Berteriak "AllahuAkbar" di ganjar KARTU MERAH dan SKORSING 2 TAHUN!!!


Tanggal 25 Juli 2011, Seorang striker Bodrino, berusia 18 tahun dan berasal dari Bosnia, Ali Hajic, tak kuasa menahan kegembiraannya ketika berhasil mencetak gol untuk timnya. Ia kemudian bersujud di tanah dan berteriak “Allâhu Akbar, Allah Maha Besar”.

Namun, akibat dari kata-kata itu, Wasit memberikan “KARTU MERAH”, membatalkan pertandingan hari itu dan lebih lanjutnya Federasi Sepak bola SERBIA menskorsing Ali Hajic tidak dapat bermain bola selama 2 (dua) Tahun.

Wow…

Berita ini, kemudian menjadi komoditi eksloitasi untuk kepentingan mereka. Misalnya Arabic News Digest, 29 Juli 2011, menuliskan:

    This was a typical incident depicting the Christian western world’s fear of the expression ‘Allahu Akbar’,” said the writer.

    [..]

    The severe punishment reveals the extent of Islamophobia in the consciousness of western communities where any expression of Islamic belief is directly related to Osama bin Laden and Al Qaeda.

Hehehehe..no comment deh.

Namun, eksploitasi yang paling konyol justru berasal dari global muslim:

    [..]Sekilas, ini mungkin tampak hanya sebuah berita tentang ketidakadilan dalam sepakbola. Namun sebenarnya ini merupakan adegan perang melawan Islam yang dipimpin oleh negara-negara kolonial besar. Bahkan hal ini memperlihatkan dendam yang mendalam yang mendorong negara-negara tersebut untuk memusuhi kaum Muslim di seluruh dunia dan dalam semua bidang kehidupan.

    Negara-negara besar telah melancarkan perang terbuka terhadap kaum Muslim di Irak dan Afghanistan, dan yang lain tidak secara terbuka namun melalui pengkondisian suasana yang diwarnai sikap anti-Islam dan kaum Muslim, yang menjadikan pelaksaan simbol-simbol Islam, di mata masyarakat sebagai sebuah kejahatan, dan kaum Muslimnya sebagai “teroris”. Sementara larangan jilbab dan pembangunan menara; pembakaran al-Quran; pelecehan terhadap pribadi Nabi Muhammad Saw melalui gambar karikatur; dan pernyataan Paus Vatikan yang menyerang Islam, maka semua ini merupakan bukti nyata tentang sejauh mana kebencian yang disponsori oleh negara-negara besar untuk memusuhi Islam dan kaum Muslim.

    Setiap saat, negara-negara besar tersebut selalu berusaha membuat dalih palsu untuk membenarkan tindak kejahatan yang didorong oleh dendam yang mendalam terhadap Islam, juga berusaha membenarkan pelanggaran hukum, pelanggaran atas klaim kebebasan serta hak asasi manusia, ketika persoalannya terkait dengan Islam dan kaum Muslim, serta berusaha mengklasifikasikan peristiwa itu sebagai peristiwa yang bersifat pribadi.

    Sudah bukan rahasia lagi bahwa perang peradaban yang dipimpin oleh negara-negara besar terhadap Islam adalah karena takut akan bangkitnya kembali Islam dan tegaknya kembali negara Islam. Di mana dengan semua itu, cahaya Islam akan menyingkirkan kegelapan Kapitalisme yang telah mengacaukan tatanan kehidupan dunia. Terkait hal ini, sebelumnya George W. Bush telah menyatakan dengan jelas dan terang bahwa perang di Afghanistan adalah perang salib, yaitu perang untuk mencegah kembalinya Khilafah.

    Bahwa beragam sikap permusuhan terhadap Islam yang dilakukan oleh individu atau berbagai lembaga Barat-jika tidak kita katakan sebagai akibat teori konspirasi dan dukungan dari negara-negara besar secara langsung di balik tindakan-tindakan tersebut-adalah hasil dari pengkondisian keadaan yang segaja dirancang untuk menciptakan kebencian terhadap Islam yang ditebarkan oleh negara-negara besar di tengah-tengah masyarakat, di seluruh penjuru dunia.

    Peradaban Barat benar-benar telah bangkrut di depan peradaban Islam dan ideologinya dalam bidang intelektual dan peradaban, meskipun negara-negara besar yang mengembannya memiliki kekuatan materi yang luar biasa dan mengontrol media-media lokal dan internasional. Sementara ideologi Islam-saat ini-tidak memiliki sepersepuluh pun dari apa yang mereka miliki, bahkan diemban dan dibela oleh negara-negara miskin.

    Negara-negara besar itu menggunakan cara-cara barbarisme dan permusuhan ini untuk memprovokasi masyarakat agar memusuhi kaum Muslim, serta berusaha untuk mengkaburkan hukum-hukum Islam dan citra kaum Muslim. Sementara di saat yang sama, mereka melakukan kejahatan paling keji dan tidak manusiawi dalam penjara-penjara demokrasinya, di Guantanamo, Abu Ghraib dan penjara-penjara rahasia di Eropa, pembantaian terhadap warga sipil di Afghanistan dan Irak, serta mendukung kejahatan dan kekejaman entitas Yahudi terhada warga Palestina yang terisolasi, menduduki tanahnya, membakar masjid-masjidnya, dan terus-menerus menodai tempat-tempat sucinya.

    Sebenarnya negara-negara besar itulah penyebab perselisihan sektarian di tengah-tengah masyarakat. Di dalam rumah mereka sendiri tumbuh subur diskriminasi rasial. Bahkan mereka yang menjarah kekayaan masyarakat yang lemah dan memaksa mereka agar menjadi pelayannya. Negara-negara besar itu melihat bahwa ras Barat (Eropa dan Amerika) lebih tinggi dari seluruh ras di dunia. Kemudian negara-negara besar itu dengan segala kesombongan dan keangkuhannya menuduh Islam melakukan berbagai praktek dan tindakan amoral.

    Padahal, peradaban Islam berabad-abad lamanya telah menyinari dunia dengan keadilannya. Bahkan hal itu disaksikan sendiri oleh kawan dan lawan. Peradaban Islam merupakan surga bagi mereka yang sedang ketakutan, dan tempat meminta pertolongan bagi orang-orang Barat, sebagaimana orang-orang Prancis meminta tolong kepada khalifah Sulaiman al-Qanuni untuk menyelamatkan raja mereka, lalu khalifah pun melakukannya. Sementara ketidakadilan kapitalisme dan keangkuhan negara-negara besar yang mengembannya, penyesatannya terhadap dunia, dan permusuhannya terhadap Islam, tidak akan mampu menghalani kembalinya Islam untuk melenyapkan ideologi zalim yang menyengsarakan umat manusia, yakni kembalinya negara yang akan menyebarkan kebaikan dan menyinari dunia.[..] [pal-tahrir.info/htipress/syabab.com]

Hehehehehe…

Demikianlah yang mereka katakan, namun rupanya mereka lupa satu hal..berita berbahasa perancis di bawah ini, merekam alasan yang sangat jelas dan mendasar mengapa wasit mesti mengeluarkan kartu merah, menghentikan pertandingan dan apa yang terjadi kemudian padanya:

    Après cela, il a dû être escorté en dehors de la pelouse par ses coéquipiers, car l’ire du public grondait [Ia kemudian, di harus kawal rekan2nya keluar lapangan dibawah hujan kemarahan publik] [sumber]

Mengapa begitu dahsyatnya pengaruh Asma Allah ini bagi mereka?

Tahun 1992-1995, di area tersebut telah terjadi kerusuhan, bermula dari kerusuhan etnis dan menjadi perang dengan bau-bau sentimen agama sejak terjadi pembunuhan terhadap seorang etnis Serbia yang sedang menikahkan putranya tanggal 30 Maret 1992 di pusat kota Sarajevo.

    Pada saat acara pernikahan gereja selesai dan iring-iringan sedang menuju tempat parkir kendaraan di depan gereja, pada saat itu beberapa tembakan telah dilepaskan ke arah iring-iringan mempelai tersebut yang menewaskan ayah mempelai putra dan melukai pendeta yang memberkahi perknikahan tersebut. Dalam kejadian tersebut bendera/panji-panji bangsa Serbia yang dibawa salah seorang rombongan dirampas dan dikoyak-koyak oleh si penyerang yang berhasil melarikan diri.

    Akan tetapi hari berikutnya si penyerang berhasil ditangkap dan ternyata adalah dari etnis Muslim Bosnia. Situasi tersebut telah mengakibatkan ketegangan di kalangan penduduk. Pasukan-pasukan Angkatan Bersenjata Yugoslavia mencoba bertindak sebagai penengah, namun, tidak berhasil, malah pos-pos dan tangsi-tangsi Angkatan Bersenjata Yugoslavia di blokade, rintangan-rintangan jalanan dipasang oleh fihak Muslim dan Kroasia yang semenjak semula sudah membentuk koalisi Serbia dan Angkatan Bersenjata Yugoslavia, skenario yang terjadi di Slovenia dan Kroasia terulang, peperangan sporadis, pecah dimana-mana.

    Klimaks konflik terjadi setelah Masyarakat Eropa dan AS mengakui Bosnia Herzegovina sebagai negara merdeka dan berdaulat. Hal ini telah mendorong pimpinan Bosnia-Herzegovina yang terdiri dari etnis Muslim & Kroat menuduh etnis Serbia Bosnia yang sebagai “agresor” terhadap negara merdeka dan berdaulat Republik Bosnia Herzegovina. Pertempuran antara pihak Serbia Bosnia dengan Muslim Bosnia berkecamuk kembali terutama di wilayah Sarajevo, wilayah utara Bosnia Herzegovina dan wilayah bagian timur Bosnia Herzegovina.

    Pertempuran yang terus berlanjut antara Muslim Bosnia Herzegovina dengan Serbia Bosnia Herzegovina di Sarajevo tersebut menjadikan perundingan penyelesaian krisis di Bosnia Herzegovina di antara Faksi-Faksi yang bertikai di Jenewa menjadi tertunda.

    Pertempuran antara pihak Serbia Bosnia Herzegovina dengan Muslim-Kroat bertambah sengit karena pihak Muslim-Kroat mendapat bantuan kekuatan dari tentara reguler Republik Kroasia yang diperkirakan sekitar 40.000 orang dan tentara-tentara asing (Mujahidin). Kekuatan yang berimbang tersebut mengakibatkan alotnya pertempuran namun pada akhirnya pihak Serbia Bosnia lebih banyak memenangkan pertempuran-pertempuran, karena pasukan Serbia Bosnia lebih terorganisir baik dari segi personil maupun perlengkapan militer.

    Hasil pertempuran ternyata hampir 2/3 wilayah Bosnia Herzegovina telah dikuasai oleh pasukan Serbia Bosnia selama 28 bulan terakhir dalam konflik bersenjata yang ada di Bosnia Herzegovina.

    Akibat perang Serbia Bosnia dengan Muslim-Kroat telah menimbulkan korban yang sangat besar jumlahnya yang diperkirakan ratusan ribu tewas (penduduk sipil maupun militer). Gencatan senjata yang disetujui antara pihak Serbia Bosnia Herzegovina dengan Muslim-Kroasia tidak pernah dilaksanakan akibat banyaknya formasi-formasi militer yang tidak di bawah komando tentara reguler yang ada di Bosnia Herzegovina dan juga diperkirakan akibat kurangnya pengaruh pimpinan politik terhadap pihak-pihak militer.

    Perkembangan situasi politik di Bosnia Herzegovina turut memengaruhi perkembangan situasi militer. Kegagalan-kegagalan usaha-usaha perdamaian yang disponsori oleh masyarakat internasional telah mendorong meningkatnya pertempuran-pertempuran di antara pihak-pihak yang bertikai di Bosnia Herzegovina. Persetujuan-persetujuan gencatan senjata tidak mampu menghentikan perang yang berkobar di antara pihak-pihak yang bertikai terutama antara pasukan Muslim Bosnia bersama-sama dengan Kroat Bosnia melawan pasukan Serbia Bosnia.

    Meningkatnya pertempuran antara pasukan Muslim Bosnia dan Kroat Bosnia melawan pasukan Serbia Bosnia, antara lain di samping sebagai akibat terbentuknya Federasi Muslim Bosnia dengan Kroat Bosnia sesuai inisiatip Washington pada bulan Maret 1994, juga dikarenakan adanya persetujuan-persetujuan gencatan senjata yang tidak dipatuhi oleh pihak-pihak yang bertikai. Dengan kata lain, satu pihak mematuhi akan tetapi pihak lainnya melakukan pelanggaran-pelanggaran dan memanfaatkan gencatan senjata sebagai momentum yang baik untuk melancarkan operasi-operasi militernya. [Wikipedia]

Nah, itulah alasannya..dan itulah mengapa 2 tahun dan kartu merah itu adalah sangat murah..karena yang termahal yang pernah dibayar adalah 200.000 Muslim hilang nyawa, 20.000 orang hilang tak tentu rimbanya dan 2 juta orang menjadi pengungsi[sumber] akibat konflik ini…

Malahan Wasit itulah sang malaikatnya, bukan?!


Puasa Ramadhan itu Emang Berasal dari Kaum Jahiliyah, lho..


Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas mu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar bertakwa [AQ 2.183]..bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir/menyaksikan di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan, maka, sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain..[AQ 2.185]

Puasa di bulan Ramadhan telah dipraktekkan bangsa pagan Arab dari jaman pra-Islam. Ismael K. Poonwala[↓], penulis artikel “Ramadhan” di Encarta, menyatakan bahwa di kalender Pra-Islam, bulan Ramadhan jatuh dipanasnya musim panas. Dalam arab, kata Ramadhan/Ramad/Ramida berarti “Hari yang amat panas“.

Puasa Ramadhan dilakukan kaum Sābi’ūn [dari akar kata bahasa syria ‘S-b’ ][↓], Kaum yang menyembah dewa bulan. Orang-orang Sabi, baik Sabi Harrania maupun Mandaia melakukan puasa Ramadhan[↓].

Kaum Sabi melakukan Shalat 5 waktu seperti kaum Muslim..Mereka juga puasa 30 hari di sebuah bulan lunar, mereka mulai puasa di jam jaga akhir malam s/d terbenamnya matahari. Beberapa sekte berpuasa di bulan Ramadhan, menghadap Ka’ba ketika sembahyang[↓]

  • Kaum Harrania, yang menyembah dewa utama mereka, Dewa bulan (sin)[↓], mereka berpuasa selama 30 hari [8 Maret s/d 8 April].
  • Ibn Hazm: Puasa ini sebagai puasa Ramadan[↓].
  • Al-Masudi: Nama Ramadan berasal dari panasnya udara di bulan tersebut[↓].
  • Ibn al-Nadim: Dibulan mereka menyembah dewa sin, mereka berpuasa 30 hari[↓].
  • Ibn Abi Zinah: di samping puasa selama 30 hari, mereka shalat 5x sehari menghadap Yemen[↓].
  • M.A. Al Hamed: Puasa sebelum matahari terbit sampai matahari terbenam[↓].
  • Jawad Ali: Cara Arab pagan puasa termasuk tidak menelan makanan, minuman, dan tidak melakukan hubungan sexual. Mereka berpuasa dengan berdiam diri, tidak berbicara, baik dalam waktu sehari maupun seminggu, atau lebih lama lagi[↓].
  • Qastallani Ahmad ibn Muhammed: Abu Bakr mendekati seorang wanita diantara umat pagan di Medina. Dia mendapatkan wanita itu sedang berpuasa, termasuk puasa bicara.[↓].
  • Ibn al-Juzi: Mereka puasa di Ramadhan, mengakhiri puasa dengan memotong hewan kurban dan berzakat bagi kaum miskin[↓]
  • Ibn al-Nadim: kaum Harrania menyebut perayaan ini sebagai al-Fitri الفطر, shalat 5x sehari, sebelum shalat melakukan wudhu[↓]
  • Kebiasaan berpuasa untuk menghormati bulan dan berhenti puasa ketika bulan sabit muncul, telah dilakukan bangsa Timur yang menyembah bulan, seperti sekte India, al-Jandrikinieh, yang mulai puasa di saat bulan menghilang dan mengakhiri puasa dengan perayaan besar di saat bulan sabit muncul kembali[↓]

Ibnu Abbas menceritakan bahwa setelah Muhammad sampai Medina, Ia melihat para Yahudi berpuasa di hari Ashura, beliau bertanya tentang apa? mereka jawab bahwa karena Allah menyelamatkan Bani Israel dari musuh mereka, Jadi Musa berpuasa di hari itu. Nabi berkata, bahwa “Kami mempunyai klaim terhadap Musa lebih banyak darimu” Jadi, Nabi berpuasa di hari itu dan memerintahkan (muslim) berpuasa (di hari itu) [Bukhari 3.31.222, 3.31.223 (dari Abu Musa: alasan berpuasa di hari itu, karena orang Yahudi berpuasa di hari itu)]

Aisyah menyatakan bahwa puasa Ashura dilakukan oleh para pagan Quraish dan juga dilakukan Muhammad SAW di sebelum hijrah ke Medina, Namun ketika sudah di Medina, setelah shalat 5 waktu ditetapkan dan bulan Ramadhan telah ditetapkan sebagai bulan puasa maka puasa Ashura di bulan Muharam tidak lagi diwajibkan [Bukhari: 3.31.116, 117, 219, 220; 5.58.172; 6.60.28-31 (dari Ibn Umar, Aisyah dan Abdullah). Malik Muwata 18.18.11.33 (dari Yahya – Malik – Hisham ibn Urwa – Ayahnya – Aisyah)]

George Widengren: “Jika Bulan Muharam dapat dibandingkan dengan bulan Tishri, maka Bulan Ramadhan dapat dibandingkan dengan bulan Sivannya kaum Yahudi. Di mana Tradisi Islam menyatakan di bulan Ramadhan,..Lailat-ul-Qadr..bahwa Muhammad menerima wahyu Quran..jelas paralel dengan keadaan ketika Musa menerima Taurat dan Muhammad menerima Quran[↓].

    Note:
    Walaupun Sivan dan Ramadhan sama-sama dinyatakan sebagai bulan ke-9 namun musim panas di sejarah ke-2 agama itu berada pada bulan ke-3 kalender Pagan!

    Kitab Perjanjian lama menyatakan bahwa bangsa Israel, tiba di padang gurun Sinai pada bulan ke-3 [Sivan] di hari yang sama ketika mereka keluar dari Mesir [hari ke-14/15] dan 3 hari kemudian [hari ke-17/18 Sivan], mereka bertemu Tuhan-nya mereka di gunung Sinai[↓].

    Secara historis, Nuzul Quran terjadi di 17 Ramadhan (turunnya ayat Al-‘Alaq AQ 96:1-5), namun terdapat pendapat bahwa Lailat-ul-Qadr terjadi di hari ke-21 Ramadhan, berdasarkan pendapat 10 hari terakhir Ramadhan dan hari yang ganjil ada Lailat-ul Qadr [Muslim: 6.2625, 2627; Bukhari: 1.12.777, 3.32.235, 3.33.244] serta hari Senin adalah kelahiran Muhammad lahir dan Quran diwahyukan kepadanya [Muslim: 6.2603 dan 6.2606]. Kemungkinan hari Senin saat itu terjadi pada kelipatan 7 [7, 14, 21 dan 28], jadi diperkirakan terjadi di tanggal 21. Imam Ahmad: Nabi berkata bahwa Suhuf [hari ke-1], Taurat [hari ke-6], Injil [hari ke-13] dan Quran [Hari ke-24] turun di bulan Ramadhan[↓].

Bulan Sivan kalender Assyirian [Khzeeran-Hzirin] dan kalender Babilonia [Araḫ Simanu] adalah bulan ke-3 dan Dewa yang memberkati di bulan ini adalah Dewa Bulan Sin! Tampaknya, hubungan antara Dewa Bulan dan Allah ini, sangatlah mencurigakan 🙂

Sunnah.org menyampaikan bahwa puasa di bulan-bulan Dhul Qa`da, Dhul Hijja, Muharram dan Rajab telah berlangsung sejak jaman jahiliyah dan direkomendasikan untuk dilakukan. Di Bulugh al-‘Arab fi Ahwal al-Arab: 4 bulan suci Rajab, Dhul Qa’da, Dhul Hijja dan Muharram, dinyatakan suci selama jaman pra-Islam [Jahiliya]. Semua pembantaian, balas dendam, perang, perkelahian dan pertengkaran dilarang di antara mereka. Jika selama bulan ini, seseorang bertemu musuh yang telah membunuh ayah/kakak/adiknya, Ia tidak boleh berkelahi dengannya..selama bulan suci ini, masyarakat dibatasi tidak melakukan perkelahian atau pembantaian dan melepas kepala tombaknya sebagai tanda bahwa mereka menghindarkan diri dari perkelahian. Bulan dan kebudayaan ini kemudian di adopsi Islam[↓].

Namun,
Nabi di bulan Dhul Hijja, pada hari “Arafat”, hari ke-9 bulan Dhul-Hijja, TIDAKLAH BERPUASA [Bukhari 3.31.209 (dari Um Al-Fadl bint Al-Harith), 210 (dari Maimuna)]

Konon aktifitas menahan diri yang dilakukan selama berpuasa:

    Diriwayatkan Abu Huraira:
    Rasullulah berkata, “Allah berkata, ‘Semua perbuatan anak Adam (manusia) adalah buat mereka kecuali Puasa adalah untuk Aku dan Aku akan memberikan pahala karenanya’ Puasa adalah perisai atau perlindungan dari api dan dosa. Jika satu dari kalian berpuasa, ia harus menghindari berhubungan seks dengan istri dan bertengkar, Dan jika seseorang harus berkelahi atau bertengkar dengannya, ia harus mengatakan, ‘Aku berpuasa [..]” [Bukhari 3.31.no.128; Muwatta 18.18.22.57]

Untuk urusan seksual saat berpuasa bagi kaum muslim, masih terdapat beberapa pengecualian, karena ternyata, NABI masih melakukan aktifitas seksual tertentu bersama para istri ketika sedang berpuasa [Abu Dawud no.2380; Bukhari: 3.31.149 dan no.150 (dari Aisyah) 3.31.151 (dari Zainab), 3.31.156,157,158 (dari Aisah dan Abu Huraira)] namun melarang mereka yang masih muda bercampur dengan istri dan tidak bagi yang telah berumur [Abu dawud: 2381 (dari Abu Hurairah)]

Bagaimana dengan bertengkar/berkelahi di bulan puasa kaum Muslimin?

4 Bulan itu (Rajab, Dhul Qa’da, Dhul Hijja dan Muharram) tidak lagi terlarang bertengkar dan membunuh sejak turunnya AQ 2.217

    “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) [yasalūnaka] mengenai [ʿani] (di) bulan haram [l-shahri l-ḥarāmi] membunuh (berperang) di dalamnya [qitālin fīhi], Katakanlah [qul]: “membunuh (berperang) [qitālun] di dalamnya [fīhi] (dosa) besar [kabirun], dan menghalangi [waṣaddun] dari jalan Allah [ʿan sabīli l-lahi], kafir pada Allah [wakuf’run bihi] dan Masjidilharam [wal-masjidilḥarāmi] dan mengusir kaummu darinya [wa-ikh’rāju ahlihi min’hu] (dosanya) lebih besar [akbaru] di sisi Allah [ʿinda l-lahi] dan fitna/syirik [wal-fit’natu] (dosanya) lebih besar [akbaru] dari membunuh [mina l-qatli] dan tidak [walā] mereka berhenti [yazālūna] membunuh (memerangi) kalian [yuqātilūnakum] hingga [ḥattā] kalian murtad dari agama kalian [yaruddūkum ‘an dīnikum] Jika [ini] mereka dapat [is’taṭāʿū]. Dan barangsiapa [waman] diantara kalian murtad dari agamanya [yartadid minkum ‘an dīnihi] kemudian dia mati [fayamut] dalam keadaan kafir [wahuwa kāfirun], maka bagi mereka [fa-ulāika] menjadi sia-sia/menjadi terhapus [ḥabiṭat] amalan-amalan mereka [aʿmāluhum] di dunia dan akhirat [fī l-dun’yā wal-ākhirati] dan merekalah penghuni neraka dan mereka kekal di dalamnya [wa-ulāika aṣḥābu l-nāri hum fīhā khālidūna]…”

    Note:
    Akar kata Q-T-L (Qaf-Ta-Lam) kerap diterjemahkan menjadi “perang/bertengkar” yang mengaburkan maksud karena akar kata QTL menunjukan suatu perbuatan dengan akibat pada ‘kematian atau terjadinya pembunuhan’, aplikasinya misal: qatala: ‘dia (pria) membunuh’, qattala: ‘Ia sering membunuh’, qutila: ‘dia (pria) dibunuh’, qutilū: ‘mereka dibunuh’, uqtul: ‘membunuh’, qātil: ‘membunuh, ‘iqtāl: ‘sebab untuk membunuh, qatl: ‘pembunuhan’ ‘qitl’: musuh (yang ingin membunuh), qutl/qātil: ‘pembunuh’, maqtal: ‘titik vital ditubuh (luka yang membawa kematian)’, istaqtala: ‘membahayakan nyawa seseorang’ [lihat di: sini, sini, sini, sini dan sini]

Kutipan dari “Anshar Al-Syari’ah Berperang di Bulan Rajab, Dosa Besar Kah?“:

    [..]Ayat di atas jelas mengatakan bahwa pada asalnya hukum berperang di bulan haram (termasuk bulan Rajab) adalah haram alias dosa besar. Qul qitaalun fiihi kabir katakanlah berperang pada saat itu adalah dosa besar. Namun perang (jihad) itu ada dua, defensif (difa’i) dan ofensif (hujumi). Sebagaimana kita ketahui bahwa hukum jihad difa’i adalah fardhu ‘ain (sebagaimana yang diutarakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab Al-Fatawa Al-Kubro 4/608). Karena kita mempertahankan diri dari serangan musuh, maka wajiblah bagi kita untuk mempertahankan diri untuk keberlangsungan Islam (bukan mempertahankan tanah air untuk kita rusak kembali dengan mengatur Negara memakai ideologi dan hukum buatan manusia). Allah Ta’ala berfirman: + (AQ 2.194)

    [..] Maka jumhur ulama mengatakan bahwa larangan tersebut telah dihapus. Hal ini juga diutarakan Syaikh abdul ‘Aziz bin Baaz.

    Az-Zuhri dan Mujahid berkata: ayat tersebut dihapus oleh ayat (dan perangilah kaum musyrikin seluruhnya) [At-taubah:36)

    Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyerang penduduk Thaif pada bulan haram yaitu Dzul Qa‘dah. Namun pendapat sebagian ulama mengatkan bahwa larangan tersebut tetap berlaku, sedangkan menurut mereka ayat yang dijadikan dalil yang menghapus pelarangan tersebut adalah mengandung arti pembolehan bagi kaum muslimin memerangi kaum musyrikin jika mereka yang memulai (Tafsir Ibnu katsir juz 4 hal 149-150, penerbit daar Al-Thayyibah).

    Note:
    “Bulan haram [al-shahru l-ḥarāmu] dengan bulan haram [bil-shahri l-ḥarāmi] dan dalam semua keharaman berlaku qishaash [wal-ḥurumātu qiṣāṣun]. Kemudian barangsiapa [famani] melanggar batas padamu [iʿ’tadā ʿalaykum], maka kalian langgar batas padanya [fa-iʿ’tadū ʿalayhi], dengan cara yang sama apa yang Ia langgar batas pada kalian [bimith’li mā iʿ’tadā ʿalaykum]. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa [AQ 2.194].

    Kata “tadā” dan “tadū” sering diterjemahkan seranglah, padahal artinya adalah melampaui/melewati/melanggar batas.

    Asbabunuzul ayat ini:
    Di 6 AH, pada bulan Dulqaidah, Dari Medinah, Muhammad besama 1400 kaum muslim (Bukhari no.3312, 4463, Muslim no.3449) dengan dalih hendak umrah dan membawa hewan kurban menuju Mekkah. Mereka berbaiat (disebuah pohon) untuk menyongsong kematian (Bukhari no.2740, 6666, Muslim 3462, Tirmidhi no.1518) bersiap perang (Bukhari no.2945, 3868, 4466) karena datang MEMBAWA SENJATA, diantaranya: Panah (Bukhari no.2529), Pedang terhunus tidak dalam sarung dan mengenakan baju besi (misalnya Al Mughirah bin Syu’bah di Bukhari no.2529). Umar menggunakan baju besi dan minta dibawakan kuda untuk berperang di Hudaibiyyah (Muslim no.3866). Salamah juga mempunyai tameng dan Perisai yang diberikan Muhammad (Muslim no. 3372), senjata-senjata (Bukhari no.3868), Beberapa tidak umroh, ada yang berburu dan membunuh keledai buruannya, misal bapaknya Abu Qatadah (Bukhari no.1693, Muslim no.2066). Umar bin Khattab bahkan mendekatkan pedangnya agar dapat digunakan Abu Jandal untuk membunuh Ayahnya, misalnya:

    Az-Zuhri berkata, “Umar bin Khaththab berdiri ke tempat Abu Jandal kemudian berjalan di sampingnya dan berkata, ‘Bersabarlah engkau, hai Abu Jandal, sesungguhnya mereka orang-orang musyrikin dan darah mereka adalah darah anjing.’ Umar bin Khaththab berkata, ‘ Umar bin Khaththab mendekatkan PEGANGAN PEDANG kepada Abu Jandal. Umar bin Khaththab berkata, ‘Aku berharap Abu Jandal mengambil pedang terebut kemudian membunuh ayahnya dan permasalahanpun selesai.” [“Sirat Nabawiyah”, Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, bab 169, hal 284]

    Bapak dari Abdullah bin Abu Qatadah spesifik menyatakan peristiwa terhenti di Hudabiyah dari Medinah menuju Mekkah adalah “غَزْوَةَ الْحُدَيْبِيَةِ” (gẖaz̊waẗa Al-Hudaibiyah = perang Hudaibiyah, di hadis Muslim no.2066, Nasai no.2776) atau Abdullah bin Mas’ud yang juga menyatakannya sebagai “غَزْوَةِ الْحُدَيْبِيَةِ” (gẖaz̊waẗi ạl̊ḥudaẙbīaẗi = Perang Hudaibiyyah, di Ahmad no.3526).

    Kaum Muslim berhasil dicegah kaum Quraish ke Mekkah di sebuah sumur di daerah Hudaibiyah (sekitar 22 km di Barat Daya luar kota Mekah) sehingga mereka saat itu gagal menyerang Mekkah pada bulan Haram ketika suku Quraish dan kaum Muslim punya ritual yang sama dan dengan menggunakan alasan yang sama yang diberikan kaum muslim yaitu umroh, kaum Muslim diikat perjanjian yang diantaranya: tahun depan kaum Muslim dapat melakukan umrah masuk kota selama 3 hari dan tidak memasukinya kecuali pedang-pedang mereka disarungkan (Buhari no.2500).

    Pada tahun berikutnya, di bulan Dulqaidah, Kaum Muslimin melakukan umrah tinggal selama 3 malam di Mekkah dan ayat ini turun.

Benarkah AQ 2.217, turun karena para kafir menghalangi muslim dari jalan allah? Mengusir dari mekkah? Fitna/Syirik? Dalam keadaan perang? dan Para kafir senantiasa memerangi mereka?

    Hadis Ibn Hatim dalam TAFSIR IBN KATHIR AQ 2.217, mengatakan: Mereka menyerang TANPA MENGETAHUI saat itu adalah BULAN HARAM[↓]

    Pelanggaran aturan perang di bulan puasa[↓] terjadi ketika Muhammad SAW mengirim Abdullah bin Jahsy Asadi [sepupunya dari pihak Ibu] ke Nakhla untuk memimpin 12 Muhajirin dengan 6 ekor unta dan memberikan surat yang hanya boleh dibuka setelah sampai di lembah Mallal [2 hari Perjalanan].

    Setelah sampai, Abdullah membuka surat itu dan membacakannya dihadapan rekan-rekannya [Muir. hal 70], yaitu “Atas berkat dan rahmat Allah, lanjutkan menuju Nakhla [antara Mekah dan Taif], Namun jangan memaksa pengikutmu yang berkeberatan. Lanjutkan dengan orang-orang yang mau menyertaimu. Setibanya di lembah Nakhla, bertiarap menunggu kafilah-kafilah dari Quraish[↓]

    Setelah membaca instruksi, Abdullah bin Jahsh, mengatakan pada rekan-rekannya bahwa siapa memilih jalan syahid bergabung dengannya dan yang tidak untuk kembali ke Medina. “sementara saya sendiri”, Ia menambahkan, “akan memenuhi perintah Nabi” Semua sepakat mengikutinya [Muir. hal.72]

    (beberapa penulis menuliskan 2 orang memutuskan kembali ke Medina).

    Sa’d bin Abi Waqqas dan Utbah bin Ghazwan kehilangan seekor unta yang mereka kendarai secara bergiliran. Unta ini tersesat dan pergi ke Buhran, jadi mereka pergi mencari unta itu ke Buhran dan berpisah dari kelompok.

    Salah satu anak buah Abdullah bin Jahsy, yaitu Ukas bin Mihsan, mencukur kepalanya untuk menyembunyikan tujuan sebenarnya perjalanan mereka dan untuk menipu Quraisy dengan memberi kesan bahwa mereka akan melaksanakan haji kecil (Umrah), karena saat itu merupakan bulan Rajab, bulan PUASA, saat itu, seluruh suku asli tengah menahan diri dari peperangan, pembalasan dendam apalagi perampokan.

    Ketika orang Quraisy melihat kepala gundul Ukas, mereka pikir kelompok tersebut sedang dalam perjalanan haji, mereka merasa lega dan mulai mendirikan kemah. Karena saat itu sedang bulan Rajab, baik awal/akhir Rajab (pendapat para ahli sejarah berbeda-beda) adalah satu dari empat bulan suci larangan total berpeperang dan pertumpahan darah di Semenanjung Arab

    Abdullah bin Jahsy pada awalnya ragu untuk menyerang kafilah Mekkah itu. Namun, setelah berunding para Muslim tidak ingin kafilah itu melarikan diri. Jadi mereka memutuskan melakukan perampasan harta jarahan. Ketika kaum Quraisy sedang sibuk-sibuknya menyiapkan makanan, para Muslim menyerang mereka dan kaum Quraisy kemudian melawan.

    Dalam pertempuran itu, Waqid bin Abdullah membunuh Amr bin Hadrami, pemimpin kafilah Quraisy, dengan panah. Naufal bin Abdullah melarikan diri. Para Muslim menawan Usman bin Abdullah dan al-Hakam bin Kaysan. Abdullah bin Jahsy kembali ke Medina dengan jarahan dan 2 tawanan Quraisy. Kedatangan mereka membawa banyak jarahan, tawanan. Muhammad memarahi mereka karena berperang di bulan suci: “Saya tidak pernah memerintahkan engkau berperang di bulan suci

    Abdullah dan rekannya merasa malu dan sedih, orang-orang juga mencela perbuatan mereka. Tapi Muhammad tak mau mengecilkan hati para pengikutnya, tak lama kemudian, Ia mengumumkan wahyu yang membenarkan PERBUATAN itu yang dilakukan selama bulan suci untuk penyebaran iman, sebagai kejahatan yang lebih rendah dari penyembahan berhala dan bertentangan dengan agama Islam: –

    “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitna/syirik lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”

    Setelah ayat turun, Muhammad, membagikan jarahan pada yang mengusahakannya, membayar tebusan dan uang darah, setelah menyisihkan 1/5 bagian untuk Muhammad, sisanya dibagikan di antara mereka[↓]

    ———–
    Catatan kaki:

      [↑] Catatan kaki Muir di Hal.74-76:
      [..]ada yang mengatakan terjadi menjelang Jumadi 2 (Oktober) dan awal Rajab, Yang disampaikan Abdallah kepada Muhammad sekembali dirinya: “Kami menyerang kafila di hari itu, dan pada malam harinya kami melihat bulan baru Rajab, dan kami tidak pasti tahu apakah kami menyerang mereka di Rajab atau pada hari terakhir dari Jumadi 2. ” Wackidi, 8.

      Ini adalah keinginan untuk menghilangkan skandal serangan yang dilakukan selama bulan haram. Ekspedisi ini, selalu dinyatakan dilakukan di bulan rajab dan dibuktikan berangkat dari Madina menjelang akhir bulan itu dan awal mula berikutnya (Shaban, atau Desember)

      [↑] Catatan kaki Muir hal.71:
      Terjemahan harfiah dari Wackidi, hal. 8. adalah singkat dan tidak memuaskan. Hishami dan Tabari, mengikuti Ibn Ishaq; masukkan klausul pada penutupan: — “dan amati apa yang mereka lakukan” Weil (p.99) menunjukkan hal ini ada tambahan palsu. Selain tidak pada tempatnya, tidak sesuai dengan pidato Abdullah (seperti yang disampaikan perawi yang sama) pada pembukaan surat, yaitu. : — “Mari siapapun yang berharap mati syahid ikut denganku“. Pidato ini sama palsunya, terhadap pemikiran tentang kemartiran dalam pertempuran belumlah muncul hingga perang Badar. Juga ini tidak konsisten dengan perundingan yang dilakukan Abdullah tepat sebelum penyerangan kafilah.

      [↑] Catatan kaki Muir. hal.74
      Turunan Abdullah menambahkan kejadian ini, sebagai antisipasi turunnya perintah 1/5 bagian bagi nabi. beberapa berkata, bahwa jarahan tidak dibagi dan terjadi setelah perang Badar. Setelah perintah turun bahwa 1/5 bagian selalu untuk Nabi. Porsi bagian bagi pemimpin arab adalah yang ke-4. Wackidi, 10. juga lihat vol. i. ccxxi. bagian catatan.

      Catatan kaki Muir di Hal.76:
      [..]Penebusan para tawanan lama terjadi setelah kembalinya ekspedisi (sejak Sad dan Otba tidak datang kembali ketika utusan itu tiba dari Mekah), dan tidak setelah Badar, yaitu 2 bulan kemudian.

Asbabunuzul ayat 2.217 menyajikan fakta sederhana bahwa turunnya ayat tersebut BUKAN karena mendapatkan serangan dari kafir, BUKAN karena diajak menjadi kafir, BUKAN karena diajak untuk syirik namun HANYA KARENA telah melakukan pembunuhan di bulan haram ketika sedang merampok karavan dagang. Demi menyenangkan si pembunuh dan perampok sekaligus membatalkan 4 bulan suci berpuasa tradisi kaum arab pra-Islam, turunlah AQ 2.217 dan sejak itulah maka di bulan-bulan tersebut boleh melakukan aksi berdarah-darah atas nama JIHAD.

Hadis mencatat nabi Muhammad membatalkan larangan bertengkar, berkelahi dan melakukan “JIHAD” selama BULAN RAMADHAN:

    Diriwayatkan Kab bin Malik:
    Aku tak pernah gagal ikut Rasul Allah selama Ghazawa-nya [Nabi turun langsung dalam penyerangan] kecuali di Ghazwa Tabuk. Namun, Aku tidak ikut ambil bagian di Ghazwa Badar, tetapi yang tidak ikut, tidak ada yang disalahkan, karena Rasul Allah SUDAH PERGI MENCEGAT KARAVAN-KARAVAN DAGANG (Quraisy, tapi Allah menyebabkan mereka (yaitu muslim) bertemu para musuh mereka secara tak terduga (TANPA ADA NIATAN SEBELUMNYA) [Bukhari 5.59.287]

Jadi, yang disebut “perang” sebagaimana kerap dinyatakan kaum muslimin ini ternyata aksi mencegati dan merampoki karavan dagang kaum Quraish dan karena kaum Quraish tidak mau barang mereka dirampok mentah-mentah, maka terjadilah perlawanan 🙂 Inilah maksud perang di dunia Islam itu.

Aktivitas kekerasan di bulan suci Ramadhan yang dilakukan Nabi dan pengikutnya:

  • 2x melakukan penyerangan di bulan Ramadhan [“Yawm al-Furqan” atau di Badar: 17 Ramadhan 2 AH/624 M dan Penaklukan Mekkah/Al-Fath: 10-20 Ramadhan 8 AH/630 M]
  • 2x LATIHAN untuk menyerang di bulan Ramadhan [persiapan: Al Khandaq/Azhab: 5 AH/627 M dan Tabuk: Oktober 630 M]

Nabi pernah berkata tentang kehebatan seorang Mujahid yaitu: Tetap berJIHAD, tetap ke mesjid untuk shalat dan tetap berpuasa selama BERJIHAD [Bukhari 4.52.44]. Namun, sebagai nabi, tentunya beliau mempunyai hak mengubah-ubah aturan sesuai kebutuhan, untuk itu, nabi kemudian memberikan contoh tidak berprilaku seperti seorang “Mujahid” seperti yang dikatakannya yaitu beliau membatalkan puasanya dan ini tidak tanggung-tanggung dilakukannya, yaitu hingga berakhirnya bulan puasa dan itupun diikuti pengikutnya

    Riwayat Abdullah bin Yusuf – Al Laits – Uqail – Ibnu Syihab – Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah – Ibnu Abbas:
    Rasulullah SAW melakukan penaklukan Makkah pada bulan Ramadhan…Rasulullah SAW pernah berpuasa, hingga ketika beliau sampai Kadid, sebuah mata air antara Qudaid dan Usfan, beliau membatalkan puasanya dan terus beliau TIDAK PUASA HINGGA BULAN YANG DIJADIKAN BELIAU PUASA SELESAI.[bukhari 3940, Bab: Tempat tinggal Nabi SAW saat penaklukan Makkah]

    Riwayat Abdan – Abdullah – ‘Ashim – Ikrimah – Ibnu Abbas:
    Nabi SAW pernah diam di Makkah selama 19 hari dan selama itu pula beliau lakukan shalat 2 rakaat. [Bukhari no.390, Bab: Tempat tinggal nabi SAW saat penaklukan mekkah. Nabi telah tidak berpuasa 2 hari sebelumnya, yaitu mulai dari Usfan.]

    Note:
    Berangkat dari Medina: 6 Ramadhan (Katib Wakidi: “Life of Mohamet”, Muir, Vol4. Ch.24, hal 115, cat kaki no.1) atau 10 Ramadhan (Muir dan Ibn Ishaq);
    Lama perjalanan Medina – Mekkah: 7 hari (Katib Wakidi: Muir, Ibid)
    Mulai tidak berpuasa saat tiba di Usfan, jarak Usfan – Mekkah: 80 km/2 hari perjalanan [Fatwa 38079], yaitu sejak: 10 Ramadhan/14 Ramadhan
    Tiba di Mekkah: 17 Ramadhan (Sirah of Prophet Muhammad, Dr Yasir Qadhi, bag: 78, Conquest Mekkah) atau 18 Ramadhan (F.R. Shaikh, “Chronology of Prophetic Events”, 2001 hal.72) atau 20 Ramadhan (Muir, Ibn Ishaq)]

    Jadi, Nabi SAW tidak puasa Ramadhan: 16-20 hari lamanya

..atau di kejadian lainnya:

    Riwayat Yahya – Syu’bah – Qatadah – Abu Nadhr – Abu Sa’id Al Khudri: “Kami keluar bersama Nabi SAW ke Hunain pada hari ke 17 atau 18 dari bulan Ramadhan, lalu ada yang berpuasa dan ada yang tidak, dan orang yang berpuasa tidak mencela yang tidak berpuasa dan orang yang tidak berpuasa tidak mencela yang berpuasa.” [Ahmad no.10762. Juga di Ahmad no.11437 (Riwayat Hajjaj – Syu’bah – Qatadah – Abu Nadhrah – Abu Sa’id Al Khudri..Syu’bah berkata; “Ada 4 orang yang telah menceritakan kepadaku tentang hadits ini, salah satunya adalah Qatadah, dan ini adalah hadits riwayat dari Qatadah.”]

..dan Muhammad bahkan pernah tidak berpuasa 1 bulan lamanya:

    Riwayat ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah – Muhammad bin Ja’far – Humaid – Anas: Rasulullah SAW pernah TIDAK BERPUASA SELAMA SEBULAN hingga kami menduga beliau tidak pernah puasa seharipun dari bulan itu…[Bukhari no.1836, Ini bukan bulan Ramadhan]

Juga,
tidaklah benar pernyataan bahwa para setan telah dirantai/dibelenggu selama bulan Ramadhan:

    Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – ‘Uqail – Ibnu Syihab – Ibnu Abi Anas (mantan budak at-Taymiyyin) – bapaknya – Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Apabila datang bulan Ramadlan pintu-pintu surga dibuka sedang pintu-pintu neraka ditutup dan syaitan-syaitan dibelenggu” [Bukhari no.3035,1766. Muslim no.1794. Ahmad no.6851, 7450, 8330, 8559]

Tabulasi berikut mencatat pesta darah yang dilakukan kaum Muslimin selama puasa Ramadhan:



[Detail score card, Day to Day termasuk RAMADHAN TAHUN: 2013, 2012, 2011, 2010 dan tahun lainnya]

Tabulasi di atas memberi kita pemahaman jelas bahwa terdapat PERBEDAAN BESAR antara cara kaum Muslimin VS cara kaum PRA-ISLAM dalam MENGHORMATI dan menjalankan puasa.

Ketika kaum jahiliyah berpuasa adalah demi diri mereka sendiri (atau demi Allah mereka sendiri) dengan menahan hawa nafsu dan menahan diri dari pengerusakan, permusuhan dan berperang, TAPI BERBDEDA dengan kaum MUSLIM, sebagai pemegang klaim pemeluk AGAMA PALING BENAR DISELURUH JAGAD, karena ternyata, selama melakukan puasa di bulan Ramadhan, kaum muslim BOLEH bertengkar dengan SIAPA SAJA, BOLEH mengubrak-abrik periuk nasi SIAPA SAJA dengan alasan bahwa mereka sedang berpuasa atau bahwa mereka harus dihargai ketika sedang berpuasa, BOLEH berperang dan melakukan PEMBUNUHAN KEPADA SIAPA SAJA. Atau dengan kata lain, cara muslim dalam menghormati bulan puasa TIDAK TERMASUK mengharamkan kegiatan yang berdarah-darah.

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa di Quran terdapat 4x kata “Muhammad” (AQ 3.144; 33.40; 47.2; 48.29) dan 4x kalimat “syaitan yang terkutuk” (AQ 3.36; 15.17; 16.98; 81.25) dan menariknya, di beberapa kebudayaan dunia, angka 4 memang dianggap erat terkait dengan hal sial dan/atau berbau kematian.

Terakhir,

    “[..] makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.[..]” [AQ 2.187]

    Riwayat Ibnu Abu Maryam – Abu Ghassan Muhammad bin Mutharrif – Abu Hazim – Sahal bin Sa’ad: Ketika turun ayat “dan makan minumlah kamu sehingga terang bagimu benang putih dari benang hitam. (AQ 2.187). Sedangkan ayat ‘minal fajrinya’ (di waktu fajar) belum turun. Orang-orangpun apabila mau berpuasa, salah seorang dari mereka mengikat kakinya dengan benang putih dan benang hitam, dan mereka terus makan hingga nampak bagi mereka kedua benang tersebut. Lalu Allah menurunkan ayat; ‘Minal fajri.’ (diwaktu fajar). Akhirnya mereka mengerti bahwa yang dimaksud adalah dari waktu malam ke siang. [Bukhari no.4151, 1782, 1784]

Maka sungguhlah repot jika masih menyembah Allah yang sunguh-sungguh tidak tahu bahwa ternyata beberapa daerah di bumi ini, matahari-nya bahkan berbulan-bulan lamanya, TIDAKLAH PERNAH TERBENAM [Misal: Amerika Serikat: Alaska, Finlandia, Norwegia: Svalbard, Kanada: Yukon, dll. Lihat: Midnight Sun]


Reference:

    [↑] Ismael K. Poonwala, “Ramadhan“, Profesor bahasa Arab di UCLA, departemen bahasa dan kebudayaan Timur dekat (NELC) selama 30 tahun. Lahir: tahun 1937, di Godhra, India. Pendidikan formal diantaranya: M.A dari Universitas Bombay dan Kairo dan juga Phd dari UCLA

    [↑] Tamara M. Green, “The City Of The Moon God: religious traditions of Harran“, 1992, p.112 [“Segal was inclined to believe that the root of the word Sabian was Syriac. Rejecting the notion that it means baptizer … Even if the etymology proposed by Segal is correct, nevertheless the question of how Muhammad learned about these …“]

    [↑] Rafat Amari, “RAMADAN AND ITS ROOTS“, Cat. kaki untuk: Abdel Allah ibn Zakwan Abi al-Zanad (747 M). Lihat Ibn Qutaybah, op. cit., hal.204; Dikutip oleh Sinasi Gunduz, “The Knowledge of Life”, Oxford University, 1994, hal.25. [Untuk tahu siapa Dr. Rafat Amari, silakan lihat bagian PrefaceIslam: In Light Of History“, Dr. Rafat Amari, 1stEd., 2004, A Religion Research Institute Publication, ISBN 0-9765024-0-2]. Lihat: Sabian dan Haran.

    [↑] Muhammad Shukri Al-Alusi, Bulugh al-‘Arab fi Ahwal al-Arab, Vol 1, p 121-122, Muslim). Tafsir Ibn Kathir AQ 5.69: “Ibnu Wahb – Ibnu Abuz Zanad – ayahnya: sabi­in … Mereka beriman kepada semua nabi. puasa setiap tahunnya selama 30 hari, dan mengerjakan salat..setiap harinya sebanyak 5x“. atau “The Al-sabiu’n (The Sabians): An Overview from the Quranic Commentators, Theologians and Jurists”, Muhammad Azizan Sabjan, hal.164: “..al-Razi who briefly notes that the Sabians..perform five times daily prayer..

    [↑] Tamara M. Green, loc.cit, p.21

    [↑] Rafat Amari, loc.cit, Cat. kaki untuk: Ibn Hazm, I, hal.34; dikutip oleh Sinasi Gunduz, hal. 167-168

    [↑] Rafat Amari, loc.cit, Cat. kaki untuk: Masudi, Muruj Al-Thaheb, 2, hal. 213

    [↑] Rafat Amari, loc.cit, Cat. kaki untuk: Ibn Al-Nadim, Al-Fahrisit, hal. 324-325

    [↑] Rafat Amari, loc.cit, Cat. kaki untuk: Rushdi Ilia’n, Al Saebiun Harraniyen Wa Mandaeyn, Bagdad, 1976, hal. 33

    [↑] Rafat Amari, loc.cit, Cat. kaki untuk: M.A. Al Hamed, Saebat Harran Wa Ikhwan Al Safa, Damascus, 1998, hal. 57

    [↑] Rafat Amari, loc.cit, Cat. kaki untuk: Jawad Ali, al-Mufassal, vi, hal. 342

    [↑] Rafat Amari, loc.cit, Cat. kaki untuk: Qastallani Ahmad ibn Muhammed, Irshad al-Sari, 6: 175; Ibn Hagar, al-Isabah 4:315

    [↑] Rafat Amari, loc.cit, Cat. kaki untuk: Ibn Al Juzi, Talbis Iblis, dipersiapkan oleh M. Ali, Kher, hal. 84; Kutipan oleh M.A. Al Hamed, Saebat Harran Wa Ikhwan Al Safa, Damascus, 1998, hal. 57

    [↑] Rafat Amari, loc.cit, Cat. kaki untuk: Ibn Al Nadim, al-Fahrisit, hal. 319, 348

    [↑] On page 83, Studies on the Jewish Background of the New Testament, M. De Jonge, J. Van Goudoever, the book states, “..If Muharram is comparable with Tishri, then the month of Ramadhan is comparable to the Jewish month of Sivan, the month of the Jewish Feast of Weeks. Islamic tradition lays down that that it was on the nights of Ramadhan, the so-called lailat al-kadr that Muhammed received the revelation of the Koran. …there is a clear parallel between the circumstances in which Moses received the Torah and those in which Muhammed received the Kur’an” (Reference in the foot note- G. Widengren, The Ascension of the Apostle and the Heavenly Book, King and Saviour III”, Uppsala Univ.)

    [↑] Bangsa Israel keluar dari Mesir lewat tengah malam hari ke-14 Nisan [Kel.12.6,8, 29-37], namun juga dinyatakan pada pada hari ke-15 Nisan setelah paskah [Bil 33.3]. Sampai di padang gurun Sinai di bulan ke-3 [Kel 19.1]. Di hari ke-3 bertemu tuhan mereka di gunung Sinai [Kel 19.16]

    [↑] Tafsir Ibn Kathir surat Al Baqarah 2:185, hadis Imam Ahamd – Wathilah bin Al-Asqa` – Rasul Allah: “أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتَ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، وَالْإِنْجِيلُ لِثَلاثَ عَشَرةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأَنْزَلَ اللهُ الْقُرْآنَ لأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَان” (Suhuf (halaman) dari Ibrahim diwahyukan selama malam hari ke-1 Ramadhan, Taurat diwahyukan selama malam hari ke-6 Ramadhan. Injil diwahyukan selama malam hari ke-13 Ramadhan. Qur’an diwahyukan di malam ke-24 Ramadhan)

    [↑] Is the Qur’an Infallible?, ‘Abdallah ‘Abd al-Fadi, Light of Life, p. 127. (Download PDF)