Bulan [Tidak] Pernah Terbelah dua..


Salah satu keajaiban dunia Islam yang paling sohor adalah ketika Nabi Muhammad membelah Bulan, seperti di surat Al Qamar (54).1

iqtarabati (Telah dekat datangnya) alssaa’atu (saat itu) wa-insyaqqa (dan telah terbelah) alqamaru (bulan)1435. 1435: Yang dimaksud dengan “saat” di sini ialah terjadinya hari kiamat atau saat kehancuran kaum musyrikin, dan “terbelahnya bulan” ialah suatu mu’jizat Nabi Muhammad s.a.w.

Dunia Islam mengakui keajaiban ini dan juga terdapat satu artikel yang disirkulasikan secara meluas dan terus menerus (berasal dari blog Dr. Zaghlul Al-Najar):

    Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat Al-Qamar di atas memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah ?

    Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawabnya sebagai berikut:
    Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan di Univ. Cardif, Inggris bagian barat, dan para peserta yang hadir bermacam-macam, ada yang muslim dan ada juga yang bukan muslim..

    Maka saya menjawabnya: Tidak, sebab kehebatan ilmiah diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan ilmu pengetahuan, sebab ia tidak bisa menjagkaunya. Dan tentang terbelahnya bulan, maka itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana nabi-nabi sebelumnya.

    Dan mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu. Akan tetapi hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Dan memang Allah ta’alaa benar-benar Maha berkuasa atas segala sesuatu.

    Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah membelah bulan. Kisah itu adalah sebelum hijrah dari Mekah Mukarramah ke Madinah…Ini adalah kisah nyata, demikian kata Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar.

    Dan setelah selesainya Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdiri seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata, “Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan??”. Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab: Dipersilahkan dengan senang hati.”

    Daud Musa Pitkhok berkata, “..Maka aku pun suatu hari duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi diantara presenter seorang Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa AS. Ketiga pakar antariksa tersebut pun menceritakan tentang dana yang begitu besar dalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa, padahal saat yang sama dunia sedang mengalami masalah kelaparan, kemiskinan, sakit dan perselisihan. Presenter pun berkata, ” Andai dana itu digunakan untuk memakmurkan bumi, tentulah lebih banyak berguna”. Ketiga pakar itu pun membela diri dengan proyek antariksanya dan berkata, “Proyek antariksa ini akan membawa dampak yang sangat positif pada banyak segmen kehidupan manusia, baik segi kedokteran, industri, dan pertanian. Jadi pendanaan tersebut bukanlah hal yang sia-sia, akan tetapi hal itu dalam rangka pengembangan kehidupan manusia.

    Dan diantara diskusi tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakiknya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar.

    Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget dan berkata, “Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?” Mereka pun menjawab, “Tidak, ..!!! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun. Maka presenter itu pun bertanya, “Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya. Mereka menjawab, “Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali.!!!

    Presenter pun bertanya,”Bagaimana kalian bisa yakin akanhal itu?” Mereka menjawab, “Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Maka kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, “Hal ini tidak mungkin telah terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali”.

    Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan, “Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, “Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad sallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin !!!! Maka, agama Islam ini tidak mungkin salah … Maka aku pun berguman, “Maka, aku pun membuka kembali Mushhaf Al-Qur’an dan aku baca surat Al-Qamar, dan … saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam.

    Diterjemahkan oleh: Abu Muhammad ibn Shadiq [swaramuslim, Telah Dekat Qiamat; Bulan Telah Terbelah…, Sabtu, 22 Sya’ban1424H/18102003M]

Kemudian, di blog ini anda akan temukan siapa itu Ibn Shadiq yang ternyata modusnya adalah:

    1. menyamarkan artikel buatan dengan dalih menerjemahkan. Teknik ini dapat menipu pembaca, seakan-akan artikel tersebut berasal dari sumber terpercaya dari luar negeri,
    2. menggunakan nama-nama palsu seperti Prof. Dr. Zaghlul al-Najar dan Samy Unqowy, Eng. untuk mengesankan keilmiahan artikel yang ia buat

Harun Yahya, ternyata juga pernah memuat keajaiban bulan terbelah ini yang dihubungkan dengan pendaratan Apolo 11 di Bulan:

    Bila kita kembali menengok ke tahun 1969, kita akan melihat salah satu keajaiban al-Qur’an. Eksperimen yang dijalankan di permukaan bulan pada tanggal 20 Juli 1969, dapat mengisyaratkan terpenuhinya berita yang telah disampaikan 1.400 tahun yang lampau di dalam Surat al-Qamar. Pada tanggal itu, para astronot Amerika menjejakkan kaki mereka di bulan. Dengan menggali tanah bulan, mereka pun melakukan ekspe-rimen-eksperimen ilmiah dan mengumpulkan contoh-contoh bebatuan dan tanah. Sungguh sangat menarik bahwa kemajuan-kemajuan ini sepenuhnya persis dengan pernyataanpernyataan di dalam ayat tadi.

    Sewaktu para astronot itu sedang bekerja di permukaan bulan, mereka mengumpulkan 15,4 kilogram contoh-contoh batu dan tanah. Contoh-contoh ini kelak menarik banyak perhatian. Menurut laporan NASA, minat yang diperlihatkan oleh orang-orang terhadap contoh-contoh ini barangkali melampaui minat mereka terhadap semua bentuk eksplorasi ruang angkasa lainnya pada abad ke-20.

Sedikit mengenai Harun Yahya, seorang cerdas yang fenomenal dan juga kerap didakwa bermacam-macam tuntutan hukum. Banyak situs islam secara sepihak memberitakan bahwa ia dihukum karena “menghancurkan Darwinisme” namun ternyata mereka keliru, dari banyak tuntutan diantaranya adalah membuat seorang wanita dipaksa melayani 16 orang, kejadian ini direkam dan wanita itu diperas jika melaporkan akan di publikasikan! Ia juga pernah dituntut karena kepemilikan kokain dan terakhir Harun Yahya dihukum 3 tahun karena variasi kejahatan dalam pengelolaan ilegal organisasi untuk keuntungan pribadi

    […] Controversial Turkish Islamic author Adnan Oktar was sentenced to three years in prison on Friday for creating an illegal organization for personal gain, state-run Anatolian news agency said. […]

O ya..ada cara lainnya dalam menafsirkan surat 54:1, yaitu dengan menggunakan persamaan angka ajaib dunia Islam yaitu angka 19! Berikut penjelasan Dr Rashad Khalifa bagaimana angka ajaib ini bekerja di surat 54:1 yang dihubungankannya dengan pendaratan apolo 11 di bulan:

    This prophecy has come to pass on July 21 1969. Let us write those numbers down in the format used by almost all countries : 21 / 07 /1969.
    We get 21071969 and 21071969 = 19 x 1109051
    It is interesting to note that the american date of landing is coded. The lunar module landed on July 20 : 7 / 20 1969. Indeed : 7201969 = 379051 X 19.

    The moment of the fulfillment is confirmed by the hour of departure. The Lunar Module left the lunar surface at 17: 54: 1 (Universal Time) or 1: 54: 1 (EDT) and as you have seen it above, verse [54:1] is the verse that deals with the prophesy.

    So, the prophecy described in verse [54:1] was fulfilled on 21 July 1969 at 17: 54: 1 (Universal Time) (1: 54: 1 EDT) when the lunar module left the moon carrying 21 kilograms of lunar rocks.
    Let us add the Sura number (54), the verse number (1), the day (21), the month (07) and the year (1969); we get:
    54 + 1 + 21 + 7 +1969 = 2052 or 19 x 108.
    There are 4845 verses, from the beginning of the Qu’ran to verse [54:1] and 4845 = 19 x 255.

    So, nobody can deny that verse [54:1] refers to the fact that Neil Armstrong and Aldrin left the moon with parts of the moon.

Wow! Hebat kan..hehehehe..Berikut data-data dari Apolo 11:

    Launcing: July 16, 1969 13:32:00 UT (09:32 a.m. EDT) Kennedy Space Center Launch Complex 39A
    Landed on Moon: July 20, 1969 20:17:40 UT (4:17:40 p.m. EDT)
    First step: 02:56:15 UT July 21, 1969 (10:56:15 p.m. EDT July 20, 1969)
    Moon Rocks Collected: 21.7 kilograms [menurut Harun yahya 15.4kg]
    LM Departed Moon: July 21, 1969 17:54:01 UT (1:54:01 p.m. EDT)
    Returned to Earth: July 24, 1969 16:50:35 UT (12:50:35 p.m. EDT)

Koq yang dipake dasar untuk corat-coret adalah saat keberangkatan dari bulan ya? Mengapa bukan saat berangkat dari bumi misalnya atau kalau mau lebih relevan lagi adalah saat landing di bulan atau saat melangkahkan kaki untuk pertama kalinya di bulan, ternyata dijawab seperti ini:

    To answer that, one must keep the prophecy in mind: “The moon has split.” This is a metaphor. Parts of the moon have left its surface. They no longer are part of the moon.

    So, the prophecy does not refer to the landing on the moon or to the first step made by Neil Armstrong but to the fact that Armstrong and Aldrin collected 21 kilograms of lunar rocks to bring them back to earth. The prophecy was fulfilled at the very moment the Astronauts left the moon in the lunar module containing 21 kilograms of rocks that had belonged to the moon.” [When did the first prophecy come to pass?]

Alasan serta hitungan angka 19 di atas jelas sudah di buat-buat dan hanya mencocok-cocokan agar masuk pada hitungan dan surat 54. Yang lebih parah lagi, Mukjijat Bulan terbelah sama sekali bukanlah Metaphora karena menurut semua hadis sahih, peristiwa itu benar-benar Terjadi!

Kenapa Dr Rashad begitu memaksakan masalah ini?

Untuk mendapatkan jawaban ini, maka ada baiknya kita mengenal lebih jauh Muslim Jenius ini yaitu Dr. Rashad Khalifa. Di situs ini, Dr Rashad Khalifa ternyata mengaku mendapat wahyu dari jibril sebagai mesias setelah Muhammad dan menyatakan bahwa surat At taubah 9:128-129 merupakan sisipan karena ngga cocok dengan teori ajaib angka 19-nya. Bukan cuma itu, Ia-pun pernah dituntut untuk kasus perkosaan anak dibawah umur, memang sih ngga terbukti dan masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan Dr satu ini.

Sekarang, saatnya kita lihat sisi ajaran,
Surat Al Qur’an no. 54:1-5 termasuk Al makkiyah [surat yang turun sebelum hijrah/622M]. Beberapa mengatakan surat ini turun di tahun ke-4 setelah kenabian, namun beberapa lainnya menyatakan surat ini turun 5 tahun sebelum hijrah.

Di hadis Bukhari, Muslim dan Tirmidhi, terbelahnya bulan diriwayatkan lebih dari 4 saksi, yaitu Anas, Ibn Abbas, Abdullah bin Masud, Abdullah bin Umar dan Abu Mamar, Ini terjadi sebelum beliau hijrah bertempat  di Mina, Mekkah sebagai tanda bahwa kiamat sudah dekat. Bahkan atraksi membelah bulan saat itu, terjadi 2x. Sehingga AQ 54:1-5, bukanlah Methapora:

  • Hadis:
      Riwayat Shadaqah bin Al Fadlal – Ibnu ‘Uyainah – Ibnu Abu Najih – Mujahid – Abu Ma’mar – Abdullah bin Mas’ud: Pada zaman Rasulullah SAW bulan pernah terbelah menjadi dua bagian lalu Nabi SAW bersabda: “Saksikanlah”. [Bukhari 5.56.830/no.3364]

      Riwayat [(Abdullah bin Muhammad – Yunus – Syaiban) dan (Khalifah bin Khayyath – Yazid bin Zurai – Sa’id bin Abi ‘Urubah)] – Qatadah – Anas bin Malik: penduduk Makkah meminta kepada Rasulullah SAW agar beliau menunjukkan ayat. Maka beliau menunjukkan kepada mereka terbelahnya bulan” [Bukhari 5.56.831/no.3365]

      Riwayat Khalaf bin Khalid Al Qurasyiy – Bakr bin Mudlar – Ja’far bin Rabi’ah – Irak bin Malik – ‘Ubaidullah bin Abdullah bin Mas’ud – Ibnu ‘Abbas: bulan pernah terbelah pada zaman Nabi SAW [Bukhari 5.56.832/no.3366]

      Riwayat Abdullah bin ‘Abdul Wahb – Bisyir bin Al Mufadldlal – Sa’id bin Abu ‘Arubah – Qatadah – Anas bin Malik: penduduk Makkah meminta kepada Rasulullah SAW agar beliau menunjukkan tanda-tanda. Maka beliau memperlihatkan kepada mereka dimana bulan terbelah menjadi dua bagian hingga dapat terlihat gua Hira dari celah diantaranya”. [Bukhari 5.58.208/no.3579]

      Riwayat ‘Abdan – Abu Hamzah – Al A’masy/Sulaiman bin Mihran – Ibrahim – Abu Ma’mar – Abdullah bin Mas’ud: Bulan terbelah saat kami sedang bersama Nabi SAW di Mina, lalu beliau bersabda: “Saksikanlah”. Kemudian sekelompok orang pergi ke atas gunung. Dan Riwayat Abu Adh Dhuha/Muslim bin Shubaih – Masruq – Abdullah: Bulan pernah terbelah di Makkah… Dan diperkuat pula hadits ini oleh Muhammad bin Muslim – Ibnu Abu Najih – Mujahid – Abu Ma’mar – Abdullah [Bukhari 5.58.209/no.3580]

      Riwayat ‘Utsman bin Shalih – Bakr bin Mudlar – Ja’far bin Rabi’ah – ‘Irak bin Malik – ‘Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bi Mas’ud – Abdullah bin ‘Abbas: bahwa bulan pernah terbelah pada zaman Rasulullah SAW [Bukhari 5.58.210/no.3581]

      Riwayat ‘Umar bin Hafsh – bapakku – Al A’masy – Ibrahim – Abu Ma’mar – Abdullah: “Bulan pernah terbelah” [Bukhari 5.58.221/no.3582]

      Riwayat Amru An Naqid dan Zuhair bin Harb – Sufyan bin Uyainah – Ibnu Abi Najih – Mujahid – Abu Ma’mar – Abdullah: Bulan terbelah dua bagian dimasa Rasulullah SAW, Rasulullah SAW bersabda: “Saksikan” [Muslim 39.6724/no.5010]

      Riwayat [((Abu Bakr bin Abu Syaibah, Abu Kuraib dan Ishaq bin Ibrahim) – Abu Mu’awiyah) dan (Umar bin Hafsh bin Ghiyats – ayahku) dan (Minjab bin Al Harits At Taimi – Ibnu Mushir)] – Al A’masy – Ibrahim – Abu Ma’mar – Abdullah bin Mas’ud: Saat kami bersama Rasulullah SAW di Mina, bulan terbelah menjadi dua bagian, salah satunya di belakang gunung dan yang lain di bawahnya, lalu Rasulullah SAW bersabda: “Saksikan.” [Muslim no.39.6725/no.5011]

      Riwayat Ubaidullah bin Mu’adz Al Anbari – ayahku – Syu’bah – Al A’masy – Ibrahim – Abu Ma’mar – Abdullah bin Mas’ud: Bulan terbelah dimasa Rasulullah SAW menjadi dua bagian, salah satunya menutupi gunung atau yang lainnya di atas gunung, kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Ya Allah saksikanlah” Riwayat Ubaidullah bin Mu’adz – ayahku – Syu’bah – Al A’masy – Mujahid – Ibnu Umar – nabi SAW seperti itu. Riwayat [(Bisyr bin Khalid – Muhammad bin Ja’far_ dan (Muhammad bin Basyar – Ibnu Abi Adi)] – Syu’bah (sanad dari Ibnu Mu’adz hanya saja dalam hadits Ibnu Abi Adi disebutkan: Lalu beliau bersabda: “Saksikanlah, saksikanlah.” [Muslim 39.6726-6727/no.5012]

      Riwayat [[(Zuhair bin Harb dan Abdu bin Humaid) – Yunus bin Muhammad – Syaiban] dan [Muhammad bin Rafi’ – Abdurrazzaq – Ma’mar]] – Qatadah – Anas: penduduk Makkah meminta Rasulullah SAW untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran pada mereka lalu beliau memperlihatkan terbelahnya bulan pada mereka DUA KALI [Muslim 39.6728/no.5013. Pernyataan bahwa Muhammad memperlihatkan terbelahnya bulan “DUA KALI” ada di: Ahmad no.12678 (Riwayat Yunus Bin Muhammad – Syaiban – Qatadah – Anas bin Malik), Ahmad no.12825 (Riwayat Abdul Wahhab – Sa’id – Qatadah – Anas Bin Malik) dan Tirmidhi 1.44.3285/no. 3208 (Riwayat Abdu bin Humaid – Abdur Razzaq – Ma’mar – Qatadah – Anas) sebagai telah dekat datangnya hari kiamat]

      Riwayat [(Muhammad bin Al Mutsanna – Muhammad bin Ja’far dan Abu Dawud) dan (Ibnu Basyar – (Yahya bin Sa’id, Muhammad bin Ja’far dan Abu Dawud)] – Syu’bah – Qatadah – Anas: Bulan terbelah menjadi dua bagian. Dalam hadits Abu Dawud disebutkan: Bulan terbelah dimasa Rasulullah SAW. [Muslim 39.6729/no.5014]

      Riwayat Musa bin Quraisy At Taimi – Ishaq bin Bukair bin Mudlar – ayahku – Ja’far bin Rabi’ah – Irak bin Malik – Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud – Ibnu Abbas: Di masa Rasulullah SAW bulan pernah terbelah [Muslim 39.6730 /no.5015]

      Pertanda kiamat sudah dekat:
      Riwayat ‘Umar bin Hafsh bin Ghiyats – Bapaknya – Al A’masy/Sulaiman bin Mihran – Muslim – Masruq – ‘Abdullah bin Mas’ud: 5 TELAH TERJADI: kabut, terbelahnya bulan, (kemenangan) atas Romawi hantaman keras, dan adzab. karena itu kelak (azab) pasti menimpamu. (AQ 25.77).” [Bukhari no.4395, juga no 4450, 4451]

      Riwayat [(Qutaibah bin Sa’id – Jarir) dan (Abu Sa’id Al Asyuj – Waki)] – Al A’masy/Sulaiman bin Mihran – Abu Adh Dhuha/Muslim bin Shubaih – Masruq – Abdullah berkata: 5 TELAH TERJADI: kabut, kematian, (kemenangan) Romawi, hantaman keras dan (terbelahnya) bulan. [Muslim no.5008]

      Riwayat Abdurrazaq – Ma’mar – Qatadah – Anas: Para penduduk Makkah meminta bukti pada Nabi SAW, maka terbelahlah rembulan di Makkah DUA KALI, maka Allah berfirman: “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus.”[AQ 54.1-2] [Ahmad no.12227]

      Riwayat Ali bin Hujr – Ali bin Mushir – Al A’masy – Ibrahim – Abu Ma’mar – Ibnu Mas’ud: ketika kami bersama Rasulullah SAW di Mina, kemudian bulan terbelah menjadi dua belah, sebelah dari balik gunung dan sebelah di depan gunung. Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada kami; saksikanlah! yaitu telah dekat datangnya hari kiamat dan telah terbelah bulan. (AQ 54.1), Abu Isa: hadits ini adalah hasan shahih. [Tirmidhi 1.44.3286/no.3207]

  • Tafsir Ibn Kathir surat 54:1-5
    ..Abu Ja’far ibnu Jarir – Ya’qub – Ibnu Aliyyah – Ata ibnu Sa’ib – Abu AbdurRahman As-Sulami: “Kami turun istirahat di dekat Mada-in sejauh satu farsakh darinya. Maka datanglah hari Jumat, lalu ayahku dan juga aku menghadiri salat Jumat, sedangkan berkhotbah adalah Huzaifah. Ia mengatakan dalam khotbahnya, ‘Ingatlah, sesungguhnya Allah Swt. telah berfirman: Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. (Al-Qamar: 1) Ingatlah, sesungguhnya hari kiamat itu telah dekat. Dan ingatlah, sesungguhnya telah terbelah bulan. Ingatlah, sesungguhnya dunia ini akan berakhir. Dan ingatlah bahwa sesungguhnya hari ini adalah hari tersembunyi dan besok adalah hari perlombaan.’..”

    dan telah terbelah bulan. (Al-Qamar: 1)
    Hal ini terjadi di masa Rasulullah Saw., seperti yang disebutkan di dalam hadis-hadis MUTAWATIR dengan sanad-sanad yang sahih. Di dalam kitab sahih telah disebutkan dari Ibnu Mas’ud r.a. yang mengatakan, “Ada 5 perkara yang telah berlalu (terjadi), yaitu (kemenangan) Romawi (atas Persia), Ad-Dukhan (awan putih), Al-Lizam, Al-Batsyah, dan Al-Qamar (terbelahnya rembulan).”
    Dan sudah menjadi kesepakatan para ulama bahwa terbelahnya rembulan telah terjadi di masa Nabi Saw., dan peristiwa tersebut merupakan salah satu dari mukjizat yang cemerlang.

    Sebagai salah satu tanda sudah dekatnya hari kiamat…Riwayat `Abdullah bin `Umar Al-Hafiz Abu Bakr: Al-Bayhaqi merekam bahwa `Abdullah bin `Umar berkomentar pada Kalimat Allah: (Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan) “Ini terjadi di masa hidup Rasullullah; Bulan terbelah menjadi dua bagian. Satu bagian di depan gunung dan satu bagian dibagian lainnya. Nabi berkata, (Ya Allah! Menjadi bersaksi.)” Ini dari riwayat yang Muslim dan At-Tirmidhi kumpulkan. At-Tirmidhi berkata, “Hasan Sahih.”…

Cilakanya, ada suatu problem tentang apakah Muhammad mampu atau tidak melakukan keajaiban. Karena ternyata bahkan Allah di Quran, para kafir di Quran, dan juga Muhammad sendiri dalam hadis dan sirah, telah menyatakan bahwa Ia (Muhammad) tidak diberikan kemampuan untuk dapat mempertunjukan keajaiban/Mukjizat:

    Quran:
    Dan orang-orang kafir Mekah berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya mu’jizat-mu’jizat dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya mu’jizat-mu’jizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata”[AQ 29.50]
    Dan mereka (orang-orang musyrik Mekah) berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu mu’jizat dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mu’jizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” [AQ 6.37]
    Mengapa Allah tidak berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?” [AQ 2.118]
    Orang-orang kafir berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya tanda (mu’jizat) dari Tuhannya?” [AQ 13.27]
    Bahkan mereka berkata: “mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair, maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mu’jizat, sebagai-mana rasul-rasul yang telah lalu di-utus” [AQ 21.5]
    Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dan bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca”.. [AQ 17.90-93].

    Hadis:
    ‘Abdul ‘Aziz bin Abdullah – Al Laits – Sa’id – ayahnya – Abu Hurairah – Nabi SAW: “Tidak seorang nabi pun kecuali ia diberi beberapa mukjizat yang tak bisa diserupai oleh apapun sehingga manusia mengimaninya -atau dengan redaksi ‘sehingga manusia dijadikan beriman’-, namun yang diberikan kepadaku hanyalah berupa wahyu yang Allah wahyukan kepadaku, maka aku berharap menjadi manusia yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat.” [Bukhari no.6732 dan Muslim no.217]

    Sirah Nabawiyah:
    …Tokoh-tokoh Quraisy berkata, ‘Hai Muhammad,…Oleh karena itu, berdoalah kepada Tuhanmu yang mengutusmu dengan membawa apa yang engkau bawa ini agar Dia:

    menggoncang gunung-gunung yang terasa sempit bagi kami,
    meluaskan daerah kami, mengalirkan sungai-sungai seperti Sungai Syam dan Irak untuk kami di dalamnya,
    membangkitkan nenek moyang kita, dan pasti, dan pastikan bahwa di antara nenek moyang yang dibangkitkan untuk kita adalah Qushai bin Kilab, karena ia orang tua yang benar, kemudian kita bertanya kepadanya apa yang engkau katakan; benar atau salah?

    Jika nenek moyang kita membenarkanmu dan engkau mengerjakan apa yang kami pintakan kepadamu, maka kami membenarkanmu, mengakui kedudukanmu di sisi Allah, dan bahwa Allah mengutusmu sebagai Rasul seperti yang engkau katakan.’

    Rasulullah SAW bersabda kepada mereka, ‘Aku diutus kepada kalian tidak untuk seperti itu. Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian dengan membawa apa yang aku bawa. Sungguh, apa yang telah diutus kepadaku telah aku sampaikan kepada kalian. Jika kalian menerimanya, itulah keberuntungan kalian di dunia dan akhirat. Jika kalian menolaknya, aku bersabar dalam menjalankan perintah Allah Ta’ala hingga Dia memutuskan persoalan di antara kita.’

    Mereka berkata, ‘Jika engkau tidak mau mengerjakan permintaan kami, maka bangunlah untuk dirimu. Mintalah Tuhanmu:

    mengutus malaikat bersamamu yang membenarkan apa yang engkau katakan dan meminta pendapat kami tentang dirimu.

    memberikan untukmu taman-taman, istana-istana, dan kekayaan dari emas dan perak hingga engkau menjadi kaya dengannya, karena engkau berada di pasar seperti halnya kami dan mencari kehidupan seperti kami.

    Ini semua agar kami mengetahui kelebihanmu dan kedudukanmu di sisi Tuhanmu jika engkau betul-betul seorang Rasul seperti pengakuanmu.’

    Rasulullah Saw bersabda kepada mereka, ‘Aku tidak akan melakukan itu semua, dan aku tidak akan meminta itu semua kepada Tuhanku, serta aku tidak diutus kepada kalian dengan itu semua. Namun Allah mengutusku sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan–atau seperti yang beliau sabdakan. Jika kalian menerima apa yang aku bawa, itulah keberuntungan kalian di dunia dan akhirat. Jika kalian menolaknya, aku bersabar dalam menjalankan perintah Allah hingga Allah memutuskan persoalan di antara kita.’

    Tokoh-tokoh Quraisy berkata, ‘Kalau tidak begitu jatuhkan untuk kami gumpalan dari langit karena engkau mengatakan bahwa jika Allah berkehendak, Dia pasti melakukannya. Sungguh, kita tidak beriman kepadamu jika engkau tidak melakukannya.’

    Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika itu kehendak Allah pada kalian, pasti Dia melakukannya.’

    Tokoh-tokoh Quraisy berkata, ‘Hai Muhammad, apakah Tuhanmu mengetahui bahwa kami akan duduk bersamamu, kami menanyakan ini semua kepadamu, dan meminta ini semua kepadamu, kemudian Dia datang kepadamu untuk mengajarimu sesuatu yang bisa engkau jadikan sebagai bahan untuk menjawab pertanyaan kami dan Dia menjelaskan kepadamu tentang apa yang akan Dia kerjakan terhadap kami jika tidak menerima apa yang engkau bawa? Sungguh, kami telah mendapatkan informasi bahwa engkau diajari seseorang dari Yamamah yang bernama Ar-Rahman. Demi Allah, kami tidak beriman kepada Ar-Rahman. Hai Muhammad, kami telah mengajukan banyak hal kepadamu. Demi Allah, kami tidak membiarkanmu dan apa yang engkau sampaikan kepada kami hingga kami berhasil membinasakanmu atau engkau membinasakan kami.’

    Salah seorang dari mereka berkata, ‘Kami tidak beriman kepadamu hingga engkau bisa mendatangkan Allah dan para malaikat berhadapan dengan kami.’

    Ketika mereka usai berkata seperti itu kepada Rasulullah SAW, beliau berdiri dan diikuti Abdullah bin Abu Umaiyah..yang tidak lain adalah saudara misannya, dan suami Atikah bin Abdul Muththalib.

    Abdullah bin Abu Umaiyyah berkata kepada Rasulullah SAW, ‘Hai Muhammad,
    .. Mereka memintamu memberi hal-hal agar dengan yang demikian mereka mengetahui kedudukanmu di sisi Allah seperti pengakuanmu.
    Mereka memintamu, dan mengikutimu, namun engkau tidak mengabulkannya.
    Mereka memintamu mengambil sesuatu untuk dirimu sehingga dengan sesuatu tersebut, mereka mengetahui kelebihanmu atas mereka dan kedudukanmu di sisi Allah, namun engkau tidak mengabulkannya.
    Mereka meminta percepatan siksa yang engkau ancamkan kepada mereka, namun engkau juga tidak mengabulkannya–atau seperti dikatakan Abdullah bin Abu Umaiyyah.

    Demi Allah, sampai kapan pun aku tidak beriman kepadamu hingga engkau membangun tangga ke langit, kemudian engkau naik ke langit melalui tangga tersebut dan aku melihatmu tiba di sana, setelah itu engkau mengambil tempat malaikat yang memberi kesaksian untukmu bahwa apa yang engkau katakan memang benar. Demi Allah, jika engkau tidak mau melakukannya, jangan berharap aku membenarkanmu.’

    Kemudian Abdullah bin Abu Umaiyyah berpaling dari Rasulullah SAW dan beliau sendiri pulang kepada keluarganya… [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, bab56, hal 248-251]

Bahkan saat menceritakan peristiwa ajaib Isra’ Mi’raj, para pengikut awalnya, malah berkurang, banyak yang murtad karenanya:

    ..Apa yang dikatakan Muhammad kemudian menimbulkan kesangsian juga pada beberapa orang pengikutnya, pada orang-orang yang tadinya sudah percaya. Mereka banyak yang mengatakan: Masalah ini sudah jelas. Perjalanan kafilah yang terus-meneruspun antara Mekah-Syam memakan waktu sebulan pergi dan sebulan pulang. Mana boleh jadi Muhammad hanya satu malam saja pergi-pulang ke Mekah?!

    Tidak sedikit mereka yang sudah Islam itu kemudian berbalik murtad. [“Hayat Muhammad”, Muhammad Husayn Haykal, Hal. 189]

Seolah belum cukup dengan kontradiksi tentang mampu atau tidaknya Muhammad melakukan keajaiban, klaim terbelahnya bulan, malah melebar dengan adanya klaim saksi orang luar Arab, yaitu raja Malabar, Chakrawati:

    Salah satu versi:
    Malik Ibn Dinar yang bersama 12 orang pedagang mendarat di kerala pada tahun 644 M dan berbincang-bincang dengan raja Chakrawati (Cheraman Perumal) tentang Islam dan menyebutkan peristiwa Bulan terbelah sebagai bukti kenabian Muhammad. Setelah Raja bertanya pada Astrolognya, mereka menyatakan bahwa phenomena itu juga dicatat mereka. Raja kemudian memutuskan pergi bersama Malik Dinar ke Arab, Ia kemudian bertemu NMuhammad dan ikut melaksanakan Haji terakhir Muhammad. Dalam perjalanan pulang, kapalnya karam, mayatnya terdampaR di pantai Salalah, Yaman dan dikubur di sana. [“The Judgment Against Imperialism, Fascism and Racism Against Caliphate and Islam”: Vol.1, Khondakar Golam Mowla. Note: Malik Ibn Dinar, Tabi’in, wafat tahun 748 M, yaitu 126 tahun sejak hijrahnya Muhammad di tahun 622 M]

    Versi lain:
    Sekelompok peziarah Arab pimpinan Zahiruddin bin Taqiyuddin, dalam perjalanan menuju Srilanka, mendarat di Kodungallur dan bertemu Raja Chera, Ia menerangkan tentang Nabi Muhammad dan keajaiban bulan terbelah yang juga disaksikan Raja, Raja tertarik untuk masuk Islam. Sepulangnya ziarah, bersama raja, mereka kembali. Raja kemudian bertemu Muhammad di Jeddah 6 tahun sebelum Hijrah. Ia masuk Islam dan mengubah nama menjadi Tajuddin. Setelah beberapa tahun, Ia kembali ke Malabar, namun di perjalanan Ia wafat dikubur di Shahar Muqalla (Pelabuhan Zafar) di Yaman pada tahun 622 M [“Tarikh Zuhur al Islam fil Malibar”, Muhammad Ibn Malik, turunan ke-3 Habib Ibn Malik. Problem utama dari Tarikh ini: Tidak ada satupun baik itu buku-buku sirah awal maupun kitab-kitab hadis otentik yang memberitakan masuk islamnya seorang raja/penguasa asing pada masa awal kenabian. Sumber lain kisah di atas, lihat di: “Mappila Muslims: A Study on Society and Anti Colonial Struggles”, Husain Raṇṭattāṇi, hal.25.]

    Versi lain:
    Raja bertemu Zahiruddin bin Taqiyuddin, raja tidak melihat bulan terbelah, Raja tertarik cerita bulan terbelah dan Muhammad, tertarik pada Islam, Ia ikut rombongan ziarah Zahiruddin yang pulang Mekkah, Raja tidak bertemu Nabi, Raja wafat dalam perjalanan ke Arab di perjalanan jatuh sakit, menulis wasiat kepada sharaf Ibn Malik dan Malik bin Dinar, kemudian meninggal. [“Tuhfat-ul-Mujahidin”, Zainuddin Makhdoom II, 1580 M, cucu Zainuddin Makdhum I, pendiri “Ponnani dars”, Buku pertama yang ditulis orang kerala dan dalam bahasa Arab]

    Versi lain:
    Raja yang bernama Cheraman Perumal ketika di Jeddah, Nabi menamainya Tajuddin. Raja ini kawin dengan adik perempuan raja arab dan tinggal di kota pelabuhan selama 5 tahun dan ketika kembali, Ia wafat di Yaman. [Keralopathi, Shungunny Menon menyatakan pengarang buku ini adalah Thunchaththu Ramanujan Ezhuthachan dari abad ke 17]

    Versi lain:
    Sejarahwan Andre Wink dan Annemarie Schimmel, Maududi (dalam: “Muhammad Rasullulah: A concise survey of the life and work of the founder of Islam”, 1979) dan beberapa website, mengutip sebuah manuscript bernama “Qissat Shakarwati Farmad” atau “Qissat Shakruti Firmad” karangan anonim yang diterjemahkan “Israel Oriental Studies journal” oleh Dr Yohannan Friedmann tahun 1975, namun tidak ada tanggal historisnya dan beberapa sejarahwan beropini ini tidak otentik. Dalam Manuscript, nama raja adalah Chakrawati Farmas, Ia melihat bulan terbelah dan berinisiatif ke Mekkah, masuk Islam di tangan Nabi Muhammad, pulang kembali namun wafat di Zafar in Yemen [“A Catalogue of the Arabic Manuscripts in the Library of the India Office”, Otto Loth, hal 299]

    Versi-versi lainnya lihat di sini

Kisah-kisah hoax di atas ini, tersirkulasi ulang tanpa pembuktian dan re-chek sama sekali!

Kapan kisaran kehidupan Raja India di atas ternyata bermasalah karena menurut situs ini raja Chakrawati itu hidup di akhir abad ke 8! Bukan disekitar 615 M – 632 M!

Chakrawati, yang seorang raja itu, bukanlah orang biasa sehingga catatan mengenai dia haruslah ada, namun berdasarkan sumber di bawah ini, catatan Raja tersebut tidak sesuai dengan tahunnya:

    Legenda Cheraman Perumal muncul di buku abad ke 16 Tuhafat Ul Mujahideen oleh Shaikh Zainuddin Makhdoom sebuah catatan ahLi sejarah Kerala, Namun tampaknya ia tidak mempercayai ke-autentik-an sejarahnya. Namun belakangan dikatakan bahwa beberapa ahli sejarah lupa untuk menambah pengakuan ini.

    Sreedhara Menon, sejarahwan, menyatakan bahwa Kerala ngga pernah punya raja bernama Cheraman Perumal dan mengutip Dr. Herman Gundert, seorang Jerman penyusun kamus pertama Malayalam-Inggris (dan juga Kakek dari Herman Hesse). Namun kelihatannya pernah ada seorang Cheraman Perumal, yang sejarahnya terselimutkan legenda. Menurut tradisi Saiva [salah satu sekte Hindu], Ia ada hubungannya dengan Sundaramurti, Pemuja terakhir dari Tiga pemuja/penyair Devaram. Ini adalah Cheraman Perumal yang berbeda yang diperkirakan meninggal di tahun 825 A.D.

    Juga ada catatan dari Kookel keloo Nair di suatu paparan menarik yang ditulis di abad ke 19, Madras Quarterly Journal of Literature and Science. Merujuk pada subyek ini, penulis mengamati bahwa penganut Jainisme dan Buddhisme, “Penduduk yang menetap di Arabia dan banyak mengunjungi Malabar; Penamaan aslinya adalah Mahajain dan seiring waktu terpolusi menjadi Magain atau Magan. Para hindu secara serampangan menyebut Musselman (muslim) sebagai Buddhist, dan dari ini menguak idea bahwa Perumal yang terakhir pindah menjadi kaum Muhammadian”. Ini dinyatakan di “The Land of the Permauls. Cochin, Its Past and Its Present.” 1863. Ch 2. P. 44, The Last “Permaul.” Dr. Francis Day.

    Tulisan lain yang juga runut dan jelas yang mengungkapkan permasalahan dari dua sisi dapat anda lihat di The myth of Cheraman Perumal’s conversion dan perumal and the pickel.

Malah ada yang nekad mengkaitkan raja India ini dengan hadis yang berasal dari Said Al Khudri:

    “3002 – ذكر إهداء ملك الهند الزنجبيل إلى النبي

    7272 – حدثنا علي بن حمشاذ العدل ، ثنا العباس بن الفضل الأسفاطي ، ومحمد بن غالب ، قالا : ثنا عمرو بن حكام ، ثنا شعبة ، أخبرني علي بن زيد ، قال : سمعت أبا المتوكل ، يحدث عن أبي سعيد الخدري ، رضي الله عنه قال : ” أهدى ملك الهند إلى رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم جرة فيها زنجبيل فأطعم أصحابه قطعة قطعة وأطعمني منها قطعة ” .

    قال الحاكم رحمه الله تعالى : ” لم أخرج من أول هذا الكتاب إلى هنا لعلي بن زيد بن جدعان القرشي رحمه الله تعالى حرفا واحدا ولم أحفظ في أكل رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم الزنجبيل سواه فخرجته .” (Mustadrak al-Hakim/kitab al-‘At’imah/Makanan, Vol.4, p.150 dan Islamweb)
    (Ali bin Hamsyad Al Adl – (Abbas bin Fadhl Al-Asfathi dan Muhammad bin Ghalib) – Amru bin Hikam – Syu’bah – Ali bin Zayd – Ayah dari Mutawakkil – Abu Said Al Khudri: “Raja dari India memberikan hadiah kepada Rasulullah SAW sebuah tembikar yang berisi jahe. Lalu Nabi SAW membagikan para sahabat dari jahe tersebut sepotong demi sepotong, dan saya makan sepotong”)

Kitab, Hadis dan Perawinya dihukumi mungkar dan lemah:

    Adz-Dzahabi: “Dalam kitab Al Mustadrak terdapat banyak hadits yang sesuai kriteria Al-Bukhari dan Muslim. Jumlahnya sekitar separuh dari isi kitab. Seperempatnya sanad yang sahih, sedangkan sisanya hadits-hadits munkar yang lemah dan tidak sahih, yang sebagiannya maudhu (palsu). ”Ini merupakan hal yang mengherankan, karena Al Hakim termasuk salah seorang ahli hadits yang brilian di bidangnya. Ada yang berkata, “Hal itu disebabkan bahwa dia menulisnya pada akhir masa hidupnya, yang saat itu dia sudah agak pelupa.” [Bbiographical encyclopedia berjudul Siyar A`lâm al-Nubalâ’ “Biographies of Outstanding Personalities”]. Dalam lain tulisan, Ia berkata: “Akan lebih baik seandainya Al-Hakim tidak pernah menyusunnya.”[“Al-Hakim Al-Naysaburi”. Sunnah.org]

    Al-Hafizh Ibnu Hajar: “Al-Hakim bersikap menggampangkan karena Ia mengkonsep kitab tersebut untuk diralat kemudian, tetapi meninggal sebelum sempat meralat dan membetulkannya” [Tarikh Funun Al Hadits karya Muhammad Abdul Aziz Al Khauli, hal. 98, cet. Dar Al Qalam]

    Untuk hadis di atas, Al-Razi dan Abu Zar’ah: hadits tersebut hadits mungkar. Sedangkan al-Haitsami dalam Majma’ al-Zawaid: Hadit seperti itu juga diriwayatkan Al-Tabrani dalam Miu’jam al-Awsath, dalam perawinya Amru bin Hikam adalah lemah. Juga diriwayat Tabrani raja tersebut adalah Raja Romawi bukan Raja India. Ibnu Abi Hatim: “…Hadis Amru bin Hikam adalah hadis mungkar..Dia mengatakan: Bagaimana Ammru bin Hikam? Dia mengatakan: tidak kuat.[Lihat lemahnya hadis, perawi dan juga Raja India atau Romawi? di: Islam QA no.168186 dan di sini]

Sekarang, kita lihat penjelasan dunia modern!

Salah satu penjelasan yang baik bahwa BULAN [tidak] PERNAH TERBELAH adalah berdasarkan sisi sains dan astronomi [lengkapnya lihat di Blog ini, Bulan pernah terbelah?]

    Kutipan 1:
    T. Djamaluddin (Peneliti Utama Astronomi dan Astrofisika, LAPAN Bandung)
    ….
    Sejauh ini tidak ada bukti ilmiah yang mendukungnya. Mekanisme fisisnya pun sulit dijelaskan, karena kalau pun benda langit bisa saja terbelah atau pecah akibat efek pasang surut planet atau bintang induknya, tetapi tidak mungkin bersatu kembali. Ahli matematika Perancis Edouard Roche menyatakan ada suatu jarak minimum dari planet atau bintang induk yang bila dilampaui akan menyebabkan benda yang mengorbitnya akan pecah.

    Batas minimum itu dikenal sebagai Limit Roche yang tergantung ukuran dan kekuatan benda langit menahan gaya gravitasi planet. Bulan yang kelihatan kokoh pun akan hancur berantakan bila (karena suatu sebab) melewati Limit Roche-nya, masuk dalam orbit yang jaraknya kurang dari 18.000 km dari bumi. Saat ini (termasuk pada zaman Nabi) bulan masih berada pada jarak yang aman 384.000 km.
    ….

    Kutipan 2:
    Ma’rufin Sudibyo yang eks. Teknik Nuklir UGM:

    Jika Bulan benar-benar terbelah secara fisik maka jelas ada bekas patahannya sehingga bulan – yang saat itu kemungkinan berfase setengah lingkaran – benar-benar terbelah, bidang pembelahan itu kemungkinan besar sejajar dengan ekuator maupun bujur nol-nya. Belahan Utara dan Selatan Bulan (atau Barat dan Timur, jika bidang pembelahannya sejajar bujur nol) akan terpisah sejenak hingga berjarak minimal 120 km, untuk kemudian menyatu kembali.

    Jika ini terjadi, tentu bidang pemisahan itu masih ada jejak2nya yakni sebagai patahan panjang yang membentang sejajar ekuator Bulan maupun bujur nol. Jika suatu blok batuan mendadak terpatahkan (apalagi terpisah) untuk kemudian merekat kembali, dibutuhkan ‘lem’ teramat kuat agar patahan itu tidak bergeser lagi. Secara geologis ‘lem’ itu adalah magma yang terekstrusi keluar lewat erupsi rekahan, tentunya dengan volume sangat gigantik untuk kemudian membeku dan mengikat kedua sisi yang terpatahkan tadi. Dan karena batuan setempat mengalami kontak dengan magma Bulan, tentu terjadi proses metamorfosa kontak yang menghasilkan batuan metamorf kontak nan khas.

    Sejauh ini – merujuk NASA – vulkanisme Bulan terakhir kali terjadi jutaan tahun silam dan tak ada yang berumur Holosen (kurang dari 10.000 tahun), apalagi Resen (kurang dari 1.000 tahun). Citra2 permukaanBulan juga tidak menunjukkan jejak patahan sangat panjang yang sejajar ekuator. Demikian pula, citra2 Bulan pun tidak menunjukkan adanya sisa2 erupsi rekahan memanjang yang sejajar ekuator maupun bujur nol. Magma Bulan bersifat basaltik – mirip magma dari mantel Bumi – sehingga bila muncul ke permukaan tentunya menghasilkan endapan2 kegelapan yang mudah diidentifikasi. Misi Apollo 11, 12 dan 14 memang mendarat di dekat ekuator Bulan, namun di lokasi2 pendaratannya tidak dijumpai endapan lava basaltik “segar” produk erupsi masa Resen.

Mengenai benar atau tidaknya ada pendaratan manusia di Bulan dengan Apolo 11, maka di blog ini, anda akan temukan ulasan mengapa pendaratan manusia di bulan patut di ragukan.

Photo yang ada di sebelah ini sudah sangat menjelaskan bahwa Bulan tidak pernah terbelah!

Untuk mendapatkan arti dari guratan-guratan di Photo tersebut, maka silakan baca di website ini, setelah membaca anda akan mengetahui bahwa itu bukanlah bekas bulan yang terbelah!

Kesimpulan:
Bulan memang [TIDAK] pernah terbelah. Kisah Muhammad membelah bulan adalah Hoax

Penutup
Jika terdapat keramaian di Jum’at petang, topeng monyet datang. Ada atraksi “Sarimin pergi ke pasar” maka dunia Islam kemungkinan akan berada pada satu kesimpulan bahwa itu adalah Kebesaran Allah! Dengan merujuk ayat AQ:

    “Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu[59], lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera[60] yang hina”.
    [Al Baqarah 2:65; juga di Al A’raaf 7:165 dan Al Maidah 5:60]
    [59] Hari Sabtu ialah hari yang khusus untuk beribadat bagi orang-orang yahudi.
    [60] Sebagian ahli tafsir memandang bahwa ini sebagai suatu perumpamaan , artinya hati mereka menyerupai hati kera, karena sama-sama tidak menerima nasehat dan peringatan. Pendapat Jumhur mufassir ialah mereka betul-betul beubah menjadi kera, hanya tidak beranak, tidak makan dan minum, dan hidup tidak lebih dari tiga hari.

Maka: “Allahuakbar! Maha Besar Allah, Sarimin adalah turunan Yahudi yang dikutuk menjadi Kera!”


Bikini dan Jilbab sama-sama BUKAN Budaya Indonesia! dan Perempuan di Islam


Catatan ini imbas dari gerakan boikot Pemuda Indonesia Baru pada Zivanna Letisha Siregar, Putri Indonesia 2008 dalam ajang Miss Universe hanya gara-gara Ia memakai Bikini di sesi pemotretan

Dengan menyitir, “Untuk menguasai Suatu bangsa, hancurkan dulu budayanya”. mereka katakan sikap Zivanna adalah bentuk penghancuran budaya Indonesia yang dapat merusak mental, harkat dan martabat Indonesia.

Budaya Indonesia mana yang dimaksud?

PIB terlalu GEGABAH membawa kata-kata budaya Indonesia, karena pakaian adat di INDONESIA ASLI bervariasi dari yang MIRIP BIKINI hingga MIRIP JILBAB. Suku Jawa, misalnya, kembennya menonjolkan bentuk tubuh dan payudara, di pulau Bali dulu, para wanita tidak berbaju, payudaranya terlihat, juga di beberapa daerah lain, banyak para wanitanya telanjang dada, namun mereka ini aman-aman saja, tidak mengalami gangguan fisik, mata dan/atau keisengan para lelaki di sana.

Para orang asing datang ke Bali (dan beberapa pulau lain di Nusantara ini) untuk berjemur dan bahkan berjalan dalam keadaan memakai bikini, juga tidak mengalami gangguan keamanan dan pelecehan seksual.

Maka, apakah Bali dan beberapa daerah di Indonesia menjadi tidak berbudaya atau hancur budayanya? HAK apa, mereka berKATA bahwa itu merusak BUDAYA INDONESIA?!

Malah Hijab/Jilbab/Burka dan Bikini yang justru bukan budaya Indonesia

    Hijab tidak terdapat di antara suku Arab Badui pada zaman jahiliah. Ketika Rasulullah terpilih sebagai utusan Allah, tidak ada hijab dalam pakaian bangsa Arab. Sedang bangsa Yahudi mempunyai hijab, bahkan sampai masa Rasulullah berada di Makkah, di sana tidak ada penutup atau satr. Selama masa 2 tahun yang pertama pun, di Madinah tidak ada hijab.. [Yaum al-Quds No.27 Dzulhijjah 1410]

    Dalam Taurat, misalnya, dikenal pula istilah yang semakna dengan jilbab, yaitu tiferet; sedang dalam Injil terdapat istilah redid, zammah, re’alah, zaif, dan mitpahat [Antropologi Jilbab, Nasaruddin Umar, Ulumul Qur’an, no.5, vol.VI, 1996, hal.36]

    Tradisi wanita menghijabi diri mereka ketika mereka bepergian dalam masyarakat umum telah sangat lama di negeri timur…dapat ditemukan dalam kodeks bangsa Assyria, yang mengatur supaya para istri, anak perempuan, janda, ketika bepergian ke luar rumah, harus berhijab [Sex, Laws and Customs in Judaism, Epstein, Louis M, 1967, hal.36] ..… Para wanita yang bepergian ke muka umum dengan tanpa berhijab merupakan penyebab sah bagi tindakan penceraian, sebagaimana halnya dengan kekafiran [Ibid, hal.41]

Jauh sebelum Islam muncul, para wanita suku padang pasir di area Najd dan Sinai mempunyai kebudayaan menutupi wajah & tubuh. Namun pada suku Turaq, para prianya yang justru menutupi wajah dan tubuh.

    Ayat hijab untuk perempuan di Quran:
    Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya [jalabib]ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu.. [Al Azhab 33:59]

Ayat ini turun di tahun 628M di sekitar perkawinan Nabi Muhammad (59 tahun) dan Zainab (35 tahun) [Bukhari no.4768], yang sangat dibanggakan Zainab di hadapan istri-istri nabi lainnya bahwa Allah yang menikahkannya (Bukhari no.6870). Aisyah dan Zainab saling bersaing [Bukhari 3.829; 5.462] penuh kecemburuan hingga membuat Hafsah dan Aisyah berkomplot menipu Nabi agar tidak “mencicipi madu” di tempat Zainab [Bukhari 6.434; 7.192; 8.682].

Perintah agar perempuan ber-hijab adalah berkat protes Umar yang ketika sedang berburu perempuan, mengikutinya buang hajat namun didapatinya itu ternyata SAUDAH, akibatnya, turunlah perintah ber-hijab

  • Tafsir Ibn Kathir:
    As Suddi mengatakan bahwa dulu pria Madina suka keluyuran malam untuk mencari wanita-wanita. Para wanita Madina di jaman itu keluar malam-malam untuk buag hajat. ketika mereka melihat wanita-wanita ini memakai jilbab, mereka berkata, “Ini wanita merdeka, tahan diri dari mereka”. Jika melihat wanita-wanita tidak memakai jilbab, mereka berkata, “Ini adalah budak wanita” maka mereka mengganggunya. Mujahid berkata, “Mereka berjilbab sehingga mereka dikenal sebagai wanita-wanita merdeka, sehingga mereka tidak diganggu dan digoda” [“Lubaabut tafsiir min ibni katsiir”, cetakan ke-1, 1994, Pustaka Imaam Asy-Safi’i, Juz 22, hal.537]
  • Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – ‘Uqail – Ibnu Syihab – Urwah – ‘Aisyah: ..Umar pernah berkata kepada Nabi SAW, “Hijabilah isteri-isteri Tuan.” Namun Nabi SAW tidak melakukannya. Lalu pada suatu malam waktu Isya` Saudah binti Zam’ah, isteri Nabi SAW, keluar. Dan Saudah adalah seorang wanita yang berpostur tinggi. ‘Umar lalu berseru kepadanya, “Sungguh kami telah mengenalmu wahai Saudah! ‘ Umar ucapkan demikian karena sangat antusias agar ayat hijab diturunkan. Maka Allah kemudian menurunkan ayat hijab… (Bukhari no.143, 4421, 4836, 5771. Muslim no. 4034, 4035)
  • Riwayat ‘Amru bin ‘Aun – Husyaim – Humaid – Anas bin Malik – ‘Umar bin Al Khaththab: Allah setuju denganku akan tiga hal dan mewahyukan ayat2 tentang itu..Yang kedua tentang hijab. Aku lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, seandainya Tuan perintahkan isteri-isteri Tuan untuk berhijab karena yang berkomunikasi dengan mereka ada yang shalih dan juga ada yang fajir (suka bermaksiat).’ Maka turunlah ayat hijab. ..(Bukhari no.387, 4123. Muslim 4412)

Sejak Muhammad menjadi “nabi” [610 M] hingga 18 tahun kemudian, Allah tidaklah pernah menurunkan perintah berhijab, setelah ditegur Umar, hijab menjadi “perintah” Allah, namun TETAP TIDAK DAPAT menghentikan kebiasaan pria Medina keluruyan malam mencari pemuas nafsu



Asal usul Bikini:
Usia bikini tercatat lebih dari 3400 tahun!

Pakaian dua potong (‘bikini’) yang digunakan wanita untuk kegunaan atletik telah ditemukan di lukisan-lukisan Yunani kuno dari tahun 1400 SM.

Bikini atau pakaian renang dua potong adalah sejenis pakaian renang wanita, dengan ciri khas dua bagian—satu menutupi buah dada, satu lagi menutupi kemaluan (dan kadang-kadang juga pantat). Bentuk kedua bagian bikini menyerupai pakaian dalam wanita, dan bagian bawahnya dapat berupa celana dalam yang sangat kecil (g-string) sampai brief atau celana pendek square-cut.

Bikini modern diperkenalkan oleh Louis Réard pada 1946 dan menimbulkan kegemparan ketika dipakai di pantai-pantai Perancis pada 1947. Ia menamakan “bikini” menurut Atol Bikini yang menjadi lokasi pengujian bom atom, karena seperti yang dikatakannya efek yang ditimbulkan oleh bikini ini seperti bom atom. Menurut etimologinya sendiri, Bikini berasal dari bahasa Marshall “Pik” yang berarti ‘permukaan’ dan “Ni” yang berarti ‘kelapa.

Bikini merupakan pakaian renang pantai yang paling banyak digunakan di dunia, namun pada perlombaan-perlombaan renang, jenis pakaian renang untuk wanita yang digunakan biasanya adalah pakaian renang satu potong.



Perempuan dalam Islam
Ada baiknya kita kenali bagaimana posisi Islam dalam memandang Wanita.

    dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu [AQ 33.33]

Anjuran ini walaupun diturunkan Allah untuk para istri Muhammad, namun dalam keterangan quran dinyatakan ini juga berlaku untuk seluruh muslimah.

Mengapa?

Perempuan adalah awrah/aurat:

    Riwayat Abdillah bin Mas’ud – Muhammad SAW berkata,
    “Perempuan adalah awrah, dan jika ia pergi keluar, setan meningkatkan harapannya (menyesatkannya). Ia lebih sulit mendekat pada Allah daripada ketika ia berada di rumah”. [Tabarani no.2890, Ibn Hiban no. 5599 dan Ibn Khuzaymah (no.1685, 1686), dinyatakan sahih oleh Albani di Al-Silsilah al-Shahihah, no. 2688, juga oleh Ibn Khuzaima, ibn Hibban dan Al Mundziri; Tirmidhi no.1093 (riwayat Muhammad bin Basyar -‘Amr bin ‘Ashim – Hammam – Qatadah – Muwarriq – Abu Al Ahwash – Abdullah – Nabi SAW:..; Hasan Gharib); juga diriwayatkan Bazzar; dinyatakan sahih di Al-Irwa’ no. 273 dan Sahihul Musnad 2/36]

Perempuan adalah mainan:

    Riwayat Jabir bin ‘Abdullah: Aku ikut dalam penyerbuan Ghazwa dengan Rasul. Aku berkata, “Nabi, aku seorang mempelai lelaki.” Nabi bertanya, “apakah aku menikahi seorang perawan atau seorang janda?”. Aku jawab, “Seorang janda.” Nabi berkata, “Mengapa tidak perawan saja yang bisa bermain denganmu? Lalu kamu bisa bermain dengannya” (aku berkata:) “Nabi! Ayahku dibunuh dan aku punya beberapa adik perempuan muda, jadi aku merasa tidak pantas menikahi seorang gadis muda semuda mereka.” [Bukhari 4.52.211/no.2745; Muslim no.2663-2667].

    Nabi berkata: “Perempuan adalah sebuah mainan, siapapun yang mengambilnya rawatlah (atau seharusnya tidak disia-siakan) [Tuffaha, Ahmad Zaky, Al-Mar’ah wal-Islam “Perempuan dan Islam”, Dar al-Kitab al-Lubnani, Beirut, first edition, 1985, p. 180]. Hadis ini juga muncul di aliran Syiah:

      [12685] 15 – الكليني، عن علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن النوفلي، عن السكوني، عن أبي عبد الله (عليه السلام) قال: قال رسول الله (صلى الله عليه وآله وسلم): إنما المرأة لعبة من اتخذها فلا يضيعها (5).

      الرواية معتبرة الإسناد.

      ٥) الكافي: ٥ / ٥١٠ ح ٢

      [12685] 15- Al Kulaini, Dari Ali b. Ibrahim -ayahnya (ali) – Nofali – al Sakuni – abi Abdullah (as) berkata: Nabi (SAW) berkata: “benar perempuan adalah mainan, siapapun yang mengambilnya seharusnya tidak disia-siakan.” Narasi dengan Isnad (rantai narasi) yang dapat diandalkan. [Juga di: Al Kafi, Shaikh Kulaini (329 AH), Vol 5 Hal. 510, hadis no. 10200; Wasail al Shia by Shaikh Hurr al Amili, Vol. 20, Hal.167, Hadis no. 25324]

      Juga di versi lainnya:
      [26894] 1 ـ محمد بن يعقوب عن محمد بن يحيى ، عن أحمد بن محمد ، عن محمد بن يحيى عن غياث بن إبراهيم ، عن أبي عبدالله ( عليه السلام ) قال : لا بأس أن ينام الرجل بين أمتين والحرتين ، انما نساؤكم بمنزلة اللعب

      Dari Muhammad ibn Yaqub dari Mohammed bin Yahya, dari Ahmad bin Muhammad, dari Muhammad bin Yahya Ghias bin Ibrahim, dari Abu Abdullah berkata: “Bukan merupakan persoalan jika pria tidur diantara budak-budak wanitanya dan wanita merdeka, benar, perempuan-perempuanmu adalah sama dengan mainan” [Al Kafi, Shaikh Kulaini (329 AH), Vol 5, hal. 560, hadis no.10386; Wasail al Shia by Shaikh Hurr al Amili, Vol 21, Hal. 200, hadis no.26894]

    Umar pernah berkata ketika istrinya meneriakinya, Ia berkata padanya: “kamu adalah mainan, jika kamu diperlukan kami akan memanggilmu” [Al-Musanaf (Vol 1, part 2, p. 263), Abu Bakr Ahmad Ibn ‘Abd Allah Ibn Mousa Al-Kanadi (Ulama, 557H). lihat juga Ihy’a ‘Uloum ed-Din by Ghazali, Dar al-Kotob al-‘Elmeyah, Beirut, Vol II, Kitab Adab al-Nikah, p. 52. Juga “Book on the Etiquette of Marriage, ABU HAMID AL-GHAZALI: “Umar meneriaki Istrinya ketika istrinya berkata membelakanginya, “Kamu ini tidak lebih dari sekedar mainan di sudut rumah; Jika kami butuh kamu (kami ambil kamu), jika tidak, duduk diam saja ditempatmu”].

Apakah dalam Islam, perempuan boleh bekerja?

Boleh saja, yaitu ketika bepergian WAJIB menutupi sekujur tubuhnya dan juga harus memenuhi KRETERIA berikut:

  • Menurut Shaykh Muhammad ibn Saalih al-‘Uthaymeen berkata:
      Lapangan kerja yang HANYA BAGI PARA WANITA, misalnya: mengajari anak2 perempuan kecil, dalam administrasi atau bantuan teknik atau bekerja di RUMAH sebagai penjahit baju untuk perempuan dan sebagainya. Untuk pekerjaan yang merupakan lapangan kerja para Pria. TIDAK DIIJINKAN karena membuat dirinya bercampur dengan para PRIA, yang akan menimbulkan fitnah besar (sumber godaan dan masalah) dan SEHARUSNYA DIHINDARI. Dibuktikan dalam sabda Nabi, “Aku menjaga diriku dari fitnah apapun karena itu lebih membahayakan Pria daripada wanita; Fitnah dari kaum Israel berhubungan dengan perempuan” Jadi PRIA seharusnya menjaga KELUARGANYA agar jauh dari tempat-tempat FITNAH dan segala hal yang dapat sebagai penyebabnya dalam berbagai kondisi. [Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah (2/981)]
  • Jika bepergian, harus dengan mahram (suaminya atau lelaki yang dengannya ia tidak dapat menikah menurut jursiprudesi Islam: Ayah, kakak, paman, dsb)

      Riwayat Ibn ‘Abbas:

      Nabi berkata, “Perempuan seharusnya tidak bepergian KECUALI dengan Dhu-Mahram dan TIDAK SEORANG PRIApun boleh mengunjunginya KECUALI ada kehadiran Dhu-Mahram” Seorang pria berdiri dan berkata, “O Rasullullah! Aku bermaksud untuk pergi ini dan itu dalam pertempuran dan istriku ingin berhaji” Nabi SAW berkata padanya, “Temani ia” [Bukhari 3.85]

      Riwayat Abu Hurairah:
      “Jangan ijinkan perempuanmu bepergian, KECUALI Ia bersama mahram (Dhu mahram).” (Hadis Muslim, Albani menyatakan ini otentik dalam Sahih Al Jaami’ vol. 2, no.7646)

  • TIDAK memakai FARFUM:
    Zaynab, Istri dari ‘Abd-Allah berkata: Rasullullah SAW berkata pada kami: “Jika siapapun dari kalian (perempuan) datang ke Mesjid, jangan memakai farfum” (Muslim no.443). Bahkan untuk shalat di mesjid Nabi berkata, “Rumah mereka adalah lebih baik bagi mereka” diriwayatkan Abu Dawud (567), dinyatakan sahih oleh Albani dalam sahih abu dawud.

Kekerasan pada perempuan diijinkan Allah di Quran dan Hadis:

    ..Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan hindari (wa-uh’jurūhunna) mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah (wa-iḍ’ribūhunna) mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.. [AQ 4.34]

    ..Dan Kami anugerahi dia keluarganya dan kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah [fa-iḍ’rib] dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah.. [AQ 38.43-44, ttg Nabi Ayyub]

    Riwayat Qutaibah bin Sa’id – Yahya bin Sulaim – Isma’il bin Katsir – ‘Ashim bin Laqith bin Shabrah – Ayahnya, Laqith bin Shabrah berkata:..PUKULLAH istrimu jika Ia tidak baik tapi jangan pukul dia seperti budak wanita.” [Abu Dawud 1.142]. Riwayat Ahmad bin Abu Khalaf dan Ahmad bin ‘Amr bin As Sarh – Sufyan – Az Zuhri – Abdullah bin Abdullah, Ibnu As Sarh ‘Ubaidullah bin Abdullah – Iyas bin Abdullah bin Abu Dzubab: Rasulullah SAW: “Janganlah kalian memukul hamba-hamba wanita Allah” Kemudian Umar datang kepada Rasulullah SAW dan berkata; para wanita berani kepada suami-suami mereka. Kemudian beliau memberikan ijin untuk MEMUKULI mereka (kaum perempuan). Kemudian terdapat banyak wanita disekitar keluarga Rasulullah SAW, mengeluhkan suami mereka. Kemudian Nabi SAW berkata: “Sungguh telah terdapat banyak wanita disekitar keluarga Muhammad dan mengeluhkan suami mereka. Mereka bukanlah orang terbaik diantara kalian.”[Abu Dawud 11.2141].

    Riwayat Zuhair bin Harb – Abdurrahman bin Mahdi – Abu ‘Awanah – Daud bin Abdullah Al Audi – Abdurrahman Al Musli – Al Asy’ats bin Qais – Umar bin Al Khathab Nabi SAW berkata: Seorang pria tidak akan ditanya mengapa dia memukul istrinya. [Abu Dawud 11.2142, Albani menyatakan ini dhaif. Jalur lain: Riwayat Sulaiman Bin Daud – Abu Daud Ath Thayalisi – Abu ‘Awanah – Daud Al ‘Audi – Abdurrahman As Sulami – Asy’ats Bin Qais – Umar kemudian dia memegang istrinya dan memukulnya dan dia berkata; “Wahai Asy’ats jaga dariku tiga hal yang telah aku hafal dari Rasulullah SAW, “Jangan kamu tanyakan kepada seseorang tentang hal kenapa dia memukul istrinya…” (Musnad Ahmad no.117). Jalur lain: Riwayat Muhammad bin Yahya dan Al Hasan bin Mudrik Ath Thahhan – Yahya bin Hammad – Abu ‘Awanah – Dawud bin Abdullah Al Audi – Abdurrahman Al Musli – Al Asy’ats bin Qais, “Pada suatu malam aku bertamu ke rumah Umar. Saat menjelang tengah malam, dia bangun menuju isterinya dan memukulnya, hingga aku pun melerai keduanya. Dan ketika akan kembali ke tempat tidurnya ia berkata kepadaku, “Wahai Asy’ats, jagalah dariku sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah SAW: “Seorang lelaki tidak akan ditanya kenapa memukul isterinya..(Ibn Majah no.1976)]

    Allah mengijinkanmu untuk mengurung mereka dalam kamar terpisan dan memukul mereka, namun jangan keterlaluan..Perlakukan perempuan dengan baik seperti hewan ternak dan mereka tidak memiliki apapun [Tabari 9.113]. Riwayat Ali bin Abdullah – Sufyan – Hisyam – ayahnya – Abdullah bin Zam’ah: Nabi SAW melarang seseorang menertawakan orang yang keluar angin (kentut: bukhari no.4561), Beliau berkata: “Bagaimana salah seorang dari kalian memukuli isteri sebagaimana memukul kudanya atau budaknya dan menidurinya” Ats Tsauri, Wuhaib dan Abu Mu’awiyah – Hisyam: “Sebagaimana memukuli budak.” [Bukhari 8.73.68]. Riwayat Harun bin Sa’id Al Aili – Abdullah bin Wahb – Ibnu Juraij – Abdullah bin Katsir bin Muthallib – Muhammad bin Qais berkata – Aisyah menceritakan: “..Maka beliau [Nabi] pun memukul dadaku dengan keras hingga terasa sakit bagiku. Kemudian beliau berkata, “Apakah kamu masih curiga, Allah dan Rasul-Nya akan berbuat curang kepadamu?” jawabku, “Setiap apa yang dirahasiakan manusia, pasti Allah mengetahuinya pula.” [Muslim 4.2127]

Wanita diciptakan Allah menjadi bodoh dan Allah punya kewajiban membuat perempuan berdarah setiap bulannya:

    Riwayat Yunus – Ibn Wahb -Ibn Zayd [mengkomentari Ucapan Allah, “Ia membisikan” (note: AQ 7.20/AQ 20.120)]: Setan membisikan hawa tentang pohon itu dan berhasil membawa Hawa ke sana, kemudian ia membuatnya tampak baik untuk Adam. Ia melanjutkan. Ketika Adam bekerperluan dengannya, Ia memanggilnya, Hawa berkata: Tidak! kecuali engkau pergi ke sana. Ketika Ia pergi, Ia berkata lagi: Tidak! kecuali engkau makan dari pohon ini. Ia melanjutkan. Mereka berdua makan itu, dan bagian-bagian rahasia tubuh mereka menjadi terlihat jelas. Ia melanjutkan. Adam kemudian bersembunyi. Allahnya kemudian memanggilnya: Adam, apakah dari-Ku engkau melarikan diri? Adam menjawab: Tidak, Allahku, tapi aku merasa malu di hadapan Anda. Ketika Allah bertanya apa masalahnya, ia menjawab: Hawa, Allahku. Saat itu Allah berfirman: Adalah kewajiban-Ku membuatnya berdarah sekali setiap bulan, karena Ia membuat pohon ini berdarah. Aku juga harus membuatnya bodoh, meskipun aku menciptakannya cerdas (halimah), dan harus membuatnya menderita karena kehamilan. Ibnu Zaid melanjutkan: Kalau bukan karena kemalangan yang melanda Hawa, kaum wanita di dunia ini tidak akan menstruasi, dan mereka akan cerdas dan ketika hamil, melahirkan dengan mudah. [Tabari, vol.1 hal.280-281]

    Tapi masalahnya ada hadis yang menyatakan bahwa menstruasi adalah dari setan:

      Riwayat Ali bin Hujr – Syarik dari Abul Yaqdlan – Adi bin Tsabit – Ayahnya – kakeknya dia memarfu’kannya (sampai kepada Nabi): “Bersin, ngantuk dan menguap dalam shalat, TERMASUK HAID, muntah dan mimisan SEMUANYA DARI SETAN.” Abu Isa berkata; Hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Syarik dari Abul Yaqdlan [Tirmidhi no.2672]

    Sementara itu,
    Quran 2.222 berkata JAUHI perempuan yang sedang menstruasi dan JANGAN MENDEKATINYA (fa-iʿ’tazilū al-nisāa fī al-maḥīḍi walā taqrabūhunna).

    Apa alasannya?

    Pengetahuan Allah dan Nabinya menyatakan bahwa berhubungan seks dengan Istri yang sedang menstruasi, akan berakibat sang anak lahir dengan penyakit lepra:

      Riwayat dari Abu Said Al-Khudri, Rasulullah saw kepada menantunya Ali bin Abi Thalib: Pertama: Wahai Ali, janganlah kamu menggauli isterimu pada awal bulan, tengah bulan, dan akhir bulan, karena hal itu mempercepat datangnya penyakit gila, kusta, dan kerusakan syaraf padanya dan keturunannya. [Kitab Makarimul Akhlaq: 210-212, lihat juga di sini]

      Riwayat Bakr bin Sahl -..- Abu Hurairah – Rasulullah SAW:
      “عنه صلی الله علیه وآله : مَن وَطِئَ امرَأَتَهُ و هِيَ حائِضٌ فَقُضِيَ بَينَهُما وَلَدٌ فأصابَهُ جُذامٌ فَلا يَلومَنَّ إلّا نَفسَهُ”
      “Barangsiapa menyetubuhi istrinya ketika sedang haid, kemudian bagi mereka lahir seorang anak yang terjangkit kusta, maka janganlah ia mencela siapapun kecuali dirinya sendiri”. [At-Tabarani di Al-Mu’jam Al-Awsath no. 3300 atau lihat buku, “CHILDREN in the Quran and the Sunnah”, Mohammad Mohammadi Rayshahri, hal. 65-66, mengutip al-Mu‘jam al-Awsat, vol. ۳, p. ۳۲۶, h. ۳۳۰۰, Riwayat Abu Hurayrah. Kanz al-‘Ummāl, vol. ۱۶, p. ۳۵۲, h. ۴۴۸۸۵.]

        Note:
        Namun ada saja yang mengatakan hadis ini lemah karena perawi Bakr bin sahl, padahal hadis di atas termuat dalam 2 jalur yaitu dari abu huraira dan yang lainnya [di sini dan di sini]

      Bahkan kitab kuning juga memuat hadis yang diriwayatkan Imam Thabrani dalam kitab Ausath dari Abu Hurairah secara marfu’:

        Rasulullah Saw bersabda:
        ”Barang siapa bersetubuh dengan istrinya yang sedang haid, kemudian ditakdirkan mempunyai anak dan terjangkiti penyakit kusta, maka jangan sekali-kali mencela, kecuali mencela dirinya sendiri” dan Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali berkata, “Bersetubuh di waktu haid dan nifas akan mengakibatkan anak terjangkiti penyakit kusta.” [khazanah kitab kuning yaitu :“Qurotul uyun”, di sini]

        “لكافي عن عذافر الصيرفي: قالَ أبو عَبدِ الله‏ِ علیه السلام : تَرىٰ هٰؤُلاءِ المُشَوَّهينَ خَلقُهُم؟ قالَ: قُلتُ: نَعَم.
        قالَ: هٰؤُلاءِ الَّذينَ آباؤهُم يَأتونَ نِساءَهُم فِي الطَّمَثِ.”
        al-Kāfi, meriwayatkan dari ‘Adhāfir al-Sayrafi: “Abu ‘Abdullah [al-Sādiq] berkata: “Apakah engkau lihat orang-orang yang mempunyai bagian tubuh menjijikan itu?” Aku jawab: “Ya”. Ia berkata:”Itu karena ayah mereka telah melakukan hubungan seks dengan ibu mereka ketika sedang mens” [“CHILDREN in the Quran and the Sunnah”, hal. 65-66, yang mengutip Al-Kāfi, vol. ۵, p. ۵۳۹, h. ۵. ‘Ilal al-Sharā’i‘, p. ۸۲, h. ۱, narrating from Ibn Abu ‘Adhāfir al-Sayrafi]

      Lucunya,
      ketika Ustadz Maulana berdakwah bahwa “hubungan seks saat menstruasi yang bisa menghasilkan anak berpenyakit KUSTA” [lihat: itoday.co.id, liputan6.com dan liputan 6.com] dan Ia yang menyampaikan kebenaran ucapan nabi ini, malah DI SOMASI :).

      Padahal,
      pandangan Islam tentang hubungan antara KUSTA dan HAID, telah disampaikan dalam SEMINAR BULANAN BERSAMA DINAS KUSTA INDONESIA SURABAYA dan DINKES KOTA KEDIRI, dengan judul: “KUSTA DALAM PERSPEKTIF ISLAM”, oleh: Darul Azka, Staf Ahli LBM – P2L (di sini):

      [..]

      V. Fenomena Persetubuhan Di Saat Haid
      …QS. Al-Baqarah :222
      …Menurut al Khatib, maksud dari “adza” (kotoran) adalah penyakit bagi anak yang akan terlahir, karena persetubuhan di saat haid akan berakibat anak terkena penyakit kusta.[11] Apa maksud dari statemen semacam ini ? apakah benar persetubuhan semacam itu selalu berakibat kusta ?.

      Ali as-Sa’idi mengungkapkan, bahwa alasan pokok keharaman (larangan) dalam masalah di atas terdapat beberapa pendapat. Pertama, sebagian kalangan memahami alasannya bersifat ta’abudy (dogmatif irasional) dan belum bisa dirasionalkan. Kedua, ada yang memahami hal tersebut dilarang karena dikhawatirkan menimbulkan penyakit kusta, lepra dan sejenis penyakit kulit yang merontokkan rambut (al-Qar’u) pada anak yang akan lahir. Ketiga, memahami larangan itu demi mengantisipasi penyakit yang akan menimpa pelaku.
      ====
      [11] Ayyub al-Zar’i “al-Thiib al-Nabawy” hal. 116 Dar el-Fikr dan Wuzara’ al-Auqaf wa al-Syu’un al-Islamiyah bi al-Kuwait “al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah” juz. VIII, hal 116

    Nabi sendiri tercatat tidak mengikuti larangan Allah, beliau TIDAK MENJAUHI, malah MENDEKATI istri dan/atau MENCUMBUINYA ketika sedang haid:

      Riwayat Yahya bin Yahya – Khalid bin Abdullah – asy-Syaibani – Abdullah bin Syaddad – Maimunah: “Rasulullah SAW mencumbui (“يُبَاشِرُ”, Yubāsẖiru) isteri-isterinya di atas sarung, sedangkan mereka dalam keadaan haid [Muslim no.442]

      Riwayat Qabishah – Sufyan – Manshur – Ibrahim – Al Aswad – ‘Aisyah: “Aku dan Nabi SAW pernah mandi bersama dari satu bejana. Saat itu kami berdua sedang junub. Beliau juga pernah memerintahkan aku mengenakan kain, beliau mencumbuiku sementara aku sedang haid. Beliau juga pernah mendekatkan kepalanya kepadaku saat beliau i’tikaf, aku lalu basuh kepalanya padahal saat itu aku sedang haid.” [Bukhari no.290, lihat juga di Muslim no.440]

      Riwayat Isma’il bin Khalil – ‘Ali bin Mushir – Abu Ishaq (Asy Syaibani) – ‘Abdurrahman bin Al Aswad – Bapaknya – ‘Aisyah: “Jika salah seorang dari kami sedang haid dan Rasulullah SAW BERKEINGINAN UNTUK menggauli (يُبَاشِرَ, Yubāsẖira), beliau memerintahkan untuk mengenakan kain, lalu beliau pun mencumbuinya (يُبَاشِرَ, Yubāsẖira).” ‘Aisyah berkata, “Padahal, siapakah di antara kalian yang mampu menahan hasratnya sebagaimana Rasulullah SAW.” Hadits ini dikuatkan oleh Khalid dan Jarir dari Asy Syaibani.” [Bukhari no.291]

      Riwayat Muhammad bin al-Mutsanna – Muadz bin Hisyam – Bapakku – Yahya bin Abu Katsir – Abu Salamah bin Abdurrahman – Zainab binti Ummu Salamah – Ummu Salamah: “Ketika aku berbaring bersama Rasulullah SAW dalam satu selimut, tiba-tiba aku haid, lantas aku keluar secara perlahan-lahan untuk mengambil pakaian khas untuk masa haid. Maka Rasulullah SAW bertanya kepadaku: ‘Apakah kamu sedang haid? ‘ Aku menjawab, ‘Ya’. Lalu BELIAU MEMANGGILKU, LALU AKU BERBARING LAGI BERSAMA BELIAU DALAM SATU SELIMUT.” berkata, “Ia dan Rasulullah SAW mandi besar dengan menggunakan satu wadah air.” [Muslim no.444]

      Riwayat Abu Nu’aim Al Fadll bin Dukain – Zuhair – Manshur bin Shafiyah – Ibunya – ‘Aisyah: “Nabi SAW menyandarkan badannya di pangkuanku membaca Al Qur’an, padahal saat itu aku sedang haid.” [Bukhari no.288, juga di bukhari no.6994 riwayat dari Qabishah – Sufyan – Manshur – Ibunya – ‘Aisyah: “Pernah Nabi SAW membaca Al Qur’an sedang kepalanya di pahaku, padahal aku sedang dalam keadaan haid.”]

        note:
        Padahal di AQ 56.79-81, disebutkan,
        “Sesungguhnya (innahu) Al-Quran (laqur’ānun) mulia (karīmun), pada sebuah kitab (fī kitābin) terpelihara (maknūnin), tidak (lā) menyentuhnya (yamassuhu) kecuali (illā) orang-orang yang disucikan (al-muṭaharūna), diturunkan (tanzīlun) dari (min) Rabbil ‘alamiin, Maka apakah dengan ini (afabihādhā) pernyataan (al-ḥadīthi) kamu (antum) acuhkan/anggap remeh (mud’hinūna)?”

        Jika yang dimaksudkan ayat adalah KITABnya bukan bacaannya, maka mengapa yang diturunkan sudah berbentuk kitab? dan mengapa kitab ini bisa DISENTUH para kafir yang jelas-jelas tidak suci dan jika yang dimaksudkan bacaannya, mengapa nabi mencontohkan membacanya sambil bersandar pada istri yang sedang haid, padahal Quran menyatakan agar menjauhkan diri dari wanita haid dan hadis juga katakan haid adalah pekerjaan setan

    Jadi mana yang harus diikuti Sunnah: Nabi atau Allah SWT?

    [Lihat juga: “Muhammad and Menstruation, di bagian bawahnya ada kutipan buku karangan Muhammad Gazaoli, mantan penasehat Presiden Libya Muamar Khadafi, yang murtad menjadi Kristen. Baca bukunya: di sini]

Nilai seorang wanita adalah 1/2 dari nilai laki-laki tercantum di Quran baik dari sisi persaksian maupun dari sisi warisan:

  • “..Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki. Jika tak ada dua oang lelaki, maka seorang lelaki dan dua orang perempuan..”[AQ 2.282]
  • “bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan” [AQ 4.11]
  • Dan jika mereka saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan [AQ 4.176]

Wanita merupakan penghuni terbanyak di neraka, kesetaraan kecerdasannya mereka adalah 1/2 lelaki dan kurang dalam hal agama sekalipun:

    Muhammad bin Abdullah bin Numair – bapakku (periwayat) – Abdul Malik bin Abu Sulaiman – Atha` – Jabir bin Abdullah, berkata; Aku telah mengikuti shalat hari raya bersama Rasulullah SAW..Setelah itu beliau berdiri sambil bersandar pada tangan Bilal..Setelah itu, beliau berlalu hingga sampai di tempat kaum wanita. Beliau pun memberikan nasehat dan peringatan kepada mereka. Beliau bersabda: “Bersedekahlah kalian, karena kebanyakan kalian akan menjadi bahan bakar neraka jahannam.” Maka berdirilah seorang wanita terbaik di antara mereka dengan wajah pucat seraya bertanya, “Kenapa ya Rasulullah?” beliau menjawab: “Karena kalian lebih banyak mengadu (mengeluh) dan mengingkari kelebihan dan kebaikan suami.” Akhirnya mereka pun menyedekahkan perhiasan yang mereka miliki dengan melemparkannya ke dalam kain yang dihamparkan Bilal, termasuk cincin dan kalung-kalung mereka. [Muslim no.1467. Dalam riwayat Ibn Abbas muslim no. 1464, 1465]

    Riwayat Ibnu Abu Maryam – Muhammad bin Ja’far – Zaid (putra Aslam) – ‘Iyadh bin ‘Abdullah -Abu Sa’id Al Khurdri – Rasullullah SAW (menuju lapangan tempat shalat untuk melaksanakan shalat ‘Iedul Adhha atau ‘Iedul Fithri): ..Kemudian Beliau mendatangi jama’ah wanita lalu bersabda: “Wahai kaum wanita..kalian adalah yang paling banyak akan menjadi penghuni neraka”. Mereka bertanya: “Mengapa begitu, wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Kalian banyak melaknat dan mengingkari pemberian (suami). Tidaklah aku melihat orang yang lebih kurang akal dan agamanya melebihi seorang dari kalian, wahai para wanita”. Kemudian Beliau mengakhiri khuthbahnya lalu pergi. Sesampainya Beliau di tempat tinggalnya, datanglah Zainab, isteri Ibu Mas’ud meminta izin kepada Beliau, lalu dikatakan kepada Beliau; “Wahai Rasulullah SAW, ini adalah Zainab”. Beliau bertanya: “Zainab siapa?”. Dikatakan: “Zainab isteri dari Ibnu Mas’ud”. Beliau berkata,: “Oh ya, persilakanlah dia”. Maka dia diizinkan kemudian berkata,: “Wahai Nabi Allah, sungguh anda hari ini sudah memerintahkan shadaqah (zakat) sedangkan aku memiliki emas yang aku berkendak menzakatkannya namun Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa dia dan anaknya lebih berhak terhadap apa yang akan aku sedekahkan ini dibandingkan mereka (mustahiq). Maka Nabi SAW bersabda: “Ibnu Mas’ud benar, suamimu dan anak-anakmu lebih barhak kamu berikan shadaqah dari pada mereka”. [Bukhari no.1369/2.24.541. Juga di Ahmad no.8057 dari riwayat Sulaiman – Isma’il – (‘Amru -yaitu Ibnu Abi ‘Amru)- Abu Sa’id Al Maqburi Abu Hurairah -Nabi SAW (ketika selesai dari shalat subuh beliau datang menuju para wanita di masjid): -kurang lebih sama dengan narasi di atas, namun ada kelanjutanya- kemudian ia berkata; “Wahai Rasulullah, lalu bagaimana menurut Tuan dengan apa yang telah aku dengar dari Tuan ketika Tuan berdiri di depan kami seraya bersabda: “Aku tidak pernah melihat kurangnya akal dan agama yang hilang di hati orang-orang yang berakal selain kalian, ” ia berkata lagi; “Lalu apa yang dimaksud dengan kurangnya akal dan agama kami?” maka beliau bersabda: “Adapun yang aku telah sebutkan tentang kurangnya agama kalian adalah haidh yang menimpa kalian, hingga membuat kalian berdiam diri yang sesuai dengan kehendak Allah lamanya, tidak shalat dan tidak berpuasa, maka itulah yang dimaksud dengan kurangnya agama kalian, sedangkan apa yang telah aku sebutkan tentang kurangnya akal kalian adalah bahwasanya kesaksian kalian 1/2 dari kesaksian (laki laki)“].

    Dari riwayat Sa’id bin Abu Maryam – Muhammad bin Ja’far – Zaid (Ibnu Aslam) – ‘Iyadl bin ‘Abdullah – Abu Sa’id Al Khudri- Rasullullah SAW (di hari raya ‘Iedul Adlha atau Fitri, beliau keluar menuju tempat shalat): “Wahai para wanita! ..diperlihatkan kepadaku bahwa kalian adalah yang paling banyak menghuni neraka.” Kami bertanya, “Apa sebabnya wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Kalian banyak melaknat dan banyak mengingkari pemberian suami. Dan aku tidak pernah melihat dari tulang laki-laki yang akalnya lebih cepat hilang dan lemah agamanya selain kalian.” Kami bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apa tanda dari kurangnya akal dan lemahnya agama?” Beliau menjawab: “Bukankah persaksian 1 wanita = 1/2 laki-laki?” Kami jawab, “Benar.” Beliau berkata lagi: “Itulah kekurangan akalnya. Dan bukankah seorang wanita bila dia sedang haid dia tidak shalat dan puasa?” Kami jawab, “Benar.” Beliau berkata: “Itulah kekurangan agamanya.” [Bukhari no. 293/1.6.301, 3.48.826]

    Riwayat Muhammad bin Rumh bin al-Muhajir al-Mishri – al-Laits – Ibnu al-Had – Abdullah bin Dinar – Abdullah bin Umar – Rasulullah SAW: “Wahai kaum wanita!…aku melihat kaum wanitalah yang paling banyak menjadi penghuni Neraka.” Seorang wanita yang pintar di antara mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa kaum wanita yang paling banyak menjadi penghuni Neraka?” Rasulullah SAW: “Kalian banyak mengutuk dan mengingkari (pemberian nikmat dari) suami. Aku tidak melihat mereka yang kekurangan akal dan agama..melebihi daripada golongan kamu.” Wanita itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah! Apakah maksud kekurangan akal dan agama itu?” Rasulullah SAW: “Maksud kekurangan akal ialah persaksian dua wanita = persaksian 1 lelaki. Inilah yang dikatakan kekurangan akal. Begitu juga kaum wanita tidak mengerjakan shalat pada malam-malam yang dilaluinya kemudian berbuka pada bulan Ramadlan (karena haid). Maka inilah yang dikatakan kekurangan agama.” [Muslim no. 114].

    Riwayat Harun bin Ma’ruf – Ibnu Wahb, [Hayyah – Ibnul Had] – Abdullah bin Dinar – Ibnu Umar – Rasulullah SAW: “Wahai kaum wanita….aku melihat kalian adalah golongan yang paling banyak menjadi penduduk neraka karena disebabkan banyak melaknat dan kufur terhadap suami. Aku juga tidak mendapati makhluk berakal yang akal dan dien (agama) nya kurang daripada kalian.” Ibnu Umar berkata, “Wahai Rasulullah, apa maksud dari kurang akal dan diennya?” Beliau menjawab, “Kesaksian 2 wanita = kesaksian 1 lelaki, itulah kekurangan akalnya. Adapun kekurangan diennya adalah, ia tidak shalat untuk beberapa hari dan berbuka (tidak berpuasa) pada bulan ramadan.” [Ahmad no. 5091]

    Juga riwayat Abu Abdillah Huraim bin Mis’ar Al Azdi At Tirmdzi – Abdul Aziz bin Muhammad – Suhail bin Abu Shalih – bapaknya – Abu Hurairah – Rasulullah SAW (berkhutbah di hadapan para sahabat): (kurang lebih sama isinya) [Tirmidhi no. 2538. Tirmidhi menyatakan dalam bab ini ada hadits dari Abu Sa’id dan Ibnu Umar, Abu Isa berkata; ‘Hadits ini hasan shahih gharib dari jalur sanad ini”]. Juga dari riwayat Muhammad bin Rumh – Al Laits bin Sa’d – Ibnu Al Had – Abdullah bin Dinar – Abdullah bin Umar – Rasulullah SAW: (kurang lebih sama isinya) [Ibn majjah no.3993]

Bahkan untuk urusan kenikmatan seksual di surga pun ada diskriminasi!

Bagian kaum wanita tetaplah tidak sebanyak kaum pria (yang bahkan sampai 72 wanita lebih dan minimum 2 wanita). Kaum wanita dalam Islam memang ditakdirkan untuk tetap dipoligami walau di surga sekalipun:

    Apapun status perkawinan dunianya, maka ketika di akhirat, sang Muslimah hanya akan dapat 1 (satu) suami saja [Al Fatawa Al Haditsiyah, Syaikhul Islam al-Imam Ibn Hajar al-Haitami, I/168 dan 36; Imam nawawi -> syarah Al-Muslim XVII/171]

    • Jika wanita ini membujang hingga akhir hayatnya [atau bercerai dan tidak menikah lagi atau menikah namun suaminya tidak masuk surga], maka Allah akan memilihkan surgawan untuk menjadi suaminya di surga [Majmu Fatawa Syaikh al-‘Utsaimin 2/52-53, dengan tambahan kata “jika para surgawannya minat”]
    • Jika wanita ini menikah di dunia dan wafat atau wanita ini menikah berkali-kali (suaminya wafat), maka di surga, ia akan bersama suami terakhirnya yang masuk surga (atau yang terbaik diantara yang pernah bersuami dengannya) [hadits nabi riwayat Anas dari Umi Habibah dan dari Umi Salamah,dari At tabarani; hadis dari Asma’ Binti Abi Bakar ->Al Fatawa Al Haditsiyah, Syaikhul Islam al-Imam Ibn Hajar al-Haitami, I/168 dan 36; I/236]

    + Muslimah tersebut akan berbagi suami secara massal dengan puluhan wanita lain.

    Jadi, seorang muslimah yang menikah secara monogami selama hidupnya di dunia, sesungguhnya sudah sangat beruntung, karena kelak saat ia di surga, Ia akan dipoligami.

    Bayangkan sekarang,
    yaitu ketika di dunia, sang muslimah bersuamikan seorang yang kasar, bau dan senang memukul, ketika kemudian mereka masuk surga, sang Muslimah tetap dengan suami yang sama sementara sang suami mendapatkan tambahan dengan puluhan wanita lainnya.

Perempuan kerap dikategorikan sekelas dengan beberapa binatang:

    Riwayat Abu Bakar bin Abi Syaibah – Ismail Ibnu Ulayyah, –Lewat jalur periwayatan lain– Riwayat Zuhair bin Harb – Ismail bin Ibrahim – Yunus – Humaid bin Hilal – Abdullah bin ash-Shamit – Abu Dzarr – Rasulullah SAW, “..apabila di hadapannya tidak ada sutrah seperti kayu yang diletakkan diatas hewan tunggangan, maka shalatnya akan terputus oleh keledai, wanita, dan anjing hitam.’ Aku bertanya, ‘Wahai Abu Dzarr, apa perbedaan anjing hitam dari anjing merah dan kuning? Dia menjawab, ‘Aku pernah pula menanyakan hal itu kepada Rasulullah SAW sebagaimana kamu menanyakannya kepadaku, maka jawab beliau, ‘Anjing hitam itu setan’…” [Muslim no. 789]

    Riwayat Ishaq bin Ibrahim – al-Makhzumi – Abdul Wahid (dan dia adalah Ibnu Ziyad) – Ubaidullah bin Abdullah bin al-‘Ashamm – Yazid bin al-‘Ashamm – Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Yang memutuskan shalat ialah wanita, keledai, dan anjing..” [Muslim no.790]

    Riwayat Utsman bin Abu Syaibah – Jarir – Manshur – Ibrahim – Al Aswad – ‘Aisyah berkata, “Apakah kalian menyamakan kami dengan anjing dan keledai? Sungguh, aku pernah berbaring di atas tikar, lalu Nabi SAW datang dan berdiri melaksanakan shalat di tengah tikar. Aku tidak ingin mengganggu beliau, maka aku geser kakiku pelan-pekan dari tikar hingga aku keluar dari selimutku.” [Bukhari 1.9.486].

    Riwaya Isma’il bin Khalil – ‘Ali bin Mushir – Al A’masy – Muslim (Abu Shubaih) – Masruq – ‘Aisyah: telah disebutkan di sisinya tentang sesuatu yang dapat memutuskan shalat, orang-orang mengatakan, ‘Yang dapat memutus shalat diantaranya adalah anjing, keledai dan wanita.’ Maka ‘Aisyah pun berkata, “Sungguh kalian telah menganggap kami (kaum wanita) sebagaimana anjing. Sungguh aku pernah melihat Nabi SAW melaksanakan shalat, sementara aku berbaring di atas tikar antara beliau dan dengan arah biblatnya. Saat aku ada keperluan dan aku tidak ingin menghadapnya, maka aku pergi dengan pelan-pelan.” Dan Riwayat Al A’masy – Ibrahim – Al Aswad – ‘Aisyah seperti ini.” [Bukhari 1.9.490, 493, 498. Juga kalimat yang kurang lebih sama dalam hadis muslim no. 793, dari riwayat Urwa b. Zubair “Perawi berkata, “Kami menjawab, ‘Wanita dan keledai!’ Kata Aisyah: “Apa wanita itu adalah hewan yang jelek?..”. Juga di Muslim no. 794 dengan kalimat: “Sungguh kalian telah menyerupakan kami dengan keledai dan anjing.”]

Nah, kira-kira demikianlah Islam memandang wanita dan pandangan ini jelas sangat tidak cocok dengan budaya Indonesia.

Sekarang,
mari kita ketahui lebih lanjut mengenai Hijab, Jilbab dan burqa



Hijab, Jilbab dan Burqa

Semua kelengkapan “perlindungan wanita” di dunia Islam, SELAIN dari AQ 33.59 di atas, juga dengan ayat di bawah ini:

    Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya [furuj], dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain [khimars] kedadanya [Juyub, plural dari jaib], dan janganlah menampakkan perhiasannya [Zenat] kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan [Zenat] yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung[An Nuur 24:31]

Dalam An Nur terdapat 15 ayat [AQ 24.11-26] sehubungan dengan “dugaan” perzinahan yang dituduhkan kepada Aisyah (turun setelah kewajiban Hijab), yaitu saat penyerbuan ke Bani Mustaliq [tahun 626 M, lihat: Maududi]. Di perjalanan menuju Bani Mustaliq, Aisyah turun hingga Rasulullah SAW selesai perang dan beliau kembali ke Madinah [Muslim no.4974].

    Pada perang ini, Juwariyah yang cantik menjadi tawanan dan dipilih nabi untuk dirinya [Tabari Vol.9, hal.133]

Ketika hampir dekat dengan Madinah, Beliau mengumumkan untuk beristirahat malam [Bukhari no.2467]. Tatkala mereka tertidur, Aisyah bangun dan berjalan hingga mendahului mereka. Setelah urusan hajatnya selesai, Ia kembali bergabung namun ketika meraba dada, kalung yang berasal dari Zhafar, Yaman, putus. Maka Ia kembali mencari kalungnya yang membuatnya tertinggal rombongan [Muslim no.4974].

    Tampaknya Aisyah sangat bersemangat mencari kalung HINGGA TIDAK MENDENGAR KERIBUTAN RATUSAN ORANG + KUDA + CARAVAN yang mengangkut tangkapan dan harta rampasan melanjutkan perjalanan.

    Hadis lain menyampaikan pula kisah Aisyah kehilangan kalung dalam perjalanan (jika ini bukan kisah yang sama, maka tampaknya Aisyah memang kerap kehilangan kalung dalam perjalanan). Dikisah itu, Nabi dan banyak orang membantu mencarinya. Abu Bakar, ayahnya, sampai jengkel hingga menusuk pinggangnya dengan tangannya [bukhari no.6339, sementara Bukhari no.322 + Nasai no.308: menusuk lambungnya. Muslim no.522: memencet pangkal paha dengan tangan]

Ia kemudian menunggu hingga tertidur, keesokan paginya, Safwan bin Al-Mu`attal As-Sulami Adh-Dhakwani menemukannya dan merekapun berdua berjalan hingga bertemu rombongan yang tengah beristirahat siang di pantai Azhzhariah.

    Memang agak mengherankan bahwa Nabi dapat lupa bahwa istri beliau tidak bersama rombongannya

Sesampainya di Madinah, tersebar berita bahwa Safwan dan Aisyah terlibat perselingkuhan dan Aisyah mendadak sakit selama 1 bulan.

    Berita perselingkuhan ini wajar mengingat ada hadis, “Sungguh, tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, kecuali pihak ketiganya adalah setan [Tirmidhi no.2091 dan Ahmad no.109]

Setelah Aisyah sembuh, di satu malam, Ia dan kerabat wanitanya, Misthah bin Utsabah, keluar menunaikan hajat, saat pulang, Nabi telah di rumahnya dan saat itu Aisyah meminta ijin untuk kembali ke orang tuanya dan dikabulkan. Esok harinya, Rasulullah SAW memanggil ‘Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid untuk bermusyawarah hendak menceraikan Aisyah dan setelah keramaian antar beberapa suku akibat peristiwa ini, di beberapa malam kemudian, turunlah ayat-ayat Allah yang menjamin kesucian Aisyah [Bukhari no.2467, no.6821. Muslim no.4974].

Untuk surat AQ 24.30-31, terdapat beberapa Asbabunuzul, satu diantaranya adalah dari riwayat Ibnu Mardawaih – Ali bin Abi Thalib berkata: Seorang sahabat di masa Rasulullah SAW sedang berjalan di suatu jalan di Madinah, melihat seorang wanita dan begitupun sebaliknya sehingga timbul rasa kagum. Pada kejadian berikutnya, lelaki itu sedang berjalan di pinggiran dinding tanpa berkedip melihat wanita yang sama hingga ia menabrak dinding, berdarah dan patah tulang, Ia bertekad tidak akan mengelap darahnya kecuali setelah bertemu Rasulullah Saw. Setelah bertemu, Ia ceritakan kejadiannya dan Nabi bersabda: “Ini balasan dari perbuatanmu dan turunlah surat AQ 24.30-31”

Bagaimana tata cara berjilbab yang “benar” dan umum berlaku?

    Menurut Muhammad Nashiruddin Al-Albany [1333 M – 1999 M] kriteria jilbab yang benar harus menutup seluruh badan, kecuali wajah dan dua telapak, jilbab bukan merupakan perhiasan, tidak tipis, tidak ketat sehingga menampakkan bentuk tubuh, tidak disemprot parfum, tidak menyerupai pakaian kaum pria atau pakaian wanita-wanita kafir dan bukan merupakan pakaian untuk mencari popularitas. [Kitab Jilbab Al-Marah Al-Muslimah fil Kitabi was Sunnah (Syaikh Al-Albany)]

    Pendapat yang sama sebagaimana dituturkan Ikrimah, jilbab itu menutup bagian leher dan mengulur ke bawah menutupi tubuhnya,[Ibnu Katsir [1301 M – 1373 M], Tafsîr al-Qur’ân al’Azhîm, vol. 3 (Riyadh: Dar ‘Alam al-Kutub, 1997), 637] sementara bagian di atasnya ditutup dengan khimâr (kerudung) [Said Hawa [1935 M – 1989 M], al-Asâs fî Tafsîr, vol. 8, Dar as-Salam, 1999, 4481] yang juga diwajibkan (AQ 24.31). Pendapat ini dianut juga oleh Qardhawi sebagaimana dicantumkan pada kumpulan fatwa kontemporernya [Yusuf Qardhawi, Fatwa kontemporer : Apakah cadar itu bid’ah]

Sekarang kita lihat apa arti sebenarnya dari Jilbab dan beberapa arti kata Arab lain yang berkaitan

Apa arti kasiyatun ‘ariyatun?

    frase tersebut muncul di Imam malik (no.1421, 1422), Musnad Ahmad (No.8311, 9303. Untuk no.6786: Riwayat Abdullah bin Yazid – Abdullah bin ‘Ayyasy Al Qitbani – bapaknya – Isa bin Hilal ash Shadafi dan Abu Abdurrahman Al Hubuliy – Abdullah bin ‘Amru – Rasulullah SAW: “Di akhir zaman nanti pada ummatku akan terdapat orang-orang yang naik di atas pelana seperti orang-orang yang turun di depan pintu-pintu masjid, kaum wanita dari golongan mereka berpakaian tapi telanjang, di atas kepala mereka seperti punuk unta yang panjang lehernya dan kurus badannya. Laknatlah mereka karena sesungguhnya mereka adalah para wanita yang terlaknat..”). Juga di hadis muslim no. 3971 (riwayat Zuhair bin Harb – Jarir – Suhail – Bapaknya – Abu Hurairah – Rasulullah SAW:.. (2) Wanita-wanita berpakaian, tetapi sama juga dengan bertelanjang..) (atau no.2128), di syarah muslim 9./240, Imam Nawawi mengatakan: Wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuh, sengaja menampakkan keindahan tubuh atau memakai pakaian tipis hingga tampak bagian dalam tubuh. Wanita tersebut kasiyatun ‘ariyatun (berpakaian tapi telanjang)

Apa arti Khimar?

    khimar berasal dari khamr, artinya menutupi. Segala sesuatu yang menutupi sesuatu yang lain disebut khimar. Contoh, suatu ketika Nabi (saw) khawatir ada lalat jatuh ke air di kendi, ia berkata: ‘Khammiru aaniyatakum’ (tutup kendimu)

Apa arti Juyub?

    Juyub adalah jamak dari jayb, artinya adalah payudara atau dada. AQ surat 28:32 merekam ucapan Allah pada Musa untuk meletakkan tangan di jayb, yang artinya adalah dada, jadi Juyub adalah payudara, bukan berarti tubuh, wajah, leher dan dada!

Apa arti Hijab?

    Hijab berasal dari hajaba, menyembunyikan dari pandangan atau menyembunyikan. Terjemahan Al Qur’an Muhammad Asad memaknainya dari yang tipis hingga sepadat dinding bata. Konsep jilbab dapat didefinisikan sebagai ‘apa pun yang memisahkan antara dua hal, atau menyembunyikan, perlindungan dari satu terhadap yang lain. itu bisa berarti penghalang, hambatan, partisi, layar, tirai, atau kerudung

    [Lihat terjemahan AQ 41:5, “Hati kami berada dalam tutupan apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding..” dan AQ 7:46, “Dan di antara keduanya ada batas..”]

    Jadi, konsep hijab adalah konsep menutupi atau perlindungan, apakah itu berupa perban halus sebagai tabir atau dinding beton yang memisahkan Israel dari Palestina; kertas cantik pembungkus hadiah yang sangat berharga, atau karung untuk menyimpan kentang; atau lemari besi bank yang terkunci, kokoh/ aman, atau jaring laba-laba yang tipis.

Apa arti Jilbab?

    jalabib adalah jamak dari jilbab. Jilbab berasal dari tajalbaba, artinya pakaian.

    • Dari kamus bahasa Arab, Lisan al-Arab oleh ibn al-Mandhur: “jilbab adalah pakaian luar, mantel, atau jubah. Jilbab adalah kain luar atau penutup yang digunakan seorang wanita menutupi sekeliling tubuhnya. Menyelimuti tubuh sepenuhnya (Lisan al-Arab, volume 7, page 273).
    • Dari kamus Abu Tahir Al-Fayruzabadi: ‘jilbab … adalah sesuatu yang melapisi pakaian, seperti mantel.
    • dari Kamus Jawhari: “jilbab adalah penutup dan beberapa berkata bahwa itu adalah lembaran. Jilbab disebutkan di hadits dengan arti selembar yang wanita bungkuskan untuk menutupi pakaiannya.

    Pada dasarnya, jilbab adalah mantel atau jubah, pakaian luar, sesuatu untuk diletakkan di luar pakaian sehari-hari ketika seorang muslimah ada di ruang publik.

    Semua ulama sepakat bahwa jilbab adalah sebuah pakaian luar, tetapi tidak ada kesepakatan seberapa banyak tubuh itu di-jilbab-i

    Ulama Syafi’I, Yusuf Qaradhawi dan Salafi Syaikh Muhammad Albani, bersama mayoritas ulama keduanya menerima bahwa jilbab adalah pakaian luar yang menutupi pakaian didalamnya dan juga lekuk tubuh wanita.

    Namun, lainnya, yaitu ulama Hanafi Maududi, ulama Salafi Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Mufti Arab Saudi, menyatakan dalam interpretasi mereka, bahwa jilbab harus juga meliputi wajah kecuali mata. Beberapa lainnya menyatakan bahwa harus menutup tubuh sepenuhnya kecuali satu mata.

    Perlu di diketahui bahwa sebagian besar para ulama ini juga berpendapat bahwa Surah 24:31 memerintahkan menutupi seluruh tubuh kecuali mata termasuk ketika berada di sekeliling orang-orang yang bukan muhrim bahkan juga termasuk jika terdapat wanita Muslim di dalam ruangan yang sama.

    Tafsir Al-Qurtabi dan Drs Hilali dan Khan untuk Surah 33:59, “Hai Nabi! Katakan kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuan dan perempuan-perempuan yang beriman untuk menarik jalabib ke seluruh tubuh mereka (batasi diri mereka sendiri seluruhnya kecuali mata atau satu mata untuk melihat jalan – Tafsir Al-Qurtabi) Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal (sebagai perempuan bebas terhormat) dan tidak diganggu: dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

    Tentang ini terbagi pada dua pendapat

    • harus ditutupi dengan satu pakaian (seperti yang dikenal sebagai abaya dan kerudung), atau
    • kombinasi pakaian dapat dianggap pengganti jilbab. Jika seorang wanita menutup kepala dan leher dengan khimar, maka jilbab tidak perlu menutupi kepalanya, tetap menjadi seperti sebuah mantel, yang hanya menutupi bahu ke bawah. Dan selama kakinya benar-benar tertutup dengan kaus kaki dan sepatu, maka jilbab tidak perlu hingga ke tanah tetapi hanya sampai mata kaki.

    Mereka yang mengatakan wajah dan tangan boleh tidak ditutupi menggunakan dalil:

      Riwayat Ya’qub bin Ka’b Al Anthaki dan Muammal Ibnul Fadhl Al Harrani – Al Walid – Sa’id bin Basyir – Qatadah – Khalid – Ya’qub bin Duraik – ‘Aisyah berkata bahwa Asma binti Abu Bakr masuk menemui Rasulullah SAW dengan mengenakan kain yang tipis, maka Rasulullah SAW pun berpaling darinya. Beliau bersabda: “Wahai Asma`, sesungguhnya seorang wanita jika telah baligh tidak boleh terlihat darinya KECUALI ini dan ini -beliau menunjuk wajah dan kedua telapak tangannya-.” Abu Dawud berkata, “Ini hadits mursal. Khalid bin Duraik belum pernah bertemu dengan ‘Aisyah” [Abu dawud no. 3580]

    Anda dapat melihat sendiri bahwa hadis ini dhaif alasannya di samping isnadnya terpurus, juga dari rantai perawi Said bin Basyir al Azdi (atau Said al Basri) Abu ‘Abd Al Rahman walaupun beberapa ulama hadis menyatakan dia thiqah (dapat di percaya) namun Ahmad, Ibn Ma’een, Ibn al-Madeeni, al-Nasaa’i, al-Haakim dan bahkan Abu Dawood sendiri menyatakan ia: Da’if (lemah). Muhammad bin ‘Abd-Allaah bin Numayr: Hadis darinya ditolak dan bernilai, dan ia tidak kuat dalam hadis. Ia menyampaikan laporan munkar dari qatadah. Ibn Hibaan: Ingatannya buruk dan membuat kesalahan fatal. Al-Haafiz ibn Hajar: Da’if [Fataawa al-Lajnah al-Daa’imah, Majallat al-Buhooth, 21/68. Detail alasan lain, lihat di sini].

    Untuk fatwa bahwa harus tertutup seluruh tubuh bukan cuma wajah namun termasuk tangan (dan kuku jari), lihat fatwa no. 103669, 45869, 11774, 21536 dan 12327.

    Walaupun demikian, tetap saja ada yang menentang, misalnya Grand Syaikh Al-Azhar, Muhammad Sayyid Thanthawi, yang bahkan menyatakan Al-Azhar akan melarang para siswinya memakai cadar.

    Terkait dengan hal tersebut, ‘bayan’ Majlis Tinggi Al-Azhar (al-Majlis al-A’la li al-Azhar) menyatakan:

      Pendapat yang mewajibkan cadar adalah pendapat yang aqaliyyah (minoritas) dalam blantika khazanah fatwa fikih, sementara pendapat jumhur ulama menegaskan jika cadar tidak wajib, dan wajah perempuan bukanlah aurat.[Swaramuslim]

    Apakah ada perintah cadar [niqab] harus hingga menutupi muka ada tercantum di Qur’an?

      berdasarkan keterangan-keterangan di atas, Perintah pemakaian cadar [niqab] sebagai penutup muka tidak ditemukan di Qur’an dan Hadis. Juga ngga ada ulama mengutip bahwa khimar seharusnya menutupi seluruh wajah wanita. Jika Allah bermaksud demikan, tentunya Imam Qurtubi dan Ibn Kathir pastinya akan mengatakannya

Apa arti aurat?


    “Dalam sejarah Aceh, Cut Nyak Dien saja tidak memakai jilbab. Jilbab adalah budaya untuk masyarakat Aceh,” tegas sang Bunda membela putrinya. [cuplikan berita Putri Aceh, Qory, yang menjadi Putri Indonesia 2009 dan tidak memakai Jilbab, lihat selengkapnya di: Matabumi]

    ‘awrah berasal dari ‘ayn-wâw-râ’. ‘awira / ya‘waru, artinya sebelah mata’. turunan lainnya arti ‘awwara / yu‘awwiru: rusak, cacat, kotor, tidak sempurna, dan lain-lain. Arti ‘awrah sendiri adalah tidak sempurna, kesalahan, kemaluan wanita, kemaluan, kelemahan, titik lemah.

    Bahasa Arab lain untuk wanita adalah imra’ah, nisâ’; Dalam bahasa urdu arti aurat adalah wanita; Bahasa persia: zan; Bahasa sanskrit: strî /mahilâ.

    Hukum Islam memakai arti kemaluan wanita sebagai bagian dari tubuh yang harus ditutupi untuk batas kesopanan. Batas ditutupi tersebut berbeda untuk laki dan perempuan.

    Perlu digaris bawahi sekali lagi bahwa arti semantiknya justru adalah cacat, kelemahan, kelainan [cacat]

    Hadis Bukhari merekam latarbelakang turunnya AQ 33.59 saat perkawinan Nabi dan Zainab [mantan istri anak angkat Nabi, zaid], di mana Umar meminta nabi agar Istri-istri nabi ber-jilbab adalah karena Umar hampir salah target ketika berburu perempuan untuk melampiaskan hasratnya dan ternyata perempuan yang di ikutinya itu, Saudah, istri nabinya sendiri.



Burka:
Burqa (juga ditulis burka atau burqua) (bahasa Arab: برقعة, burqʿah) adalah sebuah pakaian yang membungkus seluruh tubuh yang dikenakan oleh sebagian perempuan Muslim di Afganistan, Pakistan, dan India utara.

Kini pakaian ini jarang terlihat dikenakan di luar Afganistan. Burqa dikenakan menutupi pakaian sehari-hari (seringkali pakaian panjang atau salwar kameez) dan dilepaskan ketika si perempuan kembali ke rumahnya ke tengah keluarganya.

Sebelum Taliban merebut kekuasaan di Afganistan, pakaian ini jarang dikenakan di kota-kota.

Pada masa pemerintahan Taliban, kaum perempuan diwajibkan mengenakan burqa setiap kali mereka tampil di tempat umum.

Pakaian ini tidak diwajibkan oleh rezim Afganistan sekarang, tetapi dalam keadaan yang serba tidak pasti saat ini, banyak perempuan yang memilih mengenakan burqa untuk amannya.



Burqini dan Hijood:
Burqini adalah sejenis pakaian renang (bikini) yang dirancang oleh seorang keturunan Lebanon-Australia Aheeda Zanetti menurut model busana burqa.
Setelan ini cukup untuk menutupi bagian tubuh yang disebut sebagai aurat bagi muslim, namun juga cukup ringan untuk memungkinkan berenang.

Digambarkan sebagai pemecahan sempurna terhadap wanita muslim yang mau berenang tetapi tak enak dengan apa yang “ditampakkan” pakaian renang.

Nama burqini portmanteau (peleburan kata) dari burqa dan bikini. Baju renang hasil disain Zanetti memang menimbulkan kontroversi di Australia, Namun mendapat dukungan dari ulama terkemuka di Australia, Syaikh Taj Aldin al-Hilali.

Pelari jarak pendek 200 M Bahrain, Ruwaya Al Ghasara [rangking 7 dunia], pemenang emas Asian Games in Doha, 2006 berlomba memakai Hijood [hijab” and “hood”, kerudung] buatan Australia.



Kepiawaian Pria Taliban memilih Jodoh
Lihat gambar lucu disamping ini, silakan simak bagaimana mungkin pria taliban bisa mengenali wanita yang menjadi jodohnya.

Kelihatannya diperlukan “indera” khusus untuk memilih dan memastikan tanpa melihat wajahnya sama sekali.

Tidak semua laki-laki mampu, bukan?! hehehehe

Semoga semua orang dapat melihat bahwa bukan perempuan dan juga pakaian perempuan yang memicu nafsu namun pikiran yang memicunya.

Seberapa genting “Aurat tak tertutup” dan “Perjinahan” itu mengakibatkan “masuk neraka”?

    Diriwayatkan Abu Dhar:
    Nabi mengatakan, “Jibril mengatakan kepada-ku, ‘siapapun yang wafat tanpa memuja tuhan lain selain allah, maka ia akan masuk surga.
    Nabi bertanya, “bahkan jika ia melakukan hubungan seksual illegal atau mencuri sekali-pun?
    Jibril menjawab, “bahkan itu sekalipun” [Bukhari 4.54.445, 9.93.579]

Hadis diatas sudah sangat menjelaskan bahwa apapun “dosa”-nya, bisa dimaafkan kecuali tidak menyembah Allah! Jika ini benar, maka apa pentingnya lagi pakaian-pakaian ini ngotot diurusi sedemikian melitnya?


Dr. HUDOYO HUPUDIO VS Wirajhana Eka: "Onani" dan "Periuk Nasi"


Pada suatu ketika, di Fesbuk gw ada catatan yang di tag-kan ke gw, oleh Charles Ben, dengan judul: ‘Untuk Charles Ben – Re: Mengikuti Cara Buddha Dhamma -> “Kalau ketemu Buddha, bunuh Buddha!” ‘ penulisnya catatan ini adalah Dr. Hudoyo Hupudio. Pada bagian akhir dari catatan tersebut tertulis:

    Jadi, seluruh doktrin Buddha Dhamma, doktrin agama-agama apa pun, termasuk ajaran Krishnamurti & MMD, tidak perlu untuk pembebasan, untuk kepadaman (nibbana).

    “Kalau ketemu Buddha di jalan, bunuh Buddha!”
    “Kalau ketemu Pannyavaro di jalan, bunuh Pannyavaro!”
    “Kalau ketemu Krishnamurti di jalan, bunuh Krishnamurti!”
    “Kalau ketemu MMD di jalan, bunuh MMD!”

Setelah membaca, saya ikut berkomentar dan kemudian terjadilah baku komentar antara saya dan Hudoyo Hupudio. Rupanya “kesan dan pesan” percakapan tersebut begitu “melekatnya” bagi Dr.Hudoyo. Ia kemudian menyusun ulang percakapan itu dalam bentuk catatan dan diberi judul “DEBAT KUSIR -> Wirajhana Eka“.

Catatan itu juga di sent ke milis spritual, MMD – Krisnamurti Meditasi [Dua-duanya punya Hudoyo] dan di milis samaggi-phala, Berikut dibawah ini “debat kusir” yang dimaksud:

[Komentar dan Catatan mengenai ini, lihat juga di Fesbuk Gw]


WIRAJHANA EKA:

Ajakan Bunuh membunuh ini menarik..untuk bisa membunuh maka ia memerlukan pengetahuan Apa, Mengapa dan bagaimana Jadi ia sekurang-kurangnya mengetahui Buddha Dhamma, mengenali Buddha Dhamma dan mempraktekan Buddha dhamma barulah ia bisa membunuh Buddha..cilakanya saat ini [dan juga sebelumnya] banyak orang2 yang sudah sangat buru-buru untuk membunuh Buddha ketika bertemu, padahal ego belum dibunuh..

HUDOYO HUPUDIO:

‘Membunuh Buddha’ itu sendiri adalah sinonim dari ‘membunuh ego’, karena ego itu mengidentifikasikan dirinya dengan Buddha.

WIRAJHANA EKA:

Pak Hudoyo, .membunuh buddha tidak sama dengan membunuh ego Silakan simak maksud kalimat caatan anda sendiri..karena ego itu tidak sama dengan buddha

HUDOYO HUPUDIO:

Yang harus “dibunuh” itu adalah segala konsep tentang Buddha yang dimiliki oleh ego. Jadi, membunuh Buddha sama dengan membunuh ego, karena kalau semua konsep apa pun yang dimiliki ego itu lenyap, maka ego itu sendiri lenyap.

WIRAJHANA EKA:

Ego keharusan dan keinginan “membunuh” saja sudah menunjukan belum pantas membunuh “buddha, bukan?!
jadi bagaimana membunuh konsep sementara konsep digunakan untuk membunuh konsep

HUDOYO HUPUDIO:

“Membunuh Buddha” berarti “melepaskan semua konsep tentang Buddha”.
Kalau kata-kata ini Anda tangkap dengan pikiran Anda–dan bukan menghasilkan kesadaran–justru batin Andalah yang terperosok dalam konsep.

WIRAJHANA EKA:

jika yang anda maksudkan bahwa “membunuh Buddha” agar ditangkap dengan kesadaran maka catatan anda mengenai ini sama sekali menjadi tidak berguna..karena catatan itu hanyalah sebuah konsep yang berharap dapat membunuh konsep lain…cuma ide lain dari permainan ego anda.
kesadaran ditangkap bukan dari bacaan..saya kira anda cukup paham mengenai ini..itulah sebabnya ketika membaca catatan itu maka catatan itu perlu di hapus karena hanya sebuah konsep yang tidak berguna lagi.

HUDOYO HUPUDIO:

Itu sama saja dengan mengatakan bahwa ucapan Buddha Gotama atau Krishnamurti itu samsa sekali tidak berguna dan sebaiknya dihapus saja.
ABSURD!

WIRAJHANA EKA:

beda..ucapan krisna murti ya tidak berguna..seperti catatan ini..

HUDOYO HUPUDIO:

sama … kata-kata buddha, krishnamurti & saya sama.

WIRAJHANA EKA:

bedanya:
Krisnamurti jangankan untuk membunuh Buddha, bahkan ia pun masih tidak bisa membunuh nafsu seksualnya pada Rosalind..jadi ia cuma bisa ngomong tok..

Anda,
Anda berbicara “membunuh Buddha”, bahkan ajakan saya untuk menghapus [baca: membunuh] catatan ini saja anda masih berat
anda masih belum mampu membunuh diri [baca: ego anda] jadi terlalu berlebihan mengenai konsep membunuh Buddha yang anda sendiri tau menuliskan tapi tidak tau mengartikan sekarang apakah anda sudah mengerti dimana perbedaannya dan mengapa catatan anda tidak berguna?!

HUDOYO HUPUDIO:

Anda cuma bisa memperdebatkan hal-hal lahiriah saja & tidask mampu melihat lebih dalam lagi.
Melihatkah Anda sekarang bahwa kata-kata Buddha, Krishnamurti dan saya sama?

WIRAJHANA EKA:

Krisna murti,
apa yang diucapkan tidak sama dengan yang ia jalankan..Ia berkotbah, menjalankan konsepnya campur aduknya sendiri..tapi masih juga melakukan affair..berkali2 malah [karena tahunan ngga sadar2]…maka mengikuti dia samasekali tidak berguna..

Anda,
sama parahnya…Anda samasekali tidak mengerti apa yang anda tuliskan!
Anda bahkan tidak bisa membunuh ego anda sendiri..bahkan untuk mencernapun anda tidak mampu..apalagi membedakan!
sudahkah anda membunuh diri?
Jika belum maka perdalam lah lagi Buddha Dhamma dan bukan mempertahankan catatan omong kosong yang anda sendiri tidak paham..bagaimana mencernanya

HUDOYO HUPUDIO:

hehe … Anda mencoba memancing saya. 🙂
Anda tetap tidak mampu melihat lebih dalam daripada kata-kata. … karena ketiakmampuan Anda itu, maka Anda cuma bisa mengulangi lagi & memperluas makian Anda sebelumnya.. .dengan harapan bisa membuat saya gusar.
Yang jelas posting-posting Anda sudah berubah menjadi debat kusir. 🙂

WIRAJHANA EKA:

mengatakan catatan anda tidak berguna bukanlah makian..namun kenyataan..
Silakan resapi tulisan saya baik2..karena bila anda mengerti tulisan saya sangat berguna bagi anda serta lebih sedikit karma buruk yang anda timbulkan dari Kebodohan batin, lobha dan dosa anda sendiri

Jika saya tidak mengambil karma buruk untuk membunuh anda maka bagaimana anda bisa mulai membunuh diri?
apakah anda mulai paham? kalo tidak waduh…menyedihkan sekali anda ini

HUDOYO HUPUDIO:

Salah satu tanda debat kusir adalah pola argumentasi yang berulang dan berputar kembali tanpa ada hal baru atau kemajuan bepikir, karena ketidakmampuan Anda keluar dari lilitan pikrian Anda sendiri.
Saya juga kasihan melihat Anda kok.

WIRAJHANA EKA:

hahahahaha..hv a nice day pak..silakan di nikmati..

HUDOYO HUPUDIO:

Have a nice day.


Catatan hudoyo ini kemudian saya komentari, namun diperjalanannya komentar2 dari saya mengalami pembunuhan…Untung sebelum terjadi, entah mengapa saya sempat sent ke milis samaggiphala.

Berikut rekaman catatan yang terselamatkan dari “pembunuhan” itu:

    Ah, ini dia lanjutan dari hasil mengikuti diskusi “membunuh Buddha” dgn orang2 yang sangat dalam berkecimpung di Diskusi mengenal diri, silakan simak secara perlahan:

    FIONA. HARTANTO1:

    Knp kisah cinta Krishnamurti & Rosalind selalu menjadi isu yg sepertinya sangat negatif? Menurut saya tidak ada hubungannya… toh K tidak pernah ditahbis menjadi bhikkhu ataupun semacam rahib, dan tidak pernah sekalipun juga menyarankan orang untuk hidup selibat… Ada yg punya pendapat juga mengenai ini? Mungkin Pak Hud & pria2 di sini punya pandangan yg beda dari saya yang wanita?

    HUDOYO HUPUDIO:

    @Fiona: Betul, (1) K tidak pernah menganjurkan hidup selibat; (2) K tidak pernah mengajarkan “kesucian perkawinan”, malah sebaliknya, dia sering mengritik lembaga perkawinan sebagai pembenaran bagi penindasan laki2 thd perempuan; (3) K menekankan makna ‘cinta’, dan bahwa seks itu mendapatkan pembenarannya di dalam cinta, bukan di dalam lembaga perkawinan.

    WIRAJHANA EKA:

    orang lebih menyukai onani daripada membunuh diri..dan menyenangkan sekali melihat “romo” begitu terpuaskan..

    level membunuh Buddha? hehehehe..

    FIONA. HARTANTO1:

    @wirajhana: ucapan anda itu adalah hasil pikiran anda… dan maaf, kata2 anda kotor, pak wira

    benar juga kan, kata teman2 saya yang non-buddhis bahwa kesan umat buddha di Indonesia pada umumnya “tidak berpendidikan”, lah wong gaya bicaranya kebanyakan kayak wirajhana gini… malu2in nih

    WIRAJHANA EKA:

    krisnamurti menggendong kemana2 ajarannya dan berselingkuh bertahun2 adalah suci?
    berbusa2 ngecap..masih tidak mengetahui bahwa manusia adalah sarang kotoran..yang lapuk oleh usia dan akan terlahir kembali? hehehe…

    ngajar MMD berbicara vipasanna apa lantas jadi orang suci?..toh masih ngga mampu mengartikani membunuh Buddha? hehehe

    Ucapan saya pastinya hasil pikiran saya Mungkin anda sangat terusik dengan kata onani, sehingga menyatakan kata2 saya kotor? kata-kata adalah multi makna..paling tidak ada dua arti

    arti 1, melakukan hubungan seksual dgn diri sendiri & membayangkan hal2 sensual

    apakah ini kotor?

    90% lebih laki2 prnh melakukan ini [saya yakin 100%, pak Hudoyopun pernah melakukan ini & tentunya saya jg pernah]

    arti 2, melakukan sesuatu dgn memakai orang lain sebagai objek yg tujuannya pilih: meyenangkan diri sendiri ato minta dikasihani,ato di dukung [hehehe]

    kotor?..
    Pikiran anda yang kotor fiona [Ah janga2 ini juga debat kusir..]

    FIONA. HARTANTO1:

    @wirajhana: argumen anda thd Krishnamurti, MMD, Pak Hudoyo, membunuh Buddha atau apapun itu tidak menarik, membosankan. Dihentikan saja.

    [Perhatikan, ini adalah note tambahan saya sekarang..Fiona tidak memasukan onani pada daftar diatas..artinya onani bagi fiona, tidak termasuk hal-hal yang “tidak menarik, membosankan dan dihentikan saja”]

    WIRAJHANA EKA:

    hehehehe…o ya fiona, coba tanya arti ke satu itu pernah dilakukan ayah ato pacar..ato suami…siapa tau mo jujur memberitahu..

    DANIEL SUCHAMDA:

    @fiona: saya juga melihatnya begitu, buddhist indonesia (yg chinese) sifatnya memang kampungan spt orang kurang pendidikan. Maklum, biasanya mereka memang golongan marginal.:)

    FIONA. HARTANTO1:

    memang aslinya banyak yang tidak berpendidikan… dan krn tdk berpendidikan, mustahil memahami ajaran yang dalam. kasihan ya 🙂

    HUDOYO HUPUDIO:

    @Wirajhana: “orang lebih menyukai onani daripada membunuh diri..dan menyenangkan sekali melihat “romo” begitu terpuaskan..”

    Orang lebih menyukai onani daripada berdiam diri … dan menyenangkan sekali melihat Anda begitu terpuaskan..

    @Wirajhana: “krisnamurti menggendong kemana2 ajarannya dan berselingkuh bertahun2 adalah suci? berbusa2 ngecap..masih tidak mengetahui bahwa manusia adalah sarang kotoran..yang lapuk oleh usia dan akan terlahir kembali? hehehe…”

    Lagi-lagi Anda cuma bisa melihat luarnya Krishnamurti, Anda tidak mampu melihat dalamnya, sehingga yang keluar dari mulut Anda dari dulu sampai sekarang ya itu-itu saja.

    “ngajar MMD berbicara vipasanna apa lantas jadi orang suci?..toh masih ngga mampu mengartikani membunuh Buddha? hehehe”

    Debat kusir yang berulang.

    “Ah janga2 ini juga debat kusir..”

    Betul.

    @Wirajhana: “arti 1, melakukan hubungan seksual dgn diri sendiri & membayangkan hal2 sensual apakah ini kotor?”

    Menggunakan kata ‘onani’ dalam suatu debat itu sendiri adalah suatu onani … memperoleh kepuasan yang amat sangat.

    WIRAJHANA EKA:

    menanggapi pun bukan membunuh pikiran..menanggapi onani dengan menggunakan kata onani..menandakan sangat jelas bahwa yang menulis catatan dan yang berbusa2 ngecap..boro2 mau membunuh Buddha mengenalipun tak mampu..

    saya onani..kan udah saya bilang iya..hehehehehe…hahahahaha

    HUDOYO HUPUDIO:

    onani terus …

    WIRAJHANA EKA:

    bagaimana pak..nikmatkan…daripada membunuh diri..

    o ya, non buddhis itu terbiasa dicocok hidung kaya kerbau..menurut aja apa kata pendeta dan mursidnya..nah kebiasaan itu menyenangkan si mursid/pendetanya..

    itulah mengapa pendetanya/mursidnya mengalami kepuasan berulang2 dari hal itu…hahahahahaha

    HUDOYO HUPUDIO:

    Andalah yang onani terus…

    SEORANG WANITA [yyy]:

    @wirajhana eka:
    nama yg bgs.. Hehe.. Mau nanya.. K mengapa dikatakan berselingkuh? Apa K pernah menikah? Di usia brapa K terlibat asmara? Thanks ats infonya.. Be happy..

    HUDOYO HUPUDIO:

    Dari Forum Diskusi MMD
    Sidiartha (Denpasar):
    hehehe….Wirajhana sudah kena pancing, bukan sebaliknya. Di kampung saya, ada yg agak unik….ada semacam nilai2 yg dianut oleh masayarakat setempat, bahwa utk dapat melaksanakan bhakti marga dg baik, batin itu haros polos, lugu…..sehingga masyarakat di desa saya jarang sekali membaca kita2 suci weda, apalagi menguasai sampai melekati. Kami…dalam keseharian melaksanakan praktik bakti..dapat di katakan tanpa konsep, namu dg kesederhanaan dan kepolosan. Berbeda dg daerah lain..dalam praktek baktinya penuh dg mantra hasil menghapal kitab suci, hasil mempelajari lontar2, di desa saya sederhana dan polos. Sebagai akibatnya, di desa saya tdk ada yg namanya orang pintar, paranormal, orang sakti, apalagi ahli kitab suci. Namun desa tetangga saya bertebaran orang2 sakti, santet, dll..hasil dari mempelajari lontar.

    WIRAJHANA EKA:

    Hehehe pak Hudoyo, Oh Ya KTP saya masih hindu sampe saat ini..dan ngga ngerasa perlu tuh ubah2 KTP..
    Sejak berkenalan dengan Buddha..barulah saya tahu bedanya orang yang sedang omong kosong ato tidak..pajang2 gaya2 sok suci..padahal cuma nyari duit dan di puja-puji..hehehehe

    jadi lucu baca pengajar mengenal diri tapi ngga tau sedang onani..hahahahahaha

    mengenal diri?

    Hehehehe..sedang beronani saja ngga tau..apalagi mengenali diri..ehh malah berkhayal makin tinggi di level membunuh Buddha..hahahahahaha..sorry bos, masih jauh..jauh banget..level anda masih sekitar fiona..hahahahaha

    SURUWANGI PRO:

    @bung wira : mari sama” ber’onani’ agar budha terbunuh dengan sendirinya.. ^_*v..

    WIRAJHANA EKA:

    telat pak..saya sedang menikmatinya..

    Ngga bisa membunuh Buddha dengan sendirinya, butuh latihan panjang dan usaha yang keras dan tekun..bahkan seumur hiduppun belum tentu bisa [bahkan tidak bisa seumur hidup pun masih terhitung normal..ini tergantung bahan yang sekarang anda punya]..

    tapi hasil latihan itu akan berguna di kehidupan berikutnya terutama jika meneruskan latihan ini[repotnya dikehidupan depan belum tentu mempunyai pengetahuan yang sama dengan saat ini sehingga bisa bertekad kerja keras mencapai kondisi itu, namun buat saya apabila itu dapat dicapai dikehidupan berikutnya..maka saya sudah merasa super beruntung]

    Oke, yang lebih mudah buang catatan membunuh buddha, buang MMD..kecuali konsentrasi pada hal tertentu nah untuk pengetahuan basic ini..cukup pak hudoyo yang memberikan penghantar..

    selamat mencoba.

    Btw, untuk [yyy] yang nanya perselingkuhan Krisnamurti dengan Roselind..silakan tanya muridnya [pak hudoyo]..mudah2an ia cukup legowo menceritakan detailnya

    FIONA. HARTANTO1:

    @wirajhana: saya lebih senang kalo bisa membuang tulisan2 anda itu…sayangnya ngga bisa krn bukan FB saya

    yyy:

    @wirajhana eka: thanks ats infonya.. Btw, mau tau dari sdr wirajhana eka aja, bolehkan! Hehe.. Klu blh tau apakah anda sangat membenci krisnamurti? Apa yg membuat anda menjadi berpindah kepercayaan dari agama hindu kemudian jadi sreg dgn agama buddha? Boleh donk berbagi sedikit!! Apa anda sdh berkeluarga ato anda memilih hidup sendiri ato menjadi bhikku? Klu blh tau, hehe.. Peace!!! Be happy..

    FIONA. HARTANTO1:

    @daniel: udah deh komunitas buddhist makin parah deh… umat beragama lain yg ikut masuk kok ya yang jenisnya sama… sudah suratan takdir haha

    DANIEL SUCHAMDA:

    @fiona: itulah yang saya kritik di milis2 buddhist : katanya memegang sila dsb, tetapi jelas sekali tidak mengerti etika dasar, tidak sopan, kurang ajar, licik, munafik, mau menang sendiri. Seringkali bahkan argumennya tidak ditanggapi tapi malah penuh dengan ad-hominem (penyerangan ke pribadi).
    Bahkan seringkali salah tangkap atau tidak mengerti sama sekali tentang esensi yg sedang dibicarakan. Entahlah apa karena bbrp dari mereka memang kapasitas intelektualnya hanya segitu, atau gara-gara masuk ke komunitas buddhis lantas ketularan bodonya (maklum banyak yg menjadikan ‘vihara’ sbg tempat pelarian bahkan ada jg yg jadi bhikku krn mogok sekolah atau gak mampu bersaing di masyarakat umum atau ‘rada-rada’ gitulah).

    FIONA. HARTANTO1:

    @daniel: hehehe… setuju! yang pasti mahluk sejenis berkumpul & berorganisasi bersama 🙂 sungguh2 mereka patut melihat komunitas umat beragama lain yang sikapnya jauh lebih etis & lebih intelektual…

    HUDOYO HUPUDIO:

    @Wirajhana: Anda terus-menerus melakukan ad hominem (menyerang pribadi lawan bicara) untuk mencapai kepuasan diri sendiri,–menurut istilah Anda sendiri– terus ber-onani. Akibatnya beberapa teman mulai mengeluhkan kelakuan Anda, yang dinilai meresahkan. Kalau Anda tidak memperbaiki kelakuan Anda di thread ini, terpaksa Anda saya keluarkan dari sini.

    DANIEL SUCHAMDA:

    Kalau saya yang jadi bhikkhu, pasti sudah saya gampar si wirahjana eka itu. Karena kebodohannya tidak hanya merusak nama Buddhism tetapi juga menjebloskan dirinya sendiri ke jurang kebodohan yg semakin dalam. Sayang, bhikkhu / pandita theravada indonesia terlalu lembek dalam mendidik umatnya sehingga ya begitulah hasilnya.

    WIRAJHANA EKA:

    hahahahahaha…sekarang hudoyo bukannya mencapai level dapat membunuh Buddha malah sekarang mencapai level menjadi tuhan…

    makin mirip fiona..terutama jika periuk nasi di coel..

    mengenal diri? hehehehe..hahahahahahaha

    DANIEL SUCHAMDA:

    @wirahjana :
    dalam kapasitas apa anda mengetest seseorang? Bahkan anda paham pun belum.
    Oleh karena itu, perbuatan anda itu bisa disebut sebagai : kurang ajar.
    Kalau kapasitas anda terlalu kecil untuk memahami sesuatu yg lebih besar, maka janganlah anda bertindak hina. Bukankah orang theravada marah kalau disebut hinayana? 😀
    Dari sini silakan anda dan kelompok anda bercermin diri mengapa dalam sejarah menjadi demikian.

    FIONA. HARTANTO1:

    teman2, jika ada yg tidak berkenan dgn argumen wirajhana yg tidak sopan, bisa melapor ke FB ya. Caranya: search nama wirajhana eka, lalu klik “report this person” lalu akan muncul kotak, bisa pilih “racist/hate speech” bisa dgn melampirkan diskusi ini. account wira akan terdelete dalam beberapa jam. salam 🙂

    oh ya, setelah memilih “racist/hate speech” akan muncul isian2 lain spt tgl, konten dr diskusinya, tinggal di-copy paste saja. thanks.

    WIRAJHANA EKA:

    hahahaha…silakan..silakan…di click…
    abis kalo ‘tuhannya’ di coel-coel..masa cuma ngomel mulu disini..hahahahahahaha
    sy juga pengen liat hasilnya…jangan ragu2

    mengenal diri? hahahahahahahahahahahahahahaha


Wah…pas banget malah..karena menjelang jam 1-2 pagi semua tulisan gw sudah di bunuh habis. Pembunuhnya adalah hudoyo dan bukan penyelenggara FB.

Setelah tulisan di atas, saya juga sempat tulis buat yyy kurang lebih seperti ini:

    “saya tidak membenci K, dan silakan tanya mengenai K pada hudoyo ato searching di wikipedia jika ia sungkan menjelaskan”

Namun di aborsi juga..Setelah di aborsi saya sempat tulis lagi..kurang lebih spt ini:

    “beda tipis antara ‘menghilangkan barang bukti’ dengan menyelamatkan ‘periuk nasi’

    mengenal diri? hehehehe”

Semua itu masuk menjadi komentar dan akhirnya di aborsi kembali.

Demikian hasil pengujian konsistensi antara konsep/ucapan vs praktek. Semoga semua mahluk berbahagia..

note:
tks to Charles ben atas tag catatan hudoyo ke fb saya..tentang membunuh buddha


Catatan Kaki:

Kelihatannya Dr Hudoyo sungkan memberikan detail kejadian itu..oke-lah saya bantu beliau..setelah mencari2 di net..akhirnya dapat juga kisah perselingkuhan J.Krishnamurti dan aborsi-aborsi Ilegal yang telah dilakukannya. Kecuali note bagian bawah, maka ini merupakan cuplikan dari tulisan Dr Hudoyo sendiri:

    Ini adalah pertama kali K–sekarang berusia 37 tahun–membiarkan dirinya terjun ke dalam hubungan seksual penuh. Ia sekarang merasa bahwa pembatasan-pembatasan yang dikenakan oleh Perhimpunan Teosofi terhadap seks adalah artifisial dan tidak perlu….

    Lokasi Ojai yang relatif terpencil menjamin bahwa pasangan itu akan aman di dalam rahasia mereka, dan kunjungan K yang sering dilakukannya ke kamar tidur Rosalind, yang biasanya untuk membawa sebuah baki sarapan atau makan siang, atau seikat bunga, di waktu pagi, tidak terlalu menarik perhatian…

    Pernikahan tidak berarti banyak bagi K, tetapi ia sadar akan makna komitmen dalam suatu hubungan. Dalam tahun 1933, ia berkata bahwa ia akan bertanggung jawab bagi Rosalind dan Radha..Mereka berdua surut dari ide ini, dan affair tertutup itu pun berlanjut. Suatu titik kritis tercapai pada 1935, ketika Rosalind mendapati dirinya hamil. Dilakukan sebuah aborsi secara ilegal oleh seorang teman, seorang osteopath, bukan dokter. Rosalind dua kali lagi hamil dari K, yang pertama sekitar 1937, yang berakhir dengan keguguran dini, dan yang kedua pada 1939, yang lagi-lagi diakhiri dengan aborsi sembunyi-sembunyi. Mereka telah memutuskan untuk merahasiakan hubungan mereka, dengan demikian kemungkinan untuk menghasilkan seorang anak harus dihindarkan.

Note:
Rajagopal akhirnya bercerai dengan Rosalind. Rajagopal dan Krisnamurti, pernah saling tuntut di pengadilan, yaitu untuk urusan keuangan [dituntut oleh Krishnamurti] dan fitnah [dituntut oleh Rajagopal]
Sementara itu Krishnamurti, ternyata diam-diam punya pacar lagi yaitu seorang wanita yang juga sudah menikah, bernama Nandini Mehta [menikah dengan Bhagwan Mehta, punya 3 anak, Nandini akhirnya juga cerai dengan suaminya]. [sumber: di sini dan di sini]

***

Ada satu pertanyaan dari FIONA. HARTANTO1:

    Knp kisah cinta Krishnamurti & Rosalind selalu menjadi isu yg sepertinya sangat negatif? Menurut saya tidak ada hubungannya… toh K tidak pernah ditahbis menjadi bhikkhu ataupun semacam rahib, dan tidak pernah sekalipun juga menyarankan orang untuk hidup selibat… Ada yg punya pendapat juga mengenai ini? Mungkin Pak Hud & pria2 di sini punya pandangan yg beda dari saya yang wanita?

Pertanyaan di atas tidak pernah di jawab pada tread itu [baik dalam semua tulisan “onani”-nya Dr Hudoyo ataupun oleh peserta “mengenal diri” di tread terebut.]

Berikut ini adalah jawaban menurut sudut pandang Buddhisme [saya ambil di komentar yang ada di FB], untuk menjawab apakah yang dilakukan Krishnamurti itu benar ato salah?

Wirajhana Eka:

    [Objek yang dipersoalkan adalah melanggar/atau tidak] sila ke 3 pancasila Buddhis:

    1. Aku bertekad melatih diri untuk menghindari pembunuhan (nilai kemanusiaan) guna mencapai samadi.
    2. Aku bertekad melatih diri untuk tidak mengambil barang yang tidak diberikan (nilai keadilan)guna mencapai samadi
    3. Aku bertekad melatih diri untuk tidak melakukan perbuatan asusila (berzinah, menggauli suami/istri orang lain, nilai keluarga)guna mencapai samadi.
    4. Aku bertekad untuk melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar /berbohong, berdusta, fitnah, omongkosong (nilai kejujuran)guna mencapai samadi.
    5. Aku bertekad untuk melatih diri menghindari segala minuman dan makanan yang dapat menyebabkan lemahnya kewaspadaan (nilai pembebasan) guna mencapai samadi.

    Jika seorang yang mengajarkan sesuatu..saja kerap melanggar berulang2 sila ke 3 dan ke 4..
    maka Apakah pantas ia di gugu & di tiru
    Nah orang2 seperti itu adalah MUSANG berbulu DOMBA!

    [gw orang biasa..melanggar itu pastilah pernah..]

Lily Warsiti:

    SILA III : KAMESU MICCHACARA VERAMANI
    Menghindari berbuat Asusila

    1. Objek yang menyebabkan pelanggaran sila ketiga:
      Bagi seorang laki-laki :
      • Wanita yang telah menikah
      • Wanita yang masih dalam pengawasan atau asuhan keluarga
      • Wanita yang dilarang menurut adat istiadat, peraturan agama, atau hukum Negara/kerajaan
        • Yang dilarang karena adat istiadat adalah wanita yang masih dalam satu garis keturunan yang dekat
        • Yang dilarang karena peraturan agama adalah wanita yang menjalankan kehidupan suci (brahmacari). Dalam tradisi Theravada wanita disebut di atas adalah Upasika Atthasila, Samaneri dan Bhikkhuni.
        • Yang dilaarang karena hukum Negara/kerajaan adalah wanita yang menjadi selir raja.
    2. Objek yang menyebabkan pelanggaran sila ketiga :
      Bagi seorang wanita :
      • Laki-laki yang telah menikah
      • Laki-laki yang dilarang karena peraturan agama, misalnya : Upasaka, Atthasila, Samanera dan Bhikkhu

    3. Pelanggaran sila ketiga
      • Seorang wanita/laki-laki yang berbuat asusila dengan laki-laki/wanita yang terlarang baginya, telah melakukan perzinahan
      • Seorang wanita yg masih di bawah asuhan melakukan perbuatan asusila dengan laki-laki yang tidak merupakan objek terlarang baginya, tidak melanggar sila ini. Tetapi, wanita tersebut dapat dikatakan melanggar Dhamma karena menodai dirinya sendiri, dan menjatuhkan nama baiknya dalam masyarakat.

    FAKTOR :

    1. Ada objek yang tidak patut di gauli
    2. Mempunyai pikiran untuk menyetubuhi objek tersebut
    3. Berpikir untuk menyetubuhi
    4. Berusaha untuk menyetubui
    5. Berhasil Menyetubuhi melalui usaha tersebut

    Hal-hal lain yang dikategorikan pelanggaran sila ketiga yang harus juga kita hindari:

    1. Berzinah (melakukan hubungan kelamin bukan dengan suami/istrinya)
    2. Berciuman dengan lain jenis kelamin yang disertai nafsu birahi
    3. Menyenggol, mencolek & sejenisnya yang disertai nafsu birahi

    Catatan :
    Tujuan sila ketiga ini adalah untuk mencegah perceraian, dan membina keharmonisan serta kepercayaan timbale balik antara suami istri.

    dhammacitta.org

    Semoga bermanfaat…
    _/\_ :lotus:

    Note: Kalo ada salah satu faktor-faktor sila ke 3 tidak terpenuhi maka tidak bisa di katakan melanggar sila ke 3.

[Lebih detail lagi mengenai komentar2 ini, lihat di Fesbuk Gw]

Note:
Ternyata “Kamesu” itu ternyata punya arti luas:

  • Arti dari Sanskrit [sumber: Vedabase]:kāmeṣu — in sense enjoyment;to material enjoyment; in the material world, where lusty desires predominate;in sense gratification; in objects of selfish desires;
  • Kamesu Satta Sutta [Ud.7.3 dan Ud.7.4]: memuat cakupan arti “Kamesu” yang ternyata bukan sekedar seksual
  • Ulasan wisdomquartely, disebutkan bahwa pengertian fisik itu justru berasal dari ide a susila-nya nasrani

Dengan mengartikan dan mempublikasikan bahwa KAMESU MICCHACARA = METHUNA SAMACARA [hubungan kelamin] merupakan sebuah blunder turun temurun!

“Kamesu” itu meliputi 6 indria [mata, telinga, sentuh kulit, sentuh lidah, penciuman, pikiran] dan obyeknya pun dari 6 indera untuk pikiran adalah ide2 tentang segala sesuatu yang membuat hasrat keinginan yang menggila yang dilakukan dengan cara tidak lazim

Silakan juga baca PEMBUKTIAN yang ditulis dalam, “Big Blunders in Dhamma Interpretation“, Profesor Dhammavihari Thera

    The first outpouring of this blunder, clearly presented in black and white was, as far as we recollect, in Buddhist Ethics by Venerable Hammelewa Saddhatissa. Allen and Unwin, London. 1970. This is his presentation on page 106.

    “We now return to the interpretation of the precept as with kama in the Locative plural form kamesu. In such form the precept signifies abstinence from all indulgences in the five sensuous objects, namely visible object, sound or audible object, olfactory object, sap or gustative object, and body impression or tactile object.

    Kamesu micchacara is therefore `wrong or evil conduct with regard to the five sensual organs’. In many places in Pali literature, the fifth factor of kama, that is body impression, has been interpreted as ` unlawful sexual intercourse’; it seems that it would be the most blameworthy of the five kamas.

    In representing kamesu micchacara as relating only to sexual intercourse the grammatical form of kama has been ignored; to achieve complete obsrvance of the precept, one must therefore desist from the five forms of self indulgence, both directly and indirectly.” Who misleads whom, generation after generation?

Terihat jelas sudah bahwa sila ketiga pancasila itu BUKAN “Methuna sama cara veramani sikkhapadam samādiyāmi” NAMUN “Kāmesu micchācāra veramani sikkhapadam samādiyāmi”


Tak Bom Kemana-mana..


Sebelum mulai, mari kita simak pengakuan pelaku aksi pengeboman yang mengguncang Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton

    KETERANGAN RESMI TANDZIM AL QO’IDAH INDONESIA
    ATAS AMALIYAT JIHADIYAH ISTISYHADIYAH
    DI HOTEL JW. MARRIOT JAKARTA

    اَلْحَمْدُ ِللهِ مُعِزِّ اْلإِسْلاَمِ بِنَصْرِه، وَمُذِلِّ الشِّرْكِ بِقَهْرِه، وَمُصَرِّف اْلأُمُور بِأَمْرِه، وَمُسْتَدْرِجِ اْلكَافِرِيْنَ بِمَكْرِه، اَلَّذِي قَدّرَ اْلأَيَّامَ دُولاً بِعَدْلِه، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ أَعْلَى اللهَُ مَنَارَ اْلإِسْلاَمِ بِسَيْفِه.

    أمَّا بعد

    Ini adalah keterangan resmi dari Tandzim Al Qo’idah Indonesia untuk ummat Islam dengan Amaliyat Jihadiyah Istisyhadiyah di Hotel JW. MARRIOT Jakarta, pada hari Jum’at pagi, tanggal 17 juli 2009 M./24 Rojab 1430 H. yang dilakukan oleh salah satu ikhwah mujahidin terhadap “KADIN Amerika” di Hotel tersebut.

    Sesungguhnya telah sempurna pelaksanaan Amaliyat Istisyhadiyah dengan karunia Allah dan karomah-Nya setelah melakukan survey yang serius dan pengintaian yang mendalam terhadap orang-orang kafir sebelumnya.

    Dan sungguh benar firman Allah :
    “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (QS. Al Anfal : 17).

    Ini juga sesuai dengan firman Allah Ta’ala :
    “Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman”. (QS. Attaubah : 14).

    Agar ummat ini mengetahui bahwasanya Amerika, khususnya orang-orang yang yang berkumpul dalam majlis itu, mereka adalah para Pentolan Bisnisman dan Inteljen di dalam bagian ekonomi Amerika. Dan mereka mempunyai kepentingan yang besar dalam mengeruk harta negeri Indonesia dan pembiyaan tentara kafir (Amerika) yang memerangi Islam dan kaum muslimin. Dan kami akan menyampaikan kabar gembira kepada kalian wahai ummat Islam, bi idznillahi Ta’ala dengan mengeluarkan cuplikan-cuplikan film dari Amaliyat Istisyhadiyah ini insya Allah.

    Dan kami beri nama Amaliyat Istisyhadiyah ini dengan : “SARIYAH DR. AZHARI”.

    Kami ber-Husnu Dhon kepada Allah bahwa Allah akan menolong kami dan menolong kaum muslimin dalam waktu dekat ini.

    الله أكبر ولله العزة ولرسوله والمؤمنون

    Amir Tandzim Al Qo’idah Indonesia
    Abu Muawwidz Nur Din bin Muhammad Top
    Hafidzohullah

    KETERANGAN RESMI DARI TANDZIM AL QO’IDAH INDONESIA
    ATAS AMALIYAT JIHADIYAH ISTISYHADIYAH
    DI HOTEL RIZT CALRTON JAKARTA

    اَلْحَمْدُ ِللهِ مُعِزِّ اْلإِسْلاَمِ بِنَصْرِه، وَمُذِلِّ الشِّرْكِ بِقَهْرِه، وَمُصَرِّف اْلأُمُور بِأَمْرِه، وَمُسْتَدْرِجِ اْلكَافِرِيْنَ بِمَكْرِه، اَلَّذِي قَدّرَ اْلأَيَّامَ دُولاً بِعَدْلِه، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ أَعْلَى اللهَُ مَنَارَ اْلإِسْلاَمِ بِسَيْفِه.

    أمَّا بعد

    Ini adalah keterangan resmi dari Tandzim Al Qo’idah Indonesia untuk ummat Islam dengan Amaliyat Jihadiyah Istisyhadiyah di Hotel Rizt Calrton Jakarta, pada hari Jum’at pagi, tanggal 17 juli 2009 M./24 Rojab 1430 H. yang dilakukan oleh salah satu ikhwah mujahidin terhadap antek-antek Amerika yang berkunjung di Hotel tersebut.

    Sesungguhnya Allah menganugerahkan kepada kami jalan untuk menyerang Hotel termegah yang dimiliki oleh Amerika di Ibukota Indonesia di Jakarta, yaitu Rizt Calrton. Yang mana penjagaan dan pengamanan di sana sungguh sangatlah ketat untuk dapat melakukan serangan seperti yang kami lakukan pada kali ini.

    “Mereka membuat Makar dan Allah pun membuat Makar. Dan Allah itu Maha Pembuat Makar”. (QS. Ali Imron : 54).

    Adapun sasaran yang kami inginkan dari amaliyat ini adalah:

    1. Sebagai Qishoh (pembalasan yang setimpal) atas perbuatan yang dilakukan oleh Amerika dan antek-anteknya terhadap saudara kami kaum muslimin dan mujahidin di penjuru dunia
    2. Menghancurkan kekuatan mereka di negeri ini, yang mana mereka adalan pencuri dan perampok barang-barang berharga kaum muslimin di negeri ini
    3. Mengeluarkan mereka dari negeri-negeri kaum muslimin. Terutama dari negeri Indonesia
    4. Menjadi pelajaran buat ummat Islam akan hakikat Wala’ (Loyalitas) dan Baro’ (Permusuhan), terkhusus menghadapi datangnya Klub Bola MANCESTER UNITED (MU) ke Hotel tersebut. Para pemain itu terdiri dari para salibis. Maka tidak pantas ummat ini memberikan Wala’nya dan penghormatannya kepada musuh-musuh Allah ini
    5. Amaliyat Istisyhadiyah ini sebagai penyejuk dan obat hati buat kaum muslimin yang terdholimi dan tersiksa di seluruh penjuru dunia

    Yang terakhir ….. bahwasanya Amaliyat Jihadiyah ini akan menjadi pendorong semangat untuk ummat ini dan untuk menghidupkan kewajiban Jihad yang menjadi satu-satunya jalan untuk menegakkan Khilafah Rosyidah yang telah lalu, bi idznillah.

    Dan kami beri nama Amaliyat Jihadiyah ini dengan : “SARIYAH JABIR”

    الله أكبر ولله العزة ولرسوله والمؤمنون

    Amir Tandzim Al Qo’idah Indonesia
    Abu Mu’awwidz Nur Din bin Muhammad Top
    Hafidzohullah

    [Di ambil dari pengakuan ‘Nur Din M Top’]

Membaca ini, saya jadi teringat juga dengan pernyataanya Imam Samudra (salah satu pelaku BOM BALI), melalui adik kandungnya, Lulu Jamaludin di beberapa hari menjelang Ia di Eksekusi:

    “ Tidak untuk bersedih. Bergembiralah, karena aku dan kawan-kawan telah melakukan transaksi sesuai dengan firman allah. Itulah sebuah kemenangan besar. Sampai maut menjemput aku tidak akan menyesali. Aku tidak akan memohon Grasi kepada hukum kafir. Ku genggam, kugigit kuat-kuat Islam

    …Yang jadi sasaran utama adalah bangsa penjajah seperti Amerika serta para sekutunya yang berkumpul di Bali. Jadi bukannya tempat Sasaran. Adanya pembantaian missal terhadap umat Islam di Afganistan pada bulan ramadhan tahun 2001. Bangsa-bangsa Penjajah membantai bayi-bayi tak berdosa

    …Aku sama sekali tidak gamang atau menjadi takut…kematian hanyalah sepenggal episode. Kemudian, hidup kekal abadi. Para mukmin merasakan penderitaan serta kesakitan dan lara. Begitupula juga yang lain (kaum Kafir). Tapi, ada bedanya. Kaum mukmin mendapat rahmat Allah, mereka tidak. Semoga allah meneguhkanku diatas jalan islam ini, sampai malaikat menjemput. Saksikanlah, kami adalah orang-orang Muslim” [Bali post, Minggu 27 Juli 2008, halaman utama, Imam Samudra tidak menyesal]

Ia dengan TEGAS menyatakan bahwa Inilah Jalan Islam!

Imam Samudera mengatakan “Me and my friends will go to heaven. Kalau kami mati, di surga akan ditemani 70 bidadari yang ayu. Apa nggak enak?” [Kompas, “Imam Samudera Ingin Mati dipenggal“,14 Oktober 2007]. Bahkan Amrozy-pun dalam wawancara juga menyatakan bahwa Ia tidak sabar lagi untuk di hukum mati karena 72 bidadari menunggunya di surga.

Wow!

Mengikuti Muhammad berarti Mengikuti Allah
Benarkah tindakan yang dijalankan Amrozy dan seluruh TERORIS muslim di muka bumi ini sesuai dengan ajaran Islam? Selama tindakannya mengikuti perintah Allah dan Nabinya maka PASTI sesuai:

    Quran:
    Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [AQ 4.59]

    Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka PAHALA YANG BESAR dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [AQ 4.66-69]

    Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah tenhadap) orang-orang dahulu.” Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah (syirik, menyembah selain Allah) dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. [AQ 8.38-39]

    Hadis:
    Riwayat Abdullah bin Muhammad Al Musnadi – Abu Rauh Al Harami bin Umarah – Syu’bah – Waqid bin Muhammad – bapakku (Muhammad bin Zaid bin ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al Khaththab) – Ibnu Umar – Rasulullah SAW: “Aku diperintahkan untuk MEMBUNUHI/MEMERANGI [“قَاتِلَ”: qātila=perbuatan dengan itikad membunuh] MANUSIA hingga mereka bersaksi; tidak ada ilah kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka lakukan yang demikian maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haq Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah” [Bukhari no.24 dan Muslim no.33]

    Riwayat Yahya bin Sa’id – Syu’bah – Khabib bin Abdurrahman – Hafsh bin Ashim – Abu Sa’id Al Mu’alla: “Aku pernah mengerjakan salat, lalu Rasulullah saw memanggilku, tetapi aku tidak menjawabnya, hingga aku menyelesaikan salat. Setelah itu, aku mendatangi beliau, maka beliau pun bertanya, ‘Apa yang menghalangimu datang kepadaku?’ Maka aku menjawab, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya aku tadi sedang mengerjakan salat’. Lalu beliau bersabda, ‘Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyerumu kepada yang memberi kehidupan kepadamu‘. [Al-Anfal: 24]…[Ahmad no.17177]

Jadi Taat pada Rasul derajatnya LEBIH TINGGI daripada panggilan untuk memuja Allah

Bunuh diri DAN Jihad bunuh diri
Walaupun Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa MENJATUHKAN DIRI DARI GUNUNG, hingga membunuh jiwanya, maka ia akan jatuh ke neraka jahannam, ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya…” [Bukhari no.5333. muslim no.158], namun Nabi sendiri berulang kali nekad mau bunuh diri:

    Riwayat [(Yahya bin Bukair – Al Laits – Uqail) DAN (‘Abdullah bin Muhammad – ‘Abdurrazaq – Ma’mar)] – Ibnu Syihab – Urwah – Aisyah:…kemudian tak berselang lama Waraqah meninggal dan wahyu berhenti beberapa lama hingga Nabi SAW sedih…sedemikian rupa, hingga beliau beberapa kali INGIN BUNUH DIRI DENGAN CARA MENERJUNKAN DIRI DARI PUNCAK GUNUNG, setiap kali beliau naik puncak gunung untuk menerjunkan dirinya, Jibril menampakkan diri dan mengatakan; ‘hai Muhammad, sesungguhnya engkau betul-betul Rasulullah! ‘ nasehat ini menjadikan hatinya lega dan jiwannya tenang dan pulang. Namun jika sekian lama wahyu tidak turun, jiwanya kembali terguncang, dan setiap kali ia NAIK KEPUNCAK GUNUNG UNTUK BUNUH DIRI, Jibril menampakkan diri dan menasehati semisalnya.. [Bukhari no.6467, Ahmad no.24768]

Tentu saja bunuh diri BERBEDA dengan mati saat berjihad lewat bom bunuh diri, Karena bom bunuh diri, adalah mati demi agama Allah, berjihad membasmi para kafir dan munafik. Tindakan ini dianjurkan, sekurangnya demikian menurut fatwa Yusuf Qaradawi (24 Jul 2003) dan Fatwa Sheikh Faysal Maulawi, wakil ketua dewan Eropa untuk Fatwa dan penelitian (the Islamic Fiqh Academy, afiliasi OIC, sesi ke-14, Doha, Qatar, 11–16 January 2003)

Apakah quran menudukung tindakan bunuh diri dan jihad bunuh diri?

  • Tidak boleh bunuh diri:
    yaa ayyuhaa alladziina aamanuu (Hai orang-orang yang beriman)…walaa taqtuluu anfusakum (Dan janganlah kamu membunuh diri kalian).. [AQ 4.29, turun di urutan ke-92]
  • Boleh bunuh diri:
    wa-idz qaala muusaa liqawmihi yaa qawmi (Dan ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku)..fatuubuu ilaa baari-ikum (maka bertaubatlah kepada Pencipta kalian) fauqtuluu anfusakum (maka bunuhlah diri kalian) dzaalikum khayrun lakum ‘inda baari-ikum fataaba ‘alaykum (Hal itu lebih baik bagi kalian di sisi pencipta kalian; maka Ia menerima taubat kalian).. [AQ 2.54, turun di urutan ke-87]. Tafsir tentang ayat ini bervariasi, misal:

    Tafsir Kashf Al-Asrar:
    ..maka bunuh jiwamu sendiri! itu lebih baik bagi kalian di sisi pencipta kalian. Dengan cara batin, ini ditujukan kepada para pejalan Tariqah: “Potong kepala jiwa kalian dengan pedang jihad sehingga kalian dapat mencapaiku. Dan orang-orang yang berjihad untuk Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami [29:69]”

    Tapi berbeda jika menggunakan Tafsir Ibn Kathir:
    Imam Nasai, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkan melalui hadis Yazid ibnu Harun – Al-Asbag ibnu Zaid Al-Wariq – Al-Qasim ibnu Abu Ayyub – Sa’id ibnu Jubair – Ibnu Abbas, “Allah Swt. berfirman bahwa sesungguhnya tobat yang harus dilakukan oleh mereka ialah dengan cara hendaknya setiap orang dari mereka membunuh orang yang dijumpainya tanpa memandang apakah dia orang tua atau anaknya. Dia harus membunuhnya dengan pedang tanpa mempedulikan siapa yang dibunuhnya di tempat tersebut. Maka Allah menerima tobat mereka yang menyembunyikan dosa-dosanya dari Musa dan Harun, tetapi kemudian ditampakkan oleh Allah Swt., lalu mereka mengakui dosa-dosanya dan mau melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka. Allah memberikan ampunan kepada si pembunuh dan si terbunuh.”

    Hadis ini merupakan sebagian dari hadis Al-Futuun (cobaan, gila), yang akan dijelaskan nanti secara lengkap —insya Allah— dalam tafsir surat Taha.

    Ibnu Jarir – Abdul Karim ibnul Haitsam – Ibrahim ibnu Basysyar – Sufyan ibnu Uyaynah – Abu Sa’id – Ikrimah – Ibnu Abbas: Musa a.s. berkata kepada kaumnya firman-Nya: [AQ 2.54] Musa a.s. menyampaikan perintah Tuhannya kepada kaumnya, hendaknya mereka membunuh diri mereka sendiri. Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa Nabi Musa a.s. memanggil orang-orang yang menyembah anak lembu, lalu mereka duduk, sedangkan orang-orang yang tidak ikut menyembah anak lembu berdiri, kemudian mereka mengambil pisaunya masing-masing dan dipegang oleh tangan mereka. Setelah itu terjadilah cuaca yang gelap gulita, lalu sebagian dari mereka membunuh sebagian yang lainnya. Ketika gelap lenyap dari mereka, ternyata orang-orang yang terbunuh berjumlah 70.000 orang. Semua orang yang terbunuh dari kalangan mereka diterima tobatnya, dan semua orang yang masih hidup diterima pula tobatnya.

    …Ibnu Ishaq mengatakan, “Ketika Musa kembali kepada kaumnya dan membakar anak lembu itu, lalu menaburkan debunya di laut, kemudian is berangkat bersama sebagian kaum yang dipilihnya menuju kepada Rabbnya; lalu mereka disambar petir, kemudian dihidupkan kembali. Kemudian Musa a.s. meminta kepada Tuhannya tobat bagi kaum Bani Israil atas dosa mereka yang menyembah anak lembu. Maka Allah Swt. menolaknya kecuali jika mereka membunuh diri mereka sendiri.”

    Ibnu Ishaq melanjutkan kisahnya, “Telah sampai kepadaku suatu kisah yang menyatakan bahwa kaum Bani Israil berkata kepada Musa, `Kami akan teguh kepada perintah Allah.’ Lalu Musa memerintahkan kepada orang yang tidak ikut menyembah anak lembu untuk membunuh orang yang menyembahnya. Kemudian mereka yang menyembah anak lembu duduk di suatu tanah lapang, lalu kaum yang tidak menyembah anak lembu menghunus pedangnya masing-masing dan membunuh mereka yang menyembahnya. Maka kaum wanita dan anak-anak berdatangan kepadanya, menangis seraya meminta maaf buat mereka. Lalu Allah menerima tobat dan maaf mereka; maka Allah memerintahkan kepada Musa agar mereka menjatuhkan pedangnya masing-masing (menghentikan pembunuhan).”

    Abdur Rahman ibnu Zaid Ibnu Aslam mengatakan bahwa ketika Musa kembali kepada kaumnya, di antara kaumnya terdapat 70 orang kaum laki-laki yang memisahkan diri mereka bersama Ha-run tidak ikut menyembah anak lembu. Maka Musa berkata kepada mereka, “Berangkatlah kalian ke tempat yang telah dijanjikan oleh Tuhan kalian!” Mereka menjawab, “Hai Musa, tiada jalan untuk bertobat.” Musa menjawab, “Tidak.” Bunuhlah diri kalian, hal itu adalah lebih baik bagi kalian pada sisi Tuhan yang menjadikan kalian; maka Allah akan menerima tobat kalian. (AQ 2.54)

    Lalu mereka menghunus pedang, pisau belati, kapak, dan senjata lainnya. Kemudian Allah mengirimkan kabut kepada mereka, lalu mereka mencari-cari dengan tangannya masing-masing dan sebagian dari mereka membunuh sebagian yang lain. Saat itu seseorang menjumpai orang tua dan saudaranya, lalu ia membunuhnya tanpa ia ketahui. Di dalam kegelapan itu mereka saling menyerukan, “Semoga Allah mengasihani hamba yang bersikap sabar terhadap dirinya hingga memperoleh rida Allah.” Orang-orang yang gugur dalam peristiwa itu adalah orang-orang yang matisyahid, sedangkan orang-orang yang masih hidup diterima tobatnya. Kemudian Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam membacakan firman-Nya: (AQ 2.54)

  • Jika sudah berjanji tidak bunuh diri, tapi kemudian bunuh diri, maka itu dosa:
    wa-idz akhadznaa miitsaaqakum laa tasfikuuna dimaa-akum (Dan ketika Kami mengambil janji kalian tidak akan menumpahkan darah kalian)..tsumma aqrartum wa-antum tasyhaduuna (kemudian kalian berikrar dan kalian bersaksi) [AQ 2:84] tsumma antum haaulaa-i taqtuluuna anfusakum (Kemudian kalian membunuh diri kalian)..afatuminuuna biba’dhi alkitaabi watakfuruuna biba’dhin (Apakah kalian beriman sebahagian Al Kitab dan ingkar sebahagian lainnya?) famaa jazaau man yaf’alu dzaalika minkum illaa khizyun fii alhayaati alddunyaa wayawma alqiyaamati yuradduuna ilaa asyaddi al’adzaabi (maka apa balasan bagi yang berbuat demikian diantara kalian, selain kenistaan dikehidupan dunia, dan dihari kiamat mereka dikembalikan pada siksa yang sangat berat).. [AQ2.85, turun di urutan ke-87]

Tampaknya dari ragam tafsir, maka bunuh diri yang diperbolehkan adalah dengan membunuhi orang lainnya, atau saling berbunuh-bunuhan diantara kaum sendiri atau membunuhi kaumnya sendiri yang berdosa.

Arti dari ISLAM
Menjelang akhir hidupnya, Muhammad mengirimkan surat pada para pemimpin kafir[1], misalnya pada Heraclius, dari Byzantine/Romawi Timur; Khosrau, dari Persia; Negus dari Ethiopia; Muqawqis dari Mesir dan beberapa lainnya. [Muslim 19.4380, 4382, Lings (1987), p. 260; Khan (1998), pp. 250–251; Alford Welch, Muhammad, Encyclopedia of Islam; DI Tabari Vol.8, “The Victory of Islam”, hal 98-100: mengutip Ibn Ishaq, yaitu kepada 8 pemimpin kafir].

Beliau memerintahkan mereka untuk masuk Islam dan kalimat “asleem, Taslem (أَسْلِمْ تَسْلَمْ)” [Menyerah, maka kau akan selamat] ada dalam surat-surat nabi kepada negeri-negeri tersebut di atas. Kalimat “Asleem taslem” adalah penjelasan terbaik mengenai arti dari Islam [arab: istaslama, tunduk/menyerah (Arab: aslama) [juga pada Allah] dan bukanlah berarti “damai” dari akar kata (saleem, sallama, salama, dan salaam) seperti yang kerap di hembuskan-hembuskan selama ini]

Jadi, jelas sudah bahwa damai bukanlah maksud/arti dari Islam.

MEMERANGI KAUM MUSLIM MUNAFIK
Muslim ada 2 jenis, yaitu: yang MUNAFIQ dan BUKAN (kaum beriman, Mu’minun). Kaum Munafik pura-pura menerima Islam tapi tidak menaati Rasul dan Allah. Kaum munafiq ini telah ada sejak jaman Muhammad hidup, yaitu para sahabat nabi sendiri yang berasal dari kalangan Arab dan Madinah.

    wamimman hawlakum mina AL-A’RAABI MUNAAFIQUUNA wamin AHLI ALMADIINATI maraduu ‘alaa alnnifaaqi laa ta’lamuhum nahnu na’lamuhum sanu’adzdzibuhum marratayni tsumma yuradduuna ilaa ‘adzaabin ‘azhiimin
    Di antara ORANG-ORANG ARAB yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara PENDUDUK MADINAH. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu tidak mengetahui mereka, Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa DUA KALI kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar [AQ 9.101]

Di jaman Hudhaifah masih hidup (w 36 H), Ia tahu ada 12 sahabat Nabi yang munafik dan 4 diantaranya masih hidup ketika Hudhaifah menyampaikan hadisnya (Muslim 38.6688 dan Bukhari 6.60.181). Hudhaifah bahkan berkata bahwa para munafik pada jamannya jauh lebih buruk daripada para munafik jaman Nabi (Bukhari 9.88.229). Itu dijamannya, apalagi disetelah jamannya, bukan?!

Ciri-ciri kaum munafik disebutkan di Quran dan hadis, salah satu yang menarik misalnya sebagai pengenal kaum munafik, ternyata juga, mereka yang membenci Ali bin Abu Talib (Muslim 1.141: sehingga siapa saja yang memerangi ALI, pastilah tergolong kaum MUNAFIK)

    Abdullah (bin Ahmad) – Ayahku (Ahmad bin Hanbal) – Aswad bin Amir – Israil – Al ‘Amasy – Abi Shalih – Abu Sa’id Al Khudri: “Sesungguhnya kami mengenal orang-orang munafik dari kalangan Anshar melalui kebencian mereka terhadap Ali” [Fadhail Shahabah no 979. Syaikh Washiullah Muhammad Abbas pentahqiq kitab Fadhail Shahabah: hadis ini Sahih]

    Abdullah – Ali bin Muslim – Ubadilillah bin Musa – Muhammad bin Ali As Sulami – Abdullah bin Muhammad bin Aqil – Jabir bin Abdullah: “tidaklah kami mengenal orang-orang munafik disekeliling kami dari kalangan Anshar kecuali melalui kebencian mereka terhadap Ali” [Fadha’il Shahabah no 1086. Syaikh Washiullah Muhammad Abbas: hadis ini Hasan]

    Juga hadis senada yang Sahih dari buku “Ali: The Best of the Sahabah”, Toyib Olawuyi bab.29

Quran memang telah mengingatkan untuk TIDAK BOLEH DENGAN SENGAJA membunuhi sesama MUSLIM (AQ 4.92-93) namun tetap ditekankan untuk berjihad walaupun ada kelonggaran bagi yang tidak mampu berjihad (misal AQ 4.95, AQ 9.90-93), mereka ini bukanlah kaum muslim munafik dan untuk jenis muslim munafik lainnya, Quran tegas memerintahkan untuk membunuh/memerangi mereka:

    yaa ayyuhaa alnnabiyyu JAAHIDI alkuffaara WAALMUNAAFIQIINA waughluzh ‘alayhim wama/waahum jahannamu wabi/sa almashiiru
    Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir DAN ORANG-ORANG MUNAFIK itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya [AQ 66.9 dan AQ 9.73]

Namun beberapa menyangkal atau membantah melalui 2 ayat di bawah ini:

    “OLEH KARENA ITU (MIN AJLI DZAALIKA) Kami tetapkan BAGI BANI ISRAEL (katabnaa ‘ALAA BANII ISRAA-IILA), bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia (annahu man qatala nafsan), bukan karena orang itu orang lain (bighayri nafsin), atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi (aw fasaadin fii al-ardhi), maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya (faka-annamaa qatalaalnnaasa jamii’an). Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia (waman ahyaahaa), maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya (faka-annamaa ahyaa alnnaasa jamii’an). Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan keterangan-keterangan yang jelas (walaqad jaa-at-hum rusulunaa bialbayyinaati), kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi (tsumma inna katsiiran minhum ba’da dzaalika fii al-ardhi lamusrifuuna)” [AQ 5.32]

    “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri. Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar” [AQ 5.33]

Menyangkal dengan 2 ayat ini tidaklah tepat, karena latar belakang ayat 5.32-33 adalah kisah lampau jaman ADAM yaitu pada peristiwa pembunuhan HABEL oleh KAIN: Oleh karena itu (MIN AJLI DZALIKA) ditetapkanlah hukum untuk KAUM ISRAEL (katabnaa ‘ALAA BANII ISRAA-IILA), yaitu walaupun penyembah Allah yang sama sekalipun, Ia tetap boleh di bunuh jika Ia:

  • Tafsir Jalayn: KAFIR, mencuri, melakukan zina, dan sejenisnya atau
  • Tafsir ibn abbas: KAFIR, pembunuhan berencana dll
  • Ibn Kathir: …Yakni barang siapa yang membunuh seorang manusia tanpa sebab —seperti qisas..
    Said ibnu Jubair: “Barang siapa yang menghalal­kan darah seorang muslim, maka seakan-akan dia menghalalkan darah manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang mengharamkan darah se­orang muslim, maka seolah-olah dia mengharamkan darah manusia selu­ruhnya.” Ini merupakan suatu pendapat, tetapi pendapat inilah yang terkuat.
    Ikrimah dan Al-Aufi – Ibnu Abbas: bahwa barang siapa yang membunuh seorang nabi atau seorang imam yang adil, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang mendukung sepenuhnya seorang nabi atau seorang imam yang adil, maka seakan-akan dia memelihara kehidupan manusia seluruhnya. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir…
    Kemudian sebagian dari mereka (ulama Salaf) ada yang mengatakan bahwa ayat ini (5.33) diturunkan berkenaan dengan orang-orang musyrik…Tetapi ayat ini sama sekali tidak mengecualikan seorang muslim pun dari hukuman had jika ia melakukan pembunuhan atau mengadakan kerusakan di muka bumi, atau memerangi Allah dan Rasul-Nya, kemudian bergabung dengan orang-orang kafir sebelum kalian sempat menangkapnya. Hal tersebut tidak melindunginya dari hukuman had apabila dia memang melakukannya…
    Tetapi pendapat yang benar ialah yang mengatakan bahwa ayat ini (5.33) mengandung makna umum mencakup orang-orang musyrik dan lain-lainnya yang melakukan perbuatan-perbuatan tersebut. Seperti yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim: ..bahwa ada segolongan kaum dari Bani Ukal yang jumlahnya delapan orang; mereka datang kepada Rasulullah Saw., lalu berbaiat (berjanji setia) kepadanya untuk membela Islam, lalu mereka membuat kemah di Madinah. Setelah itu mereka terkena suatu penyakit, lalu mengadu kepada Rasulullah Saw. sakit yang mereka alami itu. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: Maukah kalian keluar bersama penggembala kami berikut unta ternaknya. lalu kalian berobat dengan meminum air seni dan air susu ternak itu. Mereka menjawab, “Tentu saja kami mau.” Lalu mereka keluar (berang­kat menuju tempat penggembalaan ternak), kemudian meminum air seni serta air susu ternak itu. Tetapi setelah mereka sehat, penggembala itu mereka bunuh, sedangkan ternak untanya dilepasbebaskan. Ketika berita itu sampai kepada Rasulullah Saw., beliau mengirimkan sejumlah orang untuk mengejar mereka. Akhirnya mereka tertangkap, lalu dihadapkan kepada Nabi Saw. Maka Nabi Saw. memerintahkan agar tangan dan kaki mereka dipotong, matanya ditusuk, kemudian dijemur di panas matahari hingga mati…Sedangkan menurut apa yang ada pada Imam Bukhari disebutkan bahwa Abu Qilabah mengatakan, “Mereka adalah orang-orang yang telah mencuri, membunuh, dan kafir sesudah imannya serta memerangi Allah dan Rasul-Nya.”…Imam Muslim telah meriwayatkan pula melalui hadis Mu’awiyah ibnu Qurrah, dari Anas yang telah menceritakan bahwa datang kepada Rasulullah Saw. segolongan orang dari Bani Arinah, lalu mereka masuk Islam dan menyatakan baiatnya kepada Nabi Saw.,..Kemudian Imam Muslim menge­tengahkan kisah mereka dan di dalamnya ditambahkan bahwa ternak unta itu digembalakan oleh seorang pemuda dari kalangan Ansar yang berusia hampir dua puluh tahun, lalu Nabi Saw. melepaskan mereka, kemudian Nabi Saw. mengirimkan pula seorang mata-mata untuk meng­awasi gerak-gerik mereka. Semua yang telah disebutkan di atas menurut lafaz Imam Muslim…

Di samping itu,
Maksud “annahu man qatala nafsan bighayri nafsin” (bahwa barang siapa yang membunuh manusia/jiwa bukan karena dia membunuh orang lain [AQ 5.32] seharusnya merujuk pada tindakan KHIDIR ketika membunuh SEORANG ANAK KECIL KAFIR:

    “hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain (aqatalta nafsan zakiyyatan bighayri nafsin)? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar” [AQ 18.74]

Atas pertanyaan itu, Khidir menjawab:

    “Dan adapun (wa-ammaa) anak itu (alghulaamu), maka keduanya (fakaana/maka Ia abawaahu/orangtuanya) adalah orang-orang mu’min (mu’minayni), dan kami khawatir (fakhasyiinaa) bahwa (an) dia akan mendorong mereka (yurhiqahumaa) kepada kesesatan dan kekafiran (thughyaanan wakufraan) [AQ 18.80].

Penjelasan Khidir di atas dapat diaplikasikan sebagai jawaban atas sample lain Quran: “dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar (walaa taqtuluu alnnafsa allatii harrama allaahu illaa bialhaqqi) [AQ 17.33, 6.151, 25.68]

Namun masih ada satu masalah lagi untuk ayat AQ 5.32 jika itu di klaim sebagai kalimat Allah yang diturunkan bagi kaum Israel.

Mengapa?

Karena ucapan, “barang siapa membunuh…dstTIDAK ADA di TAURAT (hukum tertulis yang diturunkan Allah kepada MUSA) HANYA ADA di CATATAN MAHKAMAH AGAMA (Sanhedrin), tentang Talmud, yang berisi analisis dan komentar para rabbi (gemara) untuk misnah (hukum lisan tambahan taurat dari generasi ke generasi, dikumpulkan dan dituliskan pada abad ke-2 – 3 Masehi, atas prakarsa pangeran (ha-nasi) Yehuda, w.217 M):

  • Babilion Talmud (Tahun 500 M), Sanhedrin 37a:
    “…Oleh karena alasan ini.. bahwa barang siapa yang menghancurkan satu jiwa kaum Israel, Kitab menjelaskan seakan Ia menghancurkan seluruh dunia; dan barang siapa yang memelihara satu jiwa kaum israel, kitab menjelaskan seakan ia menyelamatkan seluruh dunia..”
  • Shekelim/Talmud Yerushalmi (400 M, Suriah selatan), Misnah Sanhedrin 4.5:
    “..[Para hakim melanjutkan pidatonya] “Oleh karena alasan ini.. bahwa barang siapa yang menghancurkan satu jiwa seakan oleh kitab telah menghancurkan seluruh dunia dan barang siapa yang memelihara satu jiwa seakan menyelamatkan seluruh dunia..”

Padahal,
Nabi SAW telah berkata: “Aku adalah orang yang paling dekat dengan Ibnu maryam (‘Isa) .. antara aku dan dia TIDAK ADA NABI” (Bukhari No.3186).

Oleh karenanya,
kalimat quran di AQ 5.32 BUKANLAH BERASAL DARI ALLAH, BUKAN PULA dari TAURAT, melainkan DARI PERNYATAAN PARA RABBI YAHUDI

Terlepas dari permasalahan ini, yang jelas, Quran sudah menginstruksikan bahwa konteks memerangi dapat dilakukan BUKAN SAJA terhadap para kafir, namun juga terhadap para MUSLIM TERTENTU.

Mari kita ambil contoh perang Al-Riddah [perang melawan yang Murtad] jaman Khalifah Abu Bakar yang memerangi mereka yang:

1. Melakukan shalat tapi ngga mau bayar Zakat atau
2. Murtad dan/atau berpaling ke nabi lain [Al-Hikmah Fid Dakwah Ilallah, h.220]

Semuanya Abu Bakar perangi hingga tunduk!

    Riwayat Qutaibah bin Sa’id Ats Tsaqafi – Al Laits – ‘Uqail – Az Zuhri – ‘Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah – Abu Hurairah:

    Rasulullah SAW meninggal dan Abu Bakr diangkat sebagai khalifah setelah beliau dan telah kafir sebagian orang Arab, Umar bin Al Khathab berkata kepada Abu Bakr; bagaimana engkau memerangi orang-orang tersebut padahal Rasulullah SAW telah bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan; LAA ILAAHA ILLALLAAH. Barang siapa yang mengucapkan; LAA ILAAHA ILLALLAAH maka ia telah melindungi dariku harga dan jiwanya kecuali dengan haknya, sedangkan perhitungannya kembali kepada Allah ‘azza wajalla.”

    Maka Abu Bakr berkata; sungguh aku akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat, sesungguhnya zakat adalah hak harta. Demi Allah seandainya mereka menahanku satu ‘iqal yang dahulunya mereka tunaikan kepada Rasulullah SAW niscaya aku akan memerangi mereka karena penolakannya.

    Kemudian Umar bin Al Khathab berkata; Demi Allah sungguh aku melihat Allah ‘azza wajalla telah melapangkan dada Abu Bakr untuk memerangi orang-orang tersebut. Umar berkata; maka aku mengetahui bahwa ia adalah yang benar.

    Abu Daud berkata; dan hadits tersebut diriwayatkan (Rabah bin Zaid dan Abdurrazzaq) – Ma’mar – Az Zuhri dengan sanadnya. Sebagian ulama mengatakan; ‘iqal, sedangkan Ibnu Wahb dari Yunus meriwayatkannya, ia mengatakan; anak kambing. Abu Daud berkata (Syu’aib bin Abu Hamzah, Ma’mar dan Az Zubaidi) – Az Zuhri berkata; seandainya mereka menolakku satu ekor anak kambing, sedangkan ‘Anbasah – Yunus – Az Zuhri dalam hadits ini, ia berkata; anak kambing. Riwayat (Ibnu As Sarh dan Sulaiman bin Daud) – Ibnu Wahb – Yunus – Az Zuhri hadits ini, ia berkata; Abu Bakr berkata; sesungguhnya haknya adalah menunaikan zakat. Dan ia menyebutkan; ‘iqal.

    [Abu Dawud Bab Zakat no.1331. Nasai no.2400. Tirmidhi no.2532. Muslim no.29. Namun di Nasa’i no.3906 dan no.3043 dari riwayat Muhammad bin Basysyar – ‘Amr bin ‘Ashim – Imran Abu Al ‘Awwam – Ma’mar – Az Zuhri – Anas bin Malik -Umar/Abu Bakar menyebutkan sabda Rasulullah: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak Tuhan Yang berhak disembah kecuali Allah dan dan Aku adalah Rasulullah..”]

Fatwa Ibn Taymiyya: Memerangi TARTAR MUSLIM
Ibnu Taimiyah adalah seorang Syaikhul Islam. Ia lahir di Baghdad jaman dinasti Abbasiyah, saat Taimiyah berusia 6 tahun (667 H/1268M), terjadi serbuan tentara Mongol/Tartar atas Irak, oleh karenanya, Ia dan ayahnya hijrah ke Damaskus/Suriah yang ada di bawah kekuasaan dinasti Mamluk

Raja Tartar Mahmud Ghazan, masuk Islam pada tanggal 2 Syaban 694 H/12 Juni 1295 sehingga banyak juga kaum Tartar yang kemudian menjadi mualaf, Di hari keislamannya, Ia membagikan emas, perak, dan permata ke khalayak ramai [Ibn Kathir: “Al Bidayah wan Nihayah 13/360” dan Encyclopaedia Iranica: “ḠĀZĀN KHAN, MAḤMŪD“]. Imam adz-Dzahabi berkata bahwa keIslaman Ghazan karena seorang Sufi, bernama Shaykh Sadr ad-Din Abu al-Majami’ Ibrahim al-Juwayni, Selama kepemimpinnannya, Ia membangun Mesjid besar di Tabriz sebagai tambahan dari 12 madaris, sejumlah khawaniq, ribath, sekolah untuk ilmu sekular dan observasi. Ia memberikan banyak hadiah bagi kota Makkah dan Madina. Ia adalah pengikut mazhab Ahl as-Sunnah dan sangat menghormati para ulama. Bahkan dalam catatan kenegaraannya, Ia juga menjadikan para keturunan Nabi SAW sebagai pangeran dan putri di kerajaannya [Kabbani, Hisham M, 1996, Islamic Beliefs & Doctrine According to Ahl al-sunna a repudiation of salafi inovations, vol.1, as Sunna Foundation of America]

Walau sebagai muslim, Ghazan tetap memerangi Dinasti Mamluk yang berkuasa di Mesir dan Suriah. Ghazan menyerang Suriah di tahun 699 H/1299 M dan menang di dekat kota Ḥoms, Majmaʿ al-Morūj. Walau Damaskus berhasil dikuasainya namun di tahun 700 H/1300 M, Ghazan menarik mundur pasukannya sehingga Mamluk kembali menduduki Suriah. Di tahun 702 H/1303 M, Ghazan kembali menyerbu Suriah Tengah. [Encyclopaedia Iranica: “ḠĀZĀN KHAN, MAḤMŪD“].

Di tahun 702 H/1303 M, Ibn Taimiyya diperintahkan Sultan Mamluk untuk mengeluarkan Fatwa yang melegalkan jihad melawan Mongol walaupun raja Tartar saat itu juga Muslim dan itu dilakukannya.

Ibn Taimiyya ditanya: “Bagaimana hukumnya memerangi kaum Muslimin? Bukankah itu dilarang secara syariat?” Ibnu Taymiyya menjawab, “Mereka semua itu seperti orang-orang Khawarij (orang asing) yang keluar dari kelompok Ali dan Muawiyah, serta berpendapat bahwa mereka lebih berhak memimpin daripada mereka berdua”. Beliau juga berkata “Jika kalian melihatku ada di sisi Tartar dan di kepalaku ada Al Mushaf/Al-Quran, maka bunuhlah Aku”[Majmu’ul Fatawa 28/510 dan Ibn Kathir: “Al Bidayah wan Nihayah 14/25”].
Ibn Taymiya: “Mereka Tartar mengaku berpegang teguh dalam 2 kalimat syahadat, mengaku haram memerangi pasukan mereka karena telah mengikuti asal (pokok) Islam..” [Majmu’ul Fatawa 18/501-502].
“Apa yang dikatakan oleh para ulama…tentang orang-orang Tartar yang datang masuk ke Syam berkali-kali, dan mereka mengucapkan syahadatain, mereka menisbahkan diri pada Islam dan tidak tetap di atas kekufuran sebagaimana pada awalnya.” [Majmu’ul Fatawa 28/509]
“…Dan mereka tidak mewajibkan berhukum di kalangan mereka dengan hukum Allah, mereka berhukum dengan hukum yang dibuat sendiri yang kadangkala sesuai dengan Islam dan kadang kala bertentangan.” [Majmu’ul Fatawa 28/505]

Jadi sekali lagi, Muslim MEMERANGI para MUSLIM-pun BOLEH.

MEMERANGI KAUM MUSYRIK/KAFIR
Untuk mengerti Jalan Islam, patut kita simak pesan terakhir Nabi dimenjelang wafat yang merupakan rangkuman isi Quran dan inti dari ajaran Islam. Pesan pertama yang disampaikan beliau sebelum wafat adalah mengusir Pagan keluar dari zajirah Arab!

    Riwayat Sa’id bin Jubair – Ibnu ‘Abbas: “Hari Kamis dan apakah hari Kamis?”. Lalu dia menangis hingga air matanya membasahi kerikil. Dia berkata; “Rasulullah SAW bertambah parah sakitnya pada hari Kamis lalu Beliau berkata: “Berilah aku buku sehingga bisa kutuliskan untuk kalian suatu ketetapan yang kalian tidak akan sesat sesudahnya selama-lamanya“. Kemudian orang-orang bertengkar padahal tidak sepatutnya mereka bertengkar di hadapan Nabi SAW. Mereka berkata, “Bagaimana keadaan beliau, apakah Rasullullah mengigau?”..Nabi berkata, “Tinggalkan aku, keadaanku sekarang lebih baik dari pada apa yang kalian kira.”.

    Lalu beliau berwasiat 3 hal:
    Usirlah orang-orang musyrik dari Jazirah Arab, dan perlakukan utusan sebagaimana Aku memperlakukan mereka.” Tetapi Sa’id tidak menyebutkan wasiat yang ketiga”
    (Ya’qub bin Muhammad berkata, “Aku tanya Al-Mughira bin ‘Abdur-Rahman tentang jazirah Arab dan Ia berkata, ‘Tercakup Makkah, Medina Al-Yama-ma dan Yaman.” Ya’qub menambahkan, “dan Al-Arj, mulai dari Tihama.”) [Bukhari 4.52.288/no.2825; 4.53.393/no.2932 ; 5.59.716/no.4078. Muslim 13.4014/no.3089]

Kalimat pengusiran tersebut lebih tepatnya ditujukan kepada KAUM KAFIR (non muslim) di manapun mereka berada, seperti misal yang tercantum pada hadis di bawah ini:

    Riwayat [(Zuhair bin Harb – Ad Dlahak bin Makhlad) dan (Muhammad bin Rafi’ – Abdurrazaq)] – Ibnu Juraij – Abu Az Zubair – Jabir bin Abdullah – Umar bin Khattab: Rasulullah SAW bersabda: Aku akan usir para Nasrani dan yahudi dari Jazirah arab dan tidak akan meninggalkan satupun kecuali MUSLIM [Muslim 19.4366/no.3313. Tirmidhi 3.19.1606/no.1531, 1607/no.1532. Ahmad no.196, 210, 214, 14189; Abu Dawud 19.3024/no.2635, 19.3025/no.2635]

    Riwayat Hannad – Abu Mu’awiyah – Isma’il bin Abu Khalid – Qais bin Abu Hazim – Jarir bin Abdullah: Rasulullah SAW mengutus ekspedisi kepada Khats’am, lalu ada beberapa orang Khats’am bersujud namun pasukan ekspedisi tersebut membunuh mereka. Kabar tersebut akhirnya sampai kepada Nabi SAW, lalu beliau pun memerintahkan mereka untuk memberi setengah tebusan”, kemudian Beliau bersabda: “Aku berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal bersama orang-orang musyrik.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa?” beliau menjawab: “Tidak pantas rumah mereka saling berhadapan.

    Riwayat Hannad – Abdah – Isma’il bin Abu Khalid – Qais bin Abu Hazim seperti hadits Abu Mu’awiyah, tetapi di dalamnya tidak disebutkan ‘dari Jarir’, dan ini lebih shahih.” Dan dalam bab ini juga ada hadits dari Samurah, Abu Isa berkata; kebanyakan para sahabat Isma’il (meriwayatkannya) dari Qais bin Abi Hazim bahwasanya Rasulullah SAW mengutus sebuah ekspedisi, tanpa menyebutkan di dalamnya dari Jarir.

    Dan diriwayatkan oleh Hammad bin Salamah – Al Hajjaj bin Arthah – Isma’il bin Abu Khalid – Qais dari Jarir semisal hadits Abu Mu’awiyah. Ia (Abu Isa) berkata; saya mendengar Muhammad mengatakan; yang benar hadits Qais dari Nabi SAW kedudukannya adalah mursal. Sedangkan Samurah bin Jundab meriwayatkan dari Nabi SAW Beliau bersabda; “janganlah kalian bertempat tinggal dengan orang-orang musyrik dan jangan pula bergaul dengan mereka, oleh karena itu barang siapa yang bertempat tinggal atau bergaul dengan mereka maka dia seperti mereka.” [Tirmidhi 3.19.1605/no.1530, entah mengapa hadis Tirmidhi ini didhaifkan Albani padahal terdapat 3 rantai perawi dan 2 rantai diantaranya baik. Namun hadis penguatnya tercantum di Abudawud no. 14.2639/no.2274]

    Riwayat Ibn Umar:
    ‘Umar b. al-Khattab mengusir para Yahudi dan Kristen dari Tanah Hijaz, dan adalah ketika Rasullullah SAW menaklukan Khaibar Ia ambil keputusan untuk mengusir seluruh yahudi dari situ karena, ketika tanah itu di taklukan, itu menjadi milik Allah dan Rasul-Nya serta milik kaum Muslimin seluruhnya. Kaum Yahudi meminta pada Rasulullah SAW agar membolehkan mereka tetap tinggal di sana untuk meneruskan usaha (pertanian) mereka, dengan ketentuan; 1/2 hasil buah-buahan yang mereka kerjakan. Maka Rasulullah SAW berkata: “Kami izinkan kalian menetap dengan ketentuan tertentu tertentu (Muslim no.2898: Yahudi membiayai sendiri) sampai batas waktu yang kami kehendaki.” Maka mereka pun menetap di situ sampai datang waktunya Umar mengusir mereka ke Taima` dan Ariha (di luar Hijaz) [Muslim 10.3763/no. 2899. Bukhari 3.39.531]

PERANG MU’TAH
Setelah Hudaybiyya (628 M), Nabi Muhammad mengirimkan pasukan menghajar penduduk Khaybar (628 M) dan berlanjut ke banyak ekspedisi, salah satunya ke arah kota Busra dengan tujuan mengajak mereka (Pagan dan Kristen) masuk Islam yang jika menolak maka akan dihabisi, salah satu insiden terjadi di desa Mu’tah yang kemudian dikenal sebagai perang Mu’tah (629 M). Latar belakang kejadian, disirkulasikan para muslim menurut sumber di bawah ini:

    Waqidi – Rabi’a b. ‘Uthman – ‘Umar b. al-Hakam berkata: Rasullullah mengirim al-Harith b. ‘Umayr al-Azdi, seorang dari Banu Lihb, kepada raja Busra dengan sebuah dokumen. Ketika ia sampai di Mu’ta, Shurahbil b. ‘Amr al-Ghassani mencegatnya dan berkata, “Akan pergi kemana anda?” Ia menjawab, “Al-Sham.” Ia Berkata, “Mungkin anda adalah satu dari utusan Rasullullah?” Ia jawab, “Ya. Saya adalah utusan Rasullullah.” Kemudian, Shurahbil memerintahkan agar dia di ikat dengan tali dan dibunuh. Hanya Ia dibunuh karena utusan Rasullullah [The Life of Muhammad: Al-Waqidi’s Kitab Al-Maghazi, hal.372]

      Note:
      Problem dari kisah di atas ada beberapa:
      Pertama, berita berasal dari rantai perawi TUNGGAL; Kemudian, perawi Rabi’ah bin Usman, menurut Ibn Hatim adalah periwayat hadis Mungkar (mungkarul hadits). Ibn Saad katakan Rabi’a wafat diusia 77 tahun (tahun 154 AH, jaman khalifah Abu Jaffar) dan Perawi Umar bin Alhakam wafat diusia 80 tahun (tahun 117 AH, jaman Khalifah Hisham bin Abdul Malik) Jadi, pada tahun 37 AH, yaitu ketika Umar bin Al Hakam lahir, kejadian tentang Al-harith telah lewat 30 tahun dan ketika Rabi’a berumur 20 tahun, kejadian ini telah lewat 60 tahun dan TIDAK DIKETAHUI darimana Umar menerima berita itu.

      Jadi, di samping perawinya ada yang mungkar, sumber berita awalpun tidak jelas. Juga terdapat 2 hadis lain yang memuat latar belakang yang berbeda sama sekali dari kisah di atas:

      Waqidi – Muhammad bin ‘Abdullah bin Muslim bin ‘UbaIdillah bin ‘Abdullah bin Syihab (w.154)- Zuhri (w.124 H) berkata Rasullullah mengirimkan Ka’b bin Umair Al-Ghiffari bersama 15 orang ke Dhat Atlath dekat negeri Sham. Mereka menemukan sejumlah besar dan mengundangnya masuk Islam, mereka tidak menjawab dan melemparkan anak panah, sehingga semua tewas, satu yang terluka kembali. Nabi hampir saja mengirimkan penyerbuan namun mereka telah pergi ketempat lainnya.

      Waqidi – Ibn Abi Sabra – Al Harith bin Fudail berkata: Ka’b biasa bersembunyi disiang hari dan berjalan dimalam hari hingga mendekati mereka. Mata-mata mereka melihatnya dan menyampaikan pada kaumnya ada sejumlah orang sahabat Rasul. Kemudian, dengan berkuda mereka mendatangi dan membunuh mereka. [The Life of Muhammad: Al-Waqidi’s Kitab Al-Maghazi, hal.372]

        Note:
        Menurut Yahya bin Main: Muhammad bin ‘Abdullah bin Muslim bin ‘UbaIdillah adalah DHAIF

    JELAS SUDAH bahwa sirkulasi yang beredar mengenai latar belakang perang di Mutah sebagai balasan atas kematian para utusan Muhammad adalah BOHONG BELAKA. Sementara itu, dari sumber NON ISLAM, terdapat satu catatan yang diduga sebagai perang Mutah:

      Sebelum Muhammad wafat, Ia menunjuk 4 pemimpin pasukan untuk menyerang kaum Arab kristen. Dan mereka berencana menyerang pagan arab setempat di perayaan hari kurban mereka. Theodore, sang Penanggung jawab area (Vicaous) tersebut, mengetahui hal ini dari Koutabas, seorang pelayannya dari suku Quraish dan kemudian menyusun Pasukan, Ia mencegat mereka di daerah Mothous, berhasil membasmi banyak dari pasukan Saracen (Sebutan umum bagi kaum arab saat itu) dan dari 4 orang pemimpin pasukan, 3 orang berhasil dibunuh namun 1 orang bernama Khalid berhasil melarikan diri (Thopanes sebutkan juga gelarnya, yaitu Pedang Allah). [“The Chronicle of Theophanes”, Anni mundi 6095-6305, hal.36]
      Note:
      4 pemimpin yang ditunjuk saat memimpin ekspedisi Mutah ini menurut sumber Islam adalah Zayd bin Harithah (anak angkat Nabi Nuhammad), Jafar ibn Abi Talib (Anak dari Paman Nabi), Abdullah bin Rawahah dan Khālid ibn al-Walīd. Yang berhasil lolos dari kematian hanyalah Khalid bin Walid, saat di Tabuk (632M) Nabi Muhammad berhasil membalas kekalahannya di Perang Mut’ah.

      Khālid ibn al-Walīd, yang dijuluki “pedang Allah yang terhunus”. telah menjalani 39 Perang selama hidupnya, 2 perang dijalankan ketika sedang melawan Nabi Muhammad (Uhud, 625 M dan parit, 627 M) dan hanya di Mut’ah ini saja satu-satunya perang yang tidak dimenangkan Khālid ibn al-Walīd

      Pada masa pemerintahan Usman bin Affan, Setelah pertempuran di Marash yang juga dimenangkannya akhirnya Khalid diberhentikan tugasnya dari medan perang dan diberi tugas untuk menjadi gubernur Qinnasrin. Hal ini dilakukan oleh Usman agar Khalid tidak terlalu didewakan oleh kaum Muslimin pada masa itu.

    Catatan sumber NON MUSLIM ini memberikan satu alur KONSISTEN latar belakang perang Mutah dengan apa yang diperintahkan Allah dan Nabinya, yaitu memerangi kaum Musyrik dan ahlul kitab yang menolak masuk Islam.

    Wasiat Nabi: PERANGI HINGGA TIDAK ADA LAGI SYIRIK

      Riwayat Abdullah bin Muhammad Al Musnadi – Abu Rauh Al Harami bin Umarah – Syu’bah – Waqid bin Muhammad – bapakku (Muhammad bin Zaid bin ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al Khaththab) – Ibnu Umar – Rasulullah SAW:

      Aku diperintahkan untuk MEMERANGI MANUSIA hingga mereka bersaksi; tidak ada ilah kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka lakukan yang demikian maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haq Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah”

      [Bukhari no.24 dan Muslim no.33. Juga di Nasai no.4917 dari riwayat Muhammad bin Hatim bin Nu’aim – Hibban – Abdullah – Humaid Ath Thawil – Anas bin Malik – Rasulullah SAW dengan tambahan kalimat, “..menghadap ke kiblat kita, memakan sembelihan kita, dan melakukan shalat (seperti) sholat kita maka sungguh telah diharamkan atas kita darah dan harta mereka, kecuali dengan haknya. Bagi mereka apa yang menjadi hak kaum muslimin dan atas mereka apa yang menjadi kewajiban kaum muslimin. Juga di Ahmad no. 8188 dari riwayat ‘Affan – Abdul Wahid bin Ziyad – Sa’id bin Katsir bin ‘Ubaid – bapakku – Abu Hurairah – Rasulullah SAW. Juga Ahmad no 12869, 12583 dari riwayat (‘Ali Bin Ishaq dan Al-Hasan Bin Yahya) – Abdullah (Ibnu Mubarak) – Humaid Ath Thawil – Anas Bin Malik – Rasulullah SAW]

      Riwayat Ahmad bin hanbal – Muhammad bin Ja’far – Syu’bah – An Numan – Aus berkata:
      Aku pernah mendatangi Rasulullah SAW yang tengah berkumpul bersama utusan utusan Bani Tsaqif, ketika itu kami berada di suatu bangunan. Lalu orang-orang penghuni bangunan itu berdiri kecuali saya dan Rasulullah SAW. Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang memancing kemarahan nabi SAW, lalu nabi berkata; “PERGILAH DAN BUNUHLAH DIA“.

      Tapi beberapa saat kemudian nabi SAW bersabda: “Namun bukankah dia mengucapkan kalimah syahadah (Tidak ada tuhan selain Allah)?” Aus menjawab, Ya, tapi dia mengucapkannya hanya sebagai alat untuk menghindarkan diri dari pembunuhan? (Rasulullah SAW) bersabda: “Lepaskanlah dia”

      lalu beliau bersabda: “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan, “Tidak ada tuhan selain Allah’, jika mereka telah mengucapkannya, maka haram bagiku darah dan harta mereka kecuali karena alasan yang dibenarkan.” Saya bertanya kepada Syu’bah, ‘Apakah dalam hadis terdapat redaksi kemudian ia berkata; bukankah dia bersaksi bahwa ‘tidak ada tuhan selain Allah dan saya adalah Rasul Allah? ‘. Syu’bah berkata; saya pikir begitu, namun saya tidak tahu.

      [Ahmad no. 15573. Juga di Ahmad no.15576 dari riwayat: Ahmad bin hanbal – Abdullah bin Bakr As-Sahmi – Hatim bin Abu Saghirah – An Nu’man bin Salim ‘Amr bin Aus – Bapaknya, Aus dan dari riwayat Ahmad bin hanbal – Muhammad bin Abdullah Al Anshari – Abu Yunus, Hatim bin Abu Saghirah – Nu’man bin Salim ‘Amr bin Aus- Bapaknya, Aus. Juga di Nasai no.3916. Nasa’i no.3917 dari riwayat Muhammad bin Basysyar – Muhammad – Syu’bah – An Nu’man bin Salim – Aus. Juga di Darimi no.2338]

    Itu adalah Jalan Islam dan juga firman allah yang terangkum juga di Filem FITNA yaitu di surat 8:39 (ditayangkan hanya yang dicetak tebal)

      [8:39] Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah611 dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah612. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

      611: Maksudnya: gangguan-gangguan terhadap umat Islam dan agama Islam.
      612: Maksudnya: Menurut An-Nasafi dan Al-Maraghi, tegaknya agama Islam dan sirnanya agama-agama yang batil.

    Jadi, harusnya kaum muslim TIDAK PERLU MALU ketika ajaran yang dipeluknya di-CAP teroris oleh seluruh dunia dengan menebar teror, rasa takut, ancaman, ajakan melakukan pembunuhan, ajakan melakukan perampasan harta, ajakan memperbudak dan ajakan melakukan seksual terhadap tawanan sebagai bujukan kepada para pengikutnya. Kenapa? Karena dalam hadis-hadis, Nabi Muhammad, telah berkata:

      Riwayat Abu Hurairah Rasulullah SAW berkata, “Aku diberi keutamaan atas para nabi dengan enam perkara: pertama, aku diberi..[..]. Kedua, aku ditolong dengan RASA TAKUT (yang dihunjamkan di dada-dada musuhku) (atau musnad ahmad no. 8969: aku dimenangkan dengan RASA TAKUT musuh). Ketiga, ghanimah (harta rampasan) dihalalkan untukku. Keempat, bumi dijadikan dibuat untuk dalam genggamanku..[..]. Kelima, aku..[..]. Keenam,..” [Sahih Muslim no.812 atau 4.1062, 1063, 1066, 1067. Atau di sahih Bukhari dari perawi Abu Huraira di no. 2755/4.52.220; 9.87.127]

      Riwayat Abu An Nadlr – Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban – Hassan bin ‘Athiyah – Abu Munib Al Jurasyi – Ibnu Umar: “Rasulullah SAW bersabda: “Aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang hingga hanya Allah yang disembah tanpa ada sekutu bagi-Nya, dan RIZKIKU DITEMPATKAN DI BAWAH NAUNGAN TOMBAK. Kehinaan dan kerendahan dijadikan bagi orang yang menyelisihi perintahku. Barangsiapa menyerupai suatu kaum berarti ia termasuk golongan mereka.” [Ahmad no 4869. Juga Ahmad no. 4868 (Riwayat Muhammad bin Yazid (Al Wasithi) – Ibnu Tsauban – Hassan bin ‘Athiyah – Abu Munib Al Jurasyi – Ibnu Umar: “Rasulullah SAW bersabda: Aku diutus dengan pedang hingga Allah yang disembah dan tiada sekutu bagi-Nya,..RIZKIKU DITEMPATKAN DI BAWAH NAUNGAN TOMBAK.). Ahmad no. 5409 (Riwayat Abu An-Nadlr – Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban – Hassaan bin Athiyah – Abu Munib Al-Jurasyiy – Ibnu Umar: Rasulullah SAW bersabda: “Saya diutus -dan kiamat sangat dekat sekali denganku- dengan pedang,.RIZKIKU DITEMPATKAN DI BAWAH NAUNGAN TOMBAK.). Juga di Sahih al-Jami’ 2831 dan juga di sini yang menyatakan di Sahih Bukhari p.408 vol.1 juga terdapat hadis ini dari Umar]. Kemudian, di Fatwa 34647, SELAIN hadis ini, juga disampaikan:

        Al-Haafiz berkata:
        Hadis ini menyatakan bahwa harta jarahan adalah halal bagi umat Muslim, dan bahwa rejeki sang Nabi berasal dari jarahan perang dan tidak dari mata pencaharian lainnya. Karena itu, sebagian ulama menyatakan bahwa inilah mata pencaharian yang terbaik.

        Al-Qurtubi berkata:
        Allâh telah memberi nafkah pada RasulNya SAW melalui usaha perangnya dan Dia membuat itu sebagai mata pencaharian terbaik yakni cari nafkah melalui pemaksaan dan kekuatan. Sang Nabi melakukan Perang Badr untuk menghadapi kafilah Abu Sufyan

      Riwayat Ahmad bin ‘Amr bin As Sarh – Ibnu Wahb – (Haiwah bin Syuraih dan Ibnu Luhai’ah) – Yazid bin Abu Habib – Aslam Abu Imran berkata;

      kami pergi berperang dari Madinah menuju Al Qusthanthiniyyah, dan kami dipimpin oleh Abdurrahman bin Khalid bin Al Walid, sementara orang-orang Romawi menempelkan punggung mereka pada dinding kota. Kemudian terdapat seseorang yang menyerbu musuh, lalu orang-orang berkata; tahan, tahan! Laa ilaaha illah, ia telah melemparkan dirinya kepada kebinasaan.

      Abu Ayyub berkata; sesungguhnya ayat ini turun mengenai kami, orang-orang anshar. Tatkala Allah membela Nabinya dan memenangkan Islam kami berkata; mari kita mengurusi harta kita dan memperbaikinya. Kemudian Allah ta’ala menurunkan ayat: “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” Menjatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan adalah mengurusi harta kami dan memperbaikinya serta meninggalkan jihad. Abu Imran berkata; Abu Ayyub terus berjihad di jalan Allah hingga ia dikuburkan di Qusthanthiniyyah. [Abudawud no.2151 untuk AQ 2.195]

        Dalam riwayat lain dikemukakan peristiwa sebagai berikut: Ketika Islam telah berjaya dan berlimpah pengikutnya, kaum Anshar berbisik kepada sesamanya: “Harta kita telah habis, dan Allah telah menjayakan Islam. Bagaimana sekiranya kita membangun dan memperbaiki ekonomi kembali?” Maka turunlah ayat tersebut di atas (S. 2: 195) sebagai teguran kepada mereka, jangan menjerumuskan diri pada “tahlukah” (meninggalkan kewajiban fi sabilillah dan berusaha menumpuk-numpuk harta) [Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Hibban, al-Hakim dan yang lainnya yang bersumber dari Abi Ayub al-Anshari. Menurut Tirmidzi hadits ini shahih.]

    Quran:

      Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari. [AQ 7.4]

      Akan KAMI MASUKAN KE DALAM HATI ORANG2 KAFIR RASA TAKUT, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu…[AQ 3.151]

      ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan orang-orang yang telah beriman.” KELAK AKAN AKU JATUHKAN RASA KETAKUTAN KE DALAM HATI ORANG2 KAFIR, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya. [AQ 8.12-13]

      Dan janganlah orang-orang yang kafir itu mengira, bahwa mereka akan dapat lolos. Sesungguhnya mereka tidak dapat melemahkan. Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya [AQ 8.60].

      Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memesukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. [33.26-27]

      Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. [AQ 59.4]. Sesungguhnya KAMU DALAM HATI MEREKA LEBIH DI TAKUTI DARIPADA ALLAH. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti. [AQ 59.13]

    Seharusnya sebagai seorang yang taat akan ALLAH dan RASULNYA, mengapa harus malu di cap sebagai ajaran teroris, apalagi sampai memaksakan diri melawak dengan menyatakan diri sebagai ajaran pembawa kedamaian

    kenapa?

    Di seluruh dunia, di mana ada kumpulan muslim pastilah terjadi peristiwa: pembunuhan, bom, perampokan, bahkan di dalam suatu negara yang penduduknya juga menyembah Allah dan Nabi yang samapun tetep saja saling berbunuhan, saling melakukan bom bunuh diri terhadap saudara se-imannya.

    Hanya Islam yang mampu sedahsyat ini memamerkan ketaatan dan keimanan mereka.

    KEBENCIAN ABADI PADA YAHUDI DAN NASRANI
    Menjelang wafatnya Muhammad, juga tergambar kebencian beliau pada KAUM YAHUDI dan NASRANI:

      Riwayat Aisyah dan Abdullah:
      menjelang Rasullulah SAW menghembuskan nafas terakhirnya, Ia biasa menarik selimut menutupi mukanya dan ketika merasa tidak nyaman, Ia singkirkan dari wajahnya dan berkata, “Kutukan Allah bagi orang2 Yahudi dan nasrani yang menjadikan kuburan para nabi sebagai tempat menyembah. Bahkan Ia ingatkan untuk memerangi mereka atas apa yang mereka telah lakukan” [Sahih Muslim no.826/4.1082 atau di buku Ibn saad hal.322. Juga bentuk penyampaian berbeda dari perawi Aisyah di hadis muslim no.823/4.1079]

    Hadis-hadis lain yang menggambarkan KEBENCIAN beliau (dan juga kaum Muslim) pada kaum Yahudi:

      لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ

      “TAKKAN terjadi kiamat sehingga kaum muslimin memerangi bangsa Yahudi, hingga kaum muslimin membunuhi Yahudi. Sampai2 orang Yahudi berlindung di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon tadi akan NGOMONG; ‘Wahai orang Islam, hai hamba Allah! di belakangku ada orang2 Yahudi, kemarilah, bunuhlah dia,’ kecuali pohon Gharqad, sebab ia itu sungguh pohonnya Yahudi.” (hadis imam Ahmad, juga di Sahih Muslim 41.4985; 41.6981; 41.6982; 41.6983; 41.6984; SahihBukhari 4.56.791)

    Pada ayat terakhir (AQ 1.7), Rasulullah SAW berkata:

      صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

      (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” Yahudi adalah orang yang dimurkai, sedangkan Nasrani adalah orang yang sesat.” (Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al-Albani, juga di: tafsir Ibn kathir)

    Kebencian yang besar itu diucapkan dan diteguhkan selama shalat 5 waktu, SEKURANGNYA 17x setiap harinya!

    JUTAAN Muslim di seluruh dunia mendoakan kehancuran kaum Yahudi. Herannya, 1400 tahun TELAH berlalu dan FAKTA tak terbantahkannya adalah kaum Yahudi tersebut tetaplah jaya dan baik-baik saja..Apakah Allah SWT amnesia setiap harinya? Tuli-kah? Atau memang tidak ada Allah di muka bumi ini?

    Bagaimana Aplikasinya?
    Rasulullah SAW bersabda: “Perang adalah tipudaya.” (Muttafaq ‘Alaih)

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ بُكَيْرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَرْبُ خَدْعَةٌ

    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair; telah menceritakan kepada kami Yunus bin Bukair dari Muhammad bin Ishaq dari Yazid bin Ruman dari ‘Urwah dari Aisyah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Peperangan adalah tipu daya.” [Ibn majah no. 2823 atau jalur perawi lain: Muhammad bin Abdullah bin Numair -> Yunus bin Bukair -> Mathar bin Maimun -> ‘Ikrimah-> Ibnu ‘Abbas di Ibn majjah no.2824]

    Ibnu Hajar berkata:
    “Asal dari tipudaya adalah menampakkan hal yang berbeda dari sebenarnya. Hadits ini berisi peringatan untuk selalu waspada dalam perang dan anjuran untuk menipu orang kafir, siapa yang tidak menyadari tipudaya besar kemungkinan akan terkena dampak negatifnya.

    Ibnul ‘Arabi berkata:
    Tipuan dalam perang bisa berupa mengkelabui atau menyamar atau yang semisal.

    Ibnul Munir berkata:
    “Makna perang adalah tipudaya artinya: Perang yang cantik dan dilakukan oleh pelaku yang handal adalah yang menggunakan tipudaya, bukan semata saling berhadap-hadapan, sebab perang frontal tinggi resikonya sedangkan tipudaya dapat dilakukan tanpa resiko bahaya.” (Fathul Bari [VI/158])

    Ya tipu daya ada dalam ajaran ini!

    Kemudian,
    Sebagai pengejawantahan dari Syahadat, yaitu Allah sebagai the only one Sesembahan dan bersaksi Muhammad sebagai rasul, maka bagi mereka yang tidak mematuhi, akan terancam implementasi Surat At Taubah.

      [9:29] Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah638 dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

      638: Jizyah ialah pajak per kepala yang dipungut oleh pemerintah Islam dari orang-orang yang bukan Islam, sebagai imbangan bagi keamanan diri mereka.

      [9:30] Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?

      [9:31] Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah639 dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

      639: Maksudnya:mereka mematuhi ajaran-ajaran orang-orang alim & rahib-rahib mereka dengan membabi buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.

      [9:123] Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.

    Tafsir mengenai Surat At Taubah terutama no:123 (Rokhmat S. Labib, M.E.I.)

      Dalam Tafsirnya diriwayatkan bahwa surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad s.a.w. kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H. Surat ini merupakan pengumuman ini disampaikan oleh Saidina ‘Ali r.a. pada musim haji tahun itu juga.tidak terdapat basmalah, karena merupakan pernyataan perang dari Allah dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin.

      Ar-Razi, az-Zuhayli, dan ash-Shabuni menuturkan, ketika Allah Swt. memerintahkan kaum Mukmin untuk memerangi kaum kafir secara keseluruhan. Dia pun mengajarkan metode yang paling tepat dan cocok untuk ditempuh, yakni mereka harus memulai dari yang dekat-dekat, lalu beralih kepada yang jauh-jauh.[Fakhruddin al-Razi, al-Tafsîr al-Kabîr Aw Mafâtîh al-Ghayb, vol. 15 Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1990), 181; al-Qinuji, Fath al-Bayan, vol. 5, 427; al-Zuhayli, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 11, 80; al-Shabuni, Shafwat al-Tafâsîr, vol. 1, 529.]

      Dengan metode ini, kewajiban untuk memerangi kaum kafir secara keseluruhan dapat tercapai. [Al-Khazin, Lubâb al-Ta’wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 423; Sulaiman al-‘Ajili, al-Futuhât al-Ilâhiyyah, vol. 3 (Beirut: Dar al-Fikr, 2003, 239)].

    Hal ini sejalan dengan dimaksudkan pada

      Riwayat Ibn ‘Umar: Rasullullah SAW berkata: “Aku telah diperintahkan (Allah) untuk memerangi para kaum hingga mereka bersumpah bahwa tidak ada yang layak sembah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasullullah, dan melakukan shalat dengan sempurna dan memberikan zakat, Sehingga jika mereka melakukan itu, maka mereka telah menyelamatkan hartanya dari ku kecuali hukum Islam dan pahalanya biar Allah yang menentukan” [Bukhari 1.2.24]

    Atas dasar itulah maka:

    • Semua non muslim sudah jelas merupakan orang2 Kafir (9:29-31).
    • Ketidakpatuhan pada Allah dan Nabinya (juga tidak mengakui Muhammad sebagai Nabi terkahir), maka Ia berada dalam kondisi KAFIR dan di luar Islam, konsekuensinya adalah Mereka wajib diperangi
    • Hidup dalam damai bagi non muslim (Baca: Pagan, Atheis, Hindu, Buddha, Yahudi dan Kristen) dimungkinkan namun hanya dibawah pintu kepatuhan, minoritas, membayar Jiyza (pajak)tergantung dan sangat tergantung dari belas kasihan Mayoritas (Islam)

    Untuk itu, ada benarnya bahwa siapapun yang tidak memihak Imam Samudra, Amrozy, Ali Gufron dan kawan-kawannya bahkan menyatakan mereka tidak islami, perlu kiranya melihat isi surat di bawah ini:

      [4:89] Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling330, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong,

      330: Diriwayatkan bahwa beberapa orang Arab datang kepada Rasulullah s.a.w. di Madinah. Lalu mereka masuk Islam, kemudian mereka ditimpa “demam Madinah”, karena itu mereka kembali kafir lalu mereka keluar dari Madinah. Kemudian mereka berjumpa dengan sahabat Nabi, lalu sahabat menanyakan sebab-sebab mereka meninggalkan Madinah. Mereka menerangkan bahwa mereka ditimpa “demam Madinah”. Sahabat-sahabat berkata : “Mengapa kamu tidak mengambil teladan yang baik dari Rasulullah?” Sahabat-sahabat terbagi kepada dua golongan dalam hal ini. Yang sebahagian berpendapat bahwa mereka telah menjadi munafik, sedang yang sebahagian lagi berpendapat bahwa mereka masih Islam. Lalu turunlah ayat ini yang mencela kaum Muslimin karena menjadi dua golongan itu, dan memerintahkan supaya orang-orang Arab itu ditawan dan dibunuh, jika mereka tidak berhijrah ke Madinah, karena mereka disamakan dengan kaum musyrikin yang lain.

      Dari Tafsir Ibn Kathir AQ 4:88-91:

        Imam Ahmad mencatat, Zayd bin Thabit meriwayatkan bahwa Nabi sedang bersiap berperang menuju Uhud, beberapa orang yang menemani beliau berbalik kembali ke Medinah, Melihat ini para sahabat menjadi terbagi dua, satu menyatakan mereka harus di bunuh, sementara yang lainnya berkeberatan.

        Al Awfi mencatat bahwa Ibn Abbas meriwayatkan berkata bahwa Ayat ini [4:88] turun mengenai beberapa orang di mekkah yang sudah masuk Islam dan bepergian keluar mekkah utk suatu urusan, Ketika yang lain mengetahui, mereka pecah pada dua, yang satu ingin mengejar dan membunuhnya sementara yang lain tidak. Nabi berada diantara mereka dan tidak menghentikan argumen2 mereka sehingga turunlah ayat Allah, yaitu Allahlah yang membalikan mereka menuju kekafiran [Ibn Abi Hatim & Ibn Abbas meriwayatkan demikian] Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya.

        Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling [Ibn Abbas meriwayatkan. As-Suddi berkata bagian ayat itu berarti “Jika mereka menyatakan kemurtatadannya secara terbuka”]

        Pengecualian jika mereka yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau juga mereka yang Dimmah (mereka yang di bawah perlindungan dengan membayar pajak tahunan [Jizyah]) perlakukan mereka seperti engkau telah berdamai [diriwayatkan As-Suddi, Ibn Zayd and Ibn Jarir].

        Sahih Bukhari merekam kisah Perjanjian Al-Hudaybiyyah, antara kaum Quraish dan Kaum Nabi Muhammad, Ibn Abbas meriwayatkan bahwa ayat pengecualian tersebut telah Di abrogasi [diganti] dengan turunnya ayat, “Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu], maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka [QS 9:5]”

    Jadi pola pikiran, ucapan dan perbuatan para teroris muslim mempunyai landasan kuat sehingga BENARLAH mereka melakukan Jalan Islam melakukan Firman Allah yang sesungguhnya.

    Benarkah mereka yang mati karena melakukan transaksi sesuai dengan firman allah ganjarannya adalah bidadari-bidadari seperti klaim Amrozy? Benarkah jumlahnya adalah 72 bidadari?.

    Janji Allah bagi para Teroris dan penganut Jalan Allah
    Menurut ayat AQ di bawah ini:

      [2:25] Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan taman-taman/surga-surga (jannaatin) yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka (wa+lahum) di dalamnya (fi+haa) pasangan-pasangan (azwaajun) yang suci (mutahharatun) dan mereka kekal di dalamnya

      [3:15] Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. Untuk orang-orang yang bertakwa, pada sisi Tuhan mereka ada taman/surga (jannaatun) yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan pasangan-pasangan (wa-azwajun) yang disucikan (mutahharatun) serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.

      [4:57] Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam taman-taman/surga-surga (jannatin) yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; untuk mereka (lahum) di dalamnya (fi+haa) pasangan-pasangan (azwaajun) yang suci (mutahharatun), dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.

      [36:56] Mereka (hum) dan pasangan-pasangan mereka (wa-azwājuhum) berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.

      note:
      Pengugunaan kata “..hum fihaa azwaajun” [misal: AQ 2.25, 4.57]. Akhiran “hum” adalah kata ganti orang ke-3 jamak digunakan pada: 3 pria (atau lebih) atau 1 pria + 2 wanita (atau lebih). Jika pelaku adalah 3 wanita (atau lebih) maka digunakan kata ganti orang ke-3 “hun”.

      Kata “azwaaj” (plural, single: zawj) dari 76 x kemunculannya, diartikan: “pasangan” [67x] dan “macam/semacamnya” [9x, yaitu: AQ 22.5, 26.7, 31.10, 37.22, 38.58, 39.6, 50.7, 56.7 dan AQ 75.39]. Kata “azwajun” adalah kata benda, jamak, pria. Kata “muthharatun” (murni/suci) adalah kata sifat, tunggal, feminim

      Jadi ayat ini dapat bermakna:

      • Para pria berpasangan dengan para pria!
      • Para wanita berpasangan dengan para pria!
      • Para pria berpasangan dengan para pria dan wanita!
      • Para wanita berpasangan dengan para pria dan wanita!
      • Para pria berpasangan dengan para wanita!
      • Para wanita berpasangan dengan para wanita! atau
      • Para pria/wanita yang bersama macam-macam bentuk (tidak harus bentuk manusia, bisa bentuk lainnya namun untuk jenis “jin” tampaknya tidak termasuk di sini)

    Para ulama tampaknya kurang berminat mengungkapkan fakta bahwa prilaku homoseksual/lesbian/poliandri kelak akan dilakukan para surgawan/wati, mereka hanya berfokus untuk mengeksplore poligami di surga:

    • Para surgawan akan berkekuatan merawani 100 perawan seharinya [Tafsir Ibn kathir 56:27-37: Kumpulan Hadis Abu Dawud At-Tayalisi yang berasal dari Anas. juga kumpulan hadis At-Tirmidhi dan ia nyatakan “Hasan Gharib”. Berdasarkan hadis dari Abu Nu`aym dalam “Sifat al-Janna”, al-`Uqayli dalam “Du`afa”, dan al-Bazzar dalam musnadnya: disamping berkekuatan 100 perawan, juga akan di kawinkan dengan 70 istri].
    • Riwayat Abdullah bin ‘Abdurrahman – Nu’aim bin Hammad – Baqiyyah Ibnul Walid – Bahir bin Sa’d – Khalid bin Ma’dan – Al Miqdam bin Ma’di Karib – Rasulullah SAW: …dinikahkan dengan 72 dua bidadari dan diberi hak untuk memberi syafaat kepada 70 orang dari keluarganya.” Abu Isa: “hasan shahih gharib.” [Tirmidhi no.1586]. Ahmad no.10511 (Riwayat Hasan – Sukain bin Abdul Aziz – Al Asy’ats Adl Dlarir – Syahr bin Hausyab – Abu Hurairah – Rasulullah SAW:..ia juga akan mendapatkan sebanyak 72 istri dari bidadari selain dari istri-istrinya di dunia). Perawi yang dianggap bermasalah di hadis ini: Syahr bin Hausyab dan Sukain bin Abdul Aziz. Ahmad no11298 (Riwayat Hasan – Ibnu Lahi’ahDarraj – Abu Al Haitsam – Abu Sa’id – Rasulullah SAW: “Penghuni surga derajatnya paling rendah memiliki 80.000 pelayan dan 72 istri..”). Perawi yang dianggap bermasalah di hadis ini adalah: Darraj bin Sam’an dan Abdullah bin Lahi’ah. Ibn Majjah no.4326 (Riwayat Hisyam bin Khalid Al Azraq – Khalid bin Yazid bin Abu Malik – ayahnya – Khalid bin Ma’dan – Abu Umamah – Rasulullah SAW: “..Allah akan menikahkan dengan 72 istri, 2 istri dari bidadari dan yang 70 dari warisannya penduduk neraka (isterinya penghuni neraka yang masuk surga), dan tidaklah salah seorang dari mereka melainkan memiliki vagina yang rapat dan ia memiliki penis yang tidak loyo.” Khalid bin Hisyam: warisannya penduduk neraka adalah laki-laki yang masuk neraka mewarisi isterinya untuk penghuni surga sebagaimana fir’aun mewarisi isterinya (note: Istri Firaun akan dinikahkah Allah kepada Muhammad [Ibn `Adi in the Kamil, dan al-Bayhaqi di “al-Ba`th wal-Nushur”]). Perawi yang dianggap bermasalah: Yazid bin ‘Abdur Rahman dan Khalid bin Yazid. Namun Al-Suyuti menyatakan rantai perawinya “fair” (hasan) di al-Jami` al-Saghir (7989).
    • Melakukan hubungan seks dengan 100 perawan seharinya [Hadis ini dari Abu Huraira, dalam “Al-Sagir dan Al Awsat”-nya Abu Al-Qasim At-Tabarani, Abu Nu`aym dalam “Sifat al-Janna”, al-Khatib dalam “Tarikh Baghdad”. Abu Dya al-Maqdisi menyatakan ini sahih menurut Ibn al-Qayyim dalam “Hadi al-Arwah” dan Ibn Kathir dalam “al-Fitan wal-Malahim” dan Khaldun al-Ahdab dalam “Zawa’id Tarikh Baghdad (100)”].
    • Akan mendapatkan 70an bidadari disamping istrinya sewaktu di dunia [Warraq, Ibn (2002-01-12). “Virgins? What virgins?“] dan dari riwayat Ibn al sakan menyampaikan hadis nabi dari Hatib ibn Abi Balta`a: dikawinkan dengan 72 perempuan dan 2 berasal dari dunia ini [Ma`rifat al-Sahaba and Ibn `Asakir in Tarikh Dimashq]
    • Mendapatkan 72 bidadari [Hadis Nabi yang diriwayatkan Daraj Ibn Abi Hatim, di mana Abu al-Haytham ‘Adullah Ibn Wahb menarasikan dari Abu Sa’id al-Khudhri, “How Many Wives Will The Believers Have In Paradise?” – Questions answered by Islamic scholar Gibril Haddad; Ahmad no. 10511 (17182), Tirmidhi no.1586 (1663), dan disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 3213]
    • Seluruh surgawan SEKURANGNYA beristri 2 orang (Muslim, no.188 Kitâb al-Imân, Bâb adna Ahl al-Jannah manzilatan). Detail lainnya lihat fatawa no. 25843
    • Untuk Para wanita, dalam Islam, sangat wajar terpoligami dunia-akhirat. Apapun status perkawinan dunianya, maka ketika di akhirat, sang Muslimah hanya akan dapat 1 (satu) suami saja [Al Fatawa Al Haditsiyah, Syaikhul Islam al-Imam Ibn Hajar al-Haitami, I/168 dan 36; Imam nawawi -> syarah Al-Muslim XVII/171]
      • Jika wanita ini membujang hingga akhir hayatnya [atau bercerai dan tidak menikah lagi atau menikah namun suaminya tidak masuk surga], maka Allah akan memilihkan surgawan untuk menjadi suaminya di surga [Majmu Fatawa Syaikh al-‘Utsaimin 2/52-53, dengan tambahan kata “jika para surgawannya minat”]
      • Jika wanita ini menikah di dunia dan wafat atau wanita ini menikah berkali-kali (suaminya wafat), maka di surga, ia akan bersama suami terakhirnya yang masuk surga (atau yang terbaik diantara yang pernah bersuami dengannya) [hadits nabi riwayat Anas dari Umi Habibah dan dari Umi Salamah,dari At tabarani; hadis dari Asma’ Binti Abi Bakar ->Al Fatawa Al Haditsiyah, Syaikhul Islam al-Imam Ibn Hajar al-Haitami, I/168 dan 36; I/236]

    Jadi klaim Imam Samudra, Amrozy dan para TERORIS MUSLIM itu PUN BERDASAR.

    Setelah puass ber-jihad melakukan pemboman diam-diam, membunuh ratusan orang di Bali, melarikan diri dan berusaha sembunyi (versi Muslim: penuh strategi; versi kafir: cara-cara pengecut), akhirnya tertangkap dan hukuman mati menanti, Paling tidak, cita-cita mereka akan terwujud yaitu masuk surga, dapat hadiah bidadari dan menggauli sepuas-puasnya
    ——————————–

    Catatan:
    [1] Terdapat klaim adanya Surat perjanjian Muhammad dengan Gereja Santo Katherin [dari Dr.A.Zahoor dan Dr.Z.Haq], yang terjemahannya kurang lebih:

    Ini pesan Muhammad bin Abdullah, sebagai perjanjian bagi yang menganut Kekristenan, jauh dan dekat, kami beserta mereka. Sesungguhnya aku, para hamba, pembantu dan pengikutku membela mereka, karena kaum kristen adalah wargaku; dan demi Allah aku menahan diri dari melakukan apapun yang menentang mereka. Tidak ada paksaan bagi mereka. Juga tidak boleh hakim-hakim mereka disingkirkan dari pekerjaannya, juga tidak pada biarawan dari biara-biaranya. Tidak seorang pun boleh menghancurkan rumah ibadah mereka, atau merusaknya, atau mengambil sesuatu dari sana ke rumah-rumah kaum Muslim. Bilamana ada yang melakukannya, ia menyalahi perjanjian Allah dan tidak mematuhi Nabi-Nya. Sesungguhnya, mereka adalah sekutuku dan memiliki perjanjian aman dariku melawan semua yang mereka benci. Tidak boleh siapapun mengusir mereka atau mengharuskan mereka untuk berperang. kaum Muslim harus berperang bagi mereka. Jika seorang wanita Kristen menikah dengan seorang Muslim, tidak boleh tanpa seizin wanita itu. Wanita itu tidak boleh dihalangi untuk berdoa ke gerejanya. Gereja-gereja mereka harus dihormati. Mereka tidak tidak boleh dihalangi dari memperbaikinya atau mengkuduskan perjanjian-perjanjian mereka. tidak ada bangsa yang boleh melanggar perjanjian ini hingga hari akhir

    Klaim adanya surat perjanjian dengan gereja Kathrin tersebut di atas SANGAT DIRAGUKAN KEBENARANNYA, karena beberapa alasan:

    • Surat TIDAK TERTULIS dalam bahasa Arab namun dalam bahasa Persia, (“آشتی‌نامه – محمد” =”Asti-nameh, surat/nameh, Asti/Damai”).
    • Pada surat TIDAK TERDAPAT stempel/cincin Muhammad yang seharusnya ada sebagaimana riwayat dari Abdul A’la – Yazid bin Zurai’ – Sa’id – Qatadah – Anas bin Malik bahwa Nabiyullah SAW hendak menulis surat kepada pemuka kaum atau sekelompok orang asing, lantas diberitahukan kepada beliau; “Sesungguhnya mereka tidak akan menerima surat anda kecuali jika surat tersebut dibubuhi stempel, maka Nabi SAW membuat stempel (cincin) dari perak yang diukir dengan tulisan ‘Muhammad Rasulullah‘..[Bukhari no.5423, juga hadis muslim no.3904 dari riwayat Nashr bin ‘Ali Al Jahdhami- Nuh bin Qais – Saudara laki-lakinya Khalid bin Qais – Qatadah – Anas]
    • Disamping TIDAK ADA rantai perawi berkenaan dengan riwayat surat kepada gereja tersebut, juga TIDAK ADA satupun kitab sejarah klasik Sunni tentang riwayat Nabi Muhammad memuatnya, dan juga, TIDAK ADA hadis di 9 kitab hadis memuatnya
    • Selama Muhammad hidup, Mesir BELUM PERNAH ditaklukan, Mesir ditaklukan di jaman Khalifah Umar, sebagaimana ditulis uskup Mesir, Yohanes dari Nikiu (680-690 M), di “THE CHRONICLE OF JOHN, BISHOP OF NIKIU“, mulai Ch.CXIII, tentang agresi militer Amir bin Al As ke Mesir atau di “The Decline of Eastern Christianity Under Islam: From Jihad to Dhimmitude : Seventh-twentieth Century”, Bat Yeʼor, hal. 271-272. Pada Tarikh Yohanes dari Nikiu, di Ch CXVIII tercatat pembunuhan dan penjarahan dilakukan di gereja, “Dan kemudian Muslim masuk ke Nakius, dan merampas harta, dan tidak menemukan tentara, mereka membantai semua yang mereka temukan di jalan-jalan dan di gereja-gereja, pria, wanita, dan bayi, dan mereka tidak menunjukkan belas kasihan pada siapa pun. Dan setelah mereka merebut kota, mereka melanjutkan ke tempat lainnya, menjarah dan membunuh semua pengungsi yang mereka temukan“. Di Ch. CXIX, tentara Muslim mengusir dan mengirim penduduk daerah taklukan untuk berperang, “Amr setelah menaklukkan Mesir dan mengirim penduduknya untuk berperang melawan penduduk Pentapolis. Dan setelah menaklukkan mereka, dia tidak mengizinkan mereka untuk tinggal di sana. Dan mengambil banyak sekali dari sana jarahan dan banyak sekali tawanan
    • Isi surat kepada gereja Kathrin BERTOLAK BELAKANG dengan seluruh isi surat yang dikirim Muhammad kepada para pemimpin kafir, yang menurut Tabari vol.8 hal.98-100, Nabi, mengutus Hatib bin Abi Balta’ah kepada Muqawqis pemimpin Mesir (tidak pernah disebutkan kepada gereja Kathrin) yang isinya seragam yaitu: “..meminta mereka masuk Islam (فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الإِسْلاَمِ), menyerah, maka kau akan selamat (أَسْلِمْ تَسْلَمْ)..”