Kitab Suci Kancil Mencuri Ketimun


Coba kita perhatikan sloka [syair] kisah kancil di bawah ini:

Sikancil anak nakal
suka mencuri ketimun
ayo lekas dikurung
jangan di beri ampun

Dongeng [Dongeng dalam bahasa sanskrit: Purana] ini di karang oleh maharesi wanita yang bernama Sud, isinya memang 4 baris saja, namun sarat makna. [Resi dalam bahasa sanskrit: Penyair, melihat, bergerak]

mengapa ini dapat diklasifikasikan sebagai Dongeng?

Kancil atau pelanduk, termasuk binatang pemakan sayuran terkecil..perutnya juga kecil..sehingga ia tidak akan makan ketimun..namun memakan sesuatu yang mudah dicerna. Ia mencari makan dengan mengandalkan penciuman dan mata.

kancil bukan binatang nekat..ia sangat berhati-hati dan termasuk bagian rantai makanan kegemaran para pemakan daging

Jadi, tidak benar jika kancil adalah binatang nekad dan pemakan ketimun.

Moral of the story:

Kalau ingin sukses harus cerdik seperti kancil namun setiap trik dan treat di wahyu suci kancil mencuri ketimun merupakan pilihan tindakan.

Kalau mau sukses Bekerja keraslah, jangan ambil harta orang lain, bagi yang berpunya pastikan ia menjaganya jangan sampai pihak lain menjadi tergoda untuk berbuat jahat dan satu pesan tersirat lainnya adalah kalau berani kaya maka harus berani susah

Coba kalo si petani menyadari berapa besar perut si kancil, dibandingkan dengan hasil panennya..jika Pak Tani mau memberikan bagian kecil dari ladangnya untuk yang tidak punya maka bukan hanya menyelamatkan pikiran namun juga membuat semua pihak saling menjaga! Pikiran pak petani akan menjadi lebih tenang dan tidak lagi mengurusi hal-hal sepele

Jadi, hendaknya manusia melakukan pekerjaan yang berguna, yaitu yang dapat memberikan makan banyak orang.

Pencurian terjadi kerena ketidakadilan. Misal saja petani itu berkenan menyisihkan ketimunnya sedikit diluar pagar..maka tidak banyak kerugian yang terjadi, misalnya Ia tidak perlu sewa penjaga, saat “sikancil” datang, ia tidak sampai menginjak2 tanaman [pada sistem tumpang sari misalnya]..

Jadi, hendaknya manusia saling mengajarkan manfaat untuk bersedekah [sanskrit berdana punia]

Bagian dari orang yang tidak mau kerja keras adalah bermimpi dan menyia-nyiakan potensi otaknya untuk ketenangan dan malahan lebih sibuk mengasah otak untuk curang..

Jadi, hendalah manusia gemar bekerja keras. bejerja membuat diri menjadi lebih tenang dalam hidup itu lebih baik daripada menjadi orang egois, mengambil hak orang dan mengeksploitasi pikiran kearah negatif

Ada bagian penting yang ingin di share pengarang sloka ini yaitu bag mereka yang melakukan tindakan hendaklah diberikan hukuman dan jangan di beri ampun, ini merupakan tindakan tertib hukum dan penegakan hukum

Mari kita coba melirik sekilas pada kisah kancil dan Buaya. Kisah ini memberi pesan bahwa manusia hendaknya mempunyai usaha/tekad/kemauan, berusaha untuk lebih mengenali medan, memahami dengan baik karakter rekan…Bedakan dengan kisah tipu menipu, karena porsi kancil dan buaya hanyalah mengikuti apa yang tercantum pada piramida dasar teori kepuasannya Maslow, bertingkat dipuaskan mulai dari kebutuhan dasar hingga ke atas. Mereka yang mempunyai amunisi yang lebih sedikit hendaknya berbuat lebih pintar dalam melihat medan dan tidak gemar memusihi yang besar, mengetahui kapan harus bertindak dan juga tegas, ketika mereka di tipu maka janganlah di beri ampun.

Waspada merupakan esensi utama dari kitab suci ini.

Untuk kalangan pebisnis, Perlu mewaspadai munculnya moment yang tepat. Moment ini digunakan untuk mendapatkan keuntungan jika mendapatkan keuntungan maka segera mundur/pergi/jual..kata ‘suka’ pada sloka diatas artinya adalah kerap kali atau berulang-ulang..Perilaku ini hendaknya dilakukan berulang-ulang dan tidak pada satu sesi yang sama.

Ini mengajarkan kita agar lebih mampu berpuas diri..menikmati hasil sedikit yang resikonya lebih kecil..Tidak mudah tergiur dengan harapan mendapatkan keuntungan besar [Kasus Koperasi Karang Asem Membangun..yang mengambil korban ratusan orang dan ratusan Miliyard uang raib tak tentu rimbanya di Bali]

Nah, dongeng ini di sampaikan untuk mereka yang sulit mencerna peraturan-peraturan tingkat tinggi..untuk menjembatani agar pesan moral ini sampai pada khalayak maka diciptakanlah dongeng

Cilakanya sekarang ini moral cerita sudah tidak tercapai malah berlaku anggapan keliru yaitu Kancil adalah binatang nekad dan senang makan ketimun

Anda tidak percaya?

Coba tanyakan pada orang yang berusia 20 tahun keatas…makanan kancil apa? jawabannya adalah ketimun.

Itulah akibat terlalu percaya pada dongeng.

[Mengenang masa-masa SD, ketika Bu Guru meminta kami menuliskan perbuatan-perbuatan baik dan buruk yang ada di cerita-cerita apa saja]


Cuma Kisah Biasa..Ngga Ada Yang Spesial..


Goin’ to Jakarta, again! Ah..kalimat ini sungguh menyebalkan bagiku sekarang!..namun, Kamis minggu lalu..toh, tetap juga kujalankan.

Padahal dulu, sewaktu lulus kuliah dari UniKa Parahyangan Bandung dengan IPK pas-pasan 2.4 saja, aku masih sangat PD dan selalu yakin bahwa pasti bekerja di kota yang paling ramah uang di Indonesia!

Aku adalah orang Bali, walaupun Bali adalah Pulau Internasional, namun tidak pernah ku hitung Bali sebagai kota ramah uang!..

Mengapa?

Saat itu dan ternyata hingga sekarang…rata-rata gaji untuk pegawai di Bali termasuk yang terkecil di Indonesia..

So, For me…the money friendliest city in Indonesia are…Jakarta, Bandung dan Surabaya.

Sewaktu memutuskan itu, Aku lupa satu hal, orang kaya ada dimana-mana begitu juga orang miskin!

Hidupku berjalan bersama 2 sahabatku yaitu kemudahan dan kesusahan.

Mereka senantiasa bersamaku. Abangnya sang Kemudahan sangat jarang melirik padaku, namun adiknya sang Kesusahan entah mengapa justru sangat rapat denganku. Keakraban itu terlihat jelas dalam fluktuasi hidupku, berkisar dari sangat susah, susah dan kadang-kadang hampir susah.

Ada grafik yang stabil, yaitu keuangan yang super pas-pasan…sehingga perlu modifikasi tambal sulam untuk mensiasati remah-remah sisa gaji bulanan yang telah tercabik-cabik hutang dan kerkoyak-koyak biaya hidup. Dari hasil itu, masihlah kubisa mempunyai rumah dan tanah..

Tidak terasa tiga belas tahun berlalu, Sebagai orang Bali, ternyata akupun terkena penyakit umum orang Bali, yaitu merasa belum lengkap selama belum pulang ke Bali…dan itu melanda padaku..padahal aku cuma numpang lahir di Bali..sisanya besar di Bandung dan tidak pernah lebih lama dari 1 bulan tinggal di Bali..berbahasa balipun aku tidak bisa malah lebih piawai berbahasa sunda. Pokoknya ada 1001 alasan, mengapa harus pulang ke Bali dan hanya 1 alasan mengapa tetap di Jakarta, yaitu Karir.

Dari semua hal-hal stabil dalam hidupku salah satunya adalah karir dan kestabilan itu benar2 sempurna tanpa cacat ku pertahankan! Upaya-upaya menapak karir, tentunya sudah lah kulakukan..Dari mulai bekerja rajin, melanjutkan sekolah lagi, bersiasat, menjilat, memberontak dll..Ahhh, pokoknya everything dah..and guess what..it’s always been sam-o sam-o!! LoL!

Ternyata karir emang barang mewah dan langka bagiku. So, kalau dah juga 13 tahun stabil jadi staf..why not for the next 13 years, ngga bakalan masih staff juga, ya toh!

Wake up man!

Runtuh juga 1 alasan itu, Kemudian dari hasil rembukan bareng istri, maka sampailah kami pada satu kesimpulan, yaitu mesti ada team advance yang balik duluan ke Bali. Istri dan anak-anakku, akhirnya pulang duluan ke Bali..dan tinggal, lah aku di sini..sendiri.

Awalnya, kupikir, ‘Pindah kan lebih mudah..piece of a cake-lah!!’

Ternyata aku keliru!

Pokoknya..lagi, dengan segala daya upaya..aku harus pulang keBali! Selama waktu menunggu dan berupaya pindah, Harus kusiapkan modal untuk menetap di Bali, jadi rumah dan tanah ku pasangi plank ‘Di Jual’..sekali-kali ku iklankan di Poskota…

Berita baiknya, upaya pindah berhasil di dua tahun lebih kemudian!

Berita basinya, rumah dan tanah keukeuh aja ngga laku-laku! Bahkan hingga saat ini…

Yah..inilah Rumah itu…
Orang-orang bilang..coba pakai sarat..cari orang pintar…hehehehe..beberapa orang ‘pintar’ dari berbagai variasi kalangan agama telah ku datangi dan di coba..hasilnya..hahahahaha…ilmu mereka luntur dan kena batunya juga..di rumah dan tanah itu!

Di akhir periode, mereka selalu ujarkan dengan mantra yang sama, “Belum jodohnya, pak..” Yaa elahhh, untuk kalimat itu sih..ngga perlu pake “orang pintar” buat tahu, ya toh!

Kira-kira seperti itu deh posisiku, ketika hidup 2 tahunan berjauhan dengan keluarga..

Kamis itu, aku terbang ke Jakarta..kupasangi lagi plank di rumah itu, ku cat dan plitur lagi rumah..pokoknya kurapihkan lagi..biar kinclong.

Kali ini, untuk pertama kalinya dalam hidupku, selain rasa malas yang tetep setia mendampingiku, maka praktis Ku datang tanpa target yang berarti.

Dari rencana 3 hari, ternyata di hari kedua semua terselesaikan. Pokoknya dari acara membuat kunci duplikat, menitipkan kunci dan copy sertifikat, mencari tukang bangunan, memborongkan pekerjaan, menitip uang dan bantuan mengawasi, hingga masih ada waktu buat menjenguk seorang sahabat “oon” yang tengah menggeletak sakit jantung di RS Mitra Ramsey International di Jatinegara..

Sahabatku itu, adalah orang dengan cita-cita tinggi dan sangat fokus. Ya, pokoknya dia itu sangat fokus untuk menjadi orang kaya, gitu deh!..Untuk itu, segala macam upaya pun telah dilakukan dan tentu saja telah dilanggarnya pula..

Dari harapan yang tinggi melambung pada sekian banyak ragam proyek-proyeknya, ternyata semua berjalan curam di jalur jeratan hutang piutang yang membuatnya terkapar di ranjang rumah sakit.

Yup, just another sample dari nafsu keinginan yang tak kunjung terpuaskan..bermutasi dari satu bentuk ke bentuk lainnya di balutan nikmat dan susah. Walaupun tak juga pernah Ia promosikan dirinya tapi entah kenapa, justru kitalah yang bergegas mengejarnya bagaikan laron menubruk api yang berakhir dalam sebuah kesia-siaan di penghujung cerita.

Sabtu siang itu, sambil menunggu waktu ku berangkat pulang, terkenanglah Aku pada semua yang telah berlalu..

I’m leaving on a jet plane, I don’t know when I’ll be back again..