Ternyata Masuk Surga itu Mudah!


Di artikel ini anda akan menemukan beberapa cara yang pernah dan telah dilakukan agar dapat masuk surga [Catatan: siasat ini dapat dilakukan berkali-kali, jika dan hanya jika pada kehidupan berikutnya, anda juga mempunyai pengetahuan serupa seperti sekarang ini atau setelah anda baca artikel ini]. Menjelang akhir artikel ini, terdapat semacam latihan sebagai persyaratan kondisi yang harus dipenuhi agar dapat mengimenplementasikan artikel ini walau anda TIDAK buddhis sekalipun. Selamat Membaca!



JALUR MEYAKINI (objeknya harus benar)
Seorang brahmana bernama Adinnapubbaka mempunyai anak tunggal yang amat dicintai dan disayangi bernama Matthakundali. Sayang, Adinnapubbaka adalah seorang kikir dan tidak pernah memberikan sesuatu kepada orang lain. Bahkan perhiasan emas untuk anak tunggalnya dikerjakan sendiri demi menghemat upah yang harus diberikan kepada tukang emas.

Suatu hari, anaknya jatuh sakit, tetapi tidak satu tabibpun diundang untuk mengobati anaknya. Ketika menyadari anaknya telah mendekati ajal, segera ia membawa anaknya keluar rumah dan dibaringkan di beranda, sehingga orang-orang yang berkunjung ke rumahnya tidak mengetahui keadaan itu.

Sebagaimana biasanya, di waktu pagi sekali, Sang Buddha bermeditasi Setelah selesai, dengan mata Ke-Buddha-an Beliau melihat ke seluruh penjuru, barangkali ada makhluk yang memerlukan pertolongan. Sang Buddha melihat Matthakundali sedang berbaring sekarat di beranda. Beliau merasa bahwa anak itu memerlukan pertolongannya.

Setelah memakai jubah-Nya, Sang Buddha memasuki kota Savatthi untuk berpindapatta. Akhirnya Beliau tiba di rumah brahmana Adinnapubbaka. Beliau berdiri di depan pintu rumah dan memperhatikan Matthakundali Rupanya Matthakundali tidak sadar sedang diperhatikan. Kemudian Sang Buddha memancarkan sinar dari tubuh-Nya, sehingga mengundang perhatian Matthakundali, brahmana muda.

Ketika brahmana muda melihat Sang Buddha maka timbullah keyakinan yang kuat dalam batinnya. Setelah Sang Buddha pergi, ia meninggal dunia dengan hati yang penuh keyakinan terhadap Sang Buddha dan terlahir kembali di alam surga Tavatimsa.

Dari kediamannya di surga, Matthakundali melihat ayahnya berduka-cita atas dirinya di tempat kremasi, Ia merasa iba. Kemudian ia menampakkan dirinya sebagaimana dahulu sebelum ia meninggal, dan memberitahu ayahnya bahwa ia telah terlahir di alam surga Tavatimsa karena keyakinannya kepada Sang Buddha. Maka ia menganjurkan ayahnya mengundang dan berdana makanan kepada Sang Buddha.

Brahmana Adinnapubbaka mengundang Sang Buddha untuk menerima dana makanan. Selesai makan, ia bertanya,

“Bhante, apakah seseorang dapat, atau tidak dapat, terlahir di alam surga; hanya karena berkeyakinan terhadap Buddha tanpa berdana dan tanpa melaksanakan moral (sila)?”

Sang Buddha tersenyum mendengar pertanyaan itu. Kemudian Beliau memanggil dewa Matthakundali agar menampakkan dirinya. Matthakundali segera menampakkan diri, tubuhnya dihiasi dengan perhiasan surgawi, dan menceritakan kepada orang tua dan sanak keluarganya yang hadir, bagaimana ia dapat terlahir di alam surga Tavatimsa. Orang-orang yang memperhatikan dewa tersebut menjadi kagum, bahwa anak brahmana Adinnapubbaka mendapatkan kemuliaan hanya dengan keyakinan terhadap Sang Buddha.

Pertemuan itu diakhiri oleh Sang Buddha dengan membabarkan syair kedua berikut ini :

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutnya bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya.

Pada akhir khotbah Dhamma itu, Matthakundali dan Adinnapubbaka langsung mencapai tingkat kesucian sotapatti. Kelak, Adinnapubbaka mendanakan hampir semua kekayaannya bagi kepentingan Dhamma. [Dhammapada, Kisah Matthakundali]


PELAYANAN KEPADA ORANG SAKIT DAN SAKIT MENJELANG KEMATIAN

Sang Buddha bersabda :”Seseorang yang merawat orang sakit, berarti ia telah merawat Saya”. Pernyataan ini terjadi ketika Beliau menemukan seorang bhikkhu yang sedang berbaring dalam jubah kotornya. Bhikkhu tersebut dalam keadaan sakit parah karena serangan disentri. Dengan bantuan Ananda, Sang Buddha mencuci dan membersihkan bhikkhu sakit itu dengan air hangat. Dalam kesempatan ini, Beliau mengingatkan para bhikkhu bahwa mereka tidak mempunyai orang tua maupun sanak keluarga yang menjaga mereka, maka mereka harus menjaga satu sama lain. Jika guru sedang sakit, murid mempunyai kewajiban untuk menjaganya, dan jika murid sakit, guru berkewajiban menjaga murid yang sakit. Jika tidak ada guru atau murid, maka masyarakat berkewajiban menjaga orang sakit (Vin.i,301ff.).

Pada kesempatan lain, Sang Buddha menjumpai seorang bhikkhu yang tubuhnya dipenuhi dengan luka, jubah lengket di tubuhnya dengan nanah keluar dari luka-lukanya. Para teman bhikkhu telah meninggalkannya karena tidak dapat menjaganya. Saat menemui bhikkhu ini, Sang Buddha merebus air dan mencuci bhikkhu tersebut dengan tanganNya sendiri, selanjutnya membersihkan dan mengeringkan jubahnya. Saat bhikkhu tersebut telah nyaman, Sang Buddha memberikan khotbah kepadanya dan ia menjadi arahatta, tidak lama setelah menjadi arahatta, ia meninggal dunia (DhpA.i,319). Sang Buddha tidak hanya mendukung pentingnya merawat orang sakit, Beliau juga memberi contoh baik dengan diriNya sendiri memberikan pelayanan kepada mereka yang sangat sakit, mereka yang bahkan dianggap menjijikkan bagi orang-orang lain.

Sang Buddha menyebutkan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang perawat baik. Ia harus mampu memberikan obat, ia harus mengetahui apa yang bermanfaat untuk pasien dan apa yang tidak bermanfaat. Ia harus menjauhkan apa yang tidak bermanfaat dan hanya memberikan apa yang bermanfaat bagi pasien. Ia harus mempunyai cinta kasih dan murah hati, ia harus melakukan kewajibannya atas kesadaran untuk melayani dan bukan hanya untuk imbalan (mettacitto gilanam upatthati no amisantaro). Ia tidak boleh merasa jijik terhadap air liur, lendir, air kencing, tahi, luka, dll. Ia harus mampu menasehati dan mendorong pasien dengan ide-ide mulia, dengan pembicaraan Dhamma (A.iii,144).

Patut diperhatikan bahwa merawat kondisi batin pasien, kebaikan para perawat dan dokter adalah obat yang hampir sama effektifnya untuk semangat juang dan kesembuhan seorang pasien. Saat seseorang sedang sakit parah dan merasa tidak berdaya, suatu kata ramah atau suatu tindakan baik menjadi sumber kesenangan dan harapan. Itulah sebabnya cinta kasih (metta) dan belas kasihan (karuna), yang juga merupakan perasaan-perasaan mulia (brahmavihara), dianggap sebagai sifat-sifat yang patut dipuji dalam seorang perawat. Keadaan sakit adalah saat seseorang sedang menghadapi kenyataan-kenyataan hidup dan kondisi ini adalah suatu kesempatan baik untuk menanamkan suatu kesadaran spiritual yang mendesak, seseorang yang sedang sakit tentunya mempunyai perasaan takut pada kematian yang lebih besar daripada saat ia sedang sehat. Untuk menenangkan perasaan takut ini adalah dengan mengalihkan perhatian kepada Dhamma. Perawat diharapkan memberikan bimbingan spiritual kepada pasien sebagai suatu bagian dan paket dari kewajiban seorang perawat.

Sang Buddha menyebutkan tiga jenis pasien (A.i,120). Terdapat pasien yang tidak akan sembuh apakah mereka mendapatkan atau tidak mendapatkan pelayanan pengobatan dan perawatan yang tepat; terdapat pasien yang akan sembuh tidak peduli apakah mereka mendapatkan atau tidak mendapatkan pelayanan pengobatan dan perawatan yang tepat; terdapat pasien yang akan sembuh hanya dengan pengobatan dan perawatan yang tepat. Karena adanya jenis pasien ke tiga inilah, maka semua yang sakit harus diberi pengobatan tersedia yang terbaik, makanan yang bermanfaat dan perawatan yang tepat. Selama pasien masih hidup, segala yang dapat dilakukan harus diusahakan untuk kesembuhannya.

Menurut sutta lainnya (A.iii,56,62), penyakit adalah salah satu yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan. Saat menghadapinya, semua sumber yang tersedia bagi seseorang, inti permasalahan adalah dalam keadaan kritis tidak ada buruknya untuk mencoba, bahkan metode yang secara tradisi dipercaya akan membawa hasil, walaupun orang yang bersangkutan tidak harus mempunyai keyakinan atau kepercayaan pada metode tersebut. Tentunya, metode-metode demikian seharusnya tidak bertentangan dengan hati nurani seseorang. Walaupun dengan upaya-upaya ini, jika kematian tetap datang, maka seseorang harus menerimanya sebagai hasil dari kamma dengan ketenangan hati dan kebijaksanaan.

Sebuah peristiwa (MA.i,203) pada saat seorang ibu yang sedang sakit parah memerlukan daging kelinci sebagai pengobatan. Sang putra tidak mendapatkan daging kelinci di pasar umum, ia mencari seekor kelinci. Ia berhasil menangkap seekor kelinci tetapi ia sangat membenci membunuhnya walau pembunuhan tersebut demi ibunya. Ia melepaskan kelinci dan mengharapkan ibunya sembuh. Kebajikan moral putra bersama pengharapannya secara serentak membawa kesembuhan ibu. Bahwa kekuatan kebajikan dalam keadaan-keadaan tertentu mempunyai sifat-sifat penyembuhan yang dapat bekerja bahkan dalam kasus-kasus saat pengobatan umum tidak berhasil.

Bab pengobatan-pengobatan di Vinaya Mahavagga (Vin.i,199ff.) menunjukkan bahwa Sang Buddha mengendorkan beberapa peraturan tata tertib minor untuk menyesuaikan kebutuhan-kebutuhan para bhikkhu yang sakit. Walaupun seorang disiplin yang keras, Sang Buddha menunjukkan rasa simpati dan pengertian besar kepada mereka yang sakit. Nilai kesehatan telah disadari sepenuhnya dan bahkan dikenal sebagai keuntungan yang terbesar (arogyaparama labha, Dhp.204).

Sang Buddha mengajarkan bahwa agar sembuh, pasien juga harus bekerja sama dengan dokter dan perawat. Seorang pasien baik seharusnya hanya menerima dan melakukan apa yang bermanfaat baginya. Bahkan dalam memakan makanan yang bermanfaat sekalipun, ia harus mengetahui jumlah yang tepat. Ia harus meminum resep obat tanpa merepotkan. Ia harus dengan jujur memberitahu penyakit-penyakitnya kepada perawatnya yang sadar atas kewajiban. Ia harus dengan sabar menahan rasa sakit jasmani bahkan saat rasa sakit tersebut sangat nyeri dan menyiksa (A.iii,144).

Sutta-sutta menunjukkan bahwa Sang Buddha menggunakan kekuatan tekad dan ketenangan yang luar biasa pada saat Beliau jatuh sakit. Beliau mengalami rasa sakit yang menyiksa saat serpihan batu tajam yang dilemparkan oleh Devadatta kepadaNya menusuk kaki Beliau. Beliau menahan sakit dengan penuh kesadaran dan ketenangan, dan tidak dikuasai oleh rasa sakit (S.i,27, 210). Selama masa sakitNya yang terakhir, Sang Buddha juga dengan penuh kesadaran menahan rasa sakit jasmani yang besar, dan dengan keberanian yang mengagumkan Beliau berjalan dari Pava ke Kusinara bersama pendamping setiaNya, Ananda, sambil beristirahat di beberapa tempat untuk mengurangi kelelahan (D.ii,128,134). Maha-parinibbana sutta juga menceritakan bahwa Sang Buddha pernah dengan keras menyembunyikan penyakit yang berbahaya di Beluvagama dan Beliau sehat kembali (D.ii,99).

Nampaknya mereka yang mempunyai perkembangan batin tinggi mampu menahan penyakit, setidaknya pada kondisi-kondisi tertentu. Suatu waktu Nakulapita mengunjungi Sang Buddha yang telah berusia lanjut, dan Sang Guru menganjurkannya agar tetap menjaga kesehatan batin walaupun badan sedang lemah (S.iii,1). Terdapat rasa sakit jasmani dan batin (dve vedana kayika ca cetasika ca). Saat seseorang mempunyai rasa sakit jasmani, jika ia menjadi cemas dan menambahkan rasa sakit batin juga, maka hal itu seperti ditembak dengan dua panah (S.iv,208). Seseorang yang berkembang secara spiritual mampu menjaga kesehatan batin seimbang dengan perkembangan spiritualnya. Karena spiritual seorang arahatta telah berkembang sepenuhnya, ia mampu hanya mengalami rasa sakit jasmani tanpa rasa sakit batin (so ekam vedanam vediyati kayikam na cetasikam, S.iv,209).

Sejumlah sutta menganjurkan pembacaan unsur-unsur pencerahan (bojjhanga) dengan tujuan untuk penyembuhan penyakit-penyakit jasmani. Pada dua peristiwa, saat para bhikkhu senior Mahakassapa dan Mahamoggallana sedang sakit, Sang Buddha membacakan unsur-unsur pencerahan dan diceritakan bahwa para bhikkhu tersebut kembali sehat (S.v,79-80). Mungkin perlu dicatat bahwa semua bhikkhu yang bersangkutan adalah arahatta, mereka telah mengembangkan unsur-unsur pencerahan secara penuh. Bojjhanga Samyutta juga menceritakan bahwa suatu waktu Sang Buddha sakit, Beliau meminta Cunda membacakan unsur-unsur pencerahan (S.v,81). Sang Buddha merasa senang dengan pembacaan tersebut dan diceritakan Beliau kembali sehat.

Pada peristiwa lainnya, saat bhikkhu Girimananda sakit parah (A.v,109), Sang Buddha memberitahu Ananda bahwa jika khotbah tentang sepuluh kesadaran (dasa sañña) disampaikan kepadanya, ia mungkin menjadi sehat. Sepuluh kesadaran adalah kesadaran tentang ketidakkekalan, tanpa diri, kekotoran badan, akibat-akibat buruk (tentang adanya jasmani), pelenyapan (kesenangan-kesenangan nafsu), ketidakmelekatan, penghentian, kekecewaan dengan seluruh duniawi, ketidakkekalan semua benda, dan konsentrasi pernafasan. Ananda mempelajari khotbah tersebut dari Sang Buddha, mengulangi khotbah untuk Girimananda, dan dilaporkan bahwa Girimananda menjadi sembuh.

Suatu waktu, Sang Buddha mendengar bahwa seorang bhikkhu yang baru ditahbiskan sedang sakit parah, ia tidak dikenal di antara anggota para bhikkhu. Sang Buddha mengunjunginya. Saat ia melihat Sang Buddha mendatanginya, ia bergerak di tempat tidurnya dan mencoba berdiri, tetapi Sang Buddha memperingatkannya untuk tidak berdiri. Setelah duduk, Sang Buddha menanyakan kesehatannya, apakah rasa sakitnya berkurang atau tidak berkurang. Bhikkhu itu menjawab bahwa ia merasa sangat sakit dan lemah, bahwa rasa sakitnya bertambah dan tidak berkurang.

Selanjutnya, Sang Buddha menanyakan apakah ia mempunyai perasaan ragu-ragu atau penyesalan apapun. Bhikkhu menjawab bahwa ia mempunyai banyak keragu-raguan dan penyesalan. Selanjutnya, Sang Buddha bertanya apakah ia menyalahkan diri sendiri atas pelanggaran apapun. Ia berkata tidak. Setelahnya, Sang Buddha bertanya mengapa ia merasa menyesal jika ia tidak bersalah atas pelanggaran apapun. Bhikkhu menjawab bahwa Sang Buddha tidak mengkhotbahkan ajaran untuk kesucian kebajikan, melainkan ketidakmelekatan dari nafsu duniawi (ragaviragatthaya). Merasa senang, Sang Buddha menyebutkan ‘Sadhu… Sadhu’ dalam pujian.

Maka Sang Buddha mengkhotbahkan ajaran tersebut kepada bhikkhu itu. Beliau menjelaskan bahwa perasaan-perasaan adalah tidak kekal, tidak memuaskan dan tanpa inti, maka mereka seharusnya tidak dianggap sebagai “aku” dan “milikku”. Pengertian atas sifat mereka sebenarnya, murid baik menjadi tidak melekat dengan perasaan-perasaan. Saat penjelasan Dhamma ini diberikan, penglihatan tentang kebenaran (dhammacakkhu) terjadi pada sang bhikkhu; ia menyadari bahwa apapun yang mempunyai sifat timbul tentunya mempunyai sifat tenggelam. Dalam kata lain, ia menjadi seorang sotapanna, seorang pemasuk arus.

Menurut Sotapattisamyutta, suatu ketika Anathapindika sedang sakit parah, dan Yang Mulia Sariputta mengunjunginya atas permintaan Anathapindika (S.v,380). Atas pemberitahuan bahwa rasa sakit tersebut sangat parah dan bertambah, Sariputta mengingatkan Anathapindika akan kebaikan-n-kebaikannya sendiri. Sariputta menjelaskan bahwa makhluk awam, yang tidak mempunyai keyakinan pada Buddha, Dhamma dan Sangha dan tidak memelihara kebiasaan-kebiasaan kebajikan, akan merasakan kesedihan atas kehancuran tubuh. Tetapi Anathapindika mempunyai keyakinan yang tak tergoyahkan pada Buddha, Dhamma dan Sangha, dan telah memelihara kebiasaan-kebiasaan moral baik. Sariputta memberitahuinya bahwa saat sifat-sifat mulia ini dipahami dengan penuh kesadaran, rasa sakit akan mereda.

Lebih lanjut lagi, Sariputta menunjukkan bahwa orang awam mencapai keadaan sedih atas kehancuran tubuh karena mereka belum mengembangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Tetapi sebaliknya Anathapindika telah mengembangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Saat perhatian ditujukan pada mereka dan sifat-sifat mulia dipahami, rasa sakit akan reda. Diceritakan bahwa rasa sakit pun mereda dan Anathapindika sembuh dari penyakit itu. Lebih lanjut lagi, Anathapindika bangun dari tempat tidur dan melayani Sariputta dengan makanan yang telah disediakan oleh dirinya sendiri.

Sotapattisamyutta mencatat peristiwa lainnya saat Anathapindika sakit (S.v,385). Yang Mulia Ananda dipanggil ke tempat tidur dan ia memberikan sebuah kotbah. Ananda menjelaskan bahwa orang awam biasa yang tidak mempunyai keyakinan pada Buddha, Dhamma dan Sangha serta yang mempunyai kebiasaan-kebiasaan tak bermoral akan mengalami kegelisahan dan ketakutan saat kematian datang. Tetapi pengikut baik yang mempunyai keyakinan teguh pada Buddha, Dhamma dan Sangha serta yang mengembangkan kebiasaan-kebiasaan bermoral tidak akan mengalami kegelisahan dan ketakutan atas kematian.

Selanjutnya Anathapindika mengakui keyakinan tak tergoyahkan pada Buddha, Dhamma, dan Sangha, dan menyatakan bahwa ia dianugerahi dengan kebajikan tak ternoda. Ananda menyatakan bahwa hal ini sesungguhnya adalah suatu pencapaian besar bahwa Anathapindika telah menunjukkan buah dari pencapaian pemasuk arus. Tetapi, tidak dilaporkan apakah Anathapindika sembuh seketika.

Sang Buddha menyarankan bahwa seorang bhikkhu seharusnya tidak mengurangi tenaga dan tekadnya untuk perkembangan spiritual, bahkan saat ia sakit (A.iv,335). Mungkin saja penyakitnya akan memburuk, dan sebelum hal itu terjadi, pengembangan spiritual harus dilaksanakan sebanyak mungkin. Setelah sembuh dari penyakit, seseorang juga tidak boleh lalai, karena jika penyakit kambuh lagi, kemungkinan pencapaian spiritual yang lebih tinggi akan berkurang.

Metode Buddhis untuk melayani orang sakit, seperti yang ditunjukkan dari teks-teks di atas, tidak hanya menyatakan pentingnya pengobatan dan perawatan yang tepat, tetapi juga pengendalian pikiran pasien ke pikiran-pikiran baik. Nampaknya terdapat suatu keyakinan bahwa perhatian pada topik-topik berhubungan dengan Ajaran, terutama pengingatan tentang kebajikan-kebajikan yang telah dikembangkan oleh seseorang, memiliki sifat-sifat penyembuhan.

Dalam kasus Sang Buddha dan para arahatta, pengingatan ketujuh faktor bojjhanga telah mengembalikan kesehatan. Dalam kasus bhikkhu Girimananda yang kemungkinan bukan arahatta pada waktu sakit, ajaran sepuluh kesadaranlah yang telah mengembalikan kesehatannya. Anathapindika adalah seorang sotapanna dan percakapan tentang sifat-sifat spesial merupakan alat untuk kesembuhannya yang cepat. Mungkin saat seseorang diingatkan tentang sifat-sifat batin yang telah diperolehnya, kegembiraan besar muncul dalam pikirannya. Kegembiraan demikian mungkin mampu merubah kimia tubuh seseorang dalam cara yang positif dan sehat.

Di sini kita diingatkan tentang peristiwa sama yang diceritakan dalam Papañcasudani (MA.i,78). Seorang bhikkhu digigit ular saat ia mendengarkan Dhamma. Ia tidak menghiraukan gigitan ular dan tetap mendengarkan uraian Dhamma. Racun ular menyebar dan menjadi sangat sakit. Selanjutnya ia merenungkan kesucian dari tindakan kebajikan yang telah dilakukannya sejak pentahbisannya. Saat ia menyadari sifatnya yang tanpa noda, rasa puas dan kegembiraan luar biasa muncul di dalamnya. Perubahan psikologis yang sehat ini bertindak sebagai anti racun dan ia sembuh seketika.

Peristiwa-peristiwa ini nampaknya memperlihatkan bahwa pada waktu sakit parah, perhatian ditujukan pada sifat-sifat spiritual seseorang, maka kegembiraan yang luar biasa akan memenuhi pikirannya, dan faktor-faktor yang meningkatkan kesehatan menjadi aktif dalam tubuh, mungkin dengan cara pengeluaran hormon-hormon yang mengembalikan kesehatan. Mungkin dengan cara demikianlah individu-individu berspiritual tinggi mendapatkan kesehatannya kembali saat sutta-sutta yang tepat dibacakan.

Dalam Tipitaka Pali terdapat banyak kejadian tentang pemberian nasihat kepada orang sakit menjelang kematian. Membicarakan tentang kematian kepada pasien yang akan meninggal adalah merupakan pokok pembicaraan yang tidak menyenangkan. Sebaliknya, kenyataan kematian dan kemungkinan segera datangnya kematian haruslah diterima tanpa kepura-puraan dan pasien disiapkan untuk menghadapi kematian dengan keyakinan dan ketenangan.

Saran yang diberikan oleh Nakulamata kepada Nakulapita sangat bermanfaat dalam hal yang berhubungan dengan ini (A.iii,295-98). Suatu waktu Nakulapita berpenyakit serius dan istrinya Nakulamata memperhatikan bahwa ia gelisah dan cemas. Maka istrinya menyarankannya:

    “Mohon tuan jangan menghadapi kematian dengan kegelisahan. Kematian adalah sesuatu yang menyakitkan bagi seseorang yang gelisah. Sang Buddha memandang rendah kematian dengan kegelisahan.

    Mungkin anda cemas bahwa saya tidak akan mampu menyokong keluarga setelah kematian anda. Mohon jangan berpikiran demikian. Saya mampu memintal dan menenun, dan saya akan mampu membesarkan anak-anak jika anda tidak di dunia lagi.

    Mungkin anda cemas bahwa saya akan menikah lagi setelah kematian anda. Mohon jangan berpikiran demikian. Kita berdua menjalani kehidupan suci menurut peraturan mulia perumah tangga. Maka jangan cemaskan hal ini.

    Mungkin anda cemas bahwa saya akan melalaikan perhatian pada Buddha dan Sangha. Mohon jangan berpikir demikian. Saya akan lebih setia pada Buddha dan Sangha setelah kematian anda.

    Mungkin anda cemas bahwa saya akan mengabaikan pedoman-pedoman perilaku. Mohon jangan mempunyai keraguan apa pun tentang hal ini. Saya adalah salah satu dari mereka yang sepenuhnya berpraktek pada kebiasaan-kebiasaan moral yang dibuat untuk orang awam, dan jika anda ingin, mohon bertanyalah pada Sang Buddha tentang hal ini.

    Mungkin anda takut saya belum mencapai ketenangan batin. Mohon jangan berpikir demikian. Saya adalah salah satu dari mereka yang telah mendapatkan ketenangan batin sebanyak yang dapat dicapai oleh seorang perumah tangga. Jika anda mempunyai keraguan tentang hal ini, Sang Buddha sedang di Bhesakalavana, tanyalah kepada Beliau.

    Mungkin anda berpikiran bahwa saya belum mencapai kemahiran dalam pembebasan sesuai Ajaran Sang Buddha, bahwa saya belum bebas dari keraguan dan kebingungan tanpa bergantung pada yang lain. Jika anda ingin kejelasan tentang hal ini, tanyalah pada Sang Buddha. Tetapi mohon jangan menghadapi kematian dengan kecemasan, karena hal itu adalah sangat menyakitkan dan dilarang oleh Sang Buddha.”

Diceritakan bahwa setelah Nakulapita dinasehati oleh Nakulamata, ia mendapatkan kesehatannya kembali, penyakit tersebut hilang dan tak pernah kambuh. Belakangan seluruh peristiwa ini diceritakan kepada Sang Buddha, beliau memuji saran Nakulamata yang bijaksana.

Sotapattisamyutta berisikan ajaran berharga tentang nasehat kepada orang sakit menjelang kematiannya (S.v,408). Suatu waktu, Mahanama seorang suku Sakya menanyakan Sang Buddha bagaimana seorang umat awam bijaksana harus menasehati umat awam bijaksana lainnya yang sakit menjelang kematian. Harus dicatat di sini bahwa penasehat dan pasien keduanya adalah umat awam Buddhis yang bijaksana. Sang Buddha memberikan sebuah kotbah menyeluruh tentang bagaimana hal ini dilakukan. Pertama, umat awam bijaksana harus menenangkan umat awam bijaksana yang sedang sakit menjelang kematian dengan empat keyakinan:

“Tenanglah teman, anda mempunyai keyakinan yang tak tergoyahkan pada Buddha, Dhamma dan Sangha, bahwa, Sang Buddha telah sepenuhnya mencapai penerangan, Dhamma dibabarkan dengan baik, dan Sangha bertata tertib baik. Anda juga telah mengembangkan tindakan-tindakan bijaksana tak ternoda yang membantu konsentrasi.”

Maka setelah menghibur pasien dengan empat keyakinan, ia seharusnya menanyakannya apakah ia mempunyai kerinduan / keterikatan apapun pada orang tuanya. Jika ia berkata ada, harus ditunjukkan bahwa kematian tentunya akan datang apakah ia mempunyai keterikatan pada orang tuanya atau tidak. Maka, akan lebih baik menghentikan keterikatan itu.

Selanjutnya, jika ia berkata ia telah memutuskan keterikatan pada orang tuanya, ia harus ditanyai apakah ia mempunyai kerinduan / keterikatan pada istri dan anak-anaknya. Dengan alasan sama, ia harus diyakinkan untuk menghentikan keterikatan itu pula. Selanjutnya ia harus ditanyai apakah ia mempunyai keterikatan pada nafsu-nafsu keinginan duniawi. Jika ia berkata ada, ia harus diyakinkan bahwa keinginan-keinginan spiritual adalah lebih tinggi daripada keinginan-keinginan manusia, dan harus didorong untuk mencapai keinginan-keinginan spiritual. Selanjutnya, ia perlahan-lahan dibimbing menuju tingkat keinginan spiritual dan saat ia sampai di surga tertinggi dari alam kesadaran, perhatiannya dialihkan ke dunia Brahma. Jika ia berkata ia telah menyelesaikan pencapaian dunia Brahma, ia seharusnya dinasehati bahwa bahkan dunia Brahma bersifat tidak kekal dan kelahiran kembali. Maka, lebih baik bercita-cita untuk penghentian kelahiran kembali. Jika ia dapat mengonsentrasikan pikirannya pada penghentian kelahiran kembali, maka Sang Buddha berkata tidak ada bedanya antara orang tersebut dan bhikkhu yang telah mencapai pembebasan.

Tidak diragukan lagi bahwa nasehat ini merupakan bentuk nasehat tertinggi yang dapat diberikan oleh orang yang lebih maju kepada orang sakit menjelang kematian yang mempunyai spiritual yang sama tingginya. Kotbah tersebut sangat jelas mengatakan bahwa sang pasien harus semaju pemasuk arus, karena empat keyakinan atau faktor-faktor penghiburan yang disebutkan di awal kotbah mirip dengan sifat dari seorang pemasuk arus.

Cittasamyutta berisikan sebuah peristiwa menarik tentang kematian seorang pengikut awam yang telah maju batinnya (S.iv,302). Perumah tangga Citta adalah seorang tak lahir kembali (anagami, A.iii,451). Saat ia sakit parah, sekelompok dewa pohon mengundang Citta untuk menetapkan pikirannya agar menjadi raja seluruh alam (cakkavattiraja) karena kebajikannya. Ia menolak karena alam itu juga tidak kekal. Walaupun berbaring di tempat tidurnya, ia menasehati sanak keluarga yang mengelilinginya tentang pentingnya pengembangan keyakinan pada Buddha, Dhamma dan Sangha, dan tentang pentingnya kedermawanan, dan akhirnya ia meninggal.

Menurut Sotapattisamyutta, suatu waktu Sang Buddha mengunjungi umat awam Dighavu yang sedang sakit parah menjelang kematian di tempat tidurnya (S.v,344). Sang Guru menyarankannya agar menetapkan perhatiannya pada keyakinan teguh akan sifat-sifat mulia Tiga Permata dan bertekad bahwa ia dianugerahi dengan perilaku kebajikan yang tak ternoda. Dighavu menjawab bahwa ini adalah sifat-sifat seorang pemasuk arus yang telah ditemukan pada dirinya. Selanjutnya, Sang Buddha menyarankannya untuk bertetap pada kebajikan-kebajikan tersebut dan mengembangkan enam sifat yang membantu menuju pemahaman, yaitu kesadaran tentang ketidakkekalan semua unsur benda, ketidakpuasan dari semua ketidakkekalan, tanpa intinya dari ketidakpuasan, kesadaran dari penghilangan, pelepasan dan penghentian. Dighayu menjawab bahwa sifat-sifat ini juga ditemukan dalam dirinya, tetapi ia cemas bahwa ayahnya akan menjadi sedih saat ia meninggal. Selanjutnya ayahnya, Jotipala, menyarankannya agar tidak cemas atas hal tersebut, dan perhatikan apa yang dikatakan Sang Buddha. Sang Buddha pergi setelah menasehatinya dan kemudian Dighavu segera meninggal. Belakangan Sang Buddha menyatakan bahwa Dighavu meninggal sebagai seorang yang tak kembali lagi.

Brahmana Dhananjani adalah seorang pemungut pajak yang tak benar, ia memeras raja dan masyarakat umum (M.ii,184-96). Yang Mulia Sariputta pernah bertemu dengannya dan menasehatinya tentang akibat-akibat dari kehidupan yang tidak benar. Segera setelah Dhananjani sakit parah, Sariputta dipanggil olehnya. Setelah diberitahu tentang kesehatannya, Dhananjani memberitahu Sariputta bahwa ia mempunyai sakit kepala yang tak tertahan. Selanjutnya Sariputta berbincang dengannya, perlahan-lahan menuntun perhatiannya dari alam kehidupan lebih rendah ke lebih tinggi sampai sejauh alam Brahma. Setelah mengalihkan perhatian pasien yang diambang kematian ke alam Brahma, Sariputta melanjutkan menjelaskan jalan menuju pencapaian alam Brahma, yaitu pengembangan penuh brahmavihara — cinta kasih universal, belas kasihan, simpati dan keseimbangan batin — agar meliputi semua penjuru. Sariputta pergi dan tidak lama kemudian Dhananjani meninggal. Dilaporkan bahwa ia dilahirkan kembali di alam Brahma. Belakangan saat peristiwa tersebut diceritakan pada Sang Buddha, Beliau menemukan kesalahan Sariputta karena tidak membimbing Dhananjani menuju jalan spiritual yang lebih jauh lagi.

Sutta ini menunjukkan bahwa manusia yang mempunyai mata pencaharian tidak benar juga dapat dibimbing menuju suatu kelahiran kembali yang lebih bahagia dengan pemberian nasehat pada saat penting sebelum menjelang kematian. Sangat diragukan apakah setiap pelaku kejahatan dapat dibimbing menuju kelahiran kembali dalam alam bahagia. Mungkin sifat-sifat baik Dhananjani melebihi perbuatan-perbuatan buruknya (Dhp.173) dan mungkin itulah sebabnya mengapa seorang arahatta dapat membimbingnya menuju kelahiran kembali dalam alam bahagia pada saat kematian.

Hal ini dapat disimpulkan dari fakta-fakta yang diceritakan dalam sutta (M.ii,185). Saat Sariputta sendiri sedang melakukan perjalanan jauh di Dakkhinapata, ia meminta keterangan tentang kesehatan Sang Buddha dari seorang bhikkhu yang berasal dari Rajagaha, saat itu pula Sariputta sengaja meminta keterangan tentang semangat pencarian spiritual Dhananjani. Kemungkinan besar bahwa Dhananjani adalah seorang pendukung Sangha yang setia saat istri pertamanya, seorang wanita yang mempunyai keyakinan penuh, masih hidup. Istri keduanya adalah wanita yang tidak mempunyai keyakinan. Saat Sariputta mendengar bahwa Dhananjani sedang lalai, ia cemas, dan memutuskan untuk berbicara dengan Dhananjani jika ada kesempatan bertemu dengannya.

Bagian penting lain yang patut dicatat dalam kotbah ini adalah Yang Mulia Sariputta memulai kotbah dari alam kelahiran yang paling rendah, dan satu per satu naik ke atas sampai sejauh alam Brahma. Mungkin ia memulai dari neraka-neraka karena Dhananjani telah menurun ke tingkat itu. Sariputta telah membantunya mengingat perbuatan-perbuatan baik sebelumnya, dan juga telah menarik perhatiannya ke kotbah Dhamma yang berkaitan, dan mungkin kotbah Dhamma tersebut telah diberikan oleh Sariputta kepadanya hanya beberapa hari sebelum ia jatuh sakit. Maka dengan menarik perhatian pada potensi spiritual yang tersembunyi di dalamnya, Sariputta dapat membantu Dhananjani mencapai kelahiran kembali yang bahagia dengan nasehatnya di menit terakhir.

Di sini kita diingatkan dengan peristiwa Mattakundali muda (DhpA.i,26). Saat ia sedang berbaring sekarat di tempat tidurnya, Yang Terberkati muncul dan Mattakundali menjadi sangat gembira, kegembiraan tersebut membangkitkan keyakinan tinggi pada Sang Buddha. Segera setelah meninggal, ia dilahirkan kembali di alam surga.

Sebuah sutta di Sotapattisamyutta (S.v,386) menguraikan bahwa orang biasa di ambang kematian melihat bahwa ia tidak mempunyai keyakinan pada sifat-sifat mulia Buddha, Dhamma dan Sangha, dan ia menjalani kehidupan yang tak bermoral, maka ketakutan besar atas kematian dan kegelisahan akan muncul di dalamnya. Tetapi seorang yang mempunyai keyakinan teguh pada sifat-sifat mulia Tiga Permata, dan yang mempunyai perilaku tak ternoda, tidak akan mengalami ketakutan dan kegelisahan demikian. Nampaknya kesadaran akan rasa bersalah menyebabkan penderitaan pada saat kematian. Jika ketakutan dan kecemasan berada pada saat penting ini, maka kelahiran kembali pasti akan terjadi di alam yang seimbang dan sesuai dengan pengalaman yang menderita itu.

Tepatlah di sini untuk mencatat sebuah perbincangan antara Mahanama seorang Sakya dan Sang Buddha mengenai nasib seseorang yang bertemu dengan kematian mendadak (S.v,369). Mahanama memberitahu Sang Buddha bahwa saat ia datang ke vihara yang bersuasana tenang dan berhubungan dengan para bhikkhu saleh yang mempunyai sifat-sifat mulia, ia merasa cukup tenang dan memiliki pengendalian diri. Tetapi saat ia pergi ke jalan-jalan Kapilavatthu sibuk yang mempunyai lalu lintas ramai, ia mempunyai perasaan takut bahwa ia akan mengalami kematian mendadak dari kecelakaan lalu lintas. Sang Buddha meyakinkannya bahwa seorang yang telah mengembangkan kebajikan-kebajikan moral dan menjalani kehidupan benar tidak perlu menanggapi ketakutan demikian. Beliau menjelaskan situasi tersebut dengan sebuah perumpamaan. Jika satu pot minyak mentega pecah setelah tenggelam di air, kepingan pot akan tenggelam ke dalam sungai, tetapi minyak mentega akan muncul di permukaan. Dengan cara yang sama, tubuh akan hancur, tetapi batin tak ternoda akan timbul seperti minyak mentega.

Sutta-sutta seperti Sankharuppatti, (M.iii,99) Kukkuravatika (M.i,387) dan Tevijja (D.i,235) menekankan ide yang sama. Kelahiran kembali umumnya bergantung pada pikiran-pikiran yang paling sering muncul selama kehidupan. Jika seseorang mempunyai pikiran-pikiran dan watak yang cocok dengan binatang, seperti anjing atau kerbau dalam Sutta Kukkuravatika, maka kemungkinan besar seseorang akan dilahirkan di antara binatang-binatang ini, yaitu di antara makhluk hidup yang mempunyai watak yang mirip. Sebaliknya, jika seseorang membiasakan pikiran-pikiran dan watak-watak yang dapat disamakan dengan para Brahma, dengan pengembangan perasaan-perasaan mulia seperti cinta kasih dan belas kasih, dia mempunyai kesempatan baik terlahir di antara para Brahma. Maka persiapan untuk kematian benar-benar harus dilakukan saat hidup. Walaupun saat kematian datang pikiran dibimbing menuju kelahiran kembali lebih tinggi, seseorang perlu mempersiapkan keyakinan yang cocok dengan kebajikan dan pemahaman manusia — inilah yang dimaksudkan dengan mempunyai keyakinan pada Buddha, Dhamma dan Sangha — dan pengembangan kebiasaan-kebiasaan moral. Jika seseorang tidak mempunyai kebajikan, pembimbingan pola pikiran menuju tingkat lebih tinggi pada saat jam kematian akan menjadi sukar. Tetapi, bagaimanapun susah dan efektif pembimbingan tersebut, mengundang bhikkhu saat pasien menjelang kematian adalah suatu kebiasaan umat Buddhis dengan harapan bahwa pembacaan paritta tertentu akan membantu pasien mengembangkan keyakinan dan meningkatkan pikiran-pikirannya ke tingkat spiritual lebih tinggi.

Kita diingatkan di sini bahwa menurut Vinaya (iii,8), beberapa Buddha sebelumnya seperti Vessabhu yang pembebasannya tidak berakhir lama, sering mengajarkan para pengikut Mereka melihat ke dalam pikiran mereka dengan memakai kekuatan-kekuatan telepati dan pembimbingan pola-pola pikiran mereka:

“Pikirlah demikian, jangan berpikir demikian, perhatikan ini, jangan perhatikan ini, hentikan ini, kembangkan ini,”

dll. Mungkin Buddha Gotama dan murid-murid terkenalnya memakai teknik ini membimbing pola-pola pikiran para pengikutNya yang patuh di saat kematian. Pada saat-saat biasa mereka nampaknya lebih menyukai memakai teknik-teknik umum dengan khotbah-khotbah ajaran yang panjang daripada meditasi bimbingan dengan penglihatan ke dalam pola pikiran individu.

Pertanyaan yang mungkin timbul adalah seberapa effektif bimbingan spiritual jika pasien menjelang kematian sedang tidak sadar. Sebenarnya apa yang penting di sini adalah kita benar-benar tidak mengetahui kondisi batin pasien pada saat kematian. Para dokter dan penonton mungkin menyimpulkan bahwa pasien tidak sadar karena ia tidak bereaksi terhadap sekelilingnya dan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Lima inderanya mungkin sebagian atau sama sekali tidak berfungsi, tetapi tidak ada yang memastikan apakah fungsi pikirannya aktif atau tidak. Kita tentunya tidak tahu potensi-potensi spesial apa yang ada dalam pikirannya saat kematian. Kemungkinan besar bahwa bagian pikiran adalah yang paling aktif pada saat yang penting ini. Mungkin pada saat inilah seseorang mempunyai perjuangan batin yang paling keras, keinginan hidup yang kuat yang berasal dari kebiasaan kuat menentang dan memprotes kematian.

Dugaan kita adalah saat seseorang sangat takut menghadapi kematian, maka keinginan untuk hidup menjadi kuat. Ketakutan atas kematian sangat besar saat perasaan bersalah seseorang besar, ketakutan bahwa seseorang telah menghamburkan kesempatan baik dari kehidupan sebagai manusia, suatu kesempatan yang dapat digunakan dengan baik untuk perkembangan spiritual. Sebaliknya, jika seseorang telah menggunakan kesempatan kehidupan sebagai manusia dengan baik untuk perkembangan spiritual, seseorang dapat menghadapi kematian yang tak dapat dihindari dengan ketenangan, kesenangan dan kepuasan. Kelahiran kembali seseorang nampaknya sesuai dengan potensi spiritual seseorang yang dalam istilah Buddhis dinamakan kamma.

Sangat tepat untuk menyimpulkan karangan ini dengan memikirkan apa yang harus kita lakukan saat kita mengunjungi pasien menjelang kematian. Sikap normal kita adalah kesedihan dan perasaan kasihan, tetapi Buddhisme menganggap salah mempunyai pikiran-pikiran negatif pada saat demikian. Pendapat saya adalah akan lebih membantu bagi pasien menjelang kematian dan bagi pasien siapapun, jika kita memancarkan pikiran-pikiran metta, cinta kasih kepadanya. Karena pikiran pasien menjelang kematian mungkin sedang bekerja pada saat penting ini, tak terhalangi oleh keterbatasan yang dibebankan oleh fungsi-fungsi jasmani, kemungkinan bahwa batin seseorang akan lebih sensitif dan mudah menerima gelombang-gelombang pikiran spiritual di sekitarnya. Jika kesedihan dan tangisan menghasilkan gelombang pikiran negatif, maka orang yang akan meninggal mungkin terpengaruh. Tetapi jika pikiran-pikiran baik tentang cinta kasih dipancarkan, pikiran-pikiran demikian dapat berfungsi sebagai penenang batin yang menghilangkan penderitaan dan kecemasan dari datangnya kematian dan dapat menyelubungi pikiran seseorang dalam selimut yang hangat, tenang dan melindungi.

Singkatan-singkatan:

Semua petunjuk dalam teks menunjuk ke edisi-edisi dari the Pali Text Society, Oxford.

A …..Anguttara Nikaya

D …..Digha Nikaya

Dhp …Dhammapada

DhpA ..Dhammapada Atthakatha

M …..Majjhima Nikaya

MA ….Majjhima Nikaya Atthakatha

S …..Samyutta Nikaya

Vin …Vinaya Pitaka

Tentang pengarang:

Lily de Silva adalah profesor dari Pali dan Buddhist Studi di the Universitas Peradeniya di Sri Lanka. Seorang penyumbang tetap pelajar Buddhis dan majalah-majalah populer, ia juga editor dari Digha Nikaya Tika yang diterbitkan oleh Pali Text Society. Penerbitan BPS sebelumnya termasuk One Foot in the World (Wheel No. 337/338), The Self-Made Private Prison (Bodhi Leaves No. 120), dan Radical Therapy (Bodhi Leaves No. 123).

[Sumber: AccestoInsight: Leaves/BL 132, Bahasa Indonesia: Indoforum]



Apakah umat beragama lain selain Buddhis dapat juga mencapai surga?

Dalam Tipitaka sendiri, yaitu pada Devaputta samyutta, I dan III. Berbagai Pengikut Sekte, tercatat banyak penghuni surga yang terlahir menjadi Dewa berasal dari pemeluk non Buddhis. Misalnya di dalam catatan untuk Dewa Tayana [Devaputa Samyutta I, 8], dulunya adalah pendiri dari suatu sekte keagamaan, di sutta tersebut terangkan mengapa hal ini dapat terjadi :

Spk [Sâratthappakâsinî]: “sekte keagamaan” (tittha) terbagi kedalam enam puluh dua pandangan (lihat: Brahmajala Sutta, DN Ni. 1).

Jika dia mendirikan sekte yang berdasar atas salah satu pandangan ini, mengapa dia bisa terlahir kembali di surga?

Karena dia menegaskan doktrin kamma dan banyak melakukan perbuatan luhur. Ketika dia dilahirkan kembali di surga, dia mengenali sasana Buddha yang bersirat membebaskan dan datang ke hadapan Sang Guru untuk mengulang syair-syair yang memuji energi yang cocok dengan sasana itu.

Ketika akhirnya terlahir di alam surga, mereka sebelumnya berpikir bahwa mereka telah terlahir di sana adalah karena keyakinannya pada gurunya masing-masing namun kemudian ketika bertemu Buddha mereka menyadari bahwa itu diakibatkan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa dan terlahir kembali di surga.



Membaca note di atas, mungkin anda akan berpikir, “Ah..selama saya banyak melakukan perbuatan luhur maka hidup saya akan aman“.

Jika anda berpikir demikian, walaupun bagus, namun tidaklah mudah. Untuk memperjelas maksud saya, saya akan berikan satu ilustrasi kepada anda bahwa adalah sangat mudah untuk melakukan perbuatan baik, namun menjaga konsistensinya seumur hidup adalah luar biasa sulitnya.

Di Maha kammavibhanga sutta [MN III.136], sang Buddha mengkategorikan 4 (empat) jenis orang yaitu:

  1. Orang yang [membunuhi makhluk hidup, mengambil yang bukan haknya, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan kebohongan, mengucapkan kata-kata jahat, mengucapkan kata-kata kasar, bergosip; tamak, pikiran berniat buruk, dan menganut pandangan salah]. Ketika kematian, ia terlahir kembali di:
    1. kondisi menderita di alam yang sengsara [jika jadi manusia dalam keadaan mengenaskan, Alam: binatang, Mahluk halus dan bahkan neraka]
    2. kondisi menyenangkan [jika jadi manusia dalam keadaan menyenangkan dan/atau di atas alam manusia]
  2. Orang yang TIDAK [membunuhi makhluk hidup, mengambil yang bukan haknya, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan kebohongan, mengucapkan kata-kata jahat, mengucapkan kata-kata kasar, bergosip; tamak, pikiran berniat buruk, dan menganut pandangan salah]. Ketika kematian, ia terlahir kembali di:
    1. kondisi menderita di alam yang sengsara [jika jadi manusia dalam keadaan mengenaskan, Alam: binatang, Mahluk halus dan bahkan neraka]
    2. Kondisi menyenangkan [jika jadi manusia dalam keadaan menyenangkan dan/atau di atas alam manusia]

Kejadian-kejadian seperti di atas adalah SANGAT MEMUNGKINKAN TERJADI di dalam Buddhisme, sehingga pendapat-pendapat bahwa:

  • Melakukan perbuatan salah PASTI terlahir di neraka, atau
  • Tidak ada akibat dari perbuatan salah, atau
  • Melakukan perbuatan benar PASTI terlahir di Alam bahagia, atau
  • Tidak ada akibat dari perbuatan baik

TIDAK dibenarkan oleh sang Buddha.

Sang Buddha mengatakan seperti ini:

  1. sehubungan dengan orang yang membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali:
    • dalam kondisi menderita … bahkan di neraka:

      sebelumnya telah melakukan perbuatan jahat yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan jahat yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan salah.

      Karena hal itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka.

      Dan karena ia di sini telah membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.

    • di alam bahagia, bahkan di alam surga:

      sebelumnya telah melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan benar.

      Karena hal itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga.

      Dan karena ia di sini telah membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.

  2. sehubungan dengan orang yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali:
    • di alam bahagia, bahkan di alam surga:

      sebelumnya telah melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan benar.

      Karena hal itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga.

      Dan karena ia di sini telah menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.

    • dalam kondisi menderita … bahkan di neraka:

      sebelumnya telah melakukan perbuatan jahat yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan jahat yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan salah.

      Karena hal itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka.

      Dan karena ia di sini telah menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.

    Untuk detail lainnya, patut juga anda buka: Cula Kammavibhangga Sutta

Ya! Tidak melakukan perbuatan tidak baik dan memperbanyak kebajikan dengan konsistensi merupakan kunci utamanya!

Mengapa?

Konsistensi akan hal ini membuat diri kita:

  • Memiliki alarm yang dapat menghindarkan kita dari perbuatan tidak baik dan
  • mengikis perlahan keengganan melakukan perbuatan baik dan
  • memperlicin jalan dan secara perlahan mengubah diri kita berkebiasaan berbuat baik yang pada akhirnya makin memenuhi diri kita dan makin membentengi diri kita dari resiko terjatuh!

Demikianlah, Seseorang cukup mulai dengan melatih 5 sila dan sesekali menjadi 8 Sila, mulai dikeseharian melatih 5 sila, 3 sila tambahannya di saat-saat tertentu [misalnya setiap tanggal 1 dan 15], tentu saja berlaku pepatah “no pain no gain“, makin bijaksana seseorang, makin berusaha melatih diri dengan lebih banyak latihan benar, agar dirinya semakin terlindungi akibat latihan-latihan konsisten yang dilakukannya, sehingga tidak mengherankan seorang kemudian menjadi Biksu dan melatih dirinya dengan 227 Sila/latihan kemoralan. Namun berapapun sila yang dilatih, ini harus dilakukan dengan penuh konsistensi dan penuh kewaspadaan. Menjadi bhikhu atau tidak TIDAK PENTING, karena kuncinya justru DI KONSISTENSI DALAM LATIHAN. Untuk itu, mulai dengan 5 sila, namun lakukan dengan konsisten, karena akan menjadikan diri berada di TITIK AMAN.

    Sila yang pertama, memusatkan pikiran melatih menahan diri dari menyakiti kehidupan. Penganiayaan dan pembunuhan merupakan dua hal yang saling berdekatan. Pembunuhan yang tidak sukses disebut penganiayaan. Sebaliknya penganiayaan yang sukses disebut pembunuhan. Mengapa pembunuhan dan penganiayaan bisa mempunyai hubungan dengan kesabaran? Misalnya di rumah kita ada seekor kecoa; apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan menginjak kecoa itu ataukah kita biarkan saja? Ini adalah pilihan untuk mengukur sampai sejauh mana sila bisa kita laksanakan di dalam kehidupan sehari-hari. Sila yang dilaksanakan dengan baik akan menjadi “rem” otomatis untuk perbuatan-perbuatan kita, sehingga pelaksanaan sila pertama di dalam kehidupan sehari-hari dengan sendirinya merupakan suatu cara untuk melatih kesabaran.

    Sila yang kedua, memusatkan pikiran melatih menahan diri dari mengambil yang tidak diberikan (bukan hanya tidak mencuri, namun segala sesuatu yang tidak diberikan, walaupun ada diatas meja sekalipun).

    Sila yang ketiga, memusatkan pikiran melatih menahan diri dari menikmati indriya dengan cara salah. [di 5 sila, maka sila ke-3 adalah menjaga Perbuatan 6 indera dari hal yang tidak patut, misal melihat dengan mencontek, badan memaksa seksual, mendengar dan terpikat berita keburukan orang dst, mencium wewangian sampai ketagihan, dst]

    Sila yang keempat, memusatkan pikiran melatih menahan diri dari menyatakan yang tidak benar (berbohong; memecah belah/fitnah; berkata kasar; berbicara tidak di waktu yang tepat, tidak beralasan, tidak bermanfaat, berlawanan dengan Dhamma/Vinaya atau bergunjing).

    Sila yang kelima, memusatkan pikiran melatih menahan diri dari asupan memabukan landasan bagi kelengahan”. Jadi, sila ini disamping asupan memabukan makanan/minuman, juga asupan memabukkan selain makanan/minuman yang dapat menjadi landasan kelengahan, misalnya: Keuntungan/lābha; kehormatan/sakkāra; ketenaran/siloka; Pencapaian sila/sīlasampadāya; Pencapaian pikiran terpusat/samādhisampadāya; Pengetahuan dan penglihatannya/ñāṇadassanena. Ia mabuk itu dan menjadi lengah [MN 29/Mahasaropama sutta].

    Sila yang keenam, menahan diri agar makan hanya 1x sehari, tidak makan di malam hari di luar waktu (sejak matahari terbit s.d sebelum tengah hari, menghindari makan setelah tengah hari, makan antara pukul 06:00 pagi sampai dengan pukul 12:00 siang). Meskipun demikian, ini tidak berarti bahwa selama jangka waktu tersebut lalu kita makan sesering mungkin, tetapi berusaha untuk menggunakan secara secukupnya, dapat dilakukan untuk membiasakan mulai maksimum 2x saja, tapi sebelum tengah hari.

    Apa hubungannya melatih kesabaran dengan tidak makan?

    Pada seluruh kelahiran kembali, kita telah berjuta-juta kali kelaparan, berjuta-juta kali merasakan lapar. Dengan mengendalikan keinginan makan berlebihan adalah latihan untuk mengendalikan emosi. Jika kita mampu mengendalikan keinginan makan, maka mengapa kita tidak bisa menahan diri untuk tidak marah, Dengan cara itu kita bisa menghadapi segala sesuatunya dengan tenang dan tidak emosi. Walaupun menahan makan adalah cara sederhana, tetapi terkait dengan melatih kesabaran.

    Sila yang ketujuh, menghindari diri dari menari, menyanyi, bermain musik, melihat tontonan, memakai bunga, wewangian, kosmetik, perhiasan/kalung, berdandan, untuk memperindah diri. Dalam kehidupan modern ini, melatih diri untuk tidak menggunakan wangi-wangian, tidak menggunakan perhiasan, tidak hidup bersenang-senang dalam kemewahan tapi hidup dalam kesederhanaan.

    Sila yang ke delapan, melatih diri menghindari duduk dan berbaring pada tempat mewah.

    Bagaimanakah hubungan sila ke tujuh dan sila ke delapan ini dengan melatih kesabaran? Kadang-kadang kita ingin menunjukkan 1 hal yang lebih kepada orang lain. Misalnya dengan memakai wangi-wangian. Tetapi kalau kita berusaha mengurangi ke-aku-an, yaitu dengan memakainya pada waktu-waktu tertentu saja, maka ini sudah merupakan suatu cara untuk melatih kesabaran. Meski demikian, tidaklah berarti ini tidak boleh menggunakan wangi-wangian/perhiasan, tapi agar tidak larut dalam kesenangan dan kemewahan duniawi. Menyadari bahwa tidak setiap keinginan yang muncul harus dilaksanakan. ada keinginan yang harus kita tahan pelaksanaannya, inilah melatih kesabaran.

    Dengan menjalankan “sila” atau latihan kemoralan, yaitu 5 sila setiap hari dan 8 sila pada hari-hari tertentu misalnya pada tanggal 1 dan 15 menurut penanggalan bulan, berarti Kita berusaha untuk melatih kesabaran, mengurangi ke-aku-an, ketamakan, kebencian dan kegelapan batin.

Sudah?! Nah, bayangkan sekarang dengan tekad dari seseorang yang menjadi biksu dengan menjalankan 227 sila!

Sebagai penutup, berikut adalah kisah tentang pentingnya sebuah KONSISTENSI bahkan hingga sampai saat penghabisan:

    Suatu saat seorang Thera bernama Tissa tinggal di Savatthi. Pada suatu hari, ia menerima seperangkat jubah yang bagus dan merasa sangat senang. Ia bermaksud mengenakan jubah tersebut keesokan harinya. Tetapi pada malam hari ia meninggal dunia.

    Karena melekat pada seperangkat jubah yang bagus itu, ia terlahir kembali sebagai seekor kutu yang tinggal di dalam lipatan jubah tersebut. Karena tidak ada orang yang mewarisi benda miliknya, diputuskan bahwa seperangkat jubah tersebut akan dibagi bersama oleh bhikkhu-bhikkhu yang lain.

    Ketika para bhikkhu sedang bersiap untuk membagi jubah di antara mereka, si kutu sangat marah dan berteriak, “Mereka sedang merusak jubahku !” Teriakan ini didengar oleh Sang Buddha dengan kemampuan pendengaran luar biasa Beliau. Maka Beliau mengirim seseorang untuk menghentikan perbuatan para bhikkhu, dan memberi petunjuk kepada mereka untuk menyelesaikan masalah jubah itu setelah tujuh hari. Pada hari ke delapan, seperangkat jubah milik Tissa Thera itu dibagi oleh para bhikkhu.

    Kemudian Sang Buddha ditanya oleh para bhikkhu mengapa Beliau menyuruh mereka menunggu selama tujuh hari sebelum melakukan pembagian jubah Tissa Thera. Kepada mereka Sang Buddha berkata, “Murid-murid-Ku, pikiran Tissa melekat pada seperangkat jubah itu pada sat dia meninggal dunia, dan karenanya ia terlahir kembali sebagai seekor kutu yang tinggal dalam lipatan jubah tersebut. Ketika engkau semua bersiap untuk membagi jubah itu, Tissa si kutu sangatlah menderita dan berlarian tak tentu arah dalam lipatan jubah itu. Jika engkau mengambil jubah tersebut pada saat itu, Tissa si kutu akan merasa sangat membencimu dan ia akan terlahir di alam neraka (niraya). Tetapi sekarang Tissa telah bertumimbal lahir di alam dewa Tusita, dan sebab itu Aku memperbolehkan engkau mengambil jubah tersebut.

    “Sebenarnya, para bhikkhu, kemelekatan sangatlah berbahaya, seperti karat merusak besi di mana ia terbentuk, begitu pula kemelekatan menghancurkan seseorang dan mengirimnya ke alam neraka (Niraya). Seorang bhikkhu sebaiknya tidak terlalu menuruti kehendak atau melekat dalam pemakaian empat kebutuhan pokok.”

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 240 berikut :

    Bagaikan karat yang timbul dari besi, bila telah timbul akan menghancurkan besi itu sendiri, begitu pula perbuatan-perbuatan sendiri yang buruk akan menjerumuskan pelakunya ke alam kehidupan yang menyedihkan. [Kisah Tissa Thera, Dhammapada]

Contoh di atas sudah memberkan jawaban bahkan seorang Bikkhu [Biksu] kawakan sekalipun dapat lengah dalam menjaga konsistensi tindakan, Jadi cukup dengan 5 sila atau 8 sila tapi lakukanlah secara konsisten dan waspada. Mudah, bukan?!