Buddha ada di Neraka? Yesus di Nubuatkan di Kitab Buddhis?


Pengantar

Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa? ~ Roma 3:7

Website bebaptized.org (William Singleton) menuliskan klaim: “..di ranjang kematiannya, Buddha mengajarkan bahwa akan ada Mesias masa depan, “Tuhan Yang Maha Pengasih”, yang akan dapat membebaskan manusia dari dosa-dosa mereka. Buddha berkata, “… Dia adalah Tuhan yang penuh belas kasihan, namanya akan disebut Raja segala Raja, Tuhan para Raja. Dia semua tahu, semua bijaksana. Dia tahu semua yang ada dalam hati manusia. Dia adalah Tuhan dari semua malaikat dan semua manusia. Tidak ada yang lebih besar dari pada Dia.” (Sutrapridot 3: 107)“, kemudian berlanjut dengan klaim nubuatan Buddha tentang Yesus yang juga muncul di sebuah buku berjudul “Holy Life”, karangan Andrew Rankin (diedit oleh Steve Hyde) bahwa di Kitab Buddha terdapat ucapan Buddha tentang ciri-ciri orang suci yang akan datang di masa depan yaitu Yesus Kristus.

Klaim lainnya, tentu saja berasal dari kalangan Nasrani, lagi, bahwa seorang bernama Athet Pyan Shinthaw Paulu setelah menjadi Biksu bergelar U Nata Pannita Ashinthuriya, menderita sakit parah, meninggal 3 hari, mengaku bertemu Yama sang raja Neraka yang memperlihatkan bahwa sang Buddha ada di neraka, kemudian Ia diperlihatkan tentang surga dan melihat Peter ada di Surga, karena itu, kemudian Ia pindah menjadi Nasrani.[↓]

Anda perlu juga melihat bahwa nubuatan tentang Yesus-pun juga bermasalah di kitab serumpun [↓]



Klaim ke-1: Di buku ‘Holy Life”, karangan Andrew Rankin (diedit oleh Steve Hyde) halaman 25-27:


    Buddhisme. Umat Buddha percaya bahwa seseorang harus berbuat ‘jasa’ agar dapat memperbaiki hidupnya. Mereka tahu bahwa manusia memiliki dosa, sehingga setiap orang, berusaha berbuat jasa untuk menutupi dosa-dosanya. Tetapi mereka tahu bahwa dosa mereka terlalu besar. Ini khususnya sulit bagi orang miskin, karena mereka tahu bahwa untuk berbuat ‘jasa,’ seseorang perlu uang. Jalan untuk mendapatkan uang adalah menjadi orang kuat, tetapi banyak orang kuat mencuri dan tidak adil. Seringkali mereka korup dan menyalahgunakan kekuasaannya. Uang yang diterima dengan melakukan dosa pada orang lainnya adalah uang jasa yang tak pantas. Jadi dosa berlanjut karena tidak ada yang mampu punya cukup pahala untuk menghapus dosa … kecuali jika seseorang yang begitu sempurnanya Dia dapat punya cukup pahala untuk dirinya dan orang lain. Sangat menarik bahwa dalam kitab suci agama Buddha di Kamboja, sebuah ramalan tentang ‘sang suci’ akan datang, Seorang yang membawa manusia menjauh dari jalan lama dan mengenalkan jalan baru.

    “Ketika Buddha bepergian dan hidup di dunia ini, ada seorang pendeta Brahman tua berjubah putih bertanya kepada Sang Buddha,” Akan bagaimanakah semua orang dan Brahmin yang terus berbuat pahala agar terhindar dari hasil dosa?” Sang Buddha menjawab, “Meski kalian semua memberikan persembahan menurut 5 sila, 8 sila, 10 sila, atau 227 sila selama 9 triliun tahun dan Kau mengangkat tangan dan mempersembahkan korban bakaran, atau Kau berdoa 5x sehari, kau masih tidak akan [hal. 25] luput dari akibat dosa-dosamu. Jika Kau lakukan ini setiap hari, pahala yang kau dapatkan hanya akan sama dengan untaian terkecil rambut bayi yang belum lahir yaitu sangatlah kecil. Kau tidak akan memasuki pintu surga.”

    Pendeta Brahman tua itu bertanya lebih lanjut, “Apa yang harus kita lakukan agar terselamatkan?” Sang Buddha menjawab Pendeta Brahman tua itu, “Hasil dosa dan karma adalah sangat besar, lebih berat dari langit, lebih tebal dari bumi, dan begitu tingginya sehingga akan seperti malaikat yang membersihkan tiang-tiang di sudut kompleks kuil dengan kain setinggi 18 inci – membersihkannya 1x per tahun – hingga tiang-tiang tersebut runtuh ke tanah. Ketika tiang-tiang itu runtuh ke tanah, Selama itulah yang dibutuhkan untuk mengakhiri dosa-dosamu.” Sang Buddha berkata lebih lanjut, “Aku telah melepaskan derajat tinggiku dan memasuki jalan kependetaan. Aku pikir bahwa meski aku baik, Aku hanya akan punya jumlah jasa yang sangat kecil di akhir tahun. Jika Aku diberi jumlah jasa yang sama untuk 100.000 zaman dan hidup 10 kali lebih lama, Aku tak akan terselamatkan dari hasil dosa bahkan sekali pun.”

    Pendeta Brahman tua ini bertanya lebih lanjut, “Jadi apa yang harus kita lakukan?” Sang Buddha menjawab, “tetaplah berbuat pahala dan carilah Sang kudus lain yang akan datang dan menolong dunia dan kalian semua di masa depan”

    Kemudian Pendeta brahman tua bertanya, “Apa yang akan menjadi ciri dari sang Kudus ini kelak?” Sang Buddha menjawabnya, “Sang Kudus yang akan menjaga dunia di masa depan akan seperti ini: di telapak tangan dan di telapak kakinya akan ada gambar cakram, di sisi tubuhnya akan ada luka tusuk; dan pada dahinya akan ada banyak tanda seperti bekas luka. Sang Kudus ini akan menjadi kapal emas yang akan membawamu melewati siklus semua jalan kelahiran kembali menuju ke surga tertinggi (Nirwana). Jangan mencari keselamatan dengan cara lama; pastinya tak ada keselamatan di dalamnya. Berhenti dengan cara lama. Dan akan ada roh baru seperti cahaya kunang-kunang yang akan turun dari atas langit untuk hidup dalam segenap hatimu dan kamu [hal.26] akan menang atas semua musuhmu. Tak seorangpun yang akan dapat menghancurkanmu. Jika kau mati, kau tak akan kembali untuk dilahirkan di dunia ini lagi. Kau akan pergi ke surga tertinggi (Nirvana).”

    Buddha benar tentang kesia-siaan berusaha mendapatkan pahala. Itu tidak mungkin. Yang suci yang dikatakan Buddha akan datang telah datang. Sekitar lima ratus tahun setelah Buddha meninggalkan dunia ini, Nubuatan itu terpenuhi. Ketika Yesus Kristus mati di kayu salib untuk menghapus dosa manusia, setiap tangan dan kaki ditikam dengan paku besar meninggalkan bentuk piringan (Yohanes 20:20), sisi-Nya ditikam dengan tombak (Yohanes 19:34); dan dahinya memiliki banyak tanda di atasnya dari mahkota duri yang dikenakan orang Romawi kepada-Nya (Yohanes 19:2). Yesus Kristus membuka jalan baru dari iman yang terhubung Allah sehingga jalan-jalan lama dari pahala ditinggalkan. Hanya melalui Yesus, seseorang dapat menemukan jalan keluar dari ketidakmungkinan melakukan pahala. Melalui Yesus saja, seseorang dapat menemukan jaminan sempurna bahwa surga tertinggi dibuka oleh rahmat Allah. [hal.27]

    Note:
    Klaim di atas merupakan varian klaim sebelumnya, yang juga mengklaim berasal dari di kitab yang ada di Kuil (Wat) bernama “Phra Sing”, Chiang Mai, Thailand, bedanya yang diklaim bahwa Buddha Metteya adalah Yesus Kristus, yaitu di “Poles Apart”-nya, JOHN DAVIS, hal.112-113:

      seorang Brahman tua tertentu bertanya kepada Buddha tentang bagaimana caranya agar terselamatkan dari dosa. Sang Buddha menjawab bahwa terlepas dari berapa banyak aturan yang telah kau patuhi, atau bahkan jika kau berdoa 5x sehari, Kau tidak akan diselamatkan. Buddha lebih lanjut berkata bahwa dosa terlalu besar untuk dibasuh; walaupun Aku menjadi seorang pertapa, selama lebih dari 8 A-song-kaií atau terlahir kembali untuk 10x lagi, Aku tidak akan terselamatkan. Brahman bertanya tentang ciri dari Metteya. Sang Buddha menjawab bahwa di tangan dan kakinya ada luka, sisi tubuhnya ada luka tusukan tombak dan dahinya penuh tanda bekas luka. Dia adalah kapal emas yang membawamu ke surga di mana kau akan bertemu Tri-pra (dewa tritunggal Crystal). Dengan demikian, berhentilah mengikuti cara lama. Roh dari surga akan datang dan berdiam di hatimu untuk mengalahkan musuhmu dari empat dan delapan arah.

    —–

Scan buku di atas mengklaim bahwa ini berasal dari kitab buddhisme Kamboja, sementara tulisan web yang memuat scan ini dan juga web ini, menyatakan hal yang berbeda lagi, bahwa ini berasal dari Thailand (wat Phra Sing, Chiang Mai) plus ditambahi dengan rujukan “the religious encyclopedia, volume 23, book #29”. Masalahnya, TIDAK ADA Sutrapridot dan juga TIDAK ADA religius ensiklopedia. Bahkan klaim ini pun TIDAK AKAN ADA di seluruh volume TIPITAKA (baik online maupun cetak). Pelestarian sutta dan aturan kebhikuan telah dilakukan sejak jaman Buddha dengan dihafalkan dan menjadi TIPITAKA (dengan tambahan Abhidhamma) pada konsili ke-3 (abad ke-3 SM), kemudian untuk pertama kalinya dituliskan pada konsili ke-4 (abad ke-1 SM), ribuan tahun kemudian, yaitu pada tahun 1871 dan 1956 dilakukan konsili ke-5 dan 6, yang mengulang kembali tipitaka yang sama. Sementara itu, teknik hafalan ini pun masih tetap digunakan, misalnya Guiness Book of record, tahun 1985, mencatat nama Sayadaw Mingun, seorang Bikkhu dari desa Mingun, Myanmar. Bertempat di Rangoon, Burma pada bulan May 1954, berhasil mengalunkan 16,000 halaman kanon teks Buddhist yang ketika dibandingkan dengan teks tertulis, tanpa salah satu huruf-pun sehingga Ia diberi gelar Tipitakadhara Dhammabhandagarika (Pembaca TiPitaka dan penjaga Dhamma) dan tercatat 11 Bikkhu saat itu yang berkemampuan sepertinya, jadi, tipitaka memang terpelihara baik selama ribuan tahun. Jika tidak ada di TIPITAKA, maka itu BUKAN sabda Buddha tapi sabda pengarangnya.

Klaim bahwa berasal dari kitab yang ada di Wat Prha Sing, DIBANTAH Scott Noble dalam “Was Jesus Christ the Fulfillment of the Buddha’s Prophecy?” (June 28, 2006 bentuk PDF): “Aku juga pergi ke kuil Phra Singh, yang berada di pusat kota Chiang Mai dan bertanya kepada seorang bhikkhu senior tentang teks ini. Meskipun dia telah di sana selama sekitar 25 tahun, dia tidak tahu bagaimana cara mendapatkan salinan teks ini. Saya juga bertanya di perpustakaan mereka, dan mereka juga tidak tahu di mana menemukan teks ini.

Kitab Buddhism juga disusun dengan sistimatika penomoran, misalnya ucapan sang Buddha tentang lamanya kappa, di SN 15.5 (penomoran ini adalah rujukan resmi di kitab Buddhisme), “Di Sāvatthī. Seorang bhikkhu mendekati Sang Bhagavā, memberi hormat kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau: “Yang Mulia, berapa lamakah satu kappa?” “Satu kappa adalah sangat lama, bhikkhu. Tidaklah mudah menghitungnya dan menyebutkannya dalam berapa tahun, atau berapa ratus tahun, atau berapa ribu tahun, atau berapa ratus ribu tahun.” “Kalau begitu mungkinkah dengan memberikan perumpamaan, Yang Mulia?” “Mungkin saja, bhikkhu,” Sang Bhagavā berkata. “Misalkan, bhikkhu, terdapat sebuah gunung batu dengan panjang satu yojana, lebar satu yojana, dan tinggi satu yojana, tanpa lubang atau celah, sebuah batu padat yang besar. Di akhir setiap seratus tahun, seseorang akan menggosoknya dengan sehelai kain Kāsi. Dengan usaha ini gunung batu itu lama-kelamaan akan terkikis habis tetapi kappa itu masih belum berakhir. Demikian lamanya satu kappa itu, bhikkhu. Dan dari kappa-kappa yang selama itu, kita telah mengembara melalui begitu banyak kappa, ratusan kappa, ribuan kappa, ratusan ribu kappa.“. Jadi aneh sekali ketika mengklaim ucapan Buddha tapi tanpa disertai penomoran dan juga tanpa ada di TIPITAKA.

Klaim “Kau mengangkat tangan dan mempersembahkan korban bakaran, atau Kau berdoa 5x sehari” adalah janggal, karena kaum Brahmana tidak melakukan korban bakaran seperti kaum Yahudi, juga tidak melakukan doa sebanyak 5x.

Sekarang, mari kita lihat klaim lainnya dan kita bandingkan juga dengan kenyataan di Kristen sendiri dan juga kitab kaum Yahudi.

Pertama, klaim “melakukan persembahan memerlukan uang” adalah TOTAL ERROR, Di banyak kisah Buddhisme, akan ditemukan contoh dari mereka yang memberikan persembahan tanpa uang, yaitu dengan tenaga, menyetujui hal baik, mengajak berdana (misal Dhammapada syair 122), berdana suara (mengalunkan paritta, ceramah: misal SN 1.42/Kimdada sutta), berdana bunga (misal Sumitta dan Sumeda dalam Buddhavamsa: Sumedha patthanā kathā), memberikan pakaian satu-satunya (Misal Jataka 527/Ummadanti Jataka, dhammapada syair 116), memberikan hasil yang ditanam (misal dhammapada syair 118), membuang bekas cucian mangkok ke kolam ikan (misal AN 3.57/Vaccagotta sutta), dan masih banyak lainnya. Jadi, tidak ada keharusan uang untuk dapat berdana atau tidak punya uang bukanlah kendala dalam berdana.

Klaim, “..memberikan sedekah menurut 5 sila, 8 sila..ini juga error, karena dalam butir-butir cara latihan sila, tidak ada memuat tentang melakukan persembahan. Sila dilakukan adalah demi memperbaiki moralitas, persembahan dilakukan dengan harapan pelakunya berlatih dalam mengurangi keserakahan, dengki dan kebencian. Seorang memberbaiki moralitasnya dengan latihan sila, yaitu (1) tidak menyakiti mahluk hidup, maka ini memperbaiki persembahan namun tidak ada hubungannya dengan uang; (2) tidak mengambil yang tidak diberikan adalah agar menahan diri dari barang yang bukan miliknya, jika seorang melakukan pencurian ataupun hanya mengambil barang yang menggeletak di mejamakan rumah tanpa izin/belum dipersilakan, tidak ada urusannya dengan persembahan dan bahkan seorang pencuri sekalipun, tetap dapat mempersembahkan sesuatu dan tentu saja Ia memupuk perbuatan buruk dan baik dari tindakan itu; (3) tidak melakukan cara salah dalam indriya misalnya tidak mencontek, main game, mengintip orang mandi dan lainnya, tidak ada hubungannya dengan persembahan. (4) tidak berkata yang tidak benar, juga tidak ada hubungannya dengan persembahan, pun Ia menipu dengan mulut dan melakukan persembahan, maka ia melakukan perbuatan buruk dan baik. Demikian pula dengan orang yang melatih (5) tidak memasukan asupan yang melemahkan kesadaran (seperti alkohol), tidak juga terkait persembahan, demikian pula dengan orang yang melatih (6) makan 1x, (7) tidak menggunakan perhiasan, menonton menari; (8) tidak bersandar/duduk ditempat tinggi, tidak ada kaitannya dengan persembahan, dan banyak lagi latihan sila umat awam Buddhis yang tidak terkait dengan persembahan ataupun sedekah.

Jadi seorang yang diklaim holy one TIDAK AKAN PERNAH melanggar sila, apalagi, latihan 5 sila adalah HAL MENDASAR yang dilakukan pemeluk Buddhis, namun bahkan untuk urusan yang PALING DASAR saja, Yesus kristus malah tidak lulus, banyak bolongnya.

Sang Buddha, sang maha sempurna menyampaikan 4 hal yang dengannya akan mengarah ke alam bahagia atau ke neraka, yaitu apakah Ia: melakukan/tidak moralitas, mendorong/menghalangi orang lain melakukannya, menyetujui/tidak moralitas dan memujikan/mencela moralitas [AN 4.264-273]

Sila ke-1 adalah tidak menyakiti kehidupan. Yesus malah menyakiti kehidupan, menganjurkan, menyetujui, dan memuji menyakiti kehidupan:

    Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara/Gerasa, datanglah dari pekuburan DUA ORANG YANG KERASUKAN SETAN [MARKUS 5.3 dan LUKAS 8.27 -> JUMLAH ORANG YG KERASUKAN = 1]…Tidak jauh dari mereka itu [LUKAS 8.32 dan MARKUS 5.11 -> LERENG GUNUNG/BUKIT] sejumlah besar babi sedang mencari makan. Maka setan-setan itu [MARKUS 5.9 -> Kawanan Setan itu bernama LEGION] meminta kepada-Nya, katanya: “Jika Engkau mengusir kami, SURUHLAH KAMI PINDAH KE DALAM SEKAWANAN BABI ITU.” Yesus berkata kepada mereka: “Pergilah!” [LUKAS 8.32 dan MARKUS 5.13 -> Yesus mengabulkan permintaan mereka] Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Maka terjunlah seluruh kawanan babi itu [MARKUS 5.12 -> JUMLAH BABI =2000] dari tepi jurang ke dalam danau dan mati di dalam air. [Matius 8.28-34, Lukas 8.26-34, Markus 5.1-14]

    ..wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah,..Aku akan melemparkan dia ke atas ranjang orang sakit dan mereka yang berbuat zinah dengan dia akan Kulemparkan ke dalam kesukaran besar,..Dan anak-anaknya akan Kumatikan dan semua jemaat akan mengetahui, bahwa Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya. [Wahyu 2.20-23]

    menyuruh menimbun persenjataan dan membiarkan terjadinya tindak kekerasan terhadap aparat kerajaan: “Sebelum ke luar kota menuju bukit Zaitun, Yesus perintahkan pengikutnya untuk membeli senjata: “sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang”.[Luk 22:36-38]. Saat di jemput di Getsemani: “Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus” [Yohanes 18:10-11. Juga lihat di Matius 26:51-52, Lukas 22: 52]. Dalih membeli pedang: “Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak” [Lukas 22:37]

Sila ke-2: Tidak mengambil apa yang tidak diberikan. Yesus malah mencuri dan mengambil yang tidak diberikan:

    Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah dekat Yerusalem dan tiba di Betfage yang terletak di Bukit Zaitun, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan: “Pergilah ke kampung yang di depanmu itu, dan di situ kamu akan segera menemukan (Heurisko) SEEKOR KELEDAI BETINA (ONOS) TERTAMBAT DAN ANAKNYA (POLOS) ada dekatnya. LEPASKANLAH/AMBIL/LANGGAR (Luo) keledai itu dan BAWALAH KEDUANYA kepada-Ku. (MARKUS 11.2 -> ..Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan segera HEURISKO SEEKOR KELEDAI MUDA (POLOS) TERTAMBAT, yang belum pernah ditunggangi orang. LUO keledai itu dan bawalah ke mari. LUKAS 19.30 -> Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan HEURISKO SEEKOR KELEDAI MUDA (POLOS) TERTAMBAT, yang belum pernah ditunggangi orang. LUO keledai itu dan bawalah ke mari). DAN JIKALAU ADA ORANG YANG MENEGOR KAMU, katakanlah: TUHAN (KURIOS) MEMERLUKANNYA. Ia akan segera mengembalikannya.” (MARKUS 11.3 -> DAN JIKA ADA YANG MENGATAKAN KEPADAMU: Mengapa kamu lakukan itu, jawablah: TUHAN (KURIOS) MEMERLUKANNYA. Ia akan segera mengembalikannya ke sini. LUKAS 19.31 -> 19:31 DAN JIKA ADA ORANG YANG BERTANYA KEPADAMU: Mengapa kamu melepaskannya? jawablah begini: TUHAN (KURIOS) MEMERLUKANNYA. YOHANES 12.4 -> YESUS MENEMUKAN (Heurisko) SEEKOR KELEDAI MUDA LALU IA NAIK KE ATASNYA,..). HAL ITU TERJADI SUPAYA GENAPLAH FIRMAH YANG DISAMPAIKAN OLEH NABI: “Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” Maka pergilah murid-murid itu dan berbuat seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka. Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesuspun naik ke atasnya. [Matius 21:2-7, Markus 11:2-7 dan Lukas 19:30-35. Juga Yohanes 12.12-16]. 3 Injil sinoptik: Yesus menyuruh muridnya + “JIKA ADA YANG MENEGURMU/BERTANYA” VS Kitab Yohanes: Yesus sendiri yang melakukannya (YESUS MENEMUKAN SEEKOR KELEDAI MUDA LALU IA NAIK KE ATASNYA). Bagaimana mungkin kejadian sepenting ini, INGATAN MEREKA TIDAK SAMA? dan KELEDAI itu jelas diperolehnya SECARA MENGGELAP/tanpa IJIN (baik dilakukan sendiri atau menyuruh orang lain), padahal Keluaran 23.4 sudah menyampaikan dengan jelas, “Apabila engkau melihat lembu musuhmu atau keledainya yang sesat, maka segeralah kaukembalikan” bahkan para Nabi lainnya misal: Abraham (Kej 22.3), Musa (Kel 4.20), dan lainnya pun tidak ada yang melakukannya dengan mencuri.

    Pada suatu kali, PADA HARI SABAT, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum [Mat 12:1 => Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya; Luk 6:1 => murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya]. Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”. Jawab-Nya kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu ABYATAR menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu–yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam–dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya. Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat” [Markus 2:23-28, Matius 12:1-9, Lukas 6:1-5]

    Apakah Daud di kisah itu mencuri?
    Raja Saul marah…hendak membunuh Daud…Daud melarikan diri [1 Sam 20:30-33]. Sampailah Daud ke Nob KEPADA AHIMELEKH..Jawab Daud kepada imam Ahimelekh: “Raja menugaskan sesuatu kepadaku..Maka sekarang, apa yang ada padamu? Berikanlah kepadaku lima roti atau apapun yang ada” Lalu jawab imam itu kepada Daud: “Tidak ada roti biasa padaku, hanya roti kudus yang ada; asal saja orang-orangmu itu menjaga diri terhadap perempuan” Daud menjawab imam itu, katanya kepadanya: “Memang, kami tidak diperbolehkan bergaul dengan perempuan, seperti sediakala apabila aku maju berperang. Tubuh orang-orangku itu tahir, sekalipun pada perjalanan biasa, apalagi pada hari ini, masing-masing mereka tahir tubuhnya.”. Lalu imam itu memberikan kepadanya roti kudus itu, karena tidak ada roti di sana kecuali roti sajian; roti itu biasa diangkat orang dari hadapan TUHAN, supaya pada hari roti itu diambil, ditaruh lagi roti baru. [1 Sam 21:1-5]

    Dalam kasus Daud, DAUD DIBERI ROTI, BUKAN MENGAMBIL TANPA IJIN dan dalam keadaan tahir/tidak berhubungan badan dengan perempuan. Saat itu, Daud berada dalam bahaya kelaparan dan TERANCAM KESELAMATAN akibat hendak dibunuh Saul. Dengan diberikan roti, Daud tidak melanggar Sabat, apalagi, di kasus ini, nyawa terancam, maka sabat boleh dilanggar (1 Makabe 2:41), sedangkan Yesus dan muridnya, TIDAK SEDANG TERANCAM KESELAMATAN, mereka sedang jalan-jalan santai. Jadi berdalih dengan kasus Daud adalah tidak relevan.

    Dalam kasus Yesus: Jika beralasan sebagai jatah orang miskin dan orang asing dengan “Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya, dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu..tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing” [Imanat 19:9-10], MASALAHNYA, tidak disebutkan itu terjadi setelah masa panen yang tentunya kaum farisi juga tahu aturan ini sehingga tidaklah disebut melanggar sabat dan malah jadi mengada-ada membela diri dengan merujuk pada kisah Daud.

    Tuduhan dilontarkan adalah ketika melihat mereka memetik dan makan gandum, maka jika hari itu hari raya buah sulung, orang miskinpun tetap mengacu hukum Taurat, “Apabila kamu sampai ke negeri..dan kamu menuai hasilnya, maka kamu harus membawa seberkas hasil pertama dari penuaianmu kepada imam, dan imam itu haruslah mengunjukkan berkas itu di hadapan Tuhan..Pada hari kamu mengunjukkan berkas itu kamu..JANGANLAH KAMU MAKAN roti, atau gandum baru itu, baik mentah, dipanggang, sampai kamu telah membawa persembahan Allahmu;itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu turun-temurun [Imanat 2:10-14]. Inilah yang dilanggar, ketika mengutip Daud untuk membela diri, ini mengada-ada.

    Jika beralasan dengan “Apabila engkau melalui/berada (bow’) ladang gandum sesamamu yang belum dituai, engkau boleh memetik bulir-bulirnya dengan tanganmu, tetapi sabit tidak boleh kauayunkan kepada gandum sesamamu itu” [Ulangan 23:26], MASALAHNYA, di Mishnah Bava Metziah 7:2 spesifik menyatakan bahwa ayat ulangan itu BERLAKU bagi para pekerja yang bekerja pada ladang majikannya BUKAN bagi YANG SEDANG MELINTAS, Sementara Yesus dan pengikutnya BUKANLAH PEKERJA LADANG TERSEBUT, JUGA TIDAK MEMINTA IJIN DAN TIDAK ADA YANG MEMBERIKAN PADA MEREKA. Mereka ini tertangkap tangan SEDANG MENCURI bulir Gandum. Jika sebagai pekerjapun konyol mengingat “6 hari lamanya engkau bekerja, tetapi pada hari yang ke-7 haruslah engkau berhenti, dan dalam musim membajak dan musim menuai haruslah engkau memelihara hari perhentian juga” [Keluaran 34:21]. Pencurian ini melanggar Sabat, menodai kekudusan Sabat

    Yesus juga salah menyebut nama Imam besar pada kisah Daud, yang harusnya BUKAN Abyatar, melainkan Ahimalek bin Ahtub [1 Sam 22:9], Ahimalek dari Nob punya anak bernama Abyatar [22.20] yang kelak ikut dengan Daud. Seorang yang diklaim Tuhan, tapi salah sebut nama, tentunya sangat tak elok, bukan?

Sila ke-3: Tidak menikmati Indriya dengan cara salah, Yesus malah akan membuat Izebel berzina, juga karena tidak mampu menahan lapar dan kecewa tdak dapat buah dari pohon, lantas marah dan mengutuki:

    Pada pagi-pagi hari dalam perjalanan-Nya kembali ke kota, Yesus merasa lapar. Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. Kata-Nya kepada pohon itu: “Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!” Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu. [Matius 21:18-19]. Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. Maka kata-Nya kepada pohon itu: “Jangan lagi seorangpun makan buahmu selama-lamanya!” Dan murid-murid-Nyapun mendengarnya. [Markus 11:11-14]. Biasanya perlu waktu sekitar 1 Bulan, agar buah ara dapat matang. Ada alasan mengapa buah ara tidak matang-matang dan ada juga alasan mengapa pohon ara tidak mau berbuah, yang tentu saja berarti bahwa pohon ara TIDAK-lah mandul karena mereka berkembang biak secara monoecious (hermaphrodit) atau gynodioecious (hermaphrodit dan jenis wanita).

Sila ke-4: Tidak menyatakan yang tidak benar (berdusta, memecah belah, berkata kasar dan bergosip). Yesus malah melakukannya:

    Kebohongan/dusta:
    “Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun. Maka kata saudara-saudara Yesus kepada-Nya: “Berangkatlah dari sini dan pergi ke Yudea, supaya murid-murid-Mu juga melihat perbuatan-perbuatan yang Engkau lakukan. Sebab tidak seorang pun berbuat sesuatu di tempat tersembunyi, jika ia mau diakui di muka umum. Jikalau Engkau berbuat hal-hal yang demikian, tampakkanlah diri-Mu kepada dunia.” Sebab saudara-saudara-Nya sendiri pun tidak percaya kepada-Nya. Maka jawab Yesus kepada mereka: “Waktu-Ku belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu…Pergilah kamu ke pesta itu. Aku belum pergi ke situ, karena waktu-Ku belum genap.” Demikianlah kata-Nya kepada mereka, dan Ia pun tinggal di Galilea. Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Ia pun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam” (Yohanes 7.2-10)

    Yesus tentang Yohanes Pembaptis: “dan — jika kamu mau menerimanya — ialah Elia yang akan datang itu. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! [Matius 11.14-15] tapi Yohanes Pembaptis sendiri menyatakan yang sebenarnya bahwa Ia bukan Elia: “Lalu mereka bertanya kepadanya: “Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?” Dan ia menjawab: “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Dan ia menjawab: “Bukan! (Yohanes 1.21)

    “Yesus keluar dari Bait Allah…datanglah murid-murid-Nya dan menunjuk kepada bangunan-bangunan Bait Allah (HIERON). Ia berkata kepada mereka: “Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya TIDAK SATU BATUPUN DI SINI AKAN DIBIARKAN TERLETAK DI ATAS BATU YANG LAIN; SEMUANYA AKAN DIRUNTUHKAN” [Mat 24.1-2. Bait Allah yang sama di Yoh 2.19-20]. Ini jelas dusta, karena BAHKAN hingga kini, batu-batu yang terletak di atas batu lainnya, masih dapat kita lihat sebagai TEMBOK RATAPAN

    Memecah belah:
    Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.[Luk 12:51]. Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh (echtroi) orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.[Mat 10:34-36]

Sila ke-5: Menghindari asupan yang melemahkan kesadaran. Yesus malah mendorong untuk minum alkohol:

    Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.”..Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan mereka pun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka: “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu — dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya — ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya: “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” (Yohanes 2.1-10)

Apakah Yesus orang berdosa?
YA. Karena para Pendosa dibaptis oleh Yohanes Pembaptis: “demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu“. (Markus 1.4) dan Yesus terbukti dibaptis olehnya: “Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes” (Markus 1.9)

Melihat Panutan yang seperti ini, tidaklah mengherankan jika kaum Nasrani meremehkan perbuatan bajik, karena bahkan, Sang Panutan mereka pun TIDAK MAMPU melaksanakan SILA yang padahal kalangan awam Buddhis saja MAMPU melaksanakannya, jadi, sungguhlah konyol, jika mau dibodohi dengan mengikuti orang yang GAGAL dalam sila, bukan?


Ciri yang tampak saat kematian Yesus

Pengetahuan umum yang beredar, Yesus dinyatakan wafat disalib, tangan kakinya dipaku, lambungnya ditusuk dan kepalanya diberikan Mahkota Duri. Yohanes 19 dan 20:

Sementara,
kaum Brahmana dan sang Buddha menyatakan tentang tanda-tanda fisik “The Holy One” yang akan muncul pada seluruh Budha masa lalu, sekarang dan masa depan. Tanda-tanda itu adalah 32 tanda kelahiran fisik, tercantum dalam Lakkhana Sutta, Digha Nikaya, Patika Vagga:

“Para bhikkhu, seorang Manusia Agung (Maha Purisa) memiliki 32 tanda (lakkhana)……. apakah 32 Maha Purisa Lakkhana yang menyebabkan hanya ada dua kemungkinan cara hidupnya dan tidak ada yang lain, jika ia hidup sebagai manusia biasa, maka ia akan menjadi raja dunia (cakkavati), … maka ia akan menjadi Arahat Samma Sambuddha; yaitu:

  1. Telapak kaki rata (suppatitthita-pado). Ini merupakan satu lakkhana dari Maha Purissa.
  2. Pada telapak kakinya terdapat cakra dengan seribu ruji, lingkaran dan pusat dalam bentuk sempurna.
  3. Tumit yang bagus (ayatapanhi).
  4. Jari-jari panjang (digha-anguli)
  5. Tangan dan kaki yang lembut serta halus (mudutaluna).
  6. Tangan dan kaki bagaikan jala (jala-hattha-pado).
  7. Pergelangan kaki yang agak tinggi (ussankha-pado).
  8. Kaki yang bagaikan kaki kijang (enijanghi)
  9. Kedua tangan dapat menyentuh atau menggosok kedua lutut tanpa membungkukkan badan.
  10. Kemaluan terbungkus selaput (kosohitavattha-guyho).
  11. Kulitnya bagaikan perunggu berwarna emas (suvannavanno).
  12. Kulitnya sangat lembut dan halus / sehingga tidak ada debu yang dapat melekat pada kulit.
  13. Pada setiap pori kulit ditumbuhi sehelai bulu roma.
  14. Rambut yang tumbuh pada pori-pori berwarna biru-hitam.
  15. Potongan tubuh yang agung (brahmuiu-gatta).
  16. Tujuh tonjolan (sattussado), yaitu pada kedua tangan, kedua kaki, kedua bahu dan badan.
  17. Dada bagaikan dada singa (sihapubbaddha kayo).
  18. Pada kedua bahunya tak ada lekukan (citantaramso).
  19. Tinggi badan sama dengan panjang rentangan kedua tangan, bagaikan pohon (beringin), Nigroda.
  20. Dada yang sama lebarnya (samavattakkhandho).
  21. Indera perasa sangat peka (rasaggasaggi).
  22. Rahang bagaikan rahang singa (siha-banu).
  23. Empat puluh buah gigi (cattarisa-danto).
  24. Gigi-geligi rata (sama-danto).
  25. Antara gigi-gigi tak ada celah (avivara-danto).
  26. Gigi putih bersih (susukka-datho).
  27. Lidah panjang (pahuta-jivha).
  28. Suara bagaikan suara-brahma, seperti suara burung Karavika.
  29. Mata biru (abhinila netto).
  30. Bulu mata lentik, bagaikan bulu mata sapi (gopakhumo).
  31. Di antara alis-alis mata tumbuh sehelai rambut halus, putih bagaikan kapas yang lembut.
  32. .. Kepala bagaikan berserban (unhisasiso).

Menurut klaim kalangan Nasrani:

    di telapak tangan dan di telapak kakinya akan ada gambar cakram, di sisi tubuhnya akan ada luka tusuk; dan pada dahinya akan ada banyak tanda seperti bekas luka.

Apakah ini adalah tanda lahir? Tidak.. Sementara, 32 tanda yang tercantum di Lakkhana Sutta merupakan 32 tanda lahir yang harus komplit tidak boleh kurang 1 pun yang bukan buatan atau bukan bekas luka!

Apakah ada dalam kitab/Sutta Buddhisme bahwa Buddha Gautama akan mengalami wafat terbunuh dengan luka tusukan, disalib atau tangannya dipaku dan seterusnya seperti Yesus? TIDAK ADA. Juga, tidak seperti Yesus yang mati terbunuh, maka seluruh Buddha (masa lampau, sekarang dan masa datang) TIDAK MUNGKIN AKAN dapat dibunuh atau terbunuh oleh mahluk apapun:

    Teman, Aku tidak melihat siapapun di dunia ini bersama dengan para deva, Māra dan Brahmā, bersama dengan umat manusia—para bhikkhu dan brahmana, para penguasa dan orang-orang biasa—yang dapat menjatuhkan pikiranKu, membelah jantungKu, atau menangkap kakiKu dan melemparKu ke seberang sungai Gangga” [Snp 1.10; SnP 2.5]


Seharusnya, luka-luka yang diderita Yesus akibat penyaliban akan tercantum di injil, tapi ternyata tidak:

Yohanes:
Kepala Yesus dimahkotai duri(19:2), Yesus yang memikul Salib(19:17). Yesus disalib, kakinya tidak dipatahkan, lambungnya ditusuk (19:34), ada 2 maria, berdasarkan perkataan Thomas: Ia melihat kaki, tangan dan lambung Yesus terluka, Yesus memperlihatkan keadaannya dan tidak ada tanda luka apapun (20:20, 20:27),

Markus:
Yang memikul salib adalah Simon dari kerene (15:21), Yesus Disalib, tidak tertulis bahwa kaki dan tangannya dipaku, kepala Yesus dimahkotai duri (15:17), Pilatus heran mendengar yesus sudah mati (15:44), ada 2 maria (15:40), Yesus memperlihatkan diri dan tidak ada satu katapun yang merujuk bahwa ia memperlihatkan ada/tidaknya tusukan kepada 11 muridnya

Lukas:
Yang memikul salib adalah Yesus dari kirene (22:36), Yesus disalib, tidak tertulis kata-kata kaki dan tangannya dipaku, Tidak ada kata-kata: dimahkotai, dipatahkan tulangnya ataupun ditusuk lambungnya, bahkan ia memperlihatkan dia baik2 saja dengan mempertontonkan tangan dan kakinya (24:39-40)

Matius:
Yang memikul salib adalah Simon dari kerene (27:32), Yesus disalib, tidak tertulis kata-kata kaki dan tangannya dipaku, Tertulis ada dua orang Yesus di Penjara, Yaitu Yesus Barnabas dan Yesus Kristus (27:16-17), Dimahkotai duri (27:24), kepala Yesus dipukul dengan buluh (27:30), Terjadi gempa bumi dan bukit-bukit batu terbelah (27:51), ada 2 maria yang menunggu (27:61), tidak ada memperlihatkan tubuhnya kepada semua muridnya

Kita review untuk memastikan ADA atau TIDAKNYA, TANDA BEKAS LUKA

Yohanes:
20:4 Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur.
20:5 Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam.
20:6 Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah,
20:7 sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung
20:20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan sisi tubuh-Nya (plueran) kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.
20:25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat tupos [= contoh/tanda tapi ditranslasikan secara konyol menjadi = bekas] helos [jamak dari helo, artinya KUKU JARI bukan PAKU] pada tangan-Nya dan sebelum aku ballo [artinya menaruh/meletakkan BUKAN mencucukkan] jariku ke tupos [contoh/tanda] helos [KUKU JARI] itu dan ballo [meletakan] tanganku ke pleura [sisi tubuh]-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”

    Note:
    Di blog ini, disampaikan bahwa arti kata “helo” bukanlah paku tapi kuku. Di alkitab tidak ada detail proses penyaliban. Tidak benar bahwa di ketika itu, paku telah di pakai dalam proses penyaliban. Para penulis ALKITAB bukanlah saksi mata kejadian. Tulisan mereka hanya merupakan reka-reka kejadian hasil inspirasi pada peristiwa penyaliban lain di tahun 70an masehi [kejadian di empat puluh tahunan setelah yesus wafat]. Sedangkan penulisannya sendiri baru dilakukan puluhan bahkan ratusan tahun lagi setelah tahun 70 masehi.

20:27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan ballo [letakan] ke pleura [sisi tubuh]-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”
20:28 Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!”

ADAKAH di sebutkan TANDA-TANDA BEKAS DARAH DAN LUKA?
TIDAK ADA

Apakah kain dikepala Yesus disebutkan Berdarah?
TIDAK ADA

[Note: Yesus dikatakan wafat jam 15.00. Jadi ada waktu kurang dari 3 jam sebelum jam 18.00, yaitu saat memasuki hari sabat, sebelum di kubur ia dikafani. Seharusnya bekas-bekas luka-luka itu belum sepenuhnya mengering, ada sisa-sisa darah yang menempel di kain. Perlu diperhatikan bahwa Pilatus sendiri heran bahwa Yesus dikatakan sudah Wafat! (Markus 15:44)]

Bagaimana dengan 3 Injil lainnya, adakah disebutkan bekas darah bekas luka?

Matius, 28:1 s/d 20?
TIDAK ADA

Markus, 16: 1 s/d 20?
TIDAK ADA

Lukas, SANG TABIB, 24: 1 s/d 53?
24:39 Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.”
24:40 Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka.

Adakah tanda-tanda bekas luka yang diperlihatkan?
TIDAK ADA

Tadinya saya berharap petunjuk itu ada di INJIL LUKAS, buatan sang TABIB. Sebagai Tabib, SEHARUSNYA Ia yang sangat PERHATIAN dengan adanya LUKA-LUKA…tapi…TIDAK ADA.

Mengapa Sang Tabib tidak menulis ada luka pernah ada bekas luka? Apakah memang tidak pernah ada Luka…dilukai…atau bahkan disalib?

4 (Empat) Injil di atas sama sekali tidak meyebutkan adanya bekas LUKA!

Apakah di 4 Injil, tercatat adanya tanda-tanda KELAHIRAN Yesus yang jumlah sebanyak 32 Tanda?
TIDAK ADA

Dari ringkasan Alkitab tersebut terdapat beberapa hal serius yaitu:

  • Tidak ada bukti rinci yang menyebutkan bagaimana kaki dan tangannya berdarah saat di salib, padahal untuk kepalanya dipukul (Matius) dan lambungnya ditusuk (Yoh) yang jarang diketahui saja bisa tercatat dengan teliti.
  • Luka kaki dan tangan adalah hanya berdasarkan keterangan dari Thomas dan itupun hanya muncul di 1 injil (Yohanes) dan terbukti tidak ada sewaktu Thomas meraba Yesus!
  • Kejadian Gempa Bumi ternyata hanya muncul di satu injil (Matius), ini sangat mengherankan mengingat kejadian ini merupakan peristiwa besar, menyangkut tuhan mereka, guru mereka yang disalib! suatu kejadian MAHA PENTING yang terlalu BESAR untuk tidak tercatat.
  • Luka-luka akibat penganiayaan adalah peristiwa besar, Lukas adalah seorang TABIB namun ia tidak menyinggung sama sekali mengenai luka-luka akibat, pukulan, tusukan, bekas mahkota duri dikepala, maupun tanda-tanda luka penganiayaan lainnya. Kalaulah benar ada penganiayaan dan bekas-bekasnya adalah tidak lazim tidak tercatat oleh seorang yang mempunyai latar belakang ketabiban!.
  • Tidak adanya tanda-tanda luka tertulis di semua Injil dan BAHKAN Injil Markus dan Matius SAMA SEKALI tidak mencantumkan kejadian di mana Ia memperlihatkan tangan atau kaki atau lambungnya.
  • Tanda-tanda luka di kaki dan tangan sama sekali tidak disinggung pada ke 4 Injil.
  • Hanya 3 Injil mengatakan dimahkotai (Matius, Lukas, Yohanes)
  • Hanya satu yang mengatakan ditikam (Yohanes)
  • Hanya satu Injil yang mengatakan Yesus memanggul salib sendirian (Yoh 19:17), padahal ini bukanlah peristiwa kecil, 3 Injil (Mat 27:32, Mark 15:21, Luk 23:26) menyatakan bahwa yang memanggul salib adalah Simon dari kirene, Sebagai perbandingan, kejadian Yesus naik keledai disebutkan di 4 Injil, tidak ada perbedaan penulisan misalnya Yesus naik kuda atau biri-biri atau kambing atau domba, tetapi semua mengatakan naik keledai! Sementara, peristiwa pemanggulan salib adalah peristiwa penting yang menyangkut Yesus, Tuhan mereka, guru mereka dan jelas bukan keledai, namun malah dituliskan berbeda-beda! Ada yang ganjil dengan hal ini.

Kesimpulan

  • Tidak ada tanda-tanda luka disebutkan di 4 INJIL di ALKITAB, Jadi klaim tanda luka Yesus yang dimaksud pada buku ‘The Holy One’ karangan Andrew Rankin malah menjadi tidak berdasar karena tanda-tanda akibat Penyaliban menunjukan banyak ke-TIDAK KONSISTEN-an Pelaporan, sehingga menunjukan bukti tersendiri bahwa Alkitab BUKANLAH BUKU SUCI.
  • Tidak ada catatan alkitab yang menyatakan bahwa Yesus memiliki 32 Tanda lahir, sehingga JELAS Ia bukan ‘The Holy One’ karena 32 tanda lahir sebagai ciri setiap Buddha di masa lalu, sekarang atau masa depan.
  • Jalan keselamatan di ajaran Buddha tidak akan pernah menyebutkan penebusan dosa, ini ditunjukan oleh kalimat sederhana bahwa setiap kebajikan yang diperoleh tidak akan menyudahi lingkaran karma, namun hanya memupuk karma baik dan tetap tidak akan menyudahi reinkarnasi



Di manakah Yesus Berada Setelah Wafat dalam Penyaliban?
Alkitab menyatakan bahwa Yesus terangkat ke sorga [Markus 16;19, Lukas 24:51 dan Kisah Para rasul 1:9] disaksikan oleh 11 muridnya sambil menatap ke langit [Kisah para rasul 1:10] duduk di sebelah kanan Allah [theos= dewa]

Benarkah demikian?

Sorga pada tiga ayat di atas dalam leksikon Yunaninya adalah Ouranos, yang merupakan nama dari Dewa langit. Istrinya adalah Gaia [Dewi bumi]. Ouranos tidak pernah di catat mempunyai anak yang bernama Yosua, yesus, isa atau sejenis itu!

Kata langit dalam bahasa Ibrani adalah Shamayim, yang mempunyai istri bernama erets [Dewi Bumi], juga tidak ada yang mempunyai anak bernama Yesus!

    Theos, Theoi (Greek) [from theein to run, in reference to the planetary deities who perform the formative work in cosmic evolution; or cf Sanskrit deva, Latin deus (connected with Zeus or Dios) the bright or shining one]
    Thea: fem. proper name, from Gk. thea “goddess,” fem. equivalent of theos “god,” from PIE base *dhes-, root of words applied to various religious concepts, e.g. L. feriae “holidays,” festus “festive,” fanum “temple.”

Jadi bolak balik, Theos itu ya gelar Dewa Yunani kuno juga! dan semuanya tidak pernah mempunyai anak bernama Yesus/Joshua/Isa atau sejenisnya.

Lha, jadi surga yang mana yang dimaksud? Eden?

Namun, jika sorga yang dimaksudkan adalah Eden [Firdaus] maka terdapat satu masalah yang berkenaan dengan letak dari Eden itu sendiri. Mengapa? Karena letak Eden dalam perjanjian Lama [lihat di kejadian 1 s/d 3] adalah di bumi bukan di langit.

Lha, Shamayim, bukan, Ouranos, bukan, Eden juga bukan, lantas Sorga mana yang dimaksud? Atau mungkinkah sorga yang dimaksud adalah Yerusalem baru seperti yang diberitakan di Kitab Wahyu:

Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru.[Kitab Wahyu 21:1-2]

Untuk sorga jenis ini..malah terdapat satu masalah yang lebih besar lagi, yaitu: Langit, bumi dan laut yang dibicarakan, hingga saat ini masih ada dan belum berlalu! Dengan kata lain, Yerusalem baru belum ada! atau lebih tepatnya lagi adalah Yerusalem baru itu tidak ada!

Wahhh!!! Lantas kalau tidak di mana-mana dan jelas sekali juga tidak ada di langit..Maka, masa sih…Yesus itu sekarang sedang bergentayangan seperti hantu di bumi?

Ya setelah wafat, ternyata Ia gentayangan selama 40 hari lamanya:

    Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama 40 hari Ia berulang-ulang menampakkan diri [KPR 1.3]

Setelah 40 hari gentayangan, Alkitab tidak menyebutkan akhir keberadaannya, kabar baiknya, Yesus tidak lagi gentayangan di Bumi! Karena Talmud memberikan informasi tentang akhir petualangannya!

    Onkelos (35-120 M) kemudian pergi dan membangkitkan Yesus orang Nazaret dari kubur melalui memanggil arwahnya (necromancy)…Onkelos berkata kepadanya: Apa hukuman..bagi Yesus sendiri, di dunia selanjutnya? Yesus berkata: DIHUKUM DENGAN KOTORAN YANG MENDIDIH. Seperti yang Guru katakan: Siapa pun yang mengolok-olok kata-kata Orang Bijak akan dihukum dengan kotoran yang mendidih.. [Targum Onkelos, Gittin 57a]

Masa sih?!

Yesus disalib karena melakukan pelecehan: “blasphemer [Ind: menghujat/menghina/melecehkan]” [Sanhedrin 46a; Jewish Encyclopedia] dan itu sesuai dengan yang disebutkan juga di Alkitab yaitu tuduhan yang dikenakan oleh kaum Yahudi kepadanya [Matius 26:65, Yohanes 10:33]

Ahhh…ternyata lokasi akhir Yesus dan para pengikutnya pada saatnya nanti adalah di NERAKA.



Jalan Keselamatan Buddhisme
Dalam rentang perjalanan kelahiran kembali, tak terhitung banyaknya perbuatan baik/buruk yang terkumpul dan dilakukan, sehingga bahkan, jika kita memiliki jumlah waktu yang sangat tak terbatas sekalipun, maka waktu yang tak terbatas inipun, tidak cukup mematangkan seluruh hasil perbuatan. Oleh karenanya, Sang Buddha menyatakan bahwa kunci kebebasan bukanlah dengan melenyapkan kamma masa lalu (apakah dengan mengalami akibatnya atau melalui pertapaan keras) NAMUN JUSTRU dengan melenyapkan noda-noda (asava). Sehingga, dengan terhentinya kekotoran-kekotoran, terhenti pula sebab dan kondisi, terhentinya kelahiran kembali. Tidak ada lagi sebab dan kondisi yang berpotensi mematangkan kamma-kamma sebelumnya.

    Subhadda, si pertapa pengembara sedang menetap di Kusinara ketika ia mendengar bahwa Buddha Gotama akan mangkat, mencapai parinibbana pada waktu jaga terakhir malam itu. Subhadda mempunyai tiga pertanyaan yang telah lama membingungkannya. Ia telah menanyakan pertanyaan tersebut kepada guru-guru agama yang lain, misalnya Purana Kassapa, Makkhali Gosala, Ajita Kesakambala, Pakudha Kaccayana, Sancaya Belatthaputta, dan Nigantha Nataputta, tetapi jawaban mereka tidak memuaskan baginya. Ia belum bertanya kepada Buddha Gotama, dan ia merasa bahwa hanya Sang Buddha lah yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

    Maka, ia bergegas pergi ke hutan pohon Sala, tetapi Y.A. Ananda tidak mengizinkannya bertemu dengan Sang Buddha, karena saat itu kondisi kesehatan Sang Buddha sangat lemah. Sang Buddha mendengar percakapan mereka dan Beliau berkenan untuk menemui Subhadda. Subhadda menanyakan tiga pertanyaan, yaitu:

    Apakah ada jalan di langit?
    Apakah ada bhikkhu-bhikkhu suci (samana) di luar ajaran Sang Buddha?, dan
    Apakah ada suatu hal berkondisi (sankhara) yang abadi?

    Jawaban Sang Buddha terhadap semua pertanyaan tersebut adalah ‘tidak ada’.

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 254 dan 255 berikut ini :

    Tidak ada jejak di angkasa, tidak ada orang suci di luar Dhamma. Umat manusia bergembira di dalam belenggu, tetapi Para Tathagata telah bebas dari semua itu.
    Tidak ada jejak di angkasa, tidak ada orang suci di luar Dhamma. Tidak ada hal-hal berkondisi yang abadi. Tidak ada lagi keragu-raguan bagi Para Buddha.

    Pada saat khotbah Dhamma itu berakhir, Subhadda mencapai tingkat kesucian anagami, dan atas permohonannya, Sang Buddha menerima Subhadda sebagai anggota Pasamuan Bhikkhu (Sangha). Subhadda adalah orang terakhir yang menjadi bhikkhu pada masa kehidupan Sang Buddha Gotama. Akhirnya, Subhadda mencapai tingkat kesucian arahat [mencapai Nibanna, moksa]. [Syair 254 dan 255 Kisah Subhadda Si Pertapa Pengembara]

Terdapat 3 pandangan yang ditolak Sang Buddha:

    ..ada 3 Pandangan (titthāyatanāni): Apapun yang dialami seseorang, apakah itu perasaan: menyenangkan, menyakitkan atau perasaan bukan menyenangkan bukan menyakitkan, semua itu:

    • disebabkan oleh tindakan lampau/pubbekatahetū;
    • disebabkan oleh kuasa TUHAN [Issaranimmānahetū] “Issaranimmānahetū’ ti issaranimmānakāraṇā, issarena nimmitattā paṭisaṁvedetī ti attho” (Disebabkan kuasa tuhan, Karena kuasa TUHAN, Dirinya mengalami sepenuhnya kuasa tuhan);
    • tanpa penyebab dan tanpa kondisi/ahetu-appaccayā

    yang, jika sepenuhnya disidik/periksa [samanuyuñjiyamānāni], diteliti [samanugāhiyamānāni] dan dibahas [samanubhāsiyamānāni], akan berakhir pada suatu doktrin tanpa tindakan, SEKALIPUN SUDAH DITERAPKAN KARENA TRADISI [AN 3.61/Titha sutta].

Selain itu, Sang Buddha menolak pandangan aliran Kamma (kammavada) bahwa: susah-senang (sukhadukkhaṃ) terjadi: dengan sendirinya (sayaṅkataṃ) atau karena pihak lain (paraṃkata) atau keduanya (sayaṅkatañca paraṅkatañca) atau bukan keduanya tanpa sebab (asayaṅkāraṃ aparaṅkāraṃ adhic­ca­samup­pannaṃ) [SN 12.25]

Apa itu Kamma?
Kehendak/maksud [cetana: baik/buruk] untuk berbuat itulah yang Kunamakan Kamma. Sesudah berkehendak orang lantas berbuat dengan: badan, perkataan atau pikiran [AN 6.63/Nibbedhika Sutta]

    Kamma lama [Purana]: Indriya (mata..pikiran) adalah kamma lama yang telah: terjadi/dilakukan [abhisaṅkhataṃ] dikehendaki [abhisañcetayitaṃ] dan dirasakan [vedayitaṃ daṭṭhabba]
    Kamma Baru [Nava]: Perbuatan sekarang yang dilakukan melalui pikiran, ucapan, perbuatan [SN 35.146/Kamanirodha sutta]

Sumber dan Asal Mula Kamma?
Kontak Indriya/Phassa [AN 6.63], atau: Sebab kemunculan (Paṭic­ca­samup­panna) senang-susah (sukhadukkhaṃ) karena kontak (Phassaṃ paṭicca). Dengan Jasmani/ucapan/pikiran (Kāye/Vācāya/Mane) ingatan (sati) berakar pada kehendak jasmani/ucapan/pikiran (kāya/vaci/mano-­sañ­ceta­nā­-hetu) memunculkan perasaan susah-senang dalam diri (uppajjati ajjhattaṃ sukhadukkhaṃ) dengan ketidaktahuan sebagai kondisi (avijjāpaccayā).

Oleh: diri sendiri (sāma) / pihak lain (para) atau diketahui (sampajāno) atau tidak (asampajāno) menghasilkan perbuatan jasmani/berucap/berpikir (kāya/vaci/mano-saṅkhāraṃ abhisaṅkharoti) menyebabkan munculnya perasaan suka-duka dalam dirinya (yaṃpaccayāssa taṃ uppajjati ajjhattaṃ sukhadukkhaṃ), hal-hal yang dipengaruhi ketidaktahuan (dhammesu avijjā anupatitā) [SN 12.25, AN 4.171],

Cara melenyapkan Kamma?
Dengan lenyapnya kontak lenyap pula Kamma [AN 6.63]. Kebebasan tercapai dengan berhentinya perbuatan melalui: pikiran, ucapan dan badan [SN 35.146]

Jalan Melenyapkan Kamma?
8 Jalan mulia/utama, yaitu: 1. Pandangan Benar (sammä-ditthi), 2. Kehendak Benar (sammä-sankappa), 3. Ucapan Benar (sammä-väcä), 4. Perbuatan Benar (sammä-kammanta), 5. Pencaharian Benar (sammä-ajiva), 6. Daya-upaya Benar (sammä-väyäma), 7. Ingatan Benar (sammä-sati), dan 8. Pikiran terpusat Benar (sammä-samädhi) [SN 35.146; AN 6.63]. Selebihnya lihat di Ringkasan ajaran Buddha [↑]



Klaim ke-2: Biksu Buddhis pindah Nasrani karena melihat Buddha di Neraka (lihat klaim di: bibleprobe, juga dimuat di EDISI VIII Januari 2005 TABLOID KASIH, Hal.5)

    Pada usia 18 tahun Aku dikirim ke biara Buddha untuk menjadi calon biksu…..Ketika aku berusia 19 tahun dan 3 bulan (1977), Aku menjadi biksu. Biksu senior di biaraku memberikan-ku nama Buddhis baru, Itu adalah hal biasa di Negaraku. aku dinamai U Nata Pannita Ashinthuriya. Saat menjadi Biksu kita tidak lagi memakai nama yang diberikan orang tua saat kita lahir. Biara dimana aku tinggal bernama Mandalay Kyaikasan Kyaing. Dahulu Biksu senior disitu bernama U Zadila Kyar Ni Kan Sayadaw [U Zadila adalah gelarnya]. Dahulu ia merupakan Biksu yang ternama di seluruh Myanmar. Semua mengenalnya dulu. Ia dihormati oleh masyarakat dan Guru besar yang sangat disegani. Aku katakana “Dahulu” karena di tahun 1983 Ia tiba-tiba wafat karena kecelakaan mobil yang fatal. Kematiannya mengejutkan semua orang. Saat itu aku telah menjadi biksu selama 6 tahun…hingga kemudian aku mengalami sakit sangat parah…Para dokter melakukan beberapa tes padaku dan memberi tahu bahwa aku menderita Demam Kuning dan malaria sekaligus!…Setelah sekitar sebulan di rumah sakit, keadaanku semakin memburuk … Setelah aku keluar rumah sakit, aku kembali ke biara .. aku semakin melemah dan tidak sadarkan diri. belakangan aku baru tahu bahwa aku sebenarnya telah mati selama 3 hari. Tubuhku membusuk dan bau karena mati, dan jantungku berhenti berdetak. Tubuhku disiapkan untuk dikremasi dan masuk ke ritual pemurnian tradisional Buddhis. Meskipun aku memudar dalam tubuhku, Aku ingat pikiran dan rohku sepenuhnya sadar…Aku berjalan sangat cepat di sepanjang dataran selama beberapa waktu…Setelah beberapa waktu Aku menyeberangi sungai. Di seberang sungai, aku melihat danau api yang mengerikan. Dalam agama Buddha kita tidak memiliki konsep tempat seperti ini. Pada awalnya aku bingung dan tidak tahu itu adalah neraka sampai saya melihat Yama, raja neraka … dengan bergetar, aku menanyakan namanya. Ia menjawab, “Aku adalah raja neraka, sang Penghancur.”

    Danau api yang mengerikan
    Raja neraka mengatakan kepadaku untuk melihat ke dalam danau api …. Aku melihat U Zadila Kyar Ni Kan Sayadaw. Aku bertanya kepada raja neraka mengapa Ia berada di lautan api ini? … Raja neraka menjawab,” Ya, Ia adalah guru yang baik tetapi Ia tidak percaya kepada Yesus Kristus. Itu sebabnya Ia ada di neraka.”
    … Aku disuruh melihat orang lain yang ada di dalam api. Aku lihat seorang pria dengan rambut sangat panjang yang dibungkus di sisi kiri kepalanya. Ia juga mengenakan jubah. Aku bertanya kepada raja neraka, “Siapa pria ini?” Ia menjawab, “Ini yang kamu sembah: Gautama [Buddha].” Aku sangat terganggu melihat Gautama di neraka. Aku protes … Raja neraka menjawab, “Tidak masalah seberapa baiknya dia. Ia ada di tempat ini karena Ia tidak percaya pada Tuhan yang Abadi”

    …setelah berjalan..aku tiba di persimpangan…Ada plang di persimpangan bawah jalan ke kiri adalah untuk mereka yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Jalan yang lebih kecil ke kanan adalah untuk orang yang percaya kepada Yesus…Aku tertarik melihat jalan yang lebih besar…dua pria berjalan sekitar 300 yard di depanku..Aku terus memperhatikan kedua pria ini..ketika sampai di ujung jalan, mereka tiba-tiba ditikam. Kedua pria ini berteriak kesakitan!..Aku menyadari jalan yang lebih besar berakhir dengan bahaya besar…

    Melihat ke Surga
    Aku kemudian menyusuri jalan orang-orang yang percaya. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, permukaan jalan berubah menjadi emas murni…Aku kemudian melihat seorang pria berdiri di depanku. Ia mengenakan jubah putih..Aku bertanya padanya, “Siapa namamu?” tapi dia tidak menjawab. Setelah Aku menanyakan namanya 6x, pria itu menjawab, “Aku adalah orang yang memegang kunci ke surga…Surga adalah tempat yang sangat, sangat indah. Kamu tidak dapat pergi ke sana sekarang, tetapi jika kamu mengikuti Yesus Kristus, Kamu dapat pergi ke sana setelah hidupmu berakhir di dunia. Nama pria itu adalah Peter …. Lalu Peter berkata, “Sekarang bangkit dan kembali ke tempat asalmu. Berbicaralah kepada orang-orang yang menyembah Buddha dan yang menyembah berhala. Katakan kepada mereka bahwa mereka ke neraka jika tidak berubah. Mereka yang membangun kuil dan berhala akan ke neraka. Mereka yang memberikan persembahan kepada para bhikkhu agar mendapatkan pahala akan ke neraka. Semua orang yang berdoa kepada para bhikkhu dan memanggil mereka ‘Pra’ [sebutan terhormat untuk para bhikkhu] akan ke neraka. Mereka yang melantunkan chanting dan ‘memberi kehidupan’ kepada berhala akan ke neraka. Semua orang yang tidak percaya kepada Yesus Kristus akan ke neraka.” Peter mengatakan kepadaku untuk kembali dan bersaksi tentang hal-hal yang telah kulihat. Dia juga berkata, “Kau harus berbicara dengan nama barumu. Mulai sekarang kau harus dipanggil Athet Pyan Shinthaw Paulu [“Paul yang Datang Kembali ke Kehidupan”]

Lucunya mantan biksu pada klaim di atas menyatakan bahwa DI NERAKA NASRANI, nama raja nerakanya adalah YAMA, padahal alkitab TIDAK PERNAH KENAL YAMA sebagai raja kerajaan Maut:

    ..melemparkannya ke dalam JURANG MAUT (Abussos/Abyss).. [Wahyu 20.2-3]. “Dan raja yang memerintah mereka ialah malaikat jurang maut; namanya dalam bahasa Ibrani ialah ABADON dan dalam bahasa Yunani ialah APOLION” [Wahyu 9.11].

    Dewa Apollyon, di risalah Syiria (6 M), tertulis Apollo, merupakan Dewa Yunani penunggang griffin yang bersenjata panah dan TITUS, sang penghancur kuil ke-2 adalah pemimpin legiun XV Apollinaris. Abbadon kadang berpasangan dengan dewa mitologi kanaan: Dewa Mawuth/mot dan kadang dengan dewa mitologi Amorit: dewi Sheol misal, “Sheol dan abadon dihadapan Yahwe/saowl wa abbadon neged Yhwh” (Amsal 15.11) dan “ABBADON dan MAWUTH berkata: Hanya desas-desusnya yang sampai ke telinga kami” (Ayub 28.22). Masalahnya, TIDAK ADA dewa/dewi dan tempat yang terkait Abadon di tablet Ugarit dan Kanaan. Juga, baik Apolion dan SHEOL dan Mawuth TIDAK PERNAH mereka menyatakan adanya keberadaan Yerusalem baru.

    .. dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya…lalu dari hadapan-Nya lenyaplah BUMI (Gaia) dan LANGIT (Ouranos)… LAUT (Thallassa), menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan MAUT (Thanatos) dan KERAJAAN MAUT (Hades) menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya.. dihakimi.. menurut perbuatannya…maut dan kerajaan maut itu dilemparkan ke dalam lautan api..” [Wahyu 20.10-15].

    Baik GAIA/Dewa Bumi, istri dari OURANOS/Dewa langit, juga THALLASSA/Dewi Laut, THANATOS/Dewa maut dan HADES/Dewa alam bawah adalah dewa-dewi Yunani dan TIDAK PERNAH mereka menyatakan adanya keberadaan Yerusalem baru dan sebagai tempat kediaman meereka.

Filsuf Buddhis abad ke-5 M, Buddhaghosa dalam komentarnya di MN dan AN menyatakan bahwa Yama sang raja Neraka adalah raja mahluk halus (peta vimānanika) dan terdapat 4 Yama di 4 pintu Neraka.

Oleh karena di neraka pada klaim di atas, rajanya adalah YAMA, maka seharusnya, penguasa surganya JUGA BUKAN dari FIGUR-FIGUR di ALKITAB, konsekuensinya, TIDAK AKAN ADA para pemakai Alkitab yang akan masuk Surga, juga TIDAK AKAN ADA Peter di Surga di mana raja nerakanya adalah Yama. [Belakangan, klaim ini mengalami perubahan, nama Yama sebagai raja Neraka dihilangkan]

Jika Athet memang pernah menjadi biksu, Ia seharusnya tahu, bahwa Yama sang raja Neraka saja bahkan berharap dapat terlahir sebagai manusia untuk dapat melayani Sang Buddha dan berharap dapat memahami Dhammanya:

    Oh, semoga aku terlahir kembali menjadi manusia! Semoga seorang Tathāgata, Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna muncul di dunia! Semoga aku dapat melayani Sang Bhagavā itu! Semoga Sang Bhagavā mengajarkan Dhamma kepadaku, dan semoga aku memahami DhammaNya” [AN 3.36]

Oleh karenanya, tidaklah mungkin Yama yang sama ini menyatakan Buddha Gotama ada di Neraka. Jika raja mahluk halus seperti beliau saja berharap menjadi murid Buddha, maka mereka yang telah menjadi manusia, akan tampak makin konyol jika mau tercebur di alam bawah bahkan neraka dengan mengambil resiko mengikuti Yesus.

Terdapat bantahan atas klaim biksu pindah Nasrani yang berasal dari 2 kalangan:

  • Dari organisasi Nasrani Australia [↓], yang menyimpulkan bahwa klaim itu adalah hoax dan menyayangkan terjadinya pengedaran berita hoax itu oleh institusi Nasrani sendiri. [Saya menduga, bukan karena penyelidikan, namun karena bolong ceritanya begitu besar]
  • Dari organisasi Buddhis Myanmar [↓], saya kutip beberapa diantaranya:

    (3) menjadi calon biksu di usia 18, ini tidak lazim karena kebanyakan anak laki-laki Burma masuk kehidupan biara di usia yang lebih muda dari 18 tahun (note: 7-13 tahun)
    (4) menjadi biksu di usia 19, juga tidak lazim, karena usia awal penahbisan penuh menjadi biksu adalah 20 tahun
    (6) Biksu ‘Kyar ni Kan Sayadaw’ dikatakan wafat karena kecelakaan mobil di tahun 1983. Padahal Sayadaw wafat di tahun 1977. Perbedaan 6 Tahun sangat tidak dapat diterima, karena ia katakan belajar darinya. seharusnya Ia tahu pasti tahun wafat gurunya! dan tahun 1977 adalah tahun dimana Ia menjadi biksu! Fakta ini saja sudah menunjukan bahwa cerita ini adalah palsu dan dibuat-buat
    (9) Dokter mendiagnosanya malaria dan demam kuning, Padahal demam kuning tidak muncul di Burna.
    (11) Hidup kembali setelah tubuh membusuk adalah tidak dimungkinkan menurut medis..

Klaim-klaim hoax di atas, akan membuat anda semakin mengerti hakekat sesungguhnya maksud kata-kata Paulus di suratnya: “..jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?” ~ Roma 3.7

Mengerikan, bukan?!



Resurrected Burmese Monk Story Revisited
http://www.ccgm.org.au/Articles/ARTICLE-0102.htm
Contents of this site is Copyright 1999 – 2007 CCG Ministries – W.A. van Leen, Director.

Untuk Cros check, silakan sent email ke alamat ini: ccgm@ccgm.org.au

    During the year 2000, numerous emails circulated on the Internet passing on the dramatic story: ‘BACK FROM THE DEAD The Remarkable Testimony of a Buddhist monk in Myanmar (Burma) who came back to life a changed man!’

    With CCG Ministries’ involvement in Asia, including Myanmar, we were very interested in this story and its authenticity.

    It was brought to ‘life’ on the Internet through the promotion of a Christian missionary organization then called, Asian Minorities Outreach, later changing its name to: Asia Harvest, headquartered in Texas, USA, and operating from Thailand. Its Director, Paul Hatthaway, has written several books, including ‘The Heavenly Man’.

    For quite some time the ‘resurrected Buddhist monk’ story appeared on the front page of the organisation’s website. Then the actual story was removed from their website, but a remaining reference to it encouraged people to request a copy of the story by email. The following explanation for the change, was given by the group at the time:

    ‘A Quick Note: We have been asked by many people why this testimony is no longer available on our website. We were ordered to remove the story by the government of Singapore, who had apparently received complaints from Buddhists. As our website is housed in Singapore at the moment, we didn’t have much choice.’

    AMO/Asia Harvest introduced the story with the following introduction:
    ‘The story that follows is simply a translation of a taped testimony from a man with a life-changing story. It is not an interview or a biography, but simply the words from the man himself. Different people react in different ways when they hear this story. Some are inspired, some skeptical, a few will mock and ridicule, while some others have even been filled with rage and anger, convinced these words are the ravings of a mad man or an elaborate deception. Some Christians have opposed the story simply because the radical and miraculous events described herein do not fit their feeble image of an Almighty God.’

    We were concerned with the above wording and commented in our 2001 report that it was interesting to note the approach they took in the introduction. Anyone who questioned the story would immediately be labelled as a sceptic, a mocker or ridiculer, someone filled with rage and anger, or worse a Christian whose concept of God is feeble and who does not believe that an Almighty God can be radical and perform miracles.

    This could be seen by some as a form of bullying and intimidation to dismiss any form of thought and questioning of the story. It is not a healthy or biblical approach to dealing with questions about such a dramatic story, nor does it encourage people to use their minds.

    The resurrected monk’s story was quite a dramatic tale and it has impressed many people. It was even reported in the well-known Christian Singaporean magazine: IMPACT (June/July 2000, p.45). It continued to be circulated and passed on through emails for some time.

    But was it true? If it was, it SHOULD be circulated – whatever the consequences. But what if it was NOT true? Should it then continue to be circulated never-the-less? We believe not! It should be noted that there have been several versions of the story circulating. One version, which was circulating in March and April of 2000, began with an ‘Extract’:

    ‘Myanmar: Buddhist monk raised from the dead – 300 monks turn to Jesus. “In 1998, a Buddhist monk died. A few days later, his funeral was held, at which he was to be cremated. From the smell, it was obvious that his body had started to decompose – he was very clearly dead!” according to the report from missions agency Asian Minorities Outreach. “We have attempted to verify this report which reached us from a number of sources, and are now convinced that it is accurate,” they write.

    Hundreds of monks and relatives of the dead man attended the funeral. Just as the body was about to be burned, the dead monk suddenly sat up, shouting ‘It’s a lie! I saw our ancestors burning and being tortured in some sort of fire. I also saw Buddha and many other Buddhist holy men. They were all in a sea of fire!’ ‘We must listen to the Christians,’ he continued emphatically, ‘they’re the only ones who know the truth!’

    The events shocked the whole region. Over 300 monks became Christians and started to study the Bible. The resurrected man continued to warn everyone to believe in Jesus, because he is the only true God. Tapes of the monk’s report were distributed throughout Myanmar. The Buddhist hierarchy and the government were soon alarmed, and they arrested the monk. He has not been seen since and it is feared that he was killed to keep him silent. It is now a serious crime to listen to the tapes, because the government wants to dampen the sensation.’

    On Sunday 19th November 2000, CCG Ministries’ Director, Adrian van Leen, interviewed and spoke with a man who claimed to be the ‘resurrected’ Paul in a hotel function room in Yangon in the company of four Myanmar Christian leaders.

    That interview raised serious questions as to the authenticity of the story under consideration.

    Our detailed review of the interview with the man claiming to be Paul, the ‘resurrected’ monk, was published as a report, sent to Asia Harvest, and placed on our website. After emailing a copy of the report, we also sent a ‘hard’ copy of the TACL containing the printed article, to Asia Harvest. In the latter part of 2003 we received the following email from Asia Harvest:

      Greetings!
      I’m sure you will remember our communications a year or two back regarding the story of the Buddhist monk in Myanmar who came back to life. We were the ones who first had his testimony translated and published on our website.

      Then you travelled to Myanmar and met with a man regarding this story. Your graphic report of that interview, his seemingly unstable mind and completely inconsistent testimony left us with no option but to withdraw the story from our website and offer our deep apologies. The last thing we want to do is discredit the name of our Lord Jesus by publishing any story that is untrue. I wrote to you of our intentions and you accurately reported,

      [After Asia Harvest received a copy of this report they removed all references to the story from their website and stopped sending out email transcripts of the claimed resurrection account. They will be making some statement regarding their initial endorsement of the story. When this is available we will gladly append it to this report.]However, when we received your magazine article which carried a picture of the man you interviewed, we showed it to two Burmese pastors who met the original ‘Paul’ in Myanmar and they immediately said this was the wrong man! Later a missionary who lives here in Thailand but who works in Myanmar also said the man you interviewed looks nothing like the monk, being much younger.

      More information since has revealed that there are actually three or four different people in Myanmar who claim they were monks who rose from the dead! Our contacts in Yangon (Rangoon) say that two of these are completely untrustworthy men, with little evidence of a genuine conversion to Christ. One of these is the young man you interviewed. No wonder his birth-date and other key facts were different from the testimony we published – it was not the same person! It almost seems that Satan sent along these counterfeits with false testimonies and a poor witness in order to discredit the original testimony.

      Can we absolutely guarantee the story we published is true – of course not. Only God and the person involved can know what happened in such a story. We stated this when we first released the transcript of his testimony. But as far as can be verified, we have yet to be convinced that this testimony is false. We have been told it now seems likely that the monk Paul was killed. He was in hiding for more than 12 months and has not been heard of since. Another ex-monk who lives in Shan State, who also converted to Christ through miraculous circumstances is also being hunted by the authorities in a bid to silence him.

      In the interests of fairness, would you be willing to publish our comments in this email with the story that is on your website?

      God bless you,
      Asia Harvest

      Unfortunately, this update from Asia Harvest still fails to answer many of the questions and issues CCG Ministries raised in our report initially.

      Our report had already acknowledged that there were several people in Myanmar (Burma) claiming to be the ‘resurrected’ monk: Further complications have arisen with this whole saga. According to the beliefs of some people in Myanmar (or some with friends and/or relatives in Myanmar), several different people supposedly, or apparently, are claiming to be the resurrected Buddhist monk – at least an older man and a not-so-balanced young man.

      Even if we completely remove the questionable ‘Paul’ interviewed by CCG Ministries’ Director and several Myanmar Pastors, we are still left with serious questions about the whole story anyway. These were made clear in our 2001 report and remain unanswered by the recent comments from Asia harvest.

      Apart from the contradictions made by [the suspect] Paul in front of witnesses, there are still serious questions about the content of his [the ‘original Paul’] supposed visions or visit to hell and heaven, as well as questions about editorial comments made by Asian Minorities Outreach/Asia Harvest.

      AMO/Asia Harvest has made statements about Paul being radically transformed and having a 180-degree shift in his life, and him continuing to be a fearless witness for Christ, of him being persecuted, scorned by family, friends and colleagues, and facing death for his unwillingness to compromise. But some Myanmar Christian leaders have asked (as we do also) on what do they base this, apart from his say so [or the say-so of unnamed pastors whose comments seem in clear conflict with that of the majority of pastors – especially from known established churches and denominations]? what evidence do they have?

      Statements that [the ‘original’] Paul had been arrested and imprisoned – probably several times, not seen since, and that it was feared that he had been killed to keep him silent – are all highly emotive. While claims of imprisonment in such a situation are plausible and even probable, they remain unsubstantiated.AMO/Asia Harvest has stated that the story was first told them by several Burmese church leaders, and that since being initially told they ‘have attempted to verify this report which reached us from a number of sources, and are now convinced that it is accurate.’ IMPACT Magazine reported that a spokesman for AMO/Asia Harvest stated: ‘We believe it to be true as there are many witnesses to these events.’

      CCG Ministries’ Director, Adrian van Leen, before, especially during, and after his visit to Myanmar in November 2000, [and subsequent visits in 2001 and 2002] has spoken to a number of [numerous] Myanmar Christian leaders – including a number who are involved in inter-church/inter-denominational work, as well as leaders of several denominations. He spoke with leaders from Yangon and across Myanmar who attended a conference in Bago, and also Christian leaders in Mandalay and a regional township. Many of these leaders from across varying denominations had contact with other Christian leaders across the country.

      No one was able to give ANY form of authentication to the story. A number of leaders, including those who had been in Christian leadership in Mandalay, knew of no evidence to confirm any part of the story. Some of the Myanmar Christian leaders would very much like to know who the ‘several Burmese church leaders’ are that AMO/Asia Harvest refers to as their sources for this story.

      In fact, it was pointed out very clearly that, had the story been true, especially had there been a number of Buddhist monks converted to Christianity – especially as many as 300 and very much so if there were as many as 7,000 – the news would have spread rapidly. While the government-controlled media might have tried to suppress such news – the Christians and churches (particularly in the Mandalay area) would not have been able – nor have wanted to – suppress such news. It would have spread rapidly and widely through the churches. The Buddhist community would also have spread the story – though for different reasons.

      The claim that ’there are many witnesses to these events’ is also disputed by Myanmar Christian leaders, who have stated that they had never met anyone who had been a direct primary witness – nor anyone who had personally met a direct witness to these events… The reality is that in Myanmar itself no one has been able to find any witnesses or any evidence whatever, to support the story of the resurrected Paul.

      It was also pointed out that [the ‘original’] Paul’s claim to have seen Aung San, the revolutionary leader of Myanmar (father of current opposition leader, Aung San Suu Kyi) in hell ‘because he persecuted and killed Christians, but mostly because he didn’t believe in Jesus Christ’ was completely without foundation. He is a well known figure in Burmese/Myanmar thinking and history – and there is no evidence at all that he persecuted any Christians, let alone killed any.

      AMO/Asia Harvest has invited ‘Christian believers to judge it [Paul’s resurrection story] according to Scripture.’

      As one senior Myanmar pastor pointed out, the story and description of hell given by Paul, is itself contrary to Scripture. Paul’s story is also in conflict with the story Jesus told in the account of the rich man and the beggar, Lazarus (Luke 16:19-31). When carefully examined it is also in conflict with the comments of the Apostle Paul in 1 Corinthians 15 – in particular where that Paul was able to name eye witnesses to the resurrection of Christ – and acknowledged at the time that some were still living – in other words, he was able to produce witnesses who could testify to the authenticity of his claims.

      Pastors in Myanmar are still asking for real evidence and living witnesses to the claimed miracle with whom they can discuss and verify the story. So far, the story’s authenticity remains with the claims made by Asia Harvest.

      The story of the ‘resurrected Paul’ is known throughout much of Myanmar – and his tape has circulated (in several versions). Hardly anyone in Myanmar – especially amongst Christian leaders – has accepted or believed the story. There is just nothing to back it up.

      Far from the ‘resurrected monk’ story providing a ‘fearless and faithful witness to Jesus Christ, whose testimony is converting Buddhists, strengthening the church or bringing glory to God’s name’, Myanmar pastor have told our Director that it has brought fear and suspicion to many Christians in the country. We concluded our 2001 report with the comment: Whatever the truth behind this sad saga, most Christians, and most pastors and church leaders in Myanmar, are not taking this story seriously and see little value in it for the growth of the Christian community in that country.

      From the evidence we have been able to examine, including the claims and content of the story itself, and all the discussions with Pastors and others in Myanmar, we believe it would have been wiser for the story not to have been published and circulated.

      We believe that ‘miracle stories’ which cannot be adequately substantiated ought to be treated with caution – especially if those stories, or significant parts of those stories, do not conform to Scripture. Lives continue to be changed by the resurrected and living Jesus Christ – sometimes dramatically, sometimes quietly – the substance of those changed lives are quiet miracles that are often clear and undisputed. They continue to honour Christ and encourage others. [↑]



    Dear Triplegem Members,
    http://www.buddha.sg/htm/general/faq01.htm

    The following message was posted to the NDE.com Website by someone called ‘James’ on 23rd July, 2000. (NDE = Near Death Experience). The Monk’s story is identical. But the source is different. Details can be viewed at
    <>

    The message began with:

    “Buddhist Monk visits Hell”
    I believe this person died, body decay & rotten.
    He was then brought to those places by the LORD to show him some
    vision.

    This is taken from a mission paper

    “Northside Missions Update”
    Northside Christian Centre
    31-61 McLeans Road
    Bundoora Victoria 3083
    Australia

    The same ‘Monk’s Story’ followed.
    Then, exchange of interesting messages took place at the NDE.com

    Bulletin Board among NDE regulars, some of them are Christians, and finally, someone called ‘Melvin’, ‘a Myanmar Buddhist’, posted the following message and the discussion came to a close.

    The fact that the same story has re-surfaced in another form (cassette), perhaps in a another country is a bit disturbing!

    Best wishes to all our Triplegem members,

    MM Lwin
    ………………………………………………………….

    Dear All NDE Fans,
    I was alerted and requested by someone in a responsible position to check for the authenticity of the story behind this posting. After speaking to and exchanging Emails with Myanmar (Burmese) monks as well as fellow Myanmar Buddhism experts in many countries, I am 100% confident that this NDE story is completely fictitious. The reasons are given below.

    (1) All Burmese experts said they had never heard of the story about this Myanmar Buddhist monk before.

    (2) There is also no reports either in Burma or outside Burma of mass defection of Myanmar Buddhist Monks to join the Christian Church.

    (3) The monk in the story said he became a novice at the age of 18. It is rather unusual as most boys Burmese boys join the monastic life at younger age than 18.

    (4) At the age of 19, he became a monk. This is also unusual as the entry age for becoming a fully ordained monk is 20. (There is one exception when one considers the foetal life while in the mother’s womb)

    (5) U Zadila, also known as ‘Kyar Ni Kan Sayadaw’ was described as probably the most famous Buddhist Teacher of the time. That is disputable. Venerable Kyar Ni Kan Sayadaw was indeed well known and very popular as public speaker and preacher. But he was not regarded as the most distinguished monk academically and intellectually.

    (6) The monk said ‘Kyar Ni Kan Sayadaw’ died in a car crash in 1983 . In fact Sayadaw died in Myanmar Era 1339 = about 1977. There was a 6 years discrepancy which is unacceptable as the monk said he studied under him. He should know the exact year when his teacher died. And that 1977 was also the year when he became a monk. This fact alone is enough to brand the story as a fake or invention.

    (7) He said he was given a new name of ‘U Nata Pannita Ashinthuriya’ when he entered the monastery. In Burma, the title ‘shin’ was used for the novice. ‘U’ was never used for a novice.

    (8) The monk’s new name itself was unusual nor unheard of, according to the monks I consulted.

    (9) Doctors diagnosed Malaria and Yellow fever. Actually the Yellow Fever was not known to exist in Burma.

    (10) To recover completely after very severe malaria is most unusual especially after being discharged to die.

    (11) To regain Life after the body started to decay (decompose) is impossible according to conventional medical thinking.

    There are other discrepancies regarding his actual NDE. But there is no need to dig deeper. It is a complete FICTION. It is very regrettable that a Christian Church was reported to be involved in creating this dishonest practice.

    We expect ‘James’ to say something about our findings. He is the one who reported the story to the world media. After reading his various postings to this forum, I believe that he is either a priest or a serious Christian. We welcome his reply as well as the communication from the Church authorities who wrote the Introduction to this fictitious story and published in their regular bulletin.

    Best wishes to all,

    Melvin,
    MyanmarBuddhist@n… [↑] [↑]



    Nubuatan tentang Yesus YANG BERMASALAH di kitab serumpun

    Apakah benar hanya 4 injil itu saja yang memberikan argumen yang lemah terhadap “pernubuatan” tentang Yesus?. TIDAK, berikut sample kekonyolannya:

    Daniel 9.24-27 adalah tentang Imam yang diurapi: Onias namun dicocoklogi sebagai nubuatan Yesus, padahal ini rangkaian peristiwa 490 tahun sejak pengepungan Yerusalem oleh Nebudkadnezar:

    Yeremia:
    ..demikianlah firman TUHAN–menyuruh memanggil Nebukadnezar, raja Babel, hamba-Ku ..dan bangsa-bangsa ini akan menjadi hamba kepada raja Babel 70 tahun lamanya. Kemudian sesudah genap ke-70 tahun itu,..Aku akan melakukan pembalasan kepada raja Babel. [Yeremia 25.9-12] ..kepada nabi-nabi dan kepada seluruh rakyat yang telah diangkut ke dalam pembuangan oleh Nebukadnezar dari Yerusalem ke Babel….Apabila telah genap 70 tahun bagi Babel,..Aku akan menepati janji-Ku kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini [29.1-10]

    Daniel:
    Pada tahun pertama pemerintahan Darius, ..aku, Daniel, memperhatikan ..firman TUHAN kepada nabi Yeremia akan berlaku atas timbunan puing Yerusalem, yakni 70 tahun [9.1-2]….sementara aku berbicara dalam doa, terbanglah dengan cepat ke arahku Gabriel [9.21]..mengajari aku..: 70 minggu (“שבעים שבעים”/sabuim sibim) telah ditetapkan atas bangsamu dan atas kotamu yang kudus [9.24]…Yerusalem akan dipulihkan dan dibangun kembali, sampai pada kedatangan seorang yang diurapi, seorang raja, 7 minggu; dan 62 minggu (“שבעים שבעה ושבעים ששים ושנים”/sabuim sibah wa-sabuim sissim usenayim) kota itu akan dibangun dengan tanah lapang dan paritnya, tetapi di tengah-tengah kesulitan. [9.25] dan sesudah (wa ahare) ke-62 minggu (wa-sabuim sissim usenayim) akan disingkirkan seorang yang diurapi, padahal tidak ada salahnya apa-apa. Maka datanglah kaum dari seorang raja (‘am nagid) memusnahkan kota dan tempat kudus itu, tetapi raja itu akan menemui ajalnya dalam air bah; dan sampai pada akhir zaman akan ada peperangan dan pemusnahan, seperti yang telah ditetapkan. [9.26] Raja itu akan membuat perjanjian itu menjadi berat bagi banyak orang selama satu minggu (sabua ehad) dan pertengahan minggu itu (wa-hasi has-sabua) akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan; dan di atas sayap kekejian akan datang yang membinasakan, sampai pemusnahan yang telah ditetapkan menimpa yang membinasakan itu” [9.27]

    Kurun waktu 70 minggu (70 x 7 = 490 tahun) mulai dari Nebudkadnezar:

    • Awal dari 70 Tahun: Mulai dari tahun ke-3 Yoyakim, Nebudkadnezar mengepung Yerusalem [Daniel 1.1]. Tahun ke-4 Yoyakim = tahun ke-1 Nebudkadnezar (605 SM) [Yeremia 25.1] dan tahun ke-19 kehancuran Yerusalem (Yer 52.12/587 SM)
    • 7 minggu (7 x 7 tahun = 49 tahun): Kehancuran Kuil ke-1 (587 SM SM) sampai runtuhnya kekaisaran Babilonia baru (Raja Nabbonidus, 559 SM – 538 SM) = 587 SM – 538 SM = 49 tahun, oleh Koresh yang Agung/Persia dan di tahun itu, perintah membangun kuil ke-2 (Ezra 1.1, 5.13; 2 Taw 36.22), selesai 21 tahun kemudian di tahun ke-6 Darius ke-1/517 SM. (ini juga 70 tahun sejak kehancuran kuil ke-1). Jumlah 49 tahun + 19 tahun = 68 tahun, selisih 2 tahun adalah dari perintah, masa kepulangan dan menetap untuk membangun kuil.
    • 62 minggu (62 x 7 = 434 tahun): Mulai pengepungan Yerusalem (605 SM) – 434 = 171 SM, kisaran waktu ONIAS yang diurapi terbunuh.
    • Dalam 1 minggu (= 7 tahun): 171 SM – 7 tahun, masa penderitaan jaman raja Antiokus IV, Epifanes (175 SM – 164 SM), setelah kematian Onias, selama 3.5 tahun (pertengahan minggu) terjadi perampokan bait Allah, membuat kaum Yahudi menyembah Zeus hellenios (II Makabe 5.15-16, 6.2), memotong babi di bait Allah (1 Makabe 1.47, II Makabe 6.21, 7.1, Antiquity of the Jews, XII) dan menghentikan praktik rutin kurban penebusan selama 3.5 tahun (“The Jewish War”, 1.32) dan di megilat Antiokhus/gulungan Hasmonian (Abad ke-2 M) dikatakan bahwa ia menenggelamkan diri ke laut

    Maka ini BUKANLAH nubuatan tentang Yesus.

    Mazmur (Psalms) 22.16:

      “Karena anjing-anjing telah disekelilingku, kumpulan jahat telah menempelku, mereka telah menusuk tangan dan kakiku).

    yang di cocoklogi agar menimbulkan kesan seolah-olah ini adalah nubuatan perjanjian lama untuk adegan pemakuan tangan dan kaki Yesus. Apakah benar demikian?

    Pertama-tama,
    Kata “mereka” yang konon dituduhkan ini, seharusnya merujuk pada serdadu Romawi BUKAN kaum Yahudi (yang kerap dituduh membunuh para Nabi: Mat 23.30-31, 37; Lukas 11.47-48, 13.34; 1 Tesalonika 2.15; Roma 11:3; Wahyu 16:6; KPR 7:52), namun tentu saja, BUKAN itu persoalannya, tapi kata כארי (ka’ari) yang arti seharusnya adalah “SEPERTI SINGA” BUKAN “TELAH MENUSUK”. Bentuk “י” pada “כארי”, di versi LXX adalah “ו” sehingga tertulis “כארו”, yang tidak ada artinya, karena salah menuliskan, jika ingin artinya “menusuk” maka kata yang seharusnya digunakan adalah “כרו” (karu). Variasi lain bantahan, misalnya “Psalm 22:16: A Prophecy of the Crucifixion?” dan “Messianic Prophecies“:

    Yang terjemahan seharusnya adalah “seperti singa” BUKAN “menusuk”, sehingga arti keseluruhannya menjadi, “karena Anjing ada disekelilingku; beserta kejahatan yang mengelilingku seperti singa. tangan dan kakiku“.

    Maka ini BUKANLAH nubuatan tentang Yesus.

    Namun demikian,
    ada satu nubuatan yang 100% terpenuhi ketika Yesus disalibkan di pohon, sebagaimana yang Paulus katakan:

      Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada pohon (xulon)!” [Galatia 3.13]

    ..dan Kutuk hukum taurat apa yang dimaksudkan?

      “Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung dia pada kayu, maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu. [Ulangan 21.22-23]

    Ia dihukum mati karena melanggar HUKUM TAURAT, yaitu berbuat dosa melecehkan tuhan

      Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati. [Ulangan 18.20]

    Jelas sudah bahwa orang ini BUKANLAH nabi..Apalagi TUHAN.

    Jika masih bimbang bahwa orang adalah bukan nabi apalagi tuhan, bisa juga di check kronologi kematian Yesus yang berada diantara 2 sabat, di bulan ke-1, Nissan:

    • Tanggal 14, Rabu malam – Kamis senja, yaitu Paskah BULAN ke-1 [Imamat 23.4-8]
    • Tanggal 15, Kamis malam – jum’at senja, yaitu hari ke-1 hari raya roti tidak beragi [Imamat 23, Matius 26:2, 26:17-20; Markus 14:1, 14:12; Lukas 22:7-8, 22:39; Yohanes 12:20]
    • Tanggal 16, Jum’at malam – Sabtu senja, hari ke-2 hari raya roti tidak beragi dan juga hari persiapan sabat, Yesus wafat jam ke-9, SABTU SORE, setelah seluruh mayat hukuman diturunkan, barulah dilakukan pemotongan domba paskah (masih 4-5 JAM LAGI sebelum senja berakhir, jam ke-12 akhir, yaitu jam 19.30) [Markus 15:33,42; Yohanes 18:28, 19:14, 31, 42; Lukas 23:14, 23:54; 56-56b; Matius 27 45, 51, 27:62-64]
    • Tanggal 17, Sabtu malam – Minggu senja, hari ke-3 hari raya roti tidak beragi dan juga hari sabath regular [Imamat 23:1-3 (juga keluaran 16:26, 20:9-10, 31:15, 35:2); Lukas 23:56;56b]
    • Tanggal 18, Minggu malam – Senin senja, hari ke-4 hari raya roti tidak beragi dan juga hari pertama setelah sabath regular, Pagi-pagi benar ketika hari masih gelap Magdalena pergi ke kubur dan Yesus sudah tidak ada, jadi saat itu SENIN PAGI [Matius 28:1-2; Markus 16:1-2; Lukas 24:1-2; Yohanes 20:1]

    Berapa jumlah total hari dari mulai Yesus wafat s/d yesus tidak ada di kuburnya?

    Yohanes 11:9 Jawab Yesus: “Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari?..”
    Kitab wahyu 11:9, ‘…tiga setengah hari lamanyadan 11:11, ‘Tiga setengah hari kemudian…

    Kalimat ‘1/2 (setengah) hari’ menunjukan tidak dibulatkan menjadi 1 (satu) hari tapi sesuai dengan yang terpakai:

    • Tanggal 16, jam 15 sore s/d tanggal 17 jam 15 sore = 24 jam
    • Tanggal 17, jam 15 sore s/d tanggal 18, jam 3 pagi = 12 jam
    • Tanggal 18, jam 3 pagi s/d pagi-pagi (jam 6) = 3 jam

    Total waktu kematian Yesus adalah 39 jam

    Sementara tanda ke-mesias-an telah disampaikannya sendiri di Matius 12:38-40; Lukas 11:29-30; Markus 8:31, 9:31 yang merujuk Yunus 1:17, yaitu:

      Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu…Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan 3 hari 3 malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi 3 hari 3 malam

    ..dan fakta lapangan ternyata hanya: 1.25 hari 2 malam saja!

    ***

    Mazmur/ Psalms 22:1:

      Allahku, Allahku, mengapa Kau mengabaikanku? Mengapa Kau tak menolongku dan [tidak memperdulikan] kata-kata teriakanku?

    Ungkapan ini lebih terkenal dengan: “Eli, Eli Lamasabakhtani”, dalam Bahasa Aram, bahasa yang dipakai Yesus.

    Ayat di atas yang konon ditulis oleh Daud, adalah ketika mengungkapan kesesakannya, yang merasa ditinggal Eli (artinya Tuhan), itu adalah kata-kata umum yang diucapkan seseorang ketika “merasa” ditinggalkan Tuhan. Maka sebagai seorang yang mengaku sebagai “yang diberkati” dan “guru agama” Yahudi, Yesus seharusnya paham dari mana kata-kata tersebut berasal dan untuk yang mengaku nabi dan bahkan tuhan, “sangat lucu sekali” diteriakan atau diulangi lagi di kayu salib 🙂

    ***

    Mazmur/ Psalms 34:20, sering diPERALAT sebagai alasan untuk menjelaskan terpenuhinya nubuatan pada peristiwa penyaliban Yesus, dimana kedua penjahat yang disalibkan bersama Yesus dipotong kakinya, sedangkan Yesus tidak, maka ini dianggap memenuhi nubuatan yang berbunyi sebagai berikut:

      Ia menjaga semua tulangnya, dan tidak ada satupun dari mereka yang dipatahkan

    Apakah ini benar Nubuat? Mari kita telaah lebih dalam. Ayat sebelumnya yakni ayat 19:

      Banyaklah hambatan bagi orang yang benar, namun TUHAN membebaskan Nya dari semua hambatan”

    Dan jika ayat 19 dan 20 digabungkan dengan ayat-ayat lainnya digabungkan maka jelas ayat 20 adalah kata kiasan (menjaga tidak satupun tulang yang patah) yang menunjukkan janji Tuhan untuk melindungi/menjaga orang benar keluar dan selamat tanpa cacat dari semua hambatan/cobaan dan bencana.

    Kemudian,
    memaksakan diri dengan mengaggap bahwa yesus adalah domba paskah, juga tidak tepat, karena Yesus dihukum bersama para penjahat lainnya dan setelah mati, ia pun tidak dipanggang dan tidak disantap, padahal korban Paskah yang dipersembahkan itu harus tidak cacat dan dimakan pada akhirnya:

      ..dari kambing domba, baik dari domba, maupun dari kambing, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela. [Imamat 1.10; 3:6l 4:32]..berumur setahun. [keluaran 29;38]. Paskah itu harus dimakan dalam satu rumah juga; tidak boleh kaubawa sedikitpun dari daging itu keluar rumah; satu tulangpun tidak boleh kamu patahkan. [Keluaran 12:46]..Janganlah mereka meninggalkan sebagian dari padanya sampai pagi, dan satu tulangpun tidak boleh dipatahkan mereka. [Bilangan 19:12]

    Sangat tidak nyambung dengan kondisi Yesus dan ayat 20 bukan nubuatan tentang Yesus.

    Disamping itu, wafatnya pun sebelum WAKTU penyembelihan domba paskah dan antar ayat dalam perjanjian baru sendiri kontroversi mengenai kapan waktu disalibnya sewaktu di Golgota pada

      Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam ke-6 (Hora hektos)..Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan [Yohanes 19:14-16]

      VS

      Jam ke-3 (hora tritos) ketika Ia disalibkan [Markus 15:25]

    Juga petunjuk menarik di Markus, Matius dan Lukas

      Pada jam ke-6 (hora hektos), kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam ke-9 (hora ennatos). Dan pada jam ke-9 (hora ennatos) berserulah Yesus dengan suara nyaring..dan menyerahkan nyawa-Nya (Markus 15:33-34,37; Lukas 22:44-45; Matius 27:45-46)

    Alasan yang biasa digunakan menanggapi perbedaan fatal waktu Yesus disalibkan antara “hektos hora” (Yohanes 19:14) VS “hora tritos” (Markus 15:25) adalah bahwa Markus menggunakan waktu Yahudi sementara Yohanes menggunakan waktu Romawi :).

    Argument ini lemah, dari banyak sisi, pertama, klaim domba paskah hanya masuk dalam tradisi waktu Yahudi, sehingga perbedaan waktu antar inijil melemahkan kebenaran terjadinya penyaliban. Ke-2, JIKA BENAR SAAT ITU ADA PENGHUKUMAN, maka TERHUKUM saat itu BUKAN CUMA YESUS, masih ada lainnya, maka metaphora domba paskah menjadi kabur maknanya. Ke-3, Tradisi pemotongan dan persembahan HEWAN KURBAN, telah berjalan lama di SEBELUM dan SETELAH Yesus. Ke-4, Sangat aneh jika kaum Yahudi menambah hal yang bisa di tunda tapi tidak dilakukan di hari raya terutama di even paskah 7 hari ini.

    Kemudian,

    Dari perbedaan panjang waktu pada periode titik balik matahari winter dan summer. Waktu Summer untuk jam ke-9 adalah jam 02.30 dan waktu senja terakhir adalah 19.30, Jadi terdapat selisih 5 JAM sebelum mulainya hari Sabat.

    Setelah semua mayat orang hukuman diturunkan agar tidak menajiskan tanah (Yohanes 19:31; Ulangan 21:22-23), maka setelah itu barulah dilakukan pemotongan hewan paskah. Ini artinya Yesus bukanlah domba paskah.

      Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan. [Yohanes 19:31]

    Informasi di atas ini SUDAH MENJELASKAN DENGAN SANGAT bahwa WAKTU PEMOTONGAN DOMBA BELUMLAH DIMULAI dan Yesus sudah wafat duluan. Ini juga membuktikan bahwa metapora Yesus domba paskah sangatlah tidak nyambung.

    Disamping itu,
    Perlu diperhatikan keheranan Pilatus, bahwa hanya dalam kurun waktu 3 jam-an saja, di antara 3 penjahat yang dihukum, hanya yesus yang wafat sementara 2 lainnya tidak. [Markus 15:44]. Penyaliban penjahat telah banyak dilakukan sebelumnya, tidak terjadi pada kasus ini saja, sehingga waktu rata-rata kematian akan diketahui yaitu BERJAM-JAM hingga beberapa hari, sebagaimana terungkap dalam laporan tentang hukuman penyaliban: “Penderitaan itu berlangsung setidaknya 12 jam, dalam beberapa kasus selama 3 hari. Untuk mempercepat kematian kaki dirusak, dan ini dianggap sebagai tindakan AMPUNAN (Cicero, “Phil.” Xiii. 27)”

    ***

    SELURUH pasal pada Yesaya 52 dan Yesaya 53 sering digunakan sebagai nubuatan tentang Yesus. Ini jelas keliru:

      Siapa “kami” di ayat ini? Siapa yang dibicarakan oleh “kami”?
      Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan? [Yes 53.1]

    Dari petunjuk di pasal 52.15, kita segera temukan bahwa “kami” di Yes 53.1 adalah raja-raja. Apakah Yesus yang dibicarakan para raja itu? TIDAK. Tidak ada tertulis di Alkitab bahwa Yesus mencengangkan banyak bangsa. Juga, tidak ada tertulis raja-raja mengatup mulutnya melihatnya, tidak bahkan 1 raja pun.

    Jadi pasal 52 dan 53 ini tentang siapa? Tentang Bangsa Yahudi dan bukan tentang Yesus.

      Apakah Yesus buruk rupa? babak belur?
      ‘aher shamem ‘al rab (Yang mana banyak yang tertegun) ken mishchath ‘iysh mar’eh (demikian buruk tampilannya) to’ar ben Adam (bentuk turunan Adam) [Yes 52.14] DAN “‘alah yowneg paniym sheresh erets’ tsiyah (tumbuh tunas muda yang berakar diatas tanah kering) lo’ to’ar lo’ hadar (tidak bentuknya tidak semaraknya) ra’ah lo’ mar’eh chamad (dipandang tidak menarik tampilannya)” [Yes 53.2]

    Ini bukanlah luka-luka akibat penyaliban atau wajah yang buruk rupa, tapi sekumpulan bangsa (turunan Adam) yang tampak rendahan tidak menarik

      bazah chadel ‘iysh (Dipandang rendah ditolak orang) ‘iysh mak’ob yada’ choliy (orang luka diketahui berpenyakit) macter paniym min (menjauh dari hadapannya) bazah lo’ chashab (dipandang rendah tidak dihiraukan) [Yes 53.3]

    4 injil menyampaikan bahwa orang berkerumun dekat Yesus, tidak menghindarinya juga tidak memandang rendah padanya. Jadi ayat ini bukan tentang Yesus tapi tentang bagaimana bangsaa Israel yang dianggap rendah.

      ‘aken choliy huw’ nasa’ (Padahal sakitnya dienyapkan) mak’ob cabal ‘anachnuw (Luka kami angkat) chashab naga’ nakah elohim anah (dianggap kena azab cobaan Elohim) [Yes 53.4]

    4 Injil tidak ada yang menyatakan Allah dianggap mengazab Yesus, juga bukan tentang Yesus memikul luka dan penderitaan orang, tapi tentang Allah yang memikul luka dan sakit bangsa Israel tapi dianggap bangsa itu sedang kena Tulah

      huw’ chalal pesha’ (itu dilukai pelanggaran) daka’ ‘avon (diremukan noda) muwcar shalom ‘al chabbuwrah rapha’ (salam damai untuknya menyembuhkan luka) [Yes 53.5] kol tso’n ta’ah (sekawanan domba sesat) ‘iysh derek panah Y@hova et ‘avon kol (Mereka berjalan menyimpang dari Y@hova menodai segalanya) [Yeh 53.6]

    Penghianatan bangsa Israel sangat melukai Y@hova, hanya dengan menyembahnyalah yang dapat menenangkannya

      Tidak membuka mulut saat diadili?
      nagas huw’ ‘anah (Ditindas itulah direndahkan) lo’ pathach peh (tidak membuka mulut) seh tebach yabal (anak domba yang dibawa ke pembantaian) rachel paniym gazaz ‘alam lo’ pathach peh (induk domba dihadapan gunting bulu kelu tidak membuka mulut) [Yes 53.7]

    4 Injil menyampaikan bagaimana Yesus mengadakan perlawanan dengan memerintahkan membeli pedang, juga bagaimana Ia TETAP MEMBUKA MULUTNYA MENJAWAB pertanyaan para Imam mahkamah agama dan Pilatus. Jadi, ini bukan tentang Yesus melainkan Bangsa Yahudi yang dalam penindasan.

      Yesus diambil dari penjara?
      ‘otser mishpat laqach (kendali hukuman diambil) et’ dowr miy siyach (Angkatan manakah dapat menanggungnya) kiy gazar ‘erets chay (jika di usir dari negeri yang hidup) pesha’ ‘am nega’ (dosa bangsa yang kena tulah) [Yes 53.8] Nathan et’ rasha qeber et asyhir maveth ‘al (Menempakan kuburan orang fasik dan kaya berdekatan di alam maut) lo’ chamac ‘asah lo’ mirmah peh (walaupun tidak melakukan kekerasan dan tipu daya) [Yeh 53.9]

    Tidak pernah Yesus dipenjara, ia diambil dari Taman, ke herod dan kemudian ke Pilate juga bukan tentang diangkatnya Yesus. Sekali lagi ini tentang nasib bangsa Israel yang dicobai

      TUHAN berkehendak meremukkan dengan kesakitan. Apabila menyerahkan diri sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya [Yeh 53.10]

    Tuhan menghukum Tuhan? Apakah Kristen menerima bahwa Yesus hidup hingga tua dan berketurunan?

    ..dan demikan seterusnya yang menunjukan bahwa ini BUKAN nubuatan tentang Yesus, namun tentang kisah bangsa Israel.

    ***

    Atau juga Yesaya 7.14 (dianggap merujuk pada Maria dan Yesus, Mat 1.22-23) dan Yesaya 9.6 (dianggap membicarakan Yesus):

      Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda (istri Yesaya) mengandung dan akan melahirkan anak laki-laki dan menyebutnya “tuhan bersama kita” (Immanu-el: Pujian karena “Tuhan bersama-kerajaan Yehuda”, dengan terbunuhnya raja Rezin dan raja Pekah). Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti (yaitu Pekah, raja Israel dan Rezin raja Suriah, ref 2 raja 16.5) akan ditinggalkan kosong. TUHAN akan mendatangkan atasmu dan atas rakyatmu dan atas kaum keluargamu hari-hari seperti yang belum pernah datang sejak Efraim menjauhkan diri dari Yehuda — yakni raja Asyur. [Yesaya 7.14-17]

      Berfirmanlah TUHAN kepadaku: “Ambillah sebuah batu tulis besar dan tuliskanlah di atasnya dengan tulisan biasa: Maher-Syalal Hash-Bas Maka aku memanggil dua saksi yang dapat dipercaya, yaitu imam Uria dan Zakharia bin Yeberekhya. Kemudian aku menghampiri isteriku; ia mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Lalu berfirmanlah TUHAN kepadaku: “Namailah dia: Maher-Syalal Hash-Bas, sebab sebelum anak itu tahu memanggil: Bapa! Ibu! maka kekayaan Damsyik dan jarahan Samaria akan diangkut di depan raja Asyur [Yesaya 8.1-4]

      Dilanjutkan penyerbuan Asyur (8.5-10)

      Kemudian Yesaya bersembunyi (8.11-22:”Mereka akan lalu lalang di negeri itu, melarat dan lapar, dan apabila mereka lapar, mereka akan gusar dan akan mengutuk rajanya dan Allahnya; mereka akan menengadah ke langit, dan akan melihat ke bumi, dan sesungguhnya, hanya kesesakan dan kegelapan, kesuraman yang mengimpit, dan mereka akan dibuang ke dalam kabut)

      berlanjut dengan kelahiran raja Damai (9.1-9.10. “(8-23) Tetapi tidak selamanya akan ada kesuraman untuk negeri yang terimpit itu….)

    Matius mengklaim sebagai nubuatan dengan mengganti kata seorang perempuan muda menjadi seorang “PERAWAN”:

    Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus (Iesous), karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi “Sesungguhnya, PERAWAN (Parthenos) itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” –yang berarti: Allah menyertai kita.

    Kekonyolan ke-1,
    nama anak yang disebutkan di Yesaya adalah “Imanuel”, sementara nama anak yang disebutkan di Matius adalah “Iesous” bukan “Imanuel”. Ini jelas merujuk ORANG yang BERBEDA, bukan?

    Cilakanya lagi,
    di ayat Yesaya 8.3-4, kita akan segera tahu bahkan kata IMANUEL pun hanya kiasan, karena nama anak itu adalah “Maher-Syalal Hash-Bas”:

      Kemudian aku menghampiri isteriku; ia mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Lalu berfirmanlah TUHAN kepadaku: “Namailah dia: Maher-Syalal Hash-Bas, sebab sebelum anak itu tahu memanggil: Bapa! Ibu! maka kekayaan Damsyik dan jarahan Samaria akan diangkut di depan raja Asyur.”

    Kekonyolan ke-2,
    padanan kata ibrani “‘almah” (perempuan muda) dalam romawi/Yunani adalah ” neanis“, sementara padanan kata romawi “Parthnenos” (perawan) dalam Ibrani adalah “bethulah

    Apakah SELURUH perempuan muda = perawan? TIDAK.

    Seorang perawan TIDAK SELALU berusia MUDA dan seorang perempuan muda TIDAK SELALU PERAWAN, contoh:

      Di depan berjalan penyanyi-penyanyi, di belakang pemetik-pemetik kecapi, di tengah-tengah dayang-dayang (Almah) yang memalu rebana [Mazmur 68.25]

      Permaisuri ada enam puluh, selir delapan puluh, dan perempuan muda tak terbilang banyaknya [Kidung agung 6.8], Ketentuan Harem tidak harus para perempuan muda itu perawan.

      Jalan rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, jalan kapal di tengah-tengah laut, dan jalan seorang laki-laki dengan seorang perempuan. [Amsal 30.19]

    Seperti anda lihat, penggunaan kata “‘almah”, tidaklah diartikan PERAWAN, namun cukup perempuan usia siap nikah, adi ini adalah perbuatan disengaja untuk MENYESATKAN, bukan?!

    Kekonyolan ke-3,
    Ini tentang kejatuhan Damsyik sehubungan dengan raja Asyur sebuah kisah MASA LAMPAU, tentnag nubuatan kerajaan Yehuda SEBELUM tahun ke-4, pemerintahan raja Yehuda, Ahaz, ketika kerajaan Asyhur membunuh raja Suriah, Rezin dan di tahun ke-4, ketika Raja Israel, Pekah dibunuh Hosea serta di tahun ke-13, ketika kerajaan Asyhur melumatkan kerajaan Israel-Samaria (raja terakhir: Hosea) dan mengangkut hampir seluruh penduduknya ke Asyhur.

    Tidak ada kaitan kemanapun dengan YESUS, tapi terkait dengan keturunan raja AHAZ, yaitu Hezekiah sebagai raja ke-13 kerajaan YEHUDA yang setelah ini, mulailah dongeng tentang 10 suku Israel yang hilang. Konyol, bukan?

    ***

    Kaum Yahudi kerap dituduh membunuh para Nabi, misalnya di Matius 23.30-31, 34-37; Lukas 11.47-51, 13.34; 1 Tesalonika 2.15; Roma 11:3; Wahyu 16:6; KPR 7:52, contohnya di tuduhan Paulus:

      Bahkan orang-orang Yahudi itu telah membunuh Tuhan Yesus dan para nabi…

      Note:
      Islam juga kerap melontarkan tuduhan serupa, misal: AQ 2.61, 87, 91; AQ 3.21, 112, 181, 183; AQ 4.155; AQ 5.70. Nabi yang disebut di quran dalam versi Islam: Adam, Idris (Enoch), Nuh, Hud(?), Saleh(?), Ibrahim, Lut, Isma’il, Ishaq, Ya’qub (Jacob), Yusuf, Ayyub (Job), Shu’aib (Jethro?), Musa, Harun, Daud, Sulaiman, Ilias (Elias), Al-Yasa (Elisha), Yunus, Dhu’l-kifl (Ezekiel?), Zakariyya, Yahya (John), ‘Isa (Jesus), Muhammad. Untuk kata “kaum Israel”, maka listnya harus mulai setelah jaman Musa, bukan?

    Jika Yesus juga mengucapkan tuduhan ini, maka listnya harus antara Musa s.d sebelum Yesus. Terdapat kurang lebih 30an nabi (termasuk yang dianggap minor), maka nabi mana sih yang dibunuh kaum Yahudi?

    • Yohanes Pembaptis, bukan nabi. Yohanes tidak dibunuh oleh orang Yahudi. Herodes Antipas yang memenggal Yohanes adalah keturunan Edom dan Samaria demikian pula Herodias yang meminta agar Yohanes di penggal juga bukan Yahudi.
    • Bileam dibunuh atas perintah tuhan kepada Musa. Bileam sendiri bukan Nabi [Bilangan 31:8. juga lihat: Bilangan 31:16; Wahyu 2:14, Yudas 11; 2 Petrus 2:15]
    • Uria dibunuh oleh Raja Yoyakim sendiri (Jeremia 26:20-23), yang dalam tradisi Yahudi, raja adalah Mesias juga. Jadi, Tuhan sendiri ingin dia mati.
    • Terdapat peristiwa saling bunuh nabi, yaitu Elia membunuh 450 nabi Baal (1 Raja-raja 18:40) vs Izebel, Istri Ahab, membunuh 100an Nabi Israel (1 Raja-raja 18:13). Izibel adalah putri Sidon (1 Raja-raja 16:31), orang Fenisia, bukan orang Yahudi.
    • Yeremia jelas-jelas mendapatkan perlindungan tuhan (Yer 1.8) tidak wafat di bunuh
    • Yesaya diisuekan di gergaji (oleh mesias raja Manasye), namun issue ini hanya muncul di kitab NON kanonik dan sejarah nabi versi Islam (Ibn kathir). Kitab kanonik TIDAK ADA menyatakan Yesaya mati digergaji
    • Lucunya, Yesus sendiri kebingungan membedakan: Zakharia bin Berekhya bin Ido, (Matius 23:35; Lukas 11.50-51) yang hidup di jaman Darius vs Zakharia Ben Yoyada (2 Taw. 24:20-22) yang hidup di jaman Nebudkanezar. Zakahria bin Berekhya, tidak wafat ditangan yahudi manapun, sementara Zakaria bin Yoyada (bukan nabi) tewas ditangan Raja Yoas (Raja adalah mesias) :).

      Urusan sepele gini aja salah, apalagi urusan surga/neraka..

    Lantas nabi yang mana yang dimaksudkan? koq tidak ada? Jika tidak ada, lantas buat apa memfitnah kaum Yahudi? [↑]



    Artikel Lain:


    Misteri 39 Jam: David Blaine Membuktikan Yesus Selamat ?


    Sebelum kita lihat apa yang penting dari yang dilakukan oleh Pesulap terkenal David Blaine, ada baiknya kita telusuri dulu definisi tentang hari, hari sabat, waktu pemotongan kurban dan dilanjutkan dengan catatan kronologis kematian Yesus yang ada di empat Injil.


    Kaum Yahudi membagi siang malam menjadi 24 bagian, yang masing-masing menjadi 12 bagian, “..”Bukankah ada 12 jam dalam satu hari?.. [Yohanes 11.9] yang lama perjamnya bervariasi, misal: Matahari terbit jam 5.00 dan tenggelam jam 19.30, maka panjang per-bagian siang = 72.5 menit, sehingga jam ke-3 = jam 8.37

    Untuk permulaan hari, ‘…Jadilah petang‘ [Kejadian 1.5, 8, 13; 19, 23, 31] , sehingga 1 hari penuh, ‘..mulai petang dari petang sampai petang..‘ [Imamat 23:32, saat menyatakan hari ke-9 bulan ke-7], ini ada di antara 2 petang [“me ereb ad ereb” = dari petang sampai petang]

    Kalendar mengikuti siklus 7 harian, hari ke-1 adalah AHAD/Minggu dan hari ke-7 adalah Sabtu/SABAT. Nama-nama hari ada di Kejadian 1.5, 8, 13, 19, 23, 31 dan 2.2.

    Jadi, Sabtu/SABAT mulai Sabtu Malam berakhir di Minggu Senja.

    Hari ke-1 bagi kaum Yahudi, Kristen wilayah barat dan tradisi ortodok Yunani adalah Minggu, sehingga Minggu s.d Jum’at = 1 s.d 6; Dalam Latin Gerejawi/latin Liturgi (ritus Roma dan Latin dari Gereja Katolik, Anglikan, Lutheran dan Methodis, Ortodoks Timur), Senin s.d Jum’at = 2 s.d 6; di Yunani pertengahan dan Modern, Senin s.d Kamis = 2 s.d 5. [First day of the week].

    Jadi, hari minggu sebagai hari pertama adalah Minggu malam – Senin senja


    Hari Sabat kaum Yahudi ada banyak, di kitab Imamat 23:

    Hari ke-7,
    tidak bekerja (23:1-3), Pertemuan Kudus. Hari ke-7 untuk istirahat (keluaran 16:26, 20:9-10, 31:15, 35:2: ‘tetapi pada hari yang ke-7 adalah hari sabat‘).

    Ditegaskan permulaan hari paskah yaitu di ulangan 16:6, ‘..engkau harus mempersembahkan korban Paskah itu pada waktu senja, ketika matahari terbenam

    Bulan ke-1 (23:4-8)
    23:4. Inilah hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN, hari-hari pertemuan kudus, yang harus kamu maklumkan masing-masing pada waktunya yang tetap.
    23:5 Dalam bulan ke-1, pada tanggal 14 bulan itu, pada waktu senja, ada Paskah bagi TUHAN.
    23:6 Dan pada hari 15 bulan itu ada hari raya roti tidak beragi bagi TUHAN; 7 hari lamanya kamu harus makan roti yang tidak beragi. (Setiap hari, sejak tanggal 15, selama 1 minggu adalah PASKAH)
    23:7 Pada hari ke-1 kamu harus mengadakan pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.
    23:8 Kamu harus mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN 7 hari lamanya; pada hari yang ke-7 haruslah ada pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat…(Bilangan 28.17-24). Kapan waktu pemotongan hewan kurban?

      Di abad ke-1 M: “..Para imam besar, saat datangnya pesta yang disebut Paskah,..mereka memotong kurban, mulai dari jam ke-9 hingga ke-11, tapi yang menemani tidak kurang dari 10 dari pemilik kurban..” [“Wars of the Jews”, Bab 6.Ch.9]

      Persembahan harian dipotong 1/2 jam setelah jam ke-8, dan dipersembahkan 1/2 jam setelah jam ke-9; Untuk malam Paskah, dipotong 1/2 jam setelah jam ke-7, dan persembahkan 1/2 jam setelah jam ke-8, baik itu pada hari biasa atau Sabat. Jika malam Paskah hari Jum’at, dipotong 1/2 jam setelah jam ke-6 dan dipersembahkan setelah jam ke-7, dan persembahan paskah setelahnya [Mishanh Pesachim 5.1]

      Semua di atas ini TIDAK SAMA dengan yang tercantum di Taurat Musa, yaitu memotongnya pada waktu senja [‘beyn ha arbaym‘ = pada (beyn) senja/petang (arba/ereb) dan ym = waktu, Keluaran 12.6] sehingga dikerjakannya di menjelang malam  (bukan mulai lewat tengah hari ketika matahari condong ke barat).

      Mungkin saja ini efek dari kehancurannya kuil ke-1/sulaiman, yang membuat praktek PASKAH tidak lagi dijalankan lama dan baru dijalankan lagi, secara ngawur, di jaman HIZKIA, dengan melakukan perayaan roti tidak beragi BUKAN di bulan ke-1 tapi di bulan ke-2 [2 Taw 30], juga lama kemudian, lagi dilakukan pada tahun ke-18 YOSIA yang walaupun melakukan di bulan ke-1, namun pemotongan hewan dilakukan sampai malam [2 taw 35], kemudian lama lagi tidak dilakukan hingga jaman EZRA (Ezra 6) yang jika melihat apa yang terjadi di jaman Josephus dan di Misnah, tampak telah terjadi pergeseran di situ.

    Hari ke-1 panen/hasil apapun (23:9-22)
    Dilakukan satu hari setelah Sabat
    Satu hari setelah sabat + 7 minggu/7 sabat (50 hari), diumumkan sebagai hari raya/sabat (Hari raya Panen), ada perjamuan kudus, Jangan melakukan pekerjaan berat-berat

    Bulan ke-7 (23:9-44)
    tanggal 1, hari serunai, Pertemuan Kudus, tidak boleh bekerja berat-berat
    tanggal 9, malam sampai tanggal 10 Senja, tidak boleh bekerja dan harus puasa, melanggar akan dibinasakan, hari sabat
    tanggal 10, hari pendamaian, ada pertemuan Kudus, tidak boleh bekerja apapun
    tanggal 15, hari pondok daun dilaksanakan selama 7 hari, hari pertama ada pertemuan kudus tidak boleh bekerja apapun, harus tinggal dipondok daun untuk Israel asli selama 7 hari
    tanggal 23, pertemuan kudus, tidak boleh bekerja apapun

    (Juga disebutkan d Imamat 16:29-31, Bilangan 28:16-31, Yehezkiel 45:21-25), dan disingkat hari sabat dan 3 hari raya di II Tawarih 8:13 sesuai dengan apa yang menurut perintah Musa ditetapkan sebagai korban untuk setiap hari, yakni

    • pada hari-hari Sabat,
    • pada bulan-bulan baru,
    • dan tiga kali setahun pada hari-hari raya:
    • pada hari raya roti tidak beragi,
    • pada hari raya 7 Minggu dan
    • pada hari raya Pondok Daun.

    Siapapun yang bekerja pada hari-hari Sabat/Paskah akan dihukum mati dilenyapkan dari bangsanya (Imamat 19:8, 23:29-30; Keluaran 31:14-16, 35:2, Bilangan 9:13, 15:32-36; Yeremia 17:21,27; Yehezkiel 20:21)


    Pemotongan Domba untuk Paskah
    ada 2 waktu pemotongan [Keluaran 29:38-39; bilangan 28.3-4], yaitu:

    Inilah yang harus kauolah di atas mezbah itu: dua anak domba berumur setahun, tetap tiap-tiap hari. Domba yang satu haruslah kauolah pada waktu pagi (boqer) dan domba yang lain kauolah antara senja (beyn ereb)‘.


    Kronologis wafat di hari ROTI TIDAK BERAGI dan sebelum Sabat Reguler

    Injil MATIUS
    Hari raya roti tidak beragi, Perjamuan Kudus

    26:2 “Kamu tahu, bahwa 2 hari lagi akan dirayakan Paskah, maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan.”

    26:17 PADA HARI PERTAMA DARI HARI RAYA ROTI TIDAK BERAGI datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: “Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?

    26:18 Jawab Yesus: “Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku.”

    26:19 Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.

    26:20 SETELAH HARI MALAM, Yesus duduk makan bersama-sama dengan ke-12 murid itu

    [Hari di Yahudi mulai MALAM sampai SENJA, para murid Yesus datang padanya di hari ke-1, hari roti raya roti tidak beragi, tanggal 15 Nisan (setiap hari selama 7 hari adalah Paskah). Ketika Ia merayakan paskah dan makan bersama 12 muridnya terjadi DI SETELAH MALAM, artinya sudah masuk pada hari ke-2 hari raya roti tidak beragi, tanggal 16 Nisan]

    Yesus Diserahkan
    26:34 Yesus berkata kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku 3x.”

    26:74 Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang itu.” Dan pada saat itu berkokoklah ayam.

    26:75 Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku 3x.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.

    [Kejadian ini di tanggal 16 Nisan malam s/d subuh]

    27:1. KETIKA HARI MULAI SIANG, semua imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi berkumpul dan mengambil keputusan untuk membunuh Yesus.

    27:2 Mereka membelenggu Dia, lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus, wali negeri itu.

    27:15 Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak.

    27:45 Mulai dari JAM KE-6 (hora hektos, terjemahan: jam 12) kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai JAM KE-9 (hora ennatos, terjemahan: jam 3).

    27:46 Kira-kira JAM KE-9 (hora ennatos, terjemahan: jam 3) berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

    27:50. Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.

    [Note:
    Menariknya, kejadian ditempat yang sama, orang yang sama, namun dalam injil terdapat perbedaan waktu Yesus disalibkan: “hektos hora” (jam ke-6, Yohanes 19:14) VS “hora tritos” (jam ke-3, Markus 15:25).

    Argumen yang biasa digunakan menanggapi perbedaan fatal ini adalah bahwa Markus menggunakan waktu Yahudi sementara Yohanes menggunakan waktu Romawi 🙂

    Argument ini lemah, dari banyak sisi, pertama, klaim domba paskah hanya masuk dalam tradisi waktu Yahudi, sehingga perbedaan waktu antar inijil melemahkan kebenaran terjadinya penyaliban. Ke-2, JIKA BENAR SAAT ITU ADA PENGHUKUMAN, maka TERHUKUM saat itu BUKAN CUMA YESUS, masih ada lainnya, maka metaphora domba paskah menjadi kabur maknanya. Ke-3, Tradisi pemotongan dan persembahan HEWAN KURBAN, telah berjalan lama di SEBELUM dan SETELAH Yesus. Ke-4, Sangat aneh jika kaum Yahudi menambah hal yang bisa di tunda tapi tidak dilakukan di hari raya terutama di even paskah 7 hari ini.]

    27:57. MENJELANG MALAM datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga.

    27:58 Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya.

    27:59 Dan Yusufpun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih,

    27:60 lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia.

    27:61 Tetapi Maria Magdalena dan Maria yang lain tinggal di situ duduk di depan kubur itu.

    [semua peristiwa ini terjadi di hari ke-2 hari raya roti tidak beragi, tanggal 16 Nisan pagi s/d menjelang malam, akhir dari tanggal 16 Nisan]

    27:62 KEESOKAN HARINYA, YAITU SESUDAH HARI PERSIAPAN, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus, dan mereka berkata: “Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidup-Nya berkata: SESUDAH 3 HARI AKU AKAN BANGKIT. Karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ke-3; jikalau tidak, murid-murid-Nya mungkin datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama.”

    [Kata ‘keesokan harinya, yaitu setelah hari persiapan’ merupakan hari baru yang mulai pada malam hari, jadi sudah bukan tanggal 16 Nisan tapi tanggal 17 bulan ke-1, yaitu sabat regular (SABTU MALAM – MINGGU SENJA), jadi, Yesus wafat di SABTU SORE, di hari persiapan, tanggal 16 Nisan]

    Hari pertama minggu itu setelah Sabat

    28:1-2 SETELAH HARI SABAT LEWAT, MENJELANG MENYINGSINGNYA FAJAR PADA HARI PERTAMA MINGU ITU, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu. Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya

    [Sabat regular, tanggal 17 Nisan, SABTU MALAM – MINGGU SENJA, jadi, minggu pagi masih hari sabat.
    Hari pertama, tanggal 18 Nisan mulai MINGGU MALAM – SENIN SENJA, jadi, Maria menengok kubur di hari SENIN pagi]

    Injil MARKUS
    Hari raya roti tidak beragi, Perjamuan Kudus

    14:1. Hari raya Paskah dan hari raya roti tidak beragi akan mulai 2 hari lagi…

    14:12. PADA HARI PERTAMA DARI HARI RAYA ROTI TIDAK BERAGI, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepada-Nya: “Ke tempat mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?”…

    14:16 Maka berangkatlah kedua murid itu dan setibanya di kota, didapati mereka semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah.

    14:17-18 SETELAH HARI MALAM, datanglah Yesus bersama-sama dengan ke-12 murid itu. Ketika mereka duduk di situ dan sedang makan, Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku, yaitu dia yang makan dengan Aku.”

    [Hari di Yahudi mulai MALAM sampai SENJA, penyembelihan domba paskah dilakukan PAGI dan SORE, sehingga saat para murid Yesus berkata pada Yesus terjadi pada SIANGnya di hari ke-1, hari roti raya roti tidak beragi, tanggal 15 Nisan (setiap hari selama 7 hari adalah Paskah). Ketika mereka makan terjadi DI SETELAH MALAM, artinya sudah masuk pada hari ke-2 hari raya roti tidak beragi, tanggal 16 Nisan]

    Hari persiapan Sabat

    14:30 Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok 2x, engkau telah menyangkal Aku 3x.”

    14:72 Dan pada saat itu berkokoklah ayam untuk ke-2xnya. Maka teringatlah Petrus, bahwa Yesus telah berkata kepadanya: “Sebelum ayam berkokok 2x, engkau telah menyangkal Aku 3x.” Lalu menangislah ia tersedu-sedu.

    [Kejadian ini di tanggal 16 Nisan malam s/d subuh]

    15:1. PAGI-PAGI BENAR imam-imam kepala bersama tua-tua dan ahli-ahli Taurat dan seluruh anggota Sanhedrin/Mahkamah Agama sudah bulat mupakatnya. Mereka membelenggu Yesus lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus.

    15:6 Telah menjadi kebiasaan untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu menurut permintaan orang banyak.

    Golgota

    15:25 JAM KE-3 (hora tritos, terjemahan: jam 9) ketika Ia disalibkan.

    15:33. Pada JAM KE-6 (hora hektos, terjemahan: jam 12), kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai JAM KE-9 (hora ennatos, terjemahan: jam 3)
    15:34 Pada JAM KE-9 (hora ennatos, terjemahan: jam 3), berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
    15:37 Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya.

    [Note:
    Menariknya, kejadian ditempat yang sama, orang yang sama, namun dalam injil terdapat perbedaan waktu Yesus disalibkan: “hektos hora” (jam ke-6, Yohanes 19:14) VS “hora tritos” (jam ke-3, Markus 15:25).

    Argumen yang biasa digunakan menanggapi perbedaan fatal ini adalah bahwa Markus menggunakan waktu Yahudi sementara Yohanes menggunakan waktu Romawi 🙂

    Argument ini lemah, dari banyak sisi, pertama, klaim domba paskah hanya masuk dalam tradisi waktu Yahudi, sehingga perbedaan waktu antar inijil melemahkan kebenaran terjadinya penyaliban. Ke-2, JIKA BENAR SAAT ITU ADA PENGHUKUMAN, maka TERHUKUM saat itu BUKAN CUMA YESUS, masih ada lainnya, maka metaphora domba paskah menjadi kabur maknanya. Ke-3, Tradisi pemotongan dan persembahan HEWAN KURBAN, telah berjalan lama di SEBELUM dan SETELAH Yesus. Ke-4, Sangat aneh jika kaum Yahudi menambah hal yang bisa di tunda tapi tidak dilakukan di hari raya terutama di even paskah 7 hari ini.]

    15:42. Sementara itu HARI MULAI MALAM, dan hari itu adalah HARI PERSIAPAN, YAITU HARI MENJELANG SABAT.

    15:44 PILATUS HERAN waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. Maka ia memanggil kepala pasukan dan bertanya kepadanya apakah Yesus sudah mati.

    15:45 Sesudah didengarnya keterangan kepala pasukan, ia berkenan memberikan mayat itu kepada Yusuf.

    [Note:
    perlu diperhatikan keheranan Pilatus, bahwa dalam kurun waktu 3 jam-an saja, di antara 3 penjahat yang dihukum, hanya yesus yang wafat sementara 2 lainnya tidak.

    Penyaliban penjahat telah banyak dilakukan sebelumnya, tidak terjadi pada kasus ini saja, sehingga waktu rata-rata kematian akan diketahui yaitu BERJAM-JAM hingga beberapa hari, sebagaimana terungkap dalam laporan tentang hukuman penyaliban: “Penderitaan itu berlangsung setidaknya 12 jam, dalam beberapa kasus selama 3 hari. Untuk mempercepat kematian kaki dirusak, dan ini dianggap sebagai tindakan AMPUNAN (Cicero, “Phil.” Xiii. 27)”]

    15:46 Yusufpun membeli kain lenan, kemudian ia menurunkan mayat Yesus dari salib dan mengapaninya dengan kain lenan itu. Lalu ia membaringkan Dia di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu. Kemudian digulingkannya sebuah batu ke pintu kubur itu.

    15:47 Maria Magdalena dan Maria ibu Yoses melihat di mana Yesus dibaringkan.

    [semua peristiwa ini terjadi pada hari ke-2 hari raya roti tidak beragi yaitu tanggal 16 Nisan pagi s/d menjelang malam, akhir dari tanggal 16 Nisan

    Dikatakan ‘hari itu adalah hari persiapan, yaitu hari menjelang sabat’ artinya, tanggal 16 Nisan adalah hari persiapan yang berakhir senja, saat malam hari sudah masuk tanggal 17 Nisan, yaitu hari sabat, SABTU MALAM sampai MINGGU SENJA, jadi Yesus meninggal di hari SABTU SORE]

    Hari pertama minggu itu setelah Sabat

    16:1-2. SETELAH LEWAT HARI SABAT, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus. Dan PAGI-PAGI BENAR PADA HARI PERTAMA MINGGU ITU, SETELAH MATAHARI TERBIT, pergilah mereka ke kubur.

    [Sabat regular, tanggal 17 Nisan, SABTU MALAM – MINGGU SENJA, jadi, minggu pagi masih hari sabat. Hari pertama, tanggal 18 Nisan mulai MINGGU MALAM – SENIN SENJA, jadi, Maria menengok kubur di hari SENIN pagi]

    Injil LUKAS
    Hari raya roti tidak beragi, Perjamuan Kudus

    22:7. MAKA TIBALAH HARI RAYA ROTI TIDAK BERAGI, yaitu hari di mana orang harus menyembelih domba Paskah. Lalu Yesus menyuruh Petrus dan Yohanes, kata-Nya: “Pergilah, persiapkanlah perjamuan Paskah bagi kita supaya kita makan.”

    22:14 Ketika tiba saatnya, Yesus duduk makan bersama-sama dengan rasul-rasul-Nya.

    22:34 Tetapi Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau 3x menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku.”

    22:39. Lalu pergilah Yesus ke luar kota dan sebagaimana biasa Ia menuju Bukit Zaitun. Murid-murid-Nya juga mengikuti Dia.

    22:46 Kata-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.”

    22:60 Tetapi Petrus berkata: “Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan.” Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam.

    [Hari di Yahudi mulai MALAM sampai SENJA, penyembelihan domba paskah dilakukan PAGI dan SORE, jadi saat Yesus menyuruh Petrus dan Yohanes, terjadi SIANG tanggal 15 Nisan (setiap hari selama 7 hari adalah Paskah), sehingga walaupun LUKAS tidak mengatakan perjamuan makan dilakukan SIANG atau MALAMNYA, namun jika merujuk pada injil MATIUS dan MARKUS, perjamuan terjadi di MALAH HARINYA, yaitu masuk pada hari ke-2, hari raya roti tidak beragi, tanggal 16 Nisan, dan kejadian ayam berkokok terjadi di tanggal 16 subuh]

    Hari persiapan Sabat

    22:66 DAN SETELAH HARI SIANG berkumpullah sidang para tua-tua bangsa Yahudi dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu mereka menghadapkan Dia ke Sanhedrin/Mahkamah Agama mereka,

    23:44-45 Ketika sudah kira-kira JAM KE-6 (hora hektos, terjemahan: jam 12), lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai JAM KE-9 (hora ennatos, terjemahan: jam 3), sebab matahari tidak bersinar……

    23:46 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.

    [Note:
    Menariknya, kejadian ditempat yang sama, orang yang sama, namun dalam injil terdapat perbedaan waktu Yesus disalibkan: “hektos hora” (jam ke-6, Yohanes 19:14) VS “hora tritos” (jam ke-3, Markus 15:25).

    Argumen yang biasa digunakan menanggapi perbedaan fatal ini adalah bahwa Markus menggunakan waktu Yahudi sementara Yohanes menggunakan waktu Romawi 🙂

    Argument ini lemah, dari banyak sisi, pertama, klaim domba paskah hanya masuk dalam tradisi waktu Yahudi, sehingga perbedaan waktu antar inijil melemahkan kebenaran terjadinya penyaliban. Ke-2, JIKA BENAR SAAT ITU ADA PENGHUKUMAN, maka TERHUKUM saat itu BUKAN CUMA YESUS, masih ada lainnya, maka metaphora domba paskah menjadi kabur maknanya. Ke-3, Tradisi pemotongan dan persembahan HEWAN KURBAN, telah berjalan lama di SEBELUM dan SETELAH Yesus. Ke-4, Sangat aneh jika kaum Yahudi menambah hal yang bisa di tunda tapi tidak dilakukan di hari raya terutama di even paskah 7 hari ini.]

    23:50. Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang yang baik lagi benar.

    23:52 Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus.

    23:53 Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan mayat.

    23:54 HARI ITU ADALAH HARI PERSIAPAN DAN SABAT HAMPIR MULAI.

    23:56 Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur.

    (23-56b) Dan PADA HARI SABAT mereka beristirahat menurut hukum Taurat,

    [semua peristiwa ini terjadi pada hari ke-2 hari raya roti tidak beragi yaitu tanggal 16 pagi s/d menjelang malam, yang merupakan akhir dari tanggal 16 nisan

    Dikatakan ‘hari itu adalah hari persiapan, yaitu hari menjelang sabat’ artinya, tanggal 16 Nisan adalah hari persiapan yang berakhir senja, saat malam hari sudah masuk tanggal 17 Nisan, yaitu hari sabat, SABTU MALAM sampai MINGGU SENJA, jadi Yesus meninggal di hari SABTU SORE, sebelum SABAT MULAI, Yesus sudah selesai di kubur]

    Hari pertama minggu itu setelah Sabat

    24:1-2. tetapi PAGI-PAGI BENAR PADA HARI PERTAMA MINGGU ITU mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka. Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu,

    [Sabat regular, tanggal 17 Nisan, SABTU MALAM – MINGGU SENJA, jadi, minggu pagi masih hari sabat. Hari pertama, tanggal 18 Nisan mulai MINGGU MALAM – SENIN SENJA, jadi, Mereka ke kubur pada hari SENIN pagi]

    Injil Yohanes

    Sebelum Paskah, ada hari raya dan kemudian ada perjamuan

    13:1. Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa.
    13:18 Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: ORANG YANG MAKAN ROTI-KU, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku
    13:26 Jawab Yesus: “Dialah itu, yang kepadanya AKU AKAN MEMBERIKAN ROTI, sesudah Aku mencelupkannya.” Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot.
    13:27 Dan sesudah YUDAS MENERIMA ROTI ITU, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.”
    13:29 Karena Yudas memegang kas ada yang menyangka, bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu UNTUK PERAYAAN ITU, atau memberi apa-apa kepada orang miskin.
    13:30 YUDAS MENERIMA ROTI ITU lalu segera pergi. PADA WAKTU ITU HARI SUDAH MALAM.
    13:38 Jawab Yesus: “Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku 3x.”

    18:27 Maka Petrus menyangkalnya pula dan ketika itu berkokoklah ayam.

    [Saat itu SEDANG dilakukan perayaan, dari kalimat “ORANG YANG MAKAN ROTI-KU”, “AKU AKAN MEMBERIKAN ROTI”, dan ROTI YANG DIBERIKAN YESUS DAN DIMAKAN YUDAS SEBELUM YUDAS PERGI MEMBELI APA-APA UNTUK PERAYAAN ITU, juga, merujuk Matius, Markus dan Lukas, maka perayaan itu adalah perayaan hari roti tidak beragi, tanggal 15 Nisan (setiap hari selama 7 hari adalah Paskah). Kemudian, karena disebutkan “PADA WAKTU ITU HARI SUDAH MALAM”, maka ini tidak lagi di hari ke-1, namun masuk ke-2 hari raya roti tidak beragi, tanggal 16 Nisan, yang mulai pada malam hari]

    Hari persiapan Sabat

    18:28. Maka mereka membawa Yesus dari Kayafas ke gedung pengadilan. KETIKA ITU HARI MASIH PAGI. Mereka sendiri tidak masuk ke gedung pengadilan itu, supaya jangan menajiskan diri, sebab mereka hendak makan Paskah.

    18:39 Tetapi pada kamu ada kebiasaan, bahwa pada Paskah aku membebaskan seorang bagimu. Maukah kamu, supaya aku membebaskan raja orang Yahudi bagimu?”

    19:14 HARI ITU IALAH HARI PERSIAPAN PASKAH, kira-kira JAM KE-6 (Hora hektos). Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: “Inilah rajamu!”
    19:15 Maka berteriaklah mereka: “Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!”..

    [Note:
    Menariknya, kejadian ditempat yang sama, orang yang sama, namun dalam injil terdapat perbedaan waktu Yesus disalibkan: “hektos hora” (jam ke-6, Yohanes 19:14) VS “hora tritos” (jam ke-3, Markus 15:25).

    Argumen yang biasa digunakan menanggapi perbedaan fatal ini adalah bahwa Markus menggunakan waktu Yahudi sementara Yohanes menggunakan waktu Romawi 🙂

    Argument ini lemah, dari banyak sisi, pertama, klaim domba paskah hanya masuk dalam tradisi waktu Yahudi, sehingga perbedaan waktu antar inijil melemahkan kebenaran terjadinya penyaliban. Ke-2, JIKA BENAR SAAT ITU ADA PENGHUKUMAN, maka TERHUKUM saat itu BUKAN CUMA YESUS, masih ada lainnya, maka metaphora domba paskah menjadi kabur maknanya. Ke-3, Tradisi pemotongan dan persembahan HEWAN KURBAN, telah berjalan lama di SEBELUM dan SETELAH Yesus. Ke-4, Sangat aneh jika kaum Yahudi menambah hal yang bisa di tunda tapi tidak dilakukan di hari raya terutama di even paskah 7 hari ini. Juga panjang waktu tiap hari tidak tetap 12 jam saja namun bervariasi sesuai posisi titik balik matahari di winter dan summer, misal: waktu summer untuk jam ke-9 adalah jam 02.31 dan waktu senja terakhir adalah 19.33, Jadi terdapat selisih waktu hingga 5 JAM sebelum mulainya Sabat]

    19:30 Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
    19:31. KARENA HARI ITU HARI PERSIAPAN DAN SUPAYA PADA HARI SABAT mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib — sebab Sabat itu adalah hari yang besar — maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan.
    19:32 Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus;
    19:33 tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya,
    19:34 tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.

    [Note:
    Informasi di atas ini SUDAH MENJELASKAN DENGAN SANGAT bahwa ACARA PEMOTONGAN DOMBA PASKAH UNTUK SABAT BELUM DIMULAI dan Yesus sudah duluan wafat (Ia sudah wafat sebelum lambungnya ditikam tombak).

    Mengapa hal ini diperlukan? Karena Ulangan 21.22-23 menyatakan:

    Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung dia pada kayu, maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu

    “sabat itu adalah hari yang besar” dalam kurung/”–” BUKANLAH Sabat Hagadol (Sabat yang terjadi SEBELUM Paskah) tapi ini adalah Sabat yang terjadi selama Paskah 7 hari. Menurut para komentator Alkitab, misalnya Matthew poole (1624-1679), John Wesly (1703-1791), Thomas coke (1801-1803) dan Heinrich Meyer (1819) hari sebelum Sabat ini terjadi di hari ke-2 Perayaan roti tidak beragi, atau tanggal 16 Nisan.

    Tanggal 16 Nisan juga disebut hari ke-1 Omer atau penunjukan berkas pertama penuaian]

    19:38. Sesudah itu Yusuf dari Arimatea–ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi–meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu.

    19:41 Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang.

    19:42 KARENA HARI ITU HARI PERSIAPAN ORANG YAHUDI, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ.

    [Di hari ke-2 hari raya roti tidak beragi yang juga hari persiapan SABAT, Yesus sudah di kubur sebelum SENJA, jadi Yesus meninggal SABTU SORE tanggal 16 Nisan.]

    Hari pertama minggu itu setelah Sabat

    20:1. PADA HARI PERTAMA MINGGU ITU, PAGI-PAGI BENAR KETIKA HARI MASIH GELAP, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur.

    [Sabat regular, tanggal 17 Nisan, SABTU MALAM – MINGGU SENJA, jadi, minggu pagi masih hari sabat. Hari pertama, tanggal 18 Nisan mulai MINGGU MALAM – SENIN SENJA, jadi, MARIA ke kubur pada hari SENIN pagi]

    [Artikel kematian yesus di antara dua sabat yang berasal dari sumber kristen dapat anda lihat di sini]


    Uraian Kematian di antara Dua sabat

    Dari kronologis di atas, dapat diringkas sebagai berikut, Bulan ke-1 (Imamat 23.4-8):

    • Tanggal 14, Rabu malam – Kamis senja, Paskah BULAN ke-1
    • Tanggal 15, Kamis malam- Jum’at senja, Hari ke-1 hari raya roti tidak beragi [Imamat 23, Matius 26:2, 26:17-20; Markus 14:1, 14:12; Lukas 22:7-8, 22:39; Yohanes 12:20]
    • Tanggal 16, Jum’at malam – Sabtu senja, Hari ke-2 hari raya roti tidak beragi, hari ke-1 Omer dan juga hari persiapan SABAT REGULER [Markus 15:33,42; Yohanes 18:28, 19:14, 31, 42; Lukas 23:14, 23:54; 56-56b; Matius 27 45, 51, 27:62-64], Yesus wafat di JAM ke-9, yaitu SABTU SORE, setelah seluruh mayat hukuman diturunkan, senja-nya barulah dilakukan pemotongan domba paskah.
    • Tanggal 17, SABAT REGULER, Sabtu malam- Minggu senja, Hari ke-3 hari raya roti tidak beragi [Lukas 23:56;56b]
    • Tanggal 18, Minggu malam – Senin senja, Hari ke-4 hari raya roti tidak beragi dan juga hari pertama setelah sabat regular [Matius 28:1-2; Markus 16:1-2; Lukas 24:1-2; Yohanes 20:1], pagi-pagi Magdalena pergi ke kubur Yesus, jadi ini adalah SENIN PAGI

    Demikian kronologi wafatnya Yesus yang terjadi di perayaan roti tidak beragi dan sebelum sabat.


    Kapan Yesus Wafat?
    Alkitab menyampaikan beberapa peristiwa alam seputar wafatnya:

    • Gerhana di Bulan pertama [Matius 27:45, Markus 15:33, Lukas 23:34-35] yang terjadi selama 3 (TIGA) jam dan
    • Gempa bumi yang terjadi dua kali yaitu sebelum (mat 27:51) dan sesudah (Mat 28:2) Paskah!

    Kejadian GERHANA MATAHARI selama 3 JAM dan GEMPA BUMI, terlalu aneh untuk dapat diabaikan para saksi namun anehnya hal ini hanya tercatat di Injil Matius dan TIDAK di Injil lainnya oleh karenanya, wajar saja kita abaikan.

    Bagaimana dengan Gempa?

    Berdasarkan situs ini, yang memuat rekaman data kejadian gempa antara tahun 0-100, TIDAK SATUPUN menyebutkan ada gempa di Yerusalem bahkan kemungkinan gempa terjadi sampai di laut mati-pun DIRAGUKAN, oleh karenanya, inipun wajar juga kita abaikan.

    Pontius Pilate
    4 Injil menyatakan Yesus wafat di era Pontius Pilate sebagai wali daerah Yudea, Injil Lukas menyatakan tentang masa pelayanan Yohanes pembaptis mulai di tahun ke 15 kaisar Tiberius (Lukas 3.1-2) dan Injil Yohanes menyatakan bahwa Yesus setidaknya mengikuti 3 Paskah, oleh karenanya, tahun kejadian tidak boleh kurang dari tahun 29 M dan tidak boleh lebih dari tahun 37 M.

    Kapan masa Pontius menjabat Prokurator Yudea? Josephus dalam Antiquities of the Jews, bab 18:

      ..Tiberius .. sekarang adalah kaisar ke-3..mengirim Valerius Gratus untuk menjadi prokurator Yudea …. setelah Ia tinggal di Yudea selama 11 tahun, ketika Pontius Pilatus datang sebagai penggantikannya. [ch.2] ….. Kemudian Vitellius mengirim Marcellus, seorang temannya, untuk mengurus urusan Yudea, dan memerintahkan Pilatus pergi ke Roma, untuk menjawab di hadapan kaisar atas tuduhan orang Yahudi. Kemudian Pilatus, ketika setelah Ia tinggal selama 10 tahun di Yudea, menjadi bergegas ke Roma, dan ini dalam rangka mematuhi perintah Vitellius, yang tidak ingin Ia bertentangan; tetapi sebelum Ia bisa ke Roma Tiberius sudah mati. Tetapi Vitellius datang ke Yudea, dan tiba di Yerusalem; itu pada saat festival itu yang disebut Paskah. Vitellius di sana diterima dengan luar biasa, .. (Ch.4) .. Tiberius, .. karena meskipun dia adalah kaisar 22 tahun, Keseluruhannya Ia kirim hanya 2 prokurator untuk memerintah bangsa Yahudi, Gratus, dan penggantinya di pemerintah, Pilatus (Ch.6)

    Dari Josephus kita ketahui bahwa selama 22 tahun Pemerintahan Tiberius (18 Sep 14 M – 16 Maret 37 M), Gratus telah 11 tahun dan Pilatus telah 10 tahun berada di Yudea, yang kemudian, banyak ditafsirkan bahwa Pilatus menjabat dari tahun 26 s.d 36 M. Padahal Ini tidak akurat, karena Josephus tidak menyatakan Gratus dicopot di tahun ke-11 dan Pilatus dicopot di tahun ke-10, tapi mereka diganti SETELAH 11 tahun dan SETELAH 10 tahun di Yudea, artinya total waktu bisa lebih lama dari masa Tiberius memerintah dan sebelum Pilate bisa ke Roma, Tiberius diketahui sudah wafat juga Vitellius tiba di Yudea saat Paskah. Karena tidak disebutkan kedatangannya di tahun yang berbeda, maka Paskah yang dimaksud tampaknya Paskah Sheni, yang terjadi 1 bulan setelah Paskah roti tak beragi.

    Oleh karenanya, uraian Josephus dapat juga diartikan, bahwa Pilatus di tahun 37 saat Paskah Roti tidak beragi, sewaktu Yesus disalibkan, masih menjabat, tak lama kemudian, datang utusan Vitellius dan membuat Pilatus harus ke Roma, namun sebelum ke Roma, Tiberius diketahui sudah wafat dan sebulan setelah Paskah Roti tidak beragi, Vitellius tiba di Yudea. Jadi ketika Tiberius wafat sampai beberapa hari kemudian, Pilatus masih Procurator Yudea

    Dari kronologi kematian Yesus, yang terjadi SETELAH 14 Nisan/Rabu Malam di di masa Pontius, maka tanggal 16 Nisan hari persiapan adalah tanggal Julian: 11 April 27 M (Panjang hari di kalender Yahudi: 383 hari) dan Julian: 22 Maret 37 M (panjang hari di kalender Yahudi: 355 hari), namun karena peristiwa ini terjadi setelah tahun ke-15 Tiberius/29 M, maka tanggal wafatnya Yesus adalah 16 Nisan/22 Maret 37 M (seminggu setelah Tiberius wafat), pada jam ke-9/jam 15, sekitar 3 jam sebelum Sabat dimulai, saat itu, kaum Yahudi bahkan BELUM melakukan PEMOTONGAN HEWAN KURBAN, karena baru dilakukan Setelah semua mayat orang hukuman diturunkan agar tidak menajiskan tanah (Yohanes 19:31; Ulangan 21:22-23), jadi, Yesus bukanlah domba paskah.

    Ucapan/pesan terakhir Yesus pada dunia adalah:

    • “Eli, Eli, lama sabakhtani?” (Allah, Allah, mengapa Engkau meninggalkan Aku?) (Matius 27:46, Markus 15:34)
    • “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.”.. (Lukas 23:46)
    • “Aku haus!”..Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.”.. (Yohanes 19:28-30)

    O Ya,
    Perlu diperhatikan keheranan Pilatus, bahwa hanya dalam kurun waktu 3 jam-an saja, di antara 3 penjahat yang dihukum, hanya yesus yang wafat sementara 2 lainnya tidak. [Markus 15:44]. Penyaliban penjahat telah banyak dilakukan sebelumnya, tidak terjadi pada kasus ini saja, sehingga waktu rata-rata kematian akan diketahui yaitu BERJAM-JAM hingga beberapa hari, sebagaimana terungkap dalam laporan tentang hukuman penyaliban: “Penderitaan itu berlangsung setidaknya 12 jam, dalam beberapa kasus selama 3 hari. Untuk mempercepat kematian kaki dirusak, dan ini dianggap sebagai tindakan AMPUNAN (Cicero, “Phil.” Xiii. 27)”

    Dan kemudian ‘Bangkai’ Yesus dibawa oleh Yusuf, Anggota majelis besar, orang kaya dari arimatea, di ‘kafani’ dan dikubur di dalam taman/Bukit batu yang ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang!

    Teknis terkubur hidup-hidup dapat kila lihat pelaksanaannya lewat karya David Blaine, Criss angel dan Harry houdini. David Blaine, mendemostrasikan bagaimana 7 hari di kubur dalam tangki air dan masih hidup [klik di sini]. Namun demikian, Di kubur hidup-hidup merupakan 1 dari 10 trik ilusi yang paling susah! Terdapat satu artikel, yang mengungkapkan kejadian dikubur-hidup-hidup…ada yang selamat namun ada juga tidak…[klik di sini]



    Berapa lama Yesus wafat s/d tidak ada di kuburnya?

    Yohanes 11:9 Jawab Yesus: “Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari?..”
    Kitab wahyu 11:9, ‘…tiga setengah hari lamanyadan 11:11, ‘Tiga setengah hari kemudian…

    Kalimat ‘1/2 (setengah) hari’ menunjukan tidak dibulatkan menjadi 1 (satu) hari tapi sesuai dengan yang terpakai:

    • Tanggal 16, jam 15 sore s/d tanggal 17 jam 15 sore = 24 jam
    • Tanggal 17, jam 15 sore s/d tanggal 18, jam 3 pagi = 12 jam
    • Tanggal 18, jam 3 pagi s/d pagi-pagi (jam 6) = 3 jam

    Total waktu kematian Yesus adalah 39 jam

    Sementara tanda ke-mesias-an telah disampaikannya sendiri di Matius 12:38-40; Lukas 11:29-30; Markus 8:31, 9:31 yang merujuk Yunus 1:17, yaitu:

      Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu…Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan 3 hari 3 malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi 3 hari 3 malam

    ..dan fakta lapangan ternyata hanya: 1.25 hari 2 malam saja!


    David Blaine: Buried Alive


    David will perform Monday April 5th, 1999. It will be at Trump Park, 68th Street at West End Avenue (Riverside Place) at 10:00 A.M.

    David will attempt to be buried alive for one week under six feet of Plexiglas tank filled with 4000 pounds of water, an attempt no other magician has tried. (the 7 day thing)

    David did keep his word when he said “in your face pure and undeniable” by allowing the curious to look down in the coffin through the Plexiglas tank to see David in a trance like state only with a torch. David will be fed four tablespoons of water a day, hopefully enough for him to survive.

    Houdini has always fascinated David. Blaine notes that he is performing a trick Houdini never accomplished but always wanted to do. Lance Burton also compared himself to Houdini when he was buried alive.

    Lets all hope Blaine gets the respect he deserves. Unlike Houdini or Burton, Blaine will be there seven days and seven nights. Is it a trick, or reality?

    Day 2
    After day one day of the reporters and newspapers David Blaine turned to his side. Masked Magician Valentino supports Blaine. Keep watching Entertainment Tonight and Inside Edition for the latest news.

    They say they can get him out in two minutes if something goes wrong. The air tube is critical.

    Day 3
    Regis came down to view David in the casket. He offered him a hotdog and told him to come out of there. He made David laugh talking through a microphone telling him how crazy he looks.

    David was under a blanket at some of the moments he was in there. I think that maybe he has some food hidden down there and the blanket is to hide him. I believe he is down there, but I don’t believe everything down there is the way it seems. After all he does keep licking his tongue. A magician stopped by to examine him and states “David is down there.” because of the way he moved.

    On the preview for tomorrow, Inside Edition showed an infrared camera down there. It showed David’s body in radar. But that is for tomorrow. Inside Edition seems to be “obsessed” with the story.

    Why would David go down there? I don’t think it is completely stupid if all is true. David stayed in several different stages. He even had his shirt off. David did this for money and more money. Everyone I know has heard something about some magician being buried alive. Event the local TV stations said something. But there is plenty more to come.

    I have some images coming that will be taken by Isabela personally. Come back for updates.

    It seems every day the line to see Mr. Blaine gets bigger. It was around the block! Instead of a crowd gathering together to see him, they had no choice but to change the system so that only seven or eight people can go at once!

    Unlike the first two days he was awake a lot. Amazing. David is the talk of New York everywhere you go you hear something about him.

    Day 4
    With the sun in his eyes waking up, David Blaine is beginning to look a little weary. He seems to be hung up on licking his lips and looking at his fingers rubbing the edge of the box. Hopefully not a sign of delusions. I meant to mention yesterday, as his shirt was off, you could see the tattoo David got when he was in love with Fiona Apple. He wasn’t wearing his pajamas today anymore so they are probably under the blanket. Two girls set up a camp and had been at the sight for four hours. They probably couldn’t stay there long because of the long line to see him. I didn’t get any new screen shots from inside edition because I didn’t have time and there wasn’t anything worth seeing anyway, but I will get some from today and tomorrow, tomorrow.

    Oh, Regis talked about David on Regis and Kathy Lee this morning. If you have the newest “People Magazine” there is a small article about David’s new special David Blaine: Magic Man. I will probably post it in my “In Print” section tomorrow.

    My new front page is up due to the fact that the front page was an illegal image so if you copied it from this website, delete it.

    There will be some new images coming up Friday or Saturday taken by Isabella Covino. I think I will also have some magazine articles scanned up and ready… maybe take a little longer to get up.

    Day 5
    If you have been watching David Blaine from the beginning you would notice it seems he is losing some weight. If you happened to go up there get the crowd to applause. It builds up his esteem. Today it is rainy and moist so there wasn’t as many people there as usual. They had to put up a big tarp for the rain. I don’t think it affected David physically because his coffin is temperature controlled. He has some kind of black pouch. Maybe water pouch. Who can tell? There are a lot of more people who love this. David is not one of them… at least till he gets out of there and eats a real meal.

    Day 6
    Sorry for the last minute updates. I haven’t been here this weekend. I haven’t seen anything on TV about him. I will soon have some pictures up send by Isabella. Come back for them. Barbara Walter and Cathy Rigby stopped by. Rosie O’Donnell says David Blaine will be on her show Tuesday April 13 at 3pm central time. She sent her limo driver and a crew out to do a story on David’s burial stunt today. He is also supposed to be on Conan that night. The crowds are the biggest yet in the last couple of days. They say David won’t be able to walk because of his muscles softened. They should go back to normal in training.

    My brother was telling me that David Blaine is not really under there because he has a perfect goatee. I later found out he was watching Inside Edition. I don’t know if he shaves in there, but that is something to think about. I have had so many people email me, so hold up till I can get back to you.

    Day 7 – the removal
    David gets out finally. There was no big deal like I suspected. I bet there would be if David had so called hit the panic button. But David did look weak. He said a few words and went to the ambulance. He was happy and I bet he was eating like a fatty if all was as he said. Houdini’s niece came by and said a few words. David Blaine was happy and she said she is David’s biggest fan. Some of the few words he said when asked if it was nice to breath fresh air was “it’s amazing”.

    “What I saw was every race of people, every age group, and every religion all gathered together smiling; and that made all of this worth it.” – David Blaine

    It seems David is happy to get out. “The first thing I did is take a three hour bubble bath.” It seems David is preparing for a new publicity stunt. “Yeah I had plenty of time to think about that.”


    Setelah anda membaca kutipan tersebut, Apakah kita perlu mengangkat David Blaine sebagai tuhan juga?

    Artikel terkait lainnya:

    [Kembali]


    G.I.G.O = Sampah.Masuk.Sampah.Keluar [Banjir Nuh]


    Hampir semua bangsa dunia punya mitos banjir bahwa di suatu masa, bumi tenggelam hingga menutupi seluruh gunung, berikut beberapa di antaranya:

    Hindu:

      Ikan dan Manu
      Di satu masa, Raja pertama dinasti Surya, Manu (Vaivasvata, Manu ke-7) setelah menurunkan tahta kepada putranya, Ia menuju gunung Malaya dan bertapa selama sejuta tahun. Dewa Brahma merasa senang, memberikannya berkat. Manu memohon agar saat adanya pralaya/kiamat besar, Ia hadir sebagai penyelamatnya, permohonannya dikabulkan Brahma [Ch 1.1-15].

      Suatu hari, Manu melakukan upacara pembersihan untuk leluhur dengan air di kolam pertapaannya, ketika meraup, seekor ikan masuk di tangannya dan mohon diselamatkan, Manu menempatkan ikan itu di tempat airnya (kamandalu), tapi dalam sehari semalam, Ia tumbuh 16 jari, tempat itu menjadi sesak baginya, ikan itu mohon untuk dapat dipindahkan. Manu kemudian menempatkannya di tong, tapi dalam sehari semalam, Ia tumbuh sebesar 3 tangan, Ia mohon agar Manu memindahkannya. Manu menempatkannya di sumur, tapi sumur segera menjadi terlalu kecil, Manu memindahkannya ke kolam, tetapi Ia tumbuh menjadi 1 Yojana, Manu memindahkan ke sungai Ganga, tapi segera menjadi terlalu kecil baginya. Akhirnya, Manu memindahkannya ke laut dan Ia tumbuh dengan sangat pesatnya, hampir memenuhi seluruh lautan luas. Manu kemudian bertanya pada ikan itu tentang siapa jati diri ikan yang sebenarnya, karena dapat membesar hingga 1600 mil. Ikan itu mengungkapkan bahwa Ia adalah Visnu yang mengadopsi bentuk Ikan dan bahwa dalam beberapa waktu kemudian bumi bersama seluruh gunung dan hutan dilanda air bah. Pada dewa telah membuat bahtera untuk menghadapi ini dan Visnu meminta Manu untuk mengisi ke dalamnya berbagai spesies ‘Svedaja’ (lahir dari keringat), ‘Andaja’ (lahir dari telur) dan ‘Udbhija’ (lahir dari Bumi) juga ‘Jaraayuja’ (lahir dari rahim) dan memintanya menjadi penanggung jawab bahtera, yang ketika saatnya bahtera dalam bahaya angin besar, agar diikat pada tanduk ikan. Setelah masa pralaya ini, generasi Manu akan bertahan selama 1 Manvantara (= 306.720.000 tahun manusia) [Ch 1.16-33].

      Kejadian pralaya mulai dengan 100 tahun kekeringan panjang yang berakibat kelaparan besar, kemudian dilanjutkan dengan kemunculan 7 matahari yang sinarnya 7x lebih kuat dan membakar hangus dunia, ditambah api dari bawah tanah, Sesa/ular besar, yang dari kediamannya di alam bawah melalui ribuan mulutnya memuntahkan panas beracun yang bergabung dengan mata ke-3 Siwa dan membuat tiga dunia, langit, semua bintang dan planet menjadi abu. Kemudian 7 awan gelap muncul yaitu samvarta, bhimananda, drona, chanda, valahaka, vidyutapataka dan kona. Kemudian cairan muncul menelan seluruh bumi menjadi satu hamparan luas tertutupi cairan. Di awal kehancuran itu lah Visnu muncul dalam bentuk ikan bertanduk, dan Sesa, raja ular muncul dihadapan Raja Vaivasvata dalam bentuk seutas tali, Raja dengan kekuatan yoginya, mengumpulkan semua mahluk hidup ke bahtera, setelah Ia memancangkan tali ke tanduk Ikan, raja memberi hormat kepada Visnu dan memohon pengajaran tentang proses kehancuran dan pembentukan semesta, terjadinya generasi umat manusia, maksud dari Mavantara, biografi orang terkemuka, pengembangan semesta, jalan kemurahan hati, jalan bakti, jalan sila keyakinan, varna dan asrama, jalan ritual pengorbanan, kebesaran para dewa dan lainnya [Ch 2.1-24] [Matsya Purana, translasi: Taluqdara/para bangsawan dari Oudh. Arti purana = lama/dongeng]

      Nyuha dan Banjir:
      Pada suatu ketika, Kali Purusha bersama Istri menyembah Narayana [Visnu]. Kemudian, Visnu muncul dihadapannya dan memberikan janji bahwa mereka akan diberikan keturunan bernama Adama dan Istrinya Havyavati yang terlahir dari Vishnu-kardama [kardama = tanah liat/lumpur/bayangan]. Mereka-lah yang menjadi cikal bakal kaum Mleccha [Barbar]. Ini adalah tentang jaman Kali-Yuga. Di sebelah timur dari kota Pradan [Eden], di mana ada sebuah hutan yang diberikan Tuhan seukuran 16 Yojana. Adama, tinggal dibawah Papa-Vriksha [pohon dosa] dan bernafsu melihat istrinya Havyavati. Kali purusha, kemudian merubah bentuknya menjadi ular. Ia yang menghianati mereka dan membuatnya tidak mematuhi Visnu. Sang suami [Adam] kemudian memakan buah terlarang dari pohon dosa. Setelah mereka mempunyai anak, mereka kemudian menjadi Mleccha [barbar]. Adama [Adam]-930 tahun; Sveta-nama [Set]-912 tahun; Anuta [Enos]-812 tahun; Kinasa [Kenan]-912 tahun; Malahalla [Mahalaleel]-895 tahun; Virada [Yared]-160 tahun; Hamuka [Henokh]-365 tahun; Matocchila [Metusalah]-970 tahun; Lomaka [Lamekh]-777 tahun; Nyuha [Noah]-500 tahun;..

      Suatu ketika Tuhan Visnu muncul di mimpinya dan berkata, “Nyuha-Ku terkasih, dengarlah, akan ada kehancuran di hari ke 7, untuk itu engkau harus segera membuat sebuah bahtera besar dan naik diatasnya, Oh Umat utamaku, Engkau akan dirayakan sebagai Raja Besar“. Ia kemudian membuat bahtera yang sangat kuat seukuran panjang: 300 hasta, lebar: 50 hasta dan tinggi: 30 hasta. Sangat cantik dan seluruh mahluk hidup dapat terlindung di dalamnya. Ia kemudian menaikinya ketika Deva Indra membuat curah hujan terus menerus selama 40 hari.Seluruh Bharat [Bharat Varsa] tenggelam didalam air dan 4 lautan menjadi satu. Semua tenggelam kecuali Visala/Badarikasrama (letaknya di Himalaya), 80.000 resi dari Visala juga ikut bersamanya dan selamat. 1 Tahun kemudian, daratan terlihat, bahtera berlabuh di bukit bernama Sisina, tinggal sementara sampai semua kering dan kembali ke istananya.

      Ketika Kali-Yuga berjalan 2000 tahun, ada guru spiritual bernama Musa menyebarkan ajarannya. Ketika Kali-Yuga berjalan 3000 tahun, raja yang berkuasa bernama Sankha dan Vikramaditya lahir (Ada 2 Vikramaditya, yaitu tahun 57 SM/yang ini dan 78 M/Saka Era). Ketika Kali-Yuga Berjalan 3710 Mahamada (Muhammad) lahir. [Bhavishya purana, Pratisarga Parva, Ch. 4-7. Atau di: “The Purans volume-02“, Chandra Sekhar Singh, hal.252, atau di Hindu Online: Bhavishya Purana]

    Yunani dan Romawi:

      Deucalion (putra Dewa Prometheus) memerintah di Phthia, Istrinya adalah Pyrrha (putri Epimetheus dan Pandora, wanita pertama yang dibuat para dewa). Suatu ketika Dewa Zeus berniat menghancurkan para manusia jaman Perunggu dengan air bah, Deucalion atas saran Prometheus membangun sebuah peti, menyimpan perbekalan dan berangkat bersama Pyrrha di dalamnya. Kemudian Zeus menurunkan hujan deras dari surga membanjiri sebagian besar Yunani hingga semua orang tenggelam kecuali beberapa yang melarikan diri ke gunung-gunung tinggi sekitarnya. Saat itu gunung-gunung di Thessaly (area utara Yunani) terpisah, daerah di luar Isthmus (tanah genting memisahkan dua air) dan Peloponnese (semenanjung di selatan Yunani) terendam banjir. Deucalion, terapung di laut dengan dadanya selama 9 hari, hanyut ke Parnassus, ketika mereda, mendarat di sana. karena selamat, Ia kemudian mempersembahkan kurban untuk Zeus, Zeus mengirim Hermes untuk mengabulkan yang mereka kehendaki. Deucalion, memilih agar diberikan kehadiran para pria. Zeus kemudian menyuruhnya mengambil batu-batu dan melemparkannya ke atas kepalanya, Deucalion melakukannya, Ia melemparkan batu tersebut dan batu itu menjadi pria, sementara batu-batu yang dilemparkan Pyrrha, menjadi perempuan [Yunani: “The Library“, 1.7.2, oleh Apollodorus dari Alexandria (abad ke-2 SM), translasi: James Frazer]

      Terjadi kemunduran moralitas dikalangan manusia dan di surga para dewa juga tidak lebih aman, para raksasa memberontak, Jupiter membuat putusan yang disetujui para dewa besar bahwa umat manusia akan dihancurkan, keputusan ini ditangisi para dewa, bahwa tidak ada lagi altar berasap, yang memohon dan memerlukan jawaban para Dewa. Kehancuran dilakukan dengan air, berhembuslah segala angin, guruh dan dua aliran air dituangkan, Neptunus ikut dengan membuat lautan bergolak dengan gelombang tambahan, aliran air memancar keluar dari rekahan tanah, meluas berkumpul di dataran, membuat laut dan Bumi menjadi dunia air tanpa pantai. Di sebuah gunung dengan ketinggian luar biasa antara Athena dan Boeotian, Deucalion yang terapung menambatkan bahtera kecilnya bersama istrinya. Jupiter melihat dua yang selamat ini, sedang bersedih karena hanya mereka yang selamat, kemudian Deucalion dan Pyrrha memohon petunjuk Themis (dewi keadilan) agar keadaan dapat pulih. Mereka diberikan petunjuk dan turun gunung, Deucalion melemparkan batu dan dari batu yang dilemparkannya menjadi laki-laki, jika istrinya melempar, batu itu menjadi perempuan. [Romawi: “Metamorphoses“, oleh penyair Romawi, Ovid/43 SM – 17M, tranlasi: Samuel Garth, John Dryden dan lainnya]

      Ketika terjadi banjir besar, seluruh manusia binasa kecuali Deucalion dan Pyrrha, yang lari ke Gunung tertinggi sisilia yaitu Etna. Mereka kesepian dan memohon kepada Jupiter untuk memberikan mereka orang atau membuat mereka menderita yang sama. Jupiter menyuruh mereka melempar batu; jika Deucalion yang melempar jadilah pria, jika Pyrrha yang melempar menjadi perempuan. [Romawi Spanyol: “Fabula 153“, Gaius Julius Hyginus, abad ke-1 M, translasi: Mary Grant. Life of Pyrhus, 1.1 Plutarch, 45-120 M, menceritakannya sekilas: “…raja pertama Thesprotian dan Molosia setelah banjir adalah Phaethon, salah satu dari mereka yang datang ke Epeirus bersama Pelasgus; beberapa lainnya menyatakan bahwa Deucalion dan Pyrrha mendirikan tempat perlindungan di Dodona dan tinggal di sana di antara orang-orang Molosia“]

    Sumeria dan Babilonia:

      Pada saat awal dunia diciptakan, para Dewa kecil dipaksa bekerja menggali sungai dan mendirikan gunung, mereka kelelahan dan memberontak terhadap para Dewa besar yang kemudian memutuskan untuk menciptakan Manusia agar dapat memudahkan kehidupan para dewa. Setelah manusia diciptakan, populasinya meningkat terjadi kebisingan yang mengganggu para Dewa. Dewa Enlil1 akhirnya memutuskan untuk melenyapkan semua manusia dengan banjir. [Babilonia: Epik tentang Atrahasis dari tablet Raja Ammi-saduqa Babylonia, 1647-1626 SM, translasi: BR Foster]

      [Setelah penciptaan Manusia] Hari itu, Nintur2 menangisi para makhluknya, dan Inanna3 pun berduka cita; An4, Enlil, Enki, dan Ninhursaga meminta para dewa surga dan bumi bersumpah atas nama An dan Enlil, tapi Enki5, punya ketetapan sendirii dalam hatinya. [Sumeria: Eridu Genesis, 1600 SM, translasi: Thorkild Jacobson]

      Enki yang menciptakan Manusia, menceritakan rahasia ini pada Atrasis6 dan memintanya agar membuat bahtera.[Epik tentang Atrahasis]. Di bumi terdapat raja dan sekaligus Imam tertinggi bernama Ziusudra6, seorang yang takzim dan rendah hati dalam memuja para Dewa, pada suatu saat, dewa Enki hadir dan menyuruhnya naik ke dinding dan memberitahukannya bahwa para dewa telah memutuskan bahwa umat manusia akan dimusnahkan dengan air bah. Enki menyuruh Ziusudra untuk membangun bahtera dan dan memuatnya dengan berbagai pasangan binatang. [Eridu Genesis]. Tibalah saatnya, terjadi perubahan cuaca dengan petir, badai, terjadi air bah, Atrahasis kemudian menutup pintu, memotong tali tambat dan melepaskan bahtera. [Epik tentang Atrahasis]. Semua angin, badai berhimpun jadi satu, Air bah menyapu kota-kota,selama tujuh hari tujuh malam, menggiring bahtera besar itu. [Eridu Genesis]. Para dewa mendapati diri mereka lapar karena tak ada lagi petani tersisa yang memberikan pengurbanan, [Epik tentang Atrahasis], Kemudian mereda, matahari memancarkan cahaya ke langit dan bumi. [Eridu Genesis], Ketika para Dewa tahu Atrahasis selamat, mereka kemudian mengontrol batas kebisingan dengan menciptakan kelahiran, kematian dan selibat [Epik tentang Atrahasis]. Ziusudra mempersembahkan kurban, menyembah mencium tanah dihadapan An dan Enlil, kemudian An dan Enlil memberikannya kehidupan dewa, kehidupan abadi dewa. Hari itu mereka menjadikan Ziusudra, pemelihara, raja dari hewan dan manusia. [Eridu Genesis]

      Gilgameš ingin mendapatkan kehidupan kekal, bertemu dengan Ut-napištim / Xisouthros / Atrahasis6 (putra Ubar-Tutu, orang yang selamat dari Air bah). UtNapistim menceritakan kejadiannya, bahwa di kota Šuruppak, di tepi bank sungai Efrat, Dewa EA/ENKI menyampaikan padanya tentang niat Para dewa menghancurkan manusia dengan air Bah. Dewa Ea adalah pangeran, Anu ayah para dewa, Enlil penasehat, Ninurta bendahara dan Ennugi penanggungjawab perairan. Ea menyuruhnya membuat bahtera dan mengisinya dengan mahluk hidup, Ia membuatnya dengan ukuran 10×12 hasta, dengan 6 dek, 7 tingkat dan 9 kompartemen, memasukan kedalamnya perbekalan, keluarga, saudara-saudaranya, pengerajin dan binatang baik buas maupun ternak. Di hari kejadian, Enlil melepaskan angin Selatan dan air bah datang, para dewa naik ke surga Anu. Istar/Inanna meratapi kejadian karena dia yang memerintahkan bencana, Para dewa menangis bersamanya, Selama 6 hari dan 7 malam terjadi angin dan banjir. Di hari ke-7, angin mereda, banjir berhenti. Bahtera bersandar di gunung Nimuš. Ia membuka tingkap, mengirim burung merpati, layang-layang tapi semua kembali lagi, beberapa saat kemudian melepaskan burung gagak dan tidak kembali. Ia kemudian mempersembahkan kurban dan Dewa Enlil kemudian memberkatinya dan Istri menjadi dewa. [Babilonia: Gilgameš (teks tablet XI, 1100 SM), Sîn-lēqi-unninni, tranlasi: Maureen Gallery Kovac]

      (Sepuluh raja memerintah selama 120 saroi/432.000 tahun sebelum kedatanganair bah) Cronus/Enki hadir dalam mimpi Xisuthrus6 menyampaikan bahwa pada tanggal 15 Daisios (April/Mei) akan terjadi air bah yang memusnahkan umat manusia. Ia diminta untuk mengubur semua tablet pengetahuan manusia di Sippar, kota matahari, membuat bahtera dan mengangkut keluarga, saudara, binatang liar, ternak, burung, dan perbekalannya. Ia tidak berhenti bekerja sampai bahtera ukuran 5 (panjang) : 2 (lebar) itu selesai. Kemudian terjadi banjir, dan setelah reda, Xisuthrus melepaskan beberapa burung namun mereka kembali ke bahtera, setelah beberapa hari, melepasskan kembali hinga kali yang ke-3 tidak kembali ke bahtera. Kemudian Xisuthrus membuka jahitan sisi bahtera, melihat bahtera berlabuh di gunung di Armenia (Urartu), Ia bersama Istri, putri dan pengumudinya turun, bersujud, mendirikan altar, memberikan pengurbanan kepada para dewa dan menuju ke tempat para Dewa. Mereka yang turun belakangan tidak menemukannya dan diberitahu bahwa Ia menjadi Dewa, mereka ini diperintahkan ke Babilonia ke kota Sippar menggali loh-loh yang terkubur, membangun kota mendirikan kuil-kuil untuk para dewa [Babilonia: “Babylonian History“, Berossus, 278 SM, text sudah tidak ada lagi, tapi dikutip penulis Byzantium yaitu George Syncellus, abad ke-9 M, dalam “Chronological Excerpts 53-56”, translasi: G.P Verbrugghe and J.M. Wickersham]
      ——

        Note:
        1 Enlil adalah Dewa angin/Udara Mesopotamia, penetap takdir, pemberi kedudukan raja. Kuilnya, é-kur/Rumah Gunung, kota Nippur. Beberapa tradisi menganggap Enlil putra sulung An dan saudara dewi Aruru. Dalam daftar dewa AN = Anum, Ia tercantum sebagai turunan Enki dan Ninki.

        2 Nintur (Ninmah, Nintud/r, Belet-ili) adalah Dewi ibu Mesopotamia, dewi Kesuburan dan pencipta umat manusia. Nintur menciptakan manusia dari campuran tanah liat dan darah dewa yang terbunuh, Enki dan Ninmah bersaing dengan menciptakan berbagai makhluk dari tanah. Tanah liat berasal dari abzu/Apsu, perairan area bawah.

        3 Inanna/ratu Surga Mesopotamia, istri dewa Dumuzid/Tammuz dan Sukkalnya, pelayannya bernama Ninshubur (menjadi Dewa Papsukkal). Inanna adalah pelindung kuil Eanna, kota Uruk (4000 SM-3100SM), terkait dengan planet Venus atau bintang pagi/bintang malam. Perlambangan seks, perang, keadilan, dan politik. Disembah di Sumeria, Akkadian, Babilonian, dan Asyur dengan nama Ishtar (menjadi satu Inanna-Ishtar)

        4 An/Anu adalah bapak para dewa Mesopotamia dan Babilonia, pencipta alam semesta baik sendirian maupun bersama Enlil/EA. Ia bersemayam di tempat tertinggi, pembuat putusan dan kemudian membagikan beberapa fungsinya ke Enlil dan Marduk

        5 Enki (EN=Tuan; KI=bumi/gundukan, atau disebut EA = rumah air. Juga Abzu/Apsu, Dewa kuil Eridu/tempat Perkasa/bimbingan, salah satu kota tertua dunia/6800 SM), Enki adalah dewa air Sumeria, pengetahuan, kebijaksanaan, keisengan, sihir, mantra, seni dan penciptaan, bertempat di lautan bawah bumi yang disebut Apsu. Enki adalah salah satu dari para Dewa Anunnaki (kelompok Dewa utama, berjumlah 7 s.d 10 Dewa). Enki putra dewa An dan dewi Nammu dan saudara kembar Dewa Adad. Istri Enki adalah Damgalnunna/ Damkina, salah satu turunannya adalah Marduk. Triad 3 dewa tertinggi adalah An (surga), Enlil (atmosfer), dan Enki (bumi)

        6 Ziusudra atau Ziudsura atau Ziusudu atau ZinSuddu atau Xisuthros (Yunani: Ξίσουθρος) atau AtraHasis atau Ut-napishtin (Akkadian) atau Atrasis, adalah turunan terakhir di sebelum air bah dari Raja besar Sumeria, Shuruppak. Ziusudra dalam mitologi Abrahamik adalah Nuh.

    Mitos air bah bangsa Sumeria dan Babilonia kemudian dimodifikasi kalangan Abrahamik1, yaitu oleh kaum Yahudi (kitab kejadian dibuat oleh beberapa pengarang), diteruskan kaum Nasrani, dan didaur ulang kembali oleh kaum Islam. Kaum Abrahamik, menganggap mitos ini sebagai suatu keping kebenaran.
    —–

      Note:
      1 Para ahli yang menyelidiki kitab Kejadian, menemukan bahkan di halaman yang sama, ditulis oleh 2 atau 3 orang berbeda dan juga ada pengeditnya, yang memotong dan menggabungkan beberapa dokumen dari penulis berbeda menjadi satu cerita; sehingga terdapat kontribusi 4 orang berbeda untuk menghasilkan satu halaman Alkitab. (hal.24) … 5 Buku Musa disusun dan digabungkan dari 4 dokumen berbeda menjadi satu sejarah berkelanjutan … Dokumen yang merujuk pada nama ilahi Yahweh / Yehuwa disebut J. Dokumen yang merujuk pada dewa sebagai Tuhan (dalam bahasa Ibrani, Elohim) disebut E. Dokumen ke-3, yang terkonsentrasi pada hukum dan para imam, disebut P. Dan yang hanya ditemukan di kitab Ulangan disebut D. (hal.25) … Dokumen J, E, dan P ditemukan di 4 kitab dari 5 Kitab Musa: Kejadian, Keluaran, Imanat dan bilangan. (hal.53) … setidaknya ada 4 tangan sebagai pembuat 5 buku pertama Alkitab (perjanjian lama). Juga, terdapat tangan kolektor/redaktor, yang menggabungkan dan mengorganisir dokumen-dokumen yang terpisah ini menjadi sebuah karya tunggal agar dapat dibaca sebagai narasi berkelanjutan. (hal.60) [“WHO WROTE THE BIBLE?“, Richard Elliott Friedman, 2nd Ed., 1989]


    MITOS KALANGAN ABRAHAMIK (BANJIR NUH)


    WAKTU KEJADIAN
    Quran mengklaim membenarkan kitab sebelumnya [AQ 3.3, AQ 5.46], bahkan jika ada keraguan tentang apa yang diturunkannya, agar bertanya pada kaum yang membaca kitab sebelumnya [AQ 10.94] dan juga dipercaya bahwa Taurat/Alkitab disusun di bawah pengilhaman roh kudus, namun tetap saja terdapat variasi tahun kronologi Adam dan turunannya, Misalnya, yang dicatat di The History of Al-Tabari: The Sasanids, the Lakhmids, and Yemen, hal.412 s.d 416 (lihat juga Fatawa: 20907, sebagai pembanding):

    • Turunnya Adam dari langit – Muhammad Hijrah:
      Versi Taurat Yahudi = 4642 tahun dan beberapa bulan [hal.412] + 1386 tahun (tahun 2008 M – 622 M/hijrah) = 6.028 tahun
      Versi Latin/septuagint, Nasrani = 5992 tahun dan beberapa bulan [hal.412] + 1386 tahun (tahun 2008 M – 622 M/hijrah) = 7.378 tahun
      Versi Zoroastrian Persia = 4182 tahun, 10 bulan, 19 hari [hal.412] + 1386 tahun (tahun 2008 M – 622 M/hijrah) = 5.568 tahun
    • Ulama-Ulama Islam:
      Adam – Nuh, Nuh – Ibrahim, Ibrahim – Musa, masing-masing 10 qarn (qarn adalah abad, 100 tahun) [hal.413].
      Ibrahim b sa’id a jawhari – Yahya b. Salih – Al Hasan b. Ayyub al hadrami – Abd Allah b. Busr: Nabi SAW bicara padaku: “Kamu akan hidup 1 abad (qarn)!” [hal.415].

      Jadi Adam – Musa: 3000 tahun dan Nuh – Musa: 2000 tahun

      Ibn Bashshar – Abu Dawud – Hammam b. Qatadah – Ikrimah – Ibn Abbas: Adam – Nuh (10 abad).[Hal.413]

      Harith b. Muhammad – Muhammad b. Sa’d – Muhammad b umar b waqid al aslami dari beberapa ulama mengatakan: Adam – Nuh (10 abad). Nuh – Ibrahim (10 Abad). Ibrahim – Musa (10 abad).[hal.413].

      Jadi Adam – Musa: 3000 tahun dan Nuh – Musa: 2000 tahun.

      Abd Al Rahman b Mahdi – Abu Awanah – Asim Al Ahwal – Abu Uthman – Salman: Interval (Al fatrah): Muhammad – Isa/Yesus (600 tahun).[hal 413].
      Fudayl b. abd al wahhab – Ja’far b. sulayman – Awf: Isa/Yesus – Musa (600 tahun) [hal.413].

      Jadi Nuh – Isa = 2000 tahun + 600 tahun, jika Isa lahir 0 SM dan karena banjir terjadi di tahun ke-600 Nuh, maka banjir terjadi di tahun 2000 SM.
      Musa – Muhammad: 600 (Muhammad-Isa) + 600 tahun (Isa-Musa) + 3000 tahun (Musa-Adam) + 1438 (Tahun 2008 – 570 M/lahir) = 5.638 tahun

      Al harith – Muhammad b. Sa’d – Hisham – His father – Abu Salih – Ibn Abbas: Musa – Isa (1900 tahun), ada ribuan nabi tanpa interval diantara mereka. Isa – Muhammad (569 tahun) [hal.414].

      Jadi Nuh – Isa = 2000 + 1900 tahun = 3900 tahun, jika Isa lahir 0 SM dan banjir terjadi di tahun ke-600 Nuh, maka banjir terjadi di 3300 SM
      Musa – Muhammad: 1900 (Musa-Isa) + 529 tahun (Isa- Muhammad) + 3000 tahun (Adam -Musa) + 1438 (Tahun 2008 – 570 M/lahir) = 6.907 tahun

      Wahb b. Munabbih – Abu Salih – Ibn Abbas: Hingga sampai hidupnya sekarang telah berlalu 5600 tahun. Wahb b. Munabih wafat 114 H (732 M) sisanya tinggal 215 tahun (dari Wahb wafat s.d Tabari menulis ini) [hal.415-416]

      Beberapa menyatakan sejak Adam diturunkan dari langit – masa Muhammad adalah 6113 tahun, yaitu:

      Adam – Banjir Nuh (2256 tahun).
      Banjir Nuh – lahirnya Ibrahim (1079 tahun).
      Lahirnya Ibrahim – Musa exodus dengan bani Israel (565 tahun).
      Musa exodus dengan Bani Israel – Pembangunan Bayt Al Maqdis yaitu 4 tahun sejak Sulaiman naik tahta menggantikan Daud (636 tahun).
      Dari Bayt Al Maqdis – Naik tahtanya Iskandar Zulkarnaen/Dhu Qarnayn (717 tahun).
      Iskandar Zulkarnaen – lahirnya Isa/Yesus (369 tahun).
      Lahirnya Isa/Yesus – Muhammad menjadi Nabi (551 tahun).
      Muhammad menjadi Nabi – Hijrah (13 tahun).[Hal.416].

      Jadi Banjir – Isa = 3366 tahun, jika Isa lahir 0 SM, maka banjir 3366 SM.
      Adam – Muhammad = 6186 tahun (jumlah ini tidak sama dengan 6113 tahun) + 1386 tahun (tahun 2008 M – 622 M/hirah) = 7.572 tahun.

      Hisham b Muhammad Al Kalbi – Ayahnya – Abu Salih Ibn Abas:

      Adam – Nuh (2200 tahun).
      Nuh – Ibrahim (1143 tahun).
      Ibrahim – Musa (575 tahun),
      Musa – Daud/david (179 tahun),
      Daud/David – Isa/Yesus (1053 tahun),
      Isa – Muhammad (600 tahun).[hal. 416].

      Jadi Nuh – Isa = 2950, jika Isa lahir 0 SM dan banjir terjadi di tahun ke-600 Nuh, maka banjir terjadi di 2350 SM
      Adam – Muhammad: 5750 + 1438 (Tahun 2008 – 570 M/lahir) = 7.188 tahun

    Bahkan variasi tahun di atas ini belum mencakup semuanya. Tidak percaya? Mari kita juga iseng untuk menelusuri sendiri kronologinya dengan memakai Alkitab:

    ADAM – BANJIR (Adam – Nuh, 10 Generasi):
    Adam (Hari ke-6, 1 Tishri 0/7 Ocktober 3761 SM/Kalender Julian) + Set (Adam berusia Adam 130 tahun, wafat tahun ke-930) + Enos (Set berusia 105 tahun, wafat tahun ke-1042) + Kenan (Enos berusia 90 tahun, wafat tahun ke-1140) + Mahalaleel (Kenan berusia 70 tahun, wafat tahun ke-1235) + Yared (Mahalael berusia 65 tahun, wafat tahun ke-1290) + Henokh (Yared berusia 162 tahun, wafat tahun ke-1422) + Metusalah (Henok berusia 65 tahun, wafat tahun ke-987) + Lamekh (Metusalah berusia 187 tahun, wafat tahun ke-1656, di tahun banjir) + Nuh (Lamekh berusia 182 tahun, wafat tahun ke-1651) + Sem (Nuh 500 tahun) + Banjir (100 tahun) = Nuh berusia 600 tahun, wafat diusia 950 tahun) = 1656 Tahun (I) + Arpakhsad lahir (2 tahun setelah banjir) = 1658 Tahun [Kej 5.3-32; 7.6,11; 9.28-29, 11.10]

      Note:
      Menurut PENANGGALAN Rabbi Yose bin Halafta (Abad ke-2 M, Rabbi periode Mishana dari Sepphoris, Galile): Dunia diciptakan tanggal 25 Elul tahun ke-0 AM/Julian: 22 Sep 3760 SM dan di hari ke-6, Adam dan Hawa diciptakan: tanggal 1 Tishri 0 AM/Juslian: 7 Ocktober 3761 SM (AM = Anno Mundi, “dalam tahun di dunia”, Lihat juga: “History of the World“, R. Rachel M. Solomin; Juga “Haaretz).

      Kapan mulai Banjir Nuh?
      Walau tertulis terjadi di tahun 1656 penangalan Yahudi bulan ke-2 dan tahun ke-17 [Kej 7.11], ini tetap tidak sederhana, karena ada 2 versi pengakuan tentang kapan bulan ke-2 yang dimaksud, sehingga akan berselisih 6 bulan, yaitu, jika menurut versi Rabbi Yehoshua, adalah setelah Nissan = 17 Iyyar 1656 (4 May 2104 SM), tapi jika menurut Rabbi Eliezer, adalah setelah Tishri = 17 Heshvan 1656 (9 Oktober 2105 SM)

      Banjir dan Arpakhsad:
      “Setelah Nuh berumur 500 tahun, lahir Sem, Ham dan Yafet” [Kej 5.32].”Umur Nuh 600 tahun, di bulan ke-2, hari ke-17, terjadilah banjir” [Kej 7.11]. “tahun ke-601, bulan ke-2, hari ke-27, bumi telah kering” [Kej 8.13]. Kej 11.10, “Setelah Sem berumur 100 tahun, lahir Arpakhsad, 2 tahun setelah air bah“[Kej 11.0, ini mengindikasikan, Sem lahir saat Nuh berusia 502 tahun dan juga akan menjadikan variasi kronologi berselisih 2 tahun).

      Siapa anak tertua Nuh?
      Di Kej 5.32, 6.10, Sem tertulis paling dulu, tapi Kej 10.2 nama turunan Yaphet duluan ditulis. Kitab Jubile 17.33: Sem lebih tua 5 tahun dari Yaphet. Tapi, Rabba Genesis (XXVI 2-4, XXXVII 6-7) dan Sanhendrin 69b: Yaphet lebih tua dari Sem.

      Saat Nuh lahir, moyangnya yang masih ada adalah: Enos, Kenan, Mahalaleel, Yared, Metusalah dan Lamekh.
      Saat Nuh berusia 480 tahun (tahun ke-1536 sejak Adam lahir atau 120 tahun sebelum banjir), moyangnya yang masih ada hanya Metusalah, Lamekh

    ADAM – ABRAHAM (Nuh – Abraham, 10 Generasi):
    Banjir (2) + Selah (Arpakshsad berusia 35) + Eber/Hebrew (Selah berusia 30) + Peleg (Eber berusia 34) + Rehu (Peleg berusia 30) + Serug (Rehu berusia 32) + Nahor (Serug berusia 30) + Terah (Nahor berusia 29) + Abraham (Terah berusia 70) [Kej 11.10-26] = 292 Tahun (II)

    Banjir – Abraham lahir = 100 + (II) = 392 Tahun (IIa)
    Nuh lahir – Abraham lahir = 500 + 100 + (II) = 892 Taun (IIb)
    Adam – Abraham lahir = (I) + (II) = 1948 Tahun (III)

      Note:
      Saat Abraham lahir, 292 tahun setelah banjir, SEMUA MOYANGNYA INI, MASIH HIDUP:
      NUH wafat350 tahun sesudah air bah (Kej 9.28. Abraham: 58);
      SEM wafat 500 tahun setelah Arpakshad lahir (Kej 11.11. Ishak: 110, Yakub: 50);
      ARPAKSHAD wafat 403 tahun setelah Selah lahir (Kej 11.13. Abraham 148, Ishak: 48);
      SELAH wafat 403 tahun setelah Eber lahir (kej 11.15. Ishak: 178, Yakub: 118);
      EBER wafat 430 tahun setelah peleg lahir (Kej 11.17. Ishak: 139, Yakub: 79);
      PELEG wafat 209 tahun setelah Rehu lahir (Kej 11.19. Abraham: 48);
      REHU wafat 207 tahun setelah Seruq lahir (Kej 11.21. Abraham: 78);
      SERUQ wafat 200 tahun setelah Nahor lahir (Kej 11.23. Abraham: 101, Yakub: 1);
      NAHOR wafat 119 setelah Terah lahir (Kej 11.25. Abraham: 49) dan
      TERAH wafat 135 tahun setelah Abraham lahir (Kej 11.32)

    MENARA BABEL, PENYEBARAN BANGSA dan BAHASA (Abraham: 48 Tahun):
    NIMROD (atau AMRAFEL) bin KUSH bin HAM bin NUH mendirikan menara Babel di Sinear (Kej 10.6-12) disekitar masa dewasanya ABRAHAM dan PELEG MASIH HIDUP (“DI MASANYA (Peleg) BUMI TERPECAH“, Kej 10.25. Juga Flavius Josephus, “Antiquities of the Jews” (93 M), Buku 1, Bab.6). Setelah wafatnya Peleg (usia Abraham 48), NAHOR (usia Abraham 49) dan Haran, Terah membawa keluarganya MENUJU Kanaan/Haran dan menetap disana [Kej 11.31] sehingga waktu pecahnya bangsa dan bahasa ketika Abraham berusia 48 tahun.

      Note:
      Kitab Genesis Rabba XXXVII 6-7, tentang Kej 1.25, “Bagi Eber lahir dua anak laki-laki; nama yang seorang ialah Peleg, sebab dalam zamannya bumi terbagi”, R. Jose b. R. Halafta: Eber pastilah nabi yang hebat, mengingat bahwa ia menamai anaknya berdasarkan peristiwa masa depan.

      Seder Olam Rabbah 1.2: ..Nuh hidup 10 tahun setelah perpecahan bahasa, Umur Abraham 48 Tahun diperpecahaan bahasa
      Kitab Jasher bab.10.1 (Abad ke-13 M): Umur Abraham 48 Tahun.
      Kitab Jubilee (Abad ke-2 SM): Kota dan menara mulai dibangun 14 tahun sebelum Nuh wafat, selama 43 tahun, kemudian bangsa dan bahasa pecah [Jubile, translasi R. H. Charles, 1917, bab 10.18-27].
      Pierke Rabbi Elizer: “Rabbi Jehudah: “Pakaian yang dibuat Allah untuk Adam dan istri, diberikan HAM kepada NIMROD sehingga semua binatang bersujud padanya, Para turunan manusia anggap karena kekuatannya, maka mereka menjadikannya raja..”. Nimrod mengajak mereka membangun kota dan menara.. ABRAHAM PUTERA TERAH, LEWAT tempat itu, saat mereka membangunnya dan mengutuk mereka.. Rabi Simeon: Allah bersama 70 malaikat menyerakkan mereka menjadi 70 bangsa dan 70 bahasa.. Rabi Meir: ESAU/EDOM, saudara YAKUB, melihat pakaian NIMROD dan menginginkannya, Ia membunuh NIMROD…” [Pirkei DeRabbi Eliezer, Talmud babilon, 630 – 1030 M, terjemahan Gerald Friedlander, London, 1916, Ch 24.4-12. Tabari, “Prophets and Patriarchs”, Trans. William M. Brinner, 1987, Vol.2, hal 108: “..di hari itu manusia menjadi 73 bahasa dan sebelumnya hanya satu yaitu Syria..” untuk tafsir AQ 16.26].
      L. Ginzberg: 10 TAHUN SEBELUM NUH WAFAT, turunannya menjadi jutaan…Dari 12 orang alim, ABRAHAM menolak pembangunan kota dan menara BABEL oleh Nimrod bin Kush..[Legends of the Jews, pengarang: Louis Ginzberg, 1909, Vol 1.4.93. Tabari, opcit, hal.15, 16: “Nimrod bin Kush bin Ham”, Hal.18: “Nimrod bin Kush bin Kanaan bin Ham”. Hal. 50: “Nimrod bin Kanaan bin Kush bin SEM”, Hal 105: “Nimrod bin Kush bin Kanaan bin Ham”]

      Untuk asumsi populasi, kita gunakan rumus ke-2, Henry M. Moris, apologi Kristen Amerika, pendiri riset dan masyarakat penciptaan dan Institut riset penciptaan, yaitu Sn = 2 x [C(n+1) – 1] / (C – 1), di mana, sepasang orang tua = 2; C = Jumlah pasang anak (laki & perempuan) yang dilahirkan, dan n = jumlah generasi yang diasumsikan TIDAK ADA KEMATIAN hingga 10 Generasi, jadi, jika masing-masing orang tua, dianggap punya 4 pasang anak (Nuh punya 3 anak laki-laki, Yafet = 7, Ham = 5 (Nimrod di usia tua), Sem = 5), maka total jumlah keluarga hingga generasi ke-10 (saat Abraham lahir) = 2.796.202 orang (pria dan wanita) dan untuk 4 pasang orang tua = 11.184.808 orang [Variasi lain: World Population Since Creation, Lambert Dolphin atau lihat populasi tahun pertahun sejak 10.000 SM (Chart di atas)]

      Banjir – Hancurnya menara Babel/Pecahnya bangsa dan bahasa: IIA (392) + 48 = 440 tahun (1665/4 SM)

    MELKI/ADONI-SEDEK (Abraham: 78) dan SODOM-GOMORAH (Abraham: 99):
    Abraham meninggalkan Haran menuju Mesir diusia 75 tahun (Kej 12.4) dan menetap di Kanaan (Kej 13.12), bertemu raja Salem, Melkisedek (Kej 16.16. Atau di kitab Jasher 16.11-12, Adonisedek, raja Yerusalem = Sem, namun masalahnya, Sedek = dewa utama kaum Jebusit. Usia Abraham saat itu, 78 tahun). Abraham mengawini Hagar, setelah 10 tahun di Kanaan (Abraham 85 tahun, Kej 16.3) Ismail lahir (Abraham 86 Tahun, Kej 16.16) dan terjadi kehancuran Sodom-Gomoroh (Abraham 99 tahun, Kej 17.1, 19).

    ADAM – YAHUDI KELUAR DARI MESIR:
    Abraham lahir – Keluar dari Mesir = Ishak (Usia Abraham = 100, 1 tahun setelah Sodom-Gomora/391 tahun setelah banjir, Kej 18.4) + Yakub (Ishak berusia 60) + Yakub dan keluarga di mulai Mesir (Yakub berusia 130) + Musa membawa Yahudi keluar Mesir (430 tahun) = 720 Tahun (IV)

      Note:
      Musa adalah Piutnya Yakub: Levi (anak: wafat 137 tahun) – Kehat (cucu: wafat 133 tahun) – Amram (cicit/buyut: wafat 137 tahun) – Musa (Piut: 80 tahun saat eksodus) [Kej.46.11; Kel 6.15-19]. Yakub berusia 130 tahun saat tiba di Mesir (Kej 47.9) = Usia Yusuf 39 tahun (usia 30 tahun bertemu Firaun, Kej 41.46 + 7 tahun masa berlimpah, Kej 41.53 + 2 tahun masa kelaparan, ketika Yakub sekeluarga tiba di Mesir, Kej 45.6) dan Yakub wafat di Mesir pada usia 147 tahun (Kej 48.28):

      • saat Yusuf lahir, Yakub berusia 91 tahun (130 – 39 tahun),
      • saat Lewi lahir, Yakub berusia 79 tahun (91 – 12 tahun),
      • saat tiba di Mesir, Yakub berusia 130 tahun, Lewi berusia 51 tahun (130-79 tahun) atau 48 tahun (“Wasiat Levi” no.58),
      • saat Kehat lahir, Lewi berusia 35 tahun (Wasiat Lewi no.51), saat di Mesir, Kehat berusia 13/16 tahun (48/51 – 35),
      • saat Amram (cucu Levi dari Kehat) dan Yokhebed (anak perempuan Lewi) lahir, Lewi berusia 64 tahun (Wasiat Lewi no.55, 57), Kehat berusia 29 tahun (64 – 35 tahun), Jarak tahun saat tiba di Mesir sampai Amran/Yokhebed lahir = 13/16 tahun
      • saat Amram mengawini Yokhebed, Lewi berusia 94 tahun (Wasiat Lewi no.57), Kehat berusia 49 tahun (94 – 35 tahun), Amram berusia 30 tahun,
      • saat Musa lahir, Yokhebed berusia 130 tahun (Midrash Rabbah 1.19), artinya kaum Israel sudah 143/146 tahun di Mesir (13/16 + 130 tahun) atau menurut sumber lain, jarak waktu antara wafatnya Levi – Musa = 48 tahun (“The Annals of the World”, James Ussher, hal.34), artinya saat Musa lahir: kaum Israel sudah 134/137 tahun di Mesir (137 – 48/51 + 48) dan Yokhebed berusia 121 tahun (137 – 64 + 48). Usia Yokhebed melahirkan ini bahkan jadi lebih tua dari Sarah (istri Abraham, yaitu 90 tahun, Kej 17.17)

      Menurut Alkitab, lama jarak tahun saat di Mesir sampai Eksodus adalah 400 tahun (Kej 15.13) / 430 tahun (Kel 12.40-41), namun jika merujuk pada jumlah umur para ayah saat mereka lahir sejak di Mesir hingga Musa berumur 80 tahun saat eksodus, maka hanya: 134/137 atau 143/146 (hingga Musa lahir) + 80 (usia Musa saat eksodus) = 214/217 atau 223/226 tahun

      • Tabari: Riwayat Ibn Humayd – Salamah b.Al-Fadl – Muhammad b.Ishaq: Seseorang selain Ibn Ishaq berkata: Lewi lahir ketika Yakub 89 tahun, Kohat lahir ketika Lewi berusia 46 tahun, Izar/Yizhar lahir dari Kohat, Amram lahir dari Izar/Yizhar. Amram dan Jochebed lahir, ketika Izar/Yizahar berusia 60 tahun..Musa lahir dari Amram ketika Amran berusia 70 tahun.. [Tabari, Vol.3, hal.30-31. Di Alkitab, Amram dan Izar adalah saudara kandung karena keduanya anak Kohat, Kel.6.17], maka maka jaraknya adalah 210 tahun [60+70+80 tahun].
      • Josephus: Jarak wafatnya Yusuf dan Musa adalah 4 generasi sejumlah hampir 170 tahun [“Against Apion” buku ke-1 no.35], oleh karena Yusuf wafat di usia 110 tahun [Kej 50.22, 26], Ia hidup 71 tahun (110-39 tahun) sejak Yakub sekeluarga tiba di Mesir, sehingga lama waktu kaum Isrel di Mesir sampai eksodus, jika mengikuti petunjuk Josephus, adalah hanya: 241 tahun

      Dari sini juga, kita punya lagi 8 variasi tahun, yaitu 430 tahun, 400 tahun, 241 tahun, 210 tahun, 214 tahun, 217 tahun, 223 tahun dan 226 tahun!

    Yakub di Mesir – Musa lahir = 430 – 80 = 350 Tahun (V)
    Abraham lahir – Musa lahir = (IV) – 80 = 640 Tahun (VI)
    Banjir – Musa lahir = (IIa) + (VI) = 1032 Tahun (VIa)
    Nuh lahir – Musa lahir = (IIb) + (VI) = 1532 Tahun (VIb)
    Adam – Musa lahir = (III) + (VI) = 2588 Tahun (VII)
    Adam – Yahudi keluar dari Mesir = (III) + (IV) = 2668 Tahun (VIII)

    ADAM – KUIL KE-1/KUIL SULAIMAN:

    Setelah keluar dari Mesir – Daud lahir = Daud memerintah di usia 30 tahun, lamanya 40 tahun, hingga tahun ke-4 Sulaiman/Tahun ke-480 setelah keluar dari Mesir = 480 – 4 – 40 – 30 = 406 Tahun (IX)
    Setelah keluar dari Mesir – Kuil Selesai = Tahun ke-4 Sulaiman mulai bangun kuil/480 tahun setelah keluar Mesir dan selesai di tahun ke-11 = 480 + 11 – 7 = 487 Tahun (X)

    Musa lahir – Daud lahir = 80 + (IX) = 486 Tahun (XI)
    Abraham lahir – Daud lahir = (IV) + (IX) = 1126 Tahun (XII)
    Banjir – Daud lahir = (VIA) + (XI) = 1518 Tahun (XIIa)
    Nuh lahir – Daud lahir = (VIb) + (XI) = 2018 Tahun (XIIb)
    Adam – Daud lahir = (VIII) + (IX) = 3074 Tahun (XIII)
    Adam – Kuil Sulaiman = (VIII) + (X) = 3155 Tahun (XIV)

    ADAM – KUIL SULAIMAN HANCUR:
    Kuil ke-1 Selesai – Kuil ke-1 Hancur = Tahun ke-11 sampai tahun ke-40 pemerintahan Sulaiman (29) + Rehabeam (Lamanya memerintah = 17 tahun) + Abia (3) + Asa (41) + Yosafat (25) + Yoram (8) + Ahazia (1) + Ratu Atalya/Yoas sembunyi (6) + Yoas (40) + Amazia (29) + UZIAH/Azarya (52) + Yotam (16) + Ahas (16) + Hizkia (29) + Manasye (55) + Amon (2) + Yosia (31) + Yoahas (3 bulan) + Yoyakim (11) + YOYAKHIN (3 bulan) + Hari ke-7 Bulan ke-5 (AV) tahun ke-11 Zedekia/Tahun ke-19 Nebukadnezar II/587 SM, (Memerintah: 605 – 562 SM)/Kuil ke-1/Kuil Sulaiman hancur = 422.5 Tahun (XV)

      Note:
      Banjir NUH dan TAMAN EDEN: Taman EDEN utuh dari banjir dan menjadi bagian tanah milik SEM bin NUH (JUBILEE Ch 8.18 atau ini). Abraham Ibn Ezra dalam komentar Yesaya 6.1: “..kematian Uziah harus diletakan ditahun yang sama ketika YESAYA menjadi Nabi“. Adam – tahun ke-14 Raja Hizkia = 3155 + 297 = 3452 Tahun. Yesaya menyebut tentang Taman Eden namun dalam perumpamaan (Yes 51.3). Pembicaraan Yerusalem, di langit dan bumi baru, mulai antara tahun ke-15 sampai tahun ke-29-nya Hizkia atau 125 tahun sebelum kehancuran kuil Sulaiman. Yesaya – Hancurnya Kuil ke-1 = 171.5 tahun. YEHEZKIEL (Yeh 28.13, 31.9, 16, 18) menjadi nabi dari tahun ke-30 pembuangan BABEL/tahun ke-5 pembuangan raja YOYAKHIN (Yeh 1.1-2) dan di tahun ke-11, YHWH menyampaikan tentang taman di Eden-Nya kepada Yehezkiel (Yeh 31.1). Kitab Yehezkiel (terutama bab 40-48) berisi catatan awal tentang Yerusalem Baru, berikut deskripsi ukuran Bait Suci dan lainnya. Kitab Zakharia pengembangan Yerusalem barunya Yehezkiel, harapan mereka saat pembuangan Babel, setelah hancurnya kuil ke-1, Yehezkiel fokusnya di membangun Kuil, sementara Zakharia bergeser menjadi ke perantaraan tuhan dalam pendirian Yerusalem Baru.

    Musa lahir – Kuil ke-1/Kuil Sulaiman Hancur = 80 + (X) + (XV) = 989.5 Tahun
    Abraham lahir – Kuil ke-1 hancur = (VI) + (XVa) = 1629.5 Tahun
    Banjir – Kuil ke-1 hancur = (VIa) + (XVa) = 2021.5 Tahun
    Nuh lahir – Kuil ke-1 hancur = (VIb) + (XVa) = 2521.5 Tahun
    Adam – Kuil ke-1 hancur = (XIV) + (XV) = 3577. 5 Tahun (XVI)

      Note:
      Tahun ke-11 Zedekia/Tahun ke-19 Nebukadnezar II 587 SM. Karena, 7 AV 3575 (Kalender Yahudi) = 2 Agustus 186 SM (Julian)/12 Juli 185 SM (Gregorian) atau jika dikonversi agar mendapat 587 SM, maka 27 Juli 587 SM (Julian)/21 Juli 586 (Gregorian) = 7 AV 3174 (Kalender Yahudi). Sama-sama berselisih 401 tahun, setara dengan membuang seluruh tahun pemerintahan raja-raja dari selesainya kuil Sulaiman s.d Yoyakim. Walaupun dengan rata-rata hari tiap bulan (29.53 hari) kalender Yahudi (x 12), maka untuk 3575 tahun = 106.52 tahun, selisih 295.48 tahun untuk menjadi 587 SM

    ADAM – KUIL KE-2 (walau bukan herod yang buat, namun disebut kuil Herod/Tembok Ratapan):
    Kuil ke-1 Hancur/587 SM – Kuil ke-2 selesai tahun ke-6 Darius I/517 SM (Memerintah: 522 – 486 SM) = 70 Tahun (XVII) [Masa ini disebut masa pembuangan Babel. Hitungan ini menurut kalender Solar/Matahari]

    Kuil ke-1 selesai – Kuil ke-2 selesai = (XV) + 70 = 492.5 Tahun
    Adam – Kuil ke-2 selesai = (XVI) + (XVII) = 3647.5 Tahun (XVIII)

    Kuil ke-2 selesai – 0 MASEHI = 517 Tahun
    Kuil ke-1 selesai – 0 MASEHI = 492.5 + 517 = 1009.5 Tahun
    Musa Lahir – 0 MASEHI = 989.5 + 587 = 1576.5 Tahun
    Menara BABEL/Penyebaran BANGSA dan BAHASA – 0 MASEHI 1629.5 – 48 + 587 = 2168.5 Tahun
    Abraham lahir – 0 MASEHI = 1629.5 + 587 = 2216.5 Tahun
    BANJIR0 MASEHI = 2021.5 + 587 = 2608.5 Tahun
    NUH0 MASEHI = 2521.5 + 587 = 3108.5 Tahun
    ADAM – 0 MASEHI = (XVIII) + 517 = 4164.5 Tahun



    Hasil hitungan di atas, masih dapat kita lihat beberapa cabang kemungkinan untuk variasinya, sementara, tabel sebelah juga memuat tahun-tahun kehidupan Adam dan Nuh (tahun banjirpun akan bervariasi) menurut hitungan pihak lainnya, belum lagi versi Yahudi bahwa banjir terjadi di tahun 2104/2105 SM atau versi Islam bahwa banjir terjadi di tahun: 2000 SM, 3300 SM, 3366 SM dan 2350 SM, dan masih banyak lagi variasinya.

    Lucunya, semua variasi hasil tahun di atas, menggunakan dasar kitab yang serumpun, dari nama-nama dan kejadian yang sama, tapi tetap saja hasilnya bervariasi. Maka, dari seluruh kisaran tahun di atas, manakah yang benar? Ataukah, memang tidak pernah ada banjir yang menenggelamkan bumi?.



    ALASAN BANJIR BESAR
    Purana Hindu:

      Suatu ketika Tuhan Visnu muncul di mimpinya dan berkata, “Nyuha-Ku terkasih, dengarlah, akan ada kehancuran di hari ke 7, untuk itu engkau harus segera membuat sebuah bahtera besar dan naik diatasnya, Oh Umat utamaku, Engkau akan dirayakan sebagai Raja Besar”. [Pratisarga Parva, bab ke-4 s/d 6]

    Alkitab:
    Nuh lelaki benar dan tidak bercela, bergaul dengan Allah dan punya 3 anak: Sem, Ham dan Yafet (Kej.6.8-10), Karena anak-anak Allah menghampiri perempuan, turunan manusia raksasa, beranak bagi mereka dan banyak kejahatan manusia besar di bumi, Allah menjadi menyesal menciptakan manusia dan sedih [Kej 6.1-6], manusia menjadi rusak, menjalankan hidup rusak [Kej 6.11-12], maka Allah berencana akan memusnahkan mahluk hidup [Kej 6.13] dengan menenggelamkannya [Kej 6.17]. Allah memerintahkan Nuh untuk membuat bahtera (têbâh) [kej 6:15-16], memerintahkan masuk ke bahtera pada Nuh, istri, 3 anaknya, istri mereka (Kej 6.18), sepasang dari seluruh hewan (Kej 6.19-20), sepasang binatang haram tapi 7 pasang binatang yang tidak haram (Kej 7.2-3) dan makanan selama di bahtera (Kej 6.21), setelah 7 hari, datanglah Air bah meliputi Bumi [Kej 7.10].

    Islam:
    Allah mengutus Nuh kepada kaumnya, untuk menyembahNya [AQ 7.59; 61-63; 11.25-26; 23.23; 29.14; 71.3] dan menaati Nuh [AQ 26.108, 110; 71.3] sebagai pemberi peringatan sebelum datang Azab yang pedih [AQ 71.1], baik secara diam-diam dan terang-terangan [AQ 71.8-9], untuk ajakannya, Nuh tidak meminta upah [AQ 26.109; 10.72; 11.29], Kaum Nuh menyembah Tuhan lain [AQ 71.23] yang menurut Nuh dan Tuhannya ini adalah sesat [AQ 71.24]

    Kaum Nuh tidak mengakuinya sebagai Rasul [AQ 7.60; 11.27; 23.24] bahwa orang yang mengikuti Nuh melakukan perbuatan Hina [AQ 26.111; 11.27], Nuh berkata Ia tidak tahu perbuatan mereka dan Allah yang akan membuat perhitungannya [AQ 26.113] Nuh tidak akan mengusir orang yang beriman [AQ 26.114; 11.30] Mereka berkata Nuh dalam kesesatan [AQ 7.60] Jika tidak berhenti, Nuh akan termasuk orang yang dirajam. [AQ 26.116] Mereka mendustakan Nuh [AQ 7.64; 10.73; 11.27; 26.117; 54.9] menyatakannya gila [AQ 23.25; 54.9], mereka mendustakan rasul-rasul [AQ 25.37; 26.105]

      Padahal dikatakan Nuh adalah RASUL PERTAMA (Bukhari no.3092, 4116, 6080, 6861), tapi, juga dikatakan bahwa kaum Nuh mendustakan PARA RASUL [AQ 25.37 “alrrusula” dan 26.105 “almursaliina“. Note: Ahmad no.20566: Adam adalah NABI PERTAMA dan RASUL. Problem hadis pada perawi Abu Umar dan Ubaid. Menurut Ibn Hibban: Ubaid Tsiqah/jujur, ke-2 perawi dipakai Nasai dan Ahmad. Hadis berkesesuaian dengan AQ 3.33 (Allah memilih Adam, Nuh, Keluarga Abraham dan Keluarga Amran) dan AQ 2.37 (Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya)].

      Mana yang benar?
      Rasul mana yang didustakan kaum Nuh?

      Kapan Nuh menjadi Nabi ada 3 versi:

      • Diutus pada usia 50 tahun [Tabari Vol.1 Hal.354]
      • Riwayat Hisham ibn Muhammad Ibn al-Sà’ib al-Kalbi – ayahnya – Abu Shalih – Ibnu ‘ Abbas: “..Allah mengutus Nuh, diusia 480 tahun ketika mulai berkotbah dan berlanjut selama 120 tahun..” [“Al-Tabaqat Al-Kabir”, Ibn Sad, vol.1 bag 1.6.1. Tabari vol.1, hal. 355 dan Tafsir Ibn Abbas untuk AQ 11.48]
      • Riwayat Nasr b. ‘Ali al-Jahdami — Nuh b. Qays —’Awn b. Abi Shaddad: “Alah mengutus Nuh diusia 350 tahun“[Tabari Vol.1, hal.355]

      Jarak Adam s.d Nuh = 1000 tahun/10 qarn (10 abad, Tabari vol.5 hal 413, Ibn hibban). Umur Adam: 930 tahun (Alkitab) atau 1000 tahun – 40 = 960 tahun (“Al-tabaqat Al-kabir”, Ibn Sad, vol.1 bagian 1.3.13. Ahmad no.2157, 2158, 3339) atau 1000 – 60 tahun = 940 tahun (Tirmidhi no.3290).

      Adam wafat 126 tahunan sebelum Nuh lahir. Jika yang dimaksud adalah Habil, maka Ia wafat saat Adam masih hidup. Jika yang dimaksud adalah Set, Ia wafat 14 tahun sebelum Nuh lahir. Jika Enokh = Idris, Ia juga telah wafat 296 tahun sebelum Nuh lahir.

      Jika Nuh menjadi Nabi,

      • Di usia 480 tahun, maka yang masih hidup hanyalah kakek dan ayahnya saja.
      • Di usia 350, maka hanya Yared, Kakek dan Ayahnya saja yang masih hidup, Bahkan ke-3 orang ini, tidak disebutkan menjadi Rasul juga.
      • Di usia 50 tahun, maka Enos, Kenan, Mahalaeel, Yared, kakek dan Ayahnya masih hidup, Semua nama ini tidak disebutkan menjadi Rasul juga

      4 rasul di atas (Adam, Habil, Set dan Henokh) SUDAH TIDAK ADA, bahkan sebelum Nuh lahir, padahal untuk dapat disebut sebagai kaum Nuh, baru akan terjadi ratusan tahun ke depan, Maka jelas Quran keliru, karena TIDAK ADA 1 rasul pun yang didustakan sebelum Nuh menjadi Nabi.

    Nuh menantang mereka untuk membinasakannya [AQ 10.71], Nuh mengancam mereka bahwa Tuhan akan memberikan hujan yang lebat [AQ 7.11], Nuh meminta pertolongan Allah [AQ 23.26; 26.118] mengadukan mereka dan meminta dimenangkan Allah [AQ 54.10], meminta agar tidak seorangpun di antara para kafir itu masih ada di bumi, karena jika dibiarkan, akan menyesatkan hamba-hamba Tuhan, melahirkan anak yang Fajir dan kafir bagi mereka, maka Ia meminta agar mereka dibinasakan [AQ 71.27-28].

    Allah mengatakan mereka tidak akan beriman [AQ 11.36], memerintahkan Nuh membuat bahtera, karena mereka akan ditenggelamkan [AQ 11.37] bahtera dibuat dengan penilikan dan petunjuk Allah [AQ 23.27] terbuat dari papan dan paku [AQ 54.13]. Mereka mengejek Nuh membuat bahtera [AQ 11.38]

    Air Bah datang [AQ 11.40] pintu-pintu langit dengan air yang tercurah [AQ 54.11] bumi memancarkan mata air, bertemu-lah air-air itu [AQ 51.12] Allah menyelamatkan Nuh dan orang yang bersamanya dengan bahtera dan menenggelamkan lainnya [AQ 10.73; 26.119-120; 29.14-15; 37.82; 54.13-14; 71.25] di bahtera itu terdapat: masing-masing binatang sepasang [AQ 23.27; 11.40], keluarga Nuh, orang yang beriman [AQ 23.27; 11.40; 69.11] dan sedikit orang tidak beriman [AQ 11.40] bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung [AQ 11.42], Nuh memanggil anaknya tapi anaknya tidak mau ikut, maka Ia juga ditenggelamkan [AQ 11.42-43]. Air surut dan bahtera berlabuh di atas bukit Judi [AQ 11.44] Nuh tinggal di antara mereka 1000 tahun kurang 50 tahun [AQ 29.14]



    Berapa ukuran bahtera?
    Bhasvihya Purana:
    “Panjang 300 hasta, lebar 50 hasta dan tinggi 30 hasta.” [Pratisarga Parva, bab ke-4 s/d 6]


    Alkitab:
    Bahtera (têbâh. Dari bahasa Mesir = KOTAK) terbuat dari kayu Ghofir [Kej 6.14] ukuran: 300 hasta (ammâh) x 50 hasta x 30 hasta plus atap 1 hasta terdiri dari 3 tingkat [kej 6:15-16]. Untuk ketinggian tiap tingkat: 9 atau 10 hasta (Keil dan Delizsch di Genesis 6.16) atau: 10 hasta (“The Book of Adam and Eve”, Ch 3.2).

    Islam:
    Bahtera terbuat dari kayu dan paku [AQ 54.13], Quran TIDAK PERNAH menyebut ukurannya, hadis dan tafsir menyebutkan ukurannya dan bervariasi:

    • “Riwayat Al Harith – Ibn Sa’d – Hisham – bapaknya – Abu salih – Ibn Abbas: “..Nuh membuat bahtera di gunung Nawdh,.. Panjang bahtera 300 hasta, lebar 50 hasta dan tinggi 30 hasta, di atas air 6 hasta, terdiri dari 3 tingkat..” [“Al-Tabaqat Al-Kabir”, Ibn Sad, vol.1 bag 1.6.1. Tabari vol.1, 358 dan Tafsir Ibn Abbas untuk AQ 11.48] juga ukuran yang sama dari riwayat Bishir b. Mu’adh – Yazid b. Zuray – Sa’id – Qatadah [Tabari, Vol.1 hal.356]
    • Riwayat al Harith (b. Muhammad) – Abd al Aziz – Mubarak (b.Fadallah) – al Hasan: “Panjangnya 1200 hasta, lebarnya 600 hasta“. juga riwayat al Qasim (b.al Hasan) – al Husayn (b.Dawud) – Hajjaj – Mufaddal b. Fadalah – Ali b. Zayd b. Jud’an – Yusuf b. Mihran – Ibn Abbas – Nabi SAW: “..panjangnya 1200 hasta, lebarnya 600 hasta, 3 tingkat, 1 untuk binatang, 1 untuk manusia, 1 untuk burung” [Tabari Vol.1 hal.357].
    • Muhammad bin Ishaq menyebutkan di Taurah, “..bahtera yang terbuat dari Kayu Oak India panjang 80 hasta, lebar 50 hasta, tinggi 30 hasta, dibagi 3 level masing-masing 10 hasta, level pertama untuk binatang liar dan ternak, kedua untuk manusia dan ketiga untuk burung, bahtera tertutup seluruhnya [Tafsir Ibn Kathir surat 11:36-39], tampaknya tinggi hewan dan manusia tidak melebihi 10 hasta [5.14 m s.d 5.64, plus atap bahtera]

    Dari seluruh pernyataan di atas ini, mana yang benar?

    Kata hasta/cubit (ammâh) muncul di kitab Kejadian hingga Makabe, terdiri dari (1) ukuran lama (2 Taw 3.3 = 51.8 cm) dan (2) ukuran biasa (Ulangan 3.11 = 44.45 cm), namun kalangan Yahudi sendiri ada 3 pendapat: (1) Chazon Ish (= 57.6 cm), (2) R. Chaim Na’eh (= 48 cm) dan (3) R. Moshe Feinstein (= 54 cm). Di awal telah disampaikan bahkan 1 halaman kitab kejadian saja dikarang 3 atau 4 orang dan Tuhan tampaknya mengagumi Mesir juga berbahasa Mesir “têbâh“, jadi ukuran hasta adalah hasta Mesir [biasa = 45 cm dan sejengkal = 1/4 hasta], maka, volume bahtera (300 x 50 x 30 hasta = 41.006,25 m3 atau 80 x 50 x 30 hasta = 10.935 m3)

    Jumlah orang di bahtera?
    Jumlahnya bervariasi: Dari Bhavishya Purana, 80.000 orang lebih. Dari Alkitab, Nuh, Istri, 3 anaknya dan istri mereka, total 8 orang (Kej 6.18). Dari sumber Ibn Abbas, Sufyan: 80 orang [Tafsir Ibn Kathir AQ 11.40]. Dari sumber Qatadah, Al Hakam, Ibn Jurayji: 8 orang. Dari sumber al A’mash: 7 orang. Dari sumber Ibn Ishaq: 10 orang tidak termasuk Istri mereka [Semuanya di Tabari vol.1, hal.364-366]. “..ketika banjir ia bersama dengan anaknya, menantunya dan 73 keturunan Shith, yang telah masuk Islam, dengan demikian ada 80 orang..” [“Al-Tabaqat Al-Kabir”, Ibn Sad, vol.1 bag 1.6.1. Juga Tabari vol.1, hal. 355 dan Tafsir Ibn Abbas untuk AQ 11.48], ada juga turunan bangsa Raksasa: “…juga Og b.Anak” [Tabari Vol.1, hal.361], juga ada orang Jurhum [Tabari, hal.364].

    Dari seluruh pernyataan di atas ini, mana yang benar?

    Raksasa:
    Riwayat Ibn Humayd – Salamah – Ibn Ishaq – al Hasan b.Dinar – Ali b.Zayd – Yusuf b.Mihran – Ibn Abbas: “…Nuh dan mereka yang bersamanya, juga Og b.Anak, sebagaimana dikatakan kaum ahli kitab”. Tabari: Tinggi Og 800 hasta (365 m – 444 m) [Tabari Vol.1 hal.361]

    Abdullah ibn ‘Umar al-Baidawi [Abad ke 13]: bahtera ukuran 300 hasta x 50 x 30, dimana pada lantai pertama adalah binatang liar dan ternak, lantai kedua adalah Nuh sekeluarga, lantai ketiga adalah burung2, setiap plang ada nama nabi. 3 Plang hilang sebagai symbol 3 nabi yang dibawa ke Mesir oleh Og, turunan Anak [satu-satunya bangsa raksasa yang selamat dari banjir], Mayat Adam dibawa dan ditaruh di tengah sebagai pembatas laki dan perempuan AQ 11:41. Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.”

    Berapa tinggi Nuh?
    Riwayat Abu Huraira, Nabi berkata: ‘Allah menciptakan Adam dan tingginya 60 hasta…dan semua orang yang masuk surga akan seperti bentuk Adam. Manusia kemudian bertambah kecil hingga saat ini” [Bukhari no. 3336 juga no.246; Muslim no. 7092, juga al-Haafiz ibn Hajar di Fath al-Baari (6/367), tinggi Adam = 27,4 m/30,8 m/33,36 m].

    Tabari dari Ibn Abbas: di bahtera ada Og bin Anak, seorang turunan raksasa, Tabari menyatakan tingginya 800 hasta [Tabari Vol.1, hal.361]. Riwayat Ibn Abbas: Musa tingginya 10 hasta [Tabari Vol.1 hal 297] juga dari sumber Yahudi dari Rabbi Simeon ben Lakish: berapa [tinggi] Musa? 10 hasta [Berachot 54b].

    Alkitab juga menyampaikan bahwa manusia raksasa ada setelah banjir Nuh, yaitu Bilangan 13.33: “kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami” (Ulangan 2.10;3.11, panjang ranjang orang refaim = 9 hasta; Yosua 12.4). 2 Samuel 21.22: “Keempat orang ini termasuk keturunan raksasa di Gat; mereka tewas oleh tangan Daud dan oleh tangan orang-orangnya.” (1 tawarikh 20:6-8,11:23). 1 samuel 17:4 ..Namanya Goliat, dari Gat. Tingginya 6 hasta sejengkal.

    Untuk ukuran bahtera yang 3 tingkat dan per tingkat tingginya 9 atau 10 hasta, maka tinggi Nuh ada di bawah itu. Aneh Nuh ini, Ia yang merupakan turunan ke-9 Adam, malah kalah tinggi dibandingkan para raksasa dan juga Musa (lahir 1532 tahun kemudian), padahal dikatakan setelah Adam, tinggi manusia akan makin menurun.


    Dari seluruh pernyataan di atas ini, mana yang benar?


    Berapa lama pembuatan bahtera?

    Kitab kejadian tidak menyebutkannya, namun perintah pembuatan bahtera baru terjadi setelah para manusia berdosa [Kej 6-1-7], Nuh jadi Nabi [Kej 6.8], 3 anak Nuh lahir, setelah Nuh berusia di atas 500 tahun. [Kej 5.32; 6.10] dan setelah anak-anaknya menikah [Kej 6.18]. Tidak diketahui kapan anak-anak Nuh menikah, namun rata-rata kelahiran anak para moyang mereka, ada di kisaran 117 tahun, Nuh yang tertua di usia 500 dan 2 moyangnya, di usia 65 tahun. Jika ini kita ambil sebagai patokan, maka pembuatan bahtera terjadi di kisaran 2 tahun – 35 tahunan, sebelum banjir.

    Dari sumber Yahudi, Pirkei De Rabbi Eliezer bab.23, dari Rabbi Tachanah: Bahtera dibuat selama 52 tahun. Di Jasher 5.34: Bahtera dibuat hanya 5 tahun. Jubile 19.2: mengindikasikan pengerjaan 1 tahun

    Dari Sumber Islam juga bervariasi: (Muhammad) b.Abi Mansur – ‘Ali b. al Haytham – al Musayyab b.Sharik – Abu Rawq – al Dahak – Salman al Farisi: Nuh membuat bahtera selama 400 tahun [Tabari Vol.1, hal 356]. Tabari: Allah menyuruhnya menanam pohon, dan 40 tahun kemudian, Allah menyuruhnya memotong pohon, membuat bahtera [Tabari Vol.1 hal. 355], menurut riwayat Salih b.Mizmar al Marwazi dan al Muthanna b. Ibrahim – Ibn Abi Maryam – Musa b.Ya’qub – Fa’id Maula dari Ubaydallah b.’Ali b. Abi Rafi – Ibrahim b. ‘Abd al Rahman b. Abi Rabi’ah – A’ishah, istri Nabi – Nabi SAW: “..Selama 950 tahun Nuh bersama kaumnya mengajanya kepada Tuhan dan di akhir waktu itu, Ia menanam pohon, tumbuh dan menyebar kesegala arah, kemudian memotongnya dan membuat bahtera” [Tabari vol.1 hal.356]

    Dari seluruh pernyataan di atas ini, mana yang benar?



    BANJIR NUH
    Bhavishya Purana:
    ..Deva Indra membuat curah hujan terus menerus selama 40 hari. Seluruh Bharat [Bharat Varsa] tenggelam didalam air dan 4 lautan menjadi satu. Semua tenggelam kecuali Visala/Badarikasrama (letaknya di Himalaya) Ia bersama 80.000 resi dari Visala yang bersamanya selamat. 1 Tahun kemudian, daratan terlihat, berlabuh di bukit bernama Sisina, tinggal sementara sampai semua kering dan kembali ke istananya [Pratisarga Parva, bab ke-4 s/d 6]

    Alkitab:
    Di umur Nuh ke-600 pada bulan ke-2, hari ke-17, mata air samudera terbelah, tingkap langit terbuka, hujan lebat selama 40 hari 40 malam [Kej 7.11-12]. hari itu juga, baik manusia maupun binatang masuk ke bahtera. Banjir 150 hari lamanya [7:13-16], sampai menutupi segala gunung tinggi di seluruh kolong langit ditambah 15 hasta lagi sehingga gunung-gunung ditutupinya [Kej 7:19-20], setelah 150 hari, air mulai berkurang [Kej 8.3], pada bulan ke-7 hari ke-17, bahtera kandas di pegunungan Arafat [Kej 8.4]. Tahun ke 601, bulan ke-2, hari ke-27 bumi kering, Nuh dan semuanya diperintahkan keluar dari bahtera [Kej. 8.13-16]. Di Rabba Genesis XXXI, 10-11, dinyatakan Nuh di bahtera 12 bulan lamanya.

    [Note: Kata ibrani, ‘gunung-gunung tinggi di seluruh kolong langit adalah kol [segala] + har [gunung]+ gaboahh [tingi] + tachath [dibawah] + shamayim [langit/surga]. Arti Shamayim = Dewa suku Kanaan, Istri Shamayim = ‘erets [tanah/bumi]. Anak mereka = el, yang dikenal sebagai elohim]

    Islam:
    Bahtera berlabuh di bukit Judi [AQ 11.44], bukit Judi, menurut tafsir, letaknya di Armenia sebelah selatan berbatasan dengan Mesopotamia.

    ..Air menutupi seluruh permukaan bumi hingga akhirnya mengelilingi puncak2 gunung dan bahkan main tinggi melebihnya setinggi 15 hasta. Dikatakan juga bahwa gelombang itu tingginya 80 mil melampaui gunung-gunung. Bahtera tersebut terus berlayar dibawah perlindungan Allah…[Tafsir Ibn Kathir untuk surat 11:40-43]

    ..Allah membuat hujan selama 40 hari dan 40 malam. Mereka naik bahtera pada hari ke-10 bulan rajab dan keluar tanggal 10 Muharam. Air menyembur setengah dari langit dan setengah dari bumi. Air melampaui gunung tertinggi dan 15 hasta lagi. Ia berlayar selama 6 bulan…dan berlabuh di Al-Judi..[“Al-Tabaqat Al-Kabir”, Ibn Sad, vol.1 bag 1.6.1. Juga Tabari vol.1, tahun 1989, hal. 355 dan Tafsir Ibn Abbas untuk AQ 11.48]

    Ibn `Abbas dan lainnya berkata, “…oleh karena itu Allah mengabulkan permohonan Nuh dan manusia di bumi ditutupi banjir kecuali mereka yang ada di bahtera Nuh, kemudian semua manusia merupakan keturunan Nuh [Tafsir Ibn kathir untuk surat 69:11]

    Baik sumber Purana, Nasrani, Yahudi menyatakan mereka di bahtera selama 1 tahun (+10 hari lamanya), namun sumber Islam menyatakan mereka di bahtera 6 bulan lamanya. Seluruh sumber Abrahamik menyatakan ini sebagai banjir meliputi seluruh dunia, Purana menyatatkan banjir di area Bharat

    Apakah ketinggian tidak mempengaruhi manusia?

    Climbing at Extreme Altitudes above 7000 meters. UIAA Mountain Medicine Center, October 2002. “Di atas 7000m, terjadi peningkatan perasaan lelah dan kelesuan, aktivitas terus-menerus tidak dimungkinkan dan mendaki lereng yang mudah menjadi melelahkan dan kesulitan bernapas”
    Huey, Raymond B. and Xavier Eguskitza. Limits to human performance: elevated risks on high mountains. The Journal of Experimental Biology. Vol. 204 (2001): 3115-3119. “Ketinggian lebih dari 8000m (5950m; Barat, 1986a)..tidak ramah bagi kelangsungan kehidupan manusia. Oleh karenanya, ketinggian ekstrem seperti itu kadang disebut ‘Zona Kematian’ (Krakauer, 1997).”

    Jadi, Ketinggian di atas 7000 m, mahluk hidup sudah sulit bertahan hidup, maka apakah pada kondisi tersebut hewan dan tumbuhan yang selama ini di luar habitat seperti itu dapat hidup normal selama 1 tahunan? No Way!

    LAJU TINGGI AIR PER JAM, VOLUME AIR BANJIR NUH DAN SUHU BUMI
    Volume air di bumi = ± 1.4 Milyard Km3 [www.space.com, USGS.gov], menurut Hypertextbook = 1.34 Milyard Km3 – 1.5 Milyard Km3, Radius bumi = 6,378.15 Km, Gn. Everest = 8.85 Km (Bahtera mendarat di Gunung Arafat = 5165 m, Gn terkecil Arafat 3896 m) + 15 hasta lagi (771.0 cm); π = 3.1415

    Berapa tingkat laju ketinggian air/jam akibat hujan 40 hari yang menutupi seluruh gunung tertinggi + 15 hasta lagi?

    40 hari x 24 jam = 960 jam, untuk:

    • Gn.Everest = 8,850 m / 960 jam = 9.2 m/jam
    • Gn.Arafah = = 8,850 m / 960 jam= 5.4 m/jam
    • Puncak terkecil Gn.Arafah = 3,896 m / 960 jam = 4.1 m/jam

    Dengan ketinggian per jam seperti ini, TIDAK MUNGKIN untuk memasukan seluruh mahluk hidup di muka bumi ke dalam bahtera

    Sebagai pembanding, curah hujan sangat deras = 10mm/jam dan curah hujan berbahaya = 50mm/jam, bayangkan jika dibrondong air dengan kecepatan 9.2 m/jam atau 184x curah hujan berbahaya.

    Berapa jumlah volume air yang diperlukan untuk mengenggelamkan segala puncak gunung+ 15 hasta lagi?

    Volume = 4/3 π r3
    Untuk membenamkan bumi di ketinggian permukaan air = 4/3 x 3.1415 x (6,378.15 Km)3 = 1,086,825,918,019 Km3
    Untuk membenamkan gunung Everest + 15 hasta lagi = 4/3 x 3.1415 x (6,378.15 + 8.85 Km+ 0.00771 Km)3 = 1,089,472,326,082 Km3

    Selisihnya keduanya = VOLUME AIR YANG DIBUTUHKAN, untuk membenamkan + 15 hasta:

    • Gn.Everest = 4,534,307,413 Km3, atau 3.24 X volume air yang ada di bumi (vs 1.4 M Km3)
    • Gn.Arafat = 2,646,408,063 Km3, atau 1.89 X-nya
    • Puncak terkecil Gn.Arafat = 1,996,778,263 Km3, atau 1.43 X-nya

    Darimana supply air untuk keadaan luarbiasa itu?! Bahkan untuk menenggelamkan puncak terkecil Arafat saja sudah TIDAK MUNGKIN TERJADI.

    SUHU BUMI KETIKA HUJAN SELAMA 40 HARI
    Suhu menentukan jumlah maksimum uap air yang bisa ada di udara. Semakin tinggi suhu, semakin besar persentase potensial uap air di udara. Uap air bervariasi berdasarkan volume di atmosfer, dari penelusuran hingga sekitar 4%. Oleh karenanya, rata-rata, hanya sekitar 2-3% dari molekul di udara adalah molekul uap air. Jumlah uap air di udara pada daerah yang sangat gersang dan di lokasi dengan suhunya sangat rendah (yaitu daerah kutub, cuaca sangat dingin) adalah kecil. Volume uap air di udara area tropis yang sangat hangat dan lembab adalah sekitar 4%. Mengapa jumlah uap air di udara tidak lebih dari 4%? karena suhu menetapkan batas seberapa banyak uap air dapat berada di udara. Bahkan di udara tropis, begitu volume uap air di atmosfer mendekati 4%, ia akan mulai mengembun di udara. Kondensasi uap air mencegah persentase uap air di udara meningkat. Jika suhu jauh lebih hangat, akan ada potensi untuk lebih dari 4% uap air di atmosfer.

    Pikirkan tentang uap dalam ketel teh. Suhu yang panas dan tekanan yang lebih tinggi memungkinkan sejumlah besar uap air ada di ruang dalam ketel teh. Hanya dari melihat uapnya meninggalkan ketel teh, orang mendapat gambaran tentang kepadatan uap air di ketel itu. Jumlah uap air di udara dalam ketel lebih besar dari 4%. [Oleh: JEFF HABY]

    Seberapa tinggi suhu bumi akibat hujan konstan 40 hari? (Hitungan dari Marty Leipzig):

      Potential energi curah hujan/detik: E = m x g x h, di mana:
      m = massa air = 4,534,307,413 Km3 x 1015 (= cm3 = gram) x 10-3 (Kg) = 4.53 x 1021 Kg, Per harinya: 4.53 x 1021 Kg / 40 hari = 1.13 x 1020 Kg/hari;
      g = konstanta gravitasi, 9.8 m/detik;
      h = ketinggian air di udara, harus lebih tinggi dari Everest+15 hasta, jadi di posisi awan cumulo-nimbus/tumpukan badai hujan, 16,000 m

      1.13 x 1020 Kg/hari x 9.8 x 16,000 = 1.78 x 1025 joule.

      Rata-rata energi radiasi bumi sekitar 215 J/m2/detik dan rata-rata temperatur permukaan bumi = 280°K [Ref model iklim bumi dari sistem STELLA, PSU]. Jumlah radiasi energi hujan ke bumi per m2/detik = E/(4πr² bumi) x detik/hari

      1.78 x 1025 / (4 x 3.1415 x 6,378,1502) x 86,400 = 402,436 J/m2/detik

      Dengan rumus ke-4, Stefan-Boltzman = E (peningkatan, 402,436 J/m2/detik) / E (normal, 215 J/m2/detik) = [T (peningkatan)/T (normal, 280 °K]4 = 1841.7°K atau 1568.55°C.

    Sebagai pembanding, BELERANG mendidih di 444.6°C, BAJA di 1550°C, maka dengan temperatur setinggi ini, bahtera kayu nuh pastinya sudah terbakar, jadi jangankan lagi Nuh, bahkan 1 mahluk hidup pun, TIDAK AKAN ADA di bumi lagi.

    Jadi, banjir Nuh TIDAK MUNGKIN ADA.

    Dikatakan air surut selama 150 hari kemudian [Kej 8], maka akan terjadi sebanyak 30,228,716 Km3 / hari air menyusut setiap harinya, ini setara dengan kecepatan 350 Km/detik. Dengan jumlah air sedahsyat itu, TIDAK ADA 1 lubang pun di bumi yang sanggup. Dengan laju kecepatan air menghilang seperti itu, akan ada tarikan angin super dahsyatnya, sebagai pembanding, kecepatan TORNADO F5 (terdahsyat) = 0.15 Km/detik, ini saja sudah menimbulkan efek sedot dan daya rusak luar biasa, apalagi dengan kecepatan 350 Km/detik.

    Bagaimana mungkin, bahtera tidak ikut tersedot karenanya?
    Bagaimana mungkin burung gagak dan merpati masih mampu terbang di bawah serangan kecepatan angin sedahsyat itu?



    Berapa pasangan hewan naik ke bahtera?
    Alkitab:

    • Masing-masing sepasang dan makanan untuk mereka dan Nuh sekeluarga [kej 6:19-21] namun,
    • Di koreksi menjadi: binatang yang tidak haram 7 pasang, yang haram hanya 1 pasang [kej. 7:2-3] namun,
    • Di koreksi lagi menjadi: Semua mahluk hidup yang bernyawa masing-masing sepasang [7:14-16]

    Pengumpulan hewan dilakukan dalam 7 hari sebelum banjir [Kej 7.4], saat masuk ke bahtera adalah hari pertama hujan 40 hari turun [Kej 7.12-16]

    Islam:
    Ibn `Abbas berkata:…Allah memerintahkan Nuh untuk memilih setiap mahluk yang memiliki jiwa masing-masing sepasang untuk diangkut ke atas bahtera, beberapa mengatakan ini termasuk tanaman. Juga dikatakan bahwa binatang pertama yang masuk adalah burung dan yang terakhir adalah keledai…[Tafsir Ibn Kathir untuk surat 11:40-43] tapi menurut Riwayat Ibn Humayd – Salamah – Ibn Ishaq – al Hasan b. Dinar – Ali b. Zayd – Yusuf b. Mihran – Ibn Abbas: binatang pertama yang masuk adalah semut, yang terakhir adalah keledai [Tabari Vol.1 hal 360

    Jumlah Binatang dan Makan-Minum
    Jumlah spesies binatang di bumi, hanya 1.5 Milyard spesies yang dapat diklasifikasikan, diperkirakan ada 2 – 50 Milyard spesies di bumi ini, beberapa hanya hidup di suhu tertentu (beruang salju), beberapa hanya makanan tertentu [panda hanya makan daun bambu (14 kg/hari), koala hanya makan daun eucalyptus (0.5 kg/hari) yang tumbuh di Australia], beberapa hanya hidup di daerahnya

    Jika 0.01% nya saja dari 1.5 Milyard spesies = 150 ribu spesies, sepasang = 300.000 ekor, bayangkan jumlah binatang sebanyak itu tiba-tiba berkumpul di daerah tersebut, tidakkah ini mengherankan semua orang?

    Bagaimana dengan perjalanan para spesies tersebut dari habitatnya ke bahtera?
    Sepasang penguin dari kutub utara, sepasang komodo dari pulau komodo, sepasang Anoa dari Sulawesi, sepasang kakaktua terbang dari Irianjaya! Sepasang burung unta/burung dodo menuju tempat Nuh, perlu berapa tahun sampai tempat tersebut dan bagaimana agar tetap selamat diperjalanan?

    Bagaimana dengan makannya?
    seekor gajah memerlukan 272kg/hari; kuda 11kg/hari dan 45 L/hari; singa 7 kg/hari, babi 40kg/hari, Unta 2 kg/hari dan 30 L maksimum tiap 7 hari, Sapi/Kerbau 35kg/hari dan 1L/hari, kambing 6 kg/hari dan 3 liter air/hari, Anjing/Kucing 200g/hari, ayam 100g/hari, burung dara 40 gram/hari, dll.

    Banjir dikatakan selama 6 bulan – 1 tahunan [kej 8:14], maka harus ada persediaan makanan sekurangnya 6 bulan – 1 tahunan (di bahtera dan pasca keluar bahtera untuk sementara sampai berkembang biak), berupa persediaan binatang hidup atau tumbuhan, dari sisi ini saja, mengangkut sepasang hewan menjadi sudah tidak mungkin.

    Bagaimana mereka bertahan dari serangan pemangsa karnifora karena persediaan makanan yang menipis, singa sebagai rantai teratas rantai makanan, ditambah beberapa hewan karnifora lainnya seperti srigala, hyena, macan tutul, kucing, anjing, ular?

    Jika proses masuknya sepasang binatang ke bahtera rata-rata 1 menit/pasang, maka butuh 300.000 menit atau 208.4 hari, padahal keberangkatan harus hari itu, karena 1 hari = 1440 menit, maka hanya dapat 1440 pasang. tapi karena yang diangkut termasuk juga persediaan makanan untuk 1 tahunan (yaitu binatang hidup) maka bisa jadi tersisa hanya 1/2 waktu atau 720 pasang saja, namun hitungan kita di atas, menunjukkan kendala bahwa dalam 1 jam ketinggian air mencapai 9.6 M, artinya, bahkan 1 jam pun SUDAH TERLAMBAT, sehingga pada akhirnya, yang bisa diangkut, TIDAK LEBIH dari 30 pasang. Tentu saja jumlah ini tidak menyenangkan Tuhan. maka kita ambil pendekatan lain, misalnya dari kebutuhan makanan 300.000 spesies/hari (plus makanan berupa binatang hidup sebagai persediaan), jika rata-rata = 10 kg saja/hari, dalam 1 tahun (360 hari) sekurangnya harus ada persediaan 2.16 milyar kg (1 m3 = 1000 liter = 1000 Kg) atau setara volume = 2.16 juta m3, artinya, BERLIPAT-LIPAT dari kapasitas bahtera Nuh, maka tidak mungkin untuk jumlah sebanyak itu. lagi pula, kapasitas simpanan hanya 1/3 tingkat yang setinggi 10 hasta saja, itupun harus disisihkan untuk kebutuhan persediaan minum dan tempat bagi binatang hidup sebagai mangsa, maka jumlah binatang yang diangkut tidak lebih dari 474 pasang, jumlah ini, tampaknya cukup memuaskan bagi Tuhan.

    Jadi intinya adalah TIDAK MUNGKIN untuk mengangkut SEGALA jenis binatang .

    Kondisi Tsunami
    JOHN R. BAUMGARDNER, Ph.D. dan DANIEL W. BARNETTE, PHD di 3rd International Conference on Creationism, Pittsburgh, PA, July 18-23, 1994, menyatakan bahwa dengan kecepatan arus lautan antara 40 – 80 meter/detik, pilar-pilar batu TIDAK AKAN UTUH, bahkan di arus lautan dengan kecepatan normalpun dapat menghancurkan bangunan yang lebih rapuh. [PATTERNS OF OCEAN CIRCULATION OVER THE CONTINENTS DURING NOAH’S FLOOD]

    Sampai hari ini, dunia masih punya banyak bangunan kuno YANG BERDIRI JAUH SEBELUM kisaran tahun dongeng banjir Nuh, misal Mesir yaitu piramida [dari bahasa mesir kuno: Per (rumah) + Mer (kesayangan)], keberadaan mereka ini adalah BUKTI TAK TERBANTAHKAN bahwa keberadaan Nuh dan banjirnya HANYALAH DONGENG BELAKA.

    Atau bangunan di tempat lainnya, misal Perancis: Barnenez (4500 SM) dan Tumulus dari Baugon (4800 SM); Skotlandia: Knapp dari Howar (3100-3700 SM); Di Jersey: La Hougue Bie (3500 SM); Yunani: gua theopetra Meteora (sejak 23.000 tahun lalu) atau Turki: Gopekli Tepa (sejak 9000 tahun lalu), dll, Keberadaan mereka adalah bukti tak terbantahkan bahwa keberadaan Nuh dan banjirnya HANYALAH DONGENG BELAKA.

    Tsunami Aceh tahun 2004, membuat rusak terumbu karang, habitat laut porak poranda, terjadi percampuran air asin dan air tawar yang membunuh banyak kehidupan laut, apalagi jika menjadi skala besar seperti ‘dongeng’ di atas, belum lagi dengan arus laut kuat 40m – 80 m/detik, maka terjadi kehancuran total biota laut dan darat, tidak ada tumbuhan darat yang hidup setelah terendam air asin dan tertutup lumpur tebal saat kering. Dengan kadar garam yang sedemikian tingi ini, hanya rumput yang mampu tumbuh.

    Jadi bagaimana mungkin sehelai daun zaitun segar dapat hidup dalam waktu 40 hari?



    Banjir Lokal?
    Di alkitab dan Al qur’an dikatakan ada kelaparan 7 tahun saat Yusuf menjadi wakilnya Firaun di Mesir dan dikatakan bahwa terjadi kelaparan hebat di seluruh BUMI, sehingga mereka membeli makanan ke Mesir

    “Ketika seluruh negeri Mesir menderita kelaparan, dan rakyat berteriak meminta roti kepada Firaun, berkatalah Firaun kepada semua orang Mesir: “Pergilah kepada Yusuf, perbuatlah apa yang akan dikatakannya kepadamu.” Kelaparan itu merajalela di seluruh bumi. Maka Yusuf membuka segala lumbung dan menjual gandum kepada orang Mesir, sebab makin hebat kelaparan itu di tanah Mesir. Juga dari seluruh bumi datanglah orang ke Mesir untuk membeli gandum dari Yusuf, sebab hebat kelaparan itu di seluruh bumi” [Kej 41.55-57]

    [Note: kata ‘seluruh bumi‘, Ibrani: kol [seluruh] +’erets [daratan/bumi]. Jika maksudnya hanya lokal, misalnya ‘daerah sekitar’ Ibrani: sadeh [daerah] + cabiyb [sekitar] maka seperti kejadian 41:48, yaitu ketika Yusuf mengumpulkan makanan di daerah sekitar tiap-tiap kota, oleh karenanya, kata seluruh bumi, memang bukan ‘lokal sekitar’ tapi benar ‘seluruh bumi’]

    Jarak Perancis – Mesir = 3313 Km (x 2 pulang pergi), jika seorang menggunakan kuda [pada pertandingan untuk jarak 160 Km, seekor kuda dapat menempuh 10 s/d 12 jam, anggap saja lari konstan tanpa henti 12 jam penuh/hari], maka Ia baru akan tiba 40 hari kemudian. Sekarang, jarak Brazil – Mesir, maka, bahkan BELUM SETENGAH PERJALANAN…Satu populasi Mesir bisa jadi sudah MUSNAH.

    Sehingga seluruh bumi yang dimaksud, harusnya hanya area sekitar Mesir saja, karena bahkan, dongeng di purana Hindu saja hanya menyebutkan banjir pada area Bharata atau yang lebih dikenal sebagai India



    PASCA BANJIR
    Alkitab:
    Nuh mempersembahkan korban dari beberapa binatang yang hidup, karena senang dengan harumnya persembahan kurban maka tuhan berjanji tidak akan membuat banjir besar seperti itu kecuali dingin panas, kemarau hujan [kej 8:21-22; 9:11]. Kemudian ada pelangi sebagai segel tanda perjanjian [9:12]. Jika tuhan melihat pelangi ada di awan, maka tuhan akan melihatnya dan mengigat janji yang dibuatnya [9:16].

    Islam
    ‘Ibn Abbas: “..Pelangi adalah jaminan dari kehancuran banjir setelah kejadian Nuh“. ‘Ibn ‘Abbas: “Pelangi adalah jaminan untuk manusia di bumi bahwa mereka tidak akan ditenggelamkan..” [Imam Bukhari, al-Adab al-Mufrad no.765-767]

    Padahal pelangi adalah fenomena fisika optik semata, yang terjadi karena pembiasan cahaya. Ketika dibiaskan, cahaya akan berubah arah dari medium satu ke yang lain yang menyebabkan cahaya bergerak dengan kecepatan berbeda dalam medium berlainan. Tetesan air hujan dapat membiaskan dan menyebarkan cahaya mirip sebuah prisma. Dalam kondisi yang tepat, pembiasan cahaya ini membentuk pelangi.

    Sungguh mengherankan Tuhan Abrahamik malah tidak tahu mengenai hal ini. Apakah janji Tuhan ditepati? TIDAK, berikut adalah daftar bencana terbesar [di sini dan di sini], sample:

    Top Ten Worst Natural Disasters


    *Official Government figure. Estimated death toll as high as 655,000.

    Earthquakes – Highest Death Tolls


    * 1556 Shaanxi earthquake
    **Official Government figure. Estimated death toll as high as 655,000

    Tropical cyclones – Highest Death Tolls



    Note:

    October 7, 1737 Bengal, India Cyclone tidak dimasukan dalam list ini, karena tidak dapat untuk mendapatkan jumlah kematian akurat. Di bawah kisaran 3,000 tidak masuk list ini



    Alkitab:
    Mulailah (way-yahel) Nuh (noah) menjadi orang (is) tanah (hadamah) dan menanam (way-yit ta) anggur (ka-rem) [9:20] dan Ia minum (Wayye-set) anggur (min hayyayin) dan mabuk (way yiskar) dan telanjang (wayyit gal) dalam (betowk) tendanya (ahalah) [9.21] Ham, bapa Kanaan, melihat aurat ayahnya, lalu diceritakannya kepada kedua saudaranya…Setelah Nuh sadar dari mabuknya dan mendengar apa yang dilakukan anak bungsunya kepadanya, berkatalah ia: “Terkutuklah Kanaan, hendaklah ia menjadi hamba yang paling hina bagi saudara-saudaranya.” [9.22-25] Nuh hidup 350 tahun lamanya hingga total 950 tahun saat wafat [9:28-29].

    Islam:
    ‘Ali b. Ibrahim – ayahnya – Ahmad b. Muhammad b. Abi Nasr – Aban – Zarara – Abu Ja’far: Ketika Nuh turun dari bahtera Ia menanam anggur, kemudian, Ia kembali ke keluarganya [The rhetoric of sobriety: wine in early Islam, Kathryn Kueny, P.61].

    Dalam tahun-tahun pertama setelah banjir, problem terbesar semua mahluk adalah makanan, maka aneh sekali pilihannya bercocoktanam malah anggur.

      Rabba Genesis XXXVI 2-4: “Nuh menajiskan dirinya sendiri” (kata hol berarti “tidak suci”) dengan menanam kebun anggur: Seharusnya Ia menanam yang lebih bermanfaat sebagai gantinya, seperti buah ara atau zaitun. Ketika Ia akan menanam anggur, setan Shimadon mendekatinya dan mengajaknya berkongsi. Sanhedrin 70a: Nuh seharusnya tahu bahwa anggur menyebabkan masalah, karena kejatuhan Adam karena buah terlarang adalah anggur.

    Ini kemudian terkait kalimat “Ia telanjang dalam tendanya” dan “Ham, ayah dari Kanaan“. Jika bukan nuh, maka, siapa bapaknya Kanaan?

      Rabba Genesis XXXVI 4-6: “dalam tendanya”, kata “-nya” dalam “ahalah” = tenda istri Nuh. Ketika mabuk, singa menerkam kemaluan Nuh hingga terpotong, saat Nuh hendak melakukan hubungan seksual dengan istri, spermanya berceceran dan membuatnya malu. Namun, Sanhendrin 70a: Ham menyodomi Nuh. Sementara di Pirkei DeRabbi Eliezer 23.12: Kanaan masuk dan melihat ketelanjangan Nuh, dan mengikatkan benang (di mana ada tanda) Perjanjian itu, dan mengebirinya. Ia memberi tahu saudara-saudaranya. Ham masuk dan melihat ketelanjangannya…” -> Di sini Kanaan adalah saudara Sem, Ham dan Yafet.

    Imanat 20.11, memberikan kejelasan, “Bila seorang laki-laki tidur dengan isteri ayahnya, Ia menelanjangi ayahnya“. Terdapat kata “גלה” (galah = menelanjangi) yang sama maksud dengan Kej 9.21 tentang “telanjangannya Nuh” bahwa Ham menyetubuhi istri Nuh, menyebabkan lahirnya Kanaan, maka, “Ham, ayah dari Kanaan”. Ini juga menjelaskan mengapa kemarahan Nuh kepada Ham dilampiaskan ke Kanaan (Lihat: “Noah’s Four Sons“)



    Klaim-klaim hoax penemuan bahtera Nuh
    Komentar dari Christian answer: Laporan-laporan selama lebih dari seabad terakhir ini berkisar dari kunjungan ke bahtera tersebut, sampai penemuan kayu, sampai foto pemandangannya. Secara umum dipercaya bahwa sekurang-kurangnya sebagian besar dari bahtera itu masih utuh, tidak di atas puncak yang tertinggi, tetapi di suatu tempat di atas 10.000 kaki. Terperangkap dalam salju dan es hampir sepanjang satu tahun, hanya pada musim panas yang hangat saja struktur bahtera tersebut dapat dilihat atau didekati. Beberapa orang mengatakan telah memanjat atapnya, yang lainnya mengatakan mereka telah berjalan-jalan di dalamnya. Pada tahun 1980-an, “ark-eology” mendapat kehormatan dengan berpartisipasinya mantan astronot NASA James Irwin dalam ekspedisi ke pegunungan. Sebagai tambahan, investigasi bahtera Nabi Nuh diuntungkan dengan pecahnya Uni Soviet, karena pegunungan tersebut tepat berada di perbatasan Turki-Soviet. Ekspedisi ke atas pegunungan selalu dianggap sebagai ancaman keamanan oleh pemerintah Soviet. Sayangnya, kunjungan-kunjungan ke situs yang diusulkan tidak menghasilkan bukti lebih lanjut, tempat beradanya foto-foto tidak diketahui lagi, dan peninjauan yang berbeda tidak menuju ke lokasi yang sama di pegunungan. Lebih dari itu, astronot James Irwin telah meninggal, seorang saksi mata inti telah menarik diri dari hadapan publik, dan sudah ada beberapa ekspedisi baru ke pegunungan di tahun 1990-an. [Paul S.Taylor dan Mark Van Bebber].

    Berita Hoax CBS [1] dan [2]; Laporan hoax penemuan di turki..LAGI :), namun kali ini klaim tsb berasal dari tim peneliti Cina: [1] dan [2]; Laporan-laporan lainnya: [1], [2], [3], [4], [5] dan [6]; National geographic: [1], [2] dan [3]; Klaim penemuan bahtera Nuh di Arabia, Turki-Iran: [1] dan [2]; Klaim Nama Muhammad ada di satu keping papan Bahtera Nuh: [versi 1] dan [versi 2]; Perkembangan Pencarian hingga Sekarang: [1] dan [2]

    Mari kita buktikan sendiri ada/tidaknya bahtera di google earth: Gunung Arafat dan Judi….Ada? Sama sekali tidak ada!

    Harusnya jelas diketahui mengapa bahtera Nuh tidak akan pernah ditemukan? Karena sebagian jawabannya, justru ada di ALKITAB, yaitu Kejadian 8:20-21:

    Lalu Nuh
    mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu. Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. [juga di kejadian 9:21, ‘..Mabuklah ia dan telanjang dalam kemahnya‘]

    Apa yang dibutuhkan agar dapat melakukan bakaran bagi Tuhan?
    Darimana bahan bakarnya ketika tiada kayu akibat banjir?
    Darimana bahan membuat rumah, kemah, Mezbah, kandang ternak, perabotan?

    Ya! dari kayu bahtera itu membuat bakaran menjadi begitu harumnya, hingga Tuhanpun tergoda. Tak disangka-sangka! Kita berhasil menyelesaikan misterinya!

    [Pustaka: Global Flood, popular issue, Answering genesis, Silly flood,Why the flood is not global, Sarapan pagi, The Physics Factbook™, Custance, creation the web, Bible code intro, Alkitab, Al Qur;an, Ibn kathir]



    Klaim batasan umur manusia setelah banjir Nuh
    Di sebelum banjir besar, Allah berfirman, “Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan 120 tahun saja.” [Kej.6:3], tapi di setelah banjir, malah lain lagi:

    Note:
    BHS = Bilblia Hibraica Stuttgartensia, Hebrew text[Masoretic Scribes]; SP = Samaritan Pentateuch, Samaritan scribes; LXX= LXX (the Septuagint), Alexandria, Yunani oleh 70 orang yunani yang berbahasa Yahudi.

    Lebih 14 nama sebelum Musa, berusia di atas 120 tahun, juga pada jaman Musa dan setelahnya: Harun > 123 tahun [Bil 33:39], Ayub > 140 tahun [ayub 42:16], Yoyada > 130 tahun [II tawarikh 24:15]

    Bahkan di jaman ini, terdapat beberapa orang yang berusia lebih dari 120 tahun:

    • Li Chung Yun (wafat 6 Mei 1933), menurut pengakuannya, Ia lahir di tahun 1736. (= wafat diusia 197 tahun), namun pada tahun 1930, profesor departemen pendidikan universitas Chengdu, Wu Chung Chieh menemukan catatan kerajaan Cina tertanggal 1827, yang memberikan ucapan selamat ulang tahun ke-150, kepada Li Ching Yun, Ini berarti, Ia lahir di tahun 1677 dan meninggal di usia 256 tahun.
    • Saparman Sodimejo (Mbah Ghoto), menurut sensus tahun 2010, Ia berusia 142 tahun dan tinggal di Dukuh Segeran RT 18, Desa Cemeng, Kecamatan Sambungmacan, Sragen
    • Antisa Khvichava, di paspor era Uni Sovyetnya: lahir 8 Juli 1880 (wafat 30 Sep 20120) dan juga Sakhan Dosova lahir: 27 Maret 1879 (wafat 9 May 2009);
    • Daftar para manusia tertua dengan usia DIATAS 120 tahun, baik yang masih hidup dan telah wafat

    Ada pendapat bahwa 120 tahun merujuk pada waktu peringatan kepada kaum Nuh

    kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu 8 orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.[1 Petrus 3:20]

    Tidak ada catatan bagaimana kelakuan tak bercela Nuh di sebelum banjir, namun di setelah banjir, pengkotbah kesayangan Allah ini, menjadi pemabuk yang berbuntut sampai mengutuki Kanaan agar menjadi hamba yang paling hina [Kej 9:21-28]



    Artikel berkaitan lainnya:


    Gold, Glory and Ghost-Spell


    Mungkin anda pernah membaca ini:

    “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”

    Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” -[Matius: 22:36-40; Markus 12:30-31, Lukas 10:27]

    Di atas disebutkan kata, ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’. Nah, sekarang coba baca ini:

    Setiap Colombus menginjakan kakinya dinegri asing, ia menancapkan Salib. Membuat deklarasi yang diperlukan -Requerimento- untuk mengklaim tanah bagi bos katoliknya di spanyol. Deklarasi itu berbunyi sbb:

    “I certify to you that, with the help of God, we shall powerfully enter your country and shall make war against you..And shall subject you to the yoke and obedience of the church..and shall do you all mischief that we can, as to the vassals who do not obey and refuse to receive their lord and resist and contradict him” (D.Stannard, American Holocaust, Oxford University Press 1992, P.66)

    Terjemahan:
    Aku nyatakan pada kalian bahwa, dengan bantuan dari Tuhan, kami akan dengan penuh kekuatan memasuk negara kalian dan akan berperang terhadap kalian..dan akan dipasangi kuk (diperbudak) dan patuh pada gereja..dan kana kami lakukan padamu segala keganasan yang mampu kami lakukan, berkenaan pada budak yang tidak patuh dan menolak menerima tuhan mereka dan bertahan menolak dan bertentangan dengannya 

    Kepala suku Hatuey melarikan diri beserta orang-orangnya tetapi berhasil ditangkap dan dibakar hidup-hidup. Ketika dia sedang diikat di kayu, Pastor Fransiscan mendesaknya untuk mengakui Yesus sehingga jiwanya dapat pergi ke ‘Sorga” dari pada ke neraka. Hatuey menjawab bahwa jika sorga itu adalah tempat bagi orang-orang Kristen maka dia lebih memilih pergi ke neraka.. (D.Stannard, American Holocaust, Oxford University Press 1992, P.70) Apa yang terjadi pada Indian suku Arawak itu dilukiskan oleh saksi mata:

    “The Spaniards found pleasure in inventing all kinds of odd cruelties..They built a long gibbet, long enough for the toes to touch the ground to prevent strangling, and hanged thirteen [natives] at a time in honor of Christ Our Saviour and the twelve Apostles…then, straw was wrapped around their torn bodies and they were burned alive.” [D.Stannard, American Holocaust, Oxford University Press 1992, P.72]

    Terjemahan:
    orang-orang spanyol menemukan kesenangan dalam menciptakan segala jenis kekejaman aneh..mereka membangun tiang gantungan panjang, cukup sepanjang jari kaki menyentuh tanah menjegah tercekik, dan menggantung 13 orang [penduduk asli] di saat itu untuk menghormati Yesus juru selamat kita dan 12 rasul..kemudian jerami di lilitkan sekeliling tubuh terluka mereka dan mereka di bakar hidup-hidup.

    Or, on another occasion: “The Spaniards cut off the arm of one, the leg or hip of another, and from some their heads at one stroke, like butchers cutting up beef and mutton for market. Six hundred, including the cacique, were thus slain like brute beasts..Vasco [de Balboa] ordered forty of them to be torn to pieces by dogs.” [D.Stannard, American Holocaust, Oxford University Press 1992,P.83]

    Terjemahan:
    Atau, pada kejadian lainnya: “orang-orang spanyol, memotong lengan seseorang, kaki atau pinggul orang lainnya, dan beberapa kepala mereka dengan sekali tebas, seperti tukang daging memotong daging sapi dan kambing untuk pasar. 600 termasuk cacique [kepala suku], kemudian dibantai seperti binatang buas.. Vasco [dari Balboa] memerintahkan 40 dari mereka diterkam anjing-anjing hingga menjadi serpihan

    The “island’s population of about eight million people at the time of Columbus’s arrival in 1492 already had declined by a third to a half before the year 1496 was out.” Eventually all the island’s natives were exterminated, so the Spaniards were “forced” to import slaves from other caribbean islands, who soon suffered the same fate. Thus “the Caribbean’s millions of native people [were] thereby effectively liquidated in barely a quarter of a century”. [D.Stannard, American Holocaust, Oxford University Press 1992, P.72-73]

    Terjemahan:
    Populasi pulau sekitar 8 juta orang saat Kolumbus datang di tahun 1492 telah berkurang menjadi 1/3 hingga 1/2 nya sebelum tahun 1496 berakhir. Akhirnya seluruh penduduk pribumi pulau di bantai, sehingga orang-orang spanyol menjadi ‘terpaksa’ mengimport budak-budak dari pulau-pulai karibia lainnya, yang segera menderita pada nasib yang sama. Mereka ‘jutaan penduduk pribumi karibia [yang] karenanya dengan efektifnya termusnahkan dalam hampir 1/4 abad

    “In less than the normal lifetime of a single human being, an entire culture of millions of people, thousands of years resident in their homeland, had been exterminated.” [D.Stannard, American Holocaust, Oxford University Press 1992, P.75]

    terjemahan:
    Dalam waktu kurang dari panjang umur normal seorang manusia, seluruh kebudayaan dari jutaan orang, ribuan tahun menghuni kampung halaman, telah dimusnahkan.

    Yang di atas itu hanya contoh, namun bila anda berminat untuk mempelajari lebih banyak fakta sejarahnya silakan buka link dibawah ini:

    Bagaimana?

    Anda mungkin akan menjawab dalam hati, ‘Ah..Masa iya manusia bisa sekejam itu atau benarkah agamanya yang mengajarkan itu…sumpeh mampus gw kaga percayaaa!’ atau mungkin akan berkata ‘Ah, itu sih manusia nya saja yang salah mengartikan alkitab..Kan udah jelas-jelas ALKITAB menyatakan, ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’

    Oh ya, itu benar alkitab memang menuliskan itu, TAPI coba lihat itu ketetapan keberapa?

    ‘ketetapan kedua’. Nah, yang paling utama apa?

    ‘ketetapan pertama’. Bunyinya apa?

    ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu’

    Nah, sekarang tahu ngga darimana asal muasal dan bunyi sebenarnya ketetapan pertama itu?

    ‘Coba tunjukan bagaimana bunyi aslinya’

    Bunyi selengkapnya ada di Perjanjian lama pada kitab Ulangan 6:1-23:

    Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu. Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.

    Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

    Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu. Maka apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepadamu–kota- kota yang besar dan baik, yang tidak kaudirikan; rumah-rumah, penuh berisi berbagai-bagai barang baik, yang tidak kauisi; sumur-sumur yang tidak kaugali; kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun, yang tidak kautanami–dan apabila engkau sudah makan dan menjadi kenyang, maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan. Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah.

    Janganlah kamu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa sekelilingmu, sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu di tengah-tengahmu, supaya jangan bangkit murka TUHAN, Allahmu, terhadap engkau, sehingga Ia memunahkan engkau dari muka bumi. Janganlah kamu mencobai TUHAN, Allahmu, seperti kamu mencobai Dia di Masa.

    Haruslah kamu berpegang pada perintah, peringatan dan ketetapan TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan- Nya kepadamu; haruslah engkau melakukan apa yang benar dan baik di mata TUHAN, supaya baik keadaanmu dan engkau memasuki dan menduduki negeri yang baik, yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, dengan mengusir semua musuhmu dari hadapanmu, seperti yang difirmankan TUHAN.

    Apabila di kemudian hari anakmu bertanya kepadamu: Apakah peringatan, ketetapan dan peraturan itu, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN Allah kita? maka haruslah engkau menjawab anakmu itu: Kita dahulu adalah budak Firaun di Mesir, tetapi TUHAN membawa kita keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat. TUHAN membuat tanda-tanda dan mujizat-mujizat, yang besar dan yang mencelakakan, terhadap Mesir, terhadap Firaun dan seisi rumahnya, di depan mata kita; tetapi kita dibawa-Nya keluar dari sana, supaya kita dapat dibawa-Nya masuk untuk memberikan kepada kita negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyang kita.

    TUHAN, Allah kita, memerintahkan kepada kita untuk melakukan segala ketetapan itu dan untuk takut akan TUHAN, Allah kita, supaya senantiasa baik keadaan kita dan supaya Ia membiarkan kita hidup, seperti sekarang ini. Dan kita akan menjadi benar, apabila kita melakukan segenap perintah itu dengan setia di hadapan TUHAN, Allah kita, seperti yang diperintahkan- Nya kepada kita.

    Sudah jelas?
    yang dimaksud negeri BUKAN HANYA Yerusalem, tapi semua NEGERI yang yang tidak kaudirikan‘Lho..kan yang melakukan tindakan keji seperti contoh di atas bukan cuma orang/kelompok tapi juga pemerintahan?!’

    Ketetapan Allah juga berjalan melalui tangan pemerintahan! sebagaimana di sebutkan di kitab Roma 13:1-4:

    Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya. Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.

    Pemerintah adalah alatnya, para imam gereja adalah jiwa/rohnya dengan senjata allah melawan ‘tipu muslihat iblis’ melakukan perang terhadap roh-roh jahat di udara kemanapun! Sebagaimana di sebutkan di Efesus 6:11-12:

    Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

    Sekarang anda tidak akan pernah heran mengapa, kaum Nasrani baik melalui kelompok ataupun melalui pemerintahan hobby sekali menguasai bangsa lain, menjajah, menjarah, bahkan membakar manusia2 yang mereka cap tersesat dibawah kuasa kegelapan, meng-injilinya dengan dalih melawan roh-roh jahat di udara atas nama Allah!

    Tidak lain dan tidak bukan karena MEMATUHI ketetapan pertama itu. Itulah dasar pijakan mereka

    Gold and Glory merupakan upahnya!

    Buat saya, tindakan biadab itu sangat jelas merupakan TINDAKAN IBLIS! Hanya iblis yang menyukai pertentangan, kekacauan, malapetaka, darah, darah dan darah dimana-mana!

    ya..itu adalah gospel…yang merupakan kepanjangan dari

    Ghost spell!

    Namun, paling tidak sekarang dapat kita ketahui bahwa ternyata TINDAKAN MEREKA adalah sesuai DENGAN ALKITAB!


    Ghost-spell
    Ya! Ghost spell sudah menyusup masuk jauh kedalam, Pekerjaan itu dimulai dengan dengan meminjam nubuat-nubuatan yang ada di hukum taurat untuk mendeklarasikan dirinya sebagai Anak Allah dan sekaligus mesias. Nubuatan itu memang direkayasa, bahkan itu dilakukan Yesus sendiri. Ini bukan Fitna buktinya:

    Lukas 22-35-38, Lalu Ia berkata kepada mereka: “Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?” Jawab mereka: “Suatupun tidak.” Kata-Nya kepada mereka: “Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang. Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi.” Kata mereka: “Tuhan, ini dua pedang.” Jawab-Nya: “Sudah cukup.”

    Kemudian lihat adegan ini:

    Yohanes 18:10-11 Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus. Kata Yesus kepada Petrus: “Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?” [kurang lebih serupa disebutkan di Matius 26:51, Lukas 22: 52]

    Matius 26:52 Maka kata Yesus kepadanya: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.

    Sudahkah anda lihat jelas, Sinetron ini?

    Ia memang terbukti bukan sebagai Mesias [Lihat di sini dan di sini]. Ia murni 100% seorang manusia yang mempunyai ayah biologis bernama Joseph. Ada anekdot yang menarik dengan judul Putra Si Tukang Kayu itu:

    Pada suatu hari Jesus pergi berjalan-jalan menyusuri tembok yang mengelilingi sorga. Ia mendengar suara lelaki tua memanggil-manggil dari balik tembok.

    ‘Halo … Halo?’

    ‘Halo … siapa itu?’ sahut Jesus.

    ‘Hanya orang malang, tukang kayu tua yang mecari putranya,’ sahut lelaki tua itu.

    Jantung Jesus berdegup kegirangan; iapun berseru,

    ‘Joseph?’

    Dengan kegirangan yang sama, suara dari balik sana segera menjawab, ‘Pinokio?’

    Beda dengan Pinokio si boneka kayu yang jelas-jelas bukan anak asli Joseph Gepeto, tapi Yesus 100 % adalah anak Joseph si tukang kayu. Buktinya:

    Markus 6:3,
    Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara- Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.

    Matius 13:55,
    Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara- Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?

    Gal 1:19,
    Tetapi aku tidak melihat seorangpun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus

    Yudas 1:1,
    Dari Yudas, hamba Yesus Kristus dan saudara Yakobus, kepada mereka, yang terpanggil, yang dikasihi dalam Allah Bapa, dan yang dipelihara untuk Yesus Kristus.

    Jadi dari sperma Yoseph…selain Yesus lahir pula Yokobus! Jadi, jelas sekali bahwa ia manusia 100 %, punya ayah punya ibu dan punya saudara kandung! Bukan cuma itu Yesus tercatat mempunyai keluarga sendiri yaitu dua istri dan empat anak. Para pengikutnya sering mengatakan bahwa yesus adalah manusia 100% namun Ia juga 100% Allah!

    Gelar sebagai Allah memang diberikan oleh para pengikutinya melalui suatu voting yang ketat di konsili 325 M. Sejak itu jadilah ia Allah. Berkenaan dengan ini ada satu anekdot menarik yang dikemas dalam percakapan pastor dan Rabbi:

    Seorang Pastor Katolik sedang asik bercakap-cakap dengan seorang Rabbi(Pendeta Yahudi dan kemudian percakapan itu berubah menjadi sebuah diskusi tentang deskripsi pekerjaan masing-masing dan karir di kependetaan.

    “Apa yang anda harapkan dikemudian hari dengan karir anda?”, tanya sang Rabbi.

    “Mmmmmh….saat ini, saya sedang berada pada posisi berikutnya untuk jabatan Monsignor,” jawab Pastor.

    “Ya, dan kemudian setelah itu apa?”, tanya Rabbi.

    “Ya..kedepannya saya dapat berkesempatan menjadi seorang uskup.”

    “Ya, dan lalu?”

    “Jika saya benar-benar bekerja keras dan melakukan pekerjaan dengan baik sebagai uskup, maka sangat dimungkinkan bagi saya untuk menjadi seorang uskup agung.”

    “Oke, lalu apa?”

    Mulai Jengkel, pastor itu menjawab, “dengan peruntungan dan benar-benar kerja keras, saya mungkin dapat menjadi seorang kardinal.”

    “Dan lalu?”

    Bertambah jengkel, Pastor itu menjawab, “Baik, dengan banyak dan banyak keberuntungan dan disertai dengan kerja keras yang sulit dan benar-benar, Maka jika saya berada pada tempat yang tepat dan waktu yang tepat dan memainkan permainan politik dengan pas…ada kemungkinan saya dapat terpilih sebagai Paus.”

    “Ya, dan lalu apa?”

    “Astaga…Tuhanku!!!” Teriak pastor itu, “Karir jabatan apa lagi yang kau harapkan aku untuk menjawab???…TUHAN?!!”

    Kemudian Rabbi menjawab dengan santainya, “Kenapa tidak? Salah seorang “anak-anak” kami…bisa tuh..mendapatkan jabatan itu!!”

    Kemudian dengan dalih meneguhkan hukum Taurat dan untuk Kemuliaan Allah, ajaran ini bermutasi menjadi untuk seluruh bangsa! Ya itu dilakukan Paulus, Lucunya para pengikutnya tidak mau menyadari bahwa

    1. Paulus bukan rasul yang dipilih langsung oleh Yesus!

    Dua belas Rasul Yesus dipilih bukan karena mereka yang menginginkan tapi karena Yesus yang memilih mereka

    Yudas, yang bukan Iskariot, berkata kepada-Nya: “Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” [Yohanes 14:22]

    Yesus menjawab: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” [Yoh 15:16]

    Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul [Lukas 6:13; markus 3:13]

    Ini adalah petunjuk penting, karena Yudas termasuk dari duabelas rasul yang duduk untuk Menghakimi kelak!

    “Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.” – [Injil Matius 10:2-4, Lukas 6:14-16, markus 3:16-19]

    Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. [Injil Matius 19:27-28, Lukas 22:30]


    11 Rasul mengangkat rasul lain (bukan paulus)
    Sebelum paulus terpilih ada 1 orang yang diangkat oleh mereka bersebelas sebagai pengganti Yudas! Menariknya lagi pengangkatan itu dilakukan berdasarkan adat Yahudi sebagaimana tercantum dalam kitab Mazmur, Yang terpilih menjadi rasul ke 12 adalah MATIAS/YUSTUS untuk jadi rasul ke 12 pengganti Yudas [Kisah Para Rasul 1:15-26]

    Padahal, pemilihan mereka ber-12 dilakukan sendiri oleh yesus sendiri dan ada alasan yang mendasar yaitu alasan Iman dan perogratif Yesus ketika menjawab pertanyaan Yudas yang bukan Iskariot sebagaimana yang direkam di yohanes

    Ini jelas suatu blunder dan blunder ini belum selesai, masih ada blunder yang lebih parah lagi!

    Paulus Menjadi Rasul tanpa diangkat oleh Yesus langsung dan tanpa diangkat oleh 11 rasul yang tersisa

    Paulus tiba2 masuk menjadi Rasul untuk bangsa lain. Ia adalah seorang Yahudi blasteran (bapaknya suku benyamin) berasal dari Turki (Tarsus) bernama Saulus. Ia mengaku bahwa Ia telah disambangi roh Yesus dan kemudian di angkat menjadi rasul untuk bangsa lain. Saulus tersebut dikemudian lebih dikenal dengan nama rasul Paulus. Hal Ini terjadi kurang lebih 3-6 tahun setelah meninggalnya Yesus. Kisah itu dinyatakan 3 (tiga) kali di kitab para rasul yaitu di [9:3-16; 22:6-22; 26:12-18]

    2. Benarkah KESAKSIAN PAULUS?

    Banyak juga orang yang mengucapkan kesaksian palsu terhadap Dia, tetapi kesaksian-kesaksian itu tidak sesuai yang satu dengan yang lain.“[Markus 14:56]


    Mari kita uji!

    Dikitab Kisah para rasul, terdapat kisah pertemuan dengan roh Yesus dan pengangkatannya.Di kitab ini pula kita temukan kesaksian-kesaksian yang tidak sesuai satu dengan yang lainnya:

    • 9:3-16 Dia berkata: Cahaya dari langit memancar dan mengelilingi Saulus, Ia rebah, Dia dan yang lain mendengar Suara tidak melihat seorangpun, Saulus 3 Hari tidak Makan dan Minum, Di Damsyik: Pelayan Yesus lainnya, Ananias, mendengarkan suara juga, meminta Ia mencari Saulus/Paulus di rumah Yudas dan memberikan kabar dari tuhan bahwa ia di utus untuk bangsa lain, raja-raja dan Bangsa Israel
    • 22:6-22 Dia berkata: cahaya yang menyilaukan dari langit mengelilingi saulus, Dia rebah, Dia mendengar, Yang lain tidak mendengar tapi melihat cahaya, Ia ke damsik bertemu Ananias, Ia kembali ke Yerusalem, Di bait allah Ia melihat yesus dan Di utus kepada Bangsa lain
    • 26:12-18: Dia berkata, Cahaya dari langit meliputi dia dan Teman2nya, mereka semua rebah ketanah, Hanya paulus yang mendengar, Yesus menampakan diri memberikan perintah menjadi Utusan kepada bangsa lain, Ia kemudian kedamsyik tidak dalam posisi buta, tidak bertemu Ananias

    Bagaimana mungkin pengalaman berkesan bertemu dengan Yesus! Atau pengalaman dramatis yang mengubah jalannya hidup bisa berbeda-beda satu dengan yang lainnya!

    1. Perbedaan pertama,cahaya itu mengelilingi paulus saja namun dilain pasal cahaya itu mengelilingi Ia dan semua orang
    2. Perbedaan kedua, Dia dan yang lain mendengar suara vs dilain pasal hanya dia yang mendengar suara
    3. Perbedaan ketiga, Mereka tidak melihat seorangpun vs yang lain melihat cahaya
    4. Perbedaan keempat, Yesus menampakan diri pada Saulus ditengah jalan menuju Damsyik Vs Yesus menampakan diri di Yerusalem tidak di tengah jalan menuju Damsyik
    5. Perbedaan kelima, Yesus yang menampakan diri pada Saulus di yerusalem yang memerintahkan ia menjadi rasul bangsa lain VS Ananias yang menyampaikan pesan untuk jadi rasul bangsa lain

    Bagaimana mungkin pengalaman PALING BERKESAN bisa berbeda2?

    Mungkin ada pendapat yang sampai ketelinga anda dan mengatakan bahwa apa yang dialami paulus, atau saulus pada kis 9 adalah kejadian yang paulus alami, ditulis oleh Lukas, penulis kisah para rasul. kis 22 menceritakan kesaksian paulus kepada orang2 yahudi di Yerusalem, dan kis 26 menceritakan kesaksian paulus kepada raja agripa. nah, perbedaan tentan apa yang paulus alami, dan kesaksian paulus di yerusalem dan kesaksian paulus dengan raja agripa, tentu saja bukan berarti bertolak belakang, melainkan sesuai dengan situasi dan kondisi saat itu.

    Mereka yang berpendapat itu melupakan satu hal, bahwa yang bercerita ke Lukas, ke Agripa maupun kepada pencatat lainnya adalah TETAP PAULUS!

    3. Kalau paulus adalah rasul untuk bangsa lain mengapa di KITAB WAHYU tidak tercatat ada BANGSA LAIN yang masuk SURGA?

    Frase “SEGALA BANGSA” adalah berarti orang-orang yahudi dari segala bangsa:

      Waktu itu di Yerusalem diam ORANG-ORANG YAHUDI YANG SALEH DARI SEGALA BANGSA DIBAWAH KOLONG LANGIT.[KPR 2:5]

    Dari syarat dan kondisi yang tercantum pada Matius 19:18-21; Lukas 18:20-21 dan Markus 10:19-21 maka penegasan mengenai SIAPA saja yang BERHAK mendapatkan KESELAMATAN tercantum jelas di KITAB WAHYU, sebuah kitab yang disusun oleh Yohanes di usia tuanya, tepatnya seperti yang tercantum di Wahyu 6, 7, 14 dan 20.

    Mereka yang berhak masuk surga tercantum di Wahyu 6 dengan kata ‘dimateraikan’. Terdapat 7 Materai yang dibagi-bagikan HANYA kepada surgawan, mereka yang DISELAMATKAN dengan perincian sebagai berikut:

    • Materai 1, Penunggang seekor kuda putih, yang memegang sebuah panah dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota.
    • Materai 2, Penunggang seekor kuda merah padam, kepadanya dikaruniakan sebilah pedang yang besar dan dikaruniakan kuasa untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi, sehingga mereka saling membunuh,
    • Materai 3, Penunggang seekor kuda hitam, yang memegang sebuah timbangan di tangannya.
    • Materai 4, Penunggang seekor kuda hijau kuning, yang bernama Maut dan kerajaan maut mengikutinya. Kepada mereka diberikan kuasa atas seperempat dari bumi untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan dan sampar, dan dengan binatang-binatang buas yang di bumi (Wahyu 6:1-8)
    • Materai 5, Di anugarehkan kepada jiwa-jiwa yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki. Mereka ini kemudian diberikan baju putih dan disuruh menunggu sampai genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka.(Wahyu 6:9-11), keterangan dengan bentuk yang sama disebutkan di Wahyu 20:4, Yaitu ‘jiwa-jiwa, yang telah dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus dan karena firman Allah; yang tidak menyembah binatang itu dan patungnya dan yang tidak juga menerima tandanya pada dahi dan tangan mereka; (maksudnya adalah tanda 666 sebagai mana di maksud di Wahyu 13:16)
    • Materai 6, Malaikat HANYA memberikannya untuk 12 suku israel yaitu suku yehuda, ruben, Gad, Asyer, Naftali, Manasye, Simeon, Lewi, Isakhar, Zebulon, Yusuf, Benyamin dan masing-masing suku banyaknya 12.000 orang, jadi jumlah totalnya 144.000 (Wahyu 7:4-8) dan di MATERAIKAN DI DAHI mereka .(Wahyu 7:3)
    • Materai 7, Tidak diberikan kepada siapapun lagi. (8:1)

    Dalam kitab Wahyu, Yohanes hanya melihat Materai 7 di buka (Wahyu 8:1), namun sampai dengan Wahyu 10:5-7, tidak ada kalimat-kalimat yang menyatakan materai tersebut di gunakan untuk apa dan/atau siapa. Hanya dikatakan waktunya sudah habis. Kemudian penggunaan kata materai sampai dengan habisnya kitab Wahyu, hanya muncul dua kali lagi yaitu di:

    Why 10:1-4, Dan sesudah ketujuh guruh itu selesai berbicara, aku mau menuliskannya, tetapi aku mendengar suatu suara dari sorga berkata: “Meteraikanlah(rahasiakanlah) apa yang dikatakan oleh ketujuh guruh itu dan janganlah engkau menuliskannya!”

    Why 20:1-3… Lalu melemparkannya ke dalam jurang maut, dan menutup jurang maut itu dan Malaikat memeteraikannya di atasnya, supaya jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa, sebelum berakhir masa seribu tahun; kemudian dari pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya.

    Di Wahyu 19:11-21: Pintu Sorga terbuka, ada seseorang bernama ‘Firman Allah’, (ini adalah kode nama untuk Yesus, anak Domba) dari mulutnya keluar Pedang, yang akan memukul segala bangsa, menggembalakan dengan Gadabesi dan murka Allah, yang mengakibatkan semua yang melawannya dibunuh dengan PEDANG.

    Dan pada Wahyu 20:1-3, Materai itu digunakan untuk menutup jurang maut.

    Apakah sama sekali tidak di singgung adanya bangsa-bangsa lainnya yang di materaikan di Kitab Wahyu?

    Tidak ada.

    Kalimat-kalimat yang ada adalah Setelah peristiwa pembukaan Materai ke 6 dan kemudian DIMATERAIKAN di DAHI hanya kepada Suku israel, maka Wahyu 7:9, hanya menuliskan bahwa Yohanes melihat suatu kumpulan besar orang banyak (tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa, suku kaum dan bahasa) berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba (Yesus) dengan memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Namun, sampai dengan habisnya Kitab Wahyu TIDAK ADA SATU PETUNJUK APAPUN bahwa Yohanes Melihat/Mendengar/mengetahui bahwa Sekumpulan bangsa lain dimateraikan. Pada Wahyu 7:13-17, detailnya adalah sebagai berikut:

    Yohanes melihat sekumpulan bangsa lain dengan memakai baju putih

    Tidak ada laporan Yohanes yang mengatakan bahwa sekumpulan bangsa lain dari segala bahasa dan suku lain, dimana mereka memakai baju putih adalah merupakan baju yang diberikan Allah seperti pada peristiwa jiwa-jiwa yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki (dimaterai ke 5, Wahyu 6:9-11)

    Yohanes, ditanya oleh salah seorang dari tetua itu: “Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?” (Ini adalah pertanyaan ANEH, Koq bisa seorang PENGHUNI SURGA tidak mengetahuinya!!!)

    Yohanes mengatakan Tetua yang lebih tahu., Kemudian Tetua yang sama itu berkata bahwa “”Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba. Karena itu mereka berdiri di hadapan takhta Allah dan melayani Dia siang malam di Bait Suci-Nya. Dan Ia yang duduk di atas takhta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka. Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi. Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka.”

    Setelah jawaban Tetua tersebut, sampai dengan Kitab Wahyu habis, sama sekali tidak ada keterangan mengenai keputusan allah bahwa bangsa lain juga diselamatkan! Atau boleh masuk surga (why 7:13-17)

    Tetua itu, tidak tahu siapa mereka itu namun telah berani menyatakan kepastian!

    Catatlah bahwa itu adalah pernyataan Tetua dan bukan perkataan atau janji Yesus apalagi Janji Allah. Ingat Matius 7:12 disebutkan kata Hukum Taurat, yang jelas diperuntukan untuk orang yahudi, kemudian di Matius 7:21-23: dikatakan:

    Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

    Juga di Matius 25:31-34, 41

    Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan…Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.

    Anda bisa lihat penegasannya ada di 2 pasal terakhir Kitab Wahyu, yaitu di Wahyu 21: 12-14 dinyatakan bahwa 12 gerbang surga tertulis nama 12 suku Israel dan juga tertulis 12 rasul anak Domba (Paulus dan Matias tidak termasuk 12 Rasul).

    Kemudian di Wahyu 21:24-27 disebutkan telak:

    Dan bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya dan raja-raja di bumi membawa kekayaan mereka kepadanya; dan pintu-pintu gerbangnya tidak akan ditutup pada siang hari, sebab malam tidak akan ada lagi di sana; dan kekayaan dan hormat bangsa-bangsa akan dibawa kepadanya. Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu

    Bangsa-bangsa dan yang tertulis di kitab kehidupan tersebut tertulis jelas di Pasal terakhir Kitab Wahyu yaitu Wahyu 22:23-24:

    Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya, dan mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis DI DAHI mereka. (di Wahyu 7:3, Dimateraikan di Dahi Mereka, yaitu 12 Suku Israel (7:4-8, 14-15)

    Ini merupakan pengulangan sebagaimana yang tercantum di Wahyu 14:1-5 :

    Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya. Dan aku mendengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat. Dan suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya. Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorangpun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu (Why 14:3). Mereka adalah:

    • orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka murni sama seperti perawan.
    • Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi.
    • Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu. (Why 14:4)
    • Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta; mereka tidak bercela. (Why 14:5)

    Dari keterangan di atas, maka dapat diketahui:

    Mereka yang di materaikan dengan materai ke 5 adalah orang Israel (Wahyu 14:4)!

    Orang yang tidak menikah, tidak berzina, Orang yang mengikuti kemana saja Yesus selama hidupnya, Orang yang tidak berdusta dan tercela semuanya adalah Orang Israel

    Tidak ada bangsa lain kecuali hanya bangsa Israel yang banyaknya 144.000 orang saja.

    Jadi sudah sangat jelas bahwa tidak ada GARANSI keselamatan apapun yang tertulis di Alkitab untuk Bangsa lain selain Bangsa Israel.

    4. Dan yang terakhir adalah pengakuan Paulus sendiri yang dengan cerdiknya disisipkan pada kotbahnya dihadapan bangsa BUKAN Yahudi bahwa Ia telah berdusta! di Roma 3:7

    Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?


    Anda telah di Ingatkan!



    Artikel berkaitan lainnya:


    Kisah Wafatnya dan Pesan Terakhir: Krisna, Buddha, Yesus & Muhammad


    Sri Krishna, Sang Buddha, Yesus dan Muhammad adalah para orang besar! Mereka merupakan sedikit dari Individu yang berpengaruh besar terhadap kehidupan manusia di muka bumi ini. Untuk itu artikel ini saya sajikan untuk mengenal bagaimana mereka wafat dan apa pesan/perintah di menjelang wafatnya

    Infomasi mengenai ini saya lengkapi dengan Peta dijaman mereka masing-masing. Selekasnya anda menyelesaikan artikel ini, Anda akan dapat menimbang sendiri karasteristik dari masing2 manusia basar yang pernah ada di muka bumi ini.


    Krishna

    Beliau meninggal di usia 125 tahun, 7 Bulan, 6 hari, pada jam 14:27:30 tanggal 18 Februari 3102 SM, di tepi sungai Hiran, Prabahs Patan (Gujarat). Perhitungan ini dinyatakan berdasarkan petunjuk dari kitab-kitab kuno dengan perincian: Visnu Purana dan Bhagavad Gita menyatakan Ia “meninggalkan” Dwaraka 36 tahun setelah perang Mahabharata. Matsya Purana menyatakan ketika perang Mahabharata, Ia berusia 89 tahun [The Times Of India: “Lord Krishna Lived for 125 Years“, Wednesday September 08, 2004 10:07:31 PM]:

    • Mahabharata Adiparva bab-2: Perang Kurawa-Pandawa terjadi di interval antara Dwapara Yuga – Kali Yuga. [Jadi pendapat yang mengatakan Kaliyuga mulai ketika Bima menjatuhkan Duryudana di hari ke-18 perang Kurukhsetra adalah tidak valid]
    • Vishnu Purana 4.24 dan 5.38 juga Srimad Bhagavata/Bhagavata Purana 1.18.6 menyatakan bahwa era Kaliyuga mulai bertepatan dengan wafatnya Krishna.
    • Usia Krishna saat perang kurusetra adalah 89 tahun [Yudistira yang saat Perang di kurustra berusia 91 tahun dan Krishna lebih muda 2 tahun dari Yudistira]
    • Stri Parva 11.25: Gandhari, di saat prosesi upacara penyelesaian kematian bangsa kuru setelah perang di kurusetra, menyampaikan kutukan pada Krishna bahwa 36 tahun kemudian bangsa Yadawa akan musnah, tahun ini juga yang akan menjadi akhir kehidupan Krishna.
    • Srimad Bhagavata 11.6.25: Brahma mengatakan telah 125 musim gugur berlalu sejak krishna lahir yang diucapkan di menjelang hancurnya bangsa Yadawa.

    Jadi, untuk mengetahui kapan kaliyuga/wafatnya Krishna, maka harus diketahui terlebih dahulu kapan perang di kurusetra terjadi.

    Dari 18 Parva di Mahabharata, hanya 4 Parva (ke-10, 11, 17 dan 18) yang tidak berisi petunjuk-petunjuk astronomi berupa: Posisi konstalasi bintang, bintang, Matahari, bulan, planet, lintasan komet, gerhana matahari dan/atau gerhana bulan dan posisi/lintasan relatif mereka apakah di area Utara/meninggi (rahu) atau Selatan/menurun (ketu) yang orang-orang saat itu gunakan dalam penanggalan sejak jaman dulu, misal pada sample percakapan Skanda dan Indra di Vana Parva, menunjukan observasi bergesernya bintang telah dilakukan jauh sejak 23.000 SM-an (dari lama lintasannya).

    Dalam melakukan perhitungan kapan terjadinya perang di Kurusetra, tidak semua ahli mengikuti petunjuk-petunjuk astronomi di atas. Di antara mereka, yang menggunakan petunjuk itu, beberapa akhirnya mengabaikannya, misal: posisi Shani (Saturnus) di Rohini (Aldebaran); Mangala (Mars) di Jayestha (Antares) di perang 18 hari dengan 2 gerhana kembar (gerhana bulan di Krutika dan gerhana matahari di Jayestha) yang terjadi dalam kurun waktu 13 hari. Diantara yang menghitung dengan petunjuk itu, mereka membatasi observasinya pada interval 600 SM s.d 3500SM dan tidak sebelumnya.

    Berikut di bawah ini adalah beberapa variasi tahun kapan perang Kurusetra terjadi:

    • Prof. I.N. Iyengar yakin perang tersebut terjadi tahun 1478 SM
    • Dr. S. Balakrishna yakin perang tersebut terjadi tahun 2559 SM. [Atau di sini]. Juga disampaikannya bahwa Aryabhatta menyatakan Kaliyuga di mulai pada 3102 SM [Aryabhateeya by Brahmagupta, S.Shukla,New Delhi, INSA 1976]. Kitab Surya Siddhanta [Translation of an Ancient Indian Astronomical Text. Translation by Bapudeva, Varanasi, 1860] menyatakan matahari 54 derajat dari vernal equinox di Ujjain (75deg 47minE, 23deg 15min N) untuk Kaliyuga (yang dalam kalendar Julian: 17/18 Februari 3102 SM). Varaha Mihira menyatakan 2526 tahun sebelum tahun saka (entah: Shalivahana saka/79 M atau Vikrama Saka/57 SM) [Brihat Samhita]
    • Dr. B.N. Achar yakin perang tersebut terjadi di 22 Nov – 12 Des 3067 SM [Atau di sini].
    • Dr. P.V. Holay yakin perang tersebut terjadi mulai 13 Nov 3143 SM [Atau di sini]
    • Dr. P.V.Vartak yakin perang tersebut terjadi mulai 6 Okt – 2 Nov 5561 SM [Atau di sini]

    Balakrishna (dan banyak lagi) memberikan kita petunjuk bagaimana, darimana/siapa tahun Kaliyuga: 17/18 Februari 3012 berasal. Bahkan lebih lanjutnya disebutkan pada tengah malam (17/18 Februari) dan/atau Matahari terbit (18 Februari) [“Ancient Indian Leaps into Mathematics”, B.S. Yadav, Man Mohanref, hal.90 mengutip: “Pancasiddhantika”, Varahamihira: 28.XV.20, 29 dan 25. Kemudian, untuk analisa sinkronisasi perbedaan postulat tersebut, lihat: “Critical evidence to fix the native place of Aryabhata-I”, HISTORICAL NOTES, CURRENT SCIENCE, VOL. 93, NO. 8, 25 OCTOBER 2007, hal.1184].

    Di Aryabhatiya Ch.3.10 (“Aryabhatiya“, leiden 10 Juli 1874, H. Kern), Aryabhatta menyampaikan lamanya waktu Kaliyuga yang telah berjalan hingga Ia berusia 23 tahun, ketika menyelesaikan karyanya:

      Kata di dalam kotak adalah “sasti” (“षष्टि”, enam puluh), berikut sample terjemahan:

      Sanskrit:
      षष्टि-अब्दानाम् षष्टिस् यदा व्यतीतास् त्रयस् च युग-पादास्/
      त्रि-अधिका विंशतिस् अब्दास् तदा इह मम जन्मनस् अतीतास्//

      [Roman:

      ՙṣaṣṭi-abdānām ՙṣaṣṭis yadā vyatītās trayas ca yuga-pādās

      ՙtri-adʰikā ՙviṃśatis abdās tadā iha mama janmanas atītās
      ]

      [Indonesia:
      Sekarang 60 x 60 tahun dan 3/4 yuga berlalu,

      23 tahun sejak kelahiranku]

      Sehingga,
      3600 tahun – 3101 tahun = 499 Masehi – 23 tahun = 476 masehi. Tahun ini oleh mayoritas para ahli ditetapkan sebagai tahun kehidupan Aryabhatta.

      Kemudian dari Aryabhatiya I.3:


      ka-ahas manavas ՚ḍʰa manu-yugās ՚śkʰa gatās te ca manu-yugās ՚cʰnā ca

      kalpa-ādes yuga-ʰpādās ՚ga ca guru-divasāt ca bʰāratāt pūrvam

      Terjemahan:
      14 Manu dalam 1 Kalpa dan 1 manu berisi 72 yuga.

      Sejak kamis 6 Manu dan 27 ¾ yuga berlalu dari jaman Bhaarata

      Gambar di atas ini berasal dari “The Aryabhatiya of Aryabhata”, Walter Eugeune Clark, 1930, hal.12 yang mengutip Brahmagupta bahwa yugapada yang dimaksud adalah kaliyuga. Kemudian, karena 1 yuga = 4.320.000 tahun, maka tahun berlalu sejak permulaan Yuga adalah:

      (6 x 72) x 4.320.000 + (27.75 x 4.320.000) = 1,866,240,000 + 119,880,000 = 1,986,120,000 tahun berlalu.

      Baskarachariya I juga menyampaikan tahun beliau menyelesaikan komenar “Aryabhattiyam” di Ch.I.9:


      Kalpadherabdhnirodhadhayam abdharashiritiritaha:
      khagnyadhriramarkarasavasurandhrenadhavaha: te cangkkairapi

      Terjemahan:
      Sejak dimulainya kalpa, tahun yang berlalu adalah 1986123730 tahun (kha=0 agny=3 adhri=7 rama=3 arka=12 rasa=6 vasu=8 randhra=9 indu=1), atau:

      Kalpadherabdhanirodha gatakalaha:
      khagnyadhriramarkarasavasurandhrenadhavaha: te ca

      Terjemahan:
      waktu berlalu dalam tahun, sejak berjalannya kalpa ini adalah 0, 3, 7, 3, 12, 6, 8, 9, 1 (1986123730)

      Sehingga,
      1,986,120,000 – 1,986,123,730 = 3730. Kemudian 3730 – 3101 = 629 Masehi. Para ahli modern kemudian menyatakan tahun itu sebagai tahun Bhaskaracharya menuliskan komentarnya. [Tabel III dari: Journal of Indian Philosophy (2006) 34: 143–160, “ORAL AND WRITTEN TRANSMISSION OF THE EXACT SCIENCES IN SANSKRIT”, Michio Yano, hal.151]

      Terakhir,

      Sloka dibawah ini memberikan petunjuk jelas bahwa penetapan tahun 3012 SM telah dikenal sejak jaman Aryabhata dan sebelumnya, yaitu berdasarkan tulisan Bhaskaracharya dan juga Lalla mengenai cara mengkonversi tahun Saka:

        “Tahun saka tambahkan dengan 3179 untuk mendapatkan tahun kalender matahari yang berjalan sejak dimulainya Kaliyuga” (Sisyadhivrddhida Tantra, Lalla.I.12)

      Angka 3179 [tahun 3101 SM + 78 Masehi] telah disebutkan jelas untuk mendapatkan jumlah tahun yang berlalu setelah KALIYUGA dan TAHUN SAKA (78 Masehi).

    Demikianlah perjalanan asal usul tahun 3102 SM sebagai awal jaman Kaliyuga dengan sejarah panjangnya.



    Bagaimana wafatnya Krishna dan apa pesan terakhirnya?

    Sebab awal wafatnya Krishna di sampaikan Itihasa Mahabharata, di Striparwa (bagian ke-11) dan puncak kejadian wafatnya disampaikan di Mosala parwa (bagian ke-16):

    Striparva
    Ketika dilangsungkan upacara pembakaran mayat, semua anak menantu Gandari telah menjadi janda dan menangis sedih di hadapan mayat-mayat suami yang telah tewas. Gandari juga ada di tempat itu. Para Pandawa dengan ditemani oleh Kunti dan Sri Krishna juga hadir di iringi oleh rakyat yang merasa sangat sedih karena kehilangan sanak saudara mereka. Krishna menghibur Gandari, dan berkata, ‘Mengapa Ibunda menangis? Inilah dunia Ibupun pada suatu ketika akan meninggalkan dunia ini. lalu mengapa menangis?’. Gandari menjawab, ‘Kalau saja anda tidak merencanakan hal ini maka semua anak-anak-ku akan hidup, tidak terbunuh seperti ini. Krishna menjawab, ‘Perang untuk menegakan Dharma tidak dapat dicegah. Apa yang dapat kuperbuat, aku hanya suatu alat’. Lalu Gandari berkata, ‘Paduka ini Taraka Brahma. Apabila paduka menghendaki, paduka bisa mengubah pikiran mereka tanpa perlu melakukan pertempuran’.

    Biarlah seluruh dunia melihat dan menarik pelajaran.

    Selanjutnya Gandari mengucapkan sumpah, ‘Seperti halnya anggauta keluargaku mengalami kehancuran dihadapan mataku sendiri demikianlah hendaknya anggauta keluarga paduka mengalami kehancuran dihadapan mata paduka sendiri’

    Krishna tersenyum dan menjawab, ‘Semoga demikian’. Krishna menerima sumpah itu. Ia ingin menunjukkan bahwa kekuatan moral itu mempunyai nilai dalam kehidupan dan kekuatan itu harus diakui adanya [Di atas ini versi: AnandaMarga, oleh: Srii Srii Anandamurti]

    Kutukan Gandhari menurut terjemahan dari Kisari Mohan Ganguli (Striparva, Bab ke-25):

      …”Gandhari berkata, O Krishna, baik ‘Pandawa dan Dhartarashtra, keduanya telah terbakar. keduanya terbasmi, O Janardana, mengapa engkau abaikan mereka? Engkau sangat kompenten mencegah pembantaian ini, Engkau punya sejumlah besar pengikut dan berkekuatan besar. Engkau sangat fasih berbicara, dan engkau punya kekuatan (untuk mewujudkan perdamaian). Karena dengan sengaja, O pembunuh dari Madhu, engkau acuh tak acuh terhadap pembantaian massal ini, oleh karenanya, O Senjata yang paling perkasa, engkau seharusnya menuai buah tindakan ini. Dengan kebaikan kecil yang telah aku dapatkan dari kepatuhanku melaksanakan kewajiban pada suamiku, dengan pahala itu yang begitu sulit diperoleh, aku akan mengutuk engkau, O pemilik cakram dan gada! Karena engkau telah mengabaikan para Kuru dan Pandawa sehingga saling membunuh satu sama lainnya, oleh karenanya, O Govinda, engkau akan menjadi pembunuh sanak-Mu sendiri! Pada tahun ke 36 sejak sekarang, O pembunuh dari Madhu, engkau, setelah menyebabkan pembantaian kerabatMu, teman-temanMu dan anak-anakMu, binasa dengan cara menjijikkan di padang gurun. Para wanita dari ras-Mu, kehilangan anak, sanak saudara, dan teman-teman, akan meratap dan menangis seperti para wanita dari ras Bharata ini!'”

      Vaishampayana melanjutkan, “Mendengar kata-kata ini, Vasudeva Sang Jiwa utama, kepada Gandhari, mengatakan kepadanya kata-kata ini, dengan senyum tipis,”Tidak ada di dunia, yang menyelamatkan diri, yang mampu membasmi bangsa Vrishni. Aku tau ini dengan pasti. Aku akan wujudkan. Dalam mengucapkan kutukan ini, O ini kaulmu yang sangat baik, Engkau telah membantu aku menyelesaikannya. Bangsa Vrishni tidak mampu dibunuh oleh yang lainnya, baik itu para manusia atau dewa atau Danava. Bangsa Yadawa, karenanya akan musnah oleh tangan mereka sendiri.” Setelah Ia dari ras Dasharha mengatakan ini, Pandawa menjadi terheran-heran. Dipenuhi dengan kecemasan, mereka semua menjadi hidup tersia-sia!

    Mosalaparwa
    Mosalaparwa atau Mausalaparwa mengisahkan musnahnya para Wresni, Andhaka dan Yadawa, sebuah kaum di Mathura-Dwaraka (Dwarawati) tempat Sang Kresna memerintah. Kisah ini juga menceritakan wafatnya Raja Kresna dan saudaranya, Raja Baladewa.

    Diceritakan bahwa pada saat Yudistira naik tahta, dunia telah memasuki zaman Kali Yuga atau zaman kegelapan. Beliau telah melihat tanda-tanda alam yang mengerikan, yang seolah-olah memberitahu bahwa sesuatu yang mengenaskan akan terjadi. Hal yang sama dirasakan oleh Kresna. Ia merasa bahwa kejayaan bangsanya akan berakhir, sebab ia melihat bahwa banyak pemuda Wresni, Yadawa, dan Andhaka yang telah menjadi sombong, takabur, dan senang minum minuman keras sampai mabuk.

    Pada suatu hari, Narada beserta beberapa resi berkunjung ke Dwaraka. Beberapa pemuda yang jahil merencanakan sesuatu untuk mempermainkan para resi. Mereka mendandani Samba (putera Kresna dan Jembawati) dengan busana wanita dan diarak keliling kota lalu dihadapkan kepada para resi yang mengunjungi Dwaraka. Kemudian salah satu dari mereka berkata, “Orang ini adalah permaisuri Sang Babhru yang terkenal dengan kesaktiannya. Kalian adalah para resi yang pintar dan memiliki pengetahuan tinggi. Dapatkah kalian mengetahui, apa yang akan dilahirkannya? Bayi laki-laki atau perempuan?”. Para resi yang tahu sedang dipermainkan menjadi marah dan berkata, “Orang ini adalah Sang Samba, keturunan Basudewa. Ia tidak akan melahirkan bayi laki-laki ataupun perempuan, melainkan senjata mosala yang akan memusnahkan kamu semua!” (mosala = gada)

    Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Sang Samba melahirkan gada besi dari dalam perutnya. Atas perintah Raja Ugrasena, senjata itu kemudian dihancurkan sampai menjadi serbuk. Beberapa bagian dari senjata tersebut sulit dihancurkan sehingga menyisakan sepotong besi kecil. Setelah senjata tersebut dihancurkan, serbuk dan serpihannya dibuang ke laut. Lalu Sang Baladewa dan Sang Kresna melarang orang minum arak. Legenda mengatakan bahwa serbuk-serbuk tersebut kembali ke pantai, dan dari serbuk tersebut tumbuhlah tanaman seperti rumput namun memiliki daun yang amat tajam bagaikan pedang. Potongan kecil yang sukar dihancurkan akhirnya ditelan oleh seekor ikan. Ikan tersebut ditangkap oleh nelayan lalu dijual kepada seorang pemburu. Pemburu yang membeli ikan itu menemukan potongan besi kecil dari dalam perut ikan yang dibelinya. Potongan besi itu lalu ditempa menjadi anak panah.

    Setelah senjata yang dilahirkan oleh Sang Samba dihancurkan, datanglah Batara Kala, Dewa Maut, dan ini adalah pertanda buruk. Atas saran Kresna, para Wresni, Yadawa dan Andhaka melakukan perjalanan suci menuju Prabhastirtha, dan mereka melangsungkan upacara di pinggir pantai. Di pantai, para Wresni, Andhaka dan Yadawa tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruk mereka, yaitu minum arak sampai mabuk. Dalam keadaan mabuk, Satyaki berkata, “Kertawarma, kesatria macam apa kau ini? Dalam Bharatayuddha dahulu, engkau telah membunuh para putera Dropadi, termasuk Drestadyumna dan Srikandi dalam keadaan tidur. Perbuatan macam apa yang kau lakukan?”. Ucapan tersebut disambut oleh tepuk tangan dari Pradyumna, yang artinya bahwa ia mendukung pendapat Satyaki. Kertawarma marah dan berkata, “Kau juga kejam, membunuh Burisrawa yang tak bersenjata, yang sedang meninggalkan medan laga untuk memulihkan tenaga”.

    Setelah saling melontarkan ejekan, mereka bertengkar ramai. Satyaki mengambil pedang lalu memenggal kepala Kertawarma di hadapan Kresna. Melihat hal itu, para Wresni marah lalu menyerang Satyaki. Putera Rukmini menjadi garang, kemudian membantu Satyaki. Setelah beberapa lama, kedua kesatria perkasa tersebut tewas di hadapan Kresna. Kemudian setiap orang berkelahi satu sama lain, dengan menggunakan apapun sebagai senjata, termasuk tanaman eruka yang tumbuh di sekitar tempat tersebut. Ketika dicabut, daun tanaman tersebut berubah menjadi senjata setajam pedang. Dengan memakai senjata tersebut, para keturunan Wresni, Andhaka, dan Yadu saling membunuh sesama. Tidak peduli kawan atau lawan, bahkan ayah dan anak saling bunuh. Anehnya, tak seorang pun yang berniat untuk meninggalkan tempat itu. Dengan mata kepalanya sendiri, Kresna memperhatikan dan menyaksikan rakyatnya digerakkan oleh takdir kehancuran mereka. Dengan menahan kepedihan, ia mencabut segenggam rumput eraka dan mengubahnya menjadi senjata yang dapat meledak kapan saja. Setelah putera dan kerabat-kerabatnya tewas, ia melemparkan senjata di tangannya ke arah para Wresni dan Yadawa yang sedang berkelahi. Senjata tersebut meledak dan mengakhiri riwayat mereka semua.

    Akhirnya para keturunan Wresni, Andhaka dan Yadu tewas semua di Prabhasatirtha, dan disaksikan oleh Kresna. Hanya para wanita dan beberapa kesatria yang masih hidup, seperti misalnya Babhru dan Bajra. Kresna mampu menyingkirkan kutukan brahmana yang mengakibatkan bangsanya hancur, namun ia tidak mau mengubah kutukan Gandari, Ia mengetahui bahwa tidak ada yang mampu mengalahkan bangsa Wresni, Yadawa dan Andhaka kecuali diri mereka sendiri. Bangsa itu mulai senang bermabuk-mabukan sehingga berpotensi besar mengacaukan Bharatavarsa yang sudah berdiri kokoh. Setelah menyaksikan kehancuran bangsa Wresni, Yadawa, dan Andhaka dengan mata kepalanya sendiri. Kemudian Balarama pergi ke hutan, sedangkan Kresna mengirim utusan ke kota para Kuru, untuk menempatkan wanita dan kota Dwaraka di bawah perlindungan Pandawa; Babhru disuruh untuk melindungi para wanita yang masih hidup sedangkan Daruka disuruh untuk memberi tahu para keturunan Kuru bahwa Wangsa Wresni, Andhaka, dan Yadawa telah hancur. ke hadapan Raja Yudistira di Hastinapura.

    Sri Krishna kemudian pergi ke hutan tempat dimana Balarama menunggunya. Kresna menemukan kakaknya duduk di bawah pohon besar di tepi hutan; ia duduk seperti seorang yogi. Kemudian ia melihat seekor ular besar keluar dari mulut kakaknya, yaitu naga berkepala seribu bernama Ananta, dan melayang menuju lautan yang di mana naga dan para Dewa datang berkumpul untuk bertemu dengannya.

    Dalam Bhagawatapurana dikisahkan setelah Baladewa ambil bagian dalam pertempuran yang menyebabkan kehancuran Dinasti Yadu Setelah itu Ia duduk bermeditasi di bawah pohon dan meninggalkan dunia dengan mengeluarkan ular putih besar dari mulutnya, kemudian diangkut oleh ular tersebut, yaitu Sesa.

    Setelah menyaksikan kepergian kakaknya, Kresna kemudian duduk disebuah batu dibawah pohon di Prabhasa Tirta, mengenang segala peristiwa Ia tahu bahwa sudah saatnya ia ‘kembali’. Kemudian ia memulai menutup panca indrianya melakukan yoga dengan sikap Lalita Mudra. Bagian dibawah kakinya berwarna kemerah-merahan.

    Saat itu ada seorang Vyadha (pemburu) bernama Jara, setelah seharian tidak mendapat buruan, melihat sesuatu berwarna kerah-merahan, Ia pikir, ‘Ah, akhirnya kutemukan juga buruanku’, Ia memanahnya dengan panah yang berasal dari sepotong besi yang berasal dari senjata mosala yang telah dihancurkan kemudian panah itu diberi racun. Ia memanah dan panah itu tepat mengenai benda kemerah-merahan itu. Jara, sang Pemburu segera berlari ketempat itu untuk menangkap mangsanya dan dilihatnya Shri Krishna yang berjubah kuning sedang melakukan Yoga namun dengan tubuh kebiru-biruan akibat menyebarnya racun panah itu. Jara kemudian meminta ma’af atas kesalahannya itu. Sri Kresna tersenyum dan berkata, ‘Kesalahan-kesalahan sedemikian ini jamak dilakukan manusia. Seandainya aku adalah engkau tentu akupun melakukan kesalahan itu. Kamu tidak dengan sengaja melakukannya. Jangan di pikir. Kamu tidak tahu sebelumnya aku berada di tempat ini. Kamu tidak dapat dihukum secara hukum maupun moral, Aku mengampunimu. Aku sudah menyelesaikan hidupku’.

    Ketika Daruka tiba di Hastinapura, ia segera memberitahu para keturunan Kuru bahwa keturunan Yadu di Kerajaan Dwaraka telah binasa karena perang saudara. Beberapa di antaranya masih bertahan hidup. Setelah mendengar kabar sedih tersebut, Arjuna mohon pamit demi menjenguk Basudewa (Krishna). Dengan diantar oleh Daruka, ia pergi menuju Dwaraka.

    Setibanya di Dwaraka, Arjuna mengamati bahwa kota tersebut telah sepi. Ia juga berjumpa dengan Orang-orang tua, anak-anak, janda-janda yang ditinggalkan mati oleh para suaminya di dalam peperangan, Istri-istri Krishna sejumlah 16.000 (Dalam Bhagavata Purana 10.59.33 dan Visnu Purana 5.29 disebutkan 16.100 atau di Bhagavata Purana 10.61.18, yaitu 8 istri utama + 16.100 = 16.108). Arjuna bersama para ksatria yang tersisa kemudian membawa pergi para Brahmana, Ksatria, waisya, sudra, wanita dan anak-anak Wangsa Wresni, untuk menyebarkannya di sekitar Kurukshetra. Kemudian Arjuna bertemu dengan Basudewa yang sedang lunglai. Setelah menceritakan beberapa pesan kepada Arjuna, Basudewa mangkat.

    Sesuai dengan amanat yang diberikan kepadanya, Arjuna mengajak para wanita dan beberapa kesatria untuk mengungsi ke Kurukshetra. Sebab menurut pesan terakhir dari Sri Kresna, kota Dwaraka akan disapu oleh gelombang samudra, 7 hari setelah wafatnya.

    Dalam perjalanan menuju Kurukshetra, tibalah mereka di negara 5 air dan rombongan Arjuna dihadang oleh ribuan ksatria Abhira dari negara 5 Sungai yang mengetahui kedatangan rombongan tersebut. Para ksatria abhira tersebut melihat bahwa yang mengawal hanya Arjuna, sedangkan ksatria wresni telah kehilangan energinya. Saat mereka berperang, kekuatan Arjuna tidak berfungsi seperti biasanya dan menjadi lenyap, busurnya tidak dapat direntangkan, panah-panah saktinya tidak dapat dikeluarkan. Tidak banyak yang bisa dilakukan ksatria hebat tersebut.

    Takdir kehancuran berjalan menurut aturannya, Para penyerang berhasil membawa kabur sebagian besar para wanita. Ia sadar bahwa takdir kemusnahan sedang bergerak. Akhirnya beberapa orang berhasil diselamatkan namun banyak harta dan wanita yang hilang. Arjuna menempatkan yang selamat bersama dengan sisa keturunan Kresna di kota yang baru, merekalah yang meneruskan tradisi pemujaan terhadap Hari (Krishna); Rukmini dan 7 Istri Kresna yang lainnya melakukan Sati (satya), membakar dirinya sendiri ke dalam api, dan yang lainnya menjadi pertapa atau pendeta. Di Kurukshetra, para Yadawa dipimpin oleh Bajra. Tepat Tujuh hari sesuai yang dikatakan Krishna, air lautan menyerbu dan membanjiri Dwaraka sehingga tidak ada lagi jejak-jejak yang ditinggalkan [Juga lihat di Visnu Purana, Section 5; Srimad Bhagavatam Canto 11, Chapter 30, ayat 28-50]

      Versi Buddhis: Jataka no.454, Ghaṭapaṇḍitajātakavaṇṇanā
      ..Demikian caranya mereka menaklukkan seluruh India, tiga ratus enam puluh ribukota mereka bunuh para rajanya dengan senjata cakra dan Akhirnya mereka tinggal di Dvaravati. Nama Kesepuluh bersaudara kandung itu adalah yang sulung Vāsu-deva, yang kedua Baladeva, ketiga Canda-deva, keempat Suriya-deva, kelima Aggi-deva, keenam Varuṇa-deva, ketujuh Ajjuna, kedelapan Pajjuna, kesembilan Ghata-paṇḍita, dan yang kesepuluh Aṁkura.

      Seiring dengan berjalannya waktu, mereka dikaruniai dengan putra dan putri.

      Setelah waktu yang lama berlalu, di saat ia memerintah kerajaannya, putra dari Sepuluh Saudara tersebut berpikir: “Katanya, Kaṇhadīpāyana [Seorang Pertapa sakti] memiliki mata dewa. Mari kita mengujinya.”

      Maka mereka mencari seorang pemuda dan memakaikan pakaian wanita kepadanya dengan mengikat sebuah bantal di perutnya, membuatnya kelihatan seolah-olah seperti ia sedang hamil. Kemudian mereka membawanya ke hadapan Kaṇha dan bertanya kepadanya, “Tuan, kapankah waktunya wanita ini melahirkan?”

      Petapa Itu mengetahui bahwa waktunya telah tiba bagi kehancuran Sepuluh Saudara tersebut; kemudian dengan melihat batas waktu bagi kehidupannya sendiri, ia mengetahui bahwa ia akan meninggal hari itu juga.

      Kemudian ia berkata, “Anak muda, apa hubungan pemuda ini dengan kalian?” “Jawab kami terlebih dahulu,” desak mereka.

      Ia menjawab, “Pemuda ini di hari ketujuh dari sekarang akan mengeluarkan sejenis kayu akasia. Dengan itu, ia akan menghancurkan garis keturunan dari Vāsudeva walaupun kalian mengambil batang kayu itu dan membakarnya serta membuang abunya ke dalam sungai.”

      “Ah, petapa gadungan!” kata mereka, “Seorang laki-laki tidak akan pernah dapat melahirkan anak!” dan mereka melakukan pekerjaan dengan tali dan benang tersebut, mereka membunuhnya dengan segera.

      Raja memanggil keempat pemuda tersebut dan menanyakan mengapa mereka membunuh petapa itu. Ketika mereka mendengar semuanya, mereka menjadi ketakutan. Mereka melakukan penjagaan terhadap pemuda tersebut. Dan di hari ketujuh ketika ia mengeluarkan sejenis kayu akasia dari dalam perutnya, mereka membakarnya dan membuang abunya ke dalam sungai. Abu itu terapung-apung di air sungai dan tersangkut di satu sisi dekat pintu gerbang rahasia; dari sana muncullah tanaman eraka.

      Suatu hari para raja tersebut mengusulkan agar mereka pergi bersenang-senang dan bermain-main dengan air. Maka mereka datang ke pintu gerbang rahasia tersebut, sebelumnya mereka telah menyuruh orang untuk membangun sebuah paviliun yang megah. Di dalam paviliun ini mereka makan dan minum. Kemudian dengan bercanda mereka mulai main tangan dan kaki, dan terbagi menjadi dua kelompok, yang akhirnya menjadi perkelahian.

      Salah satu dari mereka, yang tidak dapat menemukan benda yang lebih baik lagi untuk dijadikan pemukul, mengambil sehelai daun dari tanaman eraka itu, yang sewaktu dicabut langsung berubah menjadi batang kayu akasia di tangannya. Ia kemudian menggunakannya untuk memukul banyak orang. Yang lainnya pun mengikuti tindakan yang satu ini, dan benda itu sewaktu mereka mencabutnya tetap langsung berubah menjadi batang kayu akasia. Dengan kayu itu, mereka saling memukul sampai akhirnya mereka terbunuh.

      Di saat mereka ini sedang menghancurkan satu sama lain, hanya empat yang melarikan diri dengan naik ke dalam kereta kuda—Vāsudeva, Baladeva, adik perempuan mereka Putri Añjanā, dan pendeta kerajaan, yang lain semuanya hancur.

      Keempat orang tersebut melarikan diri dengan kereta itu ke hutan Kāḷamattikā. Di sana pegulat Muṭṭhika telah mengalami tumimbal lahir menjadi yakkha, seperti yang dimintanya. Ketika mengetahui kedatangan Baladeva, ia menciptakan sebuah desa di tempat itu. Kemudian dengan mengubah wujudnya menjadi seorang pegulat, ia berkeliaran di sekitar sana dan melompat- lompat sambil meneriakkan, “Siapa yang mau bertarung denganku?” dan membunyikan jari jemarinya.

      Sewaktu Baladeva melihatnya, ia berkata, “Saudaraku, saya akan mencoba satu pertarungan dengan orang ini.”

      Vāsudeva berusaha dengan segala daya upaya untuk mencegahnya melakukan hal itu, tetapi ia tidak mendengarkannya, turun dari kereta dan mendekati pegulat itu sembari membunyikan jari jemarinya juga. Pegulat itu langsung memiting kepalanya dan kemudian melahapnya seperti memakan lobak. Vāsudeva yang mengetahui bahwa ia telah mati, langsung pergi dengan adik dan pendeta tersebut, sampai matahari terbit mereka tiba di sebuah desa perbatasan.

      Ia kemudian berbaring di semak-semak pepohonan, sementara ia menyuruh adik dan petapa itu masuk ke dalam desa, mencari dan membawa makanan kepadanya. Seorang pemburu (namanya adalah Jarā, atau Usia Tua) melihat semak-semak itu bergoyang.

      “Kemungkinan besar itu adalah babi,” pikirnya.

      Ia melempar tombaknya dan itu menusuk kaki Vāsudeva. “Siapa yang telah melukaiku?” teriak Vāsudeva.

      Pemburu tersebut yang baru mengetahui bahwa ia telah melukai seseorang, langsung berusaha untuk lari karena ketakutan. Raja yang mengetahui siapa pelakunya, bangkit dan memanggil pemburu tersebut, “Paman, kemarilah, jangan takut!”

      Ketika ia kembali. “Anda siapa?” tanya Vāsudeva.

      “Namaku adalah Jāra, Tuan.” Raja berpikir, “Ah, Luka yang disebabkan oleh Usia Tua akan mengakibatkan kematian, demikian yang dikatakan pepatah kuno. Tidak diragukan lagi saya akan meninggal hari ini.”

      Kemudian ia berkata, “Jangan takut, Paman. Mari tutup lukaku ini.”

      Luka tersebut kemudian diikat dan ditutup olehnya dan raja membolehkan ia pergi. Rasa sakit yang amat sangat mulai menyerang dirinya. Ia tidak bisa memakan makanan yang dibawakan oleh kedua orang tersebut. Kemudian Vāsudeva berkata kepada mereka: “Hari ini saya akan meninggal. Kalian adalah makhluk yang lembut dan tidak akan pernah dapat mempelajari apapun untuk bertahan hidup; jadi belajar dariku tentang ilmu pengetahuan alam ini.”

      Setelah berkata demikian, ia mengajarkan ilmu pengetahuan alamnya kepada mereka dan menyuruh mereka pergi. Kemudian ia pun menemui ajalnya. Demikianlah satu per satu dari mereka meninggal, kecuali Putri Añjanā. [Note: Jataka di Khuddaka Nikaya hanya berisi syair, sedangkan narasi berasal dari atthakata]

    Yang menarik dari beberapa versi catatan kematian Krishna adalah:

    • Bangsa Yadawa terkenal tidak terkalahkan sehingga menjadi sombong, arogan kasar dan gemar mabuk-mabukan dan di sekitar hutan saat itu, justru sedang terjadi perang dashyat yang berujung musnahnya bangsa Yadawa, maka bagaimana mungkin ada seorang Pemburu yang begitu santainya tak terusik dan masih berburu?
    • Sebagai seorang pemburu rusa, tentunya ia mengerti prilaku rusa yang sangat waspada dan gampang terkejut, maka bagaimana mungkin masih terdapat rusa disekitar perang besar bangsa Yadawa tersebut?.
    • Satu kebetulan menarik lainnya adalah arti nama Jara adalah usia tua, Sehingga ada pendapat juga bahwa kematian Krishna yang di panah pemburu bernama Jara adalah sebuah metaphora? yaitu wafat karena usia tua [125 tahun]. Namun demikian, terdapat teori lain mengenai Jara, panah, kaki dan juga Krishna, yaitu
        Dalam Mahâbhârata-tâtparya-nirnaya (karangan Ananda Tirta atau Purnaprajna atau Sri Madhvâcârya), Sri Madhvâcârya (1238-1317 Masehi) menuliskan bahwa Sang Tuhan dalam misinya telah menciptakan tubuh dari energi material tempat panah tersebut menancap. Namun sang Tuhan dalam bentuk asli 4 lengan tidak pernah tersentuh panah jara, yang kelahiran sebelumnya adalah Rsi/Muni Bhrigu (Salah seorang dari Sapta rsi, anak tertua dari Brahma). Di masa lampau, Muni Bhrigu secara vulgar meletakan kakinya di dada tuhan Visnu (ketika menguji mana di antara Brahma, Vishnu dan Siva yang terbesar. Sebagai akibatnya ia terlahir kembali menjadi orang biasa, seorang pemburu bernama Jara). [Catatan kaki Srimad Bhagavatam 11.30.37 atau di sini]

    Berdasarkan kisah-kisah di atas, maka terdapat 3 alternatif pesan terakhir Krishna yaitu:

    • Kematian Krishna adalah benar karena usia tua, sehingga percakapan antara Krishna dan Jara merupakan tambahan dan bukan yang sebenarnya, maka pesan terakhir dari Krishna hanyalah kepada Arjuna untuk menyelamatkan sisa-sisa penduduk bangsa Yadawa yang tidak mati akibat perang saudara dan tenggelamnya Drawaka
    • Apabila Pemburu itu ada maka pesan terakhir krishna ada dua yaitu menenangkan Jara dari perasaan bersalah dan kepada Arjuna untuk menyelamatkan sisa2 penduduk Yadawa yang tidak mati akibat perang saudara dan tenggelamnya Drawaka
    • Menurut versi Buddhis, pesan terakhir dari Krishna adalah ilmu pengetahuan yang diajarkannya sesaat sebelum wafat.

    Klaim bukti keberadaan Dwaraka: Dwaraka city recovered, The Scientific Dating of the Mahabharat War,dan Dating the Kurukshetra War []


    Buddha

    Penetapan kapan tahun kehidupan sang Buddha salah satunya berdasarkan kapan masa pemerintahan raja Asoka dan kemudian dihitung mundur ke belakang

    Tradisi Buddhis aliran Selatan:
    “Genap 218 tahun setelah wafatnya Tathagata (= tahun ke-219), Seorang raja memerintah seluruh Jambudwipa (Tathaagatassa parinibbaanato dvinnam vassasataanam upari athaarasame vasse sakala-Jambudiipe ekarajjaabhisekam paapuni).” [Dipavamsa, VI, pp. 1, 19-20; Mahavamsa, V, p. 21; kitab komentar Vinaya Pali karya Buddhaghosa abad ke 5 M, Samantapasadika, I, pp. 41-42 (cf. Taisho, Tripitaka edisi china (ringkasan T) vol. 24, No. 1462, p. 679c)].

    Menurut Mahavamsa, kronologi Dinasti dan Raja yang memerintah mulai dari wafatnya Sang Buddha sampai dengan pemerintahan raja Asoka [“The Cambridge History of India”, hal.189 “Mahavamsa: Great Chronicle of Ceylon”, Wilhelm Geiger, hal. xlvi] adalah:

      Ajatasattu (32 tahun, Sang Buddha wafat di tahun ke-8 pemerintahannya = 24 tahun) + Udayin-Bhadda (16 tahun) + Anuruddha dan Munda (8 tahun) + Nagadasaka (24 tahun) + Shisunaga (18 tahun) + Kalasoka (28 tahun) + keturunan Kalasoka (22 tahun) + Nanda dan Keturunannya (22 tahun) + Candragupta (24 tahun) + Bindusara (28 Tahun) + Asoka dinobatkan (tahun ke-5 setelah bindusara wafat)

    Jadi total 24 + 16 + 8 + 24 + 18 + 28 + 22 + 22 + 24 + 28 + 5 = 219 tahun setelah parinibannanya sang Buddha, adalah tahun ketika Asoka menjadi raja. Asoka wafat setelah memerintah 37 tahun lamanya, sehingga 256 tahun telah berlalu sejak parinibannanya sang Budha

    Penemuan arkeologi Inskripsi-Inskripsi di atas batu tentang Devanampiya piyadasi raja Magadha, Asoka:
    terdapat sekurangnya 19 inskripsi berupa pilar batu dengan tinggi ± 12 – 15 Meter dan berat: ± 50 ton, 14 inskripsi pada batu yang besar dan beratnya bervariasi [“Asoka Maurya – His attitudes towards reformist sects of Jainas, Ajivikas and Buddhist as reflected in his Dhamma Edict?”, Bipin Shah].

    • Inskripsi maklumat batu di Maski, tahun 1915, di baris pertama, tertulis “Devanampiya asokasa“, dilanjutkan dengan kalimat, “Selama 2.5 tahun Saya sebagai umat awam…..Aku menemui (upagate)…Sangha…jambudwipa”. pada Inskripsi Bhabru/Bairat, tertulis kalimat “Piyadasi laja magadhe sangham abhivademanam” (Raja Magadha yang ramah menyampaikan hormat pada Sangha’). Kata “Piyadassi” yang merujuk pada Asoka, tercantum dalam text Dipavamsa 6.1-18. Seluruh rangkaian ini, menegaskan bahwa Inkripsi-inkripsi yang ditemukan dengan memuat kata devanampiya dan piyadasi adalah memang merujuk pada Asoka, sehingga keberadaan Asoka adalah nyata
    • Maklumat kecil batu I, yang ditemukan di 3 tempat (Brahmagiri, Rupanath dan Sahasram) terdapat tulisan angka “256”:

      Brahmagiri: Iyam cha savan(e) sav(a)p(i)te vyuthena 200 50 6
      Rupnath: V(y)uthena savane kate 200 50 6 sata vivasa ta (atau ti)
      Sahasram: Iyam (cha savane v)ivuthena duve sapamnalatisata (atau dve satpancasaratrisate?) vivutha ti 200 50 6

      Tentang arti angka 256 yang tidak berisi petunjuk apakah itu sebagai tahun, hari atau orang:

      Geiger menuliskan bahwa Buhller dan fleet menyatakan sebagai “tahun” (256 tahun berlalu sejak nirwana), F.W Thomas menyatakan sebagai “hari” (256 hari), dengan mengartikan “lati” = “ratri” = malam. Geiger (dan bisa jadi, seluruh para ahli bahasa serupa) menyatakan: Fleet dan Buhler pastinya tahu ada kata “lati” dan mereka temukan bahwa konteknya tidak tepat untuk diterjemahkan demikian (Mahavamsa, Geiger, introduction, xxvii-xxviii. Sample ahli yang juga menolak ide bahwa kata lati = ratri, misal: ”Asoka”, Mookerji Radhakumud, hal. 114-115, cat kaki 3).

      Fleet menyampaikan: Nama-nama ahli-ahli bahasa, selain Buhller yang mengartikan sebagai “256 tahun”, nama para ahli lain yang menterjemahkan sebagai “256 hari” atau “256 orang” atau “256 kali”. Ia memahami bahwa tidak ada kata “tahun” (juga tidak ada kata hari atau orang atau kali) di inkripsi-inkripsi tersebut, namun kemudian, Ia menjadi bersepakat penuh dengan Buhller, dengan alasan bahwa penulisan angkat tahun namun tidak menyebutkan kata “tahun” adalah lazim dilakukan para ahli pali ketika menuliskan tahun karya mereka, Ia mengambil contoh Pannasami (seorang ahli pali dan buddhis dari Burma, tahun 1861), dalam karyanya “Sasanavamsa” atau “Sasanavamsappadipika”, menuliskan tanggal selesai karyanya dengan kalimat, “Dvi-sate cha sahasse cha tevis-adhike gate punnayam Migasirassa nittham gata va sabbaso (Ini telah diselesaikan dalam menghormati purnama bulan Migasira, yang telah berlalu 1223) tanpa menambahkan kata “tahun” namun jelas yang dimaksudkan adalah “1223 tahun” dan bukan hari atau lainnya [“The Date of Buddha’s Death, as Determined By a Record of Asoka”, J.F. Fleet, I.C.S.(Retd.), Ph.D., C.I.E. Journal of The Royal Asiatic Society, hal. 1-26, 1904].

      Kata 256 ini menjadi bahan kontroversi menarik karena 219 (tahun penobatan) + 37 (lamanya memerintah) = 256 tahun berlalu sejak parinibannya sang Buddha

    • Kemudian, Inskripsi maklumat Asoka pada pilar batu ke-13 (girnar dan kalsi), tertulis, “Yatra Aṃtiyoko nāma Y[o]na-raja paraṃ ca tena Atiyok[e]na cature 4 rajani Turamaye nama Aṃtikini nama Maka nama Alikasudaro nama” (Disana ada Yunani, rajanya bernama Antiochos, lebih jauh lagi ada 4 raja yang bernama Ptolemy, Antigonos, Maga dan Alexander)

      Antiochos II Theos (261 – 246 SM), Ptolemy II Philadelphos (285 – 247 SM), Antigonos Gonatos (278(1)/276(2) SM – 239 SM), Maga (300 – 258/wafat sebelum 250(2)(3) SM) dan Alexander of Epirus (272 – 258/255(2) SM) atau Alexander of Corinth (252 – 244 SM)

      [(1)”The Edicts of King Asoka an English rendering“,Ven. S. Dhammika, 1994; (2) “Early Buddhist Transmission and Trade Networks: Mobility and Exchange Within and Beyond the Northwestern Borderlands of South Asia”, Jason Neelis , hal .82, cat kaki no.52; (3) Magas of Cyrene, cat kaki no.7]

      Irisan tahun kehidupan 4 raja tersebut berada pada dikisaran 260 SM s.d 256 SM. Pilar ini dinyatakan buatan tahun 256 SM (catatan kaki no.25), yaitu tahun pemerintahan Asoka ke-12 (“The Past Before Us”, Romila Thapar, hal.390, cat kaki no.14) atau ke-13 (“Early Buddhist Transmission and Trade Networks:..”, Jason Neelis, hal.82, Cat kaki no.52)

      Jadi, setelah 37 tahun memerintah, Asoka wafat di ± tahun 232 SM atau 256 tahun setelah parinibananya sang Buddha

    Purana Hindu:
    List raja dalam dinasti Shishunaga – Nanda – Maurya (Asoka, di dinasti Maurya) – Pusyamitra, menurut Bhavishya (juga melihat Visnu Purana dan Matsya Purana):

    Bhavishya Purana, Dinasti Shishunaga:
    Dinasti Shishunaga (40 tahun) + Kakavarna (Geiger dan Jacobi menyatakan kakavarna (warna gagak) dan kalasoka (asoka hitam) orang yang sama tapi beda nama: 36/26 tahun) + Ksemadharman (20/36 tahun) Ksemajit/Ksatraujas (40/24 tahun) + Bimbisara (28 tahun) + Ajatashatru (25/27) + Darsaka (22/24 tahun) + Udayin (33 tahun) + Nandiwardana (40 tahun) + Mahanandin/Mahananda (43 tahun) = 328 tahun(1) atau 321 tahun(2)

    Mulai Ajatasatru (setelah dikurangi 8 tahun saat wafatnya Buddha) s.d akhir dinasti = 155 tahun(1)/159 tahun(2)

    Dinasti Nanda:
    Mahapadma Nanda (Visnu Purana: 28 Tahun/Matsya dan Bhavishya Purana: 88 Tahun) + ke-3 anaknya (12 tahun) = 40/100 tahun. (Ada GAP 60 Tahun, Sumber Visnu Purana, lebih dekat ke versi Buddhis/Jain)

    Dinasti Maurya:
    Chandragupta (24 tahun) + Bindusara (25 tahun) + Asoka (36 tahun) + Kunala (8 Tahun) + Bandupalita (8 Tahun) + Indrapalita (10 Tahun) + Devavarmana (7 tahun) + Shatadanu (7 Tahun) + Brihadratha (12 tahun) = 137 tahun (berganti dengan dinasti Shunga, Pusyamitra, ex-jendralnya Brihadratha, memerintah 36 tahun).
    Sampai Asoka = 24+24 = 49 Tahun
    Ajatasatru – Asoka = 155/159+40/100+ 49 = 244/308 Tahun.

      Note:
      (1) “Bhavishya Purana”, B.K. Chaturvedi, hal.65
      (2) “History of Ancient India”, Rama Shankar Tripathi, hal.113.
      Tentang Darsaka,
      Bhasvishya Purana dan Chaturvedi TIDAK menyebutkan berapa lama pemerintahannya namun Chaturvedi menuliskan mulai dari Ajatasatru s.d berakhirnya dinasti = 163 tahun, sehingga Ia memerintah selama 22 tahun. Rama Shankar juga TIDAK menyebutkan lama pemerintahan Darsaka. Literature belakangan, yang menyebutkan adanya pemerintahan Darsaka adalah di Vasavadattanya-nya Bhasa (abad ke-3 M), namun tidak menyebutkan berapa lama Ia memerintah dan diambil dari purana mana. Jadi angka 24 tahun adalah hasil perkiraan para Pengarangnya. Baik literature Buddhism dan Jain, TIDAK menyatakan Darsaka memerintah setelah Ajatasatu.

    Karena di Buddhis dan Jain tidak ada nama Darsaka setelah Ajatasatru dan TIDAK semua Purana memuat nama Darsaka, juga nama dan tahun kehidupannya berasal dari literature belakangan, juga 2 litratur purana (Bhavisya/Matsya vs Vayu) untuk Mahapadma Nanda, berselisih 60 tahun, jika ini dikoreksi 22/24 tahun + 60 tahun = 82/84 tahun, maka jumlah tahun wafatnya Buddha sampai Asoka menjadi raja = 222 tahun /224 tahun. Purana juga menyatakan bahwa Asoka memerintah 36 tahun, maka total jumlah tahun berlalu hingga wafatnya Asoka adalah 258 – 260 tahun.

    Angka ini TIDAK JAUH berbeda dengan kronologis tahun versi Buddhis aliran Selatan dan juga versi inkripsi-inkripsi yang ditemukan yang menyatakan kisaran 256 tahun berlalu sejak Parinibannanya sang Buddha

    Tradisi Buddhis aliran Utara:
    Aliran Sarvaastivaada, di 2 teks Vasumitra (100-200 M), Shibabu-lun [Risalah 18 sekte] dan Buzhiyi-lun [Risalah sekte-sekte]:

    • menurut translasi Paramaartha (499-569 M): “116 TAHUN setelah wafatnya Bhagawan Buddha … Terdapat sebuah negara yang besar bernama Paataliputra yang rajanya bernama Asoka memerintah Jambudviipa” [T 49 No. 2033, hal. 20a. juga No. 2032, p. 18a]
    • menurut tripitaka versi Tiongkok, jaman dinasti Song, Yuan, Ming, dan Qing untuk Buzhiyi-lun: Penobatan Asoka menjadi raja adalah 160 TAHUN setelah wafatnya Buddha [misal: T 49, No. 2033, p. 20, note 7; Qian-long (Dinasti Qing) vol. 102, No. 14, p. 468], namun Shibabu-lun pada edisi yang sama: 116 TAHUN.

    Menurut Bhavya (abad ke-6), di kanon Tibet, Sde-pa tha-dad-par byed-pa da”n rnam-par b”sad-pa/Nikaayabheda-vibha’nga-vyaakhyaa [risalah perpecahan aliran]: 160 TAHUN di beberapa edisi kanon Tibet dan juga: 116 TAHUN di edisi-edisi lainnya.

    Contoh translasi BAREAU untuk versi Narthang (1741-42 M) dan Peking (1724 M): “160 TAHUN (lo-brgya-drug-cu, Edisi Peking Tripitaka Tibet, vol. 127, No. 5640, p. 253, lembar daun 1, baris ke-3) telah berlalu sejak parinibbana sang Buddha, pada waktu itu, ketika raja bernama Dharmaa’soka memerintah di kota bernama Kusumapura, di sana berkembang pertikaian hebat dalam sangha sebagai konsekuensi kemunculan variasi pokok-pokok kontroversi” [Andre BAREAU, “Trois traites sur les sectes bouddhiques attribues a Vasumitra, Bhavya et Vinitadeva: Deuxieme partie”, Journal asiatique 244 (1956), hal. 167-8. Translansi ke Perancis. Cf. BECHERT (1989), hal. 107-8].

    Menurut translasi Watanabe untuk versi tripitaka Tibet Derge (1744 M): 116 TAHUN. [Watanabe Zuigan, versi Tripitaka Jepang, Osaki Gakuho, No. 94 (July 1939), hal.71, note 1].

    [Diringkas dari: “A Discussion on the Determination of the Date of the Historical Buddha”, Choong, Mun-keat (Wei-keat), Journal of Indian History, Vol. LXXVI-LXXVIII, 1997-1999, March, 2004]

    Jadi,

    • Buddha meninggal, 232 +36/37 + 116 = 384/385 SM dan lahir, 384/385 + 80 = 464/465 SM, atau
    • Buddha meninggal, 232 + 36/37 + 160 = 428/429 SM dan lahir, 428/429 + 80 = 508/509 SM

    Juga terdapat sudut pandang lainnya,
    mengkaitkan kehidupan Buddha melalui Mahabharata, Purana-purana hindu dan dinasti-dinasti sejak Mahabharata, misalnya dari tulisan Stephen Knapp, “Were There Two Buddhas?“, Ia mulai dengan mengutip “Some Blunder of Indian Historical Research, P.189”, yaitu P. N Oak menyatakan bahwa Purana-purana menyampaikan kronologi para pemimpin Magadha.

    Pada saat perang Mahabharata terjadi, Somadhi (Marjari) adalah raja yang memerintah kerajaan Maghada, ia mengawali dinasti bersama 22 raja berikutnya selama 1006 tahun, kemudian diikuti 5 orang raja dari dinasti Pradyota selama 138 tahun, kemudian 10 Raja dari keluarga Shishunag selama 360 tahun. Kshemajit (memerintah 1892 – 1852 SM) adalah raja ke 4 dinasti Shishunaga hidup sejaman dengan raja Suddodana, ayah dari Sidharta Gautama. Raja ke 5 dinasti Shishunaga adalah sejama dengan raja Bimbisara, ketika Sidharta Gautama menjadi Buddha. dan wafat pada jaman raja Ajatashatru (1814-1787 SM). Jadi ia lahir di 1887 SM, Meninggal di 1807 SM

    Lebih lanjut, Dalam “The Age of Buddha, Milinda and King Amtiyoka and Yuga Purana”, Pandit Kota Venkatachalam, berdasarkan Purana-purana terutama dalam Bhagavad Purana dan Kaliyurajavruttanta, disampaikan kronologis dinasti kerajaan Maghada yang digunakan menentukan tahun kehidupan Buddha. Buddha adalah silsilah ke 23 dari dinasti Ikshvaku, hidup sejaman dengan raja Kshemajita, Bimbisara, dan Ajatashatru, Buddha berusia 72 tahun pada tahun 1814 B.C. ketika raja Ajatashatru di mahkotai. Jadi kelahiran Buddha ada di sekitar 1887 SM. dan wafatnya adalah 80 tahun kemudian yaitu 1807 SM.

    Professor K. Srinivasaraghavan dalam “Chronology of Ancient Bharat” (bag ke-4, bab 2), menyatakan bahwa tahun kehidupan Buddha seharusnya 1259 tahun setelah perang Mahabharata, jika perang terjadi di 3138 SM maka Buddha lahir di tahun 1880 SM. Juga beberapa menggunakan kalkulasi astronomi, misal: Swami Sakhyananda, menyatakan bahwa jaman Buddha berada di periode Kruttika, yaitu antara 2621-1661 SM.

      Note:
      Kronologi versi ini membingungkan, karena ADANYA GAP RIBUAN tahun antara jaman: raja Bimbisara (yang sejaman dengan Sidharta Gautama) – Candragupta (yang sejaman dengan Alexsander Agung) – Asoka , padahal dari penelurusan beberapa purana, hanya berbeda berapa ratusan tahun saja dan BUKAN ribuan tahun!

      Untuk pengakuan terhadap Buddha, maka dikalangan Purana sendiri bervariasi. Ada yang bahkan TIDAK MENYEBUTKAN keberadaannya, misal Mahabharata dan beberapa Purana lain (“The Origins of Evil in Hindu Mythology”, Wendy Doniger O’Flaherty, hal.200), juga beberapa malah TIDAK menyebutkan Buddha sebagai avatara, misal: Markandeya Purana, Vimana Purana (“Encyclopaedic Dictionary of Puranas”, Vol.1, Swami Parmeshwaranand, hal.254) ataupun tidak mencantumkannya sebagai bagian dari DASAAVATARA, misal di Vishnu Purana, Buddha diganti dengan Balarama. Untuk nama Buddha yang disebutkan dalam Bhagavata purana seperti dikutip Stephen Knapp, silakan baca juga ini

    Kemudian, dalam Reclaiming the chronology of Bharatam: Narahari Achar (July 2006), B. N. Narahari Achar, mengkalkulasi berdasarkan sumber dari Sammyuta Nikaya, Sagatha Vagga, Devaputta, 9.Candima dan 10.Suriya, merujuk adanya gerhana Bulan yang diikuti gerhana Matahari. Pada saat itu, Buddha ada di savatthi, tiga bulan menjelang wafat beliau. Berdasarkan petunjuk tersebut menghasilkan perhitungan bahwa bulan Purnama, saat Sang Buddha Wafat, jatuh pada tanggal 27 Maret 1807 SM.

    Di artikel tersebut, Professor Sengupta dikatakan juga menghitung dengan mengkaitkan adanya gerhana bulan dan matahari yang terjadi berdekatan dan Ia temukan itu terjadi juga di tahun 560 SM

    [Sebagian tulisan di atas adalah translasi dari, “A Discussion on the Determination of the Date of the Historical Buddha Choong, Mun-keat (Wei-keat)”, Journal of Indian History, Vol. LXXVI-LXXVIII, 1997-1999, March, 2004, Copyright 2004 by University of Kerala”]

      Note:
      Persoalan yang terjadi dari perhitungan astronomi menggunakan sumber Samyuta Nikaya ini (SN 2.9 dan SN 2.10) diantaranya adalah sumber Samyutta nikaya sendiri TIDAK MENYATAKAN itu sebagai konteks gerhana; TIDAK MENYATAKAN itu terjadi secara berurutan atau berdekatan dan juga TIDAK MENYATAKAN itu terjadi di sekitar 3 bulan menjelang wafatnya sang Buddha.

    Karena, pada purana-purana hindu sendiri, kita dapatkan bukti bahwa tahun kehidupan Sang Buddha TIDAK sampai RIBUAN TAHUN, kemudian, hasil koreksi pada kronologis versi purana yang hasilnya ternyata tidak jauh berbeda dengan versi Mahavamsa, juga terdapat penemuan arkeologi inkripsi-inkripsi Asoka yang berkaitan dengan 4 raja dijamannya dan terakhir telah dilakukannya uji radioaktif karbon pada situs-situs yang diduga berhubungan dengan kehidupan sang Buddha dan menunjukan hasil berada pada kisaran abad ke-6 SM (sumber: Archaeological discoveries confirm early date of Buddha’s life) maka klaim bahwa tahun kehidupan Sang Buddha ada dikisaran 1800an tahun SM, dapat kita abaikan.

    Sekarang dapat kita simpulkan bahwa wafatnya Buddha Gautama terjadi dikisaran 488 SM (256+232) dan beliau lahir dikisaran tahun 568 SM (488+80)
    ________________________________________


    Peta Jaman Buddha Gautama

    Beberapa penemuan arkeologi seperti penemuan situs Lumbini pada tahun 1896 oleh para arkeolog Nepal, penemuan situs Kapilavatthu (Kapilavastu) di Tilaurakot, Nepal pada abad ke-19, serta penemuan situs Nigrodharama yang juga berada di Nepal, memperkuat fakta bahwa kisah mengenai Pangeran Sidharta bukanlah fiksi. Ia adalah tokoh sejarah.

    Bulan Apa Sang Buddha Wafat?
    Sutta dan Vinaya TIDAK MENCANTUMKAN bahwa bulan Sang Buddha Parinibbana adalah di bulan Vesakha, sementara kitab komentar memberikan petunjuk seperti ini:

      Kira-kira 10 bulan sebelum Sang Buddha parinibbana/padam sempurna, Beliau melaksanakan masa vassa terakhir di Veluva, sebuah desa dekat Vesali. Di sana, Beliau mengalami sakit..kemudian Sang Buddha sembuh. [Kitab Komentar: Dhammapada, Bab 15, Syair 206- 208. Buddhaghosa, abad ke-5 M, pada komentar untuk Digha Nikaya dan Samyutta Nikaya: “dasamāsamattaṃ ṭhatvā parinibbāyissāmi .. samāpattivikkhambhitā vedanā dasa māse na uppajjiyeva” (sekitar 10 bulan menjelang Parinibbana .. perasaan-perasaan yang ditekan melalui pencapaiannya itu tak muncul lagi selama 10 bulan)]

    Apa itu Masa Vassa?
    Vassa adalah musim hujan di India, berasal dari kata Vassāna. Musim di India terbagi 3 (Ti-Uttu, per 4 bulan namun terkadang satu musim lebih pendek dari lainnya yaitu 3 bulan). Ti Uttu dibagi lagi menjadi 6 musim (Cha Uttu, per 2 bulan):

    • Vassāna/Musim Hujan (Jul-Nov):
      1. Musim Hujan/Vassāna (Juli-Sept): Bulan Savana/Nikkhamanīya [nikkhamati = pergi/keluar/berangkat pergi + niyata = terkendali/terkungkung] (Juli-Aug) dan Bulan Pottapada (Aug-Sept). Di India utara, reda di awal Oktober
      2. Musim Gugur/Sarada (Sept-Nov): Bulan Assayujja/Pubba Kattika [pubba = awal] (Sept-Oct) dan Bulan Kattika/Paccima Kattika [Paccima = terakhir, belakangan] (Oct-Nov)

    • Musim Salju/Hemanta (Nov-Mar):
      1. Musim Salju/Hemanta (Nov-Jan): Bulan Māgasira (Nov-Des) dan Bulan Phussa (Des-Jan). Yang terdingin adalah Desember dan Januar.
      2. Musim Dingin/Sisira (Jan-Mar): Bulan Māgha (Jan-Feb) dan Bulan Phagguṇa (Feb-Mar)

    • Musim Panas/Gimhāna (Mar-Juli):
      1. Musim Semi/Vasanta (Mar-May): Bulan Citta/Rammaka (Mar-Apr) dan Bulan Vesākha (Apr-May)
      2. Musim Panas/Gimha [Uṇha, Nidāgha = Panas] (May-Jul): Bulan Jettha (May-Jun) dan Bulan Asaḷha (Jun-Jul). Yang terpanas di utara adalah bulan May

    Kenapa melakukan Vassa?

      Ketika masa Vassa belum ditetapkan dan ketika itu Sang Buddha sedang menatap di Veluvana, Râgagaha. Para Bhikkhu sering mengadakan perjalanan selama musim dingin, hujan dan panas. Perjalanan mereka sering melalui sawah, kebun dan ladang milik para petani akibatnya timbul keluhan bahwa tumbuh-tumbuhan yang ditanam oleh petani menjadi rusak dan banyak binatang yang mati. Sehingga masyarakat mencela para bhikkhu dan membandingkan dengan pertapa-pertapa lain (Aliran Titthiya), yang menetap disuatu tempat ketika musim hujan tiba. Celaan dan kritikan dari masyarakat, disampaikan beberapa bhikkhu, kemudian beberapa bhikkhu itu menghadap Sang Buddha dan melaporkan kejadian ini

      Mendengar laporan tersebut, Sang Buddha membuat aturan, “Para Bhikkhu, saya ijinkan kalian untuk melaksanakan masa Vassa”

      ”Oh para bhikkhu ada 2 periode masa vassa. Periode ke-1 dilakukan setelah bulan purnama ke-1 di bulan juli/asalha/Asadha, jenis vassa ini disebut Purimikavassupannayika. Dan vassa jenis ke-2 dilakukan satu hari setelah bulan purnama ke-2 atau 1 bulan setelah bulan asalha [Agustus/Sravana], jenis vassa ini disebut Pacchimikkavassupanayika [Vinaya: Mahavagga 3.1-2 ]

      Note:
      Di Mahavagga 3.3 kelompok 6 bhikku (chabbaggiya Bhikkhu = grup enam bhikkhu, yang belum mencapai kesucian, antagonis, tak kenal lelah sebagai pengacau di seluruh Vinaya-Pitaka) bepergian di musim Vassa atau tidak mau tinggal di musim vassa, maka muncul aturan larangan pergi di musim Vassa selama 3 bulan, dengan pengecualian tertentu)

      Sejak tahun pertama kebuddhaan, beliau konstan bervassa, demikian pula para murid-muridnya yang menekuni disiplin moralitas, pengendalian indriya dan perhatian karena salah satu praktek dasar moralitas yang dijalankan mayoritas petapa dan brahmana dari berbagai kalangan ajaran di jaman itu adalah menghindari merusak benih dan tanaman, sehingga itu adalah pelanggaran praktek pertapaan. Setelah tahun ke-20, murid-muridnya semakin banyak, muncul pelanggaran-pelanggaran, sehingga ditetapkanlah berbagai aturan dan disiplin berikut sangsi ringan sampai berat jika melanggar

      Perhitungan kalender Buddhis mengikuti perhitungan Luni solar (bulan dan matahari), biasanya jatuh pada hari setelah bulan purnama di bulan ke-7. Akhir dari vassa disebut pavarana (Bhikkhu mengundan rekannya untuk mengakhiri masa Vassa), dilanjutkan dengan hari kathina, hari yang diselenggarakan umat awam Buddhis untuk memberikan persembahan perlengkapan untuk para bhikkhu (jubah, obat2an, makanan, tempat tinggal). Kathina itu dapat berlangsung selama satu bulan antara bulan Assayuja-Kattika (Oktober-November). Setelah masa pavarana usai, para bhikkhu bisa melakukan pengembaraan kembali seperti biasa

    Informasi di atas memberitahukan kita bahwa jika musim Vassa jatuh di bulan Juli/Agustus maka 10 bulan berikutnya adalah bulan April/May, Bulan Vesakha

    Beberapa Penyakit Yang Diderita Sang Buddha
    Sekurangnya di paruh ke-2 pencerahan (di atas tahun ke-20), sang Buddha terkena beberapa penyakit, di antaranya:

    • Di Rajagaha: terkena sembelit (Vinaya: Civara)
    • Di Kapilavatu, di Nalaka/Kosala. Di Pava/Malla: menderita sakit punggung (Thera Apadana no.292: piṭṭhidukkhaṃ dan MN 53/SN 35.243; AN 10.67,68; DN 33)
    • Di perbatasan antara Kosala-Kapilavatthu terkena sakit kepala kronis (Thera Apadana no.292: sīsadukkhaṃ) karena 3x berdiri di bawah pohon yang tidak rindang untuk menunggu raja Kosala Vidudabha dan pasukannya agar membatalkan niatnya menghancurkan Kapilavatthu
    • di Veluva/Vesali dan Pava/Malla: dilanda sakit keras dengan rasa sakit menusuk terus menerus yang sangat mematikan [DN 16/Maha Parinibbana sutta, Ud 8.5/Cunda Sutta, SN 47.9] untuk di Pava disebutkan area yang sakit: lohitapakkhandikā (antara dada-abdomen memerah)

    Tahun Terakhir Sang Buddha
    DN 16/Maha Parinibbana Sutta [Juga di: SN 47.9/Gilāna Sutta] memberikan informasi bahwa Sang Buddha bervassa terakhir di Veluva (sekitar Vesali) dan menderita sakit:

      Setelah Sang Bhagava tinggal lama di taman Ambapali, beliau berkata kepada Ananda: “Ananda, marilah kita pergi ke desa Beluva.” “Baiklah, bhante,” jawab Ananda. Demikianlah, Sang Bhagava bersama sejumlah besar bhikkhu tinggal di desa Beluva.

      22. Ketika itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Sekarang pergilah, para bhikkhu, dan carilah tempat mana saja di sekitar Vesali ini di mana kalian dapat diterima oleh para kenalan dan sahabat dan tinggallah di sana selama musim hujan ini. Aku akan vassa di tempat ini di dusun Beluva.” “Baiklah, bhante,” kata para bhikkhu, dan mereka melakukan demikian, dan Sang Bhagavā menjalani musim hujan di Beluva.

      23. Atha kho bhagavā vassūpagatassa (Dan Sang Bhagava selama menjalani musim hujan) kharo ābādho uppajji (dilanda sakit keras), bāḷhā vedanā vattanti māraṇantikā (dengan rasa sakit menusuk/terus menerus yang sangat mematikan). Tā sudaṃ bhagavā sato sampajāno adhivāsesi avihaññamāno (namun Sang Bhagava dengan mengetahui sepenuhnya dalam perhatian menerimanya tanpa mengeluh)

      Kemudian terjadi pada Sang Bhagava: Tidak tepat bagiku tanpa memberitahukan pengikutku dan tanpa memberikan nasehat kepada bhikkhuSangha untuk padam sempurna. Aku harus mengerahkan upaya menundukan penyakit ini yang mengarahkan pada berlanjutnya kehidupan. Demikianlah Sang Bhagava mengerahkan upaya menundukan penyakit ini yang mengarahkan pada berlanjutnya kehidupan. Penyakit sang Bhagavapun mereda …

      … Ananda, Aku sekarang ini, jiṇṇo vuḍḍho mahallako (menua semakin rapuh) addhagato vayo anuppatto(menua menjadi usang) asītiko me vayo vattati (Aku hampir mencapai 80 tahun). Seyyathāpi, ānanda, jajjarasakaṭaṃveṭhamissakena yāpeti (Ananda, bagai sebuah kereta tua yang dapat jalan dengan diikat), evameva kho, ānanda, veṭhamissakena maññe tathāgatassa kāyoyāpeti (demikian kira-kira tubuh Sang Tathāgata dapat hidup dengan disokong). Ananda, Hanya ketika Sang Tathāgata tidak memperhatikan gambaran-gambaran dan dengan lenyapnya perasaan-perasaan tertentu, pikiran berada terpusat tanpa gambaran, maka Ananda, ketika itulah tubuh Sang Tathāgata dalam keadaan baik

      26. Oleh karenanya, Ānanda, Jadikan dirimu sebagai pulau, menjadikan dirimu sebagai pelindung, tidak dengan perlindungan lain, dengan Dhamma sebagai pulau, dengan Dhamma sebagai pelindung, tidak dengan perlindungan lain [+ melakukan 4 landasan perhatian] [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

    Seusai musim vassa, beliau masih menetap disekitar Vesali, yaitu diantaranya yaitu di Kūṭāgārasālā, Mahavana:

      Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Vesālī di kūṭā¬gāra¬sā, mahāvana. Kemudian, pada suatu pagi, Sang Bhagavā merapikan jubah dan, membawa mangkuk dan jubahNya, memasuki Vesālī untuk menerima dana makanan. Ketika Beliau telah berjalan menerima dana makanan di Vesālī dan telah kembali dari perjalanan itu, setelah makan Beliau berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Bawalah alas duduk, Ānanda. Mari kita pergi ke cetiya Cāpāla .. “

      … Sang Bhagava berkata kepada Mara papima: “Pāpima, jangan kau menyusahkan dirimu. Saat parinibbana Sang Tathagata belum tiba, tiga bulan lagi Sang Tathagata akan Parinibbana” [Udana 6.1, SN 51.10 dan AN 8.70]

    Setelah menetap beberapa lama di Kūṭāgārasālā, Mahavana, kemudian beliau pergi ke cetiya/kuil Capala, Vesali dan disana beliau bertemu Mara yang memohonnya agar Parinibbana saat dan hari itu juga, namun beliau menolaknya karena belum waktunya, kemudian menetapkan sendiri kapan beliau akan parinibbana:

      … Kemudian Sang Bhagavā, setelah bangun pagi, merapikan jubah, mengambil jubah dan mangkukNya, dan memasuki Vesālī untuk menerima dana makanan. Setelah makan sekembalinya dari menerima dana makanan, Beliau berkata kepada Yang Mulia Ānanda:

      “Bawa alas duduk, Ānanda. Kita akan pergi ke cetiya Cāpāla … Segera setelah Ānanda pergi, māro pāpimā (Māra penggoda) mendatangi Sang Bhagavā, berdiri di satu sisi, dan berkata: ‘Bhagavā, sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir. Karena Bhagavā pernah berkata:

      “pāpima, Aku tak akan mengakhiri hidupku, sebelum para [bhikkhu, bhikkhuni, Upasaka/umat awam pria dan Upasika/umat awam wanita] menjadi siswa yang sempurna, terlatih, terampil, menguasai Dhamma, terlatih dalam keselarasan dengan Dhamma, terlatih dengan baik dan berjalan di jalan Dhamma, yang telah lulus dari apa yang mereka terima dari Guru mereka, mengajarkan, menyatakan, mengukuhkan, membabarkan, menganalisa, menjelaskan; hingga mereka mampu menggunakan Dhamma untuk membantah ajaran-ajaran salah yang telah muncul, dan mengajarkan Dhamma yang memiliki hasil yang menakjubkan.

      ‘Dan sekarang, Bhagavā telah memiliki para [para bhikkhu, bhikkhuni, Upasaka/umat awam pria dan Upasika/umat awam wanita] menjadi siswa yang sempurna, terlatih, …

      Sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang Jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir

      Dan Sang Bhagavā menjawab: “pāpima, Aku tidak akan mencapai Nibbāna akhir sampai kehidupan suci telah mantap dan berkembang, menyebar, dikenal luas, diajarkan baik di antara para deva dan manusia di mana-mana.”

      Dan semua ini telah terjadi. kehidupan suci telah mantap dan berkembang…

      Sudilah Yang Terberkahi sekarang mencapai Nibbāna akhir, sudilah Yang Sempurna menempuh Sang Jalan sekarang mencapai Nibbāna akhir. Sekarang adalah waktunya bagi Sang Bhagavā untuk mencapai Nibbāna akhir.’

      9. Sang Bhagava berkata kepada Mara papima: “Pāpima, jangan kau menyusahkan dirimu. Saat parinibbana Sang Tathagata belum tiba, tiṇṇaṃ māsānaṃ accayena (tiga bulan lagi) Sang Tathagata akan Parinibbana

    Setelah itu, Sang Buddha dan rombongan para bhikkhunya melanjutkan perjalanan ke beberapa tempat dan menetap selama waktu yang beliau inginkan:

      Cetiya Capala … Ananda, marilah kita pergi ke Kutagara Sala di Mahavana … pagi hari pergi ke Vesali … Beliau memandang Vesali dengan pandangan sebagai gajah dan berkata kepada Ananda : “Ananda inilah yang terakhir kalinya Sang Tathagata meninjau Vesali. Marilah Ananda kita pergi ke Bhadagama” … Setelah Sang Bhagava cukup lama berada di Bhadagama, … ke Hattigama … ke Jambagama … ke Bhoganagara … ke Pava … Demikian Sang Bhagava tinggal di Pava bersama sejumlah besar bhikkhu dan tinggal di Ambavana milik Cunda, pandai besi.. [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

    Tidak diketahui berapa lama beliau menetap di Ambavana, Pava, namun di hari terakhir dari batas 3 Bulan, masih ada di Pava dan hari itu ke Kusinara dan Parinibbana di sana

    Jarak Tempuh 3 bulan Terakhir
    Rajagaha – Kusinara (25 Yojana);
    Rajagaha – Sungai Ganga (5 Yojana); Sungai Ganga – Vesali (3 Yojana). Total Rajagaha – Vesali (8 Yojana), sehingga Vesali – Kusinara (17 Yojanna) [atau versi Xuangsang: 19 Yojana].
    Jarak Pava – Kusinara (3 Gavuta. Di mana 1 Yojana = 4 Gavuta, jadi 3 Gavuta = ¾ Yojana atau 15 Km/9.3 Mil), sehingga Vesali – Pava (16 ¼ Yojana/18 ¼ Yojana)

    Perjalanan ini terjadi dalam 3 bulan terahir, yaitu mulai dari cetiya Capala. Menurut kitab komentar Sang Buddha dan para bhikkhu biasanya berjalan 1 yojana/hari, jika Vesali-Pava ditempuh tanpa menetap akan tiba di hari ke-17/19 namun di sutta juga dikatakan bahwa beliau menetap di tempat-tempat yang beliau singgahi, dengan lama waktu, “yathābhirantaṃ (selama yang Beliau inginkan)”, sehingga tidak pasti lama waktunya.

    Bulan apa Parinibbana?
    Oleh karena Sutta dan Vinaya tidak menyatakan bulan Parinibbananya sang Buddha, maka terdapat beberapa variasi pendapat mengenai bulannya.

    1. Xuansang, seorang Biksu China abad ke-7 Masehi mencatat bahwa aliran Sarvastivada merayakan Parinibbana sang Buddha pada hari ke-8, minggu ke-2, di bulan Kattika (Oct-Nov). Pendapat ini beranggapan bahwa sang Buddha sakit di awal musim hujan dan sembuh tak lama kemudian, kemudian MASIH DI AWAL musim hujan, Sang Buddha pergi ke cetiya Capala (sutta TIDAK ADA menyebutkan ini terjadi di musim hujan), 3 bulan kemudian, beberapa hari setelah musim hujan berakhir, yaitu di buan Kattika, sang Buddha Parinibbana.
    2. Sang Buddha wafat 3 bulan setelah musim vassa usai, yaitu di bulan Magha (Jan-Feb). Pendapat ini beranggapan bahwa segera SETELAH masa vassa USAI, yaitu di bulan Kattika, sang Buddha pergi ke cetiya Capala (sutta juga TIDAK ADA menyebutkan ini terjadi di bulan Kattika), 3 bulan setelah bulan Kattika, yaitu bulan Magha, sang Buddha Parinibbana. Sample tradisi Mahayana Jepang, yaitu Nehan-e, di 15 Februari 468 SM (alasan penetapan tanggal ini bervariasi)
    3. Pendapat tradisional: Sang Buddha parinibbana 9 atau 10 bulan sejak dari permulaan vassa di Veluva, yaitu di bulan Vesakha (Apr-May). Pendapat ini tercantum dalam: Mahavamsa 3.2 (Buddha Parinibbana di bulan Vesakha). Mahavamsa 35.7 (Raja Vasabha/67 M – 111 M mengadakan 44x Festival Vesakha), Dipavamsa 1.24 dan 5.4 (Konsili ke-1 diadakan di bulan ke-2 musim Vassa, 4 bulan setelah Parinibbananya sang Buddha) juga Buddhaghosa dalam beberapa kitab komentarnya, (di antaranya dengan kalimat 10 bulan sebelum parinibbana bervasa di Beluva) dan lain sebagainya

    Bulan mana yang benar?

    Pertama-tama,
    VInaya telah menetapkan: TIDAK BEPERGIAN selama musim Vassa [Vinaya, Mahavagga 3.1-selesai]. Oleh karenanya, perjalanan sang Buddha dan rombongan para bhikkhunya, TIDAK DAPAT dilakukan selama musim hujan, di samping ini akan mengundang celaan masyarakat dan para petapa aliran lain, juga menjadi TIDAK KONSISTEN dengan aturan yang ditetapkan sang Buddha sendiri

    Sutta menyatakan di saat sang Buddha parinibbananya, pohon sala berbunga DILUAR MUSIMNYA

      ..pergi ke hutan Sala di daerah suku Malla, dekat Kusinara.. Setelah tiba, Sang Bhagava berkata kepada Ananda: “Ananda, tolong sediakan tempat berbaring di antara pohon-pohon Sala kembar itu, saya ingin berbaring.”…Sang Bhagava membaring diri pada sisi kanan dengan sikap bagaikan singa, meletakkan salah satu kakinya pada kakinya yang lain..Pada saat itu tiba-tiba dua pohon Sala kembar itu berbunga walaupun BUKAN PADA MUSIMNYA untuk berbunga. Bunga-bunga itu jatuh bertaburan di atas tubuh Sang Tathagata … Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ananda: “Ananda, pohon Sala kembar ini berbunga semerbak, meskipun sekarang BUKAN MUSIMNYA BERBUNGA [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

      Pohon sala (Shorea robusta) mulai berbunga di MUSIM HUJAN [Juli – November] (Paradox of leaf phenology: Shorea robusta is a semi-evergreen species in tropical dry deciduous forests in India, hal, 1822). Pohon Sala sering keliru dianggap sebagai cannonball tree [termasuk kelompok Couroupita guianensis. Sering disebut Shiva linga dan Naga lingam. Pohon canonball mulai berbunga pada pertengahan musim panas (May-Juli) – sebelum musim hujan [Juli-Agustus], namun juga dikatakan pohon ini berbunga hampir di sepanjang tahun]

    Dengan informasi ini, jika parnibanna terjadi beberapa hari setelah musim hujan usai TIDAK KONSISTEN dengan informasi sutta. Disamping itu, sutta juga TIDAK MENYEBUTKAN adanya pelaksaaan Kathina yang dilakukan penduduk Vesali. Ini karena sang Buddha MASIH MENETAP SEKIAN LAMA di sekitar Vesali walaupun musim hujan telah usai, yaitu di kūṭāgārasālā, Mahavana dan setelahnya baru beliau dan rombongan pergi ke cetiya Capala:

      Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Vesālī di Kūṭā¬gāra¬sā, Mahāvana. Kemudian, pada suatu pagi, Sang Bhagavā merapikan jubah dan, membawa mangkuk dan jubahNya, memasuki Vesālī untuk menerima dana makanan. Ketika Beliau telah berjalan menerima dana makanan di Vesālī dan telah kembali dari perjalanan itu, setelah makan Beliau berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Bawalah alas duduk, Ānanda. Mari kita pergi ke cetiya Cāpāla .. “

      … Sang Bhagava berkata kepada Mara papima: “Pāpima, jangan kau menyusahkan dirimu. Saat parinibbana Sang Tathagata belum tiba, tiga bulan lagi Sang Tathagata akan Parinibbana” [Udana 6.1, SN 51.10 dan AN 8.70]

    Berdasarkan beberapa alasan ini, maka pendapat sang Buddha wafat di bulan Kattika adalah TIDAK TEPAT

    Berapa lama sang Buddha di Kūṭāgārasālā, Mahavana sebelum ke cetiya Capala?
    Walaupun Sutta TIDAK MENYEBUTKAN kata, “yathābhirantaṃ (selama yang Beliau inginkan)” namun hanya menggunakan kata “viharati” (menetap) ketika berada di Kūṭāgārasālā, Mahavana namun lamanya waktu menetap dapat diketahui karena sutta juga memberikan indikasi jelas bahwa saat sang Buddha parinibbana adalah saat MUSIM PANAS:

    Ke-1,
    Di hari terakhir, dalam perjalanan dari Pava ke Kusinara, Sang Bhagava berhenti di bawah sebatang pohon. Beliau kehausan (pipāsito) dan meminta Ananda untuk mengambil air di sungai agar dapat beliau minum

      Sang Buddha:
      “Ananda tolonglah bawakan aku sedikit air, aku haus dan ingin minum.”

      Ananda:
      “Bhante, baru saja sejumlah 500 pedati telah menyeberangi cakkacchinna udaka paritta/nadī cakkacchinnā parittā (aliran air yang dangkal/sungai dengan air yang sedikit), dan roda-rodanya telah mengeruhkan air sungai ini. Sebaiknya kita pergi ke sungai Kakutha yang tidak jauh dari sini. Air sungai itu sangat jernih, sejuk dan bening. Sungai itu mudah dicapai dan letaknya sangat baik. Di sana bhante dapat menghilangkan rasa haus dan menyegarkan tubuh

    Sungai dengan air yang sedikit hingga dapat diseberangi rombongan pedati sangat wajar terjadi di musim panas, bukan?

    Ke-2,
    Sang Buddha mandi 2x di sungai Kakhuda:

      .. Kemudian Sang Bhagava pergi ke sungai Kakuttha bersama dengan sekumpulan para bhikkhu. Setelah tiba di tepi sungai itu, Sang Bhagava mandi. Setelah Sang Bhagava mandi, Beliau pergi ke Ambavana. Di tempat ini Beliau berkata kepada Cundaka: “Cundaka tolonglah lipat jubah luarku, lipatlah dalam empat lipatan lalu letakkan di bawah tubuhku. Aku merasa lelah dan ingin beristirahat sebentar.”… Kemudian setelah bangun, Sang Buddha pergi ke sungai Kakuttha yang airnya jernih sejuk menyegarkan. Beliau mandi untuk menyegarkan badannya yang lelah.. [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

    Mandi sampai 2x sangat wajar jika terjadi di hari yang sangat panas, di musim panas, bukan?

    Ke-3,
    Bhikkhu Upavana mengipasi Sang Buddha

      Pada waktu itu Upavana sedang di hadapan Sang Bhagava, sambil mengipasi beliau.. [DN 16/Maha Parinibbana Sutta]

    Mengipasi adalah kegiatan yang wajar terjadi di hari yang sangat panas, di musim panas, bukan?

    Ke-4,
    Di 1 minggu setelah wafatnya sang Buddha,

      Pada saat itu seluruh Kusinara juga tumpukan sampah, tertutup bunga-bunga pohon koral (mandārava-puppha) hingga setinggi lutut.” [DN 16] dan: “Saat itu seorang Ājīvaka (petapa telanjang) yang tengah memegang bunga pohon-koral berjalan dari Kusinārā menuju Pava. YM Kassapa melihatnya dari jauh dan ketika telah mendekat, beliau berkata kepadanya: ‘Sahabat, apakah engkau mengenal guru kami?’ ‘Ya, sahabat, aku mengenal Beliau. Hari ini adalah seminggu setelah Petapa Gotama Parinibbana. Oleh karenanya, Aku menggenggam bunga pohon-koral ini.’” [DN 16 dan Cullavaga Vinaya]

    Pohon koral berbunga di bulan Maret-April [Erythrina variegata, Indian coral tree; “A Manual of Gardening for Western India”. 2nd ed., hal.68, “Floriculture in India”. hal.216 dan “FORTY COMMON INDIAN TREES and How to Know Them”, hal.3]. Bulan Vesakha (Diawali dan diakhiri bulan mati) adalah di April-May.

    Berdasarkan beberapa alasan ini, maka pendapat sang Buddha wafat di bulan Magha adalah TIDAK TEPAT, sehingga pendapat bahwa sang Buddha parinibbana di musim panas, di bulan Vesakha (April-May) sangat wajar untuk diterima.

    Makanan Terakhir Sang Buddha: Sūkara-maddava
    Salah satu kegiatan yang dilakukan sang Buddha pada hari terakhir sebelum parinibbana adalah menerima dana makanan terakhir. Kegiatan ini merupakan tradisi yang dilakukan para Buddha masa lalu maupun di masa depan sebelum parinibbana:

      13. Setelah Sang Bhagava lama berdiam di Bhoganagara, beliau berkata kepada Ananda : “Ananda, marilah kita pergi ke Pava.” “Baiklah, bhante,” jawab Ananda. Demikian Sang Bhagava tinggal di Pava bersama sejumlah besar bhikkhu dan tinggal di Ambavana milik Cunda, pandai besi.

      14. Cunda pandai-besi, setelah mengetahui bahwa Sang Bhagava telah tiba lalu berkata: “Sang Bhagava, telah tiba di Pava dan berdiam di Ambavana milikku.” Cunda lalu menghadap Sang Bhagava, sesudah memberi hormat dengan khidmat kepada beliau, kemudian duduklah ia pada salah satu sisi. Sang Bhagava mengajarkan Cunda, pandai-besi, tentang dhamma yang telah membangkitkan semangatnya dan menyebabkan hatinya sangat gembira.

      15. Kemudian Cunda berkata kepada Sang Bhagava: “Dapatkah kiranya Sang Bhagava menerima undangan kami untuk makan esok pagi bersama dengan para bhikkhu?” Sang Buddha bersikap diam. Dengan sikapnya yang diam itu berarti Sang Bhagava menyetujui permohonan Cunda.

      16. Karena telah yakin akan persetujuan Sang Bhagava itu. Maka Cunda, pandai-besi, berdiri dari tempat duduknya. Menghormat dengan khidmat kepada Sang Bhagava lalu mengundurkan diri meninggalkan beliau.

      17. Cunda pandai-besi, sejak semalam telah membuat makanan yang keras serta yang lunak dan makanan yang terdiri dari Sūkara-maddava. Kemudian ia memberitahukan kepada kepada Sang Bhagava: “Bhante, silahkan. Makanan telah siap.”

      18. Pada waktu pagi Sang Bhagava menyiapkan diri, membawa patta dan jubah, pergi dengan para bhikkhu ke rumah Cunda. Di sana beliau duduk di tempat yang telah disediakan, dan berkata kepada Cunda: “Hidangan Sūkara-maddava yang telah saudara sediakan, hidangkanlah itu untukku. Sedangkan makanan lain yang keras dan lunak, saudara dapat hidangkan kepada para bhikkhu.”

      “Baiklah, bhante,” jawab Cunda.

      Sūkara-maddava yang telah disediakannya, dihidangkannya untuk Sang Bhagava, sedangkan makanan keras dan lunak lainnya dihidangkannya kepada para bhikkhu [Mahaparinibbana Sutta]

    Apa arti Sūkara-maddava?
    Kata “Sūkara-Maddava” muncul di: DN 16/Mahaparinibbana Sutta, Ud 8.5/Cunda Sutta dan juga Milinda Panha. Kitab komentar menunjukan bahwa dikisaran abad ke-5 M, arti kata tersebut sudah bervariasi yaitu: daging, nasi campur, bambu, sejenis rasa, teknik membuat senang dan jamur:

      Sūkaramaddava adalah daging yang telah tersedia, yang tidak terlalu muda dan tua dari sebuah babi/kepala babi (Sūkaramaddavanti nātitaruṇassa nātijiṇṇassa ekajeṭṭhakasūkarassa pavattamaṃsaṃ), empuk (mudu) dan lembut/lentur adanya (Taṃ kira mudu ceva siniddhañca hoti), disiapkan dan dimasak dengan baik (taṃ paṭiyādāpetvā sādhukaṃ pacāpetvāti attho). Ada yang mengatakan ‘Sūkaramaddava adalah nasi lembut yang diproses dengan kuah campuran lima produk dari sapi, ini semacam nama sebuah masakan’ (Eke bhaṇanti – ‘sūkaramaddavanti pana muduodanassa pañcagorasayūsapācanavidhānassa nāmetaṃ, yathā gavapānaṃ nāma pākanāma’’nti). Lainnya mengatakan ‘Sūkaramaddava adalah nama teknik (vidhi) untuk membuat senang (rasāyana). Jadi, didatangkan ahli pembuat senang (guru rasāyana), yaitu Cunda, ‘agar membuat senang sehingga Parinibanna Sang Bhagawa tidak jadi’ (Keci bhaṇanti – ‘sūkaramaddavaṃ nāma rasāyanavidhi, taṃ pana rasāyanasatthe āgacchati, taṃ cundena – ‘bhagavato parinibbānaṃ na bhaveyyā’ti rasāyanaṃ paṭiyatta’’nti). Di sana para deva empat benua besar (mahādīpa) dan dua ribu pengiring memasukkan nutrisi (oja) (Tattha pana dvisahassadīpaparivāresu catūsu mahādīpesu devatā ojaṃ pakkhipiṃsu.) [Mahāparinibbānasuttavaṇṇanā: Kammāraputtacundavatthuvaṇṇanā]

      Sukara maddava adalah bagian yang lunak dari daging babi yang sudah tersedia (Sūkaramaddavanti sūkarassa mudusiniddhaṃ pavattamaṃsa) seperti kata Maha-atthakata (mahāaṭṭhakathāyaṃ vuttaṃ). yang lain..katakan (Keci pana..vadanti) sukara maddava bukanlah daging babi, batang bambu yang telah diinjak-injak babi (sūkaramaddavanti na sūkaramaṃsaṃ, sūkarehi madditavaṃsakaḷīro). lainnya (Aññe) Jamur payung yang tumbuh dari gemburan tanah injakan babi (sūkarehi madditappadese jātaṃ ahichattaka), lainnya lagi..katakan (Apare pana..bhaṇiṃsu) Sukara maddava adalah nama suatu rasa (sūkaramaddavaṃ nāma ekaṃ rasāyana) [komentar dari Maha-atthakata (Dhammapala, 5 M) yang dikutip dalam Udāna-aṭṭhakathā, Pāṭaligāmiyavaggo: Cundasuttavaṇṇanā]

    Menurut ahli botani, komposisi jamur: 90% air, kurang dari 3% protein, kurang dari 5 % karbohidrat, kurang dari 1% lemak dan 1 % mineral, garam dan vitamin, Komposisi ini KURANG COCOK untuk keperluan energi yang besar, untuk sekelompok orang yang makan hanya 1x, apalagi telah diketahui, bahwa beliau sendiri akan parinibbana.

    Sangat mengherankan melihat hubungan yang dijelaskan di kitab komentar antara jamur dan binatang babi, tampaknya, alasan mengapa jamur menjadi terkait dengan binatang babi adalah karena untuk mendapatkan jamur tersebut, babi digunakan sebagai pelacaknya:

    • Kompas, ”Mengenal Jamur Pencabut Nyawa” sub: Babi pelacak, Rabu, 05 April 2006, 20:24 WIB: ‘[..] Kalau jenis jamur beracun dikerat, kemudian dilekatkan pada benda yang terbuat dari perak asli (misal pisau, sendok, garpu, atau cincin), maka pada permukaan benda tersebut akan ada warna hitam (karena xulfida) atau kebiruan (karena cianida)..para pemburu jamur di beberapa negara Eropa, terutama tradisi-tradisi di negara-negara Skandinavia (Swedia, Norwegia, Denmark, dan sebagainya)…biasanya akan membawa binatang “pelacak jamur” andalan. Bukan anjing, tapi babi yang sebelumnya sudah diberi latihan khusus…membedakan mana jamur yang bisa dimakan/tidak.’.
    • Cara Menghindari Kematian karena Makan Jamur Liar“, H Unus Suriawiria, Senin, 31 Januari 2005: ‘(4) Kalau jenis jamur beracun dimasak/dipepes bersama nasi putih, nasi tersebut akan berubah warna menjadi coklat, kuning, merah, atau hitam…Bagi pemburu jamur di beberapa negara Eropa-misalnya, acara tradisi di negara-negara Skandinavia (Sweden, Norwegia, dan sebagainya)-kalau musimnya berburu jamur selalu akan membawa babi yang sudah terlatih, yang dapat membedakan mana jamur beracun dan mana yang tidak.’

    Seorang yang sangat berbakti, yang sedang mengundang sekelompok tamu yang sangat agung untuk makan dirumahnya, bagaimana mungkin dalam event yang sepenting itu, Ia akan menghidangkan makanan yang sangat beresiko tinggi? Oleh karenanya, kata sukara-maddava yang diartikan sebagai jamur adalah sangatlah meragukan.

    Disamping itu, di bahasa pali sendiri sudah ada kata tersendiri yang merujuk pada arti “jamur”, yaitu: “chattaka” atau “pappaṭaka”. Sample: ahihattaka/ahichattaka” = jamur ‘payung ular’. Bahasa Hindi: ‘sarpchatr’. Bahasa Bengali: ‘byaner chata’ atau ‘payung katak’ [lihat: Rhys Davis: hal.92, 274; Buddhadatta Mahatera: hal.45, 182]. Sementara kata “sūkara” = babi hutan/wild boar. Kata ini digunakan untuk membedakannya dengan babi/boar (varāha) [“Vedic Index of Names and Subjects”, Vol 2;Vol 5, Arthur Berriedale Keith, hal.461]. Kemudian kata “Maddava/Madhava” = lembut, empuk, halus.

    Prof. Rhys Davids, ketika menterjemahkan teks-teks Buddhist dan Milianda Panha, Ia terjemahkan kata itu sebagai `bagian daging babi yang empuk’ (“Milianda Panha”, buku ke-5, bab 3, hal 244, cat kaki.1). Miss I.B. Horner dalam terjemahan “Madhuratthavilāsinī” menyatakan: “..Oleh karenanya, bagian ini memberikan bukti bahwa sukara-maddava, makanan terakhir sang Buddha, seharusnya TIDAK diterjemahkan seperti yang kadang sebagai “jamur”, namun lebih sebagai bagian yang lembut, ‘maddava’, dari (daging) babi hutan..” (..Therefore, this passage provides evidence that suukara-maddava, the Buddha Gotama’s last meal, should not be translated as sometimes it has been as “truffles”, but rather as tender, ‘maddava’, (flesh or meat) from a boar..) [Introduction hal. xxxix]

    Para kelompok vegetarian cenderung mengartikan kata ini sebagai jamur, namun sayangnya, Buddhisme BUKANLAH VEGETARIAN dan BOLEH makan daging, malah ada istilah sukaramamsa, yang berarti daging babi dan juga makanan terakhir semua Buddha dalam Buddhavamsa, jelas disebutkan makanan yang mengandung daging:

    • Terdapat 3 syarat untuk dapat mengkonsumsi daging, yaitu: TIDAK melihat secara langsung pada saat binatang tersebut dibunuh, TIDAK Mendengar secara langsung suara binatang tersebut pada saat dibunuh dan Mengetahui bahwa hidangan daging itu, TIDAK KHUSUS dibunuh agar dapat diberikan padanya [MN 55/Jivaka sutta].
    • Selain 3 syarat di atas, terdapat juga 10 macam daging yang tidak diperkenankan dikonsumsi oleh para bhikkhu, yaitu: daging manusia, daging gajah, daging kuda, daging anjing, daging ular, daging singa, daging harimau, daging macan tutul, daging beruang, dan daging serigala atau hyena [Mahavagga Pali, Vinaya Pitaka, Vol.3.58], sehingga selain 10 macam daging tersebut, boleh dikonsumsi para Bhikkhu
    • Seorang perumah tangga dari Vesali bernama Ugga yang menyajikan daging babi kepada Sang Buddha: “Di hadapan Guru, aku mendengar dan tahu dari Sang Bhagava sendiri bahwa seseorang yang memberikan hal menyenangkan, akan menerima kegembiraan, aku menyenangi daging babi (sūkaramaṃsaṃ) dengan sari buah jujube. Semoga sang Bhagava menerimanya dengan perasaan kasih. Dengan perasaan kasihnya Sang Buddha menerima” (Sammukhā metaṃ, bhante, bhagavato sutaṃ sammukhā paṭiggahitaṃ: ‘manāpadāyī labhate manāpan’ti. Manāpaṃ me, bhante, sampannakolakaṃ sūkaramaṃsaṃ; taṃ me bhagavā paṭiggaṇhātu anukampaṃ upādāyā”ti. Paṭiggahesi bhagavā anukampaṃ upādāya) [AN 5.44/Manāpadāyī sutta]
    • Buddhavamsa: Buddhapakiṇṇakakathā:
      Sabbabuddhānaṃ samattiṃsavidhā dhammatā (30 hal yang selalu terjadi pada para Buddha), di no.29 ada kalimat, parinibbānadivase maṃsarasabhojanaṃ (Di hari Parinibannanya makan makanan yang mengandung daging). Arti kata “maṃsa” adalah daging. [Detail lainnya, lihat: Vegetarian, Makanan Religius? Bukan! Ia Cuma Pilihan Selera Makan..Ngga Lebih Dari Itu!]

    Sehingga sūkara-maddava TIDAK TEPAT diartikan jamur, seharusnya “daging babi yang empuk”

    Cunda dan semua mengetahui bahwa Sang Buddha sudah tua dan di kondisi lemah, dari sisi pandangan awam makanan yang bernutrisi dan lembut adalah sangat tepat disajikan untuk itu daging babi muda sangatlah memenuhi kreteria ini.

      [..]19. Sesudah itu Sang Bhagava berkata kepada Cunda: “Cunda, sisa-sisa sūkara-maddava yang masih tertinggal, tanamkanlah dalam sebuah lobang, karena kami lihat di dunia ini di antara para dewa, Mara, Brahmana, para samana atau Brahma, atau pun manusia, tidak ada seorang pun yang sanggup memakannya atau mencernakannya, kecuali Sang Tathagata sendiri.”

      Cunda menjawab: “Baiklah, bhante.”

      Demikianlah sisa sūkara-maddava yang tertinggal itu ditanamkannya dalam sebuah lobang. [..] [Mahaparinibbana Sutta]

    Mengapa sisa sūkara-maddava perlu di tanam dalam sebuah lubang?
    Ini bukan tentang sūkara-maddava-nya, namun setiap makanan yang diperuntukan khusus kepada sang Buddha jika tidak habis adalah harus di kubur. Padanan tentang makanan yang diperuntukan khusus kepada sang Buddha jika tidak habis juga ada di Sn 1.4/KASIBHARADVAJA SUTTA, (tahun ke-11 kebuddhaan):

      [..]Kemudian Kasibharadvaja mengisikan nasi-susu ke dalam mangkuk emas yang besar dan mempersembahkannya kepada Sang Buddha sambil berkata: ‘Silakan Yang Mulia Gotama menyantap nasi susu ini. Engkau memang petani karena alasan pembajakan itu; memang hal itu memberikan buah kekekalan.’

      ‘Apa yang diperoleh lewat pembacaan mantra-mantra bukanlah makananku. O, brahmana, ini bukanlah praktek bagi mereka yang melihat dengan benar. Para Buddha menolak apa yang diperoleh lewat pembacaan mantra.’

      ‘Engkau harus mempersembahkan makanan dan minuman lain kepada pertapa agung yang telah mantap, yang telah bebas dari kekotoran mental dan penyesalan. Itu merupakan ladang bagi dia yang mencari jasa kebajikan.’

      ‘Kalau demikian, Yang Mulia Gotama, kepada siapakah saya harus memberikan nasi-susu ini?’

      O, brahmana, di dunia termasuk para dewa, Mara, Brahma, serta di antara para brahmana dan manusia, aku tidak melihat siapa pun kecuali Sang Tathagata

      Karena itu, O brahmana, sebaiknya engkau membuang nasi-susu ini di suatu tempat yang tidak ada rumputnya, atau membuangnya ke air di mana tidak ada makhluk hidupnya.’

      Maka Kasibharadvaja membuang nasi susu itu ke dalam air yang tidak mengandung kehidupan. Pada saat itu terdengar bunyi mendesis disertai banyak uap dan asap dari semua sisi, persis seperti mata bajak yang telah dipanaskan sepanjang hari lalu dicelupkan ke dalam air menghasilkan bunyi desis dan mengeluarkan uap serta asap di semua sisi.

      Kemudian Kasibharadvaja, dengan perasaan amat terpukau dan bulu kuduk berdiri, mendekati Sang Buddha dan meletakkan kepalanya di kaki Sang Buddha. Dia berkata: ‘Sungguh menakjubkan, Yang Mulia Gotama, sungguh luar biasa, Yang Mulia Gotama![..]

    Juga di SN 7.9/Sundarika Sutta atau di Sagatha-Vagga 7.1.9, yaitu makanan yang telah didanakan khusus kepada seorang Samma Sambuddha, tidak dapat dimakan oleh mahluk lain dan jika bersisa maka dibuang di tempat yang tidak ada rumputnya atau membuangnya ke air dimana tidak ada mahluk hidupnya. Salah satu alasan mengapa makanan tersebut tidak dapat dimakan mahluk lain, kitab komentar menyampaikan bahwa para deva ikut berpartisipasi pada dana makanan dengan memberikan nutrisi.

    Lokasi nyeri yang di alami sang Buddha adalah di pakkha (pectus, atau area antara leher dan abdominal) memerah (lohitapakhandika) tanpa adanya muntah-muntah dan/atau tanpa adanya mencret darah.

      [Setelah mengajarkan Dhamma pada Cunda] beliau bangun dari tempat duduknya pergi meninggalkan Cunda.

      20. Sesudah Sang Bhagava menyantap santapan yang dihidangkan oleh Cunda, pandai-besi itu, kharo ābādho uppajji (sakit keras melandanya), lohitapakkhandikā (Area antara dada – diagframa/abdomen memerah) pabāḷhā vedanā vattanti māraṇantikā (rasa sakit menusuk/terus menerus sangat mematikan). Tā sudaṃ bhagavā sato sampajāno adhivāsesi avihaññamāno (Sang Bhagava mengetahui sepenuhnya dalam memperhatikan selama kejadian tanpa mengeluh). Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ananda: “Ananda, marilah kita ke Kusinara.”

      “Kami telah mendengar: ‘Ketika Sang Bhagava makan hidangan yang dihidangkan oleh Cunda, dengan ketabahan hati dan ketenangan beliau menahan penderitaan yang hebat.’ Hal ini terjadi karena Sang Bhagava makan Sukaramaddava (daging babi berusia muda) yang dihidangkan oleh Cunda. Tetapi dengan tenang dan tabah beliau berhasil menahan rasa sakit yang datang sekonyong-konyong itu. ‘Marilah kita ke Kusinara,’ kata beliau dengan penuh kesabaran.” [..]

      [Kata “kami telah mendengar”, adalah para pembicara lainnya, yaitu mereka yang berada di konsili ke-1, yang terjadi 3 bulan setelah wafatnya sang Buddha.] [Mahaparinibbana Sutta]

    Kalimat: “Lohitapakkhandikā pabāḷhā vedanā vattanti māraṇantikā.”, dalam terjemahan kata perkata:

      Lohita/rahita: merah/darah. Kata darah dalam pali adalah Pupphaka/puppha/pubbaka.
      Pakkha: pectus (The part of the human torso between the neck and the diaphragm or the corresponding part in other vertebrates). Perlu di ketahui, kamus menyampaikan arti Pakkhandaka / pakkhandin / pak-khandikā: diare/dysentri dengan tambahan kata lohita, namun arti itu tanpa referensi jelas, kamus menyampaikannya seperti ini: “Ved. (?) praskandikā, BR. without refs“. Pabāḷhā: tajam, keras (untuk sakit).
      Vedana: Perasaan.
      Vattanti: berkelanjutan/terus menerus.
      māraṇa: mati. antika: hampir di akhir.

      Sedangkan dalam bahasa pali dan sanskrit terdapat kata yang digunakan untuk arti diare/disentri: atisara [diare, untuk yang berdarah adalah rattatisara]. Sanskrit: Jvaratisara (diare dengan demam). Untuk disentri, sanskritnya adalah pakvatisara: Disentri yang kronis. Kata-kata atisara/rattatisara tidak digunakan di mahaparinibanna sutta



    Apa Nasehat Terakhir Sang Buddha?
    Di setiap tempat beliau menetap, beliau memberikan wejangan-wejangan, berikut ini adalah wejangan-wejangan yang disampaikan dalam 10 bulan terakhirNya sebelum Parinibbana:

      Di Beluva (Musim Vassa terakhir)
      Ananda, Aku sekarang ini), menua semakin rapuh, menua menjadi usang, Aku hampir mencapai 80 tahun. Ananda, bagai sebuah kereta tua yang dapat jalan dengan diikat), demikian kira-kira tubuh Sang Tathāgata dapat hidup dengan disokong. Ananda, Hanya ketika Sang Tathāgata tidak memperhatikan gambaran-gambaran dan dengan lenyapnya perasaan-perasaan tertentu, pikiran berada terpusat tanpa gambaran), maka Ananda, ketika itulah tubuh Sang Tathāgata dalam keadaan baik

      Oleh karenanya, Ānanda, Jadikan dirimu sebagai pulau, menjadikan dirimu sebagai pelindung, tidak dengan perlindungan lain, dengan Dhamma sebagai pulau, dengan Dhamma sebagai pelindung, tidak dengan perlindungan lain. Dan bagaimanakah seorang bhikkhu menjadikan dirinya sebagai pulau, menjadi dirinya sebagai pelindung, tidak dengan perlindungan lain, dengan Dhamma sebagai pulau, dengan Dhamma sebagai pelindung, tidak dengan perlindungan lain?

      Di sini, seorang bhikkhu:

      • kāye kāyānupassī (terkait jasmani merenungkan jasmani), virahati ātāpī sampajāno satimā (berada tekun dalam perhatian dengan sepenuhnya mengetahui) vineyya loke abhijjhādomanassaṃ (setelah menyingkirkan kerinduan dan kegundahan akan dunia).
      • Vedanāsu vedanānupassī (terkait perasaan merenungkan perasaan)..,
      • citte cittānupassī (terkait pikiran merenungkan pikiran)…
      • dhammesu dhammānupassī (terkait objek pikiran merenungkan objek pikiran)…

      Itu, Ānanda, adalah bagaimanakah seorang bhikkhu menjadikan dirinya sebagai pulau, … tidak dengan perlindungan lain. Dan siapapun, yang hidup di masa-Ku atau setelahnya menjadikan dirinya sebagai pulau, … tidak dengan perlindungan lain, tamatagge (akan menjadi yang tertinggi), yang menjadi para bhikkhuku itu, jika mereka mau berlatih

      Di Kutagara Sala (3 bulan sebelum Parinibbana)
      “Kini, para bhikkhu, kami katakan kepada kalian bahwa dhamma ini merupakan pengetahuan yang langsung, yang telah kuajarkan kepada kalian semuanya. Seharusnya kalian pelajari benar-benar, pelihara, kembangkan dan praktekkan berulang-ulang. Dengan demikian kehidupan yang suci akan terwujud, dan semoga dapat berlangsung lama demi manfaat dan kebahagiaan banyak makhluk, demi belas kasih terhadap dunia, demi manfaat dan kebahagiaan para dewa dan manusia

      Para bhikkhu apakah sesungguhnya dhamma yang telah kuajarkan?

      Pelajaran itu meliputi (Note: 37 Boddhipakkhiyadhamma/Sattatiṁsā Bodhipakkhiyadhammā):

      • cattāro satipaṭṭhānā (4 landasan perhatian: perenungan pada Jasmani/Kāyānupassanā, Perasaan/Vedanānupassanā, Pikiran/Cittānupassanā, & Bentukan pikiran/Dhammānupassanā)
      • cattāro sammappadhānā (4 usaha benar: anuppannānaṃ pāpakānaṃ akusalānaṃ dhammānaṃ anuppādāya chandaṃ janeti (memunculkan keinginan untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi tidak bermanfaat yang belum muncul); Uppannānaṃ pāpakānaṃ akusalānaṃ dhammānaṃ pahānāya chandaṃ janeti (memunculkan keinginan untuk meninggalkan kondisi kondisi tidak bermanfaat yang telah muncul); Anuppannānaṃ kusalānaṃ dhammānaṃ uppādāya chandaṃ janeti (memunculkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul) dan; Uppannānaṃ kusalānaṃ dhammānaṃ ṭhitiyā asammosāya bhiyyobhāvāya vepullāya bhāvanāya pāripūriyā chandaṃ janeti (memunculkan keinginan untuk mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul, untuk ketidakmundurannya, untuk meningkatkannya, untuk memperluasnya, dan memenuhinya melalui pengembangan)
      • cattāro iddhipādā (4 landasan kekuatan: Chanda samādhi padhāna saṅkhāra samannāgataṁ (Keterpusatan pikiran dari keinginan disertai kerja keras); Viriya samādhi padhāna saṅkhāra samannāgataṁ (Keterpusatan pikiran dari ketekunan disertai kerja keras); Citta samādhi padhāna saṅkhāra samannāgataṁ (Keterpusatan pikiran dari pikiran disertai kerja keras) dan; Vimaṁsa samādhi padhāna saṅkhāra samannāgataṁ (Keterpusatan pikiran dari penyelidikan pikiran disertai kerja keras)
      • pañcindriyāni (5 Indria spiritual: keyakinan/saddhā), usaha/viriya, perhatian/sati, pikiran terpusat/samādhi dan kebijaksanaan/paññā)
      • pañca balāni (5 Kekuatan: Keyakinan/Saddhā; ketekukan usaha/Viriya; Perhatian/Sati; Pikiran terpusat/Samādhi dan kebijaksanaan/Paññā)
      • satta bojjhaṅgā (7 faktor penerangan sejati: perhatian/Sati; Penyelidikan keadaan/Dhammavicaya; ketekunan usaha/Viriya; Semangat kegembiraan/Pīti; Ketenangan/Passaddhi; Pikiran terpusat/Samādhi dan Kesimbangan perasaan/Upekkhā)
      • Ariyo Aṭṭhaṅgiko Maggo (8 jalan mulia: Pandangan benar/Sammādiṭṭhi; Kehendak benar/Sammāsaṅkappo; Ucapan benar/Sammāvācā; Perbuatan benar/Sammākammanto; Pencaharian benar/Sammā-Ājīvo; Usaha benar/Sammāvāyāmo; Perhatian benar/Sammāsati dan Pikiran terpusat benar/Sammāsamādhi)

      …Lalu Sang Bhagava bersabda kepada para bhikkhu:
      handa dāni (dan sekarang) bhikkhave (Para Bhikkhu) āmantayāmi vo (Aku nasehati kalian): “vayadhammā saṅkhārā (yang berkondisi tunduk pada kelapukan) appamādena sampādetha (dengan kewaspadaan capailah tujuan)”. Naciraṃ tathāgatassa parinibbānaṃ bhavissati (Tak lama lagi Sang tathagatha akan paranibanna). Ito tiṇṇaṃ māsānaṃ accayena tathāgato parinibbāyissatī (3 bulan dari sekarang berlalu sang Tathagata akan Paranibanna)”

      Setelah selesai mengucapkan kata-kata ini, Sang Sugata berkata lagi:
      Paripakko vayo mayhaṃ (Diriku telah matang dalam usia); parittaṃ mama jīvitaṃ (sedikit kehidupanku tersisa); Pahāya vo gamissāmi (Aku pergi meninggalkan kalian), kataṃ me saraṇamattano (setelah menjadikan diri-Ku sebagai perlindungan). Appamattā satīmanto (Dengan kewaspadaan, perhatian) susīlā hotha bhikkhavo (menjadi bermoral luhur, Para Bhikku). Susamāhitasaṅkappā, sacittamanurakkhatha (kendalikan kehendak disertai pikiran yang terjaga). Yo imasmiṃ dhammavinaye (Siapapun dengan Ajaran dan disiplin), appamatto vihassati (Hidup dalam kewaspadaan), Pahāya jātisaṃsāraṃ dukkhassantaṃ karissatī (Ia akan meninggalkan penderitaan lingkaran kelahiran)”

      Di Bhadagama, di Hattigama, di Ambagama, di Jambagama (3 bulan sebelum parinibbana)
      Di setiap tempat ini Sang Bhagava sering memberi nasehat kepada para bhikkhu:

      Ini adalah moralitas, ini adalah meditasi, ini adalah kebijaksanaan. Samadhi yang dilandasi sila akan menghasilkan buah dan manfaat yang besar. Kebijaksanaan yang dilandasi Samadhi akan menghasilkan buah dan manfaat yang Besar. Pikiran yang dilandasi kebijaksanaan akan sepenuhnya terbebas dari kekotoran/noda, yaitu, indria, penjelmaan, ketidaktahuan

      Di Bhoganagara
      Sang Buddha menyampaikan cara menyikapi klaim bahwa itu adalah ucapan/ajaran sang Buddha atau bukan, yaitu dengan membandingkan klaim itu dengan sutta dan vinaya

      1. Buddha. ..“Di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar hal ini; di hadapan Beliau aku mempelajari hal ini: inilah Dhamma/Sutta, inilah Vinaya/Patimokha/disiplin, inilah Ajaran Sang Guru” maka, kalian tidak boleh menerima atau menolak kata-katanya. Kemudian tanpa menerima atau menolak, kata-kata dan frasenya harus dengan baik dipelajari, dibandingkan dengan sutta-sutta dan dilihat di vinaya (sutte otāretabbāni, vinaye sandassetabbāni), Jika telah dibandingkan dengan sutta-sutta dan telah dilihat di vinaya, tidak selaras dengan sutta-sutta dan tidak ada di vinaya, maka “Pasti ini bukan kata-kata Sang Buddha, hal ini telah keliru dipahami bhikkhu ini,” dan kata-katanya harus ditolak. Jika telah dibandingkan dengan sutta-sutta dan telah dilihat di vinaya, selaras dengan sutta-sutta dan ada di vinaya, maka “Pasti ini adalah kata-kata Sang Buddha, hal ini telah dengan benar dipahami bhikkhu ini.” Ini adalah kriteria ke-1.
      2. Sangha. ..“dihadapan sangha itu, Aku mendengar, mempelajari hal ini: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” maka, kalian tidak boleh menerima atau menolak kata-katanya … (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke-2.’
      3. Para Bhikkhu Senior. ..“di hadapan beberapa bhikkhu senior terpelajar yang menguasai ajaran, ahli dalam Dhamma, vinaya dan kerangka ajaran itu, Aku mendengar, mempelajari hal ini: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” … (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke-3.’
      4. Seorang Bhikkhu Senior. ..“ di hadapan seorang bhikkhu senior terpelajar yang menguasai ajaran, ahli dalam Dhamma, vinaya dan kerangka ajaran, Aku mendengar, mempelajari hal ini: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” … (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke-4′ [DN 16/Maha Parinibbana Sutta dan AN 4.180/Maha Padesa Sutta]

      Juga ditempat itu, lagi sang Buddha berpesan:
      Ini adalah moralitas, ini adalah meditasi, ini adalah kebijaksanaan. Samadhi yang dilandasi sila akan menghasilkan buah dan manfaat yang besar. Kebijaksanaan yang dilandasi Samadhi akan menghasilkan buah dan manfaat yang Besar. Pikiran yang dilandasi kebijaksanaan akan sepenuhnya terbebas dari kekotoran/noda, yaitu, indria, penjelmaan, ketidaktahuan

      Di sungai Khakuda (Sore hari menjelang parinibbana)
      Sang Bhagava berkata kepada Ananda: “Ananda, kemungkinan ada orang akan menyesali dan menyalahkan Cunda, pandai besi, dengan berkata: “Sungguh sial kau Cunda, karena perbuatan kamu, Sang Tathagata telah makan santapan untuk terakhir kalinya.” Dalam hubungan ini Ananda, tuduhan terhadap Cunda itu dapatlah dijelaskan sebagai berikut: “Suatu rahmat bagimu, Cunda dan ini benar-benar suatu berkah, bahwasanya karena kamulah Sang Tathagata memperoleh makanan sebagai dana yang terakhir dan setelah itu Beliau mangkat. Hal ini saudara, aku telah mendengar sendiri, langsung dari Sang Bhagava yang menyatakan:

      “Ada dua macam makanan, yang mempunyai pahala, yang mempunyai nilai kebaikan yang sama, yang melebihi nilai dari semua dana makanan yang lainnya.

      • Dana yang pertama adalah dana makanan yang pertama kalinya di makan oleh Sang Tathagata, setelah beliau mencapai penerangan sejati, dana ini tiada bandingannya.
      • Dana yang kedua ialah dana makanan terakhir yang dimakan oleh Sang Tathagata sebelum beliau parinibbana, di mana semua unsur-unsur ikatan tidak akan timbul lagi.

      Maka perbuatan yang telah dilakukan saudara Cunda adalah berkah yang mengakibatkan panjang umur, rupawan, kesejahteraan, kemuliaan, akan lahir di alam sorga dan mendapat kedudukan yang tinggi.” Demikianlah Ananda, kau jelaskan tentang diri Cunda pandai besi itu.

      Sang Bhagava, karena mengerti masalah tersebut, lalu mengucapkan syair:

      Dengan memberi Jasa kebajikan bertambah;
      Dengan mengendalikan diri, kebencian dihentikan;
      Dengan yang bermanfaat kejahatan ditanggalkan;
      Dengan menghancurkan nafsu, kebencian dan kebodohan Ia terbebaskan.

      Di bawah pohon Sala Kembar, di Kusinara (Sore menjelang Parinibbana)
      Ketika beliau berbaring, pohon Sala kembar berbunga diluar musimnya, bunga-bunga jatuh berhamburan, bunga surgawi, serbuk cendana surgawi bertaburan, nyanyian surgawi serta suara musik surgawi berkumandang sebagai tanda penghormatan pada beliau. Sang Buddha mengatakan pada Ananda:

        Na kho Ānanda ettāvatā (Bukan dengan seperti ini, Ananda) Tathāgato sakkato vā hoti garukato vā mānito vā pūjito vā apacito vā (Sang Tathagata dihormati, dimuliakan, dihargai, dipuja dan dijunjung). Siapa saja, apakah Ia bhikkhu, bhikkhuni, umat awam pria dan wanita, jika Ia berpegang pada Dhamma, hidup sesuai Dhamma, berkelakuan sesuai Dhamma, dengan seperti ini, Ia menghormati, memuliakan, menghargai, memuja, menjunjung Sang Tathagata dengan pemujaan tertinggi. Oleh karenanya, Ananda, berpeganglah pada Dhamma, hidup sesuai Dhamma dan berkelakuan sesuai Dhamma. Demikianlah caranya kamu melatih diri

      4 tempat baik untuk didatangi
      Ananda:
      “Guru, Dahulu, sesudah musim hujan para bhikkhu dari berbagai tempat biasanya datang menemui Sang Tathagata. Kami ini berkesempatan melihat para bikkhu yang layak dihormati, berkesempatan untuk menemuiMu. Namun setelah Sang Bhagava tiada, Tidak berkesempatan melihat para bhikkhu yang layak dihormati, tidak dapat datang untuk menemuimu”

      Sang Buddha:
      “Ada 4 tempat, Ananda, bagi seorang yang berkeyakinan mendatanginya (saddhassa kulaputtassadassanīyāni), bangkit ketergugahannya: haru atau antusias (saṃvejanīyāni ṭhānāni), yaitu tempat di mana Sang Tathagata:

      1. Dilahirkan
      2. Mencapai penerangan sempurna
      3. Memutar Roda Dhamma untuk kali pertama
      4. Parinibbana

      Para: bhikkhu, bhikkhuni, upasaka atau upasika yang berkeyakinan (saddhā), datang dalam damai (āgamissanti) [merenungkan:] ‘Di sinilah Sang Tathagata: dilahirkan. ..mencapai Penerangan Sempurna. ..memutarkan roda dhamma untuk pertama kali. ..parinibbana’, pergi ke tempat-tempat itu (cetiyacārikaṃ āhiṇḍantā) wafat dengan pikiran yang berbahagia (pasannacittā kālaṃ karissanti), ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan terlahir bahagia di alam deva

      Sikap Bhikkhu terhadap Wanita
      Ananda: “Bhante, bagaimanakah seharusnya kita bersikap terhadap kaum wanita?”
      Sang Buddha: “Jangan memandang mereka, Ananda.”
      Ananda: “Bhante, tetapi bagaimana kalau saya secara kebetulan memandang pada mereka?”
      Sang Buddha:”Janganlah berbicara dengan mereka Ananda.”
      Ananda: “Bhante, tetapi bagaimana kalau mereka berbicara kepada kami?”
      Sang Buddha: “Ananda, melayaninya dengan tetap menjaga perhatian”

      4 jenis Orang yang Patut dibuatkan stupa
      Siapapun yang dengan: rangkaian bunga (mālaṃ), dupa/serbuk wangi (gandhaṃ va cuṇṇakaṃ) mempersembahkannya dalam damai (āropessanti), memberikan penghormatan dalam damai (abhivādessanti), pikirannya damai bahagia (cittaṃ va pasādessanti) maka bahagia dan sejahtera akan menyertainya dalam waktu yang lama (tesaṃ taṃ bhavissati dīgharattaṃ hitāya sukhāya)

      Ada 4 macam manusia, Ananda, yang sepantasnya dibuatkan stupa, yaitu seorang:

      1. Tathagata Arahat Samma Sambuddha
      2. Pacceka Buddha
      3. Siswa dari Tathagata dan
      4. Raja Dunia

      Karena jika seseorang merenungkan: ‘Ini adalah stupa Sang Bhagava Arahat Samma Sambuddha.. seorang raja dunia’, pikirannya menjadi bahagia, maka dengan pikiran bahagia demikian, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan terlahir bahagia di alam deva “

      Menghibur Ananda yang berduka
      Sang Bhagava lalu berkata kepada Ananda: “Ananda, cukuplah jangan bersedih (mā soci), janganlah meratap (mā paridevi), Bukankah sudah kukatakan padamu bahwa segala sesuatu yang indah dan menyenangkan pasti mengalami perubahan, pasti berpisah dan menjadi yang lain. Jadi bagaimana mungkin, Ānanda—karena segala sesuatu yang dilahirkan, menjelma, tersusun pasti mengalami kerusakan—bagaimana mungkin hal itu tidak berlalu? Sejak lama, Ānanda, engkau telah berada di sisi Sang Tathāgata, memperlihatkan cinta-kasihdalam tindakan jasmani, ucapan dan pikiran, memberikan manfaat, menyenangkan, sepenuh hati dan tidak terbatas. Engkau telah mendapatkan banyak jasa. Berusahalah, dan dalam waktu singkat engkau akan terbebas dari kekotoran”

      Kemudian sang Buddha berkata kepada para Bhikkhu memuji kualitas Anada:

      • bahwa Para Buddha di waktu-waktu yang lampau, juga mempunyai bhikkhu sebagai pendamping yang sangat tekun dan berbakti, seperti Ananda. Demikian pula di masa yang akan datang.
      • Ananda, cakap dan jujur, mengetahui waktu yang tepat untuk para bhikkhu, Bhikkhuni, para umat awam pria/wanita, para raja, patih negara dan para guru aliran lain serta pengikutnya ketika hendak menghadap Sang Buddha
      • Kualitas menarik Ananda yaitu para bhikkhu/umat awam akan sangat bergembira bila dapat bertemu Anada, merasa senang jika membicarakan Dhamma dengan Ananda dan akan merasa kecewa jika Ananda berdiam diri

      Membabarkan DN 17/Mahasudassana Sutta
      Ketika Ananda memohon agar sang Buddha tidak parinibbana di Kusinara karena tempat ini sederhana, tidak ada peradaban di tengah belantara dan di luar perbatasan dan mohon agar ditempat lain seperti Rajagaha, Benares dll. Sang Buddha menerangkan bahwa Kusinara juga tempat berdiamnya raja dunia Maha Suddassana dan 6x kelahiran lampau beliau juga wafat di tempat ini.

      Kedatangan Suku Mala memberikan penghormatan (hingga jam 22.00)
      Sang Buddha meminta Ananda pergi ke Kusinara menyampaikan pada suku Malla bahwa hari ini, di jam ke-3 (02.00-06.00) malam ini, Sang Tathagata akan Parinibbana, agar mereka tidak menyesali diri di belakang hari bahwa di daerah mereka Sang Buddha Parinibbana tetapi di saat terakhirnya, tidak melihat beliau. Ketika ini disampaikan, Para suku Malla, sedih, berduka cita dan bersusah hati, meratap, “Terlalu cepatlah Sang Tathagata Parinibbana. Terlalu cepatlah Sang Sugata Parinibbana. Terlalu cepatlah Sang Guru Jagat lenyap dari pandangan”. Mereka kemudian datang memberikan pernghormatan, Ananda mengatur pembagian menurut golongan dan rombongan, agar tidak satupersatu yang akan memakan waktu panjang. Akhirnya, pada jam pertama malam itu (18.00-22.00], semua mendapatkan kesempatannya.

      Menahbiskan Subhadda (Setelah jam 22.00)
      Ketika itu seorang petapa pengembara, Subhadda, yang sedang di Kusinara mendengar kabar: “Hari ini, pada jam ke-3 (02.00-06.00) malam ini, petapa Gotama akan Parinibbana”

      Karenanya timbul dipikirannya: “Aku pernah mendengar dari para petapa senior dan mulia, para guru, bahwa kemunculan para Tathagata Arahat SammaSambuddha di dunia adalah jarang sekali. Pada hari ini, pada jam ke-3 malam, petapa Gotama akan Parinibbana. Pada diriku ada suatu keraguan dan aku yakin bahwa petapa Gautama, akan dapat mengajarkanku Dhamma yang menghilangkan keraguanku.”

      Kemudian petapa pengembara Subhadda mendekati Sang Bhagava menghormat dengan sopan, duduk di satu sisi, berkata: “Yang Mulia Gautama, ada para petapa dan brahmana pemimpin sejumlah besar siswa yang punya banyak pengiring, para pemimpin perguruan terkenal dan masyur yang mendapat penghormatan tinggi dari khalayak, seperti: Purana Kassapa, Makkhali Gosala, Ajita Kesakambali, Pakudha Kaccayana, Sanjaya Belatthiputta, Nigantha-Nataputta. Apakah mereka semua telah mencapai kebebasan, seperti yang dikatakan orang, atau apakah tak ada dari mereka yang mencapai kebebasan atau apakah hanya beberapa saja yang mencapai, dan yang lainnya tidak?”

      “Cukuplah Subhadda. Biarkanlah apa yang dikatakan orang, apakah mereka semua telah mencapai pembebasan, seperti yang disiarkan, atau tak ada dari mereka yang mencapai kebebasan, atau hanya beberapa saja dari mereka yang mencapai kebebasan yang lain tidak. Hal itu tidak perlu dirundingkan. Kini, aku akan mengajarkan kebenaran padamu, Subhadda, dengar dan perhatikanlah dengan benar yang akan ku katakan”

      “Baiklah, bhante,” jawab Subhadda.

      Kemudian Sang Bhagava berkata: “Subhadda, dalam dhamma dan vinaya mana pun, jika TIDAK TERDAPAT Jalan Mulia Berunsur 8, maka di sana pun TIDAK ADA seorang petapa sejati, juga TIDAK ADA petapa sejati ke-2, ke-3 atau ke-4. Tetapi dalam dhamma dan vinaya yang mana pun, jika terdapat Jalan Mulia Berunsur 8, maka di sana pun akan ada petapa sejati, juga ada petapa sejati ke-2, ke-3 atau ke-4. Kini, dalam dhamma dan vinaya yang kuajarkan terdapat Jalan Mulia Berunsur 8 itu, maka dengan sendirinya terdapat petapa-petapa sejati, juga petapa-petapa sejati ke-2, ke-3 atau ke-4

      Ajaran guru-guru lainnya yang tidak memiliki Jalan Mulia Berunsur 8 adalah kosong dan bukan petapa yang sejati. Subhadda, jika para bhikkhu ini hidup dengan baik menurut dhamma dan vinaya, maka dunia ini takkan kekosongan Arahat

      Usia-Ku 29 tahun, Subhadda)
      ketika meninggalkan keduniawian mencari kebajikan
      Sudah lebih dari 50 tahun
      Sejak Aku meninggalkan keduniawian, Subadha
      Bernaung di jalur Dhamma
      Yang di luarnya TIDAK ADA Petapa

      Petapa ke-2 .. ke-3 .. ke-4 TIDAK ADA
      Aliran lainnya mandul Petapa, Subhadda
      Tetapi jika para bhikkhu menjalani benar
      Dunia ini tak kekosongan Arahat

      [..]

      Demikianlah, pertapa pengembara Subhadda diterima dan ditahbiskan menjadi bhikkhu oleh Sang Bhagava sendiri. Ia pun tekun, rajin dan sungguh-sungguh…Bhikkhu Subhadda menjadi salah seorang di antara para Arahat dan Ia adalah siswa terakhir yang diterima Sang Bhagava

      Nasehat Terakhir Sang Buddha (Di jam ke-3, Di atas jam 02.00)

      • “Ānanda, engkau mungkin berpikir: “nasihat-nasihat Sang Guru telah tiada, sekarang kita tidak memiliki guru!” Jangan berpikiran seperti itu, Ānanda, karena apa yang telah Kuajarkan dan Kujelaskan kepada kalian sebagai Dhamma dan disiplin akan, saat Aku tiada, menjadi guru kalian”
      • Ananda, sebagaimana pada saat ini para bhikkhu saling menegur satu dengan yang lainnya sebagai “Avuso” (sahabat), namun janganlah demikian apabila Aku telah tidak ada.
      • Para bhikkhu yang lebih tua, bolehlah menegur kepada yang lebih muda dengan menyebut namanya, atau nama keluarganya, atau dengan sebutan avuso, sedangkan bhikkhu yang lebih muda seharusnya berkata kepada yang lebih tua dengan sebutan “Bhante”.
      • “Ananda, apabila dikehendaki Sangha dapat menghapus peraturan-peraturan kecil (Khuddaka sikkhapada) setelah Aku meninggal.”
      • “Ananda, untuk bhikkhu Channa, setelah Aku meninggal, kenakanlah hukuman brahma (brahma danda) kepadanya.” “Bhante, tetapi apakah yang dimaksud dengan brahma danda itu?”
      • “Ananda, bhikkhu Channa dapat berkata apa saja yang diinginkannya, tetapi para bhikkhu tidak perlu bercakap-cakap dengan dia, tidak perlu menegur atau pun memperingatkannya.”

      Kemudian sang Buddha bertanya jika ada dari para Bhikkhu yang masih memiliki keraguan atau ada yang hendak ditanyakan, namun para Bhikkhu berdiam diri, sampai 3x diulangi, para bhikkhu tetap berdiam diri. Sang Buddha berkata bahwa memang kumpulan dari 500 Bhikkhu ini, bahkan pencapaian yang terendah diantara mereka adalah sotapanna sehingga tidak ada yang memiliki keraguan terhadap Buddha, Dhamma dan sangha, tak mungkin terlahir kembali di alam penderitaan dan pasti akan mencapai penerangan sempurna di kemudian hari.

      Kemudian Sang Buddha menyampaikan nasehat terakhirnya, “Para bhikkhu, perhatikanlah nasehat ini: ‘yang berkondisi tunduk pada kelapukan, dengan kewaspadaan capailah tujuan'”.

      Inilah kata-kata terakhir Sang Tathagata

    Sang Buddha Padam Sempurna
    Mula-mula Sang Bhagava masuk Jhana ke-1.
    Bangkit dari Jhana ke-1, masuk Jhana ke-2.
    Bangkit dari Jhana ke-2, masuk Jhana ke-3.
    Bangkit dari Jhana ke-3, masuk Jhana ke-4.
    Bangkit dari Jhana ke-4, masuk landasan ruang tak berbatas.
    Bangkit dari landasan ruang tak berbatas, masuk landasan kesadaran tak berbatas.
    Bangkit dari landasan kesadaran tak berbatas, masuk landasan tak ada sesuatu apapun.
    Bangkit dari landasan tak ada sesuatu apapun, masuk landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi.
    Bangkit dari landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi, beliau masuk lenyapnya persepsi dan perasaan.

    Kemudian Ananda berkata demikian: “Anuruddha kiranya Sang Bhagava telah padam sempurna”

    “Tidak, Ananda, Sang Bhagava belum padam sempurna, Beliau masuk lenyapnya persepsi dan perasaan.”

    Kemudian Sang Bhagava,
    bangkit dari lenyapnya persepsi dan perasaan, beliau masuk landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi.
    Bangkit dari landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi, masuk landasan tak ada sesuatu apapun,
    Bangkit dari landasan tak ada sesuatu apapun, masuk landasan kesadaran tak berbatas,
    Bangkit dari landasan kesadaran tak berbatas, masuk landasan ruang tak berbatas.
    Bangkit dari landasan ruang tak berbatas, masuk Jhana ke-4.
    Bangkit dari Jhana ke-4, masuk Jhana ke-3.
    Bangkit dari Jhana ke-3, masuk Jhana ke-2.
    Bangkit dari Jhana ke-2, masuk Jhana ke-1.

    Bangkit dari Jhana ke-1, masuk Jhana ke-2.
    Bangkit dari Jhana ke-2, masuk Jhana ke-3.
    Bangkit dari Jhana ke-3, masuk Jhana ke-4.
    Dan bangkit dari Jhana ke-4, lalu padam sempurna-lah, Sang Bhagava.

    Demikianlah ketika Sang Bhagava telah padam sempurna, tepat saat parinibbanaNya, terjadilah gempa bumi yang sangat dahsyat, menakutkan, mengerikan, dan mengejutkan disertai halilintar sambar-menyambar di angkasa.

    Ketika Sang Bhagava padam sempurna,
    dewa Brahma Sahampati mengucapkan syair ini:

    Mahluk apapun di dunia, bentukannya akan-lah berakhir
    Juga sang Guru, yang tiada banding di dunia,
    Yang tercerahkan, sang pemilik kekuatan, maha tau, juga padam sempurna
    .

    dewa Sakka, raja para dewa, mengucapkan syair ini:

    Bentukan benarlah tiada kekal adanya,
    yang muncul akan-lah lenyap,
    Setelah timbul akan-lah tenggelam,
    padam adalah kebahagiaan

    bhikkhu Anuruddha mengucapkan syair ini:

    Tak ada lagi nafas, teguh pikiranNya

    bebas nafsu, dalam kedamaian, demikian akhir sang Muni
    PikiranNya tak tergoyahkan, dalam menahan rasa menyakitkan
    Seperti padamnya nyala api, demikian pula pikiranNya terbebaskan padam

    Ananda mengucapkan syair ini:

    Demikian mengerikannya, Demikian merindingnya,
    Ketika yang maha tahu, yang sempurna dalam kualitas mulia, padam sempurna

    Setelah para suku Malla Kusinara melakukan penghormatan dengan nyanyian dan tarian selama 6 hari, yang juga dilakukan oleh para deva di hari ke-7, maka kemudian para pemimpin Malla, setelah mencuci kepala mereka dan mengenakan pakaian baru, mereka hendak menyulutkan api pemakaman Sang Bhagavā, tetapi mereka tidak dapat melakukannya. Mereka mendatangi YM Anuruddha dan menanyakan mengapa mereka tidak dapat menyalakan api. YM Anuruddha menyampaikan bahwa para deva sedang menantikan kedatangan YM MahaKassapa yang sedang dalam perjalanan dari Pāvā menuju Kusinārā bersama 500 bhikkhu. Api pemakaman Sang Bhagavā tidak akan menyala sampai YM MahaKassapa memberikan penghormatan dengan kepalanya di kaki Sang Bhagavā.

    Demikianlah di hari ke-7, YM Kassapa tiba di cetiya suku Malla di Makuṭa-Bandhana menuju tempat pemakaman Sang Bhagavā. Beliau dengan menutupi satu bahunya dengan jubahnya, merangkapkan tangan memberikan penghormatan, mengelilingi tempat pemakaman 3x, membuka selubung kaki Sang Bhagavā, memberi hormat dengan kepalanya di kaki Sang Bhagavā, dan 500 bhikkhu juga melakukan hal yang sama. Dan ketika semua ini selesai, api pemakaman Sang Bhagavā menyala dengan sendirinya dan membakar seluruhnya

    Kemudian suku Malla dari Kusinara, mengambil relik (sisa jasmani) Sang Bhagava, lalu ditempatkan di tengah-tengah ruangan sidang mereka, yang kemudian dipagari sekelilingnya dengan anyaman tombak-tombak, lalu dilapisi lagi dengan pagar dari panah dan busur-busur.

    Di sanalah mereka mengadakan upacara puja bakti selama 7 hari

    Kemudian Raja Magadha, Ajatasattu, putera Ratu Videhi, [demikian pula: Orang Licchavi dari Vesali, Suku Sakya dari Kapilavasthu, Suku Buli dari Allakappa, Suku Koli dari Ramagama, Brahmana Vethadipa dan Suku Malla, Brahmana Dona dan Suku Moriya dari Pipphalivana] mendengar bahwa Sang Bhagava telah mangkat di Kusinara. mengirim utusan pada suku Malla di Kusinara, menyatakan memerlukan sebagian relik Sang Bhagava untuk didirikan sebuah stupa; dan untuk menghormatiNya dan mengadakan perayaan…

    Demikian maka terdapat delapan stupa untuk relik Sang Bhagava dan stupa yang kesembilan untuk tempayan dan stupa yang kesepuluh untuk abu Sang Bhagava.

    Demikianlah telah terjadi pada waktu yang lalu.

    Terbagi delapan relik Sang Bhagava:

    Beliau Yang Maha Tahu, kembangnya manusia,
    Tujuh bagian, di Jambudipa dipuja orang,
    Satu bagian, di Ramagama,
    Dipuja oleh raja naga,
    Sebuah gigi dipuja di surga Tavatimsa.
    Sebuah gigi lagi dipuja di Kalingga oleh raja naga.
    Karena pancaran cinta kasih yang tak terbatas,
    Tanah air ini mendapat berkah yang melimpah.
    Karena itu relik-relik Beliau dijaga dengan baik,
    oleh mereka yang turut memujanya, para dewa, para naga dan oleh manusia bijaksana.
    Beliaulah yang paling tinggi dipuja.
    Maka itu hormatilah Dia dengan anjali (mencakupkan kedua tangan depan dada),
    karena sungguh sulit adanya,
    mungkin ratusan Kappa belum tentu bertemu dengan seorang Buddha.

    [Sumber: Mahaparinibanna sutta, CSI. The Kusinara File] []


    Yesus

    Kelahiran dan kematian Yesus tidak diketahui pasti baik itu tanggal, bulan dan tahunnya.

    Mengapa?

    Karena TIDAK DICATAT di Alkitab. Ini agak mengherankan, karena HAL SEPELE yang tidak terkait urusan ramalan/religi, misalnya JENIS KELAMIN keledai yang ditunggangi Yesus, yaitu BETINA (Mat 21.2,7) dicatat. Atau HAL SEPELE lain, seperti Yohanes pembaptis memakai baju bulu unta (Mat 3.4; Mark 1.6] dicatat. Juga misalnya JUMLAH ORANG makan roti, yaitu 5000 pria (Lukas 9.14; Mat 14.21; Mark 6.4; Yoh 6.10] dicatat.

    Menghitung jumlah orang saja bisa iseng dilakukan, sementara, untuk sekedar mencatat tanggal, bulan dan tahun lahir untuk orang yang diagungkan sebagai Tuhan dan sangat penting bagi kehidupan mereka hingga rela berkorban kehidupan, TIDAK ADA SAMA SEKALI. Bahkan, untuk urusan TAHUN KELAHIRANNYA saja, versi injil MATIUS VS Injil LUKAS SUDAH BERSELISIH 12 TAHUN LAMANYA

    Waktu wafatnya Yesus-pun bervariasi, rata-rata mengkaitkannya dengan tanggal 14 Nisan dan/atau hari Jum’at, misalnya:

    Tertullian di ‘Adversus Marcionem’, menyatakan terjadi di tahun ke-20 Tiberius (Tiberius: 18 Sep 14 M – 16 Mar 37 M, 22 tahun), jadi tahun 35 M;
    Quarterly Journal of Royal Astronomical Society 32“, Sir Isaac Newton lebih menyukai tanggal 23 April 34 (Julian) sebagai waktu wafat Yesus,
    Paul’s Early Period: Chronology, Mission Strategy, Theology”, Rainer Riesner, hal. 50 (Tanggal 14 Nisan/Jum’at (Julian: 11 April 27, 07 April 30 dan 3 April 33); Tanggal 15 Nisan/Jum’at (Julian: 11 April 27 dan 23 April 34; Tanggal 11 April 27 namun Ia kesampingkan tahun 27 dan 34 sebagai tahun penyaliban).
    Juga di buku yang sama hal.3-14 dan di “Pauline Chronlogy” hal 24, Riesner menyampaikan pendapat para ahli tentang rekaan tahun penyaliban Yesus:

    • Tahun 27 (Hahn, Ludermann)
    • Tahun 29 (Harnack, Plooij, Lake
    • Tahun 30 (Bengel. Weiseler, Harnack, Ramsay, Bacon, Zahn, Hoennicke, Belser, Wiken, Georgi, Kum, Bruce, Gunther, Moody, Knox, Ludermann, Porter, Dunn, Reisner)
    • Tahun 32 (Baronius, Eichhorn, Jewett)
    • Tahun 33 (Ussher, Basnage, Hoennicke, Ogg, Bruggen, Porter)
    • Tahun 36 (Barnikol)

    Karena bervariasi, maka mari kita coba cari tahu kapan Yesus wafat dan untuk itu, kita perlu mengenal bagaimana tradisi Yahudi menyatakan tentang jam, mulainya hari, Sabat, kapan hari ke-1 dalam seminggu dan catatan kronologi wafatnya Yesus.

    Kaum Yahudi membagi siang malam menjadi 24 bagian, yang masing-masing menjadi 12 bagian, “..”Bukankah ada 12 jam dalam satu hari?.. [Yohanes 11.9] yang lama perjamnya bervariasi, misal: Matahari terbit jam 5.00 dan tenggelam jam 19.30, maka panjang per-bagian siang = 72.5 menit, sehingga jam ke-3 = jam 8.37

    Untuk permulaan hari, ‘…Jadilah petang‘ [Kejadian 1.5, 8, 13; 19, 23, 31] , sehingga 1 hari penuh, ‘..mulai petang dari petang sampai petang..‘ [Imamat 23:32, saat menyatakan hari ke-9 bulan ke-7], ini ada di antara 2 petang [“me ereb ad ereb” = dari petang sampai petang]

    Kalendar mengikuti siklus 7 harian, hari ke-1 adalah AHAD/Minggu dan hari ke-7 adalah Sabtu/SABAT. Nama-nama hari ada di Kejadian 1.5, 8, 13, 19, 23, 31 dan 2.2.

    Jadi, Sabtu/SABAT mulai Sabtu Malam berakhir di Minggu Senja.

    Hari ke-1 bagi kaum Yahudi, Kristen wilayah barat dan tradisi ortodok Yunani adalah Minggu, sehingga Minggu s.d Jum’at = 1 s.d 6; Dalam Latin Gerejawi/latin Liturgi (ritus Roma dan Latin dari Gereja Katolik, Anglikan, Lutheran dan Methodis, Ortodoks Timur), Senin s.d Jum’at = 2 s.d 6; di Yunani pertengahan dan Modern, Senin s.d Kamis = 2 s.d 5. [First day of the week].

    Jadi, hari minggu sebagai hari pertama adalah Minggu malam – Senin senja

    Hari Sabat kaum Yahudi ada banyak, di kitab Imamat 23:

    Hari ke-7,
    tidak bekerja (23:1-3), Pertemuan Kudus. Hari ke-7 untuk istirahat (keluaran 16:26, 20:9-10, 31:15, 35:2: ‘tetapi pada hari yang ke-7 adalah hari sabat‘).

    Ditegaskan permulaan hari paskah yaitu di ulangan 16:6, ‘..engkau harus mempersembahkan korban Paskah itu pada waktu senja, ketika matahari terbenam

    Bulan ke-1 (23:4-8)
    23:4. Inilah hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN, hari-hari pertemuan kudus, yang harus kamu maklumkan masing-masing pada waktunya yang tetap.
    23:5 Dalam bulan ke-1, pada tanggal 14 bulan itu, pada waktu senja, ada Paskah bagi TUHAN.
    23:6 Dan pada hari 15 bulan itu ada hari raya roti tidak beragi bagi TUHAN; 7 hari lamanya kamu harus makan roti yang tidak beragi. (Setiap hari, sejak tanggal 15, selama 1 minggu adalah PASKAH)
    23:7 Pada hari ke-1 kamu harus mengadakan pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.
    23:8 Kamu harus mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN 7 hari lamanya; pada hari yang ke-7 haruslah ada pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat…(Bilangan 28.17-24). Kapan waktu pemotongan hewan kurban?

      Di abad ke-1 M: “..Para imam besar, saat datangnya pesta yang disebut Paskah,..mereka memotong kurban, mulai dari jam ke-9 hingga ke-11, tapi yang menemani tidak kurang dari 10 dari pemilik kurban..” [“Wars of the Jews”, Bab 6.Ch.9]

      Persembahan harian dipotong 1/2 jam setelah jam ke-8, dan dipersembahkan 1/2 jam setelah jam ke-9; Untuk malam Paskah, dipotong 1/2 jam setelah jam ke-7, dan persembahkan 1/2 jam setelah jam ke-8, baik itu pada hari biasa atau Sabat. Jika malam Paskah hari Jum’at, dipotong 1/2 jam setelah jam ke-6 dan dipersembahkan setelah jam ke-7, dan persembahan paskah setelahnya [Mishanh Pesachim 5.1]

      Semua di atas ini TIDAK SAMA dengan yang tercantum di Taurat Musa, yaitu memotongnya pada waktu senja [‘beyn ha arbaym‘ = pada (beyn) senja/petang (arba/ereb) dan ym = waktu, Keluaran 12.6] sehingga dikerjakannya di menjelang malam (bukan mulai lewat tengah hari ketika matahari condong ke barat).

      Mungkin saja ini efek dari kehancurannya kuil ke-1/Sulaiman, yang membuat praktek PASKAH tidak lagi dijalankan lama dan baru dijalankan lagi, secara ngawur, di jaman HIZKIA, dengan melakukan perayaan roti tidak beragi BUKAN di bulan ke-1 tapi di bulan ke-2 [2 Taw 30], juga lama kemudian, lagi dilakukan pada tahun ke-18 YOSIA yang walaupun melakukan di bulan ke-1, namun pemotongan hewan dilakukan sampai malam [2 taw 35], kemudian lama lagi tidak dilakukan hingga jaman EZRA (Ezra 6) yang jika melihat apa yang terjadi di jaman Josephus dan di Misnah, tampak telah terjadi pergeseran.

    Hari ke-1 panen/hasil apapun (23:9-22)
    Dilakukan satu hari setelah Sabat
    Satu hari setelah sabat + 7 minggu/7 sabat (50 hari), diumumkan sebagai hari raya/sabat (Hari raya Panen), ada perjamuan kudus, Jangan melakukan pekerjaan berat-berat

    Bulan ke-7 (23:9-44)
    tanggal 1, hari serunai, Pertemuan Kudus, tidak boleh bekerja berat-berat
    tanggal 9, malam sampai tanggal 10 Senja, tidak boleh bekerja dan harus puasa, melanggar akan dibinasakan, hari sabat
    tanggal 10, hari pendamaian, ada pertemuan Kudus, tidak boleh bekerja apapun
    tanggal 15, hari pondok daun dilaksanakan selama 7 hari, hari pertama ada pertemuan kudus tidak boleh bekerja apapun, harus tinggal dipondok daun untuk Israel asli selama 7 hari
    tanggal 23, pertemuan kudus, tidak boleh bekerja apapun

    (Juga disebutkan d Imamat 16:29-31, Bilangan 28:16-31, Yehezkiel 45:21-25), dan disingkat hari sabat dan 3 hari raya di II Tawarih 8:13 sesuai dengan apa yang menurut perintah Musa ditetapkan sebagai korban untuk setiap hari, yakni

    • pada hari-hari Sabat,
    • pada bulan-bulan baru,
    • dan 3x setahun pada hari-hari raya:
    • pada hari raya roti tidak beragi,
    • pada hari raya 7 Minggu dan
    • pada hari raya Pondok Daun.

    Siapapun yang bekerja pada hari-hari Sabat/Paskah akan dihukum mati dilenyapkan dari bangsanya (Imamat 19:8, 23:29-30; Keluaran 31:14-16, 35:2, Bilangan 9:13, 15:32-36; Yeremia 17:21,27; Yehezkiel 20:21)


    Pemotongan Domba untuk Paskah
    ada 2 waktu pemotongan [Keluaran 29:38-39; bilangan 28.3-4], yaitu:

    Inilah yang harus kauolah di atas mezbah itu: dua anak domba berumur setahun, tetap tiap-tiap hari. Domba yang satu haruslah kauolah pada waktu pagi (boqer) dan domba yang lain kauolah antara senja (beyn ereb)‘.


    Semalam menjelang di salib

    Yesus mengalami sedih, gentar dan takut pada satu hari sebelum salib:

    Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.” Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” [Matius 26:37-38, Markus14:32-34]

    “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. [Lukas 22:42-44]




    Kronologis wafat di hari ROTI TIDAK BERAGI dan sebelum Sabat Reguler

    Injil MATIUS
    Hari raya roti tidak beragi, Perjamuan Kudus

    26:2 “Kamu tahu, bahwa 2 hari lagi akan dirayakan Paskah, maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan.”

    26:17 PADA HARI PERTAMA DARI HARI RAYA ROTI TIDAK BERAGI datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: “Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?

    26:18 Jawab Yesus: “Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku.”

    26:19 Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.

    26:20 SETELAH HARI MALAM, Yesus duduk makan bersama-sama dengan ke-12 murid itu

    [Hari di Yahudi mulai MALAM sampai SENJA, para murid Yesus datang padanya di hari ke-1, hari roti raya roti tidak beragi, tanggal 15 Nisan (setiap hari selama 7 hari adalah Paskah). Ketika Ia merayakan paskah dan makan bersama 12 muridnya terjadi DI SETELAH MALAM, artinya sudah masuk pada hari ke-2 hari raya roti tidak beragi, tanggal 16 Nisan]

    Yesus Diserahkan
    26:34 Yesus berkata kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku 3x.”

    26:74 Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang itu.” Dan pada saat itu berkokoklah ayam.

    26:75 Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku 3x.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.

    [Kejadian ini di tanggal 16 Nisan malam s/d subuh]

    27:1. KETIKA HARI MULAI SIANG, semua imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi berkumpul dan mengambil keputusan untuk membunuh Yesus.

    27:2 Mereka membelenggu Dia, lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus, wali negeri itu.

    27:15 Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak.

    27:45 Mulai dari JAM KE-6 (hora hektos, terjemahan: jam 12) kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai JAM KE-9 (hora ennatos, terjemahan: jam 3).

    27:46 Kira-kira JAM KE-9 (hora ennatos, terjemahan: jam 3) berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

    27:50. Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.

    [Note:
    Menariknya, kejadian di tempat yang sama, orang yang sama, namun terdapat perbedaan waktu Yesus disalibkan: “hektos hora” (jam ke-6, Yohanes 19:14) VS “hora tritos” (jam ke-3, Markus 15:25).

    Argumen yang biasa digunakan menanggapi perbedaan fatal ini adalah bahwa Injil Markus menggunakan waktu Yahudi sementara Injil Yohanes menggunakan waktu Romawi 🙂

    Argument ini lemah, dari banyak sisi, pertama, klaim domba paskah hanya masuk dalam tradisi waktu Yahudi, sehingga perbedaan waktu antar injil melemahkan kebenaran terjadinya penyaliban. Ke-2, JIKA BENAR SAAT ITU ADA PENGHUKUMAN, maka TERHUKUM saat itu BUKAN CUMA YESUS, masih ada lainnya, maka metaphora domba paskah menjadi kabur maknanya. Ke-3, Tradisi pemotongan dan persembahan HEWAN KURBAN, telah berjalan lama di SEBELUM dan SETELAH Yesus. Ke-4, Sangat aneh jika kaum Yahudi menambah hal yang bisa di tunda tapi tidak dilakukan di hari raya terutama di even paskah 7 hari ini.]

    27:57. MENJELANG MALAM datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga.

    27:58 Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya.

    27:59 Dan Yusufpun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih,

    27:60 lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia.

    27:61 Tetapi Maria Magdalena dan Maria yang lain tinggal di situ duduk di depan kubur itu.

    [semua peristiwa ini terjadi di hari ke-2 hari raya roti tidak beragi, tanggal 16 Nisan pagi s/d menjelang malam, akhir dari tanggal 16 Nisan]

    27:62 KEESOKAN HARINYA, YAITU SESUDAH HARI PERSIAPAN, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus, dan mereka berkata: “Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidup-Nya berkata: SESUDAH 3 HARI AKU AKAN BANGKIT. Karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ke-3; jikalau tidak, murid-murid-Nya mungkin datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama.”

    [Kata ‘keesokan harinya, yaitu setelah hari persiapan’ merupakan hari baru yang mulai pada malam hari, jadi sudah bukan tanggal 16 Nisan tapi tanggal 17 bulan ke-1, yaitu sabat regular (SABTU MALAM – MINGGU SENJA), jadi, Yesus wafat di SABTU SORE, di hari persiapan, tanggal 16 Nisan]

    Hari pertama minggu itu setelah Sabat

    28:1-2 SETELAH HARI SABAT LEWAT, MENJELANG MENYINGSINGNYA FAJAR PADA HARI PERTAMA MINGU ITU, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu. Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya

    [Sabat regular, tanggal 17 Nisan, SABTU MALAM – MINGGU SENJA, jadi, minggu pagi masih hari sabat.
    Hari pertama, tanggal 18 Nisan mulai MINGGU MALAM – SENIN SENJA, jadi, Maria menengok kubur di hari SENIN pagi]

    Injil MARKUS
    Hari raya roti tidak beragi, Perjamuan Kudus

    14:1. Hari raya Paskah dan hari raya roti tidak beragi akan mulai 2 hari lagi…

    14:12. PADA HARI PERTAMA DARI HARI RAYA ROTI TIDAK BERAGI, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepada-Nya: “Ke tempat mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?”…

    14:16 Maka berangkatlah kedua murid itu dan setibanya di kota, didapati mereka semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah.

    14:17-18 SETELAH HARI MALAM, datanglah Yesus bersama-sama dengan ke-12 murid itu. Ketika mereka duduk di situ dan sedang makan, Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku, yaitu dia yang makan dengan Aku.”

    [Hari di Yahudi mulai MALAM sampai SENJA, penyembelihan domba paskah dilakukan PAGI dan SORE, sehingga saat para murid Yesus berkata pada Yesus terjadi pada SIANGnya di hari ke-1, hari roti raya roti tidak beragi, tanggal 15 Nisan (setiap hari selama 7 hari adalah Paskah). Ketika mereka makan terjadi DI SETELAH MALAM, artinya sudah masuk pada hari ke-2 hari raya roti tidak beragi, tanggal 16 Nisan]

    Hari persiapan Sabat

    14:30 Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok 2x, engkau telah menyangkal Aku 3x.”

    14:72 Dan pada saat itu berkokoklah ayam untuk ke-2xnya. Maka teringatlah Petrus, bahwa Yesus telah berkata kepadanya: “Sebelum ayam berkokok 2x, engkau telah menyangkal Aku 3x.” Lalu menangislah ia tersedu-sedu.

    [Kejadian ini di tanggal 16 Nisan malam s/d subuh]

    15:1. PAGI-PAGI BENAR imam-imam kepala bersama tua-tua dan ahli-ahli Taurat dan seluruh anggota Sanhedrin/Mahkamah Agama sudah bulat mupakatnya. Mereka membelenggu Yesus lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus.

    15:6 Telah menjadi kebiasaan untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu menurut permintaan orang banyak.

    Golgota

    15:25 JAM KE-3 (hora tritos, terjemahan: jam 9) ketika Ia disalibkan.

    15:33. Pada JAM KE-6 (hora hektos, terjemahan: jam 12), kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai JAM KE-9 (hora ennatos, terjemahan: jam 3)
    15:34 Pada JAM KE-9 (hora ennatos, terjemahan: jam 3), berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
    15:37 Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya.

    [Note:
    Menariknya, kejadian ditempat yang sama, orang yang sama, namun terdapat perbedaan waktu Yesus disalibkan: “hektos hora” (jam ke-6, Yohanes 19:14) VS “hora tritos” (jam ke-3, Markus 15:25).

    Argumen yang biasa digunakan menanggapi perbedaan fatal ini adalah bahwa Injil Markus menggunakan waktu Yahudi sementara Injil Yohanes menggunakan waktu Romawi 🙂

    Argument ini lemah, dari banyak sisi, pertama, klaim domba paskah hanya masuk dalam tradisi waktu Yahudi, sehingga perbedaan waktu antar injil melemahkan kebenaran terjadinya penyaliban. Ke-2, JIKA BENAR SAAT ITU ADA PENGHUKUMAN, maka TERHUKUM saat itu BUKAN CUMA YESUS, masih ada lainnya, maka metaphora domba paskah menjadi kabur maknanya. Ke-3, Tradisi pemotongan dan persembahan HEWAN KURBAN, telah berjalan lama di SEBELUM dan SETELAH Yesus. Ke-4, Sangat aneh jika kaum Yahudi menambah hal yang bisa di tunda tapi tidak dilakukan di hari raya terutama di even paskah 7 hari ini.]

    15:42. Sementara itu HARI MULAI MALAM, dan hari itu adalah HARI PERSIAPAN, YAITU HARI MENJELANG SABAT.

    15:44 PILATUS HERAN waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. Maka ia memanggil kepala pasukan dan bertanya kepadanya apakah Yesus sudah mati.

    15:45 Sesudah didengarnya keterangan kepala pasukan, ia berkenan memberikan mayat itu kepada Yusuf.

    [Note:
    perlu diperhatikan keheranan Pilatus, bahwa dalam kurun waktu 3 jam-an saja, di antara 3 penjahat yang dihukum, hanya yesus yang wafat sementara 2 lainnya tidak.

    Penyaliban penjahat telah banyak dilakukan sebelumnya, tidak terjadi pada kasus ini saja, sehingga waktu rata-rata kematian akan diketahui yaitu BERJAM-JAM hingga beberapa hari, sebagaimana terungkap dalam laporan tentang hukuman penyaliban: “Penderitaan itu berlangsung setidaknya 12 jam, dalam beberapa kasus selama 3 hari. Untuk mempercepat kematian kaki dirusak, dan ini dianggap sebagai tindakan AMPUNAN (Cicero, “Phil.” Xiii. 27)”]

    15:46 Yusufpun membeli kain lenan, kemudian ia menurunkan mayat Yesus dari salib dan mengapaninya dengan kain lenan itu. Lalu ia membaringkan Dia di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu. Kemudian digulingkannya sebuah batu ke pintu kubur itu.

    15:47 Maria Magdalena dan Maria ibu Yoses melihat di mana Yesus dibaringkan.

    [semua peristiwa ini terjadi pada hari ke-2 hari raya roti tidak beragi yaitu tanggal 16 Nisan pagi s/d menjelang malam, akhir dari tanggal 16 Nisan

    Dikatakan ‘hari itu adalah hari persiapan, yaitu hari menjelang sabat’ artinya, tanggal 16 Nisan adalah hari persiapan yang berakhir senja, saat malam hari sudah masuk tanggal 17 Nisan, yaitu hari sabat, SABTU MALAM sampai MINGGU SENJA, jadi Yesus meninggal di hari SABTU SORE]

    Hari pertama minggu itu setelah Sabat

    16:1-2. SETELAH LEWAT HARI SABAT, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus. Dan PAGI-PAGI BENAR PADA HARI PERTAMA MINGGU ITU, SETELAH MATAHARI TERBIT, pergilah mereka ke kubur.

    [Sabat regular, tanggal 17 Nisan, SABTU MALAM – MINGGU SENJA, jadi, minggu pagi masih hari sabat. Hari pertama, tanggal 18 Nisan mulai MINGGU MALAM – SENIN SENJA, jadi, Maria menengok kubur di hari SENIN pagi]

    Injil LUKAS
    Hari raya roti tidak beragi, Perjamuan Kudus

    22:7. MAKA TIBALAH HARI RAYA ROTI TIDAK BERAGI, yaitu hari di mana orang harus menyembelih domba Paskah. Lalu Yesus menyuruh Petrus dan Yohanes, kata-Nya: “Pergilah, persiapkanlah perjamuan Paskah bagi kita supaya kita makan.”

    22:14 Ketika tiba saatnya, Yesus duduk makan bersama-sama dengan rasul-rasul-Nya.

    22:34 Tetapi Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau 3x menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku.”

    22:39. Lalu pergilah Yesus ke luar kota dan sebagaimana biasa Ia menuju Bukit Zaitun. Murid-murid-Nya juga mengikuti Dia.

    22:46 Kata-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.”

    22:60 Tetapi Petrus berkata: “Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan.” Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam.

    [Hari di Yahudi mulai MALAM sampai SENJA, penyembelihan domba paskah dilakukan PAGI dan SORE, jadi saat Yesus menyuruh Petrus dan Yohanes, terjadi SIANG tanggal 15 Nisan (setiap hari selama 7 hari adalah Paskah), sehingga walaupun LUKAS tidak mengatakan perjamuan makan dilakukan SIANG atau MALAMNYA, namun jika merujuk pada injil MATIUS dan MARKUS, perjamuan terjadi di MALAH HARINYA, yaitu masuk pada hari ke-2, hari raya roti tidak beragi, tanggal 16 Nisan, dan kejadian ayam berkokok terjadi di tanggal 16 subuh]

    Hari persiapan Sabat

    22:66 DAN SETELAH HARI SIANG berkumpullah sidang para tua-tua bangsa Yahudi dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu mereka menghadapkan Dia ke Sanhedrin/Mahkamah Agama mereka,

    23:44-45 Ketika sudah kira-kira JAM KE-6 (hora hektos, terjemahan: jam 12), lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai JAM KE-9 (hora ennatos, terjemahan: jam 3), sebab matahari tidak bersinar……

    23:46 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.

    [Note:
    Menariknya, kejadian ditempat yang sama, orang yang sama, namun terdapat perbedaan waktu Yesus disalibkan: “hektos hora” (jam ke-6, Yohanes 19:14) VS “hora tritos” (jam ke-3, Markus 15:25).

    Argumen yang biasa digunakan menanggapi perbedaan fatal ini adalah bahwa Injil Markus menggunakan waktu Yahudi sementara Injil Yohanes menggunakan waktu Romawi 🙂

    Argument ini lemah, dari banyak sisi, pertama, klaim domba paskah hanya masuk dalam tradisi waktu Yahudi, sehingga perbedaan waktu antar injil melemahkan kebenaran terjadinya penyaliban. Ke-2, JIKA BENAR SAAT ITU ADA PENGHUKUMAN, maka TERHUKUM saat itu BUKAN CUMA YESUS, masih ada lainnya, maka metaphora domba paskah menjadi kabur maknanya. Ke-3, Tradisi pemotongan dan persembahan HEWAN KURBAN, telah berjalan lama di SEBELUM dan SETELAH Yesus. Ke-4, Sangat aneh jika kaum Yahudi menambah hal yang bisa di tunda tapi tidak dilakukan di hari raya terutama di even paskah 7 hari ini.]

    23:50. Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang yang baik lagi benar.

    23:52 Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus.

    23:53 Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan mayat.

    23:54 HARI ITU ADALAH HARI PERSIAPAN DAN SABAT HAMPIR MULAI.

    23:56 Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur.

    (23-56b) Dan PADA HARI SABAT mereka beristirahat menurut hukum Taurat,

    [semua peristiwa ini terjadi pada hari ke-2 hari raya roti tidak beragi yaitu tanggal 16 pagi s/d menjelang malam, yang merupakan akhir dari tanggal 16 Nisan

    Dikatakan ‘hari itu adalah hari persiapan, yaitu hari menjelang sabat’ artinya, tanggal 16 Nisan adalah hari persiapan yang berakhir senja, saat malam hari sudah masuk tanggal 17 Nisan, yaitu hari sabat, SABTU MALAM sampai MINGGU SENJA, jadi Yesus meninggal di hari SABTU SORE, sebelum SABAT MULAI, Yesus sudah selesai di kubur]

    Hari pertama minggu itu setelah Sabat

    24:1-2. tetapi PAGI-PAGI BENAR PADA HARI PERTAMA MINGGU ITU mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka. Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu,

    [Sabat regular, tanggal 17 Nisan, SABTU MALAM – MINGGU SENJA, jadi, minggu pagi masih hari sabat. Hari pertama, tanggal 18 Nisan mulai MINGGU MALAM – SENIN SENJA, jadi, Mereka ke kubur pada hari SENIN pagi]

    Injil Yohanes

    Sebelum Paskah, ada hari raya dan kemudian ada perjamuan

    13:1. Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa.
    13:18 Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: ORANG YANG MAKAN ROTI-KU, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku
    13:26 Jawab Yesus: “Dialah itu, yang kepadanya AKU AKAN MEMBERIKAN ROTI, sesudah Aku mencelupkannya.” Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot.
    13:27 Dan sesudah YUDAS MENERIMA ROTI ITU, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.”
    13:29 Karena Yudas memegang kas ada yang menyangka, bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu UNTUK PERAYAAN ITU, atau memberi apa-apa kepada orang miskin.
    13:30 YUDAS MENERIMA ROTI ITU lalu segera pergi. PADA WAKTU ITU HARI SUDAH MALAM.
    13:38 Jawab Yesus: “Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku 3x.”

    18:27 Maka Petrus menyangkalnya pula dan ketika itu berkokoklah ayam.

    [Saat itu SEDANG dilakukan perayaan, dari kalimat “ORANG YANG MAKAN ROTI-KU”, “AKU AKAN MEMBERIKAN ROTI”, dan ROTI YANG DIBERIKAN YESUS DAN DIMAKAN YUDAS SEBELUM YUDAS PERGI MEMBELI APA-APA UNTUK PERAYAAN ITU, juga, merujuk Matius, Markus dan Lukas, maka perayaan itu adalah perayaan hari roti tidak beragi, tanggal 15 Nisan (setiap hari selama 7 hari adalah Paskah). Kemudian, karena disebutkan “PADA WAKTU ITU HARI SUDAH MALAM”, maka ini tidak lagi di hari ke-1, namun masuk ke-2 hari raya roti tidak beragi, tanggal 16 Nisan, yang mulai pada malam hari]

    Hari persiapan Sabat

    18:28. Maka mereka membawa Yesus dari Kayafas ke gedung pengadilan. KETIKA ITU HARI MASIH PAGI. Mereka sendiri tidak masuk ke gedung pengadilan itu, supaya jangan menajiskan diri, sebab mereka hendak makan Paskah.

    18:39 Tetapi pada kamu ada kebiasaan, bahwa pada Paskah aku membebaskan seorang bagimu. Maukah kamu, supaya aku membebaskan raja orang Yahudi bagimu?”

    19:14 HARI ITU IALAH HARI PERSIAPAN PASKAH, kira-kira JAM KE-6 (Hora hektos). Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: “Inilah rajamu!”
    19:15 Maka berteriaklah mereka: “Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!”..

    [Note:
    Menariknya, kejadian ditempat yang sama, orang yang sama, namun terdapat perbedaan waktu Yesus disalibkan: “hektos hora” (jam ke-6, Yohanes 19:14) VS “hora tritos” (jam ke-3, Markus 15:25).

    Argumen yang biasa digunakan menanggapi perbedaan fatal ini adalah bahwa Injil Markus menggunakan waktu Yahudi sementara Injil Yohanes menggunakan waktu Romawi 🙂

    Argument ini lemah, dari banyak sisi, pertama, klaim domba paskah hanya masuk dalam tradisi waktu Yahudi, sehingga perbedaan waktu antar injil melemahkan kebenaran terjadinya penyaliban. Ke-2, JIKA BENAR SAAT ITU ADA PENGHUKUMAN, maka TERHUKUM saat itu BUKAN CUMA YESUS, masih ada lainnya, maka metaphora domba paskah menjadi kabur maknanya. Ke-3, Tradisi pemotongan dan persembahan HEWAN KURBAN, telah berjalan lama di SEBELUM dan SETELAH Yesus. Ke-4, Sangat aneh jika kaum Yahudi menambah hal yang bisa di tunda tapi tidak dilakukan di hari raya terutama di even paskah 7 hari ini. Juga panjang waktu tiap hari tidak tetap 12 jam saja namun bervariasi sesuai posisi titik balik matahari di winter dan summer, misal: waktu summer untuk jam ke-9 adalah jam 02.31 dan waktu senja terakhir adalah 19.33, Jadi terdapat selisih waktu hingga 5 JAM sebelum mulainya Sabat]

    19:30 Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
    19:31. KARENA HARI ITU HARI PERSIAPAN DAN SUPAYA PADA HARI SABAT mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib — sebab Sabat itu adalah hari yang besar — maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan.
    19:32 Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus;
    19:33 tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya,
    19:34 tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.

    [Note:
    Informasi di atas ini SUDAH MENJELASKAN DENGAN SANGAT bahwa ACARA PEMOTONGAN DOMBA PASKAH UNTUK SABAT BELUM DIMULAI dan Yesus sudah duluan wafat (Ia sudah wafat sebelum lambungnya ditikam tombak).

    Mengapa hal ini diperlukan? Karena Ulangan 21.22-23 menyatakan:

    Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung dia pada kayu, maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu

    “sabat itu adalah hari yang besar” dalam kurung/”–” BUKANLAH Sabat Hagadol (Sabat yang terjadi SEBELUM Paskah) tapi ini adalah Sabat yang terjadi selama Paskah 7 hari. Menurut para komentator Alkitab, misalnya Matthew poole (1624-1679), John Wesly (1703-1791), Thomas coke (1801-1803) dan Heinrich Meyer (1819) hari sebelum Sabat ini terjadi di hari ke-2 Perayaan roti tidak beragi, atau tanggal 16 Nisan.

    Tanggal 16 Nisan juga disebut hari ke-1 Omer atau penunjukan berkas pertama penuaian]

    19:38. Sesudah itu Yusuf dari Arimatea–ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi–meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu.

    19:41 Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang.

    19:42 KARENA HARI ITU HARI PERSIAPAN ORANG YAHUDI, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ.

    [Di hari ke-2 hari raya roti tidak beragi yang juga hari persiapan SABAT, Yesus sudah di kubur sebelum SENJA, jadi Yesus meninggal SABTU SORE tanggal 16 Nisan.]

    Hari pertama minggu itu setelah Sabat

    20:1. PADA HARI PERTAMA MINGGU ITU, PAGI-PAGI BENAR KETIKA HARI MASIH GELAP, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur.

    [Sabat regular, tanggal 17 Nisan, SABTU MALAM – MINGGU SENJA, jadi, minggu pagi masih hari sabat. Hari pertama, tanggal 18 Nisan mulai MINGGU MALAM – SENIN SENJA, jadi, MARIA ke kubur pada hari SENIN pagi]

    [Artikel kematian yesus di antara dua sabat yang berasal dari sumber kristen dapat anda lihat di sini]




    Uraian Kematian di antara Dua sabat

    Dari kronologis di atas, dapat diringkas sebagai berikut, Bulan ke-1 (Imamat 23.4-8):

    • Tanggal 14, Rabu malam – Kamis senja, Paskah BULAN ke-1
    • Tanggal 15, Kamis malam- Jum’at senja, Hari ke-1 hari raya roti tidak beragi [Imamat 23, Matius 26:2, 26:17-20; Markus 14:1, 14:12; Lukas 22:7-8, 22:39; Yohanes 12:20]
    • Tanggal 16, Jum’at malam – Sabtu senja, Hari ke-2 hari raya roti tidak beragi, hari ke-1 Omer dan juga hari persiapan SABAT REGULER [Markus 15:33,42; Yohanes 18:28, 19:14, 31, 42; Lukas 23:14, 23:54; 56-56b; Matius 27 45, 51, 27:62-64], Yesus wafat di JAM ke-9, yaitu SABTU SORE, setelah seluruh mayat hukuman diturunkan, senja-nya barulah dilakukan pemotongan domba paskah.
    • Tanggal 17, SABAT REGULER, Sabtu malam- Minggu senja, Hari ke-3 hari raya roti tidak beragi [Lukas 23:56;56b]
    • Tanggal 18, Minggu malam – Senin senja, Hari ke-4 hari raya roti tidak beragi dan juga hari pertama setelah sabat regular [Matius 28:1-2; Markus 16:1-2; Lukas 24:1-2; Yohanes 20:1], pagi-pagi Magdalena pergi ke kubur Yesus, jadi ini adalah SENIN PAGI

    Demikian kronologi wafatnya Yesus yang terjadi di perayaan roti tidak beragi dan sebelum sabat.




    Kapan Yesus Wafat?
    Alkitab menyampaikan beberapa peristiwa alam seputar wafatnya:

    • Gerhana di Bulan pertama [Matius 27:45, Markus 15:33, Lukas 23:34-35] yang terjadi selama 3 (TIGA) jam dan
    • Gempa bumi yang terjadi dua kali yaitu sebelum (mat 27:51) dan sesudah (Mat 28:2) Paskah!

    Kejadian GERHANA MATAHARI selama 3 JAM dan GEMPA BUMI, terlalu aneh untuk dapat diabaikan para saksi namun anehnya hal ini hanya tercatat di Injil Matius dan TIDAK di Injil lainnya oleh karenanya, wajar saja kita abaikan.

    Bagaimana dengan Gempa?

    Berdasarkan situs ini, yang memuat rekaman data kejadian gempa antara tahun 0-100, TIDAK SATUPUN menyebutkan ada gempa di Yerusalem bahkan kemungkinan gempa terjadi sampai di laut mati-pun DIRAGUKAN, oleh karenanya, inipun wajar juga kita abaikan.

    Pontius Pilate
    4 Injil menyatakan Yesus wafat di era Pontius Pilate sebagai wali daerah Yudea, Injil Lukas menyatakan tentang masa pelayanan Yohanes pembaptis mulai di tahun ke 15 kaisar Tiberius (Lukas 3.1-2) dan Injil Yohanes menyatakan bahwa Yesus setidaknya mengikuti 3 Paskah, oleh karenanya, tahun kejadian tidak boleh kurang dari tahun 29 M dan tidak boleh lebih dari tahun 37 M.

    Kapan masa Pontius menjabat Prokurator Yudea? Josephus dalam Antiquities of the Jews, bab 18:

      ..Tiberius .. sekarang adalah kaisar ke-3..mengirim Valerius Gratus untuk menjadi prokurator Yudea …. setelah Ia tinggal di Yudea selama 11 tahun, ketika Pontius Pilatus datang sebagai penggantikannya. [18.2.2] .. Pilatus melakukan pembangunan Aquaduct ke Yerusalem, dan melakukannya dengan uang suci/Corbonas..kaum Yahudi tidak senang..membuat keributan melawannya..ada sejumlah besar dari mereka terbunuh [Ch 18.3.2; The Jewih War 2.9.4], sekitar waktu ini Yesus,..Pilatus, atas saran para tetua kita..mengutuknya ke salib, [Ch.18.3.3]… Di samaritan…di desa Tirathaba..Pilatus mencegah mereka naik,..beberapa di antara mereka terbunuh [18.4.1].. Kemudian Vitellius mengirim Marcellus, seorang temannya, untuk mengurus urusan Yudea, dan memerintahkan Pilatus pergi ke Roma, untuk menjawab di hadapan kaisar atas tuduhan orang Yahudi. Kemudian Pilatus, ketika setelah Ia tinggal selama 10 tahun di Yudea, menjadi bergegas ke Roma, dan ini dalam rangka mematuhi perintah Vitellius, yang tidak ingin Ia bertentangan; tetapi sebelum Ia bisa ke Roma Tiberius sudah mati [Ch 18.4.2]. Tetapi Vitellius datang ke Yudea, dan tiba di Yerusalem; itu pada saat festival itu yang disebut Paskah. Vitellius di sana diterima dengan luar biasa (Ch 18.4.3)… Philip saudara Herodes wafat di tahun ke-20 Tiberius, karena tidak ada turunan, Tiberius mengambil daerah itu. [Ch.18.4.6], saat pasukan Aretas dan Herodes saling berhadapan, Ex orang Philip bergabung bersama Aretas mengalahkan Herod. Berang atas kekalahan Herod, Tiberius memerintahkan Vitelius memerangi Aretas [Ch 18.5.1]… Vitellius..bersama Herodes..pergi ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan,..diterima secara terhormat oleh banyak orang Yahudi, dia tinggal di sana selama 3 hari,..Tetapi pada hari ke-4 datang surat bahwa Tiberius wafat [Ch 18.5.3]. Kaum Yahudi berkata kekalahan Herodes, sebagai balasan kematian Yohanes, yang dibunuhnya, karena takut pengaruh Yohanes dapat memicu pemberontakan. [Ch 18.5.2] Tiberius, .. karena meskipun dia adalah kaisar 22 tahun, Keseluruhannya Ia kirim hanya 2 prokurator untuk memerintah bangsa Yahudi, Gratus, dan penggantinya di pemerintah, Pilatus (18.6)

    Dari Josephus kita ketahui:

    • Pada tahun seputaran Yesus wafat, terdapat beberapa kerusuhan antara kaum Yahudi dan Romawi di wilayah Pilatus, diantaranya di Yerusalem dan di Samaritan.
    • Kedatangan Vitellius ke Yerusalem, disamping karena tugas dari Tiberius untuk memerangi Aretas yang telah mengalahkan Herodes juga tentang permasalahan pembunuhan kaum Yahudi oleh Pilatus di Samaritan.
    • Kemenangan Aretas terhadap Herodes juga mendapat bantuan ex orang Philip yang telah wafat di tahun ke-20 Tiberius dan karena jarak waktu antara kemarahan Tiberius atas berita ini dan Tiberius wafat berdekatan, maka peperangan ini juga terjadi juga di tahun ke-22 Tiberius
    • Karena kaum Yahudi anggap kekalahan Herodes sebagai balasan dari kematian Yohanes Pembaptis yang injil katakan terjadi lebih dahulu dari wafatnya Yesus, maka wafatnya Yesus, bisa jadi juga terjadi di tahun ke-22 Tiberius
    • Tahun ke-22 Tiberius mulai dari 18 Sep 37 M dan telah berjalan 6 bulan sampai wafatnya (18 Sep 14 M – 16 Maret 37 M).
    • Di jaman Tiberius, Gratus telah 11 tahun dan Pilatus telah 10 tahun di Yudea, yang banyak ditafsirkan bahwa Pilatus menjabat dari tahun 26 s.d 36 M. Padahal ini tidak akurat, karena Josephus TIDAK menyatakan Gratus dicopot di tahun ke-11 dan Pilatus dicopot di tahun ke-10, tapi diganti SETELAH 11 tahun dan SETELAH 10 tahun di Yudea, ini artinya, total waktu keduanya bisa lebih dari akhir masa Tiberius memerintah. Oleh karenanya, uraian Josephus dapat juga diartikan, bahwa di tahun 37 Tiberitus, yaitu saat Paskah Roti tidak beragi, sewaktu Yesus disalibkan, Pilatus masih menjabat.
    • Kedatangan utusan Vitellius yang membuat Pilatus harus ke Roma, namun sebelum ke Roma, Tiberius diketahuinya sudah wafat.
    • Vitellius datang ke Yerusalem saat Paskah dan di hari ke-4, ia mendapat berita Tiberius telah wafat, maka bisa jadi Paskah saat kedatangan Vitellius adalah Paskah yang terjadi 1 bulan setelah paskah roti tidak beragi, yaitu Paskah Sheni

    Dari kronologi kematian Yesus, yang terjadi SETELAH 14 Nisan/Rabu Malam di masa Pontius, maka tanggal 16 Nisan adalah tanggal

    • Julian: 11 April 27 M (Panjang hari di kalender Yahudi: 383 hari), dan
    • Julian: 22 Maret 37 M (panjang hari di kalender Yahudi: 355 hari)

    Namun karena peristiwa ini harus terjadi setelah tahun ke-15 Tiberius/29 M, maka tanggal yang tersisa adalah 16 Nisan/22 Maret 37 M (1 Minggu setelah wafatnya Tiberius), pada jam ke-9/jam 15, sekitar 3 jam sebelum Sabat dimulai, saat itu, kaum Yahudi bahkan BELUM melakukan PEMOTONGAN HEWAN KURBAN, karena baru dilakukan Setelah semua mayat orang hukuman diturunkan agar tidak menajiskan tanah (Yohanes 19:31; Ulangan 21:22-23), jadi, Yesus bukanlah domba paskah.



    Apa alasan menghukum Yesus?

    Injil menyampaikan suatu plot kejadian yang memerlukan gabungan keterlibatan: Pontius Pilate (Gubernur Yudea) dan Herodes (Gubernur Gelilea), baik dalam nama jabatan sebagai prefect (pejabat militer: Inskripsi tahun 1961) atau procurator (pejabat keuangan) kekaisaran romawi bersama para anggota Sanhedrin (mahkamah agama) Yahudi dalam aksi melakukan hukuman mati bagi Yesus. [lihat juga: The responsibility for the death of Jesus]

    Pengarang injil menjadikan plot kejadiannya justru di hari yang aneh, yaitu PASKAH, seolah seluruh anggota mahkamah Yahudi, TIDAK TAU kegunaan hari paskah bagi mereka dan TIDAK ADA hari lain untuk menjatuhkan hukuman

    Baiklah,
    mari kita lihat pelanggaran HUKUM TAURAT dan HUKUM KERAJAAN apa saja yang dilakukan oleh YESUS.


    Pelanggaran HUKUM TAURAT, diantaranya:

    • Melakukan tindak Pencurian pada hari Paskah dan Mengaku dirinya anak tuhan dan juga Tuhan:
        Pada suatu kali, PADA HARI SABAT, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum [Mat 12:1 => Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya; Luk 6:1 => murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya]. Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?“. Jawab-Nya kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu ABYATAR menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu–yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam–dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya. Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat” [Markus 2:23-28, Matius 12:1-9, Lukas 6:1-5]

      Apakah Daud di kisah itu mencuri?

        Raja Saul marah…hendak membunuh Daud…Daud melarikan diri [1 Sam 20:30-33]. Sampailah Daud ke Nob KEPADA AHIMELEKH..Jawab Daud kepada imam Ahimelekh: “Raja menugaskan sesuatu kepadaku..Maka sekarang, apa yang ada padamu? Berikanlah kepadaku lima roti atau apapun yang ada” Lalu jawab imam itu kepada Daud: “Tidak ada roti biasa padaku, hanya roti kudus yang ada; asal saja orang-orangmu itu menjaga diri terhadap perempuan” Daud menjawab imam itu, katanya kepadanya: “Memang, kami tidak diperbolehkan bergaul dengan perempuan, seperti sediakala apabila aku maju berperang. Tubuh orang-orangku itu tahir, sekalipun pada perjalanan biasa, apalagi pada hari ini, masing-masing mereka tahir tubuhnya.”. Lalu imam itu memberikan kepadanya roti kudus itu, karena tidak ada roti di sana kecuali roti sajian; roti itu biasa diangkat orang dari hadapan TUHAN, supaya pada hari roti itu diambil, ditaruh lagi roti baru. [1 Sam 21:1-5]

      Apa saja yang keliru dari kisah Yesus di ladang Gandum ini?

      • Dalam kasus Daud, DAUD DIBERI ROTI, BUKAN MENGAMBIL TANPA IJIN dan dalam keadaan tahir/tidak berhubungan badan dengan perempuan. Saat itu, Daud berada dalam bahaya kelaparan dan TERANCAM KESELAMATAN akibat hendak dibunuh Saul. Dengan diberikan roti, Daud tidak melanggar Sabat, apalagi, di kasus ini, nyawa terancam, maka sabat boleh dilanggar (1 Makabe 2:41), sedangkan Yesus dan muridnya, TIDAK SEDANG TERANCAM KESELAMATAN, mereka sedang jalan-jalan santai. Jadi berdalih dengan kasus Daud adalah tidak relevan.
      • Dalam kasus Yesus:

        Jika beralasan sebagai jatah orang miskin dan orang asing dengan “Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya, dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu..tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing” [Imanat 19:9-10], MASALAHNYA, tidak disebutkan itu terjadi setelah masa panen yang tentunya kaum farisi juga tahu aturan ini sehingga tidaklah disebut melanggar sabat dan malah jadi mengada-ada membela diri dengan merujuk pada kisah Daud.

        Tuduhan dilontarkan adalah ketika melihat mereka memetik dan makan gandum, maka jika hari itu hari raya buah sulung, orang miskinpun tetap mengacu hukum Taurat, “Apabila kamu sampai ke negeri..dan kamu menuai hasilnya, maka kamu harus membawa seberkas hasil pertama dari penuaianmu kepada imam, dan imam itu haruslah mengunjukkan berkas itu di hadapan Tuhan..Pada hari kamu mengunjukkan berkas itu kamu..JANGANLAH KAMU MAKAN roti, atau gandum baru itu, baik mentah, dipanggang, sampai kamu telah membawa persembahan Allahmu;itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu turun-temurun [Imanat 2:10-14]. Inilah yang dilanggar, ketika mengutip Daud untuk membela diri, ini mengada-ada.

        Jika beralasan dengan “Apabila engkau melalui/berada (bow’) ladang gandum sesamamu yang belum dituai, engkau boleh memetik bulir-bulirnya dengan tanganmu, tetapi sabit tidak boleh kauayunkan kepada gandum sesamamu itu” [Ulangan 23:26], MASALAHNYA, di Mishnah Bava Metziah 7:2 spesifik menyatakan bahwa ayat ulangan itu BERLAKU bagi para pekerja yang bekerja pada ladang majikannya BUKAN bagi YANG SEDANG MELINTAS, Sementara Yesus dan pengikutnya BUKANLAH PEKERJA LADANG TERSEBUT, JUGA TIDAK MEMINTA IJIN DAN TIDAK ADA YANG MEMBERIKAN PADA MEREKA. Mereka ini tertangkap tangan SEDANG MENCURI bulir Gandum. Jika sebagai pekerjapun konyol mengingat “6 hari lamanya engkau bekerja, tetapi pada hari yang ke-7 haruslah engkau berhenti, dan dalam musim membajak dan musim menuai haruslah engkau memelihara hari perhentian juga” [Keluaran 34:21]. Pencurian ini melanggar Sabat, menodai kekudusan Sabat

      • Yesus juga salah menyebut nama Imam besar pada kisah Daud, yang harusnya BUKAN Abyatar, melainkan Ahimalek bin Ahtub [1 Sam 22:9], Ahimalek dari Nob punya anak bernama Abyatar [22.20] yang kelak ikut dengan Daud.

        Seorang yang diklaim Tuhan, tapi salah sebut nama, tentunya sangat tak elok, bukan? Juga, hal ngawur lain yang terkait Daud, misalnya:

        Ketika orang-orang Farisi sedang berkumpul, Yesus bertanya kepada mereka: “Apakah pendapatmu tentang Mesias (Christos)? Anak siapakah Dia?” Kata mereka: “Anak Daud.” Kata-Nya kepada mereka: “Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh (pneuma) dapat menyebut Dia Tuannya (kurios), ketika ia berkata: Tuhan (Kurios) telah berfirman kepada Tuanku (Kurios mou): duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Jadi jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?” [Matius 22.42-45, Lukas 20.41-44].

          Note:
          Mesias adalah orang yang dipilih (Yahudi/bukan) untuk (1) menolong/menyelamatkan bangsa ISRAEL dari: bangsa lain atau menyembah Tuhan lain dan menegakkan Taurat (sample: Musa, Samson dan Balaam) atau (2) terkait dengan kuil di Yerusalem (memerintahkan/membangun kuil agau memastikan KUIL TIDAK BERALIH FUNGSI untuk menyembah tuhan lain)

        Yesus saat itu, mengutip Mazmur 110.1, “Mazmur Daud. Demikianlah firman TUHAN (Yahova) kepada tuanku (‘Adon): “Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu”.

        Kaum Farisi sudah benar, karena tuanku (Adon/kurios) yang dimaksud memang merujuk pada SULAIMAN/SOLOMON, anaknya Daud sendiri, yang derajatnya menjadi tinggi karena Y@hova mengangkatnya menjadi anak, karena ditunjuk untuk membangun KUIL:

        “Sesungguhnya, seorang anak laki-laki akan lahir bagimu; AKAN MENJADI SEORANG YANG DIKARUNIA KEAMANAN (HAYAH ‘IYSH M@NUCHAH). Aku akan mengaruniakan KEAMANAN kepadanya dari segala musuhnya di sekeliling. Ia akan bernama Salomo; SHALOM/DAMAI dan SHEQET/SEJAHTERA akan Kuberikan atas Israel pada zamannya. DIALAH YANG AKAN MENDIRIKAN RUMAH BAGI NAMA-KU dan DIALAH YANG AKAN MENJADI ANAK-KU dan AKU AKAN MENJADI BAPANYA; Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya atas Israel sampai selama-lamanya [1 Taw 22.9-10]

        Dan dari antara anak-anakku sekalian–sebab banyak anak telah dikaruniakan TUHAN kepadaku–Ia telah memilih anakku Salomo untuk duduk di atas takhta pemerintahan TUHAN atas Israel. Ia telah berfirman kepadaku: Salomo, anakmu, dialah yang akan mendirikan rumah-Ku dan pelataran-Ku SEBAB AKU TELAH MEMILIH DIA MENJADI ANAK-KU dan AKU MENJADI BAPAKNYA. Dan Aku akan mengokohkan kerajaannya sampai selama-lamanya [1 Taw 28.5-7].

        Juga di setelah PENOBATAN SOLOMO (diurapi oleh IMAM ZADOK):

        “..pegawai-pegawai raja telah datang mengucap selamat kepada tuan kita raja Daud, dengan berkata: Kiranya Allahmu membuat nama Salomo lebih masyhur dari pada namamu dan takhtanya lebih agung dari pada takhtamu. DAN RAJAPUN TELAH SUJUD MENYEMBAH DI ATAS TEMPAT TIDURNYA, dan beginilah katanya: Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang pada hari ini telah memberi seorang duduk di atas takhtaku yang aku sendiri masih boleh saksikan.” [1 Raja-raja 1.47-48]

        Alasan lain bahwa ini merujuk pada Solomo:
        “TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: “Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek” (Mazmur 110.4). Anak-anak Daud menjadi Imam [2 Sam 8.18], Solomo, anak Daud, dipilih Yahova, jadi Shlomo imam yang diurapi/Mesias. Melkisedek juga sebutan, “Melkisedek, RAJA SALEM (MELEK SHALEM) [Kejadian 14.8], sebutan lainnya “AdoniZedek, raja Yerusalem” [Yosua 10.1]

        Di buku abad ke-19, buku yang dikategorikan Pseudopigraph, berjudul “Kitab Raja Solomo”, pengarangnya bernama Ahimaaz (ini juga menarik karena nama anak Zadok adalah Ahimaaz), pada bab “Gua Waktu” yang bercerita tentang Imam bernama Melkisedek meminta Adam agar mememberikan 60 tahun umurnya pada Sulaiman, jika tidak maka Sulaiman tidak akan ada [“Book of King Solomon” (sefer ha-melekh shelomoh akhimaatz mazkir malkhuti), translator: Prof. Solomon, 2005, ch 9: “Cave of Ages”, hal.42-47].

        Kisah ini mengkaitkan Imam bernama Melkisedek dengan Solomo

          Apa maksud Melki/Adoni-Zedek?
          Sebelumnya, Yerusalem, tidak terkait kaum Yahudi, awalnya merupakan sentra budaya Kanaan kuno, kaum Yebusit, pemuja Dewa EL-LYON yang punya nama lain, SEDEK dan SALIM. Nama SALIM menjadi nama anaknya David, yaitu SHLOMO (Ibunya orang kanaan, Batsheba) dan juga nama kota itu. [“A History of Religion East and West: An Introduction and Interpretation”, Trevor Ling, hal.45]. EL-SEDEK, dewa utama Kanaan kuno juga disebut MELCHI/MALKI/MALEK/ADONI-SEDEK atau “SEDEK adalah RAJAKU” [“Why Priests?: A Failed Tradition“, Garry Wills]. Salem, Dewa Senja kaum Kanaan, adalah dewa Keteraturan dan KEADILAN. Baik David maupun Shlomo menghindari friksi, tidak hanya antar dua kebudayaan, yaitu Kanaan dan kaum pendatang baru Yahudi, namun juga antar Dewa SALEM dan Dewa YAHWE, Dewa perang kaum Yahudi. Untuk menghormati Salem, Shlomo mengubah kuil yang asalnya terbuka menjadi beratap dan mengayomi dua grup kepercayaan berbeda. Bernhard Lang, menambahkan dalam catatan kakinya, tulisan Keel, “Die Geschichte Yerusalem undi Entstehung des Monotheismus”, vol. 1, hlm. 264-333: “bukti yang berasal dari nubuat alkitabiah yang kata-kata aslinya, meski dikaburkan dalam teks Ibrani, dapat direkonstruksi berdasarkan teks Septuagint/Yunani: ‘Matahari tahu dari langit bahwa Yahweh akan tinggal dalam kegelapan. Jadi, bangunlah rumah bagiku, sebuah rumah yang agung sehingga aku dapat tinggal di dalamnya lagi ‘(direkonstruksi dari 1 Raja-raja 8:53 teks Yunani; bahasa Ibrani hanya memiliki fragmen yang diedit dalam 1 Raja-raja 8: 12-13). Implikasinya adalah Dewa matahari butuh sebuah kuil dengan ruang gelap untuk menampung tamunya, Yahweh” [“Hebrew Life and Literature: Selected Essays“, Bernhard Lang]

        Sehingga bagi Daud, Shlomo, bukan cuma anaknya tapi juga tuannya.

        Mengherankan sekali, jika seorang yang diklaim sebagai Tuhan kaum Israel, namun justru buta tentang 2 raja Israel yang paling top dalam sejarah Yahudi.

      • Setelah kedapatan mencuri bulir gandum dan melanggar taurat, Yesus berdalih sebagai Tuhan. Ini adalah pelecehan terhadap Tuhan.

        Pelecehan terhadap Tuhan, terekam juga di banyak kejadian, misalnya di suatu ayat, Ia mengajarkan bahwa tuhan TIDAKLAH satu: “..baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” [Matius 28:19]” atau di ayat lainnya dengan mengklaim dirinya sama degan Tuhan: “Aku dan Bapa adalah sama/satu (hen)” [Yohanes 10:30]

        Saat dituduh melecehkan tuhan dengan menyatakan dirinya sama dengan tuhan, Yesus berdalih karena taurat mengatakan, “Aku telah berfirman: Kamu (eimy) adalah allah (theos, single)?” [Yoh 10:34], Kalimat yang diklaim Yesus ini, merupakan kutipan dari kitab Mazmur:

        Para Allah (Elohim) berdiri di persidangan Allah (El), di tengah-tengah (qereb) para allah (Elohim) menghakimi: “Berapa lama lagi kamu menghakimi dengan lalim dan memihak kepada orang fasik? Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan kepada anak yatim, belalah hak orang sengsara dan orang yang kekurangan! Luputkanlah orang yang lemah dan yang miskin, lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik!” Mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa, dalam kegelapan mereka berjalan; goyanglah segala dasar bumi. Kataku (aniy amar): “Kamu (attah) para allah (elohim) berada atas segalanya (ben elyown kol), Namun seperti manusia kamu akan mati dan seperti salah seorang pembesar kamu akan tewas.” bangkitlah (quwm) para Allah (Elohim), hakimilah bumi, sebab milikmu segala (kol) bangsa (gowy: biasannya non Israel). [Masmur 82.1-8]

        Tampak jelas klaim Yesus salah alamat, karena Para Allah yang dimaksudkan dalam mazmur ini, TIDAK merujuk pada jenis manusia.

        Statement bahwa Allah TIDAK satu, sama dengan dirinya, MELANGGAR pengakuan Iman (Shema, arti literal: “dengarlah”) ajaran Yahudi: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu SATU!” (Ulangan 6:4), Ini kemudian ditulis di atas kulit lembu (perkamen) dan disebut Mezuzah, ditempelkan di pintu rumah dan juga diletakan dalam kotak kulit berbentuk kubus cat hitam dengan ikat kulit hitam (Tefillin). Pengakuan iman ini diajarkan pertama kalinya ketika mereka masih kecil, diucapkan setiap hari, sampai menjelang wafat

      Pada kasus ini,
      Yesus telah melanggar 3 dari 10 Perintah Y@hova, yaitu larangan ke-1 [Pendakwah (Nabi, saudara laki-laki, anak ibu, anak sendiri: Pria/wanita, isteri atau sahabat karibmu) yang mengajak MURTAD dan/Atau menyembah Allah lain (Ulangan 13.5-10); larangan ke-3 [menghujat/mengutuki atau menyebut nama tuhan dengan kesia-siaan/sembarangan (Imamat 24.15-16) dan larangan ke-8, yaitu mencuri kekayaan fisik (Imamat 6.2,5)

      Selain urusan bulir gandum, ada beberapa insiden lain yang menunjukan Yesus dan pengikutnya terbiasa merampas/mengambil barang tanpa ijin, misalnya:

      Kasus 2 ekor keledai:

        Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah dekat Yerusalem dan tiba di Betfage yang terletak di Bukit Zaitun, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan:

        “Pergilah ke kampung yang di depanmu itu, dan di situ kamu akan segera menemukan (Heurisko) SEEKOR KELEDAI BETINA (ONOS) TERTAMBAT DAN ANAKNYA (POLOS) ada dekatnya. LEPASKANLAH/AMBIL/LANGGAR (Luo) keledai itu dan BAWALAH KEDUANYA kepada-Ku. (MARKUS 11.2 -> ..Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan segera HEURISKO SEEKOR KELEDAI MUDA (POLOS) TERTAMBAT, yang belum pernah ditunggangi orang. LUO keledai itu dan bawalah ke mari. LUKAS 19.30 -> Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan HEURISKO SEEKOR KELEDAI MUDA (POLOS) TERTAMBAT, yang belum pernah ditunggangi orang. LUO keledai itu dan bawalah ke mari). DAN JIKALAU ADA ORANG YANG MENEGOR KAMU, katakanlah: TUHAN (KURIOS) MEMERLUKANNYA. Ia akan segera mengembalikannya.” (MARKUS 11.3 -> DAN JIKA ADA YANG MENGATAKAN KEPADAMU: Mengapa kamu lakukan itu, jawablah: TUHAN (KURIOS) MEMERLUKANNYA. Ia akan segera mengembalikannya ke sini. LUKAS 19.31 -> 19:31 DAN JIKA ADA ORANG YANG BERTANYA KEPADAMU: Mengapa kamu melepaskannya? jawablah begini: TUHAN (KURIOS) MEMERLUKANNYA. YOHANES 12.4 -> YESUS MENEMUKAN (Heurisko) SEEKOR KELEDAI MUDA LALU IA NAIK KE ATASNYA,..).

        HAL ITU TERJADI SUPAYA GENAPLAH FIRMAH YANG DISAMPAIKAN OLEH NABI: “Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” Maka pergilah murid-murid itu dan berbuat seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka. Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesuspun naik ke atasnya. [Matius 21:2-7, Markus 11:2-7 dan Lukas 19:30-35. Juga Yohanes 12.12-16]

      3 Injil sinoptik: Yesus menyuruh muridnya + “JIKA ADA YANG MENEGURMU/BERTANYA” VS Kitab Yohanes: Yesus sendiri yang melakukannya (YESUS MENEMUKAN SEEKOR KELEDAI MUDA LALU IA NAIK KE ATASNYA).

      Bagaimana mungkin kejadian sepenting ini, INGATAN MEREKA TIDAK SAMA? dan KELEDAI itu jelas diperolehnya SECARA MENGGELAP/tanpa IJIN (baik dilakukan sendiri atau menyuruh orang lain), padahal Keluaran 23.4 sudah menyampaikan dengan jelas, “Apabila engkau melihat lembu musuhmu atau keledainya yang sesat, maka segeralah kaukembalikan” bahkan para Nabi lainnya misal: Abraham (Kej 22.3), Musa (Kel 4.20), dan lainnya pun tidak ada yang melakukannya dengan mencuri.

      Terjemahkan “kurios” = TUHAN bukan TUAN/PEMILIK, membuat Yesus, hanya di 3 tempat ini saja TAMPAK menyebut diri sebagai TUHAN, namun INI MENJADI TIDAK SINGKRON dengan ayat selanjutnya, karena PARA MURIDNYA SENDIRI TIDAK menyebutnya TUHAN tapi “RAJA..” [Lukas 19.38]. Anehnya, di YOHANES 12.13, yang berucap BUKAN MURIDNYA melainkan KHALAYAK: “mereka .. berseru-seru: …Raja Israel!” atau di MATIUS 21.11: “Dan orang banyak itu menyahut: “Inilah NABI..” atau di Markus 11. 9, “Dia yang datang..” Jadi, seluruh lanjutan ayat di 4 injil TIDAK ADA yang menyebutnya TUHAN.

      Menterjemahkannya menjadi TUHAN, maka NAS menjadi tidak terpenuhi, karena SEHARUSNYA YANG DATANG ADALAH RAJA bukan TUHAN/NABI: “Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, RAJAMU DATANG kepadamu”. Namun, apapun terjemahannya, baik itu TUHAN/TUAN/PEMILIK, tetap saja aneh, karena BUAT APA Tuan/Pemiliknya PERLU BERJANJI AKAN MENGEMBALIKAN BARANGNYA SENDIRI?. Bahkan hingga Yesus wafat, TIDAK ADA keledai itu dikembalikannya

      Bahkan, kalimat “HAL ITU TERJADI SUPAYA GENAPLAH FIRMAH YANG DISAMPAIKAN OLEH NABI..” jelas menunjukan ADA TUJUAN MENIPU DENGAN MEREKAYASA KEJADIAN. Ide ini brilian bagi yang terjepit! Karena toh SUDAH BANYAK yang marah padanya hingga melemparinya dengan batu [Yoh 8:59, Yoh 10:31]. “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.”[Yoh 10:33] demikian mereka katakan, menurut hukum taurat, mereka yang: menghujat Allah [Imanat 24:16], melanggar sabath [kel 31:14-15, 35:2] bagiannya adalah MATI. TUHAN akan membinasakannya [Imanat 23:30] dan memerintahkan untuk DIBINASAKAN [Bil 9:13].

      Oleh karenanya, “Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya” [Yoh 11:53-54]. Hingga 2 hari menjelang paskah. Para Yahudipun mencarinya dan bertanya-tanya apakah di hari paskah Yesus akan ke Yerusalem, sementara itu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi telah memberikan perintah supaya setiap orang yang tahu di mana Dia berada memberitahukannya, agar mereka dapat menangkap Dia.[Yoh 11:55-57].

      Siapa tahu, kali ini manjur, karena untuk level tuhan, dilempari batu dan sembunyi tidaklah elok. Namun itu tetap tidak berhasil, Ia tetap di adili dan bahkan ketakutan dimenjelangnya: “..Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia SANGAT KETAKUTAN (Di matius 26.37, “..Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar“) dan makin bersungguh-sungguh berdoa. PELUHNYA MENJADI SEPERTI TITIK-TITIK DARAH YANG BERTETESAN KE TANAH [Lukas 22.41-44]

      Klaim Alkitab bahwa para khalayak mengelu-elukannya sebagai raja Israel JELAS TIDAK BENAR, sekurangnya 3 penulis lainnya menyampaikan bahwa di abad ke-1 MASEHI, yaitu puluhan tahun setelah Yesus wafat, Kaum Yahudi TIDAK PERNAH menganggap Mesiah sudah datang, mereka disaat itupun, masih terus menantikan kedatangannya:

        Di kisaran sebelum pemberontakan Yahudi ke-1 (66-70 M), di kalangan Yahudi beredar kepercayaan bahwa Mesias dari kalangan mereka, akan menjadi gubernur di muka bumi. [“The War of The Jews”, Josephus, Ch.6.5 dan “Hitories”, Tacitus 5.13.] Juga dalam “The Life of Vespasia”, Suetonius, 4.5: “Telah tersebar di seluruh Timur Tengah kepercayaan kuno yang mapan, bahwa saat itu telah ditakdirkan, orang-orang yang datang dari Yudea akan memerintah dunia. Prediksi ini mengacu pada Kaisar Roma..

      Pemberotakan Yahudi ke-1 ini dipadamkan Titus dan berimbas pada hancurnya kuil ke-2/Kuil Herod (Pada bagian Barat kuil ini terdapat tembok yang kelak disebut TEMBOK RATAPAN). Ini di sebut kuil ke-2 karena dibangun setelah kuil ke-1/kuil Sulaiman dihancurkan Nebukadnesar II.

      Memang BELUM TENTU para khalayak Yahudi itu benar, namun, apakah pertimbangan dan ramalan Yesus benar? SAMA SEKALI TIDAK.

        “Yesus keluar dari Bait Allah…datanglah murid-murid-Nya dan menunjuk kepada bangunan-bangunan Bait Allah (HIERON). Ia berkata kepada mereka: “Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya TIDAK SATU BATUPUN DI SINI AKAN DIBIARKAN TERLETAK DI ATAS BATU YANG LAIN; SEMUANYA AKAN DIRUNTUHKAN” [Mat 24.1-2. Bait Allah yang sama di Yoh 2.19-20]


      Yesus TELAH KELIRU
      , karena BAHKAN hingga kini, batu-batu yang terletak di atas batu lainnya, masih dapat kita lihat sebagai TEMBOK RATAPAN!

      Kasus Pembantaian 2000 Babi:

        Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara/Gerasa, datanglah dari pekuburan DUA ORANG YANG KERASUKAN SETAN [MARKUS 5.3 dan LUKAS 8.27 -> JUMLAH ORANG YG KERASUKAN = 1]…Tidak jauh dari mereka itu [LUKAS 8.32 dan MARKUS 5.11 -> LERENG GUNUNG/BUKIT] sejumlah besar babi sedang mencari makan. Maka setan-setan itu [MARKUS 5.9 -> Kawanan Setan itu bernama LEGION] meminta kepada-Nya, katanya: “Jika Engkau mengusir kami, SURUHLAH KAMI PINDAH KE DALAM SEKAWANAN BABI ITU.” Yesus berkata kepada mereka: “Pergilah!” [LUKAS 8.32 dan MARKUS 5.13 -> Yesus mengabulkan permintaan mereka] Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Maka terjunlah seluruh kawanan babi itu [MARKUS 5.12 -> JUMLAH BABI =2000] dari tepi jurang ke dalam danau dan mati di dalam air. Maka larilah PENJAGA-PENJAGA BABI ITU dan setibanya di kota, diceriterakannyalah segala sesuatu, juga tentang orang-orang yang kerasukan setan itu. [Matius 8.28-34, Lukas 8.26-34, Markus 5.1-14]

      Yesus tampaknya kurang berbakat dalam mengusir setan, karena para manusia lainnya bisa menyembuhkan kesurupan tanpa perlu membantai ribuan binatang yang tidak bersalah, Ribuan Tuhan lain, pastinya sangat mudah menaklukan setan, tidak perlu sampai membantai ribuan binatang pula.

      Ditambah lagi aksi ngawurnya main hakim sendiri mengabulkan permintaan setan untuk menuju babi-babi itu sebagai sasaran, padahal babi-babi itu bukanlah miliknya atau milik kristen lainnya, juga babi-babi itupun bukan babi liar, ada pemiliknya, para penjaga babi. Ini jelas pencurian dengan pembantaian.

      Ada hukum Taurat yang menyatakan “Apabila seseorang mencuri seekor lembu ATAU seekor domba DAN MEMBANTAINYA atau menjualnya, maka IA HARUS MEMBAYAR GANTINYA, yakni 5 ekor lembu ganti lembu itu dan 4 ekor domba ganti domba itu [Keluaran 22:1] namun ini hanya berlaku untuk lembu dan domba [Baba Kama 67b].

      Apakah ada ganti rugi bagi pencuri dan pembantai babi?

      Dalam Talmud Babilonia, hukum sipil (Traktat Baba Kamma), Gemara, Ch,6 dikatakan: “Terdapat lebih banyak kasus untuk ganti rugi 2x lipat daripada gantirugi 4x/5x lipat. Untuk ganti rugi 2x aplikasinya untuk sesuatu yang hidup dan tidak hidup, sementara 4x/5x lipat hanya pada kasus lembu dan domba”. Hukum Taurat menegaskan bahwa seorang pencuri harus mengembalikan barang yang dicurinya dengan segala biayanya

      Berapa besar kerugian para peternak akibat ulahnya?

      Jika merujuk pada harga Babi antara bulan Jan-April 2008 yaitu Rp.3.5 jt/ekor, jadi, 2000 babi = Rp.7 Milyar (belum termasuk lainnya). maka biaya ganti rugi minimum 7 Milyar, apalagi jika di 2x-nya sesuai Gemara ch.6

      Sehingga wajar saja jika beliau kemudian kabur meninggalkan kota. Untunglah beliau ini tidak terlahir di jaman ini, bisa-bisa diamuk masa dan dibakar hidup-hidup karenanya

    • Melanggar ketentuan berpuasa saat Sabat:

      Yesus makan di rumah Matius..[Matius 9.10]..Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” [Matius 9.14. Di Markus 2.18 -> Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?”. Di Lukas 5:33 -> Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum”]

      Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa [Matius 9.14, Lukas 5.34-35, Markus 2:19-20]

      Hukum Taurat mana yang dilanggar Yesus?
      Lukas 18.12 menyebutkan bahwa Orang Farisi berpuasa 2x seminggu, sementara itu, umat kristen awal juga diketahui melakukan puasa 2x seminggu, misalnya Didache (ajaran 12 rasul) 8.1 -> “Jangan kamu berpuasa bersama orang-orang yang munafik (Besar kemungkinan merujuk pada kaum Yahudi), karena mereka berpuasa pada hari ke-2 dan ke-5 setiap minggu. Adapun kamu, berpuasalah pada hari ke-4 dan hari persiapan (ke-6)”.

      Karena ada kalanya, ke-2 Golongan ini puasa bersama-sama, karena hari berpuasa mereka tidak sama, maka saat puasa bersama hanya terjadi di saat sabat tertentu saja [Imanat 23.14 dan 23.27], juga, Yesus menyampaikan bahwa murid-muridnya berpuasa saat ia diambil (untuk menebus dosa manusia), maka ini mengindikasikan hari itu adalah sehari sebelum hari raya Pendamaian.

      Bagi kaum Yahudi, setiap bulan ke-7 hari ke-10 adalah hari raya pendamaian (kippurim = “menutupi”, menutup dosa dengan memberikan pembayaran yang setara) untuk pengampunan dosa bangsa Israel. Kegiatan hari itu: Tidak bekerja, BERPUASA (mulai tanggal 9), mengadakan pertemuan untuk beribadat dan mempersembahkan kurban makanan kepada TUHAN. Barangsiapa makan sesuatu pada hari itu, tidak dianggap lagi anggota umat Allah [Imamat 23.26:32]

        “Apabila kamu dengan tidak sengaja melalaikan salah satu dari segala perintah ini, yang telah difirmankan TUHAN kepada Musa, yakni dari segala yang diperintahkan TUHAN kepadamu dengan perantaraan Musa, mulai dari hari TUHAN memberikan perintah-perintah-Nya dan seterusnya turun-temurun..maka haruslah ia mempersembahkan kambing betina berumur setahun sebagai korban penghapus dosa dan imam haruslah mengadakan pendamaian di hadapan TUHAN bagi orang yang dengan tidak sengaja berbuat dosa itu, sehingga orang itu beroleh pengampunan..Baik bagi orang Israel asli maupun bagi orang asing yang tinggal di tengah-tengah kamu, satu hukum saja berlaku bagi mereka berkenaan dengan orang yang berbuat dosa dengan tidak sengaja. TETAPI orang yang berbuat sesuatu dengan sengaja, baik orang Israel asli, baik orang asing, orang itu menjadi penista TUHAN, ia harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya, sebab ia telah memandang hina terhadap firman TUHAN dan merombak perintah-Nya; pastilah orang itu dilenyapkan, kesalahannya akan tertimpa atasnya.”[Bilangan 15]
    • Melanggar batas perjalanan Sabat (Keluaran 16.29)

      Batasan perjalanan yang tidak boleh dilanggar menurut Bilangan 35.5 dan Yosua 3.4-5, yaitu 2000 hasta, (1 hasta: 45.72 cm atau 51.5 cm atau 55.6 cm). Jadi 2000 hasta = 0.9144 km s.d 1.112 km. Ini terjadi di tanggal 15 Nisan, yaitu setelah makan malam Paskah, Beliau pergi ke luar kota, ke seberang sungai Kidron menuju bukit Zaitun (Markus 14:17-26; Matius 26:17-30; Lukas 22:7-39; Yohanes 18.1).

      Jarak kota – Bukit Zaitun: 3.5 km – 4 Km (Getsemani di kaki bukit Zaitun dan Bethani, di lereng bukit Zaitun). Pelanggaran mengadakan perjalanan melampau batas sabat dapat di hukum mati (Bilangan 15.30-36)


    Pelanggaran HUKUM KERAJAAN, di antaranya:

    • Melakukan pemberontakan:
      menyuruh menimbun persenjataan dan membiarkan terjadinya tindak kekerasan terhadap aparat kerajaan.

      Sebelum ke luar kota menuju bukit Zaitun, Yesus perintahkan pengikutnya untuk membeli senjata: “sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang”.[Luk 22:36-38].

      Saat di jemput di Getsemani:
      Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus” [Yohanes 18:10-11. Juga lihat di Matius 26:51-52, Lukas 22: 52]

      Dalih membeli pedang:
      Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak” [Lukas 22:37]

      Fakta:
      Yesus menyuruh jemaatnya membeli SENJATA, tertangkap tangan dengan senjata dan menggunakan senjata serta mengakui sendiri agar dianggap sebagai pemberontak.

    • Melarang membayar pajak, menghalangi aparat pajak bekerja:
        “Telah kedapatan oleh kami, bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar, dan tentang diri-Nya Ia mengatakan, bahwa Ia adalah Kristus, yaitu Raja.” [Lukas 23.2]

      Sebelum Yesus lahir,
      Herodes yang agung (Ayah dari Herodes Antipas) berhasil melakukan hal-hal besar [Excavating Jesus, J D Crossan & J L Reed, SPCK, 2001], kerajaannya aman dari bandit dan invasi, pekerjaan umum terlaksana: Jalan dan pelabuhan laut dibangun memfasilitasi peningkatan besar dalam perdagangan dan produksi pertanian.

      Keberhasilan pembangunan ini adalah atas pajak yang langsung diterima Herodes.

      Setelah kematian Herodes,
      perekonomian mengalami kemunduran,Yudea dan Samaria di bawah kekuasaan Romawi dan hasil pajak sekarang langsung menuju Roma tidak lagi via penguasa Herodian lokal. Pajak yang umum dipungut, diantaranya: (1) Pajak tanah, (2) Pajak kepala: dikenakan pada laki-laki oleh Kirenius berdasarkan daftar wajib pajak, (3) Pajak bea cukai atas barang melewati gerbang kota dan di pelabuhan (4) Pajak pembangunan KUIL dan bisnis lain yang berhubungan dengan kuil

      Agama Yahudi sangat jelas mendefinisikan bahwa TIDAK ADA PAJAK untuk PENJAJAH KAFIR. Para fanatik agama yang secara konstan mengacaukan negara ini dapat dihancurkan.

        [Gamaliel, seorang Farisi di Sanhedrin/Mahkamah Agama]: Sebab dahulu telah muncul si Teudas, yang mengaku dirinya seorang istimewa dan ia mempunyai kira-kira empat ratus orang pengikut; tetapi ia dibunuh dan cerai-berailah seluruh pengikutnya dan lenyap.Sesudah dia, pada waktu sensus penduduk, muncullah si Yudas, seorang Galilea. Ia menyeret banyak orang dalam pemberontakannya, tetapi ia juga tewas dan cerai-berailah seluruh pengikutnya.[KPR 5.29,36-37]

        Note:
        Ini bukan sensus penduduk (juga di Lukas 2.1-2) namun pendaftaran wajib pajak yang digalakakn pada jaman Gubernur Syiria dan Judea, Quirinius (6 Masehi). Ini memicu pemberontakan, Judas dari Galilea. Kejadian atas keputusan pajak berikutnya kelak terjadi lagi di Galilea tahun 44 dan puncak terhebatnya adalah tahun 66-73 yang berakhir dengan lenyapnya bait suci dari Jerusalem dan hancurnya bangsa Yahudi di Yerusalem

      Para telonai (petugas pajak) dikaryakan, mereka ini merupakan kontraktor sipil yang ditenderkan untuk mengumpulkan pajak di bawah pengawasan gubernur. Para petugas ini datang langsung menilai barang kena pajak dan sistem ini rentan penyalahgunaan sehingga tidak mengherankan para pemungut pajak dianggap sekelas kafir dan pendosa.

        “Apabila saudaramu berbuat dosa..jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut pajak. [Matius 18.15-18]

      Yesus jelas tidak pro Romawi dan punya cara halus untuk menghambat aliran uang pajak sampai ke tangan pemerintahan kafir Romawi, di antaranya:

        SELURUH (Pas) pemungut pajak (Telone)..biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia”[Lukas 15:1]

      Karena seluruh pemungut pajak tidak ada yang bertugas maka pendapatan pajak kerajaan menjadi berkurang.

      Setelah Romawi menduduki area Yerusalem sekitar,
      Kaum agamawan Yahudi tidak lagi berkewenangan untuk mencetak mata uang sendiri dan berdampak pada pelaksanaan ibadah keagamaan, misalnya di aturan Taurat Musa bahwa setiap pria Yahudi diatas 20 tahun WAJIB memberikan uang perdamaian atau persembahan khusus kepada Tuhan untuk keperluan Ibadah, yaitu 1/2 Shekel (2 dirham)/tahun (Kel.30.13-16, 38.26) yang aplikasi pengumpulannya disebutkan dalam tract Shekalim Ch.1: “Tanggal 15 s.d 25 Adar, jatuh temponya kewajiban iuran 1/2 shekel, pengumpul dan/atau penukaran uang didirikan di luar Yerusalem. Mulai tanggal 25, semakin ramai pembayar dan kerumunan massa menuju Jerusalem, pengumpul/penukar uang juga duduk di pelataran kuil“.

      Peziarah yang datang dari berbagai penjuru, tidak semua siap dengan koin Shekel Yahudi dan karena Yerusalem berada dibawah pemerintahan Romawi, mereka bepergian enggan membawa koin romawi yang tidak berlaku untuk urusan ini (karena ada gambar raja dan tulisan anak tuhan dan juga karena beratnya tidak sama dengan aturan 1/2 shekel) sehingga perlu ditukar dengan shekel Yahudi, juga pada pajak-pajak lainnya yang menggunakan koin yang diserahkan/ dibawa ke tempat ibadah maupun koin halal untuk membeli bahan-bahan keperluan beribadah, misalnya, binatang sebagai kurban sesembahan.

      Mengapa?

      Koin Romawi dan koin lainnya dianggap melecehkan hukum ke-1 dan ke-2 dari 10 perintah Y@hova, karena terdapat gambar raja dan juga tulisan: “raja y anak tuhan x”. Untuk mengatasi kendala ini, maka sebagai solusinya, Sanhedrin/mahkamah agama, bersepakat untuk menggunakan koin keluaran kota Tirus (gambar di bawah kanan). Sehingga ketika hendak beribadah, mereka dapat menukarkan koin tidak halal tersebut dengan koin halal keluaran kota tirus.

      Keadaan ini menjadi peluang bagi beberapa orang berupa menjamurnya usaha penukaran uang di sekitar tempat Ibadah [dan juga penyedia bahan-bahan ibadah lain di sekitar tempat ibadah, setelah mereka menukarkan koin tersebut] dan jenis usaha baru ini juga menjadi lahan barang kena pajak bagi pemerintahan Romawi. Hal ini men-tradisi selama bertahun-tahun hingga kemudian Yesus melakukan gebrakan untuk menghentikan pemanfaatan ibadah untuk kepentingan bisnis

        Ia masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati.. [Matius 21:12-14] dan Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.” Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: “Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: “46 tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. [Yohanes 2.15-21]

        Padahal mereka disana ini, disamping untuk pengumpulan dan/atau penukaran uang tebusan pendamaian, juga sesuai aturan Taurat Musa, “Persembahan KURBAN berupa lembu/sapi, kambing/domba,..harus membawanya ke pintu Kemah Pertemuan, supaya TUHAN berkenan..(lembu: disembelih di hadapan TUHAN; kambing: disembelih di sisi mezbah sebelah utara di hadapan TUHAN) ..menyiramkan darahnya pada mezbah sekelilingnya ..Jikalau persembahannya dari burung ..Imam harus membawanya ke mezbah ..Darahnya harus ditekan ke luar pada dinding mezbah ..Temboloknya serta dengan bulunya haruslah disisihkan dan dibuang ke samping mezbah sebelah timur, ke tempat abu” [Imanat Ch 1 dan Ch.12: perempuan habis melahirkan]

        Jadi semua proses kurban persembahan tersebut HARUS DILAKUKAN DISEKITAR MEZBAH dan PINTU, maka wajar binatang kurban ada di area kuil. Juga, menjadi tidak praktis bagi peziarah jarak jauh membawa serta kurban persembahannya.

        Sehingga aksinya ini malah mengacaukan hukum Taurat.

        Seiring meningkatnya jumlah peziarah, harga kurban juga meningkat, sehingga pernah di misnah, yaitu kritut 1.7, mengisahkan bagaimana Rabi Simon bin Gamaliel, menyiasati tingginya harga burung dengan mengubah aturan kurban bagi orang miskin, yang asalnya 2 burung menjadi 1 burung saja.

        Bayangkan, seorang biasa dan bukan diakui Tuhan saja malah jauh lebih bijaksana.

      Yesus-pun mencoba memberikan solusi, yaitu:

        “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat..Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. [Matius 6:5-6]

        Paulus:
        Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang. [KPR 17:25]

      Solusi Yesus dan Paulus yang mengajak mereka berhenti mengunjungi bait Allah benar-benar buruk bagi para imam, penganut setia dan juga para pemerintahan romawi, karena:

      • Pendapatan para imam menjadi menurun
      • Perekonomian (misal: bisnis penukaran uang, penjual bahan-bahan ibadah dan juga perternakan, pertanian, buruh angkut, dan transportasi) menjadi berputar semakin lambat: melemahnya permintaan, maka supply-pun melemah
      • Karena demand dan supply terganggu dan bahkan melemah, maka pendapatan kena pajak yang diterima pemerintah romawi dari tanah, pemanfaatan tanah, pajak perkepala, bea cukai barang masuk-keluar, pajak bisnis tukar menukar uang dan ritual menjadi semakin berkurang
      • Orang yang menggadaikan tanahnya menjadi semakin tidak mampu membayar pajak, mereka menjadi budak, pekerjaan berkurang, kelaparan meningkat, mereka menjadi beban kerajaan dan membuat keadaan menjadi semakin rawan!

      Singkat kata: Dengan tidak ada perdagangan -> tidak ada pajak, Dengan tidak ada pajak -> tidak ada perdagangan!

      Jika apa yang dilakukan Yesus dan Paulus ini benar dan direstui Y@hova, maka kemana Y@hova pada tahun 70 Masehi? ketika jutaan umat pemuja Y@hova tewas dan ribuan orang menjadi budak, bait Allah lenyap SELAMA-LAMANYA dan para umat Y@hova terpencar keluar dari Yerusalem. Ini semua justru terjadi karena protes pajak!

      Yesus dan para nabinya bahkan lupa bahwa mereka bisa mengajar dengan tenang, memprofokasi orang agar tidak ke kuil, dapat makan dengan tenang,dapat menikmati perjalanan mengajar dengan tenang adalah berkat PAJAK yang dikelola oleh pemerintahan KAFIR Romawi

      Apakah Yesus membayar pajak dan menganjurkan membayar pajak?

      Mari kita lihat Markus 12:13-17 di bawah ini:

      Beberapa orang Farisi dan Herodian (bawahan gubernur Herodes) datang kepada Yesus..dan berkata kepada-Nya: “..Apakah boleh membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?“.
      Yesus mengetahui kemunafikan mereka dan berkata: “Mengapa kamu mencobai Aku?..”

        Note:
        Ini pertanyaan dilematis, jika dijawab “tidak”, maka dirinya akan ditahan atas dakwaan kejahatan melawan kaisar, namun jika dijawab “bayarlah”, maka mereka ini akan menghakiminya dengan hukum ke-1 dari 10 Perintah Y@hova.

      ..Bawalah kemari suatu dinar supaya Kulihat!” Lalu mereka bawa. Maka Ia bertanya kepada mereka: “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.”

        Note:
        Di koin tersebut (gambar bawah kiri) tercantum kalimat: kaisar Tiberius adalah anak tuhan Agustus!

      Lalu Yesus berkata: “Berikan kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah!”.. [markus 12:13-17]

        Note:
        Perhatikan! Yesus tidak menjawab langsung dengan: “boleh/tidak” atau “bayar/jangan” pada pertanyaan: “Boleh atau tidak membayar pajak pada Kaisar, orang yang tercantum di koin ini dan yang mengaku ANAK TUHAN, padahal HUKUM ke-1 menyatakan tidak boleh mempunyai TUHAN LAIN? dan HUKUM ke-2 menyatakan tidak boleh melayani Allah lain?“.

        Sampai akhir hayatnya, tidak tertulis bahwa Yesus membayar pajak negara (bukan pajak agama/pajak bait Allah)

        Yesus hanya mengatakan mereka MUNAFIK, bahwa mereka sudah tahu, “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.” [Mazmur 24.1] atau “bumi adalah milik TUHAN.” [Keluaran 9:29]

      Apakah Yesus tidak munafik?

      Mari kita lihat Matius 17:24-27 dibawah ini:

      ..datanglah pemungut PAJAK BAIT ALLAH kepada Petrus dan berkata: “Apakah gurumu tidak membayar bea 2 Dirham itu?” Jawabnya: “Memang membayar

        Note:
        Jawaban Petrus “Memang membayar” kurang tepat, seharusnya adalah “BELUM MEMBAYAR” yang akan terbukti kemunculannya di ayat-ayat selanjutnya

      Dan ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan: “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?”. Petrus: “Dari orang asing!” Yesus: “Jadi bebaslah rakyatnya.

        Note:
        Perhatikan! Yang ia ajarkan: Yang seharusnya bayar pajak adalah ORANG ASING (Orang asing adalah penjajah atau orang yang negerinya ditaklukan, ini semacam JIZYA!). Pemilik tidak seharusnya membayar pajak. Padahal pajak yang ditagihkan ini BUKANLAH pajak negara tapi pajak penebusan khusus bagi mereka yang kaum Yahudi untuk keperluan AGAMANYA SENDIRI dan ini telah berlangsung sejak jaman Musa.

        Tentang taat Pajak dan pemerintahan, Paulus punya pandangan berbeda dengan Yesus dan Petrus:

        Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah..sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya. Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat .. Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat. [Roma 13:1-7]

        Paulus memandang Petrus sebagai orang Munafik (Galatia 2.13-15) mereka berdua memang kurang akur

      Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan..pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga. Ambillah uang itu dan bayarlah kepada mereka pajak kita untuk Rumah Tuhan” [matius 17:24-27]

        Note:
        Apa sih beda koin dari mulut ikan vs koin dari Tiberius?

        koin di mulut ikan adalah buatan kota Tirus (gambar kanan) dan tertera Baal (Tuhan) Melkqart (pemimpin Kota), dewa matahari bangsa Kanaan dan Punisia serta dibaliknya: Elang mesir dalam mitologi Yunani Heracle (Herkules)

        Yesus menolak koin yang bergambar Tiberius, anak tuhan, namun Yesus menerima koin yang bergambar “BAAL” Malkqert, dewa matahari kaum Punisian.

        Yesus harusnya tau persis bahwa ini juga tindakan MUNAFIK.

        Alasan Yesus membayar ternyata juga bukan karena ini “persembahan khusus kepada TUHAN” (Keluaran 30.13), yaitu “memberikan kepada tuhan apa yang tuhan miliki”, namun ternyata agar tidak tersandung dilaporkan! Padahal pajak ini perintah Taurat dan bahkan untuk membayarnyapun, tidak dari hasil jerih payahnya sendiri.

      Di kedua peristiwa di atas ini,

      Yesus tidaklah menyimpan uang koin, karena Yudas muridnya, ditugasinya sebagai pemegang kas (Yohanes 12.6, 13.29). [Lebih lanjut: Who Would Jesus Tax?]

      Tuduhan Raja orang Yahudi,

        Seluruh sidang itu berdiri, lalu membawa Yesus ke hadapan Pilatus. Mereka berkata, “Kami dapati Orang ini menyesatkan rakyat. Ia menghasut orang supaya jangan membayar pajak kepada Kaisar, sebab kata-Nya Ia adalah Kristus (krestos?), seorang Raja.” [Lukas 23:1-2]

        Pilatus bertanya kepada-Nya: “Engkaukah raja orang Yahudi?” Jawab Yesus: “phemi su lego (seperti yang engkau katakan)” [Lukas 23:3, Matius 27:11, Markus 15:2]

        Pilatus masuk kembali ke istana dan memanggil Yesus, lalu bertanya, “Apakah Engkau raja orang Yahudi?” Yesus menjawab, “engkau sendiri atau ada orang lain yang memberitahukan kepadamu tentang Aku?”

        Pilatus menjawab, “Apakah aku ini orang Yahudi? Yang menyerahkan Engkau kepada saya adalah bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala. Apa yang sudah Kaulakukan?”

        Yesus berkata, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini. Andaikata kerajaan-Ku dari dunia ini, orang-orang-Ku akan berjuang supaya Aku jangan diserahkan kepada para penguasa Yahudi. Tetapi memang kerajaan-Ku bukan dari dunia ini!”

        Lalu kata Pilatus kepada-Nya, “Engkau seorang rajakah juga?” Maka sahut Yesus, “Benar seperti kata Tuan bahwa Aku ini seorang raja…” [Yohanes 18:33-37]

        ..Orang-orang Yahudi itu menjawab, “Menurut hukum kami, Ia harus dihukum mati sebab Ia mengaku diri-Nya Anak Allah

        Ketika Pilatus mendengar mereka berkata begitu, ia lebih takut lagi.. ia berusaha untuk melepaskan Yesus. Tetapi orang-orang Yahudi berteriak-teriak, “Kalau Tuan membebaskan Dia, Tuan bukan kawan Kaisar! Orang yang mengaku dirinya raja, adalah musuh Kaisar!

        ..Pilatus berkata kepada orang-orang itu, “Ini rajamu!

        ..Mereka berteriak-teriak, “Bunuh Dia! Bunuh Dia! Salibkan Dia!”

        Pilatus bertanya, “Haruskah saya menyalibkan rajamu?” Imam-imam kepala menjawab, “Hanya Kaisar satu-satunya raja kami!” Maka Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan.[Yohane 19:7-16]

      Mengenai pemberontakan terhadap kaisar, ini juga disampaikan dari hasil riset Dr Barbara Thiering tentang naskah laut mati dan Nag Hammadi, dimana tertulis bahwa Maria Magdalena dulunya adalah seorang pejuang pembebasan penindasan Yahudi oleh Romawi., seorang militan yang setia dan bermusuhan dengan Roma hingga Yesus membujuknya untuk mengikutinya. Namun karena kejadian ini terjadi pada masa pemerintahan raja Caligula (37-41M) militerisme bangkit lagi. Kebutuhan akan kepahlawannan diperlukan untuk menghadapi tirani romawi. Mary kembali pada keadaan semua dan berteman dengan Helena dan Simon Magus di 44 M. Setelah melahirkan anak ke-3nya. Keretakan perkawinan ini berada di antara orang2 Kristen bersama Yesus dan pejuang pembebasan bersama Simon Magus. Mary meninggalkan perkawinan. Itu adalah saat dimana Paulus meletakan dasar praktek untuk bercerai di 1 Korintus 7:10-16



    Ucapan/pesan terakhir Yesus pada dunia

    • “Ελωι ελωι λαμμᾶ σαβαχθανι” (Eloi, eloi lammá savachtani) [Markus 15:34] atau “Ηλι ηλι λαμὰ σαβαχθανι” (Heli, heli, lamá savachtaní) [Matius 27.46] [menurut TR Scrivener 1894 dan Stephanus 1550]. Beberapa mengklaim kalimat ini adalah pemenuhan Nubuat: “אֵלִי אֵלִי מְטוּל מַה שְׁבַקְתַּנִי” (éli éli m’tul mah sh’vak-tani) [Aramaic Targum, Mazmur 22.1] atau “אלי אלי למה עזבתני” (eli eli lamah azab-tani) = “Tuhanku, tuhanku mengapa (kau) abaikanku” [Ibrani Mazmur 22.1], namun kalimat awalan Mazmur 22.1 telah menuliskan bahwa ini adalah lagu tentang Daud, tentang ketidakberdayaan Daud saat dikelilingi musuh dan juga, Taurat telah menyatakan bahwa dosa ditanggung sendiri-sendiri, tidak dapat diwakilkan: “Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri” [Ulangan 24.16]. Kemudian, kalimat di Markus dan Matius tidak konsisten secara bahasa, jika Ibrani kata seharusnya adalah “lamah azabtani”, jika Aramaik, kata seharusnya adalah “mtul mah savachtani”, namun di Markus dan Matius 2 bahasa itu tercampur menjadi “lamah savaktani”. Sedangkan 2 injil lainnya, tidak menyatakan ini sebagai ucapan Yesus
    • “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.”.. (Lukas 23:46), tidak ada di 3 injil lainnya
    • “Aku haus!”..Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.”.. (Yohanes 19:28-30), tidak ada di 3 injil lainnya

    Juga,
    Perlu diperhatikan keheranan Pilatus, bahwa hanya dalam kurun waktu 3 jam-an saja, di antara 3 penjahat yang dihukum, hanya yesus yang wafat sementara 2 lainnya tidak. [Markus 15:44]. Penyaliban penjahat telah banyak dilakukan sebelumnya, tidak terjadi pada kasus ini saja, sehingga waktu rata-rata kematian akan diketahui yaitu BERJAM-JAM hingga beberapa hari, sebagaimana terungkap dalam laporan tentang hukuman penyaliban: “Penderitaan itu berlangsung setidaknya 12 jam, dalam beberapa kasus selama 3 hari. Untuk mempercepat kematian kaki dirusak, dan ini dianggap sebagai tindakan AMPUNAN (Cicero, “Phil.” Xiii. 27)”

    Dan kemudian “bangkai” Yesus dibawa Yusuf, anggota majelis besar, orang kaya dari arimatea, di ‘kafani’ dan dikubur di dalam taman/Bukit batu yang ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang.

    Teknis terkubur hidup-hidup dapat kila lihat pelaksanaannya lewat karya David Blaine, Criss angel dan Harry houdini. David Blaine, mendemostrasikan bagaimana 7 hari di kubur dalam tangki air dan masih hidup [klik di sini]. Namun demikian, Di kubur hidup-hidup merupakan 1 dari 10 trik ilusi yang paling susah! Terdapat satu artikel, yang mengungkapkan kejadian dikubur-hidup-hidup…ada yang selamat namun ada juga tidak…[klik di sini]

    Berapa lama Yesus wafat s/d tidak ada di kuburnya?

    Yohanes 11:9 Jawab Yesus: “Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari?..”
    Kitab wahyu 11:9, ‘…tiga setengah hari lamanyadan 11:11, ‘Tiga setengah hari kemudian…

    Kalimat ‘1/2 (setengah) hari’ menunjukan tidak dibulatkan menjadi 1 (satu) hari tapi sesuai dengan yang terpakai:

    • Tanggal 16, jam 15 sore s/d tanggal 17 jam 15 sore = 24 jam
    • Tanggal 17, jam 15 sore s/d tanggal 18, jam 3 pagi = 12 jam
    • Tanggal 18, jam 3 pagi s/d pagi-pagi (jam 6) = 3 jam

    Total waktu kematian Yesus adalah 39 jam

    Sementara tanda ke-mesias-an telah disampaikannya sendiri di Matius 12:38-40; Lukas 11:29-30; Markus 8:31, 9:31 yang merujuk Yunus 1:17, yaitu:

      Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu…Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan 3 hari 3 malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi 3 hari 3 malam

    ..dan fakta lapangan ternyata hanya: 1.25 hari 2 malam saja. []


    Muhammad

      [Qur’an 69:44-47] Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.

    Terdapat perbedaan pengakuan berapa umur Muhammad saat wafatnya, misal:

    Usia wafat: 60 tahun:

    • Riwayat [(Yahya bin Yahya – Malik) dan (Yahya bin Ayyub, Qutaibah bin Sa’id, ‘Ali bin Hujr) dan (Al Qasim bin Zakaria – Khalid bin Makhlad – Sulaiman bin Bilal)] – Rabi’ah bin Abu ‘Abdur Rahman – Anas bin Malik [Muslim no. 4330]
    • Riwayat Ibnu Bukair – Al Laits – Khalid – Sa’id bin Abu Hilal – Rabi’ah bin Abu ‘Abdur Rahman – Anas bin Malik [Bukhari no.3283, juga no 3284, 5449 dari Rabi’ah – Anas]
    • Riwayat Ibn al Muthanna – Hajjaj n. al minhal – Hammad (Ibn Salamah) – Abu Jamrah – Amr b. Dinar – Urwah b. Zuhayr [Tabari vol.9 hal. 207-208]
    • Riwayat Al Husyn b. Nasr – Ubaydallah – Shayban -Yahya b. Abi Kathir – Abu Salamah – [Aisyah dan Ibn Abbas] [Ibid, hal 208]

    Usia wafat: 63 tahun:

    • Riwayat Mathar bin Al Fadlal – Rauh bin ‘Ubadah – Hisyam -‘Ikrimah – Ibnu ‘Abbas [Bukhari no. 3613]
    • Riwayat Mathar bin Al Fadlal – Rauh bin ‘Ubadah – Zakaria bin Ishaq – ‘Amru bin Dinar – Ibnu ‘Abbas [Bukhari no.3614]
    • Riwayat ‘Abdullah bin Yusuf – Al Laits – ‘Uqail – Ibnu Syihab – (‘Urwah bin Az Zubair dan Sa’id bin Al Musayyab) – ‘Aisyah [Bukhari no.4106]
    • Riwayat Rauh – Syu’bah – Abu Ishaq – ‘Amir bin Sa’d – Jarir bin Abdullah – Mu’awiyah bin Abu Sufyan [Ahmad no. 16269]
    • Riwayat Abu Nua’im – Yunus – Abu As-Safar – ‘Amir – Jarir – Mu’awiyah [Ahmad no.16277]
    • Riwayat Ibn al Muthanna – Hajjaj n. al minhal – Hammad – Abu Jamrah – Ibn Abbas [Tabari vol.9 hal. 206]
    • Riwayat Ibn al Muthanna – Hajjaj – Hammad – Abu Jamrah – ayahnya [ibid, hal.206]
    • Riwayat Ibn al Muthanna – Abd al wahhab – Yahya b. Sa’id — Sa’id al Musayyib [Ibid, hal.206-207]
    • Riwayat Muhammad b. khalaf al Aswalani – Adam – Hammad – Abu Jamrah al Dubaghi – Ibn Abbas [ibid. hal.207]
    • Riwayat Ahmad b. Abd al Rahman b. wahb – Pamannya Abdallah – Yunus – al Zuhri – ‘Urwah – ‘Aisyah [Ibid]

    Usia wafat: 65 tahun:

    • Riwayat [(Ibnu Minhal Adh Dharir – Yazid bin Zurai’) dan (Muhammad bin Rafi’ – Syababah bin Sawwar – Syu’bah)] – Yunus bin ‘Ubaid – ‘Ammar – Ibnu Abbas: Menjadi Nabi di usia 40 tahun, di Mekkah 15 tahun, di Medinah 10 tahun [Muslim no.4339, juga di Ahmad no.2508]
    • Riwayat [(Nashr bin ‘Ali – Bisyr: Ibn MuFadhldlal) dan (Abu Bakr bin Abu Syaibah – Ibn ‘Ulayyah)] – Khalid Al Hadzdza – ‘Ammar – Ibnu ‘Abbas [Muslim no.4340, juga Tirmizi no.3584]
    • Riwayat [Ahmad bin Mani’ dan Ya’qub bin Ibrahim Ad dauraqi] – Isma’il bin ‘Ulayyah – Khalid Al Khaddza` – ‘Ammar bekas budak Bani Hasyim – Ibn Abbas [Tirmizi no.3583, Ahmad no.1844, 3207]
    • Riwayat Muhammad bin Isma’il – Muhammad bin Basyar – Ibnu Abu ‘Adi – Hisyam – Ikrimah – Ibnu Abbas [Tirmizi no.3585]
    • Riwayat Ziyad b. Ayyub – Hushaym – Ali b. Zayd – Yusuf b. Mihran – Ibn Abbas [Tabari Vol. 9, hal 207; Ahmad no.1749]
    • Riwayat Ibn al Muthanna – Mu’adh b. Hisham – ayahnya – Qatadah – al Hasan – Daghfal (Ibn Hanzalah) – [Ibid, hal 207]

    Perbedaan umur wafat, tampaknya terjadi karena perbedaan pengakuan lama tahun tinggal di Mekkah, misalnya:

    • 10 tahun [Bukhari no.3283, 3284, 4105, Muslim no.4330, Tirmizi no.3556, dll] atau
    • 13 tahun [Bukhari no.3613, 3614, 3562. Muslim no.4333, dll] atau
    • 15 tahun [Muslim no.4339, Ahmad no.2508, dll].

    Beliau dikatakan wafat di hari Senin, namun untuk kapan hari dikubur, tanggal dan bulan wafatnya, terdapat perbedaan, yaitu bulan Rabi I, tanggal 2/12 dan dikubur di hari Selasa/Rabu [Tabari Vol.9 hal.183-184, 206, 209], namun kaum Syi’ah menyatakan wafat di bulan Safar, tanggal 28/29 dan untuk bulan Safar, Tabari menginformasikan riwayat Hisham b. Muhammad – Abu Mikhnaf – al Saq’ab b. Zuhayr – Para Hakim dari Hijaz: Sakitnya Muhammad yang mengambil kehidupannya terjadi di menjelang akhir Safar ketika berada di rumah Zaynab bt. Jahsh. [Ibid. hal.168]

    Walaupun secara umum, tanggal masehi kewafatan beliau ditetapkan pada tanggal 7/8 Juni 632 Masehi, namun tanggal ini meragukan, karena ternyata terdapat variasi pengakuan tentang kapan beliau lahir dan keterkaitannya dengan tahun Gajah. Ini menyebabkan kapan tahun Hijriah dari Mekkah ke Medina pun menjadi berbeda (walaupun nyaris semua muslim sepakat bahwa beliau 10 tahun tinggal di Medina).

      Hisham Ibn Al Kalbi (w.204H/819 – 206/821M) menuliskan:
      Sebelum kronologi waktu dari Nabi, Kaum Quraish menghitung waktu dari waktu kejadian gajah. Antara peristiwa Gajah dan (perang) Fijar, mereka hitung 40 tahun. Antara Fijar dan wafatnya Hisham b. Al-Mughira, mereka hitung 6 tahun. Antara wafatnya Hisham dan pembangunan Ka’ba, mereka hitung 9 tahun. Antara pembangunan Ka’ba dan keberangkatan Nabi ke Medina, mereka hitung 15 tahun. (Scott Johnson, Hal 286: al-Zubayr b. Bakkar, Nasab Quraysh, 668 par.1649, kister 1965a, 427)

    Tidak semua sepakat mengkaitkan antara tahun gajah dan kelahiran Muhammad, karena ada yang menyatakan bahwa kejadian gajah dan kekalahan Abraha adalah untuk nabi lainnya SEBELUM muhammad, diantaranya dalam “THE SONS OF KHADIJA“, M.J. Kister, hal 83:

      Hubungan antara tanggal lahirnya nabi dan eskpedisi gajah, akan tetapi, DITOLAK oleh Mu’tazila: Tuhan penyebab keajaiban kejadian kekalahan Abraha adalah untuk NABI LAIN SEBELUM MUHAMAD seperti Khalid b. Sinaan atau Quss b. Saida103

      103 Al-Tabarsii, Majma’ al-bayaan fii tafsiiri Al-qur’aan, XXX, 239: “… wa-kaana haadhaa min a’zami al-mu’jizaat al-qaahiraat wa-al-aayaati al-baahiraat fii dhaalika al-zamaan azharahu allaahu ta’aalaa li-yadulla ‘ala wujuubi ma’rifatihi wa-fiihi irhaasun li-nubuwwaii nabiyyinaa $allaa allaahu ‘alayhi wa-sallam li-annahu wulida fii dhaalika al-‘aam; wa-qaala qaumun mina al-mu’taziIati annahu kaana mu’jizatan li-nabiyyin mina ai-anbiyaa’i fii dhaalika al-zamaani wa-rubbamaa qaaluu huwa khaalidu ibnu sinaanin..” dan lihat dengan penuh perhatian formulasi komentar dari ‘Abd al-Jabbaar dalam Mutashaabih al-qur’aan-nya, ed. ‘Adnaan Muhammad Zarzuur, Cairo 1969, II, 702: “…. fa-ammaa qauluhu ta’aalaa tarmiihim bi-hijaaratin min sijjiil fa-innahu ‘indanaa laa budda min an yakuuna dhaalika mu’jizan li-ba’di al-anbiyaa’i fii dhaalika al-waqti li-anna fiihi naqda ‘aadatin wa-dhaalika Laa yajuuzu iliaa fi azmaani ai-anbiyaa’i.”

    Bahkan di antara mereka yang mengkaitkan tahun kelahiran Muhammad dan tahun Gajah pun terdapat jurang perbedaan tahun yang sangat lebar:

    DI TAHUN GAJAH:

      Riwayat Muhammad bin Basyar Al Abdi – Wahb bin Jarir – ayahku (Jarir bin Hazm bin Zayd) – Muhammad bin Ishaq – Al Mutthalib bin Abdullah bin Qais – ayahnya (Abdullah bin Qais bin Makhramah) – kakeknya (Qais bin Makhramah bin Al Muthallib):

      “Aku dan Rasulullah SAW dilahirkan PADA TAHUN GAJAH.” Lalu Utsman bin ‘Affan bertanya kepada Qubats bin Asyyam -saudaranya bani Ya’mar bin Laits- “Apakah anda lebih tua ataukah Rasulullah SAW?” dia menjawab; “Rasulullah SAW lebih dewasa segala-galanya dari padaku sekalipun dari sisi usia aku lebih dahulu dilahirkan dari pada beliau, Rasulullah SAW dilahirkan PADA TAHUN GAJAH, sedang ibuku melahirkanku pada waktu itu juga.” dia berkata; “(Waktu itu) AKU JUGA SEMPAT MELIHAT KOTORAN BURUNG TELAH BERUBAH BERWARNA HIJAU.” Abu Isa berkata; “Hadits ini derajatnya hasan gharib, kami tidak mengetahui (hadits tersebut) kecuali dari hadits Muhammad bin Ishaq.” [Tirmidhi no.3552]

      Hadis yang melaporkan bahwa perawi melihat tahi burung ini sangat janggal mengingat Ibn Sa’d melaporkan ada BANJIR yang menyapu area tersebut atau bagaimana mungkin bayi/anak kecil baru lahir mampu mengingat warna kotoran burung? atau bagaimana mungkin tahi burung itu tetap ada utuh setelah bertahun-tahun kemudian dan hanya dirinya yang melihatnya?

      Riwayat Ya’qub – Bapakku (Ibrahim bin Sa’ad bin Ibrahim bin ‘Abdur Rahman
      bin ‘Auf) – Ibnu Ishaq – Al Muthallib bin Abdullah bin Qais – Bapaknya – kakeknya Qais bin Makhramah: “Saya dan Rasulullah SAW dilahirkan PADA TAHUN GAJAH. Dan kami adalah dua orang bayi yang dilahirkan dalam waktu yang sama.” [Ahmad no.17218]

      Riwayat Ibn Sa`d – Muhammad Ibn `Umar Ibn Waqid al-Aslami – Abu Bakr Ibn ‘Abd Allah Ibn Abi Sabrah – Ishaq Ibn `Abd Allah Ibn Abi Farwah – Abu Ja`far Muhammad Ibn `Ali: Rasullullah SAW lahir pada hari senin, 10 Rabiul Awwal dan INVASI KAUM BERGAJAH (ashab al-fiil) terjadi pada pertengahan Muharam, 55 HARI SEBELUM kejadian ini [Ibn Sa’d Tabaqat al-Kabir, Vol.1, bagian 1.24.1]

      Ibn Sa`d – Muhammad Ibn `Umar Ibn Waqid al-Aslami- Musa Ibn Shaybah – `Umayrah Bint `Ubayd Allah Ibn Ka’b Ibn Malik – Umm Sa’d Bint Sa`d Ibn al-Rabi’ – Nafisah Bint Munyah:..Rasullullah SAW mengawini dia (Khadijah) saat berusia 25 tahun dan khadijah 40 tahun, karena ia lahir 15 tahun sebelum tahun gajah [Ibn Sa’d Tabaqat al-Kabir, Vol.1, bagian 1.35.1]

      Riwayat lbn Sa`d – Muhammad Ibn ‘Umar – Hishàm Ibn Sa’d – Zayd Ibn Aslam – `Abd Allah Ibn ‘Alqamah Ibn al-Faghwa (Jalur ke-1); Ibn Sa`d – Ishaq Ibn Yahya Ibn Talhah – Isa Ibn Talhah – Ibn `Abbas (Jalur ke-1); lbn Sa’d – Musa Ibn `Ubaydah – Muhámmad Ibn Ka`b (Jalur ke-3); Muhammad Ibn Sàlih – `lmran Ibn Mannah (Jalur ke-4); Ibn Sa`d – Qays Ibn al-Rabi’ – Ibn Ishaq – Sa’id Ibn Jubayr (Jalur ke-5); Ibn Sa’d – `Abd Allah Ibn `Amir al-Aslami – anak perempuan dari Abu Tajrát (Jalur ke-6); Ibn Sa`d – Hukaym Ibn Muhammad – Ayahnya – Qays Ibn Makhramah (Jalur ke-7); mereka semua berkata: Rasullullah SAW lahir di tahun gajah [Ibn Sa’d Tabaqat al-Kabir, Vol.1, bagian 1.24.4]

      Riwayat Ibn Sa`d – Yahya Ibn Ma’in – Hajjaj Ibn Muhammad – Yunus Ibn Abi Ishaq – Sa’id Ibn Jubayr – lbn `Abbas: Rasullullah SAW lahir di hari gajah-gajah, yang mana maksudnya tahun gajah.[Ibn Sa’d Tabaqat al-Kabir, Vol.1, bagian 1.24.5].

      Tabari juga menyampaikannya klaim tentang kelahiran Muhammad di tahun gajah, di buku Vol.5 hal.268-269

    SEBELUM VS SESUDAH TAHUN GAJAH: – 30 tahun  s.d +70 tahun

      Muhammad ibn al-Sa’ib (w.726 M): Muhammad lahir 15 tahun SEBELUM “Tahun Gajah”. Ja’far ibn Abi ‘l-Mughira (wafat awal abad ke-8) menetapkan kelahiran Muhammad 10 tahun SETELAH “tahun Gajah”, sementara Al-Kalbi: Shu’ayb ibn Ishaq (w. 805 M) berkata bahwa Muhammad terlahir 23 tahun SETELAH kejadian ini (Kisah penyerangan dengan gajah). Al-Zuhri (w. 742 M) yakin bahwa Muhammad lahir 30 tahun SETELAH “Tahun Gajah”, sementara Musa ibn ‘Uqba (w. 758 M) Yakin bahwa Muhammad lahir 70 tahun kemudian [Lawrence I. Conrad, “Abraha and Muhammad: Some Observations Apropos of Chronology and Literary “topoi” in the Early Arabic Historical Tradition”, Bulletin of the School of Oriental and African Studies, University of London, Vol. 50, No. 2 (1987), Hal. 234.]

      Mughultaay, Talkhiis al-sira; MS. Shehid ‘Ali 1878, fol.7a-b; dan lihat Mughultaay, al-Zahr al-baasim, MS.Leiden, atau 370, fol 71a-b: “Nabi lahir 10 tahun SETELAH ‘gajah'”, 23 tahun SETELAH ‘gajah’, 15 tahun SEBELUM ‘gajah’, 15 tahun SETELAH ‘gajah’, 1 bulan SETELAH hari kejadian gajah“;

      Al-Zurqaani, Sharh al-mawaahib,I, 89; Al-Kalbi: “23 tahun SETELAH hari kejadian gajah“; Muqatil: “40 tahun“; lainnya: “30 atau 50 atau 70 tahun SETELAH ‘gajah’“;

      dan lihat perbedaan tanggal di tafsirnya Al-Qurtubi, XX, 194;

      Ibn Hajar al-Haytami, al-Ni’matu al-kubraa ‘alaa al-‘aalam bi-maulidi sayyidi banii aadam, MS. di kepunyaanku, fol 18a, ult-18b: “lahir di tahun gajah, 40 tahun SETELAHNYA, 30 tahun SETELAHNYA, 23 tahun SETELAHNYA, 15 tahun SEBELUMNYA, 3 tahun SETELAHNYA“;

      Khalifa b. Khayyat Ta’rikh, ed. Akram Diyaa al-‘Umarii, al-Najaf 1386/1967, hal. 9-10: “di tahun gajah, 40 tahun SETELAHNYA, 30 tahun SETELAHNYA atau 15 tahun SEBELUMNYA“;

      dan lihat perbedaan tanggal di Muhammad b. Saalim al-Himawi, Ta’rikh al-saalihi, MS. Br. Mus., atau. 6657, fol 13Oa;

      dan lihat variasi tradisi: Ibn Kathir, al-Bidaaya; II, 262: “10 tahun SETELAH tahun gajah, 23 tahun SETELAHNYA, 30 tahun SETELAHNYA, 40 tahun SETELAHNYA dan 15 tahun SEBELUM hari dari kejadian gajah” (tradisi ini ditandai sebagai gharib, munkar dan da’if);

      dan lihat variasi tanggal di Al-Bayjuri Haashiyatun ‘alaa maulidi abii al-barakaat: sayyidii ahmadi al-dardiir, Cairo 1294, hal 44-45; al-Sinjaarii, Manaa’ihu al-karam bi-akhbaari makkata wa-al-haram; MS. Leiden, atau. 7018,fol.58a: “lahir di tahun gajah, atau 50 tahun SETELAH serangan dari pasukan gajah, atau 30 tahun SETELAH tahun gajah, atau 40 tahun SETELAH tahun gajah“.

      Banyak tradisi di Ibn Nasir al-Din Jami’ al-athar, fols. 179b-180b: “Nabi lahir di tahun gajah, menerima wahyu 40 tahun SETELAH  ‘gajah’ (peperangan di -K) ‘Ukaaz terjadi 15 tahun SETELAH ‘gajah’ dan kabah dibangun 25 tahun setelah ‘gajah’“; “Nabi lahir 30 hari SETELAH ‘gajah’, atau 15 hari, atau 55 hari atau 2 bulan 6 hari, atau 10 tahun; beberapa berkata 20 tahun, beberapa berkata 23 tahun, beberapa berkata 30 tahun, beberapa berkata Tuhan mengirim nabi dengan misinya 15 tahun SETELAH KABAH DI BANGUN sehingga menjadi 70 tahun antara ‘gajah’ dan kenabiannya (mab’ath)“; “beberapa berkata bahwa ia lahir 15 tahun SEBELUM ‘gajah’, beberapa berkata 40 hari atau 15 hari, beberapa berkata 30 tahun SEBELUM ‘gajah’, dan terakhir, beberapa berkata 10 tahun antara ekspedisi gajah dan kenabian, wa-bayna an bu’itha“.

      Lihat al-Bayhaqi, Dalaa’il, I, 65: “Nabi di hari ‘Ukaz beruisa 20 tahun“; hal. 67: “Kabah dibangun 15 tahun SETELAH tahun gajah dan Nabi menerima wahyu 40 tahun SETELAH ‘gajah’. Menurut tradisi lainnya, nabi menerima misinya 15 tahun SETELAH dibangunnya kabah, misi nabi, al-mab’ath, terjadi 70 tahun SETELAH tahun gajah“; hal. 68: “Nabi lahir 10 tahun SETELAH tahun gajah” [Kutipan Mughultaay dan seterusnya berasal dari “THE SONS OF KHADIJA“, M.J. Kister, hal 81-82, pada catatan kaki no.100]

    Dengan lebar rentang tahun sampai 100 tahun seperti ini, kita tidak dapat tegas untuk dapat menyatakan kapan tahun kelahiran, tahun hijrah dan tahun kematian Muhammad SAW bahkan jika dikaitkan dengan tahun gajah sekalipun.

    ________________________________________

    Peta Jaman Muhammad

    Untuk kisah di bawah ini, kecuali disebutkan sumber yang berbeda, maka alur kisahnya mengikuti buku “Sejarah Hidup Muhammad”, karangan Muhammad Muhammad Husain Haekal, yaitu mulai bab.30:

    Selesai ibadah haji perpisahan di Mekah (Haji Wada, Dhul Hijjah 10 H/Maret 632 M), belum lama setelah kaum Muslimin tinggal di Medinah, Nabi mengeluarkan perintah supaya menyiapkan sebuah pasukan besar ke daerah Syam (Syira), dengan menyertakan kaum Muhajirin mula-mula, termasuk Abu Bakr dan Umar. Pasukan ini dipimpin oleh Usama bin Zaid bin Haritsah [Lahir 615 M, usianya saat diangkat sebagai panglima pasukan pada 27/28 Safar 11H / 28 May 632M adalah 17/18 tahun]

    Pengangkatan Usama dimaksudkan untuk menempati tempat ayahnya (Zaid bin Haritsah) yang gugur di pertempuran Mu’ta (629 M) [Di perang Mut’ah, ikut pula Khalid bin Walid, sang Pedang Allah, Perang Mut’ah merupakan kekalahan pertama Khalid dalam sekian banyak perangnya, padahal sebelum masuk Islam, yaitu saat Ia berjuang bersama kaum Quraish (perang Uhud, 625 M), Ia mengalahkan Muhammad dan pasukannya].

    Saat mereka sedang bersiap-siap itu tiba-tiba Rasulullah jatuh sakit, dan sakitnya makin keras juga, sehingga akhirnya tidak jadi mereka berangkat.

    Keprihatinan mereka terhadap nabi adalah hal wajar karena Nabi tumben mengalami sakit, selama ini diketahui bahwa Nabi juga mengkonsumsi biji-bijian seperti yang diriwayatkan Anas bin Malik: Rasullullah, sebelum melaksanakan (shalat) pada Idul fitri, Ia makan sejumlah biji. Anas juga mengatakan ‘Nabi biasanya memakan biji-bijian itu dalam jumlah ganjil [Bukhari 2.15.73]. Mengenai biji-bijian yang nabi merekomendasikan adalah:

    Habbatus sauda:

    • Ibnu Abu Atiq: Hendaknya kalian memberinya habbatus sauda’ (jintan hitam), ambillah 5 atau 7 biji, lalu tumbuklah hingga halus, setelah itu teteskanlah di hidungnya di sertai dengan tetesan minyak sebelah sini dan sebelah sini, karena sesungguhnya Aisyah pernah menceritakan kepadaku bahwa dia mendengar Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya habbatus sauda’ ini adalah obat dari segala macam penyakit kecuali saam.” Aku bertanya; “Apakah saam itu?” beliau menjawab: “Kematian.. [Bukhari no. 5255. Ibn Majjah no.3440]
    • Rasulullah SAW: “Dalam habbatus sauda’ (jintan hitam) terdapat obat dari segala penyakit kecuali kematian.” Ibnu Syihab berkata; “Maksud dari kematian adalah maut sedangkan habbatus sauda’ adalah pohon syuniz.” [Bukhari no.5256. Muslim no.4104 4105. Ahmad no.23916, 10217, 10416, 9892, 9668, 9666, 9665, 9177, 9107. Tirmidhi no.1964. Ibn Majjah no.3438]

    Kurma ‘ajwa:

    • Nabi SAW: “Al ‘Ajwah (kurma Nabi) beserta pohonnya [Ahmad no.14961, 19451] dan Syakhrah [Batu yang ada di Baitul Maqdis, Ahmad no.19455, 19729. Ibn Majjah no.3447] berasal dari surga. Rasullullah bersabda: Kam`ah (sejenis tumbuhan) adalah dari Al Manna dan Ajwah adalah (kurma) dari surga, ia merupakan penawar racun. [Ibn Majjah no.3446]. Rasullullah bersabda: Al ‘Ajwah bersasal dari surga, di dalamnya mengandung kesembuhan untuk penyakit racun. Al Kam`ah dari Al Mann, airnya adalah kesembuhan bagi penyakit ‘Ain [Tirmidhi no.1992, Ahmad no.9959]
    • Rasulullah berkata: ‘Barangsiapa setiap pagi mengkonsumsi 7 butir kurma ‘Ajwa, maka pada hari itu ia akan terhindar dari racun dan sihir. [Bukhari no.5025, 5326, 5327, 5334. Muslim no.3814. Ahmad no.1488, 1365. Abu Dawud no.3378]

    Pasukan yang siap perang batal berangkat karena Nabi sakit, menimbulkan pertanyaan bagi banyak pihak, terdapat beberapa alternative perkiraan mengenai hal ini:

    1. Kecintaan mereka pada Nabi yang tumben sakit berat, namun ini tidak masuk akal, karena tujuan perang ini adalah untuk kemuliaan Islam dan atas perintah nabi.
    2. Di kisahkan bahwa Nabi pada malam pertama nabi menderita sakit, tidak bisa tidur dan minta diantar Abu Muwayhiba mengunjugi Baqi’l-Gharqad, kuburan Muslim dekat Medinnah dan memintakan ampun untuk penghuni kubur sebelum sakit dan ada pilihan yang diberikan Allah, “Abu Muwayhiba, aku telah diberi anak kunci isi dunia ini serta kekekalan hidup di dalamnya, sesudah itu surga. Aku disuruh memilih ini atau bertemu dengan Tuhan dan surga.” Nabi memilih bertemu Tuhan di surga. Namun riwayat ini disangsikan banyak pihak.
    3. Gerutu para pihak yang hendak berperang karena pengangkatan Usama bin Zaid bin Haritsha, mengingat dipasukan banyak para senior namun mereka tidak diangkat, ini juga tidak masuk akal, meningat perintah nabi adalah final dan persiapan terus dilakukan
    4. Berhubungan dengan makanan beracun yang disajikan oleh seorang wanita yahudi sewaktu penaklukan Khaibar 3 tahun sebelumnya yang menyebabkan kematian Bishr yang saat itu makan makanan yang sama bersama Nabi

    Di rumah Maimunah sakitnya terasa kambuh lagi, dan terasa lebih keras lagi. Ketika itu dipanggilnya isteri-isterinya ke rumah Maimunah. Dan mengatakan bahwa akan dirawat dirumah Aisyah.

    Pada hari-hari pertama ia jatuh sakit, demamnya sudah terasa makin keras, sehingga ia merasa seolah seperti dibakar. Ketika reda, ia sembahyang dan memimpin Shalat, karena beberapa protes atas penunjukan Usama sampai ketelinga Nabi maka ia memutuskan untuk menenangkan mereka

    Dalam hal ini ia berkata kepada isteri-isteri dan keluarganya: “Tuangkan kepadaku tujuh kirbat air dari pelbagai sumur, supaya aku dapat menemui mereka dan berpesan kepada mereka.”

    Lalu dibawakan air dari beberapa sumur, dan setelah oleh isteri-isterinya ia didudukkan di dalam pasu kepunyaan Hafsha, ketujuh kirbat air itu disiramkan kepadanya Kemudian katanya: ‘Cukup. Cukup’.

    Setelah duduk di atas mimbar mesjid Ia berkata: “Saudara-saudara. Laksanakanlah keberangkatan Usama itu Demi hidupku. Kalau kamu telah banyak bicara tentang kepemimpinannya, tentang kepemimpinan ayahnya dulu pun juga kamu banyak bicara. Dia sudah pantas memegang pimpinan, seperti ayahnya dulu juga pantas memegang pimpinan.”

      Nabi SAW mengutus satu pasukan dan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai pemimpin mereka. Lalu sebagian orang ada yang mencela kepemimpinannya, maka Nabi SAW bersabda: “Kalian mencela kepemimpinannya?. Sungguh sebelum ini kalian pernah pula mencela kepemimpinan ayahnya. Demi Allah, sungguh dia patut memegang kepemimpinan karena dia adalah manusia yang paling aku cintai dan sekarang, (Usamah) adalah manusia yang paling aku cintai setelah (ayah) nya”. [Bukhari no.3451, 3919, 4108, 4109, 6137, 6650. Muslim no.4452, 4453. Tirmidhi no.3752, Ahmad no.5622]

    Ia kembali ke rumah Aisyah. sakitnya terasa lebih berat lagi, tatkala keesokan harinya ia berusaha hendak bangun memimpin sembahyang seperti biasanya, ternyata ia sudah tidak kuat lagi. Ketika itulah ia berkata: “Suruh Abu Bakr memimpin orang-orang sembahyang.” Kemudian Abu Bakr datang memimpin sembahyang seperti diperintahkan oleh Nabi.

    Tatkala sakitnya sudah makin keras, panas demamnya makin memuncak, isteri-isteri dan tamu-tamu yang datang menjenguknya, bila meletakkan tangan di atas selimut yang dipakainya, terasa sekali panas demam yang sangat meletihkan itu. Dan Fatimah puterinya, setiap hari datang menengok. Karena panas demam yang tinggi itu, sebuah bejana berisi air dingin diletakkan disampingnya. Sekali-sekali ia meletakkan tangan ke dalam air itu lalu mengusapkannya ke muka.

    Suatu hari sahabat-sahabatnya berusaha hendak meringankan penderitaannya itu dengan mengingatkan kepada nasehat-nasehatnya, bahwa orang yang menderita sakit jangan mengeluh. Ia menjawab, bahwa apa yang dialaminya dalam hal ini lebih dari yang harus dipikul oleh dua orang. Dalam keadaan sakit keras serupa itu dan di dalam rumah banyak orang, ia berkata: “Bawakan dawat dan lembaran, akan ku tuliskan surat buat kamu, supaya sesudah itu kamu tidak lagi akan pernah sesat.”

    Dari orang-orang yang hadir ada yang berkata, bahwa sakit Rasulullah s.a.w. sudah sangat gawat; pada kita sudah ada Qur’an, maka sudah cukuplah dengan Kitabullah itu. Ada yang menyebutkan, bahwa Umarlah yang mengatakan itu. Di kalangan yang hadir itu terdapat perselisihan. Ada yang mengatakan: ‘Biar dituliskan, supaya sesudah itu kita tidak sesat. Ada pula yang keberatan karena sudah cukup dengan Kitabullah.’ Setelah melihat pertengkaran itu, Muhammad berkata: “Pergilah kamu sekalian! Tidak patut kamu berselisih di hadapan Nabi.”

    Tetapi Ibn ‘Abbas masih berpendapat, bahwa mereka membuang waktu karena tidak segera menuliskan apa yang hendak dikatakan oleh Nabi. Sebaliknya Umar masih tetap dengan pendapatnya, bahwa dalam Kitab Suci Tuhan berfirman: “Tiada sesuatu yang Kami abaikan dalam Kitab itu.” [Qur’an, 6:38]

    Walaupun Haekal tidak menyebutkannya, namun hadis Bukhari dan Muslim dan banyak lagi, menyampaikan informasi akurat mengenai wasiat yang disampaikan nabi:

      Riwayatkan Said bin Jubair:
      Ibn ‘Abbas: “Kamis! apakah yang terjadi di hari Kamis?” Kemudian dia menangis hingga air matanya membasahi pasir. Aku bertanya kepadanya..Dia berkata: “Pada Hari kamis, sakitnya Rasulullah SAW bertambah parah dan dia berkata: ‘Ambilkan aku alat tulis, aku akan tuliskan pada kalian suatu ketetapan yang setelahnya kalian tak akan pernah”. Kemudian orang-orang bertengkar padahal tidak sepatutnya mereka bertengkar di hadapan Nabi SAW. Mereka berkata, “Bagaimana keadaan beliau, apakah Rasullullah mengigau?”. Nabi berkata, “Tinggalkan aku, keadaanku sekarang lebih baik dari pada apa yang kalian kira.”. Lalu beliau berwasiat 3 hal:

      1. Usir orang-orang pagan/Musyrik/politeis dari jazirah arab; [Muslim 13.4014/no.3089; Abu Dawud 19.3023/no.2634; Bukhari: 4.52.288/no.2825; 4.53.393/no.2932; 5.59.716/no.4078]

        Namun di Muslim 19.4366/no.3313 dalam riwayat [(Zuhair bin Harb – Ad Dlahak bin Makhlad) dan (Muhammad bin Rafi’ – Abdurrazaq)] – Ibnu Juraij – Abu Az Zubair – Jabir bin Abdullah – Umar bin Khattab:
        Rasulullah SAW bersabda: Aku akan usir para Nasrani dan yahudi dari Jazirah arab dan tidak akan meninggalkan satupun kecuali MUSLIM [Juga di Tirmidhi 3.19.1606/no.1531, 1607/no.1532. Ahmad no.196, 210, 214, 14189; Abu Dawud 19.3024/no.2635, 19.3025/no.2635]

      2. “Perlakukan utusan sebagaimana aku memperlakukan mereka” [Muslim 13.4014/no.3089; Abu Dawud 19.3023/no.2634; Bukhari: 4.52.288/no.2825; 4.53.393/no.2932; 5.59.716/no.4078]
      3. Said bin Jubair, yang meriwayatkan berkata bahwa Ibn Abbas diam mengenai perintah ketiga, atau ia katakan, ‘saya lupa’ atau Sa’id tidak menyebutkan wasiat yang ketiga. [Muslim 13.4014/no.3089; Abu Dawud 19.3023/no.2634; Bukhari: 4.52.288/no.2825; 4.53.393/no.2932; 5.59.716/no.4078]

      Ya’qub bin Muhammad berkata, “Aku Tanya pada Al-Mughira bin ‘Abdur-Rahman mengenai Jazirah arab dan ia berkata, ‘Itu terdiri dari Mekkah, Medina, Al-Yama-ma dan Yaman.” Ya’qub menambahkan, “dan Al-Arj, mulai dari Tihama.” [Bukhari: 4.52.288/no.2825]

    Berita sakitnya Nabi yang bertambah keras itu telah tersiar dari mulut ke mulut, sehingga akhirnya Usama dan anak buahnya yang ada di Jurf itu turun pulang ke Medinah. Bila Usama kemudian masuk menemui Nabi di rumah Aisyah, Nabi sudah tidak dapat berbicara. Tetapi setelah dilihatnya Usama, ia mengangkat tangan ke atas kemudian meletakkannya kepada Usama sebagai tanda mendoakan.

    Melihat keadaannya yang demikian keluarganya berpendapat hendak membantunya dengan pengobatan. Asma’ – salah seorang kerabat Maimunah – telah menyediakan semacam minuman, yang pernah dipelajari cara pembuatannya selama ia tinggal di Abisinia. Tatkala Nabi sedang dalam keadaan pingsan karena demamnya itu, mereka mengambil kesempatan menegukkan minuman itu ke mulutnya. Bila ia sadar kembali ia bertanya: “Siapa yang membuatkan ini? Mengapa kamu melakukan itu?”

    “Kami kuatir Rasulullah menderita sakit radang selaput dada,” kata ‘Abbas pamannya.

    “Allah tidak akan menimpakan penyakit yang demikian itu kepadaku.”

    Kemudian disuruhnya semua yang hadir dalam rumah – supaya meminum obat itu, tidak terkecuali Maimunah meskipun sedang berpuasa.

    Malam itu Muhammad dalam keadaan tenang. Panas demamnya sudah mulai turun, sehingga seolah karena obat yang diberikan keluarganya itulah yang sudah mulai bekerja dan dapat melawan penyakitnya. Sampai-sampai karena itu ia dapat pula di waktu subuh keluar rumah pergi ke mesjid dengan berikat kepala dan bertopang kepada Ali b. Abi Talib dan Fadzl bin’l-‘Abbas. Abu Bakr waktu itu sedang mengimami orang-orang bersembahyang. Setelah kaum Muslimin yang sedang melakukan salat itu melihat Nabi datang, karena rasa gembira yang luarbiasa, hampir-hampir mereka terpengaruh dalam sembahyang itu. Tetapi Nabi memberi isyarat supaya mereka meneruskan salatnya.

    Selesai sembahyang ia menghadap kepada orang banyak, Melihat tanda-tanda kesehatan Nabi yang bertambah maju, bukan main gembiranya kaum Muslimin, Usama b. Zaid datang menghadap kepadanya dan minta ijin akan membawa pasukan ke Syam, Abu Bakr berangkat pergi ke Sunh di luar kota Medinah – memberi giliran kepada isterinya, Bint Kharija . Umar dan Ali pergi dengan urusannya masing-masing. Kaum Muslimin sudah mulai terpencar-pencar lagi.

    Ia kembali pulang ke rumah Aisyah. Setelah memasuki rumah, tiap sebentar tenaganya bertambah lemah juga. Ia minta disediakan sebuah bejana berisi air dingin dan dengan meletakkan tangan ke dalam bejana itu ia mengusapkan air ke wajahnya; dan bahwa ada seorang laki-laki dari keluarga Abu Bakr datang ke tempat Aisyah dengan sebatang siwak di tangannya. Muhammad memandangnya demikian rupa, yang menunjukkan bahwa ia menginginkannya. Oleh Aisyah benda yang di tangan kerabatnya itu diambilnya, dan setelah dikunyah (ujungnya) sampai lunak diberikannya kepada Nabi. Kemudian dengan itu ia menggosok dan membersihkan giginya. Sementara ia sedang dalam sakratulmaut, ia menghadapkan diri kepada Allah sambil berdoa, “Allahumma ya Allah! Tolonglah aku dalam sakratulmaut ini.”

    Aisyah berkata – yang pada waktu itu kepala Nabi berada di pangkuannya, “Terasa olehku Rasulullah s.a.w. sudah memberat di pangkuanku. Kuperhatikan air mukanya, ternyata pandangannya menatap ke atas seraya berkata, “Ya Handai Tertinggi dari surga.”

    “Kataku, ‘Engkau telah dipilih maka engkau pun telah memilih. Demi Yang mengutusmu dengan Kebenaran.’ Maka Rasulullah pun berpulang sambil bersandar antara dada dan leherku dan dalam giliranku. Aku pun tiada menganiaya orang lain. Dalam kurangnya pengalamanku dan usiaku yang masih muda, Rasulullah s.a.w. berpulang ketika ia di pangkuanku. Kemudian kuletakkan kepalanya di atas bantal, aku berdiri dan bersama-sama wanita-wanita lain aku memukul-mukul mukaku.”

    Benarkah Muhammad sudah meninggal?

    Itulah yang masih menjadi perselisihan orang ketika itu, sehingga hampir-hampir timbul fitnah di kalangan mereka dengan segala akibat yang akan menjurus kepada perang saudara.

    Kisah meninggalnya Muhammad versi Husain Haekal tidak menyebutkan mengapa seseorang yang berusia 60-65 tahun, berbadan sehat, mempunyai lebih dari 20 wanita sebagai Istri/Gundik dan Budak, masih melakukan perang melawan pihak lain tiba-tiba jatuh sakit dan meninggal tidak lama kemudian.



    Apakah penyebab meninggalnya Nabi?

    Sumber Sunni menyatakan bahwa akibat terkena racun di Khaibar [7H/628 M, Jumadil]:

      Ketika Khaibar telah ditaklukan dan masyarakat sudah tenang, Zainab Bint al-Harith, Istri dari Salam Ibn Mishkam, bertanya pada beberapa orang mengenai bagian mana dari domba yang paling disukai nabi. Mereka memberitahukannya, ‘kaki depan, dan paha atas adalah bagian terbaiknya’. Ia kemudian menyembelih seekor domba dan memotong-motongnya. Kemudian Ia ambil racun mematikan yang dapat membunuh dengan seketika, membubuhkannya pada daging domba, dan membubuhkan lebih banyak lagi pada bagian kaki dan paha.

      Ketika Matahari terbenam, Muhammad memimpin Sholat. Setelah selesai sholat dan hendak pergi, Zainab berkata pada nabi, ‘ Oh Abu al-Qasim, aku punya hadiah untuk mu’. Nabi kemudian meminta beberapa sahabat mengambil persembahan itu dan diletakan dihadapan Muhammad dan para sahabat, diantaranya terdapat Bishr Ibn al-Bara’ Ibn Ma’rur. Muhammad berkata pada mereka, ‘Ayo kemari dan duduklah’. Muhammad mengambil bagian kaki dan memakanya. Ketika Muhammad telah menelannya, Bishr juga telah menelannya dan para sahabat yang lain juga memakannya. Muhammad berkata, ‘Angkat tanganmu; Daging kaki dan paha ini berkata bahwa mereka telah dibubuhi racun. Bishr berkata, ‘Demi Allah yang menyayangimu, Aku pun merasakan yang sama. Tapi ngga ku muntahkan karena dapat mengacaukan selera makan anda

      Ketika engkau makanan itu ada di mulutmu, Aku juga tidak berharap engkau menelannya”. [Satu pendapat mengatakan] Bishr wafat kemudian di sana. Sisa daging itu dilemparkan kepada anjing, kemudian anjing itu mati. Pendapat lainnya mengatakan bahwa (bishr) warnanya berubah hitam setelah mengalami kesakitan selama dua tahun, ketika ia meninggal. Juga dikatakan bahwa Muhammad menggigit daging domba itu, mengunyahnya dan memuntahkannya kemudian sementara Bishr memakan bagiannya. Kemudian Muhammad mengirimkan yahudi2 dan bertanya pada Zainab, ‘Apa benar kau meracuni domba ini?’

      Ia berkata, ‘Engkau punya suatu kegemaran ketika engkau menghakimi mereka yang tidak setia padamu. Engkau bunuh Ayahku, pamanku dan saudaraku..jadi aku berkata, ‘Jika Ia adalah raja, maka aku akan membebaskan kami dari mu, dan jika Dia adalah Nabi, Ia tentu akan merasakannya’ Ada yang mengatakan bahwa Nabi memaafkannya sementara yang lainnya mengatakan bahwa Ia memerintahkan agar Zainab di hokum mati dan disalib. Ketika Muhammad sakit di menjelang wafatnya, Ia berkata pada Aisha, ‘Aisha, Aku masih merasakan effect makan beracun yang aku makan. Sekarang saat kematianku akibat racun itu’ ketika kakak Bishr hadir menjenguknya, Nabi mengatakan padanya, Ini adalah saat kematianku karena makanan yang aku makan bersama kakakmu di Khaybar’ [Abdallha Abd Al-Fadi, Is The Koran Infallible, Pg. 378-381, mengutip Al-Baidawi. Juga di “ISLAM MUHAMMAD AND THE Quran”, Dr. Labib Mikhail, Bab.VI, juga Dictionary: Muhammad]

      Hadis dan Sirat:
      Riwayat Abdurrahman – Sufyan – Al A’masy – Abdullah bin Murrah – Abu Al Ahwash dari Abdullah bin Mas’ud:
      Sungguh aku bersumpah 9x bahwa Rasulullah SAW terbunuh, lebih aku sukai dari pada aku bersumpah 1x bahwa beliau tidak akan terbunuh. Hal itu karena Allah mengambilnya sebagai Nabi dan menjadikanya sebagai saksi. Lalu aku berkata; Lalu aku menyebutkan hal itu kepada Ibrahim, ia pun berkata; Mereka melihat dan mengatakan bahwa orang Yahudi pernah meracuni beliau beserta Abu Bakar [Ahmad no.3925, 3679 (Riwayat Abdurrazaq – Sufyan – Al A’masy – Abdullah bin Murrah – Abu Al Ahwash – Abdullah), 3435 (Riwayat Abu Mu’awiyah – Al A’masy – Abdullah bin Murrah – Abu Al Ahwash – Abdullah)]

      Riwayat Muhammad bin Basysyar – Abu Daud – Zuhair – Abu Ishaq – Sa’d bin ‘Iyadl – Abdullah bin Mas’ud: “Nabi SAW menyukai paha kambing.” Ia berkata, “Pernah paha kambing diberi racun, dan beliau melihat bahwa yang orang-orang Yahudi yang telah meracuninya.” [Abu Dawud no.3287. Ahmad no.3545, 3546, 3589]

      Diriwayatkan ‘Aisha:
      Nabi SAW ketika sakit yang menyababkan kematiannya, kerap berkata, “O Aisha! Aku masih merasakan sakit akibat makanan yang aku makan di Khaibar, dan sekarang ini Aku rasakan nadiku di iris racun itu” (وَقَالَ يُونُسُ عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ عُرْوَةُ قَالَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ ‏ “‏ يَا عَائِشَةُ مَا أَزَالُ أَجِدُ أَلَمَ الطَّعَامِ الَّذِي أَكَلْتُ بِخَيْبَرَ، فَهَذَا أَوَانُ وَجَدْتُ انْقِطَاعَ أَبْهَرِي مِنْ ذَلِكَ السَّمِّ) [Bukhari 5.59.713]

      Riwayat Qutaibah – Al Laits – Sa’id bin Abu Sa’id – Abu Hurairah:
      Ketika Khaibar ditaklukkan, Rasulullah SAW diberi hadiah seekor kambing beracun. Rasulullah SAW bersabda: ‘Tolong kumpulkanlah orang-orang Yahudi yang ada di sini.’ Maka mereka dikumpulkanlah di hadapan beliau. Lalu Rasulullah SAW bersabda: ‘Saya akan bertanya kepada kalian tentang sesuatu, apakah kalian akan menjawab dengan jujur? ‘, mereka menjawab; ‘Ya,..Rasulullah SAW: ‘Siapakah penghuni neraka? ‘ Mereka menjawab; ‘Kami berada di dalamnya sebentar dan kemudian baginda menggantikan kami di dalamnya.’ Maka Rasulullah SAW berkata kepada mereka: Terhinalah kalian di dalamnya, demi Allah kami tidak akan menggantikan kalian di dalamnya selamanya.”..Lalu Rasulullah SAW: “Apakah kalian membubuhi racun pada (daging) kambing tersebut?” Mereka menjawab; “Ya, ” beliau bertanya: “Apa yang menyebabkan kalian berbuat demikian?” Mereka menjawab; “Kami ingin terbebas jika tuan seorang pembohong dan jika baginda benar seorang Nabi maka (racun itu) tidak bakalan mencelakai tuan” [Bukhari no.5332, 2933, 3918 atau Bukhari 4.53.394, 5.59.551, 7.71.669. Abu dawud no.3910]

      Riwayat Yahya bin Habib Al Haritsi – Khalid bin Al Harits – Syu’bah – Hisyam bin Zaid – Anas bin malik:
      Seorang perempuan Yahudi mengantarkan daging yang telah dibubuhi racun kepada Nabi SAW, lalu beliau makan sebagian. Kemudian perempuan itu dipanggil ke hadapan Rasulullah SAW, lalu beliau menanya kepadanya tentang racun itu. Jawabnya; ‘Aku sengaja hendak membunuh Anda.’ Sabda Nabi SAW: ‘Tidak mungkin Allah akan memberi wewenang kepadamu untuk berbuat demikian.’..Kata Anas selanjutnya; ‘Kami melihat jelas bekas racun itu kelihatan di leher Rasulullah SAW’ [Muslim no.4060. Juga di Abu Dawud no.3090]

      Riwayat ‘Abdullah bin ‘Abdul Wahhab – Khalid bin Al Harits – Su’bah – Hisyam bin Zaid – Anas bin Malik:
      Ada wanita Yahudi yang datang menemui Nabi SAW dengan membawa seekor kambing yang telah diracun lalu Beliau memakannya. Kemudian wanita itu diringkus dengan bukti daging tersebut dan dikatakan; “Tidak sebaiknyakah kita bunuh saja?” Beliau menjawab: “Jangan”. Sejak itu aku senantiasa aku melihat bekas racun tersebut pada anak lidah Rasulullah SAW. [Bukhari no.2424. namun di hadis-hadis lainnya dikatakan bahwa wanita Yahudi itu dibunuh, misal: Abu Dawud no.3911, dari riwayat Wahb bin Baqiyyah – Khalid dari Muhammad bin Amru – Abu Salamah: “..Rasulullah SAW kemudian memerintahkan supaya wanita itu dihukum, maka wanita itu pun dibunuh..”. Juga Abu Dawud no.3912 dari jalur perawi Wahab bin Baqiyyah- Khalid – Muhammad bin Amru – Abu Salamah – Abu Hurairah: ..Rasulullah SAW lantas memerintahkan agar wanita itu dibunuh, maka ia pun dibunuh. Kemudian beliau berkata pada saat sakit yang membawanya kepada kematian: “Aku masih merasakan apa yang pernah aku makan di Khaibar, dan sekarang adalah waktu terputusnya punggungku (kematianku)“. Juga Abu Dawud no.3913 dari jalur perawi Ahmad bin Hanbal – Ibrahim bin Khalid – Rabah – Ma’mar – Az Zuhri – ‘Abdurrahman bin Abdullah bin ka’b bin malik – ibunya Ummu Mubasysyir. Abu Sa’id Ibnul A’rabi: ia berkata dari ibunya. Namun yang benar adalah dari bapaknya, dari Ummu Mubasysyir:..Rasulullah SAW lalu memerintahkan untuk menghukum wanita tersebut, maka wanita itu pun dibunuh]

      Riwayat Suraij -‘Abbad – Hilal – Ikrimah – Ibnu Abbas:
      Seorang wanita dari kaum Yahudi memberi hadiah kepada Rasulullah SAW berupa (daging) kambing yang telah diracun. Lalu beliau mengirim utusan kepadanya, untuk menanyakan kepadanya; “Apa yang mendorongmu untuk melakukan apa yang telah engkau perbuat ini?” ia menjawab; “Aku mau.” Atau ia berkata; “Aku ingin, bila engkau seorang nabi, maka Allah akan memberitahumu tentang itu, namun bila engkau bukan nabi, aku akan menentramkan manusia darimu.” [Ahmad no.2648, 2649]

      Rasulullah berkata selama sakitnya yang mengakitkan kematiannya – ibu Bishr datang menjenguknya – “Umm Bishr, pada saat ini aku merasa aorta (urat nadi) ku dirobek akibat makanan yang kumakan bersama putramu di Kaibar. [Tabari, Vol.8, hal. 124]

      Umm Bishr, datang kepada Nabi sewaktu Nabi sedang menderita sakit dan berkata, ‘O Rasulullah! Aku tidak pernah melihat demam seperti ini.’ Nabi berkata padanya, Jika cobaan kita dua kali lipat beratnya, maka anugrah kita di surga pun jadi dua kali lipat pula. Apa yang orang2 katakan tentang penyakitku? Dia (Umm Bishr) berkata, ’Mereka bilang itu pleurisy.’ Karena itu Rasulullah berkata, ‘Allah tidak akan membuat RasulNya menderita seperti itu (pleurisy) karena itu tanda kemasukan Setan, tapi (rasa sakitku adalah akibat) daging yang kumakan bersama-sama dengan anak lakimu. Racun itu telah memotong urat merihku.’ [Kitab Al-tabaqat Al-Kabir, Muḥammad Ibn Saʻd, ‎Syed Moinul Haq, Vol.2, hal.294. Juga di: “The Life of Muhammad: al-Maghazi, Al-Waqidi, hal.679]

      Ibn Sa’d, Vol. 2, hal 251, 252:
      Ketika Rasulullah mengalahkan Khaibar dan dia merasa lapar, Zaynab Bint al-Harith (Bint al-Harith adalah saudara laki Marhab), yang merupakan istri dari Sallam Ibn Mishkam bertanya, ‘Bagian kambing manakah yang disukai Muhammad?’ Mereka berkata, ’Kaki depan.’ Maka dia pun memotong satu dari kambing2nya dan memasak (dagingnya). Lalu dia membubuhi racun yang sangat kuat. Rasulullah mengambil kaki depan kambing, dia memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya. Bishr mengambil sepotong tulang dan memasukannya ke dalam mulutnya. Ketika Rasulullah memakan sepotong daging, Bishr memakan daging kambingnya dan orang-orang lain pun makan daging kambing itu. Lalu Rasulullah berkata, ‘Tahan tangan2 kalian! Karena kaki depan kambing ini memberitahuku bahwa ia diracuni. Mendengar itu Bishr berkata, Demi Dia yang membuatmu besar! Aku ketahui akan hal itu dari daging yang kumakan. Tiada yang mencegahku untuk memuntahkannya, karena aku tidak mau membuat makananmu tampak tidak enak. Ketika kau memakan daging yang tadi ada di mulutmu, aku tidak mau hidup jika kau tidak selamat, dan kukira kau tidak akan memakannya jika memang ada sesuatu yang salah.

      Bishr tidak beranjak dari tempat duduknya tapi warna kulitnya berubah jadi ‘taylsan’ (warna kain hijau). Sakit dideritanya selama 1 tahun membuatnya tidak dapat menggerakan badan mengubah posisi kecuali dibantu orang lain dan Ia kemudian wafat. Menurut versi lainnya, ia wafat tidak beranjak dari kursinya. Ia (Ibn Sa’ad) berkata: Sebelumnya sepotong (daging) jatuh, seekor anjing memakannya dan kemudian mati tidak dapat menggerakan kaki depan.

      Rasulullah menyuruh memanggil Zaynab binti Al Harith dan berkata padanya, ‘Apa yang membuatmu melakukan apa yang telah kau lakukan?’ Dia menjawab, ‘Kau telah lakukan pada masyarakatku apa yang telah kau lakukan. Kau telah membunuh ayahku, pamanku, suamiku, aku berkata pada diriku sendiri, ‘Jika kau adalah seorang nabi, kaki depan itu akan memberitahumu, dan yang telah berkata, ‘Jika kau seorang raja, kami akan mengenyahkanmu.’ Perempuan Yahudi itu dikembalikan ketempatnya. Ia (Ibn Sa’d) berkata: Rasullullah SAW, menyerahkannya pada keturunan Bishr Ibn Al-Bara yang kemudian membunuhnya. [Kisah yang mirip dengan yang disampaikan Ibn Sa’d, juga ada di “The Life of Muhammad: al-Maghazi, Al-Waqidi, hal.677-679:..Bishr tidak beranjak dari tempat duduknya tapi warna kulitnya berubah jadi ‘taylsan’ (warna kain hijau). Rasa sakit yang dideritanya tidak berakhir setahun..kemudian wafat..Ia tidak keluar rumah hingga wafat. Rasullulah hidup hingga 3 tahun lagi. Rasullulah memanggil Zaynab..Ada perbedaan pendapat mengenai perempuan ini..Muhammad memerintahkan membunuhnya, dan disalibkan. Pendapat lainnya menyatakan ia di ampuni..]



    Apa motif Zaynab binti al-Harith meracuni Muhammad?


    Kaum Arab di Medina (atau Ansar) berasal dari 2 suku Arab, yaitu suku Aws dan suku Khazraj yang masing-masing beraliansi dengan suku Yahudi berbeda: Bani Qaynuqa (Pengerajin Emas, Beraliansi dengan suku Arab Khazraj), Bani Nadir (Pemilik kebun Kurma, dengan suku Aws), dan Bani Qurayzah (dengan suku Aws) [Sirat Nabawiyah, Ibn Ishaq/Ibn Hisham, Jilid 1, Bab.101, hal.497]. Peperangan di antara suku Arab tersebut juga menyeret serta aliansi mereka akibatnya walau terjadi perdamaian tapi tetap tidaklah menghapus dendam atas kematian keluarga mereka dan saat ada kesempatan, terjadi pembalasan, misalnya: Di perang Hatshib, Suwaid bin Shamit/suku Aws dibunuh Al-Mujadzdzir/suku Khazraj, kelak, walaupun anak-anak Suwaid (Julas dan Al harits) dan Al-Mujadzdzir semuanya telah masuk Islam dan ikut Muhammad saat perang Uhud, Namun kemudian, Al Harits juga membunuh Al-Mujadzdzir [Ibid, Bab.53, hal.240], Muhammad lantas meminta Usman bin Affan (sahabat dari bin Tsabit, suku Khazraj) untuk membunuh Harist bin Suwaid/Suku Aws [Ibid, Jilid 2, Bab.140, hal.54]

    Bagi Muhammad, suku Khazraj, lebih dekat secara kekerabatan, karena Ibunda Abdul Muthalib/Syaibah bin Hisyam (kakek Muhammad), berasal dari suku tersebut [Ibid, Jilid 1, Bab 15, hal.84] dan secara agama, karena sebelum Hijrah, 6 orang dari suku tersebut adalah kaum Anshar, Medina pertama yang masuk Islam [Ibid, Bab. 82, hal.390] malah ditahun berikutnya, 5 dari mereka membawa 7 orang (2 dari suku Aws) dan ke-12 orang ini (10 suku Khazraj) melakukan Baiat Aqaba ke-1 [Ibid, Bab.83, hal.391-92]. Tahun berikutnya, 73 orang (62 dari suku Khazraj) melakukan Baiat Aqaba ke-2 dan dari 12 pemimpinnya, 9 berasal dari suku Khazraj [Ibid, bab.85, hal.398-401]. Juga, ketika berlangsungnya perampokan di Badar terhadap karavan Quraish (Muir, Ch.12 dan Mubarakpuri, hal 251-278, menyatakan kejadian ini tanggal 17 Ramadhan 624 M), jumlah suku Khazraj paling mendominasi, yaitu 170 orang, sementara dari suku Aws 61 orang [“A Biography of the Prophet of Islam..”, Mahdi Rizqullah Ahmad, Vol.1, hal.390].

    Ibn Ishaq menyampaikan bahwa suku Aws dan suku Khazraj, saling bersaing untuk menyenangkan Muhammad [Ibid, Bab.160, hal.236], mengikuti teladan Muhammad, mereka tidak segan melakukan pembunuhan kepada yang tidak pro pada Nabi, apalagi jika bukan kerabat dan hanya kaum Yahudi yang menjadi aliansi mereka, oleh karenanya, di 5 hari sebelum berakhirnya Ramadhan, seorang wanita Yahudi, Asma binti Marwan (aliansi suku Aws), saat sedang tidur menyusui bayinya, dibunuh MANTAN suaminya, hanya karena Asma menyindir bangsanya sendiri yang mau saja menerima dan mempercayai Muhammad yang telah membantai para pemimpin sukunya sendiri (suku Quraish pada peristiwa perampokan di Badar), juga, di bulan Syawal, pembunuhan terhadap pria tua Yahudi, Abu Afak (aliansi suku Aws) oleh Salim bin Umair Al-Amr (dari suku Aws) karena menyampaikan ketidaksukaan pada agama baru dan para Muslim [Haekal di hal.261, Muir, Ch.13 dan Mahdi Rizqullah Ahmad, hal.431-433, menempatkan pembunuhan ini sebelum Bani Qaynuqa, sementara Ibn Ishaq, menempatkannya di setelah Uhud, yaitu karena protes pembunuhan Harist bin Suwaid/suku Aws: Jilid 1, bab.80, hal 386 dan Jilid 2, Bab.140, hal.54).

    3 suku Yahudi yang menjadi aliansi mereka tidak ada yang ikut dalam perjanjian PIAGAM MEDINA, karena saat itu, perjanjian Medina belumlah ada, alasannya adalah di butir perjanjiannya, ada kalimat pembagian tebusan tawanan, sementara kejadian adanya tawanan, baru terjadi karena perampokan di Badar tanggal 17 Ramadhan dan pada saat itu tidak ada kaum Yahudi yang diikutsertakan, juga, penyerangan pada kaum Yahudi bani Qaynuqa baru akan terjadi 1 bulanan ke depan di bulan Syawal dan penyerangan pada kaum Yahudi lainnya (bani Nadir dan Quraza) baru akan terjadi 1 tahun ke depan, yang alasannya justru untuk memaksa mereka agar mau mengikat perjanjian:

      Rasullulah menyerbu Banu al Nadir dan berkata: “Aku tidak akan menjamin keselamatanmu kecuali jika kau membuat perjanjian dengan ku dan berjanji mematuhinya” Mereka menolak membuat sebuah perjanjian dengannya, Kemudian Rasullulah memimpin para muslim memerangi mereka seharian.

      Hari berikutnya ia tinggalkan Banu al Nadir dan menuju ke Banu Qurayzah dengan pasukan berkuda. Ia undang Banu Qurayzah untuk membuat perjanjian bersamanya; Mereka kemudian melakukan dan Ia tinggalkan mereka.

      Hari berikutnya Ia kembali ke Banu al Nadir dengan pasukannya, dan memerangi mereka hingga mereka bersedia menerima pengusiran, dengan kondisi yaitu apapun yang mereka bisa angkut dengan onta, kecuali persenjataan.

      Banu al Nadir membawa milik mereka sebanyak yang mereka bisa bawa dengan onta, termasuk pintu-pintu rumah mereka; mereka hancurkan rumah-rumah mereka sendiri dan ambil darinya kayu-kayu terbaik.[Abd al Razzaq. al Musannaf, 5/358-361; Abu Dawud, al Sunan, 3/404-7; al Bayhaqi, Dalail al Nubuwwah, 3/446-8; juga lihat Ibn Hajar, Fath al Bari, 7/331]

    Hadis di atas membantah tuduhan Ashim bin Umar bin Qatadah bahwa Bani Qainuqa’ adalah pemukim Yahudi pertama yang membatalkan perjanjiannya dengan Rasulullah SAW [Ibn Ishaq/Hisyam, jilid 2, Bab 133, Hal.6], malah, jika benar, ke-3 suku Yahudi telah terikat perjanjian (seperti klaim Ashim), maka Mahdi Rizqullah Ahmad, menyampaikan bahwa dokumen Madina memberikan hak pada kaum Yahudi untuk menjalankan agama mereka [“A Biography of the Prophet of Islam: In the Light of the Original..”, vol.1, hal.436], sehingga justru Muhammad-lah yang melanggar perjanjian, karena di setelah peristiwa di Badar, Muhammad datang di Pasar suku Qaynuqa memaksa dengan ancaman, agar mereka masuk Islam, jika tidak mau mengalami seperti suku Quraish:

      “Ibnu Ishaq berkata, “Sesungguhnya Allah menimpakan hukuman kepada orang-orang Quraisy di Perang Badar, Rasulullah SAW mengumpulkan orang-orang Yahudi di Pasar Bani Qainuqa’ setibanya beliau di Medinah. Beliau berkata kepada mereka, ‘Hai orang-orang Yahudi, masuk Islamlah kalian sebelum Allah menimpakan hukuman seperti yang telah Dia timpakan kepada orang-orang Quraisy.’ [Ibn Ishaq/Hisyam, jilid ke-1, Bab 102, Hal 514 dan Abu Dawud no.2607 (Riwayat Musharrif bin ‘Amr Al Ayami – Yunus bin Bukair – Muhammad bin Ishaq – Muhammad bin Abu Muhammad (mantan budak Zaid bin Tsabit) – Sa’id bin Jubair – Ikrimah 0 Ibnu Abbas)]

    Dengan contoh seperti ini, maka wajar saja, jika kemudian, suku Khazraj, mengorbankan aliansi mereka, yaitu Bani Qaynuqa, agar dapat unggul telak dari suku Aws, dalam perlombaan berbakti pada Muhammad SAW.

      Ubadah bin Ash-Shamit menghadap Rasulullah SAW..kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku berpihak kepada Allah, Rasul-Nya, kaum Mukminin, berlepas diri dari persekutuan mereka, dan tidak loyal kepada mereka.’ [Ibid, jilid 2, Bab 133, Hal.9. Ubadah bin Ash-Shamit adalah warga Bani Auf, tokoh Suku Khazraj, yang hadir di Baiat Aqabah ke-1 dan ke-2 dan mempunyai persekutuan dengan orang-orang Yahudi Bani Qainuqa]

    Kehancuran suku Yahudi Qaynuqa-pun, tinggal hitungan waktu dalam kepastian.

      Ibnu Hisyam – Abdullah bin Ja’far bin Al-Miswar bin Makhramah – Abu Aun: “..seorang wanita Arab datang berjualan di Pasar Bani Qainuqa’ duduk bersebelahan dengan tukang emas dan perak. Orang-orang Yahudi memintanya membuka wajahnya, tapi ditolaknya. Tukang emas dan perak mendekat ke ujung pakaian wanita Arab tersebut dan mengikatkannya ke punggung wanita Arab tersebut. Ketika Ia berdiri, terbukalah auratnya dan orang-orang Yahudi pun tertawa terpingkal-pingkal karenanya. wanita Arab tersebut berteriak keras, kemudian salah seorang dari kaum Muslim meloncat ke tukang emas dan perak yang Yahudi itu dan membunuhnya. Orang-orang Yahudi lainnya tidak tinggal diam dan membunuh orang muslim tersebut. keluarga orang Muslim yang terbunuh berteriak memanggil kaum Muslimin sembari menyebutkan ulah orang-orang Yahudi. kemudian terjadilah perang antara mereka melawan orang-orang Yahudi. [Sirat Nabawiyah, Ibn Ishaq/Hisham, jilid 2, Bab 133, hal.7]

    Jika ini perempuan Muslim, maka kewajiban HIJAB, belum ada, baru muncul 4 tahun kemudian, pada peristiwa perkawinan Zainab, Wanita Arab itu, bisa jadi bukan kelompok suku Arab aliansi mereka sehingga berani mereka goda dan jika benar kaum Qaynuqa ikut perjanjian, maka ada pasal tentang DIYAT dan juga perlindungan tidak diberikan kepada perempuan (dalam hal perkawinan) kecuali seijin sukunya.

    Atas peristiwa itu, di hari Sabtu, 15 Shawwal, 2 H. (624 M) Nabi bersama pasukannya mengepung benteng kaum Yahudi Qaynuqa selama 15 hari, membiarkannya tanpa air [“Muslim Pertama: Melihat Muhammad Lebih Dekat”, Lesley Hazleton”, hal.251. juga, Muir, Ch.13] yang membuat mereka menyerah dengan tangan terikat:

      Maududi: “..Pengepungan berlangsung kurang dari dua minggu waktu orang2 Yahudi akhirnya menyerah dan semua pria yang bertempur diikat dan dijadikan tahanan..Bani Qaynuqa harus mengasingkan diri dari Madinah dan meninggalkan semua harta benda, peralatan perang, dan perlengkapan berdagang. (Ibn Sa’d, Ibn Hisham, Tarikh Tabari)

      Ibn Ishaq: Abdullah bin Ubai bin Salul menghadap Rasulullah SAW: ‘Hai Muhammad, berbuat baiklah kepada para pengikutku –mereka adalah sekutu Al-Khazraj–. ‘Rasulullah SAW diam tidak memberi jawaban, Ia berkata ke-2xnya, Rasulullah SAW memalingkan muka darinya, kemudian Abdullah bin Ubai bin Salul memasukkan tangannya ke saku baju besi Rasulullah SAW.” [Tidak jelas apa ini artinya, “sogokan” atau bukan]..Rasulullah SAW marah hingga wajah beliau menghitam karena ucapan dan perbuatan Abdullah bin Ubai bin Salul. Rasulullah SAW: ‘Celakalah engkau, kirim mereka kepadaku! Abdullah bin Ubai bin Salul: ‘Tidak, demi Allah, aku tidak akan mengirimkan mereka kepadamu hingga engkau berbuat baik kepada para pengikutku, yaitu 400 tentara tanpa baju besi dan 300 tentara berbaju besi yang telah melindungiku dari orang-orang berkulit merah dan orang-orang negro, namun engkau bunuh mereka di satu pagi. Demi Allah, sungguh aku orang yang paling takut malapetaka.’ Rasulullah SAW: ‘Mereka menjadi milikmu’. [Ibid, jilid 2, Bab 133, Hal 8]

      Mubarakpuri: “Bani Qaynuqa menyerahkan segala barang, kekayaan dan peralatan perang pada Nabi, yang lalu mengambil 1/5 bagian dan membagi sisanya untuk orang-orangnya. Setelah itu Bani Qaynuqa diusir dari Arabia dan menuju Syria.” (juga Muir, Ch 13)

    Tidak seorang pun bertanya, mengapa QIYAS dan DIYAT (kebiasaan ganti rugi yang telah berjalan lama) tidak diberlakukan pada oknumnya dan menjadikan kejadian ini sebagai tanggungjawab kolektif suku, melakukan pengusiran pada mereka SETELAH merampas harta mereka?

    Tetua Bani Nadir, Ka`b Ibn Ashraf, tahu apa yang melanda Suku Arab Quraish di Badar dan suku Yahudi Qaynuqa, karena ke-2nya terjadi dalam 1 bulan (17 Ramadhan dan Syawal). Ia menjadi berkhawatir pada nasib sukunya karena tahu bahwa Muhammad tidak akan berhenti sampai di situ dan akan berlanjut pada suku Yahudi lainnya.

    Ketika Ia pergi ke Mekkah (Ada pasal di perjanjian Medina bahwa Para Yahudi tidak diperkenankan keluar dari Yatrib tanpa ijin dari Muhammad SAW), Ia singgah di rumah Al-Muththalib bin Abu Wada’ah Dhubairah As-Sahmi yang ayahnya menjadi tawanan Badar dan harus ditebus seharga 4000 Dirham [Ibid, Jilid 1, bab 119, hal.624-625]. Ini mengindikasikan kepergiannya terkait urusan penebusan tawanan yang memerlukan keterlibatan pihak ke-3, karena, jika kaum Arab muhajirin dan Medina sendiri yang datang, malah akan berbalik menjadi tertawan atau dibunuh, sehingga, bukan saja tidak mendapat uang, malah akan terjadi pertukaran tawanan atau mayat. Karena kejadian di Badar adalah peristiwa yang mendukakan dan sensitif, maka ketika di Mekkah, wajar saja Ka’b menyampaikan pujian pada kaum Quraish dan simpati atas para mayat pemimpin Quraish yang ada di sumur Badar, juga wajar para Quraish yang tengah berduka besar ini marah dan bercuriga pada kedatangan orang Medina, sebagai orangnya Muhammad, sehingga Ka’b sempat ditawan dan hampir dibunuh karenanya [Ibid, jilid 3, bab 135, hal 13-14] namun Ia selamat dan dapat pulang ke Medina.

    Para penulis Islam, tentu saja punya versi tersendiri, dikatakan bahwa Ka’b di sana sibuk memprofokasi kaum Quraish, sample:

      Maududi: “..Ka`b bin Ashraf, ketua Bani an-Nadeer kemudian pergi ke Mekkah membujuk orang-orang untuk melakukan balas dendam dengan cara menulis dan membacakan syair sedih profokatif atas para pemimpin Quraish yang dibunuh di Badr…”

      Ibn Ishaq: Ka’ab bin Al-Asyraf memprovokasi orang-orang Quraisy untuk memerangi Rasulullah SAW, melantunkan syair-syair, dan menangisi penghuni Sumur Badar.. [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 2, bab 135, hal.13-16]

    Jika Provokasi sebagai alasan, maka para penulis muslim itu lupa satu fakta sederhana, bahwa saat itu telah terjadi 70 kerabat dekat suku Quraish Mekkah yang TERBUNUH dan 65 kerabat yang TERTAWAN (“Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad”, K.H, Moenawar Chalil, Jilid 3, hal. 38-43). Ini membuat kota Mekkah, saat itu berubah menjadi kota yang diliputi KESEDIHAN dan KEMARAHAN MASSAL, sehingga tanpa Ka’b-pun, pembalasan pastilah terjadi.

    Para Penulis juga berkata bahwa

      Maududi: “..Lalu dia kembali ke Madinah dan menyusun ayat2 syair yang menghina keadaan para perempuan Muslim, Ini membuat Nabi Marah dan mengirim Muhammad bin Maslamah Ansari di bulan Rabi al-Awwal, A. H. 3, dan membunuh Ka` b. (Ibn Sad, Ibn Hisham, Tabari)…”

      Ibn Ishaq:..Setelah itu, Ka’ab bin Al-Asyraf pulang ke Madinah dan memuji-muji istri-istri kaum Muslimin hingga mereka terganggu karenanya. Rasulullah SAW:..‘Siapa yang siap bertindak terhadap Ka’ab bin Al-Asyraf mewakiliku?’ .. [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 2, bab 135, hal.13-16]

    Apakah puisi Ka’ab adalah pujian atau hinaan atau sindiran, ini tergantung penulis, sample tulisan Ka’b diantaranya seperti ini:

    Tahanlah orang tidak waras dari kalian, agar kalian selamat dari perkataannya yang tidak baik, Apakah engkau mencelaku jika aku menangisi dengan air mata bercucuran, Terhadap kaum yang mencintaiku dengan hati yang tulus?, Aku pasti akan menangis selagi aku masih hidup, Dan selagi aku ingat amal mulia suatu kaum yang mulia di Al-Jabajib [Ibid hal.15]

    atau jika merujuk pada Tabari vol.7, hal.94-95 (dan Muir, Ch.13, cat kaki no.26, hal 144-145), terdapat sebuah puisi cinta Ka’b untuk Umm Fadl binti Harith (yang kelak menjadi Istri Ibn Abbas), saudara Maymuna bint Harith dan Zainab binti Khuzaimah (keduanya kelak menjadi Istri Muhammad). Puisi itu pujian kecantikannya dan beberapa puisi cinta untuk beberapa perempuan muslim lainnya yang kemudian ini dianggap mengganggu (entah oleh kaum perempuannya atau oleh kaum Prianya)

    Kemudian, vonis mati Ka’b diberikan Rasulullah SAW: “Siapakah yang mau membunuh Ka`b bin al-Ashraf yang telah menyakiti Allah dan RasulNya?” maka Maslama mengajukan diri dan setelah mendapat ijin rasul untuk berkata sesuatu yang dapat menipu Ka’ab, Ia bersama kawannya membunuh Ka’b [Bukhari no.3731 dan Muslim no.3359, juga Bukhari no.2237, 2806-07. Abu Dawud no.2387].

    Sehari setelah Ka’b tewas, terjadi pembunuhan terhadap seorang pedagang Yahudi hanya karena Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang bisa mengalahkan Yahudi, bunuh dia!”, maka Muhaishah/Muhaiyyishah dari suku Al-Aws menangkap Ibnu Sunainah/Ibnu Subainah kemudian membunuhnya.[Ibn Ishaq/Hisyam, jilid 2. Bab.135, hal.19-20. Juga di Abud Dawud no. 2608]

    (Setelah pembunuhan Ka’b dan Ibnu Sunainah), kaum Yahudi hidup dalam ketakutan. Tak ada yang berani berkeliaran diluaran. Setiap keluarga hidup dalam ketakutan mengalami serangan malam, setiap orang takut mengalami nasib seperti Kab dan Ibnu Sanina. Seorang pria perwakilan mereka, datang kepada Muhammad mempertanyakan tentang dibunuhnya Ka’b yang dibunuh tanpa kesalahan dan sebab jelas, Muhammad jawab, “itu karena kelakuan Ka’b sendiri, Ia melakukan seperti kamu, Ia tidak akan digorok, tapi Ia melecehkanku dengan hasutan dan puisi jahatnya dan jika satu di antara kalian berbuat sama, pedang yang sama akan lagi terhunus”. Pada saat yang bersamaan, Nabi minta mereka membuat perjanjian dan mereka menyetujuinya. Namun demikian, tambah Wackidi, sejak itu kaum Yahudi hidup depresi dalam ketakutan [Wackidi; 191; K. Wackidi 94 ½] [Muir, Ch.13, hal. 150]

    Kemudian terjadilah pembalasan suku Quraish kepada kaum Arab Medina (Lokasi: Uhud)

      Maududi: “Beberapa saat setelah hukuman ini, orang-orang Yahudi dicekam rasa takut yang hebat sehingga mereka tidak berani macam-macam lagi. Tapi kemudian di bulan Syahwal, 3 H, orang-orang Quraish yang membalas dendam atas kekalahan mereka di Badr, menuju Madinah dengan persiapan besar. Orang-orang Yahudi melihat jumlah prajurit Nabi hanyalah sekitar 1000 orang melawan 3000 Quraish. 300 prajurit munafik meninggalkan pasukan Nabi balik ke Madinah. Para Yahudi duluan melanggar perjanjian dengan menolak bergabung dengan Nabi untuk mempertahankan Madinah meski mereka terikat perjanjian itu.”

    300 prajurit munafik yang balik itu, JUSTRU BERASAL DARI KAUM ARAB SUKU KHAZRAJ, pimpinan Abdullah bin Ubai bin Salul [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 2, Bab 136, hal.26-27] dan Muhammad sendiri telah menyatakan TIDAK BUTUH BANTUAN YAHUDI

      Ibnu Hisyam berkata, selain Ziyad berkata dari Muhammad bin Ishaq dari Az-Zuhri bahwa orang-orang Anshar berkata kepada Rasulullah SAW MENJELANG PERANG UHUD, “Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak meminta bantuan sekutu-sekutu kita dari orang-orang Yahudi?” Rasulullah SAW bersabda, “KITA TIDAK BUTUH MEREKA.” [Ibid, hal.27]

    Kekalahan Nabi di Uhud yang membuatnya sampai tunggang langgang ke atas gunung, BUKANLAH SALAH KAUM YAHUDI. Tapi masalahnya perang dan keseharian membutuhkan modal, maka itu akan didapat dari kaum YAHUDI, seperti misalnya emas dan harta setelah pengusiran kaum Qaynuqa, Muhammad tahu, bani Nadir adalah kaya, kebun kurma paling terurus yang ada di Yathrib adalah milik mereka [misal Bukhari no.2918, 2896] demikian juga Bani Qurayza, akibatnya mereka semua diincar untuk juga dusir

      Riwayat Qutaibah bin Sa’id – Laits – Sa’id bin Abu Sa’id – ayahnya – Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Mari kita pergi ke pemukiman orang-orang Yahudi.” Lalu kami pergi bersama beliau, setelah kami sampai di pemukiman mereka, Rasulullah SAW di hadapan mereka berseru: “Wahai kaum Yahudi, masuk Islamlah kalian niscaya kalian akan selamat.” Mereka lalu menjawab, “Wahai Abu Qasim, kamu telah sampaikan itu.”..Beliau mengulang seruan tersebut sampai 3x kali. Sesudah itu, beliau bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah dan Rasul-Nya, oleh karena itu AKU MENGUSIR KALIAN DARI NEGERI INI, barangsiapa YANG MASIH MEMILIKI HARTA, hendaknya dijual, jika tidak maka ketahuilah, bahwa bumi ini adalah milik Allah dan Rasul-Nya.” [Muslim no.3311, Bukhari no.2931, 6431, 6802]

    Hadis ini juga membuktikan bahwa PERJANJIAN dengan 3 SUKU YAHUDI (Qaynuqa, Nadir dan Qurayza) TIDAK PERNAH ADA, karena JIKA ADA, maka TINDAKAN MUHAMMAD ini menjadi pihak pertama yang melanggar perjanjian, juga, tidakpeduli apapun caranya, yang penting dapat menguasai harta dan mengusir kaum Yahudi, misalnya:

      ..setelah kecelakaan Bi’r Maunah (Safar, 4H) Amr bin Umayyah Damri SALAH MEMBUNUH 2 PRIA BANI AMIR dalam usaha balas dendam. Dua orang dari Bani Amir ini adalah SEKUTU ORANG MUSLIM, tapi Amr mengira mereka itu musuh. Karena kesalahan ini, KAUM MUSLIM WAJIB MENGGANTI RUGI 2 ORANG ITU dengan sejumlah uang. Karena Bani an-Nadir merupakan sekutu Bani Amir, NABI DAN PASUKANNYA menemui mereka (Bani an-Nadir) UNTUK MINTA TOLONG MEMBAYARKAN UANG DARAH TERSEBUT. [Maududi, Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, jilid 1, Bab 103, hal.530]

    Tentu saja para Yahudi ini tahu bahwa mereka TIDAK BERKEWAJIBAN BANTU BAYAR, namun penolakan berarti bencana seketika, karena, jika urusan hanya sekedar itu saja, maka Muhammad cukup mengirim utusan, tapi beliau datang BERSAMA PASUKAN, ini jelas bukan sekedar urusan “permohonan bantuan uang diyat”

      Kelihatannya mereka setuju untuk menyumbang, seperti yang diharapkan Nabi [Maududi, Al Mubarakpuir, hal.302], meminta Muhammad dan kawannya Abu Bakr, ‘Umar, `Ali dan lainnya untuk duduk di bawah tembok rumah mereka dan menunggu [Mubarakpuri, hal.302]. Ketika orang-orang Yahudi duduk sesama mereka, sebagian dari mereka berkata, ‘Kalian tidak melihat Muhammad lebih dekat dengan kalian kecuali sekarang. Maka siapa yang mau naik ke atas rumah, kemudian menjatuhkan batu kepadanya lalu kita tidak terganggu olehnya?’ Amr bin Jihasy bin Ka’ab berkata, ‘Saya siap melakukannya!’ [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, jilid 1, Bab 103, hal.530, Maududi, Mubarakpuri, Muir, Ch.15, cat kaki.29 :Tradisi ini fiksi] Seorang dari mereka, Salam bin Mashkam, memperingatkan untuk tidak melakukannya, karena mengira Allah akan memberitahu Nabi tentang rencana mereka [Mubarakpuri, hal.302] Ketika Rasulullah SAW mengetahui rencana mereka, beliau segera pergi dari mereka. [Ibn Ishaq, hal.530, namun Mubarakpuri, hal 302: Jibril turun memberitahu Nabi tentang rencana mereka, Maududi: Allah memberitahunya tepat waktu. Muir, Ch.15. hal 209-210, catatan kaki no.29: tradisi ini adalah fiksi]

    Klaim rencana pembunuhan di atas menimbulkan beberapa pertanyaan:

    • Di luar atau dalam rumahkah Muhammad duduk sehingga tidak terdengar atau terlihat sekumpulan atau orang yang memanjat sambil membawa batu? Jika memang datang segelintir, maka, menangkap Muhammad dan rekannya jauh lebih mudah apalagi telah ada di tempat mereka, bukan?
    • Akan lebih mudah bagi Jibril dan Allah, membuat celaka Amr bin Jash ketika memanjat, atau bahkan membuat bumi terbelah agar menelan mereka (bilangan 16.30), daripada hanya sekedar memberitahukan rencana mereka, bukan?

    Kemudian Muhammad melakukan penyerangan pada kaum Yahudi bani Nadir:

      Maududi: “Sekarang tidak ada alasan lagi untuk memberikan kelonggaran. Nabi dengan seketika mengirim ancaman bahwa rencana pembunuhan yang mereka buat baginya sudah ketahuan; karena itu, mereka harus pergi dari Madinah dalam waktu 10 hari; jika masih ada yang tinggal setelah 10 hari, dia akan dibunuh dengan pedang.

      Nabipun membakar pohon kurma Bani Nadir:
      Riwayat Adam – Al Laits – An Nafi’ – Ibnu Umar: “Rasulullah SAW pernah membakar kebun kurma Bani Nadlir dan memotongnya, yaitu yang ada di Buwairah. Kemudian turunlah ayat: ‘(Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma atau yang kamu biarkan berdiri di atas pokoknya. Maka adalah dengan izin Allah) ‘ (Qs. Al Hasyr: 5) [Bukhari no.3727-28, 4505 Muslim no.3284-86]

      Maududi: Abdullah bin Ubayy mengirim pesan pada mereka bahwa dia akan membantu mereka dengan 2000 orang dan bahwa Bani Quraizah dan Bani Ghatafan akan juga membantu; karena itu, mereka harus tetap berdiam diri dan jangan pergi. Karena janji ini, Bani Nadir menjawab sang Nabi bahwa mereka tidak akan meninggalkan Medina dan terserah dia mau apa. Di bulan Rabi’ al-Awwal, 4 H, Nabi menyerang mereka, dan setelah dikepung beberapa hari (ada yang berkata 6 hari, yang lain berkata 15 hari), Bani Nadir setuju meninggalkan Madinah dengan sejumlah harta yang dapat diangkut oleh onta mereka, kecuali persenjataan”

      Mubarakpuri: “Rasulullah merampas persenjataan, tanah, rumah-rumah dan kekayaan. Di antara barang-barang rampasan yang berhasil diambilnya terdapat 50 baju baja, 50 pelindung kepala, dan 340 pedang. Semua ini milik Nabi karena tidak terjadi pertempuran saat penangkapan terjadi. Dia membagi barang rampasannya… Sisa seluruh jarahan diberikan kepada prajurit Muslim dengan persenjataan bagi peperangan mendatang dalam nama Allah.”

    Namun hadis justru mengungkapkan alasan penyerangan ini, yaitu UNTUK MEMAKSA MEREKA MEMBUAT PERJANJIAN:

      Rasullulah menyerbu Banu al Nadir dan berkata: “Aku tidak akan menjamin keselamatanmu kecuali jika kau membuat perjanjian dengan ku dan berjanji mematuhinya” Mereka menolak membuat sebuah perjanjian dengannya, Kemudian Rasullulah memimpin para muslim memerangi mereka seharian.

      Hari berikutnya ia tinggalkan Banu al Nadir dan menuju ke Banu Qurayzah dengan pasukan berkuda. Ia undang Banu Qurayzah untuk membuat perjanjian bersamanya; Mereka kemudian melakukan dan Ia tinggalkan mereka.

      Hari berikutnya Ia kembali ke Banu al Nadir dengan pasukannya, dan memerangi mereka hingga mereka bersedia menerima pengusiran, dengan kondisi yaitu apapun yang mereka bisa angkut dengan onta, kecuali persenjataan.

      Banu al Nadir membawa milik mereka sebanyak yang mereka bisa bawa dengan onta, termasuk pintu-pintu rumah mereka; mereka hancurkan rumah-rumah mereka sendiri dan ambil darinya kayu-kayu terbaik.[Abd al Razzaq. al Musannaf, 5/358-361; Abu Dawud, al Sunan, 3/404-7; al Bayhaqi, Dalail al Nubuwwah, 3/446-8; juga lihat Ibn Hajar, Fath al Bari, 7/331]

    Jika waktu itu, mereka melawan, pembantaian pasti terjadi, karena Allah menyatakan di quran 59.3-4, yaitu “jika tidaklah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah MENGAZAB MEREKA DI DUNIA. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka. Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, SESUNGGUHNYA ALLAH SANGAT KERAS HUKUMAN-NYA

    Surat Al-Hashr (Bab 59 – Pertemuan) berisi kepastian bahwa Yahudi harus diusir, prilaku para munafik, membenarkan perampasan harta kafir dan pembagiannya, boleh memotong dan membakar lahan/pohon-pohon musuh, yang tindakan ini, BUKAN membuat kerusakan di muka bumi juga BUKAN tindakan munafik di AQ 2.205 (..berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak..), demikianlah Allah yang maha memutarbalikan apapun yang Ia mau.

    Para suku Nadir yang terusir ini hijrah ke Khaybar, di antaranya ada Sallam, Kinana [Ibn Kathir, tafsir surat AQ 33.9]. Sallam ibn Mishkam bin Al-Hakam ibn Haritha bin Al-Khazraj ibn Kaab ibn Khazraj suku Nadir bersepupu dengan bendahara suku Nadir, Kinana bin al-Rabi’ Abu’l-Huqayq dan juga bersepupu jauh dengan kepala suku Nadir, Huyayy ibn Akhtab (ayah Safiya). Rumah Sallam berbatasan dengan suku Qurayza. [Sirat Rasulullah Ibn Ishaq, Guillaume, hal. 361]. Sallam pernah menikah dengan Safiya binti Huyayy dan kemudian bercerai. [Tabari Vol.9, hal.134-135]. Ketika suku Nadir mengungsi ke Khaybar, Safiya menikah dengan Kinana, sementara Sallam menikah dengan Zaynab binti al-Harith [Sirat Rasulullah Ibn Ishaq, Guillaume, hal.516]

    Setelah sukses dengan suku Nadir, maka giliran suku Quraizah:

      “Pada kenyataannya, kaum Yahudi layak dapat hukuman berat ini karena memendam pengkhianatan yang buruk mereka terhadap Islam, mereka telah mengumpulkan gudang senjata yang besar yang terdiri dari 1500 pedang, 2000 tombak, 300 pakaian perang dan 500 tameng, dan semua ini jatuh ke tangan para Muslim” [Mubarakpuri, hal. 323]

    Tuduhan bahwa kaum Yahudi Qurayza “berkhianat” atau “menyebabkan perpecahan” atau “melawan Islam” adalah TIDAK TEPAT, karena:

    1. Di dekat pengusiran Bani Nadir, Allah telah menyampaikan bahwa “Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama…maka Allah mendatangkan kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin..” [AQ 59.2],  juga untuk mendapatkan harta, sebagaimana amanat AQ 59.6-10
    2. Muhammad TELAH MENETAPKAN pada kaum Yahudi, yaitu: masuk islam atau terusir dari negeri ini [Muslim no.3311, Bukhari no.2931, 6431, 6802]
    3. Sebelumnya, yaitu ketika Muhammad dan pasukannya menyerang Bani Nadir (4 Rabiul Awal 4 H), disaat yang bersamaan, juga menyerang Bani Qurayza untuk memaksa mereka MEMBUAT PERJANJIAN dengan kaum Muslim [Abd al Razzaq. al Musannaf, 5/358-361; Abu Dawud, al Sunan, 3/404-7; al Bayhaqi, Dalail al Nubuwwah, 3/446-8; juga lihat Ibn Hajar, Fath al Bari, 7/331] dan mereka mau
    4. Perintah malaikat Jibril dan Pasukan Malaikat Jibril:
      Ibnu Ishaq: “..pulang dari khandaq dengan tujuan Madinah dan meletakkan senjata (istirahat). Pada waktu dhuhur, Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah SAW seperti dikatakan kepadaku oleh Az-Zuhri: Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah SAW: ‘Apakah engkau telah meletakkan senjata, wahai Rasulullah?’ Rasulullah SAW: ‘Ya’. Malaikat Jibri: ‘Para malaikat belum pernah meletakkan senjata. Mereka sekarang sedang mengejar kaum tersebut. Hai Muhammad, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menyuruhmu berangkat ke Bani Qurayza [juga di Muslim no. 3315. Bukhari no. 3813, no.2602, no.3808. Musnad Ahmad no.23160]. Aku (Jibri) juga akan pergi untuk mengguncang mereka.’..dan memasukkan ketakutan ke hati mereka.” [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, jilid 2, bab 158, hal.200-201 dan Mubarakpuri hal. 321]

      Tidak jelas mengapa Jibril perlu pertolongan Muslim untuk menghabisi kaum Yahudi padahal Ia sendiri punya “pasukan malaikat”

    5. Pihak-pihak yang bersekutu dengan kaum Quraish adalah bani: Ghatafan, Fazarah (cabang suku Ghatafan) [Mubarakpuri, p.363], Murrah dan Masud, Rukhaylah dari suku Ashja [Haykal, pada bab antara Badr and Uhud]. Tidak satu penulis BIOGRAPHY-pun yang menyatakan bahwa kaum Qurayza bergabung dengan kaum Quraish Mekkah melawan kaum Muslimin Medina
    6. Ketika Muhammad dan pasukannya membuat parit barikade untuk MEMBENDUNG serangan gabungan kaum Quraish [Bukkhari no. 2873]. Muhammad menyewa peralatan gali lubang dari kaum Yahudi Bani Qurayza. [Hamidullah, p71] -> Ini menunjukan kaum Qurayza tidak melawan atau memusuhi Muhammad.

      Parit digali di seluruh Yatrib KECUALI area suku Yahudi QURAYZA karena suku itu TIDAK MENGIJINKAN PIHAK Quraish lewat dan juga karena benteng Qurayza SULIT DITEMBUS pihak Quraish

    7. Jika kaum Yahudi Qurayza mau membantu kaum Quraish Mekkah, maka pihak Muhammad akan mengalami serangan 2 arah, yaitu arah: depan (Quraish) dan belakang, itulah sebabnya, kubu Muhammad maupun kubu Quraish berusaha membujuk bani Qurayza.

      Dari kubu Muhammad:
      melalui Nu’aim bin Masud (sudah masuk Islam namun Quraish dan kaum Yahudi belum tahu) datang ke Bani Qurayza mengingatkan bahwa jika Quraish dan kelompoknya kalah akan pulang ke daerahnya meninggalkan mereka yang akan menjadi makanan empuk Muhammad, untuk itu JANGAN MEMERANGI SEBELUM mendapatkan sandera dari Quraish sebagai jaminan (SARAN INI JUSTRU DITURUTI Kaum Yahudi Qurayzah). Kemudian, Nu’aim ke kubu Quraish Mekkah, kepada Abu Sufyan, membohonginya bahwa bani Qurayza telah membelot ke Muhammad dan akan berpura-pura meminta sandera seolah-olah sebagai jaminan kerjasama..untuk itu JANGAN MEMBERIKAN sandera. Nu’aim mengulangi pesan yang sama kepada suku lain dari pihak Gabungan Quraish [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 2, bab 157, hal.195-197]

      Dari kubu Quraish Mekkah:
      melalui Huyayy b. Akhtab, ketua dari kaum Yahudi B. Nadir. Namun, kaum Qurayza TETAP TIDAK MAU MENGIRIMKAN PASUKAN bagi pihak Quraish Mekkah, kecuali hanya satu janji bahwa akan menerima Huayy bin Akhtab di bentengnya ketika kaum Quraish dan gabungannya kalah melawan Muhammad. [Ibid, hal.188-189, 198] ATAU Abu Sufyan mengirim Ikrimah b. Abi Jahl mendatangi B. Qurayzah MEMINTA KAUM YAHUDI BERPERANG bersama mereka besok. KAUM YAHUDI MENOLAK dengan alasan Kaum Yahudi TIDAK BERPERANG dan TIDAK BEKERJA di hari Sabat. Malah tidak juga akan berperang bersama Qurasih jika Sabat telah lewat KECUALI Quraish memberikan sandera sebagai jaminan agar Quraish tidak meninggalkan mereka ketika sedang berperang menghadapi Muhammad. Malah bani Qurayza takut jika Quraish kalah dan pulang ke Mekkah, meninggalkan mereka sendirian berhadapan dengan Muhammad, dan mereka tidak dapat mengatasinya..Ikrimah pulang dan menyampaikan pada Abu Sufyan bahwa berita dari Nu’aim adalah benar. [“The Life of Muhammad: Al-Waqidi’s Kitab Al-Maghazi”, hal.237]

    Sehingga TIDAKLAH BENAR jika kaum Qurayza berkhianat, malah, Abu Sufyan, yang juga tahu posisi Bani Qurayza, telah membuat seruan yang mencelakakan kaum Yahudi Qurayza:

      Riwayat Ya’qub – Muhammad bin Ishaq – Yazid bin Ziyad – Muhammad bin Ka’ab Al Qurazhi – Hudzaifah bin Al Yaman: Hai keponakanku, demi Allah kami dulu bersama Rasulullah SAW di parit (Perang Khandaq)…Abu Sufyan berkata; Hai sekalian kaum Quraisy! Demi Allah kalian kini tidak ada lagi tempat bertahan bagi kalian, kawasan sudah hancur, Bani Quraizhah telah meninggalkan kami, dengan sesuatu yang tidak kami suka dari mereka, kita menghadapi angin ini seperti yang kalian lihat, demi Allah tidak ada satu tungku pun yang berdiri tegak, tidak ada satu perapian pun yang bertahan dan tidak ada satu bangunan pun yang bisa kita jadikan pegangan, karena itu hendaklah kalian pergi karena aku akan pergi. Lalu ia pergi menghampiri untanya yang terikat lalu ia duduk diatasnya, ia memukul untanya lalu meloncati tiga orang, ia tidak melepaskan ikatannya kecuali saat ia berdiri..Bani Ghatafan mendengar apa yang dilakukan kaum Quraisy, akhirnya mereka pulang ke kampung halaman mereka.[Musnad Ahmad no.22244]

    Kemudian, Muhammad bersama 3000 orang dan 30 pasukan berkuda menuju benteng Bani Quraiza [Mubarakpuri, hal 321] mengepung mereka selama 25 hari [Ibid, hal.324]:

      Haykal: Mereka menyampaikan usulan untuk pergi ke adhirat namun ini ditolak muhammad yang tetep bersikeras hendak menghakimi mereka. Mereka kemudian minta pada bani Aws menolong mereka karena hubugan aliansi masa lalu ketika melawan bani Khazraj. Bani Aws kemudian menyampaikan pesan ini pada muhammad dan muhammad menyampaikan akan meminta 1 orang dari bani Aws yang mengambil keputusan. ini diterima mereka. [Sejarah Hidup Muhammad, hal 337]

      Ibnu Ishaq: “..Orang-orang Al-Aws berdiri dan berkata, ‘Wahai Rasulullah..mereka adalah keluarga kami dan belum lama ini engkau bertindak terhadap sekutu saudara-saudara Al-Khazraj seperti yang telah engkau ketahui.’..Sesudah orang-orang Al-Aws berkata seperti itu, beliau bersabda, ‘Hai semua orang-orang Al-Aws, tidakkah kalian senang kalau urusan kalian diputuskan salah seorang dari kalangan kalian sendiri?’ Orang-orang Al-Aws menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Sa’ad bin Muadz (dari suku Aws) adalah orangnya [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 2, Bab 158, hal.205. Mubarakpuri, hal.322. Muir. Ch.17, hal 273. Juga di Mohammed Abu-Nimer (2000-2001). “A Framework for Nonviolence and Peacebuilding in Islam”. Journal of Law and Religion 15 (1-2): 247., Hashmi, Sohail H.; Buchanan, Allen E; Moore, Margaret (2003). States, Nations, and Borders: The Ethics of Making Boundaries. Cambridge University Press., Khadduri, Majid (1955). War And Peace in the Law of Islam. Baltimore: Johns Hopkins Press]

    Apa alasan Muhammad menunjuk Sa’ad bin Muadz?

    Dalam pertempuran sebelumnya (Pertempuran Sekutu/Perang Parit), Sa’d b Muadh MENDERITA LUKA parah di tangannya (atau bahunya menurut Muir) terkena panah. Ia SALAH SANGKA menganggap pelakunya adalah orang Yahudi B. QURAYZA sehingga bersumpah akan membalas pada mereka, padahal, pelakuknya salah seorang dari Suku ARAB Quraish Mekkah, yaitu:

    • Riwayat Ibnu Ishaq..dari Abdullah bin Ka’ab bin Malik: “..adalah Abu Usamah Al-Jusyami sekutu Bani Makhsum..” [Ibn Ishaq, Jilid 2, Bab 157, hal.193-194] ATAU
    • Riwayat Ibnu Ishaq: riwayat Abu Laila Abdullah bin Sahl – Aisyah – Ashim bin Umar bin Qatadah: “..oleh Hibban bin Qais bin Al-Ariqah salah seorang dari Bani Amir bin Luai..” [Ibn Ishaq, Jilid 2, Bab 157, hal.193-194. Juga Bukhari no.3813, 2816. Muslim no.3314. Musnad Ahmad no.23945]

    Siapapun yang memutuskan, apakah Muhammad ataupun Sa’ad yang memutuskan, hasilnya akan sama: “Bani Qurayza akan disembelih“.

      Ibnu Hisyam – Abu Ubaidah – Abu Amr Al-Madani: “Ketika Rasulullah SAW berhasil mengalahkan Bani Qurayzah, beliau menangkap sekitar 400 orang-orang Yahudi sekutu orang Al-Aws.
      RASULLULLAH SAW MEMERINTAHKAN KAUM AL-KHAZRAJ MEMENGGAL KE-400 KAUM YAHUDI TERSEBUT..RASULULLAH MELIHAT WAJAH KAUM AL-KHAZRAJ BERBINAR-BINAR BAHAGIA, SEMENTARA WAJAH KAUM AL-AWS TAMPAK KUSUT .. Sisa dari ke-400 adalah 18 orang, 12 ORANG DISERAHKANNYA PADA 2 ORANG AL-AWS. Rasulullah SAW: ‘HENDAKLAH MUHIYYISHAH MEMUKUL KA’AB BIN YAHUDZA TIDAK SAMPAI MATI DAN HENDAKLAH ABU BURDAH MEMBUNUHNYA!’
      Huwaiyyishah yang ketika itu masih kafir berkata kepada saudaranya, Muhaiyyishah, ‘..Demi Allah, barangkali engkau membunuhnya karena lemak yang tumbuh di perutmu berasal dari hartanya? Engkau tercela, hai Muhaiyyishah.’
      Muhaiyyishah berkata, ‘Aku diperintah membunuhnya oleh orang yang jika menyuruhku membunuhmu, aku pasti membunuhmu.’ Huwaiyyishah menjadi kagum kepadanya.
      Para ulama menyebutkan bahwa pada malam harinya, Huwaiyyishah terbangun dari tidurnya karena kagum pada ucapan Muhaiyyishah.
      Esok paginya, Huwaiyyishah berkata, ‘Demi Allah, inilah agama yang benar.’ Setelah itu, ia menemui Rasulullah SAW, masuk Islam..” [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 2, Bab 135, hal 20-21]

      Ibnu Ishaq: “..Rasulullah SAW..memerintahkan orang-orang Yahudi Bani Qurayzah dibawa ke parit dan memenggal kepala mereka..termasuk musuh Allah Huyai bin Akhtab, Ka’ab bin Asad bersama 600 atau 700 orang..Ada yang mengatakan bahwa jumlah mereka adalah 800 atau bahkan 900 orang [Ibid, bab 159, 207]. Di parit yang digali, sekitar 600 sampai 700 orang dipenggal kepalanya, Rasullullah mendapat bagian 1/5 dari harta yang didapat dan juga Raihana binti ‘amr bin Qanaqah [Mubarapuri, hal.323]

      Diriwayatkan Atiyyah al-Qurazi: Aku adalah seorang dari Bani Quraisah yang tertangkap. Mereka (prajurit Muslim) memeriksa kami, dan siapa yang sudah mulai punya bulu kemaluan dibunuh, dan siapa yang belum tidak dibunuh. Aku adalah salah satu dari mereka yang belum punya bulu kemaluan..[Abu-Dawud 38.4390]

      Ibnu Ishaq: “Rasulullah SAW memilih salah seorang wanita Bani Quraidhah yang bernama Raihanah binti Amr bin Junafah untuk diri beliau sendiri [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 2, Bab 135, hal. 210-211].

      Allah menghadiahkan Raihana yang berasal dari suku Yahudi Quraiza kepada Nabinya bagian dari harta Rampasan [Tabari Tabari Vo.9. Hal.137]

    Setelahnya, Muhammad dan pasukannya sibuk dengan beberapa penyerbuan ke suku Arab lainnya di seputaran Medina (termasuk suku Arab bani Mustaliq yang diserangnya secara tiba-tiba), hingga kemudian tiba bulan DulQaidah 6 H, Muhammad besama 1400 kaum muslim (Bukhari no.3312, 4463, Muslim no.3449) dengan dalih hendak umrah dan membawa hewan kurban, mereka berangkat dari Medinah menuju Mekkah dan siap berperang (Bukhari no.2945, 3868, 4466). Karena datang dengan membawa persenjataan. Mereka terhenti di sebuah sumur di daerah Hudaibiyah (sekitar 22 km di Barat Daya luar kota Mekah). Di tempat itu, itu kaum muslim berbaiat (di bawah sebuah pohon) untuk menyongsong kematian (Bukhari no.2740, 6666, Muslim 3462, Tirmidhi no.1518) dan ditempat itu juga dilakukan perjanjian dengan kaum Quraish.

      Bapak dari Abdullah bin Abu Qatadah spesifik menyatakan peristiwa terhenti di Hudabiyah dari Medinah menuju Mekkah adalah “غَزْوَةَ الْحُدَيْبِيَةِ” (gẖaz̊waẗa Al-Hudaibiyah = perang Hudaibiyah, di hadis Muslim no.2066, Nasai no.2776). Abdullah bin Mas’ud juga menyatakannya sebagai “غَزْوَةِ الْحُدَيْبِيَةِ” (gẖaz̊waẗi ạl̊ḥudaẙbīaẗi = Perang Hudaibiyyah, di Ahmad no.3526)

    Sebagai orang yang di klaim sebagai Nabi dan juga asli Arab, seharusnya beliau tahu syarat UMROH/HAJI karena itu kebiasaan turun temurun sebelumnya.

      (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (sehubungan dengan seksual), berbuat fasik (dosa) dan BERBANTAH BANTAH di dalam masa mengerjakan haji (AQ 2.197)

    Kaum muslim datang TIDAK MEMAKAI PAKAIAN IHRAM MALAH MEMAKAI BAJU BESI (Al Mughira bin Syu’bah di Bukhari no.2529. Umar di Muslim no.3866 minta dibawakan kuda untuk berperang), TAMENG dan PERISAI (misal Muhammad memberikannya ke Salamah di Muslim no.3372) dan juga membawa:

    • Panah-panah (Bukhari no.2529),
    • Pedang terhunus tidak dalam sarung (Bukhari no.2529)
    • Tameng dan Perisai (Muslim no. 3372)
    • Senjata-senjata (Bukhari no.3868)
    • Beberapa datang tidak untuk umroh malah berburu dan membunuh keledai buruannya (misal Bapaknya Abu Qatadah di Bukhari no.1693, Muslim no.2066).

    Jelas sekali mereka tidak bertujuan umroh. Kaum Quraish pun tahu, sehingga tidak dibolehkan masuk kota dan ditahan di sebuah sumur di HUDAIBIYYAH. Walaupun kaum Quraish unggul jumlah, tapi karena saat itu bulan HARAM, mereka lah yang justru menawarkan perdamaian kepada kaum Muslim

      “..orang-orang Quraisy mengutus Suhail bin Amr saudara Bani Amr bin Luai kepada Rasulullah SAW. Mereka berkata kepada Suhail bin Amr, ‘Pergilah kepada Muhammad, berdamailah dengannya, dan isi perdamaian ialah bahwa ia harus pergi dari tempat kita tahun ini. Demi Allah, orang-orang Arab tidak boleh memperbincangkan kita bahwa ia datang kepada kami dengan kekerasan [Ibn Ishaq, bab 169,hal 282]

    Kaum Muslim diikat perjanjian yang diantaranya: tahun depan kaum Muslim dapat melakukan umrah selama 3 hari tapi pedang-pedangnya disarungkan (Buhari no.2500) dan mereka pun pulang ke Medina. Kemudian tejadi kemarau besar di Medinah, beberapa orang bani Aslam yang baru memeluk Islam minta bantuan Muhammad, namun beliau tidak dapat membantu tapi tahu bahwa suku khaibar kaya dengan tanah pertanian yang subur: “O Allah, Kau tahu keadaan mereka – bahwa mereka tidak punya kekuatan dan aku tak punya apapun bagi mereka. Bukalah bagi mereka (kesempatan menyerang) bagian terbesar perbentengan Khaybar, yang paling kaya akan makanan dan daging berlemak.” [Tabari, vol.8, Hal.117]. Sungguh sebuah solusi yang mencelakakan orang lain, bukan?

    Perjanjian Hudabiyya telah membuat para muslim KECEWA dan MENGGERUTU, maka untuk menyenangkan dan menegakan kembali moral mereka, TURUNLAH AYAT (AQ 48.18-21), maka Khaibar pun celaka karenanya.

    Muhammad dan pasukannya menyerbu Khaibar, disaat kaum Yahudi tidak bersiap. Suami Zaynab (Sallam) yang saat itu sedang sakit bergegas sebisanya mengatur pertahanan dan berseru untuk melawan dengan gagah berani daripada meratap dalam kehinaan saat tertawan [“Life of the Prophet”, Numani, vol.2, 1995, hal.16; “The Life of Muhammad”, Al-Faruqi, I. R. Translasi buku Haykal, Vol.2, hal.369]. Suami Safiyah (kinana) yang menjadi bendahara kaum Nadir disiksa agar memberitahu di mana disimpan harta bani Nadir kemudian setelahnya dipancung, harta kaum Khaibar menjadi rampasan, para pria dan keturunannya dibantai dan para wanitanya ditawan. Ketika Muhammad melihat Safiyah, beliau memilihnya, menggaulinya malam itu juga tanpa menunggu lagi penerapan aturan masa iddha yang lamanya 4 bulan itu.

      Dikisahkan oleh ‘Abdul ‘Aziz:
      Anas berkata, ‘Ketika Rasul Allah menyerang Khaibar.., kami melakukan sembahyang subuh ketika hari masih gelap..Ketika dia memasuki kota, dia berkata, ‘Allahu Akbar! Khaibar telah hancur. Ketika kita mendekati suatu negara maka kemalangan menjadi pagi hari bagi mereka yang telah diperingatkan.’ Dia mengulangi kalimat ini tiga kali.

      Orang-orang ke luar untuk bekerja dan beberapa berkata, ‘Muhammad (telah datang)’ (Beberapa kawan kami berkata, “Dengan tentaranya.”) Kami menaklukkan Khaibar, menangkap para tawanan, dan hartabenda rampasan dikumpulkan. Dihya datang dan berkata, ‘O Nabi Allah! Berikan aku seorang budak wanita dari para tawanan.’

      Sang Nabi berkata, ‘Pergilah dan ambil budak mana saja.’ Dia mengambil Safiya bint Huyai. Seorang datang pada sang Nabi dan berkata, ‘O Rasul Allah! Kauberikan Safiya bint Huyai pada Dihya dan dia adalah yang tercantik dari suku2 Quraiza dan An-Nadir dan dia layak bagimu seorang.’

      Maka sang Nabi berkata,’Bawa dia (Dihya) beserta Safiya.’ Lalu Dihya datang bersama Safiya dan ketika sang Nabi melihatnya (Safiya), dia berkata pada Dihya,’Ambil budak wanita mana saja lainnya dari para tawanan.’ Anas menambahkan: sang Nabi lalu membebaskannya dan mengawininya.” [Bukhari 7.71.58]

      Dinarasikan oleh ‘Abdul ‘Aziz:
      “Kata Anas, ketika nabi menyerbu Khaibar orang2 di kota berseru “Muhammad dan pasukannya datang”. Kami mengalahkan mereka semua, menjadikan mereka tawanan dan harta rampokan dikumpulkan. Nabi membunuh para pria yang melawan, membantai anak-anak keturunan mereka dan mengumpulkan para wanita menjadi tawanan [Bukhari 5.59.512]

      Kinana b. Al-Rabi b. al Huqyaq yang tahu di mana harta Bani Nadir berada, dibawa menghadap Nabi dan ditanya. Huqyaq menolak memberitahukan. Nabi menanyai Yahudi lainnya dan salah satu mengatakan, ‘Aku melihat Kinana berjalan mengitari reruntuhan setiap pagi’ Muhammad memerintahkan Kinana untuk dihadapkan padanya dan kemudian berkata,’ Kamu tahu kalau kami menemukannya, Aku akan membunuhmu’. ‘Ya,’ Kinana menjawab. Nabi memerintahkan untuk menggali reruntuhan itu. Beberapa harta terangkat dan menanyakan Kinana mengenai sisanya namun Ia tetap menolak bicara.

      Kemudian Nabi memerintahkan Zubayr b. al-Awwam, ‘SIKSA dia sampai kau memeras segala apa yg diketahuinya. Jadi Zubayr menempelkan besi panas pada dada Kinanah, (menekan besi itu) sambil memutar2nya sampai Kinanah hampir mati. Setelahnya Rasul memberikannya ke Maslamah, yang kemudian MEMENGGALnya sebagai balas kematian saudara lelakinya, Mahmud b. Maslamah. [Tabari Vol.8, Hal.122-123]

      “…malam harinya, dia (Muhammad) memasuki tenda dan dia (Safiyyah) masuk bersamanya. Abu Ayyub datang ke sana dan berdiri di luar tenda dengan pedang dan kepalanya dekat pada tenda. Di pagi harinya, Rasul Allah melihat gerakan suatu tubuh dan berkata, “Siapa itu?” Dia menjawab,”Aku adalah Abu Ayub.” Dia (Muhammad) bertanya, “Mengapa kamu ada di sini?” Dia menjawab, “O Rasul Allah! Gadis ini baru saja dikawinkan (denganmu) dan kau telah lakukan apa yang kau telah lakukan pada suaminya yang terdahulu. Aku khawatir akan keselamatanmu, jadi aku ingin dekat berjaga bagimu.” Akan hal ini Rasul Allah berkata dua kali, “O Abu Ayub! Semoga Allah menunjukkanmu pengampunan.” [Ibn Sa’ad vol.II hal.145]

      “Ketika kami mencapai khaibar, Muhammad mengatakan bahwa Allah memberkatinya untuk menaklukan mereka. Itu adalah ketika kecantikan Safiya disampaikan kepadanya. Suaminya telah di bunuh, kemudian Nabi memilihnya sebagai bagian untuknya. Nabi membawa Safiya bersamanya hingga ketika kita mencapai satu tempat bernama Sad dimana Ia menstruasinya selesai dan Nabi menjadikannya sebagai Istrinya, menyetubuhinya dan memaksanya untuk memakai Kerudung” [Bukhari 4.52.143, 5.59.523]

      Dihya meminta Safiya pada Nabi ketika Nabi memilihnya sebagai jatahnya. Muhammad memberikan Dihyah dua sepupu Safiyah sebagai gantinya [Tabari Vol 8. Hal.117]. ketika Ia protes dan tetap menginginkan Safiya untuk dirinya, Nabi membarterkan Safiya dengan dua sepupu Safiya. Para wanita dari khaibar dibagi-bagikan di antara muslim [Ishaq:511]. Safiyya dibeli Nabi dengan menukarkan 7 Budak bagiannya [Abu Dawud vol.2, no. 2991 riwayat dari Anas, Ibn-i-Majah vol.3 no.2272]. Para Muslim berkata,’ akankah Safiya menjadi satu dari Istri-istri Nabi atau sekedar perempuan rampasan dari satu koleksinya’[Bukhari 5.59.524]. Ketika Abu Sufyan mendengar Nabi telah mengambil dia (Safiya), dia berkata, “Hidung kuda jantan itu tidak bisa dikontrol.”[Tabari Vol.8, Hal.110]

      Thabit bertanya pada Anas,”O Abu Hamza! Apa yang dibayar sang Nabi sebagai maharnya?” Dia menjawab, “Dirinya sendiri adalah maharnya karena dia telah membebaskannya (dari status budak) dan lalu mengawininya.” Anas menambahkan, “Di perjalanan, Um Sulaim mendandaninya untuk (upacara) pernikahan dan malam ini Um Sulaim mengantar Safiya sebagai pengantin sang Nabi..[Buhari 1.8.367]

      Aku bahkan belum berusia 17 tahun, atau baru saja 17 tahun, malam ketika digauli Nabi [Tabari vol.39 hal.185]

      Bukan wanita itu saja yang kehilangan ayah dan suaminya ditangan kaum muslim. Diantara para tawanan yang ditahan karena Kinanah menyembunyikan hartana itu ada seorang janda, Safiah putrid Huyay…. Janda itu berusia tujuh belas tahun dan baru menikah dengan Kinana satu dua bulan sebelum Nabi berangkat dari Madinah. ……
      Pusat keprihatinan istri-istri nabi adalah hadirnya sosok yang tidak diduga dirumah tangga mereka, Safiah yang belia dan cantik…….. Aisah menanyakan kepada Umm Salamah tentang teman baru mereka itu, “Ia memang benar-benar cantik”, kata Umm Salamah, “dan Rasulullah sangat mencintainya” [Lings, hal. 427, 429]

    Membaca ini semua, kita menjadi tahu apa motif Zaenab binti al Harith meracuni Muhammad SAW dan kawanannya.



    Kalau benar Nabi keracunan, maka mengapa baru wafat 3 tahun kemudian dan mengapa beliau wafat lebih lama dari Bishr?

    • Yang dimakan Bishr lebih banyak dari beliau, juga tidak mau dimuntahkannya, pun demikian, Bishr tidak mati seketika, tapi di tahun ke-2 setelah kejadian [ref. Ibn Sa’d dan Waqidi, juga di Willian Muir, catatan kaki “life of Mohamet”, Vol.4, Ch.21, hal 71].
    • Nabi juga mempunyai kebiasaan makan madu, 7 butir ‘Ajwa [dan Habbatus sauda], inilah juga yang membuat daya tahan tubuhnya lebih kuat dari Bishr. Di samping itu, setelah peristiwa keracunan di khaibar, Beliau juga berbekam [Abu dawud no. 3911] 3x sebulan, di tanggal 10, 19, 21 [Tirmidhi no.1976] dan dilakukan di saat puasa maupun ihram [Bukhari no.1802,1803]

    Kompilasi hal di atas membuat Nabi tidak cepat wafat seperti Bishr.

    Kemudian,
    terdapat juga pendapat dari kalangan Syiah bahwa nabi wafat karena diracun (lagi) setelah kejadian di Khaibar. Kali ini pelakunya BUKAN Zainab Binti Al-Harith [karena Ia sudah dibunuh sekurangnya 2 tahun setelah kejadian Khaibar] namun para istri Nabi sendiri, Aisyah dan Hafsa, untuk kepentingan ayahanda mereka masing-masing (Abu bakar dan Umar) dalam perebutan kekuasaan. Alasan kaum Syiah cukup berdasar, karena hadis muslim sendiri menyampaikan potensi motif tersebut di 5 hari menjelang wafatnya:

      Riwayat (Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim) – Zakariya’ bin ‘Adi – Ubaidullah bin Amru – Zaid bin Abi Unaisah – Amru bin Murrah – Abdullah bin al-Harits an-Najrani – Jundab: “5 hari menjelang Rasulullah SAW wafat, aku mendengar beliau bersabda, ‘Aku berlepas diri kepada Allah dari mengambil salah seorang di antara kalian sebagai kekasih, karena Allah Ta’ala telah menjadikanku sebagai kekasih sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih. Dan kalaupun seandainya aku mengambil salah seorang dari umatku sebagai kekasih, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih…”[Muslim no.827]

    Pembunuhan Nabi Muhammad (SAW)

    [..]

    Ada sejumlah tradisi dari sumber Syiah dan Bakri tentang keterlibatan Aisyah dan Hafsah dalam pembunuhan Nabi Muhammad (SAW) seperti yang sebelumnya dinyatakan oleh Syekh dalam banyak ceramah. Namun, agar kita mengutip sumber-sumber tradisi-tradisi ini, Adalah mungkin lebih baik melihat ayat berikut ini dahulu.

    Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau (aw) dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (AQ Al-Imran 3:144).

    Jika kita perhatian bagian ini: “Jika Ia wafat atau dibunuh” Kami temukan bahwa itu menegaskan bahwa Nabi (SAW) tidak wafat alami. Sebaliknya, itu menegaskan bahwa ia dibunuh. Alasannya bahwa kata penghubung (aw) di ayat ini berarti “bahkan (rather)” Dalam bahasa Arab, terkadang (aw) menunjukkan ketidakpastian dan probabilitas. Dalam konteks lain, menyatakan koreksi.

    Karena mustahil bahwa setiap orang harus mencurigai firman Allah, karena Dia memiliki wawasan yang tidak diketahui, Allah pastinya bermaksud untuk memberikan arti lain. Dengan demikian, makna ayat adalah: “Jika dia meninggal, bahkan, ia dibunuh, kamu berbalik ke belakang.”

    Kami dengan ini mengerti bahwa Nabi telah dibunuh dan pembunuhannya itu diikuti berbalik kembali dan kemurtadan. Ini benar-benar terjadi, dan berbalik mendukung para pemberontak yang merebut kekuasaan, yaitu Abu Bakar dan Umar. Jadi, ini khususnya tertuju pada para pengikut Islam di jaman Nabi dan bukan untuk orang-orang Yahudi yang bukan lagi merupakan ancaman di Madinah sebagaimana yang Bakrie percayai.

    Bagaimana nabi dibunuh? Dan Siapa-siapa yang terlibat dalam kejahatan keji? Apakah benar-benar, seperti Aisyah kisahkan, wanita Yahudi, Zainab Binti Al-Harith yang mengundang pesta Nabi (SAW) dan para sahabatnya setelah kemenangan atas orang-orang Yahudi di pertempuran Khaibar, ketika dia meracuni daging yang dimasak menyebabkan Nabi wafat empat tahun kemudian!

    Mengabaikan fakta bahwa Pertempuran Khaibar terjadi di tahun ketujuh Hijrah, sementara Nabi (SAW) meninggal pada tahun kesebelas. Apakah mungkin seseorang mati keracunan dari makanan yang dikonsumsi empat tahun lalu! Terlepas dari fakta bahwa efek racun langsung dan bahkan perlu waktu yang tidak lebih dari beberapa bulan di mana kondisi kesehatan memburuk secara bertahap; Di samping fakta bahwa nabi tidak memiliki keluhan kesehatan yang tidak biasa dan berpartisipasi bertempur di seluruh periode intervensi!

    Atau lebih tepatnya adalah nabi diracuni oleh Aisyah dan Hafsa atas perintah ayah mereka Abu Bakar dan Omar, yang dibuktikan dalam Bakrie ‘serta buku-buku hadis Syiah’? Jika kita lihat hadits berikut yang dilaporkan Bukhari dari Aisyah tentang kematian nabi, Dia menceritakan: “Rasullulah mengatakan kepadaku di tempat tidurnya saat dekat kematiannya, ‘Aisyah, sejak Aku makan makanan beracun setelah Pertempuran Khaibar, Aku kesakitan. Sekarang waktunya jantungku berhenti berdetak karena racun itu.” (Sahih Al-Bukhari, Vol V, Halaman 137).

    Terlepas dari fakta bahwa Quran mengambarkan bahwa Aisyah dan Hafsah sebagai pelanggar berdosa yang hatinya menyimpang dari jalan yang benar [(Klik!) AQ At Tahrim 66:04

    1. Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
    2. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
    3. Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
    4. Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong, dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.

    ], kita tidak bisa mempercayai tradisi Aisyah tentang keracunan Nabi karena tiga alasan penting.

    Yang pertama adalah karena Aisyah adalah seorang pembohong terkenal. Al-Bukhari melaporkan Aisyah berkata: “Nabi makan madu di tempat Zainab Binti Jahsh Jadi Hafsa dan saya sepakat memberitahunya, sekembalinya bahwa ia berbau Maghafeer”. (Sahih Al-Bukhari, Vol 6, Hal. 68. Maghafeer adalah substansi yang diekstrak dari sebuah pohon. Punya rasa manis tapi baunya sangat busuk)

    Aisyah tahu bahwa Nabi (SAW) mendapat kan madu dari istrinya yang lain, Zainab Binti Jahsh. Menjadi cemburu, Ia bersekongkol dengan temannya, Hafsa, menyakiti Nabi dengan mengklaim bahwa ia berbau busuk setelah mengkonsumsi madu itu. Sehingga, ia berhenti makan itu, dan akibatnya berhenti mengunjungi istrinya, Zainab. Itu adalah bohong. Seorang wanita, yang tidak menahan diri berbohong pada nabi termulia, akan juga tidak menahan diri berbohong pada orang-orang biasa. Oleh karena itu, Hadis yang dilaporkan olehnya tak dapat dipercaya.

    Yang kedua adalah karena Nabi (SAW) telah menggambarkan Aisyah sebagai “ujung tombak ketidakpercayaan dan tanduk setan” Ahmad Ibn Hanbal dan ulama terkenal lainnya dari Sekte Bakrit “Nabi, (SAW), muncul dari kamar Aisyah mengatakan ini merupakan ujung tombak ketidakpercayaan! Dari sini tanduk setan muncul “! (Musnad Ahmad, Vol II, Halaman 23). Oleh karenanya, kita tidak bisa mempercayai Hadis darinya.

    Alasan ketiga dan yang paling penting mengapa kita tidak harus percaya Hadis Aisyah tentang keracunan Nabi (SAW) adalah karena Aisyah bertentangan dirinya sendiri dalam Hadis lain. Dia menyatakan bahwa Nabi tidak mati karena racun wanita Yahudi. Melainkan, penyebab kematiannya adalah karena penyakit lain! Menurut Abu Yoalla, Aisyah juga mengatakan bahwa: “Nabi Allah, (SAW), meninggal karena penyakit Dhatul Janb”! (Musnad Abu Yoalla, Vol. VIII, Halaman 258. Dhadul Janb adalah tumor yang tumbuh pada manusia. Ini menyebabkan kematian ketika meledak)

    Imam kami menegaskan bahwa kakek mereka, Nabi (SAW), telah diracuni di hari-hari terakhirnya oleh Aisyah dan Hafsa, atas perintah ayah mereka, Abu Bakar dan Umar. Salah satu penafsir klasik Quran dari Syiah yang terkenal bernama Ali bin Ibrahim Al-Qummi, yang hidup di jaman Imam al-Hassan al-Askry (SAW), menceritakan sebuah hadis seperti yang dilaporkan oleh Imam tentang pembunuhan Nabi (SAW).

    “Nabi berkata pada Hafsa:” Aku akan memberitahumu sebuah rahasia. Jika kamu ungkapkan ini, Allah, Malaikat-Nya dan orang-orang akan mengutukmu” “Jadi, apa itu?” Hafsa bertanya-tanya Nabi berkata: “Abu Bakar akan dapat merebut kekhalifahan dan kekuasaan setelah aku, dan akan digantikan oleh ayahmu, Umar. Hafsa bertanya-tanya: “Siapa yang memberitahumu tentang ini?” ‘Allah, Maha Mengetahui memberitahuku”

    “Pada hari yang sama, Hafsa membocorkan rahasia pada temannya, Aisyah. Kemudian, Aisyah membocorkan rahasia pada ayahnya, Abu Bakar. Jadi, Abu Bakar datang pada Umar dan berkata: “Putriku Aisyah menceritakan rahasia yg sampaikan Hafsa, tapi aku tak dapat selalu percaya apa yang dikatakan Aisyah Jadi, Engkau tanya putrimu Hafsa, pastikan dan ceritakan padaku”

    “Umar mendatangi Hafsa dan bertanya. Awalnya, ia terkejut dan membantah. Tapi, Umar berkata padanya:..”Jika kau sudah dengar rahasia ini, maka beritahukan kami sehingga kami dapat segera merebut kekuasaan dan menyingkirkan Muhammad”. Kemudian, Hafsa berkata: ‘ya, Ia katakan demikian padaku’. Pada titik ini, keempatnya berkumpul dan bersekongkol meracuni Nabi “(Tafsir al-Qommi, Vol. II, Hal.367, Bihar-ul-Anwar oleh Allamah al-Majlisi, Vol. XXII, Halaman 239).

    Ada lagi Ulama besar klasik dari Quran, Muhammad bin al-Ayashi Massoud yang juga berasal dari suku Bakri, namun kemudian mendapat panduan ilahi beriman pada yang benar dan beralih menjadi Syiah.

    Dia bercerita bahwa: “Imam al-Shadiq (SAW) duduk bersama para pengikutnya, dan bertanya pada mereka: “Apakah kalian tahu apakah Nabi wafat alami atau dibunuh? Allah SWT berkata: “Jika kemudian ia mati atau dibunuh “. Yang benar adalah Sebelum wafat, Nabi telah diracun di hari-hari terakhirnya. Aisyah dan Hafsa memberikan racun dalam makanannya”. Setelah mendengar hal ini, pengikut Imam Sadiq mengatakan bahwa mereka dan ayah mereka di antara penjahat terkeji yang pernah diciptakan Allah. ” (Tafsir al-Ayashi, Jilid I, Halaman 200; Bihar-ul-Anwar, oleh Allamah Al-Majlisi, Vol XXII, Halaman 516)

    Al-Ayshi sehubungan dengan Hadis lainnya yang merujuk pada Imam Al-Shadiq di mana Ia berkata: “Al-Hussein Ibn Munther meminta Imam Al-Shadiq tentang kata-kata Allah “jika kemudian dia wafat atau dibunuh akan kah kalian berbalik ke belakang”. Apakah ini berarti bahwa Nabi wafat alami atau dibunuh?. Imam Al-Shadiq berkata: Di ayat ini, Allah merujuk kepada para sahabat Nabi yang melakukan perbuatan keji”. (Tafsir Al Ayash, Jilid I, Halaman 200; Bihar-ul-Anwar, Oleh Allamah Al-Majlisi, Vol XX, Halaman 91)

    Hadis-hadis ini memberikan penegasan tanpa keraguan bahwa Nabi Agung (SAW) dibunuh oleh racun yang diberikan di hari-hari akhirnya dan BUKAN yang diduga diberikan pada empat tahun sebelum kematiannya. Mereka juga menegaskan bahwa kejahatan adalah tindakan pengkhianatan oleh dua istri dan ayah mereka. Yang artinya bahwa TIDAK ADA keterlibatan orang Yahudi.

    Terdapat juga bukti-bukti dari kitab-kitab hadisnya Bakrie, yang mendukung hadis-hadis Syiah’ dan mendemonstrasikan keterlibatan dua istri Nabi dalam kejahatan tersebut. Salah satunya adalah dilaporkan di hadis Sahih al-Bukhari, Muslim dan lainnya dari Aisyah yang mengakui bahwa ketika Nabi tidur selama sakitnya ia meletakkan zat aneh kemulut nabi dengan bantuan istri-istri lainnya.

    Aisyah lakukan itu dengan sengaja meskipun ada larangan Nabi. Ketika Nabi bangun, ia lihat sisa zat yang telah mereka masukkan ke mulutnya. Dengan marahnya Ia bertanya apa itu dan siapa yang telah tidak mematuhi perintah-perintahnya. Aisyah dan kolaborator-nya membenarkan aksi mereka engan mengatakan bahwa itu hanyalah obat.

    Setelah itu, mereka menuduh paman Nabi, Al-Abbas Ibnu Abdul Muthalib. Namun, Nabi bebaskan pamannya dan memerintahkan bahwa mereka yang bersamanya di dalam ruangan harus dihukum dengan zat yang sama juga dimasukkan ke mulut mereka. Aisyah meriwayatkan:

    “Ketika Nabi Allah sakit, ia mengatakan kepada kami: ‘Jangan bubuhkan obat ke dalam mulutku” Tapi kami tidak taat dia di tanah bahwa pada dasarnya setiap pasien tidak menyukai pengobatan! Jadi, kami masukan zat ke dalam mulutnya. Ketika ia mermperoleh kesadarannya kembali, ia bertanya-tanya: “Siapa yang melakukan itu? Bukankah Aku telah peringatkan dirimu untuk tidak melakukan itu?”

    “Jadi, kami berkata: “Adalah pamanmu Al-Abbas yang berpikir bahwa Engkau mungkin terjangkit tumor lateralis!”. Nabi berkata: “Penyakit ini disebabkan oleh Iblis. Aku tidak mengidap itu.”. Nabi perintahkan bahwa setiap orang yang di rumah harus memasukan obat yang sama ke mulut mereka, kecuali Al-Abbas, sebagaimana Nabi katakan: Ia tidak bersamamu”. (Sahih Al-Bukhari, Vol VIII, Halaman 42; Sahih Muslim, Vol VII, halaman 42; Masnad Ahmed Ibn Hanbal, Vol VI, Halaman 53;. Biografi Nabi oleh Ibn Kathier, Vol IV, Halaman 446).

    Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, Quran meramalkan, seperti yang dinyatakan oleh Imam al-Shadiq, bahwa para sahabat Nabi akan berbalik melawannya. Nabi juga diprediksikan di beberapa Hadis bahwa sebagian besar sahabatnya akan masuk neraka. Salah satunya adalah sebuah hadis yang dilaporkan oleh Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi (SAW) berkata:

    “Pada hari kiamat, ketika aku akan di kolam air memberikan air pada orang-orang yang kehausan diantara para pengikutku, sekelompok pengikutku akan datang untuk minum tetapi para malaikat akan mengusir mereka dan membawa mereka ke Neraka! Dan aku akan berkata: Oh, Tuhan Mereka adalah para sahabatku! Namun Tuhan akan berkata padaku: “Kau tak tahu apa yang telah mereka lakukan setelah kematianmu. Mereka menjatuhkan dirinya dalam kemurtadan ….Dengan demikian, hanya sejumlah kecil para sahabatku akan lolos seperti unta yang lolos di padang di pasir” (Sahih Al-Bukhari, Vol VII, halaman 206).

    Tak seorangpun dapat mengklaim bahwa Abu Bakar misalnya tak berada di antara mereka yang dicemplungkan ke neraka, karena Nabi sendiri tidak mengecualikan dirinya dari itu. Malik Ibn Anas, menceritakan bahwa Nabi bernubuat untuk para martir Muslim Uhud bahwa mereka akan pergi ke Surga.

    “Jadi, Abu Bakar bertanya-tanya: “Bukankah kami para saudara mereka yang telah masuk Islam seperti mereka, dan berjuang dalam jihad seperti mereka, maka, mengapa engkau tidak menyatakan kabar baik bahwa kita akan ke surga? Nabi berkata: “Hal ini adalah benar bahwa engkau adalah saudara mereka, tapi Aku tidak tau apa yang akan engkau lakukan setelah aku mati”. (Al Muatta Malik Ibn Anas, Vol II, Halaman 642).

    Oleh karena itu, kita seharusnya tidak mengecualikan Abu Bakr dan Umar untuk kejahatan mengambil nyawa Nabi, terutama ketika mereka telah mencobanya sekali sebelumnya ketika Nabi di perjalanan kembali dari kota Tabuk. (Lihat Al Mohalla Ibnu Hazm, Vol. IX, Halaman 224).

    Kesimpulannya kita katakan bahwa kita sekarang yakin bahwa Abu Bakar dan Umar memang ingin membunuh Nabi (SAW). Melalui, rencana mereka setelah gagal di Tabuk, rencana berikutnya mereka berhasil dengan berkolusi bersama putri mereka, Aisyah dan Hafsa yang memberikan racun pada Nabi ditidurnya untuk mempercepat perebutan kekuasaan ke tangan ayah mereka, sambil mengusir penerus yang sah, Imam Ali bin Abi Thalib (SAW).


    26 Rajab 1431


    Kantor Syekh al-Habib di London


    —-

    Setelah menderita kesakitan yang berulang akibat diracun di Khaibar, maka pada menjelang wafatnya, Muhammad menjadi tampak lebih emosional terhadap Yahudi dan Kristen dan kaum Pagan:

      Riwayat Abu Al Yaman – Syu’aib – Az Zuhri- Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah – [Aisyah dan ‘Abdullah bin ‘Abbas] berkata: “Ketika sakit Rasulullah SAW semakin parah, beliau memegang bajunya dan ditutupkan pada mukanya. Bila telah terasa sesak, beliau lepaskan dari mukanya. Ketika keadaannya seperti itu beliau bersabda: ‘Semoga laknat Allah tertimpa kepada orang-orang Yahudi dan Nashara, mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid.’ [Bukhari no.417. Juga di Bukari no. 1244 (‘Ubaidullah bin Musa – Syaiban – Hilal (Al Wazzan) – ‘Urwah – ‘Aisyah – Nabi SAW bersabda ketika Beliau sakit yang membawa kepada kematiannya: “Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani..”.). Juga di Bukhari no.3195 (Bisyir bin Muhammad – ‘Abdullah – (Ma’mar dan Yunus) – Az Zuhriy – ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah – (‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas). Juga di Muslim no.823].

      Di hari-hari menjelang wafatnya, Beliau perintahkan untuk mengusir orang-orang pagan/Musyrik/politeis dari jazirah arab; [Muslim 13.4014/no.3089; Abu dawud 19.3023/no.2634; Bukhari: 4.52.288/no.2825; 4.53.393/no.2932; 5.59.716/no.4078]

      atau pada hadis lain dari riwayat [(Zuhair bin Harb – Ad Dlahak bin Makhlad) dan (Muhammad bin Rafi’ – Abdurrazaq)] – Ibnu Juraij – Abu Az Zubair – Jabir bin Abdullah – Umar bin Khattab:
      Rasulullah SAW bersabda: Aku akan usir para Nasrani dan yahudi dari Jazirah arab dan tidak akan meninggalkan satupun kecuali MUSLIM [Muslim 19.4366/no.3313; Tirmidhi 3.19.1606/no.1531, 1607/no.1532. Ahmad no.196, 210, 214, 14189; Abu Dawud 19.3024/no.2635, 19.3025/no.2635]


    Terakhir,


    Hadis Bukhari, Muslim, Ahmad, Malik dan Tirmidhi mencatat ucapan Muhammad pada detik terakhirnya:

      Riwayat Mu’alla bin Asad – Abdul ‘Azid bin Mukhtar – Hisyam bin Urwah – Abbad bin Abdullah bin Zubair – Aisyah:

      Rasulullah SAW berkata sebelum beliau wafat di pangkuan Aisyah..; Ya Allah, Ampunilah aku, berikanlah rahmat kepadaku dan pertemukanlah aku dengan kekasihku! [Bukhari no. 4086, 5242. Muslim no. 4474, Ahmad no.24757. Malik no.501. Tirmidhi no.3418]

    Saat dipenghujung nafasnya… MALAH JUSTRU Muhammad sendiri yang tidak yakin janji ALLAHNYA SEBAGAIMANA kerap diajarkannya.

    Bukankah Muhammad sendiri yang menyampaikan bahwa dari sejak awal mula Allah telah menetapkan dan mencatat jumlah orang yang masuk surga/neraka, takdir apapun yang diperbuatnya yang menyebabkan mereka berakhir di neraka atau surga?

      Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti.[AQ 19.94, turun di urutan ke-44]

      Dan tiap-tiap manusia telah Kami tetapkan takdirnya (thaa-irahu) di lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka.[AQ 17.13, turun di urutan ke-50]

      …Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat [AQ 37.96, turun di urutan ke-56]

      …sesungguhnya kitab para durhaka (alfujjaari) dalam (lafii) sijjin. …kitab para orang benar (al-abraari) dalam (lafii) illiyiina [AQ 83.7,18. Turun di urutan ke-83]

      Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab sebelum Kami menciptakannya..[AQ 57.22, turun di urutan ke-94]


    Bukankah Muhammad sendiri dengan yakinnya menyatakan bahwa:

    • masuk/tidaknya para manusia ke SURGA telah ditetapkan sejak awal yaitu tidak lama setelah ADAM DICIPTAKAN!

      Riwayat Abu Bakr bin Abu Syaibah – Waki’ – Thalhah bin Yahya – bibinya, ‘Aisyah binti Thalhah – ‘Aisyah ummul Mu’minin:

      “Pada suatu ketika, Rasulullah SAW pernah diundang untuk melayat jenazah seorang bayi dari kaum Anshar. Kemudian saya (Aisyah) berkata kepada beliau; ‘Ya Rasulullah, sungguh berbahagia bayi kecil ini! Ia seperti seekor burung dari sekian burung surga yang belum pernah berbuat dosa dan belum pernah ternodai oleh dosa.’

      Rasulullah SAW bersabda: ‘hai Aisyah bahwa Allah telah menciptakan orang-orang yang akan menjadi penghuni surga ketika mereka masih berada dalam tulang rusuk (sulbi) bapak-bapak mereka (قَالَ أَوَ غَيْرَ ذَلِكَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ لِلْجَنَّةِ أَهْلًا خَلَقَهُمْ لَهَا وَهُمْ فِي أَصْلَابِ آبَائِهِمْ ).

      Allah pun telah menciptakan orang-orang yang akan menjadi penghuni neraka ketika mereka masih berada dalam tulang rusuk bapak-bapak mereka.

      Riwayat Muhammad bin Ash Shabbah – Isma’il bin Zakaria – Thalhah bin Yahya. Riwayat Sulaiman bin Ma’bad – Al Husain bin Hafsh. Riwayat Ishaq bin Manshur – Muhammad bin Yusuf keduanya dari Sufyan Ats Tsauri – Thalhah bin Yahya dengan sanad Waki’ seperti haditsnya. [Muslim 33.6436/no.4813, juga di no. 4812. Juga di Abu dawud no.4090]

      ***

      Riwayat Qa’nabi – Malik – Zaid bin Unaisah – Abdul Hamid bin ‘Abdurrahman bin Zaid Ibnul Khaththab – Muslim bin Yasar Al Juhani – Umar Ibnul Khaththab pernah ditanya tentang ayat ini:

      (Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka) -Qs. Al A’raf: 172- Al Qa’nabi membaca ayat tersebut, lalu Umar berkata, “Aku juga pernah mendengar Rasulullah SAW ditanya tentang ayat itu, lalu beliau menjawab; “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam,

      lalu ALLAH MENGUSAP PUNGGUNGNYA (sulbi) DENGAN TANGAN KANAN-Nya hingga keluarlah keturunan Adam dari punggungnya. Kemudian Allah berfirman: “AKU MENCIPTAKAN MEREKA UNTUK MASUK SURGA, dan mereka akan beramal dengan amalan-amalan penduduk surga.”

      kemudian ALLAH KEMBALI MENGUSAP PUNGGUNG ADAM hingga keluarlah keturunan Adam dari punggungnya. Setelah itu Allah berfirman: “AKU MENCIPTAKAN MEREKA UNTUK MASUK NERAKA, dan mereka akan beramal dengan amalan-amalan penduduk neraka.”

      Seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu untuk apa gunanya beramal?”

      Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya jika Allah menciptakan seorang hamba untuk masuk ke dalam surga maka Ia akan menjadikannya beramal dengan amalan penduduk surga, sehingga ia mati dengan amalan penduduk surga lalu memasukkannya ke dalam surga.

      Dan jika Allah menciptakan seorang hamba untuk masuk ke dalam neraka maka Ia akan menjadikannya beramal dengan amalan penduduk neraka, sehingga ia mati dengan amalan penduduk neraka lalu memasukkannya ke dalam neraka.”

      Riwayat Muhammad Ibnul Mushaffa – Baqiyyah – Umar bin Ju’tsum Al Qurasyi – Zaid bin Abu Unaisah – Abdul Hamid bin ‘Abdurrahman – Muslim bin Yasar – Nu’iam bin Rabi’ah: “Aku sependapat dengan Umar Ibnul Khaththab dengan hadits ini, namun hadits Malik lebih lengkap.”

      [Abu Dawud no.4081, Juga di Tirmidhi no.3001 (Hadis Hasan), 3002 (Hadis Hasan sahih). Malik no.1395. Ahmad no. 294, 2157, 17000. Kemudian di hadis Ahmad no. 26216, Riwayat Haitsam – Abu Ar Rabi’ – Yunus – Abu Idris – Abu Darda’ – Nabi SAW bersabda: “Ketika Allah menciptakan Adam, Allah memukul bahu kanan Adam, maka keluarlah keturunan berkulit putih seperti molekul, dan memukul bahu kirinya keluar keturunan berkulit hitam seperti arang, Allah berkata pada yang di bagian kanannya, ‘Masuklah ke Surga dan Aku tidak perduli‘. berkata pada yang di bagian kirinya, ‘Masuklah ke dalam Neraka dan Aku tidak perduli’“]

      ***

      Riwayat (Abu Bakr bin Abu Syaibah – Abu Mu’awiyah dan Waki’ atau dari jalur lainnya riwayat Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair Al Mahdani – Bapakku dan Abu Mu’awiyah dan Waki’) – Al A’masy – Zaid bin Wahb – ‘Abdullah – Rasulullah SAW (Ash Shadiq Al Mashduq, seorang yang jujur menyampaikan dan berita yang disampaikannya adalah benar):

      ‘seorang manusia mulai diciptakan dalam perut ibunya selama 40 hari. Kemudian menjadi segumpal daging pada 40 hari berikutnya. Lalu menjadi segumpal daging pada 40 hari berikutnya. Setelah 40 hari berikutnya, Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya dan diperintahkan untuk menulis empat hal: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagianya.’

      ..seseorang darimu yang mengerjakan amal perbuatan ahli surga, hingga jarak antara dirinya dan surga hanyalah satu hasta, namun SURATAN TAKDIR rupanya ditetapkan baginya hingga ia mengerjakan amal perbuatan ahli neraka dan akhirnya ia pun masuk neraka.

      Ada pula orang yang mengerjakan amal perbuatan ahli neraka, hingga jarak antara ia dan neraka hanya satu hasta, namun SURATAN TAKDIR rupanya ditetapkan baginya hingga kemudian ia mengerjakan amal perbuatan ahli surga dan akhirnya ia pun masuk surga.’ [Muslim no.4781. Bukhari no.3085]

      ***

      Riwayat [Qutaibah atau Hasyim bin Qasim] – [Al Laits atau Bakr bin Mudhar] – Abu Qabil/Huyaiy bin Hani – Syufayyi bin Mati’ – ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash:

      Rasulullah SAW keluar menemui kami sementara di tangan beliau terdapat dua kitab. Kemudian beliau pun bertanya: “Apakah kalian tahu kitab apakah kedua kitab ini?” Maka kami pun menjawab: “Tidak wahai Rasulullah, kecuali Anda mengabarkannya pada kami.”

      Akhirnya beliau pun bersabda terkait dengan kitab yang berada pada tangan kanannya:
      “Ini adalah kitab yang berasal dari Rabb semesta alam. Di dalamnya terdapat nama-nama penduduk surga dan juga nama-nama orang tua serta kabilah mereka. Jumlahnya telah ditutup dengan orang yang terakhir dari mereka, dan tidak akan ditambah dan jumlah mereka tidak pula dikurangi lagi.

      Kemudian beliau bersabda terkait dengan kitab yang berada di tangan kirinya: “Adapun ini, ia adalah kitab yang juga berasal dari Rabb semesta alam. Di dalamnya telah tercantum nama-nama penghuni neraka, dan juga nama-nama bapak mereka serta kabilah mereka, dan telah dijumlah dengan orang yang terakhir dari mereka. Sehingga jumlah mereka tidak lagi akan bertambah dan tidak pula akan berkurang selama-lamanya.”

      Kemudian para sahabat pun berkata, “Kalau begitu, dimanakah letaknya amalan wahai Rasulullah jika memang perkara sudah habis?” beliau menjawab: “Berusahalah dan mendekatlah, karena sesungguhnya penduduk surga akan ditutup dengan amalan penduduk ahli surga, meskipun ia mengamalkan amalan apa saja. Dan sesungguhnya penduduk neraka akan ditutup pula dengan amalan penduduk neraka, meskipun ia mengerjakan amalan apa saja.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda dengan kedua tangannya lalu menghempaskannya dan bersabda: “Sesungguhnya Allah telah selesai terhadap urusan para hamba-Nya. Satu golongan di dalam surga dan satu kelompok pula di dalam neraka.”. Abu Isa berkata; Hadits semakna juga diriwayatkan dari Ibnu Umar. Dan hadits ini adalah Hasan Shahih Gharib. [Tirmidhi no. 2067/4.6.2141. Ahmad no.6275]

    Bukankah Muhammad sendiri yang mengatakan bahwa Ia ADALAH PEMIMPIN SELURUH MANUSIA PADA HARI KIAMAT, PARA NABI LAIN TIDAK ADA YANG MAMPU MEMBERIKAN SYAFAAT KECUALI DIRINYA SEORANG DAN BAHKAN PARA NABI INI SAJA MASIH BUTUH SYAFAAT KECUALI DIRINYA SEORANG sebagaimana disampaikan oleh hadis Bukhari no.4343. Muslim no.284, 287 dan Tirmidhi no. 2358 di bawah ini?

      Riwayat Abu Kamil Fudlail bin Husain al-Jahdari dan Muhammad bin Ubaid al-Ghubari (lafazh milik Abu Kamil) – Abu ‘Awanah – Qatadah – Anas bin Malik – Rasulullah SAW bersabda:

        [Bukhari no. 4343. Muslim no.287 dan Tirmidhi no.2358:
        Riwayat Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Muhammad bin Abdullah bin Numair – Muhammad bin Bisyr – Abu Hayyan – Abu Zur’ah – Abu Hurairah: Rasullullah bersabda: “Aku PEMIMPIN MANUSIA PADA HARI KIAMAT, TAHUKAH KALIAN KENAPA?]

      “Allah akan mengumpulkan manusia pada Hari Kiamat. Ketika itu mereka memandang penting masalah syafaat.” Ibnu Ubaid menyebutkan, “Mereka diberi ilham untuk menanyakan hal itu. Mereka berkata, ‘Sekiranya saja kita dapat memohon syafaat kepada Tuhan, agar Dia mengizinkan kita beristirahat dari keadaan kita ini.

      Lalu mereka pergi kepada Nabi Adam AS, lalu berkata, ‘Wahai Adam! Kamu adalah bapak semua manusia. Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya dan meniupkan roh ke dalam badanmu serta telah memerintahkan para malaikat supaya sujud kepadamu. Syafaatilah kami di hadapan Tuhanmu, agar mengizinkan kami beristirahat dari keadaan begini’.

      Adam menjawab, ‘Aku bukan pemilik hak memberikan syafa’at -Adam lalu menyebut kesalahan yang pernah dilakukannya, sehingga membuatnya merasa malu kepada Tuhan karena kesalahan tersebut-, akan tetapi datanglah kepada Nuh, Rasul pertama yang diutus oleh Allah’.

        [Muslim no.287:
        ..Diriku sendiri butuh syafa’at, silahkan pergi menemui selainku, pergilah menemui Nuh.’]

      Lantas mereka pergi menemui Nabi Nuh AS, namun beliau berkata, ‘Aku bukanlah orang yang bias memberikan syafa’at -lalu menyebut kesalahan yang pernah dilakukannya hingga membuatkannya merasa malu kepada Tuhan karena kesalahan tersebut-, akan tetapi datanglah menemui Nabi Ibrahim AS, yang telah dianggap sebagai kekasih Allah.’

        [Muslim no.287:
        ..Diriku sendiri butuh syafa’at, silahkan pergi menemui selainku, pergilah menemui Ibrahim.’]


      Mereka pun pergi menemui Nabi Ibrahim AS, ia juga berkata, ‘Aku bukanlah orang yang berhak memberikan syafa’at -lalu dia menyebutkan kesalahan yang pernah dilakukannya, hingga membuatnya merasa malu kepada Tuhan karena kesalahan tersebut- akan tetapi datanglah menemui Nabi Musa AS, yang pernah diajak bicara oleh Allah dan diberi Kitab Taurat.’

        [Muslim no.287:
        ..Diriku sendiri butuh syafa’at, silahkan pergi menemui selainku, pergilah menemui Musa.’]


      Mereka pun pergi menemui Nabi Musa AS, namun ia juga berkata, ‘Aku bukanlah orang yang berhak memberikan syafa’at -lalu dia menyebut kesalahan yang pernah dilakukannya, hngga membuatnya merasa malu kepada Tuhan karena kesalahan tersebut- akan tetapi kalian datanglah menemui Nabi Isa AS, ruh Allah dan Kalimat-Nya.’

        [Muslim no.287:
        ..Diriku sendiri butuh syafa’at, silahkan pergi menemui selainku, pergilah menemui Isa.’]


      Mereka pun pergi menemui Nabi Isa AS, ruh Allah dan Kalimat-Nya. Namun ia juga berkata, ‘Aku bukanlah orang yang berhak memberikan syafa’at, tetapi pergilah kamu semua kepada Muhammad SAW, hamba Allah yang telah diampuni dosanya yang terdahulu dan yang terkemudian’.”

        [Muslim no.287:
        ..Diriku sendiri butuh syafa’at, silahkan pergi menemui selainku, pergilah menemui Muhammad.’]

      Rasulullah SAW meneruskan sabdanya: ‘Mereka datang kepadaku, lalu aku meminta izin kepada Tuhan. Aku pun diberi izin.

      Ketika aku melihat-Nya, aku menyungkurkan diri dalam keadaan bersujud.

        [Bukhari no.4343. Muslim no.287 dan Tirmidhi no.2358Lalu aku pergi hingga sampai di bawah ‘arsy, aku tersungkur sujud pada Rabbku LALU ALLAH MEMULAI DENGAN PUJIAN DAN SANJUNGAN UNTUKKU YANG BELUM PERNAH DISAMPAIKAN PADA SEORANGPUN SEBELUMKU, lalu ada suara: Hai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah pasti kau diberi, berilah syafaat nicaya kau diizinkan untuk memberi syafaat.

        Lalu aku mengangkat kepalaku, aku berkata: Wahai Rabb, ummatku, wahai Rabb, ummatku, wahai Rabb, ummatku.

        Ia berkata: Hai Muhammad, masukkan orang yang tidak dihisab dari ummatmu melalui pintu-pintu surga sebelah kanan dan mereka adalah sekutu semua manusia selain pintu-pintu itu.”]

      Dia memanggil-manggilku, kemudian berfirman kepadaku: ‘Angkatlah kepalamu wahai Muhammad! Katakanlah sesuatu, niscaya kamu akan didengar. Mohonlah, niscaya kamu akan diberi. Syafaatilah, niscaya Aku akan terima syafaat yang kamu pinta.

      Aku mengangkat kepalaku dan memuji Tuhan dengan pujian yang telah diajarkan oleh Allah kepadaku. Kemudian aku memberi syafa’at.

      Lalu Allah memberikan kriteria (orang yang berhak mendapatkan syafa’at) kepadaku. Lalu aku mengeluarkan lagi orang-orang dari Neraka dan memasukkan mereka ke dalam Surga.

      Kemudian aku kembali jatuh bersujud.

      Maka Allah memanggilku sebagaimana Dia kehendaki kemudian berfirman kepadaku: ‘Angkatlah kepalamu wahai Muhammad! Katakanlah, niscaya kamu akan didengar. Mohonlah, niscaya kamu akan diberi. Syafaatilah, niscaya Aku akan terima Syafaat yang kamu pinta.”

      Perawi Hadits berkata, “Aku tidak mengetahui secara pasti pada kali yang ketiga atau kali yang keempat.

      Beliau bersabda: “Wahai Tuhanku! Yang masih ada di dalam Neraka hanyalah orang-orang yang ditahan oleh al-Qur’an, yaitu orang yang memang seharusnya kekal di dalam Neraka’.”

      Ibnu Ubaid menyebutkan dalam riwayatnya, ‘Qatadah berkata, “Maksudnya wajib kekal di dalamnya.” …[Muslim no.284]

    Tapi mengapa ketika dalam keadaan sekarat hingga wafat, masih MENGEMIS MINTA AMPUNAN dan SURGA lagi? Kemanakah gerangan JIBRIL, mengapa tidak kunjung datang memberikan konfirmasi atas apa yang dimintanya?  []