Tuhan, Klaim Pepesan Kosong Si Buta Sejak Lahir Yang Menjelaskan Gajah!


Mencampur-adukan sejarah religi kelompok bangsa tertentu dan menempelkan satu nama Tuhan baru sebagai Tuhan utama adalah strategi umum yang digunakan beberapa manusia jenius atau kelompok tertentu, tindakan ini bagai sekumpulan orang buta dari sejak lahir yang mencoba menjelaskan bentuk seekor gajah.

Tiga agama Abrahamik, yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam sama-sama mengklaim Musa sebagai nabi dan mencantumkan kehidupannya di sejarah agama mereka. Pengetahuan tentang Musa adalah berasal dari Taurat, kitab yang diciptakan/disusun Musa sendiri.

Di kitab itu, terdapat kisah Abraham, cikal bakal 3 Agama, yang lahir 640 tahun sebelum Musa. Walaupun tidak dijelaskan kapan Abraham mulai dapat berkomunikasi dengan Tuhan, namun di usia ke-75 [Kej 12.4] Yahwe merintahkan Abraham dan Lot untuk pergi dari Haran ke Mesir [Kej 12.4], menampakan dirinya pada Abraham di Kanaan [Kej 12.7] dan ternyata, Yahwe tersebut berjumlah 3 Pria, yang Abraham sebut mereka “ADONAY/TUAN”, setelah menyembah mereka hingga ke tanah [18.1-2], menawarkan mereka cuci kaki dan makan berupa roti, dadih, susu dan daging anak lembu [Kej 18.4-8]. Setelahnya, 2 di antaranya pergi ke Sodom dan disebut malaikat, yang LOT sembah hingga mukanya ke tanah [Kej 19.1-2], 1 Pria tersisa ini adalah juga yang ditemui Musa dan disebut Malaikat Yahwe, namun berbeda dengan Abraham, Musa tidak pernah melihat rupa dan bentuknya kecuali nyala api di semak duri [Kel 3.1-2] dan suaranya [Kel.34]. Dari suara inilah Musa mendapatkan Taurat yang berisi ajaran dan kisah-kisah tersebut.

Abraham dalam kisah itu, ternyata bukan monoteis, sekurangnya, 3 pria yang disebutnya tuan dan disembahnya, malah, tuan-nya Abraham menjadi bertambah banyak, yaitu di kisah pertemuannya dengan Melkisedek:

    Dan Ia (Melkisedek, raja Salem) memberkati nya (Abram) dan berkata: “Diberkatilah Abram oleh ALLAH (le el), El Yon, QONEH samayim wa eres [Kej 14.19. Melki Sedek = Adoni-Sedek; Melki = Adoni = Tu(h)anku/RajaKu; Malik/Melek = Raja; Salem ; Yerusalem].

    Abram membalas: “Aku mengangkat tanganku pada EL YAHWEH, EL, El YON, QONEH, SAMAYIM WA AERES” [Kej 14.22]

Pada teks Masoretik (abad ke-10 M) di atas, terdapat kata: “EL”, “EL YON”, “Yahweh”, “QONEH”, “SHAMAYIM” dan “ERETS”, semuanya ini adalah NAMA PARA DEWA KUNO.

Hartmut Gese, seorang Teolog Protestan dan juga profesor Perjanjian Lama di Eberhard Karls University Tübingen, berpikir bahwa ini: “Triad dewa yang terdiri dari, ‘El Elyon, El Qone ares dan El Qone Samayim'” [“Dictionary of Deities and Demons in the Bible”, Karel van der Toorn,.., Hal.281]. Sementara Robert M. Kerr, seorang pakar bahasa semit, menyatakan: “Sekarang ini kita tahu bahwa pemberian berkat kepada Abraham oleh Melkisedek (Kejadian 14:19) tidak menunjuk pada 1 Tuhan…Sebaliknya, ayat ini mengacu pada 3 Dewa (terjemahan yang lebih tepatnya adalah: “diberkatilah Abraham oleh Elyon, El, [dan El], Pencipta langit dan bumi.”) Hal yang sama berlaku untuk Musa. Tidak mungkin dia menjadi pendiri Monoteisme Israel..” [“Aramaisms in the Quran and their Significance”, Robert M Ker, hal.151]

1576 tahun setelah Musa Lahir, muncul seorang Yahudi yang disebut Yesus, yang seharusnya familiar dengan malaikat YAHWE, namun dimenjelang akhir hidupnya, bukan nama YAHWE yang dipanggilnya, tidak jelas siapa dan bahkan oleh pengikutnya, Yesus diklaim sebagai Tuhan [KPR 2.32-36, Wahyu 3.21].

Siapa yang panggil Yesus di menjelang akhir hidupnya?

  • Ελωι ελωι λαμμᾶ σαβαχθανι” (Eloi, eloi lammá savachtani) [Markus 15:34] atau
  • Ηλι ηλι λαμὰ σαβαχθανι” (Heli, heli, lamá savachtaní) [Matius 27.46] [semua teks dari TR Scrivener 1894 dan Stephanus 1550].


Siapakah itu HELI? Apakah maksudnya EL/Tuhan? Jika ya, mengapa bukan memanggil YAHWE? malah beberapa mengklaim, itu merupakan bukti pemenuhan Nubuat, yang ada di lagu tentang Daud:

  • “אֵלִי אֵלִי מְטוּל מַה שְׁבַקְתַּנִי” (éli éli m’tul mah sh’vak-tani) [Aramaic Targum, Mazmur 22.1] atau
  • “אלי אלי למה עזבתני” (eli eli lamah azab-tani) = “Tuhanku, tuhanku mengapa (kau) abaikanku” [Ibrani Mazmur 22.1]


Padahal, jika dibaca, di awal kalimat Mazmur 22.1 telah tertera bahwa ini adalah lagu tentang Daud, tentang ketidakberdayaan Daud saat dikelilingi musuh, malah di Taurat juga telah dikatakan bahwa dosa ditanggung sendiri-sendiri, tidak dapat diwakilkan: “Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri” [Ulangan 24.16]

Jika bukan Tuhan, maka yang dipanggil Heli bisa jadi:

  • Kakeknya dari pihak ibu, yaitu Heli bin Matat [Luk 3.23-24], atau
  • Utusan tuhan yang datang dimenjelang kemunculan Mesias untuk memulihkan keadaan [Mat 17.10-13; Mark 9.11-13] namun sayangnya, kedatangan Elia disyaratkan harus datang bersamaan Musa [Maleakhi 4.4-5, Neverim/Ulangan Rabba, 10.1/ Neverim Rabba 3.17], atau
  • Yohanes pembaptis, yang pernah membaptis Yesus [Luk 3.21]. Yesus menganggapnya sebagai Elia yang sudah datang [Mat 17.10-13; Mark 9.11-13], 3 injil menyatakan Yohanes wafat terlebih dahulu dari Yesus [Mat 14.10-12, Markus 6.27-29, Lukas 9.9]. Sejarahwan Josephus, menyatakan Yesus wafat dikisaran waktu keributan pembangunan Aquaduct [Antiquities 18.3.3] dekat keributan Samaritan sekitaran wafatnya Tiberius [Ch 18.4.1-2]. Kematian Yohanes, terjadi setelah tahun ke-20 Tiberius/thn 35 SM, yaitu setelah Philip saudara Herodes wafat, karena tidak ada turunan, Tiberius mengambil daerah itu. [Ch.18.4.6], saat pasukan Aretas dan Herodes saling berhadapan, Ex orang Philip bergabung bersama Aretas mengalahkan Herod. Berang atas kekalahan Herod, Tiberius memerintahkan Vitelius memerangi Aretas [Ch 18.5.1] namun di hari ke-4 sesampainya di Yerusalem, Tiberius wafat [Ch 18.5.3]. Kaum Yahudi berkata kekalahan Herodes, sebagai balasan kematian Yohanes, yang dibunuhnya, karena takut pengaruh Yohanes dapat memicu pemberontakan. [Ch 18.5.2]. Jika catatan Josephus ini akurat, wajar saja dimenjelang wafat, Yesus memanggil orang yang pernah membaptisnya agat tidak meninggalkannya dan tentara Romawi yang berdiri di sekitar Yesus saat di salib [Lukas 23.36, Matius 27.46], tampaknya familiar dengan nama “Elia” jika merujuk ke Yohanes, yang dipenjara dan kemudian dibunuh Herodes.

Malah kalimat Markus dan Matius di atas mengandung kontroversi bahasa, yaitu campuran Aramaik dan Ibrani, yang tampaknya Alkitab juga tidak jelas, apa sebenarnya bahasa keseharian Yesus dan penduduk Yerusalem saat itu, apakah Aramaik (ref: KPR 1.19, “Hakal-Dama”, sebagai bahasa mereka sendiri, yang berasal dari Aramik) ataukah Ibrani dengan merujuk kisah Saulus, seorang Yahudi suku Benyamin (Filipi 3.5 dan KPR 22.3) yang mengaku bertemu roh Yesus dan Ia diajak berbahasa Ibrani (KPR 26.14), juga merujuk pada maklumat yang tertulis dalam 3 bahasa saat Yesus di Salib yaitu Ibrani, Yunani dan Romawi (Yoh 19.20).

Jadi jika menurut Mazmur 22.1 yang berbahasa Ibrani, kata seharusnya adalah “lamah azabtani”, namun jika menurut Targum Aramaik, yang berbahasa Aramaik, kata seharusnya adalah “mtul mah savachtani”, cilakanya, Markus dan Matius menjadikannya sebagai campuran yaitu “lamah savaktani”. Demikianlah, sumbangsih Nasrani dalam memperkaya kebingungan tentang Tuhan.


Sekitar 610 tahun setelah Yesus Lahir, Munculah Muhammad yang menyebut ajarannya sebagai Islam dan mengklaim bahwa yang menurunkan Taurat adalah BUKAN Malaikat Yahwe [Misal AQ 3.2-3, 48, 50; AQ 5.44, 46, 110; AQ 9.111; AQ 62.5], lebih lanjut dikatakan bahwa kaum Yahudi dan Nasrani adalah orang kafir [AQ 98.1,6], BINATANG YANG PALING BURUK [AQ 8.22,25] yang akan menjadi bahan bakar neraka [AQ 3.10].

Quran menyampaikan bahwa “ilah” adalah kata umum untuk sebutan TUHAN, baik ditujukan kepada ALLAH SWT maupun ALLAH LAINNYA (jamak maupun tunggal), sample:


    (“Janganlah kalian ambil/laa tattakhidzuu dua tuhan/ilaahayni itsnayni; hanya Dialah/innamaa huwa Tuhan yang tunggal/ilaahun waahidun”, AQ 16.51); (“Ilahukum ilahun wahidan/Tuhan kalian Tuhan yang satu”, AQ 16.22; 21.108); (Pada para Ahlu Kitab: “ilahuna wa-ilahukum wahidun/Tuhan kami dan Tuhan kalian satu”, AQ 29.46); (“aja’ala/Mengapa ia jadikan tuhan-tuhan itu/al-aalihata Tuhan yang tunggal/ilaahan waahidan?”, AQ 38.5 dan dalam 35 ayat lainnya untuk tuhan-tuhan/aalihat)

    Prof. Hitti, seorang kelahiran Kristen Moronit Libanon, Ulama Islam, Profesor literatur Semitik, Ketua Bahasa Oriental, Peneliti, dan Bidang studi Budaya Arab, menyampaikan,

    “..Bagi masyarakat Hijaz, Allah (Allah, Al-Ilah) adalah yang utama, meski bukan satu-satunya dewa di Makkah. Nama ini berusia sangat tua. Muncul di 2 inkripsi, satu dari Minean ditemukan di al-‘Ula dan satu lagi Sabian. Namun terbentuk dari “HLH” di inkripsi Lihyan abad ke-5 SM. Dewa kaum Lihyan berasal dari Syria yang merupakan sentra pertama pemujaan dewa ini di Arab. Ia disebut HALLAH di inkripsi Safa, 5 abad sebelum kemunculan Islam dan juga di Inkripsi Arab Kristen pra Islam yang ditemukan di Umm al Jimal, Syria yang berasal dari abad ke-6. Nama ayah Muhammad adalah ‘Abd-Allah (‘Abdullah, pelayan atau penyembah Allah). Besarnya penghormatan pada Allah di kalangan kaum Mekkah Pra-Isam sebagai Pencipta dan pemberi nikmat dan yang diseru saat musibah tergambar di AQ 31.24, 31, 6.137, 109; 10.23, tertera bahwa Dia-lah dewanya suku Quraish. [“History of The Arabs”, hal.126-127 atau hal.90]

Tampaknya, ALLAH-nya Muhammad bukan malaikat YAHWE juga bukan ALLAH SWT, sample:

    “dan tuhan kalian (wa-ilaahukum) tuhan yang satu (ilaahun waahidun) tiada tuhan (laa ilaaha) selain dia (illaa huwa) AL-RAHMAN AL-RAHIM (alrrahmaanu alrrahiim)” [AQ 2.163, Al Madaniyah, urutan turun ke-87]


Allah jenis itu, tidak dikenal oleh kaum Arab Mekkah, sample:

    Ibn Sa’d: Riwayat ‘Ali Ibn Muhammad – Abu ‘Ali al-`Abdi – Muhammad Ibn al-Sa’ib – Abu Salih – Ibn `Abbas: “Para Quraish mengutus Al-Nadr Ibn al-Harith Ibn ‘Alqamah dan ‘Uqbah Ibn Abi Mu’ayt dan lainnya kepada kaum YAHUDI Yathrib dan berkata dan bertanya pada mereka: Kamu datang kapadamu karena masalah besar muncul diantara kami. Ada seorang Yatim-Piatu biasa yang membuat klaim besar, menganggap dirinya adalah utusan AL-RAHMAN, sementara itu KAMI TIDAK KENAL AL RAHMAN SELAIN RAHMAN dari AL YAMAMAH …” (Al-Tabaqat Al-Kabir, Ibn Sa’d, vol.1, bagian 1, bab 40.1.37)

    Protes ini mendapat dukungan dari Prof Hitti,

    “..kata Rahman sangat penting karena memiliki padanan pada bahasa Arab Utara, al-Rahman…Meskipun digunakan dalam berbagai tulisan untuk merujuk pada Tuhan orang-orang Kristen, kata itu jelas di pinjam dari nama salah satu dewa tertua di Arab selatan. Al Rahim juga muncul sebagai nama dewa (RHM) dalam tulisan-tulisan pra Islam dan tulisan orang-orang Sabian” [“History of The Arabs”, hal.132]


Demikianlah, Tuhan yang disembah 3 Agama ini, tidak jelas siapa jadinya, yang para pendiri agamanya sendiri (Musa, Yesus dan Muhammad) di masa hidupnya bahkan TIDAK PERNAH melihatnya, juga, para pengikut awal mereka, yang percaya dan menjalani ajarannya, dimasa hidup mereka, 
TIDAK SATUPUN pernah melihatnya.


Walaupun Islam dan Nasrani sama-sama mengakui kenabian Musa namun mereka tidak mengakui Yahwe-nya kaum Yahudi sebagai tuhan dan secara sepihak menyatakan sesembahan baru merekalah sebagai satu-satunya Tuhan yang wajib di sembah. 

Tuhan kaum Yahudi, Nasrani dan Islam jelas berbeda satu sama lainnya namun yang lahir belakangan selalu mengklaim bahwa Tuhan di ajarannyalah sebagai satu-satunya Tuhan asli. Untuk mempertahankan klaim itu, tradisi saling berbaku hantam tampaknya erat terjadi di 3 ajaran ini.

Begitu pula tentang Surga,

para pendiri 3 agama ini, di semasa hidupnya, TIDAK PERNAH pergi ke Surga. Muhammad yang diklaim pernah ke Surga dengan merujuk surat 17 dan 53, ternyata juga tidak. karena AQ 17.1 mengisahkan Ia pergi dari Mesjid Haram ke Mesjid Aqsa/terjauh dan di AQ 53.12-18, Ia disebutkan melihat Jibril turun dekat pohon bidara/Sidratil terujung/Muntahaa yang dekat itu taman/jannatu tempat tinggal/al mawaa. Malah, kisah Muhammad bertemu Jibril ini mirip kisah Abraham ketika bertemu 3 pria juga di dekat pohon tarbantin dekat tempat tinggal Abraham di Mamre. Malah keberadaan muhammad di kisah itu simpang siur tak jelas, misal:

  • Beliau sedang bermalam di rumah Hindun/Ummu Hani, Putri Abu Talib [Sirah Nabawiyah Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 1, Bab 74, Hal. 358-364; Tabaqat Al Kabir, Ibn Sa’d Vol.1, Parts 1.56.1; Tanwir al-Miqbas min Tafsar Ibn ‘Abbas untuk AQ 17.9, Tabari (w.310), Zamakhshalli (w. 538), Razi (w.606 H)], atau
  • Di rumahnya tidur sendiri [Bukhari 1.8.345, 4.54.429, Tabaqat Al-Kabir”, Ibn sa’d vol.1. book 55.1. hal.143], atau
  • Sedang bersama Aisyah [Sirah Nabawiyah, Ibn Ishaq/Hisyham, Guillaume, hal.183], atau
  • Sedang berbaring antara Al-Hatim atau Al-Hijr (Bukhari 5.58.227)

Kisah ke Surga ini jelas meragukan, karena jika benar pernah, pastinya Ia tahu bahwa bumi bukanlah piringan datar di atas punggung ikan paus, Bintang bukanlah alat pelempar setan, karena besarnya, tidaklah lebih kecil dari Matahari kita yang 1.2 juta x dari Bumi.

Para pengikut awal 3 agama ini, yang percaya dan menjalani ajaran mereka, juga semasa hidupnya, TIDAK SATUPUN pernah ke Surga, mereka semua menjalani ajaran berdasarkan keyakinan buta tanpa tahu kebenarannya.


***

Pada system pendidikan di India, mereka yang mencari ilmu selalu tinggal bersama gurunya [catuspathiis/pasraman]. Kehidupan pendidikan mereka ditanggung oleh pemerintah yang berkuasa/kepala daerah dan/atau masyarakat umum. Hampir setiap Brahmana mumpuni mempunyai pasraman sendiri dan kemudian berlanjut turun temurun. Rsi-Rsi/Brahmana terkenal dijaman itu di antaranya adalah Atthaka [Astaka], Vamaka, Vamadeva, Vessamitta [Vishvamitra], Yamataggi [Jamadagni], Anggirara [angiras], Bharadvaja Brihaspati, Vasettha [Vasistha], Kassapa [Kasyapa] dan Bhagu [Bhrigu]

Saat itu tidak ada standarisasai kurikulum, jadi masing-masing dari para Rsi/Brahmana menciptakan kurikulum dan metode pengajarannya sendiri sehingga Murid-murid yang belajar pada brahmana yang berbeda, pengetahuannya-pun berbeda-beda pula. Perbedaan itu kerap menimbulkan pertentangan pendapat antara satu pasraman dengan pasrama lainnya. Perbedaan pendapat tersebut adalah sumbangan keragaman interpretasi pada kupasan-kupasan Veda dari jaman ke jaman.

Hindu mengenal banyak dewa dan dewi yang di puja dan disembah sebagai tuhan utamanya. Dari jaman ke jaman terjadi perubahan peringkat status Dewa utama karena beberapa dewa tiba-tiba menjadi populer, beberapa menjadi tidak populer, beberapa meningkat status dari dewa biasa menjadi dewa utama dan lambat laun mengerucut menjadi 3 Nama Dewa saja sebagai tuhan utama, yaitu Brahma, Vishnu dan Siva.

Sebelum jaman Buddha, Brahma adalah Tuhan tradisi Hindu.

Sedangkan Siva dan Vihnu sebagai tuhan, baru tercipta ratusan tahun setelah Buddha Gautama parinibanna [wafat]. Teks Buddhisme Suta pitaka, Devaputtasamyutta [2:12 dan 2:21] menyebutkan adanya Visnu [Vennu/Venhu] dan Siva namun saat itu, mereka bukanlah Deva yang menonjol [Rhys Davids, Buddhist India, Hal 236]. Deva Putta Samyuta, merupakan teks berbahasa pali mengenai kumpulan para Deva yang baru terlahir di alam Indra/Sakka. Venhu/Vennu dan Siva merupakan prototipe dewa India sebelum mereka menjadi dewa utama dalam Hinduisme bakti yang theistic.

Kisah-kisah avatar memang ada di teks Brahmana-brahmana yang berkaitan dengan Veda, yang disusun tidak berapa lama sebelum jaman Buddha, legenda para avatara itu popular dimasyarakat namun Vishnu sebagai avatar tidak ada di legenda saat itu [The Bhagavad Gita, C. Jinarajadasa, From the Proceedings of the Federation of European Sections of the Theosophical Society, Amsterdam 1904, Theosophical Publishing House, Adyar, Madras. India, November 1915]

Kemudian di beberapa jaman ada upaya mengatakan Brahman dan brahma itu berbeda.

Mengutip Ajaran Pokok dalam Upanisad, Sri Srinivasa menyatakan bahwa: “Brahma berasal dari akar kata kerja brh yang artinya ‘tumbuh’ (brhati) dan menyebabkan tumbuh (brhmayati)“. Dalam Atharvairas Upanisad, “brhati, bhmayati tasmad ucyate parabrahma” artinya “Itu disebut Brahman karena itu bertumbuh dan menyebabkan tumbuh”. Dalam sanskrit, walaupun dibaca Brahman namun yang dituliskan tetap saja Brahma, selain tulisan ‘brahma’ pada Atharvairas Upanisad di atas, contoh lain misalnya: “ayam ātmā brahma” [Brihadaranyaka Upanishad 4.4.5] artinya “Atma adalah Brahma” atau “Atman adalah Brahman“!

DR. FRANK MORALES atau Sri Dharma Pravartaka Acharya mengatakan bahwa Brahman bukanlah tuhan namun merupakan sikap sebagaimana tercantum di Taittariya Upanishad’ II.1: “satyam jnanam anantam brahma”, “Brahman adalah dari kebenaran sejati, pengetahuan dan keabadian

Buddhisme menjelaskan prinsip-prinsip bersatu dengan Brahma[n] melalui pemenuhan kualitas mental tertentu sehingga dari sebab-sebab dan kondisi tersebut memungkinkan seseorang mencapai alam Brahma[n], seperti yang dimaksudkan di Tevijja Sutta:

[..] Ketika sedang berjalan bolak balik di tepi sungai, terjadi percakapan serius antara Vasettha (dari klan Vasettha) dan Bharadvaja (dari klan Bhradvaja) tentang jalan benar dan jalan salah.

Pemuda Vasettha berkata: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Pokkharasadi’.

Sedangkan pemuda Bharadvaja berkata: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Tarukkho’.

Namun pemuda Vasettha tidak dapat meyakinkan pemuda Bharadvaja, begitu pula pemuda Bharadvaja tidak dapat meyakinkan pemuda Vasettha.

Kemudian pemuda Vasettha berkata kepada pemuda Bharadvaja: ‘Bharadvaja, Samana Gotama, putra suku Sakya, telah meninggalkan keluarga Sakya menjadi petapa, sekarang ada di Manasakata, tinggal di taman mangga di tepi sungai Aciravati, tepatnya di utara Manasakata. Sehubungan dengan Samana Gotama telah tersebar berita yang baik yaitu: ‘Demikianlah Bhagava, maha suci, telah mencapai penerangan sempurna, sempurna pengetahuan serta tidak-tanduknya, sempurna menempuh jalan, pengenal segenap alam, pembimbing manusia yang tiada taranya, guru para dewa dan manusia, yang sadar dan patut dimuliakan’. Bharadvaja, marilah kita menemui Samana Gotama, bilamana kita telah menemuinya, kita tanyakan persoalan kita ini kepada beliau. Apa yang Samana Gotama uraikan kepada kita, kita perhatikan dengan baik’.

‘Baiklah, kawan!’ jawab pemuda Bharadvaja menyetujui saran pemuda Vasettha.

‘Selanjutnya, pemuda Vasettha dan pemuda Bharadvaja pergi ke tempat Bhagava berada’. Setelah sampai, mereka memberi hormat kepada Bhagava dan saling menyapa dengan kata-kata santun, lalu duduk di tempat yang telah tersedia. Setelah duduk, pemuda Vasettha berkata kepada Bhagava: ‘Gotama, ketika kami sedang berjalan bolak-balik (di tepi sungai) muncul percakapan tentang jalan benar dan jalan salah. Saya berkata : ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Pokkharasadi’.

Sedangkan pemuda Bharadvaja mengatakan : ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Tarukkho’. Gotama, sehubungan dengan masalah ini terjadi perdebatan, pertentangan dan perbedaan pandangan di antara kami’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Pokkharasadi’. Sedangkan Bharadvaja mengatakan: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Tarukkho’. ‘Vasettha, karena itu terjadi perdebatan, pertanyaan dan perbedaan pandangan di antara anda berdua?’

Pemuda Vasettha: ‘Mengenai jalan benar dan jalan salah, Gotama. Gotama banyak Brahmana mengajar bermacam-macam jalan, seperti para Brahmana Addhariya [Adhavaryu], para Brahmana Tittiriya [Taittiriya], para Brahmana Chandoka [Chandogya], para Brahmana Chandava dan para Brahmana Brahma-cariya. Apakah semua itu jalan-jalan keselamatan? Apakah semua jalan itu membimbing seseorang yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma?’

“Gotama, bagaikan di sekitar desa atau kota banyak dan bermacam-macam jalan, namun semua jalan itu bertemu di desa – demikian pula cara itu bahwa semua macam jalan yang diajarkan oleh para Brahmana, seperti para Brahmana Addhariya, para Brahmana Tittiriya, para Brahmana Chandoka, para Brahmana Chandava dan para Brahmana Brahmacariya. Apakah semua itu jalan-jalan keselamatan? Apakah semua jalan itu membimbing seseorang yang melaksanakan-nya untuk bersatu dengan Brahma?

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan semua jalan ke arah benar’?

Pemuda Vasettha: ‘Ke arah benar, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan semua jalan ke arah benar’?

Pemuda Vasettha: ‘Ke arah benar, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan semua jalan ke arah benar’?

Pemuda Vasettha: ‘Ke arah benar, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Bagaimana Vasettha? Apakah ada seorang Brahmana dari para Brahmana yang menguasai tevijja [Tiga Veda: Rig Veda, Sama Veda dan Yajur Veda] pernah melihat langsung Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak ada, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, atau apakah ada seorang guru dari para Brahmana yang menguasai tevijja pernah melihat langsung Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak ada, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, atau apakah ada seorang guru di antara guru-guru dari para guru Brahmana yang menguasai tevijja pernah melihat langsung Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak ada, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, atau apakah ada seorang Brahmana sampai tujuh generasi yang telah melihat langsung Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak ada, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah, para reshi dari para Brahmana yang lampau, yang telah menguasai tevijja, para penulis mantra-mantra, para pengucap mantra-mantra, yang mantra-mantra kunonya dilafalkan, diucapkan atau disusun, yang olah para Brahmana masa kini dilafalkan kembali atau berulang-ulang kali; diintonasikan atau lafalkan secara tepat seperti yang telah diintonasikan atau dilafalkan – seperti Atthaka, Vamako, Vamadevo, Vessamitto, Yamataggi, Angiraso, Bharadvajo, Vasettho, Kassapa dan Bhagu – mereka mengucapkan itu dengan berkata: ‘Kami mengetahuinya, kami telah melihatnya, di mana Brahma berada, dari mana Brahma atau ke mana Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan bahwa tidak ada dari para Brahmana, atau para guru mereka, atau dari murid-murid mereka, sampai tujuh generasi yang pernah melihat langsung Brahma. Begitu pula dengan para rishi dari para Brahmana yang lampau, yang telah menguasai tevijja, para penulis mantra-mantra, para pengucap mantra-mantra, yang mantra-mantra kuno-nya dilafalkan, diucapkan atau disusun, yang olah para Brahmana masa kini dilafalkan kembali atau berulang-ulang kali; diintonasikan atau lafalkan secara tepat seperti yang telah diintonasikan atau dilafalkan – seperti Atthaka, Vamako, Vamadevo, Vessamitto, Yamataggi, Angiraso, Bharadvajo, Vasettho, Kassapa dan Bhagu. Mereka tidak mengatakan: ‘Kami mengetahuinya, kami telah melihat, di mana Brahma berada, dari mana Brahma atau ke mana Brahma?’ Sehingga para Brahmana yang menguasai tevijja dengan benar berkata: ‘Apa yang kita tidak tahu, apa yang kita tidak lihat, keadaan bersatu yang jalannya kita ajarkan, dengan berkata: Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma’.

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu? Bila begitu, bukankah cerita mengenai para Brahmana yang walaupun mereka menguasai tevijja, ternyata mereka menyatakan hal yang bodoh?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya demikian bahwa para Brahmana yang menguasai tevijja ternyata menyatakan hal yang bodoh.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, sebenarnya para Brahmana yang menguasai tevijja dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu dan mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi. ‘

‘Vasettha, bagaikan beberapa orang buta yang saling berdekatan, yang di depan tidak dapat melihat, yang di tengah tidak dapat melihat, begitu pula yang di belakang tidak dapat melihat – Vasettha, saya berpendapat begitu pula dengan para Brahmana yang menguasai tevijja tetapi menceritakan hal yang buta: yang pertama tidak melihat, yang di tengah tidak melihat, begitu pula yang di belakang tidak melihat. Maka uraian dari para Brahmana yang menguasai tevijja ini, ternyata konyol, hanya kata-kata, hampa dan kosong!.

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu? Dapatkah para Brahmana yang menguasai tevijja – seperti orang-orang lain yang awam dan biasa – melihat bulan dan matahari lalu mereka sembayang, memuja dan memuji, berputar dengan beranjali ke arah bulan dan matahari terbit maupun terbenam?’

Pemuda Vasettha: ‘Tentu mereka dapat, Gotama’.

Sang Bhagava: Vasettha, bagaimana pendapatmu? Para Brahmana yang menguasai tevijja, yang dengan baik – seperti orang-orang lain yang awam dan biasa – melihat bulan dan matahari lalu mereka sembayang, memuja dan memuji, berputar dengan beranjali ke arah bulan dan matahari terbit maupun terbenam – adalah para Brahmana yang menguasai tevijja, dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan bulan dan matahari, dengan berkata: “Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan bulan dan matahari”.

Pemuda Vasettha: ‘Tentu tidak, Gotama!’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda berkata bahwa para Brahmana tidak dapat menunjukkan jalan bersatu dengan hal yang telah mereka lihat; lebih lanjut anda mengatakan tidak ada seorang pun dari mereka, atau siswa mereka, atau para pendahulu mereka hingga tujuh generasi yang telah melihat Brahma. Lagi pula anda mengatakan para rishi yang lampau, yang teguh meyakini ucapan mereka, tidak berpura-pura mengetahui atau telah melihat di mana, dari mana atau ke mana Brahma itu. Namun para Brahmana yang menguasai tevijja ini mengatakan bahwa mereka dapat menunjukkan jalan bersatu, padahal mereka tidak tahu maupun belum melihatnya’. Vasettha, sekarang bagaimana pendapat-mu? Bila demikian, bukankah kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ini adalah omong kosong saja?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ternyata omong kosong’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Vasettha ternyata, para Brahmana yang menguasai tevijja yang dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu maupun mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bagaikan seorang pria berkata: ‘Betapa saya rindu, betapa saya mencintai wanita tercantik di dunia ini!’

‘Orang-orang bertanya kepadanya: ‘Baiklah kawan. Wanita tercantik di dunia ini, yang anda rindukan dan cintai, apakah anda mengetahui bahwa wanita cantik itu bangsawan (khattiya), Brahmana, pedagang (vessa) atau kalangan bawah (sudda)?’

‘Ketika ditanya seperti itu, ia menjawab: ‘Tidak’.

‘Lalu orang-orang berkata kepadanya: ‘Jadi, ia yang anda rindukan dan cintai adalah orang yang belum anda tahu dan lihat?’

‘Setelah ditanya begitu, ia menjawab: ‘Ya’.

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu? Bila demikian, bukankah apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, begitu pula, anda berkata bahwa para Brahmana tidak dapat menunjukkan jalan bersatu dengan hal yang telah mereka lihat; lebih lanjut anda mengatakan tidak ada seorang pun dari mereka, atau siswa mereka, atau para pendahulu mereka hingga tujuh generasi yang telah melihat Brahma. Lagi pula anda mengatakan para rishi yang lampau, yang teguh meyakini ucapan mereka, tidak berpura-pura mengetahui atau telah melihat di mana, dari mana atau ke mana Brahma itu. Namun para Brahmana yang menguasai tevijja ini mengatakan bahwa mereka dapat menunjukkan jalan bersatu, padahal mereka tidak tahu maupun belum melihatnya’.

‘Vasettha, sekarang bagaimana pendapatmu? Bila demikian, bukankah kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ini adalah omong kosong saja?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja adalah omong kosong’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Vasettha ternyata, para Brahmana yang menguasai tevijja yang dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu maupun mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bagaikan seseorang yang membuat sebuah tangga untuk naik ke istana di suatu tempat di persimpangan jalan. Lalu orang-orang bertanya kepadanya: ‘Kawan, baiklah, untuk naik ke istana itu anda buatkan tangga, apakah istana itu di sebelah, timur, selatan, barat atau utara? Apakah istana itu tinggi, rendah atau menengah?’

‘Ketika ditanya seperti itu, ia menjawab: ‘Tidak’.

‘Lalu orang-orang berkata kepadanya: ‘Kawan, jadi anda membuat tangga untuk naik ke sesuatu – apakah itu istana – yang anda tidak tahu dan belum lihat?.

‘Setelah ditanya begitu, ia menjawab: ‘Ya’.

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu?. Bila demikian, bukankah apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong?

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, begitu pula, anda berkata bahwa para Brahmana tidak dapat menunjukkan jalan bersatu dengan hal yang telah mereka lihat; lebih lanjut anda mengatakan tidak ada seorang pun dari mereka, atau siswa mereka, atau para pendahulu mereka hingga tujuh generasi yang telah melihat Brahma. Lagi pula anda mengatakan para rishi yang lampau, yang teguh meyakini ucapan mereka, tidak berpura-pura mengetahui atau telah melihat di mana, dari mana atau ke mana Brahma itu. Namun para Brahmana yang menguasai tevijja ini mengatakan bahwa mereka dapat menunjukkan jalan bersatu, padahal mereka tidak tahu maupun belum melihatnya’.

‘Vasettha, sekarang bagimana pendapatmu?. Bila demikian, bukankah kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ini adalah omong kosong saja?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja adalah omong kosong’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Vasettha ternyata, para Brahmana yang menguasai tevijja yang dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu maupun mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bilamana sungai Aciravati penuh dengan air hingga ke tepi dan meluap, kemudian ada seorang yang mempunyai kegiatan di tepi seberang, mau menyeberang, berusaha ke seberang, datang ke tepi dan ingin menyeberang. Selagi ia berdiri di tepi sini, ia memohon ke tepi sebelah dengan berkata: ‘Wahai tepi seberang sana, datang ke sini!, datanglah ke seberang sini!’

‘Vasettha bagaimana pendapatmu? Apakah tepi seberang sungai Aciravati, karena permohonan, doa, pujian dan harapan orang itu akan datang ke tepi sebelah sini?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, tentu saja tidak’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, begitulah caranya para Brahmana yang menguasai tevijja – dengan meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – berkata: ‘Kami mohon Inda, kami mohon Soma, kami mohon Varuna, kami mohon Isana, kami mohon Pajapati [pragapati], kami mohon Brahma, kami mohon Mahiddhi, kami mohon Yama.

‘Vasettha, para Brahmana yang menguasai tevijja – meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – bahwa mereka, berdasarkan pada permohonan, doa, pujian dan harapan, bila mereka meninggal dunia akan menyatu dengan Brahma – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bagaikan bilamana sungai Aciravati penuh dengan air hingga ke tepi dan meluap, kemudian ada seorang yang mempunyai kegiatan di tepi seberang, mau menyeberang, berusaha ke seberang, datang ke tepi dan ingin menyeberang. Selagi ia di tepi sini, tangannya, punggungnya terikat erat oleh rantai kuat, dan bagaimana pendapatmu, Vasettha, dapatkah orang itu menyeberang ke tepi sana dari sungai Aciravati?

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, tentu saja tidak’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, dengan cara yang sama, ada lima hal yang mengarah pada nafsu, yang disebut dalam vinaya-ariya sebagi rantai atau ikatan’.

‘Apakah lima hal itu?’

‘Pertama adalah benda-benda (rupa) yang dilihat mata, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebab-kan kesenangan.
Kedua adalah Suara-suara yang didengar telinga, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebabkan kesenangan.
Ketiga adalah Bebauan yang dicium oleh hidung, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebabkan kesenangan.
Keempat adalah Rasa-rasa yang dikecap oleh lidah, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai menyebabkan kesenangan.
Kelima adalah Sentuhan-sentuhan yang dirasakan oleh tubuh, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebabkan kesenangan. Lima hal ini berkecenderungan pada nafsu disebut dalam Vinaya ariya sebagai rantai atau ikatan’.

‘Vasettha, lima hal berkecenderungan pada nafsu, apakah para Brahmana yang menguasai tevijja terantai, terangsang, terikat pada hal-hal itu, dan mereka tidak melihat bahaya pada hal-hal itu, tidak mengetahui bahwa hal-hal itu tidak dapat dijadikan tumpuan, namun menikmati hal-hal itu’.

‘Vasettha, sesungguhnya para Brahmana yang menguasai tevijja dengan meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – terikat pada hal-hal itu, dan mereka tdlak melihat bahaya pada hal-hal itu, tidak mengetahui bahwa hal-hal itu tidak dapat dijadikan tumpuan, namun menikmati hal-hal itu – bahwa para Brahmana ini setelah meninggal, akan bersatu dengan Brahma – kondisi seperti ini tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bagaikan bilamana sungai Aciravati penuh dengan air hingga ke tepi dan meluap, kemudian ada seorang yang mempunyai kegiatan di tepi seberang, mau menyeberang, berusaha ke seberang, datang ke tepi dan ingin menyeberang. Selagi ia di tepi sini, ia membungkus dirinya hingga ke kepalanya, ia berbaring untuk tidur. ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, dapatkah orang itu menyeberang ke tepi sana dari sungai Aciravati?

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, tentu saja tidak’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, dengan cara yang sama, ada lima rintangan (nivarana), yang dalam vinaya-ariya disebut perintang, penghalang, pengganggu atau jerat.

‘Apakah lima hal itu?’

Pertama ‘Nafsu indera sebagai perintang’.
Kedua ‘Kebencian sebagai perintang’.
Ketiga ‘Malas dan ngantuk sebagai perintang’.
Keempat ‘Keragu-raguan sebagai perintang’.
Kelima ‘Kegelisahan sebagai perintang’.

‘Vasettha, inilah lima perintang yang dalam vinaya ariya disebut perintang, penghalang, pengganggu atau jerat’.

‘Vasettha, sesungguhnya para Brahmana yang menguasai tevijja – dengan meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – terintang, terhalang, terganggu dan terjerat oleh lima rintangan ini – bahwa para Brahmana ini setelah meninggal, akan bersatu dengan Brahma – kondisi seperti ini tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu dan apakah anda pernah mendengar dari para Brahmana tua dan telah berpengalaman, dan ketika para ahli dan para guru bercakap-cakap bersama?

Apakah Brahma memiliki istri dan kekayaan atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah ia diliputi bahaya atau bebas dari bahaya?’

Pemuda Vasettha: ‘Bebas dari bahaya, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah ia diliputi kebencian atau bebas dari kebencian?

Pemuda Vasettha: ‘Bebas dari kebencian, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah ia ternoda atau suci?’

Pemuda Vasettha: ‘Suci, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Apakah ia menguasai dirinya atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Menguasai dirinya, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, apakah para Brahmana yang menguasai tevijja memiliki istri dan kekayaan atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Memiliki, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah mereka diliputi kemarahan atau bebas dari kemarahan?’

Pemuda Vasettha: ‘Diliputi kemarahan, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah mereka diliputi kebencian atau bebas dari kebencian?’

Pemuda Vasettha: ‘Diliputi kebencian, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah batin mereka suci atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak suci, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah mereka menguasai diri mereka atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak menguasai mereka, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan bahwa para Brahmana memiliki istri dan kekayaan, namun Brahma tidak memiliki. Dapatkah disesuaikan atau disamakan Brahmana yang memiliki istri dan harta dengan Brahma yang tidak memiliki istri dan harta?’

Pemuda Vasettha: ‘Tentu tidak, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Tetapi sesungguhnya para Brahmana yang menguasai tevijja ini, yang hidup dalam perkawinan dan memiliki harta, setelah meninggal dunia akan bersatu dengan Brahma yang tidak memiliki istri dan harta – keadaan seperti ini tidak mungkin terjadi’.

‘Vasettha, anda mengatakan bahwa para Brahmana diliputi kemarahan, kebencian, ternoda, dan tak menguasai diri; sedangkan Brahma tidak diliputi oleh kemarahan, tidak diliputi kebencian, suci dan menguasai diri. Dapatkah disesuaikan atau disamakan para Brahmana dan para Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tentu tidak, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Bahwa para Brahmana yang menguasai tevijja ini yang masih diliputi kemarahan, kebencian, ternoda dan tidak menguasai diri setelah meninggal dunia akan bersatu dengan Brahma yang bebas dari kemarahan dan kebencian, suci dan menguasai diri – keadaan seperti ini tidak mungkin terjadi.

Vasettha, demikianlah, walaupun para Brahmana menguasai tevijja, mereka meyakininya, namun mereka tenggelam (dalam upacara); karena tenggelam mereka tiba hanya pada kepuasaan, sementara mereka mengira bahwa mereka menyeberang ke tanah bahagia’.
Maka tiga kebijaksanaan para Brahmana yang menguasai tevijja disebut padang tanpa berair; tiga kebijaksanaan mereka disebut hutan tanpa jalan; tiga kebijaksanaan mereka disebut kegagalan’.

‘Ketika beliau selesai berkata, pemuda Brahmana Vasettha berkata kepada Bhagava: ‘Gotama, telah dikatakan kepadaku bahwa Samana Gotama mengetahui jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, bukankah Manasakata dekat dan tak jauh dari tempat ini?’

Pemuda Vasettha: ‘Begitulah, Gotama. Manasakata dekat, tidak jauh dari tempat ini’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, misalnya ada seseorang yang lahir di Manasakata dan belum pernah meninggalkan Manasakata, lalu orang-orang bertanya kepadanya tentang jalan yang menuju Manasakata. Apakah orang itu yang lahir dan dibesarkan di Manasakata akan ragu-ragu dan mendapat kesulitan untuk menjawab?’

Pemuda Vasettha: ‘Tentu tidak Gotama. Mengapa? Jika seseorang lahir dan dibesarkan di Manasakata, maka setiap jalan yang mengarah ke Manasakata diketahuinya dengan baik’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, orang yang dilahirkan dan dibesarkan di Manasakata mungkin saja ia akan ragu-ragu dan mendapat kesulitan untuk menjawab bila ditanya jalan yang menuju ke Manasakata; tetapi Tathagata, bila ditanya mengenai jalan yang mengarah ke alam Brahma, ia tidak akan ragu-ragu atau mendapat kesulitan untuk menjawab. Vasettha, karena saya tahu Brahma, alam Brahma, dan jalan yang mengarah ke alam Brahma. Ya, saya mengetahui itu karena saya sebagai seorang yang telah memasuki alam Brahma dan telah terlahir di dalamnya’.

‘Setelah beliau berkata begitu, pemuda Brahmana Vasettha berkata kepada Bhagava: ‘Gotama, begitulah dikatakan kepada saya bahwa samana Gotama mengetahui jalan untuk bersatu dengan Brahma. Itu bagus sekali. Mohon yang mulia Gotama menunjukkan jalan untuk bersatu dengan Brahma, mohon yang mulia Gotama menyelamatkan ras Brahmana’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, perhatikanlah dan dengarkanlah dengan baik, saya akan bicara!’

‘Baiklah,’ jawab pemuda Brahmana Vasettha menyetujuinya’.

‘Kemudian Bhagava berkata: ‘Vasettha, ketahuilah di dunia ini muncul seorang Tathagata, Yang Maha Suci, Yang Telah mencapai Penerangan Sempurna, sempurna pengetahuan serta tindak tanduk-Nya, sempurna menempuh Jalan, Pengenal segenap alam, Pembimbing yang tiada tara bagi mereka yang bersedia untuk dibimbing, Guru para dewa dan manusia, Yang sadar, Yang Patut dimuliakan. Beliau mengajarkan pengetahuan yang telah diperoleh melalui usaha-Nya sendiri kepada orang lain, dalam dunia ini yang meliputi para dewa, dan manusia, Yang Sadar, Yang Patut dimuliakan. Beliau mengajarkan pengetahuan yang telah di peroleh melalui usahanya sendiri kepada orang lain, dalam dunia ini yang meliputi para dewa, mara dan Brahmana; para petapa, Brahmana, raja beserta rakyatnya. Beliau mengajarkan kebenaran (Dhamma) yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan, indah pada akhir dalam isi maupun bahasanya. Beliau mengajarkan penghidupan suci (Brahmacariya) yang sempurna dan suci’.

‘Kemudian, seorang yang berkeluarga atau salah seorang dari anak-anaknya atau seorang dari keturunan keluarga rendah datang mendengarkan Dhamma itu, dan setelah mendengarnya ia memperoleh keyakinan terhadap Sang Tathagata. Setelah ia memiliki keyakinan itu, timbullah perenungan ini dalam dirinya: ‘Sesungguhnya, hidup berkeluarga itu penuh dengan rintangan, jalan yang penuh dengan kekotoran nafsu. Bebas seperti udara bagi seorang yang hidup berkeluarga untuk menempuh hidup Brahmacariya secara sungguh-sungguh, suci serta dalam seluruh kegemilangan kesempurnaannya. Maka, biarlah aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning dan meninggalkan hidup keluarga untuk menempuh hidup tak berkeluarga (pabbajja).

Maka tidak lama kemudian ia meninggalkan hartanya, apakah itu besar atau kecil; meninggalkan lingkungan keluarganya, apakah banyak atau sedikit, ia mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan berkeluarga dan menjadi tak berkeluarga (pabbajja).

‘Setelah menjadi bhikkhu, ia hidup mengendalikan diri sesuai dengan peraturan-peraturan bhikkhu (patimokkha), sempurna kelakuan dan latihannya, dapat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahannya, dapat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahan yang paling kecil sekalipun. Ia menyesuaikan dan melatih dirinya dalam peraturan-peraturan. Menyempurnakan perbuatan-perbuatan dan ucapannya. Suci dalam cara hidupnya, sempurna silanya, terjaga pintu-pintu inderanya. Ia memiliki perhatian-perhatian seksama dan pengertian jelas (sati sampajjana); dan hidup puas’.

‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu yang sempurna silanya?

  • Vasettha, dalam hal ini seorang bhikkhu menjauhi pembunuhan, menahan diri dari pembunuhan mahkluk-makhluk. Setelah membuang alat pemukul dan pedang, malu dengan perbuatan kasar; ia hidup dengan penuh cinta kasih, kasih sayang dan bajik terhadap semua makhluk, semua yang hidup, inilah sila yang dimilikinya.
  • ‘Menjauhi pencurian, menahan diri dari memiliki apa yang tidak diberikan; ia hanya mengambil apa yang tidak diberikan; ia hanya mengambil apa yang diberikan dan tergantung pada pemberian; ia hidup jujur dan suci. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Menjauhi hubungan kelamin, menjalankan penghidupan suci atau selibat (Brahmacariya); ia menahan diri dari perbuatan-perbuatan rendah dan hubungan kelamin. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Menjauhi kedustaan, menahan diri dari dusta, ia berbicara benar, tidak menyimpang dari kebenaran, jujur dan dapat dipercaya, serta tidak mengingkari kata-katanya sendiri di dunia’. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Menjauhi ucapan fitnah, menahan diri dari menfitnah; apa yang ia dengar di sini tidak akan diceritakannya di tempat lain sehingga menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di sini. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • Apa yang ia dengar di tempat lain tidak akan diceritakannya di sini sehingga menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di sana. Ia hidup menyatukan mereka yang terpecah-belah, pemersatu, mencintai persatuan, mendambakan persatuan; persatuan merupakan tujuan pernbicaraannya. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • Menjauhi ucapan kasar, menahan diri dari penggunaan kata-kata kasar, ia hanya mengucapkan kata-kata yang tidak tercela, menyenangkan, menarik, berkenan di hati, sopan, enak didengar dan disenangi orang. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Menjauhi pembicaraan sia-sia, menahan diri dari percakapan yang tidak bermanfaat; ia berbicara pada saat yang tepat, sesuai dengan kenyataan, berguna, tentang dhamma dan vinaya. Pada saat yang tepat, ia mengucapkan kata-kata yang berharga untuk didengar, penuh dengan gambaran yang tepat, memberikan uraian yang jelas dan tidak berbelit-belit. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • Ia menahan diri untuk tidak merusak benih-benih dan tumbuh- tumbuhan. Ia makan sehari sekali, tidak makan setelah tengah hari. Ia menahan diri dari :
    • menonton pertunjukkan-pertunjukkan, tari-tarian, nyanyian dan musik.
    • penggunaan alat-alat kosmetik, karangan-karangan bunga, wangi-wangian dan perhiasan-perhiasan.
    • penggunaan tempat tidur yang besar dan mewah.
    • menerima emas dan perak.
    • menerima gandum (padi) yang belum dimasak.
    • menerima daging yang belum dimasak.
    • menerima wanita dan perempuan-perempuan muda.
    • menerima budak belian lelaki dan budak belian perempuan.
    • menerima biri-biri atau kambing,
    • menerima bagi dan unggas,
    • menerima gajah, sapi dan kuda.
    • menerima tanah-tanah pertanian.
    • menipu dengan timbangan, mata uang maupun ukuran-ukuran.
    • perbuatan menyogok, menipu dan penggelapan.
    • perbuatan melukai, membunuh, memperbudak, merampok, menodong dan menganiaya.

    Inilah sila yang dimilikinya’.

  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih merusak bermacam-macam benih dan tumbuhan, seperti: tumbuhan yang berkembang biak dari akar-akaran, tumbuhan yang berkembang biak dari tetangkaian, tumbuhan yang berkembang biak dari ruas- ruas atau tumbuhan yang berkembang biak dari kecambah-kecambahan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari merusak bermacam-macam benih dan tumbuhan. Inilah sila yang dimilikinya’
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mempergunakan barang-barang yang ditimbun, simpanan, seperti: bahan makanan simpanan, minuman simpanan, jubah simpanan, perkakas-perkakas simpanan, bumbu makanan simpanan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari menggunakan barang-barang yang ditimbun semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih menonton aneka macam pertunjukkan, seperti: tari-tarian, nyanyian-nyanyian musik, pertunjukkan panggung, opera, musik yang diiringi dengan tepuk tangan, pembacaan deklamasi, permainan tambur, drama kesenian, permainan akrobat di atas galah, adu gajah, adu kuda, adu sapi, adu banteng, pertandingan tinju, pertandingan gulat, perang perangan, pawai, inspeksi, parade; namun seorang bhikkhu menahan diri dari menonton aneka macam pertunjukkan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terikat dengan aneka macam permainan dan rekreasi, seperti: permainan catur dengan papan berpetak delapan baris, permainan catur dengan papan berpetak sepuluh baris, permainan dengan membayangkan papan catur tersebut di udara, permainan melangkah satu kali pada diagram yang digariskan di atas tanah, permainan dengan cara memindahkan benda-benda atau orang dari satu tempat ke lain tempat tanpa menggoncangkannya, permainan lempar dadu, permainan memukul kayu pendek dengan menggunakan kayu panjang, permainan mencelup tangan ke dalam air berwarna dan menempelkan telapak tangan ke dinding, permainan bola, permainan meniup sempritan yang dibuat dari daun palem, permainan meluku dengan bajak mainan, permainan jungkir balik (salto), permainan dengan kitiran yang dibuat dari daun palem, bermain dengan timbangan mainan yang dibuat dari daun palem, bermain dengan kereta perang mainan, bermain dengan panah-panah mainan, menebak tulisan-tulisan yang digoreskan di udara atau pada punggung seseorang, menebak pikiran teman bermain, seorang bhikkhu menahan diri dari aneka macam permainan dan rekreasi semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mempergunakan aneka macam tempat tidur yang besar dan mewah, seperti: dipan tinggi yang dapat dipindah-pindahkan yang panjangnya enam kaki, dipan dengan tiang-tiang berukiran gambar binatang-binatang seprei dari bulu kambing atau bulu domba yang tebal, seprei dengan bordiran warna warni, selimut putih, seprei dari wol yang disulam dengan motif bunga-bunga, selimut yang diisi dengan kapas dan wol, seprei yang disulam dengan gambar harimau dan singa, seprei dengan bulu binatang pada kedua tepinya, seprei dengan bulu binatang pada salah satu tepinya, seprei dengan sulaman permata, seprei dari sutra, selimut yang dapat dipergunakan oleh enam belas orang, selimut gajah, selimut kuda atau selimut kereta, selimut kulit kijang yang dijahit, selimut dari kulit sebangsa kijang, permadani dengan tutup kepala dan kaki; namun seorang bhikkhu menahan diri untuk tidak mempergunakan aneka macam tempat tidur yang besar dan mewah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih memakai perhiasan-perhiasan dan alat-alat memperindah diri seperti: melumuri, mencuci dan menggosok tubuhnya dengan bedak wangi; memukuli tubuhnya dengan tongkat perlahan-lahan seperti ahli gulat; memakai kaca, minyak mata (bukan obat), bunga-bunga, pemerah pipi, kosmetika, gelang, kalung, tongkat jalan (untuk bergaya), tabung bambu untuk menyimpan obat, pedang, alat penahan sinar matahari, sandal bersulam, sorban, perhiasan dahi, sikat dari ekor binatang yak, jubah putih panjang yang banyak lipatannya; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari pemakaian perhiasan-perhiasan dan alat-alat memperindah diri semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terlibat dalam percakapan-percakapan yang rendah, seperti: percakapan tentang raja-raja, percakapan tentang mencuri, percakapan tentang menteri-menteri, percakapan tentang angkatan-angkatan perang, percakapan tentang pembunuhan-pembunuhan, percakapan tentang pertempuran-pertempuran, percakapan tentang makanan, percakapan tentang minuman, percakapan tentang pakaian, percakapan tentang tempat tidur, percakapan tentang karangan-karangan bunga, percakapan tentang wangi-wangian, pembicaraan-pembicaraan tentang keluarga, percakapan tentang kendaraan, percakapan tentang desa, percakapan tentang kampung, percakapan tentang kota, percakapan tentang negara, percapakan tentang wanita, percakapan tentang lelaki, percakapan di sudut-sudut jalanan, percakapan tentang hantu-hantu jaman dahulu, percakapan yang tidak ada ujung pangkalnya, spekulasi tentang terciptanya daratan, spekulasi tentang terciptanya lautan, percakapan tentang perwujudan dan bukan perwujudan (eksistensi dan non eksistensi); namun seorang bhikkhu menahan diri dari percakapan-percakapan yang rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
  • ‘Meskipun beberapa petapa Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terlibat dalam kata-kata perdebatan, seperti: ‘Bagaimana seharusnya engkau mengerti Dhamma Vinaya ini? ‘Engkau menganut pandangan-pandangan keliru, tetapi aku menganut pandangan-pandangan benar. ‘Aku berbicara langsung pada pokok persoalan, tetapi engkau berbicara langsung pada pokok persoalan’. Engkau membicarakan di bagian akhir tentang apa yang seharusnya dibicarakan di bagian permulaan; dan membicarakan di bagian permulaan tentang apa yang seharusnya dibicarakan di bagian akhir. Apa yang lama telah engkau persiapkan untuk dibicarakan, semuanya itu telah usang’. Kata-kata bantahanmu itu ditentang, dan engkau ternyata salah’. ‘Berusahalah untuk menjernihkan pandangan-pandanganmu; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari kata-kata perdebatan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih berlaku sebagai pembawa berita, pesuruh dan bertindak sebagai perantara dari raja-raja, menteri-menteri negara, kesatria, Brahmana, orang berkeluarga atau pemuda-pemuda, yang berkata: ‘Pergilah ke sana, pergilah ke situ, bawalah ini, ambilkan itu dari sana’; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari tugas-tugas sebagai pembawa berita, pesuruh dan perantara semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih melakukan tindakan-tindakan penipuan dengan cara: merapalkan kata-kata suci, meramal tanda-tanda dan mengusir dengan tujuan memperoleh keuntungan setelah memperlihatkan sedikit kemampuannya; namun seorang bhikkhu menahan diri dari tindakan-tindakan penipuan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti meramal dengan melihat guratan-guratan tangan, meramal melalui tanda-tanda dan alamat-alamat, menujumkan sesuatu dari halilintar atau keanehan-keanehan benda langit lainnya, meramal dengan mengartikan mimpi-mimpi, meramal dengan melihat tanda-tanda pada bagian tubuh, meramal dari tanda-tanda pada pakaian yang digigit tikus, mengadakan korban pada api, mengadakan selamatan yang dituang dari sendok, memberikan persembahan dengan sekam untuk dewa-dewa, memberikan persembahan dengan bekatul untuk dewa-dewa, memberikan persembahan dengan mentega untuk dewa-dewa, memberikan persembahan dengan minyak untuk dewa, mempersembahkan biji wijen dengan menyemburkannya dari mulut ke api, mengeluarkan darah dari lutut kanan sebagai tanda persembahan kepada dewa-dewa, melihat dan meramalkan apakah orang itu mujur, beruntung atau sial; menentukan apakah letak rumah itu baik atau tidak, menasehati cara-cara pengukuran tanah; mengusir setan-setan di kuburan; mengusir hantu, mantra untuk menempati rumah yang dibuat dari tanah, mantra untuk kelajengking, mantra tikus, mantra burung, mantra burung gagak, meramal umur, mantra melepas panah, keahlian untuk mengerti bahasa binatang; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-limu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: pengetahuan tentang tanda-tanda atau alamat-alamat baik atau buruk dari benda-benda, yang menyatakan kesehatan atau keberuntungan dari pemiliknya, seperti: batu-batu permata, tongkat, pedang, panah, busur, senjata-senjata lainnya; wanita, laki-laki, anak lelaki, anak perempuan, budak lelaki, budak perempuan, gajah, kuda, kerbau, sapi jantan, sapi betina, burung nasar, kura-kura, dan binatang-binatang lainnya; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramal dengan akibat: pemimpin akan maju, pemimpin akan mundur, pemimpin kita akan menyerang dan musuh-musuh akan mundur, pemimpin musuh akan menyerang dan pemimpin kita akan mundur, pemimpin kita akan menang dan pemimpin musuh akan kalah, pemimpin musuh akan menang dan pemimpin kita akan kalah; jadi kemenangan ada di pihak ini dan kekalahan ada di pihak itu; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramalkan adanya gerhana bulan, gerhana matahari, gerhana bintang, matahari atau bulan akan menyimpang dari garis edarnya, matahari atau bulan akan kembali pada garis edarnya, adanya bintang yang menyimpang dari garis edarnya, bintang akan kembali pada garis edarnya, meteor jatuh, hutan terbakar, gempa bumi, halilintar, matahari, bulan dan bintang akan terbit, terbenam, bersinar dan suram; atau meramalkan lima belas gejala tersebut akan terjadi yang akan mengakibatkan sesuatu; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramalkan turun hujan yang berlimpah-limpah, turun hujan yang tidak mencukupi, hasil panen yang baik, masa paceklik (kekurangan bahan makanan), keadaan damai, keadaan kacau, akan terjadi wabah sampar, musim baik; meramal dengan menghitung jari, tanpa menghitung jari; ilmu menghitung jumlah besar, menyusun lagu, sajak, nyanyian rakyat yang popular dan ada kebiasaan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: mengatur hari baik bagi mempelai pria atau wanita untuk dibawa pulang, mengatur hari baik bagi mempelai pria atau wanita untuk dikirim pergi, menentukan saat baik untuk menentukan perjanjian damai (atau mengikat persaudaraan dengan menggunakan mantra), menentukan saat yang baik untuk meletuskan permusuhan, menentukan saat baik untuk menagih hutang, menentukan saat baik untuk memberi pinjaman, menggunakan mantra untuk membuat orang beruntung, menggunakan mantra untuk membuat orang sial, menggunakan mantra untuk menggugurkan kandungan, menggunakan mantra untuk mendiamkan rahang seseorang, menggunakan mantra untuk membuat orang lain mengangkat tangannya, menggunakan mantra untuk menimbulkan ketulian, mencari jawaban dengan melihat-lihat kaca ajaib, mencari jawaban melalui seorang gadis yang kerasukan, mencari jawaban dari dewa, memuja matahari memuja maha ibu (dewa tanah) mengeluarkan api dari mulut, memohon kepada dewi Sri, atau dewi keberuntungan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: berjanji akan memberikan persembahan-persembahan kepada para dewa apabila keinginannya terkabul, melaksanakan janji-janji semacam itu, mengucapkan mantra untuk menempati rumah yang dibuat dari tanah, mengucapkan mantra untuk menimbulkan kejantanan, membuat pria menjadi impotent, menentukan letak yang tepat untuk membangun rumah, mengucapkan mantra untuk membersihkan tempat, melakukan upacara pembersihan mulut, melakukan upacara mandi, mempersembahkan korban, memberikan obat bersin untuk mengobati sakit kepala, meminyaki telinga orang lain, merawat mata orang, memberikan obat melalui hidung, memberi collyrium di mata, memberikan obat tetes pada mata, menjalankan praktek sebagai okultis, menjalankan praktek sebagai dokter anak-anak, meramu obat-obatan dari bahan-bahan akar-akaran, membuat obat-obatan; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.


‘Vasettha, selanjutnya seorang bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat adanya bahaya dari sudut manapun sejauh berkenan dengan pengendalian terhadap sila, Vasettha, sama seperti seorang kesatria yang patut dinobatkan menjadi raja, yang musuh-musuh telah di kalahkan, tidak melihat bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenaan dengan musuh-musuh;

Demikian pula, seorang bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat bahaya dari sudut manapun sejauh berkenaan dengan pengendalian-sila. Dengan memiliki kelompok sila yang mulia ini, dirinya merasakan suatu kebahagiaan murni (anavajja sukkham). Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu yang memiliki sila sempurna’.

‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu memiliki penjagaan atas pintu-pintu inderanya?

  • Vasettha, bilamana seorang bhikkhu melihat suatu obyek dengan matanya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik atau buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera penglihatannya. Ia menjaga indera penglihatannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pengelihatannya.
  • Bilamana ia mendengar suara dengan telinganya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera pendengarnya. Ia menjaga indera pendengarannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pendengarannya.
  • Bilamana ia mencium bau dengan hidungnya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera penciumannya. Ia menjaga indera penciumannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera penciumannya.
  • Bilamana ia mengecap rasa lidahnya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera pengecapannya. Ia menjaga indera pengecapannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pengecapannya.
  • Bilamana ia merasakan suatu sentuhan dengan tubuhnya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian terhadap indera perabanya. Ia menjaga indera perabanya, dan memiliki pengendalian terhadap indera perabanya.
  • Bilamana ia mengetahui sesuatu (dhamma) dengan pikirannya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk; keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian terhadap indera pikirannya. Ia menjaga indera pikirannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pikirannya.


Dengan memiliki pengendalian diri yang mulia ini terhadap indera-inderanya, ia merasakan suatu kebahagiaan yang tidak dapat diterobos oleh noda apapun. ‘

‘Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu yang memiliki pengendalian atas pintu-pintu inderanya’

‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu memiliki perhatian seksama dan pengerti jelas?

  • Vasettha, dalam hal ini seorang bhikkhu mengerti dengan jelas sewaktu ia pergi atau sewaktu kembali;
  • ia mengerti dengan jelas sewaktu melihat ke depan atau melihat ke samping;
  • ia mengerti dengan jelas sewaktu mengenakan jubah atas (sanghati), jubah luar (civara) atau mengambil mangkuk-makan (patta);
  • ia mengerti dengan jelas sewaktu makan, minum, mengunyah atau menelan;
  • ia mengerti dengan jelas sewaktu buang air atau sewaktu kencing;
  • ia mengerti dengan jelas sewaktu dalam keadaan berjalan, berdiri, duduk, tidur, bangun, berbicara atau diam.


Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu yang memiliki perhatian seksama murni dan pengertian jelas’

‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu merasa puas?

Vasettha, dalam hal ini seorang bhikkhu merasa puas dengan jubah-jubah yang cukup untuk menutupi tubuhnya, puas hanya dengan makanan yang cukup untuk menghilangkan rasa lapar perutnya. Dan kemana pun ia akan pergi, ia pergi hanya dengan membawa hal-hal ini.

Vasettha, sama seperti seekor burung dengan sayapnya, ke manapun akan terbang, burung itu terbang hanya dengan membawa sayapnya. Vasettha, demikian pula seorang bhikkhu merasa puas hanya dengan jubah-jubah yang cukup untuk menutupi tubuhnya, puas hanya dengan makanan yang cukup untuk menghilangkan rasa lapar perutnya. Maka, ke mana pun ia akan pergi, ia hanya dengan membawa hal-hal ini.

Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu merasa puas’

‘Setelah memiliki kelompok sila yang mulia ini, memiliki pengendalian terhadap indera-indera yang mulia ini, memiliki perhatian seksama dan pengertian jelas yang mulia ini, memiliki kepuasan yang mulia ini, ia memilih tempat-tempat sunyi di hutan, di bawah pohon, di lereng bukit, di celah gunung, di gua karang, di tanah-kubur, di dalam hutan lebat, di lapangan terbuka, di atas tumpukan jerami untuk berdiam. Setelah pulang dari usahanya mengumpulkan dana makanan dan selesai makan; ia duduk bersila, badan tegak, sambil memusatkan perhatiannya ke depan’.

  • ‘Dengan menyingkirkan kerinduan terhadap dunia, ia berdiam dalam pikiran yang bebas dari kerinduan, membersihkan pikirannya dari nafsu-nafsu.
  • Dengan menyingkirkan itikad jahat, ia berdiam dalam pikiran yang bebas dari itikad jahat, dengan pikiran bersahabat serta penuh kasih sayang terhadap semua makhluk, semua yang hidup, ia membersihkan pilkirannya dari itikad jahat.
  • Dengan menyingkirkan kemalasan dan kelambanan, ia berdiam dalam keadaan bebas dari kemalasan dan kelambanan; dengan memusatkan perhatiannya pada pencerapan terhadap cahaya (alokasanni), ia membersihkan pikirannya dari kemalasan dan kelambanan.
  • Dengan menyingkirkan kegelisahan dan kekhawatiran, ia berdiam bebas dari kekacauan; dengan batin tenang, ia membersihkan pikirannya dari kegelisahan dan kekhawatiran.
  • Dengan menyingkirkan keragu-raguan, ia berdiam mengatasi keragu-raguan; dengan tidak lagi ragu-ragu terhadap apa yang baik, ia membersihkan pikirannya dari keragu-raguan’.


‘Vasettha, sama halnya seperti seseorang, yang setelah berhutang, ia berdagang sampai berhasil, sehingga bukan saja ia mampu membayar kembali pinjaman hutangnya, tetapi masih ada kelebihan untuk merawat seorang istri. Lalu ia berpikir: “Dahulu aku berhutang dan berdagang sampai berhasil, sehingga bukan saja aku dapat membayar kembali pinjaman hutangku, tetapi masih ada kelebihan untuk merawat seorang istri”.

Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

‘Vasettha, sama halnya seperti seorang yang diserang penyakit, berada dalam kesakitan, amat parah keadaannya, tidak dapat mencerna makanannya, sehingga tidak ada lagi kekuatan dalam dirinya; namun setelah beberapa waktu ia sembuh dari penyakit itu, dapat mencerna makanannya sehingga kekuatannya pulih. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu aku diserang penyakit, berada dalam kesakitan, amat parah keadaanku, tidak dapat mencerna makananku, sehingga tidak ada lagi kekuatan dalam diriku; namun, sekarang aku telah sembuh dari penyakit itu, dapat mencerna makanan sehingga kekuatanku pulih’.

Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

‘Vasettha, sama halnya seperti seorang yang ditahan dalam rumah penjara, dan setelah beberapa waktu ia dibebaskan dari tahanannya, aman dan sehat, barang-barangnya tidak ada yang dirampas. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu aku ditahan dalam rumah penjara, dan sekarang aku telah bebas dari tahanan, aman dan sehat, barang-barangku tidak ada yang dirampas’.

Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’

‘Vasettha, sama halnya seperti seseorang yang menjadi budak, bukan tuan bagi dirinya sendiri, tunduk kepada orang lain, tidak dapat pergi ke mana ia suka; dan setelah beberapa waktu ia dibebaskan dari perbudakan itu, menjadi tuan bagi dirinya sendiri, tidak tunduk kepada orang lain, seorang yang bebas pergi ke mana ia suka. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu aku seorang budak, bukan tuan bagi diriku sendiri, tunduk kepada orang lain, tidak dapat pergi ke mana aku suka; dan sekarang aku telah bebas dari perbudakan, menjadi tuan bagi diriku sendiri, tidak tunduk kepada orang lain, seorang yang bebas, bebas ke mana aku suka’.

Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

‘Vasettha, sama halnya seperti seorang yang dengan membawa kekayaan dan barang-barang, melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tidak terdapat makanan melainkan banyak bahaya; dan setelah beberapa waktu ia berhasil keluar dari padang pasir itu, selamat tiba di perbatasan desanya, suatu tempat yang aman, tidak ada bahaya. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu, dengan membawa kekayaan dan barang-barang, aku melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tidak terdapat makanan melainkan banyak bahaya; dan sekarang aku telah berhasil keluar dari padang pasir itu, selamat tiba di perbatasan desaku, suatu tempat yang aman, tidak ada bahaya’.

Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

‘Vasettha, demikianlah selama lima rintangan-batin (panca nivarana) belum disingkirkan, seorang bhikkhu merasakan dirinya seperti orang yang berhutang, terserang penyakit, dipenjara, menjadi budak, melakukan perjalanan di padang pasir. Vasettha, tetapi setelah lima rintangan batin itu disingkirkan, maka seorang bhikkhu merasa dirinya seperti orang yang telah bebas dari hutang, bebas dari penyakit, keluar dari penjara, bebas dari perbudakan, sampai di tempat yang aman.

‘Apabila ia menyadari bahwa lima rintangan batin itu telah disingkirkan dari dalam dirinya, maka timbullah kegembiraan, karena gembira maka timbullah kegiuran (piti), karena batin tergiur, maka seluruh tubuh menjadi nyaman, maka ia merasa bahagia, karena bahagia, maka pikirannya menjadi terpusat.

Kemudian, setelah terpisah dari nafsu-nafsu, jauh dari kecenderungan-kecenderungan tidak baik, maka ia masuk dan berdiam dalam Jhana pertama; suatu keadaan batin yang tergiur dan bahagia (piti sukha), yang timbul dari kebebasan, yang masih disertai dengan pengarahan pikiran pada obyek (vitakka) dan mempertahankan pikiran pada obyek (vicara). Seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaan tergiur dan bahagia, yang timbul dari kebebasan; dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia itu, yang timbul dari kebebasan (viveka).

‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh cinta kasih (metta) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan keseluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan cinta kasihnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.

‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara tanpa kesulitan di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh cinta-kasih’.

‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

  • “Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh cinta kasih (metta) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan cinta kasihnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’
  • ‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh kasih-sayang (karuna) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan kasih-sayangnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.
  • ‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh empati (mudita) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan empatinya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.
  • ‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh keseimbangan batin (upekkha) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan keseimbangan batinnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.


‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara – tanpa kesulitan – di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh kasih sayang’.

‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara – tanpa kesulitan – di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh empati’.

‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara – tanpa kesulitan – di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh keseimbangan batin’.

‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, akankah bhikkhu yang hidup seperti itu memiliki istri dan kekayaan atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Ia tidak akan, Gotama’

Sang Bhagava: ‘Apakah ia akan dipenuhi kemarahan atau bebas dari kemarahan?’

Pemuda Vasettha: ‘Ia akan bebas dari kemarahan, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah ia akan diliputi kebencian atau bebas dari kebencian?’

Pemuda Vasettha: ‘Ia bebas dari kebencian, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah pikirannya akan ternoda atau suci?’

Pemuda Vasettha: ‘Pikirannya akan suci, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah ia akan menguasai dirinya atau tidak akan?’

Pemuda Vasettha: ‘Ia akan menguasai dirinya, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan bahwa bhikkhu itu bebas dari kehidupan berumah tangga dan keduniawian, dan Brahma bebas dari kehidupan berumah tangga dan keduniawian. Apakah ada persesuaian atau persamaan antara bhikkhu dan Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Ya, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Vasettha bila demikian, bhikkhu yang bebas dari kehidupan berumah tangga dan keduniawian bilamana meninggal dunia akan bersatu dengan Brahma, karena ada persamaannya – keadaan seperti mungkin terjadi’.

‘Vasettha, seperti yang anda katakan bahwa bhikkhu adalah bebas dari kemarahan, bebas dari kebencian, pikirannya suci dan menguasai dirinya; dan Brahma adalah bebas dari kemarahan, bebas dari kebencian, suci dan menguasai dirinya.

Vasettha, dengan demikian sesungguhnya bhikkhu yang bebas dari kemarahan. Bebas dari kebencian, pikiran suci dan dapat menguasai dirinya, bila ia meninggal dunia, ia dapat bersatu dengan Brahma, yang ada persamaannya – keadaan seperti ini mungkin terjadi’.

Setelah beliau berkata begitu, kemudian pemuda Brahmana Vasettha dan Bharadvaja berkata kepada Bhagava: ‘Mengagumkan kata-kata yang diucapkan Gotama. Menakjubkan! Bagaikan orang yang menegakkan benda yang tergeletak, atau menemukan apa yang tersembunyi, atau menunjukkan jalan yang benar bagi mereka yang tersesat, atau menerangi tempat yang gelap sehingga orang yang mempunyai mata dapat melihat benda; – begitu pula, Gotama telah membabarkan dhamma kepada kami dalam banyak cara..[..]

    Note:
    Kisah bentuk lain yang hampir serupa dapat dilihat di Canki Sutta

***

Sebagai penutup artikel, berikut adalah kisah sekumpulan orang buta sejak lahir yang berusaha menjelaskan bentuk gajah.

Pada jaman Sang Buddha, terdapat sejumlah pertapa dan brahmana, pengembara dari berbagai macam aliran, yang hidup di sekitar Savatthi [Sravasti, Sekarang Uttar Pradesh, India Utara dengan batas utara adalah Nepal]. Mereka mempunyai berbagai pandangan, berbagai kepercayaan, berbagai pendapat, dan mereka menggantungkan dukungan mereka dari berbagai pandangan mereka itu.

Beberapa brahmana dan pertapa yang memastikan dan berpegang pada pandangan ini: “Dunia ini kekal; hanya ini yang benar, dan (pandangan) lainnya salah.”

Beberapa pertapa dan brahmana yang bersikeras: “Dunia ini tidak kekal; hanya ini yang benar, (pandangan) lainnya salah.”

Beberapa yang bersikeras:

“Dunia ini terbatas;….. Dunia ini tidak terbatas; ….. Jiwa kehidupan dan tubuh itu sama; ….. Jiwa kehidupan dan tubuh itu berbeda; …. Sang Tathagata ada di luar jangkauan kematian; ….. Sang Tathagata ada tetapi tidak berada di luar jangkauan kematian; ….. Sang Tathagata ada dan sekaligus tidak ada di luar jangkauan kematian; ….. Sang Tathagata bukannya ada dan bukannya tidak ada di luar jangkauan kematian; hanya ini yang benar, dan (pandangan) lainnya salah.”

Dan mereka, hidup bertengkar, penuh perselisihan dan penuh percekcokkan, saling menyakiti dengan ucapan-ucapan kasar, dengan mengatakan:

“Dhamma [Dharma = Ajaran, Kebenaran] adalah seperti ini, Dhamma tidak seperti itu! Dhamma tidak seperti ini, Dhamma seperti itu!”

    Note:

    • “tathāgata” adalah julukan lain dari Sang Buddha (selain dari: sang Bhagava, Jina, dll). berasal dari kata: “tathā” (bahkan, juga, kemudian) + “gata” (pergi, sampai) atau juga “tatha” (benar, nyata) + “a” (tidak) + “gata” (pergi, sampai) yang arti literalnya adalah “Ia yang sudah sampai” atau “Ia yang nyata tidak (lagi) pergi/sampai (tumimbal lahir)”
    • Tentang ‘Jiwa’, Mahavira, Tīrthaṇkara ke-24, [Jina, julukan seorang pemenang/yang tercerahkan dalam Jainisme] berpandangan bahwa:

      “Jiwa adalah permanen dan juga tidak permanen. Dari sudut pandang substansinya maka Jiwa adalah permanen. Dari sudut pandang perubahannya bergantung dari kelahiran, lapuk/tua dan kehancuran maka jiwa adalah tidak permanen” [Vyākhyāprajסapti/Bhagvatistra, 7:58–59]

Berkenaan dengan hal tersebut di atas, Sang Buddha yang ketika itu berada di Hutan Jeta, di Vihara Anathapindika, di hadapan para Bikkhu menceritakan satu kisah:

“Dulu, O, bhikkhu, ada seorang raja di Savatthi ini juga memerintahkan seorang pengawal: ‘Pengawal yang baik, bawalah semua orang di Savatthi yang buta dari lahir.’

“Ya, Yang Mulia,” jawab laki-laki itu, dan sesudah menahan semua orang buta di Savatthi, dia mendekati Raja dan berkata, ‘Semua orang buta di Savatthi sudah dikumpulkan, Yang Mulia.'”

“Sekarang, tunjukkanlah pada orang-orang buta itu seekor gajah.”

“Baiklah, Yang Mulia,” laki-laki itu menjawab Sang Raja, dan dia membawa seekor gajah ke hadapan orang-orang buta itu, dengan mengatakan, ‘Hai, orang-orang buta, ini adalah seekor gajah.’

“Pada beberapa orang buta, laki-laki itu memberikan kepala Sang Gajah, dan mengatakan, “Ini adalah seekor gajah.”

Kepada beberapa yang lain dia menghadapkan telinga gajah itu dan mengatakan, “Ini adalah seekor gajah.”

Bagi beberapa dia menghadapkan gadingnya ….. belalainya ….. tubuhnya ….. kakinya …..bagian belakangnya ….. ekornya …… rambut di ujung ekornya, dan mengatakan, “Ini adalah seekor gajah.”

“Kemudian, O, bhikkhu, sesudah menunjukkan gajah kepada orang-orang buta, laki-laki itu menghadap Sang Raja dan berkata, ‘Orang-orang buta itu sudah mengenali gajah, Yang Mulia. Lakukanlah sekarang apa yang Baginda pikir cocok.’

Kemudian Raja mendekati orang-orang buta itu dan berkata, ‘Apakah kalian sudah mengenali gajah?’

“Ya Baginda, kami sudah mengenal gajah.”

“Beritahukan padaku, hai orang-orang buta, seperti apakah gajah itu?”

Orang-orang buta,

  • yang sudah memegang kepala gajah menjawab, ‘Baginda, seekor gajah adalah seperti tempayan air.’
  • yang sudah memegang telinga gajah menjawab, ‘Seekor gajah, baginda, adalah persis seperti keranjang penampi.’
  • yang memegang gading gajah menjawab, ‘Baginda, seekor gajah adalah seperti mata bajak;
  • yang sudah memegang belalainya menjawab, ‘Seekor gajah, baginda, adalah seperti tiang bajak.’
  • yang sudah memegang tubuhnya menjawab,’Seekor gajah, baginda, adalah seperti ruangan penyimpan.’
  • yang sudah memegang kakinya menjawab, ‘Seekor gajah, baginda, seperti sebuah tiang.’
  • yang sudah memegang bagian belakangnya menjawab,’Seekor gajah, baginda, adalah seperti lesung.’
  • yang sudah memegang ekornya menjawab, ‘Baginda, seekor gajah adalah seperti sebuah alat penumbuk.’
  • yang sudah memegang rambut di ujung ekornya menjawab, ‘Seekor gajah, baginda, adalah seperti sebuah sapu.’

“Dengan mengatakan, ‘Seekor gajah adalah seperti ini, seekor gajah tidak seperti itu! Seekor gajah tidak seperti ini, seekor gajah adalah seperti itu!’

Mereka saling berkelahi dengan tinju-tinju mereka. Dan raja itu sangat gembira (melihat pemandangan itu).”

“Demikian pula, O, bhikkhu, para pengembara dari berbagai aliran itu juga buta, tidak melihat ….. dengan mengatakan:

‘Dhamma adalah seperti ini! …. Dhamma adalah seperti itu!’ “

Kemudian, Sang Bhagava mengungkapkan kotbah inspirasi ini:

Beberapa pertapa dan brahmana, demikian mereka disebut, Sangat terikat pada pandangan-pandangan mereka sendiri;
Orang yang hanya melihat hal-hal dari satu sisi Terlibat pertengkaran dan perselisihan

    Note:
    Sumber kisah di atas: Udana 6.4.
    Versi Jainisme, di kitab Tattvarthaslokavatika, Vidyanandi [Abad ke-9 M] dan Kitab Syādvādamanjari, Ācārya Mallisena [Abad ke-13 M], yaitu seorang bijak dengan 6 orang buta, tentang anekāntavāda [variasi kendaraan] dan syādvāda [kendaraan dengan syarat]: Kebenaran dan kenyataan punya banyak sudut pandang, tidak ada satu sudut pandangpun yang benar-benar secara utuh dapat menyatakan kebenaran. Kenyataan adalah sesuatu yang kompleks, tidak dapat dinyatakan dalam satu ekspresi tunggal untuk menggambarkan realitas seutuhnya sehingga terminologi “syāt” [mungkin/bisa jadi] seharusnya dipergunakan mendahului suatu pandangan yang memiliki suatu kondisi tertentu. Seorang semi biarawati Jainisme yaitu [Samani] Charitra Pragya, mengatakan, “Bahkan seorang Tirthaṇkara yang memiliki pengetahuan tak terbatas-pun, tidak dapat secara utuh mengekspresikan realita karena terbatasnya bahasa yang merupakan ciptaan manusia

    Versi Hindu, oleh Ramakrishna Paramahamsa [abad ke-18]. Versi Islam, oleh para sufi Persia abad ke-11/12 M, yaitu Hakim Abul-Majd Majdūd ibn Ādam Sanā’ī Ghaznavi dan di abad ke-13 M oleh Jalāl ad-Dīn Muhammad Rūmī.

Dunia ini dipenuhi orang-orang buta ajaran namun berlagak melek dan menjadikan pengikutnya percaya membuta.


RAHWANA Lebih Patut di-IDOLA-kan Daripada VALMIKI, Sang Pengarang Ramayana!


Jika anda membaca atau menonton kisah Ramayana, maka anda akan temukan sosok Rama, seorang ksatria utama, berbudi, super tampan dan pilih tanding beristrikan wanita setia super cantik bernama Sita yang berhasil diselamatkan dari genggaman Raja raksasa super jahat lagi kejam bernama Rahwana.



Percaya atau tidak, ternyata kata ‘Raksasa’ dari tempat kelahiran epik ini, memiliki arti yang justru sangat berlawanan dengan arti yang umum ketahui!

Raksasa, berasal dari kata “raksha” yang artinya melindungi/menjaga/memelihara [Vishnu Purana, Buku 1 bab V]. Di India, ada satu festival yang bernama ‘Rakshabandhan’ yang dirayakan di bulan Purnama ke-10 setiap tahunnya. Raksha adalah jiwa dari festival ini di mana seorang wanita [bisa sedarah, saudara angkat, Istri] mengikatkan seutas benang [Rakhi] di pergelangan tangan seorang lelaki [bisa sedarah, saudara angkat, teman baik atau suami] dan memintanya untuk melindunginya. Sang lelaki kemudian membalas dengan memberikan hadiah dan memperbaharui kembali sumpahnya untuk melindungi wanita itu.

Tradisi indah ini mempunyai sejarah yang panjang di India. Salah satu kisah menarik yang ada di sejarah adalah kisah Alexander, seorang Raja Yunani yang beristri seorang wanita India bernama Roxana (Roshanak).

Pada tahun 326 SM, ketika Alexander menginvasi India, Ia berperang dengan raja Puru [sekitar Punjab, sekarang] bernama Porus di sungai Hydapes. Porus dikenal sangat menghormati tradisi rakhi dan Roxana-pun mengetahuinya. Sehingga ketika Porus berhadapan dengan Alexander di suatu medan laga, melihat Rakhi terlilit di pergelangan tangannya, ini membuatnya menahan diri untuk tidak berhadapan langsung dengan Alexander.

Walaupun pada akhirnya raja Porus kalah, namun keberaniannya, kepiawaian seni perangnya dan sikapnya membuat kesan sangat mendalam di hati Alexander. Porus yang ketika itu terluka di bahu, ditanya Alexander bagaimana ia ingin diperlakukan, Porus menjawab, “Oh Alexander, perlakukan aku sebagai seorang raja”. Alexander menghormatinya dan mempertahankan Porus untuk tetap memerintah di Hydaspes atas namanya. [Rogers, Guy (2004). Alexander: The Ambiguity of Greatness. New York: Random House.p.200]

Menarik, Bukan?!

Tahan dulu nafas anda! Masih banyak fakta mengejutkan yang akan anda temukan dan membuat anda mulai berpikir ulang mengenai apa sih “kebenaran” itu?!




Percaya atau tidak, ternyata variasi versi kisah Ramayana jumlahnya ratusan bahkan ribuan di seluruh dunianya!

Untuk menggambarkan betapa banyaknya versi Ramayana itu, mari kita ambil hasil penelitian Fr. Camille Bulke. Jumlah suku yang ada di seluruh India adalah 645 Suku, populasi penduduk keseluruhan suku itu hanyalah 8% dari total populasi penduduk India. Fr. Camille Bulke meneliti variasi kisah Ramayana terutama di 2 (dua) suku di India yaitu Birhors [populasi 10.000 orang] dan Mundas [populasi 2 juta orang]. Jumlah variasi Ramayana yang ditemukannya tidak kurang dari 107 versi berbeda! [The Dangi Ramakatha: An Epic acculturated?, Aruna Ravikant Joshi, Indian Folklore Research Journal, Vol.3, No.6, 2006: 13–37], dari ribuan versi epik tersebut, 99%-nya menggambarkan tokoh Rama, Sita dan Rahwana seperti yang saya sebutkan di atas. sample link kisah ramayana yang dikenal luas di masyarakat:






Percaya atau tidak, Ternyata variasi kelahiran Sita pun beragam!

Penelitian yang dilakukan S. SINGARAVELU, untuk 17 versi Ramayana, kelahiran Sita dikisahkan sebagai berikut:

  1. 12 versi menyatakan Sita adalah reinkarnasi dari:
    • Dewi [Laksmi, istri dewa Visnu; Umi, isri dewa Siwa; Istri dewa Indra]
    • Petapa wanita yang bersumpah membalas Rahwana dikelahiran berikutnya karena tapanya diganggu
  2. Beberapa versi Hindu menyatakan Sita lahir di sebuah bajak petani, ada yang mengatakan dari tanah. Ini semua berhubungan dengan legenda dewi Bumi atau dewi Agrikultur jaman Vedic
  3. Sita adalah anak Raja janaka
  4. Sita adalah anak yang diasuh raja Janaka atau seorang pertapa
  5. 13 versi menyatakan Sita adalah anak Rahwana. Dikisahkan bahwa para peramal meramalkan bahwa Sita akan menyebabkan kematian Rahwana sehingga Sita dibuang, Ia ditemukan dan diasuh oleh raja atau pertapa. Variasi tempat/cara Sita dibuang: dikubur di tanah [dalam versi Jainisme] atau dihanyutkan ke sungai/laut [versi ini kebanyakan berasal dari Asia Tenggara]
  6. Sita adalah anak Dasaratha [Sehingga Sita adalah adik dari Rama dan Laksmana]. Versi Laos [Luang Prabang] menyatakan Sita adalah anak Istri ke-4 Dasaratha, Peramal menyatakan bahwa Sita kelak akan membawa bencana sehingga Ia dihanyutkan ke laut, ditemukan dan diangkat anak oleh seorang Rsi/Pertapa.
  7. Dalam hikayat Sri Rama, Sita adalah anak raja Dasaratha setelah meniduri istri Rahwana [Mandodari], Sita kemudian dibuang ke laut dan diangkat anak oleh Raja Maharsi Kali, Jadi di versi ini, Sita adaah adik tiri Rama dan anak tiri Rahvana!


[Sita’s Birth and Parentage in the Rama Story, S. SINGARAVELU, University of Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia]




Percaya atau Tidak, Ternyata Rahwana itu orang yang Berbudi Baik dan Terpelajar?!

Pada literatur aliran Jainism setidaknya terdapat 3 kitab yang menyebutkan kisah Rama, Sita dan Ravana. Kisah Ramayana yang paling tua adalah Paumacariya (dalam bahasa Prakrit, untuk Sanskritnya adalah: Padma Carita) oleh Vimala Suri. Penulisnya menyatakan kisah ini ditulis 530 tahun setelah Mahavira Nirvana. Kitab ini berada di periode tahun yang sama dengan Ramayana versi Valmiki, yaitu di sekitar abad ke-1 SM [beberapa sumber mengatakan di abad ke-1 M s/d 3 M]. Paumacariya dibuat dalam rangka “menanggapi” apa yang tercantum diversi Valmiki. Kitab ini dimulai dengan rangkaian set pertanyaan yang ada dibenak Raja Srenika (dari Magadha):

“Bagaimana mungkin monyet-monyet itu bisa melumatkan ksatriya raksasa maha kuat seperti Rahvana? Bagaimana mungkin masyarakat terhormat pengikut Jaina seperti Ravana digambarkan makan daging dan minum darah? Bagaimana mungkin Kumbakarna tidur selama 6 bulan dalam setahunnya dan tidak terbangun bahkan ketika minyak panas dituangkan pada keretanya, gajah-gajah menginjak-injak tubuhnya dan terompet perang ditiupkan di sekeliling tubuhnya? Mereka jelas telah berdusta dan memutarbalikan alasan”

Dengan pertanyaan tersebut sang Raja kemudian menemui Rsi Gautama (Indrabhuti Gautama, murid utama Tirthankara ke-24, MahaVira) agar beliau berkenan menceritakan kisah sebenarnya. Gautama kemudian mengatakan, “Aku ceritakan padamu apa yang orang bijak Jain katakan. Rahvana itu bukanlah Iblis, Ia juga bukan kanibal dan pemakan daging. Ini adalah pemikiran keliru para penyair yang begitu bodohnya menceritakan sebuah kebohongan”

Sebelum melanjutkan kisah ini, ada beberapa keterangan yang perlu diketahui. Menurut tradisi Jainisme terdapat 63 para terhormat dan terkemuka [Triṣaṣṭi-śalākā-puruṣa], yang terdiri dari: 24 Jina (Tirthankara: Seorang yang sudah padam/mencapai Moksa/Nirvana), 12 Cakravartin (Raja Dunia) dan 27 (9 dari 3 pasang): Bala-Dewa (yang tertua), Narayana/Vasu-deva (Lahir hanya untuk membunuh pratiVasudeva)  dan Prati-narayana/Prati-Vasu-deva (lawannya Vasudeva, selalu terbunuh oleh Vasudeva). Dalam Ramayana, 3 pasang Baladeva-Vasudeva-PratiVasudeva adalah Rama-Laksmana-Ravana. Sedangkan di Mahabharata Jainism: Balarama-Krishna-Jarasanda.

Para Raksa merupakan masyarakat berbudaya tinggi yang berasal dari ras Vidyadhara dan merupakan pemuja Jina. para Vanara dalam tradisi ini merupakan mahluk setengah manusia namun memuja Jina.

Tradisi Hindu menggambarkan para Raksa adalah Iblis dan tidak religius hanya karena menentang tradisi persembahan binatang yang dilakukan oleh para Rsi Hindu. Di saat bersamaan merekapun sudah terkalahkan dalam populeritas cerita, sehingga cap Iblis melekat turun temurun lewat tangan para penyair. F. E. Pargiter juga menyatakan bahwa para pengikut Jain dianggap sebagai asura [Ancient Indian Historical Tradition, P. 291]. 


Dalam versi hindu asura adalah mahluk jahat.

Vimala suri mulai kisah ini tidak dari lahirnya Rama namun mulai dari Rahvana/Ravana. Ravana karena merupakan satu diantara 63 pemimpin besar [salakapurusa] menurut tradisi Jaina maka merupakan seorang terhormat, berpendidikan dan mempunyai kesaktian dan senjata yang berasal dari Tapa yang keras. Ia adalah murid dari seorang guru Jain. Ia pernah bersumpah bahwa ia tidak akan memperdaya/memaksa/menyentuh perempuan manapun.

Pada suatu ketika, Ia berperang dengan satu negara yang ternyata tidak mampu ditaklukannya. Ratu dari kerajaan itu jatuh cinta pada Rahvana dan mengirimkan pelayannya sebagai kurir. Rahvana mengeksploitasi pengetahuan ratu itu tentang negaranya dan mengalahkan Raja kerajaan itu. Segera setelah menaklukan kerajaan itu. Ia kembalikan kerajaan kepada rajanya kembali dan menyarankan pada sang ratu untuk kembali pada suaminya.

Belakangan, Ravana terkejut ketika para peramal memberitahu bahwa ia akan menemui ajal melalui seorang wanita bernama Sita, anak dari raja Janaka. kitab Jainism lainnya yaitu Ramopakhyana (Mahabharatanya Jainism) menyatakan bahwa Sita adalah anak raja Janaka namun di versi Sanghadasa (Pengarang lain Ramayana aliran Jainisme, karya abad ke-5 Masehi), Sita adalah anak Ravana yang kemudian diadopsi raja Janaka. [Kulkarni 1952-1953: 129]

Walaupun mengetahui ramalan itu, setelah Ravana bertemu Sita, Ia jatuh hati [jika kita ambil versi bahwa Sita adalah anak Rahvana, maka karena Ravana tidak tahu Sita adalah anaknya, maka bisa jadi Ia sendiri tidak mampu menyebutkan alasan mengapa Ia jatuh hati], Ravana kemudian menculik Sita, mencoba mengambil hatinya namun sia-sia, Ia pun melihat dirinya jatuh dan akhirnya wafat di medan perang.

Wafatnya Rahvana bukan oleh Rama melainkan oleh Laksmana!

Rama di kitab ini digambarkan sebagai seorang yang mampu menaklukan dirinya sendiri, berpantang membunuh mahluk hidup sebagaimana yang dianjurkan dalam ajaran Jainism. Kehidupan Rama di saat itu merupakan kelahiran terakhirnya di dunia.

Laksmana dan Ravana (Vasudeva dan PratiVasudeva) dalam kisah ini adalah reinkarnasi ke-8 pasangan ini. Rahvana menyadari hal ini sesaat dipertempurannya melawan Laksmana, yaitu ketika senjata cakra yang ditujukan kepada Laksmana tidak dapat melukainya. Rahvana menyadari bahwa hidupnya segera berakhir sehingga ia menyerahkan dirinya pada Laksmana yang kemudian memenggalnya. [Sumber: Antiquity of jain dan Many Ramayana’s atau juga di: The Culture Heritage of India]




Percaya atau tidak, ternyata ada kisah RAHWANA tanpa adanya sosok Rama, sita dan Hanuman?!

Rahwana, di kitab Lankavatara Sutra, bersama dengan para penduduk Lanka [Sri lanka], dikisahkan sebagai pemeluk Buddhis Mahayana yang saleh. Rahwana adalah pengikut Buddha sebelumnya, yaitu Buddha Kassapa. Berikut kutipan sebagian ringkasan bab pertama, Lankavatara Sutra sanskrit versi Daisetz Teitaro Suzuki:

Demikian yang saya dengar.
Yang terberkati [Buddha Gautama] bersama sekumpulan besar Biksu, Raja Dewa Indra [Sakka], Brahma dan sejumlah besar Bodhisatva dari berbagai tanah Buddha, suatu ketika datang dan tinggal di tempat raja naga laut, yang berada di puncak Gunung Malaya.

Buddha dari atas puncak memandang Lanka dan berkata, “Oleh para Buddha sebelumnya, kebenaran ini diujarkan di puncak gunung Malaya. Aku, juga kini demi Rahwana, penguasa para Yaksa menguncarkan kebenaran ini”

[Tergugah] karena kekuatan spiritual Buddha, dari kejauhan, Rahwana, raja para Raksasa mendengarnya. Ketika Sang Buddha berhasil dilihatnya, Rahwana menangis dengan gembira, kemudian berkata, “Aku akan pergi dan meminta Yang diberkati untuk memasuki Srilanka yang akan memberikan berkat keberuntungan bagi banyak Dewa dan juga Manusia”.

Kemudian, Rahwana, raja para Rakshasa, bersama pengiringnya, mengendarai kereta samawi [ajaib]-nya, menuju ke tempat Buddha berada, turun dari kendaraannya, bersama pengiringnya berjalan mengelilingi Sang Buddha 3 [tiga] kali dari arah kiri ke kanan, memainkan instrumen musik, Rahwana mempersembahkan nyanyiannya,

    “Para Buddha masa lalu pernah menetap di Lanka, yang kemudian ditemani oleh ‘anak-anak’ Buddha dari berbagai bentuk. Tuanku, tunjukkanlah kebenaran tertinggi dan para yaksha dari berbagai macam bentuk yang beruntung akan mendengarkan

    ..Ia kemudian memberi salam pada Sang Buddha dan memperkenalkan dirinya, “Aku bernama Rahwana, raja Raksasa berkepala 10, semoga Yang Mulia bermurah hati menerimaku dan seluruh penduduk Lanka..Di lanka ini sebagaimana para Buddha terdahulu, Ia menguncarkan ajaran, semoga Yang Mulia berkenan pula membabarkan Dharma

    ..Lankavatara Sutra yang diujarkan para Buddha sebelumnya..Ku kumpulkan dari para Buddha sebelumnya yang mengujarkan sutra ini..begitupula dari Yang Mulia..

    ..Yang mulia, di sinilah kami para Yaksha yang bebas dari keserakahan, merefleksikan kesadaran diri, memuja para Buddha sebelumnya, mereka adalah penganut Mahayana dan rajin mendisiplikan diri satu sama lainnya..Begitu banyak para Yaksha muda, pria dan wanita yang berkeinginan mendengarkan Mahayana, mohon datanglah, Yang diberkati, Yang menguasai pengajaran, datanglah ke Lanka, di gunung Malaya.

    Para Raksasa, dengan Kumbhakarna sebagai kepala mereka yang tinggal dikota, penganut Mahayana, akan mendengar kebenaran utama ini. Mereka juga memuja Buddha sebelumnya dan melakukannya tiap hari dengan cara yang sama…Aku menyerahkan diriku sepenuhnya melayani Buddha dan para pengikutnya, tidak ada dariku yang tidak kuserahkan, Oh Muni Yang Agung, berbelaskasihlah padaku”


Setelah mendengarkan Rahwana berbicara, Sang Buddha penguasa ke tiga dunia, berkata, “Raja para Yaksha, gunung ini telah dikunjungi para Buddha terdahulu, berbelaskasih padamu, mereka membabarkan Dharma. Buddha di masa depanpun akan berlaku sama di gunung ini. Di sini, para Yogi berdiri menyatakan kebenarannya. Raja para Yakksha, engkau mendapatkan belas kasih para Buddha dan juga Aku”

Sang Buddha menerima permohonan Raja Rahwana dan menuju kota. Sesampainya di kota, lagi Sang Buddha diberi penghormatan oleh sekumpulan Yaksa, dengan berbagai macam cara. Para Buddha bersama pengikutnya menerima persembahan itu dan membabarkan kebenaran tertinggi.[Lankavatara Sutra]

Dari Lankavatara Sutra versi lainnya yaitu Gunabhadra, terdapat catatan menarik, yaitu Buddha Gautama datang ke Lanka 3 (tiga) kali banyaknya:

  • Sembilan bulan setelah mencapai penerangan sempurna, Ia melihat di satu pulau ada beberapa Yaksa yang meresahkan penduduk, Kemudian melalui kekuatan supra naturalnya, Ia menuju pulau tersebut, memantrai beberapa yaksa [arti kata Yaksa adalah sesuatu yang cepat] dan Raksasa [jika Yaksa marah, Ia menjadi mahluk pemakan daging dan penghisap darah  atau raksasa, arti kata raksasa adalah penjaga], memindahkannya ke pulau Giri di lautan yang jauh karena mengkhawatirkan para penduduk yang merana karena gangguan mereka. Tempat di mana Buddha sampai menjejakan kakiNya, kemudian dikenal dengan nama ADAM’S PEAK [Dianggap sebagai tempat suci 3 agama: Buddha Srilanka, sivaisme, Islam]
  • 5 Tahun setelah pencapaian penerangan sempurna, Beliau menempatkan beberapa ular [Naga] dan mendamaikan mereka
  • Tiga tahun kemudian, Raja Naga Maniakkika, mengundang Buddha bersama 500 murid-Nya ke Hutan Maha Megha dan meramalkan bahwa dikemudian hari akan ada yang menanam pohon Bodhi dan para pengikut jalan Buddha di negeri ini


Kisah tersebut di atas adalah berdasarkan versi lainnya, Dipavamsa, yaitu saat penyebaran agama Buddha ke Sri Lanka pada jaman raja Devanmpiya Tissa [241-207 SM]. Sebagai balasan hadiah dari Lanka, raja Asoka mengirim kurir bersama hadiah dan pesan bahwa raja Asoka telah berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha.

Anak raja Asoka, yaitu Mahinda yang telah menjadi seorang Biksu dengan masa vasa lebih dari 20 tahun [Mahatera] datang ke Lanka. Raja Tissa mempunyai komplek Kuil besar [Maha vihara] di pinggiran ibu kota, bernama ANURADHAPURA, yang kemudian menjadi pusat pengajaran di bawah Mahinda. Mahinda mengirim kurir pada raja Asoka dan membawa kembali sebagian kecil relik Buddha [bagian tubuh dari Sang Buddha, setelah Prosesi pembakaran mayat beliau, setelah Parinibana] dan dibuat stupa untuk menghormatinya. Adik perempuan Mahinda, yaitu Sanghamitta datang ke Lanka membawa bibit Pohon Bodhi dan menanamnya di hutan Mahamegha. [Wisdom quartely]




Percaya atau tidak, ternyata Rahwana merupakan idola penduduk Srilanka?!

Lebih dari 300 desa di Srilanka [Sinhale] menamakan desanya yang berhubungan dengan era Raja Rahwana. Di sejarah Sinhala, ditemukan 11 nama Rahwana, diantaranya adalah Nala Ravana, Manu ravana, Punu ravana dan DasaMuka Rahwana. Banyak variasi maksud dari kata ‘DasaMuka’, diantaranya:

  1. Kepalanya memang benar berjumlah sepuluh, seperti disampaikan dalam epik versi Valmiki dan juga di ratusan bahkan ribuan varian versi lainnya.
  2. Karena menguasai 4 Veda dan 6 Upanisad
  3. Karena sewaktu bayi lehernya diberi hiasan permata sehingga tampak seolah-olah berkepala 10
  4. Karena Ia adalah raja dari 10 Negeri
  5. Karena Ia mempunyai 10 talenta, diantaranya, Musik, obat-obatan, Mesin, Pertanian, Arsitek, Bangunan, jagoan bela diri, astrologi, Upacara keagamaan, dan banyak lagi


Orang Sri Lanka percaya bahwa Rahwana lahir ribuan tahun sebelum masehi, jauh sebelum jaman Vedic. Rahwana [Ra+vana], Ra arti bebasnya adalah Surya; Vana = generasi. Jadi Ia berasal dari dinasti Surya dan juga suku Rakshasa Hela [suku kuno di sinhala]. Ia merupakan jagoan bela diri Angampora [Ange=Tubuh, Pora=perang]

Dulu Sri Lanka disebut “Siv Hela” atau “Hela-Dwipa” atau “Hela-Ka”, artinya tanah orang-orang Hela. Suku Hela terdiri dari 4 suku [Siv Hela] yang berkuasa di berbagai belahan tempat itu, yang kemudian dinamakan: Naga, Asura, Yaksha dan Raksha. Siv Hela belakangan menjadi Sinhala. Hela-Ka, lambat laun berubah menjadi Helankan dan akhirnya menjadi Srilanka.

Ratu terakhir kaum Hela [Heladwipa/Heladipa] adalah Kuweni yang kemudian dijadikan istri oleh Vijaya. Keberadan kaum Hela bisa jadi telah ada jutaan tahun yang lalu. Bukti terdekat adanya aktivitas manusia kuno di Lanka adalah berdasarkan Temuan archeologi di Bolangaoda, yang berusia sekurangnya 34.000 BP [Before Present, penyetaraan menjadi tahun sebelum Masehi dengan cara mengurangi angka itu dengan tahun 1950, yaitu tahun di mana era penanggalan radio karbon dimulai].

Kemudian, terdapat sebuah “Jembatan” purbakala sepanjang 30 Km yang menghubungkan antara India dan Srilanka. Nama jembatan itu berubah-ubah tergantung siapa penguasa India saat itu, yaitu pada:

  • Jaman setelah dinasti Maurya [200 SM – 300 M], dinamakan Dhanushkoti [Koti]
  • Jaman Purana India, dinamakan SETUKA
  • Jaman Islam menjajah India [Ghaznavid, Cahmana, kemudian Calukya, dan Cola, [975-1200 M],  dinamakan Setu Bandha; di jaman Khalji and Tughluq [1290- 1390 M], dinamakan Setu Bandha Ramesvaram
  • Peta yang disusun di Belanda pada tahun 1747, menamakan jembatan itu RamarCoil; Di tahun 1788, berdasarkan peta Mr. James Rennel, dinamakan Ramar Bridge, dan kemudian berubah menjadi Adam’s Bridge di tahun 1804 [sumber: Legend of Ram–Retold, Sanujit Ghose atau di Rama Sethu: Historic facts vs political fiction – II]

Dr. S Kalyanaraman, mengatakan bahwa Sethu dalam bahasa tamil adalah Jembatan di atas air yang dibuat manusia, dan dinamakan Setuband. Asiatic Society, 1799, merujuk pada jembatan yang patah di tiga tempat.

Pengacara Senior Fali S Nariman di Pengadilan tinggi, untuk kasus pembangunan kanal di dekatnya, mengatakan bahwa di Ramayana versi Kamban [Abad ke-9 s/d 12 M] dan Padma purana, dinyatakan setelah perang melawan Rahwana, jembatan itu di hancurkan Sri Rama menjadi beberapa bagian.

Dr Badrinarayanan, Seorang Geologist yang juga mantan Director of the Geological Survey of India dan mantan koordinator divisi survey, National Institute of Ocean Technology, di Chennai mengatakan bahwa Jembatan itu bukan jembatan alami, di lapisan atasnya merupakan buatan manusia.

Bukti bahwa jembatan itu dapat dilintasi manusia dengan berjalan kaki, setidaknya dapat dilihat dari:

  • Buku karangan Alexander Hamilton pada tahun 1744, “A New Account of the East Indies” di mana Ia berjalan kaki di atas jembatan menuju “Zeloan”
  • The Madras Presidency Administration Report 1903, merujuk pada jembatan yang pada glossary-nya tertulis: “Jembatan Adam dinamakan juga jembatan Rama. Benar-benar menyatukan Ceylon dan India hingga tahun 1480. Badai besar kemudian memecahkannya dan semakin parah oleh badai-badai lainnya sehingga para pejalan kaki tidak lagi melintasinya”.

Kenaikan ketinggian airlaut-lah yang menyebabkan jembatan ini terendam air secara perlahan.

Di kisah-kisah tradisi India lainnya, Rahvana [Dasamuka, yang juga berarti penguasa 10 Negeri] kerap melintasi dataran India bersama pasukannya. Begitu pula yang dilakukan para leluhur Rahwana [Mali, Sumali, Malyawan] bersama pasukannya memerangi Vishwath manu. Jadi nama jembatan, lebih cocok dinamakan “Jembatan Rahwana“.

Di atas sekali, telah kita singgung arti sebenarnya kata “rakshasa”. Kemudian, jika kita merujuk pada definisi rakshasa dan silsilah Rahwana dari kisah Ramayana versi valmiki dan kitab Hindu lainnya, maka tetaplah tidak pantas, jika Rahwana dinyatakan sebagai keturunan rakshasa. Mengapa? Berbicara tentang garis keturunan, maka:

  • Dari garis Ayah:
    Brahma [Tuhan Hindu] –> Pulastya [Brahmana, salah satu dari Saptaresi yang ada dipermulaan Mavantara ke-1 dari 14 mavantara sebelum Maha Pralaya (satu set umur kehidupan Brahma)] –> Visrava [Brahmana] –> Rahwana

    Berdasarkan silsilah ini, karena India menganut juga aturan garis Ayah, maka Rahwana adalah Brahmana turunan langsung Tuhan Hindu! Sehingga setiap Hindu yang tidak menghormati Rahvana, sama saja menghina tuhannya sendiri.

  • Dari garis Ibu (Valmiki Ramayana, Uttara Kanda, Canto IV, Sloka 28-31):
    Brahma [Tuhan Hindu]–>Heti [Asura/Raksa, yang diciptakan untuk melindungi jagad, penjaga Nehtar] kawin dengan Bhaya [adik dari dewa Yama]–>Vidyutkesa [1/2 Raksasa, 1/2 Dewa] kawin dengan Salakatankata [Ayahnya: dewa Surya, Ibunya: dewi Sandya]–>Sukesha [1/4 raksasa] kawin dengan Devavati [Devi kecantikan/kemudaan, 1/2 Gandarva (Bapaknya: Gramani, Kepala Gandarva, semacam Dewa yang jago musik)]–>Sumali [1/8 Raksasa, 1/4 Gandarva] kawin dengan Ketumati [1/2 Gandarva [Ibunya: Narmada berupa naga dan Ayahnya: Raja Ayodhya Purukutsa]–>Kaikasi [1/16 raksasa, 3/4 Gandarva, 1/4 orang]–>Rahvana [1/32 Raksasa]

    Dari pihak ibu saja, Ravana, lebih kental nuansa para Devanya ketimbang nuansa ke-raksasa-annya, bukan?!

Silsilah Rahwana menurut versi hindu malah telak menyatakan bahwa unsur Raksasa Rahwana sangatlah kecil [1/32-nya atau 3%-nya]. Unsur yang terbesar justru unsur Brahmana, Dewa, dan Gandrarvanya!

Mari kita buktikan bahwa perhitungan tersebut sangatlah cocok.

Dua kisah di bawah ini, akan terlihat kualitas derajat ke-brahmana-an dan juga derajat ke-dewa-an Rahwana. Kisah ini diambil dari legenda yang berkembang di masyarakat Tamil dan Srilanka:

  • Ketika perang akan di mulai, Rama memerlukan seorang pemimpin upacara untuk memberkati kemenangannya, tidak ada Brahmana yang ada saat itu [bahkan Valmikipun tidak ada]. Brahmana terdekat yang tersedia hanyalah Rahvana. Rama kemudian meminta bantuan Rahwana untuk memimpin upacara pemberkatan perang terhadap dirinya dan itupun disanggupi dan dilaksanakan Rahwana!
  • Ketika Rama mencari hari baik untuk memulai perang, Astrolog terdekat dan yang tersedia hanyalah Rahwana. Rama kemudian meminta bantuan Rahwana mencarikan hari baik untuk memerangi Rahwana! Dan, hal inipun diberikan Rahwana!

Rahwana adalah seorang ahli pengobatan Ayuveda! Ia yang menemukan Arka Shastra, yaitu kompilasi dosis tiap jenis herbal untuk pengobatan. Rahvana menemukan 4,444 penyakit dan sejumlah yang sama dari sebuah dedaunan untuk mengobatinya!

Dikisahkan pada suatu medan pertempuran, ketika pangeran dari India dan putera Rahwana, terluka parah. [Versi Valmiki: Yudha Kanda, Ch 19, 50]. Tabib yang ada dan mampu mengobati hanyalah tabib dari Srilanka*). Tabib itu pergi ke medan perang dan mengobati pangeran India tersebut.

Ini merupakan peranan palang merah di jaman sekarang!


Praktek mengobati dan menolong musuh di medan perang, justru diawali tabib Srilanka [Dr. Reghuvir Prasad Trivedi dalam “Ceylon Daily News”, 15 September 1985].

    *) Susena, di versi Tulsidas merupakan jenderal ahli pengobatan dan ahli bedah militer Srilanka yang diculik Hanuman [Lankananda hal 119, Tulasidasa’s Shri Ramacharitamanasa, R.C. Prasad, ed.2004], di versi Valmiki, Susena adalah Mertua Subali dan Sugriwa.

    Susena, berhasil memulihkan Rama [di versi Valmiki, ada juga bantuan dari Garuda], Laksmana dan pasukan kera yang terluka oleh Indrajit di hari pertamanya perang melawan Indrajit [Yudha kanda Valmiki, Ch.50-26].

    Rahvana mengirimkan dua orang ke medan perang untuk mengobati: Trisira [anak Rahvana] dan 5 pahlawan Alengka lainnya. Tubuh mereka dikatakan dilumuri bermacam tumbuhan dan aromatik untuk melindungi luka [Yudha kanda Valmiki, Ch 69-18].

    Karena diculik Hanuman, Susena awalnya enggan mengobati Laksmana. Ia merasa dipaksa dan juga karena itu musuh negaranya namun Rama menasehatinya [versi lainnya Hanuman yang menasehati] bahwa tabib tidak punya kawan maupun lawan.

    Di versi Ramayana Jainism: Paumacariya, bantuan berasal dari Visalya [anak Dronamegha, kakak dari Kaikeyi].


Munidasa Kumaratunga, seorang tokoh ultra nationalis dari pergerakan suku Hela, mengatakan bahwa karya Rahvana dibidang obat-obatan menghasilkan 7 Buku yang kemudian diterjemahkan ke dalam sankskit, yaitu: Nadi Pariksha, Arka Prakashata, Uddisa Chiktsaya, Oddiya Chikitsa, Kumara Tantraya dan Vatina Prakaranaya [The Sri Lankan Ayurvedic Tradition, P.L.N. de Silva – Former Chairman, Sri Lanka Ayurvedic Drugs Corporation; SriLankan Ramayana issue, dan Ayurveda – Ayurveda: Ageless Remedies]

Unsur Gandarva dari Ravana jelas terlihat ketika Ravana menciptakan alat musik gesek. Gandarva adalah mahluk surgawi yang jago memainkan alat musik. Alat yang ditemukannya berbentuk model Biola dan dinamakan Ravana Hatta hingga sekarang banyak digunakan di Rajashtan. Ukuran panjangnya 22 Inch, bisa mencapai 3 oktaf dan menggunakan 1 senar, dimainkan dengan busur. Biola panjangnya 5 1/4 Inch, 4 Senar dan dapat mencapai 3 oktaf. jika 5 1/4 X 4 = 22 Inch!

Ia juga menggubah srota mengenai Shiva yang kemudian dikenal dengan nama Shiva Tandhawa [Tarian Siva]. Tarian dan nyanyian ini diciptakan Ravana, dengan menggunakan beberapa bait dari Sama Veda




Percaya atau tidak, Ternyata ada kisah Ramayana tanpa Ravana, Hanuman, penculikan Sita dan Perang membebaskan Sita?!

Kisah di bawah ini merupakan versi yang sama sekali berbeda, Versi ini berasal dari Dastarata Jataka no. 461 [Jataka Vol.IV, Buku ke-11, EkaDasa Nipata, Disunting dan diterjemahkan oleh V. Fausboll, The Dasaratha Jātaka, Copenhagen, 1871. Asli Jataka dalam kanon pali hanya berupa syair saja. Kisahnya merupakan tambahan belakangan dari sekurangnya abad ke-3 SM]

Kisah ini diceritakan oleh Sang Buddha Gautama ketika berada di Jetavana tentang seorang tuan tanah yang ayahnya meninggal. Di saat ayahnya meninggal, laki-laki ini diliputi oleh kesedihan; tidak melakukan kewajibannya, hanya berpasrah diri dalam kesedihannya. Pada suatu fajar, Sang Guru menerawang keadaan manusia dan mengetahui bahwa laki-laki ini sudah waktunya mencapai tingkat kesucian sotapanna (tingkat kesucian ke-1 dalam Buddhism, yaitu mengenal ketidakkekalan). Keesokan harinya, setelah berpindapata (mengumpulkan dana makanan) di kota Savatthi dan selesai makan, Beliau meminta bhikkhu (petapa, murid Buddha) untuk kembali duluan. Beliau membawa seorang bhikkhu junior, pergi ke rumah laki-laki tersebut, memberikan salam kepadanya, dan menyapanya dengan kata-kata yang manis.

“Anda sedang berada dalam kesedihan, Upasaka [para penganut ajaran]?” kata Beliau.

“Ya, Bhante [guru], saya diliputi kesedihan atas kepergian ayahku.” Sang Guru berkata, “Upasaka, orang bijak di masa lampau yang benar-benar mengetahui tentang delapan kondisi dari dunia ini bersedih di saat kematian ayahnya, tidak sedikitpun.” Kemudian atas permintaannya, beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

[note: Delapan kondisi dunia adalah Perolehan dan kehilangan, ketenaran dan nama buruk, pujian dan celaan, kebahagiaan dan penderitaan]

    Dahulu kala di Benares, seorang raja agung bernama Dasaratha memerintah dengan benar, tidak menggunakan cara-cara yang salah. Dari 16.000 istrinya, yang tertua dan ratunya yang naik tahta saat itu memberikannya dua orang putra dan seorang putri; putra sulungnya diberi nama Rama paṇḍita, atau Rama si bijaksana, putra keduanya diberi nama Pangeran Lakkhaṇa, atau  keberuntungan, dan putrinya bernama adalah Sitā [artinya adalah “Sejuk”].

    Seiring berjalannya waktu, ratu meninggal dunia. Di saat ratu meninggal, raja merasa hancur dalam kesedihan untuk waktu yang lama, tetapi dapat dibujuk para menteri istana untuk segera melakukan upacara pemakaman dan menunjuk istri lainnya untuk menduduki posisi tersebut. Ratu barunya ini sangat disayangi dan dicintai raja. Tidak lama kemudian ratu mengandung dan melahirkan seorang putra, yang diberi nama Bharata. Raja sangat mencintai putranya, dan berkata kepada ratu, “Ratu, saya menawarkan Anda sebuah hadiah, pilihlah.”

    Ratu menerima tawaran itu, tetapi tidak langsung menyebutkan hadiahnya dalam waktu yang lama. Di saat putranya berusia 7 tahun, ia pergi menjumpai raja dan berkata kepadanya, “Paduka, Anda pernah berjanji memberikan hadiah untuk putraku. Bolehkah Anda memberikannya kepadaku sekarang?”

    “Pilihlah, ratu.”

    “Paduka, berikan kerajaan kepada putraku.”

    Raja menderikkan jarinya mendengar permintaan ratu, “Keluar kau, wanita hina!” kata raja dengan marah, “dua putraku yang lainnya berjaya seperti kobaran bara api; apakah kau berniat membunuh mereka dan memberikan kerajaan ini pada putramu saja?”

    Ratu tetap meminta ini kepada raja. Raja menolak untuk memberikannya permintaan hadiah tersebut.

    Raja berpikir dalam dirinya, “Wanita adalah orang yang tidak tahu berterima kasih dan tidak setia. Wanita ini mungkin akan menggunakan surat palsu atau uang suap untuk menyuruh orang membunuh kedua putraku”

    Maka ia memanggil kedua putranya dan memberitahukan segala sesuatu kepada mereka dengan mengatakan, “Putraku, jika kalian tetap tinggal di istana, kemungkinan hal buruk akan menimpa kalian. Pergilah ke kerajaan tetangga atau ke dalam hutan. Di saat jasadku telah dibakar baru kalian kembali dan warisi kerajaan ini yang merupakan kepunyaan kalian”

    Kemudian raja memanggil para peramal dan menanyakan batas usianya. Mereka memberitahunya bahwa ia akan hidup selama 12 tahun lagi. Kemudian ia berkata, “Putraku, setelah 12 tahun kalian harus kembali, dan tegakkan payung kerajaan”

    Mereka pun berjanji dan setelah mendapat izin ayahnya, mereka pergi dari istana sambil menangis sedih. Putri Sitā berkata, “Saya juga akan ikut dengan kedua abangku”, Ia berpamitan pada ayahnya dan ikut pergi dengan mereka sambil menangis.

    Ketiga orang ini pergi ditemani oleh sekumpulan orang. Mereka meminta kerumunan orang itu untuk kembali dan kemudian mereka melanjutkan perjalanan sampai tiba di Gunung Himalaya. Di sana, di sebuah tempat yang memiliki mata air dan mudah untuk mendapatkan buah-buahan liar mereka membuat sebuah tempat tinggal. Mereka tinggal di sana bertahan hidup dengan memakan buah-buahan liar.

    Lakkhaṇa-paṇḍita dan Sitā berkata kepada Rāma-paṇḍita, “Anda sekarang menjadi seperti ayah bagi kami, tetap tinggal di dalam gubuk ini, kami yang akan mencari buah-buahan dan memberikannya kepadamu.” Ia setuju dengan mereka.

    Mulai saat itu Rāma-paṇḍita tetap berada di dalam gubuk, sementara adik-adiknya mencari dan membawakan buah-buahan untuknya. Demikianlah mereka tinggal di sana bertahan hidup dengan memakan buah-buahan.

    Akan tetapi raja Dasaratha sangat bersedih atas kepergian anak-anaknya, dan ia meninggal di tahun ke-9. Setelah upacara pemakamannya dilaksanakan, ratu memerintahkan untuk memberikan tahta kerajaan kepada putranya, pangeran Bharata. Tetapi para menteri berkata, “Ahli waris tahta kerajaan saat ini sedang tinggal di dalam hutan,” dan mereka tidak menyetujui perintah ratu.

    Pangeran Bharata berkata, “Saya akan menjemput kembali abangku, Rāma-paṇḍita dari hutan dan memberikan tahta kerajaan ini kepadanya. Dengan membawa lima lambang kerajaan, ia pergi menuju tempat mereka dengan diikuti empat rombongan

    [Note: Lima lambang kerajaan adalah Gajah, pengawal berkuda, kereta, pasukan pengawal yang berjalan kaki]

    Tidak jauh dari tempat tersebut, mereka mendirikan perkemahan, kemudian pangeran Bharata dengan beberapa pengawal datang ke tempat tersebut di saat Lakkhaṇa-paṇḍita dan Sitā sedang pergi ke dalam hutan.

    Rāma-paṇḍita duduk di depan pintu rumahnya dengan damai dan tenang, seperti sebuah patung emas yang berdiri kokoh. Pangeran mendekatinya dan menyapanya, kemudian dengan berdiri di satu sisi ia memberitahukan semuanya yang terjadi di kerajaan sampai bersujud di bawah kakinya bersama dengan para pengawalnya, sambil menangis tersedu-sedu.

    Rāma-paṇḍita tidak bersedih maupun menangis, tidak ada gejolak emosi yang timbul di dalam dirinya. Setelah Bharata selesai menangis dan duduk, di saat hari menjelang sore, kedua orang adiknya kembali dengan membawa buah-buahan.

    Rāma-paṇḍita berpikir,—”Kedua orang ini masih muda; mereka belum dapat memahami kebijaksanaan seperti diriku. Jika mereka secara tiba-tiba diberitahukan bahwa ayah kami telah meninggal, rasa sedih yang timbul akan menjadi lebih besar dari kemampuan mereka untuk menahannya; mungkin saja hati mereka akan hancur. Saya akan membujuk mereka pergi masuk ke dalam air dan mencari cara untuk memberitahukan kebenarannya.”

    Kemudian dengan menunjuk sebuah tempat di depan yang ada airnya, ia berkata, “Kalian keluar sudah terlalu lama: Ini akan menjadi hukuman bagi kalian—pergi ke tempat air tersebut dan berdiri di sana.”

    Kemudian ia mengucapkan setengah bait kalimat berikut ini: “Biarkan Lakkhaṇa dan Sitā turun ke kolam itu.”

    Hanya dengan satu kata cukup bagi mereka berdua untuk pergi ke tempat air itu dan berdiri di sana.

    Kemudian ia memberitahukan mereka tentang kabar tersebut dengan mengucapkan sisa bait kalimat di atas: “Bharata berkata, Raja Dasaratha telah meninggal dunia.”

    Ketika mereka mendengar berita kematian ayahnya tersebut, mereka jatuh pingsan. Sewaktu diucapkan sekali lagi, mereka juga jatuh pingsan, bahkan untuk ketiga kalinya dikatakan mereka masih tetap pingsan. Para pengawal mengangkat dan mengeluarkan mereka dari tempat air itu dan meletakkan mereka di tanah yang kering. Setelah disadarkan, mereka berdua duduk meratap dan menangis bersama.

    Kemudian pangeran Bharata berpikir: “Abangku, pangeran Lakkhaṇa, adikku, Sitā, tidak dapat menahan rasa sedih mereka sewaktu mendengar kematian ayah kami, sedangkan Rāma-paṇḍita tidak meratap sedih maupun menangis. Saya menjadi ingin tahu apa yang menyebabkannya tidak bersedih? Saya akan menanyakannya.”

    Kemudian ia mengucapkan bait kedua berikut untuk menanyakan pertanyaan tersebut: “Katakan atas kekuatan apa Anda tidak bersedih Rama di saat seharusnya Anda bersedih? Meskipun dikatakan bahwa ayahmu sudah meninggal, rasa sedih tidak meliputi dirimu!”

    Kemudian Rāma-paṇḍita menjelaskan alasan mengapa ia tidak memiliki rasa sedih, dengan mengatakan,

    “Seseorang tidak dapat memiliki sesuatu untuk selamanya walaupun ia menangis dengan sekeras mungkin, Mengapa seorang yang bijak harus menyiksa dirinya dalam hal tersebut?

    Orang muda, orang tua, orang dungu, dan orang bijak, Bagi yang kaya, bagi yang miskin, kematian adalah hal yang pasti: masing-masing orang akan mati.

    Sepasti buah yang telah matang akan jatuh dari pohonnya,Demikian halnya dengan kematian bagi semua benda yang tidak kekal.

    Benda yang terlihat di cahaya pagi hari akan hilang di sore hari, dan yang terlihat di sore hari akan hilang di pagi hari.

    Jika bagi seorang dungu dapat terikat, sesuatu akan dapat semakin mengikat Di saat ia menyiksa dirinya sendiri dengan air mata, maka orang yang bijak pun dapat ikut melakukan hal yang sama.

    Dengan menyiksa dirinya sendiri, ia menjadi kurus dan pucat;Hal ini tidak dapat membuat yang mati hidup kembali, dan air mata tidak akan membantu sama sekali.

    Bahkan sama seperti sebuah rumah yang terbakar yang dipadamkan dengan air, demikian orang kuat, orang bijak, orang pintar yang mengetahui tentang ajaran kitab sucinya dengan baik akan menebarkan kesedihan mereka seperti kapas yang diterpa angin di saat terjadi angin badai.

    Seseorang mati—ikatan kelahiran masih terdapat dalam keluarganya: Kebahagiaan semua makhluk tergantung pada ikatan yang berhubungan dengannya.

    Oleh karena itu, orang yang paham dalam kitab suci, Dapat memahami tentang kehidupan sekarang ini dan kehidupan yang akan datang, Dengan mengetahui sifat-sifat itu, tidak akan bersedih, Betapa beratnya pun suatu masalah dalam hati dan pikiran.

    Maka saya akan memberi, menjaga dan menghidupi sanak keluargaku yang masih hidup, Saya akan menjaga mereka yang masih hidup: demikianlah perbuatan yang dilakukan orang bijak.”

    Ketika orang-orang tersebut mendengar khotbah Rāma-paṇḍita ini, yang menggambarkan tentang ajaran ketidakkekalan, mereka menghilangkan kesedihan mereka. Kemudian pangeran Bharata memberi hormat kepada Rāma-aṇḍita, sambil memohon padanya untuk menerima tahta kerajaan Benares.

    “Saudaraku,” kata Rāma , “bawa Lakkhaṇa dan Sitā pergi bersamamu, dan kalian yang mengurus kerajaan.”

    “Tidak, Tuanku, Andalah yang memerintah kerajaan.”

    “Saudaraku, ayahku memberi perintah kepadaku untuk mewarisi kerajaan pada akhir tahun ke-12. Jika saya menerimanya sekarang, berarti saya tidak melaksanakan permintaannya. Setelah tiga tahun berlalu, saya akan datang.”

    “Siapa yang akan melaksanakan kegiatan pemerintahan dalam tiga tahun ini?”

    “Anda yang melakukannya.”

    “Saya tidak akan melakukannya.”

    “Kalau begitu sampai saatnya saya datang, sandal ini yang akan melakukannya, “kata Rāma, sambil mengangkat sandal jeraminya dan memberikannya kepada saudaranya tersebut.

    Maka ketiga orang itu membawa sandalnya dan pergi ke Benares dengan rombongan pengawal istana setelah berpamitan dengan orang bijak tersebut. Selama tiga tahun, sandal tersebut yang memerintah kerajaan.

    Para menteri istana meletakkan sandal jerami tersebut di atas tahta kerajaan di saat mereka menghadapi sebuah masalah. Jika masalah itu diputuskan dengan keputusan yang salah, sandal tersebut akan saling menimpa, dan kemudian masalah itu akan dikaji ulang; ketika keputusannya sudah benar, sandal tersebut akan tetap tenang terletak di sana.

    [Note: Kejadian tentang sendal ini ada juga di kisah Rāmāyana versi Valmiki namun ini adalah tambahan belakangan  [ii.115], kisah sendal ini tidak ditemukan dalam Ramayana versi TulsiDas]

    Setelah tiga tahun berlalu, orang bijak tersebut keluar dari hutan, datang ke Benares dan masuk ke dalam tamannya. Kedua pangeran yang mendengar tentang kedatangannya ini datang ke taman ditemani dengan rombongan pejabat istana, dan dengan menjadikan Sitā sebagai ratu yang berkuasa, mereka menobatkan mereka dengan upacara kerajaan.

    [Note: Di versi ini Sita adalah adiknya bukan istrinya]

    Setelah upacara dilaksanakan, Sang Mahasatwa dengan berdiri di atas kereta megahnya dan dikelilingi oleh rombongan besar pengawal, masuk ke dalam kota dengan mengitari arah kanan. Kemudian ia naik ke atas tahta luar biasanya di istana Sucandaka, ia memerintah dengan benar selama 16.000 tahun dan akhirnya menjadi penghuni alam Surga.

    Bait dari kebijaksanaan yang sempurna ini menjelaskan akhir cerita tersebut:

    “Dikatakan selama 16.000 tahun lamanya, Rāma yang kuat berkuasa, di lehernya terdapat tiga lipatan keberuntungan.”

    [Note: kambugīvo adalah tiga lipatan di leher, seperti lingkaran kulit kerang, adalah sebuah petanda keberuntungan]

Setelah menyampaikan uraian ini, Sang Guru memaparkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran ini

(Di akhir kebenarannya, tuan tanah [Upasaka] itu mencapai tingkat kesucian sotapanna)

“Pada masa itu raja Suddhodana [Ayah Siddharta Gautama] adalah Dasaratha, Mahamaya [Ibu kandung Sidartha Gautama] adalah ibu, Yasodara [Ibu dari Rahula, istri Sidartha Gautama] adalah Sitā, Ananda [Sekretaris Sang Buddha] adalah Bharata dan saya [Sang Buddha] adalah Rāma-paṇḍita”.


Percaya atau tidak, ternyata Ramayana Valmiki hadir se-umur-an dengan BHAGAVAD GITA [Mahabharata] dan bahkan LEBIH MUDA dari Ramayana versi Buddhis [Theravada]!

Mengenai umur Bhagavad gita dapat anda lihat di artikel “Bhagavad Gita bukan Pancama Veda [Veda Ke-5]!“. Di bawah ini, saya kutipkan bukti-bukti usia Ramayana Versi Valmiki:

  • Seluruh kanda versi Valmiki [dan variantnya, termasuk versi tulsidas], memperkenalkan Rama sebagai Avatar Visnu dan juga adanya pemujaan terhadap Siva sebagai Deva-dewa utama, sampel:
    • [..]Shiva and Vishnu, for the Grandparent is the best adherer of truthfulness [..][Sarga 75, Balakanda Kanda]
    • [..]Let Siva, the lord of all spheres, Brahma, the lord of creation, Vishnu, the nourisher of beings, [..][Sarga25, Ayodhya Kanda]
    • [..]The God and Cosmic-Souled Vishnu and Shambhu or Shiva[..][Sarga 43, Kishkindha Kanda]

    Padahal di SEBELUM dan juga saat Buddhisme ada, pemujaan terhadap Visnu dan Siva BELUM-lah ada:

    • Teks Buddhisme menyinggung keberadaan Visnu dan Siva namun saat itu, mereka bukanlah Deva yang menonjol [Rhys Davids, Buddhist India, Hal 236].

      Visnu [Vennu/Venhu] dan Siva disebutkan di Suta pitaka, Devaputtasamyutta [2:12 dan 2:21], yaitu teks tentang kumpulan para Deva yang baru terlahir di alam Indra [Di bawah kekuasaan Dewa Indra/Sakkha/Sakra], Venhu/Vennu dan Siva merupakan prototipe dewa India sebelum mereka menjadi dewa utama dalam Hinduisme bakti yang theistic.

    • Pada jaman Buddhis ide mengenai avatara-avatara belumlah ada.

      Teks Brahmana-brahmana yang berkaitan dengan Veda, yang disusun tidak berapa lama sebelum jaman Buddha, kisah-kisah avatar telah muncul sebagai legenda yang popular dimasyarakat namun tidak ada Avatar Vishnu di sana [The Bhagavad Gita, C. Jinarajadasa, From the Proceedings of the Federation of European Sections of the Theosophical Society, Amsterdam 1904, Theosophical Publishing House, Adyar, Madras. India, November 1915]

    • Shatapatha Brahmana, memuat kisah tentang ikan, kura-kura dan babi hutan sebagai avatara penyelamat Manu di saat banjir besar namun hanya menyatakannya sebagai bentuk ikan dan bukan tuhan dalam bentuk ikan [I. 8. I. I, tulisan ini dan beberapa referensi mengenai Brahmana di kutip Macdonell dari artikel Jurnal Vedic Mythology, R.A.S. 1895]
    • Kemudian di MahaBharata, disebutkan bahwa ikan, Kura-kura dan Babi hutan bukan sebagai avatara Visnu namun sebagai avatara Brahma atau Prajapati [Vanaparva, Markandeya samasya 7.5.15], Babi hutan di Taittiriya Brahmana adalah Prajapati [Taittiriya Brahmana I.i. 3. 5, ff].

      Shatapatha Brahmana juga mengangkat legenda yang sama dan tidak menyebutnya sebagai Manifestasi tuhan [XIV.i 2. 11] namun Ramayana yang disusun belakangan menjadikan itu sebagai Brahma [II. 110. Monier Williams, Indian Wisdom, page 330].

      Deva dengan bentuk rupa srigala wanita, yang memenangkan dunia untuk para Dewa, yaitu mengelilingi dunia hanya dalam tiga langkah adalah Indra bukan Vishnu [Taittiriya Samhita 7.2.4]

    Fakta-fakta di atas sudah menyajikan gambaran utuh bahwa disekitar wafatnya sang Buddha, pemujaan terhadap Brahma sudah lazim dilakukan masyarakat dan pemujaan terhadap Visnu/Siva baru saja di mulai dan tentu saja pemujaan terhadap Rama dan Krisna belumlah ada.

  • [..]Yang pertama [Balakanda] dan yang terkahir [Uttara Kanda] dari kitab Ramayana adalah tambahan belakangan. Bagian buku ke 2-6, menyajikan gambaran Rama sebagai pahlawan ideal. Di buku 1 dan 7, Rama sebagai avatara atau reinkarnasi Visnu dan lirik epik diubah menjadi teks dari aliran Vaisnawa. Referensi Yunani, Parthian, dan Saka menunjukan bahwa kitab ini ada tidak lebih awal dari abad ke-2 SM[..] – [ValmikiRamayana.net: The cultural Heritage of India, Vol. IV, The Religions, The Ramakrishna Mission, Institute of Culture ]
  • Menurut S. N. Sadasivan, Uttara kanda dan Balakanda baru ada pada abad ke 7-8 Masehi…Menurut H.D. Sankaliya, yang banyak menulis di “Times of India”, “vide Times of India”, New Delhi [November 26, 1967; October 12, 1975; November 6, 1983 dan December 15,1985] memperhatikan gambaran penggunaan perak, mutiara, besi, anggur, unta dan gajah di Ramayana versi Valmiki, maka besar kemungkinan kisah ini di tulis antara abad ke-3 SM s/d 4 M, dan Ia kemudian memodifikasinya menjadi abad ke-2 SM s/d 3 M dan beberapa porsi tertentunya, berhubungan dengan arsitek lanjutan di tulis setelah abad ke 7 M…Apapun bentuk ketidaksepakatan mengenai penentuan waktu aslinya, SEMUA ahli sepakat bahwa ini dibuat setelah jaman Buddhisme yang digunakan Valmiki adalah kisah-kisah di Jataka Buddhis terutama Dasaratha dan Janaka Jataka. Ramayana kemudian tumbuh seiring waktu sesuai dengan kebutuhan para Brahmin-brahmin Hindu. [A social history of India, S. N. Sadasivan, Ch.VI, Brahmin Reaction]
  • [..]Para Ahli sepakat bahwa penyusunannya mulai disekitar abad ke-3 atau ke-2 SM. (Beberapa berpikir di sekitar awal abad ke-4 SM) teks dalam bentuk saat ini. Kemungkinan di sekitar abad ke 6 M, beberapa episodenya terinspirasi dari balada-balada regional yang berasal dari berbagai tempat.

    Sekitar di abad ke 3-2 SM, beberapa dari balada ini muncul bersamaan dalam bentuk struktur terpisah di beberapa bab [kanda] Ramayana valmiki. Sekitar akhir abad ke-2 SM. Baik itu Valmiki atau beberapa penyair besar lainnya memberikan bentuk yang koheren.

    Selama ratusan tahun, yaitu antara abad ke-1 SM -1 M, narasi utama, dari mulai Ayodhya dan Lanka diperkaya deskripsi dan pernik-pernik literal. Belakangan, Brahmanya atau Bhargava pertama ditambahkan. Hasilnya, bagian pertama dari Adikanda dan juga Uttara Kanda selesai di abad ke-2 M;

    Tambahan besar berikutnya ada disekitar abad ke-3 M dan bagian ke 4 dan tambahan final atau interpolarisasinya kemungkinan terjadi di permulaan abad ke-4 SM.[..] – [A Revaluation of Valmiki’s “Rama”, Sukumari Bhattacharji, Former professor of Sanskrit, Jadavpur University, Calcutta., Translated by Tanika Sarkar, Vol. 30, No. 1/2 (Jan-Feb, 2002), pp. 31-49 (article consists of 19 pages), Published by: Social Scientis]

Dari kutipan di atas, jelas terlihat bahwa kehadiran Ramayana karena kebutuhan politik keagamaan yang dilakukan oleh para Brahmin!



Percaya atau tidak, ternyata Valmiki sang pengarang Ramayana dulunya berprofesi sebagai bandit!

Nama asli Valmiki adalah Ratnakara, arti Valmiki adalah bukit semut [atau gundukan tanah liat]. Tidak ada satu kepastian mengenai asal usul Valmiki, ada yang mengatakan ia lahir di:

  • Jaman Satya Yuga, Jaman emas, di Yuga [Jaman] pertama di antara 4 Yuga. Tradisi hindu, mendefinisikan jaman itu sebagai jaman tidak ada kejahatan dan manusia bisa melihat tuhan secara langsung. Panjangnya jaman ini 4.32 Juta tahun, 4 Avatar Vishnu ada di jaman ini, yang terakhir adalah Narasimha.
  • Tetra Yuga, Jaman Perak [lebih banyak legenda yang menyatakan Ia lahir di jaman ini]. Tradisi Hindu menyatakan jaman ini, kehidupan seperti dengan jaman emas, namun mulai ada kejahatan dan jumlahnya sangatlah sedikit. Umur jaman ini 1.7 juta tahun, 3 Avatara Visnu lahir di jaman ini dan yang terakhir adalah Rama

Dikisahkan bahwa Ratnakara dulunya adalah seorang anak raja, namun di Uttara Kanda Ramayana [yang disusun abad ke 7-8 M] bab 87.17, Valmiki mengenalkan dirinya sendiri kepada Rama sebagai anak ke-10 Rsi Prachetasa.

Di waktu kecil, saat bermain di hutan, ia tersesat [ini adalah kesamaan dari semua legenda itu], Ia kemudian ditemukan dan dipelihara seorang pemburu. Setelah dewasa ia menikah dan mempunyai anak. Mata pencahariannya berubah dari pemburu mejadi penjahat dan perampok. Di satu hari ketika hendak melakukan perampokan di siang hari, Ia bertemu dengan Rsi Narada [ada lagi legenda yang menyatakan Ia bertemu dengan Sapta Rsi, Ia berusaha merampoknya namun tidak mendapatkan materi yang dibutuhkan. Rsi Narada [atau 7 Rsi yang lain] memberikan mantra dan agar mantra itu diucapkan berulang-ulang jika ia ingin hidupnya menjadi lebih baik.

Mantra itu hanya 1 kata, yaitu “Mara” [artinya: kematian] ada yang mengatakan mantra itu adalah “Rama”. Ia mempercayainya dan melakukan perapalan matra itu berulang-ulang hingga ia berada di suatu keadaan konsentrasi tingkat tinggi, tidak menyadari tubuhnya telah tertutup tanah liat yang dijadikan sarang semut. Karena itulah ia kemudian dinamakan Valmiki.

Di Uttara kanda bab 7:49, walaupun Ratnakara telah berubah nama menjadi Valmiki dan menjadi Petapa, namun ia tetap hidup bersama dengan sekumpulan wanita di pertapaannya [Encyclopaedia of Hindu gods and goddesses; Yahoo Answer; Valmiki; Encyclopaedic Dictionary of Pali Literature, MADHVACARYA REMEMBERS THE PASTIMES OF THE LORD]

Ada beberapa kesimpulan yang dapat kita tarik:

  • Ratnakara, menjadi perampok/penjahat bertahun-tahun dengan alasan untuk membiayai hidup sekeluarga [juga banyaknya kejahatan yang tersurat di epik Ramayana, serta adanya pemujaan yang dilakukan oleh seorang Sudra bernama Sumbukha], maka dapat dipastikan Valmiki tidak hidup di jaman Tetra Yuga apalagi di jaman Satya Yuga
  • Jika benar bahwa Valmiki adalah anak seorang Raja ataupun anak Rsi Sakti yang konon merupakan keturunan Varuna, maka dengan kemampuan dan sumberdaya ayahnya, jika hanya untuk menemukan seorang anak, maka tidak sulit dilakukan seorang raja/Rsi. Sehingga lebih masuk akal jika Valmiki ini benar sebagai anak seorang pemburu atau merupakan anak orang biasa yang sengaja di buang [bukan Raja/Rsi]

Sekarang, saatnya kita melihat fakta konyol kepatutan para tokoh kebenaran di versi Valmiki:

  • Perkawinan Dasaratha dan ke-tiga Istrinya tidaklah membuahkan putera. Ia kemudian meminta Rsi Shrung untuk melakukan Pinda [Putreshti Yajna] kepada Kausalya, Kaikeyi dan Sumitra. Pinda secara literal berarti telur atau embryo. Jadi, ini adalah bahasa bersayap untuk menutupi fakta sederhana yaitu ayah kandung dari Rama [Kausalya], Bharata [Kaikeyi], laksamana & Satrughana [Sumitra] adalah rsi Shrung dan bukan raja Dasaratha.
  • Dewa-dewapun tidak ketinggalan berprilaku seperti bajingan dikisah ini, untuk membantu Vishnu yang akan menjadi Rama, maka Dewa Brahma bersama dewa-dewa lainnya secara serentak melakukan hubungan seksual, aktivitas seksual ini tidak hanya dilakukan dengan para bidadari, namun juga pada anak-anak Ruksha, Gandarhva, kinara dan Vanara yang kemudian menghasilkan Vanara yang kelak akan menjadi para pembantu Rama. [VR 1.17:3-6; Canto 16.Vanara]

    Kisah lahirnya Hanuman juga berasal dari tetesan mani Deva siva [dikisah lainnya disebutkan bahwa bapak bilogis Hanuman bukanlah Deva Siva tapi Deva Vayu]

  • Insiden yang berkenaan dengan peralihan kekuasaan di kerajaan para Vanara di Kishkenda. Saat Sita telah diculik Ravana, Subali, raja para Vanara. Ketika itu, tengah bertempur melawan pasukan rakshasa pimpinan Mayavi, hingga akhirnya terjadi duel satu lawan satu. Mayavi kewalahan dan sembunyi dalam sebuah goa.

    Subali kemudian meminta Sugriva untuk menunggunya diluar dan berkata bahwa jika darah putih keluar dari goa, maka Subali yang kalah dan jika darah merah keluar maka Subali yang menang. Karena otak Mayavi pecah maka yang keluar adalah cairan putih bukan merah. Dengan tanpa merasa perlu mengecheck, Sugriva menyumbat gua itu dan menyatakan diri sebagai raja baru Kishkinda, mengawini Tara (istri kakaknya) dan mengangkat Hanuman sebagai Perdana mentrinya.

    [Subali dikenal sangat sakti, jika benar Subali kalah, maka menyumbat gua merupakan perbuatan sia-sia untuk mengurung Mayavi, aneh sekali melihat Sugriwa tidak merasa cemas akan kesaktian Mayavi setelah membunuh Subali, bukan?!]

    SuBali yang tidak cedera, keluar dari gua namun tidak menemukan Sugriva, Ia kembali kekerajaannya dan terkejut melihat Sugriva mengambil alih semuanya. Padahal Subali mempunyai anak yang bernama Anggada, sehingga seharusnya pewaris tahta kerajaan adalah Anggada bukan Sugriva. Sewaktu mengambil alih kembali, Subali tidak melakukan tindakan kekerasan pada Sugriva, ia hanya mengusir Sugriva dan Hanuman!

    Di saat itu, Rama dan laksmana, sedang dalam pengembaraan mencari Sita. Sedangkan Hanuman dan Sugriva, bukannya menyesal atas tindakan itu, mereka malah mengembara mencari bala bantuan untuk merebut kembali tahta yang jelas-jelas bukanlah haknya! Kedua pihak akhirnya bertemu dan setelah saling menceritakan kesulitan mereka, mereka berjanji untuk saling membantu.

    Disepakati bahwa Rama akan membantu dulu sugriva untuk membunuh Subali dan menjadikan Sugriva sebagai raja. Sebagai balasannya Sugriva, Hanuman dan pasukan kera akan membantu Rama mencari Sita. Agar rencana mulus berjalan, maka Sugriva harus dapat membujuk Subali keluar dari kerajaan dan jika duel, keadaan memburuk maka untuk dapat membedakan di antara keduanya Sugriva harus memakai karangan bunga di lehernya. Duel di antara keduanya kemudian terjadi, Rama bersembunyi di balik pohon dan bersiap membidik Subali dengan dengan panah untuk membunuhnya.

    Rencana keji pun berjalan mulus Sugriwa akhirnya menduduki tahta yang bukan haknya berkat bantuan Rama, sang avatar. Hal ini mereka lakukan secara pengecut. Padahal, tidak ada kesalahan Subali pada Rama dan juga tidak ada persoalan apapun antara Rama dan Subali. Ketika Rama membokong Subali dari belakang, Subali bahkan tidak sedang bersenjata!

  • Dengan tentara yang terkumpul Rama menginvasi Lanka! Sebelum menyerbu Lanka, ia bertemu dengan Vibisana dan menjanjikan setelah penyerbuan ini berhasil yaitu terbasminya Rahvana dan keturunannya, maka Vibhisana yang akan menjadi raja Lanka!
  • Sita, adalah wanita yang malang sejak dari lahir. Beberapa kisah menyatakan Ia merupakan bayi buangan, setelah besar, mengawini Rama dan mereka tinggal dalam pembuangan di hutan selama 13 tahun, Sita kemudian diculik Rahwana selama 10 bulanan lebih. Ketika Rama dan gerombolannya berhasil menginvasi Lanka, Bukan Rama sendiri yang menemui Sita, namun Hanuman yang diutusnya sebagai kurir untuk memberikan pesan padanya. Ia bahkan tidak meminta Hanuman membawa Sita padanya!

    Tugas Hanuman hanyalah memberitahukan bahwa rama baik-baik saja [Hal inipun telah diketahui Sita, ketika pertempuran di hari pertama dengan Indrajit, di mana Rama dan Laksmana hampir tewas, ia menyaksikan dan mengetahui pulihnya kesehatan Rama]. Kemudian Sita bertemu Rama, setelah bertemu bukannya pelukan hangat suami yang didapat, namun justru pernyataan Rama yang menafikan semua kesengsaraan Sita selama mempertahankan kesuciannya!

    Rama berkata, “Ku dapatkan dirimu sebagai hadiah dari kemenangan perang ini, akibat penculikanmu, Aku telah mengembalikan kehormatanKu dan menghukum musuhku. Rakyat telah menyaksikan kekuatan militerKu dan Aku gembira jerihpayahKu mendapatkan balasan. Ku bunuh Ravana dan mencuci pelecehan ini. Semua kesulitan ini kuambil BUKAN untukmu.

    Aku mencurigai prilakumu, Engkau pasti telah dimanjakan Rahwana, Pandanganmu sangat menjijikan bagiKu. Putri Janaka, Ku ijinkan dirimu pergi kemanapun kau suka. Aku tidak punya urusan dengan mu..Aku tak dapat memikirkan bahwa Rahwana gagal menikmati wanita secantik dirimu”

    Yup! Ini adalah pernyataan Rama, sang Avatar kondang ini..kejam nian, bukan?!

    Ia sampaikan perkataan keji itu pada seorang wanita lemah, korban penculikan yang juga istrinya sendiri! Sita merasa hidupnya hancur tersia-siakan. Sita kemudian menyatakan akan melemparkan dirinya ke api, Ia lakukan itu karena marah dan untuk membuktikan dirinya tidaklah sehina itu.

    Tidak satupun dari para PAHLAWAN KEBENARAN di sana, menengahinya dan/atau mem-protes tindakan Rama dan/atau menghalangi niat sita!

    Tidak satupun para mahluk surgawi yang hadir di sana, tidak juga Hanuman sang perkasa, tidak juga Vibisana, Sang raja baru Lanka, Tidak juga Laksmana.

    Semua diam membisu. Bahkan Laksamana yang menyiapkan tumpukan kayu untuk Sita!

    Saat itu, dihadapan para anak-anak dan semua warga yang berkumpul, Sita melaksanakan tekad sucinya menyuci habis hinaan kejam yang berasal dari suaminya sendiri dan terjun ke dalam Api!

    Keajaiban berpihak pada Sita, ia tidak cacat sedikitpun di dalam api dan keluar dalam keadaan gilang gemilang. Para Deva puas dengan bukti ini dan menyatakan bahwa Sita adalah suci! Saat itulah akhirnya Rama setuju membawa Sita kembali ke Ayodhya. [Versi tulsidas menyatakan Sita sebenarnya tidak pernah diculik namun disembunyikan di Api, sebagai pengganti dibuatkan bentuk sita yang lain yang di culik oleh Rahwana].

    Jika benar para Deva maha tau, tentunya mereka juga tau bahwa Sita berjuang sebisanya mempertahankan kesuciannya!

    Setelah terbukti Sita tidak cedera dan utuh dengan kesuciannya, barulah kemudian para Deva sibuk memprotes tindakan Rama. Dan tentu saja Rama selalu punya alasan untuk berkilah!

    Kalangan hindu meng-amin-kan tindakan Sati [membakar diri ke dalam api] sebagai upaya baik untuk membuktikan kesucian Sita. Ini sungguh bantahan aneh dan dangkal, bukan?! Ya hal ini jelas merupakan rekaan kisah rendah dari otak lelaki dangkal yang berlindung dibalik jubah dan jati diri sebagai Brahmin! [Valmiki Yudha kandha, Ch 115-119]

    Apakah keraguan Rama bisa terhapus? Sama sekali tidak!

    Beberapa hari setelah penobatan Rama dan Sita, Sita hamil. Rama memperhatikan ini kira-kira 1 bulan setelah mereka telah di Ayodhya [Valmiki Uttara kanda, Ch 42]. Beberapa penduduk menggunjingkan Rama dan menyalakan Sita kembali ke Ayodhya. Laporan ini dibawa Bhadra, seorang penghibur kerajaan, yang membuat Rama tersengat panas atas gosip ini [7-43]. Rama kemudian memanggil adik-adiknya untuk rapat mengenai hal ini.[7-44]

    Pertama-tama, Ia nyatakan percaya pada sita yang membuktikan kesuciannya di Lanka dan juga atas jaminan para dewa. Kemudian ia nyatakan bahwa, “Publik tetap memfitnah Sita, menyalahkanKu dan membuat Ku malu. Tidak ada orang yang bisa mentolerir aib ini. Kehormatan adalah asset terbesar, Dewa-dewa dan semua orang besar akan mempertahankan itu. Aku tak sanggup memikul Aib ini. Untuk menghilangkan aib ini Aku tidak akan ragu lagi untuk membuang Sita” [7-45]

    Lihat! Demikianlah cara ia mengambil keputusan!

    Sebagai Raja besar penakluk Iblis super jahat dan juga berkekuasaan sangat besar, masa Iya, hanya untuk sekedar mengkounter dan menyetop gosip tidak mampu?!. Begitu pula, sebagai suami, ia bisa mencoba membersihkan nama istrinya dihadapan khalayak langsung! Tapi ini tidak dilakukannya! Justru cara termudah dan kekanak-kanakan yang ia ambil, yaitu meyelamatkan diri sendiri, nama dan kemasurannya dengan membuang Sita tanpa sedikitpun memikirkan bagaimana kehidupan Sita nanti dan perasaan Sita, istrinya sendiri!

    Selain adik-adiknya, Sita sama sekali tidak tau akan gosip yang beredar dan tidak tahu atas apa yang akan melanda dirinya.

    Rama telah mendapat waktu yang pas, yaitu sebagai wanita hamil, Sita pun seperti wanita hamil lainnya, ngidam dan yang diinginkannya adalah tinggal 1 hari disekitar pasraman seorang Rsi yang berada di sekitar sungai Gangga agar dapat memakan buah dan akar. Rupanya Ia teringat saat menemani Rama dalam pengasingan selama 13 tahunan [1 tahun terakhir bersama Ravana].

    Rama dengan serta merta memberi ijin dan berkata akan mengirimkan Sita dikeesok harinya. Sita menerima janji ini tanpa praduga apapun. Setelah itu, Rama secara rahasia memanggil adik-adiknya dan menjelaskan rencananya untuk membuang sita di hutan dan mengingatkan adik-adiknya untuk tidak menentang tindakannya atau akan dianggap sebagai musuhnya. Kemudian, Ia meminta Laksmana untuk mengantar Sita dan meninggalkannya di sana. Rama sudah meyakinkan Laksmana bahwa Sitalah yang ingin tinggal beberapa hari di sana.

    Sita yang tidak tau apapun, menaiki kereta dengan perasaan senang dan sangat berterima kasih pada Rama, suaminya.

    Sita dan Laksmana tiba di tepi Sungai Gangga. Melihat laksmana menangis, Sita pikir Laksmana kangen pada Rama, Ia malah menghiburnya, “Kamu ngga tahan lama-lama berjauhan dari Rama, ya..kita ngga tinggal lama, besok setelah bertemu Valmiki kita akan kembali ke Ayodhya” [7-46]

    Setelah menyeberang sungai, Laksmana tidak tahan lagi dan menyentuh kaki Sita dengan air mata bercucuran berkata, “Maafkan aku atas apa yang akan aku lakukan, Ibu suriku. Perintah yang diembankan padaku adalah membuangmu di sini karena rakyat menyalahkan Rama menerimamu di sisinya.”[7-47]

    Mendengar itu Sita Shock dan pingsan!

    Setelah siuman, Sita berkata, “Tidak kunjung beban yang ditimpakan kepadaku, sayang aku sedang hamil, jika tidak, aku akan menenggelamkan diri di sungai Gangga. Laksmana tidak berkata apapun dan kemudian meninggalkannya di sana. [7-48]

    Sita kemudian bertemu Rsi Valmiki. Ia diajak tinggal di pertapaannya bersama para wanita lainnya yang telah lebih dahulu ada di sana dan Sitapun menetap di Pertapaan Valmiki. [7:49] Di Pertapaan itu, Sita melahirkan anak kembaryang diberi nama Kusha dan Lava.

    Selama 12 tahun Ia tinggal di Pertapaan itu. Suaminya tidak pernah sekalipun menengoknya, tidak memikirkan bagaimana keadaannya juga tidak pernah memastikan apakah Ia sudah melahirkan, bagaimana keadaan anaknya apakah hidup atau mati.

    Dalam versi lain, disebutkan akibat ulah Rama, Sita kemudian membunuh diri dengan meloncat ke sungai Gangga namun berhasil diselamatkan Valmiki dan diberi perlindungan. [Kisah ini tercantum di beberapa web juga di Wikipedia]. Lava lahir terlebih dahulu, kemudian diikuti Kush. Di versi lain disebutkan, ketika Sita mandi, Valmiki diminta menemani dan menjaga Lava namun anak itu menghilang entah kemana. Agar tidak membuat panik Sita, Valmiki kemudian menciptakan anak lain serupa Lava dari rumput Kusha, karena itulah anak satunya dinamakan Kusha.

    Dua belas tahun kemudian, Rama mengadakan Yajna [kurban] Ashawameda dan mengundang semua Rsi, namun tidak mengundang Valmiki. Entah apa alasannya, kelihatannya hanya Rama dan Valmiki yang tahu mengenai hal ini. Valmiki datang sendiri ke upacara Yajna tersebut bersama Sita, Lava dan Kusha.

    Dalam yajna itu lava Kusha menyanyikan Uttara Kanda, dari sini Rama mulai mengetahui jati diri dua anak kembar itu dan mengirimkan pesan pada Valmiki, “Jika Sita mau, Ia seharusnya dapat datang dihadapan semua penduduk dan para resi, mengambil sumpah tentang kesuciannya. Dengan cara ini aibKu dapat dibersihkan dan ini dapat dilakukannya esok”. Sita menyanggupinya.[7:95-98]

    Valmikipun menegaskan jati diri Lava dan Kusha, “Saya adalah anak ke 10 dari Pracheta [Varuna], Saya ngga pernah berkata bohong. Saya bersumpah atas namaNya bahwa Sita adalah murni dan suci. Ia tidak layak dilecehkan. Lava dan Kusha adalah anak-anakmu”

    Jangankan sumpah seorang mantan bandit yang kemudian menjadi Resi, bahkan kesucian itikad seorang raja besar Rahwana untuk tidak menggangu tubuh Sita tidak Rama percayai, bahkan dengan bukti sumpah suci Sita menyeburkan diri ke api berikut jaminan para Deva-pun tidak Rama hiraukan.

    Sita tahu tidak ada jaminan bahwa setelah sumpah dilaksanakan, ia akan di diterima dan tidak dilecehkan suaminya lagi. Kemudian, di hadapan para penduduk, para resi dan mahluk surgawi, dengan mata tertuju pada tanah dan tangan dilipat, Sita bersumpah “Seperti aku tidak pernah memikirkan siapapun kecuali Rama, biarlah Ibu Bumi terbuka dan menguburku. Seperti aku selalu mencintai Rama dalam pikiran, kata, dan perbuatan, biarlah Ibu Bumi terbuka dan mengubur aku!” Kemudian bumi pun terbuka dan Ibu bumi menggenggam dirinya duduk bersama di singgasanaNya dan tenggelam perlahan memasuki Bumi, bunga surgawi bertaburan di atas kepala Sita menghantarkannya menghilang. [7:97]

    Tampaknya, Sita lebih baik mati daripada kembali kepada suami yang tidak mampu menghargai kesucian sumpah suci yang dulu pernah dilakukannya dihadapan Rama.

    Pada kesempatan itu, rupanya Valmiki sendiri juga berusaha mempromosikan jati diri barunya untuk menutupi masa lalunya, namun ia lupa bahwa Pribudi Rama yang sebenarnya telah dirusaknya dengan menuliskan karangannya ini.

  • Pada satu ketika di pemerintahan Rama, seorang Brahmana menangis meraung-raung dan berkata, “Saya tidak pernah melakukan dosa dan menyakiti orang lain, jelaslah kematian anak saya merupakan dosa dari raja. Dosa raja membuat rakyat menderita, jika anakku tidak pulih maka aku dan istriku akan mengakhiri hidupku di pagar kerajaan ini [7-74]

    Seketika diadakan sidang kerajaan yang dihadiri oleh 8 rsi besar: Markandeya, Maudgalya, Vamdeva, Kashyapa, Katyayana, Jabali, Gautama dan Narada. Melihat kegelisahan raja, Narada berkata, “Yang boleh melakukan tapasya, mensucikan diri dan ritual suci lainnya untuk keselarasan alam di jaman Satya yuga hanyalah Brahmana. Di jaman Tetra Yuga, Ksatria mendapatkan status yang sederajat dengan Brahmana sehingga dapat melakukan itu. Di jaman Dwapara, dapat dilakukan oleh Waisya dan dijaman Kali yuga dapat di lakukan oleh Sudra.

    Aturan ini telah dibakukan di kitab suci. masing-masing Warna menjalankan tugas dan kewajibannya, sehingga setiap pelanggaran akan mengakibatkan hilangnya Dharma. Karena ini jaman Tetrayuga maka selain Ksatria ada yang melakukan ini dan berakibat wafatnya anak brahmin. Tanggung jawab raja adalah melakukan tindakan untuk mencegah insiden ini terjadi lagi.

    Rama kemudian berjalan ke arah Barat, Timur dan Utara, namun Ia tidak menemukan keganjilan. ketika di arah Selatan. Di sekitar pegunungan Shaival di pinggiran danau di bawah sebuah pohon, ia melihat seorang seorang melakukan Yoga Sirasana [kepala di bawah, kaki menjulang ke atas], Rama menghentikan sejenak aktivitas orang itu dan bertanya apa tujuannya melakukan ini, berapa lama telah melakukannya dan apa warnamu?

    Ia menyatakan dirinya bernama Sambhuka, seorang Sudra dan berniat dengan tubuhnya dapat masuk ke surga. Mendengar Ia adalah Sudra, Rama segera mencabut Pedangnya dan memotong kepalanya. Tampaknya Dewa-dewa sangat menghargai upaya Rama dalam menghalangi upaya orang ini mencapai surga dengan tubuh seutuhnya yang dapat mengacaukan hukum kematian dan kelahiran, para Dewa kemudian bertanya apa permintaan Rama, Ia mengatakan agar anak brahmin itu pulih. Para deva mengabulkannya.[7:75-76]

[Valmiki Ramayana, Uttara Kanda Valmiki, Riddle Rama, Riddle in Hinduism]


Sebagai penutup, saya hendak mengcopy-pastekan satu tulisan seseorang yang berasal dari sini:

    [..]I am NOT Ravana Fan but donot want to promote incomplete knowledge.

    I AM NOT AGAINST THE PERSONS WHOSE NAMES ARE WRITTEN HERE BUT I AM SPEAKING THE TRUTH.

    Instead of answering ur question, I wud ask u instead.
    Why is Ravana considered a demon??????????

    He was ambitious. So what?
    No text mentions being ambitious is bad.

    He was arrogant. So what?
    Shiv Puran mentions arrogance of deities
    Linga Puran mentions arrogance of Brahma on his ability to create world.
    Bhagwat Puran mentions ego of Durvasa
    Skand Puran mentions ego of Parikshit (Arjuna’s grandson)
    Mahabharat mentions ego of Arjun and Bheema
    Ramcharitmanas states false ego of Narad defeating lust.
    Why Ravan alone is a demon?

    He was lusty. So what?
    Vishwamitra fell in love with Menka.
    As per Shiv Puran, Brahma sexually abused his daughter Sandhya.
    Why Ravan alone is a demon?

    He was hypocrite and abducted wife of someone else. So what?
    As per Valmiki Ramayana, Indra hypocritically turned into sage Gautam and abused his wife Ahilya.
    Bali was even worse as he abducted wife of his brother Sugriva.
    Even Vishnu hypocritically became a girl to give ambrosia to deities and not to demon. Demons must not get nectar but this is not the way to ensure this. Rahu cheated by taking the nectar. Vishnu chopped off his head but what use? Rahu attacked Sun/moon. Vishnu’s hypocrisy punished Sun/moon for no reason.
    Why Ravan alone is a demon?

    His mother was a demoness. So what? his father was a Brahmin sage.

    Ravana blindly did what his mother demanded even if that was improper. So what?
    Even Ganesha followed blindly what his mother said. He even stopped Shiv from entering his own house.
    Wasn’t it wrong for Parvati to not let Shiv enter inside? Ganesha followed improper wish of his mother.
    Even Rama said, “Mother is heavier than heaven” (Janani Janmabumischa Swargadapi Gariyasi)
    OK, a person is not known by his birth but by his actions but even scriptures say that one must do what his mother demands.
    Why Ravana is a demon?

    He captured Yamraj and many innocents. So what?
    Cruel kings have killed many innocents. Not all are declared demons.
    Moreover, Ravana did not defeated Yamraj/planets to takeover their kingdom but just to teach them a lesson.
    Its Meghnad who defeated Indra but set him free when Brahma told him to do so.
    Ravan killed sages but why? People say that sages did yajna.
    But Ravan was not against yajna. He & meghnad did yajna.
    Ravan hated malpractices and killed only those sages who sacrificed poor animals.
    Rest were not touched by him.
    Why Ravan is a demon?

    He was selfish. So what?
    Indra was selfish who even killed sages fearing they wud demand heaven.
    Selfish Vishnu became his brother-in-law Jalandar to destroy his wife’s chastity.
    Why Ravana alone is a demon.

    He fought with GOD(Ram/Hanuman). So what?
    Ramcharitmanas mentions Ravan did this to liberate his entire clan from sins.
    He knew that kidnapping Sita is the only option to make Ram and his army fight.
    Ravan failed to realize that Hanuman is Lord Shiv.
    But even this doesnot guarantee Ravana’s demon-ness.

    So, the only option which remains is RAVAN WAS UNFORTUNATE who kept on getting cursed.

    This was answer to ur question. Now, coming to what u said.

    Ravan was a fighter. Ram managed to chop off Ravana’s head but no use.
    If Vibhishan wud not have born or Maatli wud have remained silent, u bet Ravan wud have been still alive.

    Ravan was a devotee. He worshipped Shiv heartedly and even cut his heads as offerings to 10 Rudras.
    What if he didnot offered anything to 11th Rudra!
    His devotion was unmatched. Some people say that Ravan became a priest during Rameshwaram lingam.

    Ravan was knowledged. It is famous folklore that Ravan gave knowledge to Laxman.

    Ravan was an austerite whose penance disturbed peace of heavens.

    Now, shedding some light to what others said.
    Hiranyakasipu became demon not due to his ego/misdeeds but because he considered himself GOD.
    He is demon because he killed devotees.
    He was justice lover who attacked even his beloved son who went against his rules
    Shiv’s son Andhak and Vishnu’s son Narka did this. All were declared demon.
    Ravan never did this as he was himself a devotee.
    Aryans may be considering others as inferior. But, why not Sugriva, Shabari etc. were demons?
    Source(s):
    No one is good or bad. Our perception makes the difference.

Sekarang anda telah mengetahui perbedaan dua karakter Rama, yaitu pada kisah versi Buddhis dan versi Valmiki. Anda telah dapat menilai sendiri benarkah pandangan Valmiki mengenai Rahwana. Anda juga telah melihat bagaimana karakter dan pribadi Dewa-dewi Hindu, Rama, dan kesucian Sita telah di rusak secara biadab oleh seorang bandit yang menamakan dirinya sendiri Rsi Valmiki.

Ramayana versi Valmiki, hanyalah alat politik keagamaan para Brahmin masa lalu yang dilandasi motif keserakahan, kebodohan dan kebencian bertindak untuk kepentingan diri sendiri dan kelompok.

Siapapun yang masih mempercayai kisah Ramayana versi Valmiki, tulsidas dan variannya sebagai suatu kisah suci, maka sesungguhnya, Ia telah menghina kecerdasannya sendiri.