Sangha, Bhikkhu, Friksi dengan UMAT AWAM, Berdana yg CERDAS! dan Kasus pada Ex-Bhikkhu Sudhammacaro!


Banyak tulisan yang berupaya menggiring OPINI bahwa 1 orang Bhikkhu walaupun tidak tergabung dalam sangha manapun maka Ia tetaplah BHIKKHU SANGHA dengan MEMIRIP-MIRIPKAN pada kondisi para bhikkhu hutan, ini BELUM TENTU BENAR, ada motif/tujuan tertentu dibalik ini, salah satunya adalah UANG

Saṅgha
Arti sangha adalah KOMUNITAS/KUMPULAN, ada dua jenis:

  • Savaka Sangha [savaka = murid]: kumpulan para Ariya [atau mereka yang telah mencapai tingkat kesucian 1 s/d 4], baik berjubah/menjadi bhikkhu ataupun tidak, gundul ataupun tidak, manusia ataupun bukan. Mereka ini disebut para THERA.
  • Sammuti sangha [sammuti = tradisi, ungkapan yang populer] atau sangha konvensional [monastik]: kumpulan para Bhikkhu baik (Puthujjana [orang biasa] dan para Ariya)

Setelah seseorang dan/atau SAMANERA [samana/petapa + nera/anak/kecil = calon Bhikku] ditahbiskan/Upasampada menjadi Bhikkhu, Ia kemudian menjadi NISSAYA-NAVAKA [NISSAYA = bergantung, Navaka = baru]: bergantung pada gurunya/Achariya atau Penahbisnya/Upajjhaya selama 5 tahun, setelah melewati tahun ke-5 disebut Majjhima/Menengah: bhikkhu mandiri, setelah itu terdapat sebutan Thera, yang mempunyai 3 arti

  • Tua [contoh Romo Cunda Thera: Romo Cunda yang sepuh]
  • Para Ariya [Pencapai tingkat kesucian ke-1 s.d 4]
  • Menurut tradisi Thailand [> tahun 1300 Masehi atau bisa jadi mulai tahun 1833, ketika berkembangnya aliran Dhammayutikka]: Mereka yang bervassa mulai dari 10 tahun ke atas.

Di Thailand, ada 2 aliran (nikaya) Theravada, yaitu Dhammayutikka dan Mahanikaya namun demikian, BERSATU di bawah 1 badan yaitu konsil para tetua (ketua dipilih berdasarkan demokrasi atau juga penunjukan). Raja-raja Thailand bertindak sebagai pelindung Sangha. Negara membuat perundangan bahwa Sangha dapat mengatur dirinya sendiri dalam struktur sentralisasi [terpusat], Ketuanya diangkat raja dan disebut Sangharaja (arti bhikkhu dari kelompok yang paling sepuh atau yang paling dihormati, jika dihormati, belum tentu paling tua secara masa vassa). Perbedaan diantara ke-2 aliran ini sangat kecil, diantaranya adalah penangan disiplin dan cara pemakaian jubah, mereka ini mengikuti 227 aturan vinaya (pria, karena tidak ada bhikkhu wanita, jika ada maka aturan untuk bhikkhuni adalah 311) sebagai Patimokkha (pati/menuju+mokkha/kebebasan = aturan, latihan, kepatuhan).

Pengaruh Dhammayutikka di Indonesia adalah melalui penahbisan oleh sangharaja Thailand, yaitu Somdet Phra Nyanasamvara [Diangkat tahun 1989 s.d sekarang, dari aliran Dhammayuttika] pada kisaran tahun 1970 menahbiskan banyak anak negeri menjadi Bhikkhu, 5 Bhikkhu diantaranya pada tanggal 23 Oktober 1976, mendirikan Sangha theravada Indonesia.

Bhikkhu sangha berarti bhikkhu dari kumpulan atau ketika Ia mendapat PERINTAH dari KOMUNITAS (walaupun jumlahnya hanya 1 orang).

Di awal perkembangannya, penerimaan seseorang menjadi Bhikkhu, Sang Buddha lakukan dengan kata, “Ehi Bhikkhu” (artinya: Mari, Bhikkhu) kepada 5 orang pertama dan saat itu terbentuklah sangha. Penerimaan dengan cara itu berlanjut hingga jumlah Bhikkhu menjadi 61 orang. Setelah itu, sang Buddha meminta mereka untuk menyebarkan Dhamma ke segala penjuru [Vin.I.11.1] sehingga berdasarkan kejadian ini, SEMUA BHIKKHU yang sedang dalam penugasan komunitas walaupun hanya 1 (satu) orang, Ia disebut BHIKKHU SANGHA.

Menyebarnya 61 orang Bhikkhu ini, menyebabkan banyak yang ingin Pabbajja [meninggalkan keduniawian] untuk diupasampada/tahbiskan sang Buddha. Kejadian ini melelahkan para Bhikkhu dan calon Bhikkhu karena harus bolak-balik atau menuju tempat Sang Buddha berada, sehingga kemudian, Sang Buddha memperkenankan para Bhikkhu menahbiskan para calon Bhikkhu ditempat dengan cara “Tisaranagamanupasampada” sebanyak 3x pengucapan [Vin.I.12: Buddha/Dhamma/Sangha saranamgacchami]

Dalam perkembangan kemudian, karena banyak bhikkhu tinggal dalam kumpulan yang cukup, Sang Buddha kemudian memperkenankan penahbisan yang dilakukan oleh 5 sampai 10 orang bhikkhu kompeten dan seorang dari mereka bertindak sebagai penahbis/upajjaya [vin.1.25] cara ini disebut Ñatti-catutthakamma-upasampada (natti/mengumumkan/permakluman, catuttha/4, kamma/perbuatan: 4 permakluman: 1x usulan/natti + 3x pernyataan permohonan, sample: ..Upajjhaya: “Sekarang saatnya engkau, xxxx, memohon pada sangha untuk mentahbiskanmu”. xxxx: “Yang mulia para bhante Saya memohon penahbisan, Saya mohon welas kasih para bhante untuk mengangkatku”-3x..). Jika untuk Bhikkhu dilakukan 1x dihadapan sangha Bhikkhu, namun untuk Bhikkhuni jadi 2x, yaitu pertama dihadapan sangha bhikkhuni dan kemudian dihadapan sangha Bhikkhu. Bhkkhu pertama yang ditahbis dengan cara ini adalah brahmin Radha)

Sangha Bhikkhu, secara umum beranggotakan sekurangnya 5 orang [merujuk pada 5 petapa sebagai sangha pertama dan jumlah minimum untuk keperluan upasampada] namun demikian banyak fungsi kebhikkuan memerlukan cukup dengan hanya 4 Bhikkhu.

Jadi, ketika Ia sendirian tapi mendapat penugasan komunitas, maka Ia disebut sebagai BHIKKHU SANGHA namun jika tidak penugasan, bisa jadi Ia adalah bhikkhu mandiri, bisa jadi tergabung dalam sangha tertentu dan tengah mengasingkan diri atau bisa jadi Ia memang tidak tergabung dalam sangha tertentu.

Jaman ini, terdapat Bhikkhu-Bhikkhu yang tidak bergabung dalam komunitas sangha tertentu. diantara alasannya adalah:

  • Bhikkhu tersebut TERLALU TINGGI HATI, sehingga TIDAK MAMPU merendahkan dirinya sendiri bergabung bersama sangha.
  • Tempatnya saat itu TIDAK ADA persaudaraan atau komunitas para Bhikku
  • Aliran yang dianutnya memiliki beda aturan [vinaya], vatta [penugasan] dengan sangha lain sehingga tidak sesuai dengan patimokha,VINAYA dan vatta yang dijalankannya.
  • Bhikkhu melanggar gemar melanggar Vinaya, sehingga dengan tidak bergabung, maka tidak akan ada hukuman lunak dan keras atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya
  • Ia bukan lagi Bhikkhu/telah dikeluarkan dari persekutuan, ataupun tengah menipu, sehingga tetap menggunakan jubah agar dipandang dan dihormati, agar mendapatkan keuntungan materi.

Sejak dari jaman Sang Buddha hingga sekarang, mereka yang tergabung dalam ke-sangha-an banyak yang tidak mematuhi Vinaya dan bahkan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji, sehingga bisa jadi yang tidak tergabung, masih dapat secara konsisten menjalankan vinaya nya, tapi tidak menutup kemungkinan, Ia menjadi tidak menjalankan baik vinaya-nya, belum tentu menyadari kesalahannya, atau bahkan tidak mau menyadari kesalahannya.

Uposatha
Sang Buddha telah memberikan izin kepada sangha untuk melakukan uposatha sendiri. Uposatha artinya kepatuhan kepada Sila. Dalam pertemuan suatu kelompok bhikkhu [sangha, > 4 bhikkhu], seorang bhikkhu akan membacakan peraturan latihan [Patimokkha]. Jika 2 – 3 orang Bhikkhu mereka disebut gana (grup). Mereka dibolehkan memberitahukan satu sama lain tentang “kemurnian”. jika hanya 1 Bhikkhu ia disebut puggala (seorang) dan harus membuat addhitthana (tekad) sendiri. Patimokkha hanya dibacakan dalam kelompok yang murni (yang tidak melakukan pelanggaran, yang telah menyadari pelanggarannya) tidak boleh dibacakan dalam kelompok,  di mana terdapat bhikkhu yang melanggar.

Vassa
Masa Vassa adalah musim hujan (3 sampai 4 bulan lamanya), yaitu saat para bhikkhu berdiam di suatu tempat tertentu sampai hari Pavarana (3 bulanan, Pavarana adalah upacara berakhirnya masa vassa, sebagai ganti dari uposatha bulan purnama Katthika, bisanya dilakukan sangha pada tanggal 15 [atau dapat ditunda dua minggu atau satu bulan, atau di hari2i lainnya]. Jumlah bhikkhu yang menghadiri pertemuan ≥ 4 Bhikkhu. Selama masa Vassa, dengan keadaan-keadaan tertentu, Bhikkhu masih boleh bepergian namun tidak boleh > dari 7 hari, jika tidak, maka masa Vassanya dianggap GAGAL, masa vassa juga sebagai ukuran kesenioran bhikkhu, jika seorang bhikkhu tidak bervassa, maka Ia tidak berhakikut ber-Khatina/atau menerima persembahan jubah.

Permberian Persembahan [DANA]
Pemberian Dana dapat dilakukan kepada pribadi-pribadi atau kepada Sangha. Ringkasan Dakkhiṇāvibhanga Sutta, MN 142, Sutta Penjelasan tentang Persembahan, di bawah ini, menyajikan keuntungan dan perbedaan manfaat diantara keduanya.

Pemberian secara Pribadi kepada:

  1. Seorang SammaSamBuddha (Sudah ngga bisa)
  2. Seorang Paccekabuddha (Sudah ngga bisa)
  3. Seorang Arahat (Sudah ngga bisa)
  4. Seorang yang sedang berusaha menjadi Arahat (mungkin sudah ngga bisa)
  5. Seorang Anagami (mungkin sudah ngga bisa)
  6. Seorang yang sedang berusaha menjadi Anagami (mungkin sudah ngga bisa)
  7. Seorang Sakadagami (mungkin sudah ngga bisa)
  8. Seorang yang sedang berusaha menjadi Sakadagami (mungkin sudah ngga bisa)
  9. Seorang enterer-stream (Sotapanna) (mungkin sudah ngga bisa)
  10. Seorang yang sedang berusaha menjadi Sotapanna, diberikan dengan pikiran murni, dapat berbuah tidak terukur x lipat
  11. Seorang yang di luar ajaran Buddha namun bebas dari nafsu akan kenikmatan indria, diberikan dengan pikiran murni, dapat berbuah 100.000 x 100.000 lipat
  12. Seorang biasa yang bermoral, diberikan dengan pikiran murni, dapat berbuah 100.000x lipat
  13. Seorang biasa yang tidak bermoral,diberikan dengan pikiran murni, dapat berbuah 1000x lipat
  14. Kepada hewan, diberikan dengan pikiran murni, dapat berbuah 100x lipat

Tujuh Jenis Pemberian kepada Sangha (SanghikaDāna):

  1. Kepada Sangha Bhikkhu dan Bhikkhuni dipimpin oleh Buddha (sudah ngga bisa)
  2. Kepada Sangha Bhikkhu dan Bhikkhuni setelah Buddha mencapai Parinibnibbāna (sudah ngga bisa)
  3. Kepada Sangha bhikkhu
  4. Kepada Sangha dari bhikkhuni
  5. Seseorang memberikan dana dan mengatakan: “Tunjuklah untukku sejumlah tertentu para bhikkhu dan bhikkhunī dari Sangha”
  6. Seseorang memberikan dana dan mengatakan: “Tunjuklah untukku sejumlah tertentu para bhikkhu dari Sangha”
  7. Seseorang memberikan dana dan mengatakan: “Tunjuklah untukku sejumlah tertentu para bhikkhunī dari Sangha”.

Patut di ingat:
“Di masa depan, Ānanda, akan ada anggota-anggota kelompok yang, ‘berleher-kuning,’ tidak bermoral, dan berkarakter jahat. Orang-orang akan memberikan pemberian kepada orang-orang tidak bermoral itu demi Sangha. Bahkan meskipun begitu, Aku katakan, suatu persembahan yang diberikan kepada Sangha adalahTIDAK TERHITUNG dan TIDAK TERUKUR.

Dan Aku katakan bahwa TIDAK MUNGKIN suatu persembahan yang diberikan kepada seorang individu AKAN LEBIH berbuah daripada persembahan yang diberikan kepada Sangha.

    note:
    Bhikkhu leher kuning [kāsāva kaṇṭha] “Anggota-anggota kelompok” (gotrabhuno) adalah mereka yang menjadi bhikkhu hanya secara nama. Mereka bepergian dengan sehelai kain kuning yang diikatkan di leher atau di lengan mereka, dan masih menyokong anak dan istri mereka dengan melibatkan diri dalam perdagangan dan pertanian, dan sebagainya [Papañca Sūdanī, Majjhima Commentar(MA) 5:74 f]

Empat jenis pemurnian persembahan:

  1. Dimurnikan oleh si pemberi, bukan oleh si penerima.
  2. Dimurnikan oleh si penerima, bukan oleh si pemberi.
  3. Dimurnikan bukan oleh si pemberi juga bukan oleh si penerima.
  4. Dimurnikan si pemberi & si penerima akan berbuah sepenuhnya

Pemurnian adalah oleh orang yg bermoral, berkarakter baik.

    “Ketika seorang bermoral memberi kepada seorang yang tidak bermoral Suatu pemberian yang diperoleh dengan benar dengan penuh keyakinan, Meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Moralitas si pemberi memurnikan persembahan itu.

    Ketika seorang tidak bermoral memberi kepada seorang yang bermoral Suatu pemberian yang diperoleh dengan tidak benar dengan tanpa keyakinan, Juga tidak meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Moralitas si penerima memurnikan persembahan itu.

    Ketika seorang tidak bermoral memberi kepada seorang yang tidak bermoral Suatu pemberian yang diperoleh dengan tidak benar dengan tanpa keyakinan, Juga tidak meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Moralitas keduanya tidak memurnikan persembahan itu.

    Ketika seorang bermoral memberi kepada seorang yang bermoral Suatu pemberian yang diperoleh dengan benar dengan penuh keyakinan, Meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Pemberian itu, akan berbuah sepenuhnya.

    Ketika seorang yang tanpa nafsu memberi kepada seorang yang tanpa nafsu. Suatu pemberian yang diperoleh dengan benar dengan penuh keyakinan, Meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Pemberian itu, yang terbaik di antara pemberian-pemberian duniawi.”

Anda bisa mengetahui sendiri SEMURNI APA, SEPENUH APA dan bagaimana MEMURNIKANNYA ketika anda TIDAK SEPENUHNYA YAKIN bermoral dan berkarakter baik dan yang terpenting berdana KEPADA SANGHA SELALU lebih BESAR daripada KEPADA individu.

Ada satu kisah menarik tentang lingkup hubungan antara tentang niat baik seorang Penderma,Sangha dan Bhikkhu yang tidak bermoral, sebagai berikut:

    Niat Baik Penderma
    Suatu ketika ada seorang bhikkhu yang tidak disukai oleh kebanyakan umat dan penderma karena kelakuannya yang tidak bermoral. Suatu ketika seorang penderma mengundang Sangha untuk menerima dana, Sangha mengutus bhikkhu tersebut untuk menghadiri undangan penderma itu.

    Bagaimanapun juga, penderma itu tidak merasa kecewa; dia memusatkan perhatiannya kepada Sangha,dengan penuh hormat dia mempersembahkan makanan dan kebutuhan pokok lainnya kepada bhikkhu itu adalah Buddha sendiri, mencuci kakinya ketika datang,

    mempersilakan duduk di tempat harum di bawah kanopi. Karena pikiran penderma itu tertuju penuh kepada seluruh pesamuan, dana yang dibuatnya tergolong sanghika-dana yang mulia, sekalipun penerimanya adalah bhikkhu yang tidak baik.

    Mari kita simak kelanjutannya. Menyaksikan penghormatan yang diterimanya dari sang penderma, seperti disebutkan diatas, bhikkhu itu merasa mendapatkan dermawan yang berbakti kepadanya. Pada sore harinya, bhikkhu itu ingin melakukan suatu perbaikan di viharanya, lalu dia pergi ke pendermanya untuk meminjam sebuah cangkul. Kali ini sang penderma memperlakukannya dengan tidak hormat. Dia menyorongkan cangkul dengan kakinya dan berkata dengan kasar , ” Nih!”

    Tetangganya menanyakan kepadanya mengenal dua perlakuan yang berbeda yang telah dilakukannya kepada bhikkhu tersebut. Penderma itu menjawab bahwa pada pagi hari hormatnya tertuju kepada seluruh Sangha dan bukan untuk salah satu bhikkhu tertentu.

    Dia bersikap kasar pada sore hari karena, katanya secara individu bhikkhu tersebut tidak layak menerima penghormatan. Pelajaran yang dapat dipetik, Anda harus memproyeksikan pikiran kepada Sangha secara keseluruhan agar derma Anda dapat digolongkan sebagai sanghika-dana. [“Abhidhamma Sehari-hari“; Ashin Janakabhivamsa; Penerbit Karaniya]

Perselisihan antara Bhikkhu dan umat awam
Bhikkhu yang belum suci adalah manusia juga, Ia masih membuat kesalahan, untuk itu jangan ragu untuk menegurnya namun dengan cara yang patut. Sebagai referensi kejadian inipun terjadi di jaman sang Buddha, di mana umat awam mempunyai persoalan yang tidak enak dan melakukan peneguran serta melaporkan kekeliruan Bhikkhu-bhikku, misalnya:

    Kasus YM UDAYIN vs VISAKHA:
    Suatu saat YM Udayin mendekati seorang wanita muda (anak perempuan dari seorang penyokong YM Udayin yang baru menikah), dan setelah dekat, beliau duduk bersama dengan wanita muda tersebut, seorang pria dan seorang wanita, di suatu tempat tersembunyi, di tempat duduk yang nyaman dan tersendiri, berbicara pada waktu yang tempat, membicarakan Dhamma pada waktu yang tepat pula … Visakha melihat YM Udayin duduk bersama dengan wanita muda itu, seorang pria dan seorang wanita, di suatu tempat tersembunyi, diatas tempat duduk yang nyaman dan tersendiri. Melihat hal ini, Visakha berkata kepada YM Udayin: “Hal ini tidak patut, yang mulia, hal ini tidak pantas, bahwa seorang guru duduk bersama seorang wanita, seorang pria dan seorang wanita, di tempat tersembunyi, diatas tempat duduk yang nyaman dan tersendiri. Meskipun yang mulia tidak memiliki hasrat untuk hal tersebut (hubungan seksual), orang yang tidak percaya akan sulit untuk diyakinkan.”

    Namun YM Udayin tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Visakha sehingga Visakha pun menceritakan hal tersebut kepada para bhikkhu. Para bhikkhu menjadi terganggu dan marah dan kemudian meneruskannya kepada Sang Buddha. Sang Buddha menegur YM Udayin: “Bagaimana mungkin kamu, orang bodoh, duduk bersama dengan wanita, seorang pria dan seorang wanita, di suatu tempat tersembunyi di atas tempat duduk yang nyaman dan tersendiri?…..”

Atau contoh yang ada di Dhammapada, CITTA vs BHIKKHU SUDHAMMA:

    Ketika Citta,Perumah tangga mengundang Dana Makan, Bhikkhu Sudhamma, menolak dengan marah dan berkata, “Kamu mengundangku setelah mengundang dua bhikkhu tersebut [Sariputta dan Monggalana]”

    Citta mengulang kembali undangannya, tetapi undangan tersebut ditolak. Walaupun demikian bhikkhu Sudhamma pergi ke rumah Citta pagi-pagi keesokan harinya. Ketika dipersilahkan masuk, Sudhamma menolak dan berkata bahwa dia tidak akan duduk karena dia sedang berpindapatta.

    Ketika dia melihat makanan yang didanakan kepada dua orang murid utama Sang Buddha, dia sangat iri dan tidak dapat menahan kemarahannya. Dia mencaci Citta dan berkata, “Aku tidak ingin tinggal lebih lama di viharamu!” dan meninggalkan rumah tersebut dengan penuh kemarahan.

    Dari sana, dia mengunjungi Sang Buddha dan melaporkan segala yang telah terjadi. Kepadanya, Sang Buddha berkata, “Kamu telah menghina seorang umat awam yang berdana dengan penuh keyakinan dan kemurahan hati. Kamu lebih baik kembali ke sana dan mengakui kesalahanmu.”

    Sudhamma melakukan apa yang telah dikatakan oleh Sang Buddha, tetapi Citta tidak menghiraukan; maka dia kembali menghadap Sang Buddha untuk ke dua kalinya. Sang Buddha, mengetahui bahwa kesombongan Sudhamma telah berkurang pada waktu itu. Kemudian Beliau berkata, “Anakku, seorang bhikkhu yang baik seharusnya tidak terikat dengan berkata, “ini adalah viharaku, ini tempatku, dan ini adalah muridku,” dan sebagainya, dengan berpikir demikian keterikatan dan kesombongan akan bertambah.”

Tentu saja ketidaksetujuan dan ketidaksepakatan SEYOGYANYA dilakukan dengan cara-cara yg lembut. Juga jika melanggar PIDANA,maka andapun dapat melaporkan pada yang berwajib.

Saya punya pengalaman menarik dengan satu oknum yang menyamar jadi Bhikkhu, orang ini di fb pake nick name, “bhante sudhammacaro” (klik!)

    Berikut ini adalah tulisan dari sudhammacaro [seseorang, yg gemar berkostum bhikkhu, namun ternyata bukan bhikku], yaitu setelah ketauan secara konyol mengartikan maksud Atthasila:

    1. DARIPADA YOU KERJA DI BALI JD GAET BUL2 E, SAMA JUGA DI-SURUH2 MIRIP JONGOS BEDANYA KL DI BALI PASTI DI PANTAI, YG PANAS SMP KULIT SPT ARANG, TP KL DI JKT ADEM KRN DLM WIHARA SAMBIL MINUM KOPI I…STILAHNYA NUHIGA-NUMPANG HIDUP GRATISAN SAMA BOS.. JD KL DI BALI SEPI JOB LARI KE JKT…[Rabu pukul 12:18]
    2. SE-BODOH2NYA ORANG TDK LBH BODOH DG ANJING TAU AYAM YG TDK SUKA UANG KALI.. JNG SOK BERSIH LAH.. MANA ADA ORANG KERJA TDK DI LEMPAR UANG TIP SIH.. GA APA2 LAH KITA2 JUGA TDK AKAN NYOAL YOU PUNYA KERJA DAN TIP DARI KUNCEN VJDJ BHANTE KADANG KASIHAN SAMA YOU ORANG MAU DIANGKAT SELEVEL BOS KUNCEN TP BANDELNYA TDK KETULUNGAN ..[Rabu pukul 12:24]
    3. MAAF MAKAN DULU LAH TAR LAPAR SAKIT BHAYA..[Rabu pukul 12:25]

    Perhatikan point 3. masa seh seorang Bhikkhu [tidak sakit],makan setelah TENGAH HARI?[1]

    Perhatikan maki2an [1 dan 2] yg dilontarkan seseorang yg mengaku2 bhikhu [Sumber: di sini]

    Ternyata setelah menulis itu ybs mengatakan spt ini:

      “Teman2 bhante menulis Postingan dengan kalimat kasar itu sengaja justru untuk memancing anda komen. jadi rame dan biar anda berpikir. Sekaligus untuk menguji anda yg suka teori Dharmanya tinggi2, ingin tahu isinya ternyata tdk bisa mengendalikan batinnnya.” [Sumber: di sini]

    Hehehehe…kesian ya..tulisan di atas malah menyajikan BUKTI PENTING,yaitu setelah konco2nya berdalih ini adalah di hack, tulisan di atas merupakan bukti ke-2, bhw account ybs 100% tidak di hack!

    Bukti ke-1 nya sbb:

      Teman2 postingan itu pertnyaan dri umat, ada yg sdh lama ada yg baru, krn dlm Diskusi Dharma bhante kdang bnyak umat yg tnya tdk fokus ke Topik Diskusi, bhante simpan, spt sdr.Stephan Halim tnya di luar topik, maaf yg delete, kdang dayaka/ kappiya maaf bukan Jongos, yah. [Sumber: di sini]

    Perhatikan kalimat, “maaf yg delete, kdang dayaka/ kappiya maaf bukan Jongos, yah

    Kemudian,
    Bagaimana ybs memulai dengan ucapan JONGOS, maka anda PERLU baca INI (klik!)

      [Bhante Sudhammacaro:]
      Diskusi Dharma; Tanya: Bhante, di Indo bnyak umat Buddha hingga ribuan msh muda2, tp yg mau jd bhikkhu sangat minim. Padahal mereka sdh tahu jd bhikkhu bs membantu anggota Sanggha dg tugas yg bnyak d berat. Juga berkahnya amat mulia. Apa karena Mereka ada Kelainan Gen/DNA atau Penakut? Mereka malah lbh suka Memilih jd JONGOS nya para bhkkhu. Padahal Mereka tdk Kerja (LL), Nikah tdk mau krn BOKE, malah milih jd Bandot Tua, senengnya Cuma jd NUHIGA. Jadi Menurut Pandangan Dharma sang Buddha apa Sebabnya? Gimana menurut Temen2. Teman2 tlg ks koment yg benar dan berguna, sadhu.

      Tlg yg suka komen di wall ini agar jujur menuliskan Pekerjaannya apa, trims sadhu.

      Catatan (Maaf Jangan Marah):
      Kelainan Gen/DNA: Gen artinya Genetik/ DNA ialah spt BENCONG/ BANCI, kalau bahasa Pali PANDAKA.
      JONGOS: dari bahasa Sunda/Jawa yg artinya bisa Pembantu, Pegawai, atau Pesuruh.
      LL: artinya luntang-lantung alias nganggur.
      Boke: artinya tdk punya Uang yg cukup untuk Nikah.
      Bandot Tua: artinya Bujang Lapuk, Jejaka tdk Laku.
      NUHIGA: Istilah Plesetan yg artinya NUMPANG HIDUP GRATIS.

      INGAT! Diskusi Dharma inipun termasuk Latihan Pengendalian Batin, cb Perhatikan bagaimana Gejolak Batin anda waktu membaca ini. Lalu wkt memberi komen hrs bagaimana yg kira2 sesuai Dharma, demi manfaat orang banyak. Apakah Emosi, Benci, Dendam, Sok Pinter, Munafik dan Kebodohan msh DERAS KELUAR, atau sdh agak berkurang, dst…

      Latihan Pengendalian Batin jng hnya wkt enak2, enjoy, dipuji, disanjung, tdk ada guncingan. Namun, Latihan Pengendalian Batin yg sebenarnya saat2 spt ini, yg amat menguntungkan demi Kemajuan Batin anda, sebagai Ujian Batin.

      Silahkan komen temen2 sebelumnya trims atas perhatian anda semua.[Baca tanggapan tentang itu: di sini]

    dan ini (klik!)

      [Wirajhana Eka:]
      Bhante Sudhammacaro,
      Setelah sy pikir2, maka status bhante yang ini:

        Tanya: Bhante, di Indo bnyak umat Buddha hingga ribuan msh muda2, tp yg mau jd bhikkhu sangat minim. Padahal mereka sdh tahu jd bhikkhu bs membantu anggota Sanggha dg tugas yg bnyak d berat. Juga berkahnya amat mulia. Apa karena Mereka ada Kelainan Gen/DNA atau Penakut? Mereka malah lbh suka Memilih jd JONGOS nya para bhkkhu. Padahal Mereka tdk Kerja (LL), Nikah tdk mau krn BOKE, malah milih jd Bandot Tua, senengnya Cuma jd NUHIGA.[..], [Detail lengkapnya: di sini]

      menjadi semakin sangat menarik buat saya, karena:

      a. Alur kejadian yg berkesinambungan dengan fakta historikal atas kejadian yg telah dialami Bhante sebelumnya yang MUNGKIN SAJA telah menimbulkan efek psikologis traumatis pada diri bhante

      b. Tulisan tersebut membutuhkan penyitaan waktu pemikiran khusus di sebelum, saat, membaca ulang dan koreksi sebelum mengirimkan serta membaca lagi feedback tulisan dalam beberapa kurun waktu sebelum mereda dengan sendirinya. Ini menunjukan pikiran bhante sangat melekat pada pemikiran ini.

      c. Penggunaan HURUF BESAR pada beberapa kata sebagai efek penarik perhatian pembaca pada kata itu, menunjukan ada indikasi bahwa pertanyaan itu bukanlah pernyataan real namun pertanyaan imaginer.

      Saya tidak mampu menetapkan 1 arti/maksud yg pasti pada status bhante di atas, karena terdapat banyak kemungkinan maksud pada status itu, diantaranya:

      1. “gw adalah bhikku sehingga ngga masuk di definisi tsb”.

      2. “Apapun yg gw lakukan, gw kan Bhikkhu..sementara anda masih mengais jasa kebaikan dari kami”.

      3. “apapun tingkah kami, kalian itu tidak selevel dengan kami”.

      4. “Apapun lo omongin, toh faktanya kalian cuma bisa omdo [omong doang], sementara kami jelas tidak. Sekurangnya kami terjun langsung di posisi praktek tidak melekat. Ttg Dhamma, kami bukan sekedar tau tapi sudah mempraktekan, ketika kami menyatakan dengan kata meminta pendapat, maka itu cuma basa-basi, karena apapun yg kalian sampaikan toh cuma omdo dan tidak seperti kami yaitu dengan praktek”

      5. “kalo saya saja mampu jadi bhikkhu…maka kenapa anda masih saja ragu2”

      6. Kemungkinan motif agar tertanam persepsi NEGATIF dari para pembaca mengenai para bhikkhu.

      Point 1-4, menunjukan pikiran yg tidak positif.
      Poin ke-5, menunjukan ada sikap batin metta, karuna dan muddita.
      Point ke-6 menunjukan adanya satu indikasi motif yg tentu saja belum tentu benar

      Untuk itu bhante,
      Dari 6 (enam) kemungkinan tersebut diatas, maka bhante berada di posisi no. berapa?

      Koment dan arahan dari bhante sangatlah berharga untuk saya nantikan, silakan bhante berkenan menjawab.

      Anumodana.

      [note:
      Kepada para Moderator, jika pertanyaan dan pernyataan di atas dianggap tidak mencerminkan semangat grup ini, maka mohon jangan ragu-ragu untuk menghapusnya. Tks] [Baca tanggapan tentang itu: di sini]

    O ya, manusia berkostum bhikkhu ini ternyata doyan angpapo!

      ” Tapi, ada saja pengurus wihara yg tahu bhante dan mau undang bhante untuk terima Angpao Kathina. Nanti terakhir di Binus tg 13, total cuma tiga kali Panen dalam bulan Kathina ini. ” [Di ambil oleh Sonie halim dari grup “Bebas berdialog agama Buddha”, kepunyaan MUDITA DEWI, lihat: di sini]

    Perhatikan tulisan di atas!

    Sungguh tidak ada rasa MALU…Ybs beranggapan pelanggarannya [dukkhata] tidak masalah karena “cukup baca Ajja me uposatha 3x..lunas.”

    LUNAS?….

    PENGERTIAN aliran mana yg mengartikan PERBUATAN BURUK adalah LUNAS dengan mengucapkan hal ini?

    Telak2 disini, aliran theravada tidak pernah menyatakan kamma buruk akan lunas dengan mengucapkan ajja me uposatha!

    Orang ini jelas2 BUKAN THERAVADA!

    Satu set prilaku buruk dengan menyamar memakai jubah dan melakukan perbuatan buruk menghina Bhikkhu2 lain, memfitnah bhikkhu2 lain dan terutama MELAKUKAN KAMMA BURUK dengan menghina dan memburuk2an sangha…mengindikasikan bhw ada motif tertentu yang MELATARBELAKANGI HAL INI!

    Ybs dan KRONINYA gw duga berasal dari aliran NON theravada!

    Motifnya gw duga cuma sekedar uang..uang..dan uang!

    Kelihatannya para umat alirannya udah mulai pada cerdas…mereka mulai tau bahwa aliran mereka TIDAK BERSANDARKAN SUTTA…Sehingga makin ditinggalkan dan penghasilan pengurusnya menurun…cilakanya tindakan recovery yg dilakukan hanyalah memupuk kamma buruk…dan ketauan pula BELANGNYA!

    Nah,
    Untuk bahan verifikasi asal muasal dan tulisan2 yang membuat terbukanya kedok sang srigala berbulu domba yg doyan angpau ini silakan lihat sendiri detailnya pada status Facebook: ke-1, ke-2, ke-3, ke-4,ke-5, ke-6, ke-7 dan ke-8

    Selamat membaca:)

    note:
    Pada tanggal, 18 Maret 2006, pada RaPim Sangha Theravada Indonesia, ybs membuat surat pengunduran diri tulis tangan, yang isinya antara lain menyatakan, “Dengan demikian segala tindak tanduk atau kesalahan yang dilakukan oleh saya mulai hari ini diluar tanggung jawab Sangha Theravada Indonesia. Mohon maaf bilamana ada kesalahan melalui ucapan perbuatan yang saya lakukan selama ini, semoga dikemudian hari saya akan menjadi lebih baik.

    Pada tanggal, 19 Maret 2006, Pengunduran dirinya di terima, dan terdapat kalimat diantaranya, “selanjutnya apapun yang dilakukan oleh Bhikkhu Sudhammacaro tidak mempunyai keterkaitan dengan Sangha Theravada Indonesia.

    Tindaklanjut Sangha Theravada Indonesia berikutnya adalah mengirimkan surat pemberitahuan kepada semua pihak, baik masyarakat buddhis maupun non buddhis, majelis atau lembaga keagamaan yang isi antara lain mengumumkan bahwa ybs, “BUKAN SEBAGAI ANGGOTA SANGHA THERAVADA INDONESIA, dan segala apapun yang dilakukan oleh Bhikkhu Sudhammacaro tidak lagi mempunyai keterkaitan dengan Sangha Theravada Indonesia.

    Perlu diketahui,
    ADALAH ANEH jika seseorang Bhikkhu mengundurkan diri hanya karena persoalan pribadi, sehingga tentunya terdapat persoalan besar yang melatarbelakangi hal ini dan diantaranya adalah pelanggaran Vinaya kebhikkhuan, yaitu tidak mengajarkan hal-hal yang berbau klenik dan tidak mendukung itu baik secara langsung maupun tidak misalnya dalam menterjemahkan yang berisi ajaran-ajaran tersebut, mencetak dan juga mendapat keuntungan daripadanya serta aktif menerima/mengumpulkan uang, mengatur uang masuk kedalam rekeningnya sendiri dengan menggunakan nama premannya sendiri sebelum ia menjadi bhikkhu:

      Goey Tek Jong-BCA-407019xxxx-Jakarta.
      Laporan Dana dan minta dikirim buku email: b_sudhammacaro@yahoo.com
      website Fenomena Dhamma: http/www.sudhammacaro.blogspot.com.
      facebook: Bhante Sudhammacaro.
      [sumber: sudhammacaro.blogspot.com]

    Apa Implikasi dari hal ini?

    Ini merupakan PELANGGARAN VINAYA Nissaggiya Pacittiya 18, 19 dan 20, tentang tidak boleh menerima/menyimpan uang [barang berharga] [lihat di sini]. Dalam AN.4.62 [2.53],Sang Buddha mengatakan noda bagi para brahmana adalah sebagai berikut:

      Demikian pula, para bhikkhu, ada empat kekotoran bagi para petapa dan brahmana. Karena dikotori olehnya, beberapa petapa dan brahmana tidak bersinar, menyala dan memancarkan sinarnya. Apakah yang empat itu?
      [..]
      Kemudian ada beberapa petapa dan brahmana yang menerima emas dan perak, yang tidak menjauhkan diri dari menerima emas dan perak. Inilah kekotoran ketiga bagi para petapa dan brahmana. Karena dikotori olehnya, beberapa petapa dan brahmana tidak bersinar, menyala dan memancarkan sinarnya.
      [..]
      Para bhikkhu, inilah empat kekotoran batin bagi para petapa dan brahmana. Karena dikotori olehnya, beberapa petapa dan brahmana tidak bersinar, menyala dan memancarkan sinarnya.36

      Catatan Kaki:
      36 Dari empat kekotoran batin bagi para petapa, ..menerima emas dan perak (termasuk juga apa pun yang berfungsi sebagai alat penukar moneter) di bawah Nissaggiya-pacittiya 18.

    Juga dalam sutta Maniculaka Sutta [SN 42.10]:

      Pada satu kesempatan yang Terberkahi tinggal di Räjagaha di mana tupai-tupai dan burung-burung diberi makan bernama Veluvana. Saat itu di Istana Räja, anggota kerajaan sedang mengadakan pertemuan dan di dalam pertemuan tersebut muncul perbincangan di antara mereka sebagai berikut;

      Emas, perak, dan uang adalah layak bagi para bhikkhu yang merupakan putra-putra dari Pangeran Sakya (Buddha). Bhikkhu-bhikkhu tersebut yang merupakan putra-putra dari Pangeran Sakya menyetujui emas, perak, dan uang. Para bhikkhu yang merupakan putra-putra Pangeran Sakya menerima emas, perak, dan uang.

      Namun pada saat itu Maniculaka sang kepala desa juga turut hadir dalam pertemuan itu dan ia mengatakan dalam pertemuan itu sebagai berikut;

      O tuanku, janganlah berkata demikian. Emas, perak, dan uang tidaklah layak bagi para bhikkhu yang merupakan putra-putra Pangeran Sakya. Putra-putra Pangeran Sakya tidaklah menyetujui juga tidak menerima emas, perak, dan uang. Mereka telah melepaskan keterikatan pada emas,peermata, dan tanpa uang.

      Tetapi Maniculaka Sang kepala desa tidak mampu meyakinkan pertemuan tersebut. Maka Maniculaka menjumpai Sang Buddha setelah menghampirinya, bersujud, dan duduk di satu sisi. Selagi duduk di satu sisi Maniculaka sang kepala desa berkata kepada Yang Terberkahi;

      ‘Bhante, di Istana Räja para anggota kerajaan sedang berkumpul (dan ia mengulangi semua yang ia ucapkan seperti di atas) tetapi bhante, saya tak mampu untuk meyakinkan pertemuan tersebut.

      ‘Bhante, dengan menjelaskan seperti itu apakah saya telah berbicara sesuai dengan apa yang Bhante katakan ataukah saya telah salah dalam menggambarkan apa yang Bhante katakan? Apakah jawaban yang saya berikan sesuai dengan ajaran atau akankan seseorang yang berbicara sesuai dengan ajaran ini menemukan alasan untuk mengecam saya?

      ‘Anda benar, kepala desa, dengan menjelaskan secara demikian, dia adalah orang yang berbicara sesuai dengan kata-kataKu dan tidak salah dalam menggambarkannya. Anda telah menjawab sesuai dengan ajaran ini dan seseorang yang berbicara sesuai dengan ajaran ini tidak akan menemukan alasan untuk mengecam anda.

      Untuk itulah, kepala desa, emas, perak, dan uang tidaklah layak bagi para bhikkhu keturunan putra-putra Pangeran Sakya. Merekapun tidak menyetujui emas, perak atau uang, juga tidak menerima emas, perak dan uang. Mereka semua telah melepaskan kepemilikan terhadap emas dan permata dan juga tanpa uang

      ‘Kepala desa, untuk siapapun emas, perak dan uang jika diperbolehkan maka baginya kelima kenikmatan indria dapat diperolehnya. Bagi siapapun kelima kenikmatan indria diperbolehkannya maka anda dapat memastikan’, Dia tidak memiliki sifat bawaan seorang bhikkhu, dia tidak memiliki sifat bawaan dari putra seorang Pangeran Sakya.

      ‘Kepala desa, inilah yang benar-benar Kukatakan, ‘Seorang bhikkhu yang membutuhkan rumput, rumput dapat dicarinya. Bagi bhikkhu yang membutuhkan kayu, kayu dapat dicarinya. Bagi bhikkhu yang membutuhkan kereta, kereta dapat dicarinya. Tetapi kepala desa, saya juga katakan. Tidak dalam cara apapun emas, perak atau uang dapat diterima atau dicari.

    Dan Ia langgar itu!

    Sudhamacaro alias Goey Tek Jong juga mengaku di Upasampada [tahbiskan] oleh SanghaRaja Somdet Phra Nyanasamvara seperti juga para pendiri dari Sangha Theravada Indonesia. Sehingga, mereka semua [Somdet Phra Nyanasamvara, Ia dan Sangha Theravada Indonesia] mengikuti vinaya dan vatta (tugas-tugas) sesuai aliran Dhammayutika.

    Di atas disampaikan bahwa ke-2 Aliran Theravada Thailand tetap bermonastik pada 1 Badan yang diketuai oleh sangharaja. Jadi, ketika Ia mengundurkan diri, maka ia tidak hanya mengundurkan diri dari organisasi sangha Theravada Indonesia, namun sekaligus bukan lagi Bhikkhu anggota Sangha dari Theravada!

    5 (Lima) tahun lebih telah berlalu dari peristiwa itu, namun tidak kurang banyak statement ngawur tak berdasar yang dihujankannya ke mana-mana. Rupanya kebiasaan buruk sudah merupakan bagian dari wataknya sendiri sehingga kelakuannya tak kunjung berubah.

    Misalnya saja pada kejadian di Facebook,
    Admin dan anggota di grup Dhammacitta, bertanya banyak hal, di antaranya apakah ybs tidak pernah terima uang dan juga meminta klarifiksi darinya atas beberapa pernyataan darinya yang tidak benar.

    Mau tau apa jawabannya?

    BUNGKAM, BUNGKAM, BUNGKAM dan BUNGKAM..hingga akhirnya Ia ditendang dari situ 🙂

    Dengan kekacauan sikap dan prilakunya, Ia sama sekali tidak menyerupai orang yang pernah bertahun-tahun menjadi Bhikkhu, dan bahkan tingkahnya itu telah membuatnya, BUKAN SAJA di tendang dari Sangha Theravada, namun juga ditendang dari berbagai grup Buddhis yang ada di FACEBOOK!

    Rupanya, bagi SEKTE NON THERAVADA, kelakuan-kelakuan yang melanggar DHAMMA dan VINAYA ke-Bhikkuan adalah hal yang wajar-wajar saja dan Ia malah dielu-elukan..

    Sungguh..sesuatu banget, bukan?!

    [sumber: dari tulisan di sini dan di sini, yang merupakan hasil komentar dan tanggapan dari buanyak orang]

Akhir kata,
BERJUBAH dan GUNDUL belum tentu BHIKKU, Waspadai BHIKKU pelanggar VINAYA yang sudah dikeluarkan dari KEANGGOTAAN SANGHA namun masih menyamar menjadi BHIKKHU. waspadai Penipu yang berjubah dan mengaku Bhikkhu.



Gambar berasal dari sini di sini, di sini, di sini dan di sini



Catatan:

[1] Bagi Bhikkhu yang tidak sakit, terdapat aturan Makan 1x sehari sebelum tengah hari. Aturan itu, telah berulang kali disampaikan Sang Buddha, dalam beberapa sutta, di antaranya:

    DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” – mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

    “Para bhikkhu, Aku MAKAN SEKALI SEHARI [ekāsanabhojanaṃ]. Dengan melakukan demikian, Aku bebas dari penyakit dan kesengsaraan, dan Aku menikmati kediaman yang ringan, kuat, dan nyaman. Marilah, para bhikkhu, MAKAN SEKALI SEHARI [ekāsanabhojanaṃ]. Dengan melakukan demikian, kalian juga akan bebas dari penyakit dan kesengsaraan, dan kalian akan menikmati kediaman yang ringan, kuat, dan nyaman.”

    Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Bhaddāli berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, Aku tidak mau MAKAN SEKALI SEHARI [ekāsanabhojanaṃ]; karena jika aku melakukan demikian, aku akan merasa cemas dan khawatir akan hal itu.”

    “Kalau begitu, Bhaddāli, makanlah pada satu bagian di sana di mana engkau diundang dan bawalah satu bagian untuk dimakan. Dengan memakan demikian, engkau akan memelihara tubuhmu.”

    “Yang Mulia, Aku tidak mau makan dengan cara itu juga; karena jika aku melakukan demikian, aku akan merasa cemas dan khawatir akan hal itu.”

    Kemudian, ketika aturan latihan ini ditetapkan oleh Sang Bhagavā, ketika Sangha para bhikkhu sedang menjalani latihan, Yang Mulia Bhaddāli menyatakan penolakannya [untuk menuruti peraturan]. Kemudian Yang Mulia Bhaddāli tidak menghadap Sang Bhagavā selama tiga bulan [masa vassa], seperti yang terjadi pada seseorang yang tidak memenuhi latihan dalam Pengajaran Sang Guru.

    [..]

    Kemudian Yang Mulia Bhaddāli mendatangi para bhikkhu itu dan saling bertukar sapa dengan mereka, dan ketika ramah-tamah itu berakhir, ia duduk di satu sisi. Ketika ia telah melakukan hal itu, mereka berkata kepadanya: “Teman Bhaddāli, jubah ini dibuat untuk Sang Bhagavā. Setelah jubah ini selesai, di akhir tiga bulan [masa vassa], Sang Bhagavā akan melakukan pengembaraan. Mohon, teman Bhaddāli, perhatikanlah nasihat ini. Jangan biarkan hal ini mempersulitmu kelak.”

    “Baik, teman-teman,” ia menjawab, dan ia menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan berkata: “Yang Mulia, suatu pelanggaran menguasaiku, seperti seorang dungu, bingung, dan melakukan kesalahan besar, ketika suatu peraturan latihan ditetapkan oleh Sang Bhagavā, ketika Sangha para bhikkhu menjalani latihan, aku menyatakan penolakanku [untuk menuruti peraturan]. Yang Mulia, sudilah Yang Mulia memaafkan pelanggaranku dilihat seperti demikian demi pengendalian di masa depan.”

    “Tentu saja, Bhaddāli, suatu pelanggaran menguasaimu, seperti seorang dungu, bingung, dan melakukan kesalahan besar, ketika suatu peraturan latihan ditetapkan olehKu, ketika Sangha para bhikkhu menjalani latihan, engkau menyatakan penolakanmu [untuk menuruti peraturan][..] [MN65/Bhaddali sutta]

    ***

    Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu, pernah terjadi suatu peristiwa di mana para bhikkhu memuaskan pikiranKu. Di sini Aku berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut:

    ‘Para bhikkhu, Aku MAKAN SEKALI SEHARI [ekāsanabhojanaṃ]. Dengan melakukan hal itu, Aku terbebas dari penyakit dan penderitaan, dan Aku menikmati kesehatan, kekuatan, dan kediaman yang nyaman. Ayo, para bhikkhu, MAKAN SEKALI SEHARI [ekāsanabhojanaṃ]. Dengan melakukan hal itu, kalian akan terbebas dari penyakit dan penderitaan, dan kalian akan menikmati kesehatan, kekuatan, dan kediaman yang nyaman.’

    Dan Aku tidak perlu terus-menerus memberikan instruksi kepada para bhikkhu itu; Aku hanya perlu membangkitkan perhatian dalam diri mereka. Misalkan ada sebuah kereta di tanah yang datar di persimpangan jalan, ditarik oleh kuda-kuda berdarah murni, menunggu dengan tongkat kendali siap untuk digunakan, sehingga seorang pelatih terampil, seorang kusir dari kuda-kuda yang harus dijinakkan, dapat menaikinya, dan memegang tali kekang dengan tangan kirinya dan tongkat kendali di tangan kanannya, dapat menjalankannya maju dan mundur melalui jalan manapun yang ia sukai.

    Demikian pula, Aku tidak perlu terus-menerus memberikan instruksi kepada para bhikkhu itu; Aku hanya perlu membangkitkan perhatian dalam diri mereka.

    “Oleh karena itu, para bhikkhu, tinggalkanlah apa yang tidak bermanfaat dan tekunilah kondisi-kondisi yang bermanfaat, karena itu adalah bagaimana kalian akan mengalami kemajuan, peningkatan dan pemenuhan dalam Dhamma dan Disiplin ini.

    Misalkan terdapat hutan besar pepohonan sāla di dekat sebuah desa atau kota, dan hutan itu terganggu oleh rerumputan jarak, dan seseorang datang menginginkan kebaikan, kesejahteraan, dan perlindungan. Ia akan menebang dan menyingkirkan anak-anak pohon yang bengkok yang merampas getah, dan ia akan membersihkan bagian dalam hutan dan memelihara anak-anak pohon yang lurus dan berbentuk baik, sehingga, hutan pohon-sāla itu akan mengalami kemajuan, peningkatan dan pemenuhan.

    Demikian pula, para bhikkhu, tinggalkanlah apa yang tidak bermanfaat dan tekunilah kondisi-kondisi yang bermanfaat, karena itu adalah bagaimana kalian akan mengalami kemajuan, peningkatan dan pemenuhan dalam Dhamma dan Disiplin ini.[MN21/Kakacūpama Sutta]

    ****

    Bhikkhu, para murid ariya di dalam sasana ini:
    Para Arahat, sepanjang hidup [Yāvajīvaṃ] makan 1 kali sehari [ekabhattikā], tidak di malam hari [rattūparatā], menahan Diri makan di waktu yang salah [virataṃ vikālabhojanā].
    “Kamu semua makan hanya 1x dan tidak di malam hari, menahan diri makan di waktu yang salah. Selama siang dan malam, aturan ini, telah engkau ketahui di ikuti para arahan dan Uposatha akan dijalankan oleh kalian. Ini adalah sila ke-6 dari Uposatha [AN 8.41/Uposatha Sutta]

    ****

    Para Arahat, sepanjang hidup [Yāvajīvaṃ] makan 1 kali sehari [ekabhattikā], tidak di malam hari [rattūparatā], menahan Diri makan di waktu yang salah [virataṃ vikālabhojanā].
    Aku pun siang dan malam ini akan makan hanya sekali, tidak makan pada malam hari, menjauhkan Diri dari makan pada waktu yang salah .
    Dengan cara demikianlah Aku mengikuti jejak Para Arahat, dan menjalankan Uposatha. Inilah Sila Ke-6 yang dijalankan. [AN 3.70/Uposatha Sutta]

    ****

    Perumah tangga Gavesin dan 500 Pengikutnya di jaman Kassapa Buddha:
    ‘Mulai sejak saat ini, Aku ingin kalian tau (pada 500 pengikutnya) aku adalah orang yang makan 1 kali sehari [ekabhattikaṃ], tidak di malam hari [rattūparataṃ], menahan diri makan di waktu yang salah [virataṃ vikālabhojanā]’ [AN 3.180/Gavesin Sutta]

    ****

    Mereka para samana dan brahmin yang makan 1 x sehari, tidak di malam hari, menahan diri makan di waktu yang salah [AN 5.228/Ussura-bhatta sutta]