Hah! Musa Bisa Membelah Laut??


Artikel ini kita mulai dengan berita dari AntaraNews.com:

    Anginkah Yang Membelah Laut Merah buat Musa?
    Rabu, 22 September 2010 10:57 WIB

    Washington, AS (ANTARA News) – Angin dari timur yang berhembus kencang dikabarkan membantu terbelahnya Laut Merah oleh Nabi Musa seperti yang tertulis pada kitab suci agama Samawi, kata para ilmuwan Amerika Serikat, Selasa.

    Simulasi komputer memperlihatkan bagaimana angin dapat menghempaskan air laut sehingga mencapai dasar lautan dan membentuk laguna, kata kelompok peneliti di Badan Nasional Penelitian Atmosfir dan Universitas Colorado di Boulder, sebagaimana dikutip dari Reuters.

    “Simulasi tersebut hampir cocok dengan bukti pada rombongan Musa,” kata pemimpin penelitian itu, Carl Drews dari NCAR.

    Menurut Carl, berdasarkan ilmu fisika, angin dapat menghempaskan air menjadi sebuah jalur yang aman untuk dilintasi karena sifatnya yang luwes, kemudian kembali mengalir seperti semula.

    Menurut tulisan dari kitab suci Kristen dan Islam, Nabi Musa, memimpin umat Israel keluar dari Mesir atas kejaran Firaun pada 3.000 tahun yang lalu.

    Laut Merah saat itu terbelah sementara untuk membantu rombongan Musa melintas dan langsung menutup kembali, menenggelamkan balatentara Firaun.

    Drews dan kelompoknya meneliti tentang angin topan yang berasal dari Samudera Pasifik menciptakan badai besar yang dapat menghempaskan air di laut dalam.

    Kelompoknya menunjukkan kawasan selatan Laut Mediterania yang diduga menjadi tempat penyeberangan itu, dan memaparkan bentuk tanah yang berbeda karena terbentuk setelahnya serta memicu isu mengenai lautan yang terbelah.

    Pemaparan tersebut membutuhkan bentuk tapal kuda Sungai Nil dan laguna dangkal di sepanjang garis pantai.

    Hal ini memperlihatkan angin berkecepatan sekitar 101 kilometer per jam yang berhembus selama 12 jam, dapat menghempaskan air pada kedalaman sekitar dua meter.

    “Laguna itu memiliki panjang sejauh 3-4 kilometer dan lebar sejauh lima kilometer yang terbelah selama empat jam,” kata mereka di dalam Jurnal Perpustakaan Umum Ilmu Pengetahuan, PloS ONE.

    “Masyarakat telah dibuat kagum atas cerita pembelahan laut itu, membayangkan bahwa hal itu terjadi secara nyata,” kata Drew menambahkan bahwa penelitian ini menjelaskan tentang pembelahan laut tersebut berdasarkan hukum fisika. (ANT/A024)

Detail lebih lengkapnya di kupas di “Parting the waters: Computer modeling applies physics to Red Sea escape route”, tentang simulasi bagaimana angin dapat mendorong air laut hingga memungkinkan bangsa Israel mampu menyeberangi “laut merah”:




Kisah mengenai Musa, disinggung di 4 (empat) Agama, yaitu Hindu (lihat bagian paling bawah), Yahudi, Nasrani dan Islam.

Di antara 25 Nabi yang disebutkan di Al Quran, pembicaraan tentang Musa disebutkan dalam 502 ayat di 36 Surat. Jumlah ini jauh lebih banyak dari nabi lainnya, misalya Ibrahim [245 ayat/25 surat], Nuh [131 ayat/28 surat, Isa [Yesus, 93 ayat] dan Bahkan untuk Muhammad sangat sedikit [namanya hanya disebutkan di 4 ayat, sisanya dengan sebutan nama lain]

Kisah tentang Musa dan membelah laut di Al Qur’an di antarannya:

  • Kemudian (Fir’aun) HENDAK MENGUSIR MEREKA dari bumi (Mesir) itu, maka Kami tenggelamkan dia serta orang-orang yang bersama-sama dia seluruhnya, dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil: “Diamlah di negeri ini, maka apabila datang masa berbangkit, niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur (dengan musuhmu)” [AQ 17.103-104]

    ALLAH QURAN = ALLAH ALKITAB, pastilah Allah yang berbeda, karena di Alkitab, FIRAUN TIDAK MENGUSIR ORANG ISRAEL:

    ..Tetapi AKU TAHU, RAJA MESIR TIDAK AKAN MEMBIARKAN KAMU PERGI, kecuali dipaksa tangan yang kuat..sesudah itu IA AKAN MEMBIARKAN KAMU PERGI. Dan AKU AKAN MEMBUAT ORANG MESIR BERMURAH HATI KEPADA BANGSA INI, sehingga, apabila kamu pergi, kamu tidak pergi dengan tangan hampa,..[Kel.3.19-21]

    Kaum Israel, diperintahkan YHWH keluar dari MESIR dengan imbalan tanah di KANAAN (Ulangan 4.2), namun, selama 40 tahun, hingga Musa/Harun dan seluruh orang yang keluar Mesir wafat, mereka, TIDAK PERNAH tiba di KANAAN (Yosua 5.6) hanya berkeliaran di gurun Sin/Zin/Sinai/Paran (3 hari perjalanan dari Mesir, Kel 3.1, 16.1) di daerah kaum MOAB. Di Horeb, Moab, yaitu di gunung Horeb (1 Raja 19.8) atau Gunung Sinai (Kel 16.1) atau gunung ALLAH (Har ELOHIM, kel 3.1), Musa untuk pertamakalinya bertemu MALAIKAT YAHWEH (Kel 3.1-2) dan di tempat itu pula, Musa 2x mendapatkan 2 loh batu yang berisi 10 perintah Tuhan.

  • Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan[47]. [AQ 2:49]
    [47]Waktu Nabi Musa a.s. membawa Bani Israil ke luar dari negeri Mesir menuju Palestina dan dikejar oleh Fir’aun, mereka harus melalui laut Merah sebelah Utara. Maka Tuhan memerintahkan kepada Musa memukul laut itu dengan tongkatnya. Perintah itu dilaksanakan oleh Musa hingga belahlah laut itu dan terbentanglah jalan raya ditengah-tengahnya dan Musa melalui jalan itu sampai selamatlah ia dan kaumnya ke seberang. Sedang Fir’aun dan pengikut-pengikutnya melalui jalan itu pula, tetapi di waktu mereka berada di tengah-tengah laut, kembalilah laut itu sebagaimana biasa, lalu tenggelamlah mereka.

    Hari Ashura [Arab: ke sepuluh] diperingati oleh Yahudi dan Kaum Sunni atas selamatnya Musa dan Kaum Yahudi dari kejaran musuh [Tafsir Ibn kathir; Hadis Bukhari]. Sementara itu, Kaum Syiah merayakan Ashura sebagai peringatan atas wafatnya Husain bin Ali [cucu nabi Muhammad] yang terbunuh dan dimutilasi sesama Muslim pada perang Karbala [10 Muharam, 61 H]

  • Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering dilaut itu[933], kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)”.Maka Fir’aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka. [AQ 20:77-78]
    [933]Membuat jalan yang kering di dalam laut itu ialah dengan memukul laut itu dengan tongkat. Lihat ayat 63 surat Asy Syu’araa.
  • Maka Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul..

    Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Lalu Kami wahyukan kepada Musa: ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu‘ Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar“.Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu.[AQ 26:60-66]

  • Tafsir Qur’an oleh Ibn Kathir di sini dan di sini menyatakan bahwa Allah mengirim angin, setelah pembelahan laut, untuk mengeringkan dan mengeraskan daratan agar bisa dilalui.
  • Dalam buku “Stories of The Prophets“, Oleh Ibn Kathir, Translasi oleh Muhammad Mustapha Geme’ah, Al-Azhar, Penerbit Darussalam, tertulis, “..Allah berfirman pada Musa: “pukul laut dengan tongkatmu!” Musa mengikuti yang diperintahkan. Angin dahsyat bertiup..dan dalam sekejab laut terbelah, gelombang laut tegak berdiri setinggi gunung di setiap sisinya”


Alkitab menyinggung nama Musa 873 kali dalam 803 ayat di 31 kitab, disebutkan lebih banyak diperjanjian baru daripada perjanjian lama. Alkitab memuat kisah tentang Musa dan membelah laut sebagai berikut:

  • Demikianlah tiang itu berdiri di antara tentara orang Mesir dan tentara orang Israel; dan oleh karena awan itu menimbulkan kegelapan, maka malam itu lewat, sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain, semalam-malaman itu. Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu. Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka. Orang Mesir mengejar dan menyusul mereka–segala kuda Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda–sampai ke tengah-tengah laut. Dan pada waktu jaga pagi, TUHAN yang di dalam tiang api dan awan itu memandang kepada tentara orang Mesir, lalu dikacaukan-Nya tentara orang Mesir itu. Ia membuat roda keretanya berjalan miring dan maju dengan berat, sehingga orang Mesir berkata:

    “Marilah kita lari meninggalkan orang Israel, sebab Tuhanlah yang berperang untuk mereka melawan Mesir.”

    Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Ulurkanlah tanganmu ke atas laut, supaya air berbalik meliputi orang Mesir, meliputi kereta mereka dan orang mereka yang berkuda.”

    Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, maka menjelang pagi berbaliklah air laut ke tempatnya, sedang orang Mesir lari menuju air itu; demikianlah TUHAN mencampakkan orang Mesir ke tengah-tengah laut. Berbaliklah segala air itu, lalu menutupi kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun, yang telah menyusul orang Israel itu ke laut; seorangpun tidak ada yang tinggal dari mereka. Tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut, sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka. [PL, Keluaran 14:20-29]

  • Kereta Firaun dan pasukannya dibuang-Nya ke dalam laut; para perwiranya yang pilihan dibenamkan ke dalam Laut Teberau. Samudera raya menutupi mereka; ke air yang dalam mereka tenggelam seperti batu.
  • ..dan orang Mesir itu dan didatangkan-Nya air laut atas mereka, sehingga mereka diliputi. Dan matamu sendiri telah melihat, apa yang [Yosua 24:7]


Hasil rekonstruksi komputer yang dilakukan Carl Drews and Weiqing Han (di artikel di atas) menyatakan:

  • Kecepatan angin 101 Km/jam harus terjadi selama 12 jam, agar laut dengan kedalaman 1.8 M dapat terdorong/terhempas dan membentuk dataran kering sepanjang 3.2km – 4km dengan lebar 4.8km yang akan bertahan selama 4 Jam
  • Namun, angin tersebut hanya akan menyibak 1 bagian saja, yaitu bagian yang berisi air, dimana angin hanya mendorong air menjauh dari sisi lainnya namun tidak membelah dua air laut

Rekonstrusi yang dibuat, tidaklah sesuai dengan yang disampaikan di kitab-kitab kaum Abrahamic yaitu air laut yang terbelah. Disamping itu, artikel juga telah menyampaikan bahwa Drews dan Han RAGU BAHWA rombongan orang-orang Israel mampu berjalan melintasi laut di bawah kuatnya tekanan angin yang mendekati topan itu. Padahal, Drews dan Han bukanlah yang pertama meragukan kejadian tersebut. Kalangan pendeta Yahudipun meragukan kebenaran kisah eksodus, Musa membelah air dan melintasi laut dari sejak lama.

Rabbi David Wolpe, di harian “L.A Times“, tahun 2001, yang berjudul, “Doubting the Story of Exodus” mengakui kalo kisah MUSA membelah LAUT MERAH ngga beneran terjadi:

    “Kenyataannya adalah setiap arkeolog modern yang menyelidiki kisah eksodus, dengan sangat sedikit pengecualian bersepakat bahwa cara alkitab menggambarkan eksodus ngga secara itu kejadiannya, jika itu benar terjadi”, ujar Wolpe di hadapan para jemaahnya


Marilah kita telusuri kejanggalan-kejanggalannya:

  • Alkitab [dan juga Qur’an] menyatakan bahwa kedalaman laut yang dibelah Musa tidaklah dangkal [Yesaya 51:10; Keluaran 15:5]. Kedalaman laut BUKAN hanya sampai 1.8 M saja
  • Di teluk Aqaba, terdapat klaim tentang penemuan tulang manusia dan roda kereta di kedalaman 18m s/d 60m. Kedalaman teluk Aqaba adalah 1600m s/d 1800m. Sementara itu, di antara Laut merah – teluk Aqaba dan di antara Dataran Sinai – Semenanjung Arabia terdapat sebuah selat yang bernama selat Tiran. Selat itu mempunyai kedalaman 290m. Panjang lintasan di antara dua daratan tersebut adalah 13km s/d 18Km. Jika kisah ini benar ada, saya lebih menyukai terjadinya kejadian di selat ini, disamping tidak terlalu dalam bahkan jarak antar dua daratanpun tidak terlalu jauh
  • Jumlah yang eksodus bersama Musa adalah para laskar pria 20 tahun ke atas adalah 603.550 orang [Bilangan 1.20-46; 2.32. tapi di ayat lain disebutkan jumlah berbeda: 600.000 orang (Kel 12.37 dan Bil 11.21). Arti kata eleph di “šêš mê’ōwṯ ’elep̄ ūšəlōšeṯ ’ălāp̄îm waḥămêš mê’ōwṯ waḥămiššîm” (603.550) = “ribuan” bukan “suku/pasukan” dibuktikan pada ayat tentang jumlah suku lewi = 22.000 (Bil 3.39) vs jumlah anak sulung 22.273 (Bil 3.43) dan selisih 273 orang antara Lewi dan anak sulung (Bil 3.46)], perincian laskar adalah sebagai berikut:
    • 46,500 pria dari suku Ruben
    • 59,300 pria dari suku Simeon
    • 45,650 pria dari suku Gad
    • 74,600 pria dari suku Yehudah
    • 54,400 pria dari suku Isakhar
    • 57,400 pria dari suku Zebulun
    • 40,500 pria dari suku Efraim
    • 32,200 pria dari suku Manasye
    • 35,400 pria dari suku Benjamin
    • 62,700 pria dari suku Dan
    • 41,500 pria dari suku Asyer
    • 53,400 pria dari suku Naftali

    Jumlah tidak termasuk suku Lewi yang bertugas menjaga perabotan, bongkar muat dan kemah suci. Jumlah tidak termasuk anak-anak dan orang dari berbagai bangsa, serta anggota keluarga. Mereka membawa juga berbagai hewan [Kambing, Domba dan Sapi], perhiasan dan perabotan [Bilangan 1:46; Keluaran 12:37-39]

    Note:
    Jumlah Yakub sekeluarga saat tiba di Mesir = 70 jiwa (anak dan cucu laki/perempuannya), dari istri: Lea (33 orang, termasuk anak ke-3nya Lewi dan cucunya Kehat) + Zilpa (16 orang) + Rahel (14 orang) + Bilha (7 Orang) [Kejadian 46.5-27; Keluaran 1.1-5]. Nama Amran, cucunya Lewi TIDAK DISEBUTKAN. Oleh karenanya, Amran lahir di Mesir. (kita abaikan  kontroversi perbedaan jumlah antara PL VS PB (KPR 7.14), bahwa jumlah = 75 orang)

    Yakub mengawini 2 anak perempuan Laban, yaitu: kakak (Lea) dan adik (Rahel). Lea melahirkan 6 anak laki dan 1 anak perempuan terlebih dahulu dan setelah Lea tidak beranak lagi, barulah Rahel melahirkan Yusuf (Kej 30.19-21). Lewi adalah anak ke-3 Lea (Kej 29.31.34) sehingga lebih tua dari Yusuf. Usia sapih menyusui adalah 3 tahun (2 Makabe 7:27 dan 2 Taw 31.16), jadi selisih usia antara Yusuf dan Lewi sekitar 12/13 tahun.

    Yakub berumur 130 tahun saat tiba di Mesir (Kej 47.9, masih 17 tahun di Mesir hingga wafat di umur 147 tahun, Kej 48.28) = Usia Yusuf 39 tahun: (usia 30 tahun bertemu Firaun, Kej 41.46 + 7 tahun masa berlimpah, Kej 41.53 + 2 tahun masa kelaparan ketika Yakub sekeluarga tiba di Mesir, Kej 45.6), sehingga:

    • saat Yusuf lahir, Yakub berusia 91 tahun (130-39 tahun), dan
    • saat Lewi lahir, Yakub berusia 79 tahun (91-12 tahun), dan
    • saat tiba di Mesir, di mana Yakub berusia 130 tahun, maka Lewi berusia 51 tahun (130-79 tahun)

    Rantai Generasi dari tiba di Mesir – Eksodus: Levi (anak ke-3 Lea dan Yakub, wafat umur 137 tahun) – Kehat (anak ke-2 Lewi, wafat umur 133 tahun) – Amran (anak sulung Kehat, wafat umur 137 tahun) – Musa (anak ke-2 Amran dan berusia 80 tahun saat eksodus) [Kej.46.11; Kel 6.15-19], sehingga:

    • saat Musa lahir, Amran berusia 57 tahun. (137-80 tahun), dan
    • saat Amran lahir, Kehat berusia 76 tahun (133-57 tahun), dan
    • saat Kehat lahir, Lewi berusia 61 tahun (137-76), dan
    • saat tiba di Mesir, di mana Lewi berusia 51 tahun, maka Kehat berusia 10 tahun (61-51 tahun), dan
    • saat Kehat sudah 66 tahun di Mesir (76-10 tahun), lahirlah Amran.

    Lama tahun keturunan Yakub di Mesir sampai ke Eksodus?
    Dari jalur generasi: 66 (lama Kehat sejak di Mesir sampai Amran lahir) + 57 (Usia Amran saat Musa lahir) + 80 (Usia Musa saat eksodus) = 203 tahun, anehnya Alkitab menyatakan lamanya kaum Israel diperbudak di Mesir: 400 tahun (Kejadian 15.13) dan pada ayat lainnya 430 tahun (Keluaran 12.40-41)

    Berapa jumlah orang Israel saat eksodus, jika populasi awal di Mesir 70 orang?
    Dari anak-anak Yakub, tidak disebutkan ada yang beranak sampai 12 orang, dari seluruh cucu Yakub, hanya Benyamin yang beranak 10 orang. Rata-rata jumlah anak dari Ruben s.d Naftali = 4.5 orang, Maka, kisaran populasi generasi saat di Mesir hingga Eksodus (Kehat-Amran-Musa):

    • Generasi Ke-1 dan ke-2 (Yakub, anak dan cucunya): 70 orang;
    • Generasi ke-3/Kehat: 58 (ke-12 anak Yakub tidak termasuk) x (4.5 atau 12 orang) = 261 s/d 696 orang;
    • Generasi ke-4/Amran: (261 s/d 696) x (4.5 atau 12 orang) = 1,174.5 s/d 8,352 orang;
    • Generasi ke-5/Musa: (1,174.5 s/d 8,352) x (4.5 atau 12 orang) = 5,285 s/d 100,224 orang (seluruh jumlah tidak dikurangi yang wafat)

    Sehingga, untuk sampai ke-600.000an seperti maksud Alkitab adalah sulit.

  • Rata-rata kecepatan manusia ketika berjalan atau berlari:
    • Jalan: lambat [4km/jam]; normal [6.5km/jam] dan cepat [8-10km/jam]
    • Berlari: 13 to 21 km/jam.

    Karena hari gelap dan bervariasinya jenis mahluk yang menempuh perjalanan, maka laju perjalanan seharusnya lambat dengan kecepatan 4km/jam, oleh karenanya total waktu tempuh dengan jarak 13 km s.d 18 km adalah 3 s/d 4 jam.

  • Ketika Tuhan mengacaukan tentara Mesir, di jam 02.00 s/d 06.00 [Waktu jaga pagi], hasil diantaranya adalah rusaknya kereta-kereta tentara Mesir, ini membuat tentara Mesir jadi sulit bergerak dan lambat; jadi berada di kecepatan 4 km/jam, ini akan membuat mereka mulai menyeberang pada jam 2 pagi
  • Ketika mereka ditenggelamkan, saat menjelang pagi, mereka ada di tengah-tengah laut, dengan kecepatan yang kurang lebih sama, maka, selisih waktu antara dua kelompok adalah 2 jam saja. Jadi, sekurangnya rombongan Israel juga mulai berangkat pukul 22.00.
  • Alkitab menyatakan bahwa Musa membelah air dengan bantuan angin dan dilakukan semalam-malaman, Jadi waktu tersisa di malam itu untuk membelah air hanya 4 jam saja.


Dari hasil simulasi hitungan Drew, untuk menghempaskan air dengan kedalaman 1.8 M sepanjang 3.2km s/d 4km dengan kecepatan angin 101 km/jam adalah selama 12 jam.

Di perjanjian lama pada kitab Keluaran 14:22 terdapat kalimat, “air itu sebagai tembok bagi mereka” sehingga kita asumsikan saja bahwa air laut tidaklah dihamparkan namun dibentuk menjadi tembok air dengan ketinggian tembok tetap 1.8 M.

Karena waktu yang dimiliki Musa sekarang hanyalah 4 jam saja [bukan lagi 12 jam], maka agar pekerjaan tersebut dapat terlaksana dengan hasil yang kurang lebih sama, seharusnya kecepatan angin tidak 101 km/jam melainkan 3x nya, mencapai 300 Km/jam. Angin dengan kecepatan seperti itu, menurut skala Saffir-Simpson masuk pada skala 5: SUPER TOPAN

Bagaimana dengan kedalaman yang menjadi 290 M? Bagaimana dengan panjang lintasan yang menjadi 13km s/d 18km? maka apakah dengan waktu yang hanya 4 jam saja, kecepatan angin masih juga sama?

Seharusnya tidak..

Kemudian, dikatakan bahwa pasukan Mesir membawa 600 Kereta dan juga tunggangan [Keluaran 14:7-9], di antaranya termasuk juga Panji kerajaan. Ketika mereka menaiki tunggangan dan berdiri di atas kereta maka seharusnya ketinggian ditambah dengan bagian tinggi tertentu dari panji pengenal kerajaan. Untuk itu, agar tembok air tetap berada di atas mereka, maka diperlukan ketinggian tembok air sekurangnya menjadi 4 M tingginya.

Dapatkah dibayangkan berapa cepat lagi kecepatan angin yang diperlukan agar dapat menghasilkan tembok air setinggi itu?! Ini sudah jauh melebihi SUPER TOPAN, bukan?

Tafsir Ibn kathir untuk surat 26:63-66 menyebutkan,

  • laut terbelah seperti Gunung yang besar [spt pandangan dari Ibn Mas`ud, Ibn `Abbas, Muhammad bin Ka`b, Ad-Dahhak, Qatadah dan yang lainnya].
  • `Ata’ Al-Khurasani berkata, “ini seperti sebuah jalan di antara 2 gunung”.
  • ‘Ibn `Abbas berkata, “Laut terbelah menjadi 12 jalur, setiap jalur untuk setiap suku” As-Suddi menambahkan, “dan di dalamnya ada jendela-jendela yang mereka bisa melihat satu dengan lainnya dan airnya menegak seperti dinding”


Ini lebih sadis lagi.

Dapatkah dibayangkan kecepatan angin yang seperti apa lagi yang harus bertiup selama 4 jam penuh agar dapat menghasilkan ketinggian tembok air seperti ‘gunung yang besar’ dan/atau bahkan menjadi 12 jalur [sesuai jumlah suku israel]?! Ini sudah sangat lebih lagi dari SUPER TOPAN, bukan?

Jadi, bagaimana mungkin tidak ada satu manusia-pun beterbangan ketika kekuatan dan kecepatan angin yang sedemikian dahsyatnya itu sedang menghasilkan dan mempertahankan tembok air agar tetap menjulang tinggi?

Boleh-boleh saja jika berpendapat bahwa Musa dan pengikutnya adalah kesayangan tuhan sehingga tidak akan diterbangkan angin, namun para tentara Mesir ini jelas bukan kesayangan tuhan, tidak masuk akal jika TIDAK dibiarkan tersapu SUPER TOPAN yang kecepatannya sudah sangat gila-gilaan itu, bukan?

Sementara itu, di area sekitar teluk Aqaba, laut Merah dan Sinai yang bertiup bukanlah angin Timur. Di area tersebut, 95% angin yang bertiup adalah angin Utara, sisanya adalah angin Selatan. Yang lebih galak adalah angin Selatan dan mereka menyebutnya “Hamasin” [lihat di sini, di sini dan di sini]

Bagaimana dengan klaim penemuan tulang dan roda kereta?

  • Kapal TITANIC tenggelam di tahun 1912, ketika mengangkut 1553 orang. Ketika 73 tahun tahun kemudian dilakukan penyelaman dengan peralatan modern, sama sekali TIDAK DITEMUKAN 1 tulangpun! tulang-tulang tersebut telah dihabiskan biota laut, juga karena asinnya air laut! Jika baru 73 tahun saja seperti itu, maka bagaimana mungkin setelah 3000 tahun kemudian, masih ditemukan 1 tulang yang utuh?!
  • Untuk klaim roda kereta perang yang ditemukan, menurut William H. Shea, dari Institut riset Alkitab, roda kereta bukan milik bangsa Mesir tapi milik bangsa Assyrian dari abad ke 8 SM, karena terdapat perbedaan pada ketebalan lingkaran roda, juga dinyatakan, adalah janggal setelah 3000 tahunan terbenam di dalam laut, roda kereta masih ditemukan sangat terawat.


Untuk kejanggalan lainnya silakan baca saja di sini, di sini dan di sini

Ternyata, Musa dan Exodusnya juga dimanfaatkan untuk kepentingan syiar, salah satunya seperti yang dilansir Republika online, Senin, 13 Juli 2009:

    Maurice Bucaille tak Ragu dengan Kebenaran Alquran
    By Republika Newsroom

    Penelitiannya tentang Mumi Firaun membawanya pada kebenaran Alquran.

    Suatu hari di pertengahan tahun 1975, sebuah tawaran dari pemerintah Prancis datang kepada pemerintah Mesir. Negara Eropa tersebut menawarkan bantuan untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun. Tawaran tersebut disambut baik oleh Mesir. Setelah mendapat restu dari pemerintah Mesir, mumi Firaun tersebut kemudian digotong ke Prancis. Bahkan, pihak Prancis membuat pesta penyambutan kedatangan mumi Firaun dengan pesta yang sangat meriah.

    Mumi itu pun dibawa ke ruang khusus di Pusat Purbakala Prancis, yang selanjutnya dilakukan penelitian sekaligus mengungkap rahasia di baliknya oleh para ilmuwan terkemuka dan para pakar dokter bedah dan otopsi di Prancis. Pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian mumi ini adalah Prof Dr Maurice Bucaille.

    Bucaille adalah ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris. Ia dilahirkan di Pont-L’Eveque, Prancis, pada 19 Juli 1920. Bucaille memulai kariernya di bidang kedokteran pada 1945 sebagai ahli gastroenterology. Dan, pada 1973, ia ditunjuk menjadi dokter keluarga oleh Raja Faisal dari Arab Saudi.

    Tidak hanya anggota keluarga Raja Faisal yang menjadi pasiennya. Anggota keluarga Presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat, diketahui juga termasuk dalam daftar pasien yang pernah menggunakan jasanya.

    Namanya mulai terkenal ketika ia menulis buku tentang Bibel, Alquran, dan ilmu pengetahuan modern atau judul aslinya dalam bahasa Prancis yaitu La Bible, le Coran et la Science di tahun 1976.

    Ketertarikan Bucaille terhadap Islam mulai muncul ketika secara intens dia mendalami kajian biologi dan hubungannya dengan beberapa doktrin agama. Karenanya, ketika datang kesempatan kepada Bucaille untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun, ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menguak misteri di balik penyebab kematian sang raja Mesir kuno tersebut.

    Ternyata, hasil akhir yang ia peroleh sangat mengejutkan! Sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh sang mumi adalah bukti terbesar bahwa dia telah mati karena tenggelam. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut dan kemudian dibalsem untuk segera dijadikan mumi agar awet.

    Penemuan tersebut masih menyisakan sebuah pertanyaan dalam kepala sang profesor. Bagaimana jasad tersebut bisa lebih baik dari jasad-jasad yang lain, padahal dia dikeluarkan dari laut?

    Prof Bucaille lantas menyiapkan laporan akhir tentang sesuatu yang diyakininya sebagai penemuan baru, yaitu tentang penyelamatan mayat Firaun dari laut dan pengawetannya. Laporan akhirnya ini dia terbitkan dengan judul Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern, dengan judul aslinya, Les momies des Pharaons et la midecine. Berkat buku ini, dia menerima penghargaan Le prix Diane-Potier-Boes (penghargaan dalam sejarah) dari Academie Frantaise dan Prix General (Penghargaan umum) dari Academie Nationale de Medicine, Prancis.

    Terkait dengan laporan akhir yang disusunnya, salah seorang di antara rekannya membisikkan sesuatu di telinganya seraya berkata: ”Jangan tergesa-gesa karena sesungguhnya kaum Muslimin telah berbicara tentang tenggelamnya mumi ini”. Bucaille awalnya mengingkari kabar ini dengan keras sekaligus menganggapnya mustahil.

    Menurutnya, pengungkapan rahasia seperti ini tidak mungkin diketahui kecuali dengan perkembangan ilmu modern, melalui peralatan canggih yang mutakhir dan akurat.

    Hingga salah seorang di antara mereka berkata bahwa Alquran yang diyakini umat Islam telah meriwayatkan kisah tenggelamnya Firaun dan kemudian diselamatkannya mayatnya.

    Ungkapan itu makin membingungkan Bucaille. Lalu, dia mulai berpikir dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bahkan, mumi tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898 M, sementara Alquran telah ada ribuan tahun sebelumnya.

    Ia duduk semalaman memandang mayat Firaun dan terus memikirkan hal tersebut. Ucapan rekannya masih terngiang-ngiang dibenaknya, bahwa Alquran–kitab suci umat Islam–telah membicarakan kisah Firaun yang jasadnya diselamatkan dari kehancuran sejak ribuan tahun lalu.

    Sementara itu, dalam kitab suci agama lain, hanya membicarakan tenggelamnya Firaun di tengah lautan saat mengejar Musa, dan tidak membicarakan tentang mayat Firaun. Bucaille pun makin bingung dan terus memikirkan hal itu.

    Ia berkata pada dirinya sendiri. ”Apakah masuk akal mumi di depanku ini adalah Firaun yang akan menangkap Musa? Apakah masuk akal, Muhammad mengetahui hal itu, padahal kejadiannya ada sebelum Alquran diturunkan?”

    Prof Bucaille tidak bisa tidur, dia meminta untuk didatangkan Kitab Taurat (Perjanjian Lama). Diapun membaca Taurat yang menceritakan: ”Airpun kembali (seperti semula), menutupi kereta, pasukan berkuda, dan seluruh tentara Firaun yang masuk ke dalam laut di belakang mereka, tidak tertinggal satu pun di antara mereka”.

    Kemudian dia membandingkan dengan Injil. Ternyata, Injil juga tidak membicarakan tentang diselamatkannya jasad Firaun dan masih tetap utuh. Karena itu, ia semakin bingung.

    Berikrar Islam
    Setelah perbaikan terhadap mayat Firaun dan pemumiannya, Prancis mengembalikan mumi tersebut ke Mesir. Akan tetapi, tidak ada keputusan yang mengembirakannya, tidak ada pikiran yang membuatnya tenang semenjak ia mendapatkan temuan dan kabar dari rekannya tersebut, yakni kabar bahwa kaum Muslimin telah saling menceritakan tentang penyelamatan mayat tersebut. Dia pun memutuskan untuk menemui sejumlah ilmuwan otopsi dari kaum Muslimin.

    Dari sini kemudian terjadilah perbincangan untuk pertama kalinya dengan peneliti dan ilmuwan Muslim. Ia bertanya tentang kehidupan Musa, perbuatan yang dilakukan Firaun, dan pengejarannya pada Musa hingga dia tenggelam dan bagaimana jasad Firaun diselamatkan dari laut.

    Maka, berdirilah salah satu di antara ilmuwan Muslim tersebut seraya membuka mushaf Alquran dan membacakan untuk Bucaille firman Allah SWT yang artinya: ”Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS Yunus: 92).

    Ayat ini sangat menyentuh hati Bucaille. Ia mengatakan bahwa ayat Alquran tersebut masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Hatinya bergetar, dan getaran itu membuatnya berdiri di hadapan orang-orang yang hadir seraya menyeru dengan lantang: ”Sungguh aku masuk Islam dan aku beriman dengan Alquran ini”.

    Ia pun kembali ke Prancis dengan wajah baru, berbeda dengan wajah pada saat dia pergi dulu. Sejak memeluk Islam, ia menghabiskan waktunya untuk meneliti tingkat kesesuaian hakikat ilmiah dan penemuan-penemuan modern dengan Alquran, serta mencari satu pertentangan ilmiah yang dibicarakan Alquran.

    Semua hasil penelitiannya tersebut kemudian ia bukukan dengan judul Bibel, Alquran dan Ilmu Pengetahuan Modern, judul asli dalam bahasa Prancis, La Bible, le Coran et la Science. Buku yang dirilis tahun 1976 ini menjadi best-seller internasional (laris) di dunia Muslim dan telah diterjemahkan ke hampir semua bahasa utama umat Muslim di dunia.

    Karyanya ini menerangkan bahwa Alquran sangat konsisten dengan ilmu pengetahuan dan sains, sedangkan Al-Kitab atau Bibel tidak demikian. Bucaille dalam bukunya mengkritik Bibel yang ia anggap tidak konsisten dan penurunannya diragukan

Benarkah Dr. Bucaille menjadi seorang Mualaf?

Informasi tenggelamnya Firaun dan pengikutnya tecantum di semua literatur Abrahamik, namun yang menyatakan mayat Firaun tidak tenggelam namun timbul kembali ke darat, hanya ada di literatur Islam, yaitu pada surat Yunus 10:90-93:

    Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu[704] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.

    [704]. Yang diselamatkan Allah ialah tubuh kasarnya, menurut sejarah, setelah Fir’aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir

    Tafisr Ibn Kathir untuk AQ 10.90-92:
    Ibnu Abbas dan para salafi lainnya: “Beberapa Bani Israel meragukan kematian Fir’aun sehingga Allah memerintahkan lautan untuk melemparkan tubuhnya – utuh, tanpa jiwa – lengkap dengan baju besinya yang terkenal. Tubuh itu dilemparkan ke tempat yang tinggi di tanah itu sehingga Bani Israel dapat memastikan kematian dan kehancurannya” [Juga tafsir Jalalain AQ 10.92]

Unsur garam yang ada di tubuh Mumi dicocoklogikan dengan ayat Al Qur’an bahwa setelah Firaun mati tenggelam, mayatnya kemudian timbul ke darat.
Jika benar karena adanya unsur garam di tubuh mumi sehingga Dr Bucaille berkesimpulan Firaun pernah tenggelam, maka ini sangatlah mengherankan, karena Bucaille adalah dokter medis selama 37 tahun dan juga ahli pencernaan, Ia tahu pasti kegunaan unsur garam.

Garam diperlukan PADA PROSES pengawetan/Pembalseman sebagai unsur utama untuk mengatasi proses pembusukan akibat kelembaban. Tubuh para mumi Mesir dikeringkan dengan menggunakan Natron [garam campur], yaitu: natrium karbonat [agen pengering], natrium bikarbonat [Ketika mengalami kelembaban, akan meningkatkan pH dan menghambat bakteri pembusuk], natrium klorida [garam, penyeimbang asam-basa] dan natrium sulfat [Osmo regulator]. Natron tersedia melimpah di di sepanjang sungai Nil.

Gambar di samping adalah mumi bayi Rosalia Lombardo (berusia 2 tahun, dari Palermo, sisilia) wafat akibat tahun 1920. Ia terlihat segar dan bagaikan orang tertidur, dalam proses pembalsemannya salah satunya ada garam seng, karena ada unsur garamnya, tidak berarti mumi manis ini pernah tenggelam di laut, bukan?.

Qur’an tentang mayat Firaun: Tenggelam atau Tidak?

Informasi mayat Firaun, disampaikan dalam 7 ayat di 7 Surat berbeda [AQ 2.50, 7.136, 10.92, 17.103, 26.66, 43.55 dan 44.24].

    Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan KAMI TENGGELAMKAN (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan[47] [AQ 2.50, Surat ini turun pada urutan ke-87]

      Tafsir Jalalain untuk ayat ini:
      [47]. Waktu Nabi Musa a.s. membawa Bani Israil ke luar dari negeri Mesir menuju Palestina dan dikejar oleh Fir’aun, mereka harus melalui laut Merah sebelah Utara. Maka Tuhan memerintahkan kepada Musa memukul laut itu dengan tongkatnya. Perintah itu dilaksanakan oleh Musa hingga belahlah laut itu dan terbentanglah jalan raya ditengah-tengahnya dan Musa melalui jalan itu sampai selamatlah ia dan kaumnya ke seberang. Sedang Fir’aun dan pengikut-pengikutnya melalui jalan itu pula, tetapi di waktu mereka berada di tengah-tengah laut, kembalilah laut itu sebagaimana biasa, lalu tenggelamlah mereka.

    dan biarkanlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentara yang AKAN DITENGGELAMKAN [AQ 44.24, Surat ini turun pada urutan ke-64]

    Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu KAMI TENGGELAMKAN mereka semuanya (di laut), [AQ 43.55, Surat ini turun pada urutan ke-63]

    Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu TELAH HAMPIR TENGGELAM berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini KAMI SELAMATKAN badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami [AQ 10.90-92, Surat ini turun pada urutan ke-51]

    Kemudian (Fir’aun) hendak mengusir mereka (Musa dan pengikut-pengikutnya) dari bumi (Mesir) itu, maka KAMI TENGGELAMKAN dia (Fir’aun) serta orang-orang yang bersama-sama dia seluruhnya [AQ 17.103, Surat ini turun pada urutan ke-50]

    Dan KAMI TENGGELAMKAN golongan yang lain itu. [AQ 26.66, Surat ini turun pada urutan ke-47]

    Kemudian Kami menghukum mereka, maka KAMI TENGGELAMKAN mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu [AQ 7.136, Surat ini turun pada urutan ke-39]


Dari 7 ayat tersebut, HANYA surat Yunus (AQ 10.90-92) saja yang menyatakan mayat Firaun DISELAMATKAN (ke DARAT). Sedangkan 6 ayat lainnya: 3 ayat [turun sebelum surat Yunus: AQ 7.136; 26.66 dan 17.103] dan 3 ayat [turun setelah surat Yunus: AQ 43.55; 44.24 dan 2.50] seluruhnya menyatakan bahwa Firaun maupun para pengikutnya mati tenggelam.

    Para muslim yang beranggapan bahwa diselamatkan = timbul ke darat, maka kumpulan ayat di atas telah menunjukan informasi yang tidak saling melengkapi namun saling bertentangan.

    Untuk menyiasati INFORMASI YANG BERTENTANGAN INI, Islam mengedepankan prinsip Nash [Pembatalan] dan Manshuk [Penggantian] (AQ 2:106, 16:101, 13:39 17:86, dan 22:52), digunakan jika terdapat hukum yang saling bertentangan dan bukan melengkapi, bahwa hukum yang diturunkan belakangan membatalkan hukum sebelumnya sehingga di antara 7 ayat yang menyinggung peristiwa tenggelamnya Firaun dan pengikutnya, karena AQ 2.50 DITURUNKAN ALLAH LEBIH belakangan, maka ini MENGANULIR informasi ayat 10:92, tapi logika ini janggal karena Allah tidak tahu pasti atas apa yang diturunkannya.


Dengan demikian, AQ 2.50 memberikan konsekuensi bahwa seluruh kitab Abrahamik, sekarang berada pada posisi sama yaitu mayat firaun tetap tenggelam.

Apa yang sebenarnya ditemukan oleh Bucaille?

Di “The Bible, The Qur’an and Science” [1976], Bucaille menyampaikan informasi bahwa sedang dilakukan otopsi Firaun Merneptah [Anak Ramesses II]:

    Pada waktu penelitian mumia tersebut dalam bulan Juni tahun 1975, Atas usulan saya.Penyelidikan radiografik telah dilakukan oleh Dr. El Melegy dan Dr. Ramsys; di lain pihak Dr. Mustafa menilainya telah melakukan penyelidikan tentang thorax dan perut; ini adalah penyelidikan dengan endoscopie yang diterapkan kepada mumia untuk pertama kali..Dengan pemeriksaan microscope terhadap bagian-bagian yang jatuh sendiri daripada mumia itu, yaitu pemeriksaan yang dilakukan oleh Prof.Mignot dan Dokter Durignon, suatu penyelidikan legal akan dapat diselesaikan bersama dengan Prof. Ceccaldi.

    Sangat disesalkan sekali bahwa HASIL PENYELIDIKAN TERSEBUT BELUM RAMPUNG KETIKA BUKU INI DICETAK [note: November 1975, Untuk Edisi pertama Perancis]

    Yang dapat kita tarik kesimpulan sekarang ialah kerusakan tulang dan hilangnya substansi penting — sebagian adalah sangat fatal. Kita belum dapat memastikan apakah hal-hal tersebut terjadi sesudah atau sebelum matinya Fir’aun. MENURUT RIWAYAT KITAB SUCI, Fir’aun meninggal karena tenggelam atau karena rasa shock yang dahsyat yang mendahului tenggelamnya, dalam laut, atau kedua-duanya


Tertulis DENGAN SANGAT JELAS bahwa hingga akhir tahun 1975 BELUM ADA hasil penelitiannya dan bahkan penelitian itu kemudian berkembang dengan meneliti menjadi dua firaun ayah dan anak yaitu Ramesses II dan Merneptah.

Kemudian, penelitian itu berlanjut pada mumi-mumi lain di periode berbeda, seperti tercantum pada buku Bucaille lainnya, “Moses And Pharaoh: The Hebrews In Egypt“, 1995, hal.10:

    Dalam rangka memperoleh data komparatif yang berhubungan dengan penemuan medik, kami memperluas riset pada mumi-mumi yang berkuasa di periode lainnya. Riset menempatkan kita pada posisi membawakan data yang berhubungan dengan poin-poin tertentu..,pada cara tertentu yang saat ini banyak hipotesa yang berasal dari komentar kitab-kitab sebelum tahun 1976, tidak dapat di gunakan lagi. SEJAUH BERHUBUNGAN DENGAN EKSODUS, SEBAGAIMANA YANG SAYA TEKANKAN DI BAB 9, RAMESSES II TIDAK MEMUNGKINKAN DALAM POSISI MENGEPALAI TENTARA MESIR UNTUK MENGEJAR KAUM YAHUDI. Dikarenakan Ia menderita penyakit yang menyebabkan ia tidak berdaya -seperti ditunjukan dari hasil sinar x- Ia tidak dapat ikut mengejar. Ramesses II TIDAK MUNGKIN IKUT PADA BAGIAN TERAKHIR EKSODUS.

    Di lain pihak, kita dapat menyebutkan tanpa keraguan, penerusnya yaitu Merenptah, jelas cedera karena hentakan-hentakan yang berakibat luka berat yang cepat atau seketika mematikan. Tanpa mengeluarkan kematian akibat di air, yang ditekankan oleh kitab-kitab suci, Studi medis memperlihatkan bahwa luka-luka timbul dari kekerasan yang brutal


Setelah 20 tahunan kemudian, semakin jelas tergambar, bahwa Bucaille TDAK PERNAH mengkaitkan antara temuan unsur garam yang ada di para mumi dengan tenggelam/tidaknya salah satu Firaun, bahkan komentar pada terakhirnya beliau, hanya mengkaitkan sebab kematian dari sisi medis saja.

Mengapa Firaun Merenptah terindikasi banyak terdapat bekas-bekas luka justru telah terjawab dengan sendirinya di buku pertama Bucaille, yaitu “The Bible, The Qur’an and Science” dimana ia tuliskan bahwa Mummi Merenptah datang dalam keadaan cacat ketika di periksa oleh Elliot Smith dan juga semakin parah di 60 tahun kemudian:

    Elliot Smith membuka perban-perbannya pada tanggal 8 Juli 1907. Dalam bukunya The Royal Mummies (1912) ia menjelaskan apa yang dikerjakan dalam membuka mumia tersebut dan memeriksa badannya. Pada waktu itu mumia tersebut dapat dikatakan dalam keadaan baik walaupun ada kerusakan di beberapa bagian..Jika kita bandingkan keadaan mumia sekarang dengan keadaannya 60 tahun yang lalu ternyata sudah terdapat kerusakan-kerusakan, bahkan ada bagian-bagian yang hilang. Kain pembalut mumia telah banyak rusak, baik karena tangan manusia di beberapa bagian, atau karena waktu untuk bagian-bagian lain.


Grafton Elliot Smith tegas menyatakan bahwa kematian Merneptah adalah kematian normal karena usia tua.[“The Royal Mummies”, Cairo (1912), pp. 65-70; juga lihat situs ini dan ini dan ini]. Kita bisa buktikan kebenaran dari dugaan Elliot Smith:

  • Raja Ramesses II Berkuasa: 1279 SM – 1213 SM, Wafat: antara 90 – 99 tahun. jadi, Ia berkuasa selama 66 tahun. Merneptah adalah anak ke-13 dari istri ke-2nya
  • Raja Merneptah Berkuasa: Juli/Agustus 1213 SM – 2 May 1203 SM, Wafat: antara: 70-80 tahun]. Kakak kandungnya: Khaemwaset adalah kakak kandung ke-3 dari 5 bersaudara atau Kakak yang ke-4 dari seluruh ibu lainnya.

    Khaemwaset wafat di usia 61 tahun pada tahun 1224 SM [selisih 11 tahun dari wafatnya sang raja]. 12 kakak lainnya juga sudah wafat, maka penerus tahta berikutnya selama 11 tahun adalah Merneptah. Sehingga ketika raja mangkat, dapat diperkirakan Merneptah memerintah di usianya 71 tahun [tertua] atau 61 tahun [termuda] Sehingga setelah 10 tahun kemudian Merneptah wafat di usia tua yaitu 81 tahun atau 71 tahun


Kita telah buktikan bahwa baik Raja Ramesses II maupun Merneptah TIDAK PERNAH hidup sejaman dengan MUSA dan BAHKAN JUGA TIDAK UNTUK SELURUH Raja Mesir manapun:

Versi Islam:
Hanya mengenal 1 Firaun selama jaman Musa.

    Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi) dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang se- lalu mereka khawatirkan dari mereka itu [AQ 28.4-6]

    Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai. Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya dari para rasul. Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari. Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hati- nya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya. Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: “Ikutilah dia” Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya, dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?.” Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita..[AQ 28.7-13]

    Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah dan pengetahuan..Dan Musa masuk ke kota.., maka didapatinya..dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya dan seorang dari musuhnya. Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu..Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir..[AQ 28.14-15,18]

    Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: “Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah..” Maka keluarlah Musa dari kota itu..kejurusan negeri Madyan.. sampai di sumber air negeri Madyan.. Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan.. Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja.. Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku 8 tahun dan jika kamu cukupkan 10 tahun maka itu adalah dari kamu.. Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung..Maka tatkala Musa sampai ke api itu, diserulah dia dari pinggir lembah yang sebelah kanan pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.. [AQ 28.20-23, 25, 28,30]

    Musa berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku, telah membunuh seorang manusia dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku. Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkanku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku. Allah berfirman: “Kami akan membantumu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu;.. [AQ 28.34-35]

    Dan ketika Tuhanmu menyeru Musa: “Datangilah kaum yang zalim itu kaum Fir’aun… Berkata Musa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku.. maka utuslah kepada Harun.. , maka aku takut mereka akan membunuhku.” Allah berfirman: “Jangan takut, maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami;.., Maka datanglah kamu berdua kepada Fir’aun dan katakanlah olehmu: “Sesungguhnya Kami adalah Rasul Tuhan semesta alam, lepaskanlah Bani Israil beserta kami.”. Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu… Berkata Musa: “Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf. Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul.[AQ 26.11-22]

Tampak jelas bahwa Firaun yang memeliharanya sewaktu bayi, Firaun yang ditinggalkan Musa ke Midian karena ketakutan akan dibunuhnya dan Firaun yang bertemu Musa dan Harun ketika tuhan menyuruh mereka kembali ke Mesir adalah Firaun yang sama.

Al qur’an tidak pernah menyebutkan berapa umur Musa saat wafat namun menyebutkan lamanya Musa bersama rakyatnya mengembara di gurun yaitu selama 40 tahun [AQ 5:26].

Pada buku “THE PROPHETS, THEIR LIVES AND THEIR STORIES“, karangan Abdul-Sâhib Al-Hasani Al-‘âmili, disebukan oleh narator:

  • Muruj Al-Ðahab: Umur Musa saat wafat adalah 120 tahun
  • Al-Baydhâwi: Tinggal di rumah Pharaoh hingga berumur 30 tahun sebelum kabur ke Midian. 
  • Ali bin Abi Tâlib (Prince of beliver): selama di Midian Musa bertemu dengan 1 orang dan 15 tahun kemudian bertemu orang ini lagi. Jarak waktu pertemuan terakhir hingga meninggalnya Pharaoh adalah 40 tahun [Sudah termasuk tahun ketika mengawini anak Jethtro dan tinggal bekerja bersamanya selama 8-10 tahun].

Dengan total tahun hingga 85 tahun maka tidak mungkin raja Mesir yang dimaksud adalah Ramesses II karena masa ia memerintah saja hanya 66 tahun.

Dari seluruh list Raja Mesir,
terdapat 1 Raja yang memiliki usia pemerintahan 94 tahun yaitu: Pepi II (Neferkare) [2278 SM – 2184 SM]. Masa pemerintahan raja ini sebenarnya cukup cocok karena harus sudah memerintah saat Musa dilahirkan, namun sayangnya tidak ada 1 literatur manapun yang mendukuing bahwa pada masa pemerintahan Neferkare terjadi 9 Mukjizat [tongkat, tangan, belalang, kutu, katak, darah, taupan, laut, dan bukit Thur] sebagaimana disebutkan di AQ 17:101 [Faktanya juga di jaman raja Ramesses II, mukjijat-mukjijat itupun tidak ada]. Disamping itu, di buku yang sama disebutkan jarak antara Musa dan Yesus adalah: 1800 tahun

Versi Nasrani dan Ibrani:
menyatakan terdapat 2 (dua) raja mesir berbeda di kisaran hidupnya Musa. Raja Mesir yang pertama, setelah Musa kabur ke Median dan mempunyai anak maka lama sesudah itu wafatlah raja mesir itu [Exodus 2:15-23]:

  • Menurut JewishEncylopedia,
    Musa kabur dari mesir saat berusia 18 tahun, Ia kemudian menjadi raja Ethiophia di usia 27 tahun dan memerintah Ethiophia selama 40 tahun.

    Pada versi lainnya,
    Musa tinggal di istana Pharaoh sampai berumur 40 tahun dan berada di Midian selama 40 tahun, kembali ke Mesir, keluar mengembara bersama bangsa Israel selama 40 tahun. Ia wafat di usia 120 tahun.

    “Versi lainnya” ini mendapatkan dukungan Alkitab:

      Pada waktu ia berumur 40 tahun, timbullah keinginan dalam hatinya untuk mengunjungi saudara-saudaranya, yaitu orang-orang Israel. Ketika itu ia melihat seorang dianiaya oleh seorang Mesir, lalu ia menolong dan membela orang itu dengan membunuh orang Mesir itu.[Kisah Para Rasul 7.23-24]

      larilah Musa ke tanah Midian. Di situ ia memperanakkan dua orang anak laki-laki. Dan sesudah 40 tahun tampaklah kepadanya seorang malaikat di padang gurun gunung Sinai di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. [KPR 7.29-30]

      Adapun Musa 80 tahun umurnya dan Harun 83 tahun, ketika mereka berbicara kepada Firaun.[Kel 7.7]. Musa wafat diusia 120 tahun [Ulangan 34.7], Harun wafat diusia 123 tahun [Bilangan 33.39]

  • Dari Informasi di Alkitab, kita coba susun perkiraan usia anak gadis Raja Ramesses II sewaktu membawa bayi Musa pulang [Exodus 2:5] dan mengangkatnya anak
      Seorang firaun baru yang tidak mengenal Yusuf memerintah Mesir. Bangsa israel membesar jumlahnya dan untuk menanggulanginya, Firaun itu memerintahkan pada bidan agar setiap bayi laki-laki dari bangsa Israel harus dibunuh, jika perempuan dibiarkan hidup. [Kel 1.6-22]

      Musa setelah berusia 3 bulan, ia hanyutkan anak itu di sungai Nil; kakak perempuannya mengawasinya dari kejauhan. Ketika itu Puteri Firaun sedang mandi di sungai Nil dan dayang-dayangnya berjalan-jalan di tepian sungai, dilihatnya peti itu, dayangnya di suruh untuk mengambil dan ada bayi sedang menangis. Kakak perempuan bayi itu menyarankan mengambil inang penyusu dan ibu bayi itu dipanggil, kemudian diperintahkan putri firaun untuk menyusuinya. Setelah anak itu besar dibawa kembali kepada putri firaun [Kel 2.1-10].

    Kita ketahui bahwa Musa punya kakak laki-laki bernama Harun yang lebih tua 3 tahun darinya dan selisih umur tersebut mendekati kisaran usia sapih menyusui menurut Alkitab, yaitu 3 tahun [2 Mac 7:27; 2 Trw 31.16]

    Harun tampaknya tidak mengalami kejadian yang seperti Musa alami, maka aturan raja untuk membunuh bayi laki-laki tampaknya baru diberlakukan pada kisaran sekitar tahun kelahiran Musa.

    Disamping punya kakak laki-laki, Musa juga punya kakak perempuan yang tampaknya bukan anak kecil lagi namun telah cukup dewasa, ketika mendekati Putri firaun dan memberikan alternatif solusi menyusui padanya: “Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan puteri?” [Kel 2.7]. Memperhatikan ketidakcanggungan dan mudahnya kakak perempuan musa dalam mendekati tuan putri, bisa jadi usia mereka pun tidak terpaut jauh.

    Dari usia sapih menyusui, maka sekurangnya jarak kelahiran antara kakak perempuan Musa – Harun adalah 3 tahunan juga, Jadi, selisih umur antara kakak perempuan musa – lahirnya musa sekurangnya tidak kurang dari 7 tahun.

    Kemudian,
    dalam tradisi Ibrani, seseorang dianggap telah dewasa adalah setelah Bat Mitzvah, yaitu ketika menginjak usia 12 tahun (perempuan/bat) atau 13 tahunan (pria/bar) [1 Raja 2.2-3]. Jadi cukup wajar jika usia kakak perempuan Musa pada saat kejadian itu di kisaran usia 12 – 15 tahunan dan sang putri Firaun juga berusia di kisaran 15 tahunan juga.

    Jika Ramesses II menjadi raja di usia 13 – 15 tahunan (Putnam: di usia 14 tahun, Ramesses II, baru menjadi pangeran), maka ketika putri firaun berusia sekitar 15 tahunan ketika Musa lahir, Ramesses II saat itupun berusia sekurangnya 30an tahun s.d 35 tahunan.

      note:
      Ramesses II bertahta selama 66 tahun 2 bulan. Ia wafat di usia: 90/91 atau 99 tahun, maka berdasarkan ini, Ia menjadi raja di usia 25 s.d 33 tahun dan ketika menetapkan aturan membunuh bayi dari selisih umur kakak perempuan musa s.d Musa lahir yaitu 7 tahun, usia Ramesses II, ketika itu sekurangnya 24 + 7 = 31 tahun s.d 33 + 7 = 40 tahun

    Dari dua hal di atas ini, maka cukup wajar jika kita anggap Ramesses II berusia 35 tahun saat Musa lahir

  • Ketika Musa kabur dari Mesir menuju Midian [Exodus 2:11-15] dikatakan Musa telah “telah dewasa” dan masih bujang [exodus 2:16-22] yaitu berusia 40 tahun. Sehingga usia Ramesses II ketika itu adalah 75 tahunan
  • Musa berusia 80 tahun saat bertemu Raja Mesir berikutnya [exodus 7:7] dan karena Ramesses II wafat dikisaran 90 atau 99 tahun, maka lamanya tahun Ramesses II wafat setelah Musa berada di Midian adalah 15 s.d 24 tahun kemudian. Saat itu usia Musa adalah 55 s.d 64 tahun.
  • Ketika Exodus terjadi, maka Firaun mesir berikutnya telah memerintah sekurangnya 16 s.d 25 tahun, berdasarkan hal ini, maka Firaun berikutnya sudah pasti bukan Merneptah karena pemerintahannya hanya berumur 10 tahun!


Bahkan, di periode Firaun Mesir manapun juga, termasuk Pepi II (Neferkare) [2278 SM – 2184 SM], yang memerintah selama 94 tahun adalah juga bukan karena harus ada tambahan faktor “mukjizat” yang sayangnya tidak 1 (satu)-pun literatur Mesir mendukung adanya kejadian tersebut.

Benarkah klaim kalangan Muslim bahwa Dr Bucaille menjadi mualaf?

Sampai dengan akhir hayatnya di tahun 1998, Bucaille tetaplah non-Muslim. Anda akan temukan buktinya di sini, di sini juga [di sini dan Ia tidak tercantum sebagai Muslim di sini]

Mengapa kekacauan ini dapat terjadi?

Salah satu yang terutama adalah tidak satupun ahli arkeologi yang mampu memastikan kebenaran terjadinya peristiwa eksodus, lokasi dan juga penyeberangannya. Kemudian juga yang berkenaan dengan kata Ibrani “yam suph” yang ditranslasi ke septuagint Yunani dan telah diterjemahkan secara keliru menjadi “laut merah”. Kata Ibrani “Suph” ngga pernah berarti merah namun berarti “alang-alang” [Kenneth Kitchen, “On the Reliability of the Old Testament” (Eerdman’s, 2003), pp.261-263]. Sehingga artinya seharusnya adalah “lautan alang-alang” [sea of the reeds]

Laut merah, merupakan terjemahan bahasa yunani (Erythra Thalassa) dan latin (Mare Rubrum; Sinus Arabicus; yang secara literal artinya adalah “teluk arab”).

Ada juga yang mengkaitkan nama “laut merah” dengan musim ramainya sejenis alga [Trichodesmium erythraeum] yang berwarna merah [namun ini juga tidak tepat, silakan saja perhatikan foto di samping]. Juga ada pendapat lainnya yaitu nama laut merah berasal dari suatu suku lokal yang mempuyai nama “merah” yaitu Himyarit

Pendapat lain yang lebih digemari para ahli adalah kata “merah” digunakan untuk “arah selatan” dari mata angin. Warna arah utara adalah “hitam”, di mana laut hitam berada. Dasar argumen warna pada teori ini adalah karena warna sebagai arah telah digunakan luas oleh beberapa kebudayaan tua dunia [Asia, Amerika, Turki] yang menggunakan warna sebagai arah mata angin. Herodotus pada satu kejadian kerap bergantian menggunakan nama “laut merah” dan “laut selatan” [lihat di: Laut hitam]

Disamping itu,
Eksistensi Musa dan kisahnya pun sangat diragukan kebenarannya, William G. Dever juga menyatakan bahwa TIDAK ADA satupun temuan Arkeologi menyatakan pernah terjadi eksodus dari Mesir dan Bahkan tidak ada 1 teks mesir-pun yang menyinggung mengenai adanya “Ibrani” atau “Israel” di Mesir.

    Note:
    Klaim kata “Israel” di Prasasti Merneptah adalah pemalsuan/penipuan, sebagaimana disampaikan Professor Joseph Davidovits, di artikel, “Error or forgery on the Stele of Merneptah, known as Israel Stele“:

    …Saya telah tunjukan bahwa “iisii-r-iar” sebenarnya adalah kalimat Mesir yang artinya: “mereka diasingkan karena dosa mereka”. Pharaohs Ramses II dan Merneptah menggunakan kalimat ini ketika berbicara tentang pengasingan para pengikut Akhenaton, yang dipaksa meninggalkan Mesir. Nama kaum ini “iisii-r-iar” diubah menjadi “israël”, melalui perubahan huruf ‘r’ menjadi ‘l’.

    ..Ini berkaitan dengan kalimat “Yanoam menjadi tidak ada“, yang ada sebelum menyebutkan “iisii-r-iar ”. Akan saya tunjukan di sini, terjemahan ini seluruhnya salah, karena merupakan hasil pemalsuan satu dari tanda hieroglyphic. Sebagai permulaan, mari kita lihat terjemahan baris ke-27 dari prasasti yang di terbitkan pada tahun 1909 (cf: P. Lacau, Steles of the new empire (general Catalogue of Egyptian antiquities of the Museum of Cairo, Cairo, 1909):

    ..Kita temukan bahwa kalimat “yanom menjadi tidak ada” sekelompok hieroglyphs (mata “Re” + burung Nasar “aa”) tidak diterjemahkan, namun ditandai “sic” (error). Transkrip kalimat hieroglyph yang diwakili burung nasar menjadi meragukan, sama seperti kalimat “Yanoam menjadi tidak ada”. Konsekuensinya, Signifikansi dari seluruh sisa baris, terutama pada bagian yang mengandung “iisii-r-iar”, Israel, juga menjadi meragukan.

    ..Ketika saya mulai mempelajari prasasti ini, pada akhir tahun sembilan puluhan, saya bertanya-tanya mengapa transripsi burung nasar ini bermasalah, dan tidak diterjemahkan..

    Pada photo di bawah perbandingan huruf “aa” (burung nasar) pada atas baris ke-26, ditandai “A”, dengan huruf yang sama di baris ke-27 (sic), ditandai “B”.

    Kita lihat bahwa untuk huruf yang ditandai A, goresan kapur putihnya sempurna mengikuti ukiran hieroglyph (burung nasar). Sebaliknya, untuk huruf (sic) yang ditandai B, goresan kapur pada leher dan kepala burun nasar itu terus diluar ukiran. Dengan demikian, ukiran tidak sesuai dengan huruf “aa”. Ini adalah PEMALSUAN.

    Sekarang, mari kita lihat lebih dekat ukiran pada huruf bertanda “B” (sic) dan sorotan warna merah pada kontur ukiran dari ini huruf sic

    Kontur berwarna merah di ukiran hieroglyph menunjukan bahwa itu adalah seekor burung hantu, yaitu hurum “m” dan bukan huruf “aa” (burung nasar). Kita sekarang dapat menuliskan pembacaan dari huruf yang hilang yang TIDAK DITERJEMAHKAN sampai sekarang. Kita membaca “rem-m” dan kita terjemahkan sebagai tangisan/air mata.

    Grup hieroglyph “m tem wun” terpisah menja didua bagian karena keberadaan rol papyrus roller yang mendahului kelinci (wun). Kalimat “Yanoam menjadi tidak ada” berubah menjadi “/iinaamm rem-m tem/wun iisii-r-iar (kaum)/”, dan terjemahan baru menjadi: tangisan Yanoam telah habis; yang tersisa adalah iisi-r-iar, suatu kaum.

    Terjemahan baru baris ke-27 dengan sorotan tanda baca (kotak persegi)


    Pemalsuan huruf m (burung hantu) menjadi huruf aa (burung nasar)
    kemungkinan adalah fakta dari penemuan prasasti, Flinders Petrie, di tahun 1896. Sejak dari awal, ia dan para rekannya melakukan penelurusan goresan kapur di hieroglyph ini dengan cara seperti ini, karena, dipikiran mereka, Firaun Merneptah harus menyerang dan menghancurkan bangsa Kanaan, dalam pengejarannya pada bangsa yang mengungsi/keluar, Israel…


Yang seharusnya juga segera menarik perhatian adalah mengenai jumlah Yahudi yang eksodus dari Mesir dan kemudian dilanjutkan mengembara selama 40 tahun di Gurun Sinai [Keluaran 16:35; Bilangan 14:33, 32:13].

Jika, 603.550 orang tentara Yahudi [dan juga dari bangsa lain ] masing-masing memiliki istri, anak dan orang tua, maka jumlah populasi Yahudi yang eksodus dari Mesir dan mengembara selama 40 TAHUN di Gurun pasir Sinai adalah 2Jt – 3.5Jt orang!

Lantas berapa besar populasi Mesir saat eksodus itu?

Banyak orang secara memaksa menyatakan bahwa Musa hidup kisaran 1250an SM, berikut di bawah ini terdapat 2 (dua) versi populasi mesir saat itu:

  • Menurut Robert Feather, populasi Mesir pada 3000 SM adalah 870.000 orang dan pada 1250 SM adalah 2.6 Jt orang[Robert Feather, The Copper Scroll Decoded:One Man’s Search for the Fabulous Treasures of Ancient Egypt. London, Thorsons/HarperCollins, 1999]
  • Menururut Kathryn A. Bard, populasi Mesir 1250 SM adalah 3 jt s/d 3.5 jt orang [Encyclopedia of the archaeology of ancient Egypt, Kathryn A. Bard]


Jadi,

  • Bagaimana mungkin, 603.550 pria di atas 20 tahun, berikut keluarganya sejumlah 2 jt s/d 3.5 jt orang, yang ternyata bersaing jumlah dengan populasi penduduk Mesir, dapat meninggalkan mesir dengan membawa segala macam ternak dan perabotannya [Alkitab menyatakan mereka juga membawa emas, perak dan kain] dengan waktu kurang dari 1/2 malam saja, tanpa kehebohan dan tidak tercatat di 1 (satu)-pun literatur mesir kuno manapun!
  • Bagaimana mungkin 600 kereta kuda dapat membuat takut 603.550 tentara Yahudi?


Selebihnya anda dapat temukan di sini, sini, sini, sini dan masih banyak lagi.

Bagaimana dengan Makan mereka selama 40 tahun di gurun Sinai?

    Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu…Orang Israel makan manna empat puluh tahun lamanya, sampai mereka tiba di tanah yang didiami orang; mereka makan manna sampai tiba di perbatasan tanah Kanaan“[Keluaran 16:1-35]


Al quran [AQ 2:57; 7:160; 20:81] menggambarkan bagaimana mereka hidup dan makan sebagaimana yang Tafsir Ibn kathir sampaikan:

  • Selama dalam pengembaraan di gurun, mereka terlindungi dari sengatan matahari dengan semacam awan putih [An-Nasa’i dari Ibn Abba’s; Ibn Abi Hatim dari Ibn Umar, Ar-Rab’ bin Anas, Abu Milaz, Ad-Dahha’k, dan As-Suddi, Al-Hasan, Qatadah dan Ibn Jarir]
  • Di berikan Al Manna yang jatuh dari pohon dan digunakan untuk keperluan apapun yang mereka inginkan [`Ali bin Abi Talhah melaporkan dari Ibn `Abbas]
  • Qatadah: “Manna, lebih murni dari susu dan lebih manis dari madu dan berjatuhan dari atas seperti salju dari menjelang fajar hingga menjelang pagi dan beberapa dari mereka memungut secukupnya, dan di hari ke enam memungut lebih banyak untuk 2 hari sekaligus


Beberapa mengartikan “Manna” dengan hasil dari pohon Tamarisk atau hasil dari sekresi serangga pada tumbuhan yang hanya ada di Gurun Sinai. Namun pohon tersebut hanya menghasilkan di bulan May – July dan TIDAK TERJADI selama 6 hari dan selama 40 tahun!

Alfred Edersheim memperkirakan bahwa Semenanjung Sinai secara kasarnya hanya dapat memproduksi kira-kira 700 pounds [317.5 kg] untuk seluruh musimnya tamarisk. Bahkan jumlah tersebut sama sekali tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan makanan hanya 1 hari bagi bagi 2jt – 3.5jt orang![The Bible History — Old Testament, Grand Rapids: Eerdmans, reprint from an 1890 edition, Vol. II, p. 97]

Di samping itu, “Manna” dalam arti di atas, tidaklah cocok dengan maksud “hujan roti dari langit” yang seharusnya kejadiannya itu adalah seperti hujan lumut yang terjadi di Persia pada jaman kelaparan besar tahun 1854, Masyarakat yang kelaparan ketika itu begitu gembiranya dan bergegas mengumpulkan, memasak dan menjadikannya roti di hari itu juga.

Contoh kejadian lainnya misalnya hujan binatang dari langit seperti: Ikan, Sapi, katak, ular, cacing dan bahkan telur rebus yang terjadi di berbagai belahan dunia. Sayang sekali, kaum Israel kurang beruntung tidak kedapetan turunnya hujan telur rebus, ikan dan sapi.

Namun, kejadian unik di atas tidaklah terjadi di tiap harinya namun hanya sekali-waktu saja dan itupun dikarenakan adanya TORNADO atau ANGIN TOPAN di tempat lain.

Jadi, apa sih arti “Manna” itu?

Fakta Sejarah menyatakan tidak ada kaum Israel di Mesir, namun ajaran Abrahamic sepakat secara sepihak menyatakan bahwa kaum Israel sudah 430 tahun lamanya beranak-pinak di Mesir, Jadi, bahasa Mesir merupakan bahasa Ibu bagi semua orang saat itu. Tentu saja itu artinya adalah saat itu, baik itu Tuhan, Musa dan seluruh kaum yahudi tidak berbahasa Ibrani karena bahasa itu belum ada. Mereka semua berbahasa Mesir!

Kata “Manna” adalah kata yang berasaal dari bahasa Mesir “Mennu” yang artinya adalah makanan/roti [Juga lihat George Ebers, Durch Gosen zum Sinai, p. 236]. Sehingga terjemahan literal “Apakah ini?” pada:

    Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: “Apakah ini?”..Musa berkata kepada mereka: ‘Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu'”[Keluaran 16:15]


Terjemahan itu tidaklah tepat. Mereka saat itu sedang bersungut-sungut karena kelelahan dan kelaparan serta menyesali kehidupan di Mesir yang mereka tinggalkan, yaitu “duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang!“[Keluaran 16:3] sehingga ketika janji Musa datang namun tidak seperti yang mereka bayangkan maka mereka bukan lagi bertanya, “apa ini?” melainkan “Ini Makanan/roti?“.

Jadi, apakah mereka hanya menyantap “itu-itu” saja selama 40 tahunan tanpa ada “Mennu” lainnya lagi?

Tentu saja hal itu tidak benar. Alkitab jelas menginformasikan bahwa sebelum “hujan roti”, tuhan mereka menyatakan,

    “katakanlah kepada mereka: Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allahmu.” [Keluaran 16:12]


Anda akan temukan bahwa semasa dongeng 40 tahun pengembaraan di gurun Sinai, mereka-pun makan berbagai jenis hewan yaitu: Lembu, Domba, burung [lihat di: Imanat, Keluaran 18:12,29:38-41, juga di Kitab Bilangan], ditemani dengan roti yang tidak beragi dan roti bundar yang tidak beragi, yang diolah dengan minyak, dan roti tipis yang tidak beragi, yang diolesi dengan minyak; dari tepung gandum yang terbaik. “Mennu” tersebut tersedia tiap hari baik di pagi maupun di senja hari [Keluaran 29:38-41] dan juga yang berasal dari perolehan mereka ketika menaklukan Orang Amalek [Keluaran 17:8-16].

Namun, apapun yang mereka makan, terdapat persoalan serius secara logika, karena menurut situs ini [dan puluhan situs lainnya], keperluan harian 2jt s/d 3.5jt orang adalah sekurang-kurangnya setara dengan 1500 ton Makanan, 4000 ton kayu untuk api membuat makanan, 11 juta galon air dan juga perkemahan seluas 750 Mil2. Suatu ukuran jumlah yang luar biasa besar yang dapat di tampung oleh gurun pasir Sinai yang bahkan untuk mensupport puluhan ribu orangpun masih sangat berlebihan.

Nah, yang tidak kalah menakjubkannya adalah bagaimana mereka menangani permasalahan sampah selama 40 tahun mengembara di gurun sinai. Saking menakjubkannya hingga tidak ditemukan 1 (satu) artifak-pun untuk mengabadikan peristiwa ajaib tersebut.

Terakhir,
Kisah tentang Musa diliteratur Hindu, pada dongeng Bhavisya/Bhavisya purana hanya memuat sekelumit seperti ini:

    Ketika Kaliyuga berlalu 2000 tahun, Dinasti Mleccaha [kaum barbar, tak paham tradisi India] meningkat. Mereka menciptakan dan tumbuhnya banyak jalan [pandangan/ajaran] dan secara bertahap seluruh bumi menjadi penuh orang-orang Mleccaha. Pemimpin spritual dan guru mereka bernama Musa. Ia tinggal di pinggiran sungai Sarasvati, dan menyebarkan doktrinnya keseluruh dunia.


Dongeng Bhavisya, sama sekali tidak memuat adanya kisah membelah laut.

Walah..

Tradisi Hindu tentang kisah Musa memasukannya sebagai dongeng [Purana], Purana masuk kelompok kitab-kitab Smerti [non wahyu] bahkan itu pun tidak ditambahkan lagi adegan membelah laut, sementara tradisi ajaran yang menyatakan kisah Musa BUKAN DONGENG dan wahyu Tuhan malah memuatnya dengan adegan membelah laut.

Mengherankan..



Gambar di ambil dari sini, sini, sini, sini, sini, sini, dan sini


Note:
[Klik untuk baca “Parting the waters: Computer modeling applies physics to Red Sea escape route”]

    Parting the waters: Computer modeling applies physics to Red Sea escape route
    September 21, 2010

    BOULDER—The biblical account of the parting of the Red Sea has inspired and mystified people for millennia. A new computer modeling study by researchers at the National Center for Atmospheric Research (NCAR) and the University of Colorado at Boulder (CU) shows how the movement of wind as described in the book of Exodus could have parted the waters.

    The computer simulations show that a strong east wind, blowing overnight, could have pushed water back at a bend where an ancient river is believed to have merged with a coastal lagoon along the Mediterranean Sea. With the water pushed back into both waterways, a land bridge would have opened at the bend, enabling people to walk across exposed mud flats to safety. As soon as the wind died down, the waters would have rushed back in.

    red sea
    The physics of a land bridge. This illustration shows how a strong wind from the east could push back waters from two ancient basins–a lagoon (left) and a river (right)–to create a temporary land bridge. New research that such a physical process could have led to a parting of waters similar to the description in the biblical account of the Red Sea. (Illustration by Nicolle Rager Fuller.)

    The study is intended to present a possible scenario of events that are said to have taken place more than 3,000 years ago, although experts are uncertain whether they actually occurred. The research was based on a reconstruction of the likely locations and depths of Nile delta waterways, which have shifted considerably over time.

    “The simulations match fairly closely with the account in Exodus,” says Carl Drews of NCAR, the lead author. “The parting of the waters can be understood through fluid dynamics. The wind moves the water in a way that’s in accordance with physical laws, creating a safe passage with water on two sides and then abruptly allowing the water to rush back in.”

    The study is part of a larger research project by Drews into the impacts of winds on water depths, including the extent to which Pacific Ocean typhoons can drive storm surges. By pinpointing a possible site south of the Mediterranean Sea for the crossing, the study also could be of benefit to experts seeking to research whether such an event ever took place. Archeologists and Egyptologists have found little direct evidence to substantiate many of the events described in Exodus.

    The work, published in the online journal, PLoS ONE, arose out of Drews’ master’s thesis in atmospheric and oceanic sciences at CU. The computing time and other resources were supported by the National Science Foundation.

    Wind on the water
    The Exodus account describes Moses and the fleeing Israelites trapped between the Pharaoh’s advancing chariots and a body of water that has been variously translated as the Red Sea or the Sea of Reeds. In a divine miracle, the account continues, a mighty east wind blows all night, splitting the waters and leaving a passage of dry land with walls of water on both sides. The Israelites are able to flee to the other shore. But when the Pharaoh’s army attempts to pursue them in the morning, the waters rush back and drown the soldiers.

    Wind setdown in the Nile Delta. Sustained winds can cause an event known as a wind setdown in which water levels are temporarily lowered. This animation shows how a strong east wind over the Nile Delta could have pushed water back into ancient waterways after blowing for about nine hours, exposing mud flats and possibly allowing people to walk across. (Animation by Tim Scheitlin and Ryan McVeigh, NCAR. News media terms of use*)

    Scientists from time to time have tried to study whether the parting of the waters, one of the famous miracles in the Bible, can also be understood through natural processes. Some have speculated about a tsunami, which would have caused waters to retreat and advance rapidly. But such an event would not have caused the gradual overnight divide of the waters as described in the Bible, nor would it necessarily have been associated with winds.

    Other researchers have focused on a phenomenon known as “wind setdown,” in which a particularly strong and persistent wind can lower water levels in one area while piling up water downwind. Wind setdowns, which are the opposite of storm surges, have been widely documented, including an event in the Nile delta in the 19th century when a powerful wind pushed away about five feet of water and exposed dry land.

    A previous computer modeling study into the Red Sea crossing by a pair of Russian researchers, Naum Voltzinger and Alexei Androsov, found that winds blowing from the northwest at minimal hurricane force (74 miles per hour) could, in theory, have exposed an underwater reef near the modern-day Suez Canal. This would have enabled people to walk across. The Russian study built on earlier work by oceanographers Doron Nof of Florida State University and Nathan Paldor of Hebrew University of Jerusalem that looked at the possible role of wind setdown.

    The new study, by Drews and CU oceanographer Weiqing Han, found that a reef would have had to be entirely flat for the water to drain off in 12 hours. A more realistic reef with lower and deeper sections would have retained channels that would have been difficult to wade through. In addition, Drews and Han were skeptical that refugees could have crossed during nearly hurricane-force winds.

    Reconstructing ancient topography
    Studying maps of the ancient topography of the Nile delta, the researchers found an alternative site for the crossing about 75 miles north of the Suez reef and just south of the Mediterranean Sea. Although there are uncertainties about the waterways of the time, some oceanographers believe that an ancient branch of the Nile River flowed into a coastal lagoon then known as the Lake of Tanis. The two waterways would have come together to form a U-shaped curve.

    An extensive analysis of archeological records, satellite measurements, and current-day maps enabled the research team to estimate the water flow and depth that may have existed 3,000 years ago. Drews and Han then used a specialized ocean computer model to simulate the impact of an overnight wind at that site.

    They found that a wind of 63 miles an hour, lasting for 12 hours, would have pushed back waters estimated to be six feet deep. This would have exposed mud flats for four hours, creating a dry passage about 2 to 2.5 miles long and 3 miles wide. The water would be pushed back into both the lake and the channel of the river, creating barriers of water on both sides of newly exposed mud flats.

    As soon as the winds stopped, the waters would come rushing back, much like a tidal bore. Anyone still on the mud flats would be at risk of drowning.

    The set of 14 computer model simulations also showed that dry land could have been exposed in two nearby sites during a windstorm from the east. However, those sites contained only a single body of water and the wind would have pushed the water to one side rather than creating a dry passage through two areas of water.

    “People have always been fascinated by this Exodus story, wondering if it comes from historical facts,” Drews says. “What this study shows is that the description of the waters parting indeed has a basis in physical laws.”


Bisa Jadi..Surga dan Neraka..sama-sama Panasnya!


Berikut di bawah ini adalah sebuah cerita yang udah tahunan lamanya tersirkulasi di Internet.

    Terdapat sebuah pertanyaan saat Ujian Tengah Semester Universitas Washington, karena jawabannya begitu “dalam” hingga Sang Profesor membagikan jawabannya pada rekan-rekan seprofesinya…

    Bonus Pertanyaan:

    Apakah Neraka eksotermik (mengeluarkan panas) atau endotermik (menyerap panas)?

    Kebanyakan siswa menuliskan bukti kepercayaannya dengan menggunakan Hukum Boyle, (gas mendingin ketika mengembang dan memanas ketika memampat) atau beberapa variannya. namun, satu siswanya menulis sebagai berikut:

      “Pertama-tama, kita perlu tahu bagaimana massa neraka berubah-ubah setiap waktunya. Jadi kita perlu mengetahui rata-rata jiwa-jiwa yang keluar dan masuk neraka. Saya pikir untuk amannya kita dapat berasumsi bahwa sekali jiwa masuk neraka ia tidak akan pergi lagi. Oleh karena itu, tidak ada jiwa yang keluar dari neraka.

      Adapun untuk berapa banyak jiwa yang masuk neraka, mari kita lihat dari agama-agama yang berbeda yang masih ada hingga saat ini. Beberapa dari agama-agama tersebut menyatakan bahwa jika anda bukan pemeluk agama mereka, maka anda akan masuk neraka.

      Karena ada lebih dari satu agama dan juga karena orang memeluk tidak lebih dari satu agama, kita dapat memproyeksikan bahwa semua jiwa pergi ke neraka. Dengan tingkat kelahiran dan kematian sebagaimana adanya, maka kita dapatkan jumlah jiwa-jiwa di neraka meningkat secara eksponensial.

      Sekarang, kita lihat tingkat perubahan volume neraka akibat Hukum Boyle yang menyatakan agar temperatur dan tekanan di neraka tetap sama, maka volume neraka harus mengembang sebanyak jiwa yang ditambahkan. Hal ini memberikan dua kemungkinan:

      1. Jika neraka berkembang pada laju yang lebih lambat daripada tingkat jiwa yang masuk ke neraka, maka suhu dan tekanan di neraka akan meningkat hingga seluruh neraka pecah.
      2. Tentu saja, jika neraka berkembang dengan laju lebih cepat dibandingkan dengan tingkat penambahan jiwa-jiwa ke neraka, maka suhu dan tekanan akan turun hingga neraka membeku.

      Jadi, yang mana?

      Jika kita menerima dalil yang Teresa berikan padaku selama kuliah tahun pertamaku yaitu,

      Akan menjadi hari yang dingin di neraka sebelum Aku tidur denganmu

      dengan menyertakan fakta bahwa aku menidurinya tadi malam, maka yang no.2 pastilah benar dan dengan demikian saya yakin bahwa neraka itu eksothermik dan telah membeku.

      Konsekuensi dari teori ini, karena neraka telah membeku, maka tidak dapat lagi menerima jiwa manapun, dan oleh karenanya maka neraka telah punah..yang tertinggal hanyalah Surga, dibuktikan dengan kehadiran mahluk ilahi yang menjelaskan mengapa, malam tadi, Teresa terus-terusan menjerit, “Oh tuhanku

    Hanya mahasiswa ini yang menerima A.

—-

Catatan di bawah ini merupakan penjelasan historis kisah di atas dan analisa lanjutan dari beberapa sumber mengenai temperatur di Surga dan Neraka:

Kisah di atas bukan merupakan tulisan asli namun salah satu variasinya. Aslinya di tulis oleh Paul Darwin Foote, seorang ilmuwan, yang dikenal melalui karyanya pada bidang pengukuran temperatur tinggi dan muncul di “Rumah Organ” Perusahaan Instrumen Taylor pada tahun 1920.

Saat karier Foote sedang mapannya, Ia menulis artikel sebagai humor berjudul “Suhu Surga dan Neraka” dengan melakukan deduksi ilmiah pada deskripsi mengenai keadaan bermacam substansi material yang tertera di ALKITAB dan menyimpulkan bahwa Surga LEBIH PANAS dari Neraka.

Tulisan itu muncul tanpa atrribut di “Applied Optics” vol. 11, A14 edisi tahun 1972 dan sebagai cerita pada sebuah buku tahun 1962.

Tentunya kita tau bahwa temperatur Surga dan Neraka tidak tertera di Alkitab, bisa jadi karena Termometer (Celcius, Farenheit, Reaumur, Rankin dan Kelvin) belum tercipta saat itu.

Namun mari kita lihat apa sih deduksi humor yang ditulis foote, seperti tulisan yang tercantum di “applied optics“, atau yang tertera di sini dan di sini adalah seperti di bawah ini:

    Suhu Surga adalah menurut petunjuk yang tertera pada Yesaya 30:26,

      Maka terang bulan purnama akan seperti terang matahari terik dan terang matahari terik akan tujuh kali ganda, yaitu seperti terangnya tujuh hari, pada waktu TUHAN membalut luka umat-Nya dan menyembuhkan bekas pukulan.

    Menurut tafsiran satu individu pada ayat tersebut dengan arti bahwa radiasi yang diterima oleh Surga dari matahari adalah 7 x 7 = 49 lipat Radiasi dari yang diterima bumi saat ini. Kemudian, di tambahkan dengan kontribusi terangnya bulan yang sama dengan teriknya matahari saat ini. Jadi, Surga akan menerima [49 + 1] radiasi sinar Matahari yang diterima bumi saat ini. Dengan menggunakan hukum ke empat kekuatan radiasi Stefan-Boltzmann, yaitu hubungan antara suhu benda dengan radiasi yang diterima:

      [H/E]4 = 50
      Di mana E = suhu absolute Earth (Bumi), yaitu 300°K (273 + 27), yaitu 0°C ditambah range maksimum suhu permukaan bumi dengan 4 musim di katulistiwa: 18°C – 27°C

    Maka dapat diketahui suhu absolute Heaven (Surga), yaitu 798°K atau 977°F atau 525°C!

    Lain lagi jika menggunakan hukum boyle, menentukan tekanan atmospir yang kemudian dikonversi menjadi suhu, akibat jumlah seluruh orang yang masuk surga hingga kiamat jika dibandingkan dengan volume surga bentuk kubus: 12.000 stadia3 [Wahyu 21.16-17] [1 mil = 10 stadia; 12.000 stadia = 1200 mil; 1 Mil = 1.609,344 M; 12.000 stadia = 1931,2 KM; LUASNYA = 3,73 x 106 KM2 (belum dipotong luas untuk ruang hijau yang terdiri dari taman, sungai dan danau yang bukan untuk hunian); VOLUMENYA = 7.2 x 109 Km3]. Ruangan tertutup tembok berbentuk kubus ini akan menjadi isolasi panas yang baik pula, bukan?!

    Suhu Neraka adalah menurut petunjuk yang tertera pada Kitab Wahyu 21:8,

      Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.

    Suhu elemen sulfur dalam keadaan mendidih cair adalah 832 ºF atau 444.6°C!

    Jadi, suhu Surga 80°C atau 145 ºF LEBIH PANAS dari suhu Neraka!

    Namun, berdasarkan “Journal of Irreproducible Results” untuk edisi tahun 1979 terdapat artikel yang ditulis oleh Dr. Tim Haeley sebagai sanggahan atas “Applied optics“, menyimpulkan bahwa NERAKA jauh lebih panas dari SURGA:

      Tekanan atmosphir NERAKA = 14.5 x 109 ATM (menggunakan hukum Boyle: P1V1 = P2V2, maka P2 = P1V1/V2, asumsi suhu konstan, equilibirium. Namun Ia keliru dalam mengasumsi lokasi neraka/gehenna yaitu di lembah Gehinnom/Jehoshaphat, sehingga luasnya hanya: 6 x 107 M2 dan juga diasumsikan tinggi neraka = 2 M [Maka V2 = 6 x 107 x 2 M3]. Diasumsikan jumlah nerakawan hingga tahun 2000 = 29.422 x 1018 orang dengan asumsi kebutuhan ruang = 30cm × 20cm x rata-rata tinggi nerakawan 100cm = 0.06 M3 [Maka P1V1 = 29.422 x 1018 x 0.06 M3].

      Untuk suhu surga yang 525°C adalah setara dengan 2.86 ATM [Persamaan Clausius-Cleypeyron: Log P = 7.43287 – 3268.2/T, P = tekanan dalam mm Hg dan T = titik didih angkat °K: Log P = 7.43287 – (3268.2/798°K) = 3.3373813, P = 2174.607 mm Hg = 2.86 ATM]

      Tentu saja dengan cara ini, maka Neraka MENJADI JAUH LEBIH PANAS daripada Surga!

      Masalahnya, lembah Gehinnom/Jehoshaphat bukanlah neraka tapi tempat persembahan bagi Molokh dan Baal [Misal: 1 Raja 11.7, 2 Raja 23.10, Yeremia 32.35], sedangkan lokasi neraka justru ada di permukaan bumi, merujuk pada peristiwa setelah kebangkitan pertama, ketika iblis dilepaskan dari penjaranya, menyesatkan 4 penjuru bumi beserta para tentaranya (para orang mati di alam kubur dalam bumi) yang naik ke seluruh permukaan bumi dan kemudian dari langit turunlah api menghanguskan mereka, dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya [Wahyu 20.5-10].

      Sehingga, luas neraka adalah seluas daratan bumi = 148.94 x 106 KM2 (29.2% Luas Bumi dan jika dibandingkan dengan luas Yerusalem baru, maka luas surga 2.5% luas Neraka) dengan tinggi lautan api sebagaimana besarnya api yang turun dari langit dengan tekanan atmospir permukaan ruang terbuka, maka suhunya adalah suhu belerang cair.

Nah kawan-kawan,
Apapun hasil perhitungan mereka, kelihatannya mereka bisa sepakat bahwa titik didihnya sulfur cair adalah 444.6°C, sehingga para kaum berdosa ketika mendapat bagiannya di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang, sesungguhnya bagaikan orang yang berendam “ngadem” di saat udara NERAKA [dan juga SURGA] yang sedang panas-panasnya. Malah sebaiknya para penghuni SURGA meluangkan waktu mereka untuk acara “ngadem” bareng para pendosa di danau hukuman. Ya, Bagaimana tidak? karena suhu sulfur cair yang mendidih di danau hukuman itu LEBIH RENDAH 80°C dari suhu di SURGA!

Paling tidak,
Hal ini bisa menjelaskan satu hal saja yaitu di surga, tubuh fisik manusia tidak perlukan karena akan meleleh di suhu yang sangat tinggi! dan juga menjelaskan banyak hal lagi di antaranya adalah sangatlah tidak nyaman di udara yang begitu panasnya dan tetap melakukan aktivitas tanpa henti dengan 72 bidadari, bukan?!

Note:
Tentunya akan ada aja yang berkeberatan, Hoiii..surga ajaran agama gw make tubuh fisik, tao! jadi, atas kehendak “Allah” yang memungkinkan segala hal bisa terjadi, pastilah bisa melakukan aktivitas tanpa henti dengan 72 bidadari..dan itu janji Allah, tao!

Oke deh, Brotha!

It’s all fine..So, Let’s make more bomb and not love, shall We?!




[Gambar di ambil dari: sini, sini, sini, sini dan sini]

Listrik dan magnet Tubuh, Menghidupkan Anjing Mati, Tuhan, Sakit, Cemas, Takut, The MATRIX dan Kucing


Sesuatu yang tidak bisa dideteksi oleh salah satu dari: Indera, alat bantu apapun dan/atau metoda apapun maka disebut tidak ada dan jika sebaliknya disebut ada! Contoh, Medan magnet tidak dapat dideteksi oleh 5 Indera manusia, namun melalui serbuk besi, kita akan lihat bentuknya.


Listrik dan Medan Magnet dalam tubuh
Prof. Galvani ditahun 1780-1791 melakukan percobaan listrik pada kaki katak yang awalnya Ia hubungkan dengan sumber listrik statis namun kemudian Ia gunakan dua lempeng logam tanpa sumber listrik statis dan hasilnya kaki katak tersebut juga bergerak. Ia menduga bahwa tubuh mahluk hidup terdapat listrik dan magnet.

Tidak lama setelahnya, Volta, dengan tujuan untuk menunjukan bahwa potensial (tegangan) listrik adalah berasal karena perbedaan jenis logam, Ia ganti konduktor lembab kaki katak dengan konduktor lain berupa kain lembab berisi cairan garam atau asam cair di antara dua kepingan logam atau karbon sebagai pengganti salah satu logam ternyata juga menghasilkan listrik.Temuan mereka ini membuktikan bahwa energi kimia dapat diubah menjadi energi listrik.

Perkembangan neurofisiologi telah berada pada kesimpulan bahwa efek listrik terdapat di dalam dan pada permukaan tubuh manusia, misalnya kekuatan otot adalah akibat daya tarik-tolak muatan listrik (diukur dengan Elektromiograf/EMG), jantung (diukur elektrokardiograf/EKG) dan system syaraf di otak juga melibatkan aliran arus listrik (diukur dengan elektroensefalograf/EEG).

Tubuh manusia berisi triliunan sel elektrokimia (cairan elektrolisis, berupa: Na+, K+, CL, protein, asam nukleat, dll), di mana pada bagian dalam sel mempunyai potensial (tegangan) dengan range -50 mv s.d -90 mv (disebut potensial istirahat neuron, rata-rata: -70 milivolts) yang terjadi karena ion negatif lebih pada bagian dalam membran dari bagian luarnya.

Listrik tubuh dari hasil elektrokimia sel berfungsi sebagai kontrol dan operasi syaraf, otot dan organ di mana neuron melalui kontak sinapsis yang terletak di dendrit dengan multi sensornya menerima rangsangan secara fisik maupun kimiawi seperti panas, dingin, cahaya, suara dan bau yang menyebabkan beda potensial (tegangan) antar membran dan kemudian mengubahnya menjadi sinyal listrik di sepanjang serat-serat saraf/Akson menuju otot, kelenjar dan/atau neuron lainnya. Ketika terjadi perpindahan/difusi ion pada membran yang menyebabkan beda potensial yang menuju pada arah positif voltmeter disebut depolarisasi dan yang menuju arah negatif disebut repolarisasi [lihat:Nervous Systems Part-1].

Mengalirnya aliran listrik akan menimbulkan medan magnet, salah satu medan magnet terkuat tubuh adalah jantung yang terjadi akibat depolarisasi dan repolarisasi.

Di bawah ini adalah percobaan yang dilakukan di Soviet oleh Dr Sergei Brukhonenko tentang membangkitkan kembali beberapa organ anjing yang terpisah mandiri (jantung, paru-paru), kepala anjing tanpa tubuh dan anjing utuh yang telah mati. Dokumentasi percobaan dilakukan pada tahun 1940 dengan durasi 19:31 menit.


Setelah pengantar, disampaikan percobaan pertama yaitu menghidupkan organ-organ tubuh anjing yang terpisah mandiri, yaitu jantung anjing yang bekerja normal dalam kondisi buatan khusus; Paru-paru yang dihubungkan kipas sedot-tiup, dialiri darah ke dalamnya dan saat keluar paru-paru, darah tersebut telah mengandung oksigen.

Percobaan kedua, mulai menit 4:27, yaitu menghidupkan kepala anjing utuh tanpa badan yang terhubung dengan 4 selang (sebagai 2 arteri dan 2 vena), menuju/keluar jantung dan dari jantung ada 2 selang yang menuju/keluar tabung (berfungsi sebagai paru-paru buatan yang berisi darah beroksigen). Aliran darah beroksigen ditarik jantung buatan, dialirkan menuju kepala Anjing, kemudian aliran darah keluar dari kepala anjing menuju jantung buatan dan dialirkan menuju tabung. Kepala anjing itu dibuat hidup selama 1 jam dan diperlihatkan bahwa Indera mata, lidah, telinga, penciuman, peraba yang ada diseputaran kepala anjing tersebut berfungsi normal dalam kondisi tersebut.

Percobaan ke-3, mulai menit 6:50, yaitu menghidupkan kembali anjing utuh. Seekor anjing hidup dalam keadaan telah dianestesi, darahnya dikuras hingga habis hingga mati secara klinis, terlihat dalam plot grafis aktivitas paru-paru dan jantungnya, yaitu detak jantung melemah seiring terkurasnya darah keluar tubuh dan kemudian berhenti. Juga plot grafis nafas normal, melemah, hentakan akhir dan nafas terakhirnya. Anjing itu dibiarkan mati selama 10 MENIT. Kemudian arteri dan vena tubuh anjing, dihubungkan ke mesin jantung-paru (autojektor, cara kerjanya sama seperti percobaan kepala anjing tanpa tubuh). Setelah beberapa saat, aliran darah yang masuk ke tubuh anjing mulai menggerakan detak jantungnya pertama, kedua dan secara perlahan detak jantung kembali normal, kemudian terjadi hentakan nafas pertama, kedua dan secara perlahan pernafasan kembali normal. Setelah pernafasan dan jantung terlihat normal, mesin dimatikan, sambungan selang ke tubuh anjing dicabut, dijahit kembali dalam keadaan teranestesi, diistirahatkan dan pada 10-12 hari kemudian, anjing tersebut berada pada kondisi normal seperti sebelum percobaan dilakukan.

Tidak terdekteksi keberadaan jiwa/roh dipercobaan tersebut kecuali proses kelistrikan dan kimiawi tubuh belaka.

Kemudian,
Karena Tuhan juga tidak dapat terdeteksi oleh panca indera dan alatbantu apapun, maka beberapa telah memaksakan diri membuat beberapa kisah fiktif untuk melogikakan keberadaan tuhan, dengan membawa mengenai ketidaknampakan rasa rasa sakit (berikut penjelasan dari sisi sains mengenainya, juga kecemasan, perasaan bersalah dan ketakutan, dan sekilas mengenai ketidakadaan Roh/Jiwa/Atman kecuali bauran system energi dan materi, Kemudian tentang pikiran dan energi dan ide dari Filem: The Matrix serta terakhir mengenai kejadian seekor Kucing yang mengetahui kapan saat seseorang Meninggal


Cerita fiktif bukti Keberadaan Tuhan
Di bawah ini, saya tampilkan 2 (dua) cerita fiktif yang lumayan sering digunakan untuk menjelaskan keberadaan tuhan (versi hoaxnya bervariasi, terkadang membonceng nama Einstein sebagai tambahan untuk memperkuat efek tipuan) :

  • Cerita tentang seorang professor yang berdebat dengan siswanya, di mana Sang professor tidak percaya tuhan ada karena tuhan tidak terlihat. Sang siswa menyatakan bahwa Profesor tidak punya otak, karena otak Profesor ngga kelihatan juga.
    • Argumen ini memiliki beberapa kelemahan, diantaranya, Tau darimana siswa itu tentang otak? kecuali dari membaca [melihat], mendengar atau dikatakan guru/orang tua [mendengar] atau kalo ia beruntung pernah melihat langsung! Artinya, jika ia tau bahwa manusia memiliki otak kurang lebihnya dan ia memiliki otak maka ia seharusnya tahu bahwa Profesor itu juga memiliki otak. Ini adalah logika sederhana.

      Masalah kedua, argument itu hanya menggunakan indera penglihatan padahal untuk contoh angin, Ia juga ngga terlihat namun dapat dirasakan oleh indera perasa atau melihat berdasarkan bergoyangnya daun-daun dll..

  • Contoh cerita lainnya yaitu kisah Kyai dan santrinya yang minta dibuktikan mengenai keberadaan tuhan, takdir dan mengapa SETAN itu dihukum di neraka padahal kedua-duanya berbahan api.

    Kyai itu tidak menjawab namun lalu menampar si santri kemudian memberikan argumen bahwa sakit itu nyata namun tidak terlihat karena bisa di rasakan; Sebelumnya apakah santri itu bermimpi di tampar, karena santri menjawab tidak dan sekarang kena tampar, nah seperti itulah Takdir; walaupun berbahan kulit yang sama, kulit tangan bertemu dengan kulit pipi namun namun bisa merasakan sakit sehingga api bertemu dengan api maka setan akan merasakan sakit.

    • Argumen tamparan dengan keberadaan tuhan ini memiliki beberapa kelemahan, diantaranya, Pembuktian keberadaan tuhan lagi-lagi melalui indera “penglihatan” padahal indera kita bukan cuma penglihatan, sehingga keberadaan sakit adalah nyata lewat indera perasa, sementara keberadaan TUHAN tidak dapat di scan oleh semua INDERA dan itu adalah fakta.

      Argumen takdir saya lewatkan karena tidak relevan.

      Kemudian, menyatakan dengan persamaan hasil yang sama setan dan neraka yang berbahan api dengan kulit tangan dan pipi yang berbahan kulit adalan absurd dan menyesatkan.

      Kulit adalah material padat, sementara api material temperatur. Keduanya tidak memiliki kesamaan. Jika kulit digebuk kulit dan berdiri sendiri tanpa neuron dan otak maka jelas cerita diatas tidak relevan.

      Alasan kedua, Tidak diketahui apakah setan juga mempunyai neuron, otak dan memproduksi sejenis cairan semacam capsaicin.

        Rasa sakit datang ke otak melalui neuron, sel-sel khusus yang ada di seluruh tubuh mengiriman pesan ke otak. Pada serangkaian percobaan, Hargreaves dan tim penelitinya menemukan bahwa kulit menghasilkan sendiri molekul seperti capsaicin dalam menanggapi rasa sakit.

        Kami mengambil jaringan kulit tikus percobaan, dan memanaskannya pada suhu 43 atau 48 derajat Celcius. Kemudian kita mengamati apa yang dikeluarkan oleh kulit pada kondisi panas itu”, kata Hargreaves

        Panas biasanya menimbulkan rasa sakit pada sekitar 47 derajat Celcius. Ketika sampel kulit itu dipanaskan sampai 48 derajat Celcius, kulit itu memproduksi molekul seperti capsaicin dalam bentuk cairan.

        Kemampuan cairan ini untuk mengaktifkan rasa sakit pada neuron sangat tergantung pada reseptor capsaicin”, jelasnya.

      So, Rasa sakit itu bisa di deteksi dan juga bisa dijelaskan.


Bagaimana dengan kecemasan?
Saat menghadapi kematian manusia bisa jadi akan mengalami kecemasan, Salah satu penelitian berhubungan dengan kecemasan di lakukan oleh Madison Universitas Wisconsin, dalam jurnal “Nature”, yang terbit Rabu (11/8).

    Tim peneliti menguji 238 rhesus monyet muda menggunakan pemindai topografi emisi positron (PET scan) beresolusi tinggi yang menunjukan menunjukkan aktivitas otak tinggi di bagian “amygdala” dan “anterior hippocampus”.

    Sang Manusia “penyusup” dipakai untuk berperan sebagai potensi ancaman dengan berdiri dekat kandang monyet saat para peneliti memperhatikan reaksi mereka dan mengukur aktivitas otaknya.

    Semakin gelisah monyet tersebut semakin tinggi aktivitas di pangkal pusat “amygdala” dan “anterior hippocampus”.



Bagaimana dengan ketakutan?
Misalnya ketakutan akan kesakitan saat “di cabut nyawa”. Polling Gallup tahun 2005 pada sekelompok remaja di Amerika serikat menyatakan bahwa ketakutan akan kematian menduduki peringkat ke-3.

    Pada 1920-an, Psikolog Amerika John Watson, melakukan eksperimen yang kelak dinamakan “little Albert“, yaitu mengajari seorang bayi bernama Albert untuk takut tikus putih.

    Sebelumnya “Little Albert” tidak takut pada laboratorium uji hewan. Dia menunjukkan kegembiraannya saat melihat tikus-tikus, terutama tikus yang berwarna putih dan selalu mengulurkan tangan untuk mereka.

    Watson dan asistennya mengajarkan Albert menjadi takut terhadap tikus putih. Mereka menggunakan kondisi Pavlovian (klasik), sepasangan stimulus netral (tikus) diberikan efek negatif yaitu tiap kali Albert meraih salah satu tikus itu, mereka membuat suara keras yang menakutkan tepat di belakang anak berusia 11 bulan.

    Albert tidak hanya cepat belajar untuk takut pada tikus putih, menangis dan menjauh setiap kali melihat satu tikus putih, tetapi ia juga mulai menangis jika berhadapan dengan binatang berbulu putih dan sinter klas yang berjanggut putih.


Seperti Albert kecil yang takut pada tikus putih, maka begitupula ketakutan-ketakutan orang pada Tuhan, Setan, neraka yang dikondisikan selama bertahun-tahun pada mereka sendiri. Setelah mereka besar, semua persoalan menjadi terhubung dengan peran tuhan, setan dan neraka.

Bagaimana Ketakutan itu bekerja di dalam pikiran manusia?
Menurut aliran otakisme, maka Ketakutan merupakan reaksi berantai di dalam otak yang dimulai dengan rangsangan stres dan berakhir dengan reaksi kimia yang menyebabkan jantung berdegup, bernafas dengan cepat dan menegangnya otot. Pendorong rangsangan itu bervariasi mulai dari ular, ajaran agama dll

Bagian bagian tertentu otak yang mengambil peranan adalah:

  • Thalamus – memutuskan ke mana harus mengirim data sensori masuk (dari mata , telinga, mulut, kulit)
  • Sensory cortex – menafsirkan data sensoris
  • Hippocampus – menyimpan dan mengambil ingatan sadar; set proses rangsangan untuk membangun konteks
  • Amygdala – mengurai [decode] emosi; menentukan kemungkinan ancaman; menyimpan ingatan akan ketakutan
  • Hypothalamus – mengaktifkan respon “lawan atau lari”


Ada dua jalur di area otak yang konon berjalan bersamaan dalam merespon rasa takut, yaitu Jalan pendek [Hajar dulu, selidiki belakatang] dan jalan panjang [Selidiki dulu baru ambil keputusan].

Untuk jalan pendek, misalnya pada bunyi di pintu [ini adalah rangsangan awalnya]. Segera setelah mendengar dan melihat gerakan di daerah pintu, indera kemudian menyampaikan ke otak dan mengirimkan data indera ke talamus.

Saat ini, thalamus ngga tau apakah sinyal yang diterima itu merupakan tanda bahaya atau bukan. Ini kemudian diteruskan ke amigdala untuk menggali informasi lebih lanjut.

Amygdala menerima impuls syaraf dan mengambil tindakan untuk melindungi; Ia mengirimkan sinyal pada hypothalamus untuk menghidupkan respon “Lawan atau lari” yang berguna menyelamatkan diri ketika yang didengar/dilihat ternyata merupakan bahaya

Masih pada contoh di atas, otak juga memakai satu jalur lainnya [yang konon dinyatakan bersamaan] yaitu dengan mempertimbangkan pilihan yang diketahui berupa apakah itu pencuri, HANTU ataukah angin? Proses panjang terlihat seperti ini:

Ketika mata dan telinga menerima suara dan gerakan di pintu kemudian disalurkan ke talamus. Talamus mengirimkan informasi ini ke korteks sensorik dan ditafsirkan artinya. Korteks sensorik menentukan bahwa ada lebih dari satu kemungkinan pada interpretasi data yang diterima dan diteruskan ke hipokampus untuk membangun konteks.

Pertanyaan yang di ajukan Hippocampus misalnya, “Apakah rangsangan ini pernah terjadi sebelumnya? Jika ya, maka waktu itu rangsangan ini berarti apa, ya?

Beberapa hal memberikan petunjuk lanjutan misalnya, “ini adalah pencuri atau HANTU atau angin badai?!

Hippocampus bisa juga mengambil data lainnya di proses ini, seperti sentuhan cabang pohon pada jendela, suara mirip geraman sengau tertahan di luar atau bunyi perabotan di teras yg terpelanting terbang.

Mempertimbangkan informasi tadi, hippocampus menentukan bahwa tindakan pintu kemungkinan besar berasal dari angin dan kemudian hasil itu dikirim ke amigdala bahwa itu bukan ancaman/bahaya. Amigdala kemudian mengirim sinyal ke hipotalamus untuk mematikan respon “lawan atau lari”.

Data indera mengenai pintu – rangsangan – mengikuti kedua jalur yang konon dilakukan secara bersamaan namun jalur panjang waktunya lebih lama sehingga kita memiliki waktu atau dua teror sebelum menjadi tenang.

Kemudian, untuk dapat menghasilkan respon “lawan atau lari”, Hipotalamus akan mengaktifkan dua sistem, yaitu sistem saraf simpatik dan sistem-kortikal adrenal:

  • Sistem saraf simpatik dengan jalur saraf memicu reaksi dalam tubuh [agar siaga: nafas, aliran jantung, otot] berupa impuls ke kelenjar dan otot halus, memerintahkan medula adrenal melepaskan adrenalin dan noradrenalin ke aliran darah. Beberapa tegangan hormanal ini menyebabkan beberapa perubahan di tubuh kita termasuk peningkatan denyut jantung dan tekanan darah dan sistem-kortikal adrenal juga menggunakan aliran darah. Dampak gabungan kedua sistem adalah respon “lawan atau lari”.
  • Disaat bersamaan Hipotalamus melepaskan corticotropin-releasing factor (CRF) ke dalam kelenjar di bawah otak dan mengaktifkan sistem-kortikal adrenal. Kelenjar hipofisis (a besar kelenjar endokrin ) yang mengeluarkan hormon ACTH (hormon Adrenocorticotropic). ACTH bergerak melalui aliran darah dan akhirnya tiba di korteks adrenal, yang mana akan mengaktifkan 30 hormon berbeda untuk siaga menghadapi ancaman. Banjir tiba-tiba dari epinefrin, norepinefrin dan puluhan hormon lain menyebabkan perubahan tubuh yang meliputi:
    • peningkatan tekanan darah dan denyut jantung
    • Pupil mata melebar agar mendapatkan sebanyak mungkin cahaya
    • pembuluh darah di kulit menyempitkan untuk mengirim lebih banyak darah ke grup otot utama (yang bertanggung jawab untuk aktivitas merinding yang kadang menyertai rasa takut..)
    • tingkat glukosa darah meningkat
    • otot menegang, terenergi oleh adrenalin dan glukosa (menjadi merinding – ketika otot kecil yang melekat pada setiap rambut pada permukaan kulit tegang bulu dipaksa tegak)
    • otot halus mengendur untuk mendapatkan sebanyak mungkin oksigen ke paru-paru
    • fungsi sistem yang tidak penting untuk urusan ini (seperti pencernaan dan sistem kekebalan ) dimatikan sehingga memungkinkan lebih banyak energi pada situasi darurat
    • fokus menjadi bermasalah pada hal-hal kecil(krn otak sedang fokus pada penentuan dari mana ancaman datang)


Semua reaksi fisik untuk bersiap pada situasi berbahaya melalui mekanisme “lawan atau lari” agar dapat menjamin kelangsungan hidup kita. Naluri ini dipunyai setiap binatang.

Untuk hubungan antara Emosi [perasaan bersalah, senang, marah] dan fungsi otak, silakan buka link ini

PIKIRAN dan ENERGI
Buat saya, otak bukanlah tempat berpikir dan tubuh tidak relevan dikatakan tempat roh/jiwa/atman.

Terdapat beberapa kasus orang dengan fungsi otak tidak normal namun dapat hidup baik (beberapa berada pada keadaan vegetatif) dan tetap mampu berpikir dan merasakan, ada juga yang berpendapat bahwa kehidupan itu ada karena tubuh manusia, sehingga jika tubuh kita mati maka selesai sudah tidak ada kelanjutan dan konsekuensi apapun; atau ada juga pendapat bahwa roh/jiwa/atman-lah yang menggerakan tubuh, sehingga saat tubuh kita mati maka ia menunggu disatu tempat untuk penghukuman/ditidurkan atau ia dengan badan baru.

Buat saya, Otak adalah bagian tubuh sedangkan mind [pikiran/ingatan] ada di seluruh tubuh.

Itulah sebabnya saya tertarik pada temuan Paul pearsall dari Nexus Magazine, Volume 12, No.3 (April – Mei 2005), “Organ Transplants and Cellular Memories” oleh Paul Pearsall, PhD., Gary E. Schwartz, PhD.,Linda G. Russek, PhD [beberapa sample kasusnya saya co-pas dan terjemahkan silakan lihat di sini. Untuk informasi lanjutan, silakan klik: Cellular Memory in Heart Transplants]

Untuk menjelaskan tidak ada roh/atman/jiwa, perlu kita ketahui mengenai materi, energi. Hukum kekelan energi yang mengatakan:

Energi dapat berubah bentuk [dari satu bentuk ke bentuk lain] tidak bisa diciptakan ataupun dimusnahkan (konversi energi)”

Sejauh ini yang terbukti secara fisika adalah materi menjadi energi sementara untuk energi menjadi materi masihlah sekedar teori [baca: saya lebih suka menyebutnya sebagai gagasan/ide]. Kesetaraan energi itu bukan dengan materi namun massa [berlaku sebaliknya]

Definisi materi pun berubah-berubah sesuai jaman dan penemuan, yaitu dari hanya massa, kemudian bertambah dengan volume, kemudian menjadi bertambah dengan yang tidak mempunyai massa [leptons dan quarks]. Untuk itu,

  • Suara adalah perambatan dari partikel. dalam quantum mekanik getaran atom dan molekul adalah phonon atau quata atau paket energi atau juga partikel yang merupakan materi
  • Cahaya disamping gelombang elektromagnetik adalah juga materi [photon]
  • Roh/Jiwa/Atma (bagi yang percaya) seharusnya di golongkan sebagai materi, alasannya sederhanya saja yaitu karena ia terperangkap didalam tubuh materi


Sehingga, satu set proses kerja otak ketika menjelaskan rasa sakit, kecemasan, emosi dan ketakutan adalah merupakan aliran energi.

Contoh lainnya mengenai berjalannya prinsip kekekalan energi adalah dengan memperhatikan teknologi sekarang yaitu ketika kita mengirim sesuatu via internet atau bluetoth/infra red dari HAPE, begitu tombol send maka sesuai dengan hukum kekekalan energi, energi itu tidaklah musnah namun hanya berubah bentuk!

Aliran energi itu berubah menjadi pulse/gelombang tertentu yang berisi informasi yang telah diterjemahkan dan diuraikan. Energi tetaplah mengalir!

Atau melalui ide dari film fiksi layar lebar “The matrik”:

    Dikisahkan pada 200 tahun kemudian, dunia telah dikuasai oleh sekumpulan komputer yang memiliki intelgensi tinggi yang dinamakan Matrix. Komputer canggih ini menciptakan semacam program dan terhubung dengan seluruh umat manusia saat itu.

    Suatu ketika, ada seorang hacker yang bernama Neo (Keanu Reeves), Ia dikisahkan hidup normal seperti kebanyakan manusia normal lainnya di dunia kita. Di film itu, Ia beranggapan bahwa kehidupan di planet bumi tak lain dari semacam program komputer yang diciptakan oleh suatu mesin canggih yang berhati dengki. Program komputer Matrix itu ternyata ada cacatnya dan terjadi beberapa kesalahan yang membuat Neo keheranan akan ketidakwajaran itu dan kemudian mencari tau. hasil pencariannya mengakibatkan juga ia mengetahui ke adaan sebenarnya kehidupannya dulu. ketika ia terlepas, iapun terkaget-kaget mengetahui bahwa seluruh ras umat manusia terplug-in dengan semacam mesin

    Mesin-mesin itu mengubah semua informasi tentang abad ke-20 menjadi gelombang/getaran/impuls dan terhubung melalui semacam kabel ke system syaraf manusia sehingga menyebabkan seolah2 mereka sendiri mengalami peristiwa Lahir, besar, bekerja, menikah, mempunyai anak dan juga bepergian kemana2 padahal jelas mereka tidak pergi kemanapun dalam keadaan plug-in dengan komputer di lingkungan yang sama hingga mereka mati.

    Setelah mati, tubuhnya itu didaur ulang untuk sebagai energi bagi kelangsungan hidup para super komputer itu dan para super komputer itupun juga di disain untuk dapat melakukan proses re-produksi manusia dan membesarkan mereka dalam lingkungan itu dengan cara yang sama.


Sinopsis di atas memberikan kita gagasan tentang hal-hal yang dikenali 5 INDRIYA dan diterjemahkan dalam sinyal-sinyal listrik yang dikenali pikiran. Video di bawah ini merupakan sample apa yang dapat dilakukan manusia sehubungan dengan listrik dan medan magnet yang ada padanya. (sanggahan dari yang tidak percaya di sini)

Sebagai akhir tulisan, mari kita lihat bahkan binatangpun mengenali perubahan bentuk dari kekekalan energi ini. Di mana, Seekor kucing Oscar memiliki kemampuan mendeteksi pasien yang akan meninggal dunia.

    Dr David Dosa, seorang asisten profesor dari Universitas Brown mengatakan bahwa lima tahun rekaman menunjukkan bahwa kucing Oscar jarang membuat kesalahan berbeda dengan staf medis dari sekolah perawat New England yang seringkali salah mengenai prediksi tentang pasien yang akan mendekati kematian.

    Kucing itu saat ini berumur lima tahun dan sulit bersosialisasi, diadopsi sejak kecil di Sekolah Perawat Steere dan Pusat Rehabilitasi di Providence Rhode Island yang spesialisasi membantu menemani orang yang menderita penyakit gangguan otak.

    Dr Dosa pertama kali mempublikasikan kekuatan Oscar dalam sebuah artikel di jurnal obat New England pada tahun 2007. Sejak itu, kucing tersebut meningkat kemampuanya dua kali lipat dengan berhasil mendeteksi dekatnya kematian dengan perasaannya dan meyakinkan para pegiat rumah sakit bahwa hal tersebut bukanlah isapan jempol semata.


Well, Pastikan dari sekarang..jauh sebelum diri anda meninggal dunia banyaklah berbuatlah kebaikan sebanyak mungkin dalam kehidupan ini..agar tidak lagi ada yang disesali, dicemasi dan ditakuti.

Setelah itu, biarkan itu terjadi dengan alami…