Bumi Di Atas Punggung Ikan Paus?



Dahulu, para leluhur kita tidaklah mempunyai kesempatan untuk mengenal lebih dalam lagi mengenai ajaran ini, namun kita sekarang mempunyai kesempatan!. Mari kita kenali lebih dalam lagi ajaran yang menyatakan Bumi berada di atas Punggung Ikan Paus sebagaimana tersirat di Surah 68:1,

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

nuun waalqalami wamaa yasthuruuna
Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,

Di bawah ini adalah kutipan 6 Tafsir yang sangat di hormati di aliran Sunni dan 1 Hadis yang sangat di hormati aliran Syi’ah untuk surat 68:1,

AL-TABARI
Seseorang mungkin berkata: Jika ini seperti yang engkau gambarkan, namakan, bahwa Alah menciptakan Bumi sebelum langit lantas apa arti pernyataan Ibn ‘Abbas yang disampaikan pada kamu semua oleh Wasil b. ‘Abd al-A‘la al-Asadi- Muhammad b. Fudayl- al-A‘mash- Abu Zabyan- Ibn ‘Abbas: “Yang paertama kali Allah ciptakan adalah pulpen.” Allah berkata padanya [pulpen]: “Tuliskan!”, kemudian pulpen bertanya: “Apa yang harus saya tulis, Allahku!” Allah menjawab: “Tuliskan apa yang telah di takdirkan!” Ia kemudian melanjutkan: dan pulpen itu melanjutkan [menulis] apapun yang telah digariskan hingga saat kiamat. Allah kemudian mengangkat uap air dan membagi terpisah para langit dari itu. Kemudian Allah menciptakan IKAN [nun] dan Bumi kemudian dihamparkan di atas punggungnya [ikan]. Ikan itu menjadi tidak tenang/gelisah yang mengakibatkan bumi menjadi goncang. Yang kemudian dikokohkan dengan gunung-gunung yang menjulang tinggi.

Aku diberitahu hal yang sama oleh Wasil – Waki’ – al-A‘mash – Abu Zabyan – Ibn ‘Abbas.

Menurut Ibn al-Muthanna – Ibn Abi ‘Adi – Shu‘bah – Sulayman (al-A‘mash?) – Abu Zabyan – Ibn ‘Abbas: “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen.” Ia meneruskan [menulis] apapun yang akan terjadi. Allah kemudian mengangkat uap air, dan langit tercipta dari itu. Kemudian Ia menciptakan IKAN, dan bumi dihamparkan di atas punggungnya [Ikan]. Ikan itu bergerak, yang mengakibatkan bumi jadi bergoncang. Kemudian dikokohkan dengan gunung-gunung yang menjulang tingi. Jadi, Ia katakan dan Ia sampaikan:”Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”

Aku di beritahu hal yang sama oleh Tamim b. al-Muntasir – Ishaq (b. Yusuf) – Sharik (b. ‘Abdallah al-Nakha‘i) – al-A‘mash – Abu Zabyan/Mujahid – Ibn ‘Abbas, dengan perbedaan, yang Ia katakan: “dan para langit membagi terpisah [sebagai ganti: diciptakan] dari itu”.

Menurut Ibn Bashshar – Yahya – Sufyan – Sulayman (al-A‘mash?) – Abu Zabyan – Ibn ‘Abbas: “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen”. Allah berkata pada nya [pulpen]: Tuliskan!, kemudian pulpen bertanya: Apa yang harus saya tulis, Allahku! Allah menjawab: Tuliskan apa yang telah di takdirkan! Ia kemudian melanjutkan: dan pulpen itu melanjutkan [menulis] apapun yang telah digariskan hingga saat kiamat. Kemudian Allah menciptakan IKAN [nun]. Ia kemudian mengangkat uap air dan membagi terpisah para langit dari itu, dan Bumi kemudian dihamparkan diatas punggungnya [ikan]. Ikan itu menjadi tidak tenang/gelisah yang mengakibatkan bumi menjadi goncang. Yang kemudian di dikokohkan dengan gunung-gunung yang menjulang tinggi.

Menurut Ibn Humayd – Jarir (b. ‘Abd al-Hamid) – ‘Ata’ b. al-Sa’ib – Abu al-Duha Muslim b. Subayh – Ibn ‘Abbas: “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen”. Allah kemudian berkata padanya: “Tuliskan!”, dan ia tuliskan apapun yang akan terjadi hingga kiamat tiba. Kemudian Allah menciptakan IKAN. Kemudian ia tumpukan Bumi padanya.

Ini dilaporkan sebagai hadis yang disampaikan oleh IBN ‘ABBAS dan yang lainnya dalam maksud mengkomentari dan menjelaskan dan tidak bertentangan dengan yang disampaikan kami darinya untuk masalah ini.

Seharusnya seseorang bertanya: Apa komentar dari yang Ia sampaikan dan orang2 dengar dari apa yg disampaikan pada kami darinya? Ia seharusnya merujuk seperti yang diceritakan kepada ku oleh Musa b. Harun al-Hamdani – ‘Abdallah b. Mas‘ud dan beberapa sahabat NABI (yang berkomentar): “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untukmu. Kemudian ia tarik/rentangkan para langit dan dijadikan tujuh langit” Arsy Allah ada di atas Air. Tidak ada penciptaan sebelum Air. Ketika Ia ingin mencipta. Ia ambil uap dari Air. Uap itu terangkat ke atas, air berkumpul di atasnya. Ia kemudian menamakan itu “Langit”. Kemudian ia keringkan air, dan membuatnya menjadi 1 bumi. Ia kemudian memisahkannya dan menjadikannya menjadi 7 Bumi pada Minggu dan Senin. Ia ciptakan bumi di atas Ikan [Hut], Itu adalah Ikan (nun) yang disebutkan di Qur’an: “Ikan. Demi Qalam.” Ikan ada di air. Air ada di atas bebatuan [kecil]. Batuan ada di punggung Malaikat. Malaikat ada di atas Bebatuan [Besar]. Bebatuan besar -yang disebutkan di Luqman – ada di angin, tidak dilangit atau di bumi. Ikan bergerak dan menjadi gelisah. Sebagai hasilnya, Bumi menjadi berguncang [gempa]. Kemudian ia kokohkan, pasakan gunung2 di atasnya, dan manjadi stabil. Ini dinyatakan pada kalimat Allah Dan telah Kami jadikan di bumi ini “gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama kalian” [The History of Al-Tabari: General Introduction and From the Creation to the Flood, translated by Franz Rosenthal [State University of New York Press (SUNY), Albany, 1989], Volume 1, pp. 218-220]

Menurut Muhammad b. Sahl b. ‘Askar-Isma’il b. ‘Abd al-Karim – Wahb, menyebutkan beberapa dari keagungannya (yang digambarkan sebagai berikut): para langit dan Bumi dan Lautan ada didalam Tubuh [Haykal], dan Haykal itu ada di dalam ganjal. Kaki Allah ada di atas ganjal. Ia bawa ganjal itu. Itu kemudian menjadi seperti Sendal pada kakinya. Ketika Wahb di tanya: Apa Haykal itu? Ia menjawab: Sesuatu yang ada di ujung2 dilangit yang mengelilingi bumi dan lautan-lautan seperti tali temali yang digunakan untuk mengencangkan tenda/kemah. Dan ketika Wahb di tanya bagaimana bumi-bumi [disusun], Ia menjawab: Adalah tujuh langit yang Rata/datar dan pulau-pulau. Setiap dua bumi, terdapat lautan. Semua di kelilingi Lautan, dan Haykal ada dibalik lautan [Ibid., pp. 207-208]
—-

Tafsir Ibnu Kathir
وقيل : المراد بقوله : ( ن ) حوت عظيم على تيار الماء العظيم المحيط ، وهو حامل للأرضين السبع ، كما قال الإمام أبو جعفر بن جرير

terjemahannya kurang lebih:
Dikatakan bahwa “Nun” merujuk pada IKAN PAUS BESAR yang ada di Air di Lautan yang sangat luas dan di atas punggungnya ia membawa tujuh bumi, sebagaimana disampaikan Imam Abu Jafar Ibn Jarir:

حدثنا ابن بشار ، حدثنا يحيى ، حدثنا سفيان – هو الثوري – حدثنا سليمان – هو الأعمش – عن أبي ظبيان ، عن ابن عباس قال : أول ما خلق الله القلم قال : اكتب . قال : وما أكتب ؟ قال : اكتب القدر . فجرى بما يكون من ذلك اليوم إلى يوم قيام الساعة . ثم خلق ” النون ” ورفع بخار الماء ، ففتقت منه السماء ، وبسطت الأرض على ظهر النون ، فاضطرب النون فمادت الأرض ، فأثبتت بالجبال ، فإنها لتفخر على الأرض .

terjemahannya kurang lebih:
Ibn Bashar – Yahya – Sufyan Al-Thuri – Sulayman Al-Amash – Abu Thubian – Ibn Abbas yang diberkati: “Pertama kali yang Allah ciptakan adalah pulpen dan mengatakan: ‘tuliskan’. (Pulpen) bertanya, “Apa yang mesti saya tulis?” (Allah) berkata, “Tuliskan semuanya” Jadi (pulpen) tuliskan semua hingga saat kiamat. Kemudian (Allah) ciptakan “nun” dan mengangkat uap air memisahkan gulungan para langit dan bumi diletakkan GEPENG/PIPIH/DATAR di punggung Nun. Nun menjadi gelisah, bumi bergoyang/bergoncang, (Allah) mengencangkan (bumi) dengan gunung-gunung, bumi menjadi stabil/kokoh[1]

ثم قال ابن جرير : حدثنا ابن حميد ، حدثنا جرير ، عن عطاء ، عن أبي الضحى ، عن ابن عباس قال : إن أول شيء خلق ربي عز وجل القلم ، ثم قال له : اكتب . فكتب ما هو كائن إلى أن تقوم الساعة . ثم خلق ” النون ” فوق الماء ، ثم كبس الأرض عليه .

terjemahannya kurang lebih:
Diriwayatkan oleh Ibn Jarir – Ibn Hamid – Ata’a – Abu Al-Dahee – Ibn Abbas: “Yang pertama kali Allah ciptakan, adalah pulpen kemudian berkata kepadanya, “Tuliskan”. Dia menuliskan apa yang terjadi hingga kiamat. Kemudian (Allah) menciptakan Nun di atas air lalu letakan bumi padanya (ikan).

وقد روى الطبراني ذلك مرفوعا فقال : حدثنا أبو حبيب زيد بن المهتدي المروذي ، حدثنا سعيد بن يعقوب الطالقاني ، حدثنا مؤمل بن إسماعيل ، حدثنا حماد بن زيد ، عن عطاء بن السائب ، عن أبي الضحى مسلم بن صبيح ، عن ابن عباس قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : ” إن أول ما خلق الله القلم والحوت ، قال للقلم : اكتب ، قال : ما أكتب ؟ قال : كل شيء كائن إلى يوم القيامة ” . ثم قرأ : ( ن والقلم وما يسطرون ) فالنون : الحوت .

terjemahannya kurang lebih:
Al Tabarani meriwayatkan hadis yang diriwayatkan dari Abu Habib Zaid Al-Mahdi Al Marouzi – Sa’id Ibn Yaqub Al-Talqani – Mu’amal Ibn Ismail – Hamad Ibn Zaid – Ata’a Ibn Al Sa’ib – Abu Al Dahee Muslim Ibn Subaih – Ibn Abbas – NABI SAW: “Yang pertama Allah ciptakan adalah pulpen dan Ikan paus. (Allah) mengatakan (pada) pulpen “tulis”. (pulpen) bertanya, “apa yang mesti saya tulis”. (Allah) berkata, “semua yang akan terjadi hingga hari kiamat” Kemudian membacakan (Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis) Jadi nun adalah ikan[2]

وقال ابن أبي نجيح : إن إبراهيم بن أبي بكر أخبره عن مجاهد قال : كان يقال : النون : الحوت العظيم الذي تحت الأرض السابعة .

Terjemahannya kurang lebih:
Ibn Abu Nujaih: Ibrahim Ibn Abu Bakar berkata Mujahid berkata: “Dikatakan: Nun adalah Ikan dibawahnya ada tujuh bumi

وذكر البغوي وجماعة من المفسرين : إن على ظهر هذا الحوت صخرة سمكها كغلظ السماوات والأرض ، وعلى ظهرها ثور له أرب عون ألف قرن ، وعلى متنه الأرضون السبع وما فيهن وما بينهن فالله أعلم .

Terjemahannya kurang lebih:
Al-Baghawy dan sekelompok komentator: di punggung ikan paus ada bebatuan yang besar yang memilliki ketebalan lebih besar dari lebarnya para langit dan bumi dan di atas bebatuan ini ada Banteng yang mempunyai 40.000 tanduk. Pada tubuh banteng ini diletakan tujuh bumi dan segala isinya, dan allah maha mengetahui [Source atau di sini, translasinya dalam Inggris, lihat sini]

Dalam tafsir AQ 20.6,
Ibn kathir menukil hadis marfu (sanad bersandar hingga rasullullah) dari Ibn Abu Hatim:

وقال ابن أبي حاتم : حدثنا أبو عبيد الله ابن أخي ابن وهب ، حدثنا عمي ، حدثنا عبد الله بن عياش ، حدثنا عبد الله بن سليمان عن دراج ، عن عيسى بن هلال الصدفي ، عن عبد الله بن عمرو قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” إن الأرضين بين كل أرض والتي تليها مسيرة خمسمائة عام ، والعليا منها على ظهر حوت ، قد التقى طرفاه في السماء ، والحوت على صخرة ، والصخرة بيد الملك ، والثانية سجن الريح ، والثالثة فيها حجارة جهنم ، والرابعة فيها كبريت جهنم ، والخامسة فيها حيات جهنم والسادسة فيها عقارب جهنم ، والسابعة فيها سقر ، وفيها إبليس مصفد بالحديد ، يد أمامه ويد خلفه ، فإذا أراد الله أن يطلقه لما يشاء أطلقه ” . هذا حديث غريب جدا ورفعه فيه نظر

Terjemahannya kurang lebih:
Ibnu Abi Hatim: Abu’Ubaidillah kemenakan ibn wahab – pamannya – Abdullah bin Ayyash – Abdullah bin Suleiman – daraj – isa ibn hilal al-sadafi – Abdullah bin ‘Amr – Rasulullah SAW: “antara bumi dan semua yang berikutnya berjarak 500 tahun berjalan kaki, dan itu ada diatas punggung ikan paus,…” Hadis ini gharib Jiddan[3] dan terlihat bersandar [sumber]

Dalam tafsir AQ 2.29,
Ibn Kathir menukil As-Saddi di dalam kitab tafsirnya, dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, serta dari sejumlah sahabat sehubungan dengan makna firman-Nya: [AQ 2.29] Disebutkan bahwa ‘Arasy Allah Swt. berada di atas air, ketika itu Allah Swt belum menciptakan sesuatu pun selain dari air tersebut. Ketika Allah berkehendak menciptakan makhluk, maka Dia mengeluarkan asap dari air tersebut, lalu asap (gas) tersebut membumbung di atas air hingga letaknya berada di atas air, dinamakanlah sama (langit). Kemudian air dikeringkan, lalu Dia menjadikannya bumi yang menyatu. Setelah itu bumi dipisahkan-Nya dan dijadikan-Nya tujuh lapis dalam dua hari, yaitu hari Ahad dan Senin. Allah menciptakan bumi di atas ikan besar, dan ikan besar inilah yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya: “Nun, demi qalam” (AQ 68.1) Sedangkan ikan besar (nun) berada di dalam air. Air berada di atas permukaan batu yang licin, sedangkan batu yang licin berada di atas punggung malaikat. Malaikat berada di atas batu besar, dan batu besar berada di atas angin. Batu besar inilah yang disebut oleh Luqman bahwa ia bukan berada di langit, bukan pula di bumi. Kemudian ikan besar itu bergerak, maka terjadilah gempa di bumi, lalu Allah memancangkan gunung-gunung di atasnya hingga bumi menjadi tenang; gunung-gunung itu berdiri dengan kokohnya di atas bumi. Hal inilah yang dinyatakan di dalam firman Allah Swt: (AQ 21.31) [Tafsir Ibnu Katsir, Juz 1, Al-Fatiha – Al- Baqarah, Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar, L.C. Dibantu: H. Anwar Abu Bakar, L.C., SBA.2000.438, cetakan ke-1, tahun 2000, Penerbit Sinar Baru Algensindo Bandung, Anggota IKAP1 No.025/IB A, hal 351-352]
—-
[1] Al Hakim Nishaburi dalam “Al-Mustadrak alaa al-Sahihain”, untuk tafsir AQ 68.1, menuliskan hadis mirip ini dan Ia nyatakan sebagai hadis sahih.

3893 – أخبرنا أبو زكريا يحيى بن محمد العنبري ، ثنا محمد بن عبد السلام ، ثنا إسحاق بن إبراهيم ، أنبأ جرير ، عن الأعمش ، عن أبي ظبيان ، عن ابن عباس – رضي الله عنهما ، قال : إن أول شيء خلقه الله القلم ، فقال له : اكتب ، فقال : وما أكتب ؟ فقال : القدر ، فجرى من ذلك اليوم بما هو كائن إلى أن تقوم الساعة ، قال : وكان عرشه على الماء فارتفع بخار الماء ففتقت منه السماوات ، ثم خلق النون فبسطت الأرض عليه ، والأرض على ظهر النون فاضطرب النون فمادت الأرض ، فأثبتت بالجبال ، فإن الجبال تفخر على الأرض

هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه

Terjemahannya kurang lebih:
3893 – Riwayat Abu Zakaria Yahya bin Muhammad Al‘Anbari – Muhammad Bin Abdul Salam – Ishak bin Ibrahim – Jarir – Sulaiman bin Mahran al-Asadi al-A’mash – Abu Zabyan – Abdullah bin Abbas yang diberkati: “Pertama kali yang Allah ciptakan adalah pulpen dan mengatakan: ‘tuliskan’. (Pulpen) bertanya, “Apa yang mesti saya tulis?” (Allah) berkata, “Takdir mulai saat itu hingga kiamat”. Katanya: SinggasanaNya di atas air, mengangkat uap air memisahkan gulungan para langit, membuat Nun (Ikan besar), Meratakan bumi dan bumi di punggung Nun, Nun menjadi gelisah, Bumi bergoyang/bergoncang, (Allah) mengencangkan dengan gunung-gunung, bumi menjadi stabil/kokoh

Hadis ini sahih menurut syarat syaikhain (Bukhari Muslim) tetapi mereka tidak meriwayatkannya.

[2] Jalaludin Suyuti dalam “Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an”, hal.553, untuk “N” juga memuat hadis Nabi dari Ibn Abbas ini.

[3] Kategori hadis dari sisi jumlah perawi terbagi menjadi: Mutawatir (banyak perawi di sanad/rantainya) atau Ahad (arti literal: satu atau tidak mencapai tingkatan mutawatir). Kemudian, hadis Ahad terbagi lagi menjadi: hadis Masyhur (3 perawi dalam tiap tingkatan), Azis (2 rantai perawi yang rawinya berbeda) dan Gharib (sendiri/tunggal, di suatu tingkatan). Kata Jiddan menekankan pada perawi tunggalnya entah itu di awal atau pertengahan sanad/rantai perawi. Gharib Jiddan tidak ada hubungannya dengan predikat akhir hadis (sahih, hasan, dhaif, mungkar, maudu). Ketika menukil hadis, Ibn Kathir senantiasa memberikan penilaian akhir pada hadis (sahih, hasan, dhaif, mungkar, maudu) dengan pendapatnya atau dari pendapat ulama tetang rawinya, jika tidak ada komentar, maka predikat hadis tersebut BUKANLAH hadis dhaif, atau mungkar atau maudu.
——-

AL-QURTUBI
وروى الوليد بن مسلم قال : حدثنا مالك بن أنس عن سمي مولى أبي بكر عن أبي صالح السمان عن أبي هريرة قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ( أول ما خلق الله القلم ثم خلق النون وهي الدواة وذلك قول تعالى : ” ن والقلم ” ثم قال له اكتب قال : وما أكتب قال : ما كان وما هو كائن إلى يوم القيامة من عمل أو أجل أو رزق أو أثر فجرى القلم بما هو كائن إلى يوم القيامة – قال – ثم ختم فم القلم فلم ينطق ولا ينطق إلى يوم القيامة . ثم خلق العقل فقال الجبار ما خلقت خلقا أعجب إلي منك وعزتي وجلالي لأكملنك فيمن أحببت ولأنقصنك فيمن أبغضت ) قال : ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( أكمل الناس عقلا أطوعهم لله وأعملهم بطاعته ) .

Terjemahannya kurang lebih:

Al-Walid Ibn Muslim – Malik Ibn Ans – Sumay anak dari Abu Bakir – Abu Salih Al-Samaan – Abu Hurayrah – NABI
mengatakan, “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen, kemudian Ia ciptakan ‘Nun’ yang merupakan sebuah bak tinta. Ini adalah apa yang Allah sampaikan (di surat 68:1) ‘Nun dan pulpen.’ Dan Ia katakan padanya, “tuliskan”.

[Jadi pulpen tuliskan semua yang akan terjadi hingga hari kiamat. Kemudian alah ciptakan Nun (Ikan Paus) diatas air dan Ia tekan/tindih bumi pada punggungnya [paus]. Alah kemudian berkata pada pulpen “tulis”. Pulpen bertanya “Apa yang saya mesti tulis” Allah.. (note: Kalimat-kalimat yang ada di dalam tanda kurung ini hanya ada di situs ini dan tidak ada dalam situs berbahasa arab. Mengapa? jika kita perhatikan kalimat, “..ثم قال له اكتب قال: وما أكتب قال: ما كان..” terdapat indikasi bahwa kalimat tersebut tidak utuh telah terpotong/tidak lengkap/SENGAJA dipotong)]

menjawab, “Tuliskan apa yang telah dan akan terjadi hingga hari kiamat, apakah perbuatan, pahala, konsekuensi dan hukuman hingga hari kiamat”. Kemudian pulpen menuliskan yang akan terjadi hingga hari kiamat. Kemudian Allah menciptakan pikiran…”

وعن مجاهد قال : ” ن ” الحوت الذي تحت الأرض السابعة .

Terjemahannya kurang lebih:
Mujahid menyatakan bahwa ‘Nun’ adalah Ikan Paus yang ada di bawah tujuh bumi. [..]

وكذا قال مقاتل ومرة الهمداني وعطاء الخراساني والسدي والكلبي : إن النون هو الحوت الذي عليه الأرضون

Terjemahannya kurang lebih:
Seperti juga, yang diriwayatkan oleh Mukatil – Murrah Al-Hamdani – Ata’ Al-Kharasani – Al Suddi – Al-Kalbi yang mengatakan, “Nun adalah Ikan paus yang di atasnya para bumi diletakan

وَرَوَى أَبُو ظَبْيَان عَنْ اِبْن عَبَّاس قَالَ : أَوَّل مَا خَلَقَ اللَّه الْقَلَم فَجَرَى بِمَا هُوَ كَائِن , ثُمَّ رَفَعَ بُخَار الْمَاء فَخَلَقَ مِنْهُ السَّمَاء , ثُمَّ خَلَقَ النُّون فَبَسَطَ الْأَرْض عَلَى ظَهْره , فَمَادَتْ الْأَرْض فَأُثْبِتَتْ بِالْجِبَالِ , وَإِنَّ الْجِبَال لَتَفْخَر عَلَى الْأَرْض .

Terjemahannya kurang lebih:
Diriwayatkan Abu Thabyan, diriwayatkan Ibn Abbas yang berkata, “yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen yang menulis semua yang akan terjadi. Kemudian uap air mulai terangkat, Berasal dari situ langit tercipta. kemudian (Allah) menciptakan Nun (paus) dan menggepengkan Bumi pada punggungnya. Ketika bumi mulai bergoyang, Ia kemudian diperkuat dengan gunung-gunung, yang ada dipermukaan” Kemudian Ibn Abbas membacakan ayat (68:1) ‘Nun dan Pulpen’

[Bahasa arab sisanya tidak saya tuliskan dan langsung saya tuliskan terjemahannya]

Al kalbi dan Mukatil menyatakan bahwa nama (ikan Paus) adalah ‘Al-Bahmout.’ Al-Rajis berkata, “Mengapa aku melihatmu semua terdiam dan Allah menciptakan Al-Bahmout?”

Abu Yakthan dan Al-Waqidi menyatakan bahwa nama (ikan paus) adalah ‘Leotha’; Dimana Kab menyatakan bahwa namanya adalah ‘Lo-tho-tha’ atau ‘Bil-Ha-motha.’ Kab berkata, “Setan bergerak ke atas Ikan paus, dimana tujuh bumi diletakan dan membisikan pada hatinya, “Kamu sadari apa yang ada di punggungmu, Oh Lo-tho-tha dari binatang dan tetumbuhan dan manusia dan lainnya? Jika engkau merasa terganggu dengan mereka, Engkau dapat melemparkan mereka semua dari punggungmu” Jadi Lo-tho-tha berniat untuk melakukan apa yang disarankan (oleh setan) namun Alah mengirimkan reptil pada Ikan paus yang merangkak melalui lubang tiupnya hingga mencapai otaknya. Ikan paus kemudian menangis pada Allah dan Ia memberikan ijin pada reptil untuk keluar (dari ikan paus).” Kab melanjutkan dan berkatam “Demi Allah, Ikan paus menatap pada reptil dan reptil menatap pada ikan paus dan jika ikan paus berniat melakukan (apa yang disarankan setan) reptil akan balik ke tempat sebelumnya” [Source atau di sini, Kutipan Qurtubi di atas tidak dalam translasi Inggris [hanya Arab] dan translasinya berasal dari sini]
—-

TAFSIR IBN ABBAS
Dan dari riwayatnya yang berasal dari Ibn ‘Abbas yang ia katakan berkenaan dengan intepretasi apa yang allah katakan (Nun): ‘(Nun) Ia katakan: Allah bersumpah demi Nun, yang adalah Ikan paus yang membawa Bumi di punggungnya ketika di air, dan di bawah itu adalah banteng, dibawah banteng adalah bebatuan dan dibahwa bebatuan…Nama Ikan Paus itu adalah Liwash, dan dikatakan bahwa namanya adalah Lutiaya’; nama dari banteng itu adalah Bahamut, dan beberapa mengatakan namanya adalah Talhut atau Liyona. Ikan paus itu ada di laut yang dinamakan ‘Adwad, dan itu bagaikan banteng kecil di lautan yang sangat luas. Lautan itu ada di Bebatuan cekung dengan 4,000 celah, dan dari tiap celah itu air keluar ke bumi.

Dikatakan juga bahwa Nun adalah satu dari nama-nama Allah; yaitu kepanjangan dari huruf Nun pada nama Allah al-Rahman (Pemurah); dan juga dikatakan bahwa Nun adalah bak tinta. (demi pulpen) Allah bersumpah demi pulpen. Pulpen dibuat dari Cahaya dan tingginya setara jarak Langit dan bumi.

Adalah dengan pulpen ini perangkat Ingatan, misal. Catatan yang dijaga, dituliskan. Juga dikatakan bahwa pulpen adalah satu dari para malaikat yang mana Allah bersumpah, (dan yang mana mereka tuliskan dan Allah juga bersumpah dengan apa yang para malaikat itu tuliskan pada kegiatan-kegiatan turunan Adam, [Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs]

Note:
Al-Bahmout atau Bahamut juga ada di mitologi Arab, yaitu kisah 1001 malam pada hari ke-496. Bahamut dinyatakan sebagai Ikan besar. Bahamut tidak sama dengan Behemoth [Setan/monster dalam legenda Yahudi].
—-

Tafsir al-Tustari
Ibn ‘Abbas’ berkata pada laporan lain, ‘Nun adalah Ikan yang di atasnya seluruh bumi(arḍūn) berada,..'[Source]
—-

Tafsir al-baghawi
اختلفوا فيه فقال ابن عباس : هو الحوت الذي على ظهره الأرض . وهو قول مجاهد ومقاتل والسدي والكلبي

[..] ibn abbas katakan: Ikan paus ini membawa bumi pada punggungnya dan ini juga merupakan pandangan dari Mujahid, Muqatil, saddi dan kalbi [..] tujuh langit dan tujuh bumi di atas Banteng [..] [Sumber]
—-

Dari Hadis Sahih Bukhari dan Muslim
Dalam kumpulan hadis sahih Bukhari dan Muslim tidak dijelaskan riwayat Bumi ada di atas punggung ikan paus [Ikan besar], namun demikian terdapat riwayat menarik seperti dibawah ini:

Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – Khalid – Sa’id bin Abu Hilal – Zaid bin Aslam – ‘Atho’ bin yasar – Abu Sa’id Al Khudri – Rasulullah SAW:

Riwayat ‘Abdul Malik bin Syu’aib bin Al Laits – bapakku – kakekku – Khalid bin Yazid – Sa’id bin Abu Hilal – Zaid bin Aslam – ‘Atha bin Yasar – Abu Sa’id Al Khudri – Rasulullah SAW:

“Pada hari kiamat bumi bagaikan sekeping roti, Allah Al Jabbar memutar-mutarnya dengan tangan-Nya sebagaimana salah seorang diantara kalian bisa memutar-mutar rotinya dalam perjalanan sebagai kabar gembira penghuni surga.”

“Pada hari kiamat bumi akan seperti satu potong roti yang akan diratakan oleh Allah dengan tanganNya hingga menjadi seimbang. Sebagaimana roti yang diratakan oleh salah seorang dari kalian diperjalanannya sebagai hidangan bagi penghuni surga.

Selanjutnya ada seorang yahudi dan berujar;’ Kiranya Allah Arrahman memberkatimu wahai Abul Qasim, maukah kuberitahu kabar gembira penghuni surga dihari kiamat nanti?

Kemudian seorang lelaki yahudi datang berkata pada beliau; “semoga Allah memberkahimu wahai Abu Qasim, maukah kuberitahu tentang hidangan penghuni surga pada hari kiamat?

“baik” Jawab Nabi.

Beliau menjawab: ‘Ya’

Lanjut si yahudi; ‘Bumi ketika itu bagaikan sekeping roti’ sebagaimana disabdakan Nabi SAW.

Ia berkata: bumi akan menjadi satu potong roti -sebagaimana sabda Rasulullah SAW tadi.-

Lantas Nabi SAW memandang kami dan tertawa hingga terlihat gigi serinya.

Ia berkata: “Maukah kamu
kuberitahu lauk penghuni surga?

maka Rasulullah SAW melihat kepada kami dan tertawa hingga terlihat gigi serinya.

Ia berkata “Maukah kuberitahukan kepadamu tentang lauk pauk mereka.”
Beliau menjawab: ‘Ya’

Lanjutnya: “lauk mereka adalah sapi dan ikan paus.”

Ia berkata: “lauknya adalah balaam dan nun.”

Mereka bertanya; ‘Apa keistimewaan daging ini?’

Para sahabat bertanya; apakah itu?

Nabi menjawab: “sobekan hati [caudate lobe] ikan paus dan sapi itu, bisa disantap untuk 70.000 orang

[Bukhari no.6039/8.76.527, arab]

Nabi SAW menjawab: seekor sapi, sedangkan nun adalah daging yang paling baik dari hatinya [caudate lobe] akan dimakan 70.000 orang yang masuk suga tanpa hisab.

[Muslim no.5000/39.6710, Untuk arab: di sini atau lebih baik di sini karena terdapat penjelasan: “أَمَّا ( النُّون ) فَهُوَ الْحُوت بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاء”, artinya “Nun adalah Ikan paus menurut konsensus para ulama“]


    note:
    “والحوت” ditranslate ke inggris “and whale”; ke Melayu “ikan paus”; ke spanyol “Y la ballena = dan ikan paus”; ke itali “E la balena= dan ikan paus”; Turki “Ve Balina = dan ikan paus”; ke belanda “walvis= ikan paus”; ke Jerman “und der wal = dan ikan paus”, ke perancis “balein = ikan paus”; Ke rusia “И китов= dan Paus”; ke swahili “Na whale =dan paus”; ke Jepang “とクジラ= ikan paus”, ke korea “그리고 고래 = dan ikan paus”; Hindi “और व्हेल = dan ikan paus”; Mandarin “與鯨魚= dan ikan paus”..dll

    Jika, Bumi adalah Roti maka sebesar apalagi ukuran ikan dan lembu yg bagian berlebih dari hatinya saja dapat mencukupi kebutuhan 70.000 orang sebagai lauk pauk makan roti?

    Walaupun Bukhari dan Muslim tidak menjelaskan detail darimana “ox” dan “fish” itu berasal, namun dapat kita ketahui ukuranya ngga tanggung-tanggung besarnya, bukan?!


Kemudian,
Nūn [ن], dalam penulisan Arab, berarti Ikan besar/Ikan paus. Ibn kathir di surat Al-Anbiya 21:87-88, dalam kisah YUNUS menyatakan, “Here Nūn refers to the fish;”. Sehingga walaupun kitab-kitab kalangan Ahlul kitab (yahudi/Nasrani) sama-sama menyatakan bumi itu datar, langit berbentuk kubah dan matahari berjalan mengelilingi bumi juga mempunyai kisah Yunus di telan ikan besar [Dhū al Nūn (Orang dengan Ikan besar)], namun kitab-kitab suci Yahudi dan kristen JUSTRU TIDAK memiliki pandangan bahwa bumi berada di atas ikan besar!
—-

Aliran Syi’ah
Ulama Syi’ah Kulayni di “Kafi”nya 8/89 meriwayatkan:

55 – محمد عن أحمد عن ابن محبوب عن جميل بن صالح عن أبان بن تغلب عن أبي عبد الله (ع) قال: سألته عن الأرض على أي شيء هي؟ قال: هي على حوت قلت: فالحوت على أي شيء هو؟ قال: على الماء قلت: فالماء على أي شيء هو؟ قال: على صخرة قلت: فعلى أي شيء الصخرة؟ قال: على قرن ثور أملس قلت: فعلى أي شيء الثور؟ قال: على الثرى قلت: فعلى أي شيء الثرى؟ فقال: هيهات عند ذلك ضل علم العلما

Muhammad menyampaikan dari Ahmad – ibn Mahbub – Jamil ibn Salih – Aban ibn Taghlib – Abu ‘Abd Allah, yang berkata, Aku tanya dia mengenai bumi: Ia terletak di atas apa? Ia menjawab: Itu berada di atas seekor Ikan Paus. Aku bertanya: Ikan paus itu di atas apa? Ia menjawab: di atas air. Aku bertanya: Air di atas apa? Ia menjawab: di atas bebatuan. Aku bertanya. bebatuan di atas apa? ia menjawab: Di atas banteng dengan tanduk yang halus. Aku bertanya: Banteng itu diatas apa? Ia menjawab: Di atas tanah. Aku bertanya: Tanah di atas apa? Ia menjawab: Mana tahu? Ini adalah batasan pengetahuan dari yang diketahui manusia.

Syi’ah lainnya sheikh Al-Majlese dalam “Miratul uqul”menyatakan ini SAHIH.

(الحديث الخامس و الخمسون) [حديث الحوت على أي شي‏ء هو]
(2): صحيح.
—-

Kisah Para Nabi [Tales of the Prophet]
4. Penciptaan Bumi, Gunung-Gunung dan Laut-laut [The creation of the Earth, the mountains and the seas]

Ka’b al-Ahbar berkata: Ketika Allah berkehendak untuk menciptakan Tanah yang kering, Ia perintahkan angin untuk mengocok ke atas air. ketika menjadi turbulen dan berbusa, gelombang bertambah besar dan beruap. Kemudian Allah merintahkan busa itu memampat, dan menjadi kering. Dalam hari-hari Ia ciptakan langit yang kering di atas permukaan air adalah seperti yang Ia katakan:”Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua hari?” (AQ Fushshilat 41:9).

Kemudian Ia perintahkan gelombang-gelombang ini menjadi diam, dan mereka membentuk gunung-gunung, yang kemudian Ia gunakan sebagai pasak untuk menahan bumi, seperti yang Ia katakan: “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka” (AQ Al Anbiyaa’ 21:31). Jika tidak karena gunung-gunung, Bumi tidak akan cukup stabil bagi para penghuninya. Pembuluh dari gunung-gunung ini berhubungan dengan pembuluh dari Gunung Qaf, yang berjajar mengellilngi Bumi.

Kemudian Allah menciptakan tujuh lautan.
Yang pertama dinamakan Baytush dan mengelillingi bumi di belakang gunung Qaf, kemudian dibelakangnya berturut-turut bernama Asamm, Qaynas, Sakin, Mughallib, Muannis, dan yang terakhir Baki. Ini adalah tujuh lautan, dan tiap dari mereka mengelilingi lautan yang sebelumnya. Di dalamnya terdapat mahluk-mahluk yang hanya Allah yang tahu jumlahnya. Allah menciptakan makanan bagi para mahluk-mahluk ini dalam hari yang ke-4, seperti yang Ia katakan: “dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. Bagi orang-orang yang bertanya. (AQ Fushshilat 41:10).

Terdapat tujuh Bumi.
Yang pertama dinamakan Ramaka, yang kedua dinamakan Khalada,..Arqa, Haraba, Maltham, Sijjin dan Ajiba. Dan bumi bergoyang-goyang dengan penghuni di dalamnya seperti sebuah kapal, jadi Allah mengirimkan se sosok Malaikat yang luar biasa besar dan kuat dan diperintahkan memanggul bumi di bahunya. Satu sisi tangannya di timur dan yang lain di barat memegang Bumi dari ujung ke ujung. Namun, tidak ada pijakan kaki baginya, jadi Allah ciptakan bebatuan persegi dari jamrut yang memiliki 7.000 lubang. Di setiap lubangnya sebuah laut, gambaran ini hanya di ketahui oleh Allah semata. dan Ia perintahkan Bebatuan itu untuk berdiam di bawah kaki malaikat.

Akan tetapi, bebatuan itu tidak ada yang menyangga, jadi Allah ciptakan banteng besar dengan 40.000 kepala, mata, telinga, cuping hidung, mulut, lidah dan kaki dan diperintahkan memanggul bebatuan di punggungnya dan juga di tanduknya. Nama dari Banteng itu adalah al-Rayyan. Karena Banteng itu ngga punya tempat buat pijakan kakinya, Allah menciptakan Ikan sangat besar..Ikan ini bernama Behemoth.. [Tales of the Prophets (Qisas Al-Anbiya), Muhammad Ibn Abdullah Kisai (Author), Wheeler M. Thackston (Author), Al-Kisai (Author, Abad ke 6 H/13 M) hal 8-10 dan hal 337-338 [Notes to The Text])

Sebagai pelengkap,
perhatikan gambar Bumi [berbentuk FLAT DISK], dipanggul banteng dan di bawahnya adalah Ikan:

Ajaib al-Makhluqat (The wonders of creation), Zakariya Qazwini (Persia, w.1283 M/1284 M)

[..]Sebuah kopian risalah dari turki kisaran tahun 1553, polesan peta, menunjuk arah selatan, dengan malaikat memegang mangkok berisi ikan yang diatasnya sapi sedang memanggul bumi [..]

Risalah ke-geograpi-an dan kumpulan legenda menakjubkan sangat populer di pertengahan dan awal masyarakat islam modern. Peta yang ditunjukan di sini adalah menakjubkan padanya terdapat beberapa mahluk yang menyokong bumi di cakrawala. Yang digunakan adalah proyeksi islam tradisional tentang bumi dalam bentuk piringan datar yang dikelilingi laut-laut terpisah terkurung sekeliling pegunungan Qaf.

Kemudian,Mullah `Ali al-Qaari RaHimahullah, dalam Mirqaat:

    Fa`Alimtu Ayyi Bisababi WuSuuli dhaalikal FayDi Maa Fis Samaawaati Wal ArDi Ya`ani Maa A`alamahullahu Ta`aalaa Mimma Feehaa Minal Malaayikati Wal Ashjaari Wa Ghayrihimaa `Ibaaratun `An Sa`ati `Ilmihilladhee FataHallahu bihi `Alayhi Wa Qaalabnu Hajar Ayyi Jameeyal Kaayinaatillatee fis Samaawaati Bal Maa Fawqahaa Kamaa Yustafaadu Min QiSSatil Mi`yraaji Wal ArDu Hiya Bi Ma`anaa al-Jinsi Ayyi Wa Jamee`ya Maa Fee ArDeenas Sab`yi Bal wa Maa TaHtahaa Kamaa Afaadahuu Ikhbaaruhuu `Alayhis Salaamu Minath Thawri wal Huutil ladhee `Alayhaa – [sumber]

    Terjemahannya kurang lebih:
    ‘Jadi Aku datang untuk tahu’ Itu dalam artian berkat-berkat yang terlimpahkan padaku, semua yang ada di langit (jamak) dan di bumi yaitu sebagai semua yang Allah sampaikan pada kalangan malaikat dan pepohonan dan banyak lainnya. Yang menunjukan keluasan dari pengetahuannya (Rasulullah SAW) yang Allah` Azza Wa Jall beritahukannya. Ibn Hajjar berkata bahwa pengetahuan dari seluruh semesta dan semua yang ada di langit (jamak) dan dibaliknya sebagai bukti dari peristiwa Mi`raj dan bumi, yaitu seluruh tujuh bumi dan yang ada dibawahnya apakah itu seekor sapi atau seekor ikan di atasnya


Tuduhan Israiliyat
Definisi Israiliyat harusnya sederhana saja, yaitu segala yang berhubungan dengan legenda kaum Yahudi.

Padahal, secara fakta, Islam menumpangkan diri pada sejarah keagamaan, kebudayaan, ketuhanan Abrahamik dan mengklaim sebagai kelanjutan ajaran tersebut (melalui metoda cocoklogi). Ini tercantum di Quran dengan klaim membenarkan kitab-kitab sebelumnya [AQ 5.46,48], para ahli kitab tidak akan dipandang beragama hingga mereka menegakkan ajaran-ajaran sebelumnya [AQ 5.68]. Juga tercantum dalam berbagai hadis misalnya hadis riwayat Abu ‘Ashim adl-Dlahhak bin Makhlad – Al Awza’iy – Hassan bin ‘Athiyyah – Abi Kabsyah – ‘Abdullah bin ‘Amru – Nabi SAW:

“Sampaikan dariku sekalipun 1 ayat dan ceritakanlah dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka”

[Bukhari no. 3202. Tirmidhi no.2593, “..”Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat, dan ceritakanlah dari bani Israil, dan tidak ada dosa..”. Juga di Abu Dawud 3177; Musnad Ahmad no. 6198, 6594, 6711. Darimi no.541. Juga di Ahmad no. 9746 (Riwayat Yahya – Muhammad bin ‘Amru – Abu Salamah – Abu Hurairah – Nabi SAW: “Riwayatkanlah dari bani Isra`il dan kalian tidak berdosa”)]

Jadi kecuali seseorang berdusta bahwa hadisnya itu sebagai hadis nabi padahal bukan, maka selain dari hal ini, menuduh suatu hadis atau perawinya (tabiut tabiin, tabiin, para sahabat dan Rasulullah) sebagai Israiliyat adalah sangat absurd.

Beberapa pendapat ulama mengenai Israiliyat:

    Syaikhul Islam Ibn Taymiyya di Muqaddimah Ushulu-Tafsir Israiliyat:Cerita Israiliyat yang sahih dapat diterima, yang dusta/bertentangan dengan syari’at ditolak dan yang tidak diketahui kebenarannya/kepalsuannya, maka tawaqquf (tidak dibenarkan/tolak, tidak mengimani/dustakannya) [Ibn Al-Araby, Ahkam Al Qur’an, Mesir, Isa Al Babi Ai-Halabi Wa Syurakahu, juz I, hal. 11, 27, 28].

    Ibn kathir serupa gurunya dalam hal ini [Ibnu Kathir Ibn Ai-Quraisyi, Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Mesir, Isa Ai-Babi Aql Halaby As-Syurakahu, juz I, hal. 4] di samping itu, IBN KATHIR menyatakan: “Kami TIDAK AKAN menyebutkan riwayat-riwayat israiliyyat, KECUALI YANG TELAH DIIZINKAN oleh syariat untuk dinukil YANG TIDAK menyelisihi al-Qur’an dan sunnah RasulNya..” [Lihat pengantar dari al bidayah wan nihayah] dan dalam setiap hadis yang dikutip Ibn kahtir, Ia SELALU MENYEBUTKAN derajat hadisnya dan JIKA itu LEMAH Ia berikan PENJELASAN tentang itu.

    Syaikhul Islam Ibn Hajar Asqalani juga berpendapat serupa [Ibnu Hajar Al Asqalany, Fathul Bari, Kairo, Mathba’ah Ai-Khairiyah, 1325 H, Juz VIII, hal. 120], malah Ibn Hajar dalam maksud “Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Al-Kitab sebelummu” (AQ 10.94), menyampaikan bahwa ahlul kitab yang dimaksud adalah yang telah beriman dan larangan bertanya ditujukan pada ahlul kitab yang belum beriman. [Fathul Bari 13/408]. Detail lainnya lihat ini


Di perjalanan waktu, arti Israliyat makin meluas, adalah Az Dzahabi, yang memperluas makna Israliyat menjadi tidak karuan lagi,

    “كل ماتطرق إلى التفسير والحديث من أساطير قديمة منسوبة فى أصل روايتها إلى مصدر يهودي أو نصراني أو غيرهما”

    (Intepretasi dan legenda apapun yang berasal dari sumber Yahudi, Nasrani dan Lainnya) [“al-Tafsir wa al-Mufasirun”, Muhammad al-Sayyid Husain al-Zahabi, hal 497]


Riwayat yang dituduhkan Israiliyat, biasanya dikaitkan pada 4 nama: Abdulah Ibn Salam, Wahb Ibn Munabbih, Ka’b Al-Akhbar dan Abd Al Malik Ibn Abd Aziz Ibn Juraij. Tuduhan ini adalah sangat mengada-ada:

  • Untuk Abdullah Ibn Salam,
    merupakan kalangan Yahudi pertama yang masuk Islam, yaitu ketika pertama kalinya Muhammad mencapai Medina Hijrah (namun ada yang menyatakan bahwa ia masuk Islam BUKAN di tahun awal Medinah tapi di tahun ke-8 H). Abdullah bin Salam, adalah satu-satunya orang yg disebutkan sebagai orang yang masih hidup dan berjalan namun sudah mendapatkan jaminan surga, sebagaimana disampaikan hadis riwayat Sa’ad bin Abi Waqash: “Aku tidak pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda tentang seseorang yang masih hidup dan berjalan (di muka bumi): “orang itu berada di surga”, KECUALI Abdullah bin Salam.” [Bukhari no. 3812, Muslim no. 2483 dan Ahmad no. 1453]. Ia juga orang ke-10 yang masuk surga, sebagaimana hadis riwayat Mu’adz bin Jabal,”Carilah ilmu pada 4 orang: Uwaimir Abu Darda’, Salman Al-Farisi, Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Salam yang dahulunya Yahudi kemudian masuk Islam, karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda tentang Abdullah bin Salam: “Ia adalah orang ke-10 dari 10 orang penghuni surga.” [Tirmidzi no. 3804, An-Nasai dalam as-sunan al-kubra no. 8253, Ahmad no. 22104, Al-Hakim no. 334, dan Ibnu Hibban no. 7165, hadis shahih]. Ia juga merupakan saksi dalam turunnya AQ 46:10 dan AQ 2:97

    Aneh sekali menuduh seorang yang Nabi SAW katakan ketika masih hidup sudah mendapat jaminan surga sebagai Israiliyat.

  • Untuk Wahb Ibn Munabbih,
    Ibn Hajjar: Tsiqah (dapat dipercaya memegang amanat) [Ahmad Ibn `Ali Ibn Hajar al-`Asqalani, Taqrib al-Tahdhib, Volume II, 1960, Al-Maktabat al-`Ilmiyyah: Al-Madinah, p. 339.]. Al-`Ijli: Penerus, Tsiqah [Ahmad Ibn `Abdullah Ibn Salih Abu al-Hassan al-`Ijli, Tarikh al-Thiqat, 1984 Edition, Dar al-Kutub al-`Ilmiyyah, Beirut (Lebanon), p. 467, No. 1786.] malah Abu Zur`ah, al-Nasa’i, Ibn Hibban dan banyak
    lagi menyatakan: Tsiqah [ibid]. Imam al-Suyuti: memasukan Wahb kedalam pengingat hadis [Jalal al-din `Abd al-Rahman al-Suyuti, Tabaqat al-Huffadh, 1983 Edition, Dar al-Kutub al-`Ilmiyyah, Beirut (Lebanon), p. 48, No. 92.]. Ulama hadis termasuk Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidhi menyampaikan hadis darinya. Dhahabi: Tsiqah dan dapat dipercaya [Muhammad Husayn al-Dhahabi, Al-Tafsir wa ‘l-Mufassirun, Dar al-Qalam, Beirut, Volume I, hal. 199]

    Aneh sekali menuduh seorang yang dapat dipercaya memegang amanat sebagai Israiliyat.

  • Untuk Ka’b Al Ahbar,
    Syaikhul Islam, Al Hafiz Ibn hajar Asqalani: Ka`b Ibn Mati`al-Himyari, Abu Ishaq, dikenal sebagai Ka`b al Ahbar adalah dapat di percaya (Tsiqah), masuk kategori ke-2 [tabaqah]. Hidup selama masa Jahiliyah dan Islam, tinggal di Yaman sebelum pindah ke Sham dan wafat di jaman khalifah Usman, berusia lebih dari 100 tahun. [Ahmad Ibn `Ali Ibn Hajar al-`Asqalani, Taqrib al-Tahdhib, Vol.II, 1960, Al-Maktabat al-`Ilmiyyah: Al-Madinah, hal.135] (Ia wafat 32 H di usia 140 tahun).

    Ibn Sa’ad: Ka’ab Al-Akhbar adalah tingkatan ke-1 dan tabi’in di Syam yang banyak meriwayatkan hadis termasuk dari Rasulullah secara mursal dan Umar, Shuhaib, dan Aisyah. Hadis-hadis Ka’b diriwayatkan oleh Mu’awiyah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Atha bin Rabah, dan lainnya. Abdullah Ibn Zubair: Ia mempunyai semacam prediksi yang tepat. Dr. Muhammad Husayn al-Dhahabi: “…Jika hendak menyalahkan Ka’b dan lainnya, maka kami tidak sepakat, karena apapun yang Ka’b dan lainnya riwayatkan dari para ahlul kitab, MEREKA TIDAK PERNAH BERKATA BAHWA ITU BERASAL DARI NABI SAW, jadi Ia tidak BERBOHONG. Mereka hanya meyampaikan apa adanya yang ada di buku kaum Israil, tidak wajib bagi kita untuk percaya ataupun dimintakan untuk percaya…” [Muhammad Husayn al-Dhahabi, “Al-Tafsir wa’l-Mufassirun”, Dar al-Qalam, Beirut, Vol I, hal.192].

    Alasan lain Dhahabi adalah karena para sahabat seperti Ibn Abbas dan Abu Hurairah mustahil mengambil riwayat darinya jika Ia pendusta disamping itu, para muhadditsin seperti Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasai memasukkan riwayat darinya maka Ka’ab merupakan seorang yang ‘adil dan tsiqah. Dhahabi membantah pendapat Ahmad Amin [Adz-Dzahabi At-Tafsir, him. 184-187] dan Rasyid Ridha [Ahmad Ainin, Fajru Al Islam, hal.198] yang menuduh Ka’ab pendusta hanya karena lbn Qutaibah dan An-Nawawi tidak meriwayatkan darinya dan hanya karena At-Tabari sedikit meriwayatkan darinya.

    Al Hafidz Ibnu Katsir dalam al Bidayah wan Nihayah:

      “..Ismail ibn Abdu-rahman as Suddi menyebutkan hadis dari Abu Malik dan Abu Salih dari Ibn ‘Abbas, Murrah AlHamdani (yang berasal dari Ibn Mas’ud) dan para sahabat Nabi SAW, mengenai perkataannya “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit [AQ 2.29]

      Mereka berkata bahwa Tahta Allah ada di atas air. Tidak ada penciptaan sebelum Air. Ketika Ia ingin mencipta. Ia ambil uap dari Air. Uap itu terangkat ke atas, air berkumpul di atasnya. Ia kemudian menamakan itu “Langit”. Kemudian ia keringkan air, dan membuatnya menjadi 1 bumi. Ia kemudian memisahkannya dan menjadikannya menjadi 7 Bumi dalam 2 hari – Minggu dan Senin. Ia ciptakan bumi di atas Ikan [hut], Itu adalah paus (nun) yang disebutkan di Qur’an: “Ikan. Demi Qalam.” (AQ 68.1) Paus ada di air. Air ada di atas bebatuan [kecil]. Batuan ada di punggung Malaikat. Malaikat ada di atas Bebatuan [Besar]. Bebatuan besar -yang disebutkan di Luqman – ada di angin, tidak dilangit atau di bumi. Ikan bergerak dan menjadi gelisah. Sebagai hasilnya, Bumi menjadi berguncang [gempa]. Kemudian ia kokohkan, pasakan gunung2 di atasnya, dan manjadi stabil. Allah menciptakan gunung-gunung dan segala yang bermanfaat dan hal berguna padanya di Selasa dan Rabu. Ia ciptakan pohon-pohon, air, kota-kota dan pembudidayaan tanah tandus. Ia belah langit, yang asalnya satu menjadi 7 langit dalam 2 hari – Kamis dan Jumat – dan Ia sebut Jumat, al Jumu’ah, karena pada hari itu, Ia satukan ciptaan langit dan bumi dan berikan perintah pada setiap langit. Ia ciptakan di setiap langit para malaikat, laut-laut, gunung-gunung dan menyerukan pada lainnya bahwa tiada yang tau kecuali dirinya. Ia kemudian hiasi langit dengan bintang-bintang dan menjadikannya sebagai perhiasan dan penjaga dari para Setan. Kemudian Ia selesaikan ciptaannya dengan apa yang Ia sukai. Ia naikan Arsynya”

      Dalam sanad ini As Suddi menyampaikan banyak hal mengejutkan yang seakan berasal dari Israiliyyat. Ini karena ketika Ka’b Al Ahbar masuk Islam di jaman khalifah Umar, Ia biasa berbincang dengan Umar mengenai pengetahuan para Ahlul kitab dan Umar mendengarkannya, bersikap ramah dan kagum atas apa yang disampaikannya banyak sejalan dengan kebenaran di Quran dan sabda Nabi. Sebagai hasilnya banyak yang menganggap boleh menyampaikan apa yang Ka’b Al-Ahbar katakan. Bukhari menyampaikan di sahihnya dari riwayat Muawiyah yang berkata tentang Ka’b AI-Ahbar, “biarpun Ia yang paling terpercaya menyampaikan hal-hal dari kaum ahlul kitab, kita tahu beberapa yang dikatakannya tidak benar” Ini artinya, Ia menganggap yang disampaikanya tidak benar, TIDAK MENGANGGAP bahwa Ka’b dengan sengaja menyampaikan dusta – dan Allah maha mengetahui.

      Note:
      Anggapan tentang Ka’b ini cenderung keliru karena Umar bin Khattab bahkan telah memberikan ancaman dan telah melarang K’ab menceritakan kitab-kitab sebelumnya:

        Umar melarang Ka’b menceritakan apa yang tercantum di kitab-kitab sebelumnya dan berkata, “Kamu harus meninggalkan itu, atau Aku tempatkan kamu di tanah para monyet” [Fath al-Mughith by Al-Sakhawi, diambil dari sini]

      Umar menjadi Khalifah tahun 634 M, masuk Jerusalem tahun 637 M dan wafat di tahun 644 M (67 tahun). Sementara Ka’b wafat di tahun 652 M. Ka’b menjadi mualaf di usia tuanya, jika Ka’b wafat di usia lebih dari 100 tahunan, maka usianya ketika menjadi mualaf adalah lebih dari 90 tahun dan jika Ka’b wafat diusia 140 tahunan, maka usianya ketika menjadi mualaf adalah di 130an tahun!

      Memperhatikan hadis di bawah ini, ketika Umar di Jerusalem, tampaknya Kaab masih memeluk agama lamanya:

      Riwayat Aswad – Abu Salamah – Abu Sinan – ‘Ubaid Bin Adam – Umar Bin Al Khaththab bertanya kepada Ka’ab: “Di mana menurutmu aku melaksanakan shalat?”. Ka’ab menjawab; “Jika kamu menerima pendapatku shalatlah kamu di belakang batu besar, maka Al Quds semuanya akan berada di hadapanmu.” Umar berkata; “Kamu menyerupai orang-orang Yahudi, tidak, aku akan shalat seperti Rasulullah SAW” [Ahmad no.252].

    Jadi, aneh sekali seorang setua itu masih terlibat aktif dalam kegiatan dakwah islamiyah dan dianggap masih dapat mengingat banyak hal.

  • Untuk Abd Al-Malik Ibn Abd Al-’Aziz Ibn Juraij,
    Seorang Imam, kalangan sunni menganggapnya, pengumpul hadis pertama dalam sebuah buku, “Musannaf ibn Juraij”. Ayahnya seorang ulama Muslim dan kakeknya dulu seorang kristen romawi. Juraij lahir di tahun 80H (699 M) dan wafat di tahun 150H (767 M), hadisnya kebanyakan berasal dari Ata ibn Abi Rabah (gurunya, 40%), Amr Ibn Dinar (7%), Ibn Shihab/Al-Zuhri (juga gurunya, 6%), ibn Tawus (5%), Abu Al Zubayr (4%), Abdul Al-Karim/Al Jazari (3%) [“Qur’anic Exegesis in Classical Literature”, Rashid Ahmad Jullundhry, hal.16; “Analysing Muslim Traditions: Studies in Legal, Exegetical and Maghāzī Ḥadīṯ”, Nicolet Boekhoff-van der Voort, Sean W. Anthony, hal.11-18]

    Al-Dzahabi (ulama kalangan Sunni, abad ke-14, sumber: wikipedia):
    Ulama Mekah, Abu Walid menyatakan Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij adalah seorang budak Banu Umayyah dan kalangan Fuqaha Mekah, ia punya banyak sebutan dan terhitung di antara ulama besar, ia lahir beberapa tahun setelah 70 H, dan bertemu para Sahabat besar. Ahmad Ibn Hanbal mengatakan “Ibnu Juraij adalah harta pengetahuan”. Jarir berkomentar bahwa Ibn Juraij mengaggap Mut’ah diperbolehkan, dan ia kawin Mut’ah dengan 70 wanita. Ibn Abdul Hakim menyatakan “mendengar dari Imam Syafi’i mengatakan Ibnu Juraij kawin Mut’ah dengan 90 wanita”[“Tadhkirat al-huffaz”, Vol.1 hal.170-171]. Juga: “Abdul Malik Ibn Juraij adalah salah satu orang besar dalam pengetahuan, ia Thiqah (jujur) dan pemegang otoritas (hadis), Ia melakukan Mut’ah dengan 70 wanita, dan menganggap praktek ini halal. [“Tadheeb al Tadheeb”, Al-Dhahabi, Vol.6 hal.6]

    Tentang Mutah:
    Abu Bakar Al-Atsram, “إِذَا قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ فُلاَنٌ وَقَالَ فُلاَنٌ وَأَجَزْتُ جَاءَ بِمَنَاكِيْرَ وَإِذَا قَالَ: أَخْبَرَنِيْ وَسَمِعْتُ فَحَسْبُكَ بِهِ” [Apabila Ibnu Juraij mengatakan qaala fulaan (Fulan berkata) dan ajaztu (aku mengizinkan), maka Ia munkar. apabila berkata akhbarani (telah mengabarkan kepadaku) dan sami’tu (aku telah mendengar), maka cukup untukmu dengannya] [Tarikh Baghdad, X:405, Tahdzib Al-Kamal fi Asma` Ar-Rijal, XVIII:348]. Yahya bin Sa’id: “كَانَ ابْنُ جُرَيْجٍ صَدُوْقاً فَإِذَا قَالَ: حَدَّثَنِي فَهُوَ سِمَاعٌ وَإِذَا قَالَ أَخْبَرَنَا أَوْ أَخْبَرَنِي فَهُوَ قِرَاءَةٌ وَإِذَا قَالَ: قَالَ فَهُوَ شِبْهُ الرِّيْحِ” [Ibnu Juraij shaduq (jujur), apabila berkata haddatsani (telah menceritakan kepadaku), maka ia sima’ (derajat penerimaan hadis akurat, paling tinggi) dan apabila berkata akhbaranaa (telah mengabarkan kepada kami) atau akhbarani (telah mengabarkan kepadaku) maka ia qira`ah (di bawah sima’). Dan apabila mengatakan qaala (telah berkata) maka ia menyerupai angin (tidak bernilai)] [Tahdzib Al-Kamal fi Asma` Ar-Rijal, XVIII:348]

    Jadi, menuduh seorang fuqaha dan juga Imam sebagai Israiliyat adalah absurd. 


Salah satu ulama yang menolak kisah Islami, ikan paus yang memanggul bumi ini dengan alasan bahwa ini tidak ada di sunnah otentik dan karena Israiliyat misalnya Abu as-Shaykh al-‘Asfahani:

    Tidak disebutkan di kitab ataupun sunnah otentik tentang paus yang membawa bumi, dan semua yang disebutkan tentang ini adalah berdasarkan riwayat Bani Israail” [al-‘Athamah 4/1400]

    note:
    As-Sunnah menurut ulama Salaf adalah petunjuk yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW dan para Shahabatnya, baik tentang ilmu, i’tiqaad (keyakinan), perkataan maupun perbuatannya [Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal. 10]

    Quran:
    Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kamu…[AQ 4.59,83]

    Hadis:
    Riwayat Mahmud bin Ghailan – Abu Daud Al Hafari – Sufyan Ats Tsauri – Abdurrahman bin Ziyad Al Afriqi – Abdullah bin Yazid – Abdullah bin Amru – Rasulullah SAW: “..sesungguhnya bani Israil terpecah menjadi 72 golongan dan ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan semuanya masuk neraka kecuali 1 golongan” para sahabat bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “yang berpegang teguh padaku dan para sahabatku“.[Tirmidhi no. 2565; al-Hakim, Ibnu Wadhdhah]

    Riwayat Ali bin Hujr – Baqiyyah bin al Walid – Bahir bin Sa’d – Khalid bin Ma’dan – Abdurrahman bin Amru as Sulami – al ‘Irbadh bin Sariyah: “..Rasulullah SAW: “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta’at meskipun terhadap seorang budak habasyi…hendaknya dia berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham [Tirmidhi no.2600, AbuDawud no.3991, dll]


Lucunya,
IslamQA no.114861 (beberapa riwayat yang menyatakan bahwa bumi terletak diatas punggung sapi jantan) di awal fatwanya menyampaikan kisah itu adalah sunnah otentik:

      Ibnu Abbas RA bahwa beliau berkata:
      أوّل ما خلق الله من شيء القلم ، فجرى بما هو كائن ، ثم رفع بخار الماء ، فخلقت منه السماوات ، ثم خلق ” النون ” – يعني الحوت – فبسطت الأرض على ظهر النون ، فتحرّكت الأرض فمادت ، فأثبت بالجبال ، فإن الجبال لتفخر على الأرض ، قال : وقرأ : (ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ (

      “Sesuatu yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah pena, maka ia menulis semua kejadian, kemudian uap air diangkat ke atas, maka darinyalah langit-langit diciptakan, kemudian Dia (Allah) menciptakan Nuun, yaitu; ikan paus, maka dihamparkannya bumi di atas punggung ikan paus tersebut, maka bumi pun bergerak dan berguncang, lalu ditopang oleh gunung-gunung, maka gununglah yang lebih utama dari pada bumi, lalu beliau berkata dan membaca: “Nuun, demi pena dan apa yang mereka tulis”.

      (Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dalam Tafsirnya: 2/307, dan Ibnu Abi Syaibah: 14/101, dan Ibnu Abi Hatim-sebagaimana di dalam Tafsir Ibnu Katsir: 8/210, dan Thabari dalam Jami’ Al Bayan: 23/140, dan Hakim dalam Al Mustadrak: 2/540, dan masih banyak yang lainnya, semua riwayat dari jalur Al A’masy, dari Abi Dzabyan Hushain bin Jundub, dari Ibnu Abbas, yang ini sanadnya shahih. Al Hakim berkata: ini adalah hadits yang shahih sesuai dengan syarat kedua Syeikhan (Bukhori dan Muslim) namun keduanya tidak meriwayatkannya. Adz Dzahabi berkata dalam at Talkhish: Sesuai dengan syarat Bukhori dan Muslim. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Mujahid, Muqatil, Sudi dan al Kalbi. Silahkan anda baca: (Ad Durrul Mantsur: 8/240, dan Tafsir Ibnu Katsir: 8/185 dalam permulaan tafsir surat al Qalam)



    Tentu saja IslamQApun melancarkan tuduhan bahwa itu bukan sabda Nabi melainkan hanya pendapat Ibn Abbas yang berasal dari Ka’b atau buku bani Israil:

      Atsar ini –sebagaimana anda ketahui- adalah mauquf (hadis yang sandarannya berhenti sampai pada sahabat sebagai penyampai) sampai pada Ibnu Abbas, bukan dari sabda Nabi SAW, secara umum Ibnu Abbas RA mengambil dari Ka’b al Ahbar atau dari buku-buku Bani Isra’il yang mencakup banyak keajaiban, keanehan dan kedustaan. Yang menunjukkan akan hal itu adalah beberapa rincian yang disebutkan oleh sebagian kitab Tafsir dalam masalah ini.

    Tuduhan bahwa Ibn Abbas mengambil dari K’ab atau dari buku-buku Bani Israel adalah mengada-ada dan tanpa bukti

    Mengapa?

    Karena terdapat riwayat bahwa pengetahuan Ka’b tentang Islam justru berasal dari Ibn Abbas sendiri, Larangan Ibn Abbas pada umat muslim untuk tidak bertanya pada Ahlul Kitab dan juga ancaman sekaligus larangan dari Umar bin Khattab pada Kaab untuk tidak menceritakan yang tercantum di kitab-kitab sebelumnya, misal:

      Riwayat Yahya bin Musa – Mu’alla bin Manshur – Muhammad bin Dinar – Sa’ad bin Aus – Mishda’ Abu Yahya – Ibnu Abbas – Ubay bin Ka’ab bahwa Nabi SAW membaca: “FII ‘AININ HAMI’ATIN (di dalam laut yang berlumpur hitam).” AQ 18.86. Abu Isa berkata; Hadits ini GHARIB, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini, DAN YANG SAHIH ADALAH HADIS yang diriwayatkan Ibnu Abbas tentang bacaannya (Ibnu Abbas): Ibnu Abbas dan ‘Amru bin Al ‘Ash berbeda pendapat tentang bacaan ayat ini, kemudian mereka mengajukannya kepada Ka’b Al Ahbar, seandainya Ibnu Abbas memiliki riwayat dari Nabi SAW, tentu sudah cukup baginya dengan riwayatnya dan tidak butuh lagi kepada Ka’b.” [Tirmidhi no.2858. Tentang Maksud Tirmidhi pada “hadis gharib”, Albani berkata: “Adapun jika ia berkata “hadits gharib” maka kebanyakan yang ia maksudkan adalah “dha’if“, yaitu secara sanad” (Fatwa-fatwa Syekh Nashiruddin Al-Albani, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Media Hidayah, 1425 H — 2004 M)]

      Vonis Albani [1914 M -1999 M] bahwa hadis tersebut adalah dhaif justru merupakan hal yang menggelikan tersendiri, mengingat:

        Albani sendiri mengakui bahwa sebenarnya ia tidak hafal sepuluh hadits dengan sanad muttashil (bersambung) sampai ke Rasulullah, meskipun begitu dia berani mentashih dan mentadh’iftan hadits sesuai dengan kesimpulannya sendiri dan bertentangan dengan kaidah para ulama hadits yang menegaskan bahwa sesungguhnya mentashih dan mentadh’ifkan hadits adalah tugas para hafidz (ulama ahli hadits yg menghapal sekurang-kurangnya seratus ribu hadits). [lihat: ini dan ini]

        Albani sendiri gampang menjatuhkan vonis hadis dhaif dan mereka yang bertentangan dengan dirinya dikatakan ahli Bid’ah

    Bahkan Ibn Abbas sendiri melarang untuk bertanya kepada Ahlul kitab:

      Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – Yunus – Ibnu Syihab – ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah – ‘Abdullah bin ‘Abbas: “Wahai sekalian kaum muslimin, bagaimana bisa kalian bertanya kepada Ahli kitab sedangkan kitab kalian yang diturunkan kepada nabi SAW adalah kitab paling baru tentang Allah. Kalian membacanya dengan tidak dicampur aduk, dan Allah telah memberitahu kalian bahwa orang-orang ahli kitab telah merubah apa yang telah Allah tetapkan, dan mereka merubahnya dengan tangan mereka, lalu mereka berkata ini dari Allah dengan maksud (menjualnya dengan harga yang sedikit). Bukankah dengan ilmu yang telah datang kepada kalian berarti Dia melarang kalian untuk bertanya kepada mereka?. Tidak, demi Allah, kami tidak melihat seorangpun dari mereka yang bertanya tentang apa yang diturunkan kepada kalian” [Bukhari no.2488, 6815, 6969]

    Bahkan Mujahid yang meriwayatkan dari Ibn Abbaspun terkena getahnya terkena tuduhan Israiliyat, misalnya di link GF HADAD:

      Al-Dhahabi juga mengutip keputusan al-A’mash’s tentang tafsir Mujahid yakni Mujahid diantara mereka yang menarasikan dari kitab-kitab ahlul kitab

      Note:
      Ahl al kitab: Nasrani dan Kristen (kesepakatan seluruh ulama), majusi dan sabian (sebagian ulama)

      Padahal dari sisi pendapat para ulama, mereka menilai Mujahid lebih tinggi nilainya dari Al A’Mash, misal Syaikhul Islam Ibn Hajjar menyatakan Al A’Mash adalah YUDALIS (memalsukan/menyamarkan sanad), sementara Mujahid adalah Imam Ilmu tafsir. Bahkan Dhahabi sendiri malah menyatakan MUJAHID itu Imam ILMU TAFSIR dan HUJJAH (dapat dijadikan dasar hukum)!

      Syaikhul Islam Ibnu Taymiyya memuji Mujahid: “Mujahid bin Jabr adalah seorang anak ajaib [aya] dalam penafsiran.” dan mengutip Sufyan ath-Thawri: “Ketika interpretasi datang kepada Anda dari Mujahid, itu sudah cukup untuk Anda” [Ibn Taymiya “Treatise on the Principles of Tafsir“]

      Ternyata tuduhan ini hanya kabar burung, yang juga telah ditepis oleh Al A’mash sebagaimana tercantum dalam Kitab Tabaqat al-mufassirin dari Dawudi, II, 307:

        “Seorang laki-laki bertanya pada al-A’mash, ‘Kenapa orang-orang menghindari tafsir al-Mujahid?’ Ia menjawab, “Karena MEREKA PIKIR bahwa ia biasa bertanya pada ahlul kitab” [“The Qur’an and Its Interpreters”, Vol.1, Mahmoud Ayoub, hal.30]

      Tampak jelas al A’Mash TIDAK PERNAH MEMUTUSKAN demikian juga TIDAK mengatakan bahwa MUJAHID TELAH “meriwayatkan dari buku2 ahlu kitab”. Malah al A’mash, yang juga merupakan murid Mujahid, MELURUSKAN fitnahan kepada gurunya! Jika al a’Mash (Sulaiman bin Misran Al A’mash), yakin Mujahid seperti yang dituduhkan, maka Al a’Mash TIDAK AKAN meriwayatkan BANYAK hadis dari Mujahid (di Bukhari, Abu Dawud, Tirmidhi, Nasai, Ibn Majjah).

    Lucunya juga,
    IslamQA malah tersirat jelas menginformasikan bahwa TIDAK SELURUH hadis marfu (sanad bersandar hingga pada Rasullullah) tentang masalah ini adalah mungkar:

      ada sebagian hadits-hadits yang marfu’ namun mungkar dalam masalah ini (وقد وردت بعض الأحاديث المرفوعة المنكرة في هذا المعنى), di antaranya adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar bahwa Nabi SAW bersabda:

      الأرض على الماء ، و الماء على صخرة ، و الصخرة على ظهر حوت يلتقي حرفاه بالعرش ، والحوت على كاهل ملك قدماه في الهواء (وهو حديث موضوع، انظر: “السلسلة الضعيفة” (رقم/294()

      “Letak bumi di atas air, dan air tersebut di atas batu, batu tersebut di atas punggung ikan paus yang kedua sisinya di ‘Arsy, ikan paus tersebut di atas bahu seorang malaikat yang kedua kakinya di udara”. [sebagai hadits palsu di “As Silsilah al Hadith ad Dha’ifah wal-Mawdhuu’ah, #294]

    Tersirat jelas bahwa IslamQA juga mengakui terdapat beberapa bagian hadis marfu lain mengenai masalah ini yang tidak mungkar! (sample misalnya hadis marfu dari Ibn Hatim dalam tafsir Ibn Kathir untuk AQ 20.6 atau juga hadis qudsi no.1021 dari Nabi SAW di buku “1000 Qudsi Hadiths: An Encyclopedia of Divine Sayings”, Arabic Virtual Translation Center, Lulu Press, Inc, 14 Jan 2014 dari Al Hakim dalam Al Mustadrak-nya yang merupakan hadis sahih)

Jadi, kosmologi bumi di atas Ikan paus yang tercantum di kitab-kitab tafsir utama Sunni dan hadis utama Syi’ah memang bersandar pada hadis mauquf dan marfu yang sahih.

kemudian,
Ketika Quran menyampaikan bahwa bahwa malaikat-malaikat menghadap Allah [AQ 70:4] maka Lokasi Allah dan tamannya ini, dekat dengan pohon bidara terujung (Sidratil Muntaha) yang berada DI UFUK YANG TERANG (bialufuqi almubiini, AQ 53.7, 81.23) tempat jibril dilihat Muhammad (AQ 81.23), yaitu, “raaahu (Ia dilihatnya) nazlatan ukhraa (datang lagi/turun lagi) inda (di sisi) sidratil muntahaa (pohon bidara/bekul ujung. Sidra = pohon Bidara/bekul, AQ 34.16, 56.28 + Muntaha = ujung/akhir, AQ 5.91, 53.42, 79.44) indahaa (dekat itu) jannatu almawaa (taman tempat tinggal)” (AQ 53.13-17).

kata Ufuk = batas/horizon, misalnya, ufuk timur/barat tempat terbit/tenggelamnya matahari, “dan awal waktu maghrib saat matahari terbenam dan waktu akhir saat menghilang di ufuk dan awal waktu isya saat menghilang di ufuk” [Tirmizi no.139].

Lokasi pohon bidara ter-ujung/sidratul Muntahal bervariasi:
di surga ke-6 (Muslim no.252) atau di surga ke-7 (Muslim no.234. Bukhari no.2698, 3598, 6963. Ahmad no.12047, 12212). Di bawah Sidratil Muntahal terdapat 4 sungai, 2 tak terlihat dan 2 terlihat..adapun 2 sungai tak terlihat adalah 2 sungai yang berada di surga, sedangkan 2 sungai yang terlihat adalah NIL dan EUFRAT” [Bukhari no.3598, 2968, 5179]. Bahkan, sungai Nil dan Eufrat-pun selain di surga ke-7 [Muslim 1.314; dan Bukhari no.4.54.429 5.58.227], juga di surga ke-2 [Bukhari 9.93.608] dan bahkan di surga ke-1 [Bukhari no.6963]

Di manapun itu, BEDA TINGGINYA LANGIT VS DARATAN, TIDAKLAH TERLALU BERJAUHAN, karena ketika Adam diturunkan dari surga, kepalanya menyentuh langit sehingga menjadi botak, turunannya mewarisi kebotakannya [“Kitab Al-Tabaqat Al Kabir”, Vol.1, 1.3.42 (Riwayat Ibn Sa`d – Hisham Ibn Muhammad – Ayahnya – Abu Salih – Ibn `Abbas). Juga di Tabari, Vol.1 hal.297]

Kondisi taman/surga macam ini JELAS TIDAK DIMUNGKINKAN dalam kosmologi modern (bulatan bumi yang merupakan anggota tata surya, mengitari matahari. Tata surya ini merupakan himpunan bagian dari galaxy dan Galaxy merupakan bagian kecil dari semesta) NAMUN SANGAT DIMUNGKINKAN dalam kosmologi islami.

Mengapa?

Dalam kosmologi Islami, bumi adalah datar, atapnya berupa 7 langit bertumpuk satu diatas yang lain berbentuk kubah! Inilah mengapa langit, surga, bumi dan air dimungkinkan bertemu!

  1. Bahwa bumi ini berada di atas punggung: seekor ikan yang sangat besar dan seekor lembu/sapi. Kelak setelah kiamat: 70.000 surgawan (kelompok pertama) yang masuk surga tanpa dihisab (siksa neraka), akan dijamu Allah dengan lauk “lembu/sapi (balaam) dan hati ikan paus (nun)” [Bukhari no.6039/8.76.527 (arab). Atau di Muslim no.5000/39.6710 (arab: terdapat penjelasan: “أَمَّا ( النُّون ) فَهُوَ الْحُوت بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاء”, artinya “Nun adalah Ikan paus menurut konsensus para ulama”)]
  2. Singgasana Allah di atas air:
    “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, dan adalah singgasana-Nya di atas air[1] (“عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ”, arsyuhu ala al-mai)..” [AQ 11.7]. Allah bersemayam di atas arsy (istawaa ‘alaa al’arsyi) [AQ 7.54, AQ 57.4, AQ 32.4, AQ 25.59, AQ 20.4, AQ 10.3]. Yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya [AQ 40.7]. Hadis meriwayatkan arsy yang berada di atas air:

      Abdan – Abu Hamzah – Al A’masy – Jami’ bin Syidad – Shafwan bin Muhriz – ‘Imran bin Hushain:

      …Nabi menjawab: ‘Allah telah ada dan tidak ada sesuatu pun terjadi sebelum-Nya, arsy-Nya berada di atas air, kemudian Allah mencipta langit dan bumi dan Allah menetapkan segala sesuatu dalam alquran’. [Bukhari no. 6868, 2953. Ibn Majah no.178 (Riwayat Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Muhammad bin Ash Shabbah – Yazid bin Harun – Hammad bin Salamah – Ya’la bin ‘Atho` – Waki’ bin Hudus – pamannya Abu Razin ia berkata; Aku bertanya; “Wahai Rasulullah, di manakah Rabb kita sebelum menciptakan makhluk-Nya?” beliau menjawab: “Dia berada di ruang kosong, di bawah dan di atasnya tidak ada udara, dan di sana tidak ada makhluk. Setelah itu Ia menciptakan Arsy-Nya di atas air“). Tirmidhi no.3034 (“Wahai Rasulullah dimanakah Allah sebelum Dia menciptakan makhlukNya? beliau menjawab: “Dia berada di awan yang tinggi, di atas dan di bawahnya tidak ada udara dan Dia menciptakan ‘arsyNya di atas air.“). Ahmad no.15599, 15611]

    Perlu juga diketahui bahwa: Singgasana Iblis juga di atas air:

      Riwayat Abu Kuraib, Muhammad bin Al Ala` dan Ishaq bin Ibrahim, teks milik Abu Kuraib — Abu Mu’awiyah – Al A’masy – Abu Sufyan – Jabir – Rasulullah SAW:

      “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu mengirim bala tentaranya, (setan) yang kedudukannya paling rendah bagi Iblis adalah yang paling besar godaannya.” [Muslim no. 5032 dan Riwayat Abu Mu’awiyah – Al ‘A’masy – Abu Sufyan – Jabir – Rasulullah SAW: “Iblis meletakkan istananya di atas air kemudian mengutus pasukannya..” [Ahmad no. 13858, 11490, 14632]

    Tentang pengertian ‘arsy (عَرْش), ulama memberikan penjelasan yang berbeda-beda.

    • Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar menjelaskan bahwa ‘arsy (عَرْش) merupakan ”pusat pengendalian segala persoalan makhluk-Nya di alam semesta”. Penjelasan Rasyid Rida di antaranya berdasarkan AQ 10.3, “Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy (عَرْش = singgasana) untuk mengatur segala urusan”.

      Jalaluddin as-Suyuthi (pengarang tafsir Ad-Durr al-Mantsur fi Tafsir bi al-Ma’tsur) mengutip hadis dari Ibnu Abi Hatim – Wahhab ibnu Munabbih bahwa Allah SWT menciptakan `arsy dan kursi dari cahaya-Nya. `Arsy melekat di kursi. Para malaikat berada di tengah-tengah kursi tersebut. `Arsy dikelilingi oleh empat buah sungai dan Para malaikat berdiri di setiap sungai sambil bertasbih/memuliakan Allah.

    • Kursi [kur’siyyuhu (AQ 2.55)/kur’siyyihi (AQ 38.34)] TIDAK SAMA dengan arsy/. Arti kursi adalah BUKAN “pengetahuan allah”, BUKAN arsy, BUKAN “bukan kekuasaan dan kekuatan Allah” NAMUN “pijakan kedua kaki Allah”.

      Ibnu ‘Abbas berkata: “الكرسي موضع قدميه و العرش لا يقدر قدره” [“Al-Kursi adalah pijakan kedua kaki (Allah), dan ‘Arsy tidak ada yang tahu ukurannya kecuali Allah.”] (‘Abdullah Bin Ahmad, as-Sunnah no. 586, isnadnya hasan – Tahqiq Muhammad Sa’id Salim al-Qahthani. Al-Hakim (al-Mustadraknya 2/310: Hadis ini sahih menurut Bukhari dan Muslim walaupun mereka tidak meriwayatkannya. Disepakati adz-Dzahabi). Fathul Bari Ibn Hajjar (8/199 : Dari Ibnu ‘Abbas bahawa al-Kursi adalah pijakan kedua kaki (Allah) sanadnya sahih). Al-Albani, Mukhtasar al-‘Uluw lil ‘aliyyil Ghoffar, Adz-Dzahabi (1/75: Perkataan ibn Abbas Sahih mauquf). Hadis ibn Abbas juga termuat di Musnad Ahmad, lihat Ibn Kathir dan “ask the scholar“]

    Sementara itu,
    terdapat klaim bahwa Quran dan hadis menyatakan ‘Arsy Allah dan Allah ada di langit, misal:

    • Apakah kamu merasa aman (a-amintum) siapa (man) di (fii) langit (tunggal: Al-samāi) bahwa/yang (an) membenamkan (yakhsifa) dengan mu (bikumu) bumi (al-ardha) ketika (fa-idzaa) Ia (hiya, feminim tunggal) bergoncang (tamuuru)? atau (am) apakah kamu merasa aman siapa di langit yang mengirimkan (yursila) padamu (‘alaykum) badai batu (hasiban). Maka kelak kalian tahu (fasata’lamuuna) bagaimana (kayfa) peringatanku [nadziiri]? [AQ 67.16-17 -> Kalimat ini dapat juga mengindikasikan itu adalah malaikat yang di langit]
    • “Tidak tahukah kamu bagaimana Allah itu? Sungguh, Arsy-Nya ada di atas semua langit-Nya seperti ini -lalu isyarat tangannya beliau mengatakan, ‘Seperti Kubah, dan Arsy itu berteriak dan menyeru kepada Allah seperti tunggangan berteriak kepada pengendara karena berat-.” [Abu dawud no.4101, juga statement Ibnu Taimiyah: “Adapun Al Arsy maka dia berupa kubah sebagaimana diriwayatkan dalam As Sunan karya Abu Daud dari jalan periwayatan Jubair bin Muth’im, dia berkata: “Telah datang menemui Rasulullah SAW seorang A’rab dan berkata: “Wahai Rasulullah jiwa-jiwa telah susah dan keluarga telah kelaparan- dan beliau menyebut hadits- sampai Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah diatas ArsyNya dan ArsyNya diatas langit-langit dan bumi, seperti begini dan memberikan isyarat dengan jari-jemarinya seperti kubah” (Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah 1/252)]
    • Termasuk hadis yang merupakan pernyataan seorang budak wanita (di hadis lain, Ia menyatakan tidak dengan ucapan namun dengan isyarat tangan):

      Riwayat Yahya – Al Hajjaj Ash Shawwaf – Yahya bin Abu Katsir – Hilal bin Abu Maimunah – ‘Atha` bin Yasar – Mu’awiyah bin Al Hakam As Sulami:

      Wahai Rasulullah, terdapat seorang budak wanita yang telah aku pukul dengan keras. Kemudian Rasulullah SAW menganggap hal tersebut sesuatu yang besar terhadap diriku, lalu aku katakan; tidakkah saya memerdekakannya? Beliau berkata: “Bawa dia kepadaku!” Kemudian aku membawanya kepada beliau.

      Beliau bertanya: “Dimanakah Allah?” Budak wanita tersebut berkata; di langit. Beliau berkata: “Siapakah aku?” Budak tersebut berkata; engkau adalah Rasulullah.”Beliau berkata; bebaskan dia! Sesungguhnya ia adalah seorang wanita mukmin.” [Abu Dawud no.2856. Muslim no.836. Abu Dawud no.2857 (Riwayat Ibrahim bin Ya’qub – Yazid bin Harun – Al Mas’udi – ‘Aun bin Abdullah – Abdullah bin ‘Utbah – Abu Hurairah bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dengan membawa seorang budak wanita hitam, kemudian ia berkata; wahai Rasulullah, sesungguhnya saya berkewajiban membebaskan budak mukmin. Kemudian beliau bersabda: “Di manakah Allah?” kemudian ia mengisyaratkan ke langit dengan jari-jarinya. Kemudian beliau berkata kepadanya: “Siapakah aku?” kemudian ia menunjuk kepada Nabi SAW dan ke langit yang maksudnya adalah engkau adalah Rasulullah. Maka beliau berkata: “Bebaskan dia, sesungguhnya ia adalah wanita mukminah.”)]

    Menyatakan bahwa Allah ada di langit TIDAKLAH TEPAT karena hadis juga telah menginformasikan bahkan malaikatpun duduk di atas kursi yang terbentang diantara langit dan bumi, misal:

      Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – ‘Uqail – Ibnu Syihab (riwayat Abdullah bin Muhammad – Abdurrazzaq – Ma’mar – Az Zuhri – Abu Salamah bin Abdurrahman Jabir bin Abdullah:

      Aku mendengar Nabi SAW bersabda menceritakan peristiwa Fatratul Wahyu (Masa-masa kevakuman wahyu): “Ketika aku tengah berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara yang berasal dari langit, maka aku pun mengangkat pandanganku ke arah langit, ternyata di atas terdapat Malaikat yang sebelumnya mendatangiku di gua Hira tengah duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku merasa ketakutan hingga aku jatuh tersungkur ke tanah. Lalu aku pun segera menemui keluargaku seraya berkata, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku.’ Maka keluargaku pun segera menyelimutiku. Akhirnya Allah Ta’ala menurunkan ayat: [AQ 74.1-5]. Yakni sebelum perintah shalat diwajibkan. Ar Rijz adalah berhala. [Bukhari no.4544, 4545, 4543, 3, 2999, 4572, 5746]

    PETA LENGKAPNYA adalah: di atas 7 langit ada laut – di atas laut ada Arsy – dan allah berada di atas Arsy.

      Riwayat [(Muhammad bin Ash Shabbah – Al Walid bin Abu Tsaur) dan (Ahmad bin Abu Suraij – ‘Abdurrahman bin Abdullah bin Sa’d dan Muhammad bin Sa’id – Amru bin Abu Qais) dan (Ahmad bin Hafsh – Bapaknya – Ibrahim bin Thahman)] – Simak – Abdullah bin Amirah – Al Ahnaf bin Qais – Al Abbas bin Abdul Muthallib:

      ..Beliau (SAW) lalu bertanya: “Apakah kalian tahu berapa jarak antara langit dan bumi?” mereka menjawab, “Kami tidak tahu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya jarak antara keduanya adalah bisa 71, atau 72, atau 73 tahun perjalanan -perawi masih ragu-. kemudian langit yang di atasnya juga seperti itu.” Hingga beliau menyebutkan 7 langit. Kemudian setelah langit ke-7 terdapat lautan, jarak antara bawah dan atasnya seperti jarak antara langit dengan langit (yang lain). Kemudian di atasnya terdapat 8 malaikat yang jarak antara telapak kaki dengan lututnya sejauh langit dengan langit yang lainnya. Dan di atas mereka terdapat Arsy, yang antara bagian bawah dengan atasnya sejauh antara langit satu dengan langit yang lainnya. Dan Allah Tabaraka Wa Ta’ala ada di atasnya.” [Abu Dawud no.4100, Tirmidhi no.3242 (hasan gharib). Ibn Majjah no.189]

    Walaupun Arsy Allah ada di atas air yang ada di atas langit ke-7,
    Namun Quran memberikan 3x PENEGASAN FINAL lokasi keberadaan Allah, yaitu: TIDAK di langit namun di Mesjidil Haram:

    • Ke-1: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya..” [AQ 2.144].
    • Ke-2: “Dan dari mana saja kamu, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan”[AQ 2.149].
    • Ke-3: “Dan dari mana saja kamu, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka..” [AQ 2.150]

    Nabi berkata:

    Kenapa orang-orang mengarahkan pandangan mereka ke langit ketika mereka sedang shalat?
    Suara beliau SEMAKIN TINGGI beliau bersabda: “Hendaklah mereka menghentikannya atau Allah benar-benar akan menyambar penglihatan mereka.” [Bukhari no. 708 atau di Muslim 4.862 dari riwayat Jabir bin samura. Atau di Muslim 4.863 riwayat dari Abu huraira, “Orang2 diharuskan menghindari memandang langit di saat sedang sembahyang (See: KBBI. “الصَّلاَةِ” = Al sallata = salat], atau mata mereka akan direnggut”]

  3. Bahwa (Allah-lah yang menciptakan tujuh langit) satu di atas yang lainnya seperti KUBAH, (dan seperti itu pula bumi) tujuh bumi tapi mereka DATAR. [Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs untuk AQ 65.12. Dalil bahwa bumi BUKAN bulatan lihat juga: di sini]
  4. “Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap (saqfan) yang terpelihara,[..]” [AQ 21.32] [Tafsir Ibn Kathir: Artinya, menutupi bumi seperti kubah di atasnya.]

    “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit kanopy/kubah/atap (binaa-an) [AQ 2.22, juga di AQ 40.60, tentang “dan langit kanopy/kubah/atap (binaa-an)]. Tafsir Ibn kathir untuk AQ.2.22,29:

      Bahwa Allah mulai dengan menciptakan BUMI dulu baru kemudian membuat LANGIT menjadi 7 langit. Ini adalah bagaimana bangunan biasanya di mulai, lantai dulu baru kemudian bagian atapnya [Ini juga pendapat Mujahid, Ibn Abbas bahwa bumi diciptakan terlebih dahulu.

    “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya)..[AQ 13.2]. Tafsir Ibn kathir untuk AQ 13.2:

      Berkenaan dengan kalimat (menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan) adalah seperti yang Allah maksudkan di surat 36:38 (dan matahari berjalan di tempat peredarannya) [Ada dua pendapat dan keduanya menyatakan Matahari dan bulan yang bergerak terus menerus]. ‘arsy adalah atap dari ciptaan dan tidak berbentuk BULATAN seperti di klaim banyak astronomer. Lebih seperti KUBAH yang di topang oleh pilar. Ditandu oleh para malaikat dan di atas dunia, di atas kepala-kepala orang. Hadis Nabi dari riwayatkan Abu Dharr:

      Ketika senja [magrib], Nabi bertanya padaku, “Apakah kau tau kemana Matahari itu pergi (saat Magrib)?!

      Aku jawab, “Allah dan rasulnya yang lebih tau.”

      Ia jawab, “Ia berjalan hingga berhenti pada tempatnya di bawah Arsy lalu menyungkur sujud dan mohon ijin untuk terbit kembali, dan diijinkan dan kemudian (waktunya akan tiba) dia minta agar terus saja bersujud namun tidak diperkenankan dan minta izin namun tidak diizinkan dan dikatakan kepadanya: “Kembalilah ke tempat asal kamu datang” dan ia akan terbit dari tempatnya terbenamnya tadi (barat).

      Itulah penafsiran dari sabda Allah “dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (AQ 36:38) [Bukhari: no.2960/4.54.421, no.4428/6.60.327, no.6874/9.93.520 dan no.6881/9.93.528. Juga Muslim: no.228/1.297. Juga di Hadis Qudsi Imam Ahmad no.91 (penguatnya di Abu Dawud 3991, 4002]

      ‘Ada pilar namun tidak dapat kamu lihat’ menurut Ibn `Abbas, Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, dan beberapa lainnya.

      Iyas bin Mu`awiyah, “Langit itu seperti kubah di atas bumi’, artinya tanpa tiang. Serupa seperti Qatadah katakan.

      Ibn Kathir menyatakan bahwa pendapat terakhir [Iyas bin Mu’awiyah] adalah lebih baik mengingat Allah juga menyatakan di ayat lainnya [22:65] yaitu ‘Dia menahan langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya?’

  5. Allah menyampaikan, kisah perjalanan Zulkarnaen dari ufuk timur hingga ufuk barat:
      “Mereka menanyaimu [wayas-aluunaka] tentang Dzulkarnain. Katakanlah Aku bacakan [qul sa-atluu] padamu [ʿalaykum] cerita tentangnya. Sesungguhnya telah diberikannya kekuasaan [makkannaa lahu] di bumi, dan Kami telah berikan [waaataynaahu] dari tiap suatu [min kulli shayin] jalan [sababaan].
      Maka iapun berjalan [fa-atba’a sababaan].
      Hingga [ḥattaa] ketika [idhaa] sampai [balagha] di tempat terbenam [maghriba] matahari [al shamsi], MENDAPATI itu [WAJADAHAA] terbenam [taghrubu] di [fii] mata air yang berlumpur hitam [ayyin hamiatin], dan mendapati [wawajada] DI DEKAT ITU/SEKITAR/SISI [indahaa] segolongan umat [qawman]…
      Hingga ketika sampai ke tempat terbit [mathli’a] matahari [al shamsi], MENDAPATI itu [WAJADAHAA] menyinari [tathlu’u] pada [‘alaa] segolongan umat [qawmin]…
      Hingga ketika sampai [balagha] di antara [bayna] dua gunung [alssaddayni], MENDAPATI [WAJADA] di [min] sebelahnya [duunihimaa] suatu kaum [qawman]..” [AQ 18.83-86, 90, 93]

    Karena Allah sendirilah yang menceritakan perjalanan Zulkarnaen: hingga sampai ke ufuk barat, hingga sampai ke ufuk timur dan hingga sampai di antara dua gunung. Di mana, di setiap area itu, Ia bertemu tiga kaum yang berbeda, maka ini bukanlah sebuah kiasan.

    Tafsir ibn kathir AQ 18.86 menyatakan “Ia menemukan matahari terbenam di laut hitam, bukan KIASAN karena ia menyaksikan sendiri. kata “al hami-ah” di ambil dari salah satu dua arti yaitu dari AQ 15.28, “lumpur hitam” (ini pendapat ibn Abbas). Ali bin abi thalhah “zulkarnaen mendapati matahari terbenam di laut yang panas” (juga pendapat Al Hasan Al basri). Ibn Jarir mengatakan keduanya benar yang mana saja boleh.


Kosmologi bumi dan langit di atas Ikan paus ini benar-benar dapat menjelaskan banyak hal dalam logika berpikir yang islami, diantaranya adalah:

  • Adalah sangat wajar bumi ini didatarkan atau digepengkan seperti martabak dan gunung-gunung dipancang sebagaimana maksud surat:
    • Luqman 31:10, “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu”
    • Al-Anibiya’) 21:31, “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka (tamida bihim**).”
    • Al-Nahl 16:15 “Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu” (tamida bikum**)
    • An Naba’ 6-7, “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? dan gunung-gunung sebagai pasak?”

    Dalam tafsir Ibnu kathir surat 21:30-33,

    (Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh,) artinya, gunung-gunung yang menstabilkan bumi dan menjaganya agar tetap kokoh dan memberikannya berat, jika tidak itu seharusnya goncang bersama orang-orang, misal, bergerak dan bergetar sehingga mereka tidak dapat berdiri tegak di atasnya — karena ini diliputi oleh air, bagian dari 1/4 permukaannya.

    mengapa?

    Adalah demi mencegah daratan ikut-ikutan bergerak-gerak liar dan bahkan dapat berakibat terguling ketika sang ikan bergerak-gerak.

    Ini Sungguh suatu yang sangat cerdas dan brilian, bukan?!

  • Mengapa sangat wajar terjadinya banjir Nuh yang dapat menenggelamkan seluruh dunia hingga puncak tertinggi dunia sebagaimana terekam pada riwayat dibawah ini:

    Ibn Abbas mengatakan, [..]seluruh air menutupi seluruh permukaan bumi hingga akhirnya mengelilingi puncak2 gunung dan bahkan main tinggi melebihnya setinggi 15 hasta. Dikatakan juga bahwa gelombang itu tingginya 80 mil melampaui gunung-gunung. Perahu tersebut terus berlayar dibawah perlindungan Allah…[Tafsir Ibn Kathir untuk surat 11:40-43]

    Mengapa?

    Adalah karena bumi ini ada di atas punggung IKAN! Ikan hidupnya di air sehingga kebutuhan VOLUME AIR yang luarbiasa besar bukanlah menjadi persoalan dan sudah tersedia dengan sangat MELIMPAHnya. Jangankan cuma 80 mil, bahkan 2x dari itupun masih sangat melimpah, bukan?!

    Ini sungguh suatu yang sangat cerdas dan brilian, bukan?!


Sehingga yang sangat perlu di garis bawahi oleh mereka-mereka yang membantah kosmologi Bumi di atas punggung ikan paus ini adalah Para Penulis Tafsir tersebut adalah orang-orang KOMPETEN dalam QURAN, HADIS, SIRAT, BAHASA ARAB. Mereka berpengetahuan sangat luas dalam ISLAM dan BERKEMAMPUAN LEBIH DARI CUKUP untuk sekedar membedakan mana hadis yang PALSU/tidak, DHAIF/tidak ataupun Israliyiat/tidak. Bahkan para Ahli klasik Islam ini TIDAK ADA yang menyatakan bumi di atas punggung ikan gueedeee sebagai kisah palsu, dhaif dan Israiliyiat

Sisanya lihat di sini


Bara di Ruang Waktu..


Ahh!!..barusan Ku liat Kau begitu gilang gemilang..cantik secantik-cantiknya yang Ku perlukan..kecantikan yang sama yang Ku perlukan ketika Kau terbangun di ranjang butut tempat kosku..ketika pertama kalinya Ku tiduri dirimu belasan tahun yang lampau..saat itu Ku pastikan Kau harus menjadi istriku..lekaslah sembuh sayangku..

Dari telepon koin, Ku tanya alamatmu dan Ku katakan Aku akan datang..Di tempat kosmu, seorang membukakan pintu..Mmmh, mahluk cantik lainnya pikirku. Ku perkenalkan diri dan Ku katakan Aku mencari seseorang..Mahluk cantik itu hanya tersenyum..senyum cantik yang menambah bingungku..perlahan nanti Ku sadari bahwa Kau adalah mahluk yang sama yang Ku liat di Rawamangun..di awal perkenalan..namun kali ini Kau jauh lebih cantik..Ahh, beruntungnya Aku..

Setelah puas teman-temanmu mengerjaiku berkenalan dengan memakai nama yang sama, perlahan-lahan Ku ingat bahwa Kaulah orangnya..Ahh, Kau terlebih cantik dari yang Ku ingat. Untunglah Ku berhasil membawamu pergi malam itu dan Ku juga tau bahwa sepulangmu dari Tokyo, jetleg masihlah berkuasa atasmu..Jadi Ku pikir, Bioskop adalah putusan tercerdas saat itu. Rupanya kaupun sependapat, sepanjang menit berikutnya, kau lebih sibuk terlelap dibahuku..

Ku ingat kau terbangun dengan sangat nyamannya di akhir pertunjukan. Kita lanjutkan berjam-jam kemudian dengan nongkrong berbagi cerita..Walau Kau tau Aku masihlah Ca-Peg namun tak Ku lihat hal itu mengusikmu yang 4 taunan lebih dulu di perusahaan kita. Saat itu, entah karena suasana malam ataukah karena geliat hormon lelakiku, yang Ku tau pasti, Kau makin terlihat cantik di tiap menitnya. Di menjelang pagi, Ku bawa Kau pulang..

Tak ingin segera ku sudahi malam itu! Sepanjang perjalanan berikutnya Kau hanya terlelap..Kau tak peduli. Di gerbang kosku, Ku bangunkan dirimu..menunggu reaksimu..Kau tak peduli. Diranjang butut itu, Ku gauli Kau untuk pertama kalinya. Ku saksi atas geliat tubuhmu terbangun dari tidurmu..Kau sungguh Gemilang! Ku tanya dirimu arah mana hendak kau mau..Kau jawab terserahmu. Tidak! jawablah dengan benar dan tetap Kau jawab terserahmu..

Ku khawatir kau tak tau apa mau mu dan belum tersadar akan arah yang hendak kau tempuh! Ku sampaikan bahwa kau bukan yang pertama dan bisa jadi bukan yang terakhir..bahwa Ku pernah menghamili beberapa gadis dan menggugurkannya..bahwa Ku lebih suka Kau di rumah dan hanya Aku yang bekerja berikut ku sampaikan paparan proyeksi keuangan ke depan yang super minus..Jadi bersamaku hidupmu penuh dengan kerikil tajam..Apa putusanmu? kau malah pilih untuk menikahiku..sinting!

Ketegasan sintingmu entah karena emosi ataukah rasio namun yang jelas Akupun tak ingin buang peluangku sendiri! Hidupku mencatat, lebih mudah mengajak wanita ke ranjangnya daripada melepas lajangnya untukku. Persetan jodoh ataupun tidak, segera setelah Kau terbang tugas ke Jeddah dengan tanpa jeda pula Ku pindahkan barang-barangmu ke kosku. Keadaan akan jauh lebih komplek bagi kita untuk menjilat ludah kembali. Sisanya, biar waktu yang akan bercerita.

Aku ingin sekali tahu reaksimu saat melihat barang-barangmu menumpuk di kamar kosku..ternyata Kau bahkan tak peduli. Baguslah! Sepanjang waktu kemudian, sejak Kau menjadi minat utamaku maka tak ada lagi dunia yang lebih menarik selain dirimu. Ya! walaupun Kau bukanlah yang tercantik yang pernah Ku pacari namun entah mengapa tak pernah dapat Ku temukan satu saja hal yang tak menarik darimu. Berkali-kali, Ku yakinkan diriku untuk tidak ikut sinting karenamu

Terlambat! Aku telah larut di pusaran pesonamu. Terlambat yang dahsyat itu kini berumur 14 tahun sudah. Waktu, yang walau telah berusaha mencuri percikan-percikan dirimu namun tetap tak mampu menyembunyikan indahnya guratan pesonamu. Saat tikaman jarum infus dan percikan merah darahmu membasahi lantai tetap tak nampak lintasan kecemasan di wajahmu. Ini sinar gemilang yang sama yang Ku ingat di awal bangun tidurmu..Ayo sayang, saatnya kita pulang..

Relung Sebuah Asa
IRD, Puri Raharja
Desember 11-12, 2010

Gambar berasal dari sini, sini, sini, sini dan sini


Adakah Roh/Jiwa? [PAYASI Sutta, VINA Sutta, VAJIRA sutta, MILANDA PANHA]


Payasi Sutta (DN.23)[1]:
DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Suatu ketika, Yang Mulia Kumāra-Kassapa[2] sedang berkunjung ke Kosala bersama 500 bhikkhu, dan ia menetap di sebuah kota yang disebut Setavyā. Ia menetap di utara Setavyā, di dalam Hutan Siṁsapā. Pada saat itu, Pangeran Pāyāsi[3] menetap di Setavyā, tempat yang ramai, banyak rumput, kayu, air, dan jagung, yang dianugerahkan kepadanya oleh Raja Pasenadi dari Kosala sebagai anugerah kerajaan lengkap dengan kekuasaan kerajaan.

Dan Pangeran Pāyāsi mengembangkan pandangan salah berikut ini:

  • ‘Tak ada alam lain (natthi paro loko),
  • tak ada makhluk-makhluk yang terlahir spontan (natthi sattā opapātikā),
  • tak ada buah atau akibat dari perbuatan baik atau buruk (natthi sukatadukkaṭānaṃ kammānaṃ phalaṃ vipāko).’

Sementara, para Brāhmaṇa dan perumah tangga Setavyā mendengar berita: ‘Petapa Kumāra-Kassapa, seorang siswa Petapa Gotama, sedang berkunjung ke Kosala bersama lima ratus bhikkhu; ia telah tiba di Setavyā dan menetap di utara Setavya, di Hutan Siṁsapā; dan sehubungan dengan Yang Mulia Kassapa, suatu berita baik telah beredar: “Ia terpelajar, berpengalaman, bijaksana, berpengetahuan, pembabar yang baik, mampu memberikan jawaban yang benar, terhormat, seorang Arahant.” Dan adalah baik menemui para Arahant demikian.’ Dan demikianlah para Brāhmaṇa dan perumah tangga Setavyā, meninggalkan Setavyā melalui gerbang utara dalam jumlah besar, menuju Hutan Siṁsapā.

Dan pada saat itu, Pangeran Pāyāsi naik ke teras atas istananya untuk istirahat siang. Melihat para Brāhmaṇa dan perumah tangga berjalan menuju Hutan Siṁsapā, ia bertanya kepada pelayannya mengapa. Sang pelayan berkata: ‘Tuan, ini karena Petapa Kumāra-Kassapa, seorang siswa Petapa Gotama, … dan sehubungannya telah beredar berita baik … itulah sebabnya, mereka pergi menemuinya.’

‘Baiklah, pelayan, engkau pergilah kepada para Brāhmaṇa dan perumah tangga Setavyā itu dan katakan: “Tuan-tuan, Pangeran Pāyāsi berkata: ‘Mohon tunggu, Sang Pangeran akan pergi menemui Petapa Kumāra-Kassapa ini.’” Petapa Kumāra-Kassapa ini telah mengajarkan kepada para Brāhmaṇa dan perumah tangga Setavyā yang dungu ini bahwa ada alam lain, ada makhluk-makhluk yang terlahir spontan, dan bahwa ada buah dan akibat dari perbuatan baik dan buruk. Tetapi sebenarnya tidak ada hal-hal demikian.’

‘Baiklah, Tuan,’ jawab si pelayan, dan menyampaikan pesan itu.

Kemudian Pangeran Pāyāsi, disertai dengan para Brāhmaṇa dan perumah tangga Setavyā, pergi ke Hutan Siṁsapā di mana Yang Mulia Kumāra-Kassapa berada. Setelah saling bertukar sapa dengan Yang Mulia Kumāra Kassapa, ia duduk di satu sisi. Dan beberapa Brāhmaṇa dan perumah tangga memberi hormat kepada Yang Mulia Kumāra-Kassapa dan duduk di satu sisi, sementara beberapa lainnya pertama-tama bertukar sapa dengannya dan kemudian duduk di satu sisi, beberapa memberi hormat kepadanya dengan merangkapkan tangan, beberapa menyebutkan nama dan suku mereka, dan beberapa hanya berdiam diri duduk di satu sisi.

Kemudian Pangeran Pāyāsi berkata kepada Yang Mulia Kumāra-Kassapa: ‘Yang Mulia Kassapa, aku menganut ajaran dan pandangan ini:

  • Tak ada alam lain (natthi paro loko, hanya alam ini saja yang nyata),
  • tak ada makhluk-makhluk yang terlahir spontan (natthi sattā opapātikā, termasuk pengertian tidak ada kelahiran kembali),
  • tak ada buah atau akibat dari perbuatan baik atau buruk (natthi sukatadukkaṭānaṃ kammānaṃ phalaṃ vipāko).

Kumara Kassapa: ‘Pangeran, aku tidak pernah melihat atau mendengar ajaran atau pandangan demikian seperti yang engkau nyatakan. Dan karena itu, Pangeran, aku akan bertanya kepadamu tentang persoalan ini, dan engkau boleh menjawab apa pun yang engkau anggap benar.[4]

Perumpamaan Matahari dan Bulan (Chandimasūriya-upamā)

Kumara Kassapa: Bagaimanakah menurutmu, Pangeran? Adakah matahari dan bulan di dunia ini atau dunia lain, apakah itu dewa-dewa atau manusia? (devā vā te manussā vā)’

Payasi: ‘Yang Mulia Kassapa, semua itu ada di dunia lain, dan itu adalah para dewa, bukan manusia.’[5]

Kumara Kassapa: ‘Demikian juga, Pangeran (Imināpi kho te, rājañña), adalah beralasan (pariyāyena evaṃ hotu): “Ada alam lain, ada makhluk-makhluk yang terlahir spontan, ada buah dan akibat dari perbuatan baik dan buruk.”’

Payasi: ‘Apa pun yang engkau katakan tentang persoalan ini, Yang Mulia Kassapa, aku masih menganggap tidak ada alam lain ….’

Kumara Kassapa: ‘Apakah engkau memiliki alasan atas pernyataan ini?’

Payasi: ‘Aku memiliki alasan, Yang Mulia Kassapa.’

Kumara Kassapa: ‘Apakah itu, Pangeran?’

Payasi: ‘Yang Mulia Kassapa, aku memiliki teman-teman, rekan kerja dan sanak saudara sedarah yang:

  1. menyakiti kehidupan (pāṇātipātī),
  2. mengambil apa yang tidak diberikan (adinnādāyī),
  3. berperilaku salah dalam kenikmatan indria (kāmesumicchācārī),
  4. menyatakan yang tidak benar/berbohong (musāvādī),
  5. ucapan memecah belah/fitnah (pisuṇavācā),
  6. berkata kasar/menghina (pharusavācā)
  7. berucap tidak penting/bergosip (samphappalāpī),
  8. serakah (abhijjhālū),
  9. penuh kebencian/dengki (byāpannacittā) dan
  10. berpandangan salah (micchādiṭṭhī).

Akhirnya mereka jatuh sakit, menderita, diserang penyakit. Dan ketika aku yakin bahwa mereka tidak akan sembuh, aku mendatangi mereka dan berkata: “Ada para petapa dan Brāhmaṇa yang menyatakan dan percaya bahwa mereka yang menyakiti kehidupan, … menganut pandangan salah, setelah kematian saat hancurnya jasmani, akan terlahir di alam sengsara, di tempat buruk, di tempat hukuman, di neraka. Sekarang engkau telah melakukan hal-hal ini, dan jika apa yang dikatakan para petapa dan Brāhmaṇa itu benar, maka ke sanalah kalian akan pergi. Sekarang jika, setelah kematian, kalian pergi ke alam sengsara, … datanglah kepadaku dan katakan bahwa ada alam lain, ada makhluk-makhluk yang terlahir spontan, ada buah dan akibat dari perbuatan baik dan buruk. Kalian, tuan-tuan, bisa dipercaya dan bisa diandalkan, dan apa yang kalian lihat akan menjadi seolah-olah aku melihatnya sendiri, maka demikianlah adanya.” Tetapi meskipun mereka setuju, mereka tidak pernah datang memberitahukan kepadaku, juga tidak mengirim utusan.

Itu, Yang Mulia Kassapa, adalah alasanku mempertahankan: “Tidak ada alam lain, tidak ada makhluk-makhluk yang terlahir spontan, tidak ada buah dan akibat dari perbuatan baik dan buruk.”’

Kumara Kassapa: ‘Sehubungan dengan hal ini, Pangeran, aku akan mengajukan pertanyaan tentang hal ini, dan engkau boleh menjawab apa pun yang engkau anggap benar.

Perumpamaan pencuri (Cora-upamā)

Kumara Kassapa: Bagaimanakah menurutmu, Pangeran? Seandainya mereka membawa seorang maling yang tertangkap basah, dan berkata: “Orang ini, Tuanku, adalah seorang maling yang tertangkap basah. Hukumlah ia seperti yang engkau inginkan.” Dan engkau akan berkata: “Ikat kedua tangannya di belakang dengan tali yang kuat, cukur rambutnya, dan giring ia dengan tabuhan genderang melalui jalan-jalan dan lapangan dan keluar melalui gerbang selatan, dan di sana penggal kepalanya.” Dan mereka, menjawab: “Baik, Tuanku” dan mereka … menggiringnya melalui gerbang selatan, dan di sana memenggal kepalanya. Sekarang, jika maling itu berkata kepada para algojo: “Algojo yang baik, di kota dan desa ini, aku memiliki teman-teman, rekan kerja, sanak saudara sedarah, mohon tunggulah sampai aku mengunjungi mereka semuanya,” apakah ia akan mendapatkan keinginannya? Atau apakah mereka akan langsung memenggal kepala si maling yang banyak bicara itu?’

Payasi: ‘Ia tidak akan mendapatkan apa yang ia inginkan, Yang Mulia Kassapa. Mereka akan langsung memenggal kepalanya.’

Kumara Kassapa: ‘Demikian pula, Pangeran, maling ini bahkan tidak mendapatkan dari algojo manusia agar mereka menunggu sementara ia mengunjungi teman-teman dan sanak-saudaranya. Demikian pula, bagaimana teman-teman, rekan kerja dan sanak saudara sedarahmu yang telah melakukan semua kejahatan ini, setelah kematian dan pergi ke alam sengsara, dapat membujuk penjaga neraka, dengan mengatakan: “Penjaga neraka yang baik, mohon tunggulah sementara kami melaporkan kepada Pangeran Pāyāsi bahwa ada alam lain, ada makhluk-makhluk yang terlahir spontan, ada buah dan akibat dari perbuatan baik dan buruk?” ‘Demikian juga, Pangeran (Imināpi kho te, rājañña), adalah beralasan (pariyāyena evaṃ hotu): ada alam lain,…’

Payasi: ‘Apa pun yang engkau katakan tentang persoalan ini, Yang Mulia Kassapa, aku masih menganggap tidak ada alam lain ….’

Kumara Kassapa: ‘Apakah engkau memiliki alasan atas pernyataan ini?’

Payasi: ‘Aku memiliki alasan, Yang Mulia Kassapa.’

Kumara Kassapa: ‘Apakah itu, Pangeran?’

Payasi: ‘Yang Mulia Kassapa, aku memiliki teman-teman … yang menghindari menyakiti kehidupan; menghindari mengambil apa yang tidak diberikan; menghindari berperilaku salah dalam kenikmatan indria; menghindari menyatakan yang tidak benar/berbohong; menghindari ucapan memecah belah/fitnah; menghindari berkata kasar/menghina; menghindari berucap tidak penting/bergosip; serakah; penuh kebencian/dengki dan; berpandangan benar. Akhirnya mereka jatuh sakit …. Dan ketika aku yakin bahwa mereka tidak akan sembuh, aku mendatangi mereka dan berkata: “Ada para petapa dan Brāhmaṇa yang menyatakan dan percaya bahwa mereka yang menghindari menyakiti kehidupan … menganut pandangan benar, setelah kematian saat hancurnya jasmani, akan terlahir di alam bahagia, di alam surga. Sekarang engkau telah melakukan hal-hal ini, dan jika apa yang dikatakan para petapa dan Brāhmaṇa itu benar, maka ke sanalah kalian akan pergi. Sekarang jika, setelah kematian, kalian pergi ke alam bahagia, alam surga, datanglah kepadaku dan katakan bahwa ada alam lain …. Kalian, Tuan-tuan, bisa dipercaya dan bisa diandalkan, dan apa yang kalian lihat akan menjadi seolah-olah aku melihatnya sendiri, maka demikianlah adanya.” Tetapi meskipun mereka setuju, mereka tidak pernah datang memberitahukan kepadaku, juga tidak mengirim utusan. Itu, Yang Mulia Kassapa, adalah alasanku mempertahankan: “Tidak ada alam lain ….”’

Kumara Kassapa: ‘Pangeran, aku akan memberikan satu perumpamaan, karena beberapa orang bijaksana akan memahami apa yang disampaikan melalui perumpamaan.

Perumpamaan Orang yang terjatuh di Lubang Kotoran (Gūthakūpapurisa-upamā)

Kumara Kassapa: ‘Seandainya ada seseorang yang terjatuh ke dalam lubang kotoran dengan kepala jatuh terlebih dulu, dan engkau mengatakan kepada para pelayanmu: “Angkat orang itu keluar dari lubang itu!” dan mereka menjawab: “Baiklah,” dan melakukan hal itu. Kemudian engkau akan mengatakan kepada mereka agar membersihkan badan orang itu dari kotoran dengan pengerik dari bambu, dan kemudian membersihkan kepalanya dengan pencuci rambut tiga kali dengan pasir kuning. Kemudian engkau mengatakan kepada mereka untuk mengoleskan minyak ke badan orang itu dan kemudian memandikannya tiga kali dengan bubuk sabun yang baik. Kemudian engkau mengatakan kepada mereka untuk mencukur rambut dan janggutnya, dan menghiasnya dengan karangan bunga harum, salep, dan pakaian. Akhirnya engkau mengatakan kepada mereka untuk membawanya ke istanamu dan membiarkan ia menikmati kenikmatan lima indria, dan mereka melakukan semua hal itu. Bagaimana menurutmu, Pangeran? Apakah orang itu, setelah mandi bersih, dengan rambut dan janggut tercukur rapi, dihias dengan karangan bunga, berpakaian putih, dan dibawa ke istana, menikmati dan bergembira dalam kenikmatan lima indria, ingin pergi ke lubang kotoran itu lagi?’

Payasi: ‘Tidak, Yang Mulia Kassapa.’

Kumara Kassapa: ‘Mengapa tidak?’

Payasi: ‘Karena lubang kotoran itu kotor dan dianggap demikian, bau, mengerikan, menjijikkan, dan biasanya dianggap demikian.’

Kumara Kassapa: ‘Demikianlah, Pangeran, manusia adalah kotor, berbau, mengerikan, menjijikkan, dan biasanya dianggap demikian oleh para dewa. Jadi mengapakah teman-temanmu … yang tidak melakukan pelanggaran …, dan yang telah, setelah kematian terlahir kembali di alam bahagia, alam surga, datang kembali dan mengatakan: “Ada alam lain, … ada buah dari perbuatan baik dan buruk?” ‘Demikian juga, Pangeran (Imināpi kho te, rājañña), adalah beralasan (pariyāyena evaṃ hotu): ada alam lain,…’

Payasi: ‘Apa pun yang engkau katakan tentang persoalan ini, Yang Mulia Kassapa, aku masih menganggap tidak ada alam lain ….’

Kumara Kassapa: ‘Apakah engkau memiliki alasan atas pernyataan ini?’

Payasi: ‘Aku memiliki alasan, Yang Mulia Kassapa.’

Kumara Kassapa: ‘Apakah itu, Pangeran?’

Payasi: ‘Yang Mulia Kassapa, aku memiliki teman-teman yang menghindari menyakiti kehidupan … mengucapkan yang tidak benar, mengkonsumsi asupan yang melemahkan kesadaran/perhatian (surāmerayamajjapamādaṭṭhānā). Akhirnya mereka jatuh sakit … “Ada para petapa dan Brāhmaṇa tertentu yang menyatakan dan percaya bahwa mereka yang menghindari menyakiti kehidupan … dan mengkonsumsi asupan yang melemahkan kesadaran/perhatian akan … terlahir di alam bahagia, di alam surga, di tengah-tengah Tiga-Puluh-Tiga Dewa …” Tetapi meskipun mereka setuju, mereka tidak pernah datang memberitahukan kepadaku, juga tidak mengirim utusan. Itu, Yang Mulia Kassapa, adalah alasanku mempertahankan: “Tidak ada alam lain ….”’

Kumara Kassapa:‘Sehubungan dengan hal ini, Pangeran, aku akan mengajukan pertanyaan tentang hal ini, dan engkau boleh menjawab apa pun yang engkau anggap benar.

Perumpamaan Alam 33 Deva (Tāvatiṃsadeva-upamā)
Kumara Kassapa: Yang bagi manusia, Pangeran, 100 tahun (vassa+sata), adalah satu hari satu malam bagi alam 33 Dewa. 30 hari = 1 bulan, 12 bulan = satu tahun, dan umur kehidupan di alam 33 Dewa adalah 1000 tahun (vassa+sahassa) demikian. Sekarang, seandainya mereka berpikir: “Setelah kita menikmati kenikmatan lima indria selama dua atau tiga hari, kita akan mendatangi Pāyāsi dan mengatakan kepadanya bahwa ada alam lain, ada makhluk-makhluk yang terlahir spontan, ada buah dan akibat dari perbuatan baik dan buruk,” apakah mereka dapat melakukan hal itu?’

Payasi: ‘Tidak, Yang Mulia Kassapa, karena kita akan telah lama meninggal dunia. Tetapi, Yang Mulia Kassapa, siapakah yang mengatakan kepadamu bahwa 33 Dewa itu ada, dan bahwa mereka berumur demikian panjang? Aku tidak percaya 33 Dewa itu ada dan berumur begitu panjang.’

Perumpamaan seorang yang buta sejak lahir(Jaccandha-upamā)

Kumara Kassapa: ‘Pangeran, bayangkan seorang yang buta sejak lahir dan tidak dapat melihat objek-objek yang terang atau gelap, atau objek berwarna biru, kuning, merah, atau merah tua, tidak dapat melihat yang kasar dan yang halus, tidak dapat melihat bintang-bintang dan bulan. Ia akan berkata: “Tidak ada objek-objek yang terang dan gelap dan tidak ada yang dapat melihatnya, … tidak ada matahari dan bulan, dan tidak ada yang dapat melihatnya. Aku tidak merasakan objek-objek ini, dan oleh karena itu, objek-objek ini tidak ada.” Apakah ia berkata benar, Pangeran?’

Payasi: ‘Tidak, Yang Mulia Kassapa. Ada objek-objek yang terang dan gelap …, ada matahari dan bulan, dan siapa pun yang mengatakan: “Aku tidak merasakan objek-objek ini, aku tidak dapat melihatnya, dan karena itu, objek-objek itu tidak ada,” pasti tidak berkata benar.”’

Kumara Kassapa: ‘Pangeran, jawabanmu adalah seperti orang buta itu ketika engkau menanyakan bagaimana aku tahu mengenai 33 Dewa dan umur mereka yang panjang. Pangeran, alam lain tidak dapat dilihat dengan cara yang engkau pikirkan, dengan mata fisik. Pangeran, para petapa dan Brāhmaṇa yang mencari di hutan-hutan belantara dan mengasingkan diri ke dalam hutan sebagai tempat istirahat yang tenang, dengan sedikit kebisingan – mereka hidup tanpa merasa lelah, tekun, terkendali, memurnikan mata-dewa (Ye kho te rājañña samaṇabrāhmaṇā araññavanapatthāni pantāni senāsanāni paṭisevanti, te tattha appamattā ātāpino pahitattā viharantā dibbacakkhuṃ visodhenti) dan dengan mata-dewa itu yang melampaui penglihatan manusia, mereka melihat alam ini dan alam lain, dan makhluk-makhluk yang terlahir spontan (Te dibbena cakkhunā visuddhena atikkantamānusakena imaṃ ceva lokaṃ passanti parañca satte ca opapātike). Itu, Pangeran, adalah bagaimana alam lain dapat dilihat, dan bukan seperti yang engkau pikirkan dengan mata fisik. ‘Demikian juga, Pangeran (Imināpi kho te, rājañña), adalah beralasan (pariyāyena evaṃ hotu): ada alam lain,…’

Payasi:‘Apa pun yang engkau katakan tentang persoalan ini, Yang Mulia Kassapa, aku masih menganggap tidak ada alam lain ….’

Kumara Kassapa: ‘Apakah engkau memiliki alasan atas pernyataan ini?’

Payasi: ‘Aku memiliki alasan, Yang Mulia Kassapa.’

Kumara Kassapa: ‘Apakah itu, Pangeran?’

Payasi: ‘Yang Mulia Kassapa, aku melihat beberapa petapa dan Brāhmaṇa yang melaksanakan moralitas dan berperilaku baik, yang ingin hidup, tidak ingin mati, yang menginginkan kenyamanan dan membenci penderitaan. Dan aku menyadari bahwa jika para petapa dan Brāhmaṇa baik ini mengetahui bahwa setelah kematian mereka akan menjadi lebih bahagia, maka orang-orang baik ini sebaiknya mengambil racun, mengambil pisau dan bunuh diri, gantung diri, atau melompat ke jurang. Tetapi meskipun mereka memiliki pengetahuan itu, mereka tetap ingin hidup, tidak ingin mati, menginginkan kenyamanan dan membenci penderitaan. Dan itu, Yang Mulia Kassapa, adalah alasanku mempertahankan: “Tidak ada alam lain ….”’

Kumara Kassapa: ‘Pangeran, aku akan memberikan satu perumpamaan, karena beberapa orang bijaksana akan memahami apa yang disampaikan melalui perumpamaan.

Perumpamaan Perempuan hamil (Gabbhini-upamā)

Kumara Kassapa: ‘Suatu ketika, Pangeran, seorang Brāhmaṇa memiliki dua istri. Salah satunya memiliki seorang putra berusia 10 atau 12 tahun, sementara yang lainnya dalam keadaan hamil dan menjelang melahirkan saat Sang Brāhmaṇa meninggal dunia. Kemudian anak muda itu berkata kepada ibu tirinya: “Nyonya, apa pun kekayaan yang ada, perak atau emas, semuanya milikku. Ayahku telah menunjukku sebagai pewarisnya.” Dan sang nyonya Brāhmaṇa itu berkata kepada si anak muda: “Tunggulah, anak muda, sampai aku melahirkan. Jika anak ini laki-laki, maka sebagian adalah miliknya, dan jika perempuan, maka ia akan menjadi pelayanmu.” Anak muda itu mengulangi kata-katanya untuk ke dua kali, dan menerima jawaban yang sama. Ketika ia mengulangi untuk ke tiga kalinya, sang nyonya mengambil pisau, dan masuk ke ruang dalam, membelah perutnya, berpikir: “Seandainya aku tahu apakah anak ini laki-laki atau perempuan!” Dan demikianlah ia menghancurkan dirinya sendiri dan janinnya, dan kekayaannya juga, bagaikan si dungu yang mencari warisannya dengan tidak bijaksana, tidak menyadari bahaya tersembunyi.’

‘Demikianlah engkau, Pangeran, bagaikan si dungu memasuki bahaya tersembunyi dengan cara tidak bijaksana mencari alam lain, seperti si nyonya Brāhmaṇa yang mencari warisannya. Tetapi, Pangeran, para petapa dan Brāhmaṇa yang melaksanakan moralitas dan berperilaku baik tidak mencari cara untuk mempercepat kematangan apa yang belum matang, tetapi dengan bijaksana menunggu kematangannya. Kehidupan adalah menguntungkan bagi para petapa dan Brāhmaṇa itu, karena semakin lama para petapa dan Brāhmaṇa bermoral dan berperilaku baik itu hidup, semakin besar jasa yang mereka hasilkan; mereka berlatih demi kesejahteraan banyak makhluk, demi kebahagiaan banyak makhluk, demi belas kasihan terhadap dunia, demi keuntungan dan manfaat para dewa dan manusia. ‘Demikian juga, Pangeran (Imināpi kho te, rājañña), adalah beralasan (pariyāyena evaṃ hotu): ada alam lain,…’

Payasi: ‘Apa pun yang engkau katakan tentang persoalan ini, Yang Mulia Kassapa, aku masih menganggap tidak ada alam lain ….’

Kumara Kassapa: ‘Apakah engkau memiliki alasan atas pernyataan ini?’

Payasi: ‘Aku memiliki alasan, Yang Mulia Kassapa.’

Kumara Kassapa: ‘Apakah itu, Pangeran?’

Payasi: ‘Yang Mulia Kassapa, ambil kasus yang mana mereka membawa seorang maling ke hadapanku, tertangkap basah dan berkata: “Ini, Tuanku, adalah maling yang tertangkap basah, hukumlah dia sesuai keinginanmu.” Dan aku berkata: “bawa orang ini dan masukkan ke dalam tabung. Tutup mulutnya dengan kulit basah, oleskan dengan lapisan tanah basah, masukkan ke dalam tungku dan nyalakan api.” Dan mereka melakukan hal itu. Ketika dipastikan bahwa orang itu telah mati, kami membuka tabung, memecahkan lapisan tanah, membuka mulutnya, dan melihat dengan saksama: “Mungkin kita dapat melihat jiwanya [jivam] keluar.” Tetapi kami tidak melihat jiwa apa pun yang keluar[6], dan itulah mengapa, Yang Mulia Kassapa, aku percaya tidak ada alam lain …’

Kumara Kassapa: ‘Sehubungan dengan hal ini, Pangeran, aku akan mengajukan pertanyaan tentang hal ini, dan engkau boleh menjawab apa pun yang engkau anggap benar.

Perumpamaan mimpi (Supinaka-upamā)
Kumara Kassapa: ‘Apakah engkau mengakui bahwa ketika engkau naik untuk beristirahat siang, engkau melihat pemandangan-pemandangan menyenangkan, taman-taman, hutan, desa-desa yang indah, dan kolam-kolam teratai?’

Payasi: ‘Ya, Yang Mulia Kassapa.’

Kumara Kassapa: ‘Dan pada saat itu, apakah engkau dilihat oleh orang-orang bungkuk, orang-orang pendek, gadis-gadis muda, dan para perawan?’

Payasi: ‘Ya, Yang Mulia Kassapa.’

Kumara Kassapa: ‘Dan apakah mereka melihat jiwamu masuk dan keluar dari tubuhmu?’

Payasi: ‘Tidak, Yang Mulia Kassapa.’

Kumara Kassapa: ‘Jadi, mereka tidak melihat jiwamu masuk dan keluar dari tubuhmu bahkan selagi engkau masih hidup. Karena itu, bagaimana engkau dapat melihat jiwa dari orang yang telah mati masuk dan keluar dari tubuhnya?[6] ‘Demikian juga, Pangeran (Imināpi kho te, rājañña), adalah beralasan (pariyāyena evaṃ hotu): ada alam lain,…’

Payasi: ‘Apa pun yang engkau katakan tentang persoalan ini, Yang Mulia Kassapa, aku masih menganggap tidak ada alam lain ….’

Kumara Kassapa: ‘Apakah engkau memiliki alasan atas pernyataan ini?’

Payasi: ‘Aku memiliki alasan, Yang Mulia Kassapa.’

Kumara Kassapa: ‘Apakah itu, Pangeran?’

Payasi: ‘Yang Mulia Kassapa, ambil kasus yang mana mereka membawa seorang maling ke hadapanku … dan aku berkata: “Timbang orang ini dalam keadaan hidup, kemudian cekik dia, dan timbang lagi.” Dan mereka melakukan hal itu. Sewaktu ia masih hidup, ia lebih ringan, lebih lunak, dan lebih lentur, tetapi ketika ia telah mati, ia lebih berat, lebih kaku, dan tidak lentur[7]. Dan itu, Yang Mulia Kassapa, adalah alasanku mempertahankan bahwa tidak ada alam lain ….’

Perumpamaan Bola Besi Yang Dipanaskan (Santatta-ayoguna-upamā)

Kumara Kassapa: ‘Pangeran, aku akan memberikan sebuah perumpamaan ….Seandainya seseorang menimbang sebuah bola besi yang telah dipanaskan sepanjang hari, membara, terbakar hebat, bersinar. Dan seandainya setelah beberapa saat, ketika telah menjadi dingin dan padam, ia menimbangnya lagi. Pada saat yang manakah bola besi itu lebih ringan, lunak, dan lebih lentur: saat panas, terbakar, bersinar, atau saat dingin dan padam?’

Payasi: ‘Yang Mulia, saat bola besi itu panas, terbakar, dan bersinar, ada unsur Tejo (Panas/Gelombang partikel/Umur/Habis/Api) dan Vayo (Tekanan/Getar/Gerak/Udara/Angin), maka bola besi itu lebih ringan, lebih lunak dan lebih lentur[8]. Ketika tanpa unsur-unsur ini? Bola besi itu menjadi dingin dan padam.’

Kumara Kassapa: ‘Maka, Pangeran, sama dengan jasmani ini. Ketika masih memiliki unsur kehidupan (Ayu), panas (Usma), dan kesadaran (Vinnana), maka jasmani ini lebih ringan, lebih lunak, dan lebih lentur. Tetapi ketika dipisahkan dari unsur kehidupan, panas dan kesadaran, jasmani ini menjadi lebih berat, lebih kaku, dan lebih tidak lentur[7]. ‘Demikian juga, Pangeran (Imināpi kho te, rājañña), adalah beralasan (pariyāyena evaṃ hotu): ada alam lain,…’

Payasi: ‘Apa pun yang engkau katakan tentang persoalan ini, Yang Mulia Kassapa, aku masih menganggap tidak ada alam lain ….’

Kumara Kassapa: ‘Apakah engkau memiliki alasan atas pernyataan ini?’

Payasi: ‘Aku memiliki alasan, Yang Mulia Kassapa.’

Kumara Kassapa: ‘Apakah itu, Pangeran?’

Payasi: ‘Yang Mulia Kassapa, ambil kasus yang mana mereka membawa seorang maling ke hadapanku … dan aku berkata: “Bunuh orang ini tanpa melukai kulit luar, kulit dalam, daging, urat, tulang atau sumsum”, dan mereka melakukan hal itu. Ketika ia hampir mati, aku berkata: “Sekarang baringkan orang ini menghadap ke atas, dan mungkin kita dapat melihat jiwanya keluar.” Mereka melakukan hal itu, tetapi kami tidak melihat jiwanya keluar. Kemudian aku berkata: Balikkan ia dengan wajahnya di bawah, … ke samping, … ke arah sebaliknya, … berdirikan, … berdirikan dengan kepala di bawah, pukul dia dengan tinjumu, … lempar dia dengan batu, … pukul dengan tongkat, … tusuk dengan pedang, … guncang dia begini dan begitu, dan mungkin kita dapat melihat jiwanya keluar.” Dan mereka melakukan semua hal ini, tetapi walaupun ia mempunyai mata, ia tidak melihat objek-objek atau landasannya, walaupun ia mempunyai telinga, ia tidak mendengar suara-suara …, walaupun ia mempunyai hidung, ia tidak mencium bau-bauan …, walaupun ia mempunyai lidah, ia tidak merasakan kecapan …, walaupun ia mempunyai badan, ia tidak merasakan sentuhan objek-objek atau sekelilingnya. Dan itulah mengapa, Yang Mulia Kassapa, aku percaya tidak ada alam lain ….’

Perumpamaan Peniup Terompet (Saṇkhadhama-upamā)
Kumara Kassapa: ‘Pangeran, aku akan memberikan sebuah perumpamaan …. Suatu ketika, ada seorang peniup trompet yang membawa trompetnya dan pergi ke perbatasan. Sesampainya di sebuah desa, ia berdiri di tengah desa, meniup trompetnya tiga kali dan kemudian, meletakkan trompet itu di atas tanah, dan duduk di satu sisi. Kemudian, Pangeran, para penduduk perbatasan berpikir: “Dari manakah suara itu datang, begitu indah, begitu merdu, begitu memabukkan, begitu merangsang, begitu memikat?” Mereka bertanya kepada si peniup trompet mengenai hal ini. “Teman-teman, suara indah itu berasal dari trompet ini.” Maka kemudian, mereka meletakkan trompet itu dan berteriak: “Bicaralah, tuan trompet, bicaralah!” Tetapi trompet itu tidak bersuara. Kemudian mereka membalikkannya menghadap ke bawah … ke samping, … ke arah sebaliknya, … memberdirikannya, … memberdirikan dengan kepala di bawah, … memukul dengan tinju mereka, … melemparnya dengan batu, … memukulnya dengan tongkat, … menusuknya dengan pedang, … mengguncangnya begini dan begitu, dan mereka berteriak: “Bicaralah, tuan trompet, bicaralah!” Tetapi trompet itu tidak bersuara. Si peniup trompet berpikir: “Betapa dungunya para penduduk perbatasan ini! Betapa bodohnya mereka mencari suara dari trompet ini!” Dan selagi mereka memerhatikan, ia mengambil trompet itu, meniupnya tiga kali dan pergi. Dan para penduduk perbatasan itu berpikir: “Sepertinya ketika trompet itu disertai oleh seseorang, dengan usaha dan dengan angin, maka ia akan bersuara. Tetapi ketika tidak disertai oleh seseorang, dengan usaha dan dengan angin, maka ia tidak bersuara.”’

‘Demikian pula, Pangeran, ketika jasmani ini memiliki kehidupan, panas dan kesadaran, maka jasmani ini berjalan ke sana kemari, berdiri dan duduk, dan berbaring, melihat objek-objek dengan matanya, mendengar suara-suara dengan telinganya, mencium bau-bauan dengan hidungnya, mengecap rasa dengan lidahnya, merasakan sentuhan dengan badannya, dan mengenali objek-objek pikiran dengan pikirannya. Tetapi ketika tidak memiliki kehidupan, panas atau kesadaran, maka tidak ada hal-hal ini. ‘Demikian juga, Pangeran (Imināpi kho te, rājañña), adalah beralasan (pariyāyena evaṃ hotu): ada alam lain,…’

Payasi: ‘Apa pun yang engkau katakan tentang persoalan ini, Yang Mulia Kassapa, aku masih menganggap tidak ada alam lain ….’

Kumara Kassapa: ‘Apakah engkau memiliki alasan atas pernyataan ini?’

Payasi: ‘Aku memiliki alasan, Yang Mulia Kassapa.’

Kumara Kassapa: ‘Apakah itu, Pangeran?’

Payasi: ‘Yang Mulia Kassapa, ambil kasus yang mana mereka membawa seorang maling ke hadapanku … dan aku berkata: “Kuliti kulit luar orang ini, dan mungkin kita dapat melihat jiwanya keluar.” Kemudian aku berkata kepada mereka agar menguliti kulit dalamnya, dagingnya, uratnya, tulang, sumsum … tetapi kami tetap tidak melihat jiwanya keluar, dan itulah mengapa, Yang Mulia Kassapa, aku percaya tidak ada alam lain ….’

Perumpamaan Pemuja Api (Aggikajila-upamā)

Kumara Kassapa: ‘Pangeran, aku akan memberikan sebuah perumpamaan …. Suatu ketika, ada seorang pemuja api berambut kusut yang tinggal di hutan, di gubuk daun. Dan sekelompok suku sedang melakukan perjalanan, dan pemimpinnya menetap selama satu malam di dekat tempat tinggal si pemuja api, dan kemudian pergi. Maka si pemuja api berpikir untuk pergi ke tempat itu untuk mencari sesuatu yang dapat ia gunakan. Ia bangun pagi dan pergi ke tempat itu, dan di sana ia melihat seorang bayi laki-laki kecil dan lembut terbaring. Melihat pemandangan itu, ia berpikir: “Tidaklah benar jika aku melihat dan membiarkan manusia mati. Lebih baik aku membawa anak ini ke pertapaanku, merawatnya, memberinya makan dan membesarkannya.” Maka ia melakukan hal itu. Ketika anak itu berusia 10 atau 12 tahun, petapa itu harus pergi ke desa untuk suatu urusan.

Maka ia berkata kepada anak itu: “Aku akan pergi ke desa, anakku. Engkau jagalah api ini dan jangan sampai padam. Jika hampir padam, ini kapak, ini beberapa tongkat, ini beberapa kayu api, agar engkau dapat menyalakan kembali api ini dan menjaganya.” Setelah memberikan instruksi kepada anak itu, si petapa pergi ke desa. Namun anak itu, tenggelam dalam permainannya, membiarkan api itu padam. Kemudian ia berpikir: “Ayah berkata: ‘ … ini kapak … agar engkau dapat menyalakan kembali api ini dan menjaganya.’ Sekarang aku sebaiknya berbuat demikian!”

Maka ia membelah kayu-api itu menggunakan kapak, berpikir: “Aku harap aku akan mendapatkan api dengan cara ini.” Tetapi ia tidak mendapatkan api. Ia memotong kayu api itu menjadi dua, menjadi tiga, menjadi empat, sepuluh, seratus potong, membuatnya menjadi serpihan, ia menumbuknya menjadi bubuk, menampinya di angin, berpikir: “Aku harap aku akan mendapatkan api dengan cara ini.” Tetapi ia tidak mendapatkan api, dan ketika si petapa pulang, setelah menyelesaikan urusannya, ia berkata: “Anakku, mengapa engkau membiarkan api itu padam?” dan anak itu memberitahukan apa yang telah terjadi. Petapa itu berpikir: “Betapa dungunya anak ini, betapa bodohnya! Cara yang tidak masuk akal untuk mendapatkan api!” Maka, selagi anak itu memerhatikan, ia mengambil kayu-api, dan menyalakan kembali api itu, berkata: “Anakku, beginilah cara untuk menyalakan kembali api, bukan cara dungu, bodoh, dan tidak masuk akal seperti yang engkau lakukan!”’

‘Demikian pula, Pangeran, engkau mencari-cari alam lain secara dungu, bodoh dan tidak logis. Pangeran, lepaskanlah pandangan salahmu itu, lepaskanlah! Jangan biarkan pandangan itu menyebabkan kemalangan dan penderitaan bagimu untuk waktu yang lama!’

Payasi: ‘Walaupun engkau mengatakan hal ini, Yang Mulia Kassapa, aku tetap tidak dapat melepaskan pandangan salah ini. Raja Pasenadi dari Kosala mengetahui pendapatku, dan demikian pula raja-raja di luar negeri. Jika aku melepaskan pandangan ini, mereka akan berkata: “Betapa dungunya Pangeran Pāyāsi, betapa bodohnya ia mencengkeram pandangan salah!” Aku akan mempertahankan pandangan ini meskipun mendapatkan kemarahan, hinaan dan siksaan.’

Perumpamaan para pemimpin Caravan (Dvesatthavāha-upamā)

Kumara Kassapa: ‘Pangeran, aku akan memberikan sebuah perumpamaan …. Suatu ketika, Pangeran, ada sekelompok besar pedagang terdiri dari 1000 kereta sedang melakukan perjalanan dari timur ke barat. Dan ke mana pun mereka pergi, mereka dengan cepat menghabiskan semua rumput, kayu, dan tumbuh-tumbuhan. Kelompok ini memiliki dua pemimpin, masing-masing bertanggung jawab atas 500 kereta. Dan mereka berpikir: “Ini adalah kelompok besar terdiri dari 1000 kereta. Ke mana pun kami pergi, kami menghabiskan semua perbekalan. Mungkin sebaiknya kami membagi kelompok ini menjadi dua, masing-masing lima ratus”, dan mereka melakukannya.

Kemudian salah satu pemimpin itu mengumpulkan cukup rumput, kayu dan air, dan berangkat. Setelah 2 atau 3 hari perjalanan, ia melihat seorang berkulit gelap dan bermata merah datang ke arahnya membawa kantung anak panah dan rangkaian bunga lili, dengan baju dan rambutnya basah, mengendarai kereta keledai yang rodanya berlumpur. Melihat orang itu, si pemimpin berkata, “Dari manakah engkau, Tuan?” “Dari sana.” “Dan ke manakah tujuanmu?” “Ke sana.” “Apakah telah turun hujan deras di hutan di depan sana?” “Oh ya, Tuan, telah turun hujan deras di hutan di depan kalian, jalan dibanjiri air dan ada banyak rumput, kayu dan air, buanglah rumput, kayu dan air yang kalian bawa, Tuan! Kalian akan berjalan lebih cepat dengan kereta bermuatan ringan, jangan melelahkan sapi-sapi penarik kalian!”

Pemimpin kelompok itu memberitahu para kusir apa yang dikatakan orang itu: “Buang semua rumput, kayu dan air ….” dan mereka melakukannya. Tetapi di tempat perhentian pertama, mereka tidak menemukan rumput, kayu dan air, juga tidak di tempat ke dua, ke tiga, ke empat, ke lima, ke enam, atau ke tujuh. Dan mereka semuanya, manusia dan sapi dilahap oleh yakkha (Semacam Mahluk dari alam Deva, ada yang baik dan tidak),dan hanya tulang-belulang mereka yang tersisa.’

‘Dan ketika pemimpin kelompok kedua yakin bahwa kelompok pertama telah pergi cukup jauh, ia mengumpulkan cukup rumput, kayu dan air. Setelah 2 atau 3 hari perjalanan, ia melihat seorang berkulit gelap dan bermata merah datang ke arahnya … yang menyarankan kepadanya untuk membuang perbekalan rumput, kayu dan air. Kemudian si pemimpin berkata kepada para kusir: “Orang ini memberitahukan agar kita membuang rumput, kayu dan air yang kita miliki. Tetapi dia bukan teman atau saudara kita, jadi mengapa kita harus memercayainya? Jadi, jangan buang rumput, kayu dan air yang kita miliki; biarkan kelompok ini melanjutkan perjalanan dengan barang-barang yang telah kita bawa, dan jangan membuangnya!”

Para kusir setuju dan melakukan sesuai perintah. Dan di tempat perhentian pertama, mereka tidak menemukan rumput, kayu dan air, juga tidak di tempat ke-2, ke-3, ke-4, ke-5, ke-6 atau ke-7, tetapi di sana mereka melihat puing-puing dari kelompok pertama, dan mereka melihat tulang-belulang dari manusia dan sapi yang telah dilahap oleh yakkha. Kemudian pemimpin kelompok itu berkata kepada para kusir: “Kelompok itu mengalami kehancuran karena kebodohan pemimpinnya. Jadi sekarang, mari kita meninggalkan barang-barang kita yang kurang berharga, dan mengambil barang-barang yang lebih berharga dari kelompok itu.” Dan mereka melakukan hal itu. Dan dengan pemimpin yang bijaksana itu, mereka melewati hutan itu dengan selamat.’

‘Demikian pula engkau, Pangeran, akan mengalami kehancuran jika engkau secara dungu dan tidak bijaksana mencari alam lain dengan cara yang salah. Mereka yang berpikir bahwa mereka dapat memercayai segala sesuatu yang mereka dengar akan mengalami kehancuran seperti kelompok pedagang itu. Pangeran, lepaskanlah pandangan salahmu itu, lepaskanlah! Jangan biarkan pandangan itu menyebabkan kemalangan dan penderitaan bagimu untuk waktu yang lama!’

Payasi: ‘Walaupun engkau mengatakan hal ini, Yang Mulia Kassapa, aku tetap tidak dapat melepaskan pandangan salah ini …. Jika aku melepaskan pandangan ini, mereka akan berkata: “Betapa dungunya Pangeran Pāyāsi ….”’

Perumpamaan Pengumpul kotoran (Gthabhrika-upamā)

Kumara Kassapa: ‘Pangeran, aku akan memberikan sebuah perumpamaan .. Suatu ketika, ada seorang peternak babi yang pergi dari desanya ke desa lain. Di sana ia melihat tumpukan kotoran kering yang dibuang, dan ia berpikir: “Ada banyak kotoran yang dibuang, itu dapat menjadi makanan babi-babiku. Aku akan mengambilnya. Dan ia menghamparkan jubahnya, mengumpulkan kotoran, membungkusnya dan memikulnya di atas kepalanya, dan pergi. Namun dalam perjalanan pulang itu, turun hujan deras yang bukan pada musimnya, dan ia melanjutkan perjalanannya dengan kotoran mengalir, menetes hingga ke ujung jarinya, dan ia masih tetap membawa beban kotoran itu. Mereka yang melihatnya berkata: “Engkau pasti gila! Mengapa engkau bepergian membawa beban kotoran yang mengalir dan menetes hingga ke ujung jarimu?” “Engkaulah yang gila! Ini adalah makanan untuk babi-babiku.” Pangeran, engkau berbicara seperti si pembawa kotoran dalam perumpamaanku itu. Pangeran, lepaskanlah pandangan salahmu itu, lepaskanlah! Jangan biarkan pandangan itu menyebabkan kemalangan dan penderitaan bagimu untuk waktu yang lama!’

Payasi: ‘Walaupun engkau mengatakan hal ini, Yang Mulia Kassapa, aku tetap tidak dapat melepaskan pandangan salah ini …. Jika aku melepaskan pandangan ini, mereka akan berkata: “Betapa dungunya Pangeran Pāyāsi ….”’

Perumpamaan Penjudi (Akkadhuttaka-upamā)

Kumara Kassapa: ‘Pangeran, aku akan memberikan sebuah perumpamaan …. Suatu ketika, ada dua orang penjudi yang menggunakan kacang sebagai dadu. Salah satu dari mereka, saat kalah, menelan dadu kacang itu. Yang lain melihat apa yang ia lakukan, dan berkata: “Baiklah, Temanku, engkau adalah pemenangnya! Berikan dadu itu dan aku akan memberikan persembahan.” “Baiklah,” jawab yang pertama, dan memberikan dadu itu kepadanya. Kemudian yang lain mengisi dadu itu dengan racun, dan kemudian berkata: “Mari, ayo bermain!” yang lain setuju, mereka bermain lagi, dan sekali lagi salah satu pemain itu, saat kalah, menelan dadu itu. Orang ke dua melihatnya melakukan hal itu, dan mengucapkan syair berikut:

Dadu telah dilumuri dengan zat yang membakar, Walaupun yang menelan tidak mengetahuinya. Menelan, menipu, dan menelan dengan baik – Pahitnya terasa seperti neraka!

Pangeran, engkau berbicara seperti penjudi dalam perumpamaanku itu. Pangeran, lepaskanlah pandangan salahmu itu, lepaskanlah! Jangan biarkan pandangan itu menyebabkan kemalangan dan penderitaan bagimu untuk waktu yang lama!’

Payasi: ‘Walaupun engkau mengatakan hal ini, Yang Mulia Kassapa, aku tetap tidak dapat melepaskan pandangan salah ini …. Jika aku melepaskan pandangan ini, mereka akan berkata: “Betapa dungunya Pangeran Pāyāsi ….”’

Perumpamaan Pengumpul Rami (Sāṇabhāruka-upamā)

Kumara Kassapa: ‘Pangeran, aku akan memberikan sebuah perumpamaan …. Suatu ketika, beberapa penduduk dari suatu daerah pergi merantau. Dan seseorang berkata kepada temannya: “Ayo, mari kita pergi ke desa itu, kita mungkin menemukan sesuatu yang berharga!” temannya setuju, maka mereka pergi ke daerah itu, dan sampai ke jalan desa. Dan di sana mereka melihat tumpukan rami yang telah dibuang, dan salah seorang berkata: “Ini adalah tumpukan rami. Engkau buat seikat, aku buat seikat, dan kita berdua akan membawanya.” Yang lainnya setuju, dan mereka melakukan hal itu. Kemudian, mereka sampai ke jalan desa yang lain, mereka menemukan tumpukan benang rami, dan salah satu dari mereka berkata: “Tumpukan benang rami ini adalah apa yang kita butuhkan dari rami ini. Mari kita buang rami yang kita bawa, dan kita melanjutkan perjalanan dengan membawa beban benang rami ini.” “Aku telah membawa rami ini menempuh perjalanan yang jauh dan rami ini sudah terikat dengan baik. Ini cukup buatku – engkau lakukanlah apa yang engkau suka!” Maka temannya membuang rami itu dan mengambil benang rami.’

‘“Sampai di jalan desa lainnya, mereka menemukan beberapa kain rami, dan salah seorang dari mereka berkata: “Tumpukan kain rami ini adalah apa yang kita butuhkan dari rami atau benang rami ini. Engkau buanglah beban rami itu dan aku akan membuang beban benang rami ini, dan kita melanjutkan perjalanan dengan membawa beban kain rami ini.” Tetapi yang lainnya menjawab seperti sebelumnya, maka temannya membuang benang rami itu dan mengambil kain rami. Di desa lainnya, mereka melihat tumpukan batang linen …, di desa lain, benang linen …, di desa lain, kain linen …, di desa lain, kapas …, di desa lain, benang katun …, di desa lain, kain katun …, di desa lain, besi …, di desa lain, tembaga …, di desa lain, timah …, di desa lain, timah hitam …, di desa lain, perak …, di desa lain, emas. Kemudian salah seorang berkata: “Tumpukan emas ini adalah apa yang kita butuhkan dari rami, benang rami, kain rami, batang linen, benang linen, kain linen, kapas, benang katun, kain katun, besi, timah, timah hitam, perak ini. Engkau buanglah beban rami itu dan aku akan membuang beban perak ini, dan kita melanjutkan perjalanan dengan membawa beban emas ini.” “Aku telah membawa rami ini menempuh perjalanan yang jauh dan rami ini sudah terikat dengan baik. Ini cukup buatku – engkau lakukanlah apa yang engkau suka!” Maka temannya membuang beban perak itu dan mengambil emas.’

‘Kemudian mereka pulang ke desa mereka. Dan di sana, ia yang membawa beban rami tidak memberikan kesenangan kepada orang tua, istri dan anak-anaknya, dan ia bahkan tidak mendapatkan kesenangan atau kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Tetapi ia yang pulang membawa emas memberikan kesenangan bagi orang tua, istri dan anak-anaknya, teman dan rekan-rekannya, dan ia mendapatkan kegembiraan dan kebahagiaan untuk dirinya sendiri juga.’

‘Pangeran, engkau berbicara seperti si pembawa rami dalam perumpamaanku. Pangeran, lepaskanlah pandangan salahmu itu, lepaskanlah! Jangan biarkan pandangan itu menyebabkan kemalangan dan penderitaan bagimu untuk waktu yang lama!’

Payasi: ‘Aku senang dan gembira dengan perumpamaan pertama dari Yang Mulia Kassapa, dan aku ingin mendengarkan jawaban cerdasnya atas pertanyaan-pertanyaan, karena aku merasa bahwa ia adalah seorang lawan bicara yang berharga. Sungguh indah, Yang Mulia Kassapa, sungguh menakjubkan! Bagaikan seseorang yang menegakkan apa yang terjatuh, atau menunjukkan jalan bagi ia yang tersesat, atau menyalakan pelita di dalam gelap, sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat apa yang ada di sana. Demikian pula Yang Mulia Kassapa telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara. Dan aku, Yang Mulia Kassapa, berlindung kepada Sang Bhagavā, Dhamma, dan Sangha. Sudilah Yang Mulia Kassapa menerimaku sejak hari ini sebagai seorang siswa awam sampai akhir hidupku! Dan, Yang Mulia Kassapa, aku ingin menyelenggarakan pengorbanan besar. Nasihatilah aku, Yang Mulia Kassapa, bagaimana melakukan hal ini demi manfaat dan kebahagiaanku untuk waktu yang lama.’

Kumara Kassapa: ‘Pangeran, jika pengorbanan dilakukan dengan menyembelih sapi, kambing, unggas, atau babi, atau berbagai makhluk dibunuh, dan para pesertanya memiliki pandangan salah, pikiran salah, ucapan salah, perbuatan salah, penghidupan salah, usaha salah, perhatian salah, dan konsentrasi salah, maka pengorbanan itu tidak akan menghasilkan buah atau manfaat, tidak cemerlang dan tidak bersinar. Bagaikan, Pangeran, seorang petani pergi ke hutan membawa bajak dan benih, dan di sana, di tanah tanpa humus yang belum diolah yang mana tunggul-tunggul belum dicabut, ia menanam benih yang telah rusak, layu, hancur terkena angin dan panas, basi, dan tidak ditanam dengan baik di tanah, dan dewa hujan tidak menurunkan hujan pada waktunya – akankah benih ini bertunas, tumbuh dan berkembang, dan akankah petani itu mendapatkan panen yang berlimpah?’

Payasi: ‘Tidak, Yang Mulia Kassapa.’

Kumara Kassapa: ‘Pangeran, sama halnya dengan pengorbanan yang dilakukan dengan menyembelih sapi, … dan para pesertanya memiliki pandangan salah, …, konsentrasi salah. Tetapi jika tidak ada makhluk yang dibunuh dan para pesertanya memiliki pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar, maka pengorbanan itu akan menghasilkan buah dan manfaat besar, cemerlang dan bersinar. Bagaikan, Pangeran, seorang petani pergi ke hutan membawa bajak dan benih, dan di sana, di tanah berhumus yang telah diolah yang mana tunggul-tunggul telah dicabut, ia menanam benih yang tidak rusak, layu, hancur terkena angin dan panas, basi, dan ditanam dengan baik di tanah, dan dewa hujan menurunkan hujan pada waktunya – akankah benih ini bertunas, tumbuh dan berkembang, dan akankah petani itu mendapatkan panen yang berlimpah?’

Payasi: ‘Ia akan mendapatkannya, Yang Mulia Kassapa.’

Kumara Kassapa: ‘Demikian pula, Pangeran, pada pengorbanan di mana tidak ada sapi yang disembelih, … dan para pesertanya memiliki pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar, maka pengorbanan itu akan menghasilkan buah dan manfaat besar, cemerlang dan bersinar.’

Kemudian Pangeran Pāyāsi memberikan persembahan kepada para petapa dan Brāhmaṇa, para pengemis dan kaum miskin. Dan di sana makanan yang diberikan adalah dari beras berkualitas rendah dengan bubur yang asam, dan juga pakaian kasar berlubang-lubang. Dan seorang Brāhmaṇa muda bernama Uttara bertanggung jawab dalam hal pembagian persembahan. Merujuk pada hal ini, ia berkata: ‘Melalui persembahan ini, aku bergabung dengan Pangeran Pāyāsi di dunia ini, tetapi tidak di dunia berikutnya.’
Dan Pangeran Pāyāsi mendengar kata-katanya, maka ia memanggilnya dan bertanya apakah ia memang mengatakan hal itu. ’

Brāhmaṇa muda Uttara: ‘Ya, Tuanku.’

Payasi: ‘Tetapi mengapa engkau mengatakan hal itu, Sahabat Uttara? Tidakkah kita yang ingin memperoleh jasa mengharapkan imbalan atas persembahan kita?’

Brāhmaṇa muda Uttara: ‘Tetapi, Tuanku, makanan yang engkau berikan – beras kualitas rendah dengan bubur asam – engkau tidak akan sudi menyentuhnya dengan kakimu, apalagi memakannya! Dan pakaian kasar berlubang-lubang – engkau tidak akan sudi menginjakkan kakimu di atasnya, apalagi memakainya! Tuanku, engkau baik dan lembut kepada kami, jadi bagaimana kami dapat menggabungkan kebaikan dan kelembutan dengan keburukan dan kekasaran?’

Payasi: ‘Baiklah, Uttara, engkau aturlah persembahan makanan seperti yang kumakan dan pakaian seperti yang kupakai.’

Brāhmaṇa muda Uttara: ‘Baiklah, Tuanku,’ jawab Uttara, dan ia melakukan hal itu.

Dan Pangeran Pāyāsi, karena ia telah menyelenggarakan persembahan dengan enggan, tidak dengan kedua tangannya, dan tanpa perhatian yang selayaknya, seperti membuang sesuatu, setelah kematiannya, saat hancurnya jasmani, terlahir kembali di tengah-tengah Empat Raja Dewa, di dalam istana kosong Serīsaka. Tetapi Uttara yang telah menyelenggarakan persembahan tidak dengan enggan, dengan kedua tangannya, dan dengan perhatian yang selayaknya, tidak seperti membuang sesuatu, setelah kematiannya, saat hancurnya jasmani, terlahir kembali di alam bahagia, di alam surga, di tengah-tengah Tiga-Puluh-Tiga Dewa.

Pada saat itu, Yang Mulia Gavampati biasa mengunjungi istana kosong Serīsaka untuk beristirahat siang. Dan Dewa Pāyāsi menjumpai Yang Mulia Gavampati, memberi hormat kepadanya, dan berdiri di satu sisi. Dan Yang Mulia Gavampati berkata kepadanya, selagi ia berdiri di sana: ‘Siapakah engkau, teman?’

Payasi: ‘Yang Mulia, aku adalah Pangeran Pāyāsi.’

Yang Mulia Gavampati: ‘Teman, bukankah engkau adalah orang yang mengatakan: “Tidak ada alam lain, tidak ada makhluk-makhluk yang terlahir spontan, tidak ada buah atau akibat dari perbuatan baik atau buruk”?’

Payasi: ‘Ya, Yang Mulia, aku adalah orang yang mengatakan hal itu, tetapi aku telah berubah dari pandangan salah itu oleh Yang Mulia Kumāra-Kassapa.’

Yang Mulia Gavampati: ‘Dan di manakah Brāhmaṇa muda Uttara yang bertanggung jawab dalam pembagian persembahanmu itu, terlahir kembali?’

Payasi: ‘Yang Mulia, ia yang memberikan persembahan dengan tidak merasa enggan … terlahir kembali di antara Tiga-Puluh-Tiga Dewa, tetapi, aku, yang memberikan dengan enggan, … terlahir kembali di sini di istana Serīsaka yang kosong. Yang Mulia, mohon, saat engkau kembali ke bumi, katakan kepada orang-orang untuk memberi tanpa enggan … dan beritahukan mereka tentang bagaimana Pangeran Pāyāsi dan Brāhmaṇa muda Uttara terlahir kembali.’

Dan demikianlah Yang Mulia Gavampati, setelah kembali ke bumi, menyatakan: ‘Engkau harus memberi tanpa enggan, dengan kedua tanganmu sendiri, dengan perhatian yang selayaknya, tidak dengan sembrono. Pangeran Pāyāsi tidak melakukan hal ini, dan setelah meninggal dunia, saat hancurnya jasmani, ia terlahir kembali di tengah-tengah Empat Raja Dewa di dalam istana Serīsaka yang kosong, sedangkan pelaksana persembahannya, Brāhmaṇa muda Uttara, yang memberi tanpa enggan, dengan kedua tangannya, dengan perhatian yang selayaknya dan tidak dengan sembrono, terlahir kembali di tengah-tengah Tiga-Puluh-Tiga Dewa.’
——————-

Note:
[1] DN = Digha Nikaya (Digha = Panjang; Nikaya = Kumpulan. Sinonim Nikaya = Agama dalam Sanskrit). DN 23 satu dari sutta-sutta dalam Tipitaka-Pali, kumpulan Sabda Sang Buddha dan para Arahat lainnya. Untuk versi aliran jainnya juga ada yaitu Rajaprasniya [Upangga] dari aliran Shvethambara, kisah ini menggambarkan dialog murid Parsva yaitu Kesi menjelaskan pada raja Pardesi. Pada kitab Jain ini tergambar seni yang ada di jaman Kusana [paruh kedua abad ke 2 s/d 3 Masehi].

Terjemahan di atas (Maurice O’Connell Walshe) ditranslasi ke bahasa Indonesia oleh Dhammacitta, beberapa kata/kalimat terjemahan saya ubah sendiri (saya lampirkan asli palinya dalam kurung. Untuk Sutta dalam pali, lihat di sini). Pengumpulan dan penyatuan Sutta-sutta Buddha lamanya 50 tahun setelah wafatnya Sang Buddha. Kapan sutta ini di babarkan, silakan lihat di catatan kaki no.2 [↑]

[2] Ibu YM Kumara Kassapa adalah putri seorang kaya (seth) dari Rajagaha, yang berniat menjadi Bhikkhuni namun tidak mendapatkan ijin orang tuanya dan dinikahkan. Setelah menikah, Ia meminta ijin suami untuk menjadi Bhikkhuni dan diijinkan. Ibu YM Kumara Kassapa diantar suaminya kekumpulan bhikkhu (sangha) pimpinan Devadatta, di Rajagaha dan ditahbiskan di sana. Ketika itu, ia tidak tahu jika dirinya tengah hamil, lama setelahnya kehamilannya diketahui rekan sesama Bhikkuni, mereka melaporkan ini ke Devadatta yang kemudian memutuskan bahwa Ia tidak lagi bhikkhuni dan juga di usir.

Bhikkhuni muda ini kemudian meminta diantar ke vihara Jetavana (Savatthi, perjalanan sejauh 45 uojana) untuk menetap di sana. Permasalahan ini kemudian dilaporkan ke sang Buddha. Walaupun Sang Buddha tahu kehamilan Bhikkhuni ini terjadi saat menjadi umat awam, namun untuk mencegah kontroversi dan gunjingan lanjutan, beliau mengundang Raja Pasenadi dari Kosala, Anathapindika, Visakha dan lainnya.

Dihadapan mereka, Sang Buddha menunjuk YM Upali untuk menyidik dan mengambil keputusan mengenai ini. Visakha dan para perempuan Savatthi menyelidiki kapan mulainya kehamilan Bhikkhuni ini dan hasilnya diketahui bahwa ini terjadi sebelum Ia ditahbiskan. Hasil ini dilaporkan ke YM Upali dan diputuskan bahwa tidak ada aturan parajika yang dilanggar Bhikkhuni ini dan Ia dinyatakan tidak bersalah.

    note:
    Penahbisan bhikkuni menggunakan aturan AtthaGarudhamma (8 Aturan penting), yaitu pada aturan no.6, “selagi menjalani masa percobaan, ia telah berlatih dalam 6 sila selama 2 tahun, maka ia harus memohon penahbisan dari kedua Saṅgha. Peraturan ini juga harus dihormati … seumur hidupnya.”. Jika syarat aturan “menjalankan 6 sila selama 2 tahun” dipatuhi sangha pimpinan Devadatta, maka TIDAK AKAN terjadi salah putusan yang berakibat pengusiran ini, bukan?. Di jaman Sang Buddha, yaitu setelah penetapan Atthagarudhamma, terjadi 3x pelanggaran aturan menjalankan 6 sila sebelum penahbisan, yang karena inilah maka muncul aturan pacittiya Bhikkhuni no.63, 66 dan 72

Ketika anak itu lahir raja Pasenadi dari Kosala memeliharannya, Ia diberi nama: Kassapa. Pada usia 7 tahun dikirim ke vihara ditahbiskan menjadi SAMANERA dan ketika ia membawa hidangan kecil seperti buah kepada Sang Buddha, Ia mendapat tambahan nama kumara, sejak itu disebut Kumara Kassapa. Arti kata kumara adalah anak atau pangeran.

Kumara Kassapa diupasampada (ditahbiskan jadi Bhikkhu) pada usia 20 tahun, umur dihitung sejak di kandungan ibunya. [rincian lain, lihat: J. i.148 (No.12: Nigrodhamiga-Jataka), Penanganan Upali terhadap kasus ini memenangkan pujian khusus Sang Buddha, lihat, misalnya, AA. i.172. Juga di “Riwayat Agung Para Buddha”, Mingun Sayadaw, buku ke-3, cetakan ke-1, May 2008, hal 2699-2710)]

Vammikka Sutta disampaikan ketika Kumāra Kassapa bermeditasi di Andhavana (Selatan Savatthi). Seorang Brahma deva alam Sudhavasa yang telah mencapai Anagami, salah satu dari 5 temannya di jaman Buddha Kassapa. [Pukkusāti/Anagami, Bahiya Dārucīriya/Arahat, Dabba Mallaputta/di tahbiskan jadi bhikkhu umur 7 tahun dan jadi Arahat di saat rambutnya di cukur dan Sabhiya/Arahat. Sang Brahmadeva Anagami ini dahulunya bernama Anuthera], hadir dihadapannya dan menanyakan 15 pertanyaan yang hanya seorang Buddha dapat menjawabnya dan disampaikan kepada Sang Buddha. Inilah kemudian menjadi Vammika sutta. Saat itu ia adalah seorang Bhikkhu dan di sutta tersebut ia disebut Yang Mulia. Panggilan ini mencirikan bahwa saat itu beliau telah mencapai kesucian. Kitab komentar Angutara menyatakan pada saat sutta ini dibabarkan ia masih seorang sekha; ia mencapai Kearahatan dengan menggunakan sutta ini sebagai subyek meditasinya.

Terdapat dua pendapat mengenai KEJADIAN pertemuan antara Payasi dan YM Kumara kassapa:

  • Dhammapala, Komentator abad ke-5 Masehi, di Vimana Vathu hal.297 menyampaikan bahwa kotbah ini disampaikan setelah wafatnya sang Buddha dan pendirian stupa relik sang Buddha.
  • Komentar Anguttara (i.159) abad ke-5 Masehi, oleh Buddhaghosa, Menyatakan Sang Buddha memberinya gelar cittakathikānam (trampil dalam menyampaikan pembicaraan) yang dikaitkan dengan pembicaraan Kumara kassapa dengan Pāyāsi, dalam Pāyāsi sutta (Dictionary of Pāli Proper Names karangan Malasekara menyatakan Komentator Anguttara ini keliru menyatakan demikian).

Payasi Sutta menceritakan mangkatnya Payasi yang terlahir kembali di alam Catumaharajika dan juga mangkatnya Brahmin muda Uttara di alam Tavamtisa. Ketika YM Gavampati sedang beristirahat di alam Catumaharajika, Deva muda Payasi datang menghampirinya, memberi hormat, berbincang dengan beliau dan memohon pada YM Gavampati untuk menyampaikan pada manusia bagaimana Pangeran Pāyāsi dan Brāhmaṇa muda Uttara terlahir kembali. Permohonan Payasi dipenuhi YM Gavampati ketika beliau kembali ke alam Manusia.

YM Gavampati wafat sebelum berlangsungnya konsili ke-1 (di selenggarakan 3 bulan setelah wafatnya sang Buddha).

Di UPOSATHA SUTTA disebutkan bahwa 1 hari di alam TAVATIMSA = 100 tahun di alam Manusia; 1 hari di alam CATUMAHARAJIKA = 50 tahun tahun di alam manusia, Sehingga jika dihitung kurang lebih hasilanya menjadi seperti ini:

1 detik di alam tavatimsa = 10 JAM di alam manusia
1 detik di alam catumaharajika = 5 jam di alam manusia
I jam alam Tavatimsa = 4 tahunan di alam manusia
1 jam alam Catumaharajika = 2 tahunan di alam manusia

Dari keterangan-keterangan di atas, kita coba susun reka kronologis penyampaian Payasi sutta:
Sangha Bhikkhuni terbentuk di atas tahun ke-20/21. Ibu Kumara kassapa menjadi bhikkhuni adalah di atas tahun ke-20/21. Kumara kassapa ditahbiskan menjadi bhikkhu di usia 20 (tahun ke-41 masa Kebuddhaan Gotama). Vammika sutta dibabarkan setelah Ia menjadi Bhikkhu, masih Sekkha namun belum Arahat. Dengan objek dari Vammika sutta, Ia menjadi Arahat dan kemudian di satu waktu, Ia di beri gelar cittakathikānam oleh Sang Buddha. Sang Buddha wafat di tahun ke-45 dan 3 bulan kemudian diadakan konsili ke-1 yang tidak dihadiri oleh YM Gavampati. Lebih dari 2 tahun sebelum wafatnya sang Buddha, YM Kumara Kassapa bertemu dengan Payasi. Sebelum wafatnya sang Buddha, Payasi dan Brahmin Uttara wafat.

Reka ulang di atas ini tampaknya mendukung pendapat dari kitab komentarnya Buddhaghosa. [↑]

[3] Payasi tinggal di Setavyā (dekat Ukkattha), sebuah tempat/area/kota di kerajaan Kosala. Raja Kosala, Pasenadi memberikan kota ini kepada payasi. Terdapat 3 hutan bernama Simsapa, yaitu di Alavi, Kosambi (Simsapa sutta) dan di area Utara Kosala (payasi Sutta) tempat ia bertemu Kumara kasappa adalah bukan tempat Sisampa sutta di sampaikan. Payasi di gelari Rajanna, dapat diartikan pangeran atau pengelola daerah (ajjhāvasati). [↑]

[4] Pernyataan Kumara Kassapa “engkau boleh menjawab apa pun yang engkau anggap benar” yang terus muncul setelah pertanyaannya menunjukan bahwa beliau ini benar-benar telah mempersiapkan jawabannya dan telah mengantisipasi jawaban Payasi. [↑]

[5] Ada dua konteks kemungkinan dalam perumpamaan yang diberikan ini:
Konteks ke-1: Deva berasal dari kata div yang berarti sinar/cahaya, nyata diketahui indriya siapapun, sedangkan manussa berasal dari kata mana yang berarti pikiran/pandangan/dugaan/khayalan, produk pikiran, yang tidak dapat diketahui orang lain) sehingga kKalimat ini dapat diartikan nyata vs khayalan. Ketika Payasi dengan pengetahuannya menyatakan Matahari dan bulan terdapat di dunia ini dan dunia lainnya, maka menanggapi jawaban Payasi, Kumara Kassapa menegaskan bahwa patut pula dipertimbangkan adanya…
Konteks ke-2: Di jaman itu mempunyai anggapan bahwa Bulan dan Matahari adalah Deva atau kendaraan deva atau tempat Deva. maka menanggapi jawaban dari Payasi, Kumara Kassapa menegaskan bahwa patut pula dipertimbangkan adanya… [↑]

[6] Pernyataan Payasi dengan eksperimentnya untuk membuktikan ada/tidaknya jiwa VS jawaban dari Kumara Kassapa mempunyai sudut pandang yang berlainan.

Pernyataan payasi,
memberikan argument dari pembuktian empiris yang membantah pandangan umum saat itu mengenai adanya jiwa,

Jawaban Kumara Kassapa,
melalui perumpamaan tidurnya, TIDAK memberikan DUKUNGAN maupun BANTAHAN terhadap eksperiman payasi dan juga pandangan umum adanya JIWA. Fokus dari Kumara Kassapa berfokus adalah memberikan fakta sederhana pada Payasi yaitu bahkan ketika payasi masih hiduppun, payasi tidak punya kualifikasi untuk dapat melihat sesuatu yang tidak tampak.

PENOLAKAN pada pandangan umum adanya jiwa, YM Kumara sampaikan di perumpamaan berikutnya yaitu bola besi membara. Kumara Kassapa menjelaskan mengenai bauran unsur dan tidak ada inti.

Buddhism tidak memegang pandangan adanya Jiwa/roh di dalam makluk hidup:

    Cuplikan VINA SUTTA, Samyutta Nikaya 35.205/246:

    [..] Misalkan ada seorang raja atau menteri kerajaan yang belum pernah mendengar suara musik kecapi. Kemudian pada suatu hari ia mendengarkannya dan berkata,”Orang baik beritahukanlah kepadaku , suara apakah itu, yang begitu mempesona, begitu menyenangkan, begitu memabukkan, begitu menggairahkan, dengan kekuatan yang begitu mengikat?”

    Lalu mereka berkata kepadanya,”Paduka, itu adalah suara musik kecapi.”

    Maka ia berkata,”Pergilah, bawakan aku kecapi itu!”

    Lalu mereka membawakan kecapi itu kepadanya tetapi ia berkata,”Cukup sudah dengan kecapi ini. Bawakan saja aku musiknya!”

    Mereka lalu berujar,”Paduka, kecapi ini terdiri dari berbagai dan banyak bagian: perut, kulit, tangkai, kerangka, senar, kuda-kuda, dan upaya pemain. Dan kecapi itu bersuara karena mereka. Kecapi itu bersuara karena banyak bagian”.

    Lalu raja tersebut memecahkan kecapi itu menjadi ratusan bagian, memecah dan memecahnya lagi, membakarnya, menaruh abunya dalam sebuah timbunan, dan menampinya dalam sebuah tong atau mencucinya dengan air agar dapat menemukan suara musiknya.

    Setelah melakukan hal ini, ia berkata, “Kecapi merupakan benda yang sungguh jelek; apapun gerangan sebuah kecapi itu, dunia telah terbawa sesat oleh benda itu”.

    Demikian pula, seseorang menyelidiki JASMANI sejauh berlangsungnya JASMANI, menyelidiki PERASAAN…, menyelidiki PERSEPSI…, menyelidiki BENTUK-BENTUK KEHENDAK…, menyelidiki KESADARAN sejauh berlangsungnya KESADARAN. Ketika Ia menyelidiki JASMANI sejauh berlangsungnya JASMANI,.., menyelidiki KESADARAN sejauh berlangsungnya KESADARAN, maka ‘aku’ (ahanti) atau ‘milikku’ (mamanti) atau ‘diriku’ (asmīt) yang muncul dalam dirinya, tidak lagi ada”.




    Cuplikan Vajira Sutta, Samyuta Nikaya 5.10:

    [Di Sāvatthi, Mara si penggoda mendatangi Bhikkhunī Vajirā dan berkata]
    Siapa pembuat ‘makhluk’? (Kenāyaṃ pakato satto)
    Dimanakah si pencipta ‘makhluk’? (kuvaṃ sattassa kārako)
    Dimanakah ‘makhluk’ muncul? (Kuvaṃ satto samuppanno)
    Dimanakah ‘makhluk’ lenyap? (kuvaṃ satto nirujjhatī)

    Bhikkhunī Vajirā:
    Apa (sesosok) ‘makhluk’? (Kiṃ nu sattoti paccesi)
    Māra pandangan ini usang (māra diṭṭhigataṃ nu te)
    Ini hanyalah kumpulan perpaduan (Suddhasaṅkhārapuñjoyaṃ)

    Tidak ada di sini ‘makhluk’ (nayidha sattupalabbhati)

    Sebagaimana rangkaian bagian (Yathā hi aṅgasambhārā)

    Itu disebut sebagai ‘kereta’ (hoti saddo ratho iti)
    Demikianlah kelompok (kehidupan) yang ada (Evaṃ khandhesu santesu)
    Secara umum disepakati sebagai ‘makhluk’ (hoti sattoti sammuti)

    Dukkhalah yang muncul (Dukkhameva hi sambhoti),
    Dukkhalah yang berlangsung dan lenyap (dukkhaṃ tiṭṭhati veti ca)
    Tiada lain dukkhalah yang muncul (Nāññatra dukkhā sambhoti)
    Tiada lain dukkhalah yang lenyap (nāññaṃ dukkhā nirujjhatī)

    note:
    Mara pāpimā, kerap di terjemahkan Mara ‘the evil one’ dan diterjemahkan ke Indonesia Mara “si jahat”. Saya ubah menjadi Mara si penggoda dengan alasan arti Papima diterjemahkan malicious [jahat, dendam, dengki]. Kata ini sulit di artikan dan bisa jadi berasal dari kata papma mrtyuh [Salah satu brahmana (penjelasan utk Veda), lihat cat kaki no.2 atau di sini]. Kemudian, papau [no.523], di mana penterjemahan beberapa kata selalu berhubungan dengan “mabuk”. Ia berasal dari kata “papa” [Misery (kesengsaraan), calamity (kesusahan); ketidakberuntungan, dll]. Poinnya adalah Mara selalu berusaha menyeret mahluk menuju kelahiran kembali sehingga menurut saya, lebih tepat diterjemahkan sebagai si penggoda.




    Cuplikan Milanda Panha, bab I

    Milinda Pañha merupakan buku Pali yang ditulis kira-kira pada Abad Pertama Sebelum Masehi. Raja Milinda, seorang raja Bactria [Afganistan Utara] yang memerintah di tenggara India, menemui seorang bhikkhu pandai yang bernama Nagasena. Raja Milinda melontarkan sejumlah pertanyaan mengenai filsafat, psikologi dan etika Buddhisme.

    [..]

    Raja Milinda pergi menemui Bhikkhu Nagasena. Setelah saling mengucapkan salam persahabatan secara sopan, raja duduk dengan hormat di satu sisi. Milinda mulai bertanya:

    “Apa sebutan Yang Mulia dan siapakah nama Anda?”

    “Baginda, saya disebut Nagasena. Namun itu hanyalah rujukan dalam penggunaan umum, karena sebenarnya tidak ada individu permanen yang dapat ditemukan.”

    Mendengar itu, Milinda mengundang orang-orang Yunani Bactria serta para bhikkhu untuk menjadi saksi: “Nagasena ini berkata bahwa tidak ada individu permanen yang tersirat di dalam namanya. Mungkinkah hal seperti itu diterima?”

    Kemudian dia berbalik kepada Nagasena dan berkata, “Yang Mulia Nagasena, jika hal tersebut benar, lalu siapakah yang memberi Anda jubah, makanan dan tempat tinggal? Siapakah yang menjalani kehidupan dengan benar? Atau juga, siapakah yang membunuh makhluk hidup, mencuri, berzinah, berbohong dan mabuk-mabukan? Jika apa yang Anda katakan itu benar, maka tidak ada perbuatan yang bajik atau perbuatan yang tercela, tidak ada pelaku kebajikan atau pelaku kejahatan, dan tidak ada hasil karma. Yang Mulia, seandainya saja seseorang membunuh Anda, maka tidak akan ada pembunuh. Dan itu juga berarti tidak ada master atau guru di dalam Sangha anda [sangha = kumpulan para Bikkhu]. Anda katakan bahwa Anda disebut Nagasena. Nah, apa itu Nagasena? Apakah rambutnya?”

    “Saya tidak mengatakan demikian, raja yang agung.”

    “Kalau begitu, apakah kukunya, giginya, kulitnya atau bagian tubuh lainnya?”

    “Tentu saja tidak.”

    “Atau apakah tubuhnya, atau perasaannya, atau pencerapannya, atau bentuk-bentuk pikirannya, atau kesadarannya?1 Ataukah gabungan dari itu semua? Ataukah sesuatu di luar semua itu yang disebut Nagasena?”

    Masih saja Nagasena menjawab: “Bukan semuanya itu.”

    “Kalau begitu, dapat dikatakan bahwa aku tidak dapat menemukan Nagasena itu. Nagasena hanyalah omong kosong. Lalu siapakah yang kami lihat di depan mata ini? Yang Mulia telah berdusta.”

    “Baginda, tuan telah dibesarkan di dalam kemewahan sejak dilahirkan. Bagaimana tadi baginda datang kemari, berjalan kaki atau naik kereta?”

    “Naik kereta, Yang Mulia.”

    “Kalau begitu, tolong jelaskan apakah kereta itu? Apakah porosnya? Apakah rodanya, atau sasisnya, atau kendalinya, atau kuknya, yang disebut kereta? Ataukah gabungan dari itu semua, ataukah sesuatu di luar semua itu?”

    “Bukan semuanya itu, Yang Mulia.”

    “Kalau begitu, baginda, kereta ini hanyalah omong kosong. Baginda berdusta ketika berkata datang kemari naik kereta. Baginda adalah raja yang besar di India. Siapa yang baginda takuti sehingga baginda berdusta?”

    Kemudian Nagasena memanggil orang-orang Yunani Bactria dan para bhikkhu untuk menjadi saksi: “Raja Milinda ini telah berkata bahwa beliau datang kemari naik kereta, tetapi ketika ditanya, ‘Apakah kereta itu?’ beliau tidak dapat menunjukkannya. Dapatkah hal ini diterima?”

    Maka secara serempak ke-500 orang Yunani Bactria itu berteriak bersama-sama kepada raja, “Jawablah bila baginda bisa!”

    “Yang Mulia, aku telah berkata benar. Karena mempunyai semua bagian itulah maka ia disebut kereta.”

    “Bagus sekali. Baginda akhirnya dapat menangkap artinya dengan benar. Demikian pula, karena adanya tiga puluh dua jenis materi organik2 di dalam tubuh manusia beserta lima unsur makhluklah maka saya disebut Nagasena. Seperti yang telah dikatakan oleh Bhikkhuni Vajira di hadapan Sang Buddha yang Agung, ‘Seperti halnya karena memiliki berbagai bagian itu maka kata ‘kereta’ digunakan, demikian juga bila ada unsur-unsur makhluk maka kata ‘makhluk’ digunakan.'”3

    “Sangat indah Nagasena, sungguh luar biasa teka-teki ini telah Anda pecahkan, meskipun sulit. Seandainya Sang Buddha berada di sini pun Beliau pasti akan menyetujui jawaban Anda.”

    [..]

    Penolakan Nagasena bahwa roh (jiwa] ada di dalam pernafasan.
    Penolakan ini diungkapkan oleh beliau kepada seorang menteri utusan Raja Milinda yang bernama Anantakâya. “Siapa sih gerangan Nâgasena itu,” tanya Anantakâya untuk memancing perdebatan.

    Nâgasena Thera tidak menjawab pertanyaan ini secara langsung, tetapi justru balik bertanya: “Dalam pengertian Anda, siapakah Nâgasena itu?”

    Mulailah Anantakâya menyajikan pandangan sesatnya, “Roh, pernafasan masuk dan keluar, itulah yang saya maksud sebagai Nâgasena.”

    Nâgasena bertanya lebih lanjut: “Bagaimana seandainya nafas yang keluar dari tubuh tidak masuk kembali; apakah orang itu akan mati atau masih hidup?”

    Anantakâya menjawab, “Jika nafas yang keluar dari tubuh tidak masuk kembali, orang itu niscaya akan mati.”

    Nâgasena Thera menyanggah pendapat ini dengan membuat suatu perumpamaan yang gamblang: “Para peniup sangkalala atau terompet –yang sewaktu meniup sangkalala atau terompet, nafas yang terhembuskan tidak masuk kembali ke dalam tubuh–; mengapa mereka tidak mati?”

    Anantakâya berdiam diri karena tidak mampu menjawab pertanyaan ini. Nâgasena Thera kemudian mewejangkan:

    “Tidak ada roh dalam pernafasan. Nafas keluar dan nafas masuk semata-mata hanyalah salah satu bagian dari kegiatan jasmaniah (kâyasaõkhâra). Pernafasan adalah unsur udara (vâyodhâtu) yang menghidupi tubuh jasmaniah; bukan kehidupan itu sendiri. Kehidupan itu terdiri atas lima kelompok, yakni: materi/bentuk, perasaan, ingatan, corak-corak batiniah, dan kesadaran. Pernafasan hanyalah salah satu bagian dari materi/bentuk (rûpa).”

Jadi, mahluk hidup menurut Buddhism adalah Panca khanda atau Nama/rupa.

  • Pancakhanda (Vinnana(Kesadaran), Vedana (perasaan), Sanna (persepsi, ingatan, sumber, gagasan), Sankhara (bentukan-bentukan), Rupa (Materi).
  • Nama rupa (Vedana, Sanna, Cetana (kehendak), Phasa (kontak), Manosikaro (bentuk pikiran) dan Rupa).

Vinnana yang tidak disebutkan dalam nama rupa ada di phassa (kontak).

Dengan 6 Indriya [mata, telinga,.., pikiran] dan objek-objeknya [bentukan, suara,.., (ingatan, sumber, persepsi, gagasan)] sebagai kondisi, muncul kesadaran [mata, teling,..]. Pertemuan ketiganya disebut Kontak.
-> [juga dapat seperti ini: “MentalMateri mengondisikan kesadaran dan kesadaran mengondisikan MentalMateri, MentalMateri mengondisikan kontak” [DN 15/Mahānidāna Sutta];

Dengan kontak sebagai kondisi, muncul perasaan[vedana];
-> [perasaan itu ada 3: Dukkha, Sukkha, a-dukkham a-sukkam; atau dengan kata lain: SUKACITA [somanassaṭṭhāniyaṁ], DUKACITA [domanassaṭṭhāniyaṁ], NETRAL [upekkhaṭṭhāniyaṁ]; ato kata lain lagi: menyenangkan [manāpaṃ], tidak menyenangkan [amanāpaṃ], menyenangkan dan tidak menyenangkan [manāpāmanāpaṃ] -> masing-masing dari 3 perasaan dibagi menjadi 2 lagi yaitu perasaan: “tertentu” dan “yang lain” (MN.70/Kīṭāgiri Sutta] maksudnya perasaan-perasan yang menambah kusala = “yang lain”; yang menambah akusala = “tertentu”. Penangan pada muncul perasaan-perasan jenis “yang lain” ->‘Masuk dan berdiamlah dalam perasaan itu’, jika muncul perasaan jenis “tertentu” -> ‘Tinggalkan perasaan itu’]

Apa yang dirasakan, itulah yang dikenali [sañjānāti];
Apa yang dikenali, itulah yang dipikirkan [vitakketi];
Apa yang dipikirkan, itulah yang dikembangbiakkan [papañceti] pikiran;
Dengan apa yang dikembangbiakkan dipikirannya sebagai: sumber, persepsi dan gagasan [papañca-saññā-saṅkhā], melanda seseorang melalui objek-objek [bentukan, suara,..] masa: lalu, sekarang dan depan yang dikenali 6 Indriya [mata, telinga,.., pikiran]. [MN 18/Madhupiṇḍikasutta]

Materi (rupa) membentuk Indriya, yang merupakan kontak dan juga tempat kesadaran. Saat kontak ada persaan dan persepsi serta pikiran dan bentukan-bentukan pikiran. Inilah mengapa kesadaran tersebut ada di seluruh bagian mahluk hidup.

“Perasaan, persepsi, dan kesadaran, teman – kondisi-kondisi ini adalah tergabung, bukan terpisah, dan adalah tidak mungkin untuk memisahkan kondisi-kondisi ini satu sama lain untuk menggambarkan perbedaan antara ketiganya. Karena apa yang seseorang rasakan, itulah yang ia persepsikan; dan apa yang ia persepsikan, itulah yang ia sadari. Itulah mengapa kondisi-kondisi ini adalah tergabung, bukan terpisah, dan adalah tidak mungkin untuk memisahkan kondisi-kondisi ini satu sama lain untuk menggambarkan perbedaan antara ketiganya.” [MN.43, Mahāvedalla Sutta]

“Saññā ca vedanā ca cetasikā ete dhammā cittapaṭibaddhā. Tasmā saññā ca vedanā ca cittasaṅkhāroti” (Persepsi dan perasaan adalah fenomena mental, kondisi-kondisi ini terikat dengan pikiran; itulah sebabnya mengapa persepsi dan perasaan adalah juga bentukan pikiran)[MN.44, Cūḷavedalla Sutta]

Itulah sebabnya Buddhism mengatakan tidak ada jiwa (an-atta), yang ada adalah bauran dari hal tersebut di atas. Detail lainnya lihat di “Ringkasan Ajaran Buddha[↑] [↑]

[7] Statement Payasi dan Kumara Kasapa: Sewaktu ia masih hidup, ia lebih ringan, lebih lunak, dan lebih lentur, tetapi ketika ia telah mati, ia lebih berat, lebih kaku, dan tidak lentur.”

Definisi mati ada dua, yaitu somatik [mati seluruh tubuh, namun masih bisa dipaksa hidup dengan bantuan mesin] dan dilanjutkan dengan kematian seluler [tidak dapat melakukan metabolisme]. Umumnya orang [termasuk dokter] memastikan kematian di tingkat somatik. Tingkat kematian di tingkat seluler, dari yang sensitif [otak] hingga yang paling akhir [kuku dan rambut] [Library thinkquest.org]. Kematian somatik menghentikan supply darah dan oksigen, sebagai penggantinya otot melakukan pelepasan ATP dari simpanan gycogen..inilah yang membantu untuk tetap melakukan metabolisme sampai Ia menjadi kaku sama sekali [abc.net.au/science]

Lama waktu mayat menjadi kaku dan tidak lentur:

    Mayat menjadi kaku terjadi di 30 menit dan 3 jam setelah kematian. Proses ini disebut rigor mortis dan terjadi karena otot dalam tubuh mulai kaku akibat kekurangan darah dan oksigen. Rigor mortis pertama menjadi jelas di kelopak mata dan rahang dan menyebar ke seluruh tubuh di sekitar 6 s.d 12 jam, sebelum surut kembali di 6 s.d 12 jam berikutnya. Kadang-kadang, kakunya tubuh bahkan mungkin tidak terjadi jika suhu sekitarnya sangat rendah, sementara proses terjadinya jauh lebih cepat pada otot yang cukup aktif di sebelum kematian. [Ilmu forensik: “Time Since Death“]

Dr. Duncan MacDougall dari Haverhill, Massachusetts, mengobservasi perubahan berat di sebelum, selama dan setelah kematian dengan menggunakan sample 6 subjek yang wafat karena TBC (4), Diabetes (1) dan tidak jelas (1).

    Dari 6 subyek, 2 harus di buang, 1 subyek menunjukkan penurunan berat seketika (dan tidak lebih -> 0.75 ounces = 21 gram), 2 menunjukkan penurunan berat badan yang meningkat dengan berlalunya waktu, dan 1 menunjukkan penurunan berat yang langsung dalam berbalik pulih kembali. Hasil ini tidak dapat diterima karena kesalahan eksperimen sangat tinggi, terutama karena MacDougall dan rekan-rekannya sering kesulitan dalam menentukan saat yang tepat kematian, salah satu faktor kunci dalam percobaan mereka. Pada pengujian 15 ekor anjing, tidak ditemukan penurunan berat [Soul Man].

Lewis E Hollander, Jr, mengobservasi perubahan berat pada 12 binatang dan menyampaikan hasil:

    “Tak ada perubahan berat jangka panjang, di saat kematian, pada hewan yang di uji, dalam batas peralatan dan prosedur yang digunakan. Namun, dalam 5 detik, tambahan berat sementara dari 18 hingga 780 gram teramati..Walaupun perubahan sementara berat secara spontan teramati pada manusia, sejauh ini belum lagi dilakukan. Sebaliknya, semua domba menunjukan peningkatan sementara berat saat kematian..” [Journal of Scientific Exploration, Vol. 15, No. 4, pp. 495–500, 2001, “Unexplained Weight Gain Transients at the Moment of Death“]

Setelah kematian seseorang/hewan, terdapat peningkatan berat badan.

    Setelah seseorang meninggal, maka semua sistem pertahanan tubuh akan hilang, bakteri yang secara normal dihambat oleh jaringan tubuh akan segera masuk ke jaringan tubuh melalui pembuluh darah..Bakteri ini menyebabkan hemolisa, pencairan bekuan darah yang terjadi sebelum dan sesudah mati, pencairan trombus atau emboli, perusakan jaringan-jaringan dan pembentukan gas pembusukan..Tanda pertama pembusukan baru dapat dilihat kira-kira 24 jam – 48 jam pasca mati..Bakteri ini memproduksi gas-gas pembusukan yang mengisi pembuluh darah yang menyebabkan pelebaran pembuluh darah superfisial tanpa merusak dinding pembuluh darahnya..Secara mikroskopis bakteri dapat dilihat menggumpal pada rongga-rongga jaringan dimana bakteri tersebut banyak memproduksi gelembung gas. Ukuran gelembung gas yang tadinya kecil dapat cepat membesar menyerupai tampilan sisiran madu..Selama terjadi pembentukan gas-gas pembusukan, gelembung-gelembung udara mengisi hampir seluruh jaringan subkutan..Gas yang terdapat di dalam jaringan dinding tubuh akan menyebabkan terabanya krepitasi udara. Gas ini menyebabkan pembengkakan tubuh yang menyeluruh, dan tubuh berada dalam sikap pugilistic attitude..Pembengkakan yang terjadi pada seluruh tubuh mengakibatkan berat badan mayat yang tadinya 57 – 63 kg sebelum mati menjadi 95 – 114 kg sesudah mati.[Dekomposisi pasca mati]

Menjadi mayat pun kuku masih terus tumbuh! Rata-rata pertumbuhan kuku manusia normal:

  • Tumbuh lebih cepat di musim panas daripada musim dingin,
  • Pertumbuhannya tergantung pada hormon dan umur
  • Kuku Pria tumbuh lebih cepat dari kuku wanita, kecuali saat hamil dan usia tua,
  • Kuku tangan tumbuh lebih cepat dari kuku kaki [kuku kaki = 1/3-1/4 x tangan]

[American academy of Dermatology: 2-3 mm/bulan; Nail Growth as a Natural Clock: 1-2 mm/minggu; Definition of Toenail: 1 mm/hari; Wikipedia]

Johnny Carson:
For three days after death, hair and fingernails continue to grow… but phone calls taper off. (Selama 3 hari pasca kematian, rambut dan kuku jari terus tumbuh… tapi bunyi telpon makin meruncing)” – [Pesulap, pelawak, entertainer, pernah membawakan “the Tonight Show” NBC, meninggal 2005]

Pernyataan mendiang Carson bahwa selama 3 hari setelah mati, kuku dan rambut akan terus tumbuh tidak didukung [link di atas dan di bawah] yang justru menyatakan bahwa kuku mayat tidak akan bertambah panjang. Panjangnya kuku mayat, karena mayat itu yang menyusut, ini merupakan tipuan tampilan [Snope: Coffin nails; Newscientist: Life after death dan Straightdope: Do hair and nails continue to grow after death?]

Namun demikian, ucapan Dr Trisha Macnair berikut ini memberikan arti lain:

When someone’s heart stops pumping blood around their body, the tissues and cells are deprived of oxygen and rapidly begin to die. But different cells die at different rates.
So, for example, brain cells die within three to seven minutes, while skin cells can be taken from a dead body for up to 24 hours after death and still grow normally in a laboratory culture.
But contrary to folklore, this doesn’t mean that hair and nails continue to grow after death, although shrinkage of the skin can make it seem this way.

(Ketika jantung seseorang berhenti memompa darah ke seluruh tubuh, jaringan dan sel kekurangan oksigen dengan cepat dan mulai mati. Tapi laju kematian sel-sel berbeda.
Sebagai contoh, sel-sel otak akan mati dalam 3 atau 7 menit, sementara sel-sel kulit dari tubuh yang mati sampai dengan 24 jam setelah mati dan tetap tumbuh normal dalam lingkungan labolatorium.
Berlawanan dengan kepercayaan rakyat, tidak berarti rambut dan kuku terus tumbuh setelah kematian, walaupun penyusutan kulit membuatnya tampak seperti itu) – [bbc: Decomposition after death]

Dr. Macnair memang menyatakan “tidak berarti” kuku dan rumbut tetap tumbuh setelah meninggal namun Ia juga menyatakan bahwa sel kulit mayat dalam kondisi tertentu dapat terus tumbuh hingga 24 jam lagi (kulit tidak segera menyusut). Proses bio kimia tidak langsung stop seketika, masih ada proses dari nutrisi tersisa/tersedia hingga benar-benar berhenti. Kuku masih bisa terus tumbuh hingga beberapa waktu kemudian.

Selama hidup, darah juga mengedarkan obat-obatan dan racun dan itu kemudian masuk ke dalam kuku dan rambut. Ada beberapa makan/obat-obatan yang terbukti dapat menumbuhkan jaringan kuku dan rambut, yaitu Methionine [terdapat pada bahan obat untuk hepatitis, ini adalah asam essensial [juga dari casein dan putih telor], mensintesa protein (paling banyak terdapat di kuku, keratin). Tubuh memerlukan protein untuk memproduksi sel baru.

Sumber:

Jadi, wajarlah ada mayat yang mempunyai kuku lebih pajang, disamping karena menyusutnya mayat juga karena karena proses tubuh yang tersisa. [↑] [↑]

[8] Statement Payasi: “Yang Mulia, saat bola besi itu panas, terbakar, dan bersinar, ada unsur api dan angin, maka bola besi itu lebih ringan, lebih lunak dan lebih lentur.”

Percobaan di atas berasal dari “Heating a Crucible to Constant Weight” memang tidak menggunakan bola besi melainkan wadah padat tertentu (crucible). Namun esensinya sama, benda SOLID yang dipanaskan, partikel molekul di dalamnya bergetar, terjadi pemuaian (volume) dan perubahan densitas, terjadi perbedaan tekanan, terjadi gaya aksi-reaksi molekul, reaksi perbedaan panas dan perubahan panas, terjadi perubahan energi panas menjadi energi kinetik, Inilah yang membuatnya menjadi lebih ringan sedikit.

Setelah mendingin, besi yang bakar menjadi besi oksida, terdapat penambahan massa yang berasal dari oksigen. [↑]




Artikel lainnya:
1. Cape dan Bingung?..Mana Komentar yang Benar?
2. Bhara Sutta: Menghabisi Hidup dan Membuang Beban!!
3. Kelahiran kembali