Memberi tidaklah pernah Merugi..


Melakukan kebaikan dan tidak mengharapkan balasan, merupakan manifestasi dari semacam keluhuran moral. Orang-orang yang berwibawa tinggi dan dihormati khalayak umum mau berkorban untuk segala hal serta tidak mengharapkan balasan dari orang lain. Oleh karena itu sudah sewajarnya jika mereka juga menerima budi kebaikan tersebut.

Alkisah di akhir abad ke-19, di Amerika ada dua orang anak miskin lulus dari ujian dan masuk di universitas Stanford. Demi mendapatkan biaya hidup dan uang kuliah, mereka mulai bekerja sambil kuliah.

Di tahun 1896, 2 orang mahasiswa universitas Stanford tersebut, mengundang komposer dan pianis Polandia bernama Ignacy Jan Paderewski [18 November 1860 – 29 Juni 1941] yang ketika itu sedang melakukan tur ke-3nya di US. Manager Paderewski mengadakan kesepakatan dengan dua anak muda tersebut dan honor untuk Paderewski adalah US$ 2000,-. Angka tersebut merupakan angka yang kurang pantas bagi seorang pianis ternama seperti Paderewski, tetapi angka ini sudah merupakan jumlah yang sangat besar bagi dua anak muda tersebut.

Sebagai perbandingan, 2 konser terakhir di US, Paderewski menghasilkan US$ 160.000.

Kedua anak muda ini berpikir, jika hasil konser yang mereka adakan ini tidak bisa mencapai dua ribu dollar, dapat dipastikan mereka akan mengalami kerugian. Akhirnya dua orang anak muda tersebut berjuang mati-matian hingga konser berakhir dengan sempurna namun karena persoalan jadwal dan publisitas, hanya sedikit orang yang hadir. Melihat keadaan itu, satu dari anak itu meminta sang pianis untuk tidak bermain, namun tetap tidak di indahkan dan sang pianispun tetap manggung.

Seusai konser dan setelah pembukuan dihitung didapatkan bahwa konser tersebut hanya menghasilkan US$ 1600,- saja. Uang sebanyak US$ 1600,- tersebut mereka serahkan seluruhnya kepada Paderewski, masih disertai selembar cek yang bernominal empat ratus dollar, serta berjanji akan secepatnya melunasi empat ratus dollar tersebut.

Hati Paderewski tergerak melihat kedua anak muda miskin tersebut.

Secara tak diduga, dia menyobek lembaran cek itu lalu menyodorkan seribu enam ratus dollar tersebut kepada kedua anak muda ini serta berkata,

    Dari uang ini potongkan dulu uang kuliah dan biaya hidup kalian berdua. Ambillah 10% dari sisa uang yang ada untuk honor kalian, sisanya baru berikan untuk saya

Ketika itu dua orang anak muda ini meneteskan air mata karena terharu.

Ketika Paderewski mengetahui bahwa pemuda itu berhutang ribuan dollar untuk menyewa ruang konser, musisi itu malah yang menutupi biayanya. bahkan di akhir tur ke-3nya ini, sebelum pergi ke Eropa, sang pianis itu mendirikan yayasan Paderewski, yang diperuntukan bagi para komposer muda Amerika.

Bertahun-tahun berlalu…

Kemudian pecahlah perang dunia ke-1 di tahun 1914, Paderewski menetap di Swiserland, namun Ia yang mempunyai kemurahan hati tidaklah bisa berdiam diri. Di tahun berikutnya, bersama dengan pemenang nobel Henryk Sienkiewicz, dengan persetujuan pemerintah Swis, Ia mengorganisir komite umum untuk membantu korban perang Polandia dan menjabat sebagai ketuanya. Ia secara pribadi me-lobby semua anggota komite di Perancis dan Inggris.

Pada tahun 1915, Ia melakukan turnya ke-10nya di US, konser itu bertujuan untuk amal dan dihadapan 15.000 orang Polandia yang menetap di Amerika, Ia memita mereka membantu Polandia. Ia juga melakukan serial 300 konser selama 2 tahunan kemudian yang bertujuan sebagai penggalian dana korban perang Polandia.

Di tahun 1916, di hadapan presiden Amerika Woodrow Wilson, Ia pun memberikan pidato di Gedung Putih dan kemudian sang presiden memintanya menjadi penasehat, menulis tentang Polandia dan argumen untuk pemulihannya.

Di tahun 1917, di Pittsburgh, Ia juga meminta agar agar tentara Polandia berjuang bersama Amerika dalam perang dunia ke-1.

Pada bulan January 1918, President Amerika, Wilson mengumumkan 14 keputusan, salah satunya mengenai pembangunan kembali Polandia. Di tahun itu juga, di bulan April, Amerika menerjunkan diri pada konflik perang dunia ke-1.

Perang dunia ke-1 akhirnya berakhir pada jam 11, tanggal 11/11/1918. Tanggal itu kemudian diperingati di seluruh belahan dunia sebagai Remembrance Day (atau juga Poppy Day, Armistice Day atau di amerika dikenal dengan nama Veteran Day).

Di bulan Desember, Paderewski pulang ke Polandia dan menerima penghargaan sebagai Pahlawan. Ketika sampai di Warsawa, Marshal Pilsudski, Kepala negara Polandia saat itu, memintanya untuk menerima jabatan rangkap sebagai perdana menteri dan mentri luarnegeri Polandia.

Benturan dari peperangan mengakibatkan kesulitan ekonomi di Polandia. Teriakan meminta bantuan yang terus-menerus dari puluhan ribu rakyat yang kelaparan, membuat Paderewski yang telah berusaha kian kemari tetap tidak bisa mengatasi krisis besar ini.

Akhirnya, Ia meminta bantuan American Food Administration (AFA) dan American Relief (ARA).

Saat itu, Hobert Hoover, yang nantinya menjadi presiden Amerika ke-31 ,menjabat sebagai kepala AFA dan atas perintah dari presiden Woodrow Wilson, berdasarkan keputusan kongres tanggal 24 Februari 1919, dengan berbekal anggaran USS 100 juta dolar, ARA di bentuk dan Hoover ditunjuk sebagai Direktur Programnya.

Hoover kemudian menerima berita permohonan bantuan ini, dengan tanpa keraguan sedikitpun dia segera menyetujui memberi bantuan makanan dalam jumlah yang besar. Tidak lama kemudian, puluhan ribu ton makanan dikirim ke Polandia yang membuat 1.5 juta orang rakyat Polandia terhindar dari bahaya kelaparan dalam 6 bulan sejak ARA masuk ke Negara itu di tahun 1918.

Guna menyampaikan sendiri rasa terima kasihnya kepada Herbert Hoover, PM Paderewski mengadakan perjanjian untuk bertemu di Paris. Tidak terduga ketika mereka berdua bertemu muka, Herbert Hoover langsung berkata,

    Tidak perlu Anda berterima kasih kepada saya, justru sayalah yang harus berterima kasih kepada Anda! Tuan, ada satu hal yang mungkin sudah tidak teringat oleh Anda, tetapi bagi saya peristiwa itu tidak akan saya lupakan untuk selamanya! Ketika Anda masih berada di Amerika, Anda pernah menolong dua orang mahasiswa miskin, saya adalah salah satu dari dua mahasiswa miskin itu.

20% lebih pendanaan ARA diperuntukan bagi Polandia dan itu berlanjut hingga tahun 1922!

Kemurahan dari Paderewski tidaklah berhenti hingga di situ!

Di tahun 1923, Ia melakukan konsernya yang ke-13 di US. Banyak penghargaan Ia perloleh selama turnya, diantaranya adalah penghargaan kehormatan, gelar pendidikan, medali, kehormatan sebagai Ksatria termasuk dari raja George V, Inggris dan Ia pun menyumbangkan banyak dari hasil konsernya bagi korban perang dunia ke-1, Liga Amerika, pengangguran di Amerika, musisi dan lain-lain.

Dimenjelang akhir hidupnya, Pecahlah perang dunia ke-2, pada bulan September 1939, Polandia di duduki, Ia pun pergi ke Liga dunia (PBB) di Jenewa meminta bantuan bagi Polandia. Ia menjadi Kepala Dewan Nasional di pengasingan. Pada tahun 1941, Ia menerima undangan dari President Roosevelt. Di sanapun, Ia masih membuat penggalian dana di “minggu” Paderewski. Eleanor Roosevelt pun sempat mengunjungi kediamannya di Florida. Di tahun itu pula, Paderewski wafat. Atas perintah kongres Amerika, Ia dikuburkan di kuburan nasional Arlington. Jenasahnya, baru tiba kembali ke Polandia setelah 50 tahun berlalu, yaitu 5 Juli 1992.

Hoover selama perang dunia ke-2, memimpin Komisi bagi pembangunan kembali Polandia, yang membantu ratusan ribu orang Polandia dan di tahun 1946, Ia juga mengunjungi Polandia, merancang bantuan bagi Polandia untuk 3 dekade ke depan!

Ya..Ketulusan dan kebaikan hati yang pernah dilakukan setiap orang, ditambah dengan pengorbanan yang telah dikeluarkan, tidaklah lekang oleh waktu.


[Tulisan ini merupakan hasil modifikasi dari beberapa sumber tulisan yaitu dari sini, yang merupakan artikel translasi ke bahasa Indonesia dari bahasa Inggris yang asalnya adalah karya dari Guan Ming di tahun 2005. Material lainnya berasal dari sini, oleh: Teresa Gessner dan juga dari sini, oleh: Lisa Trei. Foto salah satunya berasal dari Wikipedia]

Muhammad di Mekkah: Ke-Tauhid-an, Alat Berbalut Motif Ekonomi dan Balas Dendam


Dan sesungguhnya benar-benar mereka hampir membuatmu gelisah di negeri (Mekah) untuk mengusirmu daripadanya dan kalau terjadi demikian (wa idhan laa,”tapi/dan kemudian tidak”), niscaya sepeninggalmu mereka tidak tinggal, melainkan sebentar saja[863]“.[AQ 17:76]
[863] Maksudnya: kalau sampai terjadi Nabi Muhammad SAW diusir, oleh penduduk Mekah, niscaya mereka tidak akan lama hidup di dunia, dan Allah segera akan membinasakan mereka. Hijrah Nabi Muhammad SAW. ke Madinah bukan karena pengusiran kaum Quraisy, melainkan semata-mata karena perintah Allah.

Apa sih yang sebenernya terjadi?!.

Kejadian yang mengawali surat tersebut di atas sangatlah kompleks.

Setidaknya, di beberapa tahun sebelum Hijrah saja telah terjadilah sangsi pengucilan adat, sosial dan ekonomi oleh majoritas suku Quraish terhadap Suku Hasyim [baik mereka kafir maupun tidak].

Suku-suku Quraish Mekkah terdiri dari banyak suku (kurang lebih 40 suku). Banyak dari suku tersebut tergabung dalam aliansi dengan suku-suku lainnya baik dari daerahnya sendiri maupun dari daerah lainnya di luar Mekkah. Dalam aliansi tersebut mereka bahu membahu jika aliansi mereka diserang atau ketika berperang. Dari perang yang terjadi diperoleh-lah daerah, harta pampasan dan tawanan (yang kemudian dijadikan budak mereka atau dikawini atau dibebaskan). Harta pampasan tersebut dibagi menurut aturan 1/5 bagi yang mengusahakan dan terkadang di bagi secara rata. Jika ada kematian akibat pembunuhan di antara mereka yang beraliansi, diselesaikan dengan pembayaran diyat (uang darah) kepada pihak yang terkait.

Tuhan di kalangan kaum Quraish Mekkah dan sekitarnya banyak (dikatakan 360 tuhan). Mereka di dalam masing-masing suku menyembah satu atau beberapa dari 360-an tuhan. Walaupun Tuhan mereka berbeda, mereka hidup dalam kedamaian (demikian pula dengan para budak mereka, biasanya bertuhan mengikuti tuhan majikannya). Pola pendidikan terhadap budak dilakukan secara keras namun ketika pemilik budak berkaul membebaskannya dan kaulnya itu terpenuhi, budak tersebut dibebaskan dengan tidak memperdulikan apakah budaknya tersebut bertuhan yang sama atau berbeda. Bagi mereka, menepati kaul adalah hal utama. Beberapa kaum wanita, ketika beberapa kali gagal melahirkan berkaul pada tuhan lain yang bukan tuhannya saat itu, yaitu jika bayinya lahir selamat maka ia akan memuja tuhan tersebut. Beberapa berhasil dan beberapa tidak

Ketika bulan-bulannya tiba bagi mereka untuk membina diri, maka mereka berpuasa. Saat itu mereka bersabar dan menahan diri diantaranya tidak melakukan hubungan seksual dan tidak menumpahkan darah. Ketika waktunya memberikan Qurban, yaitu setelah binatang qurban tersebut diberikan kalung bunga, kemudian disembelih dihadapan tuhan-tuhan yang saat itu melakukan qurban, kemudian dagingnya dibagi-bagikan pada siapapun juga baik bertuhan yang sama maupun berbeda. Beberapa malah melakukan tambahan qurban berupa pembebasan budak di saat suci itu.

Tidaklah terjadi pertengkaran yang diakibatkan karena menyembah tuhan yang berbeda, tidak juga dilakukan pemaksaan karena menyembah tuhan yang berbeda dan tidak juga di antara mereka memaki-maki sesembahan lainnya atau menyatakan hanya tuhannya lah yang paling benar dan layak sembah atau jika tidak mau menyembah tuhannya maka akan mengalami di azab akan dijebloskan ke neraka juga tidak terjadi penghinaan terhadap adat istiadat suku mereka.

Demikianlah suku-suku itu hidup bertetangga.

Untuk itu, agar tidak kebingungan dalam membaca kelanjutan artikel ini, maka perlu kita kenali terlebih dahulu beberapa pelaku seputaran kejadian ini dan hanya difokus pada sedikit suku di antara banyak suku kaum Quraish:

  • Klan Maksum, di antara turunannya: Abu Jahl (Abu Al-Hakam), Khalid bin walid dan juga suami ke-1 dan ke-2 Khadijah [Abu-Hala Al-Tamimi; Ateq ibn `Aaith] sebelum menikah dengan Muhammad SAW. Berikut pertemuan Muhammad dan Khadijah yang berawal dari hubungan bisnis:
      Riwayat Ibn Humayd – Salamah – Ibn Ishaq: Khadijah binti Khuwailid adalah wanita pedagang, terhormat, dan kaya raya. Ia mengkontrak banyak orang untuk menjualkan barang dagangannya dan berbagai hasil dengan mereka. Quraisy adalah bangsa pedagang. Ketika Khadijah mendengar informasi tentang Rasulullah SAW, kebenaran tutur beliau, keagungan kejujuran beliau, dan kebaikan akhlaknya, ia mengutus seseorang untuk menemui Rasulullah SAW. Khadijah meminta beliau menjualkan barang dagangannya ke Syam dengan ditemani budak laki-lakinya yang bernama Maisarah dan akan memberikan gaji yang lebih banyak daripada gaji yang pernah diterima orang-orang lain. Rasulullah SAW menerima tawaran Khadijah, kemudian beliau pergi membawa barang dagangan Khadijah dengan ditemani budak laki-laki Khadijah, Maisarah hingga beliau tiba di Syam..Setelah itu, Rasulullah SAW menjual barang dagangan yang dibawanya dari Makkah, dan membeli apa yang ingin beliau beli. Setelah merampungkan aktifitas bisnisnya, beliau pulang ke Makkah dengan didampingi Maisarah..Tiba di Makkah, beliau menyerahkan uang hasil penjualan barang dagangan kepada Khadijah, dan Khadijah membeli barang dagangan yang ia bawa dengan harga dua kali lipat atau lebih sedikit..” [Tabari, vol.6, hal.47-48]

      Riwayat Al-Harith – Muhammad b.Sa’d – Muhammad b.’Umar – Ma’mar dan lainnya – Ibn Shihab al-Zuhri: Riwayat yang sama disampaikan para ulama lokal, Khadijah hanya menyewa Muhammad SAW dan satu orang lain dari suku Quraish untuk pergi ke Pasar Hubashah di Tihamah..[Tabari, vol.6, hal.49]

    Yang kemudian berlanjut kejenjang perkawinan

      Riwayat Al-Harith – Muhammad b.Sa’d – Muhammad b.’Umar – Ma’mar dan lainnya – Ibn Shihab al-Zuhri: Riwayat yang sama disampaikan para ulama lokal…Adalah ayah dari Khuwaylid yang mengawini Khadijah kepada Muhammad dan orang yang menjadi comblang adalah seorang Mekah yang lahir dari ibu seorang budak [Tabari, vol.6, hal.49]

      Riwayat Ibn Humayd – Salamah – Ibn Ishaq: Ketika Maisarah bercerita kepadanya tentang Rasulullah SAW, ia mengutus seseorang kepada Rasulullah SAW dengan membawa pesannya, ‘Hai saudara misanku, sungguh aku tertarik padamu, karena akhlakmu, dan kebenaran tutur katamu.’ Khadijah menawarkan dirinya kepada Rasulullah SAW. Ia wanita Quraisy yang paling mulia nasabnya, wanita paling terhormat, dan wanita terkaya. Semua orang-orang Quraisy ingin menikah dengannya, jika mampu..Ketika Khadijah mengungkapkan tawarannya kepada Rasulullah SAW, beliau menceritakannya kepada paman-pamanbeliau. Kemudian bersama pamannya, Hamzah bin Abdul Muththalib, beliau pergi ke rumah Khuwailid bin Asad. Hamzah bin Abdul Muththalib melamar Khadijah untuk beliau, kemudian Khuwailid bin Asad menikahkan putrinya, Khadijah dengan Rasulullah SAW” [Tabari, vol.6, hal.47-48]

      Riwayat Muhammad b.’Abdallah b. Muslim – ayahnya – Muhammad b. Jubayr b.Mut’im; Riwayat Ibn Abi al-Zinad – Hisham b.Urwah – ayahnya -‘A’ishah; Riwayat Ibn Abi Habibah-Daud b.al-Husayn -`Ikrimah-Ibn’Abbas: Paman Khadijah ‘Amr b. Asad yang mengawini Khadijah kepada Rasullulah SAW. Ayah Khadijah wafat sebelum perang al-fijar [Tabari, vol.6, hal.49-50]

    Variasi umur Muhammad dan Khadijah ketika menikah dan bahwa Muhammad suami ke-3 Khadijah:

    • Riwayat Al-Harith – Ibn Sa’d-Hisham b.Muhammad: Dari ayahku..He (Muhammad) mengawini Khadijah bt.Khuwaylid b.Asad b.’Abd al-‘Uzza di jaman pra islam ketika Muhammad berusia 20 lebih berapa tahun…Sebelumnya, Khadijjah telah kawin dengan ‘Atiq b.’Abid..setelah ‘Atiq wafat, Khadijah kawin dengan Abu Hilah b.Zurirah..” [Tabari vol.9, hal.127. Di catatan kaki no.872 menyampaikan variasi sumber bahwa ada yang menyatakan umur Muhammad 21/30 tahun, juga ada yang menyatakan Khadijah wafat di 10 tahun masa kenabian (3 tahun sebelum Hijrah), yaitu dari Ibn Sa’d, tabaqat vol.8, 7-27 dan Ibn kathir, Sirah, IV, 581]
    • Hisham b. Muhammad: Nabi mengawini Khadijah ketika Muhammad berusia 25 tahun dan saat itu Khadijah berusia 40 tahun [Tabari, vol.6, hal.47]

    Tentang julukan “Al-Amin”-nya Muhammad:

      Abu ja’far (al-Tabari): ..10 tahun setelah pernikahan Nabi (dengan Khadijah), Quraish menghancurkan Kabah dan membangunnya ulang. Menurut Ibn Ishaq, ini terjadi saat Nabi SAW berusia 35 tahun [Tabari, vol.6, hal.51]. Riwayat Humayd – Salamah – Muhammad b.Ishaq – perawi tertentu: Semua kabilah di Quraisy mengumpulkan batu-batu untuk membangun ulang Kabah. Setiap kabilah mengumpulkan batu sendiri-sendiri ketika memasuki tahap peletakan Hajar Aswad, mereka bertengkar. Setiap kabilah ingin mengangkat Hajar Aswad, mereka bertengkar..dan bersiap-siap untuk perang..Orang-orang Quraisy selama empat atau lima malam dalam kondisi seperti itu..Kemudian mereka bertemu di Masjidil Haram untuk berunding. Beberapa perawi menambahkan bahwa Abu Umaiyyah bin Al-Mughirah, orang tertua di kalangan Quraisy berkata, “Hai kaum Quraish, biarlah orang yang pertama masuk pintu Mesjid ini menjadi penengah perbedaan kalian dan boleh menjadi hakim untuk masalah ini” Orang pertama yang masuk adalah Nabi SAW dan ketika mereka melihatnya mereka berkata, “Ini adalah seorang ‘Al-Amin”, Kami menerimanya, Ia adalah Muhammad”..Sebelum Rasulullah SAW menerima wahyu, orang-orang Quraisy menyebutnya Al-Amin (orang yang terpercaya).” [Tabari, vol.6, hal.58-59]

      Note:
      Dengan mengesampingkan bahwa hadis di atas terdapat perawi yang tidak diketahui, sehingga bukan hadis terpercaya, maka kata Al-Amin bukanlah gelar khusus hanya untuk Muhammad. Kata “amin” adalah kata benda, yang artinya, “Sesuatu yang dipecayakan padanya, pengawas, administrator”, yaitu posisi yang khususnya dalam tanggung jawab ekonomi atau keuangan atau representatif sah. Arti teknis kata amin adalah “kepala sebuah serikat dagang”, jamak “amin” adalah “aminat” [Lihat Kamus: “The New Encyclopedia of Islam“, Cyril Glassé, hal.48 atau “Encyclopaedia of Islam“, Edited by: P. Bearman, Th. Bianquis, C.E. Bosworth, E. van Donzel, W.P. Heinrichs. hal.437]. Hadis di atas bertentangan dengan Quran, yang menyebutkan pandangan kaum Quraish Mekkah terhadap muhammad yaitu sebagai seorang pendusta, misal di AQ 42.24, “Dia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah.”. Jadi maksud “Al-Amin” adalah jabatan yang dikelolanya selama dalam perdagangan.

  • Klan Abd Manad, di antara anak dan turunannya:
    1. Kembar yang sulung: Klan Abd Shams, diantara turunannya adalah: Shaybah ibn Rabi’ah, Utba ibn Rabi’ah, Walid ibn Utba, Hind bint Utba [Isri Abu Sufyan dan punya anak Muawiyah yang nantinya jadi Bani Umayyah]
    2. Kembar ke-2: Klan Hasyim, diantara turunannya adalah: Shaiba bin Hasyim (kelak di kenal dengan nama Abdul Al-Mutallib ). Keturunan dari Abdul Al-Muttalib, diantaranya adalah: Abdul Lahab, Harith, Abu Talib [yang kemudian pemimpin Klan Hasyim setelah wafatnya Abdul Al-Muttalib], Hamzah, Abbas, Abdullah, Muhammad SAW, Ali, dll
    3. Adik si kembar: Klan Muttalib. Ketika kakak ke-2nya, Hasyim, wafat, maka Ia yang kemudian menjadi pemimpin klan Hasyim. Ia membesarkan anak kakaknya yang bernama Shaiba bin Hasyim [yang juga di kenal dengan nama Abdul Al-Muttalib]. Setelah Muttalib wafat, maka Abdul Al-Muttalib menggantikannya sebagai pemimpin Klan Hasyim [dan Mutallib]. Turunan dari Abdul Al-Muttalib (shaiba bin Hasyim) adalah Abdullah ibn Abd al-Muṭṭalib, yang dikatakan sebagai ayahanda Muhammad SAW.

      Walaupun secara umum diyakini bahwa jalur leluhur Muhammad misalnya seperti ini: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qusay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Firh

      NAMUN,
      Ada INDIKASI KUAT bahwa Muhammad BUKAN anak ABDULLAH-AMINAH tapi BUDAKNYA ABDUL MUTHALIB (ayah dari Abdullah bin Muthalib):

      Penampilan Hamza digambarkan kuat secara fisik. Baik Abdul Muttalib, Abdullah dan Hamza bin muttalib tidak pernah digambarkan pendek/cebol, namun Muhammad digambarkan dengan fisik yang PENDEK/cebol:

        Riwayat Muslim bin Ibrahim – Abdussalam bin Abu Hazim:
        Aku melihat Abu Barzah datang menemui Ubaidullah bin Ziyad, lalu seseorang dalam rombongan bernama Muslim bercerita kepadaku. Ketika Ubaidullah melihatnya, ia berkata, “Itu Muhammad kalian ini al-dahdaahu (pendek/cebol dan gemuk) (“إِنَّ مُحَمَّدِيَّكُمْ هَذَا الدَّحْدَاحُ”/ai̹nã muḥamãdīãkum̊ hadẖā ạldãḥ̊dāḥu)” Abu Dawud no.4124/41.4731 dan di Ahmad no.18943]

      Tampaknya fisik Muhammad berbeda dari Hamzah, Abdullah dan Abdul Muthalib. Hadis menyampaikan ucapan Hamzah bahwa Muhammad adalah budak Abdul Muthalib:

        Riwayat Yahya bin Yahya At Tamimi – Hajjaj bin Muhammad – Ibnu Juraij – Ibnu Syihab – Ali bin Husain bin Ali – ayahnya Husain bin Ali – Ali bin Abu Thalib:

        ..saat hendak menikahi Fatima..[2 H, yaitu setelah Badr dan Sebelum Uhud]..

        Di dalam rumah tersebut terdapat Hamzah bin Abdul Mutthalib (sering disebut sebagai paman Nabi) sedang meminum minuman keras, sedang dihibur oleh seorang penyanyi perempuan yang dalam salah satu nyanyiannya terselip kata-kata, “Wahai Hamzah, ingatlah pada unta-unta yang montok.” Maka Hamzah pun berdiri dengan membawa pedang terhunus. Lalu dia memotong punuk kedua unta tersebut, lalu membelah perutnya dan mengambil hati yang ada di dalamnya.” Saya lalu bertanya kepada Ibnu Syihab, “Dan dua punuknya?” dia menjawab, “Dan dia telah memotong kedua punuk unta tersebut.”

        Ibnu Syihab berkata, “Ali berkata, “Saya melihat pemandangan yang mengejutkan bagiku, lantas saya langsung mendatangi Nabi SAW, dan di samping beliau terdapat Zaid bin Haritsah. Lalu saya memberitahukan kepada beliau apa yang terjadi. Setelah itu beliau keluar bersama Zaid bin Tsabit, dan saya pun ikut bersama beliau.

        Kemudian beliau menemui Hamzah dan memarahinya. Ternyata Hamzah memandangi beliau sambil berkata, “أَنْتُمْ إِلَّا عَبِيدٌ لِآبَائِي” (KAMU (antum “أَنْتُمْ”) TIDAK LAIN HANYALAH BUDAK (Abiidun “عَبِيدٌ”) BAPAKKU)

        (Muslim 23.4881/no.3661:

        Lalu Rasulullah SAW mulai mencela Hamzah terhadap apa yang telah diperbuatnya. Pada saat itu, kedua mata Hamzah memerah dan dia juga mulai mengamati Rasulullah SAW dari kedua lutut naik ke pusar dan akhirnya ke wajah beliau. Kemudian Hamzah berkata, “Kamu tidak lain hanyalah budak bapakku


        Bukhari 4.53.324/no.2861
        :
        Maka Rasulullah SAW langsung mencela Hamzah atas apa yang telah dilakukannya. Ternyata Hamzah benar-benar dalam keadaan mabuk, kedua matanya merah. Hamzah memandangi Rasulullah SAW, lalu mengarahkan pandangannya ke atas, kemudian memandang ke arah lutut Beliau, lalu mengarahkan pandangannya kembali ke atas, kemudian memandang pusar Beliau, lalu mengarahkan pandangan ke atas lagi, kemudian memandang wajah Beliau. Kemudian Hamzah berkata; “Kamu tidak lain hanyalah budak bapakku


        Bukhari 5.59.340/no.3702
        :
        Lalu Nabi SAW mulai mencela Hamzah terhadap apa yang telah di perbuatnya. Pada saat itu, kedua mata Hamzah memerah dan dia juga mulai mengamati Nabi SAW, mulai dari kedua lutut beliau naik hingga ke wajah beliau. Kemudian Hamzah berkata, “Kamu tidak lain hanyalah budak bapakku“)

        Akhirnya Rasulullah SAW kembali pulang dan meninggalkan mereka.” Dan telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid telah mengabarkan kepadaku Abdurrazaq telah mengabarkan kepadaku Ibnu Juraij dengan isnad seperti ini.” [Muslim 23.4879/no.3660]

      Mengapa Hamzah menyatakan Muhammad BUKAN cucu Bapaknya tapi budak Bapaknya?

      Dalam biographynya Al-Halabi dan juga “The Comprehensive Compilation of the Names of the Prophet’s Companions” oleh Ibn Abd al-Barr: Ibunda Muhammad (Amina), tinggal di rumah Wahib (paman Amina). Abd Mutallib (kakek muhammad) kemudian meminta 2 kemenakan perempuan Wahib, (Amina untuk Abdullah dan Hala untuk nya sendiri). Mereka berdua kawin di waktu yang sama.

        “Al-Sirat al-Halabiya”, Al-Halabi, vol.1, hal. 51 [atau di vol.1 hal. 62] السيرة الحلبية للحلبي

        ثم رأيت في أسد الغابة ما يوافقه، وهو أن عبد المطلب تزوج هو وعبد الله في مجلس واحد،

        [Abdul-Muttalib, dan juga anaknya, Abdullah, MENIKAH PADA SAAT YANG SAMA]

        The Major Classes, Ibn Sa’d, vol. 1, hal. 94-95 الطبقات الكبرى لإبن سعد

        فمشى إليه عبد المطلب بن هاشم بن عبد مناف بن قصي بابنه عبد الله بن عبد المطلب أبي رسول الله، صلى الله عليه وسلم، فخطب عليه آمنة بنت وهب فزوجها عبد الله بن عبد المطلب، وخطب إليه عبد المطلب ابن هاشم في مجلسه ذلك ابنته هالة بنت وهيب على نفسه فزوجه إياها، فكان تزوج عبد المطلب بن هاشم وتزوج عبد الله بن عبد المطلب في مجلس واحد،

        [Jadi, Abdul Muthalib menuju kepadanya (Wahib) bersama putranya Abdullah, bapak nabi, meminta Amina dan menikahi Abdullah. Dalam saat yang sama, Ia meminta Hala untuk dirinya sendiri dan dia (Wahib) menikahkan padanya. Oleh karena itu, PERNIKAHAN Abdul Muthalib dan Abdullah, anaknya, TERJADI BERSAMAAN]

      Beberapa saat setelah kawin, Abdullah pergi berdagang ke Syiria dan wafat diperjalanan pulang dari Syria:

        SOME MONTHS PREVIOUS TO THE INVASION OF ABRAHA, Abdul Muttalib had affianced his then youngest son, Abdullah, who was twenty-four years of age, to Amina, the niece of Wahb of Bani Zuhra, under whose guardianship she lived. The marriage took place, and NOT LONG AFTER Abdullah left his wife, WHO WAS WITH CHILD, and set out on a mercantile expedition to Syria. ON HIS WAY BACK, he fell ill at Medina, and was left behind by the caravan with his father’s maternal relatives.

        [BEBERAPA BULAN SEBELUM INVASI ABRAHA, Abdul Muttalib mempertunangkan dirinya juga anak bungsunya, Abdullah, yang berusia 24 tahun, dengan Amina, ponakan perempuan Wahb dari suku Zuhra, yang berada diperwaliannya. PERKAWINAN DILANGSUNGKAN, DAN TIDAK LAMA SETELAHNYA Abdullah meninggalkan istrinya, YANG TELAH DENGAN ANAK, dan berangkat untuk ekspedisi dagang ke Syira. Dalam perjalanan pulangnya, ia jatuh sakit di Medina, dan ditinggalkan oleh Kafilah bersama kerabat dari pihak ibunya] [AlIslam.org, Variasi lainnya: sunnah.org: Abdullah pergi ke Syiria 2 MINGGU setelah perkawinan]

        Muhammad Husayn Haikal:
        …Abdullah dengan Aminah tinggal SELAMA 3 HARI di rumah Aminah, sesuai dengan adat kebiasaan Arab bila perkawinan dilangsungkan di rumah keluarga pengantin puteri. Sesudah itu mereka pindah bersama-sama ke keluarga Abd’l-Muttalib. Tak seberapa lama kemudian Abdullahpun pergi dalam suatu usaha perdagangan ke Suria dengan meninggalkan isteri yang dalam keadaan hamil. Tentang ini masih terdapat beberapa keterangan yang berbeda-beda: adakah Abdullah kawin lagi selain dengan Aminah; adakah wanita lain yang datang menawarkan diri kepadanya? Rasanya tak ada gunanya menyelidiki keterangan-keterangan semacam ini. Yang pasti ialah Abdullah adalah seorang pemuda yang tegap dan tampan…

        Kebiasaan (sunnah) bangsa arab adalah sebagaimana diriwayatkan Musaddad – Bisyr – Khalid dari Abu Qilabah – Anas – Nabi SAW: Termasuk perkara sunnah bila menikahi gadis hendaklah bermukim ditempatnya 7 hari dan bila menikahi janda hendaklah bermukim ditempatnya selama 3 hari.” [Bukhari no.4812]

      Hala melahirkan Hamza bin Abdul Muttalib, sedangkan Amina melahirkan Muhammad. Masalahnya, walaupun kedua ibu menikah di hari yang sama: Hamza lebih tua 2 tahun s.d 4 tahun dari Muhammad.

        Al-Isaba fi Tamyiz al-Sahaba, Ibn Hajar, vol.2, hal. 121 الإصابة فى تميز الصحابة لإبن حجر

        1828 حمزة بن عبد المطلب بن هاشم بن عبد مناف القرشي الهاشمي أبو عمارة عم النبي صلى الله عليه وسلم وأخوه من الرضاعة أرضعتهما ثويبة مولاة أبي لهب كما ثبت في الصحيحين وقريبه من أمه أيضا لأن أم حمزة هالة بنت أهيب بن عبد مناف بن زهرة بنت عم آمنة بنت وهب بن عبد مناف أم النبي صلى الله عليه وسلم ولد قبل النبي صلى الله عليه وسلم بسنتين وقيل بأربع

        [Hamza anak dari Abdul-Muttalib [..] lahir 2 atau 4 tahun SEBELUM Nabi]

        The Major Classes, Ibn Sa’d, vol. 3, hal. 10 الطبقات الكبرى لإبن سعد

        قال: أخبرنا محمد بن عمر، قال حدثني موسى بن محمد بن إبراهيم عن أبيه، قال: كان حمزة معلما يوم بدر بريشة نعامة. قال محمد بن عمر: وحمل حمزة لواء رسول الله، صلى الله عليه وسلم، في غزوة بني قينقاع ولم يكن الرايات يومئذ.
        وقتل، رحمه الله، يوم أحد على رأس اثنين وثلاثين شهرا من الهجرة وهو يومئذ بن تسع وخمسي سنة، كان أسن من رسول الله، صلى الله عليه وسلم، بأربع سنين،

        [Hamza [..] terbunuh di Uhud [..] Ia berusia 59 tahun [..] Ia 4 tahun lebih tua dari Rasulullah..]

        Di “Uyun al-Athar”, Ibn Sayyid al-Nas:
        “Zubair meriwayatkan bahwa Hamza 4 tahun lebih tua dari Nabi. Tapi tampaknya ini tidak benar, karena hadis terpercaya menyatakan Thaybiya menyusui keduanya Hamza dan Nabi.” Ibn Sayyid menyimpulkan bahwa Hamza 2 tahun lebih tua dari Muhammad, bukan 4 tahun seperti diklaim Zubayr.

        Ibn Sa’d:
        Riwayat Muhammad Ibn `Umar Ibn Waqid al-Aslami – Musa lbn Shaybah – ‘Umayrah Bint `Ubayd Allah Ibn Ka`b Ibn Malik – Barrah Bint Abi Tajrah:

        Yang pertama menyusui Rasulullah SAW adalah Thuwaybah dengan susu anaknya yang bernama Masruh, beberapa hari sebelum Halimah datang. Ia (Thuwaybah) pernah menyusui Hamza bin Abdul Al-Muttalib sebelumnya dan Abu Salamah Bin Abdul Al-As’ad Al-Mahzumi setelahnya Nabi. [Ibn Sa’d, AL-Tabaqat Al-Kabir, Vol 1, bagian 1.27.1]

        [note:
        Kebiasaan lama waktu menyusui sekurangnya adalah 2 tahun, sehingga jumlah waktu menyusui: Hamza + Abu Salamah + Masruh (berapa hari), sampai akhirnya Muhammad menyusui, sekurangnya 4 tahunan].

        The Life of Muhammad: Al-Waqidi’s Kitab Al-Maghazi, diedit oleh Rizwi Faizer, hal.36 menyatakan Hamzah lebih tua 4 tahun dari Muhammad.

      Dalam suatu wawancara dengan Zakaria Botros di TV Al-Hayat, dalam program “in Dept” episode ke-3 (Lihat terjemahan: Indonesia atau Inggris, Pendeta ini kelak di FATWAKAN MATI), Ia menyampaikan pertanyaan terbuka kepada para Sheikh Muslim, Sheikh Karadawy, Sheikh Tantawy dan Sheikh Beblawy tentang “Mengapa terdapat selisih umur 2 s.d 4 antara HAMZA dan MUHAMMAD padahal Ibu mereka MENIKAH BERSAMAAN dan Ayahanda MUHAMMAD wafat HANYA BEBERAPA BULAN KEMUDIAN atau dengan kata lain: SIAPA AYAHNYA MUHAMMAD agar ia lahir empat tahun setelah Abdullah meninggal?”. Zakaria memberikan argument tambahan seperti di bawah ini:

      • Dalam buku “Dalail al-Nubuwwah” yang ditulis oleh Abu Naim al-Isbahani yang mengutip kata-kata Ibn Abbas, dikatakan begini, “ketika orang-orang Quraysh bicara siapa leluhur mereka dan menggambarkan muhammad sebagai “pohon palem yang tumbuh di lereng bukit” (artinya: Tidak di kenal siapa leluhurnya) Ketika Muhammad mendengar itu Ia sangat marah.

        Abu Naim al-Isbahani melanjutkan dan berkata bahwa Ibn Abbas menyampaikan pada Muhammad, “Ketika kaum quraish bertemu dengan sesamanya, mereka saling memberikan senyum lebar. Namun ketika mereka bertemu dengan kami, mereka mengejek kami dan mengatakan tidak mengetahui darimana muhammad.” Muhammad menjadi sangat marah ketika mendengar itu. beberapa ahli sejarah menginterpretasikan ini dalam arti bahwa Bani Kindah tahu betul bahwa Muhammad berasal dari suku mereka dan bukan dari bani hasyim dan Muhammad mengakui itu. Mereka juga mengatakan bahwa statement “sebatang palem yang tumbuh dilereng bukit” artinya adalah tidak dikenal siapa ayahnya.

      • ”Dalam “Al–Sirah Al-Halabiyah”, oleh Imam Ali Burhan al-Din al-Halabi dimana ia menulis bahwa amina mengatakan bahwa kehamilan Muhammad LEBIH MUDAH dari dari kehamilan lainnya [juga disebutkan “The Beginning and the End”-nya Ibn Kathir, dan “Al-Khasas al-Kubra”-nya Jalal al-Din al-Suyuti dan banyak hadis lainnya.

        [misal: “The Birth of The Prophet Muhammad: Devotional Piety in Sunni Islam”, Marion Holmes Katz, hal.43: “[Amina]: ‘..Then I conceived him, and by God I have never experienced a pregnancy lighter and easier than his‘” (“Kemudian aku hamil dia, dan demi tuhan Aku tak pernah mengalami sebuah kehamilan lebih ringan dan lebih mudah daripadanya”) Berapa kalikah AMINAH pernah hamil sebelumnya?]

      • Di jaman jahiliyah tidak dipermasalahkan, para wanitanya, melakukan hubungan seksual dengan lebih dari 1 orang. Misalnya: “Al-Sirah Al-Halabiyah” menceritakan bahwa Amr Ibn al-As di Mekkah tidak tahu siapa ayahnya, karena 4 pria memiliki hubungan seksual dengan ibunya. Ketika ia bertanya kepada ibunya siapa ayahnya, ia memilih al-As dan Amr Ibn al-As menganggapnya sebagai ayahnya.

        misal: “sermon of Imam Ali, NAHJ AL-BALAGHAH“, kotbah 179:
        “An-Nabighah” adalah nama belakang/keluarga dari Layla binti Harmalah al-`Anaziyyah, ibu ‘Amr ibn al-‘Ash. Alasan menghubungkannya dengan ibunya karena reputasinya dalam hal ini. Ketika Arwa binti al-Harits ibn `Abd al-Muththalib mendatangi Mu’awiah, dalam pembicaraan, ketika ‘Amr ibn al-‘Ash ikut campur tangan, ia berkata kepadanya:

        “O Anak ‘an-Nabighah, kamu juga berani berbicara, meskipun ibumu dikenal sebagai penyanyi Mekah. Itulah mengapa 5 orang mengklaimmu (sebagai anak), dan ketika ia (ibunya) ditanya, Ia akui 5 orang telah berhubungan dengannya dan bahwa Kamu dianggap anaknya karena kamu banyak kemiripannya. kamu mirip Al-‘Ash ibn Wa’il dan karena itulah kamu dikenal sebagai anaknya”.

        Kelima orang itu (1) al-`As ibn Wa’il, (2) Abu Lahab, (3) Umayyah ibn Khalaf, (4) Hisham ibn al-Mughirah, dan (5) Abu Sufyan ibn Harb. (Ibn `Abd Rabbih, al-`lqd al-farid, vol. 2, p. 120; Ibn Tayfur, Balaghat an-nisa’, p. 27; Ibn Hijjah, Thamarat al-awraq, vol. 1, p. 132; Safwat, Jamharat khutab al-`Arab, vol. 2, p.363; Ibn Abi’l-Hadid, vol. 6, pp. 283-285, 291; al-Halabi, as-Sirah vol. 1, p. 46)

      Demikanlah mengapa KUAT DUGAAN bahwa Ayah Nabi BUKAN Abdullah dan TIDAK JELAS SIAPA, dan jika dikemudian hari beliau mengatakan ayahnya adalah Abdullah adalah mungkin seperti pada kasus Amr Ibn Al-As

Mereka ini lah yang kemudian berbunuhan sendiri di antara sesamanya.

Alasan para pemimpin suku Quraish hingga tega melakukan sangsi pengucilan kepada suku Hasyim [dan Muttalib], terekam sebagai berikut:

    [Orang-orang terkemuka Mekkah] pergi ke Abu Tablib [dan berkata] “keponakanmu telah mengutuk tuhan-tuhan kita, menghina agama kita, mengejek cara hidup kita & menuduh nenek moyang kita salah. Entah apakah kamu yang harus menghentikannya atau Kamu harus membiarkan kita mengajar adat padanya” Tapi Abu Thalib tidak akan mengalah. Rasul terus melakukan dengan caranya… konsekuensinya, hubungannya dengan orang-orang Quraisy [Mekah] memburuk & mereka menjauhinya dalam permusuhan.(Ibnu Ishaq 168)

Tindakan pengucilan tersebut dituangkan dalam satu maklumat dan di tempelkan di Ka’bah. Isinya berupa larangan berhubungan baik itu menikah dan melakukan jual-beli dengan suku Hasyim[1]. Maklumat itu ditandatangani oleh 40 (empatpuluh) pemimpin suku Quraish[2]. Pada maklumat itu terdapat kata “Bismikallahumma” (“ﺑﺎﺳﻤﻚ اﷲ”, Atas Nama Allah)[3].

Bismikallahumma?

Ya! Anda tidak salah melihat, demikianlah yang dituliskan oleh para Jahiliyah di jaman itu.

    Kaum arab jaman jahiliyah mempunyai kebiasaan menambahkan frase (ﺑﺎﺳﻤﻚ اﷲ‬) (Bismikallahumma, Atas nama Allah) pada permulaan surat yang mereka tuliskan [3]

Bismikallahumma” adalah fakta dan bukti yang jelas bahwa kata Allah sangat dikenal umum diantara kaum arab yang kafir dan tidak kafir saat itu!

Arti Allah bagi kaum Pagan Arab dan Kaum Muslim

Sahih Bukhari menginformasikan bahkan sebelum bertemu Jibril (sang Malekat)-pun, Muhammad SAW sudah kerap berada di gua hira untuk memuja Allah[4]!

Allah rupanya merupakan nama generik untuk sesembahan di area itu, terutama sekali di kalangan Arab Quraish, sehingga adalah tidaklah mengherankan jika Ayahanda Muhammad SAWpun bernama Abdullah (Hamba Allah).

Apakah Allah yang di maksud merupakan Allah yang sama yang dipuja kaum Muslim?

Beberapa hadis di bawah ini menginformasi bahwa ayah bunda, kakek (Abdul Muttalib) dan paman (Abu talib) nabi, setelah wafat ada di neraka karena tidak menyembah Allah yang Muhammad SAW sembah:

  • Ayahanda dan Ibunda Muhammad SAW dinyatakan masuk Neraka krn tidak memuja Allah:
    1. Riwayat Musa bin Isma’il – Hammad – Tsabit – Anas: Seorang laki-laki bertanya, “Ya Rasulullah! Di manakah ayahku?” beliau menjawab, “Di Neraka!”[5a]. Ketika orang itu pergi, beliau memanggilnya seraya berkata, “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di neraka”[5b]
    2. Riwayat Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb – Muhammad bin Ubaid – Yazid bin Kaisan – Abu Hazim – Abu Hurairah: Nabi SAW menziarahi kubur ibunya, lalu beliau menangis sehingga orang yang di sekelilingnya pun ikut menangis. Kemudian beliau berkata: “Aku mohon izin Rabb-ku untuk memintakan ampunan baginya, namun tidak diperkenankanNya, dan Aku meminta izin untuk menziarahi kuburnya lalu diperkenankanNya. Karena itu, berziarahlah kubur karena akan mengingatkan kalian akan kematian”[6]
    3. Riwayat Hasan bin Musa dan Ahmad bin ‘Abdul Malik – Zuhair – Zubaid bin Al Harits – Muharib bin Ditsar – ‘Abdullah bin Buraidah – ayahnya: Kami bersama Nabi SAW, beliau singgah di tempat kami, saat itu beliau bersama sekitar seribu tentara berkuda, beliau shalat dua rakaat kemudian beliau menghadapkan wajah ke arah kami bercucuran air mata. Umar bin Al Khaththab menghampirinya berkata: Wahai Rasulullah! Ada apa denganmu? Rasulullah SAW berkata: “Aku memintakan ampunan untuk ibuku pada Rabbku AzzaWaJalla tapi Ia tidak mengizinkanku, aku pun bercucuran air mata karena iba padanya dari Api (Neraka) (مِنْ النَّارِ)” [7]
    4. Juga dari 2 (dua) hadis mursal di bawah ini, sebagai asbabunuzul AQ 2.119,
    5. Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad SAW) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka

      Hadis Mursal:

      1. Rasulullah SAW bersabda: “Betapa inginnya aku tahu nasib ibu bapakku.” Maka turunlah ayat (AQ 2.119). Rasulullah SAW tidak menyebut-nyebut lagi kedua ibu bapaknya hingga wafatnya[8].
      2. Rasulullah SAW pada suatu hari berdoa. “Di mana kedua ibu bapakku kini berada?” Maka Allah turunlah ayat (AQ 2.119)[9]
  • Paman Nabi yaitu, Abu Talib, wafat tidak memeluk Islam. Hingga di saat terakhirnya Ia tetap menolak menerima Allahnya Muhammad SAW dan menyatakan mengikuti agama dari Abu Muttalib (Kakeknya Nabi)[10].

Hadis-hadis di atas memberikan kita informasi bahwa Allah yang Muhammad SAW sembah berbeda dengan Allah yang disembah oleh ayah-bundanya, kakeknya (Abdul Muttalib) dan juga pamannya (Abu talib).

Darimanakah asalmuasal perubahan pengetahuan Muhammad SAW tentang Allah?

Dalam hadis sahih Bukhari, Aisha memberikan informasi bahwa Khadijah membawa Muhammad SAW bertemu dengan sepupunya, yaitu Waraqa bin Naufal bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qusai, seorang Kristen yang biasa menterjemahkan Injil dari bahasa Ibrani kedalam bahasa Arab[11]. Khadijah sangat mempercayai kemampuan Waraqa dalam ilmu agama, sehingga ketika ada kejadian di gua Hira, Ia dan Muhammad SAW datang meminta petunjuk Waraqa.

Waraqa dan Khadijah merupakan penyembah Allah yang sama yang kelak diperkenalkan pada Muhammad SAW

Setelah Muhammad SAW bertemu jibril untuk kali pertamanya, Iapun meminta kejelasan kejadian ini pada Waraqa yang saat itu telah menjadi buta dan sudah tua.

Waraqa wafat beberapa hari kemudian dan sebelum wafat sempat berkata bahwa Orang-orang yang membawa sesuatu yang serupa seperti yang di bawa Muhammad SAW akan dimusuhi dan mengalami pengusiran. Jika ia masih muda dan masih hidup saat Muhammad SAW di usir kaumnya maka ia bisa memberikan dukungan sekuatnya pada Muhammad SAW. Setelah Waraqa wafat, jibril juga absen muncul sementara dan kemudian baru muncul kembali di saat-saat tertentu dalam beberapa kejadian[11].

Sehingga sangat bisa di duga bahwa selama 24 tahun pernikahan Khadijah dan Muhammad SAW, yaitu 15 tahun sebelum menjadi nabi dan 9 tahun setelah menjadi nabi, Muhammad SAW juga mempelajari buku-buku yang di translasikan oleh Waraqa [atau dari Waraqa langsung] atau dari penuturan Khadijah.

Note:
Perhatikan kata yang digaris bawahi di atas, hadis sahih itu bertolak belakang dengan AQ 17:76!!!

Seberapa valid-kah Nabi benar-benar mengenali Allahnya?

Sangsi pengucilan adat, sosial dan ekonomi kepada bani Hasyim [dan Mutalib] itu sangatlah berat hingga membuat banyak dari mereka hijrah ke Abbyssinia. Tidak berapa lama setelah mereka hijrah, turunlah surat AQ 53:19-20, [turun di urutan ke-23], yang merekam peristiwa Muhammad SAW memuji 3 tuhan kaum Quraish.

Hadis sahih Bukhari yang menyatakan ketika surat Al najam di lafalkan semua orang bersujud Hadis sahih Bukhari yang menyatakan ketika surat Al Najam di lafalkan semua orang bersujud [Kaum pagan, Muslim dan Jin][15].

Karena turunnya surat inilah maka hubungan diantara mereka kembali melunak sebagaimana tergambar di Tabari.

    Ketika [Penduduk Mekkah] mendengar itu, Mereka gembira. Yang nabi katakan tentang Allah-Allah mereka, menyenangkan dan menggembirakan mereka, Mereka mendengarkan Nabi..Ketika saatnya untuk bersujud di akhir surat itu, Nabi bersujud dan para muslim mengikuti Nabi..Para kaum Quraish musyrik dan lainnya yang ada di mesjid juga bersujud atas apa yang mereka dengar tentang Allah-allah mereka. Semua yang ada dimesjid saat itu, baik Kafir maupun bukan, semuanya bersujud. Hanya Walīd bin al-Mughīra, tetua yang telah berumur ini, tidak mampu berlutut, tangannya menggenggam sejumput tanah dari lembah di Mekkah [dan meletakannya di jidadnya]. Kemudian semua orang berhamburan keluar Mesjid.

    Kaum Quraish berhamburan keluar dengan gembira ketika mendengar bagaimana nabi membicarakan Allah mereka. Mereka berkata, “Muhammad telah menyebut Allah-Allah kita dengan sangat baiknya. Apa yang Nabi lafalkan, Mereka adalah “al-gharānīq al-‘ula (burung surgawi yang terbang tinggi)” yang syafaat/campurtangannya sangatlah diharapkan”.

    Para pengikut Nabi yang sebelumnya telah beremigrasi ke Abyssinia ketika akhirnya mendengar kejadian bersujud ini dan disampaikan kepada mereka bahwa kaum Quraish telah menerima Islam. beberapa diantaranya memutuskan kembali, sementara beberapa lainnya tetap tinggal[16]

Anda yang belum terkontaminasi dan bernurani baik, ketika membaca ini segera mengetahui bagaimana watak kaum quraish yang sebenarnya. Ternyata, mereka yang dinyatakan kafir ini, bahkan tidak bersifat pendengki dan pendendam pada nabi, pengikut dan ajarannya.

Selekas mereka mendengar pujian yang sepatutnya pada yang mereka hormati, maka ketika itupula mereka membuang semua perbedaan melakukan sujud bersama-sama dengan para penghina, pencomooh, penghujatnya serta melupakan semua penghinaan terhadap leluhur, cara hidup, adat istiadat dan tuhan-tuhan mereka.

Beginikah prilaku kaum yang dikategorikan berwatak sangat keji itu?

Sekarang mari kita perhatikan surat Al Hajj 22:52 [turun di urutan ke-103]. Surat ini turun sehubungan dengan Muhammad SAW menarik kembali pengakuannya pada 3 tuhan Quraish sebagaimana di sebutkan di surat AQ 53:19-20 [turun di urutan ke-23], dengan alasan bahwa itu adalah karena ulah setan.

    Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat

Tafsir Jalalyn untuk surat 22:52-53

    Nabi, dalam satu pertemuan dengan kaum Quraish setelah melafalkan surat al Najam, “Maka apakah patut kamu menganggap al Lata dan al Uzza, dan Manat yang ketiga (afara’ait-ul Lata wal Uzza wa Manat ath-thalitha-al ukhra)” [53:19-20] ditambahkan, SEBAGAI AKIBAT SETAN memasukan ke lidahnya tanpa Ia [Nabi] menyadarinya, [berikut kata-kata], “mereka adalah burung surgawi yang terbang tinggi (al-gharānīq al-‘ula) yang syafaatnya diharapkan (tilk al-gharaniqa- tal-‘ula, wa anna shafa’at-u-hunna latarja)“, dan kaum Quraish merasa gembira. Namun Gabriel belakangan memberitahunya bahwa Setan telah memasukan ke lidahnya, Ia bersedih. tetapi [kemudian] menentramkannya dengan ayat berikutnya, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan syaitan, dan Allah menguatkan ayat-ayatNya. Dan Allah Maha Mengetahui apapun yang Setan telah masukkan itu, Maha Bijaksana, dengan memungkinkan setan melakukan hal-hal itu, atas apapun yang Allah kehendaki.[45] [Note: Gharaniq adalah bentuk jamak dari ghirniq, ghurnuq, ghurnayg, ghuraniq, semacam spesies burung supranatural. kata ini muncul dalam sajak pra-islam di banyak bentuk. Kamus Al Munjid menggambarkannya sebagai burung air yang punya sayap lebar dan kaki panjang. Arti keduanya adalah pemuda/pemudi putih menarik. Dalam Al-Tibyan dari Syaikh Abu Ja’far tusi (7:292), mengutip Al-Hasan (Al-Basri) memberikan juga arti “Malaikat”. Terjemahan lainnya mentermahkannya sebagai: “Angsa”, burung yang cantik, “Burung-burung yang dapat terbang tinggi” dan “wanita-wanita yang agung” (“Debating Muslims: Cultural Dialoques in Postmodernity and tradition”, Michael M. J. Fisher, Mehdi Abedi)

Di buku “PROCEEDINGS OF THE PANEL ON “CORRECTION OF ERRONEOUS INFORMATION PUBLISHED ON ISLAM AND MUSLIMS” THE CASE OF THE SATANIC VERSES – by The Islamic Educational, Scientific, and Cultural Organization – ISESCO, 1413 AH/1992 AD, dikatakan:

  • Pada hal.100, dikatakan kalo Al Najm (no.53) turun di di tahun ke-5 kenabian dan surat Al Hajj [no.22] ada di tahun ke 13 (akhir periode Mekkah) atau periode awal Medinah. [Ini artinya peristiwa pengakuan 3 Dewa itu berlangsung hampir 8 tahun lamanya!]
  • Pada hal 107, kisah SETAN yang ikut serta menurunkan ayat Di Al Najm (no.53) yang kemudian dilanjutkan dengan pencabutan kembalinya oleh Allah di Al Hajj (no.22), dinyatakan autentik dan sahih oleh Al-Tabari, B. Hajar dan B. Taimiya.

Quran telah dinyatakan sebagai wahyu yang diturunkan Allah via malaikat, namun tampaknya bahkan Nabi sendiri juga ngga bisa membedakan antar pemilik “suara gaib” itu. Sementara itu, Di kitab perjanjian lama orang-orang nasrani [dan tentu saja para orang Yahudi] terdapat kata-kata seperti ini:

    Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati. [Ulangan 18:20]

Sehubungan dengan ayat di kitab ulangan tersebut, maka terdapat sebuah “kebetulan” yang menarik yang terjadi di beberapa tahun kemudian, yaitu pada peristiwa kematian Muhammad SAW.

Kematian Nabi sebagaimana di laporkan oleh kalangan Sunni dan Syiah adalah akibat dibunuh dengan racun.

Pelaku peracunan itu, menurut dari sumber Sunni adalah wanita Yahudi bernama: Zainab bint Harith, sementara dari sumber Syiah: (klik!) Aisyah dan Hafsah

    Pembunuhan Nabi Muhammad (SAW)

      [..]

      Ada sejumlah tradisi dari sumber Syiah dan Bakri tentang keterlibatan Aisyah dan Hafsah dalam pembunuhan Nabi Muhammad (SAW) seperti yang sebelumnya dinyatakan oleh Syekh dalam banyak ceramah. Namun, agar kita mengutip sumber-sumber tradisi-tradisi ini, Adalah mungkin lebih baik melihat ayat berikut ini dahulu.

      Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau (aw) dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (AQ Al-Imran 3:144).

      Jika kita perhatian bagian ini: “Jika Ia wafat atau dibunuh” Kami temukan bahwa itu menegaskan bahwa Nabi (SAW) tidak wafat alami. Sebaliknya, itu menegaskan bahwa ia dibunuh. Alasannya bahwa kata penghubung (aw) di ayat ini berarti “bahkan (rather)” Dalam bahasa Arab, terkadang (aw) menunjukkan ketidakpastian dan probabilitas. Dalam konteks lain, menyatakan koreksi.

      Karena mustahil bahwa setiap orang harus mencurigai firman Allah, karena Dia memiliki wawasan yang tidak diketahui, Allah pastinya bermaksud untuk memberikan arti lain. Dengan demikian, makna ayat adalah: “Jika dia meninggal, bahkan, ia dibunuh, kamu berbalik ke belakang.”

      Kami dengan ini mengerti bahwa Nabi telah dibunuh dan pembunuhannya itu diikuti berbalik kembali dan kemurtadan. Ini benar-benar terjadi, dan berbalik mendukung para pemberontak yang merebut kekuasaan, yaitu Abu Bakar dan Umar. Jadi, ini khususnya tertuju pada para pengikut Islam di jaman Nabi dan bukan untuk orang-orang Yahudi yang bukan lagi merupakan ancaman di Madinah sebagaimana yang Bakrie percayai.

      Bagaimana nabi dibunuh? Dan Siapa-siapa yang terlibat dalam kejahatan keji? Apakah benar-benar, seperti Aisyah kisahkan, wanita Yahudi, Zainab Binti Al-Harith yang mengundang pesta Nabi (SAW) dan para sahabatnya setelah kemenangan atas orang-orang Yahudi di pertempuran Khaibar, ketika dia meracuni daging yang dimasak menyebabkan Nabi wafat empat tahun kemudian!

      Mengabaikan fakta bahwa Pertempuran Khaibar terjadi di tahun ketujuh Hijrah, sementara Nabi (SAW) meninggal pada tahun kesebelas. Apakah mungkin seseorang mati keracunan dari makanan yang dikonsumsi empat tahun lalu! Terlepas dari fakta bahwa efek racun langsung dan bahkan perlu waktu yang tidak lebih dari beberapa bulan di mana kondisi kesehatan memburuk secara bertahap; Di samping fakta bahwa nabi tidak memiliki keluhan kesehatan yang tidak biasa dan berpartisipasi bertempur di seluruh periode intervensi!

      Atau lebih tepatnya adalah nabi diracuni oleh Aisyah dan Hafsa atas perintah ayah mereka Abu Bakar dan Omar, yang dibuktikan dalam Bakrie ‘serta buku-buku hadis Syiah’? Jika kita lihat hadits berikut yang dilaporkan Bukhari dari Aisyah tentang kematian nabi, Dia menceritakan: “Rasullulah mengatakan kepadaku di tempat tidurnya saat dekat kematiannya, ‘Aisyah, sejak Aku makan makanan beracun setelah Pertempuran Khaibar, Aku kesakitan. Sekarang waktunya jantungku berhenti berdetak karena racun itu.” (Sahih Al-Bukhari, Vol V, Halaman 137).

      Terlepas dari fakta bahwa Quran mengambarkan bahwa Aisyah dan Hafsah sebagai pelanggar berdosa yang hatinya menyimpang dari jalan yang benar [(Klik!) AQ At Tahrim 66:04

      1. Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
      2. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
      3. Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
      4. Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong, dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.

      ], kita tidak bisa mempercayai tradisi Aisyah tentang keracunan Nabi karena tiga alasan penting.

      Yang pertama adalah karena Aisyah adalah seorang pembohong terkenal. Al-Bukhari melaporkan Aisyah berkata: “Nabi makan madu di tempat Zainab Binti Jahsh Jadi Hafsa dan saya sepakat memberitahunya, sekembalinya bahwa ia berbau Maghafeer”. (Sahih Al-Bukhari, Vol 6, Hal. 68. Maghafeer adalah substansi yang diekstrak dari sebuah pohon. Punya rasa manis tapi baunya sangat busuk)

      Aisyah tahu bahwa Nabi (SAW) mendapat kan madu dari istrinya yang lain, Zainab Binti Jahsh. Menjadi cemburu, Ia bersekongkol dengan temannya, Hafsa, menyakiti Nabi dengan mengklaim bahwa ia berbau busuk setelah mengkonsumsi madu itu. Sehingga, ia berhenti makan itu, dan akibatnya berhenti mengunjungi istrinya, Zainab. Itu adalah bohong. Seorang wanita, yang tidak menahan diri berbohong pada nabi termulia, akan juga tidak menahan diri berbohong pada orang-orang biasa. Oleh karena itu, Hadis yang dilaporkan olehnya tak dapat dipercaya.

      Yang kedua adalah karena Nabi (SAW) telah menggambarkan Aisyah sebagai “ujung tombak ketidakpercayaan dan tanduk setan” Ahmad Ibn Hanbal dan ulama terkenal lainnya dari Sekte Bakrit “Nabi, (SAW), muncul dari kamar Aisyah mengatakan ini merupakan ujung tombak ketidakpercayaan! Dari sini tanduk setan muncul “! (Musnad Ahmad, Vol II, Halaman 23). Oleh karenanya, kita tidak bisa mempercayai Hadis darinya.

      Alasan ketiga dan yang paling penting mengapa kita tidak harus percaya Hadis Aisyah tentang keracunan Nabi (SAW) adalah karena Aisyah bertentangan dirinya sendiri dalam Hadis lain. Dia menyatakan bahwa Nabi tidak mati karena racun wanita Yahudi. Melainkan, penyebab kematiannya adalah karena penyakit lain! Menurut Abu Yoalla, Aisyah juga mengatakan bahwa: “Nabi Allah, (SAW), meninggal karena penyakit Dhatul Janb”! (Musnad Abu Yoalla, Vol. VIII, Halaman 258. Dhadul Janb adalah tumor yang tumbuh pada manusia. Ini menyebabkan kematian ketika meledak)

      Imam kami menegaskan bahwa kakek mereka, Nabi (SAW), telah diracuni di hari-hari terakhirnya oleh Aisyah dan Hafsa, atas perintah ayah mereka, Abu Bakar dan Umar. Salah satu penafsir klasik Quran dari Syiah yang terkenal bernama Ali bin Ibrahim Al-Qummi, yang hidup di jaman Imam al-Hassan al-Askry (SAW), menceritakan sebuah hadis seperti yang dilaporkan oleh Imam tentang pembunuhan Nabi (SAW).

      “Nabi berkata pada Hafsa:” Aku akan memberitahumu sebuah rahasia. Jika kamu ungkapkan ini, Allah, Malaikat-Nya dan orang-orang akan mengutukmu” “Jadi, apa itu?” Hafsa bertanya-tanya Nabi berkata: “Abu Bakar akan dapat merebut kekhalifahan dan kekuasaan setelah aku, dan akan digantikan oleh ayahmu, Umar. Hafsa bertanya-tanya: “Siapa yang memberitahumu tentang ini?” ‘Allah, Maha Mengetahui memberitahuku”

      “Pada hari yang sama, Hafsa membocorkan rahasia pada temannya, Aisyah. Kemudian, Aisyah membocorkan rahasia pada ayahnya, Abu Bakar. Jadi, Abu Bakar datang pada Umar dan berkata: “Putriku Aisyah menceritakan rahasia yg sampaikan Hafsa, tapi aku tak dapat selalu percaya apa yang dikatakan Aisyah Jadi, Engkau tanya putrimu Hafsa, pastikan dan ceritakan padaku”

      “Umar mendatangi Hafsa dan bertanya. Awalnya, ia terkejut dan membantah. Tapi, Umar berkata padanya:..”Jika kau sudah dengar rahasia ini, maka beritahukan kami sehingga kami dapat segera merebut kekuasaan dan menyingkirkan Muhammad”. Kemudian, Hafsa berkata: ‘ya, Ia katakan demikian padaku’. Pada titik ini, keempatnya berkumpul dan bersekongkol meracuni Nabi “(Tafsir al-Qommi, Vol. II, Hal.367, Bihar-ul-Anwar oleh Allamah al-Majlisi, Vol. XXII, Halaman 239).

      Ada lagi Ulama besar klasik dari Quran, Muhammad bin al-Ayashi Massoud yang juga berasal dari suku Bakri, namun kemudian mendapat panduan ilahi beriman pada yang benar dan beralih menjadi Syiah.

      Dia bercerita bahwa: “Imam al-Shadiq (SAW) duduk bersama para pengikutnya, dan bertanya pada mereka: “Apakah kalian tahu apakah Nabi wafat alami atau dibunuh? Allah SWT berkata: “Jika kemudian ia mati atau dibunuh “. Yang benar adalah Sebelum wafat, Nabi telah diracun di hari-hari terakhirnya. Aisyah dan Hafsa memberikan racun dalam makanannya”. Setelah mendengar hal ini, pengikut Imam Sadiq mengatakan bahwa mereka dan ayah mereka di antara penjahat terkeji yang pernah diciptakan Allah.” (Tafsir al-Ayashi, Jilid I, Halaman 200; Bihar-ul-Anwar, oleh Allamah Al-Majlisi, Vol XXII, Halaman 516)

      Al-Ayshi sehubungan dengan Hadis lainnya yang merujuk pada Imam Al-Shadiq di mana Ia berkata: “Al-Hussein Ibn Munther meminta Imam Al-Shadiq tentang kata-kata Allah “jika kemudian dia wafat atau dibunuh akan kah kalian berbalik ke belakang”. Apakah ini berarti bahwa Nabi wafat alami atau dibunuh?. Imam Al-Shadiq berkata: Di ayat ini, Allah merujuk kepada para sahabat Nabi yang melakukan perbuatan keji”. (Tafsir Al Ayash, Jilid I, Halaman 200; Bihar-ul-Anwar, Oleh Allamah Al-Majlisi, Vol XX, Halaman 91)

      Hadis-hadis ini memberikan penegasan tanpa keraguan bahwa Nabi Agung (SAW) dibunuh oleh racun yang diberikan di hari-hari akhirnya dan BUKAN yang diduga diberikan pada empat tahun sebelum kematiannya. Mereka juga menegaskan bahwa kejahatan adalah tindakan pengkhianatan oleh dua istri dan ayah mereka. Yang artinya bahwa TIDAK ADA keterlibatan orang Yahudi.

      Terdapat juga bukti-bukti dari kitab-kitab hadisnya Bakrie, yang mendukung hadis-hadis Syiah’ dan mendemonstrasikan keterlibatan dua istri Nabi dalam kejahatan tersebut. Salah satunya adalah dilaporkan di hadis Sahih al-Bukhari, Muslim dan lainnya dari Aisyah yang mengakui bahwa ketika Nabi tidur selama sakitnya ia meletakkan zat aneh kemulut nabi dengan bantuan istri-istri lainnya.

      Aisyah lakukan itu dengan sengaja meskipun ada larangan Nabi. Ketika Nabi bangun, ia lihat sisa zat yang telah mereka masukkan ke mulutnya. Dengan marahnya Ia bertanya apa itu dan siapa yang telah tidak mematuhi perintah-perintahnya. Aisyah dan kolaborator-nya membenarkan aksi mereka engan mengatakan bahwa itu hanyalah obat.

      Setelah itu, mereka menuduh paman Nabi, Al-Abbas Ibnu Abdul Muthalib. Namun, Nabi bebaskan pamannya dan memerintahkan bahwa mereka yang bersamanya di dalam ruangan harus dihukum dengan zat yang sama juga dimasukkan ke mulut mereka. Aisyah meriwayatkan:

      “Ketika Nabi Allah sakit, ia mengatakan kepada kami: ‘Jangan bubuhkan obat ke dalam mulutku” Tapi kami tidak taat dia di tanah bahwa pada dasarnya setiap pasien tidak menyukai pengobatan! Jadi, kami masukan zat ke dalam mulutnya. Ketika ia mermperoleh kesadarannya kembali, ia bertanya-tanya: “Siapa yang Mmelakukan itu? Bukankah Aku telah peringatkan dirimu untuk tidak melakukan itu?”

      “Jadi, kami berkata: “Adalah pamanmu Al-Abbas yang berpikir bahwa Engkau mungkin terjangkit tumor lateralis!”. Nabi berkata: “Penyakit ini disebabkan oleh Iblis. Aku tidak mengidap itu.”. Nabi perintahkan bahwa setiap orang yang di rumah harus memasukan obat yang sama ke mulut mereka, kecuali Al-Abbas, sebagaimana Nabi katakan: Ia tidak bersamamu”. (Sahih Al-Bukhari, Vol VIII, Halaman 42; Sahih Muslim, Vol VII, halaman 42; Masnad Ahmed Ibn Hanbal, Vol VI, Halaman 53;. Biografi Nabi oleh Ibn Kathier, Vol IV, Halaman 446).

      Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, Quran meramalkan, seperti yang dinyatakan oleh Imam al-Shadiq, bahwa para sahabat Nabi akan berbalik melawannya. Nabi juga diprediksikan di beberapa Hadis bahwa sebagian besar sahabatnya akan masuk neraka. Salah satunya adalah sebuah hadis yang dilaporkan oleh Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi (SAW) berkata:

      “Pada hari kiamat, ketika aku akan di kolam air memberikan air pada orang-orang yang kehausan diantara para pengikutku, sekelompok pengikutku akan datang untuk minum tetapi para malaikat akan mengusir mereka dan membawa mereka ke Neraka! Dan aku akan berkata: Oh, Tuhan Mereka adalah para sahabatku! Namun Tuhan akan berkata padaku: “Kau tak tahu apa yang telah mereka lakukan setelah kematianmu. Mereka menjatuhkan dirinya dalam kemurtadan ….Dengan demikian, hanya sejumlah kecil para sahabatku akan lolos seperti unta yang lolos di padang di pasir” (Sahih Al-Bukhari, Vol VII, halaman 206).

      Tak seorangpun dapat mengklaim bahwa Abu Bakar misalnya tak berada di antara mereka yang dicemplungkan ke neraka, karena Nabi sendiri tidak mengecualoikan dirinya dari itu. Malik Ibn Anas, menceritakan bahwa Nabi bernubuat untuk para martir Muslim Uhud bahwa mereka akan pergi ke Surga.

      “Jadi, Abu Bakar bertanya-tanya: “Bukankah kami para saudara mereka yang telah masuk Islam seperti mereka, dan berjuang dalam jihad seperti mereka, maka, mengapa engkau tidak menyatakan kabar baik bahwa kita akan ke surga? Nabi berkata: “Hal ini adalah benar bahwa engkau adalah saudara mereka, tapi Aku tidak tau apa yang akan engkau lakukan setelah aku mati”. (Al Muatta Malik Ibn Anas, Vol II, Halaman 642).

      Oleh karena itu, kita seharusnya tidak mengecualikan Abu Bakr dan Umar untuk kejahatan mengambil nyawa Nabi, terutama ketika mereka telah mencobanya sekali sebelumnya ketika Nabi di perjalanan kembali dari kota Tabuk. (Lihat Al Mohalla Ibnu Hazm, Vol. IX, Halaman 224).

      Kesimpulannya kita katakan bahwa kita sekarang yakin bahwa Abu Bakar dan Umar memang ingin membunuh Nabi (SAW). Melalui, rencana mereka setelah gagal di Tabuk, rencana berikutnya mereka berhasil dengan berkolusi bersama putri mereka, Aisyah dan Hafsa yang memberikan racun pada Nabi ditidurnya untuk mempercepat perebutan kekuasaan ke tangan ayah mereka, sambil mengusir penerus yang sah, Imam Ali bin Abi Thalib (SAW).

      26 Rajab 1431
      Kantor Syekh al-Habib di London

    Setelah Nabi wafat, maka anaknya, yaitu Fatima; “Sahabatnya”, yaitu: Abubakar, Umar, Usman, Ali; Cucunya, yaitu: Hasan, Husein dan Istri tersayangnya: Aisyah-pun tidak ada yang wafat wajar, semua tewas terbunuh.

    Menakjubkan, bukan?

    Beberapa pendapat dari kalangan muslim tetap bersikukuh bahwa Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya mengalami penganiayaan selama di Mekkah. Benarkah demikian?

    Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas siapa yang menganiaya siapa dan apa pula motifnya, maka sekarang kita susun dalam bentuk kronologis:

    1. Sebelum menerima wahyu “Allah” sampai dengan Muhammad SAW berumur 40 tahun [610 M], Muhammad SAW tidaklah memusuhi dan/atau dimusuhi kaum Quraish manapun. Bukti terbaik mengenai hal ini adalah Waraqa, Ia TIDAK menyembah Allahnya kaum quraish dan Ia wafat di usia tua TANPA penganiayaan apapun oleh suku Quraish karena perbedaan sesembahan.
    2. Pada 3 (tiga) tahun pertama, setelah menerima wahyu “Allah”, juga tidak terjadi kekacauan namun setelah itu terjadi peningkatan skala “kekacauan” ketika Nabi terus menerus memaki sesembahan kaum Quraish, mencerca cara hidup mereka dan agama mereka serta menghina nenek moyang mereka, .
        Ketika Rasul secara terbuka menggambarkan Islam sebagai Allah yang memerintahkan dia, kaum Quraish tidak berbalik melawannya, sejauh saya dengar, hingga Ia berbicara yang meremehkan dewa-dewa mereka. Ketika dia melakukan itu, mereka tersinggung hebat dan memutuskan bulat untuk memperlakukannya sebagai musuh.(Ibn Ishaq 167)

        [Orang-orang Mekkah] berkata bahwa mereka ngga pernah ketemu kekacauan terus menerus seperti yang dilakukan orang ini. Ia nyatakan cara hidup mereka bodoh, menghina nenek moyang mereka, mencerca agama mereka, memecah komunitas dan mengutuki tuhan mereka(Ibn Ishaq 183)

    3. Sejak menjadi nabi s/d turunnya surat Al kafirun AQ 109:1-6 [turun di urutan ke-18]. Beberapa riwayat menyampaikan bahwa Nabi kerap menghina dan memaki-maki sesembahan kaum Quraish namun demikian mereka hanya meminta dengan cara lembut dan sabar agar nabi menghentikan kebiasaannya memaki-maki sesembahan lain. Suatu permintaan yang sangat wajar, bukan?!
        “Inilah yang kami sediakan bagimu hai Muhammad, dengan syarat agar engkau jangan memaki-maki tuhan kami dan menjelekkannya, atau sembahlah tuhan-tuhan kami selama setahun.” Nabi saw menjawab: “Aku akan menunggu wahyu dari Tuhanku.” Dan turun pula Surat Az Zumar AQ 39:64 [turun di urutan ke-59] sebagai perintah untuk menolak ajakan yang menyembah tuhan lain[12]

        Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa al-Walid bin al-Mughirah, al-‘Ashi bin Wa-il, al-Aswad bin Muthalib dan Umayyah bin Khalaf bertemu dengan Rasulullah saw dan berkata: “Hai Muhammad! Mari kita bersama menyembah apa yang kami sembah dan kami akan menyembah apa yang engkau sembah dan kita bersekutu dalam segala hal dan engkaulah pemimpin kami.” Maka Allah menurunkan ayat ini (S.109:1-6)[13].

        Mereka kemudian memutuskan mengirim utusan menemui Muhammad, melakukan pembicaraan dan berargumentasi dengannya..Ketika Nabi datang dan duduk bersama mereka, Mereka menerangkan bahwa mereka di kirim agar dapat berbicara bersama. Ngga ada kaum arab lainnya yang memperlakukan sukunya seperti Muhammad lakukan pada mereka dan mereka mengulangi kembali yang disampaikan..Jika uang yang diinginkannya, Mereka dapat membuat Muhammad menjadi yang terkaya diantara mereka; Jika kehormatan persoalannya, maka Ia seharusnya menjadi pangeran mereka; Jika kedaulatan, mereka akan menjadikannya sebagai pemimpin (Ibn Ishaq 188)

        “Abu Sufyan, bersama dengan beragam tokoh kalangan lainnya, menemui Abu Talib dan berkata: “Kau tentunya tau kekacauan yang terjadi antara kami dan kemenakanmu, Jadi, panggilah ia dan biarkan kami mengadakan perjanjian yang membuat ia tidak mengusik kami dan kamipun tak kan mengusiknya; Biarlah ia dengan agamanya dan biarkan kami dengan agama kami” (Ibn Ishaq 278)

    4. Perlindungan yang diberikan Abu Talib terhadap kemenakannya sangat tidak mengindahkan perasaan seluruh suku Quraish. Walaupun kemenakannya terus menerus melakukan penghinaan terhadap Tuhan-tuhan, nenek moyang, kaum-kaum tua, adat-istiadat kaum mereka sendiri dan mengakibatkan kekacauan, perpecahan di kalangan mereka, Abu Talib tetap melindungi Nabi.

      Ketidakadilan inilah yang membuat 40 pemimpin suku Quraish[2] bersepakat untuk memberlakukan sangsi adat sosial-ekonomi kepada Bani Hasyim [juga Bani Muttalib, baik mereka masih kafir maupun tidak].

      Beberapa mengatakan, sangsi ini terjadi di tahun ke-7 masa kenabiannya [617 Masehi], namun terdapat sumber valid yang menyatakan kejadian ini terjadi di tahun ke-5 kenabiannya [615 M][14][24].

      Dalam beberapa debat yang anda bisa cari sendiri di net, anda akan menemukan sirkulasi berulang propaganda kejamnya kaum Quraish pada mereka yang masuk Islam, salah satu yang sering disampaikan adalah kisah “martir” pertama Islam, seorang wanita dengan nama Sumayyah bint Khayyat.

      Suami dari Sumayyah adalah Yasir. Ketika itu Yasir beraliansi dengan Abu Hudzaifah bin Al-Mughirah. Abu Hudzaifah kemudian memberikan budak wanita bernama Sumayyah pada Yasir dan dari mereka lahirlah Ammar bin Yasir. Berikut di bawah ini adalah beberapa sumber yang menyajikan kisah kemartiran pertama Islam:

      • Yasir, Summayyah dan Ammar bin Yasir, disiksa oleh Abu Jahl dengan pedang, api dan cambuk. Yang wafat hanya Yasir dan Summayyah[17]. Sedangkan Ammar selamat. Di banyak terjemahan dituliskan alasan-alasan mengapa Ammar bin Yasir dapat selamat dari “bencana” tersebut, yaitu karena Ia melakukan taqiyyah [Berkeliat, bersiasat, tidak tulus menyatakan] dengan cara mencacimaki Nabi Muhammad SAW dan menolak Allahnya Nabi. ketika kemudian alasan tersebut Ia sampaikan pada nabi, maka turunlah surat An Nahl AQ 16:106 [turun di urutan ke 70].

        Menariknya,
        pada ringkasan Sirat Rasul karangan Abdu-salam M. Harun, terbitan Al-Falah Foundation, ISBN 977-5813-80-8, hal 55., dikatakan bahwa mereka ber-3 di siksa. Yang dinyatakan wafat akibat siksaan hanyalah Sumayyah [juga lihat di sini tidak diceritakan tentang nasib suaminya, Yasir, apakah wafat karena siksaan atau jika tidak, juga tidak diceritakan bagaimana Yasir dan Ammar dapat lolos dari siksaan itu

      • Ibn Sa’ad [murid/sekretaris dari Al Waqidi] juga menyampaikan berita kematian Summaya. Beberapa sejarahwan muslim lain kemudian mengutip karya Ibn Sa’ad, seperti misalnya:
        • Al-Asqalani: Ibnu Sa`d telah melaporkan dgn sanad yg sahih bahwa Mujahid berkata: ‘Orang yang pertama shahid di dalam Islam adalah Sumayyah, ibu dari `Ammar bin Yasir. Dia adalah seorang perempuan yang tua dan lemah. Ketika Abu Jahal wafat di perang Badr, Muhammad SAW berkata pada Ammar bahwa “Allah telah membunuh pembunuh ibu kamu.”‘[18]
        • Al-Bayhaqi: “Abu Jahl menusuk kemaluannya”[19], juga di Asbab Al-Nuzulnya Al-Wahidi 16:106 yang dikatakan ayahnya (yasir) juga tewas. Tidak disampaikan siapa yang melakukan hanya disebutkan kaum kafir.

        Padahal, Ibn Sa’ad sendiri, menyatakan di ‘Maghazi’-nya bahwa Summayyah wafat di tangan al-Mughira karena menolak meninggalkan Islam. Ia adalah Istri dari Yasir yang juga wafat sahid[20]

      • Ibnu Athir: Summayyah, JANDANYA YASIR, mati karena jantungnya ditusuk pedang oleh Bani Mughira Bin Abd allah bin Ummar Bin Makhzum[21]

      Semua laporan sejarahwan di atas menyebutkan bahwa Summayah wafat dan masih berstatus menikah [dengan Yasir] atau setidaknya wafat dalam status sebagai janda-nya Yasir. Namun dalam riwayat lain yang juga paling awal malah menyatakan sebaliknya!

      • Tabari: Sumayyah TIDAKLAH wafat, setelah menjanda dari Yasir, Iapun diberikan kepada Al Azraq, seorang budak bangsa Bynzatium milik keluarga Al Harith Bin Kaladah Al-Taqafi. Azraq dan Sumayya kemudian mempunyai anak bernama SALAMAH BIN AL ASRAQ! Al Asraq menetap di Taif[22]. Tulisan di Tabari ini membantah telak bahwa Sumayyah wafat saat menjadi istri Yasir atau bahkan ketika berstatus sebagai Janda!.
      • Ibn Sa’ad: Ammar bin Yasir sekeluarga, dinyatakan berstatus sebagai budak. [“Yasir..married his slave-girl, Sumayyah bint Khayyat. Yasir and Sumayyah begot two sons, ‘Abdullah and ‘Ammar, who according to the custom of Arabia, were considered the slaves of Abu Hudhayfah” [23]
      • Ringkasan dari “The earliest biography of Muhammad, by ibn Ishaq“, MICHAEL EDWARDES, terekam adanya pendidikan yang diberikan kepada para budak mereka agar kembali patuh pada majikan dan berdisiplin, salah satunya agar mereka kembali ke agama mereka sebelumnya seperti pada kasus Bilal dan beberapa budak lainnya.

        Para budak ini dipukul, dibiarkan tidak makan dan kehausan hingga tidak kuat berdiri, menyerah dan menyatakan, “Al‑Lat da al‑Uzza adalah tuhan-tuhanmu sebagaimana juga Allah”. Bahkan yang terjauhpun yang mereka lakukan adalah ketika ada kumbang kotoran merangkak, mereka meminta untuk sepakat bahwa “Itu adalah tuhanmu”. Para budak tersebut segera menyetujuinya agar penderitaan mereka selesai. Itu saja! Ibn Ishaq tidak menyatakan adanya kematian sebagai akibat “pendidikan” yang diterapkan pada mereka.

        Tentu saja anda boleh-boleh saja jika mengatakan: “Woi, Ini Ringkasan, Bung!”

        Perlu diketahui,
        Para budak ini ikut agama dari orang yang gemar menghina agama, adat istiadat, nenekmoyang, memecah komunitas dan menghina tuhan para majikan mereka. Ini adalah bentuk KETIDAKPATUHAN dan EJEKAN kepada para majikan yang menyebabkan para budak itu diberi tindak disiplin agar mematuhi dan menghormati majikan mereka.

        Tindakan indisipliner pada budak yang melecehkan majikan pun dilakukan Umar bin Khattab, ketika belum menjadi Mualaf, yaitu pada budak wanita bani Muammal dari bani Adi bin Ka’ab (bernama Laniba/Lubina/Labiba), Ia dipecut terus menerus dan terhenti dari pemecutan hanya karena Umar kecapaian [Sirat Nabawiyah Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 1, bab 59, hal.278-279] juga pada satu budak wanitanya lagi yang bernama Zinnirah/Zanbara dari Roma (keduanya akhirnya dibeli Abu Bakar dari Umar).

        Tindakan keras Umar menegakkan martabat keluarga, agama, tuhan dan suku dilakukan bukan saja kepada para budak namun juga kepada suami (Sa’id bin Zaid bin Amr) adik perempuan Umar (fatima) sendiri yang telah ikut ajaran orang yang menghina adat istiadat, nenekmoyang, agama dan tuhan keluarga dan Suku mereka.[Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, bab 64, hal.304-306].

        Tindakan seperti ini tidak pernah dilakukan kaum Quraish kepada para pemeluk agama dan tuhan yang berbeda dengan mereka (contohnya pada Waraqah dan budak-budak mereka yang beragama lain, termasuk Nasrani), namun dilakukan hanya kepada mereka yang tidak mampu menghargai kedamaian beragama dan toleransi pada yang dianut masing-masing orang di komunitas.

        Bahkan di jaman kejayaan Islam [setelah Hijrah ke Medina dan seterusnya], pola dengan jalan kekerasan agar para budak DISIPLIN atau PATUH dan/atau MENGAKU juga tetap dipakai kaum muslim sendiri kepada budak-budak mereka [Tidak peduli kafir maupun bukan]. Sebagai sample, silakan baca Sirat Rasulallah, Hal.496, hadis Muslim 15.4089 (Abu Mas’ud), Abu Dawud 10.1814 (Abu Bakar), contoh:

          Abu Mas’ud meriwayatkan bahwa ia memukuli budaknya dan budaknya berkata, “Aku berlindung pada Allah”, namun tetap saja Ia dipukuli, hingga kemudian budak itu mengatakan, “aku berlindung pada Rasullullah”, Ia kemudian lepaskan. Kemudian Rasullullah SAW berkata: Demi Allah, Allah punya lebih banyak kekuasaan darimu daripada kamu terhadap budakmu. Ia berkata ia telah memerdekakan budaknya. Hadis ini juga dinarasikan Shu’ba dengan rantai perawi yang sama namun tidak disampaikan frase kalimat aku berlindung pada allah dan aku berlindung pada Rasullullah [Hadis Muslim 15.4089]

          Diriwayatkan Asma’ bint Abu Bakar:
          …Peralatan dan barang pribadi dari abu bakar dan rasullullah SAW ditempatkan di unta yang dibawa oleh budaknya abu bakar. Abu bakar sedang duduk dan menanti kedatangannya. Budaknya datang tanpa untanya. ketika ditanya, “Dimana untamu?”. Ia menjawab, “Aku kehilangannya tadi malam”. Abu Bakar menjawab, “Ini hanya 1 unta dan bahkan kamu telah hilangkan”. Ia kemudian memukulinya sementara Rasullullah SAW tersenyum dan berkata, lihat orang yang sedang berihram ini, apa yang dilakukannya?..[Abu Dawud 10.1814/no.1552, Ibn Majjah no.2924, Ahmad no.25679]

        Anda bisa lihat sendiri pendidikan keras dengan memukulipun tetap dilakukan dijaman Islam tidak peduli bahkan ketika telah mengatakan berlindung pada Allah sekalipun tetap saja dipukuli, bukan?

        Atau simak saat Ali bin Abu Thalib meminta pengakuan Barirah (budaknya Aisyah) ketika Aisyah tertuduh berhubungan serong dengan Safwan bin Al-Muathtal as Sulami, ketika Rasullullah SAW memanggil Barirah untuk bertanya kepadanya Ali bin Abu Thalib pergi kepada Barirah dan memukulnya dengan pukulan keras sambil berkata, ‘Berkatalah jujur kepada Rasulullah.’ [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Bab 166, hal.265-266].

        Demikianlah kebudayaan melakukan kekerasan terhadap budak-budak (Kafir/tidak) oleh majikan (kafir/tidak) di komunitas itu.

        Sehingga tindak disiplin adalah konsekuensi wajar yang diterima para budak yang telah mengikuti jalan orang yang telah melecehkan martabat majikan dan komunitas seperti yang dilakukan Bilal, keluarga Yasir (summayya, yasir dan amir, anaknya), Khabbab bin al Arat, Ummu Ubais, Zinnirah, Abu Fukaihah, Al-Nadyah, Amr bin Furairah dan Hamamah dan ini bukan karena mereka beragama yang berbeda (atau Islam) tapi karena telah melecehkan majikan.

        Mari kita teliti kasus Bilal Ibn Rabah al-Habashi,
        Ketika Bilal didisiplinkan majikannya [Umayah b. Khalaf], Bilal selalu selamat dan kemudian “dipertukarkan dengan budak lain” sebagai perjanjian antara majikannya dan Abu Bakar. Ia hidup hingga tua.

        Sementara tuannya, Umayah b. Khalaf, sewaktu di Perang Badr, bersama anaknya [Ali] menjadi tawanan kawannya sendiri yang baru saja masuk Islam [Abd Umar]. Kemudian mantan kawan lainnya [Abd-al-Rahman ibn Awf] mengambil alih tawanan Abd Umar. Kejadian ini dilihat Bilal dan segera berteriak memanggil kawan-kawannya, walaupun telah di cegah rekan2nya, Ia [dan juga mereka] tetap menghajar tanpa ampun ayah dan anak itu dengan pedang hingga tewas.

        Narasi Ibn Ishaq, semasa Bilal di Mekkah:

          Ibnu Ishaq berkata bahwa Hisyam bin Urwah berkata kepadaku dari ayahnya yang berkata,

          “Ketika Bilal sedang disiksa, dan mengatakan, ‘Ahad, Ahad.’ Waraqah bin Naufal berjalan melewatinya. Waraqah bin Naufal berkata, ‘Demi Allah, Ahad, dan Ahad, wahai Bilal.’ Waraqah bin Naufal menemui Umaiyyah bin Khalaf dan orang-orang dari Bani Jumah yang menyiksa Bilal. Waraqah bin Naufal berkata kepada mereka, ‘Aku bersumpah dengan nama Allah, jika kalian membunuh Bilal dalam keadaan seperti ini, pasti aku akan menjadikan tempat kematiannya sebagai tempat mencari keberkahan.’ …

          Itulah yang terjadi, hingga Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu berjalan melewati mereka yang sedang menyiksa Bilal.

          Rumah Abu Bakar berada di Bani Jumah. Abu Bakar berkata kepada Umaiyyah bin Khalaf, ‘Kenapa engkau tidak takut kepada Allah dari orang miskin ini? Sampai kapan engkau menyiksanya?’

          Umaiyyah bin Khalaf berkata, ‘Engkaulah yang merusak orang ini. Oleh karena itu, selamatkan dia kalau engkau mau!’

          Abu Bakar berkata, ‘Ya, aku mempunyai budak hitam yang lebih kokoh daripada dia, dan lebih kuat memegang agamamu. Aku serahkan budak tersebut kepadamu.’ Umaiyyah bin Khalaf berkata, ‘Aku terima.’ Abu Bakar berkata, ‘Budak tersebut menjadi milikmu.’ Kemudian Abu Bakar memberikan budaknya kepada Umaiyyah bin Khalaf dan ia mengambil Bilal kemudian memerdekakannya.”[Ibn Ishaq hal. 277-278]

        Disiplin yang dilakukan jelas bukan karena Bilal adalah Muslim namun karena terindikasi Bilal-lah yang melalaikan pekerjaannya. Ini jelas merugikan majikannya secara ekonomi dan pertukaran budak membuat majikannya tidak mengalami kerugian lagi!

        Anda lihat nama Waraqah bin Naufal

        Ia adalah salah satu orang yang dihormati kaum Quraish Mekkah. Kata-katanya lah yang MENGAKHIRI masa pendisiplinan Bilal!

          Setelah Muhammad menerima wahyu di gua Hira, Ia bersama Khadijah bertemu dengan Waraqa bin Naufal. Waraqa wafat beberapa hari kemudian dan wahyu terputus selama beberapa saat[4][Ibn Ishaq hal.204-206].

          Muslim pertama selain Khadijah adalah Ali bin Abu Talib, setelah itu adalah Zaid bin Haritsah [Ibn Ishaq hal.203, 209, 211]. Abu bakar merupakan muslim pertama di luar keluarga Muhammad [Ibn Ishaq hal.213].

          Abu Bakar masuk Islam setelah turunnya surat Al Dhuhaa AQ 93:1-11, yaitu surat yang turun lagi setelah wahyu sempat terputus selama beberapa saat [Ibn Ishaq hal.204-206] yang artinya adalah:

          1. Waraqa SUDAH WAFAT sebelum surat Al Dhuhaa AQ 93:1-11 turun!
          2. Abu Bakar belumlah menjadi muslim saat Waraqa hidup dan meminta Umaiyyah bin Khalaf menghentikan menyiksa Bilal!
          3. Bilal belumlah menjadi muslim, ketika Waraqa meminta Umaiyyah bin Khalaf menghentikan menyiksa Bilal, karena orang berikutnya yang masuk Islam bukanlah Bilal melainkan Abu Bakar!

        Walaupun Bilal pengikut monoteism, namun saat itu Bilal BUKANLAH MUSLIM!

        Sekarang kita lihat kejadian di Medinah. Bagaimana perlakuan Bilal, yang memang tidak mengetahui bahwa yang menyelamatkan dia saat itu bukanlah cuma Abu Bakar namun juga Waraqah bin Naufal dan majikannya sendiri KARENA MAU BERTUKAR BUDAK!

          Abdul Wahid bin Abu Aun berkata kepadaku dari Sa’id bin Ibrahim dari ayahnya dari Abdurrahman bin Auf yang berkata,

          “… Demi Allah, aku menuntun Umaiyyah bin Khalaf dan anaknya, Ali bin Umaiyyah. Tiba-tiba Bilal melihat Umaiyyah bin Khalaf bersamaku.

          Ketika Bilal melihat Umaiyyah bin Khalaf, ia berkata, ‘Ini dia gembong kekafiran, Umaiyyah bin Khalaf. Aku tidak selamat jika dia selamat.’
          Aku berkata kepada Bilal, ‘Hai Bilal, bukankah dua orang ini tawananku?’
          Bilal berkata, ‘Aku tidak selamat jika dia selamat.
          Aku berkata kepada Bilal, ‘Apakah engkau tidak mendengar suaraku, hai anak Si Hitam?’
          Bilal berkata, ‘Aku tidak selamat jika dia selamat.’
          Bilal berteriak dengan suara terkerasnya, ‘Hai para penolong Allah, ini dia gembong kekafiran. Aku tidak selamat jika dia selamat’.”

          Abdurrahman bin Auf berkata, “Kemudian para sahabat mengepung kami, hingga mereka menjadikan kami seperti berada di lingkaran. Aku tetap berusaha melindungi Umaiyyah bin Khalaf. Seseorang mencabut pedangnya dari sarung pedangnya, dan pada saat yang bersamaan seseorang memukul anak Umaiyyah bin Khalaf hingga ia jatuh tersungkur.
          Melihat anaknya jatuh tersungkur, Umaiyyah bin Khalaf berteriak dengan teriakan yang tidak pernah aku dengar sebelumnya.

          Aku berkata kepada Umaiyyah bin Khalaf, ‘Selamatkan dirimu, karena tidak ada keselamatan bagimu. Demi Allah, sedikit pun aku tidak dapat melindungimu.’
          Para sahabat memotong-motong keduanya dengan pedang mereka[24]

        Terlihat jelas yang saat itu kaum Muslim lakukan bukanlah tindak disiplin dan juga bukan dalam keadaan berperang, namun motif kebencian dan dendam semata.

      • Di buku “THE BIOGRAPHY OF MAHOMET“, AND RISE OF ISLAM, Sir William Muir, Bengal Civil Service., [Smith, Elder, & Co., London, 1861], Ch.4. hal.126-127., footnote no.50. Muir menjelaskan bahwa kisah “martir-martiran” tersebut berawal dari Ibn Sa’d (Ibn Sa’d adalah Katib (sekretaris) dari Al-Waqidi) dan tidaklah benar terjadi:
          50 Yasir belonged to a tribe in Yemen of the Madhij or Cahlan stock. He with two brothers visited Mecca to seek out their maternal relatives. Instead of returning to Yemen he remained behind with his patran Abu Hodzeifa, who gave him in marriage his slave girl Sommeya. She bore to him Ammar (freed by Aub Hodzeifa) and Abdallah.

          “After Yasir” Sommeya married Azrack, a Greek slave, belonging to a man of Taif, and to him she bore Salma. It is not easy to explain this, for at the time referred to in the text (i.e. 614 or 615 A.D.) Yasir was alive, and is mentioned as having with his wife joined the cause of Mahomet and suffered severe persecution. The second marriage of Sommeya, and the birth of Salma, were consequently after this period. But Ammar, her son by Yasir, was at least one year (perhaps four) older than Mahomet; that is he was now at lent forty-six years of age. Consequently, his mother (who had moreover borne to Yasir a son, Horeith, older than Ammar, Katib al Wackidi p.227), must have been at this time sixty years old. Yet we are to believe that she married, and bore a son, after that age!

          The Secretary of Wackidi has a tradition that Sommeya suffered martyrdom at the hands of Abu Jahl:


          (after a day of persecution) when it was evening, Abu Jahl came and abused Sommeya, and used filthy language towards her, and stabbed (or reviled?) her, and killed her. And she was the first martyr in Islam, – excepting Bilal, who counted not his life dear unto him in the service of the Lord; so that they tied a rope about his neck and made the children run backwards and forwards, pulling him between the two hills of Mecca (Abu Cobeis and Ahmar, marg. gloss.); and Bilal kept saying, ONE, ONE! I only God!” Katib al Wackidi p.224.

          The story of this martyrdom is certainly apocryphal.

          • I. This is the only place we find it mentioned in the early biographers; whereas had it really occurred, it would have been trumpeted forth by every collector and biographer in innumerable traditions and versions. There is certainly no danger of the perils and losses of the early Moslems being under-estimated or lost sight of by tradition.
          • II. The tendency to exaggerate persecution would readily lead the descendants of the family to attribute Sommeya’s death (which we may conclude happened before the Hegira) to Abu Jahl’s ill treatment, with which it had probably little or nothing to do. See Introduction, p. lx, Canon II.a. The double signification of the word (abuse and stabbing) may have formed a starting point for the story. The manner in which it was subsequently expanded and embellished will be seen by a reference to Sale’s note on Sura xvi. p.106.
          • III. The desire to heap contumely on Abu Jahl would lead to the same result. Introduction, p. lviii., Canon I. G.
          • IV. Bilal, in the above extract, is also noticed as the first martyr, though he long survived these persecutions, and died a natural death. This certainly is in favour of a metaphorical and not an exact and literal interpretation of the passage.
          • V. The chronological difficulty, above stated, still remains. Repeated traditions speak of Yasir, Sommeya, and Ammar (Father, Mother and Son), being all tormented together, and in that predicament seen by Mahomet as he passed by, Katib al Wackidi, p. 227 1/2; and the manner in which this is mentioned clearly implies that Sommeya was at the time the wife of Yasir. Yet “after Yasir” (apparently after his death) she married Azrack.

          How then are we to understand that she died under persecution? It may be suggested

          • (1), that her marriage with Arrack was a previous interlude in her married life with Yasir, to whom she again returned as wife; but this is unlikely and is not the natural meaning of the expressions used ; – or
          • (2), that her marriage to Azrack and her martyrdom may have occurred at a later period. But this, too, is out of the question; for she bore Arrack a son, and must have survived the period of hot persecution.

          On the whole the evidence for the martyrdom is totally insufficient. Arrack belonged to Taif, and wan one of the slaves who at the siege of that city (some fifteen years later), fled over to Mahomet’s camp. It is natural to conclude that Sommeya, after Yasir’s death, married Arrack, and lived at Taif.

          Some accounts represent Ammar as one of the emigrants to Abyssinia, but others state this to be doubtful. He was killed in the battle of Siffin, A.H. 37, aged ninety-one or ninety-four. He was at one period appointed, by Omar, Governor of Cufa

      So, bagaimana mungkin seorang yang telah dinyatakan terbunuh secara brutal dan kejam, namun ternyata di kemudian hari menikah lagi?

      Kenapa turunnya An Najm 53:19, menjadi berita yang sangat mengggembirakan bagi kaum kafir dan kaum muslim?

      Sekelumit di atas, mulai kita ketahui bahwa hijrah ke Abyissina bukanlah karena siksaan fisik bertubi-tubi yang dilakukan kaum Quraish kepada seluruh komunitas muslim, namun terutama karena mereka sendirilah yang tidak tahan hidup terisolir dan berupaya untuk mencari penghidupan yang lebih baik di negara orang dan juga perintah dari Nabi mereka sebagaimana tergambar jelas pada riwayat dibawah ini:

        ‘Ali b. Nasr b. ‘Ali al-Jahdami and ‘Abd al-Warith b. ‘Abd al-Samad b. ‘Abd al-Warith—‘Abd al-Samad b. ‘Abd al-Warith—Aban al-‘Attar—Hisham b. ‘Urwah—‘Urwah: Ia menulis kepada ‘Abd al-Malik sebagai berikut, merujuk pada Nabi: Ketika Ia mengajak orang-orang mengikuti petunjuk sebagaimana yg diturunkan padanya, sejak dari awal Ia berkotbah, kaum quraish tidaklah menarik diri darinya dan berada pada posisi mendengarkannya. Namun ketika ia menyinggung tuhan-tuhan mereka, beberapa hartawan Quraish yang berasal dari Al-Ta’if, bertindak keras menentangnya, tidak menyukai apa yang disampaikannya. Mereka mengajak orang-orang menentangnya dan banyak orang memalingkan diri dan mengabaikannya, kecuali mereka yg “tuhan” lindungi dan jumlahnya sedikit.

        Keadaan berlangsung selama yang “Allah” kehendaki dan para pemimpin mereka kemudian bersatu bersama untuk membujuk pengikut allah yang merupakan anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, budak-budak mereka yang mengikutinya. Beberapa upaya sangat mengagetkan kaum muslim yang telah mengikut Nabi. Beberapa dapat di bujuk, namun Allah melindungi dari kesalahan orang-orang yang ingin ia lindungi. Ketika kaum muslim diperlakukan seperti ini, NABI MEMERINTAHKAN mereka untuk hijrah ke Abyssinia..Ketika Nabi memerintahkan melakukan ini, mereka pergi ke Abyssinia karena keadaan yang memaksa di Mekkah. ketakutan karena akan terbujuk murtad dari agamanya. Nabi tetap tinggal di mekkah[25].

        Kejadian ini terjadi di bulan Rajab di tahun ke-5 masa kenabian Muhammad SAW[26].

        Nabi melihat penderitaan yang melanda mereka, meskipun ia sendiri di terlindungi karena belas kasih Allah dan Pamannya Abu Talib, namun ia tidak mampu melindungi pengikutnya atas derita yang mereka alami. Untuk itu, Ia berkata kepada mereka, “Kenapa kalian ngga pergi ke Abyissinia?..” Itulah sebabnya para pengikut Nabi pergi ke Abyssinia takut mereka tergoda dan meninggalkan Allah dan agamanya. Inilah Imigrasi pertama di Islam[27].

      Dalam penyampaian lain, kita akan temukan pemicu Hijrah pertama ke Abyssinia itu bukan penyiksaan fisik, namun akibat sangsi adat, sosial ekonomi yang berkepanjangan:

        “Kaum Quraish berkumpul bersama untuk berunding dan memutuskan untuk mendraft dokumen yang mana mereka menyatakan untuk tidak mengawini wanita dari/memberikan wanita untuk dikawini kepada bani Hasim dan bani Muttalib dan tidak menjual kepada/atau membeli dari bani Hasim dan bani Muttalib. Mereka menuliskan maklumat itu dan mengawasinya dengan seksama. Mereka menggantungkan dokument itu di interior Ka’bah yang mengikat diantara mereka.

        Ketika suku-suku Quraish lainnya melakukan ini, Bani Hasim dan bani Muttalib bersama dengan Abu talib menuju ke lembah Abu talib (Muhammad SAW lahir di sini[28]) dan berkumpul disekelilingnya disana; Namun ‘Abu Lahab ‘Abd al Uzza b. ‘Abd al-Muttalib meninggalkan Bani Hasim dan bersama dengan kaum Quraish lainnya mendukung boycot terhadap ‘Abu Talib. Kejadian ini berlangsung sekitar 2-3 tahun yang mengakibatkan 2 suku ini kehabisan persediaan perbekalan, karena tidak ada yang menghampiri mereka kecuali yang dikirim secara diam-diam oleh kaum quraish yang hendak memelihara hubungan dengan mereka[16].

        Mereka mengisolasi kawasan yang menjadi tempat tinggal baru kaum bani Hasyim. Mereka dilarang untuk mengirimkan berbagai makanan apapun ke lokasi kaum bani Hasyim tinggal[29]. Kaum muslim dilarang keluar dari kawasan KECUALI ketika ber-haji/Ziarah, di saat itu barulah mereka juga mendapatkan makanan [30]. Mereka mengenakah harga dan bunga yang tinggi jika ada kaum muslim berniat membeli, Walid b. Mugira berkata pada para penjual bahwa “ketika engkau melihat muslim manapun yang membeli makanan apapun, naikan harganya, jika mereka ngga punya uang, beri mereka pinjaman dan kenakan bunga setinggi mungkin.[Ibn Ishaq, 140].

        [note: kaum Hasyim dan muttalib yang di kucilkan tersebut TIDAKLAH SEMUANYA MUSLIM, jadi kalimat ini seharusnya bukan MUSLIM tapi KAUM HASYIM dan Muttalib].

        Ketika keadaan semakin tak tertahankan, Nabi mengijinkan para muslim untuk beremigrasi ke Abyssinia. [31].

        “hari-hari yang sangat berat bagi mereka dan seringkali mereka terpaksa memakan dedaunan TALH atau pisang raja”[32].

      Berapa lama sangsi adat, sosial dan ekonomi ini berlangsung?

      Peran paling besar pencabutan sangsi ini justru dilakukan bukan oleh Allah atau Nabi atau Umar atau Abu bakar atau Usman atau Paman nabi atau para muslim lainnya, Peran itu justru dilakukan oleh para orang kafir yang dimotori oleh Hisyam bin Amr! Ia adalah orang yang sama yang datang di tengah malam membawa unta yang dimuati makanan atau gandum dan sesampainya di celah gunung, dilepaskannya tali untanya lalu dipacunya supaya terus masuk ke tempat kaum Muslimin.

      Karena rasa kasihan bahwa yang diberikan sangsi adalah kerabat mereka juga, maka ia kemudian menemui Zuhair bin Abi Umayyah (Bani Makhzum). Ibu Zuhair adalah Atika binti Abdul Muthalib (Bani Hasyim)

      “Zuhair,” kata Hisyam, “Kau sudi menikmati makanan, pakaian dan wanita-wanita. Padahal seperti kau ketahui, keluarga ibumu tidak boleh berhubungan dengan orang lain, tidak boleh berjual-beli, tidak boleh saling mengawinkan. Aku bersumpah, bahwa kalau mereka itu keluargaku dari pihak ibu—keluarga Abul Hakam bin Hisyam [ABU Jahl)—lalu aku diajak seperti mengajak kau, tentu akan kutolak.”

      Keduanya kemudian sepakat akan sama-sama membatalkan piagam itu dan mengajak Mut’im bin Adi (Naufal), Abu Al-Bakhtari bin Hisyam dan Zam’ah bin Al-Aswad (keduanya Bani Asad). Mereka berlima lalu bertemu di Al-Hacun di dataran tinggi mekkah pada tengah malam disana mereka mendiskusikan strategi dan mengorganisir untuk menghancurkan piagam kesepakatan tersebut.

      Setelah tujuh kali mengelilingi Ka’bah di keesokan paginya, si kafir Zuhair bin Umayyah berseru kepada orang banyak, “Hai penduduk Makkah! Kamu sekalian enak-enak makan dan berpakaian padahal Bani Hasyim binasa tidak dapat mengadakan hubungan dagang. Demi Allah, aku tidak akan duduk sebelum piagam yang kejam ini dirobek!”

      Abu Jahal, begitu mendengar ucapan itu, berkata bahwa Piagam itu tidak boleh di robek. Saat itulah mereka melancarkan strategi lanjutan mereka. Zama’ah mengatakan Abu Jahal bohong dan mengatakan kita tidak menerima keputusan Abu jahal (pemimpin mereka) ketika di tuliskan. Abu Al Batari menambahkan Jam’ah benar mereka tidak sepakat dan tidak tau isi detail, Mut’im b adiy berkata kalian berdua benar dan abu Jahl bohong. Hisham b Amar juga mendukung mereka.

      Abu Jahl berkata tindak tanduk mereka ini telah diorganisasikan sebelumnya dan merencanakan kejadian ini. Selama berlangsungnya pembicaraan, Mut’im b. ‘Adiy mendekati piagam itu dan merobeknya (Ibn Ishaq, menulis, (ﺛﻢ ان اﻟﻤﻄﻌﻢ ﺑﻦ ﻋﺪى ﻗﺎم اﻟﻰ اﻟﺼﺤﻴﻔﺔ ﻓﺸﻘﻬﺎ‬) (Mut’im b. ‘Adiy mendekati piagam itu dan merobeknya) dan “‫ “ﻓﻠﻤﺎ ﻣﺰﻗﺖ‬(ketika dirobek)[33]. Ia melihat keseluruhan piagam dimakan binatang kecil kecuali bagian “bismikallahumma”.[34]. Piagam itu ditulikan oleh Mansur b. Ikrime b. Amir[35].

      Demikianlah Akhirnya Sangsi sosial itu berakhir. Setelah itu dilanjutkan dengan kamatian Khadijah dan Abu Talib. Surat 28:56, turun di urutan ke-49 adalah berkenaan dengan wafatnya Abu Talib. Mereka berdua wafat di tahun ke-10 masa kenabian Muhammad SAW[36] dan 3 tahun sebelum Hijrah ke Medinah[37].

      Apa yg kita bisa pelajari dari laporan-laporan di atas?

      • Sangsi adat, sosial dan ekonomi tersebut berlangsung selama 5 tahun lebih [< 615 M s/d 619 M]
      • Peristiwa Hijrah Ke Abyssinia, jelas disebabkan karena sangsi adat, sosial dan ekonomi dan bukan karena siksaan fisik kaum Quraish. Usman juga Hijrah ke Abyssinia dan pulang pada 3 bulan kemudian. Sepulangnya dari Abyssinia, Usman tidak ikut Nabi namun malah menetap di Mekkah dan membangun bisnisnya. Demikian pula ABU BAKAR dan UMAR juga ada di mekkah.
      • Ketika kaum Islam kelaparan akibat sangsi ekonomi, Abu Bakar dan Umar TIDAK berpartisipasi membantu dengan resiko di musuhi, yang membantu justru kaum pagan sendiri, misal: Hakim b. Hizam b. Huwaylid dan Hisham b. Amr b. Rebi[38].

        Mengapa Mereka tidak ikut bersama Nabi dan mengapa tidak membantu Nabi dan pengikutnya dengan perbekalan makanan dikala susah?..Inilah juga yang kemudian menjadi pertanyaan abadi kaum Syi’ah yang tidak pernah dapat dijawab oleh kaum Sunni.

      • Sangsi adat, sosial dan ekonomi menyebabkan ludesnya harta Khadijah dan kelompok Bani Hasyim/Bani Muttalib. Kejadian ini juga yang memicu wafatnya Khadijah dan Abu talib
      • Selain sangsi sosial-ekonomi, maka tidak ada penyiksaan fisik kepada Nabi dan bahkan Nabipun melakukan taktik memuji tuhan-tuhan orang kafir

      Sekarang kita bisa mengerti motif Hijrahnya Nabi ke Medina, penggalangan Jizyah, penyerangan, penaklukan dan penyebaran ajaran di berbagai wilayah

    5. Sampai dengan surat Al hijr 15: 94-95 [Turun di urutan ke-54], maka Allah memerintahkan “DAKWAH” agar dilakukan secara terang-terangan.

      Faktanya, sebelum surat ini turun, yaitu berdasarkan bukti urutan turunnya surat Al kafirun 109: 1-6 [turun di urutan ke-18], maka dakwah terang-terangan telah dilakukan berikut berbagai penghinaan dan pencercaan pada tuhan-tuhan dan nenek moyang kaum Quraish oleh Nabi.

      Fakta yang terjadi tampak bertentangan urutan dan juga perintah di surat ini, namun urutan turunnya surat adalah berasal dari kalangan muslim sendiri.

      Kekacauan urutan surat dan tetek bengek lainnya bukanlah sesuatu yang mengherankan karena bahkan penyusunan kitab Qur’anpun ternyata memiliki ragam permasalahan yang mencurigakan, yaitu mulai masalah penyusunannya s/d kitab yang dihasilkan ternyata memiliki variasi berbedaan TOTAL JUMLAH HURUF, sehingga tidak jelas mana yang asli mana yang bukan [Artinya termasuk Quran yang sekarang beredar]. Untuk jelasnya, silakan lihat di sini

    6. Sampai dengan surat Al An’aam 6:108 [Turun di urutan ke-55]. Di Tafsir Ibn Kathir: Ali bin Abi Talhah berkata tentang komentar Ibn `Abbas pada ayat [6:108]: “Mereka berkata, ‘O Muhammad’ Berhentilah menghina tuhan-tuhan kami, atau kami akan menghina tuhanmu”. Juga , bagaimana kaum kafir menjadi terprovokasi ikut menghina gara-gara sesembahan mereka terus menerus dihina sebagaimana terekam di narasi `Abdur-Razzaq yang berasal dari Ma`mar bahwa Qatadah berkata, “Para Muslim biasa menghina sesembahan non muslim lainnya hingga akhirnya mereka balik membalas menghina Allah”.

      Kaum Quraish sangatlah menghormati perbedaan sesembahan dan tidak pernah menghina sesembahan lainnya, hal ini terekam lewat riwayat turunnya surat Al An’aam 6:108, yaitu ketika Allah Muslimin melarang kaum muslim memaki sembahan-sembahan pihak lain, karena mereka nanti akan memaki Allah.

      Note:
      Berapa dari muslim akan berdalih bahwa ini lemah dan mursal, untuk itu silakan lihat dua link di sini dan di sini yang memberikan arahan dan alasan mengapa riwayat ini dapat diterima dan TETAP digunakan Ibn Kathir dalam menafsirkan

      Masa sih perlu turun 37 surat dulu untuk kemudian Allah menyadari bahwa tindakan-tindakan yang dilakukan nabi beserta pengikutnya merupakan tindakan yang sangat keterlaluan?!

        Ketika Rasul secara terbuka menggambarkan Islam sebagai Allah yang memerintahkan dia, kaum Quraish tidak berbalik melawannya, sejauh saya dengar, hingga Ia berbicara yang meremehkan dewa-dewa mereka. Ketika dia melakukan itu, mereka tersinggung hebat dan memutuskan bulat untuk memperlakukan dia sebagai musuh.(Ibn Ishaq 167)

      Mari lihat dari versi tafsir lainnya utk surat 6:108, yaitu dari ‘Alī ibn Ahmad al-Wahidi, Asbab al-Nuzul:

        Ibn ‘Abbas berkata, menurut riwayat Al-Walibi, “Mereka [kaum pagan] berkata:” O Muhammad, berhentilah mencerca tuhan kami atau kami akan menghina Tuhanmu ‘..Qatadah berkata: “Muslim biasa mencerca tuhan mereka dan akhirnya Kaum pagan bereaksi balik melawan mereka..Al-Suddi berkata: “Ketika Abu Talib tengah sekarat, [beberapa pemimpin] Quraish berkata, “Mari kita temui dia dan memintanya untuk melarang kemenakannya mencerca tuhan-tuhan kita, karena kita malu untuk membunuhnya setelah ia wafat yang nantinya mendorong banyak orang arab berkata, ‘Ia biasa membelanya, namun saat Ia wafat, mereka membunuhnya’.

        Dan demikianlah Abu Sufyan, Abu Jahl, al-Nadr ibn al-Harith, Umayyah dan Ubayy anak-anaknya Khalaf, ‘Uqbah ibn Abi Mu‘ayt, ‘Amr ibn al-‘As, al-Aswad ibn al-Bukhturi pergi menemui Abu Talib. Mereka berkata padanya: ‘Kau adalah junjungan kami dan pemimpin, namun Muhammad telah menyakiti kita dan melecehkan Tuhan-tuhan kita. Kami memohon Kau memanggilnya dan mengingatkannya untuk berhenti berkata tidak baik pada tuhan-tuhan kita. Dan di bagian kami, kami akan membiarkannya dengan Allahnya’. Setelah dipanggil, Nabi datang.

        Abu Talib berkata padanya: “Mereka ini adalah kaummu dan juga sepupu-sepupumu”. Nabi berkata pada mereka: “Apa mau kalian?” Mereka berkata: “Kami ingin kamu membiarkan kami dengan tuhan-tuhan kami dan kamipun membiarkan engkau bersama tuhanmu” Abu Talib berkata: “Kaummu telah berlaku ADIL padamu, maka kabulkanlah”.

        Nabi berkata: “Jika Aku sepakat dengan ini maka apakah Kalian sepakat memberikan aku satu kalimat, jika engkau ucapkan ini, Kalian akan memerintah kaum arab dan non arab sekaligus?” [NAMUN di Tabari disampaikan, “Jika engkau ucapkan ini,kalian akan memerintahkan kaum Arab dan NON ARAB akan membayar Jizyah pada mereka”[39]]

        Abu Jahl berkata: ‘Ya, Demi nama Ayahmu, kami akan berikan hal tersebut padamu dan juga memberikan 10 hal lain yang seperti itu, tapi apakah kalimat itu? [Di Tabari kalimatnya adalah dari Abu Talib. Abu Talib berkata, “Apakah kalimat itu, keponakan?”[39]]

        Nabi berkata:”Tidak ada Tuhan selain Allah!”.

        Mereka menolaknya dan mengekspresikan ketidaksenangan mereka pada penawaran ini

        [Di tabari: Mereka berdiri dengan siaga, mengebaskan debu di baju mereka dan berkata, “Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan” Kemudian turun surat AQ 38:5-8 (Turun di urutan ke-38) yang di awali dengan kalimat yang di ucapkan mereka dan di akhiri dengan, “mereka belum merasakan azab-ku (‘-ku’ dalam huruf kecil)” Ini adalah kata-kata persis dari Riwayat Abu Kurayb[39]], bahkan Abu Talib berkata: “Anak dari kakak-ku, mintalah sesuatu yang lain, kaummu sangat berhati-hati tentang ini”.

        Ia berkata: “Oh Paman, Aku tidak akan meminta selain dari itu. Bahkan jika mereka meletakkan matahari di tanganku, Aku tidak akan meminta selain itu”. Pemimpin kalangan Quraish berkata:”Kamu sebaiknya berhenti mencerca tuhan-tuhan kami atau kami akan balik mencercamu dan juga Ia yang memerintahkanmu”. Dan demikianlah, Allah mewahyukan ayat ini.

    7. Bahkan SETELAH turunnya surat Al Mu’min AQ 40:28 [Turun diurutan ke-60] dan surat Al Fushshilat AQ 41:1-13 [Turun di urutan ke-61], Semua penghinaan pada suku, ajaran dan agama kaum pagan, juga kekacauan dan perselisihan yang terjadi di antara suku mereka, maka tetep saja TIDAK TERJADI kekerasan pada Muhammad SAW, bahkan mereka telah mendemonstrasikan tindakan sangat toleran, bersabar dan berusaha menyelesaikan perbedaan dan pertikaian dengan cara yang sangat baik bagi ke maslahatan seluruh kaum Quraish.

      Untuk surat Al Mu’min AQ 40:28 [Turun diurutan ke-60], Abu Ja’far (al-Tabari):

        Ketika pengikut nabi beremigrasi, Nabi tetap di Mekkah ia tetap berkotbah secara rahasia dan terbuka, dilindungi oleh Allah melalui Pamannya, Abu Talib dan oleh mereka yang menjawab panggilannya. Ketika Kaum Quraysh melihat itu Mereka TIDAK menyerangnya secara FISIK, mereka menyatakan dirinya penyihir, penenung, dan sinting, dan penyair..Berkenaan hal ini, terdapat laporan kekerasan terburuk yang terjadi ketika itu:

        Abu Salamah b. ‘Abd al-Rahman berkata pada ‘Abdullah b. ‘Amr b. al-‘As, “Apa Kekerasan terburuk yang engkau lihat yang dilakukan kaum Quraish pada Nabi ketika mereka secara terbuka mereka menunjukan permusuhannya?” Ia menjawab, “Aku tengah berada dengan para orang terhormat mereka di satu hari di Hijr tengah mebicarakan Nabi. Mereka berkata, “kita ngga pernah menyaksikan seperti apa yang kita terima bertubi-tubi dari orang ini. Ia telah mencomooh nilai-nilai tradisi kita, melecehkan nenek moyang kita, mencerca agama kita, menyebabkan perpecahan dikalangan kita semua, dan menghina tuhan2 kita. Kita telah menerima bertubi-tubi banyaknya dari dia”..

        Ketika mereka berkata ini, Nabi tiba2 muncul dan berjalan dan mencium BATU HITAM. Ketika ya melewati mereka sambil melakukan ritual mengitari, dan sebagaimana yang ia lakukan maka mereka melakukan gerakan2 ejekan tentang dirinya. Aku dapat melihat dari wajah Nabi yang Ia dengar dari mereka, namun ia jalan terus. Ketika ia lewat ke 2xnya, mereka juga membuat gerakan yang sama, namun ia terus berjala.

        Ketika Ia lewat ke 3xnya, dan mereka melakukan gerakan yang sama, namun kali ini Ia berhenti dan berkata, “Dengar, orang2 Quraish. Atas nama Ia yang nyawa Muhammad ditangannya, Aku membawa pembantaian padamu”. Mereka kemudian menggengam atas apa yg telah Ia katakan..sangat menohok mereka..bahkan pada mereka yang telah sangat keras menghimbau padanya sebelumnya dengan cara yang damai kepadanya menggunakan ekspresi tersopan dan berkata, “berjalanlah di tuntunan yang benar, Abu al-Qasim; Demi Allah, engkau tidaklah bodoh”

        “Nabi pergi dan keesokan harinya mereka berkumpul kembali di Hijr dan aku (‘Abdullah b. ‘Amr b. al-‘As) juga ada. Mereka berkata satu sama lainnya, “Engkau membicarakan tindakan tak menyenangkan yang bertubi2 engkau alami dan hal-hal yang Muhammad telah lakukan pada kalian namun ketika Ia secara terbuka menyatakan sesuatu yang tidak enak engkau takut padanya” Ketika mereka berkata ini, Nabi tiba-tiba muncul, mereka loncat kedepannya, mengelilinginya dan berkata, ” Benarkah engkau mengatakan ini dan itu?” mengulangi apa yang mereka dengar atas ucapannya dan juga tentang tuhan dan agamanya. nabi berkata “Ya, sayalah yang mengatakan itu”

        Kemudian Aku lihat satu diantara mereka mencengkram jubahnya, namun Abu Bakar berdiri didepannya menangis dan berkata, “terkutuklah kalian semua! Apakah kalian akan membunuh orang karena ia berkata tuanku adalah tuhan?” Mereka kemudian meninggalkannya dan itu adalah hal terburuk yang pernah aku lihat kaum Quraish lakukan padanya”[40]

        Abu Salamah b. ‘Abd Al Rahman berkata pada ‘Abdullah b. ‘Amr, “Apa Kekerasan terburuk yang engkau lihat yang dilakukan kaum Quraish pada Nabi” Ia menjawab,”‘Uqbah b. Abi Mu’ayt datang ketika Nabi ada di Ka’bah, membelit jubah disekeliling leher nabi dan memitingnya secara keras, Abu Bakar berdiri yang berdiri dibelakangnya, mendorongnya menjauh dari Nabi. dan berkata, “Tuhanku ialah Allah?..sampe pada kalimat “Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas, pendusta?”[41]

      Untuk surat Al Fushshilat AQ 41:1-13 [Turun di urutan ke-61]:

        Imam Abd b. Humaid di koleksi hadis Musnad-nya menyatakan bahwa Abu Bakar b. Shayba yang berhubungan dengannya, mengutip Ali bin Mishar, dari al-Ajlah, putra dari ‘Abd Allah al-Kindi, dari al-Dhayyal b. Harmala al-Asadi, dari Jabr b. ‘Abd Allah, yang berkata, “Kaum Quraisy suatu hari bertemu dan bersepakat untuk menentukan siapa yg paling paham sulap, sihir, dan puisi diantara mereka. Dia kemudian akan mendekati pria yang telah menyebabkan pertikaian dan perpecahan di kaumnya dan telah menyalahi agama mereka, untuk berbicara dengannya dan memutuskan bagaimana menanggapinya. Mereka sepakat bahwa ‘Utbah b. Rabi’ah adalah pilihan yang tepat, mereka mendekatinya dan berkata kepadanya, “Orangnya adalah engkau, hai Abu al-Walid”

        “‘Utbah kemudian pergi ke Rasulullah dan berkata,’ Wahai Muhammad, siapa yang lebih baik, Kamu atau Abdulllah?”, Muhammad tetap terdiam.

        “Lalu ia berkata, ‘Siapa yang lebih baik, Kamu atau Abdul Al-Muttalib” Muhammad tetap terdiam.

        “‘Utbah lalu berkata,”Jika engkau mengklaim bahwa orang-orang itu lebih baik darimu, Faktanya adalah mereka menyembah tuhan yang kamu cerca. Jika engkau mengklaim dirimu lebih baik dari mereka, Maka bicaralah sehingga kita bisa mendengar apa yang engkau katakan. Demi Allah, kami belum pernah melihat orang bodoh yang lebih berbahaya untuk kaumnya selain dari engkau, Engkau telah menyebabkan perpecahan dan pertikaian di antara kita, mengkritik AGAMA KAMI dan merendahkan kita semua dimana kaum arab bahwa dipermalukan kita di mata orang Arab bahwa desas-desus yang beredar diantara mereka saat ini, ada seorang pesulap atau penyihir di tengah-tengah Quraisy.

        Demi Tuhan, sesama, tampaknya kita harus tangisan seorang wanita hamil pada kita semua untuk berada satu sama lain dengan pedang hingga kita musnahkan diri kita sendiri! Jika diperlukan maka itu adalah persoalan engkau, kami akan mengumpulkan untuk membuatmu menjadi yang terkaya di antara kaum Quraish, jika status yang engkau inginkan, pilihlah perempuan Quraisy manapun yang engkau sukai dan kami akan menikahi sepuluh untukmu.

        Nabi menjawab, “Sudah selesai?” “Ya”, jawab ‘Utbah. Rasul Allah kemudian berbicara: “Dalam nama Allah, Maha Penyayang dan Pemurah. Haa Miim. Sebuah wahyu dari Maha Penyayang dan Pemurah. Sebuah Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui … ‘dan seterusnya hingga ayat, “Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud.” “‘

        “‘Utbah berkata,”Apakah itu cukup. tidak ada lagi yang di sampaikan?”‘

        “‘Tidak,’ jawabnya.

        “‘Utbah kemudian kembali ke Quraisy dan mereka bertanya apa yang terjadi. Dia menjawab, ‘Aku tidak menghilangkan satu kalimatpun kepadanya tentang yang kalian bicarakan.”

        “dia menjawab?”, Tanya mereka. “Ya”, jawabnya. Kemudian ia menyatakan, “Mmmh, tidak, oleh Dia yang berdiri seperti sebuah bangunan, saya ngga ngerti apa yang dia katakan, kecuali bahwa ia memperingatkan kita tentang hukuman yang mengerikan seperti ‘Ad dan Tsamud”[42]

      Sampai sejauh inipun, atas semua perselisihan, kekacauan dan perpecahan yang diakibatkan Nabi, sama sekali tidak ada penyiksaan kepada Nabi, bahkan malah Nabi yang mengancam mereka semua

    8. Bahkan kaum Quraish telah berusaha banyak memberikan kesempatan pada Muhammad untuk membuktikan kenabian dirinya:
        Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian tokoh-tokoh Quraisy dari setiap kabilah (seperti disampaikan kepadaku oleh sebagian orang berilmu dari Sa’id bin Jubair dan dari Ikrimah, mantan budak Ibnu Abbas dari Abdullah bin Abbas RA) seperti Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Abu Sufyan bin Harb, An-Nadhr bin Al-Harts bin Kildah saudara Bani Abduddaar, Abu Al-Bakhturi bin Hisyam, Al-Aswad bin Al-Mututhalib bin Asad, Zam’ah bin Al-Aswad, Al-Walid bin Al-Mughirah, Abu Jahl bin Hisyam (semoga dikutuk Allah), Abdullah bin Abu Umaiyyah, Al-Ash bin Wail, Nubaih, Munabbih (keduanya anak Al-Hajjaj), Umaiyyah bin Khalaf, dan lain-lain mengadakan pertemuan setelah matahari terbenam di samping Ka’bah.

        Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, ‘Pergilah salah seorang dari kalian kepada Muhammad kemudian bicaralah dengannya, dan berdebatlah dengannya hingga kalian bisa mengajukan alasan-alasan kepadanya.’ Mereka mengutus seseorang dengan membawa pesan untuk disampaikan kepada Rasulullah SAW, ‘Sesungguhnya kaummu sedang berkumpul membahas perihal dirimu. Mereka ingin bicara denganmu. Oleh karena itu, datanglah engkau ke tempat mereka!’ Rasulullah SAW mendatangi mereka..Ketika beliau telah duduk bersama mereka, maka salah seorang berkata kepada beliau, ‘Hai Muhammad, sungguh kami telah mengirim orang untuk berbicara denganmu.

        Demi Allah, kita belum pernah melihat ada seseorang dari Arab yang lancang kepada kaumnya melebihi kelancanganmu kepada kaummu. Sungguh engkau telah menghina nenek moyang. Engkau mencela agama dan melecehkan tuhan-tuhan. Engkau membodoh-bodohkan mimpi-mimpi dan memcah belah persatuan. Tidak ada hal yang jelek, melainkan engkau bawa dalam kaitan hubunganmu dengan kami (atau seperti yang mereka katakan). Jika dengan pembicaraan ini semua, engkau menginginkan kekayaan, kami akan mengumpulkan seluruh kekayaan kami hingga engkau menjadi orang yang paling kaya di antara kami. Jika..engkau menginginkan kehormatan, maka kami menjadikan engkau sebagai pemimpin kami. Jika engkau menginginkan menjadi raja, kami mengangkatmu sebagai raja kami. Jika apa yang engkau alami adalah karena faktor jin yang tidak mampu engkau usir, kami akan mengeluarkan seluruh kekayaan kami sebagai biaya untuk mencari dokter hingga engkau sembuh darinya.’

        Rasulullah Rasulullah SAW bersabda kepada mereka, ‘Apa yang kalian katakan tentang aku? Apa yang aku bawa kepada kalian tidak dengan maksud ingin mendapatkan kekayaan dari kalian, atau kehormatan di mata kalian, atau kekuasaan atas kalian. Namun Allah mengutusku kepada kalian sebagai Rasul, menurunkan Al-Kitab kepadaku, dan memerintahkanku menjadi pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan bagi kalian. Aku sampaikan pesan-pesan Tuhanku kepada kalian dan memberi nasihat kepada kalian. Jika kalian menerima apa yang aku bawa, itulah keberuntungan kalian di dunia dan akhirat. Jika kalian menolaknya, aku bersabar terhadap perintah Allah hingga Dia memutuskan persoalan di antara kita, — atau seperti yang disabdakan Rasulullah SAW.’

        Tokoh-tokoh Quraisy berkata, ‘Hai Muhammad, jika engkau tidak menerima satu tawaran pun yang telah kami ajukan kepadamu, ketahuilah, bahwa tidak ada seorang pun yang lebih sempit daerahnya, dan lebih sedikit persediaan airnya, dan lebih keras kehidupannya dari kami.

        Oleh karena itu, berdoalah kepada Tuhanmu yang mengutusmu dengan membawa apa yang engkau bawa ini agar Dia:

        1. menggoncang gunung-gunung yang terasa sempit bagi kami,
        2. meluaskan daerah kami, mengalirkan sungai-sungai seperti Sungai Syam dan Irak untuk kami di dalamnya,
        3. membangkitkan nenek moyang kita, dan pasti, dan pastikan bahwa di antara nenek moyang yang dibangkitkan untuk kita adalah Qushai bin Kilab, karena ia orang tua yang benar, kemudian kita bertanya kepadanya apa yang engkau katakan; benar atau salah?

        Jika nenek moyang kita membenarkanmu dan engkau mengerjakan apa yang kami pintakan kepadamu, maka kami membenarkanmu, mengakui kedudukanmu di sisi Allah, dan bahwa Allah mengutusmu sebagai Rasul seperti yang engkau katakan.’

        Rasulullah SAW bersabda kepada mereka, ‘Aku diutus kepada kalian tidak untuk seperti itu. Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian dengan membawa apa yang aku bawa. Sungguh, apa yang telah diutus kepadaku telah aku sampaikan kepada kalian. Jika kalian menerimanya, itulah keberuntungan kalian di dunia dan akhirat. Jika kalian menolaknya, aku bersabar dalam menjalankan perintah Allah Ta’ala hingga Dia memutuskan persoalan di antara kita.’

        Mereka berkata, ‘Jika engkau tidak mau mengerjakan permintaan kami, maka bangunlah untuk dirimu. Mintalah Tuhanmu:

        1. mengutus malaikat bersamamu yang membenarkan apa yang engkau katakan dan meminta pendapat kami tentang dirimu.
        2. memberikan untukmu taman-taman, istana-istana, dan kekayaan dari emas dan perak hingga engkau menjadi kaya dengannya, karena engkau berada di pasar seperti halnya kami dan mencari kehidupan seperti kami.

        Ini semua agar kami mengetahui kelebihanmu dan kedudukanmu di sisi Tuhanmu jika engkau betul-betul seorang Rasul seperti pengakuanmu.’

        Rasulullah Saw bersabda kepada mereka, ‘Aku tidak akan melakukan itu semua, dan aku tidak akan meminta itu semua kepada Tuhanku, serta aku tidak diutus kepada kalian dengan itu semua. Namun Allah mengutusku sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan–atau seperti yang beliau sabdakan. Jika kalian menerima apa yang aku bawa, itulah keberuntungan kalian di dunia dan akhirat. Jika kalian menolaknya, aku bersabar dalam menjalankan perintah Allah hingga Allah memutuskan persoalan di antara kita.’

        Tokoh-tokoh Quraisy berkata, ‘Kalau tidak begitu jatuhkan untuk kami gumpalan dari langit karena engkau mengatakan bahwa jika Allah berkehendak, Dia pasti melakukannya. Sungguh, kita tidak beriman kepadamu jika engkau tidak melakukannya.’

        Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika itu kehendak Allah pada kalian, pasti Dia melakukannya.’

        Tokoh-tokoh Quraisy berkata, ‘Hai Muhammad, apakah Tuhanmu mengetahui bahwa kami akan duduk bersamamu, kami menanyakan ini semua kepadamu, dan meminta ini semua kepadamu, kemudian Dia datang kepadamu untuk mengajarimu sesuatu yang bisa engkau jadikan sebagai bahan untuk menjawab pertanyaan kami dan Dia menjelaskan kepadamu tentang apa yang akan Dia kerjakan terhadap kami jika tidak menerima apa yang engkau bawa? Sungguh, kami telah mendapatkan informasi bahwa engkau diajari seseorang dari Yamamah yang bernama Ar-Rahman. Demi Allah, kami tidak beriman kepada Ar-Rahman. Hai Muhammad, kami telah mengajukan banyak hal kepadamu. Demi Allah, kami tidak membiarkanmu dan apa yang engkau sampaikan kepada kami hingga kami berhasil membinasakanmu atau engkau membinasakan kami.’

        Salah seorang dari tokoh-tokoh Quraisy berkata, ‘Kami menyembah para malaikat, karena mereka adalah anak-anak wanita Allah.’

        Salah seorang dari mereka berkata, ‘Kami tidak beriman kepadamu hingga engaku bisa mendatangkan Allah dan para malaikat berhadapan dengan kami.’

        Ketika mereka usai berkata seperti itu kepada Rasulullah SAW, beliau berdiri dan diikuti Abdullah bin Abu Umaiyah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum yang tidak lain adalah saudara misannya, dan suami Atikah bin Abdul Muththalib.

        Abdullah bin Abu Umaiyyah berkata kepada Rasulullah SAW, ‘Hai Muhammad,

        1. kaummu telah mengajukan banyak tawaran kepadamu, namun semua tawaran mereka engkau tolak.
        2. Mereka memintamu memberi hal-hal agar dengan yang demikian mereka mengetahui kedudukanmu di sisi Allah seperti pengakuanmu.
        3. Mereka memintamu, dan mengikutimu, namun engkau tidak mengabulkannya.
        4. Mereka memintamu mengambil sesuatu untuk dirimu sehingga dengan sesuatu tersebut, mereka mengetahui kelebihanmu atas mereka dan kedudukanmu di sisi Allah, namun engkau tidak mengabulkannya.
        5. Mereka meminta percepatan siksa yang engkau ancamkan kepada mereka, namun engkau juga tidak mengabulkannya–atau seperti dikatakan Abdullah bin Abu Umaiyyah.

        Demi Allah, sampai kapan pun aku tidak beriman kepadamu hingga engkau membangun tangga ke langit, kemudian engkau naik ke langit melalui tangga tersebut dan aku melihatmu tiba di sana, setelah itu engkau mengambil tempat malaikat yang memberi kesaksian untukmu bahwa apa yang engkau katakan memang benar. Demi Allah, jika engkau tidak mau melakukannya, jangan berharap aku membenarkanmu.’

        Kemudian Abdullah bin Abu Umaiyyah berpaling dari Rasulullah SAW dan beliau sendiri pulang kepada keluarganya dengan perasaan sedih, dan berduka karena tidak tercapainya keinginan beliau pada mereka ketika mendakwahi mereka, dan karena melihat mereka menjauh dari beliau. [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, bab56, hal 248-251]

      Bahkan permintaan yang sungguh wajar inipun tidak mampu Muhammad lakukan.

      Bukan cuma itu,
      Kaum Quraish bahkan telah juga mengambil bukti yang berasal dari pengetahuan yang dimiliki oleh para rahib Yahudi yang membuktikan bahwa Muhammad bukanlah Nabi melainkan pengacau. Bukti ini adalah karena ulah An Nadir bin Al-Harits. Ia disamping tahu bahwa Muhammad BUKAN nabi, Ia juga orang yang menyatakan bahwa Muhammad BUKAN JUGA: penyihir, dukun, penyair dan orang gila. [Ibid, hal. 252-253]. Ia memberikan ide membuktikan Muhammad seorang pembohong melalui pengetahuan dari para rahib Yahudi. Kaum Quraish kemudian menugaskan dirinya dan Uqbah bin Abu Mu’aith kepada rahib-rahib Madinah dan Rahib Yahudi memberikan solusi berupa 3 pertanyaan yang jika Muhammad mampu menjawab 3 hal tersebut, maka ia seorang Nabi dan jika tidak, maka Ia pembohong, yaitu perihal:

      • Pemuda-pemuda yang meninggal pada periode pertama dan informasi tentang mereka?
      • Seorang pengembara yang menjelajahi timur dan barat
      • Roh; apakah roh itu?

      3 hal itu ditanyakan pada Muhammad yang kemudian berjanji akan menjawab esok paginya namun bahkan sampai 15 malam Muhammad tidak mendapatkan wahyu tentang itu (tentu saja, ada alasan pembelaan tentang ini, yaitu karena Muhammad saat berjanji tanpa mengatakan insya Allah)

        Mereka berkata, ‘Muhammad menjanjikan jawaban atas pertanyaan kita besok pagi, dan waktu sudah berjalan 15 malam, namun tidak ada jawaban atas pertanyaan kita.’..

      Kaum Quraish mentertawakan Muhammad dan An-Nadhr telah sukses merubuhkan seluruh klaim Muhammad bahwa Ia adalah nabi.

        Kemudian Malaikat Jibril datang kepada beliau membawa surat Al-Kahfi (no.18, turun di urutan ke-69) dari Allah swt yang berisi informasi perihal pemuda-pemuda yang mereka maksud, sang pengembara dan permasalahan roh [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Bab 56. hal.252-264]

      Namun walaupun Allah sebagai sandarannya, ke-3 Pertanyaan itu tetap saja dijawab Muhammad dengan NGAWUR:

      1. Ashabul Kahfi (Penghuni Gua), tercantum di AQ 18:9-26 [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Bab 56. hal.252-264]

        Ternyata Allah, Jibril dan Muhammad) bahkan tidak tahu bahwa kisah pemuda itu HANYALAH DONGENG BELAKA. Untuk jelasnya, silakan buka ‘“Seven Sleepers” tertidur 309 Tahun?‘ 🙂

      2. Dzu Al-Qarnaini, tercantum di AQ 18:83-98 [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Bab 56. hal.264 – 255]. Bahkan di sini, Allah (juga dalam hadis Qudsi dan hadis nabi) memberikan pengetahuan disisi Allah dengan cara yang sangat kuno yaitu mengklaim Matahari berjalan dari Timur ke Barat dan kemudian Matahari itu terbenam adalah di mata air/lumpur Hitam 🙂

        Bukan cuma itu, dalam perjalanan sejarah, dunia Islam pun mengalami kebingungan sendiri mengenai siapakah Dzu Al-Qarnaini, sebagian dari ulama menyatakan bahwa Ia adalah Koresh Yang agung dan sebagian lainnya menyatakan bahwa Ia adalah Alexander Yang Agung 🙂 dan cilakanya semua anggapan inipun juga keliru besar

      3. Jawaban Allah dan Rasulnya tentang Roh. Juga tidak ada.

        Bayangkan sendiri! Bagaimana mungkin seorang utusan Allah, tapi tidak diberitahu ilmu tentang roh dan hanya menghindar dengan mengatakan ‘Dan mereka bertanya kepadamu tetang roh. Katakanlah, ‘Roh termasuk urusan Tuhanku, dan kalian tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (AQ 17.85, Turun di urutan ke-50)?

      Kaum Quraish telah dengan baik merubuhkan klaim Muhammad bahwa Ia adalah utusan Allah dan bahkan pembuktian inipun dilakukan mereka dengan tanpa kekerasan dan tanpa PENGHINAAN pula! Sementara Muhammad, tetap saja konstan dengan caranya yaitu memberikan ancaman-ancaman verbal kepada mereka.

      Lucunya lagi,
      Muhammad (dengan membawa nama Allah) juga memberikan tantangan kepada kaum Quraish agar membuat ayat/kalimat/surah yang semisal Quran, misal:

      • Atau mereka mengatakan: “ Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: maka cobalah datangkan sebuah surat (bisūratin) seumpanya dan panggilah siapa-siapa yang dapat kamu panggil selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar” [Aq 10.38, Surat Yunus, turun di urutan, ke-51]
      • mereka mengatakan: ”Muhammad telah membuat-buat Alquran itu”, katakanlah: ”maka datangkanlah sepuluh surat (biʿashri suwarin) yang dibuat-buat menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”. [AQ 11.13, Turun di urutan ke-52]
      • Ataukah mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) membuat-buatnya”. Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendalah mereka mendatangkan kalimat (biḥadīthin) yang semisal dengan Alquran itu jika mereka orang-orang yang benar (AQ 52.33-34, Turun di urutan ke-76)

      Cilakanya, tantangan sepele dari Allah ini JUGA TELAH dijawab baik oleh An Nadhr bin Al-Harits, Ia juga mampu menciptakan dongengan (kalimat/surah/ayat) yang sama semisal quran di tempat manapun itu setelah Muhammad menyampaikan dongengannya:

        ..Jika Rasulullah SAW duduk di satu tempat untuk mengajak kaumnya ingat kepada Allah, mengingatkan mereka tentang hukuman Allah yang diterima orang-orang sebelum mereka, dan beliau beranjak dari tempat tersebut, maka An-Nadhr bin Al-Harits duduk di tempat yang sama, kemudian berkata, ‘Demi Allah, wahai orang-orang Quraisy, aku lebih bagus ucapannya daripada Muhammad. Sekarang kalian ke marilah, niscaya aku katakan kepada kalian perkataan yang jauh lebih bagus daripada perkataan Muhammad!‘ Kemudian An-Nadhr bin Al-Harits bercerita kepada mereka kisah-kisah tentang raja-raja Persia, Rustum, dan Isfandiyar. Ia berkata, ‘Dengan apa Muhammad lebih bagus ucapannya daripada saya?’ ” Ibnu Hisyam berkata, “An-Nadhr bin Al-Harits inilah (sama seperti disampaikan kepadaku) orang yang berkata, ‘Aku akan menurunkan ayat seperti yang diturunkan Allah’” [Sirat Nabawiyah Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid I, Bab.56, Hal.253-264]

        Ibnu Ishaq berkata: “Seperti disampaikan kepadaku bahwa Ibnu Abbas berkata, ‘Al-Qur’an menurunkan delapan ayat tentang An-Nadhr bin Al-Harits. Yaitu firman Allah Ta’ala, ‘Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, ‘Itu adalah dongeng orang-orang yang dahulu.’ (AQ 83.13, turun urutan ke-86). Dan semua ayat-ayat yang di dalamnya terdapat kata Al-Asaathir (dongeng orang-orang terdahulu) dalam Al-Qur’an’ [Ibid, hal.253]

      Tantangan Allah ini, TELAH PATAH berkali-kali dan bahkan patahnya inipun dilakukan DITEMPAT yang sama dan dilakukan TANPA JALAN KEKERASAN hanya dengan PEMBUKTIAN LANGSUNG yang SEDERHANA, pula!

    9. Sampai dengan surat Ar Ruum AQ 30:1-6, [Turun di urutan ke-84 dan merupakan 4 surat terahir yang turun di Mekkah]. Pada hadis yang meriwayatkan surat Al ruum 30:1-6, kita temukan fakta bahwa kaum Quraish memang TIDAK-LAH PERNAH memusuhi/memerangi Muhammad SAW dan pengikutnya:
        Diriwayatkan bahwa tatkala sampai berita kekalahan bangsa Romawi oleh bangsa Persia itu kepada Rasulullah saw dan para sahabatnya di Mekah, maka merekapun merasa sedih, karena kekalahan itu berarti kekalahan bangsa Romawi yang menganut agama Nasrani yang termasuk agama Samawi dan kemenangan bangsa Persia yang beragama Majusi yang termasuk agama syirik.

        Orang-orang musyrik Mekah yang dalam keadaan bergembira itu menemui para sahabat Nabi dan berkata: “Sesungguhnya kamu adalah ahli kitab dan orang Nasrani juga ahli kitab, sesungguhnya saudara kami bangsa Persia yang bersama-sama menyembah berhala dengan kami telah mengalahkan saudara kamu itu. Sesungguhnya jika kamu memerangi kami tentu kami akan mengalahkan kamu juga. Maka turunlah ayat ini.

        Maka keluarlah Abu Bakar menemui orang-orang musyrik, ia berkata: “Bergembirakah kamu karena kemenangan saudara-saudara kamu atas saudara saudara kami? Janganlah kamu terlalu bergembira, demi Allah bangsa Romawi benar-benar akan mengalahkan bangsa Persia, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi kami”.

        Maka berdirilah Ubay bin Khalaf menghadap Abu Bakar dan ia berkata: “Engkau berdusta”.

        Abu Bakar menjawab: “Engkaulah yang paling berdusta hai musuh Allah. Maukah kamu bertaruh denganku sepuluh ekor unta muda. Jika bangsa Romawi menang dalam waktu tiga tahun yang akan datang, engkau berutang kepadaku sepuluh ekor unta muda, sebaliknya jika bangsa Romawi kalah, maka aku berutang kepadamu sebanyak itu pula”.

        Tantangan bertaruh itu diterima oleh Ubay.

        Kemudian Abu Bakar menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw menjawab : “Tambahlah jumlah taruhan itu dan perpanjanglah waktu menunggu”.

        Maka Abu Bakarpun pergi, lalu bertemu dengan Ubay. Maka Ubay berkata kepadanya: “Barangkali engkau menyesal dengan taruhan itu”.

        Abu Bakar menjawab: “Aku tidak menyesal sedikitpun, marilah kita tambah jumlahnya dan diperpanjang waktunya sehingga menjadi seratus ekor unta muda, dan waktunya sampai sembilan tahun”.

        Ubay menerima tantangan Abu Bakar, sesuai dengan anjuran Rasulullah kepada Abu Bakar.

        Tatkala Abu Bakar akan hijrah ke Madinah, Ubay minta jaminan atas taruhan itu, seandainya bangsa Romawi dikalahkan nanti. Maka Abdurrahman putra Abu Bakar menjaminnya. Tatkala Ubay akan berangkat ke perang Uhud, Abdurrahman minta jaminan kepadanya, seandainya bangsa Persia dikalahkan nanti, maka Abdullah putra Ubay menjaminnya.

        Tujuh tahun setelah pertaruhan itu bangsa Romawi mengalahkan bangsa Persia dan Abu Bakar menerima kemenangan taruhannya dari ahli warisnya Ubay karena dia mati dalam peperangan Uhud tersebut. Kemudian beliau pergi menyampaikan hal itu kepada Rasulullah saw”[43].

      Atau sebagaimana diriwayatkan Imam Tirmidzi dalam kitab sunan miliknya dari Ibnu Abbas ra tentang firman Allah yang berbunyi:

        “Aliif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa romawi di negeri yang dekat”. (Ar-Ruum 1-3).

        Ibnu Abbas berkomentar tentang ayat ini yaitu: mengalahkan dan dikalahkan. Kaum musyrikin sangat senang dengan kemenangan bangsa Persia atas bangsa Romawi, karena mereka sama-sama menyembah berhala. Sedangkan kaum muslimin menyukai kemenangan Romawi karena mereka adalah ahli kitab. Dan oleh orang-orang musyrik hal itu diungkapkan kepada Abu Bakar ra, yang kemudian menyampaikannya kepada Rasulullah saw.

        Lalu beliau saw bersabda: “Adapun mereka bangsa Romawi akan memperoleh kemenangannya”. Maka Abu Bakar ra pun balik menyampaikan hal itu kepada orang-orang musyrik dan mereka berkata: ” Kalau demikian, maka tetapkan batasan waktunya. Jika kami menang kami akan mendapatkan ini dan itu, jika kalian menang akan mendapatkan ini dan itu”. Kemudian Abu Bakar ra menetapkan batas waktu kepada mereka yakni lima tahun.

        Namun nyata bangsa Romawi belum mendapapat kemenangan.

        Kemudian Abu Bakar memberitahukan hal itu kepada Rasulullah saw dan bersabda: “Kenapa tidak engkau katakakan sampai dibawah?”

        Ibnu Abbas berkata: “Aku berpendapat bahwa apa yang dimaksud oleh beliau saw adalah di bawah sepuluh tahun”.

        Note:
        Tahun 614 M-615 M, Persia menang melawan Romawi. Jadi turun surat Ar ruum 30:1-6, seharusnya di tahun 615 M [atau 616 M]

        Tahun 622 M/623 M, Perang Romawi/Persia mulai lagi.
        Tahun 622 M, Hijrah ke Medinnah
        Tahun 625, Perang Uhud
        Desember 627 M, Perang terakhir dan dimenangkan oleh Romawi namun belumlah tuntas.
        Maret 628 M, Surat permintaan damai dari persia dan Perayaan kemenangan.

        Perhitungan:
        628 M – 616/615 M = 12/13 tahun
        628 M – 614/615 M = 13/14 tahun

        Jadi, jangankan “lima tahun” sebagaimana di sebutkan di riwayat ke-1, yang sudah menunjukan bahwa kaum kafir memenangkan pertaruhan BAHKAN jika memakai ucapan Ibn Abbas sebagaimana disebutkan di riwayat ke-2, yaitu “dibawah sepuluh tahun”-pun telah terlewati!

        Sehingga seharusnya: Abu bakar kalah, Nabi Muhammad SAW kalah dan Allah salah

        Namun jika kita gunakan selisih waktu 7 tahun antara pertaruhan dan kemenangan Romawi [628 M] sebagaimana yang disebutkan di riwayat ke-1, maka surat Ar Ruum 1-6 seharusnya turun pada 621 M atau 2 (dua)tahun SETELAH wafatnya Khadijah dan Abu Talib [619 M]!

        Artinya bahkan hingga 1 (satu) tahun SEBELUM Hijrah ke Medinnah-pun, TIDAK PERNAH kaum Quraish memusuhi Muhammad SAW dan pengikutnya dan semuanya justru disebabkan oleh Muhammad SAW dan pengikutnya sendiri!

      Bayangkan kesabaran orang2 Quraish pada tingkah laku nabi. Kesabaran itu berlangsung s/d 13 tahun lamanya sejak Muhammad SAW jadi Nabi!

        [Orang-orang Mekkah] berkata bahwa mereka tidak pernah ketemu kekacauan terus menerus seperti yang dilakukan orang ini. Ia nyatakan cara hidup mereka bodoh menghina nenekmoyang mereka, mencerca agama mereka, memecah komunitas dan mengutuki tuhan mereka(Ibn Ishaq 183).

      Dari segala yang Muhammad SAW lakukan, satu2nya KEKERASAN terburuk yang melanda nabi selama 13 tahunan di mekkah justru ketika ia telah hijrah!

        Selama 13 tahun, yang terburuk yang melanda Muhammad SAW di mekkah adalah lemparan pasir oleh pengejeknya dan terkadang ejekan ketika ia berdoa di Ka’bah. Nabi terus menggusarkan orang2 mekkah, Pada satu point memberitahukan mereka bahwa Ia datang membawa mereka pada “pembantaian” Hal ini mengakibatkan mereka menangkap Muhammad SAW [salah satunya bernama Uqba] dan berusaha memitingnya, namun hampir persegera dilepaskan tanpa terluka kemudian mereka meninggalkannya. Itu adalah yang terburuk yang kulihat kaum quraish lakukan padanya [Ibn Ishaq hal.184]

        Aku tanya ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘As untuk memberitahukanku, hal terburuk yang pagan lakukan pada rasulluallah. Ia katakan: “Ketika Utusan Allah sedang berdoa di halaman Ka’bah, ”Uqba bin Abi Mu’ait datang dan menangkap utusan Allah di bahunya dan memelintir kainnya sekeliling lehernya dan memitingnya. Abu Bakr datang dan menangkap dan memiting bahu ‘Uqba dan melemparkannya jauh dari utusan Allah dan berkata, “Apakah engkau akan membunuh seseorang karena ia berkata ‘Tuhanku adalah Allah’ dan telah datang padamu tanda yang jelas dari Allahmu?”[44]

    10. Terdapat klaim bahwa di hari hijrahnya Nabi ke Medinah adalah akibat dari hendak dibunuh oleh kaum Quraish. Nabi dan Abu Bakar berhasil melarikan diri secara ajaib dan selamat namun terus di buru hingga menyebabkan mereka bersembunyi 3 (tiga) hari lamanya di gua Tsur.

      Benarkah demikian?

      Yang terjadi tidak sesederhana itu. Periode berikut ini adalah di setelah hijrah ke-2 para muslimin ke Abyssinia [Ethiophia], yaitu terutama setelah wafatnya Khadijah dan Abu Talib.

      Setelah pelindungnya, Abu Talib, wafat,
      Maka Abu Lahab bin Abdul Muttalib menggantikannya sebagai pelindungnya, hingga kemudian muhammad mengatakan bahwa kakeknya sendiri (Ayah dari Abu Lahab, Abu Talib dan Abdullah/bapak muhammad) ada di neraka!

        Jalur ke-1: Muhammad Ibn `Umar – Mubammad Ibn Salih Ibn Dinar, `Abd al-Rahman Ibn `Abd al-`Aziz dan al-Mundhir Ibn `Abd Allah – Hakim Ibn Hiram atas otoritas beberapa sahabat;
        Jalur ke-2: Muhammad Ibn `Abd Allah – ayahnya -`Abd Allah Ibn Tha’labah Ibn Su`ayr;

        Mereka berkata:
        Wafatnya Abu Talib dan Khadijah berjarak waktu 1 bulan dan 5 hari; kedua bencana melanda Nabi SAW. Ia, kemudian, tinggal di tempatnya, jarang keluar…Abu Lahab menerima Informasi ini dan mendatanginya dan berkata: O Muhammad! Lakukan apa yang engkau suka dan telah engkau lakukan ketika Abu Talib masih hidup.

        Demi al-Lat! tidak seorangpun berkesempatan dapat mengganggumu hingga aku mati.

        Ibn Al-Gaytalah melecehkan Nabi SAW, maka Abu Lahab mendatanginya (Al Gaytalah) dan balas melecehkannya, ia menangis dan berteriak: O kaum Quraish! Abu ‘Utbah (abu lahab) telah murtad. Ketika kaum Quraish mendatangi Abu lahab, Ia berkata: Aku tidak meninggalkan keyakinan Abdul Al-Muttalib, namun Aku harus melindungi anak kakak-ku jika ia dilecehkan agar ia dapat melakukan apa yang ia kehendaki.

        Mereka berkata: Bagus! Bagus sekali! Engkau telah berlaku adil bagi keluargamu.

        Nabi SAW, tetap dalam keadaan ini dalam beberapa hari. Ia buasa pergi keluar dan kembali dan tidak ada seorang quraishpun yang mengganggunya. Mereka takut pada Abu lahab.

        ‘Uqbah Ibn Abi Mu’ayt dan Abu Jahl Ibn Hisham mendatangi Abu lahab dan berkata padanya: Apakah anak kakakmu menyampaikan padamu dimana Ayahmu (Abdul Muttalib) tinggal?.
        Abu Lahab berkata padanya: O Muhammad! Dimana Abudl Muttalib tinggal?

        Ia berkata: Dekat kaumnya.
        Abu Lahab kembali kepada mereka dan berkata: Aku tanya dia dan ia menjawab: Dekat kaumnya.
        Mereka berkata: Ia percaya bahwa ia (Abdul Muttalib) di neraka.
        Kemudian Ia berkata: O Muhammad! Akankah Abdul Muttalib masuk neraka?
        Nabi SAW berkata: Ya dan siapapun yang mati dalam keyakinan seperti Abdul Muttalib akan masuk neraka.
        Mendengar ini Abu Lahab berkata: Aku tidak akan berhenti memusuhimu selamanya karena kau percaya Abdul Al-Muttalib di neraka.
        Mulailah Ia (Abu Lahab) dan kaum Quraish memperlakukannya dengan kasar. [Ibn Sa’d, AL-Tabaqat Al kabir, vol.1 Parts 1.54.1]

      Sampai sejauh ini Abu Lahab jelas tidak memusuhi dan bahkan dengan kebaikan hatinya juga ikut melindungi Muhammad anggota keluarga mereka, namun Muhammad malah mengatakan bahwa Kakeknya (juga ayah, ibu, pamannya) dan semua orang yang punya keyakinan yang sama dengan kakeknya ada di neraka, maka Abu Lahab pun menjadi memusuhinya.

      Kegagalannya memperhalus ucapan untuk membohongi Abu Lahab membuatnya kehilangan pelindung pengganti.

      Muhammad kemudian pergi ke Thaif [80 Km jaraknya dari Mekkah] untuk mencoba mencari perlindungan pada orang-orang Tsaqif [Abdu Yalail bin Amr bin Umair, Mas’ud bin Amr bin Umair dan Habib bin Amr bin Umair bin Auf bin Aqdah bin Ghirah bin Auf bin Tsaqif], namun mereka tidak mau diperalat Nabi untuk berhadapan dengan kaum Quraish. [Ibn Ishaq hal 381-383]

      Ini membuat Nabi Marah.

      Orang-orang Thaif mengerahkan budak-budak mereka untuk mencaci maki, mentertawakan dan “mengepung” Nabi hingga sampai di kebun milik Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah dan kemudian Orang-orang itu pun pulang. [Ibn Ishaq hal.382]

      Dengan pulangnya mereka tanpa membunuh dan melukainya, maka ini merupakan upaya untuk memastikan seseorang yang tidak di kehendaki karena jelas beritikad mencelakakan/menghasut 1 kampung dalam kekacauan, digiring keluar dari kampung mereka.

      Ini membuat Nabi marah.

      Kemudian beliau balik lagi ke Mekkah. Selama musim haji, Muhammad S.A.W menawarkan dirinya pada setiap Khabilah yang datang dan berusaha meminta perlindungan pada kaum kafir [baca: memperalat], diantara yang gagal di bujuk dan diperalat adalah: Kindah, bani Kalb, Bani Hanifah, Bani Amir bin Sha’sha’ah dan beberapa lainnya. [Ibn Ishaq hal.384-386]

      Ini membuat Nabi Marah.

      Namun, beberapa ada yang berhasil di bujuk dan masuk Islam, diantaranya adalah Iyaz bin Muadz serta kaum Ansar. Setelah pulang mereka pun merekrut anggota baru dan kemudian membaiat Nabi.

        Ka’ab bin Malik berkata, “Setelah kami membaiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, syetan menjerit dari atas Al-Aqabah dengan teriakan keras yang bisa aku dengar, ‘Hai penduduk Al-Jabajib, ketahuilah bahwa Mudzamam (yang ia maksud dengan Mudzamam ialah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam) dan orang-orang murtad bersamanya telah bersatu untuk memerangi kalian.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Ini Azab, syetan Al-Aqabah. Ini anak Azyab. Dengarkan wahai musuh Allah, demi Allah, aku pasti mematikanmu.’ Setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada kaum Anshar, ‘Pulanglah kalian ke pos kalian’.” [Ibn Ishaq hal.387-405]

      Ini adalah fakta sederhana yang terjadi pasca kematian Abu Thalib.

      Nabi menyusun rencana dan mempersiapkan angkatan perang untuk menghadapi suku-suku yang sebelumnya telah kenyang beliau hina dan lecehkan cara hidup, nenekmoyang, ajaran dan tuhan-tuhan mereka serta terutama karena tidak mau tunduk pada kehendaknya menyembah Allahnya.

        Ketika orang-orang Quraisy semakin membangkang kepada Allah Azza wa Jalla, menolak kehendak Allah untuk memuliakan mereka, mendustakan hamba-Nya yang menyembah-Nya, mentauhidkan-Nya, membenarkan Nabi-Nya dan berpegang teguh kepada agama-Nya, maka Allah Azza wa Jalla mengizinkan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam berperang, menahan, mengalahkan orang-orang yang mendzalimi kaum Muslimin dan menindas mereka. Ayat pertama yang turun kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang mengizinkan beliau berperang, darah dihalalkan bagi beliau dan memerangi orang-orang yang menindas beliau seperti dikatakan kepadaku dari Urwah bin Az-Zubair dan ulama-ulama lain ialah firman Allah di surat Al-Hajj AQ 22:39-40:

        Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Mahakuasa menolong mereka itu. (Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, ‘Tuhan kami hanyalah Allah.’..” . [Ibn Ishaq hal.421-422]

      Penelusuran kita sebelumnya, malah membuktikan hal yang sebaliknya, yaitu tidak ada pengusiran terhadap para Muslimin! Malahan beberapa dari mereka ketika kembali dari Hijrahnya ke ke Mekkah tidak mengalami tentangan, dihalang-halangi dan di biarkan berusaha! [misal: Usman bin Mad’un yg berlindung pada Al Walid Bin Al-Mughirah, Abu Salamah yang berlindung pada Abu Talib, dll]

        Setelah itu, Allah menurunkan surat Al-Baqarah AQ 2:193:

        Dan perangilah mereka, sehingga tidak ada fitnah lagi Dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.

        Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Allah Ta’ala mengizinkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berperang, kaum Anshar masuk Islam, menolong beliau dan para pengikut beliau, serta melindungi kaum Muslimin yang datang ke tempat mereka, kaum Muhajirin dari kaumnya dan kaum Muslimin yang lain di Makkah untuk hijrah ke Madinah dan bergabung dengan saudara-saudara mereka, kaum Anshar..

        Kemudian kaum Muslimin Makkah hijrah ke Madinah kelompok per kelompok. Rasulullah SAW menetap di Makkah menunggu izin dari Tuhannya untuk berhijrah dari Makkah ke Madinah.” [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam hal 422-423]

      Orang Quraish tidak mengusir pengikut Muhammad dari Mekkah malah menahan mereka pergi

      Ibnu Ishaq dari Abu Ishaq bin Yasar, dari Salamah bin Abdullah bin Umar bin Abu Salamah dari neneknya dari Ummu Salamah berkata bahwa ketika Abu salamah memutuskan untuk hijrah ke Madinah menaikan istri (umm salamah) dan anaknya (Salamah bin Abu Salamah). Orang-orang Bani Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum marah, menahan abu salamah pergi dengan menarik tali kendali unta dan menarik Umm salamah. Bani Abdul Asad juga marah atas keputusan Abu Salamah, anak abu salamah di boyong ketempat mereka namun Abu Salamah tetap pada putusannnya dan pergi ke Madinah. Selama hampir setahun Umm Salamah menangis karena terpisah dari suaminya. Kejadian ini membuat bani Al-Mughira iba dan mengatakan jika Ia mau, ia boleh menyusul suaminya. Bani Asad juga mengembalikan anak itu pada ibunya dan mereka berdua pergi menyusul Abu Salamah ke Medina [Ibn Ishaq, hal. 423-424].

      Setelah Abu salamah Hijrah yang ke-2 hijrah adalah Ibnu Amir bin Rabi’ah sekutu Bani Adi bin Ka’ab beserta istrinya, Laila binti Abu Hatsmah bin Ghanim bin Abdullah bin Auf bin Ubaid bin Uwaij bin Adi bin Ka’ab.” [Hal. 425] Mereka tidak juga mendapat penahanan dari kaum Quraish.

      Setelah mereka adalah Abdullah bin Jash dan keluarga. Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Abdullah bin Jahsy bin Riab bin Ya’mur bin Shabirah bin Murrah bin Kabir bin Ghanm bin Dudan bin Asad bin Khuzaimah sekutu Bani Umaiyyah bin Abdu Syams. Abdullah bin Jahsy membawa hijrah istrinya dan saudaranya, Abd bin Jahsy (Abu Ahmad, seorang buta dan penyair, Istrinya. Al-Far’ah binti Abu Sufyan bin Harb dan ibu al-Far’ah bernama Umaimah binti Abdul Muththalib bin Hasyim). Rumah Abdullah bin Jahsy tertutup karena semua penghuninya hijrah ke Madinah. [Hal.425].

      Setelah itu, kaum Muhajirn datang ke Madinah secara berkelompok-kelompok. Mereka adalah Bani Dudan yang telah masuk Islam. Mereka semua; laki-laki dan wanita hijrah ke Madinah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mereka adalah Abdullah bin Jahsy, saudara Abdullah bin Jahsy yang bernama Abu Ahmad bin Jahsy, Ukasyah bin Mihshan, Syuja’ bin Wahb, Uqbah bin Wahb, Arbad bin Humayyir (Ibnu Hisyam berkata, “Ada yang mengatakan Ibnu Humair.”), Munqidz bin Nubatah, Sa’id bin Ruqais, Mahraj bin Nadhlah, Yazid bin Ruqaisy, Qais bin Khabir, Amr bin Mihshan, Malik bin Amr, Shafwan bin Amr, Tsaqaf bin Amr, Rabi’ah bin Aksyam, Az-Zubair bin Ubaidah, Tammam bin Ubaidah, Sakhbarah bin Ubaidah dan Muhammad bin Abdullah bin Jahsy.

      Wanita-wanita mereka adalah Zainab binti Jahsy, Ummu Habib binti Jahsy, Judzamah binti Jandal, Ummu Qais binti Mihshan, Ummu Habib binti Tsumamah, Aminah binti Ruqaisy, Sakhbarah binti Tamim dan Hamnah binti Jahsy.”

      Abu Ahmad bin Jahsy bin Riab berkata mengingatkan hijrah kaumnya, Bani Asad bin Khuzaimah kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, serta kesiapan mereka untuk hijrah ketika mereka diserukan untuk hijrah [hal. 425-426]. Orang berikutnya yang Hijrah adalah Umar bin Khaththab, Ayyasy bin Abu Rabi’ah dan Hisyam bin Al-Ash [Hal.427]. Orang berikutnya yang Hijrah adalah Shuhaib, Ia hijrah dengan memberikan kekayaannya pada Quraish, karena sewaktu Ia datang kepada mereka ia datang dalam keadaan hina dan miskin serta menjadi kaya berkat mereka. [Hal.431].

      Hamzah bin Abdul Muththalib, Zaid bin Haritsah, Abu Martsad Kannaz bin Hishn (Ibnu Hisyam berkata, “Abu Martsad Kannaz adalah anak Hushain.”), anak Kannaz bin Hishn yang bernama Martsad Al-Ghanawiyyan, sekutu Hamzah bin Abdul Muththalib, Anasah dan Abu Kabsyah–keduanya mantan budak Rasulullah SAW–menetap di rumah Kultsum bin Hidam, saudara Bani Amr bin Auf di Quba‘ [hal.431]

      Ubaid bin Al-Harits bin Al-Muththalib, Ath-Thufail bin Al-Harits, Al-Hushain bin Al-Harits (keduanya saudara Ubaid), Misthah bin Utsatsah bin Ibad bin Al-Muththalib, Suwaibith bin Sa’ad bin Harmalah saudara Bani Abduddaar, Thulaib bin Umair saudara Bani Abd bin Qushai dan Khabbab mantan budak Utbah bin Ghazwan menetap di rumah Abdullah bin Salimah saudara Bal’ajlan di Quba’. [Hal. 431]

      Abdurrahman bin Auf bersama sejumlah kaum Muhajirin menetap di rumah Sa’ad bin Ar-Rabi’ saudara Bani Al-Harits bin Al-Khazraj di permukiman Al-Harits bin Al-Khazraj.[Hal. 431]

      Az-Zubair bin Al-Awwam dan Abu Sabrah bin Abu Ruhm bin Adul Uzza menetap di rumah Mundzir bin Muhammad bin Uqbah bin Uhaihah bin Al-Julaj di Al-Ushbah di perkampungan Bani Jahjabi.[Hal. 431]

      Mush’ab bin Umair, saudara Bani Abduddaar menetap di rumah Sa’ad bin Mundzir bin An-Nu’man, saudara Bani Abdul Asyhal di perkampungan Bani Abdul Asyhal.[Hal. 432]

      Apakah mereka hijrah dalam keadaan miskin? Tidak.

        حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا هِشَامٌ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ فَرَضَ لِلْمُهَاجِرِينَ الْأَوَّلِينَ أَرْبَعَةَ آلَافٍ فِي أَرْبَعَةٍ وَفَرَضَ لِابْنِ عُمَرَ ثَلَاثَةَ آلَافٍ وَخَمْسَ مِائَةٍ فَقِيلَ لَهُ هُوَ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ فَلِمَ نَقَصْتَهُ مِنْ أَرْبَعَةِ آلَافٍ فَقَالَ إِنَّمَا هَاجَرَ بِهِ أَبَوَاهُ يَقُولُ لَيْسَ هُوَ كَمَنْ هَاجَرَ بِنَفْسِهِ

        Diriwayatkan kepada kami Ibrahim bin Musa, kepada kami Hisyam dari Ibnu Juraij berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Ubaidullah bin ‘Umar dari Nafi’ dari ‘Umar bin Al Khaththab, dia MEWAJIBKAN muhajirin awal membayar (“فَرَضَ”) empat ribu dan mewajibkan (“فَرَضَ”) Ibnu ‘Umar Tiga ribu lima ratus. Lalu dia ditanya, “Ibnu ‘Umar termasuk muhajirin, tapi kenapa engkau mengurangi dari kewajiban 4000?”. Maka dia jawab; “Dia berhijrah dibawa kedua orang tuanya.” Dia juga berkata; “Dia tidak sama dengan orang yang berhijrah sendiri”. [Bukhari no. 3622 atau Bukhari 5.58.251]

        Note:
        mata uang yang dimaksud tidak diketahui apakah itu dirham atau dinar, namun jika di asumsikan dengan yang memiliki nilai terkecil yaitu dirham, maka:
        1 dirham = 1/10 dinar [Bukhari no.2517] -> 4000 dirham = 400 dinar.
        1 dinar = 4.235 gram emas -> 1.694 Kilogram Emas
        1 gram Emas 24 karat = Rp 570.000an/g. Jadi total: ± Rp. 228.000.000,-, anda bisa bayangkan bahwa jika yang dimaksud adalah dinar bukan dirham maka nilainya berubah 10 x lipat menjadi 2.28 Milyard

      Tidaklah patut seseorang dikatakan miskin ketika Ia mampu MENYERAHKAN UANG ± Rp. 228.000.000,-, bukan?. Nah, inilah bukti bahwa banyak dari mereka yang hijrah adalah kaya raya. Bagi mereka yang berstatus budak, tidaklah berkemampuan seperti ini, mereka ini sudah miskin baik di sebelum hijrah, saat hijrah dan di bulan-bulan awal setelah hijrah.

      Setelah semua siap dan kekuatan telah terbentuk untuk memerangi kaum yang selama ini telah bertahun-tahun dan berulang-ulang beliau hina dan lecehkan, barulah Nabi hijrah ke Medinah:

        Ibnu Ishaq berkata, “Ketika orang-orang Quraisy mengetahui bahwa Rasulullah SAW mempunyai banyak pengikut, sahabat-sahabat di negeri lain dan melihat hijrahnya sahabat-sahabat beliau dari kaum Muhajirin ke sahabat-sahabat dari kaum Anshar, mereka pun segera sadar bahwa kaum Muslimin telah mendapatkan negeri dan mendapatkan perlindungan. Oleh karena itu, mereka mewaspadai hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah. Mereka juga sadar bahwa kaum Muslimin telah bersatu padu untuk memerangi mereka. Karena itulah, mereka segera menggelar rapat di Daar An-Nadwah membahas Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Tadinya Daar An-Nadwah rumah milik Qushai bin Kilab. Orang-orang Quraisy tidak memutuskan satu perkara, melainkan mereka bermusyawarah di dalamnya. Di Daar An-Nadwah itu pula, mereka mengadakan rapat membahas Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena mereka takut kepada beliau.”[Ibn Ishaq hal.434]

      Diantara usulan pada rapat itu diantaranya adalah mengusir dan memenjarakan hingga mati namun di tolak. Usulan yang disepakati adalah agar dari setiap kabilah diambil seorang pemuda dan diberi pedang kemudian pergi ke Muhammad S.A.W dan menebasnya.

      Pertanyaan sederhana:
      Wow, Kenapa baru sekarang dan tidak dilakukan jauh hari sebelumnya, yaitu pasca wafatnya Abu Thalib?

      Rencana itu kemudian bocor

      [di versi Ibn Ishaq yang memberitahu adalah Jibril namun di versi Muhammad Husayn Haykal tidak disebutkan siapapun yang memberitahu dan dikatakan Nabi mengetahui].

      Dikisahkan bahwa Ali bin Abu Thalib malam itu di tugaskan [baca: dikorbankan] menyamar jadi Nabi dan tidur di ranjang beliau dengan mengenakan selimut yang biasa digunakan beliau. Dalam pengepungan itu, dikisahkan Nabi dapat menyelinap keluar rumah tanpa sepengetahuan mereka, yaitu setelah mengucapkan surat Yasin AQ 36:1-9

      [note: Patut untuk diketahui, Sin adalah juga nama dewa bulan kaum Syiria dan babilonia. Nama gunung Sinai juga berasal dari nama dewa ini].

        Tidak lama setelah itu, seseorang datang menemui pemuda-pemuda Quraisy yang sedang berada di pintu rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata kepada mereka, ‘Apa yang sedang kalian tunggu?’ Mereka menjawab, ‘Kami sedang menunggu Muhammad.’ Orang tersebut berkata, ‘Allah telah menggagalkan kalian. Demi Allah, Muhammad telah keluar dari rumahnya..”

        Mereka mengintip ke dalam rumah dan mendapati Ali bin Abu Thalib berada di ranjang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mengenakan selimut beliau. Mereka berkata, ‘Demi Allah, ini pasti Muhammad sedang tidur mengenakan selimutnya.’ Mereka tidak meninggalkan rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hingga esok hari.[Ibn Ishaq hal.437]

      Pertanyaan sederhana:

      1. Dimana logikanya, sekelompok pembunuh dari kaum yang sedemikian membenci para muslim, malah MENUNGGU diluar semalam suntuk kedinginan sementara orang yang hendak dibunuhnya dibiarkan tidur nyenyak dalam kehangatan selimut hingga Ia terbangun di pagi harinya?
      2. Di mana logikanya, sekelompok pembunuh dari kaum yang sedemikian membenci para muslim, ketika mengetahui mereka tertipu, masih saja membiarkan ALI bin Abu Thalib hidup dan tidak segera menebas lehernya dan/atau ditangkap?


      Sejak malam itu, Nabi tidak diketahui rimbanya dan pada siang harinya Ia bertemu Abu bakar dan kemudian mereka hijrah.

        Aisyah meriwayatkan bahwa Abu bakar ketika itu tengah berangkat menuju ke Ethiopia dan ditengah jalan bertemu Ibn Ad-Daghina, kepala suku Qara, yang menyapa Ia hendak kemana.

        Abu Bakar menyatakan bahwa dirinya diusir oleh penduduk Mekkah.

        Pernyataan ini mengundang simpati Ibn Ad-Daghina yang kemudian menyatakan akan melindunginya dan atas nama abu bakar, Ia bertemu kaum Quraish dan meminta agar Abu bakar dibiarkan. Terjadilah perjanjian, di mana kaum Quraish tidak berkeberatan Abu bakar menyembah Tuhannya dan melantunkan Quran selama itu dilakukan di rumahnya sendiri dan tidak diluar rumah.

        Namun kemudian Abu bakar melanggar perjanjian ini dengan membuat mesjid diluar rumahnya dan melantunkan ayat2 quran secara terbuka.

        Ibn Ad-Daghina, sang Pelindungnya di tegur kaum quraish dan kemudian datang ke tempat Abu bakar menyatakan bahwa ia tidak mau di tuduh melanggar perjanjian hanya karena yang dilindunginya dan diwakilkan bicara malah yang melanggarnya serta memberikan 2 opsi yaitu meminta ia dibebaskan sebagai pelindung atau Abu Bakar mematuhi perjanjian.

        Abu Bakar kemudian memilih membebaskan Ibn Ad-Daghina.

        Saat itu, Muhammad S.A.W ada di Mekkah dan menyatakan pada orang-orang muslim bahwa Ia bermimpi diperlihatkan tempat mereka akan ber-emigrasi. Kemudian Ia meminta kaum Muslim, termasuk yang telah kembali dari Ethiopia, untuk hijrah ke Medinah.

        Abu bakar, ketika itu juga hendak hijrah namun Nabi menahannya untuk tidak pergi. Ia diminta untuk menunggu beberapa saat hingga Muhammad S.A.W mendapatkan “ijin” untuk pergi hijrah juga.

        4 (empat) bulan berlalu dan pada suatu siang, Nabi datang dan mengatakan Ia telah mendapatkan restu untuk Hijrah.

        Nabi dan Abu bakar menyewa tenaga seorang kafir Quraish dari Bani Ad-Dail sebagai penunjuk jalan. Setelah Asma binti Abu bakar mempersiapkan perbekalan, mereka berangkat menuju ke gua Tsur dan menginap disana selama 3 (tiga) hari.

        Selama di gua tersebut, hingga fajar menjelang, mereka juga di temani oleh Abdulah bin Abu bakar dan Amir bin Fuhaira.

        Selama 3 (tiga) hari itu, Abdullah selalu pergi sebelum fajar untuk mencari berita dari kaum Quraish sementara Amir bin Fuhaira yang menyiapkan susu segar sebagai bekal di gua[46].

        Ketika Rasulullah SAW pergi bersama Abu Bakar, Abu Bakar membawa seluruh kekayaannya yang berjumlah 5000 dirham atau 6000 dirham [Sirat nabawiyah ibn Ishaq, jilid ke-1, bab 90, hal.442]

      Ini merupakan BUKTI KESEKIAN bahwa kepergian Muhammad S.A.W ke MEDINA telah direncanakan dengan baik yaitu lebih dari 4 (empat) bulanan sebelumnya dan Ini jelas bukan karena ada rencana pembunuhan pada Muhammad S.A.W namun karena hendak memperiapkan angkatan perang.

      Menariknya, dalam kisah ada “keajaiban” selama di gua tsur [thawr], Sirat Ibn Ishaq/Hisham sama sekali tidak menyebutkan adanya “keajaiban”, namun justru M.Husain Haekal yang menyajikan adanya kisah keajaiban: sarang laba-laba, merpati, padahal yang disajikan Haykal justru lebih banyak menuai kontroversi, karena banyak pendapat pakar kalangan muslim sendiri menganggap riwayat tersebut adalah dhaif (lemah)[47]

      Di nomor hadis yang sama pada Hadis Bukhari, kali ini berdasarkan riwayat keponakan dari Surakah, menyampaikan adanya berita bahwa kaum Quraish hendak menangkap atau membunuh Muhammad S.A.W, namun lucunya jumlah tenaga pengejar kaum Quraish yang hendak menangkap kelompok yang tengah “melarikan diri” ini, ternyata hanyalah 1 (satu) orang saja, yaitu: Suraqa bin Ju’sham[46].

      Padahal keberangkatan Nabi ke Medinah kali ini, selain bersama Abu Bakar, mereka di temani oleh Abudlah bin Abu bakar, Amir bin Fuhaira dan perjalanan dipandu oleh seorang kafir quraish sebagai penunjuk jalan.

      Patut untuk diketahui,
      Terdapat hadis sahih yang menyatakan Abu Bakar ketika hijrah tidak bersama Nabi, yaitu berdasarkan hadis yang berasal dari Nafi menurut riwayat Ibn ‘Umar yang dikatakan bahwa Muhajirun PERTAMA yang tiba di Medina adalah Salim, Abu Bakar, ‘Umar, Abu Salama, Zayd dan ‘Amir ibn Rabi’a [48].

      ‘Urwa bin Az-Zubai juga meriwayatkan bahwa hari kedatangan Nabi di Medinah, kaum Muslim, telah siap menyambutnya dan menunggu di tengah terik siang hari![46]

      Hadis sahih, sirah dan buku riwayat hidup Nabi di atas telah menunjukan dengan jelas dan gamblang bahwa perencanaan ke Medinah telah dipersiapkan di jauh-jauh bulan sebelumnya dan jelas bukan karena hendak ditangkap atau bahkan dibunuh.

    11. Hingga di Medinah, barulah muncul surat Al Hajj AQ 22.52 [Turun di urutan ke-103], Muhammad SAW menarik pengakuannya pada 3 tuhan Quraish [yang ada di surat AQ 53.19] dengan alasan itu adalah ulah setan, namun mengapa lama sekali baru dikoreksi dan itupun dilakukan setelah hijrah ke Madinah?! 🙂

    Dari seluruh rangkaian peristiwa ini, dengan sumber dari kalangan islam sendiri, tersaji sebuah fakta sederhana, bahwa hijrahnya Muhammad SAW ke Madinah ADALAH BUKAN karena pengusiran/penyiksaan fisik.

    Selama 13 tahun Muhammad SAW di Mekkah, TIDAKLAH terjadi penganiayaan keji seperti yang telah disirkulasikan ulang selama ini. Bahkan kejadian terburuk yang dialaminyapun semuanya bermula dari ulah Muhammad sendiri dan bahkan kejadian itu tidak membuat 1 tetespun darah Muhammad tumpah.

    Juga tersaji fakta bahwa telah berkali-kali kaum Quraish meminta Muhammad membuktikan klaim kenabiannya namun tidak mampu Muhammad penuhi dan malahan klaim Muhammad sebagai Nabi justru terkuak kebohongannya.

    Maka dapatlah disimpulkan bahwa KORBAN SESUNGGUHNYA adalah BUKAN Muhammad melainkan Kaum Quraish.



    Referensi dan Pustaka

    [1] Ibn Ishaq, 137; Ibn Hisham, Sîra al Nebî, ed. M. Muhyiddîn Abdulhamîd, Kahire 1963/1383, I, 234; Ibn Sa’d, I, 208-209; Yakûbî, Târîh al Ya’kûbî, Beirut, t.y., II, 31; Tabari, II, 225; Ibn al Jawzi, al-Wafâ bi Ahwâli’lMustafâ, ed. Mustafa Abdulvahid, Matba’a al Sa’âde, Egypt 1966/1386, I, 197; Ibn al Athir, al Kâmil fî al Târîh, Beirut 1965/1385, II, 87; Ibn Sayyid al Nas, Uyûn al Atahar fî Funûn al Magâzî wa al Samâili wa al Siyar, Beirut, t.y., I, 166-67; Said Havva, I, 343, 345; Hamidullah, II, 113; İbrahim Sarıçam, Hz. Muhammed ve Evrensel Mesajı, Diyanet İşleri Başkanlığı Publ. Ankara 2003, 106. [Catatan kaki no.4, hal.2]

    [2] Martin Lings, Hz. Muhammed’in Hayatı, trans. into Tukish. Nazife Şişman, İnsan Publ. 21. ed. Istanbul 2000,
    129. [Catatan kaki no.6, hal.2]

    [3] Ibn Ishaq, 145-47 [Catatan kaki no.27, hal.5], Ibn Hisham, I, 252-53; Tabari, II, 228-229; Ibn al Jawzi, I, 198-99; Ibn al Athir, II, 88-89. [hal 229 Tabari II dan hal 89 dari Ibn Al Athir, menyatakan penggunaan “atas nama Allah” adalah lazim di tuliskan oleh suku-suku Quraish di jaman Jahiliyah] [catatan kaki no.27, hal.5]

    note:
    Untuk no 1-3, di ambil dari Journal of Religious Culture no.90 (2007): “A Different Approach to the Narratives about the Tear of the Boycott Document Placed inside al-Ka’bah”, İsrafil Balcı‎, Associate Professor of Islamic History at the Faculty of Divinity, Ondokuz May‎s University, Samsun/Turkey. E-mail: israfilbalci@hotmail.com, [Kembali]

    [4] Sahih Bukhari: 1.1.3 dan 9.87.111. Artikel: “Pre-Islamic Arab Convertsto Christianity in Mecca and Medina: An Investigationinto the Arabic Sources”, Ghada Osman. Note no.29: Ibn Bakkar, Jamhara, 412; Ibn al-Athir, al-Kamil, 1:663

    [5a] Abu Dawud no.4095/41.4700

    [5b] Muslim no.302/1.398 (Riwayat Abu Bakar bin Abu Syaibah – Affan – Hammad – Tsabit – Anas). Ahmad no.11747, 13332, Juga “Qaa’idatun Jalilah At-Tawassul wal Wasilah”, Cetakan 1977, Hal.8, Lahore-Pakistan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

    [6] Muslim no.1622/4.2130, 1621/4.2129, Abu Daud no.2815/20.3228, Nasa’i no.2007/3.21.2036, Ibnu Majah no.1561/1.6.1572, Ahmad no.9311, Baihaqi (4/76). Tafsir Ibnu Katsir jilid 2 hal.393-395

    [7] Ahmad no.21925, Ibnu Abi Syaibah, Hakim (1/376), Ibnu Hibban (no. 791), Baihaqi (4/76) dan Tirmidzi

    [8] Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dari atTsauri, dari Musa bin ‘Ubaidah yang bersumber dari Muhammad Ibnu Ka’b al-Qarzhi

    [9] Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Juraiz yang bersumber dari Dawud bin Abi ‘Ashim

    [10] Riwayat Said bin Al-Musaiyab – Ayahnya [Bukhari no.2.23.442 (turunnya At taubah 9.113), 5.58.223, 6.60.295, Sahih Muslim no.1.36 dan Nasai no.3.21.2037 (turunnya Attaubah 9.113 dan Al qasash 28:56)]. Muslim no.1.37, 1.38 (Riwayat Abu huraira, turunnya Al Qasash 28.56)

    [11] Bukhari vol.4 buku 55 bag.17 no.605 hal.395, detail panjangnya di: 1.1.3 dan 9.87.111

    [12] Diriwayatkan pleh at-Thabarani dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas.

    [13] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Mina.

    [14] Appendix B. A Brief Chronology of the Life of Prophet Muhammad, yang mengutip dari buku: Jihad in the Qur’an: The Truth from the Source (Second Edition), Louay Fatoohi

    [15] Sahih Bukhari: Riwayat Abdulah 6.60.386 dan Riwayat Ibn Abbas 2.19.177

    [16] Abu Ja`far Muhammad bin Jarir al-Tabari, “Tarikh al-Tabari: Tarikh al-Umam wal-Muluk”, 1997, Volume I, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut (Lebanon) ATAU DI “The History of al-Tabari“, translated and annotated by W. Montgomery Watt and M.V. McDonald [State University of New York Press (SUNY), Albany 1988], Volume 6, pp. 107-112. JUGA DI Ibn Sa’d dalam “Kitab Al-Tabaqat Al-Kabir”, English translation by S. Moinul Haq, M.A., PH.D assisted by H.K. Ghazanfar M.A. (Kitab Bhavan Exporters & Importers, 1784 Kalan Mahal, Daryaganj, New Delhi- 110 002 India), Volume I, parts I & II, pp. 237-238

    [17] Seerah-i Ibn Hisham, vol. I, page 320

    [18] Al-Asqalani dalam al-Isabah

    [19] Al-Dalaa’il, Vol.2, Hal.282

    [20] ‘At-Tabaqat al-Kubra Vol.8, Hal.193

    [21] Ibnu Athir, Tarikh-i Kamil,Tarikh-i Kamil, vol.II, Hal.45

    [22] History of Tabari, “Biographies of the Prophet’s companions and their successors“, vol.39, Ella Landau-Tasseron, hal. 29-30,117

    [23] Ibn Sa’d, “al-Tabaqatul Kabir“, vol, III:1, p. 176.

    [24] Ibn Ishaq yang ditulis ulang oleh Ibn Hisham, jilid.1 hal.608, Juga ada di Tabari, vol.VII, Hal.57; Hadis Bukhari 3.38.498; juga di buku: “Pedang Terhunus: Hukuman Mati bagi Pencaci Maki Nabi SAW”, Judul asli: Ash Sharimul maslul ‘ala Syatim Ar Rasul; Penulis: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-Rahimahullah-Taqrib: Dr Shaleh Ash Shahawi.

    [25]The History of al-Tabari“, Vol. 6, hal. 98-99

    [26] Ibid, Hal.99, dari riwayat Al-Harith — Ibn Sa’d—Muhammad b. ‘Umar—Yunus b. Muhammad al-Zafari — his father — a man of his tribe, also ‘Ubaydallah b. ‘Abbas al-Hudhali—al-Harith b. Al-Fudayl

    [27] Ibid, hal.100 dari riwayat Ibn Humayd—Salamah-Muhammad b. Ishaq

    [28] Rumah tempat keturunan Hasyim ada di tempat ini. Muhammad SAW lahir di sini. Sejak kepemimpinan suku sebelumnya adalah Abdulmuttalib sebelum Abu Talib, Nama tempat ini dulunya adalah Abdulmuttalib. Kemudian, Dinamakan menjadi Abu Talib. [Ahmet Cevdet Pa‏a, Peygamber Efendimiz (s.a.s.), ed. M. Ertuًrul Düzdaً, Istanbul 2002, Hal.52].

    [29] Ibn Sayyid al-Nas, Vol.I, Hal.126

    [30] Ibn al Athir, Vol.II, hal.88; Said Havva, vol.I, Hal.343

    [31] Ibn Sayyid al-Nas, Vol.I, Hal.126]

    [32] Siratun Nabi by Shibli Numani. Vol.1, Hal.218, English translation by M. Tayyib Bakhsh Budayuni

    [33] Ibn Ishaq, 147; Ibn Hisham, I. 253; Tabari, II 228

    [34] Quotasi ini merupakan summary dari Ibn Isaq 45-147, yang di riwayatkan dengan cara yang sama oleh Ibn Hisham di vol.1, hal 25-254, Tabari di vol II.228-229, Ibn Al Jawzi vol.1 hal 198-199, Ibn Al Athir Vol.II hal 88-89

    [35] Ibn Ishaq hal.147; Ibn Hisham vol.I, hal.253; Tabari vol.II, hal.228

    [36] Tareekh Al-Islam 1/120, Talqeeh Fuhoom Ahl-al-Athar p.7; Rahmat-ul-lil’alameen 2/164

    [37] Sahih Bukhari 5.58.236

    [38] Journal of Religious Culture no.90 (2007), hal.3, dari Ibn al Jawzi, I, 197, juga dari Ibn Hisham, I, 251; Ibn al Athir, II, 88

    [39]The History of al-Tabari“, Vol.6, hal. 95-96., Riwayat dari Abu Kurayb dan Ibn Waki‘ — Abu Usamah — al-A‘mash — ‘Abbad- Sa‘id b. Jubayr — Ibn ‘Abbas

    [40]The History of al-Tabari“, Vol. 6. hal 101, Riwayat Ibn Humayd — Salamah — Muhammad b. Ishaq — Yahya b. ‘Urwah b. al-Zubayr — his father ‘Urwah—‘Abdullah b. ‘Amr b. al-‘As

    [41] Ibid, Hal.102, Riwayat Yunus b. ‘Abd al-A’la — Bishr b. Bakr — al-Awzai — Yahya b. Abi Kathir — Abu Salamah b. ‘Abd al-Rahman:] (AQ 40:28, urutan ke-60]

    [42] Ibn Kathir, The Life of the Prophet Muhammad SAW (Al-Sira al-Nabawiyya), Vol.I, Hal. 363-364

    [43] Hadis H.R. Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan Baihaqi

    [44] Sahih Bukhari: 6.60.339

    [45] Kisah ini juga terdapat di Tabari Vol.1, yang di translasikan oleh G. R. Hawting, “The Idea of Idolatry and the Emergence of Islam: From Polemic to History”, Hal 131-132, juga di The History of al-Tabari, translated and annotated by W. Montgomery Watt and M.V. McDonald [State University of New York Press (SUNY), Albany 1988], Volume 6, pp. 107-112

    [46] Sahih Bukhari: 7.72.698, 5.59.419, 5.58.245, 3.36.464 dan 465

    [47] Muhammad Husain Haekal dalam “Sejarah Hidup Muhammad“, menyampaikan ada kejadian “ajaib” di gua Tsur, yaitu saat Nabi dan Abu Bakar menghindari diri dari kejaran Quraish kafir dan berkat keberadaan sarang laba-laba di muka gua, adanya merpati dan pohon yang menutupi gua, membuat kaum kafir tak mampu menemukan mereka. Ia akui nukilannya itu tidak ada di dalam sirat Ibn Ishaq/Ibn Hisyam:

      [..]Lalu orang-orang Quraisy datang menaiki gua itu, tapi kemudian ada yang turun lagi.

      “Kenapa kau tidak menjenguk ke dalam gua?” tanya kawan-kawannya.

      “Ada sarang laba-laba di tempat itu, yang memang sudah ada sejak sebelum Muhammad lahir,” jawabnya. “Saya melihat ada dua ekor burung dara hutan di lubang gua itu. Jadi saya mengetahui tak ada orang di sana.”

      [..]

      Sarang laba-laba, dua ekor burung dara dan pohon. Inilah mujizat yang diceritakan oleh buku-buku sejarah hidup Nabi mengenai masalah persembunyian dalam gua Thaur itu. Dan pokok mujizatnya ialah karena segalanya itu tadinya tidak ada. Tetapi sesudah Nabi dan sahabatnya bersembunyi dalam gua, maka cepat-cepatlah laba-laba menganyam sarangnya guna menutup orang yang dalam gua itu dari penglihatan. Dua ekor burung dara datang pula lalu bertelur di jalan masuk. Sebatang pohonpun tumbuh di tempat yang tadinya belum ditumbuhi.

      Sehubungan dengan mujizat ini Dermenghem [note: Emile Dermenghem, “La Vie de Mahomet”], mengatakan:

      “Tiga peristiwa itu sajalah mujizat yang diceritakan oleh sejarah Islam yang benar-benar: sarang laba-laba, hinggapnya burung dara dan tumbuhnya pohon-pohonan. Dan ketiga keajaiban ini setiap hari persamaannya selalu ada di muka bumi.”

      Akan tetapi mujizat begini ini tidak disebutkan dalam Sirat Ibn Hisyam ketika menyinggung cerita gua itu.

    Haekal ketika menulis ini [tahun 1933] tidak menyinggung derajat kekuatan riwayat yang ia kutip [mungkin ia tidak memiliki kemampuan memahami derajat kekuatan riwayat itu]. Untuk itu, saya sampaikan derajat keabsahan kisah ajaib itu berdasarkan “Q/A Fatwa no. 27224“, yang ringkasannya adalah sebagai berikut:

      Kisah yang berisi sarang laba-laba diriwayatkan oleh Imam Ahmad (3241) dari Ibnu ‘Abbas, “[..]Mereka naik ke atas gunung dan melewati gua, dan melihat sarang laba-laba menutupi pintu masuknya. Mereka berkata, Jika ada orang yang masuk kemari, laba-laba tidak akan membuat sarang menutupi pintu masuk.”

    Pendapat ulama:

      Sanad: dinyatakan hasan (baik) oleh al-Hafidz Ibnu Hajar [Fath al-Baari] dan oleh Ibnu Katsir [al-Bidaayah wa’l-Nihaayah (3/222)]. Dinyatakan dhaif (lemah) oleh al-Albani [al-Silsilah al-Da’eefah]. Ahmad Shaakir [al-Musnad Tahqeeq (3251)]: ada beberapa perselisihan tentang sanad-nya. Para komentator al-Musnad berkata (3251): sanad-nya adalah dhaif.

      Berkenaan dengan kisah dua merpati atau burung merpati, Ibnu Katsir [al-Bidaayah wa’l-Nihaayah (3/223)], mengatakan bahwa hal itu diriwayatkan oleh Ibnu Asaakir’, sanad hadis ini: gharib Jiddan (sangat asing, dhaif). Para komentator dalam al-Musnad di atas, menggolongkannya sebagai dhaif.

      Al-Albani [al-Silsilah al-Da’eefah (3/339)]: Patut dicatat, meskipun banyak disampaikan di dalam kitab dan ceramah untuk memperingatan hari hijrah nabi ke Madinah, namun tidak ada hadits sahih yang menyebutkan tentang laba-laba dan merpati di gua. Jadi ini harus diingat.

      Berkenaan dengan “malaikat menyembunyikan Nabi dan Abu Bakar” [Ini tidak ada pada nukilan Haekal di atas] adalah berdasarkan riwayat al-Thabrani dalam al-Kabir (24/106-108) dari hadis Asma ‘binti Abi Bakar: “Kemudian Abu Bakar berkata tentang seorang pria yang ia bisa lihat di balik gua, ‘Wahai Rasulullah, dia melihat kami’ Dia berkata, ‘Tidak, malaikat menyembunyikan kami dengan sayap mereka … “.

      Sanad hadis ini termasuk Ya’qoob bin Humaid bin Kaasib al-Madani, para ulama berbeda pendapat [Lihat Tahdzib al-Kamaal, al-Mazzi, 32/318-323]. Dianggap sebagai dhaif (lemah) oleh Ibnu Ma’een, Abu Haatim, al-Nasaa’i dan Abu Zar’ah al-Raazi.

      Abu Dawud al-Sijistaani: kita lihat dalam hadis musnad-nya yang kita anggap sebagai munkar (kecacatan perawi). Kami meminta sumber-sumbernya dan dia menolak memberitahukan pada kami, Ia riwayatkan mereka setelah itu. Kami menemukan, di beberapa buku, hadis-hadis telah diubah, ini adalah hadis mursal (terputus sanadnya, dhaif) tapi ia menambahkan isnad-isnadnya dan menambahkan sesuatu di teksnya. Adiyy Ibnu: Tidak ada yang salah dengannya serta laporannya. Ia meriwayatkan banyak hadis dan dilaporkan banyak gharib (salah seorang perawinya nyeleneh, dhaif). Al-Dhahabi: Ia adalah salah satu ulama hadis tetapi melaporkan laporan munkar dan gharib. Ibnu Hibban: Dia thiqah (dapat dipercaya). Al-Hafidz Ibnu Hajar: dia sadooq (jujur), tetapi kadang-kadang bingung.

      Al-Albani: menggolongkannya sebagai hadis hasan tetapi bukan kelas hadis ini sebagai hasan. Dalam al-Silsilah al-Da’eefah (3/263):

      Apa yang didirikan Ya’qoob tentang ini adalah hadis hasan..Jika tidak ada kesalahan lain dalam sanad maka itu adalah hasan … Lalu ia berkata: Syaikh al-Thabrani Ahmad bin ‘Amr al-Khallaal al-Makki tidak menemukan apa-apa tentang latar belakangnya. Ia meriwayatkan sekitar 16 hadits [di al-Mu’jam al-Awsat], ini menunjukkan bahwa Ia adalah salah satu syeikh ternama. Jika hadis ini dikenal atau ada yang menguatkan laporan, maka hadis ini hasan.

    Masih mengenai keajaiban yang terjadi di gua Tsur [thawr], ada lagi kisah lainnya yaitu ketika Nabi dan Abu Bakar sedang bersembunyi di gua Tsur, tiba-tiba ada cicak [lihat bentuknya: “الوزغ” = al wazagh. Jamaknya: awzagh/أَوْزَاغٍ] memberitahu musuh Nabi dengan bunyinya yang mengisyaratkan ada orang di dalam gua. Itulah mengapa nabi memberi perintah agar membunuh binatang ini di manapun dijumpai [BLOG INI memberikan Rujukan: Tafsir Imam ibn Katsir juz 3 hal.185, Tafsir Imam Attabari Juz 17 hal 45; Hadits shahih Imam Muslim no.2238. Kisah cicak musuh nabi dan gua tsur, dikutip banyak tulisan, silahkan check DI SINI].

    Inilah juga salah satu sebab mengapa, di samping adanya dosa turunan cicak pada kasus: Cicak VS Ibrahim, banyak hadis menyampaikan bahwa cecak rumahan ini merupakan musuh Islam yang wajib dibunuh seluruh muslim.

    • Bukhari mengkoleksi 4 hadis:
      1. Hadits no. 3109: Rasulullah memerintahkan membunuh cecak karena dahulunya cecak ikut membantu meniup api (saat eksekusi pembakaran) Nabi Ibrahim.
      2. Hadits no. 3062: Nabi memerintahkan untuk membunuh cecak.
      3. Hadits no. 3061: Nabi mengomentari cecak dengan istilah fuwaisiq (durhaka) dan Urwah tidak mendengar beliau memerintahkan untuk membunuh, tetapi Sa’ad bin Abi waqqas beranggapan bahwa Nabi memerintahkan untuk membunuhnya.
      4. Hadits no. 1700: Nabi bersabda, cecak itu fuwaisiq, dan aku (periwayat hadis) tidak mendengar beliau memerintahkan untuk membunuhnya.

    • Muslim mengkoleksi 5 hadis:
      1. Hadits no.4155: Rasulullah menamai cicak dengan fuwaisiq, Harmalah menambahkan aku belum mendengar beliau menyuruh untuk membunuhnya.
      2. Hadits no. 4154: Nabi memerintahkan membunuh cecak dan beliau memberi nama fuwaisiq.
      3. Hadits no. 4152: Nabi menyuruh ummu syuraik supaya membunuh semua cecak.
      4. Hadits no. 4156: Nabi bersabda siapa yang membunuh cecak sekali pukul maka akan mendapat kebaikan segini dan segini, barang siapa yang membunuh cecak dua kali pukul maka mendapat kebaikan yang berkurang dibanding pukulan pertama. Dan barangsiapa yang membunuh cecak tiga kali pukul maka pahalanya kurang dari itu. Jarir mengatakan dalam haditsnya, barangsiapa membunuh cecak sekali pukul mendapatkan seratus kebaikan, barang siapa memukul lagi maka pahalanya kurang dari pahala pertama, dan barang siapa yang memukul lagi maka pahalanya kurang dari pahala kedua. Dari Abu Hurairah, nabi bersabda pada pukulan pertama terdapat tujuh puluh kebaikan.
      5. Hadits no. 4153: Ummu Syarik bertanya kepada nabi tentang membunuh cecak, lalu nabi menyuruhnya agar dibunuhnya saja.

    • Ahmad mengkoleksi 8 hadis:
      1. Hadits no. 24463: Nabi bersabda bunuhlah cecak, sesungguhnya ia meniupkan api kepada nabi Ibrahim.
      2. Hadits no. 24643: Seorang wanita menemui Aisyah menjumpai anak panah tergeletak, dan bertanya, untuk apa panah ini? Aisyah menjawab, membunuh cecak, kemudian Aisyah menceritakan bahwa nabi berkata ketika Ibrahim dilempar ke dalam api, semua binatang melata berusaha memadamkannya, kecuali cecak, ia justru meniupnya.
      3. Hadits no. 23636: Saibah menemui Aisyah dan ia melihat sebuah panah tergeletak di rumahnya, lalu berkata, wahai ummul mukminin, apa yang kamu perbuat dengan panah ini?, aisyah menjawab untuk membunuh cecak, karena rasulullah mengkhabarkan kepada kami bahwa saat nabi Ibrahim, tidak ada binatang melatapun yang tidak memadamkannya kecuali cecak justru meniupnya, karena itu rasulullah memerintahkan membunuhnya.
      4. Hadits no. 23393: Saibah pembantu Faqih bin Al Mughirah menemui Aisyah dan menemui tombak yang tergeletak, seraya berkata, Wahai ummul Mukminin, untuk apa tombak ini?, Aisyah berkata, tombak ini untuk membunuh cecak, karena Rasulullah bercerita kepada kami, bahwa Ibrahim ketika dilempar di kobaran api, tidak ada binatang melatapun di bumi yang tidak memadamkan api, kecuali cecak, dia meniup kobaran api supaya Ibrahim celaka, oleh karena itu Rasulullah memerintahkan kepada kami untuk membunuhnya.
      5. Hadits no. 25178: Nabi berkata cecak adalah fuwaisiq (berbahaya).
      6. Hadits no. 25127: Dari ya’qub Rasulullah bersabda cecak adalah fuwaisiq (berbahaya) tetapi Aisyah tidak mendengar, beliau memerintahkan untuk membunuhnya.
      7. Hadits no. 24059: Dari Hajjaj Rasulullah bersabda cecak adalah fuwaisiq (berbahaya) tetapi Aisyah tidak mendengar, beliau memerintahkan untuk membunuhnya.
      8. Hadits no. 23429: Dari Bisyr bin syu’bah Rasulullah bersabda cecak adalah fuwaisiq (berbahaya) tetapi Aisyah tidak mendengar, beliau memerintahkan untuk membunuhnya.

    • An-Nasai no. 2888 dan Ibn Majah no. 3228. “Umm Shurayk: Nabi memerintahkan agar wazagh di bunuh, dan ia berkata, karena ia meniupkan api ke Ibrahim”


    • Note:

      Di kepercayaan masyarakat Yaman dan banyak negara Arab, penyakit kulit sering dikaitkan dengan cicak/tokek yang berjalan di atas wajah orang yang sedang tidur [Frembgen JW. The folklore of geckos: Ethnographic data from south and west asia. Asian Folklore Studies. 1996;55:135–143. ATAU lihat di NCBI]. Kata Arab: “wazagh” = cicak/tokek yang juga sejenis dengan:

      • Sahliat/Kadal (سحلية)
      • Abu Baris (أبو بريص)/Stenodactylus atau “samm abras”/”aza’a” (سام ابرص)

      Keduanya ini lebih besar dari al wazagh. Pendapat para Ulama:

      Ibnu Hajar al-Asqalani di Fathul Bari (6/395): “وَيُقَال لِكِبَارِهَا سَامٌّ أَبْرَصُ” (wayuqal likibariha samm ‘abras/dikatakan yang besaran adalah samm abras).
      Imam Nawawi di Syarah Muslim (14/236): “قال أهل اللغة الوزغ وسام أبرص جنس فسام أبرص هو كباره” (qal ‘ahl allughat alwazgh wasam ‘abras juns fasam ‘abras hu kibarah/Kata para Ahli bahasa: al-wazagh dan samm ‘abras adalah sejenis, samm abras yang lebih besar).
      As Syaukani di Nailul Authar 8/200: “قَالَ أَهْلُ اللُّغَةِ هِيَ مِنْ الْحَشَرَاتِ الْمُؤْذِيَاتِ وَجَمْعُهُ أَوْزَاغٍ وَسَامٌّ أَبْرَصُ جِنْسٌ مِنْهُ وَهُوَ كِبَارُهُ” (qal ‘ahl alllughat hi min alhasharat almudhiat wajameuh ‘awzagh wasamm ‘abras jins minh wahu kibaruh/Para ahli bahasa berkata ia salah satu binatang melata yang mengganggu, jamaknya awzagh (أَوْزَاغٍ) dan samm ‘abras (سَامٌّ أَبْرَصُ) adalah jenisnya dan lebih besar)
      Lisanul Arab Ibnu Manzur: “الوَزَغُ دُوَيْبَّةٌ التهذيب الوَزَغُ سَوامُّ أَبْرَصَ ابن سيده الوَزَغةُ سامُّ أَبرصَ” (Al Wazagh adalah binatang melata kecil. At-tahdzib: al-Wazagh adalah samm abras. Ibnu Sayyidihi: al-wazagh adalah samm abras)

    [48] Sahih Bukhari hadis no.6754

    49 Utk Ibn Ishag, The Life of Muhammad SAW: A Translation of Ibn Ishaq’s Sirat Rasul Allah, with introduction and notes by Alfred Guillaume [Oxford University Press, Karachi, Tenth impression 1995]

    50 Muhammad and the Daughters of Allah: A Summation of the Evidence for the Satanic Verses, The Myth of Muhammad: Islam’s Most Sacred History Refutes Popular Misconceptions about the Prophet of Islam, The earliest biography of Muhammad, by ibn Ishaq, An abridged version, SIRAT NABAWIYAH Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Jilid 1 (txt lengkap)