Agama Langit Bilang Kaya Gini: Matahari Yang Beredar Bukannya Bumi!..Mmmhh Trus, Bumi Itu Datar!


Dunia barat mencatat bahwa orang pertama yang menegaskan BUMI itu BULAT adalah seorang Yunani yang hidup di abad ke 6 SM bernama Phytagoras.

Benarkah orang pertama yang mengatakan bumi itu bulat adalah Phytagoras?

Apa kata 4 Agama besar tentang bentuk Bumi kita dan juga yang manakah pusat tata surya kita, Bumi ataukah Matahari?

Mari kita telusuri bersama:

Setelah membaca uraian-uraian tersebut, anda akan lebih memahami bahwa KEBENARAN dan KEYAKINAN merupakan dua hal yang berbeda, terkadang berjalan seiring namun terkadang berlawanan arah. []



Tradisi Nasrani

Sekarang, marilah kita melihat bagaimana Tuhan di Alkitab berbicara tentang Bentuk Bumi yang datar dan Matahari yang mengelilingi Bumi

[Untuk detail bagaimana proses pembuatan Alkitab dan kontroversinya silakan lihat di sini]

Bumi itu mempunyai 4 (empat penjuru)

    Ia akan menaikkan suatu panji-panji bagi bangsa-bangsa, akan mengumpulkan orang-orang Israel yang terbuang, dan akan menghimpunkan orang-orang Yehuda yang terserak dari ke empat penjuru bumi. [Yesaya 11:12], [Hebrew: ‘arba` = empat; kanaph= sudut, pojok, penjuru]

    Kemudian dari pada itu aku melihat empat malaikat berdiri pada keempat penjuru bumi dan mereka menahan keempat angin bumi, supaya jangan ada angin bertiup di darat, atau di laut atau di pohon-pohon. [Wahyu 7:1]

Melihat seluruh permukaan Bumi dari Ketinggian:

    Ketika aku sedang tidur, kulihat sebuah pohon yang tumbuh di tengah-tengah bumi. Pohon itu sangat tinggi; batangnya besar dan kuat. Puncaknya sampai ke langit, sehingga dapat dilihat oleh semua orang di bumi. [Daniel 4:10-11]

    Pohon yang Tuanku lihat itu begitu tinggi, sehingga puncaknya sampai ke langit, dan dapat dilihat oleh semua orang di bumi. [Daniel 4:20]

    Dan Iblis membawanya ke puncak gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepadanya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya. [Matius 4:8]

    Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. [Lukas 4:5]

    Note: para penginjil akan berargumen bahwa itu bukan mimpi daniel-lah, bukan ucapan Daniel-lah, bukan ucapan tuhan-lah. Mereka lupa bahwa Daniel adalah seorang pakar tafsir Mimpi [karena anugerah yang diberikan padanya]. Kalimat Nebukadnezar, yaitu “seluruh [kol] ujung [sofe] bumi..[Dan 4:11]”, Daniel/Beltsazar kemudian tafsirkan “seluruh [kol] bumi [4:20]” menjadi “[..] sampai ke ujung [sofe] bumi” [4:22] [Message bible menulis ujung itu dengan 4 sudut bumi]. Padahal Daniel bisa saja mengatakan “seluruh” namun Ia justru memilih kata “ujung”.

    Benda bulat mana ada ujungnya?

    Kemudian, di Perjanjian baru: iblis membawa masuk ke alam roh-lah, dst. Perhatikan logika mereka semua saat itu:

    ‘melihat semua’ dari ketinggian tertentu!

    Setinggi2nya suatu tempat tidak mungkin melihat yang ada di bagian bumi di bawahnya [bulat] kecuali tempat itu datar

Bumi memiliki tiang:

    Yang menggeserkan bumi dari tempatnya, sehingga tiangnya bergoyang-goyang. [Ayub 9:6]..Tiang-tiang langit bergoyang-goyang, tercengang-cengang oleh hardik-Nya. [Ayub 26:11]
    Note: Ibrani/hebrew untuk tiang = ammuwd; langit = shamayim, ‘owr = petir, halilintar; penggunaan kata petir bukan tiang ada di Ayub 37:11

Matahari yang beredar mengelilingi Bumi:

    .. Ia memasang kemah di langit untuk matahari, yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya. Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya. [Mazmur 19:4-6]

    [Catatan: di sini, di sini dan di sini.. anda temukan konfirmasi bahwa Alkitab dan para bapak gereja mendukung GeoCentris juga mengutuk teori Heliocentrisnya Galileo]

Bumi memiliki ujung:

    untuk memegang ujung-ujung bumi, sehingga orang fasik dikebaskan dari padanya [Ayub 38:13]…..dan juga kilat petirnya ke ujung-ujung bumi. [Ayub 37:3]..Karena ia memandang sampai ke ujung-ujung bumi. [Ayub 28:24]

    [note: mereka akan berargumen bahwa tidak ada perbedaan antara tanah dan bumi dalam bahasa inggris..namun ayat2 ini berbicara bumi bukan tanah , lihat di Ayub 38:4, ‘…meletakan dasar bumi..’]

    Sebab itu orang-orang yang diam di ujung-ujung bumi takut kepada tanda-tanda mujizat-Mu; tempat terbitnya pagi dan petang Kaubuat bersorak-sorai.[Mazmur 65:8]

    engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu: “Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau”[Yesaya 41:9]

    Ya TUHAN, kekuatanku dan bentengku, tempat pelarianku pada hari kesesakan! Kepada-Mu akan datang bangsa-bangsa dari ujung bumi serta berkata: “Sungguh, nenek moyang kami hanya memiliki dewa penipu, dewa kesia-siaan yang satupun tiada berguna. [Yeremiah 16:19]

Kubah Langit dan Batas langit

    Ketika Ia mempersiapkan langit, aku di sana, ketika Ia menggaris kaki langit pada permukaan air samudera raya [AMSAL 8:27]

    Yang mendirikan anjung-Nya di langit dan mendasarkan kubah-Nya di atas bumi; yang memanggil air laut dan mencurahkannya ke atas permukaan bumi–TUHAN itulah nama-Nya. [Amos 9:6]

    Awan meliputi Dia, sehingga Ia tidak dapat melihat; Ia berjalan-jalan sepanjang lingkaran langit! [Ayub 22:14]

    Penegasan dari kalangan Kristen Awal dan yang tercantum di Ensiklopedia:

      “After this, on the second day, [God] placed the heavens over the whole world, and separated it from the other parts…. He also placed a crystalline [firmament] round it, and put it together in a manner agreeable to the earth, and fitted it for giving moisture and rain, and for affording the advantage of dews.”- Josephus Flavius [37 M – 100 M, yahudi], Antiquities, 1.1.1.

      “For the Spirit being one, and holding the place of light, was between the water and the heaven, in order that the darkness might not in any way communicate with the heaven, which was nearer God, before God said, ‘Let there be light.’ The heaven, therefore, being like a dome-shaped covering, comprehended matter, which was like a clod.”- Theophilus to Autolycus 2:13. Theophilus [disebutkan di lukas1:3 dan Kisah para rasul 1:1]

      Jewish Encyclopedia:
      The Hebrews regarded the earth as a plain or a hill figured like a hemisphere, swimming on water. Over this is arched the solid vault of heaven. To this vault are fastened the lights, the stars. So slight is this elevation that birds may rise to it and fly along its expanse

    Artikel ini, yaitu bagian kubah langit, mendapat tanggapan dari lingkar study dan di tulis di blognya [untuk melihat, klik di sini, di sini, dan di sini. Berikut dibawah ini adalah tanggapan saya di blog tersebut yang saya jadikan bagian dari artikel ini]

    ***

    Di blognya, Lingkar Study melampirkan ayat dibawah ini untuk menggambarkan arah utara tidaklah sejajar permukaan daratan, namun arah utara ada di sebelah atas bumi dan arah selatan ada di bawah bumi:

      Ayub 26:7 He stretcheth out [05186] (8802) the north [06828] over the empty place [08414], {and} hangeth [08518] (8802) the earth [0776] upon nothing [01099].

      26:7 Allah membentangkan utara di atas kekosongan, dan menggantungkan bumi pada kehampaan.

    TIDAK ADA satupun referensi pasal di Perjanjian Lama yang menyatakan bahwa arah UTARA adalah di atas [juga arah selatan di bawah] untuk itu, kita perlu mengetahui bagaimana cara orang Ibrani mengetahui arah mata angin

    Kaum Ibrani menentukan arah mata angin dengan cara badan menghadap arah Matahari terbit dan itu disebut sebagai timur. Konfirmasi arah timur ada pada yehezkiel 8:16,

      “[..] menghadap ke sebelah timur sambil sujud pada matahari di sebelah timur.”

    Dengan demikian arah barat adalah dibelakangnya, Utara di sebelah kiri dan Selatan ada di sebelah kanan [lihat juga kamus theosophy bible di sini, di sini, dan di sini]

    Setelah ini, mari kita temukan TEMPAT KEJADIAN ucapan-ucapan yang ada kitab Ayub berasal:

      Kisah Ayub, sebelum pasal 37:21 menceritakan awal mula kisah dan percakapan antara ayub bersama 3 rekannya [2:11]. Mereka datang ketika Ayub telah kehilangan kekayaan, diantaranya adalah unta2 [1:17]; tempat tinggal dan orang2 di rumahnya [kecuali istri] roboh diterpa angin rebut dari gurun [1:19]. Mereka kemudian duduk menemani ayub selama 7 hari 7 malam [2:13]

      Ayub tinggal di tanah Uz, Timur/tenggara Palestina, dekat syiria dan edom, di suatu tempat di gurun pasir Arabia.

    Dari informasi-informasi di atas, kamus leksikon dan Alkitab, dapat kita pastikan sebagai berikut:

    1. Tidak benar letak arah Utara dan Selatan adalah di atas dan di bawah seperti yg anda tuliskan di gambar 4 dan 5.
    2. Untuk mengetahui arah utara, Ayub dan teman2nya jelas tidak perlu terlentang, namun cukup mengetahui dimana matahari terbit, Jadi arah semua mata angin sejajar permukaan tanah.
    3. Lokasi mereka berbicara adalah di sekitar area gurun pasir, yang kosong [ini sesuai dengan arti kode leksikon 08414, yaitu “over the empty place”]
    4. Kamus Lexicon 05186, mempunyai arti: bow down [menundukan badan], bend [membengkokan, menekuk] turn, in/de cline [naik/turun/lerengan], bow [membungkuk], to stretch out, spread out dan lain-lain.
    5. Sehingga frase “membentangkan utara di atas tempat yang kosong menggantung bumi ditengah kekosongan” merupakan sebuah fakta lapangan yang mereka lihat [ayub dan 3 temannya] yaitu di arah utara hanya padang gurun yang tidak ada apapun. Langit terlihat bertemu dengan daratan [sehingga ini juga bagaikan daratan yang digantungkan di kosongnya langit].
    6. Situasi “langit bertemu dengan daratan” menunjukan posisi langit yang menekuk/menurun, Ini berkeseseuaian dengan kalimat “Ia menekukkan [05816] langit, lalu turun, kekelaman ada di bawah kaki-Nya” [2 samuel 22:10 dan Mazmur 18:9 (18-10)]
    7. Maka dari itu, ucapan Ayub pada 26:7 adalah selaras dengan ucapan Elifas di ayat sebelumnya [22:14], yaitu “[..] berjalan2 di lingkaran langit”. Langit ini bentuknya menyerupai kubah.

    Langit yang berbentuk kubah itu bersandar pada daratan, yang disyairkan dengan sangat pas dan indahmya di kitab Amos 9:6:

      “yang mendirikan anjung-Nya di langit dan mendasarkan kubah-Nya di atas bumi; yang memanggil air laut dan mencurahkannya ke atas permukaan bumi ALLAH, itulah namaNya

    Bagaimana bentuk bumi menurut Allah dan Ayub dapat kita ketahui dari pernyataan Allah dan ayub sendiri, yaitu:

    • Allah, sendiri menyatakan bahwa dinihari atau fajar [arah timur] merupakan tempat dari ujung-ujung bumi, “Pernahkah dalam hidupmu engkau menyuruh datang dinihari atau fajar kautunjukkan tempatnya untuk memegang ujung-ujung bumi, sehingga orang-orang fasik dikebaskan dari padanya? [Ayub 38:12-13]. Bumi memiliki ujung satu dan ujung lainnya sehingga ada frase dari ujung bumi ke ujung bumi [ulangan 13:17, 28:64]. Terakhir, terdapat konfirmasi bahwa ada 4 penjuru Bumi [Yesaya 11:12]. Benda Bundar seperti bola tidak memiliki ujung-ujung.
    • Ayub juga menyatakan bahwa Allah mengetahui jalan ke sana, Ia juga mengenal tempat kediamannya. Karena Ia memandang sampai ke ujung-ujung bumi, dan melihat segala sesuatu yang ada di kolong langit. [28:23-24], kalimat terakhir menunjukan bahwa segala sesuatu dapat terlihat hanya jika bentuknya TIDAK BULAT

    Jelas sudah bahwa Kitab Ayub, sudah dengan jitu menggambarkan bumi itu datar.

    [sisanya silakan lihat di sini. Tanggapan dan jawaban antara saya dan lingkar study, akan dituliskan pada komentar di artikel ini] []

    Beberapa ahli teologis dan para peneliti bible, menyatakan pandangan bangsa babilonia mengenai dunia ditulis setidaknya oleh beberapa penulis Perjanjian lama alkitab, yaitu Bumi itu Datar dan berdiri pada tiang, dan di tutupi sebuah kubah langit dan konsep Bumi itu Datar yang ditutup kubah disebutkan di Yesaya 40:22:

    Yashab al chwug erets yashab chagab natah shamayim doq mathach ohel yashab (Kediaman di dalam kubah bumi kediaman belalang, menekuk langit terjulur terentang tenda kediaman!)

    Frase “al chuwg ‘erets” sering di klaim kalangan nasrani bahwa alkitab menyatakan bumi itu bulat.

    Benarkah demikian?

    Kata ‘Yashab [3427]’ tercantum 3x di ayat ini dan seluruh terjemahan TIDAK KONSISTEN menterjemahkannya, yaitu: (1) Orang ke-3 duduk, (2) kumpulan orang yang menduduki dan (3) tempat yang diduduki.

    Jadi secara umum kata ini berarti kediaman atau sesuatu yang diduduki sehingga patutnya kata ini diterjemahkan: kediaman

    kata ‘al’ [5921], artinya: di atas, pada, di, kepada, karena, sebab, di bawah, di dalam, dst

    Kata ‘chuwg’ [02328 dan 02329], artinya: Circle/lingkaran, circuit/perjalanan keliling, compassed/diliputi, to encircle/Mengelilingi, Melingkari, melingkungi; encompass/Meliputi, Mencakup; describe a circle/berbentuk melingkar. draw round/gambaran melingkar; make a circle [membuat lingkaran] (Qal) to encircle/ encompass

      Noun:

      • vault/Kubah, horizon/kaki langit; of the heavens, sea and earth[Francis Brown, A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament of William Gesenius, p. 295, Clarendon Press, Oxford, 1988]
      • circle/lingkaran; circuit/perjalanan, keliling, horizon/kaki langit[Ernest Klein, A Comprehensive Etymological Dictionary of the Hebrew Language, p. 210, MacMillan Publishing Company, New York, 1987]

      Verb:

      • draw round/gambaran melingar; make a circle/membuat lingkaran[Francis Brown, A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament of William Gesenius, p. 295, Clarendon Press, Oxford, 1988]
      • make a circle/membuat lingkaran; to move in a circle/bergerak melingkar[Ernest Klein, A Comprehensive Etymological Dictionary of the Hebrew Language, p. 210, MacMillan Publishing Company, New York, 1987]

    Kata circle [lingkaran] dimaksudkan dalam bentuk 2 dimensi, sementara bulatan 3 dimensi dalam bahasa Ibrani yang diartikan bola: duwr [1754], definisinya: ball [circle; ball]. Di dalam AV: ball[Bola -> Yes 22:18], round about[berbentuk lingkaran, mengepung -> Yes 29:3], burn[Memasang, menyusun -> Yeh 24:5]. Samplenya misal di Yesaya 22:18:

      dan menggulung[6801 =(Qal) to wrap (Bungkus, gulung), wrap or wind up together, wind around] engkau keras-keras menjadi suatu gulungan[6802 = melilit, menggulung, Bola] dan menggulingkan engkau seperti bola[01754] ke tanah[0776] yang luas; di situlah engkau akan mati, dan di situlah akan tinggal kereta-kereta kemuliaanmu, hai engkau yang memalukan keluarga tuanmu!

    Jika benar Yesaya memang hendak mengartikan bumi itu bulat bukan datar, tentunya ia akan menggunakan kata ‘duwr’ daripada kata ‘chuwg’, toh?!:

      He who sits above the ball/round about[duwr] of the earth [..]

    Namun tidak diterjemahkan seperti itu, karena penulis Alkitab tau persis bahwa bumi tidaklah berbentuk bulatan/bola.

    Kata “‘erets” [0776], artinya: Tanah (1543 x), bumi (712 x), daerah (140 x), permukaan tanah (98 x), dunia (4 x) atau dewa bumi. Kata ‘erets secara statistik lebih banyak diartikan sebagai ‘tanah’ daripada ‘bumi’ dan ini tergantung pada konteks pemakaiannya

    Kata “chagab” [2284], artinya: belalang.

    Kata “naw-taw” [5186], artinya: membentangkan, membengkokan, membungkuk, menekuk. Contoh pemakaian di alkitab:

      “Ia menekukkan [naw-taw] langit, lalu turun, kekelaman ada di bawah kaki-Nya” [2 samuel 22:10 dan Mazmur 18:9 (18-10)]

    di dua ayat itu, diterjemahkan sebagai menekukkan/membengkokan.

    Kata Shamayim [8064], artinya: Surga, langit, udara, cakrawala, angkasa atua Dewa langit.

    Kata “‘doq” [1852], artinya Veil. Dalam Inggris: ‘curtain’, sementara dalam Indonesia: ‘kain’ [versi LAI]. Kata ‘doq: Veil = artinya: ‘kudung, kerudung, tudung, selubung, kabut atau mengerudungi, menyelubungi, diselubugi atau tirai’ dan sama sekali tidak mendekati kata ‘kain’ namun dalam definisinya disampaikan: “sesuatu yang runtuh”.

    Kata ‘Mathach’ [4969], artinya: memasangkan, merentangkan, untuk diregangkan.

    Kata “‘ohel’ [168], artinya: tenda, kemah, rumah.

    So, bagaimana bentuk Kubah?

    Atap melengkung yang menjulur ke bawah terpasang di atas sebuah bidang datar berbentuk lingkaran. Ini persis seperti:

    • Ucapan Elifas, “[..] Ia berjalan-jalan sepanjang lingkaran langit” [Ayub 22:14];
    • “[..] mendasarkan kubah-Nya diatas bumi [..]” [Amos 9:6]

    Proses pembentukan sandaran di bidang datar adalah sebagaimana digambarkan di Amsal 8:27,”Ketika Ia mempersiapkan langit, aku di sana, ketika Ia menggaris kaki langit pada permukaan air samudera raya

    Disamping itu pula,
    di Kitab Yesaya saja dapat kita temukan beberapa indikasi kuat bahwa ada Ujung Bumi [5:26, 24:16, 42:10, 48:20], ujung langit [13:5] tuhan menciptakan Bumi dari ujung ke ujung [40:28], ujung-ujung bumi [41:5, 41:9, 43:6, 45:22], Bumi memiliki 4 Penjuru [11:12, yang tentu saja ini dapat saja berarti 4 arah mata angin dan bukan berarti berberntuk kotak]

    Apa yang dapat kita simpulkan dari semua hal di atas ini?

    Frase ‘al chwug erets’ jelas sekali artinya di bumi berbentuk piringan datar melingkar diselubungi langit yang berbentuk kubah. Disamping itu, jika yang berdiam ini tuhan, maka Alkitab juga merekam bahwa Abraham, Yakob, Iskak dan Musa kerap kali diperintahkan Allah untuk menghadap ketempatNya yang sangat jelas dan spesifik disebut sebagai GUNUNG TUHAN, misal:

    • Lalu berangkatlah mereka dari gunung TUHAN…[Bil: 10:33, Juga Yesaya 2:3; 30:29, zakharia 8:3]
    • Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?” [Mazmur 24:3]
    • dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub [Mikha 4:2]

    Gunung lainnya yang sering disebut-sebut sebagai tempat menghadap diantaranya adalah:

      Gunung Sion (Yesaya [2:2], [24:23]; Mazmur [74:2]), Gunung Horeb gunung Allah, nama lain Gunung Sinai? (1 raja-raja [19: 8]; keluaran [3:1], [3:12], Kel [19:3] dan Ulangan [1:6]), Gunung Ebal (Yos [8:30], 8:33), Gunung Hor, Lebanon (Ulangan 32:50-51), Efron, Pegunungan di Utara Judah, Effraim (Kejadian [49:29]), Gunung Sinai (Kel [19:16-21]), Gunung Moria, sebelah Timur Yerusalem (Kejadian [22:2], [22:11], [22:14]; 2 tawarih [3:1]), Gunung (Wahyu [21:10], 2 petrus [1:18])

Bapak-bapak Gereja, orang-orang suci yang tentunya telah menerima anugerah pemahaman dari roh yang sangat kudus, membela dengan sangat teguhnya bahwa bumi itu datar:

  • Lactantius [245M – 325M), mengatakan yang mempunyai pendapat bahwa bumi itu bulat adalah “tolol” karena manusia bisa berjatuhan
  • Santo Cyril dari Jerusalem [315M–386M], Bumi seperti langit mengambang diatas air
  • Santo John Chrysostom [344M–408M], pendapat bahwa bentuk BUMI itu BULAT bertentangan dengan Kitab
  • Uskup dari Gabala, yaitu Severian [408 M] dan Diodorus dari Tarsus [394M], merupakan pembela Bumi itu datar
  • Cosmas Indicopleustes [547M], Bentuk bumi: “parallelogram, datar, dan dikelilingi 4 laut”
  • St. Augustine [354M-430M], The City of God Book 16 Chapter 9,

    “Tapi adalah dongeng bahwa terdapat sisi berlawanan, dikatakan, manusia dibelahan lainnya, di mana matahari terbit adalah saat terbenam bagi kita, manusia yang berjalan dengan kaki mereka ada dibelahan lainnya, itu tidak memiliki pijakan yang kredible dan tentunya tidak sesuai dengan pengetahuan sejarah yang telah diketahui, namun dari terkaan sain…Mereka tidak menyimak, meskipun didemonstrasikan sain bahwa bumi ini bulat..Kitab, dengan bukti historis..tidak pernah memberikan informasi yang salah. Terlalu Absurd dikatakan bahwa beberapa orang telah berlayar mengarungi samudera luas dan melintas dari sisi satu ke sisi lainnya”

  • Kardinal Robert Bellarmine [1542M-1621M], Letter on Galileo’s Theories, 1615:

    “Tapi yang hendak menyatakan bahwa Matahari benar2 tetap di tengah langit dan hanya berputar pada porosnya sendiri tanpa bergerak dari timur ke barat dan bahwa Bumi berada pada lapisan ke 3 dan berputar dengan kecepatan tinggi mengitari matahari, adalah pikiran yang sangat berbahaya, tidak hanya melecehkan semua pilsuf dan para cendekiawan agama, namun juga melukai keyakinan suci kita dan menyatakan kitab suci salah”

  • Bukan cuma mereka! Para cendekiawan nasrani lainnya tetap teguh dengan kebenaran Alkitab yang tegas menyatakan bahwa bumi itu datar! silakan lihat di sini, di sini dan di sini

Mengapa para orang penting, bapak gereja dan para santo itu benar-benar yakin bahwa bumi itu datar?

Untuk menjelaskan persamaan pikiran diantara mereka yang sama-sama telah mendapatkan bimbingan roh kudus ini, marilah kita lihat beberapa sample kata ibrani yang mempunyai arti dan maksud yang sama dan diaplikasikan pada benda-benda berbeda:

    7097 — qatseh [ujung, batas, sudut, hal-hal yang ekstrim dan banyak lagi]. Perhatikan kata ujung ke ujung pada dua kalimat dibawah ini:

    • Keluaran 26:28 Dan kayu lintang yang di tengah, di tengah-tengah papan-papan itu, haruslah melintang terus dari ujung ke ujung.
    • Ulangan 13:7 salah satu allah bangsa-bangsa sekelilingmu, baik yang dekat kepadamu maupun yang jauh dari padamu, dari ujung bumi ke ujung bumi

    Penerapan kata Qatseh pada kayu dan bumi di atas, menunjukan dengan sangat jelasnya bahwa bentuk benda yang mempunyai ujung dan jelas tidak bulat, bukan?!

    7098 — qatsah, [ujung, batas, sudut, hal-hal yang ekstrim dan banyak lagi]. Perhatikan kata ujung pada dua kalimat di bawah ini:

    • Keluaran 27:4 Haruslah engkau membuat untuk itu kisi-kisi, yakni jala-jala tembaga, dan pada jala-jala itu haruslah kaubuat empat gelang tembaga pada keempat ujungnya.
    • Yesaya 40:28 Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya.

    Penerapan kata Qatsah pada jala dan bumi di atas, menunjukan dengan sangat jelasnya bahwa bentuk benda yang mempunyai ujung dan jelas tidak bulat, bukan?!

    7099 — qetsev [Ujung, akhir, batas, batasan]. Perhatikan kata ujung pada tiga kalimat di bawah ini:

    • Keluaran 37:8 satu kerub pada ujung [7098,qatsah] sebelah sini dan satu kerub pada ujung [7098,qatsah] sebelah sana; seiras dengan tutup pendamaian itu dibuatnya kerub itu pada kedua ujungnya [7099, qetsev]
    • Mazmur 48:10 (48-11) Seperti nama-Mu, ya Allah, demikianlah kemasyhuran-Mu sampai ke ujung bumi; tangan kanan-Mu penuh dengan keadilan.
    • Yesaya 26:15 Thou hast increased [03254] (8804) the nation [01471], O LORD [03068], thou hast increased [03254] (8804) the nation [01471]: thou art glorified [03513] (8738): thou hadst removed {it} far [07368] (8765) {unto} all the ends [07099] of the earth [0776].

      [Dalam Alkitab terjemahan baru, kata bumi [0776] di hilangkan dan bunyinya menjadi seperti ini:

      Yesaya 26:15 Ya TUHAN, Engkau telah membuat bangsa ini bertambah-tambah, ya, membuat bertambah-tambah umat kemuliaan-Mu; Engkau telah sangat memperluas negerinya]

    Penerapan kata Qetsev pada tutup perdamaian dan bumi di atas, menunjukan dengan sangat jelasnya bahwa bentuk benda yang mempunyai ujung dan jelas tidak bulat, bukan?!

Anda akan temukan banyak sekali bentuk-bentuk dan contoh-contoh serupa di alkitab dan saya rasa 3 contoh di atas sudah lebih dari cukup untuk menjelaskannya, bukan?!

Tentunya para orang penting, bapak gereja dan para santo di atas yang sama-sama telah mendapatkan bimbingan penuh roh kudus, disamping sangat fasih dengan alkitab dan juga mengenal baik arti kata dan dalam kondisi apa kata-kata tersebut di gunakan, bukan?!

Kemudian, terdapat martir Pengetahuan yang dibakar-hidup-hidup oleh Geraja karena mempertahankan pendapat bahwa matahari tidak beredar mengelilingi bumi adalah Giordano Bruno [1548M – 1600M], Ia adalah biarawan Dominikan.

Setelah lama disiksa di penjara, ia di bakar hidup-hidup di Campo de’ Fiori pada tanggal 17 February 1600. Ia di bakar hidup-hidup bukan karena tuduhan Heresy [bid’ah/klenik/sihir] namun karena pendapat sain-nya bertentangan dengan Alkitab.

Berikut dibawah ini adalah cuplikan Dokumen vatikan Interogasi terakhir Bruno [sekitar bulan April 1599] sebelum pelaksanaan eksekusi. Ia katakan teori kosmogony-nya didasarkan pada penemuan sain dan tidak ditujukan untuk menentang kitab suci:

    Circa motum terrae, f. 287, sic dicit: Prima generalmente dico ch’il moo et la cosa del moto della terra e della immobilità del firmamento o cielo sono da me prodotte con le sue raggioni et autorità le quali sono certe, e non pregiudicano all’autorità della divina scrittura […]. Quanto al sole dico che niente manco nasce e tramonta, né lo vedemo nascere e tramontare, perché la terra se gira circa il proprio centro, che s’intenda nascere e tramontare […]

    Terjemahan:
    Circa motum terrae, f. 287, sic dicit: Pertama-tama, Saya katakan bahwa teori-teori pergerakan bumi dan diamnya raqiya atau langit adalah dibuat oleh saya yang didasarkan pada alasan yang kuat, yang mana tidak dimaksudkan untuk meruntuhkan kewenangan kitab suci [..] Berkenaan dengan Matahari, Saya katakan bahwa ia tidak terbit maupun tenggelam, tidak juga seperti yang kita lihat, terbit ataupun tenggelam, karena, jika bumi berputar pada porosnya, maka apa yang kita maksudkan dengan terbit dan tenggelam [..]

Kemudian, terdapat satu bukti lagi yang menyatakan bahwa alasan eksekusi bukan karena tuduhan heresy, karena di Universal Declaration of Human Rights: Christianity and its Persecution of Heretics, tidak ditemukan nama Giordano Bruno yang di aniaya/siksa gereja atas tuduhan heresy. [catatan: di Link ini, anda akan temukan satu tanya jawab, dimana Bruno ternyata telah murtad dari Nasrani bertahun-tahun dan memilih menjadi Filsuf/pencari kebenaran (atheis?)]

Kesimpulan

  • Dari suatu tempat atau ketinggian tertentu dapat melihat seluruh permukaan bumi, hanya dimungkinkan jika BUMI itu DATAR
  • Terdapat kata-kata memegang ujung-ujung. Sebuah Benda bulat tidak memiliki Ujung atau ujung yang satu berbeda dengan ujung lain atau berjumlah 4 (empat)
  • Menekuk langit menunjukan satu kondisi bahwa Langit berbentuk Kubah. Amsal [8:27] mendukung hal ini, dimana Bumi sudah ada terlebih dahulu, dan Langit baru hendak dipersiapkan. Ujung langit dan bumi adalah Samudera. Jadi, Bumi itu datar dengan Langit seperti Kubah
  • Yesaya [40:22] dengan frase “al chwug erets” menyatakan bahwa bumi berbentuk piringan datar melingkar diselubungi langit yang berbentuk kubah
  • Bapak-bapak gereja, orang-orang suci dan Cendikiawan Nasrani yang telah mendapatkan anugerah pemahamanpun menyatakan Bumi itu datar
  • Alkitab menjelaskan Mataharilah berjalan dari satu ujung ke ujung yang lain, Bumi diam tidak berputar pada porosnya.
  • Konsistensi penegakan kemurnian ajaran Alkitab, yaitu matahari yang bergerak dari Timur ke Barat, mengakibatkan Giordano Bruno, harus dibakar hidup-hidup []


Tradisi Islam

Terdapat 2 (dua) pendapat, beberapa menyatakan Bumi itu Bulat dan beberapa menyatakan bumi itu datar. Ini akan kita uji mana yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadis dan kita teluri mengapa pendapat nyeleneh tersebut muncul.

Pendapat 1: Bumi itu Bulat

Sekitar tahun 830, Khalifah al-Ma’mun menugaskan sekelompok astronomer untuk mengukur jarak antara Tadmur (Palmyra) ke Al-Raqqh, di Syria modern. Mereka menemukan bahwa kota-kota itu terpisah 1 derajat ketinggian.

Sejak itu banyak peneliti-peneliti Islam berpendapat (Ijma) bahwa BUMI itu BULAT diantaranya adalah Ibnu Hazm (Meninggal 1069), Ibnu Al-Jawzi (meninggal 1200), Ibnu Taymiya (meninggal 1328) dan Ibnu Khaldun (meninggal 1406). [lihat: History, Science and Civilization: Early Muslim Consensus: The Earth is Round]

Imam Ibnu Hazm (7 November 994–15 August 1069, 456 AH), di klaim mengatakan:

    “Pasal penjelasan tentang bulatnya bumi. Tidak ada satu pun dari ulama kaum muslimin, semoga Allah meridhai mereka semua, yang mengingkari bahwa bumi itu bulat dan tidak dijumpai bantahan atau satu kalimat pun dari salah seorang dari mereka.” (Buku “Matahari Mengelilingi Bumi Sebuah Kepastian Al-Qur’an dan As-Sunnah Serta Bantahan Terhadap Teori Bumi
    Mengelilingi Matahri”, Ahmad Sabiq bin AbdulLathif Abu Yusuf, Penerbit Pustaka Al-Furqon, Gresik, Bab 4.1, hal.77-78, yang konon penulisnya mengutip itu dari “al Fishal fil Milal wan Nihal 2/97”)

    Note:
    Klaim bahwa tidak ada satupun dari ulama mengingkari sudah KELIRU BESAR. Di buku, “Ibn Hazm of Cordoba: The Life and Works of Controversial Thinker”, hal 556 disampaikan bahwa banyak ulama dijamannya sendiri menentang idenya tersebut.

    Kemudian, “Al Fishal fil Milal vol.5 hal.34, Ibn Hazm menyatakan orbit Saturnus mengeliling bumi selama 33 tahun (penelitian modern: Saturnus mengeliling Matahari selama 29 tahun). Ini menunjukan bahwa beliau sendiri meyakini bumi sebagai pusat dan bukannya matahari

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (22 Januari 1263 (10 Rabiul Awwal 661 H) – wafat: 1328 (20 Dzulhijjah 728 H)

    Benda-benda angkasa adalah bulat (istidaaratul-aflaak) – yang merupakan statement para astronomer dan para ahli matematika (ahlul-hay’ah wal-hisab) – Ini adalah pernyataan ulama-ulama muslim seperti Abul-Hasan ibn al-Manaadi, Abu Muhammad ibn Hazm, Abul-Faraj ibn al-Jawzi dan lainnya yang di kutip: bahwa ulama-ulama islam bersepakat. Sesungguhnya Allah telah berkata: Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya (falak). Ibn Abbas berkata: falaka adalah seperti putaran roda..Ibn Taimiyah: falak artinya adalah bulatan. Dari pernyataan “Payudara perempuan muda ta-fa-la-ka adalah ketika menjadi berbentuk bundaran” (Vol. 6, hal. 566-567)

    Untuk sisi lainnya dari bumi adalah dikelilingi air. Tidak ada umat manusianya atau serupa ini. Bahkan jika kita berimaginasi bahwa orang-orang ada di sisi lain bumi, masing-masing individu tetap berada di permukaan bumi. Mereka di sisi lain bumi tidak di bawah mereka yang di sisi ini; sama seperti mereka yang di sisi ini tidak dibawah mereka yang disisi itu. Untuk seluruh benda angkasa mengelilingi titik pusat (markaz), tidak ada keberadaan benda angkasa berada di bawah lainnya, tidak juga kutub utara di bawah kutub selatan atau sebaliknya. (vol.6. hal 565-566)

    [Kutipan pernyataan Ibn Taimiyah di atas ini berasal dari tulisan anonim (tak diketahui penulisnya), komentar penulisnya saya abaikan sehingga yang tersisa hanya tulisan Ibn Taymiyah menurut terjemahan penulis tersebut.]

    Note:
    Keterangan Ibn Taimiyah di atas adalah berkenaan dengan perjalanan benda angkasa terhadap bumi dan BUKAN bukti tentang bentuk bumi. Bahkan statement beliau tentang “sisi lain” lebih menunjukan keadaan bumi dalam bentuk piringan bulatan yang datar dengan satu sisi saja mempunyai kehidupan, dimana di sisi ini daratan yang dikelilingi lautan dan di seberangnya dianggap tidak ada manusia lain yang hidup (ini jelas bahwa yang dimaksudkan BUKAN sisi bagian bawah bumi)

Kebanyakan muslim mengkaitkan nama-nama ulama klasik yang kondang seperti di atas ini untuk klaim dan menyelipkan ayat-ayat quran sebagai pembenaran misalnya: 21.33 (dan 36.40), AQ 39.5 dan AQ 81.1

    Dan Dialah [wa+huwa] Ia yang [alladzii] menciptakan [khalaqa] malam dan siang [allayla waalnnahaara] dan matahari dan bulan [waalshamsa waalqamara]. Masing-masing [kullun] dalam [fii] jalurnya [falakin] mengambang/berenang (yasbaḥūna).[AQ 21.33]

    Tidak [Laa] matahari [Al-shamsu] diijinkan [yanbaghī] baginya [lahaa] agar [an] menyusul [tud’rika] bulan [alqamara] dan tidak [walaa] malam [al-layla] saabiqu [melebihi] siang [al-nahaari] dan Masing-masing [wakullun] dalam [fii] jalur [falakin] mengambang/berenang (yasbaḥūna) [AQ 36.40]

    Dia menciptakan (Khalaqa) para langit (alsamaawaati) dan bumi (al ardha) dengan benar (bilhaqi); membungkus (yukawwiru) malam (al-layla) atas (‘alaa) siang (al-nahaari) dan membungkus (wayukawwiru) siang (al-nahaara) atas (‘alaa) malam (al-layli) dan memperjalankan (wasakhkhara) matahari dan bulan (al-shamsa waal-qamara). Masing-masing (kullun) berjalan (yajri) menurut waktu (liajalin) yang ditetapkan (musamman) [AQ 39.5]

    Ketika (idhaa) matahari (al-shamsu) di bungkus/gulung (kuwwirat) dan ketika (Wa-idhaa) bintang-bintang (al-nujuum) berjatuhan (inkadarat) dan ketika gunung (aljibaala) di lenyapkan (suyirrat).. [AQ 81.1-3)

    note:

    • Semua kutipan ayat quran di atas jelas merujuk pada lintasan jalur benda tertentu dan BUKAN menyatakan bentuk bumi. Contoh seonggok tahi kerbau dengan bentuk tak beraturan dikitari kekanan dan kekiri secara teratur oleh lalat, maka jalur lalat mengitari tahi kerbau tersebut tidak lantas menunjukan bentuk tahi kerbau adalah bulat, bukan? dan juga tidak serta merta jalur mengitarinya tersebut adalah lingkaran.

      Kamus lane-lexicon (paling kanan) juga menyatakan arti “falak” bagi imaginasi kaum arab tidak melingkar namun bentuk melengkung seperti kubah.

      Kata “malam/layla” dan “siang/naahari” jelas bukan benda langit sehingga kata falak yang dimaksudkan adalah bukan lintasan berjalan namun sebuah ketetapan waktu tertentu, “dan memperjalankan (wasakhkhara) matahari dan bulan (al-shamsa waal-qamara). Masing-masing (kullun) berjalan (yajri) menurut waktu (liajalin) yang ditetapkan (musamman)” [AQ 13.2, 39.25, 31.29 dan 35.13]

    • Tafsir Ibn Kathir AQ 36:38:(dan matahari berjalan dijalurnya (limustaqarrin)) [Ada dua pendapat dan keduanya menyatakan Matahari dan bulan yang bergerak terus menerus]. ‘arsy adalah atap dari ciptaan dan tidak berbentuk BULATAN seperti banyak di klaim oleh astronomer. Lebih seperti KUBAH yang di topang oleh pilar. Ditandu oleh para malaikat dan di atas dunia, di atas kepala-kepala orang. Menurut Nabi sebagaimana diriwayatkan Abu Dharr:

      Ketika senja [magrib], Nabi bertanya padaku, “Apakah kau tau kemana Matahari itu pergi (saat Magrib)?! Aku jawab, “Allah dan rasulnya yang lebih tau.” Ia jawab, “Ia berjalan hingga berhenti pada tempatnya di bawah Arsy lalu menyungkur sujud dan mohon ijin untuk terbit kembali, dan diijinkan dan kemudian (waktunya akan tiba) dia minta agar terus saja bersujud namun tidak diperkenankan dan minta izin namun tidak diizinkan dan dikatakan kepadanya: “Kembalilah ke tempat asal kamu datang” dan ia akan terbit dari tempatnya terbenamnya tadi (barat). Itulah penafsiran dari sabda Allah “dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (AQ 36:38) [Bukhari: no.2960/4.54.421, no.4428/6.60.327, no.6874/9.93.520 dan no.6881/9.93.528. Juga Muslim: no.228/1.297]

      Lintasan seperti ini dimungkinkan karena langit berbentuk kubah dan tunduk di bawah arsy allah yang ada di atas air.

      Tafsir Ibn Kathir AQ 31.29:(dan memperjalankan matahari dan bulan Masing-masing berjalan menurut waktu yang ditetapkan) terdapat dua pendapat yaitu “hingga batas tertentu” atau “hingga kiamat” keduanya sahih mengikui hadis dari Abu dhar di atas. Kemudian Ibn hatim – bapaknya – Ibn Abbas: Matahari seperti aliran air. Berlarian di jalurnya di langit selama siang hari. ketika ia terbenam , berjalan di jalurnya di bawah bumi hingga terbit di timur. demikian pula dengan bulan.

    • Surat At Takwir 81.1 dari penterjemah lain:

      YUSUFALI: When the sun is folded up;
      PICKTHAL: When the sun is overthrown,
      SHAKIR: When the sun is covered,

      Tafsir Ibn kathir utk AQ 81.1-2:
      (Ketika matahari Kuwwirat.) “Ini berarti akan digulitakan.” Al-`Awfi meriwayatkan dari Ibn `Abbas; “Ini akan menghilang.” Qatadah berkata, “Cahayanya akan menghilang.” Sa`id bin Jubayr berkata, “Kuwwirat berarti itu akan di tenggelamkan.” Abu Salih berkata, “Kuwwirat berarti ini akan diceburkan.” At-Takwir berarti melipat satu bagian dari sesuatu dengan bagian lainnya (i.e., folding). Ini berasal dari melipat turban (`Imamah) dan mengulung kain-kain menjadi satu. kemudian arti dari statement allah (Kuwwirat) adalah bagian dari itu akan melipatnya dengan bagian lainnya. Kemudian itu di gulung dan di buang. Setelah ini selesai, cahayanya menjadi hilang. Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairh – Nabi: (matahari dan bumi akan di gulung pada hari kiamat.)

      Tafsir lainnya:
      [..]Kata kawwara berasal dari Takwir yang merujuk pada matahari yang kehilangan cahayanya. (arti lain dari takwir adalah “membungkus/melipat”. Terjemahan dari teks di dasarkan arti ini. Maksud membungkus matahari adalah bahwa fungsinya menuju akhir dan ia akan kehilangan cahayanya..

      Muhammad Taqi Usmani Sayyidna Hasan Basri (RA) menyandarkan tafsirnya pada ini. Arti lain dari kata ini adalah “menyebabkan jatuh”.
      Rabi’ Ibn Khaitham (RA) menyampaikan tafsir berikut untuk ayat itu: Matahari akan di buang ke lautan, dan sebagai hasil ari panasnya seantero lautan menjadi terbakar. Dua tafsir ini tidak saling bertentangan. Ini dapat dikompromikan menjadi:
      pertama, cahayanya akan dipadamkan dan kemudian dibuang kelautan.
      Bukhari menyampaikan riwayat dari Abu hurairaa (RA) bahwa Nabi SAW berkata bahwa di hari kiamat matahari dan bulan akan di ceburkan di laut.
      Musnad Bazzar menambahkan bahwa mereka ini akan diceburkan di neraka.
      Ibn Abi Hatim, Ibn Abid-Dunya and Abush-Shaikh menyatakan bahwa pada hari kiamat Allah akan menceburkan matahari, bulan dan bintang ke lautan. Dan angin yang sangat keras bertiup kearah mereka, sebagai hasilnya seluruh lautan menjadi terbakar.

      Kemudian, adalah tepat dikatakan bahwa matahari dan bumi akan diletakan di lautan. Ini seperti juga tepat mengatakan bahwa mereka akan diletakan di neraka, karena seluruh lautan pada saat itu berubah menjadi neraka. [Di turunkan dari Mazhari dan Qurtubi] [..] [central-mosque.com]

      Jadi ‘takwir’ yang dimaksudkan malah menegaskan bahwa lintasan mereka ini di langit adalah berbentuk kubah dan bukan bentuk bumi, Ini adalah seperti maksud AQ 2:22,

      YUSUFALI: Who has made the earth your couch, and the heavens your canopy;[..].
      PICKTHAL: Who hath appointed the earth a resting-place for you, and the sky a canopy;[..]
      SHAKIR: Who made the earth a resting place for you and the heaven a canopy[..]

Tampak jelas bahwa tafsir dan ayat quran berbicara mengenai lintasan benda langit bukan tentang bentuk bumi. Mengkaitkan ayat-ayat tersebut dengan bentuk bumi adalah tidak relevan. []



Pendapat 2: Bumi itu Datar
A TRIBUTE TO A MUSLIM GENIUS
by Sujit Das

Salah seorang genius dari Saudi dikenal dengan nama “Shaikh Abd-al-Aziz Ibn Abd-Allah Ibn Baaz” (artinya – abdi Allah yang Maha Besr atau putera abdi Allah). Singkatnya, ‘Ibn Baz’. Sejak kecil ia sangat suka menghafal Quran dan belajar buku2 religius Islam (Saudi Gazette, 1999). Ia percaya bahwa tidak ada pengetahuan diluar Quran dan Ahadith; dan oleh karena itu tidak perlu belajar hal lain selain kitab-kitab suci Islam.

Pada usia 16, mata Ibn Baaz kena infeksi parah. Pada usia 20 ia menjadi buta total. Namun, ia tidak pernah putus asa. Walau buta, ia berketetapan untuk melanjuntukan studinya dalam Islam dibawah pengarahan pemikir Islam paling ternama jamannya, seperti: Sheikh Shanqeeti dan pakar-pakar Islam lainnya. Sebuah artikel yang diterbuntukan dalam ‘Saudi Gazette’ membeberkan pendidikan lelaki jenius ini:

“Subyek-subyek yang dipelajarinya termasuk bahasa Arab dan sains Islam termasuk penafsiran Qur’an, Sunnah Nabi (saw), Yurisprudensi dan Sejarah Islam. Sebagai visionaries Islam, ia mengerti penuh pengaruh sejarah terhadap umat dan bekerja keras agar pengaruh iblis pada rakyat masa lalu tidak terulang dijaman kini.” (Anon, 1999)

Singkatnya, otak kreatifnya di-Islamisi secara total dan tidak ada satupun kitab Islam yang tidak dipelajarinya dengan demikian ia menjadi pakar besar dan dihormati diseluruh Saudi. Tidak ada sains dalam Quran dan hadis yang tidak ia pelajari. Ibn Baz adalah ‘Quran & hadis Berjalan’.

Selama hidupnya, jenius besar Islam ini mengabdi diri untuk mengerti mukjizat-mukjizat sains Quran dan ia mengeluarkan banyak fataawa (kata jamak “fatwa”) bagi perkembangan peradabpan yang dimulai dari thn 1940 (Wikipedia, 2006). Menurut ‘Arab News’ ( surat kabar ternama Saudi) tgl 15 Mei 1999, Ia mengeluarkan ribuan fatwa tentang masalah-masalah ekonomi & sosial berdasarkan Qur’an dan Sunnah. Fatwa pertamanya adalah:

‘pemberian kerja bagi non-Muslim di Teluk Arab dilarang dalam Islam.’

Setelah beberapa decade, ia mengeluarkan fatwa berikutnya:

‘Tentara Non-Muslim harus ditempatkan di tanah Saudi untuk membela Kerajaan Saudi dari tentara Iraq ’ (Kepel, 2004).

Fatwa ini bukan merupakan kebalikan dari fatwa pertama, orang jenius selalu berpikir berbeda dan setiap saat dapat mengembangkan ide-ide kreatif.

Ia menulis sejumlah buku yang berguna bagi umat manusia. Bukunya selalu menjadi best-seller dalam dunia Muslim. Penemuan paling terkenalnya ditulisnya sesuai dengan judul bukunya, “Bukti bahwa Bumi Tidak Bergerak.” Riset sains ini diterbitkan oleh Islamic University of Medina, Saudi, thn 1974. Pada halaman 23, ia berbicara tentang penemuan yang merujuk pada ayat2 Quran dan hadis. Ia dengan yakin menentang kepercayaan kuno bahwa bumi berputar. Ini kutipannya,

“Kalau bumi berputar (rotasi) seperti yang mereka katakan, maka negara-negara, pegunungan, pohon-pohon, sungai-sungai dan samudera-samudera tidak memiliki dasar dan orang akan melihat negara-negara di timur bergerak ke barat dan negara-negara barat bergerak ke timur.”

Parvez Hoodbhoy menggambarkan konklusi ilmiah berguna Ibn Baz diatas tersebut dalam bukunya “Islam and Science: Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality”. Pada halaman 49, ia menulis,

“.. The Sheikh (Abdul Aziz Ibn Baz) menulis … sebuah buku dalam bahasa Arab berjudul Jiryan Al-Shams Wa Al-Qammar Wa-Sukoon Al-Arz. Artinya : Pergerakan Matahari dan Bulan dan Tidak Bergeraknya Bumi … Dalam buku sebelumnya, ia mengancam para penantang dengan fatwa keras atau ‘takfir’ (alias kafir), tetapi tidak mengulanginya dalam versi yang lebih baru.”

Berita tentang penemuan besar Ibn Baz ini tersebar seperti api diseluruh dunia dan Muslim mulai menerima kredibilitas teori ‘tidak bergeraknya bumi’. Namun dunia kafir ragu-ragu menerima pendapatnya ini. Judith Miller, menulis dalam bukunya ‘Tuhan memiliki 99 Nama’, di halaman 114,

“Ketika ia (Sheikh Bin Baz) mengutuk apa yang disebutnya sebagai penghujatan gaya Copernicus dan bersikeras bahwa Quran mengatakan bahwa matahari bergerak, wartawan Mesir, mengolok-olok ulama ternama itu sebagai ‘refleksi primitif Saudi. “

Tahun 1993, pada suatu pagi hari, otak encer sang jenius membuka Qurannya dan menoleh sejumlah mukjizat ilmiah dan sampai pada penemuan baru bahwa ‘bentuk bumi = ceper’. Ini direkam oleh Carl Sagan dalam bukunya “The Demon-haunted World: Science as a Candle in the Dark”. Sagan menulis,

“Tahun 1993, otoritas religius tertinggi Saudi, Sheik Abdel-Aziz ibn Baaz, mengeluarkan fatwa, menyatakan bahwa bumi adalah ceper. Siapapun yang menolak dianggap tidak percaya Allah dan harus dihukum. ” dan ada sebuah fatwa terkenal yang dikeluarkan oleh Sheik Abdel-Aziz ibn Baaz. Statusnya memberikan bobot pada fatwanya namun pendapat2nya sering membuat rakyat Saudi malu.

Seluruh dunia (kecuali kafir) mulai menerima penemuan ilmiah ini. Contoh; tanggal 12 February, 1995, hal A-14 sebuah artikel diterbitkan dibawah judul “Fatwa-fatwa Muslim Mengambil Kekuatan Baru”, dimana Yousef Mohammad Ibrahim menulis “Bumi adalah datar. Barang siapa yang menyebutnya bulat adalah atheis dan patut dihukum. ” Ada banyak ayat-ayat Quran dan Ahadith, yang menunjukkan bahwa bumi = datar” (Sina, n.d).

Namun Ia membantah bahwa ia pernah menyusun teori Bumi Datar (Kepel, 2004), saat teori ini mulai popular diantara Muslim. Tidak diketahui mengapa ia meninggalkan kesimpulan ilmiah yang hebat itu. Mungkin inilah karakteristik jenius. Namun ia menegaskan kepercayaan yang didasarkan pada Quran bahwa

“keadaan tidak bergerak bumi dan matahari berputar keliling bumi (the motionless state of the earth and sun revolves around the earth)”

masih tetap berlaku bahkan setelah dibantai habis-habisan dalam tulisan wartawan2 Mesir (Kepel, 2004).

Seorang pakar Islam lain, Sheikh Muhammad Tantawi mengatakan “ia (Ibn Baz) tidak takut akan kritik manapun sambil mengekspresikan pandangan-pandangan Islaminya” , (Arab News, 1999). Kegigihannya menunjukkan bahwa ia memang jenius asli.

Pakar besar ini memegang posisi Grand Mufti dari Kerajaan Saudi dan Kepala Dewan Ulama 1993-1999. Ini adalah posisi religius tertinggi dalam sebuah negara Muslim Sunni. Sang Grand Mufti mengeluarkan pendapat-pendapat hukum dan fatwa tentang tafsiran Hukum Islam baik untuk membantu hakim memutuskan kasus dan juga bagi klien-klien privat.

Prestasi-prestasi hebat lainnya termasuk (Saudi Gazette, 1999; Riyadh Daily, 1999; Arab News, 1999),

  • Wakil Presiden dan kemudian Presiden the Islamic University in Medina, 1960-1970
  • Ketua departemen Riset Ilmiah dan Ifta (pengarah) dengan jabatan Menteri. 1974-1993
  • Presiden Komite Permanen bagi Riset Islam dan Fataawa.
  • Hakim Kharj selama 14 tahun,
  • Dosen Kehormatan di fakultas Shariah di Riyadh Institute of Science, 1951-1960
  • 1981, ia diberi Hadiah Internasional Raja Faisal bagi Pengabdian kpd Islam.

Sampai kematiannya, ia masih juga menghadiri seminar-seminar dan memberikan ceramah-ceramah dalam berbagai universitas Islam (Riyadh Daily, 1999). Topik paling disukainya adalah ketaatan pada Sunnah Nabi. Kini, hakim-hakim paling top dan ulama, dosen, saintis dan pejabat-pejabat tinggi Saudi adalah siswa-siswanya, termasuk Mendikbud Saudi.

Walau kesuksesannya sangat menakjubkan, ia tidak mendapatkan hadiah apapun dari dunia kafir. Mungkin karena mereka tidak menaruh perhatian serius pada penemuan-penemuannya. Ibn Baz wafat th 1999.

Kematian sang jenius ini bukan saja kehilangan besar bagi Saudi, tetapi bagi seluruh dunia Muslim. “Bobot dan reputasinya” begitu besar sampai pemerintah Saudi dikatakan “sulit menemukan orang yang bisa mengganti posisi Baaz.” (Kepel, 2004). ‘Arab News’ melaporkan (1999), lebih dari 50.000 orang mengantarnya ke pemakamannya di Mekah, sementara jutaan Muslim mendoakannya. Raja Fahd mengatakan bahwa dunia Islam shock atas berita sedih ini (Arab News, 1999). Berita ini begitu berat sampai Muslim bak kehilangan orang tuanya sendiri. Banyak dari mereka sampai membasahi jenggot mereka dengan air mata yang tidak habis2nya. Jenius macam Ibn Baz memang sulit ditemukan,
————————–

Reference list

  • Anonimous, (1999), Staunch Defender of Islam, An article published in Saudi Gazette on 14 May 1999.
  • Arab News, (1999), pp. 1, 2; 15 May 1999
  • Barrious A (1980), 24 Qualities That Geniuses Have in Common; National Enquirer/Transworld Features. URL: link.
  • Kepel G., (2004); The War for Muslim Minds: Islam and the West,. Belknap Press of Harvard University Press. pp.184, 186
  • Riyadh Daily Staff Reporter (1999), Sheikh Bin Baz: A life devoted to Islam, Riyadh Daily (Daily newspaper published from Saudi Arabia ) dated, 14 May 1999.
  • Saudi Gazette staff reporter (1999); Biography of Sheikh Bin Baz, Saudi Gazette (Daily newspaper published from Saudi Arabia ) dated, 14 May 1999
  • Sina A., (n.d); Absurdities of Hadith and Muslim’s Denial,Faith Freedom International. URL: link.
  • Wikipedia (2006); Abd-al-Aziz ibn Abd-Allah ibn Baaz (Name). URL: link.

Untuk cross reference, silakan lihat di sunnah.org: ibn_baz:

    Di “AL-ADILLA AL-NAQLIYYA WA AL-HISSIYYA `ALA JARAYAN AL-SHAMSI WA SUKUNI AL-ARD”

    [“Bukti-Bukti yang Diturunkan dan DiJelaskan dari Rotasi Matahari dan Diamnya BUMI”], Ia menegaskan bahwa

    BUMI adalah DATAR dan BERBENTUK SEPERTI PIRINGAN dan bahwa MATAHARI BERPUTAR MENGELILINGINYA

Juga di buku berjudul: “Evidence that the Earth is Standing Still.”, Pengarang: Sheikh Abdul Aziz Ben Baz, Editor: Islamic University of Medina, tahun: 1395AH [1975 Masehi], Kota: Medina, Saudi Arabia, Hal. 23:

    “Jika Bumi berotasi seperti klaim mereka, negara-negara, gunung-gunung, pepohonan, sungai-sungai dan lautan akan tidak mempunyai dasaran dan orang-orang akan melihat negara-negara di belahan timur bergerak ke barat dan negara-negara belahan barat akan bergerak ke timur.”

    “Atas nama Allah yang maha penyayang dan pengasih”

    “Bumi adalah DATAR, dan siapapun yang menentang klaim ini adalah seorang ateis dan layak menerima hukuman”

Bukti lain bahwa Islam berpendapat: bumi itu datar dan bukan bulatan, lihat video MemriTV, 31 October 2007, di bawah ini [atau lihat youtube: 1, 2]:

[]



Mana dari 2 pendapat tersebut yang bertentangan dengan Quran dan Hadis?

Kaidah berpendapat yang baik menurut Islam
Ibn Katsir di muqaddimah tafsirnya mengatakan: “Jika ada orang bertanya, cara manakah yang terbaik dalam menafsirkan Qur’an? Maka yang paling benar dalam menafsirkan Al Qur’an adalah:

  1. Hendaknya Quran ditafsirkan dengan Quran, sebab apa yang dalam satu ayat disebutkan secara global, maka ia di rinci di ayat lainnya
  2. Jika engkau tidak mendapatkan tafsirnya dalam Quran, hendaknya engkau cari dalam as-sunnah (hadis), sebab as-sunnah adalah penjelas Quran
  3. Jika engkau tidak mendapatkan tafsirnya dalam Qur’an maupun as-sunnah, maka hendaknya engkau merujuk pada perkataan sahabat, sebab mereka yang paling mengerti Quran, mereka menyaksikan turunnya ayat-ayat Quran. Mereka mengetahui latar belakang serta sebab diturunkannya ayat tersebut. Hal ini adalah kekhususan mereka. Disamping itu mereka juga memiliki pemahaman yang sempurna, ilmu yang benar dan amal yang sahih terebih lagi para ulama sahabat seperti khulafa’ur rasyidin (Abu bakar, Umar, Usman dan Ali) Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Abbas” [tafsir Ibn Kathir, 5-6] []


AL QURAN, Tafsir dan Hadis

Agar dapat memahami mengapa Abd-al-Aziz ibn Abd-Allah ibn Baaz dapat menyimpulkan BUMI itu DATAR, mari kita lihat kata-kata: datar, membentangkan dan menghamparkan dengan bahasa yang berbeda namun mempunyai maksud yang sama yaitu bumi adalah datar:

    Dan di hari (wa+yawma) Kami akan perjalankan (nusayyiru) gunung-gunung (aljibaala) dan kamu akan lihat (wataraa) bumi (al-ardha) adalah datar/rata (baariza-tan) dan Kami kumpulkan mereka (wahasyarnaahum) Maka tidak (falam) kami akan tinggalkan (nughādir) dari mereka (minhum) seorangpun (ahadaan).. [AQ 18.47]

    Dan Dia-lah (wahuwa) Ia yang (alladzii) membentangkan (madda) bumi (al-ardha) dan menjadikan (waja’ala) padanya (fiihaa) pasak-pasak pengokoh (rawāsiya (jamak) = gunung-gunung, lihat AQ 78.7, 79.32) dan sungai-sungai (wa-anhaaran)..[AQ 13.3]

    Note:

    [15:19] & [50:7] ..ardha madadnaahaa..; Madda/Madadnaahaa = menarik benda hingga benda itu menjadi datar/pipih..seperti cara membuat martabak ditarik hingga gepeng, sehingga terjemahannya menggunakan kata membentangkan/menghamparkan; Menurut Tafsir al-Jalalayn: Bumi di tarik, di jalarkan datar

    Ia yang (Alladzii) menjadikan (ja’ala) untukmu (lakumu) bumi (al-ardha) hamparan (firaasyan) dan langit (wa+alssamaa-a) atap/canopy (binaa-an) [AQ 2.22]

    Note:[51:48]..:…ardha farasynaahaa, Firaasha/ Farashnaaha = matras/tempat/alas yang datar. Tentang “dan langit kanopy/kubah/atap” (juga di AQ 40.60), pada AQ 21.32, “al-samaa-a saqfan/langit sebagai atap”. Tafsir Ibn kathir untuk AQ.2.22,29 “Allah mulai dengan menciptakan BUMI dulu baru kemudian membuat LANGIT menjadi 7 langit. Ini adalah bagaimana bangunan biasanya di mulai, lantai dulu baru kemudian bagian atapnya (Ini juga pendapat Mujahid, Ibn Abbas bahwa bumi diciptakan terlebih dahulu)]

    Ia Yang (Alladzii) menjadikan (ja’ala) bagimu (lakumu) bumi (al-ardha) hamparan (mahdan) dan memasukan (wasalaka) bagimu (lakum) disana (fiihaa) jalan-jalan (subulan),..[AQ 20.53]

    Note:[43:10]..ardha mahdan..; [78:6]..ardha mihaadaan..; Mahada / Mahdan / Mihaadaan = datar ratanya tempat tidur]

    Dan Allah-lah (waallahu) menjadikan (ja’ala) bagimu (lakumu) bumi (al ardha) hamparan (bisaataan), [AQ 71.19]

    Note:
    Bisata = datar; seperti pada lembaran, karpet]

    Dan pada (wa-illa) langit (al-samaai) bagaimana (kayfa) di tinggikan (rufi’at) dan pada gunung=gunung (al-jibaali) bagaimana ditegakan (nushibat) dan pada bumi (al-adhi) bagaimana dihamparkan (suthihath)? [AQ 88.18-20]

    Note:Suthi/sateh = datar, suthihath/sutehat = di datarkan/hamparkan; Tafsir Al-Jalalyn: (Dan bumi, bagaimana Ia dibuat datar?)..Untuk kalimatnya , ‘laid out flat’ (di letakan datar), Dalam artian literal mengindikasikan bahwa BUMI adalah DATAR, yang merupakan opini kebanyakan ulama fiqh [yang diturunkan], dan BUKAN BULATAN seperti para astronomer nyatakan (ahl al-hay’a)]

    dan bumi (waal-ardhi) dengan apa (wamaa) dihamparkan (thahaahaa) [AQ 91.6]

    Note:Tahaha= Datarkan, hamparkan; Tafsir Al-Jalalyn: dan bumi dan yang Ia sebarkan, di buat datar]

Surat Al maidah di bawah ini termasuk surat terakhir yang diturunkan (sekitar haji Wada, 10 H/632 M), dekat saat wafatnya Muhammad:

    [5:68] Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.

    [5:46] Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.

    [5:48] Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

Mengapa kutipkan 3 ayat Al Maidah di atas itu Penting sekali?

Karena Qur’an sudah menyatakan Ia membenarkan kitab-kitab sebelumnya (Taurat dan Injil) dan kitab-kitab tersebut juga menyatakan bahwa Bumi itu Datar.

Jadi, potongan ayat-ayat diatas seharusnya sudah lebih dari sekedar cukup untuk mendukung pendapat Ibn baaz bahwa BUMI itu DATAR dan tidak benar Quran mengatakan bumi itu Bulat, bukan?!

Namun demikian, mari kita gali lebih jauh lagi.

Di perjalanan isra’ mira’j, yaitu sebelum tawar menawar shalat dengan Allah, Muhammad diperlihatkan Sidratul muntahal dan juga melihat sungai Nil dan Eufrat di langit-langit yang di singgahinya

    Maka apakah hendak membantahnya/meragukannya (afatumārūnahu) tentang (ʿalā) apa (mā) yang dilihatnya (yarā)? Dan sesungguhnya (walaqad) Ia telah melihatnya (raāhu) waktu turun (nazlatan) lainnya (ukh’rā), dekat (ʿinda) Sidratil Muntaha, Di dekat itu (ʿindahā) taman/surga (jannatu) tempat tinggal (al-mawā).. [AQ 53.12-15].

    Malaikat-malaikat menghadap Allah [AQ 70:4] Lokasi tempat mereka menghadap tampaknya masih di area ufuk [AQ 53:7, 81.23] antah berantah

    note:
    Ufuq (bil/bi + ufuq = di kaki langit/horizon. Bentuk jamak: aafaaq (AQ 41.53) = seluruh penjuru. Jika mengadah ke atas, kita melihat langit (sama) bukan ufuk. Matahari terbit/tenggelam di ufuk timur/barat. Jadi kata ini menunjukan kaki langit).

    Di setelah kata “ufuq” terdapat kata (al-a’laa, “الْأَعْلَى”, “sangat tinggi, mulia, unggul”) dan juga kata (almubiini, “الْمُبِينِ”, “sangat terang, nyata”). Ini menunjukan sifat dan bukan Lokasi.

    Ufuk adalah tempat jibril dilihat Muhammad (AQ 53.7, 81.23). Di tempat itulah sidratil muntahal dan di dekatnya ada jannah (surga, taman) (AQ 53.14-17) dan ada sungai-sungai.

    Isi dan keadaan Jannah/Surga di quran, diantaranya terdapat tanah [adam diciptakan dari tanah], pohon, ada sungai-sungai, mata air ada istana, ada dipan, pintu, ada permadani, ada perhiasan emas mutiara, gelang [18:31, 22:23, 25:10, 38:51, 43:71] piring, gelas dari emas, pakaiannya dari sutera [35:33], 2 warna surga adalah hijau tua [55:64], ada bidadari-bidadari yang “siap bekerja” di atas permadani dan disebelahnya ada buah2an [55:54, 55:70], minumannya ada campuran jahenya [76:17]. Juga diinformasikan bahwa kekekalan surgawan/wati serta bidadarinya adalah TIDAK LANGGENG, yaitu selama LANGIT dan BUMI masih ADA [11:107-108].

    Lokasi sidratul Muntahal di sebutkan bervariasi, yaitu: di langit ke-6 (Muslim no.252) atau di langit ke-7 (Muslim no.234. Bukhari no.2698, 3598, 6963. Ahmad no.12047, 12212)

    Di bawah Sidratil Muntahal terdapat 4 sungai:

      Jibril berkata; “Ini adalah Sidratul Munahaa” Ternyata di dasarnya ada 4 sungai, 2 sungai tak terlihat dan 2 sungai terlihat..adapun 2 sungai tak terlihat adalah dua sungai yang berada di surga, sedangkan 2 sungai yang terlihat adalah NIL dan EUFRAT” [Bukhari no.3598, 2968, 5179]

    Sungai Nil dan Eufrat bukan cuma ada di Sidratul Muntahal namun juga ada:

    • Di langit ke-1 [Bukhari no.6963]
    • Di langit ke-2 [Bukhari 9.93.608]
    • Di langit ke-7 [Muslim 1.314; dan Bukhari no.4.54.429; 5.58.227]
    • Di langit, namun tidak disebutkan langit keberapa [Muslim 40.6807 dan Bukhari 7.69.514]

Isi surga dan kondisi macam ini JELAS TIDAK DIMUNGKINKAN dalam kosmologi modern (bulatan bumi yang merupakan anggota tata surya, mengitari matahari. Tata surya ini merupakan himpunan bagian dari galaxy dan Galaxy merupakan bagian kecil dari semesta) NAMUN SANGAT DIMUNGKINKAN dalam kosmologi islami.

Mengapa?

Dalam kosmologi Islami, bumi adalah datar, atapnya berupa 7 langit bertumpuk satu diatas yang lain berbentuk kubah! Inilah mengapa langit, surga, bumi dan air dimungkinkan bertemu!

  1. Lokasi Allah sebelum penciptaan dan Arsy-Nya ada di atas air:
      Abdan – Abu Hamzah – Al A’masy – Jami’ bin Syidad – Shafwan bin Muhriz – ‘Imran bin Hushain:

      …Nabi menjawab: ‘Allah telah ada dan tidak ada sesuatu pun terjadi sebelum-Nya, arsy-Nya berada di atas air, kemudian Allah mencipta langit dan bumi dan Allah menetapkan segala sesuatu dalam alquran’. [Bukhari no. 6868, 2953. Ibn Majah no.178 (Riwayat Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Muhammad bin Ash Shabbah – Yazid bin Harun – Hammad bin Salamah – Ya’la bin ‘Atho` – Waki’ bin Hudus – pamannya Abu Razin ia berkata; Aku bertanya; “Wahai Rasulullah, di manakah Rabb kita sebelum menciptakan makhluk-Nya?” beliau menjawab: “Dia berada di ruang kosong, di bawah dan di atasnya tidak ada udara, dan di sana tidak ada makhluk. Setelah itu Ia menciptakan Arsy-Nya di atas air“). Tirmidhi no.3034 (“Wahai Rasulullah dimanakah Allah sebelum Dia menciptakan makhlukNya? beliau menjawab: “Dia berada di awan yang tinggi, di atas dan di bawahnya tidak ada udara dan Dia menciptakan ‘arsyNya di atas air.” Abu Isa mengatakan ini Hadis Hasan). Ahmad no.15599, 15611]

    Ternyata di sebelum penciptaan, Allah berada di suatu tempat YANG BUKAN DICIPTAKANNYA! Siapa yang menciptakan tempat itu dan juga yang menciptakan Allah? Ketika ditanya siapa yang menciptakan Allah, jawaban Muhammad adalah:

      Riwayat Harun bin Ma’ruf – Sufyan – Hisyam – Bapaknya – Abu Hurairah – Rasulullah SAW:

      “Manusia akan selalu bertanya-tanya hingga dikatakan, ‘Ini makhluk yang Allah telah menciptakannya, lalu siapakan yang menciptakan Allah? ‘ Maka siapa saja yang mengalami hal semacam itu, hendaklah ia mengatakan ‘aku beriman kepada Allah’.”

      [Abu Dawud no.4098, Muslim no. 193 (Riwayat Abdullah bin ar-Rumi – an-Nadlar bin Muhammad – Ikrimah (Ibnu Ammar) – Yahya – Abu Salamah – Abu Hurairah – Rasulullah SAW: ..”Wahai Abu Hurairah, mereka akan senantiasa bertanya kepadamu hingga mereka berkata, ‘Ini Allah, lalu siapa yang menciptakan Allah’.” Abu Hurairah: “Ketika aku berada di masjid, tiba-tiba orang-orang dari kaum Baduwi mendantangiku, ‘Wahai Abu Hurairah, ini Allah, lalu siapakah yang menciptakan Allah’. Perawi berkata, ‘Kemudian Abu Hurairah mengambil kerikil dengan telapan tangannya, lalu melempar mereka sambil berkata, ‘Berdirilah, berdirilah, sungguh benar kekasihku'”) Juga di Muslim 190, 192, Muslim no.195 dari riwayat Anas. Di Ahmad no.8666 (orang yg bertanya bukan orang Badui tapi orang Irak). Ahmad no. 20864 (dari riwayat Khuzaimah bin Tsabit) yang bertanya bukan orang tapi setan (juga di riwayat Abu Huraira dan Aisyah)]

    Jelas sekali Muhammad tidak dapat menjawabnya.

    Bukan cuma singgasana Allah saja yang di atas air, bahkan singgasana Iblis-pun di atas air:

      Riwayat Abu Kuraib, Muhammad bin Al Ala` dan Ishaq bin Ibrahim, teks milik Abu Kuraib — Abu Mu’awiyah – Al A’masy – Abu Sufyan – Jabir – Rasulullah SAW:

      “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu mengirim bala tentaranya, (setan) yang kedudukannya paling rendah bagi Iblis adalah yang paling besar godaannya.” [Muslim no. 5032 dan Riwayat Abu Mu’awiyah – Al ‘A’masy – Abu Sufyan – Jabir – Rasulullah SAW: “Iblis meletakkan istananya di atas air kemudian mengutus pasukannya..” [Ahmad no. 13858, 11490, 14632]

    “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, dan adalah singgasana-Nya di atas air (“عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ”, arsyuhu ala al-mai)..” [AQ 11.7]. Allah bersemayam di atas arsy (istawaa ‘alaa al’arsyi) [AQ 7.54, AQ 57.4, AQ 32.4, AQ 25.59, AQ 20.4, AQ 10.3]. Yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya [AQ 40.7].

    Tentang pengertian ‘arsy (عَرْش), ulama memberikan penjelasan yang berbeda-beda.

    • Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar menjelaskan bahwa ‘arsy (عَرْش) merupakan ”pusat pengendalian segala persoalan makhluk-Nya di alam semesta”. Penjelasan Rasyid Rida di antaranya berdasarkan AQ 10.3, “Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy (عَرْش = singgasana) untuk mengatur segala urusan”.

      Jalaluddin as-Suyuthi (pengarang tafsir Ad-Durr al-Mantsur fi Tafsir bi al-Ma’tsur) mengutip hadis dari Ibnu Abi Hatim – Wahhab ibnu Munabbih bahwa Allah SWT menciptakan `arsy dan kursi dari cahaya-Nya. `Arsy melekat di kursi. Para malaikat berada di tengah-tengah kursi tersebut. `Arsy dikelilingi oleh empat buah sungai dan Para malaikat berdiri di setiap sungai sambil bertasbih/memuliakan Allah.

    • Kursi [kur’siyyuhu (AQ 2.55)/kur’siyyihi (AQ 38.34)] TIDAK SAMA dengan arsy/. Arti kursi adalah BUKAN “pengetahuan allah”, BUKAN arsy, BUKAN “bukan kekuasaan dan kekuatan Allah” NAMUN “pijakan kedua kaki Allah”.

      Ibnu ‘Abbas berkata: “الكرسي موضع قدميه و العرش لا يقدر قدره” [“Al-Kursi adalah pijakan kedua kaki (Allah), dan ‘Arsy tidak ada yang tahu ukurannya kecuali Allah.”] (‘Abdullah Bin Ahmad, as-Sunnah no. 586, isnadnya hasan – Tahqiq Muhammad Sa’id Salim al-Qahthani. Al-Hakim (al-Mustadraknya 2/310: Hadis ini sahih menurut Bukhari dan Muslim walaupun mereka tidak meriwayatkannya. Disepakati adz-Dzahabi). Fathul Bari Ibn Hajjar (8/199 : Dari Ibnu ‘Abbas bahawa al-Kursi adalah pijakan kedua kaki (Allah) sanadnya sahih). Al-Albani, Mukhtasar al-‘Uluw lil ‘aliyyil Ghoffar, Adz-Dzahabi (1/75: Perkataan ibn Abbas Sahih mauquf). Hadis ibn Abbas juga termuat di Musnad Ahmad, lihat Ibn Kathir dan “ask the scholar“]

    Sementara itu, juga terdapat klaim dari Quran dan hadis bahwa ‘Allah ada di langit’ dan ‘Arsy Allah ada di langit’, misal:

    • Apakah kamu merasa aman (a-amintum) siapa (man) di (fii) langit (tunggal: Al-samāi) bahwa/yang (an) membenamkan (yakhsifa) dengan mu (bikumu) bumi (al-ardha) ketika (fa-idzaa) Ia (hiya, feminim tunggal) bergoncang (tamuuru)? atau (am) apakah kamu merasa aman siapa di langit yang mengirimkan (yursila) padamu (‘alaykum) badai batu (hasiban). Maka kelak kalian tahu (fasata’lamuuna) bagaimana (kayfa) peringatanku [nadziiri]? [AQ 67.16-17]
    • Qutaibah bin Sa’id – Abdul Wahid – Umarah bin Al Qa’qa’ – Abdurrahman bin Abu Nu’m – Abu Sa’id Al Khudri: “Ali bin Abu Thalib pernah mengirim emas…kepada Rasulullah SAW dari Yaman. kemudian Rasulullah SAW membagikannya kepada 4 orang…kemudian peristiwa ini sampai kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Mengapa kalian tidak mempercayaiku? dan aku kepercayaan Ia yang di langit..” (“وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِي السَّمَاءِ”, “wa’ana ‘amin man fi alssama’“) [Muslim no.1763/5.2319 dan Bukhari no.4004/4.59.638]
    • Pernyataan seorang budak wanita (di hadis lain, Ia menyatakan tidak dengan ucapan namun dengan isyarat tangan):

      Riwayat Yahya – Al Hajjaj Ash Shawwaf – Yahya bin Abu Katsir – Hilal bin Abu Maimunah – ‘Atha` bin Yasar – Mu’awiyah bin Al Hakam As Sulami:

      ..Beliau (SAW) bertanya: “Dimanakah Allah?” Budak wanita tersebut berkata; di langit. Beliau berkata: “Siapakah aku?” Budak tersebut berkata; engkau adalah Rasulullah.”Beliau berkata; bebaskan dia! Sesungguhnya ia adalah seorang wanita mukmin.” [Abu Dawud no.2856. Muslim no.836. Abu dawud no.2857 (Riwayat Ibrahim bin Ya’qub – Yazid bin Harun – Al Mas’udi – ‘Aun bin Abdullah – Abdullah bin ‘Utbah – Abu Hurairah: ..beliau (SAW) bersabda: “Di manakah Allah?” kemudian ia mengisyaratkan ke langit dengan jari-jarinya. Kemudian beliau berkata kepadanya: “Siapakah aku?” kemudian ia menunjuk kepada Nabi SAW dan ke langit yang maksudnya adalah engkau adalah Rasulullah. Maka beliau berkata: “Bebaskan dia, sesungguhnya ia adalah wanita mukminah.”)

    • Allah dan Arsynya ada di langit:

      “Tidak tahukah kamu bagaimana Allah itu? Sungguh, Arsy-Nya ada di atas semua langit-Nya seperti ini -lalu isyarat tangannya beliau mengatakan, ‘Seperti Kubah, dan Arsy itu berteriak dan menyeru kepada Allah seperti tunggangan berteriak kepada pengendara karena berat-.” [Abu dawud no.4101, juga statement Ibnu Taimiyah: “Adapun Al Arsy maka dia berupa kubah sebagaimana diriwayatkan dalam As Sunan karya Abu Daud dari jalan periwayatan Jubair bin Muth’im, dia berkata: “Telah datang menemui Rasulullah SAW seorang A’rab dan berkata: “Wahai Rasulullah jiwa-jiwa telah susah dan keluarga telah kelaparan- dan beliau menyebut hadits- sampai Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah diatas ArsyNya dan ArsyNya diatas langit-langit dan bumi, seperti begini dan memberikan isyarat dengan jari-jemarinya seperti kubah” (Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah 1/252)]

    Tentu saja bahkan malaikatpun duduk di atas kursi yang terbentang di antara langit dan bumi, misal:

      Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – ‘Uqail – Ibnu Syihab (riwayat Abdullah bin Muhammad – Abdurrazzaq – Ma’mar – Az Zuhri – Abu Salamah bin Abdurrahman Jabir bin Abdullah:

      Aku mendengar Nabi SAW bersabda menceritakan peristiwa Fatratul Wahyu (Masa-masa kevakuman wahyu): “Ketika aku tengah berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara yang berasal dari langit, maka aku pun mengangkat pandanganku ke arah langit, ternyata di atas terdapat Malaikat yang sebelumnya mendatangiku di gua Hira tengah duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku merasa ketakutan hingga aku jatuh tersungkur ke tanah. Lalu aku pun segera menemui keluargaku seraya berkata, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku.’ Maka keluargaku pun segera menyelimutiku. Akhirnya Allah Ta’ala menurunkan ayat: [AQ 74.1-5]. Yakni sebelum perintah shalat diwajibkan. Ar Rijz adalah berhala. [Bukhari no.4544, 4545, 4543, 3, 2999, 4572, 5746]

    PETA LENGKAPNYA keberadaan semesta di Islam adalah: di atas 7 langit ada laut – di atas laut ada Arsy – dan allah berada di atas Arsy.

      Riwayat [(Muhammad bin Ash Shabbah – Al Walid bin Abu Tsaur) dan (Ahmad bin Abu Suraij – ‘Abdurrahman bin Abdullah bin Sa’d dan Muhammad bin Sa’id – Amru bin Abu Qais) dan (Ahmad bin Hafsh – Bapaknya – Ibrahim bin Thahman)] – Simak – Abdullah bin Amirah – Al Ahnaf bin Qais – Al Abbas bin Abdul Muthallib:

      ..Beliau (SAW) lalu bertanya: “Apakah kalian tahu berapa jarak antara langit dan bumi?” mereka menjawab, “Kami tidak tahu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya jarak antara keduanya adalah bisa 71, atau 72, atau 73 tahun perjalanan -perawi masih ragu-. kemudian langit yang di atasnya juga seperti itu.” Hingga beliau menyebutkan 7 langit. Kemudian setelah langit ke-7 terdapat lautan, jarak antara bawah dan atasnya seperti jarak antara langit dengan langit (yang lain). Kemudian di atasnya terdapat 8 malaikat yang jarak antara telapak kaki dengan lututnya sejauh langit dengan langit yang lainnya. Dan di atas mereka terdapat Arsy, yang antara bagian bawah dengan atasnya sejauh antara langit satu dengan langit yang lainnya. Dan Allah Tabaraka Wa Ta’ala ada di atasnya.” [Abu Dawud no.4100 (4 jalur perawi), Tirmidhi no.3242 (hasan gharib). Ibn Majjah no.189]

    Walaupun sebelumnya arsy Allah ada di atas air yang ada di atas langit ke-7, namun akhirnya Quran memberikan 3x penegasan final tentang lokasi keberadaan Allah bahwa Ia sudah tidak lagi ada di atas air maupun langit karena sekarang sudah ada di Mesjidil Haram:

    • Ke-1: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya..” [AQ 2.144].
    • Ke-2: “Dan dari mana saja kamu, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan”[AQ 2.149].
    • Ke-3: “Dan dari mana saja kamu, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka..” [AQ 2.150]

    Nabi berkata:

    Kenapa orang-orang mengarahkan pandangan mereka ke langit ketika mereka sedang shalat?
    Suara beliau SEMAKIN TINGGI beliau bersabda: “Hendaklah mereka menghentikannya atau Allah benar-benar akan menyambar penglihatan mereka.” [Bukhari no. 708 atau di Muslim 4.862 dari riwayat Jabir bin samura. Atau di Muslim 4.863 riwayat dari Abu huraira, “Orang2 diharuskan menghindari memandang langit di saat sedang sembahyang (See: KBBI. “الصَّلاَةِ” = Al sallata = salat], atau mata mereka akan direnggut”]

  2. Bumi dan juga 7 langit itu semuanya berada di atas punggung: seekor ikan yang sangat besar dan seekor lembu/sapi.

    Surah 68:1,

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
    ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

    nuun waalqalami wamaa yasthuruuna
    Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,

    Berikut beberapa tafsir kalangan Sunni dan 1 hadis kalangan Syi’ah untuk surat 68:1,

    AL-TABARI
    Seseorang mungkin berkata: Jika ini seperti yang engkau gambarkan, namakan, bahwa Alah menciptakan Bumi sebelum langit lantas apa arti pernyataan Ibn ‘Abbas yang disampaikan pada kamu semua oleh Wasil b. ‘Abd al-A‘la al-Asadi- Muhammad b. Fudayl- al-A‘mash- Abu Zabyan- Ibn ‘Abbas: “Yang paertama kali Allah ciptakan adalah pulpen.” Allah berkata padanya [pulpen]: “Tuliskan!”, kemudian pulpen bertanya: “Apa yang harus saya tulis, Allahku!” Allah menjawab: “Tuliskan apa yang telah di takdirkan!” Ia kemudian melanjutkan: dan pulpen itu melanjutkan [menulis] apapun yang telah digariskan hingga saat kiamat. Allah kemudian mengangkat uap air dan membagi terpisah para langit dari itu. Kemudian Allah menciptakan IKAN [nun] dan Bumi kemudian dihamparkan di atas punggungnya [ikan]. Ikan itu menjadi tidak tenang/gelisah yang mengakibatkan bumi menjadi goncang. Yang kemudian dikokohkan dengan gunung-gunung yang menjulang tinggi.

    Aku diberitahu hal yang sama oleh Wasil – Waki’ – al-A‘mash – Abu Zabyan – Ibn ‘Abbas.

    Menurut Ibn al-Muthanna – Ibn Abi ‘Adi – Shu‘bah – Sulayman (al-A‘mash?) – Abu Zabyan – Ibn ‘Abbas: “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen.” Ia meneruskan [menulis] apapun yang akan terjadi. Allah kemudian mengangkat uap air, dan langit tercipta dari itu. Kemudian Ia menciptakan IKAN, dan bumi dihamparkan di atas punggungnya [Ikan]. Ikan itu bergerak, yang mengakibatkan bumi jadi bergoncang. Kemudian dikokohkan dengan gunung-gunung yang menjulang tingi. Jadi, Ia katakan dan Ia sampaikan:”Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”

    Aku di beritahu hal yang sama oleh Tamim b. al-Muntasir – Ishaq (b. Yusuf) – Sharik (b. ‘Abdallah al-Nakha‘i) – al-A‘mash – Abu Zabyan/Mujahid – Ibn ‘Abbas, dengan perbedaan, yang Ia katakan: “dan para langit membagi terpisah [sebagai ganti: diciptakan] dari itu”.

    Menurut Ibn Bashshar – Yahya – Sufyan – Sulayman (al-A‘mash?) – Abu Zabyan – Ibn ‘Abbas: “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen”. Allah berkata pada nya [pulpen]: Tuliskan!, kemudian pulpen bertanya: Apa yang harus saya tulis, Allahku! Allah menjawab: Tuliskan apa yang telah di takdirkan! Ia kemudian melanjutkan: dan pulpen itu melanjutkan [menulis] apapun yang telah digariskan hingga saat kiamat. Kemudian Allah menciptakan IKAN [nun]. Ia kemudian mengangkat uap air dan membagi terpisah para langit dari itu, dan Bumi kemudian dihamparkan diatas punggungnya [ikan]. Ikan itu menjadi tidak tenang/gelisah yang mengakibatkan bumi menjadi goncang. Yang kemudian di dikokohkan dengan gunung-gunung yang menjulang tinggi.

    Menurut Ibn Humayd – Jarir (b. ‘Abd al-Hamid) – ‘Ata’ b. al-Sa’ib – Abu al-Duha Muslim b. Subayh – Ibn ‘Abbas: “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen”. Allah kemudian berkata padanya: “Tuliskan!”, dan ia tuliskan apapun yang akan terjadi hingga kiamat tiba. Kemudian Allah menciptakan IKAN. Kemudian ia tumpukan Bumi padanya.

    Ini dilaporkan sebagai hadis yang disampaikan oleh IBN ‘ABBAS dan yang lainnya dalam maksud mengkomentari dan menjelaskan dan tidak bertentangan dengan yang disampaikan kami darinya untuk masalah ini.

    Seharusnya seseorang bertanya: Apa komentar dari yang Ia sampaikan dan orang2 dengar dari apa yg disampaikan pada kami darinya? Ia seharusnya merujuk seperti yang diceritakan kepada ku oleh Musa b. Harun al-Hamdani – ‘Abdallah b. Mas‘ud dan beberapa sahabat NABI (yang berkomentar): “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untukmu. Kemudian ia tarik/rentangkan para langit dan dijadikan tujuh langit” Arsy Allah ada di atas Air. Tidak ada penciptaan sebelum Air. Ketika Ia ingin mencipta. Ia ambil uap dari Air. Uap itu terangkat ke atas, air berkumpul di atasnya. Ia kemudian menamakan itu “Langit”. Kemudian ia keringkan air, dan membuatnya menjadi 1 bumi. Ia kemudian memisahkannya dan menjadikannya menjadi 7 Bumi pada Minggu dan Senin. Ia ciptakan bumi di atas Ikan [Hut], Itu adalah Ikan (nun) yang disebutkan di Qur’an: “Ikan. Demi Qalam.” Ikan ada di air. Air ada di atas bebatuan [kecil]. Batuan ada di punggung Malaikat. Malaikat ada di atas Bebatuan [Besar]. Bebatuan besar -yang disebutkan di Luqman – ada di angin, tidak dilangit atau di bumi. Ikan bergerak dan menjadi gelisah. Sebagai hasilnya, Bumi menjadi berguncang [gempa]. Kemudian ia kokohkan, pasakan gunung2 di atasnya, dan manjadi stabil. Ini dinyatakan pada kalimat Allah Dan telah Kami jadikan di bumi ini “gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama kalian” [The History of Al-Tabari: General Introduction and From the Creation to the Flood, translated by Franz Rosenthal [State University of New York Press (SUNY), Albany, 1989], Volume 1, pp. 218-220]

    Menurut Muhammad b. Sahl b. ‘Askar-Isma’il b. ‘Abd al-Karim – Wahb, menyebutkan beberapa dari keagungannya (yang digambarkan sebagai berikut): para langit dan Bumi dan Lautan ada didalam Tubuh [Haykal], dan Haykal itu ada di dalam ganjal. Kaki Allah ada di atas ganjal. Ia bawa ganjal itu. Itu kemudian menjadi seperti Sendal pada kakinya. Ketika Wahb di tanya: Apa Haykal itu? Ia menjawab: Sesuatu yang ada di ujung2 dilangit yang mengelilingi bumi dan lautan-lautan seperti tali temali yang digunakan untuk mengencangkan tenda/kemah. Dan ketika Wahb di tanya bagaimana bumi-bumi [disusun], Ia menjawab: Adalah tujuh langit yang Rata/datar dan pulau-pulau. Setiap dua bumi, terdapat lautan. Semua di kelilingi Lautan, dan Haykal ada dibalik lautan [Ibid., pp. 207-208]
    —-

    Tafsir Ibnu Kathir
    وقيل : المراد بقوله : ( ن ) حوت عظيم على تيار الماء العظيم المحيط ، وهو حامل للأرضين السبع ، كما قال الإمام أبو جعفر بن جرير

    terjemahannya kurang lebih:
    Dikatakan bahwa “Nun” merujuk pada IKAN PAUS BESAR yang ada di Air di Lautan yang sangat luas dan di atas punggungnya ia membawa tujuh bumi, sebagaimana disampaikan Imam Abu Jafar Ibn Jarir:

    حدثنا ابن بشار ، حدثنا يحيى ، حدثنا سفيان – هو الثوري – حدثنا سليمان – هو الأعمش – عن أبي ظبيان ، عن ابن عباس قال : أول ما خلق الله القلم قال : اكتب . قال : وما أكتب ؟ قال : اكتب القدر . فجرى بما يكون من ذلك اليوم إلى يوم قيام الساعة . ثم خلق ” النون ” ورفع بخار الماء ، ففتقت منه السماء ، وبسطت الأرض على ظهر النون ، فاضطرب النون فمادت الأرض ، فأثبتت بالجبال ، فإنها لتفخر على الأرض .

    terjemahannya kurang lebih:
    Ibn Bashar – Yahya – Sufyan Al-Thuri – Sulayman Al-Amash – Abu Thubian – Ibn Abbas yang diberkati: “Pertama kali yang Allah ciptakan adalah pulpen dan mengatakan: ‘tuliskan’. (Pulpen) bertanya, “Apa yang mesti saya tulis?” (Allah) berkata, “Tuliskan semuanya” Jadi (pulpen) tuliskan semua hingga saat kiamat. Kemudian (Allah) ciptakan “nun” dan mengangkat uap air memisahkan gulungan para langit dan bumi diletakkan GEPENG/PIPIH/DATAR di punggung Nun. Nun menjadi gelisah, bumi bergoyang/bergoncang, (Allah) mengencangkan (bumi) dengan gunung-gunung, bumi menjadi stabil/kokoh[1]

    ثم قال ابن جرير : حدثنا ابن حميد ، حدثنا جرير ، عن عطاء ، عن أبي الضحى ، عن ابن عباس قال : إن أول شيء خلق ربي عز وجل القلم ، ثم قال له : اكتب . فكتب ما هو كائن إلى أن تقوم الساعة . ثم خلق ” النون ” فوق الماء ، ثم كبس الأرض عليه .

    terjemahannya kurang lebih:
    Diriwayatkan oleh Ibn Jarir – Ibn Hamid – Ata’a – Abu Al-Dahee – Ibn Abbas: “Yang pertama kali Allah ciptakan, adalah pulpen kemudian berkata kepadanya, “Tuliskan”. Dia menuliskan apa yang terjadi hingga kiamat. Kemudian (Allah) menciptakan Nun di atas air lalu letakan bumi padanya (ikan).

    وقد روى الطبراني ذلك مرفوعا فقال : حدثنا أبو حبيب زيد بن المهتدي المروذي ، حدثنا سعيد بن يعقوب الطالقاني ، حدثنا مؤمل بن إسماعيل ، حدثنا حماد بن زيد ، عن عطاء بن السائب ، عن أبي الضحى مسلم بن صبيح ، عن ابن عباس قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : ” إن أول ما خلق الله القلم والحوت ، قال للقلم : اكتب ، قال : ما أكتب ؟ قال : كل شيء كائن إلى يوم القيامة ” . ثم قرأ : ( ن والقلم وما يسطرون ) فالنون : الحوت .

    terjemahannya kurang lebih:
    Al Tabarani meriwayatkan hadis yang diriwayatkan dari Abu Habib Zaid Al-Mahdi Al Marouzi – Sa’id Ibn Yaqub Al-Talqani – Mu’amal Ibn Ismail – Hamad Ibn Zaid – Ata’a Ibn Al Sa’ib – Abu Al Dahee Muslim Ibn Subaih – Ibn Abbas – NABI SAW: “Yang pertama Allah ciptakan adalah pulpen dan Ikan paus. (Allah) mengatakan (pada) pulpen “tulis”. (pulpen) bertanya, “apa yang mesti saya tulis”. (Allah) berkata, “semua yang akan terjadi hingga hari kiamat” Kemudian membacakan (Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis) Jadi nun adalah ikan[2]

    وقال ابن أبي نجيح : إن إبراهيم بن أبي بكر أخبره عن مجاهد قال : كان يقال : النون : الحوت العظيم الذي تحت الأرض السابعة .

    Terjemahannya kurang lebih:
    Ibn Abu Nujaih: Ibrahim Ibn Abu Bakar berkata Mujahid berkata: “Dikatakan: Nun adalah Ikan dibawahnya ada tujuh bumi

    وذكر البغوي وجماعة من المفسرين : إن على ظهر هذا الحوت صخرة سمكها كغلظ السماوات والأرض ، وعلى ظهرها ثور له أرب عون ألف قرن ، وعلى متنه الأرضون السبع وما فيهن وما بينهن فالله أعلم .

    Terjemahannya kurang lebih:
    Al-Baghawy dan sekelompok komentator: di punggung ikan paus ada bebatuan yang besar yang memilliki ketebalan lebih besar dari lebarnya para langit dan bumi dan di atas bebatuan ini ada Banteng yang mempunyai 40.000 tanduk. Pada tubuh banteng ini diletakan tujuh bumi dan segala isinya, dan allah maha mengetahui [Source atau di sini, translasinya dalam Inggris, lihat sini]

    Dalam tafsir AQ 20.6,
    Ibn kathir menukil hadis marfu (sanad bersandar hingga rasullullah) dari Ibn Abu Hatim:

    وقال ابن أبي حاتم : حدثنا أبو عبيد الله ابن أخي ابن وهب ، حدثنا عمي ، حدثنا عبد الله بن عياش ، حدثنا عبد الله بن سليمان عن دراج ، عن عيسى بن هلال الصدفي ، عن عبد الله بن عمرو قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” إن الأرضين بين كل أرض والتي تليها مسيرة خمسمائة عام ، والعليا منها على ظهر حوت ، قد التقى طرفاه في السماء ، والحوت على صخرة ، والصخرة بيد الملك ، والثانية سجن الريح ، والثالثة فيها حجارة جهنم ، والرابعة فيها كبريت جهنم ، والخامسة فيها حيات جهنم والسادسة فيها عقارب جهنم ، والسابعة فيها سقر ، وفيها إبليس مصفد بالحديد ، يد أمامه ويد خلفه ، فإذا أراد الله أن يطلقه لما يشاء أطلقه ” . هذا حديث غريب جدا ورفعه فيه نظر

    Terjemahannya kurang lebih:
    Ibnu Abi Hatim: Abu’Ubaidillah kemenakan ibn wahab – pamannya – Abdullah bin Ayyash – Abdullah bin Suleiman – daraj – isa ibn hilal al-sadafi – Abdullah bin ‘Amr – Rasulullah SAW: “antara bumi dan semua yang berikutnya berjarak 500 tahun berjalan kaki, dan itu ada diatas punggung ikan paus,…” Hadis ini gharib Jiddan[3] dan terlihat bersandar [sumber]

    Dalam tafsir AQ 2.29,
    Ibn Kathir menukil As-Saddi di dalam kitab tafsirnya, dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, serta dari sejumlah sahabat sehubungan dengan makna firman-Nya: [AQ 2.29] Disebutkan bahwa ‘Arasy Allah Swt. berada di atas air, ketika itu Allah Swt belum menciptakan sesuatu pun selain dari air tersebut. Ketika Allah berkehendak menciptakan makhluk, maka Dia mengeluarkan asap dari air tersebut, lalu asap (gas) tersebut membumbung di atas air hingga letaknya berada di atas air, dinamakanlah sama (langit). Kemudian air dikeringkan, lalu Dia menjadikannya bumi yang menyatu. Setelah itu bumi dipisahkan-Nya dan dijadikan-Nya tujuh lapis dalam dua hari, yaitu hari Ahad dan Senin. Allah menciptakan bumi di atas ikan besar, dan ikan besar inilah yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya: “Nun, demi qalam” (AQ 68.1) Sedangkan ikan besar (nun) berada di dalam air. Air berada di atas permukaan batu yang licin, sedangkan batu yang licin berada di atas punggung malaikat. Malaikat berada di atas batu besar, dan batu besar berada di atas angin. Batu besar inilah yang disebut oleh Luqman bahwa ia bukan berada di langit, bukan pula di bumi. Kemudian ikan besar itu bergerak, maka terjadilah gempa di bumi, lalu Allah memancangkan gunung-gunung di atasnya hingga bumi menjadi tenang; gunung-gunung itu berdiri dengan kokohnya di atas bumi. Hal inilah yang dinyatakan di dalam firman Allah Swt: (AQ 21.31) [Tafsir Ibnu Katsir, Juz 1, Al-Fatiha – Al- Baqarah, Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar, L.C. Dibantu: H. Anwar Abu Bakar, L.C., SBA.2000.438, cetakan ke-1, tahun 2000, Penerbit Sinar Baru Algensindo Bandung, Anggota IKAP1 No.025/IB A, hal 351-352]
    —-
    [1] Al Hakim Nishaburi dalam “Al-Mustadrak alaa al-Sahihain”, untuk tafsir AQ 68.1, menuliskan hadis mirip ini dan Ia nyatakan sebagai hadis sahih.

    3893 – أخبرنا أبو زكريا يحيى بن محمد العنبري ، ثنا محمد بن عبد السلام ، ثنا إسحاق بن إبراهيم ، أنبأ جرير ، عن الأعمش ، عن أبي ظبيان ، عن ابن عباس – رضي الله عنهما ، قال : إن أول شيء خلقه الله القلم ، فقال له : اكتب ، فقال : وما أكتب ؟ فقال : القدر ، فجرى من ذلك اليوم بما هو كائن إلى أن تقوم الساعة ، قال : وكان عرشه على الماء فارتفع بخار الماء ففتقت منه السماوات ، ثم خلق النون فبسطت الأرض عليه ، والأرض على ظهر النون فاضطرب النون فمادت الأرض ، فأثبتت بالجبال ، فإن الجبال تفخر على الأرض

    هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه

    Terjemahannya kurang lebih:
    3893 – Riwayat Abu Zakaria Yahya bin Muhammad Al‘Anbari – Muhammad Bin Abdul Salam – Ishak bin Ibrahim – Jarir – Sulaiman bin Mahran al-Asadi al-A’mash – Abu Zabyan – Abdullah bin Abbas yang diberkati: “Pertama kali yang Allah ciptakan adalah pulpen dan mengatakan: ‘tuliskan’. (Pulpen) bertanya, “Apa yang mesti saya tulis?” (Allah) berkata, “Takdir mulai saat itu hingga kiamat”. Katanya: SinggasanaNya di atas air, mengangkat uap air memisahkan gulungan para langit, membuat Nun (Ikan besar), Meratakan bumi dan bumi di punggung Nun, Nun menjadi gelisah, Bumi bergoyang/bergoncang, (Allah) mengencangkan dengan gunung-gunung, bumi menjadi stabil/kokoh

    Hadis ini sahih menurut syarat syaikhain (Bukhari Muslim) tetapi mereka tidak meriwayatkannya.

    [2] Jalaludin Suyuti dalam “Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an”, hal.553, untuk “N” juga memuat hadis Nabi dari Ibn Abbas ini.

    [3] Kategori hadis dari sisi jumlah perawi terbagi menjadi: Mutawatir (banyak perawi di sanad/rantainya) atau Ahad (arti literal: satu atau tidak mencapai tingkatan mutawatir). Kemudian, hadis Ahad terbagi lagi menjadi: hadis Masyhur (3 perawi dalam tiap tingkatan), Azis (2 rantai perawi yang rawinya berbeda) dan Gharib (sendiri/tunggal, di suatu tingkatan). Kata Jiddan menekankan pada perawi tunggalnya entah itu di awal atau pertengahan sanad/rantai perawi. Gharib Jiddan tidak ada hubungannya dengan predikat akhir hadis (sahih, hasan, dhaif, mungkar, maudu). Ketika menukil hadis, Ibn Kathir senantiasa memberikan penilaian akhir pada hadis (sahih, hasan, dhaif, mungkar, maudu) dengan pendapatnya atau dari pendapat ulama tetang rawinya, jika tidak ada komentar, maka predikat hadis tersebut BUKANLAH hadis dhaif, atau mungkar atau maudu.
    ——-

    AL-QURTUBI
    وروى الوليد بن مسلم قال : حدثنا مالك بن أنس عن سمي مولى أبي بكر عن أبي صالح السمان عن أبي هريرة قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ( أول ما خلق الله القلم ثم خلق النون وهي الدواة وذلك قول تعالى : ” ن والقلم ” ثم قال له اكتب قال : وما أكتب قال : ما كان وما هو كائن إلى يوم القيامة من عمل أو أجل أو رزق أو أثر فجرى القلم بما هو كائن إلى يوم القيامة – قال – ثم ختم فم القلم فلم ينطق ولا ينطق إلى يوم القيامة . ثم خلق العقل فقال الجبار ما خلقت خلقا أعجب إلي منك وعزتي وجلالي لأكملنك فيمن أحببت ولأنقصنك فيمن أبغضت ) قال : ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( أكمل الناس عقلا أطوعهم لله وأعملهم بطاعته ) .

    Terjemahannya kurang lebih:

    Al-Walid Ibn Muslim – Malik Ibn Ans – Sumay anak dari Abu Bakir – Abu Salih Al-Samaan – Abu Hurayrah – NABI
    mengatakan, “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen, kemudian Ia ciptakan ‘Nun’ yang merupakan sebuah bak tinta. Ini adalah apa yang Allah sampaikan (di surat 68:1) ‘Nun dan pulpen.’ Dan Ia katakan padanya, “tuliskan”.

    [Jadi pulpen tuliskan semua yang akan terjadi hingga hari kiamat. Kemudian alah ciptakan Nun (Ikan Paus) diatas air dan Ia tekan/tindih bumi pada punggungnya [paus]. Alah kemudian berkata pada pulpen “tulis”. Pulpen bertanya “Apa yang saya mesti tulis” Allah.. (note: Kalimat-kalimat yang ada di dalam tanda kurung ini hanya ada di situs ini dan tidak ada dalam situs berbahasa arab. Mengapa? jika kita perhatikan kalimat, “..ثم قال له اكتب قال: وما أكتب قال: ما كان..” terdapat indikasi bahwa kalimat tersebut tidak utuh telah terpotong/tidak lengkap/SENGAJA dipotong)]

    menjawab, “Tuliskan apa yang telah dan akan terjadi hingga hari kiamat, apakah perbuatan, pahala, konsekuensi dan hukuman hingga hari kiamat”. Kemudian pulpen menuliskan yang akan terjadi hingga hari kiamat. Kemudian Allah menciptakan pikiran…”

    وعن مجاهد قال : ” ن ” الحوت الذي تحت الأرض السابعة .

    Terjemahannya kurang lebih:
    Mujahid menyatakan bahwa ‘Nun’ adalah Ikan Paus yang ada di bawah tujuh bumi. [..]

    وكذا قال مقاتل ومرة الهمداني وعطاء الخراساني والسدي والكلبي : إن النون هو الحوت الذي عليه الأرضون

    Terjemahannya kurang lebih:
    Seperti juga, yang diriwayatkan oleh Mukatil – Murrah Al-Hamdani – Ata’ Al-Kharasani – Al Suddi – Al-Kalbi yang mengatakan, “Nun adalah Ikan paus yang di atasnya para bumi diletakan

    وَرَوَى أَبُو ظَبْيَان عَنْ اِبْن عَبَّاس قَالَ : أَوَّل مَا خَلَقَ اللَّه الْقَلَم فَجَرَى بِمَا هُوَ كَائِن , ثُمَّ رَفَعَ بُخَار الْمَاء فَخَلَقَ مِنْهُ السَّمَاء , ثُمَّ خَلَقَ النُّون فَبَسَطَ الْأَرْض عَلَى ظَهْره , فَمَادَتْ الْأَرْض فَأُثْبِتَتْ بِالْجِبَالِ , وَإِنَّ الْجِبَال لَتَفْخَر عَلَى الْأَرْض .

    Terjemahannya kurang lebih:
    Diriwayatkan Abu Thabyan, diriwayatkan Ibn Abbas yang berkata, “yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen yang menulis semua yang akan terjadi. Kemudian uap air mulai terangkat, Berasal dari situ langit tercipta. kemudian (Allah) menciptakan Nun (paus) dan menggepengkan Bumi pada punggungnya. Ketika bumi mulai bergoyang, Ia kemudian diperkuat dengan gunung-gunung, yang ada dipermukaan” Kemudian Ibn Abbas membacakan ayat (68:1) ‘Nun dan Pulpen’

    [Bahasa arab sisanya tidak saya tuliskan dan langsung saya tuliskan terjemahannya]

    Al kalbi dan Mukatil menyatakan bahwa nama (ikan Paus) adalah ‘Al-Bahmout.’ Al-Rajis berkata, “Mengapa aku melihatmu semua terdiam dan Allah menciptakan Al-Bahmout?”

    Abu Yakthan dan Al-Waqidi menyatakan bahwa nama (ikan paus) adalah ‘Leotha’; Dimana Kab menyatakan bahwa namanya adalah ‘Lo-tho-tha’ atau ‘Bil-Ha-motha.’ Kab berkata, “Setan bergerak ke atas Ikan paus, dimana tujuh bumi diletakan dan membisikan pada hatinya, “Kamu sadari apa yang ada di punggungmu, Oh Lo-tho-tha dari binatang dan tetumbuhan dan manusia dan lainnya? Jika engkau merasa terganggu dengan mereka, Engkau dapat melemparkan mereka semua dari punggungmu” Jadi Lo-tho-tha berniat untuk melakukan apa yang disarankan (oleh setan) namun Alah mengirimkan reptil pada Ikan paus yang merangkak melalui lubang tiupnya hingga mencapai otaknya. Ikan paus kemudian menangis pada Allah dan Ia memberikan ijin pada reptil untuk keluar (dari ikan paus).” Kab melanjutkan dan berkatam “Demi Allah, Ikan paus menatap pada reptil dan reptil menatap pada ikan paus dan jika ikan paus berniat melakukan (apa yang disarankan setan) reptil akan balik ke tempat sebelumnya” [Source atau di sini, Kutipan Qurtubi di atas tidak dalam translasi Inggris [hanya Arab] dan translasinya berasal dari sini]
    —-

    TAFSIR IBN ABBAS
    Dan dari riwayatnya yang berasal dari Ibn ‘Abbas yang ia katakan berkenaan dengan intepretasi apa yang allah katakan (Nun): ‘(Nun) Ia katakan: Allah bersumpah demi Nun, yang adalah Ikan paus yang membawa Bumi di punggungnya ketika di air, dan di bawah itu adalah banteng, dibawah banteng adalah bebatuan dan dibahwa bebatuan…Nama Ikan Paus itu adalah Liwash, dan dikatakan bahwa namanya adalah Lutiaya’; nama dari banteng itu adalah Bahamut, dan beberapa mengatakan namanya adalah Talhut atau Liyona. Ikan paus itu ada di laut yang dinamakan ‘Adwad, dan itu bagaikan banteng kecil di lautan yang sangat luas. Lautan itu ada di Bebatuan cekung dengan 4,000 celah, dan dari tiap celah itu air keluar ke bumi.

    Dikatakan juga bahwa Nun adalah satu dari nama-nama Allah; yaitu kepanjangan dari huruf Nun pada nama Allah al-Rahman (Pemurah); dan juga dikatakan bahwa Nun adalah bak tinta. (demi pulpen) Allah bersumpah demi pulpen. Pulpen dibuat dari Cahaya dan tingginya setara jarak Langit dan bumi.

    Adalah dengan pulpen ini perangkat Ingatan, misal. Catatan yang dijaga, dituliskan. Juga dikatakan bahwa pulpen adalah satu dari para malaikat yang mana Allah bersumpah, (dan yang mana mereka tuliskan dan Allah juga bersumpah dengan apa yang para malaikat itu tuliskan pada kegiatan-kegiatan turunan Adam, [Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs]

    Note:
    Al-Bahmout atau Bahamut juga ada di mitologi Arab, yaitu kisah 1001 malam pada hari ke-496. Bahamut dinyatakan sebagai Ikan besar. Bahamut tidak sama dengan Behemoth [Setan/monster dalam legenda Yahudi].
    —-

    Tafsir al-Tustari
    Ibn ‘Abbas’ berkata pada laporan lain, ‘Nun adalah Ikan yang di atasnya seluruh bumi(arḍūn) berada,..'[Source]
    —-

    Tafsir al-baghawi
    اختلفوا فيه فقال ابن عباس : هو الحوت الذي على ظهره الأرض . وهو قول مجاهد ومقاتل والسدي والكلبي

    [..] ibn abbas katakan: Ikan paus ini membawa bumi pada punggungnya dan ini juga merupakan pandangan dari Mujahid, Muqatil, saddi dan kalbi [..] tujuh langit dan tujuh bumi di atas Banteng [..] [Sumber]
    —-

    Dari Hadis Sahih Bukhari dan Muslim
    Dalam kumpulan hadis sahih Bukhari dan Muslim tidak dijelaskan riwayat Bumi ada di atas punggung ikan paus [Ikan besar], namun demikian terdapat riwayat menarik seperti dibawah ini:

    Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – Khalid – Sa’id bin Abu Hilal – Zaid bin Aslam – ‘Atho’ bin yasar – Abu Sa’id Al Khudri – Rasulullah SAW:

    Riwayat ‘Abdul Malik bin Syu’aib bin Al Laits – bapakku – kakekku – Khalid bin Yazid – Sa’id bin Abu Hilal – Zaid bin Aslam – ‘Atha bin Yasar – Abu Sa’id Al Khudri – Rasulullah SAW:

    “Pada hari kiamat bumi bagaikan sekeping roti, Allah Al Jabbar memutar-mutarnya dengan tangan-Nya sebagaimana salah seorang diantara kalian bisa memutar-mutar rotinya dalam perjalanan sebagai kabar gembira penghuni surga.”

    “Pada hari kiamat bumi akan seperti satu potong roti yang akan diratakan oleh Allah dengan tanganNya hingga menjadi seimbang. Sebagaimana roti yang diratakan oleh salah seorang dari kalian diperjalanannya sebagai hidangan bagi penghuni surga.

    Selanjutnya ada seorang yahudi dan berujar;’ Kiranya Allah Arrahman memberkatimu wahai Abul Qasim, maukah kuberitahu kabar gembira penghuni surga dihari kiamat nanti?

    Kemudian seorang lelaki yahudi datang berkata pada beliau; “semoga Allah memberkahimu wahai Abu Qasim, maukah kuberitahu tentang hidangan penghuni surga pada hari kiamat?

    “baik” Jawab Nabi.

    Beliau menjawab: ‘Ya’

    Lanjut si yahudi; ‘Bumi ketika itu bagaikan sekeping roti’ sebagaimana disabdakan Nabi SAW.

    Ia berkata: bumi akan menjadi satu potong roti -sebagaimana sabda Rasulullah SAW tadi.-

    Lantas Nabi SAW memandang kami dan tertawa hingga terlihat gigi serinya.

    Ia berkata: “Maukah kamu
    kuberitahu lauk penghuni surga?

    maka Rasulullah SAW melihat kepada kami dan tertawa hingga terlihat gigi serinya.

    Ia berkata “Maukah kuberitahukan kepadamu tentang lauk pauk mereka.”
    Beliau menjawab: ‘Ya’

    Lanjutnya: “lauk mereka adalah sapi dan ikan paus.”

    Ia berkata: “lauknya adalah balaam dan nun.”

    Mereka bertanya; ‘Apa keistimewaan daging ini?’

    Para sahabat bertanya; apakah itu?

    Nabi menjawab: “sobekan hati [caudate lobe] ikan paus dan sapi itu, bisa disantap untuk 70.000 orang

    [Bukhari no.6039/8.76.527, arab]

    Nabi SAW menjawab: seekor sapi, sedangkan nun adalah daging yang paling baik dari hatinya [caudate lobe] akan dimakan 70.000 orang yang masuk suga tanpa hisab.

    [Muslim no.5000/39.6710, Untuk arab: di sini atau lebih baik di sini karena terdapat penjelasan: “أَمَّا ( النُّون ) فَهُوَ الْحُوت بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاء”, artinya “Nun adalah Ikan paus menurut konsensus para ulama”]

    note:
    “والحوت” di translate ke inggris “and whale”; ke Melayu “ikan paus”; ke spanyol “Y la ballena = dan ikan paus”; ke itali “E la balena= dan ikan paus”; Turki “Ve Balina = dan ikan paus”; ke belanda “walvis= ikan paus”; ke Jerman “und der wal = dan ikan paus”, ke perancis “balein = ikan paus”; Ke rusia “И китов= dan Paus”; ke swahili “Na whale =dan paus”; ke Jepang “とクジラ= ikan paus”, ke korea “그리고 고래 = dan ikan paus”; Hindi “और व्हेल = dan ikan paus”; Mandarin “與鯨魚= dan ikan paus”..dll

    Jika, Bumi adalah roti maka sebesar apalagi ukuran ikan dan lembu yang bagian berlebih dari hatinya saja dapat mencukupi kebutuhan 70.000 orang sebagai lauk pauk makan roti?

    Walaupun Bukhari dan Muslim tidak menjelaskan detail darimana “ox” dan “fish” itu berasal, namun dapat kita ketahui ukurannya tidak tanggung-tanggung besarnya, bukan?!
    —-

    Dari Aliran Syi’ah
    Ulama Syi’ah Kulayni di “Kafi”nya 8/89 meriwayatkan:

    55 – محمد عن أحمد عن ابن محبوب عن جميل بن صالح عن أبان بن تغلب عن أبي عبد الله (ع) قال: سألته عن الأرض على أي شيء هي؟ قال: هي على حوت قلت: فالحوت على أي شيء هو؟ قال: على الماء قلت: فالماء على أي شيء هو؟ قال: على صخرة قلت: فعلى أي شيء الصخرة؟ قال: على قرن ثور أملس قلت: فعلى أي شيء الثور؟ قال: على الثرى قلت: فعلى أي شيء الثرى؟ فقال: هيهات عند ذلك ضل علم العلما

    Muhammad menyampaikan dari Ahmad – ibn Mahbub – Jamil ibn Salih – Aban ibn Taghlib – Abu ‘Abd Allah, yang berkata, Aku tanya dia mengenai bumi: Ia terletak di atas apa? Ia menjawab: Itu berada di atas seekor Ikan Paus. Aku bertanya: Ikan paus itu di atas apa? Ia menjawab: di atas air. Aku bertanya: Air di atas apa? Ia menjawab: di atas bebatuan. Aku bertanya. bebatuan di atas apa? ia menjawab: Di atas banteng dengan tanduk yang halus. Aku bertanya: Banteng itu diatas apa? Ia menjawab: Di atas tanah. Aku bertanya: Tanah di atas apa? Ia menjawab: Mana tahu? Ini adalah batasan pengetahuan dari yang diketahui manusia.

    Syi’ah lainnya sheikh Al-Majlese dalam “Miratul uqul”menyatakan ini SAHIH.

    (الحديث الخامس و الخمسون) [حديث الحوت على أي شي‏ء هو]
    (2): صحيح.
    —-

    Kisah Para Nabi [Tales of the Prophet]
    4. Penciptaan Bumi, Gunung-Gunung dan Laut-laut [The creation of the Earth, the mountains and the seas]

    Kaab al-Ahbar berkata: Ketika Allah berkehendak untuk menciptakan Tanah yang kering, Ia perintahkan angin untuk mengocok ke atas air. ketika menjadi turbulen dan berbusa, gelombang bertambah besar dan beruap. Kemudian Allah merintahkan busa itu memampat, dan menjadi kering. Dalam hari-hari Ia ciptakan langit yang kering di atas permukaan air adalah seperti yang Ia katakan:”Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua hari?” (AQ Fushshilat 41:9).

    Kemudian Ia perintahkan gelombang-gelombang ini menjadi diam, dan mereka membentuk gunung-gunung, yang kemudian Ia gunakan sebagai pasak untuk menahan bumi, seperti yang Ia katakan: “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka” (AQ Al Anbiyaa’ 21:31). Jika tidak karena gunung-gunung, Bumi tidak akan cukup stabil bagi para penghuninya. Pembuluh dari gunung-gunung ini berhubungan dengan pembuluh dari Gunung Qaf, yang berjajar mengellilngi Bumi.

    Kemudian Allah menciptakan tujuh lautan.
    Yang pertama dinamakan Baytush dan mengelillingi bumi di belakang gunung Qaf, kemudian dibelakangnya berturut-turut bernama Asamm, Qaynas, Sakin, Mughallib, Muannis, dan yang terakhir Baki. Ini adalah tujuh lautan, dan tiap dari mereka mengelilingi lautan yang sebelumnya. Di dalamnya terdapat mahluk-mahluk yang hanya Allah yang tahu jumlahnya. Allah menciptakan makanan bagi para mahluk-mahluk ini dalam hari yang ke-4, seperti yang Ia katakan: “dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat hari. Bagi orang-orang yang bertanya. (AQ Fushshilat 41:10).

    Terdapat tujuh Bumi.
    Yang pertama dinamakan Ramaka, yang kedua dinamakan Khalada,..Arqa, Haraba, Maltham, Sijjin dan Ajiba. Dan bumi bergoyang-goyang dengan penghuni di dalamnya seperti sebuah kapal, jadi Allah mengirimkan se sosok Malaikat yang luar biasa besar dan kuat dan diperintahkan memanggul bumi di bahunya. Satu sisi tangannya di timur dan yang lain di barat memegang Bumi dari ujung ke ujung. Namun, tidak ada pijakan kaki baginya, jadi Allah ciptakan bebatuan persegi dari jamrut yang memiliki 7.000 lubang. Di setiap lubangnya sebuah laut, gambaran ini hanya di ketahui oleh Allah semata. dan Ia perintahkan Bebatuan itu untuk berdiam di bawah kaki malaikat.

    Akan tetapi, bebatuan itu tidak ada yang menyangga, jadi Allah ciptakan banteng besar dengan 40.000 kepala, mata, telinga, cuping hidung, mulut, lidah dan kaki dan diperintahkan memanggul bebatuan di punggungnya dan juga di tanduknya. Nama dari Banteng itu adalah al-Rayyan. Karena Banteng itu ngga punya tempat buat pijakan kakinya, Allah menciptakan Ikan sangat besar..Ikan ini bernama Behemoth.. [Tales of the Prophets (Qisas Al-Anbiya) (Great Books of the Islamic World), Muhammad Ibn Abd Allah Kisai (Author), Wheeler M. Thackston (Author), Al-Kisai (Author, Abad ke 6/13 Masehi) hal 8-10 dan hal 337-338 [Notes to The Text])

    Kemudian,
    Mullah `Ali al-Qaari RaHimahullah, dalam Mirqaat:

    ‘Jadi Aku datang untuk tahu’ Itu dalam artian berkat-berkat yang terlimpahkan padaku, semua yang ada di langit (jamak) dan di bumi yaitu sebagai semua yang Allah sampaikan pada kalangan malaikat dan pepohonan dan banyak lainnya. Yang menunjukan keluasan dari pengetahuannya (Rasulullah SAW) yang Allah` Azza Wa Jall beritahukannya. Ibn Hajjar berkata bahwa pengetahuan dari seluruh semesta dan semua yang ada di langit (jamak) dan dibaliknya sebagai bukti dari peristiwa Mi`raj dan bumi, yaitu seluruh tujuh bumi dan yang ada dibawahnya apakah itu seekor sapi atau seekor ikan di atasnya.

    [Fa`Alimtu Ayyi Bisababi WuSuuli dhaalikal FayDi Maa Fis Samaawaati Wal ArDi Ya`ani Maa A`alamahullahu Ta`aalaa Mimma Feehaa Minal Malaayikati Wal Ashjaari Wa Ghayrihimaa `Ibaaratun `An Sa`ati `Ilmihilladhee FataHallahu bihi `Alayhi Wa Qaalabnu Hajar Ayyi Jameeyal Kaayinaatillatee fis Samaawaati Bal Maa Fawqahaa Kamaa Yustafaadu Min QiSSatil Mi`yraaji Wal ArDu Hiya Bi Ma`anaa al-Jinsi Ayyi Wa Jamee`ya Maa Fee ArDeenas Sab`yi Bal wa Maa TaHtahaa Kamaa Afaadahuu Ikhbaaruhuu `Alayhis Salaamu Minath Thawri wal Huutil ladhee `Alayhaa] – [sumber]

    Sebagai pelengkap, perhatikan gambar Bumi [berbentuk FLAT DISK], di panggul banteng dan dibawahnya adalah Ikan:

    Ajaib al-Makhluqat (The wonders of creation), by the Persian author Zakariya Qazwini (d. 1283 or 1284).

    [..]Sebuah kopian risalah dari turki kisaran tahun 1553, polesan peta, menunjuk arah selatan, dengan malaikat memegang mangkok berisi ikan yang diatasnya sapi sedang memanggul globe [..]

    Risalah kegeograpian dan kumpulan legenda menakjubkan sangat populer di pertengahan dan awal masyarakat islam modern. Peta yang ditunjukan di sini adalah menakjubkan padanya terdapat beberapa mahluk yang menyokong bumi di cakrawala. Yang digunakan adalah proyeksi islam tradisional tentang bumi dalam bentuk piringan datar yang dikelilingi laut-laut terpisah terkurung sekeliling pegunungan Qaf..

    Dalam fatwa IslamQA no.114861 (beberapa riwayat yang menyatakan bahwa bumi terletak diatas punggung sapi jantan) di awal fatwanya, dikatakan bahwa kisah itu adalah sunnah otentik:

      Ibnu Abbas RA bahwa beliau berkata:
      أوّل ما خلق الله من شيء القلم ، فجرى بما هو كائن ، ثم رفع بخار الماء ، فخلقت منه السماوات ، ثم خلق ” النون ” – يعني الحوت – فبسطت الأرض على ظهر النون ، فتحرّكت الأرض فمادت ، فأثبت بالجبال ، فإن الجبال لتفخر على الأرض ، قال : وقرأ : (ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ (

      “Sesuatu yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah pena, maka ia menulis semua kejadian, kemudian uap air diangkat ke atas, maka darinyalah langit-langit diciptakan, kemudian Dia (Allah) menciptakan Nuun, yaitu; ikan paus, maka dihamparkannya bumi di atas punggung ikan paus tersebut, maka bumi pun bergerak dan berguncang, lalu ditopang oleh gunung-gunung, maka gununglah yang lebih utama dari pada bumi, lalu beliau berkata dan membaca: “Nuun, demi pena dan apa yang mereka tulis”.

      (Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dalam Tafsirnya: 2/307, dan Ibnu Abi Syaibah: 14/101, dan Ibnu Abi Hatim-sebagaimana di dalam Tafsir Ibnu Katsir: 8/210, dan Thabari dalam Jami’ Al Bayan: 23/140, dan Hakim dalam Al Mustadrak: 2/540, dan masih banyak yang lainnya, semua riwayat dari jalur Al A’masy, dari Abi Dzabyan Hushain bin Jundub, dari Ibnu Abbas, yang ini sanadnya shahih. Al Hakim berkata: ini adalah hadits yang shahih sesuai dengan syarat kedua Syeikhan (Bukhori dan Muslim) namun keduanya tidak meriwayatkannya. Adz Dzahabi berkata dalam at Talkhish: Sesuai dengan syarat Bukhori dan Muslim. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Mujahid, Muqatil, Sudi dan al Kalbi. Silahkan anda baca: (Ad Durrul Mantsur: 8/240, dan Tafsir Ibnu Katsir: 8/185 dalam permulaan tafsir surat al Qalam)

    IslamQApun melancarkan tuduhan bahwa itu bukan sabda Nabi melainkan hanya pendapat Ibn Abbas yang berasal dari Ka’b atau buku bani Israil:

      Atsar ini –sebagaimana anda ketahui- adalah mauquf (hadis yang sandarannya berhenti sampai pada sahabat sebagai penyampai) sampai pada Ibnu Abbas, bukan dari sabda Nabi SAW, secara umum Ibnu Abbas RA mengambil dari Ka’b al Ahbar atau dari buku-buku Bani Isra’il yang mencakup banyak keajaiban, keanehan dan kedustaan. Yang menunjukkan akan hal itu adalah beberapa rincian yang disebutkan oleh sebagian kitab Tafsir dalam masalah ini.

    Tuduhan bahwa Ibn Abbas mengambil dari K’ab atau dari buku-buku Bani Israel adalah mengada-ada dan tanpa bukti

    Mengapa?

    Karena terdapat riwayat bahwa pengetahuan Ka’b tentang Islam justru berasal dari Ibn Abbas sendiri, dan terdapat larangan Ibn Abbas pada umat muslim untuk tidak bertanya pada Ahlul Kitab, juga ancaman sekaligus larangan Umar bin Khattab pada Kaab untuk tidak menceritakan yang tercantum di kitab-kitab sebelumnya, misal:

      Riwayat Yahya bin Musa – Mu’alla bin Manshur – Muhammad bin Dinar – Sa’ad bin Aus – Mishda’ Abu Yahya – Ibnu Abbas – Ubay bin Ka’ab bahwa Nabi SAW membaca: “FII ‘AININ HAMI’ATIN (di dalam laut yang berlumpur hitam).” AQ 18.86. Abu Isa berkata; Hadits ini GHARIB, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini, DAN YANG SAHIH ADALAH HADIS yang diriwayatkan Ibnu Abbas tentang bacaannya (Ibnu Abbas): Ibnu Abbas dan ‘Amru bin Al ‘Ash berbeda pendapat tentang bacaan ayat ini, kemudian mereka mengajukannya kepada Ka’b Al Ahbar, seandainya Ibnu Abbas memiliki riwayat dari Nabi SAW, tentu sudah cukup baginya dengan riwayatnya dan tidak butuh lagi kepada Ka’b.” [Tirmidhi no.2858. Tentang Maksud Tirmidhi pada “hadis gharib”, Albani berkata: “Adapun jika ia berkata “hadits gharib” maka kebanyakan yang ia maksudkan adalah “dha’if“, yaitu secara sanad” (Fatwa-fatwa Syekh Nashiruddin Al-Albani, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Media Hidayah, 1425 H — 2004 M)]

    Ibn Abbas sendiri melarang untuk bertanya kepada Ahlul kitab:

      Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – Yunus – Ibnu Syihab – ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah – ‘Abdullah bin ‘Abbas: “Wahai sekalian kaum muslimin, bagaimana bisa kalian bertanya kepada Ahli kitab sedangkan kitab kalian yang diturunkan kepada nabi SAW adalah kitab paling baru tentang Allah. Kalian membacanya dengan tidak dicampur aduk, dan Allah telah memberitahu kalian bahwa orang-orang ahli kitab telah merubah apa yang telah Allah tetapkan, dan mereka merubahnya dengan tangan mereka, lalu mereka berkata ini dari Allah dengan maksud (menjualnya dengan harga yang sedikit). Bukankah dengan ilmu yang telah datang kepada kalian berarti Dia melarang kalian untuk bertanya kepada mereka?. Tidak, demi Allah, kami tidak melihat seorangpun dari mereka yang bertanya tentang apa yang diturunkan kepada kalian” [Bukhari no.2488, 6815, 6969]

    Bahkan Mujahid yang meriwayatkan dari Ibn Abbaspun terkena getahnya terkena tuduhan Israiliyat, misalnya di link GF HADAD:

      Al-Dhahabi juga mengutip keputusan al-A’mash’s tentang tafsir Mujahid yakni Mujahid diantara mereka yang menarasikan dari kitab-kitab ahlul kitab

      Note:
      Ahl al kitab: Nasrani dan Kristen (kesepakatan seluruh ulama), majusi dan sabian (sebagian ulama)

      Padahal dari sisi pendapat para ulama, mereka menilai Mujahid lebih tinggi nilainya dari Al A’Mash, misal Syaikhul Islam Ibn Hajjar menyatakan Al A’Mash adalah YUDALIS (memalsukan/menyamarkan sanad), sementara Mujahid adalah Imam Ilmu tafsir. Bahkan Dhahabi sendiri malah menyatakan MUJAHID itu Imam ILMU TAFSIR dan HUJJAH (dapat dijadikan dasar hukum)!

      Syaikhul Islam Ibnu Taymiyya memuji Mujahid: “Mujahid bin Jabr adalah seorang anak ajaib [aya] dalam penafsiran.” dan mengutip Sufyan ath-Thawri: “Ketika interpretasi datang kepada Anda dari Mujahid, itu sudah cukup untuk Anda” [Ibn Taymiya “Treatise on the Principles of Tafsir“]

      Ternyata tuduhan ini hanya kabar burung, yang juga telah ditepis oleh Al A’mash sebagaimana tercantum dalam Kitab Tabaqat al-mufassirin dari Dawudi, II, 307:

        “Seorang laki-laki bertanya pada al-A’mash, ‘Kenapa orang-orang menghindari tafsir al-Mujahid?’ Ia menjawab, “Karena MEREKA PIKIR bahwa ia biasa bertanya pada ahlul kitab” [“The Qur’an and Its Interpreters”, Vol.1, Mahmoud Ayoub, hal.30]

      Tampak jelas al A’Mash TIDAK PERNAH MEMUTUSKAN demikian juga TIDAK mengatakan bahwa MUJAHID TELAH “meriwayatkan dari buku2 ahlu kitab”. Malah al A’mash, yang juga merupakan murid Mujahid, MELURUSKAN fitnahan kepada gurunya! Jika al a’Mash (Sulaiman bin Misran Al A’mash), yakin Mujahid seperti yang dituduhkan, maka Al a’Mash TIDAK AKAN meriwayatkan BANYAK hadis dari Mujahid (di Bukhari, Abu Dawud, Tirmidhi, Nasai, Ibn Majjah).

    IslamQA juga menginformasikan bahwa TIDAK SELURUH hadis marfu (sanad yang bersandar hingga Rasullullah) tentang masalah ini adalah mungkar:

      ada sebagian hadits-hadits yang marfu’ namun mungkar dalam masalah ini (وقد وردت بعض الأحاديث المرفوعة المنكرة في هذا المعنى), di antaranya adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar bahwa Nabi SAW bersabda:

      الأرض على الماء ، و الماء على صخرة ، و الصخرة على ظهر حوت يلتقي حرفاه بالعرش ، والحوت على كاهل ملك قدماه في الهواء (وهو حديث موضوع، انظر: “السلسلة الضعيفة” (رقم/294()

      “Letak bumi di atas air, dan air tersebut di atas batu, batu tersebut di atas punggung ikan paus yang kedua sisinya di ‘Arsy, ikan paus tersebut di atas bahu seorang malaikat yang kedua kakinya di udara”. [sebagai hadits palsu di “As Silsilah al Hadith ad Dha’ifah wal-Mawdhuu’ah, #294]

    Jadi, karena ada sebagian yang mungkar, maka IslamQA jelas mengakui ada sebagian hadis marfu lainnya mengenai masalah ini yang TIDAK MUNGKAR! (Salah satunya sample misalnya hadis marfu dari Ibn Hatim dalam tafsir Ibn Kathir untuk AQ 20.6 di atas)[]

  3. Surat Al Anbiyaa’ 21:30, menjelaskan awal mula keadaan Bumi dan langit saat ditemukan Allah:
      Atau tidakkah (awa+lam) dilihat (yara) oleh para orang (alladhīna) kafir (kafarū) bahwa (“سِتَّةِ”, anna) para langit (“السَّمَاوَاتِ”, al-samāwāti) dan bumi (“وَالْأَرْضَ”, wal-arḍa) dahulunya (“كَانَتَا”, kānatā) suatu yang padu (“رَتْقًا”, ratqan), kemudian dipisahkan keduanya (“فَفَتَقْنَاهُم”, fafataqnāhumā). Dan menjadikannya (wajaʿalnā) dari air setiap (kulla) sesuatu (shayin) kehidupan (ḥayyin). Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

        Note:
        Perhatikan dengan baik ayat ini, TIDAK ADA dinyatakan bahwa langit dan bumi yang padu itu diciptakan. Sangat jelas termaktub bahwa langit bumi DITEMUKAN Allah dahulunya dalam keadaan berpadu! Ini juga merupakan hal berikutnya yang telah ada dan bukan merupakan ciptaan Allah.

      Tafsir Ibn Kathir atas ayat 21:30:

        …Tidakah mereka mengetahui bahwa Langit dan bumi dulunya bersatupadu yakni pada awalnya mereka satu kesatuan, terikat satu sama lain. Bertumpuk satu diatas yang lainnya, kemudian Allah memisahkan mereka satu sama lain dan menjadikannya Langit itu tujuh dan Bumi itu tujuh, meletakan udara diantara bumi dan langit yang terendah..

        Said bin Jubayr mengatakan ‘langit dan Bumi dulunya jadi satu sama lain, Kemudian Langit dinaikkan dan bumi menjadi terpisah darinya dan pemisahan ini disebut Allah di Al Qur’an’

        Al hasan dan Qatadah mengatakan,’Mereka Dulunya bersatu padu, kemudian dipisahkan dengan udara ini’

      Darimana datangnya bumi langit yang padu itu? Siapa yang menciptakannya? Tampaknya bahkan Allahpun tidak tahu tentang ini, karena Dirinya pun berada di suatu ruang yang telah ada sebelum Ia ada:

        Abdan – Abu Hamzah – Al A’masy – Jami’ bin Syidad – Shafwan bin Muhriz – ‘Imran bin Hushain:
        …Nabi menjawab: ‘Allah telah ada dan tidak ada sesuatu pun terjadi sebelum-Nya, arsy-Nya berada di atas air, kemudian Allah mencipta langit dan bumi dan Allah menetapkan segala sesuatu dalam alquran’. [Bukhari no. 6868, 2953. Ibn Majah no.178 (Riwayat Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Muhammad bin Ash Shabbah – Yazid bin Harun – Hammad bin Salamah – Ya’la bin ‘Atho` – Waki’ bin Hudus – pamannya Abu Razin ia berkata; Aku bertanya; “Wahai Rasulullah, di manakah Rabb kita sebelum menciptakan makhluk-Nya?” beliau menjawab: “Dia berada di ruang kosong, di bawah dan di atasnya tidak ada udara, dan di sana tidak ada makhluk. Setelah itu Ia menciptakan ‘Arsy-Nya di atas air”). Tirmidhi no.3034 (“Wahai Rasulullah dimanakah Allah sebelum Dia menciptakan makhlukNya? beliau menjawab: “Dia berada di awan yang tinggi, di atas dan di bawahnya tidak ada udara dan Dia menciptakan ‘arsyNya di atas air.” Abu Isa mengatakan ini Hadis Hasan). Ahmad no.15599, 15611].

      Tampaknya persoalan ini telah lama diketahui bahkan sampai ditanyakan oleh para orang badui:

        Riwayat Harun bin Ma’ruf – Sufyan – Hisyam – Bapaknya – Abu Hurairah – Rasulullah SAW:
        “Manusia akan selalu bertanya-tanya hingga dikatakan, ‘Ini makhluk yang Allah telah menciptakannya, lalu siapakan yang menciptakan Allah? ‘ Maka siapa saja yang mengalami hal semacam itu, hendaklah ia mengatakan ‘aku beriman kepada Allah’.”

        [Abu Dawud no.4098, Muslim no. 193 (Riwayat Abdullah bin ar-Rumi – an-Nadlar bin Muhammad – Ikrimah (Ibnu Ammar) – Yahya – Abu Salamah – Abu Hurairah – Rasulullah SAW: ..”Wahai Abu Hurairah, mereka akan senantiasa bertanya kepadamu hingga mereka berkata, ‘Ini Allah, lalu siapa yang menciptakan Allah‘.” Abu Hurairah: “Ketika aku berada di masjid, tiba-tiba orang-orang dari kaum Baduwi mendantangiku, ‘Wahai Abu Hurairah, ini Allah, lalu siapakah yang menciptakan Allah‘. Perawi berkata, ‘Kemudian Abu Hurairah mengambil kerikil dengan telapan tangannya, lalu melempar mereka sambil berkata, ‘Berdirilah, berdirilah, sungguh benar kekasihku'”) Juga di Muslim 190, 192, Muslim no.195 dari riwayat Anas. Di Ahmad no.8666 (orang yg bertanya bukan orang Badui tapi orang Irak). Ahmad no. 20864 (dari riwayat Khuzaimah bin Tsabit) yang bertanya bukan orang tapi setan (juga di riwayat Abu Huraira dan Aisyah)]

      Pertanyaan menarik yang bahkan Nabi besar SAW pun tidak mendapatkan jawabannya dari Jibril dan Allah.

  4. Lamanya proses penciptaan langit dan bumi setelah di pisah dengan udara adalah 6 hari dan BUMI diciptakan terlebih dahulu.

    Frase arab “سِتَّةِ” (sittati, enam) + ayyāmin (“أَيَّامٍ”) tercantum di (AQ 7.54, 10.3, 11.7, 25.59, 32.4, 50.38 dan 57:4), KELIRU jika diterjemahkan paksa menjadi “enam masa”, karena harusnya terjemahannya adalah “enam hari”:

    • ayyāman (أَيَّامًا)/ayyāma ( أَيَّامَ) di (AQ 2.80, 184; AQ 3.24, AQ 34.18; AQ 45.14) = hari;

      ayyāmin (أَيَّامٍ)/ayyāmi (“الْأَيَّامِ”, Al-ayyāmi; “بِأَيَّامِ” bi-ayyāmi) di (AQ 2.184, 185, 196, 203; AQ 3.41; AQ 5.89; AQ 11.65; AQ 22.28; AQ 41.16; AQ 69.7, 24; AQ 14.5; 10.102) = hari
    • “Sesungguhnya sehari (yawman) disisi Tuhanmu adalah seperti 1000 tahun menurut perhitunganmu” [AQ 22.47] dan “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian itu naik kepadaNya dalam satu hari (yawmin) yang kadarnya adalah 1000 tahun menurut perhitunganmu”[AQ 32.5]
        Note:
        Mengapa tidak menggunakan penyetaraan hari dengan AQ 70.4 (“Para malaikat dan Al Ruh (Jibril) naik ke Tuhan dalam 1 hari yang kadarnya 50.000 tahun”)? Karena ayat itu tentang penyetaraan LAMA WAKTU PERJALANANdari t empat A ke tempat B akibat PERBEDAAN KECEPATAN, jika dilakukan Jibril VS jika dilakukan manusia di jaman Nabi (jalan kaki/kuda/onta). Perbandingannya jika di jaman sekarang, lama waktu yang dibutuhkan dari A ke B, dengan pesawat jet adalah 1 jam, namun jika naik bus perlu waktu 24 jam. Sementara 2 ayat (AQ 22.47 dan 32.5) di atas adalah tentang penyetaraan hitungan hari Allah VS hari Manusia baik untuk waktu penciptaan harian maupun hari di alam lain.
    • Hadis dan tafsir:
      • Riwayat [(Humayd – Hakkam – Anbasah) dan (Ibn Waki – Ayahnya – Isra’il)] – Simak – Ikrimah – Ibn abbas: Tuhan menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari – yang mana tiap harinya adalah seperti 1000 tahun menurut perhitunganmu [Tabari Vol.1 Hal 226-227].
      • Riwayat ‘Abdah – Al Husain bin Al Faraj – Abu Mua’dh – Ubayd – Al Dahhak: 1 hari yang kadarnya 1000 tahun menurut perhitunganmu, Ia maksudkan hari-hari selama 6 hari penciptaan langit bumi dan apa yang ada di dalamnya [Tabari Vol.1 hal.227]
      • Al Muthanna – Al Hajjaj – Abu Awanah – Abu Bishr – Mujahid: 1 hari dari 6 hari adalah seperti 1000 tahun menurut perhitunganmu.[Tabari vol.1 hal.227]
      • Riwayat Al Muthanna – Ali (bin Al Haytam) – Al Musayyab bin Sharik – Abu Rawq – Al Dahhak: Ia yang menciptakan Langit dan bumi dalam 6 hari – dari hari-hari di dunia lain. Ukuran 1 hari adalah 1000 tahun. Ia mulai penciptaan di hari Minggu dan keseluruhan ciptaan hari Jumat (Ijtama’a jum’ah) [Tabari vol.1 hal.227]
      • Riwayat Ibn Humayd – Jarir (bin abd al Hamid) – al A’mash – Abu Salih – Ka’b: Allah mulai menciptakan di hari minggu, senin, selasa, rabu dan kamis. Ia Selesaikan di hari jumat. Ia melanjutkan: Tuhan membuat setiap hari setara 1000 tahun [Tabari vol.1 hal.227]
      • Riwayat Ibn Abiyy – Abu Ishak – Ibrahim b. Abdullah Nabt – Anas ibn Malik – Muhammad SAW: Panjang umur Bumi ini adalah 7 hari di hari-hari kehidupan setelah kematian. Allah berkata “sehari di sisi Allahmu adalah setara dengan 1000 tahun dalam perhitunganmu” [Suyuti sehubungan dengan hadis-hadis sahih tentang umur bumi tersisa 7000 tahun]
      • Tafsir Tabari (tentang umur dunia):..Menurut tradisi ini (Hadis riwayat Abu Huraira – Muhammad SAW), jelas bahwa keseluruhan bumi ini adalah 6000 tahun. Karena, jika 1 hari alam lain sama dengan 1000 tahun dan 1 hari adalah 1/6 bumi ini, kesimpulannya total 6 hari alam lain adalah 6000 tahun [Tabari vol.1 hal.183-184 dan luga lihat di sini]
      • Tafsir ibn Abbas Al Sajdah 1.30:
        [32:4] (Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya) dari penciptaan dan keajaiban-keajaiban, (dalam 6 hari) hari-hari dari permulaan penciptaan yang setara dengan 1000 tahun dari tahun-tahun kehidupan di dunia ini.; hari ke-1 adalah minggu dan hari terakhir adalah Jumat.
  5. Surat Fushshilat 41: 9-12, menyajikan urutan pengerjaan Bagaimana penciptaan yang dilakukan Allah, yaitu BUMI dahulu dan kemudian langit:
    • Pertama, (41:9) Bumi di ciptakan dalam 2 hari
    • Kedua, (41:10) Segala isi BUMI diciptakan total dalam 4 hari
    • Ketiga, (41:11) Kemudian (tsumma) Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap [Dukkhan = asap/kabut. pemakaian kata juga ada di AQ 44.10], lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.” (ini menunjukan bumi dan langit adalah mahluk berakal dan mempunyai jiwa)
    • Ayat-ayat di atas jelas merujuk bahwa kedudukan BUMI dan LANGIT adalah SEDERAJAT, yaitu BUMI yang BUKAN merupakan anggauta LANGIT. Dimana, Bumi diciptakan terlebih dahulu, baru kemudian ALLAH menyelesaikan Langit yang dibuktikan pada ayat selanjutnya

    • Keempat, (41:12) Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua hari. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan pelita-pelita cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
    • TAFSIR Ibn Kathir untuk surat 41:9-11 (atau “Tafsir ibn katsir”, penyusun Dr Abdullah bin Muhammad bin abdurahman bin Ishaq al-shikh, 1994, Juz 24, buku ke-7, hal 198-200), menyampaikan bahwa:

        “DIA (Allah) menyebutkan bahwa PERTAMA KALI DIA menciptakan BUMI, jarena bumi sebagai asas (PONDASI). Persoalan pokok selalu dimulai dengan asas, baru kemudian atap…Adapun diciptakannya Bumi adalah SEBELUM diciptakan Matahari menurut NASH…”

        Ibn Kathir menyampakan dari Al Bukhari, “Dia menciptakan Bumi dalam Dua hari, artinya pada MINGGU dan SENIN
        Yang manusia butuhkan dan tempat tempat untuk bercocoktanam dan diolah pada SELASA dan RABU

        `Ikrimah dan Mujahid menyatakan tentang firman Allah,”dan DIA menentukan padaya kadar makanan-makanan”, yaitu DIA JADIKAN pada setiap bagian tanah (tempat) sesuatu yang tidak cocok untuk yang lain. Contohnya pakaian dari wool di Yaman, pakaian Sauri (tipis di Sabur dan pakaia Thyalisa (berasal dari sutera) di Ray.

        Ibn `Abbas, Qatadah dan As-Suddi menyatakan, “untuk siapapun yang bertanya tentang itu

        Firman Allah “Kemudian dia menuju langit, dan langit itu masih merupakan Asap” YAITU ASAP AIR YANG MENGEPUL KETIKA BUMI DI CIPTAKAN.

        Ats-Tsauri – Ibnu Juraij – Sulaiman bin Musa – Mujahid – Ibn Abbas: Allah berfirman kepada langit, “Munculkanlah matahariku, bulan dan bintang-bintang ku”. Allah berfirman pada Bumi, “Pancarkanlah sungai-sungaimu dan keluarkanlah buah-buahanmu”

        Firman Allah “Maka dia menjadikannya 7 langit dalam 2 hari”. Yaitu dia meyelesaikan kejadian 7 lapis langit pada hari KAMIS dan JUM’AT

        Firman Allah, “dan Kami hiasi langit terdekat dengan bintang-bintang yang cemerlang” yakni bintang-bintang yang bersinar terang diatas penghuni bumi. Firman Allah “Dan Kami memeliharanya” artinya menghalangi syaitan-syaitan dari mendengarkan berita]

    Juga pada ayat [79:27-33]:

      Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit [al-samāu]? Allah telah membangunnya [banāhā, lihat di (AQ 9.110, 38.37,50.6, 51.47, 61.4)], meninggikan [rafaʿa] atapnya [samkahā = atap (tafsir: jalalayn dan ibn abbas)] kemudian disamaratakan [fasawwāhā, lihat di (AQ 91.14, 4.42, 26.98)], dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya [dahaha]. dipancarkan darinya mata air, dan disuburkan [wa+marʿāhā, tafsir: jalalyn]. Dan gunung-gunung [wal-jibāla] dipancangkan [arsāhā] [rawāsiya digunakan di AQ 13.3, 15.9, 16.15, 31.31, 27.61, 31.10, 34.13, 41.10, 50.7,77.27] untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.

    Jadi, ayat diatas menyatakan bahwa:

    • Penghamparan Bumi dilakukan SETELAH penciptaan Langit, NAMUN
    • Bumi sendiri diciptakan SEBELUM penciptaan langit.

    Berikut si bawah ini adalah respon Ibn ‘Abbas, yang direkam Bukkhari dalam tafsir Ibn kathir untuk QS 41:9-12:

      Sa’id Bin Jubayr berkata: ‘Seseorang berkata pada Ibn ‘Abbas: Saya menemukan di Qur’an yang membingungkan ku:…Dan Allah berkata:

      [AQ 79:27-30], Allah menyatakan bahwa Penciptaan Langit dahulu baru kemudian penciptaan Bumi, kemudian Allah berkata:

      [AQ 41:9-12], Allah menyatakan Penciptaan BUMI dahulu baru kemudian Penciptaan Langit..

      Kemudian Ibn ‘Abbas menjawab:..

      • Allah menciptakan Bumi dalam dua hari,
      • kemudian Dia menciptakan Langit, kemudian Dia (Istawa ila) meninggikan langit dan membentuknya dalam dua hari lagi.
      • Kemudian Dia membentangkan Bumi, ini berarti bahwa Dia membawa, sejak saat itu, air dan makanan. Dan kemudian Dia menciptakan Gunung-gunung, Pasir, benda-benda tak bernyawa, batu-batu dan bukit-bukit dan semuanya dalam waktu dua hari lagi.

      Inilah yang Allah katakan (Ia) menghamparkan (Bumi) (79:30) Dan Allah berkata: Ia ciptakan bumi dalam dua hari, jadi Dia menciptakan Bumi dan segala Isi didalamnya dalam empat hari dan Dia menciptakan Langit dalam dua Hari.

      Ibn Kathir, kemudian mengutip Bukhari:

      • Dia menciptakan Bumi dalam Dua hari, artinya pada Minggu dan Senin
      • [Dia menentukan padanya kadar makanan-makanannya] yang manusia butuhkan dan tempat tempat untuk bercocoktanam dan memanennya pada Selasa dan Rabu
      • Ats-Tsauri – Ibnu Juraij – Sulaiman bin Musa – Mujahid – Ibn Abbas: Allah berfirman kepada langit, “Munculkanlah matahariku, bulan dan bintang-bintang ku”. Allah berfirman pada Bumi, “Pancarkanlah sungai-sungaimu dan keluarkanlah buah-buahanmu” [Lubaabut Tafsir Min Ibni Katsir, Jan 2004, juz 24 hal 199-200]. Kemudian Dia meninggikan (Istawa ila) langit dan dan langit itu masih merupakan asap..melengkapi dan menyelesaikan ciptaannya seperti 7 langit dalam dua hari, artinya Kamis dan Jumat. [Kami hiasi langit terdekat dengan bintang-bintang yang cemerlang. “Dan Kami memeliharanya” artinya menghalangi syaitan-syaitan dari mendengarkan berita]

    Surat Al Raaf 7:54,

      Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari [..]

    Dalam tafsir Ibn kathir untuk surat AQ 7:54:

      Allah menyatakan bahwa Ia menciptakan semesta, Langit dan Bumi dan semua yang ada didalamnya dalam 6 hari. Enam hari yang dimaksud adalah Minggu, Senin, Selasa, rabu, kamis dan Jumat. Di hari Jum’at semua ciptaan telah di susun, Adam diciptakan. Kata “As-Sabt’ artinya Stop.

      Para ahli tafsir berbeda pendapat apakah setiap hari dari ke-6 hari tersebut sama seperti hari-hari yang ada pada kita sekarang ini ATAU SETIAP HARI ITU SAMA DENGAN 1000 TAHUN sebagaimana yang telah dinashkan oleh MUJAHID dan IMAM AHMAD BIN HANBAL. Dan dalam hal itu diriwayatkan dari riwayat adh-Dhahhak dari Ibn Abbas

      (Jadi, para ahli jaman itupun, telah sepakat bahwa 1 hari = 50.000 BUKAN untuk penyetaraan hari tuhan dengan manusia, namun penyetaraan lama waktu menuju langit antara kecepatan perjalanan JIBRIL vs kecepatan manusia di jaman Muhammad)

    Ibn kathir kemudian mengutip Hadis Muslim no.4997/039.6707 (Ahmad no.7991 Riwayat Hajjaj – Ibnu Juraij – Isma’il bin Umayyah – Ayyub bin Khalid – Abdullah bin Rafi (budak Ummu Salamah) – Abu Hurairah – Rasullullah SAW):

      Riwayat (Suraij bin Yunus dan Harun bin ‘Abdullah) – Hajjaj bin Muhammad al-Musaysi (bukan Hajjaj bin Muhammad Al-A’war) – Ibnu Juraij – Isma’il bin Umayyah – Ayyub bin Khalid – ‘Abdullah bin Rafi’ (-budak- Ummu Salamah) – Abu Hurairah: “Rasulullah SAW memegang tanganku, dan berkata:

      ‘Allah Azza wa Jalla menjadikan tanah pada hari Sabtu, menancapkan gunung pada hari Ahad (minggu), menumbuhkan pohon-pohon pada hari Senin, menjadikan bahan-bahan mineral pada hari Selasa, menjadikan cahaya pada hari Rabu, menebarkan binatang pada hari Kamis, dan menjadikan Adam pada hari Jum’at setelah ashar, yang merupakan penciptaan paling akhir yaitu saat-saat terakhir di hari jum’at antara waktu ashar hingga malam.” [Riyad As Salihin no.47. Di sahih muslim 4.1856, 4.1857, Abu dawud 3.1041, 3.1042 diriwayatkan Abu Huraira bahwa Adam diciptakan pada hari Jum’at]

      Catatan untuk hadis 039.6707 (dalam nomor berbeda di kumpulan lain, namun merujuk pada hadis di atas):
      Ibn Taimiyyah, Majmu’ Fatawa (37 vols., ed. `Abd al-Rahman b. Qasim & anaknya Muhammad, Riyadh, 1398), 18:18f. Ibn Taimiyyah menyatakan keautentikan hadis Imam muslim didukung oleh Abu Bakr al-Anbari & Ibn al-Jauzi sedangkan al-Baihaqi mendukung yang mengabaikan hadis ini. Al-Albani mengatakan bahwa Ibn al-Madini mengkritik hadis ini, sementara Ibn Ma’in tidak (Ibn Ma’in dikenal sangat ketat, keduanya adalah shaikh Bukhari). Ia menyatakan lebih lanjut bahwa HADIS INI SAHIH, TIDAK KONTRADIKSI dengan Qur’an, bertentangan dengan pandangan yang mungkin dipunyai ahli lainnya yang mengkritik hadis ini, Karena yang dimaksudkan di qur’an adalah penciptaan langit dan bumi dalam 6 hari, yang setiap harinya seperti 1000 tahun, sementara hadis ini merujuk pada penciptaan bumi saja, yang hari-harinya lebih pendek dari yang dirujuk Qur’an (Silsilah al-Ahadith as-Sahihah no.1833).

      Catatan untuk beberapa nama di atas:

      • Al Baihaqi tidak mengabaikan hadis ini dan menyatakannya sebagai hadith Marfu (sampai rasullullah) di Sunan Al Kubra, hadis no.16267.
      • Konon ada yang mengklaim bahwa Ali bin Al-Madini (w. 234 H) mengeritik hadis ini, berita ini sangat meragukan karena Imam Musiim (204 – 261H) baru melakukan perjalanan ke-2nya di tahun 230 H (4 tahun sebelum wafatnya Madini) dan saat itu Ia belum membukukan kitabnya (Koleksi hadis Imam muslim disusun selama 15 tahunan).
      • Konon ada yang mengklaim Imam Bukhari (w. 256 H) mengritik hadis ini. Pertemuan antara Imam Muslim dan Imam Bukhari terjadi di tahun 250H, setelah Imam Bukhari menetap di Nishapur. Jika benar Imam Bukhari (guru Imam Muslim) protes pada riwayat yang dianggapnya tidak marfu (karena ada ada yang mengklaim bahwa Bukhari mengatakan itu berasal dari Ka’ab Al Ahbar), maka terdapat lebih dari cukup waktu bagi Imam Muslim memperbaikinya, namun tidak dilakukannya, sehingga ini menunjukan 2 hal saja, bahwa tidak benar hadis ini berasal dari Ka’ab Al Habar atau tidak benar Bukhari pernah mengkritik hadis imam Muslim ini. Disamping itu, Imam Muslim juga punya hadis dari perawi Ka’b al Ahbar, sehingga pastinya, Imam muslim juga MAMPU membedakan membedakan mana hadis yang berasal dari Al Ahbar dan mana yang bukan.
      • Untuk Ka’b Al Ahbar, Ulama hadis seperti Muslim, Abu Dawud dan Tirmidhi meriwayatkan darinya. Ibn hajar mengatakan: Ka`b Ibn Mati` al-Himyari, Abu Ishaq, yang dikenal sebagai Ka`b adalah jujur, masuk kategori ke-2 [tabaqah]. [Ibn Hajar al-`Asqalani, Taqrib al-Tahdhib, Op Cit., p. 135].
      • Untuk Hajjaj bin Muhammad Al-A’war, Jika orang ini adalah orang yang sama dengan Hajjaj bin Muhammad Al Musaysi (Fakta nama keluarga mereka berbeda, mengindikasikan bahwa mereka BUKAN orang yang sama), maka pendapat para ulama mengenai Hajjaj bin Muhammad Al A’war adalah juga sangat positif, misalnya: Nasa’i, Ibn Madini, Ibn HIbban dan Tabari menyatakan Hajjaj seorang Tsiqah (jujur), sementara Adz Dzahabi menyatakan Hajjaj seorang Hafiz. Hadis yang berasal dari Hajjaj bin Muhammad juga digunakan oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Tirmidhi, Ibn Majjah, Ad Darimi dan pengumpul lainnya.

      Jadi tidak ada alasan mempermasalahkan hadis penciptaan ini

    Berikut ini adalah dari The History of al-Tabari, Vol.1 – General Introduction and from the Creation to the Flood (trans. Franz Rosenthal, State University of New York Press, Albany 1989), pp. 187-193:

      “.. kemudian, demikian juga, Terdapat (juga) sebuah tradisi yang berasal dari Rasullulah yang disampaikan oleh Hannad b Al-Sari, yang juga berkata bahwa Ia baca semua hadis (Abu Bakar) – Abu Bakr b ‘Ayyash – Abu Sa’ad al-Baqqal – ‘Ikrimah – IBN ABBAS

        Para Yahudi datang kepada Nabi dan bertanya tentang penciptaan langit dan bumi. Dia mengatakan:

        Allah menciptakan bumi di hari Minggu dan Senin.
        Dia menciptakan pegunungan dan penggunaannya untuk yang mereka miliki di hari Selasa.
        Di hari Rabu, Dia ciptakan pohon, air, kota-kota dan pembudidayaan tanah tandus.

        Ini adalah empat (hari).

        Ia melanjutkan (mengutip quran): ‘”Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua hari dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? demikian itu adalah Rabb semesta alam”. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanannya (semua) dalam empat hari. bagi orang-orang yang bertanya.

        Di hari Kamis, Ia ciptakan langit.
        Di hari Jumat, Ia ciptakan bintang-bintang, Matahari, bulan dan malaikat, hingga tersisa 3 jam.

        Di bagian awal dari 3 jam ini, Ia ciptakan kondisi (dari manusia) siapa yang akan hidup dan siapa yang akan mati.
        Di bagian ke-2, Ia jauhkan kerusakan pada setiap yang berguna bagi manusia.
        dan di waktu ke-3, (Ia menciptakan) Adam dan memerintahkannya berdiam di Surga, Ia perintahkan iblis bersujud dihadapan Adam dan ia usir adam dari surga di akhir jam.

        Ketika para yahudi bertanya: Kemudian apa, Muhammad?
        Ia berkata: ‘kemudian Ia duduk di tahtanya.’
        Para Yahudi berkata: Kamu benar, jika kau telah selesai, Mereka berkata dengan: Ia kemudian beristirahat

        Mendengar itu Nabi marah besar dan berkata, ‘Kami ciptakan langit-langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya dalam 6 hari, dan kelelahan tidak menyentuh kami. berhati-hatilah dengan ucapan kalian’”

    dan:

      “Menurut al-Muthanna – al-Hajjaj – Hammad – ‘Ata’ b. al-Sa’ib – ‘Ikrimah:

        Para Yahudi bertanya pada Nabi: Bagaimana dengan Minggu? Rasullullah menjawab: Di hari itu, Allah menciptakan bumi dan menyebarkannya.
        Mereka bertanya tentang Senin, dan Ia menjawab: Di hari itu, Ia ciptakan Adam.
        Mereka bertanya tentang Selasa, dan Ia menjawab: Di hari itu, Ia ciptakan pegunungan, air dan banyak lagi.
        Mereka bertanya tentang Rabu, dan Ia menjawab: Makanan.
        Mereka bertanya tentang Kamis, dan Ia menjawab: Ia menciptakan para langit.
        Mereka bertanya tentang Jumat, dan Ia menjawab: Allah menciptakan Malam dan Siang.
        Mereka bertanya tentang Sabtu dan menyinggung tentang istirahatnya allah (atas hari itu), ia berseru: Terpujilah Allah! Allah kemudian menyampaikan: Kami ciptakan langit-langit dan bumi dan apa yang ada diantaranya dalam 5 hari dan kelelahan tidak menyentuh kami’”

    Komentar dari Tabari:

      “Dua riwayat yang disampaikan pada kami dari Rasullullah telah menjelaskan bahwa Matahari dan bulan diciptakan setelah Allah menciptakan banyak hal pada ciptaannya.

      Itu karena hadis dari Ibn Abbas yang bersandar pada Rasullullah mengindikasikan bahwa Allah menciptakan Matahari dan Bulan pada hari JUMAT.

      Jika demikian, bumi dan langit dan apa yang ada didalamnya, kecuali para malaikat dan Adam, diciptakan Allah sebelum menciptakan Matahari dan bulan.

      Semua ini (demikian) terjadi ketika tidak ada cahaya dan tidak ada hari, karena malam dan siang hanyalah benda merujuk jam-jam yang dikenal melalui pergerakan lintasan melingkar matahari dan bulan.

      Sekarang, Jika ini benar bahwa bumi dan matahari dan apa yang ada di dalamnya, kecuali yang telah kami sebutkan, terjadi ketika tidak ada matahari dan bulan, kesimpulannya adalah semua terjadi ketika tidak ada malam ataupun siang.

      Hal yang sama (hasil tersimpul dari) mengikuti hadis dari Abu Hurayrah yang bersandar dari rasullullah:

      Allah menciptakan cahaya pada hari RABU – arti dari ‘cahaya’ matahari, jika Allah berkehendak.”

  6. Penciptaan 7 langit yang berbentuk kubah tanpa tiang terlihat yang ada di atas bumi yang datar:

    [88:18] Dan pada (wa-ilā) langit (al-samaai), bagaimana (kayfa) ditinggikan (rufiʿat)?

    [52:5] demi atap (wal-saqfi) yang ditinggikan (al-marfūʿi),

    [22:65] ..Dan Dia menahan (wayum’siku) langit (al-samaaa) terhadap (an) jatuh (taqaʿa) ke (alaa) bumi (al-ardhi),..

    [31:10] Ia menciptakan (khalaqa) para langit (al-samāwāti) tanpa (bighayri) tiang (ʿamadin) yang kamu lihat dan menancapkan (wa-alqā, lempar, jatuhkan, tancap) di bumi pasak-pasak [rawāsiya (jamak) = gunung-gunung, lihat AQ 78.7, 79.32] terhadap (an) goncangan (tamida) bersama kalian (bikum)

    [21:32] Dan Kami menjadikan (walja’alna) langit (al-samaaa) atap (saqfan) yang terpelihara (mahfuuzan) ,[..] [Tafsir Ibn Kathir: Artinya, menutupi bumi seperti kubah di atasnya.]

    [40:64] Allah-lah (Allahu) Ia yang (alladzii) menjadikan (ja’ala) bagimu (lakum) bumi (al ardhi) tempat menetap (qaraaran) dan langit (waalsamaaa) kubah/kanopy (binaaan)..

    [2:22] Ia yang (aladzii) menjadikan (ja’ala) bagimu (lakum) bumi (al-ardha) hamparan (firaashan) dan langit (wal-samaaa) atap/canopy (binaaan)..

    Allah (huwa) Ia yang (alladzii) menciptakan (khalaqa) untukmu (lakum) apa (maa) di (fii) Bumi (al-ardhi) segalanya (jamīʿan). Kemudian (tsumma) menuju (is’tawā) pada (ilaa) langit (al samaai) lalu disamaratakanlah mereka (fasawwāhunna) tujuh (sab’a) langit (samāwātin). Dan Dia (wahuwa) pada segala (bikulli) hal (shayin) Maha tahu (ʿalīmun).[AQ 2.29]

    Tafsir Ibn kathir berkenaan dengan ayat 2:22,29,

      Ayat ini mengindikasikan bahwa Allah memulai penciptaan dengan menciptakan BUMI baru kemudian membuat LANGIT menjadi 7 langit. Ini adalah bagaimana bangunan biasanya di mulai, lantai dulu baru kemudian bagian atapnya [juga dikatakan oleh Mujahid, Ibn Abbas bahwa bumi duluan diciptakan]

    Allah-lah (Allahu) Ia yang (alladzii) menciptakan (khalaqa) tujuh (sab’a) langit (samāwātin) dan dari (wamina) bumi (al-ardhi) seperti itu pula (mith’lahunna). [AQ 65.12].

      Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs untuk AQ 65.12:
      Bahwa (Allah-lah yang menciptakan tujuh langit) satu di atas yang lainnya seperti KUBAH, (dan seperti itu pula bumi) tujuh bumi tapi mereka DATAR.

    [13:2] Allah-lah (Allahu) Ia Yang (alladzii) meninggikan [rafaʿa] para langit (al-samāwāti) tanpa (bighayri) tiang (ʿamadin) yang kamu lihat (tarawnahaa), kemudian (tsumma) bersemayam (istawaa) di atas (‘alaa) ‘Arasy, dan memperjalankan (wasakhkhara) matahari dan bulan (al-shamsa waal-qamara). Masing-masing (kullun) berjalan (yajri) menurut waktu (liajalin) yang ditetapkan (musamman). Mengatur (yudabbiru) urusan (al-amra), menjelaskan (yufaṣṣilu) tanda-tanda (al-āyāti), agar kamu dapat bertemu tuhanmu dengan keyakinan.

    Tafsir Ibn kathir untuk ayat [13:2],

    • Allah, mengangkat para langit tanpa pilar & mengangkat para langit tinggi jauh diatas Bumi.
    • Berkenaan dengan kalimat (memperjalankan matahari dan bulan. Masing-masing berjalan menurut waktu yang ditetapkan) adalah seperti yang Allah maksudkan di surat 36:38 (dan matahari berjalan dijalurnya (limustaqarrin)) [Ada dua pendapat dan keduanya menyatakan Matahari dan bulan yang bergerak terus menerus]. ‘arsy adalah atap dari ciptaan dan tidak berbentuk BULATAN seperti banyak di klaim oleh astronomer. Lebih seperti KUBAH yang di topang oleh pilar. Ditandu oleh para malaikat dan di atas dunia, di atas kepala-kepala orang. Menurut Nabi sebagaimana diriwayatkan Abu Dharr:
      Ketika senja [magrib], Nabi bertanya padaku, “Apakah kau tau kemana Matahari itu pergi (saat Magrib)?! Aku jawab, “Allah dan rasulnya yang lebih tau.” Ia jawab, “Ia berjalan hingga berhenti pada tempatnya di bawah Arsy lalu menyungkur sujud dan mohon ijin untuk terbit kembali, dan diijinkan dan kemudian (waktunya akan tiba) dia minta agar terus saja bersujud namun tidak diperkenankan dan minta izin namun tidak diizinkan dan dikatakan kepadanya: “Kembalilah ke tempat asal kamu datang” dan ia akan terbit dari tempatnya terbenamnya tadi (barat). Itulah penafsiran dari sabda Allah “dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (AQ 36:38) [Bukhari: no.2960/4.54.421, no.4428/6.60.327, no.6874/9.93.520 dan no.6881/9.93.528. Juga Muslim: no.228/1.297]
    • ‘Ada pilar namun tidak dapat kamu lihat’ menurut Ibn `Abbas, Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, dan beberapa lainnya.
    • Iyas bin Mu`awiyah, “Langit itu seperti kubah di atas bumi’, artinya tanpa tiang. Serupa seperti Qatadah katakan
    • Ibn Kathir menyatakan bahwa pendapat terakhir [Iyas bin Mu’awiyah] adalah lebih baik mengingat Allah juga menyatakan di ayat lainnya [22:65] yaitu ‘Dia menahan langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya?’

    Matahari yang berjalan dengan lintasan yang berbentuk kubah dari Timur ke Barat dan terbenam di air (bersujud di arsy-nya Allah yang ada di atas air), tercantum dalam perjalanan Zulkarnaen dari ufuk timur hingga ufuk barat:

      “Mereka menanyaimu [wayas-aluunaka] tentang Dzulkarnain. Katakanlah Aku bacakan [qul sa-atluu] padamu [ʿalaykum] cerita tentangnya. Sesungguhnya telah diberikannya kekuasaan [makkannaa lahu] di bumi, dan Kami telah berikan [waaataynaahu] dari tiap suatu [min kulli shayin] jalan [sababaan].
      Maka iapun berjalan [fa-atba’a sababaan].
      Hingga [ḥattaa] ketika [idhaa] sampai [balagha] di tempat terbenam [maghriba] matahari [al shamsi], MENDAPATI itu [WAJADAHAA] terbenam [taghrubu] di [fii] mata air yang berlumpur hitam [ayyin hamiatin], dan mendapati [wawajada] DI DEKAT ITU/SEKITAR/SISI [indahaa] segolongan umat [qawman]…
      Hingga ketika sampai ke tempat terbit [mathli’a] matahari [al shamsi], MENDAPATI itu [WAJADAHAA] menyinari [tathlu’u] pada [‘alaa] segolongan umat [qawmin]…
      Hingga ketika sampai [balagha] di antara [bayna] dua gunung [alssaddayni], MENDAPATI [WAJADA] di [min] sebelahnya [duunihimaa] suatu kaum [qawman]..” [AQ 18.83-86, 90, 93]

    Karena Allah sendirilah yang menceritakan perjalanan Zulkarnaen: hingga sampai ke ufuk barat, hingga sampai ke ufuk timur dan hingga sampai di antara dua gunung. Di mana, di setiap area itu, Ia bertemu tiga kaum yang berbeda, maka ini bukanlah sebuah kiasan.

    Tafsir ibn kathir AQ 18.86 menyatakan “Ia menemukan matahari terbenam di laut hitam, bukan KIASAN karena ia menyaksikan sendiri. kata “al hami-ah” di ambil dari salah satu dua arti yaitu dari AQ 15.28, “lumpur hitam” (ini pendapat ibn Abbas). Ali bin abi thalhah “zulkarnaen mendapati matahari terbenam di laut yang panas” (juga pendapat Al Hasan Al basri). Ibn Jarir mengatakan keduanya benar yang mana saja boleh.

    Beberapa ayat Quran, misalnya Allah meninggikan langit tanpa tiang, menahan langit agar tidak jatuh ke bumi, memperjalankan matahari, menghamparkan bumi dan menancapkan gunung agar bumi tidak berguncang, memancarkan air dan menumbuhkan tumbuhan. Ini Jika dibandingkan dengan syair-syair Zaid bin Amr bin Nufail, misalnya: meninggikan langit tanpa penahan, menghamparkan bumi, memancangkan dengan gunung agar tidak berguncang dan meletakan bulan ditengahnya, sebagai penerangan di malam hari, memperjalankan matahari hari ke hari dan menumbuhkan tanaman [“Riwayat Hidup Muhammad“, Ibn Ishaq, diterjemahkan: A.Guillaume, Oxford University Press, Karachi, tenth impression, 1995 Hal. 101, 102; atau liat versi terjemahan Indonesia], maka, syair Zaid VS ayat quran ternyata mempunyai kemiripan yang sangat menakjubkan.

    Zaid bin Amr bin Nufail adalah seorang Hanif (Bukhari 5.58.169: Agama Abraham, bukan Yahudi dan bukan Kristen, tidak menyembah selain Allah. Agama ini diketahuinya di perjalanan ke Syiria/Sham ketika mencari ajaran dan di perjalanan pulangnya, Ia terbunuh). Zaid sebelumnya menetap di gua Hira (gunung Hira). Di Gua itulah Zaid bertemu Muhammad yang di sebelum menjadi Nabi kerap menyepi di gua Hira (Bukhari, 7.67.407; Ishaq hal.102). Sekurangnya sekarang, kita bisa memahami mengapa beberapa bagian syair tersebut memperkaya isi Quran.

  7. Penciptaan pelita-pelita (AQ 41.12, “mashaabiiha” = pelita), Qur’an memberikan konfirmasi bahwa bintang-bintang diciptakan sebagai hiasan langit, misil pelempar setan yang mencuri dengar dan untuk keperluan navigasi
      Demi langit [wa+al-samaa-i] dan [wa] YANG BERJALAN [al-ṭāriqi]. [wamā (Dan apa) + adrāka (memberitahukanmu) = dan tahukah kamu] apa [mā] YANG BERJALAN [al-ṭāriqu]? BINTANG [al-najmu] yang cemerlang (al-thāqibu) [AQ 86.2-3, Al Makiyya, turun urutan ke-36. kata “ṭāriqi/u” juga ada di (AQ 4.168,169; 20.63,77,104; 23.17, 46.30, 72.11,16) artinya berjalan/jalan]

      dan kami [wa-annā] menyentuh [lamasnā] langit [al-samāa], kemudian kami dapati [fawajadnāhā] penuh [muli-at] penjagaan [ḥarasan] keras [shadīdan] dan PANAH-PANAH API [syuhubaan], dan kami [wa-annā] pernah [kunna] menduduki [naqʿudu] dari itu [minha] tempat [maqāʿida] untuk mendengarkan [lilssamʿi] kemudian siapa [faman] yang mendengarkan [yastamiʿi] sekarang [l-āna] akan didapati [yajid] baginya [lahu] PANAH API [syihaaban] yang mengintai [AQ 72.8-9, Al Makiyya, turun di urutan ke-40. kata “syuhubaan/Syihaabun juga ada di (AQ 15.18, 27.7, 37.10) artinya panah api]

      Dan pastinya [walaqad] Kami jadikan [jaʿalnā] di [fī] langit [al-samāi] HIASAN-HIASAN [burūjan] dan Kami hiasi [wazayyannāhā] untuk mereka yang memandangnya [lilnnāẓirīna] dan Kami menjaganya [waḥafiẓ’nāhā] dari [min] tiap [kulli] syaitan [shayṭānin] terkutuk [rajīmin], kecuali [illā] Ia [mani] mencuri [is’taraqa] dengar [al-samʿa] maka Ia dikejar [fa-atbaʿahu] PANAH API [syihaabun] yang terang [mubīnun]. [AQ 15.16-18. Al Makiyya, turun urutan ke-54. Kata “burūjan” juga ada di (AQ 4.78, 25.61, 85.1, 33.33, 24.60) artinya benteng/benda-benda langit/hiasan]

        Tafsir Ibn kathir AQ 15.16-18: Mujahid dan Qatadah berkata bahwa Buruj merujuk pada benda-benda langit…`Atiyah Al-`Awfi berkata: “Buruj disini merujuk pada ‘benteng penjaga’. Ia dibuat jadi ‘Bintang jatuh’ untuk melindungi dari Iblis yang mencoba mendengarkan informasi dari langit tertinggi. Jika ada syaitan yang menerobos untuk mencuri dengar, sebuah ‘bintang jatuh’ datang dan menghancurkannya. Ia mungkin lolos dan menyampaikannya pada Syaitan lainnya di bawah[..]”

        Di AQ 25.61, “BerkatNya [tabāraka] yang [alladhī] menjadikan [jaʿala] di [fī] langit [al-samai] hiasan-hiasan [burūjan] dan menjadikan [wajaʿala] di situ [fīhā] sebuah lampu [sirājan] dan bulan [waqamaran] bercahaya [munīran].”.

        “sirajan” adalah matahari:
        “dan menjadikan [waja’ala] padanya [fiihinna] bulan [al-qamara] bercahaya [nūran] dan menjadikan Matahari [al-shamsa] lampu [siraajaan] [AQ 71.16]” + “dan menjadikannya [waja’alna] LAMPU [sirajan] yang amat terang/terik [wahhaajaan] [AQ 78.13]”.

        Di Islam, Bulan dan Matahari, keduanya memancarkan cahaya:
        “Ia-lah (huwa) yang [alladhī] menjadikan [ja’ala] Matahari [al-shamsa] bersinar [ḍiyāan] dan bulan [waqamaran] bercahaya [nūran] [AQ 10.5]”.

        Kata “munir”, “nuur”, “naar” berasal dari akar kata yang sama “nūn wāw rā (ن و ر)” artinya adalah memancarkan cahaya sendiri BUKAN memantulkan cahaya, Untuk jelasnya simak AQ 24.35: “Allah cahaya [nūru] langit dan bumi. Perumpamaan [mathalu] cahayaNya [nūrihi], seperti celah [kamish’katin], di dalamnya [fīhā] ada pelita [miṣ’bāḥun]. Pelita itu [al-miṣ’bāḥu] di [fī] kaca [al-zujājatu] itu seperti [ka-annahā] sebuah bintang [kawkabun] berkilauan [durriyyun], dinyalakan [yūqadu] dari [min] pohon [shajaratin] berkah [mubārakatin], pohon zaitun [zaytūnatin] tidak [lā] di timur [sharqiyyatin] dan tidak [walā] di barat [gharbiyyatin], yang hampir [yakādu] minyaknya [zaytuhā] menerangi [yuḍīu] walau [walaw] tidak [lam] disentuh [tamsashu] api [nārun]. Cahaya [nūrun] di atas [ʿalā] cahaya [nūrin]”

      Sesungguhnya [innā] Kami hiasi [zayyannā] langit [Al-samāa] terdekat/dunia [al-dunyaa] dengan hiasan [bizīnatin] BINTANG-BINTANG [al-kawākibi]. dan menjaganya dari tiap syaitan durhaka [māridin]. Tidak [lā] mereka dapat dengarkan [yassammaʿūna] malaikat [Al-mala-i] yang tinggi [al-a’laa] dan mereka dilempari [wayuq’dhafūna] dari [min] tiap [kulli] sisi [jānibin] terusir [duḥūran] dan bagi mereka [walahum] siksaan [adhābun] terus menerus [wāṣibun], kecuali [illā] Ia [man] mencuri [al-khaṭfata] maka Ia dikejar [fa-atbaʿahu] PANAH API [syihaabun] yang cemerlang (thāqibu). [AQ.37.6-10. Al makiyya, turun di urutan ke-56. Kata “al-kawākibi” juga ada di (AQ 6.76, 12.4, 24.35, 82.2) artinya bintang-bintang]

      Dan pastinya Kami hiasi langit terdekat dengan PELITA-PELITA [mashaabiiha], dan menjadikan mereka [wajaʿalnāhā] rudal/perajam [rujūman] untuk syaitan-syaitan [lilsysyayaathiini],..[AQ 67.5. Al makiyya, turun di urutan ke-77. Kata “mashaabiiha” juga ada di (AQ 41.12, 24.35) artinya pelita]

        AQ 24.35 di atas, menunjukan persamaan pelita dan bintang. Tafsir Ibn kathir 67.1-5: Qatadah berkata: “Bintang-bintang (Ạlnjwm,”النجوم”) diciptakan hanya untuk tiga kegunaan, yaitu: Hiasan di langit, Alat pelempar setan dan petunjuk Navigasi, Jadi siapapun yang mencari interpretasi lain tentang bintang selain ini maka itu jelas merupakan opini pribadi, Ia telah melebihi porsinya dan membebani dirinya dengan hal-hal yang ia sendiri tidak punya pengetahuan tentang ini.” [Ibn Jarir dan Ibn Hatim mencatat riwayat ini]

        note:
        Qatada sfesifik menyatakan Al njwm (bintang-bintang) bukan An-Nayzak (metoroid, “النَيزَك”) dan bukan Al-Mudzannab (komet, “المذنب”)

      Memperhatikan Quran vs Tafsirnya, maka ini tidaklah merujuk pada meteor dan jelas merujuk pada bintang.

      Tampak jelas para pemikir islam, allah dan Muhammad memang tidak berpengetahuan apapun tentang semesta dan bahkan tidak mempunyai kemampuan dalam membedakan antara bintang, matahari, planet, bulan, asteroid, komet, metoroid, meteor dan meteorit:

      • Bintang adalah Semua benda masif yang sedang dan pernah melakukan pembangkitan energi melalui reaksi fusi nuklir. Bintang yang tidak lagi melakukan pembakitan energi disebut bintang katai, panas bintang ini berangsur-angsur padam dan inipun masih luar biasa panas. Bintang katai terdingin (merah) bersuhu permukaan 2000 – 3500 K (matahari: 5000-6000 K).

        Bintang katai terdiri dari: Katai merah (massa rendah); Katai kuning (massa sebanding dengan Matahari); Katai putih (tahap akhir siklus hidup bintang, ia terdiri dari materi elektron terdegenerasi, tidak cukup masif untuk menjadi supernova tipe II-bintang-bintang (memiliki 0,5-10 massa matahari, diameter hampir sama dengan bumi atau sekitar 100 x lebih kecil dari matahari. Suhu permukaannya: 8.000 K); Katai coklat (kurang masif untuk melangsungkan fusi hidrogen menjadi helium – massa < 0,08 massa Matahari) dan Katai gelap (katai putih yang terdinginkan, tidak lagi memancarkan cahaya dalam panjang gelombang tampak). Lama waktu Bintang-bintang kehilangan panasnya secara perlahan seumuran dengan usia semesta

      • Bintang Antares vs Bintang acturus: Bola kaki vs kelereng kecil. Matahari seukuran 1 pixel.
      • Bintang Acturus vs Bintang Matahari: Bola kaki vs kelereng kecil. Yupiter seukuran 1 pixel.
      • Bintang Matahari vs Planet Yupiter: Bola kaki vs kelereng kecil.
      • Planet Yupiter vs Planet bumi: Bola kaki vs kelereng kecil.
      • Matahari adalah bintang dengan jarak terdekat dari bumi. Ia menghasilkan cahaya. Massa matahari kurang lebih 99,86% massa total Tata Surya. Matahari bermassa 333.000 x massa bumi dan bervolume 1.3 juta x volume Bumi.
      • Planet adalah benda angkasa yang mengorbiti sebuah bintang (atau sisa bintang), mempunyai massa yang cukup untuk memiliki gravitasi sendiri dalam mengatasi tekanan rigid body sehingga punya kesetimbangan hidrostatik (berbentuk hampir bulat), tidak terlalu besar yang dapat menyebabkan fusi termonuklir terhadap deuterium intinya dan telah “membersihkan lingkungan” (mengosongkan orbit) dari benda-benda angkasa lain selain satelitnya sendiri. Berdiameter > 800 km
      • Satelit planet adalah benda angkasa bukan buatan manusia yang mengorbiti planet.
      • Asteroid adalah benda angkasa berukuran lebih kecil daripada planet namun lebih besar daripada meteoroid, Asteroid terdiri dari karbon dan metal dan mengorbit matahari.
      • Komet terdiri dari debu dan es yang berasal dari sabuk Kuiper Belt (kabut Oort), mengorbit matahari dengan jarak orbit berbentuk elips dan lebih jauh dari asteroid. Ketika orbitnya mendekati matahari, radiasi matahari menguapkan es disekitarnya dan jejak uap tersebut membuatnya tampak berekor
      • Meteoroid adalah pecahan asteroid (atau benda angkasa lainnya, namun rata-rata berasal dari pecahan asteroid yang saling bertubrukan) ukurannya lebih kecil dari asteroid dan lebih besar dari molekul.
      • Meteor adalah meteorid yang berhasil masuk ke atmospher bumi dengan kecepatan supersonik. Atmospher terdiri dari fluida (gas dan cairan) kecepatan tersebut menimbulkan tekanan yang sangat besar yang terjadi di depan metor. Tekanan ini memanaskan udara dan itu kemudian memanaskan meteor hingga menjadi terbakar. Inilah yang kemudian disebut bintang jatuh.
      • Meteor yang tidak habis terbakar dan jatuh ke bumi disebut Meteorit

Kosmologi bumi dan langit di atas Ikan paus ini benar-benar dapat menjelaskan banyak hal dalam logika berpikir yang islami, diantaranya adalah:

  • Adalah sangat wajar bumi ini didatarkan atau digepengkan seperti martabak dan gunung-gunung dipancang sebagaimana maksud surat:
    • Luqman 31:10, “Ia menciptakan (khalaqa) para langit (al-samāwāti) tanpa (bighayri) tiang (ʿamadin) yang kamu lihat dan menancapkan (wa-alqā, lempar, jatuhkan, tancap) di bumi pasak-pasak [rawāsiya (jamak) = gunung-gunung, lihat AQ 78.7, 79.32] terhadap (an) goncangan (tamida) bersama kalian (bikum)”
    • Al-Anibiya’) 21:31, “Dan menjadikannya di bumi pasak-pasak terhadap goncangan bersama mereka (bihim).”
    • Al-Nahl 16:15 “Dan menancapkan di bumi pasak-pasak terhadap goncangan bersama kalian”
    • An Naba’ 78.6-7, “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? dan gunung-gunung (waaljibaala) sebagai pasak-pasak (awtadan. Di AQ 79.32 arsaahaa = pasak/pemancang)?”

    Dalam tafsir Ibnu kathir surat 21:30-33,

    (Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh,) artinya, gunung-gunung yang menstabilkan bumi dan menjaganya agar tetap kokoh dan memberikannya berat, jika tidak itu seharusnya goncang bersama orang-orang, misal, bergerak dan bergetar sehingga mereka tidak dapat berdiri tegak di atasnya — karena ini diliputi oleh air, bagian dari 1/4 permukaannya.

    mengapa?

    Adalah demi mencegah daratan ikut-ikutan bergerak-gerak liar dan bahkan dapat berakibat terguling ketika sang ikan bergerak-gerak.

    Ini Sungguh suatu yang sangat cerdas dan brilian, bukan?!

  • Mengapa sangat wajar terjadinya banjir Nuh yang dapat menenggelamkan seluruh dunia hingga puncak tertinggi dunia sebagaimana terekam pada riwayat dibawah ini:

    Ibn Abbas mengatakan, [..]seluruh air menutupi seluruh permukaan bumi hingga akhirnya mengelilingi puncak2 gunung dan bahkan main tinggi melebihnya setinggi 15 hasta. Dikatakan juga bahwa gelombang itu tingginya 80 mil melampaui gunung-gunung. Perahu tersebut terus berlayar dibawah perlindungan Allah…[Tafsir Ibn Kathir untuk surat 11:40-43]

    Mengapa?

    Adalah karena bumi ini ada di atas punggung IKAN! Ikan hidupnya di air sehingga kebutuhan VOLUME AIR yang luarbiasa besar bukanlah menjadi persoalan dan sudah tersedia dengan sangat MELIMPAHnya. Jangankan cuma 80 mil, bahkan 2x dari itupun masih sangat melimpah, bukan?!

    Ini sungguh suatu yang sangat cerdas dan brilian, bukan?! []



Alasan ‘ardh’ = Bumi atau Tanah

Kata ardh dalam kosakata arab dapat berarti Bumi atau tanah, sehingga salah satu argumennya adalah “bahwa datar tidak dimaksudkan untuk bumi tapi tanah”. Apabila kita lihat baik-baik di Al Quran maka penempatan kata ‘ardh’ apakah artinya menjadi tanah atau bumi adalah tergantung kontex, misalkan untuk konteks istana maka maksud kata ‘ardh’ adalah tanah. Untuk konteks gunung-gunung dan sungai-sungai maka kata ‘ardh’ adalah jelas bahwa yang dimaksudkan adalah bumi. Untuk jelasnya kita ambil 3 contoh penempatan kata ardh:

wayawma nusayyiru aljibaala wataraa al-ardha baarizatan wahasyarnaahum falam nughaadir minhum ahadaan
[18:47] Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun dari mereka.

wahuwa alladzii madda al-ardha waja’ala fiihaa rawaasiya wa-anhaaran wamin kulli altstsamaraati ja’ala fiihaa zawjayni itsnayni yughsyii allayla alnnahaara inna fii dzaalika laaayaatin liqawmin yatafakkaruuna
[13:3] Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Penerapan kosa kata arab ardh pada ayat diatas bandingkan dengan surat dibawah ini akan memperjelas maksud bahwa benar yang dimaksudkan adalah BUMI bukan tanah:

waudzkuruu idz ja’alakum khulafaa-a min ba’di ‘aadin wabawwa-akum fii al-ardhi tattakhidzuuna min suhuulihaa qushuuran watanhituuna aljibaala buyuutan faudzkuruu aalaa-a allaahi walaa ta’tsaw fii al-ardhi mufsidiina
[7:74] Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.

Jadi jelas, bahwa penterjemah Al Quran sudah sangat memahami kapan harus mengartikan sebagai tanah dan kapan menggunakan kata bumi untuk arti ‘ardh []



Kata ‘dahaha’ Benarkah Artinya berbentuk Telur?

    [79:27-29] Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit [al-samāu]? Allah telah membangunnya [banāhā, lihat di (AQ 9.110, 38.37,50.6, 51.47, 61.4)], meninggikan [rafaʿa] atapnya [samkahā = atap (tafsir: jalalayn dan ibn abbas)] kemudian disamaratakan [fasawwāhā, lihat di (AQ 91.14, 4.42, 26.98)], dan mengulitakan (wa-aghthasya) malam (laylahaa), dan memunculkan (wa-akhraja) benderang (dhuhaahaa).

    [79:30] Dan bumi (waal-ardha ) sesudah (ba’da) itu (dzaalika) […………….] [note: titik didalam kurung sebagai arti “dahaahaa” akan kita isi nanti]

    [79:31-33] Dipancarkan (akhraja) darinya (minhaa) mata air (maa-ahaa), dan disuburkan [wa+marʿāhā, tafsir: jalalyn]. Dan gunung-gunung [wal-jibāla] dipancangkan [arsāhā] [rawāsiya digunakan di AQ 13.3, 15.9, 16.15, 31.31, 27.61, 31.10, 34.13, 41.10, 50.7,77.27] limpahan nik’mat (mataa’an) bagimu (lakum) dan untuk binatang-binatang ternakmu (wali-an’aamikum).

    [55:10] Dan bumi (Waal-ardha) diratakan (wadaAAaha) untuk makhluk-mahluk (lil-anami)

Terdapat argumen yang menyatakan bahwa kata ‘dahaha’ pada ayat [79:30] artinya ‘berbentuk telur’ sehingga arti ayat 79:30 seharusnya diartikan Bumi itu berbentuk seperti telur. Secara garis besar argument2 tentang arti ‘Dahaha’ kalangan Muslim berfokus pada dua hal:

  • Translansi kata dahaha berarti berbentuk telur atau seperti telur Unta

    Khalifa: Ia buat bumi berbentuk telur.
    QXP:And after that He made the earth shoot out from the Cosmic Nebula and made it spread out egg-shaped. (‘Dahaha’ entails all the meanings rendered (21:30), (41:11)).

      Quote:
      In Noble Verse 79:30, the Arabic word “dahaha” doesn’t mean extended (to a wide expanse). The word literally mean formed in “round shape” or “egg shape”…

    Detail, silakan lihat di: Answering-Christianity: Earth in Islam, Islami voice, QH: Dr Zakir Naik dan Islam Awareness: Science

  • Alasan lain sebagai pembelaan para muslim adalah merujuk pada permainan yang dilakukan oleh penduduk mekkah dan menyatakan bahwa dahaha berhubungan dengan bentuk bulat:
      Quote:
      In 79:30, Allah says,

      [Transliteration] Waal-arda baAAda thalika dahaha [79:30]

      The key word in the above verse is “dahaha”. In Arabic, there is a phrase, “iza dahaha” which means “when he throws the stones over the ground to the hole”.

      [Kata kunci ayat di atas adalah “dahaha”. Dalam bahasa arab, terdapat frase ‘iza dahaha’ yang berarti ‘ketika ia melempar batu melewati lubang di tanah]

      The hole is called “Udhiyatun”. “Almadahi” signify round stones according to the size of which a hole is dug in the ground in which the stones are thrown in a game. “Almadahi” also signify a round thing made of lead by the throwing of which persons contend together.

      [Lubangnya disebut “Udhiyatun”, “Almadahi” berarti batu bulat seukuran lubang yang digali di tanah tempat batu dilemparkan dalam sebuah permainan. ‘Almadahi’ juga berarti sesuatu bulatan dibuat sebagai batas lemparan mereka yang bertanding]

      So there is a signification of ROUNDNESS in the root of the word “dahaha”. According to some etymologists, the word for the “egg of an ostrich” also has the same root as “dahaha”. They also take from this that the earth is of the shape of the egg of an ostrich. Latest science findings confirm that the earth is not exactly spherical but the earth is an ellipsoid, i.e. flattened by its poles,[ just like the shape of an egg of an ostrich].

      [Jadi terdapat bundar yang signifikan pada arti kata “dahaha”. Menurut beberapa etimologis, kata untuk ‘telur unta’ juga memiliki akar kata yang sama dengan ‘dahaha’. Dari hal inilah maka Bumi berbentuk seperti telur Unta. Belakangan para ilmuwan menemukan bentuk bumi tidak sepunuhnya bulat namun ellips mendatar pada kutub2nya [persis seperti bentuk telur unta]

      The Arabic words for “flat” or “level” or “straight shaped” are “sawi” and “almustavi”. There is not a single place in Quran where there is any indication of the earth being “flat” or “straight shaped”. The word “faraash” in 2:22, 51:48; the word “wasia” in 4:97, 29:56, 30:10; the word “mahd” in 20:53, 43:10, 78:6; the word “basaat” in 71:19; the word “suttihat” in 88:20; and the word “tahaaha” in 91:6, all may mean, “to spread”, “to expand” or “to extend” with slight differences in their connotations but none signify the earth being straight-shaped or flat.

      [Dalam bahasa arab, kata untuk ‘datar’ atau ‘dataran’ atau ‘bentuk lurus’ adalah ‘sawi’ dan ‘lamustavi’. Tidak ada satu tempatpun di Qur’an yang mengindikasikan bahwa bentuk bumi adalah datar. atau berbentuk lurus. Kata ‘Faraash’,’mahd’,‘’basaat’, ‘suttihat’ dan ‘tahaha’. Dapat saja berarti ‘membentangkan, menghamparkan dengan berbeda sedikit konotasinya namun bukan berarti bahwa bumi berbentuk lurus atau datar]

      [sumber: Quranic teachings: Earth-shape ]

Benarkah ‘DAHAHA’ artinya berbentuk telur atau telur burung onta atau merujuk pada permainan lempar batu kedalam lubang yang dilakukan masyarakan Mekkah?

Dalam bahasa arab, setiap kata ada akarnya. Akar tersebut biasanya terdiri dari 3 huruf yang apabila ditambahkan vowel, prefik dan suffik dapat menjadi kata berbeda dan mempunyai arti yang berbeda pula

    Contoh:
    “ka-ta-ba” (menulis) merupakan akar dari banyak kata seperti kitab (buku), maktaba (perpustakaan), katib (Orang yang me- [karang / catat / tulis] / sekretaris), maktoob (tertulis), kitabat (tulisan) dan lain sebagainya.

Kata arab “Duhiya”. bukanlah merupakan akar kata. Ini adalah kata benda yang merupakan turunan dari from “da-ha-wa”, akat yang sama yang berasal dari “dahaha” berasal.

Kata ‘almadahi’ dan ‘udhiyatun’ yang menyatakan ‘bundar’ dihubungkan dengan akar kata dahaha adalah keliru

Kata ‘berbentuk bundar’-nya ‘almadahi’ dan ‘udhiyatun’ merupakan adalah dua dimensi. The almadahi adalah bundar seperti bentuk roti bundar, seperti cakram dan begitu pula dengan ‘udhiyatun.

Lagi pula, arti lainnya dari kata ‘Dahaha’ adalah melempar yang merupakan turunan bentuk kata ‘almadahi’ dan ‘udhiyatun’

Bukti megenai hal itu didapat dari Lane’s leksikon, yang juga dirujuk oleh para ulama-ulama islam dalam mengambil pengertian/penjelasan di artikel di atas, Namun rupanya link-link pihak Islam di atas SENGAJA tidak menyinggung adanya bentuk dua dimensi dari permainan orang mekkah tersebut. Dan mereka membelokan arti Dahaha menjadi bukan Melempar, bukan tempat meletakan telur namun malah diartikan sebagai telur.

    Quote:

    Dahw
    1. Daha (., MM_b;,, 1,) first pers. Dahouth aor, yad’hoo inf. N. dahoo He spread; spread out, or forth; expanded; or extended; (S, Msb, K; ) a thing; (K; ) and, when said of God, the earth; (Fr, S, Mb, 1V; )

    [Daha…berasal dari Persia. Dahouth…Ia membentangkan, menyebarkan atau seterusnya, meluaskannya, melebarkan sesuatu dan, ketika dikatakan oleh Tuhan, Bumi]

    As also daha first pers. dahaithu (K in art. daha) aor. yaad’heae inf. n. dahae: (Msb, and K in art. dahae : ) or He (God) made the earth wide, or ample; as explained by an Arab woman of the desert to Sh: (TA : ) also, said of an ostrich, (S, TA,) he expanded, and made wide, (TA,) with his foot, or leg, the place where he was about to deposit his eggs: (S, TA : ) and, said of a man, he spread, &c., and made plain, even, or smooth. (TA in art. dhaha ) – Also, said of a man, (K,,) aor. yad’hoo, inf. n. dahwu(TA,) i.q. Jamie as also daja; on the authority of 1Abr. (TA.) [You say, dhahaha He compressed her; like as you say, dhajaha.] _

    [juga dikatakan daha berasal dari persia. Daihaithu …atau Ia (Allah) membuat bumi meluas atau cukup, sebagaimana dijelaskan oleh wanita arab padang pasir untuk…juga dikatakan burung unta, Ia memperluas dan melebarkan dengan kaki atau tungkainya, tempat di mana ia akan meletakan telurnya… dan dikatakan tentang seorang pria, ia menghamparkan, menyebarkan dan membuat datar, rata atau halus (TA in art.dhaha)…dhawu menekan]

    Also He threw, or cast, and impelled, propelled, oi removed from its place, a stone, with his hand (TA.) One says also, to him who is playing with walnuts, abidil maddha va adhhuhu, meaning [Make thou the distance far, and] throw it. (S,TA.: See also midh’hath, in two places. And of a torrent one says, dhaha bilbat’hai It cast along [the soft earth and pebbles in its course; or drove then along]. (TA.) And of rain, one says, dhaha Al hissa an waj’hil Ardhi (S,Msb) It drove the pebbles from the surface of the earth; (Msb; ) or removed them. (TA.) [See also dhaha, in the next art.] And aldhahwu bilhijarathi also signifies The vying, one with another, in throwing stones, and striving to surpass [in doing so]; as also al Midahath [inf. n- of dahee]. (TA marra yad’hoo inf.n. dahow said of a horse, He went along throwing out his fore legs without raising his hoofs much from the ground.

    [Juga dikatakan melempar, mendorong atau memindahkan dari tempat asal, batu dengan tangan.. Seserang berkata juga, padanya yang sedang bermain dengan kacang walnut, abidil maddha va adhhuhu, berarti [membuat jarak menjadi jauh dan] melemparkan…juga dikatakan jatuh… melemparkan batu dan berusaha menjauhi…dahow dikatakan seperti kuda yang menendangkan sesuatu dengak kaki belakangnya tanpa terlalu mengangkat kaki dari tanah,]

    (S,TA.) = dhahal bathan The belly was, or became, large, and hanging down; (Kr, K; ) and Indhahee (the belly) was, or became, wide, or distended: (MF : ) or both signify it (the belly) became swollen, or inflated, or big,. and hung down, by reason of fatness or disease; as also Dhau and Indah (TA in art dooh.)

    [dhahal batan (perut) menjadi, besar, bergantung. Indhahlee (perut) menjadi bengkak, melebar, menggelembung, besar dan bergantung…]

    3. Dhahee inf.n. Mudahath: see 1.
    5. Thud’hee He spread out, or extended, himself; syn. Thabassuth. (K: in art. Daha.) You say, nama fulan fathadhahha Such a one slept, and [extended himself so that he] lay upon a vide space of ground (TA in that art.) – And thadhahhathil ibilu fil ardhi The camels made hollows in the ground where they lay down, it being soft; leaving therein cavities like those of bellies: thus they do only when they are fat. (El-‘Itreefee, TA in art. Daha.)
    7. see 1, last sentence.
    9. id’havi [of the measure if’alath for if’alle like Ar’awa] It (a thing, TA) was, or became, spread, spread out or forth, expanded, or extended. (K.)

    [thud’hee, menyebarkan, menghamparkan…berbaring di….id’havi sesuatu, mejadi , meluas, menyebar, membesar,meluas]

    Dhahin [act. part n. of 1]. Allahumma dhahil Mad’huwwath in a prayer of ‘Alee, means O God, the Spreader and Expander of the [seven] earths: (TA : ) al Mdhuwwath [properly] signifies the things that are spread, &c.; as also Al Mudh’hiyyath. (TA in art. dhaha ) _ Al’Matharuddahee The rain that removes [or drives] the pebbles from the surface of the earth. (TA.)

    [Dhahin meluaskan, menyebarkan…menghamparkan ..almudh’hiyyath, al’madthruddahee, seperti mendorong kerikil di permukaan bumi]

    Ud’hiyy (S.K) (Originally od’huwa of the measure Uf’ool from dhahaithu but said in the S to be of that measure from dhahouthu the dial.

    [Ud’hiyy, odhuwa, dari dhahaithu ]

    var. dhahaithu not being there mentioned,] and and id’hiyy and Ud’hiyyath and ud’huwwath (K) The place of the laying of eggs, (S, K,) and of the hatching thereof, (S,) , of the ostrich, (S. K. ) in the sand; (K; ) because that bird expands it, and makes it wide, with its foot, or leg; for the ostrich has no [nest such as is termed]. Ush (S: ) pl. Adahin (TA in the present art.) and Adahee [i. e., if not a mistranscription, Adahiyyu agreeably with the sing.]: (TA in art. dhaha and mudhhiyya [likewise] signifies the place of the eggs of the ostrich. (S.) [Hence,] binthu Adh’hiyyathun A female ostrich. (TA.)_[Hence also,]

    [..dan id’hiyy dan ud’hiyyath dan ud’huwwath, tempat meletakan telur-telur untuk dierami, dari burung Unta, di pasir; Karena burung itu meluaskan itu dan membuatnya lebar dengan kakinya atau tungkainya karena burung unta tidak punya [sarang seperti untuk dimasukan].. Adahin, Adahee, Adahiyyu, dalam Dhaha dan Mudhhiyya berarti tempat telur-telur dari burung Unta….]

    Al Udkhiyyu and Al Id’hiyyu A certain Mansion of the Moon, (K, TA,) [namely, the Twenty-first Mansion,] between the Na’aai’m sa’dha zabih (more commonly) called Al Baldath likened to the Adhahhee of the ostrich. (TA.)

    [Al Udkhiyyu dan Al Id’hiyyu..Rumah besar tertentu di bulan (?)…]

    Ud’huwwath and udh’hiyyath: see the next preceding paragraph, in three places: – and for the latter, see also mid’hath, below.

    Mad’han see ud’hiyy

    Mid’hath A wooden thing with which a child is driven along (yud’ha), and which, passing over the ground, sweeps away everything against which it comes (K, TA.) –

    [Mid’hath, sebentuk Kayu dimana seorang anak di tarik..melewati tanah…]

    Accord. to Sh, A certain thing with which the people of Mekkeh play: he says, I heard El-Asadee describe it thus: Almadahiyy and Almasadiyy signify stones like the [small round cake of bread called] qursath, according to the size which a hole is dug, and widened a little: then they throw those stones (yad’hoona biha) to that hole and if the stone fall therein, the person wins; but if not, he is overcome: you say of him yad’hoo and yasdoo when he throws the stones (Iza dhahaha) over the ground to the hole: and the hole is called ud’hiyyath. (TA.) [Accord. to Freytag, the authority of the Deewan El-Hudhaleeyeen, A round thing made of lead, by the throwing of which persons contend together.]
    Almadhuwwath and almad’hiyyath see Dahin,

    [Menurut Sh, Suatu bentuk permainan orang Mekkah: Ia berkata, Aku denganr El-Asadee menjelaskan itu demikian: Almadahiyy dan Almasadiyy berarti lempengan batu-batu seperti sebuah [kue roti piringan kecil] yang dinamakan Qursath, sesuai ukuran lubang yang digali dan sedikit diperbesar: kemudian mereka melemparkan lempengan batu-batu itu ke dalam lubang. Jika masuk maka yang melempar menang. Engkau akan katakan padanya yad’hoo dan yasdoo ketika ia melemparkan batu (Iza Dhahaha) melewati lubang tanah. Lubang itu dinamakan Ud’hiyyath. Suatu lingkaran dibuat yang membatasi yang bertanding lempar batu tersebut]

    Dhaha

    1. Dhaha first pers. Dhahaithu,aor. yad’ha inf.n. dhah’ya: see 1 in art. Dhahoo.__ dhahaithul ibil (K,) inf. n. as above, (TA,) I drove the camel,; (K; ) as also dhahaithuha (TA.)

    [Dhaha, berasal dari persia. Dhahaithu, lihat artikel diatas..Aku mendorong unta..]

    [4 mentioned by Freytag as on the authority of the K is a mistake for 5.]

    5 (mentioned in this art. in the V and TA): see art. Dhahoo
    7 (mentioned in this art. by MF): see art. Dhahoo.

    Dhah’yath A single act of dhahy, i. e. spreading, (Msb.) = A she-ape, or she-monkey. (K.) dhihyath A mode, or manner, of dhahyu, i. e. spreading, &c. (Msb.) = A headman, or chief, (R, K, TA,) in an absolute sense, in the dial. of El-Yemen, (R, TA,) and particularly, of an army, or a military force. (K, TA.) AA says that it signifies “a lord,” or “chief,” in Pers.; but seems to be from dhahahu aor. yadh’hoohu, meaning “he spread it, and made it plain or even ;” because it is for the headman or chief to do this; the a. being changed into LS as it is in swibyath and fith’yath; and if so, it belongs to art. dahoo. (TA.) [Accord. to Golius, the pl. is dihau; but I think that it is more probably dhahan.] It is in a trad. that what is called Albaithul Ma’emoor [q.v. in art. Amr] is entered every day by seventy thousand companies of angels, every one of these having with it a dhih’yath and consisting seventy thousand angels. (TA.)

    Ud’hiyyun and Id’hiyyun see art. dhaha.
    Ud’hiyyath: see ud’hiyyu, in art. dahoo, in two places.

    [Dhah’yath, aksi tunggal dari dhahy, contoh melebarkan, (Msb.) = memonyet betina. Dhihyath tingkah laku; dhahyu membentangkan. Dhahahu aor.yadh’hoohu berarti “Ia membentangkan itu, dan menjadikan itu datar atau rata“..]

    [Sumber: Study Quran: LaneLexicon, Vol. 3[Pdf]]

    Note:

    • Lane leksikon, menterjemahkan Dahaha sebagai tempat di pasir dimana ostrich (Burung Unta) meletakan telurnya dan bukan di artikan sebagai Telur
    • Tidak ada satu tempatpun di leksikon tersebut diatas yang mendukung pernyataan bahwa arti Dahaha adalah Telur Unta
    • Peneliti menyatakan bahwa bumi berbentuk ‘oblate spheroid’ sedangkan telur burung onta adalah ‘prolate spheroid’. Sehingga bumi dan telur burung onta tidaklah serupa secara tiga dimensi.
    • Iza Dhahaha, berarti Melemparkan batu, tidak ada satu tempatpun di leksikon tersebut di atas yang mendukung pernyataaan bahwa ‘Iza Dhahaha’ diartikan ‘ketika ia melempar batu melewati lubang di tanah’

دَحَا = ‘daha’= membentangkan , level off , level. Suku kata ‘ha’ terakhir = هَا dalam dahaha berarti ini. Jadi dahaha artinya membentangkan ini, level off this, level ‘this’.[menurut: Dictionary Ajeeb]

Dari Lisan Al Arab:
Quote:
الأُدْحِيُّ و الإدْحِيُّ و الأُدْحِيَّة و الإدْحِيَّة و الأُدْحُوّة مَبِيض النعام في الرمل , وزنه أُفْعُول من ذلك ,
لأَن النعامة تَدْحُوه برِجْلها ثم تَبِيض فيه وليس للنعام عُشٌّ . و مَدْحَى النعام : موضع
بيضها , و أُدْحِيُّها موضعها الذي تُفَرِّخ فيه .ِ

Terjemahan:
“Al-udhy, Al-idhy, Al-udhiyya, Al-idhiyya, Al-udhuwwa: Tempat di pasir dimana burung Onta meletakan telurnya. Karena tidak mempunyai sarang, maka burung Onta meratakan tanah dengan kakinya kemudian menaruh telurnya di sana”

Arti kata “dahaha”, di kamus bahasa Arab:
Al Qamoos Al Muheet:
Quote:

(دَحَا): الله الأرضَ
(يَدْحُوهَا وَيَدْحَاهَا دَحْواً) بَسَطَها

“Allah daha the Earth: Ia membentangkannya”

Al Waseet:
Quote:
دَحَا الشيءَ: بسطه ووسعه. يقال: دحا اللهُ الأَرض

“men- daha sesuatu: berarti membentangkannya. Contoh: Allah membentangkan bumi”

Lisan Al Arab:
Quote:

الدَّحْوُ البَسْطُ . دَحَا الأَرضَ يَدْحُوها دَحْواً بَسَطَها . وقال الفراء في قوله والأَرض بعد ذلك دَحاها
قال : بَسَطَها ; قال شمر : وأَنشدتني أَعرابية : الحمدُ لله الذي أَطاقَا
بَنَى السماءَ فَوْقَنا طِباقَا
ثم دَحا الأَرضَ فما أَضاقا
قال شمر : وفسرته فقالت دَحَا الأَرضَ أَوْسَعَها ; وأَنشد ابن بري لزيد بن عمرو بن نُفَيْل :
دَحَاها , فلما رآها اسْتَوَتْ
على الماء , أَرْسَى عليها الجِبالا
و دَحَيْتُ الشيءَ أَدْحاهُ دَحْياً بَسَطْته , لغة في دَحَوْتُه ; حكاها اللحياني . وفي حديث عليّ وصلاتهِ
, اللهم دَاحِيَ المَدْحُوَّاتِ يعني باسِطَ الأَرَضِينَ ومُوَسِّعَها , ويروى ; دَاحِيَ المَدْحِيَّاتِ . و الدَّحْوُ البَسْطُ . يقال : دَحَا يَدْحُو و يَدْحَى أَي بَسَطَ ووسع

“men-daha(kan) bumi berarti membentangkannya”

Juga,
Ibn Kathir memberikan penafsiran Quran:

    Quote: (30. And after that He spread the earth,)[lihat: tafsir]

    berikut penjelasan Ibn kathir pada surat 2:29 yang berkenaan dengan kata “DAHA”:

    Sahih Al-Bukhari merekam bahwa ketika Ibn ‘Abbas ditanya mengenai hal ini, Ia mengatakan bahwa Bumi diciptakan sebelum langit, dan bumi di jalarkan/dibentangkan/dihamparkan [“spread”] hanya setelah langit diciptakan. Beberapa ahli tafsir masa lalu dan kini juga menyatakan hal serupa, seperti yang telah kita elaborasi pada tafsir surat An-Nazi (bab 79). Hasil dari diskusi tersebut adalah kata “Daha” (diterjemahkan sebagai “spread”) sebagai mana disebutkan dan diterangkan pada kalimat Allah,

    [وَالاٌّرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَـهَا – أَخْرَجَ مِنْهَا مَآءَهَا وَمَرْعَـهَا – وَالْجِبَالَ أَرْسَـهَا ]

    (Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh)(79:30-32)

    Oleh karenanya, “Daha” berarti bahwa harta bumi yang dibawakan pada permukaannya setelah selesainya pekerjaan penciptaan apapun yang ditempatkan di bumi dan langit. ketika bumi telah menjadi Daha, air memancar di permukaannya menumbuhkan berbagai tipe, warna, bentuk dan jenis tanaman. [Perhatikan: Kondisi sangat cocok dan berkesesuaian dengan kosmologi bumi di atas punggung ikan paus]

Tafsir Al-Jalalyn (karya Jalaluddin Muhammad Al Mahally dan disempurnakan oleh Jalaluddin Abdur Rahman As Sayuthi) menyatakan:

    dan kemudian Ia tarik/jalarkan bumi: Ia menjadikan itu DATAR, yang diciptakan terlebih dahulu daripada langit, tapi belum dijalarkan/ditarik

10 (Sepuluh) penafsir ayat Qur’an dibawah ini, menafsir ‘dahaha’ TIDAK BERARTI ‘berbentuk telur’:

  • Literal: And the earth/Planet Earth after that He blew and stretched/spread it.
  • Yusuf Ali: And the earth, moreover, hath He extended (to a wide expanse);
  • Pickthal: And after that He spread the earth,
  • Arberry: and the earth-after that He spread it out,
  • Shakir: And the earth, He expanded it after that.
  • Sarwar: After this, He spread out the earth,
  • Hilali/Khan: And after that He spread the earth;
  • Malik: After that He spread out the earth,[30]
  • Maulana Ali: And the earth, He cast it after that.
  • Free Minds: And the land after that He spread out.

Dalam bahasa Indonesia
[79:30] Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.

Mengapa perlu disampaikan sampai 10 Penterjemah Qur’an [sebetulnya ada lebih dari itu jumlahnya] untuk mengartikan arti ayat 79:30? Karena muslim rata-rata kepala batu dan tidak dapat menerima kenyataan pahit bahwa semua terjemahan yang tidak bertujuan POLITIS untuk MENIPU sepakat semua bahwa artinya BUKAN berarti BENTUK TELUR!

Untuk itulah seharusnya membaca QURAN tidak SEPOTONG-SEPOTONG, sehingga artinya tidak ngawur dan seenak jidatnya, seharusnya lihat sekelompok ayat yaitu: AQ 79:27-33, yang menjelaskan “MEMBANGKITKAN MANUSIA ADALAH MUDAH BAGI ALLAH SEPERTI MENCIPTAKAN ALAM SEMESTA” versi ISLAM

Sekelompok ayat tersebut dimaksudkan untuk menjelaskan mudahnya penciptaan manusia [79:27] VS penciptaan Bumi dan langit [79:28-33]

Detail penciptaannya: BUMI – LANGIT – BUMI: Setelah memisahkan langit bumi yang dahulunya ditemukannya dalam keadaan berpadu [21.30], Ia menciptakan bumi [AQ 41:9-10]. Kemudian penciptaan langit: membangunnya, meninggikan atapnya kemudian disamaratakan [79:27-28 & 41.11], siang dan malam [79:29. 41.12], kembali menyelesaikan Bumi [79:30] dan “melengkapinya” dengan:

memancarkan mata air, menyuburkannya, gunung-gunung dipancangkan [79:31-32]

Untuk:

Manusia dan ternaknya [79:33]

Sudah jelas bahwa ayat 79:30 tidak menyatakan bentuk telur namun semacam judul: “menghamparkan atau membentangkan atau mengembangkan”

Tanggapan bahwa ‘Dahaha’ sama sekali tidak berarti berbentuk telur atau telur burung onta di ambil dari link sebagai berikut:

Lihat juga di situs:



Sekarang jelas sudah bahwa Pendapat Ibnu Hazm, Ibnu Al-Jawzi, Ibnu Taymiya dan Ibnu khaldun (jika benar mereka berpendapat demikian) justru bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadis. Untuk itu kita perlu ketahui darimana asal muasal pendapat itu muncul di dunia Islam.

Rekam Jejak Sejarah Mengapa Para Cendekiawan Muslim pertengahan seperti Ibnu Hazm, Ibnu Al-Jawzi, Ibnu Taymiya dan Ibnu Khaldun akhirnya Ikut menyatakan bahwa bumi itu bulat

Perubahan pendapat ini mulai berkembang sejak Dinasti Abbasid, di mana banyak naskah kuno Yunani, India dan Persia diterjemahkan ke dalam bahasa arab pada abad ke 9. Zij al-Sindhind, yang berasal dari Surya Siddhanta dan karya-karya dari Brahmagupta, diterjemahkan oleh Muhammad al-Fazari dan Yaqūb ibn Tāriq pada tahun 777. Penterjemahan ini dilakukan setelah Indian astronomer datang mengunjungi pusat tempat Al-Mansur in 770. Naskah kuno persia yang diterjemahkan adalah Zij al-Shah.

Boyer (1991). “The Arabic Hegemony”,P. 226:

    Di tahun 766, karya astronomical matematik yang dikenal di Arab sebagai Sindhind, dibawa ke bagdad dari India. Umumnya dikenal sebagai Brahmasputa Siddhanta (Brahmagupta), Ada kemungkinan bahwa itu adalah Surya Sidhanta. Di sekitar tahun 775 Sidhanta ini diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Dan tidak beberapa lama kemudian (780 M) ‘tetrabiblos’ dari Ptolemy diterjemahkan kedalam bahasa Arab.

Brahmagupta, and the influence on Arabia:

    Melalui Brahmasphutasiddhanta, bangsa arab mengetahui tentang Astronomi India. Kalifah Abbasid, Al-Mansur (712–775) mendirikan Baghdad di tepi sungai tigris sebagai pusat pengajaran. Khalifah tersebut mengundang pelajar dari Ujjain yang bernama Kankah pada tahun 770. Kankah menggunakan Brahmasphutasiddhanta untuk menerangkan system aretmetic astronomi Hindu. Atas permintaan Khalifah, Muhammad al-Farazi menterjemahkan karya Brahmagupta ke dalam bahasa Arab

Al Basyar Vol. IV th 2005, Ulum al Awail, Ditulis Oleh KH. Husein Muhammad:

    ..sejarah peradaban Islam abad pertengahan telah memperlihatkan kepada kita bagaimana para khalifah Islam memberikan apresiasi yang tinggi terhadap Ulum al Awail. Sejak abad VIII Masehi, Khalifah Harun al Rasyid telah menarik ke istananya para cerdik pandai dan ahli bahasa dari segala bangsa dan agama. Mereka ditugasi menerjemahkan buku-buku Ulum al Awail. Penggantinya, khalifah Makmun, bahkan mendirikan sekolah penerjemah dan perpustakaan besar: “Bait al Hikmah” yang berisi sejuta buku.

    Salah seorang penerjemah kenamaan adalah Hunain bin Ishak seorang Kristen. Dialah yang kemudian menterjemahkan karya-karya kedokteran matematika, astronomi, fisika di samping karya-karya filsafat, etika dan politik para sarjana Barat. Sementara Al Fazari menerjemahkan buku astronomi India; Shidanta karangan Brahmagupta.

    Dari karya penerjemahan Ulum al Awail ini kemudian lahir para sarjana, ilmuwan dan filosof muslim; Al Farabi, al Razi, al Khawarizmi, Ibnu Sina, Ibnu Thufail, Ibnu Rusyd, Ibnu Haitsam, Al Biruni, Ibnu Khaldun dan lain-lain. Mereka kemudian mengulas, mengkritisi dan mengembangkan pikiran-pikiran Ulum al Awail dalam bentuknya yang sangat menakjubkan melalui tulisan-tulisan mereka. Berkat mereka ilmupengetahuan dan peradaban Islam mencapai puncak kejayaannya dan memberikan sumbangan yang berarti bagi dunia modern di Barat.

    Adalah menarik bahwa Imam Syafi’i, pendiri mazhab fiqh besar, ternyata pernah mempelajari bahasa Yunani. Ibnu al Qayyim dalam bukunya “Miftah Dar al Sa’adah” mengutip informasi dari Abu Abdullah al Hakim dalam bukunya “Manaqib al Syafi’i” bahwa al Syafi’i suatu hari pernah mengatakan: “Aku memahami pikiran-pikiran Aristoteles, Mahraris, Porporius Galenus Epicurus dan Asdoples, melalui bahasa mereka”. (Sami Nasyar, Manahij al Bahts ‘Inda Mufakiri al Islam”, 84).

    Note:
    Ulum al Awail berarti ilmu-ilmu klasik, kuno atau ilmu-ilmu sebelum Islam. Tetapi istilah ini dimaksudkan sebagai ilmu-ilmu yang dihasilkan oleh kebudayaan Yunani melalui para filosofnya, seperti Plato, Aristoteles, Galenus, Hippocritus dan lain-lain. Bahkan mungkin juga yang dihasilkan oleh kebudayaan India atau Cina. Dalam konteks yang lain “Ulum al Awail” juga berarti “Ulum al Ghair”, atau “Ulum al Ajanib”, ilmu-ilmu asing.

David E. Duncan, The Calendar, Fourth Estate, London, 1999, pp.150-210 menulis sebagai berikut:

    Pada tahun 773, sekitar 250 tahun setelah kematian Aryabhat (476-550). Suatu delegasi diplomat tiba dari dataran rendah lembah sungai Indus di Ibukota Arab yang baru yaitu Bagdhad. Berpakaian sutra dengan warna cerah, memakai sorban dan dihiasi permata. Tiba di luar gerbang kota Al-Mansur (754-775) yang indah, utusan khusus ini membawa seorang ahli astronomi bersama mereka, Kanaka, seorang ahli menenai gerhana, Ia membawa kumpulan kecil pustaka tentang Astronomi India untuk diberikan kepada sang Khalifah, termasuk didalamnya adalah Surya Siddhanta, karya Brahmagupta dan karya Aryabhata. Tidak banyak yang diketahui tentang Kanaka. Referesi pertama yang diketahui tentang Kanaka ditulis sekitar 500 tahun kemudian oleh seorang sejarahwan Arab yang bernama Al-Qifti

    Menurut Al Qifti, sang khalifah begitu terpesonannya dengan pengetahuan yang terdapat di tulisan-tulisan bangsa India. Ia kemudian memerintahkan untuk menterjemahkannya ke dalam bahasa arab dan kemudian dinamakan ‘Sindhind yang besar’ (Sindhind adalah kata Arab untuk kata sangsekertanya Siddhanta).”

    Dimana kemudian Mereka (Arabia) pergi ke eropa yang Kristen melalui syria, dan kemudian menduduki spanyol. Pada tahun 1126 Sindhind diterjemahkan kedalam bahasa latin. Ini merupakan satu di antara lusinan document penting yang memberikan kontribusi pengetahuan yang dibutuhkan untuk mendorong eropa pada era modern” tambah Duncan

    … Ketika para penduduk Baghdad mengetahui dari karya Aryabhata bahwa bumi itu Bulat dan berdiameter 8316 mil, berputar pada porosnya. Banyak dari mereka yang kemudian mempercayainya dan berkeinginan juga untuk mengukurnya sendiri. Inspirasi yang sama membawa mereka para penduduk Abbasid untuk mengembangkan eksperimen-eksperimen. Suatu fakta bahwa bangsa Arab yang selalu berusaha untuk memperluas perbatasan mereka memasuki Eropa menjadi tidak lagi menginvasi India setelah kemenangan atas Sind dan di Sind juga, pembantaian dan pemaksaan untuk pindah agama kemudian berhenti dilakukan. Apakah alasannya karena sedikit menghargai India? Kata Matematik dalam bahasa arab adalah ‘hindi’ yang berati ‘seni India’.

Sumber lain juga menyatakan bahwa penterjemahan karya aryabhata ‘aryabhatiya’ dilakukan oleh Al khwarizmi (780-850) di abad ke 8. Penterjemahan dalam bahasa latin dilakukan pada abad ke 13.

Tahun 1030, Al Biruni (973-1048) melakukan diskusi mengenai karya Aryabhata, Brahmagupta dan Varahamihira dalam Ta’rikh al-Hind (Dalam Inggris, Chronicles of India). Beliau sering kali mengutip Brahmagupta’s Brahmasiddhanta untuk bumi berputar pada rotasinya. [Edward Sachau (tr. and ed.), Alberuni’s India, Indialog Publications, New Delhi, ISBN 81-87981-42-3, p.207-8)] []



Fatwa Matahari mengelilingi Bumi

Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin ditanya: “Apakah Matahari berputar mengelilingi bumi?”.

Jawaban:

“Dhahirnya dalil-dalil syar’i menetapkan bahwa mataharilah yang berputar mengelilingi bumi dan dengan perputarannya itulah menyebabkan terjadinya pergantian siang dan malam di permukaan bumi, tidak ada hak bagi kita untuk melewati dhahirnya dalil-dalil ini kecuali dengan dalil yang lebih kuat dari hal itu yang memberi peluang bagi kita untuk menakwilkan dari dhahirnya.

Diantara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa matahari berputar mengelilingi bumi sehingga terjadi pergantian siang dan malam adalah sebagai berikut:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Ibrahim akan hujahnya terhadap yang membantahnya tentang Rabb. “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” [Al Baqarah : 258]

  • Maka keadaan keadaan matahari yang didatangkan dari timur merupakan dalil yang dhahir bahwa matahari berputar mengelilingi bumi.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman juga tentang Ibrahim. “Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: ‘Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar’, maka tatkala matahari itu terbenam dia berkata : ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.'” [Al-An’am : 78]

  • Jika Allah menjadikan bumi yang mengelilingi matahari niscaya Allah berkata: “Ketika bumi itu hilang darinya”.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka berada disebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu.” [Al-Kahfi : 17]

  • Allah menjadikan yang condong dan menjauhi adalah matahari, itu adalah dalil bahwa gerakan itu adalah dari matahari, kalau gerakan itu dari bumi niscaya Dia berkata: “gua mereka condong darinya(matahari)”. Begitu pula bahwa penyandaran terbit dan terbenam kepada matahari menunjukkan bahwa dialah yang berputar meskipun dilalahnya lebih sedikit dibandingkan dilalah firmanNya “(condong) dan menjauhi mereka)”.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang,matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” [Al-Anbiya’ : 33]

  • Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata:”Berputar dalam suatu garis peredaran seperti alat pemintal”. Penjelasan itu terkenal darinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat,” [Al-A’raf : 54]

  • Allah menjadikan malam mengejar siang, dan yang mengejar itu yang bergerak dan sudah maklum bahwa siang dan malam itu mengikuti matahari.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang banar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” [Az Zumar : 5]

  • FirmanNya: “Menutupkan malam atau siang” artinya memutarkannya atasnya seperti tutup sorban menunjukkan bahwa berputar adalah dari malam dan siang atas bumi. Kalau saja bumi yang berputar atas keduanya (malam dan siang) niscaya Dia berkata: “Dia menutupkan bumi atas malam dan siang”.
  • Dan firmanNya: “matahari dan bulan, semuanya berjalan”, menerangkan apa yang terdahulu menunjukkan bahwa matahari dan bulan keduanya berjalan dengan jalan yang sebenarnya (hissiyan makaniyan), karena menundukkan yang bergerak dengan gerakannya lebih jelas maknanya daripada menundukkan yang tetap diam tidak bergerak.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya,” [Asy-Syam : 1-2]

  • Makna (mengiringinya) adalah datang setelahnya. dan itu dalil yang menunjukkan atas berjalan dan berputarnya matahari dan bulan atas bumi. Seandainya bumi yang berputar mengeliligi keduanya tidak akan bulan itu mengiringi matahari, akan tetapi kadang-kadang bumi mengelilingi matahari dan kadang-kadang matahari mengeliling bulan, karena matahari lebih tinggi dari pada bulan. Dan untuk menyimpulan ayat ini membutuhkan pengamatan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dan malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan, dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai tandan yang tua. Tidaklah mugkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yaa-Siin : 37-40]

  • Penyandaran kata berjalan kepada matahari dan Dia jadikan hal itu sebagai kadar/batas dari Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui menunjukkan bahwa itu adalah haqiqi (sebenarnya) dengan kadar yang sempurna, yang mengakibatkan terjadinya perbedaan siang malam dan batas-batas (waktu).
  • Dan penetapan batas-batas edar bulan menunjukkan perpindahannya di garis edar tersebut. Kalau seandainya bumi yang berputar mengelilingi maka penetapan garis edar itu bukannya untuk bulan. Peniadaan bertemunya matahari dengan bulan dan malam mendahului siang menunjukkan pengertian gerakan muncul dari matahari, bulan malam dan siang.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam berkata kepada Abu Dzar radhiallahu anhu dan matahari telah terbenam. “Apakah kamu tahu kemana matahari itu pergi ?” Dia menjawab: “Allah dan RasulNya lebih tahu”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya dia pergi lalu bersujud di bawah arsy, kemudian minta izin lalu diijinkan baginya, hampir-hampir dia minta izin lalu tidak diijinkan. Kemudian dikatakan kepadanya: “Kembalilah dari arah kamu datang lalu dia terbit dari barat (tempat terbenamnya) atau sebagaimana dia bersabda [Muttafaq ‘alaih] (1)

  • PerkataanNya: “Kembalilah dari arah kamu datang, lalu dia terbit dari tempat terbenamnya” sangatlah jelas sekali bahwa dia (matahari) itulah yang berputar mengelilingi bumi dengan perputarannya itu terjadinya terbit dan terbenam.

Hadits-hadits yang banyak tentang penyandaran terbit dan terbenam kepada matahari, maka itu jelas tentang terjadinya hal itu dari matahari tidak kepada bumi.”

  • Boleh jadi disana masih banyak dalil-dalil lain yang tidak saya hadirkan sekarang, namun apa yang telah saya sebutkan sudah cukup tentang apa yang saya maksudkan. Wallahu Muwaffiq.”

[Sumber: Majmu Fatawa Arkanul Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah Dan Ibadah, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Terbitan Pustaka Arafah]
—————–

Catatan Kaki

  • (1) Dikeluarkan oleh bukhari, Kitab Bad’ul Khalqi, bab shifat asy syam wal qamar : 3199, dan muslim, kitab Al Iman, bab Bayan az Zaman al Ladzi la yuqbal fihil Iman : 159
  • Riwayat singkat Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Tokoh Ahlus Sunnah dari Unaizah ini Dilahirkan di kota Unaizah tanggal 27 Ramadhan 1347 H (1927)- meninggal 15 Syawal 1421 H (10 Januari 2001) dalam usia 74 tahun. Belajar Al-Qur’an dari kakeknya dari ibunya yaitu Abdurrahman Bin Sulaiman Ali Damigh Rahimahullah. Guru utama beliau yang pertama adalah Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’di, Guru kedua Beliau adalah Abdul Aziz Bin Baaz.

    Ketika Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’di wafat, beliau menggantikan sebagai imam masjid jami’ di Unaizah dan mengajar di perpustakaan nasional Unaizah disamping tetap mengajar di ma’had Al Ilmi. Kemudian beliau pindah mengajar di fakultas syari’ah dan ushuludin cabang universitas Al Imam Muhammad Bin Su’ud Al Islamiyah di Qasim. Beliau juga termasuk anggota Haiatul Kibarul Ulama di Kerajaan Arab Saudi. Beliau telah menulis 42 Buku. []



Apa Kata Hadis Sahih Bukhari dan Muslim: Manakah yang bergerak/mengitari, Matahari ataukah Bumi?

Sahih Bukhari

    Riwayat Muhammad bin Yusuf – Sufyan – Al A’masy – Ibrahim at-Taymiy – bapaknya – Abu Dzar – Nabi SAW berkata kepada Abu Dzar ketika matahari sedang terbenam: “Tahukah kamu kemana matahari itu pergi?”. Aku jawab; “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Beliau berkata: “Sesungguhnya dia akan terus berjalan hingga bersujud di bawah al-‘Arsy lalu dia minta izin kemudian diizinkan dan dia minta agar terus saja bersujud namun tidak diperkenankan dan minta izin namun tidak diizinkan dan dikatakan kepadanya: “Kembalilah ke tempat asal kamu datang”. Maka matahari itu terbit dari tempat terbenamnya tadi”. Begitulah sebagaimana firman Allah QS Yasin ayat 38 yang artinya: (Dan matahari berjalan pada tempat peredarannya. Demikianlah itu ketetapan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui) “. [Bukhari no.2960/4.54.421]

    Riwayat Abu Nu’aim – Al A’masy – Ibrahim At Taimi – Bapaknya – Abu Dzar: Aku pernah bersama Nabi SAW di masjid pada saat matahari mulai terbenam. Lalu beliau bertanya; Wahai Abu Dzar, tahukah kamu dimana matahari terbenam? Aku menjawab; Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Beliau bersabda: “Sesungguhnya matahari itu berjalan hingga ia bersujud di bawah Arsy. Itulah yang dimaksud firman Allah Ta’ala: “dan matahari berjalan ditempat peredarannya.” Beliau bersabda: “Tempat peredarannya berada di bawah Arsy, ” (Yasiin: 38). [Bukhari no.4428/6.60.326]

    Riwayat Al Humaidi – Waki’ – Al A’masy – Ibrahim At Taimi – Bapaknya – Abu Dzar dia berkata; Aku bertanya kepada Nabi SAW tentang firman Allah Ta’ala: “dan matahari berjalan di tempat peredarannya.” Beliau bersabda: “Tempat peredarannya berada di bawah Arsy.” (Yasiin: 38) [Bukhari no.4429/6.60.327].

    Riwayat Yahya bin Ja’far – Abu Mu’awiyah – Al A’masy – Ibrahim (At Taimi) – Ayahnya – Abu Dzar berkata, “Aku masuk masjid sedang Rasulullah SAW duduk. Ketika matahari terbenam, beliau bertanya: ‘Wahai Abu Dzar, tahukah engkau ke manakah matahari ini pergi?” Aku menjawab, ‘Allah dan rasul-Nya lah yang lebih tahu! ‘ Nabi menjawab: “Sesungguhnya matahari ini berjalan meminta ijin untuk sujud sehingga diijinkan, seperti yang telah dikatakan ‘Kembalilah engkau dari tempat engkau datang’, maka ia muncul di sebelah baratnya, ” kemudian beliau membaca: ‘(Itulah tempat tinggalnya) ‘, menurut bacaan Abdullah.” [Bukhari 6874/9.93.520]

Sahih Muslim

    Riwayat Yahya bin Ayyub dan Ishaq bin Ibrahim – Ibnu Ulayyah – Yunus – Ibrahim bin Yazid at-Tamimi – bapaknya – Abu Dzar bahwa Nabi SAW bersabda suatu hari: “Apakah kalian tahu, ke mana matahari ini pergi?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya ini lari beredar hingga berhenti pada tempatnya di bawah Arsy lalu menyungkur sujud, ia tetap demikian hingga dikatakan kepadanya, ‘Kamu naiklah dan kembalilah pada tempat dari mana kamu datang.’ Lalu ia kembali sehingga menjadi terbit dari tempat terbitnya, kemudian lari beredar di mana ia membuat manusia tidak mengingkarinya sedikit pun hingga ia berhenti pada tempat beredarnya yaitu di bawah Arsy, lalu dikatakan kepadanya, ‘Naiklah dan terbitlah pagi hari dari barat’. Lalu ia terbit dari barat.” [Muslim 228/1.297, 298]

    Riwayat Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib (lafazh milik Abu Kuraib) – Abu Muawiyah – al-A’masy – Ibrahim at-Taimi – bapaknya – Abu Dzar: “Saat aku masuk masjid, Rasulullah SAW sedang duduk-duduk, maka tatkala matahari terbenam, beliau bersabda: “Wahai Abu Dzar, apakah kamu tahu kemana matahari ini pergi? ‘ Abu Dzar menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Beliau bersabda: “Ia pergi, lalu meminta izin untuk sujud, maka ia diberi izin untuk sujud, seperti yang telah dikatakan kepadanya, ‘Pulanglah dari arah kamu datang’. Lalu ia terbit dari barat.’ Perawi berkata, ‘Kemudian beliau membaca sebagaimana bacaan Abdullah, ‘Dan itulah tempat untuk matahari‘.” [Muslim 229/1.299]

    Riwayat Abu Sa’id al-Asyajj dan Ishaq bin Ibrahim – Waki – al A’masy – Ibrahim at-Taimi – bapaknya – Abu Dzar dia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah tentang firman Allah: ‘(Matahari beredar pada tempat)’ (Qs. Yasin: 38) Maka beliau bersabda: “Tempatnya adalah di bawah Arsy’.”[Muslim 230/1.300]

Pengertian surat 36:38 sebagaimana dijelaskan Hadis sahih Bukhari dan Muslim di atas menegaskan dua hal yaitu:

  • Matahari yang bergerak dan kemudian bersujud pada Allah, Jadi terbit/tenggelamnya matahari BUKAN karena perputaran bumi pada porosnya namun atas seijin Allah. [QS 36:38; QS 41:37; QS7:54], Lihat Fatwa: Matahari mengelilingi Bumi dan buku:

    Matahari mengelilingi bumi, sebuah kepastian al-Qur’an dan as-Sunnah serta Bantahan terhadap teori bumi mengelilingi matahari”, Pengarang: ahmad sabiq bin abdul lathif abu yusuf, Penerbit: pustaka al-furqon) sehingga/atau

  • Saat matahari “tenggelam” tidak pernah dikatakan ada siang di sisi lainnya. Maka ini hanya dimungkinkan terjadi di sebuah bidang datar dan hanya ada satu sisi permukaan saja yang berisi penghuni. []


Kesimpulan

Terdapat beberapa alasan yang sangat mendasar mengapa SULIT untuk TIDAK sepakat dengan Abd-al-Aziz ibn Abd-Allah ibn Baaz yang menfatwakan BUMI itu DATAR:

  1. Abd-al-Aziz ibn Abd-Allah ibn Baaz adalah seorang arab asli yang sehari-harinya berbicara dalam bahasa arab maka bahasa arab merupakan bahasa Ibu sehingga sudahlah pasti bahwa Ia (dan juga Ibn Kathir, serta penafsir2 lainnya) dapat membedakan arti dan maksud ‘ardh’ dan ‘dahaha’ berserta variasi perubahan akar katanya.
  2. Tanggal 20 Juli 1969 adalah pendaratan apolo 11 di bulan. Televisi juga memperlihatkan bahwa Bumi itu Bulat. Itulah BUKTI VISUAL yang tidak mungkin dilihat oleh Abd-al-Aziz ibn Abd-Allah ibn Baaz, yang jauh-jauh tahun sebelum tahun 1940 sudah buta sehingga pendapatnya bahwa BUMI itu DATAR 100% murni berasal dan berdasarkan Al Qur’an dan Hadis.
  3. Ayat Al Quran dibandingkan dengan Ayat Al Quran, serta Ayat Al Qur’an dibandingkan hadis (Sahih Bukhari) sudah menafsirkan dengan jelas. Tidak ada satupun Ayat yang menyatakan Bumi itu Bulat semua ayat yang dikutip di atas telah meyatakan dan mengindikasikan bahwa BUMI itu DATAR.
  4. Kosmologi Islam menyatakan bumi datar itu ada di punggung seekor ikan paus
  5. Ayat Alqur’an, Hadis Sahih Bukhari dan Muslim menyatakan bahwa Matahari-lah mengelilingi Bumi.
  6. Pendapat Ibnu Hazm, Ibnu Al-Jawzi, Ibnu Taymiya dan Ibnu Khaldun ternyata berasal dari Bangsa KAFIR: India, Yunani dan Mesir.
    Walaupun Pendapat itu SEJALAN dengan science saat ini namun BERTENTANGAN dengan Al Quran dan Sunnatullah sehingga Pendapat itu menjadi kafir adanya. Allah SWT adalah MAHA BENAR dengan SEGALA FIRMANNYA. []



Tradisi India

Rekam jejak Heliocentris dan Bumi itu bulat ditemukan di Veda. Sekurangnya Yajnavalka [900-800 SM] menyatakan bumi berbentuk bulatan, matahari merupakan “pusat dari lingkaran”. Matahari lebih besar dari Bumi, jarak antara matahari – bumi dan juga jarak Bumi – bulan adalah 108x diameternya (dekat dengan perhitungan modern, yaitu: 107.6 diameter bumi untuk jarak Bumi – Matahari dan 110.6 diameter bulan untuk jarak Bulan -Bumi).[Lihat: di sini, di sini dan di sini]

Bumi TIDAK PERNAH dinyatakan diam ataupun menjadi pusat Tata surya:

  • Rig Veda [1.103.2], [1.115.4] dan [5.81.2]: Efek Gravitasi matahari membuat bumi stabil.
  • Rig Veda [10.189.1]: Bulan ini, menjadi satelit bumi, berputar di planet Ibunya (Bumi) dan mengikutinya ber-revolusinya mengitari Matahari, ayah planet yang bercahaya sendiri.
  • Rig Veda [1.164.29]: perputaran bumi tidak berkurang dan bumi terus berputar pada sumbunya
  • Sama Veda [121]: Matahari tidak pernah terbenam ataupun terbit karena bumi yang berotasi

Satapatha Brahmana [8.7.3.10]: “Matahari mengikat dunia-dunia dalam untaian. pengikat adalah vayu (getar/gerak/tarik/angin)”.

Bahkan untuk tata surya,
pemikiran tradisi India berkembang lebih jauh lagi, sebagaimana diterangkan oleh Buddha tentang tiga Lipat Sistem jagad raya (tri-sahasra-mahasahasra-dhatu):

  • Sahassi Culanika lokadhatu yang berisi 1000 matahari, bulan dan tempat tinggal para mahluk (sampai termasuk 1000 alam Brahma)
  • Dvisahassi Majjhimanika lokadhatu, yang berisi 1000 sahassi culanika lokadhatus
  • Tisahassi Mahasahassi lokadhatu, yang berisi 1000 dvisahassi majjhimanika lokadhatus or 1000 x 1000 x 1000 lesser worlds.[1]

Dalam beberapa tempat di Kanonikal teks Pali dan kitab komentar, terdapat pula dasasahassi lokadhatu, yang berarti 10 lipat system jagad, tidaklah terbayangkan seperti apa.[2]

  1. Anguttara-nikaya, vol. i, p. 226, P.T.S., London; Samyutta-nikaya Atthakatha, vol. ii, p. 525, P.T.S., London.
  2. Buddhavansa Atthakatha, p. 158, P.T.S., London.

tri-sahasra-mahasahasra-dhatu:

    Dalam terminologi Buddhis, semesta adalah merujuk pada sebuah Tri-sahasra-mahasahasra-dhatu. Ini merupakan semesta yang berisi galaksi-galaksi sejumlah (1000)3 x 1000 tata surya/system dunia. Di setiap arah dunia-dunia ini mengembang, beberapa berkeliling jauh tak berpenghuni di stellar nebula, beberapa lagi dipenuhi mahluk hidup. Ketika kita memandang ke atas ke arah bintang-bintang, kita memandag pada tak terhitung peradaban terbentang tak bertepi di lautan langit malam. Dan apa yang kita lihat hanya sebagian dari semesta yang dimaksud.

Kemudian, dalam satu Sutra Mahayana, yaitu Avatamsaka Sutra, bab 4, dinyatakan seperti ini:

    [..] Pada saat itu, Bodhisattva melanjutkan, “Para Murid Buddha, lautan Dunia [system dunia] memiliki aneka bentuk dan karakteristik. Mereka bisa bulat atau persegi, atau tidak bulat atau tidak persegi. Variasinya tak terbatas. Beberapa berbentuk seperti pusaran air, seperti semburan api gunung berapi, seperti pepohonan atau bunga, seperti Istana atau seperti suatu mahluk hidup, seperti Buddha. Variasinya sebanyak partikel debu [..]”

    [Note: Verifikasi sutta-sutta termasuk sutra mahayana ini juga dilakukan di Konsili ke-3 (247 SM), penterjemahan pertama kedalam bahasa China dilakukan secara bertahap mulai di abad ke-2 Masehi]

Bulatnya bumi adalah sebab-sebab musim yang cukup jelas di sebutkan di literature India:

Dalam Sumangala Vilāsinī [DA], karya Buddhagosa, disampaikan seperti ini:

    Ketika matahari terbit di Jambudwipa adalah waktu jaga malam ke-2 [22.00-02.00] di Aparagoyāna. Ketika matahari terbenam di Aparagoyana adalah saat tengah malam di Jambudwipa. Siang hari di jambuDwipa, adalah ketika matahari terbenam di Pubbadeviha dan tengah malam di Uttarakuru [DA III.868]

Terlihat jelas, bahwa pada saat yang sama, ketika matahari bersinar di suatu tempat di belahan bumi, maka di tempat lain di sisi belahan lainnya merupakan malam hari!

Aitareya Brahmana (Abad ke-9/8 SM) III.44, Translasi Dr Haug, di kutip di “Indian Wisdom”, Monier Williams, 1893, Ed.4, Ch.2, hal.32. atau juga di AB 4.29] menyatakan:

    Atha yad enam prātar udetīti manyante rātrer eva tad antam itvā atha ātmānaṃ viparyasyate, ahar eva avastāt kurute rātrīm parastāt. Sa vai esha na kadācana nimrocati. Na ha vai kadācana nimrocaty etasya ha sāyujyaṃ sarūpatāṃ salokatām aśmute ya evaṃ veda
    “Matahari tidak pernah terbenam maupun terbit. Ketika manusia berpikir bahwa matahari tengah terbenam, Ia hanya tampak berubah (viparyasyate). Setelah sampai di penghujung siang dan membuat malam di bawah dan siang di sisi yang lainnya. Kemudian ketika manusia berpikir matahari terbit di pagi hari, Ia tampak berubah sendiri, setelah mencapai penghujung malam dan membuat siang di bawah dan malam di sisi lainnya. Sebenarnya Matahari tidaklah pernah tenggelam. Siapapun yang tahu ini bahwa matahari tidak pernah terbenam, Ia menikmati persatuan dan kesamaan alami dengannya dan berdiam di alam yang sama”

Rig Veda [1.33.8]:

    Cakrācāsaħ pariņaham pŗthivyā
    Orang-orang berdiam di sekeliling permukaan bumi

Surya Sidhantha (1000 SM) [12.32]:

    Madhye samantāņđasya bhūgolo vyomni tisthati
    Di tengah-tengah jagat (Brahmanda), Bulatan bumi berdiam kokoh di ruang angkasa

    note:
    Dictionary Sanskrit-english, William Monier:
    bhūgola ○gola m. ‘earth-ball‘, the terrestrial globe. BhP. -vidyā f. knowledge of the terrestrial globe, geography MW.
    bhūcakra ○cakra n. ‘earth-circle‘, the equator or equinoctial line. Di kamus, arti dari “gola” di antaranya adalah bulatan, globe, globular, bola

“Vedic Astronomy” oleh Sadaputa Dasa (dahulu bernama Richard Leslie Thompson): Bumi (atau juga Jambudvipa) digambarkan dalam bentuk piringan datar dan di Surya Siddhanta Bumi dinyatakan sebagai bulatan.

Kedua hal ini adalah konsep Vedic karena bumi di vedic adalah ‘bhu-mandala’ yang di dalamnya terdapat lingkaran pulau-pulau.

    BHURLOKA
    “System keplanetan yang dikenal sebagai Bhu-mandala mirip bagai bunga lotus dan tujuh buah ‘pulau’ seperti mengitari bunganya.

    Seluruh tempat ‘pulau-pulau’ dikenal sebagai Jambudwipa, letaknya di tengah lingkaran, adalah 1 juta Yojana (8 juta mil). Jambudwipa itu bulat bagaikan kelopak bunga lotus – (Srimad Bhagavad 5.16.5)

    Bhurloka atau Bhu-mandala adalah level keduaniawian yang terdiri dari tujuh bola (dvipas/’pulau-pulau)- Jambudvipa, Plaksadvipa, Salmalidvipa, Kusadvipa, Krauncadvipa, Sakadvipa, Puskaradvipa – yang di huni oleh berbagai macam manusia.

Bumi Di dalam SB (Srimad-Bhagavatam atau Bhagavata Purana) adalah gambaran Bumi dan Tatasurya di lihat dari tampak atas. (irisan atas). Surya Siddhanta menggambarkan dari sudut pandang manusia.

Sadaputa dasa pada topic ini mengungkapkan lebih lanjut dalam Mysteries of the Sacred Universe. Dr. Richard L. Thompson (Ph.D di mathematics dari Cornell University) memberikan kerangka pikir yang dimaksudkan Srimad-Bhagavatam:

‘Brahmanda’ merupakan perpaduan dari dua kata yakni “Brahma” dan “Anda.” Brahma berasal dari kata “Brha” yang berarti berkembang dan “Anda” berarti telur. Jadi Brahmanda berarti telur yang mengembang

Bhagavatam memakai Bhu-mandala untuk menunjukan setidaknya 4 alasan dan model2 yang konsisten:

  • Peta polar-projection dari bola bumi,
  • Peta dari tata surya,
  • Peta topographical dari Asia selatan tengah dan
  • Peta dari spiritual alam Dewa/mahluk lainnya.

The Story of Knowledge, A BRIEF HISTORY OF STRUGGLE OF KNOWLEDGE WITH THE SEMITIC RELIGIONS AND ITS ULTIMATE SURVIVAL, Shree Premendra Priyadarshi; INDIAN SCENARIO:

    Bumi berbentuk globe/bulatan banyak ditemukan dalam kisah-kisah cerita, misal: Varahavatar mengangkat bola bumi di taring/gading di banyak patung atau di cerita buddhism singa (Buddha) berkelahi dengan Naga (kebodohan) yang menggenggam bumi bulat di ekornya, di banyak ikon Buddhistik di Timur laut India.

    Setiap Hindu akan mengenal cerita metaphora bagaimana raja asura Hiranyaksha, yang menemukan bulatan bumi seperti bola dan memainkannya sehingga kemudian Visnu membunuhnya untuk menyelamatkan Bumi

Catatan:
Dalam Bahasa Sanskrit dan Pali, bulatan bumi atau Bola bumi adalah “Bhugola“. Lihat kamus Sanskrit: di sini, di sini, di sini dan kamus Pali: di sini, di sini

Bumi TIDAK lah Bulat sempurna namun lebih datar di kutubnya:

Markandeya Purana [54.12]:

    menyatakan bahwa Bumi lebih datar di kutub-kutubnya dan membengkak di equatornya, jadi tidak bulat sepenuhnya

Astronom Indian, Aryabhatta (476 AD), Aryabhattiyam, Golapada, sloka ke 6:

    Bhūgolaħ sarvo vŗttaħ
    Bumi bulatan di sekelilingnya

Varahamihirä (6th century AD), Astronom India lainnya, Pancha Sidhanthika, [Bab 13-sloka 1]:

    Paňca mahābhūtamayastrārāgaņa paňjare mahigolah
    5 element (panca maha bhuta) menyebabkan bumi di ruang angkasa bagai bola besi tergantung dalam kandang.

Bhaskarachrya (1150 M), Ahli matematika, dalam bukunya, “Leelavathi” ketika menjawab pertanyaan seorang gadis cilik bernama Leelavathi:

    Apa yang matamu lihat bukanlah realitas. Bumi tidaklah datar seperti yang kau lihat. Ia Bulat. Ketika kau menggambarkan lingkaran besar dan dilihat dari ¼ lingkaran, engkau akan melihat suatu garis lurus. Namun sebenarnya lengkungan. Sama juga dengan Bumi adalah berbentuk bulat

Kesimpulan

  • Purana (purana: dongeng) menjelaskan bumi dalam 2 dimensi dengan bentuk piringan datar (Srimad-Bhagavatam/Bhagavata Purana) dan dalam 3 dimensi berbentuk bulat pejal (Markandeya purana)
  • Kata ‘anda’ pada ‘brahmanda’ berarti ‘telur’ memberikan gambaran tentang Bumi, yang terekam dalam kisah Varahavatar, Singa dan naga dan Hiranyaksha
  • Walaupun purana telah menjelaskan BUMI itu BULATAN, namun kitab-kitab purana bukanlah dasar berpendapat karena kitab ini diciptakan dalam bentukan dongeng/personifikasi dan/atau metafora sebagai alat bantu memahami Veda bagi kalangan awam
  • Surya Siddhanta, menyatakan bahwa BUMI BULATAN (dengan Diameter 7840 mil)
  • Rig Veda, yajur dan sama veda menyatakan bahwa BUMI itu BULATAN, berotasi dan bervolusi.
  • Rig Veda, Yajur Veda, Sama Veda dan kitab komentar Rig Veda yaitu Aiterya Brahmana menegaskan bumi berputar pada porosnya, bulan mengitari bumi dan Matahari; bumi dan planet lainnya mengitari matahari dan matahari adalah pusat tatasurya yang tidak pernah terbenam maupun terbit
  • Semesta dalam tradisi India menyatakan bahwa sistem tata surya kecil (matahari, planet dan satelitnya) hanya merupakan bagian kecil SEMESTA BESAR yang berisi sekurangnya 10003 sistem tata surya (dalam study pali lainnya bahkan bukan cuma 3 lapis namun hingga sepuluh lapis) []



Phytagoras

Pythagoras dilahirkan di pulau samos di yunani kumo, tidak ada data yang dapat diandalkan untuk mencatat kapan dia dilahirkan namun dipercayai disekitar tahun 570 SM, Ia konon berasal dari seorang perawan dan didedikasikan kepada Apollo dengan tujuan agar ia mengkhidmati umat manusia. Guru pertamanya bernama Pherecydes dan Ia tinggal bersama gurunya hingga gurunya wafat. Ketika berusia 18 tahun Ia pergi ke pulau Lesbos, Di sana ia bekerja dan belajar pada Anaximander, seorang ahli philosophi dan Astromi dan juga pada Thales dari Miletus, seorang bijak ahli philosopi dan matematika

Phytagoras juga pergi ke Sidon belajar ilmu gaib Tyre dan Byblos. Kemudian ia ke Mesir, karena di instruksikan oleh Thales. Ia menghabiskan 22 tahun menyempurnakan Matematik, astronomi dan music dan kemudian ia belajar ilmu gaib Mesir

Ketika Cambyses menginvansi Mesir, Phytagoras menjadi tahanannya dan mengirimnya ke Babylonia. Phytagoras memanfaatkan 12 tahun kemudian untuk belajar ilmu gaib Chaldean pada seorang Magi. Meninggalkan Babylonia ia menuju Persia ke India. Ia meneruskan pelajarannya dibawah bimbingan para Brahmana dan menyerap kebijakan timur dari sumber aslinya. Walaupun Phytagoras datang sebagai murid, ia meninggalkan India sebagai Guru. Bahkan samai dengan hari ini is dikenal di India sebagai Yavana Acharya atau guru dari Yunani

Setibanya ia di Crotona, Phytagoras memberikan pengajaran pada sekelompok anak muda. Beberapa hari kemudian Phytagoras di undang untuk berbicara di depan senat Crotona. Setelah itu Phytagoras di ijinkn untuk membangun Insitusi di Croatia yang mengajarkan Philosopi, latihan moral, akademi ilmu pengetahuan dan bentuk kota kecil

Ia berpendapat bahwa semua ilmu pengetahuan bersumber pada matematika khususnya keterkaitan musik, astronomi dan fenomena spiritual dengan bilangan-bilangan.

Pythagoras mengenalkan bilangan genap, ganjil dan bilangan prima; BUMI itu BULAT; gerhana terjadi karena bumi berada di antara bulan dan Matahari.

Phtyagoras meninggal pada tahun 475 SM

Menurut beberapa sumber, Pythagoras dikatakan sebagai ‘putra tuhan’ dan menjadi orang Yunani pertama yang menyebut dirinya seorang filosof (seseorang yang mencari tahu, philia= + Sophia).

Teori Phytagoras telah diketahui lebih awal di Mesopotamia, mesir dan India. Namun apakah Phytagoras sendiri yang membuktikan teori itu tidaklah diketahui secara pasti, namanya dihubungkan dengan teori itu, 5 abad setelah kematiannya melalui tulisan dari Cicero dan Plutarch

(Di ambil dari berbagai sumber) []



Aryabhata

Aryabhata atau Aryabhatta (sekitar 476-550), adalah ahli astronom dan ahli matematika India. Dia lahir di Pataliputra (kini Patna, India). Beberapa menyebutkan bahwa ia lahir di Kerala, Aryabhata menyelesaikan pendidikannya di University of Nalanda, yang dulu merupakan pusat pendidikan yang sangat disegani. Ketika karyanya Aryabhtiya menjadi sebuah masterpiece, Raja Buddhagupta yang memerintah Dinasti yang memerintah menjadikannya sebagai kepala Univeritas tersebut.

Di kalangan ilmuwan Arab dia dikenal dengan sebutan Arjehir, dan tulisan-tulisannya diakui telah banyak mempengaruhi ilmu sains yang berkembang di Arab.

Naskah tulisan Aryabhata yang masih dikenal sampai sekarang adalah Aryabhatiya, serangkaian aturan matematika dan astronomi yang ditulis dalam bentuk puisi 121 bait dalam bahasa Sansekerta. Puisi ini menjelaskan bagaimana menyelesaikan berbagai soal matematika, misalnya bagaimana mengetahui luas segitiga dan lingkaran, serta volume sebuah bola atau piramida. Walaupun sebagian besar rumus geometri Aryabhata itu tidak tepat benar.

Dalam Aryabhatiya dijelaskan pula mengenai posisi Matahari dan Bulan, bagaimana gerhana terjadi. Aryabhata mampu menghitung waktu satu tahun kalender dengan akurat. Sesuatu yang luar biasa untuk ilmuwan pada masa itu. Dia juga orang pertama yang mendeduksi Bumi berbentuk bola berputar pada porosnya sekaligus berputar mengelilingi Matahari. Kita tahu bahwa para ilmuwan di Eropa baru beberapa abad kemudian menemukan teori bahwa Bumi berputar mengelilingi Matahari.Di India,

Ia juga menyatakan bahwa nilai dari Phi = 3.1416, Membuat table sinus. Penyelesaian persamaan ax – by = c. Ia juga yang mengekspresikan bagaimana sebutan dalam tulisan untuk bilangan besar seperti 100,000,000,000 karya nya juga meliputi aspek-aspek lain matematika seperti perhitungan astronomical, geometri, akar kuadrat akar pangkat 3, progressi, celestial sphere dan lain-lain.

Di usia tuanya Aryabhata juga menulis sebuah karya lain yaitu, Aryabhatasiddhanta.Sebuah teks-book untuk perhitungan astronomical harian yang juga dipakai untuk menentukan tanggal berbagai ritual. Sampai dengan hari ini data astronomical Aryabhata digunakan untuk menyusun panchangs (Kalender Hindu). Untuk mengabadikan jasanya pada Astronomi dan Matematika, satelit luar angkasa India pertama diberi nama Aryabhata. Karya-karya Aryabhata masih dibaca oleh para pelajar seribu tahun setelah kematiannya.

(disarikan dari berbagai sumber) []



Brahmagupta

Jisnugupta adalah nama ayahnya. Brahmagupta lahir pada tahun 598 di Bhinmal, Rajasthan, India pada masa pemerintahan kerajaan Harsha yang rajanya bernama Vyaghramukkha. Sebagai seorang guru ia sering disebut sebagai Bhillama acharya. Ia kemudian menjadi Kepala Observatory di Ujjain, selama hidupnya ia menulis 4 tulisan mengenai Matematik dan Astronomy yaitu Cadamekela (624), Brahmasphutasiddhanta (628), Khandakhadyaka (665) dan Durkeamynarda (672).

Karyanya yang sangat terkenal, Brahmasphutasiddhanta, diterjemahkan dalam bahasa arab jaman khalifah Al Mansur (712–775) oleh Muhammad al-Farazi pada tahun 770

Beberapa kontribusi dari Brahmagupta dalam bidang astronomi di antaranya Bumi itu Bulat dan Bumi yang bergerak.

(disarikan dari berbagai sumber) []



Apakah Pemikiran India/Aryan? Yunani? atau Tempat Lain?

Kemungkinan bahwa Naskah-Naskah India berasal dari Luar India

Pada Satapatha Brahmana dan Taittiriya Samhita ada kemungkinan mengenal teori Phytagoras. Seidenberg (1983) berpendapat bahwa Babylonia kuno mengenal ‘teori phytagoras’ adalah berasal dari india atau Babylonia kuno dan India mendapatkannya dari sumber lainnya. Seidenberg menyatakan sumber lain itu mungkin bangsa Sumeria dan mungkin sebelum tahun 1700 SM. Sehingga timeline India diharapkan menjadi seperti ini:

pre-1500 BC – the Vedas and Upanishads
pre-500 BC – the Jaina, the Buddha, the Bhagavad Gita, the Manu Smriti
pre-300 BC – the rise of the orthodox Darshanas
200 AD – Nagarjuna and the rise of Mahayana Buddhism
600 AD – Shankaracharya and the rise of Vedanta
post-900 AD – rise of other Vedantic schools: Visishtadvaita, Dvaita, etc. [Sumber: Wikipedia] []



Kemungkinan bahwa Naskah-Naskah India merupakan Barang Import

Juga diketahui bahwa beberapa naskah astrological Greco-Roman di import ke India pada awal-awal abad masehi ini, misalnya Yavanajataka (“Astronomi dari Yunani”) di terjemahkan dari bahasa Yunani ke sangsekerta oleh Yavanesvara pada sekitar tahun 200 M yang saat itu ada dibawah pengawasan Raja Rudradaman I, namun tapi tidak ada sumber asli yunani yang mendukung/memperkuat pandangan ini.

Sebenarnya teks aslinya ditulis dalam bentuk Prosa berbahasa sangsekerta dan di susun oleh Mayasura, yang kemudian dikenal sebagai Yavaneshvara. Sphuridhvaja selama jaman Raja Satrapa king Rudradamana menulis ini ke dalam bentuk ayat dalam bahasa sangsekerta dan dinyatakan sebagai versi gubahan dari Yavanajataka..

Kemudian di abad ke 6, Romaka Siddhanta (“Doktrin dari Roman”), dan Paulisa Siddhanta (“Doktrin dari Paul”) yang dianggap sebagai 2 dari 5 naskah astrological di susun oleh Varahamihira ke dalam Pañca-siddhāntikā (“Lima Naskah “) yaitu kumpulan dari: Surya Siddhanta, Romaka Siddhanta, Paulisa Siddhanta, Vasishtha Siddhanta dan Paitamaha Siddhantas, merupakan kumpulan Naskah Astronomy Indian asli dan Helleneistic (Yunani, Mesir, Roman). Varahamihira menulis:

    “Yunani, meskipun tidak murni, harus di hormati karena mereka terdidik baik dengan Pengetahuan dan disitulah melampau yang lainya..” -(Brhatsamhita [2.15])

E. C. Sachau, Alberuni’s India (1910), vol. I, p.153 menuliskan:

    Pada abad ke 11 Peneliti bangsa Arab Alberuni juga menyebutkan detail dari ” 5 kanon astronomic “: “Mereka [Bangsa Indian] memiliki 5 Siddhānta:

    • Sūrya-Siddhānta, (Siddhānta Matahari), disusun oleh Lāṭa,
    • Vasishtha-siddhānta, Diambil dari 1 diantara Bintang-bintang di ‘Great Bear’, di susun oleh Vishnucandra,
    • Pulisa-siddhānta, Dinamakan karena berasal dari Paulisa, orang yunani, kota Saintra,yang saya pikir adalah Alexandria, disusun oleh Pulisa.
    • Romaka-siddhānta, dinakan karena berasal dari Romawi, Kerajaan Romawi, disusun oleh Śrīsheṇa.
    • Brahma-siddhānta, Dinamakan karena berasal dari Brahman, disusun oleh Brahmagupta bin Jishṇu, dari kota Bhillamāla antara Multān dan Anhilwāra, 16 yojanas dari kota yang belakangan”

Benarkah pemikiran-pemikiran tersebut diatas memang berasal dari Luar India? []



NALANDA

Nalanda terletak di Utara Rajgir (Rajagrha), di distrik Patana, Bihar, India. Sejarah Nalanda dapat dijumpai sejak jaman Sang Buddha masih hidup dan Mahavira, pendiri dari agama Jain masih hidup.

Taxila telah memperoleh reputasi internasional di abad-6 S.M. (1)(2) sebagai pusat pendidikan tentang ilmu pengetahuan yang tinggi. Ia tidak memiliki satu sekolah tinggi atau universitas seperti yang kita kenal sekarang, tetapi ia merupakan pusat berkumpulnya guru-guru yang pandai dan terkenal, dan setiap guru membentuk kelompok murid sendiri-sendiri. Pendidikan ini mencakup pendidikan tenteng hukum, ilmu kedokteran, dan pengetahuan tentang kemiliteran.

Terbentuknya dinasti kerajaan Nanda pada tahun + 413 S.M. dan dinasti Mauryas yang lebih berkuasa lagi 40 tahun kemudian menggoncang dasar kehidupan politik dan kebudayaan dari Veda. Para Brahmin dalam jumlah besar meninggalkan pekerjaan mereka yang turun temurun sebagai guru Veda dan mulai mengerjakan berbagai macam pekerjaan yang dahulu tabu bagi mereka. Begitu juga mereka dari kasta Ksatriya telah beralih dari pekerjaan sebagai penguasa, sedangkan kaum Sudra beralih ke pekerjaan yang lebih baik dari apa yang dulu mereka biasa kerjakan. Kedaan ini membuat perubahan mendasar dalam bidang pendidikan. Sekolah-sekolah baru didirikan di kota dan desa. Para pendatang dan mereka yang sudah berkeluarga-pun diterima di lembaga-lembaga pendidikan. Mereka boleh memilih dengan bebas topik yang ingin dipelajari dan tidak lagi terikat kepada kasta dan para guru menerima murid dari semua kasta.

Menurut catatan yang terdapat di Tibet, seorang ahli filsafat Buddhis terkenal, Nagarjuna, pada abad ke- 3 Masehi pernah belajar di tempat ini. Di abad ke 7, Yuan Chwang datang dari negeri Cina dan belajar ditempat itu selama lima tahun. Selanjutnya I-Tsing dari generasi kemudian pernah belajar di tempat itu selama sepuluh tahun.

Ketika berada di India, Yuan Chwang, seorang bhiksu Mahayana yang terpelajar, belajar filsafat India, Agama Buddha dan Brahmanisme di berbagai vihara, sendiri-sendiri atau di bawah bimbingan guru India yang termasyur di zaman itu. Ia membuat catatan khusus tentang dua lembaga pendidikan yang sangat terkenal di India, yaitu Nalanda di bagian Timur dan Valabhi di bagian Barat India yang menjadi pusat agama Buddha aliran Theravada

Mengenai Nalanda yang menjadi pusat dari agama Buddha aliran Mahayana, Ia membuat catatan yang agak terperinci. Di Nalanda Yuan Chwang mempelajari filsafat Yoga di bawah bimbingan kepala lembaga, yaitu Silabhadra selama lima tahun.

Selama lima ratus tahun dari abad ke-4 sampai dengan abad ke-8, India di bawah pemerintahan dinasti Gupta dan Harsa serta keturunannya. Pada kurun waktu itu, Universitas Nalanda ditopang keberadaannya oleh enam generasi dari kerajaan Gupta. Lembaga ini mempunyai beribu-ribu guru dan pelajar yang semuanya dibiayai keperluannya dari penghasilan lebih dari 200 desa.

Kemasyuran Nalanda menarik perhatian orang-orang asing, pelajar-pelajar dari seluruh India, bahkan ada yang datang dari Timur Jauh dan juga dari Tibet. Untuk dapat diterima menjadi siswa ternyata tidak mudah. Tes masuknya susah, sehingga hanya 2 atau 3 orang saja yang diterima dari sepuluh orang yang ingin masuk pendidikan.

Nalanda juga menjadi terkenal karena “pendidikan melalui diskusi”. Mereka menghubungkannya kembali kepada tradisi India kuno yang sudah membudaya dalam pendidikan di vihara, yaitu kembali kepada cara-cara yang lama, yaitu belajar dari mulut ke mulut.

Dengan belajar dan berdiskusi membuat waktu berlalu dengan cepat. Topik pembahasan yang tidak dibatasi dan pembahasan yang terbuka yang dipraktikkan di Nalanda dan di lembaga-lembaga pendidikan lain di vihara-vihara memberi sumbangan yang sangat besar sehingga terjadi proses pembauran dari pemikiran dan kebudayaan mengenai agama Buddha dan Brahmanisme yang dapat menggugah rasa ingin tahu tentang wajah dari periode terakhir dari sejarah India kuno.

Lebih dari 1.500 orang guru tiap hari membahas lebih dari 100 macam makalah. Yang dibahas meliputi hal-hal tentang Veda, matematika, tata bahasa, filsafat, astronomi dan ilmu pengobatan.

Aryabhata di abad ke 5 merupakan yang terbesar di zamannya dalam ilmu matematik. Aryabhata adalah orang yang untuk pertama-kali dijamannya memperkenalkan pemakaian 0 (nol) dan desimal. (3)

Varahamira dari zaman Gupta, adalah seorang ilmuwan yang terkenal dalam berbagai ilmu pengetahuan, seperti kebudayaan, seni pertanian, astronomi, ilmu kemiliteran dan ilmu bangunan.

Ilmu kedokteran juga berkembang dengan pesat. Pada zaman itu delapan ilmu kedokteran, termasuk ilmu bedah dan ilmu kesehatan anak yang dipraktikkan oleh para dokter. Inilah perkembangan dalam ilmu pengetahuan sampai pada masa penyerbuan kaum Muslim ke India.

Dengan memiliki jurusan yang beraneka ragam, tempat kuliah yang memadai, perpustakaan, tata tertib untuk penerimaan mahasiswa baru dan kehadirannya pada kulia-kuliah, tingkah laku dan disiplin para mahasiswa ( dengan sanksi yang terperinci tentang pelanggaran) dan system yang lengkap dari administrasi akademik, Nalanda menjadi sebuah lembaga pendidikan raksasa yang terdapat di Vihara. Tentang bagaimana besarnya Nalanda dapat dinilai dari catatan Yuan Chwang, bahwa Nalanda ini menurun di zaman I-Tsing ( + tahun 685) hingga lebih sedikit dari 3.000 mahasiswa.

Diberitakan bahwa tiap hari disiapkan seratus buah mimbar untuk memberi kuliah dan mengadakan diskusi. Ruang lingkup studi meliputi hal-hal mengenai agama (agama Buddha dan/atau Brahmanisme) dan mengenai non agama; para mahasiswa boleh melakukan pilihannya sendiri.

Para bhiksu yang berjumlah 10.000 orang semua mempelajari agama Buddha Mahayana dan segala sesuatu yang termasuk dalam 18 sekte, bahkan juga buku-buku lain seperti Veda, Hetavidya, Sabdavidya, Cikitsavidhya, ajaran tentang magic (Athara Veda) dan Sankhya disamping secara mendalam menyelidiki buku-buku lain. Terdapat 1.000 orang yang berkemampuan menerangkan 20 kumpulan Sutra, 500 orang barangkali 10 orang, termasuk Guru Dhamma yang dapat menjelaskan 50 kumpulan Sutra. Hanya Silabhadra sendirilah yang telah mempelajari mengerti seluruhnya.

Selanjutnya tata bahasa dari bahasa Sansekerta merupakan mata pelajaran pokok yang harus dikuasai untuk menjadi sarjana. Mengenai ini I-Tsing menulis

“Para penerjemah ‘dulu’ jarang menceritakan kepada kami tentang tata bahasa dari bahasa Sansekerta. Sekarang aku yakin bahwa dengan menguasai tata bahasa dari bahasa Sansekerta kami dapat mengatasi kesulitan-kesulitan yang dulu kami hadapi.”

Nalanda berkembang pesat di Zaman Pala (abad ke-8 sampai dengan abad ke-12) sebagai pusat studi dari patung-patung keagamaan yang dibuat dari batu dan perunggu.

Nalanda yang masyur sebagai lembaga pendidikan tinggi di abad ke – 6, harus menyerah ketika ada penyerbuah dari kaum Muslim dari Bihar pada + tahun 1197 Masehi. Hal ini dapat diketahui dari catatan waktu itu oleh Minhaz yang menceritakan tentang pembantaian besar-bersaran dari para bhikkhu.

Sumber :
PAHLAWAN DHAMMADUTA, Disusun oleh Maha Pandita Sasanacariya Sumedha Widyadharma, Diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Sangha Dhammacakka, Jakarta, Cetakan Pertama, 1993

Catatan dari saya:

  1. Joseph Needham (2004), Within the Four Seas: The Dialogue of East and West, Routledge, :
    “Ketika pasukan dari Alexander yang Besar sampai di Taxila pada abad ke 4 SM mereka menemukan sebuah Universitas di sana yang tidak pernah mereka temukan di Yunani, Universitas yang mengajarkan 3 Veda dan 18 kelangkapannya dan masih ada ketika pengelana Tiongkok Fa-Hsien ke sana pada sekitar abad 4 M”
  2. Professor Dr. Ahmad Hasan Dani, Guide to Historic Taxila, Ch.3:
    Taxila universitas, adalah tertua di Dunia, Ini telah ada bahkan sebelum jamannya Buddha dan sebelum pendudukan lembah Taxila oleh Penguasa Achaemanid di abad 6-5 SM. Kemungkinan diperiode dimana para ahli philosopis berkumpul disana dan mendirikan sendiri sekolah pemikiran dan memberikan pengajaran (Abad 7 SM)
  3. Dari Perjalanan panjang angka mistik, nol,
    Pythagoras (500 SM) bahkan Archimedes (200 SM)tidak mengenal angka nol. Bagaimana ketika Yesus lahir yang mengawali pergantian istilah dari BC (Before Christ) atau SM (Sebelum Masehi) menjadi AD (Anno Domini). Dengan membayangkan bahwa tahun-tahun SM adalah bilangan negatif, maka hitungan mundur …, -3, -2, -1, 1, 2, 3. Angka 0 tidak terlihat dijepit oleh – 1 dan 1. Terjadi kontroversi di sini.

    Angka 0 sudah dikenal lama namun hanya dalam lingkup India dan Arab. Di India terkait erat dengan pengajaran agama Budha (2500 SM) lewat ucapan Budha:

    “Sepuluh pangkat sepuluh dikalikan sepuluh pangkat sepuluh sama dengan sepuluh pangkat dua puluh…” []



Kutipan Pendapat Para Ahli: Asal Mula Sumbernya

Mengutip: H. R. Hall, The Ancient History of the Near East (London, 1913, p. 74):

    Tidak diragukan bahwa Indus pastilah satu diantara pusat kebudayaan tertua dan wajar juga mempertimbangkan keasingan/ketidaktahuan bangsa non semit dan non-arya bahwa berasal dari timur yang membuat bangsa barat berbudaya adalah berasal dari India, khususnya ketika kita melihat pada poin kemiripan muka/tampang orang-orang sumeria dengan orang India.

Mengutip Vedic Physic-Scientific Origin of Hinduism, Raja Ram Mohan Roy, Toronto, Canada, 28 Agustus 1998:

    “Karena Rgveda adalah tentang kosmologi, jelas sekali tidak ada kisah tentang sejarah manusia pada Rgveda.” -Vedic Physics Bab1, Warisan Weda Kalau bukan tentang sejarah manusia maka kapan mulai dituliskan?

    Mengutip lebih lanjut dalam Vedic physis:
    Setelah Perang Mahabharata [Kalender Julian: 18 February 3102 BC; Kalender Gregorian: 23 January 3102 BC]. pengetahuan yang tekandung dalam Veda secara berangsur-angsur menghilang…Untuk mempertahankan pengetahuan Veda, komentar dan catatan atas Veda mulai ditulis. Inilah yang disebut Brahmana, dan yang paling komprehensif adalah Satapatha Brahmana….Semua Brahmana berkaitan dengan Veda. Aitareya Brahmana dan Kausitaki Brahmana berkaitan dengan Rgveda.

    Beberapa abad mesti dilalui semenjak Perang Mahabharata sampai pada penulisan Satapatha Brahmana ini…Hampir tidak ada legenda tentang penciptaan dunia kuno yang sumbernya tidak bisa dilihat di Satapatha Brahmana.

    Gelombang kedua emigrasi dari I India terjadi setelah penulisan Satapatha Brahmana, dan sekelompok dari mereka tinggal di Yunani. Mitologi Yunani meminjam langsung dari Satapatha Brahmana. Banyak legenda Yunani tidak akan ditemukan dalam Veda tapi bisa dilihat di Satapatha Brahmana, dan makna inilah yang menunjukkan lubang besar dalam teori Veda berasal dari luar India. Jika semua ras Indo-Eropa punya asal lain darimana mereka tersebar, maka legenda Yunani seharusnya sama dengan Veda bukan dengan Satapatha Brahmnana..

    Dan (Gelombang) ketiga setelah penyusunan Purana yang pertama..Purana adalah naskah yang dianggap hadir paling belakang dalam Hindu. Ada delapan belas Purana utama yang disebut Mahapurana. Ada delapan belas Purana kecil yang disebut Upapurana..Srimad Bhagavata Mahapurana terdiri dari delapan belas ribu sloka. Purana menyangkut lima subyek yakni Sarga (penciptaan semesta), Pratisarga (akhir semesta), Vamsa (asal-usul), Manvantara (epos), dan Vamsanucarita (sejarah). Kebanyakan pemeluk Hindu mendapatkan pengetahuan dari Purana,.

    ..Tradisi kita percaya bahwa Veda berumur setua alam semesta itu sendiri, dan masih banyak ahli Veda yang berada di keyakinan tersebut. Pendapat ini tentu saja salah, karena itu berasal dari kebingungan antara kapan Veda ditulis dan apa isi Veda. Pengetahuan dalam Veda setua alam semesta karena Veda menjelaskan tentang evolusi semesta, padahal Veda ditemukan belakangan. Veda tidak memberikan petunjuk kapan itu ditulis, sehingga para ahli mencari cara lain dalam menentukan umur Veda.

    Salah satu cara yang paling tidak logis dilakukan oleh Max Muller, ahli Veda terkenal dari abad lalu, dan masih paling terkenal sampai sekarang. Max Muller percaya dengan penciptaan dalam Bible dan menghitung umur Veda sebagai berikut:

    • Dia mengasumsikan penciptaan alam terjadi pada 23 Oktober 4004 SM dan menggunakan kronologi dalam Injil, banjir besar terjadi pada tahun 2448 SM.
    • Ia mengasumsikan seribu tahun sebagai waktu banjir surut, yang menjadikan tahun 1400 SM sebagai waktu invasi Arya ke India.
    • Ia memberikan waktu 200 tahun sebagai waktu adaptasi bangsa Arya dengan lingkungan barunya menjadikan tahun 1200 SM sebagai waktu disusunnya Veda. Tentu saja dia tidak memberikan alasan-alasan ini kepada publik, melainkan menghitung balik berdasarkan kronologi yang sudah dia hitung sebelumnya.
    • Ia menetapkan tahun 600 SM sebagai waktu Budha, menyediakan waktu masing-masing 200 tahun untuk periode Chanda, Mantra dan Brahmana. Jadi, Brahmana disusun antara 800-600 SM, Mantra 1000-800 SM, dan Chanda (contohnya Rgveda) antara1200-1000 SM.

    Yang jelas tidak ada alasan secara sains untuk menjelaskan mengapa hanya perlu 200 tahun bukan 500 atau 1000 tahun untuk komposisi Chanda, Mantra dan Brahmana.

    Belakangan Max Muller menyangkal kronologinya sendiri dan mengatakan tidak ada kekuatan di bumi yang bisa menentukan kapan Veda ditulis.

    ***

    Tilak dan Jacobi menelusuri waktu astronomi dari Veda. Mereka menginterpretasikan beberapa mantra dari Rgveda untuk sampai pada kesimpulan mantra-mantra tersebut menunjukkan waktu 4500 SM. Waktu ini juga sangat mengundang pertanyaan. Tidak ada indikasi bahwa Rgveda adalah buku astronomi dan beberapa mantra yang diinterpretasikan mengandung arti astronomi benar-benar mistis. Informasi astronomi ini diambil dari asumsi arti kata yang sangat berbeda dengan arti aslinya, dan hasilnya masih tidak meyakinkan. Contohnya, pada bukunya yang berjudul Orion,

    • Tilak menginterpretasikan bahwa Rbhus berarti musim, Vasta berarti matahari dan berburu berarti Canis Major dalam Rgveda 1.161.13. Arti ini hanya bisa dipertimbangkan pada mantra tersebut.
    • Tilak menggunakan sebuah sloka dalam Gita dimana Krisna mengatakan bahwa dirinya adalah Margasira diantara bulan-bulan dan musim semi diantara musim-musim.
    • Tilak menganggap sloka ini mengandung memori tentang saat ketika Margasira jatuh pada musim semi yang terjadi kira-kira 10,000 tahun yang lampau.

    Sekali lagi, ini bukan argumen yang logis. Dua pernyataan tentang bulan-bulan dan musim-musim sama sekali tidak tergantung satu sama lain dan tidak ada alasan melihat hubungan diantara dua hal tersebut. Jadi penghitungan waktu Veda dengan cara astronomi seperti berpijak di tanah yang bergoyang.

    Beberapa ahli lain berusaha membuktikan umur Veda berdasarkan penghitungan geologis. Rgveda 10.136.5 membicarakan tentang lautan antara barat dan timur, yang tidak bisa diaplikasikan di area dimana Veda seharusnya dibuat. A.C Das dalam bukunya Rgvedic India menjelaskan umur Veda lebih dari 25.000 tahun untuk menjelaskan mantra seperti ini..Rgveda adalah buku yang dikodekan, sehingga sungai, gunung dan laut dalam Rgveda sama sekali tidak merujuk kepada benda-benda tersebut. Jadi penghitungan waktu geologis dari Veda adalah latihan yang tidak berguna.

    Jadi bagaimana kita bisa tahu kapan Veda disusun?

    Untungnya, ada cara yang sederhana untuk menghitung umur Veda. Kita mesti ingat bahwa Veda tidak hadir dengan sendirinya, tapi buku yang sangat disucikan ini disusun oleh manusia. Gaya hidup dan sistem kepercayaan mereka akan menunjukkan tanda yang jelas pada Veda. Jika kita bisa menemukan orang-orang tersebut, kita akan bisa menentukan umur Veda. Hinduisme adalah agama yang sangat dinamis, yang selalu berubah bentuk dengan berjalanya waktu. Kita bisa menentukan waktu naskah kita dengan artifak arekeologis.

    Dari penelitian yang saya lakukan untuk Rgveda, saya mendapat kecocokan yang mengejutkan dengan kebudayaan Lembah Indus. Inilah yang diharapkan. Rgveda adalah naskah tertua kita dan kebudayaan Lembah Indus adalah kebudayaan tertua India, jadi tidak mengejutkan jika ini cocok satu sama lain. Kita akan lihat bahwa stempel dari Lembah Indus melukiskan ide-ide Veda yang membuktikan tanpa keraguan bahwa kebudayaan ini adalah kebudayaan Veda dan Rgveda disusun pada awal kebudayaan ini. Ini memberikan tahun 3000 SM untuk saat komposisi Veda.

    Catatatan:
    Mengutip Stephen Knapp, Reestablishing the Date of Lord Buddha (Excerpt from Proof of Vedic Culture’s Global Existence), disimpulakan bahwa tanggal kehidupan Buddha Gautama seharusnya di antara 2621 SM hingga 1661 SM,

Mengutip buku ‘Rewriting Indian History’ by Francois Gautier, Copyright 1996 Francois Gautier Published by Vikas Publishing House Pvt Ltd, New Delhi, 0-7069-9976ISBN 0-7069-9976-2, Ch.1 & Ch.2, page 10-16:

    Uraian naskah kota Harrapa oleh Dr. Jha, peneliti dari Bengal Barat, menunjukan bahwa naskah ini bukan proto-dravida, seperti pemikiran para ahli bahasa kebanyakan namun berhubungan dengan bahasa Sangksekerta. Effek dari penemuan ini adalah tidak pernah ada invansi Bangsa Arya ke kota-kota Dravida di Mohenjo Daro atau Harrapa. Ini juga menunjukan hal yang sebaliknya yaitu pengaruh bangsa Arya dari timur menuju Barat: Dari India ke Iran, Dari Iran menuju Yunani, dari Yunani menuju Eropa dimana terjadi percampuran Budaya dan philosopi.

    Namun kapankah dunia menyadari kesalahan dari teori dari permulaan Kebudayaan India?

    Sejarah harus di tulis ulang dan konsekuensinya teori baru ini akan mengubah bukan hanya asia namun seluruh sejarah dari dunia. Untuk misalnya Kebudayaan Veda setidaknya berusia 8000 tahun (beberapa ahli sepert ahli matematika N.S Raja Ram menyatakan 10.000 tahun), Jika ini merupakan kesatuan kebudayaan, maka ini juga akan mempengaruhi bukan cuma Iran, atau bahkan Teluk dalam masa sebelum Muslim, namun mempengaruhi seluruh dunia yang menjadi saksi migrasi beberapa Arya menuju Eropa

    Ketidakbenaran Informasi di mulai ketika para misionaris melihat Veda sebagai ‘akar dari Iblis’ yang sumber dari agama penduduk asli (pagan) dan kemudian mereka secara sistematis mereka merendahkan dan mengecilkannya. Kemudian teori ini di kekalkan dan di hidupkan secara terus menerus oleh para ahli sejarah barat yang tidak hanya membuang nilai spiritual veda saja namun juga men-set ulang sejarah munculnya Veda menjadi sekitar 1500-1000 tahun SM..dan bahkan juga dilakukan oleh Max Mueler dengan pendapat yaitu:

    Perama-tama, lupakan dulu tanggal-tanggal yang diberikan para ahli sejarah dan kembali pada setidaknya tahun 4000 SM. Mengapa para ahli sejarah begitu berhasratnya untuk men-set ulang tanggal-tanggal ditulisnya Veda dan membuat itu menjadi sebuah kitab tahayul para pagan? Karena kitab itu harus dihancurkan..
    Ide orang-orang Barat mengenai Supermasi dirinya: Bangsa barbarian primitive tidak mungkin mempunyai konsep-konsep canggih begitu awalnya, lebih khususnya ketika para ahli-ahli sejarah barat memulai era india setelah kelahiran Yesus dan mendeklarasikan bahwa Dunia ini mulai pada 23 Oktober 4000 SM..!

Mengutip Subhash Kak,Ph.D; Pengarang The Astronomical Code of the RgVeda; Tulum, Yucatan; 12 Agustus 1998.

    Ilmuwan-ilmuwan Barat telah berkesimpulan bahwa spiritualitas dan psikologis adalah kontributor utama dalam Veda. Kesimpulan ini kurang tepat; dan hal ini jelas terlihat dari hasil penelitian belakangan ini yang memperlihatkan para penyusun Veda sangat paham matematika, astronomi, ilmu obat-obatan, dan sains yang lain.

    Kerangka kronologis dari kebudayaan India juga sedang dalam revisi. Penelitian arkeologis telah memperlihatkan bahwa telah ada kebudayaan India jauh kebelakang pada tahun 8000 SM. Kebudayaan India jaman batu bahkan mempunyai usia yang lebih tua; para ahli telah mengklaim lukisan tertua berumur 40 ribu tahun.

Mengutip ON HINDUISM, Reviews and Reflections, RAM SWARUP, Forward by DAVID FRAWLEY, (Vamadeva Shastri), Ch. 8, India and Greece:

    Apollonius of Tyna (lahir c. 4 AD), Orang suci dari Yunani, dulunya adalah a guru aliran Pythogorian, Pertapa besar, Hidup selibat, vegetarian; Penentang setiap penyiksaan terhadap binatang; Penentang pertunjukan gladiatorial.

    Apollonius yakin bahwa Mesir dan Ethiopia mendapatkan kebijakannya dari India dan Bahwa ahli philosopi bangsa Ethiopia merupakan Imigran asal India. Ia juga meyakini bahwa Phytagoras (500 SM) dan sektenya merupakan turunan dari Philosopi bangsa India. (p. 212).

Mengutip Apollonius of Tyana, by G.R.S. Mead, [1901], section III, INDIA AND GREECE hal 19:

    Umumnya dikatakan oleh orang-orang yunani kuno bahwa Phytagoras pergi ke India namun statement itu di buat oleh penulis-penulis Neo-Phytagorean dan Neo-Platonic dijaman setelah Appolonius..Namun kemiripan yang sangat dekat ajaran Phytagoras dan ajaran dan praktek-praktek Indo Aryan membuat kami ragu/malu untuk menolak seluruh kemungkinan bahwa Phytagoras kemungkinan mengunjungi Aryavarta.

Mengutip Sadhu: Holy Men of India – By Dolf Hartsuiker :

    Aliran Orphic, Philosophy Pythagorean, Neo-Platonism, Stoicism dan beberapa lainnya yang kurang dikenal dipengaruhi oleh Samkhya-Vedanta yang berasal dari India. (Herodotus, iv. 44 ).

Mengutip Professor H. G. Rawlinson, Legacy of India 1937, p. 5:

    Pythagoras lebih dipengaruhi oleh India daripada Mesir. Hampir sema theory, Philosopi dan Matematika yang diajarkannya dan penerusnya, telah dikenal baik di India pada abad ke 6…Yang dikenal sebagai ‘teorema phytagoras’ telah dikenal di India pada jaman Vedic kuno jauh sebelum Phytagoras

Mengutip Ludwig von Schröder German philosopher, author of the book Pythagoras und die Inder (Pythagoras and the Indians), diterbtikan tahun 1884, sumber: In Search of The Cradle of Civilization: : New Light on Ancient India – By Georg Feuerstein, Subhash Kak & David Frawley p. 252

    Ia berpendapat bahwa Pythagoras terpengaruh ajaran Samkhya, yang merupakan cabang paling berpengaruh setelah Vedanta.

Mengutip Dick Teresi, Lost Discoveries: The Ancient Roots of Modern Science, p 159 dan P.174-239 mengatakan:

    Dua puluh empat abad sebelum Issac newton, Rig Veda menyatakan bahwa gravitas menahan dunia. Bahasa sangsekerta bangsa Arya menyatakan ide bahwa bumi itu bulat di era dimana bangsa yunani masih mempercayai bumi itu datar.

    Dua ribu tahun sebelum Phytagoras, filsuf-filsup dari utara India telah memahami bahwa gravitas yang menahan ‘solar system’ secara berbarengan dan karena itulah Matahari merupakan suatu objek yang memiliki Massa yang sangat Besar dan harus diletakan di tengah

    Seribu tahun sebelum aristoteles, Veda bangsa Aryan menyatakan bahwa bumi itu Bulat dan mengelilingi Matahari. Terjemahan Rig Veda menyatakan: “Persembahan yang dilakukan setiap hari oleh umat kepada Matahari, kita ketahui bahwa Matahari merupakan pusat dari tata surya…Para siswa bertanya “kesatuan alam apa yang menahan Bumi? Rsi Vatsa menyatakan bahwa ia di tahan dengan jarak/kosmos dari matahari

Mengutip The crest of the peacock: Non-European roots of Mathematics – By George Gheverghese Joseph p. 1 – 18:

    Beberapa sumber bahkan menyatakan bahwa Phytagoras melakukan perjalanan hingga sampai India adalah untuk mencari Pengetahuan, hal ini menerangkan mengenai hubungan dekat yang parallel antara India dan philosopi Phytagoras dan Agama. Keparalelan ini termasuk:

    • Kepercayaan akan perpindahan jiwa-jiwa
    • Teori tentang 4 elemen dalam benda
    • Alasan mengapa tidak memakan daging
    • Struktur dari religio-philosopi karakter persaudaraan aliran phytagoras yang mirip dengan tatatertib biara Budhis dan
    • Isi dari pemikiran kebatinan aliran phyagoras, yang mirip dengan Hindu Upanisad

    Berdasarkan tradisi Yunani, Phytagoras, Thales, Empedocles, Anaxagoras, Democritus dan banyak lagi lainnya, melakukan perjalanan ke timur untuk mempelajari Philosopi dan Ilmu pengetahuan.

    Saat jaman Ptolmaic mesir dan romawi timur menjadi kokoh berdiri, Peradaban India telah maju berkembang, telah menjadi dasar 3 Agama besar yaitu Hindu, Buddha dan Jain- dan mengungkapkan secara tajam pemikiran-pemikiran religious dan dasar-dasar teori obat dan Ilmu pengetahuan

Mengutip The Bhagvad Gita: A Scripture for the Future – Translation and Commentary by Sachindra K. Majumdar p. 28

    Diyakini bahwa Dravida dari India bergerak menuju mesir dan meletakan dasar-dasar kebudayaan di sana. Dan orang-orang Mesir sendiri mempunyai tradisi bahwa mereka berasal dari Selatan, dari tanah yang bernama Punt, menurut beberapa Sejarahwan barat, Dr. H.R.Hall, merujuk pada beberapa tempat di India

    Kebudayaan lembah Indus, menurut Sir John Marshall Penanggungjawab penggalian, merupakan kebuyadaan tertua di dunia (4000 SM). Ini lebih tua dari bangsa Sumeria dan diyakini oleh banyak orang bahwa Sumeria merupakan cabang kebudayan Lembah Indus

Jean-Claude Bailly (1736–93) 18th century French astronomer and politician. Karyanya pada astronomi dan sejarah pengetahuan (khususnya ‘Essai sur la théorie des satellites de Jupiter’) yang membedakan kepentingan Ilmu pengetahuan dan keindahan susastra. Membuatnya menjadi anggota French Akademi, Akademi Pengetahuan dan Akademi Inscriptions. Baillymengatakan bahwa:

    System astronomi Hindu jauh lebih tua daripada yang ada di yunani atau bahkan di mesir. Pergerakan bintang-bintang yang di kalkulasi bangsa hindu dilakukan 4500 tahun yang lalu, bahkan tidak berbeda satu menitpun dari table yang digunakan saat ini. Dan Ia menyimpulkan: “System astronomi Hindu adalah lebih tua dari mereka-mereka bangsa Mesir dan bahkan bangsa yahudi mendapatkan pengetahuannya dari bangsa Hindu”. Sudah tidak diragukan lagi bahwa Bangsa Yunani meminjamnya dari Indus. []



Kesimpulan

Berdasarkan Pendapat dan kutipan kutipan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Kebudayaan Sumeria adalah benar merupakan peradaban kuno namun bukan merupakan peradaban yang tertua. Peradaban tersebut berasal dari India hal ini didukung oleh pendapat para ahli baik dalam maupun luar India
  2. Peradaban Yunani dan Mesir bukan merupakan peradaban tertua, Peradaban tersebut berasal dari India. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan para ahli yang berasal baik dalam maupun luar India
  3. Thales dan Phytagoras merupakan bapak Philosopi dan Ilmu pengetahuan Yunani, dari penelusuran sejarah dapat diketahui bahwa pengetahuan tersebut berasal dari India, hal ini didukung oleh pendapat para ahli baik dalam maupun luar India
  4. Tiga Naskah Sidhanta memang berasal dari luar India, yaitu Yunani, Mesir dan Romawi, namun asal muasal pemikiran yang muncul di naskah-naskah luar India tersebut berasal justru berasal dari India hal ini didukung oleh pendapat para ahli baik dalam maupun luar India
  5. Universitas Nalanda dan Taxila menurut sejarah telah berdiri sebelum Alexander datang dan bahkan sudah ada ketika jaman Sang Buddha, hal ini didukung oleh bukti arkeologis dan pendapat para ahli baik dari dalam maupun luar India
  6. Berdasarkan penelitian para ahli sejarah baik dari dalam maupun luar India terdapat bukti kuat bahwa penetapan tanggal-tanggal sejarah India yang beredar saat ini adalah salah, sebagai contoh Stephen Knapp, dari hasil penelitiannya, Ia menyimpulkan bahwa tanggal kehidupan Sang Buddha sudah meleset 1000 tahun lebih.
    []



Artikel terkait lainnya:

First saved: 8/20/08, 3:24 AM


Advertisements

155 thoughts on “Agama Langit Bilang Kaya Gini: Matahari Yang Beredar Bukannya Bumi!..Mmmhh Trus, Bumi Itu Datar!”

  1. Twann ku@jadi wajar kalau manusia jaman dulu keliru menangkap makna sebenarnya dari suatu ayat. Bahkan sampai kiamat nanti pun tak kan habis dikaji itu ayat-ayat Al Quran.

    Saya
    hahaha…. Justru ayatnya sndrilah yg membuatnya keliru, jangan salahin orng yg gx pnya ilmu, krna orng yg gx pnya ilmu jika melihat ilmu jdi tau, ko ini mlah jdi gx tau ? Kan aneh ?. Stelah sudah tau dan melihat fakta bhwa bumi itu bulat, barulah smua cndikwan muslim men cocologi(wlaupun sgt di pksakan). Haha… Aneh. Pkir jgn pke doktrin bro, pake nalar sdkit lah atau pke logikanya, klo orng yg sudh kena doktrin itu, pkirinya jdi bebal. Sprti halnya muslim yg zman dulu mngtkan bhwa bumi ini datar, tpi para kafir dri india mngtkan bumi ini bulat, dan jika memprcyai bumi ini bulat, sama sjah mreka itu kafir, tapi akhirnya terungkap bhwa siapa yg slah dan siapa yg benar. Islam hnya mencocokan, tpi wlaupun mencocokan smpai sprtii apapun, gx akan bisa di pndang bhwa dlam quran itu bumi bulat, mlainkan hnya yg terlihat bumi itu datar, srta matahari yg terbenam dan jga matahari dan bulan yg mengelilingi bumi. Aneh. Ilmu cocologi memang sgt ampuh untuk di masukin ke doktrin ya, haha… Dasar boneka.

  2. jangan salahkan ayatnya yang telah secara benar menyatakan hal sesungguhnya, tapi memang kemampuan manusia itu memang terbatas. Kafir india itupun SALAH, bentuk bumi yang tepat BUKAN bulat sempurna seperti bola, apalagi bola yang disangga oleh naga, bentuk bumi adalah seperti kata Al Quran, yakni BULAT ELIPSIS, seperti telur burung unta. Bagi manusia bumi itu DAHAHA, seperti telur burung onta bentuk sebenarnya (yakni bulat elipsis, karena bumi pepat di kedua kutubnya), yang disembunyikan di pasir yang diratakan, persis seperti bentuk bumi, yang sebenarnya bulat elipsis, tapi dalam pandangan manusia, Allah buat seolah-olah rata, bagi manusia yang tinggal dimuka bumi ini, yakni dengan cara Allah ciptakan manusia dalam ukuran yang kecil sehingga tak terasa bulatnya bumi, sehingga bisa nyaman tinggal di muka bumi ini. begituuu, paham?
    Jadi adalah kebodohan otakmulah yang mengartikan ayat itu secara keliru, padahal justru Al Quran lah satu-satunya kitab suci yang secara tepat akurat dan lengkap menjelaskan tentang bentuk bumi dll secara ilmiah.

    Kalau kamu menggunakan sedikit saja otakmu pasti kamu mengerti bedanya.
    Al Quran jelas ilmiah, karena sudah banyak para ilmuwan yang mengakui kebenaran ayat-ayat al quran tersebut, seperti ayat tentang neraka kulit, benar sekali dunia kedokteran mengakui syaraf sakit manusia terletak di kulit, juga ayat tentang akuntansi yang merujuk pada metode pencatan amak perbuatan dll. Hal-hal yang hanya tepat dipahami oleh manusia dengan keahlian yang terkait dengan ayat tersebut.
    Dan contoh yang sangat jelas sekali, adalah kebodohan kamu wira dalam mengartikan ayat tentang pengembara Dzulkarnaen, kamu kira itu ayat tentang matahari tenggelam di kolam lumpur, padahal ayat itu berbicara tentang Dzulkarnaen, seorang pengembara, yang disebutkan akhir pengembaraannya adalah di tempat ketika matahari tengelam di laut hitam, yakni di TEPI PANTAI SAAT SUNSET, itulah pandangan seorang manusia, Dzulkarnaen, yang tinggal di muka bumi ini. dll.

    Ayat Al Quran itu asli FIRMAN tuhan, firman Allah, tuhan asli sang pencipta seluruh alam semesta ini. Ayat Al Quran itu begitu luas dan dalam maknanya, sangat ilmiah, tersirat dalam keindahan bahasanya, sehingga tak akan pernah habis untuk dikaji, sesuai perkembangan tehnologi dan iptek yang dicapai manusia di tiap jamannya, sedangkan kemampuan manusia itu sangat terbatas.

    sadari itu.

  3. Halah, ngeless… Udah jelas dlam weda bumi itu bulat pepat, bukan bulat sprti bola, eh si kafir dri arab ini mlah ngmong dmikian. Halah… Udah tau ko smua ayat2 alquran yg kya bginian. Jgn cocologi, kasian bgt u, udah tau slah msih dibela mati2an. Kasian. Doktrin klo dah nempel dri kcil itu susah untuk nglepasin doktrin islam itu, imani ae yyo….

  4. sory ni gan ga usah berantem lah malu sama umur agama mu agama mu agama ku agama ku kenapa harus menjelek2an agama orang lain jika ingin tau arti Al-Quran Belajar dan Pahami jngn asal googling malu gan dan jika ingin pelajari kitab weda belajar.semua agama itu baik tergantung mengamalkanya toh dari 5 kitab suci semua di turunkanya melalui Nabi-Nabi Allah S.W.T manusia di ciptakan itu mempunyai kelebihan akal dan pikiran kalo lo emang pengen tau AL-Quran / Weda Belajar dan pahami berbeda agama tetapi alangkah baiknya bersaudara bukan saling menjatuhkan hargai pendapat orang jangan mencaci dan maki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s