Kisah Musa (Membelah Laut) di Hindu, Romawi/Yunani, Yahudi/Kristen, Islam & Logika


Kisah Musa ada di Hindu[↓], Romawi/Yunani[↓], Yahudi, Kristen/Nasrani dan Islam. Berikut ringkasan kisah Musa dari kalangan Abrahamik, berikut perbedaan antara keduanya:

Firaun memerintahkan bayi laki-laki yang baru lahir harus dibunuh, alasannya karena:

  • Alkitab: Jumlah bangsa Israel melebihi populasi Mesir, semakin ditindas, semakin banyak dan berkembang [Kel 1.9-12]
  • Islam: Alasan pembunuhan tidak dimuat di Quran, kecuali tertulis bahwa Firaun telah melampaui batas (AQ 20.24), namun tidak dijelaskan dalam hal apa. Penjelasan alasan hanya ada dalam tafsir, yaitu terkait dengan ramalan dan tentang inipun ada dua versi: (1) Ramalan dari kalangan Yahudi yang berasal dari Nabi Ibrahim bahwa keturunan Ibrahim kelak akan menghancurkan Firaun dan kerajaannya, berita ini diteruskan kaum Mesir ke Firaun [Tafsir Ibn Kathir AQ 28.1-4]. Riwayat Ibn Humayd – Salamah – Ibn Ishaq: ..waktu dekat kelahiran Musa, para peramal memberitahu firaun bahwa seorang anak yang dilahirkan orang Israel akan menghancurkannya dan kerajaannya, Lalu Firaun memerintahkan pembunuhan terhadap setiap anak laki-laki yang baru lahir.. [Tabari, Vol.3, hal.31-32]. Atau (2) Riwayat As-Saddi – Abu Shalih dan Abu Malik, – Ibnu Abbas – Murrah – Ibnu Mas’ud – Anas – sahabat Nabi, “Firaun mimpi ada kobaran api dari Baitul Maqdis mendekatinya, membakar kerajaan dan kaum Mesir, tetapi tidak kaum Israil di Mesir. Saat bangun Ia bertanya pada ahli ramal, mereka berkata bahwa kelak anak lelaki kaum Israel akan menyebabkan kehancuran Mesir [“Kisah Para Nabi“, Ibn Kathir, hal.389. Juga di Tabari, Vol.3, hal.34-37]

Karena khawatir akan bayinya, maka Ibu Musa menghanyutkannya di sungai. Bayi ini ditemukan dan diangkat anak oleh:

  • Alkitab: Anak perempuan Firaun (Kel.2.1-10) atau bat/anak perempuan – paraoh/firaun, namanya adalah: bat-yah/Bithiah, Di versi Josephus: Thermuthis (Ant-2, 9.5)
  • Islam: Istri Firaun (AQ 28.7-9). Di Quran tidak disebutkan namanya, hanya ada di tafsir (dan hadis), yaitu Asiyah binti Muzahim bin`Ubayd bin al-Rayyan bin al-Walid [Misal: Ibn Thalabi dalam “‘Ara’is Al-majalis Fi Qisas Al-anbiya”, hal.279]. Di Tafsir AQ 66.5: Di surga, Allah akan menikahkan Nabi SAW dengan: Asiyah/istri Firaun, Maryam binti ‘Imran/ibunda ‘Isa AS/Yesus dan Um khulthum/adik Musa) [Tafsir Samarqandi, Ibn kathir atau 4/495 pada surat at-Tahrim, tafsir Shaukaani; Juga IslamQA; “Muḥammad in the Modern Egyptian Popular Ballad” oleh Kamal Abdel-Malek, hal.59, dll]

Ketika Musa dewasa, dalam suatu kejadian di kota, Ia membunuh seseorang Mesir, karena takut kemarahan Firaun, Ia melarikan diri, hingga sampai di sebuah sumur di daerah Midian/Madyan, di sana Ia bertemu:

  • Alkitab: 7 perempuan anaknya imam di Midian. Musa menikah dengan salah satunya yaitu Rehuellah Zipora, (Kel 2.15-22), mertuanya bernama Yitro (Kel 3.1)
  • Islam: 2 perempuan dan Musa bekerja pada bapak perempuan itu selama 8/10 tahun, imbalannya Ia dinikahkan dengan anaknya (AQ 28.23-28), mertuanya bernama Nabi Syuaib. Tafsir Ibn Kathir AQ 28.28: Ulama tafsir berbeda pendapat mengenai siapa yang dimaksud dengan bapak wanita itu…ada yang mengatakan bahwa itu adalah Syuaib a.s. yang diutus oleh Allah kepada penduduk Madyan. Pendapat inilah yang terkenal di kalangan kebanyakan ulama, dan dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang.
    Riwayat Ibnu Abu Hatim – Abu Zarah – Safwan – Al-Walid – Abdullah ibnu Lahiah – Al-Haris ibnu Yazid Al-Hadrami – Ali ibnu Rabbah Al-Lakhami – Atabah ibnul Munzir As-Sulami – Rasulullah Saw: “Sesungguhnya Musa a.s. menjual jasa dengan imbalan pemeliharaan kemaluannya dan kebutuhan makannya“. Dalam Riwayat Abu Bakar Al-Bazzar – Umar ibnul Khattab As-Sijistani – Yahya ibnu Bukair – Ibnu Lahiah – Al-Haris ibnu Yazid – Ali ibnu Rabbah Al-Lakhami – Atabah ibnul Munzir: “..Nabi Saw. melanjutkan, “Sesungguhnya Musa a.s. ketika hendak berpisah dengan Syuaib a.s. menyuruh istrinya meminta pada ayahnya sejumlah ternak untuk bekal penghidupannya..“. Dalam riwayat Ibnu Abu Hatim: Riwayat Abu Zarah – Yahya ibnu Abdullah ibnu Bukair – Abdullah ibnu Lahiah; Riwayat Abu Zarah – Safwan – Al-Walid – Abdullah ibnu Lahiah – Al-Haris ibnu Yazid Al-Hadrami – Ali ibnu Rabbah Al-Lakhami – Atabah ibnu Munzir As-Sulami – Rasulullah Saw: “Sesungguhnya Musa menjual jasa dengan imbalan dikawinkan dan dipenuhi kebutuhan pangannya”…Rasulullah Saw:..Ketika Musa hendak berpisah dengan Syuaib, ia menyuruh istrinya untuk meminta ternak kambing dari ayahnya buat bekal penghidupannya…Ternak kambing Nabi Syuaib semuanya berbulu hitam lagi bagus..

Musa tinggal beberapa tahun di Midian/Madyan dan suatu hari Ia pergi ke Mesir:

  • Alkitab (alasan ke Mesir karena disuruh Allah): Musa menggembalakan kambing domba seperti biasanya, namun hari itu Ia menggiringnya ke seberang padang gurun hingga ke gunung Horeb (Kel 3.1). Di sana, Ia bertemu malaikat Tuhan (Kel.3.2: Malak Yahwe), mendengar suara dan berbicara dengan Tuhannya, Ia diangkat menjadi utusan untuk bertemu Firaun agar membawa keluar kaum Israel dari Mesir ke Kanaan, dalih ke Firaun tentang kepergian ke padang gurun selama 3 hari perjalanan adalah untuk mempersembahkan korban bagi Yahwe (Kel 3.3-10) namun Musa takut jika kaum Israel (dan Firaun) tidak percaya padanya, maka Ia diajarkan mukjizat (Kel 3.11-4.1). Ia kemudian pamit pada mertuanya dengan alasan ingin menjenguk sanak dan Ia mengajak istri dan kedua anaknya. Di perjalanan, ketika bermalam, TUHAN yang sama ini bertemu Musa malah berkehendak membunuh Musa, untung saja Zippora memotong kulit kemaluan anaknya dan menyentuhkannya ke kaki Musa, maka selamatlah Musa dari Tuhannya (Kel 4.2-26)
  • Islam (alasan ke Mesir awalnya atas kemauan sendiri): Tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan, Dia berangkat dengan keluarganya (AQ 28.29). Tafsir Ibn Kathir untuk ayat ini: Musa rindu dengan tanah kelahiran dan juga sanaknya, Ia bertekad mengunjungi mereka dengan sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Firaun dan kaumnya. Ia pergi bersama istri dan ternak kambing hasil pemberian mertua. Quran: Diperjalanan dilihatnya api di lereng gunung, Ia minta keluarganya menunggu, karena hendak mengambil api untuk suluh [AQ 20.10, 28.29], sesampainya di lembah Thuwa (AQ 79.16, 20.12), Ia disapa Allah [AQ 28.30] diajak bicara, diajarkan mukzijat. Allah menjadikan Musa dan Harun utusannya untuk bertemu Firaun karena Firaun tidak bertakwa, telah melampaui batas, agar disampaikan ayat-ayatNya dan membawa keluar kaum Israel dari Mesir [AQ 20.11-48; 26.10-17; 28.31-35]

Di Mesir, menurut Alkitab, alasan Musa bertemu Firaun adalah untuk menyatakan bahwa Ia diperintah Tuhan untuk membawa kaum Israel keluar dari Mesir, Firaun menolak dan terjadilah penekanan yang semakin keras terhadap kaum Israel. Sedangkan dalam versi Islam, alasan Musa bertemu Firaun adalah untuk melakukan dakwah dan membawa kaum Israel keluar Mesir. Terjadi adu argumentasi diantara mereka. Setelahnya, di kedua versi berlanjut dengan adu sihir antara anak buah Firaun dan Musa. Kemudian terjadi pemberian tulah, yaitu:

  • Alkitab: Tanda mukjizat ke-1: Tongkat menjadi ular (Kel 4.2-4) dan ke-2: Tangan yang berubah, ketika masuk baju, tangan kena kusta, putih seperti salju, saat ke-2x masuk baju, pulih (Kel.2.6-8) [Miryam pernah terkena Kusta, putih seperti salju, ini terjadi setelah mengatai Musa, ketika Musa mengambil perempuan Kush (Bil 12.10)]. Tentang jumlah tulah:
    (1) Air menjadi Darah, yaitu sungai Nil dan seluruh air di Mesir selama 7 Hari yang membuat ikan-ikan mati (Kel 7.17-25). Kaum Israel juga terkena getahnya, tidak dapat minum, juga tidak dapat makan ikan;
    (2) wabah katak (Kel 8.5-14);
    (3) wabah nyamuk (Kel 8.16.19);
    (4) wabah lalat pikat (Kel 8.20-32) daerah yang dikecualikan adalah Gosyen/Rameses (Kej 47.11);
    (5) wabah sampar: Pada ternak dan menjadi mati kecuali kepunyaan orang Yahudi, yaitu: kuda, keledai, unta, lembu sapi dan kambing domba. BABI TIDAK DISEBUTKAN.(Kel 9.3-7). Tanah Gosyen tempat ternak Firaun diperlihara (Kej 47.6), disebutkan bahwa manusia dan binatang dapat mati karena sampar (Kel 9.15);
    (6) Barah melanda seluruh Mesir, terkana pada manusa dan binatang, yang memecah membuat gelembung (Kel 9.8-11. Di ulangan 28.27,35: Barah Mesir dengan borok, kulit menjadi belang/kedal dan kudis. Di Imanat 13.20: Kusta timbul dari barah). Tidak disebutkan ada pengecualian terhadap kaum Israel maupun ternak mereka, kaum Israel pun terkena Barah;
    (7) hujan es guruh dan beserta api berkilat-kilat di tengah hujan es melanda Mesir kecuali Gosyen/Rameses (tempat ternak Firaun), membuat mati: manusia, binatang dan tanaman (Kel.9.18-25), tanaman yang mati adalah rami dan jelai (Kel.9.31-32). Di tulah sebelumnya, yaitu sampar, dikatakan bahwa seluruh ternak orang Mesir mati terkena sampar, tapi tampaknya tidak, sekarang dinyatakan (lagi) bahwa seluruh ternak orang Mesir mati akibat hujan es;
    (8) wabah belalang memakan habis pohon dan buah di seluruh Mesir (Kel.10.12-19), tidak disebutkan pengecualian, maka tetumbuhan dan buah-buahan orang Israelpun terkena getahnya;
    (9) keadaan gelap selama 3 hari (Kel.10.21-23), tempat orang Israel dikecualikan;
    (10) Orang Mesir memberikan emas dan perak (Kel.11.2-3);
    (11) kematian anak sulung: manusia dan hewan (Kel 10.4-6). Di 2 tulah sebelumnya, yaitu sampar dan hujan es, dikatakan bahwa seluruh hewan orang Mesir mati, namun lagi-lagi ternyata tidak.

    Alkitab telah menunjukan bahwa Yahwe tidak sesakti yang Musa anggap, terbukti dari tidak mati-matinya, ternak orang Mesir walaupun telah terkena tulah Yahwe

  • Islam: Musa dibekali 9 mukizat (AQ 27.12, 7.101), 2 diantaranya adalah tongkat jadi ular dan tangan dimasukan baju jadi putih bersinar (AQ 27.10,12) juga 5 lainnya: banjir (al-ṭūfāna), belalang, kutu, katak dan (air) darah (AQ 7.133), ke-8: kemarau panjang dan kekuarang buah-buahan (AQ 7.130) dan ke-9: kehilangan harta (AQ 10.88). Tentang tafsir untuk kata “al-ṭūfāna“/banjir: Dari Ibnu Abbas: yang dimaksud dengan topan ini adalah hujan besar yang menenggelamkan dan merusak semua tanaman dan buah-buahan. Juga dari Ad-Dahhak ibnu Muzahim. Riwayat lain dari Ibnu Abbas: yang dimaksud ialah banyaknya kematian. Juga dari Ata. Sedangkan Mujahid: yang dimaksud dengan topan ialah air bah dan penyakit taun/kolera. Dari Ibnu Jarir – (Ibnu Hisyam Ar-Rifai; Yahya ibnu Yaman; Al-Minhal ibnu Khalifah) – dari Al-Hajjaj – Al-Hakam ibnu Mina – Siti Aisyah – Rasulullah Saw: Topan artinya kematian. Juga dari Ibnu Murdawaih – Yahya ibnu Yaman, tetapi hadis ini garib. [Ibn Kathir untuk AQ 7.133]. Di Tabari: dari al-Suddi,: Allah mengirimkan banjir, yang adalah HUJAN LEBAT, semua harta mereka tenggelam [Tabari, vol.3, hal.59]. Di Jalalain: “air yang menembus rumah mereka selama 7 hari, hingga ke leher orang-orang ketika duduk“. Di Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs : “hujan terus-menerus, siang dan malam, dari Sabtu hingga Sabtu

    Sementara di Quran sendiri kata “al-ṭūfāna” merujuk pada banjir dahsyat sebagaimana tertulis di AQ 29.14, “..Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka 1000 tahun kurang 50 tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar (al-ṭūfānu)...

    Jadi di Islam, “al-ṭūfāna”/BANJIR DAHSYAT telah terjadi 2x yaitu di jaman NUH dan kemudian ternyata terjadi juga di jaman MUSA sebelum eksodusnya kaum Israel.

Setelahnya, Firaun tidak lagi menolak keinginan Musa, maka Ia membawa keluar kaum Israel dari Mesir ke padang gurun melalui laut dengan cara membelah laut, tapi kemudian, Firaun dan tentaranya mengejar mereka sehingga Firaun dan tentaranya ditenggelamkan di laut.

Populasi Mesir VS Populasi kaum Israel
Jika Musa hidup dikisaran 1250-an SM, perkiraan populasi Mesir waktu itu:

  • Herodotus (abad ke-5 SM): jaman firaun Amasis (abad ke-5 SM), populasi kota: 20.000 orang [History, buku ke-2.177]. Diodorus Siculus (90 SM-30 SM): Populasi Mesir abad ke-1 SM: 7 juta orang [Historical Library, buku ke-1 31.8]. Josephus: Populasi Mesir abad ke-1 M: 7.5 juta orang [War of the Jews, buku 2, 16.4]
  • Robert Feather: Populasi Mesir pada 3000 SM adalah 870.000 orang, pada 1250 SM adalah 2.6 juta orang [Robert Feather, The Copper Scroll Decoded: One Man’s Search for the Fabulous Treasures of Ancient Egypt. London, Thorsons/HarperCollins, 1999]
  • Kathryn A. Bard: Populasi Mesir 1250 SM adalah 3 juta s/d 3.5 juta orang [Encyclopedia of the archaeology of ancient Egypt, Kathryn A. Bard]


Populasi kaum Israel saat eksodus
Jumlah turunan Yakub disebutkan bervariasi jumlahnya (Yakub juga disebut Israel, Kej 32.23):

  1. Sewaktu eksodus: 600.000 pria tidak termasuk anak-anak juga orang berbagai bangsa dan mereka pergi dengan membawa hewan (kambing, domba, lembu dan sapi) dan adonan kue, tidak bawa bekal makanan (Kel 12-37-39), membawa perhiasan emas, perak dan kain-kain (Kel 11.2-3; Kel 12.35-36, 33.4-6),
  2. Di tahun ke-2 (Bil 1.1): 603.550 laskar pria berusia 20 tahun ke atas (Bil 1.20-46; 2.32, tidak termasuk suku Lewi).
    Di Islam, Quran tidak menyebutkan jumlah orang yang eksodus bersama Musa, namun ada dalam tafsir Tabari, riwayat Musa [b.Harun] – ‘Amr [b.Hammad – Asbat – al-Suddi]: 620.000 laskar pria, yang dihitung hanya yang berusia di atas 20 tahun sampai di bawah 60 tahun, sebagai tambahan anak-anak dan perempuan [Tabari, Vol 3. hal.64-65]
  3. Di tahun ke-2: Bangsa yang bersama Musa berjumlah 600.000 (Bil 11.21), jumlah ini adalah sesudah 3000 orang suku Lewi tewas saling berbunuhan sendiri pasca tragedi lembu emas di tahun ke-1 (Kel 32.28) dan sebelum Yahwe membunuhi kaum Israel dengan tulah, pada tragedi makan burung puyuh, yang di beberapa ayat berikutnya, sebagai hukuman tragedi burung, mereka akan mengembara 40 tahun lamanya (Bil 14.33-34)

Walaupun dengan jumlah yang sebesar ini (tidak termasuk bangsa lain yang bersama mereka), mereka masih saja ketakutan (Kel 14.10) terhadap 600 kereta kuda Firaun beserta Perwiranya (Kel 14.6-9).

    Note:
    Karena jumlahnya dianggap ganjil, maka terdapat argumen bahwa kata eleph pada “šêš mê’ōwṯ ’elep̄ ūšəlōšeṯ ’ălāp̄îm waḥămêš mê’ōwṯ waḥămiššîm” (603.550), seharusnya diartikan = “kepala/suku/pasukan/keluarga” BUKAN “ribuan/seribu”. Namun argumen ini terganjal penggunaannya kata elep di frase “jumlah lelaki sulung suku Lewi yang berusia 1 bulan ke atas” = 22.000 (Bil 3.39) vsjumlah lelaki sulung suku Israel yang berusia 1 bulan ke atas” = 22.273 (Bil 3.43) yang selisihnya = 273 orang (Bil 3.46)

Benarkah jumlah tersebut adalah populasi Israel?
Di sebelum kelahiran Musa, Firaun khawatir terhadap besarnya populasi Israel di Mesir, “Bangsa Israel itu sangat banyak dan lebih besar jumlahnya dari pada kita” (Kel 1.9), namun, jika merujuk pada jumlah di point ke-1 dan ke-3, sebagai jumlah populasi, maka kekhawatiran Firaun jelas berlebihan, kecuali jika merujuk ke point ke-2 (alkitab), yang mengindikasikan sebagai jumlah parsial, maka jika masing-masing-nya adalah anggota dari sebuah keluarga, sejumlah kurang lebih ada 4 orang lagi selain mereka [adik (1), istri (1), anak (1) dan orang tua (1 ibu-ayah atau salah satunya], maka populasi Israel saat terjadinya eksodus adalah sekitar 3 juta – 3.17 juta orang dan kekhawatiran Firaun menjadi benar adanya.

Dengan populasi sebesar itu (3 juta), kaum Israel seharusnya tidak perlu takut pada bangsa Mesir, tidak perlu juga eksodus, dengan jumlah sebesar itu, mereka dapat dengan mudahnya merebut kerajaan Firaun, bukan? (Selama 40 tahun eksodus di padang gurun dan juga setelahnya, tercatat bahwa mereka berperang dengan suku lainnya). Dengan jumlah sebesar itu, kaum Israel seharusnya merupakan suku yang sangat penting, anehnya tidak ada catatan tentang mereka dalam sejarah/inskripsi/tablet Mesir kuno.

    Note:
    Di hari eksodus dilakukan penyembelihan 1 ekor anak domba/kambing berusia 1 tahun per keluarga sebagai kurban bagi Allah (Kel 12.2-11), jika keluarga ini jumlahnya kecil, agar bergabung dengan tetangga terdekat, jika dianggap per 10 orang = 1 domba/kambing, maka para Israel yang katanya susah ini menyembelih anak domba/kambing sejumlah: 60 ribu (untuk 600 ribuan orang) atau 300 ribu (untuk 3 juga orang). Ritual kurban kaum Israel ada banyak, sekurangnya 3x setahunnya (Penebusan dosa, untuk Allah dan untuk pendamaian), Oleh karenanya, saat eksodus, per keluarga juga membawa ternak (kambing, domba, sapi lembu dan juga unggas), sekurangnya sepasang dari masing-masingnya, maka panjang barisan eksodus itu akan PULUHAN/RATUSAN KILOMETER panjangnya.

Implikasi lain dari poin ke-2 adalah jumlah yang eksodus hanya 1/5 dari populasi. Kata khamesh/Chamushim (Kel 13.18) menurut beberapa ulama agama mempunyai kaitan dengan “angka 5”, yaitu 1/5-nya (misalnya oleh Rabbi Yismail), jadi yang eksodus hanya 1/5 populasi, atau di kalangan nasrani maksudnya per 5 orang (lihat: komentator Nasrani) sehingga susunan dari mereka yang eksodus adalah per 5 orang, maka terdapat 120.000 baris (600 ribuan orang/5).

    Note:
    Dalam aturan baris berbaris, ref SK Pangab no.611/X/1985, disebutkan lebar langkah lambat = 40 cm, dari sini kita dapat mengukur jarak antar baris, yaitu 40 cm antar depan dan belakangnya + diri sendiri agar tidak bertabrakan saat melangkah, jadi, jarak antar baris 40 cm x 3 /2 = 60 cm

Dengan jumlah 1/5-nya-pun, panjangnya barisan/rombongan dari pertama hingga terakhir adalah 72 km (120 ribu baris x 60 cm) [di luar barisan ternak], apalagi jika jumahnya 5x-nya [di luar barisan ternak]. Dengan barisan yang luar biasa panjangnya ini, Sungguh aneh bahwa fenomena ini tidak ada dalam literatur kuno Mesir maupun negara lainnya, maka jumlah populasi mereka tentunya tidak berarti.

Berapa populasi Israel?
Musa adalah Piutnya Yakub: Levi (anak: wafat 137 tahun) – Kehat (cucu: wafat 133 tahun) – Amram (cicit/buyut: wafat 137 tahun) – Musa (Piut: 80 tahun saat eksodus) [Kej.46.11; Kel 6.15-19].



Yakub mengawini 2 anak perempuan Laban, yaitu: kakak (Lea) dan adik (Rahel). Lea melahirkan terlebih dahulu 6 anak laki dan 1 anak perempuan, setelah Lea tidak beranak lagi, barulah Rahel melahirkan Yusuf (Kej 30.19-21). Lewi adalah anak ke-3-nya Lea (Kej 29.31.34), Ia lebih tua dari Yusuf. Karena usia sapih menyusui adalah 3 tahun (2 Makabe 7:27 dan 2 Taw 31.16), maka selisih usia antara Lewi dan Yusuf adalah sekitar 12 tahun (4×3 tahun).


Yakub berusia 130 tahun saat tiba di Mesir (Kej 47.9) = Usia Yusuf 39 tahun (usia 30 tahun bertemu Firaun, Kej 41.46 + 7 tahun masa berlimpah, Kej 41.53 + 2 tahun masa kelaparan, ketika Yakub sekeluarga tiba di Mesir, Kej 45.6) dan Yakub wafat di Mesir pada usia 147 tahun (Kej 48.28).

Jumlah Yakub sekeluarga saat tiba di Mesir = 70 orang (kita abaikan perbedaan jumlah antara PL VS PB (KPR 7.14), bahwa jumlah = 75 orang), yaitu dari istri: Lea (33 orang) + Zilpa (16 orang) + Rahel (14 orang) + Bilha (7 Orang) [Kejadian 46.5-27; Keluaran 1.1-5] yaitu: 68 Pria (Yakub + 12 anak + 51 cucu + 4 cicit) dan 2 wanita (Dina anak perempuannya dan Serah cucunya dari Asyer), Yakub tidak disebutkan beranak lagi setelah di Mesir, sehingga hanya 67 pria yang kemungkinan beranak-pinak sampai eksodus di jaman Musa:

  • saat Yusuf lahir, Yakub berusia 91 tahun (130 – 39 tahun),
  • saat Lewi lahir, Yakub berusia 79 tahun (91 – 12 tahun),
  • saat tiba di Mesir, Yakub berusia 130 tahun, Lewi berusia 51 tahun (130-79 tahun) atau 48 tahun (“Wasiat Levi” no.58),
  • saat Kehat lahir, Lewi berusia 35 tahun (Wasiat Lewi no.51), saat di Mesir, Kehat berusia 13/16 tahun (48/51 – 35),
  • saat Amram (cucu Levi dari Kehat) dan Yokhebed (anak perempuan Lewi) lahir, Lewi berusia 64 tahun (Wasiat Lewi no.55, 57), Kehat berusia 29 tahun (64 – 35 tahun), Jarak tahun saat tiba di Mesir sampai Amran/Yokhebed lahir = 13/16 tahun 
  • saat Amram mengawini Yokhebed, Lewi berusia 94 tahun (Wasiat Lewi no.57), Kehat berusia 49 tahun (94 – 35 tahun), Amram berusia 30 tahun,
  • saat Musa lahir, Yokhebed berusia 130 tahun (Midrash Rabbah 1.19), artinya kaum Israel sudah 143/146 tahun di Mesir (13/16 + 130 tahun) atau menurut sumber lain, jarak waktu antara wafatnya Levi – Musa = 48 tahun (“The Annals of the World”, James Ussher, hal.34), artinya saat Musa lahir: kaum Israel sudah 134/137 tahun di Mesir (137 – 48/51 + 48) dan Yokhebed berusia 121 tahun (137 – 64 + 48). Usia Yokhebed melahirkan ini bahkan jadi lebih tua dari Sarah (istri Abraham, yaitu 90 tahun, Kej 17.17)


Menurut Alkitab, lama jarak tahun saat di Mesir sampai Eksodus adalah 400 tahun (Kej 15.13) / 430 tahun (Kel 12.40-41), namun jika merujuk pada jumlah umur para ayah saat mereka lahir sejak di Mesir hingga Musa berumur 80 tahun saat eksodus, maka hanya: 134/137 atau 143/146 (hingga Musa lahir) + 80 (usia Musa saat eksodus) = 214/217 atau 223/226 tahun

  • Tabari: Riwayat Ibn Humayd – Salamah b.Al-Fadl – Muhammad b.Ishaq: Seseorang selain Ibn Ishaq berkata: Lewi lahir ketika Yakub 89 tahun, Kohat lahir ketika Lewi berusia 46 tahun, Izar/Yizhar lahir dari Kohat, Amram lahir dari Izar/Yizhar. Amram dan Jochebed lahir, ketika Izar/Yizahar berusia 60 tahun..Musa lahir dari Amram ketika Amran berusia 70 tahun.. [Tabari, Vol.3, hal.30-31. Di Alkitab, Amram dan Izar adalah saudara kandung karena keduanya anak Kohat, Kel.6.17], maka maka jaraknya adalah 210 tahun [60+70+80 tahun].
  • Josephus: Jarak wafatnya Yusuf dan Musa adalah 4 generasi sejumlah hampir 170 tahun [“Against Apion” buku ke-1 no.35], oleh karena Yusuf wafat di usia 110 tahun [Kej 50.22, 26], Ia hidup 71 tahun (110-39 tahun) sejak Yakub sekeluarga tiba di Mesir, sehingga lama waktu kaum Isrel di Mesir sampai eksodus, jika mengikuti petunjuk Josephus, adalah hanya: 241 tahun

Dari jumlah keturunan, anak-anak Yakub tidak satupun yang beranak hingga 12 orang, yang punya anak terbanyak, hanyalah Benyamin, hingga 10 orang, oleh karenanya, dari 51 cucu dari 12 anak Yakub (Ruben s.d Naftali) rata-ratanya 4.25 anak/anak Yakub dan 1/52-nya, wanita:

  • Generasi ke-1/Lewi (Yakub, anak, cucu dan cicit) = 68 pria;
  • Generasi ke-2/Kehat: 67 x 4.25 = 280 pria;
  • Generasi ke-3/Amran: 280 x 4.25 = 1,168 pria;
  • Generasi ke-4/Musa: 1,168 x 4.25 = 4,869 pria

Sehingga 1/5-nya = 974 pria, adalah jumlah yang bersama Musa (jika per 5 orang, maka panjang barisan adalah 589 m), oleh karenanya, wajar saja mereka takut berhadapan dengan 600 kereta kuda Firaun lengkap beserta perwiranya (Kel 14.6-9), bukan? [Selebihnya lihat di sini, sini, sini, sini].

yam suph
Kata ini ditranslasi ke Yunani menjadi “laut merah” padahal “Suph” artinya bukan “merah” namun “alang-alang” [Kenneth Kitchen, “On the Reliability of the Old Testament” (Eerdman’s, 2003), pp.261-263], jadi seharusnya adalah “lautan alang-alang” [sea of the reeds]. Terjemahan menjadi laut merah adalah terjemahan bahasa Yunani (Erythra Thalassa/Ἐρυθρὰ Θάλασσα) dan Latin (Mare Rubrum; Sinus Arabicus; arti literal = “teluk Arab”).
Ada yang mengkaitkan nama “laut merah” dengan musim ramainya sejenis alga [Trichodesmium erythraeum] yang berwarna merah (lihat foto), warnanya tidak merah. Lainya mengatakan nama laut merah berasal dari suatu suku lokal yang mempuyai nama “merah” yaitu Himyarit. Lainnya lagi dan lebih digemari para ahli adalah kata “merah” digunakan untuk “arah selatan” mata angin. Warna arah utara adalah “hitam”, di mana laut hitam berada. Dasar argumen warna karena warna sebagai arah telah digunakan luas di beberapa kebudayaan tua dunia [Asia, Amerika, Turki] yang menggunakan warna sebagai arah mata angin. Herodotus memberikan nama laut di selatan sebagai “laut merah/Erythraian” (Buku ke-1.11; ke-4.37).

Berikut petikan kisah Musa di Islam dan Ibrani/Nasrani ketika membelah laut dan menenggelamkan Firaun dan tentaranya:

  • Kemudian (Firaun) HENDAK MENGUSIR MEREKA dari bumi (Mesir) itu, maka Kami tenggelamkan dia serta orang-orang yang bersama-sama dia seluruhnya, dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil: “Diamlah di negeri ini, maka apabila datang masa berbangkit, niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur (dengan musuhmu)” [AQ 17.103-104]

    ALLAH QURAN VS ALLAH ALKITAB, pastilah berbeda, karena di Alkitab, FIRAUN TIDAK MENGUSIR ORANG ISRAEL:

    ..Tetapi AKU TAHU, RAJA MESIR TIDAK AKAN MEMBIARKAN KAMU PERGI, kecuali dipaksa tangan yang kuat..sesudah itu IA AKAN MEMBIARKAN KAMU PERGI. Dan AKU AKAN MEMBUAT ORANG MESIR BERMURAH HATI KEPADA BANGSA INI, sehingga, apabila kamu pergi, kamu tidak pergi dengan tangan hampa,..[Kel.3.19-21]

  • Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering dilaut itu[933], kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)”.Maka Firaun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka. [AQ 20:77-78]
    [933]Membuat jalan yang kering di dalam laut itu ialah dengan memukul laut itu dengan tongkat. Lihat ayat 63 surat Asy Syu’araa.
  • Maka Firaun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Lalu Kami wahyukan kepada Musa: ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu‘ Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar“.Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu.[AQ 26:60-66]
  • Demikianlah tiang itu berdiri di antara tentara orang Mesir dan tentara orang Israel; dan oleh karena awan itu menimbulkan kegelapan, maka malam itu lewat, sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain, semalam-malaman itu. Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu. Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka. Orang Mesir mengejar dan menyusul mereka–segala kuda Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda–sampai ke tengah-tengah laut. Dan pada waktu jaga pagi, TUHAN yang di dalam tiang api dan awan itu memandang kepada tentara orang Mesir, lalu dikacaukan-Nya tentara orang Mesir itu. Ia membuat roda keretanya berjalan miring dan maju dengan berat … Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Ulurkanlah tanganmu ke atas laut, supaya air berbalik meliputi orang Mesir, meliputi kereta mereka dan orang mereka yang berkuda.” Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, maka menjelang pagi berbaliklah air laut ke tempatnya, sedang orang Mesir lari menuju air itu; demikianlah TUHAN mencampakkan orang Mesir ke tengah-tengah laut. Berbaliklah segala air itu, lalu menutupi kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun, yang telah menyusul orang Israel itu ke laut; seorangpun tidak ada yang tinggal dari mereka. Tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut, sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka. [Keluaran 14.20-29]

    Kereta Firaun dan pasukannya dibuang-Nya ke dalam laut; para perwiranya yang pilihan dibenamkan ke dalam Laut Teberau. Samudera raya menutupi mereka; ke air yang dalam mereka tenggelam seperti batu. [Kel.15.4-5]

Di jaman ini, beberapa berusaha membuktikan kejadian membelah air saat eksodusnya Musa, misal “AntaraNews.com[↓] yang mengutip dari “ucar.edu[↓] lewat rekontruksi simulasi komputer ini dilakukan Carl Drews dan Weiqing Han tentang bagaimana angin Timur dengan kecepatan tinggi membuat air laut tersibak.




Dalam rekontruksinya Carl Drews dan Weiqing Han:

  • Kecepatan angin 101 Km/jam harus terjadi selama 12 jam, agar laut dengan kedalaman 1.8 M dapat terdorong dan membentuk dataran kering sepanjang 3.2km – 4km dengan lebar 4.8km yang akan bertahan selama 4 Jam
  • Angin tersebut hanya akan menyibak 1 bagian saja, yaitu bagian yang berisi air, di mana angin hanya mendorong air menjauh dari sisi lainnya namun tidak membelah dua air laut

Informasi Alkitab [dan Qur’an] menyatakan bahwa kedalaman laut yang dibelah Musa tidak dangkal [Yesaya 51:10; Kel 15:5] BUKAN 1.8 M saja. Di teluk Aqaba, ketika ada klaim tentang penemuan tulang manusia dan roda kereta, penemuan itu ada pada kedalaman 18 M s/d 60 M. Sementara kedalaman teluk Aqaba sendiri berkisar antara 1600 M s/d 1800 M. Kemudian, di antara laut Merah – teluk Aqaba dan di antara dataran Sinai – semenanjung Arabia terdapat selat Tiran dengan kedalaman 290 M. Panjang lintasan antara dua daratan tersebut adalah 13 KM s/d 18 KM.

    Note:
    Tahun 1912 kapal TITANIC yang mengangkut 1553 orang, tenggelam dan 73 tahun tahun kemudian, dilakukan penyelaman dengan peralatan modern namun TIDAK DITEMUKAN 1 tulangpun, karena habis oleh biota laut dan asinnya air laut. Jika 73 tahun seperti itu, maka di 3000 tahun, tidak mungkin ditemukan 1 tulang utuh. William H. Shea, dari Institut riset Alkitab tentang Roda kereta perang: Itu BUKAN dari bangsa Mesir tapi dari bangsa Assyrian/abad ke-8 SM, ada perbedaan ketebalan roda dan janggal setelah 3000 tahunan terbenam di laut, ditemukan masih sangat terawat.

Kaum Israel bersama Musa keluar dari tanah Gosyen (47.1-6)/Raamses/Rameses (47.11) ke Sukot (Kel 12.37. Arti sukot = Persinggahan) lewat tengah malam/14 Nissan (Kel 11.4; 12.29-30, “bangunlah Firaun pada malam itu“. sistem waktu Mesir = sistem waktu kaum Israel), dari Sukot menuju Etam (Kel 13.20), dari Etam menuju tepi laut/Baal-zefon/Pi-hahirot (Kel 13.20-14.2) dan berkemah di tepi laut. Bahkan sampai dengan tampaknya keberadaan Firaun dan tentaranya, rombongan eksodus masih belum menyeberang laut (Kel 14.2-20). Pada Keluaran 14.20 ada kata “machăneh” (arti: tenda/kemah) yang digunakan kepada rombongan Israel dan tentara Mesir, maka baik tentara Mesir dan Israel juga mendirikan kemah di jarak yang tidak jauh. Di malam harinya, rombongan kaum Israel bergerak hanya setelah laut terbelah dan mereka pun menyeberangi laut. Di malam hari yang sama tentara Mesir bergerak mengikuti mereka (Kel 14.20-23). Saat menjelang pagi rombongan Firaun ditenggelamkan. Lamanya hari sejak keluar dari Rameses/Raamses sampai dengan tenggelamnya Firaun adalah 7 hari (21 Nissan).

    Note:
    Tidak satupun ahli (Taurat, Alkitab, Bahasa, apalagi Arkeolog) yang tahu lokasi keberadaan Sukot dan Etam di padang gurun (oleh karenanya banyak variasi pendapat tentang rute eksodus dan jaraknya), namun yang pasti adalah seluruh tempat singgah sebelum menyeberang laut, berada dalam lingkup Mesir.

Rata-rata kecepatan manusia ketika berjalan atau berlari:

  • Jalan: lambat [4km/jam]; normal [6.5km/jam] dan cepat [8-10km/jam]
  • Berlari: 13 to 21 km/jam.


Karena rombongan menempuh perjalanan pada malam dengan jumlah yang sangat besar (termasuk ternak, perabotan dan perhiasan mereka), maka laju perjalanan seharusnya sangatlah lambat, yaitu dengan kecepatan 4km/jam, oleh karenanya, total waktu tempuh dengan jarak 13 KM s.d 18 KM akan ditempuh selama 3 s/d 4 jam.

Pada jam 02.00 s/d 06.00 [Waktu jaga pagi], Tuhan mengacaukan tentara Mesir sehingga kereta-kereta tentara Mesir menjadi rusak dan menjadi kesulitan bergerak (Kel 14.24). Di sepanjang malam, Musa, dengan bantuan angin Timur membelah laut dan membuat laut menjadi tanah kering (Kel.14.21), sementara tentara Mesir bergerak ke laut sekitar jam 02.00 malam (Kel 14.24) sampai ke tengah laut di menjelang pagi (kel 14.27), karena tidak tersusul-susul hingga tengah laut, kecepatan Firaun dan tentaranya tentunya kurang lebih menjadi sama dengan rombongan kaum Israel, yaitu 4 KM/jam, oleh karenanya, rombongan kaum Israel, berangkat sekitar 4 jam-an sebelumnya Allah merusak roda tentara Mesir dan upaya Musa, mulai sekitar 4 jam-an saja sebelum rombongan kaum Israel mulai menyebrang.

    Note:
    Di area sekitar teluk Aqaba, laut Merah dan Sinai angin yang bertiup BUKAN angin Timur. 95% angin yang bertiup adalah angin Utara, sisanya angin Selatan. Yang lebih keras bertiup adalah angin Selatan, mereka menyebutnya “Hamasin” [lihat di sini, di sini dan di sini]

Simulasi Drew dan Han mensyaratkan untuk menghempaskan air dengan kedalaman 1.8 M sepanjang 3.2 KM s/d 4 KM dengan kecepatan angin 101 km/jam diperlukan waktu 12 jam. Terdapat kalimat, “air itu sebagai tembok bagi mereka” (Kel 14.22) oleh karenanya, air laut itu haruslah menjadi berbentuk tembok air setinggi 1.8 M. Karena waktu yang dimiliki Musa hanya sekitar 4 jam-an [bukan 12 jam], maka kecepatan angin seharusnya bukan lagi 101 km/jam melainkan hingga 3x nya, sampai 300 Km/jam dan angin dengan kecepatan rata-rata > 200 km/jam, menurut skala Saffir-Simpson masuk pada skala 5: SUPER TOPAN. Kemudian, dikatakan terdapat kereta tentara Mesir (diameter roda hingga 2 M) [Kel 14.7-9] berikut panji kerajaan, maka ketinggian tembok air agar berada di atas mereka, sekurangnya 4 M, maka sekeras apa lagi kecepatan angin agar dapat menghasilkan tembok air setinggi itu? ini jauh melebihi SUPER TOPAN, bukan? Sekarang, bagaimana dengan kedalaman hingga 290 M? dan lintasan sepanjang 13 KM s/d 18 KM? Apakah kecepatan angin masih juga sama? Seharusnya tidak..

  • ..Allah berfirman pada Musa: “pukul laut dengan tongkatmu!” Musa mengikuti yang diperintahkan. Angin dahsyat bertiup..dan dalam sekejab laut terbelah, gelombang laut tegak berdiri setinggi gunung di setiap sisinya [“Stories of The Prophets“, Ibn Kathir]. Setelah air terpisah menjadi seperti gunung yang besar, Allah mengirim angin untuk mengeringkan dan mengeraskan daratan agar bisa dilalui [Tafsir Ibn Kathir AQ 20.77-79]
  • Ibn Mas`ud, Ibn `Abbas, Muhammad bin Ka`b, Ad-Dahhak, Qatadah dan lainnya: “laut terbelah seperti Gunung yang besar“. `Ata’ Al-Khurasani: “ini seperti sebuah jalan di antara 2 gunung“. ‘Ibn `Abbas: “Laut terbelah menjadi 12 jalur, setiap jalur untuk setiap suku’‘ As-Suddi menambahkan, “di dalamnya ada jendela-jendela yang mereka bisa melihat satu dengan lainnya dan airnya menegak seperti dinding” [Tafsir Ibn kathir AQ 26.63-66]


…maka, ini lebih sadis lagi…

Kecepatan angin sekeras apa yang harus bertiup selama 4 jam agar dapat menghasilkan ketinggian tembok air seperti ‘gunung yang besar’ dan/atau bahkan menjadi 12 jalur?! Bagaimana mungkin tidak ada satu manusia-pun yang beterbangan oleh kekuatan angin yang sangat gila ini, padahal tentara Mesir bukan kesayangan Tuhan, mengapa mereka dapat sampai ke tengah laut TANPA tersapu angin? [Untuk kejanggalan lainnya buka di sini dan di sini]

Drews dan Han pun RAGU BAHWA rombongan kaum Israel mampu berjalan melintasi laut di bawah kuatnya tekanan angin sekuat itu, tapi mereka tidaklah sendirian, bahkan Rabbi Yahudipun ragu, misalnya Rabbi David Wolpe, di artikel “L.A Times” tahun 2001, yaitu “Doubting the Story of Exodus“, Ia mengakui bahwa kisah MUSA membelah LAUT MERAH tidak benar-benar terjadi

Sementara beberapa lainnya, menjadikan kisah Musa membelah laut dan tenggelamnya Firaun, sebagai klaim syiar, misal Republika” (dan situs lainnya) bahwa gara-gara ditemukannya unsur garam di jazad mumi Firaun, maka Bucaille masuk Islam[↓]. Klaim ini sangatlah menggelikan, karena disamping Bucaille adalah dokter medis yang berpengalaman selama 37 tahun, Ia juga ahli pencernaan. Ia tahu pasti kegunaan unsur garam (garam umum: Sodium Klorida; Natron: campuran Sodium Karbonat, sodium bikarbonat dan sodium sulfat) PADA PROSES pengawetan/Pembalseman sebagai unsur utama mengatasi proses pembusukan akibat kelembaban. Dalam teknik pembalseman Mesir kuno, tubuh para mumi Mesir dikeringkan dengan menggunakan Natron [Garam], yaitu: Sodium/natrium karbonat [agen pengering], Sodium/natrium bikarbonat [Ketika mengalami kelembaban, akan meningkatkan pH dan menghambat bakteri pembusuk], natrium klorida [garam, penyeimbang asam-basa] dan natrium sulfat [Osmo regulator]. Natron tersedia melimpah di sepanjang sungai Nil. Herodotus (484 – 425 SM) menyampaikan penggunaan garam pada proses pembalseman, “…mereka menyimpannya untuk pembalseman menutupinya dengan natron/garam selama 70 hari…” [“The History of Herodotus”, Buku ke-2: Euterpe, no.86]

G. Elliot Smith (yang namanya dikutip Bucaille dibukunya), menyatakan ‘Dapat dengan yakin dinyatakan bahwa di sebagian besar periode, garam umum adalah bahan pengawet penting yang digunakan orang Mesir untuk membalsem‘ [“A Contribution to the Study of Mummification in Egypt”, G. Elliot Smith, p.18. Lihat: “ANCIENT EGYPTIAN MATERIALS & INDUSTRIES”, A. Lucas, hal.313]. Dari beberapa sample yang diteliti A. Lucas, Ia menyampaikan:

  • Mumi yang mengandung garam umum, misalnya: 2 mumi dinasti ke-12, Firaun ke-13 dinasti ke-18: Tutankhamun [hal.314], Firaun ke-4 dinasti ke-19: Mernetaph, untuk mumi ini, A.Lukas bahkan menyatakan: “Garam, ada, tetapi dalam jumlah yang sangat kecil, sebagian besar tidak terlihat mata telanjang, meski ada beberapa area yang sangat kecil di mana terdapat kemekaran kristal garam kecil, begitu kecilnya sehingga tidak segera dapat hanya dilihat tanpa lensa“, mumi dinasti ke-17, mumi perempuan, Nsikhonsou dinasti ke-21, mumi abad ke-5 M [Hal.315].
  • Mumi yang mengandung Natron, misalnya: mumi dinasti ke-11/12 (kerajaan tengah, Mesir), mumi dinasti ke-12, 2 mumi perempuan dan 1 mumi anak kecil dinasti ke-18 [hal.319].

Apakah karena ditubuh para mumi di atas ditemukan unsur garam, mereka juga tenggelam dilaut? Tentu tidak, bukan? Jadi, mayat siapapun, ketika dibalsem dengan metoda Mesir kuno tertentu, TANPA TENGGELAM DI LAUT, jika tubuhnya diuji, PASTI AKAN DITEMUKAN UNSUR GARAM.

Untuk teknik pembalseman lain, misalnya mumi Rosalia Lombardo, berusia 2 tahun, dari Palermo, sisilia). Ia wafat 6 December 1920 akibat pneumonia/radang paru. Ia terlihat segar bagaikan tidur. Proses pembalsemannya menggunakan teknik modern, salah satu unsur yang digunakan adalah garam seng. Apakah karena ada unsur garam seng, maka mumi manis ini juga tenggelam di laut, juga?

Mayat Firaun: Tenggelam atau Tidak?

    serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya DAN KAMI TENGGELAMKAN Firaun dan pengikutnya (wa-aghraqnaa aala fir’awna)..[AQ 8.54, turun di urutan ke-88]

    Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu DAN KAMI TENGGELAMKAN Firaun dan pengikutnya (wa-aghraqnaa aala fir’awna) sedang kamu sendiri menyaksikan[47] [AQ 2.50, turun di urutan ke-87]

      [47] Waktu Nabi Musa a.s. membawa Bani Israil ke luar dari negeri Mesir menuju Palestina dan dikejar oleh Firaun, mereka harus melalui laut Merah sebelah Utara. Maka Tuhan memerintahkan kepada Musa memukul laut itu dengan tongkatnya. Perintah itu dilaksanakan oleh Musa hingga belahlah laut itu dan terbentanglah jalan raya ditengah-tengahnya dan Musa melalui jalan itu sampai selamatlah ia dan kaumnya ke seberang. Sedang Firaun dan pengikut-pengikutnya melalui jalan itu pula, tetapi di waktu mereka berada di tengah-tengah laut, kembalilah laut itu sebagaimana biasa, lalu tenggelamlah mereka [Tafsir Jalalain]

      Hari Ashura [Arab = kesepuluh] diperingati kaum Yahudi dan Sunni atas selamatnya Musa dan kaum Yahudi dari kejaran musuh [Tafsir Ibn kathir; Hadis Bukhari 3.31.222] tapi Kaum Syiah merayakan Ashura adalah sebagai peringatan atas wafatnya Husain bin Ali [cucu nabi Muhammad] yang dimutilasi sesama Muslim pada perang Karbala [10 Muharam, 61 H]

    dan biarkanlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentara yang AKAN DITENGGELAMKAN [AQ 44.24, turun di urutan ke-64]

    Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka LALU KAMI TENGGELAMKAN MEREKA SEMUA (fa-aghraqnaahum ajma’iina), [AQ 43.55, turun di urutan ke-63]

    Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Firaun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Firaun itu TELAH HAMPIR TENGGELAM (adrakahu al-gharaqu) berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu[704] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. [AQ 10.90-92, turun di urutan ke-51]

      [704] Yang diselamatkan Allah ialah tubuh kasarnya, menurut sejarah, setelah Firaun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir

      Tafisr Ibn Kathir untuk AQ 10.90-92:
      Ibnu Abbas dan para salafi lainnya: “Beberapa Bani Israel meragukan kematian Firaun sehingga Allah memerintahkan lautan untuk melemparkan tubuhnya – utuh, tanpa jiwa – lengkap dengan baju besinya yang terkenal. Tubuh itu dilemparkan ke tempat yang tinggi di tanah itu sehingga Bani Israel dapat memastikan kematian dan kehancurannya” [Juga tafsir Jalalain AQ 10.92]

    Kemudian (Firaun) hendak mengusir mereka (Musa dan pengikut-pengikutnya) dari bumi (Mesir) itu, MAKA KAMI TENGGELAMKAN DIA (Firaun) (fa-aghraqnaahu) dan orang-orang yang bersamanya seluruhnya (waman ma’ahu jamii’aan) [AQ 17.103, turun di urutan ke-50]

    Dan KAMI TENGGELAMKAN (aghraqnaa) GOLONGAN YANG LAINNYA (al-aakhariina). [AQ 26.66, turun di urutan ke-47]

    Kemudian Kami menghukum mereka, MAKA KAMI TENGGELAMKAN MEREKA (fa-aghraqnaahum) di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu [AQ 7.136, turun di urutan ke-39]

Wahyu Allah di atas, KACAU dan saling bertentangan. Dari 8 ayat tersebut, HANYA surat Yunus (AQ 10.90-92) yang menyatakan mayat Firaun DISELAMATKAN (ke DARAT), sedangkan 7 ayat lainnya, yaitu: 3 ayat [turun sebelum surat Yunus: AQ 7.136; 26.66 dan 17.103] dan 4 ayat [turun setelah surat Yunus: AQ 43.55; 44.24, 2.50 dan 8.54], seluruhnya, menyatakan bahwa Firaun mati tenggelam.

Di Islam terdapat prinsip Nash [Pembatalan] dan Manshuk [Penggantian] (misal di: AQ 2:106, 16:101, 13:39 17:86, dan 22:52) yang diterapkan jika terdapat hukum yang saling bertentangan dan bukan melengkapi, bahwa yang diturunkan belakangan MEMBATALKAN hukum sebelumnya. AQ 43.55 TURUN LEBIH BELAKANGAN dari AQ 10.92 dan di ayat tersebut Firaun dinyatakan tenggelam, maka AQ 43.55, MEMBATALKAN AQ 10.92.

Konsekuensinya, seluruh kitab Abrahamik, berada pada posisi sama yaitu mayat firaun tetap tenggelam.

Benarkah Dr Bucaille Mualaf?
Sampai wafat di tanggal 17 Februari 1998, Bucaille tetap non-Muslim. [Juga lihat di sini, di sini. Juga lihat di sini, Ia tidak tercantum sebagai Muslim dan di sini]

Apa yang sebenarnya ditemukan oleh Bucaille?
Di “The Bible, The Qur’an and Science” [1976], Bucaille menyampaikan informasi tentang kondisi mumi Merneptah (anak Ramesses II), namun sampai buku tersebut dicetak, HASIL PEMERIKSAANNYA BELUM ADA:

    Elliot Smith membuka lapisan pembungkus mumi pada tanggal 8 Juli 1907. Ia jelaskan rinci deskripsi pengerjaan dan pemeriksaannya atas mayat di bukunya The Royal Mummies (1912).

    Pada waktu itu mumi dalam keadaan terawetkan baik walaupun ada beberapa bagian yang rusak/memburuk. Sejak itu mumi dipamerkan kepada pengunjung Musium Kairo dengan kepala dan leher terbuka, sedangkan bagian lainnya tertutup…

    Pada tahun 1975 para penguasa tinggi Mesir mengijinkan saya memeriksa bagian-bagian tubuh Firaun … Jika kita dibandingkan keadaan mumi sekarang dan pada 60 tahun lalu, sangat jelas bahwa Ia mengalami kerusakan dan bagian-bagiannya hilang. Kain pembalut mumi banyak yang hancur, baik karena tangan manusia ataupun oleh waktu.

    Kerusakan alami ini mudah dijelaskan karena perubahan kondisi penyimpanan ketika ditemukan di akhir abad ke-19 setelah terbaring 3000an tahun lebih di makam Nekropolis, Thebes. Jaman ini mumi dipamerkan dalam wadah kaca sederhana yang tidak kedap udara, juga tidak terlindungi dari polusi mikroorganisme. Mumi terpapar fluktuasi suhu dan perubahan kelembaban musiman: adalah sangatlah jauh dari kondisi-kondisi yang memungkinkannya tetap terlindungi terhadap sumber kerusakan apapun selama sekitar 3000 tahun. Ia mengalami kehilangan perlindungan yang diberikan pembungkusnya dan dari keuntungan karena tetap dalam lingkungan makam tertutup yang suhunya lebih konstan dan lebih sedikit udara lembab daripada di Kairo pada musim-musim tertentu. Tentu saja, ketika di Necropolis sendiri, mumi harus bertahan dari kedatangan penjarah kuburan (mungkin di saat awal) dan pengutil/hewan pengerat: Penyebab sejumlah kerusakan, tetapi biar bagaimanapun keadaannya (tampak) jauh lebih untung baginya untuk bertahan di ujian waktu daripada sekarang.

    Atas saran saya, dilakukan investigasi khusus selama pemeriksaan mumi di bulan Juni 1975, sebuah studi radiografik yang sangat baik telah dilakukan dokter El Melegy dan Ramsys, dan pemeriksaan Thorax melalui celah pada dinding dada dilakukan dokter Mustafa, juga pemeriksaan perut. Ini adalah kali pertamanya endoskopi diterapkan pada mumi. Teknik ini memungkinkan kita untuk melihat dan memotret beberapa detil penting dalam tubuh. Profesor Ceccaldi melakukan studi forensik medik umum (general medico-legal yang akan dilengkapi pemeriksaan mikroskopis untuk beberapa fragmen kecil yang terjatuh spontan dari tubuh mumi, yang akan dikerjakan oleh Profesor Mignot dan Dokter Durigon. DENGAN MENYESAL SAYA KATAKAN BAHWA PERNYATAAN PASTI TIDAK DAPAT DIBUAT KETIKA BUKU INI DICETAK [note: November 1975, edisi pertama Perancis]

    Apa yang mungkin dapat diturunkan dari pemeriksaan adalah ditemukan banyak lesi (kerusakan jaringan) tulang dengan lubang luas, beberapanya mungkin terjadi setelah kematian yang meski BELUM MUNGKIN UNTUK DAPAT DIPASTIKAN apakah beberapa terjadi sebelum atau setelah kematian Firaun. Besar kemungkinan Ia wafat karena tenggelam, MENURUT NARASI KITABIAH, atau dari guncangan sangat keras yang mengawali saat tenggelamnya, atau sekaligus keduanya.

    Hubungan kerusakan-kerusakan jaringan ini dengan kerusakan yang sebab-sebabnya telah disinggung di atas membuat pelestarian yang benar terhadap mumi Firaun ini entah bagaimana bermasalah, kecuali jika tindakan pencegahan dan pergaikan tidak segera dilakukan … [“5. Pharaoh Merneptah’s Mummy“. Juga: PDF dan alternatif terjemahan Indonesia]

Kemudian, di buku Bucaille lainnya, “Moses And Pharaoh: The Hebrews In Egypt“, 1995, hal.10:

    Dalam rangka memperoleh data komparatif yang berhubungan dengan penemuan medik, kami memperluas riset pada mumi-mumi yang berkuasa di periode lainnya. Riset menempatkan kita pada posisi membawakan data yang berhubungan dengan poin-poin tertentu..,pada cara tertentu yang saat ini banyak hipotesa yang berasal dari komentar kitab-kitab sebelum tahun 1976, tidak dapat di gunakan lagi. sejauh berhubungan dengan eksodus, sebagaimana yang saya tekankan di bab 9, Ramses II tidak memungkinkan dalam posisi mengepalai tentara Mesir untuk mengejar kaum Yahudi. Dikarenakan Ia menderita penyakit yang menyebabkan ia tidak berdaya -seperti ditunjukan dari hasil sinar x- Ia tidak dapat ikut mengejar. Ramesses II tidak mungkin ikut pada bagian terakhir eksodus.Di lain pihak, kita dapat menyebutkan tanpa keraguan, penerusnya yaitu Merneptah, jelas cedera karena hentakan-hentakan yang berakibat luka berat yang cepat atau seketika mematikan. Tanpa mengesampingkan kematian akibat di air, yang ditekankan oleh kitab-kitab suci, Studi medis memperlihatkan bahwa luka-luka timbul dari kekerasan brutal

Di buku pertama, Bucaille mengakui bahwa hingga bukunya naik cetak, BELUM ADA PERNYATAAN HASILNYA, padahal Bucaille telah menyebutkan tentang apa yang dilakukan G. Elliot, maka seharusnya, Ia tahu, bahwa Eliot, sudah puluhan tahun sebelumnya, mendapatkan hasil forensik pasca kematian dari menganalisa sample nadi Merneptah, “G. Elliot mempelajari mumi Merneptah, mengeluarkan aorta dan mengirimkannya ke sekolah tinggi kedokteran di London yang dianalisis secara mikroskopis oleh S.G SHATTOCK. Terlihat bahwa Merneptah TIDAK MATI KARENA TENGGELAM tetapi karena usia tua, menjadi beruban, giginya hampir semua tidak ada, sementara dinding aortanya menunjukkan perubahan arteriosclerotic yang kuat (penyempitan dan pengerasan pembuluh darah yang merupakan penyebab umum penyakit jantung koroner), yang kemungkinan besar menjadi penyebab kematiannya” [“Metzner Theory of Urine Formation”, R.A. Kenney, hal.131]. Penulis lain menyampaikan sebab-sebab mengapa tubuh Merneptah mengalami banyak kerusakan, juga tentang hasil radiologi bahwa wafatnya Ramesses II dan Merneptah, bukan karena tenggelam: “mumi Merneptah..dirusak penjarah, mematahkan lengan kanannya dan menusuk lubang perutnya … Radiografi mengungkapkan, bahwa juga seperti ayahnya, dia menderita osteoarthritis (peradangan sendi) dan arteriosklerosis (penyempitan dan pengerasan pembuluh darah). Juga ada lubang di sisi kanan tengkoraknya dan tulang pangkal pahanya patah, semuanya ini mungkin disebabkan insiden PASCA KEMATIAN (postmortem)” [“Mummies and Death in Egypt”, Françoise Dunand, Roger Lichtenberg, hal.195], sehingga tidak mengherankan jika Grafton Elliot Smith sejak puluhan tahun sebelum Bucaille telah menyimpulkan bahwa kematian Merneptah adalah akibat usia tua. [“The Royal Mummies”, Cairo (1912), pp. 65-70; juga lihat situs ini dan ini dan ini], entah mengapa, Bucaille yang juga dokter ini, tanpa mempunyai bukti, nekad membuat simpulan ngawur.

Kenapa Firaun yang dirujuk adalah Ramesses II?
Alkitab berkali-kali menyebut kota Rameses/Raamses, pertama kalinya, saat Yusuf berusia 39 tahun, Yakub sekeluarga baru saja tiba di Mesir (Kej 47.11), kemudian setelah Yusuf wafat dan muncul Firaun baru (Kel 1.8) yang tidak kenal nama Yusuf lagi diwaktu dekat kelahiran Musa saat mendirikan kota perbekalan (Kel 1.11), Firaun ini masih hidup beberapa tahun ketika Musa di Midian dan kemudian wafat (Kel 2.23, 4.19), setelahnya Musa diperintah Allah ke Mesir untuk bertemu Firaun berikutnya dan membawa kaum Yahudi keluar Mesir, dari tanah Gosyen/kota Raamses/Rameses ke Sukot (Kel 12.37; Bil 33.3,5), sehingga jika disusun cocokloginya, maka:

  1. Penamaan kota dengan namanya wajar terjadi di masa pendiri dinasti baru, oleh karenanya, kota Rameses/Raameses, mulai ada di jaman Ramesses I (1292-1290 SM, pendiri dinasti ke-19 Mesir) [Yaitu saat Yakub sekeluarga tiba di Mesir, mereka menetap di Rameses],
  2. Setelahnya, digantikan anaknya, Seti I (1290-1279 SM), wafat di bawah usia 40 tahun,
  3. Setelahnya, digantikan anaknya, Ramesses II naik tahta (1279-1213 SM, menjadi pewaris tahta diusia 14 tahun, Ia memerintah 66 Tahun dan 2 bulan, Ia wafat di umur 90/91-99 tahun) [Musa di Midian],
  4. Penerusnya adalah Merneptah (1213 – 2 May 1203 SM, anak ke-13 dari Istri ke-2 Ramesses II, wafat di usia 70/80 tahun. Kakak kandungnya, Khaemwaset, ke-3 dari 5 bersaudara atau ke-4 dari seluruh ibu lainnya. Khaemwaset wafat diusia 61 tahun tahun 1224 SM/11 tahun sebelum wafatnya Ramesses II. 12 kakak lainnya juga sudah wafat. Merneptah sebagai pangeran penerus tahta adalah 11 tahun) [Peristiwa eksodus]

Jika alur ini diterima karena tampak cocok dengan alur Alkitab, maka akan muncul kontradiksi berikutnya, bahwa lamanya orang Israel di Mesir BUKAN 400/430 tahun tapi hanya 89 TAHUN saja. oleh karenanya, para Firaun dinasti ke-19 adalah BUKAN Firaun Alkitab.

Ada berapa Firaun di kehidupan Musa?
Versi Islam: Hanya mengenal 1 Firaun selama jaman Musa.

    Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai … Maka dipungutlah ia oleh keluarga Firaun … Sesungguhnya Firaun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan berkatalah isteri Firaun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”,…Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya).. .maka berkatalah saudara Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu..?.” Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita..[AQ 28.7-13]

    Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya,..Dan Musa masuk ke kota.., maka didapatinya..dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya dan seorang dari musuhnya. Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya,..lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu..Dan datanglah seorang laki-laki..seraya berkata: “Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah..” Maka keluarlah Musa dari kota itu..sampai di sumber air negeri Madyan.. datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan…Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku 8 tahun dan jika kamu cukupkan 10 tahun maka itu adalah dari kamu.. Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung..Maka tatkala Musa sampai ke api itu, diserulah dia dari pinggir lembah.., yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.. [AQ 28.14-15, 20-23, 25, 28,30-35]

    Dan ketika Tuhanmu menyeru Musa: “Datangilah kaum yang zalim itu kaum Firaun… Berkata Musa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku.. maka utuslah kepada Harun.. , maka aku takut mereka akan membunuhku.” Allah berfirman: “Jangan takut, maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami;.., Maka datanglah kamu berdua kepada Firaun dan katakanlah olehmu: “Sesungguhnya Kami adalah Rasul Tuhan semesta alam, lepaskanlah Bani Israil beserta kami.”. FIRAUN MENJAWAB: “BUKANKAH KAMI TELAH MENGASUHMU DI ANTARA KAMI, WAKTU KAMU MASIH KANAK-KANAK DAN KAMU TINGGAL BERSAMA KAMI BEBERAPA TAHUN DARI UMURMU. dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan ituBERKATA MUSA: “Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf. LALU AKU LARI MENINGGALKAN KAMU KETIKA AKU TAKUT KEPADAMU kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul.[AQ 26.11-22]

      Tafsir Ibn kathir:
      “..Ia diperintahkan pergi ke Firaun, yang Ia pernah lari darinya, untuk menyampaikan pesan Allah..[Stories of the Prophets, Ibn Kathir, hal.182] … Firaun sudah, sebelum kelahiran Musa, mengeluarkan perintah yang keji untuk memusnahkan seluruh kaum Israel. [hal.188]”. Hal ini menunjukkan bahwa Firaun yang dulunya pernah mengasuh Musa di rumahnya adalah Firaun yang menjadi sasaran dakwah Musa. Informasi ini berbeda dengan penjelasan yang dikemukakan oleh Ahli Kitab yang menyatakan bahwa Firaun sudah meninggal ketika Musa pergi meninggalkannya. [Kisah Para Nabi, Ibn Kathir, hal.417]

Firaun yang memeliharanya waktu bayi (dan Haman, saat itu, juga sudah ada), Firaun saat Ia lari ke Midian dan Firaun yang bertemu Musa dan Harun ketika Musa kembali ke Mesir adalah Firaun (dan Haman) yang sama. Juga, Qur’an tidak pernah menyebutkan berapa umur Musa saat wafat, yang ada hanya lamanya Musa di padang gurun yaitu selama 40 tahun [AQ 5.26] yaitu di periode akhir hidupnya:

  • Menurut Ibn Thalabi dalam “‘Ara’is Al-majalis Fi Qisas Al-anbiya”, ada TIGA Firaun SEBELUM Musa, yaitu ke-1, Al-Rayyan bin
    Al-Walid
    bin Tharwan; ke-2, Qâbus bin Mus`ab bin Al-Rayyân; ke-3, adik Qabus yaitu Abu-Al-`Abbâs Al-Walid bin Mus`ab bin Al-Rayyân dan yang ke-4, adalah firaun pada jaman Musa. Firaun ini mengawini Asiyah binti Muzahim bin`Ubayd bin al-Rayyan bin al-Walid, Firaun pertama jaman Yusuf. Dikatakan Firaun ini berumur sangat panjang (beberapa mengatakan 400 tahun)
    (hal.279). Di Muruj Al-Ðahab: Musa lahir jaman Firaun ke-4 Mesir yang bernama Al-Walid bin Mus`ab bin Mu`âwiyah. Musa hidup selama 240 tahun. Al-Baydhâwi: Musa tinggal di kediaman Firaun hingga usia 30 tahun. Ali bin Abi Tâlib: Musa di Midian selama 50 Tahun. Abdul Wahab Al-Najjâr dan di Muruj Al-Ðahab: dan Tuhan mengambil jiwa Harun … 7 bulan sebelum kematian Musa. Tuhan mengambil jiwa Harun ketika berusia 123 tahun dan juga dikatakan Ia wafat diusia 120 tahun, Musa wafat 3 tahun setelah Harun. [“THE PROPHETS, THEIR LIVES AND THEIR STORIES“, Abdul-Sâhib Al-Hasani Al-‘âmili].
  • Riwayat Ibn Humayd – Salamah – Ibn Ishaq: ..sampai jaman Firaun, yaitu orang yang Tuhan utus Musa kepadanya. Di antara seluruh Firaun, dia yang paling lama umur dan juga masa pemerintahannya, namanya Al-Walid bin Musab, istrinya perempuan bani Israel bernama Asiyah bt.Muzahim… waktu dekat kelahiran Musa, para peramal memberitahu firaun bahwa seorang anak yang dilahirkan orang Israel akan menghancurkannya dan kerajaannya, Lalu Firaun memerintahkan pembunuhan terhadap setiap anak laki-laki yang baru lahir.. [Tabari, Vol.3, hal.31-32]. Riwayat Ibn Humayd – Salamah – Muhammad b.Ishaq – `Abdallah b.Abi Najih – Mujahid: .. (Firaun) memerintahkan jarak membunuh bayi laki-laki selang setahun, Harun lahir di tahun tidak ada pembunuhan, Musa lahir di tahun ada pembunuhan. Harun lebih tua setahun dari Musa (juga dari riwayat Al-Suddi – Musa b. Harun – Asbat’; Al-Suddi – Abu Malik dan Abi Salih – Ibn Abbas; juga dari Murrah al-Hamdani – Ibn Mas`Ud dan dari para sahabat Nabi) [ibid, hal.33]. Riwayat Humayd – Salamah b.Al-Fadl – Muhammad b.Ishaq: ..Seseorang selain Ibn Ishaq berkata: … saat Musa lari ke Midian, umurnya 41 tahun, saat Tuhan memanggilnya di gunung Sinai, umurnya 80 tahun, Nama Firaun adalah Qabus b.Mus`ab, istrinya bernama Asiyah binti Muzahim bin`Ubayd bin al-Rayyan bin al-Walid, Firaun pertama jaman Yusuf … (Di Midian) Musa diberitahu Tuhan, bahwa Qabus b.Mus`ab telah wafat digantikan saudaranya Al-Walid b.Musab … Dikatakan bahwa al-Walid menikahi Asiyah binti Muzahim setelah saudaranya … 80 tahun sejak lahirnya Musa sampai eksodus. 40 tahun di Padang gurun. 120 tahun sejak Musa lahir hingga wafat [ibid, hal.30-31]

    Note:
    Asiyah bukan dari kalangan bani Israel. Firaun dan bani Mesir turunan Imlak bin Lud bin Sem bin Nuh [Tabari, Vol.2, hal.16] sedangkan bani Israel turunan Eber/Hebrew/Ibrani bin Arpaksaad bin Sem bin Nuh (Ibid, hal.16) [Lihat: NUH]

Firaun yang dimaksudkan, TIDAK MUNGKIN Ramesses II (karena pemerintahannya hanya 66 tahun). Dari seluruh daftar Firaun Mesir, terdapat 1 Firaun memerintah selama 94 tahun (ini menurut Manetho, tapi menurut perhitungan ternak untuk pajak/per 2 tahun, maka pemerintahannya hanya selama 62/64 tahun), yaitu: Pepi II/Neferkare (Firaun ke-6, dinasti ke-6, 2278 SM – 2184 SM, memerintah sejak usia 6 tahun), jika Manetho benar, walaupun panjang pemerintahan Firaun ini cukup cocok karena harus sudah memerintah, saat Musa lahir, sayangnya:

  1. Ketika Musa kembali ke Mesir di usia 80/83 tahun, yaitu tahun ke-11/14 pemerintahan Firaun ini yang berusia 17/20 tahun, saat Musa lahir, maka usia anak perempuan Firaun ini masih kecil 3/6 tahun, tidak cocok untuk dibolehkan mandi di sungai;
  2. Manetho juga menyebutkan tentang keberadaan kerajaan Hyksos (dinasti ke-13) dan Hykos belumlah ada pada jaman Firaun ini, sementara keberadaan Mosheh baru ada setelah 393-an tahun dari Hyksos [Josephus, “Against Apion, 1.14);
  3. Menurut para ulama Muslim (jika kelahiran Yesus adalah 0 Masehi):
    • Musa – Isa adalah 1800 tahun [“THE PROPHETS, THEIR LIVES AND THEIR STORIES“, Abdul-Sâhib Al-Hasani Al-‘âmili]
    • Riwayat Fudayl b.’Abd Al-Wahhab – Ja’far b.Sulayman – ‘Awf: ‘Isa dan Musa adalah 6oo tahun [Tabari, Vol.5, hal.413]
    • Riywat Ya’qub b.Ibrahim – Ibn `Ulayyah – Sa`id b.Abi Sadaqah – Muhammad b.Sirin – Ka`b: 600 tahun antara Musa dan Isa [ibid, hal.413-414]
    • Riwayat Al-Harith – Muhammad b.Sa’d – Hisham – Ayahnya – Abu Salih – Ibn ‘Abbas: Musa dan `Isa adalah 1900 tahun [ibid, hal.414]
    • Tabari: Beberapa ulama berkata: dari eksodusnya Musa – membangun kuil Sulaiman adalah 636 tahun, dari kuil Sulaiman – Al-Iskandar naik tahta adalah 717 tahun, dari Iskandar – lahirnya ‘Isa adalah 369 tahun [ibid, hal. 416] [Total dari eksodus Musa – Isa = 1722 tahun]
    • Riywat Hisham b.Muhammad al-Kalb – Ayahnya – Abu Salih – Ibn ‘Abbas: Musa dan Daud adalah 179 tahun, Daud dan Isa adalah 1,053 tahun [ibid, hal.416] [Total dari Musa-Isa = 1232 tahun]

    Apapun variasi pendapat ulamanya, kejadiannya TIDAK LEBIH dari abad ke-19 SM;

  4. Tidak ada satupun literatur non kitabiah bahwa di masa Neferkare (ataupun di Firaun periode dinasti manapun) telah terjadi 9 tulah/mukjizat: tongkat, tangan, belalang, kutu, katak, darah, taupan, laut, dan bukit Thur (AQ 17.101)

Keberadaan Musa dengan satu Firaun, dapat dipastikan bahwa dari dinasti manapun Firaunnya, itu TIDAK MUNGKIN ADA

Versi Nasrani dan Ibrani: Terdapat 2 Firaun berbeda pada kisaran hidupnya Musa:

    Perjanjian Baru: Musa tinggal di istana Pharaoh sampai umur 40 tahun [KPR 7.23-24], di Midian selama 40 tahun, hingga memperanakan dua anak lelaki dan kembali ke Mesir [KPR 7.29-30]. Musa dan bangsa Israel keluar Mesir mengembara di padang gurun selama 40 tahun [KPR 7.43], Jadi ia wafat diusia 120 tahun.

    Perjanjian Lama: Muncul seorang Firaun baru yang tidak mengenal Yusuf. Bangsa Israel telah membesar jumlahnya, memenuhi Mesir dan melebih jumlah jumlah penduduk Mesir, oleh karenanya Firaun itu memerintahkan bidan agar setiap bayi laki-laki dari bangsa Israel harus dibunuh, jika perempuan dibiarkan hidup. [Kel 1.6-22]

    Seorang perempuan suku Lewi, bernama Yokhebed melahirkan, saat anaknya berusia 3 bulan, Ia masukan peti dan dihanyutkan di sungai Nil. kakak perempuannya (Miriam) mengawasi dari kejauhan. Saat itu Puteri Firaun sedang mandi di sungai dan dayangnya berjalan di tepian sungai, dilihatnya peti itu, dayangnya disuruh menariknya, ada bayi yang sedang menangis. Miryam menyarankan pada sang Putri Firaun untuk mengambil seorang inang penyusu, ibu bayi itu dipanggil untuk menyusuinya. Setelah tumbuh (gâdal) anak kecil (yeled) dibawa ke (bô’) puteri Firaun menjadi anaknya (hayah lah ben) panggilan mengingat/nama (qârâ’ shêm) anak (môsheh), katanya (‘âmar): “Karena (kı̂y) dari air (min mayim) diangkat/tarik (mâshâh)” [Kel 2.1-10]

      Note:
      Harun lebih tua 3 tahun dari Musa (Kel 7.7. Usia sapih menyusui 3 tahun ref 2 Mac 7:27; 2 Trw 31.16). Miryam lebih tua dari Harun/Musa (Bil 26.59), saat kejadian tampak dewasa, karena kata-katanya tertata baik ketika mendekati Putri Firaun dan memberikan solusi: “Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan puteri?” [Kel 2.7]. Ketidakcanggungan dan mudahnya mendekati tuan putri, bisa jadi karena usia mereka tidak terpaut jauh. Usia sapih menyusui 3 tahun, membuat jarak lahir Miryam – Harun – Musa, tidak kurang dari 7 tahun, dalam tradisi Ibrani, seseorang dianggap dewasa setelah Bat Mitzvah, yaitu 12 tahun (perempuan/bat) atau 13 tahun (pria/bar) [1 Raja 2.2-3], maka usia Miryam dan sang putri Firaun terpaut tidak jauh, bisa jadi berusia 15 tahunan juga.

    Ketika Musa telah dewasa, Ia kemudian membunuh seorang Mesir dan kabur ke Midian [Exodus 2:11-15] dikatakan bahwa Musa telah “telah dewasa” dan masih bujang [exodus 2:16-22]. Umur di frase “telah dewasa”, terdapat banyak variasi tahun: “12 (Sh’moth Rabbah 5:1), 18 (Sefer HaYashar), 20 (Sh’moth Rabbah 1), 21 (Yov’loth 47:10), 29 (Shalsheleth HaKabbalah), 32 (BeMidbar Rabbah 14:40), 40 (Sh’moth Rabbah 1), 50 (Artapanus, loc. cit.), atau 60 tahun (Rabbi Moshe HaDarshan, Bereshith Rabathai, p.13)“.

    Menurut JewishEncylopedia dan kitab Jasher: “Musa kabur dari Mesir menuju Kush/Ethiopia, saat berusia 18 tahun, menjadi raja Ethiophia/Kush di usia 27 tahun memerintah selama 40 tahun, keluar dari Kush ke Midian diusia 66/77 tahun [76.12/73.2]. Di Median bertemu Zipporah dan Ruel adalah bapaknya, Ia memenjarakan Musa 10 tahun, saat tahun ke-9 Musa di penjara, Firaun Melol wafat [77.28], diusia 94 tahun [77.3] dan digantikan Firaun Adikam yang berusia 20 tahun dan memerintah selama 4 tahun [77.1]. Setelah berakhir tahun ke-10, Ruel mengawinkan Zipporah kepada Musa [77.51], usia Musa saat itu 76/77 tahun.

    Allah menyampaikan bahwa Firaun dan semua yang ingin dia mati telah wafat (Kel 2.23, 4.19), mengutusnya bertemu Firaun dan membawa kaum Israel keluar Mesir, Saat bertemu, Usia Musa 80 tahun, Harun 83 tahun [Kel 7.7] dan Firaun Adikam 24 tahun. Kaum Israel keluar Mesir mengembara 40 tahun lamanya, Musa wafat diusia 120 tahun [Ulangan 34.7] dan Harun wafat diusia 123 tahun [Bilangan 33.39]


Ramesses II memerintah 66 tahun (jika dikaitkan, tahun ke-66nya Firaun ini, Musa belum di Midian, masih di Kush. Saat Musa di Median pada usia 67, Musa di penjara 10 tahun, di tahun ke-9 penjaranya, Firaun wafat, saat itu Musa berumur 76/77 tahun, maka ada gap 10/11 tahun dengan Ramesses II) dan juga penerus Ramesses II, yaitu Merneptah, memerintah 10 tahun, maka Firaun berikutnya sudah pasti bukan Merneptah karena pemerintahan Firaun Adikam adalah 4 tahun.

Oleh karenanya, baik dari versi Islam maupun versi Ibrani/Nasrani, dapat disimpulkan bahwa TIDAK ADA satu Firaun-pun yang dapat dikaitkan dengan Musa-nya kaum Abrahamik.

Bagaimana dengan makanan mereka selama 40 tahun di gurun Sinai?

    Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti (lehem) bagimu…petangnya berduyun-duyun burung puyuh (has selaw) datang menutupi perkemahan mereka dan paginya sesuatu tergeletak di sekeliling perkemahan mereka…Kaum Israel menyebutkan namanya: manna, warnanya putih seperti ketumbar dan rasanya seperti rasa kue madu…Orang Israel makan manna empat puluh tahun lamanya, sampai mereka tiba di tanah yang didiami orang; mereka makan manna sampai tiba di perbatasan tanah Kanaan” [Kel 16.1-35]

    ..dan Kami turunkan kepada kalian manna dan salwa (almanna waalssalwaa). Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri [AQ 2.57, 7.160 dan 20.80]

    Tafsir Ibn kathir untuk AQ 2.57:
    Para ahli tafsir berbeda-beda sehubungan dengan hakikat dan manna. All ibnu Abu Talhah – Ibnu Abbas: manna turun di pohon-pohon, lalu mereka menaikinya dan memakannya dengan sepuas-puasnya. Mujahid: adalah getah. Ikrimah: adalah makanan yang diturunkan seperti hujan gerimis. As-Saddi: manna turun, terjatuh di pohon zanjabil/jahe. Qatadah: manna turun di tempat mereka berada seperti turunnya salju, bentuknya lebih putih dari susu dan rasanya lebih manis dari madu; dari terbitnya fajar hingga matahari terbit. Seseorang mengambil sekadar bagi keperluannya di hari itu. Apabila mengambil lebih, maka manna menjadi busuk dan tidak tersisa. hari yang ke-6, mengambil untuk hari itu dan besoknya… Ar-Rabi’ ibnu Anas: adalah minuman yang diturunkan, rupanya seperti madu; mereka mencampurnya dengan air, lalu meminumnya. Wahb ibnu Munabbih: adalah roti lembut seperti biji jagung atau seperti dedak. Abu Ja’far ibnu Jarir – Muhammad ibnu Ishaq – Abu Ahmad – Israil – Jabir – dari Amir (yaitu Asy-Sya’bi): madu kalian ini merupakan 1/70 dari manna. Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam: adalah madu. Dalam syair Umayyah ibnu Abu Silt: “Allah melihat bahwa mereka berada di tempat yang tandus, tiada tanaman dan dada buah-buahan. Maka Dia menyirami mereka dengan hujan, dan mereka melihat hujan yang menimpa mereka berupa tetesan madu dan air yang jernih serta air susu yang murni lagi cemerlang”. An-natif artinya cairan, sedangkan al-halibul mazmur artinya susu yang murni lagi jernih

    Mengenai salwa, Ali ibnu Abu Talhah – Ibnu Abbas: adalah sejenis burung yang mirip dengan burung samani yang biasa mereka makan. [Juga dari Riwayat As-Saddi – (Abu Malik dan Abu Saleh, Ibnu Abbas, dari Murrah, Ibnu Mas’ud, sejumlah sahabat Nabi Saw); Riwayat Ibnu Abu Hatim – Al-Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabah – Abdus Samad ibnu Abdul Wari§ – Qurrah ibnu Khalid – Jandam – Ibnu Abbas; Riwayat dari Mujahid, Asy-Sya’bi, AdDahhak, Al-Hasan, Ikrimah, dan Ar-Rabbi’ ibnu Anas]. Ikrimah: adalah sejenis burung seperti burung yang kelak ada di surga, bentuknya lebih besar daripada burung pipit atau sama dengannya. Qatadah: adalah sejenis burung yang berbulu merah yang datang digiring oleh angin selatan. Seorang dari mereka menyembelih dalam kadar yang cukup untuk keperluan hari itu; dan apabila melampaui batas dalam pengambilannya, maka daging burung itu membusuk dan tak tersisa. Tetapi di hari yang keenam, maka ia mengambil untuk keperluan hari itu dan hari esoknya. Wahb ibnu Munabbih: adalah burung yang gemuk seperti burung merpati, burung-burung tersebut datang kepada mereka dengan berbondong-bondong dari Sabtu ke Sabtu. Di riwayat lain dari Wahb:..Allah mengirimkan angin kepada mereka, lalu berjatuhanlah salwa di tempat tinggal mereka; salwa adalah samani yang berbondong-bondong terbang setinggi tombak. Mereka menyimpan daging burung samani itu untuk keesokan harinya, tetapi daging itu membusuk…

Beberapa mengartikan “Manna” adalah hasil sekresi serangga pada bulan May-Juli, di pohon Tamarisk yang ada hanya di Gurun Sinai dan secara kasarnya, pada seluruh musimnya, hanya dapat memproduksi tidak lebih dari 600 atau 700 pon [317.5 kg] dan jumlah itu, BAHKAN TIDAK MENCUKUPI untuk kebutuhan makan sehari saja bagi 2 juta – 3.5 juta orang.

Apa arti “Manna“?
TIDAK ADA cacatan keberadaan kaum Ibrani di Mesir, namun terdapat beberapa kata-kata Mesir digunakan, misalnya “manna/Mennu” (arti: makanan) dalam frase “Inikah makanan?” (maan huu) [Kel 16.15] yang menunjukan bahwa bahasa Mesir adalah bahasa Ibu mereka, jadi, baik Tuhan, Musa dan kaum Yahudi TIDAKLAH berbahasa Ibrani tapi berbahasa Mesir. Kata “Mennu” muncul sebulan setelah eksodus, ketika itu, kelaparan hampir membunuh mereka, membuat mereka menyesal meninggalkan Mesir, karena sewaktu di Mesir, mereka “duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang!” [Kel 16.3] menjadi berubah drastis akibat terbujuk iming-iming Musa.

Mennu apa yang diberikan Tuhan pada mereka?
Setelah mereka bersungut-sungut kesal, Musa menyatakan bahwa besok “Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti [Kel 16.12] tapi yang terjadi adalah “petangnya berduyun-duyun burung puyuh (has selaw) datang menutupi perkemahan mereka dan paginya sesuatu tergeletak di sekeliling perkemahan mereka” [Kel 16.13].

    Note:
    Tapi di Bil 11.5-32, dikatakan bahwa makan burung puyuh baru terjadi di tahun ke-2, dengan awal narasi yang sama, yaitu penderitaan kelaparan mereka, kenangan mereka akan kehidupan makan mereka di Mesir, juga bersungut-sungut, dalam keadaan kurus kering, namun kali ini ada tambahan kalimat bahwa mereka hanya makan manna saja tanpa daging. Ini aneh, karena kaum Israel melakukan variasi penyembelihan hewan ternak bagi ragam upacara, termasuk bakar-bakaran untuk makanan tuhan mereka yang dilakukan tiap hari, pagi dan sore. Ini menunjukan bahwa ternak mereka melimpah ruah [lihat juga: Food for Israel]

sesuatu yang tergeletak itu, meleleh, berulat dan berbau busuk, saat ada Matahari” [Kel 16.20-21], membuat mereka bertanya, “Inikah makanan?“. Musa menjawab bahwa itu (“Sesuatu yang tergeletak di pagi setelah petangnya burung puyuh menutupi Kemah, dan meleleh, berulat dan berbau busuk ketika ada matahari“) adalah roti dari langit (Lehem min hasamayim) [Kel 16.4] itu roti yang diberikan Tuhan (hu hal lehem aser natan yahwe) [Kel 16.15] dan di hari ke-6 jumlahnya meningkat 2x [Kel 16.22]. Di hari ke-6, “Sesuatu yang tergeletak yang meleleh, berulat dan berbau busuk, ketika ada matahari“, Musa perintahkan agar dibakar, dimasak dan disimpan dan besoknya tidak berbau busuk, berulat [Kel 16.23-24]. Kaum Israel menyebut namanya: manna, berwarna putih seperti ketumbar dan rasanya seperti kue madu [Kel 16.31]. Kemudian, Allah memerintahkan agar segomer (3.64 liter) penuh manna disimpan, turun-temurun, agar dapat dilihat turunan mereka, mennu yang diberikan Allah. Manna itu disimpan dalam buli-buli dan ditempatkan di depan hukum (ha-eduth). Orang Israel makan manna 40 tahun lamanya [Kel 16 32-35] [hukum/eduth tersebut (yang tercantum di sepasang loh batu) baru ada bulan depannya (Kel 19.1), maka hukum apa yang dimaksudkan?].

Manna” di atas, tidak cocok menjadi “Roti dari langit“, karena tidak seperti hujan lumut di Persia jaman kelaparan besar tahun 1854, Masyarakat saat itu begitu gembiranya, segera bergegas mengumpulkannya, memasaknya dan menjadikannya roti di hari itu juga. Contoh lainnya misalnya hujan binatang dari langit seperti: Ikan, Sapi, katak, ular, cacing dan bahkan telur rebus yang terjadi di beberapa belahan dunia. Kejadian unik ini terjadi karena adanya TORNADO/ANGIN TOPAN di tempat lainnya.

Sayang sekali, kaum Israel kurang beruntung, tidak mendapatkan hujan telur rebus, ikan dan sapi, tapi malah hujan sesuatu yang menyerupai TAHI BURUNG dan itu mereka makan selama 40 tahun.

Berapa kebutuhan logistik perhari mereka?
Berikut sebagai pembanding adalah logistik yang diperlukan dalam ketentaraan:

  • Tahun 1958: 160.000 tentara dari angkatan ke-7 … lebih dari 1.500 ton makanan ditangani setiap bulan … Ini termasuk sekitar 700.000 pon (350 ton) sayuran segar dan beku, hampir 1.000.000 pon (500 ton) makanan kaleng dan kering dan sekitar 400.000 pon (200 ton) daging dan makanan beku [2nd Quartermaster. Makanan = 280 gram/prajurit/hari]. Untuk 600 ribu orang = 187.5 ton/hari; Untuk 3 juta orang = 937.5 ton/hari.
  • Tahun 1942: 120.000 prajurit selama 30 hari, 4000 ton makanan (2500 ton daging dan 1500 ton sayuran, sec II. hal.53) [Quratermaster Field Manual: Makanan = 1001 g/prajurit/hari]. Untuk 600 ribu orang = 666.7 ton/hari; Untuk 3 juta orang = 3333.3 ton/hari
  • Perang dunia ke-1: ..di saat awal, tentara Inggris diberikan 18 ons/hari (511 g/hari) makanan (10 ons daging dan 8 ons sayuran)… dan di tahun 1916 dipotong menjadi 6 ons/hari (171 g/hari) daging [Trench Food]. Untuk 600 ribu orang = 133 ton/hari – 338 ton/hari; Untuk 3 juta orang = 565.6 ton/hari – 1689 ton/hari
  • situs ini [dan puluhan situs lainnya]: Keperluan harian 2 juta s/d 3.5 juta orang ini sekurang-kurangnya setara dengan 1500 ton makanan, 4000 ton kayu untuk api membuat makanan, 11 juta galon air dan juga perkemahan seluas 750 Mil2
  • Studi situasi dehidrasi terjadi dalam 5 hari pada tentara dengan konsumsi air minum 1 liter/hari [“Water Requirements and Soldier Hydration”, Scott J.Montain dan Matthew Ely, hal.8]. Oleh karenanya, air minum TIDAK BOLEH KURANG SECARA KONSISTEN selama 5 hari. Untuk 600 ribu orang = 158503 galon/hari (600 ton/hari); Untuk 3 juta orang = 792516 galon/hari (3000 ton/hari).


Jika dengan gerobak dimensi 1 ton, maka jumlah gerobak PER HARI yang diperlukan untuk makan, minum dan kayu bakar = sejumlah tonase di atas, Ukuran ini merupakan ukuran yang sangat luar biasa bagi gurun pasir Sinai yang gersang dan tandus itu.

Dalam 40 tahun pengembaraan, mereka HANYA 5x MENDAPATKAN AIR. Setelah menyeberang laut, mereka telah kekurangan air, berjalan 3 hari ke Syur tidak menemukan air. (Kel 15.22), melanjutkan ke Mara (1) tapi air tidak dapat minum karena pahit, setelah Musa melempar sepotong kayu baru air bisa diminum. Kemudian ke Elim (2) ada 12 mata air (Kel 15.23-27). Kemudian, selewat tengah bulan ke-2 dan sebelum bulan ke-3, ke Rafidim (3), tidak ada air, Musa memukul tongkat pada batu, keluar air, menamakan tempat itu Masa dan MERIBA (Kel 17.1-6), sisanya, selama 39 tahun berikutnya, hanya 2x pengambilan air, yaitu di Kadesh (4), dengan pengulangan narasi kejadian di Rafidim, tidak ada air, memukul tongkat pada batu, keluar air, menamakan tempat itu MERIBA (lagi) (Bil 20.1-13) dan terakhir mendapatkan air di Beer (5) (Bil 21.16).

Mereka ini tentunya luar biasa, keperluan air 3000 ton/hari (baru ukuran untuk manusia posisi minim, belum termasuk untuk ternak, kebutuhan upacara, dan lainnya) diangkut sekaligus di 5x pemberhentian air untuk dipakai selama 40 tahun.

Berbicara tentang gersang dan tandus, maka tentunya jarang ada pepohonan, maka, darimanakah Musa dan 3 jutaan kaum Israel mendapatkan kayu bakar untuk keperluan bakar-bakaran, entah untuk membuat makanan sendiri, ataupun makanan bagi Allah ataupun untuk memasak manna di hari ke-6 ataupun untuk sekedar menghangatkan diri di malam dingin sepanjang 40 tahun di pengembaraan? Sayangnya Allah membungkam diri, tidak menyampaikannya, agar dapat diceritakan pada turunan mereka.

Yang tidak kalah menakjubkannya kemudian adalah tentang bagaimana mereka menangani permasalahan sampah 40 tahun di gurun sinai. Saking menakjubkannya tata kelola mereka, hingga tidak ditemukan 1 (satu) artifak-pun untuk mengabadikan peristiwa ajaib tersebut.

Apa hasil keluar dari Mesir?
YHWH berjanji kepada Musa akan memberikan tanah KANAAN, jika kaum Israel keluar dari Mesir (Ulangan 4.2), NAMUN, hingga 40 tahun kemudian, sampai Musa wafat di tanah MOAB (Yosua 5.6) [juga lainnya yang wafat karena tua, terkena Tulah Allah, sebagai tumbal menenangkan kemarahan Allah (dalam kasus kaum Lewi, misalnya) dan juga dalam peperangan], janji ini TIDAK PERNAH terpenuhi, malah kaum Israel hanya terlunta-lunta hidup sengsara di padang pasir Moab.

Setelah wafatnya Musa, Yosua bin Nun menggantikannya, mereka menyebrangi sungai Yordan, di tanah Kanaan, Yahwe berjanji akan menghalau suku Yebusit (turunan Kanaan, Kej 10.15-16) penduduk asli Yerusalem (Yos 3.10). NAMUN, sampai tahun ke-5 setelah wafatnya Musa (Yos 14.10), walau disebutkan Yosua bin Nun berhasil membunuh Adoni-Sedek, raja Yerusalem (Yos 10.26), NAMUN hingga Yosua wafat dan digantikan kaum Yehuda, TERNYATA Yerusalem masih juga milik kaum Yebusit, kaum Yehuda tidak mampu menghalau mereka (Yos 15.65) dan Kanaan, juga masih milik bangsa lain (Hakim 1.1). Jika sebelumnya Adoni-SEDEK, dikatakan mati ditangan Yosua, namun di kitab hakim-hakim, dinyatakan mati ditangan kaum Yehuda dan namanya, berubah menjadi Adoni-BEZEK (Hakim 1.7), kemudian dikatakan kaum Yehuda membakar musnah Yerusalem (Hakim 1.8), namun Yebusit tetap juga menduduki Yerusalem (Hak 1.21).

Bahkan di 436 tahun kemudian, yaitu jaman Raja Daud/David-pun, Yebusit tetap sebagai penduduk asli Yerusalem (2 Sam 5, 1 Taw 11.4) dan David hanya mampu menguasai bagian bawah Timur gunung Sion (= benteng/kota david dan Istana David) (2 sam 5.6-9, 1 Taw 11.5-6) dan 44 tahun kemudian, di jaman Raja Shlomo, lokasi kuil Sulaiman-pun hanya di arah Utara kota David, yaitu tempat tertinggi pada bagian Timur gunung Sion. Sementara, bagian Baratnya, tetap milik Yebusit.

..bahkan janji Allah-pun ternyata kosong belaka..

Mengapa kisah suci pada kitab yang “suci” ini kacau?
Para ahli yang menyelidiki kitab Kejadian, menemukan bahkan di halaman yang sama, ditulis oleh 2 atau 3 orang berbeda dan juga ada pengeditnya, yang memotong dan menggabungkan beberapa dokumen dari penulis berbeda menjadi satu cerita; sehingga terdapat kontribusi 4 orang berbeda untuk menghasilkan satu halaman Alkitab. (hal.24) … 5 Buku Musa disusun dan digabungkan dari 4 dokumen berbeda menjadi satu sejarah berkelanjutan … Dokumen yang merujuk pada nama ilahi Yahweh / Yehuwa disebut J. Dokumen yang merujuk pada dewa sebagai Tuhan (dalam bahasa Ibrani, Elohim) disebut E. Dokumen ke-3, yang terkonsentrasi pada hukum dan para imam, disebut P. Dan yang hanya ditemukan di kitab Ulangan disebut D. (hal.25) … Dokumen J, E, dan P ditemukan di 4 kitab dari 5 Kitab Musa: Kejadian, Keluaran, Imanat dan bilangan. (hal.53) … setidaknya ada 4 tangan sebagai pembuat 5 buku pertama Alkitab (perjanjian lama). Juga, terdapat tangan kolektor/redaktor, yang menggabungkan dan mengorganisir dokumen-dokumen yang terpisah ini menjadi sebuah karya tunggal agar dapat dibaca sebagai narasi berkelanjutan. (hal.60) [“WHO WROTE THE BIBLE?“, Richard Elliott Friedman, 2nd Ed., 1989]

Sekarang kita pun menjadi paham, mengapa kisah Musa dan kaum Israel tidak pernah muncul dalam catatan/inskripsi/tablet bangsa Mesir, mengapa para arkeolog tidak pernah menemukan apapun di gurun Sinai, mengapa isinya penuh kontradisi dan berada di luar nalar, karena ternyata, kitab yang dianggap suci ini, hanyalah sekedar dongeng untuk kalangan sendiri belaka.

Kisah Musa TANPA Adegan Membelah Laut
Bahasa Mesir adalah bahasa ibu dan bahasa keseharian penduduk Mesir. Orang asing yang tinggal di Mesir ketika berbicara dengan penduduk Mesir akan juga berbahasa Mesir, oleh karenanya, ketika Miryam kakak perempuan Musa menyapa ataupun berbicara dengan PUTRI KERAJAAN MESIR, adalah dalam bahasa Mesir. Kata “Mosheh” berasal dari bahasa Mesir, artinya “anak laki-laki”. Suffix Mosheh (Yunani: Mosis) digunakan di banyak nama Firaun dinasti ke-18, misalnya Ka-mosh (Che-Mosh/Ka-Mosis, ‘anak’-dewa Ka), Ach-Mosh/Ah-Mosis (‘anak’-dewa Bulan), Tuth-Mosh/Tuth-Mosis (‘anak’-dewa Tuth. Menariknya, Josephus menyatakan nama anak perempuan Firaun adalah Thermuthis di Ant-2, 9.5). Jadi kata “Musa/Mosh/Mosheh” bukanlah nama. [“Atlantis and the Ten Plagues of Egypt“, Graham Phillips; lihat juga: “Did Pharaoh’s Daughter Name Moses? In Hebrew?“, Dr. Rabbi David J. Zucker]

Terdapat variasi lain dari kisah Musa yang ketika meninggalkan Mesir, yang TIDAK ADA adegan membelah laut dan/atau menenggelamkan Firaun, bahkan Musa di sini adalah orang Mesir asli dalam artian etnis dan budaya. Josephus (37-100 M), sejarahwan Yunani dari etnis Yahudi, menyatakan: “orang Yahudi pada awalnya adalah orang Mesir..inilah yang dikatakan Strabo” (“Antiquities of the Jews”, 14.7.2). Strabo (64/63 SM – 24 M, sejarahwan Yunani, di “Geography” buku 16, Ch.2.35-37. Link ini text Yunani):

    Terkait kuil [dan penduduk] Ierosolýmois (Ἱεροσολύμοις/Yerusalem), orang Mesir adalah nenek moyang orang Yahudi saat ini. Seorang pendeta Mesir bernama Mosis (Musa), pemilik porsi daerah di Mesir Bawah, karena tidak puas dengan institusinya, Ia menginggalkannya dan pergi ke Judæa bersama sekelompok besar para penyembah keilahian, Ia mengajarkan orang Mesir dan Afrika. Dengan ajarannyam Musa membujuk sekelompok besar orang, menuju tempat di mana Hierosolyma sekarang berdiri. Ia dengan mudah memperolehnya, tempat itu tidak menimbulkan kecemburuan karena berbatu-batu dan meski terdapat air, namun dikelilingi wilayah tandus tanpa air. Musa mendapatkan reputasi baik, tidak membentuk pemerintahan namun bangsa sekitarnya, mau mempersatukan diri dengannya karena terpikat wacana dan janjinya

Beberapa penulis (misal: Manetho dan Cheremon) menuliskan Musa orang Mesir asli ini pada jaman setelah Hyksos (“raja tanah asing/Raja gembala” dinasti ke-15 Mesir, abad ke-17 SM, pemuja dewa Hadad) dikisaran 300an tahun kemudian, disekitaran jaman Akhenaten (Amenhotep/Amenophis IV, raja ke-10, dinasti ke-18 Mesir, abad ke-14 SM, tidak menyembah Amun/dewa udara tapi Aton-Ra/dewa Matahari/Helios, sebagai satu-satunya sesembahan), Penulis lainnya (misalnya: Lysimachus) menempatkan Musa orang Mesir ini pada jaman Bocchoris/Bakenranef (Firaun ke-2 dinasti ke-24/732–720 SM, memerintah 5/6 tahun).

Josephus dalam bukunya mengutip Manetho (abad ke-3 SM, Imam Mesir, penulis sejarah Mesir jaman Ptolemeus II. Karyanya yang asli sudah tidak ada lagi):

    Kaum gembala (Hyksos) menaklukan Mesir dan memerintah selama 511 tahun, sampai muncul raja Mesir Alisphragmuthosis yang menaklukan dan mengusir mereka ke bagian lain Mesir, yaitu Avaris. Mereka membangun tembok di sekeliling tempat itu namun Raja Thummosis putra Alisphragmuthosis, mengusir mekeka, maka sejumlah 240.000 orang keluar Mesir pergi membawa seluruh keluarga dan barang-barangnya menuju negara yang disebut Yudea [1.14] kemudian berlalu 393 tahun sampai ke jaman raja Amenophis [1.15-16] yang ketika itu, kerajaannya dipenuhi penderita kusta/lepra dan orang-orang tidak murni (cacat tubuh) sejumlah 80.000 orang, Ia kirim mereka kota yang sebelumnya milik para gembala/Hyksos, yaitu Avaris, mereka memilih seorang Imam dari Heliopolis, membangun tembok disekitar tempat mereka dan bersiap perang dengan raja Amenophis. Imam ini kelahiran Heliopolis, bernama Osarsiph, (seph/siph = anak, Osar = Osiris, dewa Heliopolis), tetapi Ia mengubah namanya dan menyebut dirinya Mosheh. Imam ini mengirim kabar ke para gembala (Hyksos) agar membantu dengan imbalan akan mengembalikan Avaris dan kemudian terjadilah pertempuran melawan Mesir. Raja Amenophis mundur ke Ethiophia, 13 tahun kemudian kembali, mengalahkan dan memburu para Hyksos dan kaum lepra sampai ke perbatasan Suriah [1.26-28]

Di bukunya, Josephus mengklaim bahwa Hyksos-nya Manetho adalah kaum Yahudi di eksodus, padahal dikutipannya sendiri, Manetho SAMA SEKALI TIDAK menyebutkan atau mengkaitkannya. Juga Alkitab sendiri telah menunjukan bahwa Musa orang Yahudi VS Mosheh Imam orang Mesir adalah 2 orang berbeda, karena tertulis: “Musa memerintahkan pengusiran para penderita kusta, baik laki maupun perempuan dari perkemahan agar mereka tidak menajiskan perkemanan di mana Tuhannya Musa berdiam di sana.” [Bilangan 5.1-4].

Josephus dalam bukunya mengutip Cheremon (dari Alexandria, lahir 10 M, sejarahwan dan ahli Mesir, hidup sejaman dengan Josephus):

    Raja Amenophis bermimpi bahwa Dewi Isis marah dan bersedih, saat bangun, Ia berkonsultasi ke Phritiphantes yang berkata bahwa Mesir harus dibersihkan. Amenophis kemudian memilih 250 ribu orang yang berpenyakit, mengusirnya dari negara. Diantara mereka terdapat penulis kitab suci bernama Tisithen (Mungkin seharusnya Petisithen, “Ia yang diberkahi Isis”. mengandung kata “Iten” = lingkaran Matahari/Halo. Aton dalam tulisan seharusnya Iten/dewa matahari) dan Peteseph (seph = anak. Ptah = Dewa Ptah. Anak Ptah. mungkin seharusnya Peteseth, “Ia yang diberkahi Seth”) dan nama meeka kemudian berubah, Tisithen menjadi Mosheh dan Petesheph menjadi Yuheph (Iu/Iuhu-Shep, anak dewa Iuhu/dewa matahari). Mereka menuju Pelusium, berhasil membujuk 380 ribu orang yang ditinggalkan disana oleh Amenophis untuk menyerang Mesir. Amenophis mundur ke Ethiophia, namun kemudian kembali mengalahkan dan mengejar orang Yahudi sampai ke Suriah [I.32].

Kita tidak tahu pasti apa yang sebenarnya ditulis Cheremon, karena kutipan ini hanya berdasarkan pada penuturan Josephus dan karya Cheremon yang asli juga sudah tidak ada. Penggunaan kata Yahudi oleh Josephus, benarkah itu ada di karya Cheremon ataukah tambahan sepihak Josephus sendiri, karena pada kalimat kumpulan orang yang diusir Amenophis, pada awal kutipan, Josephus hanya menyebutkan, “250 ribu orang berpenyakittidak menyebut kata lepra, tapi di I.33, Josephus 2x menambahkannya sebagai penyakit lepra. Pendapatnya tampaknya terpengeruh dengan apa yang Ia pikirkan mengenai Manetho di beberapa paragraph sebelumnya.

Kemudian, Tactitus (56-120 M), sejarahwan Yunani yang hidup sejaman Josephus, dalam “Histories”, buku 5. 2-5 (atau ini):

    Asal-usul Yahudi, ada yang berkata berasal: dari buronan/pengungsi pulau Kreta yang menetap di pantai terdekat Afrika/perbatasan Libya saat Saturnus digulingkan Jupiter, merujuk nama gunung Ida di Kreta yang dihuni kaum Idaei (Idae adalah mahluk supranatual pelayan Juptiter/Saturnus) kemudian menjadi Yudaei; lainnya: dari masa pemerintahan Isis di Mesir dan populasi berlebihan, Hierosolymus dan Yuda memimpin mereka pergi ke daerah-daerah tetangga; lainnya: dari turunan Ethiopia/Aethiopia (Punisia) bermigrasi karena takut/tidak suka pada Raja Cepheus (Ayah dari Andromeda, raja Iope/Joppa); Lainnya: dari pengungsi Asyur, mereka tidak punya tanah sendiri, menduduki daerah di Mesir dan membangun kota; lainnya: dari turunan Solymi (nama Pahlawan di epik/itihasa-nya Homer, anak-nya Zeus/Ares), mendirikan kota yang disebut Hiero-solyma.

    Sebagian besar penulis sepakat bahwa ada suatu penyakit mengerikan yang mengubah bentuk tubuh melanda Mesir. Setelah raja Bocchoris (dinasti ke-24, Mesir, abad ke-8 SM, memerintah 5/6 tahun) berkonsultasi dengan peramal dari Amon/Hamon, mereka mengumpulkan para penderita penyakit tersebut mengangkutnya ke tempat lain dan ditinggalkan di Padang pasir, ketika dalam kesedihan, salah satunya bernama Musa/Moyses menyatakan agar mereka tidak minta bantuan kepada dewa atau manusia, karena keduanya telah meninggalkan mereka, agar percaya pada diri sendiri. Ia kemudian menjadi pimpinan mereka, setelah berjalan panjang, di hari ke-7, sampai di sebuah kota, mengusir penduduknya dan mendirikan kota dan kuil. Moyses mengenalkan kultus baru, kebalikan dari semua agama saat itu. Di kuil mengkuduskan hanya satu binatang (yaitu keledai), mengurbankan domba jantan olok-olok bagi Dewa Amon/Hamon, Lembu jantan karena Mesir menghormati Dewa Apis, tidak makan Babi, karena derita mereka terinfeksi kusta dan dianggap berasal dari hewan ini, Puasa mengenang peristiwa kelaparan panjang yang mereka alami, Roti tanpa ragi mengenang peristiwa perebutan jagung, hari ke-7 penghentian kerja, mengenang Dewa Saturnus, karena berasal dari Idaei terkait terusirnya Saturnus, atau dari 7 benda langit, orbitnya terjauh. (Hari Sabbath/ke-7, di Midrash kitab Kejadian/abad ke-5 M: benda langit ke-7 Saturnus/Saturn shabtai. Penyair Latin bernama Tibulus, abad ke-1 SM: “dies Saturni sacra“/hari saturnus/ke-7 keramat)

Josephus dalam bukunya, mengutip Lysimachus tentang orang-orang berpenyakit dan lepra yang ada di Mesir tersebut hanya orang-orang Yahudi, sementara Tactitus tidak ada menyebutkan etnis penderitanya dan malah menyebutkannya sebagai para penduduk Mesir (Tidak merujuk etnis tertentu, sehingga dapat berarti multi etnis atau bahkan hanya etnis Mesir itu sendiri). Sehingga orang Hierosolyma berikutnya adalah Mesir asli.

Diodorus Siculus (90-30 BC) menyampaikan sejarah yang diantaranya dikutip dari Hecataeus orang Abdera (Sekitar 300 SM. Josephus juga mengutip Hecataeus dalam “Againsts Apion” namun bukan tentang Musa):

    Setelah para dewa, Firauan Mesir pertama adalah Menas (Μηνᾶν) [Bibliotheca Historica, buku ke-1, Ch 45.1]… Pemberi hukum tertulis pertama adalah Mneves (Μνεύην), diberikan oleh Dewa Hermes.. Minos di Kreta diberikan oleh Zeus… Lycurgus di Lacedaemonia diberikan oleh Apollo…Zathraustes kaum Arian diberikan oleh Roh Baik… Zalmoxis di Getae diberikan oleh dewi Hestia… Moyses di kaum Yahudi diberikan oleh dewa yang disebut Yahu.. [ibid, buku ke-1, Ch.94.1. Menes = Mneves]… pemberi hukum ke-2 adalah Sasychis…ke-3 adalah Firaun Sesoösis…Ke-4 adalah Firaun Bocchoris [Ibid, Ch.94.3-6]…setelahnya adalah Firaun Amasis [Ibid, Ch.95.1]… Para Dewa tersinggung dan menurunkan wabah penyakit di Mesir karena banyak orang asing dari berbagai ras tinggal di Mesir, mempraktikkan ritual dan pengorbanan berbeda dan tidak menggunakan ritual Mesir dalam menghormati para Dewa, kecuali mengusir para orang asing ini, maka masalah tidak akan pernah selesai, Oleh karenanya, para orang asing diusir dari Mesir, diantaranya dipimpin oleh Danaus dan Cadmus, tapi jumlah terbesar dipimpin Mosis menuju Yudea dan menetap di Hierosolyma. [Ibid, buku ke-40, Ch-3.1-2. Link ini text Yunani]. Dari Mesir mereka tersebar ke seluruh dunia. Belus putera Poseidon memimpin menuju Babel, Danaus memimpin menuju Argos, kota tertua Yunani…ini yang dikatakan oleh Hecataeus dari Abdera terkait dengan orang Yahudi [Ibid, buku ke-40, Ch-3.3-8]

Herodotus (abad ke-5 SM) yang pernah mengunjungi Mesir, menyatakan bahwa Penduduk Mesir menghormati banyak Dewa, yang banyaknya jumlah bulan dan hari di kalender mereka [“The History of Herodotus”, Buku ke-2.82], dewa kuno mereka awalnya delapan, kemudian bertambah menjadi 12 [ibid, 2.145] yang ritual dan pengorbanannya bervariasi. Jadi alasan pengusiran orang asing karena beda ritual dan pengorbanan adalah memang aneh. Disamping itu, kutipan dengan nama Hecataeus yang Diodorus dan Josephus dapatkan, menurut para ahli adalah kutipan yang telah dipalsukan (Dibuat tidak lebih dari 113 SM).

Para penulis Yunani, kebanyakan membawakan latar kejadian tentang adanya wabah penyakit luar biasa yang melanda Mesir jaman kuno. Namun menariknya, Herodotus di bukunya, TIDAK SATU KALIPUN menulilskan adanya kejadian tersebut pernah melanda Mesir, padahal Herodotus hidup lebih awal dari para penulis yang dikutip Josephus, malah di bukunya, Herodotus menyampaikan bahwa kebijakan pengasingan/Pengusiran terhadap penderita kusta/lepra dilakukan oleh negara Persia BUKAN Mesir:

    siapa pun di antara penduduk kota terkena kusta atau kulit dengan bercak putih, tidak diperkenankan ada di kota bergaul dengan orang PERSIA lainnya, karena punya penyakit ini mencemari dewa Matahari, TETAPI ORANG ASING YANG TERKENA PENYAKIT INI, DI DISTRIK MANAPUN, MEREKA DIUSIR DARI NEGARA ITU” [Ibid, Buku ke-1.137]

Tentang adanya pengasingan/pengusiran penderita kusta/lepra di Persia juga disebutkan Ctesias (abad ke-5 SM. Tabib Yunani yang hidup di kerajaan Persia dalam bukunya “Persica”) bahwa Megabyzus di jaman Arthaxerxes hidup 5 tahun dalam pengasingan karena menderita pisaga/kusta (ini dikutip Photius/abad ke-9 M. 72).

Herodotus TIDAK PERNAH menyebutkan keberadaan kaum Yahudi, malah secara berulang, menyebutkan keberadaan kaum PALESTINA:

    Colchia..mereka berkulit gelap dan memiliki rambut keriting..orang Kolochia, Mesir, dan Ethiopia dari semua ras, sejak dulu melakukan sunat. Orang Fenisia dan Suriah yang tinggal di Palestina mengakui mempelajarinya dari orang Mesir, dan orang Suriah yang tinggal di sungai: Thermodon, Parthenios, dan orang Macron, yang bertetangga dengan mereka mengakui bahwa mereka belakangan ini mempelajarinya dari Colchians. Ini adalah satu-satunya ras yang melakukan sunat dan mempraktikkannya dengan cara yang sama seperti orang Mesir” [Herodotus: Buku ke-2.104]. “Suriah yang disebut Palestina” [buku ke-1.105; buku ke-3.5, 91; buku ke-4.39]. “Bangsa Asyur…oleh bangsa Yunani disebut Suriah, tetapi oleh bangsa barbar, mereka disebut Asyur” [Buku ke-7.63]. “orang-orang Fenisia, bersama-sama orang-orang Suriah yang tinggal di Palestina..Orang-orang Fenisia..Melewati Laut Erythraian, tinggal di sepanjang pantai laut Suriah; dan bagian Suriah ini dan seluruh area hingga sampai Mesir dikenal dengan nama Palestina” [Buku ke-7.89]

Kata “פלשתים” (Philistim) artinya adalah Imigran. Oleh karenanya, Musa yang orang Mesir ini dan juga mereka yang terusir sebagai orang asing, tampaknya adalah kaum Palestina bukan Yahudi.

Kemudian, terkait kata Hierosolyma, Josephus menyatakan bahwa Jerusalem dahulu disebut “SOLYMA” (“Antiquities Of The Jews” VII 3.2) atau “SALEM” (“War Of The Jews”, VI 10.1). Mitologi Yunani menyampaikan bahwa musuh BELLEROPHON adalah para SOLIMI (Iliad.6, Homer/8 SM), yang merupakan anak-anak SALMA/SALEM, Dewi musim Semi dan sebagai maskulin, Ia adalah Dewa Matahari Solyma atau Selim, Salomo, atau Ab-Salom [“The Greek Myths”, Robert Graves, hal.363]. Solyma tinggal di area pegunungan (Odyssey.5, Homer) di Lykia (Iliad.6). Di Krete, Minos (anak Zeus-Europa) mengusir Sarpedon (anak Zeus-Laodamia) dan lainnya hingga menyingkir ke Milya di Asia, area yang dulu dihuni bangsa Lykia disebut Milya, dan waktu itu bangsa Milyus disebut Solymoi (History of Herodotus, 1.173)

Hiero biasanya diartikan suci/sakral/keramat. Namun tampaknya Hiero berasal dari hēr = “penjaga/pelayan/pelindung”. Dalam epik-nya homer no.75: Sebutan untuk Anchises, Pria kecintaan Aphrodite; Bentuk feminim Hera = ciri-ciri yang menonjolkan/terlihat.

SALEM/”שלם”, di kebudayaan Ugarit/kanaan adalah Dewa SENJA. Kata “SALEM” muncul di tablet EBIA, abad ke-24 SM, di Tell Mardik, Syria, juga di teks Mesir, abad ke-18/19 SM, dalam kata “RUSHALIMUM”, di surat Armana abad ke-14 SM, permintaan bantuan raja Abdi-Heba, “URUSALIM” ke Raja Mesir untuk melawan Habiru dan di teks Assyria, Sennachrib abad ke-8 SM dalam kata “URSALIMMU”. Arti Yeru = “diletakan”, dari kata Yeru-el, “Diletakkan Tuhan”, jadi Yerusalem = “Diletakkan Salem”, salah satu dari 2 dewa kaum Ugarit (Shahar/Dewa Fajar dan Shalim/Dewa Senja). Dalam Sumeria, tanda URU di “URUSALIM” = KOTA. Dalam latin, “Ieroysalem” dan “HeieroSOLyma”. Di mana, SOL = Dewa Matahari [“Cities of the Biblical World: An Introduction to the Archaeology, Geography, and History of Biblical Sites”, LaMoine F. DeVries, hal.200, juga di “The Archaeology of the Jerusalem Area, W. Harold Mare, hal.20, juga “The International Standard Bible Encyclopedia, Vol.2, Geoffrey W. Bromiley, hal.1000 dan “Getting Back Into the Garden of Eden”, Edward Conklin, hal.22].

Salem, Dewa senja Kanaan, adalah Dewa KETERATURAN dan KEADILAN. Baik David maupun Shlomo menghindari friksi, tidak hanya antar dua kebudayaan, yaitu Kanaan dan kaum pendatang baru Yahudi, namun juga antar Dewa SALEM dan Dewa YAHWE, Dewa perang kaum Yahudi. Untuk menghormati Salem, Shlomo mengubah kuil yang asalnya terbuka menjadi beratap dan mengayomi dua grup kepercayaan berbeda. Bernhard Lang, menambahkan dalam catatan kakinya, tulisan Keel, “Die Geschichte Yerusalem undi Entstehung des Monotheismus”, vol. 1, hlm. 264-333: “bukti yang berasal dari nubuat alkitabiah yang kata-kata aslinya, meski dikaburkan dalam teks Ibrani, dapat direkonstruksi berdasarkan teks Septuagiant/Yunani: ‘Matahari tahu dari langit bahwa Yahweh akan tinggal dalam kegelapan. Jadi, bangunlah rumah bagiku, sebuah rumah yang agung sehingga aku dapat tinggal di dalamnya lagi‘ (direkonstruksi dari 1 Raja-raja 8:53 teks Yunani; bahasa Ibrani hanya memiliki fragmen yang diedit dalam 1 Raja-raja 8: 12-13). Implikasinya adalah Dewa matahari butuh sebuah kuil dengan ruang gelap untuk menampung tamunya, Yahweh” [“Hebrew Life and Literature: Selected Essays“, Bernhard Lang].

Di bukunya. Josephus memuat 3 nama dalam satu jaman yaitu “Amon/Hamon”, Musa dan firaun (Bocchoris, dinasti ke-24). Menariknya, Quran juga mempunyai 3 rangkaian nama yaitu Firaun, Haman/(هامان) dan Qarun/(قارون) di kisah Musa (AQ 29.39, AQ 40.23-24). Haman adalah nama orang Mesir dan Qarun adalah orang Israel yang sangat kaya dan bangga dengan kekayaannya (AQ 28.76), berilmu (AQ 28.77) namun entah sebesar apa kesalahan Qarun, karena Ia beserta rumahnya berakhir di dibenamkan Allah SWT ke dalam bumi (AQ 28.81). Kisah orang kaya, arogan dan ditelan bumi beserta kekayaan ada juga di Alkitab (Bil 16.1-13, 16.28-34, 26.10) yaitu tentang turunan Lewi (Korah) dan turunan Ruben (Datan, Abiram dan On), mereka kerap membantah turunan Lewi (Musa dan Harun) akibatnya mereka dan kekayaannya ditelan bumi (Bil 26.9-10, 106.17, Ulangan 11.6). Komentar Rabbi di Bamidbar Rabbah 22.7 menyatakan “Dua orang kaya muncul di dunia, Korah dari Israel dan Haman dari bangsa-bangsa di dunia“, namun Haman dan Korah TIDAK HIDUP di satu jaman yang sama, karena di 20.1, “Dan dia memberi Haman kekayaan, dan dia mengambil seluruh bangsa untuk dibantai” yang merujuk kitab Ester 4.7. Sehingga bagi Alkitab, dari 3 nama, hanya 2 nama (Qarun/Korah dan Firaun) ada di jaman Musa, tapi Haman TIDAK, yang menurut kitab Esther, Ia ada di jaman raja Xerxer I (abad ke-5 SM). [lihat: Korah]

Beberapa situs Islam [Harun Yahya dari Islamic Awareness (dan Bucaille); Islamic Awareness dari Bucaille] mengklaim bahwa Haman yang ada di Quran tercantum dalam Hierograph Mesir dan ini tidak benar karena Haman yang tertera di Hieroglif adalah nama dewa, HEMEN-HETEP yang disingkat HMUNHU/HEMEN-H.


Kepala pemahat bernama Userhat hidup di akhir dinasti ke-18/awal dinasti ke-19 disebut: “penyebab patung-patung pemujaan beristirahat di kuil mereka“. (Dewa) Hemen di Hefat adalah salah satu dewa yang menjadi tanggung jawab Userhat [Biographical texts from Ramessid Egypt,Elizabeth Frood, John Baines, 2007] [Lihat: Pharaoh, Haman, Contradictions & The Qur’an atau Haman Hoax, adalah hoax-hoax yang berasal dari: Maurice Bucaille, Islamic Awareness, Harun Yahya dan Caner Taslaman]

Entah apa sebabnya Allah SWT menyebutkan Korah sebagai Qarun dan fatalnya Allah tampak jelas tidak tahu bahwa Haman-nya Esther, TIDAK SATU JAMAN dengan Musa, juga Allah tampaknya tidak tahu bahwa Hamannya Musa adalah dewa Mesir[↑].

Yang dapat dirangkum di sini adalah bahwa keberadaan raja-raja Mesir yang disebutkan di atas merupakan fakta sejarah, namun keberadaan Musa orang Yahudi yang pergi dari Mesir sampai perlu membelah laut dan menenggelamkan Firaun yang tercantum di Quran dan Alkitab adalah FIKTIF, tidak satupun arkeolog mampu memastikan kebenaran adanya eksodus, lokasi dan juga penyeberangannya. William G. Dever (Profesor dan Arkeolog) menyatakan TIDAK ADA satupun temuan arkeologi yang mendukung pernah terjadi eksodus dari Mesir (“Who Were the Early Israelites, and where Did They Come From?”, hal.5) dan juga Ia menyatakan bahwa TIDAK ADA 1 teks Mesir-pun yang menyinggung adanya “Ibrani” atau “Israel” di Mesir (Hal.13).

Malah, saking tidak adanya, temuan-pun sengaja diubah dan dipalsukan, misalnya pada klaim kata “Israel” di prasasti Merneptah (raja ke-4 dinasti ke-19), sebagaimana disampaikan Professor Joseph Davidovits, di artikel, “Error or forgery on the Stele of Merneptah, known as Israel Stele“:


    …Saya telah tunjukan bahwa “iisii-r-iar” sebenarnya adalah kalimat Mesir yang artinya: “mereka diasingkan karena dosa mereka”. Pharaohs Ramses II dan Merneptah menggunakan kalimat ini ketika berbicara tentang pengasingan para pengikut Akhenaton, yang dipaksa meninggalkan Mesir. Nama kaum ini “iisii-r-iar” diubah menjadi “israël”, melalui perubahan huruf ‘r’ menjadi ‘l’.

    ..Ini berkaitan dengan kalimat “Yanoam menjadi tidak ada“, yang ada sebelum menyebutkan “iisii-r-iar ”. Akan saya tunjukan di sini, terjemahan ini seluruhnya salah, karena merupakan hasil pemalsuan satu dari tanda hieroglyphic. Sebagai permulaan, mari kita lihat terjemahan baris ke-27 dari prasasti yang di terbitkan pada tahun 1909 (cf: P. Lacau, Steles of the new empire (general Catalogue of Egyptian antiquities of the Museum of Cairo, Cairo, 1909):

    ..Kita temukan bahwa kalimat “yanom menjadi tidak ada” sekelompok hieroglyphs (mata “Re” + burung Nasar “aa”) tidak diterjemahkan, namun ditandai “sic” (error). Transkrip kalimat hieroglyph yang diwakili burung nasar menjadi meragukan, sama seperti kalimat “Yanoam menjadi tidak ada”. Konsekuensinya, Signifikansi dari seluruh sisa baris, terutama pada bagian yang mengandung “iisii-r-iar”, Israel, juga menjadi meragukan.

    ..Ketika saya mulai mempelajari prasasti ini, pada akhir tahun sembilan puluhan, saya bertanya-tanya mengapa transripsi burung nasar ini bermasalah, dan tidak diterjemahkan..

    Pada photo di bawah perbandingan huruf “aa” (burung nasar) pada atas baris ke-26, ditandai “A”, dengan huruf yang sama di baris ke-27 (sic), ditandai “B”.

    Kita lihat bahwa untuk huruf yang ditandai A, goresan kapur putihnya sempurna mengikuti ukiran hieroglyph (burung nasar). Sebaliknya, untuk huruf (sic) yang ditandai B, goresan kapur pada leher dan kepala burun nasar itu terus diluar ukiran. Dengan demikian, ukiran tidak sesuai dengan huruf “aa”. Ini adalah PEMALSUAN.

    Sekarang, mari kita lihat lebih dekat ukiran pada huruf bertanda “B” (sic) dan sorotan warna merah pada kontur ukiran dari ini huruf sic

    Kontur berwarna merah di ukiran hieroglyph menunjukan bahwa itu adalah seekor burung hantu, yaitu hurum “m” dan bukan huruf “aa” (burung nasar). Kita sekarang dapat menuliskan pembacaan dari huruf yang hilang yang TIDAK DITERJEMAHKAN sampai sekarang. Kita membaca “rem-m” dan kita terjemahkan sebagai tangisan/air mata.

    Grup hieroglyph “m tem wun” terpisah menja didua bagian karena keberadaan rol papyrus roller yang mendahului kelinci (wun). Kalimat “Yanoam menjadi tidak ada” berubah menjadi “/iinaamm rem-m tem/wun iisii-r-iar (kaum)/”, dan terjemahan baru menjadi: tangisan Yanoam telah habis; yang tersisa adalah iisi-r-iar, suatu kaum.

    Terjemahan baru baris ke-27 dengan sorotan tanda baca (kotak persegi)


    Pemalsuan huruf m (burung hantu) menjadi huruf aa (burung nasar)
    kemungkinan adalah fakta dari penemuan prasasti, Flinders Petrie, di tahun 1896. Sejak dari awal, ia dan para rekannya melakukan penelurusan goresan kapur di hieroglyph ini dengan cara seperti ini, karena, dipikiran mereka, Firaun Merneptah harus menyerang dan menghancurkan bangsa Kanaan, dalam pengejarannya pada bangsa yang mengungsi/keluar, Israel…


Terakhir,
Juga terdapat kisah Musa di literatur Hindu yang tercantum di dongeng Bhavisya/Bhavisya purana dan hanya memuat sekelumit seperti ini:

    Ketika Kaliyuga berlalu 2000 tahun, Dinasti Mleccaha [kaum barbar, tak paham tradisi India] meningkat. Mereka menciptakan dan tumbuhnya banyak jalan [pandangan/ajaran] dan secara bertahap seluruh bumi menjadi penuh orang-orang Mleccaha. Pemimpin spritual dan guru mereka bernama Musa. Ia tinggal di pinggiran sungai Sarasvati, dan menyebarkan doktrinnya keseluruh dunia.


Dongeng Bhavisya, sama sekali tidak memuat dongeng membelah laut.

Walah..

Tradisi Hindu menceritakannya sebagai dongeng [arti dari Purana] dan kitab Purana masuk dalam kelompok Smerti [non wahyu] bahkan dalam dongengnya pun tidak ditambahkan lagi dengan adegan membelah laut, sementara tradisi ajaran yang menyatakan bahwa kisah Musa adalah wahyu Tuhan malah memuatnya dengan adegan membelah laut.[↑]

Mengherankan..



Gambar di ambil dari sini, sini, sini, sini, sini, sini, dan sini


Note:

(Klik Buka/Tutup!) Republika online: Maurice Bucaille tak Ragu dengan Kebenaran Alquran [↑]

By Republika Newsroom, Senin, 13 Juli 2009,

Penelitiannya tentang Mumi Firaun membawanya pada kebenaran Alquran
Suatu hari di pertengahan tahun 1975, sebuah tawaran dari pemerintah Prancis datang kepada pemerintah Mesir. Negara Eropa tersebut menawarkan bantuan untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun. Tawaran tersebut disambut baik oleh Mesir. Setelah mendapat restu dari pemerintah Mesir, mumi Firaun tersebut kemudian digotong ke Prancis. Bahkan, pihak Prancis membuat pesta penyambutan kedatangan mumi Firaun dengan pesta yang sangat meriah.

Mumi itu pun dibawa ke ruang khusus di Pusat Purbakala Prancis, yang selanjutnya dilakukan penelitian sekaligus mengungkap rahasia di baliknya oleh para ilmuwan terkemuka dan para pakar dokter bedah dan otopsi di Prancis. Pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian mumi ini adalah Prof Dr Maurice Bucaille.

Bucaille adalah ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris. Ia dilahirkan di Pont-L’Eveque, Prancis, pada 19 Juli 1920. Bucaille memulai kariernya di bidang kedokteran pada 1945 sebagai ahli gastroenterology. Dan, pada 1973, ia ditunjuk menjadi dokter keluarga oleh Raja Faisal dari Arab Saudi.

Tidak hanya anggota keluarga Raja Faisal yang menjadi pasiennya. Anggota keluarga Presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat, diketahui juga termasuk dalam daftar pasien yang pernah menggunakan jasanya.

Namanya mulai terkenal ketika ia menulis buku tentang Bibel, Alquran, dan ilmu pengetahuan modern atau judul aslinya dalam bahasa Prancis yaitu La Bible, le Coran et la Science di tahun 1976.

Ketertarikan Bucaille terhadap Islam mulai muncul ketika secara intens dia mendalami kajian biologi dan hubungannya dengan beberapa doktrin agama. Karenanya, ketika datang kesempatan kepada Bucaille untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun, ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menguak misteri di balik penyebab kematian sang raja Mesir kuno tersebut.

Ternyata, hasil akhir yang ia peroleh sangat mengejutkan! Sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh sang mumi adalah bukti terbesar bahwa dia telah mati karena tenggelam. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut dan kemudian dibalsem untuk segera dijadikan mumi agar awet.

Penemuan tersebut masih menyisakan sebuah pertanyaan dalam kepala sang profesor. Bagaimana jasad tersebut bisa lebih baik dari jasad-jasad yang lain, padahal dia dikeluarkan dari laut?

Prof Bucaille lantas menyiapkan laporan akhir tentang sesuatu yang diyakininya sebagai penemuan baru, yaitu tentang penyelamatan mayat Firaun dari laut dan pengawetannya. Laporan akhirnya ini dia terbitkan dengan judul Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern, dengan judul aslinya, Les momies des Pharaons et la midecine. Berkat buku ini, dia menerima penghargaan Le prix Diane-Potier-Boes (penghargaan dalam sejarah) dari Academie Frantaise dan Prix General (Penghargaan umum) dari Academie Nationale de Medicine, Prancis.

Terkait dengan laporan akhir yang disusunnya, salah seorang di antara rekannya membisikkan sesuatu di telinganya seraya berkata: ”Jangan tergesa-gesa karena sesungguhnya kaum Muslimin telah berbicara tentang tenggelamnya mumi ini”. Bucaille awalnya mengingkari kabar ini dengan keras sekaligus menganggapnya mustahil.

Menurutnya, pengungkapan rahasia seperti ini tidak mungkin diketahui kecuali dengan perkembangan ilmu modern, melalui peralatan canggih yang mutakhir dan akurat.

Hingga salah seorang di antara mereka berkata bahwa Alquran yang diyakini umat Islam telah meriwayatkan kisah tenggelamnya Firaun dan kemudian diselamatkannya mayatnya.

Ungkapan itu makin membingungkan Bucaille. Lalu, dia mulai berpikir dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bahkan, mumi tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898 M, sementara Alquran telah ada ribuan tahun sebelumnya.

Ia duduk semalaman memandang mayat Firaun dan terus memikirkan hal tersebut. Ucapan rekannya masih terngiang-ngiang dibenaknya, bahwa Alquran–kitab suci umat Islam–telah membicarakan kisah Firaun yang jasadnya diselamatkan dari kehancuran sejak ribuan tahun lalu.

Sementara itu, dalam kitab suci agama lain, hanya membicarakan tenggelamnya Firaun di tengah lautan saat mengejar Musa, dan tidak membicarakan tentang mayat Firaun. Bucaille pun makin bingung dan terus memikirkan hal itu.

Ia berkata pada dirinya sendiri. ”Apakah masuk akal mumi di depanku ini adalah Firaun yang akan menangkap Musa? Apakah masuk akal, Muhammad mengetahui hal itu, padahal kejadiannya ada sebelum Alquran diturunkan?”

Prof Bucaille tidak bisa tidur, dia meminta untuk didatangkan Kitab Taurat (Perjanjian Lama). Diapun membaca Taurat yang menceritakan: ”Airpun kembali (seperti semula), menutupi kereta, pasukan berkuda, dan seluruh tentara Firaun yang masuk ke dalam laut di belakang mereka, tidak tertinggal satu pun di antara mereka”.

Kemudian dia membandingkan dengan Injil. Ternyata, Injil juga tidak membicarakan tentang diselamatkannya jasad Firaun dan masih tetap utuh. Karena itu, ia semakin bingung.

Berikrar Islam
Setelah perbaikan terhadap mayat Firaun dan pemumiannya, Prancis mengembalikan mumi tersebut ke Mesir. Akan tetapi, tidak ada keputusan yang mengembirakannya, tidak ada pikiran yang membuatnya tenang semenjak ia mendapatkan temuan dan kabar dari rekannya tersebut, yakni kabar bahwa kaum Muslimin telah saling menceritakan tentang penyelamatan mayat tersebut. Dia pun memutuskan untuk menemui sejumlah ilmuwan otopsi dari kaum Muslimin.

Dari sini kemudian terjadilah perbincangan untuk pertama kalinya dengan peneliti dan ilmuwan Muslim. Ia bertanya tentang kehidupan Musa, perbuatan yang dilakukan Firaun, dan pengejarannya pada Musa hingga dia tenggelam dan bagaimana jasad Firaun diselamatkan dari laut.

Maka, berdirilah salah satu di antara ilmuwan Muslim tersebut seraya membuka mushaf Alquran dan membacakan untuk Bucaille firman Allah SWT yang artinya: ”Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS Yunus: 92).

Ayat ini sangat menyentuh hati Bucaille. Ia mengatakan bahwa ayat Alquran tersebut masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Hatinya bergetar, dan getaran itu membuatnya berdiri di hadapan orang-orang yang hadir seraya menyeru dengan lantang: ”Sungguh aku masuk Islam dan aku beriman dengan Alquran ini”.

Ia pun kembali ke Prancis dengan wajah baru, berbeda dengan wajah pada saat dia pergi dulu. Sejak memeluk Islam, ia menghabiskan waktunya untuk meneliti tingkat kesesuaian hakikat ilmiah dan penemuan-penemuan modern dengan Alquran, serta mencari satu pertentangan ilmiah yang dibicarakan Alquran.

Semua hasil penelitiannya tersebut kemudian ia bukukan dengan judul Bibel, Alquran dan Ilmu Pengetahuan Modern, judul asli dalam bahasa Prancis, La Bible, le Coran et la Science. Buku yang dirilis tahun 1976 ini menjadi best-seller internasional (laris) di dunia Muslim dan telah diterjemahkan ke hampir semua bahasa utama umat Muslim di dunia.

Karyanya ini menerangkan bahwa Alquran sangat konsisten dengan ilmu pengetahuan dan sains, sedangkan Al-Kitab atau Bibel tidak demikian. Bucaille dalam bukunya mengkritik Bibel yang ia anggap tidak konsisten dan penurunannya diragukan. [↑]

(Klik Buka/Tutup!) Antaranews.com: Anginkah Yang Membelah Laut Merah buat Musa? [↑]

Rabu, 22 September 2010 10:57 WIB,

Washington, AS (ANTARA News) – Angin dari timur yang berhembus kencang dikabarkan membantu terbelahnya Laut Merah oleh Nabi Musa seperti yang tertulis pada kitab suci agama Samawi, kata para ilmuwan Amerika Serikat, Selasa.

Simulasi komputer memperlihatkan bagaimana angin dapat menghempaskan air laut sehingga mencapai dasar lautan dan membentuk laguna, kata kelompok peneliti di Badan Nasional Penelitian Atmosfir dan Universitas Colorado di Boulder, sebagaimana dikutip dari Reuters.

“Simulasi tersebut hampir cocok dengan bukti pada rombongan Musa,” kata pemimpin penelitian itu, Carl Drews dari NCAR.

Menurut Carl, berdasarkan ilmu fisika, angin dapat menghempaskan air menjadi sebuah jalur yang aman untuk dilintasi karena sifatnya yang luwes, kemudian kembali mengalir seperti semula.

Menurut tulisan dari kitab suci Kristen dan Islam, Nabi Musa, memimpin umat Israel keluar dari Mesir atas kejaran Firaun pada 3.000 tahun yang lalu.

Laut Merah saat itu terbelah sementara untuk membantu rombongan Musa melintas dan langsung menutup kembali, menenggelamkan balatentara Firaun.

Drews dan kelompoknya meneliti tentang angin topan yang berasal dari Samudera Pasifik menciptakan badai besar yang dapat menghempaskan air di laut dalam.

Kelompoknya menunjukkan kawasan selatan Laut Mediterania yang diduga menjadi tempat penyeberangan itu, dan memaparkan bentuk tanah yang berbeda karena terbentuk setelahnya serta memicu isu mengenai lautan yang terbelah.

Pemaparan tersebut membutuhkan bentuk tapal kuda Sungai Nil dan laguna dangkal di sepanjang garis pantai.

Hal ini memperlihatkan angin berkecepatan sekitar 101 kilometer per jam yang berhembus selama 12 jam, dapat menghempaskan air pada kedalaman sekitar dua meter.

“Laguna itu memiliki panjang sejauh 3-4 kilometer dan lebar sejauh lima kilometer yang terbelah selama empat jam,” kata mereka di dalam Jurnal Perpustakaan Umum Ilmu Pengetahuan, PloS ONE.

“Masyarakat telah dibuat kagum atas cerita pembelahan laut itu, membayangkan bahwa hal itu terjadi secara nyata,” kata Drew menambahkan bahwa penelitian ini menjelaskan tentang pembelahan laut tersebut berdasarkan hukum fisika. (ANT/A024) [↑]

(Klik Buka/Tutup!) Parting the waters: Computer modeling applies physics to Red Sea escape route [↑]

September 21, 2010,

BOULDER—The biblical account of the parting of the Red Sea has inspired and mystified people for millennia. A new computer modeling study by researchers at the National Center for Atmospheric Research (NCAR) and the University of Colorado at Boulder (CU) shows how the movement of wind as described in the book of Exodus could have parted the waters.

The computer simulations show that a strong east wind, blowing overnight, could have pushed water back at a bend where an ancient river is believed to have merged with a coastal lagoon along the Mediterranean Sea. With the water pushed back into both waterways, a land bridge would have opened at the bend, enabling people to walk across exposed mud flats to safety. As soon as the wind died down, the waters would have rushed back in.

Red Sea
The physics of a land bridge. This illustration shows how a strong wind from the east could push back waters from two ancient basins–a lagoon (left) and a river (right)–to create a temporary land bridge. New research that such a physical process could have led to a parting of waters similar to the description in the biblical account of the Red Sea. (Illustration by Nicolle Rager Fuller.)

The study is intended to present a possible scenario of events that are said to have taken place more than 3,000 years ago, although experts are uncertain whether they actually occurred. The research was based on a reconstruction of the likely locations and depths of Nile delta waterways, which have shifted considerably over time.

“The simulations match fairly closely with the account in Exodus,” says Carl Drews of NCAR, the lead author. “The parting of the waters can be understood through fluid dynamics. The wind moves the water in a way that’s in accordance with physical laws, creating a safe passage with water on two sides and then abruptly allowing the water to rush back in.”

The study is part of a larger research project by Drews into the impacts of winds on water depths, including the extent to which Pacific Ocean typhoons can drive storm surges. By pinpointing a possible site south of the Mediterranean Sea for the crossing, the study also could be of benefit to experts seeking to research whether such an event ever took place. Archeologists and Egyptologists have found little direct evidence to substantiate many of the events described in Exodus.

The work, published in the online journal, PLoS ONE, arose out of Drews’ master’s thesis in atmospheric and oceanic sciences at CU. The computing time and other resources were supported by the National Science Foundation.

Wind on the water
The Exodus account describes Moses and the fleeing Israelites trapped between the Pharaoh’s advancing chariots and a body of water that has been variously translated as the Red Sea or the Sea of Reeds. In a divine miracle, the account continues, a mighty east wind blows all night, splitting the waters and leaving a passage of dry land with walls of water on both sides. The Israelites are able to flee to the other shore. But when the Pharaoh’s army attempts to pursue them in the morning, the waters rush back and drown the soldiers.

Wind setdown in the Nile Delta. Sustained winds can cause an event known as a wind setdown in which water levels are temporarily lowered. This animation shows how a strong east wind over the Nile Delta could have pushed water back into ancient waterways after blowing for about nine hours, exposing mud flats and possibly allowing people to walk across. (Animation by Tim Scheitlin and Ryan McVeigh, NCAR. News media terms of use*)

Scientists from time to time have tried to study whether the parting of the waters, one of the famous miracles in the Bible, can also be understood through natural processes. Some have speculated about a tsunami, which would have caused waters to retreat and advance rapidly. But such an event would not have caused the gradual overnight divide of the waters as described in the Bible, nor would it necessarily have been associated with winds.

Other researchers have focused on a phenomenon known as “wind setdown,” in which a particularly strong and persistent wind can lower water levels in one area while piling up water downwind. Wind setdowns, which are the opposite of storm surges, have been widely documented, including an event in the Nile delta in the 19th century when a powerful wind pushed away about five feet of water and exposed dry land.

A previous computer modeling study into the Red Sea crossing by a pair of Russian researchers, Naum Voltzinger and Alexei Androsov, found that winds blowing from the northwest at minimal hurricane force (74 miles per hour) could, in theory, have exposed an underwater reef near the modern-day Suez Canal. This would have enabled people to walk across. The Russian study built on earlier work by oceanographers Doron Nof of Florida State University and Nathan Paldor of Hebrew University of Jerusalem that looked at the possible role of wind setdown.

The new study, by Drews and CU oceanographer Weiqing Han, found that a reef would have had to be entirely flat for the water to drain off in 12 hours. A more realistic reef with lower and deeper sections would have retained channels that would have been difficult to wade through. In addition, Drews and Han were skeptical that refugees could have crossed during nearly hurricane-force winds.

Reconstructing ancient topography
Studying maps of the ancient topography of the Nile delta, the researchers found an alternative site for the crossing about 75 miles north of the Suez reef and just south of the Mediterranean Sea. Although there are uncertainties about the waterways of the time, some oceanographers believe that an ancient branch of the Nile River flowed into a coastal lagoon then known as the Lake of Tanis. The two waterways would have come together to form a U-shaped curve.

An extensive analysis of archeological records, satellite measurements, and current-day maps enabled the research team to estimate the water flow and depth that may have existed 3,000 years ago. Drews and Han then used a specialized ocean computer model to simulate the impact of an overnight wind at that site.

They found that a wind of 63 miles an hour, lasting for 12 hours, would have pushed back waters estimated to be six feet deep. This would have exposed mud flats for four hours, creating a dry passage about 2 to 2.5 miles long and 3 miles wide. The water would be pushed back into both the lake and the channel of the river, creating barriers of water on both sides of newly exposed mud flats.

As soon as the winds stopped, the waters would come rushing back, much like a tidal bore. Anyone still on the mud flats would be at risk of drowning.

The set of 14 computer model simulations also showed that dry land could have been exposed in two nearby sites during a windstorm from the east. However, those sites contained only a single body of water and the wind would have pushed the water to one side rather than creating a dry passage through two areas of water.

“People have always been fascinated by this Exodus story, wondering if it comes from historical facts,” Drews says. “What this study shows is that the description of the waters parting indeed has a basis in physical laws.” [↑]


Bisa Jadi..Surga dan Neraka..sama-sama Panasnya!


Berikut di bawah ini adalah sebuah cerita yang udah tahunan lamanya tersirkulasi di Internet.

    Terdapat sebuah pertanyaan saat Ujian Tengah Semester Universitas Washington, karena jawabannya begitu “dalam” hingga Sang Profesor membagikan jawabannya pada rekan-rekan seprofesinya…

    Bonus Pertanyaan:

    Apakah Neraka eksotermik (mengeluarkan panas) atau endotermik (menyerap panas)?

    Kebanyakan siswa menuliskan bukti kepercayaannya dengan menggunakan Hukum Boyle, (gas mendingin ketika mengembang dan memanas ketika memampat) atau beberapa variannya. namun, satu siswanya menulis sebagai berikut:

      “Pertama-tama, kita perlu tahu bagaimana massa neraka berubah-ubah setiap waktunya. Jadi kita perlu mengetahui rata-rata jiwa-jiwa yang keluar dan masuk neraka. Saya pikir untuk amannya kita dapat berasumsi bahwa sekali jiwa masuk neraka ia tidak akan pergi lagi. Oleh karena itu, tidak ada jiwa yang keluar dari neraka.

      Adapun untuk berapa banyak jiwa yang masuk neraka, mari kita lihat dari agama-agama yang berbeda yang masih ada hingga saat ini. Beberapa dari agama-agama tersebut menyatakan bahwa jika anda bukan pemeluk agama mereka, maka anda akan masuk neraka.

      Karena ada lebih dari satu agama dan juga karena orang memeluk tidak lebih dari satu agama, kita dapat memproyeksikan bahwa semua jiwa pergi ke neraka. Dengan tingkat kelahiran dan kematian sebagaimana adanya, maka kita dapatkan jumlah jiwa-jiwa di neraka meningkat secara eksponensial.

      Sekarang, kita lihat tingkat perubahan volume neraka akibat Hukum Boyle yang menyatakan agar temperatur dan tekanan di neraka tetap sama, maka volume neraka harus mengembang sebanyak jiwa yang ditambahkan. Hal ini memberikan dua kemungkinan:

      1. Jika neraka berkembang pada laju yang lebih lambat daripada tingkat jiwa yang masuk ke neraka, maka suhu dan tekanan di neraka akan meningkat hingga seluruh neraka pecah.
      2. Tentu saja, jika neraka berkembang dengan laju lebih cepat dibandingkan dengan tingkat penambahan jiwa-jiwa ke neraka, maka suhu dan tekanan akan turun hingga neraka membeku.

      Jadi, yang mana?

      Jika kita menerima dalil yang Teresa berikan padaku selama kuliah tahun pertamaku yaitu,

      Akan menjadi hari yang dingin di neraka sebelum Aku tidur denganmu

      dengan menyertakan fakta bahwa aku menidurinya tadi malam, maka yang no.2 pastilah benar dan dengan demikian saya yakin bahwa neraka itu eksothermik dan telah membeku.

      Konsekuensi dari teori ini, karena neraka telah membeku, maka tidak dapat lagi menerima jiwa manapun, dan oleh karenanya maka neraka telah punah..yang tertinggal hanyalah Surga, dibuktikan dengan kehadiran mahluk ilahi yang menjelaskan mengapa, malam tadi, Teresa terus-terusan menjerit, “Oh tuhanku

    Hanya mahasiswa ini yang menerima A.

—-

Catatan di bawah ini merupakan penjelasan historis kisah di atas dan analisa lanjutan dari beberapa sumber mengenai temperatur di Surga dan Neraka:

Kisah di atas bukan merupakan tulisan asli namun salah satu variasinya. Aslinya di tulis oleh Paul Darwin Foote, seorang ilmuwan, yang dikenal melalui karyanya pada bidang pengukuran temperatur tinggi dan muncul di “Rumah Organ” Perusahaan Instrumen Taylor pada tahun 1920.

Saat karier Foote sedang mapannya, Ia menulis artikel sebagai humor berjudul “Suhu Surga dan Neraka” dengan melakukan deduksi ilmiah pada deskripsi mengenai keadaan bermacam substansi material yang tertera di ALKITAB dan menyimpulkan bahwa Surga LEBIH PANAS dari Neraka.

Tulisan itu muncul tanpa atrribut di “Applied Optics” vol. 11, A14 edisi tahun 1972 dan sebagai cerita pada sebuah buku tahun 1962.

Tentunya kita tau bahwa temperatur Surga dan Neraka tidak tertera di Alkitab, bisa jadi karena Termometer (Celcius, Farenheit, Reaumur, Rankin dan Kelvin) belum tercipta saat itu.

Namun mari kita lihat apa sih deduksi humor yang ditulis foote, seperti tulisan yang tercantum di “applied optics“, atau yang tertera di sini dan di sini adalah seperti di bawah ini:

    Suhu Surga adalah menurut petunjuk yang tertera pada Yesaya 30:26,

      Maka terang bulan purnama akan seperti terang matahari terik dan terang matahari terik akan tujuh kali ganda, yaitu seperti terangnya tujuh hari, pada waktu TUHAN membalut luka umat-Nya dan menyembuhkan bekas pukulan.

    Menurut tafsiran satu individu pada ayat tersebut dengan arti bahwa radiasi yang diterima oleh Surga dari matahari adalah 7 x 7 = 49 lipat Radiasi dari yang diterima bumi saat ini. Kemudian, di tambahkan dengan kontribusi terangnya bulan yang sama dengan teriknya matahari saat ini. Jadi, Surga akan menerima [49 + 1] radiasi sinar Matahari yang diterima bumi saat ini. Dengan menggunakan hukum ke empat kekuatan radiasi Stefan-Boltzmann, yaitu hubungan antara suhu benda dengan radiasi yang diterima:

      [H/E]4 = 50
      Di mana E = suhu absolute Earth (Bumi), yaitu 300°K (273 + 27), yaitu 0°C ditambah range maksimum suhu permukaan bumi dengan 4 musim di katulistiwa: 18°C – 27°C

    Maka dapat diketahui suhu absolute Heaven (Surga), yaitu 798°K atau 977°F atau 525°C!

    Lain lagi jika menggunakan hukum boyle, menentukan tekanan atmospir yang kemudian dikonversi menjadi suhu, akibat jumlah seluruh orang yang masuk surga hingga kiamat jika dibandingkan dengan volume surga bentuk kubus: 12.000 stadia3 [Wahyu 21.16-17] [1 mil = 10 stadia; 12.000 stadia = 1200 mil; 1 Mil = 1.609,344 M; 12.000 stadia = 1931,2 KM; LUASNYA = 3,73 x 106 KM2 (belum dipotong luas untuk ruang hijau yang terdiri dari taman, sungai dan danau yang bukan untuk hunian); VOLUMENYA = 7.2 x 109 Km3]. Ruangan tertutup tembok berbentuk kubus ini akan menjadi isolasi panas yang baik pula, bukan?!

    Suhu Neraka adalah menurut petunjuk yang tertera pada Kitab Wahyu 21:8,

      Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.

    Suhu elemen sulfur dalam keadaan mendidih cair adalah 832 ºF atau 444.6°C!

    Jadi, suhu Surga 80°C atau 145 ºF LEBIH PANAS dari suhu Neraka!

    Namun, berdasarkan “Journal of Irreproducible Results” untuk edisi tahun 1979 terdapat artikel yang ditulis oleh Dr. Tim Haeley sebagai sanggahan atas “Applied optics“, menyimpulkan bahwa NERAKA jauh lebih panas dari SURGA:

      Tekanan atmosphir NERAKA = 14.5 x 109 ATM (menggunakan hukum Boyle: P1V1 = P2V2, maka P2 = P1V1/V2, asumsi suhu konstan, equilibirium. Namun Ia keliru dalam mengasumsi lokasi neraka/gehenna yaitu di lembah Gehinnom/Jehoshaphat, sehingga luasnya hanya: 6 x 107 M2 dan juga diasumsikan tinggi neraka = 2 M [Maka V2 = 6 x 107 x 2 M3]. Diasumsikan jumlah nerakawan hingga tahun 2000 = 29.422 x 1018 orang dengan asumsi kebutuhan ruang = 30cm × 20cm x rata-rata tinggi nerakawan 100cm = 0.06 M3 [Maka P1V1 = 29.422 x 1018 x 0.06 M3].

      Untuk suhu surga yang 525°C adalah setara dengan 2.86 ATM [Persamaan Clausius-Cleypeyron: Log P = 7.43287 – 3268.2/T, P = tekanan dalam mm Hg dan T = titik didih angkat °K: Log P = 7.43287 – (3268.2/798°K) = 3.3373813, P = 2174.607 mm Hg = 2.86 ATM]

      Tentu saja dengan cara ini, maka Neraka MENJADI JAUH LEBIH PANAS daripada Surga!

      Masalahnya, lembah Gehinnom/Jehoshaphat bukanlah neraka tapi tempat persembahan bagi Molokh dan Baal [Misal: 1 Raja 11.7, 2 Raja 23.10, Yeremia 32.35], sedangkan lokasi neraka justru ada di permukaan bumi, merujuk pada peristiwa setelah kebangkitan pertama, ketika iblis dilepaskan dari penjaranya, menyesatkan 4 penjuru bumi beserta para tentaranya (para orang mati di alam kubur dalam bumi) yang naik ke seluruh permukaan bumi dan kemudian dari langit turunlah api menghanguskan mereka, dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya [Wahyu 20.5-10].

      Sehingga, luas neraka adalah seluas daratan bumi = 148.94 x 106 KM2 (29.2% Luas Bumi dan jika dibandingkan dengan luas Yerusalem baru, maka luas surga 2.5% luas Neraka) dengan tinggi lautan api sebagaimana besarnya api yang turun dari langit dengan tekanan atmospir permukaan ruang terbuka, maka suhunya adalah suhu belerang cair.

Nah kawan-kawan,
Apapun hasil perhitungan mereka, kelihatannya mereka bisa sepakat bahwa titik didihnya sulfur cair adalah 444.6°C, sehingga para kaum berdosa ketika mendapat bagiannya di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang, sesungguhnya bagaikan orang yang berendam “ngadem” di saat udara NERAKA [dan juga SURGA] yang sedang panas-panasnya. Malah sebaiknya para penghuni SURGA meluangkan waktu mereka untuk acara “ngadem” bareng para pendosa di danau hukuman. Ya, Bagaimana tidak? karena suhu sulfur cair yang mendidih di danau hukuman itu LEBIH RENDAH 80°C dari suhu di SURGA!

Paling tidak,
Hal ini bisa menjelaskan satu hal saja yaitu di surga, tubuh fisik manusia tidak perlukan karena akan meleleh di suhu yang sangat tinggi! dan juga menjelaskan banyak hal lagi di antaranya adalah sangatlah tidak nyaman di udara yang begitu panasnya dan tetap melakukan aktivitas tanpa henti dengan 72 bidadari, bukan?!

Note:
Tentunya akan ada aja yang berkeberatan, Hoiii..surga ajaran agama gw make tubuh fisik, tao! jadi, atas kehendak “Allah” yang memungkinkan segala hal bisa terjadi, pastilah bisa melakukan aktivitas tanpa henti dengan 72 bidadari..dan itu janji Allah, tao!

Oke deh, Brotha!

It’s all fine..So, Let’s make more bomb and not love, shall We?!




[Gambar di ambil dari: sini, sini, sini, sini dan sini]

Listrik dan magnet Tubuh, Menghidupkan Anjing Mati, Tuhan, Sakit, Cemas, Takut, The MATRIX dan Kucing


Sesuatu yang tidak bisa dideteksi oleh salah satu dari: Indera, alat bantu apapun dan/atau metoda apapun maka disebut tidak ada dan jika sebaliknya disebut ada! Contoh, Medan magnet tidak dapat dideteksi oleh 5 Indera manusia, namun melalui serbuk besi, kita akan lihat bentuknya.


Listrik dan Medan Magnet dalam tubuh
Prof. Galvani ditahun 1780-1791 melakukan percobaan listrik pada kaki katak yang awalnya Ia hubungkan dengan sumber listrik statis namun kemudian Ia gunakan dua lempeng logam tanpa sumber listrik statis dan hasilnya kaki katak tersebut juga bergerak. Ia menduga bahwa tubuh mahluk hidup terdapat listrik dan magnet.

Tidak lama setelahnya, Volta, dengan tujuan untuk menunjukan bahwa potensial (tegangan) listrik adalah berasal karena perbedaan jenis logam, Ia ganti konduktor lembab kaki katak dengan konduktor lain berupa kain lembab berisi cairan garam atau asam cair di antara dua kepingan logam atau karbon sebagai pengganti salah satu logam ternyata juga menghasilkan listrik.Temuan mereka ini membuktikan bahwa energi kimia dapat diubah menjadi energi listrik.

Perkembangan neurofisiologi telah berada pada kesimpulan bahwa efek listrik terdapat di dalam dan pada permukaan tubuh manusia, misalnya kekuatan otot adalah akibat daya tarik-tolak muatan listrik (diukur dengan Elektromiograf/EMG), jantung (diukur elektrokardiograf/EKG) dan system syaraf di otak juga melibatkan aliran arus listrik (diukur dengan elektroensefalograf/EEG).

Tubuh manusia berisi triliunan sel elektrokimia (cairan elektrolisis, berupa: Na+, K+, CL, protein, asam nukleat, dll), di mana pada bagian dalam sel mempunyai potensial (tegangan) dengan range -50 mv s.d -90 mv (disebut potensial istirahat neuron, rata-rata: -70 milivolts) yang terjadi karena ion negatif lebih pada bagian dalam membran dari bagian luarnya.

Listrik tubuh dari hasil elektrokimia sel berfungsi sebagai kontrol dan operasi syaraf, otot dan organ di mana neuron melalui kontak sinapsis yang terletak di dendrit dengan multi sensornya menerima rangsangan secara fisik maupun kimiawi seperti panas, dingin, cahaya, suara dan bau yang menyebabkan beda potensial (tegangan) antar membran dan kemudian mengubahnya menjadi sinyal listrik di sepanjang serat-serat saraf/Akson menuju otot, kelenjar dan/atau neuron lainnya. Ketika terjadi perpindahan/difusi ion pada membran yang menyebabkan beda potensial yang menuju pada arah positif voltmeter disebut depolarisasi dan yang menuju arah negatif disebut repolarisasi [lihat:Nervous Systems Part-1].

Mengalirnya aliran listrik akan menimbulkan medan magnet, salah satu medan magnet terkuat tubuh adalah jantung yang terjadi akibat depolarisasi dan repolarisasi.

Di bawah ini adalah percobaan yang dilakukan di Soviet oleh Dr Sergei Brukhonenko tentang membangkitkan kembali beberapa organ anjing yang terpisah mandiri (jantung, paru-paru), kepala anjing tanpa tubuh dan anjing utuh yang telah mati. Dokumentasi percobaan dilakukan pada tahun 1940 dengan durasi 19:31 menit.


Setelah pengantar, disampaikan percobaan pertama yaitu menghidupkan organ-organ tubuh anjing yang terpisah mandiri, yaitu jantung anjing yang bekerja normal dalam kondisi buatan khusus; Paru-paru yang dihubungkan kipas sedot-tiup, dialiri darah ke dalamnya dan saat keluar paru-paru, darah tersebut telah mengandung oksigen.

Percobaan kedua, mulai menit 4:27, yaitu menghidupkan kepala anjing utuh tanpa badan yang terhubung dengan 4 selang (sebagai 2 arteri dan 2 vena), menuju/keluar jantung dan dari jantung ada 2 selang yang menuju/keluar tabung (berfungsi sebagai paru-paru buatan yang berisi darah beroksigen). Aliran darah beroksigen ditarik jantung buatan, dialirkan menuju kepala Anjing, kemudian aliran darah keluar dari kepala anjing menuju jantung buatan dan dialirkan menuju tabung. Kepala anjing itu dibuat hidup selama 1 jam dan diperlihatkan bahwa Indera mata, lidah, telinga, penciuman, peraba yang ada diseputaran kepala anjing tersebut berfungsi normal dalam kondisi tersebut.

Percobaan ke-3, mulai menit 6:50, yaitu menghidupkan kembali anjing utuh. Seekor anjing hidup dalam keadaan telah dianestesi, darahnya dikuras hingga habis hingga mati secara klinis, terlihat dalam plot grafis aktivitas paru-paru dan jantungnya, yaitu detak jantung melemah seiring terkurasnya darah keluar tubuh dan kemudian berhenti. Juga plot grafis nafas normal, melemah, hentakan akhir dan nafas terakhirnya. Anjing itu dibiarkan mati selama 10 MENIT. Kemudian arteri dan vena tubuh anjing, dihubungkan ke mesin jantung-paru (autojektor, cara kerjanya sama seperti percobaan kepala anjing tanpa tubuh). Setelah beberapa saat, aliran darah yang masuk ke tubuh anjing mulai menggerakan detak jantungnya pertama, kedua dan secara perlahan detak jantung kembali normal, kemudian terjadi hentakan nafas pertama, kedua dan secara perlahan pernafasan kembali normal. Setelah pernafasan dan jantung terlihat normal, mesin dimatikan, sambungan selang ke tubuh anjing dicabut, dijahit kembali dalam keadaan teranestesi, diistirahatkan dan pada 10-12 hari kemudian, anjing tersebut berada pada kondisi normal seperti sebelum percobaan dilakukan.

Tidak terdekteksi keberadaan jiwa/roh dipercobaan tersebut kecuali proses kelistrikan dan kimiawi tubuh belaka.

Kemudian,
Karena Tuhan juga tidak dapat terdeteksi oleh panca indera dan alatbantu apapun, maka beberapa telah memaksakan diri membuat beberapa kisah fiktif untuk melogikakan keberadaan tuhan, dengan membawa mengenai ketidaknampakan rasa rasa sakit (berikut penjelasan dari sisi sains mengenainya, juga kecemasan, perasaan bersalah dan ketakutan, dan sekilas mengenai ketidakadaan Roh/Jiwa/Atman kecuali bauran system energi dan materi, Kemudian tentang pikiran dan energi dan ide dari Filem: The Matrix serta terakhir mengenai kejadian seekor Kucing yang mengetahui kapan saat seseorang Meninggal


Cerita fiktif bukti Keberadaan Tuhan
Di bawah ini, saya tampilkan 2 (dua) cerita fiktif yang lumayan sering digunakan untuk menjelaskan keberadaan tuhan (versi hoaxnya bervariasi, terkadang membonceng nama Einstein sebagai tambahan untuk memperkuat efek tipuan) :

  • Cerita tentang seorang professor yang berdebat dengan siswanya, di mana Sang professor tidak percaya tuhan ada karena tuhan tidak terlihat. Sang siswa menyatakan bahwa Profesor tidak punya otak, karena otak Profesor ngga kelihatan juga.
    • Argumen ini memiliki beberapa kelemahan, diantaranya, Tau darimana siswa itu tentang otak? kecuali dari membaca [melihat], mendengar atau dikatakan guru/orang tua [mendengar] atau kalo ia beruntung pernah melihat langsung! Artinya, jika ia tau bahwa manusia memiliki otak kurang lebihnya dan ia memiliki otak maka ia seharusnya tahu bahwa Profesor itu juga memiliki otak. Ini adalah logika sederhana.

      Masalah kedua, argument itu hanya menggunakan indera penglihatan padahal untuk contoh angin, Ia juga ngga terlihat namun dapat dirasakan oleh indera perasa atau melihat berdasarkan bergoyangnya daun-daun dll..

  • Contoh cerita lainnya yaitu kisah Kyai dan santrinya yang minta dibuktikan mengenai keberadaan tuhan, takdir dan mengapa SETAN itu dihukum di neraka padahal kedua-duanya berbahan api.

    Kyai itu tidak menjawab namun lalu menampar si santri kemudian memberikan argumen bahwa sakit itu nyata namun tidak terlihat karena bisa di rasakan; Sebelumnya apakah santri itu bermimpi di tampar, karena santri menjawab tidak dan sekarang kena tampar, nah seperti itulah Takdir; walaupun berbahan kulit yang sama, kulit tangan bertemu dengan kulit pipi namun namun bisa merasakan sakit sehingga api bertemu dengan api maka setan akan merasakan sakit.

    • Argumen tamparan dengan keberadaan tuhan ini memiliki beberapa kelemahan, diantaranya, Pembuktian keberadaan tuhan lagi-lagi melalui indera “penglihatan” padahal indera kita bukan cuma penglihatan, sehingga keberadaan sakit adalah nyata lewat indera perasa, sementara keberadaan TUHAN tidak dapat di scan oleh semua INDERA dan itu adalah fakta.

      Argumen takdir saya lewatkan karena tidak relevan.

      Kemudian, menyatakan dengan persamaan hasil yang sama setan dan neraka yang berbahan api dengan kulit tangan dan pipi yang berbahan kulit adalan absurd dan menyesatkan.

      Kulit adalah material padat, sementara api material temperatur. Keduanya tidak memiliki kesamaan. Jika kulit digebuk kulit dan berdiri sendiri tanpa neuron dan otak maka jelas cerita diatas tidak relevan.

      Alasan kedua, Tidak diketahui apakah setan juga mempunyai neuron, otak dan memproduksi sejenis cairan semacam capsaicin.

        Rasa sakit datang ke otak melalui neuron, sel-sel khusus yang ada di seluruh tubuh mengiriman pesan ke otak. Pada serangkaian percobaan, Hargreaves dan tim penelitinya menemukan bahwa kulit menghasilkan sendiri molekul seperti capsaicin dalam menanggapi rasa sakit.

        Kami mengambil jaringan kulit tikus percobaan, dan memanaskannya pada suhu 43 atau 48 derajat Celcius. Kemudian kita mengamati apa yang dikeluarkan oleh kulit pada kondisi panas itu”, kata Hargreaves

        Panas biasanya menimbulkan rasa sakit pada sekitar 47 derajat Celcius. Ketika sampel kulit itu dipanaskan sampai 48 derajat Celcius, kulit itu memproduksi molekul seperti capsaicin dalam bentuk cairan.

        Kemampuan cairan ini untuk mengaktifkan rasa sakit pada neuron sangat tergantung pada reseptor capsaicin”, jelasnya.

      So, Rasa sakit itu bisa di deteksi dan juga bisa dijelaskan.


Bagaimana dengan kecemasan?
Saat menghadapi kematian manusia bisa jadi akan mengalami kecemasan, Salah satu penelitian berhubungan dengan kecemasan di lakukan oleh Madison Universitas Wisconsin, dalam jurnal “Nature”, yang terbit Rabu (11/8).

    Tim peneliti menguji 238 rhesus monyet muda menggunakan pemindai topografi emisi positron (PET scan) beresolusi tinggi yang menunjukan menunjukkan aktivitas otak tinggi di bagian “amygdala” dan “anterior hippocampus”.

    Sang Manusia “penyusup” dipakai untuk berperan sebagai potensi ancaman dengan berdiri dekat kandang monyet saat para peneliti memperhatikan reaksi mereka dan mengukur aktivitas otaknya.

    Semakin gelisah monyet tersebut semakin tinggi aktivitas di pangkal pusat “amygdala” dan “anterior hippocampus”.



Bagaimana dengan ketakutan?
Misalnya ketakutan akan kesakitan saat “di cabut nyawa”. Polling Gallup tahun 2005 pada sekelompok remaja di Amerika serikat menyatakan bahwa ketakutan akan kematian menduduki peringkat ke-3.

    Pada 1920-an, Psikolog Amerika John Watson, melakukan eksperimen yang kelak dinamakan “little Albert“, yaitu mengajari seorang bayi bernama Albert untuk takut tikus putih.

    Sebelumnya “Little Albert” tidak takut pada laboratorium uji hewan. Dia menunjukkan kegembiraannya saat melihat tikus-tikus, terutama tikus yang berwarna putih dan selalu mengulurkan tangan untuk mereka.

    Watson dan asistennya mengajarkan Albert menjadi takut terhadap tikus putih. Mereka menggunakan kondisi Pavlovian (klasik), sepasangan stimulus netral (tikus) diberikan efek negatif yaitu tiap kali Albert meraih salah satu tikus itu, mereka membuat suara keras yang menakutkan tepat di belakang anak berusia 11 bulan.

    Albert tidak hanya cepat belajar untuk takut pada tikus putih, menangis dan menjauh setiap kali melihat satu tikus putih, tetapi ia juga mulai menangis jika berhadapan dengan binatang berbulu putih dan sinter klas yang berjanggut putih.


Seperti Albert kecil yang takut pada tikus putih, maka begitupula ketakutan-ketakutan orang pada Tuhan, Setan, neraka yang dikondisikan selama bertahun-tahun pada mereka sendiri. Setelah mereka besar, semua persoalan menjadi terhubung dengan peran tuhan, setan dan neraka.

Bagaimana Ketakutan itu bekerja di dalam pikiran manusia?
Menurut aliran otakisme, maka Ketakutan merupakan reaksi berantai di dalam otak yang dimulai dengan rangsangan stres dan berakhir dengan reaksi kimia yang menyebabkan jantung berdegup, bernafas dengan cepat dan menegangnya otot. Pendorong rangsangan itu bervariasi mulai dari ular, ajaran agama dll

Bagian bagian tertentu otak yang mengambil peranan adalah:

  • Thalamus – memutuskan ke mana harus mengirim data sensori masuk (dari mata , telinga, mulut, kulit)
  • Sensory cortex – menafsirkan data sensoris
  • Hippocampus – menyimpan dan mengambil ingatan sadar; set proses rangsangan untuk membangun konteks
  • Amygdala – mengurai [decode] emosi; menentukan kemungkinan ancaman; menyimpan ingatan akan ketakutan
  • Hypothalamus – mengaktifkan respon “lawan atau lari”


Ada dua jalur di area otak yang konon berjalan bersamaan dalam merespon rasa takut, yaitu Jalan pendek [Hajar dulu, selidiki belakatang] dan jalan panjang [Selidiki dulu baru ambil keputusan].

Untuk jalan pendek, misalnya pada bunyi di pintu [ini adalah rangsangan awalnya]. Segera setelah mendengar dan melihat gerakan di daerah pintu, indera kemudian menyampaikan ke otak dan mengirimkan data indera ke talamus.

Saat ini, thalamus ngga tau apakah sinyal yang diterima itu merupakan tanda bahaya atau bukan. Ini kemudian diteruskan ke amigdala untuk menggali informasi lebih lanjut.

Amygdala menerima impuls syaraf dan mengambil tindakan untuk melindungi; Ia mengirimkan sinyal pada hypothalamus untuk menghidupkan respon “Lawan atau lari” yang berguna menyelamatkan diri ketika yang didengar/dilihat ternyata merupakan bahaya

Masih pada contoh di atas, otak juga memakai satu jalur lainnya [yang konon dinyatakan bersamaan] yaitu dengan mempertimbangkan pilihan yang diketahui berupa apakah itu pencuri, HANTU ataukah angin? Proses panjang terlihat seperti ini:

Ketika mata dan telinga menerima suara dan gerakan di pintu kemudian disalurkan ke talamus. Talamus mengirimkan informasi ini ke korteks sensorik dan ditafsirkan artinya. Korteks sensorik menentukan bahwa ada lebih dari satu kemungkinan pada interpretasi data yang diterima dan diteruskan ke hipokampus untuk membangun konteks.

Pertanyaan yang di ajukan Hippocampus misalnya, “Apakah rangsangan ini pernah terjadi sebelumnya? Jika ya, maka waktu itu rangsangan ini berarti apa, ya?

Beberapa hal memberikan petunjuk lanjutan misalnya, “ini adalah pencuri atau HANTU atau angin badai?!

Hippocampus bisa juga mengambil data lainnya di proses ini, seperti sentuhan cabang pohon pada jendela, suara mirip geraman sengau tertahan di luar atau bunyi perabotan di teras yg terpelanting terbang.

Mempertimbangkan informasi tadi, hippocampus menentukan bahwa tindakan pintu kemungkinan besar berasal dari angin dan kemudian hasil itu dikirim ke amigdala bahwa itu bukan ancaman/bahaya. Amigdala kemudian mengirim sinyal ke hipotalamus untuk mematikan respon “lawan atau lari”.

Data indera mengenai pintu – rangsangan – mengikuti kedua jalur yang konon dilakukan secara bersamaan namun jalur panjang waktunya lebih lama sehingga kita memiliki waktu atau dua teror sebelum menjadi tenang.

Kemudian, untuk dapat menghasilkan respon “lawan atau lari”, Hipotalamus akan mengaktifkan dua sistem, yaitu sistem saraf simpatik dan sistem-kortikal adrenal:

  • Sistem saraf simpatik dengan jalur saraf memicu reaksi dalam tubuh [agar siaga: nafas, aliran jantung, otot] berupa impuls ke kelenjar dan otot halus, memerintahkan medula adrenal melepaskan adrenalin dan noradrenalin ke aliran darah. Beberapa tegangan hormanal ini menyebabkan beberapa perubahan di tubuh kita termasuk peningkatan denyut jantung dan tekanan darah dan sistem-kortikal adrenal juga menggunakan aliran darah. Dampak gabungan kedua sistem adalah respon “lawan atau lari”.
  • Disaat bersamaan Hipotalamus melepaskan corticotropin-releasing factor (CRF) ke dalam kelenjar di bawah otak dan mengaktifkan sistem-kortikal adrenal. Kelenjar hipofisis (a besar kelenjar endokrin ) yang mengeluarkan hormon ACTH (hormon Adrenocorticotropic). ACTH bergerak melalui aliran darah dan akhirnya tiba di korteks adrenal, yang mana akan mengaktifkan 30 hormon berbeda untuk siaga menghadapi ancaman. Banjir tiba-tiba dari epinefrin, norepinefrin dan puluhan hormon lain menyebabkan perubahan tubuh yang meliputi:
    • peningkatan tekanan darah dan denyut jantung
    • Pupil mata melebar agar mendapatkan sebanyak mungkin cahaya
    • pembuluh darah di kulit menyempitkan untuk mengirim lebih banyak darah ke grup otot utama (yang bertanggung jawab untuk aktivitas merinding yang kadang menyertai rasa takut..)
    • tingkat glukosa darah meningkat
    • otot menegang, terenergi oleh adrenalin dan glukosa (menjadi merinding – ketika otot kecil yang melekat pada setiap rambut pada permukaan kulit tegang bulu dipaksa tegak)
    • otot halus mengendur untuk mendapatkan sebanyak mungkin oksigen ke paru-paru
    • fungsi sistem yang tidak penting untuk urusan ini (seperti pencernaan dan sistem kekebalan ) dimatikan sehingga memungkinkan lebih banyak energi pada situasi darurat
    • fokus menjadi bermasalah pada hal-hal kecil(krn otak sedang fokus pada penentuan dari mana ancaman datang)


Semua reaksi fisik untuk bersiap pada situasi berbahaya melalui mekanisme “lawan atau lari” agar dapat menjamin kelangsungan hidup kita. Naluri ini dipunyai setiap binatang.

Untuk hubungan antara Emosi [perasaan bersalah, senang, marah] dan fungsi otak, silakan buka link ini

PIKIRAN dan ENERGI
Buat saya, otak bukanlah tempat berpikir dan tubuh tidak relevan dikatakan tempat roh/jiwa/atman.

Terdapat beberapa kasus orang dengan fungsi otak tidak normal namun dapat hidup baik (beberapa berada pada keadaan vegetatif) dan tetap mampu berpikir dan merasakan, ada juga yang berpendapat bahwa kehidupan itu ada karena tubuh manusia, sehingga jika tubuh kita mati maka selesai sudah tidak ada kelanjutan dan konsekuensi apapun; atau ada juga pendapat bahwa roh/jiwa/atman-lah yang menggerakan tubuh, sehingga saat tubuh kita mati maka ia menunggu disatu tempat untuk penghukuman/ditidurkan atau ia dengan badan baru.

Buat saya, Otak adalah bagian tubuh sedangkan mind [pikiran/ingatan] ada di seluruh tubuh.

Itulah sebabnya saya tertarik pada temuan Paul pearsall dari Nexus Magazine, Volume 12, No.3 (April – Mei 2005), “Organ Transplants and Cellular Memories” oleh Paul Pearsall, PhD., Gary E. Schwartz, PhD.,Linda G. Russek, PhD [beberapa sample kasusnya saya co-pas dan terjemahkan silakan lihat di sini. Untuk informasi lanjutan, silakan klik: Cellular Memory in Heart Transplants]

Untuk menjelaskan tidak ada roh/atman/jiwa, perlu kita ketahui mengenai materi, energi. Hukum kekelan energi yang mengatakan:

Energi dapat berubah bentuk [dari satu bentuk ke bentuk lain] tidak bisa diciptakan ataupun dimusnahkan (konversi energi)”

Sejauh ini yang terbukti secara fisika adalah materi menjadi energi sementara untuk energi menjadi materi masihlah sekedar teori [baca: saya lebih suka menyebutnya sebagai gagasan/ide]. Kesetaraan energi itu bukan dengan materi namun massa [berlaku sebaliknya]

Definisi materi pun berubah-berubah sesuai jaman dan penemuan, yaitu dari hanya massa, kemudian bertambah dengan volume, kemudian menjadi bertambah dengan yang tidak mempunyai massa [leptons dan quarks]. Untuk itu,

  • Suara adalah perambatan dari partikel. dalam quantum mekanik getaran atom dan molekul adalah phonon atau quata atau paket energi atau juga partikel yang merupakan materi
  • Cahaya disamping gelombang elektromagnetik adalah juga materi [photon]
  • Roh/Jiwa/Atma (bagi yang percaya) seharusnya di golongkan sebagai materi, alasannya sederhanya saja yaitu karena ia terperangkap didalam tubuh materi


Sehingga, satu set proses kerja otak ketika menjelaskan rasa sakit, kecemasan, emosi dan ketakutan adalah merupakan aliran energi.

Contoh lainnya mengenai berjalannya prinsip kekekalan energi adalah dengan memperhatikan teknologi sekarang yaitu ketika kita mengirim sesuatu via internet atau bluetoth/infra red dari HAPE, begitu tombol send maka sesuai dengan hukum kekekalan energi, energi itu tidaklah musnah namun hanya berubah bentuk!

Aliran energi itu berubah menjadi pulse/gelombang tertentu yang berisi informasi yang telah diterjemahkan dan diuraikan. Energi tetaplah mengalir!

Atau melalui ide dari film fiksi layar lebar “The matrik”:

    Dikisahkan pada 200 tahun kemudian, dunia telah dikuasai oleh sekumpulan komputer yang memiliki intelgensi tinggi yang dinamakan Matrix. Komputer canggih ini menciptakan semacam program dan terhubung dengan seluruh umat manusia saat itu.

    Suatu ketika, ada seorang hacker yang bernama Neo (Keanu Reeves), Ia dikisahkan hidup normal seperti kebanyakan manusia normal lainnya di dunia kita. Di film itu, Ia beranggapan bahwa kehidupan di planet bumi tak lain dari semacam program komputer yang diciptakan oleh suatu mesin canggih yang berhati dengki. Program komputer Matrix itu ternyata ada cacatnya dan terjadi beberapa kesalahan yang membuat Neo keheranan akan ketidakwajaran itu dan kemudian mencari tau. hasil pencariannya mengakibatkan juga ia mengetahui ke adaan sebenarnya kehidupannya dulu. ketika ia terlepas, iapun terkaget-kaget mengetahui bahwa seluruh ras umat manusia terplug-in dengan semacam mesin

    Mesin-mesin itu mengubah semua informasi tentang abad ke-20 menjadi gelombang/getaran/impuls dan terhubung melalui semacam kabel ke system syaraf manusia sehingga menyebabkan seolah2 mereka sendiri mengalami peristiwa Lahir, besar, bekerja, menikah, mempunyai anak dan juga bepergian kemana2 padahal jelas mereka tidak pergi kemanapun dalam keadaan plug-in dengan komputer di lingkungan yang sama hingga mereka mati.

    Setelah mati, tubuhnya itu didaur ulang untuk sebagai energi bagi kelangsungan hidup para super komputer itu dan para super komputer itupun juga di disain untuk dapat melakukan proses re-produksi manusia dan membesarkan mereka dalam lingkungan itu dengan cara yang sama.


Sinopsis di atas memberikan kita gagasan tentang hal-hal yang dikenali 5 INDRIYA dan diterjemahkan dalam sinyal-sinyal listrik yang dikenali pikiran. Video di bawah ini merupakan sample apa yang dapat dilakukan manusia sehubungan dengan listrik dan medan magnet yang ada padanya. (sanggahan dari yang tidak percaya di sini)

Sebagai akhir tulisan, mari kita lihat bahkan binatangpun mengenali perubahan bentuk dari kekekalan energi ini. Di mana, Seekor kucing Oscar memiliki kemampuan mendeteksi pasien yang akan meninggal dunia.

    Dr David Dosa, seorang asisten profesor dari Universitas Brown mengatakan bahwa lima tahun rekaman menunjukkan bahwa kucing Oscar jarang membuat kesalahan berbeda dengan staf medis dari sekolah perawat New England yang seringkali salah mengenai prediksi tentang pasien yang akan mendekati kematian.

    Kucing itu saat ini berumur lima tahun dan sulit bersosialisasi, diadopsi sejak kecil di Sekolah Perawat Steere dan Pusat Rehabilitasi di Providence Rhode Island yang spesialisasi membantu menemani orang yang menderita penyakit gangguan otak.

    Dr Dosa pertama kali mempublikasikan kekuatan Oscar dalam sebuah artikel di jurnal obat New England pada tahun 2007. Sejak itu, kucing tersebut meningkat kemampuanya dua kali lipat dengan berhasil mendeteksi dekatnya kematian dengan perasaannya dan meyakinkan para pegiat rumah sakit bahwa hal tersebut bukanlah isapan jempol semata.


Well, Pastikan dari sekarang..jauh sebelum diri anda meninggal dunia banyaklah berbuatlah kebaikan sebanyak mungkin dalam kehidupan ini..agar tidak lagi ada yang disesali, dicemasi dan ditakuti.

Setelah itu, biarkan itu terjadi dengan alami…