Vegetarian, Makanan Religius? Bukan! Ia Cuma Pilihan Selera Makan..Ngga Lebih Dari Itu!


Sayur dan buah jelas bermanfaat bagi kesehatan namun entah mengapa sekelompok orang gemar sekali membonceng issue global warming dan mengkampanyekan vegetarian sebagai cara paling ampuh untuk menyelamatkan Bumi.

Di artikel sebelumnya sudah kita bedah bahwa ternyata global warming sendiri merupakan bagian dari siklus alam.

Disamping issue global warming, kelompok inipun gemar menggunakan pendekatan keagamaan dengan embel-embel vegetarian lebih suci daripada makanan lainnya [daging] namun inipun hanyalah kedok yang menyesatkan berbalut kepentingan bisnis/aliran semata.

Vegetarian mempunyai sejarah panjang dan telah ada sebelum tahun masehi. Sebelum tahun 1847, kata ‘Vegetarian’ tidaklah dikenal. Mereka yang tidak makan daging disebut sebagai ‘Pythagorean’ atau kelompok aliran Pythagoras.

Istilah vegetarian, pertama kali diproklamirkan oleh Joseph Brotherton dan rekan dihadapan Masyarakat Vegetarian Inggris, Northwood Villa, Kent, Inggris, pada tanggal 30 September 1847.

Vegetarian berasal dari bahasa Latin ‘vegetus’ yang artinya keseluruhan, sehat, segar, hidup. Definisi ‘vegetarian’ menurut Vegetarian Society yang masih digunakan hingga kini adalah hidup dengan mengkonsumsi padi, biji, kacang-kacangang, sayuran dan buah dengan/tanpa susu dan telur atau produk olahannya. Kemudian, definisi vegetarian mengalami diversifikasi, sebagai berikut:

  • Pesco/pollo vegetarian (semi-vegetarian), tidak mengkonsumsi daging merah namun masih mengkonsumsi daging tertentu misalnya daging ayam dan ikan [kelompok daging putih]
  • Lacto-ovo vegetarian, tidak mengkonsumsi daging merah dan putih namun masih mengkonsumsi telur dan produk susu. Yang mengkonsumsi susu dan menghindari telur disebut lacto-vegetarian, sedangkan yang mengkonsumsi telur dan menghindari susu disebut ovo-vegetarian.
  • Vegan [Vegetarian murni] hanya mengkonsumsi biji-bijian, kacang-kacangan, sayur-sayuran dan buah-buahan tidak mengkonsumsi produk hewani termasuk gelatin, keju, yogurt. Mereka juga menghindari madu, royal-jeli dan produk turunan serangga.

    Beberapa Vegan bahkan tidak memakan bawang. Aliran Advent masih membolehkan minum anggur. Sebagian dari vegan juga tidak menggunakan produk hewani seperti kulit hewan ataupun kosmetik yang mengandung produk hewani.

    Kata Vegan merupakan pemotongan kata Vegetarian yang diperkenalkan pertamakalinya oleh Donald Watson saat mendirikan Vegan society di Inggris pada tahun 1 November 1944. Tanggal itu kemudian dijadikan tanggal peringatan World Vegan Day

    Definisi Vegan, selain yang telah disebutkan di atas masih memiliki kekhususan, yaitu:

    • Fruitarian, juicetarians, mengkonsunsi buah-buahan tidak termasuk sayuran. Ada yang menolak makan buah2an yang berisi biji, itu termasuk menolak memakan biji/benih lainnya. Ada yang hanya memakan buah yang jatuh ke tanah saja (tidak dipetik/dicabut [misalnya umbi2an]).

      Alasan tidak memakan buah yang bersisi biji, biji2an, termasuk memetik/mencabut karena dianggap melakukan pembunuhan juga. Ajaran ini berasal dari Jainisme. Mahatma Gandhi pernah 5 tahun berpola hidup frutarian namun kemudian berhenti karena diare.

    • Raw Vegetarian, hanya memakan sayuran dan tumbuhannya namun tidak dimasak [walaupun sebagian membolehkan dimasak asal tidak lebih dari 46/48 °C (115/118 °F)]

Asal-Usul Vegetarian
Yunani kuno dan Romawi kuno memuja banyak Dewa-Dewi. Apollo adalah salah satunya [sekitar 1100 SM], Ia merupakan dewa dengan banyak gelar, di samping sebagai dewa cahaya, matahari, kebenaran, ramalan, obat dan pengobatan, kesehatan, puisi dan lainnya ia juga merupakan ksatria penakluk musuh yang hebat. Lambang Apollo adalah panah dan Gendewa.

Pada saat perayaan, kurban binatang dipersembahkan di kuil Dewa Apollo hingga kemudian Phytagoras (570-c. 495 BC) mempersembahkan tumbuhan dan wewangian di kuil itu. Sejak itulah Kuil Dewa Apollo di Delos, melakukan upacara kurban persembahan tanpa daging dan Raja Yunani pun meresmikan ritual vegetarian sebagai bagian dari agama yunani.

Persembahan kepada Dewa Apollo berupa daun salam. persembahan daun itu sebagai tanda peringatan kisah Apollo & Daphne, yaitu kisah kegagalan Apollo mempersunting Bidadari cantik bernama Daphne. Kisah ini bermula karena penghinaan Appolo pada senjata milik Cupid, sang dewa Asmara. Cupid kemudian menembak Daphne dengan panah timbal [untuk membenci] dan menembak Apolo dengan panah emas [untuk mencintai]. Ini kemudian membuat Daphne membenci Apollo. Appolo pernah tidak putus asa, Ia terus mengejar dan memohon Daphne untuk bersedia menjadi istrinya. Kadang pengejaran ini menjadi lomba lari.

Saat ketika Appolo hampir dapat menawan Daphne. Sang Bidadari itu berteriak memohon pertolongan ayahnya, Dewa Pheneus, membukakan tanah agar ia bisa sembunyi atau merubah bentuknya supaya tidak dikenali dan lolos dari Apollo. Permohonan itu rupanya terkabul, tiba-tiba tangan Daphne berubah menjadi bercabang dan berdaun. Ia tidak bisa berlari karena kakinya masuk ke dalam tanah dan menjadi akar. Bahkan ketika menjadi pohonpun ia tetap masih menjauhi Apollo, yang ketika itu tengah berduka atas apa yang terjadi. Apollo kemudian menganugerahinya keabadian dan menyatakan bahwa daun pohonnya kelak akan selalu digunakan sebagai mahkota bagi para pemenang. Hingga kini daun salam dikenal daun yang tidak busuk.

Phytagoras adalah seorang filsuf Yunani. Setelah Cambyses [Kambūjiya, persia lama] menginvasi Mesir, selama 22 tahun Phytagoras belajar bersama para Magi tentang rahasia Chaldean, Ia kemudian ke Persia dan setelah itu ke India, tempat dimana para Jainis dan Buddhis berkembang pesat. Phytagoras datang ke India sebagai murid namun pulang sebagai guru yang dikenal sebagai Yavanacharya, “Guru dari Ionian”. Salah satu ajarannya yaitu pola hidup vegetarian. [NOTE: Yavana juga merujuk pada arti semua bangsa-bangsa non India dan belum tentu berarti Yunani, menurut definisi kitab Gautama Dharmasutra: kaum Yavana adalah semua yang Ayahnya Ksatriya dan Ibunya Sudra]

Namun menurut Voltaire (The Philosophy of History p. 527), Para Yunani kerap bepergian ke India sebelum Pythagoras melakukan itu. Tak heran jika kemudian sekumpulan orang yaitu: Richard Garbe (Philosophy of Ancient India, pp. 39 ff), Colebrooke (Miscellaneous Essays, i. 436 ff.), Sir William Jones (Works, iii. 236), Professor Maurice Winternitz (Visvabharati Quarterly Feb. 1937, p. 8),Hopkins (Religions of India, p. 559 and 560) and Macdonell (Sanskrit Literature, p. 422) menyatakan bahwa ajaran-ajaran dari Thales, Pythagoras, Socrates dan Plato [Ajaran Orphic, Pythagoras, Neo-Platonism, Stoicisme] memiliki banyak kesamaan dengan aliran tradisi India [Samkhya, Upanisad dan Buddhisme]

[Sumber: Professor H. G. Rawlinson, Legacy of India 1937, p. 5; ON HINDUISM Reviews and Reflections, RAM SWARUP, Forward by DAVID FRAWLEY; Apollonius of Tyana, by G.R.S. Mead; Phytagoras; ARCHAIC HISTORY; Eastern Religions and Western Thought, Dr. Sarvepalli Radhakrishnan p. 143; In Search of The Cradle of Civilization: New Light on Ancient India, George Feuerstein, Subhash Kak & David Frawley p. 252]

Jika praktik hidup vegetarian adalah berasal dari india, maka ajaran India manakah yang saat mendukung praktek vegetarian?

Hindu:
Di website ini anda akan temukan eksploitasi paksa sloka-sloka Veda yang dianggap sebagai larangan mengkonsumsi daging dan pembantaian binatang namun ternyata di kitab Veda yang sama, berserakan pula sloka-sloka yang mendukungan aktivitas persembahan dan mengkonsumsi daging. Berikut beberapa sample slokanya:

    Rig Veda:
    [..]Vrsakapayi yang makmur, yang diberkati dengan putra2 dan menantu2, Indra akan menerima [makan] banteng-bantengmu, persembahan mulia dan tulus darimu. Indra adalah yang tertinggi dari semuanya. Lima belas jumlahnya, kemudian, untukku sejumlah sapi mandul telah disajikan mereka, karenanya ku pilih [u/ di telan] yang gemuk daripadanya: mereka telah memenuhi perut ku dengan makanan.[..][RV 10.86.13-14]

    [..]Pujian bagi yg wafat kan ku lantunkan dihadapannya. Tetua yang menyukai ini, semoga ia dengar pujian kita. Semoga menggapai dekat hatinya dan tergerak karena cinta, bagai pemudi yang berhias rapi ketika berada dekat pujaannya. Ia yang padanya kuda-kuda, banteng-banteng, sapi-sapi dan biri-biri, sebagaimana mestinya tersusun, dipersembahkan -pada agni, sari soma, peminum sari buah, pemberi, dengan tulus kubawakan pujian ini [..][RV 10.91.13-14]

    Ritual Veda Gaomeda, atau ritual dengan mempersembahkan sapi, merupakan ritual standar upacara seperti Raja surya dan/atau Ashwameda yang diakhiri dengan pemotongan kuda jantan. Gambaran ritual yang agak berlumur darah itu dapat dilihat di RV 1.162.9-22

    Brahmanas:
    Menyalakan api menyambut kedatangan beberapa raja adalah sebanding dengan memotong banteng atau sapi menyambut seorang raja atau orang terhormat lainnya [Aiteriya Brahmana, 1.15],

    Penghormatan pada Rsi Agastya dilakukan dengan memotong ratusan banteng [Taiteriya Brahmana, II.1.11.1; Panchavinsha Brahmana,XXXI.14.5]

    Yajnavalkaya sang bijaksana menyatakan jikapun sapi adalah pembantu bagi banyak orang, Ia akan memakan dagingnya jika itu lezat. [Satapatha Brahmana,III.1.2.21]

    Sapi dapat dipotong untuk beberapa persembahan, bukan hanya untuk keperluan religi, namun juga jika seorang memotongnya dan memakan dagingnya [Satapatha Brahmana, IV.5-2.1]

    Banteng dan kambing gemuk dapat di korbankan untuk menghormati tamu penting [Satapatha Brahmana, II.4.2 of the same Brahmana]

    Upanisad:
    Pasangan muda dapat makan malam daging sapi atau anak lembu tertentu jika mereka menginginkan anak lelaki sebagaimana yang disebutkan di kitab-kitab veda [Brihadaranyaka Upanishada (VI.4.18), Robert Trumbull, As I see India, London, 1957, p. 241].

    Jika seorang laki-laki berharap bahwa seorang putra terlahir baginya dan kelak menjadi seorang pelajar terkenal, seringlah berkata-kata baik, murid dari semua Veda dan yang menyukai hidup yang baik, Ia seharusnya memasak nasi dengan lauk sepotong daging banteng muda, atau bagi yang berusia lanjut, Ia dan istri seharusnya makan itu dengan mentega yang disaring. kemudian mereka akan mendapatkan anak seperti yang diharapkan [Brhadaranyaka Upanishad 6.4.18]

    Purana:
    Alaminya, buah-buahan dan bunga adalah makanan bagi serangga dan burung; Rumput dan mahluk-mahluk tanpa kaki adalah makanan bagi binatang berkaki emapt seperti sapi dan kerbau; Binatang yang tidak dapat menggunakan kaki depannya sebagai tangan adalah makanan bagi binatang seperti macan yang mempunyai cakar; dan binatang berkaki empat seperti rusa-rusa dan kambing-kambing juga beras adalah makanan bagi manusia [Srimad Bhagavatam/Bhagavata Purana, 6.4.9]

    Beberapa daging seyogyanya selalu dipertimbangkan sebagai dharmic bahkan di jaman kali yuga sekalipun:

      Kemudian, Vikuksi, anak raja Iksvaku pergi ke hutan dan membunuh banyak binatang yang cocok untuk persembahan. Namun ketika lelah dan lapar ia lupa dan memakan seekor kelinci yang telah dibunuhnya. Vikuksi menawarkan sisa-sisa buruannya pada Raja Iksvaku, yang kemudian memberikannya pada Rsi Vasistha untuk diberkati. Namun Vasitha mengetahui bahwa sebagian dari daging itu telah diambil oleh Vikuksi oleh karenanya ia katakan bahwa pemberian ini tidak pantas untuk upacara Sradha [Srimad Bhagavatam/Bhagavata Purana, 9.6.7-8].

      Sehubungan dengan ayat di atas, Pendiri sekte Gaudiya Vaisnawa yang juga merupakan Tuhan dari aliran Hare Krishna, yaitu Sri Caitanya Mahaprabhu [1486 M – 1534 M)mengatakan,

        “[..]Secara keseluruhan memakan daging tidaklah sepenuhnya dilarang; sekelompok kelas manusia diperbolehkan makan daging menurut beberapa kondisi tertentu. Sejauh pertimbangan pada makan daging, makan sapi dilarang, kemudian di Bhagavad Gita, Krishna secara personal menyatakan pada go-raksyam, pelindung sapi. Pemakan daging, menurut keadaan kalian dan juga sastra, di perbolehkan makan daging namun bukan daging sapi. Sapi mesti diberikan perlindungan[..]”

    Jika seseorang [tidak sengaja] makan binatang berkuku lima, TERKECUALI kelinci, landak, iguana (sej.biawak), badak, dan kura-kura darat, ia harus berpuasa tujuh hari lamanya. [Vaisnava dharmasastra from Visnu-smrti 51.6]

    Itihasa:

      Ramayana:
      ‘Hanya lima diantara semua binatang yang bercakar/jari lima dapat di makan oleh para Brahmana dan Ksatriya, Raghava: Landak, sejenis landak, kadal, kelinci dan yang kelima adalah kura-kura [Ramayana 4:17:34]

      Rama, Lakshmana dan Sitha mengunjungi Petapa Suthikshna dipertapaannya. Sang petapa prihatin karena Rama berburu banyak sekali rusa yang ada di pertapaan. Rama berjanji tidak akan membunuh rusa yang menyebabkan sang petapa tersinggung [Aranyakanda Canto VII:13-24]

      Mahabharata:
      Diskusi antata Raja Dharma Yudhishthira dan Bisma mengenai makananan apa yang seharusnya dipersembahkan pada Leluhir selama perayaan kematian agar mereka puas.

      Variasi suguhan yang berasal dari tumbuh2an hanya menyenangkan leluhur 1 bulan lamanya, kemudian suguhan daging bervariasi dari 2 bulan hingga tak terhingga waktunya.

      Suguhan yang terhingga adalah dengan menyuguhkan daging badak dan terlebih lagi bila menyuguhkan daging kambing merah. Berikut kutipan percakapannya:

        Yudhishthira said, “O thou of great puissance, tell me what that object is which, if dedicated to the Pitiris (dead ancestors), become inexhaustible! What Havi, again, (if offered) lasts for all time? What, indeed, is that which (if presented) becomes eternal?”

        “Bhishma said, “Listen to me, O Yudhishthira, what those Havis are which persons conversant with the rituals of the Shraddha (the ceremony of dead) regard as suitable in view of Shraddha and what the fruits are that attach to each.

        • With sesame seeds and rice and barely and Masha and water and roots and fruits, if given at Shraddhas, the pitris, O king, remain gratified for the period of a month.
        • With fishes offered at Shraddhas, the pitris remain gratified for a period of two months.
        • With the mutton they remain gratified for three months and
        • with the hare for four months,
        • with the flesh of the goat for five months,
        • with the bacon (meat of pig) for six months, and
        • with the flesh of birds for seven.
        • With venison obtained from those deer that are called Prishata, they remaingratified for eight months, and
        • with that obtained from the Ruru for nine months, and
        • with the meat of Gavaya for ten months,
        • With the meat of the bufffalo their gratification lasts for eleven months.
        • With beef presented at the Shraddha, their gratification, it is said , lasts for a full year. Payasa mixed with ghee is as much acceptable to the pitris as beef.
        • With the meat of Vadhrinasa (a large bull) the gratification of pitris lasts for twelve years.
        • the flesh of rhinoceros, offered to the pitris on anniversaries of the lunar days on which they died, becomes inexhaustible.
        • The potherb called Kalaska, the petals of kanchana flower, and meat of (red) goat also, thus offered, prove inexhaustible.
        • So but natural if you want to keep your ancestors satisfied forever, you should serve them the meat of red goat.[Anushashan Parva chapter 88]

    Manusmriti
    Yang kesehariannya memakan makanan yang diperuntukkan baginya sebagai makanan, tidak melakukan dosa apapun; Bagi Pencipta, Ia menciptakan keduanya pemakan dan makanan yang mereka makan(5:30)

    Ia yang memakan daging, ketika ia menghormati Para dewa dan..tidak melakukan dosa, apakah ia yang membawanya sendiri, atau membunuhnya sendiri, atau menerimanya dari orang lainnya [5:32]

    Seorang lelaki, yang berada pada kondisi tertentu [sedang memimpin, atau makan malam di satu upacara suci] menolak memakan daging, setelah kematiannya Ia akan terlahir menjadi binatang selama 21 kehidupan [5:35]

    Tumbuh-tumbuhan bumbu, Pohon, Lembu, Burung-Burung, dan binatang lainnya yang dibinasakan sebagai persembahan, dilahirkan di alam yang lebih baik [5:40]

    Seorang Ksatria, yang mengerti Veda dengan sebenarnya, membunuh binatang untuk tujuan ini [upacara], menyebabkan dirinya dan juga binatang itu diberkati [5:42]

    Tidaklah berdosa memakan daging, meminum alkohol, dan melakukan aktivitas seksual, karena itu alami bagi mahluk yang diciptakan, namun juga abstain dari ganjaran besar(5:56)

    Manawa dharmasastra
    Yajnya artham braahmanairwadhyaah
    Prasastaa mrigapaksiinah.
    Bhrityaanaam caiwa writtyartham
    Agastyo hyaacaratpuraa. (V.22).

    Hewan-hewan dan burung-burung yang dianjurkan boleh dimakan, dapat disembelih oleh para brahmana sepanjang untuk upacara yadnya dan juga diberikan kepada mereka yang patut diberikan. Karena Resi Agastia pun melakukan itu pada zaman dulu.

    Komentar Adi Sankaracharya [788 M – 821 M] di Bhagavad Gita, bab 17.7-10, tentang klasifikasi makanan ke dalam Triguna: Satvam, rajas dan tamasika. Bahkan Daging-dagingan-pun TIDAK MASUK ke kategori RAJASA ataupun TAMASIKA!. Berikut di bawah ini adalah cuplikan sloka BhagavadGita-nya:

      17-8
      ayuh-sattva-balarogya-
      sukha-priti-vivardhanah
      rasyah snigdhah sthira hrdya
      aharah sattvika-priyah

      Makanan yang meningkatkan kehidupan, kekuatan, vitalitas, kesehatan, kegembiraan dan kesenangan, yang terasa lezat, lembut, menyegarkan dan enak, disukai oleh para sattvika.

      17-9
      katv-amla-lavanaty-usna-
      tiksna-ruksa-vidahinah
      ahara rajasasyesta
      duhkha-sokamaya-pradah

      Makanan yang pahit, masam, asin, pedas, kebanyakan rempah-rempah (bumbu), keras dan hangus, yang menyebabkan penderitaan dan penyakit serta kesusahan, disukai oleh kaum rajasa.

      17-10
      yata-yamam gata-rasam
      puti paryusitam ca yat
      ucchistam api camedhyam
      bhojanam tamasa-priyam

      Makanan yang basi, kehilangan rasa, busuk, berbau, bekas sisa dan tidak bersih adalah yang disukai para tamasa.


Jadi, mulai dari Ibu semua Veda, yaitu Rig Veda hingga kepada komentar Adi sankaracharya di Bhagavad Gita memberikan satu kesimpulan yaitu mengkonsumsi daging merupakan hal yang wajar dan praktek Vegetarian BUKANLAH suatu keharusan di Hinduisme. [Bacaan lebih lanjut: “Untouchability, The Dead Cow And The Brahmin“]

Srila Prabhupada [Pendiri ISKCON atau gerakan hare krishna, pada tahun 1965, Boston, Amerika Serikat] pernah berkata

“Terkecuali bahwa, sejauh urusan makan daging, semua sapi akan mati, jadi engkau hanya perlu menunggu sebentar, dan akan tersedia begitu banyak bangkai sapi. Kemudian engkau dapat ambil semua bangkai sapi itu dan memakannya.

Jadi, bagaimana mungkin ini merupakan usulan buruk?

Jika engkau katakan, “Engkau melarang kita untuk makan daging”.

Tidak, Kami tidak melarangmu. Kami sederhananya hanya memintamu “Jangan membunuh. Ketika sapi itu telah mati. Engkau dapat memakannya” [Journey of Self Discovery]

Dalam kesempatan lainnya yaitu ketika Prabhupada meminta Harikesh menjalankan misi “menggalang domba” [baca: Dakwah] di Rusia, Harikesh berkata, “Mereka cuma makan daging”.

Prabhupada memjawab, “Ya Makan daginglah”. [di ambil dari, ‘Thirty Five Years In Mayapur’]

    Srila Prabhupahada dan Hare Krishna-nya, walaupun banyak menggunakan atribut-atribut Hindu, Ia menolak di kategorikan Hindu. Dalam suatu kesempatan, Ia pernah mengatakan bahwa Hindu sebagai sumber keruntuhan moral dan mengatakan di ceramah-ceramahnya tahun 1967, di New York dia berkata, “Sekalipun memunculkan para sarjana, sanyasin, grihasta dan swami besar, apa yang disebut pengikut agama Hindu semuanya tidak berguna, cabang-cabang kering dari agama Veda.”

    Dalam satu wawancara yang diberikan untuk Bhavan’s Journal tanggal 28 Juni, 1976, dia berkata, “India, mereka telah membuang sistem agama yang sesungguhnya, Sanatana Dharma. Secara takhyul, mereka menerima satu agama campur aduk (a hodgepodge thing) yang disebut Hinduisme. Karena itulah muncul kekacauan.”

    Namun ketika aliran ini mendapatkan kesulitan di Inggris dan di Rusia misalnya ketika menghadapi perkara atas gedung ‘Bhaktivedanta Manor’ di Inggris atau ketika dituntut oleh orang Kristen di Russia dan Polandia (yang menganggap Hare Krishna hanyalah gerakan ‘cult’ dan meminta agar pemerintah melarang mereka). Dalam permohonan kepada hakim dan pemerintah, kata Hindu dipergunakan secara terbuka.

    Dalam kasus-kasus hukum yang lain, termasuk kasus di Mahkamah Agung Amerika Serikat, Hare Krishna berusaha menangkis label “cult” dengan menyatakan dirinya sebagai satu sampradaya Hindu tradisional, dan meminta orang-orang Hindu yang lain untuk menguatkan hal ini di pengadilan.

    Dibali saja organisasi ini sering mengajukan permohonan kepada masyarakat dan pengusaha Hindu untuk bantuan keuangan bagi program sosial dan politik mereka untuk melidungi Hare Krishna dari pelecehan dan tuntutan. [Sekilas Hare Krishna; Juga lihat ini: Krishna/ISKCON]


Tulisan di atas, menunjukan satu indikasi kuat bahwa bagi aliran Hare Krisna, Vegetarian masih bisa di kompromikan guna keperluan-keperluan tertentu dan bukan sebuah syarat mati.

Buddhisme:
Apakah Buddhisme mendukung Vegetarianisme? Tidak. Dari seluruh jenis praktek dhutaṅga (praktek pemurnian atau praktek membersihkan kekotoran mental) yang diajarkan sang Buddha kepada umat awam dan para bhikkhu/bhikkuni-nya (yang tinggal di bawah pohon/hutan maupun pemukiman), berupa praktek 3 latihan:

  1. Melepas/berderma (kekayaan, makanan, pakaian, tempat tinggal, obat-obatan, dll)
  2. Moralitas berupa latihan dengan 5 sila, 8 sila 10 sila dan untuk bhikkhu 227 sila dan
  3. Meditasi (memusatkan pikiran, memperhatikan yang seharusnya diperhatikan, tidak memperhatikan yang tidak selayaknya diperhatikan). [Detail lainnya lihat: Ringkasan Ajaran Buddha]

Maka vegetarian tidak termasuk dalam faktor dhutaṅga. Ini artinya vegetarian BUKANLAH faktor untuk mengakhiri penderitaan

Di Vinaya Pitaka (aturan kebhikkhuan) akan kita temukan 5 jenis makanan yang dapat didanakan kepada para bhikkhu/ni, yaitu: nasi (odano), bubur beras (kummāso), rebusan makanan terbuat dari terigu (sattu), ikan (maccho), dan daging (maṃsaṃ). Juga 9 jenis makanan yang lebih istimewa, yang terbuat dari: mentega cair, mentega segar, minyak, madu, sirup gula, ikan, daging, susu, dan dadih. Ke-9 jenis makanan tersebut umumnya ditemukan di kalangan keluarga kaya dan mereka juga mendanakannya kepada para bhikkhu. Para Bikkhu dikatakan melanggar vinaya jika dengan sengaja meminta makanan tersebut Diantara makanan yang berdaging yang disebutkan di atas, Sang Buddha menganjurkan untuk tidak makan 10 jenis daging, yaitu: daging manusia, daging gajah, daging kuda, daging anjing, daging ular, daging singa, daging harimau, daging macan tutul, daging beruang, dan daging serigala atau hyena (Mahavagga Pali, Vinaya Pitaka, Vol.III.58)

Alasan seorang Bhikkhu dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi 10 macam daging tersebut dijelaskan dalam kitab komentar Vinaya (Samattpasadika): Daging manusia tidak seharusnya dimakan karena berasal dari spesies yang sama. Daging gajah dan kuda tidak seharusnya dimakan karena mereka adalah peliharaan dari seorang raja. Sedangkan daging anjing dan ular dikarenakan mereka termasuk jenis hewan yang menjijikkan, kelompok terakhir adalah singa, harimau, dan sebagainya, tidak seharusnya dimakan karena mereka tergolong binatang berbahaya dan jika dimakan bau daging binatang tersebut bisa membahayakan para bhikkhu yang bermeditasi di hutan.

Di Seluruh Tipitaka akan kita temukan bahwa Sang Buddha dan para Bikkhu/ni-nya juga makan daging, misalnya di kisah ini:

Pada suatu ketika, di sebuah hutan, segerombolan perampok membunuh seekor sapi untuk dimakan. Pada saat yang sama, di hutan itu seorang bhikkhuni arahat bernama Uppalavamna sedang duduk bermeditasi di bawah pohon. Ketika melihat bhikkhuni tersebut, kepala gerombolan perampok menganjurkan anak buahnya untuk tidak mengganggu. Dia sendiri menggantungkan sepotong daging sapi di cabang pohon, mempersembahkannya kepada bhikkhuni ini, dan berlalu. Bhikkhuni Uppalavamna kemudian mengambil potongan daging tersebut dan mempersembahkannya kepada Sang Buddha (Nissaggiyapacittiya Pali, Vinaya Pitaka, Vol.III.208)

Pada perjalanan menuju Kusinara (di hari terakhir sebelum Sang Buddha Parinibbana). Cunda, perajin emas dari Pava, mempersembahkan makanan sukaramaddava (daging babi yang empuk/muda) [DN 16/Mahaparinibbana Sutta, Ud 8.5/Cunda Sutta]. Walaupun kata sukaramaddava ini ditafsirkan dalam banyak arti, namun di Buddhavamsa: Buddhapakiṇṇakakathā, disampaikan jelas: Sabbabuddhānaṃ samattiṃsavidhā dhammatā (30 hal yang selalu terjadi pada seluruh Buddha) yaitu pada no.29: “parinibbānadivase maṃsarasabhojanaṃ” (Di hari Parinibannanya makan makanan yang mengandung daging). Arti kata “maṃsa” adalah daging.

Kemudian, di AN 5.44/Manāpadāyī sutta, seorang perumah tangga dari Vesali bernama Ugga menyajikan daging babi kepada Sang Buddha,

    “Di hadapan Guru, aku mendengar dan tahu dari Sang Bhagava sendiri bahwa seseorang yang memberikan hal menyenangkan, akan menerima kegembiraan, aku menyenangi masakan daging babi (sūkaramaṃsaṃ) dengan sari buah jujube. Semoga sang Bhagava menerimanya dengan perasaan kasih. Dengan perasaan kasihnya Sang Buddha menerima” (Sammukhā metaṃ, bhante, bhagavato sutaṃ sammukhā paṭiggahitaṃ: ‘manāpadāyī labhate manāpan’ti. Manāpaṃ me, bhante, sampannakolakaṃ sūkaramaṃsaṃ; taṃ me bhagavā paṭiggaṇhātu anukampaṃ upādāyā”ti. Paṭiggahesi bhagavā anukampaṃ upādāya)


Ketika Ugga wafat, Ia terlahir di Alam deva manomaya (Alam deva yang dapat menciptakan sesuai pikirannya), Ia datang memberi hormat dihadapan Sang Buddha di Savatthi, vihara jetavana

Karena Sang Buddha dan para murid-Nya bersikap non-vegetarian, tidak sedikit tokoh keagamaan lainnya yang mencela Sang Buddha. Sebagai contoh, suatu ketika kepala suku Vajji yang bernama Siha mengundang Sang Buddha dan murid-Nya untuk makan siang. Siha mempersembahkan nasi dan lauk, termasuk daging yang dibelinya di pasar. Sekelompok pertapa Jain mendengar bahwa Siha mempersembahkan nasi campur daging kepada Sang Buddha. Mereka mencela Sang Buddha maupun Siha, mereka memfitnah: “Siha, sang kepala suku, telah membunuh binatang besar untuk diambil dagingnya dan dipersembahkan kepada Sang Buddha, dan sekalipun Sang Buddha mengetahuinya, Ia tetap saja memakan daging tersebut (AN 8.12/Siha-senapati Sutta).

Berdasarkan Jainisme, memakan daging adalah hal yang salah. Mereka berpandangan bahwa seseorang yang memakan daging akan mewarisi setengah karma buruk yang dibuat oleh si pembunuh hewan itu. Si pembunuh membunuh hewan karena si pemakan memakan daging. Sebelum menjadi pengikut Sang Buddha, Siha adalah pengikut Mahavira, pendiri Jainisme.

Suatu ketika, seorang tabib bernama Jivaka mengunjungi Sang Buddha dan memberitahukan tentang berita yang didengarnya. “Yang mulia, ada yang mengatakan bahwa beberapa bintang telah dibunuh untuk diambil dagingnya dan dipersembahkan kepada Pertapa Gotama. Pertapa Gotama menerimanya sekalipun mengetahui bahwa binatang itu khusus dibunuh untuk-Nya. Yang Mulia, mohon dijelaskan apakah yang mereka katakan itu benar atau tidak.”

Sang Bhuddha menolak kebenaran berita tersebut dan menjelaskan, ”O Jivaka, barang siapa yang terlibat dalam pemotongan hewan untuk diambil dagingnya dan dipersembahkan kepada-Ku dan para murid-Ku, orang itu akan melakukan banyak kejahatan karena lima hal:

  1. Ketika ia berkata: ‘Pergi dan tangkap makhluk hidup itu,’ ini adalah kasus pertama yang mana ia menimbun banyak keburukan;
  2. Ketika makhluk hidup itu mengalami kesakitan dan kesedihan karena ditarik dengan leher tercekik, ini adalah kasus ke dua yang mana ia menimbun banyak keburukan;
  3. Ketika ia berkata: ‘Pergi dan sembelilah makhluk hidup itu,’ ini adalah kasus ke tiga yang mana ia menimbun banyak keburukan;
  4. Ketika makhluk hidup itu mengalami kesakitan dan kesedihan karena disembelih, ini adalah kasus ke empat yang mana ia menimbun banyak keburukan
  5. Ketika ia mempersembahkan makanan yang tidak diperbolehkan kepada Sang Tathāgata atau siswaNya, ini adalah kasus ke lima yang mana ia menimbun banyak keburukan.”


Siapapun juga yang menyembelih makhluk hidup untuk Sang Tathāgata atau siswaNya, ia menimbun banyak keburukan dalam lima kasus ini….ada tiga kasus yang mana daging boleh dimakan, jika: tidak terlihat (a-diṭṭhaṃ), tidak terdengar (a-sutaṃ), dan tidak dicurigai (a-parisaṅkitaṃ) – bahwa makhluk hidup itu disembelih untuk dirinya-” [MN 55/Jivaka].

Kondisi tiga ini disebut tikoṭiparisuddha (murni dalam tiga aspek) untuk menghindari pembunuhan, melarangnya membunuh demi makanan namun tidak melarang membeli daging dari binatang yang telah mati asalkan sesuai 3 syarat di atas, karena makan daging bukanlah perbuatan buruk, seperti halnya perbuatan membunuh makhluk hidup. Oleh karenanya, Sang Buddha menolak kepercayaan bahwa orang yang makan daging akan ikut mewarisi perbuatan buruk dari orang yang membunuh hewan.

Ajakan vegetarian BUKAN BERASAL dari ajaran sang Buddha namun berasal dari ajaran Devadatta (sepupu Sang Buddha, yang selalu menentang Sang Buddha) yang telah ditolak Sang Buddha:

    Kemudian Devadatta mendatangi Kokālika, Kaṭamorakatissaka, putera Nyonya Khaṇḍā, dan Samuddadatta: “Yang Mulia, Marilah, kita memecah-belah Saṅgha Petapa Gotama dan merusak kerukunan..Kita menghadap pada petapa Gotama dan meminta 5 hal dengan mengatakan: ‘Yang Mulia, dalam berbagai cara Yang Mulia memuji sedikit keinginan, merasa puas, melenyapkan (keburukan), berhati-hati, berbelas kasih, mengurangi (rintangan-rintangan), mengerahkan kegigihan. Yang Mulia, 5 hal ini berperan besar dalam hal sedikit keinginan,…, mengerahkan kegigihan. Baik sekali, Yang Mulia, jika para bhikkhu, seumur hidup mereka harus:

    1. menjadi penghuni-hutan; siapa pun yang bepergian ke dekat desa, maka ia melakukan pelanggaran.
    2. menjadi penerima dana makanan dengan cara berjalan untuk mengumpulkannya; siapa pun yang menerima suatu undangan, maka ia melakukan pelanggaran.
    3. menjadi pemakai jubah kain buangan; siapa pun yang menerima jubah yang diberikan oleh perumah tangga, maka ia melakukan pelanggaran.
    4. berdiam di bawah pohon; siapa pun yang berada di bawah atap, maka ia melakukan pelanggaran.
    5. tidak boleh makan ikan dan daging, siapa pun yang memakan ikan dan daging, maka ia melakukan pelanggaran’..”

    Kemudian Devadatta bersama dengan teman-temannya menghadap Sang Bhagavā dan menyampaikan hal tersebut. Sang Buddha berkata: ”Cukup, Devadatta, Siapa pun yang menghendaki, Ia:

    1. boleh menjadi penghuni-hutan; boleh menetap di dekat desa;
    2. boleh menerima dana makanan dengan cara berjalan untuk mengumpulkannya; boleh menerima undangan;
    3. boleh menjadi pemakai jubah kain buangan; boleh menerima jubah dari para perumah tangga
    4. selama 8 bulan (yaitu selain 3/4 bulan masa vassa/hujan), Devadatta, Aku mengizinkan para bhikkhu menetap di bawah pohon
    5. boleh memakan Ikan dan daging asalkan murni dalam 3 hal: TIDAK melihat secara langsung pada saat binatang tersebut dibunuh, TIDAK Mendengar secara langsung suara binatang tersebut pada saat dibunuh dan Mengetahui bahwa hidangan daging itu, TIDAK KHUSUS dibunuh agar dapat diberikan padanya” [Cullavagga, bab.7, Vinaya Pitaka]


Sehubungan dengan konsumsi daging, SNP 2.2/Amagandha Sutta menyampaikan bahwa pada suatu ketika, seorang pertapa (Brahmin, bernama Amagandha) bersama 500 muridnya yang menjalani praktek vegetarian mendatangi Sang Buddha dan menanyakan apakah Sang Buddha memakan amagandha atau tidak. Amagandha secara harfiah berarti bau daging, berkonotasi sesuatu yang berbau busuk, menjijikkan, dan kotor. Karena itulah pertapa ini memakai istilah amagandha. Selanjutnya Sang Buddha menjelaskan bahwa makan daging bukanlah amagandha, tetapi segala jenis kekotoran mental dan semua bentuk perbuatan jahatlah yang semestinya disebut amagandha. Sang Buddha berkata:

  • Membunuh, menganiaya, memotong, mencuri, berdusta, menipu, kepura-puraan, berzinah, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging.
  • Jika seorang tidak terkendali hawa nafsunya, serakah, melakukan tindakan yang tidak baik, berpandangan salah, tidak jujur, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging.
  • Jika seseorang berlaku kasar dan kejam, suka memfitnah, pengkhianat, tanpa belas kasih, sombong, kikir, dan tidak pernah berdana, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging.
  • Kemarahan, kesombongan, keras kepala, bermusuhan, munafik, dengki, tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, berhubungan dengan hal-hal yang tidak baik, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging.
  • Jika seseorang bermoral buruk, menolak membayar hutang, pengumpat, penuh tipu daya, penuh dengan kepura-puraan, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging.


[Bacaan lain, lihat: Buddhism & Vegetarianism, Sayadaw U Nandamala atau lihat juga: Riwayat Sidhartha Gotama/Buddha Gotama]

Namun demikian, terdapat beberapa aliran Buddhisme yang telah nekad dengan menambah sendiri aturan mengharamkan daging sebagai syarat mencapai kesucian dan ini BUKANLAH sabda otentik Buddha Gautama namun telah dicatutkan sebagai ucapan beliau ratusan tahun setelah wafatnya, diantaranya:

  1. Lankavatara Sutra, Ch.8, Dalam catatan di sutra itu dikatakan Bab ttg makan-daging merupakan tambahan lain yang dilakukan belakangan. Kemudian note dari Binh Anson menyatakan Sutra Lankavatara merupakan produk dari perkembangan aliran Mahayana di kemudian waktu. Menurut H. Nakamura (Buddhisme India, 1987), ada beberapa versi Sutra ini, satu yang cukup berbeda dalam konten dari yang lain. Kebanyakan para sarjana menyimpulkan bahwa sutra ini kemungkinan besar disusun dalam 350-400 M. Selain itu, Master Zen DT Suzuki (Lankavatara Sutra – A Mahayana Text, 1931), bab yang berurusan dengan makan daging merupakan tambahan yang terjadi jauh waktu kemudian di versi berikutnya. Dia juga sepakat bahwa sutra ini bukan merupakan kata-kata otentik oleh Buddha, tetapi disusun jauh hari kemudian oleh penulis anonim yang berasal dari aliran Mahayana
  2. Shurangama sutta, dalam “THE SHURANGAMA-SUTRA (T. 945): A REAPPRAISAL OF ITS AUTHENTICITY, Ronald Epstein, menyatakan sutra ini merupakan hasil editan dan diterbitkan di China pada tahun 705 M [lihat juga “The Śūraṅgama-sūtra with Tripiṭaka Master Hsüan-hua’s Commentary An Elementary Explanation of Its General Meaning: A Preliminary Study and Partial Translation. Ph.D. Dissertation. University of California at Berkeley, 1975]
  3. Mahayana Mahaparinirvana Sutra, dari tiga versi sutra ini yang masih ada adalah berasal dari abad ke-3 s/d 5 Masehi [detail lanjutannya lihat “TEXTUAL HISTORY OF THE MAHÂYÂNA-MAHÂPARINIRVÂNA-SÛTRA, Stephen Hodge]
  4. Detail sutra setelah masehi lainnya lihat di: TO EAT OR NOT TO EAT MEAT, A BUDDHIST REFLECTION, S. DHAMMIKA


Sehingga dapat disimpulkan bahwa di Buddhisme isu makanan tidak relevan dengan urusan kesucian dan tidak dilarang dikonsumsi asal sesuai persyaratan.

Jainisme:
Di atas, telah kita ketahui bahwa dua tradisi India, yaitu Hinduisme dan Buddhisme tidak menganggap praktek vegetarian merupakan suatu keharusan. Lantas di tradisi India manakah yang mempunyai dukungan penuh terhadap praktek vegetarian?

Jawabannya adalah hanya di aliran Jainisme!

Menurut aliran Jain, Jiva/Atman/Roh ada di bumi, air, api, udara, sayur-mayur dan semua mahluk. Jiwa seekor semut dan seekor gajah tidaklah berbeda hanya bentuknya saja yang mengikuti bentuk mahluk tersebut. Karma sebelumnya menjadikan mereka terlahir kembali menjadi bentuk-bentuk seperti tersebut di atas.

Jainisme mengklasifikasikan kelahiran kembali mahluk hidup kedalam 6 kelas. Kelas terendah adalah mahluk yang mempunyai satu indera [ekindriya] termasuk didalamnya bentuk bumi, api, air, sayuran. Mereka hanya memiliki hanya empat ciri vital, yaitu: mempunyai umur, dapat bernafas, mempunyai fisik dan memiliki sentuhan.

Setelah mahluk-mahluk tersebut mati, maka kelahiran kembali mereka akan meningkatkan status kelas mereka.

Jainisme sangat mendukung praktek a-himsa [tidak menyakiti mahluk hidup] sebagaimana tersurat pada text dibawah ini:

    Himsa [menyakiti mahluk] adalah rintangan terbesar bagi penyucian diri, dimana seseorang memuaskan diri dengan menyakiti mahluk tidak akan tercerahkan. [Acharanga Sutra]

    “mengetahui bahwa semua kejahatan dan penderitaan ditimbulkan akibat menyakiti mahluk dan selanjutnya mengarahkannya pada kebencian dan permusuhan tiada ada henti merupakan akar penderitaan, Seorang bijaksana, yang telah disadarkan sepatutnya menahan diri dari semua aktivitas penuh dosa” [Sutrakrtanga Sutra]

    “Tanpa membunuh mahluk hidup, maka tidak tersedia daging. Cedera merupakan hal yang terelakan di kalangan para mahluk pemakan daging. Walaupun benar daging dapat diperoleh dari kematian alami seekor kerbau liar dan sapi, di dalam luka dan juga mayat tersebut sedang berkelanjutan kelahiran makhluk-mahluk hidup..Ia yang makan, bahkan menyentuh, memasak, memakan mentah2 ataupun bentuk lain dari memotongnya, membasmi banyak jenis mahluk berjiwa” [Purusharthsidhyupaya]


Namun demikian, untuk memahami mengapa tetap ada mahluk-mahluk yang terbuhuh/dilukai, maka perlu kita pahami lebih lanjut konsep Himsa menurut aliran jain ini.

Himsa dibedakan antara `Sthula Himsa’ Dan `Sukshma Himsa’. Sthula Himsa, melukai/membunuh mahluk yang mempunyai dua indra atau adalah lebih terlarang bagi semua Jain, sementara ‘Sukshma Himsa’ bahkan mahluk yang memiliki satu indera [ekindriya] termasuk didalamnya jiwa2 yang tidak bergerak [Sthavara-Jivas] terlarang dilukai/dibinasakan oleh Petapa Jaina

Himsa [menyakiti] di kategorikan dalam:

  • Arambhaja or Arambhi Himsa, melukai/membunuh mahluk tersebut terjadi sebagai konsekuensi dari pekerjaan/kejadian yang lakoni seorang jaina. Kondisi ini terbagi menjadi:
    • Udyami Himsa, melukai/pembunuhan yang terjadi sebagai konsekuensi dari pekerjaan yang dilakukan. Terdapat kelompok pekerjaan-pekerjaan tertentu yang mendapatkan “ijin” karena aturan “himsa” ini, yaitu: prajurit, penulis, agriculturist, pedagang, montir/tukang, dan intelektual.
    • Grharambhi Himsa, melukai/pembunuhan yang terjadi sebagai konsekuensi dari pekerjaan rumah tangga seperti: mempersiapkan makanan, memelihara/membersihkan [rumah, badan, pakaian, hal2 lainnya yang memerlukan dibersihkan/dipelihara], konstruksi bangunan, sumur-sumur, kebun, dan infra struktur lainnya, beternak, dll.
    • Virodhi Himsa, melukai/pembunuhan yang terjadi sebagai konsekuensi dari mempertahankan diri/harta milik dengan mengadakan perlawanan terhadap para pencurian/perampokan, penyerbu dan musuh, dalam menghadapi agresi.
  • Anarambhaja or Anarambhi or Samkalpi Himsa, dimana melukai/membunuh mahluk terjadi bukan karena pekerjaan [ada unsur kesengajaan]


[Sumber: A Treatise On Jainism By – Shri Jayatilal S. Sanghvi; AHIMSA(NON-VIOLENCE); Meat; Jainism]

Berdasarkan kutipan teks tersebut di atas, definisi himsa dan kelas mahluk hidup, maka pembunuhan mahluk hidup apapun tetaplah menimbulkan dosa namun kadar dosa yang terendah yang diakibatkannya berasal dari terbunuhnya mahluk-mahluk ekindriya.

Inilah alasan utama mengapa vegetarian sangat dianjurkan di Jainisme.

Namun demikian, menurut saya, setelah melihat lingkup pengertian dari jiwa, praktek a-himsa hingga ke vegetarian, maka alasan vegetarian di aliran ini lebih berfokus kepada pemilahan korban untuk mengisi perut daripada pemenuhan praktek a-himsa, karena pemilahan ini didasarkan pada kadar dosa terendah jika melakukan himsa.

Pengikut Jainisme di seluruh dunia ini tidak lebih dari 4.2 juta jiwa [tahun 2001]. Namun ajaran vegetariannya melampaui benua dan menyebar ke seluruh dunia.

Mengapa ini bisa terjadi?

Dari 3 Aliran tradisi India di atas, Buddhisme merupakan satu-satunya aliran yang tidak mengakui adanya Jiva/Roh/Atman yang menjadi inti mahluk hidup sedangkan dua aliran lainnya mengakui kebaradaan jiwa ada diseluruh mahluk hidup.

Ketika Phytagoras berkunjung ke India, maka dapat dipastikan Philosofis aliran Jainisme tentang jiva, kelahiran kembali dan vegetarian sangat mencocoki seleranya. Ajaran itulah yang kemudian dibawanya ke Yunani dan menyebar ke seluruh dunia serta merambah ke area ajaran Abrahmic berkembang.

Para penulis Yahudi-yunani Alexandrian menyatakan bahwa Pythagoras mengajarkan doktrin Judaisme. Aristobulus dari Alexandria ( sekitar 150 SM), Filsuf religious Yahudi pertama, mengevaluasi ajaran pytagoras dan menggunakan doktrin angka aliran pytagoras itu seluas-luasnya, kemudian filsuf ke-3 Yahudi yaitu Philo [20-15 – 45-50 M] berbasis aliran Pytaghoras, Ia memakai angka 3 sebagai dasar trinity ketuhanan Yahudi untuk pertama kalinya. [Alexandrian Judaism: the Precursor of Christianity]

Nasrani:
Satu Decade yang lalu, sebuah organisasi yang bernama People for the Ethical Treatment of Animals (PETA), meluncurkan satu kampanye bahwa Yesus adalah seorang vegetarian yang berasal dari sekte Essene dan sekte itu juga Sekte vegetarian.

Aliran Yahudi terbagi dalam 3 sekte yaitu, Saduki, Farasi dan Essene. Aliran terakhir tidak pernah disebut di Alkitab dan menjadi populer setelah ditemukan risalah Laut Mati [Dead Scroll]. Di jaman Yesus masih hidup, kaum Essene tinggal di padang pasir Judea yang ada di sebelah barat laut mati.

Klaim itu bermula dari hasil temuan arkeologi di sekitar Oasis Ein Gedi, dekat laut mati. Lokasi Essene di Ein Gedi adalah menurut penulis romawi, seorang tetua bernama Pliny (wafat 79 M), di bukunya “Natural History” (N’H,V,XV).

Dalam penggalian arkelogi tersebut tidak diketemukan adanya tulang belulang binatang.

Kemudian, mereka juga merujuk pada Hari ke-6 Penciptaan, yaitu setelah Manusia di ciptakan Allah menurut Perjanjian lama, Kejadian 1:29-30 sebagai berikut,

    Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian.


Juga merujuk pada kejadian setelah banjir besar Nuh [yang tidak masuk akal itu, lihat detailnya di sini], yaitu di Kejadian 9:4,

    Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan.


Juga berdasarkan ayat di Perjanjian baru, surat Roma 14:21, yaitu surat yang ditulis Paulus melalui pembantunya tertius di menjelang akhir perjalanan misioner yang ketiga, Ketika itu Paulus berada di Korintus di rumah Gayus dan sedang merencanakan kembali ke Yerusalem untuk hari Pentakosta:

    Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu.


Benarkah Yesus, Kaum Essene dan Nasrani mengajarkan Vegetarian?

Tentu tidak dan tidak mendekati sama sekali.

Pertama-tama,
Klaim bahwa tidak ditemukan tulang belulang hewan, tidak lah tepat, karena penggalian arkeologi tersebut akhirnya menemukan 4,000 tulang belulang hewan di Ein Gedi juga.

Bahkan di kitab kaum essene, Covenant of Damascus, The ‘ZADOKITE’ DOCUMENT, mengenai makanan tertulis [lihat di sini dan di sini]:

    Tak seorangpun berlumur dosa dengan makan binatang melata atau binatang kotor manapun. Aturan ini meliputi larva lebah dan mahluk hidup manapun yang keluar dari air. Janganlah memakan ikan kecuali di sayat ketika ia masih hidup dan darahnya dibuang.
    Perihal berbagai macam belalang, taruhlah di api atau air selagi mereka masih hidup; Itulah yang sejatinya mereka alami [xii, 11-15]

Kedua,
Penafsiran dari ayat-ayat kitab kejadian di alkitab tersebut diatas tidaklah tepat. Untuk kejadian 1:29-30, jika mereka mau mundur 1-2 ayat akan ditemukan kata “ternak” pada sekumpulan hewan, yaitu di Kejadian 1:24-25:

    Berfirmanlah Allah: “Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak [be-hay-maw: binatang domestik, ternak] dan binatang melata dan segala jenis binatang liar [chay: liar].” Dan jadilah demikian. Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

Tentunya definisi ternak bukan hanya dimanfaatkan tenaganya namun juga dagingnya.

Di Kejadian 3:21 Tuhan juga mengajarkan pemanfaatan binatang untuk diambil kulitnya sebagai pakaian bagi Adam dan Hawa. Ayat ini bolehlah dianggap sebagai ayat favorit para designer pakaian kulit binatang.

Bagi yang menganggap bahwa vegetarian terjadi sebelum Adam dan Hawa “jatuh dalam dosa”, maka inipun tidaklah tepat karena setelah jatuh dalam dosa, di kejadian 3:18, Allah malah mengutuk mereka agar menjadi vegetarian:

    semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;

Tentu saja hal itu juga tidak benar karena di kejadian 4:2, Anak Adam dan Hawa, yaitu si sulung Habel menjadi gembala kambing dan domba sedangkan si nomor 2, yaitu Kain menjadi petani kemudian di Kejadian 4:3-5, dikisahkan bahwa ternyata Allah lebih menyukai persembahan DAGING daripada tetumbuhan.

Di setelah banjir besarpun, yaitu di kejadian 8:20 Nuh memberikan korban persembahan daging bagi Allah. Kemudian Allah juga menegaskan kembali di kejadian 9:3 bahwa segala yang bergerak dan tumbuhan akan menjadi makanan seluruh keturunan Nuh dengan pengecualian pada darah binatang tidak boleh dimakan [kejadian 9:4]

Kemudian jika dinyatakan bahwa Roma 14:21 sebagai dasar vegetarian, maka itu juga kurang tepat mengingat di Roma 14:2 dan 14:17, dinyatakan sebagai berikut:

    Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja…Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.

Di surat Paulus lainnya yaitu korintus 10:25-26, untuk jemaat di korintus ditegaskan bahwa makan daging itu boleh2 saja selama itu bukan bekas persembahan kepada berhala:

    Kamu boleh makan segala sesuatu yang dijual di pasar daging, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. Karena: “bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan.”. Kalau kamu diundang makan oleh seorang yang tidak percaya, dan undangan itu kamu terima, makanlah apa saja yang dihidangkan kepadamu, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. Tetapi kalau seorang berkata kepadamu: “Itu persembahan berhala!” janganlah engkau memakannya, oleh karena dia yang mengatakan hal itu kepadamu dan karena keberatan-keberatan hati nurani.

Yesus juga ternyata makan ikan sebagaimana tergambar di beberapa perjalanan sebelum kisah penyaliban [Matius 14:19, 15:34-36; Markus 6:41; 8:7; Lukas 9:16]. Setelah periode penyaliban, Yesus juga melakukan demonstrasi makan ikan sebagaimana tercantum di Lukas 24:41-43,

    Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: “Adakah padamu makanan di sini?” Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka.

Juga di Yohanes 21:9-13, yaitu ketika Yesus melakukan “penampakan” yang ketiga kalinya, saat itu, Ia menyempatkan diri untuk sarapan ikan:

    Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti.Kata Yesus kepada mereka: “Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.”..Kata Yesus kepada mereka: “Marilah dan sarapanlah.”..Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu.

Disamping ikan, Yesus dan 12 Muridnya pun makan daging domba, sembelihan untuk upacara paskah [Markus 14:12-18; Lukas 22:7-16] Bahkan alkitab juga mengindikasikan bahwa makan daging domba Paskah sudah kerap dilakukan sebelumnya yaitu pada kalimat “Kata-Nya kepada mereka: “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu..”

Berdasarkan petunjuk diatas, dapat kita simpulkan bahwa makan daging dan kebiasaan mempersembahkan binatang kepada tuhan, baik itu dipersembahkan kepada tuhan orang kafir maupun tuhan yahudi dan kaum Nasrani adalah hal yang lazim dilakukan.

Islam:
Tidak diragukan lagi Islam sangat tidak mendukung praktek vegetarian. Menurut Allah semua makanan dapat dimakan, kecuali binatang tertentu yang diharamkan sebagaimana tersurat dari ayat-ayat dibawah ini:

    AQ 23: 21. Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian daripadanya kamu makan,

    AQ 6:142. Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makanlah dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

    AQ 22:34. Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah),

    AQ 22:30. Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah[989] maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.

    AQ 22:28. supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan[985] atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak[986]. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.

    AQ 5:1. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu[388]. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.

    AQ 16:5. Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan.

    AQ 40:79. Allahlah yang menjadikan binatang ternak untuk kamu, sebagiannya untuk kamu kendarai dan sebagiannya untuk kamu makan.

Dari bukti-bukti tekstual religi di atas, kita melihat bahwa tidak ada satupun agama dengan tanpa kompromi mendukung Vegetarian KECUALI satu aliran saja yaitu Jainisme.

Bahkan Aliran Hare Krishna secara terang-terangan masih berkompromi makan daging selama diperuntukan untuk tujuan tertentu, misalnya berdakwah.

Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah benarkan manusia secara alami adalah vegetarian?

Prof Hiromi, seorang ahli usus dan juga non vegetarian, memang Ia tidak merekomendasikan daging sebagai makanan utama. Dia hanya menganjurkan makan daging itu cukup 15% dari seluruh makanan yang masuk ke perut sesuai dengan perbandingan jumlah gigi manusia, dimana jumlah gigi taring kita, yang tugasnya mengoyak-ngoyak makanan seperti daging, adalah 15% dari seluruh gigi kita.

Manfaat paling nyata dari daging adalah keratin!

Ya! Itulah alasan mengapa daging itu perlu, karena keratin alami hanya ada di HEWANI [kita bisa masukan manusia dengan susunya disini] dan TIDAK di Nabati.

Trus manfaatnya apa sih?

Keratin berguna bagi perkembangan otak pada embrio manusia [baca: bayi], mengoptimalkan fungsi fisiologi pada otak, jaringan saraf, sistem saraf, otot dakn lain-lain [yang butuh banyak energi]. Keratin juga berguna mengobati penyakit2 otot dan saraf misalnya: artritis, gagal jantung, penyakit Parkinson, atrofi, penyakit McArdle, penyakit Huntington!

Berbicara tentang percobaan pada tikus, hasil studi menyatakan keratin dua kali lebih efektif dari obat riluzol dalam memperpanjang usia tikus yang terkena penyakit neuro-degeneratif sklerosis amiotropik lateral (ALS / penyakit Lou Gehrig).

Apa lagi pada manusia, ya..

Efek neuropatif yang muncul mungkin diakibatkan oleh peningkatan ketersediaan energi di dalam sel saraf yang rusak.

Tentu saja cara memasak yang tidak benar DAPAT mengubah keratin menjadi keratinin yang merupakan zat racun dalam darah.

Turunan produk daging yang bermanfaat bagi manusia adalah susu, disamping sebagai sumber kalsium juga hal-hal lain yang ada di susu.

Berikut ini perbandingan kandungan susu Ibu, susu sapi dan sari kedelai per 100 gram dengan kadar air 88.6% [g]:

  • Susu Ibu berisi: 1.4 g protein, 3.1 gram lemak, 7.2 kabohidrat, 62 Kcal energi, 35 mg kalsium, 15 mg fosfor, 0.2 mg besi, 7.0% laktosa (gula)
  • Susu Sapi berisi: 2.9 g protein, 3.3 lemak, 4.5 kabohidrat, 59 Kcal energy, 100 mg kalsium, 36 mg fosfor, 0.1 mg besi, 4.6% laktosa
  • Susu [baca: sari] Kedelai berisi: 4.4 g protein, 2.5 g lemak, 3.8 g kabohidrat, 52 Kcal energy, 18.5 mg kalsium, 2.5 mg fosfor, 1.5 mg besi, 0% laktosa
  • Sumber: Chen S. Sari kedelai: a drink from the great earth. American Soybean Association, 1983

    Note:
    Khusus kandungan laktosa [per 100 gram] di ambil dari wikipedia. Untuk susu kedelai kadar laktosanya nil. Ada yang alergi laktosa namun jika susu sapi di yoghurt, maka laktosanya rusak, sehingga orang yang alergi ini dapat meminumnya. Bacaan lebih lanjut: “Susu Kedelai versus Susu Sapi, Mana Lebih Baik?

Salah satu kebaikan dari susu adalah menghindari kanker usus, seperti yang dirilis oleh European Journal of Clinical Nutrition (2001) 55, 1000-1007 yang di sponsori oleh Swedish Cancer Foundation [lihat di sini, di sini dan di sini]

    “Conclusions: Our results indicate that individuals showing high consumption of milk have a potentially reduced risk of colon cancer; however, the association does not appear to be due to intake of calcium, vitamin D, or to specific effects of fermented milk.”

Namun demikian, jika minum susu berlebihan malah akan mengakibatkan osteoporosis dan juga osteoarchtistic.

    Kadar kalsium dalam darah biasanya 9-10 miligram. Kalau kita minum susu, maka konsentrasi kalsium dalam darah tiba-tiba meningkat. Akibatnya adalah tubuh harus mengembalikan kondisi ke kadar normal dengan jalan membuang kalsium dari ginjal melalui urine.

    Bukti yang diberikan oleh Hiromi Shinya adalah di negara yang tingkat konsumsi susunya tinggi seperti Amerika Serikat, Swedia, Denmark dan Finlandia, kasus retak tulang panggul dan osteoporosis jauh lebih tinggi dibanding negara-negara Asia dan Afrika, yang konsumsi susunya lebih rendah. – [Majalah Tempo, ed 15-22 Nov 2009]

    Iklan susu juga menyesatkan dan mengakibatkan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (POM) melakukan penyitaan: “Kami juga menyita produk susu ‘anlene’ karena label di kemasannya menyalahi izin. Di label itu menyebutkan kegunaannya sebagai nutrisi dan menyempurnakan tulang. Penyebutan ini tidak boleh, dan yang diizinkan dengan penyebutan kegunaannya menjaga kesehatan, bukan untuk mengobati,”

    Padahal cukup banyak minun teh hijau maka dua gejala keluarga besar osteo mana saja dapat di cegah dan di obati! – [Penelitian Dr. Ping Chung Leung dan rekan dari Institute of Chinese Medicine, Chinese University of Hong Kong, dipublikasikan di Journal of Agricultural and Food Chemistry, Agustus 2009]

Di beberapa situs, terutama situs-situs pendukung praktek hidup Vegetarian, terdapat sirkulasi tulisan dari BBC dengan judul: High IQ link to being vegetarian [juga di sciencedaily], yang melansir hasil penelitian British Medical Journal:

    [..]Team dari Universitas Southampton menemukan bahwa mereka [test IQ dilakukan saat subjek berusia 10 tahun], mempunyai hasil test IQ 5 poin lebih tinggi dari rata-ratanya ketika memutuskan menjadi vegetarian di usia 30 tahun

    Peneliti menyatakan bahwa ini dapat menerangkan mengapa mereka yang memiliki IQ lebih cerdas lebih sehat ketika ber diet vegetarian yang berhubungan dengan rendahnya rata-rata jumlah penderita sakit jantung dan kegemukan

    Penelitian pada 8,179 orang dilaporkan di British Medical Journal.
    ..
    Liz O’Neill, dari masyarakan Vegetarian, mengatakan: “Kita selalu tahu bahwa vegetarianisme adalah cerdas, pilihan berbelas kasih yang menguntungkan binatang, masyarakat dan lingkungan

    “Sekarang kita punya pembuktian saintifik untuk membuktikan itu. Mungkin itulah yang menjelaskan mengapa banyak “meat-reducer” dengan cerdas menyebut diri mereka vegetarian yang bahkan mereka juga tahu mesti ngga makan ikan, kalkun atau ikan”[..]

    Note: Vegetarianisme adalah Praktik hidup yang sepenuhnya mengkonsumsi tetumbuhan, dengan atau tanpa produk yang berasal dari susu, madu dan telur

Secara Provokatif, berita itu ingin menyampaikan “pesan” pada khalayak umum bahwa:

“Orang pintar pilih vegetarian”!!

Apa yang salah dengan berita itu?

Jika saja mau membuka link dari British Medical Journal [BMJ] maka segera kita ketahui bahwa jumlahnya bukanlah 8179 namun 8170 orang, namun tentu saja bukan itu yang menjadi fokus pembahasan saya pada tulisan di atas itu.

Pertama-tama,
Mari kita lihat dulu definisi kepintaran dari hasil test IQ sehingga seseorang dapat di kategorikan cerdas atau tidak cerdas:

Range Klasifikasi IQ menurut Terman:

  • > 140 Genius atau mendekati Jenius
  • 120-140 Kecerdasan Sangat Super
  • 110-120 Kecerdasan Super
  • 90-110 Kecerdasan Rata-rata
  • 80-90 Tumpul/bodoh
  • 70-80 Garis Batas Kekurangan
  • < 70 Dipastikan Lemah Pikiran

[Terman wrote the Stanford-Binet test: Berk, L.E. (1997). Child Development, 4th ed. Toronto: Allyn and Bacon]

Dari hasil BMJ journal kita ketahui bahwa skor test IQ mereka saat berusia 10 tahun dan kemudian kelak menjadi Vegetarian atau Non Vegetarian adalah:

  • Pria: 106.1 VS 100.6
  • Wanita: 104 VS 99

Dari data hasil test IQ mereka di atas, semua hasil skor masih berada di kisaran range yang sama yaitu hanyalah rata-rata saja!

Melihat itu, dengan bahasa provokatif yang sama, saya juga boleh menyatakan bahwa kecerdasan anak perempuan berusia 10 tahun, 5 point-an di bawah rata-rata anak lelaki!

Mari kita telusuri lebih lanjut.

Study ini dilakukan pertama kalinya pada tahun 1970, tepatnya tanggal 5-11 April 1970. Study dari British cohort mengumpulkan informasi 17.198 anak yang lahir di Inggris raya pada kisaran tanggal tersebut.

Pada usia 10 tahun, mereka melakukan test IQ. Pada 20 tahun kemudian, dari sekian orang yang terdata di atas, 11.204 orang berpartisipasi pada program ini dan kemudian, yang ternyata punya hasil test IQ saat mereka berusia 10 tahun hanyalah 8170 orang.

Setelah di teliti, ternyata dari 8170 orang ini:

  • Yang vegetarian hanyalah berjumlah 366 orang atau 4.5% dari seluruh partisipan [8170 orang]!
  • Dari yang 366 vegetarian tersebut, yang benar-benar vegetarian murni [Vegan] hanyalah 9 Orang saja atau 0.0003% saja!
  • Bahkan, dari 366 orang yang mengaku vegetarian, 123 orang dilaporkan makan ikan atau ayam juga! sedangkan sisanya, 234 orang melakukan praktek vegetarian dengan mengkonsumsi juga produk olahan dari susu, madu dan telor

Wow! Sekarang, coba bayangkan dengan cara seperti ini:

    Misalkan sample non vegetarian yang di ambil hanyalah saya saja [n=1] dan hasil test saya saat di usia 10 tahun misalkan 69. Di usia 30 saya tetap non vegetarian.

    Hasil test IQ saya kemudian dibandingkan dengan hasil test IQ dari mereka yang memilih menjadi vegetarian di usia 30 tahun, yaitu 106

Jadi, dengan mengabaikan perbedaan sangat signifikan pada besaran jumlah sample antar dua kelompok, kemudian meminjam cara mereka menyimpulkan, maka secara provokatif akan tertulis:

“Penelitian berdasarkan hasil test IQ membuktikan bahwa non vegetarian itu ternyata IDIOT!”

Mari kita lanjutkan.

Kemudian, dari 366 orang vegetarian tersebut, hasil Skor IQ mereka [saat berumur 10 tahun] yang nantinya menjadi Vegan [9 orang] VS non Vegan [357 orang], ternyata tidak terdapat perbedaan!

Namun, di antara mereka yang menjadi vegetarian, yaitu vegan (9 orang) dan vegetarian (makan juga produk olahan dari susu, madu dan telor, 234 orang). Ternyata hasil skor IQ kelompok vegan adalah 95.1! Hasil itu 10 point lebih rendah dari semua golongan vegetarian!

Apa yang saya baca dari hasil di atas?

Skor IQ terendah dari anak-anak yang kemudian tetap memilih jadi Non Vegetarian [99.0 point] terbukti MASIH LEBIH TINGGI dari skor IQ anak-anak yang kemudian memilih jadi Vegan [95.1 point]!

Kesimpulannya:

  • Tetep saja yang bersikeras menjadi vegetarian murni memang lebih bodoh dari Non Vegetarian
  • Memperhatikan cara team Universitas Southampton melakukan pengolahan informasi dan juga menyimpulkan, maka mereka yang masih mau bersekolah di sana dan juga yang masih mau mempekerjakan lulusan dari sana, jelas merupakan keputusan yang kurang cerdas, bukan?!

Yang perlu diwaspadai oleh mereka yang bersikeras untuk Vegetarian terutama karena Praktik hidup Vegetarian dapat menyebabkan PENYUSUTAN OTAK!

    [..]Ilmuwan menemukan bahwa menjadi Veggie berdampak buruk pada otak yaitu mereka yang mengkonsumsi bebas daging 6 x lebih banyak menderita penyusutan otak.

    Vegan dan vegetarian lebih cenderung kekurangan sumber vitamin yang berasal dari daging [hati], susu dan ikan. Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan anemia dan peradangan pada system syaraf. Ekstrak yagi adalah satu dari makanan vegetarian yang menyediakan tingkat vitamin yang baik

    Hubungan ini ditemukan ilmuwan dari Universitas Oxford dengan menggunakan tes-tes memori, check fisik dan scan otak pada 107 orang yang berusia natara 61 – 87 tahun

    Ketika para partisipan itu di test kembali 5 tahun kemudian, hasil medex menemukan bahwa mereka yang rendah tingkat vitamin B12 adalah yang paling utama menderita penyusutan otak.

    Ini mengkonfirmasi penelitian sebelumnya yang menunjukan hubungan antara berhentinya pertumbuhan otak dan tingkatan vitamin B12[..]

Sebagai penutup dari artikel ini, ijinkan saya memperkenalkan tokoh-tokoh terkenal dalam sejarah yang merupakan VEGETARIAN yang saya ambil dari website ini:

  • POLPOT, Pemimpin Khmer Merah, Ia membunuh cuma 2 juta orang kamboja saja selama hidupnya [jumlah korban bervariasi tergantung sumbernya]
  • ADOLF HITLER, vegetarian sejak tahun 1932, Diktaktor Jerman [1934-1945], melakukan pembunuhan massal secara sistimatik dengan korban sekurangnya 17 Juta penduduk sipil, diperkirakan 6 juta adalah Yahudi [Tentu saja karena reputasinya, akan ada yang mati-matian membantah bahwa Adolf Hitler adalah vegetarian]
  • Charles mansion, penjahat dari Amerika Serikat, Pengelola “cult” yang bernama Kehancuran hari kiamat, mengaku reinkarnasi Yesus kristus, keluar-masuk penjara sejak kecil, mulanya karena pencurian mobil, pemalsuan, dan penipuan kartu kredit. Pernah bekerja sebagai mucikari. Pada akhir tahun 1960-an, Menjadi pemimpin kelompok yang dikenal sebagai “The Family”, dan memimpin beberapa pembunuhan sadis, terutama aktris Sharon Tate/La Bianca (istri sutradara Roman Polanski), yang sedang mengandung delapan setengah bulan. Saat ini dipenjara seumur hidup di Corcoran State Prison, California
  • Volkert van der Graaf, aktivis lingkungan, menembak mati Pim Fortuyn pada saat politikus itu keluar dari sebuah stasiun radio disiang hari pada tanggal 6 May 2002. Van der Graaf dijatuhi hukuman penjara 18 tahun untuk perbuatannya itu

So, berhati-hatilah jika anda hendak menjadi vegetarian…anda bisa jadi mencintai binatang dan tidak memakannya…namun menjadi lebih senang membunuh manusia!

—–
Note:
Di FB saya, dengan judul yang sama, terdapat komentar dan tanggapan menarik antara Ngarayana [Gung Ngara] dan Saya


Berikut potongan komentar yang ada di FB saya, silakan di simak.

Komentar Gung Ngara:

Wah tulisan yang luar biasa pak Wirajhana. Sangat panjang dan penuh pro dan kontra…

Saya belum bisa cerna semua, tapi saya punya beberapa opini.

1. Dalam Veda memang terdapat 3 jenis ajaran (menurut Brahma Vaivarta Purana), yaitu yang bersi…fat satvik, rajasik dan tamasik. Dalam kaitannya di sini setiap ajaran memang ditujukan untuk level orang yang berbeda-beda sesuai dengan Guna dan Karma masing-masing orang. Sehingga orang mau hidup vegetarian atau tidak itu adalah pilihan dan Veda tidak pernah memaksa. Berdasarkan pendapat ini saya sangat setuju dengan anda pak… 🙂

2. Kenapa dalam ISKCON diwajibkan vegetarian?
Prabhupada pernah berkata bahwa di dunia ini kekuarangan orang-orang berkarakter Brahmana. Karena itu misi beliau keliling dunia adalah untuk mencetak para Brahmana. Salah satu langkah pertama yang beliau lakukan adalah pengendalian diri terdapat murid-muridnya. Sehingga beliau menetapkan 4 pantangan dasar untuk murid-murid beliau, yaitu; tidak makan daging, ikan, telor, tidak berzinah, tidak mabuk-mabukan dan tidak berjudi. Tidak makan daging memang bukan hal utama dalam kerohanian, tetapi itu adalah hal dasar dalam usaha pengendalian egoisme dan nafsu kita.

3. Kenapa Prabhupada pernah mengatakan bahwa ajarannya bukan Hindu?
Lihatlah kontek tempat dan waktu dimana beliau ceramah. Beliau beradapan dengan orang-orang non Hindu yang sudah terlanjur mencap Hindu buruk. Sehingga beliau bertindak diplomatis. Jika beliau tidak bertindak demikian, mungkin jumlah pengikut Hindu di dunia barat saat ini tidak akan sebanyak sekarang.

4. Mengenai kesehatan orang vegetarian… saya rasa tidak ada bedanya sama yang non veget… jadi benar Vegetarian adalah pilihan..
Saya sendiri sudah veget dari kecil, toh nyatanya (tidak bermaksud sombong) dari SD saya selalu juara umum dan kuliah juga dalam waktu yang relatif singkat karena saya lulus tercepat dibanding temen-temen angkatan saya. Di Ashram tempat saya tinggal juga terdapat banyak anak-anak yang seumur hidupnya tidak makan daging, toh juga mereka sehat-sehat dan cerdas.

Jadi silahkan memilih berdasarkan kata hati anda… Mau mengikuti veget.. ada landasan/alasannya. Mau tidak juga ada di dalam Veda..

Salam,
[18 Mei 2010 jam 10:16]
—-

    Wirajhana:

    Dear Ngarayana,
    Komentar yang cedas! No.1 & 2 ngga ada comment
    utk yg no.3. Anda katakan:
    [..]Lihatlah kontek tempat dan waktu dimana beliau ceramah. Beliau beradapan dengan orang-orang non Hindu yang sudah terlanjur mencap Hindu buruk. Sehing…ga beliau bertindak diplomatis. Jika beliau tidak bertindak demikian, mungkin jumlah pengikut Hindu di dunia barat saat ini tidak akan sebanyak sekarang.[..]

    Saya:
    Argumen anda tidak berdasar..
    Di US, Hindu tidaklah punya cap buruk seperti mereka memandang Islam sekalipun itu ada di tahun2 sila prabu mendirikan ISKON di US.

    Justru yang berusaha memberikan cap buruk hindu adalah Sila prabu sendiri dengan ucapan ini:

      “Sekalipun memunculkan para sarjana, sanyasin, grihasta dan swami besar, apa yang disebut pengikut agama Hindu semuanya tidak berguna, cabang-cabang kering dari agama Veda.”

      “India, mereka telah membuang sistem agama yang sesungguhnya, Sanatana Dharma. Secara takhyul, mereka menerima satu agama campur aduk (a hodgepodge thing) yang disebut Hinduisme. Karena itulah muncul kekacauan.”

    Mengapa pengikut Hindu di dunia barat banyak tidak ada hubungannya dengan Sila Prabu.

    Namun berhubungan dengan ketertarikan mereka dengan India dan ajarannya. Sila prabu cuma satu diantara ratusan guru hindu.Toh hingga saat ini jumlah pengikut hare kresna di Amerika tidak pesat malah cenderung redup.

    Alasannya adalah pemberitaan buruk tentang hare kresna di mana2, silakan lihat ini:

    http://www.rickross.com/groups/krishna.html

    Pelakunya justru berasal dari pengikut aliran Hare Krishna sendiri!

    4. Sepakat bahwa kecerdasan emang tidak tergantung makan daging atau tidak namun Kesucian jelas tidak tergantung dari jenis makanan yang kita makan namun tergantung seberapa banyaki bau busuk kita sendiri, seperti yang Buddha katakan:

    • Membunuh, menganiaya, memotong, mencuri, berdusta, menipu, kepura-puraan, berzinah, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.
    • Jika seorang tidak terkendali hawa nafsunya, serakah, melakukan tindakan yang tidak baik, berpandangan salah, tidak jujur, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.
    • Jika seseorang berlaku kasar dan kejam, suka memfitnah, pengkhianat, tanpa belas kasih, kikir, dan tidak pernah berdana, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.
    • Kemarahan, kesombongan, keras kepala, bermusuhan, munafik, dengki, tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, berhubungan dengan hal-hal yang tidak baik, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.
    • Jika seseorang bermoral buruk, menolak membayar hutang, pengumpat, penuh tipu daya, penuh dengan kepura-puraan, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.
    • [sumber: Amagandha Sutta]

    Well masing2 orang saat ini mempunyai bau busuknya..Sekarang ini tantangannnya adalah seberapa banyak upaya kita membuang bau busuk itu, bukan makan daging.

    Salam.
    [18 Mei 2010 jam 13:46]

—-
Komentar Gung Ngara:

Saya coba berpendapat sedikit lagi ya pak.. 🙂

Hindu yang umum dikenal di dunia barat sangat berbeda dengan prinsip bhakti yang di ajarkan prabhupada. Sebelumnya, para yogi dan guru-guru Hindu datang dengan mengatakan filsafat mayavada yaitu… menyebutkan aham brahman asmi (aku adalah brahman/Tuhan). Semenara menurut filsafat yang Vedanta tidak seperti itu. tetapi Jiva dan Brahman adalah berbeda dan kekal. [http://ngarayana.web.ugm.ac.id/2009/08/filsafat-mayavada/]

nah pernyataan beliau “Sekalipun memunculkan para sarjana, sanyasin, grihasta dan swami besar, apa yang disebut pengikut agama Hindu semuanya tidak berguna, cabang-cabang kering dari agama Veda.” menguatkan hal ini…
Beliau sangat menentang filsafat mayavada sebagaimana dalam link di artikel yang saya copaskan.

Jadi kemungkinan Prabhupada ingin menghindari anggapan buruk dan keliru akan Hindu. Buruk di sini sudah barang tentu bukan buruk dalam artian di benci seperti halnya kaum sparatis. (sayang beliau sudah tidak ada, jadi ga bisa di confirm balik he..he..he..) namun tentunya kita bisa mendapatkan penjelasan dari murid-murid dekat beliau secara langsung tentang hal ini. Kalau murid-murid beliau dan juga kenyataan sekarang memperlihatkan Hare Krishna bukan Hindu maka mungkin apa yang disampaikan Prabhupada benar adanya.

Mengenai naik turunnya pengikut beliau wajar… bahkan beliau pernah berkata “andaikan 1 saja dari kalian bisa menjadi penyembah murni maka misi saya sudah sukses”. Namun beliau meramalkan 10.000 tahun lagi adalah merupakan puncak dari gerakan harinama sankirtana

Siapa yang tahu? ga tahu juga… he..he..he..

(* Membunuh, menganiaya, memotong, mencuri, berdusta, menipu, kepura-puraan, berzinah, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.)

Makan daging tanpa membunuh juga susah lho pak 🙂 secara tidak langsung ada konsumen pemakan daging, maka sudah pasti ada produsen yang akan melakukan pembunuhan.

(* Jika seorang tidak terkendali hawa nafsunya, serakah, melakukan tindakan yang tidak baik, berpandangan salah, tidak jujur, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.
* Jika seseorang berlaku kasar dan kejam, suka memfitnah, pengkhianat, tanpa belas kasih, kikir, dan tidak pernah berdana, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.)

yang ini saya setuju… makanya dalam sloka veda juga pembunuhan dan korban binatang ada aturan ketatnya.. jadi tidak asal bunuh. Namun bagaimana jika pembunuhannya dilakukan seperti pada rumah jagal yang sangat kasar dan kejam? Lalu manusia memakan daging mengikuti nafsu seperti yang banyak terjadi saat ini? Jadi antara nafsu dan makan daging juga harus di jaga dengan aturan yang jelas, sehingga hanya makan daging yang sesuai aturan sastra, tidak berlebih dan tanpa nafsu. Hanya saja kadang susah kalau sudah mengalami kemelekatan (klesia) pada suatu kenikmatan. he..he..

Makanya Veda menetapkan aturan yang ketat dalam membunuh binatang. Sambil mengucapkan mantra yang berisi kata mamsa, seseorang terlebih dahulu haruslah memandikan si binatang, kemudian menyemblihnya di tempat dan pada waktu tertentu. Kata “mamsa” berarti saya (mam) dan dia (sa). Maksudnya, saya bunuh dia sekarang dan nanti dia akan membunuh saya (Manu Smerti 5.55).
Setelah membunuh sang binatang, si pembunuh harus beramal kepada orang-orang brahmana atau fakir miskin. Dikatakan,”Bila seseorang membunuh angsa, merak, babi, balaka, monyet, elang atau burung bhasa, maka dia harus mendermakan seekor sapi kepada seorang brahmana. Bila seseorang membunuh kuda, dia harus mendermakan banyak pakaian. Jika membunuh gajah, dia harus mendermakan lima ekor banteng. Bila membunuh kambing, dermakan seekor sapi penarik pedati. Jika membunuh keledai, dermakan seekor anak sapi umur lima tahun” (Manu Smerti 11.136-137). Inilah contoh-contoh prayascitta, penyucian diri agar bebas dari reaksi dosa membunuh binatang.
mampukah kita menjalankan prinsip ini di jaman sekarang?

itulah yang sulit menurut saya…

mohon bimbingannya pak..

Salam kompak,-
[18 Mei 2010 jam 18:02]
—-

    Wirajhana:

    Dear Ngarayana,
    Wow..tks atas tanggapannya luar biasa sekali!

    Jika Hindu yang dikenal di barat tidaklah seperti ajaran prabupada maka tidak berarti harus membuat statement negatif untuk mencari pengikut, bukan?! Apalagi saat statement itu sep…ihak tanpa bisa dikonfirmasi saat itu juga oleh aliran hindu lainnya.

    Anda katakan:
    kemungkinan Prabhupada ingin menghindari anggapan buruk dan keliru akan Hindu.

    saya:
    well, ketika aliran ini mendapatkan kesulitan di Inggris dan di Rusia misalnya ketika menghadapi perkara atas gedung ‘Bhaktivedanta Manor’ di Inggris atau ketika dituntut oleh orang Kristen di Russia dan Polandia (yang menganggap Hare Krishna hanyalah gerakan ‘cult’ dan meminta agar pemerintah melarang mereka). Dalam permohonan kepada hakim dan pemerintah, kata Hindu dipergunakan secara terbuka.

    Dalam kasus-kasus hukum yang lain, termasuk kasus di Mahkamah Agung Amerika Serikat, Hare Krishna berusaha menangkis label “cult” dengan menyatakan dirinya sebagai satu sampradaya Hindu tradisional, dan meminta orang-orang Hindu yang lain untuk menguatkan hal ini di pengadilan.

    Sungguh ironis, saat dengan lantang berteriak menghindari dan menolak dianggap Hindu, namun ketika terpuruk toh tetep saja diakui hindu?!

    Anda:
    (* Membunuh, menganiaya, memotong, mencuri, berdusta, menipu, kepura-puraan, berzinah, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.)

    Makan daging tanpa membunuh juga susah lho pak 🙂 secara tidak langsung ada konsumen pemakan daging, maka sudah pasti ada produsen yang akan melakukan pembunuhan.

    saya:
    Ketika Prabhupada meminta Harikesh menjalankan misi ke Rusia, Harikesh berkata, “Mereka cuma makan daging”. Prabhupada menmjawab, “Ya Makan daginglah”

    Jika anda percaya tumbuhan juga mempunyai jiwa maka tetep saja anda melakukan pembunuhan, bukan?! lantas apa bedanya?

    Buddhisme sendiri jelas-jelas mengatakan tumbuhan dan atau mahluk TIDAK memiliki Jiwa/roh didalamnya..namun tetap ia memisahkan yang dimaksudkan bau busuk itu apa dan itu bukanlah dari makanan.

    Mengapa aliran hare kresna, sebagai kelompok yang konon strictly vegetarian malah juga menganjurkan makan daging juga?

    karena mereka juga tahu bahwa salah satu produsen pembunuhannya adalah umur, survival di alam, dll sehingga tidak harus produsen itu selalu berarti manusia, bukan?

    Bukankah Prabuphada sendiri juga mengatakan ini:

    “Jangan membunuh. Ketika sapi itu telah mati. Engkau dapat memakannya”

    Jadi, ketika itu telah mati maka 1tu 100% materi yang masih bisa dimakan, jadi jelas bukan bau busuk, bukan?

    Anda katakan:
    Namun bagaimana jika pembunuhannya dilakukan seperti pada rumah jagal yang sangat kasar dan kejam? Lalu manusia memakan daging mengikuti nafsu seperti yang banyak terjadi saat ini?

    Saya:
    Sama saja. toh, setelah mati ia tetep adalah materi.
    Rumah jagal motifnya selalu uang dan kemakmuran untuk diri sendiri. Mereka melakukan pemotongan bukanlah khusus diperuntukan untuk kita namun karena uang.
    Anda bisa saja tidak sepakat namun faktanya sejak ribuan tahun SM hingga 10.000 tahun nanti rumah jagal teteplah ada.

    Contoh bagaimana peluang itu muncul salah satunya adalah karena AGAMA itu sendiri spt contoh anda diatas atau contoh lain dengan cara yang halus adalah seperti excuse utk makan daging yang dilakukan Prabhupada sendiri ketika meminta seseorang melakukan misinya di rusia.

    Anda boycott atau tidak kebutuhan itu akan ada dan tetep merupakan peluang bagi beberapa orang.

    Anda katakan:
    [..]Inilah contoh-contoh prayascitta, penyucian diri agar bebas dari reaksi dosa membunuh binatang. Mampukah kita menjalankan prinsip ini di jaman sekarang?

    Saya:
    Anda membunuh dengan metode apapun baik itu ritual ataupun bak tukang jagal maka 100% anda telah menghilangkan/menyakiti mahluk hidup dan memupuk karma buruk.apapun alasannya.

    Setelah anda membunuh anda kemudian berpikir bahwa dengan mempersembahkan sesuatu kepada mahluk adi daya maka ia akan “senang” sehingga mau diajak berkonspirasi menghilangkan dosa anda.

    Sekarang disamping membunuh, anda juga melakukan kekeliruan tahu dengan mengaggap dua hal bahwa “tuhan” senang, “tuhan” bisa disuap, “tuhan” adalah pelayan kita!

    Setelah anda membunuh dan memberikan persembahan spt di atas, anda juga berpikir bahwa dengan cara mendermakan sesuatu akan mengurangi dosa dan malah mendapat pahala..

    Sekarang disamping membunuh, kekeliruan tahu, anda juga menciptakan KESERAKAHAN dengan mengorbankan nyawa mahluk lain dan mengambil EVEN itu sebagai ajang memupuk PAHALA! Sehingga anda akan mengajak orang lain memupuk dengan model yang sama sehingga anda menjadikan itu sebagai KESERAKAHAN MASAL yang baik.

    Padahal,
    Menjalankan misi berdana tidak memerlukan pemicu kecuali kemauan kita membebaskan diri kemelekatan. Kita pun tidak perlu dipicu dengan alasan ritual. Kita selalu menganggap bahwa kebutuhan kita tidak mencukupi sehingga membuat berat memberi. Itu jelas bahasa lain dari kikir!

    Dulu saya bahkan tidak mau memberikan uang bagi pengemis, tukang parkir liar..sekarang agak berbeda, lumayan konstan utk melepaskan kemelekatan itu..alasan saya: Saya melihat itu terjadi karena karma lampau mereka sebelumnya dan akibat buah kejadian sekarang…Jika saya diposisi mereka, saya juga berharap ada orang yang bersedia memberikan kesempatan sedikit untuk dapat bernafas dan kemudian menjalani karma saya kembali.

    demikian, mohon koreksinya..

    salam kompak juga.
    [19 Mei 2010 jam 14:26]

—-
Komentar Gung Ngara:

Hare Krishna atau Gaudya Vaisnava adalah salah satu dari sekian banyak sampradaya yang ada dalam Hindu, yaitu dari Brahma Sampradaya (disamping 3 sampradaya pokok lainnya, yaitu Sri, Ludra dan Sanaka/catur kumara sampradaya) sebagaimana dit…egaskan dalam Bhagavata Purana 6.3.21. Jadi pernyataan Prabhupada bukanlah pernyataan yang berlaku universal, tetapi memiliki maksud tertentu dengan tujuan “kebaikan” menurut beliau. Karena itulah Hare Krishna tetap dikenal sebagai Modern Hindu saat ini di negara Barat. Masalah statement sepihak mengenai ajaran yang benar memang tidak bisa dihindari. Sama saja dengan kenyataan bahwa Buddha adalah salah satu masab dalam Veda yang tergolong nastika, namun Buddha akhirnya menyatakan bahwa keliru dan Buddha menjadi agama baru.

Harus kita akui bahw filsafat Veda bukanlah filsafat yang 1 warna sebagaimana agama-agama abrahamik. Veda memiliki banyak jalan yang disesuaikan dengan guna dan karma penganutnya. Jadi bisalah semua penganut Veda dikumpulkan, diajak diskusi dan mengikuti satu jalan dan mengakui hanya jalan itu yang benar dan yang lain salah? susah juga kan pak?

Prabhupada bahkan pernah berkata; “Jika memang tidak ada makanan lain selain non-vegetarian, silahkan makan daging, tetapi hindari membunuh sapi”. Memang benar, Prabhupada tidak pernah melarang secara strictly untuk tidak makan daging sama sekali. Masalah bangkai hewan yang dimanfaatkan baik untuk dimakan atau untuk kepentingan lainnya itu juga sangat benar. Alat musik mridangga yang digunakan dalam setiap kirtana dibuat dari kulit sapi yang sudah mati dan itu sangat dibolehkan. Hanya saja yang menjadi masalah sekarang adalah prosesnya.

Mari kita coba berpikir out of the box. Suatu kejadian akan terjadi jika ada pemicunya. Dalam hal ini akan ada 2 jenis pemicu, yaitu pemicu langsung dan pemicu tidak langsung. Dalam kaitannya dengan makan daging. Memakan daging hewan atau memanfaatkan bangkai hewan yang sudah mati sangat wajar. Tetapi lihatlah prosesnya, apakah hewan itu mati secara wajar atau tidak?

Jika kita bersikeras hanya mengatakan diri memanfaatkan bangkai hewan (badan hewan yang sudah mati) tanpa perduli out of the box menganai faktor tidak langsung yang mempengaruhinya saya rasa keliru. Sama dengan teori kejadian terpostulasi dalam sistem keselamatan dimana kejadian itu terjadi secara tidak langsung, tetapi dipicu oleh suatu kejadian lain yang mungkin sebenarnya tidaklah berbahaya.

Analogi seperti kita memberi uang pada pengemis. Memang benar bahwa kita harus mengasihani setiap mahluk termasuk pengemis. Namun kita juga harus berpikir dalam memberikan sedekah pada mereka. Kalau kita memberikan mereka uang, maka hati-hatilah karena mungkin uang itu digunakan untuk merokok, berjudi, mabuk dan kegiatan tidak baik lainnya yang akhirnya menjerumuskan pengemis tersebut. Tetapi akan lebih bijak jika kita memberikan makanan, membantu mereka melalui lembaga yang bisa mendidik mereka atau malah mengangkat mereka menjadi anak angkat untuk di didik dengan baik.

Kembali lagi ke masalah daging. Dengan kita tidak perduli dengan prinsip kejadian terpostulasi ini, maka secara tidak langsung kita akhirnya menyuburkan proses pembantaian yang kejam.

Veda memberikan aturan yang sangat ketat seperti harus memandikan binatang dan membagikannya pada orang suci dan mempersembahkannya bukanlah untuk tujuan menyogok Tuhan…. tetapi aturan tersebut ditetapkan untuk menyulitkan proses pembunuhan yang sia-sia sehingga diharapkan karena sulitnya orang tersebut malahan memilih untuk makan-makanan yang mudah dan murah di dapat saja.

Binatang memiliki jiva, tumbuhan juga memiliki jiva, lalu kenapa malah memilih tumbuhan untuk dimakan? Disini ada prinsip hidup untuk makan dan bukan makan untuk hidup, dimana kita makan untuk melangsungkan kehidupan kita. Pengobatan ayur vedic lebih cenderung menekankan kita menjaga vitalitas tubuh dengan makanan non hewani dan dari sistem pencernaan kita juga sangat nyata lebih menyerupai pencernaan hewan herbivora dan pada kenyataannya makanan veget jauh lebih mudah dicerna oleh tubuh kita.

tetapi tentu saja kembali semuanya adalah pilihan. Semuanya akan kembali ke kita sebagai buah karma kita. Kita mau makan enak dengan daging berlebih, kolesterol akan mmengancam. Dan pada kenyataannya Hewan yang disemblih secara paksa akan memproduksi adrenalin berlebih dan meracuni dagingnya sehingga menghasilkan zat karsiogenik pemicu kanker. Jadi kalau kita mau aman memang sebaiknya makanlah daging secara wajar dan jangan memakan daging dari binatang yang disemblih secara paksa, tetapi carilah bangkai hewan.

Hanya saja, apakah anda mau memakan daging hewan yang mati secara alami dan disebut bangkai? itu pilihan… he..he..he..

Salam,-
[21 Mei 2010 jam 11:44]
—-

    Wirajhana:

    Dear Ngarayana,
    wow! Tanggapan yang menarik!
    Utk paragraph anda yg pertama,
    utk statement dia tentang hindu, jelas ucapan prabuphada tidak berlaku universal. diantara semua cara promosi beretika justru yang di lakukan Prabuphada malah promosi …negatif tak beretika.

    Hindu, dengan Yoga, ayurvedic dan upanisad-nya Hindu tidak pernah dianggap kuno baik itu sebelum prabuphada dan juga setelahnya.

    Jadi terlalu berlebihan dan naif jika kredit itu diberikan pada aliran yang sudah redup ini [baca: hare kresna]. Saat ini hindu bali dengan segala ritualnya pun tidak di anggap kuno seperti seluruh agama asal di mukabumi ini.

    Anda katakan:
    [..]Masalah statement sepihak mengenai ajaran yang benar memang tidak bisa dihindari. Sama saja dengan kenyataan bahwa Buddha adalah salah satu masab dalam Veda yang tergolong nastika, namun Buddha akhirnya menyatakan bahwa keliru dan Buddha menjadi agama baru. [..]

    Saya:
    Anda keliru. Sang Buddha merecord kurang lebih 63 aliran di India saat itu [brahmajala sutta], masing2 aliran berkembang di pasramannya masing2 dan tergantung pengikutnya. Penggolongan itupun masih valid hingga saat ini.

    [lihat Brahmajala sutta:
    http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka_dtl.php?cont_id=167]

    Buddha mempunyai label agama justru terjadi RATUSAN tahun SETELAH wafatnya beliau dan bukan karena ia menolak dianggap nastika.

    ***

    Utk Praragraph anda yg kedua,
    Perlu anda ketahui bahwa: Buddha gautama sendiri adalah Buddha ke-28. Jainisme pun berumur sangat tua. Mahavira pendiri aliran Jainisme adalah Tirthankara ke-24. Sedangkan yg ke-23 saja yaitu Parshva ada di 8-9 SM. Pengikut Buddha pertama2 berasal dari JAIN.

    Kelompok aliran-aliran di India saat jaman Buddha adalah 63 banyaknya sebagaimana sy tuliskan di atas juga menurut Jainisme [Sutrakritangga dan Bhagavati] dimana jumlah aliran lebih banyak lagi dengan perbedaan2 kecil dan mereka hidup independent dari aliran2 lain.

    Di antaranya di dua aliran Buddhisme dan Jainisme adalah para pendirinya adalah Purana kasapa, Mokali Gosala, Ajita dan Sanjaya yang jelas bukan dari aliran Veda.

    Jadi, secara garis besar pembagiannya adalah Sramana dan bramanical sect. Di antara, Veda [mungkin original cuma Yoga saja selebihnya adalah berdasarkan pengaruh para rsi-rsi yang tercatat di upanisad]

    Buddha kesebelum mencapai penerangan sempurna disamping belajar 3 veda [brahmanical sect], ia juga belajar dari 2 Guru non Veda [sramana sect].

    Jelas di jaman Pra-veda sudah ada aliran Buddha non Gautama, aliran Jain Parshva dan aliran dari para pendiri2 lainnya.

    Sehingga lebih tepat jika dikatakan bahwa VEDA dan Hindu saat ini [aliran sivaism dan visnuism, termasuk Advaita] ada karena pengaruh BUDDHA dan JAINISME dan bukan sebaliknya.

    ***

    Untuk Paragraph 3-8 anda,
    Perlu anda ketahui di jaman sebelum Buddha Gautama dan Jain Mahavira, Tumbuh subur dua cara makan yaitu vegetarian dan non vegetarian.

    Non vegetarian [berdasarkan brahmanical teks] benar-benar tumbuh sangat subur.

    Jadi jelas bahwa upacara pembantaian binatang itu telah sukses berkembang dulu dan hingga sekarang..terutama karena di anggap deva2 bisa di sogok dengan upacara persembahan daging.

    Statement prabubpada dan caitanya mahaprabu yang khusus melarang makan sapi jelas tidak berdasar dan kekeliruan total.

    Pemanfaatan tubuh sapi juga terdapat pada kerbau, kambing, domba, keledai, kuda yang juga mengeluarkan susu dan diperah tenaganya.

    Banyak teks brahmanical menyatakan bukan cuma sapi sebagai tunggangan para Dewa, termasuk Tikus [ganesha] dan tumbuhan yang disucikan [diantaranya alang2].

    Perlu saya garis bawahi,
    Bangkai adalah mahluk hidup yang telah mati [apapun caranya baik karena sebab alam ataupun bukan]

    Bagi penganut tumbuhan itu memiliki jiwa..maka tumbuhan yang dicabut atau jatuh, maka itu tetep saja bangkai tumbuhan.

    Itu artinya baik tumbuhan maupun binatang. Jadi sekali lagi tidak ada bedanya..bangkai is bangkai and nothing less.

    Pengobatan ayurvedic juga melibatkan binatang. lihat di sini:
    http://www.hinduismtoday.com/modules/smartsection/item.php?itemid=927
    [untuk animal testing in Ayurveda]

    Juga lihat di sini:
    http://loveandwisdom.typepad.com/ayurveda_love_wisdom_/files/history_of_ayurveda_may07.pdf
    [yang memuat pengorbanan binatang]

    ***

    Terakhir di statement anda yang ini:
    [..]Dan pada kenyataannya Hewan yang disemblih secara paksa akan memproduksi adrenalin berlebih dan meracuni dagingnya sehingga menghasilkan zat karsiogenik pemicu kanker. Jadi kalau kita mau aman memang sebaiknya makanlah daging secara wajar dan jangan memakan daging dari binatang yang disemblih secara paksa, tetapi carilah bangkai hewan.[..]

    Saya:
    karsinogenk juga ada di tumbuhan! toxic terjadi karena proses masak atau digoreng.

    [..]Tumbuh-tumbuhan memproduksi senyawa tertentu..melindungi mereka terhadap jamur, serangga, dan binatang termasuk manusia…karsinogen yang ditemukan pada jamur, basil, seledri, kurma, bumbu, lada, adas, parsnips, dan minyak sitrus. Karsinogen juga dihasilkan selama pemasakan dan sebagai produk dari metabolisme normal.

    ..Beberapa karsinogen yang sangat berbahaya adalah hidrokarbon aromatik, yang paling dikenal adalah 3,4-benzpirena. Hidrokarbon karsinogenik terbentuk selama pembakaran tidak sempurna dari hampir setiap senyawa organik.
    [http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/berita/karsinogen_ancaman_abadi_kehidupan_manusia/]

    [..]April lalu ilmuwan-ilmuwan dari Swedia menambahkan alasan mengapa makanan seperti french fries dan potato chips harus hati-hati dikonsumsi. Ternyata, makanan yang kaya karbohidrat bila dipanaskan dapat mengandung akrilamida, senyawa yang diketahui menyebabkan kanker pada tikus.

    ..majalah Nature-dalam edisi 2 Oktober 2002-menurunkan dua artikel hasil penelitian ilmuwan di Inggris dan Swiss yang mengungkap proses produksi akrilamida.
    ..Makanan lain yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti gandum dan sereal, juga kaya akan asparagin dan mungkin akan bereaksi mirip bila dipanaskan.

    Efek akrilamida pada manusia memang belum jelas, namun untuk tikus dan lalat buah positif menimbulkan kanker bila dikonsumsi dalam jumlah 1.000 kali diet rata-rata. WHO telah mendaftar akrilamida sebagai senyawa yang “mungkin karsinogenik bagi manusia” dan sedang mengoordinasikan riset untuk meneliti lebih jauh.[..]
    [http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/berita/pembentukan_karsinogen_dalam_makanan/]

    [..]Karsinogen alami sangat banyak. Aflatoksin B1, yang
    diproduksi oleh kapang Aspergillus flavus selama penyimpanan biji-bijian, kacang-kacangan dan mentega kacang, adalah sebuah contoh dari karsinogen microbial yang sangat kuat.

    Beberapa virus seperti hepatitis B dan virus papilloma manusia telah diketahui juga menyebabkan kanker pada manusia.

    Setelah karsinogen masuk ke dalam tubuh, maka tubuh akan melakukan upaya-upaya untuk menghilangkannya yang disebut proses biotransformasi. Tujuan dari reaksi ini adalah membuat karsinogen menjadi lebih larut air sehingga bisa dikeluarkan dari tubuh.

    Tetapi, reaksi ini juga bisa merubah suatu senyawa karsinogen yang sebenarnya tidak terlalu toksik menjadi senyawa baru yang lebih toksik.[..]
    [http://id.shvoong.com/medicine-and-health/1804567-komponen-karsinogenik/]

    3 LInk diatas, menyebutkan baik nabati dan hewani juga memicu karsinogenik, bukan?!

    Jadi terbukti tidak benar bahwa hewan harus mati alami dulu baru tidak karsinogenik..

    Salam.
    [21 Mei 2010 jam 15:12]


(untuk membuka/menutupnya silakan di klik)
—–

[foto berasal dari sini, sini, sini, sini, sini, sini, sini, sini dan sini]


Advertisements

62 thoughts on “Vegetarian, Makanan Religius? Bukan! Ia Cuma Pilihan Selera Makan..Ngga Lebih Dari Itu!”

  1. Saya komentari ke empat kesimpulan Anda;

    1. Vaikunta/goloka/gokula merupakan alam tertinggi dari aliran Vaisnava atau penyembah Krishna.

    KOMENTAR: Iya, Vaikunta adalah planet-planet Rohani yang di setiap planet dikuasai oleh ekspansi Krishna (termasuk avatara2 utama Krishna). Sang Budha Avatara juga menguasai salah satu planet Vaikuntha. Selain Vaikunta, di atasnya ada planet yang seperti bunga padma, itulah Goloka Vrindavan tempat asli Krishna.

    2. Di alam tertinggi aliran vaisnawa dan penyembah krishna, ternyata nafsu keinginan indria masih perlu dipuaskan atau para penghuninya masih memerlukan utk memuaskan keinginan indriya mereka.

    KOMENTAR: Tidak, tidak ada indria material di situ. Semuanya Rohani. Roh individual di sana melakukan aktivitas, tetapi aktivitasnya adalah aktivitas Rohani yang penuh kebahagiaan. Kecerdasan yang digunakan juga adalah kecerdasan Roh, bukan kecerdasan material.

    3. Alam itu juga BUKAN alam terakhir perjalanan Jiva, karena jiva akan kembali alam di bawahnya karena nafsu indria dan kelakuannya sendiri.

    KOMENTAR: Itu merupakan alam terakhir perjalanan Jiva. Karena jiva setelah mencapai itu tidak akan terlahir lagi ke dunia material, kecuali untuk melakukan pelayanan (mengiringi) Lila Sri Krishna, atau diutus untuk menyelamatkan roh-roh jatuh di dunia material. Rahvana pun adalah penghuni Vaikunta. Beliau berlila untuk menemani Sri Rama (menjadi musuh Sri Rama). Setelah Rahvana pulang, ya Beliau kembali ke Vaikunta.

    4. Gambaran material yg ada di Goloka/Gokula/Vaikunta, menjelaskan bahwa alam ini masih di lingkup rupaloka dan pemuasan nafsu keinginan dari ciptaan tertentu yg didapat di alam itu, jelas menunjukan alam tersebut merupakan Alam kamaloka. Informasi ini, tidak berbeda dari yg tercantum di Rig veda [1.2.20] bahwa Alam Vishnu ada di sorga 33 Deva di bawah kuasa Sakra/Indra [terkadang disebut juga varuna sbg penguasa, dalam konteks Sura dan Asura]

    KOMENTAR: Kesimpulan Bapak merujuk pada planet Surga yang memang letaknya di bawah Brahmajyoti. Jadi masih material. Mengenai ini silakan cross chek di link ini: http://ngarayana.web.ugm.ac.id/2009/07/poster-alam-semesta-yang-didasarkan-pada-filsafat-vedanta/

    atau bisa juga di:

    http://vedasastra.com/?p=830?format=pdf

    Posternya silakan dizoom biar jelas seperti apa susunan planet material dan planet rohani itu. Salam

  2. Putera,
    Rupanya kamu sendiri tidak baca Brahma samhita shg tidak melihat kata2 sanskrit dan artinya sblm di ubah2 jadi lebih “misterius” dan ternyata memberikan informasi yaitu:

    Utk memenuhi nafsu keingingan indria..jelas ada, yaitu dengan benda bernama cintamani [cintamani ada di syair 26, 29, 56] yang dapat menciptakan apapun yg kamu inginkan..

    Jika nafsu keinginan indria ngga ada maka cintamani ngga perlu ada.

    Ya ngga heran prabupada sendiri bilang, “when the living entity wants to enjoy himself, he falls down into the material world.”

    Lha kalo udah suci utk bersatu lantas buat apa masih ada “want”?

    Pantes saja jiwa2 itu bisa kembali lagi dan balik kedunia pada awal mahabharata dan kembali lagi pada akhir mahabharata.

    Jika bukan di rupa loka maka Visnu tidak dongengkan mempunyai ribuan [sahasra] kepala [sirsa/murdha], mata [aksah], kaki [pat], lengan [bahuh], anggota tubuh [angat] vama/daksina [kiri/kanan], antara alis [kurca-desad], navel [pusar]. Ia juga punya pasangan wanita [priya, jangan khawatir saya tau bedanya dengan “sakti” yang jelas dimaksudkan “non rupa”, namun tidak ditulis spt itu dan spesifik menggunakan kata “priya” yg artinya wanita].

    Bentuk Istananya juga ada, yaitu Goloka berbentuk persegi enam [sat konam] mirip bunga lotus, dan sekelilingnya berbentuk persegi empat [catuasram] dikelilingi oleh pulau putih [sveta-dvipa] yang terbagi menjadi 4 bagian dan ada 4 corak warna: biru,kuning, merah dan putih. Sementara Gokulanya memiliki ribuan lotus [sahasra-patra] dan yang ada di tempat mirip daun mahkota.

    Vaikunta/goloka di hutan kemangi [Vrindavanadana] lebih detail disebutkan di Gautamiya tantra 4 yaitu bunga2 dan buah dari semua musim tumbuh disana, ada suara yg lembut dari burung2 dan dengunan tawon sayup gemericik air sunga yamuna, di dekorasi pohon2 pemenuh keinginan yang dirambati bunga2 bunga dan dipenuhi ornamen lotus merah, biru dan putih. Tanahnya adalah permata2 yg sinarnya setara ribuan sinar mentari. Ada taman dan kuil yg atapnya terbuat dari batu2 delima dan permata2. Kuil itu di percantik dengan canopy berwarna cerah dihiasi ribuan permata dan delima yg sinarnya setara dgn jutaan mentari dan didalamnya ada tahta yg dihiasi banyak permata.

    wuiih pokoknya kaya di komik2 kartun buat anak2 deh..jagoannya kalo udah “BERUBAH!” mesti jadi serem, istananya dibuat aneh2, ada cewenya, trus taman, tahta, dll pokoknya kartun2 kaya gitu sangat disukai dan entah kenapa selalu disangka beneran ada oleh anak2 kecil sampe TK.

    Sementara Rg Veda pada hymne untuk Aswin dan lainnya [1.22.1-21] mulai di hymne 16-21 menggambarkan visnu, si penjaga temen dari Indera di alamnya visnu yang lokasinya jauh di ujung, juga di surga 33 deva, alam kamaloka.

    Yah itu aja sih..mo protes/ngga..ya emang kaya gitu mo diapain lagi?!

  3. WIRAJHANA

    ===Utk memenuhi nafsu keingingan indria..jelas ada, yaitu dengan benda bernama cintamani [cintamani ada di syair 26, 29, 56] yang dapat menciptakan apapun yg kamu inginkan..

    Jika nafsu keinginan indria ngga ada maka cintamani ngga perlu ada.

    SAYA: Cintamani untuk memuaskan nafsu? He he he… Kalau tidak ada nafsu material, lalu nafsu siapa yang akan dipuaskan di Vaikunta? Komentar Bapak muter-muter di seputaran “hakikat” surga saja. Saya ulangi kalau Vaikunta itu tidak ada materialnya. Berbeda dengan di dunia material ini: Panca indera material, pikiran material, kecerdasan material, ego palsu material. Roh jika sampai di sana, tidak akan membawa hal-hal material seperti itu.

    Yah, saya tidak heran kalau Bapak tidak bisa memahami hal sederhana ini. Angan-angan Bapak begitu melekat dengan hal material sehingga memang sulit memahami hal yang itu. Cinta mani itu rohani. Jika (penduduk Vaikunta)yang sepenuhnya Rohani meminta sesuatu kepada cintamani, apa mungkin yang dimintanya adalah hal-hal material?

    Mengenai tempat tinggal Vishnu (Ksirodakasayi Vishnu) yaitu di Sveta Dvipa, berdekatan dengan Brahma Loka (Satya Loka) tempat tinggal Brahma. Tempat tinggal Vishnu (Garbhodakasayi Vishnu) itu di lautan Garbha (di satu alam semesta). Tempat tinggal Vishnu (Karana Dakasayi Vishnu atau Maha Vishnu) itu di lautan Karana, dari hembusan dan tarikan nafasnya alam semesta yang tidak terhitung jumlahnya diciptakan dan dilenyapkan.

    Jika terjadi kekacauan, para Deva selalu berdoa kepada Vishnu yaitu kepada Karano Dakasayi Vishnu yang tinggal di Sveta Dvipa.

    Sudah lihat poster alam semesta?

  4. Putera,
    Anda katakan, “Cintamani untuk memuaskan nafsu? He he he Kalau tidak ada nafsu material, lalu nafsu siapa yang akan dipuaskan di Vaikunta?”

    Saya:
    waduh..kalo gitu prabupada tolol banget ya mengatakan kaya gini, “when the living entity wants to enjoy himself, he falls down into the material world.”

    Anda katakan, “Jika terjadi kekacauan, para Deva selalu berdoa kepada Vishnu yaitu kepada Karano Dakasayi Vishnu yang tinggal di Sveta Dvipa.”

    Saya:
    Waduh..kalo gitu Vishnu tolol banget ya sebagai tuhan koq ngga mampu menciptakan keadaan agar tidak terjadi kekacauan..padahal ia punya cintamani?!..

    arti cintamani:

    1.the spiritual world, where everything is made of touchstone (chintamani).
    2.Wish-fulfilling-gem (RRV2-12b)
    3.The mystic “philosopher’s stone,” which can produce anything one desires. In Vaikuntha the land is made of cintamani stones.
    4.The gem that gives you anything you can think about
    5.chintamani (chinthaa-mani). Wish-fulfilling gem that grants its possessor all desires.

    [sumber:http://www.experiencefestival.com/chintamani-dhama%5D

  5. WIRAJHANA

    “when the living entity wants to enjoy himself, he falls down into the material world.”

    Kenikmatan atau tepatnya Kebahagiaan Rohani itu memang mewarnai keberadaan entitas di Vaikunta. Kalimat Prabhupada itu adalah untuk Para Jiva yang “awal”, belum pernah ke planet material. Para Jiva semuanya pelayan Tuhan, tapi entah kenapa Para Jiva itu kemudian salah dalam memaknai kebebasan terbatasnya. Ia enggan melayani Tuhan dan ingin menikmati sendiri. Inilah sebab jatuhnya. Setelah jatuh dan mengembara, kemudian para Jiva bisa balik lagi ke Vaikunta. Tidak mungkin akan jatuh lagi. Diberi upah apapun tidak akan mau. Dia sudah bisa membedakan antara penjara dengan kebebasan. Dia akan kekal di Vaikuntha seperti kekalnya planet itu.

    Kekacauan yang saya maksudkan adalah seperti peristiwa-peristiwa yang “mengundang” avatara turun. Tapi semuanya itu sebenarnya lila Tuhan.

    Salam

  6. Putera,
    anda katakan, “Kalimat Prabhupada itu adalah untuk Para Jiva yang “awal”, belum pernah ke planet material. Para Jiva semuanya pelayan Tuhan, tapi entah kenapa Para Jiva itu kemudian salah dalam memaknai kebebasan terbatasnya. Ia enggan melayani Tuhan dan ingin menikmati sendiri. Inilah sebab jatuhnya.”

    saya:
    Buat apa sih anda komentari dengan dugaan pula? lagian di komentar anda sebelumnya utk tulisan prabuphada, anda katakan spt ini, “Di Vaikunta, awalnya, semua Roh sebenarnya berbahagia dalam pelayanan kepada Tuhan. Roh individual memiliki kebebasan tetapi terbatas. Akan tetapi, sebagian Roh salah dalam menggunakan kebebasan terbatasnya.”

    Aduhh..ngga konsisten..kalo ngga tau ya cari tau dan jangan buat dugaan2 ngga jelas yg akhirnya malah jadi membual

    Udah sangat jelas Prabupada menyembutkan yaitu, di vaikunta saja masih ada “want”, masih ada ketidakpuasan dan masih ada “kembali”..

    that's it.

  7. WIRAJHANA

    Tapi bagi saya itu sudah cukup jelas. Yang terlempar ke dunia material adalah roh yang salah dalam menggunakan kebebasan terbatasnya. Dia enggan dalam melakukan pelayanan. Makanya dia diberikan fasilitas di dunia material. Di Vaikunta tidak ada tempat bagi Jiva seperti itu.

    Roh yang sudah pernah terlempar lalu kembali ke Vaikunta inilah yang tidak terlahirkan kembali ke dunia material. Kenapa? Ya karena Roh itu tidak ingin kembali masuk penjara.

    Pak Wirajhana terimakasih atas komentarnya. Saya memang harus banyak belajar. Salam

  8. Putera,
    Buat saya sih, sebelum saya baca2 aliran Buddhisme, saya udah sangat jelas bgmn cara berpikir dari aliran mu. Kemudian, berdasarkan bukti2 tertulis dari kalangan anda sendiri maka telah sy buktikan pendapat anda tidak sesuai dengan bukti2 bentuk2 fisik material yg emang tertuliskan jelas di sumber2 kalangan anda sendiri.

    Anyway, tks for all your comment..semoga anda berbahagia dan SABBE SATTA BHAVANTU SUKHITATA [semoga semua mahluk berbahagia]. Salam.

  9. Menarik tentang info “Monster2” penjagal ternyata adalah vegetarian.
    Ironisnya,leader Buddhist dari Vietnam Thich Nhat Hanh, pernah menyinggung “akumulasi stress disaat seekor binatang disembelih,dapat mengakibatkan efek domino untuk penyantap daging bintang tersebut “. Dengan kata lain,itu usulan buat ber-vegetarian.
    Mungkin suatu bukti lagi, bahwa perlunya “melatih kesadaran” dan Pancasila Buddhis dari sang Bhagava
    Sadar ini baik – buruk
    Keep up the good work bro!
    Semoga semua mahluk selalu hidup berbahagia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s