Agama Langit? Agama Bumi? Mmmhh..ato..Agama Kosmis, Aja!


Hampir setiap agama dan kebudayaan memiliki mitos alam semesta. Mesir kuno mempercayai bahwa Dewa Khnumm menciptakan alam-semesta kemudian membuat manusia dari tanah liat, lalu Dewi Hathor meniupkan hidup kepada mereka. Yunani kuno mempercayai, bahwa segala sesuatu dibuat oleh Oceanus, air yang pertama. Cina kuno mempercayai P’an Ku memahat alam-semesta yang sebelumnya berantakan, setelah mati tulangnya berubah menjadi bukit, dagingnya menjadi tanah, giginya menjadi kandungan logam dan seterusnya, keseluruhan kejadian itu berjalan selama 18.000 tahun. ALBERT EINSTEIN menyatakan bahwa:

    ‘Agama Masa Depan adalah Agama Kosmik. Melampaui Tuhan sebagai suatu pribadi serta menghindari Dogma dan Teologi…’

Ilmu pengetahuan memberikan dugaan bahwa semesta ini berumur 13,7 Miliyar tahun ada juga yang mengatakan 15 Milyar tahun. Penemuan-penemuan fosil manusia purba yaitu keberadaan manusia pertama di Asia beserta temuan kapak tangan dan alat-alat potong-memotongnya yang berumur 1.83 Juta tahun ditempat yang sama, di Bukit Bunuh [Lenggong-Perak], serta penemuan peradaban Lemuria, yang berusia tidak kurang dari 400.000 tahun telah memberikan konfirmasi pasti bahwa Manusia tidak mungkin berusia kurang dari 1 juta tahun. Di abad 20 ini setidaknya ada 5 hipotesis yang membicarakan penciptaan tata surya dan 2 Hipotesis yang membicarakan penciptaan semesta, diantaranya:

    Tata surya: Hipotesis kabut, (1724, 1796), oleh Imanuel Kant, disempurnakan Pierre Marquis de Laplace, garis besarnya adalah: Tata surya masih berupa kabut yang terdiri dari debu, es, dan gas yang disebut nebula. Unsur gas sebagian besar berupa hidrogen. Ada gravitasi, kabut menyusut dan berputar. Suhu kabut memanas menjadi bintang raksasa (matahari). Matahari terus menyusut, perputarannya semakin cepat. Sebagian dari gas dan es terlontar. Gaya gravitasi, penurunan suhu, gas-gas memadat membentuk planet dalam. Dengan cara yang sama, planet luar terbentuk.

    Semesta: Pada tahun 1922, bermula pada teori relativitas yang ditemukan Einstein, Alexander Friedman dan beberapa Ilmuwan kemudian menuliskan rumusan dari hipotesis Dentuman, garis besanya adalah: Terjadi kondensasi benda angkasa, menyatu, mengecil kemudian meledak. Debu dan gas membentuk bintang. Bintang meledak dan serpihannya membentuk planet-planet, termasuk bumi. Tahun 1927, Georges Lemaître, seorang biarawan Katoli Romawi Belgia, mengajukan teori dentuman besar mengenai asal usul alam semesta, ia menyebutnya sebagai “hipotesis atom purba”.

    Tahun 1929, Hubble melalui pengamatannya menemukan bahwa galaksi mengembang. Penemuan inilah yang kemudian dianggap sejalan dengan teori Lemaître. Pada siaran radio di tahun 1949, Fred hoyle yang menolak hipotesis dentuman, menyebutkannya sebagai ejekan dengan kata “Big Bang” namun kemudian kata itu malah menjadi sangat populer. Penerimaan secara luas Hipotesis Bing bang terjadi setelah Cosmic microwave background radiation [CMBR] ditemukan oleh Arno Penzias and Robert Wilson di tahun 1964

Artikel edisi Oktober 1994, Scientific American menyatakan: Hipotesis Big Bang adalah satu-satunya yang dapat menjelaskan pengembangan alam semesta yang didukung hasil-hasil pengamatan. Namun, Di bulan April tahun 2002, Steinhardt dari Princeton University dan Turok dari Cambridge University, dalam laporan di jurnal Science dan wawancara telepon dengan Associated Press, menyatakan bahwa:

  • Hipotesis Big bang tidak dapat menerangkan apa yang terjadi sebelum Big Bang dan menjelaskan hasil akhir dari semesta.
  • Big Bang hanyalah salah satu bagian dari pembuatan semesta, tapi bukan pelopor dari kelahiran semesta.
  • Ia hanya bagian kecil dari proses pembentukan semesta yang tidak memiliki awal dan akhir.
  • Sehingga penentuan umur semesta, yang muncul dari teori Big Bang, merupakan kesimpulan mengada-ada.
  • Penambahan dan penyusutan semesta terjadi secara terus-menerus, berlangsung bukan dalam miliar tapi triliunan tahun.

“Waktu tidak mesti memiliki awal,” ujar Steinhardt. Ia mengatakan bahwa teori waktu sebenarnya hanya transisi atau tahap evolusi dari fase sebelum semesta ada ke fase perluasan semesta yang ada saat ini.

Para ilmuwan yang menyokong teori Big Bang melihat ekspansi semesta ditentukan oleh sejumlah energi yang memperlambat dan mempercepat ekspansi. Energi yang memperlambat ekspansi ini kemudian bergerombol dalam galaksi, bintang dan planet. Energi yang mempercepat ekspansi ini diistilahkan sebagai “energi gelap”.

Namun Steinhardt dan Turok melihat bahwa materi semesta tidak sekadar terdiri dari energi biasa dan “energi gelap”, tapi juga “spesies ketiga”. “Kami melihat rasio energi yang membentuk semesta adalah 70 persen materi unik dan 30 persen materi biasa,” ujar Steinhardt.

Materi biasa yang dimaksud Steinhardt adalah materi yang membuat ekspansi semesta lebih pelan, yang mengijinkan gravitasi menciptakan galaksi, bintang dan planet, termasuk bumi.

Sementara percepatan ekspansi didorong oleh “energi gelap” yang menyatukan sejumlah zat dan energi. “Energi ini, sekali mengambil alih semesta, mendorong segala seuatu pada pusat percepatan. Sehingga semesta akan berukuran dua kali lipat setiap 14 hingga 15 miliar tahun sepanjang ada energi gravitasi yang mendominasi semesta,” ujar Steinhardt.

Big Bang muncul ketika “energi gelap” mengubah karakter ini. Dengan alasan inilah, kedua ilmuwan fisika tersebut menolak bahwa Big Bang merupakan penyebab kelahiran alam semesta. Karena semesta sudah ada sebelum dentuman itu terjadi. [Sumber: Fisika Net (atau telegraph); Mengapa big bang itu keliru silakan lihat juga di: Is the Big-Bang a Religious Hoax?, Why the Big Bang is Wrong, Big bang or Big Hoax, BIG BANG? Hah!, False vs. True science: Mini Big-bangs in a Fractal Universe, fractal universe, Fractal cosmology]

Keberadaan mahluk hidup dari sudut menurut kacamata Ilmu modern mengikuti dua teori yaitu Abiogenesis dan Biogenesis namun sejak Louis pasteur berhasil dengan percoabaan leher angsanya maka teori yang diakui para Ilmuwan Modern adalah Bio genesis, secara ringkas teori Louis pastur terangkum dengan kalimat:

    omne vivum ex ovo, setiap makhluk hidup berasal dari telur
    omne ovum ex vivo, setiap telur berasal dari makhluk hidup
    omne vivum ex vivo, setiap makhluk hidup berasal dari makhluk hidup

Akhir dari bumi kita ini dijelaskan di dalam jurnal Inggris, Astrophysics. Robert Smith, korektor naskah emiritus astronomi di University of Sussex, Inggris selatan dan Dr. Klaus-Peter Schroeder di Universitas Guanajuato, Meksiko, menyatakan bahwa Miliaran tahun dari sekarang, Matahari secara perlahan mengembang..ketika Matahari kehabisan bahan bakarnya, Matahari akan berkembang menjadi “raksasa merah” yang berbahaya..merenggangnya atmosfir bagian luar Matahari menyebabkan Bumi mengorbit di lapisan luar atmosfir yang kepadatannya sangat rendah.

Tarikan itu disebabkan oleh gas dengan kepadatan rendah ini cukup untuk mengakibatkan Bumi mengapung di dalamnya dan akhirnya ditangkap dan dipanggang oleh Matahari. lautan akan menguap, dengan memenuhi atmosfir dengan uap air dan memicu pemanasan besar-besaran.

Namun demikian, sekalipun menjadi garing seperti kerupuk, Bumi akan selamat dari kehancuran total, dan itu akan terjadi 7.6 Mliyar tahun lagi Antara atau Kompas)

Tulisan di atas merupakan pengantar dari artikel mengenai penciptaan semesta. Untuk itu mari kita lihat Semesta dari kacamata 4 agama terbesar di dunia:

Siapakah pemenang gelar Agama Kosmis menurut Einstein? Samakah itu dengan pilihan anda? Kutipan Einstein tersebut sekaligus merupakan kesimpulan saya mengenai Penciptaan semesta dipandang dari kacamata 4 agama terbesar dunia.

[Kembali]



Abrahamic: Penciptaan Semesta
Di tahun 1951, Pernah Paus XII kesesuaian Big bang dengan Alkitab: “..sains masa kini, ..telah memberi kesaksian tentang awalan ‘Fiat lux’ itu. pada saat “jadilah Terang” diucapkan bersamaan dengan materi, muncullah dari tidak ada lautan cahaya dan radiasi, yang kemudian partikel dari unsur kimia terbelah dan terbentuk menjadi jutaan galaksi … dengan demikian, penciptaan terjadi pada waktunya, ada sang pencipta, Tuhan Ada”

Benarkah, demikian? Mari kita lihat kitab Kejadian 1 berbicara mengenai penciptaan langit, bumi dan segala isinya

    (“BARESITH/בְּרֵאשִׁ֖ית BARA/בָּרָ֣א ELHAYAM/ELOHIM/אלהים ‘ET/אֵ֥ת HA-SHAMAYIM/הַשָּׁמַ֖יִם WA’ET/וְאֵ֥ת HA-ERETS/הָאָֽרֶץ׃”)
    Pada permulaan [beresith/resith] membentuk [bara] TUHAN [ELHAYAM/Elohim] [‘et] LANGIT [shamayim] dan [wa’et] BUMI [erets]. Bumi [erets] Tohuw [belum berbentuk] dan bohuw [kosong, tak berpenghuni]; kho shek’ [gelap] TEHOM [dalam] ru’-akh [Roh] ELHAYAM/Elohim merachefet [“מְרַחֶ֖פֶת”/tpxrm = BERGETAR] paw-nim’ [DIHADAPAN/MENGHADAPI] HA-MAYIM [“הַמָּֽיִם”/air yang banyak/luas, banjir] [Kej 1.1-2. Juga lihat Yes 45.18]

    Mulai pada Kej 1:3 ada kata Vayomer [“וַיֹּאמֶר” atau “אמַר” = yomar/amar = berkata/firman] digunakan ELHAYAM/ELOHIM dan kata itu TIDAK MUNCUL di Kej 1.1-2:

    Berfirmanlah (‘amar) ELHAYAM/ELOHIM: DATANG (hyh/hayah) ‘OWR (TERANG, cahaya, FAJAR, KILAT) ‘owr hayah. ELHAYAM/elohim RA’AH (melihat/tahu) kiy (sebab, karena, bahwa, apabila) ‘owr TOWB (baik, lebih baik, menyenangkan). ELHAYAM/elohim BADAL (memisahkan, mengkhususkan, mengucilkan) ‘owr BEYN (dari/antara) CHOSEK (gelap, kesengsaraan). ELHAYAM/elohim QARA’ (sebut/menamai) ‘owr YAM/YOM (“יוֹם“(ywm)/”ים”(ym) – Dewa Yam, waktu, siang, hari) chosek LAYIL/LAYLA (malam, LILITH). datang (hayah) ‘EREB (petang) datang/jadi BOQER (pagi), YAM/YOM ‘ECHAD (YAM SATU/TUNGGAL) [Kej 1.3-5]

      Kata “RESITH/BARESITH/בְּרֵאשִׁ֖ית” = mulainya satu episode tertentu contoh: Yer 26:1, “pada permulaan pemerintahan..”

      Kata “BARA/בָּרָ֣א” = membentuk, menggemukan [setelah tohuw], memotong/membangun [sejalan dengan mulainya episode baru, resith] dan bukan kondisi menciptakan. Sample beberapa kata bara’ yang artinya BUKAN mencipta:

        “..Lembu-lembu yang buruk bangunnya dan kurus badannya itu memakan ketujuh ekor lembu yang indah bangunnya dan gemuk [bariy’] itu. Lalu terjagalah Firaun. [Kej 41:4] dan “…mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan [bara’] dirimu dengan bagian yang terbaik d ari setiap korban sajian umat-Ku Israel?” [1 samuel 2:29]. Bara di sini = gemuk/menggemukan

        “Kalau engkau bangsa yang banyak jumlahnya, pergilah ke hutan dan BUKALAH [bara’] tanah…” [Josua 17:15 ] Bara di sini = memotong/membuka

      Frase “ELHAYAM/ELOHIM/אלהים ‘ET/אֵ֥ת HASHAMAYIM/הַשָּׁמַ֖יִם WA’ET/וְאֵ֥ת HAERETS/הָאָֽרֶץ” = “el ha-yam et ha-Sha-mayim wa et ha-eretz”:

      El/Ilu (אֱלֹ = Tuan);
      HA (הָ = si/sang/ini/itu/”the”);
      ELOHIM/”אלהים“/Allah Jamak atau EL-HA-YAM/”ים“-“ה”-“אל”/(EL YAM/Tuhan YAM/EL si/itu/ini/the YAM). Dalam legenda Ugarit/Kanaan/Punisia/Mesopotamia “Yam” = dewa laut/sungai (Nahar). Dalam Punisia = “ים”/ym dan kata ini ada dalam “אלהים“/ELHAYAM/ELOHIM. Kata “yowm”/”יוֹם“/ywm, diterjemahkan “hari” merujuk pada lawan dari malam/gelap dan menariknya kata “ים“/Yam juga ada pada “יוֹמַ֫יִם‎”/”dua yam”/”dua hari” juga dalam jamak “יָמִים‎”/”hari-hari”, jadi “yowm”, sewajarnya juga terkait dengan “yam”;
      ‘ET (אֵ֥ת = aleph/huruf pertama + tav/huruf terakhir, tidak pernah diartikan, banyak tafsir, mungkin menandakan urutan kejadian yang berkaitan bukan terpisah);
      WA (וְ = dan);
      SHAMAYIM (shin (שָׁ = menghabiskan, memusnahkan) + mayim/מַ֖יִם/air = Air menguap/air yang menuju ke atas; atau bisa jadi berasal dari: Shamu = Dewa langit Kanaan/Phonesia, pemimpin para dewa kota Alalakh, Syria + “-ayim” (dual, sepasang) [Lihat juga: “A STUDY ON THE DUAL FORM OF MAYIM, WATER“, Min Suc Kee]. Di mitologi Kanaan, Shamayim adalah dewa langit, sementara di teks Yunani terdapat Ouranos/Langit dan Ge/Gaia/Bumi, yang dalam mitologi Yunani adalah pasangan, sehingga bisa jadi erets juga diasosiasikan sebagai pasangan Shamayim;
      AERETZ (אֶרֶץ = erṣetu (Akkadian); rṣ/arṣ (Ugarit) = bumi, tanah)

      Jadi, “el ha-yam et ha-Sha-mayim wa et ha-eretz” = “Tuan/Dewa laut, langit dan bumi”

      kata “merachefet“/”מְרַחֶ֖פֶת”/tpxrm kerap diterjemahkan “melayang/hover”. padahal seharusnya bergetar, karena di Ulangan 32.11, “..yəraḥêp̄/”יְרַחֵ֑ף” (MENGGETARKAN) yip̄rōś/”יִפְרֹ֤שׂ” (mengembangkan) kənāp̄āw/”כְּנָפָיו֙” (sayapnya)..” DAN LEBIH JELASNYA DI Yeremia 23.9, “..‘aṣmōwṯay/”עַצְמוֹתַ֔י” (tulang-rulangku) kāl/”כָּל־” (semua) rāḥăp̄ū/”רָֽחֲפוּ֙” (BERGETAR)..”. sehingga terjemahan seharusnya adalah BERGETAR

    Mulai pengerjaan Langit:
    Allah membentuk cakrawala (raqiya) memisahkan air (mayim) yang ada di bawah dan di atas cakrawala. Menamakan cakrawala itu langit (Shamayim), YOM SHENIY/SENIN (terjemahan umum: hari ke-2) [Kej 1.6-8]

      Cakrawala [Ibrani = Rakiya] berbentuk kanopi Jewish Encyclopedia: “Orang-orang Yahudi beranggapan bumi sebagai suatu dataran atau bentukan bukit yang bagiannya seperti berenang di atas air. Sedikit dibawah ketinggian adalah burung-burung yang dapat naik dan terbang sepanjang bentangannya”. Kemudian,di sini, di sini dan di sini. menyampaikan konfirmasi bahwa Alkitab dan para bapak gereja menentang Heliocentrisnya Galileo dan Di Sini konfirmasi rekaman Interogasi kepada Giordano Bruno sebelum ia di bakar hidup-hidup Gereja karena teori Heliocentrisnya

    Mulai pengerjaan Bumi:
    Mengumpulkan air di bawah langit pada satu (echad) tempat (maqam) hingga terlihat yang kering, yang kering dinamakan bumi/daratan (erets), kumpulan air dinamakan laut/samudera (Yam). Bumi (erets) mengeluarkan tunas muda, tumbuhan berbiji, segala pohon buah berbiji, YOM SH@LIYSHIY/SELASA (hari ke-3); [Kej 1.9-13]

    Melanjutkan pengerjaan Langit:
    Menjadikan benda penerang yang besar (Matahari), yang kecil (bulan) dan bintang (kowkab) untuk menerangi bumi dan diletakan di cakrawala untuk memisahkan siang dan malam, terang dan gelap, datang (hayah) tanda (owth) masa (mo’ed) hari (Yom), tahun (shaneh). YOM R@BIY`IY/RABU (hari ke-4) [karena 1 hari = 1000 tahun, maka matahari, bulan dan bintang baru muncul 4000 tahun kemudian] [Kej 1.14-19]

    Melanjutkan pengerjaan di BUMI dan LANGIT:
    Di air (Mayim) melimpah (sharats) mahluk hidup (NEPHESH HAYAH), MAHLUK YANG BISA TERBANG (‘OWPH) beterbangan (‘UWPH) di bumi di lintasan kubah langit (‘al ‘erets ‘al paniym raqiya shamayim). ELHAYA/ELOHIM membentuk (‘bara) MONSTER (Tanniyn) besar (gadol), segala jenis (kol miyn) mahluk hidup bergerak (NEPHESH HAYAH HAROMESET) melimpah di air, dan segala jenis mahluk bersayap (‘OWPH KANAPH), YOM CHAMIYSHIY/Kamis (hari ke-5) [Kej 1.20-23]

    Melanjutkan pengerjaan Bumi:
    Bumi mengeluarkan (erets yatsa’) segala mahluk hidup, melata, ternak, liar, membuat (asah) Adam dari gambar (tselem) dan rupa (d@muwth) Elohim, laki-laki (ZAKAR), perempuan (N@QEBAH), bertambah banyak, YOM SHISHSHIY/Jum’at (hari ke-6) [kej 1.24-31]. Elohim sabath (berhenti) dari pekerjaannya, YOM SH@BI’IY [hari ke-7] [Kej 2.2]

Legenda ini menyatakan bahwa bumi dan air sudah ada saat itu bersamaan dengan roh Elohim. Ada terang yang dinamakan siang yang berbeda dengan kegelapan yang dinamakan malam namun matahari, bulan dan bintang belum ada. Tidak dijelaskan siapakah pencipta bumi/daratan, air, Ruh Allah, mengapa ruh Allah di sana saat itu dan bergetar menghadapi air namun di legenda bangsa lainnya, kita temukan alasannya:

    Pada perjanjian lama maupun baru, tertulis kecemburuan/kemarahan ELHAYAM, karena kaum Israel memuja “ELOHIM NEKAR” (Para Allah asing) yang merujuk pada BAAL dan ASYERAH/ASYTORET bukan dirinya [Misal: 1 raja 19.18; Yeremia 23.27; Hosea 2.15; Roma 11.4]

    Padahal, kata “BA’AL/BAAL/BEEL/EL” [Ugarit, Phoenisian, Ibrani, amorit, Aramaik] atau “BEL” (di Babilon) atau EN (Sumeria) merupakan kata generik untuk arti TUAN/TUHAN atau PEMILIK yang setara dengan kata Adon (Tuan)/Adonai (Tuanku) sebagai alias bagi Y@HOVA/YAHWE sehingga terkadang dijadikan nama orang, misalnya hakim GIDEON namanya menjadi YERUBAAL (Baal berjuang bersamanya) atau anak Daud bernama BEELYADA (Tuhan tahu) atau seorang pahlawan Daud yang bernama BAALYAH (Yah BAAL), sehingga kata itu hanyalah kata untuk menyebut TUHAN

      BAAL/BEEL-ZEBUB, TUHAN TERTINGGI suku Palestina [zebul=terbang/tempat tertinggi/Surga = Tuhan yang tertinggi] namun di kalangan YAHUDI, IA menjadi SETAN. Di Nasrani, BEELZEBUB sedikit berubah menjadi BEELZEBUL, yang juga dimaksudkan sebagai Setan dan di kitab “Kesaksian Sulaiman” 6.2,7: Ia menjadi pangeran para setan yang dulunya pemimpin para malaikat dan terkait dengan bintang malam/HESPERUS

    Epik di Kejadian 1, seperti epik lainnya diberbagai mitologi, merupakan pertikaian antara ELHAYAM/ELOHIM VS YAM yang jika di Alkitab PEMENANGNYA adalah ELHAYAM/ELOHIM sedangkan pada legenda bangsa lainnya, PEMENANGNYA adalah BAAL/BEL/MARDUK namun kemudian di Alkitab, seluruh TUHAN BANGSA LAIN: BAAL/ADAD/MARDUK/BEL/EL dan lainnya disebut sebagai SETAN atau BERHALA.

      BAAL atau HADAD/ADAD, di kebudayaan Ugarit, Akkadian/Asiria-Babilonia, Mesopotamia adalah TUHAN dengan senjata petir, angin dan hujan yang menyuburkan. Di legenda Ugarit, Ketika BAAL/HADAD mengalahkan Dewa YAM, maka istri BAAL/HADAD, ANAT/Asytoret menyampaikan pujian penghormatan kepada BAAL sebagai penunggang awan. Frase pujian ini muncul juga Mazmur 68.4 “Bernyanyilah bagi ELHAYAM/ELOHIM, mazmurkanlah nama-Nya, buatlah jalan bagi Dia yang berkendaraan melintasi awan-awan! Nama-Nya Yahh; beria-rialah di hadapan-Nya!” dan tentu saja, di Alkitab, sang penerima kemenangan ini bukanlah BAAL melainkan ELHAYAM/ELOHIM [Ba`al Battles Yahm the Ocean; Ba`al Celebrates his Victory; Ba’al cycle]

    Banyak terdapat kemiripan antara legenda Babilonia, Ugarit VS Legenda Alkitab pada epik perseteruan ELHAYAM/ELOHIM/BEL/MARDUK/BAAL VS YAM, ULAR dan NAGA:

      Engkaulah yang menguasai kecongkakan YAM (laut). Pada waktu naik gelombang-gelombangnya, Engkau juga yang meredakannya. Engkaulah yang meremukkan RAHAB seperti orang terbunuh [Mazmur 89.10-11]

      Ia telah MENGISTIRAHATKAN/meneduhkan (raga’) YAM (laut) dengan kekuatanNYA dan meremukkan RAHAB dengan KEAHLIANNYA/kebijaksanaan-Nya (tabuwn). ROH/Oleh nafas-Nya (ruwach) langit menjadi cerah, tangan-Nya menikam (chalal) ULAR yang gesit [Ayub 26.12-13]

      Terjagalah, terjagalah! ..hai tangan TUHAN! Terjagalah seperti pada zaman purbakala, pada zaman keturunan yang dahulu kala! Bukankah Engkau yang meremukkan RAHAB, menikam NAGA sampai mati? Bukankah Engkau MENEMPUR/mengeringkan [Charab], YAM (laut) AIR (MAYIM) DALAM/samudera (TEHOM) LUAS/hebat (RAB)? (suwm ma’mag yam derek ‘abal ga’al: memukul dalam Yam membinasakan hidupnya sebagai balasan?/yang membuat laut yang dalam menjadi jalan, supaya orang-orang yang diselamatkan dapat menyeberang? [Yesaya 51.9-10]

      Engkau, ya Allah adalah Rajaku dari zaman purbakala, yang melakukan penyelamatan di atas bumi. Engkaulah yang MEMBELAH LAUT dengan kekuatan-Mu, yang memecahkan KEPALA ULAR NAGA di atas muka air. Engkaulah yang meremukkan KEPALA LEWIATAN, yang memberikannya menjadi makanan penghuni-penghuni padang belantar [Mazmur 74.12-14]

      YAM/YOM HUW’ Y@HOVA (“YAM itulah/dialah Y@HOVA”, namun diterjemahkan “pada waktu itu TUHAN”) PAQAD (MENGHUKUM) CEREB QASHEH GADOL CHASAQ (dengan pedang keras, besar, kuat) AL LIVYATHAN (atas Lewiatan) NACHASH (ular) BARIYAH (meluncur), atas Lewiatan ular AQALLATHOWN (melingkar), HARAQ (membunuh) TANNIYN (ular naga) ‘AHER (yang/KEPUNYAAN) YAM (laut/Dewa Yam)” [Yesaya 27.1. Di Mazmur 104.26 “..Lewiatan dibuat untuk mainannya (Lewiathan yatsar sachaq)..”].

      Epik di perjanjian baru sedikit berbeda, yang berperang melawan naga berkepala 7, BUKAN ELOHIM namun para Malaikat di bawah pimpinan Mikael. Ini terjadi dalam mimpi Yohanes untuk kejadian masa depan [Wahyu 12.3, 7,9 20.2]

      Pada legenda Ugarit, Disamping pertempuran antara BAAL/HADAD VS YAM, maka Ular/naga berkepala 7 di legenda ini bernama LOTAN. Sementara di Alkitab, namanya LEWIATHAN dan hanya di perjanjian baru saja disebutkan ada naga berkepala 7.

      Dalam tablet tanah liat Assurbanipal, legenda Babilonia, tertulis:
      Dahulu, di atas dan bawah bumi tertutup lautan purba yang bersumber dari TIHAMAT (Alkitab Kej.1.1: TEHOM, Dalam tulisan Eusebius, mengutip pendeta Babilon, Berossus: THAMTE/Laut), air menjadi satu, tampaklah langit..kemudian lahir para dewa..salah satu yang utama adalah MARDUK (Berrosus: BEL).. terjadi pertikaian diantara para dewa baru, TIHAMAT tidak puas dan memberontak dari penguasa yang lebih tinggi, sukses dan memperoleh banyak pengikut. Ia juga menciptakan MONSTER-MONSTER untuk membantunya.. Kemudian Marduk menawarkan diri untuk memerangi TIHAMAT dengan syarat jika berhasil, Ia menjadi raja jagat. Rapat dewa memberikannya nama Dewa langit..Marduk berhasil membunuh Tihamat memotong tubuhnya menjadi dua, memisahkan air diatas dan dibawah, air diatas menjadi langit..membasmi para monsternya TIHAMAT salah satunya adalah naga berkepala 7..dan seterusnya yang hampir mirip dengan versi kejadian 1 [“The Babilonian and the Hebrew Genesis”, Heinrich Ziemmern, mulai hal.24]

      “..Di point lainnya pada lingkaran Anat, juga, disebutkan membunuh Yamm. “Pasti Aku akan melawan Yamm, kesayangan EL,” Ia tambahkan, “Pasti Aku ikat Tunnan dan memusnahkannya / Aku bertarung dengan ular gemerlap, / si Kepala 7 yang hebat.” Tampaknya Yam terbunuh lebih dari sekali dan bangkit lagi, Sulit melenyapkan selamanya monster kekacauan [“Religion and Its Monsters”, Timothy K. Beal, hal.20]

      “..Meski Ular, LTN, Naga, TNN disebutkan terkait Yam dalam Baal/Yam text, Kebanyakan Ahli berpendapat bahwa Naga dan Ular identik dengan Yam-Nahar…Persamaan Ular dan Naga dengan Yam dalam Ugarit Text terkait kemunculan ular di text setelahnya (CTA 5.1.1) yang menyebutkan Ltn, Lotan atau Leviathan, namun bukan Yam. Berdasarkan teks ini, disamakan Lotan dengan ular, dan diteks untuk Dewi ANAT (Istri BAAL) yang dikutip sebelumnya yang menyebutkan Yam berurutan dengan ular dan naga, banyak ahli berasumsi bahwa para mahluk ini adalah manifestasi Yam” [“Ancient Seals and the Bible”, Leonard Gorelick, ‎E. Williams-Forte, 1983, hal.33]

Jadi, kitab kejadian 1 hanyalah ringkasan versi lain dari pertikaian para Dewa, sementara, ELHAYAM sendiri, tetap tidak diketahui bagaimana, mengapa dan darimana kemunculannya, tahu-tahu Ia telah ada bersamaan dengan barang lainnya: daratan yang tertutup air, air dan kegelapan.

Kapan malaikat/Iblis muncul?
Kata “LAYLA/LAYLI/LILITH” selain muncul di Kejadian 1, juga di Yesaya 34.14 (“LIYLIYTH/LILITH”/HANTU MALAM, yang bertempat di sungai-sungai EDOM) dan Mazmur 91.5 (“PACHAD LAYLA/LAYLI” = Teror Malam) dan Lilith yang juga ada di legenda bangsa lainnya.

    LILITH, dari kata Babilon-Asyria “lilitu”, iblis perempuan/dewi angin, salah satu 3 dewa Babilonia. Juga “Lillake” di tablet Sumeria dalam Gilgamesh yang ada di tepi sungai Eufrat. Dalam etimologi popular Ibrani, ‘Lilith’ dari ‘layil’, monster malam berbulu [“Hebrew Myths: The Book of Genesis”, Robert Graves dan Raphael Patailihat. Juga lihat “The Book of Lilith, Barbara Black Koltuv, Introduction].

    “..Allah menciptakan Adam namun Ia kesepian, maka diciptakan Lilith dari tanah yang sama, Adam dan Lilith bertengkar, karena tidak mau berbaring di bawah lainnya, Lilith beralasan karena mereka terbuat dari tanah yang sama. Lilithpun meninggalkan Adam. Allah mengirim 3 malaikat untuk mengejarnya, untuk menyuruhnya kembali kepada Adam. Lilith menolak dan hendak melemahkan dan membunuh para bayi. Para Malaikat berhasil mengatasinya, akhirnya Lilith berjanji bahwa Ia tidak akan mengganggu bayi yang Ibunya menggantung amulet nama 3 malaikat itu, Mereka kemudian melepaskannya dan Allah menciptakan Hawa sebagai ganti Lilith. Sejak itu, Lilith berkelana di dunia dengan lolongan kebenciannya di malam hari. Ia yang disebut sebagai ‘Yang melolong'” [Alpabet Bin Sirah, bab 5; Straight Dope]

    Rabbi Hiya: ‘Dan tuhan menciptakankan monster besar (ikan, Paus), artinya Leviathan dan istri.’ ‘Dan setiap mahluk hidup yang bergerak’ di seluruh bagian Bumi. “nephesh Hayah” (mahluk hidup, kej 1.21) adalah lilith…Rabbi Simeon:..Kitab suci mengatakan Tuhan mengambil salah satu rusuknya dan menutup tempat itu dengan daging (Kej 2.21), di setiap buku kuno dinyatakan bahwa yang diambil bukan rusuknya tapi Lilith yang hidup bersama Adam dan memberikannya keturunan. Karena Lilith bukan penolong yang sepadan Adam, maka diciptakanlah Hawa (Kej 2.20)” [“Zohar: Bereshith to Lekh Lekha”, Nurho de Manhar, Ch.16]

    Lilith kemudian menjadi istri Samael, Malaikat kematian, yang juga sebagai Ular dan disebut Setan [“Zohar”, Vol.1 hal.209, catatan kaki no.823]

    Bahkan Lilith pernah menjadi pengantin Allah: “…Saat kehancuran kuil, Tuhan mengusir pengantinnya, Shekhinah dan mengangkat satu pelayan wanita yang menggantikannya sementara menjadi pengantinNya, yaitu Lilith..” [“SAMPLE MYTHS FROM TREE OF SOULS: THE MYTHOLOGY OF JUDAISM, Howard Schwartz, Oxford University Press, 2004]

Keberadaan Lilith dan petunjuk di kitab Ayub dan Mazmur, menuntun kita untuk memastikan kapan para malaikat tercipta:

    “Di manakah engkau, ketika Aku MENDIRIKAN/MULAI DENGAN (Yacad) bumi (‘erets)?…BINTANG-BINTANG FAJAR (Kowkab boqer) bersorak-sorak bersama-sama SEMUA ANAK ALLAH (Kol Bin EL HA YAM) bersorak-sorai?” [Ayub 38.4-7]

    Memasang (Qarah) loteng (‘aliyah) di air, menempatkan/menjadikan (Suwn) awan/kegelapan (‘Ab) kendaraan (R@kuwb), bergerak (halak) di atas sayap ROH/angin (al ‘kanaph ruwah), menggunakan (‘asah) ROH/angin (ruwah) malaikat (mal’ak) api menyala pelayan (sharath) [Mazmur 104.3-4]

Bintang-bintang baru ada di hari ke-4, sementara pengerjaan awal bumi terjadi di hari ke-2 setelah dipisahkan air di atas dan di bawah cakrawala, namun sebelum itu, LILITH telah ada di hari ke-1, maka para malaikat tertentu sebagiannya telah ada di hari ke-1, dan lainnya, ada disetelahnya.

    Pada hari ke-1, Ia menciptakan..dan para malaikat yang melayaninya [Jubilee, 2.2] (Abad ke-2 SM).

    Opini para Rabbi:
    Kapan para malaikat diciptakan? R. Johanan: Mereka diciptakan di hari ke-2, merujuk kaitannya dengan air di Mazmur 104.3-4]. R. Hanina: Mereka diciptakan di hari ke-5, merujuk Kej 1.20 dan Yesaya 6.2. R. Luliani b. Tabri atas nama R. Isaac’s name: Apakah menerima opini R. Hanina ataukah R. Johanan, semua sepakat tidak tercipta di hari ke-1 [Midrash Rabbah, edisi ke-1, 1939, hal.5 dan hal.24]

    Setelah pemisahan air diatas dan air di bawah, maka dari air yang di bawah, Allah menciptakan 2 setan pria dan wanita yang disebut Nachash (serpent) dan Apheth (viper) [Zohar: Bereshith to Lekh Lekha, Ch.2]

Alkitab menyatakan Ular adalah binatang yang membujuk Hovah/Hawa makan buah pohon pengetahuan. Di perjanjian baru, Naga/ular tua adalah Iblis/Setan [Wahyu 12.9]; Malaikat-malaikat yang tidak taat dan berdosa [Yudas 1.6, 2 Petrus 2.4] yang di akhir jaman dikurung di jurang dan dimateraikan [Wahyu 16.14,16; 20.3,8]

    SAMAEL, dalam kebudayaan Yahudi bertempat di surga tingkat ke -7 [Yalkut I, 110], malekat penjaga Essau [Sotah’ 10b]. St Gregory [540 M – 604 M]: Sama-el/Simi-el adalah malekat yang ke 5 dan penjaga ESAU [Yalkut I, 110].

    Dalam Aggadah Ch.4, “The Legend of The Jews”: Samael berada di surga tingkat ke-7, Salah satu pemimpin para setan [DEVARIM DEUTORONOMY 11].

    Talmud: b. Shab. 146a: Ular menyetubuhi HAWA, memasukan kotoran padanya. Dalam Kabbala: Zohar 1.37a: Rabbi Hiyya: Anak-anak Allah keturunan KAIN karena SAMAEL menyetubuhi HAWA, hamil dan lahirlah KAIN. Dalam Midrash: Pirqe R. Eliezer. Ch. 13: Samael adalah pangeran terbesar di surga. Samael memiliki 12 sayap. Ia dan pasukannya turun. Samael menaiki Ular. Ular berkata kepada wanita itu: “Benarkah kamu diperintahkan untuk tidak memakan buah pohon ini?. [Samael and Serpent].

    (samael) mengendarai ular menyetubuhi Hawa dan hamil [“Zohar: Bereshith to Lekh Lekha”, A SYMPOSIUM OF RABBI SIMEON’S STUDENTS”, CH 21]. Rabbi Jehuda:…Samael, ketika turun ke bumi menaiki ular. ketika muncul dalam bentuk ular, Ia disebut Setan. [Ibid, Ch.16]

Selain SAMAEL, para penghulu iblis lainnya yang disebut sebagai “Para allah asing” (ELOHIM NEKAR) adalah LUCIFER

    Lucifer, Dalam literatur Romawi/Latin, Lucifer adalah dewa kelas rendah [Eosphorus/Phosphorus], Dewa bintang timur anak dari Aorora/Eos [cucu dewi kelas rendahan Theia] yang menikah dengan manusia. Di alkitab terdapat syair-syair mengolok-olok kematian Raja babel, yang dianggap penindas, kejam dan ingin dianggap lebih tinggi dari allah: “Jatuh (naphal) dari langit (Shamayim), ‘Helel (BINTANG TIMUR) ben Shahar (anak fajar)’, tumbang/jatuh (gada) ke bumi (erets)” [Yesaya 14:12] dan ketika 70 murid Yesus melaporkan berhasil mengusir roh. Yesus berkata: “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit”. [Lukas 10:17-18]

    Note:
    Penterjemah menterjemahkan ‘HELEL’ = ‘Bintang Timur’ dan yang jatuh dari langit disebut IBLIS. St Jerome [347 M – 420 M] menterjemahkan ‘Helel [Ibrani: pembawa cahaya/terang]’ sebagai ‘Lucifer [Latin: lux/luccius = cahaya/terang, ferre = pembawa]’ dan ‘putera Shahar’ sebagai ‘putera sang fajar’. Shahar adalah Dewa senja Ugarit/kanaan [di ibrani menjadi fajar].

Namun ternyata, Yesus juga mengakui dirinya sebagai Bintang Timur

    “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir… Aku, Yesus (Iesous), telah mengutus malaikat-Ku untuk memberi kesaksian tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat. Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud, BINTANG TIMUR YANG GILANG GEMILANG” [Wahyu 22.13-16]

    Note:
    Kata Yunani “Zeus” [Dewa Yunani kelas rendahan penguasa matahari dan sederajat dengan eos] diucapkan “Sous”. Sedangkan “Iesous” adalah turunan Zeus [iosa = turunan Zeus, dewi kesembuhan]

    Ie-Sous –> Je-zeus –> Je-sus!

    Mungkin itu juga sebabnya, kresten juga dianggap menyembah berhala matahari.

Karena Lucifer = BINTANG TIMUR, maka Yesus = Lucifer, Setan juga.

Selain Lucifer, para penghulu iblis lainnya yang disebut sebagai “Para allah asing” (ELOHIM NEKAR) adalah BELIAL

    BELIAL/Beliel, awalnya dari 27 x kata ini muncul dalam Alkitab Ibrani adalah sebagai frase BUKAN lawan dari tuhan, yaitu BELI/tanpa+YAAL/nilai = TIDAK BERHARGA (merujuk pada anak durhaka, orang fasik, para penyembah berhala dan mereka yang tidak bersunat). Namun kemudian, KITAB BELAKANGAN, mengubahnya dari sebuah frase menjadi LAWANNYA TUHAN, misalnya: “Naskah laut mati” 1QM, Kol. XIII, 10-12: sebagai malaikat kegelapan. Kitab “Kesaksian 12 anak Yakub” dalam Simeon 5.3: sebagai berhala. Dalam kitab nasrani “Kenaikan Yesaya” 2.4: sebagai malaikat yang durhaka. Dalam kitab “Kebangkitan Yesus Kristus (oleh Bartholomew)”: sebagai 1 diantara 666 malaikat yang jatuh. Terakhir, di perjanjian baru, Paulus membandingkan Yesus vs Belial, terkait bait Allah vs berhala dan menyatakan bahwa Yesus akan bersama-sama mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, menjadi Allah mereka, dan mereka menjadi umatNya [2 korintus 6.15-16]

Masalahnya kemudian adalah dimana Yesus saat kematian ke-2?:

    Tetapi ORANG-ORANG PENAKUT, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang ke-2.” [Wahyu 21.8]

    Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia SANGAT KETAKUTAN (Di matius 26.37, “..Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar) dan makin bersungguh-sungguh berdoa. PELUHNYA MENJADI SEPERTI TITIK-TITIK DARAH YANG BERTETESAN KE TANAH [Lukas 22.41-44]

    Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? [markus 15.34, Matius 27.46]

Jadi, seperti kata Yohanes di kitab Wahyu, Yesus yang penakut dan tidak percaya Allahnya ini, tempatnya di Neraka. Namun, ini malah baik, karena lebih mengerikan lagi berada di surga baru, Yerusalem baru:

    Terdapat langit (Ouranos) baru dan bumi baru sebab langit (Ouranos) yang pertama dan bumi (Gaia/Ge) yang pertama telah lenyap dan lautpun tidak ada lagi. Yerusalem baru, kota yang kudus turun dari sorga (Ouranos) [Wahyu 21:1-2. Ini kembangan lanjutan ucapan Yesaya tentang ‘Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru‘ (Yes 65.17, juga Yes 66.22) yang juga bernama Yerusalem (Yes 65.18) karena Yerusalem jaman Yesaya sedang porakporanda dijajah bangsa asing]. Malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah (Kurios Theos) akan menerangi mereka [Wahyu 22.5]. Yerusalem Baru, dalam mimpi Yohanes berbentuk kubus: 12.000 stadia3 [Wahyu 21.16-17 = 1200 mil3 = 1931,2 km3 = 7.2 x 1012 Km3]

Oleh karenanya, Yerusalem baru mimpi Yohanes ini belumlah ada dan bukan bumi kita [Di kitab Daniel: Penglihatan berasal dari mimipi, misal: Dan 2.1/Mimpi Nebukadnezar, Dan 7.1/Mimpi Daniel dan tampaknya demikian juga pada Yesaya]. Seberapa terang Surga tanpa Matahari dan Bulan tersebut?

    Terang bulan purnama akan seperti terang matahari terik dan terang matahari terik akan 7x ganda, yaitu seperti terangnya 7 hari [Yesaya 30.26]

Ini artinya, terangnya 49 lipat radiasi matahari yang diterima bumi saat ini + terangnya bulan seperti teriknya matahari saat ini, jadi total 50 x radiasi matahari yang diterima bumi saat ini.

    Dengan metoda kekuatan radiasi Stefan-Boltzmann, yaitu hubungan antara suhu benda dengan radiasi yang diterima: [H/E]4 = 50, E = suhu absolut Bumi = 300°K (273 + 27) atau 0°C + range maksimum suhu permukaan bumi dengan 4 musim di katulistiwa (18°C – 27°C), maka suhu absolut Surga = 798°K atau 977°F atau 525°C. Karena surga ini berbentuk kubus tertutup, ini akan mengisolir radiasi panas bocor dan makin memanaskan.

Suhu ini jauh lebih panas dari bumi saat ini!

Bagaimana dengan suhu neraka dan lokasinya?
Kitab wahyu mengatakan, “..di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang..” dan lokasi neraka tersebut ada di permukaan bumi yang merujuk pada peristiwa setelah kebangkitan pertama, yaitu iblis dilepaskan dari penjaranya, menyesatkan 4 penjuru beserta para tentaranya (para orang mati di alam kubur dalam bumi) yang naik ke seluruh permukaan bumi, kemudian dari langit turunlah api menghanguskan mereka, dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya [Wahyu 20.5-10. Ini kembangan lanjutan dari mimpi Daniel, di Dan 12.2, ‘Banyak orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal‘ dan juga, kembangan lanjutan mimpi/penglihatan Yesaya di Yes 34.8-10, ‘Hari pembalasan..Sungai-sungai Edom akan berubah menjadi tér, dan tanahnya menjadi belerang; negerinya akan menjadi tér yang menyala-nyala. Siang dan malam negeri itu tidak akan padam-padam, asapnya naik untuk selama-lamanya‘].

Sehingga, neraka dalam kitab Wahyu adalah seluas daratan di bumi = 148.94 x 106 KM2 (29.2% Bumi) dan berada dalam tekanan atmospir ruang terbuka. Suhu neraka adalah sepanas suhu elemen sulfur yang mendidih cair di 832 ºF atau 444.6°C

Ini berarti, suhu Surga 80°C atau 145ºF LEBIH PANAS dari suhu Neraka. Dengan selisih suhu yang sebesar ini, bisa jadi, para penghuni SURGA Yerusalem baru malah akan banyak yang memilih “ngadem” bareng para pendosa di danau hukuman, di neraka.

Jadi, jelas sudah bahwa Alkitab kej 1:1-31, hanya kisah pertikaian para Dewa daripada kisah penciptaan semesta dengan ledakan yang luarbiasa. Ini sama sekali tidak ada relevansinya dengan hipotesis Big Bang.

[Kembali ke artikel “bumi itu datar versi alkitab”]

***

Di Al Qur’an terciptanya Langit dan bumi dilakukan dengan frase kata ‘jadilah..

[note:
innamaa qawlunaa lisyay-in idzaa aradnaahu an naquula lahu kun fayakuunu
[16:40] Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “kun (jadilah)”, maka jadilah ia]

Frase kata yang sama yaitu ‘jadilah, maka jadilah ia’ atau ‘kun fayakoonu’ merupakan frase ke-MahaKuasa-an, Itu tercantum pada 8 ayat [Al Baqarah 2:117, Ali Imran 3: 47, Ali Imran 3: 59, Al Anaam 6: 73, An Nahl 16: 40, Maryam 19: 35 Yasin 36: 82, dan Al Ghafir 40: 68] Yaitu saat penciptaan langit dan Bumi, Penciptaan Adam & Isa, serta penciptaan lainnya yang dikehendaki Allah:

    [2:117] Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.
    [3: 59] Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.
    [36: 82] Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.

Apakah frase kata ‘jadilah, maka jadilah ia’ atau ‘kun fayakoonu’ merupakan Big Bang?

Qur’an ayat 51: 47 menyatakan bahwa “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa”.

Beberapa orang menterjemahkan kata ‘kami benar-benar berkuasa menjadi ‘kami meluaskannya’. Tafsiran ‘kami meluaskan’ dikemukakan oleh Harun Yahya yang muncul hanya baru-baru ini saja, yaitu ketika hipotesis BigBang dan alam semesta yang terus mengembang sedang populer-pupulernya. Namun berdasarkan 3 ayat di atas tentang ‘jadilah!’ maka samasekali tidak menunjukan kecocokan apapun dengan hipotesis Big Bang maupun Alam semesta yang terus mengembang.

Detail penciptaan Langit dan Bumi menurut Al Qur’an terdapat di surat [7:54, 10:3, 11:7, 21:30, 25:59, 32:4, 57:4, 41:9-12 dan 79:27-33].

Surat Al Anbiyaa’ 21:30, menunjukan keadaan Bumi dan langit saat yang awal mula:

    Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya (“سِتَّةِ”, anna) langit-langit (“السَّمَاوَاتِ”, al-samāwāti) dan bumi (“وَالْأَرْضَ”, wal-arḍa) dahulu adalah (“كَانَتَا”, kānatā) suatu yang padu (“رَتْقًا”, ratqan), kemudian (Kami) pisahkan keduanya (“فَفَتَقْنَاهُم”, fafataqnāhumā). Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

      Note:
      Perhatikan dengan baik ayat ini, TIDAK ADA dinyatakan bahwa Allah SWT menciptakan langit dan bumi yang padu itu di sana, malah jelas termaktub bahwa langit bumi itu DITEMUKAN Allah sudah dalam keadaan berpadu. Sama sekali tidak ada penggunaan kata “kami ciptakan” untuk situasi langit-bumi yang padu ini di manapun di Quran!

    Tafsir Ibn Kathir atas ayat 21:30:

      …Tidakah mereka mengetahui bahwa Langit dan bumi dulunya bersatupadu yakni pada awalnya mereka satu kesatuan, terikat satu sama lain. Bertumpuk satu diatas yang lainnya, kemudian Allah memisahkan mereka satu sama lain dan menjadikannya Langit itu tujuh dan Bumi itu tujuh, meletakan udara diantara bumi dan langit yang terendah..

      Said bin Jubayr mengatakan ‘langit dan Bumi dulunya jadi satu sama lain, Kemudian Langit dinaikkan dan bumi menjadi terpisah darinya dan pemisahan ini disebut Allah di Al Qur’an’

      Al hasan dan Qatadah mengatakan,’Mereka Dulunya bersatu padu, kemudian dipisahkan dengan udara ini’

    Darimana datangnya bumi langit yang padu itu? Siapa yang menciptakannya? Tampaknya bahkan Allahpun tidak tahu tentang ini, karena Dirinya pun berada di suatu ruang yang telah ada sebelum Ia ada:

      Abdan – Abu Hamzah – Al A’masy – Jami’ bin Syidad – Shafwan bin Muhriz – ‘Imran bin Hushain:
      …Nabi menjawab: ‘Allah telah ada dan tidak ada sesuatu pun terjadi sebelum-Nya, arsy-Nya berada di atas air, kemudian Allah mencipta langit dan bumi dan Allah menetapkan segala sesuatu dalam alquran’. [Bukhari no. 6868, 2953. Ibn Majah no.178 (Riwayat Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Muhammad bin Ash Shabbah – Yazid bin Harun – Hammad bin Salamah – Ya’la bin ‘Atho` – Waki’ bin Hudus – pamannya Abu Razin ia berkata; Aku bertanya; “Wahai Rasulullah, di manakah Rabb kita sebelum menciptakan makhluk-Nya?” beliau menjawab: “Dia berada di ruang kosong, di bawah dan di atasnya tidak ada udara, dan di sana tidak ada makhluk. Setelah itu Ia menciptakan ‘Arsy-Nya di atas air”). Tirmidhi no.3034 (“Wahai Rasulullah dimanakah Allah sebelum Dia menciptakan makhlukNya? beliau menjawab: “Dia berada di awan yang tinggi, di atas dan di bawahnya tidak ada udara dan Dia menciptakan ‘arsyNya di atas air.” Abu Isa mengatakan ini Hadis Hasan). Ahmad no.15599, 15611].

    Tampaknya persoalan ini telah lama diketahui bahkan sampai ditanyakan oleh para orang badui:

      Riwayat Harun bin Ma’ruf – Sufyan – Hisyam – Bapaknya – Abu Hurairah – Rasulullah SAW:
      “Manusia akan selalu bertanya-tanya hingga dikatakan, ‘Ini makhluk yang Allah telah menciptakannya, lalu siapakan yang menciptakan Allah? ‘ Maka siapa saja yang mengalami hal semacam itu, hendaklah ia mengatakan ‘aku beriman kepada Allah’.”

      [Abu Dawud no.4098, Muslim no. 193 (Riwayat Abdullah bin ar-Rumi – an-Nadlar bin Muhammad – Ikrimah (Ibnu Ammar) – Yahya – Abu Salamah – Abu Hurairah – Rasulullah SAW: ..”Wahai Abu Hurairah, mereka akan senantiasa bertanya kepadamu hingga mereka berkata, ‘Ini Allah, lalu siapa yang menciptakan Allah‘.” Abu Hurairah: “Ketika aku berada di masjid, tiba-tiba orang-orang dari kaum Baduwi mendantangiku, ‘Wahai Abu Hurairah, ini Allah, lalu siapakah yang menciptakan Allah‘. Perawi berkata, ‘Kemudian Abu Hurairah mengambil kerikil dengan telapan tangannya, lalu melempar mereka sambil berkata, ‘Berdirilah, berdirilah, sungguh benar kekasihku'”) Juga di Muslim 190, 192, Muslim no.195 dari riwayat Anas. Di Ahmad no.8666 (orang yg bertanya bukan orang Badui tapi orang Irak). Ahmad no. 20864 (dari riwayat Khuzaimah bin Tsabit) yang bertanya bukan orang tapi setan (juga di riwayat Abu Huraira dan Aisyah)]

    Pertanyaan menarik yang bahkan Nabi besar SAW pun tidak mendapatkan jawabannya dari Jibril dan Allah.

Tampaknya ini juga perbedaan signifikan antara Yahudi/Kristen VS ISLAM, yaitu posisi awal Allah sebelum penciptaan.

  • Yahudi/Nasrani: Allah berada dihadapan air yang ketika dipisahkan ada daratan. Jadi Allah ada bersamaan dengan: Ruang kosong di atas air, Air, Daratan dan Kegelapan.
  • Islam: Allah berada di ruang kosong yang seperti ada awannya dan ada bersamaan dengan bumi-langit yang ditemukannya dalam keadaan berpadu.

Padahal ke-3nya, mengklaim mempunyai Allah yang sama dan Nabinya turun dari Allah yang sama.

Surat AR RA’D (GURUH)13:2,

    Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.

    Tafsir Ibn kathir untuk ayat [13:2],

    • Allah, mengangkat para langit tanpa pilar & mengangkat para langit tinggi jauh diatas Bumi
    • berkenaan dengan kalimat (menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan) adalah seperti yang Allah maksudkan di surat 36:38 (dan matahari berjalan di tempat peredarannya) [Ada dua pendapat dan keduanya menyatakan Matahari dan bulan yang bergerak terus menerus]. ‘arsy adalah atap dari ciptaan dan tidak berbentuk BULATAN seperti banyak di klaim oleh astronomer. Lebih seperti KUBAH yang di topang oleh pilar. Ditandu oleh para malaikat dan di atas dunia, di atas kepala-kepala orang. Menurut Nabi sebagaimana diriwayatkan Abu Dharr:
      Ketika senja [magrib], Nabi bertanya padaku, “Apakah kau tau kemana Matahari itu pergi (saat Magrib)?! Aku jawab, “Allah dan rasulnya yang lebih tau.” Ia jawab, “Ia berjalan hingga berhenti pada tempatnya di bawah Arsy lalu menyungkur sujud dan mohon ijin untuk terbit kembali, dan diijinkan dan kemudian (waktunya akan tiba) dia minta agar terus saja bersujud namun tidak diperkenankan dan minta izin namun tidak diizinkan dan dikatakan kepadanya: “Kembalilah ke tempat asal kamu datang” dan ia akan terbit dari tempatnya terbenamnya tadi (barat). Itulah penafsiran dari sabda Allah “dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (AQ 36:38) [Bukhari: no.2960/4.54.421, no.4428/6.60.327, no.6874/9.93.520 dan no.6881/9.93.528. Juga Muslim: no.228/1.297]
    • ‘Ada pilar namun tidak dapat kamu lihat’ menurut Ibn `Abbas, Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, dan beberapa lainnya.
    • Iyas bin Mu`awiyah, “Langit itu seperti kubah di atas bumi’, artinya tanpa tiang. Serupa seperti Qatadah katakan
    • Ibn Kathir menyatakan bahwa pendapat terakhir [Iyas bin Mu’awiyah] adalah lebih baik mengingat Allah juga menyatakan di ayat lainnya [22:65] yaitu ‘Dia menahan langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya?’
    • Penjelasan langit berbentuk kubah dan daratan datar ada di Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs untuk surat 65:12, yang mengatakan (Allah-lah yang menciptakan tujuh langit) satu di atas yang lainnya seperti KUBAH, (dan seperti itu pula bumi) tujuh bumi tapi mereka DATAR.

Penjelasan-penjelasan di atas, memberikan kita informasi bahwa menurut tradisi Islam, Bumi diciptakan terlebih dahulu, Langit dinaikkan, langit sebagai atap yang berbentuk Kubah dan allah menahannya agar tidak jatuh ke BUMI serta dibentangkannya BUMI.

Surat Fushshilat 41: 9-12, menyajikan urutan pengerjaan Bagaimana penciptaan yang dilakukan Allah:

  • Pertama, (41:9) Bumi di ciptakan dalam 2 masa
  • Kedua, (41:10) Segala isi BUMI di ciptakan total dalam 4 masa
  • Ketiga, (41:11) Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.”
  • Ayat-ayat di atas jelas merujuk bahwa kedudukan BUMI dan LANGIT adalah SEDERAJAT, yaitu BUMI yang BUKAN merupakan anggauta LANGIT. Dimana, Bumi diciptakan terlebih dahulu, baru kemudian ALLAH menyelesaikan Langit yang dibuktikan pada ayat selanjutnya

  • Keempat, (41:12) Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan pelita-pelita cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
  • TAFSIR Ibn Kathir untuk surat 41:9-11 (atau “Tafsir ibn katsir”, penyusun Dr Abdullah bin Muhammad bin abdurahman bin Ishaq al-shikh, 1994, Juz 24, buku ke-7, hal 198-200), menyampaikan bahwa:

      “DIA (Allah) menyebutkan bahwa PERTAMA KALI DIA menciptakan BUMI, jarena bumi sebagai asas (PONDASI). Persoalan pokok selalu dimulai dengan asas, baru kemudian atap…Adapun diciptakannya Bumi adalah SEBELUM diciptakan Matahari menurut NASH…”

      Ibn Kathir menyampakan dari Al Bukhari, “Dia menciptakan Bumi dalam Dua hari, artinya pada MINGGU dan SENIN
      Yang manusia butuhkan dan tempat tempat untuk bercocoktanam dan diolah pada SELASA dan RABU

      `Ikrimah dan Mujahid menyatakan tentang firman Allah,”dan DIA menentukan padaya kadar makanan-makanan”, yaitu DIA JADIKAN pada setiap bagian tanah (tempat) sesuatu yang tidak cocok untuk yang lain. Contohnya pakaian dari wool di Yaman, pakaian Sauri (tipis di Sabur dan pakaia Thyalisa (berasal dari sutera) di Ray.

      Ibn `Abbas, Qatadah dan As-Suddi menyatakan, “untuk siapapun yang bertanya tentang itu

      Firman Allah “Kemudian dia menuju langit, dan langit itu masih merupakan Asap” YAITU ASAP AIR YANG MENGEPUL KETIKA BUMI DI CIPTAKAN.

      Ats-Tsauri – Ibnu Juraij – Sulaiman bin Musa – Mujahid – Ibn Abbas: Allah berfirman kepada langit, “Munculkanlah matahariku, bulan dan bintang-bintang ku”. Allah berfirman pada Bumi, “Pancarkanlah sungai-sungaimu dan keluarkanlah buah-buahanmu”

      Firman Allah “Maka dia menjadikannya 7 langit dalam 2 hari”. Yaitu dia meyelesaikan kejadian 7 lapis langit pada hari KAMIS dan JUM’AT

      Firman Allah, “dan Kami hiasi langit terdekat dengan bintang-bintang yang cemerlang” yakni bintang-bintang yang bersinar terang diatas penghuni bumi. Firman Allah “Dan Kami memeliharanya” artinya menghalangi syaitan-syaitan dari mendengarkan berita]

Berkenaan dengan penciptaan pelita-pelita (AQ 41.12, “mashaabiiha” = pelita), Qur’an memberikan konfirmasi bahwa bintang-bintang diciptakan sebagai hiasan langit, misil pelempar setan yang mencuri dengar dan untuk keperluan navigasi

    Demi langit [wa+al-samaa-i] dan [wa] YANG BERJALAN [al-ṭāriqi]. [wamā (Dan apa) + adrāka (memberitahukanmu) = dan tahukah kamu] apa [mā] YANG BERJALAN [al-ṭāriqu]? BINTANG [al-najmu] yang cemerlang (al-thāqibu) [AQ 86.2-3, Al Makiyya, turun urutan ke-36. kata “ṭāriqi/u” juga ada di (AQ 4.168,169; 20.63,77,104; 23.17, 46.30, 72.11,16) artinya berjalan/jalan]

    dan kami [wa-annā] menyentuh [lamasnā] langit [al-samāa], kemudian kami dapati [fawajadnāhā] penuh [muli-at] penjagaan [ḥarasan] keras [shadīdan] dan PANAH-PANAH API [syuhubaan], dan kami [wa-annā] pernah [kunna] menduduki [naqʿudu] dari itu [minha] tempat [maqāʿida] untuk mendengarkan [lilssamʿi] kemudian siapa [faman] yang mendengarkan [yastamiʿi] sekarang [l-āna] akan didapati [yajid] baginya [lahu] PANAH API [syihaaban] yang mengintai [AQ 72.8-9, Al Makiyya, turun di urutan ke-40. kata “syuhubaan/Syihaabun juga ada di (AQ 15.18, 27.7, 37.10) artinya panah api]

    Dan pastinya [walaqad] Kami jadikan [jaʿalnā] di [fī] langit [al-samāi] HIASAN-HIASAN [burūjan] dan Kami hiasi [wazayyannāhā] untuk mereka yang memandangnya [lilnnāẓirīna] dan Kami menjaganya [waḥafiẓ’nāhā] dari [min] tiap [kulli] syaitan [shayṭānin] terkutuk [rajīmin], kecuali [illā] Ia [mani] mencuri [is’taraqa] dengar [al-samʿa] maka Ia dikejar [fa-atbaʿahu] PANAH API [syihaabun] yang terang [mubīnun]. [AQ 15.16-18. Al Makiyya, turun urutan ke-54. Kata “burūjan” juga ada di (AQ 4.78, 25.61, 85.1, 33.33, 24.60) artinya benteng/benda-benda langit/hiasan]

      Tafsir Ibn kathir AQ 15.16-18: Mujahid dan Qatadah berkata bahwa Buruj merujuk pada benda-benda langit…`Atiyah Al-`Awfi berkata: “Buruj disini merujuk pada ‘benteng penjaga’. Ia dibuat jadi ‘Bintang jatuh’ untuk melindungi dari Iblis yang mencoba mendengarkan informasi dari langit tertinggi. Jika ada syaitan yang menerobos untuk mencuri dengar, sebuah ‘bintang jatuh’ datang dan menghancurkannya. Ia mungkin lolos dan menyampaikannya pada Syaitan lainnya di bawah[..]”

      Di AQ 25.61, “BerkatNya [tabāraka] yang [alladhī] menjadikan [jaʿala] di [fī] langit [al-samai] hiasan-hiasan [burūjan] dan menjadikan [wajaʿala] di situ [fīhā] sebuah lampu [sirājan] dan bulan [waqamaran] bercahaya [munīran].”.

      “sirajan” adalah matahari:
      “dan menjadikan [waja’ala] padanya [fiihinna] bulan [al-qamara] bercahaya [nūran] dan menjadikan Matahari [al-shamsa] lampu [siraajaan] [AQ 71.16]” + “dan menjadikannya [waja’alna] LAMPU [sirajan] yang amat terang/terik [wahhaajaan] [AQ 78.13]”.

      Di Islam, Bulan dan Matahari, keduanya memancarkan cahaya:
      “Ia-lah (huwa) yang [alladhī] menjadikan [ja’ala] Matahari [al-shamsa] bersinar [ḍiyāan] dan bulan [waqamaran] bercahaya [nūran] [AQ 10.5]”.

      Kata “munir”, “nuur”, “naar” berasal dari akar kata yang sama “nūn wāw rā (ن و ر)” artinya adalah memancarkan cahaya sendiri BUKAN memantulkan cahaya, Untuk jelasnya simak AQ 24.35: “Allah cahaya [nūru] langit dan bumi. Perumpamaan [mathalu] cahayaNya [nūrihi], seperti celah [kamish’katin], di dalamnya [fīhā] ada pelita [miṣ’bāḥun]. Pelita itu [al-miṣ’bāḥu] di [fī] kaca [al-zujājatu] itu seperti [ka-annahā] sebuah bintang [kawkabun] berkilauan [durriyyun], dinyalakan [yūqadu] dari [min] pohon [shajaratin] berkah [mubārakatin], pohon zaitun [zaytūnatin] tidak [lā] di timur [sharqiyyatin] dan tidak [walā] di barat [gharbiyyatin], yang hampir [yakādu] minyaknya [zaytuhā] menerangi [yuḍīu] walau [walaw] tidak [lam] disentuh [tamsashu] api [nārun]. Cahaya [nūrun] di atas [ʿalā] cahaya [nūrin]”

    Sesungguhnya [innā] Kami hiasi [zayyannā] langit [Al-samāa] terdekat/dunia [al-dunyaa] dengan hiasan [bizīnatin] BINTANG-BINTANG [al-kawākibi]. dan menjaganya dari tiap syaitan durhaka [māridin]. Tidak [lā] mereka dapat dengarkan [yassammaʿūna] malaikat [Al-mala-i] yang tinggi [al-a’laa] dan mereka dilempari [wayuq’dhafūna] dari [min] tiap [kulli] sisi [jānibin] terusir [duḥūran] dan bagi mereka [walahum] siksaan [adhābun] terus menerus [wāṣibun], kecuali [illā] Ia [man] mencuri [al-khaṭfata] maka Ia dikejar [fa-atbaʿahu] PANAH API [syihaabun] yang cemerlang (thāqibu). [AQ.37.6-10. Al makiyya, turun di urutan ke-56. Kata “al-kawākibi” juga ada di (AQ 6.76, 12.4, 24.35, 82.2) artinya bintang-bintang]

    Dan pastinya Kami hiasi langit terdekat dengan PELITA-PELITA [mashaabiiha], dan menjadikan mereka [wajaʿalnāhā] rudal/perajam [rujūman] untuk syaitan-syaitan [lilsysyayaathiini],..[AQ 67.5. Al makiyya, turun di urutan ke-77. Kata “mashaabiiha” juga ada di (AQ 41.12, 24.35) artinya pelita]

      AQ 24.35 di atas, menunjukan persamaan pelita dan bintang. Tafsir Ibn kathir 67.1-5: Qatadah berkata: “Bintang-bintang (Ạlnjwm,”النجوم”) diciptakan hanya untuk tiga kegunaan, yaitu: Hiasan di langit, Alat pelempar setan dan petunjuk Navigasi, Jadi siapapun yang mencari interpretasi lain tentang bintang selain ini maka itu jelas merupakan opini pribadi, Ia telah melebihi porsinya dan membebani dirinya dengan hal-hal yang ia sendiri tidak punya pengetahuan tentang ini.” [Ibn Jarir dan Ibn Hatim mencatat riwayat ini]

      note:
      Qatada sfesifik menyatakan Al njwm (bintang-bintang) bukan An-Nayzak (metoroid, “النَيزَك”) dan bukan Al-Mudzannab (komet, “المذنب”)

    Memperhatikan Quran vs Tafsirnya, maka ini tidaklah merujuk pada meteor dan jelas merujuk pada bintang.

    Tampak jelas para pemikir islam, allah dan Muhammad memang tidak berpengetahuan apapun tentang semesta dan bahkan tidak mempunyai kemampuan dalam membedakan antara bintang, matahari, planet, bulan, asteroid, komet, metoroid, meteor dan meteorit:

    • Bintang adalah Semua benda masif yang sedang dan pernah melakukan pembangkitan energi melalui reaksi fusi nuklir. Bintang yang tidak lagi melakukan pembakitan energi disebut bintang katai, panas bintang ini berangsur-angsur padam dan inipun masih luar biasa panas. Bintang katai terdingin (merah) bersuhu permukaan 2000 – 3500 K (matahari: 5000-6000 K).

      Bintang katai terdiri dari: Katai merah (massa rendah); Katai kuning (massa sebanding dengan Matahari); Katai putih (tahap akhir siklus hidup bintang, ia terdiri dari materi elektron terdegenerasi, tidak cukup masif untuk menjadi supernova tipe II-bintang-bintang (memiliki 0,5-10 massa matahari, diameter hampir sama dengan bumi atau sekitar 100 x lebih kecil dari matahari. Suhu permukaannya: 8.000 K); Katai coklat (kurang masif untuk melangsungkan fusi hidrogen menjadi helium – massa < 0,08 massa Matahari) dan Katai gelap (katai putih yang terdinginkan, tidak lagi memancarkan cahaya dalam panjang gelombang tampak). Lama waktu Bintang-bintang kehilangan panasnya secara perlahan seumuran dengan usia semesta

    • Bintang Antares vs Bintang acturus: Bola kaki vs kelereng kecil. Matahari seukuran 1 pixel.
    • Bintang Acturus vs Bintang Matahari: Bola kaki vs kelereng kecil. Yupiter seukuran 1 pixel.
    • Bintang Matahari vs Planet Yupiter: Bola kaki vs kelereng kecil.
    • Planet Yupiter vs Planet bumi: Bola kaki vs kelereng kecil.
    • Matahari adalah bintang dengan jarak terdekat dari bumi. Ia menghasilkan cahaya. Massa matahari kurang lebih 99,86% massa total Tata Surya. Matahari bermassa 333.000 x massa bumi dan bervolume 1.3 juta x volume Bumi.
    • Planet adalah benda angkasa yang mengorbiti sebuah bintang (atau sisa bintang), mempunyai massa yang cukup untuk memiliki gravitasi sendiri dalam mengatasi tekanan rigid body sehingga punya kesetimbangan hidrostatik (berbentuk hampir bulat), tidak terlalu besar yang dapat menyebabkan fusi termonuklir terhadap deuterium intinya dan telah “membersihkan lingkungan” (mengosongkan orbit) dari benda-benda angkasa lain selain satelitnya sendiri. Berdiameter > 800 km
    • Satelit planet adalah benda angkasa bukan buatan manusia yang mengorbiti planet.
    • Asteroid adalah benda angkasa berukuran lebih kecil daripada planet namun lebih besar daripada meteoroid, Asteroid terdiri dari karbon dan metal dan mengorbit matahari.
    • Komet terdiri dari debu dan es yang berasal dari sabuk Kuiper Belt (kabut Oort), mengorbit matahari dengan jarak orbit berbentuk elips dan lebih jauh dari asteroid. Ketika orbitnya mendekati matahari, radiasi matahari menguapkan es disekitarnya dan jejak uap tersebut membuatnya tampak berekor
    • Meteoroid adalah pecahan asteroid (atau benda angkasa lainnya, namun rata-rata berasal dari pecahan asteroid yang saling bertubrukan) ukurannya lebih kecil dari asteroid dan lebih besar dari molekul.
    • Meteor adalah meteorid yang berhasil masuk ke atmospher bumi dengan kecepatan supersonik. Atmospher terdiri dari fluida (gas dan cairan) kecepatan tersebut menimbulkan tekanan yang sangat besar yang terjadi di depan metor. Tekanan ini memanaskan udara dan itu kemudian memanaskan meteor hingga menjadi terbakar. Inilah yang kemudian disebut bintang jatuh.
    • Meteor yang tidak habis terbakar dan jatuh ke bumi disebut Meteorit

Surat An Naazi’ aat 79:27-33, menyajikan urutan pengerjaan penciptaan yang dilakukan Allah!

    Allah menyatakan bahwa penciptaan Manusia itu jauh lebih mudah daripada penciptaan Langit. Ia meninggikan Bangunannya lalu menyempurnakannya (79:28). Kemudian ia Menciptakan siang dan malam. Kemudian bumi dihamparkannya (diisi) Caranya: memancarkan Air dan menumbuhkan tumbuhan, gunung-gunung dipancangkan teguh (79:31-32). Untuk apa? Untuk kesenangan Manusia dan binatang ternak milik manusia (79:33)

    Tafsir Ibn Kathir untuk surat 79:27-33:

      Telah disinggung sebelumnya di surat Ha Mim As-Sajdah bahwa bumi tercipta sebelum langit diciptakan. Kemudian, setelah langit tercipta, bumi di luaskan [dibentuk/di isi].

    Di Tafsir Ibn Kathir untuk surat 41:9-12, terdapat satu riwayat menarik mengenai kebingungan seseorang akan hubungan surat [41:9-12] dan surat [79:27-33] yaitu mana yang diciptakan terlebih dahulu: BUMI atau LANGIT

      Sa’id Bin Jubayr berkata, ‘Seseorang berkata pada Ibn ‘Abbas: Saya menemukan di Qur’an yang membingungkan ku:…Allah berkata (79:27-33):

        Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya, Dia menciptakannya, meninggikannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang.

        Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.

      Jadi Dia menyatakan bahwa Penciptaan Langit dahulu baru kemudian penciptaan Bumi, Namun kemudian Allah berkata (41:9-12):

        Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? demikian itu adalah Rabb semesta alam”. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanannya dalam empat masa. bagi orang-orang yang bertanya.

        Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan pelita-pelita yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

      Di sini Allah menyatakan Penciptaan BUMI dahulu baru kemudian Penciptaan Langit..

      Kemudian Ibn ‘Abbas menjawab:..

      • Allah menciptakan Bumi dalam dua hari (masa),
      • kemudian Dia menciptakan Langit, kemudian Dia (Istawa ila) meninggikan langit dan membentuknya dalam dua hari lagi.
      • Kemudian Dia membentangkan Bumi, ini berarti bahwa Dia membawa, sejak saat itu, air dan makanan. Dan kemudian Dia menciptakan Gunung-gunung, Pasir, benda-benta tak bernyawa, batu-batu dan bukit-bukit dan semuanya dalam waktu dua hari lagi.

      Inilah yang Allah katakan (Ia) menghamparkan (Bumi) (79:30) Dan Allah berkata :Ia ciptakan bumi dalam dua hari, jadi Dia menciptakan Bumi dan segala Isi didalamnya dalam empat hari dan Dia menciptakan Langit dalam dua Hari.

      Ibn Kathir, kemudian mengutip Bukhari:

      • Dia menciptakan Bumi dalam Dua hari, artinya pada Minggu dan Senin
      • [Dia menentukan padanya kadar makanan-makanannya] yang manusia butuhkan dan tempat tempat untuk bercocoktanam dan memanennya pada Selasa dan Rabu
      • Ats-Tsauri – Ibnu Juraij – Sulaiman bin Musa – Mujahid – Ibn Abbas: Allah berfirman kepada langit, “Munculkanlah matahariku, bulan dan bintang-bintang ku”. Allah berfirman pada Bumi, “Pancarkanlah sungai-sungaimu dan keluarkanlah buah-buahanmu” [Lubaabut Tafsir Min Ibni Katsir, Jan 2004, juz 24 hal 199-200]. Kemudian Dia meninggikan (Istawa ila) langit dan dan langit itu masih merupakan asap..melengkapi dan menyelesaikan ciptaannya seperti 7 langit dalam dua hari, artinya Kamis dan Jumat. [Kami hiasi langit terdekat dengan bintang-bintang yang cemerlang. “Dan Kami memeliharanya” artinya menghalangi syaitan-syaitan dari mendengarkan berita]

Surat Al Raaf 7:54,
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, [..]

Frase arab “سِتَّةِ” (sittati, enam) + ayyāmin (“أَيَّامٍ”) tercantum di (AQ 7.54, 10.3, 11.7, 25.59, 32.4, 50.38 dan 57:4), KELIRU jika diterjemahkan paksa menjadi “enam masa”, karena harusnya terjemahannya adalah “enam hari”:

  • “Sesungguhnya sehari (yawman) disisi Tuhanmu adalah seperti 1000 tahun menurut perhitunganmu” [AQ 22.47] dan “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian itu naik kepadaNya dalam satu hari (yawmin) yang kadarnya adalah 1000 tahun menurut perhitunganmu”[AQ 32.5]
      Note:
      Mengapa tidak menggunakan penyetaraan hari dengan AQ 70.4 (“Para malaikat dan Al Ruh (Jibril) naik ke Tuhan dalam 1 hari yang kadarnya 50.000 tahun”)? Karena ayat itu tentang penyetaraan LAMA WAKTU PERJALANAN dari tempat A ke tempat B akibat PERBEDAAN KECEPATAN, jika dilakukan Jibril VS jika dilakukan manusia di jaman Nabi (jalan kaki/kuda/onta). Perbandingannya jika di jaman sekarang, lama waktu yang dibutuhkan dari A ke B, dengan pesawat jet adalah 1 jam, namun jika naik bus perlu waktu 24 jam. Sementara 2 ayat (AQ 22.47 dan 32.5) di atas adalah tentang penyetaraan hitungan hari Allah VS hari Manusia baik untuk waktu penciptaan harian maupun hari di alam lain.
  • Hadis dan tafsir:
    • Riwayat [(Humayd – Hakkam – Anbasah) dan (Ibn Waki – Ayahnya – Isra’il)] – Simak – Ikrimah – Ibn abbas: Tuhan menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari – yang mana tiap harinya adalah seperti 1000 tahun menurut perhitunganmu [Tabari Vol.1 Hal 226-227].
    • Riwayat ‘Abdah – Al Husain bin Al Faraj – Abu Mua’dh – Ubayd – Al Dahhak: 1 hari yang kadarnya 1000 tahun menurut perhitunganmu, Ia maksudkan hari-hari selama 6 hari penciptaan langit bumi dan apa yang ada di dalamnya [Tabari Vol.1 hal.227]
    • Al Muthanna – Al Hajjaj – Abu Awanah – Abu Bishr – Mujahid: 1 hari dari 6 hari adalah seperti 1000 tahun menurut perhitunganmu.[Tabari vol.1 hal.227]
    • Riwayat Al Muthanna – Ali (bin Al Haytam) – Al Musayyab bin Sharik – Abu Rawq – Al Dahhak: Ia yang menciptakan Langit dan bumi dalam 6 hari – dari hari-hari di dunia lain. Ukuran 1 hari adalah 1000 tahun. Ia mulai penciptaan di hari Minggu dan keseluruhan ciptaan hari Jumat (Ijtama’a jum’ah) [Tabari vol.1 hal.227]
    • Riwayat Ibn Humayd – Jarir (bin abd al Hamid) – al A’mash – Abu Salih – Ka’b: Allah mulai menciptakan di hari minggu, senin, selasa, rabu dan kamis. Ia Selesaikan di hari jumat. Ia melanjutkan: Tuhan membuat setiap hari setara 1000 tahun [Tabari vol.1 hal.227]
    • Riwayat Ibn Abiyy – Abu Ishak – Ibrahim b. Abdullah Nabt – Anas ibn Malik – Muhammad SAW: Panjang umur Bumi ini adalah 7 hari di hari-hari kehidupan setelah kematian. Allah berkata “sehari di sisi Allahmu adalah setara dengan 1000 tahun dalam perhitunganmu” [Suyuti sehubungan dengan hadis-hadis sahih tentang umur bumi tersisa 7000 tahun]
    • Tafsir Tabari (tentang umur dunia):..Menurut tradisi ini (Hadis riwayat Abu Huraira – Muhammad SAW), jelas bahwa keseluruhan bumi ini adalah 6000 tahun. Karena, jika 1 hari alam lain sama dengan 1000 tahun dan 1 hari adalah 1/6 bumi ini, kesimpulannya total 6 hari alam lain adalah 6000 tahun [Tabari vol.1 hal.183-184 dan luga lihat di sini]
    • Tafsir ibn Abbas Al Sajdah 1.30:
      [32:4] (Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya) dari penciptaan dan keajaiban-keajaiban, (dalam 6 hari) hari-hari dari permulaan penciptaan yang setara dengan 1000 tahun dari tahun-tahun kehidupan di dunia ini.; hari ke-1 adalah minggu dan hari terakhir adalah Jumat.

Dalam tafsir Ibn kathir untuk surat AQ 7:54:

    Allah menyatakan bahwa Ia menciptakan semesta, Langit dan Bumi dan semua yang ada didalamnya dalam 6 hari. Enam hari yang dimaksud adalah Minggu, Senin, Selasa, rabu, kamis dan Jumat. Di hari Jum’at semua ciptaan telah di susun, Adam diciptakan. Kata “As-Sabt’ artinya Stop.

    Para ahli tafsir berbeda pendapat apakah setiap hari dari ke-6 hari tersebut sama seperti hari-hari yang ada pada kita sekarang ini ATAU SETIAP HARI ITU SAMA DENGAN 1000 TAHUN sebagaimana yang telah dinashkan oleh MUJAHID dan IMAM AHMAD BIN HANBAL. Dan dalam hal itu diriwayatkan dari riwayat adh-Dhahhak dari Ibn Abbas

    (Jadi, para ahli jaman itupun, telah sepakat bahwa 1 hari = 50.000 BUKAN untuk penyetaraan hari tuhan dengan manusia, namun penyetaraan lama waktu menuju langit antara kecepatan perjalanan JIBRIL vs kecepatan manusia di jaman Muhammad)

    Ibn kathir kemudian mengutip Hadis Muslim no.4997/039.6707 (Ahmad no.7991 Riwayat Hajjaj – Ibnu Juraij – Isma’il bin Umayyah – Ayyub bin Khalid – Abdullah bin Rafi (budak Ummu Salamah) – Abu Hurairah – Rasullullah SAW):

      Riwayat (Suraij bin Yunus dan Harun bin ‘Abdullah) – Hajjaj bin Muhammad al-Musaysi (bukan Hajjaj bin Muhammad Al-A’war) – Ibnu Juraij – Isma’il bin Umayyah – Ayyub bin Khalid – ‘Abdullah bin Rafi’ (-budak- Ummu Salamah) – Abu Hurairah: “Rasulullah SAW memegang tangannya, dan berkata:


      ‘Allah Azza wa Jalla menjadikan tanah pada hari Sabtu, menancapkan gunung pada hari Ahad (minggu), menumbuhkan pohon-pohon pada hari Senin, menjadikan bahan-bahan mineral pada hari Selasa, menjadikan cahaya pada hari Rabu, menebarkan binatang pada hari Kamis, dan menjadikan Adam pada hari Jum’at setelah ashar, yang merupakan penciptaan paling akhir yaitu saat-saat terakhir di hari jum’at antara waktu ashar hingga malam.” [Di sahih muslim 4.1856, 4.1857, Abu dawud 3.1041, 3.1042 diriwayatkan Abu Huraira bahwa Adam diciptakan pada hari Jum’at]

      Catatan untuk hadis 039.6707 (dalam nomor berbeda di kumpulan lain, namun merujuk pada hadis di atas):

      Ibn Taimiyyah, Majmu’ Fatawa (37 vols., ed. `Abd al-Rahman b. Qasim & anaknya Muhammad, Riyadh, 1398), 18:18f. Ibn Taimiyyah menyatakan keautentikan hadis Imam muslim didukung oleh Abu Bakr al-Anbari & Ibn al-Jauzi sedangkan al-Baihaqi mendukung yang mengabaikan hadis ini. Al-Albani mengatakan bahwa Ibn al-Madini mengkritik hadis ini, sementara Ibn Ma’in tidak (Ibn Ma’in dikenal sangat ketat, keduanya adalah shaikh Bukhari). Ia menyatakan lebih lanjut bahwa HADIS INI SAHIH, TIDAK KONTRADIKSI dengan Qur’an, bertentangan dengan pandangan yang mungkin dipunyai ahli lainnya yang mengkritik hadis ini, Karena yang dimaksudkan di qur’an adalah penciptaan langit dan bumi dalam 6 hari, yang setiap harinya seperti 1000 tahun, sementara hadis ini merujuk pada penciptaan bumi saja, yang hari-harinya lebih pendek dari yang dirujuk Qur’an (Silsilah al-Ahadith as-Sahihah no.1833).

      Catatan untuk beberapa nama di atas:

      • Al Baihaqi tidak mengabaikan hadis ini dan menyatakannya sebagai hadith Marfu (sampai rasullullah) di Sunan Al Kubra, hadis no.16267.
      • Konon ada yang mengklaim bahwa Ali bin Al-Madini (w. 234 H) mengeritik hadis ini, berita ini sangat meragukan karena Imam Musiim (204 – 261H) baru melakukan perjalanan ke-2nya di tahun 230 H (4 tahun sebelum wafatnya Madini) dan saat itu Ia belum membukukan kitabnya (Koleksi hadis Imam muslim disusun selama 15 tahunan).
      • Konon ada yang mengklaim Imam Bukhari (w. 256 H) mengritik hadis ini. Pertemuan antara Imam Muslim dan Imam Bukhari terjadi di tahun 250H, setelah Imam Bukhari menetap di Nishapur. Jika benar Imam Bukhari (guru Imam Muslim) protes pada riwayat yang dianggapnya tidak marfu (karena ada ada yang mengklaim bahwa Bukhari mengatakan itu berasal dari Ka’ab Al Ahbar), maka terdapat lebih dari cukup waktu bagi Imam Muslim memperbaikinya, namun tidak dilakukannya, sehingga ini menunjukan 2 hal saja, bahwa tidak benar hadis ini berasal dari Ka’ab Al Habar atau tidak benar Bukhari pernah mengkritik hadis imam Muslim ini. Disamping itu, Imam Muslim juga punya hadis dari perawi Ka’b al Ahbar, sehingga pastinya, Imam muslim juga MAMPU membedakan membedakan mana hadis yang berasal dari Al Ahbar dan mana yang bukan.
      • Untuk Ka’b Al Ahbar, Ulama hadis seperti Muslim, Abu Dawud dan Tirmidhi meriwayatkan darinya. Ibn hajar mengatakan: Ka`b Ibn Mati` al-Himyari, Abu Ishaq, yang dikenal sebagai Ka`b adalah jujur, masuk kategori ke-2 [tabaqah]. [Ibn Hajar al-`Asqalani, Taqrib al-Tahdhib, Op Cit., p. 135].
      • Untuk Hajjaj bin Muhammad Al-A’war, Jika orang ini adalah orang yang sama dengan Hajjaj bin Muhammad Al Musaysi (Fakta nama keluarga mereka berbeda, mengindikasikan bahwa mereka BUKAN orang yang sama), maka pendapat para ulama mengenai Hajjaj bin Muhammad Al A’war adalah juga sangat positif, misalnya: Nasa’i, Ibn Madini, Ibn HIbban dan Tabari menyatakan Hajjaj seorang Tsiqah (jujur), sementara Adz Dzahabi menyatakan Hajjaj seorang Hafiz. Hadis yang berasal dari Hajjaj bin Muhammad juga digunakan oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Tirmidhi, Ibn Majjah, Ad Darimi dan pengumpul lainnya.

      Jadi tidak ada alasan mempermasalahkan hadis penciptaan ini

Berikut ini adalah dari The History of al-Tabari, Volume 1 – General Introduction and from the Creation to the Flood (trans. Franz Rosenthal, State University of New York Press, Albany 1989), pp. 187-193:

    “.. kemudian, demikian juga, Terdapat (juga) sebuah tradisi yang berasal dari Rasullulah yang disampaikan oleh Hannad b Al-Sari, yang juga berkata bahwa ia baca semua hadis (Abu Bakar) -. Abu Bakr b ‘Ayyash -Abu Sa’ad al-Baqqal – ‘Ikrimah – IBN ABBAS

      Para Yahudi datang kepada Nabi dan bertanya tentang penciptaan langit dan bumi. Dia mengatakan:

      Allah menciptakan bumi di hari Minggu dan Senin.
      Dia menciptakan pegunungan dan penggunaannya untuk yang mereka miliki di hari Selasa.
      Di hari Rabu, Dia ciptakan pohon, air, kota-kota dan pembudidayaan tanah tandus.

      Ini adalah empat (hari).

      Ia melanjutkan (mengutip quran): ‘”Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? demikian itu adalah Rabb semesta alam”. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanannya (semua) dalam empat masa. bagi orang-orang yang bertanya.

      Di hari Kamis, Ia ciptakan langit.
      Di hari Jumat, Ia ciptakan bintang-bintang, Matahari, bulan dan malaikat, hingga tersisa 3 jam.

      Di bagian awal dari 3 jam ini, Ia ciptakan kondisi (dari manusia) siapa yang akan hidup dan siapa yang akan mati.
      Di bagian ke-2, Ia jauhkan kerusakan pada setiap yang berguna bagi manusia.
      dan di waktu ke-3, (Ia menciptakan) Adam dan memerintahkannya berdiam di Surga, Ia perintahkan iblis bersujud dihadapan Adam dan ia usir adam dari surga di akhir jam.

      Ketika para yahudi bertanya: Kemudian apa, Muhammad?
      Ia berkata: ‘kemudian Ia duduk di tahtanya.’
      Para Yahudi berkata: Kamu benar, jika kau telah selesai, Mereka berkata dengan: Ia kemudian beristirahat

      Mendengar itu Nabi marah besar dan berkata, ‘Kami ciptakan langit-langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya dalam 6 hari, dan kelelahan tidak menyentuh kami. berhati-hatilah dengan ucapan kalian'”

dan:

    “Menurut al-Muthanna – al-Hajjaj – Hammad – ‘Ata’ b. al-Sa’ib – ‘Ikrimah:

      Para Yahudi bertanya pada Nabi: Bagaimana dengan Minggu? Rasullullah menjawab: Di hari itu, Allah menciptakan bumi dan menyebarkannya.
      Mereka bertanya tentang Senin, dan Ia menjawab: Di hari itu, Ia ciptakan Adam.
      Mereka bertanya tentang Selasa, dan Ia menjawab: Di hari itu, Ia ciptakan pegunungan, air dan banyak lagi.
      Mereka bertanya tentang Rabu, dan Ia menjawab: Makanan.
      Mereka bertanya tentang Kamis, dan Ia menjawab: Ia menciptakan para langit.
      Mereka bertanya tentang Jumat, dan Ia menjawab: Allah menciptakan Malam dan Siang.
      Mereka bertanya tentang sabtu dan menyinggung tentang istirahatnya allah (atas hari itu), ia berseru: Terpujilah Allah! Allah kemudian menyampaikan: Kami ciptakan langit-langit dan bumi dan apa yang ada diantaranya dalam 5 hari dan kelelahan tidak menyentuh kami'”

Komentar dari Tabari:

    “Dua riwayat yang disampaikan pada kami dari Rasullullah telah menjelaskan bahwa Matahari dan bulan diciptakan setelah Allah menciptakan banyak hal pada ciptaannya.

    Itu karena hadis dari Ibn Abbas yang bersandar pada Rasullullah mengindikasikan bahwa Allah menciptakan Matahari dan Bulan pada hari JUMAT.

    Jika demikian, bumi dan langit dan apa yang ada didalamnya, kecuali para malaikat dan Adam, diciptakan Allah sebelum menciptakan Matahari dan bulan.

    Semua ini (demikian) terjadi ketika tidak ada cahaya dan tidak ada hari, karena malam dan siang hanyalah benda merujuk jam-jam yang dikenal melalui pergerakan lintasan melingkar matahari dan bulan.

    Sekarang, Jika ini benar bahwa bumi dan matahari dan apa yang ada di dalamnya, kecuali yang telah kami sebutkan, terjadi ketika tidak ada matahari dan bulan, kesimpulannya adalah semua terjadi ketika tidak ada malam ataupun siang.

    Hal yang sama (hasil tersimpul dari) mengikuti hadis dari Abu Hurayrah yang bersandar dari rasullullah:

    Allah menciptakan cahaya pada hari Rabu – arti dari ‘cahaya’ matahari, jika Allah berkehendak.”

Laporan-laporan mengenai penciptaan langit dan bumi di atas, menyimpulkan bahwa Bumi diciptakan terlebih dahulu baru kemudian langit, yang permulaannya dalam keadaan bertumpuk satu diatas yang lain dan kemudian langit di angkat ke atas, yang semuanya tercipta dalam 6 hari, seperti juga yang dilaporkan Mujahid, Imam Ahmad bin Hanbal, dan dari Ibn Abbas menurut Riwayat Ad-Dahhak’s darinya.

Masih mengenai Surat 41:11

    “Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu..”

Dalam Asbabun Nuzul surat Al Iklas 112:1-4,

    Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

Riwayat Abus Syaikh di dalam kitabul Adhamah dari Aban yang bersumber dari Anas yang meriwayatkan bahwa Yahudi Khaibar menghadap kepada Nabi saw. dan berkata:

    “Hai Abal Qasim! Allah menjadikan malaikat dari cahaya hijab, Adam dari tanah hitam, Iblis dari api yang menjulang, langit dari asap, dan bumi dari buih air. Cobalah terangkan kepada kami tentang Tuhanmu.” Rasulullah saw tidak menjawab, sehingga turunlah Jibril membawa wahyu surat ini (S.112:1-4) yang melukiskan sifat Allah.

Dari hadis di atas, kita ketahui bahwa tidak ada penolakan mengenai asal muasal Langit, Adam, Iblis dan Bumi.

Surat 41, 51, 21 dan 79 termasuk golongan Almakiyah (sebelum Hijrah ke Medinah, 620 M) dan urutan turunnya surat adalah tertera demikian. Ayat 112, ada yang mengganggap sebagai Al Makiyyah, sementara As suyuti menganggap sebagai Al Madaniyya

Penegasan terakhir mengenai penciptaan Bumi dan Langit adalah melalui surat Al Baqarah yang diturunkan Allah di 2 H (624 M). Surat ini termasuk golongan surat Al madaniyya yang turun lebih belakangan dari surat Al Makiyya lainnya yaitu 41, 51, 21 dan surat 79.

Di surat Al Baqarah 2:29,

    Ia yang menjadikan segala sesuatunya untuk mu di Bumi. Kemudian Ia meninggikan (Iswata ila) langit dan dijadikanNya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Setelah semuanya siap, di dilanjutkan dengan penciptaan Adam di Al Baqarah 2:30-36, surat itu memperkuat surat-surat penciptaan manusia yang turun sebelumnya yaitu di 7:10-24, 15:26-33 dan 38:71-84. Disebutkan bahwa Adam diciptakan dari tanah kemudian Allah berkata, ‘Jadilah!’ [3:59]

Pernyataan di surat Al Baqarah 2:29-36 sangat jelas, terstruktur dan ada urutannya! yaitu menciptakan Bumi, kemudian langit plus 7 langit dan terakhir Penciptakan Manusia. Jadi, saat manusia diciptakan maka penciptaan langit sudah final, tidak ada pengembangan langit lagi. Bukti itu ada di ayat 2:31

    Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

Ada juga yang tega-teganya berpendapat bahwa 7 langit adalah 7 lapisan Atmosfir.

Di jaman awal Islam, Mujahid, Qatadah and Ad-Dahhak dalam tafsir Ibn Kathir untuk surat 32:4-6 yang di kutip lagi oleh Ibn kathir untuk tafsir surat 13:2-4, dinyatakan bahwa jarak Bumi dan lapisan langit serta antar lapisan langit adalah 500 tahun [jadi sekitar 3500 tahun] atau berdasarkan hadis nabi dari Abu Dawud no.4100 (4 jalur perawi), Tirmidhi no.3242 (hasan gharib). Ibn Majjah no.189 yang menyatakan:

    “Apakah kalian tahu berapa jarak antara langit dan bumi?” mereka menjawab, “Kami tidak tahu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya jarak antara keduanya adalah bisa 71, atau 72, atau 73 tahun perjalanan -perawi masih ragu-. kemudian langit yang di atasnya juga seperti itu.” Hingga beliau menyebutkan 7 langit. Kemudian setelah langit ke-7 terdapat lautan, jarak antara bawah dan atasnya seperti jarak antara langit dengan langit (yang lain). Kemudian di atasnya terdapat 8 malaikat yang jarak antara telapak kaki dengan lututnya sejauh langit dengan langit yang lainnya. Dan di atas mereka terdapat Arsy, yang antara bagian bawah dengan atasnya sejauh antara langit satu dengan langit yang lainnya. Dan Allah Tabaraka Wa Ta’ala ada di atasnya.”

Jelas sudah bahwa 7 langit BUKAN atmosfir, sesuai dengan bunyi surat di qur’an maka langit yang dimaksudkan adalah ‘surga’:

Surat Al Najm 53:14-15, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal..

Jalaluddin as-Suyuthi (pengarang tafsir Ad-Durr al-Mantsur fi Tafsir bi al-Ma’tsur) menjelaskan berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Wahhab ibnu Munabbih bahwa Allah Swt. menciptakan `arsy dan kursi (kedudukan) dari cahaya-Nya. `Arsy itu melekat pada kursi. Para malaikat berada di tengah-tengah kursi tersebut. `Arsy dikelilingi oleh empat buah sungai, yaitu:

  1. sungai yang berisi cahaya yang berkilauan;
  2. sungai yang bermuatan salju putih berkilauan;
  3. sungai yang penuh dengan air; dan
  4. sungai yang berisi api yang menyala kemerahan.

Para malaikat berdiri di setiap sungai tersebut sambil bertasbih kepada Allah. Hadis yang menyebutkan 7 langit adalah Surga:

  • Bukhari 9.93.608, yang dinarasikan Anas Bin Malik, yaitu saat perjalanan Isra’ Mira’j naik hingga kelangit ke 7 dikatakan oleh Nabi Muhammad bahwa Ia dibawa keliling langit. Pada langit pertama ia bertemu para penghuni Surga dan juga Adam, kemudian ia lihat dua sungai yang disebut sebagai sumber dari sungai Nil dan Eufrat. Ia juga melihat sungai yang lain dan ditepi sungai itu Ia lihat Istana yang dibangun dari Mutiara dan Jamrud..di Surga tingkat ke-2, bertemu para penghuni surga+Idris.. di Tingkat ke-4, bertemu para penghuni surga+Harun..di Tingkat ke-6, Para penghuni surga+Ibrahim..di Tingkat ke-7, para penghuni surga+Musa
  • Bukhari 1.8.345, diriwayatkan Abu Dhar, Muhammad berkata, saat ia mencapai Langit pertama. Ia berjumpa Adam bersama jiwa-jiwa anak cucunya pada sisi kanan dan kiri Adam, dimana yang dikanannya merupakan penghuni Surga dan dikirinya adalah penghuni neraka..Di setia tingkat surga itu ia bertemu, Idris, Musa, Yesus dan Ibrahim..Ia diberikan perintah untuk membawa shalat sebanyak 50 x, kemudian di sarankan Musa untuk naik lagi dan menjadi 25x, ketemu musa, disuruh nawar lagi, balik lagi dan menjadi 12.5x, ketemu musa, disuruh nawar lagi dan terakhir menjadi 5x
  • Bukhari 4.54.429, diriwayatkan Malik Bin Sasaa, Muhammad berkata ia bertemu yesus dan Yahya di langit ke 2, dilangit ke 3 bertemu yusuf, di langit ke 4 bertemu Idris, dilangit ke-5 bertemu Harun, langit ke-6 bertemu Musa, ketika Ia mencapai langit ke 7, Ia bertemu Abraham disana dan melihat Bait-Al-Ma’mur (Rumah Allah) yang didalamnya 70.000 malaikat yang berbeda yang melakukan sholat setiap harinya. Ia lihat pula Sidrat-ul-Muntaha, Buah Nabk, daun seperti telinga gajah, dan EMPAT SUNGAI, dua di Surga [paradise]yang dua tidak terlihat, yang lain adalah: sungai Nil dan Euphrate [Abas Malik meriwayatkan…dan 4 Sungai mengalir, dua terlihat dan dua tidak..yang terlihat adalah Nil dan Euphrates (Bukhari 5.58.227); Abu Huraira meriwayatkan Nabi berkata: Saihan, Jaihan, Euphrates dan Nil adalah nama2 sungai di Firdaus (Muslim 40.6807)]
  • [Kembali kesebelumnya]

Kosmologi Islam: Bumi yang datar ada di atas Ikan Paus

Dahulu, para leluhur kita tidaklah mempunyai kesempatan untuk mengenal lebih dalam lagi mengenai ajaran ini, namun kita sekarang mempunyai kesempatan!. Mari kita kenali lebih dalam lagi ajaran yang menyatakan Bumi berada di atas Punggung Ikan Paus sebagaimana tersirat di Surah 68:1,

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

nuun waalqalami wamaa yasthuruuna
Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,

Di bawah ini adalah kutipan 6 Tafsir yang sangat di hormati di aliran Sunni dan 1 Hadis yang sangat di hormati aliran Syi’ah untuk surat 68:1,

AL-TABARI
Seseorang mungkin berkata: Jika ini seperti yang engkau gambarkan, namakan, bahwa Alah menciptakan Bumi sebelum langit lantas apa arti pernyataan Ibn ‘Abbas yang disampaikan pada kamu semua oleh Wasil b. ‘Abd al-A‘la al-Asadi- Muhammad b. Fudayl- al-A‘mash- Abu Zabyan- Ibn ‘Abbas: “Yang paertama kali Allah ciptakan adalah pulpen.” Allah berkata padanya [pulpen]: “Tuliskan!”, kemudian pulpen bertanya: “Apa yang harus saya tulis, Allahku!” Allah menjawab: “Tuliskan apa yang telah di takdirkan!” Ia kemudian melanjutkan: dan pulpen itu melanjutkan [menulis] apapun yang telah digariskan hingga saat kiamat. Allah kemudian mengangkat uap air dan membagi terpisah para langit dari itu. Kemudian Allah menciptakan IKAN [nun] dan Bumi kemudian dijalarkan/dihamparkan di atas punggungnya [ikan]. Ikan itu menjadi tidak tenang/gelisah yang mengakibatkan bumi menjadi goncang. Yang kemudian dikokohkan dengan gunung-gunung yang menjulang tinggi.

Aku diberitahu hal yang sama oleh Wasil – Waki’ – al-A‘mash – Abu Zabyan – Ibn ‘Abbas.

Menurut Ibn al-Muthanna – Ibn Abi ‘Adi – Shu‘bah – Sulayman (al-A‘mash?) – Abu Zabyan – Ibn ‘Abbas: “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen.” Ia meneruskan [menulis] apapun yang akan terjadi. Allah kemudian mengangkat uap air, dan langit tercipta dari itu. Kemudian Ia menciptakan IKAN, dan bumi dijalarkan/dihamparkan di atas punggungnya [Ikan]. Ikan itu bergerak, yang mengakibatkan bumi jadi bergoncang. Kemudian dikokohkan dengan gunung-gunung yang menjulang tingi. Jadi, Ia katakan dan Ia sampaikan:”Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”

Aku di beritahu hal yang sama oleh Tamim b. al-Muntasir – Ishaq (b. Yusuf) – Sharik (b. ‘Abdallah al-Nakha‘i) – al-A‘mash – Abu Zabyan atau Mujahid – Ibn ‘Abbas, dengan perbedaan, yang Ia katakan: “dan para langit membagi terpisah [sebagai ganti: diciptakan] dari itu”.

Menurut Ibn Bashshar – Yahya – Sufyan – Sulayman (al-A‘mash?) – Abu Zabyan – Ibn ‘Abbas: “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen”. Allah berkata pada nya [pulpen]: Tuliskan!, kemudian pulpen bertanya: Apa yang harus saya tulis, Allahku! Allah menjawab: Tuliskan apa yang telah di takdirkan! Ia kemudian melanjutkan: dan pulpen itu melanjutkan [menulis] apapun yang telah digariskan hingga saat kiamat. Kemudian Allah menciptakan IKAN [nun]. Ia kemudian mengangkat uap air dan membagi terpisah para langit dari itu, dan Bumi kemudian di jalarkan/dihamparkan diatas punggungnya [ikan]. Ikan itu menjadi tidak tenang/gelisah yang mengakibatkan bumi menjadi goncang. Yang kemudian di dikokohkan dengan gunung-gunung yang menjulang tinggi.

Menurut Ibn Humayd – Jarir (b. ‘Abd al-Hamid) – ‘Ata’ b. al-Sa’ib – Abu al-Duha Muslim b. Subayh – Ibn ‘Abbas: “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen”. Allah kemudian berkata padanya: “Tuliskan!”, dan ia tuliskan apapun yang akan terjadi hingga kiamat tiba. Kemudian Allah menciptakan IKAN. Kemudian ia tumpukan Bumi padanya.

Ini dilaporkan sebagai hadis yang disampaikan oleh IBN ‘ABBAS dan yang lainnya dalam maksud mengkomentari dan menjelaskan dan tidak bertentangan dengan yang disampaikan kami darinya untuk masalah ini.

Seharusnya seseorang bertanya: Apa komentar dari yang Ia sampaikan dan orang2 dengar dari apa yg disampaikan pada kami darinya? Ia seharusnya merujuk seperti yang diceritakan kepada ku oleh Musa b. Harun al-Hamdani – ‘Abdallah b. Mas‘ud dan beberapa sahabat NABI (yang berkomentar): “Ia adalah Yang tunggal yang menciptakan semua bagimu yang ada di muka bumi. Kemudian ia tarik/rentangkan para langit dan dijadikan tujuh langit” Arsy Allah ada di Air. Tidak diciptakan apapun kecuali yang ia ciptakan sebelum Air. Ketika Ia ingin mencipta. Ia ambil uap dari Air. Uap itu terangkat ke atas, air berkumpul di atasnya. Ia kemudian menamakan itu “Langit”. Kemudian ia keringkan air, dan membuatnya menjadi 1 bumi. Ia kemudian memisahkannya dan menjadikannya menjadi 7 Bumi pada Minggu dan Senin. Ia ciptakan bumi di atas Ikan [Hut], Itu adalah Ikan (nun) yang disebutkan di Qur’an: “Ikan. Demi Qalam.” Ikan ada di air. Air ada di atas bebatuan [kecil]. Batuan ada di punggung Malaikat. Malaikat ada di atas Bebatuan [Besar]. Bebatuan besar -Satunya disebutkan di Luqman – ada di angin, tidak dilangit atau di bumi. Ikan bergerak dan menjadi gelisah. Sebagai hasilnya, Bumi menjadi berguncang [gempa]. Kemudian ia kokohkan, pasakan gunung2 di atasnya, dan manjadi stabil. Ini dinyatakan pada kalimat Allah Dan telah Kami jadikan di bumi ini “gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama kalian” [The History of Al-Tabari: General Introduction and From the Creation to the Flood, translated by Franz Rosenthal [State University of New York Press (SUNY), Albany, 1989], Volume 1, pp. 218-220]

Menurut Muhammad b. Sahl b. ‘Askar-Isma’il b. ‘Abd al-Karim-Wahb, menyebutkan beberapa dari keagungannya (yang digambarkan sebagai berikut): para langit dan Bumi dan Lautan ada didalam Tubuh [Haykal], dan Haykal itu ada di dalam ganjal. Kaki Allah ada di atas ganjal. Ia bawa ganjal itu. Itu kemudian menjadi seperti Sendal pada kakinya. Ketika Wahb di tanya: Apa Haykal itu? Ia menjawab: Sesuatu yang ada di ujung2 dilangit yang mengelilingi bumi dan lautan-lautan seperti tali temali yang digunakan untuk mengencangkan tenda/kemah. Dan ketika Wahb di tanya bagaimana bumi-bumi [disusun], Ia menjawab: Adalah tujuh langit yang Rata/datar dan pulau-pulau. Setiap dua bumi, terdapat lautan. Semua di kelilingi Lautan, dan Haykal ada dibalik lautan [Ibid., pp. 207-208]
—-

Tafsir Ibnu Kathir
وقيل : المراد بقوله : ( ن ) حوت عظيم على تيار الماء العظيم المحيط ، وهو حامل للأرضين السبع ، كما قال الإمام أبو جعفر بن جرير

terjemahannya kurang lebih:
Dikatakan bahwa “Nun” merujuk pada IKAN PAUS BESAR yang ada di Air di Lautan yang sangat luas dan di atas punggungnya ia membawa tujuh bumi, sebagaimana di sebutkan oleh Imam Abu Jafar Ibn Jarir:

حدثنا ابن بشار ، حدثنا يحيى ، حدثنا سفيان – هو الثوري – حدثنا سليمان – هو الأعمش – عن أبي ظبيان ، عن ابن عباس قال : أول ما خلق الله القلم قال : اكتب . قال : وما أكتب ؟ قال : اكتب القدر . فجرى بما يكون من ذلك اليوم إلى يوم قيام الساعة . ثم خلق ” النون ” ورفع بخار الماء ، ففتقت منه السماء ، وبسطت الأرض على ظهر النون ، فاضطرب النون فمادت الأرض ، فأثبتت بالجبال ، فإنها لتفخر على الأرض .

terjemahannya kurang lebih:
Ibn Bashar – Yahya – Sufyan Al-Thuri – Sulayman Al-Amash – Abu Thubian – Ibn Abbas yang berkenaan, “Pertama kali yang Allah ciptakan adalah pulpen dan Ia katakan untuk ‘menulis’. Pulpen itu bertanya, “Apa yang mesti saya tulis?” Allah berkata, “Tuliskan takdir [semuanya]” Jadi, pulpen menulis semua yang ada di saat itu hingga hari kiamat. Kemudian Allah menciptakan “nun” dan Ia buat uap terangkat yang mana para langit diciptakan dan bumi diletakan DATAR pada punggung nun. Kemudian Nun menjadi gelisah dan [sebagai hasilnya] numi mulai goyang/goncang, namun (Allah) mengencangkan (bumi) dengan gunung-gunung agar bumi tidak bergerak..

ثم قال ابن جرير : حدثنا ابن حميد ، حدثنا جرير ، عن عطاء ، عن أبي الضحى ، عن ابن عباس قال : إن أول شيء خلق ربي عز وجل القلم ، ثم قال له : اكتب . فكتب ما هو كائن إلى أن تقوم الساعة . ثم خلق ” النون ” فوق الماء ، ثم كبس الأرض عليه .

terjemahannya kurang lebih:
Diriwayatkan oleh Ibn Jarir – Ibn Hamid – Ata’a – Abu Al-Dahee – Ibn Abbas: “Yang pertama kali Allah ciptakan, adalah pulpen dan Ia katakan padanya, “Tuliskan”. Kemudian pulpen menuliskan semua yang akan terjadi hingga hari kiamat. Kemudian Allah menciptakan Nun (IKAN PAUS) di atas air dan Ia tekan/tindih bumi pada punggungnya (paus).

وقد روى الطبراني ذلك مرفوعا فقال : حدثنا أبو حبيب زيد بن المهتدي المروذي ، حدثنا سعيد بن يعقوب الطالقاني ، حدثنا مؤمل بن إسماعيل ، حدثنا حماد بن زيد ، عن عطاء بن السائب ، عن أبي الضحى مسلم بن صبيح ، عن ابن عباس قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : ” إن أول ما خلق الله القلم والحوت ، قال للقلم : اكتب ، قال : ما أكتب ؟ قال : كل شيء كائن إلى يوم القيامة ” . ثم قرأ : ( ن والقلم وما يسطرون ) فالنون : الحوت .

terjemahannya kurang lebih:
Al Tabarani meriwayatkan hadis yang diriwayatkan dari Abu Habib Zaid Al-Mahdi Al Marouzi – Sa’id Ibn Yaqub Al-Talqani – Mu’amal Ibn Ismail – Hamad Ibn Zaid – Ata’a Ibn Al Sa’ib – Abu Al Dahee Muslim Ibn Subaih – Ibn Abbas yang menyatakan bahwa Nabi SAW berkata, “Yang pertama Allah ciptakan adalah pulpen dan Ikan paus dan Ia katakan pada pulpen “tulis”. Kemudian pulpen bertanya, “apa yang mesti saya tulis” Allah membalas, “semua yang akan terjadi hingga hari kiamat” (Kemudia Ia katakan “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”) Jadi, ada dua: Ikan paus dan pulpen

وقال ابن أبي نجيح : إن إبراهيم بن أبي بكر أخبره عن مجاهد قال : كان يقال : النون : الحوت العظيم الذي تحت الأرض السابعة .

Terjemahannya kurang lebih:
Ibn Abu Nujaih: Ibrahim Ibn Abu Bakar berkata Mujahid berkata: “Di katakan bahwa Nun adalah Ikan Paus yang Besar yang ada dibawah tujuh bumi”

وذكر البغوي وجماعة من المفسرين : إن على ظهر هذا الحوت صخرة سمكها كغلظ السماوات والأرض ، وعلى ظهرها ثور له أرب عون ألف قرن ، وعلى متنه الأرضون السبع وما فيهن وما بينهن فالله أعلم .

Terjemahannya kurang lebih:
Al-Baghawy dan sekelompok komentator: di punggung ikan paus ini ada bebatuan yang besar yang memilliki ketebalan lebih besar dari lebarnya para langit dan bumi dan diatas bebatuan ini ada Banteng yang mempunyai 40.000 tanduk. Pada tubuh banteng ini diletakan tujuh bumi dan segala isinya, dan allah maha mengetahui [Source atau di sini atau di sini, Kutipan Ibn Kathir di atas tidak dalam translasi Inggris [hanya Arab] dan translasinya berasal dari sini)
—-

AL-QURTUBI
وروى الوليد بن مسلم قال : حدثنا مالك بن أنس عن سمي مولى أبي بكر عن أبي صالح السمان عن أبي هريرة قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ( أول ما خلق الله القلم ثم خلق النون وهي الدواة وذلك قول تعالى : ” ن والقلم ” ثم قال له اكتب قال : وما أكتب قال : ما كان وما هو كائن إلى يوم القيامة من عمل أو أجل أو رزق أو أثر فجرى القلم بما هو كائن إلى يوم القيامة – قال – ثم ختم فم القلم فلم ينطق ولا ينطق إلى يوم القيامة . ثم خلق العقل فقال الجبار ما خلقت خلقا أعجب إلي منك وعزتي وجلالي لأكملنك فيمن أحببت ولأنقصنك فيمن أبغضت ) قال : ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( أكمل الناس عقلا أطوعهم لله وأعملهم بطاعته ) .

Terjemahannya kurang lebih:
Al-Walid Ibn Muslim – Malik Ibn Ans – Sumay anak dari Abu Bakir – Abu Salih Al-Samaan – Abu Hurayrah – NABI mengatakan, “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen, kemudian Ia ciptakan ‘Nun’ yang merupakan sebuah bak tinta. Ini adalah apa yang Allah sampaikan (di surat 68:1) ‘Nun dan pulpen.’ Dan Ia katakan padanya, “tuliskan”.

[Jadi pulpen tuliskan semua yang akan terjadi hingga hari kiamat. Kemudian alah ciptakan Nun (Ikan Paus) diatas air dan Ia tekan/tindih bumi pada punggungnya [paus]. Alah kemudian berkata pada pulpen “tulis”. Pulpen bertanya “Apa yang saya mesti tulis” Allah.. (note: Kalimat-kalimat yang ada di dalam tanda kurung ini hanya ada di situs ini dan tidak ada dalam situs berbahasa arab, namun jika kita perhatikan kalimat, “..ثم قال له اكتب قال: وما أكتب قال: ما كان..” maka terdapat indikasi jelas bahwa kalimat tersebut telah terpotong/tidak lengkap/SENGAJA dipotong)]

menjawab, “Tuliskan apa yang telah dan akan terjadi hingga hari kiamat, apakah perbuatan, pahala, konsekuensi dan hukuman hingga hari kiamat”. Kemudian pulpen menuliskan yang akan terjadi hingga hari kiamat. Kemudian Allah menciptakan pikiran…”

وعن مجاهد قال : ” ن ” الحوت الذي تحت الأرض السابعة .

Terjemahannya kurang lebih:
Mujahid menyatakan bahwa ‘Nun’ adalah Ikan Paus yang ada di bawah tujuh bumi. [..]

وكذا قال مقاتل ومرة الهمداني وعطاء الخراساني والسدي والكلبي : إن النون هو الحوت الذي عليه الأرضون

Terjemahannya kurang lebih:
Seperti juga, yang diriwayatkan oleh Mukatil – Murrah Al-Hamdani – Ata’ Al-Kharasani – Al Suddi – Al-Kalbi yang mengatakan, “Nun adalah Ikan paus yang di atasnya para bumi di letakan”

وَرَوَى أَبُو ظَبْيَان عَنْ اِبْن عَبَّاس قَالَ : أَوَّل مَا خَلَقَ اللَّه الْقَلَم فَجَرَى بِمَا هُوَ كَائِن , ثُمَّ رَفَعَ بُخَار الْمَاء فَخَلَقَ مِنْهُ السَّمَاء , ثُمَّ خَلَقَ النُّون فَبَسَطَ الْأَرْض عَلَى ظَهْره , فَمَادَتْ الْأَرْض فَأُثْبِتَتْ بِالْجِبَالِ , وَإِنَّ الْجِبَال لَتَفْخَر عَلَى الْأَرْض .

Terjemahannya kurang lebih:
Di riwayatkan oleh Abu Thabyan, diriwayatkan oleh Ibn Abbas yang berkata, “yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen yang menulis semua yang akan terjadi. Kemudian uap air mulai terangkat, Berasal dari situ langit tercipta. kemudian (Allah) menciptakan Nun (paus) dan menggepengkan Bumi pada punggungnya. Ketika bumi mulai bergoyang, Ia kemudian diperkuat dengan gunung-gunung, yang ada dipermukaan” Kemudian Ibn Abbas membacakan ayat (68:1) ‘Nun dan Pulpen’

[Bahasa arab sisanya tidak saya tuliskan dan langsung saya tuliskan terjemahannya]

Al kalbi dan Mukatil menyatakan bahwa nama (ikan Paus) adalah ‘Al-Bahmout.’ Al-Rajis berkata, “Mengapa aku melihatmu semua terdiam dan Allah menciptakan Al-Bahmout?”

Abu Yakthan dan Al-Waqidi menyatakan bahwa nama (ikan paus) adalah ‘Leotha’; Dimana Kab menyatakan bahwa namanya adalah ‘Lo-tho-tha’ atau ‘Bil-Ha-motha.’ Kab berkata, “Setan bergerak ke atas Ikan paus, dimana tujuh bumi diletakan dan membisikan pada hatinya, “Kamu sadari apa yang ada di punggungmu, Oh Lo-tho-tha dari binatang dan tetumbuhan dan manusia dan lainnya? Jika engkau merasa terganggu dengan mereka, Engkau dapat melemparkan mereka semua dari punggungmu” Jadi Lo-tho-tha berniat untuk melakukan apa yang disarankan (oleh setan) namun Alah mengirimkan reptil pada Ikan paus yang merangkak melalui lubang tiupnya hingga mencapai otaknya. Ikan paus kemudian menangis pada Allah dan Ia memberikan ijin pada reptil untuk keluar (dari ikan paus).” Kab melanjutkan dan berkatam “Demi Allah, Ikan paus menatap pada reptil dan reptil menatap pada ikan paus dan jika ikan paus berniat melakukan (apa yang disarankan setan) reptil akan balik ke tempat sebelumnya” [Source atau di sini, Kutipan Qurtubi di atas tidak dalam translasi Inggris [hanya Arab] dan translasinya berasal dari sini]
—-

TAFSIR IBN ABBAS
Dan dari riwayatnya yang berasal dari Ibn ‘Abbas yang ia katakan berkenaan dengan intepretasi apa yang allah katakan (Nun): ‘(Nun) Ia katakan: Allah bersumpah demi Nun, yang adalah Ikan paus yang membawa Bumi di punggungnya ketika di air, dan di bawah itu adalah banteng, dibawah banteng adalah bebatuan dan dibahwa bebatuan…Nama Ikan Paus itu adalah Liwash, dan dikatakan bahwa namanya adalah Lutiaya’; nama dari banteng itu adalah Bahamut, dan beberapa mengatakan namanya adalah Talhut atau Liyona. Ikan paus itu ada di laut yang dinamakan ‘Adwad, dan itu bagaikan banteng kecil di lautan yang sangat luas. Lautan itu ada di Bebatuan cekung dengan 4,000 celah, dan dari tiap celah itu air keluar ke bumi.

Dikatakan juga bahwa Nun adalah satu dari nama-nama Allah; yaitu kepanjangan dari huruf Nun pada nama Allah al-Rahman (Pemurah); dan juga dikatakan bahwa Nun adalah bak tinta. (demi pulpen) Allah bersumpah demi pulpen. Pulpen dibuat dari Cahaya dan tingginya setara jarak Langit dan bumi.

Adalah dengan pulpen ini perangkat Ingatan, misal. Catatan yang dijaga, dituliskan. Juga dikatakan bahwa pulpen adalah satu dari para malaikat yang mana Allah bersumpah, (dan yang mana mereka tuliskan dan Allah juga bersumpah dengan apa yang para malaikat itu tuliskan pada kegiatan-kegiatan turunan Adam, [Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs]

Note:
Al-Bahmout atau Bahamut juga ada di mitologi Arab, yaitu kisah 1001 malam pada hari ke-496. Bahamut dinyatakan sebagai Ikan besar. Bahamut tidak sama dengan Behemoth [Setan/monster dalam legenda Yahudi].
—-

Tafsir al-Tustari
Ibn ‘Abbas’ berkata pada laporan lain, ‘Nun adalah Ikan yang di atasnya seluruh bumi(arḍūn) berada,..'[Source]
—-

Tafsir al-baghawi
اختلفوا فيه فقال ابن عباس : هو الحوت الذي على ظهره الأرض . وهو قول مجاهد ومقاتل والسدي والكلبي

[..] ibn abbas katakan: Ikan paus ini membawa bumi pada punggungnya dan ini juga merupakan pandangan dari Mujahid, Muqatil, saddi dan kalbi [..] tujuh langit dan tujuh bumi di atas Banteng [..] [Sumber]
—-

Dari Hadis Sahih Bukhari dan Muslim
Dalam kumpulan hadis sahih Bukhari dan Muslim tidak dijelaskan riwayat Bumi ada di atas punggung ikan paus [Ikan besar], namun demikian terdapat riwayat menarik seperti dibawah ini:

Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – Khalid – Sa’id bin Abu Hilal – Zaid bin Aslam – ‘Atho’ bin yasar – Abu Sa’id Al Khudri – Rasulullah SAW:

Riwayat ‘Abdul Malik bin Syu’aib bin Al Laits – bapakku – kakekku – Khalid bin Yazid – Sa’id bin Abu Hilal – Zaid bin Aslam – ‘Atha bin Yasar – Abu Sa’id Al Khudri – Rasulullah SAW:

“Pada hari kiamat bumi bagaikan sekeping roti, Allah Al Jabbar memutar-mutarnya dengan tangan-Nya sebagaimana salah seorang diantara kalian bisa memutar-mutar rotinya dalam perjalanan sebagai kabar gembira penghuni surga.”

“Pada hari kiamat bumi akan seperti satu potong roti yang akan diratakan oleh Allah dengan tanganNya hingga menjadi seimbang. Sebagaimana roti yang diratakan oleh salah seorang dari kalian diperjalanannya sebagai hidangan bagi penghuni surga.

Selanjutnya ada seorang yahudi dan berujar;’ Kiranya Allah Arrahman memberkatimu wahai Abul Qasim, maukah kuberitahu kabar gembira penghuni surga dihari kiamat nanti?

Kemudian seorang lelaki yahudi datang berkata pada beliau; “semoga Allah memberkahimu wahai Abu Qasim, maukah kuberitahu tentang hidangan penghuni surga pada hari kiamat?

“baik” Jawab Nabi.

Beliau menjawab: ‘Ya’

Lanjut si yahudi; ‘Bumi ketika itu bagaikan sekeping roti’ sebagaimana disabdakan Nabi SAW.

Ia berkata: bumi akan menjadi satu potong roti -sebagaimana sabda Rasulullah SAW tadi.-

Lantas Nabi SAW memandang kami dan tertawa hingga terlihat gigi serinya.

Ia berkata: “Maukah kamu
kuberitahu lauk penghuni surga?

maka Rasulullah SAW melihat kepada kami dan tertawa hingga terlihat gigi serinya.

Ia berkata “Maukah kuberitahukan kepadamu tentang lauk pauk mereka.”
Beliau menjawab: ‘Ya’

Lanjutnya: “lauk mereka adalah sapi dan ikan paus.”

Ia berkata: “lauknya adalah balaam dan nun.”

Mereka bertanya; ‘Apa keistimewaan daging ini?’

Para sahabat bertanya; apakah itu?

Nabi menjawab: “sobekan hati [caudate lobe] ikan paus dan sapi itu, bisa disantap untuk 70.000 orang

[Bukhari no.6039/8.76.527, arab]

Nabi SAW menjawab: seekor sapi, sedangkan nun adalah daging yang paling baik dari hatinya [caudate lobe] akan dimakan 70.000 orang yang masuk suga tanpa hisab.

[Muslim no.5000/39.6710, Untuk arab: di sini atau lebih baik di sini karena terdapat penjelasan: “أَمَّا ( النُّون ) فَهُوَ الْحُوت بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاء”, artinya “Nun adalah Ikan paus menurut konsensus para ulama”]

note:
“والحوت” di translate ke inggris “and whale”; ke Melayu “ikan paus”; ke spanyol “Y la ballena = dan ikan paus”; ke itali “E la balena= dan ikan paus”; Turki “Ve Balina = dan ikan paus”; ke belanda “walvis= ikan paus”; ke Jerman “und der wal = dan ikan paus”, ke perancis “balein = ikan paus”; Ke rusia “И китов= dan Paus”; ke swahili “Na whale =dan paus”; ke Jepang “とクジラ= ikan paus”, ke korea “그리고 고래 = dan ikan paus”; Hindi “और व्हेल = dan ikan paus”; Mandarin “與鯨魚= dan ikan paus”..dll

Jika, Bumi adalah Roti maka sebesar apalagi ukuran ikan dan lembu yg bagian berlebih dari hatinya saja dapat mencukupi kebutuhan 70.000 orang sebagai lauk pauk makan roti?

Walaupun Bukhari dan Muslim tidak menjelaskan detail darimana “ox” dan “fish” itu berasal, namun dapat kita ketahui ukuranya ngga tanggung-tanggung besarnya, bukan?!
—-

Dari Aliran Syi’ah
Ulama Syi’ah Kulayni di “Kafi”nya 8/89 meriwayatkan:

55 – محمد عن أحمد عن ابن محبوب عن جميل بن صالح عن أبان بن تغلب عن أبي عبد الله (ع) قال: سألته عن الأرض على أي شيء هي؟ قال: هي على حوت قلت: فالحوت على أي شيء هو؟ قال: على الماء قلت: فالماء على أي شيء هو؟ قال: على صخرة قلت: فعلى أي شيء الصخرة؟ قال: على قرن ثور أملس قلت: فعلى أي شيء الثور؟ قال: على الثرى قلت: فعلى أي شيء الثرى؟ فقال: هيهات عند ذلك ضل علم العلما

Muhammad menyampaikan dari Ahmad – ibn Mahbub – Jamil ibn Salih – Aban ibn Taghlib – Abu ‘Abd Allah, yang berkata, Aku tanya dia mengenai bumi: Ia terletak di atas apa? Ia menjawab: Itu berada di atas seekor Ikan Paus. Aku bertanya: Ikan paus itu di atas apa? Ia menjawab: di atas air. Aku bertanya: Air di atas apa? Ia menjawab: di atas bebatuan. Aku bertanya. bebatuan di atas apa? ia menjawab: Di atas banteng dengan tanduk yang halus. Aku bertanya: Banteng itu diatas apa? Ia menjawab: Di atas tanah. Aku bertanya: Tanah di atas apa? Ia menjawab: Mana tahu? Ini adalah batasan pengetahuan dari yang diketahui manusia.

Syi’ah lainnya sheikh Al-Majlese dalam “Miratul uqul”menyatakan ini SAHIH.

(الحديث الخامس و الخمسون) [حديث الحوت على أي شي‏ء هو]
(2): صحيح.
—-

Kisah Para Nabi [Tales of the Prophet]
4. Penciptaan Bumi, Gunung-Gunung dan Laut-laut [The creation of the Earth, the mountains and the seas]

Kaab al-Ahbar berkata: Ketika Allah berkehendak untuk menciptakan Tanah yang kering, Ia perintahkan angin untuk mengocok ke atas air. ketika menjadi turbulen dan berbusa, gelombang bertambah besar dan beruap. Kemudian Allah merintahkan busa itu memampat, dan menjadi kering. Dalam hari-hari Ia ciptakan langit yang kering di atas permukaan air adalah seperti yang Ia katakan:”Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua hari?” (AQ Fushshilat 41:9).

Kemudian Ia perintahkan gelombang-gelombang ini menjadi diam, dan mereka membentuk gunung-gunung, yang kemudian Ia gunakan sebagai pasak untuk menahan bumi, seperti yang Ia katakan: “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka” (AQ Al Anbiyaa’ 21:31). Jika tidak karena gunung-gunung, Bumi tidak akan cukup stabil bagi para penghuninya. Pembuluh dari gunung-gunung ini berhubungan dengan pembuluh dari Gunung Qaf, yang berjajar mengellilngi Bumi.

Kemudian Allah menciptakan tujuh lautan.
Yang pertama dinamakan Baytush dan mengelillingi bumi di belakang gunung Qaf, kemudian dibelakangnya berturut-turut bernama Asamm, Qaynas, Sakin, Mughallib, Muannis, dan yang terakhir Baki. Ini adalah tujuh lautan, dan tiap dari mereka mengelilingi lautan yang sebelumnya. Di dalamnya terdapat mahluk-mahluk yang hanya Allah yang tahu jumlahnya. Allah menciptakan makanan bagi para mahluk-mahluk ini dalam hari yang ke-4, seperti yang Ia katakan: “dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. Bagi orang-orang yang bertanya. (AQ Fushshilat 41:10).

Terdapat tujuh Bumi.
Yang pertama dinamakan Ramaka, yang kedua dinamakan Khalada,..Arqa, Haraba, Maltham, Sijjin dan Ajiba. Dan bumi bergoyang-goyang dengan penghuni di dalamnya seperti sebuah kapal, jadi Allah mengirimkan se sosok Malaikat yang luar biasa besar dan kuat dan diperintahkan memanggul bumi di bahunya. Satu sisi tangannya di timur dan yang lain di barat memegang Bumi dari ujung ke ujung. Namun, tidak ada pijakan kaki baginya, jadi Allah ciptakan bebatuan persegi dari jamrut yang memiliki 7.000 lubang. Di setiap lubangnya sebuah laut, gambaran ini hanya di ketahui oleh Allah semata. dan Ia perintahkan Bebatuan itu untuk berdiam di bawah kaki malaikat.

Akan tetapi, bebatuan itu tidak ada yang menyangga, jadi Allah ciptakan banteng besar dengan 40.000 kepala, mata, telinga, cuping hidung, mulut, lidah dan kaki dan diperintahkan memanggul bebatuan di punggungnya dan juga di tanduknya. Nama dari Banteng itu adalah al-Rayyan. Karena Banteng itu ngga punya tempat buat pijakan kakinya, Allah menciptakan Ikan sangat besar..Ikan ini bernama Behemoth.. [Tales of the Prophets (Qisas Al-Anbiya) (Great Books of the Islamic World), Muhammad Ibn Abd Allah Kisai (Author), Wheeler M. Thackston (Author), Al-Kisai (Author, Abad ke 6/13 Masehi) hal 8-10 dan hal 337-338 [Notes to The Text])

Catatan:
Bantahan mengenai kosmologi bumi dan Langit di atas punggung ikan paus, Anda akan temukan beberapa, di antaranya dikatakan bahwa ini berasal dari Israiliyat, misal Abu as-Shaykh al-‘Asfahani, al-‘Athamah 4/1400], mengatakan, “Tidak disebutkan di kitab ataupun sunnah otentik tentang paus yang membawa bumi, dan semua yang disebutkan tentang ini adalah berdasarkan riwayat Bani Israail”

Tuduhan Israiliyat sangatlah absurd:

  1. Kitab-kitab kalangan Ahlul kitab (yahudi/Nasrani) walaupun sama-sama menyatakan bumi itu datar, langit berbentuk kubah dan matahari berjalan mengelilingi bumi serta menyatakan adanya kisah Yunus di telan ikan besar [Dhū al Nūn (Orang dengan Ikan besar)], namun kitab-kitab suci Yahudi dan kristen JUSTRU TIDAK memiliki pandangan bahwa bumi berada di atas ikan besar!
  2. Sekurangnya dari 6 kitab tafsir sunni yang dengan reputasi sangat baik dan juga sekurangnya 1 hadis yang sangat dihormati di aliran Syi’ah, kita ketahui bahwa riwayat itu bersandar pada ucapan Muhammad kepada Abu huraira [Qurtubi]; kepada Wahb; kepada Ibn Abbas hingga sampai ke Al Tabari [Ibn Kathir]; Kepada Ibn Abbas [Al tabarani]; Dari Ibn Abbas [dan beberapa sahabat nabi] hingga sampai ke Ibn Jarir [Al Tabari, Tusturi, Qurtubi]; dari Abu ‘Abd Allah [Kafi]
  3. Ibn kathir juga memuat bahwa pengetahuan Ibn Abbas mengenai Quran dan tafir sangat di hormati bahkan juga oleh Ibn’ Umar
  4. Nūn [ن], dalam penulisan Arab, berarti Ikan besar/Ikan paus. Ibn kathir di surat Al-Anbiya 21:87-88, dalam kisah YUNUS: “Here Nūn refers to the fish;”.

Kemudian ada yang berupaya mengatakan hadis2 yang tercantum adalah dipalsukan ato juga dhaif (lemah) salah satunya dari Albani [lahir (1914 M) – wafat (1999 M), Silsalat al-‘Ahaadeeth adh-Dha’eefah wal-Mawdhuu’ah, #294], padahal

    Albani sendiri mengakui bahwa sebenarnya ia tidak hafal sepuluh hadits dengan sanad muttashil (bersambung) sampai ke Rasulullah, meskipun begitu dia berani mentashih dan mentadh’iftan hadits sesuai dengan kesimpulannya sendiri dan bertentangan dengan kaidah para ulama hadits yang menegaskan bahwa sesungguhnya mentashih dan mentadh’ifkan hadits adalah tugas para hafidz (ulama ahli hadits yg menghapal sekurang-kurangnya seratus ribu hadits). [lihat: ini dan ini]

    Albani sendiri gampang menjatuhkan vonis hadis dhaif dan mereka yang bertentangan dengan dirinya dikatakan ahli Bid’ah

Kemudian,
Mullah `Ali al-Qaari RaHimahullah, dalam Mirqaat:

‘Jadi Aku datang untuk tahu’ Itu dalam artian berkat-berkat yang terlimpahkan padaku, semua yang ada di langit (jamak) dan di bumi yaitu sebagai semua yang Allah sampaikan pada kalangan malaikat dan pepohonan dan banyak lainnya. Yang menunjukan keluasan dari pengetahuannya (Rasulullah SAW) yang Allah` Azza Wa Jall beritahukannya. Ibn Hajjar berkata bahwa pengetahuan dari seluruh semesta dan semua yang ada di langit (jamak) dan dibaliknya sebagai bukti dari peristiwa Mi`raj dan bumi, yaitu seluruh tujuh bumi dan yang ada dibawahnya apakah itu seekor sapi atau seekor ikan di atasnya.

[Fa`Alimtu Ayyi Bisababi WuSuuli dhaalikal FayDi Maa Fis Samaawaati Wal ArDi Ya`ani Maa A`alamahullahu Ta`aalaa Mimma Feehaa Minal Malaayikati Wal Ashjaari Wa Ghayrihimaa `Ibaaratun `An Sa`ati `Ilmihilladhee FataHallahu bihi `Alayhi Wa Qaalabnu Hajar Ayyi Jameeyal Kaayinaatillatee fis Samaawaati Bal Maa Fawqahaa Kamaa Yustafaadu Min QiSSatil Mi`yraaji Wal ArDu Hiya Bi Ma`anaa al-Jinsi Ayyi Wa Jamee`ya Maa Fee ArDeenas Sab`yi Bal wa Maa TaHtahaa Kamaa Afaadahuu Ikhbaaruhuu `Alayhis Salaamu Minath Thawri wal Huutil ladhee `Alayhaa] – [sumber]

Sebagai pelengkap, perhatikan gambar Bumi [berbentuk FLAT DISK], di panggul banteng dan dibawahnya adalah Ikan:

Ajaib al-Makhluqat (The wonders of creation), by the Persian author Zakariya Qazwini (d. 1283 or 1284).

[..]Sebuah kopian risalah dari turki kisaran tahun 1553, polesan peta, menunjuk arah selatan, dengan malaikat memegang mangkok berisi ikan yang diatasnya sapi sedang memanggul globe [..]

Risalah kegeograpian dan kumpulan legenda menakjubkan sangat populer di pertengahan dan awal masyarakat islam modern. Peta yang ditunjukan di sini adalah menakjubkan padanya terdapat beberapa mahluk yang menyokong bumi di cakrawala. Yang digunakan adalah proyeksi islam tradisional tentang bumi dalam bentuk piringan datar yang dikelilingi laut-laut terpisah terkurung sekeliling pegunungan Qaf..

Karena kosmologi bumi di atas Ikan paus ini tercantum di kitab-kitab tafsir utama Sunni dan hadis utama Syi’ah, maka klaim bahwa ini Israiliyat adalah mengada-ada.

Mari saya uraikan cara lain:

Quran juga menyampaikan bahwa bahwa Malaikat-malaikat menghadap Allah [AQ 70:4]. Lokasi Allah dan taman nya dekat dengan pohon bidara terujung (Sidratil Muntaha) yang berada DI UFUK YANG TERANG (bialufuqi almubiini, AQ 53.7, 81.23) tempat jibril dilihat Muhammad (AQ 81.23), yaitu, “raaahu (Ia dilihatnya) nazlatan ukhraa (datang lagi/turun lagi) inda (di sisi) sidratil muntahaa (pohon bidara/bekul ujung. Sidra = pohon Bidara/bekul, AQ 34.16, 56.28 + Muntaha = ujung/akhir, AQ 5.91, 53.42, 79.44) indahaa (dekat itu) jannatu almawaa (taman tempat tinggal)” (AQ 53.13-17).

kata Ufuk = batas/horizon, misalnya, ufuk timur/barat tempat terbit/tenggelamnya matahari, “dan awal waktu maghrib saat matahari terbenam dan waktu akhir saat menghilang di ufuk dan awal waktu isya saat menghilang di ufuk” [Tirmizi no.139].

Lokasi pohon bidara ter-ujung/sidratul Muntahal bervariasi:
di surga ke-6 (Muslim no.252) atau di surga ke-7 (Muslim no.234. Bukhari no.2698, 3598, 6963. Ahmad no.12047, 12212). Di bawah Sidratil Muntahal terdapat 4 sungai, 2 tak terlihat dan 2 terlihat..adapun 2 sungai tak terlihat adalah 2 sungai yang berada di surga, sedangkan 2 sungai yang terlihat adalah NIL dan EUFRAT” [Bukhari no.3598, 2968, 5179]. Bahkan, sungai Nil dan Eufrat-pun selain di surga ke-7 [Muslim 1.314; dan Bukhari no.4.54.429 5.58.227], juga di surga ke-2 [Bukhari 9.93.608] dan bahkan di surga ke-1 [Bukhari no.6963]

Di manapun itu, BEDA TINGGINYA LANGIT VS DARATAN, TIDAKLAH TERLALU BERJAUHAN, karena ketika Adam diturunkan dari surga, kepalanya menyentuh langit sehingga menjadi botak, turunannya mewarisi kebotakannya [“Kitab Al-Tabaqat Al Kabir”, Vol.1, 1.3.42 (Riwayat Ibn Sa`d – Hisham Ibn Muhammad – Ayahnya – Abu Salih – Ibn `Abbas). Juga di Tabari, Vol.1 hal.297]

Kondisi taman/surga macam ini JELAS TIDAK DIMUNGKINKAN dalam kosmologi modern (bulatan bumi yang merupakan anggota tata surya, mengitari matahari. Tata surya ini merupakan himpunan bagian dari galaxy dan Galaxy merupakan bagian kecil dari semesta) NAMUN SANGAT DIMUNGKINKAN dalam kosmologi islami.

Mengapa?

Dalam kosmologi Islami, bumi adalah datar, atapnya berupa 7 langit bertumpuk satu diatas yang lain berbentuk kubah! Inilah mengapa langit, surga, bumi dan air dimungkinkan bertemu!

  1. Bahwa bumi ini berada di atas punggung: seekor ikan yang sangat besar dan seekor lembu/sapi. Kelak setelah kiamat: 70.000 surgawan (kelompok pertama) yang masuk surga tanpa dihisab (siksa neraka), akan dijamu Allah dengan lauk “lembu/sapi (balaam) dan hati ikan paus (nun)” [Bukhari no.6039/8.76.527 (arab). Atau di Muslim no.5000/39.6710 (arab: terdapat penjelasan: “أَمَّا ( النُّون ) فَهُوَ الْحُوت بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاء”, artinya “Nun adalah Ikan paus menurut konsensus para ulama”)]
  2. Singgasana Allah di atas air:
    “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, dan adalah singgasana-Nya di atas air[1] (“عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ”, arsyuhu ala al-mai)..” [AQ 11.7]. Allah bersemayam di atas arsy (istawaa ‘alaa al’arsyi) [AQ 7.54, AQ 57.4, AQ 32.4, AQ 25.59, AQ 20.4, AQ 10.3]. Yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya [AQ 40.7]. Hadis meriwayatkan arsy yang berada di atas air:

      Abdan – Abu Hamzah – Al A’masy – Jami’ bin Syidad – Shafwan bin Muhriz – ‘Imran bin Hushain:

      …Nabi menjawab: ‘Allah telah ada dan tidak ada sesuatu pun terjadi sebelum-Nya, arsy-Nya berada di atas air, kemudian Allah mencipta langit dan bumi dan Allah menetapkan segala sesuatu dalam alquran’. [Bukhari no. 6868, 2953. Ibn Majah no.178 (Riwayat Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Muhammad bin Ash Shabbah – Yazid bin Harun – Hammad bin Salamah – Ya’la bin ‘Atho` – Waki’ bin Hudus – pamannya Abu Razin ia berkata; Aku bertanya; “Wahai Rasulullah, di manakah Rabb kita sebelum menciptakan makhluk-Nya?” beliau menjawab: “Dia berada di ruang kosong, di bawah dan di atasnya tidak ada udara, dan di sana tidak ada makhluk. Setelah itu Ia menciptakan Arsy-Nya di atas air“). Tirmidhi no.3034 (“Wahai Rasulullah dimanakah Allah sebelum Dia menciptakan makhlukNya? beliau menjawab: “Dia berada di awan yang tinggi, di atas dan di bawahnya tidak ada udara dan Dia menciptakan ‘arsyNya di atas air.“). Ahmad no.15599, 15611]

    Perlu juga diketahui bahwa: Singgasana Iblis juga di atas air:

      Riwayat Abu Kuraib, Muhammad bin Al Ala` dan Ishaq bin Ibrahim, teks milik Abu Kuraib — Abu Mu’awiyah – Al A’masy – Abu Sufyan – Jabir – Rasulullah SAW:

      “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu mengirim bala tentaranya, (setan) yang kedudukannya paling rendah bagi Iblis adalah yang paling besar godaannya.” [Muslim no. 5032 dan Riwayat Abu Mu’awiyah – Al ‘A’masy – Abu Sufyan – Jabir – Rasulullah SAW: “Iblis meletakkan istananya di atas air kemudian mengutus pasukannya..” [Ahmad no. 13858, 11490, 14632]

    Tentang pengertian ‘arsy (عَرْش), ulama memberikan penjelasan yang berbeda-beda.

    • Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar menjelaskan bahwa ‘arsy (عَرْش) merupakan ”pusat pengendalian segala persoalan makhluk-Nya di alam semesta”. Penjelasan Rasyid Rida di antaranya berdasarkan AQ 10.3, “Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy (عَرْش = singgasana) untuk mengatur segala urusan”.

      Jalaluddin as-Suyuthi (pengarang tafsir Ad-Durr al-Mantsur fi Tafsir bi al-Ma’tsur) mengutip hadis dari Ibnu Abi Hatim – Wahhab ibnu Munabbih bahwa Allah SWT menciptakan `arsy dan kursi dari cahaya-Nya. `Arsy melekat di kursi. Para malaikat berada di tengah-tengah kursi tersebut. `Arsy dikelilingi oleh empat buah sungai dan Para malaikat berdiri di setiap sungai sambil bertasbih/memuliakan Allah.

    • Kursi [kur’siyyuhu (AQ 2.55)/kur’siyyihi (AQ 38.34)] TIDAK SAMA dengan arsy/. Arti kursi adalah BUKAN “pengetahuan allah”, BUKAN arsy, BUKAN “bukan kekuasaan dan kekuatan Allah” NAMUN “pijakan kedua kaki Allah”.

      Ibnu ‘Abbas berkata: “الكرسي موضع قدميه و العرش لا يقدر قدره” [“Al-Kursi adalah pijakan kedua kaki (Allah), dan ‘Arsy tidak ada yang tahu ukurannya kecuali Allah.”] (‘Abdullah Bin Ahmad, as-Sunnah no. 586, isnadnya hasan – Tahqiq Muhammad Sa’id Salim al-Qahthani. Al-Hakim (al-Mustadraknya 2/310: Hadis ini sahih menurut Bukhari dan Muslim walaupun mereka tidak meriwayatkannya. Disepakati adz-Dzahabi). Fathul Bari Ibn Hajjar (8/199 : Dari Ibnu ‘Abbas bahawa al-Kursi adalah pijakan kedua kaki (Allah) sanadnya sahih). Al-Albani, Mukhtasar al-‘Uluw lil ‘aliyyil Ghoffar, Adz-Dzahabi (1/75: Perkataan ibn Abbas Sahih mauquf). Hadis ibn Abbas juga termuat di Musnad Ahmad, lihat Ibn Kathir dan “ask the scholar“]

    Sementara itu,
    terdapat klaim bahwa Quran dan hadis menyatakan ‘Arsy Allah dan Allah ada di langit, misal:

    • Apakah kamu merasa aman (a-amintum) siapa (man) di (fii) langit (tunggal: Al-samāi) bahwa/yang (an) membenamkan (yakhsifa) dengan mu (bikumu) bumi (al-ardha) ketika (fa-idzaa) Ia (hiya, feminim tunggal) bergoncang (tamuuru)? atau (am) apakah kamu merasa aman siapa di langit yang mengirimkan (yursila) padamu (‘alaykum) badai batu (hasiban). Maka kelak kalian tahu (fasata’lamuuna) bagaimana (kayfa) peringatanku [nadziiri]? [AQ 67.16-17 -> Kalimat ini dapat juga mengindikasikan itu adalah malaikat yang di langit]
    • “Tidak tahukah kamu bagaimana Allah itu? Sungguh, Arsy-Nya ada di atas semua langit-Nya seperti ini -lalu isyarat tangannya beliau mengatakan, ‘Seperti Kubah, dan Arsy itu berteriak dan menyeru kepada Allah seperti tunggangan berteriak kepada pengendara karena berat-.” [Abu dawud no.4101, juga statement Ibnu Taimiyah: “Adapun Al Arsy maka dia berupa kubah sebagaimana diriwayatkan dalam As Sunan karya Abu Daud dari jalan periwayatan Jubair bin Muth’im, dia berkata: “Telah datang menemui Rasulullah SAW seorang A’rab dan berkata: “Wahai Rasulullah jiwa-jiwa telah susah dan keluarga telah kelaparan- dan beliau menyebut hadits- sampai Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah diatas ArsyNya dan ArsyNya diatas langit-langit dan bumi, seperti begini dan memberikan isyarat dengan jari-jemarinya seperti kubah” (Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah 1/252)]
    • Termasuk hadis yang merupakan pernyataan seorang budak wanita (di hadis lain, Ia menyatakan tidak dengan ucapan namun dengan isyarat tangan):

      Riwayat Yahya – Al Hajjaj Ash Shawwaf – Yahya bin Abu Katsir – Hilal bin Abu Maimunah – ‘Atha` bin Yasar – Mu’awiyah bin Al Hakam As Sulami:

      Wahai Rasulullah, terdapat seorang budak wanita yang telah aku pukul dengan keras. Kemudian Rasulullah SAW menganggap hal tersebut sesuatu yang besar terhadap diriku, lalu aku katakan; tidakkah saya memerdekakannya? Beliau berkata: “Bawa dia kepadaku!” Kemudian aku membawanya kepada beliau.

      Beliau bertanya: “Dimanakah Allah?” Budak wanita tersebut berkata; di langit. Beliau berkata: “Siapakah aku?” Budak tersebut berkata; engkau adalah Rasulullah.”Beliau berkata; bebaskan dia! Sesungguhnya ia adalah seorang wanita mukmin.” [Abu Dawud no.2856. Muslim no.836. Abu dawud no.2857 (Riwayat Ibrahim bin Ya’qub – Yazid bin Harun – Al Mas’udi – ‘Aun bin Abdullah – Abdullah bin ‘Utbah – Abu Hurairah bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dengan membawa seorang budak wanita hitam, kemudian ia berkata; wahai Rasulullah, sesungguhnya saya berkewajiban membebaskan budak mukmin. Kemudian beliau bersabda: “Di manakah Allah?” kemudian ia mengisyaratkan ke langit dengan jari-jarinya. Kemudian beliau berkata kepadanya: “Siapakah aku?” kemudian ia menunjuk kepada Nabi SAW dan ke langit yang maksudnya adalah engkau adalah Rasulullah. Maka beliau berkata: “Bebaskan dia, sesungguhnya ia adalah wanita mukminah.”)]

    Menyatakan bahwa Allah ada di langit TIDAKLAH TEPAT karena hadis juga telah menginformasikan bahkan malaikatpun duduk di atas kursi yang terbentang diantara langit dan bumi, misal:

      Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – ‘Uqail – Ibnu Syihab (riwayat Abdullah bin Muhammad – Abdurrazzaq – Ma’mar – Az Zuhri – Abu Salamah bin Abdurrahman Jabir bin Abdullah:

      Aku mendengar Nabi SAW bersabda menceritakan peristiwa Fatratul Wahyu (Masa-masa kevakuman wahyu): “Ketika aku tengah berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara yang berasal dari langit, maka aku pun mengangkat pandanganku ke arah langit, ternyata di atas terdapat Malaikat yang sebelumnya mendatangiku di gua Hira tengah duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku merasa ketakutan hingga aku jatuh tersungkur ke tanah. Lalu aku pun segera menemui keluargaku seraya berkata, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku.’ Maka keluargaku pun segera menyelimutiku. Akhirnya Allah Ta’ala menurunkan ayat: [AQ 74.1-5]. Yakni sebelum perintah shalat diwajibkan. Ar Rijz adalah berhala. [Bukhari no.4544, 4545, 4543, 3, 2999, 4572, 5746]

    PETA LENGKAPNYA adalah: di atas 7 langit ada laut – di atas laut ada Arsy – dan allah berada di atas Arsy.

      Riwayat [(Muhammad bin Ash Shabbah – Al Walid bin Abu Tsaur) dan (Ahmad bin Abu Suraij – ‘Abdurrahman bin Abdullah bin Sa’d dan Muhammad bin Sa’id – Amru bin Abu Qais) dan (Ahmad bin Hafsh – Bapaknya – Ibrahim bin Thahman)] – Simak – Abdullah bin Amirah – Al Ahnaf bin Qais – Al Abbas bin Abdul Muthallib:

      ..Beliau (SAW) lalu bertanya: “Apakah kalian tahu berapa jarak antara langit dan bumi?” mereka menjawab, “Kami tidak tahu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya jarak antara keduanya adalah bisa 71, atau 72, atau 73 tahun perjalanan -perawi masih ragu-. kemudian langit yang di atasnya juga seperti itu.” Hingga beliau menyebutkan 7 langit. Kemudian setelah langit ke-7 terdapat lautan, jarak antara bawah dan atasnya seperti jarak antara langit dengan langit (yang lain). Kemudian di atasnya terdapat 8 malaikat yang jarak antara telapak kaki dengan lututnya sejauh langit dengan langit yang lainnya. Dan di atas mereka terdapat Arsy, yang antara bagian bawah dengan atasnya sejauh antara langit satu dengan langit yang lainnya. Dan Allah Tabaraka Wa Ta’ala ada di atasnya.” [Abu Dawud no.4100 (4 jalur perawi), Tirmidhi no.3242 (hasan gharib). Ibn Majjah no.189]

    Walaupun Arsy Allah ada di atas air yang ada di atas langit ke-7,
    Namun Quran memberikan 3x PENEGASAN FINAL lokasi keberadaan Allah, yaitu: TIDAK di langit namun di Mesjidil Haram:

    • Ke-1: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya..” [AQ 2.144].
    • Ke-2: “Dan dari mana saja kamu, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan”[AQ 2.149].
    • Ke-3: “Dan dari mana saja kamu, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka..” [AQ 2.150]

    Nabi berkata:

    Kenapa orang-orang mengarahkan pandangan mereka ke langit ketika mereka sedang shalat?
    Suara beliau SEMAKIN TINGGI beliau bersabda: “Hendaklah mereka menghentikannya atau Allah benar-benar akan menyambar penglihatan mereka.” [Bukhari no. 708 atau di Muslim 4.862 dari riwayat Jabir bin samura. Atau di Muslim 4.863 riwayat dari Abu huraira, “Orang2 diharuskan menghindari memandang langit di saat sedang sembahyang (See: KBBI. “الصَّلاَةِ” = Al sallata = salat], atau mata mereka akan direnggut”]

  3. Bahwa (Allah-lah yang menciptakan tujuh langit) satu di atas yang lainnya seperti KUBAH, (dan seperti itu pula bumi) tujuh bumi tapi mereka DATAR. [Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs untuk AQ 65.12. Dalil bahwa bumi BUKAN bulatan lihat juga: di sini]
  4. “Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap (saqfan) yang terpelihara,[..]” [AQ 21.32] [Tafsir Ibn Kathir: Artinya, menutupi bumi seperti kubah di atasnya.]

    “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit kanopy/kubah/atap (binaa-an) [AQ 2.22, juga di AQ 40.60, tentang “dan langit kanopy/kubah/atap (binaa-an)]. Tafsir Ibn kathir untuk AQ.2.22,29:

      Bahwa Allah mulai dengan menciptakan BUMI dulu baru kemudian membuat LANGIT menjadi 7 langit. Ini adalah bagaimana bangunan biasanya di mulai, lantai dulu baru kemudian bagian atapnya [Ini juga pendapat Mujahid, Ibn Abbas bahwa bumi diciptakan terlebih dahulu.

    “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya)..[AQ 13.2]. Tafsir Ibn kathir untuk AQ 13.2:

      Berkenaan dengan kalimat (menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan) adalah seperti yang Allah maksudkan di surat 36:38 (dan matahari berjalan di tempat peredarannya) [Ada dua pendapat dan keduanya menyatakan Matahari dan bulan yang bergerak terus menerus]. ‘arsy adalah atap dari ciptaan dan tidak berbentuk BULATAN seperti di klaim banyak astronomer. Lebih seperti KUBAH yang di topang oleh pilar. Ditandu oleh para malaikat dan di atas dunia, di atas kepala-kepala orang. Hadis Nabi dari riwayatkan Abu Dharr:

      Ketika senja [magrib], Nabi bertanya padaku, “Apakah kau tau kemana Matahari itu pergi (saat Magrib)?!

      Aku jawab, “Allah dan rasulnya yang lebih tau.”

      Ia jawab, “Ia berjalan hingga berhenti pada tempatnya di bawah Arsy lalu menyungkur sujud dan mohon ijin untuk terbit kembali, dan diijinkan dan kemudian (waktunya akan tiba) dia minta agar terus saja bersujud namun tidak diperkenankan dan minta izin namun tidak diizinkan dan dikatakan kepadanya: “Kembalilah ke tempat asal kamu datang” dan ia akan terbit dari tempatnya terbenamnya tadi (barat).

      Itulah penafsiran dari sabda Allah “dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (AQ 36:38) [Bukhari: no.2960/4.54.421, no.4428/6.60.327, no.6874/9.93.520 dan no.6881/9.93.528. Juga Muslim: no.228/1.297. Juga di Hadis Qudsi Imam Ahmad no.91 (penguatnya di Abu Dawud 3991, 4002]

      ‘Ada pilar namun tidak dapat kamu lihat’ menurut Ibn `Abbas, Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, dan beberapa lainnya.

      Iyas bin Mu`awiyah, “Langit itu seperti kubah di atas bumi’, artinya tanpa tiang. Serupa seperti Qatadah katakan.

      Ibn Kathir menyatakan bahwa pendapat terakhir [Iyas bin Mu’awiyah] adalah lebih baik mengingat Allah juga menyatakan di ayat lainnya [22:65] yaitu ‘Dia menahan langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya?’

  5. Allah menyampaikan, kisah perjalanan Zulkarnaen dari ufuk timur hingga ufuk barat:
      “Mereka menanyaimu [wayas-aluunaka] tentang Dzulkarnain. Katakanlah Aku bacakan [qul sa-atluu] padamu [ʿalaykum] cerita tentangnya. Sesungguhnya telah diberikannya kekuasaan [makkannaa lahu] di bumi, dan Kami telah berikan [waaataynaahu] dari tiap suatu [min kulli shayin] jalan [sababaan].
      Maka iapun berjalan [fa-atba’a sababaan].
      Hingga [ḥattaa] ketika [idhaa] sampai [balagha] di tempat terbenam [maghriba] matahari [al shamsi], MENDAPATI itu [WAJADAHAA] terbenam [taghrubu] di [fii] mata air yang berlumpur hitam [ayyin hamiatin], dan mendapati [wawajada] DI DEKAT ITU/SEKITAR/SISI [indahaa] segolongan umat [qawman]…
      Hingga ketika sampai ke tempat terbit [mathli’a] matahari [al shamsi], MENDAPATI itu [WAJADAHAA] menyinari [tathlu’u] pada [‘alaa] segolongan umat [qawmin]…
      Hingga ketika sampai [balagha] di antara [bayna] dua gunung [alssaddayni], MENDAPATI [WAJADA] di [min] sebelahnya [duunihimaa] suatu kaum [qawman]..” [AQ 18.83-86, 90, 93]

    Karena Allah sendirilah yang menceritakan perjalanan Zulkarnaen: hingga sampai ke ufuk barat, hingga sampai ke ufuk timur dan hingga sampai di antara dua gunung. Di mana, di setiap area itu, Ia bertemu tiga kaum yang berbeda, maka ini bukanlah sebuah kiasan.

    Tafsir ibn kathir AQ 18.86 menyatakan “Ia menemukan matahari terbenam di laut hitam, bukan KIASAN karena ia menyaksikan sendiri. kata “al hami-ah” di ambil dari salah satu dua arti yaitu dari AQ 15.28, “lumpur hitam” (ini pendapat ibn Abbas). Ali bin abi thalhah “zulkarnaen mendapati matahari terbenam di laut yang panas” (juga pendapat Al Hasan Al basri). Ibn Jarir mengatakan keduanya benar yang mana saja boleh.

Kosmologi bumi dan langit di atas Ikan paus ini benar-benar dapat menjelaskan banyak hal dalam logika berpikir yang islami, diantaranya adalah:

  • Adalah sangat wajar bumi ini didatarkan atau digepengkan seperti martabak dan gunung-gunung dipancang sebagaimana maksud surat:
    • Luqman 31:10, “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu”
    • Al-Anibiya’) 21:31, “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka (tamida bihim**).”
    • Al-Nahl 16:15 “Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu” (tamida bikum**)
    • An Naba’ 6-7, “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? dan gunung-gunung sebagai pasak?”

    Dalam tafsir Ibnu kathir surat 21:30-33,

    (Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh,) artinya, gunung-gunung yang menstabilkan bumi dan menjaganya agar tetap kokoh dan memberikannya berat, jika tidak itu seharusnya goncang bersama orang-orang, misal, bergerak dan bergetar sehingga mereka tidak dapat berdiri tegak di atasnya — karena ini diliputi oleh air, bagian dari 1/4 permukaannya.

    mengapa?

    Adalah demi mencegah daratan ikut-ikutan bergerak-gerak liar dan bahkan dapat berakibat terguling ketika sang ikan bergerak-gerak.

    Ini Sungguh suatu yang sangat cerdas dan brilian, bukan?!

  • Mengapa sangat wajar terjadinya banjir Nuh yang dapat menenggelamkan seluruh dunia hingga puncak tertinggi dunia sebagaimana terekam pada riwayat dibawah ini:

    Ibn Abbas mengatakan, [..]seluruh air menutupi seluruh permukaan bumi hingga akhirnya mengelilingi puncak2 gunung dan bahkan main tinggi melebihnya setinggi 15 hasta. Dikatakan juga bahwa gelombang itu tingginya 80 mil melampaui gunung-gunung. Perahu tersebut terus berlayar dibawah perlindungan Allah…[Tafsir Ibn Kathir untuk surat 11:40-43]

    Mengapa?

    Adalah karena bumi ini ada di atas punggung IKAN! Ikan hidupnya di air sehingga kebutuhan VOLUME AIR yang luarbiasa besar bukanlah menjadi persoalan dan sudah tersedia dengan sangat MELIMPAHnya. Jangankan cuma 80 mil, bahkan 2x dari itupun masih sangat melimpah, bukan?!

    Ini sungguh suatu yang sangat cerdas dan brilian, bukan?!

Sehingga yang sangat perlu di garis bawahi oleh mereka-mereka yang membantah kosmologi Bumi di atas punggung ikan paus ini adalah Para Penulis Tafsir tersebut adalah orang-orang KOMPETEN dalam QURAN, HADIS, SIRAT, BAHASA ARAB. Mereka berpengetahuan sangat luas dalam ISLAM dan BERKEMAMPUAN LEBIH DARI CUKUP untuk sekedar membedakan mana hadis yang PALSU/tidak, DHAIF/tidak ataupun Israliyiat/tidak. Bahkan para Ahli klasik Islam ini TIDAK ADA yang menyatakan bumi di atas punggung ikan gueedeee sebagai kisah palsu, dhaif dan Israiliyiat

Kesimpulan, Penciptaan semesta versi ABRAHAMIC

  • Penciptaan versi Al Qur’an jangat jelas BUKAN penciptaan semesta! Dan BUKAN PENCIPTAAN TATA SURYA namun hanya penciptaan Bumi dan berada di punggung seekor ikan Paus
  • Waktu penciptaan Bumi adalah lebih panjang dari penciptaan langit dan segala isinya
  • Allah melalui Qur’an menegaskan ALKITAB mengenai bagaimana PENCIPTAAN BUMI, yaitu Bumi diciptakan duluan daripada langit.
  • Bumi BUKANLAH anggota bagian dari langit!
  • Qur’an menyatakan Bumi sederajat dengan langit [namun saya lebih menyukai bahwa derajat Langit lebih rendah dari Bumi, karena ada belakangan].
  • Bahkan Matahari, Bintang dan Bulan diciptakan lebih belakangan daripada Bumi
  • Fungsi Bintang-bintang dan Bintang besar BUKAN-lah seperti Matahari, namun sebagai penghias langit, Pelempar setan dan Petunjuk navigasi.
  • Urutan penciptaannya adalah: Bumi, kemudian langit, kembali untuk menciptakan isi bumi. Penciptaan Manusia dilakukan setelah penciptaan Langit dan segala isinya selesai.

Jelas sudah bahwa penciptaan versi Qur’an tidak ada relevansinya dengan Big Bang. Islam juga medukung bahwa ide Geo sentris dan Bumi itu Datar. Untuk lebih detailnya silakan lihat: Di sini

[Kembali]



Abrahamic: Sejarah Manusia – Adam

Adam adalah manusia pertama versi abrahamic yang disepakati dan dinyatakan dengan suara bulat di kalangan ajaran Abrahamic:

Adam diciptakan menurut Rupa Allah
Adam diciptakan Allah menurut gambar rupa-Nya [Kejadian 1:26]. Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya [kejadian 1:27-28 dan Kejadian 5:1-3]. Konfirmasi bahwa Adam diciptakan menurut rupa Allah ada di tradisi Islam, yaitu di hadis Sahih Muslim book 40 Number 6809, Book 32 Number 6325:

      Allah menciptakan Adam seperti wujud-Nya 60 zira/Hasta tingginya (khalaqa Allahu azza wa jalla adama alaa shuratihi ṭūluhu sitũwna dẖirāʿaⁿạ) [Sahih Muslim no.40.6809/no.5075 dari riwayat Muhammad bin Rafi’ – Abdurrazzaq – Ma’mar – Hammam bin Munabbih – Abu Hurairah – Rasulullah SAW]. Juga di Sahih Muslim no.32.6325/no.4731 dari riwayat [Nashr bin ‘Ali Al Jahdhami – Bapakku (Ali bin Nashr bin ‘Ali bin Shuhban)] dan [Muhammad bin Hatim – ‘Abdur Rahman bin Mahdi], Keduanya dari Al Mutsanna bin Sa’id – Qatadah – Abu Ayyub – Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Allah ‘azza wajalla menciptakan Adam seperti wujudnya (kẖalaqa ạllãhu ʿazã wajalã ậdama ʿalaa ṣūratihi)”].

        Note:
        Para Rabbi Yahudi: Tinggi Adam sebelum jatuh dalam dosa, 200 hasta, setelahnya, 100 hasta [Babylonian Talmud: Tractate Sanhedrin 100a; Zohar, vol.1, hal.297; Midrash Tanhuma-Yelammedenu, Samuel A. Berman, hal.20]

      Fatwa IslamQA no.20652, di bagian bawah Fatwa:
      …Kata-kata Nabi, “Adam diciptakan menurut gambar-Nya” berarti bahwa Allah menciptakan Adam menurut gambar-Nya, karena Dia memiliki wajah, mata, tangan, dan kaki, dan Adam memiliki wajah, mata, tangan, dan kaki..

      Sehingga, Allah yang mempunyai tangan dan kaki dan itu BUKANLAH kiasan.

      Kaki Allah:
      Diriwayatkan Anas dan Abu huraira, dinyatakan Nabi berkata “Orang yang akan di ceburkan ke Neraka dan akan dikatakan, ‘masih ada yang lain?’ 50:30 hingga Allah menjejakan KAKINYA di atas Neraka dan dikatakan ‘Qati! Qati! (cukup..cukup)!’ [Bukhari 6.60.371, 372]

      Betis Allah:
      Pada hari betis disingkapkan (AQ 68.42) dan dalam Hadis riwayat Yahya bin Bukair, Allaits bin Sa’d -> Khalid bin Yazid -> Sa’id bin Abu Hilal -> Zaid -> ‘Atha’ bin Yasar -> Abu Sa’id Al Khudzri berkata, “Kami bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita akan melihat Tuhan kita pada hari kiamat?“..Nabi balik bertanya: ..Nabi meneruskan: ..Beliau melanjutkan, “Lantas Allah (Al jabbar) mendatangi mereka dengan bentuk yang belum pernah mereka lihat pertama kali, lalu Allah firmankan: ‘Akulah Tuhan kalian.’ Mereka menjawab, ‘Engkau adalah rabb kami, dan tidak ada yang berani mengajak-Nya bicara selain para nabi SAW, lantas para nabi berkata, ‘Bukankah di antara kalian dan Allah ada tanda yang kalian mengenalnya?

      Mereka menjawab, ‘Ya, yaitu betis, ‘

      maka Allah pun menyingkap BETIS-Nya sehingga setiap mukmin bersujud kepada-Nya. [Bukhari no.6886, Muslim no.269 (Dari jalur perawi: Suwaid bin Sa’id, Hafsh bin maisarah -> Zaid bin Aslam -> ‘Atha’ bin Yasar -> Abu Sa’id Al Khudri) dan Musnad Ahmad no.107103 (dari jalur perawi: Rib’i bin Ibrahim, Abdurrahman bin Ishaq, Zaid bin Aslam -> ‘Atho` bin Yasar -> Abu Sa’id Al Khudri)]

      Tangan Allah:
      [38:75] Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua TANGAN-Ku [biyadayya =(بِيَدَيَّ)]. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”

      Riwayat Harmalah bin Yahya, Ibnu Wahb, Yunus -> Ibnu Syihab, Ibnul Musayyab bahwa Abu Hurairah berkata; “Rasulullah SAW bersabda: ‘Kelak di hari kiamat Allah Tabaraka wa Ta’ala akan menggenggam bumi dan menggulung langit dengan TANGAN KANAN-Nya. Kemudian Dia berfirman.. [Muslim no.4994, Muslim 39.6703] atau Abu Bakr bin Abu Syaibah, Abu Usamah -> ‘Umar bin Hamzah -> Salim bin ‘Abdullah, Abdullah bin ‘Umar berkata; “Rasulullah SAW bersabda: ‘Pada hari kiamat kelak, Allah SWT akan melipat langit..menggenggamnya dengan TANGAN KANAN-Nya..’ Setelah itu, Allah akan melipat bumi dengan TANGAN KIRI-Nya sambil berkata:..'”[Muslim no. 4995, Muslim 39.6704]

      Jari Tangan Allah:
      Riwayat Ahmad bin ‘Abdullah bin Yunus, Fudhail bin ‘Iyadl -> Manshur -> Ibrahim -> ‘Ubaidah As Salmani -> ‘Abdullah bin Mas’ud dia berkata; “Seorang yahudi datang kepada NabiSAW, lalu dia berkata; ‘Wahai Muhammad, atau wahai Abu Qasim! Kelak di hari kiamat Allah Ta’ala memegang langit dengan 1 JARI, bumi dengan 1 JARI, gunung-gunung dan pohon-pohon dengan 1 JARI, lautan dan air dengan 1 JARI, mahluk lain dengan 1 JARI-Nya. Kemudian Dia goncangkan seluruhnya sambil berkata;….Rasulullah SAW pun tertawa mendengarnya dan membenarkannya. Kemudian beliau melafalkan AQ 39.67 [Muslim no.4992, 4993 atau Muslim 39.6699-6702]

      Allah Berlari:
      Riwayat Abu Mu’awiyah, Al A’masy -> Ma’rur bin Suwaid -> Abu Dzar, “Rasulullah SAW bersabda: “Allah Azza Wa Jalla berfirman: “Barangsiapa melakukan…Barangsiapa mendekat pada-Ku 1 jengkal maka Aku akan mendekat kepadanya 1 HASTA, dan barangsiapa mendekatkan diri pada-Ku sehasta maka Aku akan mendekat padanya 1 DEPA, dan barangsiapa mendatangi Aku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan LARI.” [Musnad Ahmad no.20398, juga di Tirmidhi no. 3527, hadis ini bisa dimaknai secara kiasan maupun bukan]

      Hadis dan Tafsir:

        Hadis riwayat al Haarith ibn Nawfal: “Allah menciptakan tiga hal dengan Tangan-Nya: Adam, menulis Tawraah, dan menanam tanaman di Firdaus” [Koleksi dari Daylami, Darqutni di ‘As Sifaat’ hal. 26 # 28 (juga riwayat Amr ‘Abdullah bin’ dari otoritas al Harits ibn Nawfal, hal. 403) dan Abu Ash Shaikh di ‘Al’ Udhmah ‘: 5/1555]

        Hadis riwayat ‘Abdullah bin’ Umar: “Allah menciptakan empat hal dengan Tangan-Nya: ‘arsy, Pena, Adam dan Surga ‘Adn. Kemudian untuk seluruh sisa penciptaan lainnya berkata ‘Kun’ [menjadi] dan terjadilah itu.” [Adh Dhahabi di ‘Al ‘Uluw’ menyatakan ‘rantai perawinya baik’. Al Albaani di ‘Mukhtasar al ‘Uluw’ hal.105 menyatakan ‘Rantai perawinya otentik menurut aturan imam muslim’]

        Dari otoritas ‘Abdullaah ibn al Haarith yang berkata rasulullah berkata: Allah menciptakan 3 hal dengan tangannya: Adam, menulis taurat, dan menanam di Firdaus…” [koleksi al Khira-ity in Masaawi al Akhlaaq: hal.62, #426]

        Hadis riwayat ibn ‘Umar: Allah menciptakan 4 hal dengan tangannya: Arsy, Surga ‘Adn, Adam dan Pena..” [Al Haakim menyatakan ‘rantai perawi otentik menurut syarat Bukkhari dan Muslim namun tidak dimasukan kedalam koleksi mereka]

        Ibnul Qayyim:
        Terdapat laporan otentik dari Bukhari dan Muslim dalam sahih mereka bahwa Nabi berkata dalam hadis tentang campurtangan: Akan dikatakan pada musa:”Kamu Musa yang allah akan nyatakan dengan ucapan (langsung) padamu dan menuliskan tablet untukmu dengan tangannya’ [Bayaan Talbees al Jahmiyyah 1/153].

        Ibn ‘Uthaymeen said:

        Para Ahli kitab menyatakan Allah tidak menyiptakan seluruhnya dengan tangan kecuali Adam, Surga ‘Adn, meulis taurat. Inilah 3 hal yang dilakukan dengan tangan Allah. Untk yang selain Adam, ia ciptakan dengan kata ‘kun’ (menjadi)'[Tafsir Surat al Kahf: hal.89]

      Imam Muslim, Nasai dan juga Imam Ahmad menyatakan bahwa kedua tangan Allah adalah Kanan.

        Riwayat (Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb dan Ibnu Numair) – Sufyan bin ‘Uyainah – ‘Amru (Ibnu Dinar) – ‘Amru bin Aus – (Abdullah bin ‘Amru, Ibnu Numair dan Abu Bakar) – Nabi SAW): “…sedangkan kedua tangan Allah adalah kanan semua..” [muslim no. 3406. Juga di Ahmad no. 6204, riwayat Sufyan – Amru bin Dinar – Amru bin Aus – Abdullah bin Amr bin Ash – Rasulullah SAW “..dimana kedua tangan-Nya adalah kanan“. Juga di Nasai no. 5284]

      Abdul-Qadir Gilani [1077–1166 masehi] menuliskan di “Al-Ghunya li-talibeen tariq al-haqq“, tentang bentuk tangan ALLAH, “Ia mempunyai dua tangan [yadan], dan setiap dari kedua tangannya adalah tangan kanan.” [juga di Bulletin Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 43/Th. II tgl 12 Dzulqo’dah 1425 H/24 Desember 2004 M, penulis Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli “Mengimani bahwa Allah Ta’ala memiliki Tangan”]

      Al-Bayḥaqī [994 M – 1066 M] dalam komentar untuk AQ 38.75 menyatakan “Dengan tashdīd (penggandaan) dari (huruf) “yā” menunjukkan gabungan (iḍāfah), dan ini adalah penetapan bentuk ganda (untuk kata tangan). Dan di sini TERLARANG membawakan itu dalam arti niʿmah (nikmat) atau qudrah (kekuasaan) karena itu bukan arti yang benar dalam spesifikasi dualitas dalam nikmat Allah juga tidak dalam kekuasaannya. Karena nikmat Allah lebih banyak dari yang dapat di hitung..”[Lihat lengkap: Di sini, Di sini dan Di sini]

Di Alkitab yaitu Allah mempunyai kaki, ‘Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu,..’ [kejadian 3:8]

Apakah hal ini bertentangan dengan As Syuura 42:11, “TIDAK ADA SESUATUPUN YANG SERUPA DENGAN DIA”? Ibn Kathir menyampaikan maksud kalimat itu: “Yaitu, Tidak ada sesuatupun yang sama seperti Pencipta seluruh pasangan tersebut. karena dia adalah mahaesa, Rabb yang kepada-Nya seluruh makhluk bergantung, tidak ada tandingan bagi-Nya” [“Lubaabut Tafsiir Min Ibni Katsiir” Pentahqiq: DR. Abdullah bin Muhammad bin Abdurahman bin Ishaq Al-SheikhIbn katsir, Cet-1, Tahun 1994, Jilid 7/Juz 25, hal 236], jadi ayat ini memang tidak membicarakan bahwa tidak ada mahluk yang menyerupai wujud atau bentuk Allah.

Adam di ciptakan di bumi.

    MEMBENTUK ADAM:
    Dan apapun (wakol) semak (Siah) di padang (hassadeh) BELUM ADA (terem Yisyeh) di bumi (ba ares), apapun (wakol) tetumbuhan (eseb) di padang (hassadeh) belum tumbuh (terem Yismah), sebab belum hujan (ki lo himtir) YHWH ELOHIM di bumi (al-ha-ares), dan ADAM BELUM ADA (wa adam ayin) UNTUK MENGERJAKAN (la abod) TANAH ITU (’et haadamah); dan kabut (wa ed) naik ke atas (ya aleh) dari bumi (min ha ares) dan membasahi (wahiqah) seluruh permukaan tanah itu (’et kal pene haadamah). Dan membentuk (wa yiser) YHWH ELOHIM manusia itu (’et-ha adam) debu dari tanah (apar min haadamah) dan dihembuskan di hidung (wa yipah ba appaw) nafas kehidupan (nismat hay yim) dan dijadikan ADAM mahluk hidup (way hi ha adam lanepes hayah) [Kej 2.5-7]

    MEMBENTUK TAMAN DI EDEN:
    dan dibangun (way yitta) YHWH Elohim TAMAN di EDEN (GAN BA EDEN/PARADEISON EN EDEM), DI TIMUR (miq-qedem. Konon letaknya dekat daratan sungai Efrat dan Tigris/nil, lainnya berkata di Selatan IRAK); dan menempatkan di situ (way ya sem sam) ADAM yang dibentuknya itu (’et ha adam aser yasar) dan ditumbuhkan (way yasmash) YHWH ELOHIM dari tanah segala pohon (min haadamah kal es) yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. [Kej 2.8-9]

      Note:
      TAMAN/KEBUN = (Yunani/LXX: PARADEISO/”παραδεισω”/KE’PO/”κηπω”) = FIRDAUS = (Persia: PAIRIDAEZA, arti: tertutup tembok) = (Akkadian: Pardesu) = (Ibrani: PARDES/GAN) = (Arab: JANNAH) merujuk pada BARANG YANG SAMA yang ada di EDEN yaitu taman tempat Adam sebelum di usir. (LXX: “Paradeison en edem”/”παραδεισον εν εδεμ” atau Masodetik: “Gan be Eden”, Kej 2.8, 15) BUKAN 2 TAMAN BERBEDA

      Namun di Islam, arti kata yang sama itu digabung sehingga menjadi aneh, “jannaatu al firdawsi” (“TAMAN-TAMAN TAMAN”, AQ 18.107). Padahal dari asal usulnya, harusnya ini adalah barang yang sama dengan “jannaati/taman-taman ‘adnin/EDEN” (AQ 16.61, 20.76, 35.33, 38.50, 40.8) yang konon adalah “jannaati/taman-taman al nna’iimi/kenikmatan”(AQ 20.56), “jannatu/taman al khuldi/kekal” (AQ 25.15) dan “jannaatu/taman-taman al ma’waa/kediaman” (AQ 32.19), juga sebagai: “maqaamin/kuburan-kuburan amiinin/aman” (AQ 44.51. Misal: Maqam Ibrahim, AQ 2.193/3.97) atau “daara/tempat al muqaamati/menetap”(AQ 35.35. maqām = tempat/place, muqām = tinggal/stay + “-ati“) atau “daaru/tempat alssalaami/aman” (AQ 6.127)

      Di sebut Jannah/kebun karena “ada pohon kurma dan anggurnya” (Lisan al-Arab, ibn Manzur, Jilid 13. hal.100) atau “lebatnya pohon yang menghalangi pandangan” (Mu’jam Mufradat Alfaz al-Qur’an, Al-Asfahani, Beirut, hal.204).

      Taman yang juga kuburan, misalnya: taman Uza tempat Manasye dan putranya, Amon dikubur (2 Raja 21.18, 26), Sirus yang Agung (546 SM) dan banyak lainnya.

      Taman tersebut merupakan sebuah Warisan (AQ 43.72-73, AQ 19.63, AQ 7.43) ketika “KAMI” menciptakan manusia dari suatu saripati dari tanah (AQ 23.10-12)

    Sungai yang mengalir dari Eden untuk membasahi taman dan bercabang 4… Yang pertama, Pison, mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila… yang kedua, Gihon, mengalir mengelilingi seluruh tanah Kush..yang ketiga, Tigris (Nil), mengalir di sebelah timur Asyur… yang keempat, Efrat [Kej 2.10-14].

      Note:
      Al Qur’an juga menyampaikan sungai-sungai di ‘jannah’:

      [66:8], [2:25], [2:266], [3:15], [3:136], [3:195], [3:198], [4:13], [4:57], [4:122], [5:12], [5:85], [5:119], [9:72], [9:89], [9:100], [10:9], [13:35], [14:23], [16:31], [18:31], [18:33], [20:76], [22:14], [22:23], [25:10], [29:58], [39:20], [47:12], [47:15], [48:5], [48:17], [54:54], [57:12], [58:22], [61:12], [64:9], [65:11], [66:8], [85:11], [98:8]

      Hadis:
      …terdapat 4 sungai, 2 tak terlihat dan 2 terlihat..adapun 2 sungai tak terlihat adalah 2 sungai yang berada di surga, sedangkan 2 sungai yang terlihat adalah NIL dan EUFRAT” [Bukhari no.3598, 2968, 5179]. Bahkan, sungai Nil dan Eufrat-pun selain di surga ke-7 [Muslim 1.314; dan Bukhari no.4.54.429 5.58.227], juga di surga ke-2 [Bukhari 9.93.608] dan bahkan di surga ke-1 [Bukhari no.6963]

    YHWH ELOHIM MENGAMBIL ADAM ITU DAN MENEMPATKANNYA DALAM TAMAN EDEN untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Lalu YHWH ELOHIM memberi perintah ini kepada Adam: “Semua pohon dalam taman boleh kaumakan buahnya, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, jangan kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati. [Kej 2.15-17]

      Note:
      “..Mesir seluas 400 parsa (1 parsa = 3.84–4.6 km) x 400 parsa. Dan ini 1/60nya ukuran Kush, dan Kush 1/60nya dunia. Dan dunia 1/60nya Taman di Eden, dan Taman di Eden 1/60nya Eden, dan Eden 1/60nya Gehena/Jahanam/Neraka..beberapa berkata: Gehenna tak ada ukurannya. Dan ada yang berkata Eden tak ada ukurannya” [Talmud Babilon (450-550 M), Tanit/Puasa 10a.9 / Pesachim/Perayaan paskah 94a.9, terjemahan William Davidson]

    …Dan Ia diusir (way sallehehu) YHWH ELOHIM dari taman Eden (Miggan eden) untuk mengusahakan (la abod) tanah (et hadamah) dimana ia diambil (aser luqqah missam). dan Ia halau (way qares) ADAM itu (et ha adam) dan ditempatkan (way yasken) DI TIMUR (miq qedem) taman Eden (la gan eden) beberapa malaikat (et hak kerubim) dan pedang berapi (wa et lahat ha hereb) yang dapat menyambar (ham mithap peket) menjaga jalan (lismor et derek) ke pohon kehidupan [Kej 3.23-24]

Adam Bukan manusia Pertama dan Ia Petani
Adam di usia 130 tahun mempunyai anak bernama Set sebagai pengganti Habel yang dibunuh Kain [Kejadian 4:1-2, 4:25, 5:3], Habel adalah penggembala dan Kain adalah Petani [kejadian 4:2-3]. Jadi, saat Set lahir, Habel dan kain(Qabil) sudah cukup dewasa untuk melakukan pekerjaan beternak dan bertani.

Di kejadian 3:22, 24 disebutkan Allah menugaskan Adam untuk mengusahakan dan memelihara Taman Eden. Saat di usir keluar dari taman Eden diperintahkan juga untuk mengusahakan tanah.

Konfirmasi pekerjaan anak-anak adam dinyatakan juga di Al Maidah 5:27:

    Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!.” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.”

Tafsir Ibn “Uyainah, Ibn Abi Hatim, Ibnu Hibban, Ibnu “Athiyah, Al-Samarkandi, Abi Ishaq, At-Thabari, Abi Syaibah, Al Baghawai, Abil-Fidak, Al-Razi dan banyak lainnya untuk ayat tersebut di atas menyatakan bahwa ‘kurban’ yang dipersembahkan Habil adalah hasil terbaik peternakannya, sebaliknya Qabil mempersembahkan ‘kurban’ yang merupakan hasil pertaniannya yang terjelek.

Diriwayatkan Ibn Abbas:

    Ibnu Abbas berkata, “Daud adalah seorang pembuat perisai, Adam seorang petani, Nuh seorang tukang kayu, Idris seorang penjahit dan Musa adalah penggembala.” (dari al-Hakim)

Telah ada orang sebelum Adam, sekurangnya Alkitab Kejadian 4:16-17, menyatakan bahwa Kain di usir ke tanah Nod, kemudian memperistri seorang Wanita dan melahirkan Henokh, kemudian kain mendirikan kota yang juga diberi nama Henokh!

Al Qur’an juga memberikan sumbangan bukti dengan surat yang diturunkan di 3 H(625 M), Al Imran 3: 33.

    Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing),

Kemudian, Al Baqarah 2:30.

    Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Kata Khalifah bisa berarti penguasa/pemimpin, juga bisa berarti pengganti, dua-duanya tetap saja mengartikan bahwa ada sekelompok orang yang sebelumnya ada dan perlu di atur [lihat Adam yang melebihi segala umat di masanya pada ayat 3:33] dan kata yang berarti pengganti menunjukan ada manusia/umat sebelumnya. Juga, Tuhan dan Iblis tahu adanya pertumpahan darah di bumi sebelumnya. [Lebih detailnya, lihat di sini dan di sini, juga tentang Reinkarnasi di Islam dan Kristen]

[Kembali]



Hindu: Penciptaan Semesta

Dalam kitab dongeng Hindu, yang disebut Purana, yaitu di Matsya Purana 2.25-30, penciptaan diceritakan terjadi setelah Mahapralaya, leburnya alam semesta, kegelapan di mana-mana. Semuanya dalam keadaan tidur. Tidak ada apa-apa, baik yang bergerak maupun tak bergerak. Lalu Svayambhu, self being, menjelma, yang merupakan bentuk diluar indra. Ia menciptakan air/cairan pertama kali, dan menciptakan bibit penciptaan didalamnya. Bibit itu tumbuh menjadi telur emas. Lalu Svayambhu memasuki telur itu, dan disebut Visnu karena memasukinya.

Rgveda tidak menjelaskan sejarah manusia, tapi menjelaskan evolusi semesta. Dongeng tersebut memberikan penjelasan yang padat, efektif dan sederhana atas apa yang dinyatakan RigVeda.

Sebelum, Saat dan Setelah Penciptaan adalah Tuhan
Konsep Hindu menyatakan bahwa sebelum, saat dan setelah Penciptaan adalah Tuhan. Filsafat Hindu dalam Rgveda, menyatakan bahwa Penciptaan merupakan manifestasi dari Yang Maha Kuasa.

    “Semua adalah Purusa, apapun yang telah terjadi dan apapun yang akan terjadi. Ia adalah tuan dari kekekalan, yang tumbuh dari makanan. Ia dinyatakan mempunyai ribuan kepala, ribuan mata dan ribuan kaki. Ia membungkus Bhumi dari segala penjuru, dan ada di luar berbentuk sepuluh jari. Semua hanyalah Purusa, “- Rgveda 10.90.1-2,

Chandogya Upanisad 3.14.1 menyatakan bahwa semuanya adalah Brahman.

Hindu tidak membuat dikotomi antara baik dan buruk, seperti dalam agama non Vedic. Batas alam semesta adalah tempat berlangsungnya pertempuran antara gaya konstraksi dan ekspansi. Pertempuran ini diinterpretasikan menjadi pertempuran baik dan buruk, antara dewa dan raksasa, antara Tuhan dan setan.

Tidak ada neraka abadi karena bahkan neraka pun tidak bisa dipisahkan dengan Tuhan. Bahkan, tidak ada surga atau neraka pada akhir jaman. Semesta hanyalah manifestasi dari Yang Kuasa, dan akhir dari siklus semesta yang sekarang disebut “Mahapralaya” saat semua kembali pada Purusa. Di akhir jaman, tidak ada surga, tidak ada neraka dan tidak ada jiwa.

Dalam Rgveda, kata “Purusa” bisa berarti manusia/laki-laki (man). Secara etimologis, Purusa berarti orang yang menghuni kota (Pura). “Pura” sendiri berarti tempat yang dihuni oleh penjaga/ penghuni.

  • Purusa adalah Prajapati [Satapatha Brahmana 7.4.1.15, Jaiminya Brahmana 2.47], Hiranyagarbha/Rahim emas adalah Prajapati [RV 10.121.1, 10. Garbha = rahim, telur. Nama lain telur adalah ‘anda’], di Rig veda, Ka = Prajapati = HiranyaGarbha. Dalam Atharvadeva (AV 10.2.30) Purusa adalah Brahman, oleh karenanya. Prajapati adalah Brahman, sehingga BrahmAnda/Rahim-Brahma/Telur-Brahma adalah Hiranyagarbha.
  • Visvakarman/Pencipta segala/Pembuat segala [RV 10.81/82] adalah Prajapati [Satapatha Brahmana 7.2.4.2.5].
  • Purusa adalah Brahmanaspati/Brhaspati, sang penguasa Ekspansi, menciptakan alam semesta seperti seorang seniman [RV 10.72.2].
  • Purusa adalah Lopramudra, Purusa adalah juga Agastya, hasil Agastya dan istrinya Lopamudra adalah Purusa,
  • Purusa adalah Indra atau Purandara (Pembelah kota), Purusa adalah Vṛtra/Virata atau Penutup batas [misal RV 10.124, Indra vs Vrtra, peperangan ini juga muncul di kitab-kitab kuno, misal Yam/Baal/Marduk/Yahwe vs Tihamat/tehom/Tanniyn/leviathan]. Apapun yang membesar lebih dari Purusa adalah Purusa.
  • Di RV 10.90.5, Purusa dan Virāj saling melahirkan dan menghasilkan lagi mereka sendiri, yang lebih besar dari Purusa adalah Purusa, dari purusa lahir 4 warna.
  • Purusa adalah Aditi, Purusa adalah daksa, Daksa dan Aditi saling melahirkan dan menghasilkan lagi mereka sendiri [RV 10.72.4-5], yang melahirkan adalah Purusa yang dilahirkan adalah Purusa. oleh karenanya 8 anak Aditi adalah purusa, anak ke-8 yaitu Martanda adalah purusa. Dalam naskah pasca-Veda, Purusa dan Aditi menjadi Visnu-Laksmi atau Siva-Sakti. Dalam Siva Purana, Daksa melakukan pengorbanan sehingga Dewi Sakti bisa lahir sebagai manusia sebagai putrinya Sati. Ini adalah representasi dari Aditi dan Daksa yang saling melahirkan.
  • Penguasa Kontraksi dan Ekspansi adalah Brahmanaspati dan Indra, adalah juga Indra dan Virata, atau Agastya dan Lopamudra
  • Pertempuran antara Ekspansi dan Kontraksi adalah Pertempuran Purusa. ini diinterpretasikan menjadi pertempuran baik dan buruk, antara dewa dan raksasa, antara Tuhan dan setan.
  • Karena semua alam semesta adalah manifestasi dari Purusa, kita juga adalah bagian dari Yang Maha Kuasa. Kitab-kitab Hindu menyatakan bahwa jika kita menyadari kebenaran sang diri, maka tidak ada lagi perbedaan antara kita dan Tuhan. Realisasi ini dinyatakan dalam Brhadaranyaka Upanisad 1.4.10, yang menyatakan “Aku adalah Brahman”.

Jadi Purusa dalam Veda adalah Tuhan. RigVeda menjelaskan bahwa sebelum penciptaan Sang Pencipta dalam bentuk tak berwujud yang disebut rahim emas, rahim dari semesta atau Hiranyagharba

    “Sebelum penciptaan adalah rahim emas, ia adalah tuan dari segala yang lahir. Ia memegang bumi dan surga ini.” -Rgveda 10.121.1

Emas mempunyai warna khusus. Material menjadi berwarna emas pada temperatur yang sangat tinggi. Untuk rahim dari mana matahari, bintang dan galaksi terbentuk, sangatlah wajar diasosiasikan dengan emas. Emas adalah warna energi dalam naskah Veda. Asosiasi dewa-dewa dengan emas dalam Hindu Dharma adalah simbol representasi dewa-dewa dalam bentuk berbagai energi.

Saat Penciptaan Semesta, Purusa/Prajapati/Brahman menciptakan dua kekuatan yang disebut Purusa yaitu kekuatan hidup (batin/nama) dan Prakerti (pradana/rupa) yaitu kekuatan kebendaan. Kemudian timbul “cita” yaitu alam pikiran yang dipengaruhi oleh Tri Guna yaitu Satwam (sifat kebenaran/Dharma), Rajah (sifat kenafsuan/dinamis) dan Tamah (Adharma/kebodohan/apatis). Kemudian timbul Budi (naluri pengenal), setelah itu timbul Manah (akal dan perasaan), selanjutnya timbul Ahangkara (rasa keakuan). Setelah ini timbul Dasa indria (sepuluh indria/gerak keinginan) yang terbagi dalam kelompok

  • Panca Budi Indria yaitu lima gerak perbuatan/rangsangan: Caksu indria (penglihatan), Ghrana indria (penciuman), Srota indria (pendengaran), Jihwa indria ( pengecap), Twak indria (sentuhan atau rabaan)
  • Panca Karma Indria yaitu lima gerak perbuatan/penggerak: Wak indria(mulut), Pani (tangan), Pada indria (kaki), Payu indria (pelepasan), Upastha indria (kelamin)

Setelah itu timbulah lima jenis benih benda alam (Panca Tanmatra): Sabda Tanmatra(suara), Sparsa Tanmatra (rasa sentuhan), Rupa Tanmatra(penglihatan), Rasa Tanmatra (rasa), Gandha Tanmatra (penciuman). Dari Panca Tanmatra lahirlah lima unsur-unsur materi yang dinamakan Panca Maha Bhuta, yaitu Akasa (ether), Bayu (angin), Teja (sinar), Apah (zat cair) dan Pratiwi (zat padat.)

Keadaan Sebelum Penciptaan
Keadaan sebelum penciptaan disebut dalam Nasadiya sukta yang mengisahkan asal mula alam semesta di Rgveda 10.129:

  1. Tiada yang termanifestasikan atau tak termanifestasikan. Sehingga tiada debu dan tiada langit di luarnya. Apa yang melingkupinya, di mana naungannya? Apa suara yang dalam dan tak-terjelaskan itu?
  2. Tiada kematian atau keabadian. Tiada perbedaan antara siang dan malam. Hanya Ia atas kehendakNya sendiri tanpa udara. Tiada apapun selain itu.
  3. Sebelumnya hanya ada kegelapan, semuanya ditutupi kegelapan. Semuanya hanya cairan yang tak terpisahkan (Salila). Apapun itu, ditutupi dengan kekosongan. Yang satu lahir dari panas.
  4. Sebelum itu (sebelum penciptaan) keinginan (untuk mencipta) bangkit dari diriNya, lalu dari pikiranNya bibit pertama lahir. Manusia yang bijak dalam berpikir menemukan yang termanifestasikan terikat dengan yang tak-termanifestasikan.
  5. Cahayanya menyebar menyamping, ke atas dan bawah. Ia menjadi pencipta. Ia menjadi besar atas kehendaknya sendiri ke bawah dan atas.
  6. Siapa yang tahu, siapa yang akan memberitahu dari mana dan mengapa penciptaan ini lahir, karena dewa-dewa lahir setelah penciptaan ini. Sehingga, siapa yang tahu dari siapa semesta ini dilahirkan.
  7. Dari siapa penciptaan ini dilahirkan, Ia mendukung atau tidak. Ia bertahta di langit tertinggi, mungkin Ia tahu atau mungkin tidak.

Sebelum penciptaan yang ada hanya kosong. Belum ada ruang maupun waktu. Tak ada materi dan energi. Konsep ini sangat penting dalam kosmologi Veda. Fisika modern mengatakan bahwa semua materi dan energi semesta terkonsentrasi dalam satu titik; namun, mantra satu sampai tiga dengan gamblang menyatakan semesta adalah sama sekali kosong pada awalnya. Taittiriya Brahmana menjelaskan:

    “Pada mulanya sama sekali tiada apapun. Tiada surga, tiada bumi dan atmosfer.” -Taittiriya Brahmana 2.2.9.1

Salila (air/cairan ) di mana-mana.
Sebelumnya yang ada hanya kegelapan dan hanya ada Salila (Rgveda 10.129.3 seperti dkutip sebelumnya). Salila berarti air, tapi dalam Rgveda itu berarti fluida asal yang tak terdiferensiasi. Dalam mantranya, Salila didahului oleh “apraketa” yang berarti tak terdiferensiasi, yang tanpa ragu lagi menjelaskan maksudnya. Bahwa Salila merupakan istilah teknis dijelaskan di Satapatha Brahmana.

    “Apah adalah Salila sebelumnya. Keinginan lahir dari itu. Mereka bekerja. Dari sana muncul panas. Dari panas lahirlah telur emas. Telur emas berenang di dalamnya selama satu tahun.” -Satapatha Brahmana 11.1.6.1

Bahwa Apah sebelumnya adalah Salila. Jadi, Apah dan Salila berarti air. Jika maksudnya adalah air, mantra ini menjadi tidak masuk akal sama sekali. Apah dan Salila merupakan istilah teknis dan tidak dapat ditukar pemakaiannya seperti kata “speed” dan “velocity”, dalam percakapan sehari-hari keduanya sama tapi dalam ilmu Fisika keduanya berbeda karena yang satu besaran skalar dan lainnya besaran vektor.

Salila adalah keadaan pertama dari semesta, ketika tak ada apapun. Yang ada adalah kesetimbangan yang sempurna dan keseragaman. Ketika kesetimbangan ini pecah karena gaya fundamental alam, ketidakseragaman tercipta dan ketidakseragaman inilah yang disebut Apah.

Veda menyatakan bahwa pada awalnya semua adalah Salila, yang sepintas tampak berarti air di mana-mana. Konsep air di mana-mana ini tersebar ke seluruh dunia dan kemudian dipinjam oleh agama non Vedic. Injil (Genesis 1.1-2 dan 1.6-7) dan Quran (21.30) menjelaskan bahwa pada mulanya alam hanya terdiri dari air.

Fisika modern menjelaskan pada kita bahwa alam semesta pada awalnya adalah panas, yang kemudian didinginkan secara cepat dengan mengembangnya semesta. Veda menjelaskan sebaliknya. Semesta pada mulanya sangat dingin. Evolusi semesta dimulai dengan naiknya temperatur.

Mantra RigVeda 10.129.3 di atas menyatakan bahwa penyebab semesta adalah tapa. Tapa merupakan konsep yang penting dalam Hinduisme. Pada Hinduisme pos-Veda, Tapa menjadi diartikan laku yang keras di tengah rimba, yang akan menghasilkan kekuatan yang luar biasa. Tapa berarti memanaskan, membuat panas, dan inilah arti yang digunakan dalam Veda. Evolusi semesta dimulai dengan penciptaan materi, energi dan ruang yang efeknya akan memanaskan semesta. Dalam pengertian ini, seluruh semesta bisa dianggap lahir dari Tapa.

Para pembaca yang berpengetahuan akan mengatakan bahwa materi dan energi selalu ada dan semua materi dan energi terkumpul dalam satu titik sebelum Ledakan Besar (Big Bang). Konsep Veda menjelaskan sangat berbeda! Alam semesta tidak dimulai dengan Ledakan Besar. Alam semesta muncul dari kekosongan, dan inilah dasar dari pernyataan “Sunya hi Parameswara hai” yang berarti Kehampaan adalah Tuhan.

Karena alam semesta tidak punya materi, energi dan ruang pada saat pertama, maka penciptaan ketiga hal tersebut sangatlah penting. Karena penciptaan alam semesta adalah melalui Yajna:

    “Dari Yajna didapatkanlah mentega. Lalu binatang (Pasu) Vayavya, Aranya, and Gramya diciptakan.”-Satapatha Brahmana 14.3.2.1

    “Dari Yajna berupa persembahan seluruh Rchas, lahirlah Samas. Dari sini lahirlah Chandas, dari sini lahirlah Yaju.”-Rgveda 10.90.9

    “Tujuh adalah batasnya (Paridhi), tiga kali tujuh adalah kayu bakar (Samidha). Dalam Yajna, dimana dewa-dewa menjadi tumbuh, mereka mengorbankan binatang Purusa.”-Rgveda 10.90.15

    “Tuhan memulai Yajna dari Yajna, itulah Dharma yang pertama. Mereka yang berhasil akan mencapai surga, tempat mahluk-mahluk angkasa dan dewa-dewa sebelumnya berada.” -Rgveda 10.90.16

RigVeda menyebutkan kata pasu (Binatang), hewan peliharaan hidup bersama dan hewan liar hidup lepas. Kitab ini bukanlah cerita tentang hewan sama sekali. Hewan peliharaan adalah simbolisasi dari partikel yang selalu berkumpul, sedangkan hewan liar adalah simbol dari partikel yang terlepas sendiri. Partikel materi diwakili dengan nama binatang dan dibagi menjadi tiga kategori: “Gramya” yang berarti binatang peliharaan, “Aranya” adalah binatang liar, dan “Varavya” adalah jenis burung.

Partikel2 seperti ini, dikenal dengan istilah boson dan fermion, adalah partikel yang sudah sangat dikenal para fisikawan. Ke-tidakhomogen-an inilah yang direpresentasikan dengan mentega. Alam semesta tak lagi sama dengan sebelumnya. Alam terbagi menjadi materi dan energi.

Pengorbanan di sini berarti perubahan wujud, perubahan dari wujud tak termanifestasi menjadi alam semesta dalam wujud bermanifestasi. Dengan berlanjutnya Yajna, berarti berlanjutnya penciptaan materi, energi dan ruang, keadaan yang serba-sama (homogen) lalu berubah menjadi tak-sama (heterogen). Tiga, merujuk kepada Triloka, bumi (Phrtivi), atmosfer(Antariksa) dan Langit (Dyau). Dalam tiap Loka terdapat tujuh Samidha yang berarti total dua puluh satu.

Begitu proses penciptaan dimulai, itu akan berlanjut dengan sendirinya.

Sang Penguasa Expansi
Didalam RigVeda 10.72.2 dikatakan bahawa Brahmanaspati/Brhaspati menciptakan alam semesta seperti seorang seniman. Brahmanspati berarti Sang Penguasa Expansi. Jadi Brahmanaspati bisa diidentifikasikan sebagai berekspansinya alam semesta. Dalam naskah pasca-Veda digambarkan menjadi pendeta para dewa, Mantra dibawah ini mengindikasikan bahwa alam semesta diciptakan dari exspansi.

    “Brahmanaspati, dengan kekuatanNya bisa membengkokkan yang tak terbengkokkan, yang dengan kemarahan membinasakan Sambara, yang mengacaukan yang tak terkacaukan, memasuki gunung Vasumanta…

    Ia membuka pintu air, yang telah ada dan akan terbentuk kemudian, selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun. Kerja yang dilakukan oleh Brahmanaspati, satu dan yang lain, menggunakan air dengan tanpa usaha yang keras…

    Orang bijak sebenarnya melihat ketidakbenaran itu dan berdiri pada jalur yang benar lagi. Mereka menciptakan Agni dari tangan mereka di gunung, yang belum ada sebelumnya…

    Indra yang sentosa dan Brahmanaspati, mengatur yang anda berdua pegang, bahkan air pun tidak bisa melawan hukum anda. Datanglah langsung makanan kita seperti dua kuda yang menarik kereta”-Rigveda 2.24.2,5,7,12

Tidak ada gunung dengan nama Vasumanta. Dalam Rgveda permukaan alam semesta disebut dengan istilah gunung. Exspansi alam semesta tidak terjadi secara spontan. Batas energinya dilambangkan oleh gunung. Vasumanta artinya yang menyimpan kekayaan, jadi gunung ini dianggap sebagai menyimpan kekayaan tersembunyi di dalamnya. Brahmanaspati dikatakan membuka pintu air. Ini bukanlah air biasa.

Pergerakan Indra dan Brahmnaspati merupakan kekuatan-kekuatan ekspansi dan konstraksi.

Brahmanaspati dikatakan membebaskan sapi-sapi yang tersembunyi dalam gunung. Ini bukan cerita perebutan mendapatkan sapi. Sapi-sapi berarti partikel fundamental dari alam yang belum termanifestasikan. Kekayaan ini adalah materi dan energi dari alam semesta, yang akan bermanifestasi pada saat permukaan dari alam semesta didorong lebih jauh.

    “Ketika Brhaspati menemukan tempat dimana sapi-sapi disembunyikan dan membuat suara. Sapi keluar dari gunung seperti burung keluar dari telur”-Rgveda 10.68.7
    “Kemarahan Brahmanaspati, yang selalu melakukan hal-hal yang hebat, menjadi nyata ketika Ia menginginkan. Ia membawa sapi-sapi keluar, membagi mereka dengan prosedur yang hebat untuk surga, dan mereka mulai bergerak terpisah dengan kekuataannya”-Rigveda 2.24.14

Dalam kosmologi Veda, alam semesta mempunyai pusat, dan materi serta energi diciptakan secara terus menerus di permukaan alam semesta selama semesta berekspansi.

Lahirnya Dewa-Dewa dan Kontraksi Alam Semesta
Kosmologi “Ledakan Besar” (Big Bang) memberikan penjelasan yang sangat dramatis tentang saat-saat awal penciptaan. Alam semesta sangat panas lalu melalui tahap ekspansi yang sangat cepat yang disebut inflasi. Pandangan Veda berbeda dengan pandangan Ledakan Besar. Momen awal penciptaan dijelaskan dengan sukta berikut dalam RgVeda:

    Dari delapan Putra yang lahir dari Aditi, hanya tujuh yang dibawanya kepada para dewa, Martanda ditinggalkan. Dengan ketujuh putranya, Aditi pergi ke masa sebelumnya. Untuk kelahiran dan kematian manusia, Aditi menerima Martanda kembali. -RigVeda 10.72.8-9

Martanda berarti telur mati. Telur disini adalah alam semesta, jadi telur mati berarti alam semesta tanpa kehidupan.

Terbentuknya kehidupan bukanlah proses yang spontan. Alam semesta harus berkembang untuk menjadi eksis, tapi gaya ekspansi dan konstraksi telah ada sejak awal dalam keseimbangan yg lemah.

Alam semesta tidak berkembang secara kontinyu adalah sudut pandang Veda. Setelah ekspansi awal, alam semesta mulai mengkerut. Inilah arti dari Aditi pergi ke masa sebelumnya.

Taittiriya Samhita 6.5.6.1 mengatakan bahwa Aditi melahirkan telur yang tidak sempurna. Dalam Mahabharata, Harivamsa Parva 9.5 Kasyapa berkata kepada Aditi tentang penolakannya bahwa putranya tidak mati, tapi ada di dalam telur. Oleh karena itu ia diberi nama Martanda. Inti dari semua cerita tersebut adalah gaya dasar alam tidak bekerja dengan baik pada saat penciptaan.

Setelah ekspansi awal, alam semesta mulai kolaps. Lalu gaya dasar alam berubah, dan semesta mulai berekspansi lagi. Saat semesta telah dalam keadaan setimbang, itu disebut Vivasvana, tempat di mana makhluk bisa hidup.

    “Aditi mempunyai delapan Putra. Hanya tujuh dari mereka yang disebut Aditya. Yang kedelapan, Martanda, tidak punya bagian tubuh yang bisa dibagi. Para Aditya melihat ia (Martanda) tidak sama dengan mereka (Aditya), jadi mereka membagi tubuhnya. Lalu ia menjadi seorang manusia. Ia diberi nama Vivasvana dan semua manusia lahir dari dia.” -Satapatha Brahmana 3.1.3.3-4

Satapatha Brahmana 3.1.3.4 adalah sumber dari mitos dimana manusia diciptakan sejak saat awal oleh Tuhan. Perlu dicatat bahwa Vivasvana adalah alam semesta itu sendiri sehingga tidaklah mungkin melahirkan manusia.

Dalam Rgveda 10.17.1 Yama disebut sebagai Putra Vivasvana, dan dalam Rgveda 10.14.1 Yama disebut sebagai Vaivasvata yang berarti Putra dari Vivasvana. Orang suci dalam sukta 8.27-31 dalam Rgveda adalah Vaivasvata Manu.Vivasvata berarti Putra dari Vivasvana. Dalam naskah India, Vivasvana adalah ayah dari Manu, raja pertama, dan dalam naskah Iran, Vivangahvanta (yaitu Vivasvana) adalah ayah dari Yima (yaitu Yama), yang juga raja pertama.

Sejak adanya naskah pasca Veda, penciptaan manusia pertama diterima sebagai terjadi segera setelah penciptaan semesta, sehingga selanjutnya Veda diasumsikan diterima oleh manusia sejak awal jaman. Veda ditemukan oleh orang-orang suci pada masa kebudayaan Indus-Sarasvati. Alam semesta berumur milyaran tahun, sedangkan sejarah manusia hanya berumur 10.000 tahun saja. Pada saat 10.000 tahun yang lampau pikiran manusia belum mampu untuk mencerna pengetahuan di dalam Veda. Sejarah manusia, dan tentu saja sejarah India juga, baru berumur 10.000 tahun, Dongeng yang tercantum di Purana telah mecampuradukan kosmologi dan sejarah manusia.

Pada abad awal dan pertengahan sejarah, umat Hindu (dan Budha) telah menyebarkan ide mereka ke seluruh penjuru. Sumber dari beberapa ide dalam ajaran Kristen dan Islam adalah berasal dari naskah suci Hindu. Perhatikan keterangan berikut dari Taittiriya Brahmana.

    “Setelah menciptakan alam semesta dan manusia, Prajapati pergi tidur.” -Taittiriya Brahmana 1.2.6.1

Keterangan yang sama bisa ditemukan pada Injil (Genesis 2.2) yang mengatakan bahwa Tuhan beristirahat pada hari ketujuh setelah menyelesaikan pekerjaannya..

Batas Semesta
Menurut Big Bang, alam tidak mempunyai batas. Dalam kosmologi Veda, alam semesta mempunyai batas, diluar alam semesta adalah alam sepuluh dimensi.

    “Semua adalah Purusa, apapun yang telah terjadi dan apapun yang akan terjadi. Ia adalah tuan dari kekekalan, yang tumbuh dari makanan. Ia dinyatakan mempunyai ribuan kepala, ribuan mata dan ribuan kaki. Ia membungkus Bhumi dari segala penjuru, dan ada di luar berbentuk sepuluh jari. Semua hanyalah Purusa,” -Rgveda 10.90.1,

    “Kemudian Virata lahir. Virata lebih besar dari Purusa. Ia mulai terbagi setelah lahir. Lalu menjadi Bhumi dan Pura.” -Rgveda 10.90.5

Kata ribuan digunakan untuk melukiskan arti tak terbatas (banyak sekali). Makna yang paling krusial dalam mantra ini adalah bahwa Purusa berada di luar semesta dalam bentuk sepuluh jari.

Yaska menjelaskan arah ini dalam tangan alam di Nirukta 1.7 Taittiriya Samhita 4.7.9.1 yang mengatakan jari adalah arah. Satapatha Brahmana (6.3.1.2.1 dan 8.4.2.13) menjelaskan bahwa arah (Disa) ada sepuluh. Dalam terminologi sains modern, arah berarti dimensi. Alam semesta dalam kosmologi Veda dipandang sebagai sepuluh dimensi.

Semesta dilukiskan sebagai telur dalam semua naskah pasca-veda.

    “Seluruh semesta termasuk bulan, matahari, galaksi dan planet-planet ada didalam telur. Telur ini dikelilingi oleh sepuluh kualitas dari luar.” -Vayu Purana 4.72-73

    “Di akhir dari ribuan tahun, Telur itu dibagi dua oleh Vayu.” -Vayu Purana 24.73

    “Dari telur emas, bumi dan langit diciptakan.” -Manusmrti 1.13

Ketika alam semesta berekspansi, Ia juga diberi nama Virata yang diturunkan dari akar kata ‘Vr’ yang artinya untuk menutupi yang juga berarti ‘sangat besar.

    “Vrtra menutupi kesemua tri loka.” -Taittiriya Samhita 2.4.12.2
    “Vrtra berada jauh diatas di Antariksa.” -Rgveda 2.30.3

Tri loka melukiskan alam semesta, jadi disini Vrtra menutupi alam semesta. Jika Vrtra ada dibatas alam semesta, ia bisa dikatakan berada ditempat yang jauh sekali.

Kata Sanskrit “Brahmanda,” yang merupakan perpaduan dari dua kata yakni “Brahma” dan “Anda.” Brahma berasal dari kata “Brha” yang berarti berkembang dan “Anda” berarti telur. Telur secara makro adalah Semesta, secara mikro Bumi. Jadi Brahmanda berarti telur yang mengembang yang dapat juga berarti isi semesta yang mengembang dengan “pura” yang merujuk pada batas alam semesta. Pura berarti kota yang terlindung dan juga digunakan biasa dimaknai sebagai benteng yang mengelilingi sebuah kota.

Konsep ini sangat penting karena membantu mengungkap arti dari Indra, yang juga disebut “Purandara”, Ia yang menerobos kota yang terlindung.

Indra juga sering disebut sebagai Purandara yang berarti ia yang membelah kota (Pura). Pura di sini bukanlah kota biasa, tapi seluruh alam semesta, oleh karena itulah sumber utama alam disebut dengan Purusa. Jadi Purandara berarti Ia yang membelah alam semesta. Kalau Vrtra berarti Ia yang menutupi Semesta, maka Indra adalah Ia yang membelah alam semesta.

Dalam Veda, batas alam semesta adalah tempat berlangsungnya pertempuran antara gaya konstraksi dan ekspansi. Dalam Rgveda, dilambangkan dengan pertempuran antara Indra dan Vrtra, dan layar dari pertempuran ini adalah batas alam semesta. Kekuatan utama ekspansi dalam Veda dilukiskan sebagai Indra, dan musuh utamanya, kekuatan utama kontraksi adalah Vrtra. Pertempuran ini diinterpretasikan menjadi pertempuran baik dan buruk, antara dewa dan raksasa, antara Tuhan dan setan.

Dalam Rgveda 1.32 karena inilah titik pusat dalam komsologi Veda. Dilukiskan bahwa Vrtra (sang ular) menahan air, di matra 12 dijelaskan menjelaskan bahwa kekalahan Vrtra dari Indra membebaskan tujuh sungai untuk mengalir. Pembebasan tujuh sungai (sapta sindhu) oleh Indra bukanlah disebutkan hanya satu kali, tapi berulang-ulang kali dalam Rgveda. Ide dimana ular menahan air juga ditemukan dalam mitos yang berbeda-beda diseluruh dunia.

Mitos dari Quiches, suku Indian di Amerika Selatan, bisa ditemukan di Popol Vuh. Suku Quiches percaya bahwa pada mulanya adalah air dan ular berbulu.

Gaya Listrik
Dengan menyadari bahwa pertempuran antara Indra dan Vrtra adalah pertempuran antara gaya ekspansi dan kontraksi, sekarang perlu kita menentukan gaya yang mana direpresentasikan baik oleh Indra maupun Vrtra. Sains moderen mengenal tiga gaya fundamental: gravitasi, nuklir dan listrik.

Gaya gravitasi adalah gaya antara dua massa yang selalu tarik menarik. Ini adalah gaya yang tetap berlaku pada jarak yang panjang dan merupakan gaya yang melingkupi sistem tata surya dan galaksi.

Indra bukanlah menggambarkan gaya gravitasi karena gravitasi adalah gaya tarik. Gaya nuklir adalah gaya yang menjaga inti atom, jadi gaya ini bukanlah gaya yang direpresentasikan oleh Indra, karena gaya yang digambarkan oleh Indra haruslah berlaku untuk jarak yang panjang. Gaya arus lemah terdiri dari gaya nuklir lemah dan gaya elektromagnetis.

Gaya nuklir lemah merupakan gaya yang berlaku pada jarak yang sangat pendek sekitar 10-17 meter, Jadi bukan gaya yang berlaku pada tingkat kosmik. Jadi gaya nuklir masih tidak sesuai. Gaya Elektromagnetik terdiri dari gaya listrik dan gaya magnet. Kedua gaya ini bisa atraktif maupun repulsif, dan bisa menjangkau jarak yang panjang. Indra diidentifikasikan sebagai gaya listrik berdasarkan literatur Veda.

Dalam Rgveda 4.17.13 Indra disebut sebagai Asanimana yang artinya Ia yang menguasai petir. Lebih lanjut dalam Kausitaki Brahmana 6.9, Indra disebut sebagai Asani (petir). Satapatha Brahmana mengatakan:

    “Siapakah Indra dan siapakah Prajapati? Petir adalah Indra dan Yajna adalah Prajapati.” -Satapatha Brahmana 11.6.3.9

Tegangan Permukaan
Vrtra menutupi seluruh semesta dan juga merupakan gaya kontraksi. Ini membawa realisasi langsung bahwa Vrtra tak lain adalah tegangan permukaan dari alam semesta. Setetes fluida cenderung menjadi bentuk spherical untuk mengurangi gaya permukaan.

Terdapat energi yang berhubungan dengan gaya permukaan, dan setiap sistem selalu berusaha mengurangi energinya. Inilah sebabnya mengapa gelembung berbentuk spherical (seperti bola) karena sphere (bola) merupakan konfigurasi dengan luas permukaan terendah. Jika alam semesta berekspansi, permukaannya cenderung meningkat, yang akan menaikkan total energi alam semesta. Tegangan permukaan akan beraksi mengurangi luas permukaan alam semesta, dengan kata lain tegangan permukaan akan berusaha mengkontraksi alam semesta.

Gaya repulsi listrik haruslah lebih besar dari tegangan permukaan pada saat elam semesta berekspansi. Inilah pertempuran besar kosmik antara Indra dan Vrtra, dan mendapat perhatian sangat besar dalam Rgveda karena hasil dari pertempuran ini akan menentukan apakah akan terbentuk alam semesta atau tidak. Rgveda melukiskan pertempuran ini dalam berbagai cerita, salah satunya adalah cerita tentang pembunuhan babi liar.

Pembantaian Varaha
Varaha mempunyai arti langsung yakni babi liar. Kata varaha diturunkan dari akar kata “Vr” yang secara etimologis berarti Ia yang menutupi/melingkupi. Jadi, secara etimologis arti dari Varaha dan Vrtra adalah sama. Bukanlah kebetulan jika Rgveda menjelaskan pembantaian Varaha dan juga Vrtra. Pembantaian Varaha dihubungkan dengan Visnu dan Trita.

    “Visnu membunuh Varaha dan mencuri makanan yang telah dimasak.”–Rgveda 1.61.7

    “Trita, diperkuat oleh Indra, membunuh Varaha menggunakan kuku besi.”- Rgvda 10.99.6

Varaha dan Vrtra dua-duanya merepresentasikan permukaan semesta. Trita dilukiskan sebagai memiliki kuku besi, yang menggambarkan sifat-sifat magnetis dari Trita.

Para pembaca yang mempunyai pengetahuan mendalam tentang teori kosmologi secara detail mungkin menganggap diskusi tentang tegangan permukaan ini sebagai sesuatu yang absurd, karena semesta seharusnya tidak mempunyai permukaan di awal penciptaannya.

Kenyataannya adalah para ilmuwan telah menemukan bukti adanya fenomena permukaan pada skala kosmologi, tapi gagal meng-identifikasi-kan-nya lebih lanjut. Para ilmuwan baru-baru ini menemukan gelembung dan rongga dalam skala kosmik, suatu tanda adanya tegangan permukaan.

Gelembung dan Rongga (Voids) di Angkasa Luar.
Salah satu asumsi penting yang mendasari kosmologi Big Bang adalah alam semesta dimana-mana sama (uniform). Artinya seluruh bagian alam semesta mempunyai massa jenis dan struktur yang sama. Dengan pertimbangan tersebut, pemilihan unit untuk dispersi massa-energi menjadi sangat penting. Kita tahu bahwa planet-planet dan bintang-bintang tidaklah terdistribusi merata. Para ilmuwan memilih skala yang lebih besar, pada awalnya dipercayai galaksi tersebar secara merata diseluruh angkasa luar.

Ketika Hubble melakukan survey pada 44,000 galaksi, Ia tidak menemukan distribusi merata, bahkan Ia menemukan pengelompokan (clustering). Penelitiannya dilanjutkan oleh Fritz Zwicky pada tahun 1938 yang menemukan juga bahwa galaksi mengelompok dan tidak terdistribusi merata. Hal ini yang mendasari bahwa kelompok galaksi (cluster of galaxies) adalah unit yang cocok [untuk model Big Bang-ed] dan kelompok galaksi ini tersebar secara merata di angkasa.

Galaksi kita, Bima Sakti (Milky Way), adalah bagian dari kelompok duapuluh lima galaksi. Astronomer Perancis Gerard de Vaucouleurs melakukan penelitian dalam skala yang lebih besar lagi pada tahun 1950, dan menemukan bahwa kelompok galaksi juga tidak terdistribusi merata.Ia mengelompokkan galaksi dalam supercluster yang mempunyai rentang 200 juta-tahun-cahaya. Para ilmuwan kemudian percaya bahwa supercluster galaksi ini adalah unit yang lebih tepat karena semesta tampak terdistribusi merata. Tapi ada lagi penemuan baru yang mendapatkan bahwa supercluster terletak pada gelembung raksasa. Didalam gelembung adalah rongga besar tanpa ada galaksi hampir tak ada massa dan energi.

Veda mempunyai referensi tentang struktur raksasa ini pada Satapatha Brahmana:

    “Ketika Apah dipanaskan, gelembung (Phena) tercipta” -Satapatha Brahmana 6.1.3.2

Definisi Apah sudah dijelaskan diatas bahwa itu bukan semata-mata air. Ada cukup referensi untuk membuktikan bahwa orang suci Veda menganggap Apah melingkupi seluruh alam semesta. Dengan tanpa mengetahui arti sains dari Apah, semua agama dan mitologi membicarakan alam semesta yang ditutupi oleh air pada awal penciptaan.

Mantram yang dikutip diatas, dengan jelas membuktikan bahwa orang suci Veda berpendapat bahwa tegangan permukaan bekerja sehingga Apah menjadi berbentuk gelembung. Ditemukannya gelembung raksasa dalam skala besar pada struktur alam semesta membuktikan adanya tegangan permukaan dalam evolusi semesta.

Karena ilmu pengetahuan modern gagal memasukkan tegangan permukaan dalam teorinya, tak heran setelah tujuh puluh tahun riset yang terus menerus belum juga mampu memprediksi evolusi alam semesta.

Sebabnya jelas. Seluruh framework Big Bang adalah salah.

[Kembali]



Hindu: Siklus Semesta

Sejarah bumi saat ini berada di jaman Kali yuga ke-28 pada tahun Brahma ke 51. Jaman kali yuga ini di mulai di Februari 3102 SM [Manusmrti 1:64-80; Surya Sidhantha 1:11-23] dan berakhir di 432.000 tahun kemudian.

Semesta merupakan proses yang tiada awal dan akhir. Rangkaian siklus Semesta yang terbagi kedalam 14 mavantara. Di setiap rangkaian tersebut didahului dengan banjir super besar di permukaan bumi, dan disetiap banjir super tersebut Manu menyelamatkan spesies dengan Perahu besar [Manusmrithi 1:64-80, matsya Purana] dan rangkaian diakhiri dengan Pralaya [Manu Smriti, Sacred Books of the East Vol. 25, translated by Georg Bühler, 1886, Chapter I, 79].

Setiap selesai 100 tahun Brahma akan ada MahaPralaya [Studies in Occult Philosophy 358, Occult Glossary 20-1, Secret Doctrine 1:368, 2:179, Fundamentals of the Esoteric Philosophy 145, 184, 468].

Pralaya merupakan sinonim dari Samhara, satu dari 5 fungsi Siwa. Pralaya(Sanskrit) artinya adalah berakhir, menyerap kembali alam di akhir jaman/kalpa; penghancuran dan Mati. Pralaya di Terminologi Hindu:

  1. Nitya pralaya berarti tidur, arti yang lebih luasnya adalah Mati, terjadinya kematian jiwa
  2. Laya atau Yuga Pralaya, di akhir Maha Yuga (4 yuga), terjadinya banyak sekali kematian (mis perang, gempa dll)
  3. Mavantara Pralaya, terjadi di setiap mavantara, jadi sebanyak 14 Mavantara, berupa banjir besar yang mendahului adanya Manu ‘manusia’
  4. Dina (hari) Pralaya atau Naimittik Pralaya atau pralaya, terjadi di akhir kalpa (1 hari penuh Brahma = 1000 Maha yuga), hancurnya semesta, Surga dan Neraka (3 dunia: Bhur, bhuwah, swaha)
  5. Mahapralaya, terjadi di akhir Maha Kalpa (100 Kalpa), atau di akhir usia Brahma, dimana 14 Dunia, 5 elemen(tatwa) 3 sifat (triguna) musnah. Jadi seluruh Brahmanda (telur yang mengembang, semesta dan segala isinya termasuk para deva) di serap kembali oleh Brahman.
  6. Aatyantika Pralaya, ‘tercapainya perjalanan jiwa lepas dari roda samsara’, khusus arti yang ini, maka waktu terjadinya adalah relatif.
  7. Philosophi samkya menyatakan bahwa pralaya berarti ‘kosong, tiada apapun, keadaan yang dicapai ketiga triguna (Satwam, rajas, tamas) berada pada kondisi yang balance, arti no 6 ini merupakan sinonim dari dari no 5, waktu terjadinya adalah relatif

Di ajaran Hindu, terdapat dua pendapat berkenaan dengan Apakah ada pengulangan penciptaan setelah Mahapralaya?

Pendapat pertama menyatkan bahwa siklus penciptaan sudah mencapai final dan tidak ada perulangan.

Pendapat lainya menyatakan bahwa ketika umur Brahma dan kemudian semesta diserap kembali oleh Brahman terjadi pengulangan proses Karena Brahma tercipta oleh Brahman, sebagaimana dikisahkan di Purana Srimad Bhagavatam 3.8.16-33, Brahma lahir di pusar perut Wisnu yang tengah berbaring di semesta yang dipenuhi cairan, Brahma mengalami kebingungan atas keberadaannya kemudian mencari tahu dan menemukan Visnu. Kemudian terdapat juga cerita di Siwa Purana dan Tamasika Purana, yang mengisahkan ketika Brahma menolak untuk memuja Visnu, mereka kemudian bertanding. Ditengah pertandingan muncullah Siva dan menegahi mereka melalui sayembara siapa yang tercepat diantara mereka untuk mencapai bagian terbawah Siva atau bagian teratas Siva maka dialah pemenangnya. Visnu segera merubah wujud sebagai Babi (Varaha) kemudian menuju kebawah, Brahma berubah menjadi Angsa menuju ke atas namun tidak ada dari mereka yang mencapainya.

Siklus umur Brahma di bagi dalam rangkaian Mavantara, di setiap Mavantara ada Manu, jadi terdapat 14 manu dalam 14 Mavantaranya. Manu berasal dari kata Manasa yang berarti mahluk yang memiliki kesadaran/berpikir. Manvantara berasal dari ‘Manu’ dan ‘antara’ yang artinya adalah interval antara dua Manu [Srimad-Bhagavatam 3.13.14-16] Manu bukan merupakan unit individu, Manu merupakan satu set ras manusia. Manu merupakan nama generik dari Pitr atau leluhur/asal muasal manusia [Secret Doctrine 2:308-9].

Jaman kita ini merupakan jaman Manu yang ke 7 dari 14 Manu yang akan ada di bumi ini:

  • Manvantara 1 – interval dari Swayambhu Manu (makhluk berpikir yang menjadikan dirinya sendiri) menurunkan 7 ras generasi di interval ini yaitu Saptarshis, Marichi, Atri, Angiras, Pulaha, Kratu, Pulastya, and Vashishtha [2][6].
  • Manvantara 2 – interval of Swarochisha Manu menurunkan 7 ras generasi di interval ini yaitu Urja, Stambha, Prańa, Dattoli, Rishabha, Nischara, and Arvarívat.
  • Manvantara 3 – interval of Auttami Manu menurunkan 7 ras generasi di interval ini yaitu Sons of Vashishtha: Kaukundihi, Kurundi, Dalaya, Śankha, Praváhita, Mita, and Sammita.
  • Manvantara 4 – interval of Támasa Manu menurunkan 7 ras generasi di interval ini yaitu Jyotirdhama, Prithu, Kavya, Chaitra, Agni, Vanaka, and Pivara.
  • Manvantara 5 – interval of Raivata Manu menurunkan 7 ras generasi di interval ini yaitu Hirannyaroma, Vedasrí, Urddhabahu, Vedabahu, Sudhaman, Parjanya, and Mahámuni.
  • Manvantara 6 – the interval of Chakshusha Manu menurunkan 7 ras generasi di interval ini yaitu Sumedhas, Virajas, Havishmat, Uttama, Madhu, Abhináman, and Sahishnnu.
  • Manvantara 7 (Saat ini) – interval of Vaivasvata Manu menurunkan 7 ras generasi di interval ini yaitu Kashyapa, Atri, Vashishtha, Vishvamitra, Gautama, Jamadagni, Bharadvaja [6].
  • 7 (Tujuh) Manu di Manvantara 8 s/d 14 Manvantara adalah: Arka Savarnika. Daksha Savarnika, Brahma Savarnika, Dharma Savarnika, Rudra Savarnika, Deva Savarnika or the son of clarity: Raucya dan terakhir adalah Indra Savarnika [Vishnu Purana, terjemahan oleh Horace Hayman Wilson, 1840, Book III: Chapter I. p. 259]

[Kembali]



Hindu: Sejarah Manusia – Manu

Setelah tercipta alam semesta, Dewa-Dewa, Gandarwa. Paisacha. Maka Brahman menciptakan tumbuhan, binatang dan manusia.

Brahman (Prajapati) menciptakan dua kekuatan yang disebut Purusa yaitu kekuatan hidup (batin/nama) dan Prakerti (pradana/rupa) yaitu kekuatan kebendaan. Kemudian timbul “cita” yaitu alam pikiran yang dipengaruhi oleh Tri Guna yaitu Satwam (sifat kebenaran/Dharma), Rajah (sifat kenafsuan/dinamis) dan Tamah (Adharma/kebodohan/apatis). Kemudian timbul Budi (naluri pengenal), setelah itu timbul Manah (akal dan perasaan), selanjutnya timbul Ahangkara (rasa keakuan). Setelah ini timbul Dasa indria (sepuluh indria/gerak keinginan) yang terbagi dalam kelompok

  • Panca Budi Indria yaitu lima gerak perbuatan/rangsangan: Caksu indria (penglihatan), Ghrana indria (penciuman), Srota indria (pendengaran), Jihwa indria ( pengecap), Twak indria (sentuhan atau rabaan)
  • Panca Karma Indria yaitu lima gerak perbuatan/penggerak: Wak indria(mulut), Pani (tangan), Pada indria (kaki), Payu indria (pelepasan), Upastha indria (kelamin)

Setelah itu timbulah lima jenis benih benda alam (Panca Tanmatra): Sabda Tanmatra(suara), Sparsa Tanmatra (rasa sentuhan), Rupa Tanmatra(penglihatan), Rasa Tanmatra (rasa), Gandha Tanmatra (penciuman).

Dari Panca Tanmatra lahirlah lima unsur-unsur materi yang dinamakan Panca Maha Bhuta, yaitu Akasa (ether), Bayu (angin), Teja (sinar), Apah (zat cair) dan Pratiwi (zat padat.)

Perpaduan semua unsur-unsur ini menghasilkan dua unsur benih kehidupan yaitu Sukla (benih laki-laki) dan Swanita (benih perempuan). Pertemuan antara dua benih kehidupan ini adalah pertemuan Purusa dengan Pradana maka terciptalah manusia.

    Dahulu kala Prajapati mencipta manusia bersama bhakti persembahannya dan berkata dengan ini engkau akan berkembangbiak dan biarlah dunia ini jadi sapi perahanmu-[Bhagavad-Gita 3.10]

    Beberapa jiwa memasuki kandungan untuk ditubuhkan; yang lain memasuki obyek-obyek diam sesuai dengan perbuatan dan pikiran mereka.-[Katha Upanisad 2.2.7]

    Mahluk-mahluk di dunia yang terikat ini adalah bagian percikan yang kekal (Brahman) dari Ku, mereka berjuang keras melawan 6 indria termasuk pikiran.-[Bagawad Gita 15.7]

Percikan dari Brahman itu dinamakan Atman/jiwatman. Atman itu tak terlukai oleh senjata, tak terbakar oleh api, tak terkeringkan oleh angin, tak terbasahkan oleh air, abadi, di mana- mana ada, tak berpindah- pindah, tak bergerak, selalu sama, tak dilahirkan, tak terpikirkan, tak berubah dan sempurna tidak laki- laki ataupun perempuan.

Percikan itulah yang menghidupkan/menggerakan manusia. Atman/roh/jiwa menghidupkan sarwa prani (makhluk di alam semesta ini). Indria tak dapat bekerja bila tak ada atman. Misalnya telinga tak dapat mendengar bila tak ada atman, mata tak dapat melihat bila tak ada atman, kulit tak dapat merasakan bila tak ada atman. Badan jasmani bisa berubah, lahir, mati, datang dan pergi, namun Atma tetap langgeng untuk selamanya.

    Ibarat orang meninggalkan pakian lama dan menggantinya dengan yang baru, demikian jiwa meninggalkan badan tua dan memasuki jasmani baru.-[Bhagawad Gita II.22]

    Maya tanpa kecerdasan dan Material mempunyai sifat: kebaikan/selaras (satwam), nafsu/kekuatan (rajas) dan kebodohan/kelambaman (tamas)” -[Siwa Samhita 1.79] Mahluk hidup diikat oleh sifat-sifat tersebut dan sulit dikendalikan……-[Bhagawad Gita 14.5]

Atma/Jiwatman bersifat abadi, namun karena Maya, maka Jiwatma tidak mengetahui asalnya yang sesungguhnya. Keadaan itu disebut “Awidya”. Hal tersebut mengakibatkan Jiwatman mengalami proses kelahiran kembali yang berulang-ulang.

Kelahiran kembali (Punarbhawa/Reinkarnasi) terjadi karena Ia harus menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang terdahulu (karma). Dalam ajaran tersebut, bisa dikatakan manusia menentukan nasib baik/buruk yang akan ia jalani sementara Tuhan yang menentukan kapan hasilnya diberikan (baik semasa hidup maupun setelah lahir kembali.

Apabila manusia tidak sempat menikmati pada kehidupan saat ini, maka akan dinikmati pada kehidupan selanjutnya. Karma merupakan hukum sebab akibat. keadaan manusia (baik suka maupun duka) disebabkan karena hasil perbuatan manusia itu sendiri, baik yang ia lakukan pada saat ia menjalani hidup maupun apa yang ia lakukan pada saat ia menjalani kehidupan sebelumnya.

Perputaran itu tidaklah terputus sampai Ia melepas belenggu Maya dan menghancurkan Awidya/ketidaktahuan. Tujuan dari kelahiran kembali adalah proses penyatuan Atman dan Brahman. Moksa adalah tercapainya persatuan tersebut.

Menurut ‘secret doctrine’ karangan H.P. Blavatsky, juga tulisan David Pratt dan G. de Purucker yang mengulas siklus manusia di setiap Mavantara menyatakan bahwa generasi akar pertama 7 akar ras manusia berasal berasal dari dunia lain (Astral). Ras ini muncul disekitar 150 juta tahun. Beranak pinak hingga masing-masing menghasilkan 7 kelompok sub ras [secret doctrine 2:1] Masing-masing dari 7 akar asal itu berbeda secara potensi, kapabilitas mental, bentuk fisiknya dan karakteristiknya sehingga ada yang berbentuk lebih baik dari yang lainnya yang tergantung dari karma dan hasil kelahiran kembali di dunia sebelumnya [Secret doctrine 2:249]

Bumi kita ini di masa generasi pertama ras akar manusia adalah lebih ringan/halus relatif keras dan padat dari bumi saat ini. Mahluk-mahluk tersebut juga lebih halus, tembus cahaya berisi cairan tanpa tulang, rambut kulit dan organ-organ mereka lama kelamaan berubah menjadi lebih padat namun tetap ringan pada hingga akhir jamannya, mereka tidak berjenis kelamin, kelahiran kembali mahluk berikutnya terjadi dengan cara pembelahan. Tinggi tubuh mereka adalah ratusan kaki, indera yang dikembangkan mereka adalah indera pendengaran

Generasi akar ras ke 2 merupakan kelanjutan dari kelompok akar generasi pertama, yang terjadi di sekitar 25-30 Juta tahun yang lalu. Mereka ini berkembang menjadi mahluk semi astral yang lebih berat, lebih padat lebih seperti agar-agar, tulang, rambut, kulit dan organnya tumbuh namun belum sempurna daripada generasi pertama dan mulai nampak gambaran kasar bentuk manusia. Ras generasi kedua ini beranakpinak secara aseksual sedikit menyerupai ras pertama. Tinggi tubuh ratusan kaki. Indra yang dikembangkan pada generasi kedua ini adalah indera perasa

Dua generasi pertama cenderung tidak mempunyai kesadaran pikiran secara mental seperti anak kecil.

Generasi akar ras ke 3 adalah Lemurian, badannya lebih keras lagi dari yang kedua, yang perlahan berkembang menjadi tulang, otot, system syaraf dan pembuluh darah, tubuh memadat seperti organ sekarang, mereka terlepas dari ras astralnya, di awal generasi ketiga masih secara aseksual namun berkembang menjadi hemaprodit, generasi ketiga masih tidak memerlukan makanan seperti kita sekarang Ia mengambil material kedalam tubuhnya mirip seperti berosmosis. Ketika energi vital mereka habis, mereka tertidur dan kemudian menghilang. Itulah kematian bagi mereka. Permulaan tinggi tubuh mereka mecapai 60 kaki namun di generasi berikutnya berkurang menjadi 25 kaki

Pada 320 Juta tahun hingga 4.5 juta tahun, terdapat evolusi juga pada mahluk-mahluk baru yaitu burung-burung, binaang melata, ampibi, ikan dan mahluk invertebrata. Mahluk yang lebih tinggi berasal dari jenis ras manusia sebelumnya, yaitu disetelah ras generasi ke dua dan diawal generasi ke 3, bentuk fisik mamalia terbentuk lebih dahulu dari pada ras manusia terpisah menjadi pria dan wanita dari pada ras manusia generasi ke tiga.

Manusia, Kera dan Monyet mempunyai nenek moyang yang sama yang berasal dari generasi manusia. Dalam Studies in Ocult Phiillosophy hal. 123 dikatakan bahwa perkembangan generasi kera berakhir di generasi ke 5 dan juga semua binatang secara perlahan akan punah di jutaan tahun kedepan. Binatang-binatang ini akan muncul kembali di Mavantara berikutnya.

Perkembangan manusia secara hemaprodit berakhir di akhir jaman generqasi ke 3 ini dan terjadi perbedaan seksual, kesararan berpikirpun perlahan menguat seiring perkembangan keadaan fisik mereka. Perkembangan ini merupakan terminologi manasaputra yang memiliki keinginan dan pilihan. Mereka mulai jatuh lebih dalam kepada materi antara dorongan spritual dan binatang. Dua dari generasi sub ras akhir Lemurian membangun kota dan mengembangkan seni dan pengetahuan. Generasi Lemuria ini berada di pusat Benua PasifiK, yang kemudian hancur di 8 juta tahun lalu.

Generasi lemurian ini memiliki mata ketiga dan dua mata seperti kita berkembang lebih belakangan, mata ini disebut mata siwa/mata spiritual. Seiring dengan berkembangnya alat seksual, maka kecenderungan sikap lemurian makin ke arah materi dan sensualitas, mata ketiga mulai kehilangan kekuatannya dan perlahan menghilang. Indra yang dikembangkan digenerasi ini adalah indera penglihatan

Kebangkitan pikiran yang berawal di generasi ketiga ini menjadi penuh di generasi ke 5 pada sekitar 18.5 juta tahun yang lalu, namun ‘mano/manah’ (prinsip kelima) belum sepenuhnya berkembang hingga generasi ke 5

Generasi ke 4 ras akar manusia adalah Atlantis, terjadi di 10 hingga 12 Juta tahun yang lalu. Tubuh berkembang lebih kasar lagi di sekitar 4.5 juta tahun. Mereka mengembangkan peradaban yang mengagumkan. Generasi ini tenggelam 850.000 tahun yng lalu, kemudian bagian kecilnya hingga 10.5 Ribu tahun yang lalu. Tinggi tubuh sekitar 20-30 kaki dan terus mengecil

Generasi ke 5 yaitu Ras Arya atau indo eropa yang kemudian menjadi ras langka disekitar 1 juta tahun sebelumnya di Central asia, saat ini kita mendekati pertengahan generasi ke 5.

Bibit dari generasi ke 6 akan muncul di benua amerika, di akhir Kaliyuga akan berjumlah besar, Hemaprodit akan muncul kembali anak-anak akan diciptakan melalui Kriyasakti (atas dasar kehendak dan imaginasi) Daging dan tubuh generasi ke 6 akan berkembang lebih lembut dan lunak, generasi ke 6 akan bertahan hingga 1.5 Maha yuga atau lebihd dari 6 Juta tahun dan generasi ke 7 akan lebih pendek lagi [Studies in Occult Philosophy 39, 165-6, 639-40; Dialogues of G. de Purucker 2:215-7; Fountain-Source of Occultism 165-6; Secret Doctrine 2:444-6.]. Di generasi ke 7 ras manusia akan tembus cahaya, secara tubuh akan lebih kecil dari generasi saat ini namun lebih intelek dan lebih spritual

[Kembali]



Buddha: Penciptaan Semesta

Sang Buddha menyebut tentang asal dan perluasan alam semesta hanya sepintas lalu. Beliau tidak menganggap mengetahui hal tersebut secara detail adalah lebih penting dibanding masalah utama manusia yakni mengakhiri penderitaan dan mencapai kebahagiaan Nibbana (Sansekerta: Nirwana). Ketika seorang sekali waktu mendesak Sang Buddha untuk menjawab pertanyaan tentang luasnya alam semesta, Sang Buddha membandingkan keadaan tersebut dengan perumpamaan sebagai berikut: ‘seorang yang terkena panah beracun, namun menolak diobati dan dicabuti anak panah tersebut, sebelum orang tersebut mengetahui secara jelas siapa yang melepaskan anak panah tersebut’. Sang Buddha, lalu bersabda:

    Menjalani hidup yang suci tak dikatakan tergantung apakah alam semesta ini terbatas atau tidak, atau keduanya atau tidak keduanya. Sebab apakah alam semesta ini, terbatas atau tidak; tetaplah ada kelahiran, tetap ada usia-lanjut, tetap ada kematian, kesedihan, penyesalan, penderitaan, keperihan dan keputusasaan; dan untuk mengatasi semua itulah semua yang Saya ajarkan.[Majjhima Nikaya, I: 430; Juga lihat di Cula Malunkyaputta Sutta [MN.063], Kokanuda Sutta [AN 10.096], Ditthi Sutta [An 10.093]]

Pengetahuan tentang bagaimana alam-semesta terjadi, kita tidak akan dapat mengatasi penderitaan, pula tidak akan dapat mengembangkan kemurahan hati, kebajikan dan cinta kasih. Buat Sang Buddha pertanyaan menyangkut hal-hal ini adalah jauh lebih penting dari pada spekulasi tentang asal-mula alam semesta.

Perkembangan dari Ilmu Fisika moderen saat ini telah sampai pada kesimpulan bahwa alam semesta tidak berawal secara serentak. Alam semesta secara berkesinambungan berubah dari suatu keadaan ke keadaan yang lain, terbentuk dan hancur, suatu proses tanpa awal dan akhir. Dengan sendirinya, bila dinyatakan, bahwa bila alam semesta berawal secara serentak, maka Big Bang adalah bagian dari proses tersebut dan diperlukan energi awal yang terjadi dari sesuatu yang tidak ada, dan hal ini jelas bertentangan dengan kaidah ilmu pengetahuan.

Tak Dapat ditentukan Awal, tidak ada Maha Pencipta
Sang Buddha berpendapat, bahwa alam semesta, yang disebut Beliau sebagai Samsara, adalah tanpa awal. Beliau bersabda:

    Tidak dapat ditentukan awal dari alam semesta. Titik terjauh dari kehidupan, berpindah dari kelahiran ke kelahiran, terikat oleh ketidaktahuan dan keinginan, tidaklah dapat diketahui [Samyutta Nikaya, II: 178].

Karena tanpa awal, maka konsekuensinya ‘Mahluk Pencipta Maha Kuasa’-pun merupakan bagian dari perpindahan dari kelahiran ke kelahiran terikat oleh ketidaktahuan dan keinginan sehingga tidak mengawali alam semesta. Sang Buddha pun menjelaskan mengapa konsep ‘Maha Pencipta itu muncul’

    Para bhikkhu, pada suatu masa yang lampau setelah berlangsungnya suatu masa yang lama sekali, ‘bumi ini belum ada’. Ketika itu umumnya makhluk-makhluk hidup di alam dewa Abhassara3), di situ mereka hidup ditunjang oleh kekuatan pikiran, diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya dan melayang-layang di angkasa hidup diliputi kemegahan, mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

    Demikianlah, pada suatu waktu yang lampau ketika berakhirnya suatu yang lama sekali, Alam/dunia ini mulai berevolusi dalam pembentuk, ketika hal ini terjadi alam Brahma1) kelihatan dan masih kosong. Ada makhluk dari alam dewa Abhassara yang ‘masa hidupnya2) atau ‘pahala kamma baiknya’ 3) untuk hidup di alam itu telah habis, ia meninggal dari alam Abhassara itu dan terlahir kembali di alam Brahma. Disini, ia hidup ditunjang pula oleh kekuatan pikirannya diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya-cahaya yang melayang-layang di angkasa, hidup diliputi kemegahan, ia hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

    Karena terlalu lama ia hidup sendirian di situ, maka dalam dirinya muncullah rasa ketidak puasan, juga muncul suatu keinginan, ‘O, semoga ada makhluk lain yang datang dan hidup bersama saya di sini! Pada saat itu ada makhluk lain yang disebabkan oleh masa usianya atau pahala kamma baiknya telah habis, mereka meninggal di alam Abhassara dan terlahir kembali di alam Brahma sebagai pengikutnya, tetapi dalam banyak hal sama dengan dia.

    Para bhikkhu, berdasarkan itu, maka makhluk pertama yang terlahir di alam Brahma berpendapat : “Saya Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan Dari Semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada4). Semua makhluk ini adalah ciptaanku”. Mengapa demikian? Baru saja saya berpikir, ‘semoga mereka datang’, dan berdasarkan pada keinginanku itu maka makhluk-makhluk ini muncul. Makhluk-makhluk itu pun berpikir, ‘dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. Kita semua adalah ciptaannya. Mengapa? Sebab, setahu kita, dialah yang lebih dahulu berada di sini, sedangkan kita muncul sesudahnya”.

    “Para bhikkhu, dalam hal ini makhluk pertama yang berada di situ memiliki usia yang lebih panjang, lebih mulia, lebih berkuasa daripada makhluk-makhluk yang datang sesudahnya.

    Para bhikkhu, selanjutnya ada beberapa makhluk yang meninggal di alam tersebut dan terlahir kembali di dunia/alam ini. Setelah berada di Alam/dunia ini ia meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjadi pertapa. Karena hidup sebagai pertapa, maka dengan bersemangat, tekad, waspada dan kesungguhan bermeditasi, pikirannya terpusat, batinnya menjadi tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat kembali satu kehidupannya yang lampau, tetapi tidak lebih dari itu.

    Mereka berkata : “Dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Masa Kuasa, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. Dialah yang menciptakan kami, ia tetap kekal dan keadaannya tidak berubah, ia akan tetap kekal selamanya, tetapi kami yang diciptakannya dan datang ke sini adalah tidak kekal, berubah dan memiliki usia yang terbatas.”

    “Para bhikkhu, inilah pandangan pertama tentang asal mula dan dasar dari ajaran beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan – Semi-Eternalis pada hal-hal tertentu, yang berpendapat bahwa ‘atta’ dan ‘loka’ sebagian kekal dan sebagian tidak kekal”.[Brahmajala Sutta, Diterbitkan oleh Badan Penerbit Buddhis ARYASURYACANDRA, 1993]

    Catatan:

    1. pandangan dari semi eksternalis ada bagian yang kekal ada yang tidak (ekacca-sassatika ekacca-asassatika)
    2. ayam loko samvattati (alam ini belum berevolusi untuk terbentuk).
    3. alam dewa brahma yang dicapai sebagai hasil meditasi sampai Jhana II
    4. Aham asmi Brahma Maha-Brahma abhibhu anabhib bhuto annad-atthu-daso vasavatti issaro katta nimmata settho sanjita vasi pita bhuta-bhavyanam..

Menurut yang diyakini oleh para ilmuwan saat ini, Alam semesta merupakan suatu sistim yang berdenyut, yang setelah mengembang secara maksimal, lalu menciut dengan segala energi yang ditekan pada suatu bentukan masa; sedemikan besar sehingga menyebabkan ledakan, yang disebut sebagai “big bang”, yang berakibat pelepasan energi. Pengembangan dan penciutan alam semesta berlangsung dalam kurun waktu milyaran tahun. Sang Buddha telah memaklumi pengembangan dan penciutan alam semesta. Beliau bersabda:

    Lebih awal atau lebih lambat, ada suatu waktu, sesudah masa waktu yang sangat panjang sekali alam semesta menciut …….Tetapi lebih awal atau lebih lambat, sesudah masa yang lama sekali, alam semesta mulai mengembang lagi [Digha Nikaya, III: 84].

    Suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini hancur…setelah selang suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini mulai terbentuk kembali. [AGANNA SUTTA (27), DIGHA NIKAYANGUTTARA NIKAYA]

Penemuan teleskop konvensional dan teleskop radio belakangan kemudian, telah memungkinkan para ahli astronomi untuk mengetahui bahwa alam semesta terdiri dari sekian milyar bintang, planet, asteroid dan komet. Semua benda langit tersebut berkelompok dalam bentuk cakram atau spiral yang disebut galaksi. Planet bumi kita hanya satu titik kecil yang terdapat pada suatu galaksi yang diberi nama Bimasakti (Inggeris: Milky Way). Bimasakti atau Milky Way terdiri atas kurang lebih 100 milyar bintang dengan jarak dari ujung ke ujung 60.000 tahun cahaya. Telah diketahui pula bahwa galaksi-galaksi di alam semesta ini tersusun berkelompok. Kelompok galaksi dimana Bimasakti kita berada terdiri dari dua lusin galaksi; kelompok lain, kelompok Virgo misalnya terdiri dari ribuan galaksi.

Dibalik kenyataan; bahwa tata surya, galaksi, dan kelompok galaksi baru diketahui di dunia Barat setelah penemuan peralatan canggih; kitab suci Agama Buddha telah banyak menyebutkan hal tersebut ribuan tahun sebelumnya. Penganut agama Buddha sejak zaman dahulu telah menggambarkan galaksi sebagai berbentuk spiral. Istilah dalam bahasa Pali untuk galaksi adalah “cakkavala”; yang berasal dari kata “cakka”, yang berarti cakram / roda. Sang Buddha secara sangat jelas dan tepat menggambarkan kelompok-kelompok galaksi, yang oleh para ilmuwan baru ditemukan. Beliau menyebutnya sebagai sistim dunia (lokadhatu) dan menambahkan perbedaan dalam ukurannya: sistim dunia ribuan-lipat, sistim dunia puluhan ribu-lipat, sistim dunia besar, dan seterusnya. Beliau menyebutkan sistim dunia terdiri dari ribuan matahari dan planet, walau sebenarnya oleh para ahli astronomi menyebutnya sebagai jutaan.

    “sejauh, Ananda, (Yāvatā, ānanda,) Bulan-Matahari (candimasūriyā) membawa keseliling arah (pariharanti disā) sinar cahayanya (bhanti virocanā) sebanyak 1000 alam/dunia (tāva sahassadhā loke). Di 1000 alam ini (Tasmiṃ sahassadhā loke) 1000 rembulan, 1000 matahari, 1000 raja gunung Sineru, 1000 Jambudīpa, 1000 Aparagoyāna, 1000 Uttarakuru, 1000 Pubbavideha, 1000 empat mahasamudra; 1000 empat maharaja, 1000 (alam) ­cātuma­hārāji­kā/4 rajadewa, 1000 Tāvatiṃsa, 1000 Yāma, 1000 Tusita, 1000 nimmānaratī/deva yang bersenang dalam penciptaan, 1000 ­paranim­mita­vasavat­tī­/deva yang mengendalikan ciptaan deva lain, 1000 alam brahmā

    Ini Ananda disebut (ayaṃ vuccatānanda) 1000 dunia kecil (sahassī cūḷanikā lokadhātu)
    Ananda, 1000 dunia kecil sebanyak 1000 dunia (sahassī cūḷanikā lokadhātu tāva sahassadhā loko) dinamakan “dvisahassī majjhimikā lokadhātu”.
    Ananda, 1000 dunia menengah sebanyak 1000 dunia (dvisahassī majjhimikā lokadhātu tāva sahassadhā loko) dinamakan “tisahassī mahāsahassī lokadhātu”. [AN 3.80/culanika sutta]

    Note:
    Suara dapat ada di angkasa luar, lihat ini dan ini
    Sahassi lokadhātu = sahassī cūḷanikā lokadhātu: 1000 alam Brahma beserta ribuan alam di bawahnya. Dvisahassi lokadhātu = Dvisahassi Majjhimanika lokadhatu: 1000 x 1000 = 1.000.000. Tisahassi lokadhātu = Tisahassi Mahasahassi lokadhatu: 1.000.000 x 1000 = 1.000.000.000 dan ada yang lebih dari itu, misal: “Dan 10.000 alam (Dasasahassilokadhātuṃ) bergoyang dan bergoncang dan bergetar, dan di sana juga muncul cahaya terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para dewa.” [MN 123/Acchariya-abbhūta Sutta]

    Juga: “..Ia mendengar bahwa Brahmā 1000 berumur panjang, rupawan, dan menikmati kebahagiaan luar biasa. Sekarang Brahmā 1000 berdiam dengan bertekad meliputi 1000 dunia [sahassilokadhātuṃ]…Brahmā 2000.. [dvisahassilokadhātuṃ] … Brahmā 3000.. [tisahassilokadhātuṃ] … Brahmā 4000 … Brahmā 5000.. Brahmā 10.000.. [Dasasahassasilokadhātuṃ],..Brahmā 100.000 berdiam dengan bertekad meliputi 100.000 dunia [satasahassasilokadhātuṃ]… Ia mendengar bahwa para dewa Bercahaya … para dewa dengan Cahaya Terbatas … para dewa Akaniṭṭha ..!’” [MN 120/Sankhārupapatti Sutta]

    Untuk AN 3.80: “bulan-matahari membawa ke seliling arah sinar cahayanya sebanyak 1000 dunia“, di galaksi Bimasakti, di area rasi Scorpio ada matahari Antares (jarak dari sini, sekitar 430-550 tahun cahaya) dan saking besar ukurannya, MATAHARI kita menjadi sebesar titik, namun Antares, dari sini, hanya terlihat sebesar titik, sehingga ada batasan jarak yang membuat cahaya matahari TIDAK MUNGKIN terlihat.

    Loka = TEMPAT KEHIDUPAN MAHLUK, tidak identik dengan planet. Di Galaxy Bimasakti, TIDAK SEMUA matahari punya planet dengan kehidupan, bisa jadi terdapat beberapa matahari dengan planet yang didiami bentuk kehidupan yang belum memiliki kesadaran/patijanare, LEBIH JARANG LAGI menemukan matahari dengan planet yang dihuni mahluk berkesadaran/patijanare dan JAUH LEBIH JARANG LAGI menemukan planet yang disebut jambudwipa, yaitu pernah ada Sammasambuddha muncul di situ di masa lalu, sehingga di SELURUH KUMPULAN galaxy (Bimasakti, Andromeda dst) bisa terjadi terdapat 1 milyar planet yang dihuni mahluk berkesadaran dan juga sebagai jambuwipa. Keseluruhan kumpulan Galaxy inilah ekissā lokadhātuyā

    Pengertian lokadhatuya melingkupi: sahassada loka, cakkavala (artinya dapat berarti bentuk melingkar atau juga tatasurya, dst), sahassi-lokadhatuya [culanika, majjhimanika, mahasahassi,…, dasasahassi, satasahassilokadhatuya] adalah bagian kecil dari “ekissā lokadhātuyā

Kemudian, dalam satu Sutra Mahayana, yaitu Avatamsaka Sutra, bab 4, dinyatakan seperti ini:

    [..] Pada saat itu, Bodhisattva melanjutkan, “Para Murid Buddha, lautan Dunia [system dunia] memiliki aneka bentuk dan karakteristik. Mereka bisa bulat atau persegi, atau tidak bulat atau tidak persegi. Variasinya tak terbatas. Beberapa berbentuk seperti pusaran air, seperti semburan api gunung berapi, seperti pepohonan atau bunga, seperti Istana atau seperti suatu mahluk hidup, seperti Buddha. Variasinya sebanyak partikel debu [..]”

    [Note: Verifikasi sutta-sutta termasuk sutra mahayana ini juga dilakukan di Konsili ke-3 (247 SM), penterjemahan pertama kedalam bahasa China dilakukan secara bertahap mulai di abad ke-2 Masehi]

Dahulu, dalam waktu yang sangat lama, manusia tidak dapat membayangkan luas alam-semesta baik dalam satuan waktu maupun ruang untuk dapat memahami asal dan luas alam-semesta. Pemikiran saat itu terbatas serta terikat ke pemahaman dunia semata. Didalam Bible misalnya, dipahami bahwa seluruh alam-semesta diciptakan dalam enam hari dan penciptaan itu terjadi barulah beberapa ribu tahun lalu.

Saat ini, para ahli astronomi menghitung bintang dalam satuan ribuan-milyar dan mengukur jarak alam semesta dalam satuan tahun cahaya; satu tahun cahaya adalah jarak yang dapat ditempuh oleh cahaya dalam waktu satu tahun. Manusia zaman dulu jelas tidak dapat membayangkan dimensi seperti itu. Sang Buddha memahami konsep dari alam semesta yang tak terbatas menyebut adanya:

    ..daerah gelap, hitam, kelam diantara sistim-sistim dunia, sedemikian rupa hingga cahaya matahari dan bulan sekalipun tak dapat mencapainya …….” [Majjhima Nikaya, III: 120].

[Kembali]



Buddha: Sejarah Manusia

Bagaimana dan kapan kehidupan bermula adalah misteri dan mungkin akan tetap demikian. Kebanyakan agama-agama menyatakan bahwa Tuhan mereka masing-masing yang menciptakan kehidupan. Namun pernyataan demikian belum tentu dapat menjawab bagaimana kehidupan dimulai, sebab bila Tuhan adalah makhluk-hidup, maka dengan demikian harus sejalan dengan pemahaman, bahwa ‘hidup berasal dari hidup’. Dan, dalam hal ini belum dapat diterangkan bagaimana kehidupan Tuhan (sebagai suatu pribadi) dimulai. Terpisah dari legenda-legenda, maka selama ini, ada dua teori ilmiah yang mencoba menerangkan bagaimana kehidupan bermula di dunia ini.

Pertama,
Hipotesa Haldane-Oparin, yang dinamai sesuai nama dua sarjana yang pertama yang mengemukakan bahwa bahan organik berasal dari bahan anorganik [John Reader. The Rise of Life. New York, 1986]. Menurut hipotesa mereka, pada zaman lampau, campuran dari gas anorganik yang sederhana larut dalam laut, lalu dengan energi matahari membentuk molekul prasejarah yang pertama; molekul ini kemudian merupakan prasyarat bermulanya kehidupan. Hipotesa ini adalah yang paling diterima dalam menerangkan asal kehidupan.

Kemudian,
baru–baru ini, Sir Fred Hoyle dan Professor Chandra Wickramasinghe menyajikan hipotesa yang sangat berbeda [Sir Fred Hoyle and Chandra Wickramasinghe. Lifecloud. New York, 1978]. Mereka mengatakan bahwa bentuk kehidupan yang sederhana ber-evolusi di angkasa luar lalu terbawa ke bumi oleh meteor-meteor dan ekor komet yang sedang melintas. Namun, cara bagaimanapun kehidupan dimulai, pada kenyataannya telah pernah ditemukan bukti-bukti berupa fosil berbentuk batang yang menyerupai ganggang dan bakteri primitif kita saat ini, yang telah ada sejak 2,7 milyar tahun lalu.

Hampir semua ahli sependapat bahwa bentuk kehidupan awal berkembang dipermukaan laut.

Sang Buddha memberi gambaran bagaimana kehidupan berawal dibumi, ketika alam-semesta mulai mengembang, alam yang telah ada barulah alam surga (alam-dewa). Beliau menjelaskan kepada seorang yang bernama Vasetha:

    Vasettha, terdapat suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini hancur. Dan bilamana hal ini terjadi, umumnya mahluk-mahluk terlahir kembali di Abbassara (Alam Cahaya); di sana mereka hidup dari ciptaan batin (mano maya), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan. Mereka hidup secara demikian dalam masa yang lama sekali.

    Vasettha, terdapat juga suatu saat, cepat atau lambat, setelah selang suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini mulai terbentuk kembali.

    Dan ketika hal ini terjadi, mahluk ­mahluk yang mati di Abhassara (Alam Cahaya), biasanya terlahir kembali di sini sebagai manusia. Mereka hidup dari ciptaan batin (mano maya), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan. Mereka hidup secara demikian dalam masa yang lama sekali.

    Pada waktu itu semuanya terdiri dari air/cairan, gelap gulita. Tidak ada matahari atau bulan yang nampak, tidak ada bintang-bintang maupun konstelasi-konstelasi yang kelihatan; siang maupun malam belum ada, bulan maupun pertengahan bulan belum ada, tahun-tahun maupun musim-musim belum ada; laki-laki maupun wanita belum ada. Mahluk­mahluk hanya dikenal sebagai mahluk-mahluk saja.

    Vasettha, cepat atau lambat setelah suatu masa yang lama sekali bagi mahluk-mahluk tersebut, tanah dengan sarinya muncul ke luar dari dalam air.

    Sama seperti bentuk-bentuk buih (busa) di permukaan nasi susu masak yang mendingin, demikianlah munculnya tanah itu. Tanah itu memiliki warna, bau dan rasa. Sama seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warnanya tanah itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manisnya tanah itu.

    Kemudian, Vasettha, di antara mahluk mahluk yang memiliki pembawaan sifat serakah (lolajatiko) berkata: O apakah ini? dan mencicipi sari tanah itu dengan jarinya. Dengan mencicipinya, maka ia diliputi oleh sari itu, dan nafsu keinginan masuk dalam dirinya. Dan mahluk-mahluk lainnya mengikuti contoh perbuatannya, mencicipi sari tanah itu dengan jari jarinya. Dengan mencicipinya, maka mereka diliputi oleh sari itu, dan nafsu keinginan masuk ke dalam diri mereka. Maka mahluk-mahluk itu mulai makan sari tanah, memecahkan gumpalan-gumpalan sari tanah tersebut dengan tangan mereka.

    Dan dengan melakukan hal ini, cahaya tubuh mahluk-mahluk itu menjadi lenyap. Dengan lenyapnya cahaya tubuh mereka, maka matahari, bulan, bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi nampak. Demikian pula dengan siang dan malam, bulan dan pertengahan bulan, musim-musim dan tahun-tahun pun terjadi. Demikianlah, Vasettha, sejauh itu dunia terbentuk kembali.

    Vasettha, selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati sari tanah, memakannya, hidup dengannya, dan berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali.

    Berdasarkan atas takaran yang mereka makan itu, maka tubuh mereka menjadi padat, dan terwujudlah berbagai macam bentuk tubuh. Sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang buruk. Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk, dengan berpikir : Kita lebih indah daripada mereka, mereka lebih buruk daripada kita. Sementara mereka bangga akan keindahannya sehingga menjadi sombong dan congkak, maka sari tanah itupun lenyap. Dengan lenyapnya sari tanah itu, mereka berkumpul bersama-sama dan meratapinya: “Sayang, lezatnya! Sayang lezatnya!” Demikian pula sekarang ini, apabila orang menikmati rasa enak, ia akan berkata: “Oh lezatnya! Oh lezatnya!; yang sesungguhnya apa yang mereka ucapkan itu hanyalah mengikuti ucapan masa lampau, tanpa mereka mengetahui makna dari kata-kata itu.

    Kemudian, Vasettha, ketika sari tanah lenyap bagi mahluk mahluk itu, muncullah tumbuh-tumbuhan dari tanah (Bhumi­pappatiko). Cara tumbuhnya adalah seperti tumbuhnya cendawan. Tumbuhan ini memiliki warna, bau dan rasa; lama seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warnanya tumbuhan itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manisnya tumbuhan itu. Kemudian mahluk­mahluk itu mulai makan tumbuh-tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut.

    Mereka menikmati, mendapatkan makanan, hidup dengan tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka berkembang menjadi lebih padat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas; sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk.

    Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk, dengan berpikir: Kita lebih indah daripada mereka; mereka lebih buruk daripada kita. Sementara mereka bangga akan keindahan dirinya sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan yang muncul dari tanah itu pun lenyap. Selanjutnya tumbuhan menjalar (badalata) muncul dan cara tumbuhnya adalah seperti bambu. Tumbuhan ini memiliki warna, bau dan rasa; sama seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warnanya tumbuhan itu; lama seperti madu tawon murni, demikianlah manisnya tumbuhan itu.

    Kemudian, Vasettha, mahluk-mahluk itu mulai makan tumbuhan menjalar tersebut. Mereka menikmati, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan menjalar tersebut, dan hal itu berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali.

    Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat; dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas; sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk. Dan karena keadaan ini; maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk, dengan berpikir : Kita lebih indah daripada mereka; mereka lebih buruk daripada kita. Sementara mereka bangga akan keindahan dirinya sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan menjalar itu pun lenyap. Dengan lenyapnya tumbuhan menjalar itu, mereka berkumpul bersama-sama meratapinya : “Kasihanilah kita, milik kita hilang! Demikian pula sekarang ini, bilamana orang-orang ditanya apa yang menyusahkannya, mereka menjawab : “Kasihanilah kita! Apa yang kita miliki telah hilang; yang sesungguhnya apa yang mereka ucapkan itu hanyalah mengikuti ucapan pada masa lampau, tanpa mengetahui makna daripada kata-kata itu.”

    Kemudian, Vasettha, ketika tumbuhan menjalar lenyap bagi mahluk-mahluk itu, muncullah tumbuhan padi (sali) yang masak dalam alam terbuka (akattha-pako), tanpa dedak dan sekam, harum, dengan bulir-bulir yang bersih. Bilamana pada sore hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan malam, maka keesokan paginya padi itu telah tumbuh den masak kembali. Bilamana pada pagi hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan siang; maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali; demikian terus-menerus padi itu muncul.

    Vasettha, selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati padi (masak) dari alam terbuka, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan padi tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali.

    Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas. Bagi wanita nampak jelas kewanitaannya (itthilinga) dan bagi laki-laki nampak jelas kelaki-lakiannya (purisalinga). Kemudian wanita sangat memperhatikan tentang keadaan laki-laki, dan laki-laki pun sangat memperhatikan tentang keadaan wanita. Karena mereka saling memperhatikan keadaan diri satu sama lain terlalu banyak, maka timbullah nafsu indria yang membakar tubuh mereka. Dan sebagai akibat adanya nafsu indria tersebut, mereka melakukan hubungan kelamin (methuna). [AGANNA SUTTA (27), DIGHA NIKAYANGUTTARA NIKAYA]

Kelahiran Kembali
Punabbhava berasal dari bahasa Pali yang terbentuk dari dua kata yaitu kata ”puna” dan ”bhava”. Kata ”puna” berarti lagi atau kembali, sedangkan ”bhava” berarti proses menjadi ada/eksis atau kelahiran. Jadi, secara harafiah, punabbhava berarti proses menjadi ada/eksis lagi atau kelahiran kembali atau tumimbal lahir.

Dalam proses kelahiran kembali tidak terjadi suatu perpindahan roh/jiwa/kesadaran ke dalam jasmani(rupa)yang baru. Kelahiran kembali adalah adanya proses berkesinambungan dari kesadaran (citta) pada kehidupan lampau dengan kesadaran (citta) kehidupan baru yang merupakan suatu aksi-reaksi. Oleh karena itu proses kelahiran kembali sangatlah berhubungan dengan proses kematian itu sendiri. Dan kedua proses yang berhubungan dengan batin ini sangatlah kompleks.

Sebagai contoh adalah sepeda, kendaraan beroda dua, Rodanya saja tidak dapat dikatakan sebagai sepeda, begitu pula stang, rem dan bahkan orang yang mengendarai. Untuk dikatakan sebagai seped, maka ia harus mempunyai stang, rem, ban, dll. Aksi perubahan dilakukan dengan tambahan mesin, maka ia bukan lagi sepeda, namun motor. Aksi perubahan bentuk apa pun bisa dilakukan misalnya kendaraan tersebut di modifikasi rodanya menjadi tiga, maka ia jadi Beca, dengan mesin maka jadilah ia bemo Dan jelas ia bukanlah lagi sebagai sepeda.

Guru Buddha menjelaskan dalam Satta Sutta; Radha Samyutta; Samyutta Nikaya 23.2 {S 3.189} bahwa makhluk hidup merupakan perpaduan dari lima kelompok (Panca Khandha), yang kelimanya dikelompokkan menjadi dua bagian. Pertama yaitu Rupa (jasmani/fisik/Materi) dan yang kedua adalah Nama(batin/pikiran). Baik fisik maupun batin ini tidak terlepas dari hukum perubahan, suatu saat muncul dan saat kemudian mengalami pemadaman/mati. Batin sendiri terdiri dari perasaan, pencerapan, bentuk-bentuk pikiran, dan kesadaran. Unsur-unsur batin ini disebut dalam bahasa Pali sebagai citta. Citta juga sering disebut dengan kesadaran. Citta/kesadaran ini mengalami kemunculan, pemisahan dan pemadaman/mati.

Pada saat seseorang mengalami kematian, jasmani tidak lagi bisa berfungsi untuk mendukung citta/kesadaran. Citta/kesadarannya pun akan mengalami pemadaman/kematian dan secara otomatis ia meneruskan kesan apapun yang tertanam padanya kepada Citta/kesadaran penerusnya yang tidak lain merupakan Citta/kesadaran pada kehidupan yang baru. Penerusan Kesadaran (Patisandhi Vinnana) ini terjadi dengan adanya peran dari Kamma yang pernah dilakukan.

Ketika jasmani mengalami kematian, dalam pikiran orang yang sekarat muncul kesadaran yang bernama Kesadaran Ajal (Cuti Citta). Ketika Kesadaran Ajal mengalami pemadaman juga, maka orang tersebut dikatakan sudah meninggal. Tetapi pada saat yang bersamaan pula (tanpa selang/jeda waktu) Citta/kesadaran kehidupan baru muncul. Dan saat itulah seseorang telah dilahirkan kembali, sudah berada dalam kandungan dengan jasmani yang baru berupa janin. Keseluruhan proses ini terjadi dalam waktu yang singkat.

[note: Pertumbuhan janin mingguan lihat di sini, di sini atau di sini. Jantung mulai berdetak di minggu ke 6 [36-42 hari setelah menstruasi], Otak mulai terbentuk di minggu ke 7, dengan rate bertumbuhan cel otak adalah 100/menit]

Perumpamaan Lilin
Api pada lilin tidak akan hidup tanpa adanya unsur-unsur pendukung seperti batang lilin, sumbu, dan udara (oksigen). Api yang menyala tersebut ternyata merupakan api yang berbeda karena tiap saat disokong oleh bagian dari batang lilin, sumbu dan molekul-molekuk udara yang berbeda. Meskipun disokong oleh unsur-unsur yang berbeda, tetapi api tersebut tetap menyala tanpa perlu padam kemudian menyala lagi. Dengan kata lain adanya proses yang berkesinambungan.

Api disini tidak lain adalah kesadaran, batang lilin dan sumbu adalah jasmani, dan udara adalah kamma. Jasmani dan kamma adalah penyokong keberlangsungan kesadaran.

Sang Buddha juga menjelaskan bagaimana cara kelahiran mahluk hidup:

    ”Sariputta, ada empat cara kelahiran. Apakah empat cara kelahiran itu? Kelahiran melalui telur (andaja yoni), kandungan (jalabuja yoni), tempat lembab (samsedaja yoni) dan kelahiran secara spontan (opapatika).

    Apakah kelahiran melalui telur? Ada makhluk-makhluk yang lahir dengan memecahkan kulit telur; ini yang disebut kelahiran melalui telur.

    Apakah kelahiran melalui kandungan? Ada makhluk-makhluk yang lahir melalui kandungan; ini yang disebut kelahiran melalui kandungan.

    Apakah kelahiran pada tempat lembab? Ada makhluk-makhluk yang lahir dalam ikan yang membusuk, mayat yang membusuk, adonan yang membusuk, atau dalam jamban atau dalam saluran air kotor; ini yang disebut kelahiran pada tempat lembab.

    Apakah kelahiran secara spontan? Ada dewa-dewa dan penghuni-penghuni neraka dan makhluk manusia tertentu dan para penghuni tertentu dari alam yang tidak menyenangkan, yang lahir (muncul) secara spontan; ini yang disebut kelahiran secara spontan. Inilah empat cara kelahiran.” [Mahasihanda Sutta; Majjhima Nikaya 12]

Dalam Mahatanhasankhaya Sutta; Majjhima Nikaya 38, Guru Buddha menjelaskan tiga tiga kondisi terjadinya kelahiran tertentu:

    “Para bhikkhu, embrio (dalam kandungan) terjadi karena penggabungan tiga hal, yaitu: adanya pertemuan ayah dan ibu, tetapi ibu tidak ada makhluk yang siap terlahir (kembali), dalam hal ini tidak ada pembuahan dalam kandungan; ada pertemuan ayah dan ibu, ibu dalam keadaan masa subur, tetapi tidak ada makhluk yang siap untuk terlahir (kembali), dalam hal ini tidak ada pembuahan dalam kandungan; tetapi ada pertemuan ayah dan ibu, ibu dalam keadaan masa subur dan ada makhluk yang siap terlahir (kembali), maka terjadi pembuahan karena pertemuan tiga hal itu.”

[Kembali]



Buddha: Siklus Semesta
Hukum Sebab-Akibat merupakan inti ajaran Sang Buddha. Dengan memahami Hukum Sebab-Akibat, Sang Buddha mencapai Pencerahan. Beliau bersabda, ‘Kebenaran yang sejati adalah Hukum Sebab Akibat. Tanpa mengerti pokok tersebut, maka seperti bola benang yang kusut, tidak mampu untuk menghentikan penderitaan dan kelahiran kembali.’

Terdapat dua Kebenaran yang harus disadari dalam Ajaran Sang Buddha yaitu Kebenaran Duniawi [Sammati-satya/Sammuti-sacca] dan Kebenaran Tertinggi/Akhir [Paramartha-satya/Paramattha-sacca]. Nagarjuna yang merupakan peletak dasar doktrin Sunyata dalam sekte Madhyamaka pada pertengahan abad kedua, mengatakan, “Ajaran Sang Buddha didasarkan atas dua Kebenaran, yaitu Kebenaran Duniawi (Sammuti-sacca/Sammati-satya) dan Kebenaran Tertinggi/Akhir (Paramattha-sacca/Paramartha-satya). Mereka yang tidak mengerti perbedaan antara dua Kebenaran ini tidak akan memahami arti yang mendalam dari Ajaran Sang Buddha.”

Teori alam semesta ajaran Buddha bersandar pada samvatta-kappa, vivatta-kappa (Anguttara Nikaya, Agganna Sutta) dan paticca-samuppada (hukum sebab akibat). Vivatta-kappa dapat diartikan sebagai ekspansi (pengembangan) waktu dan samvatta- kappa dapat diartikan sebagai kontraksi (pengerutan) waktu. Perputaran waktu samvatta dan vivatta ini disebut kappa (kalpa dalam bahasa Sanskerta) yang secara kasar diartikan sebagai masa waktu yang tidak dapat diperkirakan atau masa waktu yang sangat lama. Siklus evolusi alam semesta terjadi dalam hitungan Maha kalpa dan di bagi kedalam 4 Proses:

  • Vivartakalpa, selama kalpa ini semesta dibentuk dan menjadi ada ditandai dengan adanya kematian di alam Abhasvara dan terlahir kembali di alam Brahma.
  • Vivartasthāyikalpa, selama masa kalpa ini, semesta berada pada kondisi stabil, di tandai dengan adanya kelahiran kembali di alam Neraka
  • Saṃvartakalpa, selama masa kalpa ini, semesta menuju pada proses kehancuran di tandai dengan adanya tidak adanya mahluk yang lahir kembali di alam neraka
  • Saṃvartasthāyikalpa, selama masa kalpa ini semesta berada pada keadaan tiada apapun, ditandai dengan tidak adanya lagi mahluk di alam brahma.

Vivartakalpa
Vivartakalpa dimulai dengan munculnya angin/badai kuno, kemudian membangun struktur semesta yang telah hancur pada akhir MahaKalpa yang terakhir. Mahluk dari Alam yang lebih tinggi lahir kembali di alam yang lebih rendah. Contohnya Mahabrahma lahir kembali dari alam deva Abhasvara, terus ada hingga kelahiran kembali di alam neraka. Di Kalpa ini mahluk-mahluk itu lahir kembali menjadi manusia-manusia, mereka tidak menyerupai manusia saat ini, mereka lebih bersinar dengan cahayanya sendiri, melayang tanpa alat bantu, hidup sangat panjang dan tidak membutuhkan penopang hidup (misalnya makan, baju, dll) mereka itu seperti tipe deva alam deva paling rendah.

Lama kelamaan, mereka mencicipi makanan, tubuhnya menjadi berat dan terbentuk, sinar mereka hilang, muncul perbedaan kendahan diantara mereka, usia hidup berkurang, alat kelamin muncul dan melakukan hubungan seksual, keserakahan, pencurian, kekerasan diantara mereka, membangun peradaban sosial dan pemerintahan, memilih pemimpin, yang dinamakan Mahasammata, ‘Yang mulia yang disepakati’. Beberapa mulai berburu dan makan daging hewan, yang juga sudah terlahir kembali di kalpa ini [Anggana Sutta, Digha Nikaya 27]

Vivartasthāyikalpa,

Antarakalpa Pertama
Vivartasthāyikalpa, dimulai ketika mahluk terlahir kembali di alam neraka. Umur manusia terus berkurang dari beberapa ribuan tahun menjadi 100 tahun. Di awal antarakalpa ini, manusia secara umum berbahagia, mereka hidup di bawah pemerintahan ‘raja putaran roda’ (cakravartin) [Mahāsudassana-sutta, Digha Nikaya17]. Raja cakravartin, Mahāsudassana (Sanskrit: Mahāsudarśana) hidup selama 336,000 tahun. Generasi berikutnya dari cakravartin, Daḷhanemi (Sanskrit: Dṛḍhanemi) dan 5 keturunannya hidup lebih dari 80,000 tahun. Turunan ke 7, memecahkan tradisi dengan turun tahta sebelum waktunya, menyerahkan tahta pada anaknya. kemudian menjadi śramaṇa. Akibatnya adalah kemiskinan meningkat, pencurian dimulai, ada institusi hukuma menjadi ada, pembunuhan dan kejahatan merajalela. [Cakkavatti-sīhanāda-sutta, Digha Nikaya.26]

Umur manusia menjadi semakin berkurang dari 80,000 menjadi 100 tahun. Setiap generasi banyak kejahatan meningkat dan kemerosotan moral, penipuan, pelecehan, aktivitas kotbah penyesatan, keserakahan, kebencian, berpandangan salah, kawin dengan saudara kandung dan kegiatan seksual abnormal lainnya, tidak menghormati orang tua dan tetua. Selama periode ini, Tiga dari empat Buddha di antarakalpa hidup: Krakucchanda Buddha (Pāli: Kakusandha), berumur hingga 40,000 tahun; Kanakamuni Buddha (Pāli: Konāgamana), berumur hingga 30,000 tahun; dan Kāśyapa Buddha (Pāli: Kassapa) berumur hingga 20,000 tahun [Mahāpadāna-sutta, Digha Nikaya.14].

Kita berada di akhir antarakalpa pertama, umur kehidupan kurang dari 100 tahun. Śākyamuni Buddha (Pāli: Sakyamuni), berumur hingga 80 tahun.

Sisa di antarakalpa ini diramalkan menyedihkan: Kejahatan dan kemerosotan moral akan mencapai puncak kerusakannya. umur hidup semakin berkurang tidak akan lebih dari 10 tahun, menikah pada umur 5 tahun; Makanan akan lebih buruk dan kurang lezat; Bentuk moralitas akan tidak dikenali. Orang yang keji dan tidak bermoral akan menjadi pemimpin. Perkawinan antar saudara kandung merajalela. Kebencian antar masyarakat, sesama anggota keluarga tumbuh hingga masing-masing orang saling ‘memangsa’.

Selekasnya perang besar terjadi, semakin beringas, kejam dan biadab. Yang kurang agresif akan bersembunyi di hutan dan beberapa tempat rahasia, Perang ini akan menjadi tanda akhir antarakalpa pertama.

Antarakalpa Kedua
Di akhir peperangan, yang selama keluar dari persembunyiannya dan menyesali perbuatannya, Mereka mulai berkelakuan baik, umur mereka meningkat, kesehatan dan kesejahteraan meningkat. Umur ras manusia juga meningkat. Hingga waktu yang kemudian, keturunan-keturunan mereka yang berumur rata-rata 10 tahunan akan menjadi 80.000 tahun, Saat itulah akan ada raja cakravartin bernama Saṅkha. Di jaman itu pula Bodhisatva yang saat ini ada di Surga Tuṣita terlahir kembali ke alam manusia, Ia bernama Ajita. Ia akan memasuki hidup sebagai seorang śramaṇa, kemudian mencapai penerangan sempurna dan dikenal sebagai Buddha Maitreya (Pāli: Metteyya).

Setelah jaman Maitreya, dunia menjadi buruk kembali dan umur hidup perlahan berkurang dari 80,000 menjadi 10 tahun, perubahan tiap antarakalpa ditandai dengan adanya Perang yang sangat merusak, puncak antarakalpa ditandai dengan Peradaban tinggi dan moralitas. Setelah antarakalpa yang ke 19, Umur kehidupan meningkat menjadi 80.000 tahun dan tidak menurun lagi, Vivartasthāyikalpa akan menuju masa akhirnya.

Saṃvartakalpa
The Saṃvartakalpa dimulai dengan berhentinya kelahiran kembali di alam neraka yang berlanjut juga dengan penghentian kelahiran kembali di alam-alam yang lebih tinggi, misalnya, Preta/peta/mahluk halus/Jin, tidak ada lagi yang dilahirkan, kemudian binatang, kemudian manusia dan seterusnya hingga alam Deva.

Ketika alam-alam hingga Brahmaloka tidak lagi berpenghuni, Terjadilah kebakaran/panas yang dahsyat menghabiskan seluruh struktur pisik alam mulai alam Brahma, namun tidak alam yang diatasnya, Ābhāsvara. Ketika hancur maka mulailah the Saṃvartasthāyikalpa.

Saṃvartasthāyikalpa
Tidak ada apapun di Saṃvartasthāyikalpa, kecuali alam Ābhāsvara worlds keatas. In berkahir ketika Angin purba mulai bertiup dan membangun struktur semesta kembali.
Kehancuran lainnya

Kehancuran akibat panas/api adalah bentuk normal yang terjadi di akhir Saṃvartakalpa. Namun setiap 8 mahākalpa, yaitu setelah 7 kehancuran oleh pembakaran/panas, terdapat kehancuran disebabkan oleh cairan/air. Ini bahkan lebih merusak lagi, bukan hanya menghancurkan alam-alam Brahma namun juga alam-alam Ābhāsvara.

Setiap 64 MahaKalpa, yaitu setelah 56 Kehancuran oleh panas/pembakaran dan 7 kehancuran akibat cairan/air, terdapat kehancuran akibat angin. Ini menghancurkan bukan saja alam-alam Abhasvara namun juga alam Śubhakṛtsna. Alam yang lebih tinggi lagi dari alam Śubhakṛtsna tidak pernah mengalami kehancuran.

Sang Buddha, juga disebut sebagai ‘Pengenal alam semesta (Lokavidu) [Majjhima Nikaya, I:337]

[Kembali]



Abrahamic: Umur Semesta
Kristen dan Islam sama-sama menyatakan bahwa Tuhan Yahudi adalah Tuhan yang sama dengan Tuhan mereka dan Tuhan yang sama yang menurunkan ajarannya. Oleh karenanya, mari kita lihat apa yang kitab-kitab Yahudi katakan tentang umur semesta dan kapan berakhirnya 

PENANGGALAN YAHUDI dibuat oleh Rabbi Yose bin Halafta (Abad ke-2 M), seorang Rabbi periode Mishana dari Sepphoris, Galile. Berdasarkan penanggalan itu, Penciptaan dunia mulai pada tanggal 25 Elul tahun ke-0/Julian: 22 Sep 3760 SM dan hari ke-6, ketika Adam dan Hawa diciptakan adalah hari ke-1 bulan Tishri/Julian: 7 Ocktober 3761 SM, oleh karenanya, tahun baru Yahudi/Rosh Hashana, yaitu hari ke-1, bulan Tishri/hari peniupan mulai pada tahun ke-2. Juga dalam Mishnah Torah-nya kaum Maimunit (Dari Musa bin Maimun, filsuf dan saintis Yahudi abad ke-12 M) yang menghitungnya dari hari ke-3 Nissan tahun itu (yaitu 22 maret 1178 M), maka, pada 4398 tahun sebelumnya, yaitu sewaktu PENCIPTAAN DUNIA adalah tahun ke-0 (dalam bahasa latin AM = Anno Mundi = “dalam tahun di dunia”) dan PENCIPTAAN MANUSIA terjadi di AM 1/3761 SM. [Lihat juga: “History of the World“, R. Rachel M. Solomin; Juga “Haaretz]

UMUR DUNIA 6000 TAHUN, 3 FASE-NYA DAN KEDANGANGAN MESIAH:

    R. Kattina6000 TAHUN LAMANYA DUNIA INI ADA, dan 1000, akan menjadi senyap, seperti ada tertulis: Hanya Tuhan sendiri yang akan ditinggikan pada hari itu (Yes 2.11). R.Abaye: Itu akan menjadi senyap 2000 TAHUN, seperti yang dikatakan, Setelah 2 HARI, Ia akan menghidupkan kita: PADA HARI KE-3, Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup dihadapannya (Hos 6.2). Ini telah diajarkan sesuai dengan R. Kattina:…1000 tahun dari ke-7 akan menjadi kosong, seperti ada tertulis, Dan Tuhan sendiri akan ditinggikan pada hari itu, ‘dan selanjutnya dikatakan, Mazmur dan nyanyian untuk hari Sabat (Mazm 92.1), artinya hari itu seluruhnya Sabat – dan juga dikatakan, Sebab 1000 tahun dimatamu, namun seperti kemarin, ketika berlalu (Mazm 90.4). Dalam Tanna yang diajarkan Elijah: DUNIA INI ADA 6000 TAHUN. 2000 TAHUN PERTAMA SEPI (tanpa taurat); 2000 TAHUN TAURAT BERKEMBANG; DAN 2000 TAHUN BERIKUTNYA ERA MESIANIK

    [Babylonian Talmud: Tractate Sanhedrin 97a. Tahun ke-6000, sebagai akhir dunia terjadi di tahun 2240 M. ERA MESIANIK, mulai dari hari ke-1 bulan Tishiri/ mulai di TAHUN 239 M atau sekitar 172 tahun setelah kehancuran kuil ke-2/69 M]

    Elijah berkata kepada R.Yehuda, saudara laki-laki R. Salia: ‘Dunia akan ada tidak kurang dari 85 TAHUN JUBILE, dan DI JUBILE TERAKHIRNYA, anak Daud akan datang (Mazm Sulaiman 17.21). R. Yehuda: ‘Di awal atau di akhir (Jubile terakhir)?, Elijah: ‘Aku tidak tahu’. R Yehuda: ‘Akan selesai penuh atau tidak [Jubile terakhir]?’. Elijah: ‘Aku tidak tahu,’. R. Ashi: Elijah kemudian berkata padanya, ‘Sebelum itu, jangan berharap (kedatangannya), setelahnya engkau boleh menunggunya.’.

    R. Hanan b.Tahlifa lewat R. Joseph: Saya pernah bertemu seorang pria yang punya sebuah gulungan/naskah dalam bahasa Ibrani dengan karakter Asyur…Di dalamnya dinyatakan bahwa 4231 tahun (atau 4291 tahun) setelah penciptaan dunia akan seperti yatim-piatu/tak ada yang urus. [Tahunan kemudian] beberapa akan dalam perang MONSTER LAUT/tanninim, dan beberapa dalam perang GOG dan MAGOG (Yeh 38/39), sisa [periode] akan menjadi era Mesianik, sementara Yang Kudus, yang diberkatiNya, akan memperbarui dunia hanya setelah 7000 tahun. R. Abba putra Raba: Statementnya adalah setelah 5000 tahun”

    [Tractate Sanhedrin 97b. 1 jubile = 50 tahun, 85 Jubile = 4250 Tahun yaitu di tahun 489 M. Jubile terakhir mulai tahun 449 M. Untuk 4231/4291 Tahun = di tahun 470 M/530 M]

    Kapan Kedatangan Mesiah menurut Yahudi?
    Rabbi. Alexandri: 
    Rabbi. Joshua b. Levi menunjukkan sebuah kontradiksi. Ada tertulis, di waktuNya [datangnya Mesiah], sementara itu juga tertulis, Aku [TUHAN] akan mempercepatnya (Yes 60.22), jika mereka layak, jika tidak, [dia akan datang] di waktuNya. R. Alexandri: R. Yosua mempertentangkan dua ayat: Ada tertulis, Dan lihatlah, ANAK MANUSIA DATANG DENGAN AWAN DI SURGA [Dan 7.13], sementara [di tempat lainnya] ada tertulis, [LIHAT RAJAMU DATANG KEPADAMU…] MERENDAH DAN NAIK DI ATAS SEEKOR KELEDAI! (Zakh 9.9] – jika mereka layak, [dia akan datang] dengan awan di surga; jika tidak, merendah dan naik di atas keledai…

    Para murid R. Jose b. Kisam: ’Kapankah Mesiah datang? ’. R. Jose (110 M): ’..Ketika GERBANG INI rubuh/jatuh, dibangun kembali, rubuh lagi dan dibangun kembali dan rubuh ke-3xnya, SEBELUM ITU dibangun anak David telah datang’

    [Tractate Sanhedrin, 98a. Untuk gerbang yang mana yang dimaksudkan, di catatan kaki no.45: ‘Gerbang kaisar Philippi/Banias, rumah/kampungnya Rabbi. Jose, simbol kejatuhan Romawi]

Jadi, Tuhan kaum Yahudi menyampaikan bahwa umur dunia adalah 6000 tahun, SETELAH 4000 tahun (2000+2000) sejak Adam muncul (mulai tahun 239 M) disebut ERA MESIANIK yang berlangsung hingga 2000 tahun lamanya (hingga tahun 2239 M, sebagai tahun ke-6000) dan berlanjut dengan kiamat.

Kaum Kristen menganggap mereka kelanjutan dari tradisi Yahudi, sehingga juga percaya umur bumi ini juga 6000 tahun dan Mesiah datang di dekat kiama yang dituliskan dengan kata “hari”:

    6 HARI [Lukas 9.28 → 8 HARI] kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan YOHANES saudaranya..naik ke sebuah gunung..Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia/Helias sedang berbicara dengannya [Mat 17.1-3 dan Mark 9.2-5. Lukas 9.28-31].. Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus: “..Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu..Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenalnya,…Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis [Mat 17.10-13; Mark 9.11-13]

Disamping tidak jelas apakah 6 hari atau 8 hari yang dimaksud, BAHKAN Kitab Yohanes, TIDAK MEMUAT kejadian penting ini, padahal BUKAN Matius, BUKAN Lukas dan juga BUKAN Markus yang jadi saksi di saat itu, MELAINKAN YOHANES.

Islam juga menganggap mereka kelanjutan dari tradisi Yahudi dan Kristen, sehingga percaya bahwa umur bumi ini juga 6000 tahun, namun ada 2 pendapat tentang umur dunia:

7000 tahun dan 6200 tahun telah berlalu (Riwayat Ibn Humayd -Yahya b. Wadilh -Yahya b. Ya’qub – Hammad – Sa’id b. Jubayr – Ibn ‘Abbas) VS 6000 tahun dan 5600 tahun telah berlalu (Riwayat Abu Hisham -Mu’awiyah b. Hisham – Sufyan – al-A’mash – Abu Salih – Ka’b dan Riwayat Muhammad b. Sahl b. ‘Askar – Ismail b. ‘Abd al-Karim -‘Abd al-Samad b. Ma’qil -Wahb) [“The History of Al-Tabari, Vol I, “General Introduction and From the Creation to the Flood, Franz Roshenthal, 1989, hal.172-174]

Riwayat Musaddad – Yahya – Sufyan – Abdullah bin Dinar – Ibnu Umar – Nabi SAW: “Sesungguhnya perumpamaan jaman kalian dan jaman umat-umat sebelum kalian, hanyalah bagaikan jarak atara shalat Ashar dan terbenamnya matahari…[Bukhari no.4633; Ahmad no.5641; Tabari, Ibid, hal.174-175 (Musaddad – Yahya – Sufyan – Abdullah bin Dinar – Ibnu Umar – Nabi SAW), menurut Tabari hadis ini Sahih; Juga Bukhari no.3200 (Qutaibah bin Sa’id – Laits – Nafi’ – Ibnu ‘Umar – Rasulullah SAW) dan Tirmidhi no.2797]

Riwayat al-Hasan b. ‘Arafah – Abu al-Yagzan ‘Ammar b.Muhammad, anak adik perempuan Sufyan al-Thawri – Layth b.Abi Sulaym – Mughirah b.Hakim – Abdallah b.’Umar – Rasullullah: hanya tersisa dari dunia ini punahnya umatku dari matahari ketika shalat azhar. [Ibid, Hal 174-175]

Tabari:
..Lebih lanjut, panjang waktu rata-rata shalat Azhar adalah ketika bayangan apapun 2x ukurannya, menurut asumsi terbaik (‘ald al-taharri) -[hingga magrib] adalah panjang waktu 1/2 x 1/7 [= 1/14] hari kurang lebihnya. [Ibid, Hal 182]

Ini seharusnya 1/14 x 1000 tahun = 71.42 tahun tersisa, namun Tabari berpendapat bukan tentang hari itu tapi 1 minggu.

Tabari:
..hadis sahih dari Ahmad b. ‘Abd al-Rahman b. Wahb – ‘Abdallah b. Wahb – Mu’awiyah b. Salih – ‘Abd al-Rahman b. Jubayr b. Nufayr – Ayahnya Jubayr b. Nufayr – Sahabat Nabi, Abu Tha’labah al-Khushani – Rasullullah: “Tentunya, Allah tidak akan membuat bangsa ini tidak mampu (bertahan) 1/2 hari – mengacu pada hari 1000 tahun“…karena 500 tahun adalah 1/2 hari dari 1000 tahun, .. waktu yang telah berlalu hingga pernyataan Nabi adalah 6500 tahun” [Ibid, 182-183]

Berkenaan dengan 6 hari penciptaan, Kaum Yahudi menganggap itu sebagai hari penanggaan biasa Senin sampai Minggu dan TIDAK MENGANGGAP ITU sebagai persamaan 1 hari = 1000 tahun, karena penyetaraan baru muncul setelah Adam turun.

Namun Kristen dan Islam menyatakan hari Senin sampai Minggu di 6 hari penciptaan juga disetarakan dengan persamaan 1 hari = 1000 tahun, sehingga 6 hari penciptaan = 6000 tahun, misalnya Kristen, menggunakan ayat Mazmur 90:4, “..di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin..” dan II Petrus 3:8,”..satu hari sama seperti seribu tahun.”. Islam dengan ayat: “Sesungguhnya sehari (yawman) disisi Tuhanmu adalah seperti 1000 tahun menurut perhitunganmu” [AQ 22.47] dan “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian itu naik kepadaNya dalam satu hari (yawmin) yang kadarnya adalah 1000 tahun menurut perhitunganmu”[AQ 32.5] dan dijelaskan lebih lanjut dalam beberapa variasi Hadis dan tafsir:

  • Riwayat [(Humayd – Hakkam – Anbasah) dan (Ibn Waki – Ayahnya – Isra’il)] – Simak – Ikrimah – Ibn abbas: Tuhan menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari – yang mana tiap harinya adalah seperti 1000 tahun menurut perhitunganmu [Tabari Vol.1 Hal 226-227].
  • Riwayat ‘Abdah – Al Husain bin Al Faraj – Abu Mua’dh – Ubayd – Al Dahhak: 1 hari yang kadarnya 1000 tahun menurut perhitunganmu, Ia maksudkan hari-hari selama 6 hari penciptaan langit bumi dan apa yang ada di dalamnya [Tabari Vol.1 hal.227]
  • Al Muthanna – Al Hajjaj – Abu Awanah – Abu Bishr – Mujahid: 1 hari dari 6 hari adalah seperti 1000 tahun menurut perhitunganmu.[Tabari vol.1 hal.227]
  • Riwayat Al Muthanna – Ali (bin Al Haytam) – Al Musayyab bin Sharik – Abu Rawq – Al Dahhak: Ia yang menciptakan Langit dan bumi dalam 6 hari – dari hari-hari di dunia lain. Ukuran 1 hari adalah 1000 tahun. Ia mulai penciptaan di hari Minggu dan keseluruhan ciptaan hari Jumat (Ijtama’a jum’ah) [Tabari vol.1 hal.227]
  • Riwayat Ibn Humayd – Jarir (bin abd al Hamid) – al A’mash – Abu Salih – Ka’b: Allah mulai menciptakan di hari minggu, senin, selasa, rabu dan kamis. Ia Selesaikan di hari jumat. Ia melanjutkan: Tuhan membuat setiap hari setara 1000 tahun [Tabari vol.1 hal.227]
  • Riwayat Ibn Abiyy – Abu Ishak – Ibrahim b. Abdullah Nabt – Anas ibn Malik – Muhammad SAW: Panjang umur Bumi ini adalah 7 hari di hari-hari kehidupan setelah kematian. Allah berkata “sehari di sisi Allahmu adalah setara dengan 1000 tahun dalam perhitunganmu” [Suyuti sehubungan dengan hadis-hadis sahih tentang umur bumi tersisa 7000 tahun]
  • Tafsir Tabari (tentang umur dunia):..Menurut tradisi ini (Hadis riwayat Abu Huraira – Muhammad SAW), jelas bahwa keseluruhan bumi ini adalah 6000 tahun. Karena, jika 1 hari alam lain sama dengan 1000 tahun dan 1 hari adalah 1/6 bumi ini, kesimpulannya total 6 hari alam lain adalah 6000 tahun [Tabari vol.1 hal.183-184 dan luga lihat di sini]
  • Tafsir ibn Abbas Al Sajdah 1.30:
    [32:4] (Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya) dari penciptaan dan keajaiban-keajaiban, (dalam 6 hari) hari-hari dari permulaan penciptaan yang setara dengan 1000 tahun dari tahun-tahun kehidupan di dunia ini.; hari ke-1 adalah minggu dan hari terakhir adalah Jumat.

Menurut The History of Al-Tabari: The Sasanids, the Lakhmids, and Yemen hal.412 s.d 416 (lihat juga Fatawa: 20907, sebagai pembanding):

  • Tabari: Turunnya Adam dari langit – Muhammad hijrah, yaitu menurut:
    • Kaum yahudi dengan kitab tauratnya (4642 tahun dan beberapa bulan) [hal.412] + 1386 tahun (tahun 2008 M – 622 M/hijrah) + 6000 = 12.028 tahun
    • Kaum kristen dengan kitabnya dalam bahasa latin/septuagint (5992 tahun dan beberapa bulan) [hal.412] + 1386 tahun (tahun 2008 M – 622 M/hijrah) + 6000 = 13.378 tahun
    • Zoroastrian Persia (4182 tahun, 10 bulan, 19 hari) [hal.412] + 1386 tahun (tahun 2008 M – 622 M/hijrah) + 6000 = 11.568 tahun
  • Tabari: Ulama-ulama islam: Adam – Nuh, Nuh – Ibrahim, Ibrahim – Musa, masing-masing 10 qarn (qarn adalah abad, 100 tahun) [hal.413].

    Ibrahim b sa’id a jawhari – Yahya b. Salih – Al Hasan b. Ayyub al hadrami – Abd Allah b. Busr: Nabi SAW bicara padaku: “Kamu akan hidup 1 abad (qarn)!” [hal.415].

    Sehingga pengertian Qarn = abad = 100 tahun. Sejak Adam – Musa: 3000 tahun

    Ibn Bashshar – Abu Dawud – Hammam b. Qatadah – Ikrimah – Ibn Abbas: Adam – Nuh (10 abad).[Hal.413]

    Harith b. Muhammad – Muhammad b. Sa’d – Muhammad b umar b waqid al aslami dari beberapa ulama mengatakan: Adam – Nuh (10 abad). Nuh – Ibrahim (10 Abad). Ibrahim – Musa (10 abad).[hal.413]

    Jadi Adam – Musa: 3000 tahun.

  • Abd Al Rahman b Mahdi – Abu Awanah – Asim Al Ahwal – Abu Uthman – Salman: Interval (Al fatrah): Muhammad – Isa/Yesus (600 tahun).[hal 413].

    Fudayl b. abd al wahhab – Ja’far b. sulayman – Awf: Isa/Yesus – Musa (600 tahun) [hal.413].

    Jadi total dari Muhammad – Musa: 1200 tahun (dari perawi yang berbeda) + 1438 (Tahun 2008 – 570 M/lahir) + 3000 tahun (di atas) + 6000 tahun = 11.638 tahun

  • Al harith – Muhammad b. Sa’d – Hisham – His father – Abu Salih – Ibn Abbas: Musa – Isa (1900 tahun), ada ribuan nabi tanpa interval diantara mereka. Isa – Muhammad (569 tahun) [hal.414]

    Jadi total dari Musa – Muhammad: 2469 tahun + 1438 (Tahun 2008 – 570 M/lahir) + 3000 tahun (di atas) + 6000 tahun = 12.907 tahun

  • Wahb b. Munabbih – Abu Salih – Ibn Abbas: Hingga sampai hidupnya sekarang telah berlalu 5600 tahun, keseluruhan umur dunia adalah 6000 tahun. Wahb b. Munabih wafat 114 H (732 M) sisanya tinggal 215 tahun (dari Wahb wafat s.d Tabari menulis ini) [hal.415-416]
  • Tabari: beberapa otoritas menyatakan sejak Adam diturunkan dari langit – Masa Muhammad adalah 6113 tahun, yaitu:

    Adam – Banjir Nuh (2256 tahun). Banjir Nuh – lahirnya Ibrahim (1079 tahun). Lahirnya Ibrahim – Musa exodus dengan bani Israel (565 tahun). Musa exodus dengan Bani Israel – Pembangunan Bayt Al Maqdis yaitu 4 tahun sejak Sulaiman naik tahta menggantikan Daud (636 tahun). Dari Bayt Al Maqdis – Naik tahtanya Iskandar Zulkarnaen/Dhu Qarnayn (717 tahun). Iskandar Zulkarnaen – lahirnya Isa/Yesus (369 tahun). Lahirnya Isa/Yesus – Muhammad menjadi Nabi (551 tahun). Muhammad menjadi Nabi – Hijrah (13 tahun).[Hal.416].

    Rincian hitungan ini jika di jumlah = 6186 tahun (tidak sama dengan 6113 tahun) + 1386 tahun (tahun 2008 M – 622 M/hirah) + 6000 = 13.572 tahun.

  • Hisham b Muhammad Al Kalbi – Ayahnya – Abu Salih Ibn Abas: Adam – Nuh (2200 years). Nuh – Ibrahim (1143 tahun). Ibrahim – Musa (575 tahun), Musa – Daud/david (179 tahun), Daud/David – Isa/Yesus (1053 tahun), Isa – Muhammad (600 tahun).[hal. 416].

    Jadi dari Adam – Muhammad total: 5750 + 1438 (Tahun 2008 – 570 M/lahir) + 6000 = 13.188 tahun

Berdasarkan seluruh versi di atas, maka umur semesta, kurang dari 14000 tahun.

[Kembali]



Abrahamic: Kiamat/Akhir Semesta

Ajaran Abrahamic menegaskan bahwa akan ada batas akhir yang dinamakan hari kiamat, ciri-ciri nya dinyatakan di Alkitab dan Al Qur’an.

Menurut Tradisi Nasrani:

    ”..matahari akan menjadi gelap, dan bulan tidak lagi bercahaya. Bintang-bintang akan jatuh dari langit, kuasa-kuasa langit akan goncang, dan para penguasa angkasa raya akan menjadi kacau-balau. [Matius 24:29, Markus 13:24-25]

    ”..pada matahari, bulan, dan bintang-bintang akan kelihatan tanda-tanda. Di bumi, bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Manusia akan takut setengah mati menghadapi apa yang akan terjadi di seluruh dunia ini, sebab para penguasa angkasa raya akan menjadi kacau-balau. [Lukas:21:25-26]

Mempelajari dengan seksama kutipan di atas, yang merupakan isi dari Matius 24, Markus 13, Lukas 21, maka saya berada pada satu kesimpulan yaitu ini bukan nubuatan mengenai kiamat namun kisah kehancuran di Yerusalem dijaman kaisar nero [sekitar tahun 70 M], yang menurut alkitab adalah pemburuan Yahudi-Nasrani, rasul-rasul Yesus diadili oleh kaisar Nero. Hal ini, ditandai dengan kata yang mendahului kalimat2 alkitab diatas terutama di Lukas 21:20: ”Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat” kemudian di tiga injil ada perintah waspada akan ada orang yang menyesatkan, mengaku mesias, saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, adanya pembinasa keji dan di menjelang akhir pasal itu terdapat kalimat dengan arti sama di tiga Injil yaitu ‘Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya itu terjadi” [lukas 21:24; Markus13:30; Matius 24:34]

Perhatikan dua Ayat yang saling menerangkan dan melengkapi dibawah ini [yang dalam kurung adalah kamus kode leksikon]:

    Matius 24:36 [yang dalam kurung adalah kamus kode leksikon]

    But [1161] of [4012] that [1565] day [2250] and [2532] hour [5610] knoweth [1492] (5758) no [3762] {man}, no, not [3761] the angels [32] of heaven [3772], but [1508] my [3450] Father [3962] only [3441].
    Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, Tidak malaikat-malaikat di sorga, Melainkan hanya Bapa-Ku sendiri.”

    Markus 13:32
    But [1161] of [4012] that [1565] day [2250] and [2532] {that} hour [5610] knoweth [1492] (5758) no man [3762], no, not [3761] the angels [32] which [3588] are in [1722] heaven [3772], neither [3761] the Son [5207], but [1508] the Father [3962].
    Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja.”

Dua ayat diatas memberikan petunjuk sangat kuat pada kita bahwa jangankan mengetahui waktu kiamat, bahkan untuk peristiwa yang lebih dekat saja, yaitu kehancuran Yerusalem, Yesus-Pun tidak mengetahuinya

Sehingga nubuatan [ramalan] mengenai kiamat hanyalah ada di kitab wahyu, yaitu kitab yang konon ditulis murid Yesus, Yohanes sebagai kesaksiannya sendiri [Wahyu 1:9] ketika di buang di Pulau Patmos [80 km sebelah barat daya Efesus]:

    ..gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah. Dan bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi.. Maka menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung dan tergeserlah gunung-gunung dan pulau-pulau dari tempatnya…[Wahyu 6:12-14]

Isaac Newton, bapak ilmu fisika dan astronomi modern, mendasarkan ramalannya soal hari kiamat dari teks Alkitab, tepatnya ayat-ayat Daniel. Ia berargumen bahwa dunia akan berakhir 1.260 tahun setelah berdirinya Kekaisaran Suci Roma di Eropa Barat pada 800 M, yaitu dunia akan berakhir pada 2060.(sumber: Antara)

[Bahkan orang sepintar itu saja bisa saja keliru, bukan?!]

Menurut Tradisi Islam :
Ciri-ciri kiamat menurut Al Quran adalah sebagai berikut:

    Bulan, matahari, bintang-bintang semua itu akan hancur dan sinarnya menjadi pudar lalu padam. Segala gerak, tatanan dan aturannya menjadi hancur. Matahari bertabrakan dengan bulan. Adapun langit yang kita lihat akan bergoncang, terbelah dan hancur. Gugusan langit akan luluh bagaikan barang-barang tambang yang diluluhkan dan mencair. Alam ini dipenuhi dengan asap tebal dan awan gelap.[Al-Qiyamah: 8-9, Al-Takwir: 1-2, Al-Infithar: 2, Ath-Thur: 1, Al-Haqqah: 16, Ar-Rahman: 37, Al-Mursalat: 9, An-Naba’: 19, Al-Anbiya’: 104, Al-Furqan: 25, Ad-Dukhan: 10]

Hadis sahih Muslim yang mendukung kejadian tersebut, diriwayatkan Al-Miqdad bin al-Aswad,:

    “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, ” Di hari kiamat nanti matahari akan mendekati manusia, sehingga jaraknya hanya satu mil. Manusia akan berada dalam keringatnya masing-masing sesuai dengan amal perbuatanya. Ada yang keringatnya sampai mata kaki, ada yang sampai lutut, ada yang sampai setengah badan dan ada yang tenggelam sampai mulutnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam memberi isyarat dengan tangannya ditunjukan ke mulutnya” [Sahih Muslim 040.6852; Sahih Bukhari 2.24.553, diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Umar]

Di dekat hari kiamat, matahari mendekati manusia? Ini adalah bukti bahwa Islam mendukung Geosentris bukan Heliosentris.

Matahari dengan jarak 1 Mil?

bahkan dengan jarak sedekat jarak bumi-bulan [rata2 jaraknya 238.857 mil atau 384.403 Km] maka dapat dipastikan tidak ada lagi kehidupan di muka bumi dan tentunya tidak mungkin jika manusia bisa hidup dan cuma berkeringat saja, toh!

Di nyatakan pula bahwa matahari akan terbit dari barat sebagai salah satu dari 10 tanda-tanda kiamat [Hadis Muslim 041.6931, diriwayatakan Hudhaifa b. Usaid Ghifari; Sahih Muslim 041.7025, diriwayatkan oleh Abdullah b. ‘Amr], Juga di Sahih Bukhari:

    Diriwayatkan Abu Huraira,
    Nabi berkata, “Waktu tidak akan ditetapkan hingga matahari terbit dari barat, Orang-orang akan melihat itu dan semua akan percaya. Namun itu adalah saat ketika ‘tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu’ (AQ 6.158) [Sahih Bukhari 8.76.513]

    Diriwayatkan Abu Dharr,
    Ketika Matahari hendak terbenan, Aku memasuki mesjid dan Nabi duduk disana. nabi berkata, “O Abu Dharr! Tahukah engkau kemana matahari ini pergi?” Ia berkata, “Allah dan nabinya tahu yang terbaik” Nabi berkata,”Ia pergi dan minta ijin bersujud dan diijinkan dan [suatu hari] ia diperintahkan kembali ketempat ia datang, dan ia akan terbit dari barat” Kemudian Nabi mengutip ayat, “dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”(AQ 36.38), sebagaimana disampaikan oleh ‘Abdullah [Sahih Bukhari 9.93.520]

KAPAN TERJADINYA KIAMAT?

Umur Bumi ini dan sisanya hingga kiamat adalah:
Riwayat Ibn Abiyy – Abu Ishak – Ibrahim b. Abdullah Nabt – Anas ibn Malik – Muhammad SAW: Panjang umur Bumi ini adalah 7 hari di hari-hari kehidupan setelah kematian. Allah berkata “sehari di sisi Allahmu adalah setara dengan 1000 tahun dalam perhitunganmu” [Suyuti sehubungan dengan hadis-hadis sahih tentang umur bumi tersisa 7000 tahun]. Kemudian di Tabari Hal. 172 – 175:

  • 7000 tahun. Riwayat Ibn Humayd – Yahya bin Wadih – Yahya bin Ya’qub – Hammad – Sa’id bin Jubair – Ibn Abbas: Dunia ini adalah satu diantara minggu-minggu di alam lain – 7000 tahun. Telah berlalu 6200 tahun. Akan dialami ratusan tahun. Selama waktu itu akan terjadi tidak ada seorang beriman pada ke-tahuid-an Allah.
  • 6000 tahun. Riwayat Abu Hisham – Mu’awiyah bin Hisham – Sufyan – al A’Mash – Abu Salih – Ka’b: Umur bumi 6000 tahun. Riwayat Muhammad bin Sahl bin Askar – Ismail bin Abd al karim – ‘Abd al samad bin Maqil – Wahb: Telah berlalu 5600 tahun..Aku tanya Wahb bin Munabih seberapa lama bumi ini. Ia jawab: 6000 tahun
  • Sisa waktu seperti jarak antara shalat Ashar – Magrib: Hadis Nabi yang di riwayatkan Muhammad bin Bashshar dan Ali bin Sahl – Mu’ammal – Sufyan – Abdallah bin Dinar – Ibn Umar: Nabi berkata: Perbandingan waktu antara mereka yang sebelum kalian, waktu kalian adalah seperti jarak shalat Ashar – Magrib.

    Riwayat Ibn Humayd – Salamah – Muhammad bin Ishaq – Ibn Umar: Nabi berkata: Sebagai pembandingan waktu bangsa-bangsa yang telah berlalu. Waktu kalian seperti Ashar – magrib.

    Riwayat Al Hasan bin Arafah – Abu Al Yaqzan Ammar bin Muhammad (Anak dari adik perempuan Sufyan al Thawri) – Layth bin Abi Sulaym – Mughira bin Hakim – Abdullah bin Umar: Nabi berkata: Hanya sebanyak ini waktu bumi tersisa untuk umatku yaitu matahari ketika shalat Ashar telah dilakukan.

    Riwayat Muhammad bin Awf – Abu Nu’aym – Sharik – Salamah bin Kuhayl – Mujahid – Ibn Umar: Kami duduk bersama Nabi ketika matahari telah melewati Qu’ayqi’aan (nama gunung, 12 mil/24 km, selatan Mekkah, tapi di web ini: di barat) di setelah shalat Ashar. Ia berkata: Sebagai pembanding kehidupan-kehidupan mereka yang telah berlalu. Kehidupan kalian adalah seperti apa yang tersisa di hari ini dibandingkan yang telah berlalu.

Sekarang,
mari kita lihat timeline kapan tepatnya kiamat, yaitu sejak Muhammad, sang pembaharu ajaran Allah mulai diutus hingga wafatnya:


Mulai diutus – Hijrah

Mereka menanyakan kepadamu tentang: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. [AQ 7.187, Al Makiyya, turun urutan ke-39. Juga di surat Al makiyya lainnya: AQ 20.15, urutan ke-36. AQ 41.47, urutan ke-61. AQ.53.57-58, turun urutan ke-23. AQ 31.34, urutan ke-57. AQ 67.25-27, turun urutan ke-77. AQ 79.42-46, urutan ke-81].

Hadis-hadis di bawah ini adalah posisi di saat/setelah turunnya AQ 31.34:

    Riwayat ..Abu Zur’ah – Abu Hurairah/Abu Dzar: “..Ketika kami tengah duduk, sedang Rasulullah SAW berada di tempat duduk beliau, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki…dia berkata; “..Wahai Muhammad, beritahukan kepadaku kapankah Hari Kiamat tiba?”

    Beliau menundukan kepada dan tidak menjawab sedikitpun, kemudian orang tersebut mengulang pertanyaan dan beliau tidak menjawab sedikitpun. Lalu beliau mengangkat kepalanya seraya bersabda: “Orang yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”

    Akan tetapi ia memiliki tanda-tanda yang dengannya Hari Kiamat tersebut diketahui. Yaitu..Itulah 5 tanda yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Sesungguhnya Allah memiliki ilmu mengenai Hari Kiamat hingga firman Allah: Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Kemudian beliau bersabda: “Demi Dzat yang mengutus Muhammad dengan kebenaran sebagai pemberi petunjuk dan kabar gembira, tidaklah aku lebih mengetahui dari salah seorang dari kalian. Sesungguhnya ia adalah Jibril yang turun dalam bentuk Dihyah Al Kalbi.”

    [Nasai no. 4905. Juga di Bukhari no. 48, 4404. Muslim no.10, 11. Ibn Majjah. no.63, 4034. Ahmad no. 9137. Dari jalur perawi Abdullah bin Buraidah – Yahya bin Ya’mar – Ibn Umar/Umar – Nabi SAW dengan sanad yang kurang lebih sama di sampaikan di Muslim no.9. Dawud no.4075. Tirmidhi no.2535. Nasai no.4904. Ibn Majjah no.62. Ahmad no.352. Kemudian, Lamanya Umar diberitahukan bahwa yang datang itu adalah Jibril adalah Setelah 3 hari kemudian ada di: Ahmad no.346, 179. Ibn Majjah no. 62, Nasai no. 4904 dan Abu Dawud no.4075].

Selain 5 tanda kiamat di atas, juga terdapat bentukan variasi lain tanda-tanda kiamat yang disampaikan, di antaranya adalah:

  • 10 tanda kiamat: Riwayat Bundar – Abdurrahman bin Mahdi – Sufyan – Furat Al Qazzar – Abu Ath Thufail – Hudzaifah bin Usaid: Rasulullah SAW bersabda:

    “Kiamat tidaklah terjadi hingga kalian melihat 10 tanda-tanda; terbitnya matahari dari barat, ya’juj dan ma’juj (hancurnya tembok pembantas), binatang (Jasassah), tiga gerhana; gerhana di timur, gerhana di barat dan gerhana di jazirah arab, api muncul dari bawah ‘Aden..”

    Riwayat Mahmud bin Ghailan – Waki’ – Sufyan – Furat menambahkan dalam riwayatnya: Asap. Riwayat Hannad – Abu Al Ahwash – Furat Al Qaffaz, seperti hadits Waki’ – Sufyan.

    Riwayat Mahmud bin Ghailan – Abu Dawud Ath Thayalisi – Syu’bah dan Al Mas’udi – Furat Al Qazzaz seperti hadits Abdurrahman – Sufyan – Furat dan menambahkan dalam riwayatnya: Dajjal atau asap.

    Riwayat Abu Musa Muhammad bin Al Mutsanna – Abu An Nu’man Al Hakam bin Abdullah Al ‘Ijlani – Syu’bah – Furat seperti hadits Abu Dawud – Syu’bah dan menambahkan: Rasulullah SAW bersabda: “Dan yang ke-10 mungkin angin melemparkan mereka ke laut atau turunnya Isa bin Maryam. Berkata Abu Isa: dalam hal ini ada hadits serupa dari ‘Ali, Abu Hurairah, Ummu Salamah, Shafiyyah binti Huyay dan hadits ini hasan shahih.

    [Tirmidhi no.2109. Hadis lainnya tidak menggunakan kata gerhana namun: longsor (Muslim no. 5162, 5163), gempa bumi (Abu Dawud no. 3757), berkobarnya api (Ahmad no.15555) dan kerusakan (Ahmad no.15557, 15558)] ATAU

  • Penggolongan tanda-tanda kiamat versi lain: Riwayat Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Hari kiamat tidak akan terjadi hingga: 2 kelompok besar saling berbunuhan besar-besaran padahal ajakan keduanya satu; muncul para pendusta yang kurang lebihnya 30, kesemuanya mengaku ia utusan Allah; hingga ilmu diangkat; banyak keguncangan; zaman terasa singkat; fitnah muncul dimana-mana; dan banyak alharaj, yaitu pembunuhan; hingga ditengah-tengah kalian harta melimpah ruah dan berlebihan, sehingga pemilik harta mencari-cari orang yang mau menerima sedekahnya, sampai ia menawar-nawarkan sedekahnya, namun orang yang ditawari mengelak seraya mengatakan ‘ Aku tak butuh sedekahmu’, sehingga manusia berlomba-lomba meninggikan bangunan; sehingga seseorang melewati kuburan seseorang dan mengatakan; ‘Aduhai sekiranya aku menggantikannya’; hingga matahari terbit dari sebelah barat, padahal jika matahari telah terbit dari sebelah barat dan manusia melihatnya, mereka semua beriman, pada saat itulah sebagaimana ayat; ‘Ketika itu tidak bermanfaat lagi bagi seseorang keimanannya, yang ia belum beriman sebelumnya atau belum mengerjakan kebaikan dengan keimanannya.” (AQ 6.158); ketika dua orang telah menyerahkan kedua bajunya tetapi keduanya tidak jadi melakukan jual beli, keduanya tidak jadi melipatnya; dan hari kiamat terjadi sedang seseorang telah pulang membawa susu sapinya tetapi tidak jadi ia meminumnya, dan hari kiamat terjadi ketika seseorang memperbaiki kolam (tempat minum) nya tetapi dia tak jadi meminumnya, dan hari kiamat terjadi sedang seseorang telah mengangkat suapannya tetapi dia tidak jadi menyantapnya.” [Bukhari no.6588] ATAU
  • Mencemburui kuburan: Riwayat Abu Hurairah – Nabi SAW: “Hari kiamat tidak akan terjadi sehingga seseorang melewati kuburan seseorang, lantas mengatakan; ‘duhai sekiranya aku menggantikan dia.'” [Bukhari no.6582. Muslim no.5175 . Ahmad no.6929, 10446. Malik no.508] ATAU
  • Binatang dan benda-benda berbicara: Riwayat Abu Sa’id Al Khudri – Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat belum akan terjadi sehingga binatang buas dapat berbicara kepada manusia, pecut serta tali sandal seseorang dapat berbicara kepada pemiliknya, dan pahanya dapat memberitahukannya apa yang telah diperbuat istrinya ketika ia tidak ada di rumah.” [Ahmad no.11365, 11413] ATAU
  • Api Keluar dari Hejaz: Riwayat Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Hari kiamat tidak akan tiba hingga api keluar dari tanah Hejaz yang bisa menyinari tengkuk unta di Bushra.” [Bukhari no.6585. Muslim no.5164] ATAU
  • Wanita berjoget: Riwayat Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Hari kiamat tidak akan tiba sehingga pantat-pantat wanita daus berjoget pada Dzul khulashah, dan Dzul khulashah ialah thaghut suku Daus yang mereka sembah di masa jahiliyah.” [Bukhari no.6583. Muslim no.5173. Ahmad no.7352] ATAU
  • Kabilah Qahthan: Riwayat Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Hari kiamat tidak akan tiba hingga seseorang dari kabilah Qahthan menggiring manusia dengan tongkatnya.” [Bukhari no.6584, 3256. Muslim no.5182. Ahmad no.9037] ATAU
  • Bermegah-megahan Membangun Mesjid: Riwayat Anas bin Malik – Nabi SAW: “Tidak akan tiba Hari Kiamat sampai manusia bermegah-megahan dalam membangun Masjid.” [Abu Dawud no.379, Ahmad no. 10348 (manusia saling berlomba mendirikan bangunan). Ahmad no.11931, 12016, 12079, 12925, 13509. Darimi no.1372. Nasai no.682] ATAU
  • Tidak ada yang menyebut Allah, Allah: Riwayat Anas bin Malik – Rasulullah SAW: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga di muka bumi tidak ada yang menyebut; ‘Allah, Allah.” [Muslim no.211, 212. Bukhari no. 2709. Tirmidhi no. 2133. Ahmad no.11601, 12199, 12609, 13232, 13331] ATAU
  • Memerangi Yahudi: Riwayat Abu Hurairah – Nabi SAW: “kiamat tidak akan terjadi sehingga kalian akan memerangi orang-orang Yahudi, sehingga ada seorang Yahudi yang lari dan bersembunyi di balik batu, lalu batu tersebut berkata; ‘Wahai hamba Allah, wahai muslim, ini ada Yahudi di belakangku.’ kiamat tidak akan terjadi sehingga kalian memerangi kaum yang sandal mereka dari bulu.” [Musim no. 5203. Ahmad no. 9029. Ahmad no.8807 (Sanadnya seperti di atas, namun didahului kalimat: kiamat tidak akan terjadi sehingga matahari terbit dari arah terbenamnya, maka manusia akan beriman semuanya pada hari yang “tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.”)] ATAU
  • Memerangi Turki: Riwayat Abu Hurairah – Nabi SAW: “Tidak akan terjadi hari qiyamat hingga kalian memerangi bangsa Turki yang bermata kecil, wajah kemerahan dan hidungnya pesek. Wajah mereka seakan seperti perisai yang menutupi kulit. Dan tidak akan terjadi hari qiyamat hingga kalian memerangi kaum yang bersandal bulu” [Bukhari no.2711, 2712, 3322. Muslim no.5184-5187. Tirmidhi no.2131. Ibn Majjah no. 4086-4089, Abu Dawud no.3749, Ahmad no.7351, 7892, 6965, 9994, 10440, 10441, 10831] ATAU
  • Banjir ajaib: Riwayat Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Kiamat tidak akan terjadi sampai manusia di hujani oleh air hujan yang tidak akan merendam rumah-rumah yang terbuat dari tanah liat dan tidak akan merendam kecuali rumah-rumah yang terbuat dari serabut.” [Ahmad no.7248] ATAU
  • Hujan setahun, tak menumbuhkan: Riwayat Anas – Rasulullah SAW: : “Tidak akan datang hari kiamat hingga manusia mendapatkan hujan selama setahun, namun bumi tidak menumbuhkan sesuatu pun.” [Ahmad no.11979] ATAU
  • Orang hina bahagia: Riwayat Hudzaifah bin Al Yaman – Nabi SAW: “Kiamat tidak akan terjadi hingga orang yang paling bahagia didunia adalah orang hina putra orang hina.” [Tirmidhi no. 2135, Ahmad no.22214] ATAU
  • Jumlah Wanita jauh melebihi Pria: Riwayat Anas bin Malik – Rasulullah SAW: “Tidak akan datang hari kiamat hingga pada setiap 50 wanita terdapat 1 orang laki-laki, wanita akan semakin banyak dan laki-laki akan semakin sedikit.” [Ahmad no.11764] ATAU
  • Kecuali atas manusia-manusia Buruk: Riwayat Abdullah – nabi SAW: “Kiamat tidak terjadi kecuali atas manusia-manusia buruk.” [Muslim no.5243. Ahmad no.15491 (Riwayat Ilba’ As-Sulamy – Rasulullah SAW: “”…kecuali menimpa manusia-manusia yang buruk”). Ahmad no. 3548 (Riwayat Abdullah bin Mas’ud – Nabi SAW: “..kecuali atas sejahat-jahat manusia.”. Ahmad no. 3930], dan MASIH BANYAK LAGI VARIASINYA

Melihat berubah-ubahnya tanda-tanda kiamat yang diucapkan oleh seorang nabi, utusan kesayangan Allah ini, maka sangatlah wajar jika seseorang menjadi bertanya-tanya: Apakah Muhammad ini memahami apa yang dibicarakannya?

Mengapa?

Karena Quran juga menyampaikan bahwa diantara nabi yang mengetahui tentang kiamat adalah Isa, “Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku” [AQ 43.61, Al Makiyya, turun urutan ke-63] dan tentu saja juga Allah [AQ 43.85, Al Makiyya, turun urutan ke-63]. Yang mengutus Jibril dengan perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan tentang hari pertemuan [AQ 40.15, Al Makiyya, turun urutan ke-60].

Telah dekat datangnya hari kiamat dan tandanya telah terjadi [Al Qamar 54.1-2] (Al makiyya, turun urutan ke-37, yaitu tahun ke-5 setelah Muhammad diutus menjadi pembaharu ajaran Allah, menjadi Nabi):

    Riwayat Ali bin Hujr – Ali bin Mushir – Al A’masy – Ibrahim – Abu Ma’mar – Ibnu Mas’ud:
    ketika kami bersama Rasulullah SAW di Mina, kemudian bulan terbelah menjadi dua belah, sebelah dari balik gunung dan sebelah di depan gunung. Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada kami; saksikanlah! yaitu telah dekat datangnya hari kiamat dan telah terbelah bulan. (AQ 54.1), Abu Isa: hadits ini adalah hasan shahih. [Tirmidhi 1.44.3286/no.3207. Ahmad no. 12227 (Riwayat Abdurrazaq – Ma’mar – Qatadah – Anas bin malik). Di Tirmidhi 1.44.3285/no. 3208 (Riwayat Abdu bin Humaid – Abdur Razzaq – Ma’mar – Qatadah – Anas bin Malik), sebagai telah dekat datangnya hari kiamat, muhammad memperlihatkan terbelahnya bulan sebanyak: 2x. (terbelahnya bulan sebanyak 2x, disampaikan juga di: Muslim 39.6728/no.5013, Ahmad no.12678, 12825)]

Setelah Hijrah Ke Medina
Hadis di bawah ini menginformasikan telah terjadi transfer pengetahuan tentang kiamat, misalnya dari riwayat Anas bin Malik dan juga Abdullah bin Salam menantikan Muhammad di hari hijrahnya Muhammad ke Medina dan kemudian Ia bertanya, “Sesungguhnya saya akan bertanya kepada tuan tentang tiga hal, yang tidak akan ada yang mengetahui jawabannya kecuali seorang Nabi. 1. Apa tanda-tanda pertama hari kiamat, 2. Makanan apa yang pertama-tama dimakan oleh ahli syurga, dan 3. Mengapa si anak menyerupai bapaknya atau kadang-kadang menyerupai ibunya?” Jawab Nabi SAW: “Baru saja Jibril memberitahukan hal ini padaku” Kata Abdullah bin Salam: “Jibril?” Jawab Rasulullah SAW: “Ya.” Kata Abdullah bin Salam: “Dia itu termasuk malaikat yang termasuk musuh kaum Yahudi.” Lalu Nabi membacakan ayat ini (S. 2: 97) sebagai teguran kepada orang-orang yang memusuhi malaikat pesuruh Allah. [Bukhari 4.55.546; 5.58.275; 6.60.7 dan Muslim 3.614]

Setelah ini, terjadi peningkatan pengetahuan Muhammad. Pengetahuan Muhammad, bukan cuma tanda-tandanya saja bahkan ia pun telah diberitahukan Allah SWT bahwa waktunya pun sudah sangat dekat sekali,

Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.” Dan tahukah kamu, boleh jadi (la’alla) hari berbangkit itu sudah dekat waktunya. [AQ 33.63]

    Maududi: Di surah ini terdapat 3 event penting yaitu: perang parit, Penyerbuan Bani Quraiza dan Muhammad mengawini Zaynab bint Jash, yang terjadi di Dhul Qaidha 5 AH

Terdapat beberapa hadis yang memberikan kejelasan bahwa kiamat itu memang sudah dekat karena telah Dajal telah muncul dan adanya perang dua kelompok dalam Islam:

    Riwayat Al Hakam bin Nafi’ – Syu’aib – Az Zuhriy – Abu Salamah – Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Tidak akan terjadi hari qiyamat hingga ada dua kelompok yang saling berperang, yang keduanya mengaku satu agama (Islam)”.

    Riwayat Abdullah bin Muhammad – ‘Abdur Razzaq – Ma’mar – Hammam – Abu Hurairah – Nabi SAW: “Tidak akan terjadi hari qiyamat hingga ada dua kelompok yang saling berperang, ketika itu para korban yang terbunuh sangat banyak padahal keduanya mengaku satu agama dan tidak akan terjadi hari qiyamat hingga timbul para dajjal pendusta yang jumlahnya hampir mendekati 30 orang semuanya mengaku dirinya Rasul Allah”. [Bukhari no.3340, juga di Bukhari no.6423, Muslim no.5142 dan Ahmad no.10444: tanpa menyebutkan adanya Dajjal].

Peperangan dua kelompok sesama Islam terjadi di setelah wafatnya Muhammad.

Mengenai Dajjal,
2 diantaranya disebutkan berada di jaman Muhammad, yaitu: Al Masih Dajjal dan Ibn Shayyad Dajjal (saat di temui Muhammad ia belum baligh):

    Dajjal Ibn Shayyad:

    • Riwayat Hammad bin Humaid – ‘Ubaidullah bin Mu’adz – Ayahku – Syu’bah – Sa’d bin Ibrahim – Muhammad bin Al Munkadir: ‘Pernah aku melihat Jabir bin Abdullah bersumpah dengan nama Allah bahwa Ibnu Shayyad adalah dajjal. Maka saya katakan, ‘Engkau bersumpah atas nama Allah? ‘ ia jawab, ‘Saya mendengar Umar bersumpah atas yang demikian disisi Nabi SAW dan beliau SAW tidak memungkirinya.’ [Bukhari no.6808. Muslim no.5214 Di Ahmad no.22680 disebutkan mata anak kecil itu (Ibn Shayyad) buta sebelah)
    • Riwayat Sufyan bin Waki’ – ‘Abdul A’la – Al Jurairi – Abu Nadlrah – Abu Sa’id: Rasulullah SAW bertemu dengan Ibnu Sha’id (Ibn Shayyad) di suatu jalan Madinah lalu beliau menahannya, ia adalah budak Yahudi dan ia memiliki rambut yang dipintal, saat itu Rasulullah SAW bersama Abu Bakar dan Umar, Rasulullah SAW bertanya padanya: “Apa kau bersaksi bahwa aku utusan Allah?” ia balik bertanya: Apa kau bersaksi bahwa aku utusan Allah? Nabi SAW bersabda: “Aku beriman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul dan hari akhir.” Nabi SAW: “Apa yang kau lihat?” Abu Sha’id menjawab: Aku melihat ‘arsy diatas air. Nabi SAW: “Kau melihat ‘arsynya iblis diatas laut.” Beliau bertanya: “Apa yang kau lihat?” Ibnu Sha’id menjawab: Aku melihat seorang jujur dan dua pendusta atau dua orang jujur dan seorang pendusta. Nabi SAW: “Disamarkan baginya.” Lalu nabi SAW memanggilnya [Tirmidhi no.2173, Hadis ini Hasan]

      Riwayat Abdullah bin Mua’wiyah Al Jumhi – Hammad bin Salamah – ‘Ali bin Zaid – Abdurrahman bin Abu Bakrah – ayahnya: Rasulullah SAW bersabda: “Ayah dan ibu Dajjal tinggal selama 30 tahun, keduanya tidak memiliki anak, setelah itu keduanya melahirkan bayi buta sebelah mata, ia paling berbahaya dan sedikit manfaatnya, matanya tidur tapi hatinya tidak.” Setelah itu Rasulullah SAW menyebutkan ciri-ciri kedua orang tua Dajjal, beliau bersabda: “Ayahnya tinggi, kurus, hidungnya seperti paruh dan ibunya gemuk bertangan panjang.” Berkata Abu Bakrah: Kami mendengar bayi lahir dikalangan yahudi Madinah, lalu aku pergi bersama Zubair bin Awwam hingga kami memasuki kediaman kedua orang tuanya, ternyata ciri-ciri yang disebutkan Rasulullah SAW ada pada keduanya, kami bertanya: Apa kalian punya anak? Keduanya menjawab: Kami tinggal selama 30 tahun tapi tidak punya anak, setelah itu kami punya anak buta sebelah mata, ia membahayakan dan sedikit sekali manfaatnya, matanya tertidur tapi hatinya tidak. Berkata Abu Bakrah: Lalu kami keluar dari kediaman mereka berdua ternyata ia tengah tergeletak di tanah di bawah terik matahari dalam kain beludru dan ia berbicara tapi tidak difahami. Lalu ia membuka penutup kepalanya, ia bertanya: Apa yang kalian berdua katakan? Kami menjawab: Apa kau mendengar ucapan kami? Ia menjawab: Ya, kedua mataku tidur tapi hatiku tidak. Berkata Abu Isa: hadits ini hasan gharib [Tirmidhi no.2174].

      Riwayat ‘Abd bin Humaid – Abdurrazzaq – Ma’mar – Az Zuhri – Salim – Ibnu Umar: Rasulullah SAW melewati Ibnu Shayyad bersama beberapa sahabat, diantara mereka ada Umar bin Al Khaththab, ia bermain bersama anak-anak kecil didekat Uthum bin Maghalah, ia adalah seorang budak, ia tidak merasa hingga Rasulullah SAW memukul punggungnya lalu beliau bertanya: “Apa kau bersaksi bahwa aku utusan Allah?” Ibnu Shayyad memandang beliau, ia menjawab: Aku bersaksi bahwa engkau adalah rasul kaum ummi. Selanjutnya Ibnu Shayyad bertanya: Apa kau bersaksi bahwa aku utusan Allah? Rasulullah SAW: “Aku beriman kepada Allah dan rasulNya.” Setelah itu nabi SAW: “Apa yang mendatangimu?” Ibnu Shayyad menjawab: Seorang jujur dan seorang pendusta mendatangiku. Nabi SAW: “Urusan dicampur adukkan padamu.” Setelah itu Rasulullah SAW: ” aku menyembunyikan sesuatu padamu.” Nabi SAW ketika itu menyembunyikan kutipan ayat yang berbunyi “dan ingatlah ketika langit membawa asap yang nyata (QS. Addukhan 44.10). Ibnu Shayyad menjawab: Itu adalah asap. Rasulullah SAW bersabda: “Hinalah engkau, engkau tidak bakalan melampaui batas kemampuanmu sebagai dukun!.” Umar berkata: Wahai Rasulullah, izinkan aku menebas lehernya. Rasulullah SAW bersabda: “Bila ia benar, kau tidak akan bisa menguasainya dan bila tidak, tidak ada baiknya bagimu untuk membunuhnya.” Berkata ‘Abdur Razza: Maksud beliau Dajjal. Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih. [Tirmidhi no.2175].

    • Juga di Bukhari no.1267, 2827, 5208, 5707, Muslim no.5215. Abu Dawud no.3768, dst.

    Al Masih Dajjal:

      Riwayat An Nufaili – Utsman bin ‘Abdurrahman – Ibnu Abu Dzi`b – Az Zuhri – Abu Salamah – Fatimah binti Qais:, “Pada suatu malam pernah Rasulullah SAW mengakhirkan shalat isya` yang akhir, lalu beliau keluar dan bersabda: “Sesungguhnya yang menghalangiku adalah kisah yang diceritakan Tamim Ad Dari kepadaku dari seorang laki-laki yang berada di sebuah pulau dari gugusan pulau-pulau. Tamim berkata, “Saat itu tiba-tiba ada seorang wanita yang berambut panjang.” Tamim selanjutnya bertanya, “Siapa kamu?” Ia menjawab, “Aku adalah Jasasah. Pergilah kamu ke istana itu.” Tamim berkata, “Aku pun mendatanginya, ternyata di sana ada seorang laki-laki berambut panjang yang terikat dengan sebuah rantai. Tingginya menjulang antara langit dan bumi. Aku lalu bertanya, “Siapa kamu?” Ia menjawab, “Aku adalah Dajjal. Apakah telah ada seorang Nabi buta huruf yang diutus?” Aku menjawab, “Ya.” Ia kembali bertanya, “Apakah orang-orang mentaatinya atau mengingkarinya?” Aku menjawab, “Orang-orang mentaatinya.” Ia berkata, “Itu yang lebih baik bagi mereka.”

      Riwayat Hajjaj bin Abu Ya’qub – Abdu Ash Shamad – Bapakku – Husain Al Mu’allim – Abdullah bin Buraidah – Amir bin Syurahil Asy Sya’bi – Fatimah binti Qais:..Ketika Rasulullah SAW selesai dari shalatnya, beliau duduk sambil tertawa, beliau bersabda: “Hendaklah setiap orang tetap di tempat shalatnya (duduk).”

      Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: “Apakah kalian tahu, kenapa aku kumpulkan kalian di sini?” Para sahabat, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda: “Aku kumpulkan kalian bukan atas sesuatu yang membuat takut atau senang, namun aku kumpulkan kalian adalah karena Tamim Ad Dari, seorang lelaki Nashrani yang datang dan berbaiat masuk Islam, ia menceritakan kepadaku sebuah kisah yang mirip dengan cerita yang pernah aku ceritakan kepada kalian tentang Dajjal.

      Ia ceritakan kepadaku bahwasanya ia pernah menaiki sebuah perahu bersama 30 laki-laki dari kaum Lakhm dan Judzam, mereka kemudian diombang-ambingkan oleh ombak selama 1 bulan di tengah laut, sampai akhirnya mereka menepi ke sebuah pulau saat matahari terbenam. Mereka lantas duduk di sisi kapal mereka, setelah itu mereka bergegas memasuki pulau tersebut hingga akhirnya bertemu dengan binatang melata besar dan berbulu lebat. Mereka berkata, “Celaka engkau, siapa kamu ini!” binatang itu menjawab, “Aku adalah Jasasah. Temuilah laki-laki yang ada dalam sebuah gua, karena ia sangat berkeinginan untuk mendengar berita dari kalian.” Tamim berkata, “Saat ia menyebut laki-laki, maka kami ketakutan jikalau dia adalah setan lalu kami cepat pergi hingga memasuki gua tersebut. Dan ternyata di dalamnya terdapat manusia yang paling besar yang pernah kami lihat, talinya sangat kuat, dan tangannya menyatu dengan leher (terikat dengan rantai).” Lalu perawi menyebutkan hadits tersebut dengan lengkap.

      Manusia besar (Dajjal) itu bertanya kepada mereka tentang Nakhl Baisan (nama tempat dekat Yordania), mata air Zughar (nama tempat di Syam) dan seorang Nabi yang buta huruf. Manusia besar itu berkata, “Aku adalah Al Masih Dajjal, dan hampir-hampir aku mendapat izin untuk segera keluar.”

      Nabi SAW bersabda: “Sesunggunya ia (Dajjal) berada di laut Syam, atau laut Yaman. Bahkan ia akan muncul dari arah timur tempat ia berasal -beliau ucapkan hingga dua kali seraya menunjuk ke arah timur-. Fatimah berkata, “Aku hafal perkataan ini dari Rasulullah SAW, lalu ia menyebutkan hadits selengkapnya.”

      Riwayat Muhammad bin Shadran – kami Al Mu’tamir – Isma’il bin Abu Khalid – Mujalid bin Sa’id – Amir – Fatimah bin Qais: pernah Nabi SAW shalat zhuhur kemudian naik ke atas mimbar, padahal sebelum hari itu beliau tidak penah naik ke atas mimbar tersebut kecuali di hari jum’at. Kemudian beliau menyebutkan kisah ini.” Abu Dawud berkata, “Ibnu Shadran adalah orang Bashrah, ia pernah tenggelam di lautan bersama Ibnu Miswar, dan tidak ada yang selamat dari mereka selain dia.”

      Riwayat Washil bin Abdul A’la – Ibnu Fudhail – Al Walid bin Abdullah bin Jumai’ – Abu Salamah bin ‘Abdurrahman – Jabir:, “Pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda di atas mimbar: “Ketika ada beberapa orang berlayar di lautan, makanan mereka hilang (habis), lalu tampaklah oleh mereka sebuah pulau. Mereka pun menuju pulau tersebut untuk mencari roti, namun mereka dihadang oleh Jasasah.” Aku (Walid bin Abdullah) lantas bertanya kepada Abu Salamah, “apa itu Jassasah?” Ia menjawab, “Seorang wanita yang rambutnya menutupi kulit dan kepalanya. Wanita itu berkata, “Dalam istana ini.” Lalu ia menceritakan haditsnya, dan ia bertanya tentang Nakhl Baisan dan mata air Zughar, ia menjawab; “Dia adalah Al Masih”, maka Abu Salamah berkata kepadaku; Dalam hadits ini ada beberapa lafadz yang tidak aku hafal. Abu Salamah berkata, “Jabir bersaksi bahwa laki-laki itu adalah Ibnu Shayyad.” Aku berkata, “Tapi Ibnu Shayyad telah mati!” Jabir menjawab, “Meskipun ia telah mati.” Aku bertanya lagi, “Ia juga telah masuk Islam.” Jabir berkata, “Meskipun ia telah masuk Islam.” Aku bertanya, “Ia juga telah masuk ke kota Madinah.” Jabir menjawab, “Meskipun ia telah masuk kota Madinah.”

      [Abu Dawud no.3767. Muslim no.5235]

Ya’juj Ma’juj sebagai PERTANDA bahwa KIAMAT SUDAH SANGAT DEKAT dan AKAN SANGAT CEPAT TERJADINYA,

    Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”..Dzulkarnain berkata: “..maka tolonglah aku dengan kekuatan, agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka….berilah aku potongan-potongan besi..Berilah aku tembaga agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu..Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya…Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar.” [AQ 18.94-97, Al Makiyya, turun urutan ke-69]

    Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir..[AQ 21.96, Al Makiyya, turun urutan ke-73]

    Tentang GOG dan MAGOG (Ya’juj dan Ma’juj):

    • GOG adalah turunan dari Nuh – Sem – Arpakhsad – Selah – Eber – Peleg – Rehu – Serug – Nahor – Terah – Abraham – Ishak – Yakub – Yusuf – Efraim – .. – Zuf – Tohu – Elihu – Yeroham – Elkana – Samuel – Yoel – Semaya – GOG [Kej.11, 25, 30, 46, 1 Sam 1.1, 1 tar 5.4]
    • MAGOG adalah turunan dari Nuh – Yapet – MAGOG (keturunan lain Yapet diantaranya: Tubal, Mesekh) [Kejadian 10.2, 1 tar 1.15]
    • Masing-masing dari nama mereka kemudian menjadi nama sebuah bangsa dan sebuah negeri.
    • Kemudian ada pula GOG yang berada di tanah MAGOG, yaitu raja agung negeri Mesekh dan Tubal [Yeh 38.2,3]
    • Di Perjanjian lama, baik itu GOG maupun MAGOG, bukanlah Iblis

    Seluruh referensi Perjanjian lama TIDAK PERNAH menyatakan bahwa GOG dan MAGOG merupakan satu kesatuan dan/atau 2 (dua) nama tersebut TIDAK PERNAH ada dalam satu jaman tertentu. Namun, di kitab Wahyu 20.8, nama GOG dan juga nama MAGOG tiba-tiba saja menjadi satu kesatuan dan berfungsi sebagai “ramalan”.

    Islam yang tidak mempercayai kitab-kitab PASCA Yesus wafat kemudian malah mengadopsi khayalan Yohanes dengan mengaplikasikanYajuj dan Majuj sebagai penanda kiamat.

Kapan tembok/benteng Yajuj dan Majuj terbuka?

    Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – ‘Uqail – Ibnu Syihab – ‘Urwah bin Az Zubair – Zainab binti Abu Salamah – Ummu Habibah binti Abu Sufyan – Zainab binti Jahsy: Nabi SAW datang kepadanya dengan gemetar sambil berkata: “Laa ilaaha illallah, celakalah bangsa Arab karena keburukan yang telah dekat, HARI INI TELAH dibuka benteng Ya’juj dan Ma’juj seperti ini”. Beliau memberi isyarat dengan mendekatkan telunjuknya dengan jari sebelahnya. Zainab binti Jahsy berkata, Aku bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa sedangkan di tengah-tengah kita banyak orang-orang yang shalih?”. Beliau menjawab: “Ya, benar jika keburukan telah merajalela”. [Bukhari no. 3097, 3331]

    Riwayat Malik bin Isma’il – Ibnu ‘Uyainah – Az Zuhri – ‘Urwah – Zainab binti Ummu Salamah – Ummu Habibah – Zainab binti Jahsy: Nabi SAW bangun tidur dalam keadaan wajahnya memerah seraya mengucapkan: “laa-ilaaha-illallah, celaka bangsa arab karena keburukan yang telah dekat, HARI INI TELAH dibuka benteng Ya’juj dan Ma’juj seperti ini” –Sedang Sufyan menyatakan secara pasti jumlahnya yaitu sembilan puluh atau seratus-maka beliau di tanya; ‘Apakah kita juga akan binasa sedang diantara kita masih ada orang-orang yang shalih? ‘ Nabi menjawab; “Iya, jika kejahatan telah mewabah.” [Bukhari no.6535, 3098. Muslim no.5130]

Hadis di atas menyampaikan bahwa Muhammad bangun tidur bercerita kepada Zaynab bint Jashy tentang Yajuj dan Majuj, ini menunjukan mereka telah berada di perkawinan sehingga berita telah bolongnya tembok ini terjadi di setelah turunnya surat AQ 33.63 (5 H)

Maka kiamat, sudah benar-benar luar biasa dekatnya!

Muhammad DIUTUS BERSAMAAN DENGAN KIAMAT!

    Riwayat Sulaiman bin Dawud Al Mahri – Ibnu Wahb berkata, telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Abu Ayyub dari Syarahil bin Yazid Al Mu’arifi dari Abu Alqamah dari Abu Hurairah yang aku tahu hadits itu dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Allah mengirimkan kepada umat ini setiap seratus tahun seorang pembaharu agamaNya” (inna Allaha yab’athu lihadhihi ạl ủmaati ala rasi kuli miayati sanatin MAN YUJADDIDU LAHA DINAHA) Abu Dawud berkata, “Abdurrahman bin Syuraih Al Iskandarani meriwayatkan hadits ini, namun tidak menyebutkan Syarahil.” [Abu Dawud no.3740]

Kalimat “yang aku tahu HADIS ITU dari rasullullah SAW”, menunjukan bahwa si perawi menyampaikan pendapat Abu huraira (abdurahman bin shakr) dan BUKAN pendapat MUHAMMAD karena di “hadis itu”, TIDAK ADA kalimat yang merupakan kebiasaan Abu Huraira dalam menyampaikan hadis Nabi. Bukti ini diperkuat dari statement Abu Dawud sendiri tentang Abdurrahman bin Syuraih Al Iskandarani (w. 167 H) yang tidak menyebutkan dari syarahil bin Yazid padahal tidak bisa hadis ini muncul dari abu alqamah tanpa syarahil.

Kalimat “man yujaddidu”, bukanlah jamak, jadi Allah mengirim “seorang pembaharu” atau seorang utusan. Dari sejak Adam, telah berulang kali Allah mengirimkan pembaharu dan Muhammad merupakan pembaharu “PENUTUP” dari agama Allah. Kalimat “setiap 100 tahun” akan berhenti pada batasan terjadinya KIAMAT dan Muhammad DIUTUS berdekatan dengan terjadinya KIAMAT, dan telah disampaikan bukti di atas bahwa tembok Yajuj dan Majuj telah terbuka dan juga pada hadis di bawah ini:

    Riwayat Mahmud bin Ghailan – Abu Dawud – Syu’bah – Qatadah – Anas bin malik: Rasulullah SAW: “Aku diutus bersamaan dengan hari kiamat seperti dua ini (maksudnya sangat dekat).” Abu Dawud mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah, ia tidak melebihkan salah satunya atas yang lain. berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih. [Tirmidhi no.2140. Bukhari no.4555, 4889, 6022-6024. Muslim no.5244-5247]

    Riwayat Muhammad bin Ubaid- Al A’masy – Ibnu Abu Khalid – Wahb As Su`ali – Rasulullah SAW: “Dan aku diutus, sementara jarak antara aku dan hari kiamat adalah seperti jarak dari sini ke sini, dan hampir saja ia akan mendahuluinya.” Maka Al A’masy menempelkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Dan sekali waktu, Muhammad berkata; “Hampir saja ia mendahuluiku..” [Ahmad no.18021, 21869]

KIAMAT TERJADI DIKISARAN 100 TAHUN!

  • Disampaikan antara SETELAH turunnya AQ 33.63 (5H) hingga 7H:
    Riwayat Hajjaj bin Asy Sya’ir – Sulaiman bin Harb – Hammad bin Zaid – Ma’bad bin Hilal Al Anazi – Anas bin Malik: seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW kapan terjadinya kiamat. Beliau terdiam sejenak lalu melihat anak kecil (gẖulāmi) dari Azd Syanu`ah yang ada didepan beliau, beliau menjawab: “Bila anak ini masih hidup, ia tidak sampai tua hingga kiamat terjadi.” Anas berkata: ANAK ITU (ạl̊gẖulāmu) SEBAYAKU SAAT ITU [Hadis Muslim Bab: Dekatnya kiamat no.41.7452/5250; 41.7451/5249 (Riwayat Abu Bakr bin Abu Syaibah – Yunus bin Muhammad – Hammad bin Salamah – Tsabit – Anas); 41.7453/5251 (Riwayat Harun bin Abdullah – Affan bin Muslim – Hammam – Qatadah – Anas). Juga di Musnad Ahmad no. 12097 (Riwayat Yunus dan Hasan bin Musa – Hammad bin Salamah – Tsabit Al Bunani – Anas bin Malik)]

    Riwayat Shadaqah – ‘Abdah – Hisyam – Ayahnya – ‘Aisyah: ada beberapa laki-laki arab badui yang keras perangainya mendatangi Nabi SAW, mereka bertanya kepada beliau kapan waktu itu? (مَتَى السَّاعَةُ فَكَانَ) Beliau melihat yang termuda diantara mereka sembari mengatakan: “Jika anak ini hidup, belum ia lanjut usia, waktu telah terjadi.” kata Hisham berarti kematian. [Bukhari 8.76.518/6030. Hadis Muslim di Bab: Dekatnya Kiamat 41.7450/5248 (Riwayat Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib – Abu Usamah – Hisyam – ayahnya – Aisyah)]

      Note:
      Ghulam adalah anak yang belum baligh.
      Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – Uqail – Ibnu Syihab – Anas bin Malik: Saat Rasulullah SAW datang di Madinah, ia (anas) masih anak-anak usia 10 tahun..saat Nabi SAW wafat aku adalah pemuda yang telah berumur 20 tahun. [Bukhari no.4768, 5769. Muslim no.3784. Ahmad no.11634, 12255]. Juga mengatakan di Mekkah 10 tahun, Medina 10 tahun dan wafat 60 tahun. [Muslim no. 4330]. Nabi Muhammad wafat di 11 H.

      Anas bin Malik hampir baligh (dewasa) di menjelang Perang Khaibar (7H):
      Riwayat Qutaibah -Ya’qub – ‘Amru – Anas bin Malik: Nabi SAW berkata pada Abu Thalhah: “Carilah seorang ghulam (anak kecil sebagai pelayan) dari ghulam milikmu untuk melayaniku selama keberangkatan ke Khaibar. Maka Abu Thalhah keluar bersamaku dengan memboncengku. Saat itu aku adalah seorang anak kecil yang hampir baligh. Aku melayani Rasulullah SAW saat Beliau singgah..Kemudian kami sampai di Khaibar. Ketika Allah membukakan kemenangan kepada Beliau pada peperangan itu, diceritakan kepada Beliau tentang kecantikan Shafiyah binti Huyay bin Akhthab yang suaminya telah terbunuh dan dia menjanda. Maka Rasulullah SAW memilihnya untuk diri Beliau sendiri. [Bukhari no.2679, dalam bab: Keutamaan orang yang mengajak anaknya dalam peperangan sebagai pelayan]

      Batasan usia lelaki baligh, menurut Umar adalah 15 tahun:
      Riwayat ‘Ubaidullah bin Sa’id – Abu Usamah – ‘Ubaidullah – Nafi’ – Ibnu’Umar bahwa dia pernah menawarkan diri kepada Rasulullah SAW untuk ikut dalam perang Uhud, saat itu umurnya masih 14 tahun namun Beliau tidak mengijinkannya. Kemudian ia menawarkan lagi pada perang Khandaq saat itu usiaku 15 tahun dan Beliau mengijinkanku”. Nafi’ berkata; “Aku menemui ‘Umar bin ‘Abdul ‘aziz saat itu dia adalah khalifah lalu aku menceritakan hadis ini, dia berkata: “Ini adalah batas antara anak kecil dan orang dewasa”. [Bukhari no.2470]

      Jadi di saat perang Khaibar usia Anas bisa jadi sudah 15 tahun. Maka ketika bertemu suku Badui dan kemudian Anas mengatakan bahwa usianya dan usia anak kecil itu sebaya maka itu ada di kisaran 13-15 tahunan!


      Anas pernah mengatakan panjang umurnya adalah 99 tahun

      Riwayat Mu’tamir bin Sulaiman – Humaid bin humaid (68H – 142H) – Anas bin Malik: “bahwasanya ia diberikan umur 100 tahun kurang 1 tahun.” [Ahmad no. 11802].

      Anas mempercayai bahwa kiamat terjadi bersamaan dengan Muhammad di Utus, sehingga Ia percaya akan terjadi di penghujung 100 tahun, terhitung sejak Muhammad menjadi nabi [Anas lahir = Muhammad menjadi Nabi], maka ketika Muhammad wafat [11H, Anas ketika itu berusia 20 tahun], sisanya sampai kiamat adalah 80 tahun lagi [11H + 80 = 91H]. Ketika perawi Humaid akil balig (15 tahun) maka usia Anas sudah 93 tahun (68H + 15 + 10), sehingga wajar saja Anas kemudian menyampaikan prediksi bahwa umurnya 99 karena akan kiamat! Namun ternyata, meleset, Anas wafat di usia lebih dari 100 tahun, yaitu di usia 102/103 tahun (93 H).

  • Disampaikan lagi pada 2 TAHUN sebelum wafat beliau (9 H):
    Riwayat (Ibnu Numair – Abu Khalid) dan (Abu Bakr bin Abu Syaibah – Sulaiman bin Hayyan) – Dawud – Abu Nadhrah – Abu Sa’id: Tatkala Nabi SAW kembali dari perang Tabuk (Akhir Oktober 630/Rajab 9H), para sahabat bertanya kepada beliau tentang hari kiamat. Lalu beliau bersabda: “Tidak akan ada lagi orang-orang yang hidup pada hari ini, setelah 100 tahun yang akan datang.” [muslim no.4608]
  • Disampaikan lagi pada 1 BULAN sebelum beliau wafat (11 H):
    Riwayat Harun bin ‘Abdullah dan Hajjaj bin Asy Sya’ir – Hajjaj bin Muhammad – Ibnu Juraij – Abu Az Zubair – Jabir bin ‘Abdullah: Rasulullah SAW bersabda sebulan sebelum wafatnya: “Kalian menanyakan kepadaku tentang Hari Kiamat, ketahuilah bahwa ilmunya di sisi Allah. Saya bersumpah demi Allah, tidak akan ada manusia yang hidup pada hari ini di atas bumi, setelah 100 tahun yang akan datang.” Riwayat Muhammad bin Hatim – Muhammad bin Bakr – Ibnu Juraij (tidak menyebutkan perkataan; ‘sebulan sebelum wafatnya.’) [muslim no.4606. Namun di Muslim no.4607 terdapat 2 jalur perawi lain yg menyebutkan kata “sebulan sebelum wafatnya” juga di Ahmad no.13929 ]
  • Disampaikan lagi di HARI-HARI AKHIR sebelum beliau wafat (11 H):
    Riwayat Sa’id bin ‘Ufair – Al Laits – ‘Abdurrahman bin Khalid bin Musafir – Ibnu Syihab – Salim dan Abu Bakar bin Sulaiman bin Abu Hatsmah – ‘Abdullah bin ‘Umar: “Nabi SAW shalat Isya’ bersama kami di hari-hari akhir hayatnya. Setelah selesai memberi salam beliau berdiri dan bersabda: “Tidakkah kalian perhatikan malam kalian ini?. Tidak akan tersisa seorangpun dipermukaan bumi yang ada di malam ini pada penghujung 100 tahun sejak malam ini” [Bukhari 1.3.116/no.113; Bukhari 1.10.539/no.531 dan Ahmad no.5873 (tidak ada kata di hari-hari akhir hayat)].

    Di hadis lainnya, yaitu yang berasal dari perawi yang sama (Salim dan Abu Bakar bin Sulaiman bin Abu Hatsmah – ‘Abdullah bin ‘Umar) namun ujung perawi lanjutannya yang berbeda-beda, disampaikan TAMBAHAN variasi TAFSIR dari Abdullah ibn Umar mengenai maksud Rasullulah tentang 100 tahun, di antaranya:

    • “Sesungguhnya maksud sabda Nabi, ‘Tidak akan ada orang yang tersisa di atas bumi ini’ adalah berakhirnya generasi tersebut’.” [bukhari 1.10.575/no.566. Tirmidhi 33.2471/no.2177].
    • hanyasanya yang beliau inginkan dari sabdanya “Tidak ada lagi disana seorang pun yang hari ini di atas bumi.’ maksudnya, generasi (manusia yang hidup dalam) 100 tahun itu berhenti, dan diganti generasi lain.” [ahmad no.5755]
    • Sebenarnya Rasulullah SAW hanya ingin mengatakan: ‘Di awal abad yang akan datang, orang yang hidup pada masa sekarang ini tak satupun yang masih hidup.’ Maksudnya masa para sahabat itu akan habis. [muslim no.4605]
    • Sebenarnya Rasulullah SAW mengatakan: “Orang-orang yang hidup hari ini, maka 100 tahun ke depan tidak akan ada lagi yang masih hidup di muka bumi.” Maksudnya, beliau menegaskan bahwa masa itu akan terjadi.” [Abu dawud no.3784]
    • yang Rasulullah SAW maksudkan adalah: “‘Pada hari ini tidak ada seorangpun yang berada di hamparan bumi menginginkan untuk melewati abad ini.’ [ahmad no.5360]

    Melihat begitu bervariasinya dan tidak konsistennya pendapat dari Ibn Umar di atas, maka TAMBAHAN PENDAPATNYA ini saja sudah patut diabaikan.

    Disamping itu,
    Apa istimewanya sehingga sedemikian pentingnya perlu memperhatikan malam itu saja, jika ternyata maksud pernyataan muhammad cuma sekedar hendak menyatakan bahwa generasi akan berganti, padahal tanpa perlu “sabda supranatural”nya, tetap saja generasi akan berganti. Pun pada yang berpendapat bahwa maksudnya adalah tidak akan ada orang yang akan berusia sampai 100 tahun, maka pada jaman Muhammad hidup saja, Abu Afak, sudah berusia 120 tahun ketika ia dibunuh atas perintah Muhammad akibat ketajaman syairnya menyindir Muhamad dan juga Anas bin Malik, yang pada kenyataannya wafat di usia 102/103 tahun telah membantah telak spekulasi tersebut!

Sekarang, 1400 tahun TELAH berlalu, seluruh ramalannya sudah meleset dengan sangat tidak tanggung-tanggung. Maka jika ada pertanyaan: Apakah Muhammad dan Allahnya memahami apa yang dibicarakannya?

Jawabannya jelas: Ia dan Allahnya benar-benar tidak tahu apapun.

[Kembali]



Hindu: Umur Semesta

Pada siklus semesta di atas, telah dinyatakan bahwa jaman kali yuga panjangnya 432.000 tahun. Sebelum kita sampai pada hitungan umur semesta menurut hindu, berikut di bawah ini beberapa contoh petunjuk di Veda-Veda sruti yang menyebutkan bulan, tahun, angka 432.000 dan 4 Yuga:

    Rig Veda:
    11. Formed with twelve spokes, by length of time, unweakened, rolls round the heaven this wheel of during Order.Herein established, joined in pairs together, seven hundred Sons and twenty stand, O Agni.

    48. Twelve are the fellies, and the wheel is single; three are the naves. What man hath understood it? Therein are set together spokes three hundred and sixty, which in nowise can be loosened. [RV 1.164.11,48]
    —> 12 bulan, [720 sepasang = 360]

    2. Let us declare aloud the name of Ghṛta, and at this sacrifice hold it up with homage. So let the Brahman hear the praise we utter. This hath the four-horned Buffalo emitted.

    3. Four are his horns, three are the feet that bear him; his heads are two, his hands are seven in number. Bound with a triple bond the Steer roars loudly: the mighty God hath entered in to mortals.[RV 4.58.2-3]
    —> 4,3,2, [0.000.000] = 4.320.000 = 1 MahaYuga

    Atharva Veda, untuk 4 Yuga:
    21. A hundred years, ten thousand years, two, three, four ages (yuga) do we allot to thee; Indra and Agni, and all the gods without anger shall favour thee![AV 8.2.21]

    Sataphata Brahmana 10.4.2:
    17. He made himself twenty-four bodies of thirty bricks each. There he stopped, at the fifteenth; and because he stopped at the fifteenth arrangement there are fifteen forms of the waxing, and fifteen of the waning (moon).

    18. And because he made himself twenty-four bodies, therefore the year consists of twenty-four half-months. With these twenty-four bodies of thirty bricks each he had not developed (sufficiently). He saw the fifteen parts of the day, the muhûrtas 2, as forms for his body, as space-fillers (Lokamprinâs), as well as fifteen of the night; and inasmuch as they straightway (muhu) save (trai), they are (called) ‘muhûrtâh’; and inasmuch as, whilst being small, they fill (pûr) these worlds (or spaces, ‘loka’) they are (called) ‘lokamprinâh.’

    19. That one (the sun) bakes everything here, by means of the days and nights, the half-moons, the months, the seasons, and the year; and this (Agni, the fire) bakes what is baked by that one: ‘A baker of the baked (he is),’ said Bhâradvâga of Agni; ‘for he bakes what has been baked by that (sun).’

    20. In the year these (muhûrtas) amounted to ten thousand and eight hundred: he stopped at the ten thousand and eight hundred.

    23. He arranged the Rik-verses into twelve thousand of Brihatîs, for of that extent are the

    24. He then arranged the two other Vedas into twelve thousand Brihatîs,–eight (thousand) of the Yagus (formulas), and four of the Sâman (hymns)–for of that extent is what was created by Pragâpati in these two Vedas. At the thirtieth arrangement these two came to an end in the Paṅktis; and because it was at the thirtieth arrangement that they came to an end, there are thirty nights in the month; and because it was in the Paṅktis, therefore Pragâpati is ‘pâṅkta.’ There were one hundred-and-eight hundred Paṅktis.

    25. All the three Vedas amounted to ten thousand eight hundred eighties (of syllables); muhûrta by muhûrta he gained a fourscore (of syllables), and muhûrta by muhûrta a fourscore was completed.

    Note:

    • Muhurtas: 1 hari dan 1 malam = 30 Muhurtas; 1 Muhurta = 48 menit; 1 hari dan 1 malam = 1440 menit = 864.000 detik; 1 hari = 432.000 detik
    • Batu Lokamprinâ: berisi sebanyak muhurta dalam 1 tahun [30 x 360= 10800 muhurtas; 10.800 muhurta x 48 menit x 60 detik = 31.104.000 detik x 100 tahun = 3.110.400.000]
    • Brihatî: berisi 36 suku kata, Rig-veda berisi 36 × 12,000= 432,000 suku kata.
    • Paṅkti: berisi 5 padas [kaki], terdiri dari 8 suku kata setiapnya [5 x 8 = 40]; 10,800 Paṅktis [40 x 10800 = 432.000]
    • 3 Vedas [Rig, Yahur dan Samas]: Paragraph 23-24 di atas terdiri dari 2 x 432,000 = 864,000 suku kata

***

Petunjuk di atas, diterjemahkan Surya Siddhanta bab 1.11-23 dan Visnu Purana,  buku 1.bab 3:

  • 1 tahun manusia = 360 hari (12 bulan x 30 hari)
  • 1 hari Leluhur dan/atau dewa adalah 1 tahun Manusia, umur Deva/leluhur = 100 tahun = 36.000 tahun manusia.
  • 1 MahaYuga = 4 Yuga (12.000 tahun dewa = 4.320.000 tahun manusia) = [Satya/Krita Yuga (4.800 tahun dewa = 1.728.000 tahun manusia) + Treta Yuga (3.600 tahun dewa = 1.296.000 tahun manusia) + Dwapara Yuga (2.400 tahun dewa = 864.000 tahun manusia) + Kali Yuga (1.200 tahun dewa = 432.000 tahun manusia)]
    • Satya/Krita Yuga = 4 charana = 400 (sandhya tahun dewa ) + 4000 (tahun dewa) + 400 (sandhya tahun dewa) = 4.800 tahun Deva = 1.728.000 tahun manusia
    • Treta Yuga = 3 charana = 360 + 3600 + 300 = 3.600 tahun Deva = 1.296.00 tahun manusia
    • Dwapara Yuga = 2 Charana = 200 + 2400 + 200 = 2.400 tahun deva = 864.000 tahun manusia
    • Kali Yuga = 1 Charana = 100 + 1000 + 100 = 1.200 tahun deva, 432.000 tahun manusia
  • 1 Samdhikala = 4 charana = 1 Krita/Satya Yuga = 4800 tahun dewa. Semesta ini tenggelam dalam banjir kosmis selama 1 Samdhikala.
  • 1 Manvantara = 71 mahakalpa + 1 samdhikala = 306.720.000 tahun manusia (71 x 12.000 tahun dewa = 71 x 4.320.000 tahun manusia) + 4800 tahun dewa (= 1.728.000 tahun manusia) = 307.584.000 tahun manusia
  • 1 Kalpa = 1000 MahaYuga
  • 1 Kalpa = 14 Manvantara + 15 Samdhikala, yaitu setiap sesudah Manvatara + 1 Samdhikala = (14 x 71 MahaYuga) + (15 × 4 Charaṇa) = 994 MahaYuga + (15 × 4800) = 994 MahaYuga + (72.000 tahun dewa = 6 Mahayuga) = 994 MahaYuga + 6 MahaYuga = 1000 MahaYuga
  • 1 kalpa = 1 hari brahma (4.32 Milyar tahun Manusia. Ilmuwan menyatakan bahwa umur Matahari adalah sama)
  • (1 hari dan 1 malam) Brahma = 2 Kalpa
  • 1 bulan Brahma = 259,2 Milyar tahun.
  • 1 tahun Brahma = 3.1104 Triliun tahun
  • Dalam Kitab sejarah Hindu (Mahabharata) 100 tahun Brahma = 1 rangkaian semesta = 1 MAHA KALPA = 311.04 triliun tahun

Dalam 1 Kalpa yang setara dengan satu hari Brahma (bukan satu hari satu malam) adalah sama dengan 4.320.000.000. 1 Kalpa tersebut terbagi 14 Mavantara dan yang ada manusianya adalah 306.720.000 tahun. Dalam setiap Mavantara ada 1 Manu sehingga total dalam 1 kalpa ada 14 Manu yang perkembangannya tidak putus-putusnya mulai dari mahluk tembus pandang, berkembang secara fisik, menjadi mahluk bercahaya kembali dan seterusnya hingga Maha Kalpa yaitu 100 tahun Brahma akan ada MahaPralaya.

Di Surya Siddhanta 1.21-24: Sudah berlalu 50 tahun brahma, sekarang tahun Brahma ke-51, telah berlalu 6 Manu, berikut samdhikala-nya, telah berlalu 27 MahaYuga, sekarang MahaYuga ke-28, namun jaman keemasan telah berlalu (tersisa hanya kali Yuga = kaliyuga ke-28, mulai pada Februari 3102 SM). Maka sampai Oktober 2008, semesta sudah berjalan:

    6 Manvantara (6 x 306.720.000 = 1,840,320,000) + 7 Samdhikala (7 x 1.728.000 = 12,096,000) + 27 MahaYuga (27 x 4.320.000 = 116,640,000) + 1 Krita Yuga (1,728,000) + 1 Treta Yuga (1,296,000) + 1 Dvâpara Yuga (864,000) + Kali Yuga (3102 SM + 2008 M – 1, karena sebelum masehi ada tahun 0 dan 1) = 1,972,949,109 tahun.

Melihat kedepan, era Kaliyuga baru berjalan 5109 tahun sehingga masih tersisa 426.891 tahun lagi untuk mencapai akhir kaliyuga ke-28 ini. Untuk sampai di penghujung Mavantara masih 188,341,782 tahun lagi. Untuk mencapai akhir Kalpa ini (satu hari brahma) masih 2,347,050,891 tahun lagi.

Jadi Kiamat menurut perhitungan hindu masih Milayaran tahun lagi.

[Kembali]



Buddha: Umur Semesta

Rangkaian siklus alam semesta terjadi dalam waktu 1 MahaKalpa, yang dibagi menjadi:

  • Vivartakalpa (Masa Pembentukan ditandai dengan adanya kematian mahluk dari Alam Abhasara dan lahir kembali ke alam Brahma),
  • Vivartasthāyikalpa (Masa Pembentukan hingga stabil dan kemudian ditandai dengan adanya Mahluk yang lahir di neraka),
  • Saṃvartakalpa (Masa Kehancuran semesta ditandai dengan habisnya mahluk yang terlahir di neraka),
  • Saṃvartasthāyikalpa (Masa kekosongan tiada apapun, ditandai dengan habisya mahluk dari alam brahma)

note:
Jika kata ‘kappa’ berdiri sendiri maka yang dimaksudkan adalah Maha Kappa

Buddha tidak pernah menyatakan lamanya 1 kappa itu dalam satuan tahun. Beliau memberikan 2 perumpamaan untuk dapat memahami betapa lamanya 1 Kappa itu, yaitu menjawab pertanyaan 2 bikkhu berbeda sebagaimana tercantum di SN 15.5 & 15.6 [lihat juga terjemahan inggrisnya]. Semua jawaban dari Beliau di akhiri dengan kalimat, “bahkan 1 kappa belumlah sampai dan berakhir”, berikut ini saya sampaikan beberapa variasi hitungan mengenai itu:

  • Pabbatasuttaṃ [SN 15.5]: Batu cadas dengan dimensi: 1 yojana³ digosok dengan kāsikena vatthena [kain yg sangat halus] dan setiap seratus tahun dapat terkikis sedikit demi sedikit hingga habis dan bahkan untuk selama itupun 1 kappa belumlah sampai untuk berakhir
    • Hitungannya saya pinjam dari blog ini: Asumsi 1 yojana = 15 km (estimasi), sehingga densitas (d) batu cadas = 3203.7kg/m³, batu cadas tsb terbuat dari silikat, s = ± 100g/mol. Estimasi jumlah molekul dalam kikisan kain adalah 1, hitungannya menjadi

      1 kappa = 100 x (y³)x d/(0.001s x NA )= 6.5 x 1042 tahun. di mana NA= Angka avogrado.

      Terlalu tinggi dalam mengestimasikan molekul?

      Jika dikurangi menjadi 1017, molekul silikat yg terkikis kain menjadi, 1.66 x 10-8kg. Jadi nilai 1 Kappa = adalah hingga 1017….tetapi kappa itu masih belum berakhir

    • variasi lainnya:
      ‘1 yojana’ = 7 mil s/d 14 Mil; 1 mil = 1.6 km, jadi 1 yojana setara antara 11.2 km s/d 22.4 km. Anggap saja per 100 tahun dapat 1 mm³, sehingga:

      1 kappa = (11.2)³ x (106)³ mm x 100 tahun = 1.41 x 1023 s/d 1.1 x 1024….tetapi kappa itu masih belum berakhir

  • Sāsapasuttaṃ [SN 15.6]: Di hadapan seorang bikkhu tertentu, Dinding besi dengan dimensi 1 yojana³ di isi dengan 1 biji mustard setiap seratus tahun bahkan hingga dinding itu penuh masih lebih cepat dari 1 Kappa.
    • Hitungannya saya pinjam dari blog ini: Asumsi 1 yojana = 15 km(estimasi); Diameter sebiji mustard (m) = 0.15875 cm, dengan asumsi berbentuk bulat, dan di isi penuh tanpa ada lagi udara di dalamnya

      1 kappa = 100 x (y³)/(4π x(0.01m/2)³)= 5.37 x 1022 tahun..tetapi kappa itu masih belum berakhir

    • variasi lainnya:
      ‘1 yojana‘ = 7 mil s/d 14 Mil; 1 mil = 1.6 km, jadi 1 yojana setara antara 11.2 km s/d 22.4 km, utk menjadi mm = 1.41 x 1021 mm³ s/d 1.1 x 1022 mm³

      Anggap saja ukuran biji mustard adalah 2mm x 2mm x 2mm = 8mm³, Jadi, 1.41 x 1021 mm³ / 8 mm³ = 1.76 x 1020 butir s/d 1.4 x 1021 butir. Bila diambil satu butir setiap setiap seratus tahun maka

      1 kappa = 1.76 x 1020 butir x 100 tahun = 1.76 x 1022 tahun s/d 1.4 x 1023 tahun..tetapi kappa itu masih belum berakhir

  • Kemudian,
    terdapat juga istilah lagi yaitu: Maha Kappa; asankheyya/asankhya-kappa (asankhya = “tak terhitung banyaknya”) dan Antara kappa [Cakkavati-Sihananda Sutta: Interval meningkat/menurunnya umur kehidupan manusia: 10 thn -> 1 asankhyeyya -> 10 tahun].

    Satu Maha Kappa = 4 Assankhyya Kappa [Samvatta-Kehancuran mulai hingga menjadi elemen dasar/habis; Samvattatthdyi-tidak ada apapun; Vivatta-renovasi hingga komplit; Vivattatthayi-kestabilan] – [Anguttara, II, 142].

    1 Maha Kappa [MK] = 4 Assankheyya Kappa [AK], dimana 1 AK = 20 antara kappa. Jadi 1 Maha Kappa = 80 antara kappa.

    Kappa di Neraka Avici panjangnya 1/80 MK atau 1/20 AK. Jadi, 1 Assankheyya Kappa = 64 antara kappa utk umur manusia atau 20 antara kappa neraka avici.

    Sutta aliran Theravada tidak menerangkan petunjuk matematis penurunan/kenaikan rata-rata. Keterangan mengenai hal ini kita dapat temukan di 1 sutta aliran Mahayana: Avatamsaka Sutra [Sutra Karangan Bunga], yang menyatakan saat kebaikan meningkat umur manusia bisa mencapai rata-rata 84.000 tahun dan kemudian menurun 1 tahun per 100 tahunnya hingga umur manusia mencapai rata-rata 10 tahun dan kemudian meningkat setahun untuk setiap 100 tahun.

    [Note:
    Chakavati Sihananda Sutta, tidak pernah merujuk pada sistimatika penurunan seperti apapun dan juga tidak pernah menganjurkan perhitungan mulai/berakhir di 100.000 tahun atau 84.000 tahun atau 80.000 namun. Sutta itu hanya memberikan petunjuk, kalimat berulang, “Setelah beberapa ratus tahun dan beberapa ribu tahun” yang justu merujuk pada definisi assankhya (“tak terhitung banyaknya”). Baru pada syair ke-14 tertera kata “80.000 tahun” namun tetap tidak terdapat pentunjuk sistimatika bentuk matematis bagaimana penurunan umur hingga ke 40.000 tahun dan seterusnya.

    Hanya di Sutta mahayana Avatamsaka Sutra, sistimatika dan nilai tahun disebutkan. Jika kita perhatikan maka seharusnya terdapat perbedaan perlakuan perubahan penurunan/kenaikan umur sehingga tidak statis di angka per 100 tahun, misalnya utk kenaikan umur yg mulai dari 10 tahun, maka setelah terjadi 9 x usia 10 tahun maka baru 10 tahun berikutnya terdapat kenaikan umur 1 tahun. Untuk penurunan umur yg mulai dari 84.000 tahun, maka setelah terjadi 83.799 x usia 84.000 tahun maka di 84.000 tahun berikutnya terdapat pengurangan umur 1 tahun dan seterusnya]

    Dengan merujuk model perhitungan dari Suta Mahayana maka:

    Dengan mengabaikan perubahan dari 84.000 menjadi 83.7999 memerlukan berapa lama hingga kemudian wajar terjadi pengurangan per 100 tahun berkurang 1 tahun, maka dengan rumus jumlah deret ukur sederhana, S =(F+L)(T)/ 2; di mana S = Jumlah total tahun; F = angka pertama dalam deret angka; L = Angka terakhir dalam deret angka; T = Jumlah unit dalam urutan. Maka:

    1 antara kappa, = 2 x (10 + 84000)x(83991)/2 + (2 x 100 x(83991-1)) = 7,072,881,910 tahun atau 7.1 x 109.
    1 AK = 64 x 7.1 x 109 = 4.52 x 1011.
    1 MK = 4 x 4.52 x 1011 = 1.8 x 1012

    Dengan memperhatikan beberapa hasil dari model perhitungan sebelumnya maka hasil angka tahun dengan model perhitungan ini jelas masih jauh terlalu kecil atau dengan kata lain, nilai ini masih terlalu jauh untuk mendekati lammanya 1 Kappa.

  • Variasi lainnya didapat dari link ini dengan summary sbb:
    • Kalpa biasa adalah sekitar 16 juta tahun.
    • Kalpa kecil adalah 1000 kalpa biasa atau 16 Milyar tahun.
    • Medium kalpa adalah 20 kalpa kecil atau 320 Milyar tahun
    • Kalpa besar adalah 4 medium kalpa atau 1.28 Triliun tahun [1.28 x 1012]. Namun, memperhatikan beberapa hasil dari model perhitungan sebelumnya maka hasil angka tahun dengan model perhitungan ini jelas masih jauh terlalu kecil atau dengan kata lain, nilai ini masih terlalu jauh untuk mendekati lammanya 1 Kappa.

Apa yang dimaksudkan oleh Sang Buddha dengan menggunakan kata “asankheyya” yang artinya tak dapat di hitung lagi?

Di Situs ini dan ini, anda masih akan temukan penamaan bilangan super besar dalam kitab2 suci tradisi India [Veda dan Jainism] yaitu penamaan bilangan hingga pangkat 1053 = Tallakshanaam dan di kitab Jainism, Anuyogadwar Sutra [penulisan 100 SM] terdapat penulisan angka 10140. Apakah ini artinya yang dimaksud dengan tahun kappa yang tak dapat di hitung lagi lamanya adalah melebihi 10140?

Kemudian, seberapa banyak Maha Kappa sebenarnya telah berlalu?

Untuk pertanyaan ini, Sang Buddha menyampaikan perumpamaannya di 2 Sutta lainnya yaitu di 15.7 dan 15.8, Sāvakasuttaṃ dan Gaṅgāsuttaṃ:

  • Sāvakasuttaṃ: Dihadapan sekelompok Bikkhu, misalkan 4 bikkhu dapat hidup dan mencapai umur 100 tahun, disetiap harinya ia dapat mengingat 100.000 Kappa, maka bahkan seluruh kappa yang mereka ingatpun, jumlah kappa yg telah berlalu lebih banyak lagi.

    Jumlah Kappa yg di ingat dan telah berlalu = 4 x 100 tahun x 365 hari x 100.000 Kappa = 14.6 Milyard Maha Kappa dan itupun masih banyak kappa lagi yg telah berlalu

  • Gaṅgāsuttaṃ: Di hadapan seorang Brahmin, menghitung jumlah pasir di sungai Gangga dari hulu hingga mencapai Lautan, walaupun sulit, bahkan jika terkumpulpun hingga habis maka jummlah Kappa yang telah berlalu bahkan lebih banyak daripada itu.

    Dari situs ini, didapat perkiraan panjang sungai gangga yaitu 1557 mil (2506 km), panjang deltanya saja adalah: 200 mil (322 km), luas Delta gangga (A) saja adalah 105000 km2, Estimasi dalamnya pasir d = 1 m pasir, volume (s) = 1/16 mm dalam diameter, sehingga

    Jumlah Maha Kappa yg telah berlalu =(1000)2 x A x d/(4π x (0.001s/2)³)= 2.7 x 1023 Maha Kappa dan tentunya hasilnya bertambah lebih banyak lagi jika di hitung hingga sepanjang 1557 mil namun apapun hasil perhitungannya [karena tertulis harusnya dari hulu ke hilir], maka tetap saja masih lebih banyak kappa lagi yg telah berlalu

Kemudian,
Kehancuran semesta oleh panas setiap 1 Maha Kalpa dan terjadi hanya sampai di alam Brahma. Alam Abhasvara keatas tidak terkena [Lihat: Satta Suriya Sutta].

Kehancuran semesta oleh cairan setiap 8 Maha Kalpa terjadi hanya sampai dengan alam-alam Abhasvara. Alam Śubhakṛtsna keatas tidak terkena.

Kehancuran semesta oleh angin setiap 64 MahaKalpa hanya sampai alam Śubhakṛtsna, alam yang lebih tinggi tidak pernah terkena. Siklus itu kemudian berulang. Saat Mahluk di Subhakrtsna lahir di alam abhasavara dan seterusnya.

Dengan adanya tri-sahasra-mahasahasra-dhatu, maka saat kehancuran semesta, mahluk-mahluk dapat terlahir juga di triliunan tatasurya/semesta lainnya termasuk didalamnya (alam Brahma, Deva, manusia, Binatang, Mahluk halus dan Neraka). Ini menunjukan adanya kontinuitas kelahiran kembali pada kelahiran kembali di alam-alam yang Vertikal maupun Horizontal

Setiap dari masa evolusi semesta dibagi lagi menjadi 20 antarakalpa, dan panjangnya adalah sama. Di masa Saṃvartasthāyikalpa, tidak ada apapun karena itu perbedaannya tidak terlihat namun berbeda dengan 3 kalpa lainnya.

Melihat uraian di atas, gelagatnya, penciptaan manusia di mulai di pertengahan Vivartakalpa atau lewat 1 medium Kalpa. Jaman Buddha Gautama berada di tengah Vivartasthāyikalpa, sehingga umur dunia kita sekarang ini masihlah lebih jauh lagi dari 640 Milyar tahun!

Bisakah anda bayangkan, untuk dunia dimana kita sekarang terlahir saja, yang dikatakan umurnya 1 Maha kappa,maka jumlah tahun untuk mencapai 1 Maha Kappa saja sudah tak terhitung lagi lamanya. Namun ternyata bahkan jumlah Maha kappa yang sebenarnya TELAH BERLALU lebih tak terukur lagi jumlahnya!

Mengerikan sekali, bukan?!

[Kembali]



Kesimpulan

Baik ajaran India dan Ilmu Pengetahuan modern memberikan perhitungan bahwa umur semesta ini adalah milyaran tahun sedangkan ajaran Abrahamic (Yahudi, Nasrani dan Islam) menyatakan bahwa umur semesta tidak sampai 15.000 tahun – 350.000 tahun.

Kiamat disebutkan ada di 4 Agama.

Di ajaran Abrahamic tidak mengenal adanya kesempatan kedua untuk memperbaiki diri setelah manusia meninggal.

Jadi, perbuatan manusia hanya perdasarkan penilaian yang terjadi di waktu yang sangat singkat yaitu di setelah akil baliq hingga meninggal. Penilaian dari Allah tersebutlah yang sangat menentukan apakah seseorang akan mendapatkan ganjaran surga atau neraka yang kekal abadi selamanya! Sehingga kemunculan Tuhan menjadi tidak jelas makna dan tujuannya. Penciptaan dunia, malaikat, setan dan manusia menjadi tidak pernah jelas makna dan tujuannya.

Di ajaran India baik ajaran Hindu maupun Buddha selalu memberikan kesempatan pada mahluk untuk memperbaiki diri. Perbedaannya adalah:

  • Di ajaran Hindu, terdapat dua pendapat: Pertama, Siklus tersebut sudah berakhir dengan terjadinya Maha Pralaya dengan wafatnya Brahma. Kedua, siklus tersebut berulang kembali bersamaan dengan terlahirnya kembali Brahma. Purana mengisahkan Brahma terlahir kembali di pusarnya Visnu sehingga proses penciptaan terjadi kesinambungan.

    Pendapat kedua tersebut menjadikan keberadaan/fungsi Brahma diciptakan menjadi tidak jelas begitupula dengan makna dan tujuan semesta ini diciptakan

  • Di ajaran Buddha, kontinuitas siklus kelahiran kembali adalah tidak ada habis-habisnya. Konsekuensinya adalah tidak ada cara lain untuk keluar dari lingkaran kelahiran kembali kecuali dengan memadamkan nafsu keinginan. Surga dan neraka bukanlah merupakan hal yang permanen. Fungsi kehadiran sosok mahluk pencipta tidak dibutuhkan dalam struktur ini.

Ajaran Abrahamic (Kristen dan Islam), dengan segala daya dan upaya, berlomba-lomba untuk ‘menghamba’kan dirinya pada hipotesis Big Bang. Hindu menyatakan seluruh framework hipotesis Big bang adalah salah. Sementara sang Buddha menyatakan, ‘Kebenaran yang sejati adalah Hukum Sebab Akibat yang saling bergantungan. Tanpa mengerti pokok tersebut, maka seperti bola benang yang kusut, tidak mampu untuk menghentikan penderitaan dan kelahiran kembali.’

Si Pemrakarsa hipotesis bigbang, ALBERT EINSTEIN, menyatakan, “Agama Masa Depan adalah Agama Kosmik. Melampaui Tuhan sebagai suatu pribadi serta menghindari Dogma dan Teologi. Meliputi yang Alamiah maupun yang Spiritual, Agama yang seharusnya berdasarkan pada Pengertian yang timbul dari Pengalaman akan segala sesuatu yang Alamiah dan Perkembangan Rohani, berupa kesatuan yang penuh arti. Buddhism sesuai dengan Pemaparan ini. Jika ada agama yang sejalan dengan kebutuhan Ilmu Pengetahuan Modern, maka itu adalah Ajaran Buddha.”

SINOPSIS BUKU– Ajaran Buddha di Mata Cendekiawan Ungkapan penghargaan Albert Einstein, ilmuwan terbesar abad ke-20:

    1905:“Rasa keagamaan kosmik merupakan dorongan paling kuat dan paling mulia terhadap penelitian ilmiah. Agama Buddha, seperti yang kita pelajari dari tulisan Schopenhauer yang mengagumkan, mengandung unsur tersebut jauh lebih kuat dibanding agama lainnya.”

    1939:“Jika ada suatu agama yang akan memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan modern, agama itu adalah agama Buddha.”

Einstein meninggal 18 April 1955, menjelang wafatnya Ia meninggalkan pesan agar jasadnya di kremasi dan tidak di kubur secara Yahudi.

Bagaimana menurut anda?

[Kembali]



Sumber

  • Al Qur’an, Al Kitab, RigVeda, Tipitaka
  • Tafsir Ibn Kathir, Sahih Bukhari dan Muslim
  • Keajaiban Al Qur’an, Disadur dari HarunYahya oleh Rika Hermawan
  • Wikipedia, fisika.net, Sammagi-Phala, Bhagavant, dll
  • Vedic Physic-Scientific Origin of Hinduism, Oleh: Raja Ram Mohan Roy, Alih bahasa: Gede Manggala, Posted by Ketut Adi on 2003-09-22 di iloveblue.com
  • All about Buddhism, Dasar Pandangan Agama Buddha, Karya Venerable S. Dhammika [Warga Australia yang menjadi Bikkhu], The Buddha Dhamma Mandala Society, Singapore, 1990; Terjemahan Dr. Arya Tjahjadi, DSA, Penerbit Yayasan Dhammadipa Arama Cabang Surabaya
  • KARUNAKAR MARASAKATLA, Evolution in the fourth round, Root-race chronology

[Kembali]




Artikel terkait lainnya:

First save: 10/6/08, 2:50 PM


Agama Langit: Matahari Melintasi Bumi dan Bentuk Bumi Piringan Datar


Dunia barat mencatat bahwa orang pertama yang menegaskan BUMI itu BULAT adalah seorang Yunani yang hidup di abad ke 6 SM bernama Phytagoras. Benarkah orang pertama yang mengatakan bumi itu bulat adalah Phytagoras?

Apa kata 4 Agama besar tentang bentuk Bumi kita dan juga yang manakah pusat tata surya kita, Bumi ataukah Matahari?

Mari kita telusuri bersama:

Setelah membaca uraian-uraian tersebut, anda akan lebih memahami bahwa KEBENARAN dan KEYAKINAN merupakan dua hal yang berbeda, terkadang berjalan seiring namun terkadang berlawanan arah. []



Tradisi Nasrani

Tuhan di Alkitab berbicara tentang bentuk Bumi yang datar dan Matahari yang mengelilingi Bumi [Untuk detail bagaimana proses pembuatan Alkitab dan kontroversinya silakan lihat di sini]

Bumi itu mempunyai 4 (empat penjuru)

    Ia akan menaikkan suatu panji-panji bagi bangsa-bangsa, akan mengumpulkan orang-orang Israel yang terbuang, dan akan menghimpunkan orang-orang Yehuda yang terserak dari ke empat penjuru bumi. [Yesaya 11:12], [Hebrew: ‘arba` = empat; kanaph= sudut, pojok, penjuru]

    Kemudian dari pada itu aku melihat empat malaikat berdiri pada keempat penjuru bumi dan mereka menahan keempat angin bumi, supaya jangan ada angin bertiup di darat, atau di laut atau di pohon-pohon. [Wahyu 7:1]

Melihat seluruh permukaan Bumi dari Ketinggian:

    Ketika aku sedang tidur, kulihat sebuah pohon yang tumbuh di tengah-tengah bumi. Pohon itu sangat tinggi; batangnya besar dan kuat. Puncaknya sampai ke langit, sehingga dapat dilihat oleh semua orang di bumi. [Daniel 4:10-11]

    Pohon yang Tuanku lihat itu begitu tinggi, sehingga puncaknya sampai ke langit, dan dapat dilihat oleh semua orang di bumi. [Daniel 4:20]

    Dan Iblis membawanya ke puncak gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepadanya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya. [Matius 4:8]

    Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. [Lukas 4:5]

    Note: para penginjil akan berargumen bahwa itu bukan mimpi daniel-lah, bukan ucapan Daniel-lah, bukan ucapan tuhan-lah. Mereka lupa bahwa Daniel adalah seorang pakar tafsir Mimpi [karena anugerah yang diberikan padanya]. Kalimat Nebukadnezar, yaitu “seluruh [kol] ujung [sofe] bumi..[Dan 4:11]”, Daniel/Beltsazar kemudian tafsirkan “seluruh [kol] bumi [4:20]” menjadi “[..] sampai ke ujung [sofe] bumi” [4:22] [Message bible menulis ujung itu dengan 4 sudut bumi]. Padahal Daniel bisa saja mengatakan “seluruh” namun Ia justru memilih kata “ujung”.

    Benda bulat mana ada ujungnya?

    Kemudian, di Perjanjian baru: iblis membawa masuk ke alam roh-lah, dst. Perhatikan logika mereka semua saat itu:

    ‘melihat semua’ dari ketinggian tertentu!

    Setinggi2nya suatu tempat tidak mungkin melihat yang ada di bagian bumi di bawahnya [bulat] kecuali tempat itu datar

Bumi memiliki tiang:

    Yang menggeserkan bumi dari tempatnya, sehingga tiangnya bergoyang-goyang. [Ayub 9:6]..Tiang-tiang langit bergoyang-goyang, tercengang-cengang oleh hardik-Nya. [Ayub 26:11]
    Note: Ibrani/hebrew untuk tiang = ammuwd; langit = shamayim, ‘owr = petir, halilintar; penggunaan kata petir bukan tiang ada di Ayub 37:11

Matahari yang beredar mengelilingi Bumi:

    .. Ia memasang kemah di langit untuk matahari, yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya. Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya. [Mazmur 19:4-6]

    [Catatan: di sini, di sini dan di sini.. anda temukan konfirmasi bahwa Alkitab dan para bapak gereja mendukung GeoCentris juga mengutuk teori Heliocentrisnya Galileo]

Bumi memiliki ujung:

    untuk memegang ujung-ujung bumi, sehingga orang fasik dikebaskan dari padanya [Ayub 38:13]…..dan juga kilat petirnya ke ujung-ujung bumi. [Ayub 37:3]..Karena ia memandang sampai ke ujung-ujung bumi. [Ayub 28:24]

    [note: mereka akan berargumen bahwa tidak ada perbedaan antara tanah dan bumi dalam bahasa inggris..namun ayat2 ini berbicara bumi bukan tanah , lihat di Ayub 38:4, ‘…meletakan dasar bumi..’]

    Sebab itu orang-orang yang diam di ujung-ujung bumi takut kepada tanda-tanda mujizat-Mu; tempat terbitnya pagi dan petang Kaubuat bersorak-sorai.[Mazmur 65:8]

    engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu: “Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau”[Yesaya 41:9]

    Ya TUHAN, kekuatanku dan bentengku, tempat pelarianku pada hari kesesakan! Kepada-Mu akan datang bangsa-bangsa dari ujung bumi serta berkata: “Sungguh, nenek moyang kami hanya memiliki dewa penipu, dewa kesia-siaan yang satupun tiada berguna. [Yeremiah 16:19]

Kubah Langit dan Batas langit

    Ketika Ia mempersiapkan langit, aku di sana, ketika Ia menggaris kaki langit pada permukaan air samudera raya [AMSAL 8:27]

    Yang mendirikan anjung-Nya di langit dan mendasarkan kubah-Nya di atas bumi; yang memanggil air laut dan mencurahkannya ke atas permukaan bumi–TUHAN itulah nama-Nya. [Amos 9:6]

    Awan meliputi Dia, sehingga Ia tidak dapat melihat; Ia berjalan-jalan sepanjang lingkaran langit! [Ayub 22:14]

    Penegasan dari kalangan Kristen Awal dan yang tercantum di Ensiklopedia:

      “Setelah ini, di hari ke-2, [Tuhan] menempatkan langit diseluruh bumi, dan memisahkan itu dari bagian lainnya….Ia juga menempatkan sebuah garis kristal/Cakrawala melingkupinya, dan menyatukannya dalam cara yang tepat bagi bumi, dan memassangnya untuk memberikan kelembaban dan hujan dan untuk memungkinkannya dari embun.”- Josephus Flavius [37 M – 100 M, Sejarahwan Yahudi, Antiquities, 1.1].

      “Karena roh adalah satu, berada di tempat terang, antara air dan langit, agar kegelapan tidak dengan cara apapun berkomunikassi kepada Surga, yang lebih dekat dengan Allah, di depannyaAllah berkata, “Terjadilah terang”, oleh karenanya langit menjadi bentuk kubah menutupi, padat dan seperti gumpalan”- Theophilus/115-181 M, Autolycus 2.13. [lihat lukas 1.3 dan Kisah para rasul 1.1]

      Jewish Encyclopedia:
      Kaum Ibrani beranggapan bahwa buni adalah datar atau berbentuk lempengan membukit, terapung di air. Di atasnya melengkung kubah langit padat. Kubah ini terikat dengan lampu-lampu dan bintang-bintang. begitu sedikit ketinggiannya ini sehingga burung-burung dapat naik kesana dan terbang sepanjang bentangannya

    Artikel ini, yaitu bagian kubah langit, mendapat tanggapan dari lingkar study dan di tulis di blognya [untuk melihat, klik di sini, di sini, dan di sini. Berikut dibawah ini adalah tanggapan saya di blog tersebut yang saya jadikan bagian dari artikel ini]

    ***

    Di blognya, Lingkar Study melampirkan ayat dibawah ini untuk menggambarkan arah utara tidaklah sejajar permukaan daratan, namun arah utara ada di sebelah atas bumi dan arah selatan ada di bawah bumi:

      Ayub 26:7 He stretcheth out [05186] (8802) the north [06828] over the empty place [08414], {and} hangeth [08518] (8802) the earth [0776] upon nothing [01099].

      26:7 Allah membentangkan utara di atas kekosongan, dan menggantungkan bumi pada kehampaan.

    TIDAK ADA satu referensi pasal di Perjanjian Lama yang menyatakan bahwa arah UTARA ada di atas [juga arah selatan di bawah] untuk itu, kita perlu mengetahui bagaimana cara orang Ibrani mengetahui arah mata angin

    Kaum Ibrani menentukan arah mata angin dengan cara badan menghadap arah Matahari terbit dan itu disebut sebagai timur. Konfirmasi arah timur ada pada yehezkiel 8:16,

      “[..] menghadap ke sebelah timur sambil sujud pada matahari di sebelah timur.”

    Dengan demikian arah barat adalah dibelakangnya, Utara di sebelah kiri dan Selatan ada di sebelah kanan [lihat juga kamus theosophy bible di sini, di sini, dan di sini]

    Setelah ini, mari kita temukan TEMPAT KEJADIAN ucapan-ucapan yang ada kitab Ayub berasal:

      Kisah Ayub, sebelum pasal 37:21 menceritakan awal mula kisah dan percakapan antara ayub bersama 3 rekannya [2:11]. Mereka datang ketika Ayub telah kehilangan kekayaan, diantaranya adalah unta2 [1:17]; tempat tinggal dan orang2 di rumahnya [kecuali istri] roboh diterpa angin rebut dari gurun [1:19]. Mereka kemudian duduk menemani ayub selama 7 hari 7 malam [2:13]

      Ayub tinggal di tanah Uz, Timur/tenggara Palestina, dekat syiria dan edom, di suatu tempat di gurun pasir Arabia.

    Dari informasi-informasi di atas, kamus leksikon dan Alkitab, dapat kita pastikan sebagai berikut:

    1. Tidak benar letak arah Utara dan Selatan adalah di atas dan di bawah seperti yg anda tuliskan di gambar 4 dan 5.
    2. Untuk mengetahui arah utara, Ayub dan teman2nya jelas tidak perlu terlentang, namun cukup mengetahui dimana matahari terbit, Jadi arah semua mata angin sejajar permukaan tanah.
    3. Lokasi mereka berbicara adalah di sekitar area gurun pasir, yang kosong [ini sesuai dengan arti kode leksikon 08414, yaitu “over the empty place”]
    4. Kamus Lexicon 05186, mempunyai arti: bow down [menundukan badan], bend [membengkokan, menekuk] turn, in/de cline [naik/turun/lerengan], bow [membungkuk], to stretch out, spread out dan lain-lain.
    5. Sehingga frase “membentangkan utara di atas tempat yang kosong menggantung bumi ditengah kekosongan” merupakan sebuah fakta lapangan yang mereka lihat [ayub dan 3 temannya] yaitu di arah utara hanya padang gurun yang tidak ada apapun. Langit terlihat bertemu dengan daratan [sehingga ini juga bagaikan daratan yang digantungkan di kosongnya langit].
    6. Situasi “langit bertemu dengan daratan” menunjukan posisi langit yang menekuk/menurun, Ini berkeseseuaian dengan kalimat “Ia menekukkan [05816] langit, lalu turun, kekelaman ada di bawah kaki-Nya” [2 samuel 22:10 dan Mazmur 18:9 (18-10)]
    7. Maka dari itu, ucapan Ayub pada 26:7 adalah selaras dengan ucapan Elifas di ayat sebelumnya [22:14], yaitu “[..] berjalan2 di lingkaran langit”. Langit ini bentuknya menyerupai kubah.

    Langit yang berbentuk kubah itu bersandar pada daratan, yang disyairkan dengan sangat pas dan indahmya di kitab Amos 9:6:

      “yang mendirikan anjung-Nya di langit dan mendasarkan kubah-Nya di atas bumi; yang memanggil air laut dan mencurahkannya ke atas permukaan bumi ALLAH, itulah namaNya

    Bagaimana bentuk bumi menurut Allah dan Ayub dapat kita ketahui dari pernyataan Allah dan ayub sendiri, yaitu:

    • Allah, sendiri menyatakan bahwa dinihari atau fajar [arah timur] merupakan tempat dari ujung-ujung bumi, “Pernahkah dalam hidupmu engkau menyuruh datang dinihari atau fajar kautunjukkan tempatnya untuk memegang ujung-ujung bumi, sehingga orang-orang fasik dikebaskan dari padanya? [Ayub 38:12-13]. Bumi memiliki ujung satu dan ujung lainnya sehingga ada frase dari ujung bumi ke ujung bumi [ulangan 13:17, 28:64]. Terakhir, terdapat konfirmasi bahwa ada 4 penjuru Bumi [Yesaya 11:12]. Benda Bundar seperti bola tidak memiliki ujung-ujung.
    • Ayub juga menyatakan bahwa Allah mengetahui jalan ke sana, Ia juga mengenal tempat kediamannya. Karena Ia memandang sampai ke ujung-ujung bumi, dan melihat segala sesuatu yang ada di kolong langit. [28:23-24], kalimat terakhir menunjukan bahwa segala sesuatu dapat terlihat hanya jika bentuknya TIDAK BULAT

    Jelas sudah bahwa kitab Ayub, dengan jitunya menggambarkan bumi itu datar.

    [sisanya silakan lihat di sini. Tanggapan dan jawaban antara saya dan lingkar study, akan dituliskan pada komentar di artikel ini] []

    Alkitab mengikuti pandangan bangsa Babilon tentang bumi datar yang dilingkupi langit berbentuk kubah sebagaimana tercantum di Yesaya 40:22 (text di bawah ini versi Masoretik Text/Aleppo Codex, abad ke-10 M):

    Ha-yashab (הישב) al (על) chwug (חוג) ha-erets (הארץ) (duduk/berdiam pada/di kubah bumi) wa-yashabe-ha (וישביה) kahagabim (כחגבים) (dan penduduknya seperti belalang) ha-natah (הנוטה) kad-doq (MT: כדק / LXX: καμάρα) shamayim (שמים) (menekuk tirai/lengkungan langit) wa-yimthahim (וימתחם) ka-ohel (כאהל) lashabet (לשבת) (dan membentangkan tenda kediaman)

    Kata ‘Yashab [3427/”ישב”]’ ada 3x: (1) (Orang ke-3) duduk/berdiam, (2) yang menduduki/berdiam dan (3) tempat yang diduduki/kediaman.

    Kata ‘al’ [5921]: di atas, pada, di, kepada, karena, sebab, di bawah, di dalam, dst

    Kata ‘chuwg’ [02328 dan 02329]:

    Noun:

    • vault/Kubah, horizon/kaki langit; of the heavens, sea and earth[Francis Brown, A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament of William Gesenius, p. 295, Clarendon Press, Oxford, 1988]
    • circle/lingkaran; circuit/perjalanan, keliling, horizon/kaki langit[Ernest Klein, A Comprehensive Etymological Dictionary of the Hebrew Language, p. 210, MacMillan Publishing Company, New York, 1987]

    Verb:

    • draw round/gambar melingkar; make a circle/membuat lingkaran[Francis Brown, A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament of William Gesenius, p. 295, Clarendon Press, Oxford, 1988]
    • make a circle/membuat lingkaran; to move in a circle/bergerak melingkar[Ernest Klein, A Comprehensive Etymological Dictionary of the Hebrew Language, p. 210, MacMillan Publishing Company, New York, 1987]

    Lingkaran adalah bentuk 2 dimensi, sedangkan kata untuk bulatan 3 dimensi adalah “duwr” [1754], misalnya di Yesaya 22:18:

      dan menggulung[6801 =(Qal) to wrap (Bungkus, gulung), wrap or wind up together, wind around] engkau keras-keras menjadi suatu gulungan[6802 = melilit, menggulung, Bola] dan menggulingkan engkau seperti bola[01754] ke tanah[0776] yang luas; di situlah engkau akan mati, dan di situlah akan tinggal kereta-kereta kemuliaanmu, hai engkau yang memalukan keluarga tuanmu!

    Jika benar Yesaya bermaksud mengartikan bumi itu bulat bukan datar, tentunya Ia akan gunakan ‘duwr’ bukan ‘chuwg’, bukan?!

      He who sits above the ball/round about[duwr] of the earth [..]

    Namun jelas tidak, karena bumi ini tidaklah berbentuk bulatan. Untuk itu, Situs Seferia.org (milik kaum Yahudi) menterjemahkannya sebagai kubah/vault dan di Chagigah 12b.5 (abad ke 5/6 M, Talmud Babilon), Rabi Reish Lakish (abad ke-3 M) menyampaikannya sebagai 7 langit (raqiya)

    Kata “‘erets” [0776]: Tanah (1543 x), bumi (712 x), daerah (140 x), permukaan tanah (98 x), dunia (4 x) atau dewa bumi. Secara statistik lebih banyak diartikan ‘tanah’ daripada ‘bumi’ dan ini tergantung pada konteks pemakaiannya

    Kata “chagab” [2284]: belalang.

    Kata “naw-taw” [5186]: membentangkan, membengkokan, membungkuk, menekuk. Contoh:

      “Ia menekukkan [naw-taw] langit, lalu turun, kekelaman ada di bawah kaki-Nya” [2 samuel 22:10 dan Mazmur 18:9 (18-10)]

    dua ayat di atas, menterjemahkannya sebagai menekukkan/membengkokan.

    Kata “‘doq” [1852]: kerudung, selubung, kabut, tirai, kain. Alkitab Versi LXX (abad ke-2 SM s.d 1 M) yang lebih tua dari Aleppo codex/MT, menggunakan kata “καμάρα” = lengkungan, melengkung

    Kata Shamayim [8064]: Surga, langit, udara, cakrawala, angkasa atau Dewa langit.

    Kata ‘Mathach’ [4969]: memasangkan, merentangkan, untuk diregangkan.

    Kata “‘ohel’ [168]: tenda, kemah, rumah.

    Bagaimana bentuk Kubah?

    Atap melengkung ke bawah berada di atas sebuah bidang datar, persis seperti:

    • Ucapan Elifas, “[..] Ia berjalan-jalan sepanjang lingkaran langit” [Ayub 22:14];
    • “[..] mendasarkan kubah-Nya diatas bumi [..]” [Amos 9:6]

    Proses pembentukan sandaran di bidang datar digambarkan Amsal 8:27,”Ketika Ia mempersiapkan langit, aku di sana, ketika Ia menggaris kaki langit pada permukaan air samudera raya

    Oleh karena itu, Yesaya juga menyatakan adanya ujung Bumi [5:26, 24:16, 42:10, 48:20], ujung langit [13:5] tuhan menciptakan Bumi dari ujung ke ujung [40:28], ujung-ujung bumi [41:5, 41:9, 43:6, 45:22], Bumi memiliki 4 Penjuru [11:12, tentu saja ini dapat juga berarti 4 arah mata angin yang tentunya bukan berarti berberntuk kotak]

    Jadi, frase ‘al chwug ha-erets’ di Yesaya 40.22, menyatakan jelas bahwa bumi yang datar ini (berbentuk piringan) dilingkupi langit yang berbentuk kubah.

Sejalan dengan itu, penerusnya, yaitu para bapak Gereja, orang-orang suci yang telah menerima anugerah pemahaman benar dari roh kudus, juga menyatakan bahwa bumi itu datar:

  • Lactantius [245M – 325M), mengatakan yang mempunyai pendapat bahwa bumi itu bulat adalah “tolol” karena manusia bisa berjatuhan
  • Santo Cyril dari Jerusalem [315M–386M], Bumi seperti langit mengambang diatas air
  • Santo John Chrysostom [344M–408M], pendapat bahwa bentuk BUMI itu BULAT bertentangan dengan Kitab
  • Uskup dari Gabala, yaitu Severian [408 M] dan Diodorus dari Tarsus [394M], merupakan pembela Bumi itu datar
  • Cosmas Indicopleustes [547M], Bentuk bumi: “parallelogram, datar, dan dikelilingi 4 laut”
  • St. Augustine [354M-430M], The City of God Book 16 Chapter 9,

    “Tapi adalah dongeng bahwa terdapat sisi berlawanan, dikatakan, manusia dibelahan lainnya, di mana matahari terbit adalah saat terbenam bagi kita, manusia yang berjalan dengan kaki mereka ada dibelahan lainnya, itu tidak memiliki pijakan kredible dan tentunya tidak sesuai dengan pengetahuan sejarah yang telah diketahui, namun dari terkaan sain…Mereka tidak menyimak, meskipun didemonstrasikan sain bahwa bumi ini bulat..Kitab, dengan bukti historis..tidak pernah memberikan informasi yang salah. Terlalu absurd mengatakan bahwa beberapa orang telah berlayar mengarungi samudera luas dan melintas dari sisi satu ke sisi lainnya”

  • Kardinal Robert Bellarmine [1542M-1621M], Letter on Galileo’s Theories, 1615:

    “Tapi yang hendak menyatakan bahwa Matahari benar2 tetap di tengah langit dan hanya berputar pada porosnya sendiri tanpa bergerak dari timur ke barat dan bahwa Bumi berada pada lapisan ke 3 dan berputar dengan kecepatan tinggi mengitari matahari, adalah pikiran yang sangat berbahaya, tidak hanya melecehkan semua pilsuf dan para cendekiawan agama, namun juga melukai keyakinan suci kita dan menyatakan kitab suci salah”

  • Bukan cuma mereka! Para cendekiawan nasrani lainnya pun tetap teguh pada kebenaran Alkitab, dengan tegas menyatakan bahwa bumi itu datar! silakan lihat di sini, di sini dan di sini

Mengapa para orang penting, bapak gereja dan para santo itu benar-benar yakin bahwa bumi itu datar?

Untuk menjelaskan persamaan pikiran diantara mereka yang sama-sama telah mendapatkan bimbingan roh kudus ini, marilah kita lihat beberapa sample kata ibrani yang mempunyai arti dan maksud yang sama dan diaplikasikan pada benda-benda berbeda:

    7097 — qatseh [ujung, batas, sudut, hal-hal yang ekstrim dan banyak lagi]. Perhatikan kata ujung ke ujung pada dua kalimat dibawah ini:

    • Keluaran 26:28 Dan kayu lintang yang di tengah, di tengah-tengah papan-papan itu, haruslah melintang terus dari ujung ke ujung.
    • Ulangan 13:7 salah satu allah bangsa-bangsa sekelilingmu, baik yang dekat kepadamu maupun yang jauh dari padamu, dari ujung bumi ke ujung bumi

    Penerapan kata Qatseh pada kayu dan bumi di atas, menunjukan dengan sangat jelasnya bahwa bentuk benda yang mempunyai ujung dan jelas tidak bulat, bukan?!

    7098 — qatsah, [ujung, batas, sudut, hal-hal yang ekstrim dan banyak lagi]. Perhatikan kata ujung pada dua kalimat di bawah ini:

    • Keluaran 27:4 Haruslah engkau membuat untuk itu kisi-kisi, yakni jala-jala tembaga, dan pada jala-jala itu haruslah kaubuat empat gelang tembaga pada keempat ujungnya.
    • Yesaya 40:28 Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya.

    Penerapan kata Qatsah pada jala dan bumi di atas, menunjukan dengan sangat jelasnya bahwa bentuk benda yang mempunyai ujung dan jelas tidak bulat, bukan?!

    7099 — qetsev [Ujung, akhir, batas, batasan]. Perhatikan kata ujung pada tiga kalimat di bawah ini:

    • Keluaran 37:8 satu kerub pada ujung [7098,qatsah] sebelah sini dan satu kerub pada ujung [7098,qatsah] sebelah sana; seiras dengan tutup pendamaian itu dibuatnya kerub itu pada kedua ujungnya [7099, qetsev]
    • Mazmur 48:10 (48-11) Seperti nama-Mu, ya Allah, demikianlah kemasyhuran-Mu sampai ke ujung bumi; tangan kanan-Mu penuh dengan keadilan.
    • Yesaya 26:15 Thou hast increased [03254] (8804) the nation [01471], O LORD [03068], thou hast increased [03254] (8804) the nation [01471]: thou art glorified [03513] (8738): thou hadst removed {it} far [07368] (8765) {unto} all the ends [07099] of the earth [0776].

      [Dalam Alkitab terjemahan baru, kata bumi [0776] di hilangkan dan bunyinya menjadi seperti ini:

      Yesaya 26:15 Ya TUHAN, Engkau telah membuat bangsa ini bertambah-tambah, ya, membuat bertambah-tambah umat kemuliaan-Mu; Engkau telah sangat memperluas negerinya]

    Penerapan kata Qetsev pada tutup perdamaian dan bumi di atas, menunjukan dengan sangat jelasnya bahwa bentuk benda yang mempunyai ujung dan jelas tidak bulat, bukan?!

Anda akan temukan banyak sekali bentuk-bentuk dan contoh-contoh serupa di alkitab dan saya rasa 3 contoh di atas sudah lebih dari cukup untuk menjelaskannya, bukan?!

Tentunya para orang penting, bapak gereja dan para santo di atas yang sama-sama telah mendapatkan bimbingan penuh roh kudus, disamping sangat fasih dengan alkitab dan juga mengenal baik arti kata dan dalam kondisi apa kata-kata tersebut di gunakan, bukan?!

Kemudian, terdapat martir Pengetahuan yang dibakar-hidup-hidup oleh Geraja karena mempertahankan pendapat bahwa matahari tidak beredar mengelilingi bumi adalah Giordano Bruno [1548M – 1600M], Ia adalah biarawan Dominikan.

Setelah lama disiksa di penjara, ia di bakar hidup-hidup di Campo de’ Fiori pada tanggal 17 February 1600. Ia di bakar hidup-hidup bukan karena tuduhan Heresy [bid’ah/klenik/sihir] namun karena pendapat sain-nya bertentangan dengan Alkitab.

Berikut dibawah ini adalah cuplikan Dokumen vatikan Interogasi terakhir Bruno [sekitar bulan April 1599] sebelum pelaksanaan eksekusi. Ia katakan teori kosmogony-nya didasarkan pada penemuan sain dan tidak ditujukan untuk menentang kitab suci:

    Circa motum terrae, f. 287, sic dicit: Prima generalmente dico ch’il moo et la cosa del moto della terra e della immobilità del firmamento o cielo sono da me prodotte con le sue raggioni et autorità le quali sono certe, e non pregiudicano all’autorità della divina scrittura […]. Quanto al sole dico che niente manco nasce e tramonta, né lo vedemo nascere e tramontare, perché la terra se gira circa il proprio centro, che s’intenda nascere e tramontare […]

    Terjemahan:
    Circa motum terrae, f. 287, sic dicit: Pertama-tama, Saya katakan bahwa teori-teori pergerakan bumi dan diamnya raqiya atau langit adalah dibuat oleh saya yang didasarkan pada alasan yang kuat, yang mana tidak dimaksudkan untuk meruntuhkan kewenangan kitab suci [..] Berkenaan dengan Matahari, Saya katakan bahwa ia tidak terbit maupun tenggelam, tidak juga seperti yang kita lihat, terbit ataupun tenggelam, karena, jika bumi berputar pada porosnya, maka apa yang kita maksudkan dengan terbit dan tenggelam [..]

Kemudian, terdapat satu bukti lagi yang menyatakan bahwa alasan eksekusi bukan karena tuduhan heresy, karena di Universal Declaration of Human Rights: Christianity and its Persecution of Heretics, tidak ditemukan nama Giordano Bruno yang di aniaya/siksa gereja atas tuduhan heresy. [catatan: di Link ini, anda akan temukan satu tanya jawab, dimana Bruno ternyata telah murtad dari Nasrani bertahun-tahun dan memilih menjadi Filsuf/pencari kebenaran (atheis?)]

Kesimpulan

  • Dari suatu tempat atau ketinggian tertentu dapat melihat seluruh permukaan bumi, hanya dimungkinkan jika BUMI itu DATAR
  • Terdapat kata-kata memegang ujung-ujung. Sebuah Benda bulat tidak memiliki Ujung atau ujung yang satu berbeda dengan ujung lain atau berjumlah 4 (empat)
  • Menekuk langit menunjukan satu kondisi bahwa Langit berbentuk Kubah. Amsal [8:27] mendukung hal ini, dimana Bumi sudah ada terlebih dahulu, dan Langit baru hendak dipersiapkan. Ujung langit dan bumi adalah Samudera. Jadi, Bumi itu datar dengan Langit seperti Kubah
  • Yesaya [40:22] dengan frase “al chwug erets” menyatakan bahwa bumi berbentuk piringan datar melingkar diselubungi langit yang berbentuk kubah
  • Bapak-bapak gereja, orang-orang suci dan Cendikiawan Nasrani yang telah mendapatkan anugerah pemahamanpun menyatakan Bumi itu datar
  • Alkitab menjelaskan Mataharilah berjalan dari satu ujung ke ujung yang lain, Bumi diam tidak berputar pada porosnya.
  • Konsistensi penegakan kemurnian ajaran Alkitab, yaitu matahari yang bergerak dari Timur ke Barat, mengakibatkan Giordano Bruno, harus dibakar hidup-hidup []


Tradisi Islam

Terdapat 2 (dua) pendapat, beberapa menyatakan Bumi itu Bulat dan beberapa menyatakan bumi itu datar. Ini akan kita uji mana yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadis dan kita teluri mengapa pendapat nyeleneh tersebut muncul.

Pendapat 1: Bumi itu Bulat

Sekitar tahun 830, Khalifah al-Ma’mun menugaskan sekelompok astronomer untuk mengukur jarak antara Tadmur (Palmyra) ke Al-Raqqh, di Syria modern. Mereka menemukan bahwa kota-kota itu terpisah 1 derajat ketinggian. Sejak itu banyak peneliti-peneliti Islam berpendapat (Ijma) bahwa BUMI itu BULAT diantaranya adalah Ibnu Hazm (Meninggal 1069), Ibnu Al-Jawzi (meninggal 1200), Ibnu Taymiya (meninggal 1328) dan Ibnu Khaldun (meninggal 1406). [lihat: History, Science and Civilization: Early Muslim Consensus: The Earth is Round]

Imam Ibnu Hazm (7 November 994–15 August 1069, 456 AH), diklaim mengatakan:

    “Pasal penjelasan tentang bulatnya bumi. Tidak ada satu pun dari ulama kaum muslimin, semoga Allah meridhai mereka semua, yang mengingkari bahwa bumi itu bulat dan tidak dijumpai bantahan atau satu kalimat pun dari salah seorang dari mereka.” (Buku “Matahari Mengelilingi Bumi Sebuah Kepastian Al-Qur’an dan As-Sunnah Serta Bantahan Terhadap Teori Bumi
    Mengelilingi Matahri”, Ahmad Sabiq bin AbdulLathif Abu Yusuf, Penerbit Pustaka Al-Furqon, Gresik, Bab 4.1, hal.77-78, yang konon penulisnya mengutip itu dari “al Fishal fil Milal wan Nihal 2/97”)

    Note:
    Klaim bahwa tidak ada satupun dari ulama mengingkari sudah KELIRU BESAR. Di buku, “Ibn Hazm of Cordoba: The Life and Works of Controversial Thinker”, hal 556 disampaikan bahwa banyak ulama dijamannya sendiri menentang idenya tersebut.

    Kemudian, “Al Fishal fil Milal vol.5 hal.34, Ibn Hazm menyatakan orbit Saturnus mengeliling bumi selama 33 tahun (penelitian modern: Saturnus mengeliling Matahari selama 29 tahun). Ini menunjukan bahwa beliau sendiri meyakini bumi sebagai pusat dan bukannya matahari

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (22 Januari 1263 (10 Rabiul Awwal 661 H) – wafat: 1328 (20 Dzulhijjah 728 H)

    Benda-benda angkasa adalah bulat (istidaaratul-aflaak) – yang merupakan statement para astronomer dan para ahli matematika (ahlul-hay’ah wal-hisab) – Ini adalah pernyataan ulama-ulama muslim seperti Abul-Hasan ibn al-Manaadi, Abu Muhammad ibn Hazm, Abul-Faraj ibn al-Jawzi dan lainnya yang di kutip: bahwa ulama-ulama islam bersepakat. Sesungguhnya Allah telah berkata: Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya (falak). Ibn Abbas berkata: falaka adalah seperti putaran roda..Ibn Taimiyah: falak artinya adalah bulatan. Dari pernyataan “Payudara perempuan muda ta-fa-la-ka adalah ketika menjadi berbentuk bundaran” (Vol. 6, hal. 566-567)

    Untuk sisi lainnya dari bumi adalah dikelilingi air. Tidak ada umat manusianya atau serupa ini. Bahkan jika kita berimaginasi bahwa orang-orang ada di sisi lain bumi, masing-masing individu tetap berada di permukaan bumi. Mereka di sisi lain bumi tidak di bawah mereka yang di sisi ini; sama seperti mereka yang di sisi ini tidak dibawah mereka yang disisi itu. Untuk seluruh benda angkasa mengelilingi titik pusat (markaz), tidak ada keberadaan benda angkasa berada di bawah lainnya, tidak juga kutub utara di bawah kutub selatan atau sebaliknya. (vol.6. hal 565-566)

    [Kutipan pernyataan Ibn Taimiyah di atas ini berasal dari tulisan anonim (tak diketahui penulisnya), komentar penulisnya saya abaikan sehingga yang tersisa hanya tulisan Ibn Taymiyah menurut terjemahan penulis tersebut.]

    Note:
    Keterangan Ibn Taimiyah di atas adalah berkenaan dengan perjalanan benda angkasa terhadap bumi dan BUKAN bukti tentang bentuk bumi. Bahkan statement beliau tentang “sisi lain” lebih menunjukan keadaan bumi dalam bentuk piringan bulatan yang datar dengan satu sisi saja mempunyai kehidupan, dimana di sisi ini daratan yang dikelilingi lautan dan di seberangnya dianggap tidak ada manusia lain yang hidup (ini jelas bahwa yang dimaksudkan BUKAN sisi bagian bawah bumi)

Kebanyakan muslim mengkaitkan nama-nama ulama klasik yang kondang seperti di atas ini untuk klaim dan menyelipkan ayat-ayat quran sebagai pembenaran misalnya: 21.33 (dan 36.40), AQ 39.5 dan AQ 81.1

    Dan Dialah [wa+huwa] Ia yang [alladzii] menciptakan [khalaqa] malam dan siang [allayla waalnnahaara] dan matahari dan bulan [waalshamsa waalqamara]. Masing-masing [kullun] dalam [fii] jalurnya [falakin] mengambang/berenang (yasbaḥūna).[AQ 21.33]

    Tidak [Laa] matahari [Al-shamsu] diijinkan [yanbaghī] baginya [lahaa] agar [an] menyusul [tud’rika] bulan [alqamara] dan tidak [walaa] malam [al-layla] saabiqu [melebihi] siang [al-nahaari] dan Masing-masing [wakullun] dalam [fii] jalur [falakin] mengambang/berenang (yasbaḥūna) [AQ 36.40]

    Dia menciptakan (Khalaqa) para langit (alsamaawaati) dan bumi (al ardha) dengan benar (bilhaqi); membungkus (yukawwiru) malam (al-layla) atas (‘alaa) siang (al-nahaari) dan membungkus (wayukawwiru) siang (al-nahaara) atas (‘alaa) malam (al-layli) dan memperjalankan (wasakhkhara) matahari dan bulan (al-shamsa waal-qamara). Masing-masing (kullun) berjalan (yajri) menurut waktu (liajalin) yang ditetapkan (musamman) [AQ 39.5]

    Ketika (idhaa) matahari (al-shamsu) di bungkus/gulung (kuwwirat) dan ketika (Wa-idhaa) bintang-bintang (al-nujuum) berjatuhan (inkadarat) dan ketika gunung (aljibaala) di lenyapkan (suyirrat).. [AQ 81.1-3)

    note:

    • Semua kutipan ayat quran di atas jelas merujuk pada lintasan jalur benda tertentu dan BUKAN menyatakan bentuk bumi. Contoh seonggok tahi kerbau dengan bentuk tak beraturan dikitari kekanan dan kekiri secara teratur oleh lalat, maka jalur lalat mengitari tahi kerbau tersebut tidak lantas menunjukan bentuk tahi kerbau adalah bulat, bukan? dan juga tidak serta merta jalur mengitarinya tersebut adalah lingkaran.

      Kamus lane-lexicon (paling kanan) juga menyatakan arti “falak” bagi imaginasi kaum arab tidak melingkar namun bentuk melengkung seperti kubah.

      Kata “malam/layla” dan “siang/naahari” jelas bukan benda langit sehingga kata falak yang dimaksudkan adalah bukan lintasan berjalan namun sebuah ketetapan waktu tertentu, “dan memperjalankan (wasakhkhara) matahari dan bulan (al-shamsa waal-qamara). Masing-masing (kullun) berjalan (yajri) menurut waktu (liajalin) yang ditetapkan (musamman)” [AQ 13.2, 39.25, 31.29 dan 35.13]

    • Tafsir Ibn Kathir AQ 36:38:(dan matahari berjalan dijalurnya (limustaqarrin)) [Ada dua pendapat dan keduanya menyatakan Matahari dan bulan yang bergerak terus menerus]. ‘arsy adalah atap dari ciptaan dan tidak berbentuk BULATAN seperti banyak di klaim oleh astronomer. Lebih seperti KUBAH yang di topang oleh pilar. Ditandu oleh para malaikat dan di atas dunia, di atas kepala-kepala orang. Menurut Nabi sebagaimana diriwayatkan Abu Dharr:

      Ketika senja [magrib], Nabi bertanya padaku, “Apakah kau tau kemana Matahari itu pergi (saat Magrib)?! Aku jawab, “Allah dan rasulnya yang lebih tau.” Ia jawab, “Ia berjalan hingga berhenti pada tempatnya di bawah Arsy lalu menyungkur sujud dan mohon ijin untuk terbit kembali, dan diijinkan dan kemudian (waktunya akan tiba) dia minta agar terus saja bersujud namun tidak diperkenankan dan minta izin namun tidak diizinkan dan dikatakan kepadanya: “Kembalilah ke tempat asal kamu datang” dan ia akan terbit dari tempatnya terbenamnya tadi (barat). Itulah penafsiran dari sabda Allah “dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (AQ 36:38) [Bukhari: no.2960/4.54.421, no.4428/6.60.327, no.6874/9.93.520 dan no.6881/9.93.528. Juga Muslim: no.228/1.297]

      Lintasan seperti ini dimungkinkan karena langit berbentuk kubah dan tunduk di bawah arsy allah yang ada di atas air.

      Tafsir Ibn Kathir AQ 31.29:(dan memperjalankan matahari dan bulan Masing-masing berjalan menurut waktu yang ditetapkan) terdapat dua pendapat yaitu “hingga batas tertentu” atau “hingga kiamat” keduanya sahih mengikui hadis dari Abu dhar di atas. Kemudian Ibn hatim – bapaknya – Ibn Abbas: Matahari seperti aliran air. Berlarian di jalurnya di langit selama siang hari. ketika ia terbenam , berjalan di jalurnya di bawah bumi hingga terbit di timur. demikian pula dengan bulan.

    • Surat At Takwir 81.1 dari penterjemah lain:

      YUSUFALI: When the sun is folded up;
      PICKTHAL: When the sun is overthrown,
      SHAKIR: When the sun is covered,

      Tafsir Ibn kathir utk AQ 81.1-2:
      (Ketika matahari Kuwwirat.) “Ini berarti akan digulitakan.” Al-`Awfi meriwayatkan dari Ibn `Abbas; “Ini akan menghilang.” Qatadah berkata, “Cahayanya akan menghilang.” Sa`id bin Jubayr berkata, “Kuwwirat berarti itu akan di tenggelamkan.” Abu Salih berkata, “Kuwwirat berarti ini akan diceburkan.” At-Takwir berarti melipat satu bagian dari sesuatu dengan bagian lainnya (i.e., folding). Ini berasal dari melipat turban (`Imamah) dan mengulung kain-kain menjadi satu. kemudian arti dari statement allah (Kuwwirat) adalah bagian dari itu akan melipatnya dengan bagian lainnya. Kemudian itu di gulung dan di buang. Setelah ini selesai, cahayanya menjadi hilang. Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairh – Nabi: (matahari dan bumi akan di gulung pada hari kiamat.)

      Tafsir lainnya:
      [..]Kata kawwara berasal dari Takwir yang merujuk pada matahari yang kehilangan cahayanya. (arti lain dari takwir adalah “membungkus/melipat”. Terjemahan dari teks di dasarkan arti ini. Maksud membungkus matahari adalah bahwa fungsinya menuju akhir dan ia akan kehilangan cahayanya..

      Muhammad Taqi Usmani Sayyidna Hasan Basri (RA) menyandarkan tafsirnya pada ini. Arti lain dari kata ini adalah “menyebabkan jatuh”.
      Rabi’ Ibn Khaitham (RA) menyampaikan tafsir berikut untuk ayat itu: Matahari akan di buang ke lautan, dan sebagai hasil ari panasnya seantero lautan menjadi terbakar. Dua tafsir ini tidak saling bertentangan. Ini dapat dikompromikan menjadi:
      pertama, cahayanya akan dipadamkan dan kemudian dibuang kelautan.
      Bukhari menyampaikan riwayat dari Abu hurairaa (RA) bahwa Nabi SAW berkata bahwa di hari kiamat matahari dan bulan akan di ceburkan di laut.
      Musnad Bazzar menambahkan bahwa mereka ini akan diceburkan di neraka.
      Ibn Abi Hatim, Ibn Abid-Dunya and Abush-Shaikh menyatakan bahwa pada hari kiamat Allah akan menceburkan matahari, bulan dan bintang ke lautan. Dan angin yang sangat keras bertiup kearah mereka, sebagai hasilnya seluruh lautan menjadi terbakar.

      Kemudian, adalah tepat dikatakan bahwa matahari dan bumi akan diletakan di lautan. Ini seperti juga tepat mengatakan bahwa mereka akan diletakan di neraka, karena seluruh lautan pada saat itu berubah menjadi neraka. [Di turunkan dari Mazhari dan Qurtubi] [..] [central-mosque.com]

      Jadi ‘takwir’ yang dimaksudkan malah menegaskan bahwa lintasan mereka ini di langit adalah berbentuk kubah dan bukan bentuk bumi, Ini adalah seperti maksud AQ 2:22,

      YUSUFALI: Who has made the earth your couch, and the heavens your canopy;[..].
      PICKTHAL: Who hath appointed the earth a resting-place for you, and the sky a canopy;[..]
      SHAKIR: Who made the earth a resting place for you and the heaven a canopy[..]

Tampak jelas bahwa tafsir dan ayat quran berbicara mengenai lintasan benda langit bukan tentang bentuk bumi. Mengkaitkan ayat-ayat tersebut dengan bentuk bumi adalah tidak relevan. []



Pendapat 2: Bumi itu Datar
A TRIBUTE TO A MUSLIM GENIUS
oleh Sujit Das

Salah seorang genius dari Saudi dikenal dengan nama “Shaikh Abd-al-Aziz Ibn Abd-Allah Ibn Baaz” (artinya – abdi Allah yang Maha Besr atau putera abdi Allah). Singkatnya, ‘Ibn Baz’. Sejak kecil ia sangat suka menghafal Quran dan belajar buku2 religius Islam (Saudi Gazette, 1999). Ia percaya bahwa tidak ada pengetahuan diluar Quran dan Ahadith; dan oleh karena itu tidak perlu belajar hal lain selain kitab-kitab suci Islam.

Pada usia 16, mata Ibn Baaz kena infeksi parah. Pada usia 20 ia menjadi buta total. Namun, ia tidak pernah putus asa. Walau buta, ia berketetapan untuk melanjuntukan studinya dalam Islam dibawah pengarahan pemikir Islam paling ternama jamannya, seperti: Sheikh Shanqeeti dan pakar-pakar Islam lainnya. Sebuah artikel yang diterbuntukan dalam ‘Saudi Gazette’ membeberkan pendidikan lelaki jenius ini:

“Subyek-subyek yang dipelajarinya termasuk bahasa Arab dan sains Islam termasuk penafsiran Qur’an, Sunnah Nabi (saw), Yurisprudensi dan Sejarah Islam. Sebagai visionaries Islam, ia mengerti penuh pengaruh sejarah terhadap umat dan bekerja keras agar pengaruh iblis pada rakyat masa lalu tidak terulang dijaman kini.” (Anon, 1999)

Singkatnya, otak kreatifnya di-Islamisi secara total dan tidak ada satupun kitab Islam yang tidak dipelajarinya dengan demikian ia menjadi pakar besar dan dihormati diseluruh Saudi. Tidak ada sains dalam Quran dan hadis yang tidak ia pelajari. Ibn Baz adalah ‘Quran & hadis Berjalan’.

Selama hidupnya, jenius besar Islam ini mengabdi diri untuk mengerti mukjizat-mukjizat sains Quran dan ia mengeluarkan banyak fataawa (kata jamak “fatwa”) bagi perkembangan peradabpan yang dimulai dari thn 1940 (Wikipedia, 2006). Menurut ‘Arab News’ ( surat kabar ternama Saudi) tgl 15 Mei 1999, Ia mengeluarkan ribuan fatwa tentang masalah-masalah ekonomi & sosial berdasarkan Qur’an dan Sunnah. Fatwa pertamanya adalah:

‘pemberian kerja bagi non-Muslim di Teluk Arab dilarang dalam Islam.’

Setelah beberapa decade, ia mengeluarkan fatwa berikutnya:

‘Tentara Non-Muslim harus ditempatkan di tanah Saudi untuk membela Kerajaan Saudi dari tentara Iraq ’ (Kepel, 2004).

Fatwa ini bukan merupakan kebalikan dari fatwa pertama, orang jenius selalu berpikir berbeda dan setiap saat dapat mengembangkan ide-ide kreatif.

Ia menulis sejumlah buku yang berguna bagi umat manusia. Bukunya selalu menjadi best-seller dalam dunia Muslim. Penemuan paling terkenalnya ditulisnya sesuai dengan judul bukunya, “Bukti bahwa Bumi Tidak Bergerak.” Riset sains ini diterbitkan oleh Islamic University of Medina, Saudi, thn 1974. Pada halaman 23, ia berbicara tentang penemuan yang merujuk pada ayat2 Quran dan hadis. Ia dengan yakin menentang kepercayaan kuno bahwa bumi berputar. Ini kutipannya,

“Kalau bumi berputar (rotasi) seperti yang mereka katakan, maka negara-negara, pegunungan, pohon-pohon, sungai-sungai dan samudera-samudera tidak memiliki dasar dan orang akan melihat negara-negara di timur bergerak ke barat dan negara-negara barat bergerak ke timur.”

Parvez Hoodbhoy menggambarkan konklusi ilmiah berguna Ibn Baz diatas tersebut dalam bukunya “Islam and Science: Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality”. Pada halaman 49, ia menulis,

“.. The Sheikh (Abdul Aziz Ibn Baz) menulis … sebuah buku dalam bahasa Arab berjudul Jiryan Al-Shams Wa Al-Qammar Wa-Sukoon Al-Arz. Artinya : Pergerakan Matahari dan Bulan dan Tidak Bergeraknya Bumi … Dalam buku sebelumnya, ia mengancam para penantang dengan fatwa keras atau ‘takfir’ (alias kafir), tetapi tidak mengulanginya dalam versi yang lebih baru.”

Berita tentang penemuan besar Ibn Baz ini tersebar seperti api diseluruh dunia dan Muslim mulai menerima kredibilitas teori ‘tidak bergeraknya bumi’. Namun dunia kafir ragu-ragu menerima pendapatnya ini. Judith Miller, menulis dalam bukunya ‘Tuhan memiliki 99 Nama’, di halaman 114,

“Ketika ia (Sheikh Bin Baz) mengutuk apa yang disebutnya sebagai penghujatan gaya Copernicus dan bersikeras bahwa Quran mengatakan bahwa matahari bergerak, wartawan Mesir, mengolok-olok ulama ternama itu sebagai ‘refleksi primitif Saudi. “

Tahun 1993, pada suatu pagi hari, otak encer sang jenius membuka Qurannya dan menoleh sejumlah mukjizat ilmiah dan sampai pada penemuan baru bahwa ‘bentuk bumi = ceper’. Ini direkam oleh Carl Sagan dalam bukunya “The Demon-haunted World: Science as a Candle in the Dark”. Sagan menulis,

“Tahun 1993, otoritas religius tertinggi Saudi, Sheik Abdel-Aziz ibn Baaz, mengeluarkan fatwa, menyatakan bahwa bumi adalah ceper. Siapapun yang menolak dianggap tidak percaya Allah dan harus dihukum. ” dan ada sebuah fatwa terkenal yang dikeluarkan oleh Sheik Abdel-Aziz ibn Baaz. Statusnya memberikan bobot pada fatwanya namun pendapat2nya sering membuat rakyat Saudi malu.

Seluruh dunia (kecuali kafir) mulai menerima penemuan ilmiah ini. Contoh; tanggal 12 February, 1995, hal A-14 sebuah artikel diterbitkan dibawah judul “Fatwa-fatwa Muslim Mengambil Kekuatan Baru”, dimana Yousef Mohammad Ibrahim menulis “Bumi adalah datar. Barang siapa yang menyebutnya bulat adalah atheis dan patut dihukum. ” Ada banyak ayat-ayat Quran dan Ahadith, yang menunjukkan bahwa bumi = datar” (Sina, n.d).

Namun Ia membantah bahwa ia pernah menyusun teori Bumi Datar (Kepel, 2004), saat teori ini mulai popular diantara Muslim. Tidak diketahui mengapa ia meninggalkan kesimpulan ilmiah yang hebat itu. Mungkin inilah karakteristik jenius. Namun ia menegaskan kepercayaan yang didasarkan pada Quran bahwa

“keadaan tidak bergerak bumi dan matahari berputar keliling bumi (the motionless state of the earth and sun revolves around the earth)”

masih tetap berlaku bahkan setelah dibantai habis-habisan dalam tulisan wartawan2 Mesir (Kepel, 2004).

Seorang pakar Islam lain, Sheikh Muhammad Tantawi mengatakan “ia (Ibn Baz) tidak takut akan kritik manapun sambil mengekspresikan pandangan-pandangan Islaminya” , (Arab News, 1999). Kegigihannya menunjukkan bahwa ia memang jenius asli.

Pakar besar ini memegang posisi Grand Mufti dari Kerajaan Saudi dan Kepala Dewan Ulama 1993-1999. Ini adalah posisi religius tertinggi dalam sebuah negara Muslim Sunni. Sang Grand Mufti mengeluarkan pendapat-pendapat hukum dan fatwa tentang tafsiran Hukum Islam baik untuk membantu hakim memutuskan kasus dan juga bagi klien-klien privat.

Prestasi-prestasi hebat lainnya termasuk (Saudi Gazette, 1999; Riyadh Daily, 1999; Arab News, 1999),

  • Wakil Presiden dan kemudian Presiden the Islamic University in Medina, 1960-1970
  • Ketua departemen Riset Ilmiah dan Ifta (pengarah) dengan jabatan Menteri. 1974-1993
  • Presiden Komite Permanen bagi Riset Islam dan Fataawa.
  • Hakim Kharj selama 14 tahun,
  • Dosen Kehormatan di fakultas Shariah di Riyadh Institute of Science, 1951-1960
  • 1981, ia diberi Hadiah Internasional Raja Faisal bagi Pengabdian kpd Islam.

Sampai kematiannya, ia masih juga menghadiri seminar-seminar dan memberikan ceramah-ceramah dalam berbagai universitas Islam (Riyadh Daily, 1999). Topik paling disukainya adalah ketaatan pada Sunnah Nabi. Kini, hakim-hakim paling top dan ulama, dosen, saintis dan pejabat-pejabat tinggi Saudi adalah siswa-siswanya, termasuk Mendikbud Saudi.

Walau kesuksesannya sangat menakjubkan, ia tidak mendapatkan hadiah apapun dari dunia kafir. Mungkin karena mereka tidak menaruh perhatian serius pada penemuan-penemuannya. Ibn Baz wafat th 1999.

Kematian sang jenius ini bukan saja kehilangan besar bagi Saudi, tetapi bagi seluruh dunia Muslim. “Bobot dan reputasinya” begitu besar sampai pemerintah Saudi dikatakan “sulit menemukan orang yang bisa mengganti posisi Baaz.” (Kepel, 2004). ‘Arab News’ melaporkan (1999), lebih dari 50.000 orang mengantarnya ke pemakamannya di Mekah, sementara jutaan Muslim mendoakannya. Raja Fahd mengatakan bahwa dunia Islam shock atas berita sedih ini (Arab News, 1999). Berita ini begitu berat sampai Muslim bak kehilangan orang tuanya sendiri. Banyak dari mereka sampai membasahi jenggot mereka dengan air mata yang tidak habis2nya. Jenius macam Ibn Baz memang sulit ditemukan,
————————–

Reference list

  • Anonimous, (1999), Staunch Defender of Islam, An article published in Saudi Gazette on 14 May 1999.
  • Arab News, (1999), pp. 1, 2; 15 May 1999
  • Barrious A (1980), 24 Qualities That Geniuses Have in Common; National Enquirer/Transworld Features. URL: link.
  • Kepel G., (2004); The War for Muslim Minds: Islam and the West,. Belknap Press of Harvard University Press. pp.184, 186
  • Riyadh Daily Staff Reporter (1999), Sheikh Bin Baz: A life devoted to Islam, Riyadh Daily (Daily newspaper published from Saudi Arabia ) dated, 14 May 1999.
  • Saudi Gazette staff reporter (1999); Biography of Sheikh Bin Baz, Saudi Gazette (Daily newspaper published from Saudi Arabia ) dated, 14 May 1999
  • Sina A., (n.d); Absurdities of Hadith and Muslim’s Denial,Faith Freedom International. URL: link.
  • Wikipedia (2006); Abd-al-Aziz ibn Abd-Allah ibn Baaz (Name). URL: link.

Untuk cross reference, silakan lihat di sunnah.org: ibn_baz:

    Di “AL-ADILLA AL-NAQLIYYA WA AL-HISSIYYA `ALA JARAYAN AL-SHAMSI WA SUKUNI AL-ARD”

    [“Bukti-Bukti yang Diturunkan dan DiJelaskan dari Rotasi Matahari dan Diamnya BUMI”], Ia menegaskan bahwa

    BUMI adalah DATAR dan BERBENTUK SEPERTI PIRINGAN dan bahwa MATAHARI BERPUTAR MENGELILINGINYA

Juga di buku berjudul: “Evidence that the Earth is Standing Still.”, Pengarang: Sheikh Abdul Aziz Ben Baz, Editor: Islamic University of Medina, tahun: 1395AH [1975 Masehi], Kota: Medina, Saudi Arabia, Hal. 23:

    “Jika Bumi berotasi seperti klaim mereka, negara-negara, gunung-gunung, pepohonan, sungai-sungai dan lautan akan tidak mempunyai dasaran dan orang-orang akan melihat negara-negara di belahan timur bergerak ke barat dan negara-negara belahan barat akan bergerak ke timur.”

    “Atas nama Allah yang maha penyayang dan pengasih”

    “Bumi adalah DATAR, dan siapapun yang menentang klaim ini adalah seorang ateis dan layak menerima hukuman”

Kemudian dalam kesempatan lain, Ibn Baz mengatakan hal yang berbeda lagi:

    Sheikh Ibn Bâz (statement di bawah ini tidak ada di kumpulan fatwa beliau dan komite tetap, hanya ada di website muslim):

    According to the people of knowledge the Earth is round. Indeed, Ibn Hazm and other scholars have declared that there is consensus on this matter among the people of knowledge This means that all of the surface of the Earth is connected together so that the form of the planet is like a sphere.
    (Menurut kaum berpengetahuan Bumi bulat. Memang, Ibn Hazm dan ulama-ulama lainnya telah menyatakan bahwa ada konsensus mengenai hal ini di antara para kaum berpengetahuan. Ini berarti bahwa semua permukaan Bumi terhubung bersama sehingga bentuk planet itu seperti bulatan)

    Nevertheless, Allah has spread out the Earth’s surface in relation to us, and He has placed upon it firm mountains, the seas, and life as a mercy for us. For this reason, Allah said: “And (do they not look) at the Earth, how it was spread out flat (sutihat).” [Sûrah al-Ghâshiyah:20]
    (Namun demikian, Allah telah membentangkan permukaan bumi untuk kita, dan Dia telah menempatkan di atasnya gunung yang kokoh, laut, dan kehidupan sebagai rahmat bagi kita. Untuk alasan ini, Allah berfirman: “Dan (apakah mereka tidak melihat) di bumi, Dan bumi bagaimana ia dihamparkan datar?(sutihat).” [AQ 88.20])

    Therefore, the Earth has been made flat for us in regards to our relationship to it to facilitate our lives upon it and our comfort. The fact that it is round does not prevent that its surface has been made flat for us. This is because something that is round and very large, then its surface will become very vast or broad, having a flat appearance to those who are upon it.”
    (Oleh karenanya, Bumi telah dibuat datar untuk kita sehubungan dengan urusan kita dengannya untuk memfasilitasi kehidupan kita di atasnya dan kenyamanan kita. Fakta bahwa itu bulat tidak mencegah bahwa permukaannya telah dibuat datar bagi kita. Ini karena sesuatu yang bulat dan sangat besar, maka permukaannya akan menjadi sangat luas atau luas, memiliki penampilan yang datar bagi mereka yang berada di atasnya.”)

    Namun,
    Terdapat fatwa komite tetap untuk penelitian Ilmiah dan Ifta yang diketuai Ibn Baz, yaitu no.9544 bahwa bumi berbentuk bulatan dengan permukaan datar, juga no.15255 bahwa teori bumi mengelilingi matahari adalah bertentangan dengan ayat-ayat Al Qur’an dan Hadis Nabi

    Fatwa komite tetap untuk bentuk bumi terjadi setelah pendaratan ke bulan.

Bukti lain bahwa Islam berpendapat: bumi itu datar dan bukan bulatan, lihat video MemriTV, 31 October 2007, di bawah ini [atau lihat youtube: 1, 2]:

[]



Mana dari 2 pendapat tersebut yang bertentangan dengan Quran dan Hadis?

Kaidah berpendapat yang baik menurut Islam
Ibn Katsir di muqaddimah tafsirnya mengatakan: “Jika ada orang bertanya, cara manakah yang terbaik dalam menafsirkan Qur’an? Maka yang paling benar dalam menafsirkan Al Qur’an adalah:

  1. Hendaknya Quran ditafsirkan dengan Quran, sebab apa yang dalam satu ayat disebutkan secara global, maka ia di rinci di ayat lainnya
  2. Jika engkau tidak mendapatkan tafsirnya dalam Quran, hendaknya engkau cari dalam as-sunnah (hadis), sebab as-sunnah adalah penjelas Quran
  3. Jika engkau tidak mendapatkan tafsirnya dalam Qur’an maupun as-sunnah, maka hendaknya engkau merujuk pada perkataan sahabat, sebab mereka yang paling mengerti Quran, mereka menyaksikan turunnya ayat-ayat Quran. Mereka mengetahui latar belakang serta sebab diturunkannya ayat tersebut. Hal ini adalah kekhususan mereka. Disamping itu mereka juga memiliki pemahaman yang sempurna, ilmu yang benar dan amal yang sahih terebih lagi para ulama sahabat seperti khulafa’ur rasyidin (Abu bakar, Umar, Usman dan Ali) Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Abbas” [tafsir Ibn Kathir, 5-6] []


AL QURAN, Tafsir dan Hadis

Islam tegas mengatakan BUMI itu DATAR, untuk itu simak kata-kata Quran dalam banyak ayat berbeda namun maksud yang sama yaitu bumi adalah datar:

  • Dan di hari (wa+yawma) Kami akan perjalankan (nusayyiru) gunung-gunung (aljibaala) dan kamu akan lihat (wataraa) bumi (al-ardha) adalah datar/rata (baariza-tan) dan Kami kumpulkan mereka (wahasyarnaahum) Maka tidak (falam) kami akan tinggalkan (nughādir) dari mereka (minhum) seorangpun (ahadaan).. [AQ 18.47]

    Note:
    Tafsir Ibn kathir: “..Allah berfirman: wa taraa ardha baarizatan (“Dan kamu akan melihat bumi itu datar.”) Maksudnya, rata dan tampak jelas, tidak ada di dalamnya tanda bagi seseorang dan juga tempat yang dapat menutupi seseorang, tetapi makhluk secara keseluruhan tampak jelas bagi Rabb mereka dan tidak sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya..Mujahid dan Qatadah: “Tidak ada batu dan semak-semak (hutan) di atas bumi.” Qatadah: “Tidak ada bangunan dan juga pepohonan.”

  • Allah-lah (Allahu) Ia Yang (alladzii) meninggikan [rafaʿa] para langit (al-samāwāti) tanpa (bighayri) tiang (ʿamadin) yang kamu lihat (tarawnahaa), kemudian (tsumma) bersemayam (istawaa) di atas (‘alaa) ‘Arasy, dan memperjalankan (wasakhkhara) matahari dan bulan (al-shamsa waal-qamara). Masing-masing (kullun) berjalan (yajri) menurut waktu (liajalin) yang ditetapkan (musamman). Mengatur (yudabbiru) urusan (al-amra), menjelaskan (yufaṣṣilu) tanda-tanda (al-āyāti), agar kamu dapat bertemu tuhanmu dengan keyakinan.[AQ 13.2]

    Note:
    Tafsir Ibn kathir: Allah, mengangkat para langit tanpa pilar & mengangkat para langit tinggi jauh diatas Bumi. Berkenaan dengan kalimat (memperjalankan matahari dan bulan. Masing-masing berjalan menurut waktu yang ditetapkan) adalah seperti yang Allah maksudkan di surat 36:38 (dan matahari berjalan dijalurnya (limustaqarrin)) [Ada dua pendapat dan keduanya menyatakan Matahari dan bulan yang bergerak terus menerus]. ‘arsy adalah atap dari ciptaan dan tidak berbentuk BULATAN seperti banyak di klaim oleh astronomer. Lebih seperti KUBAH yang di topang oleh pilar. Ditandu oleh para malaikat dan di atas dunia, di atas kepala-kepala orang.

    Dan Dia-lah (wahuwa) Ia yang (alladzii) membentangkan (madda) bumi (al-ardha) dan menjadikan (waja’ala) padanya (fiihaa) pasak-pasak pengokoh (rawāsiya (jamak) = gunung-gunung, lihat AQ 78.7, 79.32) dan sungai-sungai (wa-anhaaran)..[AQ 13.3]

    Note:
    [15:19] & [50:7] ..ardha madadnaahaa..; Madda/Madadnaahaa = menarik benda hingga benda itu menjadi datar/pipih..seperti cara membuat martabak ditarik hingga gepeng, sehingga terjemahannya menggunakan kata membentangkan/menghamparkan; Menurut Tafsir al-Jalalayn: Bumi di tarik, dijalarkan datar

  • Ia yang (Alladzii) menjadikan (ja’ala) untukmu (lakumu) bumi (al-ardha) hamparan (firaasyan) dan langit (wa+alssamaa-a) atap/canopy (binaa-an) [AQ 2.22]

    Note:
    [51:48]..:…ardha farasynaahaa, Firaasha/ Farashnaaha = matras/tempat/alas yang datar. Tentang “dan langit kanopy/kubah/atap” (juga di AQ 40.60), pada AQ 21.32, “al-samaa-a saqfan/langit sebagai atap”. Tafsir Ibn kathir untuk AQ.2.22,29: “Allah mulai dengan menciptakan BUMI dulu baru kemudian membuat LANGIT menjadi 7 langit. Ini adalah bagaimana bangunan biasanya di mulai, lantai dulu baru kemudian bagian atapnya (Ini juga pendapat Mujahid, Ibn Abbas bahwa bumi diciptakan terlebih dahulu)]

  • Allah-lah (Allahu) Ia yang (alladzii) menciptakan (khalaqa) tujuh (sab’a) langit (samāwātin) dan dari (wamina) bumi (al-ardhi) seperti itu pula (mith’lahunna). [AQ 65.12].

    Note:
    Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs: Bahwa (Allah-lah yang menciptakan tujuh langit) satu di atas yang lainnya seperti KUBAH, (dan seperti itu pula bumi) tujuh bumi tapi mereka DATAR.

  • Ia Yang (Alladzii) menjadikan (ja’ala) bagimu (lakumu) bumi (al-ardha) hamparan (mahdan) dan memasukan (wasalaka) bagimu (lakum) disana (fiihaa) jalan-jalan (subulan),..[AQ 20.53]

    Note:
    [43:10]..ardha mahdan..; [78:6]..ardha mihaadaan..; Mahada / Mahdan / Mihaadaan = datar ratanya tempat tidur [Tafsir Jalalain dan Tanwir al Miqbas min Tafsir Ibn ‘Abbas]

  • Dan Allah-lah (waallahu) menjadikan (ja’ala) bagimu (lakumu) bumi (al ardha) hamparan (bisaataan), [AQ 71.19]

    Note:
    Bisata = datar; seperti pada lembaran, karpet

  • Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit (al-samāu)? Allah telah membangunnya (banāhā, lihat AQ 9.110, 38.37,50.6, 51.47, 61.4), meninggikan (rafaʿa) atapnya (samkahā = atap, tafsir: jalalayn dan ibn abbas) kemudian disamaratakan (fasawwāhā, lihat AQ 91.14, 4.42, 26.98), dan mengulitakan (wa-aghthasya) malam (laylahaa), dan memunculkan (wa-akhraja) benderang (dhuhaahaa). [79.27-29]

    Dan bumi (wa al-ardha ) sesudah (ba’da) itu (dzaalika) […………….] (dahaahaa, titik ini akan kita isi) [AQ 79.30]

    Dipancarkan (akhraja) darinya (minhaa) mata air (maa-ahaa), dan disuburkan (wa+marʿāhā, tafsir: jalalyn). Dan gunung-gunung (wal-jibāla) dipancangkan (arsāhā, kata rawāsiya digunakan di AQ 13.3, 15.9, 16.15, 31.31, 27.61, 31.10, 34.13, 41.10, 50.7,77.27) limpahan nik’mat (mataa’an) bagimu (lakum) dan untuk binatang-binatang ternakmu (wali-an’aamikum). [70.31-33]

    [55:10] Dan bumi (Waal-ardha) diratakan (wadaAAaha) untuk makhluk-mahluk (lil-anami)

    Note:
    Berapa berdalih bahwa kata ‘dahaha’ pada ayat [79:30] = ‘berbentuk telur’ atau ‘telor burung onta’, misalnya:

    • Khalifa: Ia buat bumi berbentuk telur.
      QXP: And after that He made the earth shoot out from the Cosmic Nebula and made it spread out egg-shaped. (‘Dahaha’ entails all the meanings rendered (21:30), (41:11)). Quote: In Noble Verse 79:30, the Arabic word “dahaha” doesn’t mean extended (to a wide expanse). The word literally mean formed in “round shape” or “egg shape”… [Answering-Christianity: Earth in Islam, Islami voice, QH: Dr Zakir Naik dan Islam Awareness: Science]
    • Beberapa lainnya, memberi dalih bahwa hal itu merujuk permainan penduduk Mekkah sehingga dahaha adalah terkait dengan bentuk bulat: “In 79:30, Allah says,[Transliteration] Waal-arda baAAda thalika dahaha [79:30]. The key word in the above verse is “dahaha”. In Arabic, there is a phrase, “iza dahaha” which means “when he throws the stones over the ground to the hole”. [Kata kunci ayat di atas adalah “dahaha”. Dalam bahasa arab, terdapat frase ‘iza dahaha’ yang berarti ‘ketika ia melempar batu lewat lubang di tanah]. The hole is called “Udhiyatun”. “Almadahi” signify round stones according to the size of which a hole is dug in the ground in which the stones are thrown in a game. “Almadahi” also signify a round thing made of lead by the throwing of which persons contend together. [Lubangnya disebut “Udhiyatun”, “Almadahi” berarti batu bulat seukuran lubang yang digali di tanah tempat batu dilemparkan dalam sebuah permainan. ‘Almadahi’ juga berarti sesuatu bulatan dibuat sebagai batas lemparan mereka yang bertanding]. So there is a signification of ROUNDNESS in the root of the word “dahaha”. According to some etymologists, the word for the “egg of an ostrich” also has the same root as “dahaha”. They also take from this that the earth is of the shape of the egg of an ostrich. Latest science findings confirm that the earth is not exactly spherical but the earth is an ellipsoid, i.e. flattened by its poles,[ just like the shape of an egg of an ostrich]. [Jadi terdapat bundar yang signifikan pada arti kata “dahaha”. Menurut beberapa etimologis, kata untuk ‘telur unta’ juga memiliki akar kata yang sama dengan ‘dahaha’. Dari hal inilah maka Bumi berbentuk seperti telur Unta. Belakangan para ilmuwan menemukan bentuk bumi tidak sepunuhnya bulat namun ellips mendatar pada kutub2nya [persis seperti bentuk telur unta]. The Arabic words for “flat” or “level” or “straight shaped” are “sawi” and “almustavi”. There is not a single place in Quran where there is any indication of the earth being “flat” or “straight shaped”. The word “faraash” in 2:22, 51:48; the word “wasia” in 4:97, 29:56, 30:10; the word “mahd” in 20:53, 43:10, 78:6; the word “basaat” in 71:19; the word “suttihat” in 88:20; and the word “tahaaha” in 91:6, all may mean, “to spread”, “to expand” or “to extend” with slight differences in their connotations but none signify the earth being straight-shaped or flat. [Dalam bahasa arab, kata untuk ‘datar’ atau ‘dataran’ atau ‘bentuk lurus’ adalah ‘sawi’ dan ‘lamustavi’. Tidak ada satu tempatpun di Qur’an yang mengindikasikan bahwa bentuk bumi adalah datar. atau berbentuk lurus. Kata ‘Faraash’,’mahd’,‘’basaat’, ‘suttihat’ dan ‘tahaha’. Dapat saja berarti ‘membentangkan, menghamparkan dengan berbeda sedikit konotasinya namun bukan berarti bahwa bumi berbentuk lurus atau datar]” [sumber: Quranic teachings: Earth-shape ]

    Benarkah? Tidak.

    Dalam arab, setiap kata ada akarnya. akar tersebut biasanya terdiri dari 3 huruf yang apabila ditambahkan vowel, prefik dan suffik menjadi kata berbeda dan arti yang berbeda, contoh:

      “ka-ta-ba” (menulis) merupakan akar dari banyak kata seperti kitab (buku), maktaba (perpustakaan), katib (Orang yang me- [karang / catat / tulis] / sekretaris), maktoob (tertulis), kitabat (tulisan) dan lain sebagainya.

    Kata “DUYA/DUHIYABUKAN akar kata, BUKAN kata Arab, TIDAK ADA artinya dan TIDAK JELAS asalnya. Kata Arab “telur burung unta” adalah “بَيْضِ النَّعَامِ”/bayd alnaeemi (“بَيْض”/bayd/telur + “النَّعَامِ”/alnaeami/burung unta: Lihat pemakaian kata itu di hadis Ibn majjah 4.25.3086). Seperti anda lihat, kata itu SAMA SEKALI TIDAK TERKAIT “dahaha/daha”.

    Berikut di bawah adalah kamus Lane’s leksikon, (kamus ini dirujuk saat memlintir arti ‘daha’, ‘dahaha’, ‘udhiyya’, ‘madahi’), mari kita lihat bersama yang sebenarnya tertulis dalam kamus:

    Quote:
    Lane Lexicon: Dahw/(دحو)
    1. daha/(دَحَا), (Ṣ, Mṣb, Ḳ,) first pers. Dahouth/(دَحَوْتُ), (Ṣ,) aor. yad’hoo/(يَدْحُو), (Mṣb, Ḳ,) inf. n. dahoo/(دَحْوٌ), (Ṣ, Mṣb, Ḳ,) He spread; spread out, or forth; expanded; or extended; (Ṣ, Mṣb, Ḳ;) a thing; (Ṣ;) and, when said of God, the earth; (Fr, Ṣ, Mṣb, Ḳ;) as also daha/(دَحَى), (Mṣb, Ḳ,) first pers. dahaithu/(دَحَيْتُ), (Ḳ in art. dahae/(دحى),) aor. yaad’heae/(يَدْحَى), inf. n. dahae/(دَحْىٌ): (Mṣb, and Ḳ in art. dahae/(دحى):) or He (God) made the earth wide, or ample; as explained by an Arab woman of the desert to Sh: (TA:) also, said of an ostrich, (Ṣ, TA,) he expanded, and made wide, (TA,) with his foot, or leg, the place where he was about to deposit his eggs: (Ṣ, * TA:) and, said of a man, he spread, &c., and made plain, even, or smooth. (TA in art. dhaha/(دحى).)

    [1. Daha (Ṣ/Ṣiḥáḥ, Mṣb/Miṣbáḥ dari El-Feiyoomee, Ḳ/Ḳámoos) orang pertama Dahouth (Ṣ) aoris/kata kerja yad’hoo kata benda infinitif dahoo (Ṣ, Mṣb, Ḳ,) Ia bentangkan; sebarkan, atau sebagainya; meluaskan; atau melebarkan; (Ṣ, Mṣb, Ḳ;) sesuatu (Ṣ;) dan, ketika dikatakan tuhan, bumi; (Fr/El-Farrà, Ṣ, Mṣb, Ḳ;) seperti juga daha, (Mṣb, Ḳ,) orang pertama dahaithu, (Ḳ dalam artikel dahae,) kata kerja yaad’heae, kata benda infinitif dahae: (Mṣb, dan Ḳ dalam artikel dahae🙂 atau Ia (Tuhan) membuat bumi luas, atau cukup; sebagaimana dijelaskan seorang perempuan Arab padang pasir kepada Sh/Shemir: (TA/Táj el-‘Aroo:) juga, dikatakan burung unta (Ṣ, TA,) Ia meluaskan, dan membuat luas, (TA,) dengan kakinya, atau tungkai, tempat dimana ia akan meletakan telur-telurnya: (Ṣ, * TA:) dan, dikatakan seorang pria, Ia membentangkan, dan seterusnya, dan membuat datar, rata atau halus. (TA dalam artikel dhaha.)]

    Also, said of a man, (Ḳ,) aor. yad’hoo/(يَدْحُو), inf. n. dahwu/(دَحْوٌ), (TA,) i. q. jamie/(جَامَعَ); (Ḳ;) as also daja/(دَجَا); on the authority of IAạr. (TA.) [You say, dhahaha/(دَحَاهَا) He compressed her; like as you say, dhajaha/(دَجَاهَا).]

    [Juga, dikatakan seorang pria, (Ḳ,) kata kerja yad’hoo, kata benda infinitif dahwu, (TA,) sama seperti jamie; (Ḳ;) seperti juga daja menurut sumber Ibn-El-Arạrábee (TA.) [kau katakan, dhahaha Ia menekannya/meluruskannya; seperti kau katakan, dhajaha]

    Also He threw, or cast, and impelled, propelled, or removed from its place, a stone, with his hand. (TA.) One says also, to him who is playing with walnuts, abidil maddha va adhhuhu/(أَبْعِدِ المَدَىوَٱدْحُهُ), meaning [Make thou the distance far, and] throw it. (Ṣ, TA.) See also midh’hath/(مِدْحَاةٌ), in two places. And of a torrent, one says, dhaha bilbat’hai/(دَحَا بِٱلْبَطْحَاءِ) It cast along [the soft earth and pebbles in its course; or drove them along]. (TA.) And of rain, one says, dhaha Al hissa an waj’hil Ardhi/(دَحَا الحَصَى عَنْ وَجْهِ الأَرْضِ) (Ṣ, Mṣb) It drove the pebbles from the surface of the earth; (Mṣb;) or removed them. (TA.) [See also dhaha/(دَحَى), in the next art.] And aldhahwu bilhijarathi/(الدَّحْوُ بِالحِجَارَةِ) also signifies The vying, one with another, in throwing stones, and striving to surpass [in doing so]; as also al Midahath/(المُدَاحَاةُ) [inf. n. of dahee/(دَاحَى)]. (TA.)

    [Juga Ia lempar, atau lontarkan, dan mendorong, geser, atau pindahkan dari tempatnya, sebuah batu dengan tangan. (TA.) Seorang berkata juga, pada yang sedang bermain dengan kacang-kacang walnut, abidil maddha va adhhuhu, maksudnya [membuat jarak menjadi jauh, dan] melemparkannya. (Ṣ, TA.) juga lihat midh’hath, di dua tempat. Dan dari suatu semburan, seorang berkata, dhaha bilbat’hai dibuang bersama [tanah lunak dan kerikil dijalurnya; atau terdorong bersamaan]. (TA.) Dan hujan, seorang berkata, dhaha Al hissa an waj’hil Ardhi (Ṣ, Mṣb) mendorong kerikil-kerikil dari permukaan tanah; (Mṣb;) atau memindahkannya. (TA.) [Lihat juga dhaha, di artikel selanjutnya] dan aldhahwu bilhijarathi juga berarti belomba-lomba, satu dengan lainnya, dalam melempar batu-batu dan berusaha mengungguli [dalam melakukannya]; seperti juga al Midahath [kata benda infinitif dari dahee]. (TA.)]

    marra yad’hoo/(مَرَّ يَدْحُو), inf. n. dahow/(دَحْوٌ), said of a horse, He went along throwing out his fore legs without raising his hoofs much from the ground. (Ṣ, TA.)

    [marra yad’hoo, kata benda infinitif dahow, dikatakan seekor kuda, yang mendepak-depakan kaki depannya tanpa banyak mengangkat kaki-kakinya dari tanah (Ṣ, TA.)]

    dhahal bathan/(دَحَا البَطْنُ) The belly was, or became, large, and hanging down; (Kr, Ḳ;) and Indhahee/(اندحى) it (the belly) was, or became, wide, or distended: (MF:) or both signify it (the belly) became swollen, or inflated, or big, and hung down, by reason of fatness or disease; as also Dhau/(دَاحَ) and Indah/(اِنْدَاحَ). (TA in art. dooh/(دوح))

    [dhahal bathan perut telah, atau menjadi, besar, tergantung kebawah; (Kr, Ḳ;) and Indhahlee ini (perut) telah, atau menjadi, lebar, atau menggayut: (MF:) atau keduanya berarti ini (perut) menjadi bengkak, atau membesar, atau gede dan tergantungan ke bawah, karena alasan kegemukan atau penyakit; seperti juga Dhau dan Indah. (TA di artikel dooh)]

    3. Dhahee/(داحى), inf. n. Mudahath/(مُدَاحَاةٌ): see 1.
    5. Thud’hee/(تدحّى) He spread out, or extended, himself; syn. Thabassuth/(تَبَسَّطَ). (Ḳ in art. Daha/(دحى).) You say, nama fulan fathadhahha/(نَامَ فُلَانٌ فَتَدَحَّى) Such a one slept, and [extended himself so that he] lay upon a wide space of ground. (TA in that art.)

    [3. Dhahee, kata benda infinitif Mudahath: see 1.
    5. Thud’hee Ia bentangkan, atau rentangkan, sendirinya; sinonim Thabassuth. (Ḳ dalam artikel Daha.) kau katakan, nama fulan fathadhahha seperti seorang tidur, dan [Ia rentangkan dirinya agar Ia dapat] berbaring pada tempat permukaan yang lebar. (TA dalam artikel tersebut)]

    And thadhahhathil ibilu fil ardhi/(تَدَحَّتُ الإِبِلُ فِى الأَرْضِ) The camels made hollows in the ground where they lay down, it being soft; leaving therein cavities like those of bellies: thus they do only when they are fat. (El-‘Itreefee, TA in art. Daha/(دحى).)

    [Dan thadhahhathil ibilu fil ardhi Unta-unta membuat cekungan-cekungan di tanah tempat mereka berbaring, menjadi lunak; membekas padanya cekungan seperti perut: yang dilakukannya ketika gemuk. (El-‘Itreefee, TA dalam artikel Daha.)]

    9. id’havi/(اِدْحَوَى) [of the measure if’alath/(اِفْعَلَلَ) for if’alle/(اِفْعَلَّ), like Ar’awa/(اِرْعَوَى),] It (a thing, TA) was, or became, spread, spread out or forth, expanded, or extended. (Ḳ.)
    Dhahin/(دَاحٍ) [act. part. n. of 1]. Allahumma dhahil Mad’huwwath/(اَللّٰهُمَّ دَاحِىَ المَدْحُوَّاتِ), in a prayer of ‘Alee, means O God, the Spreader and Expander of the [seven] earths: (TA:) al Mdhuwwath/(المَدْحُوَّاتٌ) [properly] signifies the things that are spread, &c.; as also Al Mudh’hiyyath/(المَدْحِيَّاتٌ). (TA in art. dhaha/(دحى).)

    [9. id’havi [ukuran if’alath untuk if’alle, seperti Ar’awa,] ini (sesuatu, TA) telah, atau menjadi, membentang; menyebar, atau sebagainya; meluaskan; atau melebarkan. (Ḳ.)
    Dhahin [kata benda aktif partipal dari 1]. Allahumma dhahil Mad’huwwath, dalam sebuah doanya ‘Ali, yang berarti Oh Tuhan, pembentang dan pembuat luas [tujuh] bumi: (TA:) al Mdhuwwath [sepatutnya] berarti hal-hal yang terbentang dan seterusnya; seperti juga Al Mudh’hiyyath. (TA dalam artikel dhaha.)]

    Al’Matharuddahee/(المَطَرَ الدَّاحِى) The rain that removes [or drives] the pebbles from the surface of the earth. (TA.)

    [Al’Matharuddahee hujan yang memindahkan [atau mendorong] kerikil-kerikil dari permukaan tanah. (TA.)]

    Ud’hiyy/(أُدْحِىٌّ), (Ṣ, Ḳ,) [originally od’huwa/(أُدْحُوىٌ), of the measure Uf’ool/(أُفْعُولٌ) from dhahaithu/(دَحَيْتُ), but said in the Ṣ to be of that measure from dhahouthu/(دَحَوْتُ), the dial. var. dhahaithu/(دَحَيْتُ) not being there mentioned,] and id’hiyy/(إِدْحِىٌّ) and Ud’hiyyath/(أُدْحِيَّةٌ) and ud’huwwath/(أُدْحُوَّةٌ), (Ḳ,) The place of the laying of eggs, (Ṣ, Ḳ,) and of the hatching thereof, (Ṣ,) of the ostrich, (Ṣ, Ḳ,) in the sand; (Ḳ;) because that bird expands it, and makes it wide, with its foot, or leg; for the ostrich has no [nest such as is termed] Ush/(عُشّ): (Ṣ:) pl. Adahin/(أَدَاحٍ) (TA in the present art.) and Adahee/(اداحى) [i. e., if not a mistranscription, Adahiyyu/(أَدَاحِىٌّ), agreeably with the sing.]: (TA in art. dhaha/(دحى):) and mudhhiyya/(مَدْحًى) [likewise] signifies the place of the eggs of the ostrich. (Ṣ.) [Hence,] binthu Adh’hiyyathun/(بِنْتُ أُدْحِيَّةٍ) A female ostrich. (TA.)[Hence also,] Al Udkhiyyu/(الأُدْحِىٌّ) and Al Id’hiyyu/(الإِدْحِىٌّ) (assumed tropical:) A certain Mansion of the Moon, (Ḳ, TA,) [namely, the Twenty-first Mansion,] between the Na’aai’m/(نَعَائِم) and sa’dha zabih/(سَعْد الذَّابِح); [more commonly] called Al Baldath/(البَلْدَةُ): likened to the Adhahhee/(ادحّى) of the ostrich. (TA.)

    [Ud’hiyy, (Ṣ, Ḳ,) [aslinya od’huwa, ukuran Uf’ool dari dhahaithu, namun dikatakan dalam Ṣ yang menjadi ukuran dari dhahouthu, dialek varian dhahaithu tidak disebutkan disana,] dan id’hiyy dan Ud’hiyyath dan ud’huwwath, (Ḳ,) tempat meletakan telur-telur, (Ṣ, Ḳ,) dan mengerami, (Ṣ,) dari burung unta, (Ṣ, Ḳ,) di pasir; (Ḳ;) karena burung itu meluaskannya dan membuatnya lebar, dengan kakinya atau tungkai, karena burung unta tidak punya [sarang untuk diletakan] Ush: (Ṣ:) plural Adahin (TA dalam artikel ini) dan Adahee [sebagai misal jika bukan salah terjemahan, Adahiyyu, sesuai dengan tunggal]: (TA dalam artikel dhaha dan mudhhiyya [juga] berarti tempat telur-telur dari burung unta. (Ṣ.) [oleh karenanya,] binthu Adh’hiyyathun seekor burung unta betina. (TA.) [Oleh karenanya juga,] Al Udkhiyyu dan Al Id’hiyyu (diasumsikan tropis:) sebuah tempat tertentu di bulan, (Ḳ, TA,) [dinamakan, tempat ke-21,] antara Na’aai’m dan sa’dha zabih; [lebih seringnya] disebut Al Baldath: diibaratkan Adhahhee dari burung unta. (TA.)

    Ud’huwwath/(أُدْحُوَّةٌ) and udh’hiyyath/(أُدْحِيَّةٌ): see the next preceding paragraph, in three places: and for the latter, see also mid’hath/(مِدْحَاةٌ), below. Mad’han/(مَدْحًى): see ud’hiyy/(أُدْحِىٌّ)

    [Ud’huwwath dan udh’hiyyath: lihat paragraph sebelumnya di 3 tempat: dan untuk yang belakangan lihat juga mid’hath di bawah. Mad’han: lihat ud’hiyy]

    Mid’hath/(مِدْحَاةٌ) A wooden thing with which a child is driven along yud’ha/(يُدْحَى), and which, passing over the ground, sweeps away everything against which it comes. (Ḳ, TA.)

    [Mid’hath sebuah kayu dengan yang mana seorang anak didorong bersamanya yud’ha, dan ketika, melntas tanah, menyapu jauh semua yang datang menghadangnya. (Ḳ, TA.)]

    Accord. to Sh, A certain thing with which the people of Mekkeh play: he says, I heard El-Asadee describe it thus: Almadahiyy/(المَدَاحِىّ) and Almasadiyy/(المَسَادِىّ) signify stones like the [small round cake of bread called] qursath/(قُرْصَة), according to the size of which a hole is dug, and widened a little: then they throw those stones yad’hoona biha/(بِهَا ↓يَدْحُونَ) to that hole; and if the stone fall therein, the person wins; but if not, he is overcome: you say of him, yad’hoo/(يَدْحُو) and yasdoo/(يَسْدُو) when he throws the stones Iza dhahaha/(إِذَا دَحَاهَا) over the ground to the hole: and the hole is called ud’hiyyath/(أُدْحِيَّةٌ). (TA.) [Accord. to Freytag, on the authority of the Deewán El-Hudhaleeyeen, A round thing made of lead, by the throwing of which persons contend together.] Almadhuwwath/(المَدْحُوَّاتُ) dan almad’hiyyath/(المَدْحِيَّاتُ): see Dahin/(دَاحٍ).

    [Menurut Shemir, suatu hal tertentu yang dimainkan penduduk Mekkah: Ia katakan, Aku mendengar Al Asadi menggambarkannya demikian: Almadahiyy and Almasadiyy berarti batu-batu seperti sebuah [piringan kecil kue roti] yang disebut qursath, seukuran besaran galian lubang dan diperbesar sedikit: kemudian mereka melempar batu-batu yad’hoona biha ke lubang itu; dan jika batunya masuk kedalam, orangnya menang; tapi jika tidak, ia dikuasai: kamu katakan padanya, yad’hoo dan yasdoo saat ia lempar batu-batu Iza dhahaha di atas tanah ke lubang: dan lubanya disebut ud’hiyyath. (TA.) [Menurut Freytag, bersumber dari Deewán El-Hudhaleeyeen, dengan melempar sebuah bentuk bundar terbuat dari timah, dapat membuat perselisihan.] Almadhuwwath dan almad’hiyyath: lihat Dahin]

    [Sumber: Study Quran: LaneLexicon, Vol. 3[Pdf]]

    Maksud “dahaha” di Lane lexicon = Pasir diratakan burung unta, setelah rata, burung unta meletakan telurnya di atas pasir. Jadi artinya BUKAN telur burung unta. frase “Iza Dhahaha” BUKAN berarti melemparkan batu.

    دَحَا = ‘daha’= membentangkan, level off/meratakan, level/rata. Suku kata ‘ha’ terakhir = هَا dalam ‘dahaha’ = “ini”. Jadi dahaha = membentangkan ini, level off this, level ‘this’.[Dictionary Ajeeb]

    Dari Lisan Al Arab:
    الأُدْحِيُّ و الإدْحِيُّ و الأُدْحِيَّة و الإدْحِيَّة و الأُدْحُوّة مَبِيض النعام في الرمل , وزنه أُفْعُول من ذلك ,
    لأَن النعامة تَدْحُوه برِجْلها ثم تَبِيض فيه وليس للنعام عُشٌّ . و مَدْحَى النعام : موضع
    بيضها , و أُدْحِيُّها موضعها الذي تُفَرِّخ فيه .ِ

    [‘Al-udhy, Al-idhy, Al-udhiyya, Al-idhiyya, Al-udhuwwa: Tempat di pasir dimana burung Onta meletakan telurnya. Karena tidak mempunyai sarang, maka burung Onta meratakan tanah dengan kakinya kemudian menaruh telurnya di sana”]

    Dari Al Qamoos Al Muheet:
    (دَحَا): الله الأرضَ
    (يَدْحُوهَا وَيَدْحَاهَا دَحْواً) بَسَطَها

    “Allah daha the Earth: Ia membentangkannya”

    Dari Al Waseet:
    دَحَا الشيءَ: بسطه ووسعه. يقال: دحا اللهُ الأَرض

    “men- daha sesuatu: berarti membentangkannya. Contoh: Allah membentangkan bumi”

    Dari Lisan Al Arab:
    الدَّحْوُ البَسْطُ . دَحَا الأَرضَ يَدْحُوها دَحْواً بَسَطَها . وقال الفراء في قوله والأَرض بعد ذلك دَحاها
    قال : بَسَطَها ; قال شمر : وأَنشدتني أَعرابية : الحمدُ لله الذي أَطاقَا
    بَنَى السماءَ فَوْقَنا طِباقَا
    ثم دَحا الأَرضَ فما أَضاقا
    قال شمر : وفسرته فقالت دَحَا الأَرضَ أَوْسَعَها ; وأَنشد ابن بري لزيد بن عمرو بن نُفَيْل :
    دَحَاها , فلما رآها اسْتَوَتْ
    على الماء , أَرْسَى عليها الجِبالا
    و دَحَيْتُ الشيءَ أَدْحاهُ دَحْياً بَسَطْته , لغة في دَحَوْتُه ; حكاها اللحياني . وفي حديث عليّ وصلاتهِ
    , اللهم دَاحِيَ المَدْحُوَّاتِ يعني باسِطَ الأَرَضِينَ ومُوَسِّعَها , ويروى ; دَاحِيَ المَدْحِيَّاتِ . و الدَّحْوُ البَسْطُ . يقال : دَحَا يَدْحُو و يَدْحَى أَي بَسَطَ ووسع

    “men-daha(kan) bumi berarti membentangkannya”

    Tafsir Ibn Kathir untuk AQ 2.29 terkait kata “DAHA”:

      (30. And after that He spread the earth,)
      Sahih Al-Bukhari merekam bahwa ketika Ibn ‘Abbas ditanya mengenai hal ini, Ia mengatakan bahwa Bumi diciptakan sebelum langit, dan bumi di jalarkan/dibentangkan/dihamparkan [“spread”] hanya setelah langit diciptakan. Beberapa ahli tafsir masa lalu dan kini juga menyatakan hal serupa, seperti yang telah kita elaborasi pada tafsir surat An-Nazi (bab 79). Hasil dari diskusi tersebut adalah kata “Daha” (diterjemahkan sebagai “spread”) sebagai mana disebutkan dan diterangkan pada kalimat Allah,

      [وَالاٌّرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَـهَا – أَخْرَجَ مِنْهَا مَآءَهَا وَمَرْعَـهَا – وَالْجِبَالَ أَرْسَـهَا ]

      (Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh)(79:30-32)

      Oleh karenanya, “Daha” berarti bahwa harta bumi yang dibawakan pada permukaannya setelah selesainya pekerjaan penciptaan apapun yang ditempatkan di bumi dan langit. ketika bumi telah menjadi Daha, air memancar di permukaannya menumbuhkan berbagai tipe, warna, bentuk dan jenis tanaman. [Note: Kondisi ini cocok dan berkesesuaian dengan kosmologi bumi di atas punggung ikan paus]

    Tafsir Al-Jalalyn (Jalaluddin Muhammad Al Mahally dan disempurnakan Jalaluddin Abdur Rahman As Sayuthi): dan kemudian Ia tarik/jalarkan bumi: Ia menjadikan itu DATAR, yang diciptakan terlebih dahulu daripada langit, tapi belum dijalarkan/ditarik

    10 (Sepuluh) penafsir ayat Qur’an dibawah ini, menafsir ‘dahaha’ TIDAK BERARTI ‘berbentuk telur’:

    • Literal: And the earth/Planet Earth after that He blew and stretched/spread it.
    • Yusuf Ali: And the earth, moreover, hath He extended (to a wide expanse);
    • Pickthal: And after that He spread the earth,
    • Arberry: and the earth-after that He spread it out,
    • Shakir: And the earth, He expanded it after that.
    • Sarwar: After this, He spread out the earth,
    • Hilali/Khan: And after that He spread the earth;
    • Malik: After that He spread out the earth,[30]
    • Maulana Ali: And the earth, He cast it after that.
    • Free Minds: And the land after that He spread out.

    Dalam bahasa Indonesia
    [79:30] Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.

    10 terjemahan Qur’an [sebetulnya alebih dari itu jumlahnya] di atas semuaNYA sepakat bahwa artinya BUKAN BENTUK TELUR. Tanggapan bahwa ‘Dahaha’ BUKAN berbentuk telur/telur burung onta, silakan juga lihat di Study Quran: LaneLexicon, Vol.3, Thread: uiforum.uaeforum, Faithfreedom.org, Earth like an Egg, Faithfreedom []

    Kata ardh dapat berarti Bumi atau tanah, beberapa mengklaim bahwa “datar tidak dimaksudkan untuk bumi tapi tanah”. Argumen ini melecehkan penduduk pengguna bahasa Arab (sebagai bahasa Ibu mereka) dan juga para penterjemah karena dianggap tidak paham koteks kapan dipakainya , untuk jelasnya kita ambil contoh penempatan kata ardh:

    wayawma nusayyiru aljibaala wataraa al-ardha baarizatan wahasyarnaahum falam nughaadir minhum ahadaan
    [18:47] Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun dari mereka.

    Penerapan kata ‘ardh’ dibawah ini akan memperjelas bahwa penterjemah tahu kapan menggunakan BUMI dan kapan menggunakan tanah:

    waudzkuruu idz ja’alakum khulafaa-a min ba’di ‘aadin wabawwa-akum fii al-ardhi tattakhidzuuna min suhuulihaa qushuuran watanhituuna aljibaala buyuutan faudzkuruu aalaa-a allaahi walaa ta’tsaw fii al-ardhi mufsidiina
    [7:74] Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan. []

  • Dan pada (wa-illa) langit (al-samaai) bagaimana (kayfa) di tinggikan (rufi’at) dan pada gunung=gunung (al-jibaali) bagaimana ditegakan (nushibat) dan pada bumi (al-adhi) bagaimana dihamparkan (suthihath)? [AQ 88.18-20]

    Note:
    Suthi/sateh = datar, suthihath/sutehat = di datarkan/hamparkan; Tafsir Al-Jalalyn: (Dan bumi, bagaimana Ia dibuat datar?)..Untuk kalimatnya , ‘laid out flat’ (di letakan datar), Dalam artian literal mengindikasikan bahwa BUMI adalah DATAR, yang merupakan opini kebanyakan ulama fiqh [yang diturunkan], dan BUKAN BULATAN seperti para astronomer nyatakan (ahl al-hay’a)]

  • dan bumi (waal-ardhi) dengan apa (wamaa) dihamparkan (thahaahaa) [AQ 91.6]

    Note:
    Tahaha= Datarkan, hamparkan; Tafsir Al-Jalalyn: dan bumi dan yang Ia sebarkan, di buat datar]

Surat Al maidah di bawah ini termasuk surat terakhir yang diturunkan (sekitar haji Wada, 10 H/632 M), dekat saat wafatnya Muhammad:

    [5:68] Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.

    [5:46] Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.

    [5:48] Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

Mengapa kutipkan 3 ayat Al Maidah di atas itu Penting sekali?

Karena Qur’an sudah menyatakan Ia membenarkan kitab-kitab sebelumnya (Taurat dan Injil) dan kitab-kitab tersebut juga menyatakan bahwa Bumi itu Datar. Jadi, potongan ayat-ayat diatas seharusnya sudah lebih dari sekedar cukup untuk mendukung pendapat Ibn baaz bahwa BUMI itu DATAR dan tidak benar Quran mengatakan bumi itu Bulat, bukan?!

Namun demikian, mari kita gali lebih jauh lagi.

Di perjalanan isra’ mira’j, yaitu sebelum tawar menawar shalat dengan Allah, Muhammad diperlihatkan pohon bidara terujung (sidratul muntahaal) dan juga melihat sungai Nil dan Eufrat di langit-langit yang disinggahinya

    Malaikat-malaikat menghadap Allah [AQ 70:4] Lokasi Allah dan juga tamannya ini, dekat dengan pohon bidara terujung (Sidratil Muntaha) yang berada DI UFUK YANG TERANG (bialufuqi almubiini, AQ 53.7, 81.23) tempat jibril dilihat Muhammad (AQ 81.23), yaitu, “raaahu (Ia dilihatnya) nazlatan ukhraa (datang lagi/turun lagi) inda (di sisi) sidratil muntahaa (pohon bidara/bekul ujung. Sidra = pohon Bidara/bekul, AQ 34.16, 56.28 + Muntaha = ujung/akhir, AQ 5.91, 53.42, 79.44) indahaa (dekat itu) jannatu almawaa (taman tempat tinggal)” (AQ 53.13-17).

    kata Ufuk = batas/horizon, misalnya, ufuk timur/barat tempat terbit/tenggelamnya matahari, “dan awal waktu maghrib saat matahari terbenam dan waktu akhir saat menghilang di ufuk dan awal waktu isya saat menghilang di ufuk” [Tirmizi no.139].

    Lokasi pohon bidara ter-ujung/sidratul Muntahal bervariasi:
    di surga ke-6 (Muslim no.252) atau di surga ke-7 (Muslim no.234. Bukhari no.2698, 3598, 6963. Ahmad no.12047, 12212). Di bawah Sidratil Muntahal terdapat 4 sungai, 2 tak terlihat dan 2 terlihat..adapun 2 sungai tak terlihat adalah 2 sungai yang berada di surga, sedangkan 2 sungai yang terlihat adalah NIL dan EUFRAT” [Bukhari no.3598, 2968, 5179]. Bahkan, sungai Nil dan Eufrat-pun selain di surga ke-7 [Muslim 1.314; dan Bukhari no.4.54.429 5.58.227], juga di surga ke-2 [Bukhari 9.93.608] dan bahkan di surga ke-1 [Bukhari no.6963]

    Di manapun itu, BEDA TINGGINYA LANGIT VS DARATAN, TIDAKLAH TERLALU BERJAUHAN, karena ketika Adam diturunkan dari surga, kepalanya menyentuh langit sehingga menjadi botak, turunannya mewarisi kebotakannya [“Kitab Al-Tabaqat Al Kabir”, Vol.1, 1.3.42 (Riwayat Ibn Sa`d – Hisham Ibn Muhammad – Ayahnya – Abu Salih – Ibn `Abbas). Juga di Tabari, Vol.1 hal.297]

Kondisi taman/surga macam ini JELAS TIDAK DIMUNGKINKAN dalam kosmologi modern (bulatan bumi yang merupakan anggota tata surya, mengitari matahari. Tata surya ini merupakan himpunan bagian dari galaxy dan Galaxy merupakan bagian kecil dari semesta) NAMUN SANGAT DIMUNGKINKAN dalam kosmologi islami.

Mengapa?

Dalam kosmologi Islami, bumi adalah datar, atapnya berupa 7 langit bertumpuk satu diatas yang lain berbentuk kubah! Inilah mengapa langit, surga, bumi dan air dimungkinkan bertemu!

  1. Lokasi Allah sebelum penciptaan dan Arsy-Nya ada di atas air:
      Abdan – Abu Hamzah – Al A’masy – Jami’ bin Syidad – Shafwan bin Muhriz – ‘Imran bin Hushain:

      …Nabi menjawab: ‘Allah telah ada dan tidak ada sesuatu pun terjadi sebelum-Nya, arsy-Nya berada di atas air, kemudian Allah mencipta langit dan bumi dan Allah menetapkan segala sesuatu dalam alquran’. [Bukhari no. 6868, 2953. Ibn Majah no.178 (Riwayat Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Muhammad bin Ash Shabbah – Yazid bin Harun – Hammad bin Salamah – Ya’la bin ‘Atho` – Waki’ bin Hudus – pamannya Abu Razin ia berkata; Aku bertanya; “Wahai Rasulullah, di manakah Rabb kita sebelum menciptakan makhluk-Nya?” beliau menjawab: “Dia berada di ruang kosong, di bawah dan di atasnya tidak ada udara, dan di sana tidak ada makhluk. Setelah itu Ia menciptakan Arsy-Nya di atas air“). Tirmidhi no.3034 (“Wahai Rasulullah dimanakah Allah sebelum Dia menciptakan makhlukNya? beliau menjawab: “Dia berada di awan yang tinggi, di atas dan di bawahnya tidak ada udara dan Dia menciptakan ‘arsyNya di atas air.” Abu Isa mengatakan ini Hadis Hasan). Ahmad no.15599, 15611]

    Ternyata di sebelum penciptaan, Allah berada di suatu tempat YANG BUKAN DICIPTAKANNYA! Siapa yang menciptakan tempat itu dan juga yang menciptakan Allah? Ketika ditanya siapa yang menciptakan Allah, jawaban Muhammad adalah:

      Riwayat Harun bin Ma’ruf – Sufyan – Hisyam – Bapaknya – Abu Hurairah – Rasulullah SAW:

      “Manusia akan selalu bertanya-tanya hingga dikatakan, ‘Ini makhluk yang Allah telah menciptakannya, lalu siapakan yang menciptakan Allah? ‘ Maka siapa saja yang mengalami hal semacam itu, hendaklah ia mengatakan ‘aku beriman kepada Allah’.”

      [Abu Dawud no.4098, Muslim no. 193 (Riwayat Abdullah bin ar-Rumi – an-Nadlar bin Muhammad – Ikrimah (Ibnu Ammar) – Yahya – Abu Salamah – Abu Hurairah – Rasulullah SAW: ..”Wahai Abu Hurairah, mereka akan senantiasa bertanya kepadamu hingga mereka berkata, ‘Ini Allah, lalu siapa yang menciptakan Allah’.” Abu Hurairah: “Ketika aku berada di masjid, tiba-tiba orang-orang dari kaum Baduwi mendantangiku, ‘Wahai Abu Hurairah, ini Allah, lalu siapakah yang menciptakan Allah’. Perawi berkata, ‘Kemudian Abu Hurairah mengambil kerikil dengan telapan tangannya, lalu melempar mereka sambil berkata, ‘Berdirilah, berdirilah, sungguh benar kekasihku'”) Juga di Muslim 190, 192, Muslim no.195 dari riwayat Anas. Di Ahmad no.8666 (orang yg bertanya bukan orang Badui tapi orang Irak). Ahmad no. 20864 (dari riwayat Khuzaimah bin Tsabit) yang bertanya bukan orang tapi setan (juga di riwayat Abu Huraira dan Aisyah)]

    Jelas sekali Muhammad tidak dapat menjawabnya.

    Bukan cuma singgasana Allah saja yang di atas air, bahkan singgasana Iblis-pun di atas air:

      Riwayat Abu Kuraib, Muhammad bin Al Ala` dan Ishaq bin Ibrahim, teks milik Abu Kuraib — Abu Mu’awiyah – Al A’masy – Abu Sufyan – Jabir – Rasulullah SAW:

      “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu mengirim bala tentaranya, (setan) yang kedudukannya paling rendah bagi Iblis adalah yang paling besar godaannya.” [Muslim no. 5032 dan Riwayat Abu Mu’awiyah – Al ‘A’masy – Abu Sufyan – Jabir – Rasulullah SAW: “Iblis meletakkan istananya di atas air kemudian mengutus pasukannya..” [Ahmad no. 13858, 11490, 14632]

    “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, dan adalah singgasana-Nya di atas air (“عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ”, arsyuhu ala al-mai)..” [AQ 11.7]. Allah bersemayam di atas arsy (istawaa ‘alaa al’arsyi) [AQ 7.54, AQ 57.4, AQ 32.4, AQ 25.59, AQ 20.4, AQ 10.3]. Yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya [AQ 40.7].

    Tentang pengertian ‘arsy (عَرْش), ulama memberikan penjelasan yang berbeda-beda.

    • Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar menjelaskan bahwa ‘arsy (عَرْش) merupakan ”pusat pengendalian segala persoalan makhluk-Nya di alam semesta”. Penjelasan Rasyid Rida di antaranya berdasarkan AQ 10.3, “Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy (عَرْش = singgasana) untuk mengatur segala urusan”.

      Jalaluddin as-Suyuthi (pengarang tafsir Ad-Durr al-Mantsur fi Tafsir bi al-Ma’tsur) mengutip hadis dari Ibnu Abi Hatim – Wahhab ibnu Munabbih bahwa Allah SWT menciptakan `arsy dan kursi dari cahaya-Nya. `Arsy melekat di kursi. Para malaikat berada di tengah-tengah kursi tersebut. `Arsy dikelilingi oleh empat buah sungai dan Para malaikat berdiri di setiap sungai sambil bertasbih/memuliakan Allah.

    • Kursi [kur’siyyuhu (AQ 2.55)/kur’siyyihi (AQ 38.34)] TIDAK SAMA dengan arsy/. Arti kursi adalah BUKAN “pengetahuan allah”, BUKAN arsy, BUKAN “bukan kekuasaan dan kekuatan Allah” NAMUN “pijakan kedua kaki Allah”.

      Ibnu ‘Abbas berkata: “الكرسي موضع قدميه و العرش لا يقدر قدره” [“Al-Kursi adalah pijakan kedua kaki (Allah), dan ‘Arsy tidak ada yang tahu ukurannya kecuali Allah.”] (‘Abdullah Bin Ahmad, as-Sunnah no. 586, isnadnya hasan – Tahqiq Muhammad Sa’id Salim al-Qahthani. Al-Hakim (al-Mustadraknya 2/310: Hadis ini sahih menurut Bukhari dan Muslim walaupun mereka tidak meriwayatkannya. Disepakati adz-Dzahabi). Fathul Bari Ibn Hajjar (8/199 : Dari Ibnu ‘Abbas bahawa al-Kursi adalah pijakan kedua kaki (Allah) sanadnya sahih). Al-Albani, Mukhtasar al-‘Uluw lil ‘aliyyil Ghoffar, Adz-Dzahabi (1/75: Perkataan ibn Abbas Sahih mauquf). Hadis ibn Abbas juga termuat di Musnad Ahmad, lihat Ibn Kathir dan “ask the scholar“]

    Sementara itu, juga terdapat klaim dari Quran dan hadis bahwa ‘Allah ada di langit’ dan ‘Arsy Allah ada di langit’, misal:

    • Apakah kamu merasa aman (a-amintum) siapa (man) di (fii) langit (tunggal: Al-samāi) bahwa/yang (an) membenamkan (yakhsifa) dengan mu (bikumu) bumi (al-ardha) ketika (fa-idzaa) Ia (hiya, feminim tunggal) bergoncang (tamuuru)? atau (am) apakah kamu merasa aman siapa di langit yang mengirimkan (yursila) padamu (‘alaykum) badai batu (hasiban). Maka kelak kalian tahu (fasata’lamuuna) bagaimana (kayfa) peringatanku [nadziiri]? [AQ 67.16-17]
    • Qutaibah bin Sa’id – Abdul Wahid – Umarah bin Al Qa’qa’ – Abdurrahman bin Abu Nu’m – Abu Sa’id Al Khudri: “Ali bin Abu Thalib pernah mengirim emas…kepada Rasulullah SAW dari Yaman. kemudian Rasulullah SAW membagikannya kepada 4 orang…kemudian peristiwa ini sampai kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Mengapa kalian tidak mempercayaiku? dan aku kepercayaan Ia yang di langit..” (“وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِي السَّمَاءِ”, “wa’ana ‘amin man fi alssama’“) [Muslim no.1763/5.2319 dan Bukhari no.4004/4.59.638]
    • Pernyataan seorang budak wanita (di hadis lain, Ia menyatakan tidak dengan ucapan namun dengan isyarat tangan):

      Riwayat Yahya – Al Hajjaj Ash Shawwaf – Yahya bin Abu Katsir – Hilal bin Abu Maimunah – ‘Atha` bin Yasar – Mu’awiyah bin Al Hakam As Sulami:

      ..Beliau (SAW) bertanya: “Dimanakah Allah?” Budak wanita tersebut berkata; di langit. Beliau berkata: “Siapakah aku?” Budak tersebut berkata; engkau adalah Rasulullah.”Beliau berkata; bebaskan dia! Sesungguhnya ia adalah seorang wanita mukmin.” [Abu Dawud no.2856. Muslim no.836. Abu dawud no.2857 (Riwayat Ibrahim bin Ya’qub – Yazid bin Harun – Al Mas’udi – ‘Aun bin Abdullah – Abdullah bin ‘Utbah – Abu Hurairah: ..beliau (SAW) bersabda: “Di manakah Allah?” kemudian ia mengisyaratkan ke langit dengan jari-jarinya. Kemudian beliau berkata kepadanya: “Siapakah aku?” kemudian ia menunjuk kepada Nabi SAW dan ke langit yang maksudnya adalah engkau adalah Rasulullah. Maka beliau berkata: “Bebaskan dia, sesungguhnya ia adalah wanita mukminah.”)

    • Allah dan Arsynya ada di langit:

      “Tidak tahukah kamu bagaimana Allah itu? Sungguh, Arsy-Nya ada di atas semua langit-Nya seperti ini -lalu isyarat tangannya beliau mengatakan, ‘Seperti Kubah, dan Arsy itu berteriak dan menyeru kepada Allah seperti tunggangan berteriak kepada pengendara karena berat-.” [Abu dawud no.4101, juga statement Ibnu Taimiyah: “Adapun Al Arsy maka dia berupa kubah sebagaimana diriwayatkan dalam As Sunan karya Abu Daud dari jalan periwayatan Jubair bin Muth’im, dia berkata: “Telah datang menemui Rasulullah SAW seorang A’rab dan berkata: “Wahai Rasulullah jiwa-jiwa telah susah dan keluarga telah kelaparan- dan beliau menyebut hadits- sampai Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah diatas ArsyNya dan ArsyNya diatas langit-langit dan bumi, seperti begini dan memberikan isyarat dengan jari-jemarinya seperti kubah” (Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah 1/252)]

    Tentu saja bahkan malaikatpun duduk di atas kursi yang terbentang di antara langit dan bumi, misal:

      Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – ‘Uqail – Ibnu Syihab (riwayat Abdullah bin Muhammad – Abdurrazzaq – Ma’mar – Az Zuhri – Abu Salamah bin Abdurrahman Jabir bin Abdullah:

      Aku mendengar Nabi SAW bersabda menceritakan peristiwa Fatratul Wahyu (Masa-masa kevakuman wahyu): “Ketika aku tengah berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara yang berasal dari langit, maka aku pun mengangkat pandanganku ke arah langit, ternyata di atas terdapat Malaikat yang sebelumnya mendatangiku di gua Hira tengah duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku merasa ketakutan hingga aku jatuh tersungkur ke tanah. Lalu aku pun segera menemui keluargaku seraya berkata, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku.’ Maka keluargaku pun segera menyelimutiku. Akhirnya Allah Ta’ala menurunkan ayat: [AQ 74.1-5]. Yakni sebelum perintah shalat diwajibkan. Ar Rijz adalah berhala. [Bukhari no.4544, 4545, 4543, 3, 2999, 4572, 5746]

    PETA LENGKAPNYA keberadaan semesta di Islam adalah: di atas 7 langit ada laut – di atas laut ada Arsy – dan allah berada di atas Arsy.

      Riwayat [(Muhammad bin Ash Shabbah – Al Walid bin Abu Tsaur) dan (Ahmad bin Abu Suraij – ‘Abdurrahman bin Abdullah bin Sa’d dan Muhammad bin Sa’id – Amru bin Abu Qais) dan (Ahmad bin Hafsh – Bapaknya – Ibrahim bin Thahman)] – Simak – Abdullah bin Amirah – Al Ahnaf bin Qais – Al Abbas bin Abdul Muthallib:

      ..Beliau (SAW) lalu bertanya: “Apakah kalian tahu berapa jarak antara langit dan bumi?” mereka menjawab, “Kami tidak tahu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya jarak antara keduanya adalah bisa 71, atau 72, atau 73 tahun perjalanan -perawi masih ragu-. kemudian langit yang di atasnya juga seperti itu.” Hingga beliau menyebutkan 7 langit. Kemudian setelah langit ke-7 terdapat lautan, jarak antara bawah dan atasnya seperti jarak antara langit dengan langit (yang lain). Kemudian di atasnya terdapat 8 malaikat yang jarak antara telapak kaki dengan lututnya sejauh langit dengan langit yang lainnya. Dan di atas mereka terdapat Arsy, yang antara bagian bawah dengan atasnya sejauh antara langit satu dengan langit yang lainnya. Dan Allah Tabaraka Wa Ta’ala ada di atasnya.” [Abu Dawud no.4100 (4 jalur perawi), Tirmidhi no.3242 (hasan gharib). Ibn Majjah no.189]

    Walaupun sebelumnya arsy Allah ada di atas air yang ada di atas langit ke-7, namun akhirnya Quran memberikan 3x penegasan final tentang lokasi keberadaan Allah bahwa Ia sudah tidak lagi ada di atas air maupun langit karena sekarang sudah ada di Mesjidil Haram:

    • Ke-1: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya..” [AQ 2.144].
    • Ke-2: “Dan dari mana saja kamu, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan”[AQ 2.149].
    • Ke-3: “Dan dari mana saja kamu, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka..” [AQ 2.150]

    Nabi berkata:

    Kenapa orang-orang mengarahkan pandangan mereka ke langit ketika mereka sedang shalat?
    Suara beliau SEMAKIN TINGGI beliau bersabda: “Hendaklah mereka menghentikannya atau Allah benar-benar akan menyambar penglihatan mereka.” [Bukhari no. 708 atau di Muslim 4.862 dari riwayat Jabir bin samura. Atau di Muslim 4.863 riwayat dari Abu huraira, “Orang2 diharuskan menghindari memandang langit di saat sedang sembahyang (See: KBBI. “الصَّلاَةِ” = Al sallata = salat], atau mata mereka akan direnggut”]

  2. Bumi dan juga 7 langit itu semuanya berada di atas punggung: seekor ikan yang sangat besar dan seekor lembu/sapi.

    Surah 68:1,

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
    ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

    nuun waalqalami wamaa yasthuruuna
    Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,

    Berikut beberapa tafsir kalangan Sunni dan 1 hadis kalangan Syi’ah untuk surat 68:1,

    AL-TABARI
    Seseorang mungkin berkata: Jika ini seperti yang engkau gambarkan, namakan, bahwa Alah menciptakan Bumi sebelum langit lantas apa arti pernyataan Ibn ‘Abbas yang disampaikan pada kamu semua oleh Wasil b. ‘Abd al-A‘la al-Asadi- Muhammad b. Fudayl- al-A‘mash- Abu Zabyan- Ibn ‘Abbas: “Yang paertama kali Allah ciptakan adalah pulpen.” Allah berkata padanya [pulpen]: “Tuliskan!”, kemudian pulpen bertanya: “Apa yang harus saya tulis, Allahku!” Allah menjawab: “Tuliskan apa yang telah di takdirkan!” Ia kemudian melanjutkan: dan pulpen itu melanjutkan [menulis] apapun yang telah digariskan hingga saat kiamat. Allah kemudian mengangkat uap air dan membagi terpisah para langit dari itu. Kemudian Allah menciptakan IKAN [nun] dan Bumi kemudian dihamparkan di atas punggungnya [ikan]. Ikan itu menjadi tidak tenang/gelisah yang mengakibatkan bumi menjadi goncang. Yang kemudian dikokohkan dengan gunung-gunung yang menjulang tinggi.

    Aku diberitahu hal yang sama oleh Wasil – Waki’ – al-A‘mash – Abu Zabyan – Ibn ‘Abbas.

    Menurut Ibn al-Muthanna – Ibn Abi ‘Adi – Shu‘bah – Sulayman (al-A‘mash?) – Abu Zabyan – Ibn ‘Abbas: “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen.” Ia meneruskan [menulis] apapun yang akan terjadi. Allah kemudian mengangkat uap air, dan langit tercipta dari itu. Kemudian Ia menciptakan IKAN, dan bumi dihamparkan di atas punggungnya [Ikan]. Ikan itu bergerak, yang mengakibatkan bumi jadi bergoncang. Kemudian dikokohkan dengan gunung-gunung yang menjulang tingi. Jadi, Ia katakan dan Ia sampaikan:”Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”

    Aku di beritahu hal yang sama oleh Tamim b. al-Muntasir – Ishaq (b. Yusuf) – Sharik (b. ‘Abdallah al-Nakha‘i) – al-A‘mash – Abu Zabyan/Mujahid – Ibn ‘Abbas, dengan perbedaan, yang Ia katakan: “dan para langit membagi terpisah [sebagai ganti: diciptakan] dari itu”.

    Menurut Ibn Bashshar – Yahya – Sufyan – Sulayman (al-A‘mash?) – Abu Zabyan – Ibn ‘Abbas: “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen”. Allah berkata pada nya [pulpen]: Tuliskan!, kemudian pulpen bertanya: Apa yang harus saya tulis, Allahku! Allah menjawab: Tuliskan apa yang telah di takdirkan! Ia kemudian melanjutkan: dan pulpen itu melanjutkan [menulis] apapun yang telah digariskan hingga saat kiamat. Kemudian Allah menciptakan IKAN [nun]. Ia kemudian mengangkat uap air dan membagi terpisah para langit dari itu, dan Bumi kemudian dihamparkan diatas punggungnya [ikan]. Ikan itu menjadi tidak tenang/gelisah yang mengakibatkan bumi menjadi goncang. Yang kemudian di dikokohkan dengan gunung-gunung yang menjulang tinggi.

    Menurut Ibn Humayd – Jarir (b. ‘Abd al-Hamid) – ‘Ata’ b. al-Sa’ib – Abu al-Duha Muslim b. Subayh – Ibn ‘Abbas: “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen”. Allah kemudian berkata padanya: “Tuliskan!”, dan ia tuliskan apapun yang akan terjadi hingga kiamat tiba. Kemudian Allah menciptakan IKAN. Kemudian ia tumpukan Bumi padanya.

    Ini dilaporkan sebagai hadis yang disampaikan oleh IBN ‘ABBAS dan yang lainnya dalam maksud mengkomentari dan menjelaskan dan tidak bertentangan dengan yang disampaikan kami darinya untuk masalah ini.

    Seharusnya seseorang bertanya: Apa komentar dari yang Ia sampaikan dan orang2 dengar dari apa yg disampaikan pada kami darinya? Ia seharusnya merujuk seperti yang diceritakan kepada ku oleh Musa b. Harun al-Hamdani – ‘Abdallah b. Mas‘ud dan beberapa sahabat NABI (yang berkomentar): “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untukmu. Kemudian ia tarik/rentangkan para langit dan dijadikan tujuh langit” Arsy Allah ada di atas Air. Tidak ada penciptaan sebelum Air. Ketika Ia ingin mencipta. Ia ambil uap dari Air. Uap itu terangkat ke atas, air berkumpul di atasnya. Ia kemudian menamakan itu “Langit”. Kemudian ia keringkan air, dan membuatnya menjadi 1 bumi. Ia kemudian memisahkannya dan menjadikannya menjadi 7 Bumi pada Minggu dan Senin. Ia ciptakan bumi di atas Ikan [Hut], Itu adalah Ikan (nun) yang disebutkan di Qur’an: “Ikan. Demi Qalam.” Ikan ada di air. Air ada di atas bebatuan [kecil]. Batuan ada di punggung Malaikat. Malaikat ada di atas Bebatuan [Besar]. Bebatuan besar -yang disebutkan di Luqman – ada di angin, tidak dilangit atau di bumi. Ikan bergerak dan menjadi gelisah. Sebagai hasilnya, Bumi menjadi berguncang [gempa]. Kemudian ia kokohkan, pasakan gunung2 di atasnya, dan manjadi stabil. Ini dinyatakan pada kalimat Allah Dan telah Kami jadikan di bumi ini “gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama kalian” [The History of Al-Tabari: General Introduction and From the Creation to the Flood, translated by Franz Rosenthal [State University of New York Press (SUNY), Albany, 1989], Volume 1, pp. 218-220]

    Menurut Muhammad b. Sahl b. ‘Askar-Isma’il b. ‘Abd al-Karim – Wahb, menyebutkan beberapa dari keagungannya (yang digambarkan sebagai berikut): para langit dan Bumi dan Lautan ada didalam Tubuh [Haykal], dan Haykal itu ada di dalam ganjal. Kaki Allah ada di atas ganjal. Ia bawa ganjal itu. Itu kemudian menjadi seperti Sendal pada kakinya. Ketika Wahb di tanya: Apa Haykal itu? Ia menjawab: Sesuatu yang ada di ujung2 dilangit yang mengelilingi bumi dan lautan-lautan seperti tali temali yang digunakan untuk mengencangkan tenda/kemah. Dan ketika Wahb di tanya bagaimana bumi-bumi [disusun], Ia menjawab: Adalah tujuh langit yang Rata/datar dan pulau-pulau. Setiap dua bumi, terdapat lautan. Semua di kelilingi Lautan, dan Haykal ada dibalik lautan [Ibid., pp. 207-208]
    —-

    Tafsir Ibnu Kathir
    وقيل : المراد بقوله : ( ن ) حوت عظيم على تيار الماء العظيم المحيط ، وهو حامل للأرضين السبع ، كما قال الإمام أبو جعفر بن جرير

    terjemahannya kurang lebih:
    Dikatakan bahwa “Nun” merujuk pada IKAN PAUS BESAR yang ada di Air di Lautan yang sangat luas dan di atas punggungnya ia membawa tujuh bumi, sebagaimana disampaikan Imam Abu Jafar Ibn Jarir:

    حدثنا ابن بشار ، حدثنا يحيى ، حدثنا سفيان – هو الثوري – حدثنا سليمان – هو الأعمش – عن أبي ظبيان ، عن ابن عباس قال : أول ما خلق الله القلم قال : اكتب . قال : وما أكتب ؟ قال : اكتب القدر . فجرى بما يكون من ذلك اليوم إلى يوم قيام الساعة . ثم خلق ” النون ” ورفع بخار الماء ، ففتقت منه السماء ، وبسطت الأرض على ظهر النون ، فاضطرب النون فمادت الأرض ، فأثبتت بالجبال ، فإنها لتفخر على الأرض .

    terjemahannya kurang lebih:
    Ibn Bashar – Yahya – Sufyan Al-Thuri – Sulayman Al-Amash – Abu Thubian – Ibn Abbas yang diberkati: “Pertama kali yang Allah ciptakan adalah pulpen dan mengatakan: ‘tuliskan’. (Pulpen) bertanya, “Apa yang mesti saya tulis?” (Allah) berkata, “Tuliskan semuanya” Jadi (pulpen) tuliskan semua hingga saat kiamat. Kemudian (Allah) ciptakan “nun” dan mengangkat uap air memisahkan gulungan para langit dan bumi diletakkan GEPENG/PIPIH/DATAR di punggung Nun. Nun menjadi gelisah, bumi bergoyang/bergoncang, (Allah) mengencangkan (bumi) dengan gunung-gunung, bumi menjadi stabil/kokoh[1]

    ثم قال ابن جرير : حدثنا ابن حميد ، حدثنا جرير ، عن عطاء ، عن أبي الضحى ، عن ابن عباس قال : إن أول شيء خلق ربي عز وجل القلم ، ثم قال له : اكتب . فكتب ما هو كائن إلى أن تقوم الساعة . ثم خلق ” النون ” فوق الماء ، ثم كبس الأرض عليه .

    terjemahannya kurang lebih:
    Diriwayatkan oleh Ibn Jarir – Ibn Hamid – Ata’a – Abu Al-Dahee – Ibn Abbas: “Yang pertama kali Allah ciptakan, adalah pulpen kemudian berkata kepadanya, “Tuliskan”. Dia menuliskan apa yang terjadi hingga kiamat. Kemudian (Allah) menciptakan Nun di atas air lalu letakan bumi padanya (ikan).

    وقد روى الطبراني ذلك مرفوعا فقال : حدثنا أبو حبيب زيد بن المهتدي المروذي ، حدثنا سعيد بن يعقوب الطالقاني ، حدثنا مؤمل بن إسماعيل ، حدثنا حماد بن زيد ، عن عطاء بن السائب ، عن أبي الضحى مسلم بن صبيح ، عن ابن عباس قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : ” إن أول ما خلق الله القلم والحوت ، قال للقلم : اكتب ، قال : ما أكتب ؟ قال : كل شيء كائن إلى يوم القيامة ” . ثم قرأ : ( ن والقلم وما يسطرون ) فالنون : الحوت .

    terjemahannya kurang lebih:
    Al Tabarani meriwayatkan hadis yang diriwayatkan dari Abu Habib Zaid Al-Mahdi Al Marouzi – Sa’id Ibn Yaqub Al-Talqani – Mu’amal Ibn Ismail – Hamad Ibn Zaid – Ata’a Ibn Al Sa’ib – Abu Al Dahee Muslim Ibn Subaih – Ibn Abbas – NABI SAW: “Yang pertama Allah ciptakan adalah pulpen dan Ikan paus. (Allah) mengatakan (pada) pulpen “tulis”. (pulpen) bertanya, “apa yang mesti saya tulis”. (Allah) berkata, “semua yang akan terjadi hingga hari kiamat” Kemudian membacakan (Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis) Jadi nun adalah ikan[2]

    وقال ابن أبي نجيح : إن إبراهيم بن أبي بكر أخبره عن مجاهد قال : كان يقال : النون : الحوت العظيم الذي تحت الأرض السابعة .

    Terjemahannya kurang lebih:
    Ibn Abu Nujaih: Ibrahim Ibn Abu Bakar berkata Mujahid berkata: “Dikatakan: Nun adalah Ikan dibawahnya ada tujuh bumi

    وذكر البغوي وجماعة من المفسرين : إن على ظهر هذا الحوت صخرة سمكها كغلظ السماوات والأرض ، وعلى ظهرها ثور له أرب عون ألف قرن ، وعلى متنه الأرضون السبع وما فيهن وما بينهن فالله أعلم .

    Terjemahannya kurang lebih:
    Al-Baghawy dan sekelompok komentator: di punggung ikan paus ada bebatuan yang besar yang memilliki ketebalan lebih besar dari lebarnya para langit dan bumi dan di atas bebatuan ini ada Banteng yang mempunyai 40.000 tanduk. Pada tubuh banteng ini diletakan tujuh bumi dan segala isinya, dan allah maha mengetahui [Source atau di sini, translasinya dalam Inggris, lihat sini]

    Dalam tafsir AQ 20.6,
    Ibn kathir menukil hadis marfu (sanad bersandar hingga rasullullah) dari Ibn Abu Hatim:

    وقال ابن أبي حاتم : حدثنا أبو عبيد الله ابن أخي ابن وهب ، حدثنا عمي ، حدثنا عبد الله بن عياش ، حدثنا عبد الله بن سليمان عن دراج ، عن عيسى بن هلال الصدفي ، عن عبد الله بن عمرو قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” إن الأرضين بين كل أرض والتي تليها مسيرة خمسمائة عام ، والعليا منها على ظهر حوت ، قد التقى طرفاه في السماء ، والحوت على صخرة ، والصخرة بيد الملك ، والثانية سجن الريح ، والثالثة فيها حجارة جهنم ، والرابعة فيها كبريت جهنم ، والخامسة فيها حيات جهنم والسادسة فيها عقارب جهنم ، والسابعة فيها سقر ، وفيها إبليس مصفد بالحديد ، يد أمامه ويد خلفه ، فإذا أراد الله أن يطلقه لما يشاء أطلقه ” . هذا حديث غريب جدا ورفعه فيه نظر

    Terjemahannya kurang lebih:
    Ibnu Abi Hatim: Abu’Ubaidillah kemenakan ibn wahab – pamannya – Abdullah bin Ayyash – Abdullah bin Suleiman – daraj – isa ibn hilal al-sadafi – Abdullah bin ‘Amr – Rasulullah SAW: “antara bumi dan semua yang berikutnya berjarak 500 tahun berjalan kaki, dan itu ada diatas punggung ikan paus,…” Hadis ini gharib Jiddan[3] dan terlihat bersandar [sumber]

    Dalam tafsir AQ 2.29,
    Ibn Kathir menukil As-Saddi di dalam kitab tafsirnya, dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, serta dari sejumlah sahabat sehubungan dengan makna firman-Nya: [AQ 2.29] Disebutkan bahwa ‘Arasy Allah Swt. berada di atas air, ketika itu Allah Swt belum menciptakan sesuatu pun selain dari air tersebut. Ketika Allah berkehendak menciptakan makhluk, maka Dia mengeluarkan asap dari air tersebut, lalu asap (gas) tersebut membumbung di atas air hingga letaknya berada di atas air, dinamakanlah sama (langit). Kemudian air dikeringkan, lalu Dia menjadikannya bumi yang menyatu. Setelah itu bumi dipisahkan-Nya dan dijadikan-Nya tujuh lapis dalam dua hari, yaitu hari Ahad dan Senin. Allah menciptakan bumi di atas ikan besar, dan ikan besar inilah yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya: “Nun, demi qalam” (AQ 68.1) Sedangkan ikan besar (nun) berada di dalam air. Air berada di atas permukaan batu yang licin, sedangkan batu yang licin berada di atas punggung malaikat. Malaikat berada di atas batu besar, dan batu besar berada di atas angin. Batu besar inilah yang disebut oleh Luqman bahwa ia bukan berada di langit, bukan pula di bumi. Kemudian ikan besar itu bergerak, maka terjadilah gempa di bumi, lalu Allah memancangkan gunung-gunung di atasnya hingga bumi menjadi tenang; gunung-gunung itu berdiri dengan kokohnya di atas bumi. Hal inilah yang dinyatakan di dalam firman Allah Swt: (AQ 21.31) [Tafsir Ibnu Katsir, Juz 1, Al-Fatiha – Al- Baqarah, Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar, L.C. Dibantu: H. Anwar Abu Bakar, L.C., SBA.2000.438, cetakan ke-1, tahun 2000, Penerbit Sinar Baru Algensindo Bandung, Anggota IKAP1 No.025/IB A, hal 351-352]
    —-
    [1] Al Hakim Nishaburi dalam “Al-Mustadrak alaa al-Sahihain”, untuk tafsir AQ 68.1, menuliskan hadis mirip ini dan Ia nyatakan sebagai hadis sahih.

    3893 – أخبرنا أبو زكريا يحيى بن محمد العنبري ، ثنا محمد بن عبد السلام ، ثنا إسحاق بن إبراهيم ، أنبأ جرير ، عن الأعمش ، عن أبي ظبيان ، عن ابن عباس – رضي الله عنهما ، قال : إن أول شيء خلقه الله القلم ، فقال له : اكتب ، فقال : وما أكتب ؟ فقال : القدر ، فجرى من ذلك اليوم بما هو كائن إلى أن تقوم الساعة ، قال : وكان عرشه على الماء فارتفع بخار الماء ففتقت منه السماوات ، ثم خلق النون فبسطت الأرض عليه ، والأرض على ظهر النون فاضطرب النون فمادت الأرض ، فأثبتت بالجبال ، فإن الجبال تفخر على الأرض

    هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه

    Terjemahannya kurang lebih:
    3893 – Riwayat Abu Zakaria Yahya bin Muhammad Al‘Anbari – Muhammad Bin Abdul Salam – Ishak bin Ibrahim – Jarir – Sulaiman bin Mahran al-Asadi al-A’mash – Abu Zabyan – Abdullah bin Abbas yang diberkati: “Pertama kali yang Allah ciptakan adalah pulpen dan mengatakan: ‘tuliskan’. (Pulpen) bertanya, “Apa yang mesti saya tulis?” (Allah) berkata, “Takdir mulai saat itu hingga kiamat”. Katanya: SinggasanaNya di atas air, mengangkat uap air memisahkan gulungan para langit, membuat Nun (Ikan besar), Meratakan bumi dan bumi di punggung Nun, Nun menjadi gelisah, Bumi bergoyang/bergoncang, (Allah) mengencangkan dengan gunung-gunung, bumi menjadi stabil/kokoh

    Hadis ini sahih menurut syarat syaikhain (Bukhari Muslim) tetapi mereka tidak meriwayatkannya.

    [2] Jalaludin Suyuti dalam “Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an”, hal.553, untuk “N” juga memuat hadis Nabi dari Ibn Abbas ini.

    [3] Kategori hadis dari sisi jumlah perawi terbagi menjadi: Mutawatir (banyak perawi di sanad/rantainya) atau Ahad (arti literal: satu atau tidak mencapai tingkatan mutawatir). Kemudian, hadis Ahad terbagi lagi menjadi: hadis Masyhur (3 perawi dalam tiap tingkatan), Azis (2 rantai perawi yang rawinya berbeda) dan Gharib (sendiri/tunggal, di suatu tingkatan). Kata Jiddan menekankan pada perawi tunggalnya entah itu di awal atau pertengahan sanad/rantai perawi. Gharib Jiddan tidak ada hubungannya dengan predikat akhir hadis (sahih, hasan, dhaif, mungkar, maudu). Ketika menukil hadis, Ibn Kathir senantiasa memberikan penilaian akhir pada hadis (sahih, hasan, dhaif, mungkar, maudu) dengan pendapatnya atau dari pendapat ulama tetang rawinya, jika tidak ada komentar, maka predikat hadis tersebut BUKANLAH hadis dhaif, atau mungkar atau maudu.
    ——-

    AL-QURTUBI
    وروى الوليد بن مسلم قال : حدثنا مالك بن أنس عن سمي مولى أبي بكر عن أبي صالح السمان عن أبي هريرة قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ( أول ما خلق الله القلم ثم خلق النون وهي الدواة وذلك قول تعالى : ” ن والقلم ” ثم قال له اكتب قال : وما أكتب قال : ما كان وما هو كائن إلى يوم القيامة من عمل أو أجل أو رزق أو أثر فجرى القلم بما هو كائن إلى يوم القيامة – قال – ثم ختم فم القلم فلم ينطق ولا ينطق إلى يوم القيامة . ثم خلق العقل فقال الجبار ما خلقت خلقا أعجب إلي منك وعزتي وجلالي لأكملنك فيمن أحببت ولأنقصنك فيمن أبغضت ) قال : ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( أكمل الناس عقلا أطوعهم لله وأعملهم بطاعته ) .

    Terjemahannya kurang lebih:

    Al-Walid Ibn Muslim – Malik Ibn Ans – Sumay anak dari Abu Bakir – Abu Salih Al-Samaan – Abu Hurayrah – NABI
    mengatakan, “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen, kemudian Ia ciptakan ‘Nun’ yang merupakan sebuah bak tinta. Ini adalah apa yang Allah sampaikan (di surat 68:1) ‘Nun dan pulpen.’ Dan Ia katakan padanya, “tuliskan”.

    [Jadi pulpen tuliskan semua yang akan terjadi hingga hari kiamat. Kemudian alah ciptakan Nun (Ikan Paus) diatas air dan Ia tekan/tindih bumi pada punggungnya [paus]. Alah kemudian berkata pada pulpen “tulis”. Pulpen bertanya “Apa yang saya mesti tulis” Allah.. (note: Kalimat-kalimat yang ada di dalam tanda kurung ini hanya ada di situs ini dan tidak ada dalam situs berbahasa arab. Mengapa? jika kita perhatikan kalimat, “..ثم قال له اكتب قال: وما أكتب قال: ما كان..” terdapat indikasi bahwa kalimat tersebut tidak utuh telah terpotong/tidak lengkap/SENGAJA dipotong)]

    menjawab, “Tuliskan apa yang telah dan akan terjadi hingga hari kiamat, apakah perbuatan, pahala, konsekuensi dan hukuman hingga hari kiamat”. Kemudian pulpen menuliskan yang akan terjadi hingga hari kiamat. Kemudian Allah menciptakan pikiran…”

    وعن مجاهد قال : ” ن ” الحوت الذي تحت الأرض السابعة .

    Terjemahannya kurang lebih:
    Mujahid menyatakan bahwa ‘Nun’ adalah Ikan Paus yang ada di bawah tujuh bumi. [..]

    وكذا قال مقاتل ومرة الهمداني وعطاء الخراساني والسدي والكلبي : إن النون هو الحوت الذي عليه الأرضون

    Terjemahannya kurang lebih:
    Seperti juga, yang diriwayatkan oleh Mukatil – Murrah Al-Hamdani – Ata’ Al-Kharasani – Al Suddi – Al-Kalbi yang mengatakan, “Nun adalah Ikan paus yang di atasnya para bumi diletakan

    وَرَوَى أَبُو ظَبْيَان عَنْ اِبْن عَبَّاس قَالَ : أَوَّل مَا خَلَقَ اللَّه الْقَلَم فَجَرَى بِمَا هُوَ كَائِن , ثُمَّ رَفَعَ بُخَار الْمَاء فَخَلَقَ مِنْهُ السَّمَاء , ثُمَّ خَلَقَ النُّون فَبَسَطَ الْأَرْض عَلَى ظَهْره , فَمَادَتْ الْأَرْض فَأُثْبِتَتْ بِالْجِبَالِ , وَإِنَّ الْجِبَال لَتَفْخَر عَلَى الْأَرْض .

    Terjemahannya kurang lebih:
    Diriwayatkan Abu Thabyan, diriwayatkan Ibn Abbas yang berkata, “yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen yang menulis semua yang akan terjadi. Kemudian uap air mulai terangkat, Berasal dari situ langit tercipta. kemudian (Allah) menciptakan Nun (paus) dan menggepengkan Bumi pada punggungnya. Ketika bumi mulai bergoyang, Ia kemudian diperkuat dengan gunung-gunung, yang ada dipermukaan” Kemudian Ibn Abbas membacakan ayat (68:1) ‘Nun dan Pulpen’

    [Bahasa arab sisanya tidak saya tuliskan dan langsung saya tuliskan terjemahannya]

    Al kalbi dan Mukatil menyatakan bahwa nama (ikan Paus) adalah ‘Al-Bahmout.’ Al-Rajis berkata, “Mengapa aku melihatmu semua terdiam dan Allah menciptakan Al-Bahmout?”

    Abu Yakthan dan Al-Waqidi menyatakan bahwa nama (ikan paus) adalah ‘Leotha’; Dimana Kab menyatakan bahwa namanya adalah ‘Lo-tho-tha’ atau ‘Bil-Ha-motha.’ Kab berkata, “Setan bergerak ke atas Ikan paus, dimana tujuh bumi diletakan dan membisikan pada hatinya, “Kamu sadari apa yang ada di punggungmu, Oh Lo-tho-tha dari binatang dan tetumbuhan dan manusia dan lainnya? Jika engkau merasa terganggu dengan mereka, Engkau dapat melemparkan mereka semua dari punggungmu” Jadi Lo-tho-tha berniat untuk melakukan apa yang disarankan (oleh setan) namun Alah mengirimkan reptil pada Ikan paus yang merangkak melalui lubang tiupnya hingga mencapai otaknya. Ikan paus kemudian menangis pada Allah dan Ia memberikan ijin pada reptil untuk keluar (dari ikan paus).” Kab melanjutkan dan berkatam “Demi Allah, Ikan paus menatap pada reptil dan reptil menatap pada ikan paus dan jika ikan paus berniat melakukan (apa yang disarankan setan) reptil akan balik ke tempat sebelumnya” [Source atau di sini, Kutipan Qurtubi di atas tidak dalam translasi Inggris [hanya Arab] dan translasinya berasal dari sini]
    —-

    TAFSIR IBN ABBAS
    Dan dari riwayatnya yang berasal dari Ibn ‘Abbas yang ia katakan berkenaan dengan intepretasi apa yang allah katakan (Nun): ‘(Nun) Ia katakan: Allah bersumpah demi Nun, yang adalah Ikan paus yang membawa Bumi di punggungnya ketika di air, dan di bawah itu adalah banteng, dibawah banteng adalah bebatuan dan dibahwa bebatuan…Nama Ikan Paus itu adalah Liwash, dan dikatakan bahwa namanya adalah Lutiaya’; nama dari banteng itu adalah Bahamut, dan beberapa mengatakan namanya adalah Talhut atau Liyona. Ikan paus itu ada di laut yang dinamakan ‘Adwad, dan itu bagaikan banteng kecil di lautan yang sangat luas. Lautan itu ada di Bebatuan cekung dengan 4,000 celah, dan dari tiap celah itu air keluar ke bumi.

    Dikatakan juga bahwa Nun adalah satu dari nama-nama Allah; yaitu kepanjangan dari huruf Nun pada nama Allah al-Rahman (Pemurah); dan juga dikatakan bahwa Nun adalah bak tinta. (demi pulpen) Allah bersumpah demi pulpen. Pulpen dibuat dari Cahaya dan tingginya setara jarak Langit dan bumi.

    Adalah dengan pulpen ini perangkat Ingatan, misal. Catatan yang dijaga, dituliskan. Juga dikatakan bahwa pulpen adalah satu dari para malaikat yang mana Allah bersumpah, (dan yang mana mereka tuliskan dan Allah juga bersumpah dengan apa yang para malaikat itu tuliskan pada kegiatan-kegiatan turunan Adam, [Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs]

    Note:
    Al-Bahmout atau Bahamut juga ada di mitologi Arab, yaitu kisah 1001 malam pada hari ke-496. Bahamut dinyatakan sebagai Ikan besar. Bahamut tidak sama dengan Behemoth [Setan/monster dalam legenda Yahudi].
    —-

    Tafsir al-Tustari
    Ibn ‘Abbas’ berkata pada laporan lain, ‘Nun adalah Ikan yang di atasnya seluruh bumi(arḍūn) berada,..'[Source]
    —-

    Tafsir al-baghawi
    اختلفوا فيه فقال ابن عباس : هو الحوت الذي على ظهره الأرض . وهو قول مجاهد ومقاتل والسدي والكلبي

    [..] ibn abbas katakan: Ikan paus ini membawa bumi pada punggungnya dan ini juga merupakan pandangan dari Mujahid, Muqatil, saddi dan kalbi [..] tujuh langit dan tujuh bumi di atas Banteng [..] [Sumber]
    —-

    Dari Hadis Sahih Bukhari dan Muslim
    Dalam kumpulan hadis sahih Bukhari dan Muslim tidak dijelaskan riwayat Bumi ada di atas punggung ikan paus [Ikan besar], namun demikian terdapat riwayat menarik seperti dibawah ini:

    Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – Khalid – Sa’id bin Abu Hilal – Zaid bin Aslam – ‘Atho’ bin yasar – Abu Sa’id Al Khudri – Rasulullah SAW:

    Riwayat ‘Abdul Malik bin Syu’aib bin Al Laits – bapakku – kakekku – Khalid bin Yazid – Sa’id bin Abu Hilal – Zaid bin Aslam – ‘Atha bin Yasar – Abu Sa’id Al Khudri – Rasulullah SAW:

    “Pada hari kiamat bumi bagaikan sekeping roti, Allah Al Jabbar memutar-mutarnya dengan tangan-Nya sebagaimana salah seorang diantara kalian bisa memutar-mutar rotinya dalam perjalanan sebagai kabar gembira penghuni surga.”

    “Pada hari kiamat bumi akan seperti satu potong roti yang akan diratakan oleh Allah dengan tanganNya hingga menjadi seimbang. Sebagaimana roti yang diratakan oleh salah seorang dari kalian diperjalanannya sebagai hidangan bagi penghuni surga.

    Selanjutnya ada seorang yahudi dan berujar;’ Kiranya Allah Arrahman memberkatimu wahai Abul Qasim, maukah kuberitahu kabar gembira penghuni surga dihari kiamat nanti?

    Kemudian seorang lelaki yahudi datang berkata pada beliau; “semoga Allah memberkahimu wahai Abu Qasim, maukah kuberitahu tentang hidangan penghuni surga pada hari kiamat?

    “baik” Jawab Nabi.

    Beliau menjawab: ‘Ya’

    Lanjut si yahudi; ‘Bumi ketika itu bagaikan sekeping roti’ sebagaimana disabdakan Nabi SAW.

    Ia berkata: bumi akan menjadi satu potong roti -sebagaimana sabda Rasulullah SAW tadi.-

    Lantas Nabi SAW memandang kami dan tertawa hingga terlihat gigi serinya.

    Ia berkata: “Maukah kamu
    kuberitahu lauk penghuni surga?

    maka Rasulullah SAW melihat kepada kami dan tertawa hingga terlihat gigi serinya.

    Ia berkata “Maukah kuberitahukan kepadamu tentang lauk pauk mereka.”
    Beliau menjawab: ‘Ya’

    Lanjutnya: “lauk mereka adalah sapi dan ikan paus.”

    Ia berkata: “lauknya adalah balaam dan nun.”

    Mereka bertanya; ‘Apa keistimewaan daging ini?’

    Para sahabat bertanya; apakah itu?

    Nabi menjawab: “sobekan hati [caudate lobe] ikan paus dan sapi itu, bisa disantap untuk 70.000 orang

    [Bukhari no.6039/8.76.527, arab]

    Nabi SAW menjawab: seekor sapi, sedangkan nun adalah daging yang paling baik dari hatinya [caudate lobe] akan dimakan 70.000 orang yang masuk suga tanpa hisab.

    [Muslim no.5000/39.6710, Untuk arab: di sini atau lebih baik di sini karena terdapat penjelasan: “أَمَّا ( النُّون ) فَهُوَ الْحُوت بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاء”, artinya “Nun adalah Ikan paus menurut konsensus para ulama”]

    note:
    “والحوت” di translate ke inggris “and whale”; ke Melayu “ikan paus”; ke spanyol “Y la ballena = dan ikan paus”; ke itali “E la balena= dan ikan paus”; Turki “Ve Balina = dan ikan paus”; ke belanda “walvis= ikan paus”; ke Jerman “und der wal = dan ikan paus”, ke perancis “balein = ikan paus”; Ke rusia “И китов= dan Paus”; ke swahili “Na whale =dan paus”; ke Jepang “とクジラ= ikan paus”, ke korea “그리고 고래 = dan ikan paus”; Hindi “और व्हेल = dan ikan paus”; Mandarin “與鯨魚= dan ikan paus”..dll

    Jika, Bumi adalah roti maka sebesar apalagi ukuran ikan dan lembu yang bagian berlebih dari hatinya saja dapat mencukupi kebutuhan 70.000 orang sebagai lauk pauk makan roti?

    Walaupun Bukhari dan Muslim tidak menjelaskan detail darimana “ox” dan “fish” itu berasal, namun dapat kita ketahui ukurannya tidak tanggung-tanggung besarnya, bukan?!
    —-

    Dari Aliran Syi’ah
    Ulama Syi’ah Kulayni di “Kafi”nya 8/89 meriwayatkan:

    55 – محمد عن أحمد عن ابن محبوب عن جميل بن صالح عن أبان بن تغلب عن أبي عبد الله (ع) قال: سألته عن الأرض على أي شيء هي؟ قال: هي على حوت قلت: فالحوت على أي شيء هو؟ قال: على الماء قلت: فالماء على أي شيء هو؟ قال: على صخرة قلت: فعلى أي شيء الصخرة؟ قال: على قرن ثور أملس قلت: فعلى أي شيء الثور؟ قال: على الثرى قلت: فعلى أي شيء الثرى؟ فقال: هيهات عند ذلك ضل علم العلما

    Muhammad menyampaikan dari Ahmad – ibn Mahbub – Jamil ibn Salih – Aban ibn Taghlib – Abu ‘Abd Allah, yang berkata, Aku tanya dia mengenai bumi: Ia terletak di atas apa? Ia menjawab: Itu berada di atas seekor Ikan Paus. Aku bertanya: Ikan paus itu di atas apa? Ia menjawab: di atas air. Aku bertanya: Air di atas apa? Ia menjawab: di atas bebatuan. Aku bertanya. bebatuan di atas apa? ia menjawab: Di atas banteng dengan tanduk yang halus. Aku bertanya: Banteng itu diatas apa? Ia menjawab: Di atas tanah. Aku bertanya: Tanah di atas apa? Ia menjawab: Mana tahu? Ini adalah batasan pengetahuan dari yang diketahui manusia.

    Syi’ah lainnya sheikh Al-Majlese dalam “Miratul uqul”menyatakan ini SAHIH.

    (الحديث الخامس و الخمسون) [حديث الحوت على أي شي‏ء هو]
    (2): صحيح.
    —-

    Kisah Para Nabi [Tales of the Prophet]
    4. Penciptaan Bumi, Gunung-Gunung dan Laut-laut [The creation of the Earth, the mountains and the seas]

    Kaab al-Ahbar berkata: Ketika Allah berkehendak untuk menciptakan Tanah yang kering, Ia perintahkan angin untuk mengocok ke atas air. ketika menjadi turbulen dan berbusa, gelombang bertambah besar dan beruap. Kemudian Allah merintahkan busa itu memampat, dan menjadi kering. Dalam hari-hari Ia ciptakan langit yang kering di atas permukaan air adalah seperti yang Ia katakan:”Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua hari?” (AQ Fushshilat 41:9).

    Kemudian Ia perintahkan gelombang-gelombang ini menjadi diam, dan mereka membentuk gunung-gunung, yang kemudian Ia gunakan sebagai pasak untuk menahan bumi, seperti yang Ia katakan: “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka” (AQ Al Anbiyaa’ 21:31). Jika tidak karena gunung-gunung, Bumi tidak akan cukup stabil bagi para penghuninya. Pembuluh dari gunung-gunung ini berhubungan dengan pembuluh dari Gunung Qaf, yang berjajar mengellilngi Bumi.

    Kemudian Allah menciptakan tujuh lautan.
    Yang pertama dinamakan Baytush dan mengelillingi bumi di belakang gunung Qaf, kemudian dibelakangnya berturut-turut bernama Asamm, Qaynas, Sakin, Mughallib, Muannis, dan yang terakhir Baki. Ini adalah tujuh lautan, dan tiap dari mereka mengelilingi lautan yang sebelumnya. Di dalamnya terdapat mahluk-mahluk yang hanya Allah yang tahu jumlahnya. Allah menciptakan makanan bagi para mahluk-mahluk ini dalam hari yang ke-4, seperti yang Ia katakan: “dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat hari. Bagi orang-orang yang bertanya. (AQ Fushshilat 41:10).

    Terdapat tujuh Bumi.
    Yang pertama dinamakan Ramaka, yang kedua dinamakan Khalada,..Arqa, Haraba, Maltham, Sijjin dan Ajiba. Dan bumi bergoyang-goyang dengan penghuni di dalamnya seperti sebuah kapal, jadi Allah mengirimkan se sosok Malaikat yang luar biasa besar dan kuat dan diperintahkan memanggul bumi di bahunya. Satu sisi tangannya di timur dan yang lain di barat memegang Bumi dari ujung ke ujung. Namun, tidak ada pijakan kaki baginya, jadi Allah ciptakan bebatuan persegi dari jamrut yang memiliki 7.000 lubang. Di setiap lubangnya sebuah laut, gambaran ini hanya di ketahui oleh Allah semata. dan Ia perintahkan Bebatuan itu untuk berdiam di bawah kaki malaikat.

    Akan tetapi, bebatuan itu tidak ada yang menyangga, jadi Allah ciptakan banteng besar dengan 40.000 kepala, mata, telinga, cuping hidung, mulut, lidah dan kaki dan diperintahkan memanggul bebatuan di punggungnya dan juga di tanduknya. Nama dari Banteng itu adalah al-Rayyan. Karena Banteng itu ngga punya tempat buat pijakan kakinya, Allah menciptakan Ikan sangat besar..Ikan ini bernama Behemoth.. [Tales of the Prophets (Qisas Al-Anbiya) (Great Books of the Islamic World), Muhammad Ibn Abd Allah Kisai (Author), Wheeler M. Thackston (Author), Al-Kisai (Author, Abad ke 6/13 Masehi) hal 8-10 dan hal 337-338 [Notes to The Text])

    Kemudian,
    Mullah `Ali al-Qaari RaHimahullah, dalam Mirqaat:

    ‘Jadi Aku datang untuk tahu’ Itu dalam artian berkat-berkat yang terlimpahkan padaku, semua yang ada di langit (jamak) dan di bumi yaitu sebagai semua yang Allah sampaikan pada kalangan malaikat dan pepohonan dan banyak lainnya. Yang menunjukan keluasan dari pengetahuannya (Rasulullah SAW) yang Allah` Azza Wa Jall beritahukannya. Ibn Hajjar berkata bahwa pengetahuan dari seluruh semesta dan semua yang ada di langit (jamak) dan dibaliknya sebagai bukti dari peristiwa Mi`raj dan bumi, yaitu seluruh tujuh bumi dan yang ada dibawahnya apakah itu seekor sapi atau seekor ikan di atasnya.

    [Fa`Alimtu Ayyi Bisababi WuSuuli dhaalikal FayDi Maa Fis Samaawaati Wal ArDi Ya`ani Maa A`alamahullahu Ta`aalaa Mimma Feehaa Minal Malaayikati Wal Ashjaari Wa Ghayrihimaa `Ibaaratun `An Sa`ati `Ilmihilladhee FataHallahu bihi `Alayhi Wa Qaalabnu Hajar Ayyi Jameeyal Kaayinaatillatee fis Samaawaati Bal Maa Fawqahaa Kamaa Yustafaadu Min QiSSatil Mi`yraaji Wal ArDu Hiya Bi Ma`anaa al-Jinsi Ayyi Wa Jamee`ya Maa Fee ArDeenas Sab`yi Bal wa Maa TaHtahaa Kamaa Afaadahuu Ikhbaaruhuu `Alayhis Salaamu Minath Thawri wal Huutil ladhee `Alayhaa] – [sumber]

    Sebagai pelengkap, perhatikan gambar Bumi [berbentuk FLAT DISK], di panggul banteng dan dibawahnya adalah Ikan:

    Ajaib al-Makhluqat (The wonders of creation), by the Persian author Zakariya Qazwini (d. 1283 or 1284).

    [..]Sebuah kopian risalah dari turki kisaran tahun 1553, polesan peta, menunjuk arah selatan, dengan malaikat memegang mangkok berisi ikan yang diatasnya sapi sedang memanggul globe [..]

    Risalah kegeograpian dan kumpulan legenda menakjubkan sangat populer di pertengahan dan awal masyarakat islam modern. Peta yang ditunjukan di sini adalah menakjubkan padanya terdapat beberapa mahluk yang menyokong bumi di cakrawala. Yang digunakan adalah proyeksi islam tradisional tentang bumi dalam bentuk piringan datar yang dikelilingi laut-laut terpisah terkurung sekeliling pegunungan Qaf..

    Dalam fatwa IslamQA no.114861 (beberapa riwayat yang menyatakan bahwa bumi terletak diatas punggung sapi jantan) di awal fatwanya, dikatakan bahwa kisah itu adalah sunnah otentik:

      Ibnu Abbas RA bahwa beliau berkata:
      أوّل ما خلق الله من شيء القلم ، فجرى بما هو كائن ، ثم رفع بخار الماء ، فخلقت منه السماوات ، ثم خلق ” النون ” – يعني الحوت – فبسطت الأرض على ظهر النون ، فتحرّكت الأرض فمادت ، فأثبت بالجبال ، فإن الجبال لتفخر على الأرض ، قال : وقرأ : (ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ (

      “Sesuatu yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah pena, maka ia menulis semua kejadian, kemudian uap air diangkat ke atas, maka darinyalah langit-langit diciptakan, kemudian Dia (Allah) menciptakan Nuun, yaitu; ikan paus, maka dihamparkannya bumi di atas punggung ikan paus tersebut, maka bumi pun bergerak dan berguncang, lalu ditopang oleh gunung-gunung, maka gununglah yang lebih utama dari pada bumi, lalu beliau berkata dan membaca: “Nuun, demi pena dan apa yang mereka tulis”.

      (Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dalam Tafsirnya: 2/307, dan Ibnu Abi Syaibah: 14/101, dan Ibnu Abi Hatim-sebagaimana di dalam Tafsir Ibnu Katsir: 8/210, dan Thabari dalam Jami’ Al Bayan: 23/140, dan Hakim dalam Al Mustadrak: 2/540, dan masih banyak yang lainnya, semua riwayat dari jalur Al A’masy, dari Abi Dzabyan Hushain bin Jundub, dari Ibnu Abbas, yang ini sanadnya shahih. Al Hakim berkata: ini adalah hadits yang shahih sesuai dengan syarat kedua Syeikhan (Bukhori dan Muslim) namun keduanya tidak meriwayatkannya. Adz Dzahabi berkata dalam at Talkhish: Sesuai dengan syarat Bukhori dan Muslim. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Mujahid, Muqatil, Sudi dan al Kalbi. Silahkan anda baca: (Ad Durrul Mantsur: 8/240, dan Tafsir Ibnu Katsir: 8/185 dalam permulaan tafsir surat al Qalam)

    IslamQApun melancarkan tuduhan bahwa itu bukan sabda Nabi melainkan hanya pendapat Ibn Abbas yang berasal dari Ka’b atau buku bani Israil:

      Atsar ini –sebagaimana anda ketahui- adalah mauquf (hadis yang sandarannya berhenti sampai pada sahabat sebagai penyampai) sampai pada Ibnu Abbas, bukan dari sabda Nabi SAW, secara umum Ibnu Abbas RA mengambil dari Ka’b al Ahbar atau dari buku-buku Bani Isra’il yang mencakup banyak keajaiban, keanehan dan kedustaan. Yang menunjukkan akan hal itu adalah beberapa rincian yang disebutkan oleh sebagian kitab Tafsir dalam masalah ini.

    Tuduhan bahwa Ibn Abbas mengambil dari K’ab atau dari buku-buku Bani Israel adalah mengada-ada dan tanpa bukti

    Mengapa?

    Karena terdapat riwayat bahwa pengetahuan Ka’b tentang Islam justru berasal dari Ibn Abbas sendiri, dan terdapat larangan Ibn Abbas pada umat muslim untuk tidak bertanya pada Ahlul Kitab, juga ancaman sekaligus larangan Umar bin Khattab pada Kaab untuk tidak menceritakan yang tercantum di kitab-kitab sebelumnya, misal:

      Riwayat Yahya bin Musa – Mu’alla bin Manshur – Muhammad bin Dinar – Sa’ad bin Aus – Mishda’ Abu Yahya – Ibnu Abbas – Ubay bin Ka’ab bahwa Nabi SAW membaca: “FII ‘AININ HAMI’ATIN (di dalam laut yang berlumpur hitam).” AQ 18.86. Abu Isa berkata; Hadits ini GHARIB, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini, DAN YANG SAHIH ADALAH HADIS yang diriwayatkan Ibnu Abbas tentang bacaannya (Ibnu Abbas): Ibnu Abbas dan ‘Amru bin Al ‘Ash berbeda pendapat tentang bacaan ayat ini, kemudian mereka mengajukannya kepada Ka’b Al Ahbar, seandainya Ibnu Abbas memiliki riwayat dari Nabi SAW, tentu sudah cukup baginya dengan riwayatnya dan tidak butuh lagi kepada Ka’b.” [Tirmidhi no.2858. Tentang Maksud Tirmidhi pada “hadis gharib”, Albani berkata: “Adapun jika ia berkata “hadits gharib” maka kebanyakan yang ia maksudkan adalah “dha’if“, yaitu secara sanad” (Fatwa-fatwa Syekh Nashiruddin Al-Albani, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Media Hidayah, 1425 H — 2004 M)]

    Ibn Abbas sendiri melarang untuk bertanya kepada Ahlul kitab:

      Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – Yunus – Ibnu Syihab – ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah – ‘Abdullah bin ‘Abbas: “Wahai sekalian kaum muslimin, bagaimana bisa kalian bertanya kepada Ahli kitab sedangkan kitab kalian yang diturunkan kepada nabi SAW adalah kitab paling baru tentang Allah. Kalian membacanya dengan tidak dicampur aduk, dan Allah telah memberitahu kalian bahwa orang-orang ahli kitab telah merubah apa yang telah Allah tetapkan, dan mereka merubahnya dengan tangan mereka, lalu mereka berkata ini dari Allah dengan maksud (menjualnya dengan harga yang sedikit). Bukankah dengan ilmu yang telah datang kepada kalian berarti Dia melarang kalian untuk bertanya kepada mereka?. Tidak, demi Allah, kami tidak melihat seorangpun dari mereka yang bertanya tentang apa yang diturunkan kepada kalian” [Bukhari no.2488, 6815, 6969]

    Bahkan Mujahid yang meriwayatkan dari Ibn Abbaspun terkena getahnya terkena tuduhan Israiliyat, misalnya di link GF HADAD:

      Al-Dhahabi juga mengutip keputusan al-A’mash’s tentang tafsir Mujahid yakni Mujahid diantara mereka yang menarasikan dari kitab-kitab ahlul kitab

      Note:
      Ahl al kitab: Nasrani dan Kristen (kesepakatan seluruh ulama), majusi dan sabian (sebagian ulama)

      Padahal dari sisi pendapat para ulama, mereka menilai Mujahid lebih tinggi nilainya dari Al A’Mash, misal Syaikhul Islam Ibn Hajjar menyatakan Al A’Mash adalah YUDALIS (memalsukan/menyamarkan sanad), sementara Mujahid adalah Imam Ilmu tafsir. Bahkan Dhahabi sendiri malah menyatakan MUJAHID itu Imam ILMU TAFSIR dan HUJJAH (dapat dijadikan dasar hukum)!

      Syaikhul Islam Ibnu Taymiyya memuji Mujahid: “Mujahid bin Jabr adalah seorang anak ajaib [aya] dalam penafsiran.” dan mengutip Sufyan ath-Thawri: “Ketika interpretasi datang kepada Anda dari Mujahid, itu sudah cukup untuk Anda” [Ibn Taymiya “Treatise on the Principles of Tafsir“]

      Ternyata tuduhan ini hanya kabar burung, yang juga telah ditepis oleh Al A’mash sebagaimana tercantum dalam Kitab Tabaqat al-mufassirin dari Dawudi, II, 307:

        “Seorang laki-laki bertanya pada al-A’mash, ‘Kenapa orang-orang menghindari tafsir al-Mujahid?’ Ia menjawab, “Karena MEREKA PIKIR bahwa ia biasa bertanya pada ahlul kitab” [“The Qur’an and Its Interpreters”, Vol.1, Mahmoud Ayoub, hal.30]

      Tampak jelas al A’Mash TIDAK PERNAH MEMUTUSKAN demikian juga TIDAK mengatakan bahwa MUJAHID TELAH “meriwayatkan dari buku2 ahlu kitab”. Malah al A’mash, yang juga merupakan murid Mujahid, MELURUSKAN fitnahan kepada gurunya! Jika al a’Mash (Sulaiman bin Misran Al A’mash), yakin Mujahid seperti yang dituduhkan, maka Al a’Mash TIDAK AKAN meriwayatkan BANYAK hadis dari Mujahid (di Bukhari, Abu Dawud, Tirmidhi, Nasai, Ibn Majjah).

    IslamQA juga menginformasikan bahwa TIDAK SELURUH hadis marfu (sanad yang bersandar hingga Rasullullah) tentang masalah ini adalah mungkar:

      ada sebagian hadits-hadits yang marfu’ namun mungkar dalam masalah ini (وقد وردت بعض الأحاديث المرفوعة المنكرة في هذا المعنى), di antaranya adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar bahwa Nabi SAW bersabda:

      الأرض على الماء ، و الماء على صخرة ، و الصخرة على ظهر حوت يلتقي حرفاه بالعرش ، والحوت على كاهل ملك قدماه في الهواء (وهو حديث موضوع، انظر: “السلسلة الضعيفة” (رقم/294()

      “Letak bumi di atas air, dan air tersebut di atas batu, batu tersebut di atas punggung ikan paus yang kedua sisinya di ‘Arsy, ikan paus tersebut di atas bahu seorang malaikat yang kedua kakinya di udara”. [sebagai hadits palsu di “As Silsilah al Hadith ad Dha’ifah wal-Mawdhuu’ah, #294]

    Jadi, karena ada sebagian yang mungkar, maka IslamQA jelas mengakui ada sebagian hadis marfu lainnya mengenai masalah ini yang TIDAK MUNGKAR! (Salah satunya sample misalnya hadis marfu dari Ibn Hatim dalam tafsir Ibn Kathir untuk AQ 20.6 di atas)[]

  3. Surat Al Anbiyaa’ 21:30, menjelaskan awal mula keadaan Bumi dan langit saat ditemukan Allah:
      Atau tidakkah (awa+lam) dilihat (yara) oleh para orang (alladhīna) kafir (kafarū) bahwa (“سِتَّةِ”, anna) para langit (“السَّمَاوَاتِ”, al-samāwāti) dan bumi (“وَالْأَرْضَ”, wal-arḍa) dahulunya (“كَانَتَا”, kānatā) suatu yang padu (“رَتْقًا”, ratqan), kemudian dipisahkan keduanya (“فَفَتَقْنَاهُم”, fafataqnāhumā). Dan menjadikannya (wajaʿalnā) dari air setiap (kulla) sesuatu (shayin) kehidupan (ḥayyin). Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

        Note:
        Perhatikan dengan baik ayat ini, TIDAK ADA dinyatakan bahwa langit dan bumi yang padu itu diciptakan. Sangat jelas termaktub bahwa langit bumi DITEMUKAN Allah dahulunya dalam keadaan berpadu! Ini juga merupakan hal berikutnya yang telah ada dan bukan merupakan ciptaan Allah.

      Tafsir Ibn Kathir atas ayat 21:30:

        …Tidakah mereka mengetahui bahwa Langit dan bumi dulunya bersatupadu yakni pada awalnya mereka satu kesatuan, terikat satu sama lain. Bertumpuk satu diatas yang lainnya, kemudian Allah memisahkan mereka satu sama lain dan menjadikannya Langit itu tujuh dan Bumi itu tujuh, meletakan udara diantara bumi dan langit yang terendah..

        Said bin Jubayr mengatakan ‘langit dan Bumi dulunya jadi satu sama lain, Kemudian Langit dinaikkan dan bumi menjadi terpisah darinya dan pemisahan ini disebut Allah di Al Qur’an’

        Al hasan dan Qatadah mengatakan,’Mereka Dulunya bersatu padu, kemudian dipisahkan dengan udara ini’

      Darimana datangnya bumi langit yang padu itu? Siapa yang menciptakannya? Tampaknya bahkan Allahpun tidak tahu tentang ini, karena Dirinya pun berada di suatu ruang yang telah ada sebelum Ia ada:

        Abdan – Abu Hamzah – Al A’masy – Jami’ bin Syidad – Shafwan bin Muhriz – ‘Imran bin Hushain:
        …Nabi menjawab: ‘Allah telah ada dan tidak ada sesuatu pun terjadi sebelum-Nya, arsy-Nya berada di atas air, kemudian Allah mencipta langit dan bumi dan Allah menetapkan segala sesuatu dalam alquran’. [Bukhari no. 6868, 2953. Ibn Majah no.178 (Riwayat Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Muhammad bin Ash Shabbah – Yazid bin Harun – Hammad bin Salamah – Ya’la bin ‘Atho` – Waki’ bin Hudus – pamannya Abu Razin ia berkata; Aku bertanya; “Wahai Rasulullah, di manakah Rabb kita sebelum menciptakan makhluk-Nya?” beliau menjawab: “Dia berada di ruang kosong, di bawah dan di atasnya tidak ada udara, dan di sana tidak ada makhluk. Setelah itu Ia menciptakan ‘Arsy-Nya di atas air”). Tirmidhi no.3034 (“Wahai Rasulullah dimanakah Allah sebelum Dia menciptakan makhlukNya? beliau menjawab: “Dia berada di awan yang tinggi, di atas dan di bawahnya tidak ada udara dan Dia menciptakan ‘arsyNya di atas air.” Abu Isa mengatakan ini Hadis Hasan). Ahmad no.15599, 15611].

      Tampaknya persoalan ini telah lama diketahui bahkan sampai ditanyakan oleh para orang badui:

        Riwayat Harun bin Ma’ruf – Sufyan – Hisyam – Bapaknya – Abu Hurairah – Rasulullah SAW:
        “Manusia akan selalu bertanya-tanya hingga dikatakan, ‘Ini makhluk yang Allah telah menciptakannya, lalu siapakan yang menciptakan Allah? ‘ Maka siapa saja yang mengalami hal semacam itu, hendaklah ia mengatakan ‘aku beriman kepada Allah’.”

        [Abu Dawud no.4098, Muslim no. 193 (Riwayat Abdullah bin ar-Rumi – an-Nadlar bin Muhammad – Ikrimah (Ibnu Ammar) – Yahya – Abu Salamah – Abu Hurairah – Rasulullah SAW: ..”Wahai Abu Hurairah, mereka akan senantiasa bertanya kepadamu hingga mereka berkata, ‘Ini Allah, lalu siapa yang menciptakan Allah‘.” Abu Hurairah: “Ketika aku berada di masjid, tiba-tiba orang-orang dari kaum Baduwi mendantangiku, ‘Wahai Abu Hurairah, ini Allah, lalu siapakah yang menciptakan Allah‘. Perawi berkata, ‘Kemudian Abu Hurairah mengambil kerikil dengan telapan tangannya, lalu melempar mereka sambil berkata, ‘Berdirilah, berdirilah, sungguh benar kekasihku'”) Juga di Muslim 190, 192, Muslim no.195 dari riwayat Anas. Di Ahmad no.8666 (orang yg bertanya bukan orang Badui tapi orang Irak). Ahmad no. 20864 (dari riwayat Khuzaimah bin Tsabit) yang bertanya bukan orang tapi setan (juga di riwayat Abu Huraira dan Aisyah)]

      Pertanyaan menarik yang bahkan Nabi besar SAW pun tidak mendapatkan jawabannya dari Jibril dan Allah.

  4. Lamanya proses penciptaan langit dan bumi setelah di pisah dengan udara adalah 6 hari dan BUMI diciptakan terlebih dahulu.

    Frase arab “سِتَّةِ” (sittati, enam) + ayyāmin (“أَيَّامٍ”) tercantum di (AQ 7.54, 10.3, 11.7, 25.59, 32.4, 50.38 dan 57:4), KELIRU jika diterjemahkan paksa menjadi “enam masa”, karena harusnya terjemahannya adalah “enam hari”:

    • ayyāman (أَيَّامًا)/ayyāma ( أَيَّامَ) di (AQ 2.80, 184; AQ 3.24, AQ 34.18; AQ 45.14) = hari;

      ayyāmin (أَيَّامٍ)/ayyāmi (“الْأَيَّامِ”, Al-ayyāmi; “بِأَيَّامِ” bi-ayyāmi) di (AQ 2.184, 185, 196, 203; AQ 3.41; AQ 5.89; AQ 11.65; AQ 22.28; AQ 41.16; AQ 69.7, 24; AQ 14.5; 10.102) = hari
    • “Sesungguhnya sehari (yawman) disisi Tuhanmu adalah seperti 1000 tahun menurut perhitunganmu” [AQ 22.47] dan “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian itu naik kepadaNya dalam satu hari (yawmin) yang kadarnya adalah 1000 tahun menurut perhitunganmu”[AQ 32.5]
        Note:
        Mengapa tidak menggunakan penyetaraan hari dengan AQ 70.4 (“Para malaikat dan Al Ruh (Jibril) naik ke Tuhan dalam 1 hari yang kadarnya 50.000 tahun”)? Karena ayat itu tentang penyetaraan LAMA WAKTU PERJALANANdari t empat A ke tempat B akibat PERBEDAAN KECEPATAN, jika dilakukan Jibril VS jika dilakukan manusia di jaman Nabi (jalan kaki/kuda/onta). Perbandingannya jika di jaman sekarang, lama waktu yang dibutuhkan dari A ke B, dengan pesawat jet adalah 1 jam, namun jika naik bus perlu waktu 24 jam. Sementara 2 ayat (AQ 22.47 dan 32.5) di atas adalah tentang penyetaraan hitungan hari Allah VS hari Manusia baik untuk waktu penciptaan harian maupun hari di alam lain.
    • Hadis dan tafsir:
      • Riwayat [(Humayd – Hakkam – Anbasah) dan (Ibn Waki – Ayahnya – Isra’il)] – Simak – Ikrimah – Ibn abbas: Tuhan menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari – yang mana tiap harinya adalah seperti 1000 tahun menurut perhitunganmu [Tabari Vol.1 Hal 226-227].
      • Riwayat ‘Abdah – Al Husain bin Al Faraj – Abu Mua’dh – Ubayd – Al Dahhak: 1 hari yang kadarnya 1000 tahun menurut perhitunganmu, Ia maksudkan hari-hari selama 6 hari penciptaan langit bumi dan apa yang ada di dalamnya [Tabari Vol.1 hal.227]
      • Al Muthanna – Al Hajjaj – Abu Awanah – Abu Bishr – Mujahid: 1 hari dari 6 hari adalah seperti 1000 tahun menurut perhitunganmu.[Tabari vol.1 hal.227]
      • Riwayat Al Muthanna – Ali (bin Al Haytam) – Al Musayyab bin Sharik – Abu Rawq – Al Dahhak: Ia yang menciptakan Langit dan bumi dalam 6 hari – dari hari-hari di dunia lain. Ukuran 1 hari adalah 1000 tahun. Ia mulai penciptaan di hari Minggu dan keseluruhan ciptaan hari Jumat (Ijtama’a jum’ah) [Tabari vol.1 hal.227]
      • Riwayat Ibn Humayd – Jarir (bin abd al Hamid) – al A’mash – Abu Salih – Ka’b: Allah mulai menciptakan di hari minggu, senin, selasa, rabu dan kamis. Ia Selesaikan di hari jumat. Ia melanjutkan: Tuhan membuat setiap hari setara 1000 tahun [Tabari vol.1 hal.227]
      • Riwayat Ibn Abiyy – Abu Ishak – Ibrahim b. Abdullah Nabt – Anas ibn Malik – Muhammad SAW: Panjang umur Bumi ini adalah 7 hari di hari-hari kehidupan setelah kematian. Allah berkata “sehari di sisi Allahmu adalah setara dengan 1000 tahun dalam perhitunganmu” [Suyuti sehubungan dengan hadis-hadis sahih tentang umur bumi tersisa 7000 tahun]
      • Tafsir Tabari (tentang umur dunia):..Menurut tradisi ini (Hadis riwayat Abu Huraira – Muhammad SAW), jelas bahwa keseluruhan bumi ini adalah 6000 tahun. Karena, jika 1 hari alam lain sama dengan 1000 tahun dan 1 hari adalah 1/6 bumi ini, kesimpulannya total 6 hari alam lain adalah 6000 tahun [Tabari vol.1 hal.183-184 dan luga lihat di sini]
      • Tafsir ibn Abbas Al Sajdah 1.30:
        [32:4] (Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya) dari penciptaan dan keajaiban-keajaiban, (dalam 6 hari) hari-hari dari permulaan penciptaan yang setara dengan 1000 tahun dari tahun-tahun kehidupan di dunia ini.; hari ke-1 adalah minggu dan hari terakhir adalah Jumat.
  5. Surat Fushshilat 41: 9-12, menyajikan urutan pengerjaan Bagaimana penciptaan yang dilakukan Allah, yaitu BUMI dahulu dan kemudian langit:
    • Pertama, (41:9) Bumi di ciptakan dalam 2 hari
    • Kedua, (41:10) Segala isi BUMI diciptakan total dalam 4 hari
    • Ketiga, (41:11) Kemudian (tsumma) Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap [Dukkhan = asap/kabut. pemakaian kata juga ada di AQ 44.10], lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.” (ini menunjukan bumi dan langit adalah mahluk berakal dan mempunyai jiwa)
    • Ayat-ayat di atas jelas merujuk bahwa kedudukan BUMI dan LANGIT adalah SEDERAJAT, yaitu BUMI yang BUKAN merupakan anggauta LANGIT. Dimana, Bumi diciptakan terlebih dahulu, baru kemudian ALLAH menyelesaikan Langit yang dibuktikan pada ayat selanjutnya

    • Keempat, (41:12) Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua hari. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan pelita-pelita cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
    • TAFSIR Ibn Kathir untuk surat 41:9-11 (atau “Tafsir ibn katsir”, penyusun Dr Abdullah bin Muhammad bin abdurahman bin Ishaq al-shikh, 1994, Juz 24, buku ke-7, hal 198-200), menyampaikan bahwa:

        “DIA (Allah) menyebutkan bahwa PERTAMA KALI DIA menciptakan BUMI, jarena bumi sebagai asas (PONDASI). Persoalan pokok selalu dimulai dengan asas, baru kemudian atap…Adapun diciptakannya Bumi adalah SEBELUM diciptakan Matahari menurut NASH…”

        Ibn Kathir menyampakan dari Al Bukhari, “Dia menciptakan Bumi dalam Dua hari, artinya pada MINGGU dan SENIN
        Yang manusia butuhkan dan tempat tempat untuk bercocoktanam dan diolah pada SELASA dan RABU

        `Ikrimah dan Mujahid menyatakan tentang firman Allah,”dan DIA menentukan padaya kadar makanan-makanan”, yaitu DIA JADIKAN pada setiap bagian tanah (tempat) sesuatu yang tidak cocok untuk yang lain. Contohnya pakaian dari wool di Yaman, pakaian Sauri (tipis di Sabur dan pakaia Thyalisa (berasal dari sutera) di Ray.

        Ibn `Abbas, Qatadah dan As-Suddi menyatakan, “untuk siapapun yang bertanya tentang itu

        Firman Allah “Kemudian dia menuju langit, dan langit itu masih merupakan Asap” YAITU ASAP AIR YANG MENGEPUL KETIKA BUMI DI CIPTAKAN.

        Ats-Tsauri – Ibnu Juraij – Sulaiman bin Musa – Mujahid – Ibn Abbas: Allah berfirman kepada langit, “Munculkanlah matahariku, bulan dan bintang-bintang ku”. Allah berfirman pada Bumi, “Pancarkanlah sungai-sungaimu dan keluarkanlah buah-buahanmu”

        Firman Allah “Maka dia menjadikannya 7 langit dalam 2 hari”. Yaitu dia meyelesaikan kejadian 7 lapis langit pada hari KAMIS dan JUM’AT

        Firman Allah, “dan Kami hiasi langit terdekat dengan bintang-bintang yang cemerlang” yakni bintang-bintang yang bersinar terang diatas penghuni bumi. Firman Allah “Dan Kami memeliharanya” artinya menghalangi syaitan-syaitan dari mendengarkan berita]

    Juga pada ayat [79:27-33]:

      Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit [al-samāu]? Allah telah membangunnya [banāhā, lihat di (AQ 9.110, 38.37,50.6, 51.47, 61.4)], meninggikan [rafaʿa] atapnya [samkahā = atap (tafsir: jalalayn dan ibn abbas)] kemudian disamaratakan [fasawwāhā, lihat di (AQ 91.14, 4.42, 26.98)], dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya [dahaha]. dipancarkan darinya mata air, dan disuburkan [wa+marʿāhā, tafsir: jalalyn]. Dan gunung-gunung [wal-jibāla] dipancangkan [arsāhā] [rawāsiya digunakan di AQ 13.3, 15.9, 16.15, 31.31, 27.61, 31.10, 34.13, 41.10, 50.7,77.27] untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.

    Jadi, ayat diatas menyatakan bahwa:

    • Penghamparan Bumi dilakukan SETELAH penciptaan Langit, NAMUN
    • Bumi sendiri diciptakan SEBELUM penciptaan langit.

    Berikut si bawah ini adalah respon Ibn ‘Abbas, yang direkam Bukkhari dalam tafsir Ibn kathir untuk QS 41:9-12:

      Sa’id Bin Jubayr berkata: ‘Seseorang berkata pada Ibn ‘Abbas: Saya menemukan di Qur’an yang membingungkan ku:…Dan Allah berkata:

      [AQ 79:27-30], Allah menyatakan bahwa Penciptaan Langit dahulu baru kemudian penciptaan Bumi, kemudian Allah berkata:

      [AQ 41:9-12], Allah menyatakan Penciptaan BUMI dahulu baru kemudian Penciptaan Langit..

      Kemudian Ibn ‘Abbas menjawab:..

      • Allah menciptakan Bumi dalam dua hari,
      • kemudian Dia menciptakan Langit, kemudian Dia (Istawa ila) meninggikan langit dan membentuknya dalam dua hari lagi.
      • Kemudian Dia membentangkan Bumi, ini berarti bahwa Dia membawa, sejak saat itu, air dan makanan. Dan kemudian Dia menciptakan Gunung-gunung, Pasir, benda-benda tak bernyawa, batu-batu dan bukit-bukit dan semuanya dalam waktu dua hari lagi.

      Inilah yang Allah katakan (Ia) menghamparkan (Bumi) (79:30) Dan Allah berkata: Ia ciptakan bumi dalam dua hari, jadi Dia menciptakan Bumi dan segala Isi didalamnya dalam empat hari dan Dia menciptakan Langit dalam dua Hari.

      Ibn Kathir, kemudian mengutip Bukhari:

      • Dia menciptakan Bumi dalam Dua hari, artinya pada Minggu dan Senin
      • [Dia menentukan padanya kadar makanan-makanannya] yang manusia butuhkan dan tempat tempat untuk bercocoktanam dan memanennya pada Selasa dan Rabu
      • Ats-Tsauri – Ibnu Juraij – Sulaiman bin Musa – Mujahid – Ibn Abbas: Allah berfirman kepada langit, “Munculkanlah matahariku, bulan dan bintang-bintang ku”. Allah berfirman pada Bumi, “Pancarkanlah sungai-sungaimu dan keluarkanlah buah-buahanmu” [Lubaabut Tafsir Min Ibni Katsir, Jan 2004, juz 24 hal 199-200]. Kemudian Dia meninggikan (Istawa ila) langit dan dan langit itu masih merupakan asap..melengkapi dan menyelesaikan ciptaannya seperti 7 langit dalam dua hari, artinya Kamis dan Jumat. [Kami hiasi langit terdekat dengan bintang-bintang yang cemerlang. “Dan Kami memeliharanya” artinya menghalangi syaitan-syaitan dari mendengarkan berita]

    Surat Al Raaf 7:54,

      Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari [..]

    Dalam tafsir Ibn kathir untuk surat AQ 7:54:

      Allah menyatakan bahwa Ia menciptakan semesta, Langit dan Bumi dan semua yang ada didalamnya dalam 6 hari. Enam hari yang dimaksud adalah Minggu, Senin, Selasa, rabu, kamis dan Jumat. Di hari Jum’at semua ciptaan telah di susun, Adam diciptakan. Kata “As-Sabt’ artinya Stop.

      Para ahli tafsir berbeda pendapat apakah setiap hari dari ke-6 hari tersebut sama seperti hari-hari yang ada pada kita sekarang ini ATAU SETIAP HARI ITU SAMA DENGAN 1000 TAHUN sebagaimana yang telah dinashkan oleh MUJAHID dan IMAM AHMAD BIN HANBAL. Dan dalam hal itu diriwayatkan dari riwayat adh-Dhahhak dari Ibn Abbas

      (Jadi, para ahli jaman itupun, telah sepakat bahwa 1 hari = 50.000 BUKAN untuk penyetaraan hari tuhan dengan manusia, namun penyetaraan lama waktu menuju langit antara kecepatan perjalanan JIBRIL vs kecepatan manusia di jaman Muhammad)

    Ibn kathir kemudian mengutip Hadis Muslim no.4997/039.6707 (Ahmad no.7991 Riwayat Hajjaj – Ibnu Juraij – Isma’il bin Umayyah – Ayyub bin Khalid – Abdullah bin Rafi (budak Ummu Salamah) – Abu Hurairah – Rasullullah SAW):

      Riwayat (Suraij bin Yunus dan Harun bin ‘Abdullah) – Hajjaj bin Muhammad al-Musaysi (bukan Hajjaj bin Muhammad Al-A’war) – Ibnu Juraij – Isma’il bin Umayyah – Ayyub bin Khalid – ‘Abdullah bin Rafi’ (-budak- Ummu Salamah) – Abu Hurairah: “Rasulullah SAW memegang tanganku, dan berkata:

      ‘Allah Azza wa Jalla menjadikan tanah pada hari Sabtu, menancapkan gunung pada hari Ahad (minggu), menumbuhkan pohon-pohon pada hari Senin, menjadikan bahan-bahan mineral pada hari Selasa, menjadikan cahaya pada hari Rabu, menebarkan binatang pada hari Kamis, dan menjadikan Adam pada hari Jum’at setelah ashar, yang merupakan penciptaan paling akhir yaitu saat-saat terakhir di hari jum’at antara waktu ashar hingga malam.” [Riyad As Salihin no.47. Di sahih muslim 4.1856, 4.1857, Abu dawud 3.1041, 3.1042 diriwayatkan Abu Huraira bahwa Adam diciptakan pada hari Jum’at]

      Catatan untuk hadis 039.6707 (dalam nomor berbeda di kumpulan lain, namun merujuk pada hadis di atas):
      Ibn Taimiyyah, Majmu’ Fatawa (37 vols., ed. `Abd al-Rahman b. Qasim & anaknya Muhammad, Riyadh, 1398), 18:18f. Ibn Taimiyyah menyatakan keautentikan hadis Imam muslim didukung oleh Abu Bakr al-Anbari & Ibn al-Jauzi sedangkan al-Baihaqi mendukung yang mengabaikan hadis ini. Al-Albani mengatakan bahwa Ibn al-Madini mengkritik hadis ini, sementara Ibn Ma’in tidak (Ibn Ma’in dikenal sangat ketat, keduanya adalah shaikh Bukhari). Ia menyatakan lebih lanjut bahwa HADIS INI SAHIH, TIDAK KONTRADIKSI dengan Qur’an, bertentangan dengan pandangan yang mungkin dipunyai ahli lainnya yang mengkritik hadis ini, Karena yang dimaksudkan di qur’an adalah penciptaan langit dan bumi dalam 6 hari, yang setiap harinya seperti 1000 tahun, sementara hadis ini merujuk pada penciptaan bumi saja, yang hari-harinya lebih pendek dari yang dirujuk Qur’an (Silsilah al-Ahadith as-Sahihah no.1833).

      Catatan untuk beberapa nama di atas:

      • Al Baihaqi tidak mengabaikan hadis ini dan menyatakannya sebagai hadith Marfu (sampai rasullullah) di Sunan Al Kubra, hadis no.16267.
      • Konon ada yang mengklaim bahwa Ali bin Al-Madini (w. 234 H) mengeritik hadis ini, berita ini sangat meragukan karena Imam Musiim (204 – 261H) baru melakukan perjalanan ke-2nya di tahun 230 H (4 tahun sebelum wafatnya Madini) dan saat itu Ia belum membukukan kitabnya (Koleksi hadis Imam muslim disusun selama 15 tahunan).
      • Konon ada yang mengklaim Imam Bukhari (w. 256 H) mengritik hadis ini. Pertemuan antara Imam Muslim dan Imam Bukhari terjadi di tahun 250H, setelah Imam Bukhari menetap di Nishapur. Jika benar Imam Bukhari (guru Imam Muslim) protes pada riwayat yang dianggapnya tidak marfu (karena ada ada yang mengklaim bahwa Bukhari mengatakan itu berasal dari Ka’ab Al Ahbar), maka terdapat lebih dari cukup waktu bagi Imam Muslim memperbaikinya, namun tidak dilakukannya, sehingga ini menunjukan 2 hal saja, bahwa tidak benar hadis ini berasal dari Ka’ab Al Habar atau tidak benar Bukhari pernah mengkritik hadis imam Muslim ini. Disamping itu, Imam Muslim juga punya hadis dari perawi Ka’b al Ahbar, sehingga pastinya, Imam muslim juga MAMPU membedakan membedakan mana hadis yang berasal dari Al Ahbar dan mana yang bukan.
      • Untuk Ka’b Al Ahbar, Ulama hadis seperti Muslim, Abu Dawud dan Tirmidhi meriwayatkan darinya. Ibn hajar mengatakan: Ka`b Ibn Mati` al-Himyari, Abu Ishaq, yang dikenal sebagai Ka`b adalah jujur, masuk kategori ke-2 [tabaqah]. [Ibn Hajar al-`Asqalani, Taqrib al-Tahdhib, Op Cit., p. 135].
      • Untuk Hajjaj bin Muhammad Al-A’war, Jika orang ini adalah orang yang sama dengan Hajjaj bin Muhammad Al Musaysi (Fakta nama keluarga mereka berbeda, mengindikasikan bahwa mereka BUKAN orang yang sama), maka pendapat para ulama mengenai Hajjaj bin Muhammad Al A’war adalah juga sangat positif, misalnya: Nasa’i, Ibn Madini, Ibn HIbban dan Tabari menyatakan Hajjaj seorang Tsiqah (jujur), sementara Adz Dzahabi menyatakan Hajjaj seorang Hafiz. Hadis yang berasal dari Hajjaj bin Muhammad juga digunakan oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Tirmidhi, Ibn Majjah, Ad Darimi dan pengumpul lainnya.

      Jadi tidak ada alasan mempermasalahkan hadis penciptaan ini

    Berikut ini adalah dari The History of al-Tabari, Vol.1 – General Introduction and from the Creation to the Flood (trans. Franz Rosenthal, State University of New York Press, Albany 1989), pp. 187-193:

      “.. kemudian, demikian juga, Terdapat (juga) sebuah tradisi yang berasal dari Rasullulah yang disampaikan oleh Hannad b Al-Sari, yang juga berkata bahwa Ia baca semua hadis (Abu Bakar) – Abu Bakr b ‘Ayyash – Abu Sa’ad al-Baqqal – ‘Ikrimah – IBN ABBAS

        Para Yahudi datang kepada Nabi dan bertanya tentang penciptaan langit dan bumi. Dia mengatakan:

        Allah menciptakan bumi di hari Minggu dan Senin.
        Dia menciptakan pegunungan dan penggunaannya untuk yang mereka miliki di hari Selasa.
        Di hari Rabu, Dia ciptakan pohon, air, kota-kota dan pembudidayaan tanah tandus.

        Ini adalah empat (hari).

        Ia melanjutkan (mengutip quran): ‘”Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua hari dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? demikian itu adalah Rabb semesta alam”. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanannya (semua) dalam empat hari. bagi orang-orang yang bertanya.

        Di hari Kamis, Ia ciptakan langit.
        Di hari Jumat, Ia ciptakan bintang-bintang, Matahari, bulan dan malaikat, hingga tersisa 3 jam.

        Di bagian awal dari 3 jam ini, Ia ciptakan kondisi (dari manusia) siapa yang akan hidup dan siapa yang akan mati.
        Di bagian ke-2, Ia jauhkan kerusakan pada setiap yang berguna bagi manusia.
        dan di waktu ke-3, (Ia menciptakan) Adam dan memerintahkannya berdiam di Surga, Ia perintahkan iblis bersujud dihadapan Adam dan ia usir adam dari surga di akhir jam.

        Ketika para yahudi bertanya: Kemudian apa, Muhammad?
        Ia berkata: ‘kemudian Ia duduk di tahtanya.’
        Para Yahudi berkata: Kamu benar, jika kau telah selesai, Mereka berkata dengan: Ia kemudian beristirahat

        Mendengar itu Nabi marah besar dan berkata, ‘Kami ciptakan langit-langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya dalam 6 hari, dan kelelahan tidak menyentuh kami. berhati-hatilah dengan ucapan kalian’”

    dan:

      “Menurut al-Muthanna – al-Hajjaj – Hammad – ‘Ata’ b. al-Sa’ib – ‘Ikrimah:

        Para Yahudi bertanya pada Nabi: Bagaimana dengan Minggu? Rasullullah menjawab: Di hari itu, Allah menciptakan bumi dan menyebarkannya.
        Mereka bertanya tentang Senin, dan Ia menjawab: Di hari itu, Ia ciptakan Adam.
        Mereka bertanya tentang Selasa, dan Ia menjawab: Di hari itu, Ia ciptakan pegunungan, air dan banyak lagi.
        Mereka bertanya tentang Rabu, dan Ia menjawab: Makanan.
        Mereka bertanya tentang Kamis, dan Ia menjawab: Ia menciptakan para langit.
        Mereka bertanya tentang Jumat, dan Ia menjawab: Allah menciptakan Malam dan Siang.
        Mereka bertanya tentang Sabtu dan menyinggung tentang istirahatnya allah (atas hari itu), ia berseru: Terpujilah Allah! Allah kemudian menyampaikan: Kami ciptakan langit-langit dan bumi dan apa yang ada diantaranya dalam 5 hari dan kelelahan tidak menyentuh kami’”

    Komentar dari Tabari:

      “Dua riwayat yang disampaikan pada kami dari Rasullullah telah menjelaskan bahwa Matahari dan bulan diciptakan setelah Allah menciptakan banyak hal pada ciptaannya.

      Itu karena hadis dari Ibn Abbas yang bersandar pada Rasullullah mengindikasikan bahwa Allah menciptakan Matahari dan Bulan pada hari JUMAT.

      Jika demikian, bumi dan langit dan apa yang ada didalamnya, kecuali para malaikat dan Adam, diciptakan Allah sebelum menciptakan Matahari dan bulan.

      Semua ini (demikian) terjadi ketika tidak ada cahaya dan tidak ada hari, karena malam dan siang hanyalah benda merujuk jam-jam yang dikenal melalui pergerakan lintasan melingkar matahari dan bulan.

      Sekarang, Jika ini benar bahwa bumi dan matahari dan apa yang ada di dalamnya, kecuali yang telah kami sebutkan, terjadi ketika tidak ada matahari dan bulan, kesimpulannya adalah semua terjadi ketika tidak ada malam ataupun siang.

      Hal yang sama (hasil tersimpul dari) mengikuti hadis dari Abu Hurayrah yang bersandar dari rasullullah:

      Allah menciptakan cahaya pada hari RABU – arti dari ‘cahaya’ matahari, jika Allah berkehendak.”

  6. Penciptaan 7 langit yang berbentuk kubah tanpa tiang terlihat yang ada di atas bumi yang datar:

    [88:18] Dan pada (wa-ilā) langit (al-samaai), bagaimana (kayfa) ditinggikan (rufiʿat)?

    [52:5] demi atap (wal-saqfi) yang ditinggikan (al-marfūʿi),

    [22:65] ..Dan Dia menahan (wayum’siku) langit (al-samaaa) terhadap (an) jatuh (taqaʿa) ke (alaa) bumi (al-ardhi),..

    [31:10] Ia menciptakan (khalaqa) para langit (al-samāwāti) tanpa (bighayri) tiang (ʿamadin) yang kamu lihat dan menancapkan (wa-alqā, lempar, jatuhkan, tancap) di bumi pasak-pasak [rawāsiya (jamak) = gunung-gunung, lihat AQ 78.7, 79.32] terhadap (an) goncangan (tamida) bersama kalian (bikum)

    [21:32] Dan Kami menjadikan (walja’alna) langit (al-samaaa) atap (saqfan) yang terpelihara (mahfuuzan) ,[..] [Tafsir Ibn Kathir: Artinya, menutupi bumi seperti kubah di atasnya.]

    [40:64] Allah-lah (Allahu) Ia yang (alladzii) menjadikan (ja’ala) bagimu (lakum) bumi (al ardhi) tempat menetap (qaraaran) dan langit (waalsamaaa) kubah/kanopy (binaaan)..

    [2:22] Ia yang (aladzii) menjadikan (ja’ala) bagimu (lakum) bumi (al-ardha) hamparan (firaashan) dan langit (wal-samaaa) atap/canopy (binaaan)..

    Allah (huwa) Ia yang (alladzii) menciptakan (khalaqa) untukmu (lakum) apa (maa) di (fii) Bumi (al-ardhi) segalanya (jamīʿan). Kemudian (tsumma) menuju (is’tawā) pada (ilaa) langit (al samaai) lalu disamaratakanlah mereka (fasawwāhunna) tujuh (sab’a) langit (samāwātin). Dan Dia (wahuwa) pada segala (bikulli) hal (shayin) Maha tahu (ʿalīmun).[AQ 2.29]

    Tafsir Ibn kathir berkenaan dengan ayat 2:22,29,

      Ayat ini mengindikasikan bahwa Allah memulai penciptaan dengan menciptakan BUMI baru kemudian membuat LANGIT menjadi 7 langit. Ini adalah bagaimana bangunan biasanya di mulai, lantai dulu baru kemudian bagian atapnya [juga dikatakan oleh Mujahid, Ibn Abbas bahwa bumi duluan diciptakan]

    Allah-lah (Allahu) Ia yang (alladzii) menciptakan (khalaqa) tujuh (sab’a) langit (samāwātin) dan dari (wamina) bumi (al-ardhi) seperti itu pula (mith’lahunna). [AQ 65.12].

      Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs untuk AQ 65.12:
      Bahwa (Allah-lah yang menciptakan tujuh langit) satu di atas yang lainnya seperti KUBAH, (dan seperti itu pula bumi) tujuh bumi tapi mereka DATAR.

    [13:2] Allah-lah (Allahu) Ia Yang (alladzii) meninggikan [rafaʿa] para langit (al-samāwāti) tanpa (bighayri) tiang (ʿamadin) yang kamu lihat (tarawnahaa), kemudian (tsumma) bersemayam (istawaa) di atas (‘alaa) ‘Arasy, dan memperjalankan (wasakhkhara) matahari dan bulan (al-shamsa waal-qamara). Masing-masing (kullun) berjalan (yajri) menurut waktu (liajalin) yang ditetapkan (musamman). Mengatur (yudabbiru) urusan (al-amra), menjelaskan (yufaṣṣilu) tanda-tanda (al-āyāti), agar kamu dapat bertemu tuhanmu dengan keyakinan.

    Tafsir Ibn kathir untuk ayat [13:2],

    • Allah, mengangkat para langit tanpa pilar & mengangkat para langit tinggi jauh diatas Bumi.
    • Berkenaan dengan kalimat (memperjalankan matahari dan bulan. Masing-masing berjalan menurut waktu yang ditetapkan) adalah seperti yang Allah maksudkan di surat 36:38 (dan matahari berjalan dijalurnya (limustaqarrin)) [Ada dua pendapat dan keduanya menyatakan Matahari dan bulan yang bergerak terus menerus]. ‘arsy adalah atap dari ciptaan dan tidak berbentuk BULATAN seperti banyak di klaim oleh astronomer. Lebih seperti KUBAH yang di topang oleh pilar. Ditandu oleh para malaikat dan di atas dunia, di atas kepala-kepala orang. Menurut Nabi sebagaimana diriwayatkan Abu Dharr:
      Ketika senja [magrib], Nabi bertanya padaku, “Apakah kau tau kemana Matahari itu pergi (saat Magrib)?! Aku jawab, “Allah dan rasulnya yang lebih tau.” Ia jawab, “Ia berjalan hingga berhenti pada tempatnya di bawah Arsy lalu menyungkur sujud dan mohon ijin untuk terbit kembali, dan diijinkan dan kemudian (waktunya akan tiba) dia minta agar terus saja bersujud namun tidak diperkenankan dan minta izin namun tidak diizinkan dan dikatakan kepadanya: “Kembalilah ke tempat asal kamu datang” dan ia akan terbit dari tempatnya terbenamnya tadi (barat). Itulah penafsiran dari sabda Allah “dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (AQ 36:38) [Bukhari: no.2960/4.54.421, no.4428/6.60.327, no.6874/9.93.520 dan no.6881/9.93.528. Juga Muslim: no.228/1.297]
    • ‘Ada pilar namun tidak dapat kamu lihat’ menurut Ibn `Abbas, Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, dan beberapa lainnya.
    • Iyas bin Mu`awiyah, “Langit itu seperti kubah di atas bumi’, artinya tanpa tiang. Serupa seperti Qatadah katakan
    • Ibn Kathir menyatakan bahwa pendapat terakhir [Iyas bin Mu’awiyah] adalah lebih baik mengingat Allah juga menyatakan di ayat lainnya [22:65] yaitu ‘Dia menahan langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya?’

    Matahari yang berjalan dengan lintasan yang berbentuk kubah dari Timur ke Barat dan terbenam di air (bersujud di arsy-nya Allah yang ada di atas air), tercantum dalam perjalanan Zulkarnaen dari ufuk timur hingga ufuk barat:

      “Mereka menanyaimu [wayas-aluunaka] tentang Dzulkarnain. Katakanlah Aku bacakan [qul sa-atluu] padamu [ʿalaykum] cerita tentangnya. Sesungguhnya telah diberikannya kekuasaan [makkannaa lahu] di bumi, dan Kami telah berikan [waaataynaahu] dari tiap suatu [min kulli shayin] jalan [sababaan].
      Maka iapun berjalan [fa-atba’a sababaan].
      Hingga [ḥattaa] ketika [idhaa] sampai [balagha] di tempat terbenam [maghriba] matahari [al shamsi], MENDAPATI itu [WAJADAHAA] terbenam [taghrubu] di [fii] mata air yang berlumpur hitam [ayyin hamiatin], dan mendapati [wawajada] DI DEKAT ITU/SEKITAR/SISI [indahaa] segolongan umat [qawman]…
      Hingga ketika sampai ke tempat terbit [mathli’a] matahari [al shamsi], MENDAPATI itu [WAJADAHAA] menyinari [tathlu’u] pada [‘alaa] segolongan umat [qawmin]…
      Hingga ketika sampai [balagha] di antara [bayna] dua gunung [alssaddayni], MENDAPATI [WAJADA] di [min] sebelahnya [duunihimaa] suatu kaum [qawman]..” [AQ 18.83-86, 90, 93]

    Karena Allah sendirilah yang menceritakan perjalanan Zulkarnaen: hingga sampai ke ufuk barat, hingga sampai ke ufuk timur dan hingga sampai di antara dua gunung. Di mana, di setiap area itu, Ia bertemu tiga kaum yang berbeda, maka ini bukanlah sebuah kiasan.

    Tafsir ibn kathir AQ 18.86 menyatakan “Ia menemukan matahari terbenam di laut hitam, bukan KIASAN karena ia menyaksikan sendiri. kata “al hami-ah” di ambil dari salah satu dua arti yaitu dari AQ 15.28, “lumpur hitam” (ini pendapat ibn Abbas). Ali bin abi thalhah “zulkarnaen mendapati matahari terbenam di laut yang panas” (juga pendapat Al Hasan Al basri). Ibn Jarir mengatakan keduanya benar yang mana saja boleh.

    Beberapa ayat Quran, misalnya Allah meninggikan langit tanpa tiang, menahan langit agar tidak jatuh ke bumi, memperjalankan matahari, menghamparkan bumi dan menancapkan gunung agar bumi tidak berguncang, memancarkan air dan menumbuhkan tumbuhan. Ini Jika dibandingkan dengan syair-syair Zaid bin Amr bin Nufail, misalnya: meninggikan langit tanpa penahan, menghamparkan bumi, memancangkan dengan gunung agar tidak berguncang dan meletakan bulan ditengahnya, sebagai penerangan di malam hari, memperjalankan matahari hari ke hari dan menumbuhkan tanaman [“Riwayat Hidup Muhammad“, Ibn Ishaq, diterjemahkan: A.Guillaume, Oxford University Press, Karachi, tenth impression, 1995 Hal. 101, 102; atau liat versi terjemahan Indonesia], maka, syair Zaid VS ayat quran ternyata mempunyai kemiripan yang sangat menakjubkan.

    Zaid bin Amr bin Nufail adalah seorang Hanif (Bukhari 5.58.169: Agama Abraham, bukan Yahudi dan bukan Kristen, tidak menyembah selain Allah. Agama ini diketahuinya di perjalanan ke Syiria/Sham ketika mencari ajaran dan di perjalanan pulangnya, Ia terbunuh). Zaid sebelumnya menetap di gua Hira (gunung Hira). Di Gua itulah Zaid bertemu Muhammad yang di sebelum menjadi Nabi kerap menyepi di gua Hira (Bukhari, 7.67.407; Ishaq hal.102). Sekurangnya sekarang, kita bisa memahami mengapa beberapa bagian syair tersebut memperkaya isi Quran.

  7. Penciptaan pelita-pelita (AQ 41.12, “mashaabiiha” = pelita), Qur’an memberikan konfirmasi bahwa bintang-bintang diciptakan sebagai hiasan langit, misil pelempar setan yang mencuri dengar dan untuk keperluan navigasi
      Demi langit [wa+al-samaa-i] dan [wa] YANG BERJALAN [al-ṭāriqi]. [wamā (Dan apa) + adrāka (memberitahukanmu) = dan tahukah kamu] apa [mā] YANG BERJALAN [al-ṭāriqu]? BINTANG [al-najmu] yang cemerlang (al-thāqibu) [AQ 86.2-3, Al Makiyya, turun urutan ke-36. kata “ṭāriqi/u” juga ada di (AQ 4.168,169; 20.63,77,104; 23.17, 46.30, 72.11,16) artinya berjalan/jalan]

      dan kami [wa-annā] menyentuh [lamasnā] langit [al-samāa], kemudian kami dapati [fawajadnāhā] penuh [muli-at] penjagaan [ḥarasan] keras [shadīdan] dan PANAH-PANAH API [syuhubaan], dan kami [wa-annā] pernah [kunna] menduduki [naqʿudu] dari itu [minha] tempat [maqāʿida] untuk mendengarkan [lilssamʿi] kemudian siapa [faman] yang mendengarkan [yastamiʿi] sekarang [l-āna] akan didapati [yajid] baginya [lahu] PANAH API [syihaaban] yang mengintai [AQ 72.8-9, Al Makiyya, turun di urutan ke-40. kata “syuhubaan/Syihaabun juga ada di (AQ 15.18, 27.7, 37.10) artinya panah api]

      Dan pastinya [walaqad] Kami jadikan [jaʿalnā] di [fī] langit [al-samāi] HIASAN-HIASAN [burūjan] dan Kami hiasi [wazayyannāhā] untuk mereka yang memandangnya [lilnnāẓirīna] dan Kami menjaganya [waḥafiẓ’nāhā] dari [min] tiap [kulli] syaitan [shayṭānin] terkutuk [rajīmin], kecuali [illā] Ia [mani] mencuri [is’taraqa] dengar [al-samʿa] maka Ia dikejar [fa-atbaʿahu] PANAH API [syihaabun] yang terang [mubīnun]. [AQ 15.16-18. Al Makiyya, turun urutan ke-54. Kata “burūjan” juga ada di (AQ 4.78, 25.61, 85.1, 33.33, 24.60) artinya benteng/benda-benda langit/hiasan]

        Tafsir Ibn kathir AQ 15.16-18: Mujahid dan Qatadah berkata bahwa Buruj merujuk pada benda-benda langit…`Atiyah Al-`Awfi berkata: “Buruj disini merujuk pada ‘benteng penjaga’. Ia dibuat jadi ‘Bintang jatuh’ untuk melindungi dari Iblis yang mencoba mendengarkan informasi dari langit tertinggi. Jika ada syaitan yang menerobos untuk mencuri dengar, sebuah ‘bintang jatuh’ datang dan menghancurkannya. Ia mungkin lolos dan menyampaikannya pada Syaitan lainnya di bawah[..]”

        Di AQ 25.61, “BerkatNya [tabāraka] yang [alladhī] menjadikan [jaʿala] di [fī] langit [al-samai] hiasan-hiasan [burūjan] dan menjadikan [wajaʿala] di situ [fīhā] sebuah lampu [sirājan] dan bulan [waqamaran] bercahaya [munīran].”.

        “sirajan” adalah matahari:
        “dan menjadikan [waja’ala] padanya [fiihinna] bulan [al-qamara] bercahaya [nūran] dan menjadikan Matahari [al-shamsa] lampu [siraajaan] [AQ 71.16]” + “dan menjadikannya [waja’alna] LAMPU [sirajan] yang amat terang/terik [wahhaajaan] [AQ 78.13]”.

        Di Islam, Bulan dan Matahari, keduanya memancarkan cahaya:
        “Ia-lah (huwa) yang [alladhī] menjadikan [ja’ala] Matahari [al-shamsa] bersinar [ḍiyāan] dan bulan [waqamaran] bercahaya [nūran] [AQ 10.5]”.

        Kata “munir”, “nuur”, “naar” berasal dari akar kata yang sama “nūn wāw rā (ن و ر)” artinya adalah memancarkan cahaya sendiri BUKAN memantulkan cahaya, Untuk jelasnya simak AQ 24.35: “Allah cahaya [nūru] langit dan bumi. Perumpamaan [mathalu] cahayaNya [nūrihi], seperti celah [kamish’katin], di dalamnya [fīhā] ada pelita [miṣ’bāḥun]. Pelita itu [al-miṣ’bāḥu] di [fī] kaca [al-zujājatu] itu seperti [ka-annahā] sebuah bintang [kawkabun] berkilauan [durriyyun], dinyalakan [yūqadu] dari [min] pohon [shajaratin] berkah [mubārakatin], pohon zaitun [zaytūnatin] tidak [lā] di timur [sharqiyyatin] dan tidak [walā] di barat [gharbiyyatin], yang hampir [yakādu] minyaknya [zaytuhā] menerangi [yuḍīu] walau [walaw] tidak [lam] disentuh [tamsashu] api [nārun]. Cahaya [nūrun] di atas [ʿalā] cahaya [nūrin]”

      Sesungguhnya [innā] Kami hiasi [zayyannā] langit [Al-samāa] terdekat/dunia [al-dunyaa] dengan hiasan [bizīnatin] BINTANG-BINTANG [al-kawākibi]. dan menjaganya dari tiap syaitan durhaka [māridin]. Tidak [lā] mereka dapat dengarkan [yassammaʿūna] malaikat [Al-mala-i] yang tinggi [al-a’laa] dan mereka dilempari [wayuq’dhafūna] dari [min] tiap [kulli] sisi [jānibin] terusir [duḥūran] dan bagi mereka [walahum] siksaan [adhābun] terus menerus [wāṣibun], kecuali [illā] Ia [man] mencuri [al-khaṭfata] maka Ia dikejar [fa-atbaʿahu] PANAH API [syihaabun] yang cemerlang (thāqibu). [AQ.37.6-10. Al makiyya, turun di urutan ke-56. Kata “al-kawākibi” juga ada di (AQ 6.76, 12.4, 24.35, 82.2) artinya bintang-bintang]

      Dan pastinya Kami hiasi langit terdekat dengan PELITA-PELITA [mashaabiiha], dan menjadikan mereka [wajaʿalnāhā] rudal/perajam [rujūman] untuk syaitan-syaitan [lilsysyayaathiini],..[AQ 67.5. Al makiyya, turun di urutan ke-77. Kata “mashaabiiha” juga ada di (AQ 41.12, 24.35) artinya pelita]

        AQ 24.35 di atas, menunjukan persamaan pelita dan bintang. Tafsir Ibn kathir 67.1-5: Qatadah berkata: “Bintang-bintang (Ạlnjwm,”النجوم”) diciptakan hanya untuk tiga kegunaan, yaitu: Hiasan di langit, Alat pelempar setan dan petunjuk Navigasi, Jadi siapapun yang mencari interpretasi lain tentang bintang selain ini maka itu jelas merupakan opini pribadi, Ia telah melebihi porsinya dan membebani dirinya dengan hal-hal yang ia sendiri tidak punya pengetahuan tentang ini.” [Ibn Jarir dan Ibn Hatim mencatat riwayat ini]

        note:
        Qatada sfesifik menyatakan Al njwm (bintang-bintang) bukan An-Nayzak (metoroid, “النَيزَك”) dan bukan Al-Mudzannab (komet, “المذنب”)

      Memperhatikan Quran vs Tafsirnya, maka ini tidaklah merujuk pada meteor dan jelas merujuk pada bintang.

      Tampak jelas para pemikir islam, allah dan Muhammad memang tidak berpengetahuan apapun tentang semesta dan bahkan tidak mempunyai kemampuan dalam membedakan antara bintang, matahari, planet, bulan, asteroid, komet, metoroid, meteor dan meteorit:

      • Bintang adalah Semua benda masif yang sedang dan pernah melakukan pembangkitan energi melalui reaksi fusi nuklir. Bintang yang tidak lagi melakukan pembakitan energi disebut bintang katai, panas bintang ini berangsur-angsur padam dan inipun masih luar biasa panas. Bintang katai terdingin (merah) bersuhu permukaan 2000 – 3500 K (matahari: 5000-6000 K).

        Bintang katai terdiri dari: Katai merah (massa rendah); Katai kuning (massa sebanding dengan Matahari); Katai putih (tahap akhir siklus hidup bintang, ia terdiri dari materi elektron terdegenerasi, tidak cukup masif untuk menjadi supernova tipe II-bintang-bintang (memiliki 0,5-10 massa matahari, diameter hampir sama dengan bumi atau sekitar 100 x lebih kecil dari matahari. Suhu permukaannya: 8.000 K); Katai coklat (kurang masif untuk melangsungkan fusi hidrogen menjadi helium – massa < 0,08 massa Matahari) dan Katai gelap (katai putih yang terdinginkan, tidak lagi memancarkan cahaya dalam panjang gelombang tampak). Lama waktu Bintang-bintang kehilangan panasnya secara perlahan seumuran dengan usia semesta

      • Bintang Antares vs Bintang acturus: Bola kaki vs kelereng kecil. Matahari seukuran 1 pixel.
      • Bintang Acturus vs Bintang Matahari: Bola kaki vs kelereng kecil. Yupiter seukuran 1 pixel.
      • Bintang Matahari vs Planet Yupiter: Bola kaki vs kelereng kecil.
      • Planet Yupiter vs Planet bumi: Bola kaki vs kelereng kecil.
      • Matahari adalah bintang dengan jarak terdekat dari bumi. Ia menghasilkan cahaya. Massa matahari kurang lebih 99,86% massa total Tata Surya. Matahari bermassa 333.000 x massa bumi dan bervolume 1.3 juta x volume Bumi.
      • Planet adalah benda angkasa yang mengorbiti sebuah bintang (atau sisa bintang), mempunyai massa yang cukup untuk memiliki gravitasi sendiri dalam mengatasi tekanan rigid body sehingga punya kesetimbangan hidrostatik (berbentuk hampir bulat), tidak terlalu besar yang dapat menyebabkan fusi termonuklir terhadap deuterium intinya dan telah “membersihkan lingkungan” (mengosongkan orbit) dari benda-benda angkasa lain selain satelitnya sendiri. Berdiameter > 800 km
      • Satelit planet adalah benda angkasa bukan buatan manusia yang mengorbiti planet.
      • Asteroid adalah benda angkasa berukuran lebih kecil daripada planet namun lebih besar daripada meteoroid, Asteroid terdiri dari karbon dan metal dan mengorbit matahari.
      • Komet terdiri dari debu dan es yang berasal dari sabuk Kuiper Belt (kabut Oort), mengorbit matahari dengan jarak orbit berbentuk elips dan lebih jauh dari asteroid. Ketika orbitnya mendekati matahari, radiasi matahari menguapkan es disekitarnya dan jejak uap tersebut membuatnya tampak berekor
      • Meteoroid adalah pecahan asteroid (atau benda angkasa lainnya, namun rata-rata berasal dari pecahan asteroid yang saling bertubrukan) ukurannya lebih kecil dari asteroid dan lebih besar dari molekul.
      • Meteor adalah meteorid yang berhasil masuk ke atmospher bumi dengan kecepatan supersonik. Atmospher terdiri dari fluida (gas dan cairan) kecepatan tersebut menimbulkan tekanan yang sangat besar yang terjadi di depan metor. Tekanan ini memanaskan udara dan itu kemudian memanaskan meteor hingga menjadi terbakar. Inilah yang kemudian disebut bintang jatuh.
      • Meteor yang tidak habis terbakar dan jatuh ke bumi disebut Meteorit

Kosmologi bumi dan langit di atas Ikan paus ini benar-benar dapat menjelaskan banyak hal dalam logika berpikir yang islami, diantaranya adalah:

  • Adalah sangat wajar bumi ini didatarkan atau digepengkan seperti martabak dan gunung-gunung dipancang sebagaimana maksud surat:
    • Luqman 31:10, “Ia menciptakan (khalaqa) para langit (al-samāwāti) tanpa (bighayri) tiang (ʿamadin) yang kamu lihat dan menancapkan (wa-alqā, lempar, jatuhkan, tancap) di bumi pasak-pasak [rawāsiya (jamak) = gunung-gunung, lihat AQ 78.7, 79.32] terhadap (an) goncangan (tamida) bersama kalian (bikum)”
    • Al-Anibiya’) 21:31, “Dan menjadikannya di bumi pasak-pasak terhadap goncangan bersama mereka (bihim).”
    • Al-Nahl 16:15 “Dan menancapkan di bumi pasak-pasak terhadap goncangan bersama kalian”
    • An Naba’ 78.6-7, “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? dan gunung-gunung (waaljibaala) sebagai pasak-pasak (awtadan. Di AQ 79.32 arsaahaa = pasak/pemancang)?”

    Dalam tafsir Ibnu kathir surat 21:30-33,

    (Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh,) artinya, gunung-gunung yang menstabilkan bumi dan menjaganya agar tetap kokoh dan memberikannya berat, jika tidak itu seharusnya goncang bersama orang-orang, misal, bergerak dan bergetar sehingga mereka tidak dapat berdiri tegak di atasnya — karena ini diliputi oleh air, bagian dari 1/4 permukaannya.

    mengapa?

    Adalah demi mencegah daratan ikut-ikutan bergerak-gerak liar dan bahkan dapat berakibat terguling ketika sang ikan bergerak-gerak.

    Ini Sungguh suatu yang sangat cerdas dan brilian, bukan?!

  • Mengapa sangat wajar terjadinya banjir Nuh yang dapat menenggelamkan seluruh dunia hingga puncak tertinggi dunia sebagaimana terekam pada riwayat dibawah ini:

    Ibn Abbas mengatakan, [..]seluruh air menutupi seluruh permukaan bumi hingga akhirnya mengelilingi puncak2 gunung dan bahkan main tinggi melebihnya setinggi 15 hasta. Dikatakan juga bahwa gelombang itu tingginya 80 mil melampaui gunung-gunung. Perahu tersebut terus berlayar dibawah perlindungan Allah…[Tafsir Ibn Kathir untuk surat 11:40-43]

    Mengapa?

    Adalah karena bumi ini ada di atas punggung IKAN! Ikan hidupnya di air sehingga kebutuhan VOLUME AIR yang luarbiasa besar bukanlah menjadi persoalan dan sudah tersedia dengan sangat MELIMPAHnya. Jangankan cuma 80 mil, bahkan 2x dari itupun masih sangat melimpah, bukan?!

    Ini sungguh suatu yang sangat cerdas dan brilian, bukan?! []



Sekarang jelas sudah bahwa pendapat Ibnu Hazm, Ibnu Al-Jawzi, Ibnu Taymiya dan Ibnu khaldun (jika benar mereka berpendapat demikian) adalah BERTENTANGAN dengan Qur’an dan Hadis. Untuk itu kita perlu ketahui darimana asal muasal pendapat itu muncul di dunia Islam.

Rekam Jejak Sejarah Mengapa Para Cendekiawan Muslim pertengahan seperti Ibnu Hazm, Ibnu Al-Jawzi, Ibnu Taymiya dan Ibnu Khaldun akhirnya Ikut menyatakan bahwa bumi itu bulat

Perubahan pendapat ini mulai berkembang sejak Dinasti Abbasid, di mana banyak naskah kuno Yunani, India dan Persia diterjemahkan ke dalam bahasa arab pada abad ke 9. Zij al-Sindhind, yang berasal dari Surya Siddhanta dan karya-karya dari Brahmagupta, diterjemahkan oleh Muhammad al-Fazari dan Yaqūb ibn Tāriq pada tahun 777. Penterjemahan ini dilakukan setelah Indian astronomer datang mengunjungi pusat tempat Al-Mansur in 770. Naskah kuno persia yang diterjemahkan adalah Zij al-Shah.

Boyer (1991). “The Arabic Hegemony”,P. 226:

    Di tahun 766, karya astronomical matematik yang dikenal di Arab sebagai Sindhind, dibawa ke bagdad dari India. Umumnya dikenal sebagai Brahmasputa Siddhanta (Brahmagupta), Ada kemungkinan bahwa itu adalah Surya Sidhanta. Di sekitar tahun 775 Sidhanta ini diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Dan tidak beberapa lama kemudian (780 M) ‘tetrabiblos’ dari Ptolemy diterjemahkan kedalam bahasa Arab.

Brahmagupta, and the influence on Arabia:

    Melalui Brahmasphutasiddhanta, bangsa arab mengetahui tentang Astronomi India. Kalifah Abbasid, Al-Mansur (712–775) mendirikan Baghdad di tepi sungai tigris sebagai pusat pengajaran. Khalifah tersebut mengundang pelajar dari Ujjain yang bernama Kankah pada tahun 770. Kankah menggunakan Brahmasphutasiddhanta untuk menerangkan system aretmetic astronomi Hindu. Atas permintaan Khalifah, Muhammad al-Farazi menterjemahkan karya Brahmagupta ke dalam bahasa Arab

Al Basyar Vol. IV th 2005, Ulum al Awail, Ditulis Oleh KH. Husein Muhammad:

    ..sejarah peradaban Islam abad pertengahan telah memperlihatkan kepada kita bagaimana para khalifah Islam memberikan apresiasi yang tinggi terhadap Ulum al Awail. Sejak abad VIII Masehi, Khalifah Harun al Rasyid telah menarik ke istananya para cerdik pandai dan ahli bahasa dari segala bangsa dan agama. Mereka ditugasi menerjemahkan buku-buku Ulum al Awail. Penggantinya, khalifah Makmun, bahkan mendirikan sekolah penerjemah dan perpustakaan besar: “Bait al Hikmah” yang berisi sejuta buku.

    Salah seorang penerjemah kenamaan adalah Hunain bin Ishak seorang Kristen. Dialah yang kemudian menterjemahkan karya-karya kedokteran matematika, astronomi, fisika di samping karya-karya filsafat, etika dan politik para sarjana Barat. Sementara Al Fazari menerjemahkan buku astronomi India; Shidanta karangan Brahmagupta.

    Dari karya penerjemahan Ulum al Awail ini kemudian lahir para sarjana, ilmuwan dan filosof muslim; Al Farabi, al Razi, al Khawarizmi, Ibnu Sina, Ibnu Thufail, Ibnu Rusyd, Ibnu Haitsam, Al Biruni, Ibnu Khaldun dan lain-lain. Mereka kemudian mengulas, mengkritisi dan mengembangkan pikiran-pikiran Ulum al Awail dalam bentuknya yang sangat menakjubkan melalui tulisan-tulisan mereka. Berkat mereka ilmupengetahuan dan peradaban Islam mencapai puncak kejayaannya dan memberikan sumbangan yang berarti bagi dunia modern di Barat.

    Adalah menarik bahwa Imam Syafi’i, pendiri mazhab fiqh besar, ternyata pernah mempelajari bahasa Yunani. Ibnu al Qayyim dalam bukunya “Miftah Dar al Sa’adah” mengutip informasi dari Abu Abdullah al Hakim dalam bukunya “Manaqib al Syafi’i” bahwa al Syafi’i suatu hari pernah mengatakan: “Aku memahami pikiran-pikiran Aristoteles, Mahraris, Porporius Galenus Epicurus dan Asdoples, melalui bahasa mereka”. (Sami Nasyar, Manahij al Bahts ‘Inda Mufakiri al Islam”, 84).

    Note:
    Ulum al Awail berarti ilmu-ilmu klasik, kuno atau ilmu-ilmu sebelum Islam. Tetapi istilah ini dimaksudkan sebagai ilmu-ilmu yang dihasilkan oleh kebudayaan Yunani melalui para filosofnya, seperti Plato, Aristoteles, Galenus, Hippocritus dan lain-lain. Bahkan mungkin juga yang dihasilkan oleh kebudayaan India atau Cina. Dalam konteks yang lain “Ulum al Awail” juga berarti “Ulum al Ghair”, atau “Ulum al Ajanib”, ilmu-ilmu asing.

David E. Duncan, The Calendar, Fourth Estate, London, 1999, pp.150-210 menulis sebagai berikut:

    Pada tahun 773, sekitar 250 tahun setelah kematian Aryabhat (476-550). Suatu delegasi diplomat tiba dari dataran rendah lembah sungai Indus di Ibukota Arab yang baru yaitu Bagdhad. Berpakaian sutra dengan warna cerah, memakai sorban dan dihiasi permata. Tiba di luar gerbang kota Al-Mansur (754-775) yang indah, utusan khusus ini membawa seorang ahli astronomi bersama mereka, Kanaka, seorang ahli menenai gerhana, Ia membawa kumpulan kecil pustaka tentang Astronomi India untuk diberikan kepada sang Khalifah, termasuk didalamnya adalah Surya Siddhanta, karya Brahmagupta dan karya Aryabhata. Tidak banyak yang diketahui tentang Kanaka. Referesi pertama yang diketahui tentang Kanaka ditulis sekitar 500 tahun kemudian oleh seorang sejarahwan Arab yang bernama Al-Qifti

    Menurut Al Qifti, sang khalifah begitu terpesonannya dengan pengetahuan yang terdapat di tulisan-tulisan bangsa India. Ia kemudian memerintahkan untuk menterjemahkannya ke dalam bahasa arab dan kemudian dinamakan ‘Sindhind yang besar’ (Sindhind adalah kata Arab untuk kata sangsekertanya Siddhanta).”

    Dimana kemudian Mereka (Arabia) pergi ke eropa yang Kristen melalui syria, dan kemudian menduduki spanyol. Pada tahun 1126 Sindhind diterjemahkan kedalam bahasa latin. Ini merupakan satu di antara lusinan document penting yang memberikan kontribusi pengetahuan yang dibutuhkan untuk mendorong eropa pada era modern” tambah Duncan

    … Ketika para penduduk Baghdad mengetahui dari karya Aryabhata bahwa bumi itu Bulat dan berdiameter 8316 mil, berputar pada porosnya. Banyak dari mereka yang kemudian mempercayainya dan berkeinginan juga untuk mengukurnya sendiri. Inspirasi yang sama membawa mereka para penduduk Abbasid untuk mengembangkan eksperimen-eksperimen. Suatu fakta bahwa bangsa Arab yang selalu berusaha untuk memperluas perbatasan mereka memasuki Eropa menjadi tidak lagi menginvasi India setelah kemenangan atas Sind dan di Sind juga, pembantaian dan pemaksaan untuk pindah agama kemudian berhenti dilakukan. Apakah alasannya karena sedikit menghargai India? Kata Matematik dalam bahasa arab adalah ‘hindi’ yang berati ‘seni India’.

Sumber lain juga menyatakan bahwa penterjemahan karya aryabhata ‘aryabhatiya’ dilakukan oleh Al khwarizmi (780-850) di abad ke 8. Penterjemahan dalam bahasa latin dilakukan pada abad ke 13.

Tahun 1030, Al Biruni (973-1048) melakukan diskusi mengenai karya Aryabhata, Brahmagupta dan Varahamihira dalam Ta’rikh al-Hind (Dalam Inggris, Chronicles of India). Beliau sering kali mengutip Brahmagupta’s Brahmasiddhanta untuk bumi berputar pada rotasinya. [Edward Sachau (tr. and ed.), Alberuni’s India, Indialog Publications, New Delhi, ISBN 81-87981-42-3, p.207-8)] []



Fatwa Matahari mengelilingi Bumi

Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin ditanya: “Apakah Matahari berputar mengelilingi bumi?”.

Jawaban:

“Dhahirnya dalil-dalil syar’i menetapkan bahwa mataharilah yang berputar mengelilingi bumi dan dengan perputarannya itulah menyebabkan terjadinya pergantian siang dan malam di permukaan bumi, tidak ada hak bagi kita untuk melewati dhahirnya dalil-dalil ini kecuali dengan dalil yang lebih kuat dari hal itu yang memberi peluang bagi kita untuk menakwilkan dari dhahirnya.

Diantara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa matahari berputar mengelilingi bumi sehingga terjadi pergantian siang dan malam adalah sebagai berikut:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Ibrahim akan hujahnya terhadap yang membantahnya tentang Rabb. “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” [Al Baqarah : 258]

  • Maka keadaan keadaan matahari yang didatangkan dari timur merupakan dalil yang dhahir bahwa matahari berputar mengelilingi bumi.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman juga tentang Ibrahim. “Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: ‘Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar’, maka tatkala matahari itu terbenam dia berkata : ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.'” [Al-An’am : 78]

  • Jika Allah menjadikan bumi yang mengelilingi matahari niscaya Allah berkata: “Ketika bumi itu hilang darinya”.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka berada disebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu.” [Al-Kahfi : 17]

  • Allah menjadikan yang condong dan menjauhi adalah matahari, itu adalah dalil bahwa gerakan itu adalah dari matahari, kalau gerakan itu dari bumi niscaya Dia berkata: “gua mereka condong darinya(matahari)”. Begitu pula bahwa penyandaran terbit dan terbenam kepada matahari menunjukkan bahwa dialah yang berputar meskipun dilalahnya lebih sedikit dibandingkan dilalah firmanNya “(condong) dan menjauhi mereka)”.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang,matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” [Al-Anbiya’ : 33]

  • Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata:”Berputar dalam suatu garis peredaran seperti alat pemintal”. Penjelasan itu terkenal darinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat,” [Al-A’raf : 54]

  • Allah menjadikan malam mengejar siang, dan yang mengejar itu yang bergerak dan sudah maklum bahwa siang dan malam itu mengikuti matahari.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang banar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” [Az Zumar : 5]

  • FirmanNya: “Menutupkan malam atau siang” artinya memutarkannya atasnya seperti tutup sorban menunjukkan bahwa berputar adalah dari malam dan siang atas bumi. Kalau saja bumi yang berputar atas keduanya (malam dan siang) niscaya Dia berkata: “Dia menutupkan bumi atas malam dan siang”.
  • Dan firmanNya: “matahari dan bulan, semuanya berjalan”, menerangkan apa yang terdahulu menunjukkan bahwa matahari dan bulan keduanya berjalan dengan jalan yang sebenarnya (hissiyan makaniyan), karena menundukkan yang bergerak dengan gerakannya lebih jelas maknanya daripada menundukkan yang tetap diam tidak bergerak.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya,” [Asy-Syam : 1-2]

  • Makna (mengiringinya) adalah datang setelahnya. dan itu dalil yang menunjukkan atas berjalan dan berputarnya matahari dan bulan atas bumi. Seandainya bumi yang berputar mengeliligi keduanya tidak akan bulan itu mengiringi matahari, akan tetapi kadang-kadang bumi mengelilingi matahari dan kadang-kadang matahari mengeliling bulan, karena matahari lebih tinggi dari pada bulan. Dan untuk menyimpulan ayat ini membutuhkan pengamatan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dan malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan, dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai tandan yang tua. Tidaklah mugkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yaa-Siin : 37-40]

  • Penyandaran kata berjalan kepada matahari dan Dia jadikan hal itu sebagai kadar/batas dari Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui menunjukkan bahwa itu adalah haqiqi (sebenarnya) dengan kadar yang sempurna, yang mengakibatkan terjadinya perbedaan siang malam dan batas-batas (waktu).
  • Dan penetapan batas-batas edar bulan menunjukkan perpindahannya di garis edar tersebut. Kalau seandainya bumi yang berputar mengelilingi maka penetapan garis edar itu bukannya untuk bulan. Peniadaan bertemunya matahari dengan bulan dan malam mendahului siang menunjukkan pengertian gerakan muncul dari matahari, bulan malam dan siang.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam berkata kepada Abu Dzar radhiallahu anhu dan matahari telah terbenam. “Apakah kamu tahu kemana matahari itu pergi ?” Dia menjawab: “Allah dan RasulNya lebih tahu”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya dia pergi lalu bersujud di bawah arsy, kemudian minta izin lalu diijinkan baginya, hampir-hampir dia minta izin lalu tidak diijinkan. Kemudian dikatakan kepadanya: “Kembalilah dari arah kamu datang lalu dia terbit dari barat (tempat terbenamnya) atau sebagaimana dia bersabda [Muttafaq ‘alaih] (1)

  • PerkataanNya: “Kembalilah dari arah kamu datang, lalu dia terbit dari tempat terbenamnya” sangatlah jelas sekali bahwa dia (matahari) itulah yang berputar mengelilingi bumi dengan perputarannya itu terjadinya terbit dan terbenam.

Hadits-hadits yang banyak tentang penyandaran terbit dan terbenam kepada matahari, maka itu jelas tentang terjadinya hal itu dari matahari tidak kepada bumi.”

  • Boleh jadi disana masih banyak dalil-dalil lain yang tidak saya hadirkan sekarang, namun apa yang telah saya sebutkan sudah cukup tentang apa yang saya maksudkan. Wallahu Muwaffiq.”

[Sumber: Majmu Fatawa Arkanul Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah Dan Ibadah, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Terbitan Pustaka Arafah]
—————–

Catatan Kaki

  • (1) Dikeluarkan oleh bukhari, Kitab Bad’ul Khalqi, bab shifat asy syam wal qamar : 3199, dan muslim, kitab Al Iman, bab Bayan az Zaman al Ladzi la yuqbal fihil Iman : 159
  • Riwayat singkat Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Tokoh Ahlus Sunnah dari Unaizah ini Dilahirkan di kota Unaizah tanggal 27 Ramadhan 1347 H (1927)- meninggal 15 Syawal 1421 H (10 Januari 2001) dalam usia 74 tahun. Belajar Al-Qur’an dari kakeknya dari ibunya yaitu Abdurrahman Bin Sulaiman Ali Damigh Rahimahullah. Guru utama beliau yang pertama adalah Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’di, Guru kedua Beliau adalah Abdul Aziz Bin Baaz.

    Ketika Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’di wafat, beliau menggantikan sebagai imam masjid jami’ di Unaizah dan mengajar di perpustakaan nasional Unaizah disamping tetap mengajar di ma’had Al Ilmi. Kemudian beliau pindah mengajar di fakultas syari’ah dan ushuludin cabang universitas Al Imam Muhammad Bin Su’ud Al Islamiyah di Qasim. Beliau juga termasuk anggota Haiatul Kibarul Ulama di Kerajaan Arab Saudi. Beliau telah menulis 42 Buku. []



Apa Kata Hadis Sahih Bukhari dan Muslim: Manakah yang bergerak/mengitari, Matahari ataukah Bumi?

Sahih Bukhari

    Riwayat Muhammad bin Yusuf – Sufyan – Al A’masy – Ibrahim at-Taymiy – bapaknya – Abu Dzar – Nabi SAW berkata kepada Abu Dzar ketika matahari sedang terbenam: “Tahukah kamu kemana matahari itu pergi?”. Aku jawab; “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Beliau berkata: “Sesungguhnya dia akan terus berjalan hingga bersujud di bawah al-‘Arsy lalu dia minta izin kemudian diizinkan dan dia minta agar terus saja bersujud namun tidak diperkenankan dan minta izin namun tidak diizinkan dan dikatakan kepadanya: “Kembalilah ke tempat asal kamu datang”. Maka matahari itu terbit dari tempat terbenamnya tadi”. Begitulah sebagaimana firman Allah QS Yasin ayat 38 yang artinya: (Dan matahari berjalan pada tempat peredarannya. Demikianlah itu ketetapan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui) “. [Bukhari no.2960/4.54.421]

    Riwayat Abu Nu’aim – Al A’masy – Ibrahim At Taimi – Bapaknya – Abu Dzar: Aku pernah bersama Nabi SAW di masjid pada saat matahari mulai terbenam. Lalu beliau bertanya; Wahai Abu Dzar, tahukah kamu dimana matahari terbenam? Aku menjawab; Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Beliau bersabda: “Sesungguhnya matahari itu berjalan hingga ia bersujud di bawah Arsy. Itulah yang dimaksud firman Allah Ta’ala: “dan matahari berjalan ditempat peredarannya.” Beliau bersabda: “Tempat peredarannya berada di bawah Arsy, ” (Yasiin: 38). [Bukhari no.4428/6.60.326]

    Riwayat Al Humaidi – Waki’ – Al A’masy – Ibrahim At Taimi – Bapaknya – Abu Dzar dia berkata; Aku bertanya kepada Nabi SAW tentang firman Allah Ta’ala: “dan matahari berjalan di tempat peredarannya.” Beliau bersabda: “Tempat peredarannya berada di bawah Arsy.” (Yasiin: 38) [Bukhari no.4429/6.60.327].

    Riwayat Yahya bin Ja’far – Abu Mu’awiyah – Al A’masy – Ibrahim (At Taimi) – Ayahnya – Abu Dzar berkata, “Aku masuk masjid sedang Rasulullah SAW duduk. Ketika matahari terbenam, beliau bertanya: ‘Wahai Abu Dzar, tahukah engkau ke manakah matahari ini pergi?” Aku menjawab, ‘Allah dan rasul-Nya lah yang lebih tahu! ‘ Nabi menjawab: “Sesungguhnya matahari ini berjalan meminta ijin untuk sujud sehingga diijinkan, seperti yang telah dikatakan ‘Kembalilah engkau dari tempat engkau datang’, maka ia muncul di sebelah baratnya, ” kemudian beliau membaca: ‘(Itulah tempat tinggalnya) ‘, menurut bacaan Abdullah.” [Bukhari 6874/9.93.520]

Sahih Muslim

    Riwayat Yahya bin Ayyub dan Ishaq bin Ibrahim – Ibnu Ulayyah – Yunus – Ibrahim bin Yazid at-Tamimi – bapaknya – Abu Dzar bahwa Nabi SAW bersabda suatu hari: “Apakah kalian tahu, ke mana matahari ini pergi?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya ini lari beredar hingga berhenti pada tempatnya di bawah Arsy lalu menyungkur sujud, ia tetap demikian hingga dikatakan kepadanya, ‘Kamu naiklah dan kembalilah pada tempat dari mana kamu datang.’ Lalu ia kembali sehingga menjadi terbit dari tempat terbitnya, kemudian lari beredar di mana ia membuat manusia tidak mengingkarinya sedikit pun hingga ia berhenti pada tempat beredarnya yaitu di bawah Arsy, lalu dikatakan kepadanya, ‘Naiklah dan terbitlah pagi hari dari barat’. Lalu ia terbit dari barat.” [Muslim 228/1.297, 298]

    Riwayat Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib (lafazh milik Abu Kuraib) – Abu Muawiyah – al-A’masy – Ibrahim at-Taimi – bapaknya – Abu Dzar: “Saat aku masuk masjid, Rasulullah SAW sedang duduk-duduk, maka tatkala matahari terbenam, beliau bersabda: “Wahai Abu Dzar, apakah kamu tahu kemana matahari ini pergi? ‘ Abu Dzar menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Beliau bersabda: “Ia pergi, lalu meminta izin untuk sujud, maka ia diberi izin untuk sujud, seperti yang telah dikatakan kepadanya, ‘Pulanglah dari arah kamu datang’. Lalu ia terbit dari barat.’ Perawi berkata, ‘Kemudian beliau membaca sebagaimana bacaan Abdullah, ‘Dan itulah tempat untuk matahari‘.” [Muslim 229/1.299]

    Riwayat Abu Sa’id al-Asyajj dan Ishaq bin Ibrahim – Waki – al A’masy – Ibrahim at-Taimi – bapaknya – Abu Dzar dia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah tentang firman Allah: ‘(Matahari beredar pada tempat)’ (Qs. Yasin: 38) Maka beliau bersabda: “Tempatnya adalah di bawah Arsy’.”[Muslim 230/1.300]

Pengertian surat 36:38 sebagaimana dijelaskan Hadis sahih Bukhari dan Muslim di atas menegaskan dua hal yaitu:

  • Matahari yang bergerak dan kemudian bersujud pada Allah, Jadi terbit/tenggelamnya matahari BUKAN karena perputaran bumi pada porosnya namun atas seijin Allah. [QS 36:38; QS 41:37; QS7:54], Lihat Fatwa: Matahari mengelilingi Bumi dan buku:

    Matahari mengelilingi bumi, sebuah kepastian al-Qur’an dan as-Sunnah serta Bantahan terhadap teori bumi mengelilingi matahari”, Pengarang: ahmad sabiq bin abdul lathif abu yusuf, Penerbit: pustaka al-furqon) sehingga/atau

  • Saat matahari “tenggelam” tidak pernah dikatakan ada siang di sisi lainnya. Maka ini hanya dimungkinkan terjadi di sebuah bidang datar dan hanya ada satu sisi permukaan saja yang berisi penghuni. []

Kesimpulan

Terdapat beberapa alasan yang sangat mendasar mengapa SULIT untuk TIDAK sepakat dengan Abd-al-Aziz ibn Abd-Allah ibn Baaz yang menfatwakan BUMI itu DATAR:

  1. Abd-al-Aziz ibn Abd-Allah ibn Baaz adalah seorang arab asli yang sehari-harinya berbicara dalam bahasa arab maka bahasa arab merupakan bahasa Ibu sehingga sudahlah pasti bahwa Ia (dan juga Ibn Kathir, serta penafsir2 lainnya) dapat membedakan arti dan maksud ‘ardh’ dan ‘dahaha’ berserta variasi perubahan akar katanya.
  2. Tanggal 20 Juli 1969 adalah pendaratan apolo 11 di bulan. Televisi juga memperlihatkan bahwa Bumi itu Bulat. Itulah BUKTI VISUAL yang tidak mungkin dilihat oleh Abd-al-Aziz ibn Abd-Allah ibn Baaz, yang jauh-jauh tahun sebelum tahun 1940 sudah buta sehingga pendapatnya bahwa BUMI itu DATAR 100% murni berasal dan berdasarkan Al Qur’an dan Hadis.
  3. Ayat Al Quran dibandingkan dengan Ayat Al Quran, serta Ayat Al Qur’an dibandingkan hadis (Sahih Bukhari) sudah menafsirkan dengan jelas. Tidak ada satupun Ayat yang menyatakan Bumi itu Bulat semua ayat yang dikutip di atas telah meyatakan dan mengindikasikan bahwa BUMI itu DATAR.
  4. Kosmologi Islam menyatakan bumi datar itu ada di punggung seekor ikan paus
  5. Ayat Alqur’an, Hadis Sahih Bukhari dan Muslim menyatakan bahwa Matahari-lah mengelilingi Bumi.
  6. Pendapat Ibnu Hazm, Ibnu Al-Jawzi, Ibnu Taymiya dan Ibnu Khaldun ternyata berasal dari Bangsa KAFIR: India, Yunani dan Mesir.
    Walaupun Pendapat itu SEJALAN dengan science saat ini namun BERTENTANGAN dengan Al Quran dan Sunnatullah sehingga Pendapat itu menjadi kafir adanya. Allah SWT adalah MAHA BENAR dengan SEGALA FIRMANNYA. []


Tradisi India

Di Satapatha Brahmana, Yajnavalka [900-800 SM] menyampaikan bahwa bumi berbentuk pari-mandala atau seluruhnya bulat [SB 7.1.1.37: “ayaṃ vaí loko gā́rhapatyaḥ parimaṇḍalá u vā́ ayáṃ lokáḥ/dunia ini adalah Gārhapatya, dunia ini seluruhnya bulat tak diragukan lagi”], bentuk matahari seluruhnya bulat/pari-mandala [SB 9.1.2.40: “asau va ādityo hŕ̥dayaṃ ślakṣṇá eṣá ślakṣṇaṃ hŕ̥dayam parimaṇḍalá eṣá parimaṇḍalaṃ/matahari dan inti matahari halus, inti halus matahari seluruhnya bulat, Ia (matahari) seluruhnya bulat] matahari mengikat planet-planet [SB 8.7.3.10: “tadasāvāditya imāṃlokāntsūtre samāvayate tadyattatsūtraṃ vāyuḥ/kemudian di sana matahari mengikat planet-planet ke dirinya dengan ikatan. ikatan ini sama dengan vayu (getar/gerak/tarik/angin)”] [Juga lihat: di sini dan di sini].

Di Buddhism, terdapat syair Jataka no.247, yang mengindikasikan bumi berbentuk bulatan: “Pariplavantaṃ pathaviṃ (bumi yang ringkih), yadā tāta vijānahi (saat kau pahami), Sāgarena parikkhittaṃ (diliputi samudera), cakkaṃva parimaṇḍalaṃ (mengitari seluruh bulatannya)”, Pari-mandala merujuk ke bentuk 3 dimensi berupa bulatan, misal di 75 Sekkhiya, no.40, “Parimaṇḍalaṃ ālopaṃ karissāmīti sikkhā karaṇīyā/dengan suapan seluruhnya bulat, seharusnya ku latih”, ini menunjukan arti “mandala” = melingkar, bentuk putaran/lengkungan membulat.

Penggunaan kata “mandala” juga terdapat di teks Buddhis Hinayana/Theravada, misal “pathavimaṇḍala” (SNP 5.1, AN 7.62, SN 3.25, DN 21, DN 5), “jāṇumaṇḍala” (AN 5.196, AN 4.21, DN 14), “nalāṭamaṇḍala” (SNP 3.7, MN 91, 92, DN 3) dan “mandalāgga/maṇḍal’āgra“. Arti mandalaagra = pedang/golok berbentuk lengkung membulat. Kata “Pathavi” = bumi/daratan; “jāṇu” = lutut; “nalāṭa” = dahi. Jadi, objek 3 dimensi ini (bumi, lutut dan dahi) bentuknya lengkung membulat

Selain kata “mandala”, juga digunakan kata “gola”/bola dan “cakra”/lingkaran untuk menunjukan suatu benda yang berbentuk bulat, misal:

  • Cakrācāsaħ pariņaham pŗthivyā“/Orang-orang berdiam di sekeliling permukaan bumi [Rig Veda 1.33.8]
  • Madhye samantāņđasya bhūgolo vyomni tisthati“/Di tengah jagat/Brahmanda, Bulatan bumi berdiam kokoh di ruang angkasa [Surya Sidhantha 12.32, 1000 SM]
  • Bhūgolaħ sarvo vŗttaħ“/Bola Bumi bulat di sekelilingnya [Astronom Indian, Aryabhatta (476 M), Aryabhattiyam, Golapada, sloka ke 6]
  • Paňca mahābhūtam ayastrārāgaņa paňjare mahigolah“/5 element menyebabkan bumi di ruang angkasa seperti bola besi tergantung di dalam kandang [Astronom India, Varahamihirä, Abad ke-6 M, Pancha Sidhanthika, Bab 13-sloka 1]

    Sanskrit-English, William Monier:
    bhūgola gola m. ‘earth-ball‘, the terrestrial globe. BhP. -vidyā f. knowledge of the terrestrial globe, geography MW.
    bhūcakracakra n. ‘earth-circle‘, the equator or equinoctial line.
    Arti “bhu” = bumi dan “gola” = bulatan, globe, globular, bola. Untuk Sanskrit (di sini, di sini, di sini) dan Pali (di sini, di sini)

Bahwa bumi berbentuk bulatan tampaknya sudah merupakan pengetahuan umum di India dan bahkan juga diketahui bahwa bumi BEROTASI dan MENGELILINGI MATAHARI:

    ahastā yad apadī vardhata kṣāḥ śacībhirvedyānām śuṣṇaṃ pari pradakṣiṇid/bumi tanpa tangan dan kaki, dengan kekuatan tertentu bergerak berputar kearah kanan sekitar matahari”.(ahasta = tanpa tangan; apadi = tanpa kaki; śacībhirvedyānām = tahu dengan kekuatan tertentu; Kshaa = Bumi (Nigantu 1.1); Vardhat = bergerak; Shushnam Pari = Sekitar matahari; Pradakshinit = memutar ke kanan) [Rig Veda 10.22.14]

Aitareya Brahmana menyampaikan bahwa di saat yang sama, ketika matahari bersinar di suatu tempat, maka di tempat lain di belahan lainnya adalah malam hari

    Atha yad enam prātar udetīti manyante rātrer eva tad antam itvā atha ātmānaṃ viparyasyate, ahar eva avastāt kurute rātrīm parastāt. Sa vai esha na kadācana nimrocati. Na ha vai kadācana nimrocaty etasya ha sāyujyaṃ sarūpatāṃ salokatām aśmute ya evaṃ veda

    “Matahari tidak pernah terbenam maupun terbit. Ketika manusia berpikir bahwa matahari tengah terbenam, Ia hanya tampak berubah (viparyasyate). Setelah sampai di penghujung siang dan membuat malam di bawah dan siang di sisi yang lainnya. Kemudian ketika manusia berpikir matahari terbit di pagi hari, Ia tampak berubah sendiri, setelah mencapai penghujung malam dan membuat siang di bawah dan malam di sisi lainnya. Sebenarnya Matahari tidaklah pernah tenggelam. Siapapun yang tahu ini bahwa matahari tidak pernah terbenam, Ia menikmati persatuan dan kesamaan alami dengannya dan berdiam di alam yang sama” [Aitareya Brahmana, Abad ke-9/8 SM, III.44, Translasi Dr Haug, di kutip di “Indian Wisdom”, Monier Williams, 1893, Ed.4, Ch.2, hal.32. atau juga di AB 4.29]

Dalam Kitab komentar Sumangala Vilāsinī/DA, karya Buddhagosa, abad ke-5 M:

    Ketika matahari terbit di Jambudipa adalah waktu jaga malam ke-2 [22.00-02.00] di Aparagoyāna. Ketika matahari terbenam di Aparagoyana adalah saat tengah malam di Jambudipa. Siang hari di Jambudipa, adalah ketika matahari terbenam di Pubbavideha dan tengah malam di Uttarakuru [DPPN: DA III.868]

Veda tampaknya tahu bahwa terdapat banyak matahari, misal: “kati agnayaḥ kati sūryāsaḥ/Berapa jumlah Api dan Matahari?” [Rig Veda 10.88.18], “sapta diśo nānāsūryāḥ/7 arah banyak matahari” [RV 9.114.3]. Tradisi India, tampaknya telah tahu tentang area semesta yang gelap yang tidak dapat ditembus cahaya, juga tentang suara dapat merambat di angkasa luar dan terdapat triliunan galaxy, serta variasi bentuk galaxy:

    “antara batasan loka (lokantarikā), tanpa udara (aghā), luas/tak berbatas (asaṃvutā), gelap (andhakārā), gelap gulita (andhakāratimisā), dimana cahaya matahari2 bulan2 yang sangat kuat-perkasa tak dapat menjangkau (yatthapimesaṃ can­dima­sūriyā­naṃ evaṃ­ma­hiddhi­kā­naṃ evaṃma­hā­nubhā­vā­naṃ ābhā nānubhonti)” [SN 56.46; AN 4.127; MN 123; DN 14] -> area tidak berpenghuni di antara sahassadhāloka

    ***

    “Bhante, di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar ini; di hadapan Beliau aku mempelajari ini: ‘Abhibhū, seorang siswa Sang Bhagavā Sikhī, sewaktu sedang menetap di alam brahmā, menyampaikan suaranya ke 1000 alam (sahassilokadhātuṃ).’ Berapa jauhkah, Bhante, Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna, dapat menyampaikan suaraNya?”

    “Ia adalah seorang siswa, Ānanda. Tathāgata adalah tidak terukur (appameyyā)

    sejauh, Ananda, (Yāvatā, ānanda,) Bulan-Matahari (candimasūriyā) membawa keseliling arah (pariharanti disā) sinar cahayanya (bhanti virocanā) sebanyak 1000 alam/dunia (tāva sahassadhā loke). Di 1000 alam ini (Tasmiṃ sahassadhā loke) 1000 rembulan, 1000 matahari, 1000 raja gunung Sineru, 1000 Jambudīpa, 1000 Aparagoyāna, 1000 Uttarakuru, 1000 Pubbavideha, 1000 empat mahasamudra; 1000 empat maharaja, 1000 (alam) ­cātuma­hārāji­kā/4 rajadewa, 1000 Tāvatiṃsa, 1000 Yāma, 1000 Tusita, 1000 nimmānaratī/deva yang bersenang dalam penciptaan, 1000 ­paranim­mita­vasavat­tī­/deva yang mengendalikan ciptaan deva lain, 1000 alam brahmā

    Ini Ananda disebut (ayaṃ vuccatānanda) 1000 dunia kecil (sahassī cūḷanikā lokadhātu)
    Ananda, 1000 dunia kecil sebanyak 1000 dunia (sahassī cūḷanikā lokadhātu tāva sahassadhā loko) dinamakan “dvisahassī majjhimikā lokadhātu”.
    Ananda, 1000 dunia menengah sebanyak 1000 dunia (dvisahassī majjhimikā lokadhātu tāva sahassadhā loko) dinamakan “tisahassī mahāsahassī lokadhātu”.

    Ananda, bilamana Sang Tathagata mau, Ia dapat menyampaikan suara (saranena) hingga Tisahassi mahasahassi lokadhatu [AN 3.80/culanika sutta]

    Note:
    Suara dapat ada di angkasa luar, lihat ini dan ini
    Sahassi lokadhātu = sahassī cūḷanikā lokadhātu: 1000 alam Brahma beserta ribuan alam di bawahnya. Dvisahassi lokadhātu = Dvisahassi Majjhimanika lokadhatu: 1000 x 1000 = 1.000.000. Tisahassi lokadhātu = Tisahassi Mahasahassi lokadhatu: 1.000.000 x 1000 = 1.000.000.000 dan ada yang lebih dari itu, misal: “Dan 10.000 alam (Dasasahassilokadhātuṃ) bergoyang dan bergoncang dan bergetar, dan di sana juga muncul cahaya terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para dewa.” [MN 123/Acchariya-abbhūta Sutta]

    Juga: “..Ia mendengar bahwa Brahmā 1000 berumur panjang, rupawan, dan menikmati kebahagiaan luar biasa. Sekarang Brahmā 1000 berdiam dengan bertekad meliputi 1000 dunia [sahassilokadhātuṃ]…Brahmā 2000.. [dvisahassilokadhātuṃ] … Brahmā 3000.. [tisahassilokadhātuṃ] … Brahmā 4000 … Brahmā 5000.. Brahmā 10.000.. [Dasasahassasilokadhātuṃ],..Brahmā 100.000 berdiam dengan bertekad meliputi 100.000 dunia [satasahassasilokadhātuṃ]… Ia mendengar bahwa para dewa Bercahaya … para dewa dengan Cahaya Terbatas … para dewa Akaniṭṭha ..!’” [MN 120/Sankhārupapatti Sutta]

    Untuk AN 3.80: “bulan-matahari membawa ke seliling arah sinar cahayanya sebanyak 1000 dunia“, di galaksi Bimasakti, di area rasi Scorpio ada matahari Antares (jarak dari sini, sekitar 430-550 tahun cahaya) dan saking besar ukurannya, MATAHARI kita menjadi sebesar titik, namun Antares, dari sini, hanya terlihat sebesar titik, sehingga ada batasan jarak yang membuat cahaya matahari TIDAK MUNGKIN terlihat.

    Loka = TEMPAT KEHIDUPAN MAHLUK, tidak identik dengan planet. Di Galaxy Bimasakti, TIDAK SEMUA matahari punya planet dengan kehidupan, bisa jadi terdapat beberapa matahari dengan planet yang didiami bentuk kehidupan yang belum memiliki kesadaran/patijanare, LEBIH JARANG LAGI menemukan matahari dengan planet yang dihuni mahluk berkesadaran/patijanare dan JAUH LEBIH JARANG LAGI menemukan planet yang disebut jambudwipa, yaitu pernah ada Sammasambuddha muncul di situ di masa lalu, sehingga di SELURUH KUMPULAN galaxy (Bimasakti, Andromeda dst) bisa terjadi terdapat 1 milyar planet yang dihuni mahluk berkesadaran dan juga sebagai jambuwipa. Keseluruhan kumpulan Galaxy inilah ekissā lokadhātuyā

    Pengertian lokadhatuya melingkupi: sahassada loka, cakkavala (artinya dapat berarti bentuk melingkar atau juga tatasurya, dst), sahassi-lokadhatuya [culanika, majjhimanika, mahasahassi,…, dasasahassi, satasahassilokadhatuya] adalah bagian kecil dari “ekissā lokadhātuyā“.

    Ragam bentuk semesta: “..Pada saat itu, Bodhisattva melanjutkan, “Para Murid Buddha, system dunia memiliki aneka bentuk dan karakteristik. Mereka bisa bulat atau persegi, atau tidak bulat atau tidak persegi. Variasinya tak terbatas. Beberapa berbentuk seperti pusaran air, seperti semburan api gunung berapi, seperti pepohonan atau bunga, seperti Istana atau seperti suatu mahluk hidup, seperti Buddha. Variasinya sebanyak partikel debu..” [Avatamsaka Sutra, bab 4. Perkembangan sutra mahayana sekitar konsili ke-3, 247 SM, terjemahan ke bahasa China mulai abad ke-2 M] []



Bumi berbentuk Bulatan: Phytagoras (570-495 SM) dan Filsuf Lainnya
Pythagoras lahir di pulau Samos/Yunani, tahun lahir tidak diketahui, dikatakan lahir dari perawan untuk Dewa Apollo, sehingga Ia juga disebut ‘putra Tuhan’ Guru pertamanya Pherecydes, tinggal disana hingga gurunya wafat. Usia 18 tahun, ke pulau Lesbos, bekerja dan belajar pada Anaximander, Thales dari Miletus, kemudian Thales menyuruhnya belajar ilmu gaib ke Sidon, Tirus/Libanon, Byblos/Fensia, Mesir. ketika Kambisisu/Cambyses menginvansi Mesir, Ia menjadi tawanan dan dikrim ke Babilonia, disana, Ia belajar ilmu gaib kaldean pada Magi. Kemudian ke Persia dan India, belajar pada Brahmana, konon di India, Ia disebut Yavana Acharya/guru dari Yunani. Kemudian ke Crotona/Italia, mengajar sekelompok anak muda, setelah diundang senat Crotona, dijinkan mendirikan Insitusi. Menurutnya semua ilmu pengetahuan terkait matematika, Ia mengenalkan bilangan genap, ganjil dan prima; BUMI berbentuk BULATAN[1]; gerhana terjadi karena bumi berada di antara bulan dan matahari. Ia, Yunani pertama yang menyebut dirinya filsuf (pencari tahu, philia + Sophia). Teori Phytagoras telah duluan ada di Mesopotamia/Mesir dan India, tidak pasti, apakah Phytagoras yang membuktikan teori itu, karena kisahnya baru ditulis setelah kematiannya oleh Cicero, Plutarch, dan lainnya (dari berbagai sumber)
——

Note:
[1] Siapa orang-orang Romawi/Yunani kuno yang menyatakan “BUMI BERBENTUK BULATAN“, Diogenes Laërtius/180-240 M, dalam “Lives of Eminent Philosophers“, translator: (1) R.D. Hicks dan (2) C. D. Yonge, Diogenes menyampaikan:

  • Phytagoras/570/582-500/495 SM: “bumi itu sendirinya juga bulat dan dihuni sekelilingnya” [buku ke-8, Ch.1.25, kutipannya dari Alexander Polyhistor/100-36 SM]. “Ia juga orang ertama yang memberikan nama kosmos (κόσμος) untuk jagadraya dan yang pertama menyatakan bumi bernetuk bulatan, meskipun, (1) Menurut Theophrastus/371–287 SM: orang pertama adalah Parmenides; (2) Menurut Zeno/495–430 SM, oang pertama adalah Hesiod/lahir 750/650 SM” [buku ke-8, Ch.1.43]
  • Parmenides dari Elea/lahir 515 SM: “Ia yang pertama menyatakan bahwa bumi berbentuk bulatan.. [buku ke-9, Ch.3.25]
  • Anaximander dari Miletus/610–546 SM: “bahwa bumi, yang berbentuk bulatan…” [buku ke-2, Ch.1.1]
  • Phrrho/360-270 SM: “Karena mereka tidak suka dengan pernyatan bahwa bumi berbentuk bulatan..” [buku ke-9, Ch.11.104
  • Plato dari Athena/427‑347 SM: “Dunia/Semesta adalah satu dan dibuat, karena diciptakan tuhan,…dan berbentuk bulatan” [Buku ke-3.71]
  • Zeno dari Siprus/333-261 SM: “Dunia/Bumi, mereka katakan…mempunyai bentuk bulatan, bentuk yang paling cocok untuk bergerak, sebagaimana dikatakan pula oleh Posidonius/135–51 SM di buku ke-5nya, ‘Physical Discourse’ juga oleh murid Antipater/400–319 SM, di buku mereka, ‘the Cosmos’” [buku ke-7, Ch.1.140]
  • Diogenes dari Apollonia/abad k-5 BCE: “Bumi berbentuk bulatan..” [buku ke-9, ch.8.57]
  • Epicurus dari Athena/427‑347 SM: “Dunia adalah bagian terbatas dari semesta, berisi bintang-bintang dan bumi dan semua hal-hal lain yang terlihat,..dapat berputar atau diam, dan berbentuk bulatan, segitiga atau bentuk apa pun..” [buku ke-10.87] []

NALANDA
Nalanda terletak di Utara Rajagrha (Patana, Bihar, India). Joseph Needham, “Within the Four Seas: The Dialogue of East and West”: “Ketika pasukan Alexander yang agung sampai Taxila di abad ke 4 SM mereka menemukan sebuah Universitas yang tidak seperti di Yunani, Universitas yang mengajarkan 3 Veda dan 18 kelangkapannya, dan masih ada ketika pengelana Tiongkok Fa-Hsien ke sana pada sekitar abad 4 M“. di Abad ke-7, Yuan Chwang dan I-Tsing pernah ke tempat ini. Yuan Chwang, mencatat dua institusi terkenal saat itu, yaitu Nalanda di Timur dan Valabhi di Barat India. Professor Dr. Ahmad Hasan Dani, Guide to Historic Taxila, Ch.3: “Universitas Taxila adalah tertua di Dunia, telah ada sebelum jamannya Buddha dan sebelum pendudukan lembah Taxila oleh Penguasa Achaemanid di abad 6-5 SM. Para filsuf berkumpul di sana dan mendirikan sendiri sekolah pemikiran dan memberikan pengajaran” (Abad 7 SM). Pada jaman Dinasti Gupta, Universitas Nalanda, ditopang kerajaan. Pada abad ke-12 (1197 M), Nalanda musnah karena serbuan Muslim dari Bihar, yang menurut catatan Minhaz terjadi pembantaian dan pembarakaren besar-besaran.

Aryabhata
Aryabhata (476-550M), astronom dan matematikawan India. Lahir di Pataliputra (Patna, India), beberapa menyebutkan Ia lahir di Kerala, sekolah di Universitas Nalanda, Ketika karyanya ‘Aryabhtiya’ menjadi terkenal, Raja Buddhagupta menjadikannya rektor univeritas tersebut. Di kalangan ilmuwan Arab Ia dikenal dengan sebutan Arjehir, tulisan diterjemahkan ke bahasa Arab. Aryabhatiya, terdiri dari 121 bait sanskrit, tentang matematika dan astronomi, geometri, misalnya tentang luas segitiga dan lingkaran, volume bola atau piramida. posisi Matahari dan Bulan, bagaimana gerhana terjadi, perhitungan tahun kalender. mendeduksi bumi berbentuk bulatan yang berputar pada porosnya mengelilingi Matahari, menyatakan nilai phi = 3.1416, table sinus. penyelesaian persamaan ax – by = c. sebutan dalam tulisan untuk bilangan besar (misal:100,000,000,000) dan lain-lain. Di usia tuanya, Ia menulis, “Aryabhata-siddhanta“, juga tentang astronomikal harian untuk menentukan tanggal berbagai ritual yang masih digunakan untuk menyusun kalender Hindu. Kaena jasanya, satelit luar angkasa India pertama diberi nama Aryabhata. []

Naskah India dari Luar India?
Satapatha Brahmana dan Taittiriya Samhita punya hitungan geometrikal untuk altar purusa yang menyerupai teori Phytagoras, dan karena teks-teks ini secara umum dianggap baru ada sekitar tahun 1000-800 SM, juga karena di Yunani geometri baru mulai sekitar 600 SM, maka Seidenberg (1983) tidak lagi menyatakan geometri Veda berasal dari Yunani. Ia juga menolak klaim bahwa aljabar India atau Yunani berasal dari Babilonia, Ia menyatakan entah Babilonia mendapatkan dari Phytagoras, atau, Babilonia dan India mendapatkannya dari sumber lain. Ia menempatkan teks Babilonia di 1700 SM dan matematika di SulbaSutra pada sebelum itu. Seindenberg menyebutkan 2200 SM sebagai sumber umumnya, tapi kaerna teman indologinya menyatakan bahwa bangsa Arya tidak ada di India di 1700 SM, Ia kemudian menyatakan bahwa India dan Yunani mewarisi matematika dari periode Indo-eropa dan bangsa Indo-Arya kemudian membawanya ke subkontinen. Boyer (1989) menyatakan teori Phytagoras yang ada di Sulbasutra tidak berasal dari Mesopotamia, formula yang ada di Apastamba Dharmasutra tidak mungkin berasal dari Babilonia dan serial aritmatik dan geometri pada literatur Veda ditarik kebelakang sejauh 2200 SM [“The Quest for the Origins of Vedic Culture: The Indo-Aryan Migration Debate“, Edwin Bryant, Edwin Francis Bryant, Professor of Hinduism Edwin Bryant, hal.262-264] []

Naskah India barang Import?
Awalnya dikatakan bahwa naskah astrologi Romawi-Yunani, masuk India pada awal masehi, misal Yavanajataka/Astronomi Yunani yang ditranlasi dari Yunani ke Sanskrit oleh Yavanesvara/200 M, jaman raja Rudradaman I, namun ternyata tidak ada sumber Yunani yang mendukung pandangan ini. Kemudian, Surya-Sidhanta menyampaikan bahwa teks aslinya adalah prosa Sanskrit oleh Mayasura. Sementara Ptolemy/100 M, menyebutnya dengan nama Turamaya dalam inskripsinya. Varahamira, di 575 M menyusun Pañca-siddhāntikā/Lima Naskah (Surya Siddhanta, Romaka Siddhanta/doktrin Romawi, Paulisa Siddhanta/Doktrin Paulisa (tidak terkait Paul dari Alexandria), Vasishtha Siddhanta dan Paitamaha Siddhanta, sebagai kumpulan naskah Astronomi India dan Yunani). Varahamihira menulis: “Yunani, kelahiran tidak murni, ketika pengetahuian tinggal bersama mereka dan ketika para astronom dihormati layaknya seorang Resi, maka sejauh apa lagi jarak asal para Astronom dan Brahma?” – Brhatsamhita 2.14

E. C. Sachau, “Alberuni’s India” (1910), vol. I, Ch.14, hal.153 menuliskan tentang Sind-hind/Siddhanta, yang diketahui bangsa Arab (Al Beruni): “Mereka [Bangsa Indian] memiliki 5 Siddhānta:

  • Sūrya-Siddhānta/Siddhānta Matahari disusun Lāṭa,
  • Vasishtha-siddhānta, nama yang brasal dari satu diantara Bintang-bintang rasi Biduk, disusun Vishnucandra,
  • Pulisa-siddhānta, karena berasal dari Paulisa, Yunani, kota Saintra, yang saya pikir adalah Alexandria, disusun Pulisa.
  • Romaka-siddhānta, karena berasal dari Romawi, disusun Śrīsheṇa.
  • Brahma-siddhānta, karena berasal dari Brahmana, disusun Brahmagupta bin Jishṇu, kota Bhillamāla antara Multān dan Anhilwāra, 16 yojana dari kota belakangan” []

Pendapat: Asal Sumbernya

Raja Ram Mohan Roy, “Vedic Physics-Scientific Origin of Hinduism“, Toronto, Canada, 28 Agustus 1998:

    Setelah Perang Mahabharata [Kalender Julian: 18 February 3102 BC; Kalender Gregorian: 23 January 3102 BC]. pengetahuan yang tekandung dalam Veda secara berangsur-angsur menghilang…Untuk mempertahankan pengetahuan Veda, komentar dan catatan atas Veda mulai ditulis. Inilah yang disebut Brahmana, dan yang paling komprehensif adalah Satapatha Brahmana….Semua Brahmana berkaitan dengan Veda. Aitareya Brahmana dan Kausitaki Brahmana berkaitan dengan Rgveda.

    Beberapa abad mesti dilalui semenjak Perang Mahabharata sampai pada penulisan Satapatha Brahmana ini…Hampir tidak ada legenda tentang penciptaan dunia kuno yang sumbernya tidak bisa dilihat di Satapatha Brahmana.

    Gelombang kedua emigrasi dari I India terjadi setelah penulisan Satapatha Brahmana, dan sekelompok dari mereka tinggal di Yunani. Mitologi Yunani meminjam langsung dari Satapatha Brahmana. Banyak legenda Yunani tidak akan ditemukan dalam Veda tapi bisa dilihat di Satapatha Brahmana, dan makna inilah yang menunjukkan lubang besar dalam teori Veda berasal dari luar India. Jika semua ras Indo-Eropa punya asal lain darimana mereka tersebar, maka legenda Yunani seharusnya sama dengan Veda bukan dengan Satapatha Brahmnana..

    Dan (Gelombang) ketiga setelah penyusunan Purana yang pertama..Purana adalah naskah yang dianggap hadir paling belakang dalam Hindu. Ada delapan belas Purana utama yang disebut Mahapurana. Ada delapan belas Purana kecil yang disebut Upapurana..Srimad Bhagavata Mahapurana terdiri dari delapan belas ribu sloka. Purana menyangkut lima subyek yakni Sarga (penciptaan semesta), Pratisarga (akhir semesta), Vamsa (asal-usul), Manvantara (epos), dan Vamsanucarita (sejarah). Kebanyakan pemeluk Hindu mendapatkan pengetahuan dari Purana,.

    ..Tradisi kita percaya bahwa Veda berumur setua alam semesta itu sendiri, dan masih banyak ahli Veda yang berada di keyakinan tersebut. Pendapat ini tentu saja salah, karena itu berasal dari kebingungan antara kapan Veda ditulis dan apa isi Veda. Pengetahuan dalam Veda setua alam semesta karena Veda menjelaskan tentang evolusi semesta, padahal Veda ditemukan belakangan. Veda tidak memberikan petunjuk kapan itu ditulis, sehingga para ahli mencari cara lain dalam menentukan umur Veda.

    Salah satu cara yang paling tidak logis dilakukan oleh Max Muller, ahli Veda terkenal dari abad lalu, dan masih paling terkenal sampai sekarang. Max Muller percaya dengan penciptaan dalam Bible dan menghitung umur Veda sebagai berikut:

    • Dia mengasumsikan penciptaan alam terjadi pada 23 Oktober 4004 SM dan menggunakan kronologi dalam Injil, banjir besar terjadi pada tahun 2448 SM.
    • Ia mengasumsikan seribu tahun sebagai waktu banjir surut, yang menjadikan tahun 1400 SM sebagai waktu invasi Arya ke India.
    • Ia memberikan waktu 200 tahun sebagai waktu adaptasi bangsa Arya dengan lingkungan barunya menjadikan tahun 1200 SM sebagai waktu disusunnya Veda. Tentu saja dia tidak memberikan alasan-alasan ini kepada publik, melainkan menghitung balik berdasarkan kronologi yang sudah dia hitung sebelumnya.
    • Ia menetapkan tahun 600 SM sebagai waktu Budha, menyediakan waktu masing-masing 200 tahun untuk periode Chanda, Mantra dan Brahmana. Jadi, Brahmana disusun antara 800-600 SM, Mantra 1000-800 SM, dan Chanda (contohnya Rgveda) antara1200-1000 SM.

    Yang jelas tidak ada alasan secara sains untuk menjelaskan mengapa hanya perlu 200 tahun bukan 500 atau 1000 tahun untuk komposisi Chanda, Mantra dan Brahmana.

    Belakangan Max Muller menyangkal kronologinya sendiri dan mengatakan tidak ada kekuatan di bumi yang bisa menentukan kapan Veda ditulis.

    ***

    Tilak dan Jacobi menelusuri waktu astronomi dari Veda. Mereka menginterpretasikan beberapa mantra dari Rgveda untuk sampai pada kesimpulan mantra-mantra tersebut menunjukkan waktu 4500 SM. Waktu ini juga sangat mengundang pertanyaan. Tidak ada indikasi bahwa Rgveda adalah buku astronomi dan beberapa mantra yang diinterpretasikan mengandung arti astronomi benar-benar mistis. Informasi astronomi ini diambil dari asumsi arti kata yang sangat berbeda dengan arti aslinya, dan hasilnya masih tidak meyakinkan. Contohnya, pada bukunya yang berjudul Orion,

    • Tilak menginterpretasikan bahwa Rbhus berarti musim, Vasta berarti matahari dan berburu berarti Canis Major dalam Rgveda 1.161.13. Arti ini hanya bisa dipertimbangkan pada mantra tersebut.
    • Tilak menggunakan sebuah sloka dalam Gita dimana Krisna mengatakan bahwa dirinya adalah Margasira diantara bulan-bulan dan musim semi diantara musim-musim.
    • Tilak menganggap sloka ini mengandung memori tentang saat ketika Margasira jatuh pada musim semi yang terjadi kira-kira 10,000 tahun yang lampau.

    Sekali lagi, ini bukan argumen yang logis. Dua pernyataan tentang bulan-bulan dan musim-musim sama sekali tidak tergantung satu sama lain dan tidak ada alasan melihat hubungan diantara dua hal tersebut. Jadi penghitungan waktu Veda dengan cara astronomi seperti berpijak di tanah yang bergoyang.

    Beberapa ahli lain berusaha membuktikan umur Veda berdasarkan penghitungan geologis. Rgveda 10.136.5 membicarakan tentang lautan antara barat dan timur, yang tidak bisa diaplikasikan di area dimana Veda seharusnya dibuat. A.C Das dalam bukunya Rgvedic India menjelaskan umur Veda lebih dari 25.000 tahun untuk menjelaskan mantra seperti ini..Rgveda adalah buku yang dikodekan, sehingga sungai, gunung dan laut dalam Rgveda sama sekali tidak merujuk kepada benda-benda tersebut. Jadi penghitungan waktu geologis dari Veda adalah latihan yang tidak berguna.

    Jadi bagaimana kita bisa tahu kapan Veda disusun?

    Untungnya, ada cara yang sederhana untuk menghitung umur Veda. Kita mesti ingat bahwa Veda tidak hadir dengan sendirinya, tapi buku yang sangat disucikan ini disusun oleh manusia. Gaya hidup dan sistem kepercayaan mereka akan menunjukkan tanda yang jelas pada Veda. Jika kita bisa menemukan orang-orang tersebut, kita akan bisa menentukan umur Veda. Hinduisme adalah agama yang sangat dinamis, yang selalu berubah bentuk dengan berjalanya waktu. Kita bisa menentukan waktu naskah kita dengan artifak arekeologis.

    Dari penelitian yang saya lakukan untuk Rgveda, saya mendapat kecocokan yang mengejutkan dengan kebudayaan Lembah Indus. Inilah yang diharapkan. Rgveda adalah naskah tertua kita dan kebudayaan Lembah Indus adalah kebudayaan tertua India, jadi tidak mengejutkan jika ini cocok satu sama lain. Kita akan lihat bahwa stempel dari Lembah Indus melukiskan ide-ide Veda yang membuktikan tanpa keraguan bahwa kebudayaan ini adalah kebudayaan Veda dan Rgveda disusun pada awal kebudayaan ini. Ini memberikan tahun 3000 SM untuk saat komposisi Veda.

Francois Gautier, ‘Rewriting Indian History’, Ch.1 & Ch.2, page 10-16:

    Sekelompok naskah dari situs kota Harappa (Dravida) dan Mohenjo Daro berhasil diurai matematikawan, Dr Rajaram dan liguist, Dr. Jha (peneliti dari Bengal Barat), dengan menggunakan glossary Veda kuno, Niganthu, menemukan keterkaitan silsilah Sanskrit, bahwa naskah ini bukan proto-dravida, seperti pemikiran para ahli bahasa kebanyakan namun berhubungan dengan bahasa Sangksekerta. Penguraian naskah Indus membuktikan bahwa peradaban Harappa merupakan bagian akhir dari jaman Veda dan memiliki keterkaitan dengan karya Vedantik seperti Sutra dan Upanishad. Ini menjadi bukti bahwa tidak pernah ada invansi Bangsa Arya ke India, seperti yang historian Kondraad Elst tuliskan, ini juga menunjukan dengan baik bahwa ras India, bisa jadi yang pergi ke barat: “Daripada Indo-Iran dari selatan Rusia ke Iran dan sebagiannya ke India, Ini bisa juga Hittie, Kassite atau Mitanni, dalam perjalanan dari India, melalui Danau Aral, ke Anatolia atau Mesopotamia, dimana mereka muncul di abad-abad berikutnya” (Pribumi India)

    Pertama-tama, range waktu terlalu lambat yang diberikan para sejarawan harus ditinggalkan dan menariknya mundur sekurangnya pada masa 4000 SM. Mengapa para sejarawan ini sangat bersemangat memperpendek range waktu veda? Karena akan menghancurkan gagasan barat atas supremasinya sendiri..bahwa dunia mulai pada 23 Oktober 4004 SM …!. Sejarah harus di tulis ulang…kebudayaan Veda telah bertahan di 8000 tahun (beberapa ahli sepert ahli matematika N.S Raja Ram menyatakan 10.000 tahun)..

Subhash Kak,Ph.D, “The Astronomical Code of the RgVeda”; Tulum, Yucatan; 12 Agustus 1998.

    Ilmuwan-ilmuwan Barat telah berkesimpulan bahwa spiritualitas dan psikologis adalah kontributor utama dalam Veda. Kesimpulan ini kurang tepat; dan hal ini jelas terlihat dari hasil penelitian belakangan ini yang memperlihatkan para penyusun Veda sangat paham matematika, astronomi, ilmu obat-obatan, dan sains yang lain.

    Kerangka kronologis dari kebudayaan India juga sedang dalam revisi. Penelitian arkeologis telah memperlihatkan bahwa kebudayaan India telah ada jauh lebih belakang dari tahun 8000 SM. Kebudayaan India jaman batu bahkan mempunyai usia yang lebih tua; para ahli telah mengklaim lukisan tertua berumur 40 ribu tahun.

Mengutip ON HINDUISM, Reviews and Reflections, RAM SWARUP, Forward by DAVID FRAWLEY, (Vamadeva Shastri), Ch. 8, India and Greece:

    Apollonius dari Tyna, Orang suci dari Yunani, dulunya adalah guru aliran Pythogorian, yakin bahwa Mesir dan Ethiopia mendapatkan kebijakannya dari India dan bahwa filsuf bangsa Ethiopia adalah imigran asal India. Ia juga meyakini bahwa Phytagoras dan sektenya berasal dari philosopi bangsa India. (p. 212).

G.R.S Mead, “Apollonius of Tyana“, section III, INDIA AND GREECE hal 19:

    Umumnya dikatakan oleh orang-orang Yunani kuno bahwa Phytagoras pergi ke India namun statement itu dibuat penulis-penulis Neo-Phytagorean dan Neo-Platonic dijaman setelah Appolonius..Namun kemiripan yang sangat dekat ajaran Phytagoras dan ajaran dan praktek-praktek Indo Aryan membuat kami malu untuk menolak seluruh kemungkinan bahwa Phytagoras kemungkinan mengunjungi Aryavarta.

Prof. H. G. Rawlinson, “Legacy of India” 1937, p. 5:

    Pythagoras lebih dipengaruhi India daripada Mesir. Hampir semua theori, Philosopi dan Matematika yang diajarkannya dan penerusnya, telah dikenal baik di India pada abad ke 6…Yang dikenal sebagai ‘teorema phytagoras’ telah dikenal di India, di jaman Vedic kuno jauh sebelum Phytagoras

Dick Teresi, Lost Discoveries: The Ancient Roots of Modern Science, p 159 dan P.174-239 mengatakan:

    Dua puluh empat abad sebelum Issac newton, Rig Veda menyatakan bahwa gravitas menahan dunia. Bahasa sangsekerta bangsa Arya menyatakan ide bahwa bumi itu bulat di era dimana bangsa yunani masih mempercayai bumi itu datar.

    Dua ribu tahun sebelum Phytagoras, filsuf-filsup dari utara India telah memahami bahwa gravitas yang menahan ‘solar system’ secara berbarengan dan karena itulah Matahari merupakan suatu objek yang memiliki Massa yang sangat Besar dan harus diletakan di tengah

    Seribu tahun sebelum aristoteles, Veda bangsa Aryan menyatakan bahwa bumi itu Bulat dan mengelilingi Matahari. Terjemahan Rig Veda menyatakan: “Persembahan yang dilakukan setiap hari oleh umat kepada Matahari, kita ketahui bahwa Matahari merupakan pusat dari tata surya…Para siswa bertanya “kesatuan alam apa yang menahan Bumi? Rsi Vatsa menyatakan bahwa ia di tahan dengan jarak/kosmos dari matahari

George Gheverghese Joseph, The crest of the peacock: Non-European roots of Mathematics, p.1-18:

    Beberapa sumber bahkan menyatakan bahwa Phytagoras melakukan perjalanan mencari pengetahuan hingga sampai ke India, hal ini menerangkan mengenai hubungan dekat yang parallel antara India dan philosopi Phytagoras dan Agama….Berdasarkan tradisi Yunani, Phytagoras, Thales, Empedocles, Anaxagoras, Democritus dan banyak lagi lainnya, melakukan perjalanan ke timur untuk mempelajari Philosopi dan pengetahuan.[]


Artikel terkait lainnya:

First saved: 8/20/08, 3:24 AM


Wah! udah lebih dari 73 Golongan!! Horee..Horee..Kiamat Batal!



Saat Nabi Muhammad SAW berbicara, diyakini seluruh Muslim bahwa Ia tidak mungkin keliru dan jika Beliau salah berucap niscaya segera di tegur Allah SWT melalui Jibril.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa Islam akan pecah menjadi 73 Golongan, dan hanya satu yang masuk surga yaitu “Ahlussunnah wal Jamaah”. Pecah menjadi 73 Golongan juga merupakan tanda-tanda akan kiamat, sebagaimana disampaikan sunnah on-line.

Arti dari “Ahlussunnah wal Jamaah” kurang lebihnya adalah mengikuti Qur’an dan Hadist dengan mengikuti teladan para sahabat, tabiin dan ulama-ulama yang tidak pernah merubah dan membuat hal-hal yang baru dalam agama Allah SWT.

Buat saya, Ini merupakan persoalan maha penting karena hal ini juga merupakan sinyal seberapa dekat Kiamat itu datang dan tentunya ada Implikasi serius atas ucapan Nabi tersebut bagi kita semua sekarang!

Artikel ini disajikan untuk mengenang Ahamadiyah, Lia Eden, Alqiyadah dan banyak aliran lainnya serta ucapan Nabi Muhammad SAW akan masa depan Islam setelah 1400 tahun.

***

Petunjuk kecil dari sabda nabi Muhammad SAW bahwa Islam akan terpecah menjadi banyak golongan, kita temukan indikasinya di hadis Bukhari (lihat Fathul Bari juz 17, muka surat 56), yaitu: “Akan ada segolongan umatku yang tetap atas kebenaran sampai hari kiamat dan mereka tetap atas kebenaran itu” dan lebih detail mengenai berapa jumlahnya, tercantum dalam hadis-hadis lainnya, bahwa Islam akan terpecah menjadi 73-an golongan:

  1. Abu Dawud:
    Riwayat Wahb bin Baqiyyah – Khalid – Muhammad bin Amru – Abu Salamah – Abu Huraira: “Rasulullah SAW bersabda: “Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, Nashara terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan” [Abu Dawud no.3980]

    Riwayat [[(Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Yahya) – Abu Al Mughirah] dan [Amru bin Utsman – Baqiyyah]] – Shafwan – Azhar bin Abdullah Al Harazi – Abu Amir Al Hauzani – Mu’awiyah bin Abu Sufyan Bahwasanya saat sedang besama kami ia berkata, “Ketahuilah, ketika sedang bersama kami Rasulullah SAW bersabda: “Ketahuilah! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlu kitab berpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku akan berpecah menjadi 73 golongan; 72 golongan masuk neraka dan 1 golongan masuk surga, yaitu Al Jama’ah.” Ibnu Yahya dan Amru menambahkan dalam hadits keduanya, “Sesungguhnya akan keluar dari umatku beberapa kaum yang mengikuti hawa nafsunya seperti anjing mengikuti tuannya.” Amru berkata, “Seekor lekat dengan tuannya, yang jika ada tulang bersamanya pasti dia akan mengikutinya.” [Abu Dawud no.3981]

  2. Ibn Majjah:
    Riwayat Amru bin ‘Utsman bin Sa’id bin Katsir bin Dinar Al Himshi – ‘Abbad bin Yusuf – Shafwan bin ‘Amru – Rasyid bin Sa’d – ‘Auf bin Malik: “Rasulullah SAW bersabda: “Orang-orang Yahudi akan terpecah menjadi 71 golongan, 1 golongan akan masuk surga dan yang 70 golongan akan masuk neraka. Dan orang-orang Nashrani terpecah menjadi 72 golongan, yang 71 golongan masuk neraka dan yang 1 golongan akan masuk surga. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada ditangan-Nya, sungguh ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan, yang satu golongan masuk surga dan yang 72 golongan akan masuk neraka.” Lalu beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka (yang masuk surga)?” beliau mennjawab: “Yaitu Al Jama’ah.” [Ibn Majjah no.3982]

    Riwayat Hisyam bin ‘Ammar – Al Walid bin Muslim – Abu ‘Amru – Qatadah – Anas bin Malik: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Bani Israil akan terpecah menjadi 70 golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi 72 golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan, yaitu Al Jama’ah.” [Ibn Majjah no.3983]

  3. Tirmdhi:
    Juz 10, muka surat 109: “Bahawasanya bani Israel telah berfirqah sebanyak 72 firqah dan akan berfirqah umatku sebanyak 73 firqah, semuanya akan masuk Neraka kecuali satu.” Sahabat-sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya: “Siapakah yang satu itu Ya Rasulullah?” Nabi menjawab: ”Yang satu itu ialah orang yang berpegang sebagai peganganku dan pegangan sahabat-sahabatku.”

    Riwayat Mahmud bin Ghailan – Abu Daud Al Hafari – Sufyan Ats Tsauri – Abdurrahman bin Ziyad Al Afriqi – Abdullah bin Yazid – Abdullah bin Amru: Rasulullah SAW bersabda: “Pasti akan datang kepada ummatku, sesuatu yang telah datang pada bani Israil seperti sejajarnya sandal dengan sandal, sehingga apabila di antara mereka (bani Israil) ada orang yang menggauli ibu kandungnya sendiri secara terang terangan maka pasti di antara ummatku ada yang melakukan demikian, sesungguhnya bani Israil terpecah menjadi 72 golongan dan ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan semuanya masuk ke dalam neraka kecuali 1 golongan, ” para sahabat bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Mereka adalah golongan yang mana aku dan para sahabatku berpegang teguh padanya”. Abu Isa berkata; ‘Hadits ini hasan gharib mufassar, kami tidak mengetahuinya seperti ini kecuali dari jalur sanad seperti ini [Tirmidhi no.2565].’

    Riwayat al Husain bin Huraits Abu Ammar – al Fadhl bin Musa – Muhammad bin Amru – Abu Salamah – Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 golongan. Sedangkan kaum Nashrani seperti itu juga. Dan umatku terpecah menjadi 73 golongan.” Dan dalam bab hadits tersebut juga diriwayatkan dari Sa’d dan Abdullah bin Amru serta Auf bin Malik. Abu Isa berkata; ‘Hadits Abu Hurairah adalah hadits hasan shahih. [Tirmidhi no.2564]

    Dalam sharah Tirmidzi,  Imam Ahwazi berkata :
    ‘Jawaban dari hadits ini yaitu hadits dari Abdullah bin Amru bahwa, ‘seluruh golongan itu masuk neraka dan satu yang masuk surga’dan ini menjadi satu bukti dari Rosulullah SAW bahwa Beliau memberitahukan kita hal-hal yang ghaib. Dan golongan yang selamat itu adalah Ahlussunnah wal Jamaa’ah.’

  4. Thabarani:
    ”Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad di tangan-Nya, akan berpecah umatku sebanyak 73 firqah, yang satu masuk Syurga dan yang lain masuk Neraka.” Bertanya para Sahabat: “Siapakah (yang tidak masuk Neraka) itu Ya Rasulullah?” Nabi menjawab: “Ahlussunnah wal Jamaah.” [Kitab “Al Milal wan Nihal” Juz.1 hal.11, karangan Syahrastani]
  5. Ahmad:
    Riwayat Muhammad bin Bisyr – Muhammad bin ‘Amru – Abu Salamah – Abu Hurairah: Rasulullah SAW bersabda: “Yahudi terpecah menjadi 71 atau 2 golongan, dan ummatku terpecah menjadi 73 golongan.” [Ahmad no.8046]

    Riwayat Waki – Abdul Aziz (Al Majisyun) – Shadaqah bin Yasar – An Numairi – Anas bin Malik: Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya bani Isra`il terpecah menjadi 72 golongan dan kalian juga akan terpecah seperti mereka, semuanya masuk neraka kecuali satu golongan saja.” [Ahmad no.11763]

    Riwayat Hasan – Ibnu Lahi’ah – Kholid bin Yazid – Said bin Abi Hilal – Anas bin Malik: sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Bani Isra’il terpecah menjadi 71 golongan, akan hancur 70 golongan dan tersisa 1 golongan saja. Dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 72 golongan, akan hancur 71 golongan, dan yang selamat hanya 1 golongan saja.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah siapakah golongan itu tersebut?” beliau menjawab, “Yaitu jama’ah, Yaitu jama’ah.”[Ahmad no.12022. Problem hadis ini ada di Ibnu Lahi’ah]

    Riwayat Abu Al Mughirah – Shafwan – Azhar bin Abdullah Al Hauzani – Abu ‘Amir Abdullah bin Luhai: kami melakukan haji bersama Mu’awiyah bin Abu Sufyan, tatkala kami sampai di Makkah, dia berdiri setelah melakukan shalat zhuhur lalu berkata; “Rasulullah SAW bersabda: ‘Dua ahli kitab sebelum kalian telah terpecah dalam agama mereka menjadi 72 kelompok. Dan umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya adalah ahli ahwa’ (pengikut hawa nafsu), semuanya akan masuk neraka kecuali satu, yaitu jama’ah..” [Ahmad no.16329]

  6. Darimi:
    Riwayat Abu Al Mughirah – Shafwan – Azhar bin Abdullah Al Harazi – Abu Amir (Abdullah bin Luhai Al Hauzani) – Mu’awiyah bin Abu Sufyan bahwa Rasulullah SAW berdiri diantara kami seraya bersabda: “Ketahuilah, bahwa orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahli kitab terpecah menjadi 72 agama, sedangkan umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. 72 di Neraka dan 1 di Surga.” Abdullah bekata; “Al Haraz adalah suatu kabilah dari penduduk Yaman.” [Darimi no.2406]

Bagaimana kenyataannya?

  • Menurut Roziqi, Kanwil Depag hanya bersifat membina dengan memberikan penyuluhan dan bimbingan. Disinggung jumlah aliran sesat di Jatim yang terpantau Kanwil Depag, Roziqi tidak bisa memberikan data secara pasti. Namun, saat memberikan pemaparan di hadapan DPR RI, dengan mengutip laporan media massa, Roziqi menyebut angka 2000-an.[Seputar-indonesia.com: Kanwil Depag Lacak Aliran Sesat]
  • Menurut Presiden Konferensi Dunia Agama-agama untuk Perdamaian (WCRP) itu, kelonggaran yang muncul sejak reformasi bergulir, juga memberi peran pada maraknya kemunculan aliran sesat.

    Data menyebutkan sejak 2001 hingga 2007, sedikitnya ada 250 aliran sesat yang berkembang di Indonesia, 50 aliran di antaranya tumbuh subur di Jawa Barat.

    Data yang tercatat pada lembaga PAKEM pada Kejaksaan Agung sejak tahun 1980 hingga 2006 tercatat 250 jenis aliran kepercayaan yang dinyatakan sesat di Indonesia. Ironisnya, semua mengatasnamakan Islam, katanya.[Berita sore: Aliran Sesat, Bagai “Duri Dalam Daging”]

  • Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi di Jakarta, Rabu, menyatakan, aturan yang ada saat ini, seperti soal penistaan agama, dirasa sudah kurang memadai terbukti pemerintah seringkali terkesan bingung dan ragu menyikapi aliran sesat yang muncul dan marak belakangan ini.

    “Untuk keselamatan bangsa ke depan, maka perlu ada modifikasi aturan perundangan terkait aliran sesat tersebut,” kata Hasyim.

    Menurut Presiden Konferensi Dunia Agama-agama untuk Perdamaian (WCRP) itu, kelonggaran yang muncul sejak reformasi bergulir, juga memberi peran pada maraknya kemunculan aliran sesat.

    Data menyebutkan sejak 2001 hingga 2007, sedikitnya ada 250 aliran sesat yang berkembang di Indonesia, 50 aliran di antaranya tumbuh subur di Jawa Barat.[Suara Karya:Fenomena Aliran Sesat Jangan Dikaitkan dengan HAM]

  • Yang di atas itu, baru untuk dikalangan dalam Negeri saja! Belum ngitung yang di seluruh dunia!

    Laporan dari labbaik.wordpress.com: Benarkah Islam Akan Terbagi Menjadi 73 Aliran:

    Namun bila kita telusuri paham aqidah di luar ahlus-sunnah wal jamaah, kita mendapati bahwa paham-paham itu jumlahnya jauh melebihi angka 72 buah, apalagi bila dihitung sejak zaman nabi hingga hari ini di mana umat Islam telah tersebar luas dari Maroko sampai Merauke, maka jumlahnya mencapai jutaan bahkan puluhan juta paham/aliran.

Walaupun diyakini, Muhammad SAW tidak mungkin keliru berucap, namun fakta di atas telah berkata lain, Sabda Nabi mengenai Islam akan terpecah 73 golongan jelas telah jauh melampaui target.

Apakah implikasi dari fakta ini hanya membuktikan bahwa Nabi Muhammad kurang berbakat meramal?

Bukan!

Itu hanya permukaan gunung es dan implikasinya adalah jauh lebih lebih besar daripada sekedar itu!

Nyawa-nyawa sudah terlanjur tertumpahkan selama ribuan tahun ini.

Yang lebih mengerikan bukanlah melesetnya jumlah golongan setelah 1400 tahunan namun juga kebenaran ucapan-ucapan Beliau lainnnya sebagai Perantara seperti termaktub dalam Kitab Suci Al ’Qur’an!

Ini adalah preseden serius karena semua orang yang beragama tentunya berkehendak untuk mendapatkan Surga.

Bagaimana?

Sudah terbayangkankah dibenak anda sekarang betapa mengerikannya kalau ternyata ini meleset juga?

Pikirkanlah ini baik-baik karena menurut ajaran Abrahamic (Islam), Setelah kematian tidak akan ada jalan kembali.

First Saved: 11/17/07, 6:38 PM