Bhagavad Gita bukan Pancama Veda [Veda Ke-5]!


Pengantar
Di Campuhan, Ubud Bali, pada tanggal 17-23 November 1961[↓] pernah dilakukan Pesamuan/pertemuan dan menghasilkan piagam Tjampuhan. Dalam pertemuan tersebut, ada disebutkan bahwa Bhagavad Gita adalah Pancama Veda. Untuk tahu seberapa benar pernyataan tersebut, artikel ini kita mulai dengan klasifikasi naskah religi Hindu:

  • Sruti, artinya telinga, didengar, terdiri dari: (1) Samhita dari 4 Veda (Samhita = mantra/doa); (2) Brahmana (teks komentar tentang ritual, upacara dan pengorbanan); (3) Aranyaka (artinya terkait hutan, teks tentang ritual, upacara, pengorbanan dan simboliknya); dan (4) Upanisad (artinya duduk dekat dengan, teks tentang filsafat, dan pengetahuan spiritual)
  • Smrti, artinya diingat, terdiri dari: Dharmasutra dan Dhammasastra, Itihasa dan Purana.

Periode naskah, diawali jaman Rg Veda, kemudian berlanjut ke jaman Veda lainnya beserta teks-teks Brahmana, Aranyaka dan Upanisad, yang masing-masing dari teks-teks tersebut terkait dengan masing-masing Veda dan paling akhir disebut jaman pasca Veda (Sutra dan Sastra yang juga terkait dengan masing-masing Veda; Purana dan Itihasa; juga untuk beberapa Upanisad).

Kemunculan teks Brahmana, Aranyaka, Upanisad dan Sutra walaupun terkait dengan masing-masing dari 4 Veda, bukan berarti muncul di jaman kemunculan Veda tersebut, tapi spesialisasinya saja yang merujuk ke salah satu dari 4 Veda tersebut, misal: Saunaka Sutra yang walaupun terkait Rg Veda, muncul di sekitar jaman purana tertentu dan Itihasa tertentu,


CaturVeda Samhita
Rig (arti: pujian/ayat) Veda disepakati para ahli sebagai yang tertua dari 4 veda, penyusunannya terjadi secara bertahap selama 800-900 tahun [“Class and Religion in Ancient India”, Jayantanuja Bandyopadhyaya, hal.11-12], tahapan ini dapat dilihat dalam banyak sloka, misal: Rsi Kutsa kepada Indra dan Agni bahwa Ia menyusun strota baru untuk mereka yang diujarkan/chant sambil mempersembahkan Soma (minuman memabukan) [RV 1.109.2], Puru anak Raja Divodasa, salah satu raja di masa perang massal 10 Raja (RV 1.130.7) menyatakan ke para Deva bahwa Dadhyac lama, Angrisa, Kanva dan Atri (para Rsi Rig Veda awal) tahu leluhurnya [RV 1.139.9]. Visvamitra berkata pada Agni bahwa Ia mengujarkan Strota lama dan baru [RV 3.1.20]. Rsi Avatsara, anak Rsi Kasyapa kepada para Yajmana (pelaku Yajna): “Para yajmana kuno, para leluhur dan keturunannya, juga para Yajmana sekarang..memenuhi keinginan mereka dengan memuja Indra, maka begitupula denganmu” [RV 5.44.1], Rsi Aruna menyampaikan hymne baru [RV 10.92.13]. Juga para Rri lainnya: “Aku mengujarkan strota baru kepada Agni seperti ayahku Mandhata dan Angira di jaman lalu” [RV 8.40.12], dan banyak lainnya, yang kapan jamannya itu terjadi juga disebut dalam Rig Veda, yaitu jaman kepindahan kaum Arya ke area 7 sungai (sapta sindu), saat penghancuran suku-suku berkulit hitam dan setelahnya [Jayantunaja Bandyopadhayaya, hal 12-20, sample RV 8.24.26-27; 10.49.7-9].

Satapatha Brahmana, kanda ke-10 (10.4.23) menyatakan: Rig Veda berisi 12.000 brihati (4 sloka dengan 36 suku kata, atau total 432.000 suku kata).

Sama (arti: melodi/ritme) Veda, walaupun tidak menyebutkan nama RigVeda, namun 95% slokanya mengulang sloka yang ada di RigVeda. Monier-Williams: Samaveda berisi 1810 sloka, yaitu 261 sloka merupakan pengulangan + 1549 sloka. Dari jumlah tesebut, 78 sloka tidak ditemukan dalam RigVeda [A Sanskṛit-English Dictionary Etymologically and Philologically Arranged: With Special Reference to Greek, Latin, Gothic, German, Anglo-Saxon, and Other Cognate Indo-European Languages, Sir Monier Monier-Williams, 1872, hal 1107, kolom ke-2 dan 3. SamaVeda translasi Inggris dari Ralph T.H Griffith hanya berisi 1781 sloka]. Oleh karenanya, RigVeda sebagai yang tertua dan pengembangannya tedapat dalam Veda-veda berikutnya.

Nama 2 Veda (Rig dan Sama) disebutkan dalam sloka Yajur (arti: memuja/formulasi) Veda:

    Kamu adalah gambar dari Rig dan Sama. Saya menangkap kalian berdua; apakah kamu dua melindungiku sampai selesainya pengorbanan ini. Dahulu pada saat itu semua dewa bersukacita. [YajurVeda Hitam i.2.2] ..Mencapai (ritual) dengan Rig, Sama, dan Yajur [YV Hitam i.2.3] dan Diseberangi oleh Rig, Sâma, dan Yajur, semoga kita bersukacita dalam makanan dan pertumbuhan kekayaan [YajurVeda Putih 4.1]

Satapatha Brahmana, kanda ke-10 (10.4.24-25): Di 2 veda berisi 12.000 brihati, yaitu 8000nya di YajurVeda dan 4000nya di SamaVeda atau di 2 veda berisi 10.800 pankti (5 sloka dengan 40 suku kata, atau total 432.000 suku kata), sehingga ke-3 veda totalnya berisi 864.000 suku kata.

Nama 3 Veda disebutkan dalam sloka Atharva (arti ‘athar’: Api) Veda

    Dia pergi ke wilayah terakhir. sloka-sloka Rig, Sāma, Yajur dan ketaatan mengikutinya…Dia pergi ke daerah besar. Itihāsa, Purāna, Gāthā dan Nārāsansi mengikutinya [Atharva Veda 15.6.3-4]

Sehingga kronologi kemunculan Veda adalah Rig, Sama, Yajur dan terakhir Atharwa. Sementara itu, Moniers, di halaman yang sama menyampaikan bahwa di antara 78 Sloka SamaVeda, “12 stanza dari AtharvaVeda; 4 dari YajurVeda putih”. Pendapat ini kurang tepat, karena SamaVeda telah disebutkan dalam Yajur dan AtharvaVeda, oleh karenanya, lebih tepat dikatakan dari beberapa sloka SamaVeda, 4 sloka diulang dalam YajurVeda Putih dan 12 sloka diulang dalam AtharvaVeda.

Brahmana

  • Aitareya dan Kausitaki → terkait Rgveda.
  • Jaiminiya, Brahmana besar → terkait Samaveda, untuk Brahmana kecil disebut Samavidhana, Devatadhyayi, Vamsa, dan Samhitopanisada
  • Taittiriya → terkait Yajurveda hitam
    Krishna dan Satapatha → terkait Yajurveda putih/Shukla. Beberapa ide di Satapatha Brahmana tidak ada di Veda, banyak legenda penciptaan dunia kuno ada dalam Satapatha Brahmana dan banyak legenda Yunani yang tidak ada di Veda ada di Satapatha Brahmana.
  • Gopatha → terkait Atharva veda.

Aranyaka

  • Aitareya/Sankhyayana → terkait Rgveda,
  • Tavalkara dan Chandogya → terkait Samaveda,
  • Taittiriya dan Maitrayani → terkait Yajurveda hitam
    Brhadranyaka → terkait Yajurveda putih.

Upanisad

  • Aiteriya dan Kausitaki → terkait Rgveda,
  • Chandogya dan Keno → terkait Samaveda
  • Kathpanisad, Taittiriya, Maitri dan Svetsvatara → terkait Yajurveda hitam
    Brhadaranyaka dan Isa → terkait Yajurveda putih
  • Mundaka, Mandukya dan Prasna → terkait Atharvaveda.

Secara umum, baik Brahmana, Aranyaka dan Upanisad, kemunculannya ada di setelah Rg Veda, muncul secara bertahap di jaman yang berbeda yang terkait kemunculan Veda lainnya.

Sutra (muncul lebih belakangan dari Brahmana)

  • Kalpa/Srauta Sutra, menjelaskan ritual terkait yajna:
    • Asvalayana, Sankhyana dan Saunaka → terkait Rgveda,
    • Masaka, Latyayana dan Drahyayana → terkait Samaveda,
    • Katyayana → terkait Yajurveda putih
      Apastamba, Hiranyakesina dan Baudhayana → terkait Yajurveda hitam
    • Vaitana → terkait Atharvaveda
  • Grhyasutra, menjelaskan ritual yang semestinya dijalankan seorang penganut Hindu dari sejak lahir sampai meninggal:
    • Sankhayana dan Asvalayana → terkait Rgveda,
    • Gobhila → terkait Samaveda
    • Paraskara → terkait Yajurveda putih
      Apastamba → terkait Yajurveda hitam
    • Kausika → terkait Atharvaveda.
  • Dharmasutra, tidak secara spesifik berkaitan dengan Veda, isinya menjelaskan prilaku seorang penganut Hindu dalam kehidupan sehari-hari.

Kemudian kisah-kisah, digolongkan menjadi:

  • Kavya (isinya bisa jadi tidak benar namun dituliskan dengan cara yang indah),
  • Purana (Artinya: Dongeng/Lampau/Kuno, cerita-cerita yang tidak sungguh-sungguh terjadi namun memiliki nilai pendidikan, tujuannya agar orang mengerti bahwa dengan berbuat baik akan mendapat pahala baik). Purana adalah naskah yang hadir paling belakang. Ada 18 Purana utama yang disebut Mahapurana dan 18 Purana kecil yang disebut Upapurana. Kebanyakan pemeluk Hindu mendapatkan pengetahuannya dari Purana, sebagai representasi bentuk populer Hinduisme.
  • Itikatha merupakan kejadian-kejadian dengan susunan secara kronologis ataupun berbeda-beda, dan
  • Itihasa (berasal dari kata ‘hasati’ = tertawa), merupakan bagian Itikatha yang mempunyai nilai pendidikan, yaitu MahaBharata dan Ramayana

Bhagavad Gita ada dalam bagian Bhisma Parwa-nya Itihasa Mahabharata yang diyakini disusun oleh Byasa/Vyasa, seorang yang berasal dari keluarga Nelayan yang hidup di suatu tempat antara pertemuan sungai Ganga dan Yamuna (dekat Prayaga). Karena warna tanah tempat Vyasa lahir kehitam-hitaman (Sanskrit = Krsna/Pali = Kanha), maka beliau disebut Krsna Dwipa. Anak yang lahir ditempat itu disebut Krsna Dwipayana [Pali: Kanha Dipayana]. Dalam literatur Buddhis (Jataka/Kehidupan lampau sang Buddha) disebutkan setidaknya ada 2 (dua) Kanha-Dipayana/Krisna-Dwipayana berbeda:

  • Jataka no.444, Kanha-Dipayana Jataka, sang Buddha sebagai Pertapa Kanha-Dipayana dan Sariputta sebagai adiknya, yaitu Pertapa Ani-Mandaviya
  • Jataka no.454, Gatha Jataka, tentang kisah tentang 10 saudara, yang tertua bernama Vasudeva [kesava; Kanha = krisna = hitam] dan adik-adiknya (Baladeva, Candadeva, Suriyadeva, Aggideva, Varuṇadeva, Ajjuna, Pajjuna, Ghata-paṇḍita dan Aṁkura). Sang Buddha saat itu sebagai Gathapandita dan Sariputra sebagai Vasudeva, Raja kerajaan Drawaka yang wafat terkena panah pemburu bernama Jara. Pertapa Kanha-Dipayana yang muncul di jataka ini, bukan kelahiran sebelumnya sang Buddha.

Purana menjelaskan arti dari Vyasa yang merupakan sebuah gelar DAN BUKAN hanya 1 (satu) orang saja:

    Oh para Bramana, Megetahui bahwa Purana secara perlahan akan dilupakan, disetiap Yuga, Aku akan hadir dalam bentuk Vyasa dan menyusunnya” [Matsya Purana 53.8-9]

    Dalam setiap zaman ketiga (Dwapara), Vishnu, dalam diri Vyasa, untuk menjaga kualitas umat manusia, membagi Veda, yang seharusnya satu, menjadi beberapa bagian. Mengamati terbatasnya ketekunan, energi, dan dengan wujud yang tak kekal, Ia membuat Veda empat bagian, sesuai kapasitasnya; dan raga yang dipakainya, dalam menjalankan tugas untuk mengklasifikasi, dikenal dengan nama VedaVyasa. Di Manuantara saat ini, 28 kali Veda akan di susun oleh Resi-resi besar di Vaivasvata Manuantara..dan akan ada 28 Vyasa yang berlalu; Olehnya di periode tertentu Veda akan dibagi menjadi empat. Yang pertama…Pembagian dilakukan oleh Svayambu [Brahma] sendiri, kedua, penyusun Veda adalah Prajapati (dan seterusnya hingga 28) [Visnu Purana 3.3]

Jadi, arti Vyasa adalah Pembagi/Pembelah/Penyusun BUKAN Pengarang.

Kedudukan dan kronologi Veda, Itihasa dan Purana

    Dia pergi ke wilayah terakhir. sloka-sloka Rig, Sāma, Yajur dan ketaatan mengikutinya…Dia pergi ke daerah besar. Itihāsa, Purāna, Gāthā dan Nārāsansi mengikutinya [AtharvaVeda 15.6.3-4]

    O Maitreya, Rg, Yajur, Sama dan AtharvaVeda sama seperti para Itihasa dan Purana semua merupakan manifestasi dari nafas Tuhan” [Madhyandina-sruti, Brhad-aranyaka Upanisad 2.4.10]

    Sebagaimana Rg, Yajur, Sama dan Atharva adalah nama 4 Veda. Para Itihasa dan purana adalah VEDA YANG KE-5” [Kauthumiya Chandogya Upanisad 7.1.4]

    vedān adhyāpayām āsa mahābhārata pañcamān” (veda-veda disampaikan mahabharata ke-5) [Mahabharata 1.57 dan 12.327]

Dikatakan bahwa AtharvaVeda adalah teks India pertama yang menggunakan kata “syama ayas” [besi hitam: AV 11.3.7], sehingga muncullah klaim bahwa Veda ke-4 berada di periode jaman besi India atau abad ke 12-10 SM [“Autochthonous Aryans? The Evidence from Old Indian and Iranian Texts”, Michael Witzel, hal.82].

Sementara itu, walaupun Upanisad ada menyatakan Atharva adalah Veda ke-4, Itihasa-Purana adalah Veda ke-5, namun Atharva Veda sendiri telah menyebutkan tentang keberadaan Itihasa, Purana, Gatha dan Narasamsi, maka seharusnya, kehadiran Atharva terjadi lebih lambat dari kehadiran 4 teks tersebut (yaitu: Itihasa,.., Narasamsi) dan menariknya juga pada itihasa Mahabharata, dalam Bhisma parwa, yaitu Bhagavad Gita sendiri, secara konsisten tidak menyebutkan keberadaan 4 Veda namun hanya 3 Veda.

    ..vedyaṁ pavitram oṁkāra ṛik sāma yajur eva cha.. (Pengetahuan pensuci kata AUM Rig, Sama, dan juga yajur) [BG 9.17]
    ..trai-vidyā māṁ soma-pāḥ pūta-pāpā.. (Tiga Veda-Ku, dengan sari soma membersihkan dosa..) [BG 9.20]

Sementara itu, pada bagian tertentu Itihasa sendiri telah meyebutkan tentang keberadaan AtharvaVeda, misal Ramayana (Balakanda canto 14: “अथर्वशिरसि”/atharvaśirasi atau bagian awal Atharva-Veda) dan Mahabharata (misal: AdiParva 1.70; Sabha Parva 2.11; Vana Parva 3.187: Narayana ke Markandeya bahwa dariNya Rg, Yajur, Sama dan Atharva muncul, juga di 3.303: Para Brahmana ke Kunti “अथर्वशिरसि”/atharvaśirasi atau bagian awal Atharva-Veda/Mb 3.289; Udyoga Parva 5.18, dll).

Ini mengindikasikan bahwa keberadaan Mahabharata dibeberapa bagian, kehadirannya mendahului AtharvaVeda, atau dengan kata lain, Mahabhrata merupakan sebuah produk yang dibuat secara bertahap, sekurangnya, Mahabharata Buku ke-1/Adi Parva sendiri mengakui adanya tahapan itu, yang awalnya 8800 sloka, kemudian menjadi 24.000 sloka dan hingga menjadi 100.000 sloka. [“The Sanskrit Epic”, J.L Brookington, Introduction, hal.21]. Para ahli sejarah [India dan barat], dari uji analisis menemukan adanya perbedaan gaya, bahasa dan tingkat kepelikan di Mahabharata dan menyimpulkan bahwa penyusunan dilakukan pada masa berbeda dan oleh tangan-tangan yang bebeda. Misalnya, Adiparwa bab 1 menunjukan banyak episode yang telah ditambahkan. Mahabharata saat ini adalah edisi ke-3 dan telah memperluas inti dari sejarah tersebut. [C. Jinarajadasa, R.G Bhandarkar, L.Von Schroeder]. Menurut Herman Jacobi, bentuk asli Mahabharata berasal dari sebelum abad ke-6 SM, berkembang dalam 4 tahap sampai masuknya materi didaktik ke bentuk sekarang yang tidak lebih lambat dari abad ke-2/3 SM. Menurut E Washburn Hopkins, di tahun 400an SM, kisah-kisah Bharata dan Pandawa tidak diketahui, kemudian di abad 4-2 SM masuk kisah Krisna dan Pandawa, di abad 3 SM – tahun 100 M, terdapat tambahan episode baru dan interpolasi materi didaktik, penyusunan dilakukan setelah invasi Alexander, Mahabharata menjadi buku keyakinan tentang ketuhanan Krisna di abad ke 1 SM, epik ini hampir lengkap di tahun 200 M. Tidak ada bukti bahwa keseluruhan epik telah ada di abad ke-2 SM. [The Age of Bharata War, Giriwar Charan Agarwala, 1997, hal 95].

Walaupun kehidupan tokoh-tokoh dalam kisah Ramayana beada pada masa sebelum tokoh-tokoh kisah Mahabharata namun Itihasa Ramayana sendiri dibuat lebih belakangan dari Itihaasa Mahabharata yang pembuatannya juga dilakukan secara bertahap:

    [..]Yang pertama [Balakanda] dan yang terkahir [Uttara Kanda] dari kitab Ramayana adalah tambahan belakangan. Bagian buku ke 2-6, menyajikan gambaran Rama sebagai pahlawan ideal. Di buku 1 dan 7, Rama sebagai avatara atau reinkarnasi Visnu dan lirik epik diubah menjadi teks dari aliran Vaisnawa. Referensi Yunani, Parthian, dan Saka menunjukan bahwa kitab ini ada tidak lebih awal dari abad ke-2 SM[..] – [ValmikiRamayana.net: The cultural Heritage of India, Vol. IV, The Religions, The Ramakrishna Mission, Institute of Culture ]

    Menurut S. N. Sadasivan, Uttara kanda dan Balakanda baru ada pada abad ke 7-8 Masehi…Menurut H.D. Sankaliya, yang banyak menulis di “Times of India”, “vide Times of India”, New Delhi [November 26, 1967; October 12, 1975; November 6, 1983 dan December 15,1985] memperhatikan gambaran penggunaan perak, mutiara, besi, anggur, unta dan gajah di Ramayana versi Valmiki, maka besar kemungkinan kisah ini di tulis antara abad ke-3 SM s/d 4 M, dan Ia kemudian memodifikasinya menjadi abad ke-2 SM s/d 3 M dan beberapa porsi tertentunya, berhubungan dengan arsitek lanjutan di tulis setelah abad ke 7 M…Apapun bentuk ketidaksepakatan mengenai penentuan waktu aslinya, SEMUA AHLI sepakat bahwa ini dibuat setelah jaman Buddhisme yang digunakan Valmiki adalah kisah-kisah di Jataka Buddhis terutama Dasaratha dan Janaka Jataka. Ramayana kemudian tumbuh seiring waktu sesuai dengan kebutuhan para Brahmin-brahmin Hindu. [A social history of India, S. N. Sadasivan, Ch.VI, Brahmin Reaction]

Kemudian, literatur Pali Buddhisme, secara konsisten hanya menyebutkan tentang keberadaan 3 Veda [Tevijja/TriVeda/Tiga Veda, misal: DN 13/Tevijja Sutta]. Dalam riwayat kehidupannya, Sidharta Gautama, di usia 8 tahun, berguru pada Brahmana Visvamitra dan pada umur 12 tahun, telah menguasai berbagai ilmu pengetahuan, ilmu taktik perang, sejarah dan Pancavidya, yaitu: sabda (bahasa dan sastra); Silpakarmasthana (ilmu dan matematika); Cikitsa (ramuan obat-obatan); Hatri (logika); Adhyatma (filsafat agama) dan Tevijja [3 Veda: Irubbeda/Iruveda=Rg; yaju & sāma (Miln 178; DA i.247; SnA 447). Dalam riwayatnya, selama 80 tahun kehidupan beliau, yaitu di sekitar abad ke 5/6 SM, yang ada hanyalah keberadaan 3 Veda BUKAN 4 Veda

Apakah tahun kehidupan Buddha yang salah atau klaim tahun AtharvaVeda yang salah?
Pertama, mari kita simak tulisan Stephen Knapp dan Narahari Achar yang menyatakan bahwa abad ke 5-6 SM sebagai tahun kehidupan Sang Buddha adalah tidak tepat:

    P. N Oak [‘Some Blunder of Indian Historical Research, P.189-190, Blunder no.11] menyatakan bahwa Purana-purana menyinggung kronologi para pemimpin Magadha. Pada saat perang Mahabharata terjadi, Somadhi (Marjari) adalah raja Maghada dan bersama 22 raja berikutnya memerintah selama 1006 tahun, dilanjutkan 5 raja dinasti Pradyota selama 138 tahun, dilanjutkan 10 Raja dinasti Shishunaga selama 360 tahun. Kshemajit (memerintah 1892 – 1852 SM) adalah raja ke-4 dinasti Shishunag, saat itu raja kapilavastu adalah Suddodana, ayah Sidharta Gautama dan pada masa itu Sidharta lahir. Pada jaman raja ke-5 dinasti Shishunag, Bimbisara, Sidharta Gautama mencapai penerangan sempurna mencapai Buddha. Pada jaman raja Ajatashatru (1814-1787 SM) Buddha wafat. Jadi ia lahir di 1887 SM, Meninggal di 1807 SM

    Bukti lebih lanjut yang menguatkan ada di “Umur Buddha, Milinda dan raja Amtiyoka dan Yuga Purana” Pandit kota Venkatachalam yaitu Purana-purana terutama Bhagavad Purana dan di Kaliyurajavruttanta, menggambarkan kronologis dinasti Maghada yang dapat dipakai menentukan tanggal kehidupan Buddha. Buddha adalah silsilah ke 23 dari Ikshvaku, dan ada jaman2 raja2 Kshemajita, Bimbisara, and Ajatashatru, seperti tertulis di atas. Buddha berusia 72 tahun di tahun 1814 B.C. ketika raja Ajatashatru di mahkotai. Jadi kelahiran Buddha ada di sekitar 1887 SM. dan wafatnya adalah 80 tahun kemudian yaitu 1807 SM

    Professor K. Srinivasaraghavan juga menghubungkannya di bukunya, “Chronology of Ancient Bharat” (bag ke-4, bab 2), yaitu tahun kehidupan Buddha seharusnya terjadi di 1259 tahun setelah perang Mahabharata, jika perang terjadi di 3138 SM maka Buddha lahir di tahun 1880 SM. Lebih lanjut lagi yaitu berdasarkan Kalkulasi astronomi oleh astronomer, Swami Sakhyananda, Ia nyatakan bahwa jaman Buddha berada di periode Kruttika, yaitu antara 2621-1661 SM. [3 Paragraph di atas dari: “Reestablishing the Date of Lord Buddha“, Stephen Knapp]

    B. N. Narahari Achar, memberikan bukti yang ia ambil di Sammyuta Nikaya, Sagatha Vagga, Devaputta, 9.Candima dan 10.Suriya, yaitu mengenai gerhana Bulan yang diikuti gerhana Matahari. Pada saat itu, Buddha ada di savatthi, 3 bulan menjelang wafat beliau. Berdasarkan petunjuk tersebut menghasilkan perhitungan bahwa Bulan Purnama, saat Wafatnya sang Buddha jatuh pada tanggal 27 Maret 1807 SM. Dalam artikel ini, di sebutkan juga bahwa Professor Sengupta mencoba menghitung hal yang sama, yaitu gerhana bulan dan matahari yang berurutan terjadi di tahun 560 SM. Sehingga dengan memakai perhitungan astronomi berdasarkan petunjuk adanya gerhana maka tahun 483 SM and 544 SM, tidak memenuhi petunjuk yang tercantum di Samyuta Nikaya [Reclaiming the chronology of Bharatam: Narahari Achar (July 2006)]

Masalahnya, tulisan tersebut di atas TIDAK SINGKRON dengan silsilah dinasti dan raja dan dinasti yang ada di literatur Buddhis, Jain maupun Hindu sendiri, yang jika menggunakan urutan kehidupan raja-raja yang ada di jaman Buddha hingga ke masa raja Asoka (268 s.d 232 SM), maka kehidupan Buddha dari 3 literatur agama itu, berada di kisaran abad ke 5/6 SM, BUKAN di ribuan tahun SM:

  1. Buddhis: “Genap 218 tahun setelah wafatnya Tathagata (= tahun ke-219), Seorang raja memerintah seluruh Jambudwipa (Tathaagatassa parinibbaanato dvinnam vassasataanam upari athaarasame vasse sakala-Jambudiipe ekarajjaabhisekam paapuni).” [Dipavamsa, VI, pp. 1, 19-20; Mahavamsa, V, p. 21; kitab komentar Vinaya Pali karya Buddhaghosa abad ke 5 M, Samantapasadika, I, pp. 41-42 (cf. Taisho, Tripitaka edisi china (ringkasan T) vol. 24, No. 1462, p. 679c)]. Menurut Mahavamsa, kronologi Dinasti dan Raja yang memerintah mulai dari wafatnya Sang Buddha sampai dengan pemerintahan raja Asoka (“The Cambridge History of India”, hal.189 “Mahavamsa: Great Chronicle of Ceylon”, Wilhelm Geiger, hal. xlvi) adalah:

    Ajatasattu (32 tahun, Sang Buddha wafat di tahun ke-8 pemerintahannya = 24 tahun) + Udayin-Bhadda (16 tahun) + Anuruddha dan Munda (8 tahun) + Nagadasaka (24 tahun) + Shisunaga (18 tahun) + Kalasoka (28 tahun) + keturunan Kalasoka (22 tahun) + Nanda dan Keturunannya (22 tahun) + Candragupta (24 tahun) + Bindusara (28 Tahun) + Asoka dinobatkan (tahun ke-5 setelah bindusara wafat).

    Jadi 24 + 16 + 8 + 24 + 18 + 28 + 22 + 22 + 24 + 28 + 5 = 219 tahun setelah parinibannanya sang Buddha = Asoka menjadi raja. Jadi Buddha ada di abad ke-5/6 SM

  2. Purana Hindu Bhavisya Purana: Dinasti Shishunaga – Nanda – Maurya, Asoka ada dalam dinasti Maurya:

    (1) Dinasti Shishunaga:
    Shishunaga (40 tahun) + Kakavarna (Geiger dan Jacobi menyatakan kakavarna (warna gagak) dan kalasoka (asoka hitam) orang yang sama tapi beda nama: 36/26 tahun) + Ksemadharman (20/36 tahun) Ksemajit/Ksatraujas (40/24 tahun) + Bimbisara (28 tahun) + Ajatashatru (25/27) + Darsaka (22/24 tahun) + Udayin (33 tahun) + Nandiwardana (40 tahun) + Mahanandin/Mahananda (43 tahun) = 328/321 tahun

    Mulai Ajatasatru (setelah dikurangi 8 tahun saat wafatnya Buddha) sampai akhir dinasti: 155/159 tahun. Versi BUDDHIS dan JAIN, TIDAK ADA raja bernama Darsaka, ada GAP 22 tahun

    (2) Dinasti Nanda:
    Mahapadma Nanda (Vayu Purana: 28 tahun/Matsya dan Bhavishya Purana: 88 Tahun) + ke-3 anaknya selama 12 tahun = 40/100 Tahun. Ada GAP 60 Tahun, Versi Vayu purana dekat sumber Buddhis/Jain.

    (3) Dinassi Maurya:
    Chandragupta (24 tahun) + Bindusara (25 tahun) = 49 Tahun = Mulai Pemerintahan ASOKA

    Jadi, 155/159 Tahun + 40/100 tahun + 49 tahun = 244 s.d 308 tahun dan jika dikoreksi dengan GAP di atas, maka Ajatasatru – Asoka = 222/224 tahun dan jumlah tahun ini, cukup dekat dengan hitungan dari sumber Buddhis dikisaran 219 tahun.

Dari sumber Purana Hindu sendiri, kehidupan Buddha ada dikisaran abad ke 5/6 SM, tapi karena Veda ke-4, yaitu AtharvaVeda, tidak dikenal sang Buddha, maka kemunculannya AtharvaVeda pastinya terjadi di setelah jaman Buddha, juga karena AtharvaVeda maupun Itihasa-Purana, sama-sama menyinggung keberadaan masing-masingnya, maka beberapa bagian Itihasa dan Purana tertentu hadir mendahului AtharvaVeda, yang menurut Klaus K. Klostermaier, “..inti itihasa-purana telah ada mungkin di 7 SM” [A Survey of Hinduism: First Edition, hal.74] dan kebanyakan purana dibuat setelah abad masehi, misalnya: Markandeya (250 M, kecuali “Devi Mahatmya” tahun 550 M), Matsya (250-500 M), Vayu (350 M), Harivamsa dan Visnu (450 M), Brahmanda (350-950 M), Vamana (450-900 M), Kurma (550-850 M), Skanda (700-1100 M), Siva (750-1350 M), Bhagavata (950 M), dll [“On Hinduism”, Wendy Doniger O’Flaherty, hal.xix-xx; “The Iconography and Ritual of Siva at Elephanta:..”, Charles Dillard Collins, hal.36]

Berdasarkan hal tersebut, dapat kita pastikan bahwa kronologi kitab Hinduism pada sebelum jaman Buddha hanya ada 3 Veda dan di setelah jaman Buddha, munculah AtharvaVeda. Begitu pula dengan Brahmana, Aranyaka dan Upanisad, beberapanya telah ada sebelum jaman Buddha, beberapa lainnya (yang juga terkait dengan ke-4 Veda) ada pada setelah jaman Buddha. Untuk Itihasa, beberapa bagian dari ke-2 Itihasa, ada di sebelum jaman Buddha, karena beberapa tokohnya disebutkan di literature Buddhisme (misal tokoh Ramayana sudah di Jataka no.461) dan kemudian ke-2nya dikembangkan lebih lanjut pada setelah jaman Buddha. Untuk Purana, bagian kecilnya telah ada di sebelum jaman Buddha, namun kebanyakannya, baru ada di setelah abad masehi.

Salah satu purana yang menyinggung tentang Buddha di antaranya adalah Bhagavata purana/Srimad Bhagavatam. Walaupun Wendy Doniger menyampaikan bahwa purana ini dibuat tahun 950 M namun ada argumen lain yang menyatakan bahwa purana ini dibuat lebih belakangan lagi, yaitu di abad ke-13 M oleh Bopa/Vopa-deva [pada jaman raja Ramachandra, Raja Yadava dari Devagiri, 1271 M – 1309 M di mana Hemadri adalah Perdana mentrinya]. Vopa adalah juga penulis Muktaphala dan Hari-lila dan di satu bukunya (Hari-lila, syair ke-1), Bopadeva menyinggung nama sang perdana mentri:

    srimad-bhagavata-skandhadhyayarthadi nirupyate
    vidusha bopadevena mantri-hemadri-tushtaye

Para ahli yang mendukung bahwa Bhagavata ditulis Vopadeva di antaranya adalah Colebrooke, Willliam Ward, Wilson, Burnouf dan Lassen.

Menariknya, Durgamohan Bhattacharyya dalam “Muktaphala of Vopadeva and with Kaivalyadipika of Hemadri”, di bagian Introduction hal.xv, menyatakan bahwa Bhavishya Purana menyebutkan nama Vopadeva (tentu saja ada terjemahan lain, bahwa nama yang disebut adalah Jayadeva), namun jika ini benar, maka bisa jadi benar bahwa salah satu komposer Bhagavata Purana adalah Vopadeva.

Al-Beruni (973-1048) yang menterjemahkan Patanjali Yogasutra dan Bhagavad Gita ke bahasa Arab pernah melawat ke India. Di setiap kesempatan ketika Beruni merujuk “Vasudeva Bhagavata”, adalah sebagai bagian dari daftar yang dibacakan kepadanya yang berasal dari Visnu Purana itu sendiri pada tahun 1030 M [“The Date and Provenance of the Bhāgavata Purāna”, Edwin F. Bryant, hal.53], ini disalahpahami bahwa seolah Beruni menyebutkan tentang Bhagavata Purana padahal Ramanuja (1017-1137) sendiri TIDAK menyebutkan keberadaan Bhagavata Purana [“Krsna: Lord or Avatara?: The Relationship Between Krsna and Visnu”, Freda Matchett, hal.19]. Juga, terdapat klaim bahwa VyasaDeva menyelesaikan canto ke 12 Srimad bhagavatam pada tahun 900 M, sehingga, variasi waktu kapan penulisan Srimad Bhagavatam berada di kisaran abad 9 – 13 M.

Mari kita check keakuratan purana ini, sample:

    tatah kalau sampravritte
    sammohaya sura-dvisham
    buddho namnanjana-sutah
    kikateshu bhavishyati

    tataù–sesudah itu; kalau—zaman Kali; sampravåtte—setelah terjadi; sammohäya—dengan maksud untuk mengelabui; sura—orang yang percaya kepada Tuhan; dviñäm—orang yang iri; buddhaù—Sang Buddha; nämnä—yang bernama; aïjana-sutaù—yang ibunya bernama Aïjanä; kékaöeñu—di Propinsi Gayä (Bihar); bhaviñyati—akan terjadi

    Kemudian, pada awal Kaliyuga, Tuhan akan muncul sebagai Sang Buddha, putra Anjana, di Propinsi Gaya, hanya dengan maksud mengelabui orang yang iri kepada orang yang setia dan percaya kepada Tuhan. [Srimad Bhagavatam/Bhagavata Purana, 1.3.24]

Benarkah demikian?

Pertama, Srimad Bhagavatam adalah purana, tidak mempunyai kebenaran sejarah dan kedudukannya di bawah Itihasa/kitab sejarah. Kemudian, secara tradisi arti avatara adalah Tuhan yang menjelma ke dunia untuk menegakan kebenaran, maka sungguhlah aneh jika Tuhan turun ke dunia namun justru menghalangi manusia menyembah TUHAN, bukan? Kata lahir terkait dengan masa kecil dan siapa yang melahirkan, maka, benarkah Ia lahir di Gaya?

Ibu Sidartha Gautama bernama Mahamaya [bukan Anjana/Anjina], putri raja Koliya, Mahasuppabuddha [Therigatha Atthakatha: 141] dari permaisuri Sulakkhana [Apadana, ii.538]. Setelah kematian ibunya [Mahamaya], Sidharta Gautama tidak dibesarkan neneknya [beberapa situs, menyebutkan nama neneknya adalah Anjana, ini tidaklah benar] namun dibesarkan oleh ibu tirinya [juga tidak bernama anjana/anjina namun Maha Prajapati Gotami].

Nama Anjana juga ada di literature Buddhis yaitu Jataka [kisah-kisah kehidupan masa lalu Buddha], no. 454/Gatha Jataka, sebagai adik perempuan Vasudeva/Kesawa dan bersaudara 10 orang. Salah satu adik Vasudeva adalah Gatha Pandita, yang adalah nama Sang Buddha dikehidupan sebelumnya. Sedangkan Vasudeva Krisna [kanha=hitam, Kesawa] adalah Sariputtra [murid utama sang Buddha] dikehidupan lampaunya.

Sidharta Gautama, keturunan Dinasti Sakya [Sakya = Surya, mampu. Artinya bukan ksatria], Ia tidak dilahirkan di Gaya tapi di Devadaha, Taman Lumbini [lokasi Kapilavatthu, entah ada di Tilaurakot, Nepal, ± 28 Km dari Lumbini atau di Piprahwa, Uttar Pradesh, India, ± 14,5 Km dari Lumbini. Kedua lokasi ini di kaki pegunungan Himalaya] dan di tempat itu, telah dibangun pilar oleh raja Asoka, Raja yang lahir sekitar 2 abad setelah Buddha Gotama. Sebagai raja sebuah dinasti besar, negaranya pasti punya catatan riwayat leluhurnya yang hidup di jaman Buddha, juga catatan dari kaum Brahmanism, Jainism dan Buddhisme. Lokasi Buddha mencapai penerangan sempurna adalah di Uruvela, 7 km di Selatan Gaya atau 105 km dari Patna/Bihar dan di tempat itu, juga telah dibangun pilar oleh Asoka.

Kikateshu yang diterjemahkan sebagai Gaya [Bihar] dalam kalimat Bodhi Kikateshu adalah berdasarkan komentar dari Sri Visvanatha Cakravarti Öhakura, seorang yang hidup di abad ke-18/19 M atau ribuan tahun setelah wafatnya baik Asoka maupun Buddha Gautama.

Kapan awal kali yuga?
Secara umum, jaman Kali yuga dihitung setelah meninggalnya Krishna pada 3102 SM atau dihitung saat Pemerintahan Yudistira atau dihitung saat Bima berhasil menumpas raja Duryodana.

Jadi, Srimad Bhagavatam/Bhagavata Purana, telah keliru menyatakan tentang kelahiran sang Buddha dan keliru menyatakan diri sebagai ramalan karena yang diramalkannya itu telah wafat ribuan tahun sebelum kemunculan purana ini.

Bhagavad Gita bukan Pancama Veda
Mereka yang mengklaim, bisa jadi tidak tahu bahwa Mahabharata atau Itihasa-Purana-lah yang disebut Veda ke-5, atau bisa jadi, mereka sudah tahu, namun karena Bhagavad Gita merupakan bagian Mahabharata, lantas menjadikan Bhagavad Gita-lah sebagai Veda ke-5. Tentu saja ini tidak tepat, bahkan dari keseluruhan sloka Mahabharata, porsi sloka Bhagavad Gita-pun sangatlah kecil dan bahkan, pengarang Gita pun bukanlah hanya 1 orang saja melainkan banyak, misal menurut G.S Khair: sekurangnya 3 orang [“The Quest for The Original Gita”, 1957, Introduction hal.xiii, Ch.6, hal 37-46], A.L Basham: sekurangnya 3 penulis Bhagavad Gita dalam 3 stratum, yaitu Ke-1: Bab 1, 2.1-37/38; Ke-2: Bab 2.38/39-72, 3, 5, 6, 8, 13, 14.7-25, 16, 17, dan 18.1-53; Ke-3: Bab 4, 7, 9, 10, 11, 14.1-6, 14.26, 15 dan 18.54-78 [“The Origins and Development of Classical Hinduism”, Arthur Liewellyn Basham, Ch 6, Hal.85-87] atau ditahun 1985, Basham menyampaikan bahwa para ahli melihat sekurangnya lusinan kontributor Gita [“But Not Philosophy: Seven Introductions to Non-Western Thought”, George Anastaplo, Anastaplo/Doren, hal.88] atau Rudolf Otto: tidak kurang dari 18 pengarang berkontribusi dalam Gita [“Class and Religion in Ancient India”, Jayantanuja Bandyopadhyaya, hal.93-96]

Untuk menentukan kapan periode penyusunan Gita, maka perlu juga kita ketahui kapan ide Avatar [Tuhan yang turun ke dunia] mulai ada. Krisna dinyatakan sebagai avatar terakhir Visnu, Gita adalah dialog antara Visnu dalam wujud Krishna dan Arjuna [yang juga diyakini sebagai penjelmaan Visnu]. Semua Narasi Budhisme menunjukan bahwa Deva utama saat itu adalah Brahma, Sementara di Mahabharata, para pemuja Brahma tidaklah dikenal luas. Pemujaan terhadap avatar Visnu belum ada hingga Buddha wafat. Beberapa komentar Veda yaitu Brahmana yang disusun tidak jauh dari kemunculan Buddhisme, menyampaikan kisah-kisah avatar yang popular di masyarakat namun tidak ada kaitannya dengan Avatar Vishnu [“The Bhagavad Gita”, C. Jinarajadasa, From the Proceedings of the Federation of European Sections of the Theosophical Society, Amsterdam 1904, Theosophical Publishing House, Adyar, Madras. India, November 1915]

Pada Brahmajala Sutta buddhisme disebutkan 62 cabang utama teori filsafat yang ada di masyarakat saat itu dan tidak 1 (satu) pun ada doktrin yang meyerupai karasteristik teori fisafat pemujaan terhadap Visnu. Pada literature Buddhisme, tidak ditemukan adanya pemujaan terhadap Krisna sebagai dewa di jaman itu [Burnouf, Introduction à I’histoire du Bouddhisme Indien: hal.121, 2nd Ed.], Teks Buddhism ada menyinggung keberadaan Visnu dan Siva namun bukan sebagai Deva yang menonjol [Rhys Davids, Buddhist India, Hal 236]. Visnu [Vennu/Venhu] dan Siva di sebutkan di Devaputtasamyutta [2:12 dan 2:21], teks tentang kumpulan para Deva yang baru lahir di alam dewa, mungkin inilah prototipe awal dewa India Visnu dan Siva sebelum menjadi dewa utama dalam Hinduisme bakti yang theistik. [“The Bhagavad Gita”, C. Jinarajadasa, 1915]. Keberadaan Vasudeva Kesava Buddhism disebutkan kisahnya dalam Gatha Jataka, Kanhapetavatthuvannana dan Ankurapetavatthuvannana. yaitu seorang raja Dvaraka bersama 9 saudaranya yang menaklukan seluruh India.

Shatapatha Brahmana, yang memuat kisah tentang Ikan, kura-kura dan babi hutan sebagai Avatara yang menyelamatkan Manu saat banjir besar hanya menyatakan bentuk ikan dan bukan tuhan dalam bentuk ikan [I. 8. I. I. This and the following reference to the Brãhmanas are cited by Macdonell in his article on Vedic Mythology, Journal of the R.A.S. 1895]. Di Mahabharata, ikan, Kura-kura dan Babi hutan bukanlah sebagai avatara Visnu namun avatara Brahma atau Prajapati [Vanaparva, Markandeya samasya 7.5.15], Babi hutan di Taittiriya Brahmana adalah Prajapati [Taittiriya Brahmana I.i. 3. 5, ff] dan meski Shatapatha Brahmana mengangkat legenda yang sama, tapi tidak menyebutnya sebagai manifestasi Tuhan [XIV.i 2. 11] sementara itu yang belakangan, Ramayana menjadikan babi hutan adalah Brahma [II. 110. Monier Williams, Indian Wisdom, hal.330]. Deva dengan bentuk rupa srigala wanita, yang memenangkan dunia untuk para Dewa dan mengelilingi dunia hanya dengan tiga langkah adalah Indra bukan Vishnu [Taittiriya Samhita 7.2.4], Purana-purana yang muncul belakangan menyebut kesemuanya ini sebagai reinkarnasi hanya dari Visnu, juga bahkan legenda-legenda tentang Avatara Visnu pun jumlahnya bervariasi dari 9 menjadi 28 [Barth, Religions of India, Hal. 171, dari: “The Bhagavad Gita”, C. Jinarajadasa, 1915]

Jadi hingga wafatnya sang Buddha, pemujaan terhadap Brahma lazim dilakukan masyarakat, pemujaan terhadap Visnu belum mulai dan tentu saja pemujaan terhadap Krisna belumlah ada. Berdasarkan catatan duta besar Yunani, Megasthenes, yang tinggal di India di tahun 311 SM – 302 SM Pada masa itu pemujaan terhadap Krisna sudah popular dan beriringan dengan pemujaan terhadap Siva [Barth, Religions of India, Hal. 163 and168]; Di jaman ahli tatabahasa yaitu Patanjali (abad 2 SM), pemujaan terhadap Krishna sangatlah populer [Macdonell, op cit, Hal. 414, dari: “The Bhagavad Gita”, C. Jinarajadasa, 1915]

Buddhisme Brahma bukanlah Maha Pencipta.
Terdapat klaim bahwa Brahma tidaklah identik dengan brahman, oleh karenanya Brahma di Hindu tidaklah sama dengan Brahma di Buddhisme, juga Visnu/Krisna adalah Brahman dan bukan Brahma.

Benarkah Brahma tidak sama dengan Brahman?
SM Srinivasa Chan meyatakan bahwa: “Akar kata kerja brh yang artinya ‘tumbuh’ (brhati) dan menyebabkan tumbuh (brhmayati)” [Ajaran Pokok Upanisad] atau “yasmãcca brhati brmhayati ca sarvam tasmãducyate parambrahmeti” artinya “Karena dia tumbuh dan menyebabkan semua tumbuh, Ia disebut Brahma tertinggi” [Shandhilya Upanisad 3.2]. Taittiriya Upanisad memberikan pengertian tentang Brahman, yaitu ketika Bhrgu mendatangi ayahnya, Varuna dan berkata: “Bhagava ajari aku Brahma” (“adhīhi bhagavo brahmeti). (Varuna:) “..Itu darimana makhluk-makhluk ini dilahirkan, olehnya ketika lahir, karenanya ketika hidup, menjadinya ketika mati…Itu adalah Brahma (tad brahmeti)..” [TU 3.1-6]. Kata sanskritnya adalah “Brahma” bukan “Brahman”, berikut beberapa sample lainnya:

  • Taittiriya Upanishad 2.1, “Brahmavidāpnoti param..”. Arti: Memahami Brahma mencapai keutamaan
  • Aitareya Upanishad 3.3, “eṣa brahmā…prajnānam brahma“. Arti: Ia adalah brahma…Kesadaran adalah Brahma
  • Brihadaranyaka Upanishad 4.4.5, “ayamātmā brahma“. Arti: Atma adalah Brahma/Atman adalah Brahman. Sample lain di Brihadaranyaka Upanishad 1.4.10, “aham brahmāsmīti”. Arti: Aku adalah Brahma
  • Chhāndogya Upanishad 3.14.1, “sarvam khalvidam brahma, tajjalāniti śānta upāsīta“. Arti: Semuanya adalah Brahman, darinya semesta lahir
  • Mandukya Upanisad 2, “sarvam hyetad brahmāyamātmā brahma soyamātmā chatushpāt” (sarvam – Semua/setiap; hi – sesungguhnya; etad – ini/disini; brahma – Brahma; ayam – ini/disini; ātmā- atma; sah- Ia + ayam; chatus- empat; pāt- langkah/kaki/arah), Arti: Sesungguhnya semua adalah Brahman; Atman adalah Brahma; Ia ini Atma 4 arah

Kata Sanskrit yang digunakan adalah Brahma, karena Atma = Atman, maka Brahma = Brahman dan ini tidak menunjukan arti dan maksud yang berbeda, sehingga seharusnya, Brahma dalam teks-teks Buddhisme = Brahma(n) dalam teks-teks Upanisad. Perbedaannya adalah bahwa Brahma dalam teks buddhisme secara kedudukan berada jauh lebih tinggi dari Vishnu dan Siva yang baru saja menjabat sebagai deva muda di alam 33 deva di bawah kekuasaan Indra/Sakka.

Bhagavad Gita dan Kata Majemuk Sanskrit
Setelah “kematian” bahasa Vaedika, di dataran India [termasuk Afganistan, Pakistan dan selatan Rusia] masyarakat menggunakan satu di antara 7 jenis bahasa prakrta, yaitu Magadhii Prakrta; shaorasenii Prakrta, paeshacii Prakrta, Pashcatya Parakrta; pahlavii Prakta; Maharastrii. Bahasa ibu yang digunakan Krishna adalah Shaorasenii Prakrta. Pada perkembangannya bahasa prakrta kemudian dibentuk kembali dan direformasi. Bentuk reformasinya menjadi bahasa Samskerta [artinya adalah: direformasikan, dibentuk kembali]. Tulisan yang digunakan di India saat itu adalah Brahmii dan Khrosthii. Jadi mereka menulis bahasa Vaedika dengan menggunakan tulisan Brahmii dan Kharosthii, karena tulisan dan Bahasa Vaedika tidak mempunyai huruf-huruf sendiri karena merupakan bahasa lisan. Jaman itu seorang murid mendengarkan dari guru berbicara, menghafalkan yang dikatakan gurunya, mengingat-ingat apa yang diucapkannya. Oleh sebab itu Veda disebut Shruti, artinya telinga, yang berarti mendengarkan.

System pendidikan di India tidak lah berubah dari sebelumnya. Mereka yang mencari ilmu selalu tinggal bersama gurunya [catuspathiis/pasraman]. Kehidupan mereka ditanggung oleh pemerintah yang berkuasa/kepala daerah dan/atau masyarakat umum. Hampir setiap pendeta/brahmana mumpuni mempunyai pasraman sendiri. Saat itu tidak ada standarisasai kurikulum, jadi masing-masing dari mereka menciptakan kurikulumnya sendiri sesuai keinginannya dan pelajaran yang diberikan sehingga pengajaran satu Brahmana berbeda dengan Brahmana lainnya. Murid-murid yang belajar pada pendeta yang berbeda pengetahuannya-pun berbeda-beda pula. Ini menghasilkan keragaman interpretasi dan juga berbegai pertentangan pendapat di antara satu pasraman dengan pasraman lainnya. Inilah yang memberikan sumbangan utama bagi keragaman interpretasi kupasan-kupasan Veda dari jaman ke jaman.

Suku tatabahasa Sanskrit yang kuat disusun oleh Panini, seorang yang berasal dari Pakhtoon dari wilayah Peshawar [ada yang mengatakan wilayah Gandhara, Pakistan sekarang]. Tulisan Brahmmi dan Kharosthuu juga berubah menjadi huruf-huruf Sarada yang ada di Khasmir sekarang. Setelah itu muncul huruf-huruf Guru Mukhii, Nagrii dan Naungala. Tulisan yang ada sekarang ini tercipta kira-kira 10 -12 abad yang lalu. [Kuliah tentang Mahabharata, Shrii Shrii Anandamurti, penerbit Ananda marga, PT Adi Murti,Denpasar, Hal 10-15, 23].

Umumnya yang dikenal sebagai penyusun awal tatabahasa Sanskrit adalah Panini melalui karyanya Aṣṭādhyāyī [arti: Delapan Bab, tapi juga diduga ini disusun sekurangnya oleh 2 orang] dan dikatakan bahwa Ia hidup di kisaran abad ke 5/6 SM, namun tampaknya ini kurang tepat karena beberapa kata yang ada dalam karyanya menunjukan Ia mengenal baik Athava-Veda (misal Prof Thieme merujuk kata “ailayit” di A.3.1.51 dengan AV 6.16.3: “tauvilike avelayAvA ayam ailaba ailayit“, bahwa kata ini tidak ada di 3 Veda lainnya), karena sang Buddha hidup di kisaran abad ke-5 dan tidak mengenal Atharva-Veda, maka Panini harusnya baru ada di setelah jaman Buddha dan juga di setelah kemunculan Atharva-Veda, kemudian, Kamal K. Misra, menyatakan bahwa Pāṇini menyebutkan ahli tatabahasa Sanskrit lain yaitu Yaska, yang hidup di abad ke-4 SM, juga, kitab Brihatkatha dan Mañjuśrī-mūla-kalpa menyebutkan bahwa Pāṇini ada di jaman raja Nanda (abad ke 4 SM) dan Panini di A.5.2.120, menyebutkan tentang koin (“rupya“), yang tampaknya ada dikisaran abad ke-4 SM, sehingga Jan E.M Houben menempatkan kehidupan Panini dikisaran tahun 350 SM.

Setelah jaman Panini, ada ahli tatabahasa Sanskrit lainnya yang sangat terkenal yaitu Patanjali/abad ke-2 SM [Radhakrishnan, and C.A. Moore, (1957). A Source Book in Indian Philosophy. Princeton, New Jersey: Princeton University, ch. XIII, Yoga, p.453]. Patanjali menyatakan Dvandva sebagai paduan kata paling superior di Sanksrit dan menariknya, pernyataannya ini muncul dalam Bhagavad Gita:

..dari paduan kata-kata, Aku adalah kata majemuk [Dvandva]..” [Bhagavad Gita, 10.33].

Dari 6 kelas paduan kata di tatabahasa Sanskrit kelas “Dvandva” memiliki nilai gramatika tertingi, superioritas Dvanda dibadingkan paduan lainnya pertama kali dinyatakan oleh Patanjali [Pat. I. p 392, cited in Speijer, Sanskrit Syntax, page 151, note]. Patanjali, di samping ahli Sanskrit juga ahli Yoga, sementara Bhagavad Gita adalah paduan dari Upanisad/Vedanta, Samkhya, dan Yoga. Maka, karena Panini tidak menyatakan adanya superiotas kelas kata majemuk di Sanskrit, besar kemungkinan, Patanjali-lah sebagai salah satu dari penyusun Bhagavad Gita

Sekarang, tanpa ragu lagi, kita dapat menyatakan bahwa Bhagavad Gita baru ada setelah jaman Buddhisme dan untuk tahun kemunculannya walaupun terdapat banyak variasi pendapat, misal R.C Zaehner menyatakan di kisaran abad ke-5 SM – ke-2 SM [“The Study of Hinduism”, Arvind Sharma, hal.179] atau Garbe menyatakan di kisaran 200 SM – 200 M [“Textual studies in Hinduism”, Arvind Sarma, Hal.95], tapi secara umum dikatakan Gita ada mulai dari abad ke-2 SM (misal: K.T. Telang, Arvind Sharma, W.D.P Hill, Jeaneane Fowler, J.A.B. van Buitenen). Menariknya, Swami Vivekananda pun bahkan sampai menyatakan seperti ini, “Poin lainnya adalah, buku, Gita, belum banyak diketahui orang sebelum Shankarâchârya mebuatnya jadi terkenal lewat tulisan komentar luar biasanya tentang itu…bahkan tidak satu pun salinan Bhasya-nya Bodhayana dapat saya temukan selama bepergian ke seluruh India..tidak ada gunanya mencoba membangun keberadaan Bhashya Bodhayana pada Gita. Beberapa menyimpulkan bahwa Shankaracharya-lah penulis Gita, dan yang memasukannya ke Mahabharata” [Volume 4, Lectures and Discourses, 1897. Note: Shankarâchârya hidup di abad ke-8/9 Masehi].

Bhagavad Gita dan Samkhya
Salah satu filsafat tertua di India adalah Samkhya, yang umumnya dikatakan bahwa filsafat ini disusun oleh Rsi Kapila, arti Kapila adalah “orang pandai pertama”. Pengaruh Upanisad pada Gita adalah Samkhya. [Kuliah tentang Mahabharata, Shrii Shrii Anandamurti, penerbit Ananda marga, PT Adi Murti,Denpasar, Hal 10-15, 23]. Prabhupada, Pendiri aliran Hare Kresna[↓], mengidentifikasi ada 2 Kapila berbeda yang menyusun Samkhya, yang seorang adalah penyusun filsafat Ketuhanan dan lainnya penyusun filsafat Ateisme. Samkhya pada Bhagavad Gita adalah filsafat Ketuhanan.

Prof. Surendranath Das Gupta menyampaikan bahwa Shankara dalam komentarnya di Brahma Sutra menyatakan setidaknya ada 3 Kapila, yaitu Kapila pertama yang ada di Mahabharata, yaitu Kapila yang mengubah anak-anak Sagara menjadi debu dan juga reinkarnasi dari Visnu [Mahabharata: 3, 47,18; 3, 107, 31; BG: 10.26], Kapila kedua adalah reinkarnasi dari api [Mahabharata, 3, 220, 21] yang Nilakantha Chatudhara (abad ke-17, pembuat komentar Mahabharata) duga sebagai pengarang Samkhya Ateisme, dan Kapila ketiga di Upanisad [Upanisad Svetasvatara Upanisad 5.2] penyampai personifikasi Rûdra melalui pemujaan dan Cinta yang hikmat padaNya sebagai “Pribadi Tuhan”. Das Gupta menyatakan banyak penulis telah menggubah filsafat Samkhya dari waktu ke waktu [“A History of Indian Philosophy”, Surendranaht DasGupta, Vol IV, hal.36, 38]:

  • Samkhya karika dari Ishvara Krishna, Das Gupta duga ada di kisaran tahun 200 M
  • Samkhya pravacana sutra, yang memuat nama Kapila ada di setelah abad ke 9 dan kitab komentar pertamanya ada di abad ke 15 M, sedangkan Radhakrishnan menyatakan ajaran itu ada di abad ke 14;
  • Di referensi lebih awal tentang samkhya, yaitu dari Caraka (78 M), tidak menyebutkan tentang Tan-matra (unsur dasar/halus) [Vol.1 hal 214].
  • Di buku 12. Mahabharata, menyinggung tentang pandangan Samkhya, tattva (aspek realitas, beberapa tadisi mengkaitkannya dengan ketuhanan), yaitu yang ke 24 s.d 26. Ia memberikan dugaan bahwa itulah Caraka samkhya, dari teks klasik Samkhya dan samkhya dari tradisi yoga.

Mengapa penting untuk melihat unsur Samkhya di Bhagavad Gita?
Samkhya Yoga di Bhagavad Gita Bab 2.54-64, menyebutkan hasil dari Samkhya, adalah kecerdasan mantap/seimbang, menjadi seorang muni yang teguh iman, berhasil menghayati yang tertinggi, yang memiliki ciri:

  1. telah dapat menyingkirkan segala keinginannya,
  2. pikirannya tak terusik di tengah-tengah kesenangan; yang nafsu, rasa takut dan kemarahannya telah lenyap,tanpa rasa keterikatan lagi,
  3. yang tiada bersenang hati maupun bersedih dalam perolehan yang baik maupun yang buruk,
  4. menarik semua indra dari obyek-obyeknya, seperti kura-kura yang menarik anggota badannya masuk ke dalam cangkangnya

Tentunya kita juga harus mengetahui bagaimana prilaku dan karakter Krisna, sang pembawa ujaran Samkhya ini dengan kisahnya yang ada di Mahabharata:

Di 13/14 tahun sebelum perang kuruksetra [sebelum peluncuran ajaran Gita] yaitu saat upacara Rajasurya di Indraprasta, Sisupala, sepupu Sri Kresna, menghina Sri Kresna di depan umum. Penghinaan itu diterima Sri Kresna bertubi-tubi hingga melewati penghinaan ke-100 maka kemarahan Sri Kresna memuncak, mengeluarkan Cakra Sudarsana dan memenggal kepala Sisupala di depan umum.

Di 13/14 tahun kemudian, pada perang di Kurukhsetra, yaitu setelah ujaran Bhagavad Gita kepada Arjuna di hari pertama, maka di hari ke-3, Arjuna dan saisnya Kresna bertempur melawan Bhishma. Arjuna masih merasa segan untuk melawan kakeknya. Kresna menjadi sangat marah, Ia mengambil senjata cakra-nya dan berlari menuju Bisma sambil berkata “Aku sudah tak bisa bersabar lagi, Aku akan membunuh Bisma dengan tanganKu sendiri”. Arjuna kemudian mengejar dan mencegah Kresna melakukannya sambil memegang kaki Kresna. Pada langkah yang ke-10, Kresna berhenti. Arjuna berkata, “O junjunganku, padamkanlah kemarahan paduka. Paduka adalah tempat kami berlindung. Baiklah, hari ini aku bersumpah, tidak akan menarik diri dari sumpah yang aku ucapkan. O Kesawa, O adik Dewa Indra, atas perintah paduka, baiklah, aku akan musnahkan bangsa Kuru!”. Mendengar sumpah tersebut, Kemarahan Kresna mereda namun Ia masih tetap memegang senjata cakranya dan kemudian, peperangan di hari itu berlanjut.

Pada hari ke-9, Arjuna dan Bisma saling bertempur, Bisma masih tidak terkalahkan sementara Arjuna bertarung setengah hati. Melihat itu, sekali lagi Kresna menjadi marah. Ia ingin mengakhiri riwayat Bisma dengan tangannya sendiri. Dengan mata merah menyala, Ia meloncat turun dari kereta bergerak menghampiri Bisma dengan senjata Cakra di tangan, Kresna membidik Bisma. Melihat ini, Arjuna menyusul Kresna, menarik kaki Kresna untuk menghentikan langkahnya, dengan suara tersendat, Arjuna berkata, “O Kesawa, janganlah paduka memalsukan kata-kata yang telah paduka ucapkan. Paduka telah mengucapkan janji tidak akan ikut berperang. O Madhawa, apabila paduka melanjutkan niat paduka, orang akan mengatakan bahwa paduka pembohong. Semua penderitaan akibat perang ini, hambalah yang harus menanggungnya! Hambalah yang akan membunuh kakek yang terhormat itu!…” Mendengar perkataan Arjuna, Kresna tidak menjawab, dengan menahan kemarahan, Ia kembali ke kereta dan peperangan berlanjut di hari itu.

Di saat perang Kurukhsetra, Krishna berumur 89 tahun, saat menjelang wafatnya di usia 125 tahun, terjadi peristiwa musnahnya wangsa Wresni akibat saling membunuh satu sama lainnya. Krisna dengan senjata cakra ditangan, juga ikut dalam peristiwa itu.

Ketidaksesuaian antara karakter Krisna sebagai seorang Yogi dan ujarannya di Bhagavad Gita hanya menunjukan bahwa bahkan Krisna-pun tidak berhasil menjalankan ajaran Samkya Yoga. Untuk itu sekurangnya ada dua kemungkinan, pertama, ada dua Krisna berbeda [Adolf Holtzman, Arjuna, a contribution to the reconstruction of the Mahãbhãrata, p 61, cited by Muir, op.cit page xxiii. See also Lassen, Indische Altherthumskunde, vol I, page 488] atau Krisna di Mahabharata, bukanlah penyampai Bhagavad Gita kepada Arjuna pada H-1 perang Kuruksetra. Artinya, Bhagavad Gita adalah benar sebagai suntikan belakangan yang dimasukan ke Itihasanya Vyasa. Holtzmann bahkan menyatakan bahwa di susunan Itihasa sebelumnya [artinya sudah mengalami beberapa pengembangan], ujaran ini merupakan diskusi filsafat yang terjadi sebelum perang, mengenai jiwa yang abadi, yaitu antara Drona dan Duryodhana, bukan antara Krishna dan Arjuna [Muir, op.cit, p xxii]

Literatur Buddhis di Gatha Jataka Vol 454, mencatat satu kejadian penting yang tekait penyampaian pengetahuan dari Vasudeva/Kesava:

    Setelah waktu yang lama berlalu, di saat Ia [Vasudewa/Kesava, sulung dan 9 saudara lelakinya] memerintah kerajaannya, putra dari sepuluh saudara tersebut berpikir: “Katanya, Kaṇha-dīpāyana [Kresna Dwipayana/Vyasa] memiliki mata dewa. Mari kita mengujinya.”

    Maka mereka mencari seorang pemuda dan memakaikan pakaian wanita kepadanya dengan mengikat sebuah bantal di perutnya, membuatnya kelihatan seolah-olah seperti ia sedang hamil. Kemudian mereka membawanya ke hadapan Kaṇha dan bertanya kepadanya, “Tuan, kapankah waktunya wanita ini melahirkan?”

    Petapa Itu mengetahui bahwa waktunya telah tiba bagi kehancuran Sepuluh Saudara tersebut; kemudian dengan melihat batas waktu bagi kehidupannya sendiri, ia mengetahui bahwa ia akan meninggal hari itu juga.

    Kemudian ia berkata, “Anak muda, apa hubungan pemuda ini dengan kalian?” “Jawab kami terlebih dahulu,” desak mereka.

    Ia menjawab, “Pemuda ini di hari ketujuh dari sekarang akan mengeluarkan sejenis kayu akasia. Dengan itu, ia akan menghancurkan garis keturunan dari Vāsudeva walaupun kalian mengambil batang kayu itu dan membakarnya serta membuang abunya ke dalam sungai.”

    “Ah, petapa gadungan!” kata mereka, “Seorang laki-laki tidak akan pernah dapat melahirkan anak!” dan mereka melakukan pekerjaan dengan tali dan benang tersebut, mereka membunuhnya dengan segera.

    Raja memanggil keempat pemuda tersebut dan menanyakan mengapa mereka membunuh petapa itu. Ketika mereka mendengar semuanya, mereka menjadi ketakutan. Mereka melakukan penjagaan terhadap pemuda tersebut. Dan di hari ketujuh ketika ia mengeluarkan sejenis kayu akasia dari dalam perutnya, mereka membakarnya dan membuang abunya ke dalam sungai. Abu itu terapung-apung di air sungai dan tersangkut di satu sisi dekat pintu gerbang rahasia; dari sana muncullah tanaman eraka.

    Suatu hari para raja tersebut mengusulkan agar mereka pergi bersenang-senang dan bermain-main dengan air. Maka mereka datang ke pintu gerbang rahasia tersebut, sebelumnya mereka telah menyuruh orang untuk membangun sebuah paviliun yang megah. Di dalam paviliun ini mereka makan dan minum. Kemudian dengan bercanda mereka mulai main tangan dan kaki, dan terbagi menjadi dua kelompok, yang akhirnya menjadi perkelahian.

    Salah satu dari mereka, yang tidak dapat menemukan benda yang lebih baik lagi untuk dijadikan pemukul, mengambil sehelai daun dari tanaman eraka itu, yang sewaktu dicabut langsung berubah menjadi batang kayu akasia di tangannya. Ia kemudian menggunakannya untuk memukul banyak orang. Yang lainnya pun mengikuti tindakan yang satu ini, dan benda itu sewaktu mereka mencabutnya tetap langsung berubah menjadi batang kayu akasia. Dengan kayu itu, mereka saling memukul sampai akhirnya mereka terbunuh.

    Di saat mereka ini sedang menghancurkan satu sama lain, hanya empat yang melarikan diri dengan naik ke dalam kereta kuda—Vāsudeva, Baladeva [adik keduanya], adik perempuan mereka Putri Añjanā, dan pendeta kerajaan [Gatha pandita, adik ke 8], yang lain semuanya hancur.

    Keempat orang tersebut melarikan diri dengan kereta itu ke hutan Kāḷamattikā. Di sana pegulat Muṭṭhika telah mengalami tumimbal lahir menjadi yakkha, seperti yang dimintanya. Ketika mengetahui kedatangan Baladeva, ia menciptakan sebuah desa di tempat itu. Kemudian dengan mengubah wujudnya menjadi seorang pegulat, ia berkeliaran di sekitar sana dan melompat- lompat sambil meneriakan, “Siapa yang mau bertarung denganku?” dan membunyikan jari jemarinya.

    Sewaktu Baladeva melihatnya, ia berkata, “Saudaraku, saya akan mencoba satu pertarungan dengan orang ini.”

    Vāsudeva berusaha dengan segala daya upaya untuk mencegahnya melakukan hal itu, tetapi ia tidak mendengarkannya, turun dari kereta dan mendekati pegulat itu sembari membunyikan jari jemarinya juga. Pegulat itu langsung memiting kepalanya dan kemudian melahapnya seperti memakan lobak. Vāsudeva yang mengetahui bahwa ia telah mati, langsung pergi dengan adik dan pendeta tersebut, sampai matahari terbit mereka tiba di sebuah desa perbatasan. Ia kemudian berbaring di semak-semak pepohonan, sementara ia menyuruh adik dan pendeta masuk ke dalam desa, mencari dan membawa makanan kepadanya.

    Seorang pemburu (namanya adalah Jarā, atau Usia Tua) melihat semak-semak itu bergoyang.

    “Kemungkinan besar itu adalah babi,” pikirnya.

    Ia melempar tombaknya dan itu menusuk kaki Vāsudeva. “Siapa yang telah melukaiku?” teriak Vāsudeva.

    Pemburu tersebut yang baru mengetahui bahwa ia telah melukai seseorang, langsung berusaha untuk lari karena ketakutan. Raja yang mengetahui siapa pelakunya, bangkit dan memanggil pemburu tersebut, “Paman, kemarilah, jangan takut!”

    Ketika ia kembali. “Anda siapa?” tanya Vāsudeva.

    “Namaku adalah Jāra, Tuan.” Raja berpikir, “Ah, Luka yang disebabkan oleh Usia Tua akan mengakibatkan kematian, demikian yang dikatakan pepatah kuno. Tidak diragukan lagi saya akan meninggal hari ini.”

    Kemudian ia berkata, “Jangan takut, Paman. Mari tutup lukaku ini.”

    Luka tersebut kemudian diikat dan ditutup olehnya dan raja membolehkan ia pergi. Rasa sakit yang amat sangat mulai menyerang dirinya. Ia tidak bisa memakan makanan yang dibawakan oleh kedua orang tersebut. Kemudian Vāsudeva berkata kepada mereka: “Hari ini saya akan meninggal. Kalian adalah makhluk yang lembut dan tidak akan pernah dapat mempelajari apapun untuk bertahan hidup; jadi belajar dariku tentang ilmu pengetahuan alam ini.”

    Setelah berkata demikian, ia mengajarkan ilmu pengetahuan alamnya kepada mereka dan menyuruh mereka pergi. Kemudian ia pun menemui ajalnya. Demikianlah satu per satu dari mereka meninggal, kecuali Putri Añjanā.

Pada pendapat kedua di atas, bisa jadi ada satu titik terang bahwa ajaran Vasudeva [Kesava] diturunkan saat menjelang wafatnya beliau, bahwa kesadaran Yoginya mungkin saja muncul di menjelang wafatnya [itupun dengan catatan bahwa pengetahuan alam yang diajarkannya adalah berupa Upanisad dan Samkhya] namun demikian petunjuk tersebut tidak juga memberi bukti tentang adanya: pemujaan Krisna, Ide Avatar Visnu dan pemujaan terhadap Visnu di jaman sebelum Buddha hingga Buddha Wafat.

Alasan lain bahwa Krisna tidak mengajarkan Bhagavad Gita kepada Arjuna di H-1 perang Kurukhsetra adalah terkait waktu penyampaian dan jumlah sloka. Bhagavad Gita yang kita kenal saat ini terdiri dari 700 sloka, namun Mahabharata 6.43 menyampaikan terdapat 745 sloka di BhagavadGita:

    षट्शतानि (Ṣaṭśatāni/600) सविंशानि (savinśāni/tambah 20) श्लोकानां प्राह केशवः। (Ślōkānāṁ prāha kēśavaḥ/sloka dari Kesava)
    अर्जुनः (arjuna:) सप्तपञ्चाशत् (saptapanchaashat/57) सप्तषष्टिं (saptashashtin/67) तु संजयः (tu sanjayah/oleh Sanjaya)
    धृतराष्ट्रः (Dhr̥tarāṣṭraḥ) श्लोकमेकं (ślōkamēkaṁ/1 sloka) गीताया मानमुच्यते (gītāyā mānamucyatē/ukuran tentang gita)
    ” [Mahabharata 6.43, Bhisma Parva, Ini 620+57+67+1 = 745]

Perbedaan jumlah sloka BG di atas (700 vs 745) adalah juga bukti internal bahwa Mahabharata dibuat di waktu berbeda-beda dan/atau Bhagavad Gita adalah tambahan belakangan yang tidak terkait dengan kisah di Itihasa. Yang manapun jumlahnya itu, andai 1 sloka disampaikan 10 s.d 20 detik, maka dengan mengabaikan waktu tempuh pulang-pergi ke tengah lapangan Kurukhsetra juga waktu yang diperlukan oleh Arjuna (dan lainnya) untuk mencerna makna, maka sekurangnya diperlukan waktu penyampaian antara 7000 – 14900 detik atau 2 – 4 jam penyampaian. Waktu sepanjang ini, adalah waktu yang terlalu lama bagi para pihak yang sedang berhadapan, terutama bagi pihak Kurawa yang sudah sangat gatal hendak menghabisi Pandawa. Para pihak di lapangan tidak mendengar percakapan itu namun tidak di HastinaPura, karena Sanjaya, telah menerima “berkah” Vyasa untuk dapat melihat, mendengar dan merasakan apa yang terjadi di situ, menyampaikan seluruh kejadian dan percakapan itu kepada Drestarasta, Gandari dan Kunti. Namun, tidak ada catatan bahwa Sanjaya, Kunti, Drestarasta dan Gandari menyampaikan ujaran itu pada orang lainnya, karena setelah berakhirnya perang, mereka ini pergi ke hutan dan wafat di sana.

Juga tentang tidak konsistennya kaitan antara caturvarna (4 warna: Brahmana, ksatria, vaisya dan sudra) dan triguna (3 kualitas: satvam, rajas, tamas). Di satu sisi, BG 4.13 menyatakan bahwa 4 warna diciptakan Krishna yaitu, terbaginya/vibhāgaśha kewajiban/karma dari/tasya kualitas/guna (guṇa karma vibhāgaśaḥ tasya) namun di sisi lain BG 18.41 menyatakan bahwa kewajiban/karmāṇi terbagi/pravibhaktāni dari bawaan/svabhāva kualitas/guṇaiḥ kelahiran/prabhavaih (karmāṇi pravibhaktāni svabhāva prabhavaiḥ guṇaiḥ) sementara BG 9.32 jelas menyebutkan bahwa perempuan, vaisya dan sudra terlahir dari kandungan pendosa (pāpa-yona-yaḥ). Ketidakjelasan kaitan antara warna dan kualitas di sini bukan saja telah menjadikan “tuhan” sebagai kambing hitam pencipta perempuan, sudra dan vaisya sebagai bawaan kualitas yang terlahir dari kandungan penjahat, namun lebih utamanya, kita telah jelas melihat bahwa Bhagavad Gita bukanlah sabda Tuhan, tapi sabda golongan yang mendapat keuntungan dengan membawa-bawa kata tuhan, yaitu kaum brahmana. Sementara itu, dalam kenyataannya juga ada kaum di luar 4 warna atau kaum paria (dalit, candala, mleecah) yang bahkan keberadaannya tidak disebutkan di Bhagavad Gita (kata “śhva-pāke” di BG 5.18 artinya bukan paria tapi pemakan daging anjing) dan ini menjadikan kaum paria menjadi tidak ber-varna, lantas apa kewajiban mereka? Apa kualitas mereka? Dan apa kelahiran mereka?

Kita mungkin tidak pernah tahu siapa pengarang Gita yang sebenarnya, siapapun mereka, haruslah seorang yang multi talenta dengan kualitas dan kombinasi kapabilitas super: Penyair, Filsuf, Ahli bahasa, Mistiskus, dan Ahli keilmuan lainnya. Dari beberapa yang pantas (menyusun Gita dan Mahabharata), Patanjali dan Shankarâchârya termasuk di antaranya.

HINDU-BALI
Di tahun 1930an, Bhagavad Gītā ditranslasikan ke bahasa Malaysia oleh Penyair Muslim, Amir Hamzah di majalah Poedjangga Baroe (Juli 1933 dan Februari 1935). Ida Bagus Mantra membuat translasi baru dengan komentar dan teks sanskrit, di tahun 1967 [“From Agama Hindu Bali to Agama Hindu: Two styles of argumentation”, Michel Picard, hal.13,16], jadi, sebelum tahun 1967, Bhagavad Gita bukanlah bacaan umum dan hanya segelintir Hindu saja yang tahu tentang itu. Berikut ringkasan perjalanan Hindu Dharma Indonesia, sejak kemerdekaan RI:

  • Tahun 1946, Kementrian Agama RI berdiri dengan 3 departemen (Islam, Kristen dan Protestan). Agama Bali tidak diakui karena definisi “agama” kementrian agama merujuk Islam, bahwa Hindu bali tidak termasuk kaum ahli kitab. Proses pengakuan administratif Agama Hindu mulai tahun 1950 dan baru selesai antara tahun 1964 dan 1967..”para reformis Bali berusaha menahan kecenderungan ritualistik rekan-seagamanya, sambil menafsirkan warisan Hindu-Jawa mereka agar mengacu pada doktrin dan institusi Islam (dan Kristen). Mereka memerintahkan orang Bali agar kembali ke pelukan agama Hindu, sebagai sumber ritual mereka, dengan memperbarui hubungan mereka dengan India, yang baru saja merdeka dan sedang meningkat prestis internasionalnya”. [“Hindu Class and Hindu Education System in Bali: Emergence, Organization, and Conception in the Context of Indonesian Educational and Religious policies“, Dissertation, Alexandra Landmann, MA phil., 2009, Part C, Hal.149]
  • Tahun 1948, Prof Dr Narendra Dev Pandit Shastri, misionaris Hindu untuk Arya Samaj menetap di bali, Ia orang pertama yang: (1) memperkenalkan agama Hindu dalam struktur sistematis dan standard dan (2) mengajari anak-anak sekolah berdoa mantra TRI SANDHYA [hal.146].

    Tri Sandhya tidak sama arti dengan Gayatri. Tri Sandhya = 3 waktu transisi (pagi, sore dan tengah hari); Gayatri = lagu/nyanyian tiga, yaitu 3 baris (per baris ada 8 suku kata, total 24 suku kata, yaitu tentang Savitr). Dulu hanya para Brahmana yang melantunkan mantra Gayatri di 2 waktu atau 3 waktu dengan hanya 1 sloka (3 baris, atau 24 suku kata). Sekarang mantra Tri Sandhya ada 6 Sloka, termasuk mantra Gayatri (sloka ke-1 + 5 sloka lainnya). Komposisi 6 mantra ini buatan abad ke-20, di Bali (Asal-usul sloka, saya ambil dari tulisan Sugi Lanus, “Puja Tri Sandhya: Indian Mantras Recomposed and Standardised in Bali“):

    Ke-1 (Gayatri Mantra, aslinya tanpa Om, tanpa Bhur bhuvah svah, Taitiriya Aranyaka 2.11, menyatakan melantunkannya dengan didahului itu, namun di jaman Buddha, misal SnP 3.4, hanya menyebutkan 3 baris dan 24 suku kata seperti di Rig Veda)

    (oṃ bhūr bhuvaḥ svaḥ)
    tat savitur vareṇyaṃ
    bhargho devasya dhīmahi
    dhiyo yo naḥ pracodayāt
    [Rig Veda 3.62.10]

    ke-2
    (om) nārāyaṇa evedagṁ sarvam
    yadbhūtaṃ yacca bhavyam
    niṣkalo nirañjano nirvikalpo nirākhyātaḥ śuddho deva eko nārāyaṇaḥ
    na dvitīyo’sti kaścit
    [Narayana Upanisad, bukan era teks veda, buatan abad ke-5 – 15 M dianggap ada di Krshna Yajur Veda, namun Pandit Shastri mengatakan di Yajurveda sirah]

    Ke-3
    (om) tvaṃ śivastvaṃ mahādeva īśvaraḥ parameśvaraḥ
    brahmā viṣṇuśca rudraśca puruṣaḥ prakṛti-stathā
    [śivastavaḥ 2]

    Ke-4 dan ke-5 ada dalam buklet “Dasa Sila Agama Bali”-nya Prof. Narendra Dev Pandit Shastri dan dikatakannya itu diambil dari Weda Parikrama. Di bukletnya, sloka ke-6 tidakada. Sloka ke-6 baru muncul lebih belakangan lagi. (Sugi Lanus, hal.250). Di tahun 1953, Pandit mengajarkan 5 sloka ini ke siswa sekolah Dwijendra, Denpasar (hal.251). Versi baru dengan 6 sloka, yaitu dengan tambahan sloka ke-6, dilakukan Sugriwa, di Madjalah Indonesia, April 1953 dan itulah yang menjadi mantra tri-sandhya sebagaimana yang dikenal sampai hari ini.

  • Tanggal 28 December 1950, delegasi Kementrian Agama mendatangi Dewan Pemda BALI bertanya tentang keadaan keagamaan di Bali, kesulitan umat Bali sehubungan urusan agama, mereka menanyakan nama resmi agama, isi filsafat, pandangan tentang Tuhan, gaya ibadah, tempat suci, sekolah agama, dan kitab sucinya. I Gusti Bagus Sugriwa menjawab semua pertanyaan tersebut – “tetapi delegasi tidak yakin bahwa agama Bali pantas diakui”. Diskusi ini menjadi populer di masyarakat Bali dan klaim Sugriwa mendapat dukungan kuat organisasi Hindu Bali. [Landmann, hal.150].
  • Tanggal 10 Juni 1951. Rapat organisasi Hindu di Denpasar, diantaranya Panti Agama Hindu Bali, Majelis Hinduisme, Paruman Para Pandita dan Wiwadha Shastra Sabha mencapai sebuah deklarasi bersama dan mengirimkan petisi ke Menteri Agama Hasyim, anggota Dewan yang Hindu dan gubernur provinsi Sunda Kecil, tentang: “Pendirian lembaga perwakilan Hindu Bali dan struktur organisasi di Depag pada tingkat nasional, provinsi, dan regional; komite khusus dengan anggaran pemerintah pusat untuk menyusun buku agama Hindu Bali di SD dan menengah; Peraturan penggajian untuk pedanda dan pemangku, pemeliharan Kuil; subsidi tahunan dan dana untuk pemeliharan Kuil dan pengembangan kesenian dan budaya bali”. Petisi ini ditolak kementrian agama pada tanggal 23 Agustus 1951. [hal.150]
  • Keputusan Mentri Agama no.40 tahun 1952, Kantor pusat jawatan agama berdiri di Singaraja dengan 3 departemen (Islam, Kristen dan Protestan) dan dibuat pula kreteria tentang agama agar berhak mendapatkan pendanaan negara, yaitu ada 1. kitab suci; 2. monoteistik; 3. sistem hukum agama terkodifikasi; 4. nabi; 5 pengakuan internasional dan 6. umat tidak hanya terbatas pada 1 kelompok etnis dan bukan aspek budaya turun temurun [hal.151]
  • Tanggal 14 Februari 1953, di Singaraja, sekjen Kementrian Agama rapat dengan dewan Pemda Bali dan Gubenur Sunda Kecil (Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, NTB dan Sumba) dan menggunakan regulasi H peninggalan kolonial bahwa kecuali kristen dan Islam, seluruh kepercayaan masuk ke Grup H dan akan menjadi ladang dakwah Islam dan Kristen, kaget akan hal ini, Pemerintah lokal bali secara sepihak memploklamirkan bahwa Bali adalah daerah otonom untuk urusan keagamaan. Pada tanggal 24 Maret 1953, dewan Pemda Bali mengeluarkan ketetapan no.2/SK/DPRDS/1953 tentang berdirinya jawatan agama otonoom daerah bali [hal.151-152]
  • Tanggal 25 Mei, 1953, di Tampak Siring untuk memenuhi kreteria Depag, maka diadakan Pesamuhan Agung ke-1, yaitu terdiri dari pejabat yang ditunjuk untuk Kantor Agama Pusat Provinsi Kepulauan Sunda Kecil, pejabat dari Dewan Pemda BALI dan kalangan organisasi keagamaan dan bersepakat tentang: “(1) nama agama: Hindu Bali, (2) kitab suci: Veda (Shruti) dan Smerti (tradisi), Ucapan yang masuk ke Hindu: Om Tat Sat, Ekam Eva Adwityam Brahman.” (Om adalah esensi dari Yang tak terbagikan atau Sangkan Paraning Sarat).

    Mereka bersepakat merujuk ke India dan berkomunikasi dengan para sarjana India untuk mendefinisikan ulang filosofi dan praktik keagamaan agar sesuai kriteria DePag. Beberapa diantaranya adalah mereka yang mendapat beasiswa pemerintah India di Universitas, Vishva Bharati-nya R. Tagore, yaitu Ida Bagus Mantra (gelar Masternya, 1954; Doktor di 1957. Juga Nyoman S. Pendit, selesai 1958) dan Universitas Hindu Banaras, yaitu Ida Bagus Oka Puniatmaja dan Cokorda Rai Sudharta. Pemikiran dan keputusan mereka ini yang membentuk Hindu Dharma Indonesia seperti hari ini.[hal.152]

  • Tanggal 14 Juni 1954. menghasilkan resolusi ke-2, menyerukan berdirinya departemen Hindu-Bali di Kementrian Agama atas dasar bahwa Hindu Bali tidak bertentangan dengan sila ke-1 Pancasila, karena berakar di mantra sanskrit “Ekam Eva Adwityam Brahman”. Pada 1 November 1954, Dewan Pemda Bali akhirnya mampu melaksanakan keputusan membentuk Kantor Dinas Urusan Agama Otonom untuk warga Bali dan penganut agama Hindu. [Hal.152]

    Istilah bali “satu yang tidak terbagikan” setara Ketuhanan Yang Maha Esa yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Misionaris Protestan menggunalan istilah “Ida Sang Hyang Widhi”, dalam terjemahan “Tuhan” Alkitab mereka di tahun 1930-an [Hal.152]

      Buku-buku Kriten berbahasa Bali & Huruf Bali serta yang merupakan terjemahan Pdt.Mas Darmoadi yang ada pada saya yaitu Tutur seket kali yang di petik dari perjanjian lama (PL) dan dipetik dari perjanjian Baru (PB , Injil Yohanes dan Kisah Rasul, saya mendapati kesimpulan bahwa yang memperkenalkan Pemakaian Ida Sang Hyang Widhi – selanjtunya disingkat Ida SHWH – Kedalam Agama Kristen Di Bali ialah Pendeta tersebut diatas, yang merupakan utusan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW)

      “Dia memakai nama itu, karena…berdasarkan arti itu, maka widhi berarti Pencipta, sedangkan Wasa (kata Sansekerta Pula) berarti Kuasa…

      Pendeta itu MENGAMBIL KEDUA KATA ITU, karena kedua kata tersebut ada dalam budaya Bali. Budaya Jawa dan budaya Bali memang bersaudara yang dimaksud widhi dalam Konteks ini adalah Oknum Dewa, Widhi merupakan pengertian realitas tertinggi atau mutlak pada kesatuan Trimmurti (Brahma,Siwa,Wisnu) pada tahun 1933an – sampai 1950an Agama Orang Bali bukan bernama Agama Hindu Tetapi ”Tirtha”.

      BERDASARKAN PENGERTIAN WIDHI TERSEBUT DIATAS MAKA Pdt TERSEBUT MEMPERKENALKAN NAMA WIDHI DENGAN PREDIKAT WASA ITU KEMUDIAN DICARIKAN KATA-KATA PELENGKAP YAITU IDA HYANG ATAU IDA SANG HYANG, yang berfungsi untuk memuliakan Oknum yang mengacu Widhi Wasa itu. DENGAN DEMIKIAN TERSUSUNLAH NAMA Ida Sang Hyang Widgi Wasa,yang dipakai selaku “terjemahan” dari Allah dan TUHAN. maksud pemakian dari kata -kata yang terdapat dalam budaya Bali itu, ialah agar berita Alkitab dapat diterima oleh orang Bali,khusunya yang telah memeluk Agama Kristen”

      …Setelah Agama Kristen (baik Protestan maupun Katolik Roma) di Bali memakai nama Ida SHWH untuk relaitas tertingginya paling cepat Sejak Hadirnya Mas Darmoadi di bali tahun 1933..[Kompas: Riwayat Penggunaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa Oleh Agama Kristen Di Bali, 10 January 2013]

    Tentu saja ini juga berarti bahwa di sebelum tahun 1930, penggunaan kata widhi dan wasa telah marak dan telah ada dalam literatur lontar kuno yang berasal dari luar dan dalam Bali sendiri.

  • Tanggal 26 Juni 1958, konferensi 8 organisasi Hindu di Denpasar dengan resolusi bahwa seperti agama lainnya, departemen Hindu Bali harus ada di kementrian Agama; agar keputusan Menteri Agama no.9 tahun 1952 di amandemen bahwa Hindu Bali bukan bagian grup H. Resolusi itu dikirim ke Presiden, dan lainnya. [Landmann, Hal 152-153]. Tanggal 29 Juni 1958, 6 orang perwakilan Hindu-Bali bertemu Presiden Soekarno di Tampak Siring, Soekarno menyampaikan kekagumannya tentang Tagore dan Bhagavad Gita. Tanggal 5 September 1958, departemen agama Hindu Bali didirikan di Singaraja [Hal.153]
  • Tanggal 14 August 1958, Propinsi Bali berdiri, karena dewan Raja-Raja dan Dewan Pemda bali telah bubar, maka perlu organisasi agama Hindu untuk menggantikan fungsinya [hal. 153]. Pada tanggal 7 Oktober 1958, disepakati membentuk Dewan Hindu yang membantu divisi Hindu kantor DEPAG, Singaraja dan membentuk Panitia Mahasabha Hindu Bali. Pesamuhan Agung diadakan pada Januari 1959 untuk membentuk Parisada Hindu Dharma Bali dan dilanjutkan konfrensi di tanggal 21-23 Februari 1959 [Hal.171]
  • Parisadha Hindu Dharma Bali, pada sidang Mahasabha ke-1 di 31 Oktober 1959, memutuskan perlu ada buku Dharma Prawerti Sastra (berisi Dharma, Widhi Tatwa, Atma, Samsara, Karmaphala, and Moksa) sebagai panduan teks di sekolah dan yang ingin tahu lebih dalam tentang Hindu. Di sidang ke-2, tanggal 21 Oktober 1961 adalah tentang (1) persiapan Ritual Rudra Eka Dasa yang terjadi di tahun 1963 dan (2) Pesamuan/Dharma Asrama di Ubud-Gianyar dari 17 – 23 1961 yang akan menghasilkan Piagam Campuhan [Hal.153], yaitu tentang (1) Dharma Agama/tugas agama penetapan Weda Sruti dan smrti/Dharma Sastra Smrti sebagai kitab suci dasar, termasuk kitab Jawa Abad Pertengahan dan Bali. Juga pendirian lembaga pendidikan agama, yang terwujud di 3 Oktober 1963 dengan dibukanya Lembaga Hindu Dharma/UNHI, Denpasar. kemudian tentang (2) Dharma Negara/tugas-tugas negara.[Hal.172, 176]

    Sejak didirikan, Parisadha menerbitkan banyak buku dalam bahasa Indonesia. Kemungkinan di tahun 1963, untuk menjalankan hasil putusan Mahasabha ke-1, yaitu kerangka dasar agama Hindu yang sistematis dalam satu buku, Di kompilasilah Upadesa oleh Ida Bagus Mantra, Bagus Oka Punia Atmaja, Pedanda Wayan Sidemen, Ida Bagus Mantra, Ida Bagus Dosther, Ida Bagus Alit, Mertha dari DEPAG, dan Cok Rai Sudharta. Buku ini diselesaikan dalam waktu 1 minggu. Walaupun sebelumnya ada beberapa buku tentang standar referensi Hindu, namun Upadesalah yang pertama memberikan referensi ringkas sistimatis tentang ajaran Hindu Bali [hal.183]. Bulan Oktober 1964, karena alasan politik, yaitu untuk “mengamankan saudara-saudara Hindu di luar Bali”, Parisadha berubah nama menjadi Parisadha Hindu Dharma dan mengploklamirkan Panca Sradha [Hal.172]. Tahun 1986, Parisadha berubah nama lagi menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia [Hal.153][↑]


Sekilas Aliran Hare Kresna [Kutipan dari: iloveblue]

    A.C. Bhaktivedanta Swami Prabupadha, dalam kesempatan lain mengatakan bahwa Hare kresna itu bukan Hindu dan bahkan bukan agama apapun. Dalam ceramah dan wawancaranya Prabupadha bahkan menghujat Hindu sebagai sumber keruntuhan moral. Berikut ini adalah pernyataan Srila Prabupada mengenai Hare Krishna dan hubungannya dengan agama Hindu. Tulisan di bawah ini bersumber dari “Can it Be That the Hare Krishnas Are Not Hindu? ISKCON’s Srila Prabhupada’s edicts on religion are clear” yang dimuat dalam majalah Hinduism Today edisi Oktober 1998.

    “Ada satu salah pengertian,” tulis His Divine Grace A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada tahun 1977 dalam Science of Self Realization, “bahwa gerakan kesadaran Krishna ( the Krishna consciousness movement) mewakili agama Hindu. Sering kali orang-orang India baik di dalam maupun di luar India mengira bahwa kita mengajarkan agama Hindu, tapi sesunguhnya kita tidak mengajarkan agama Hindu.”

    Srila Prabhupada seringkali dengan tegas menolak eksistensi dari satu agama yang disebut “Hinduisme.” Dia mengasalkan nama yang tidak pantas ini kepada “foreign invaders (para penyerbu asing).”

    Pada kesempatan lain ia mengakui keberadaan agama Hindu, tapi menganggapnya sebagai kemerosotan yang tak tertolongkan dari bentuk asli Sanatana Dharma Veda. Pada ceramah-ceramahnya tahun 1967, di New York dia berkata, “Sekalipun memunculkan para sarjana, sanyasin, grihasta dan swami besar, apa yang disebut pengikut agama Hindu semuanya tidak berguna, cabang-cabang kering dari agama Veda.” Hare Krisnha, katanya, adalah satu-satunya eksponen dari agama Veda dewasa ini. Dalam satu wawancara yang diberikan untuk Bhavan’s Journal tanggal 28 Juni, 1976, dia berkata, “India, mereka telah membuang sistem agama yang sesungguhnya, Sanatana Dharma. Secara takhyul, mereka menerima satu agama campur aduk (a hodgepodge thing) yang disebut Hinduisme. Karena itulah muncul kekacauan.”

    Sang Guru sering menjelaskan sikapnya, dan bertindak berdasarkan keyakinannya dalam membangun organisasinya yang dinamis. Pada kuliah 1974 di Mumbai (Bombai), dia menyatakan, “Kita tidak mengkotbahkan agama Hindu. Ketika mendaftarkan assosiasi ini, saya dengan sengaja memakai nama ini, ‘Krishna Consciousness,’ bukan agama Hindu bukan Kristen bukan Buddha.”

    Srila Prabhupada menyadari bahwa masyarakat India memiliki kesan yang keliru mengenai kehinduannya. Dalam satu surat tahun 1970 kepada pengurus sebuah pura di Los Angeles, dia menulis, “Masyarakat Hindu di Barat mendapat perasaan baik untuk saya karena secara dangkal mereka melihat bahwa saya menyebarkan agama Hindu, tapi nyatanya gerakan Kesadaran Krishna ini bukan agama Hindu bukan pula agama apapun.” Hal itu tetap berlaku sampai dewasa ini, karena Srila Prabhupada tidak meninggalkan pengganti dengan wewenang untuk mengubah ‘edict’ atau bhisama spiritual ini.

    Jadi kenapa masyarakat Hindu umumnya secara keliru percaya bahwa Hare Krishna adalah sebuah organisasi Hindu, ketika mereka tidak pernah menyatakan dirinya sebagai Hindu?

    Kadang-kadang mereka sengaja menimbulkan kesan itu. Selama pembukaan temple mereka di New Delhi dan Bangalore, di mana berita-berita surat kabar sering mengidentifikasikan temple-temple besar ini sebagai Hindu, siaran press dari Hare Krishna, seperti yang dikeluarkan pada tanggal 15 April 1998, tidak pernah menggunakan kata Hindu. Namun, ketika para pengikut mereka dari India yang melayani kedua temple ini ditanya oleh wartawan pada akhir bulan Juli untuk tulisan ini, mereka bilang ini adalah pura Hindu.

    Ketimpangan antara persepsi publik dengan kebijakan internal mereka lebih dibingungkan lagi dengan pengecualian resmi dari kelompok ini berkaitan dengan posisi mereka terhadap non-Hindu. Bila menghadapi kesulitan, para pemimpin Hare Krishna memohon kepada masyarakat Hindu untuk membantu mereka, misalnya ketika menghadapi perkara atas gedung ‘Bhaktivedanta Manor’ di Inggris atau ketika dituntut oleh orang Kristen di Russia dan Polandia (yang menganggap Hare Krishna hanyalah gerakan ‘cult’ dan meminta agar pemerintah melarang mereka). Dalam permohonan kepada hakim dan pemerintah, kata Hindu dipergunakan secara terbuka. Dalam kasus-kasus hukum yang lain, termasuk kasus di Mahkamah Agung Amerika Serikat, Hare Krishna berusaha menangkis label “cult” dengan menyatakan dirinya sebagai satu sampradaya Hindu tradisional, dan meminta orang-orang Hindu yang lain untuk menguatkan hal ini di pengadilan. Organisasi-organisasi lain yang berpisah dari agama Hindu, seperti Transcendental Meditation dan Brahma Kumaris, tidak pernah mengkompromikan sikap mereka dalam keadaan apapun.

    Yang juga memisahkan Hare Krishna adalah penolakan dan kritiknya terhadap agama Hindu, khususnya di antara anggota mereka sendiri. Ada banyak laporan mengenai orang-orang Hindu yang bergabung dengan Hare Krishna yang hanya diajarkan untuk menolak agama keluarga mereka. “Sebelumnya kita adalah Hindu. Sekarang kita adalah Hare Krishna,” demikian dikatakan oleh beberapa orang. Pada saat yang sama, organisasi ini sering mengajukan permohonan kepada masyarakat dan pengusaha Hindu untuk bantuan keuangan bagi program sosial dan politik mereka untuk melidungi Hare Krishna dari pelecehan dan tuntutan.

    Melihat pada penampilan Hare Krishna — pakaian para anggota, nama, bhajana, perayaan, pemujaan, kitab suci, ziarah, bentuk bangunan temple dan lain-lain – tidaklah mengherankan banyak orang menganggap mereka adalah Hindu. Bahwa nyata mereka bukan Hindu tentu akan mengagetkan banyak orang — baik Hindu maupun non-Hindu. [↑]


Pustaka:


Sialan…ternyata gw emang kampungan!


Sore ini, Kamis, 05 Maret 2009, jam 16:16, Aku dapat lagi seorang kawan baru yang berasal dari stok lama..O ya..Kawan baru ku itu bernama Risye Kotambunan dan sebagai say hello ia tulis di dinding ku begini,

“Waaaa Pak Eka gaul jg ya punya Fb. Pak Eka kl kt main ke sana boleh ga?”

Buseett..! cilaka amat gw ya!

Say hello risye itu mengungkit lagi kisah kelabu dalam hidupku..gw jadi inget alasan kenapa pisbuk ini gw buat..ya alasanya adalah karena boseennn ditanya2in terus ama beberapa kawan, “koq ngga punya fb sih” ato “masa hare gene ngga punya fb!!”lah..inilah itulah

pusing gw..tapi walopun pusing..dasar dableg tetap aja gw tegar..mereka gw cueki..ya seperti kata pepatah gitu deh, “anjing berlalu, kapilah menggonggong”…eh..kebalik kali ya…”kapilah menggonggong, anjing berlalu”…halah!..

Hari berganti hari..minggu berganti minggu..bulan pun berganti..dan pertanyaan itu tak kunjung padam..hingga habis sudah kesabaran ini.

Aku pun bersumpah, “Jika satu kali lagi aja ada yang berani nanya-nanyain masalah kenapa gw ngga punya pisbuk, maka jika ia seorang pria, ia tetep akan ku cueki juga namun jika ia seorang wanita, maka ia akan kupaksa..ya..akan kupaksa ia..death or a live!”

Benarlah..pada suatu hari..satu orang tiba-tiba meng-kontak-ku lewat Yahoo! Messanger dan ia seorang wanita..setelah beberapa obrolan..ia pun bertanya, “Ngga ada pesbuknya ya..koq ngga bikin?”…

Walah! Pucuk dicinta ulam tiba!!!

Maka segera saja kupenuhi sumpahku itu! Wanita “malang” ini bernama Rochayati-rochayati..ia kupaksa…ya..berulang-ulang..again and again..dengan cara berbeda, “mau..mau..mau”..

Ia kupaksa untuk mengajariku…hingga ia pun luluh..dengan sabar dan telaten..ia puaskan kemauanku…ia layani aku..apapun yang ku mau untuk FB ini…akhirnya..akhirnya..akhirnya..jadilah aku berrrrrrpisbuk

Gitu lho ceritanya…