Kelahiran Kembali/Reinkarnasi


Pada suatu hari setan berjalan-jalan dengan satu temannya. Mereka melihat seseorang membungkuk dan memungut sesuatu dari jalan.

“Apa yang ditemukan orang itu?” tanya si teman.
“Sekeping kebenaran,” jawab setan.
“Itu tidak merisaukanmu?” tanya si teman.
“Tidak,” jawab setan.
“Aku akan membiarkan dia menjadikannya kepercayaan agama.”-[Anthony de Mello SJ]

Salah satu ‘Keping Kebenaran’ yang dipungut dan menjadi anggapan umum adalah bahwa doktrin reinkarnasi/kelahiran kembali hanya ada di tradisi ajaran India dan bahwa itu hanyalah dongeng pengantar tidur belaka.

Pernahkah anda mendengar kisah dari Jendral angkatan darat Amerika, Patton? Ia adalah panglima terkenal dari pasukan sekutu ketika terjadi perang dunia kedua, terkenal akan keberanian dan kemahirannya bertempur. Konon Ia mempercayai reinkarnasi.

Tatkala Patton berusia remaja, Ia beranggapan bahwa pada kehidupan masa lampaunya Ia pernah mengabdi kepada jendral terkenal Hannibal dari Cartago, pernah pula sebagai prajurit Roma kuno, anak buahnya Napoleon, sebagai prajurit kavaleri dari jendral Kerajaan Roma Timur dan lainnya. Pendeknya, berbagai peran dalam pertempuran bersejarah sepertinya pernah dijalaninya. Jadi, Ia menganggap dirinya kelak sudah pasti menjadi pahlawan perang. Apabila anda merasa bahwa hal-hal tersebut hanyalah bualan Patton, kisah di bawah ini barangkali akan mengkoreksinya.

    Ketika itu Patton memimpin pasukan di wilayah padang pasir Afrika utara berperang menghadapi tentara Jerman. Suatu kali, seorang perwira Perancis berkendara membawa Patton menuju garis depan memeriksa keadaan medan laga. Di tengah jalan, Patton tiba-tiba memintanya berbelok arah. Perwira Perancis sempat kebingungan, ia mengatakan medan perang bukan di arah tersebut. Sedangkan Patton ngotot bahwa itu adalah medan perang, namun bukan medan perang pada hari ini.

    Akhirnya di bawah arahan Patton mereka tiba pada medan perang kuno 2000 tahun yang lalu. Perwira Perancis menjadi heran bagaimana Patton mengetahui lokasi ini, Patton menjawab bahwa dirinya pernah mengikuti pasukan besar Roma ke tempat tersebut.

    Family clan Patton mempunyai tradisi mahir berperang. Banyak anggota clan termasuk Patton menyatakan pernah secara jelas menyaksikan roh dari leluhur. Kemahiran Patton tentang perang, apakah berkat perlindungan dari leluhur, ataukah berasal dari pengalaman kehidupan masa lalunya? (Sumber: Erabaru News, Rabu 25 juli 2007)

Jika anda masih memegang ‘keping kebenaran’ bahwa kelahiran kembali hanya dikenal di ajaran India, tidak ada di ajaran lain, maka anda keliru. Kelahiran kembali juga dikenal di tradisi ajaran Abrahamic Nasrani dan Islam walaupun para pemuka agama dan pemeluknya masih malu-malu kucing mengakuinya, padahal, kajian Ilmu Modern saja sudah mengakui doktrin kelahiran kembali/reinkarnasi tradisi ajaran India sebagai suatu yang ilmiah, bahkan menjadi bagian kajian di satu disiplin ilmu. Oleh karenanya, setelah anda membaca artikel ini, ujilah diri anda sendiri, apakah masih di ‘keping kebenaran’ yang sama atau tidak.




Nasrani/Kristen: Kelahiran Kembali

    Kisah Jane Evans:
    Pada tahun 1971 lewat sebuah plank iklan “Arnall Bloxham katakan rematik merupakan suatu yang psikologis”, Jane Evans [bukan nama sebenarnya], seorang ibu rumah tangga dari Welsh yang berusia 32 tahunan yang menderita reumatik artistik akhirnya melakukan konsultasi dengan Dr Arnall Bloxham [80 tahun]. Bloxham adalah praktisi hipnoterapis bereputasi tinggi dan juga President Ikatan Hypnotherapist Inggris.

    Ketika Jane di rumah Bloxham, atas seijin Jane, Bloxham kemudian menghipnotisnya dan terungkaplah 6 kehidupan masa lalu Jane. Salah satu yang kita ketengahkan saat ini adalah kehidupan ketika ia menjadi seorang Wanita Yahudi berkeluarga bernama Rebecca, yang hidup di kota York, Inggris pada abad ke 12.

    Jane menggambarkan banyak sekali detail kehidupan masyarakat yahudi di jaman itu, bagaimana ia dan juga penduduk Yahudi lokal lainnya dipaksa menggunakan semacam peneng pengenal diri bahwa mereka Yahudi. Ia juga bercerita mengenai satu kejadian mengerikan yaitu pembantaian besar-besaran yang menimpa populasi Yahudi saat itu yang dilakukan para penduduk lokal. Selama kejadian itu, ia juga ingat bagaimana Ia bersama anaknya bersembunyi di sebuah ruang bawah tanah di suatu gereja setempat yang akhirnya ditemukan massa dan kemudian terbunuh.

    Professor Barrie Dobson, Ahli sejarah Yahudi dari York University, diminta untuk mengkaji kebenaran ingatan ini. Ia kemudian menemukan bahwa deskripsi kehidupan Yahudi di abad ke 12 [1189/1190] yang di sampaikan oleh Jane mempunyai tingkat akurasi yang sangat mengagumkan dan bahkan banyak detail informasi tersebut hanya diketahui oleh para ahli sejarah yang sangat profesional.

    beberapa detail awalnya belum tepat, misal otoritas gereja roma menitahkan agar para Yahudi yang ada diseluruh negara kristen harus memakai identifikasi khusus. Dobson mengatakan bahwa titah itu baru dilakukan tahun 1215 M, namun dalam proses investigasi yang lebih mendalam, terungkaplah bahwa pemakaian peneng pengenal diri yang diwajibkan pada para Yahudi ternyata sudah tersebar luas di daerah Ingris selama abad ke 12 bahkan terjadi sebelum titah otoritas gereja. [Perintah pembedaan pakaian terhadap kaum Yahudi, telah dilakukan sejak abad ke 8 di Arab]

    Beberapa detail lainnya keakuratan sangat mengagumkan, misalnya Jane mengatakan bahwa kaum Yahudi saat itu meminjamkan uang pada raja Henry Plantagenet, untuk membiayai perang di Irlandia, sebagai gantinya mereka diperbolehkan berusaha, meskipun juga ditambah dengan membayar retribusi dari ‘sepersepuluh bagian’ atas apapun.

    Kemudian, Jane menceritakan bahwa setelah Henry meninggal di gantikan oleh Richard yang kemudian segera berangkat ke Perang Salib, mereka merasa telah kehilangan perlindungan terakhir mereka dan sedang bersiap melarikan diri kota. Ia memberikan angka tahun yaitu tahun 1189, di mana Henry telah melindungi mereka selama tiga puluh tahun.

    Jane juga mengatakan bagaimana seorang pastor datang ke York merekrut orang untuk yang sekarang disebut Perang Salib Ketiga. Kaum Yahudi dan Muslim dianggap sebagai kafir. Kebencian ini disampaikan oleh Paus sendiri. Kemudian, bagaimana orang-orang Yahudi dari York menjadi khawatir pada peningkatan aksi kekerasan di kota-kota lainnya yang ditujukan pada ras mereka, yang kemudian membuat suaminya segera mengamankan uang mereka untuk dipindahkan ke pamannya di Lincoln. Dobson sendiri memang telah mempunyai dokumentasi hubungan York-Lincoln di kalangan Yahudi ketika itu.

    Juga mengenai seseorang pria muda bernama ‘Mabelise’ yang telah meminjam uang kepada suaminya dan kemudian harus membawanya ke ‘assizes’ [pengadilan setempat] untuk dapat memintanya. Benar tercatat oleh para penulis sejarah, seorang bangsawan lokal bernama Richard Malebisse, yang berutang uang pada orang-orang Yahudi dari York dan kemudian malah memimpin pemberontakan terhadap mereka yang sebagaiannya agar dapat menghindari membayar utang-utangnya.

    Jane kemudian menceritakan bagaimana drama kehidupannya memburuk, yaitu dimulai dari kematian seorang pemimpin Yahudi bernama “Isaac” yang memicu kerusuhan di “coney street” dan ia mengingat bagaimana tetangga mereka, Ayahnya Benjamin yang dibunuh ketika pergi ke London. Dobson sendiri memberikan konfirmasi bahwa Benedict merupakan 1 diantara warga yahudi kaya raya, York yang terbunuh dalam kerusuhan di London ketika pengangkatan Richard dan kemudian dilanjutkan dengan pembantaian terhadap keluarganya.

    Jane mengatakan dirinya bersama keluarganya berlindung di sebuah kastil bersama para yahudi lainnya. para perusuh di hari pertama ada diluar Kastil dan kemudian makin mengganas, sehingga banyak para Yahudi segera membunuh mati anak2 mereka karena saat tertangkap akan mengalami penyiksaan yang sangat mengerikan. Dobson memberikan konfirmasi bahwa ini benar dan para penulis sejarahpun mencatat kejadian ini.

    Kemudian “suami” jane berhasil mengajak anak2nya mencari persembunyian di gereja tepat diluar “big copper gate’. Mereka berhasil mengikat pendeta dan pembantunya kemudian bersembunyi di ruang bawah gereja selama berhari-hari dalam keadaan ketakutan, kedinginan dan kelaparan. Pada beberapa hari kemudian, yaitu disaat Suami dan anak lelakinya mencari makan, Para perusuh mendekat, memasuki gereja, menuju tempat persembunyian mereka, menarik paksa anaknya dan kemudian gelap.

    Dobson, mengatakan bahwa “Gerbang besar Copper [Big Copper Gate)” tidaklah ada, namun pada waktu itu ada jalan yang bernama “CopperGate” memiliki gerbang besar di ujungnya yang mengarah ke Kastil.

    Dari detail cerita jane, Dobson kemudian mengidentifikasi 3 Gereja di sekitar Coppergate dan menjadikan St Mary’s, Castlegate sebagai “tersangka” utama gereja, di mana Rebecca [Jane] dan suaminya bersembunyi. Gereja berada dekat dengan Coppergate dan kastilpun terlihat. Namun, ada satu masalah, yaitu hampir sama dengan seluruh gereja yang ada di daerah itu, tidak mempunyai ruang bawah tanah atau gudang.

    Di tahun 1975, Dobson bersurat pada Iverson dan menuliskan bahwa di bulan September, ketika dilakukan renovasi pada gereja tersebut, Para pekerja bangunan menemukan di bawah Mimbar Gereja, sebuah ruang bawah tanah dengan lingkaran bebatuan melengkung dan kubah. Suatu fenomena yang jarang terjadi pada gereja-geraja di area tersebut. Deskripsi tersebut, menyerupai keadaan bangunan sebelum periode Norman ataupun roman [sekitar 1190 M] dan bukan setelah itu. Namun tempat itu segera di tutup sebelum para arkeolog, York melakukan penyelidikan sepatutnya.


    Note:
    “The Bloxham Tapes”, tahun 1976, merupakan sebuah Dokumenter milik BBC. Jeff Iverson, seorang produser Televisi diminta untuk membuatnya dan kemudian bertemu dengan Arnall Bloxham serta mendengarkan 400an subjek regresinya Bloxham. Kasus “Jane Evans” [Rebecca], ini telah 2 (dua) x di investigasi, yaitu:

    • Kelompok 1,
      Jeffery Iverson dan Magnus Magnusson; Prof. barrie Dobson, seorang Proffesor sejarah Medieval yang mengajar di York dan Cambridge. Iverson, mendapatkan bahwa JANE pernah 1 sekolah di Newport namun beda tahun kelas dengan dirinya sendiri. Ia memastikan bahwa Jane tidak pernah punya pendidikan lanjutan dan tidak juga pada hal-hal yang relevan berhubungan dengan regresinya dan begitu pula dengan orang tuanya yang tidak banyak membaca atau menunjukan minat besar pada sejarah saat Jane masih muda.
    • Kelompok2,
      Di atas tahun delapan puluhan Melvin Harris dan Ian Wilson (bukan Ian Lawton), melakukan investigasi pada Iverson, Dobson, dan Jane.

      Harris menemukan bahwa Jane memang tidak membaca buku-buku sejarah dan juga buku-buku fiksi yang memainkan peranan besar dalam regresinya [ingatannya], namun Harris merujuk novel fiksi “The Moneyman” yang dicurigainya sebagai sumber rujukan ingatan “Jane”.

      Sementara Wilson melaporkan bahwa 3 (tiga) korespondennya mengingat ada siaran radio di tahun limapuluhan tentang peristiwa pembantaian di York, namun tidak satupun dari korespondennya dapat mengingat nama-nama dan Wilson pun tidak dapat meneruskan penelusuran lebih lanjut lagi

    Pada “The Bloxham Tapes Revisited“, Ian Lawton, mengomentari penyelidikan Melvin Harris, penulis buku “Investigating the Unexplained”. Yaitu ketika tahun 1986, Harris menyurati Dobson mengenai ruang bawah tanah dengan kubahnya bukanlah berasal periode sebelum medival, namun periode sesudahnya [± abad ke-17]. Yang Harris tuliskan, berasal dari temuan Komisi Survey kerajaan di tahun 1981, yang “kemungkinan besar penyisipan belakangan”.

Pada kisaran kehidupan Yesus, di jaman itu terdapat 3 Sekte kaum Yahudi, yaitu kaum Farisi, Saduki dan Essene (Abad 2 SM – 2 M, Kaum Essene menghilang di masa kehancuran Yerusalem). Sejarahwan Yahudi, Josephus (37-100 M) mengatakan bahwa kaum Farisi dan essene percaya bahwa jiwa itu abadi, spesifiknya adalah kaum Farisi, sekte utama Yahudi, mempercayai reinkarnasi, bahwa jiwa orang baik pindah ke tubuh lainnya, sementara kaum saduki, adalah satu-satunya sekte yang tidak percaya bahwa jiwa itu abadi [“The Wars Of The Jews”, Ch 2.8.14 dan “Antiquities of the Jewish”, 8.1.3]. Josephus sendiri tampaknya percaya bahwa jiwa itu akan dikembalikan lagi ketubuh yang suci [“The Wars Of The Jews”, 3.8.5].


Dalam kepercayaan Yahudi, Seth dan Musa sebagai reinkarnasi Abel (anak Adam: Zohar 32.54b, HaChaim Genesis 4.1), Jethro reinkarnasi Cain, sementara Adam diyakini lahir kembali sebagai juru selamat (Mesias).


Banyak dari para bapak gereja awal kristen, menerima dan mengajarkan ide reinkarnasi, diantaranya: Justin Martir (100-l65), Clement dari Alexandria (150-220), Origen (184-253), Gregory dari Nyssa (257-332), Agustine (354-430) dan Francis dari Assisi (1182-1226). Bahkan Jerome (347-420) menyatakan di awal kekristenan, reinkarnasi diajarkan pada para umat terpilih. Namun kemudian, di konsili umum (ecumencal) ke 5 di abad ke 6 (konsili Konstantinopel, 543 M), kepercayaan tersebut dilarang dan dianggap klenik oleh gereja Katolik, sehingga sejak itu, kekristenan Eropa, yaitu: Perancis, Spanyol, Bulgaria dan dimanapun mengadakan penyidikan yang sangat biadab. Sekte-sekte yang percaya reinkarnasi seperti Cathar dan Bogomil, di abad pertengahan, mengalami penindasan keji dan biadab oleh gereja. [REINCARNATION – Fact or Fallacy?, Douglas Lockhart; “Reincarnation – A Study In Human Evolution”, Theophile Pascal, hal.85; “Reincarnation as Taught by Early Christians“, I.M. Oderberg]

Firman konsep reinkarnasi di Alkitab, misalnya di Kejadian 6:3,

    Berfirmanlah TUHAN: “Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.”

Informasi kitab kejadian menyatakan bahwa Roh Tuhan menitis kepada manusia, Kemudian kitab Yehezkiel 37:1-14,

    ..Ia membawa aku melihat tulang-tulang itu berkeliling-keliling dan sungguh, amat banyak bertaburan di lembah itu; lihat, tulang-tulang itu amat kering. Lalu Ia berfirman kepadaku: “Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?”

    Aku menjawab: “Ya Tuhan ALLAH, Engkaulah yang mengetahui!”

    Lalu firman-Nya kepadaku: “Bernubuatlah mengenai tulang-tulang ini dan katakanlah kepadanya: Hai tulang-tulang yang kering, dengarlah firman TUHAN! Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada tulang-tulang ini: Aku memberi nafas hidup di dalammu, supaya kamu hidup kembali. Aku akan memberi urat-urat padamu dan menumbuhkan daging padamu, Aku akan menutupi kamu dengan kulit dan memberikan kamu nafas hidup, supaya kamu hidup kembali. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan kepadaku; dan segera sesudah aku bernubuat, kedengaranlah suara, sungguh, suatu suara berderak-derak, dan tulang-tulang itu bertemu satu sama lain. Sedang aku mengamat-amatinya, lihat, urat-urat ada dan daging tumbuh padanya, kemudian kulit menutupinya, tetapi mereka belum bernafas

    Maka firman-Nya kepadaku: “Bernubuatlah kepada nafas hidup itu, bernubuatlah, hai anak manusia, dan katakanlah kepada nafas hidup itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Hai nafas hidup, datanglah dari keempat penjuru angin, dan berembuslah ke dalam orang-orang yang terbunuh ini, supaya mereka hidup kembali.”

    Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan-Nya kepadaku.

    Dan nafas hidup itu masuk di dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali. Mereka menjejakkan kakinya, suatu tentara yang sangat besar.

    Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, tulang-tulang ini adalah seluruh kaum Israel.

    Sungguh, mereka sendiri mengatakan: Tulang-tulang kami sudah menjadi kering, dan pengharapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang.

    Oleh sebab itu, bernubuatlah dan katakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya, dan Aku akan membawa kamu ke tanah Israel. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada saat Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya. Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan membuatnya, demikianlah firman TUHAN.”

Beberapa menyatakan bahwa kejadian di Yehezkiel BUKAN kejadian nyata. Apabila pendapat ini diterima, maka implikasinya adalah:

  • Alkitab jelas bukan buku suci dan jelas juga bukan kitab sejarah yang dapat dipercaya akurasi kebenarannya
  • Alkitab tidak ditulis oleh orang-orang yang diilhami roh kudus atau para penyeleksi kitab tidak terinspirasi dari roh kudus.
  • Berita keselamatan dan janji surga merupakan khayalan semata dari para pengarangnya.


Lepas dari itu semua, kalimat pasal 37 di atas mengindikasikan pengarangnya dan/atau masyarakat Yahudi saat itu sangat mengenal konsep reinkarnasi dengan baik. Juga dalam Maleakhi 4:5

    Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu.


Kemudian di Injil Yohanes 1:6-21 , terdapat percakapan berkenaan dengan ‘Elia akan datang’ yaitu ketika Yohanes pembaptis ditanya masyarakat mengenai siapa dirinya.

    Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes…Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: “Siapakah engkau?”.Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias.” Lalu mereka bertanya kepadanya: “Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?”. Dan ia menjawab: “Bukan!”. “Engkaukah nabi yang akan datang?”. Dan ia menjawab: “Bukan!”


Percakapan di atas, membuktikan bahwa kepercayaan reinkarnasi sudah melekat kuat dikalangan Yahudi di awal masehi. Kemudian di Injil Matius 11:13-15 , 17:18, Markus 9:13, Yesus sendiri mengkonfirmasi bahwa Yohanes Pembaptis adalah reinkarnasi Elia

    Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes dan–jika kamu mau menerimanya–ialah Elia yang akan datang itu. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!


Di Injil Yohanes 9:1-3, tertera bahwa Yesus dan murid-muridnya mengetahui beda konsep kelahiran kembali dan dosa turunan:

    Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.

Sementara itu, dosa turunan disebutkan dalam kitab keluaran 34:7,

    Aku tetap mengasihi beribu-ribu keturunan dan mengampuni kesalahan dan dosa; tetapi orang bersalah sekali-kali tidak Kubebaskan dari hukumannya, dan Kuhukum pula anak-anak dan cucu-cucu sampai keturunan yang ketiga dan keempat karena dosa orang tua mereka

Tampak jelas bahwa mereka memahami beda antara konsep reinkarnasi dan dosa turunan, juga terdapat spekulasi beredar di kalangan masyarakat saat itu mengenai siapa Yesus/Isa sebelum dilahirkan yaitu di lukas 9:18-20,

    Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka: “Kata orang banyak, siapakah Aku ini?”

    Jawab mereka: “Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.”

    Yesus bertanya kepada mereka: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus: “Mesias dari Allah.”


Kalimat yang kurang lebih sama dinyatakan di Matius 16:13-16; Markus 8:27-29, yang bahkan sekaligus memasukan Yohanes pembaptis yang baru saja meninggal itu sudah dianggap menitis kepada Yesus, tapi Anda tidak akan heran apabila membaca II Raja-raja 2:9, 13-15,

    Dan sesudah mereka sampai di seberang, berkatalah Elia kepada Elisa: “Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu.” Jawab Elisa: “Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu…Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai..Sesudah itu dipungutnya jubah Elia yang telah terjatuh, lalu ia berjalan hendak pulang dan berdiri di tepi sungai Yordan… Ia mengambil jubah Elia yang telah terjatuh itu, dipukulkannya ke atas air itu sambil berseru: “Di manakah TUHAN, Allah Elia?” Ia memukul air itu, lalu terbagi ke sebelah sini dan ke sebelah sana, maka menyeberanglah Elisa…Ketika rombongan nabi yang dari Yerikho itu melihat dia dari jauh, mereka berkata: “Roh Elia telah hinggap pada Elisa.” Mereka datang menemui dia, lalu sujudlah mereka kepadanya sampai ke tanah.


Konfirmasi spekulasi masyarakat mengenai alternatif reinkarnasi Yesus dari beberapa Nabi, menjadi tidak jelas dalam Matius 17:1-3; Markus 9:2-4; Lukas 9:28-36. Yaitu saat Yesus bersama Petrus, Yohanes dan Yakubus naik ke atas gunung untuk berdoa

    Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Dan tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia….Sementara ia berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Dan ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” Ketika suara itu terdengar, nampaklah Yesus tinggal seorang diri.

Markus, Lukas dan Matius yang tidak ikut ada di sana, malah menyatakan hal yang lain lagi dengan bumbu suara tak dikenal di awan. namun pastinya, Yesus sendiri memang mengajarkan konsep kelahiran kembali dalam Yohanes 3:3-12,

    Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”

    Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?”

    Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.

    Nikodemus menjawab, katanya: “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?”

    Jawab Yesus: “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?


Kemudian di 1 Korintus 15:32, 35-44:

    Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati”…

    Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: “Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?

    Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu. Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain.

    Tetapi Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri. Bukan semua daging sama: daging manusia lain dari pada daging binatang, lain dari pada daging burung, lain dari pada daging ikan. Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh duniawi…

    Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah….

    Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi. Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa.

Namun, ada satu hal yang sering digunakan sebagai landasan untuk menolak paham reinkarnasi yaitu Ibrani 9:27,

    Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.


Dengan mengesampingkan semua bukti kitabiah adanya reinkarnasi di Alkitab dan hanya berpegang pada teori kitab Ibrani di atas, maka bagaimana kaum Kristen menjawab fenomena yang ada di catatan dokter psikiater dan penulis novel Arthur Guirdham, di bawah ini, yang hasilnya diinvestigasi Tony Robinson dan jurnalis sains, Becky McCall?

    Kisah Ny Smith:
    Seorang pasiennya bernama Ny Smith mengaku sejak usia 10 tahun kerap dihantui mimpi bahwa ia pernah hidup sebagai istri pendeta kaum Chatar di abad ke-13.

    Saat dalam perawatan, ia bisa menceritakan detail pembantaian massal terhadap kaum Cathar di Eropa (Perancis) karena diangap sebagai aliran sesat dari agama Kristen. Ny Smith menyebutkan bahwa banyak pendeta Cathar yang dibunuh dan dibakar. Ia sendiri mengaku diikat massa dan dibakar hidup-hidup di tumpukan kayu bakar. Ia juga menggambarkan detail pakaian, struktur bangunan, dan peradaban di masa itu.

    Sang dokter, Arthur Guirdham, seorang yang benar-benar skeptic pada reinkarnasi dan hal-hal yang berhubungan dengan ini, melakukan penelitian detail dan melakukan kroscek terhadap pengakuan si pasien. Ia terkejut ketika menemukan sebuah fakta sejarah yang sejalan dengan penuturan Ny Smith yang sama sekali tidak paham sejarah kaum Cathar.

    Sejarah mencatat bahwa Paus innocent III meluncurkan perang salib brutal atas pengikut sekte cathars yang mempercayai adanya reinkarnasi. Kejadian tersebut menyebabkan terjadinya pembantaian puluhan ribu pria, wanita dan anak2 yang tidak bersalah.

    Dari manakah para pasien ini mendapatkan informasi detail yang bahkan hanya tertulis di literatur yang nyaris tak pernah dipublikasikan untuk awam?


Untuk dua kisah di atas, Kristen biasanya berpendapat diantara dua, yaitu itu adalah kuasa Tuhan atau itu adalah Kuasa Iblis/roh kegelapan untuk menipu.

Kuasa Tuhan? Bukankah akan lebih baik bagi Tuhan untuk menunjukan Kuasanya dengan menyelamatkan korban yang dibantai daripada hanya menunjukan ingatan kejadian itu pada Jane dan Mrs Smith? atau Tuhan pun dapat menunjukan Kuasanya membunuh lewat tangan pihak lain?

Kuasa kegelapan/Iblis dan Doktrin Iblis? Contoh di atas membuktikan bahwa mereka yang tidak mempercayai reinkarnasi malah bertindak bak Iblis, suatu ironi, sekte yang mengakui reinkarnasi malah justru dibantai brutal.

Nah, silahkan anda pilih pendapat mana yang anda hendak tawarkan sebagai solusinya:

  1. Kontradiktif terjadi dalam Alkitab perjanjian baru, bisa jadi satu atau beberapa diantaranya adalah bukan dipandu Roh Kudus malah oleh Roh Iblis, atau
  2. Term kata ‘manusia’ adalah Roh dan Daging. Roh kekal selamanya dan Daging tidak. Di hari penghakiman yang dibutuhkan Roh bukan daging, sehingga daging yang tidak akan kembali sebagaimana tercantum dalam Mazmur 78:39, ”Ia ingat bahwa mereka itu daging, angin yang berlalu, yang tidak akan kembali”. Roh kekal adanya dan dapat dilahirkan kembali dengan daging baru, atau
  3. Kristen ‘mau’ mengakui kebenaran konsep reinkarnasi ‘asal’ berada pada batas-batas: Roh hanya dapat menjadi
    • Daging, contoh:Kejadian 6:3, Yehezkiel 37
    • Roh Allah bereinkarnasi menjadi Nabi, contoh: Yohanes reinkarnasi Elia (Matius 11:13-15)
    • Manusia berubah menjadi Malaikat/roh di surga, contoh: Henokh dan Ellia yang diangkat.
    • Roh yang dapat hinggap ke dalam manusia: contoh elia ke elisa, roh kudus ke manusia, roh daripada tuhan kemanusia, setan kedalam babi, setan kedalam manusia


Informasi di Alkitab sangat jelas memberikan konfirmasi bahwa konsep reinkarnasi telah dikenal luas dan bermasyarakat di kalangan Yahudi dari sebelum hingga ketika Yesus ada.

Kalangan Yahudi pun berbicara tentang adanya reinkarnasi, misalnya Rabbi Isaac Luria (1534-1572 yang juga dikenal sebagai ARI atau ARIZAL), dikenal luas sebagai Kabbalist dari jaman modern. Ia menuliskan reinkarnasi tokoh-tokoh terkemuka yang ada di Torah (Perjanjian lamanya Kristen).

Untuk jaman sekarang, misalnya Rabbi Yonassan Gershom, Ia menuliskan 2 buku mengenai kasus-kasus reinkarnasi dari Holocaust, Ia juga memberikan komentar pada kisah dari Jenny Cockell, yang selalui di hantui oleh mimpi seperti ingatan dari kehidupannya dulu sebagai wanita muda Irlandia yang bernama Mary Sutton, yang meninggal 2 dekade sebelum Jenny Cockell dilahirkan, meninggalkan 8 orang anak. Setelah mencari jejak berdasarkan dari petunjuk-petunjuk ingatannya, Jenny akhirnya berhasil melacak anak-anak Marry Sutton dan menulis buku mengenai pengalamannya, Across Time and Death: A Mother’s Search for Her Past Life Children.

Komentar Rabbi Yonassan Gershom:

    ” Ini adalah satu kasus yang paling menyakinkan dari kasus-kasus reinkarnasi yang saya dapatkan selama ini. Jenny Cockell tidak hanya mempunyai ingatan dari kehidupan lalunya, Ia bahkan menemukan anak-anaknya dikehidupan lalunya. Anak-anak di masa lalunya yang saat ini masih hidup adalah penganut katolik roma taat, yang tidak percaya adanya Reinkarnasi, namun dalam rekaman, mereka berkata bahwa entah bagaimana ibunya ‘berbicara melalui’ Jenny dan mereka telah memverifikasi beberapa detail dari ingatannya. Bertemu Jenny Cockell dalam satu konferensi di Oslo, Norwegia tahun 1994 dan melihat bahwa ia seorang yang sangat tulus dan kredibel . Saya sangat merekomendasikan buku ini!”


BELUM CUKUP? Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! []



Islam: Kelahiran Kembali

    Kisah Imad Elawar:
    Ia lahir pada tanggal 21 Desember 1958 di desa Kornayel Lebanon. anak dari Mohammad dan Nasibeh Elawar. Ketika berusia 1.5 sampai dengan 2 tahun ia mulai membuat referensi atas kehidupannya terdahulu. Ia menyebut sejumlah nama orang dan beberapa peristiwa dalam hidupnya terdahulu, dan juga sejumlah benda-benda yang dinyatakannya dimilikinya. Kadang-kadang ia bicara kepada dirinya sendiri tentang orang-orang yang nama-namanya ia sebut-sebut, bertanya kepada dirinya sendiri dengan suara keras-keras bagaimana keadaaan orang-orang ini sekarang. Disamping berguman terhadap dirinya sendiri, pernyataan pernyataannya tentang hidupnya terdahulu keluar pada saat -saat yang aneh, ketika sesuatu tampaknya merangsang pernyataan demikian. Ia juga berbicara mengenai hal-hal itu dalam tidumya. Imad mengatakan bahwa ia hidup di desa Khirby dalam keluarga Bouhamzy. la meminta kepada orang tuanya untuk membawanya ke Khirby.

    Ayahnya menghardik Imad pembohong karena mengatakan hal-hal mengenai hidupnya terdahulu. Imad tetap membicarakan hal ini.

    Suatu hari Salim el Aschkar, seorang penduduk Khirby datang ke Kornayel. Salim kawin dengan seorang gadis dari Kornayel, karena itu ia sewaktu-waktu mengunjungi desa ini. Ketika Salim lewat Imad sedang berada di jalan bersama neneknya. Ketika Imad melihat Salim, ia berlari menyongsong Salim dan memeluknya. Salim bertanya : “Apakah kamu mengenal saya?” Imad menjawab: “Ya, kamu adalah tetangga saya.” Salim dulu memang tetangga keluarga Bouhamzy, tapi sekarang Salim sudah pindah rumah. Pernyataan yang tak terduga ini menimbulkan kepercayaan pada ayah Imad, tapi keluarganya tidak mengambil tindakan untuk mengecek kebenaran dari pernyataan-pemyatan Imad. Beberapa waktu kemudian, mereka bertemu dengan seorang wanita dari Maaser el Shouf, satu desa dekat Khirby, yang datang ke Kornayel untuk satu kunjungan. Dia menegaskan kepada orang tua Imad bahwa beberapa orang yang nama-namanya disebut-sebut oleh Imad memang ada atau pernah hidup di Khirby.

    Jamileh
    Kata-kata pertama yang diucapkan oleh lmad adalah “Jamileh” dan “Mahmoud”. Imad bercerita tentang suatu peristiwa kecelakaan dimana sebuah truk menabrak seorang laki, mematahkan kedua kakinya dan luka berat lain, yang menyebabkan laki-laki itu meninggal. Imad bercerita tentang pertengkaran antara sopir truk dengan orang yang ditabrak dan yakin bahwa sopir itu sengaja hendak membunuh laki-laki itu dengan mengarahkan truk untuk menabraknya.

    Ayah Imad mencoba menghubung-hubungkan ucapan-ucapan Imad menjadi sebagai berikut. Mahmoud Bouhamzy menikah dengan Jamileh. Kemudian Mahmoud tertabrak truk dan tewas.

    Pada bulan Desember 1963, satu pengumuman dan undangan dari Khirby untuk penguburan Said Bouhamzy, seorang tokoh Druze di Khirby disampaikan ke Kornayel. Paman Imad, seorang tokoh Druze di Komayel dan ayah Imad karena ingin tahu datang ke Khirby. Inilah kunjungan mereka yang pertama ke Khirby. Adalah kebiasaan orang-orang Druze untuk saling mengundang bila ada kematian khususnya bila yang mati itu adalah orang penting. Sebelumnya kedua keluarga ini belum saling mengenal. Dan pada kesempatan itu mereka tidak melakukan pengecekan apapun atas pengakuan Imad.

    Komayel adalah satu desa di pegunungan kira-kira 15 mil di sebelah timur Beirut. Khirby kira-kira 20 mil di sebelah tenggara Beirut. Jarak lurus dari Komayel ke Khirby adalah 15 mil. Tapi bila mengikuti jalan melinakar pegunungan dari Kornayel menuju Khirby jaraknya adalah 25 mil.

    Stevenson ke Lebanon
    Ketika sedang mengadakan penelitian di Brazil Dr. Stevenson mendengar adanya kasus-kasus reinkamasi dari seorang penerjemahnya yang berasal dari Lebanon. Pada bulan Maret 1964 ia datang ke Lebanon. Ketika itu Imad berusia 6 tahun. Dr. Ian Stevenson mengadakan penyelidikan atas kasus ini. Setelah melakukan pengecekan terhadap ucapan-ucapan Imad melalui wawancara dengan 20 orang informan, di Kornayel, Khirby, Baadaran di Lebanon dan Raha di Syria, akhirnya diketahui orang yang dimaksud oleh Imad sebagai hidupnya terdahulu adalah Ibrahim Bouhamzy. Mahmoud adalah paman Ibrahim dari pihak ibu. Sedangkan keluarga Bouhamzy yang meninggal karena tertabrak truk pada bulan Juni 1943 adalah Said Bouhamzy.

    Ibrahim Bouhamzy telah meninggal pada tanggal 18 Desember 1949, dalam usia 26 tahun karena TBC, tujuh tahun sebelum Imad lahir. Ketika masih hidup Ibrahim mempunyai “pacar” (mistress, bhs Bali = mitra) bernama Jamileh. Mereka tidak pernah menikah. Setelah Ibrahim meninggal Jamileh menikah dengan laki-laki lain dan pindah dari Khirby ke desa Aley 8 mil dari Komayel..

    Dari semua orang yang disebut oleh Imad terkalt dengan hidupnya sebelumnya, Jamileh menempati posisi utama. Namanya adalah kata pertama yang diucapkan secara jelas ketika Imad mulai bicara dan sejak itu sering dia ucapkan. Dia mengatakan dia membelikan baju-baju merah untuknya dan membandingkan kecanitkan dan baju Jamileh dengan kecantikan dan baju ibunya, misalnya ia mengatakan ibunya tidak memakai sepatu hak tinggi seperti Jamileh. Kerinduan Imad dengan Jamileh mencapai ekspresi puncaknya ketika suatu hari ia berbarig di tempat tidur dengan ibunya dan ia tiba-tiba meminta ibunya untuk bertingkah seperti Jamileh. Peristiwa ini terjadi ketika Imad berusia sekitar 3 tahun.


[Sumber: di sini, di sini dan di sini. Analisis rinci: di sini dan di sini]

Pendapat mengenai keberadaan reinkarnasi (tanasukh Al-Arwah dan/atau Raj’ah) dari dua ahli ilmu agama Islam dari Sekolah Pasca sarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta:

Dr. Kautsar (Dosen Pascasarjana):

    Secara umum para pemikir Islam menolak paham reinkarnasi. Ibnu ‘Arabi yang dikenal liberal itu, dalam penelitian Kautsar, tak punya pandangan semacam itu. Kautsar sendiri menilai pandangan tentang reinkarnasi itu rasional. Menurut Kautsar, bila ada orang yang dari lahir sudah menderita, maka itu bisa dijelaskan sebagai akibat perilakunya pada masa lalu. “Ini rasional sekali. Sehingga kita tidak selalu menjawab misteri keadilan Tuhan dengan kata-kata taqdir Tuhan,” katanya. Penganut reinkarnasi, menurut Kautsar, juga mengakui alam akhirat. “Jadi, pesan dasar paham reinkarnasi itu tak bertentangan dengan Islam,” paparnya. Misalnya, ia mengakui adanya hari akhirat. Bedanya, untuk menuju akhirat, bagi penganut reinkarnasi, jalannya berulang-ulang. Sedangkan bagi yang tidak percaya, jalannya linear. ” Dr Kautsar juga meyakini ada hukum sebab akibat, sehingga mendorong orang berbuat lebih baik,”.


Dr. Nasaruddin Umar (Purek IV)

    Ia Menolak konsep reinkarnasi, bila yang dimaksud sama dalam pengertian agama Hindu. “Misalnya, manusia bisa berinkarnasi menjadi hewan atau tumbuhan. Atau jangan-jangan kita berasal dari ruh babi, atau kelak kita menjadi babi,” katanya. Bila itu diterima, menurut Nasaruddin, berarti buyar semua konsep Islam. “Tapi, kalau dalam pengertian proses, misalnya, manusia diciptakan dari bumi lalu kembali ke bumi, itu bisa,” paparnya.


Pendapat pak Purek IV di atas kelihatannya merujuk pada hadis Muslim dibawah ini:

    Abu Hurairah:
    Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada (kepercayaan) penularan tanpa kehendak Allah, tidak benar kematian karena cacing perut dan tidak benar reinkarnasi menjadi burung. Lalu seorang Arab Badui bertanya: Ya Rasulullah! Lalu bagaimana dengan unta yang berada di padang penggembalaan yang semula bagaikan kijang kemudian didatangi oleh unta berkudis dan setelah bergabung, maka semua unta menjadi ketularan berkudis? Rasulullah saw. bersabda: Lalu yang manakah yang menularkan pertama kali [Hadis sahih Muslim 1281/4116. Atau di Bukhari 5328)

    Note:
    Namun terjemahan “reinkarnasi menjadi burung” tidak tepat, karena di hadis itu ada kata Arab “Haamah” yang artinya adalah burung hantu. Menurut Imam nawawi dalam syarah muslim tentang sabda Rasul SAW tidak ada haamah, ada 2 takwilan, (1) Orang Arab merasa sial dengan burung hantu/burung malam, “jika burung hantu jatuh dirumah salah satu mereka, itu adalah kabar kematian bagi dirinya atau sebagian keluarganya.” atau (2) Malik bin Anas berkata orang Arab mengitikadkan bahwa tulang mayat/ruhnya berubah menjadi burung hantu dan ini adalah tafsiran kebanyakan ulama masyhur (terkenal, tapi belum tentu benar)

    Juga, ternyata isi hadis Muslim tentang itu sendiri bervariasi: “..dan tidak ada hantu yang gentayangan” [Muslim 4116. 4120] atau “..mayat bergentayangan” [Muslim 4118] atau “..tidak ada pengaruh atau tanda bahaya karena suara burung, dan tidak ada hantu.” [Muslim 4119].

Allah dan Muhammad menyatakan bahwa Al Qur’an adalah sebagai penguji dan membenarkan kitab-kitab sebelumnya sebagaimana disebutkan di Surat Al maidah yang di turunkan disekitar haji Wada, 10 H [632 M], dekat dengan saat meninggalnya Nabi:

    [5:46] Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. [Juga AQ 5:48, 68]


Reinkarnasi (tanasukh Al-Arwah dan/atau Raj’ah) seperti maksud yang tercantum di Alkitab pada kitab Yehezkiel, tampaknya disinggung pula di Alqur’an. Berikut ini beberapa ayat golongan surat Al Makkiya, yang turun sebelum Hijrah yang mengindikasikan Islam mengenal reinkarnasi:

    Surat Ibrahim 14:19-20, “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan sebenar-benarnya? Jika dia menghendaki, niscaya dia membinasakan kamu dan menggantikan kamu dengan makhluk yang baru. Dan yang demikian itu tidak sukar bagi Allah.”

    Surat An Nahl 16:70, Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa

    Surat Al Israa’ 17:48-52, Kami lebih mengetahui dalam keadaan bagaimana mereka mendengarkan sewaktu mereka mendengarkan kamu, dan sewaktu mereka berbisik-bisik (yaitu) ketika orang-orang zalim itu berkata: “Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir.” Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu; karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar). Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?”Katakanlah: “Jadilah kamu sekalian batu atau besi, atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin menurut pikiranmu.” Maka mereka akan bertanya: “Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?” Katakanlah: “Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama.” Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata: “Kapan itu (akan terjadi)?” Katakanlah: “Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat”, yaitu pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira, bahwa kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja.

    Surat Al Mu’minun 23:82-89, Mereka berkata: “Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan ? Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman (dengan) ini dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala!.” Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” …Katakanlah:…. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?

    Surat Al ‘Ankabuut 29:18-20, Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebelum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Katakanlah: Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu

    Surat Al Ruum 30:19,27 Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan..Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.


Qur’an juga menyatakan nubuatan bahwa akan ada yang dihidupkan kembali sebelum hari kiamat:

    Surat an-Naml 27:83, Allah SWT berfirman , “Dan dan pada hari itu kami bangkitkan dari tiap-tiap umat, segolongan orang yang mendustakan ayat Kami, lalu mereka di bentuk menjadi beberapa kelompok”.


Dalam tradisi Islam, di samping menguji kitab-kitab terdahulu, juga terdapat metoda ‘Nasikh Mansukh’ yang kurang lebih berarti ‘ayat yang menggantikan/menghapus ayat yang digantikan/dihapus’

    Al Baqarah 2:106, Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?

    An-Nahl 16:101, Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja”. Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui.


Dari reaksi perkataan orang-orang itu, tampak jelas banyak yang berkeberatan dengan keputusan Allah yang mengubah aturan main dan tentu saja, Allah bersikeras dengan putusannya itu

    Al Ra’d 13:39, Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul kitab (Lohmahfuz).

    Al-Israa’ 17:86, Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan dengan pelenyapan itu, kamu tidak akan mendapatkan seorang pembela pun terhadap Kami,


Setelah hijrah ke Medinah, reinkarnasi yang disinggung di berbagai surat-surat golongan Al Makiyya/turun di Mekah, dipertegas lagi misalnya dalam Al Baqarah (turun mulai 2 H, golongan Al Madaniyah/turun di Medina):

    Surat Al Baqarah 2:28, Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?

    Surat Al baqarah 2:56, Lalu kami bangkitkan kalian setelah matinya kalian, agar kalian berterimakasih”.


Ayat ini tentang dibangkitkannya kembali sekelompok Bani Israil, yang meminta kepada nabi Musa untuk memperlihatkan Allah kepada Mereka. Dan kalimat terakhir Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa mereka di bangkitkan di bumi.

    Surat Al baqarah 2:73, Maka Kami berfirman; pukulah dia dengan sebagian itu! Demikianlah Allah menghidupkan orang mati. Dan Dia memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kamu, agar kamu mengerti”.


Ayat ini menceritakan, tentang dihidupkannya kembali seorang dari Bani Israel, yang terbunuh oleh kerabatnya sendiri. Dan ia dihidupkan kembali, supaya memberikan kesaksian akan siapa yang telah membunuhnya.

    Surat Al baqarah 2:243, Tidaklah engkau perhatikan orang-orang yang keluar dari tempat tinggal mereka, dan mereka itu beribu-ribu jumlahnya, karena mereka takut mati. Lalu Allah berfirman kepada mereka; Matilah kalian! Kemudian Ia menghidupkan mereka kembali“.


Ayat ini tentang Allah telah menghidupkan kembali ribuan Bani Israel, yang keluar dari Mesir lantaran takut dari ancaman mati Firaun, setelah Allah mematikan mereka.

    Surat Al Baqarah, 258-260, Apakah kamu tidak memperhatikan orang[163] yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.”[164]Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim

    Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi beubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

    Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu ?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah[165] semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

    [163] Yaitu Namrudz dari Babilonia
    [164] Maksudnya raja Namrudz dengan menghidupkan ialah membiarkan hidup, dan yang dimaksudnya dengan mematikan ialah membunuh. Perkataan itu untuk mengejek Nabi Ibrahim a.s.
    [165] Pendapat diatas adalah menurut At-Thabari dan Ibnu Katsir, sedang menurut Abu Muslim Al Ashfahani pengertian ayat diatas bahwa Allah memberi penjelasan kepada Nabi Ibrahim a.s. tentang cara Dia menghidupkan orang-orang yang mati. Disuruh-Nya Nabi Ibrahim a.s. mengambil empat ekor burung lalu memeliharanya dan menjinakkannya hingga burung itu dapat datang seketika, bilamana dipanggil. Kemudian, burung-burung yang sudah pandai itu, diletakkan di atas tiap-tiap bukit seekor, lalu burung-burung itu dipanggil dengan satu tepukan/seruan, niscaya burung-burung itu akan datang dengan segera, walaupun tempatnya terpisah-pisah dan berjauhan. Maka demikian pula Allah menghidupkan orang-orang yang mati yang tersebar di mana-mana, dengan satu kalimat cipta hiduplah kamu semua pastilah mereka itu hidup kembali. Jadi menurut Abu Muslim sighat amr (bentuk kata perintah) dalam ayat ini, pengertiannya khabar (bentuk berita) sebagai cara penjelasan. Pendapat beliau ini dianut pula oleh Ar Razy dan Rasyid Ridha.

Semua ayat Qur’an di atas adalah menurut versi Hafs (Mayoritas Muslim dunia memakai versi Quran ini), entah berapa banyak lagi ayat yang berkenaan dengan reinkarnasi akan ada jika saja ayat-ayat Al qur’an tersebut tidak hilang/berkurang/terpotong/terkikis terlebih dahulu sebelum di Mushaf-kan, atau sebelum Muhammad, sebagai penerima wahyu lupa dengan wahyu yang diturunkan padanya:

    Al Baqarah 2:106, Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?

    Hadis Nabi dan beberapa orang lupa ayat-ayat Quran:

      ‘Nabi mendengar seseorang mengucapkan / melantunkan Quran di mesjid dan berkata, “Semoga Allah melimpahkan rahmatNya padanya, karena dia telah mengingatkan saya ayat-ayat ini-dan itu dalam suatu surat.” Diriwayatkan Aisha dan Hisham (hadisnya sama kecuali kata ‘ayat-ayat’ diganti dengan kata ‘yang saya lupa’ [Sahih Bukhari Volume 6 book 61 number 556, 557, 558, 562; Sahih muslim Book 4 No.1720, 1721, 1724, 1726]

      Sahih Bukhari Volume 6 Book 61 Number 559:
      Dinarasikan oleh Abdullah: Nabi berkata, “Mengapa seseorang dari orang-orang itu berkata, ‘Saya lupa ayat ini-dan-itu (dari Quran)’ Dia, sebenarnya, dibuat (oleh Allah) untuk melupakannya.”


Beberapa kalimat Allah telah mengalami hilang / berkurang / terpotong / terkikis bahkan sebelum di Mushafkan! Misalnya:

    Anas b. Malik mengingat satu ayat yang turun saat beberapa muslim terbunuh dalam perang, tetapi kemudian hilang [Muhasibi, Fahm al Quran an wa manih , p 399, Tabari, Jami al Bayan, vol 2 p 479]

    Abdullah ibn Umar menyatakan banyak bagian qur’an yang telah hilang.[Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 3 p 81-82]

    dan beberapa pakar yang kemudian menyatakan bahwa banyak bagian qur’an telah hilang sebelum dikumpulkan.[Ibn Abi Dawud, Kitab al Masahif, p 23 (mengutip pendapat Ibn Shihab (al Zuhri); Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 5 p 179, mengutip Sufyan al Thawri; Ibn Qutaybah, Tawil, p 313; Ibn Lubb, Falh al bab, p 92]


Atau ‘dinashkan’ untuk ‘kepentingan’ tertentu setelah meninggalnya Nabi karena tidak adanya ayat-ayat yang mereka dengar langsung ataupun menjadi berbeda setelah di Mushaf Usman:

    Ubay b. Ka’b, sebagai contoh, menuliskan sura 98 (Al Bayyinah) berbeda dimana Ubay mengklaim versi dia adalah dia dengar langsung dari nabi SAW. Termasuk 2 surah yang tidak dimasukkan dalam mushaf Usman [Ahmad b. Hanbal, vol 5 p 132; Tirmidhi, Sunan, vol 5 p 370; Al Hakim al Naysaburi, al Mustadrak, vol 2 p 224; Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 3 p 83]

    Ubay juga berpendapat bahwa sura 33 (al-Ahzab) seharusnya lebih panjang, dimana yang dia yakin ingat adalah ayat-ayat rajam yang tidak tertulis dalam mushaf Usman.Aisha menyatakan bahwa saat Nabi Muhammad SAW masih hidup surat Al-Ahzab 3 kali lebih panjang dari yang ada di Mushaf Usman [Ahmad b. HAnbal, vol 5 p 132; Muhasibi, Fahm al Quran an wa manih , p 405; Bayhaqi, al Sunan al Kubra, vol 8 p 211; Al Hakim al Naysaburi, al Mustadrak, vol 2 p 415; Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 3 p 82, vol 1 P.226; Al Raghib al Isfahani, Muhadarat al Udaba, vol 4 p 434]

    Kesaksian Hudhayfa b. al-Yaman yang menemukan sekitar 70 ayat tidak tercantum dalam mushaf Usman. Hudhayfa juga meyakini bahwa Sura 9 (al-Bara’a) dalam mushaf Usman hanyalah ¼ dari yang biasa dibacakan saat nabi SAW masih hidup.[Suyuti, al Durre Manthur, vol 5 p 180, mengutip dari Bukhari, Kitab at Tarikh; Al Hakim al Naysaburi, al Mustadrak, vol 2 p 331; Haytami, Majam al Zawaid, vol 7 p 28-29; Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 3 p 84]

    Bahwa Suras 15 (al-Hijr) and 24 (al-Nur) seharusnya lebih panjang dari yang tercantum dalam mushaf Usman. [Sulaym b. Qays al Hilali, Kitab Sulaymn b. Qays, p 108; Abu Mansur al Tabrisi, al Intijaj, vol 1 p 222, 286; Zarkashi, al Burhan fi ulum al Quran, vol 2 p 35]

    Abu Musa al-Ash’ari mengingat keberadaan 2 sura yang panjang dimana hanya satu ayat dari 2 sura itu yang dia masih ingat. Namun 2 sura itu tidak ada dalam mushaf Usman [Muslim, vol 2 p 726; Muhasibi, Fahm al Quran an wa manih , p 405; Abu Nuaym, Hilyat al Awliya, vol 1 p 257; Bayhaqi, Dalai, vol 7 p 156; Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 3 p 83]

Tentang Reinkarnasi, disamping ayat-ayat Al Qur’an di atas, beberapa hadis di bawah menyinggung tentang kepercayaan terhadap reinkarnasi:

    Ketika Rasulallah SAW wafat, Umar bin Khatab, berkata “Demi Allah sungguh Rasullah akan kembali” [Juga lihat kitab-kitab A qidah Syiah Imamiah. Seperti; Aqaid al-Imamiah,Syekh Muzaffar, hal 109 / Aqidah No 32, juga Al-Ilahiyat milik Syekh Jakfar Subhani, jilid 4, hal 289 dll. Tarikh Thabari, jilid 2, hal 442. Sirah Ibnu Hisyam, jilid 4, hal 305.]

    “Demi Tuhan yang jiwaku dalam genggaman-Nya, seandainya seseorang gugur di jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi lalu gugur lagi, kemudian dihidupkan lagi lalu gugur lagi, niscaya ia tidak dapat masuk surga sebelum melunasi hutangnya. (Nasai no.4605)

Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi, Al-Mubarokafuri Abul’ala w 1353H, 10 juz, Darul Kutub Ilmiyyah, Beirut, tt., juz 5, h 222:

    Ketahuilah, tanasukh/reinkarnasi adalah kembalinya roh-roh ke badan-badan di dunia ini tidak di akherat karena mereka mengingkari akherat, surga dan neraka, maka karena itu mereka kafir. Titik. Aku [Al-Mubarokafuri, penulis Tuhfatul Ahwadzi, Syarah Kitab Hadits Jami’ at-Tirmidzi] katakan atas batilnya tanasukh/reinkarnasi itu ada dalil-dali yang banyak lagi jelas di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

    (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan” [AL-Mukmin 23:99-100]


Dengan hanya mengikuti pendapat Al Mubarokafuri, maka Qur’an akan kesulitan menjelaskan dua fenomena di bawah ini:

    Kisah Tang Jiangshan, 2002:
    Edisi ke 7 tahun 2002 majalah “Femina Dunia Timur” dari propinsi Hai Nan – Tiongkok telah memuat sebuah kisah reinkarnasi yang mengharukan, mengkisahkan pengalaman dari Tang Jiangshan dari kecamatan Gan Cheng, kota Dong Fang di timur pulau/propinsi Hai Nan. Tang Jiangshan lahir pada tahun 1976, sewaktu berumur 3 tahun pada suatu hari ia tiba-tiba mengatakan kepada kedua orangtuanya: “Saya bukan anak kalian, pada kehidupan lampau nama saya adalah Chen Mingdao, ayah kehidupan lampauku bernama San Die. Rumah saya di Dan Zhou, dekat laut.” Omongan ini kalau didengar orang lain bagaikan omong kosong, perlu diketahui, Dan Zhou terletak di utara pulau Hai Nan, berjarak 160 km dari kota Dong Fang.

    Selain itu Tang Jiangshan mengatakan bahwasanya dirinya dibunuh dengan menggunakan golok dan tombak di dalam aksi kekerasan pada masa revolusi kebudayaan, konon di bagian pinggangnya masih terdapat bekas luka bacok peninggalan kehidupan masa lalu. Yang membuat orang merasa takjub ialah Tang Jiangshan mampu berbicara dialek Dan Zhou dengan sangat fasih. Orang Dan Zhou berbicara bahasa Jun, berbeda sekali dengan dialek Hok Kiannya kota Dong Fang, seorang bocah berumur beberapa tahun bagaimana bisa?

    Pada saat Tang Jiangshan berumur 6 tahun, mendesak keluarga membawanya mengunjungi kerabatnya pada kehidupan masa lampau. Keluarganya tidak mau, maka ia mogok makan, akirnya sang ayah menurutinya, dan di bawah pengarahannya berkendaraan menuju tempat dimaksud di desa Huang Yu, kecamatan Xin Ying – kota Dan Zhou. Tang Jiangshan langsung menuju ke hadapan pak tua Chen Zan Ying, menggunakan bahasa Dan Zhou dan memanggilnya “San Die”, mengatakan dirinya bernama Chen Mingdao, adalah putra Chen Zan Ying yang pada masa revolusi besar kebudayaan oleh karena bentrokan fisik sehingga dibinasakan orang. Sesudah meninggal terlahir kembali di kecamatan Gan Cheng – kota Dong Fang, kini datang mencari orang tua kehidupan masa lampaunya. Mendengar penuturan itu, Chen Zan Ying sejenak tertegun tak tahu bagaimana harus bersikap. Kemudian si anak kecil menunjukkan kamar tidur kehidupan masa lampaunya, dan menghitung satu persatu benda-benda pada kehidupan lampaunya. Menyaksikan semuanya ini dengan kenyataan pada masa lalu sama sekali tidak meleset, pak tua Chen Zan Ying saking terharunya berpelukan menangis dengan Tang Jiangshan dan memastikan ia memang adalah kelahiran kembali anaknya yang bernama Chen Mingdao.

    Tang Jiangshan juga telah mengenali kedua kakak perempuan dan kedua adik perempuannya serta para sobat kampung lainnya, bahkan termasuk teman wanita pada kehidupan masa lampaunya: Xie Shuxiang. Semua kejadian ini telah membuat takluk kerabat dan tetangga Chen Mingdao. Sejak saat itu, “Manusia aneh dari 2 masa kehidupan”: Tang Jiangshan memiliki 2 rumah dan 2 pasang orang tua. Ia setiap tahun hilir mudik antara Dong Fang dan Dan Zhou. Si tua Chen Zan Ying beserta keluarga dan orang-orang desa pada menganggap Tang Jiangshan sebagai Chen Mingdao. Oleh karena Chen Zan Ying tidak memiliki putra lainnya, Tang Jiangshan berperan menjadi anaknya dan berbakti hingga tahun 1998 ketika Chen Zan Ying meninggal dunia.

    Para petugas bagian editor dari majalah tersebut pada awalnya juga tidak percaya akan hal tersebut, namun melalui pemeriksaan berulang kali dan pembuktian lapangan, mau tak mau juga mengakui kebenaran tentang kejadian tersebut.

    Kisah Cameron Macaulay, 2006:
    Pada tanggal 8 September 2006 harian Inggris “The Sun” telah memuat di internet berita tentang seorang anak lelaki yang bisa mengingat masa lampaunya. Anak lelaki berusia 6 tahun yang bernama Cameron Macaulay, satu-satunya yang membedakan ia dengan anak lelaki sebayanya ialah ia selalu membicarakan bahwa ia mempunyai ibu dan keluarga serta menyukai menggambar rumahnya sendiri, sebuah rumah putih yang terletak di tepi pantai. Kesemuanya itu tidak lagi berkaitan dengan kehidupannya kini. Tempat yang diceritakannya, dia sendiri tidak pernah tahu, dan terletak di pulau Bara berjarak 160 mil dari kediamannya sekarang ini.

    Menurut Norma, ibunya Cameron Macaulay sekarang, semenjak kecil Cameron sesudah mulai bisa bicara, ia sudah lantas mengkisahkan kehidupan masa kanak-kanaknya sewaktu berada di pulau Bara. Ia mengkisahkan orang tua masa lampaunya dan bagaimana ayahnya meninggal, juga kakak perempuan maupun kakak laki-lakinya. Ia juga bilang ibu yang ia sebut-sebut ialah ibu masa lampaunya. Ia percaya penuh bahwa ia memiliki kehidupan masa lampau, Cameron sangat kuatir keluarga masa lampaunya merindukannya. Ia berharap keluarganya di pulau Bara mengetahui bahwa ia kini baik-baik saja.

    Cameron bahkan di penitipan anak juga tak hentinya menceritakan rumah masa lampaunya, mereka melakukan apa, bagaimana ia dari jendela kamar tidurnya menonton pendaratan pesawat…., ia mengomel rumahnya sekarang hanya mempunyai 1 kamar mandi, sedangkan rumahnya di pulau Bara mempunyai 3 buah. Ia menangis menginginkan ibu masa lampaunya, bilang bahwa ia merindukannya.

    Oleh karena Cameron terus menerus memohon Norma membawanya ke pulau Bara, akirnya Norma memutuskan membawanya ke pulau tersebut, juga pakar psikiater universitas Virginia: doctor Jim Tucker ikut mengiringi perjalanan mereka, ia adalah seorang pakar penelitian reinkarnasi anak. Cameron sekeluarga pada bulan Februari 2006 pergi ke pulau Bara. Sewaktu pesawat itu benar-benar mendarat, segalanya persis dengan yang diceritakan oleh Cameron. Pihak penginapan memberitahu Norma, pernah ada bernama Robertson menempati rumah putih di tepi pantai. Maka serombongan orang menuju ke rumah tersebut, akan tetapi para orang dewasa tidak memberitahukan Cameron pergi kemana, mereka ingin menyaksikan apa yang akan terjadi.

    Cameron langsung mengenali rumah tersebut, iapun bersuka cita. Namun ketika mereka melewati pintu masuk, mimik gembiranya telah lenyap dari wajah Cameron, ia berubah sangat pendiam. Penyewa sebelumnya telah meninggal, tapi juru kunci mempersilakan mereka memasuki rumah tersebut. Di dalam rumah itu ternyata terdapat 3 buah kamar mandi, dan dari jendela kamar tidurnya bisa terlihat pemandangan laut. Di dalam ruang tersebut masih terdapat sudut-sudut tersembunyi yang kesemuanya diketahui oleh Cameron. Semenjak mereka kembali ke rumahnya di kota Glasgow, Cameron menjadi lebih pendiam. Norma mengatakan pergi ke pulau Bara adalah suatu hal terbaik yang telah mereka lakukan. Picnik kali ini telah membuat suasana hati Cameron menjadi lapang, ia tidak lagi mendambakan pulau Bara. Para orang dewasa pun memahami Cameron bukan sedang mengarang cerita, mereka telah mendapatkan jawaban yang mereka cari. Akan tetapi yang jelas, memori terhadap kehidupan masa lampau seiring dengan bertambahnya usia si empunya cerita akan semakin memudar. Kisah Cameron telah dibuatkan film dokumenter yang berjudul “Anak Lelaki Ini Pernah Hidup Di Masa Lampau”oleh TV 5 Inggris. [Di kutip dari Era baru: Tang dan Cameron]

Dengan kisah ini, maka pendapat mana yang anda hendak tawarkan sebagai solusinya:

  1. Kontradiktif terjadi di Quran, atau
  2. Qur’an menyatakan bahwa semua adalah atas kehendak Allah dan batas waktu terjadinya reinkarnasi hanya sampai kiamat tiba


Kemudian bagaimanakah menilai pendapat dari Dr. Nasaruddin Umar (Purek IV) diatas yang menolak konsep reinkarnasi, bila yang dimaksud sama dalam pengertian agama Hindu. “Misalnya, manusia bisa berinkarnasi menjadi hewan atau tumbuhan. Atau jangan-jangan kita berasal dari ruh babi, atau kelak kita menjadi babi,” katanya. Bila itu diterima, menurut Nasaruddin, berarti buyar semua konsep Islam.

Untuk itu, lihat-lah AL-Mukmin 23:82-89 di atas, Allah telah mengatakan bahwa semuanya adalah karena kekuasaan Allah..Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?”

Juga dalam surat Al Israa’ 17:48-52 di atas yaitu Katakanlah: “Jadilah kamu sekalian batu atau besi, atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin menurut pikiranmu.”

Juga, bagaimana Allah mengubah kaum Yahudi yang membangkang hari sabat dijadikan Babi dan kera di Al Baqarah (2 H, 622M) dan di Al Maa’idah (10 H, 632M):

    Surat Al Maa’idah 5:60, Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?.” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.

    Surat Al Baqarah 2:65, Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina“. Yang merupakan penegasan dari al makiyya, yaitu surat Al A’raaf 7:166:
    Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina“.


Sekarangpun, kita tahu kekeliruan mereka yang membawa hadis muslim di atas, (bereinkarnasi menjadi burung) jika itu sebagai bantahan, karena bahkan Allah menegaskan di Al Israa’ 17:48-53, yaitu “Jadilah..atau suatu mahluk dari mahluk yang tidak mungkin menurut pikiranmu”

Walaupun penuh pertentangan pendapat, namun, sampai dengan saat ini, tidak ada satupun keterangan dari tradisi Islam mengenai bagaimana detail proses reinkarnasi dapat berjalan kecuali atas kehendak Allah. Entah apa yang ada dalam pikiran Dr. Kautsar (Dosen Pascasarjana IAIN syarif Hidayatullah) sehingga yakin bahwa:

    pandangan tentang reinkarnasi itu rasional. Menurut Kautsar, bila ada orang yang dari lahir sudah menderita, maka itu bisa dijelaskan sebagai akibat perilakunya pada masa lalu. “Ini rasional sekali. Sehingga kita tidak selalu menjawab misteri keadilan Tuhan dengan kata-kata taqdir Tuhan,”..

[Pustaka: Al Kitab, Al Qur’an, Hadis, DianWeb, Reinkarnasi, Keyakinan Kafir, AQIDAH SYIAH; Antara Raj’ah dan Reinkarnasi, RISALAH TAFSIR: GATRA No. 18/VI, 18-03-2000] []




Ilmu Modern: Kelahiran Kembali

    “Why should there be the method of science? There is not just one way to build a house, or even to grow tomatoes. We should not expect something as motley as the growth of knowledge to be strapped to one methodology.” -Ian Hacking [“Representing and Intervening: Introductory Topics in the Philosophy of Natural Science”, 1983, hal.137

Salah satu metoda untuk menarik garis pemisah/demarkasi beda antara sains dan psudosain adalah dengan kreteria pembuktian salah/falsifikasi dari Karl Popper (The Logic of Scientific Discovery, 1959), yaitu membuktikan kesalahan teori umum dengan sebuah bukti. Selama suatu teori belum bisa difalsifikasi, maka teori itu tidak mutlak benar, ketika dapat difalsifikasi, maka, yang mutlak benar adalah bahwa teori umum tersebut salah, contoh: “Semua zat akan memuai jika dipanaskan“, namun ternyata, air di suhu 0oC – 4oC tidak memuai malah menyusut, maka teori umum telah difalsifikasi, menjadi mutlak salah dan berkembang menjadi teori ke-2, “Semua zat akan memuai jika dipanaskan, kecuali air di suhu 0oC – 4oC“. Teori ke-2 juga bukan kebenaran mutlak, yang mutlak benar adalah salahnya teori ke-1 dan jika kelak ditemukan zat lainnya yang menyusut setelah dipanaskan, maka teori ke-2 pun menjadi telah difalsifikasi.

Menurut Popper, pernyataan-pernyataan dan teori-teori yang tidak dapat difalsifikasi adalah tidak saintifik. Mendeklarasikan suatu teori yang tidak bisa difalsifikasi sebagai saintifik adalah Pseudosain (“Zwei Bedeutungen von Falsifizierbarkeit [Two meanings of falsifiability]”, 1989, hal.82-85]

Definisi Sains tentang “mahluk hidup”

Tidak ada
satu set definisi yang secara bulat diterima sains untuk mendenisikan sesuatu itu MAHLUK HIDUP atau BUKAN, sekurangnya ada lebih dari 100 definisi tentang itu yang kerap bertentangan satu sama lainnya (“Vocabulary of Definitions of Life Suggests a Definition“, Edward N. Trifonov). Salah satu misalnya 7 ciri kehidupan, sehingga seharusnya, jika seluruh definisi TERPENUHI, disebut mahluk hidup dan tentunya, jika 1 saja tidak terpenuhi, seharusnya BUKANLAH MAHLUK HIDUP:

  1. Homeostatis, atau pengaturan kondisi internal untuk mempertahankan keadaan [Demikian pula dengan API dalam mempertahankan keadaannya]
  2. Dapat berespirasi/bernafas, yaitu proses mengambil oksigen dan melepaskan karbondioksida Definisi ini TIDAK VALID untuk bakteri yang hidupnya TIDAK MEMERLUKAN OKSIGEN/bakteri anaerobik, juga pada BINATANG MULTI SEL, yaitu 3 spesies Loricifera, di LAUT MEDITERANIA, yang hidup tanpa OKSIGEN (atau ini). [Demikian pula dengan API, butuh oksigen untuk kehidupannya, sehingga juga berespirasi]. Bahkan bakteripun ada yang didefinisikan sebagai bakteri hidup (Probiotik: living bacteria) dan bakteri tidak hidup (prebiotik: non-living bacteria)
  3. Ada organisasi, dahulu definisinya dengan minimum terdiri dari 1 sel, namun Virus sebagai NON CELLULAR LIFE/ORGANISMA, yang juga mengandung DNA dan RNA, beberapa ilmuwan percaya bahwa virus adalah juga mahluk hidup [Demikian pula, API, juga terorganisir, dapat membesar, mempertahankan kehidupannya dan seterusnya walau tanpa sel, tanpa DNA/RNA]
  4. Dapat tumbuh/membesar, beradaptasi dan/atau merespon rangsangan. [Demikian pula dengan API dapat tumbuh membesar, dapat beradaptasi dengan berubah menjadi bara dan arang, yang ketika terdapat kondisi cukup makanan/materi dan oksigen, akan menjadi api lagi, artinya juga merespon rangsangan. Contoh lain, misalnya Kristal, yang dapat tumbuh, mencapai homeostatis/equilibirium dan merespon rangsangan]
  5. Melakukan Metabolisme, mengubah sesuatu menjadi energi untuk mempertahankan organisasi internal/homeostasis atau fenomena lain terkait kehidupannya [Demikian pula dengan API, yang mengkonsumsi materi dan oksigen dalam mempertahankan bentuk]. Konsekuensi dari metabolisme adalah menjadi lagi satu definisi lainnya tentang ciri hidup yaitu mengeluarkan zat Sisa/Ekskresi [Demikian pula dengan API, yang menghasilkan zat sisa dari konsumsi materi]
  6. Dapat berkembang biak/bereproduksi. sayangnya definisi ini tidak valid untuk beberapa spesies kawin silang misal, Equus mulus: kuda betina vs keledai jantan (BAGAL) atau sebaliknya (NAGIL) yang berakibat mandul sehingga TIDAK DAPAT BEREPRODUKSI atau hanya 1 kelinci/tikus atau manusia yang tidak dapat melakukan proses reproduksi secara alami. [Demikian pula dengan API, dapat berkembang biak, percikan di satu tempat, dapat menghasilkan api lainnya]
  7. Dapat bergerak. Ini menjadi TIDAK VALID dengan jenis Staphylococcus atau lainnya misal Klebsiella pneumoniae dan Yersinia pestis, untuk yang multisel, misal fungi, juga misal untuk jenis hewan yaitu folifera (Sponge). [Demikian pula dengan API yang jelas terlihat bergerak-gerak dalam satu lokasi atau bahkan merambah ke lokasi lainnya]


Berdasarkan 7 kreteria sains tentang “hidup” yang umum dipakai untuk mendefinisikan MAHLUK HIDUP, maka, API ternyata dapat masuk sebagai kategori MAHLUK HIDUP, menakjubkan, bukan? Tentu saja, boleh tidak sepakat, atau menambahkan 1 atau beberapa definisi lainnya, sah-sah saja, karena sains bersifat dinamis, bahkan definisi pun bisa dilakukan dengan kekuatan “politik” seperti tandatangan massal atau lewat pengulangan siaran media atau organisasi sains tertentu untuk memanipulasi opini publik agar berpihak. Sains menjadi mirip dengan definisi AGAMA atau KEPERCAYAAN BARU, hanya saja tidak menggunakan atribut Tuhan/Dewa/Malaikat dan nabi, tapi melalui kumpulan kitab/jurnal, hasil pengamatan, percobaan dan opini ulama/ilmuwan.

Dalam sejarah, beberapa sains dulunya adalah pseudosains, contoh ilmu kimia adalah protosain dari alkemi, astronomi dari astrologi. Lainnya berasal dari bagian ideologi seperti Lisenkoisme atau sebagai respon seperti kreasionisme terhadap teori saintifik tentang evolusi [Wikipedia].

    Sains adalah sebuah proses dan bukan satu set kepercayaan. Jadi, pembedaan sains dan pseudosains tidak selalu terpisah jelas. beberapa produk psikologi dan treatment sebagian besarnya berdasarkan sains dan bagian lainnya dari pseudosain. [“Psychology: From Inquiry to Understanding”, Scott Lilienfeld, hal.13]. Carl Sagan menyatakan, untuk menjadi Skeptic yang saintifik kita harus mengadopsi 2 sikap yang tampak berseberangan namun tidak: kemauan berpikiran terbuka pada seluruh klaim dan kedua, kemauan menerima klaim hanya setelah para peneliti melakukan tes-tes saintifik dengan seksama. Skeptic yang saintifik bersedia mengubah pikirannya ketika dikonfrontasikan dengan bukti yang malawan pikiran awalya. Di saat bersamaan mereka mengubah pikiran hanya ketika bukti adalah persuasif..Ketertutupan pikiran ditandai dengan kecenderungan untuk menolak klaim apapun yang berlawanan dengan kepercayaannya. Para skeptik yang berpikiran tertutup (atau ‘Scolfer’) adalah hanya sama problemnya dengan para individu yang menerima seluruh klaim apa adanya. Keduanya dengan tanpa kritik lagi menerima kepercayaan yang menyenangkan mereka…[hal.19]

    Apa itu sains? Silakan baca ini, ini, ini dan ini


Jadi, skeptisme bukanlah sikap apriori dengan bias emosional akan tetapi sikap dengan landasan logika berpikir yang mampu dipertanggungjawabkan dan mampu menerima bukti yang berlawanan dengan kepercayaan mereka sendiri.

Kelahiran kembali/Reinkarnasi masuk pada cabang ilmu Parapsikologi. Parapsikologi BUKANLAH pseudosains, sejarahnya bermula dari pendirian Society for Psychical Research (SPR) di Inggris tahun 1882 yang menandai awal penelitian psikis modern, yang bertujuan untuk mensistematisasi penyelidikan dugaan fenomena supernatural — seperti materialisasi, trans dan orang yang melayang di udara selama sesi — menjadi sains.

Tahun
1938, Lucian Warner dan C.C. Clark mengirim kuesioner ke 603 anggota penuh American Psychological Association (APA) tentang extrasensory perception (ESP), 352 psikolog menjawab survei, 1/2nya percaya bahwa ESP mungkin dan 90%-nya mengakui Parapsikologi adalah upaya ilmiah yang sah [Mauskopf and McVaugh, “The Elusive Science”, Hal.278-279]. Demikian pula survey tahun 1953 kepada member APA, menghasilkan hasil serupa dengan survey tahun 1938, bahwa Parapsikologi merupakan sebuah organisasi valid yang saintifik [Masukopf, hal.305].

Pada tahun 1957, Parapsychological Association (PA) berdiri di Durham, North Carolina

James A. Marcum, “Thomas Kuhn’s Revolutions: A Historical and an Evolutionary Philosophy of Science?”: di 4 April 1963, R.A. McConnell, BioFisik, Universitass Pittsburg, menyurati Thomas Kuhn untuk menilai proposalnya tentang Parapsikologi, yang menurutnya, “The Structure of Scientific Revolutions” memberi basis untuk menjustifikasi parapsikologi sebagai sains, bersama suratnya terlampir abstrak struktur tulisannya dan meminta Kuhn membacanya apakah berkesesuaian dan akurat dengan ide Kuhn. Di 23 April 1963, Kuhn merespon detail 3 halaman surat, mendorong McConnell dengan projeknya dan meyakinkannya bahwa itu telah berkesesuaian dan akurat [Marchum, Hal.83]

Banyak penelitian Parapsikologi masuk di sejumlah jurnal utama mainstream, di antaranya Science (1965), Nature (1968), Journal of Abnormal Psychology (1967, 1970) dan Psychoanalytic Review (1969).

Tahun 1968, sebuah divisi riset Parapsikologi berdiri di sekolah kedokteran Universitas Virginia

Pada Desember 1969, parapsikologi diterima sebagai disiplin ilmiah yang diakui, setelah Masyarakat/Asosiasi Parapsikologi diterima ke dalam keanggotaan American Association for the Advancement of Science (AAAS) [Melton, J. G.”Parapsychological Association. In Encyclopedia of Occultism & Parapsychology”, Ed ke-5, 2001, hal.1235], sebuah komunitas saintific terbesar di dunia, di mana Paul kurts juga anggotanya, sehingga Parapsikologi menjadi bagian komunitas sains Amerika.

Tahun 1975, setelah pembentukan formasi RSEP (Resources for the Scientific Evaluation of the Paranormal), Paul Kurtz, mengkampanyekan boykot Astrologi, dengan mengumpulkan 186 tandatangan saintis pada sebuah manifesto “Objections to Astrology”. yang kemudian disirkulasikan pada berbagai media [Part 1 – Birth of a Movement dan CSICOP and the Skeptics: An Overview]

Tahun 1976, Paul Kurtz mendirikan CSI (Committee for Skeptical Inquiry)/CSICOP (Committee for the Scientific Investigation of Claims of the Paranormal) dan memasukan parapsikologi sebagai Pseudoscience. Kelompok ini sangat memonitor gallup poll untuk 13 dimensi paranormal [CSICOP Loses the Thirty Years War]. CSICOP ternyata bukan masyarakat saintifik tapi sebuah grup lobby. Jerome Clark, di New Age Encyclopedia (1990) menggambarkannya sebagai ‘sebuah pergerakan dan grup anti paranormal’ [How Scientific is CSICOP?]. Bahkan dalam artikel 31 halaman majalah Fate (October l982), dalam komentar editorial: “Mereka menyebut diri mereka CSICOP. Kenyataannya, mereka adalah sekelompok pembantah yang mengotori investigasi besar mereka, memalsukan hasilnya, menutup-nutupi kesalahan mereka dan mengancam memecat seorang rekan mereka yang mengancam untuk mengatakan yang sebenarnya” [The Gauquelin Effect, CSICOP’s Stalinist Godfather juga lihat: CSICOP and the Skeptics: An Overview].

Berikut beberapa komentar dari pendiri dan anggota elite CSICOP:
Paul Kurtz dalam “The Transcendental Temptation: A Critique of Religion and the Paranormal“, di bagian “Reincarnation: Past live”, Ia mengatakan “Postulat kepercayaan Hinduism dan Buddhism dalam lingkaran kelahiran kembali, kepindahan jiwa-jiwa..“, statemen ini menunjukan Kurtz kurang pengetahuan tentang Buddhism yang tidaklah mengenal adanya perpindahan jiwa-jiwa. Di paragraph selanjutnya, ketika mengkomentari Ian Stevenson, Kurtz berkomentar tanpa disertai detail analisa dan hanya pernyataan singkat, “Pengaruh kesadaran dan bukan kesadaran dari lingkungan sekitarnya pada anak muda tampaknya lebih seperti sebuah penjelasan tentang dongeng yang ia kaitkan“. Di paragraph lain, Kurtz nekad membuat pengakuan “TIDAK DIRAGUKAN LAGI, beberapa orang punya pengalaman berada di luar tubuh..“. Sebuah statement gegabah dari seorang yang mengklaim diri skeptis. Juga, di paragarap lainnya, Kurtz bahkan membuat pernyataan yang saling bertolak belakang, “Sayangnya, buktinya MASIH BELUM MEYAKINKAN, bahkan minim. Ini belum dikuatkan secara ketat. Selain itu, penjelasan alternatif dapat diberikan untuk laporan. TIDAK DIRAGUKAN LAGI jika ada keinginan untuk percaya pada kelangsungan hidup atau reinkarnasi, bukti-bukti mungkin tampak masuk akal“. Anda pun bisa menilai, dengan kualitas pendiri seperti Kurtz, maka organisasi CSICOP, kualitasnya menjadi sangat meragukan.

Carl Sagan, seorang anggota kelompok pendiri CSI/CSICOP, menuliskan di bukunya: “Pada saat penulisan ada tiga klaim dalam bidang ESP yang, menurut pendapat saya, layak dipelajari serius:..dan (3) bahwa anak-anak muda terkadang melaporkan rincian kehidupan lampaunya, yang SETELAH DIPERIKSA TERNYATA AKURAT DAN TIDAK DAPAT MEREKA KETAHUI DENGAN CARA LAIN SELAIN REINKARNASI. Saya memilih klaim ini bukan karena saya pikir mereka mungkin valid (tidak), tetapi sebagai contoh pertikaian yang mungkin benar. Tiga terakhir memiliki setidaknya beberapa, meskipun masih meragukan, dukungan eksperimental. Tentu saja, saya bisa salah. Di pertengahan tahun 1970-an, seorang astronom yang saya kagumi membuat sebuah manifesto sederhana yang disebut ‘Keberatan terhadap Astrologi’ dan meminta saya untuk mendukungnya. Saya berjuang dengan kata-katanya, dan pada akhirnya mendapati diri saya tidak dapat menandatangani, bukan karena saya pikir astrologi memiliki validitas apa pun, tetapi karena saya merasa (dan masih merasa) bahwa nada dari pernyataan itu adalah otoriter” [Washington Post: February 11, 2007; Carl Sagan, “The Demon-Haunted World Science as a Candle in the Dark, 1995, hal.285]


Keadaan berbalik melawan CSICOP, di tahun 2014, 100 saintis menandatangani “Manifesto for a Post-Materialist Science” melakukan ajakan keterbukaan untuk studi seluruh aspek kesadaran, yang kemudian diikuti tandatangan 200an ahli lainnya (termasuk para ahli parapsikologi di dalamnya).

Sekarang ini ada 5 perguruan tinggi yang mempelajari masalah paranormal yaitu: Princeton University (USA), University of Edinburg (Inggris), University of Amsterdam (Belanda), University of Freiburg (Jerman) dan University of Virginia (USA).

Ian Stevenson
Ian Stevenson, M.D., seorang profesor peneliti dari University of Virginia, Departemen Kejiwaan, Divisi Bagian Kepribadian (DOPS), ia adalah kepala penelitian masalah reinkarnasi. Penelitian DOPS ini dapat dimungkinkan karena adanya sumbangan dari Eminent Scholars Chair (semacam perkumpulan mahasiswa yang ulung) dan sejumlah besar warisan tanah dari Priscilla Woolfan. DOPS menyatakan

    “tujuan utama penyelidikan secara ilmiah atas fenomena yang disarankan, asumsi dan teori yang dapat diterima oleh ilmu pengetahuan tentang sifat dasar dari pikiran ataupun kesadaran, dan hubungannya dengan materi yang mungkin salah.”


Artikel yang ia publikasikan pada tahun 1960 (Bukti Memory Kehidupan Masa Lampau), dinobatkan sebagai prolog penelitian reinkarnasi barat modern. 40 tahun lebih sesudah tahun itu, ia berkeliling ke seluruh pelosok dunia, untuk menyelidiki, mencatat, mengumpulkan, menguji, dan mencocokkan orang-orang, terutama anak-anak, yang mengingat “kehidupan masa lalu, dan yang mempunyai tanda lahir atau cacat lahir yang dihubungkan dengan luka, biasanya fatal, pada orang yang mengingat kehidupan masa lalunya.” Dr. Stevenson, telah mengumpulkan ribuan rekaman dari anak-anak berumur dari 2-7 tahun yang tinggal di Timur Tengah, Eropa, Asia dan Amerika

Sangat mencengangkan, ditemukan bahwa ingatan akan kehidupan masa lalu akan memudar sekitar umur 7 tahun. Anak-anak akan berbicara secara langsung tentang kehidupan masa lalunya, ingin pulang kembali ke “rumah,” rindu sebagai ibu dan suami dari kehidupan yang lain, dan sering ditunjukkan dengan adanya tanda ketakutan yang tidak biasanya dalam keluarga yang sekarang atau yang tidak dapat dijelaskan oleh kehidupannya sekarang. Sebagai tambahan, mereka mengetahui sesuatu hal di mana mereka tidak dapat belajar atau mendengar dari kehidupannya sekarang. Yang sangat menakjubkan, pernyataan anak-anak dapat dibuktikan dengan kehidupan nyata atau kejadian kematian dalam banyak kasus.

Dr. Stevenson menulis, “Sering, anak-anak ini berbicara tentang orang-orang dan kejadian-kejadian dari kehidupan sebelumnya, bukan kehidupan yang samar-samar dari abad yang lalu, akan tetapi kehidupan yang jelas, individu yang dapat dikenali, yang kadang-kadang tidak seluruhnya diketahui oleh keluarganya dan tinggal di kota yang berbeda atau tempat yang berbeda atau tinggal di Negara yang lain.” Biar pun, beberapa anak juga kelihatannya mengingat kehidupan sebelumnya yang terjadi pada dasawarsa yang lalu, yang paling mencengangkan, ia menemukan anak-anak yang dapat berbicara bahasa asing.

Dr. Stevenson telah mempublikasikan 10 buah karya kusus serta beberapa puluh tesis ilmiah, banyak diantaranya oleh para peneliti dianggap sebagai “kitab suci” mereka, terutama adalah 2 karya buku, “Twenty Cases Suggestive of Reincarnation” dan “Children Who Remember Previous Lives“, yang telah banyak dimanfaatkan oleh peneliti generasi penerus.

Beberapa lainnya misalnya Reincarnation and Biology: A Contribution to the Etiology ofBirthmarks and Birth Defects, Where Reincarnation and Biology Intersect, andCases of the Reincarnation Type; Vol I (India), II (Sri Lanka), III (Lebanon danTurki) dan IV (Thailand dan Birma).

“Twenty Cases Suggestive of Reincarnation” adalah karya Stevenson yang membuatnya menjadi tersohor. 20 contoh kasus reinkarnasi yang tercatat di dalam bukunya, adalah sebagian contoh kasus yang dikoleksi, di-edit dan telah dilakukan verifikasi tatkala ia pada tahun antara 1961 hingga 1965 dari India, Sri Langka, Brazil, Libanon hingga ke Alaska-Amerika. Di dalam buku tersebut ada satu contoh kasus dalam reinkarnasi yang sangat langka dan mengandung contoh yang memiliki nilai penelitian istimewa, professor Stevenson menyebutnya sebagai “exchange incarnation/Pertukaran Inkarnasi”.

    Kisah Jasbir:
    Pada tahun 1954, Jasbir, anak dari Sri Girdhali Lal Jat yang berumur 3 setengah tahun dinyatakan mati karena cacar, belum sempat dikubur, pada malam harinya telah hidup kembali.

    Setelah lewat beberapa hari sudah mulai bisa berbicara lagi, sesudah beberapa minggu ternyata bisa dengan jelas mengekspresikan dirinya sendiri.

    Ia mengatakan dirinya bukan Jasbir sang anak, melainkan bernama Sobha Ram dan berusia 22 tahun, putra dari Sri Shankar Lal Tyagi Kepala Brahmana dari desa Vehedi.

    Ia menjelaskan dengan detail kematiannya: Pada tahun 1954, Ia ada di suatu prosesi perkawinan dari satu desa ke desa lain , Ia memakan sebuah permen yang beracun pemberian seseorang yang meminjam uang darinya, Ia menjadi pening dan terjatuh dari atas kereta kuda yang ditumpanginya dan kepalanya terbentur hingga mati. Ia meninggalkan seorang istri (Sumantra ) dan seorang anak lelaki (Baleshwar ). Dalam kematiannya ia bertemu seorang ‘saddhu’ (orang suci) yang menyarankannya untuk mengambil tubuh lain dan ketika itu hanya ada tubuh jabir yang tersedia.

    Karena ia Brahmana, Ia menolak segala makanan dari rumah, untung saja ada seorang perempuan Brahmana yang setiap hari berbaik hati membuatkan nasi untuknya jika tidak ia kemungkinan bisa sungguh-sungguh mati kelaparan. Kemudian kisahnya telah memperoleh pembuktian, anggota keluarga kehidupan masa lampaunya sering mengajaknya keluar bermain. Ia bermain dengan sukaria di “rumah lama”nya, tidak sudi balik ke rumah lagi, karena ia di situ mengalami kesepian dan kesendirian.

    Kisah Ravi Shankar:
    Seorang anak bernama Ravi Shankar dilahirkan 1951 di kota Kanaiy, India Utara. Ayahnya bernama Ram Gupta; sejak berumur dua tahun si anak berkeras bahwa ayah sebenarnya adalah seorang bankir bernama Jogeshwar.

    Dia juga mengatakan bahwa pada kehidupan lalunya dia dibunuh dengan digorok tenggorokannya oleh dua orang – Chaturi dan Jamahar. Sebagai bukti, si anak menunjuk tanda lahir di lehernya, yang memang bertanda-lahir seperti bekas luka potong. Penyelidikan kemudian membuktikan, bahwa ternyata setengah mil dari kediaman mereka, ada seorang bernama Jogeshwar yang mempunyai anak laki-laki bernama Munna yang telah dibunuh, persis seperti yang digambarkan oleh Ravi Shankar.

    Yang berwajib sejauh ini memang sangat mencurigai dua orang sebagai pembunuhnya, seorang binatu bernama Chaturi dan seorang bankir bernama Jamahar, namun mereka dibebaskan karena kurangnya bukti. Munna dibunuh enam bulan sebelum Ravi lahir.


Karya utama Stevenson termasuk: “Reinkarnasi dan ilmu biologi – perjumpaan disini”, “Bahasa yang bisa sendiri tanpa dipelajari – penelitian baru terhadap kemampuan bahasa asing supra natural”, “Contoh kasus bentuk reinkarnasi (4 jilid)” dll.

TERAPI KILAS BALIK
Dalam bukunya berjudul Birthmarks, Dr. Stevenson melaporkan ada lebih dari 200 kasus. Digambarkan dengan detail kematian anak-anak pada kehidupan sebelumnya, seperti terbunuh oleh suatu benda tajam. “Tanda lahir sering dihubungkan dengan luka atau tanda-tanda yang lain pada kematian seseorang yang hidup yang diingat oleh anak-anak.” Ia juga dapat menemukan hubungannya dari laporan visum kedokteran dan dapat juga membuktikan ketelitian dari masing-masing ingatan anak.

Tipe penelitian yang lain, seperti disebutkan sebelumnya adalah berdasarkan atas setiap orang yang dihipnotis oleh seorang psikoterapi, untuk memanggil ingatan pada kehidupan sebelumnya. Sebenarnya, “hipnotis” tidak menggambarkan proses untuk memanggil kehidupan sebelumnya. Pada kenyataannya menggunakan teknik yang lebih maju yang disebut “Terapi Kilas Balik Kehidupan Masa Lalu (PRL).” Di bawah pengaruh PRL pasien tidak tertidur dan gelombang otaknya berbeda dari kondisi tidur. Lebih jauh, berkenaan dengan gelombang otak, beberapa psikoterapi dapat menyebabkan pasien berada pada tingkat kesadaran yang berbeda daripada kondisi hipnotis tradisional. Kondisi ini lebih dapat disamakan pada kondisi hening yang dicapai melalui suatu kultivasi. Telah diketahui bahwa dalam kondisi kesadaran yang terpusat, pasien dapat melakukan kontak dengan kesadaran yang lebih dalam. Mereka kemudian dapat masuk ke masa lalu, sementara kesadaran sekarang ini masih aktif.

Memang PRL masih sangat kontroversial dan mendapat kecaman yang keras dari sejumlah ilmuwan. Namun demikian, David Quigley menemukan di riset ilmiah dan percobaan dengan PRL ada “sejumlah besar data yang akan membuktikan kepada ilmuwan bahwa banyak ingatan “kehidupan masa lalu” berdasarkan dari kisah nyata sejarah. Kemudian dia mengutip hasil riset dari Helen Wambach (Reliving Past Lives), Marge Riedes Mison ke Marlboro dan 30 kasus reinkarnasi milik Ian Stevenson. Dia berkata, “Siapa saja yang masih tidak mengakui ini, pada kenyataannya, mereka terperangkap dalam ‘ajaran’ yang tidak irasional, dapat disamakan dengan kepercayaan para “sarjana” gereja di abad ke-16 yang tetap pada kepercayaannya bahwa bumi sebagai pusat sistem tata surya.

Dr. Brian Weiss, M.D
Seorang psikoterapi tradisional, lulusan Universitas Columbia dan Yale Medical School dan Kepala Psikiatri Emeritus di Mount Sinai Medical Center di Miami, adalah orang yang paling terkenal menggunakan PRL. Setelah lulus dari Yale, dia mengajar di Universitas Pittsburgh dan Universitas Miami. Di umurnya yang ke delapan puluh, saat dia menjadi Kepala Psikiatri Emeritus, ia telah menerbitkan kurang lebih 40-an makalah.

Sebagai seorang yang terpelajar, dia tidak terlalu ambil perhatian terhadap parapsikologi. Awalnya dia tidak mempunyai pengetahuan sama sekali, dan tidak tertarik dengan reinkarnasi. Belakangan Dr. Weiss mulai tertarik masalah tersebut. Buku pertamanya yang membahas masalah reinkarnasi Many Lives, Many Masters terjual sebanyak dua juta kopi, dan telah diterjemahkan ke lebih dua puluh bahasa.

Dalam buku Dr, Weiss yang berjudul: “Cinta Sejati Singgah Selamanya”, diantaranya dikisahkan seorang lelaki dan seorang wanita yang selamanya belum pernah kenal mencari doctor Weiss melakukan therapy Mengenang.

Kedua orang masing-masingnya mengingat kehidupan bersama pada masa lampau yakni 2000 tahun yll di Jerusalem, ketika itu mereka adalah sepasang ayah dan anak, si ayah mengalami siksaan pasukan Roma dan mati di pelukan putrinya. Mereka berdua pernah bertemu satu kali di dalam klinik Weiss, namun karena etika profesi, Weiss tidak boleh saling membocorkan memori mereka. Akan tetapi setelah therapy mereka dinyatakan selesai, jemari takdir telah mengembangkan pengaturannya dengan gaib, kedua orang tersebut secara “kebetulan” bersamaan menumpang pesawat yang sama, kemudian saling berkenalan dan saling mencinta. [Reincarnation from a Western Medical Perspective: Past Life Regression Therapy Research]

Dr. Helen Wambach
Dalam buku Dr. Wambach yang berjudul ‘Reliving Past Lives and Life Before Life’ diterbitkan pada tahun 1978 oleh Bantam paperback books. Buku ini memuat bukti dari reinkarnasi selama proses hypnosis. Dr. Wambach, dengan pengalaman profesionalnya semula di bingungkan dan cenderung sinis mengenai hal ini namun menjadi tertarik pada penomena spritual dan mendapatkan satu kesimpulan pasti mengenainya

Ia lakukan survey Dalam sepuluh tahun mengenai kehidupan sebelumnya melalui metoda hypnosis kepada 1,088 orang. Ia memilih subjeknya adalah kulit putih kelas menengah dari california. Usia subjek rata-rata adalah 30 tahun, lahir di setelah tahun 1945. Dalam Hipnosis, Dr. Wambach tanyakan secara sfesifik mengenai waktu kehidupan mereka, status social, keseharian mereka, ras, jenis kelamin, pakaian, perabotan, uang, rumah dan yang mereka suka di kehidupan sebelumnya.

Perlu dicatat, sebelum hipnosis umumnya mereka berpikir bahwa di kehidupan dulu mereka adalah seorang terkenal, sukses atau orang terhormat dan bukan sebagai orang biasa seperti petani atau di kehidupan suku primitif

Hasil analisis dari data yang tekumpul, Dr. Wambach menyimpulkan bahwa informasi melalui metoda hipnosis dengan rekaman sejarah adalah sesuai dengan fakta dengan pengecualian pada 11 subjek, sebagai contoh seorang subjek mengatakan bahwa ia main piano pada abad ke 15, padahal piano ditemuan baru dua abad sebelumnya, sembilan subjek memberikan deviasi tipis pada frame waktu sejarah, 1 % dari seluruh subjek ternyata tidak memberikan informasi akurat selama hipnosis

Dari status sosial, Dr Wambach menemukan hasil bahwa mereka 10% dari Kelas atas, 20-35% kelas menengah dan 55-70% dari kelas bawah dengan proprosi kelas menengah adalah relatif lebih besar pada tahun kehidupan mereka di 1000 SM, kemudian menurun dan meningkat kembali di taun 1700 M dibandingkan dengan tahun 1000 SM

60-77% hidup dibawah standar kemiskinan, memakai pakaian buatan sendiri, rumah dari atap jerami. Mayoritas adalah petani yang bekerja tiap hari di ladang, tidak ada dari mereka yang dahulunya adalah orang terkenal dalam sejarah. Mereka yang memiliki status sosial tinggi kelihatannya tidak menyukai kehidupan mereka, mempunyai beban untuk bertahan hidup. Mereka yang dulunya hidup sebagai petani atau hidup di suku yang primitif puas dengan kehidupan mereka

Mereka pernah hidup di berbagai area geografi, mempunyai warna rambut yang berbeda-beda. Dr Wambach membagi kehidupan mereka sebelumnya ke dalam turunan kaukasus, Asia, Indian, Kulit Hitam dan Timur tengah. Di sekitar kehidupan 2000 SM, 20% subjek adalah ras kaukasus, hidup tersebar di timur tengah, mediterania, eropa dan asia tengah (Kazakhstan, Uzbekistan, dsb yang dulu dinamakan daerah padang rumput).

Antara kehidupan tahun 1900 dan 1945, 1/3 adalah ras asia. Banyak dari mereka meninggal karena penyebab non alami selama tahun 1900-1945, yaitu dua perang dunia, perang sipil di negara2 asia. Mereka segera reinkarnasi setelah meninggal. 69% dari subject meninggal di sekitar tahun 1850-an adalan ras kaukasus. Yang meninggal tahun 1900-1945, 40%-nya ras kaukasus.

Jenis kelamin subjek adalah tidak sama dipelbagai kehidupan, sebagai contoh seorang pria dulunya adalah wanita dan hidup di China pada tahun 480 SM. Pria lainnya dulunya lahir sebagai seorang wanita Indian yang meninggal akibat sulit melahirkan. Pria itu dapat menggambarkan kesakitan yang ia derita. Dari populasi, rasio pria dan wanita di kehidupan dahulunya adalah sama disetiap usianya

mereka yang hidup di tahun 500 SM menyatakan bahwa makanan tidaklah buruk. 20% mengingat bahwa mereka memakan daging unggas dan biri2. Namun di sekitar tahun 25 M s/d 1200 M. Kebiasaan makan masyarakat menjadi lebih buruk, para subjek mengatakan bahwa makanan kurang ada rasanya

Satu orang ingat bahwa ia hidup pada tahun 800 M di daerah yang saat ini dinamakan Indonesia, Ia mengigat bahwa ia makan sejenis kacang2an yang ia tidak pernah lihat dan makan seumur hidup sekarang. Suatu ketika ia melihat jenis kacang itu ada di majalah dan persis dengan yang ia ingat makan selama priode hipnosis, Artikel tersebut mengatakan bahwa kacang2an itu hanya ditemukan di pulau Bali (note: mungkin maksudnya jukut undis) [Evidence for Reincarnation from Western Medical Research: (Part I) Dr. Wambach’s Past Life Regression Studies]


Dr Stevenson, Dr Brian Weiss dan Dr Helen Wambach, Dr Arthur Guirdham dan beberapa ahli Psikologi dan Psikiatri, tidak beragama HINDU atau BUDDHA, mereka itu skeptik, pada awalnya, tidak mendukung reinkarnasi namun dari penelitian mereka sendiri, malah menemukan bukti-bukti kuat adanya kelahiran kembali dan berkesimpulan:

    Dr. Helen Wambach:
    ‘I don’t believe in reincarnation — I know it!’ (Wambach 1978)

    Dr Arthur Guirdham:
    If I didn’t believe in reincarnation on the evidence I’d received I’d be mentally defective’ (cited Fisher 1986: 65)

    Dr Gerald Netherton, dibesarkan di lingkungan Methodist yang fundamentalis:
    Many people go away believing in reincarnation as a result of their experience …What is the logical answer? That it actually is happened! (cited Fisher 1986: 65)

    Dr Alexander Cannon:
    For years the theory of reincarnation was a nightmare to me and I did my best to disprove it… Yet as the years went by one subject after another told me the same story in spite of different and varied conscious beliefs. Now well over a thousand cases have been investigated and I have to admit that there is such a thing as reincarnation ‘ (cited Fisher 1986: 65)

    Dr Edith Fiore:
    If someone’s phobia is eliminated instantly and permanently by his remembrance of an event from the past (life), it makes logical sense that the event must have happened (cited Fisher 1986: 65)

MILENIUM KE-2 MASEHI
Pada tahun 1980 sekelompok kecil Psikiatris dan psikolog secara bersama membentuk perkumpulan yang dinamaan Association for Past-Life Research and Therapies (APRT). Pada tahun 2000, direformasi menjadi International Association for Regression Research and Therapies (IARRT). Selama 20 tahun, asosiasi berkembang dengan 1000 anggota di 20 negara yang memiliki lisensi psikotherapist yang menghasilkan konsistensi bukti-bukti dan juga pertukaran informasi melalui konfrensi, newsletter dan jurnal-jurnal professional. [Reincarnation and Past-Life Regression: A Leap through the Looking-Glass, Greg Paxson]


Kelahiran Kembali dari Binatang dan Mahluk Halus
Situs ini merekam pengakuan orang-orang yang mengklaim pernah dilahirkan sebagai binatang misalnya: Merpati, srigala, Anjing, Unta, Ikan, dan lainnya. Artikel Walter Semkiew, MD, berjudul, “Do We Reincarnate as Animals?” yang mengutip buku Dr Tuckter, memuat riset Francis Story tentang seorang anak Thailand bernama Dalowong, yang mengklaim pernah terlahir sebagai rusa dan kobra dan mahluk halus.

Pada 17 Juni 2009, Di Vihara Sakyamuni, Padang Sambian, Denpasar, dalam talkshow peluncuran buku “Born Again”-nya Dr Walter Semkiew yang ditemani Brenda Ie-Mc Rae (Hypnotheraphist dari International Association for Regression Research and Therapies/IARRT) di satu sesi tanya jawab, Brenda mengaku pernah menelusuri kehidupan masa lalu kliennya yang terlahir sebagai burung, ikan dan sejenis Ular berdasarkan petunjuk misalnya, kliennya menyatakan tidak mempunyai kaki dan tangan, berenang di dalam air, dan seterusnya.

Survey Percaya Reinkarnasi
Survey 43 Negara (1990-1993) dan 81 Negara (1999-2002) bahwa masyarakat yang percaya reinkarnasi, di negara-negara Nordic 22%, negara-negara Baltic, termasuk Lithuania 44%. Jerman timur 12%, Russia 33%, negara Eropa Barat 22%, dll [nordic Psychology, 2006, 58 (2) 171-180, ARTIKEL: “Popular psychology, belief in lifeafter death and reincarnationin the Nordic countries, Westernand Eastern Europe”, ERLENDUR HARALDSSON]

The Telegraph, melaporkan survey di UK pada bulan Oktober-November 1988 bahwa 27% orang Inggris dan 32% orang Skotland percaya reinkarnasi.

Survey George Gallup (sampai tahun 2005): Orang Amerika yang percaya reinkarnasi di tahun: 2005 (20%), 2001 (25%), 1996 (22%), 1994 (27%) dan 1991 (21%) [Juga di Richard Holmes]

Survey Barna Group, NGO riset kristen, 25% Kristen US percaya -[Dr. Joel L. Whitton Ph.D dan Joe Fisher: Life Between Life, penerbit Gafton, 1987, hal 87.] []




Ajaran India

    Kisah Shanti Devi:
    Ia lahir di Delhi tahun 1926, ketika berumur tiga tahun, dia mulai berkata-kata tentang kehidupannya yang lalu. Dia mengatakan bahwa dulu dia tinggal di Mathura (80 mil dari Delhi), dan lahir pada tahun 1902 dari kasta Choban. Dia menikah dengan seorang pedagang kain yang bernama Kedar Nath Chaubey.

    Kendati ia dianggap gila oleh sebagian orang, toh orangtuanya masih menyempatkan diri untuk mencari tahu tentang orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan Kedar Nath Chaubey di Mathura.

    Ketika Shanti Devi berumur 9 tahun, pada tahun 1935, orang tuanya menulis surat ke orang tersebut untuk menanyakan apakah ada orang yang bernama Kedar Nath Chaubey, yang mempunyai pekerjaan sebagai pedagang kain, dan istrinya meninggal sepuluh hari setelah melahirkan seorang anak laki-laki, seperti yang pernah diceritakan oleh anaknya. Kenalan itu menjawab suratnya dengan membenarkan semua hal yang ditanyakannya. Kemudian, keluarga dari suaminya mengirimkan seorang paman (dari kehidupan Shanti Devi yang lalu), Shanti devi segera mengenali & memeluknya ketika dia datang. Selanjutnya tanpa pemberitahuan terlebbih dahulu, suami dan putranya (dari kehidupan yang lalu) datang ke Delhi untuk menemui Shanti Devi. Shanti Devi pun segera mengenali mereka.

    Pada tahun berikutnya, tahun 1936, dibentuk suatu komite untuk mencatat apa yang akan terjadi bila Shanti Devi dibawa ke rumah (yang sering dikatakan oleh gadis cilik ini sebagai rumah di kehidupannya yang lalu) di Mathura. Mereka pergi ke Mathura dengan kereta api.

    Begitu kereta berhenti di stasiun Mathura, Shanti Devi segera mengenali salah seorang kerabatnya, walaupun yang bersangkutan berada di antara kerumunan banyak orang. Dia menggunakan bahasa daerah di tempat tersebut, meskipun dia belum pernah ke sana. Kemudian, dia dinaikan ke sebuah kereta kuda dan kusirnya diinstruksikan untuk untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh Shanti Devi. Dia kelihatan sangat hapal dengan jalan-jalan di kota itu, walaupun itu adalah pertama kalinya dia datang ke Mathura. Diapun memberi petunjuk kepada kusir untuk menuju rumah Kedar Nath Chaubey. Rumah itu telah dicat dengan cat yang baru namun dia, dengan mudah, dapat mengenalinya. Di dekat rumah itu ada seorang Brahmana tua, dan dia mengenalinya sebagai mertuanya.

    Waktu memasuki rumah, Shanti Devi ditanya tentang susunan ruang, kloset, dan lain-lainnya. Semuanya dijawab dengan tepat. Kemudian, dia pergi ke rumah sebelah, yang merupakan rumah dari orangtuanya (dari kehidupan yang lalu), dan mengenali orangtuanya, meskipun waktu itu orangtuanya berada di kerumunan sekitar 50 orang. Setelah itu, dia mengatakan bahwa dia pernah menyimpan uang di salah satu sudut dari rumah kerabatnya di dekat rumah itu. Komite menggali di lokasi yang disebutkan oleh gadis cilik itu, tetapi mereka tidak menemukan apa-apa. Shanti Devi tetap bersikukuh bahwa dia telah menyimpan sejumlah orang di tempat itu. Akhirnya, Kedar Nath Chaubey mengaku bahwa dia telah mengambil dan memindahkan uang tersebut. [San Francisco Examiner, 28/8/1928. Detail kisah dan foto shanti Devi lihat di sini]

Manusia sekarang adalah hasil dari ribuan pengulangan pikiran dan perbuatan. Ia bukan sudah jadi; ia menjelma, dan masih menjelma. Sifatnya telah ditentukan oleh pilihannya sendiri. Pikiran, perbuatan yang ia pilih, yang menjadi kebiasaan membentuknya.

Anak kembar yang berasal dari satu telur memiliki kesamaan keturunan dan kesamaan lingkungan. Namun ahli psikologi telah meneliti bahwa mereka berbeda dalam sifat dan wataknya.

Oleh karena itu, mungkin perbedaan ini disebabkan oleh faktor ketiga (selain dari keturunan dan lingkungan), yaitu “pembawaan“ kepandaian yang lampau, dan tingkah laku dari kehidupan yang sebelumnya.

Adanya anak jenius atau yang luar biasa kepandaiannya tidak dapat diterangkan dengan memuaskan dipandang dari segi keturunan atau lingkungan, hanya kepandaian bawaan dari satu kehidupan ke kehidupan lain yang dapat menjelaskan kasus – kasus khusus seperti itu Ambillah contoh kasus kembar siam Chang dan Eng yang terkenal. Ini adalah kasus dengan kesamaan keturunan dan kesamaan lingkungan.

Para ahli yang telah mempelajari tingkah laku mereka melaporkan bahwa keduanya memiliki watak yang berbeda jauh, Chang kecanduan minuman keras, sedangkan Eng tidak minum minuman keras.

Sebab dari perbedaan dan ketidaksamaan kelahiran di kehidupan ini salah satunya adalah atitakamma (perbuatan baik dan buruk dari setiap individu dalam kehidupan yang lampau). Dengan kata lain, setiap manusia menuai apa yang telah ditaburnya di masa lampau. Dengan cara yang sama, perbuatannya sekarang membentuk masa depannya.

    “Setiap kelahiran kembali dimulai dengan satu set kemungkinan tersembunyi yang unik, kumpulan dari pengalaman di masa lampau. Itulah mengapa terdapat perbedaan sifat, mengapa setiap orang diberkahi dengan apa yang disebut oleh penganut teisme sebagai ‘karunia'(bakat), dan kemungkinan – kemungkinan yang tak terbatas”-[Dr. Cassius A. Pereira (belakangan Thera Kassapa), “What I Believe”, Ceylon Observer, Oktober, 1937, on “Collected Wheel Publications Volume I: Numbers 1–15“, hal.381]

Secara garis besar terdapat perbedaan signifikan di antara tradisi India dalam menyikapinya:

  • Pengakuan ada atau tidaknya aktor di belakang layar penyebab kelahiran kembali. Definisi Tuhan/Brahman:
    • Suatu zat abadi dan supranatural atau sebuah bentuk energi atau kesadaran yang merasuki seluruh alam semesta, di mana keberadaan-Nya membuat alam semesta ada; sumber segala yang ada; kebajikan yang terbaik dan tertinggi dalam semua makhluk hidup; atau apapun yang tak bisa dimengerti atau dijelaskan.
    • Brahman bersifat kekal, imanen, tak terbatas, tak berawal dan tak berakhir juga menguasai segala bentuk, ruang, waktu, energi serta jagat raya dan segala isi yang ada didalamnya.
    • Meskipun kepercayaan akan Tuhan ada di semua agama, kebudayaan dan peradaban, tetapi definisinya lain-lain. Istilah Tuan juga banyak kedekatan makna dengan kata Tuhan, dimana Tuhan juga merupakan majikan atau juragannya alam semesta. Tuhan punya hamba sedangkan Tuan punya sahaya atau budak.
    • Penganut monoteisme di Indonesia biasanya menolak menggunakan kata Dewa, hal ini adalah tidak berdasar sebab di Prasasti Trengganu, prasasti tertua dalam bahasa Melayu, Tahun: 1326 M/1386 M, ditulis dengan Huruf Arab (Huruf Jawi), menuliskan Tuhan tidak hanya dengan asma Allah tetapi juga Dewata Mulia Raya.
    • Untuk definisi Theisme, Atheis, Agnostic, silakan lihat di sini

    Hinduism menyatakan Tuhan/Brahman-lah aktor dalam penciptaan. Sementara, Buddhisme menyatakan tidak ada Brahman/Tuhan/Maha pencipta dalam urusan ini

  • Ada atau tidaknya roh/jiwa/atman/nyawa dalam kelahiran kembali. Definisi roh/jiwa/atman:
    • Sesuatu (unsur) yang ada di jasad yang diciptakan Tuhan sebagai penyebab adanya hidup (kehidupan).
    • Merupakan percikan kecil dari Brahman yang berada di dalam setiap makhluk hidup di alam semesta ini [sarwa prani]. Atman di dalam badan manusia disebut: Jiwatman atau jiwa atau roh yaitu yang menghidupkan manusia. Indria tak dapat bekerja bila tak ada atman.
    • Inti dari mahluk yang membuatnya hidup.

    Hinduisme menegaskan bahwa Atman adalah percikan Brahman. Sementara, Buddhisme menolak semua ide Atman dan Brahman ini

Terlepas perbedaan di atas, baik Hindu dan Buddha sepakat menyatakan bahwa Punarbhawa/Punabbhava (puna = lagi/kembali, bhava = menjadi ada/eksis. Proses menjadi ada lagi atau terlahir kembali atau tumimbal lahir) adalah mutlak ada.

Hindu: Kelahiran Kembali

    Kisah Swarnlata Mishra:
    Ia lahir pada keluarga kaya dan intelektual di Pradesh India pada tahun 1948, ketika ia berusia 3 tahun dan bepergian dengan ayahnya melewati kota Katni (lebih dari 100 Mil dari rumahnya), tiba2 ia menunjuk dan meminta supir untuk berbelok arah menuju ‘rumahku’ dan mengajak mereka untuk menikmati secangkir teh disana daripada meneruskan perjalanan

    Beberapa saat kemudian, ia menceritakan lebih detail mengenai hidupnya di Katni (semuanya dituliskan oleh ayahnya). Namanya adalah Biya Pathak, dan ketika itu ia punya 2 anak, ia memberikan detail keadaan rumahnya di Zhurkutia, distrik katni, ada pintu hitam dengan baut besi, empat ruangan di semen namun dibagian lainnya belum selesai, lantai depan dari batu. Dibelakang rumah ada sekolah khusus wanita, di depan jalan ada rel kereta api dan tempat pembakaran kapur yang terlihat dari rumah. Ia menambahkan bahwa keluarga itu punya sepeda motor (barang yang sangat langka di tahun 1950 dan bahkan lebih langka lagi sebelum swarnlata lahir). Swarnlata katakan bahwa Biya wafat karena ‘sakit di tenggorokan’ dan ia dirawat oleh Dr S.C Bhabrat di Jabalpur. Ia juga ingat insiden pada satu perkawinan ketika ia dan temannya sulit menemukan kakus.

    Di musim semi 1959, ketika Swarnlata berusia 10 tahun, berita kasus ini sampai pada Prof Sri H.N.Banerjee, seorang peneliti penomena paranormal keturunan India yang merupakan rekan sekerja Stevenson. Banerjee membawa catatan yang dibuat ayah swarnlata dan mengunjungi Katni untuk memverifikasi ingatan Swarnlata

    Dengan menggunakan deskripsi yang diberikan Swarnalata, Ia menemukan rumah keluarga Pathak yang ketika itu telah diperbesar dan mengalami peningkatan daripada tahun 1939 ketika Biya meninggal. Pathak merupakan keluarga yang makmur, terkemuka, terpelajar dengan banyak keterlibatan bisnis. Mereka tidak mempercayai adanya Reinkarnasi. Pembakaran kapur berada di sekitar tanah milik, sekolah khusus wanita 100 yard dibelakang tanah Patak tapi tidak terlihat dari depan.

    Ia menginterview keluarga dan memverifikasi semuayang dikatakan Swarnlata. Biya Pathak wafat tahun 1939, meninggalkan suami, 2 orang anak lelaki dan banyak adik lelaki. Pathak tidak pernah mendengar tentang keluarga Misra yang tinggal 100 mil jauhnya dan Mishrapun tidak mempunyai pengetahuan apapun tentang keluarga Pathak

    Dari hasil tabulasi stevenson pada kasus Swarnlata. Pada musim panas 1959 Suami Biya, anak dan saudara tertua bepergian ke Chhatarpur, kota tempat tinggal Swarnlata saat itu untuk mencheck ingatan swarnlata. Mereka tidak mengungkapkan identitas dan tujuan mereka pada siapapun di kota, namun terdaftar 9 orang kota menemani mereka kerumah Mishar dengan tidak memberitahukan kedatangan mereka terlebih dahulu

    Swarnlata segera mengenali kakanya dan memanggilnya ‘Babu’ panggilan sayang biya untuknya. Swarnlata yang berusia 10 tahunan berjalan kesekeliling ruangan kepada tiap orang secara bergilir, beberapa ia kenal sebagai penduduk kotanya, beberapa adalah orang asing baginya. Sesampainya Ia didepan Sri Chintamini Pandey, suami Biya. Swarnlata menundukan matanya, tersipu malu seperti layaknya istri Hindu ketika berhadapan dengan suaminya dan menyebutkan namanya.

    Swarnlata juga menyebutkan dengan tepat anak dari kehidupan lampaunya, Murli, yang berusia 13 tahun saat Biya wafat. Murli berencana mengecoh Swarnlata. Selama lebih dari 24 jam bersikeras bahwa ia bukan Murli namun orang lain. Murli juga membawa teman dan juga mencoba mengecoh Swarnlata dengan bersikeras bahwa itu adalah Naresh, anak Biya yang lain, yang seumuran dengan temannya itu. Swarnalata bersikeras bahwa orang itu tidak dikenalnya! Akhirnya Swarnalata mengingatkan Sri Pandey bahwa Pandey pernah nyolong 1200 rupee yang Biya simpan di Box. Sri Pandey mengakui fakta pribadi yang hanya diketahui ia dan istrinya saja!

    Beberapa minggu kemudian, Swarnalata dan ayahnya ke Katni untuk mengunjungi kampung halaman dimana Biya tinggal dan meninggal. Sesampainya disana , Swarnlata segera mengenali perubahan yang terjadi dirumah itu. Ia menanyakan tentang sandaran di belakang rumah, beranda dan pohon neem yang biasa tumbuh di halaman yang semuanya tidak ada lagi setelah kematian Biya. Ia mengenali kamar biya dimana Biya meninggal. Ia mengenali kakak Biya dan menyatakan sebagai kakak ke dua, juga yang ketiga dan yang keempat, istri dari saudara termudanya anak dari kakak keduanya, teman dekat kelurganya (menyebutkan bahwa teman keluarganya itu sekarang memakai kacamata dan dulu tidak) dan istrinya (memanggil namanya ‘Bhoujai’). Ia juga dengan tepat mengidentifikasi pembantu terdahulu, penjual buah pinang tua dan keluarga penggembala sapi, meskipun adik lelakinya berusaha untuk mengetes swarnlata bahwa penggembala itu sudah wafat)

    Kemudian, Swarnalata dihadapkan pada ruangan yang penuh dengan orang dan ditanya ada yang dikenalnya atau tidak. Ia dengan tepat menunjuk sepupu laki2 suaminya, Istri dari ipar Biya, Bidan (yang disapa dengan nama ketika Biya masih hidup, bukan dengan nama saat ini). Anak Biya, Murli dalam satu tes yang lain ia mengenalkan Swarnlata dengan seorang pria yang katakan teman barunya, Bhola. Namun Swarnlata bersikeras bahwa itu adalah anak keduanya, Naresh. Dalam satu tes lain, saudara termuda Biya mengatakan bahwa Biya kehilangan gigi, Swarnlata katakan bahwa Biya mempunyai gigi emas di bagian depan. (Justru si adik lupa bahwa Swarnlata pake gigi emas, namun istrinya si adik menyatakan bahwa yang dikatakan swarnlata itu benar)

    Swarnlata bertindak sangat Pede, berprilaku sebagai kakak tertua di rumah, akrab dengan nama intim dan rahasia keluarga dan mengingat hubungan perkawinan, dll. Swarnlata berprilaku sepantasnya dengan tetua Biyam namun ketika berdua dengan anak2 Biya, Ia begitu relaks dan berprilaku seperti ibu yang jelas janggal bahwa anak 10 tahunan dengan pria2 di usia pertengahan 30

    Saudara2 pria di keluarga Pathak dan Swarnlata mengikuti kebiasaan hindu, Rakhi, di mana kakak dan adik tiap tahun memperbaharui sayang diantara mereka dengan bertukar kado, bahkan keluarga Pathak agak kesal dan kecewa satu tahun ketika Swarnalata lupa upacara itu. Mereka merasa bahwa swarnlata hidup bersama mereka 40 tahun dan hanya 10 tahun dengan keluarga Mishra jadi merasa lebih berhak atasnya. Ini bukti betapa percayanya keluarga itu bahwa Swarnlata adalah Biya. Mereka mengakui mengubah pandangan mereka tentang reinkarnasi sejak bertemu Swanlata dan mengakui bahwa ia adalah kelahiran kembalinya Biya. Beberapa tahun kemudian, ketika waktunya Swarnlata menikah, Ayah Swarnlata berkonsultasi dengan keluarga Pathak mengenai pilihan suaminya.

Hinduisme menyatakan campur tangan mahluk Adi daya dan perbuatan menyebabkan kelahiran kembali:

    “Purusa melingkupi dunia, Purusa adalah yang belum dan akan terjadi..dari purusa lahirlah Viraj/Brahman, dari Viraj/Brahman lahirlah Purusa, dari Purusa lahir mahluk di udara, hewan liar dan jinak, 4 Varna (Brahmana, Ksatria, Weisya dan Sudra) dan para Dewa..” [Rg Veda 10.90.1-16]. Purusa adalah Prajapati [Satapatha Brahmana 7.4.1.15, Jaiminya Brahmana 2.47], Hiranyagarbha/Rahim emas adalah Prajapati [RV 10.121.1, 10. Garbha = rahim, telur. Nama lain telur adalah ‘anda’], di Rig veda ini, Ka = Prajapati = HiranyaGarbha. Dalam Atharvadeva (AV 10.2.30: Purusa adalah Brahman, maka Prajapati adalah Brahman dan BrahmAnda / Rahim-Brahma / Telur-Brahma adalah Hiranyagarbha). Sebelum penciptaan adalah rahim emas/Hiranyagarbha, tuan dari segala yang lahir pemegang bumi dan surga [Rgveda 10.121.1].

    Ketika Engkau telah membuatnya siap, Jātavedas (Nama lain Deva Agni. Di literature belakangan menjadi nama lain Siwa), maka kirimlah Ia ke para leluhurnya. Ketika Ia menuju pada kehidupan yang menunggunya, Ia akan menjadi dewa pengontrol ‘. matahari menerima matamu, angin menerima rohmu, dan pergi ke dunia, bersama jasa/kebiasaanmu (ca ghachapṛthivīṃ ca dharmaṇā) [RgVeda. 10.6.2-3]

    Roh-Mu datang kepadamu lagi untuk kebijaksanaan, energi, dan lira, yang mungkin dapat menahan sang Mentari, O para leluhur, semoga para mahluk surgawi memberi kita jiwa sekali lagi, yang membuat kita dapat bersama mereka yang hidup [RV.10. 57.4-5]

    O Asuniti…berikan lagi kami penglihatan, nafas dan kesenangan lagi..semoga bumi mengembalikan pada kita roh vital kita, semoga Surga Dewi dan udara mengembalikannya. Semoga Soma memberi kita sekali lagi tubuh, dan Pūṣan menunjukkan Jalan kedamaian dan kenyamanan [RV 10.59.5-7]

Ke empat Veda, lebih fokus di puja dan puji kepada Dewa Utama sebagai tujuan kehidupan mereka dan hanya sedikit yang menyinggung tentang kelahiran kembali para mahluk, inilah yang kemudian diperjelas dalam Upanisad, misal:

    Pada awalnya hanya ada Ia dalam bentuk Purusha..karena sebelum (pûrva) semuanya ini, Ia bakar (ush) hal jahat, karenanya Ia adalah pur-usha.. Ia kesepian.. membagi dua dirinya.. tercipta manusia.. tercipta binatang..’Aku ciptakan semua ini’..dan mereka yang tahu, hidup dalam ciptaannya…Ia ciptakan para dewa dari bagian yang lebih baik..dulu semua tidak berkembang, kemudian berkembang dengan bentuk dan nama..Ia berada di dalamnya.. dalam semua Diri ini adalah satu. Diri ini adalah jejak dari segala sesuatu..Sesungguhnya pada awalnya adalah Brahman..’Aku adalah Brahman.’ Dari itu semua bermunculan. Apa pun Deva yang tersadar (mengenal Brahman), Ia menjadi Brahman; juga rsi..para manusia..jika seseorang menyembah dewa, menganggap dewa itu satu sedang Ia adalah lainnya, Ia tidak tahu…Sesungguhnya pada awalnya adalah Brahman, hanya satu itu..Ia ciptakan Kshatra.. Vis.. Sûdra.. ciptakan dharma.. ciptakan hukum.. [Brihadâranyaka Upanishad 1.4]

    [saat wafat]..kehidupan meninggalkannya, lainnya (prana) meninggalkannya. Ia sadar, sadar ikut meninggalkannya, kemudian pengetahuan dan perbuatannya berkuasa, hal-hal akrab yang dikenal sebelumnya. Diri ini, setelah membuang tubuh..menjadikan dirinya ke bentuk lain apakah itu seperti para Ayah, atau para Gandharva, atau para Dewa, atau Prajâpati, atau Brahman, atau lainnya. Diri adalah Brahman, terdiri dari pengetahuan, pikiran, kehidupan, penglihatan, pendengaran, tanah, air, angin, eter, cahaya dan tanpa cahaya, keinginan dan tanpa keinginan, kemarahan dan tanpa kemarahan, benar atau salah, segalanya. Seseorang menjadi seperti ini atau itu karena perbuatan dan kelakuannya, Bagus karena berbuat baik, buruk karena berbuat jahat, murni karena perbuatan murni, buruk karena perbuatan buruk..seseorang terdiri dari keinginan dan seperti keinginannya, demikian juga keinginannya; dan seperti kehendaknya, demikian pula perbuatannya; apa pun perbuatannya, akan di-tuai-nya.. Apapun objek yang melekat di pikirannya, karenanya ia berkecenderungan pergi bersama perbuatannya, dan memperoleh akhir dari apapun perbuatan yang dilakukannya di dunia, kembali lagi dari dunia itu ke dunia ini.. Tetapi yang terbebas dari keinginan, puas dalam keinginan, atau hanya menginginkan sang Diri, rohnya tidak pergi ke tempat lain, Ia pergi ke Brahman. [Brihadâranyaka Upanishad 4.4]

    Ini telah dinyatakan oleh Rsi (Rv. VIII, 101, 14): ‘..Yang dikatakan: ‘Tiga (golongan) melampaui batas,’ adalah apa yang kita lihat di sini (di dunia, dilahirkan kembali) sebagai burung, pohon, tumbuhan, dan ular. Yang dikatakan: ‘lainnya duduk disekeliling Yang Mulia,’ berarti mereka bersama Agni. Yang dikatakan: ‘Yang agung berdiri di tengah-tengah dunia,’ berarti di dunia sebagai yang diperagung (Âditya). Yang dikatakan: ‘Badai memasuki Harits,’ berarti bahwa Vâyu, masuk disemua penjuru dunia [Aitareya-Âranyaka II.1.1]

    Tapi dirinya yang lain, setelah melakukan semua yang Ia lakukan, dan setelah mencapai waktu penuh hidupnya, Ia berangkat. Dan berangkat dari sini dilahirkan kembali. Itulah kelahiran ketiga. Dan ini telah dinyatakan oleh Rsi (Rv IV, 27, 1) [Aitareya-Âranyaka, II.5.1]

    melalui pikiran-pikiran, sentuhan, penglihatan dan kegemaran menanggung penjelmaan diri berturut-turut di berbagai tempat dan bentuk, sesuai dengan perbuatannya…bahwa penjelmaan diri menurut kualitasnya sendiri menjadi banyak bentuk, kasar atau halus dan membuat dirinya menjadi sebab penyatuan dengan hal tersebut, Ia terlihat lain dan lain melalui kualitas perbuatannya dan kualitas tubuhnya [Svetâsvatara Upanishad 5.11-12]

    Ia yang tidak memiliki pemahaman, yang lengah dan selalu tidak murni, tidak pernah mencapai tempat itu, tapi masuk ke lingkaran kelahiran. Tapi Ia yang berpemahaman, yang sadar dan selalu murni, mencapai tempat itu, dari mana ia tidak dilahirkan kembali.” [Katha Upanisad I.3]

    Mereka (grihastha/perumah tangga) yang mengetahuinya dan yang tinggal di hutan menjalani keyakinan dan pertapaan (vânaprastha dan parivrâgaka) pergi menjadi cahaya.. seseorang bukan manusia, membawa ke Brahman. Ini adalah jalan para Dewa. ‘Tetapi mereka yang mempraktikkan pengorbanan, pekerjaan untuk keperluan umum, dan sedekah, mereka pergi ke asap..ke dunia para ayah,..ke eter..ke bulan..mereka dicintai para dewa..’Setelah berdiam di sana,..kembali lagi seperti ketika datang..ke eter, udara, asap, kabut..awan..padi, jagung, perjalanannya sebagian besar kesulitan..selanjutnya menjadi seperti mereka. ‘yang baik prilakunya, dengan cepat mencapai kelahiran baik, kelahiran seorang Brâhma atau Kshatriya, atau Vaisya. Tetapi yang buruk perilakunya, dengan cepat mencapai kelahiran buruk, kelahiran seekor anjing, atau babi, atau Kandâla.. [Chandogya Upanisad V.10]

    Dia yang mengetahui tempat tertinggi dari Brahman itu, dimana dasar dari dunia ini bersinar dengan cemerlang. Orang bijaksana, yang, bebas dari keinginan, memuja Dia, lepas dari kelahiran kembali. Dia yang melayani nafsu, memikirkan mereka, akan lahir kembali di sini dan di sana sesuai dengan keinginannya. Tapi bagi yang puas dalam keinginan, adalah jiwa sempurna, seluruh keinginannya lenyap bahkan disini. [Mundaka Upanisad 3.2.1-2]

    Ia yang mengetahui kelahiran dan kegiatan ilahi-Ku yang sejati, tak akan menjelma kembali setelah menanggalkan badan jasmaninya dan datang kepada-Ku, wahai Arjuna [Bhagavad Gita 4.9].


Mahluk hidup tercipta karena Brahman. Brahman (Prajapati/Purusa/HiranyaGarbha) menciptakan dua kekuatan yaitu Purusa/kekuatan hidup (batin/nama) dan Prakerti/kekuatan materi (pradana/rupa). Setelah itu, tercipta “cita”/alam pikiran yang dipengaruhi oleh Tri Guna (satwam/sifat kebenaran/Dharma, Rajah/sifat kenafsuan/dinamis dan Tamas/Adharma/kebodohan/apatis). Kemudian timbul Budi/naluri pengenal, setelahnya timbul Manah/akal dan perasaan, selanjutnya timbul Ahangkara/rasa keakuan, setelah ini timbul Dasa indria/sepuluh indria/gerak keinginan yang terbagi dalam kelompok:

  • Panca Budi Indria: lima gerak perbuatan/rangsangan: Caksu/indria penglihatan, Ghrana/indria penciuman, Srota/indria pendengaran, Jihwa/indria pengecap dan Twak/indria sentuhan/raba.
  • Panca Karma Indria: lima gerak perbuatan/penggerak: Wak/indria mulut, Pani/Indria tangan, Pada/Indria kaki, Payu/indria pelepasan dan Upastha/indria kelamin.


Setelah itu timbulah lima jenis benih alam (Panca Tanmatra): Sabda/suara, Sparsa/yang dapat disentuh, Rupa/yang dapat dilihat, Rasa/yang dapat dicicip, Gandha/yang dapat dicium. Dari Panca Tanmatra lahirlah lima unsur materi atau Panca MahaBhuta: Akasa (ruang/ether), Bayu (gerak/angin), Teja (panas/api), Apah (zat cair/perekat) dan Pratiwi (zat padat/tanah). Perpaduan unsur-unsur ini menghasilkan dua unsur benih kehidupan yaitu Sukla/benih laki-laki dan Swanita/benih perempuan. Pertemuan antara dua benih kehidupan ini disebut pertemuan Purusa dan Pradana sehingga terciptalah manusia.

    Dahulu kala, Prajapati menciptakan manusia bersama-sama dengan pengorbanan dan berkata: “Dengan ini semoga engkau akan berkembang biak dan biarlah ini menjadi sapi perahan.-[Bhagavad-Gita 3.10]

    Beberapa jiwa memasuki kandungan untuk ditubuhkan; yang lain memasuki obyek-obyek diam sesuai dengan perbuatan dan pikiran mereka.- [Katha Upanisad 2.2.7]

    Mahluk-mahluk di dunia yang terikat ini adalah bagian percikan yang kekal (Brahman) dari Ku, mereka berjuang keras melawan 6 indria termasuk pikiran. -[Bhagavad Gita 15.7]


Percikan dari Brahman dinamakan Atman/jiwatman yang tak terlukai oleh senjata, tak terbakar oleh api, tak terkeringkan oleh angin, tak terbasahkan oleh air, abadi, di mana- mana ada, tak berpindah- pindah, tak bergerak, selalu sama, tak dilahirkan, tak terpikirkan, tak berubah dan sempurna tidak laki- laki ataupun perempuan.

Percikan itulah yang menghidupkan/menggerakan manusia. Atman/roh/jiwa menghidupkan sarwa prani/makhluk di alam semesta ini. Indria tak dapat bekerja bila tak ada atman. Misalnya telinga tak dapat mendengar bila tak ada atman, mata tak dapat melihat bila tak ada atman, kulit tak dapat merasakan bila tak ada atman. Badan jasmani bisa berubah, lahir, mati, datang dan pergi, namun Atma tetap langgeng untuk selamanya.

    Setelah memakai badan ini dari masa kecil hingga muda dan tua, demikian jiwa berpindah ke badan lain, ia yang budiman tidak akan tergoyahkan -[Bhagawad Gita 2.13]

    Ibarat orang meninggalkan pakian lama dan menggantinya dengan yang baru, demikian jiwa meninggalkan badan tua dan memasuki jasmani baru. -[Bhagawad Gita 2.22]


Atma/Jiwatman bersifat abadi, namun karena Maya, maka Jiwatma tidak mengetahui asalnya yang sesungguhnya. Keadaan itu disebut “Awidya”. Hal tersebut mengakibatkan Jiwatman mengalami proses kelahiran kembali yang berulang-ulang.

    Dan bagaimanapun keadaan mahluk-mahluk itu, apakah mereka itu selaras (sattvika), penuh nafsu (rajasa), ataupun malas (tamasa), ketahuilah bahwa semuanya itu berasal dari Aku. Aku tak ada di sana, tetapi mereka ada pada-Ku. Dikelabui oleh ketiga macam sifat alam (guna) ini, seluruh dunia tidak mengenal Aku, yang mengatasi mereka dan kekal abadi. Maya ilahi-Ku ini, yang mengandung ketiga sifat alam itu sulit untuk diatasi. Tetapi, mereka yang berlindung pada-Ku sajalah yang mampu untuk mengatasinya.-[Bhagavad Gita 7.12-14]

    Maya tanpa kecerdasan dan Material mempunyai sifat: kebaikan/selaras (satwam), nafsu/kekuatan (rajas) dan kebodohan/kelambaman (tamas)-[Siwa Samhita 1.79]

    Mahluk hidup diikat oleh sifat-sifat tersebut dan sulit dikendalikan..-[Bhagavad Gita 14.5]

    Mahluk hidup pindah dari satu badan ke badan lainnya dengan membawa kesadaran masing-masing, seperti udara yang membawa jenis bau-bauan tertentu. Berdasarkan kesadaran demikian mahluk hidup meninggalkan badan dan menerima badan baru yang lain.-[Bhagavad Gita 15.8]

    Aku memuja Keagungan Govinda [Krisna/Visnu], dengan kuasa anugrahnya memelihara semua yang belum terlahir, semua yang menjadi ada, semua kebaikan, semua keburukan, Veda-Veda, semua yang menerima hasil pencapaian, semua jiwa, dari mulai Brahma hingga ke serangga terlemah-[Sri Brahma-Samhita 53]


Tradisi India menyatakan bahwa terdapat 84 Lakhs atau 8.400.000 jenis spesies [Hindu Teks: Shrimad BhagvatGita 16-19, Maitrayani Upanishad, Brahma-vaivarta Purana, Garuda Purana, Jain teks: Ashta Pahuda 5.120], yang terbagi kedalam 4 cara lahir yaitu: Jarayuj (viviparous), Andaja (oviparous/telur), Swedaja (born of sweat/tempat lembab), and Udbhijya (Sprouting from soil). Mengenai kemungkinan berinkarnasi:

  1. Ada pendapat yang menyatakan bahwa 84 Lakhs jenis, termasuk didalamnya adalah batu dan logam sedangkan manusia tidak termasuk: Batu, Logam, Tumbuhan, [Cacing, serangga dan reptil], Ikan, Burung dan Binatang lainnya masing-masing terbagi menjadi 6 x 1.400.000 jenis.

    Anda tertawa? Sinis dan tidak percaya?

    Untuk contoh kesesuaian dengan pendapat ini, saya tidak ambil contoh kisah yang ada di India, saya ambilkan contoh dari lain tempat:

      Kisah klasik Tiongkok , yaitu kisah Hong Lou Meng / Impian Mezanin Merah/ 紅樓夢 yang pada pembukaannya Diebutkan bahwa Jia Baoyu pada kehidupan lampaunya adalah sebuah batu 7 warna, sedangkan Lin Daiyu adalah rumput dewata mutiara merah-tua, oleh karena membalas kebaikan embun maka telah membentuk jodoh kehidupan masa kini dengan Jia Baoyu [sumber: Erabaru]

    Anda masih tidak percaya? Malah mengatakan: ‘itukan dongeng bukan real’? Oke..saya sampaikan ‘dongeng’ yang tercantum di Ayat Qur’an Al Israa’ 17:50

      [Katakanlah: “Jadilah kamu sekalian Batu atau besi“]
  2. Mainstream tradisi India adalah seperti yang tercantum pada Padma Purana: 8.400.000 [84 lakhs] spesies terbagi kedalam 900 .000 spesies yang hidup di air; 2 .000 .000 spesies tumbuh-tumbuhan; 1 100 000 spesies serangga; 1 .000 .000 spesies burung; 3 .000 .000 spesies binatang buas; dan 400 .000 spesies kehidupan manusia. Untuk pendapat ini:
    • Al’Qur’an menyatakan ada kaum yahudi yang akhirnya menjadi kera [Al baqarah 2:65, Al A’raaf 7:166] dan babi [Al Maa’idah 5:60]
    • Ada satu fakta menarik di Alkitab yaitu di Kitab Titus, mengenai bangsa yahudi. Kitab Titus adalah surat Paulus kepada Titus (saurada Lukas) yang saat itu ada di Kreta yaitu Titus 1:12-14:
        “Seorang dari kalangan mereka, nabi mereka sendiri, pernah berkata: “Dasar orang Kreta pembohong, binatang buas, pelahap yang malas.”

        Kesaksian itu kelihatannya benar. Karena itu tegorlah mereka dengan tegas supaya mereka menjadi sehat dalam iman, dan tidak lagi mengindahkan dongeng-dongeng Yahudi dan hukum-hukum manusia yang berpaling dari kebenaran.

    • Situs past life memory Bank merekam pengakuan orang-orang yang mengklaim bahwa mereka pernah dilahirkan sebagai binatang


Padma Purana di atas, menyebutkan hasil karma perjalanan jiwa. Pencapaian yang benar adalah bersatu dengan Brahman. Apabila tidak tercapai maka kelahiran kembali disamping bentuk yang tercatum di Padma Purana dapat pula dalam bentuk Deva, Pitara (leluhur), Denawa, Raksasa, Naga, Kinnara, Gandarwa, Asura dan bahkan di neraka.

Lebih lanjut dalam Al Israa’ 17: 51 dikatakan [atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin menurut pikiranmu..].

Menurut Dr Zakir, “seorang pakar” Muslim, dengan mengutip temuan muslim aliran Ahmadiyah (Abdul Haque Vidyarthi Qadiyanidi, murid pendiri Ahmadiyya, yaitu: Mirza Ghulam Ahmad) bahwa Muhammad disebutkan dalam Purana Hindu sebagai ‘Mahamada’ pendiri ajaran ‘Mleecah’ [lihat: Bhasvishya Purana]. Di purana itu disebutkan jelas bahwa Mahamada adalah reinkarnasi dari asura/Iblis bernama Tripurasura.

Kalau-pun ada kesadaran kalangan Abrahamik untuk mengakui ‘kelahiran kembali, maka pengakuan ini belum sebagai pengakuan MAYORITAS. Namun demikian, ada satu persamaan di sini yaitu adanya Ruh/Jiwa berasal dari Tuhan.

Lho, Bukannya memory itu tersimpan di otak, kalau sudah mati, Bagaimana mungkin memori itu dapat juga di bawa oleh Jiwa/Ruh Lahir Kembali?

Ide dasarnya adalah Atman kembali ke Brahman. Untuk kembali ternyata ada jarak di antaranya. Jarak itu, dinamakan unsur, lapisan, ketidaktahuan/Awidya selubung Atma atau selubung Maya dan banyak lagi istilahnya [Brhadaranyaka Upanishad IV.4.vi, Brhadaranyaka Upanishad,, IV.iii.9, Chandogya Upanisad, Taittiriya Upanisad, Bhagawad Gita, dll]. Inilah yang menghalangi Atman kembali ke Brahman, berikut contoh penjelasannya:

    Zat Padat/Tanah, Zat cairan/perekat, Panas/api, Gerak/angin, angkasa/ruang, pikiran, kecerdasan dan keakuan palsu. Keseluruhan delapan unsur ini merupakan tenaga material yang terpisah dariku.-[Bhagavad Gita 7.4, Lima pertama disebut badan materi/ panca mahaButa/Stula sarira dan tiga terakhir disebut tripremana sebagai badan halus/sukma sarira, yaitu manah/pikiran, budhi/kecerdasan dan ahangkara/keakuan palsu. Tripremana-lah yang menyertai roh mengembara dari satu tubuh ke tubuh yang lain]

    Model penjelasan lain:
    mahluk itu terdiri dari 3 Lapisan: badan Materi disebut Stula Sarira, kemudian badan jiwa disebut sukma Sarira dan bagian di antaranya disebut Antakharana-Çarira (Lapisan badan Penyebab). Lapisan badan penyebab atau Antakharana-Çarira, inilah yang sebagai pembawa dari Karma (Karma-Wasana) makhluk sejak berbagai kelahirannya yang lampau.

    Model penjelasan lain:
    Adanya panca Maya kosa (lima selubung yang membelenggu atman):

    1. Annamaya Kosa = unsur dari sari makanan;
    2. Pranamaya Kosa = unsur dari sari nafas;
    3. Manomaya Kosa = unsur dari sari pikiran;
    4. Wijnanamaya Kosa = unsur dari sari pengetahuan;
    5. Anandamaya Kosa = unsur dari kebahagiaan.

    Nomor 3, 4, dan 5 yang dibawa Atman menuju pada kelahiran kembali. Lapisan belenggu/pembungkus yang paling didalam dan yang paling sulit dibuang adalah yang bernama Anandamaya, sehingga atman yang masih terbungkus oleh Anandamaya disebut sebagai Anandamaya atma. Anandamaya adalah kebahagian atau kesenangan hidup yang dialami ketika atman masih mempunyai stula sarira (tubuh) yakni ketika masih hidup di dunia ini contohnya: ketika masih hidup di dunia. Jadi kebahagian dan kesenangan itu sifatnya keduniawian yang dinikmati dari Panca Indria yaitu: pendengaran, penglihatan, penciuman, rasa lidah, dan rasa kulit (termasuk sex).

    Kelahiran kembali (Punarbhawa/Reinkarnasi) terjadi karena Ia harus menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang terdahulu (karma)


Hal yang pasti adalah: manusia lahir sendirian, mati sendirian, merasakan hasil dari perbuatan baik dan buruk sendirian, jatuh ke dalam neraka sendirian, dan pulang ke dunia rohani juga sendirian.-[Canakya Niti Sastra 5.13]

Sehingga, manusia sendiri yang menentukan nasib baik/buruk yang akan ia jalani sementara Tuhan yang menentukan kapan hasilnya diberikan (baik semasa hidup maupun setelah lahir kembali. Apabila manusia tidak sempat menikmati pada kehidupan saat ini, maka akan dinikmati pada kehidupan selanjutnya.

    Adapun perbuatan orang yang bodoh, senantiasa tetap berlaku menyalahi dharma; setelah ia lepas dari neraka, menitislah ia menjadi binatang, seperti biri-biri, kerbau dan lain sebagainya; bila kelahirannya kemudian meningkat, ia menitis menjadi orang yang hina, sengsara, diombang-ambingkan kesedihan dan kemurungan hati, dan tidak mengalami kesenangan.-[Sarasamuccaya 1.48]

    Alangkah cepat dan pendeknya kehidupan sebagai manusia ini, tak bedanya dengan sinarnya kilat dan sangat susah pula untuk didapat. Oleh karena itu berusaha benar-benarlah untuk berbuat (sadhana) berdasarkan kebenaran (dharma) untuk menghapuskan kesengsaraan hidup guna mencapai sorga -[Sarasamuscaya 2.14]


Untuk menghentikan lingkaran kelahiran, hinduism menasehatkan untuk mensucikan 3 perbuatan/trikayaparisudha:

  • Kayika/perbuatan yang benar: tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzina),
  • Wacika/perkataan yang benar: tidak mencaci, tidak berkata keras, tidak memfitnah, tidak ingkar janji),
  • Manacika/pikiran yang benar: tidak menginginkan sesuatu yang adharma, tidak berpikir buruk pada orang/mahluk lain,)


Perputaran itu tidaklah terputus sampai Ia melepas belenggu Maya dan menghancurkan Awidya/ketidaktahuan dan menghancurkan enam musuh diri /Sadripu: kama (nafsu), lobha (tamak), kroda (marah), mada (mabuk), moha (angkuh), matsarya (dengki irihati) melalui:

    Yamabrata:
    melatih diri untuk anrsamsa (tidak egois), ksama (memaafkan), satya (jujur), ahimsa (tidak menyakiti), dama (sabar), arjawa (tulus), pritih (welas asih), prasada (berpikiran suci), madhurya (bermuka manis), mardawa (lemah lembut).

    Niyamabrata:
    Melakukan: dana (dermawan), ijya (bersembahyang), tapa (mengekang nafsu jasmani), dhyana (sadar pada kebesaran Ida Sanghyang Widhi Wasa), swadhyaya (belajar), upasthanigraha (mengendalikan nafsu sex), brata (mengekang indria), upawasa (mengendalikan makan/minum), mona (mengendalikan kata-kata), snana (menjaga kesucian lahir bathin)

    Sadatatayi:
    Tidak melakukan kekejaman : agnida (membakar), wisuda (meracun), atharwa (menenung), sastragna (merampok), dratikrama (memperkosa), rajapisuna (memfitnah).

    Saptatimira:
    menghindari kebanggaan/keangkuhan karena surupa (cantik/tampan), dana (kaya), guna (pandai), kulina (wangsa), yowana (remaja), kasuran (kemenangan), sura (minuman keras).


Dengan tekad dan latihan tersebut maka terhentilah roda kelahiran kembali dan mencapai penyatuan atman dan Brahman. Penjelasan lain untuk kembali pada brahman adalah melalui empat jalan yang disebut Catur Marga / Catur Yoga dan ke-empat jalan tersebut adalah sama baiknya

    Dengan jalan bagaimanapun ditempuh oleh manusia ke arahku, semuanya aku terima dan memenuhi keinginan mereka, melalui banyak jalan manusia menuju jalanku, Oh Prtha.-[Bhagawad Gita 5.2]


Jnana Marga/Yoga (kebijaksanaan filsafat atau Penetahuan)
Persatuan Atman dan Brahman dicapai melalui Pengetahuan atau kebijaksanaan filsafat kebenaran. Pengetahuan seorang bijaksana dimulai dengan pengetahuan dalam tingkat ajaran-ajaran suci Weda (Apara Widya)

Kemudian berdasarkan itu menuju pada pengetahuan tingkat tinggi tentang hakikat kebenaran Atman dan Brahman (Pari Widya). Untuk mencapai kebenaran yang sempurna melalui Wiweka (logika) membedakan yang kekal dan tidak kekal, sehingga bisa melepaskan yang tidak kekal dan mencapai kekekalan yang sempurna. Jnana bermain di tataran Kebijakan dan Pikiran.

    Ia yang pikirannya tidak digoyahkan dalam keadaan dukacita dan bebas dari keinginan-keinginan ditengah-tengah kesukacitaan, ia yang dapat mengatasi nafsu, kesesatan dan kemarahan, ia disebut seorang yang bijaksana.-[Bhagawad Gita 2.56]


Karma Marga/Yoga (Perbuatan)
Persatuan atman dan Brahman melalui kerja/perbuatan tanpa pamrih, tulus/ ikhlas dengan melepaskan keinginan untuk memperoleh hasil atau buah dari perbuatan/kerjanya targetnya adalah melepas emosi, lepasnya atma dari unsur-unsur maya sehingga tercapailah kesempurnaan. Idenya adalah bekerjalah,lepaskan keinginan akan hasil.

    Bukan dengan jalan tiada bekerja, orang dapat mencapai kebebasan dari perbuatan. Juga tidak hanya melepaskan diri dari pekerjaan, orang akan mencapai kesempurnaannya.-[Bhagawad Gita 3.4]

    Serahkanlah segala pekerjaan kepadaku, dengan memusatkan pikiran kepada atma, melepaskan diri dari pengharapan dan perasaan keakuan, dan berjuanglah kamu, bebas dari pikiranmu yang susah-[Bhagawad Gita 3.30]

    Bekerjalah kamu selalu, yang harus dilakukan dengan tiada terikat olehnya, karena orang mendapat tujuannya yang tertinggi dengan melakukan pekerjaan yang tak terikat olehnya.-[Bhagawad Gita 3.19]


Bakti Marga/Yoga (Sujud/Bakti)
Persatuan atman dan Brahman melalui cinta dan sujud bakti terhadap Tuhan. Idenya adalah apapun adalah oleh, karena dan untuk Tuhan. Penyerahan diri sepenuhnya dan sujud bhakti pada Tuhan. Jalan Bakti Marga Yoga ini adalah jalan yang paling mudah dan banyak dilakukan/ditempuh oleh manusia

    Orang saleh yang menyembah aku adalah empat macam yaitu, orang yang mencari kekayaan, orang yang bijaksana, orang yang mencari pengetahuan dan orang yang dalam keadaan susah, Oh Arjuna.-[Bhagawad Gita 7.16]

    Diantara ini, orang yang bijaksana yang selalu terus menerus bersatu dengan Hyang Suci, kebaktiannya terpusat hanya kesatu arah (Tuhan) adalah yang terbaik. Sebab aku kasih sekali kepadanya dan dia kasih kepadaku.-[Bhagawad Gita 7.17]

    Dengan bentuk apapun juga mereka bakti kepadaku (Bhakta), yang dengan kepercayaan bermaksud menyembah aku (dengan Sraddha), kepercayaan itu aku tegakkan-[Bhagawad Gita 7.21]


Raja Marga/Yoga (Samadhi/Tapa)
Persatuan atman dengan brahman melalui konsentrasi yang benar dengan melakukan Astangga Yoga/delapan pemusatan, yaitu

  1. Yama/Larangan: Menahan diri/Nafsu,
  2. Nyama/Perintah: adat/adab yang baik, melatih dengan kebisaan,
  3. Asana: sikap duduk yang baik, tumpuan lengan dan kaki dapat membantu mengendalikan kemaluan dan perut,
  4. Pranayama: Pengendalian/ nafas (Puraka/menarik, Kumbaka/menahan, Recaka/menghembuskan),
  5. Pratyahara: Kontrol Indria,
  6. Dharana yaitu: upaya menenangkan pikiran,
  7. Dhyana: upaya memikirkan Brahman dan
  8. Semadhi: Menyamakan Gelombang dengan Brahman.


Seorang Yogin harus tetap memusatkan pikirannya kepada atma yang maha besar (Tuhan), tinggal dalam kesunyian dan tersendiri, bebas dari angan-angan dan keinginan untuk memilikinya.-[Bhagawad Gita 6.10]

Karena kebahagiaan tertinggi datang pada Yogin, yang pikirannya tenang, yang nafsunya tidak bergolak, yang keadaannya bersih dan bersatu dengan Tuhan (Moksa).-[Bhagawad Gita 6.27]

Konsep kelahiran kembali Hinduisme yang memerlukan keterlibatan dua hal, yaitu Tuhan dan Perbuatan merupakan konsep yang unik, karena bukankah Tuhan sendiri dapat berkehendak semauNya atau jika memang perbuatan sendiri adalah penting, maka hanya dengan satu ini saja (perbuatan) hasilnya sudah membuat mahluk berada dalam putaran roda kelahiran kembali sehingga tidak memerlukan lagi campur tangan Tuhan []


Buddha: Kelahiran Kembali

    Kisah Dalai Lhama, Tibet:
    Ketika Dalai Lhama ke 13 wafat tahun 1933, Para tetua Lhama mencari petunjuk dimana reinkarnasi berikutnya dapat ditemukan. Tradisi ini selalu sama dilakukan selama berabad-abad mulai dari Dalai Lhama pertama tahun 1351 M, setiap dari mereka merupakan reinkarnasi dari yang terakhir, yang memelihara kebijakan spritual dari banyak kehidupan.

    Musim semi 1935, Seorang lama senior, Reting Rinpoche, menempuh perjalan menuju danau suci Lhamoi Lhatso yang berbentuk oval, di sebuah lembah 17.000 kaki yang dikelilingi puncak2 bersalju di selatan Tibet untuk medapatkan wangsit/penglihatan. Ketika ia memandang dikejernihan air, tampak olehnya 3 huruf alfabeth Tibet (Ah, Ka dan Ma) mengambang didepannya. Kemudian, dengan jelas terlihat olehnya sebuah bayangan biara tingkat tiga dengan atap emas dan jade. Sebuah jalan bukit yang menurun dari biara menuju sebuah rumah yang beratapkan semacam genteng berwarna biru hijau dan seekor anjing belang coklat dan putih di halaman. Reting rinpoche juga kemudian bermimpi rumah yang sama, namun kali ini ia melihat sebentuk talang atap unik dan seorang bocah cilik berdiri di halaman. Sekarang Ia tambah yakin bahwa huruf Ah yang ia lihat berkenaan adalah Amdo, yang terletak di timur.

    Satu dari tim pencari, dibawah komando Kewtsang Rinpoche, seorang Lhama senior dari biara Sera, melakukan pendekatan ke biara Kumbum di Amdo. Mereka melihat biara itu beratapkan Emas dan Jade, persis seperti penglihatan yang didapat. Mereka mendengar ada satu anak luar biasa di Takster, dua jam perjalanan dari Amdo

    Di musim dingin tahun 1937 Kewtsang Rinpoche, ditemani oleh pejabat resmi pemerintah bernama Lobsang Tsewant dan dua pembantu, sampai di Takster. Untuk menghindari berbagai kesulitan yang mungkin muncul mereka menyamar sebagai pedagang dengan Lobsang Tsewang sebagai kepala rombongan. Kewsang menyamar menjadi pelayannya. Mereka mendekati rumah Lhamo Dhondrub yang berusia 2 tahun dan disambut gonggongan anjing mastiff belang coklat putih terikat di jalan masuk

    Mereka memperkenal diri sebagai pedagang dan bertanya apalah mereka boleh menggunakan dapur untuk minum teh (adat yang lazim di Tibet), melewati halaman rumah, Kewsang rinpoche melihat atap semacam genteng biru hijau dan talang atap unik yang terbuat dari tumbuhan yang di pilin. Saat di dapur, ia mendekati Lhamo Dhondrub kecil. Anak itu naik kepangkuan Kewtsang Rinphoce dan mulai memainkan manik2 peninggalan Dalai Lhama ke 13 yang tergantung di sekeliling leher Rinphoce. Tiba-tiba anak itu beraksi dan memaksa agar manik-manik itu diserahkan padanya dan menyatakan bahwa itu adalah kepunyaannya. Kewtsang mengatakan pada anak itu, ‘Aku akan berikan ini padamu jika kau dapat menebak siapa aku”. Tak disangka-sangka anak itu menjawab ‘Anda adalah Lhama dari Sera’ Anak itu kemudian menunjuk Lobsang Tsewang juga para anggota rombongan dengan dengan nama yang tepat (Saat itu ada ribuan biara di tibet). Tidak hanya ia menjawab benar, iapun menjawab menggunakan dialek tibet tengah yang tidak dikenal di distrik ini.

    Ketika para tamu bersiap untuk pergi di pagi harinya, Lhamo Dhondrub menangis dan meminta ia agar diajak serta, mereka menenangkan dirinya dan berjanji akan kembali

    Mereka kembali dengan cepat kali ini untuk menguji apakah anak ini benar-benar reinkarnasi Dalai Lhama. Para bikhu memberikan hadiah pada keluarga dan memohon ijin untuk dapat bersama dengan Lhamo Dhondrup. Saat malam tiba, mereka masuk kamar tidur utama yang ada ditengah rumah, Mereka menjejerkan sejumlah barang-barang yaitu Kacamata, pensil perak dan mangkuk makan diatas meja pendek. barang2 tersebut adalah peninggalan Dalai Lhama ke 13, Barang-barang tersebut dibuat imitasinya dengan persis. Termasuk ada juga Manik2 hitam, kuning dua tongkat jalan dan gendang tangan dari gading yang digunakan pada ritual religi. Juga sabda suci Samye yang diperintahkan untuk dibawa tim.

    Lhamo dhondrub di undang keruangan, Kewtsang Rinpoche bersama 3 pejabat resmi duduk di sisi meja satunya. Kewtsang Rinpoche menggengam manik2 hitam yang pernah dilihat oleh Anak itu di kunjugan sebelumnya, di tangan lainnya ia memegang imitasinya, anak itu diminta untuk memilih dan memilih dengan tepat, kemudian tanpa ragu sama sekali mengkalungkannya dilehernya sendiri. Ketepatan yang sama ia tunjukan pada Manik2 kuning. Berikutnya adalah tongkat jalan, Permulaan Lhamo Dhondrub menarik sedikit tongkat yang salah namun ia lepaskan kembali dan mengambil yang benar. Ini dianggap masih signifikan mengingat dulunya tongkat yang ‘salah’ itu pernah dipakai sebentar oleh Dalai Lhama sebelumnya sebelum akhirnya diberikan untuk seorang teman. Barang terakhir adalah gendang. Gendang yang palsu di dekor begitu menarik hatinya dengan kain brakat motif bunga sedangkan yang asli kurang menarik hati. Sekali lagi Lhamo Dhondrub memilih dengan tepat kemudian memutar gendang bolak balik dengan tangan kanannya sesuai irama ritual tantrik!

    Berikutnya, anak itu di check 8 tanda tubuh yang hanya dipunyai oleh Dalai Lhama, Kuping yang besar, mata yang panjang, alis yang membelok di ujung, tanda di kaki, bentuk kulit kerang pada telapak di satu tangan. Setelah mendapatkan 3 tanda tubuh maka dipastikan bahwa Dalai Lhama ke 14 telah ditemukan dalam bentuk tubuh anak berusia 2 setengah tahun. Ramalan terpenuhi

    Namun, Pemimpin pasukan perang Muslim di baratlaut China mendengar mengenai pemilihan anak itu, Ia menuntut uang tebusan yang gila-gilaan besarnya untuk dapat mengambil anak itu keluar dari distrik mereka. Saat si banjingan perang itu telah dibayar, ia malah meminta lebih banyak lagi dan juga beberapa artifak religius. Mereka menjadi tak berdaya, Orang-orang tibet akhirnya meningkatkan jumlah tebusannya. Setelah menunggu berbulan-bulan lamanya, Calon Dalai Lhama dan keluarganya berangkat menuju Lhasa, Ibu kota Tibet dan menghabiskan waktu 3 bulan perjalanan. Lhamo Dhondrub bepergian bersama kakaknya yang berusia 6 tahun dan duduk di atas sebuah tandu yang digantung diantara dua bagal.

    Ketika beberapa mil mendekati lhasa mereka disambut dengan prosesi suluh yang menuntun mereka hingga di perkemahan, ditengahnya ada Tenda satin berwarna kuning yang sangat besar dengan langit-langit biru dan putih. Tenda itu dikenal sebagai Merak agung, yang selama berabad-abad hanya digunakan untuk menyambut setiap reinkarnasi balita Dalai Lhama kembali pulang.

    Selama 2 hari kemudian, Lhamo Dhondrub muda duduk diatas sebuah tahta tinggi di merak agung, memberkati 70.000 biksu dan barisan rakyat yang berkumpul menyambutnya

    Paginya, tanggal 8 Oktober 1939, digelar prosesi dimana seorang anak kecil duduk di tandu emas di iring 16 orang, musik, keluarga Dalai Lhama, anggota kabinet, Pengawas dan perdana mentri menuju Istana

    ketika Lhamo Dhondrub diantar hingga di ruangan pendahulunya, Ia tiba-tiba menunjuk sebuah kotak kecil dan berkata ‘Gigiku ada disitu’. Kemudian kotak di buka dan para pelayan dengan takjub menemukan satu set gigi palsu kepunyaan Dalai Lhama terdahulu.

    Beberapa minggu kemudian, Lhama dhondrub yang berusia 4 tahun atau Tenzin Gyatso sebagaimana dikenal sekarang, dilantik sebagai Penguasa tertinggi sementara dan pemimpin spritual Tibet. [Otobiograpi Dalai Lhama dan Buku ‘Exile in the Land of Snows’, by John F. Avedon]

“SIAPA” pembuat lahir kembali dan “APA’ yang mengakibatkan lahir kembali?. Untuk menjawab ini, kita mulai dari petikan sutta pada sekitar pencapaian kesempurnaan Buddha Gautama:

    “[..] Aku mengingat banyak ragam kelahiran dikehidupan lampauKu sebagai berikut: mula-mula 1 kelahiran, 2, 5, 10, 50, 100, 1000, 100.000, banyak Kappa kontraksi kosmis, banyak Kappa kosmis mengembang, banyak Kappa dari kontraksi dan mengembangnya kosmis (anekepi saṃvaṭṭakappe anekepi vivaṭṭakappe anekepi saṃvaṭṭavivaṭṭakappe)[..]

    Pengetahuan pertama ini didapat pada malam hari di waktu jaga ke-1 (rattiyā paṭhame yāme: 18.00 s/d 22.00);

    Pengetahuan ke-2 didapat pada malam hari di waktu jaga ke-2 [rattiyā majjhime yāme: 22.00 s/d 02.00] melalui mata batinnya melihat mahluk-mahluk wafat dan muncul kembali di bermacam alam [baik (misalnya: dewa dan buruk(misalnya neraka)], terhubung dengan karma mereka sendiri hingga dibedakan menjadi inferior/superior, penampilannya baik/buruk, beruntung/sial;

    Pengetahuan ke-3 didapat pada malam hari di waktu jaga ke-3 [rattiyā pacchime yāme: 02.00 s/d 06.00] berupa penyebab, cara penghancuran noda (asavakkhaya ñãna) dan mengakhir kelahiran kembali” [MN 36/Mahasaccaka Sutta]


Dan ketika mencapai ke-Buddha-an, berikut syair beliau:

    Anekajāti samsāraṃ sandhāvissaṃ (Lari berputar diragam lingkaran kelahiran)
    anibbisaṃ ‘Gahakāraṃ‘ gavesanto (Sia-sia mencari ‘Pembuat Rumah‘)
    dukkhā jāti punappunaṃ (Menyakitkan, terlahir lagi dan lagi)
    Gahakāraka diṭṭhosi (Pembuat Rumah, telah ditemukan)
    puna gehaṃ na kāhasi (Tak lagi dapat membuat rumah)
    Sabbā te phāsukā bhaggā (Semua sendimu telah hancur)
    gahakūṭaṃ visaṅkhataṃ (atapmu telah roboh)
    Visaṅkhāragataṃ cittaṃ (bentukan pikiran telah dilucuti)
    taṇhānaṃ khayamajjhagā (Belitan kehausan telah dihancurkan) [Dhammapada syair 153-154]


“Si pembuat Rumah” dalam syair di atas sebagai pihak pembuat kelahiran kembali bukanlah Tuhan, Sang MAHA PENCIPTA. Tuhan dalam bahasa pali disebut issara (sanskrit: īśvara) yang definisinya menurut agama samawi dan non samawi adalah sesuatu yang dipersonifikasikan (bentuk manusia) atau tidak (tidak menyerupai manusia) ataupun dapat berubah bentuk ataupun tidak berbentuk sebagai sesuatu yang disembah, yang kekal, yang maha kuasa, yang maha pencipta, yang dianggap pemilik dan pencipta semesta dan mahluk di dalamnya, termasuk juga Surga yang kekal dan Neraka yang kekal, yang bagi agama samawi adalah tujuan akhir manusia (samawi) atau bagi non samawi adalah untuk kembali bersatu denganNya.

Pandangan ini ditolak Buddhism, sebagai sebuah pandangan salah dalam Buddhisme. Ide tentang adanya sesuatu yang kekal bertentangan dengan ti-lakkhana (3 ciri: Anicca/tidak kekal, Dukkha/tidak memuaskan dan Anatta/tanpa inti). Namun demikian, pandangan salah ini masih banyak digenggam kebanyakan pengikut Buddhism Indonesia. Variasi pandangan salah tentang ini diantaranya: Mempercayai bahwa Buddha dan/atau Nibbana adalah Tuhan dan/atau Tuhan-Ketuhanan Buddhism adalah Nibbana dan/atau Buddhism juga punya Tuhan seperti definisi di atas.

Kongres pertama Dewan Sangha Buddhis Dunia (WBSC: World Buddhist Sangha Council), Colombo, Sri Lanka, pada 27 Januari 1967 secara bulat menyepakati 9 point. Di point no. 3 adalah tidak meyakini bahwa dunia ini diciptakan dan diatur oleh tuhan. Pendapat ini didukung sutta-sutta Buddhism, di antaranya:

  • Sang budha menolak 3 pandangan (titthāyatanāni) bahwa: Apapun yang dialami seseorang, apakah itu perasaan menyenangkan, menyakitkan atau perasaan bukan menyenangkan bukan menyakitkan:
    1. Disebabkan tindakan lampau/pubbekatahetū atau;
    2. Disebabkan kuasa TUHAN [Issaranimmānahetū], “Issaranimmānahetū’ ti issaranimmānakāraṇā, issarena nimmitattā paṭisaṁvedetī ti attho (Disebabkan kuasa tuhan, Karena kuasa TUHAN, Dirinya mengalami sepenuhnya kuasa tuhan)”;
    3. Tanpa penyebab dan tanpa kondisi/ahetu-appaccayā

    Karena ke-3 pandangan ini, jika sepenuhnya disidik/periksa [samanuyuñjiyamānāni], diteliti [samanugāhiyamānāni] dan dibahas [samanubhāsiyamānāni], akan berakhir pada doktrin tanpa tindakan, SEKALIPUN SUDAH DITERAPKAN KARENA TRADISI. [AN 3.61/Tittha sutta]

  • “[..] Para bhikkhu, pada suatu masa yang lampau setelah berlangsungnya suatu masa yang lama sekali, ‘dunia ini belum ada’. Ketika itu umumnya makhluk-makhluk hidup di alam dewa Abhassara, di situ mereka hidup ditunjang oleh kekuatan pikiran, diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya dan melayang-layang di angkasa hidup diliputi kemegahan, mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

    Demikianlah, pada suatu waktu yang lampau ketika berakhirnya suatu yang lama sekali, dunia ini mulai berevolusi dalam pembentuk, ketika hal ini terjadi alam Brahma kelihatan dan masih kosong. [siklus semesta]

    Ada makhluk dari alam dewa Abhassara yang ‘masa hidupnya atau ‘pahala kamma baiknya’ untuk hidup di alam itu telah habis, ia meninggal dari alam Abhassara itu dan terlahir kembali di alam Brahma.

    Disini, ia hidup ditunjang pula oleh kekuatan pikirannya diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya-cahaya yang melayang-layang di angkasa, hidup diliputi kemegahan, ia hidup demikian dalam masa yang lama sekali.”

    Karena terlalu lama ia hidup sendirian di situ, maka dalam dirinya muncullah rasa ketidakpuasan, juga muncul suatu keinginan,

      ‘O, semoga ada makhluk lain yang datang dan hidup bersama saya di sini!

    Pada saat itu ada makhluk lain yang disebabkan oleh masa usianya atau pahala kamma baiknya telah habis, mereka meninggal di alam Abhassara dan terlahir kembali di alam Brahma sebagai pengikutnya, tetapi dalam banyak hal sama dengan dia.’

    Para bhikkhu, berdasarkan itu, maka makhluk pertama yang terlahir di alam Brahma berpendapat:

      “Saya Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan Dari Semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada). Semua makhluk ini adalah ciptaanku.

      Mengapa demikian?

      Baru saja saya berpikir, ’semoga mereka datang’, dan berdasarkan pada keinginanku itu maka makhluk-makhluk ini muncul.

    Makhluk-makhluk itu pun berpikir,

      ‘dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. Kita semua adalah ciptaannya.

      Mengapa?

      Sebab, setahu kita, dialah yang lebih dahulu berada di sini, sedangkan kita muncul sesudahnya”.

    “Para bhikkhu, dalam hal ini makhluk pertama yang berada di situ memiliki usia yang lebih panjang, lebih mulia, lebih berkuasa daripada makhluk-makhluk yang datang sesudahnya.”

    “Para bhikkhu, selanjutnya ada beberapa makhluk yang meninggal di alam tersebut dan terlahir kembali di dunia.

    Setelah berada di dunia ini, ia meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjadi pertapa. Karena hidup sebagai pertapa, maka dengan bersemangat, tekad, waspada dan kesungguhan bermeditasi, pikirannya terpusat, batinnya menjadi tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat kembali satu kehidupannya yang lampau, tetapi tidak lebih dari itu.”

    Mereka berkata :

      Dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Masa Kuasa, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. Dialah yang menciptakan kami, ia tetap kekal dan keadaannya tidak berubah, ia akan tetap kekal selamanya, tetapi kami yang diciptakannya dan datang ke sini adalah tidak kekal, berubah dan memiliki usia yang terbatas [..]” [DN1/Brahmajala Sutta]
  • Sang Buddha: “Apabila, O para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami penderitaan dan kebahagiaan sebagai hasil atau sebab dari ciptaan Tuhan (Issaranimmanahetu), maka para petapa telanjang ini tentu juga diciptakan oleh satu Tuhan yang jahat/nakal (Papakena Issara), karena mereka kini mengalami penderitaan yang sangat mengerikan”. [MN 101/Devadaha Sutta]
  • kalimat berulang sang Bodhisatta (Ketika belum jadi Buddha, disebut Bodhisatta), “Sace hi so issaro sabbaloke” (Sebab jika Ia Tuhan sekalian alam), ”Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan; Mengapa Brahma itu tidak menciptakan secara baik? Bila kekuatannya demikian tak terbatas, mengapa tangannya begitu jarang memberkati? Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata? Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela? Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal? Saya menganggap, Brahma adalah ketak-adilan. Yang membuat dunia yang diatur keliru” [Jataka no.543]
  • Sang Bodhisatta berkata: “Jika Tuhan sekalian alam, yang menentukan bagi seluruh ciptaannya, kebahagiaan atau penderitaan, perbuatan baik maupun buruk, maka manusia hanya menjalankan perintahnya saja, sedangkan Tuhan itu yang diliputi dosa” (issaro sabbalokassa, sace kappeti jīvitaṃ, Iddhiṃ byasanabhāvañca, kammaṃ kalyāṇapāpakaṃ; Niddesakārī puriso, issaro tena lippati) [Jataka no.528]


3 hal terakhir ini menarik, mengingat beberapa agama samawi menyatakan penciptaan manusia direncanakan sejak awal, sebagiannya ditakdirkan menjadi bahan bakar Neraka, karena ditakdir tidak mau menyembahNya. Menurut Buddhisme, Tuhan yang dalam definisi kaum samawi dan bukan samawi ini, hanyalah mahluk yang terjerat dalam lingkaran samsara/kelahiran kembali.

Karena Tuhan bukan sebab pertama, lantas bagaimana Buddhisme menjawab anggapan umum di bawah ini:

  • Segala sesesuatu ada yang MENCIPTAKAN
  • Harus ada SATU sebab Awal yang menjadikan segala sesuatunya ADA

“Si pembuat Rumah” dalam syair di atas, yang menciptakan dan sebagai sebab awal adalah kehausan (tanha).

    kehausan (taṇhā) mengarahkan pada kelahiran kembali (ponobbhavikā) yang disertai ketagihan dan kesenangan (nandirāgasahagatā), mencari kesenangan pada ini-itu (tatratatrābhinandinī), haus akan: kesenangan indriya, menjadi sesuatu dan tidak menjadi sesuatu (kāmataṇhā, bhavataṇhā, vibhavataṇhā) [SN 56.11/Dhammacakkappavattana, tentang Dukkhasamudaya/Asalmula ketidakpuasan/penderitaan]

    Anamataggoyaṃ, bhikkhave, saṃsāro (Tak berkesudahan, Para Bhikkhu, samsara/kelahiran kembali). Pubbā koṭi na paññāyati avijjānīvaraṇānaṃ sattānaṃ taṇhāsaṃyojanānaṃ sandhāvataṃ saṃsarataṃ. (Titik awal tak terlihat terhalang ketidaktahuan para makhluk yang terbelenggu kehausan diperjalanan samsara) [SN 15.1/Tiṇakaṭṭha sutta, SN 22.9: Gaddulabaddha Sutta, SN 56.35/Sattisata Sutta, dll]

    Avijja muncul karena noda-noda (asava: kāma/hasrat indriya, bhava/penjelmaan, avijja/ketidaktahuan) dan noda-nodapun muncul karena Avijja. [MN 9/Sammādiṭṭhi sutta]

    munculnya ini” adalah sebagai makanan (Tadāhārasambhavanti), dengan lenyapnya makanan maka apa yang muncul akan lenyap (Tadāhāra-nirodhā yaṃ bhūtaṃ, taṃ nirodhadhammanti) [MN 38/Mahatanhasankhaya Sutta]


Sang Buddha menyampaikan 4 “makanan” (āhārā) penunjang para mahluk dan kelangsungan untuk menjadi (bhūtānaṃ vā sattānaṃ thitiyā), yaitu jika:

  1. makanan/asupan material (Kabaḷīkāro āhāro) dipahami sepenuhnya [diantaranya dengan tanpa keserakahan dan keinginan, pilih-pilih, rakus, mengutamakan diri, berdelusi dengan yang dimakan, merindukannya lagi, menimbun, bangga, meremehkan, dan bertengkar], maka hasrat akan 5 utas kenikmatan indriya [panca kamaguna: bentuk, suara, bebauan, kecapan, objek sentuh yang dikenali mata, telinga, hidung, lidah dan badan yang diinginkan, disukai, menyenangkan, terhubung dengan kenikmatan indriya, menggoda] juga dipahami sepenuhnya..
  2. makanan kontak/phassāhāro [hasil pertermuan indriya dan objeknya memunculkan kesadaran indriya. indriya+objek+kesadaran = kontak] dipahami sepenuhnya, maka 3 jenis perasaan (menyenangkan, menyakitkan, bukan keduanya) juga dipahami sepenuhnya..
  3. makanan kehendak pikiran (mano­sañ­ceta­nā­hāro) dipahami sepenuhnya, maka 3 bentuk tanha (kehausan akan: kesenangan indriya, menjadi atau tidak menjadi sesuatu) juga dipahami sepenuhnya..

    Manosañcetana: mano: pikiran + san/sam: bersama, tergabung + cetana
    Cetana adalah apa yang dipikirkan [ceteti], dipertimbangkan/dirancang/pikir ulang [pakappeti] dan dicenderungi/bersemayam [anuseti] → menyokong kesadaran → menjadikan sesuatu di kemudian hari [SN 12.38/Cetana Sutta]
    Apa yang dikehendaki, direncanakan dan kecenderungan apa pun yang dimiliki seorang, menjadi dasar pemeliharaan kesadaran. Jika ada dasar maka ada dukungan terbentuknya kesadaran. Ketika kesadaran terbentuk dan telah berkembang, maka ada produksi penjelmaan kembali. Jika ada produksi penjelmaan kembali di masa depan, dengan kelahiran sebagai kondisi, muncul penuaan-dan-kematian, kesedihan, ratapan, kesakitan, kesenangan, dan keputusasaan muncul. Demikianlah asal-mula keseluruhan kumpulan Dukkha/penderitaan ini [SN 12.38-39]

  4. makanan kesadaran (viññāṇāhāro) dipahami sepenuhnya, maka namarupa (mentalmateri/mahluk/ragam bentukan) juga dipahami sepenuhnya.. [SN 12.63]

Tanha dan Avijja pun merupakan makanan, memiliki rantai penyebab kemunculan, memiliki makanan yang membuatnya: ada, tumbuh juga berkembang.

    Titik awal haus menjadi sesuatu/Bhavatanha, tidak terlihat sedemikian bahwa sebelum ini tidak ada haus menjadi sesuatu dan setelahnya menjadi ada
    Makanan haus menjadi sesuatu adalah avijja (Ketidaktahuan) [AN 10.61; AN 10.62]

      Tanha ← (muncul karena) Vedana/perasaan. Perasaan ← phassa/kontak Indriya. Kontak indriya ← saḷāyatana/6 landasan indriya (mata, telinga, hidung, lidah, badan dan pikiran). 6 landasan indriya ← nāmarūpa/Mental-materi. Mental-materi ← viññāṇa/keadaan menyadari. Keadaan menyadari ← saṅkhārā/paduan kondisi/kehendak. Paduan kondisi/kehendak muncul karena ketidaktahuan/avijja [DN 15, SN 12.2]

    Makanan Ketidaktahuan adalah Panca Nivarana (5 rintangan: (1) hasrat indriya/kamacchanda, (2) permusuhan/penolakan/byapada, (3) kemalasan-kelambanan/thina-midha, (4) kegelisahan-kecemasan/uddhacca-kukkucca dan (5) keraguan/vicikiccha)
    Makanan 5 Rintangan adalah Tīṇi duccaritāni (Tiga tindakan salah lewat: Tubuh, Ucapan dan Pikiran – Iti no.64)

    Makanan 3 tindakan salah adalah indriya-a-saṃvara (Tidak mengendalikan Indriya)
    Makanan tidak mengendalikan Indriya adalah asatiasampajāna (Tidak berdaya ingat kuat, cerdas dalam mengingat, ingat akan ingatan, perkataan dan perbuatan yang telah lama (AN 5.14) – Tidak sepenuhnya memahami/mengetahui kemunculan-berlangsungnya-berakhirnya vedana/Perasaan, vitakka/awal pemikiran dan sanna/persepsi ( SN 47.35))
    Makanan tidak mengingat dan tidak sepenuhnya mengetahui adalah ayonisomanasika (pengarahan pikiran/perhatian tidak benar)
    Makanan pengarahan pikiran/perhatian tidak benar adalah assaddhiya (ketidakpercayaan)
    Makanan dari ketidakpercayaan adalah assaddham-massavanna (mendengarkan bukan dhamma sejati)
    Makanan dari mendengarkan bukan dhamma sejati adalah asappurisasaṃseva (bergaul dengan orang yang buruk) [AN 10.61/AvijjaSutta; AN 10.62/TanhaSutta]


Disebut Avijja karena tidak mengetahui:

  • 4 Kebenaran/kesunyataan Mulia (cattāri ariyasaccāni): (1) Dukkha (tidak memuaskan/penderitaan), (2) Asal-mulanya, (3) Lenyapnya dan (4) Jalan untuk melenyapkannya: 8 Jalan Utama (ariya aṭṭhaṅgika magga)
  • 3 ciri umum/Tilakkhana:

    Para bhikkhu, MUNCUL atau TIDAKNYA para Tathāgata di dunia, terdapat hal yang tetap, yang pasti dari segala sesuatu, bahwa:

    SEGALA YANG BERKONDISI adalah TIDAK KEKAL (Sabbe saṅkhārā aniccā)..
    SEGALA YANG BERKONDISI adalah TIDAK MEMUASKAN (sabbe saṅkhārā dukkhā)..
    SEGALA HAL (berkondisi, terkondisi, tak terkondisi) adalah BUKAN DIRI (Sabbe dhammā anattā).. [Dhammapada; syair 277-279; AN 3.136/Uppādāsutta]

    Note:
    sabbe = semua/segala
    saṅkhāra/saṃskāra: Saṅ/saṃ (bersama, gabungan) + khāra/skāra atau kriya = perbuatan: (1) bentukan yang berkondisi (2) bentukan pikiran, ucapan perbuatan yang dihasilkan melalui kehendak. Jadi: yang berkondisi adalah bentukan-bentukan dari ucapan, pikiran dan perbuatan melalui kehendak
    anicca: Kata ini bisa berasal dari: (1) an+icca/suka = tidak suka atau (2) a+nicca/kekal = tidak kekal. Arti yang mana yang dimaksudkan? Dalam banyak sutta sang buddha menyampaikan pertanyaan perbandingan yang berlawanan: “niccaṃ vā aniccaṃ vā”ti?“, maka anicca di sini BUKAN dari an+icca MELAINKAN dari a+nicca = tidak kekal
    dukkha: du/dur/jelek/buruk/sulit/sakit/terlukai + kha/ruang/keadaan = tidak nyaman/memuaskan/menyenangkan; mengecewakan, tidak dapat diandalkan; sulit dipertahankan; tidak stabil
    dhamma = sankhara (berkondisi) + sakhata (terkondisi) + asankhata (tidak terkondisi). Ada 3 ciri dari “terkondisi”: TERLIHAT (paññāyati): Kemunculannya (Uppādo), kelenyapannya (vayo/bhanga) dan perubahan selama berlangsungnya (ṭhitassa) dan 3 ciri dari “tidak terkondisi”: TIDAK ADA kemunculannya, TIDAK ADA kelenyapannya dan TIDAK ADA perubahannya terlihat [AN 3.47/sankhatalakkhana sutta]. Contoh dari TIDAK terkondisi: Nibbana (Udena 8.3, Thag 16.1) dan inipun juga an-atta
    anatta: = an/tidak+atta. BUKANLAH “tidak ada atta”. “atta” = a+d+ta, past partisiple “ādadāti”/mengambil/menahan/menerima. jadi “atta” = adalah, keberadaan, asumsi/angggapan, sesuatu bentukan yang dianggap tidak berubah, diri. Sample: ~bhāva = menjadi bentuk/individu, ~hita = Kesejahteraan diri.
    Kalimat pali: “ada atta” dan “tidak ada atta”, misalnya SN 44.10: “Bagaimana, Guru Gotama, apakah ada diri (kiṃ nu kho, bho gotama, atthatta/atthi+atta)? .. Kalau begitu, Guru Gotama, apakah tidak ada diri (Kiṃ pana, bho gotama, natthatta/nathi+atta)?”
    Kata “atta” = “atma” (sanskrit). Atma dalam sanskrit = jiva, roh atau sesuatu yang kekal, inti dari mahluk. Sementara dalam pali, cakupan “atta” BUKAN HANYA Jiva/roh namun juga IDENTITAS APAPUN atau SEGALA APAPUN baik itu: bentukan/materi (rupa) atau perasaan/vedana atau persepsi/sanna atau bentukan-bentukan yang muncul dari kehendak (sankhara) atau kesadaran (vinnana) yang DIANGGAP sebagai suatu yang KEKAL, STABIL/TETAP ADA, ABADI dan TIDAK TUNDUK PADA PERUBAHAN

    ATTA bukan cuma sekedar JIVA/ATMA/ROH tapi APAPUN ITU YANG dinyatakan bersifat KEKAL, STABIL/TETAP ADA, ABADI dan TIDAK TUNDUK PADA PERUBAHAN:

      apakah, yang para bijaksana dunia ini katakan tidak ada (natthisammataṃ loke paṇḍitānaṃ), dan Aku juga katakan bahwa itu tidak ada (ahampi taṃ ‘natthī’ti vadāmi)?

      [materi/Bentukan.. Perasaan … Persepsi … Bentukan kehendak … Kesadaran] sebagai yang kekal (nicca), stabil/tetap ada (dhuva), abadi (sassata), tidak tunduk pada perubahan (avipariṇāmadhamma): ini yang para bijaksana dunia ini katakan tidak ada, dan Aku juga katakan bahwa ini tidak ada.

      Dan apakah, yang para bijaksana dunia ini katakan ada (atthisammataṃ loke paṇḍitānaṃ), yang Aku juga katakan bahwa itu ada (ahampi taṃ ‘atthī’ti vadāmi)?

      [Bentukan ..Perasaan … Persepsi … Bentukan kehendak … Kesadaran] sebagai yang tidak kekal (anicca), penderitaan (adhuva), dan tunduk pada perubahan (vipariṇāmadhamma): ini oleh para bijaksana di dunia ini dikatakan ada, dan Aku juga mengatakan bahwa ini ada.

      Bentukan.. Perasaan … Persepsi … Bentukan kehendak … Kesadaran adalah suatu fenomena-dunia (loke lokadhammo). [SN 22.94/Bunga sutta]

      Kata “loke” jika diganti dengan kata benda/sifat lainnya atau bahkan dengan kata “tathagata/sang Buddha” sekalipun, juga tidak kekal dan/atau tunduk pada perubahan, maka itu juga fenomena-fenomena (lokadhammo) dan segala HAL (berkondisi, terkondisi, tak terkondisi) adalah bukan diri (anatta)

    Rangkaian: Uppāda (muncul/timbul) – Vayo/Bhanga (berakhir/lenyap) dan ṭhitassa (mempertahankan keberlangsungan) disebut kondisi, kestabilan semu. Tak ada yang abadi dalam rangkaian kemunculan dan kelenyapan, sehingga segala yang berkondisi adalah tidak kekal, tidak memuaskan dan bukan diri.


Karena tidak mengetahui dan tidak melihat 3 ciri umum tersebut, seseorang mengalami kebingungan/salah paham dalam memperhatikan dan memunculkan akar tidak bermanfaat/akusalamula atau 3 akar tidak bermanfaat[2]:

  • Moha: PERHATIAN TIDAK BENAR [atau: MEMPERHATIKAN yang TIDAK LAYAK dan TIDAK MEMPERHATIKAN yang LAYAK], maka kekeliruan tahu yang tadinya belum muncul akan muncul dan kekeliruan tahu yang telah muncul akan meningkat.
  • Lobha/raga: PERHATIAN TIDAK BENAR [ayoniso manasikāro] pada OBJEK MENARIK, maka ketagihan yang tadinya belum muncul akan muncul dan ketagihan yang telah muncul akan meningkat (ini disebut juga keserakahan).
  • Dosa/patigha: PERHATIAN TIDAK BENAR pada OBJEK TIDAK MENARIK, maka penolakan yang tadinya belum muncul akan muncul dan penolakan yang telah muncul akan meningkat (Penolakan ini juga disebut kebencian/ketidaknyamanan). [AN 3.65/Kalama Sutta, AN 3.69, It.50]


3 hal yang tidak bermanfaat inilah yang menjadi sumber dari bentukan-bentukan kamma [AN 3.34].

Apa itu Kamma?

    O, bhikkhu, kehendak [cetana] untuk berbuat itulah yang Kunamakan Kamma. Sesudah berkehendak orang lantas berbuat dengan badan, perkataan atau pikiran [AN 6.63]


Agar tidak ada celah bagi hal-hal tidak bermanfaat menerobos dalam pikiran, yang dapat menjadi makanan dari bentukan kamma atau agar “Sipembuat rumah, tak lagi dapat membuat rumah”:

  • Indriya harus dikendalikan, jika 6 indriya tidak terkendali, maka kondisi buruk tidak bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan akan melandanya
  • Tekun dalam mengingat untuk sepenuhnya mengetahui ketika: berbaring, berdiri, duduk atau berjalan, melihat ke depan/sekitarnya; membungkuk/menegakkan badan; memakai pakaian, membawa sesuatu; makan, minum, mengunyah, atau mengecap/menelan; membuang air besar/kecil; berbaring, terjaga, berbicara, atau berdiam diri, dll (AN 47.2/Satisutta)


Jika hal di atas dilakukan dengan rajin, tekun, bersungguh-sungguh, maka ingatan-ingatan dan kehendak-kehendak keduniawian menjadi ditinggalkan. Alurnya: Pengendalian Indriya dan melakukan Moralitas → agar pikiran tidak tercemari hal buruk (abyāsittacittassa) dan agar tidak muncul ketidakmenyesalan (avippaṭisāro) → timbul sukacita (pāmojja) → timbul girang (pīti) → muncul ketenangan (passaddhi) → timbul bahagia (Sukhaṃ) → Pikiran terpusat (Samādhi) → mengetahui dan melihat sebagaimana adanya (yathā bhūta ñāṇa dassana) → menjadi TIDAK TERKESAN (nibbidā) → menjadi TIDAK MENGINGINKANNYA (viraga) → Mengetahui dan melihat kebebasan (vimuttiñāṇadassana) [Gabungan dari AN 11.1 dan SN 35.97]

Panduan tindakan agar dapat membongkar sendi, merobohkan atap, mencabuti bentukan pikiran dan menghancurkan belitan kehausan agar “si pembuat rumah tak lagi dapat membuat rumah”:

    Sabbapāpassa akaraṇaṃ, kusalassa upasampadā; Sacittapariyodapanaṃ
    Segala hal buruk tidak dilakukan, Lakukan hal-hal bermanfaat, sertai dengan pikiran murni [DN 14/Mahapadana Sutta; Dhammapada syair no.183]


Karena diri sendiri adalah pemilik, pewaris perbuatan, berasal dan terkait dengan perbuatan dan memiliki perbuatan sebagai pelindung [AN 5.57/Upajjhatthana Sutta] dan diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri (Dhammapada syair ke 380) maka ini dimulai oleh diri sendiri: “segala hal buruk yang tidak ingin pihak lain lakukan padanya, maka perbuatan itu juga tidak dilakukannya pada pihak lain“.

    Seseorang merenungkan:
    Aku adalah seorang yang ingin hidup, yang tidak ingin mati; aku menginginkan kebahagiaan dan menolak penderitaan.., maka jika seseorang:

    1. membunuhku
    2. mengambil dariku apa yang tidak ku berikan: melakukan pencurian
    3. melakukan hubungan seksual dengan istriku [me dāresu cārittaṃ āpajjeyya]
    4. merusak kesejahteraanku dengan kebohongan
    5. memecah-belahku dari teman-temanku dengan ucapan yang bersifat memecah-belah
    6. berkata padaku dengan ucapan kasar
    7. berkata padaku dengan ucapan yang tanpa tujuan/gosip

    itu tidak menyenangkan dan tidak disukai olehku. dan jika aku:

    1. membunuh orang lain – seorang yang ingin hidup, yang tidak ingin mati, yang menginginkan kebahagiaan dan menolak penderitaan
    2. mengambil dari orang lain apa yang tidak ia berikan: melakukan pencurian
    3. melakukan hubungan seksual dengan istri orang lain [parassa dāresu cārittaṃ āpajjeyyaṃ]
    4. merusak kesejahteraan orang lain dengan kebohongan
    5. memecahbelah orang lain dari teman-temannya dengan ucapan yang bersifat memecah-belah
    6. berkata pada orang lain dengan ucapan kasar
    7. berkata pada orang lain dengan ucapan tanpa tujuan dan gosip

    itu juga tidak menyenangkan dan tidak disukai orang lain

    Apa yang tidak menyenangkan dan tidak disukai olehku juga tidak menyenangkan dan tidak disukai orang lain juga. Bagaimana mungkin aku dapat melakukannya pada orang lain apa yang tidak menyenangkan dan tidak disukai olehku?

    Setelah merenungkan demikian, ia:

    1. menanggalkan [paṭivirato]: pembunuhan, mengambil yang tidak diberikan, melakukan perbuatan indriya dengan cara yang salah, kebohongan, ucapan yang bersifat memecah-belah, ucapan kasar dan ucapan yang tanpa tujuan dan gosip
    2. menasihati/mendorong orang lain[parañca..samādapeti] menahan diri dari (veramaṇi): pembunuhan, mengambil yang tidak diberikan,..,dan ucapan yang tanpa tujuan dan gosip
    3. memuji tindakan [vaṇṇaṃ bhāsati] yang menahan diri dari (veramaṇi): pembunuhan, mengambil yang tidak diberikan,..,dan ucapan yang tanpa tujuan dan gosip

    Demikianlah perbuatan melalui jasmani dimurnikan dalam 3 aspek. [SN 55.7/Gerbang Bambu/Veḷudvāreyya sutta]


Dalam memurnikan perbuatan jasmani, ucapan dan pikiran, agar mempertimbangkan perbuatan perbuatan jasmani, ucapan dan pikiran yang dilakukan:

“..ketika engkau [ingin/kattukāma, sedang/karomi atau telah/akāsi] melakukan suatu perbuatan [jasmani, ucapan atau pikiran], maka engkau lakukanlah pertimbangan terhadap perbuatan tersebut: ‘Apakah perbuatan yang [ingin, sedang atau telah] kulakukan ini mengarah pada merugikan/menyakiti (byābādhā): diriku, makhluk lain atau keduanya? Apakah ini perbuatan tak bermanfaat yang meningkatkan atau menghasilkan penderitaan (dukkha)?’

Ketika mengetahui: ‘Perbuatan yang [ingin, sedang atau telah] kulakukan ini mengarah pada merugikan diriku, mahluk lain atau keduanya’ ini adalah perbuatan tak bermanfaat yang meningkatkan atau menghasilkan penderitaan’, maka:

  • [Jika belum] jangan lakukan perbuatan itu
  • [Jika sedang] harus berhenti melakukan perbuatan itu
  • [Jika telah] haruslah diakui, diungkapkan dan diceritakan perbuatan itu kepada guru/teman bijaksana dalam kehidupan suci. Setelah mengakui, mengungkapkan, dan menceritakannya, maka lakukanlah pengendalian diri di masa depan


Tetapi ketika mengetahui: ‘Perbuatan yang [ingin, sedang atau telah] kulakukan ini tidak mengarah pada merugikan diriku, makhluk lain atau keduanya; ini adalah perbuatan bermanfaat yang meningkatkan atau menghasilkan kebahagiaan,’ maka:

  • [Jika belum] lakukan perbuatan itu
  • [Jika sedang] lanjutkan perbuatan itu
  • [Jika telah] beradalah dalam keadaan bahagia dan gembira, dengan hal bermanfaat itu, latihlah siang – malam


..petapa dan brahmana manapun [di masa lampau/atīta, dimasa sekarang/etarahi atau dimasa depan/anāgata] telah/akan memurnikan (parisodhe) perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran mereka berulang kali merefleksikannya secara demikian.. [MN 61/Ambalaṭṭhikārāhulovāda Sutta]

Dengan tidak berbuat buruk, seseorang sedang di jalan melatih/mengembangkan brahmavihara (metta, karuna, mudita, upekkha) dan telah melakukan hal bermanfaat/bajik, Ketika memperbanyak hal yang bermanfaat, Ia mensejahterakan dirinya. Ketika Ia mendorong orang agar tidak berbuat buruk dan melakukan hal bermanfaat/bajik, maka Ia mensejahterakan dirinya dan juga orang lainnya. Sang Buddha menyatakan ada 4 jenis orang di dunia:

  • TIDAK mensejahterakan dirinya dan TIDAK mensejahterakan orang lain (Ia sendiri TIDAK MELAKUKAN juga TIDAK MENDORONG orang lain melenyapkan ketagihan, kebencian, dan kekeliruan tahu; atau menjalankan 5 sila; atau dengan cepat memahami, mengingat, memeriksa makna ajaran, melatihnya, mengajarkan, mendorong, menginspirasi, dan menggembirakan teman-temannya);
  • mensejahterakan orang lain tapi TIDAK dirinya (Ia MENDORONG orang lain melakukan, namun Ia sendiri TIDAK MELAKUKANNYA), ini lebih unggul dari sebelumnya
  • mensejahterakan dirinya tapi TIDAK orang lain (Ia MELAKUKANNYA namun TIDAK MENDORONG orang lain melakukan), ini lebih unggul dari sebelumnya; dan
  • mensejahterakan dirinya dan juga orang lain (Ia MELAKUKANNYA dan juga MENDORONG orang lain melakukan), ini adalah yang terbaik” [AN 4.95/Chavālāta, AN 4.96/Rāgavinaya, 4.97-99]


Definisi orang jahat di Buddhisme:

  • Seorang yang melakukan:
    1. Perbuatan: menyakiti mahluk hidup; mengambil yang tidak diberikan; berprilaku salah dalam kenikmatan indriya; menyatakan yang tidak benar; memecah-belah; berbicara kasar; bergossip; memasukan asupan memabukan yang menjadi landasan kelengahan; tamak/irihati (abhijjhālu); berpikiran buruk (byāpannacitto) dan berpandangan salah [AN 4.201/Sikkhapada, AN 4.203/Sattakamma, AN 4.204/Dasakamma] dan/atau
    2. Tidak teguh/tidak berkeyakinan (assaddho); tidak punya rasa malu dalam hal moralitas (ahiriko); Sembrono/menyepelekan (anottappī); kurang pembelajaran (appassuto); malas/kusīto; pelupa/berpikiran kacau (muṭṭhassati); berpikiran pendek/tidak bijaksana (duppañño) [AN 4.202/Assaddha] dan/atau
    3. Berpandangan salah; berkehendak salah; berucapan salah; berperbuatan salah, berpenghidupan salah; berdaya upaya salah; ber-ingatan salah; berpikiran terpusat yang salah; berpengetahuan salah, dan berkebebasan salah [AN 4.205/Aṭṭhaṅgika, AN 4.206/Dasamagga]

    disebut orang jahat/asappurisa

  • Seseorang yang melakukan hal-hal di atas juga MENDORONG orang lain melakukan hal-hal di atas disebut orang yang lebih rendah dari orang jahat
  • Seseorang yang MENANGGALKAN (paṭivirato) hal-hal di atas disebut orang baik/sappurisa
  • Seseorang yang MENANGGALKAN hal-hal di atas juga MENDORONG orang lain MENAHAN DIRI (veramani) dari hal-hal di atas disebut orang yang lebih tinggi dari orang baik [AN 4.201-206/Sappurisa 1-6]


Atau, jika sulit menentukan apakah suatu perbuatan itu baik atau buruk, maka check dengan parameter:


    jika perbuatan itu dilakukan dan ‘kualitas TIDAK BERMANFAAT bertambah dan kualitas BERMANFAAT berkurang dalam diriku’, maka perbuatan itu JANGAN DILAKUKAN, tetapi jika ‘kualitas tidak bermanfaat BERKURANG dan kualitas bermanfaat BERTAMBAH dalam diriku’, maka lakukanlah perbuatan itu [AN 9.6/Sevana sutta].


Atau

    Apakah perbuatan tersebut

    1. BERMANFAAT / TIDAK? [kusala/akusala];
    2. DICELA / TIDAK? [anavajjā/sāvajjā];
    3. DIPUJIKAN / DIHINDARI para bijaksana? [viññuppasatthā/viññugarahitā];
    4. MENUJU: bahagia sejahtera / penderitaan? [hitāya sukhāya/a-hitāya dukkhāya saṃvattantīti]

    yang jika dijalankan, membuat atau TIDAK dirinya: tergairahkan, terbanjiri dan tertaklukkan oleh 3 akar tidak bermanfaat (Lobha, Dosa dan Moha)? [AN 3.65/Kesamutti/Kalama Sutta]


Jalan untuk mencabut 3 akar tidak bermanfaat penyebab Dukkha ini, disebut 8 jalan mulia dan ini adalah ciri Buddhisme. 8 jalan mulia ini dikemas dalam ti-sikkha (3 Latihan): Paññā/Kebijaksanaan, Sila/Moralitas dan Samädhi/Pemusatan pikiran, agar terlatih sempurna/parami memperhatikan yang benar. Tentunya ini semua harus diawali dengan Pariyati/mempelajarinya, kemudian Patipatti/mempraktekkannya agar dapat Pativeda/memperoleh hasil dari pelaksanaan, agar dapat:

  • mengetahui (jānato) dan melihat (passato) bahwa: (segala) yang terkondisi (abhisaṅkhato) hasil dari kehendak (ābhisañcetasiko) adalah TIDAK KEKAL (anicca), AKAN BERAKHIR (Nirodha-dhamma) [MN 121/Culasunnata sutta] dan/atau
  • [bentukan//materi ..perasaan ..persepsi ..bentukan kehendak/kondisi ..kesadaran] APAPUN di masa lalu, depan, atau sekarang, di bagian dalam/luar, kasar/halus, rendah/mulia, jauh/dekat: diperiksa, direnungkan, dan dengan saksama diselidiki, maka akan dilihatnya sebagai: hampa, kosong, tanpa inti/tanpa diri [SN 22.95].. ‘ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’[SN 22.49]


Kemudian, karenanya, pikirannya menjadi terbebaskan (cittaṃ vimuccati) dari noda (asava): hasrat indriya (kāmāsavāpi), penjelmaan (Bhavāsavāpi, dan ketidaktahuan (Avijjāsavāpi). Ketika terbebaskan muncul pengetahuan (ñāṇa): ‘Terbebaskan’ Ia mengetahui: ‘Kelahiran telah dihancurkan (khīṇā jāti), penghidupan BRAHMA/SUCI telah dijalani (vusitaṃ brahmacariyaṃ), apa yang harus dilakukan telah dilakukan (kataṃ karaṇīyaṃ), tak lagi menjadi mahluk apapun (nāparaṃ itthattāyāti)’ [MN 121]

Tidak semua hal disebabkan Kamma

Dalam rentang perjalanan kelahiran kembali, tak terhitung banyaknya perbuatan baik/buruk yang terkumpul dan dilakukan, sehingga bahkan, jika kita memiliki jumlah waktu yang sangat tak terbatas sekalipun, maka waktu yang tak terbatas inipun, tidak cukup mematangkan seluruh hasil perbuatan.

Pada jaman Buddha orang – orang sektarian seperti Nigantha Nataputta, Makkhali Gosala dan lain – lain, memiliki pandangan bahwa apa pun yang dialami individu, baik kenikmatan atau penderitaan atau bukan keduanya, semuanya timbul dari perbuatan sebelumnya, atau karma di masa lampau. [M.101; D.2. Pandangan ini diuji dalam A. i, 137]. Buddha menolak teori mengenai takdir yang eksklusif ditentukan oleh masa lampau (pubbekatahetu). Tidak semua yang terjadi disebabkan oleh perbuatan di masa lampau. Banyak hal merupakan hasil dari perbuatan kita sendiri yang dilakukan dalam kehidupan sekarang, dan sebab – sebab eksternal

Adalah konyol jika seorang siswa yang gagal dalam ujian karena kelalaiannya, menghubungkan kegagalannya karena kammanya di masa lampau atau karena adanya campur tangan Tuhan. Atau misal seseorang yang sedang terburu – buru dengan ceroboh, terbentur batu, kemudian menganggap kecelakaan itu sebagai akibat perbuatan atau karmanya di masa lalu atau pada percobaan biologi tentang daging yang diletakan dalam botol dan pada beberapa waktu kemudian muncul belatung dan kejadian ini dianggap sebagai kemauan tuhan atau malah sebagai sebuah kebetulan semata.

Terdapat banyak sebab selain dari kamma, misal SN 12.20 (paccaya/kondisi: kelahiran – kematian; penjelmaan – kemelekatan – ketagihan – perasaan – kontak – 6 landasan indriya – Namarupa – kesadaran – bentukan kehendak – ketidaktahuan); SN 36.21 (perasaan muncul karena ketidakseimbangan: empedu, dahak, angin, gabungan ke-3nya; cuaca; kecerobohan; serangan; kamma); SN 37.3 (kondisi khusus perempuan: menetap bersama keluarga suami terpisah dari sanak; menstruasi, hamil, melahirkan dan menjadi istri); DN 1 (62 Pandangan salah); AN 3.136 (3 ciri: anicca, dukkha dan anatta); Abhidhamma Patthana 1.1 (24 kondisi: hetu..avigata paccaya. Hanya 2 terkait kamma). Kitab komentar Abhidhammāvatāra-purāṇatīkā (Vācissara Mahāsāmi/13 M atau Sāriputta/12 M: tentang Pancavidhaniyama: utu, bija, kamma, citta dan dhammaniyama. Hanya 1 terkait kamma), dst

Oleh karena tidak semua karena Kamma, maka Sang Buddha menyatakan bahwa kunci kebebasan atau memotong samsara bukanlah dengan melenyapkan kamma masa lalu (apakah dengan mengalami akibatnya atau melalui pertapaan keras) NAMUN JUSTRU dengan melenyapkan noda-noda (asava). Sehingga, dengan terhentinya kekotoran-kekotoran, terhenti pula sebab dan kondisi, terhentinya kelahiran kembali. Tidak ada lagi sebab dan kondisi yang berpotensi mematangkan kamma-kamma sebelumnya.

Jalur samsara kaitannya dengan ketidaktahuan, kehausan dan kemunculan mahluk diringkas dalam paṭic­ca­samup­pāda (Sebab Kemunculan), yang secara sederhananya:

  • YM Assaji: “Hal apapun muncul karena sebab (Ye dhammā hetuppabhavā), Sebab-nya telah dijelaskan Sang Tathagata, juga berakhirnya (Tesaṃ hetuṃ tathāgato āha; Tesañca yo nirodho), Ini yang diajarkan Sang Petapa Agung (Evaṃvādī mahāsamaṇo”ti)” [Vinaya, Mahavagga I]. YM Sāriputta: “Apapun itu yang muncul (yaṃ kiñci samuda­ya­dhammaṃ), Semua itu akan berakhir (sabbaṃ taṃ nirodhadhamman)” [Vinaya, Mahavagga I, juga di: SN 56.11, SN 35.74,121, 245; Ud 5.3; AN 8.21; MN 147, dll]
  • tak ada kondisi yang muncul tanpa suatu sebab, ‘dengan ini ada, maka muncul itu, Dengan muncul ini, maka muncul itu, Dengan ini tak ada, maka tak ada itu, Dengan ini berhenti ini, maka itu berhenti’ [SN 12.21, 37, 41, 49-50, 61-62, SA.358, Ud.1]
  • ‘munculnya ini’ sebagai makanan (tadāhārasambhavanti), dengan lenyapnya makanan maka apa yang muncul akan lenyap (tadāhāra-nirodhā yaṃ bhūtaṃ, taṃ nirodhadhammanti) [MN 38]


Rumusan luasnya dalam 12 nidāna (sebab/asal/sumber, misal: DN 15; SN 12.2, 23; MN 9, 38):

  • avijjāpaccayā saṅkhārā (Ketidaktahuan mengkondisikan bentukan kondisi/kehendak)
  • saṅ­khā­ra­pac­cayā viññāṇa (Bentukan kehendak/kondisi mengkondisikan kesadaran).
  • viññāṇapaccayā nāmarūpa (Kesadaran mengkondisikan Mental-Materi)
  • nāmarū­papaccayā saḷāyatana (Mental-materi mengkondisikan 6 landasan indriya)
  • saḷāya­tana­pac­cayā phassa (6 landasan indriya mengkondisikan kontak. Saḷāyatana (sal ≠ cha (pali)/sad (sanskrit), tapi saḷa+ayatana, saḷa = tajam/rumah+landasan. Di MN 137 dirinci sebagai 6 landasan eksternal dan internal), yaitu Indriya/ayatana: mata/Cakkhu, telinga/sota, hidung/ghāna, lidah/jivha, badan/kāya dan pikiran/mano)
  • phassapaccayā vedanā (Kontak mengkondisikan perasaan)
  • vedanāpaccayā taṇhā (Perasaan mengkondisikan kehausan)
  • taṇhāpaccayā upādāna (Kehausan mengkondisikan kemelekatan)
  • upādānapaccayā bhavo (Kemelekatan mengkondisikan penjelmaan. Terdapat 4 upādāna: hasrat indriya (kāmupādāna), pandangan(diṭṭhupādāna), ritual moralitas (sīlabbatupādāna) dan ajaran tentang diri (attavādapādāna) [AN 12.2])
  • bhavapaccayā jāti (Penjelmaan mengkondisikan kelahiran. Terdapat 3 bhava: Di alam hasrat indriya/kāma, bentuk/rūpa dan bukan bentuk/arūpa [AN 12.2]. Dinamakan menjelma (bhavo vuccati), karena: mahluk yang dirintangi avijja (Avijjā­nīvara­ṇā­naṃ sattāna) terbelenggu kehausan (taṇhā­saṃ­yoja­nā­naṃ) masaknya kamma dari hasrat indriya..tanpa bentukan (kāma­/rūpa­/arūpa­dhātu-ve­pakka-ñca] [sehingga:] kamma khettaṃ/sebagai ladang, viññāṇa bījaṃ/sebagai benih, Taṇhā sneho/sebagai pupuk, demikianlah, Kesadaran melandasi (viññāṇaṃ patiṭṭhitaṃ → AN 3.76)/Kehendak melandasi tujuan/aspirasi (cetanā patiṭṭhitā patthanā patiṭṭhitā → AN 3.77) penerusan (abhinibbatti) kembali menjadi (punabbha­va) kelak (āyatiṃ) [AN 3.76/77])
  • jātipaccayā jarāmaraṇaṃ soka­pari­deva­duk­kha­do­manas­supāyāsā sambhavanti (Kelahiran mengkondisikan penuaan/jara, mati/marana, sedih/soka, ratapan/parideva, rasa sakit/dukkha, pedih/Domanassa dan putusasa/upāyāsā. Terdapat 4 jenis jāti: telur/aṇḍajayoni, rahim/jalābujayoni, lembab/saṃsedajayoni, spontan/opapātikayoni)


Demikianlah asal-mula keseluruhan kumpulan penderitaan ini. Untuk menghentikan samsara, mulai dengan menghentikan Ketidaktahuan:

  • Avijjāya tveva asesavirāganirodhā, saṅkhāra-nirodho (Ketidaktahuan sepenuhnya berhenti, bentukan kehendak/kondisi berhenti)
  • Bentukan kondisi/kehendak berhenti, kesadaran berhenti
  • Kesadaran berhenti, Mental-Materi berhenti
  • Mental-Materi berhenti, 6 landasan indriya berhenti
  • 6 landasan indriya berhenti, kontak berhenti
  • Kontak berhenti, perasaan berhenti
  • Perasaan berhenti, kehausan berhenti
  • Kehausan berhenti, kemelekatan berhenti
  • Kemelekatan berhenti, penjelmaan berhenti
  • Penjelmaan berhenti, kelahiran berhenti
  • Kelahiran berhenti, lapuk/tua, kematian, sedih, rataptangis, rasa sakit, pedih dan putus asa berhenti


Demikianlah berhentinya seluruh bentuk Penderitaan.

DEFINISI MAHLUK DI BUDDHISME

    Sang Buddha: “Para petapa dan brahmana yang mengingat banyak kehidupan lampau, semua mengingat 5 kelompok yang melekat (pañcupādānakkhandha) atau salah satu di antaranya. Ia ingat, “Aku bermateri demikian di masa lampau”, adalah hanya bentukan/materi yang diingatnya, … perasaan, … persepsi, … bentukan kehendak, …“aku memiliki kesadaran demikian di masa lampau”, adalah hanya kesadaran yang diingatnya..” [SN 22.79]

    YM Rādha: apa yang disebut Mahluk? (satto-ti vuccatī?), Sang Buddha: “hasrat (chanda), ketagihan (rāga), kesenangan (nandī), haus (tanha) akan: rūpa.. vedana.. sañña.. saṅkhāra.. viññāṇa di situlah mahluk (tatra satta) di situlah terjerat (tatra visatta), itulah disebut mahluk (tasmā sattoti vuccati)” [SN 23.2/Satta Sutta]

    Mara:
    Siapa pembuat ‘makhluk’? (Kenāyaṃ pakato satto)
    Dimanakah si pencipta ‘makhluk’? (kuvaṃ sattassa kārako)
    Dimanakah ‘makhluk’ muncul? (Kuvaṃ satto samuppanno)
    Dimanakah ‘makhluk’ lenyap? (kuvaṃ satto nirujjhatī)

    Bhikkhunī Vajirā:
    Apa (sesosok) ‘makhluk’? (Kiṃ nu sattoti paccesi)
    Ini pandangan usang, Māra (māra diṭṭhigataṃ nu te)
    hanyalah kumpulan paduan (Suddhasaṅkhārapuñjoyaṃ)
    Tak ada ‘makhluk’ (nayidha sattupalabbhati)

    Sebagaimana rangkaian bagian (Yathā hi aṅgasambhārā)
    yang disebut ‘kereta’ (hoti saddo ratho iti)
    demikianlah sebagai gugus (kehidupan) (Evaṃ khandhesu santesu)
    yang umum sepakati sebagai ‘makhluk’ (hoti sattoti sammuti) [SN 5.10/Vajira Sutta]


Jadi, makhluk atau “diri/aku” adalah bauran Pañcupādānakkhandha (5 kelompok yang melekat. Inilah yang umumnya didefinisikan sebagai SATTA/MAHLUK. ref SN.22.56, DN.33), yaitu kelompok yang melekat dari: viññāṇa + vedanā + saññā + saṅkhārā + rūpa). Kelompok yang melekat ini juga disebut dukkha/sankhāra dukkha. Sebutan lain pancakhanda adalah Namarupa

Yang disebut nāma dalam nāmarūpa adalah: vedanā + saññā + cetanā + phassa + manasikāro [SN 12.2]. Sementara itu, di Vibhanga 6, 4 kelompok dari pancupadanakakhanda (viññāṇa + vedanā + saññā + saṅkhārā) juga disebut nāma

“nāma” BUKAN jiva/atta, BUKAN juga citta, TAPI “itu/yang disebut/dinamai” [Kp 4/Kumarāpañhā suttta: “Ekaṃ nāma kiṃ?..Dasa nāma kiṃ? (Apa yang disebut 1?…Apa yang disebut 10?)”. Atau di AN 10.96: “Ko nāmo āyasmā? (siapa nama tuan?)”]

Jadi:

  • NamaRupa: vedanā + saññā + cetanā + phassa + manasikāro + Rūpa
  • Pancakhanda: viññāṇa + vedanā + saññā + saṅkhārā + Rūpa


Viññāṇakkhandha, Viññāṇa (Vi/khusus+ññā/tahu+suffix “-na” = mengenali/menyadari)
Dalam Abhidhamma: Citta, Mano, Viññāṇa adalah sinonim. Di sutta SN 12.61, 62 dan DN 1, Sang Buddha menyampaikan 3 kata itu sekaligus, oleh karenanya, 3 kata ini seharusnya ada perbedaannya.

  • Citta = cit (merasa, tahu, berpikir) + ta (past participle) = proses berpikir (misal di vinaya bagian parajika tentang membunuh: cittamano/berpikir dan cittasankappa/berkehendak). Ketika Indriya (cakkhu..mano) mengenali objeknya, kata yang digunakan untuk pikiran yang beraktifitas tidak lagi kata mano namun kata Citta, sample SN 12.61
  • Viññāṇa = hasil proses pertemuan salah satu antara 6 indriya dan 6 objeknya, sehingga, terdapat 6 bentuk menyadari/viññāṇakāyā: mata menyadari/cakkhuviññāṇa, …, pikiran menyadari/manoviññāṇa. citta = vinnana: Nāmarūpa­sa­mudayā cittassasamudayo [SN 47.42] = Nāmarūpasamudayā viññāṇasamudayo [SN 22.56]. Keadaan menyadari/Viññāṇa dapat melekat/menggenggam pada (upādiyi) dan bergantung pada (nissitam): 6 Indriya, 6 objek indriya, 6 kesadaran indriya, 6 kontak indriya, perasaan yang muncuul dari 6 kontak indriya, 6 dhatu (catumahabhuta+akasa+viññāṇa), pancakhanda, 4 landasan arupa, dunia ini dan dunia lain, “yang dapat dilihat, didengar, dirasa, dikenali, dijangkau, dicari, diperiksa oleh pikiran/manasā” [MN 143]
  • Mano = Ceto = Pikiran, sebagai Indriya/alat dan letaknya di kontak/Phassa pikiran dan untuk manusia/binatang, letaknya di jaringan syaraf (otak, jantung, dst). “Mano/pikiran adalah penaung (paṭisaraṇaṃ), yang mengalami wilayah dan objek (nesaṃ gocaravisayaṃ paccanubhotī) 5 indriya fisik (Mata, telinga, hidung, lidah, badan) yang masing-masing dari ke-5 indriya ini punya wilayah (visayāni) dan objek (gocarāni) berbeda dan saling tidak mengalami wilayah-objek lainnya” [MN 43]. Kemampuan pikiran: “yang dapat (yampidaṃ): dilihat/diṭṭhaṃ, didengar/sutaṃ, dirasa/mutaṃ, dikenali/viññātaṃ, dijangkau/pattaṃ, dicari/pariyesitaṃ, diperiksa/anuvicaritaṃ oleh pikiran/manasā” [AN 4.24, SN 11.7-8, 18-21]

    Jika 5 indriya (pañcahi indriyehi) tidak digunakan (Nissaṭṭhena), pikiran yang menyadari yang termurnikan (parisuddhena manoviññāṇena), mengenali (neyyan): ‘ananto ākāso’ti ākāsānañ­cāyata­naṃ..ākiñ­cañ­ñā­yatanaṃ [MN 43] “yang dapat (yampidaṃ): dilihat/diṭṭhaṃ, didengar/sutaṃ, dirasa/mutaṃ, dikenali/viññātaṃ, dijangkau/pattaṃ, dicari/pariyesitaṃ, diperiksa/anuvicaritaṃ oleh pikiran/manasā” [AN 4.24, SN 11.7-8, 18-21]


Nāmarūpa → Viññāṇa → Nāmarūpa

    ‘Kesadaran ini berbalik ke namarupa (paccudāvattati kho idaṃ viññāṇaṃ nāmarūpamhā) tidak lebih lagi (na paraṃ gacchati). Sejauh inilah (Ettāvatā) lahir (jāyetha) atau menua (jīyetha) atau mati (mīyetha) atau lepas/jatuh (cavetha) atau muncul (upapajjetha), yaitu namarupa mengkondisikan kesadaran (yadidaṃ nāmarū­papaccayā viññāṇaṃ); kesadaran mengkondisikan namarupa (viññāṇapaccayā nāmarūpaṃ); namarupa mengkondisikan 6 landasan (nāmarū­papaccayā saḷāyatanaṃ); 6 landasan …’ [AN 12.65, DN14]


Vedanākkhandho, vedanā (perasaan)
Disebut perasaan karena merasakan/vedayatī/vedeti: kesenangan, kesakitan, bukan ke-2nya [SN 22.79] dan merupakan hasil dari kontak Indriya. Terdapat 6 perasaan/vedanākāyā: cak­khu/mata…mano/pikiran, yang masing-masing terdiri dari: sukhā/nikmat, dukkhā/menderita dan bukan menderita bukan nikmat. atau: somanas­sa/nyaman, do­manas­sa/pedih atau seimbang/upekkhā

Hubungan Perasaan dan Tanha
Perasaan mengondisikan kehausan, kehausan mengondisikan pencarian [pariyesanā], pencarian mengondisikan perolehan [lābho], perolehan mengondisikan pengambilan keputusan [vinicchayo], pengambilan keputusan mengondisikan hasrat-ketagihan [chandarāgo], hasrat-ketagihan mengondisikan keterikatan [ajjhosāna], keterikatan mengondisikan kelayakan [pariggaho], kelayakan mengondisikan ketamakan [macchariya], ketamakan mengondisikan penjagaan atas harta-benda yang dimiliki [ārakkho], dan karena penjagaan harta-benda yang dimiliki, muncullah pengambilan tongkat dan pedang, pertengkaran, perselisihan, perdebatan, percekcokan, caci-maki, kebohongan dan kejahatan tidak terampil lainnya.’….TANHA dan PARIYESANA TERGABUNG MENJADI SATU DALAM PERASAAN (ime dve dhammā dvayena vedanāya ekasamosaraṇā bhavanti) [DN 15]

Terdapat 6 bentuk kehausan/kāyā: bentukan/rūpataṇhā, suara/saddataṇhā, bebauan/gandhataṇhā, rasataṇhā, rabaan/­phoṭṭhab­ba­taṇhā, objek pikiran/dhammataṇhā. atau: kehasan akan hasrat indriya/kāmataṇhā, menjadi sesuatu/bhavataṇhā, tidak mau menjadi sesuatu/vibhavataṇhā

Hasrat indriya/Kāmā: Suatu untaian kenikmatan/kāmaguṇā dari 5 indriya: Bentuk yang dikenali mata..objek sentuhan yang dikenali badan, diharapkan (iṭṭhā), didambakan (kantā), menyenangkan (manāpā), memikat (piyarūpā), disenangi, membuat berhasrat (kāmūpasaṃhita), menggoda (rajanīyā). Hasrat indriya seseorang adalah kehendak dengan ketagihan (Saṅkapparāgo purisassa kāmo). [AN6.63]

Saññākkhandho, Saññā (sa/menyertai+ññā)
Arti Sanna diantaranya: Anggapan, pengertian, pencerapan, persepsi, konsepsi, ide, gagasan, kesan, ingatan. Baik itu dalam bentuk masa lalu, sekarang dan masa depan.

Persepsi adalah akibat dari pengungkapan (Vohāravepakka), disebut persepsi karena mengenali (sañjānāti) sesuatu dan mengungkapkan sesuatu tersebut (voharati). Terdapat 6 bentuk persepsi/saññākāyā dari: Bentuk/rūpasaññā, suara/saddasaññā, bebauan/gandhasaññā, rasasaññā, rabaan/­phoṭṭhab­ba­saññā, objek pikiran/dhammasaññā [AN 6.63], juga, terdapat 3 persepsi akusala: persepsi hasrat indriya/kāmasaññā, byāpādasaññā, vihiṃsāsaññā dan 3 persepsi kusala: pelepasan/nekkhammasaññā, tidak memusuhi/abyāpādasaññā dan tidak kejam/avihiṃsāsaññā [DN 33,34].

Hubungan Pañña, Pajānāti, Viññāṇa, Vijānāti, Saññā, Sañjānāti dan Vedana:

  • Disebut Pañña/Kebijaksanaan, karena MENGETAHUI/PAHAM/Pajānāti [MN 43], misal: tentang Dukkha, ASAL-MULA, LENYAPNYA, JALAN LENYAPNYA DUKKHA
  • Disebut Viññāṇa/Kesadaran, karena MENGENALI BEDA/Vijānāti: pahit vs asin vs manis dll, menyenangkan vs menyakitkan vs bukan keduanya. biru, vs merah, dll
  • Disebut Saññā/Persepsi, karena MENGANGGAP/MEMPERSEPSIKAN/INGAT/Sañjānāti: biru atau merah dll [MN 43, SN 22.79]


Pañña dan Viññāṇa kondisi ini tergabung bukan terpisah, TIDAK DAPAT memisahkan kondisi satu sama lainnya untuk menggambarkan beda antaranya, yang DIPAHAMI/Pajānāti, itu yang DIKENALI/Vijānāti, yang DIKENALI, itu YANG DIPAHAMI. Pañña perlu dikembangkan (bhāvetabbā) sedang Viññāṇa agar diketahui baik (pariññeyyaṃ) … Vedana, Sanna dan Vinnana, kondisi ini tergabung bukan terpisah (vedanā yā ca saññā yañca viññāṇaṃ – ime dhammā saṃsaṭṭhā, no visaṃsaṭṭhā). Tidak dapat memisahkan kondisi ini satu sama lainnya untuk menggambarkan beda antaranya (Na ca labbhā imesaṃ dhammānaṃ vinibbhujitvā vinibbhujitvā nānākaraṇaṃ paññāpetuṃ) yang DIRASAKAN/vedeti, itu yang DIPERSEPSIKAN/sañjānāti; Yang dipersepsikan, itu yang DIKENALI/Vijānāti (Yaṃ vedeti taṃ sañjānāti, yaṃ sañjānāti taṃ vijānāti) [MN.43] Persepsi, perasaan, (Saññā ca vedanā ca) yang menyertai pikiran (Cetasika: ceto/pikiran + sa/menyertai + ika/yang/di: “Yang Menyertai Pikiran”), kondisi ini terikat dengan pikiran/Citta (ete dhammā cittapaṭibaddhā). Itulah persepsi, perasaan, bentukan kehendak pikiran. (Tasmā saññā ca vedanā ca cittasaṅkhāroti) [MN.44]

Saṅkhārakkhandho, saṅkhārā
Paduan unsur dan kondisi, san/gabungan + khara/bentukan/kondisi = formasi kehendak, sañcetanā, abhisaṅkhara/berkondisi, kamma, sebagai faktor ke-2 dalam 12 mata rantai paṭiccasamuppāda; faktor penggerak; pendorong; kekuatan; faktor pembentuk.

Disebut saṅkhāra karena mengkondisikan terkondisinya (Saṅkhatam-abhisaṅkharoti): bentukan (Rūpaṃ rūpattāya), sensasi (vedanaṃ vedanattāya), kreativitas persepsi (saññaṃ saññattāya), formasi kehendak (saṅkhāre saṅkhārattāya) dan stimulus kesadaran (viññāṇaṃ viññāṇattāya) [SN 22.79]. Terdapat 3 Sankhara, yaitu: badan/kāyasaṅkhāra, ucapan/vacīsaṅkhāra dan pikiran/cittasaṅkhāra [AN 12.2].

Manasikāra (Mano = pikiran; manasi = di pikiran; karoti = membuat, membawa. Arti: perhatian, pemikiran, pertimbangan), hasilnya: yoniso/benar dan ayoniso/tidak benar. Yoni = kandungan, asal. Perhatian tidak benar disebut Moha/kebodohan. Perhatian tidak benar pada objek menarik, muncul ketagihan, pada obyek tidak menarik, muncul penolakan. Manasikara ini proses pikiran

Cetanā (ceta/pikiran+na. Arti: Kehendak/Kamma. Cetana terkait pikiran)
apa yang dipikirkan [ceteti], dipertimbangkan/dirancang/pikir ulang [pakappeti] dan dicenderungi/bersemayam [anuseti] → menyokong kesadaran → menjadikan sesuatu di kemudian hari [SN 12.38-40]. Cetana adalah saṅkhārā: terdapat 6 bentukan kehendak (Chayime..cetanākāyā), yaitu: rūpasañcetanā (Kehendak terkait bentuk)..dhamma­sañ­cetanā (kehendak terkait fenomena-pikiran)” [SN 22.56]

    Sebab kemunculan (Paṭic­ca­samup­panna) senang-susah (sukhadukkhaṃ) karena kontak (Phassaṃ paṭicca). Dengan Jasmani/ucapan/pikiran (Kāye/Vācāya/Mane) ingatan (sati) berakar pada kehendak jasmani/ucapan/pikiran (kāya/vaci/mano-­sañ­ceta­nā­-hetu) memunculkan perasaan susah-senang dalam diri (uppajjati ajjhattaṃ sukhadukkhaṃ) dengan ketidaktahuan sebagai kondisi (avijjāpaccayā).

    Oleh: diri sendiri (sāma) / pihak lain (para) atau diketahui (sampajāno) atau tidak (asampajāno) menghasilkan perbuatan jasmani/berucap/berpikir (kāya/vaci/mano-saṅkhāraṃ abhisaṅkharoti) menyebabkan munculnya perasaan suka-duka dalam dirinya (yaṃpaccayāssa taṃ uppajjati ajjhattaṃ sukhadukkhaṃ), hal-hal yang dipengaruhi ketidaktahuan (dhammesu avijjā anupatitā) [SN 12.25, AN 4.171]


Phassa (kontak indriya)
Terdapat 6 kontak/phassakāyā, yang terkait Indriya: kontak-mata/cak­khusamphassa … pikiran/manosamphassa.

Hubungan saḷāyatana/indriya, objeknya/arammana, Viññāṇa, Phassa, Vedana dan Sanna

    viññāṇapaccayā nāmarūpaṃ, nāmarūpapaccayā viññāṇaṃ (Kesadaran mengkondisikan namarupa, Namarupa mengkondisikan kesadaran)” [DN 15, SN 12.65, 67] → “Namarupapaccaya salayatana, saḷāyatanapaccayā phasso (namarupa mengkondisikan 6 landasan indriya, 6 landasan indriya mengkondisikan kontak)” [DN 15, dll] atau “Namarupapaccaya phasso (namarupa mengkondisikan kontak)” [DN 15]

    Dengan mata [cakkhu] dan bentukan/materi [rupa] sebagai kondisi, maka timbul kesadaran-mata [cakkhuviññāṇa]. Pertemuan ke-3nya [tiṇṇaṃ saṅgati] adalah kontak-Mata [cakkhuphassa]..
    Dengan telinga [sota] dan suara-suara [sadde] sebagai kondisi, maka munculah kesadaran telinga [sotaviññāṇa]..
    Dengan hidung [ghāna] dan bau-bauan [gandhe] sebagai kondisi, maka munculah kesadaran hidung [ghānaviññāṇa]..
    Dengan lidah [jivha] dan kecapan [rase] sebagai kondisi, maka munculah kesadaran lidah [jivhaviññāṇa]..
    Dengan tubuh/jasmani [kaya] dan sentuhan-sentuhan [phoṭṭhabbe] sebagai kondisi, maka munculah kesadaran tubuh/jasmani [kayaviññāṇa]..
    Dengan pikiran [mana] dan obyek-obyek pikiran [dhamma] sebagai kondisi, maka munculah kesadaran pikiran [manoviññāṇa]. Pertemuan ke-3nya [tiṇṇaṃ saṅgati] adalah kontak-pikiran [manosamphassa] ..

    Dengan kontak sebagai kondisi, muncul perasaan
    Apa yang dirasakan/vedeti, itulah yang dipersepsikan/sanjanati
    Apa yang dipersepsikan, itulah yang dipikirkan/vitakketi (atau di MN 43: dikenali/vijanati)
    Apa yang dipikirkan/dikenali, itulah yang dikembangbiakkan
    dikembangbiakkannya sebagai: sumber, persepsi dan gagasan, melanda seseorang melalui objek-objek [bentukan, suara,..] masa: lalu, sekarang dan depan yang dikenali 6 Indriya [mata,.., pikiran]
    [MN 18]


Karena pertemuan indriya [salayatana] dan objek-objeknya memunculkan kesadaran, sedangkan Phassa/Kontak adalah gabungan dari 3 hal (objek, indriya dan kesadaran), maka viññāṇa/Kesadaran yang TIDAK DISEBUTKAN di namarupa, keberadaannya ada di Phassa/kontak dan letak kontak ada di Indriya.

Kontak/Phassa mengkondisikan: kāma, kāmaguṇā, Kamma, vedanā, saññā [AN 6.63] atau mengkondisikan: “vedanā, saññā, saṅ­khā­ra, viññāṇa” [MN 147, SN 22.56]

Rūpakkhandho, Rūpa
Cattāro ca mahābhūtā catunnañca mahābhūtānaṃ upādāya rūpaṃ. Idaṃ vuccati,..rūpaṃ (4 elemen/unsur/materi/dhatu/sifat (“no-upada”/dasar), rupa turunan 4 unsur utama. Ini disebut RUPA). Āhārasamudayā rūpasamudayo (Makanan muncul, rupa muncul)” [SN 22.56]. “para petapa/brahmana yang mengingat banyak kehidupan lampaunya, semuanya mengingat lima kelompok unsur kehidupan yang tunduk pada kemelekatan atau salah satu di antaranya (vā aññataraṃ)..”‘Aku memiliki bentuk demikian di masa lampau,’ (Evaṃrūpo ahosiṃ atītamaddhāna) adalah hanya bentuk yang diingatnya (anussaramāno rūpaṃyeva anussarati)..” [ SN 22.79]. “..apapun bentukan, segala bentukan (yaṃ kiñci rūpaṃ sabbaṃ rūpaṃ) adalah 4 unsur utama dan rupa turunan 4 unsur utama..” [MN 106, SN 12.2], terdiri dari:

  1. Pathavi-dhatu (padat/landasan/sokongan)
  2. Apo-Dhatu (cair/rekatan)
  3. Vayo-Dhatu (gerak/getar/tekanan)
  4. Tejo-Dhatu (umur/habis/gelombang partikel/temperatur/panas/energi)


4 mahabhuta ini ada bersamaan tak terpisahkan. Setiap substansi, apakah Pathavi, Apo, Tejo atau Vayo, kecil atau besar terbuat dari 4 elemen ini dengan karekteristik spesifik [Abhidhamma ch.6]. Pathavi bertindak seperti dasar/penyokong sifat kaku bagi Apo, Tejo dan Vayo; Apo bertindak seperti perekat/ikatan bagi 3 lainnya; Tejo bertindak seperti memelihara/menegakkan 3 lainnya; Vayu bertindak seperti penggelembungan 3 lainnya. [Visudhimagga XI, 109]

Rūpa juga bersinonim dengan kaya/sarira (badan/jasmani) karena dapat berubah, sample manusia/binatang, “disebut rupa karena rusak/berubah (ruppatīti) oleh: dingin, panas, lapar, haus, kontak dengan lalat, nyamuk, angin, matahari, dan ular..” [SN 22.79]

Penterjemahan rūpa = “form/bentuk” belum memberikan gambaran utuh, karena 4 mahabhuta dan turunannya, disamping punya arti literal, juga sifat, berbentuk maupun tidak (misal MN 28 dan Dhammasangi 2.2.3), sebagai indriya (pasada-rupa) dan objeknya (arammana), yang ada di dalam diri (Ajjhattaṃ) maupun luar diri (bahiddhā), di antaranya:

  • bentuk dan warna sebagai objek mata;
  • suara sebagai objek telinga;
  • bebauan sebagai objek hidung;
  • cita rasa sebagai objek lidah;
  • suhu, kasar/licin, keras/lembut, sebagai objek kulit/badan; dan
  • Dhamma/fenomena pikiran (pemikiran, ingatan, konsep, gagasan, khayalan, persepsi) sebagai objek pikiran
  • Dhatu/unsur ke-5, selain dhatu-catumahabhuta di atas: Akasa (ruang di antara unsur/objek/rupa atau ‘tempat’ keberadaan diri atau di MN 62: “na katthaci patiṭṭhito“/tak bersandar pada apapun)
  • Dhatu ke-6: 4 landasan/kelangsungan kesadaran (catasso Viññāṇa-ṭṭhitiyo: karena kemunculan kesadaran akibat pertemuan objek dan indriya) yang objeknya (ā­rammaṇa): Bentukan/rupayam atau Vedanā/vedanupayam atau Saññā/sannupayam atau Saṅkhāra/sankharupayam [DN.33]. Sang Buddha: “catasso Viññāṇa-ṭṭhitiyo harus dianggap seperti pathavī-dhātu. Kesenangan dan ketagihan (nandirāgo) harus dilihat seperti āpo-dhātu” [SN 22.54]


Sehingga, a-rūpa maksudnya BUKAN tanpa catumahabhuta, tapi tentang landasan kesadarannya (viñ­ñā­ṇaṭ­ṭhitiyo) atau penguasaan landasannya (abhi­bhāyata­nāna) yang TIDAK LAGI terkait persepsi rupa/kāyā/sarīra (rūpasaññāna), sekurangnya: “telah sepenuhnya melewati persepsi rupa, persepsi penolakan lenyap, tidak perhatian pada ragam persepsi“. Jadi, landasan kesadarannya adalah SELAIN persepsi rupa dan BUKAN berarti TIDAK bercatumahabhuta, BUKAN berarti TIDAK PUNYA badan/sarira/kaya. Singkatnya: Mahluk a-rupa tetap ber-catumahabhuta:

    Sang Buddha: “Mereka, Sāriputta, para deva di landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.”. Sariputta: “sebab apakah, Bhante, mengapa beberapa makhluk tersebut (yena midhekacce sattā tamhā) JASMANINYA setelah mati (kāyā cutā) adalah para yang-kembali (āgāmino honti)..” [AN 4.171]. Di DN 1 pandangan no.54-57, beberapa petapa/brahmana yang tahu mahluk arupa itu menyatakan, “yato kāyassa bhedā” (saat hancurnya jasmani)


Cattāro mahābhūtā tampaknya selalu ada, karena sang buddha pernah membuat statement: “bukan hal yang tepat untuk bertanya (Na kho eso..pañho evaṃ pucchitabbo): ‘di mana 4 itu lenyap tanpa sisa (kattha nu kho,..,ime cattāro mahābhūtā aparisesā nirujjhanti)’, pertanyaan yang seharusnya (evañca kho eso,.., pañho pucchitabbo): ‘di manakah 4 hal itu tidak punya landasan? (Kattha āpo ca pathavī, tejo vāyo na gādhati)'”. Jawabannya: “ketika kesadaran tak nampak (Viññāṇaṃ anidassanaṃ) dimanapun (anantaṃ sabbatopabhaṃ)” [DN 11, SN 1.27, UD 1.10]

Lautan yang tampak kosong, ada dalam lingkup catumahabhuta demikitan pula angkasa luar yang seolah kosong gulita, terdapat debu/partikel padat kecil juga partikel-partikel cahaya [photon: lepton dan quark], temperatur dingin/panas, getar/gerak, gaya tarik/dorong . Jadi, semesta ini dalam lingkup catumahabhuta. Tubuh tempat indriya dan objeknya-pun terdiri dari catumahabhuta. Oleh karenanya, kesadaran yang muncul, berikut hasil putusannyapun berada dalam lingkup catumahabhuta juga seluruh alam kelahiran, milyaran semesta, juga dalam lingkup catumahabhuta. Ini mirip film fiksi “The Matrix” tentang komputer pintar bernama Matrix yang terhubung sistem syaraf seluruh umat manusia dan seorang hacker bernama Neo yang melihat beberapa ketidakwajaran, mencari tau sampai terlepas dari matrix dan melihat sendiri bahwa seluruh manusia system syarafnya terplug-in dengan mesin namun seolah mengalami sendiri lahir, besar, bekerja, menikah, berketurunan, bepergian kemanapun, padahal tetap dalam keadaan terplug-in hingga mereka mati dan didaur ulang menjadi energi bagi kelangsungan system yang juga didisain untuk proses re-produksi manusia.

Apakah tumbuhan mahluk hidup? Punya kesadaran?
Sang Buddha berkata pada Vasettha:

    “Akan kujelaskan padamu – ragam tingkatan (anupubbaṃ yathātathaṃ) – klasifikasi keberadaan kehidupan (Jātivibhaṅgaṃ pāṇānaṃ) karena satu sama lainnya punya kekhususan (aññamaññā hi jātiyo)
    ketahuilah pohon dan rumput (Tiṇa-rukkhepi jānātha), tidak punya (na cāpi) paṭijānare (paṭi/kembali/lagi + jāna/tahu/ngerti + “re”/orang ke-3 Plural, partisipatif, Arti = MENGETAHUI/PAHAM/MENGERTI), bermacam karasteristik keberadaan (Liṅgaṃ jāti-mayaṃ tesaṃ) satu sama lainnya punya kekhususan (aññamaññā hi jātiyo)
    Kemudian serangga, bersayap dan (Tato kīṭe paṭaṅge ca) seterusnya semacam semut rayap (yāva kunthakipillike)..
    Ketahuilah yang berkaki empat (Di AN 4.67: dvipāda/kaki 2, catuppada/kaki 4 dan bahuppada/banyak kaki), kecil maupun besar..

    Ketahuilah yang perut adalah kakinya (di AN 4.67: apāda/tanpa kaki), ular, berbadan panjang..
    Kemudian ikan, perairan, hidup di perairan..
    Kemudian yang bersayap, burung, yang terbang di angkasa..
    Di antara manusia..” [SNP 3.9, MN 98/Vasettha Sutta]


Jadi, tumbuhan adalah pāṇā/bentuk kehidupan, sementara satta/mahluk hidup adalah pāṇā yang lebih sfesifik. Pana dan satta ada yang berespirasi ada yang tidak. Teks belakangan (Nichiren), menyatakan bahwa “tumbuhan adalah mahluk hidup“, berdasarkan komentar Miao-lo dan menyimpulkan, “Buddha dapat menjadi rumput dan pohon”

Apa beda Satta dan Pana?
Bedanya dikelengkapan PANCAKHANDA (Kesadaran, perasaan, persepsi, bentukan pikiran dan RUPA)/nāmarūpa (Perasaan, persepsi, Phassa, cetana, manosikara dan RUPA).

Kesadaran terkait perasaan, pengenalan, kehendak, pikiran, bentukan pikiran [MN 18]. Karena MENGETAHUI/PAHAM/Pajānāti, maka disebut Pañña/Kebijaksanaan [MN 43], karena MENGENALI BEDA/Vijānāti, maka disebut Viññāṇa/Kesadaran, karena dapat MENGANGGAP/MEMPERSEPSIKAN/MEMBAYANGKAN/Sañjānāti, maka disebut Sanna, karena MERASAKAN/vedayatī, maka disebut Vedana dan disebut Saṅkhāra karena mengkondisikan terkondisinya: bentukan, sensasi/rasa, kreativitas persepsi, formasi kehendak dan stimulus kesadaran [SN 22.79]. Pañña dan Viññāṇa kondisi ini tergabung bukan terpisah, TIDAK DAPAT memisahkan kondisi satu sama lainnya untuk menggambarkan beda antaranya, yang DIPAHAMI/Pajānāti, itu yang DIKENALI/Vijānāti, yang DIKENALI, itu YANG DIPAHAMI…Vedana, Sanna dan Vinnana, kondisi ini tergabung bukan terpisah. Tidak dapat memisahkan kondisi ini satu sama lainnya untuk menggambarkan beda antaranya. Yang dirasakan, itu yang DIPERSEPSIKAN/sañjānāti; Yang dipersepsikan, itu yang DIKENALI/Vijānāti [MN.43]. Sanna dan Vedana dan yang menyertai pikiran, kondisi ini terikat dengan pikiran/Citta. Itulah mengapa persepsi dan perasaan adalah bentukan pikiran/Cittasaṅkhāroti [MN.44]

Tumbuhan TIDAK PUNYA: kesadaran, perasaan, persepsi, bentukan pikiran atau singkatnya tidak punya NAMA (perasaan, persepsi, phassa, cetana dan manosikhara) DAN HANYA PUNYA RUPA, oleh karenanya, tumbuhan BUKAN satta/mahluk hidup. Sesuatu yang tidak punya kesadaran ketika mati tidak terlahir kembali.

Penelitian modern ada yang menyatakan bahwa tumbuhan dapat berkomunikasi terhadap sesamanya namun ternyata ketika gelombang suara itu di test, ternyata hanya pergerakan cairan kimiawi melalui pembuluh, penghantar (tanah) atau daun, bunga dan batang yang beberapa diantaranya berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri (DI SINI, DI SINI, DI SINI).

TIDAK ADA ATMAN/JIWA
Buddhism menolak adanya atma/anatta/roh/jiwa yang kekal dan/atau sebagai inti dari mahluk hidup, karena menurut buddhism, mahluk hidup merupakan sebuah bauran, kita ambil contoh roti yang merupakan paduan dari: tepung, ragi, gula, garam, mentega, susu, air, api, tenaga kerja dll. Setelah menjadi roti, tidak dapat kita tunjuk satu bagian tertentu dan mengatakan: ini adalah tepungnya dan/atau ini garamnya dan/atau ini menteganya, dan/atau ini airnya dan/atau ini apinya dan/atau ini tenaga kerjanya dst. Karena setelah bahan-bahan diaduk menjadi satu dan dibakar di oven, maka telah berbaur dan telah berubah

    .. Misalkan, para bhikkhu, ada seorang raja atau menteri kerajaan yang belum pernah mendengar suara kecapi sebelumnya. Ia mendengar suara kecapi dan berkata: ‘Suara apakah ini—begitu menarik, begitu indah, begitu memabukkan, begitu mempesona, begitu memikat?’ Mereka akan berkata kepadanya: ‘Baginda, itu adalah suara kecapi—begitu menarik, begitu indah, begitu memabukkan, begitu mempesona, begitu memikat.’ Ia akan menjawab, ‘Pergilah, bawa kecapi itu kepadaku.’

    “Mereka akan membawakan kecapi itu dan berkata kepadanya: ‘Baginda, ini adalah kecapi itu, yang suaranya begitu menarik, begitu indah, begitu memabukkan, begitu mempesona, begitu memikat.’ Raja itu akan berkata: ‘Aku sudah cukup dengan kecapi ini. Bawakan aku suaranya saja.’ Orang itu akan menjawab: ‘Kecapi ini, Baginda, terdiri dari banyak komponen, sangat banyak komponen, dan kecapi ini bersuara ketika dimainkan bersama banyak komponennya; yaitu, lapisan bidang suara, perutnya, tangannya, kepalanya, dawainya, pemetik, dan keterampilan pemainnya. Demikianlah, Baginda, kecapi ini terdiri dari banyak komponen, sangat banyak komponen, dan kecapi ini bersuara ketika dimainkan bersama banyak komponennya.’ [SN 35.205/426/Vina Sutta. Juga lihat: DN 23/Payasi Sutta]


Bahkan variasinya saja membuat penamaannya berbeda, contohnya sepeda roda 2:

    Rodanya saja tidak dapat dikatakan sebagai sepeda, begitu pula stang, rem, sadel, jerujinya saja. Untuk dikatakan sebagai sepeda roda 2, harus ada rangka, stang, pedal, sadel, rantai, roda, dll. Keseluruhan inilah yang disebut sepeda roda 2.

    Perubahan padanya tidak lagi membuatnya disebut sepeda roda 2, misal ada mesin, ini bukan lagi sepeda roda 2 tapi motor atau rodanya menjadi 3, ini disebut beca atau disamping rodanya menjadi 3, juga ada mesin, ini disebut bemo/bajaj atau roda belakang diganti penyerut, maka ini bukan lagi sepeda roda dua


Demikianlah bauran ini disebut dengan ragam klasifikasi dan penamaan ketika bertumimbal lahir (kemunculan suatu mahluk hidup di alam kehidupan yang sama atau berbeda).

Menurut Buddhisme, setelah Namarupa muncul, maka muncul 6 landasan Indria/saḷāyatana yaitu: Internal/pada diri sendiri/ajjhattikāni (Mata/Cakkha; Telinga/sota; Hidung/ghāna; Kecap/jivha; Badan/kāya; Pikiran/mana) dan luar diri/orang lain/selain diri sendiri atau hal lain diluar dirinya/bāhirāni (bentukan/materi/Rūpa; Suara/sadda; bebauan/gandha; rasa/rasa; Sentuh/phoṭṭhabba; Objek Pikiran/dhamma).


    Pertemuan 6 Indriya [mata, telinga,.., pikiran] dan objeknya [bentukan, suara,.., ingatan/persepsi] sebagai kondisi, memunculkan kesadaran indriya [mata, telinga,.., pikiran].
    Pertemuan ke-3nya (6 Indriya, Objek-objeknya dan kesadaran) disebut Kontak
    Dengan kontak sebagai kondisi, muncul perasaan;
    Apa yang dirasakan, itulah yang dikenali;
    Apa yang dikenali, itulah yang dipikirkan;
    Apa yang dipikirkan, itulah yang dikembangbiakkan pikiran;
    Dengan apa yang dikembangbiakkan dipikirannya sebagai: sumber, persepsi dan gagasan, melanda seseorang melalui objek-objek [bentukan, suara,..] masa: lalu, sekarang dan depan yang dikenali 6 Indriya [mata, telinga,..]. [MN 18/Madhupiṇḍikasutta]


Rangkaian ini kait mengkait, sebab-akibat berkesinambungan dengan pola kemunculan dan kelenyapan. Tidak ada yang abadi dalam kondisi kemunculan dan kelenyapan, segala yang berkondisi jelas tidak kekal.

Jika kita amati diri kita sekarang VS foto diri sewaktu kecil, misalnya saat berumur 5 tahun. Kita tahu (dari saksi yang melihat dan/atau dari ingatan kita) bahwa yang di foto itu adalah orang yang sama dengan kita sekarang namun kita juga tahu persis bahwa yang di photo itu bukanlah orang yang sama lagi dengan kita sekarang. Kita sudah mengalami perubahan proses dan berubah dari waktu ke waktu sehingga bentuk muka, badan dan lain-lainya sudah sama sekali berbeda atau singkatnya, anda yang berusia 5 tahun itu sudah tidak ada lagi, yang ada hanyalah anda yang saat ini.

Dalam kasus manusia dan binatang, secara umum, pertemuan Indera manusia dan Objek-objeknya, diterjemahkan dalam sinyal-sinyal kimiawi dan listrik di dalam dan pada permukaan tubuh manusia, misalnya kekuatan otot adalah akibat daya tarik-tolak muatan listrik, jantung dan system syaraf di otak juga melibatkan aliran arus listrik.

    Prof. Galvani ditahun 1780-1791 melakukan percobaan listrik pada kaki katak yang awalnya Ia hubungkan dengan sumber listrik statis namun kemudian Ia gunakan dua lempeng logam tanpa sumber listrik statis dan hasilnya kaki katak tersebut juga bergerak. Ia menduga bahwa tubuh mahluk hidup terdapat listrik dan magnet. Tidak lama setelahnya, Volta, dengan tujuan untuk menunjukan bahwa potensial (tegangan) listrik adalah berasal karena perbedaan jenis logam, Ia ganti konduktor lembab kaki katak dengan konduktor lain berupa kain lembab berisi cairan garam atau asam cair di antara dua kepingan logam atau karbon sebagai pengganti salah satu logam ternyata juga menghasilkan listrik.

    Temuan mereka ini membuktikan bahwa energi kimia dapat diubah menjadi energi listrik.



Tubuh manusia berisi triliunan sel elektrokimia (cairan elektrolisis, berupa: Na+, K+, CL, protein, asam nukleat, dll), di mana pada bagian dalam sel mempunyai potensial (tegangan) dengan range -50 mv s.d -90 mv (disebut potensial istirahat neuron, rata-rata: -70 milivolts) yang terjadi karena ion negatif lebih pada bagian dalam membran dari bagian luarnya.

Listrik tubuh dari hasil elektrokimia sel berfungsi sebagai kontrol dan operasi syaraf, otot dan organ di mana neuron melalui kontak sinapsis yang terletak di dendrit dengan multi sensornya menerima rangsangan secara fisik maupun kimiawi seperti panas, dingin, cahaya, suara dan bau yang menyebabkan beda potensial (tegangan) antar membran dan kemudian mengubahnya menjadi sinyal listrik di sepanjang serat-serat saraf/Akson menuju otot, kelenjar dan/atau neuron lainnya. Ketika terjadi perpindahan/difusi ion pada membran yang menyebabkan beda potensial yang menuju pada arah positif voltmeter disebut depolarisasi dan yang menuju arah negatif disebut repolarisasi [lihat:Nervous Systems Part-1].

Mengalirnya aliran listrik akan menimbulkan medan magnet dan medan magnet terkuat tubuh adalah jantung yang terjadi akibat depolarisasi dan repolarisasi. Video di bawah ini memberikan sample apa yang dapat dilakukan manusia sehubungan dengan listrik dan medan magnet yang ada padanya. (sanggahan dari yang tidak percaya di sini)

Kemudian, perlu juga kita saksikan sebuah percobaan sadis yang dilakukan di Soviet, yaitu oleh Dr Sergei Brukhonenko yang membangkitkan kembali beberapa organ anjing yang terpisah mandiri (jantung, paru-paru), kepala anjing tanpa tubuh dan anjing utuh yang telah mati. Dokumentasi percobaan ini dilakukan pada tahun 1940 dengan durasi 19:31 menit.



Percobaan pertama:
menghidupkan organ-organ tubuh anjing yang terpisah mandiri, yaitu jantung anjing yang bekerja normal dalam kondisi buatan khusus; Paru-paru yang dihubungkan kipas sedot-tiup, dialiri darah ke dalamnya dan saat keluar paru-paru, darah tersebut telah mengandung oksigen.

Percobaan kedua,
mulai menit 4:27, yaitu menghidupkan kepala anjing utuh tanpa badan yang terhubung dengan 4 selang (sebagai 2 arteri dan 2 vena), menuju/keluar jantung dan dari jantung ada 2 selang yang menuju/keluar tabung (berfungsi sebagai paru-paru buatan yang berisi darah beroksigen). Aliran darah beroksigen ditarik jantung buatan, dialirkan menuju kepala Anjing, kemudian aliran darah keluar dari kepala anjing menuju jantung buatan dan dialirkan menuju tabung. Kepala anjing itu dibuat hidup selama 1 jam dan diperlihatkan bahwa Indera mata, lidah, telinga, penciuman, peraba yang ada diseputaran kepala anjing tersebut berfungsi normal dalam kondisi tersebut.

Percobaan ke-3,
mulai menit 6:50, yaitu menghidupkan kembali anjing utuh. Seekor anjing hidup dalam keadaan telah dianestesi, darahnya dikuras hingga habis hingga mati secara klinis, terlihat dalam plot grafis aktivitas paru-paru dan jantungnya, yaitu detak jantung melemah seiring terkurasnya darah keluar tubuh dan kemudian berhenti. Juga plot grafis nafas normal, melemah, hentakan akhir dan nafas terakhirnya. Anjing itu dibiarkan mati selama 10 MENIT. Kemudian arteri dan vena tubuh anjing, dihubungkan ke mesin jantung-paru (autojektor, cara kerjanya sama seperti percobaan kepala anjing tanpa tubuh). Setelah beberapa saat, aliran darah yang masuk ke tubuh anjing mulai menggerakan detak jantungnya pertama, kedua dan secara perlahan detak jantung kembali normal, kemudian terjadi hentakan nafas pertama, kedua dan secara perlahan pernafasan kembali normal. Setelah pernafasan dan jantung terlihat normal, mesin dimatikan, sambungan selang ke tubuh anjing dicabut, dijahit kembali dalam keadaan teranestesi, diistirahatkan dan pada 10-12 hari kemudian, anjing tersebut berada pada kondisi normal seperti sebelum percobaan dilakukan.

Tidak terdekteksi keberadaan jiwa/roh dipercobaan tersebut kecuali proses kelistrikan dan kimiawi tubuh belaka.

Sample proses kerja beberapa perasaan dalam tubuh manusia:
Rasa sakit datang ke otak melalui neuron, sel-sel khusus yang ada di seluruh tubuh mengiriman pesan ke otak. Pada serangkaian percobaan, Hargreaves dan tim penelitinya menemukan bahwa kulit menghasilkan molekul seperti capsaicin dalam menanggapi rasa sakit. “Kami mengambil jaringan kulit tikus percobaan, dan memanaskannya pada suhu 43 atau 48 derajat Celcius. Kemudian kita mengamati apa yang dikeluarkan oleh kulit pada kondisi panas itu”, kata Hargreaves. Panas biasanya menimbulkan rasa sakit pada sekitar 47 derajat Celcius. Ketika sampel kulit itu dipanaskan sampai 48 derajat Celcius, kulit itu memproduksi molekul seperti capsaicin dalam bentuk cairan. “Kemampuan cairan ini untuk mengaktifkan rasa sakit pada neuron sangat tergantung pada reseptor capsaicin”, jelasnya.

Kecemasan
Salah satu penelitian berhubungan dengan kecemasan di lakukan oleh Madison Universitas Wisconsin, dalam jurnal “Nature”, yang terbit Rabu (11/8). Tim peneliti menguji 238 rhesus monyet muda menggunakan pemindai topografi emisi positron (PET scan) beresolusi tinggi yang menunjukan menunjukkan aktivitas otak tinggi di bagian “amygdala” dan “anterior hippocampus”. Sang Manusia “penyusup” dipakai untuk berperan sebagai potensi ancaman dengan berdiri dekat kandang monyet saat para peneliti memperhatikan reaksi mereka dan mengukur aktivitas otaknya. Semakin gelisah monyet tersebut semakin tinggi aktivitas di pangkal pusat “amygdala” dan “anterior hippocampus”.


Ketakutan
Pada 1920-an, Psikolog Amerika John Watson, melakukan eksperimen yang kelak dinamakan “little Albert“, yaitu mengajari seorang bayi bernama Albert untuk takut tikus putih. Sebelumnya “Little Albert” tidak takut pada laboratorium uji hewan. Dia menunjukkan kegembiraannya saat melihat tikus-tikus, terutama tikus yang berwarna putih dan selalu mengulurkan tangan untuk mereka.

Watson dan asistennya mengajarkan Albert menjadi takut terhadap tikus putih. Mereka menggunakan kondisi Pavlovian (klasik), sepasangan stimulus netral (tikus) diberikan efek negatif yaitu tiap kali Albert meraih salah satu tikus itu, mereka membuat suara keras yang menakutkan tepat di belakang anak berusia 11 bulan.

Albert tidak hanya cepat belajar untuk takut pada tikus putih, menangis dan menjauh setiap kali melihat satu tikus putih, tetapi ia juga mulai menangis jika berhadapan dengan binatang berbulu putih dan sinter klas yang berjanggut putih.

Seperti Albert kecil yang takut pada tikus putih, maka begitupula ketakutan-ketakutan orang pada Tuhan, Setan, neraka yang dikondisikan selama bertahun-tahun pada mereka sendiri. Setelah mereka besar, semua persoalan menjadi terhubung dengan peran tuhan, setan dan neraka.

Ketakutan merupakan reaksi berantai di dalam otak yang dimulai dengan rangsangan stres dan berakhir dengan reaksi kimia yang menyebabkan jantung berdegup, bernafas dengan cepat dan menegangnya otot. Pendorong rangsangan itu bervariasi mulai dari ular, ajaran agama dll. Ada dua jalur di area otak yang konon berjalan bersamaan dalam merespon rasa takut, yaitu Jalan pendek [Hajar dulu, selidiki belakatang] dan jalan panjang [Selidiki dulu baru ambil keputusan].

    Untuk jalan pendek, misalnya pada bunyi di pintu [ini adalah rangsangan awalnya]. Segera setelah mendengar dan melihat gerakan di daerah pintu, indera kemudian menyampaikan ke otak dan mengirimkan data indera ke talamus. Saat ini, thalamus ngga tau apakah sinyal yang diterima itu merupakan tanda bahaya atau bukan. Ini kemudian diteruskan ke amigdala untuk menggali informasi lebih lanjut. Amygdala menerima impuls syaraf dan mengambil tindakan untuk melindungi; Ia mengirimkan sinyal pada hypothalamus untuk menghidupkan respon “Lawan atau lari” yang berguna menyelamatkan diri ketika yang didengar/dilihat ternyata merupakan bahaya

    Masih pada contoh di atas,
    otak juga memakai satu jalur lainnya [yang konon dinyatakan bersamaan] yaitu dengan mempertimbangkan pilihan yang diketahui berupa apakah itu pencuri, HANTU ataukah angin? Proses panjang terlihat seperti ini: Ketika mata dan telinga menerima suara dan gerakan di pintu kemudian disalurkan ke talamus. Talamus mengirimkan informasi ini ke korteks sensorik dan ditafsirkan artinya. Korteks sensorik menentukan bahwa ada lebih dari satu kemungkinan pada interpretasi data yang diterima dan diteruskan ke hipokampus untuk membangun konteks.Pertanyaan yang di ajukan Hippocampus misalnya, “Apakah rangsangan ini pernah terjadi sebelumnya? Jika ya, maka waktu itu rangsangan ini berarti apa, ya?“. Beberapa hal memberikan petunjuk lanjutan misalnya, “ini adalah pencuri atau HANTU atau angin badai?!“. Hippocampus bisa juga mengambil data lainnya di proses ini, seperti sentuhan cabang pohon pada jendela, suara mirip geraman sengau tertahan di luar atau bunyi perabotan di teras yg terpelanting terbang. Mempertimbangkan informasi tadi, hippocampus menentukan bahwa tindakan pintu kemungkinan besar berasal dari angin dan kemudian hasil itu dikirim ke amigdala bahwa itu bukan ancaman/bahaya. Amigdala kemudian mengirim sinyal ke hipotalamus untuk mematikan respon “lawan atau lari”.


Di manakah Ingatan?
Otak tampaknya hanyalah bagian dari organ pikiran, karena jikapun otak kita tidak berfungsi dan/atau dilahirkan tanpa otak, kita masih bisa hidup normal atau misalnya jantung ikan tetap memompakan darah walaupun otaknya rusak. Di artikel ini, Tanpa Otakpun manusia bisa Pintar dan Hidup Normal!, Prof Lober, meneliti dan membuktikan bahwa terdapat banyak manusia yang terbukti dapat hidup normal, ber IQ tinggi dan meraih gelar tanpa memiliki otak. Dalam pertumbuhan janin mingguan [lihat di sini, di sini atau di sini] kita ketahui bahwa jantung mulai berdetak di minggu ke 6 [36-42 hari setelah menstruasi terakhir], Otak mulai terbentuk di minggu ke 7 [Rate pertumbuhan sel otak adalah 100 sel/menit].

Dari perkembangan janin di atas saja, kita-pun sudah dapat melihat bahwa otak bukanlah merupakan pusat kesadaran.

Paul pearsall dari Nexus Magazine, Volume 12, No.3 (April – Mei 2005), “Organ Transplants and Cellular Memories” oleh Paul Pearsall, PhD., Gary E. Schwartz, PhD.,Linda G. Russek, PhD yang meneliti fenomena perubahan kejiwaan dan kepribadian pada lebih dari 100 pasien cangkok jantung. Perubahan itu diantaranya membawa serta “memory” kehidupan sang pendonor pada penerimanya. [beberapa sample kasusnya saya co-pas dan terjemahkan silakan lihat di sini. Untuk informasi lanjutan, silakan klik: Cellular Memory in Heart Transplants]

Kemudian,
Perkembangan Iptek di link ini, memberikan kita satu khazanah referensi bahwa seluruh sel ternyata dapat menjadi tempat letaknya kesadaran.

Karena masing-masing Indriya ketika bersetemu objeknya memunculkan kesadaran, perasaan, persepsi serta bentukan-bentukan pikiran maka TIDAK BENAR bahwa ingatan itu tersimpan di otak atau di jantung saja. Malah karena kesadaran, perasaan, persespi ada di landasan Indriya, maka ingatan pun terbaur di seluruh indriya kita.

Jadi, apapun itu, selama terbukti dapat melakukan kontak Indriya, maka Ia memiliki kesadaran, mengalami perasaan (Suka, benci, marah, biasa-biasa saja) dan mempunyai persepsi, melakukan tindakan atas dasar perasan tersebut. Oleh karenanya ini adalah pancakhanda/namarupa atau Ini adalah mahluk.

Konsekuensinya, karena sang Adi Kuasa atau Tuhan dalam khazanah ajaran ketuhanan dapat mengalami perasaan suka, sedih, kecewa marah, juga berpersepsi tertentu dan melakukan tindakan atas dasar perasan dan persepsi tersebut, tentunya karena Ia melakukan kontak indriya dan mengenali objeknya, oleh karenanya Ia memiliki kesadaran. Maka Ia adalah juga MAHLUK yang berada dalam jeratan lingkaran Samsara dan setelah umurnya habis, Iapun dapat terlahir kembali menjadi mahluk yang lebih rendah.


Itulah mengapa Buddhism menolak mengakui atau tidak mengenal atau tidak mempercayai adanya mahluk/zat yang disebut sebagai Tuhan/Issara/Brahman/Allah atau apapun yang diidentifikasi sebagai maha pencipta, pengatur dari segala yang ada.

Buddhism juga menyampaikan bahwa yang terlahir kembali sebagai manusia dan dewa jumlahnya sangat sedikit sekali dibandingkan mereka terlahir kembali di alam-alam bawahnya:

    Sang Bhagavā mengambil sedikit tanah dengan ujung kuku jari-Nya dan berkata kepada para bhikkhu “Para bhikkhu bagaimanakah menurut kalian, mana yang lebih banyak: sedikit tanah yang Kuambil di ujung kuku jari tangan-Ku ini atau bumi ini?”

    “Yang Mulia, bumi ini lebih banyak. Sedikit tanah yang Bhagavā ambil di ujung kuku jari tangan Beliau adalah tidak berarti. Dibandingkan dengan bumi ini, sedikit tanah itu tidak perlu dihitung, tidak dapat dijadikan perbandingan, tidak sebanding bahkan dengan sebagian kecilnya.

    “Demikian pula, para bhikkhu:

    • hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia sebagai manusia, terlahir kembali di antara manusia namun banyak sekali yang meninggal dunia sebagai manusia terlahir kembali di alam: neraka (SN 56.102), binatang (SN 56.103), mahluk halus (SN. 56.104, 105-107)
    • hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia sebagai deva, terlahir kembali di antara deva, hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia sebagai deva terlahir kembali diantara manusia (SN 56.111-113) namun banyak sekali yang meninggal dunia sebagai deva terlahir kembali di alam: neraka, binatang dan mahluk halus” (SN 56.108-100)
    • hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia dari alam neraka, terlahir kembali di antara para deva (SN 56.117-119), hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia dari alam neraka terlahir kembali diantara manusia (SN 114-116) namun banyak sekali yang meninggal dunia dari neraka, terlahir kembali di alam: neraka, binatang dan mahluk halus (SN 56. 114-116)
    • hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia dari alam binatang, terlahir kembali di antara para deva (SN 56.123-125), hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia dari alam binatang terlahir kembali diantara manusia (SN 120-122) namun banyak sekali yang meninggal dunia dari alam binatang terlahir kembali di alam: neraka, binatang dan mahluk halus (SN 56. 120-122)
    • hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia dari alam mahluk halus, terlahir kembali di antara para deva (SN 56.129-131), hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia dari alam mahluk halus terlahir kembali diantara manusia (SN 120-122) namun banyak sekali yang meninggal dunia dari alam mahluk halus, terlahir kembali di alam neraka, alam binatang, alam mahluk halus (SN 56. 126-131)


Apakah ada jeda atau tidak antar kelahiran kembali?

    Kisah Hanan (jarak wafat dan lahir: 10-11 hari):
    Ia lahir di Libanon, di pertengahan 1930an. Ketika berusia dua puluh, Hanan menikah dengan Farouk Mansour, anggota sebuah keluarga Libanon yang cukup berada. Pasangan ini mempunyai dua anak perempuan, bernama Leila dan Galareh. Hanan mempunyai saudara laki-laki bernama Nabih, tokoh masyarakat di Libanon, tetapi mati muda dalam kecelakan pesawat.

    Setelah melahirkan putri keduanya itu kedua anaknya, Hanan terkena gangguan jantung dan dokter menyarankannya untuk untuk tidak melahirkan anak lagi. Tidak mengindahkan peringatan itu, Hanan melahirkan anak ketiganya, lelaki, pada tahun 1962.

    Pada tahun 1963, tidak berapa lama setelah kematian saudaranya Nabih, Kesehatan Hanan mulai memburuk. Hanan kemudian mulai berbicara tentang mati. Farouk, suami Hanan menuturkan bahwa Hanan memberitahukannya bahwa, “dia akan ber-reinkarnasi dan akan bercerita banyak mengenai kehidupan sebelumnya”.

    Ini terjadi dua tahun sebelum Hanan meninggal.

    Pada usia tiga puluh enam, Hanan pergi ke Richmond, Virginia, untuk menjalani operasi jantung. Hanan mencoba menelepon Leila, anaknya sebelum operasi, namun tidak tersambung.

    Hanan kemudian meninggal karena komplikasi satu hari setelah operasi.

    Sepuluh hari setelah Hanan meninggal, Suzanne Ghanem dilahirkan.

    Ibu Suzanne mengatakan kepada Dr. Ian Stevenson,
    Beberapa waktu sebelum kelahiran Suzanne, “Aku bermimpi bahwa aku akan melahirkan anak perempuan. Aku bertemu seorang wanita, sekitar 40 tahunan, menciumnya dan memeluknya. Wanita ini berkata, ‘Aku akan datang kepadamu’. Belakangan, ketika melihat foto Hanan, aku merasa ia mirip dengan wanita dalam mimpuku”.

    Dengan kata lain, Ibu dari Suzanne Ghanem telah bermimpi bahwa ia akan memiliki anak perempuan yang mirip dengan Hanan Monsour dan impian ini menjadi kenyataan.

    Pada usia 16 bulan, Suzanne menarik ganggang telepon seakan berusaha berbicara dan berkata berulang-ulang, “Halo, Leila?”. Keluarga itu tidak tahu siapa Leila itu.

    Ketika ia agak besaran, Suzanne menjelaskan bahwa Leila adalah salah satu dari anak-anaknya dan ia bukan Suzanne, melainkan Hanan.

    Keluarga bertanya, “Hanan apa?” Suzanne menjawab, “Kepalaku masih kecil. Tunggu sampai aku lebih besar dan mungkin aku akan ceritakan pada kalian. Ketika Ia berusia dua tahun Ia menyebutkan nama-nama anak-anaknya yang lain, suaminya, Farouk, dan nama-nama orang tuanya serta saudara-saudara lelakinya, semuanya 13 Nama.

    Ketika mereka mendengar tentang kasus tersebut, Keluarga Monsour mengunjungi Suzanne. Pada awalnya keluarga Monsours skeptic dengan klaim gadis cilik itu dan menjadi percaya ketika Suzanne dapat mengenali semua sanak keluarga Hanan, menunjuk dan memanggil mereka dengan akuratnya.

    Suzanne juga tahu ketika Hanan memberikan perhiasan kepada saudara kandungnya, Hercule, di Virginia sebelum operasi Jantung dan meminta kakaknya untuk membagikan perhiasan itu kepada anak-anak perempuannya. Tidak seorangpun di luar keluarga Monsour yang tahu menahu soal perhiasan itu.

    Sebelum Suzanne dapat baca tulis, Ia mencoret-coret sesuatu sebuah nomor telepon di secarik kertas. Belakangan, ketika keluarga itu pergi ke rumah Monsour, mereka menemukan bahwa nomor telepon itu cocok dengan nomor telepon keluarga Monsour, kecuali dua angka terakhirnya terbalik. Sewaktu kecil, Suzanne dapat melafalkan pidato yang diucapkan saat pemakaman kakak Hanan, Nabih. Keluarga Suzanne merekam pelafalan itu, meskipun akhirnya rekaman itu hilang.

    Pada usia lima tahun, Suzanne menelepon Farouk tiga kali sehari. Ketika Suzanne mengunjungi Farouk, Ia duduk dipangkuan Farouk dan menyandarkan kepala didada Farouk. Pada umur 25 tahun, Suzanne masih menelepon Farouk. Karir Farouk adalah seorang Polisi dan Ia telah menerima Suzanne sebagai kelahiran kembali dari Hanan almarhum Istrinya. Mendukung kesimpulan ini, Farouk menunjukan bahwa dari foto, Suzanne secara akurat dapat mengenali orang-orang yang mereka kenal dan mengetahui berbagai informasi yang hanya diketahui oleh Hanan.


Kematian adalah ketika Jasmani [kaya] kehilangan [Jahanti] 3 kondisi [tayo dhamma]: kekuatan/ayu, panas/usma dan kesadaran/vinnana [MN 43/Mahavedalla sutta, SN 22.95/Pheṇapiṇḍūpamasutta]. bentukan-bentukan: jasmani, ucapan dan pikiran memudar dan sirna, vitalitas/ayu padam, panas/usma berhamburan, dan indria-indrianya terberai dan Ia akan bertumimbal lahir (kemunculan suatu mahluk hidup di alam kehidupan yang sama atau berbeda) namun arus kesadarannya dikehidupan ini dan di kelahiran berikutnya tak terputus dan tanpa jeda:

    “..arus kesadaran manusia yang tidak terputus yang ada di alam ini maupun di alam berikutnya” [“Purisassa ca viññāṇasotaṃ pajānāti, ubhayato abbocchinnaṃ idha loke appatiṭṭhitañca paraloke appatiṭṭhitañca“, DN 28/Sampasādanīya Sutta].”Kesadaran itu muncul bergantungan, jika tanpa suatu kondisi, maka tidak ada asal-mula kesadaran.” [MN 38, Mahātaṇhāsankhaya Sutta]. “nāmarūpa (MentalMateri) mengondisikan kesadaran dan kesadaran mengondisikan nāmarūpa, nāmarūpa mengondisikan kontak” [DN 15/Mahānidāna Sutta]


Kalangan Buddhisme sendiri punya ragam pendapat mengenai ada atau tidaknya jeda antar kelahiran kembali

  • Aliran Theravada, tidak mengenal jeda waktu antara satu kelahiran dengan kelahiran lainnya [antara-bhava] yang berarti tumimbal lahir itu berlangsung segera.
  • Aliran Mahayana, seseorang yang meninggal akan tinggal dalam keadaan alam perantara dalam satu, dua, tiga, lima, enam atau tujuh minggu, sampai hari ke-49. Sehingga dalam Buddhisme Mahayana sering dikenal adanya berbagai praktek ritual upacara kematian yang berlangsung setiap minggu sampai hari ke-49.
  • Aliran Tantrayana, terdapat istilah `bardo’atau alam perantara, yang memiliki enam keadaan, yaitu saat: di kandungan [kye-nay bardo]; bermimpi [mi-lam bardo]; samadhi yang mendalam [tin-ge-zin sam-tam bardo]; sekarat [chi-kai bardo]; meninggal [cho-nyid bardo]; dan saat pencarian kelahiran kembali [sid-pa bardo]. Tiga keadaan bardo yang terakhir adalah ketika wafat-terlahir, sedangkan 2 lainnya dialami semasa masih hidup.


Tapi seharusnya, memang tidak ada jeda, karena arus kesadaran dikatakan tidak terputus, maka TIDAK ADA tentang definisi alam Bardo atau antarabhava (jeda waktu di keadaan setelah wafat dan terlahir, yang lamanya menurut Mahāvibhāṣa (150 M) dan Abhidharmakośa (abad 5 M): “7 x 7 hari” = 49 hari) atau menjadi suatu mahluk tertentu sebelum akan dilahirkan, yang Garbhāvakrāntisūtra katakan juga punya gender (“Life in the Womb”, Robert Kritzer, hal.80]. Bahkan di Abhidhamma pitaka, poin kontroversi, Kathavatthu 8.2 mengatakan: TIDAK ADA antarabhava. Perlu diketahui, Bardo/antarabhava BERBEDA dengan antarāparinibbāyī (Pada periode mana di umur kehidupannya, para mahluk anagami alam suddhāvāsa itu menjadi padam)

Ketika jasmani mengalami kematian, indriya pikiran dan objek-objek pikiran tetap mengalami kontak. Walau jantung telah berhenti, masih ada selisih sekitar 7 menit sebelum matinya otak karena kekurangan oksigen. Karena tidak ada aliran darah, maka tidak ada sinyal syaraf dari/ke Indriya. 5 Indria (mata, telinga, penciuman, pencicipan dan rabaan) menjadi tidak berfungsi namun Indria pikiran masih berfungsi. Pikiran tersebut memuat ingatan yang berisi rekaman perasaan (Menyenangkan, menyakitkan, bukan ke-2nya) dan PERSEPSI dari PERBUATAN-PERBUATAN yang: BARU DILAKUKAN, PERNAH DILAKUKAN dan/atau TERBIASA DILAKUKAN melalui pikiran, ucapan, perbuatan sepanjang hidupnya. Oleh karenanya, terdapat Pertemuan antara Indera pikiran dan objeknya yang berupa Ingatan. Kondisi ini memunculkan kesadaran pikiran atau CUTI CITTA (Kesadaran kematian atau moment pikiran menjelang kematian).

Pertemuan ini SANGAT DERAS karena tidak ada HAMBATAN LAGI dari 5 INDRIYA LAINNYA. Akan muncul ingatan yang DOMINAN yang sangat berkesan dan karenanya muncul KEINGINAN [Untuk menjadi/tidak ingin menjadi sesuatu]. Karena ada keinginan, maka ada kemelekatan, Karena ada kemelekatan, muncul nāmarūpa.


    Dengan munculnya kesadaran (dalam hal ini cuticitta) maka muncul pula nāmarūpa… [MN.9 Sammādiṭṭhi Sutta]. Kesadaran, perasaan, persepsi itu tegabung tidak terpisah. tidak dapat memisahkan kondisi-kondisi ini satu sama lainnya untuk menggambarkan perbedaan antaranya. Karena yang dirasakan, itu yang dipersepsikannya; yang dipersepsikan, itu yang dikenalinya. [MN 43] PERASAAN dan PERSEPSI terikat dengan PIKIRAN/CITTA, maka terjadi BENTUKAN-BENTUKAN PIKIRAN (Citta/Manosankhāra) [MN 44]


Berikut petikan beberapa sutta mengenai kelahiran melalui kandungan

    Sang Buddha/petapa Asita Devala:
    Tuan-tuan, tahukah kalian bagaimana kehamilan terjadi [gabbhassa avakkanti]?’

    7 Brahmana:
    “’Tuan, kami mengetahui bagaimana kehamilan terjadi. Di sini, penyatuan ibu dan ayah, dan ibu sedang dalam masa subur, dan gandhabba hadir. Demikianlah kehamilan terjadi terjadi melalui perpaduan ke-3 hal ini.’

      Note:
      Gandhabba di Rig Veda 10.177.2, “Gandhava dalam rahim” (ghandharvo..gharbheantaḥ), arti: embriyo. Gandha+abba/ava: semerbaknya menarik; gam+tabba: Membuatnya menjadi. Arti lain: Penerus “kesadaran”

      atau di kamus Pali-Inggris:
      It is often stated that the Gandhabbas preside over conception [Mendahului penghamilan/pembuahan]; this is due to an erroneous translation of the word gandhabba in passages (E.g., M.i.157, 265f) dealing with the circumstances necessary for conception (mātāpitaro ca sannipatitā honti, mātā ca utunī hoti, gandhabbo ca paccupatthito hoti).

      The Commentaries (E.g., MA.i.481f ) explain that here gandhabba means tatrūpakasatta – tasmim okāse nibbattanako satto – meaning a being fit and ready to be born to the parents concerned.[Pali-English Oleh G.P. Malalasekera]. Juga lihat di sini

    Sang Buddha/petapa Asita Devala:
    “Kalau begitu, Tuan-tuan, apakah kalian mengetahui dengan pasti apakah gandhabba itu seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja?’

    7 Brahmana:
    “Tuan, kami tidak mengetahui dengan pasti apakah gandhabba itu seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja.’

    Sang Buddha/petapa Asita Devala:
    “’Kalau begitu, Tuan-tuan, jadi siapakah kalian?’

    7 Brahmana:
    “’Kalau begitu, Tuan, kami tidak mengetahui siapa kami ini.’[MN 93/assalayana sutta]

    Sang Buddha:
    “Tiga hal, Para bhikkhu, perpaduan kehamilan terjadi [sannipātā gabbhassāvakkanti]. Di sini, ada perpaduan ibu dan ayah, tetapi bukan musim kesuburan ibu, dan tidak ada kehadiran gandhabba – dalam kasus ini Kehamilan tidak terjadi.

    Di sini, ada perpaduan ibu dan ayah, dan musim kesuburan ibu, tetapi tidak ada kehadiran gandhabba – dalam kasus ini Kehamilan tidak terjadi.

    Tetapi jika ada perpaduan ibu dan ayah, dan musim kesuburan ibu, dan ada kehadiran gandhabba, melalui perpaduan ke-3 hal ini maka kehamilan janin terjadi. [MN 38/Mahātaṇhāsankhaya Sutta]

    Sang Buddha pada Ananda:

    “Kesadaran mengondisikan nāmarūpa (mentalmateri)” …jika kesadaran, Ananda [Viññāṇañca hi, ānanda] di dalam rahim ibu [mātukucchismiṃ] tidak muncul berbaur [na okkamissatha], akankah nāmarūpa di rahim ibu berkembang?’

    ‘Tidak, Bhagavā.’

    ‘Atau jika kesadaran, Ananda [Viññāṇañca hi, ānanda] di dalam rahim ibu, setelah muncul [okkamitvā] gagal terbaur [vokkamissatha], akankah nāmarūpa dilahirkan dalam kehidupan ini?’

    ‘Tidak Bhagavā.’

    ‘Dan jika kesadaran, Ananda dari makhluk muda tersebut, laki-laki atau perempuan, dipotong, akankah nāmarūpa tumbuh, berkembang dan dewasa?’

    ‘Tidak, Bhagavā.’ [DN 15/Mahānidānasutta sutta]

    Yakkha Indaka:
    Karena para Buddha berkata bentuk bukanlah roh (Rūpaṃ na jīvanti vadanti buddhā), Bagaimanakah jasmani diperoleh? Darimanakah tulang dan hatinya? Bagaimanakah Ia melekat pada rahim?”

    Sang Bhagavā:
    Pertama-tama kalala; Dari kalala (1) muncul abbuda; Dari abbuda (2) dihasilkan pesī; Dari pesī (3) muncul ghana; Dari ghana (4) muncul pasākhā (5) (organ tubuh); Rambut kepala, bulu-badan, dan kuku. Dan apa pun makanan yang dimakan ibu, makanan dan minuman yang dikonsumsinya, dengannya Ia dipelihara, di dalam rahim ibu.” [SN 10.1/Indaka Sutta, juga di Kv 14.2]


Jadi, terjadi 2 proses berlainan, yaitu:

  1. Proses kesadaran itu sendiri merupakan 1 hal.
  2. Proses awal janin dalam rahim merupakan hal lain lagi.


Yang kemudian menyatu dalam suatu kondisi tertentu.
Sebagai penutup artikel, mari kita simak kisah menarik di bawah ini:

    Kisah Nai Leng (wafat 1 hari SETELAH lahirnya Chaokhun Rajsuthajarn/Choate):
    Ia lahir pada tahun 1863 di desa kecil Ban Kraton, yang terletak dekat kota Surin, Thailand. Daerah ini dekat perbatasan Kamboja dan ada area orang Kamboja tinggal di area ini, yang berbicara bahasa Kamboja yang disebut Khmer. Nai Leng anak tertua dari 7 bersaudara. Ayahnya adalah Wa Sawa dan ibunya bernama Ma Chama, dengan panggilan akrabnya, Ee Mah.

    Nai Leng amat dekat dengan adiknya, Nang Rien, yang setahun lebih muda darinya. Ketika berusia 15 tahun, Nai Leng memiliki pengalaman tidak biasa. Setelah selesai di ladang, Ia dan Nang Rien berjalan pulang, di perjalanan pulang, mereka bertemu seorang wanita yang baru saja melahirkan bayi. Suami wanita itu berusaha membawa istrinya ke rumah ibunya untuk melahirkan, tetapi tidak berhasil dan melahirkan di jalan. Wanita itu sedang beristirahat dengan bayinya sebelum melanjutkan perjalanannya, Pemandangan itu membuat kesan kuat pada Nai Leng.

    Ketika berusia 16 tahun, Nai Leng memasuki biara, di mana mereka punya satu set kitab Buddhism dalam bahasa Khmer. Meski bahasa ibu Nai Leng adalah Thai, ia belajar membaca teks dalam bahasa Khmer. Ini tidaklah mudah, karena karakter Khmer berbeda dengan karakter Thailand. Selain mempelajari teks-teks Buddhisme, meditasi merupakan kegiatan utama dari para biarawan.

    Ketika berusia 25 tahun, Nai Leng memutuskan keluar dari biara untuk menjadi petani. Selain bercocok tanam, Nai Leng menghasilkan uang dari menjual barang dagangan. Ia menggunakan gerobak sapi dan sangat sering mengunjungi Laos sehingga menjadi fasih berbahasa Laos. Ia menikah dan memiliki tiga anak perempuan, bernama Pa, Poh dan Pi. Meskipun tidak lagi menjadi biksu, Nail Leng tetap seorang Buddhis taat yang bermeditasi tiap malam

    Nang Rien, adik Nai Leng, menikah dan memiliki 3 anak. Ketika berumur 45 tahun, Ia hamil lagi. Saat itu tahun 1908. Selama kehamilan ini, berbeda dari kehamilan sebelumnya, Nang Rien menjadi sangat spiritual dan bahkan memutuskan menjadi biarawati. Ia mencukur rambutnya, mengenakan jubah putih dan pindah ke biara Wat Takien, 9 mil/15 km dari Ban Kraton, desa tempat Nang Rien dan Nai Leng hidup.

    [Note:
    Tentang tradisi kebiarawatian Thailand: Perempuan hamil tidak diperbolehkan ditahbiskan menjadi biarawati. Biarawati terakhir Thailand adalah pada abad ke-13 setelah itu Thailand tidak mempunyai biarawati lagi, Baru kemudian sejak 28 Februari 2003, yaitu setelah penahbisan Dhammananda, Thailand mempunyai Biarawati kembali. Perempuan berbaju putih di Biara bukanlah biarawati namun umat awam yang disebut Mae ji]

    Sementara Nang Rien di biara, tepat sebelum kembali ke rumah untuk melahirkan bayi, kakaknya Nai Leng mengalami demam. Nang Rien pulang ke Ban Kraton selama kakaknya sakit, Ia melahirkan anak bernama Chaokhun Rajsuthajarn yang dipanggil Choate pada tanggal 12 Oktober 1908. Nai Leng sakit selama 6 hari sebelum meninggal pada 13 Oktober 1908 di usia 45. Dengan demikian, Choate lahir satu hari sebelum Nai Leng meninggal

    [Note:
    Francis Story, yang mewawancarai Phra Rajsuthajarn mulai pada 1 January 1963, menyatakan bahwa Rajsuthajarn, diautobiographynya menyatakan bahwa Leng wafat pada tanggal 14 Oktober 1908, jadi harusnya 2 hari bukan 1 hari, namun demikian pada bukunya, Francis menuliskan “Anak adiknya lahir sehari sebelum wafatnya”]

    Choate ditakdirkan menjadi seorang biarawan terkenal di Thailand dan di menjelang akhir hidupnya, ia menulis sebuah autobiografi, yang diterbitkan ketika Choate berusia 61 tahun pada tahun 1969. Dalam buku ini, Choate menjelaskan bahwa dalam inkarnasi sebelumnya, ia adalah Nai Leng dan bahwa ia sadar selama kematian dan kelahiran kembali Nai Leng sebagai bayi Choate

    Di autobiographynya, Choate menyatakan ia menyadari peristiwa selama kematian Nai Leng dan kelahiran kembalinya sebagai Choate. Chaote menjelaskan bahwa ia mampu telepati menyadari kegiatan adiknya, Nang Rien, di kuil di mana Ia menjadi biarawati, yang jauhnya 9 mil dari rumah Nai Leng.

    Narasi berikut ini dari otobiografi Choate, karena ia ingat akhir hidupnya sebagai Nai Leng. Latarnya adalah rumah Nai Leng pada bulan Agustus 1908.

      “Pada tahun 1908, ketika saya [sebagai Nai Leng] berusia 45 tahun, memiliki 3 anak, Nang Rien berada di bulan 7 kehamilannya. Ini adalah bulan ke-8 tahun itu. Aku, Nai Leng, sudah sakit dan sembuh berulang selama beberapa bulan. Selama periode itu, kakak beradik ini [Nai Leng dan Nang Rien] berulang saling melihat satu sama lainnya dalam mimpi mereka. Pada bagian Nang Rien itu, sejak konsepsi, ia memiliki keyakinan luar biasa dalam Buddhisme, khususnya yang berkaitan dengan meditasi …. Memang, Ia bahkan ingin menjadi seorang biksuni [biarawati]. Jadi, pada malam perayaan hari raya di tahun itu, masih dalam keadaan hamil tentu saja, Ia meninggalkan ibunya dan suami ke sebuah biara …”

      [Note:
      Choate sebagai biksu Thailand tampaknya tidak tahu beda antara Mae ji dan Biksuni, juga tidak tahu bahwa saat itu di Thailand, sudah tidak ada Biksuni]

      “Sementara Nang Rien berada di wat (kuil) berdoa dan bermeditasi, Aku, Nai Leng terbaring sakit di rumah. Namun, Aku merasa seolah-olah Aku sangat menyadari kegiatan Nang Rien di kuil … sementara Nang Rien berdoa dan bermeditasi, Aku tidak hanya tahu itu, tapi melihatnya.

      Seperti tampak bagi ku, Aku selalu … kira-kira 2 meter di belakangnya . Aku tidak pernah berbicara dengannya …. Mataku tampaknya tidak pernah berkedip sama sekali. Aku hanya menatapnya, terus-menerus bahwa Aku lupa memperhatikan keadaan ku sendiri yatu, bagaimana aku bisa bergerak bersamanya … Bahkan ketika Ia sedang berdoa dihadapan patung Buddha, Aku masih melihatnya dari belakang. Lalu ia menyalakan sepasang lilin dan tiga dupa… Setelah menyalakan semua lilin, Ia berdoa lagi … Lalu ia meletakan tangannya ke bawah, menutup mata, dan terus berdoa sampai semua dupa dan lilin terbakar habis …”

      “Selama ini, Aku tahu dan melihat aktivitasnya. Namun, di harinya Ia pulang [dari kuil Ban Kratom], Aku merasa agak bingung dan tidak ingat apa-apa … Aku kemudian ingat bahwa aku sakit. Suatu hari, ada 4 orang di rumah – 3 saudara perempuan dan istri Nai Leng, aku membuka mata dan melihat dan mendengar apa yang mereka bicarakan satu sama lainnya: ‘pada jam 09:00 tadi malam, Nan Rien melahirkan bayi yang lucu’ … Aku berpikir jika aku normal, aku akan mengunjunginya juga. Tapi aku di sini, terbaring sakit. Yang bisa aku lakukan hanya mendengarkan percakapan mereka.

      Saat itu Aku merasa sedih, dan ingin mengubah posisi berbaring yang lebih nyaman. Melihat mereka [orang-orang lain yang hadir] sibuk berbicara satu sama lain, Aku tidak meminta bantuan mereka. Selain itu, aku bahkan tidak bisa membuat suaraku terdengar. Oleh karenanya, Aku mencoba sendiri beralih ke sisi dinding. Aku berhasil, tapi tidak bisa mempertahankan keseimbangan di posisi itu. Jadi sekali lagi, aku berbaring di punggungku. Aku berkata pada diri sendiri harus puas sementara dengan tingkat kenyamanan itu”

      [Note:
      Choate ingat apa yang sedang dipikirkannya pada puluhan tahun lampau dipembaringan saat sakitnya namun tidak ingat kejadian apa saat Nang Rien pulang dan tidak ingat apakah tanggal 13 atau 14 Oktober, Nang Leng wafat]

      “Berpikir bahwa aku akan lebih baik jika tidur, Aku kemudian menghela napas beberapa kali dan memejamkan mata. Pada saat ini, Aku merasa seolah-olah kembali normal lagi. Aku merasa kuat dan bisa bergerak jauh lebih cepat dari satu tempat ke tempat lain. Tubuhku terasa ringan, seolah-olah itu tidak berat. Aku sangat senang dapat segera bergabung bercakap dengan kerabatku. Tapi tidak ada yang melihat ku. Aku meraih tangan seseorang dan menarik lengan orang satunya, untuk menarik perhatian mereka. Namun, tidak ada yang melakukan apa-apa.

      ..”Waktunya makanan lain hari itu. Kerabat ku sedang bersiap-siap pergi. Salah satu dari mereka merasakan kaki Nai Leng. Aku di belakangnya, mencoba meraih tangan dan bahunya. Aku berteriak, ‘Aku di sini. Aku tidak lagi sakit. Aku telah pulih sudah. Jangan khawatir atau takut. Jangan panik, Aku baik-baik saja.’ Namun, Aku tidak bisa membuat mereka mengerti. Mereka menangis dan meraung. Beberapa dari mereka pergi memberitahu kerabat dan teman-teman lain di lingkungan. Yang belakangan kini menuju ke dalam rumah.”

      Ketika itu, Aku merasa aku ada di mana-mana: Aku dapat secara bersamaan melihat orang-orang datang dari 2 atau 3 arah yang berbeda. Selain itu, Aku bisa berada di sana untuk menerima mereka semua pada waktu yang sama. Aku juga dapat mendengar suara mereka serta melihat hal-hal dengan cukup jelas. Tempat yang jauh tampak dekat, karena aku dapat bergerak sangat cepat dari satu tempat ke tempat lain. Aku bisa segera berada di sana untuk mendengar atau melihat. Tampaknya tidak ada hambatan [bergerak atau melihat] dan semuanya. Saat yang bersamaan aku berpikir: ‘Aku pimpinan yang ditunjuk sebagai tuan rumah; Aku senang. Akulah pemimpin upacara yang memiliki perkataan akhir tentang segala hal. Aku memiliki otoritas yang begitu besar, yang tidak ada yang mungkin dapat menghambat atau mengganggunya.’ Namun demikian, sejauh ini, Aku merasa puas atas apa yang saudara-saudaraku lakukan. Aku sangat bersyukur bahwa aku tidak merasa lapar atau haus. Aku begitu terbawa suasana yang mempesona ini sampai aku lupa tidur dan makan juga tidak pernah merasa lelah.

      Selama upacara pemakaman (saya tahu kemudian bahwa itu 3 hari) , saya merasa agak tinggi – di atas sekitar ketinggian rata-rata orang. Dengan kata lain, jika orang lain duduk, aku merasa aku berdiri; jika mereka berdiri atau berjalan, Aku merasa seolah-olah aku sedang berdiri atau berjalan pada sesuatu tingkat yang lebih tinggi dari mereka. Sementara prosesi menuju ke kremasi, Aku sedang duduk di lekukan gerobak, bagian tertinggi dari gerobak. Gerobak itu, untuk diketahui, tidak memiliki lekukan; itu hanya perasaanku bahwa aku ada di bagian itu. [ini mengacu lekukan yang dapat dipasang pada gerobak untuk memanggul material, seperti karung beras yang sedang diangkut di dalamnya, tapi itu akan dihilangkan saat penangkutan peti mati]

      Setelah kremasi, para kerabat mengumpulkan bekas-bekasnya. Mereka kemudian mengundang para bhikkhu untuk ‘upacara relik’ yang merupakan fase terakhir prosesi. Saat itu adalah sekitar jam 08:00 malam ketika para biarawan selesai membacakan lantunan syair. Keasyikanku dengan penerimaan tamu entah mengapa agak berkurang saat itu. Para wanita yang datang membantu pergi untuk tidur di rumah, sedangkan para lelaki tidur tak teratur di sebuah bangunan yang dibangun khusus untuk upacara.

      Di teras bangunan ini, 3 laki-laki tua sedang duduk di sekitar kompor. Mereka entah sedang mengunyah permen karet Thailand atau merokok. Mereka mungkin dianggap sebagai semacam penjaga malam. Tiba-tiba, sebuah kilasan pikiran tentang Nang Rien melintas dalam pikiranku. ‘Aku dengar bahwa ia baru saja melahirkan bayi. Aku belum mengunjunginya, karena aku begitu sibuk menerima tamu. Sekarang aku bebas untuk pergi.’

      Ketika itu, Aku ada di tempat dimana para biarawan duduk di kuil (wat) tempat kremasi diadakan. Dengan pikiran itu, aku menoleh ke arah rumah Nang Rien, sekitar 200 meter ke barat. Tidak lama setelah aku putuskan pergi aku telah disana. Anak itu, seperti para saudara saya katakan, benar-benar lucu dan menggemaskan. Aku berpikir: Bagaimana aku bisa punya kesempatan menyentuhnya dan memberinya ciuman sayangku? Nang Rien tidur dengan tangan kanannya di atas anak itu. Tak lama kemudian, Ia membuka matanya melihatku dan berkata: ‘Saudaraku sayang, kamu telah di dunia lain. Silakan pergi ke tempat yang memberikanmu kegembiraan. Tolong jangan buat penampakan lagi pada saudara laki-laki dan perempuanmu, atau merasa khawatir tentang mereka.’ Ini adalah satu-satunya saat dimana orang pernah melihat dan berbicara kepadaku. Aku merasa begitu canggung sehingga aku pergi dan sembunyi. Aku bersandar di dinding depan kamarnya menghadap utara.”

      “Tak lama kemudian, berpikir bahwa ia sudah tidur lagi, aku keluar melihat sekilas anak itu. Ia membuka matanya kembali dan mengatakan hal yang sama padaku. Aku sembunyi lagi. Aku berkata pada diriku sendiri bahwa waktunya telah tiba bagiku untuk mengambil keputusan akhir. Aku berada pada dua perasaan. Meskipun aku ingin tinggal namun aku harus pergi; memang aku harus pergi. Akan tetapi, sebelum berangkat, aku ingin melihat anak itu. Kali ini aku tidak berani mendekat agar tidak menegurku lagi. Jadi, Aku hanya menolehkan kepalaku. Setelah melihatnya dengan baik, aku hendak beranjak pergi. Segera setelah aku berbalik, tubuhku berputar seperti gasing. Aku kehilangan keseimbangan. Aku coba menutupi kepalaku, wajah dan telinga dengan tanganku sebelum aku jatuh pingsan. Saat itu aku pikir matilah aku. Aku tidak tah berapa lama aku sadar kembali. Aku bertanya-tanya di mana aku ini. Konsentrasi dan ingatan menyatakan pada ku bahwa sebelumnya Aku adalah Nai Leng. Aku merasa diriku penuh semangat. Mengingat semua masa lalu, aku bertanya-tanya mengapa Aku berada dikondisi tak berdaya seperti ini. Aku merasa agak frustrasi.”

      “Lama kemudian, aku sangat senang dapat terbaring tengadah. Terlebih lagi ketika aku dapat mengenali semua yang menemuiku. Aku ingat nama mereka. Aku lambaikan tanganku dan mencoba memanggil mereka. Namun, hanya suara tidakjelas, normalnya bayi yang keluar. Beberapa orang mengenali isyaratku dan membantu memegangku. Aku sangat senang dan Aku tertawa besar. Selama masa ini, ada lebih banyak saat-saat menyenangkan daripada menyedihkan”

      Kemudian sampailah di masa aku belajar berjalan dan berbicara. Suatu hari ketika nenekku datang, bukannya memanggilnya seperti itu, aku menggunakan kata ibu. Saya dikendalikan kenangan masa lalu dalam ingatanku sendiri.”

      Nenek Ma Chama terkejut bahwa Choate memanggilnya ibu dan bertanya: “Trus, Namamu siapa jadinya?”. Choate menjawab, ‘Aku Leng”. Dalam otobiografinya, Choate melanjutkan: “Aku bertanya-tanya mengapa mereka tidak bisa mengenaliku. Aku adalah Nai Leng saat itu di sana.”

      “Tiba-tiba, Nang Rien berseru: ‘Pantaslah. Aku kadang-kadang melihat kakak Leng selama setelah periode wafatnya. Ia pasti telah dilahirkan kembali’ Ia kemudian bertanya: ‘Jika demikian, nak, sebutkan lagi siapa namamu? Bagaimana dengan istrimu? Di mana kau tinggal? Dan seterusnya dan sebagainya. Aku berikan jawaban yang benar untuk semua pertanyaan. Mereka semua menyimpulkan bahwa Nai Leng telah dilahirkan kembali.”

    Mari kita tinjau bagian dari peristiwa ini.

      Choate lahir pada tanggal 12 Oktober 1908. Ketika ia belajar bahasa, meskipun ibunya menjelaskan siapa bibi-bibi dan paman-pamannya, Ia bersikeras merujuk para paman dan bibinya sebagai saudara dan saudari, seolah-olah ia masih Nai Leng. Demikian pula, ia memanggil neneknya, Ma Chama, “ibu.” Dia benar-benar ibu Nai Leng.

      Putri Nai Leng, Pa, berusia 24 tahun ketika ia meninggal. Ketika Choate berusia 4 tahun, ia mengenalinya dan berkata, “Aku ayahmu” dan memanggilnya dengan julukan waktu kecilnya. Pada awalnya Pa merasa terganggu dengan pernyataan Choate, tapi seiring berjalannya waktu, Ia menjadi yakin bahwa Choate adalah kelahiran kembali ayahnya.

      Putri kedua Nai Leng, Poh, menyatakan saat kecil, Choate, menyinggung sebuah kejadian dalam kehidupan ayahnya, yang Choate tidaklah mungkin tahu. Ia mengatakan bahwa Choate, saat kecil, mengenali orang-orang yang dikenal ayahnya saat memandang dan memanggilnya dengan nama mereka.

      Putri ketiga Nai Leng, Pi, ingat bahwa Choate menjadi marah saat anak perempuan Nai Leng, yaitu Pa, Poh dan Pi, tidak menyapanya sebagai “ayah.”

      Adik Nai Leng, Nem, mengatakan bahwa Choate mengenalinya dengan nama begitu Ia bisa berbicara. Saat kecil, Choate juga mengenali istri Nai Leng dan memanggil namanya dan juga dengan benar menamai orang-orang lainnya yang Nai Leng kenal.

      Saat kecil, Choate benar bisa memisahkan barang milik Nai Leng dari barang milik orang lain. Kemampuan untuk mengidentifikasi harta kehidupan masa lalu secara tradisi digunakan para biksu Budhis mengidentifikasi kelahiran kembali Dalai Lama.

      Saat remaja, Choate spontan teringat peristiwa yang terjadi ketika Nai Leng berusia 15 tahun, ketika Nai Leng bertemu wanita yang telah melahirkan di jalan. Ibu Choate itu, Nang Rien, yang bersama Nai Leng saat ini terjadi, mengkonfirmasi insiden itu. Dalam otobiografinya, Choate, ia sampaikan ingatan itu.

      “Aku adalah Nai Leng di usia 15. Itu adalah malam awal musim tanam. Setelah selesai kerja, adikku, Nang Rien dan aku berjalan pulang seperti biasanya. Dalam perjalanan, kami berpaspasan dengan seorang wanita yang sedang beristirahat setelah baru saja melahirkan anak di jalan. Suami adalah penduduk asli Ban Nua, tapi istrinya berasal dari Ban Tai. Istrinya sangat ingin melahirkan anaknya di tempat ibunya. Saat dekat waktu kelahiran, ia bersikeras meminta pada suaminya agar membawanya ke sana. Suaminya akhirnya setuju, tapi tidak sampai tujuan, karena anaknya keburu lahir. Saat kereta mencapai tempat tersebut, persalinan mulai. Suaminya menghentikan gerobak, membuka ikatan lembu dan menyiapkan tempat bagi istrinya untuk beristirahat. Ini adalah sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Itu aneh bagiku, dan sebagai akibatnya, itu sangat mengesankanku.”

      Meskipun Choate memiliki ingatan ini dari inkarnasi lalunya sebagai Nai Leng, ia tidak memiliki pemahaman di mana kelahiran ini terjadi. Suatu hari, ia tengah bersama ternak untuk merumput di padang rumput. Di lokasi tertentu, ia mengalami Déjà vu. Ia menyadari bahwa ia ada di tempat di mana wanita itu melahirkan anaknya di jalan, bahwa ia menyaksikan selama hidupnya sebagai Nai Leng.

      Choate menceritakan adegan berikutnya.

      “Segera setelah saya tiba di rumah malamnya, saya bertanya pada ibuku apakah pernah ada seorang wanita melahirkan bayi di tempat itu. Ia berkata: “Ya, tapi itu terjadi ketika aku berumur 14 tahun dan kembali dari lapangan dengan saudaraku yang berusia 15 tahun ‘saudaranya itu adalah aku, yang telah menjadi putra bungsu adik perempuannya”

    Di usia 16, Choate menjadi biksu, mengulang pola hidup Nai Leng. Biara ini memiliki kitab Buddhism dalam bahasa Khmer atau Kamboja. Choate mengetahui biksu-biksu membaca dalam bahasa Khmer ini meskipun ia hanya mendapat pendidikan dalam bahasa Thailand, ia ambil beberapa naskah Khmer ke kamarnya untuk melihat apakah ia bisa membacanya. mengingat bahwa karakter alfabet Khmer sangat berbeda dengan bahasa Thailand. Choate menemukan bahwa ia tidak bisa membaca naskah Khmer pada awalnya, namun pada upaya ketiga, ia bisa memahaminya tanpa kesulitan. Dalam otobiografinya, Choate menceritakan pengalaman ini.

    “Buku itu [dalam tulisan Khmer] berisi 10 lembar. Aku melalui itu dalam satu jam atau lebih. Menjadi takut bahwa di bacaan pertama mungkin tidak benar, Aku mulai lagi. Bacaan ini juga butuh waktu sekitar satu jam. Aku belum cukup puas, jadi aku membacanya untuk ketiga kalinya. Aku sangat senang juga terkejut bahwa aku bisa membacanya tanpa mempelajari sebelumnya. Banyak orang telah melakukan upaya besar untuk itu tahun demi tahun, namun hanya beberapa yang berhasil. Belakangan, aku mulai menulis juga membaca bahasa Khmer … Sejak itu Aku bisa membaca karya kanonik apapun, baik bahasa Thailand ataupun Khmer. Alasannya sederhana: Aku telah fasih mengenai ini karena sebagai Leng aku pernah menjadi biksu. Untuk pastinya, bagian tentang itu telah lupa, namun ini adalah seperti sebuah kewajaran saja.”

    Insiden lainnya yang melibatkan xenoglossy.

    Ketika ia menjadi biksu berusia 19 tahun, Choate melihat bahwa penduduk desa di sekitar biara berbicara bahasa Laos. Choate mendekati desa ini dan menemukan bahwa ia bisa berkomunikasi dengan mereka dengan lancarnya, meskipun ia tidak diajarkan berbahasa Laos. Untuk kemampuan ini, Choate menarik pada pengetahuan masa lalunya mengetahui bahasa laos, yang telah dipelajari Nai Leng

    Saat Choate tumbuh dewasa, kenangan hidupnya sebagai Nai Leng tidak memudar, yang ia dedikasikan pada praktek meditasi selama dua periode kehidupan. Choate wafat pada tahun 1976 di usia 68 tahun sebagai salah satu biarawan yang paling dihormati di Thailand.

    [Tulisan di atas diambil dari artikel Walter Semkiw, MD: “Nai Leng Consciously Experiences Death & Rebirth“. Kisah ini juga dimuat Dr. Ian Stevenson. Juga di Francis Story: “Rebirth as Doctrine and Experience: Essays and Case Studies”, Bab 19, Kelahiran kembali ataukah kerasukan, hal.142-147. Juga oleh Roy Stemman: “Reincarnation: amazing true cases from around the world”, hal 38-39]


Dr. Ian Stevenson melaporkan bahwa komunitas Buddhis menafikan hal ini sebagai suatu kelahiran kembali:


    “Juga ada kasus di Thailand, di mana seorang Biksu, Chaokhun Rajsurhajarn, mengklaim lahir sehari sebelum wafatnya Nai Leng, Kepribadian yang diingatnya. Kasus ini sangat jarang terjadi di negara-negara Buddhis. Buddhis cenderung untuk menganggapnya sebagai tersangka atau bahkan palsu karena tidak sesuai konsep buddhist tentang kelahiran kembali. Aku mempelajari kasus ini dengan penanganan penuh namun tidak menemukan penjelasan atas anomali ini” [Omni Magazine Interview with Dr. Ian Stevenson, By Meryle Secrest, 1988. atau lihat artikel ini di websitenya Carol Bowman M.S]


Komunitas Buddhis mempunyai alasan menafikan kisah ini sebagai bukan peristiwa kelahiran kembalinya Nai Leng menjadi Choate (juga dalam kisah Jasbir), karena biography juga menyampaikan bahwa setelah Nai Leng wafat, Ia menjadi mahluk tertentu. Sebagai mahluk tersebut, bertemu Choate yang masih bayi. Ini membuktikan Choate bukan Eks-Nai Leng. Di sutta Buddhism, terdapat jenis mahluk halus (lahir spontan) yang hidup/tinggal/”melekat” dengan menunggangi/tinggal di tubuh/benda tertentu, sebagaimana disebutkan DN.32/Atanatiya sutta:


    ..Sapi dengan satu sadel terpasang,
    Demikianlah mereka menunggang berkeliling,
    Menggunakan perempuan sebagai tunggangan,
    Demikianlah mereka menunggang berkeliling;
    Menggunakan laki-laki sebagai tunggangan,
    Demikianlah mereka menunggang berkeliling;
    Menggunakan gadis perawan sebagai tunggangan,
    Demikianlah mereka menunggang berkeliling;
    Menggunakan anak-anak laki-laki sebagai tunggangan,
    Demikianlah mereka menunggang berkeliling
    ;..

Kemudian, mahluk jenis tertentu juga berkemampuan untuk menunggangi tubuh lamanya (saat menjadi manusia) untuk dapat berkomunikasi (bukan kesurupan), sebagaimana disampaikan di DN.24/Patika Sutta:


    …Petapa telanjang Korakkhattiya ini, yang engkau anggap Arahant sejati, akan meninggal dunia dalam 7 hari karena penyakit pencernaan, dan ketika ia mati, ia akan muncul kembali di antara para asura Kālakañja, yang adalah asura tingkat terendah. Dan setelah ia meninggal dunia, ia akan dibuang di tumpukan rumput-bīraṇa di tanah pekuburan. Jika engkau menginginkan, Sunakkhatta, engkau boleh pergi dan bertanya kepadanya apakah ia mengetahui takdirnya. Dan mungkin ia akan memberitahukan kepadamu: ‘Teman Sunakkhatta, aku tahu takdirku. Aku akan terlahir kembali di antara para asura Kālakañja, asura tingkat terendah.’”

    ‘Kemudian Sunakkhatta mendatangi Korakkhattiya dan memberitahukan apa yang Kuramalkan, menambahkan: “Oleh karena itu, teman Korakkhattiya, berhati-hatilah dengan apa yang engkau makan dan minum, agar kata-kata Petapa Gotama terbukti salah!” Dan Sunakkhatta begitu yakin bahwa kata-kata Tathāgata akan terbukti salah sehingga menghitung hari demi hari hingga 7 hari. Tetapi di hari ke-7, Korakkhattiya meninggal dunia karena penyakit pencernaan, dan ketika meninggal dunia, ia muncul kembali di antara para asura Kālakañja, dan mayatnya dibuang di tumpukan rumput-bīraṇa di tanah pekuburan.’

    ‘Dan Sunakkhatta mendengar hal ini, maka ia pergi ke tumpukan rumput-bīraṇa di tanah pekuburan di mana Korakkhattiya terbaring, memukul tubuhnya 3x dengan tangannya, dan berkata: “Teman Korakkhattiya, apakah engkau mengetahui takdirmu?” Dan Korakkhattiya duduk dan mengusap punggungnya dengan tangannya, dan berkata: “Teman Sunakkhatta, aku tahu takdirku. Aku telah terlahir kembali di antara para asura Kālakañja, asura tingkat terendah.” Dan setelah itu, ia terjatuh kembali.’


Demikianlah kira-kira mengapa beberapa kisah adalah bukan kisah kelahiran kembali. []



Artikel Terkait lainnya:


First saved: 10/19/08,4:14 PM



Pokoknya..Jangan Gagah-Gagahan, deh!


Perhatian:
Video di bawah ini adalah sangat mengerikan, jika anda TIDAK berusia 18 tahun ke atas dan tidak menyukai ketegangan, disarankan TIDAK MEMBUKANYA.

Video dan comment mengenai ini dapat juga dilihat di facebook gw.

Lokasi tempat “terjun” agar dapat lebih membayangkannya, lihat di tinyurl.com dan di Photobucet: Manara, Beirut

Bagaimana kelanjutan nasib orang tersebut?

Berikut adalah cuplikan komentar dari liveleak.com:

    Posted Jul-20-2009 by “yahamshari” (R):
    Hi,

    I give a lot of weight to your opinion due to the fact that you are a staff member in an ER and know more about emergency room procedures than non-medical professionals. I don’t know more about the details than what I posted below.

    1. He died two days later.
    2. He is not a suicide, blah, blah, blah.
    3. This is a two-part clip of the same teenager.

    “This tragic accident took place in Beirut the second week of June 2009. I know because I was standing there the day after this accident happened.

    I was told that two teenage boys were showing off their diving/jumping skills or lack thereof while passersby were walking as usual in the afternoon on the seaside promenade of Beirut called “Manara” across the boulevard from the American University of Beirut (AUB).

    I was told that the teenager and his buddy had jumped a few times that day. His friend made a safe dive but this teenager slipped as he was about to jump. One has to sprint away from the railing in order to land away from the stone ledge on the bottom where fishermen usually fish.

    I was told the day after this accident took place that a phone video of the tragic accident surfaced in Beirut and was being forwarded from one cell phone to another. The teenager filmed in this clip slipped and ended up hitting his head on the stone ledge below from a height of over 40 feet. It was a very sad and tragic accident.

    I was told that the teenager’s face was split in half validated by the second part of the video clip. So for LiveLeakers dismissing the validity of these two clips (excluding “incognegro2”), if you do not speak, understand Arabic or the Lebanese dialect spoken by the ER staff, you are wrong, this two-part clip of not two different people, one tanned and one pale white as some have commented but of the same teenager is.

    As I mentioned, the first clip was shot in the afternoon (where more than likely Nokia phone take darker videos) at the “Manara” boulevard in Beirut, while the second was shot in the bright-lit ER at the American University Hospital (AUH) less than a quarter mile away. I am not sure though whether it is the same teenage girl who shot the second part of the posted video.

    This is going to sound absurd to most of those living in the “developing nations” but it is quite common for family, friends of wounded or dead patients, and even hospital staff to sneak in a cell phone to the ER and record on their cell phones such clips evidenced by similar cell phone videos of grave wounds I have seen in the ER rooms in Gaza, Lebanon, Iraq and other war-torn land in the Middle East.

    The American University Hospital (AUH) in Beirut is one of the top three hospitals there with American medical standards and ethics; however, rules are not always as tight when it comes to turning on the video camera of a cell phone. Hard for most to comprehend but that’s the way things are. Both parts of the video clip are of the same teenager.

    I was told that he was taken to the ER where all the surgeons were able to do is stitch his deep and severe wounds. The staff tried to keep him alive in intensive care but he died two days later.

    The city did install a while back barbwires to discourage young men from jumping from the top of the railings and risking injury or death but young men continue to jump as they see this activity as a fun challenge. There have been similar accidents there as a result of carelessness and ignorance by the swimmers, teenagers and even men in their twenties.

    One day after this accident took place, I saw teenagers climb on the metal railing and stand between the barb wires to jump in ten foot deep water with blocks of concrete/rocks the size of minivan intended to break the high waves were less than 5 ft away from where the teenage boys were landing. May he rest in peace.

Di comment #25 penulis yang sama menulis:

    It is not two different people. Do you speak Arabic? Do you understand the Lebanese dialect of the ER staff? Probably not. So don’t negate and dismiss the posted video because it is indeed of the same teenager. This is a two-part clip. The first was shot at the “Manara” boulevard in beirut, while the second was shot in the ER at the American University Hospital (AUH) less than a quarter mile away

Di comment #38, dengan memperhatikan link theync.com, dinyatakan bahwa:

    Dua dokter berbicara kejadian ini terjadi karena mendarat di bantaran batu, ketika loncat dari ketinggian tertentu

Detailnya juga dapat dilihat di: liveleak.com [Bisa di Download], Oh Look a forum.com, donotfeed-dieting.blogspot.com dan Kaskus.us

Video korban di ruang operasi lihat juga di: The NYC.com: Mans Face completely split open