘rantai perawinya baik’. Al Albaani di ‘Mukhtasar al ‘Uluw’ hal.105 menyatakan ‘Rantai perawinya otentik menurut aturan imam muslim’]

      Dari otoritas ‘Abdullaah ibn al Haarith yang berkata rasulullah berkata: Allah menciptakan 3 hal dengan tangannya: Adam, menulis taurat, dan menanam di Firdaus…” [koleksi al Khira-ity in Masaawi al Akhlaaq: hal.62, #426]

      Hadis riwayat ibn ‘Umar: Allah menciptakan 4 hal dengan tangannya: Arsy, Surga ‘Adn, Adam dan Pena..” [Al Haakim menyatakan ‘rantai perawi otentik menurut syarat Bukkhari dan Muslim namun tidak dimasukan kedalam koleksi mereka]

      Ibnul Qayyim:
      Terdapat laporan otentik dari Bukhari dan Muslim dalam sahih mereka bahwa Nabi berkata dalam hadis tentang campurtangan: Akan dikatakan pada musa:”Kamu Musa yang allah akan nyatakan dengan ucapan (langsung) padamu dan menuliskan tablet untukmu dengan tangannya’ [Bayaan Talbees al Jahmiyyah 1/153].

      Ibn ‘Uthaymeen said:

      Para Ahli kitab menyatakan Allah tidak menyiptakan seluruhnya dengan tangan kecuali Adam, Surga ‘Adn, meulis taurat. Inilah 3 hal yang dilakukan dengan tangan Allah. Untk yang selain Adam, ia ciptakan dengan kata ‘kun’ (menjadi)'[Tafsir Surat al Kahf: hal.89]

    Abdul-Qadir Gilani [1077–1166 masehi] menulis di “Al-Ghunya li-talibeen tariq al-haqq“, memberikan gambaran tentang bentuk tangan ALLAH itu spt ini, “Ia mempunya dua tangan [yadan], dan setiap dari kedua tangannya adalah tangan kanan.” [juga di Bulletin Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 43/Th. II tgl 12 Dzulqo’dah 1425 H/24 Desember 2004 M, penulis Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli “Mengimani bahwa Allah Ta’ala memiliki Tangan”]

    Al-Bayḥaqī [994 M – 1066 M] dalam komentar untuk AQ 38.75 menyatakan “Dengan tashdīd (penggandaan) dari (huruf) “yā” menunjukkan gabungan (iḍāfah), dan ini adalah penetapan bentuk ganda (untuk kata tangan). Dan di sini TERLARANG membawakan itu dalam arti niʿmah (nikmat) atau qudrah (kekuasaan) karena itu bukan arti yang benar dalam spesifikasi dualitas dalam nikmat Allah juga tidak dalam kekuasaannya. Karena nikmat Allah lebih banyak dari yang dapat di hitung..”[Lihat lengkap: Di sini, Di sini dan Di sini]. 

Rupanya karakteristik “Antropomorfis” Allah yang disembah kaum muslimin ini mempunyai kesamaan dengan berhala lain yang disembah banyak tradisi keagamaan lain diseluruh dunia

Sejarah KABAH
Kabah adalah rumah berhala yang dijadikan pusat ritual penyembahan yang juga merupakan tradisi kaum Quraish, berikut ini adalah ringkasan dan kutipan tulisan Dr. Rafat Amari. Menurut penelitiannya, yang membangun Ka’bah BUKANLAH Ibrahim namun seorang yang bernama Asa’d Abu Karb, pemimpin suku yaman yang memerintah antara tahun 410 M – 435 M [Al-Azruqi, Akhbar Mecca, 1:173; Yaqut al-Hamawi, Mujam al-Buldan, 4:463].

Ia juga menyatakan bahwa tulisan penulis sejarah Islam yaitu Ibn Ishaq dan rekan-rekannya TIDAK BENAR dalam menceritakan kisah suku Jurhum:

    Setelah Nabaioth, suku Jurhum adalah penghuni Mekah pada jaman Abraham, bertangungjawab melayani tempat pemujaan di Mekah. Menurut kisah tersebut, mereka melayani sampai suku Khuzaa’h datang dari Yaman. Hal itu terjadi setelah dam di Ma’rib mulai menunjukan tanda2 kerusakan dan terusirlah mereka.

    Kisah itu berlanjut bahwa ketika suku Khuzaa’h tiba di Mekah, mereka mengalahkan Jurhum. Jurhum kemudian meninggalkan Mekah untuk menyembunyikan batu hitam dari kuil pemujaan dan 2 rusa emas. Mereka menyembunyikan benda2 tersebut di mata air yang disebut sebagai Zamzam, kemudian menutupi mata air tersebut, batu tersebut dan rusa2 dengan tanah sehingga tidak terlihat [Tarikh al-Tabari, I, page 524]

Hari di mana hal ini terjadi sangat penting.

Menurut kisah tersebut, Jurhum tinggal di Mekah sampai dengan dam Ma’rib rusak dan suku Khuzaa’h meninggalkan Yaman. Kita tahu bahwa hal2 ini terjadi sekitar tahun 150 setelah masehi.

Argumen bantahan Dr. Rafat Amari adalah:

  1. Tidak ada penulis klasik yang berkunjung dan menulis tentang wilayah Barat Arabia menyinggung keberadaan suku jurhum dan juga MEKAH.
  2. Setelah suku Jurhum dikalahkan, adalah tidak mungkin mereka mengubur 2 rusa emas yang sangat berharga dan sebuah batu yang sangat dipuja yang dimiliki tempat pemujaan di Mekkah tanpa diketahui para penghuni lainnya? Setiap suku yang meninggalkan Mekah sudah pasti membawa harta pusakanya dan tidak menguburnya di tempat umum, diketahui secara umum. Dan mata air tersebut adalah mata air satu2nya di Mekah.
  3. Batu hitam adalah sebuah batu yang dipuja. Tidaklah mudah untuk memindahkannya dari lokasi di dalam kuil pemujaan tanpa diketahui. Menurut pengakuan kaum muslim, perang pecah dikarenakan perebutan hak pengelolaaan atas tempat pemujaan tersebut. Bagaimana mungkin sebuah suku Jurhum yang dikalahkan berhasil memindahkan batu tersebut tanpa dicegah oleh suku Khuzaa’h sang pemenang atau paling tidak mengetahui tempat disembunyikannya si batu ?
  4. Terpusat pada keberadaan mata air itu sendiri. Jika ia berada di jazirah arab bagian barat, maka lokasinya pasti penting untuk diingat. Di atas semua itu, air , secara khusus sangatlah penting bagi bangsa arab yang hidup di gurun pasir. Tradisi Islam mengklaim keberadaan mata air tersebut sejak jaman Abraham. Jika pada saat itu secara ajaib diadakan pada saat malaikat Gabriel memberikan air pada Hagar dan anaknya, Ismael, maka keberadaannya harusnya diketahui secara luas, bukan hanya di Mekah, tetapi juga di kota2 lain disekitar Mekah. Kaum Bedouin pasti akan datang ke mata air itu untuk memberi minum binatang ternak mereka. Para penghuni juga akan datang untuk menyegarkan diri mereka. Tidak seorangpun dapat menyembunyikan mata air tersebut, bahkan jika dapat ditutupi dengan tanah.

Kisah kaum Jurhum menyembunyikan barang di mata air pada abad kedua masehi diteruskan dengan mengklaim bahwa Abdel Mutaleb, kakek Muhammed, menemukan kembali mata air tersebut pada akhir abad kelima masehi. Kita hanya dapat menyimpulkan bahwa mata air itu tidak pernah ada sebelum masa Abdel Mutaleb, dan bahwa penggalian yang dilakukan oleh penghuni Mekah pada akhirnyalah yang menemukan sumber air bawah tanah yang kemudian menjadi sebuah mata air.

Fenomena penggalian untuk mendapatkan air yang mana kemudian menjadi mata air adalah hal umum di Timur Tengah.

Klaim bahwa sebuah mata air ada di sebuah kota selama 2,500 tahun sebelum Jurhum berhasil menutupnya dari semua orang selama tiga abad berikutnya adalah hal yang tidak mungkin terjadi, sejak mata air di jazirah Arab pada masa tersebut adalah bernilai dan sangat penting bagi para Bedouin dibandingkan dengan Laut Mati itu sendiri.

Anda mungkin dapat menyembunyikan laut dari mata suku-suku yang kehausan tetapi anda tidak dapat menyembunyikan sebuah mata air dan lokasinya selama itu.

Lanjutan dari tulisan ini anda bisa baca di sini dan di sini atau di PDFnya. Mengenai siapa Dr. Rafat Amari, anda dapat buka kilasannya di sini. Untuk kontroversi lanjutan apakah Kabah benar dibuat Ibrahim dan Apakah Ibrahim pernah ke Mekkah, silakan baca di sini

PERINTAH KABAH SEBAGAI PUSAT RITUAL PENYEMBAHAN
Dalam literatur Islam, perintah untuk berpusat pada rumah berhala yang disebut kabah juga disampaikan:

  • telah dijadikan Allah Ka’bah (alka’bata) rumah (albayta) suci/haram (Alharama) qiyaman (tegak/berdiri) bagi manusia (li-nasi), dan bulan suci, had-ya (binatang sajen yg dipersembahkan untuk disembelih), qalaid (binatang sajen itu diberi kalungan bunga berwarna di sekeliling leher)..” [AQ 5.97]
  • Dan ketika Kami menjadikan rumah (al-bayta) tempat berkumpul bagi masyarakat dan tempat yang aman. Dan jadikanlah (waittakhidzuu) dari maqam Ibrahim (min maqaami ibraahiima ) tempat shalat (mushallan). Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf (lilththaa-ifiina), yang i’tikaf (waal’aakifiina), yang ruku’ (waalrrukka’i) dan yang sujud (alssujuudi)”.[AQ 2.125]
  • “Untuk tradisi kaum Quraish, tradisi bepergian musim dingin dan panas dan keharusan mereka menyembah (falya’buduu) pemilik (rabba) ini rumah (albayti), Ia yang memberi mereka makan di kelaparan dan memberi mereka rasa aman dari rasa takut”. [AQ 106.1-5]

    Aku hanya diperintahkan untuk menyembah (a’buda) tuhan (rabba) KOTA (albaldati) ini.. [AQ 27.91]

    Note:

    • Had: binatang (unta, lembu, kambing, biri-biri) yang dibawa ke Ka’bah untuk mendekatkan diri kepada Allah, disembelih ditanah haram dan dagingnya dihadiahkan kepada fakir miskin dalam rangka ibadat haji.
    • Qalaid: binatang had-ya yang diberi kalung, supaya diketahui orang bahwa binatang itu telah diperuntukkan untuk dibawa ke Ka’bah. [ada juga upacara Taqlid (mengalungkan bunga berwarna di sekeliling leher Budn (unta yang hendak di kobankan), lihat ini di Bukhari 2.26.617 dari riwayat Abdullah bin Abbas]

Ritual Penyembahan PRA ISLAM

    Riwayat Abbas bin Abdul ‘Azhim Al Anbari – An Nadlr bin Muhammad Al Yamami – Ikrimah bin Ammar – Abu Zumail – Ibnu Abbas ia berkata; DULU ORANG-ORANG MUSYRIK MENGATAKAN: “LABBAIKA LAA SYARIIKA LAKA (Aku patuhi panggilanMu yang tiada sekutu bagiMu). Maka Rasulullah SAW bersabda: “Celakalah kalian, cukuplah ucapan itu dan jangan diteruskan.” Tapi mereka meneruskan ucapan mereka; ILLAA SYARIIKAN HUWA LAKA TAMLIKUHU WAMAA MALAKA (kecuali sekutu bagi-Mu yang memang Kau kuasai dan ia tidak menguasai).” Mereka mengatakan ini sedang mereka bertawaf di Baitullah. [Muslim no. 2032]

    Diriwayatkan Salim bahwa ayahnya berkata:
    Aku melihat Rasul Allah tiba di Mekkah; mula2 dia mencium batu hitam (hajar aswad) ketika akan melakukan tawaf dan berlari-lari kecil di tiga putaran (tawaf) pertama dari tujuh kali putaran (tawaf) [Bukhari 2.26.673]

    Di riwayatkan ‘Asim:
    Aku tanya Anas bin Malik: “Apakah engkau biasa tidak menyukai Tawaf antara Safa dan Marwa (bukit kecil yang ada di antara Ka’bah yang jaraknya 450 m dan lokasinya sekarang ada di Mesjidil haram)?” Ia berkata, “YA, karena itu adalah ritual kaum jahiliyyah pra Islam, sampai Allah mewahyukan AQ 2.158 [Bukkhari 2.26.710. Dalam hadis 2.26.706 dari riwayat Urwa, bagian dari AQ 2.158, “Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah”. Abu Bakar menyatakan ayat ini turun karena tawaf dulu hanya di Ka’bah, kemudian terdapat 2 kelompok yang ketika di jaman Jahiliyah (karena menyembah yang berbeda), Ada yang tidak mau tawaf di safa dan marwah (Aisyah: karena yang disembah oleh mereka yang tawaf saat itu adalah Manat), dan yang lain biasa tawaf di sana, maka turunlah ayat ini yang menyatakan tawaf di safa dan marwah adalah benar karena merupakan simbol-simbol Allah]

Sirat Nabawiyah juga merekam bahwa ritual jahiliyah ini dilakukan oleh SUKU NABI dan seluruh bangsa quraish jahiliya, misalnya:

  • Ibnu Ishaq berkata, “Pada suatu hari raya, orang-orang Quraisy mengadakan rapat di samping salah satu dari patung-patung mereka. Mereka mengkultuskan patung tersebut, menyembelih hewan qurban untuknya, duduk berdoa disampingnya, dan thawaf di sekitarnya. Itulah hari raya mereka dalam setiap tahunnya. [Ibn Ishaq, bab 42 hal 187]
  • “Pada bulan itu, Rasulullah SAW menetap di Gua Hira’..aktifitas pertama beliau ialah pergi ke Ka’bah sebelum pulang ke rumahnya. Beliau thawaf di sekitar Ka’bah sebanyak 7x atau lebih. [Ibid, Bab 44, hal 197]
  • Usai melakuakan penyendirian di Gua Hira’, Rasulullah SAW melakukan aktifitas-aktifitas yang biasa beliau lakukan. Beliau pergi ke Ka’bah, dan thawaf di sekitarnya. Ketika beliau sedang thawaf, beliau bertemu dengan Waraqah bin Naufal. [Ibid, hal 199]
  • ..tiba-tiba Rasulullah SAW muncul. Beliau berjalan hingga menyentuh tiang Ka’bah, kemudian thawaf di Ka’bah.[Ibid bab 54, 242]
  • Pamannya Hamzah bin Abdul Muththalib, waktu itu masih belum masuk islampun mempunyai kebiasaan yang sama, yaitu..Hamzah pulang dari berburu, ia tidak langsung pulang ke rumah, namun terlebih dahulu thawaf di Ka’bah.[Ibid, bab 55, hal 244]
  • Di salah satu asbabunuzul turunnya alkafirun 109.1-6, Ibnu Ishaq berkata, “..Rasulullah SAW sedang melakukan thawaf di Ka’bah kemudian bertemu dengan Al-Aswad bin Al-Muththalib bin Asad bin Abudl Uzza, Al-Walid bin Mughirah, Umaiyyah bin Khalaf dan Al-Ash bin Wail. [Ibid, bab 66, hal 234-235]
  • ..Rasulullah SAWpun masuk ke dalam masjid, kemudian beliau melakukan thawaf di Baitullah dan shalat di sampingnya, lalu pulang ke rumah. [Ibid,Bab 69, hal 341], dan masih banyak lagi

Ritual Penyembahan SETELAH ada Islam

Allah telah 3x memerintahkan bahwa menyembahnya bukan lagi di barat atau di timur atau ke langit tapi harus ke Mesjidil haram, yaitu:

  • ke-1: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya..” [AQ 2.144].
  • Ke-2: “Dan dari mana saja kamu, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan”[AQ 2.149].

    Ke-3: “Dan dari mana saja kamu, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka..” [AQ 2.150]

    Nabi berkata:
    Kenapa orang-orang mengarahkan pandangan mereka ke langit ketika mereka sedang shalat? Suara beliau SEMAKIN TINGGI beliau bersabda: “Hendaklah mereka menghentikannya atau Allah benar-benar akan menyambar penglihatan mereka.”[Bukhari no. 708 atau di Muslim 4.862 dari riwayat Jabir bin samura. Atau di Muslim 4.863 riwayat dari Abu huraira, “Orang2 diharuskan menghindari memandang langit di saat sedang sembahyang (See: KBBI. “الصَّلاَةِ” = Al sallata = salat], atau mata mereka akan direnggut”]

Apa yang dilakukan kaum muslim di Ka’bah?

    “Dan ketika Kami tempatkan/tetapkan tempat (bawwa-naa) kepada Ibrahim (li Ibrahim) lokasi/sisi (makaana) Baitullah (albayti) bahwa “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu (baytiya) ini bagi orang-orang yang thawaf (lilththaa-ifiina), dan yang berdiri/beribadat (waalqaa-imiina) dan yang ruku’ dan sujud (waalrrukka’i alssujuudi)” [AQ 22.26]

Tidak boleh ada Allah lainnya di Kabah

    Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhada-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. [AQ 7.191]

Pernah suatu ketika, jumlah berhala lain yang diperserikatkan “DENGAN AKU” sampai sejumlah 360 berhala:

    Di riwayatkan Abdullah bin Masud:
    Rasullullah SAW memasuki Mekkah (pada tahun penaklukan Mekkah) dan terdapat 360 berhala di sekitar Ka’bah. kemudian Ia mulai memukul mereka dengan tongkat di tangan dan berkata, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”(AQ 17.81) ‘”Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak akan mengulangi (AQ 34.49) [Bukhari 6.60.244]

Demikianlah,
akhirnya hanya tersisa 1 (Satu) berhala saja yang Nabi sebut sebagai ALLAHUAKBAR (Allah yang lebih besar). Ritual penyembahan ini dilakukan seperti yang kaum musyrik dahulu lakukan dan dimulai dengan pengucapan Talbiyah (Tekad ihram):

    Riwayat ‘Abdullah bin Yusuf – Malik – Nafi’ – ‘Abdullah bin ‘Umar: cara talbiyah Rasulullah SAW adalah:
    Labbaik allahumma labbaik. Labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulka. Laa syariika laka“. (Aku patuhi panggilanMu ya Allah. Aku patuhi panggilanMu tidak ada sekutu bagiMu. Sesungguhnya segala puji, nikmat milikMU begitu pula di kerajaanMu. Tidak ada sekutu bagiMu) [Bukhari no.1448, 1449. Juga di Muslim no.2029, 2030, 2031]

    Diriwayatkan Ibn Abbas:
    Rasullullah melakukan tawaf di Ka’bah Baitullah di atas unta. Setiap kali sampai di sudut (ar-rukun, tempat hajar aswad/batu hitam) Ia menunjuk batu itu dengan sesuatu pada tangannya dan menyebut “Allahu-Akbar” (takbir) [Bukkhari 2.26.697/no.1525, Bukhari 2.26.681,682/no.1508, 1509; Bukhari no.4483; Musnad Ahmad no.2258; Darimi no. 1774].

Batu hitam yang disebut “allahuakbar” merupakan “TANGAN KANAN Allah di Bumi..” [Di riwayatkan dari Ibn `Abbas, Jabir, Anas, dan lainnya dari Ibn Abi `Umar al-Ma`dani dalam Musnadnya, al-Tabarani, al-Suyuti dalam “Jami` al-saghir (1:516 #3804-3805)”, Ibn `Asakir dalam “Tarikh Dimashq (15:90- 92)”, al-Khatib di “Tarikh Baghdad (6:328)”, dan lainnya.

    note:
    Ibn Ibn al-Jawzi dan Ibn `Adi (al-Kamil 1:342) menyatakan: Palsu. Cf. al-Ahdab, Zawa’id Tarikh Baghdad (5:321-323 #949) namun al-`Ajluni menyatakan SAHIH karena ada riwayat dari Ibn `Abbas yang di narasikan al-Quda`i dengan kalimat: “Di sudut [batu hitam] (al-rukn) adalah tangan kanan Allah di bumi…,” dan dinyatakan: HASAN sebagai hadis Nabi. detail lainnya lihat “Hadis tentang turunnya Allah, GF Hadad]

Ritual pemujaan berhala Allah yang dilakukan Quraish dan Nabi adalah sebagaimana disampaikan hadis di bawah ini:

    diriwayatkan Salim dari ayahnya:
    Aku melihat Rasul Allah tiba di Mekkah; mula2 dia mencium batu hitam (hajar aswad) ketika akan melakukan tawaf dan berlari-lari kecil di tiga putaran (tawaf) pertama dari tujuh kali putaran (tawaf) [Bukkhari 2.26.673]

    Yahya bercerita padaku dari Malik apa yang dia dengar bahwa ketika Rasul Allah SAW telah selesai Tawaf Kabah, sholat dua rokaat, dan ingin berangkat ke Safa dan Marwa, dia akan memberi hormat ke sudut tempat Batu Hitam berada sebelum berangkat. [Muwatta 20.33.113]

    Di riwayatkan ‘Asim:
    Aku tanya Anas bin Malik: “Apakah engkau biasa tidak menyukai Tawaf antara Safa dan Marwa (bukit kecil yang ada di antara Ka’bah yang jaraknya 450 m dan lokasinya sekarang ada di Mesjidil haram)?” Ia berkata, “YA, karena itu adalah ritual kaum jahiliyyah pra Islam, sampai Allah mewahyukan AQ 2.158 [Bukkhari 2.26.710. Di Bukhari 2.26.706 dari riwayat Urwa, bagian dari AQ 2.158, “Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah”.

    Abu Bakar menyatakan ayat ini turun karena tawaf dulu hanya di Ka’bah, kemudian terdapat 2 kelompok yang ketika di jaman Jahiliyah (karena menyembah yang berbeda), Ada yang tidak mau tawaf di safa dan marwah (Aisyah: karena yang disembah oleh mereka yang tawaf saat itu adalah Manat), dan yang lain biasa tawaf di sana, maka turunlah ayat ini yang menyatakan tawaf di safa dan marwah adalah benar karena merupakan simbol-simbol Allah]

    Walaupun Umar pernah berkata bahwa “Demi Allah! Aku tahu bahwa engkau cuma sekedar Batu dan jika aku tidak melihat Nabi menciumu dan menyentuhmu aku tidak akan pernah mau melakukan itu [Bukhari 2.26.667 dari riwayat Abis bin Rabia. Bukhari 2.26.675, 679 dari riwayat Zaid bin Aslam yang berasal dari ayahnya. Bukkhari 2.26.680 dari riwayat Az-Zubair bin ‘Arabi]

    Terdapat kegiatan yang disebut sebagai tawaf Sunnah, yaitu tawaf pada batu hitam sambil mengucapkan takbir (Allahu-Akbar) dan tahlil (La ilaha illahlah). [Fiqh-Sunnah Bag 76]

Apa kegunaan Batu hitam itu?

  • Batu hitam tersebut, jika disentuh berkhasiat untuk menghapuskan dosa.
      Riwayat Qutaibah – Jarir – ‘Atha` bin As Sa`ib – Ibnu Ubaid bin Umair – bapaknya bahwa Ibnu Umar terlihat berdesak-desakan di antara dua rukun, yang mana tidak ada sahabat Nabi SAW yang lain seperti dia. Saya bertanya; “Wahai Abu Abdurrahman, kenapa kamu berdesak-desakan di antara dua rukun, padahal saya seorangpun sahabat Nabi SAW yang lain sepertimu.” Dia menjawab; “Hal itu saya lakukan, karena saya mendengar Rasulullah SAW: ‘Menyentuh keduanya dapat MENGHAPUSKAN DOSA-DOSA….Abu ‘Isa berkata; ” Hammad bin Zaid – ‘Atha’ bin As Sa`ib – Ibnu Ubaid bin Umair – Ibnu Umar seperti hadits di atas, namun di dalamnya tidak menyebutkan dari bapaknya.” Abu ‘Isa berkata; “Ini merupakan hadits hasan.” [Tirmidhi no.882 (959). Dinyatakan Hasan oleh Tirmidhi dan sahid oleh Hakim (1/664), Adh-Dhahabi dan Ibn Hibbaan]]

      Riwayat Sufyan – ‘Atha bin As Sa`ib – Abdullah bin Ubaid bin Umair – Ibnu Umar hingga sampai kepada Nabi SAW: “Sesungguhnya beristilam (mencium, menyentuh atau berisyarat) kepada dua rukun, dapat menghapuskan dosa-dosa.” [Ahmad no. 4357]

      Riwayat Husyaim – Atha bin As Sa`ib – Abdullah bin Ubaid bin Umair – bapaknya bertanya kepada Ibnu Umar, “Kenapa aku tidak melihatmu menyentuh rukun kecuali menyentuh dua rukun ini; hajar aswad dan rukun yamani? Maka Ibnu Umar menjawab, “Jika aku melakukannya itu karena aku telah mendengar Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa dengan menyentuhnya akan dapat menghapus kesalahan-kesalahan (yang diperbuat). [Ahmad no. 4230]

  • Batu hitam itu berasal dari Surga [Riwayat Ibn Abbas, Timidhi no.877. Dinyatakan sahih oleh Albani di bukunya di hadis 695]. Ibn Abbas juga menyampaikan Bahwa Nabi berkata ketika Batu itu turun dari Surga, Ia berwarna putih dan menjadi hitam karena dosa-dosa dari turunan Adam (Tirmidhi no.803, Ahmad no. 3356). Ibn Abbas juga mengatakan bahwa Nabi berkata. Allah akan mengembalikan di hari kiamat dan batu itu akan memiliki 2 mata untuk melihat dan 2 mulut untuk bersaksi, tentang siapa-siapa yang menyentuhnya dengan tulus [riwayat Ibnu Khutsaim – Sa’id bin Jubair – Ibnu Abbas – Rasulullah SAW di Tirmidhi no. 884, Ibn Majjah no. 2935, Ahmad no. 2105, 2511, 2660, 3331]

Karena khasiat utama dari BATU HITAM ternyata dapat menghilangkan dosa (padahal hanya Allah yang mampu lakukan itu), maka wajar sekali jika batu hitam itu disembah.

Jelas sudah bahwa Allah yang mahaperkasa lagi maha kuasa yang merupakan sesembahan Nabi dan para muslim di seluruh dunia ini tidak lain dan tidak bukan adalah BATU HITAM ini.

Rupanya,
terdapat jenis batu lain yang tidak kalah ajaibnya di dunia islam. Walaupun tidak berkhasiat untuk menghapuskan dosa, namun di menjelang kiamat kelak terdapat banyak batu yang punya kemampuan berpikir, mengenali perbedaan dan mampu berbicara:

  • Diriwayatkan Salim bin Abdullah umar dari Abdullah bin ‘Umar:
    Kaum Yahudi, nanti akan memerangi kalian. Akan tetapi kalian mengalahkan mereka, kemudian batu pun berkata: “WAHAI MUSLIM, ADA YAHUDI DI BELAKANGKU, BUNUHLAH DIA”. [Bukhari no. 3593, Muslim no. 2921, Tirmidzi no.2236, Ahmad no. 5330, 6112, 6151]
  • Di riwayatkan Abu Hurairah:
    Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi sehingga kaum Muslimin memerangi Yahudi, lalu kaum Muslimin akan membunuh mereka sampai-sampai setiap Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, TETAPI BATU dan POHON ITU BERKATA, “WAHAI MUSLIM, WAHAI HAMBA ALLAH, ADA YAHUDI DI BELAKANGKU, KEMARILAH dan BUNUHLAH IA.’ KECUALI (pohon) gharqad karena ia adalah pohon Yahudi.” [Muslim 41.6985]

Apakah seluruh muslim pasti akan masuk surga?

Terdapat informasi menarik di peristiwa Isra dan Mi’raj Muhammad,
Yaitu di setiap langit yang disinggahinya, beliau bertemu banyak Nabi lain yang telah lama wafat dan juga keturunan Adam, yaitu di langit ke-:

  1. Adam, beserta keturunannya: di kanan dan kiri Adam, di mana yang sebelah kanan adalah para penghuni Surga dan yang sebelah kiri adalah para penghuni neraka [Muslim 1.313; Bukhari 1.8.345].
  2. Yesus [Muslim 1.314]. Isa dan Yahya [Muslim 1.309 dan Bukhari 4.54.429; 5.58.227]. Idris [Bukhari 9.93.608]
  3. Yahya dan Yusuf [Muslim 1.314]. Yusuf [Muslim 1.309 dan Bukhari 4.54.429, 5.58.227]
  4. Idris [Muslim 1.309, 314 dan Bukhari 4.54.429, 5.58.227]. Harun [Bukhari 9.93.608]
  5. Harun [Muslim 1.309, 314 dan Bukhari 4.54.429, 5.58.227]
  6. Abraham [Muslim 1.313 dan Bukhari 1.8.345, 9.3.608]. Musa [Muslim 1.309,314 dan Bukhari 4.54.429, 5.58.227]
  7. Musa [Bukhari 9.93.608]. Abraham [Muslim 1.314 dan Bukhari 4.54.429, 5.58.227]

Informasi di atas ini seharusnya membingungkan.

Mengapa?

Qur’an menyatakan bahwa mereka yang meninggal tidak otomatis mendapat kan penempatan surga atau neraka, namun MASIH berada di alam barzakh/”بَرْزَخٌ” [AQ 6:93, 9:101, 18:99, 22:7, 23:101-104, 27:82-90, 39:67-75, 40:46, 56:1-56, 75:1-14, 79:34-41, 101:1-11] hingga saat kiamat. Tafsir Ibn Kathir untuk ALAM BARZAH:

    Mujahid berkata, “Al-Barzakh adalah penghalang antara dunia dan akhirat”. Muhammad bin Ka `b berkata, “Al-Barzakh adalah apa antara dunia dan akhirat, Bukan orang-orang di dunia ini, makan dan minum, atau orang-orang di akhirat, yang mendapatkan pahala atau hukuman karena perbuatan”. Abu Sakhr berkata, “Al-Barzakh mengacu pada kuburan. Mereka tidak di dunia ini maupun akhirat, dan mereka akan tinggal di sana sampai hari kiamat”

Setelah itu mereka dibangkitkan. Hadis menginformasikan di hari kiamat, Muhammad-lah orang pertama yang akan dibangkitkan dari alam kubur [Bukhari 9.93.524, 564 4.56.732, Dari Usman bin Affan; dari Ibnu Umar (Al-Fakihy: 111/70-71)].

Kemudian manusia dikumpulkan, matahari mendekati bumi hingga sebatas 1 atau 2 mil dan manusia berkeringat deras:

    Al Hasan bin Sawwar – Laits bin Sa’ad dari Mu’awiyah bin Shalih – Abu ‘Abdur Rahman – Abu Umamah – Rasulullah SAW:

    “Pada hari kiamat matahari mendekat seukuran 1 mil, panasnya ditambahkan sekian dan sekian, serangga-serangga akan mendidih layaknya tungku, mereka mengeluarkan keringat berdasarkan kesalahan-kesalahan mereka, diantara mereka ada yang mencapai dua mata kaki, ada yang mencapai dua betis, ada yang mencapai pertengahannya dan ada yang dikekang keringat.” [Ahmad no.21162]

    ***
    Riwayat [Tirmidhi: (Suwaid bin Nashr – Ibnu Al Mubarak)/Muslim: (Al Hakam bin Musa Abu Shalih – Yahya bin Hamzah)] – Abdurrahman bin Jabir – Sulaim bin Amir – Al Miqdad bin Al Aswad – Rasulullah SAW:

    “Pada hari kiamat, matahari didekatkan ke manusia [Tirmidhi: “hingga sebatas 1 atau 2 mil”/Muslim: “hingga sebatas 1 mil”] -berkata Sulaim bin Amir: Demi Allah, aku tidak tahu apakah beliau memaksudkan jarak bumi ataukah mil yang dipakai bercalak mata- (Timirdhi: “lalu matahari melelehkan mereka,”) lalu mereka berada dalam keringat sesuai amal perbuatan mereka, di antara mereka ada yang berkeringat hingga tumitnya, ada yang berkeringat hingga lututnya, ada yang berkeringat hingga pinggang dan ada yang benar-benar tenggelam oleh keringat.” [Tirmidhi: “Aku melihat”/Muslim: “Al Miqdad berkata:”] Rasulullah SAW menunjuk dengan tangan ke mulut beliau. [Tirmidhi: + “maksudnya benar-benar tenggelam. Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih dan dalam hal ini ada hadits serupa dari Abu Sa’id dan Ibnu Umar”] [Muslim no.5108/40.6852 dan Tirmidhi no.2354/4.11.2421]

    ***
    Abdul ‘Aziz bin Abdullah – Sulaiman – Tsaur bin Yazid – Abul Ghaits – Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Pada hari kiamat manusia berkeringat, hingga keringat mereka di bumi setinggi 70 hasta dan menenggelamkan mereka hingga telinga dan mulut.” [Bukhari no.6051/8.76.539]

Sejumlah orang akan ada yang masuk surga tanpa hisab (jumlahnya 70.000 orang saja), namun sisanya sebelum masuk surga akan dihisab dulu. Dalam tafsir ibn kathir jus 8/381-382, mengutip sahih Bukhari yang berasal dari riwayat Abu Sa’id Al Khudri:

    nabi berkata jika orang-orang BERIMAN telah selamat dari neraka mereka tertahan di jembatan yang ada antara surga dan neraka. Di sana mereka diqishaskan untuk setiap perbuatan zalim ketika di dunia, setelah bersih maka diijinkan masuk surga.

Jembatan antara surga dan neraka ini juga di sebut Al A’raaf [AQ 57.13 dan AQ 7.46]. Dalam jus 8/385 disebutkan bahwa:

    Al A’raaf adalah bentuk jamak dari urf. Setiap bentuk dataran tinggi disebut urf..jengger ayam di sebut urf. Al araaf itu mempunyai pintu. Dari riwayat yang disampaikan oleh Ats Tsauri dari Jabir, dari Mujahid, dari Ibn abbas, “al Araaf adalah dinding spt jengger ayam jantan”. Riwayat lain dari ibn abbas menyatakan bukit antara surga dan neraka disana orang-orang berdosa ditahan diantara surga dan neraka. As Suddi mengatakan al A’raaf tempatnya tinggi karena disana penghuninya dapat menyaksikan orang-orang. [“Lubaabut Tafsiir Min Ibni Katsir”, Penerbit Mu-assasah Daar Al-Hilaal Kairo, cetakan ke-1, 1994, pustaka Imam Asy-sayfi’i, Bogor, cetakan ke-2, Mei 2003]

Tafsir Ibn kathir menyatakan:

    Ibn jarir menyampaikan hadis dari Hudhayfah yang ditanya oleh orang-orang tentang Al A’raaf dan berkata, “Mereka yang kebaikan dan kejahatannya setara. perbuatan buruknya mencegah dirinya termasuk golongan surga dan perbuatan buruknya mencegahnya masuk neraka. karena itu mereka dihentikan di sana pada sebuah dinding hingga allah menghakiminya.

Memperhatikan ini, maka, mereka semua, harusnya TIDAK SEDANG ADA Kanan (Surga) dan Kiri (Neraka) ADAM, bukan?!

Juga,
terdapat hal menarik lain yang berkenaan dengan kejadian di LANGIT KE-1.

Apakah itu?

Jibril yang di setiap langit, MAMPU mengenali Nabi-nabi yang telah wafat lama namun entah mengapa di langit ke-1, beliau ini malah TIDAK MAMPU mengenali: Ayah, Ibu dan Kakek Nabi yang masuk neraka. BAHKAN juga TIDAK MAMPU mengenali paman Nabi Abu Thalib dan Khadijah (istri pertama nabi) yang wafat HANYA di kisaran 1 tahunan sebelum peristiwa Isra’ Mira’j!

Saat Ayahanda muhammad wafat, Muhammad belumlah lahir. Saat Ibundanya wafat, Muhammad masihlah seorang kafir berusia 6 tahunan. Pasca meninggal Ibunya, Muhammad yang masih kafir ini dirawat Kakeknya, Abu Muttalib dan wafat ketika Muhammad berusia 8 tahun. Sejak itu ia dirawat pamannya, Abu Talib, yang kemudian menikahkannya dengan Khadijah. Hanya khadijjah yang menerima Allahnya Muhammad dan menerima Muhammad sebagai Rasullullah. Sehingga KECUALI KHADIJJAH, mereka semua, harusnya ada di sebelah kiri Adam [golongan yang masuk neraka].

Herannya mereka ini tidak ada yang dikenali JIBRIL, TIDAK ADA YANG DIINGAT dan DIRINDUKAN MUHAMMAD.

TIDAK ADA satupun dari mereka ini sempat DICERITAKAN KEBERADAANNYA ketika membawakan perjalanan Mi’raj kepada orang-orang

  1. Riwayat Musa bin Isma’il – Hammad – Tsabit – Anas: Seorang laki-laki bertanya, “Ya Rasulullah! Di manakah ayahku?” beliau menjawab, “Di Neraka!” [Abu Dawud no.4095/41.4700]. Ketika orang itu pergi, beliau memanggilnya seraya berkata, “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di neraka” [Muslim no.302/1.398 (Riwayat Abu Bakar bin Abu Syaibah – Affan – Hammad – Tsabit – Anas). Ahmad no.11747, 13332, Juga “Qaa’idatun Jalilah At-Tawassul wal Wasilah”, Cetakan 1977, Hal.8, Lahore-Pakistan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah]
  2. “Riwayat Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb – Muhammad bin Ubaid – Yazid bin Kaisan – Abu Hazim – Abu Hurairah: Nabi SAW menziarahi kubur ibunya, lalu beliau menangis sehingga orang yang di sekelilingnya pun ikut menangis. Kemudian beliau berkata: “Aku mohon izin Rabb-ku untuk memintakan ampunan baginya, namun tidak diperkenankanNya, dan Aku meminta izin untuk menziarahi kuburnya lalu diperkenankanNya. Karena itu, berziarahlah kubur karena akan mengingatkan kalian akan kematian” [Muslim no.1622/4.2130, 1621/4.2129, Abu Daud no.2815/20.3228, Nasa’i no.2007/3.21.2036, Ibnu Majah no.1561/1.6.1572, Ahmad no.9311, Baihaqi (4/76). Tafsir Ibnu Katsir jilid 2 hal.393-395]
  3. Riwayat Hasan bin Musa dan Ahmad bin ‘Abdul Malik – Zuhair – Zubaid bin Al Harits – Muharib bin Ditsar – ‘Abdullah bin Buraidah – ayahnya: Kami bersama Nabi SAW, beliau singgah di tempat kami, saat itu beliau bersama sekitar seribu tentara berkuda, beliau shalat dua rakaat kemudian beliau menghadapkan wajah ke arah kami bercucuran air mata. Umar bin Al Khaththab menghampirinya berkata: Wahai Rasulullah! Ada apa denganmu? Rasulullah SAW berkata: “Aku memintakan ampunan untuk ibuku pada Rabbku AzzaWaJalla tapi Ia tidak mengizinkanku, aku pun bercucuran air mata karena iba padanya dari Api (Neraka) (مِنْ النَّارِ)” [Ahmad no.21925, Ibnu Abi Syaibah, Hakim (1/376), Ibnu Hibban (no. 791), Baihaqi (4/76) dan Tirmidzi]
  4. Juga dari 2 (dua) hadis mursal di bawah ini, sebagai asbabunuzul AQ 2.119,
  5. “Sesungguhnya Kami telah mengutusmu dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka”

    Hadis Mursal:

    1. Rasulullah SAW bersabda: “Betapa inginnya aku tahu nasib ibu bapakku.” Maka turunlah ayat (AQ 2.119). Rasulullah SAW tidak menyebut-nyebut lagi kedua ibu bapaknya hingga wafatnya [Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dari atTsauri, dari Musa bin ‘Ubaidah yang bersumber dari Muhammad Ibnu Ka’b al-Qarzhi]
    2. Rasulullah SAW pada suatu hari berdoa. “Di mana kedua ibu bapakku kini berada?” Maka Allah turunlah ayat (AQ 2.119) [Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Juraiz yang bersumber dari Dawud bin Abi ‘Ashim]

  6. Abu Talib (Pelindung sekaligus paman Muhammad) ketika wafat tetap tidak mau memeluk Islam, tidak mau mengakui Muhammad sebagai rasullullah juga menolak menerima Allahnya Muhammad dan menyatakan mengikuti agamanya Abu Muttalib (Kakeknya Nabi) [Riwayat Said bin Al-Musaiyab – Ayahnya (Bukhari no.2.23.442 (turunnya At taubah 9.113), 5.58.223, 6.60.295, Sahih Muslim no.1.36 dan Nasai no.3.21.2037 [turunnya Attaubah 9.113 dan Al qasash 28:56]). Muslim no.1.37, 1.38 (Riwayat Abu huraira, turunnya Al Qasash 28.56)]

Kenapa Ayah+ibu, kakek dan paman nabi masuk neraka? Karena TAKDIR. Ya! Sudah takdir mereka untuk MASUK NERAKA.

  • Beberapa dari mereka, sebelum kedatangan Islam, berjasa melahirkan, merawat dan membesarkan muhammad, namun karena hingga sebelum wafatnya tidak menyembah Allah SWT yang juga disebutkan di ajaran ahlul kitab, maka mereka tetap masuk neraka.
  • Beberapa dari mereka, telah beramal dan melakukan perbuatan baik namun karena hingga sebelum wafatnya tidak menyembah Allah SWT, maka mereka tetap masuk neraka
  • Beberapa dari mereka, hidup di jaman Muhammad menjadi nabi dan bahkan ikut berdarah-darah untuk Muhammad dan juga Islam, namun karena hingga sebelum wafatnya tidak menyembah Allah SWT maka mereka tetap masuk neraka.

Mereka ini telah disesatkan Allah dan/atau Iblis sehingga berakhir hidupnya dalam keadaan tidak beriman pada Allah SWT dan menjadi bahan bakar Neraka.

Jadi,
tidak perduli apakah mereka kenal/tidak, tahu/tidak dengan Allah SWT, pokoknya selama sebelum wafat tidak memuja Allah, maka akan berada di neraka

    Riwayat Muhammad bin al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar – Muhammad bin Ja’far – Syu’bah – Washil al-Ahdab – al-Ma’rur bin Suwaid – Abu Dzar Nabi SAW:

    “Jibril mendatangiku lalu memberikan kabar gembira kepadaku, bahwa orang yang meninggal dari umatmu dalam keadaan tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu apa pun niscaya masuk surga.” Maka aku bertanya: “Meskipun dia berzina dan mencuri?” Jibril menjawab, “Walaupun dia berzina dan mencuri.” [Muslim: no.137/1.171, 138/1.172. Bukhari: no.1161, no.2983, no.5379/7.72.717, no.6933/9.93.579]

Walaupun terdapat klaim seperti di atas ini, anda-anda para MUSLIM dan/atau para MUALAF, tetaplah tidak berada di posisi aman.

Mengapa?

TIDAK SEMUA muslim masuk surga dan malah HAMPIR SELURUH MUSLIM juga akan berakhir, UNTUK SELAMA-LAMANYA di NERAKA.

Mengapa?

Karena Allah sendiri, yaitu sesaat sejak ADAM diciptakan, telah menetapkan siapa-siapa saja dan juga telah menetapkan jumlah quota surga dan nerakanya, BAHKAN, jika quota tersebut tidak terpenuhi, Allah akan mengisinya dari suku Arab Badui (suku kesukaan allah):

  • “Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya” [AQ 2:62, 2:119, 48:13, 7:178, 17:97, 11:119, 57:19, 37:22-23, 45:10, 33:66, 11:113, 31:21, 7:179] NAMUN di ayat lainnya malah disampaikan yang menyesatkan manusia sdalah IBLIS! [misal: AQ 15:39, 36:26, 38:82]
  • dari setiap 1000, 999 dijebloskan neraka!” [Bukhari no.3099, 4372, 6049. Muslim no.327, 5233. Ahmad no.6268, 10854]
  • Riwayat ‘Amru bin ‘Utsman bin Sa’id bin Katsir bin Dinar Al Himshi – ‘Abbad bin Yusuf – Shafwan bin ‘Amru – Rasyid bin Sa’d – ‘Auf bin Malik – Rasulullah SAW:

    “Yahudi akan terpecah menjadi 71 golongan, 1 golongan akan masuk surga dan yang 70 golongan akan masuk neraka. Nashrani terpecah menjadi 72 golongan, yang 71 golongan masuk neraka dan yang 1 golongan akan masuk surga. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada ditangan-Nya, sungguh ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan, yang 1 golongan masuk surga dan yang 72 golongan akan masuk neraka.” Lalu beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka (yang masuk surga)?” beliau mennjawab: “Yaitu Al Jama’ah.”

    [Ibn Majjah no.3982 (Komentar ulama terhadap Abbad bin Yusuf: Ibnu Hibban: tsiqaat, Ibnu Hajar al ‘Asqalani: Maqbul,
    Adz Dzahabi: Shaduuq yaghrib). Abu Dawud 3981 ([Riwayat Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Yahya – Abu Al Mughirah] dan [Amru bin Utsman – Baqiyyah] – Shafwan – Azhar bin Abdullah Al Harazi – Abu Amir Al Hauzani – Mu’awiyah bin Abu Sufyan – Rasulullah SAW: “orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlu kitab berpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku akan berpecah menjadi 73 golongan; 72 golongan masuk neraka dan 1 golongan masuk surga, yaitu Al Jama’ah.”). Tirmidhi no.2656 (Riwayat Mahmud bin Ghailan – Abu Daud Al Hafari – Sufyan Ats Tsauri – Abdurrahman bin Ziyad – Abdullah bin Yazid dari Abdullah bin Amru – Rasulullah SAW: ..bani Israil terpecah menjadi 72 golongan dan ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan semuanya masuk ke dalam neraka KECUALI 1 golongan,” ..Abu Isa berkata; ‘Hadits ini hasan gharib mufassar)]

    ***

    Riwayat Qa’nabi – Malik – Zaid bin Unaisah – Abdul Hamid bin ‘Abdurrahman bin Zaid Ibnul Khaththab – Muslim bin Yasar Al Juhani – Umar Ibnul Khaththab pernah ditanya tentang ayat ini:

    (Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka) -Qs. Al A’raf: 172- Al Qa’nabi membaca ayat tersebut, lalu Umar berkata, “Aku juga pernah mendengar Rasulullah SAW ditanya tentang ayat itu, lalu beliau menjawab; “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam,

    lalu ALLAH MENGUSAP PUNGGUNGNYA (sulbi) DENGAN TANGAN KANAN-Nya hingga keluarlah keturunan Adam dari punggungnya. Kemudian Allah berfirman: “AKU MENCIPTAKAN MEREKA UNTUK MASUK SURGA, dan mereka akan beramal dengan amalan-amalan penduduk surga.”

    kemudian ALLAH KEMBALI MENGUSAP PUNGGUNG ADAM hingga keluarlah keturunan Adam dari punggungnya. Setelah itu Allah berfirman: “AKU MENCIPTAKAN MEREKA UNTUK MASUK NERAKA, dan mereka akan beramal dengan amalan-amalan penduduk neraka.”

    Seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu untuk apa gunanya beramal?”

    Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya jika Allah menciptakan seorang hamba untuk masuk ke dalam surga maka Ia akan menjadikannya beramal dengan amalan penduduk surga, sehingga ia mati dengan amalan penduduk surga lalu memasukkannya ke dalam surga.

    Dan jika Allah menciptakan seorang hamba untuk masuk ke dalam neraka maka Ia akan menjadikannya beramal dengan amalan penduduk neraka, sehingga ia mati dengan amalan penduduk neraka lalu memasukkannya ke dalam neraka.”

    [Abu Dawud no.4081, Juga di Tirmidhi no.3001 (Hadis Hasan), 3002 (Hadis Hasan sahih). Malik no.1395. Ahmad no. 294, 2157, 17000. Kemudian di hadis Ahmad no. 26216, Riwayat Haitsam – Abu Ar Rabi’ – Yunus – Abu Idris – Abu Darda’ – Nabi SAW bersabda: “Ketika Allah menciptakan Adam, Allah memukul bahu kanan Adam, maka keluarlah keturunan berkulit putih seperti molekul, dan memukul bahu kirinya keluar keturunan berkulit hitam seperti arang, Allah berkata pada yang di bagian kanannya, ‘Masuklah ke Surga dan Aku tidak perduli‘. berkata pada yang di bagian kirinya, ‘Masuklah ke dalam Neraka dan Aku tidak perduli’“]

    ***

    Riwayat (Abu Bakr bin Abu Syaibah – Abu Mu’awiyah dan Waki’ atau dari jalur lainnya riwayat Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair Al Mahdani – Bapakku dan Abu Mu’awiyah dan Waki’) – Al A’masy – Zaid bin Wahb – ‘Abdullah – Rasulullah SAW (Ash Shadiq Al Mashduq, seorang yang jujur menyampaikan dan berita yang disampaikannya adalah benar):

    ‘seorang manusia mulai diciptakan dalam perut ibunya selama 40 hari. Kemudian menjadi segumpal daging pada 40 hari berikutnya. Lalu menjadi segumpal daging pada 40 hari berikutnya. Setelah 40 hari berikutnya, Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya dan diperintahkan untuk menulis empat hal: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagianya.’

    ..seseorang darimu yang mengerjakan amal perbuatan ahli surga, hingga jarak antara dirinya dan surga hanyalah satu hasta, namun SURATAN TAKDIR rupanya ditetapkan baginya hingga ia mengerjakan amal perbuatan ahli neraka dan akhirnya ia pun masuk neraka.

    Ada pula orang yang mengerjakan amal perbuatan ahli neraka, hingga jarak antara ia dan neraka hanya satu hasta, namun SURATAN TAKDIR rupanya ditetapkan baginya hingga kemudian ia mengerjakan amal perbuatan ahli surga dan akhirnya ia pun masuk surga.’ [Muslim no.4781. Bukhari no.3085]

    ***

    Riwayat [Qutaibah atau Hasyim bin Qasim] – [Al Laits atau Bakr bin Mudhar] – Abu Qabil/Huyaiy bin Hani – Syufayyi bin Mati’ – ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash:

    Rasulullah SAW keluar menemui kami sementara di tangan beliau terdapat dua kitab. Kemudian beliau pun bertanya: “Apakah kalian tahu kitab apakah kedua kitab ini?” Maka kami pun menjawab: “Tidak wahai Rasulullah, kecuali Anda mengabarkannya pada kami.”

    Akhirnya beliau pun bersabda terkait dengan kitab yang berada pada tangan kanannya: “Ini adalah kitab yang berasal dari Rabb semesta alam. Di dalamnya terdapat nama-nama penduduk surga dan juga nama-nama orang tua serta kabilah mereka. Jumlahnya telah ditutup dengan orang yang terakhir dari mereka, dan tidak akan ditambah dan jumlah mereka tidak pula dikurangi lagi.

    Kemudian beliau bersabda terkait dengan kitab yang berada di tangan kirinya: “Adapun ini, ia adalah kitab yang juga berasal dari Rabb semesta alam. Di dalamnya telah tercantum nama-nama penghuni neraka, dan juga nama-nama bapak mereka serta kabilah mereka, dan telah dijumlah dengan orang yang terakhir dari mereka. Sehingga jumlah mereka tidak lagi akan bertambah dan tidak pula akan berkurang selama-lamanya.”

    Kemudian para sahabat pun berkata, “Kalau begitu, dimanakah letaknya amalan wahai Rasulullah jika memang perkara sudah habis?” beliau menjawab: “Berusahalah dan mendekatlah, karena sesungguhnya penduduk surga akan ditutup dengan amalan penduduk ahli surga, meskipun ia mengamalkan amalan apa saja. Dan sesungguhnya penduduk neraka akan ditutup pula dengan amalan penduduk neraka, meskipun ia mengerjakan amalan apa saja.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda dengan kedua tangannya lalu menghempaskannya dan bersabda: “Sesungguhnya Allah telah selesai terhadap urusan para hamba-Nya. Satu golongan di dalam surga dan satu kelompok pula di dalam neraka.”. Abu Isa berkata; Hadits semakna juga diriwayatkan dari Ibnu Umar. Dan hadits ini adalah Hasan Shahih Gharib. [Tirmidhi no. 2067/4.6.2141. Ahmad no.6275]

  • Jumlah mereka yang terpilih dan menjadi barisan surgawan banyaknya adalah 120 baris dan 80 barisnya merupakan umat muhammad [Tirmidi no.3469, Tirmidhi berkata, “Ini hadis Hasan” (Fatwa no.4203) atau lihat di Tirmidhi no.2469 (Dua jalur perawi). Musnad Ahmad no.410021862, 21983 dan 21924. Juga di Sunan Darimi no.2713]. sehingga tentunya sisanya adalah umat-umat lain termasuk non Ahlul kitab.

    Dalam sahih Bukhari no.6059/8.76.549 dari perawi Ibn Abbas dan muslim no.278/1.367 dari Abu Zubair, ada memuat kalimat “..‘Wahai Jibril, apakah mereka itu ummatku? Jibril menjawab, ‘Bukan, tapi lihatlah ke ufuk!’ Maka aku pun melihat ternyata ada sejumlah besar manusia. Jibril berkata, ‘Mereka adalah ummatmu, dan mereka yang di depan, 70.000 orang tidak akan dihisab dan tidak akan diadzab.”

  • “Rabbku berjanji padaku untuk memasukkan 70.000 orang dari ummatku tanpa hisab dan adzab, setiap 1000nya bersama 70.000..” [Tirmidhi no.2361 (2624) dari Abu Umamah. Pendapat Abu Isa: Hadits ini hasan gharib]

    note:
    “حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ، حَدَّثَنَا اِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ الاَلْهَانِيِّ، قَالَ سَمِعْتُ اَبَا اُمَامَةَ، يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏”‏ وَعَدَنِي رَبِّي اَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ مِنْ اُمَّتِي سَبْعِينَ اَلْفًا لاَ حِسَابَ عَلَيْهِمْ وَلاَ عَذَابَ مَعَ كُلِّ اَلْفٍ سَبْعُونَ اَلْفًا وَثَلاَثُ حَثَيَاتٍ مِنْ حَثَيَاتِهِ ‏”‏ ‏.‏ قَالَ اَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ ‏.‏”.

    (Hadis dengan narasi seperti di atas juga yang juga dari riwayat Abu Umamah ada di Ibn Majah no.4276 (4427) “..70.000 orang dari ummatku ke dalam surga tanpa hisab dan siksa. Dan setiap 1000 orang dengan 70.000 orang” dan Ahmad no. 21271 “70.000 dari ummatku akan masuk surga tanpa hisab dan adzab, setiap 1000nya bersama 70.000”, juga di Ahmad no.21135) -> Jika ini di hitung: Per 1000 surgawan dari (poin ke-1) akan membawa lagi: 70.000 orang -> 70 x 70.000 = 4.9 juta orang + (point ke-1) = 4.97 juta orang (1/3-nya adalah pria).

  • Jika quota tidak terpenuhi akan di isi ras Arab Badui:
    “Aku memohon kepada Rabbku ‘azza wajalla, lalu Allah memberiku janji untuk memasukkan dari umatku sebanyak 70.000 semisal bulan di malam purnama, lalu aku meminta tambahan, dan Dia memberiku tambahan bahwa setiap 1000 orang akan membawa 70.000 orang.

    Lalu aku berkata; ‘Wahai Rabb, BAGAIMANA JIKA JUMLAH ITU TIDAK TERPENUHI dari orang-orang yang berhijrah dari umatku?

    ALLAH BERFIRMAN: ‘KALAU BEGITU AKAN AKU PENUHI JUMLAH ITU DARI ARAB BADUI
    ‘”

    Hadis di atas menunjukan:

    • Kata hijrah yang dimaksud jelas bukanlah hijrah dari Mekkah ke Medina, karena kita tahu jumlah yang hijrah ke Medina ketika itu tidak sampai 100 orang. 
    • Menunjukan jumlah quota yang Allah janjikan adalah jumlah final (total 4.97 juta) dan pun sudah diberikan kepastian bahwa jika quota tidak terpenuhi maka akan di isi dari ras Arab Badui BUKAN dari ras lainnya[↑].

Memperhatikan seluruh jumlah manusia dari jaman dulu sampai sekarang, maka jumlah quota surga ini jelas telah lama terpenuhi. Apalagi jika hingga kiamat kelak. Sungguh hidup menjadi tersia-sia jika sampai wafat masih belum menyadari bahwa ajaran ini hanyalah omong kosong belaka![↑]

***

KRISTEN: LOKASI ALLAH DAN SURGA
Paulus dalam suratnya menceritakan orang yang diangkat ke Firdaus [2kor 12:4]. Ditegaskan juga di kitab Wahyu bahwa Firdaus merupakan hadiah bagi para pemenang:

“Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah.” [Wahyu 2:7]

Pohon kehidupan…Ring a bell?

Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. [Kejadian 2:8-9]

Lanjutannya:
Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang. Yang pertama, namanya Pison, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila, tempat emas ada. Dan emas dari negeri itu baik; di sana ada damar bedolah dan batu krisopras. Nama sungai yang kedua ialah Gihon, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Kush. Nama sungai yang ketiga ialah Tigris, yakni yang mengalir di sebelah timur Asyur. Dan sungai yang keempat ialah Efrat. TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. [Kejadian 2:10-15]

Yesus spesifik menyebut bahwa Ia akan berdiam di Firdaus
Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”[Lukas 23:43]

Wikipedia tentang Firdaus:

    The word “paradise” entered English from the French “paradis”, inherited from the Latin “paradisus”, which came from Greek‚ (royal garden).[1] The Greek word came from the Persian Avestan word “pairidaêza-” (an Eastern Old Iranian language) = “walled enclosure”, [2] which is a compound of pairi- (= “around”) (a cognate of Greek peri- and -diz = “to create, make”), a cognate of English “dough”.

    An associated word is the Sanskrit word paradesha = “foreign country” or “supreme country” from Sanskrit para = “beyond” (Greek pera and desha = “land, country”).

    The word also entered Semitic languages: Akkadian pardesu, Arabic firdaws, Aramaic pardaysa, and Hebrew pardes.

Nama lain sorga di Perjanjian Lama [Alkitab] adalah Shamayim atau Ouranos:

  • El, pencipta dari pencipta [Al, Ilah, Yah, Eli, arti= kekuatan], disebut juga Eloha, Elyon [Kiasan dari kata Tuhan, artinya Lebih tinggi], El Lyon [yang tertinggi], Toru ‘El [tradisi Ugaritic= Bull El, Dewa sapi Jantan].
  • El, dalam legenda Ugaritic disebutkan punya dua istri yaitu Athirat [mirip sekali dengan Akhirat] dan Rahmay[murah hati, mirip Rahmat].
  • El, di Islam adalah Eloha, Elohim adalah Allah dan Illah. Di buktikan dengan banyaknya penggunaan kata ‘Kami’ di Qur’an
  • Di Tradisi India, Indra/Sanka/Sakra/Sakka, disebut sebagai Sapi Jantan penembus Benteng [Rg Veda 2.12.12]
  • El adalah nama generic untuk Ba’al, Yahwe [tulisan yhvh, Yehova, baca: adonay] yang punya istri namun cerai bernama Aserah [2 raja 23:15, mengungkapkan peristiwa perceraian itu dalam bentuk kiasan], namun kemudian Yahwe dianggap sederajat dengan dewa Petir Bael
  • Menurut legenda Canaanite, Shamayim adalah Dewa langit dan istrinya adalah ‘erets, [artinya adalah tanah/bumi], punya anak bernama El [kekuatan, bentuk tunggal], yang nantinya dikenal sebagai Elohim [bentuk jamak dari El, ‘ilhm]. Legenda yang sama juga menyatakan El Lyon [maha tinggi] menikah dengan beruth [Beirut, nama kota] menciptakan Uranos dan Ge
  • Surga/langit di Alkitab kerap disebut sebagai Ouranos dan ouranos adalah Dewa Langit mempunyai istri bernama Gaia [dewa bumi] punya anak bernama cronus [El]

Kita telah mengenal ratu sorga kita yaitu ‘erets dan Gaia, ternyata Alkitab juga mempunyai referensi mengenainya:

Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Kamu, laki-laki dan isteri-isterimu! Kamu telah memenuhi apa yang telah kamu ucapkan, yaitu: Kami akan menepati dengan baik nazar yang kami ucapkan untuk membakar korban dan mempersembahkan korban curahan kepada ratu sorga. Baiklah! Wujudkanlah dan tepatilah nazarmu dengan baik![Yeremia 44:25]



Peringatan:
Pihak Nasrani akan mati-matian mengatakan arti dari Elohim adalah ‘Kekuatan atas kekuatan’ atau ‘kekuatan tertinggi’, padahal buat apa repot-repot kalo tunggal toh disebut El bukan Elohim, toh?! Tentunya mereka akan berargumen bahwa Elohim itu bentuk tunggal juga bentuk jamak.

Ternyata Tidak ada yang real Monotheis, bukan!

Alkitab, kerap menyebutkan beberapa Nabi dipanggil dan bertemu Allah yang bertempat tinggal di GUNUNG TUHAN:

  • Lalu berangkatlah mereka dari gunung TUHAN…[Bil: 10:33, Juga Yesaya 2:3; 30:29, zakharia 8:3]
  • Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?” [Mazmur 24:3]
  • dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub [Mikha 4:2]
  • Gunung lainnya di antaranya adalah Gunung Sion (Yesaya [2:2], [24:23]; Mazmur [74:2]), Gunung Horeb gunung Allah, nama lain Gunung Sinai? (1 raja-raja [19: 8]; keluaran [3:1], [3:12], Kel [19:3] dan Ulangan [1:6]), Gunung Ebal (Yos [8:30], 8:33), Gunung Hor, Lebanon (Ulangan 32:50-51), Efron, Pegunungan di Utara Judah, Effraim (Kejadian [49:29]), Gunung Sinai (Kel [19:16-21]), Gunung Moria, sebelah Timur Yerusalem (Kejadian [22:2], [22:11], [22:14]; 2 tawarih [3:1]), Gunung (Wahyu [21:10], 2 petrus [1:18])

Ternyata SORGA yang disebut2 sebagai hadiah bagi para pemenang dan juga Tempat ‘Allah yang jelas-jelas tidak maha esa’ berada di suatu tempat di dataran tinggi.

Surga itu justru telah dimiliki terlebih dahulu oleh para PENGANUT agama-agama PAGAN!

Satu persoalan besar berikutnya yang harus dihadapi para nasrani yang masih mengklaim surga milik para pagan ini adalah surga tersebut sesuai ajaran nasrani harusnya telah musnah ketika banjir Nuh melanda. Di ajaran Nasrani dikatakan tingginya air ketika banjir melebih 15 hasta (sekitar 7.5 Meter lagi) lagi dari segala gunung tertinggi.

    40 hari 40 malam lamanya airbah menutupi bumi [7:17], akhirnya air sampai menutupi Segala gunung tinggi di seluruh kolong langit ditambah 15 hasta lagi sehingga gunung-gunung ditutupi [Kej 7:19-20] Banjir itu stabil 150 hari lamanya [7:24]

Perhatian:
Nasrani, kebanyakan menyatakan bahwa Surga yang dimaksud itu Yerusalem baru, yang di dahului kehancuran Langit dan bumi, yaitu merujuk di surat Wahyu:

    Langit dan bumi akan digoncangkan (Hag 2:7; Ibr 12:26-28) dan akan lenyap seperti asap (Yes 51:6); bintang-bintang akan dihancurkan (Yes 34:4) dan unsur-unsur dunia akan hangus (2Pet 3:7,10,12).

    “Lalu aku melihat ouranon (langit) yang baru dan bumi yang baru, sebab ouranov (langit) yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut tidak ada lagi dan Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, katabaino [turun/diturunkan, contoh penggunaan misal di mat 11:23] ex [dari/berasal dari] ouranou (langit), apo [dari, berasal dari; jauhnya dari; sejak; dengan; karena; oleh] Theo [allah], yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya [Why 21:1-2]

    Lalu, den [dalam] pneuma [nafas/roh] (sedang ngelindur???) ia membawa aku epi [di; pada; di muka, dekat; di hadapan] sebuah gunung [oros] yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus, Yerusalem, katabaino [DITURUNKAN] ex [berasal dari] ouranou, apo [karena] Theo [allah] [Why 21:10]. Bumi yang baru itu AKAN menjadi tempat tinggal manusia dan Theo(Allah) [Why 21:2-3; 22:3-5]. Dan aku tidak melihat Bait (naos) di dalamnya (en); (autos theos = Allah ssendiri), Tuhan (kurios) Yang Mahakuasa (pantokrator),dan (kai) Anak Domba (arnion) bait (naos)[Why 21:22]. Dan BANGSA-BANGSA akan berjalan di dalam cahayanya dan RAJA-RAJA di BUMI membawa kekayaan mereka kepadanya; [21:24]

Apa yang menarik di sini?

Jika ini adalah LANGIT dan BUMI baru serta juga merupakan “surga” yang baru, mengapa koq sudah ada RAJA-RAJA di BUMI?! Padahal sewaktu masih di langit dan bumi lama saja keberadaan Adam berserta keturuna di BUMI justru karena membangkang Allah dan berujung pengusiran. Sejak itu didongengkan dari Adamlah bermunculan banyak manusia di bumi.

Lantas, apa lagi alasan kemunculan raja-raja di bumi ketika telah ada langit dan bumi yg baru?

membingungkan, bukan?!

Theos apa sih artinya?

  • Theos, Theoi (Greek) [from theein to run, in reference to the planetary deities who perform the formative work in cosmic evolution; or cf Sanskrit deva, Latin deus (connected with Zeus or Dios) the bright or shining one]
  • theist: 1662, from Gk. theos “god” (see Thea) + -ist. The original senses was that later reserved to deist: “one who believes in a transcendant god but denies revelation.” Later in 18c. theist was contrasted with deist, as allowing the possibility of revelation. Theism “belief in a deity” is recorded from 1678; meaning “belief in one god” (as opposed to polytheism) is recorded from 1711. Theistic is attested from 1780.
  • Thea: fem. proper name, from Gk. thea “goddess,” fem. equivalent of theos “god,” from PIE base *dhes-, root of words applied to various religious concepts, e.g. L. feriae “holidays,” festus “festive,” fanum “temple.”

Jadi, bolak balik, tetap saja bahwa theos itu..ya gelar Dewa Yunani kuno! Bahkan Shamayim, Ouranos maupun Theos serta pemilik Firdaus, tidak pernah tercatat punya anak/mengangkat anak bernama Yesus!

[Note: Pengenalan lebih lanjut mengenai jatidiri tuhan Nasrani di literatur nasrani sendiri, silakan baca ini: Peringatan: Lucifer, Sama-el, Bel-el, Beelzebul, Allah, YHWH, YAHOVAH, Setan dan Iblis ternyata adalah Tuhan!]

Kalimat ‘turun dari Surga’ sudah jelas menyatakan bahwa Yerusalem baru itu letaknya BUKAN di Surga, malah ada di BAWAH FIRDAUS Eden dan yang pasti ada di sebuah GUNUNG!

Pintu gerbang masuk Yerusalem baru dan untuk siapa:
Di sebelah timur terdapat tiga pintu gerbang dan di sebelah utara tiga pintu gerbang dan di sebelah selatan tiga pintu gerbang dan di sebelah barat tiga pintu gerbang. Dan tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul Anak Domba itu. [Wahyu 21:13-14]

Biasanya, orang yang pintar akan cepat mengerti surga ini untuk siapa dengan cukup membaca ayat diatas, namun karena proses doktrinasi yang panjang terutama menggunakan kata Iman bukan akal, maka logika menjadi tumpul, untuk itu kita pakai pendekatan lain:

Yerusalem baru juga ada sungai dan ‘pohon kehidupan’ dan Lokasi Yerusalem baru itu ada di dataran tinggi sebagaimana di tulis dalam wahyu 22:

Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan yang jernih bagaikan kristal dan MENGALIR (ekporeuomai, tentunya dari atas ke bawah, bukan) ke luar (ex) dari takhta (thronos) Allah (theos) dan Anak Domba (arnion). Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa [22:1-2]

Paling tidak petunjuk diatas, mengindikasikan dua hal, yaitu:

  • Ada bagian ruang terbuka Hijau berupa pohon dan sungai serta,
  • Nantinya, tetap juga akan ada bangsa-bangsa yang sakit sehingga perlu disembuhkan dengan daun-daun

Lho?! bukankah itu saat kiamat?

Ternyata, Di Surga tetap saja masih ada yang perlu disembuhkan!

Masih tentang pohon kehidupan,

Berfirmanlah TUHAN Allah: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya.” Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil.I a menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyala beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan [Kejadian 3:22-24]

Terlihat jelas bahwa buah pohon kehidupan belum pernah dimakan oleh Adam-hawa serta merupakan sesuatu yang sangat PENTING! Mengapa? Karena dapat menyebabkan mahluk yang memakannya hidup untuk selama-lamanya!

Tercatat bahwa Allah telah melarang Adam makan buah pohon Pengetahuan [Kejadian 2:16-17]. Namun setelah Allah mendapatkan pelajaran paling berharga dalam hidupnya, yaitu lalai dalam memprediksi Adam-Hawa akan berani memakan buah pengetahuan! Maka Sebagai langkah preventif dari kecolongan berikutnya, Allah segera mengusir Adam dan Hawa serta memagarinya secara berlapis buah pohon kehidupan itu.

Artinya apa?

Allah tidak akan pernah memberikan buah pohon kehidupan kepada siapapun dan sampai kapanpun juga! Kabar baiknya adalah jika tidak ada yang makan buah pohon kehidupan itu, maka siksaan neraka pun tidak kekal adanya!

Ukuran dari Yerusalem baru: P x L x T, Berbentuk Kubus:
Kota itu bentuknya empat persegi, panjangnya sama dengan lebarnya. Dan ia mengukur kota itu dengan tongkat itu: dua belas ribu stadia; panjangnya dan lebarnya dan tingginya sama. Lalu ia mengukur temboknya: seratus empat puluh empat hasta, menurut ukuran manusia, yang adalah juga ukuran malaikat. [Wahyu 21:16-17]

[1 mile = 10 stadia, jadi 12.000 stadia = 1200 mil; 1 Mil = 1.609,344 m, jadi 12.000 stadia = 1931,2 km, sehingga luas keseluruhannya adalah 3,729,583 Km2]

Kalau kita merujuk undang-undang manusia saja, yaitu di Indonesia, ada UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Permendagri Nomor 1 Tahun 2007 tentang RTH [Ruang terbuka Hijau] Kawasan Perkotaan, yaitu persentase luas keseluruhan RTH sampai 2010 minimal 30 persen dari luas wilayah. Karena digambarkan Surga itu ada sungai dan pohon-pohon, maka apabila undang2 itu diaplikasikan, Luas Yerusalem baru sesuai undang2 kita seharusnya menjadi tidak kurang dari 2,610,708 Km2

Yerusalem baru itu adalah surga bagi mereka yang telah dimateraikan, yaitu penggunaan 6 materai pada kelompok Manusia, yaitu materai ke 6 untuk 144.000 suku Israel dan materai 1 s.d 5 untuk kelompok beberapa orang. Penggunaan Materai ke 7 dan seterusnya, dipastikan TIDAK ADA untuk keperluan manusia lagi. Tegasnya bangsa lain selain yahudi tidak pernah dimateraikan [Jelasnya lihat di sini atau di sini]

Satu masalah saja sudah terlihat di sini yaitu mengenai jumlah 144.000 keturunan Yahudi di Alkitab.

Menurut hasil STATISTICS Jews Ensiklopedia, Joseph Jacobs, Saat Bangsa Israel keluar dari Mesir [430 tahun kemudian] diperkirakan populasi keturunan yakub adalah 3 Juta orang! Pada Sensus yang dilakukan David [400 tahun kemudian] populasi keturunan Yakub diestimasikan 5 Juta orang. Di kisaran tempat hidupnya Yesus dan Nero, diperkirakan Yahudi Alexandria ada 200.000 orang; Mesir 1 jt orang Syiria 1 juta orang; Palestina 700.000 orang!

Coba anda perhatikan, dikisaran tahun penciptaan alkitab saja, keturunan yakub sudah melebihi 2.9 Juta orang!

Bukankah Yahudi itu bangsa yang disayang tuhan?

Bagaimana bisa dinyatakan bahwa di saat kiamat nanti, orang-orang yahudi yang masuk surga hanya sejumlah 144.000 orang saja! Lantas kumulatif orang yang telah meninggal:

  • Sejak jaman adam di tahun 4000 SM s/d Yesus atau Yohanes bikin kitab bagaimana?!
  • Kaum Yahudi yang meninggal hingga saat kiamat nanti, bagaimana?!
  • Padahal di Perjanjian Lama saja, kita juga menjadi saksi bahwa ada banyak perang yang sudah dilakukan di sisi Allah dan mengambil nyawa LEBIH dari 144.000 keturunan yakub berjuang, Mengapa di korting hingga 144.000 orang saja?

Sekarang, anda!

Ya Anda bersama segerombolan pendatang haram tiba-tiba dengan pengertian anda sendiri merasa berhak jatah surganya kaum YAHUDI.

Menurut survey penduduk dunia tahun 2007, Populasi manusia adalah 6.6 M, kira-kira 25%nya adalah Nasrani. Menurut WHO, Health, history and hard choices: Funding dilemmas in a fast changing world, Agustus 2006, terdapat rata-rata:

  • 4 juta bayi berusia dibawah satu bulan meninggal pertahunnya. Menurut nasrani manusia lahir sudah ada dosanya yang merupakan dosa turunan. Kreteria di kitab wahyu TIDAK TERMASUK bayi mati dibawah 1 bulan, sehingga sudah dapat dipastikan 48 M bayi yang tidak tahu apa-apa itu tidak akan masuk yerusalem baru!
  • 136 juta bayi lahir pertahunnya, dari prosentase nasrani di atas hingga 12.000 tahun kemudian maka akan terdapat kira-kira 408 M manusia yang pernah menjadi nasrani di muka bumi. Tingkat hunian per M2 adalah 9.1 M2 per jiwa! Kalau kita memakai kreteria RTH, maka tingkat hunian di yerusalem baru akan menjadi 6.4 M2.

Gila masa Surga orang2 yang terselamatkan lebih kecil dari rumah type 21 yang merupakan rumah sangat..sangat…sangat sederhana di Indonesia?

Tingkat hunian ini belum termasuk tahun 2006 yang ditarik mundur hingga tahun Adam lahir [4000 SM]!

Wah, kalo ini benar-benar di hitung secara teliti lagi malah menjadi sesesak kakus umum dipinggir sungai yang berukuran 1 x 1 M2! Kalo melihat, kesesakan dan kepadatannya sih, malah lebih mirip neraka daripada surga yang dikhayalkan Milyaran orang!

Suatu kebetulan yang menarik adalah Neraka yang menurut referesni akitab di tulis geenna [Yunani]/gay’ [Ibrani], Hinnom [Ibrani] = ratapan, definisi:

  1. Hell is the place of the future punishment call “Gehenna” or “Gehenna of fire”. This was originally the valley of Hinnom, south of Jerusalem, where the filth and dead animals of the city were cast out and burned; a fit symbol of the wicked and their future destruction.
  2. a valley (deep and narrow ravine) with steep, rocky sides located southwest of Jerusalem, separating Mount Zion to the north from the ‘hill of evil counsel’ and the sloping rocky plateau of the ‘plain of Rephaim’ to the south

Perhatian:
Kaum Nasrani akan berusaha mengalihkan hitungan diatas, dengan ide bahwa roh itu sangat kecil. Namun jangan khawatir, alkitab juga menyediakan referensi bentuk roh yang masuk surga misalnya adam berbentuk manusia saat di surga eden dan saat turun ke bumi [kejadian 1 dan 2] dan jangan lupa ukuran Adam adalah sangat TINGGI. Kitab wahyu juga menyebutkan roh itu dapat bebicara, menyanyi, memakai jubah putih, memegang sesuatu dan berdiri![Wahyu 6:11, 7:9, 7:15][Lahan: ↑] [Argumen: ↑]


Advertisements

101 thoughts on “Allah Semua Agama Itu Ternyata Sama Saja!”

  1. 2.. manusia berasal dari binatang mamalia yg berevolusi berjuta tahun <-- Capek2 baca, ternyata lagi ngedengerin curhatan si darwin toh. Pantas aja gak ada yang mutu bacaannya, lah wong hasil karya kera. Hehe. Ini sih bukan manusia yang berakal, tapi manusia akal-akalan. wkwkw. Tar kalau udah mati juga paling bengep2. Salam damai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s