Puasa Ramadhan itu Emang Berasal dari Kaum Jahiliyah, lho..


Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas mu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar bertakwa [AQ 2.183]..bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir/menyaksikan di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan, maka, sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain..[AQ 2.185]

Puasa di bulan Ramadhan telah dipraktekkan bangsa pagan Arab dari jaman pra-Islam. Ismael K. Poonwala[1], penulis artikel “Ramadhan” di Encarta, menyatakan bahwa di kalender Pra-Islam, bulan Ramadhan jatuh dipanasnya musim panas. Dalam arab, kata Ramadhan/Ramad/Ramida berarti “Hari yang amat panas“.

Puasa Ramadhan dilakukan kaum Sābi’ūn [dari akar kata bahasa syria ‘S-b’ ][2], Kaum yang menyembah dewa bulan. Orang-orang Sabi, baik Sabi Harrania maupun Mandaia melakukan puasa Ramadhan[3].

Kaum Sabi melakukan Shalat 5 waktu seperti kaum Muslim..Mereka juga puasa 30 hari di sebuah bulan lunar, mereka mulai puasa di jam jaga akhir malam s/d terbenamnya matahari. Beberapa sekte berpuasa di bulan Ramadhan, menghadap Ka’ba ketika sembahyang[4]

  • Kaum Harrania, yang menyembah dewa utama mereka, Dewa bulan (sin)[5], mereka berpuasa selama 30 hari [8 Maret s/d 8 April].
  • Ibn Hazm: Puasa ini sebagai puasa Ramadan[6].
  • Al-Masudi: Nama Ramadan berasal dari panasnya udara di bulan tersebut[7].
  • Ibn al-Nadim: Dibulan mereka menyembah dewa sin, mereka berpuasa 30 hari[8].
  • Ibn Abi Zinah: di samping puasa selama 30 hari, mereka shalat 5x sehari menghadap Yemen[9].
  • M.A. Al Hamed: Puasa sebelum matahari terbit sampai matahari terbenam[10].
  • Jawad Ali: Cara Arab pagan puasa termasuk tidak menelan makanan, minuman, dan tidak melakukan hubungan sexual. Mereka berpuasa dengan berdiam diri, tidak berbicara, baik dalam waktu sehari maupun seminggu, atau lebih lama lagi[11].
  • Qastallani Ahmad ibn Muhammed: Abu Bakr mendekati seorang wanita diantara umat pagan di Medina. Dia mendapatkan wanita itu sedang berpuasa, termasuk puasa bicara.[12].
  • Ibn al-Juzi: Mereka puasa di Ramadhan, mengakhiri puasa dengan memotong hewan kurban dan berzakat bagi kaum miskin[13]
  • Ibn al-Nadim: kaum Harrania menyebut perayaan ini sebagai al-Fitri الفطر, shalat 5x sehari, sebelum shalat melakukan wudhu[14]
  • Kebiasaan berpuasa untuk menghormati bulan dan berhenti puasa ketika bulan sabit muncul, telah dilakukan bangsa Timur yang menyembah bulan, seperti sekte India, al-Jandrikinieh, yang mulai puasa di saat bulan menghilang dan mengakhiri puasa dengan perayaan besar di saat bulan sabit muncul kembali[14]

Ibn Abbas menceritakan bahwa setelah Muhammad sampai Medina, Ia melihat para Yahudi berpuasa di hari Ashura, beliau bertanya tentang apa? mereka menjawab bahwa ini adalah hari baik karena Allah menyelamatkan Bani Israel dari musuh mereka, Jadi Musa berpuasa di hari itu. Nabi berkata, bahwa “Kami mempunyai klaim terhadap Musa lebih banyak darimu” Jadi, Nabi berpuasa di hari itu dan memerintahkan (muslim) berpuasa (di hari itu)[15]

Aisyah menyatakan bahwa puasa Ashura dilakukan oleh para pagan Quraish dan juga dilakukan Muhammad SAW di sebelum hijrah ke Medina, Namun ketika sudah di Medina, setelah shalat 5 waktu ditetapkan dan bulan Ramadhan telah ditetapkan sebagai puasa maka puasa Ashura yang terjadi di bulan Muharam tidak lagi diwajibkan[16]

George Widengren menyatakan, “Jika Bulan Muharam dapat dibandingkan dengan bulan Tishri, maka Bulan Ramadhan dapat dibandingkan dengan bulan Sivannya kaum Yahudi. Di mana Tradisi Islam menyatakan di bulan Ramadhan,..Lailat-ul-Qadr..bahwa Muhammad menerima wahyu Quran..jelas paralel dengan keadaan ketika Musa menerima Torah dan Muhammad menerima Quran[17].

    Note:
    Walaupun Sivan dan Ramadhan sama-sama dinyatakan sebagai bulan ke-9 namun musim panas di sejarah ke-2 agama itu berada pada bulan ke-3 kalender Pagan!

    Kitab Perjanjian lama menyatakan bahwa bangsa Israel, tiba di padang gurun Sinai pada bulan ke-3 [Sivan] di hari yang sama ketika mereka keluar dari Mesir [hari ke-14/15] dan 3 hari kemudian [hari ke-17/18 Sivan], mereka bertemu Tuhan-nya mereka di gunung Sinai[18].

    Secara historis, Nuzul Quran jatuh pada 17 Ramadhan (turunnya ayat Al-‘Alaq AQ 96:1-5), namun terdapat pendapat bahwa Lailat-ul-Qadr terjadi di hari ke-21 Ramadhan, berdasarkan pendapat 10 hari terakhir Ramadhan dan hari yang ganjil ada Lailat-ul Qadr[19] serta hari Senin, Quran diwahyukan kepada Muhammad SAW[20]. Kemungkinan hari senin saat itu terjadi setiap kelipatan 7 [7, 14, 21 dan 28], jadi diperkirakan terjadi di tanggal 21. Hadis Iman Ahmad menyatakan bahwa Nabi berkata bahwa Suhuf [hari ke-1], Taurat [hari ke-6], Injil [hari ke-13] dan Quran [Hari ke-24] turun di bulan Ramadhan[21].

Patut diketahui bahwa bulan Sivan di kalender Assyirian [Khzeeran-Hzirin] dan kalender Babilonia [Araḫ Simanu] adalah bulan yang ke-3 dan Dewa yang memberkati di bulan ini adalah Dewa Bulan Sin!

Tampaknya, hubungan antara Dewa Bulan dan Allah ini, sangatlah mencurigakan 🙂

Sunnah.org menyampaikan bahwa hadis-hadis menginformasikan puasa di bulan-bulan Dhul Qa`da, Dhul Hijja, Muharram dan Rajab telah berlangsung sejak jaman jahiliyah dan direkomendasikan untuk dilakukan.

Di Bulugh al-‘Arab fi Ahwal al-Arab, 4 bulan suci Rajab, Dhul Qa’da, Dhul Hijja dan Muharram, dinyatakan suci selama jaman pra-Islam [Jahiliya]. Semua pembantaian, balas dendam, perang, perkelahian dan pertengkaran dilarang di antara mereka. Jika selama bulan ini, seseorang bertemu musuh yang telah membunuh ayah/kakak/adiknya, Ia tidak boleh berkelahi dengannya..selama bulan suci ini, masyarakat dibatasi tidak melakukan perkelahian atau pembantaian dan melepas kepala tombaknya sebagai tanda bahwa mereka menghindarkan diri dari perkelahian. Bulan dan kebudayaan ini kemudian di adopsi Islam[22].

Namun,
Hadis Bukhari menyampaikan bahwa dibulan Dhul Hijja, pada hari “Arafat”, hari ke-9 bulan Dhul-Hijja, Nabi tidaklah berpuasa[23]

Apa aktifitas menahan diri yang dilakukan selama berpuasa:

    Diriwayatkan Abu Huraira:
    Rasullulah berkata, “Allah berkata, ‘Semua perbuatan anak Adam (manusia) adalah buat mereka kecuali Puasa adalah untuk Aku dan Aku akan memberikan pahala karenanya’ Puasa adalah perisai atau perlindungan dari api dan dosa. Jika satu dari kalian berpuasa, ia harus menghindari berhubungan seks dengan istri dan bertengkar, Dan jika seseorang harus berkelahi atau bertengkar dengannya, ia harus mengatakan, ‘Aku berpuasa [..]”[24]

Untuk urusan seksual di puasa kaum muslim terdapat beberapa pengecualian karena nabi ketika berpuasa ternyata melakukan aktifitas seksual bersama para istrinya namun melarang mereka yang masih muda untuk campur dengan istrinya dan tidak bagi yang telah berumur[25].

Bagaimana dengan bertengkar/berkelahi di bulan puasa kaum Muslimin?

4 Bulan itu (Rajab, Dhul Qa’da, Dhul Hijja dan Muharram) tidak lagi terlarang bertengkar dan membunuh sejak turunnya AQ 2.217

    “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) [yasalūnaka] mengenai [ʿani] (di) bulan haram [l-shahri l-ḥarāmi] membunuh (berperang) di dalamnya [qitālin fīhi], Katakanlah [qul]: “membunuh (berperang) [qitālun] di dalamnya [fīhi] (dosa) besar [kabirun], dan menghalangi [waṣaddun] dari jalan Allah [ʿan sabīli l-lahi], kafir pada Allah [wakuf’run bihi] dan Masjidilharam [wal-masjidilḥarāmi] dan mengusir kaummu darinya [wa-ikh’rāju ahlihi min’hu] (dosanya) lebih besar [akbaru] di sisi Allah [ʿinda l-lahi] dan fitna/syirik [wal-fit’natu] (dosanya) lebih besar [akbaru] dari membunuh [mina l-qatli] dan tidak [walā] mereka berhenti [yazālūna] membunuh (memerangi) kalian [yuqātilūnakum] hingga [ḥattā] kalian murtad dari agama kalian [yaruddūkum ‘an dīnikum] Jika [ini] mereka dapat [is’taṭāʿū]. Dan barangsiapa [waman] diantara kalian murtad dari agamanya [yartadid minkum ‘an dīnihi] kemudian dia mati [fayamut] dalam keadaan kafir [wahuwa kāfirun], maka bagi mereka [fa-ulāika] menjadi sia-sia/menjadi terhapus [ḥabiṭat] amalan-amalan mereka [aʿmāluhum] di dunia dan akhirat [fī l-dun’yā wal-ākhirati] dan merekalah penghuni neraka dan mereka kekal di dalamnya [wa-ulāika aṣḥābu l-nāri hum fīhā khālidūna]…”

      Note:
      Akar kata Q-T-L (Qaf-Ta-Lam) kerap diterjemahkan menjadi “perang/bertengkar” yang mengaburkan maksud karena akar kata QTL menunjukan suatu perbuatan dengan akibat pada ‘kematian atau terjadinya pembunuhan’, aplikasinya misal: qatala: ‘dia (pria) membunuh’, qattala: ‘Ia sering membunuh’, qutila: ‘dia (pria) dibunuh’, qutilū: ‘mereka dibunuh’, uqtul: ‘membunuh’, qātil: ‘membunuh, ‘iqtāl: ‘sebab untuk membunuh, qatl: ‘pembunuhan’ ‘qitl’: musuh (yang ingin membunuh), qutl/qātil: ‘pembunuh’, maqtal: ‘titik vital ditubuh (luka yang membawa kematian)’, istaqtala: ‘membahayakan nyawa seseorang’ [lihat di: sini, sini, sini, sini dan sini]

Kutipan dari “Anshar Al-Syari’ah Berperang di Bulan Rajab, Dosa Besar Kah?“:

    [..]Ayat di atas jelas mengatakan bahwa pada asalnya hukum berperang di bulan haram (termasuk bulan Rajab) adalah haram alias dosa besar. Qul qitaalun fiihi kabir katakanlah berperang pada saat itu adalah dosa besar. Namun perang (jihad) itu ada dua, defensif (difa’i) dan ofensif (hujumi). Sebagaimana kita ketahui bahwa hukum jihad difa’i adalah fardhu ‘ain (sebagaimana yang diutarakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab Al-Fatawa Al-Kubro 4/608). Karena kita mempertahankan diri dari serangan musuh, maka wajiblah bagi kita untuk mempertahankan diri untuk keberlangsungan Islam (bukan mempertahankan tanah air untuk kita rusak kembali dengan mengatur Negara memakai ideologi dan hukum buatan manusia). Allah Ta’ala berfirman: + (AQ 2.194)

[..]Maka jumhur ulama mengatakan bahwa larangan tersebut telah dihapus. Hal ini juga diutarakan Syaikh abdul ‘Aziz bin Baaz.

Az-Zuhri dan Mujahid berkata: ayat tersebut dihapus oleh ayat (dan perangilah kaum musyrikin seluruhnya) [At-taubah:36)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyerang penduduk Thaif pada bulan haram yaitu Dzul Qa‘dah. Namun pendapat sebagian ulama mengatkan bahwa larangan tersebut tetap berlaku, sedangkan menurut mereka ayat yang dijadikan dalil yang menghapus pelarangan tersebut adalah mengandung arti pembolehan bagi kaum muslimin memerangi kaum musyrikin jika mereka yang memulai (Tafsir Ibnu katsir juz 4 hal 149-150, penerbit daar Al-Thayyibah).

    Note:
    “Bulan haram [al-shahru l-ḥarāmu] dengan bulan haram [bil-shahri l-ḥarāmi] dan dalam semua keharaman berlaku qishaash [wal-ḥurumātu qiṣāṣun]. Kemudian barangsiapa [famani] melanggar batas padamu [iʿ’tadā ʿalaykum], maka kalian langgar batas padanya [fa-iʿ’tadū ʿalayhi], dengan cara yang sama apa yang Ia langgar batas pada kalian [bimith’li mā iʿ’tadā ʿalaykum]. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa [AQ 2.194].

    Kata “tadā” dan “tadū” sering diterjemahkan seranglah, padahal artinya adalah melampaui/melewati/melanggar batas.

    Asbabunuzul ayat ini:
    Di 6 AH, pada bulan Dulqaidah, Dari Medinah, Muhammad besama 1400 kaum muslim (Bukhari no.3312, 4463, Muslim no.3449) dengan dalih hendak umrah dan membawa hewan kurban menuju Mekkah. Mereka berbaiat (disebuah pohon) untuk menyongsong kematian (Bukhari no.2740, 6666, Muslim 3462, Tirmidhi no.1518) bersiap perang (Bukhari no.2945, 3868, 4466) karena datang MEMBAWA SENJATA, diantaranya: Panah (Bukhari no.2529), Pedang terhunus tidak dalam sarung dan mengenakan baju besi (misalnya Al Mughirah bin Syu’bah di Bukhari no.2529). Umar menggunakan baju besi dan minta dibawakan kuda untuk berperang di Hudaibiyyah (Muslim no.3866). Salamah juga mempunyai tameng dan Perisai yang diberikan Muhammad (Muslim no. 3372), senjata-senjata (Bukhari no.3868), Beberapa tidak umroh, ada yang berburu dan membunuh keledai buruannya, misal bapaknya Abu Qatadah (Bukhari no.1693, Muslim no.2066). Umar bin Khattab bahkan mendekatkan pedangnya agar dapat digunakan Abu Jandal untuk membunuh Ayahnya, misalnya:

    Az-Zuhri berkata, “Umar bin Khaththab berdiri ke tempat Abu Jandal kemudian berjalan di sampingnya dan berkata, ‘Bersabarlah engkau, hai Abu Jandal, sesungguhnya mereka orang-orang musyrikin dan darah mereka adalah darah anjing.’ Umar bin Khaththab berkata, ‘ Umar bin Khaththab mendekatkan PEGANGAN PEDANG kepada Abu Jandal. Umar bin Khaththab berkata, ‘Aku berharap Abu Jandal mengambil pedang terebut kemudian membunuh ayahnya dan permasalahanpun selesai.” [“Sirat Nabawiyah”, Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, bab 169, hal 284]

    Bapak dari Abdullah bin Abu Qatadah spesifik menyatakan peristiwa terhenti di Hudabiyah dari Medinah menuju Mekkah adalah “غَزْوَةَ الْحُدَيْبِيَةِ” (gẖaz̊waẗa Al-Hudaibiyah = perang Hudaibiyah, di hadis Muslim no.2066, Nasai no.2776) atau Abdullah bin Mas’ud yang juga menyatakannya sebagai “غَزْوَةِ الْحُدَيْبِيَةِ” (gẖaz̊waẗi ạl̊ḥudaẙbīaẗi = Perang Hudaibiyyah, di Ahmad no.3526).

    Kaum Muslim berhasil dicegah kaum Quraish ke Mekkah di sebuah sumur di daerah Hudaibiyah (sekitar 22 km di Barat Daya luar kota Mekah) sehingga mereka saat itu gagal menyerang Mekkah pada bulan Haram ketika suku Quraish dan kaum Muslim punya ritual yang sama dan dengan menggunakan alasan yang sama yang diberikan kaum muslim yaitu umroh, kaum Muslim diikat perjanjian yang diantaranya: tahun depan kaum Muslim dapat melakukan umrah masuk kota selama 3 hari dan tidak memasukinya kecuali pedang-pedang mereka disarungkan (Buhari no.2500).

    Pada tahun berikutnya, di bulan Dulqaidah, Kaum Muslimin melakukan umrah tinggal selama 3 malam di Mekkah dan ayat ini turun.

Benarkah AQ 2.217, turun karena para kafir menghalangi muslim dari jalan allah? Mengusir dari mekkah? Fitna/Syirik? Dalam keadaan perang? dan Para kafir senantiasa memerangi mereka?

    Hadis Ibn Hatim dalam TAFSIR IBN KATHIR AQ 2.217, mengatakan: Mereka menyerang TANPA MENGETAHUI saat itu adalah BULAN HARAM[a]

    Pelanggaran aturan perang di bulan puasa[b] terjadi ketika Muhammad SAW mengirim Abdullah bin Jahsy Asadi [sepupunya dari pihak Ibu] ke Nakhla untuk memimpin 12 Muhajirin dengan 6 ekor unta dan memberikan surat yang hanya boleh dibuka setelah sampai di lembah Mallal [2 hari Perjalanan].

    Setelah sampai, Abdullah membuka surat itu dan membacakannya dihadapan rekan-rekannya [Muir. hal 70], yaitu “Atas berkat dan rahmat Allah, lanjutkan menuju Nakhla [antara Mekah dan Taif], Namun jangan memaksa pengikutmu yang berkeberatan. Lanjutkan dengan orang-orang yang mau menyertaimu. Setibanya di lembah Nakhla, bertiarap menunggu kafilah-kafilah dari Quraish[b]

    Setelah membaca instruksi, Abdullah bin Jahsh, mengatakan pada rekan-rekannya bahwa siapa memilih jalan syahid bergabung dengannya dan yang tidak untuk kembali ke Medina. “sementara saya sendiri”, Ia menambahkan, “akan memenuhi perintah Nabi” Semua sepakat mengikutinya [Muir. hal.72]

    (beberapa penulis menuliskan 2 orang memutuskan kembali ke Medina).

    Sa’d bin Abi Waqqas dan Utbah bin Ghazwan kehilangan seekor unta yang mereka kendarai secara bergiliran. Unta ini tersesat dan pergi ke Buhran, jadi mereka pergi mencari unta itu ke Buhran dan berpisah dari kelompok.

    Salah satu anak buah Abdullah bin Jahsy, yaitu Ukas bin Mihsan, mencukur kepalanya untuk menyembunyikan tujuan sebenarnya perjalanan mereka dan untuk menipu Quraisy dengan memberi kesan bahwa mereka akan melaksanakan haji kecil (Umrah), karena saat itu merupakan bulan Rajab, bulan PUASA, saat itu, seluruh suku asli tengah menahan diri dari peperangan, pembalasan dendam apalagi perampokan.

    Ketika orang Quraisy melihat kepala gundul Ukas, mereka pikir kelompok tersebut sedang dalam perjalanan haji, mereka merasa lega dan mulai mendirikan kemah. Karena saat itu sedang bulan Rajab, baik awal/akhir Rajab (pendapat para ahli sejarah berbeda-beda) adalah satu dari empat bulan suci larangan total berpeperang dan pertumpahan darah di Semenanjung Arab

    Abdullah bin Jahsy pada awalnya ragu untuk menyerang kafilah Mekkah itu. Namun, setelah berunding para Muslim tidak ingin kafilah itu melarikan diri. Jadi mereka memutuskan melakukan perampasan harta jarahan. Ketika kaum Quraisy sedang sibuk-sibuknya menyiapkan makanan, para Muslim menyerang mereka dan kaum Quraisy kemudian melawan.

    Dalam pertempuran itu, Waqid bin Abdullah membunuh Amr bin Hadrami, pemimpin kafilah Quraisy, dengan panah. Naufal bin Abdullah melarikan diri. Para Muslim menawan Usman bin Abdullah dan al-Hakam bin Kaysan. Abdullah bin Jahsy kembali ke Medina dengan jarahan dan 2 tawanan Quraisy. Kedatangan mereka membawa banyak jarahan, tawanan. Muhammad memarahi mereka karena berperang di bulan suci: “Saya tidak pernah memerintahkan engkau berperang di bulan suci

    Abdullah dan rekannya merasa malu dan sedih, orang-orang juga mencela perbuatan mereka. Tapi Muhammad tak mau mengecilkan hati para pengikutnya, tak lama kemudian, Ia mengumumkan wahyu yang membenarkan PERBUATAN itu yang dilakukan selama bulan suci untuk penyebaran iman, sebagai kejahatan yang lebih rendah dari penyembahan berhala dan bertentangan dengan agama Islam: –

    “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitna/syirik lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”

    Setelah ayat turun, Muhammad, membagikan jarahan pada yang mengusahakannya, membayar tebusan dan uang darah, setelah menyisihkan 1/5 bagian untuk Muhammad, sisanya dibagikan di antara mereka[c]

    ———–
    Catatan kaki:

      [a] Catatan kaki Muir di Hal.74-76:
      [..]ada yang mengatakan terjadi menjelang Jumadi 2 (Oktober) dan awal Rajab, Yang disampaikan Abdallah kepada Muhammad sekembali dirinya: “Kami menyerang kafila di hari itu, dan pada malam harinya kami melihat bulan baru Rajab, dan kami tidak pasti tahu apakah kami menyerang mereka di Rajab atau pada hari terakhir dari Jumadi 2. ” Wackidi, 8.

      Ini adalah keinginan untuk menghilangkan skandal serangan yang dilakukan selama bulan haram. Ekspedisi ini, selalu dinyatakan dilakukan di bulan rajab dan dibuktikan berangkat dari Madina menjelang akhir bulan itu dan awal mula berikutnya (Shaban, atau Desember)

      [b] Catatan kaki Muir hal.71:
      Terjemahan harfiah dari Wackidi, hal. 8. adalah singkat dan tidak memuaskan. Hishami dan Tabari, mengikuti Ibn Ishaq; masukkan klausul pada penutupan: — “dan amati apa yang mereka lakukan” Weil (p.99) menunjukkan hal ini ada tambahan palsu. Selain tidak pada tempatnya, tidak sesuai dengan pidato Abdullah (seperti yang disampaikan perawi yang sama) pada pembukaan surat, yaitu. : — “Mari siapapun yang berharap mati syahid ikut denganku“. Pidato ini sama palsunya, terhadap pemikiran tentang kemartiran dalam pertempuran belumlah muncul hingga perang Badar. Juga ini tidak konsisten dengan perundingan yang dilakukan Abdullah tepat sebelum penyerangan kafilah.

      [c] Catatan kaki Muir. hal.74
      Turunan Abdullah menambahkan kejadian ini, sebagai antisipasi turunnya perintah 1/5 bagian bagi nabi. beberapa berkata, bahwa jarahan tidak dibagi dan terjadi setelah perang Badar. Setelah perintah turun bahwa 1/5 bagian selalu untuk Nabi. Porsi bagian bagi pemimpin arab adalah yang ke-4. Wackidi, 10. juga lihat vol. i. ccxxi. bagian catatan.

      Catatan kaki Muir di Hal.76:
      [..]Penebusan para tawanan lama terjadi setelah kembalinya ekspedisi (sejak Sad dan Otba tidak datang kembali ketika utusan itu tiba dari Mekah), dan tidak setelah Badar, yaitu 2 bulan kemudian.

Asbabunuzul ayat 2.217 menyajikan fakta sederhana bahwa turunnya ayat tersebut BUKAN karena mendapatkan serangan dari kafir, BUKAN karena diajak menjadi kafir, BUKAN karena diajak untuk syirik namun HANYA KARENA telah melakukan pembunuhan di bulan haram ketika sedang merampok karavan dagang. Demi menyenangkan si pembunuh dan perampok sekaligus membatalkan 4 bulan suci berpuasa tradisi kaum arab pra-Islam, turunlah AQ 2.217 dan sejak itulah maka di bulan-bulan tersebut boleh melakukan aksi berdarah-darah atas nama JIHAD.

Hadis mencatat nabi Muhammad membatalkan larangan bertengkar, berkelahi dan melakukan “JIHAD” selama BULAN RAMADHAN:

    Diriwayatkan Kab bin Malik:
    Aku tak pernah gagal ikut Rasul Allah selama Ghazawa-nya [Nabi turun langsung dalam penyerangan] kecuali di Ghazwa Tabuk. Namun, Aku tidak ikut ambil bagian di Ghazwa Badar, tetapi yang tidak ikut, tidak ada yang disalahkan, karena Rasul Allah SUDAH PERGI MENCEGAT KARAVAN-KARAVAN DAGANG (Quraisy, tapi Allah menyebabkan mereka (yaitu muslim) bertemu para musuh mereka secara tak terduga (TANPA ADA NIATAN SEBELUMNYA)[26]

Jadi, yang disebut “perang” sebagaimana kerap dinyatakan kaum muslimin ini ternyata aksi mencegati dan merampoki karavan dagang kaum Quraish dan karena kaum Quraish tidak mau barang mereka dirampok mentah-mentah, maka terjadilah perlawanan 🙂 Inilah maksud perang di dunia Islam itu.


Aktivitas kekerasan di bulan suci Ramadhan yang dilakukan Nabi dan pengikutnya:

  • 2x melakukan penyerangan di bulan Ramadhan [“Yawm al-Furqan” atau di Badar: 17 Ramadhan 2 AH/624 M dan Penaklukan Mekkah/Al-Fath: 8 Ramadhan 8 AH/630 M]
  • 2x LATIHAN untuk menyerang di bulan Ramadhan [persiapan: Al Khandaq/Azhab: 5 AH/627 M dan Tabuk: Oktober 630 M]

Nabi pernah berkata tentang kehebatan seorang Mujahid yaitu: Tetap berJIHAD, Tetap ke mesjid untuk shalat dan Tetap berpuasa selama BERJIHAD[27]. Namun, sebagai nabi, tentunya beliau mempunyai hak mengubah-ubah aturan sesuai kebutuhan, untuk itu, nabi kemudian memberikan contoh tidak berprilaku seperti seorang “Mujahid” seperti yang dikatakannya yaitu beliau membatalkan puasanya dan ini tidak tanggung-tanggung dilakukannya, yaitu hingga berakhirnya bulan puasa dan itupun diikuti pengikutnya

    Riwayat Abdullah bin Yusuf – Al Laits – Uqail – Ibnu Syihab – Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah – Ibnu Abbas:
    Rasulullah SAW melakukan penaklukan Makkah pada bulan Ramadhan…Rasulullah SAW pernah berpuasa, hingga ketika beliau sampai Kadid, sebuah mata air antara Qudaid dan Usfan, beliau membatalkan puasanya dan terus beliau TIDAK PUASA HINGGA BULAN YANG DIJADIKAN BELIAU PUASA SELESAI.[bukhari 3940, Bab: Tempat tinggal Nabi SAW saat penaklukan Makkah]

    Riwayat Abdan – Abdullah – ‘Ashim – Ikrimah – Ibnu Abbas:
    Nabi SAW pernah diam di Makkah selama 19 hari dan selama itu pula beliau lakukan shalat 2 rakaat. [Bukhari no.390, Bab: Tempat tinggal nabi SAW saat penaklukan mekkah. Nabi telah tidak berpuasa 2 hari sebelumnya, yaitu mulai dari Usfan.]

    Note:
    Berangkat dari Medina: 6 Ramadhan (Katib Wakidi: “Life of Mohamet”, Muir, Vol4. Ch.24, hal 115, cat kaki no.1) atau 10 Ramadhan (Muir dan Ibn Ishaq);
    Lama perjalanan Medina – Mekkah: 7 hari (Katib Wakidi: Muir, Ibid)
    Mulai tidak berpuasa saat tiba di Usfan, jarak Usfan – Mekkah: 80 km/2 hari perjalanan [Fatwa 38079], yaitu sejak: 10 Ramadhan/14 Ramadhan
    Tiba di Mekkah: 17 Ramadhan (Sirah of Prophet Muhammad, Dr Yasir Qadhi, bag: 78, Conquest Mekkah) atau 18 Ramadhan (F.R. Shaikh, “Chronology of Prophetic Events”, 2001 hal.72) atau 20 Ramadhan (Muir, Ibn Ishaq)]

    Jadi, Nabi SAW tidak puasa Ramadhan: 16-20 hari lamanya

..atau di kejadian lainnya:

    Riwayat Yahya – Syu’bah – Qatadah – Abu Nadhr – Abu Sa’id Al Khudri: “Kami keluar bersama Nabi SAW ke Hunain pada hari ke 17 atau 18 dari bulan Ramadhan, lalu ada yang berpuasa dan ada yang tidak, dan orang yang berpuasa tidak mencela yang tidak berpuasa dan orang yang tidak berpuasa tidak mencela yang berpuasa.” [Ahmad no.10762. Juga di Ahmad no.11437 (Riwayat Hajjaj – Syu’bah – Qatadah – Abu Nadhrah – Abu Sa’id Al Khudri..Syu’bah berkata; “Ada 4 orang yang telah menceritakan kepadaku tentang hadits ini, salah satunya adalah Qatadah, dan ini adalah hadits riwayat dari Qatadah.”]

..dan Muhammad bahkan pernah tidak berpuasa 1 bulan lamanya:

    Riwayat ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah – Muhammad bin Ja’far – Humaid – Anas: Rasulullah SAW pernah TIDAK BERPUASA SELAMA SEBULAN hingga kami menduga beliau tidak pernah puasa seharipun dari bulan itu…[Bukhari no.1836, Ini bukan bulan Ramadhan]

Juga,
tidaklah benar pernyataan bahwa para setan telah dirantai/dibelenggu selama bulan Ramadhan:

    Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – ‘Uqail – Ibnu Syihab – Ibnu Abi Anas (mantan budak at-Taymiyyin) – bapaknya – Abu Hurairah – Rasulullah SAW bersabda: “Apabila datang bulan Ramadlan pintu-pintu surga dibuka sedang pintu-pintu neraka ditutup dan syaitan-syaitan dibelenggu[28]

Karena, tabulasi berikut ini mencatat pesta darah yang dilakukan kaum Muslimin selama puasa di bulan Ramadhan:





[Detail score card, Day to Day termasuk RAMADHAN TAHUN: 2013, 2012, 2011, 2010 dan tahun lainnya]

Ketika kaum jahiliyah melakukan puasa adalah untuk diri mereka sendiri (atau demi allah mereka sendiri) dengan menahan hawa nafsu dan diri dari pengerusakan, permusuhan dan berperang, namun TIDAK bagi kaum muslim.

Ketika kaum muslim, berpuasa di bulan Ramadhan, mereka BOLEH bertengkar, mengubrak-abrik periuk nasi orang dengan alasan mereka sedang berpuasa, berperang dan melakukan PEMBUNUHAN

Tabulasi serial scoring carddi atas memberi kita KONSISTENSI fakta yang tak terbantahkan bahwa terdapat perbedaan besar antara cara kaum Muslimin VS cara kaum PRA-ISLAM dalam MENGHORMATI dan menjalankan puasa .

Cara muslim dalam menghormati bulan puasa jelas tidak termasuk mengharamkan kegiatan berdarah-darah.

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa di Quran terdapat 4x kata “Muhammad” (AQ 3.144; 33.40; 47.2; 48.29) dan 4x kalimat “syaitan yang terkutuk” (AQ 3.36; 15.17; 16.98; 81.25) dan menariknya, di beberapa kebudayaan dunia, angka 4 memang dianggap erat terkait dengan hal sial dan/atau berbau kematian.

Terakhir,

    “[..]makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.[..]” [AQ 2.187]

    Riwayat Ibnu Abu Maryam – Abu Ghassan Muhammad bin Mutharrif – Abu Hazim – Sahal bin Sa’ad:
    Ketika turun ayat “dan makan minumlah kamu sehingga terang bagimu benang putih dari benang hitam. (AQ 2.187). Sedangkan ayat ‘minal fajrinya’ (di waktu fajar) belum turun. Orang-orangpun apabila mau berpuasa, salah seorang dari mereka mengikat kakinya dengan benang putih dan benang hitam, dan mereka terus makan hingga nampak bagi mereka kedua benang tersebut. Lalu Allah menurunkan ayat; ‘Minal fajri.’ (diwaktu fajar). Akhirnya mereka mengerti bahwa yang dimaksud adalah dari waktu malam ke siang. [Bukhari no.4151, Juga Bukhari no.1782, 1784]

maka sungguhlah repot jika masih menyembah Allah yang bahkan tidak tahu bahwa di beberapa daerah di bumi ini, matahari-nya bahkan TIDAK PERNAH TERBENAM berbulan-bulan lamanya. [Misal: Amerika Serikat: Alaska, Finlandia, Norwegia: Svalbard, Kanada: Yukon, dll. Lihat: Midnight Sun]


(klik!) Reference:

    [1] Ismael K. Poonwala, Profesor bahasa Arab di UCLA, departemen bahasa dan kebudayaan Timur dekat (NELC) selama 30 tahun. Lahir: tahun 1937, di Godhra, India. Pendidikan formal diantaranya: M.A dari Universitas Bombay dan Kairo dan juga Phd dari UCLA

    [2] Tamara M. Green, “The city of the Moon god: religious traditions of Harran” (ISBN 9004095136, 9789004095137), 1992, p.112 [“Segal was inclined to believe that the root of the word Sabian was Syriac. Rejecting the notion that it means baptizer … Even if the etymology proposed by Segal is correct, nevertheless the question of how Muhammad learned about these …“]

    [3] RAMADAN AND ITS ROOTS, Dr. Rafat Amari. Cat. kaki untuk: Abdel Allah ibn Zakwan Abi al-Zanad (747 M). Lihat Ibn Qutaybah, op. cit., hal.204; Dikutip oleh Sinasi Gunduz, “The Knowledge of Life”, Oxford University, 1994, hal.25. [Untuk tahu siapa Dr. Rafat Amari, silakan lihat bagian PrefaceIslam: In Light Of History“, Dr. Rafat Amari, 1stEd., 2004, A Religion Research Institute Publication, ISBN 0-9765024-0-2]

    [4] Bulugh al-‘Arab fi Ahwal al-Arab, Muhammad Shukri al-Alusi, Vol 1, p 121-122, Muslim)

    [5] Tamara M. Green, “The city of the Moon god: religious traditions of Harran” (ISBN 9004095136, 9789004095137), 1992, p.19

    [6] Ibid, Dr. Rafat Amari, cat. kaki untuk: Ibn Hazm, I, hal. 34; dikutip oleh Sinasi Gunduz, hal. 167-168

    [7] Ibid, Dr. Rafat Amari, cat. kaki untuk: Masudi, Muruj Al-Thaheb, 2, hal. 213

    [8] Ibid, Dr. Rafat Amari, cat. kaki untuk: Ibn Al-Nadim, Al-Fahrisit, hal. 324-325

    [9] Ibid, Dr. Rafat Amari, cat. kaki untuk: Rushdi Ilia’n, Al Saebiun Harraniyen Wa Mandaeyn, Bagdad, 1976, hal. 33

    [10] Ibid, Dr. Rafat Amari, cat. kaki untuk: M.A. Al Hamed, Saebat Harran Wa Ikhwan Al Safa, Damascus, 1998, hal. 57

    [11] Ibid, Dr. Rafat Amari, cat. kaki untuk: Jawad Ali, al-Mufassal, vi, hal. 342

    [12] Ibid, Dr. Rafat Amari, cat. kaki untuk: Qastallani Ahmad ibn Muhammed, Irshad al-Sari, 6: 175; Ibn Hagar, al-Isabah 4:315

    [13] Ibid, Dr. Rafat Amari, cat. kaki untuk: Ibn Al Juzi, Talbis Iblis, dipersiapkan oleh M. Ali, Kher, hal. 84; Kutipan oleh M.A. Al Hamed, Saebat Harran Wa Ikhwan Al Safa, Damascus, 1998, hal. 57

    [14] Ibid, Dr. Rafat Amari, cat. kaki untuk: Ibn Al Nadim, al-Fahrisit, hal. 319, 348

    [15] Bukhari: Vol.3 book 31 no.222, dari riwayat Ibn Abbas. Juga Bukhari no. 223, alasan berpuasa adalah karena orang Yahudi berpuasa dihari itu disampaikan dalam riwayat Abu Musa

    [16] Bukhari: 3.31.116-117 dari aisyah; 3.31.219-220 dari aisyah; 5.58.172 dari Aisyah, 6.60.28-31 dari Ibn Umar, Abdullah dan Aisyah. Malik Muwata: 18.18.11.33 dari Yahya bersumber dari Aisyah

    [17] On page 83, Studies on the Jewish Background of the New Testament, M. De Jonge, J. Van Goudoever, the book states, “..If Muharram is comparable with Tishri, then the month of Ramadhan is comparable to the Jewish month of Sivan, the month of the Jewish Feast of Weeks. Islamic tradition lays down that that it was on the nights of Ramadhan, the so-called lailat al-kadr that Muhammed received the revelation of the Koran. …there is a clear parallel between the circumstances in which Moses received the Torah and those in which Muhammed received the Kur’an” (Reference in the foot note- G. Widengren, The Ascension of the Apostle and the Heavenly Book, King and Saviour III”, Uppsala Univ.)

    [18] Bangsa Israel keluarnya dari Mesir adalah setelah tengah malam hari ke-14 bulan Nisan [Kitab Keluaran Kel.12:29-37], namun menurut kitab Bilangan 33:3, dinyatakan pada pada hari ke-15 bulan Nisan setelah paskah. Bangsa Israel sampai di padang gurun Sinai adalah pada bulan ke-3 dihari yang sama ketika keluar dari Mesir [Kitab Keluaran 19:1]. Di hari ke-3 mereka bertemu tuhan mereka di gunung Sinai [Keluaran 19:16]

    [19] Hadis Muslim: 6.2625 & 2627 dan Bukhari: 1.12.777, 3.32.235, 3.33.244

    [20] Hadis Muslim: 6.2603 dan 6.2606

    [21] Tafsir Ibn Kathir surat Al Baqarah 2:185, hadis Imam Ahamd dari Wathilah bin Al-Asqa` yang menyatakan Rasul Allah berkata, “أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتَ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، وَالْإِنْجِيلُ لِثَلاثَ عَشَرةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأَنْزَلَ اللهُ الْقُرْآنَ لأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَان” (Suhuf (halaman) dari Ibrahim diwahyukan selama malam hari ke-1 Ramadhan, Taurat diwahyukan selama malam hari ke-6 Ramadhan. Injil diwahyukan selama malam hari ke-13 Ramadhan. Qur’an diwahyukan di malam ke-24 Ramadhan)

    [22] Is the Qur’an Infallible?, ‘Abdallah ‘Abd al-Fadi, Light of Life, , p. 127, non-Muslim.

    [23] Bukhari vol 3. book 31 no.209 riwayat Um Al-Fadl bint Al-Harith dan no. 210 dari riwayat Maimuna

    [24] Bukhari vol.3 book 31. 128; Muwatta Book 18, 57

    [25] Sunan Abu Dawud: 2380 dan Bukhari: 3.31.149-150 dari Aisyah, Bukhari 3.31.151 dari Zainab, Bukhari 3.31.156,157,158 dari Aisah dan Abu Huraira; Sunan Abu dawud: 2381 dari Abu Hurairah

    [26] Bukhari vol 5, Book 59 no.287

    [27] Bukhari vol 4, Book 52, No.44

    [28] Bukhari no. 3035, 1766. Juga di Muslim no.1794 dari riwayat Abu Hurairah – Rasulullah: “Apabila Ramadlan telah tiba, maka pintu-pintu surga akan dibuka, lalu pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan pun akan dirantai.”. Ahmad no.6851, 7450, 8330, 8559, dst

    Wikipedia: Sabian dan Haran.


Advertisements

173 thoughts on “Puasa Ramadhan itu Emang Berasal dari Kaum Jahiliyah, lho..”

  1. WIRA J_HANA_ :
    Dari cara anda menjawab, pertanyaan sederhana gw yg ini, “Jika ada orang gila BIADAB dan melakukan kekejian serupa yg berulang2 pada keluarga dan suku anda [Menghina/melecehkan adat istiadat, cara hidup, sesembahan)..Apakah anda akan sesabar suku QURAISH?” “

    SAYA :
    Jawaban saya :
    “saya akan tetap bersabar untuk TIDAK mengambil TINDAKAN FISIK apapun kepada orang tsb, selama apa yg dilakukan orang tsb hanya ocehan kata2 dan bukan tindakan fisik yg mengancam keselamatan nyawa saya dan keluarga / masyarakat saya !”

    Apalagi saya tahu orang ybs (menurut kalimat anda) hanyalah sekedar orang GILA BIADAB,
    Saya tidak akan menjadi LEBIH GILA BIADAB lagi dengan membunuh & menyiksa seorang yg memang ketahuan GILA, yg dia hanya bisa sekedar mengina / melecehkan (dengan kata2 doang) pada pribadi atau keluarga besar saya.
    Saya hanya baru akan turun tangan jika si orang GILA tadi mulai berbuat KEKERASAN FISIK pada diri saya ataupun pada keluarga besar saya !

    Jawaban saya atas pertanyaan anda membuktikan bahwa suku Quraish ternyata TIDAK SESABAR seperti yg anda dengung2kan itu !!
    Bahkan saya bisa lebih sabar daripada mereka !

    Ternyata suku Quraish kelewat batas perikemanusiaan dalam bertindak kepada orang yg menyampaikan kebenaran kepada mereka.
    Mereka malah menyiksa secara fisik kaum muslimin, membunuh mereka, memboikot keluarga besar Nabi Muhammad SAW dan para pengikut beliau, dan menimpakan kelaparan dan kesulitan hidup kepada mereka selama bertahun2, serta berusaha membunuh nabi sendiri.

    Terbukti mereka sudah MAIN FISIK pada kaum muslimin JAUH SEBELUM kaum muslimin berhijrah ke Madinah dan mengadakan pencegatan2 kafilah dagang Quraish yg melewati teritori negara Madinah !

    WIRA J_HANA_ :

    Maka saya maklumi..kamu merasakan KEKEJIAN luarbiasa dari tindakan biadab orang itu.

    SAYA :
    Anda BISA MAKLUM dengan tindakan balasan yg biadab dari orang2 tsb jika dalam hati anda mempunyai bibit2 kebiadapan serupa dengan orang2 tsb !
    Anda tidak ada bedanya dengan orang2 terlaknat itu !
    Karena itu anda bisa MEMAKLUMI apa yg TIDAK BISA DIMAKLUMI oleh orang2 yg waras mentalnya !!

  2. WIRA J_HANA_ :
    Anda ini tidak kapok dan malu untuk membual. Tulisanmu ttg penyiksaan, penganiayaan dll bertentangan dengan SiRAT, TARIKH, HADITH yg saya kutip2 sebelumnya dengan tegas memberikan konfirmasi bahwa MUHAMMAD selama 13 tahunan telah tanpa HENTI, bertubi-tubi dan secara berulang menghina/memaki adat/istiadat, nenekmoyang, sesembahan kaum Quraish.

    Bahkan dengan tingkahnya itupun, tidak ada intimidasi dari kaum QURAISH!

    Bahkan selama periode panjang maraton penghinaan dan pelecehan dari MUHAMMAD, kaum Muslim teteplah diijinkan menyembah ALLAHNYA, keliling kabah bersama2 kafir lainnya, dll!

    lagi-lagi tanggapan anda ini tidak nyambung denggan yg saya tanya dan tidak menjawab,”Jika ada orang gila BIADAB dan melakukan kekejian serupa yg berulang2 pada keluarga dan suku anda [Menghina/melecehkan adat istiadat, cara hidup, sesembahan)..Apakah anda akan sesabar suku QURAISH?”

    SAYA :
    Anda tidak menjawab pertanyaan saya ini :

    Apakah sebanding jika orang yg :
    1. mengkritik pelaksanaan keagamaan orang lain yg memang salah (BUKAN FITNAH), kemudian dibalas dengan intimidasi, penganiayaan, pemboikotan, dan bahkan percobaan pembunuhan, baik itu pada orang ybs, maupun pada seluruh pengikutnya dan juga pada keluarga orang ybs meskipun mereka tidak punya sangkut paut dengan agama orang yg mengkritik ??

    Jawab saja dulu :
    SEBANDING ??
    Atau
    TIDAK SEBANDING ??

    Saya sudah menjawab pertanyaan anda diatas !

    Kalo anda menjawab SEBANDING, berarti apakah anda juga MEMBENAKAN tindakan orang yahudi menghadapi Yesus dan pengikut2nya,
    Berarti anda juga MEMBENAKAN cara2 represif pemerintah orde baru dalam membungkam kevokalan para aktivis yg oposan terhadap kekuasaan mereka ????

    Tulisan anda :
    “Bahkan dengan tingkahnya itupun, tidak ada intimidasi dari kaum QURAISH! “

    Jadi hadist, sirah, tarikh yg menceritakan saat2 ketika Nabi sholat di Kabah kemudian punggungnya dilumuri oleh jerohan binatang oleh orang2 Quraish, penyiksaan Bilal, pembunuhan Sumayah, boikot 3 tahun, rencana pembunuhan pada Nabi, dll tindakan tidak menyenangkan pada kaum muslimin yg dilakukan oleh orang2 Quraish, bukan bentuk INTIMIDASI menurut anda ???
    Lalu anda menyebut itu tindakan apa ???
    Apakah sekedar BERGURAU ?? MAIN-MAIN ?? ISENG ?? atau PEMBALASAN DENDAM ???

    Sebandingkan serangan kata2 yg menyakitkan hati dan telinga bagi orang yg tidak mau menerima kebenaran dibalas dengan balasan tindakan yg menyakitkan tubuh secara fisik dan menimbulkan kelaparan , kehausan dan kesulitan2 hidup selama bertahun2 ??

    SEBANDINGKAH WIRA J_HANA_ ??????????

  3. Ini tidak anda jawab :

    2) apakah sebanding jika orang yg dianiaya secara fisik itu kemudian melakukan pembelaan diri secara fisik juga terhadap penganiaya mereka ??

    Silahkan dijawab WIRA J_HANA_ !!!!!

  4. WIRA J_HANA_ :
    Sama sekali tidak ada hal baru ttg pemerdekaan dan pembebasan budak dll, karen itu telah ada dan dilakukan oleh suku quraish dalam kasus Kafir di jaman sebelum Islam yaitu contohnya: Hakim bin Hizam yang membebaskan 100 budak dan memotong onta sebagai sedekah [Bukhari 03.046.715] juga dalam “Roman, Provincial and Islamic Law: The Origins of the Islamic Patronate” Oleh Patricia Crone, Disampaikan JELAS bahwa tidak ada perbedaan cara2 pembebasan Budak di jalam PRA ISLAM yg kemudian di adopt ole Muslim.

    SAYA :
    Nah itu telah membuktikan pada anda, bahwa perbudakan dan segala aktifitasnya telah ada JAUH sebelum Islam.
    Maka TIDAK BENAR sama sekali TUDUHAN anda bahwa ISLAM MENGAJARKAN PERBUDAKAN !!
    Karena TANPA adanya ISLAM pun orang SUDAH PIAWAI mempraktekan sytem perbudakan !

    Karena itu segala hal tentang praktek perbudakan bukan dianggap hal baru (apalagi ajaran) dalam Islam, melainkan sekedar kebiasaan umum dari nilai2 kemasyarakatan yg telah berlaku didalam konteks jaman yg bersangkutan,
    tapi yg jadi nilai2 pokok dari ajaran Islam dalam menyikapi system perbudakan ini adalah spirit pembebasan budaknya dan pemberian hak2 manusiawi kepada para budak !
    itu yg menjadi titik penekanan dalam ajaran Islam.

    WIRA J_HANA_ :
    Buruknya adalah pembebasan Budak jaman pra Islam tidak mengharuskan mereka beragama sama! dan juga mereka mengadopt juga apa yg kitab keluaran 21, sampaikan bahwa ada pembebasan di tahun ke-7 setelah pembelian dan ini tidak ada di dunia Islam! Emang ajaran ini biadab sekali.

    SAYA :
    Kata siapa Islam mengajarkan bahwa pembebasan budak harus beragama yg sama ??
    Anda akan kecewa kalo saya beri tahu bahwa ketika Nabi menikahi shafiyah yg merupakan budak wanita Yahudi yg diperoleh Nabi dari tawanan perang, semua orang muslim yg menawan orang2 Yahudi dari suku shafiyah segera memerdekakan para tawanan itu karena mereka tidak mau memperbudak orang yg mungkin punya hubungan keluarga dengan istri Nabi, tidak peduli mereka itu beragama Yahudi dan bukan muslim !!

    Anda bilang Keluaran: 21 ???

    Ho..ho …. Saya yakin anda hanya sekedar copas tanpa mengecek kebenarannya !!

    Nih keluaran 21 :
    21:1. “Inilah peraturan-peraturan yang harus kaubawa ke depan mereka.
    21:2 Apabila engkau membeli seorang budak IBRANI, maka haruslah ia bekerja padamu enam tahun lamanya, tetapi pada tahun yang ketujuh ia diizinkan keluar sebagai orang merdeka, dengan tidak membayar tebusan apa-apa.

    Lihat tuh ! budak yg diharuskan bebas pada tahun ke 7 itu adalah bila budak tsb sama2 sebagai orang IBRANI !! yg berarti mereka juga sama2 orang YAHUDI !!
    ia tidak bilang tentang budak yg non Yahudi !
    Orang Yahudi tidak hanya memperbudak non yahudi, bahkan orang sebangsa dan seagama sendiripun mereka anggap boleh diperbudak dan diperjual belikan !
    Itu berlaku hingga ke jaman Islam, yg mana perbuatan mereka dikecam Allah dalam QS al baqarah 85
    Masih mending Islam yg melarang memperbudak sesama muslim !!

  5. WIRA J_HANA_ :
    Btw, dijaman sekarang PUN seorang ulama besar kondang muslim di jaman ini: “Slavery is a part of Islam” says Sheik Saleh Al-Fawzan!

    SAYA :
    Anda kurang lengkap menyebut fakta, “slavery is not a part of Islam only, but is a part of whole civilizations in the past !”

    Memang sang sheik tidak salah menyebut bahwa perbudakan adalah bagian dari Islam, karena faktanya memang ada pembahasan soal perbudakan dalam Al Quran dan hadist maupun dalam kajian2 fiqh (hukum2).
    Begitu juga dalam kitab2 Yahudi , Hindu dan Buddha, ada bagian yg mengatur tentang perbudakan.
    Tapi tidak berarti bahwa orang Islam WAJIB mempraktekkan atau menghidup2kan lagi perbudakan, karena konteks jaman yg sudah tidak mendukung.

    Toh sang sheikh diatas hanya sekedar beropini tetapi tidak benar2 bertindak nyata untuk merealisasikan opini dia bukan ??
    Kalo dia berusaha merealisasikan pendapatnya, tentu dia akan segera berhadapan dengan pemerintahan Islam negaranya sendiri yg akan segera menjebloskan dia ke penjara karena dianggap mengganggu ketertiban umum !

  6. WIRA J_HANA_ :
    Tertulis jelas2 bhw suku2 itu sengaja diperangi dan dengan MEMAKSA buat perjanjian..hahahaha..ini adalah ALASAN KEJI dan BUSUK! untuk membantai, menjarah dan memperbudak dan memaksa para wanitanya dijadikan pemuas nafsu!

    Jadi TERBUKTI TELAK bhw mereka diperangi karena MELANGGAR PERJANJIAN adalah 100% BOHONG!

    Perjanjian MEDINA emang tidak pernah ada! 3 nama SUKU itu emang tidak pernah ada dalam perjanjian, yang ada adalah PENYERANGAN NABIMU dan KOMPLOTANNYA kepada mereka dengan alasan PEMAKSAAN membuat PERJANJIAN!

    SAYA :
    Nabi dan muslimin menghormati perjanjian dan menghendaki perdamaian, toleransi beragama, saling membantu dan menolong kepada seluruh lapisan masyarakat yg majemuk sebagai sesama warga negara dalam suatu negara, yaitu negara Madinah.

    Ketika ada segolongan / kelompok masyarakat yg MENOLAK SECARA TERANG2AN untuk menandatangani kesepakatan hidup damai dan saling toleransi bersama, padahal kesepakatan itu telah dimintakan dengan baik2 kepada mereka, tapi mereka menolak mentah2 dan memilih untuk TIDAK MAU hidup berdamai dan tidak saling mengganggu dengan kelompok yg lainnya, anda pandang penolakan mereka itu sebagai apa ???

    Hak demokrasi ??
    atau deklarasi terbuka untuk membuat permusuhan / perang ???

    apakah anda menganggap itu adalah itikad baik dari kelompok penentang itu ??
    atau justru itikad busuk yg suatu saat siap menusuk dari dalam ???

    apakah kelompok yg pura2 menyetujui perjanjian perdamaian tetapi kemudian mengkhianatinya bagi anda adalah pihak yg benar ???

    dan terhadap kelompok yg konsisten dalam penolakan perdamaian mereka dan mewujudkan penolakan mereka kedalam perbuatan onar didalam masyarakat maupun terhadap kelompok yg mengkianati perjanjian damai , apa salah jika akhirnya nabi mengambil tindakan tegas pada orang2 yg JELAS –JELAS TIDAK MAU HIDUP DALAM PERDAMAIN itu ???

    apa jawaban anda WIRA J_HANA_ ???????
    apakah anda bisa bertoleransi pada kelompok2 yg tidak sudi hidup berdamai dalam masyarakat dan merealisaikan ketidak sudian mereka itu dalam aneka keonaran ???
    apakah anda tipe orang anarkhis ????

    kalo anda orang bertipe seperti itu, maka saya SANGAT MAKLUM dengan pembelaan anda pada orang2 MUSYRIK, YAHUDI dan MUNAFIK pada jaman Nabi Muhammad SAW itu !!

    Bagaimana WIRA J_HANA_ ???????

  7. WIRA J_HANA_ :
    Sebelumnya 2 orang telah dibunuh mentah2 karena bersyair [BANDINGKAN dengan PENGHINAAN MUHAMMAD pada SUKU QURAISH SELAMA 13 TAHUN!]

    Syair mereka bukan sembarang syair, tetapi syair yg menggelorakan semangat perang kepada kaum Muslimin pada para penentangnya :

    Ini saya copas dari tulisan M Husain Haikal :

    “Sampai pada waktu kaum Muslimin mendapat kemenangan di Badr, mereka masih merasa takut juga kepada penduduk Medinah. Mereka belum berani mengadakan serangan balasan apabila ada seorang Muslim yang diserang. Tatkala mereka sudah kembali membawa kemenangan itu seorang yang bernama Salim b. 'Umair telah mengambil tindakan sendiri terhadap Abu 'Afak (dari Banu 'Amr b. 'Auf), karena orang ini membuat sajak-sajak yang isinya menyerang Muhammad dan kaum Muslimin. Juga orang ini yang telah MEMBAKAR SEMANGAT GOLONGANNYA SUPAYA MEMERANGI MUSLIMIN. Sampai pada waktu peristiwa Badr selesai ia masih terus MENGHASUT orang.

    Suatu malam ketika angin sedang bertiup kencang Salim mendatangi Abu 'Afak. Ia sedang tidur di beranda rumahnya. Oleh Salim ditancapkannya pedangnya ke arah hatinya hingga menembus sampai ke pelaminan.

    Demikian juga 'Ashma, bt. Marwan (dari Banu Umayya b. Zaid). Wanita ini selalu memaki Islam, menyakiti hati dan MENGERAHKAN ORANG SUPAYA MELAWANNYA. Hal ini dilakukannya terus sampai pada waktu sesudah selesainya perang Badr. Pada suatu malam buta ia didatangi oleh 'Umair b. 'Auf yang masuk sampai ke dalam rumahnya. Ia dikelilingi oleh anak-anaknya yang sedang tidur, ada pula yang sedang disusui. Sebenarnya penglihatan 'Umair lemah sekali. Ia meraba-raba dengan tangannya dan terpegang olehnya bayi yang sedang disusui itu. Dihalaunya bayi itu dari sisi ibunya, kemudian dipusatkannya pedangnya ke dada wanita itu sampai menembus punggungnya.

    Kiranya cukup kalau kita tambahkan atas dua macam peristiwa di atas ini dengan peristiwa matinya Ka'b b. Asyraf. Ketika mendengar matinya beberapa orang pemuka-pemuka Mekah, dialah orangnya yang mengatakan. “Mereka itu bangsawan-bangsawan Arab dan pemimpin-pemimpin. Sungguh, kalau Muhammad sampai mengalahkan mereka, maka lebih baik berkalang tanah daripada tinggal di atas bumi.” Dia pula orangnya yang telah berangkat ke Mekah – setelah mendapat kabar yang pasti – MENGERAHKAN ORANG UNTUK MELAWAN MUHAMMAD, menyanyikan sajak-sajak dan menangisi mereka yang terkubur dalam perigi. Dia juga orangnya yang kemudian setelah kembali ke Medinah berusaha mencumbu wanita-wanita Islam. Orang tahu betapa watak dan perangai orang Arab dalam hal ini, betapa mereka menghargai arti kehormatan ini. Untuk itu semangat mereka bangkit. “

    Kasus mereka menjadi serupa dengan suku2 Yahudi itu, menggerakkan semangat perlawanan untuk memerangi orang2 Islam.
    Karena itu mereka diangap sebagai penjahat perang, dan hukuman mati cukup layak bagi para penjahat perang dimanapun juga !

  8. Binatang:
    [tanggapan dari: “Jika ada orang gila BIADAB dan melakukan kekejian serupa yg berulang2 pada keluarga dan suku anda [Menghina/melecehkan adat istiadat, cara hidup, sesembahan)..Apakah anda akan sesabar suku QURAISH?” “]
    Apalagi saya tahu orang ybs (menurut kalimat anda) hanyalah sekedar orang GILA BIADAB,
    Saya tidak akan menjadi LEBIH GILA BIADAB lagi dengan membunuh & menyiksa seorang yg memang ketahuan GILA, yg dia hanya bisa sekedar mengina / melecehkan (dengan kata2 doang) pada pribadi atau keluarga besar saya.
    Saya hanya baru akan turun tangan jika si orang GILA tadi mulai berbuat KEKERASAN FISIK pada diri saya ataupun pada keluarga besar saya !
    Jawaban saya atas pertanyaan anda membuktikan bahwa suku Quraish ternyata TIDAK SESABAR seperti yg anda dengung2kan itu !!
    Bahkan saya bisa lebih sabar daripada mereka !

    Gw:
    Hah?! jawaban lo sendiri Membuktikan kesabaran suku quraish? KREDIBILITAS lo aja meragukan..jawaban lo koq lo mo angkat jadi bukti..wkwkwkwkwkwkwk.

    Binatang:
    Jadi hadist, sirah, tarikh yg menceritakan saat2 ketika Nabi sholat di Kabah kemudian punggungnya dilumuri oleh jerohan binatang oleh orang2 Quraish, penyiksaan Bilal, pembunuhan Sumayah, boikot 3 tahun, rencana pembunuhan pada Nabi, dll tindakan tidak menyenangkan pada kaum muslimin yg dilakukan oleh orang2 Quraish, bukan bentuk INTIMIDASI menurut anda ???
    Lalu anda menyebut itu tindakan apa ???
    Apakah sekedar BERGURAU ?? MAIN-MAIN ?? ISENG ?? atau PEMBALASAN DENDAM ???

    Gw:
    Ah lagi2 ngga tau yg benernya gimana malah bercuap2…kesian..
    nih gw kasi tau ya..lagi..lagi dan lagi [berdasarkan ref. sejarah Lo sendiri, liat diatas] bhw selama 13 tahun lebih, maki2an tanpa putus, cercaan, hinaan dari nabi lo ke sesembahan, suku, adatistiadat tidak membuat nabi lo dan pengikutnya di sakiti!

    Boikot 3 tahun?
    itu adalah sangsi adat yang diperlakukan 40 pemimpin suku Quraish[2] bersepakat untuk memberlakukan sangsi adat sosial-ekonomi kepada Bani Hasyim [juga Bani Muttalib, baik mereka masih kafir maupun tidak].

    alasannya:
    Karena perlindungan yang diberikan Abu Talib terhadap kemenakannya sangat tidak mengindahkan perasaan seluruh suku Quraish. Walaupun kemenakannya terus menerus melakukan penghinaan terhadap Tuhan-tuhan, nenek moyang, kaum-kaum tua, adat-istiadat kaum mereka sendiri dan mengakibatkan kekacauan, perpecahan di kalangan mereka, Abu Talib tetap melindungi Nabi.

    Coba lo bayangkan..mereka SOPAN meminta, dan ketika sangsi adat di berlakukan keselamatan MUHAMMAD dan kawanannya pun TIDAK DI GANGGU, tuh!

    Beda banget sama Muhammad dan komplotannya..2 orang bikin sajak ngga sepakat ama muhammad aja di bantai sedang tidur..yg satu tua dan buta, yang lain sedang menyusui anakny..bener2 BIADAB!

    bersambung..

  9. lanjutan..

    ttg Bilal:
    Narasi dari Ibn Ishaq, semasa Bilal di Mekkah dan sedang di beri pelatihan disiplin:

    Ibnu Ishaq berkata bahwa Hisyam bin Urwah berkata kepadaku dari ayahnya yang berkata,

    “Ketika Bilal sedang disiksa, dan mengatakan, 'Ahad, Ahad.' Waraqah bin Naufal berjalan melewatinya. Waraqah bin Naufal berkata, 'Demi Allah, Ahad, dan Ahad, wahai Bilal.' Waraqah bin Naufal menemui Umaiyyah bin Khalaf dan orang-orang dari Bani Jumah yang menyiksa Bilal. Waraqah bin Naufal berkata kepada mereka, 'Aku bersumpah dengan nama Allah, jika kalian membunuh Bilal dalam keadaan seperti ini, pasti aku akan menjadikan tempat kematiannya sebagai tempat mencari keberkahan.' …

    Itulah yang terjadi, hingga Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu berjalan melewati mereka yang sedang menyiksa Bilal.

    Rumah Abu Bakar berada di Bani Jumah. Abu Bakar berkata kepada Umaiyyah bin Khalaf, 'Kenapa engkau tidak takut kepada Allah dari orang miskin ini? Sampai kapan engkau menyiksanya?'

    Umaiyyah bin Khalaf berkata, 'Engkaulah yang merusak orang ini. Oleh karena itu, selamatkan dia kalau engkau mau!'

    Abu Bakar berkata, 'Ya, aku mempunyai budak hitam yang lebih kokoh daripada dia, dan lebih kuat memegang agamamu. Aku serahkan budak tersebut kepadamu.' Umaiyyah bin Khalaf berkata, 'Aku terima.' Abu Bakar berkata, 'Budak tersebut menjadi milikmu.' Kemudian Abu Bakar memberikan budaknya kepada Umaiyyah bin Khalaf dan ia mengambil Bilal kemudian memerdekakannya.”[Ibn Ishaq hal. 277-278]

    Pendidikan yang dilakukan ini jelas bukan karena Bilal adalah Muslim namun karena terindikasi Bilal-lah yang melalaikan pekerjaannya. Ini jelas merugikan majikannya secara ekonomi. Pertukaran budak membuat majikannya tidak mengalami kerugian!

    Anda lihat nama Waraqah bin Naufal!

    Ia adalah salah satu dari orang yang dihormati kaum Quraish Mekkah. Kata-katanya lah yang MENGAKHIRI masa pendidikan kepada Bilal!

    Patut untuk di ketahui:
    Setelah Muhammad menerima wahyu di gua Hira, Ia bersama Khadijah bertemu dengan Waraqa bin Naufal. Waraqa wafat beberapa hari kemudian dan wahyu terputus selama beberapa saat[4][Ibn Ishaq hal.204-206].

    Muslim pertama selain Khadijah adalah Ali bin Abu Talib, setelah itu adalah Zaid bin Haritsah [Ibn Ishaq hal.203, 209, 211]. Abu bakar merupakan muslim pertama di luar keluarga Muhammad [Ibn Ishaq hal.213].

    Abu Bakar masuk Islam adalah setelah turunnya surat Al Dhuhaa AQ 93:1-11, yaitu surat yang turun lagi setelah wahyu sempat terputus selama beberapa saat [Ibn Ishaq hal.204-206].

    Artinya Waraqa SUDAH WAFAT sebelum surat Al Dhuhaa AQ 93:1-11 turun!

    Artinya Abu Bakar belumlah menjadi muslim, ketika Waraqa meminta Umaiyyah bin Khalaf menghentikan menyiksa Bilal!

    Artinya, Bilal belumlah menjadi muslim, ketika Waraqa meminta Umaiyyah bin Khalaf menghentikan menyiksa Bilal, karena orang berikutnya yang masuk Islam bukanlah Bilal melainkan Abu Bakar!

    Walaupun Bilal pengikut monoteism, namun jelas sekali bahwa saat itu Bilal BUKANLAH MUSLIM!

    bersambung…

  10. lanjutan..

    Sekarang kita lihat kejadian di Medinah. Bagaimana perlakuan Bilal, yang memang tidak mengetahui bahwa yang menyelamatkan dia saat itu bukanlah cuma Abu Bakar namun juga terutama adalah Waraqah bin Naufal serta mantan majikannya sendiri KARENA MAU BERTUKAR BUDAK!

    Abdul Wahid bin Abu Aun berkata kepadaku dari Sa'id bin Ibrahim dari ayahnya dari Abdurrahman bin Auf RadhiyaJlahu Anhuyang berkata,

    “… Demi Allah, aku menuntun Umaiyyah bin Khalaf dan anaknya, Ali bin Umaiyyah. Tiba-tiba [b]Bilal melihat Umaiyyah bin Khalaf bersamaku.[/b]

    Ketika Bilal melihat Umaiyyah bin Khalaf, ia berkata, 'Ini dia gembong kekafiran, Umaiyyah bin Khalaf. Aku tidak selamat jika dia selamat.'
    Aku berkata kepada Bilal, 'Hai Bilal, bukankah dua orang ini tawananku?'
    Bilal berkata, 'Aku tidak selamat jika dia selamat.
    Aku berkata kepada Bilal, 'Apakah engkau tidak mendengar suaraku, hai anak Si Hitam?'
    Bilal berkata, 'Aku tidak selamat jika dia selamat.'
    Bilal berteriak dengan suara terkerasnya, 'Hai para penolong Allah, ini dia gembong kekafiran. Aku tidak selamat jika dia selamat'.”

    Abdurrahman bin Auf berkata, “Kemudian para sahabat mengepung kami, hingga mereka menjadikan kami seperti berada di lingkaran. Aku tetap berusaha melindungi Umaiyyah bin Khalaf. Seseorang mencabut pedangnya dari sarung pedangnya, dan pada saat yang bersamaan seseorang memukul anak Umaiyyah bin Khalaf hingga ia jatuh tersungkur.
    Melihat anaknya jatuh tersungkur, Umaiyyah bin Khalaf berteriak dengan teriakan yang tidak pernah aku dengar sebelumnya.

    Aku berkata kepada Umaiyyah bin Khalaf, 'Selamatkan dirimu, karena tidak ada keselamatan bagimu. Demi Allah, sedikit pun aku tidak dapat melindungimu.'
    Para sahabat memotong-motong keduanya dengan pedang mereka[24]

    Terlihat jelas bahwa yang kaum Muslim lakukan saat itu bukanlah dalam rangka pendidikan dan juga bukan dalam keadaan berperang, namun hanya melakukan pembalasan dendam.

    Sekarang ttg Sumayah,
    benarkah dia DIBUNUH? Ngga tuh!
    Tabari: Sumayyah TIDAKLAH wafat, setelah menjanda dari Yasir, Iapun diberikan kepada Al Azraq, seorang budak bangsa Bynzatium milik keluarga Al Harith Bin Kaladah Al-Taqafi. Azraq dan Sumayya kemudian mempunyai anak bernama SALAMAH BIN AL ASRAQ! Al Asraq menetap di Taif. Tulisan di Tabari ini membantah telak bahwa Sumayyah wafat saat menjadi istri Yasir atau bahkan ketika berstatus sebagai Janda!.[History of Tabari, “Biographies of the Prophet's companions and their successors”, vol.39, Ella Landau-Tasseron, hal. 29-30,117]

    Ibn Sa'ad: Ammar bin Yasir sekeluarga, dinyatakan berstatus sebagai budak. [“Yasir..married his slave-girl, Sumayyah bint Khayyat. Yasir and Sumayyah begot two sons, 'Abdullah and 'Ammar, who according to the custom of Arabia, were considered the slaves of Abu Hudhayfah” [Ibn Sa'd, “al-Tabaqatul Kabir”, vol, III:1, p. 176.]

    Makin lama lo ini makin ngaco!

    bersambung..

  11. lanjutan..

    Binatang:
    [tanggapan dari: Buruknya adalah pembebasan Budak jaman pra Islam tidak mengharuskan mereka beragama sama! dan juga mereka mengadopt juga apa yg kitab keluaran 21, sampaikan bahwa ada pembebasan di tahun ke-7 setelah pembelian dan ini tidak ada di dunia Islam! Emang ajaran ini biadab sekali.]

    Kata siapa Islam mengajarkan bahwa pembebasan budak harus beragama yg sama ??
    Anda akan kecewa kalo saya beri tahu bahwa ketika Nabi menikahi shafiyah yg merupakan budak wanita Yahudi yg diperoleh Nabi dari tawanan perang, semua orang muslim yg menawan orang2 Yahudi dari suku shafiyah segera memerdekakan para tawanan itu karena mereka tidak mau memperbudak orang yg mungkin punya hubungan keluarga dengan istri Nabi, tidak peduli mereka itu beragama Yahudi dan bukan muslim !!

    gw:
    mmmh, ttg Safiya ya…
    Suami Safiya di hari yg sama dibunuh dan safiya dihari yg sama di setubuhi nabi..[..]Nabi memerintahkan Zubayr,’ ‘SIKSA ia sampai kau memeras segala apa yg diketahuinya. Jadi Zubayr menempelkan besi panas pada dada Kinanah, (menekan besi itu) sambil memutar2nya sampai Kinanah hampir mati. Lalu Rasul memberikannya ke Maslamah, yg MEMENGGAL KEPALAnya.[tabari 8.2]..Suami Safiyah (kinana) pun dipancung. Membunuh para Pria dan membantai Anak keturunan mereka dan Wanita dijadikan tawanan namun Sewaktu Muhammad melihat Safiyah yang cantik luar biasa, dia pun mengambilnya malam itu juga.

    Tabari VIII:117
    Dihya meminta Safiya pada Nabi ketika Nabi memilihnya sebagai jatahnya. Muhammad memberikan Dihyah dua sepupu Safiyah sebagai gantinya

    Ishaq:511
    ‘ketika Ia protes dan tetap menginginkan Safiya untuk dirinya, Nabi membarterkan untuk safiya dengan memberikan Dihya dua sepupu safiya. Para wanita dari khaibar di bagi-bagikan diantara muslim

    Ibn-i-Majah vol.3 no.2272
    Safiyya dibeli Nabi dengan menukarkan 7 Budak bagiannya [Sunaan Abu Dawud, vol.2, no. 2991, riwayat dari Anas.]

    Sahih Bukhari Volume 5 Book 59 Number 524
    Para Muslim berkata diantara mereka,’ akankan Safiya menjadi satu dari Istri-istri Nabi atau sekedar perempuan rampasan dari satu koleksinya’

    Tabari VIII:110
    Ketika Abu Sufyan mendengar Nabi telah mengambil dia (Safiya), dia berkata, “Hidung kuda jantan itu tidak bisa dikontrol.”

    Sahih Buhari Volume 1, Book 8, Number 367
    Thabit bertanya pada Anas,”O Abu Hamza! Apa yang dibayar sang Nabi sebagai maharnya?” Dia menjawab, “Dirinya sendiri adalah maharnya karena dia telah membebaskannya (dari status budak) dan lalu mengawininya.” Anas menambahkan, “Di perjalanan, Um Sulaim mendandaninya untuk (upacara) pernikahan dan malam ini Um Sulaim mengantar Safiya sebagai pengantin sang Nabi.

    Pada malam dimana anggota sukunya, keluarga, suaminya baru saja dipacung, Nabi memilihnya sebagai jatahnya dan menidurinya malam itu juga.

    Saat itu Ia berusia 17 tahun [Tabari vol.39 p.184]

    sadissss…..!

    bersambung..

  12. lanjutan…

    Binatang:
    Anda bilang Keluaran: 21 ???

    Ho..ho …. Saya yakin anda hanya sekedar copas tanpa mengecek kebenarannya !!

    Nih keluaran 21 :
    21:1. “Inilah peraturan-peraturan yang harus kaubawa ke depan mereka.
    21:2 Apabila engkau membeli seorang budak IBRANI, maka haruslah ia bekerja padamu enam tahun lamanya, tetapi pada tahun yang ketujuh ia diizinkan keluar sebagai orang merdeka, dengan tidak membayar tebusan apa-apa.

    Lihat tuh ! budak yg diharuskan bebas pada tahun ke 7 itu adalah bila budak tsb sama2 sebagai orang IBRANI !! yg berarti mereka juga sama2 orang YAHUDI !!
    ia tidak bilang tentang budak yg non Yahudi !

    Gw:
    hahahaha..gw tulis apa di atas?..coba cari kalimat yg gw tulis ini, “sampaikan bahwa ada pembebasan di tahun ke-7 setelah pembelian dan ini tidak ada di dunia Islam!”…ada? nah..besok2 jangan samakan gw kaya kamu..gw CHECK isi sebelum nulis!

    Binatang:
    Orang Yahudi tidak hanya memperbudak non yahudi, bahkan orang sebangsa dan seagama sendiripun mereka anggap boleh diperbudak dan diperjual belikan !
    Itu berlaku hingga ke jaman Islam, yg mana perbuatan mereka dikecam Allah dalam QS al baqarah 85
    Masih mending Islam yg melarang memperbudak sesama muslim !!

    Gw:
    xixixixi..masa seeeh..jika si budak ISLAM aja tetep aja di perbudak, nih baca:
    Sahih Bukhari, Volume 2, Book 15, Number 103:
    Dikisahkan oleh 'Urwa atas izin dari 'Aisha:

    Di hari2 Mina, (11th, 12th, and 13th of Dhul-Hijjah) Abu Bakr datang pada Aisha pada waktu dua orang gadis muda memukul tambur dan sang Nabi sedang berbaring ditutupi pakaiannya. Abu Bakar membentak mereka dan sang Nabi membuka penutup wajahnya dan berkata pada Abu Bakr, “Biarkan mereka, karena inilah hari2 'Id dan hari2 Mina.” 'Aisha lalu berkata, “Suatu waktu sang Nabi mencadari mukaku dan aku melihat barisan budak2 hitam di Mesjid dan ('Umar) membentak mereka. San Nabi berkata, 'Biarkan mereka. O Bani Arfida! (teruskan), kau selamat (dilindungi)'.”

    Sahih Muslim, Book 10, Number 3901:
    Narrated Jabir ibn Abdullah:
    Datanglah seorang budak dan berjanji setia kpd nabi (saw) saat hijrah; ia (nabi) tidak tahu bahwa ia seorang budak. Lalu datanglah pemiliknya dan menuntutnya kembali. Nabi (saw) mengatakan, Jual dia kpd saya. Dan ia membeli dua budak hitam, dan sejak itu ia (nabi) tidak mengambil sumpah setia dari siapapun, sebelum ia tanya apakah ia seorang budak (atau orang bebas).

    “Inilah nama2 budak2 lelaki Muhamad: Yakan Abu Sharh, Aflah, 'Ubayd, Dhakwan, Tahman, Mirwan, Hunayn, Sanad, Fadala Yamamin, Anjasha al-Hadi, Mad'am, Karkara, Abu Rafi', Thawban, Ab Kabsha, Salih, Rabah, Yara Nubyan, Fadila, Waqid, Mabur, Abu Waqid, Kasam, Abu 'Ayb, Abu Muwayhiba, Zayd Ibn Haritha, and also a black slave called Mahran, who was re-named (by Muhammad) Safina (`ship'). (Ibn Qayyim al-Jawziyya, “Zad al-Ma'ad”, Bagian 1, hal. 114-116)

    bersambung…

  13. lanjutan..

    Parah bener! Ternyata biarpun si BUDAK itu ISLAM TIDAK SERTAMERTA bebas, tapi tergantung, ia KULIT HITAM/bukan, IA ARAB/BUKAN!

    quote>
    Pertanyaan pada Ibn Timiyya yang Mufti Islam (Vol. 31, pp 376, 377),

    “Seorang pria menikahi budak wanita, melahirkan anak baginya. Apakah anak itu berstatus merdeka atau tetep budak?”

    Ibnu Timiyya mengatakan dengan tegas,

    “Anaknya si wanita itu akan menjadi milik tuannya menurut semua Imam (empat cabang hukum Islam) karena anak mengikuti (status) ibunya apakah merdeka atau budak. Kalo si anak bukan dari ras Arab, maka ia budak, tetapi para ulama masih bersengketa jika ia berasal dari ras Arab – apakah berstatus merdeka/budak karena ketika Aisha (Istri Muhammad) punya budak wanita berasal dari ras Arab, Muhammad bilang pada Aisha, `Bebaskan gadis itu karena dia dari anak-anak Ismael. '”

    Kemudian Ibnu Timiyya menyatakan (Vol. 31, hal 380) bahwa ahli undang-undang Abu Hanifah mengatakan, “Muhammad adalah seorang Arab, oleh karena itu tidak diterima untuk memperbudak orang Arab karena bangsawan ras ini karena Muhammad adalah dari mereka.”

    Bahkan di Islam, dikatakan keuntungan bersetubuh dengan budak wanita adalah karena anaknya juga akan jadi BUDAK:

    “TIDAK diperbolehkan orang Arab merdeka menikahi budaknya kecuali tidak bisa dihindari, misal ngga mampu menikahi wanita merdeka. Jika terjadi dan menikahi budak, anak-anaknya adalah budak juga, karena mereka ikut status ibu dalam perbudakan”[Di Vol. 31, hal 383, Ibnu Timiyya mengatakan,

    Kejem bener ya Islam ini….

    Binatang:
    [tanggapan atas: Btw, dijaman sekarang PUN seorang ulama besar kondang muslim di jaman ini: “Slavery is a part of Islam” says Sheik Saleh Al-Fawzan!]
    Anda kurang lengkap menyebut fakta, “slavery is not a part of Islam only, but is a part of whole civilizations in the past !”

    Gw:
    hahahahaha…ucapan sapa itu? itu bukan ucapan Sheik Saleh Al-Fawzan!..fawzan sang BIADAB muslim itu bilang SLAVERY is a PART of ISLAM..titik ngga ada tambahan apapun…eh, binatang..jangan biasakan menambah2i yg tidak ada ya..norak tau.

    bersambung..

  14. lanjutan..

    Binatang:
    [ttg penyerangan BRUTAL pada 3 suku yahudi]
    Nabi dan muslimin menghormati perjanjian dan menghendaki perdamaian, toleransi beragama, saling membantu dan menolong kepada seluruh lapisan masyarakat yg majemuk sebagai sesama warga negara dalam suatu negara, yaitu negara Madinah.

    Ketika ada segolongan / kelompok masyarakat yg MENOLAK SECARA TERANG2AN untuk menandatangani kesepakatan hidup damai

    Gw:
    yah bolotnya kumat lagi, udah dibilang di PERJANJIAN MEDINA itu 3 suku itu aja ngga ada..trus ngga ada ujan/angin malah DIPERANGI make alasan agar ttd perjanjian, pula!..padahal cuma mo ngincer HARTA dan WANITANYA DOANG…emang sadis banget Nabi dan kawanannya ini.

    Binatang:
    Abu 'Afak (dari Banu 'Amr b. 'Auf), karena orang ini membuat sajak-sajak yang isinya menyerang Muhammad dan kaum Muslimin. Juga orang ini yang telah MEMBAKAR SEMANGAT GOLONGANNYA SUPAYA MEMERANGI MUSLIMIN. Sampai pada waktu peristiwa Badr selesai ia masih terus MENGHASUT orang.

    Suatu malam ketika angin sedang bertiup kencang Salim mendatangi Abu 'Afak. Ia sedang tidur di beranda rumahnya. Oleh Salim ditancapkannya pedangnya ke arah hatinya hingga menembus sampai ke pelaminan.

    Demikian juga 'Ashma, bt. Marwan (dari Banu Umayya b. Zaid). Wanita ini selalu memaki Islam, menyakiti hati dan MENGERAHKAN ORANG SUPAYA MELAWANNYA.

    gw:
    selama 13 tahun NABI MU itu secara BRUTAL memaki2 sukunya, adat istiadat, tatacara, nenek moyang sukunnya ngga diapa2in tuh..ehhh, orang malah nulis sajak saja di bunuh secara BRUTAL..BIADAB sekali!

    sajak yg dibuatnya ketika muhammad membunuh harith b suwayd b.samit:

    “Long have I lived but never have I seen
    An assembly or collection of people
    More faithful to their undertaking
    And their allies when called upon
    Than the sons of Qayla when they assembled,
    Men who overthrew mountains and never submitted,
    A rider who came to them split them in two (saying)
    “Permitted”, “Forbidden”, of all sorts of things.
    Had you believed in glory or kingship
    You would have followed Tubba

    [Catatan: Tubba adalah penguasa dari Yaman yang menyerbu Arab Saudi]

    Rasul berkata, “Siapa yang akan berurusan dengan bajingan ini untuk saya?” Sesudah itu Salim b. Umayr, saudara dari B. Amr b. Auf, salah satu “weepers”, pergi dan membunuh pria buta berusia 120 tahun ini.

    kemudian Umama b. Muzayriya bersajak:

    You gave the lie to God's religion and the man Ahmad! [Muhammad]
    By him who was your father, evil is the son he produced!
    A “hanif” gave you a thrust in the night saying
    “Take that Abu Afak in spite of your age!”
    Though I knew whether it was man or jinn
    Who slew you in the dead of night (I would say naught).

    Sadissss!

    bersambung..

  15. lanjutan..

    UMAYR B. ADIYY'S JOURNEY TO KILL ASMA D. MARWAN:

    “She was of B. Umayyya b. Zayd. When Abu Afak had been killed she displayed disaffection. Abdullah b. al-Harith b. Al-Fudayl from his father said that she was married to a man of B. Khatma called Yazid b. Zayd. Blaming Islam and its followers she said:

    “I despise B. Malik and al-Nabit
    and Auf and B. al-Khazraj.
    You obey a stranger who is none of yours,
    One not of Murad or Madhhij.
    Do you expect good from him after the killing of your chiefs
    Like a hungry man waiting for a cook's broth?
    Is there no man of pride who would attack him by surprise
    And cut off the hopes of those who expect aught from him?”

    Hassan b. Thabit answered her:

    “Banu Wa'il and B. Waqif and Khatma
    Are inferior to B. al-Khazrahj.
    When she called for folly woe to her in her weeping,
    For death is coming.
    She stirred up a man of glorious origin,
    Noble in his going out and in his coming in.
    Before midnight he dyed her in her blood
    And incurred no guilt thereby.”

    When the apostle heard what she had said he said, “Who will rid me of Marwan's daughter?” Umayr b. Adiy al-Khatmi who was with him heard him, and that very night he went to her house and killed her. In the morning he came to the apostle and told him what he had done and he [Muhammad] said, “You have helped God and His apostle, O Umayr!” When he asked if he would have to bear any evil consequences the apostle said, “Two goats won't butt their heads about her”, so Umayr went back to his people.

    Now there was a great commotion among B. Khatma that day about the affair of bint [girl] Marwan. She had five sons, and when Umayr went to them from the apostle he said, “I have killed bint Marwan, O sons of Khatma. Withstand me if you can; don't keep me waiting.” That was the first day Islam became powerful among B. Khatma; before that those who were Muslims concealed the fact. The first of them to accept Islam was Umayr b. Adiy who was called the “Reader”, and Abdullah b. Aus and Khuzayma b. Thabit. The day after Bint Marwan was killed the men of B. Khatma became Muslims because they saw the power of Islam. [The Life of Muhammad. A translation of Ishaq's “Sirat Rasul Allah”, pgs. 675-676, A. Guillaume, Oxford University Press, 1955]

    cuma sajak spt diatas!

    Padahal 13 tahun nabi bersajak memaki2 sukunya sendiri..eh, tidak diapa2kan..tapi ketika orang besajak segitu doang..langsung disuruh dibunuh..lagi menyusui anaknya pula!

    bener2 sadissss!

  16. WIRA J_HANA_
    Tidak usah anda memberikan sebakul data yg anda sendiri tidak paham isinya bila pertanyaan2 pokok dalam memahami masalah2 yg anda persoalkan itu sendiri tidak pernah anda jawab secara jujur ketika saya tanyakan pada anda !!

    Ini yg telah saya tanyakan pada anda, dan saya selalu menunggu jawaban dari anda :

    1) sebandingkah bila orang mengkritik pelaksanaan keagamaan orang lain yg memang salah (BUKAN FITNAH), kemudian dibalas dengan intimidasi, penganiayaan, pemboikotan, dan bahkan percobaan pembunuhan, baik itu pada orang ybs, maupun pada seluruh pengikutnya dan juga pada keluarga orang ybs meskipun mereka tidak punya sangkut paut dengan agama orang yg mengkritik ??

    2) apakah sebanding jika orang yg dianiaya secara fisik itu kemudian melakukan pembelaan diri secara fisik juga terhadap penganiaya mereka ??

    3) Ketika ada segolongan / kelompok masyarakat yg MENOLAK SECARA TERANG2AN untuk menandatangani kesepakatan hidup damai dan saling toleransi bersama, padahal kesepakatan itu telah dimintakan dengan baik2 kepada mereka, tapi mereka menolak mentah2 dan memilih untuk TIDAK MAU hidup berdamai dan tidak saling mengganggu dengan kelompok yg lainnya, anda pandang penolakan mereka itu sebagai apa ???
    Hak demokrasi ??
    atau deklarasi terbuka untuk membuat permusuhan / perang ???

    4) Apa tanggapan anda tentang komentar Dr Israel Wilfinson terhadap sejarah orang2 yahudi di masa2 awal Islam di madinah ??

    5) Jadi hadist, sirah, tarikh yg menceritakan saat2 ketika Nabi sholat di Kabah kemudian punggungnya dilumuri oleh jerohan binatang oleh orang2 Quraish, penyiksaan Bilal, pembunuhan Sumayah, boikot 3 tahun, rencana pembunuhan pada Nabi, dll tindakan tidak menyenangkan pada kaum muslimin yg dilakukan oleh orang2 Quraish, bukan bentuk INTIMIDASI menurut anda ???
    Lalu anda menyebut itu tindakan apa ???
    Apakah sekedar BERGURAU ?? MAIN-MAIN ?? ISENG ?? atau PEMBALASAN DENDAM ???

    Selanjutnya, kita bisa temukan kebiadaban lebih lanjut dari sifat JAHANAM anda yg lain, sbb :

    1) membenarkan pemboikotan dalam segala bidang pada suatu kaum sebagai sanksi adat
    2) menimpakan kelaparan, kehausan dan kesulitan pada sekelompok orang adalah adat yg anda benarkan
    3) mengancam untuk menyusahkan kehidupan sekelompok orang agar mereka menyerahkan orang yg dilindungi untuk dibunuh oleh para pengancam, hanya karena orang tsb selalu mengkritik kesalahan suatu kaum pengancam adalah adat yg anda benarkan.
    4) Mentolerir penyiksaan diluar batas kemanusiaan kepada orang lain sebagai bagian dari pendisiplinan

  17. Binatang,
    Kamu ini aneh..malah marah2 sendiri ketika saya bantu menyampaikan fakta2 yg sesuai hadis, sirat, tarikh dan AQ, yaitu:

    1. Muhammad tidaklah di usir dari Mekkah [AQ 17:76, Klik (!)]
    2. 13 tahun lebih Muhammad menghina/memaki adat/istiadat, nenekmoyang, sesembahan kaum Quraish. S/d Ia pergi sendiri ke Medina, sama sekali tak ada intimidasi kepadanya. [Klik (!)]
    3. Setelah Hijrah Muhammad pun tidak pernah diganggu suku Quraish namun balasan dari Muhammad dan kawanannya adalah terus menerus merampoki karavan mereka dan mengacaukan keamanan [Klik (!)]
    4.Ketidakadilan putusan ABU TALIB atas kekurang ajaran ponakannya, yaitu Muhammad pada sukunya, membuat 40 pemimpin suku Quraish memberlakukan sangsi adat sosial-ekonomi pada Bani Hasyim [+ Bani Muttalib] baik itu kafir maupun tidak. [Klik (!)]
    5. Pembunuhan Sumayah dan penyiksaan bilal krn ia MUSLIM adalah hoax [Klik (!)]
    6. Perjanjian Medina ternyata HOAX dan tidak ada 3 suku YAHUDI [Nadhir, Qauniqa dan Qauridzah] tercantum di dalamnya! [Klik (!)]
    7.Ke-3 suku yahudi tsb malah di perangi dengan alasan ngga mau buat PERJANJIAN shg hartanya dirampas, dibantai, perempuannya di jadikan pemuas NAFSU, dan diperbudak! [Klik (!)]
    8. Islam itu mengukuhkan PERBUDAKAN, bahkan JIKA sang BUDAK telah ISLAM SEKALIPUN, selama bukan suku ARAB tidaklah DIBEBASKAN! [Klik (!)]
    9. 13 tahun Muhammad bikin sajak dengan memaki2 sesembahan,adat istiadat dan nenek moyak suku quraish, Ia tidak dianiaya ataupun dibunuh namun 1 orang BUTA berusia 120 tahun [Abu 'Afak] dan seorang perempuan yg sedang tidur menyusui anaknya ['Ashma, bt. Marwan] di bunuh secara menggelap hanya karena BIKIN 1 SAJAK! [Klik (!)]

    Sadisssssss bener, Bukan!

    Jadi, kalo anda malu dengan fakta2 DI ATAS ya salahkanlah ajaran anda dan bukan saya!

  18. @Wirajhana eka: pertama dan utama saya sampaikan bahwa ANDA boleh saja tidak menampilkan atau menghapus isi komentar saya, tapi minimal ANDA sudah baca tulisan INI!.

    Terus terang saja artikel-artikel yang ANDA tulis sangat menarik dan membuat saya ketagihan membaca karena menurut saya ilmiah karena dilengkapi dengan referensi-referensinya. Tapi setelah saya membaca dialog dua arah dari ANDA, saya menjadi MUAK melihat tulisan-tulisan ANDA, karena:

    1. Anda terlihat sangat egois dan hanya ingin didengar tanpa mau mendengar (plus menjawab).
    2. Beberapa kali saya lihat ANDA menghindari pertanyaan-pertanyaan yang menjadi kelemahan dasar argumentasi ANDA.
    3. Tata bahasa Anda sangatlah kasar, dan terlebih lagi itu selalu di mulai dari ANDA sendiri, padahal lawan bicara ANDA tidak berbicara kasar sama sekali.

    NB: Saya tidak mempunyai agama apapun, saya juga bukan atheis ataupun agnostik. Saya hanya insan yang sedang belajar. Padahal saya sangat tertarik sekali dengan ajaran BUDDHA, tapi terlihat menjadi kotor di tangan ANDA.

    Salam kenal.

  19. saya liat dari semua artikel mungkin anda bukan muslim jadi tentu saja artikenya ( mungkin sengaja ) menulis yg buruk buruk saja, kalo saya sih ditanggepin secara dewasa saja, kan udah keliatan niatnya mau menyerang, semoga Allah mengampuni anda pak,amiin 🙂

  20. 🙂 lagi-lagi si kafir penyembah jin iblis ini berkhayal dengan angan2 dengkinnya sendiri kepada nabi dan Islam. Tentu saja agama Islam, Allah, kabah, puasa, sholat berhaji thawaf keliling kabah semua itu sudah ada sejak nabi Adam. Karena nabi berikutnya dan para rasul Allah itu hanya meluruskan kembali penyelewengan ajaran Islam sejak nabi Adam, menjadi berbagai agama kafir, termasuk menjadi hindu budha dan kristen yahudi yang sekarang ini, yang sudah menyimpang jauh dari ajaran islam sejak nabi Adam. Itulah mengapa Allah lalu menurunkan para nabi di setiap jamannya untuk meluruskan kembali di masing-masing jamannya.
    MEncari kebenaran itu dari sumber yang valid dan dalam bahasa aslinya, jangan lalu diplintir-plintir seenak khaylan kamu sendiri, yang penuh iri dengki kepada nabi mulia dan agama Islam.

    ke http://faithfreedom.getforum.org kalau berani, sudah terjawab semuaaa fitnahan kafir kepada Islam.

    Kekafiran memang dekat dengan kebodohan.

  21. 🙂 lagi-lagi si kafir penyembah jin iblis ini berkhayal dengan angan2 dengkinnya sendiri kepada nabi dan Islam. Tentu saja agama Islam, Allah, kabah, puasa, sholat berhaji thawaf keliling kabah semua itu sudah ada sejak nabi Adam. Karena nabi berikutnya dan para rasul Allah itu hanya meluruskan kembali penyelewengan ajaran Islam sejak nabi Adam, menjadi berbagai agama kafir, termasuk menjadi hindu budha dan kristen yahudi yang sekarang ini, yang sudah menyimpang jauh dari ajaran islam sejak nabi Adam. Itulah mengapa Allah lalu menurunkan para nabi di setiap jamannya untuk meluruskan kembali di masing-masing jamannya.
    MEncari kebenaran itu dari sumber yang valid dan dalam bahasa aslinya, jangan lalu diplintir-plintir seenak khayalan kamu sendiri, yang penuh iri dengki kepada nabi mulia dan agama Islam.
    Spt ttg Safiyah yang sejak gadis ingin mualaf, memeluk Islam, tapi justru diancam dibunuh oleh ayahnya dan dinikahkan paksa dgn panglima perangnya yg kejam dan kasar, hingga pecah perang shg ayah dan suaminya yg keji itu tewas, dan nabi menikahinya karena untuk melindungi nyawanya dari ancaman pembunuhan oleh anak buah suaminya, orang-orang sesukunya sendiri. Juga ttg cara jenius nabi menghapus perbudakan dengan cara memberi MAKNA BERBEDA terhadap segala hal istilah ttg budak dan MEMPERLAKUKAN budak selayaknya sebagai manusia merdeka, bukan sebagai hewan tapi sebagai sahabat, atau istri dari lain suku bagi budak yang telah dinikahi, sehingga berstatus sebagai budak “tangan kanan yang kau miliki” itu, dll.

    ke http://faithfreedom.getforum.org kalau kamu berani, sudah terjawab semuaaa fitnahan kafir kepada Islam.

    Kekafiran memang dekat dengan kebodohan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s