Tuhan, Klaim Pepesan Kosong Si Buta Sejak Lahir Yang Menjelaskan Gajah!


Mencampur-adukan sejarah religi kelompok bangsa tertentu dan menempelkan satu nama tuhan baru sebagai tuhan utama adalah strategi umum yang digunakan oleh beberapa manusia jenius atau kelompok tertentu. Di penghujung artikel, kita lihat padanan tindakan ini dengan kisah sekumpulan orang buta dari sejak lahir yang mencoba menjelaskan bentuk seekor gajah.

Tiga agama abrahamic, yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam sama-sama mengklaim Musa [Nav Mosyeh] sebagai nabi dan mencantumkan kehidupannya sebagai bagian dari sejarah mereka.

Dalam Sefer Syemot di Kitab Torah, Tiga bulanan setelah Musa membebaskan keturunan Israel dari perbudakan bangsa Mesir, Ia menuju Gunung Sinai untuk menghadap Yahweh dan berdiam 40 hari dan 40 malam lamanya. Di sana, Yahweh kemudian menuliskan sendiri 10 Perintah-Nya di dua lempengan batu. Ketika Musa turun dilihatnya Harun membuat patung anak sapi untuk disembah. Musa marah dan membanting 2 batu itu hingga pecah. Dikemudian hari, Musa melakukan ritual yang sama untuk mendapatkan lagi 2 batu itu.

Apa isi 10 perintah Yahweh itu?

Menurut Literatur rabinic yang ada di kitab Tanakh [Di Alkitab adalah perjanjian Lama], yaitu kitab yang berisi Torah [5 Buku, ajaran secara oral/hukum oral, kemudian di bukukan menjadi Talmud [Mishnah dan Gemara]dan Midrash], Nevi’im [8 buku, nabi-nabi] dan Ketuvim [12 buku, tulisan-tulisan] di tuliskan:

  1. Akulah TUHAN [Y@hovah, YHWH, JEHOVAH], Allahmu [Elohim], yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada allah lain di hadapan-Ku..[..]
  2. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi..[..]
  3. Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan..[..]
  4. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat
  5. Hormatilah ayahmu dan ibumu..[..]
  6. Jangan membunuh
  7. Jangan berzinah
  8. Jangan mencuri
  9. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu
  10. Jangan mengingini isteri tetanggamu.

Apa yang dapat kita pelajari dari 10 Perintah Tuhan ini?

Jika kita perhatikan, perintah ke-1 s/d ke-3 memberikan kita beberapa hal penting:

  • kata ‘Isra-El’ artinya adalah Ia yang menang bergulat melawan Allah [El], Israel adalah nama lain dari Yakub [Perjanjian lama, kitab kejadian 32:24-30]. Semua keturunan yakub kemudian dinamakan kaum Israel.

    El adalah dewa utama kaum kuno yang tinggal di Barat laut semit yang berbahasa Ugaritic (sudah punah), Canaanite (termasuk yahudi) Aramaic, Arabic]. El bersitrikan Dewi Aserah. El adalah nama generik dari sebutan tuhan/dewa. El juga berarti ELI, ILAH [arab], ‘alāh/’elāh [Aramaic] dan ‘elōah [Ibrani]

    Bentuk plural El pada bahasa ugaritic adalah ʾilhm, atau ʾelōhîm setara denngan Elohim dalam bahasa ibrani.

    Di Kitab Talmud El adalah: Baal/Hadad, Moloch atau Yahweh [YHWH, Y@hovah, Jehovah]. Biasanya kata YHWH dianggap sakral dan dihindari untuk disebutkan, Para yahudi mengganti sebutannya menjadi Adonai [setara dengan Adonis dalam bahasa yunani yang artinya tuanku.

    Dalam romawi, El adalah Elus/Cronus, anak pasangan ouranous [Dewa Langit] dan Gaia [dewi bumi]. El adalah cucu dari Elioun/Elyon. Dalam bahasa Canaanite, El adalah anak dari Shamayim [dewa Langit] Eretz [dewi Bumi] adalah eretz

  • YHWH atau ELOHIM adalah tuhannya kaum Israel. Karena YHWH/Elohim membebaskan kaum Israel dari orang-orang MESIR artinya juga sangat jelas yaitu YHWH/Elohim bukan tuhannya orang-orang Mesir [dan semua bangsa-bangsa selain kaum Israel]
  • Di Nasrani, dalam Kitab perjanjian lama di Injil [yang juga berisi Torah dan talmud] tercantum dengan jelas bahwa keturunan Yahudi menyebut tuhan mereka dengan nama YHWH dan Elohim.

    Walaupun Yesus adalah keturunan Yahudi namun catatan perjalanan kehidupannya di perjanjian Baru, yang dibuat oleh orang lain, yang ditulis dalam bahasa Yunani [klaim kalangan nasrani: di tuliskan oleh beberapa orang dari 12 murid Yesus] tertulis bahwa tuhannya yesus bukanlah YHWH/ELOHIM namun Theos.

    Theos [Yunani]/Deus [latin] merupakan bentuk maskulin dari Thea [Yunani]/Dea [Latin], yang artinya dewa dan dewi.

    Ketika Yesus masih hidup, 12 orang murid dipilih langsung oleh Yesus. Nama ke-12 murid itu tercantum di pintu gerbang surganya Nasrani dan mereka jugalah yang menjadi Hakimnya.

    Setelah Yesus wafat dan Yudas salah seorang muridnya juga tidak ada, maka untuk menggenapi jumlah 12, Dihadapan 120 orang, diusulkan 2 nama dan setelah dilakukan pengundian, Mathias terpilih menjadi rasul yang ke-12 untuk menggantikan kedudukan Yudas. [Kisah Para Rasul 1:15-26]

    Setelah beberapa waktu berlalu, Di satu tempat dekat Damsyik, seorang peranakan Yunani dan Yahudi bernama Saulus, mengangkat dirinya sendiri sebagai murid yesus. Saulus beralasan bahwa ia bertemu roh Yesus dan setelah beberapa hari kemudian dengan model pengakuan yang sama ia menyatakan bahwa Roh Yesus melantiknya menjadi Rasul Bangsa lain. Saulus kemudian berubah nama menjadi Paulus

    Semua murid Yesus mencantumkan Musa sebagai bagian dari sejarah religi mereka akan tetapi tuhan yang mereka sembah bukanlah YHWH/ELOHIM melainkan Yesus dan juga Theos [bentuk maskulin daripada Thea]

  • Di Islam, Taurat [alttawraat]-nya Musa disebutkan sebanyak 16 X di Alqur’an [AQ 3:3, AQ 3:48, AQ 3:50, AQ 3:65, AQ 3:93, AQ 5:43-44, AQ 5:46, AQ 5:66, AQ 5:68, AQ 5:110, AQ 7:157, AQ 9:111, AQ 48:29, AQ 61:6, AQ 62:5].

    Al Qur’an menyatakan bahwa Taurat-nya Musa diturunkan oleh Allah SWT dan bukan oleh YAHWE/Elohim.

    Selama 11 Tahun masa kenabian Muhammad, dari mulai diangkat sebagai Nabi hingga peristiwa Isra Mira’j tidak dijelaskan bagaimana ritual Menyembah Allah SWT di lakukan oleh Muhammad dan pengikutnya. Setelah Isra Mira’j, perintah Shalat di turunkan dan Kiblat shalat adalah menghadap Yerusalem [Baitul Maqdis]. Ini berlangsung selama 16 bulanan lebih. Ritual menyembah tuhan dilakukan dengan cara yang berbeda dari yang dilakukan selama berabad-abad oleh kaum Yahudi namun kiblat mereka sama.

    Di AQ 2:143-144, 149-150, terdapat peristiwa perpindahan Qiblat, yaitu dari arah Baitul Maqdis ke Masjidil Haram.

    KH.Drs.A. Masduqi Machfudh menjelaskan bahwa tujuan kiblat ke Baitul Maqdis adalah untuk menjinakkan hati orang-orang Yahudi, karena kiblat mereka adalah Baitul Maqdis dan untuk menarik mereka kepada syari’at Al Qur’an dan agama yang baru.

    Namun Orang-orang Yahudi itu berkata: “Muhammad menyalahi agama kita tetapi mengikuti kiblat kita”. Sikap orang-orang Yahudi tersebut membuat Nabi Muhammad saw tidak senang [Khulashatul Kalam fi Arkanil Islam, Sayyid Ali Fikri, KH.Drs.A. Masduqi Machfudh, Ramadlan 1416 H] kemudian lewat perantara malekat jibril, turunlah perintah pindah kiblat Baitul Maqdis ke Ka’bah, yaitu di tempat yang sama di mana kaum Arab selama berabad-abad juga melakukan ritual-ritual pada sesembahannya, Di antara banyak suku arab tersebut, suku Quraish adalah salah satunya. Diantara para sesembahan yang ada saat itu, Allah SWT adalah salah satunya. Allah SWT merupakan tuhannya kaum Quraish.

    Ibn kathir di tafsir AQ 2:114, menjelaskan bahwa setelah penaklukan Mekkah para penyembah berhala [termasuk Yahudi dan Nasrani] yang kedapetan masuk Masjidil Haram akan dijadikan budak atau dibunuh kecuali mereka masuk Islam. Nabi Muhammad menyatakan bahwa dua agama [Nasrani dan Yahudi] tidak boleh ada semenanjung Arab dan harus di usir keluar!


Islam dan Nasrani sama-sama memasukan sejarah religi bangsa Yahudi ke dalam ajaran mereka dengan mengakui kenabian Musa namun demikian mereka menolak mengakui YHWH/ELOHIM-nya kaum yahudi sebagai tuhan dan secara sepihak menyatakan sesembahan baru merekalah yang merupakan satu-satunya Tuhan yang wajib di sembah.

Tuhan kaum Yahudi, Nasrani dan Islam jelas berbeda satu sama lainnya namun yang lahir belakangan selalu mengklaim bahwa tuhan di ajarannyalah sebagai satu-satunya tuhan yang asli. Untuk mempertahankan klaim itu, tradisi saling berbaku hantam tampaknya melekat erat di 3 ajaran ini.

***

Pada system pendidikan di India, mereka yang mencari ilmu selalu tinggal bersama gurunya [catuspathiis/pasraman]. Kehidupan pendidikan mereka ditanggung oleh pemerintah yang berkuasa/kepala daerah dan/atau masyarakat umum. Hampir setiap Brahmana mumpuni mempunyai pasraman sendiri dan kemudian berlanjut turun temurun. Rsi-Rsi/Brahmana terkenal dijaman itu di antaranya adalah Atthaka [Astaka], Vamaka, Vamadeva, Vessamitta [Vishvamitra], Yamataggi [Jamadagni], Anggirara [angiras], Bharadvaja Brihaspati, Vasettha [Vasistha], Kassapa [Kasyapa] dan Bhagu [Bhrigu]

Saat itu tidak ada standarisasai kurikulum, jadi masing-masing dari para Rsi/Brahmana menciptakan kurikulum dan metode pengajarannya sendiri sehingga Murid-murid yang belajar pada brahmana yang berbeda, pengetahuannya-pun berbeda-beda pula. Perbedaan itu kerap menimbulkan pertentangan pendapat antara satu pasraman dengan pasrama lainnya. Perbedaan pendapat tersebut adalah sumbangan keragaman interpretasi pada kupasan-kupasan Veda dari jaman ke jaman.

Hindu mengenal banyak dewa dan dewi yang di puja dan disembah sebagai tuhan utamanya. Dari jaman ke jaman terjadi perubahan peringkat status Dewa utama karena beberapa dewa tiba-tiba menjadi populer, beberapa menjadi tidak populer, beberapa meningkat status dari dewa biasa menjadi dewa utama dan lambat laun mengerucut menjadi 3 Nama Dewa saja sebagai tuhan utama, yaitu Brahma, Vishnu dan Siva.

Sebelum jaman Buddha, Brahma adalah Tuhan tradisi Hindu.

Sedangkan Siva dan Vihnu sebagai tuhan, baru tercipta ratusan tahun setelah Buddha Gautama parinibanna [wafat]. Teks Buddhisme Suta pitaka, Devaputtasamyutta [2:12 dan 2:21] menyebutkan adanya Visnu [Vennu/Venhu] dan Siva namun saat itu, mereka bukanlah Deva yang menonjol [Rhys Davids, Buddhist India, Hal 236]. Deva Putta Samyuta, merupakan teks berbahasa pali mengenai kumpulan para Deva yang baru terlahir di alam Indra/Sakka. Venhu/Vennu dan Siva merupakan prototipe dewa India sebelum mereka menjadi dewa utama dalam Hinduisme bakti yang theistic.

Kisah-kisah avatar memang ada di teks Brahmana-brahmana yang berkaitan dengan Veda, yang disusun tidak berapa lama sebelum jaman Buddha, legenda para avatara itu popular dimasyarakat namun Vishnu sebagai avatar tidak ada di legenda saat itu [The Bhagavad Gita, C. Jinarajadasa, From the Proceedings of the Federation of European Sections of the Theosophical Society, Amsterdam 1904, Theosophical Publishing House, Adyar, Madras. India, November 1915]

Kemudian di beberapa jaman ada upaya mengatakan Brahman dan brahma itu berbeda.

Mengutip Ajaran Pokok dalam Upanisad, Sri Srinivasa menyatakan bahwa: “Brahma berasal dari akar kata kerja brh yang artinya ‘tumbuh’ (brhati) dan menyebabkan tumbuh (brhmayati)“. Dalam Atharvairas Upanisad, “brhati, bhmayati tasmad ucyate parabrahma” artinya “Itu disebut Brahman karena itu bertumbuh dan menyebabkan tumbuh”. Dalam sanskrit, walaupun dibaca Brahman namun yang dituliskan tetap saja Brahma, selain tulisan ‘brahma’ pada Atharvairas Upanisad di atas, contoh lain misalnya: “ayam ātmā brahma” [Brihadaranyaka Upanishad 4.4.5] artinya “Atma adalah Brahma” atau “Atman adalah Brahman“!

DR. FRANK MORALES atau Sri Dharma Pravartaka Acharya mengatakan bahwa Brahman bukanlah tuhan namun merupakan sikap sebagaimana tercantum di Taittariya Upanishad’ II.1: “satyam jnanam anantam brahma”, “Brahman adalah dari kebenaran sejati, pengetahuan dan keabadian

Buddhisme menjelaskan prinsip-prinsip bersatu dengan Brahma[n] melalui pemenuhan kualitas mental tertentu sehingga dari sebab-sebab dan kondisi tersebut memungkinkan seseorang mencapai alam Brahma[n], seperti yang dimaksudkan di Tevijja Sutta:

[..] Ketika sedang berjalan bolak balik di tepi sungai, terjadi percakapan serius antara Vasettha (dari klan Vasettha) dan Bharadvaja (dari klan Bhradvaja) tentang jalan benar dan jalan salah.

Pemuda Vasettha berkata: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Pokkharasadi’.

Sedangkan pemuda Bharadvaja berkata: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Tarukkho’.

Namun pemuda Vasettha tidak dapat meyakinkan pemuda Bharadvaja, begitu pula pemuda Bharadvaja tidak dapat meyakinkan pemuda Vasettha.

Kemudian pemuda Vasettha berkata kepada pemuda Bharadvaja: ‘Bharadvaja, Samana Gotama, putra suku Sakya, telah meninggalkan keluarga Sakya menjadi petapa, sekarang ada di Manasakata, tinggal di taman mangga di tepi sungai Aciravati, tepatnya di utara Manasakata. Sehubungan dengan Samana Gotama telah tersebar berita yang baik yaitu: ‘Demikianlah Bhagava, maha suci, telah mencapai penerangan sempurna, sempurna pengetahuan serta tidak-tanduknya, sempurna menempuh jalan, pengenal segenap alam, pembimbing manusia yang tiada taranya, guru para dewa dan manusia, yang sadar dan patut dimuliakan’. Bharadvaja, marilah kita menemui Samana Gotama, bilamana kita telah menemuinya, kita tanyakan persoalan kita ini kepada beliau. Apa yang Samana Gotama uraikan kepada kita, kita perhatikan dengan baik’.

‘Baiklah, kawan!’ jawab pemuda Bharadvaja menyetujui saran pemuda Vasettha.

‘Selanjutnya, pemuda Vasettha dan pemuda Bharadvaja pergi ke tempat Bhagava berada’. Setelah sampai, mereka memberi hormat kepada Bhagava dan saling menyapa dengan kata-kata santun, lalu duduk di tempat yang telah tersedia. Setelah duduk, pemuda Vasettha berkata kepada Bhagava: ‘Gotama, ketika kami sedang berjalan bolak-balik (di tepi sungai) muncul percakapan tentang jalan benar dan jalan salah. Saya berkata : ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Pokkharasadi’.

Sedangkan pemuda Bharadvaja mengatakan : ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Tarukkho’. Gotama, sehubungan dengan masalah ini terjadi perdebatan, pertentangan dan perbedaan pandangan di antara kami’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Pokkharasadi’. Sedangkan Bharadvaja mengatakan: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Tarukkho’. ‘Vasettha, karena itu terjadi perdebatan, pertanyaan dan perbedaan pandangan di antara anda berdua?’

Pemuda Vasettha: ‘Mengenai jalan benar dan jalan salah, Gotama. Gotama banyak Brahmana mengajar bermacam-macam jalan, seperti para Brahmana Addhariya [Adhavaryu], para Brahmana Tittiriya [Taittiriya], para Brahmana Chandoka [Chandogya], para Brahmana Chandava dan para Brahmana Brahma-cariya. Apakah semua itu jalan-jalan keselamatan? Apakah semua jalan itu membimbing seseorang yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma?’

“Gotama, bagaikan di sekitar desa atau kota banyak dan bermacam-macam jalan, namun semua jalan itu bertemu di desa – demikian pula cara itu bahwa semua macam jalan yang diajarkan oleh para Brahmana, seperti para Brahmana Addhariya, para Brahmana Tittiriya, para Brahmana Chandoka, para Brahmana Chandava dan para Brahmana Brahmacariya. Apakah semua itu jalan-jalan keselamatan? Apakah semua jalan itu membimbing seseorang yang melaksanakan-nya untuk bersatu dengan Brahma?

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan semua jalan ke arah benar’?

Pemuda Vasettha: ‘Ke arah benar, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan semua jalan ke arah benar’?

Pemuda Vasettha: ‘Ke arah benar, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan semua jalan ke arah benar’?

Pemuda Vasettha: ‘Ke arah benar, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Bagaimana Vasettha? Apakah ada seorang Brahmana dari para Brahmana yang menguasai tevijja [Tiga Veda: Rig Veda, Sama Veda dan Yajur Veda] pernah melihat langsung Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak ada, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, atau apakah ada seorang guru dari para Brahmana yang menguasai tevijja pernah melihat langsung Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak ada, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, atau apakah ada seorang guru di antara guru-guru dari para guru Brahmana yang menguasai tevijja pernah melihat langsung Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak ada, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, atau apakah ada seorang Brahmana sampai tujuh generasi yang telah melihat langsung Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak ada, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah, para reshi dari para Brahmana yang lampau, yang telah menguasai tevijja, para penulis mantra-mantra, para pengucap mantra-mantra, yang mantra-mantra kunonya dilafalkan, diucapkan atau disusun, yang olah para Brahmana masa kini dilafalkan kembali atau berulang-ulang kali; diintonasikan atau lafalkan secara tepat seperti yang telah diintonasikan atau dilafalkan – seperti Atthaka, Vamako, Vamadevo, Vessamitto, Yamataggi, Angiraso, Bharadvajo, Vasettho, Kassapa dan Bhagu – mereka mengucapkan itu dengan berkata: ‘Kami mengetahuinya, kami telah melihatnya, di mana Brahma berada, dari mana Brahma atau ke mana Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan bahwa tidak ada dari para Brahmana, atau para guru mereka, atau dari murid-murid mereka, sampai tujuh generasi yang pernah melihat langsung Brahma. Begitu pula dengan para rishi dari para Brahmana yang lampau, yang telah menguasai tevijja, para penulis mantra-mantra, para pengucap mantra-mantra, yang mantra-mantra kuno-nya dilafalkan, diucapkan atau disusun, yang olah para Brahmana masa kini dilafalkan kembali atau berulang-ulang kali; diintonasikan atau lafalkan secara tepat seperti yang telah diintonasikan atau dilafalkan – seperti Atthaka, Vamako, Vamadevo, Vessamitto, Yamataggi, Angiraso, Bharadvajo, Vasettho, Kassapa dan Bhagu. Mereka tidak mengatakan: ‘Kami mengetahuinya, kami telah melihat, di mana Brahma berada, dari mana Brahma atau ke mana Brahma?’ Sehingga para Brahmana yang menguasai tevijja dengan benar berkata: ‘Apa yang kita tidak tahu, apa yang kita tidak lihat, keadaan bersatu yang jalannya kita ajarkan, dengan berkata: Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma’.

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu? Bila begitu, bukankah cerita mengenai para Brahmana yang walaupun mereka menguasai tevijja, ternyata mereka menyatakan hal yang bodoh?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya demikian bahwa para Brahmana yang menguasai tevijja ternyata menyatakan hal yang bodoh.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, sebenarnya para Brahmana yang menguasai tevijja dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu dan mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi. ‘

‘Vasettha, bagaikan beberapa orang buta yang saling berdekatan, yang di depan tidak dapat melihat, yang di tengah tidak dapat melihat, begitu pula yang di belakang tidak dapat melihat – Vasettha, saya berpendapat begitu pula dengan para Brahmana yang menguasai tevijja tetapi menceritakan hal yang buta: yang pertama tidak melihat, yang di tengah tidak melihat, begitu pula yang di belakang tidak melihat. Maka uraian dari para Brahmana yang menguasai tevijja ini, ternyata konyol, hanya kata-kata, hampa dan kosong!.

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu? Dapatkah para Brahmana yang menguasai tevijja – seperti orang-orang lain yang awam dan biasa – melihat bulan dan matahari lalu mereka sembayang, memuja dan memuji, berputar dengan beranjali ke arah bulan dan matahari terbit maupun terbenam?’

Pemuda Vasettha: ‘Tentu mereka dapat, Gotama’.

Sang Bhagava: Vasettha, bagaimana pendapatmu? Para Brahmana yang menguasai tevijja, yang dengan baik – seperti orang-orang lain yang awam dan biasa – melihat bulan dan matahari lalu mereka sembayang, memuja dan memuji, berputar dengan beranjali ke arah bulan dan matahari terbit maupun terbenam – adalah para Brahmana yang menguasai tevijja, dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan bulan dan matahari, dengan berkata: “Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan bulan dan matahari”.

Pemuda Vasettha: ‘Tentu tidak, Gotama!’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda berkata bahwa para Brahmana tidak dapat menunjukkan jalan bersatu dengan hal yang telah mereka lihat; lebih lanjut anda mengatakan tidak ada seorang pun dari mereka, atau siswa mereka, atau para pendahulu mereka hingga tujuh generasi yang telah melihat Brahma. Lagi pula anda mengatakan para rishi yang lampau, yang teguh meyakini ucapan mereka, tidak berpura-pura mengetahui atau telah melihat di mana, dari mana atau ke mana Brahma itu. Namun para Brahmana yang menguasai tevijja ini mengatakan bahwa mereka dapat menunjukkan jalan bersatu, padahal mereka tidak tahu maupun belum melihatnya’. Vasettha, sekarang bagaimana pendapat-mu? Bila demikian, bukankah kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ini adalah omong kosong saja?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ternyata omong kosong’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Vasettha ternyata, para Brahmana yang menguasai tevijja yang dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu maupun mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bagaikan seorang pria berkata: ‘Betapa saya rindu, betapa saya mencintai wanita tercantik di dunia ini!’

‘Orang-orang bertanya kepadanya: ‘Baiklah kawan. Wanita tercantik di dunia ini, yang anda rindukan dan cintai, apakah anda mengetahui bahwa wanita cantik itu bangsawan (khattiya), Brahmana, pedagang (vessa) atau kalangan bawah (sudda)?’

‘Ketika ditanya seperti itu, ia menjawab: ‘Tidak’.

‘Lalu orang-orang berkata kepadanya: ‘Jadi, ia yang anda rindukan dan cintai adalah orang yang belum anda tahu dan lihat?’

‘Setelah ditanya begitu, ia menjawab: ‘Ya’.

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu? Bila demikian, bukankah apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, begitu pula, anda berkata bahwa para Brahmana tidak dapat menunjukkan jalan bersatu dengan hal yang telah mereka lihat; lebih lanjut anda mengatakan tidak ada seorang pun dari mereka, atau siswa mereka, atau para pendahulu mereka hingga tujuh generasi yang telah melihat Brahma. Lagi pula anda mengatakan para rishi yang lampau, yang teguh meyakini ucapan mereka, tidak berpura-pura mengetahui atau telah melihat di mana, dari mana atau ke mana Brahma itu. Namun para Brahmana yang menguasai tevijja ini mengatakan bahwa mereka dapat menunjukkan jalan bersatu, padahal mereka tidak tahu maupun belum melihatnya’.

‘Vasettha, sekarang bagaimana pendapatmu? Bila demikian, bukankah kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ini adalah omong kosong saja?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja adalah omong kosong’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Vasettha ternyata, para Brahmana yang menguasai tevijja yang dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu maupun mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bagaikan seseorang yang membuat sebuah tangga untuk naik ke istana di suatu tempat di persimpangan jalan. Lalu orang-orang bertanya kepadanya: ‘Kawan, baiklah, untuk naik ke istana itu anda buatkan tangga, apakah istana itu di sebelah, timur, selatan, barat atau utara? Apakah istana itu tinggi, rendah atau menengah?’

‘Ketika ditanya seperti itu, ia menjawab: ‘Tidak’.

‘Lalu orang-orang berkata kepadanya: ‘Kawan, jadi anda membuat tangga untuk naik ke sesuatu – apakah itu istana – yang anda tidak tahu dan belum lihat?.

‘Setelah ditanya begitu, ia menjawab: ‘Ya’.

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu?. Bila demikian, bukankah apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong?

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, begitu pula, anda berkata bahwa para Brahmana tidak dapat menunjukkan jalan bersatu dengan hal yang telah mereka lihat; lebih lanjut anda mengatakan tidak ada seorang pun dari mereka, atau siswa mereka, atau para pendahulu mereka hingga tujuh generasi yang telah melihat Brahma. Lagi pula anda mengatakan para rishi yang lampau, yang teguh meyakini ucapan mereka, tidak berpura-pura mengetahui atau telah melihat di mana, dari mana atau ke mana Brahma itu. Namun para Brahmana yang menguasai tevijja ini mengatakan bahwa mereka dapat menunjukkan jalan bersatu, padahal mereka tidak tahu maupun belum melihatnya’.

‘Vasettha, sekarang bagimana pendapatmu?. Bila demikian, bukankah kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ini adalah omong kosong saja?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja adalah omong kosong’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Vasettha ternyata, para Brahmana yang menguasai tevijja yang dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu maupun mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bilamana sungai Aciravati penuh dengan air hingga ke tepi dan meluap, kemudian ada seorang yang mempunyai kegiatan di tepi seberang, mau menyeberang, berusaha ke seberang, datang ke tepi dan ingin menyeberang. Selagi ia berdiri di tepi sini, ia memohon ke tepi sebelah dengan berkata: ‘Wahai tepi seberang sana, datang ke sini!, datanglah ke seberang sini!’

‘Vasettha bagaimana pendapatmu? Apakah tepi seberang sungai Aciravati, karena permohonan, doa, pujian dan harapan orang itu akan datang ke tepi sebelah sini?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, tentu saja tidak’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, begitulah caranya para Brahmana yang menguasai tevijja – dengan meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – berkata: ‘Kami mohon Inda, kami mohon Soma, kami mohon Varuna, kami mohon Isana, kami mohon Pajapati [pragapati], kami mohon Brahma, kami mohon Mahiddhi, kami mohon Yama.

‘Vasettha, para Brahmana yang menguasai tevijja – meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – bahwa mereka, berdasarkan pada permohonan, doa, pujian dan harapan, bila mereka meninggal dunia akan menyatu dengan Brahma – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bagaikan bilamana sungai Aciravati penuh dengan air hingga ke tepi dan meluap, kemudian ada seorang yang mempunyai kegiatan di tepi seberang, mau menyeberang, berusaha ke seberang, datang ke tepi dan ingin menyeberang. Selagi ia di tepi sini, tangannya, punggungnya terikat erat oleh rantai kuat, dan bagaimana pendapatmu, Vasettha, dapatkah orang itu menyeberang ke tepi sana dari sungai Aciravati?

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, tentu saja tidak’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, dengan cara yang sama, ada lima hal yang mengarah pada nafsu, yang disebut dalam vinaya-ariya sebagi rantai atau ikatan’.

‘Apakah lima hal itu?’

‘Pertama adalah benda-benda (rupa) yang dilihat mata, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebab-kan kesenangan.
Kedua adalah Suara-suara yang didengar telinga, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebabkan kesenangan.
Ketiga adalah Bebauan yang dicium oleh hidung, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebabkan kesenangan.
Keempat adalah Rasa-rasa yang dikecap oleh lidah, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai menyebabkan kesenangan.
Kelima adalah Sentuhan-sentuhan yang dirasakan oleh tubuh, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebabkan kesenangan. Lima hal ini berkecenderungan pada nafsu disebut dalam Vinaya ariya sebagai rantai atau ikatan’.

‘Vasettha, lima hal berkecenderungan pada nafsu, apakah para Brahmana yang menguasai tevijja terantai, terangsang, terikat pada hal-hal itu, dan mereka tidak melihat bahaya pada hal-hal itu, tidak mengetahui bahwa hal-hal itu tidak dapat dijadikan tumpuan, namun menikmati hal-hal itu’.

‘Vasettha, sesungguhnya para Brahmana yang menguasai tevijja dengan meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – terikat pada hal-hal itu, dan mereka tdlak melihat bahaya pada hal-hal itu, tidak mengetahui bahwa hal-hal itu tidak dapat dijadikan tumpuan, namun menikmati hal-hal itu – bahwa para Brahmana ini setelah meninggal, akan bersatu dengan Brahma – kondisi seperti ini tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bagaikan bilamana sungai Aciravati penuh dengan air hingga ke tepi dan meluap, kemudian ada seorang yang mempunyai kegiatan di tepi seberang, mau menyeberang, berusaha ke seberang, datang ke tepi dan ingin menyeberang. Selagi ia di tepi sini, ia membungkus dirinya hingga ke kepalanya, ia berbaring untuk tidur. ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, dapatkah orang itu menyeberang ke tepi sana dari sungai Aciravati?

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, tentu saja tidak’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, dengan cara yang sama, ada lima rintangan (nivarana), yang dalam vinaya-ariya disebut perintang, penghalang, pengganggu atau jerat.

‘Apakah lima hal itu?’

Pertama ‘Nafsu indera sebagai perintang’.
Kedua ‘Kebencian sebagai perintang’.
Ketiga ‘Malas dan ngantuk sebagai perintang’.
Keempat ‘Keragu-raguan sebagai perintang’.
Kelima ‘Kegelisahan sebagai perintang’.

‘Vasettha, inilah lima perintang yang dalam vinaya ariya disebut perintang, penghalang, pengganggu atau jerat’.

‘Vasettha, sesungguhnya para Brahmana yang menguasai tevijja – dengan meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – terintang, terhalang, terganggu dan terjerat oleh lima rintangan ini – bahwa para Brahmana ini setelah meninggal, akan bersatu dengan Brahma – kondisi seperti ini tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu dan apakah anda pernah mendengar dari para Brahmana tua dan telah berpengalaman, dan ketika para ahli dan para guru bercakap-cakap bersama?

Apakah Brahma memiliki istri dan kekayaan atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah ia diliputi bahaya atau bebas dari bahaya?’

Pemuda Vasettha: ‘Bebas dari bahaya, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah ia diliputi kebencian atau bebas dari kebencian?

Pemuda Vasettha: ‘Bebas dari kebencian, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah ia ternoda atau suci?’

Pemuda Vasettha: ‘Suci, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Apakah ia menguasai dirinya atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Menguasai dirinya, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, apakah para Brahmana yang menguasai tevijja memiliki istri dan kekayaan atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Memiliki, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah mereka diliputi kemarahan atau bebas dari kemarahan?’

Pemuda Vasettha: ‘Diliputi kemarahan, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah mereka diliputi kebencian atau bebas dari kebencian?’

Pemuda Vasettha: ‘Diliputi kebencian, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah batin mereka suci atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak suci, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah mereka menguasai diri mereka atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak menguasai mereka, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan bahwa para Brahmana memiliki istri dan kekayaan, namun Brahma tidak memiliki. Dapatkah disesuaikan atau disamakan Brahmana yang memiliki istri dan harta dengan Brahma yang tidak memiliki istri dan harta?’

Pemuda Vasettha: ‘Tentu tidak, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Tetapi sesungguhnya para Brahmana yang menguasai tevijja ini, yang hidup dalam perkawinan dan memiliki harta, setelah meninggal dunia akan bersatu dengan Brahma yang tidak memiliki istri dan harta – keadaan seperti ini tidak mungkin terjadi’.

‘Vasettha, anda mengatakan bahwa para Brahmana diliputi kemarahan, kebencian, ternoda, dan tak menguasai diri; sedangkan Brahma tidak diliputi oleh kemarahan, tidak diliputi kebencian, suci dan menguasai diri. Dapatkah disesuaikan atau disamakan para Brahmana dan para Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tentu tidak, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Bahwa para Brahmana yang menguasai tevijja ini yang masih diliputi kemarahan, kebencian, ternoda dan tidak menguasai diri setelah meninggal dunia akan bersatu dengan Brahma yang bebas dari kemarahan dan kebencian, suci dan menguasai diri – keadaan seperti ini tidak mungkin terjadi.

Vasettha, demikianlah, walaupun para Brahmana menguasai tevijja, mereka meyakininya, namun mereka tenggelam (dalam upacara); karena tenggelam mereka tiba hanya pada kepuasaan, sementara mereka mengira bahwa mereka menyeberang ke tanah bahagia’.
Maka tiga kebijaksanaan para Brahmana yang menguasai tevijja disebut padang tanpa berair; tiga kebijaksanaan mereka disebut hutan tanpa jalan; tiga kebijaksanaan mereka disebut kegagalan’.

‘Ketika beliau selesai berkata, pemuda Brahmana Vasettha berkata kepada Bhagava: ‘Gotama, telah dikatakan kepadaku bahwa Samana Gotama mengetahui jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, bukankah Manasakata dekat dan tak jauh dari tempat ini?’

Pemuda Vasettha: ‘Begitulah, Gotama. Manasakata dekat, tidak jauh dari tempat ini’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, misalnya ada seseorang yang lahir di Manasakata dan belum pernah meninggalkan Manasakata, lalu orang-orang bertanya kepadanya tentang jalan yang menuju Manasakata. Apakah orang itu yang lahir dan dibesarkan di Manasakata akan ragu-ragu dan mendapat kesulitan untuk menjawab?’

Pemuda Vasettha: ‘Tentu tidak Gotama. Mengapa? Jika seseorang lahir dan dibesarkan di Manasakata, maka setiap jalan yang mengarah ke Manasakata diketahuinya dengan baik’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, orang yang dilahirkan dan dibesarkan di Manasakata mungkin saja ia akan ragu-ragu dan mendapat kesulitan untuk menjawab bila ditanya jalan yang menuju ke Manasakata; tetapi Tathagata, bila ditanya mengenai jalan yang mengarah ke alam Brahma, ia tidak akan ragu-ragu atau mendapat kesulitan untuk menjawab. Vasettha, karena saya tahu Brahma, alam Brahma, dan jalan yang mengarah ke alam Brahma. Ya, saya mengetahui itu karena saya sebagai seorang yang telah memasuki alam Brahma dan telah terlahir di dalamnya’.

‘Setelah beliau berkata begitu, pemuda Brahmana Vasettha berkata kepada Bhagava: ‘Gotama, begitulah dikatakan kepada saya bahwa samana Gotama mengetahui jalan untuk bersatu dengan Brahma. Itu bagus sekali. Mohon yang mulia Gotama menunjukkan jalan untuk bersatu dengan Brahma, mohon yang mulia Gotama menyelamatkan ras Brahmana’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, perhatikanlah dan dengarkanlah dengan baik, saya akan bicara!’

‘Baiklah,’ jawab pemuda Brahmana Vasettha menyetujuinya’.

‘Kemudian Bhagava berkata: ‘Vasettha, ketahuilah di dunia ini muncul seorang Tathagata, Yang Maha Suci, Yang Telah mencapai Penerangan Sempurna, sempurna pengetahuan serta tindak tanduk-Nya, sempurna menempuh Jalan, Pengenal segenap alam, Pembimbing yang tiada tara bagi mereka yang bersedia untuk dibimbing, Guru para dewa dan manusia, Yang sadar, Yang Patut dimuliakan. Beliau mengajarkan pengetahuan yang telah diperoleh melalui usaha-Nya sendiri kepada orang lain, dalam dunia ini yang meliputi para dewa, dan manusia, Yang Sadar, Yang Patut dimuliakan. Beliau mengajarkan pengetahuan yang telah di peroleh melalui usahanya sendiri kepada orang lain, dalam dunia ini yang meliputi para dewa, mara dan Brahmana; para petapa, Brahmana, raja beserta rakyatnya. Beliau mengajarkan kebenaran (Dhamma) yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan, indah pada akhir dalam isi maupun bahasanya. Beliau mengajarkan penghidupan suci (Brahmacariya) yang sempurna dan suci’.

‘Kemudian, seorang yang berkeluarga atau salah seorang dari anak-anaknya atau seorang dari keturunan keluarga rendah datang mendengarkan Dhamma itu, dan setelah mendengarnya ia memperoleh keyakinan terhadap Sang Tathagata. Setelah ia memiliki keyakinan itu, timbullah perenungan ini dalam dirinya: ‘Sesungguhnya, hidup berkeluarga itu penuh dengan rintangan, jalan yang penuh dengan kekotoran nafsu. Bebas seperti udara bagi seorang yang hidup berkeluarga untuk menempuh hidup Brahmacariya secara sungguh-sungguh, suci serta dalam seluruh kegemilangan kesempurnaannya. Maka, biarlah aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning dan meninggalkan hidup keluarga untuk menempuh hidup tak berkeluarga (pabbajja).

Maka tidak lama kemudian ia meninggalkan hartanya, apakah itu besar atau kecil; meninggalkan lingkungan keluarganya, apakah banyak atau sedikit, ia mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan berkeluarga dan menjadi tak berkeluarga (pabbajja).

‘Setelah menjadi bhikkhu, ia hidup mengendalikan diri sesuai dengan peraturan-peraturan bhikkhu (patimokkha), sempurna kelakuan dan latihannya, dapat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahannya, dapat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahan yang paling kecil sekalipun. Ia menyesuaikan dan melatih dirinya dalam peraturan-peraturan. Menyempurnakan perbuatan-perbuatan dan ucapannya. Suci dalam cara hidupnya, sempurna silanya, terjaga pintu-pintu inderanya. Ia memiliki perhatian-perhatian seksama dan pengertian jelas (sati sampajjana); dan hidup puas’.

‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu yang sempurna silanya?

  • Vasettha, dalam hal ini seorang bhikkhu menjauhi pembunuhan, menahan diri dari pembunuhan mahkluk-makhluk. Setelah membuang alat pemukul dan pedang, malu dengan perbuatan kasar; ia hidup dengan penuh cinta kasih, kasih sayang dan bajik terhadap semua makhluk, semua yang hidup, inilah sila yang dimilikinya.
  • ‘Menjauhi pencurian, menahan diri dari memiliki apa yang tidak diberikan; ia hanya mengambil apa yang tidak diberikan; ia hanya mengambil apa yang diberikan dan tergantung pada pemberian; ia hidup jujur dan suci. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Menjauhi hubungan kelamin, menjalankan penghidupan suci atau selibat (Brahmacariya); ia menahan diri dari perbuatan-perbuatan rendah dan hubungan kelamin. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Menjauhi kedustaan, menahan diri dari dusta, ia berbicara benar, tidak menyimpang dari kebenaran, jujur dan dapat dipercaya, serta tidak mengingkari kata-katanya sendiri di dunia’. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Menjauhi ucapan fitnah, menahan diri dari menfitnah; apa yang ia dengar di sini tidak akan diceritakannya di tempat lain sehingga menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di sini. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • Apa yang ia dengar di tempat lain tidak akan diceritakannya di sini sehingga menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di sana. Ia hidup menyatukan mereka yang terpecah-belah, pemersatu, mencintai persatuan, mendambakan persatuan; persatuan merupakan tujuan pernbicaraannya. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • Menjauhi ucapan kasar, menahan diri dari penggunaan kata-kata kasar, ia hanya mengucapkan kata-kata yang tidak tercela, menyenangkan, menarik, berkenan di hati, sopan, enak didengar dan disenangi orang. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Menjauhi pembicaraan sia-sia, menahan diri dari percakapan yang tidak bermanfaat; ia berbicara pada saat yang tepat, sesuai dengan kenyataan, berguna, tentang dhamma dan vinaya. Pada saat yang tepat, ia mengucapkan kata-kata yang berharga untuk didengar, penuh dengan gambaran yang tepat, memberikan uraian yang jelas dan tidak berbelit-belit. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • Ia menahan diri untuk tidak merusak benih-benih dan tumbuh- tumbuhan. Ia makan sehari sekali, tidak makan setelah tengah hari. Ia menahan diri dari :
    • menonton pertunjukkan-pertunjukkan, tari-tarian, nyanyian dan musik.
    • penggunaan alat-alat kosmetik, karangan-karangan bunga, wangi-wangian dan perhiasan-perhiasan.
    • penggunaan tempat tidur yang besar dan mewah.
    • menerima emas dan perak.
    • menerima gandum (padi) yang belum dimasak.
    • menerima daging yang belum dimasak.
    • menerima wanita dan perempuan-perempuan muda.
    • menerima budak belian lelaki dan budak belian perempuan.
    • menerima biri-biri atau kambing,
    • menerima bagi dan unggas,
    • menerima gajah, sapi dan kuda.
    • menerima tanah-tanah pertanian.
    • menipu dengan timbangan, mata uang maupun ukuran-ukuran.
    • perbuatan menyogok, menipu dan penggelapan.
    • perbuatan melukai, membunuh, memperbudak, merampok, menodong dan menganiaya.

    Inilah sila yang dimilikinya’.

  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih merusak bermacam-macam benih dan tumbuhan, seperti: tumbuhan yang berkembang biak dari akar-akaran, tumbuhan yang berkembang biak dari tetangkaian, tumbuhan yang berkembang biak dari ruas- ruas atau tumbuhan yang berkembang biak dari kecambah-kecambahan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari merusak bermacam-macam benih dan tumbuhan. Inilah sila yang dimilikinya’
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mempergunakan barang-barang yang ditimbun, simpanan, seperti: bahan makanan simpanan, minuman simpanan, jubah simpanan, perkakas-perkakas simpanan, bumbu makanan simpanan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari menggunakan barang-barang yang ditimbun semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih menonton aneka macam pertunjukkan, seperti: tari-tarian, nyanyian-nyanyian musik, pertunjukkan panggung, opera, musik yang diiringi dengan tepuk tangan, pembacaan deklamasi, permainan tambur, drama kesenian, permainan akrobat di atas galah, adu gajah, adu kuda, adu sapi, adu banteng, pertandingan tinju, pertandingan gulat, perang perangan, pawai, inspeksi, parade; namun seorang bhikkhu menahan diri dari menonton aneka macam pertunjukkan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terikat dengan aneka macam permainan dan rekreasi, seperti: permainan catur dengan papan berpetak delapan baris, permainan catur dengan papan berpetak sepuluh baris, permainan dengan membayangkan papan catur tersebut di udara, permainan melangkah satu kali pada diagram yang digariskan di atas tanah, permainan dengan cara memindahkan benda-benda atau orang dari satu tempat ke lain tempat tanpa menggoncangkannya, permainan lempar dadu, permainan memukul kayu pendek dengan menggunakan kayu panjang, permainan mencelup tangan ke dalam air berwarna dan menempelkan telapak tangan ke dinding, permainan bola, permainan meniup sempritan yang dibuat dari daun palem, permainan meluku dengan bajak mainan, permainan jungkir balik (salto), permainan dengan kitiran yang dibuat dari daun palem, bermain dengan timbangan mainan yang dibuat dari daun palem, bermain dengan kereta perang mainan, bermain dengan panah-panah mainan, menebak tulisan-tulisan yang digoreskan di udara atau pada punggung seseorang, menebak pikiran teman bermain, seorang bhikkhu menahan diri dari aneka macam permainan dan rekreasi semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mempergunakan aneka macam tempat tidur yang besar dan mewah, seperti: dipan tinggi yang dapat dipindah-pindahkan yang panjangnya enam kaki, dipan dengan tiang-tiang berukiran gambar binatang-binatang seprei dari bulu kambing atau bulu domba yang tebal, seprei dengan bordiran warna warni, selimut putih, seprei dari wol yang disulam dengan motif bunga-bunga, selimut yang diisi dengan kapas dan wol, seprei yang disulam dengan gambar harimau dan singa, seprei dengan bulu binatang pada kedua tepinya, seprei dengan bulu binatang pada salah satu tepinya, seprei dengan sulaman permata, seprei dari sutra, selimut yang dapat dipergunakan oleh enam belas orang, selimut gajah, selimut kuda atau selimut kereta, selimut kulit kijang yang dijahit, selimut dari kulit sebangsa kijang, permadani dengan tutup kepala dan kaki; namun seorang bhikkhu menahan diri untuk tidak mempergunakan aneka macam tempat tidur yang besar dan mewah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih memakai perhiasan-perhiasan dan alat-alat memperindah diri seperti: melumuri, mencuci dan menggosok tubuhnya dengan bedak wangi; memukuli tubuhnya dengan tongkat perlahan-lahan seperti ahli gulat; memakai kaca, minyak mata (bukan obat), bunga-bunga, pemerah pipi, kosmetika, gelang, kalung, tongkat jalan (untuk bergaya), tabung bambu untuk menyimpan obat, pedang, alat penahan sinar matahari, sandal bersulam, sorban, perhiasan dahi, sikat dari ekor binatang yak, jubah putih panjang yang banyak lipatannya; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari pemakaian perhiasan-perhiasan dan alat-alat memperindah diri semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terlibat dalam percakapan-percakapan yang rendah, seperti: percakapan tentang raja-raja, percakapan tentang mencuri, percakapan tentang menteri-menteri, percakapan tentang angkatan-angkatan perang, percakapan tentang pembunuhan-pembunuhan, percakapan tentang pertempuran-pertempuran, percakapan tentang makanan, percakapan tentang minuman, percakapan tentang pakaian, percakapan tentang tempat tidur, percakapan tentang karangan-karangan bunga, percakapan tentang wangi-wangian, pembicaraan-pembicaraan tentang keluarga, percakapan tentang kendaraan, percakapan tentang desa, percakapan tentang kampung, percakapan tentang kota, percakapan tentang negara, percapakan tentang wanita, percakapan tentang lelaki, percakapan di sudut-sudut jalanan, percakapan tentang hantu-hantu jaman dahulu, percakapan yang tidak ada ujung pangkalnya, spekulasi tentang terciptanya daratan, spekulasi tentang terciptanya lautan, percakapan tentang perwujudan dan bukan perwujudan (eksistensi dan non eksistensi); namun seorang bhikkhu menahan diri dari percakapan-percakapan yang rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
  • ‘Meskipun beberapa petapa Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terlibat dalam kata-kata perdebatan, seperti: ‘Bagaimana seharusnya engkau mengerti Dhamma Vinaya ini? ‘Engkau menganut pandangan-pandangan keliru, tetapi aku menganut pandangan-pandangan benar. ‘Aku berbicara langsung pada pokok persoalan, tetapi engkau berbicara langsung pada pokok persoalan’. Engkau membicarakan di bagian akhir tentang apa yang seharusnya dibicarakan di bagian permulaan; dan membicarakan di bagian permulaan tentang apa yang seharusnya dibicarakan di bagian akhir. Apa yang lama telah engkau persiapkan untuk dibicarakan, semuanya itu telah usang’. Kata-kata bantahanmu itu ditentang, dan engkau ternyata salah’. ‘Berusahalah untuk menjernihkan pandangan-pandanganmu; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari kata-kata perdebatan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih berlaku sebagai pembawa berita, pesuruh dan bertindak sebagai perantara dari raja-raja, menteri-menteri negara, kesatria, Brahmana, orang berkeluarga atau pemuda-pemuda, yang berkata: ‘Pergilah ke sana, pergilah ke situ, bawalah ini, ambilkan itu dari sana’; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari tugas-tugas sebagai pembawa berita, pesuruh dan perantara semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih melakukan tindakan-tindakan penipuan dengan cara: merapalkan kata-kata suci, meramal tanda-tanda dan mengusir dengan tujuan memperoleh keuntungan setelah memperlihatkan sedikit kemampuannya; namun seorang bhikkhu menahan diri dari tindakan-tindakan penipuan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti meramal dengan melihat guratan-guratan tangan, meramal melalui tanda-tanda dan alamat-alamat, menujumkan sesuatu dari halilintar atau keanehan-keanehan benda langit lainnya, meramal dengan mengartikan mimpi-mimpi, meramal dengan melihat tanda-tanda pada bagian tubuh, meramal dari tanda-tanda pada pakaian yang digigit tikus, mengadakan korban pada api, mengadakan selamatan yang dituang dari sendok, memberikan persembahan dengan sekam untuk dewa-dewa, memberikan persembahan dengan bekatul untuk dewa-dewa, memberikan persembahan dengan mentega untuk dewa-dewa, memberikan persembahan dengan minyak untuk dewa, mempersembahkan biji wijen dengan menyemburkannya dari mulut ke api, mengeluarkan darah dari lutut kanan sebagai tanda persembahan kepada dewa-dewa, melihat dan meramalkan apakah orang itu mujur, beruntung atau sial; menentukan apakah letak rumah itu baik atau tidak, menasehati cara-cara pengukuran tanah; mengusir setan-setan di kuburan; mengusir hantu, mantra untuk menempati rumah yang dibuat dari tanah, mantra untuk kelajengking, mantra tikus, mantra burung, mantra burung gagak, meramal umur, mantra melepas panah, keahlian untuk mengerti bahasa binatang; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-limu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: pengetahuan tentang tanda-tanda atau alamat-alamat baik atau buruk dari benda-benda, yang menyatakan kesehatan atau keberuntungan dari pemiliknya, seperti: batu-batu permata, tongkat, pedang, panah, busur, senjata-senjata lainnya; wanita, laki-laki, anak lelaki, anak perempuan, budak lelaki, budak perempuan, gajah, kuda, kerbau, sapi jantan, sapi betina, burung nasar, kura-kura, dan binatang-binatang lainnya; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramal dengan akibat: pemimpin akan maju, pemimpin akan mundur, pemimpin kita akan menyerang dan musuh-musuh akan mundur, pemimpin musuh akan menyerang dan pemimpin kita akan mundur, pemimpin kita akan menang dan pemimpin musuh akan kalah, pemimpin musuh akan menang dan pemimpin kita akan kalah; jadi kemenangan ada di pihak ini dan kekalahan ada di pihak itu; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramalkan adanya gerhana bulan, gerhana matahari, gerhana bintang, matahari atau bulan akan menyimpang dari garis edarnya, matahari atau bulan akan kembali pada garis edarnya, adanya bintang yang menyimpang dari garis edarnya, bintang akan kembali pada garis edarnya, meteor jatuh, hutan terbakar, gempa bumi, halilintar, matahari, bulan dan bintang akan terbit, terbenam, bersinar dan suram; atau meramalkan lima belas gejala tersebut akan terjadi yang akan mengakibatkan sesuatu; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramalkan turun hujan yang berlimpah-limpah, turun hujan yang tidak mencukupi, hasil panen yang baik, masa paceklik (kekurangan bahan makanan), keadaan damai, keadaan kacau, akan terjadi wabah sampar, musim baik; meramal dengan menghitung jari, tanpa menghitung jari; ilmu menghitung jumlah besar, menyusun lagu, sajak, nyanyian rakyat yang popular dan ada kebiasaan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: mengatur hari baik bagi mempelai pria atau wanita untuk dibawa pulang, mengatur hari baik bagi mempelai pria atau wanita untuk dikirim pergi, menentukan saat baik untuk menentukan perjanjian damai (atau mengikat persaudaraan dengan menggunakan mantra), menentukan saat yang baik untuk meletuskan permusuhan, menentukan saat baik untuk menagih hutang, menentukan saat baik untuk memberi pinjaman, menggunakan mantra untuk membuat orang beruntung, menggunakan mantra untuk membuat orang sial, menggunakan mantra untuk menggugurkan kandungan, menggunakan mantra untuk mendiamkan rahang seseorang, menggunakan mantra untuk membuat orang lain mengangkat tangannya, menggunakan mantra untuk menimbulkan ketulian, mencari jawaban dengan melihat-lihat kaca ajaib, mencari jawaban melalui seorang gadis yang kerasukan, mencari jawaban dari dewa, memuja matahari memuja maha ibu (dewa tanah) mengeluarkan api dari mulut, memohon kepada dewi Sri, atau dewi keberuntungan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: berjanji akan memberikan persembahan-persembahan kepada para dewa apabila keinginannya terkabul, melaksanakan janji-janji semacam itu, mengucapkan mantra untuk menempati rumah yang dibuat dari tanah, mengucapkan mantra untuk menimbulkan kejantanan, membuat pria menjadi impotent, menentukan letak yang tepat untuk membangun rumah, mengucapkan mantra untuk membersihkan tempat, melakukan upacara pembersihan mulut, melakukan upacara mandi, mempersembahkan korban, memberikan obat bersin untuk mengobati sakit kepala, meminyaki telinga orang lain, merawat mata orang, memberikan obat melalui hidung, memberi collyrium di mata, memberikan obat tetes pada mata, menjalankan praktek sebagai okultis, menjalankan praktek sebagai dokter anak-anak, meramu obat-obatan dari bahan-bahan akar-akaran, membuat obat-obatan; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

‘Vasettha, selanjutnya seorang bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat adanya bahaya dari sudut manapun sejauh berkenan dengan pengendalian terhadap sila, Vasettha, sama seperti seorang kesatria yang patut dinobatkan menjadi raja, yang musuh-musuh telah di kalahkan, tidak melihat bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenaan dengan musuh-musuh;

Demikian pula, seorang bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat bahaya dari sudut manapun sejauh berkenaan dengan pengendalian-sila. Dengan memiliki kelompok sila yang mulia ini, dirinya merasakan suatu kebahagiaan murni (anavajja sukkham). Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu yang memiliki sila sempurna’.

‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu memiliki penjagaan atas pintu-pintu inderanya?

  • Vasettha, bilamana seorang bhikkhu melihat suatu obyek dengan matanya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik atau buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera penglihatannya. Ia menjaga indera penglihatannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pengelihatannya.
  • Bilamana ia mendengar suara dengan telinganya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera pendengarnya. Ia menjaga indera pendengarannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pendengarannya.
  • Bilamana ia mencium bau dengan hidungnya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera penciumannya. Ia menjaga indera penciumannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera penciumannya.
  • Bilamana ia mengecap rasa lidahnya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera pengecapannya. Ia menjaga indera pengecapannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pengecapannya.
  • Bilamana ia merasakan suatu sentuhan dengan tubuhnya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian terhadap indera perabanya. Ia menjaga indera perabanya, dan memiliki pengendalian terhadap indera perabanya.
  • Bilamana ia mengetahui sesuatu (dhamma) dengan pikirannya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk; keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian terhadap indera pikirannya. Ia menjaga indera pikirannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pikirannya.

Dengan memiliki pengendalian diri yang mulia ini terhadap indera-inderanya, ia merasakan suatu kebahagiaan yang tidak dapat diterobos oleh noda apapun. ‘

‘Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu yang memiliki pengendalian atas pintu-pintu inderanya’

‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu memiliki perhatian seksama dan pengerti jelas?

  • Vasettha, dalam hal ini seorang bhikkhu mengerti dengan jelas sewaktu ia pergi atau sewaktu kembali;
  • ia mengerti dengan jelas sewaktu melihat ke depan atau melihat ke samping;
  • ia mengerti dengan jelas sewaktu mengenakan jubah atas (sanghati), jubah luar (civara) atau mengambil mangkuk-makan (patta);
  • ia mengerti dengan jelas sewaktu makan, minum, mengunyah atau menelan;
  • ia mengerti dengan jelas sewaktu buang air atau sewaktu kencing;
  • ia mengerti dengan jelas sewaktu dalam keadaan berjalan, berdiri, duduk, tidur, bangun, berbicara atau diam.

Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu yang memiliki perhatian seksama murni dan pengertian jelas’

‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu merasa puas?

Vasettha, dalam hal ini seorang bhikkhu merasa puas dengan jubah-jubah yang cukup untuk menutupi tubuhnya, puas hanya dengan makanan yang cukup untuk menghilangkan rasa lapar perutnya. Dan kemana pun ia akan pergi, ia pergi hanya dengan membawa hal-hal ini.

Vasettha, sama seperti seekor burung dengan sayapnya, ke manapun akan terbang, burung itu terbang hanya dengan membawa sayapnya. Vasettha, demikian pula seorang bhikkhu merasa puas hanya dengan jubah-jubah yang cukup untuk menutupi tubuhnya, puas hanya dengan makanan yang cukup untuk menghilangkan rasa lapar perutnya. Maka, ke mana pun ia akan pergi, ia hanya dengan membawa hal-hal ini.

Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu merasa puas’

‘Setelah memiliki kelompok sila yang mulia ini, memiliki pengendalian terhadap indera-indera yang mulia ini, memiliki perhatian seksama dan pengertian jelas yang mulia ini, memiliki kepuasan yang mulia ini, ia memilih tempat-tempat sunyi di hutan, di bawah pohon, di lereng bukit, di celah gunung, di gua karang, di tanah-kubur, di dalam hutan lebat, di lapangan terbuka, di atas tumpukan jerami untuk berdiam. Setelah pulang dari usahanya mengumpulkan dana makanan dan selesai makan; ia duduk bersila, badan tegak, sambil memusatkan perhatiannya ke depan’.

  • ‘Dengan menyingkirkan kerinduan terhadap dunia, ia berdiam dalam pikiran yang bebas dari kerinduan, membersihkan pikirannya dari nafsu-nafsu.
  • Dengan menyingkirkan itikad jahat, ia berdiam dalam pikiran yang bebas dari itikad jahat, dengan pikiran bersahabat serta penuh kasih sayang terhadap semua makhluk, semua yang hidup, ia membersihkan pilkirannya dari itikad jahat.
  • Dengan menyingkirkan kemalasan dan kelambanan, ia berdiam dalam keadaan bebas dari kemalasan dan kelambanan; dengan memusatkan perhatiannya pada pencerapan terhadap cahaya (alokasanni), ia membersihkan pikirannya dari kemalasan dan kelambanan.
  • Dengan menyingkirkan kegelisahan dan kekhawatiran, ia berdiam bebas dari kekacauan; dengan batin tenang, ia membersihkan pikirannya dari kegelisahan dan kekhawatiran.
  • Dengan menyingkirkan keragu-raguan, ia berdiam mengatasi keragu-raguan; dengan tidak lagi ragu-ragu terhadap apa yang baik, ia membersihkan pikirannya dari keragu-raguan’.

‘Vasettha, sama halnya seperti seseorang, yang setelah berhutang, ia berdagang sampai berhasil, sehingga bukan saja ia mampu membayar kembali pinjaman hutangnya, tetapi masih ada kelebihan untuk merawat seorang istri. Lalu ia berpikir: “Dahulu aku berhutang dan berdagang sampai berhasil, sehingga bukan saja aku dapat membayar kembali pinjaman hutangku, tetapi masih ada kelebihan untuk merawat seorang istri”.

Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

‘Vasettha, sama halnya seperti seorang yang diserang penyakit, berada dalam kesakitan, amat parah keadaannya, tidak dapat mencerna makanannya, sehingga tidak ada lagi kekuatan dalam dirinya; namun setelah beberapa waktu ia sembuh dari penyakit itu, dapat mencerna makanannya sehingga kekuatannya pulih. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu aku diserang penyakit, berada dalam kesakitan, amat parah keadaanku, tidak dapat mencerna makananku, sehingga tidak ada lagi kekuatan dalam diriku; namun, sekarang aku telah sembuh dari penyakit itu, dapat mencerna makanan sehingga kekuatanku pulih’.

Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

‘Vasettha, sama halnya seperti seorang yang ditahan dalam rumah penjara, dan setelah beberapa waktu ia dibebaskan dari tahanannya, aman dan sehat, barang-barangnya tidak ada yang dirampas. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu aku ditahan dalam rumah penjara, dan sekarang aku telah bebas dari tahanan, aman dan sehat, barang-barangku tidak ada yang dirampas’.

Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’

‘Vasettha, sama halnya seperti seseorang yang menjadi budak, bukan tuan bagi dirinya sendiri, tunduk kepada orang lain, tidak dapat pergi ke mana ia suka; dan setelah beberapa waktu ia dibebaskan dari perbudakan itu, menjadi tuan bagi dirinya sendiri, tidak tunduk kepada orang lain, seorang yang bebas pergi ke mana ia suka. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu aku seorang budak, bukan tuan bagi diriku sendiri, tunduk kepada orang lain, tidak dapat pergi ke mana aku suka; dan sekarang aku telah bebas dari perbudakan, menjadi tuan bagi diriku sendiri, tidak tunduk kepada orang lain, seorang yang bebas, bebas ke mana aku suka’.

Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

‘Vasettha, sama halnya seperti seorang yang dengan membawa kekayaan dan barang-barang, melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tidak terdapat makanan melainkan banyak bahaya; dan setelah beberapa waktu ia berhasil keluar dari padang pasir itu, selamat tiba di perbatasan desanya, suatu tempat yang aman, tidak ada bahaya. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu, dengan membawa kekayaan dan barang-barang, aku melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tidak terdapat makanan melainkan banyak bahaya; dan sekarang aku telah berhasil keluar dari padang pasir itu, selamat tiba di perbatasan desaku, suatu tempat yang aman, tidak ada bahaya’.

Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

‘Vasettha, demikianlah selama lima rintangan-batin (panca nivarana) belum disingkirkan, seorang bhikkhu merasakan dirinya seperti orang yang berhutang, terserang penyakit, dipenjara, menjadi budak, melakukan perjalanan di padang pasir. Vasettha, tetapi setelah lima rintangan batin itu disingkirkan, maka seorang bhikkhu merasa dirinya seperti orang yang telah bebas dari hutang, bebas dari penyakit, keluar dari penjara, bebas dari perbudakan, sampai di tempat yang aman.

‘Apabila ia menyadari bahwa lima rintangan batin itu telah disingkirkan dari dalam dirinya, maka timbullah kegembiraan, karena gembira maka timbullah kegiuran (piti), karena batin tergiur, maka seluruh tubuh menjadi nyaman, maka ia merasa bahagia, karena bahagia, maka pikirannya menjadi terpusat.

Kemudian, setelah terpisah dari nafsu-nafsu, jauh dari kecenderungan-kecenderungan tidak baik, maka ia masuk dan berdiam dalam Jhana pertama; suatu keadaan batin yang tergiur dan bahagia (piti sukha), yang timbul dari kebebasan, yang masih disertai dengan pengarahan pikiran pada obyek (vitakka) dan mempertahankan pikiran pada obyek (vicara). Seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaan tergiur dan bahagia, yang timbul dari kebebasan; dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia itu, yang timbul dari kebebasan (viveka).

‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh cinta kasih (metta) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan keseluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan cinta kasihnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.

‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara tanpa kesulitan di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh cinta-kasih’.

‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

  • “Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh cinta kasih (metta) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan cinta kasihnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’
  • ‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh kasih-sayang (karuna) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan kasih-sayangnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.
  • ‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh empati (mudita) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan empatinya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.
  • ‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh keseimbangan batin (upekkha) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan keseimbangan batinnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.

‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara – tanpa kesulitan – di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh kasih sayang’.

‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara – tanpa kesulitan – di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh empati’.

‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara – tanpa kesulitan – di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh keseimbangan batin’.

‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, akankah bhikkhu yang hidup seperti itu memiliki istri dan kekayaan atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Ia tidak akan, Gotama’

Sang Bhagava: ‘Apakah ia akan dipenuhi kemarahan atau bebas dari kemarahan?’

Pemuda Vasettha: ‘Ia akan bebas dari kemarahan, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah ia akan diliputi kebencian atau bebas dari kebencian?’

Pemuda Vasettha: ‘Ia bebas dari kebencian, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah pikirannya akan ternoda atau suci?’

Pemuda Vasettha: ‘Pikirannya akan suci, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah ia akan menguasai dirinya atau tidak akan?’

Pemuda Vasettha: ‘Ia akan menguasai dirinya, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan bahwa bhikkhu itu bebas dari kehidupan berumah tangga dan keduniawian, dan Brahma bebas dari kehidupan berumah tangga dan keduniawian. Apakah ada persesuaian atau persamaan antara bhikkhu dan Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Ya, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Vasettha bila demikian, bhikkhu yang bebas dari kehidupan berumah tangga dan keduniawian bilamana meninggal dunia akan bersatu dengan Brahma, karena ada persamaannya – keadaan seperti mungkin terjadi’.

‘Vasettha, seperti yang anda katakan bahwa bhikkhu adalah bebas dari kemarahan, bebas dari kebencian, pikirannya suci dan menguasai dirinya; dan Brahma adalah bebas dari kemarahan, bebas dari kebencian, suci dan menguasai dirinya.

Vasettha, dengan demikian sesungguhnya bhikkhu yang bebas dari kemarahan. Bebas dari kebencian, pikiran suci dan dapat menguasai dirinya, bila ia meninggal dunia, ia dapat bersatu dengan Brahma, yang ada persamaannya – keadaan seperti ini mungkin terjadi’.

Setelah beliau berkata begitu, kemudian pemuda Brahmana Vasettha dan Bharadvaja berkata kepada Bhagava: ‘Mengagumkan kata-kata yang diucapkan Gotama. Menakjubkan! Bagaikan orang yang menegakkan benda yang tergeletak, atau menemukan apa yang tersembunyi, atau menunjukkan jalan yang benar bagi mereka yang tersesat, atau menerangi tempat yang gelap sehingga orang yang mempunyai mata dapat melihat benda; – begitu pula, Gotama telah membabarkan dhamma kepada kami dalam banyak cara..[..]

    Note:
    Kisah bentuk lain yang hampir serupa dapat dilihat di Canki Sutta

***

Sebagai penutup artikel, berikut di bawah ini adalah kisah sekumpulan orang buta sejak lahir yang berusaha menjelaskan bentuk gajah.

Pada jaman Sang Buddha, terdapat sejumlah pertapa dan brahmana, pengembara dari berbagai macam aliran, yang hidup di sekitar Savatthi [Sravasti, Sekarang Uttar Pradesh, India Utara dengan batas utara adalah Nepal]. Mereka mempunyai berbagai pandangan, berbagai kepercayaan, berbagai pendapat, dan mereka menggantungkan dukungan mereka dari berbagai pandangan mereka itu.

Beberapa brahmana dan pertapa yang memastikan dan berpegang pada pandangan ini: “Dunia ini kekal; hanya ini yang benar, dan (pandangan) lainnya salah.”

Beberapa pertapa dan brahmana yang bersikeras: “Dunia ini tidak kekal; hanya ini yang benar, (pandangan) lainnya salah.”

Beberapa yang bersikeras:

“Dunia ini terbatas;….. Dunia ini tidak terbatas; ….. Jiwa kehidupan dan tubuh itu sama; ….. Jiwa kehidupan dan tubuh itu berbeda; …. Sang Tathagata ada di luar jangkauan kematian; ….. Sang Tathagata ada tetapi tidak berada di luar jangkauan kematian; ….. Sang Tathagata ada dan sekaligus tidak ada di luar jangkauan kematian; ….. Sang Tathagata bukannya ada dan bukannya tidak ada di luar jangkauan kematian; hanya ini yang benar, dan (pandangan) lainnya salah.”

Dan mereka, hidup bertengkar, penuh perselisihan dan penuh percekcokkan, saling menyakiti dengan ucapan-ucapan kasar, dengan mengatakan:

“Dhamma [Dharma = Ajaran, Kebenaran] adalah seperti ini, Dhamma tidak seperti itu! Dhamma tidak seperti ini, Dhamma seperti itu!”

    Note:

    • “tathāgata” adalah julukan lain dari Sang Buddha (selain dari: sang Bhagava, Jina, dll). berasal dari kata: “tathā” (bahkan, juga, kemudian) + “gata” (pergi, sampai) atau juga “tatha” (benar, nyata) + “a” (tidak) + “gata” (pergi, sampai) yang arti literalnya adalah “Ia yang sudah sampai” atau “Ia yang nyata tidak (lagi) pergi/sampai (tumimbal lahir)”
    • Tentang ‘Jiwa’, Mahavira, Tīrthaṇkara ke-24, [Jina, julukan seorang pemenang/yang tercerahkan dalam Jainisme] berpandangan bahwa:

      “Jiwa adalah permanen dan juga tidak permanen. Dari sudut pandang substansinya maka Jiwa adalah permanen. Dari sudut pandang perubahannya bergantung dari kelahiran, lapuk/tua dan kehancuran maka jiwa adalah tidak permanen” [Vyākhyāprajñapti/Bhagvatisūtra, 7:58–59]

Berkenaan dengan hal tersebut di atas, Sang Buddha yang ketika itu berada di Hutan Jeta, di Vihara Anathapindika, di hadapan para Bikkhu menceritakan satu kisah:

“Dulu, O, bhikkhu, ada seorang raja di Savatthi ini juga memerintahkan seorang pengawal: ‘Pengawal yang baik, bawalah semua orang di Savatthi yang buta dari lahir.’

“Ya, Yang Mulia,” jawab laki-laki itu, dan sesudah menahan semua orang buta di Savatthi, dia mendekati Raja dan berkata, ‘Semua orang buta di Savatthi sudah dikumpulkan, Yang Mulia.'”

“Sekarang, tunjukkanlah pada orang-orang buta itu seekor gajah.”

“Baiklah, Yang Mulia,” laki-laki itu menjawab Sang Raja, dan dia membawa seekor gajah ke hadapan orang-orang buta itu, dengan mengatakan, ‘Hai, orang-orang buta, ini adalah seekor gajah.’

“Pada beberapa orang buta, laki-laki itu memberikan kepala Sang Gajah, dan mengatakan, “Ini adalah seekor gajah.”

Kepada beberapa yang lain dia menghadapkan telinga gajah itu dan mengatakan, “Ini adalah seekor gajah.”

Bagi beberapa dia menghadapkan gadingnya ….. belalainya ….. tubuhnya ….. kakinya …..bagian belakangnya ….. ekornya …… rambut di ujung ekornya, dan mengatakan, “Ini adalah seekor gajah.”

“Kemudian, O, bhikkhu, sesudah menunjukkan gajah kepada orang-orang buta, laki-laki itu menghadap Sang Raja dan berkata, ‘Orang-orang buta itu sudah mengenali gajah, Yang Mulia. Lakukanlah sekarang apa yang Baginda pikir cocok.’

Kemudian Raja mendekati orang-orang buta itu dan berkata, ‘Apakah kalian sudah mengenali gajah?’

“Ya Baginda, kami sudah mengenal gajah.”

“Beritahukan padaku, hai orang-orang buta, seperti apakah gajah itu?”

Orang-orang buta,

  • yang sudah memegang kepala gajah menjawab, ‘Baginda, seekor gajah adalah seperti tempayan air.’
  • yang sudah memegang telinga gajah menjawab, ‘Seekor gajah, baginda, adalah persis seperti keranjang penampi.’
  • yang memegang gading gajah menjawab, ‘Baginda, seekor gajah adalah seperti mata bajak;
  • yang sudah memegang belalainya menjawab, ‘Seekor gajah, baginda, adalah seperti tiang bajak.’
  • yang sudah memegang tubuhnya menjawab,’Seekor gajah, baginda, adalah seperti ruangan penyimpan.’
  • yang sudah memegang kakinya menjawab, ‘Seekor gajah, baginda, seperti sebuah tiang.’
  • yang sudah memegang bagian belakangnya menjawab,’Seekor gajah, baginda, adalah seperti lesung.’
  • yang sudah memegang ekornya menjawab, ‘Baginda, seekor gajah adalah seperti sebuah alat penumbuk.’
  • yang sudah memegang rambut di ujung ekornya menjawab, ‘Seekor gajah, baginda, adalah seperti sebuah sapu.’

“Dengan mengatakan, ‘Seekor gajah adalah seperti ini, seekor gajah tidak seperti itu! Seekor gajah tidak seperti ini, seekor gajah adalah seperti itu!’

Mereka saling berkelahi dengan tinju-tinju mereka. Dan raja itu sangat gembira (melihat pemandangan itu).”

“Demikian pula, O, bhikkhu, para pengembara dari berbagai aliran itu juga buta, tidak melihat ….. dengan mengatakan:

‘Dhamma adalah seperti ini! …. Dhamma adalah seperti itu!’ “

Kemudian, Sang Bhagava mengungkapkan kotbah inspirasi ini:

Beberapa pertapa dan brahmana, demikian mereka disebut, Sangat terikat pada pandangan-pandangan mereka sendiri;
Orang yang hanya melihat hal-hal dari satu sisi Terlibat pertengkaran dan perselisihan

    Note:
    Sumber kisah di atas dari Tipitaka Udana 6.4.
    Dalam versi Jainisme, kisah ini ada dalam kitab Tattvarthaslokavatika, karangan Vidyanandi [Abad ke-9 M] dan Kitab Syādvādamanjari, karangan Ācārya Mallisena [Abad ke-13 M], yang dalam kisahnya bukan seorang raja namun seorang bijak dengan 6 orang buta, tentang Anekāntavāda [Tergantung persepsi] dan Syādvāda [ada persyaratan]: Kebenaran dan kenyataan punya banyak sudut pandang, tidak ada satu sudut pandangpun yang benar-benar secara utuh dapat menyatakan kebenaran. Kenyataan adalah sesuatu yang kompleks, tidak dapat dinyatakan dalam satu ekspresi tunggal untuk menggambarkan realitas seutuhnya sehingga terminologi “syāt” [mungkin/bisa jadi] seharusnya dipergunakan mendahului suatu pandangan yang memiliki suatu kondisi tertentu. Seorang semi biarawati Jainisme yaitu [Samani] Charitra Pragya, mengatakan, “Bahkan seorang Tīrthaṇkara yang memiliki pengetahuan tak terbatas-pun, tidak dapat secara utuh mengekspresikan realita karena terbatasnya bahasa yang merupakan ciptaan manusia

    Dalam versi Hindu, dikisahkan oleh Ramakrishna Paramahamsa [abad ke-18]. Sementara dalam versi Islam, kisah orang buta dan Gajah dikisahkan para sufi Persia abad ke-12 M yang bernama Hakim Abul-Majd Majdūd ibnu Ādam Sanā’ī Ghaznavi dan yang di abad ke-13 M oleh Jalāl ad-Dīn Muḥammad Rūmī.

Dunia ini dipenuhi orang-orang buta asal-usul ajaran namun berlagak melek dan menjadikan pengikutnya percaya membabi-buta.


Advertisements

51 thoughts on “Tuhan, Klaim Pepesan Kosong Si Buta Sejak Lahir Yang Menjelaskan Gajah!”

  1. Kebenaran Al Quran itu begitu nyata, bagi mereka yang berpikir. tak mungkin http://www.KeajaibanALQURAN.com ayat-ayat yang seperti itu buatan manusia, adalah jelas asli firman tuhan. Hindu itu penyembah jin iblis sama seperti agama kafir lainnya, budha justru sebenarnya atheis, mereka mengira diri mereka adalah tuhan. Hanya saja di Indonesia mereka mengesankan diri sebagai bertuhan budha supaya bisa masuk dan diterima di Indonesia yang berlandaskan Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Hidup manusia di dunia yang hanya sekali ini mereka kira mereka akan bisa hidup berulangkali di dunia ini, akibat mengira jin qarin pendamping manusia sebagai roh manusia yang sudah mati, salah sangka, akibat kebodohan mereka sendiri.

    Mereka mengira tuhan tidak ada hanya karena mereka tak mampu melihatNya, mereka tidak sadar bahwa sebagai mahluk, sebagai manusia, ciptaan Tuhan, kemampuan mata juga telinga dan segala indra tubuh manusia itu sangat terbatas, bahkan otak pikiran mereka itu pun sangat terbatas.

    Mereka bahkan lebih bodoh dan kurang dari manusia buta. Manusia buta itu tak mampu melihat, apalagi melihat tuhan, melihat gunung pun orang buta itu tak mampu, tapi mereka percaya, bahwa Tuhan juga gunung itu ada. dan jika mereka tinggal di dekat gunung berapi yang akan segera mengeluarkan lahar, maka orang buta itupun mau mengungsi supaya tidak konyol menjadi korban bencana gunung meletus. Jadi jangan dikira karena atheis tak percaya tuhan lantas tuhan itu tidak ada, dan mereka bisa bebas dari hukum Tuhan, No, semua manusia itu tak bisa lepas dari ketentuan hukum Allah. Sebagaimana juga jika taheis itu mengira dan tak percaya gunung itu ada, kalau gunung itu meletus dan mereka tak patuh perintah untuk mengungsi, maka mereka pun tak akan lepas dari bencana gubung meletus itu, karena gunung itu memang ada secara nyata, meski mereka pikir gunung itu tak ada.

    THINK.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s