SURGA di ISLAM: Jumlah Quota Maksimum? Dapat Apa Aja? Kapan?


    Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. [AQ 4.59]

Gambaran keadaan Surga dan kegiatan Surgawan:

  • Terdapat tanah [Adam tercipta dari tanah], pohon, sungai2, mata air, istana, dipan, pintu, permadani, perhiasan emas mutiara, gelang [AQ 18.31, 22.23, 25.10, 38.51, 43.71] piring, gelas dari emas, pakaiannya dari sutera [AQ 35.33], 2 warna surga adalah hijau tua [AQ 55.64], terdapat minuman dengan campuran jahenya [AQ 76.17], arak [AQ 56.16-18] dan para bidadari yang “siap bekerja” [37.48-49, 44.54, 52:20, 56:35-38] di atas permadani yang di sebelahnya terdapat buah-buahan [AQ 55:54, 55:70]
  • Terdapat sungai Nil dan Efrat, namun informasi lokasi sungai tidak konsisten disampaikan:
    1. Di langit ke-1 [Bukhari no.6963]
    2. Di langit ke-2 [Bukhari 9.93.608]
    3. Di langit ke-7 [Muslim 1.314 dan Bukhari 4.54.429; 5.58.227]
    4. Di langit, namun tidak disebutkan langit keberapa [Muslim 40.6807 dan Bukhari 7.69.514]

    Informasi tentang sungai itu terdapat pada kisah NABI ketika melakukan Isra’ Miraj, naik ke langit ke-7 dengan menunggangi Buraq. Entah kenapa untuk penyebutan tentang Buraq ini, Allah pelit sekali untuk menyebutkan keberadaannya. Keberadaan Buraq tidak ada di sebutkan dalam AQ, padahal banyak binatang2 disebutkan misalnya semut, Ular, Kuda, domba, unta, kera, babi dan lainnya

    ,

  • Ketika Adam diturunkan dari surga, kepalanya menyentuh langit sehingga menjadi botak, turunannya mewarisi kebotakannya [“Kitab Al-Tabaqat Al Kabir”, Vol.1, 1.3.42 (Riwayat Ibn Sa`d – Hishàm Ibn Muhammad – Ayahnya – Abu Salih – Ibn `Abbas). Juga di Tabari, Vol.1 hal.297]
  • Semua penghuni surga tidak pernah mati (AQ 44.56), berwajah mulus jernih bercahaya (AQ 76.11), dihiasi gelang mas, pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, duduk bersandar di dipan-dipan yang indah (AQ 18.31), Pakaian tidak pernah lusuh, senatiasa muda, tidak sakit-sakitan, tidak mengeluarkan ingus dan meludah, tidak buang air besar dan kecil, sisir mereka terbuat dari emas dan parfum mereka dari misik, bara apinya dari batang kayu yang wangi serta bentuk mereka seperti Adam setinggi 60 dzira (hasta) yang menjulang ke langit [Bukkhari no.5759, 3079,3080 [4.55.543, 544] dari Abu Huraira, Muslim 40.6803 dari Abu Sa’id al-Khudri dan Abu Huraira. Dengan narasi yang hampir sama: Ibn Majjah no.4324. Ahmad no.6868, 7126, 7592, 7824, 7941]. Namun di hadis lainnya, Nabi menyampaikan hal yang berlawanan, yaitu ketika wafatnya Ibrahim (umur 16-18 bulan, anak Nabi dari Maria Qitibiya), dikatakan bahwa di surga nanti Ibrahim akan menyusui dan punya pengasuh yang menyusuinya! [Bukkhari 8.73.215 dari Al Baraa]
  • Luas Surga dikatakan seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya [AQ 57.21, 3.133]. Di surga seluas itu, terdapat tenda untuk setiap penghuni surga berupa kemah bundar melengkung terbuat dari mutiara yang menjulang ke langit sepanjang 30 mil pada setiap sisinya, tiap sudutnya ada keluarga milik orang mu`min, orang yang lain tidak dapat melihat mereka”. [Bukhari no. 3004 (Riwayat Hajjaj bin Minhal – Hammam – Abu ‘Imran Al Iawniy – Abu Bakr bin ‘Abdullah – bapaknya – Nabi SAW). Abu ‘Abdush Shamad dan Al Harits bin ‘Ubaid – Abu ‘Imran: “Panjangnya 60 mil”. Juga di: Muslim no. 5072. Darimi no.2711. Ahmad no.18755, 18852, 18926 (semua hadis ini menuliskan 60 mil tiap sisinya)]
  • Kegiatan para surgawan dan surgawati misalnya:
    ..bagi mereka [lahum] disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki BUAH-BUAHAN dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka DI BERI BUAH-BUAHAN yang serupa dan untuk mereka (walahum) di dalamnya ada isteri-isteri/pasangan (azwājun) yang suci dan mereka kekal di dalamnya [AQ 2:25]. Mereka (hum) dan isteri-isteri/pasangan mereka (wa-azwājuhum) berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. [AQ 36.56]

      Note:
      Pengugunaan kata “..hum fihaa azwaajun” [misal: AQ 2.25, 4.57]. Akhiran “hum” adalah kata ganti orang ke-3 jamak yang dapat digunakan pada: 3 pria (atau lebih) atau 1 pria + 2 wanita (atau lebih). Jika pelaku adalah 3 wanita (atau lebih) maka digunakan kata ganti orang ke-3 “hun“.

      Kata “azwaaj” (plural, single: zawj) dari 76 x kemunculannya, diartikan: “pasangan” [67x] dan “macam/semacamnya” [9x, yaitu: AQ 22.5, 26.7, 31.10, 37.22, 38.58, 39.6, 50.7, 56.7 dan AQ 75.39]. Kata “azwajun” adalah kata benda, jamak, pria. Kata “muthharatun” (murni/suci) adalah kata sifat, tunggal, feminim

      Jadi ayat ini dapat bermakna:

      • Para pria berpasangan dengan para pria!
      • Para wanita berpasangan dengan para pria!
      • Para pria berpasangan dengan para pria dan wanita!
      • Para wanita berpasangan dengan para pria dan wanita!
      • Para pria berpasangan dengan para wanita!
      • Para wanita berpasangan dengan para wanita! atau
      • Para pria/wanita yang bersama macam-macam bentuk (tidak harus bentuk manusia, bisa bentuk lainnya namun untuk jenis “jin” tampaknya tidak termasuk di sini)
  • Para ulama tampaknya kurang berminat mengungkapkan fakta bahwa prilaku homoseksual/lesbian/poliandri kelak akan dilakukan para surgawan/wati, mereka hanya berfokus untuk mengeksplore poligami di surga:

    1. Para surgawan akan berpoligami dengan banyak surgawati dan bidadari:
      • Para surgawan akan berkekuatan untuk merawani 100 perawan seharinya [Tafsir Ibn kathir 56:27-37: Kumpulan Hadis Abu Dawud At-Tayalisi yang berasal dari Anas. juga kumpulan hadis At-Tirmidhi dan ia nyatakan “Hasan Gharib”. Berdasarkan hadis dari Abu Nu`aym dalam “Sifat al-Janna”, al-`Uqayli dalam “Du`afa”, dan al-Bazzar dalam musnadnya: disamping berkekuatan 100 perawan, juga akan di kawinkan dengan 70 istri].
      • Riwayat Abdullah bin ‘Abdurrahman – Nu’aim bin Hammad – Baqiyyah Ibnul Walid – Bahir bin Sa’d – Khalid bin Ma’dan – Al Miqdam bin Ma’di Karib – Rasulullah SAW: …dinikahkan dengan 72 dua bidadari dan diberi hak untuk memberi syafaat kepada 70 orang dari keluarganya.” Abu Isa: “hasan shahih gharib.” [Tirmidhi no.1586]. Ahmad no.10511 (Riwayat Hasan – Sukain bin Abdul Aziz – Al Asy’ats Adl Dlarir – Syahr bin Hausyab – Abu Hurairah – Rasulullah SAW:..ia juga akan mendapatkan sebanyak 72 istri dari bidadari selain dari istri-istrinya di dunia). Perawi yang dianggap bermasalah di hadis ini: Syahr bin Hausyab dan Sukain bin Abdul Aziz. Ahmad no11298 (Riwayat Hasan – Ibnu Lahi’ahDarraj – Abu Al Haitsam – Abu Sa’id – Rasulullah SAW: “Penghuni surga derajatnya paling rendah memiliki 80.000 pelayan dan 72 istri..”). Perawi yang dianggap bermasalah di hadis ini adalah: Darraj bin Sam’an dan Abdullah bin Lahi’ah. Ibn Majjah no.4326 (Riwayat Hisyam bin Khalid Al Azraq – Khalid bin Yazid bin Abu Malik – ayahnya – Khalid bin Ma’dan – Abu Umamah – Rasulullah SAW: “..Allah akan menikahkan dengan 72 istri, 2 istri dari bidadari dan yang 70 dari warisannya penduduk neraka (isterinya penghuni neraka yang masuk surga), dan tidaklah salah seorang dari mereka melainkan memiliki vagina yang rapat dan ia memiliki penis yang tidak loyo.” Khalid bin Hisyam: warisannya penduduk neraka adalah laki-laki yang masuk neraka mewarisi isterinya untuk penghuni surga sebagaimana fir’aun mewarisi isterinya (note: Istri Firaun akan dinikahkah Allah kepada Muhammad [Ibn `Adi in the Kamil, dan al-Bayhaqi di “al-Ba`th wal-Nushur”]). Perawi yang dianggap bermasalah: Yazid bin ‘Abdur Rahman dan Khalid bin Yazid. Namun Al-Suyuti menyatakan rantai perawinya “fair” (hasan) di al-Jami` al-Saghir (7989).
      • Melakukan hubungan seks dengan 100 perawan seharinya [Hadis ini dari Abu Huraira, dalam “Al-Sagir dan Al Awsat”-nya Abu Al-Qasim At-Tabarani, Abu Nu`aym dalam “Sifat al-Janna”, al-Khatib dalam “Tarikh Baghdad”. Abu Dya al-Maqdisi menyatakan ini sahih menurut Ibn al-Qayyim dalam “Hadi al-Arwah” dan Ibn Kathir dalam “al-Fitan wal-Malahim” dan Khaldun al-Ahdab dalam “Zawa’id Tarikh Baghdad (100)”].
      • Akan mendapatkan 70an bidadari disamping istrinya sewaktu di dunia [Warraq, Ibn (2002-01-12). “Virgins? What virgins?“] dan dari riwayat Ibn al sakan menyampaikan hadis nabi dari Hatib ibn Abi Balta`a: dikawinkan dengan 72 perempuan dan 2 berasal dari dunia ini [Ma`rifat al-Sahaba and Ibn `Asakir in Tarikh Dimashq]
      • Mendapatkan 72 bidadari [Hadis Nabi yang diriwayatkan Daraj Ibn Abi Hatim, di mana Abu al-Haytham ‘Adullah Ibn Wahb menarasikan dari Abu Sa’id al-Khudhri, “How Many Wives Will The Believers Have In Paradise?” – Questions answered by Islamic scholar Gibril Haddad; Ahmad no. 10511 (17182), Tirmidhi no.1586 (1663), dan disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 3213]
      • Seluruh surgawan SEKURANGNYA beristri 2 orang (Muslim, no.188 Kitâb al-Imân, Bâb adna Ahl al-Jannah manzilatan). Detail lainnya lihat fatawa no. 25843

      Dengan adanya pernyataan bahwa minimum jumlah istri para surgawan = 2 (terutama pada kalimat 2 istri yang berasal dari dunia ini), maka dapatlah kita ketahui perbandingan yang masuk surga antara para PRIA vs para WANITA, yaitu: MAKSIMUM 1/3 adalah pria dan sisanya wanita.

    2. Wanita dalam Islam adalah sangat wajar terpoligami dunia-akhirat.

      Apapun status perkawinan dunianya, maka ketika di akhirat, sang Muslimah hanya akan dapat 1 (satu) suami saja [Al Fatawa Al Haditsiyah, Syaikhul Islam al-Imam Ibn Hajar al-Haitami, I/168 dan 36; Imam nawawi -> syarah Al-Muslim XVII/171]

      • Jika wanita ini membujang hingga akhir hayatnya [atau bercerai dan tidak menikah lagi atau menikah namun suaminya tidak masuk surga], maka Allah akan memilihkan surgawan untuk menjadi suaminya di surga [Majmu Fatawa Syaikh al-‘Utsaimin 2/52-53, dengan tambahan kata “jika para surgawannya minat”]
      • Jika wanita ini menikah di dunia dan wafat atau wanita ini menikah berkali-kali (suaminya wafat), maka di surga, ia akan bersama suami terakhirnya yang masuk surga (atau yang terbaik diantara yang pernah bersuami dengannya) [hadits nabi riwayat Anas dari Umi Habibah dan dari Umi Salamah,dari At tabarani; hadis dari Asma’ Binti Abi Bakar ->Al Fatawa Al Haditsiyah, Syaikhul Islam al-Imam Ibn Hajar al-Haitami, I/168 dan 36; I/236]

      + Muslimah tersebut akan berbagi suami secara massal dengan puluhan wanita lain.

      Jadi, seorang muslimah yang menikah secara monogami selama hidupnya di dunia, sesungguhnya sudah sangat beruntung, karena kelak saat ia di surga, ia akan dipoligami.

      Bayangkan sekarang, yaitu ketika di dunia, sang muslimah bersuamikan seorang yang kasar, bau dan senang memukul, ketika kemudian mereka masuk surga, sang Muslimah tetap dengan suami yang sama sementara sang suami mendapatkan tambahan dengan puluhan wanita lainnya.

    Jika mengalami kesulitan untuk membayangkan kenikmatan para ahli surga tersebut, sebagai pembanding, maka tengoklah prilaku primata hutan misal: Gorila, babon dan beberapa jenis kera lainnya yang ternyata melakukan kenikmatan yang sama, yaitu: makan buah2an, berpoligami dan mempunyai harem [misal: di sini, di sini dan di sini]

    Pembanding di atas tidaklah berlebihan mengingat kera diciptakan Allah dari Manusia, “Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina”‘ [AQ 2.65, AQ 5.60 dan 7.166]

      Note:
      Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Nabi SAW saat perang dengan Bani Quraidzah berdiri di bawah benteng mereka. Dengan marahnya..beliau bersabda: “Hai saudara-saudara kera! Hai saudara-saudara babi! Hai penyembah-penyembah thaghut!” Para pemimpin bani Quraidzah berkata kepada kaumnya. “Siapa yang memberitahu Muhammad tentang ucapan yang dikeluarkannya itu! Ia tidak mungkin tahu kecuali dari kamu. Mengapa kalian beritahukan kepada mereka tentang kutukan Allah kepada kalian, sehingga mereka dapat mengalahkan hujjah kalian?” Maka turunlah ayat ini (S. 2: 76) yang menegaskan penyesalan mereka akan kebocoran isi Taurat kepada Nabi Muhammad SAW. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid.)

      Sebagian ulama mengatakan bahwa penciptaan kera dari manusia ini umurnya pendek, sehingga seharusnya tidak sempat berketurunan. Namun jika mengacu pada hadis di atas yaitu pada penyebutan “saudara-saudara kera” serta memperhatikan AQ 33.5, “Panggilah mereka dengan nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu …” Maka penyebutan ini merujuk mereka merupakan keturunan kera dan beberapa dari kera itu bahkan sempat beranak-pinak.

      Turunnya AQ 33.5 adalah sehubungan dengan rangkaian pernikahan Muhammad vs Zainab. Pernikahan ini terjadi pada Dul Qaidah 5 AH (“The Wives of the Messenger of Allah”, Muhammad Swaleh Awadh). Zainab sebelumnya adalah istri Zaid bin Muhammad (Anak angkat Muhammad). Surat ini turun sebagai penghapusan adopsi dan berdosa jika mengangkat anak dan menganggapnya anak sendiri serta memanggilnya tidak dengan nama ayah kandungnya. Sebelum pernikahan, Zaid tentunya telah menceraikan Zainab dan jika konsisten setelah perceraian ada masa idah, maka perkawinan berikutnya harusnya berselisih 90 hari (3 ato 4 bulan). Dari sini dapat kita ketahui bahwa AQ 33.5 turun sekurangnya 4 bulan sebelum terjadinya pernikahan.

      Perang dengan Bani Quraizah juga terjadi di Dul Qaidah 5 AH. Bani Quraiza menyerah setelah dikepung 25 hari (perang ini terjadi setelah perang Khandaq, total waktu adalah 27 hari). Perkawinan Muhammad vs Zainab, besar kemungkinan terjadi di sebelum perang Khandaq.

      Karena surat mengenai penyebutan seseorang adalah sebaiknya dipanggil dengan nama bapak kandungnya telah diturunkan di sebelum perang dengan bani Quraizah, maka dapat dipastikan penyebutan “saudara-saudara kera” adalah merujuk bahwa mereka ini merupakan turunan kera.

      Allah menciptakan kera dari Manusia, Allah menciptakan manusia dari Rupanya oleh karenanya sangat wajar jika bentuk manusia sangat mirip dengan bentuk Allah dan Kita melihat bahwa bentuk kera juga sangat mirip manusia maka suatu kewajaran bahwa bentuk Allah juga mirip kera ato bentuk kera juga mirip Allah…tentunya TIDAK SERUPA tapi MIRIP.

      Penggambaran rupa Allah, biasanya mendapatkan tentangan dengan menggunakan dalil dari potongan ayat AQ 42:11, “TIDAK ADA SESUATUPUN YANG SERUPA DENGAN DIA”

      Tentunya anda penasaran bagaimana bentuk Allah itu, bukan? Mari kita lihat petunjuk-petunjuk quran dan hadis bahwa ternyata Allah mempunyai wujud/bentuk/rupa [shurah]:

        Allah menciptakan Adam seperti wujud-Nya 60 zira/Hasta tingginya (khalaqa Allahu azza wa jalla adama alaa shuratihi ṭūluhu sitũwna dẖirāʿaⁿạ) [Sahih Muslim no.40.6809/no.5075 dari riwayat Muhammad bin Rafi’ – Abdurrazzaq – Ma’mar – Hammam bin Munabbih – Abu Hurairah – Rasulullah SAW]. Juga di Sahih Muslim no.32.6325/no.4731 dari riwayat [Nashr bin ‘Ali Al Jahdhami – Bapakku (Ali bin Nashr bin ‘Ali bin Shuhban)] dan [Muhammad bin Hatim – ‘Abdur Rahman bin Mahdi], Keduanya dari Al Mutsanna bin Sa’id – Qatadah – Abu Ayyub – Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Allah ‘azza wajalla menciptakan Adam seperti wujudnya (kẖalaqa ạllãhu ʿazã wajalã ậdama ʿalaa ṣūratihi)”].

        Lihat fatwa: 20652, pada bagian bawah Fatwa, dinyatakan:
        …Kata-kata Nabi, “Adam diciptakan menurut gambar-Nya” berarti bahwa Allah menciptakan Adam menurut gambar-Nya, karena Dia memiliki wajah, mata, tangan, dan kaki, dan Adam memiliki wajah, mata, tangan, dan kaki..

        Sehingga, Allah yang mempunyai tangan dan kaki dan itu BUKANLAH kiasan.

        Kaki Allah:
        Diriwayatkan Anas dan Abu huraira, dinyatakan Nabi berkata “Orang yang akan di ceburkan ke Neraka dan akan dikatakan, ‘masih ada yang lain?’ 50:30 hingga Allah menjejakan KAKINYA di atas Neraka dan dikatakan ‘Qati! Qati! (cukup..cukup)!’ [Bukhari 6.60.371, 372]

        Betis Allah:
        Pada hari betis disingkapkan (AQ 68.42) dan dalam Hadis riwayat Yahya bin Bukair, Allaits bin Sa’d -> Khalid bin Yazid -> Sa’id bin Abu Hilal -> Zaid -> ‘Atha’ bin Yasar -> Abu Sa’id Al Khudzri berkata, “Kami bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita akan melihat Tuhan kita pada hari kiamat?“..Nabi balik bertanya: ..Nabi meneruskan: ..Beliau melanjutkan, “Lantas Allah (Al jabbar) mendatangi mereka dengan bentuk yang belum pernah mereka lihat pertama kali, lalu Allah firmankan: ‘Akulah Tuhan kalian.’ Mereka menjawab, ‘Engkau adalah rabb kami, dan tidak ada yang berani mengajak-Nya bicara selain para nabi SAW, lantas para nabi berkata, ‘Bukankah di antara kalian dan Allah ada tanda yang kalian mengenalnya?

        Mereka menjawab, ‘Ya, yaitu betis, ‘

        maka Allah pun menyingkap BETIS-Nya sehingga setiap mukmin bersujud kepada-Nya. [Bukhari no.6886, Muslim no.269 (Dari jalur perawi: Suwaid bin Sa’id, Hafsh bin maisarah -> Zaid bin Aslam -> ‘Atha’ bin Yasar -> Abu Sa’id Al Khudri) dan Musnad Ahmad no.107103 (dari jalur perawi: Rib’i bin Ibrahim, Abdurrahman bin Ishaq, Zaid bin Aslam -> ‘Atho` bin Yasar -> Abu Sa’id Al Khudri)]

        Tangan Allah:
        [38:75] Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua TANGAN-Ku [biyadayya =(بِيَدَيَّ)]. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”

        Riwayat Harmalah bin Yahya, Ibnu Wahb, Yunus -> Ibnu Syihab, Ibnul Musayyab bahwa Abu Hurairah berkata; “Rasulullah SAW bersabda: ‘Kelak di hari kiamat Allah Tabaraka wa Ta’ala akan menggenggam bumi dan menggulung langit dengan TANGAN KANAN-Nya. Kemudian Dia berfirman.. [Muslim no.4994, Muslim 39.6703] atau Abu Bakr bin Abu Syaibah, Abu Usamah -> ‘Umar bin Hamzah -> Salim bin ‘Abdullah, Abdullah bin ‘Umar berkata; “Rasulullah SAW bersabda: ‘Pada hari kiamat kelak, Allah SWT akan melipat langit..menggenggamnya dengan TANGAN KANAN-Nya..’ Setelah itu, Allah akan melipat bumi dengan TANGAN KIRI-Nya sambil berkata:..'”[Muslim no. 4995, Muslim 39.6704]

        Jari Tangan Allah:
        Riwayat Ahmad bin ‘Abdullah bin Yunus, Fudhail bin ‘Iyadl -> Manshur -> Ibrahim -> ‘Ubaidah As Salmani -> ‘Abdullah bin Mas’ud dia berkata; “Seorang yahudi datang kepada NabiSAW, lalu dia berkata; ‘Wahai Muhammad, atau wahai Abu Qasim! Kelak di hari kiamat Allah Ta’ala memegang langit dengan 1 JARI, bumi dengan 1 JARI, gunung-gunung dan pohon-pohon dengan 1 JARI, lautan dan air dengan 1 JARI, mahluk lain dengan 1 JARI-Nya. Kemudian Dia goncangkan seluruhnya sambil berkata;….Rasulullah SAW pun tertawa mendengarnya dan membenarkannya. Kemudian beliau melafalkan AQ 39.67 [Muslim no.4992, 4993 atau Muslim 39.6699-6702]

        Allah Berlari:
        Riwayat Abu Mu’awiyah, Al A’masy -> Ma’rur bin Suwaid -> Abu Dzar, “Rasulullah SAW bersabda: “Allah Azza Wa Jalla berfirman: “Barangsiapa melakukan…Barangsiapa mendekat pada-Ku 1 jengkal maka Aku akan mendekat kepadanya 1 HASTA, dan barangsiapa mendekatkan diri pada-Ku sehasta maka Aku akan mendekat padanya 1 DEPA, dan barangsiapa mendatangi Aku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan LARI.” [Musnad Ahmad no.20398, juga di Tirmidhi no. 3527, hadis ini bisa dimaknai secara kiasan maupun bukan]

        Hadis dan Tafsir:

          Hadis riwayat al Haarith ibn Nawfal: “Allah menciptakan tiga hal dengan Tangan-Nya: Adam, menulis Tawraah, dan menanam tanaman di Firdaus” [Koleksi dari Daylami, Darqutni di ‘As Sifaat’ hal. 26 # 28 (juga riwayat Amr ‘Abdullah bin’ dari otoritas al Harits ibn Nawfal, hal. 403) dan Abu Ash Shaikh di ‘Al’ Udhmah ‘: 5/1555]

          Hadis riwayat ‘Abdullah bin’ Umar: “Allah menciptakan empat hal dengan Tangan-Nya: ‘arsy, Pena, Adam dan Surga ‘Adn. Kemudian untuk seluruh sisa penciptaan lainnya berkata ‘Kun’ [menjadi] dan terjadilah itu.” [Adh Dhahabi di ‘Al ‘Uluw’ menyatakan ‘rantai perawinya baik’. Al Albaani di ‘Mukhtasar al ‘Uluw’ hal.105 menyatakan ‘Rantai perawinya otentik menurut aturan imam muslim’]

          Dari otoritas ‘Abdullaah ibn al Haarith yang berkata rasulullah berkata: Allah menciptakan 3 hal dengan tangannya: Adam, menulis taurat, dan menanam di Firdaus…” [koleksi al Khira-ity in Masaawi al Akhlaaq: hal.62, #426]

          Hadis riwayat ibn ‘Umar: Allah menciptakan 4 hal dengan tangannya: Arsy, Surga ‘Adn, Adam dan Pena..” [Al Haakim menyatakan ‘rantai perawi otentik menurut syarat Bukkhari dan Muslim namun tidak dimasukan kedalam koleksi mereka]

          Ibnul Qayyim:
          Terdapat laporan otentik dari Bukhari dan Muslim dalam sahih mereka bahwa Nabi berkata dalam hadis tentang campurtangan: Akan dikatakan pada musa:”Kamu Musa yang allah akan nyatakan dengan ucapan (langsung) padamu dan menuliskan tablet untukmu dengan tangannya’ [Bayaan Talbees al Jahmiyyah 1/153].

          Ibn ‘Uthaymeen said:

          Para Ahli kitab menyatakan Allah tidak menyiptakan seluruhnya dengan tangan kecuali Adam, Surga ‘Adn, meulis taurat. Inilah 3 hal yang dilakukan dengan tangan Allah. Untk yang selain Adam, ia ciptakan dengan kata ‘kun’ (menjadi)'[Tafsir Surat al Kahf: hal.89]

        Imam Muslim, Nasai dan juga Imam Ahmad menyatakan bahwa kedua tangan Allah adalah Kanan.

          Riwayat (Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb dan Ibnu Numair) – Sufyan bin ‘Uyainah – ‘Amru (Ibnu Dinar) – ‘Amru bin Aus – (Abdullah bin ‘Amru, Ibnu Numair dan Abu Bakar) – Nabi SAW): “…sedangkan kedua tangan Allah adalah kanan semua..” [muslim no. 3406. Juga di Ahmad no. 6204, riwayat Sufyan – Amru bin Dinar – Amru bin Aus – Abdullah bin Amr bin Ash – Rasulullah SAW “..dimana kedua tangan-Nya adalah kanan“. Juga di Nasai no. 5284]

        Abdul-Qadir Gilani [1077–1166 masehi] menuliskan di “Al-Ghunya li-talibeen tariq al-haqq“, tentang bentuk tangan ALLAH, “Ia mempunyai dua tangan [yadan], dan setiap dari kedua tangannya adalah tangan kanan.” [juga di Bulletin Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 43/Th. II tgl 12 Dzulqo’dah 1425 H/24 Desember 2004 M, penulis Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli “Mengimani bahwa Allah Ta’ala memiliki Tangan”]

        Al-Bayḥaqī [994 M – 1066 M] dalam komentar untuk AQ 38.75 menyatakan “Dengan tashdīd (penggandaan) dari (huruf) “yā” menunjukkan gabungan (iḍāfah), dan ini adalah penetapan bentuk ganda (untuk kata tangan). Dan di sini TERLARANG membawakan itu dalam arti niʿmah (nikmat) atau qudrah (kekuasaan) karena itu bukan arti yang benar dalam spesifikasi dualitas dalam nikmat Allah juga tidak dalam kekuasaannya. Karena nikmat Allah lebih banyak dari yang dapat di hitung..”[Lihat lengkap: Di sini, Di sini dan Di sini].

      Mungkin perlu diketahui ternyata ada manusia yang kedua tangan dan kakinya, kanan semua!

        Ezekiel Burroge moved from Halifax to Calgary in 1887 and purchased farmland southeast of town. He had been born with two right hands and two right feet and was generally shunned by his neighbours because of these differences.”

        Sample manusia dengan kelainan fisik itu walaupun mirip dengan ciri-ciri Allah, tentunya Ia bukanlah Allah.

        Bahkan disamping ciri fisik, juga terdapat kemiripan mentalitas atau sifat yang dipunyai Allah, Manusia dan Kera:
        Kera, manusia dapat marah dan Allah juga (4.93; 43.55); Kera, manusia bisa menyukai sesuatu dan Allah juga (2.222); tidak menyukai sesuatu (57.23; 3.32); Kera, manusia pencemburu dan Allah juga pencemburu dan ingin seluruh perhatian hanya padanya (4.48 dan 4.116), menghasut untuk menghancurkan yang menduakan dan beralih darinya (2.193)
        TIDAK ADA SERUPA denganNya bukan berarti TIDAK DAPAT dilihat KEMIRIPANNYA, bukan? Sehingga kalimat Allah disini,
        “Dia Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. TIDAK ADA SESUATUPUN YANG SERUPA DENGAN DIA, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.”

        Penekanannya bukan pada penolakan atas kemiripan bentuk tuhan yang mirip Manusia dan juga mirip kera itu namun justru agar tidak menyembah selain pada Allah semata.

        Malah kemiripan-kemiripan ini dapat membantu kita lebih memahami mengapa Allah meminta manusia untuk membaca tanda-tanda alamnya agar manusia lebih mengenalnya dan juga janji kenikmatan darinya sehingga sudahlah tepat jika kita membandingkannya dengan para primata hutan, bukan?

        Yang kemudian menjadi pertanyaan mengganjal adalah mengapa justru ateisme yang kerap menjadi tertuduh bahwa manusia berasal dari kera?! [Silakan buka bukunya DARWIN, “The Decent of Man, Ch.6“, adakah tertulis bahwa manusia berasal dari kera? Tidak ada.]

      Kapan dapat masuk Surga?

      Menurut Islam, setelah manusia wafat mereka menunggu di alam barzakh/”بَرْزَخٌ” [AQ 6:93, 9:101, 18:99, 22:7, 23:101-104, 27:82-90, 39:67-75, 40:46, 56:1-56, 75:1-14, 79:34-41, 101:1-11] hingga saat kiamat tiba dan kemudian dibangkitkan. Tafsir Ibn Kathir untuk ALAM BARZAH:

        Mujahid berkata, “Al-Barzakh adalah penghalang antara dunia dan akhirat”.
        Muhammad bin Ka `b berkata, “Al-Barzakh adalah apa antara dunia dan akhirat, Bukan orang-orang di dunia ini, makan dan minum, atau orang-orang di akhirat, yang mendapatkan pahala atau hukuman karena perbuatan”.
        Abu Sakhr berkata, “Al-Barzakh mengacu pada kuburan. Mereka tidak di dunia ini maupun akhirat, dan mereka akan tinggal di sana sampai hari kiamat”

      Muhammad adalah orang pertama yang akan dibangkitkan dari alam kubur [Bukhari 9.93.524, 564 4.56.732, Dari Usman bin Affan; dari Ibnu Umar (Al-Fakihy: 111/70-71)].

      Kemudian manusia dikumpulkan, matahari mendekati bumi hingga berjarak 1 atau 2 mil dan dengan jarak sedekat itu, ternyata manusia hanya berkeringat deras saja!:

        Al Hasan bin Sawwar – Laits bin Sa’ad dari Mu’awiyah bin Shalih – Abu ‘Abdur Rahman – Abu Umamah – Rasulullah SAW:

        “Pada hari kiamat matahari mendekat seukuran 1 mil, panasnya ditambahkan sekian dan sekian, serangga-serangga akan mendidih layaknya tungku, mereka mengeluarkan keringat berdasarkan kesalahan-kesalahan mereka, diantara mereka ada yang mencapai dua mata kaki, ada yang mencapai dua betis, ada yang mencapai pertengahannya dan ada yang dikekang keringat.” [Ahmad no.21162]

        ***
        Riwayat [Tirmidhi: (Suwaid bin Nashr – Ibnu Al Mubarak)/Muslim: (Al Hakam bin Musa Abu Shalih – Yahya bin Hamzah)] – Abdurrahman bin Jabir – Sulaim bin Amir – Al Miqdad bin Al Aswad – Rasulullah SAW:

        “Pada hari kiamat, matahari didekatkan ke manusia [Tirmidhi: “hingga sebatas 1 atau 2 mil”/Muslim: “hingga sebatas 1 mil”] -berkata Sulaim bin Amir: Demi Allah, aku tidak tahu apakah beliau memaksudkan jarak bumi ataukah mil yang dipakai bercalak mata- (Timirdhi: “lalu matahari melelehkan mereka,”) lalu mereka berada dalam keringat sesuai amal perbuatan mereka, di antara mereka ada yang berkeringat hingga tumitnya, ada yang berkeringat hingga lututnya, ada yang berkeringat hingga pinggang dan ada yang benar-benar tenggelam oleh keringat.” [Tirmidhi: “Aku melihat”/Muslim: “Al Miqdad berkata:”] Rasulullah SAW menunjuk dengan tangan ke mulut beliau. [Tirmidhi: + “maksudnya benar-benar tenggelam. Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih dan dalam hal ini ada hadits serupa dari Abu Sa’id dan Ibnu Umar”] [Muslim no.5108/40.6852 dan Tirmidhi no.2354/4.11.2421]

        ***
        Abdul ‘Aziz bin Abdullah – Sulaiman – Tsaur bin Yazid – Abul Ghaits – Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Pada hari kiamat manusia berkeringat, hingga keringat mereka di bumi setinggi 70 hasta dan menenggelamkan mereka hingga telinga dan mulut.” [Bukhari no.6051/8.76.539]

      Setelahnya, sejumlah orang akan ada yang masuk surga tanpa hisab. Hadis-hadis sahih menyebutkan jumlahnya 70.000 orang saja sedangkan sisa muslim lainnya akan dihisab dulu sebelum masuk surga.

      Apa pengertian di hisab?

        Abi Mulaikah – ‘Aisyah – Nabi SAW: “Siapa yang dihisab berarti dia disiksa” Aisyah berkata: maka aku bertanya kepada Nabi: “Bukankah Allah Ta’ala berfirman: “Kelak dia akan dihisab dengan hisab yang ringan” Aisyah berkata: Maka Nabi SAW: “Sesungguhnya yang dimaksud itu hanyalah saat catatan amal diperlihatkan. Akan tetapi barangsiapa yang didebat hisabnya pasti celaka”.[Bukhari no.100, 6055. Muslim no.5122. Tirmidhi no.3260. Abu dawud no.2689: “Barang siapa yang dihisab maka ia akan diadzab.” (juga di Tirmidhi no.3261, hasan gharib)]

        Abu Huraiara -Nabi SAW: Hai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah pasti kau diberi, berilah syafaat nicaya kau diizinkan untuk memberi syafaat. Maka aku mengangkat kepalaku, aku berkata: Wahai Rabb, ummatku, wahai Rabb, ummatku, wahai Rabb, ummatku. Ia berkata: Hai Muhammad, masukkan orang yang tidak dihisab dari ummatmu melalui pintu-pintu surga sebelah kanan (al-aiman) dan mereka adalah sekutu semua manusia selain pintu-pintu itu.” [Bukhari no.4343. Muslim no.287. Tirmidhi no.2358]

        Riwayat Abu Sa’id Al Khudri – Nabi SAW: “Orang mukmin selamat dari neraka, kemudian dihisab diatas jembatan antara surga dan neraka, sehingga kezhaliman sesama mereka di dunia diqisas satu sama lainnya, sehingga jika mereka telah bersih dan suci, mereka dipersilahkan masuk surga, Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh mereka lebih kenal hunian mereka di surga, daripada mereka kenal terhadap huniannya ketika di dunia.”[Bukhari no.6054. Ahmad no.10673, 11123, 11175, 11281]

      Dalam tafsir Ibn Kathir jus 8/381-382, mengutip sahih Bukhari dari riwayat Abu Sa’id Al Khudri:

        Nabi berkata jika orang-orang BERIMAN telah selamat dari neraka mereka tertahan di jembatan yang ada antara surga dan neraka. Di sana mereka diqishaskan untuk setiap perbuatan zalim ketika di dunia, setelah bersih maka diijinkan masuk surga.

      Jembatan antara surga dan neraka ini juga di sebut Al A’raaf [AQ 57.13 dan AQ 7.46]. Dalam jus 8/385 disebutkan bahwa:

        Al A’raaf adalah bentuk jamak dari urf. Setiap bentuk dataran tinggi disebut urf..jengger ayam di sebut urf. Al araaf itu mempunyai pintu. Dari riwayat yang disampaikan oleh Ats Tsauri dari Jabir, dari Mujahid, dari Ibn abbas, “al Araaf adalah dinding spt jengger ayam jantan”. Riwayat lain dari ibn abbas menyatakan bukit antara surga dan neraka disana orang-orang berdosa ditahan diantara surga dan neraka. As Suddi mengatakan al A’raaf tempatnya tinggi karena disana penghuninya dapat menyaksikan orang-orang. [“Lubaabut Tafsiir Min Ibni Katsir”, Penerbit Mu-assasah Daar Al-Hilaal Kairo, cetakan ke-1, 1994, pustaka Imam Asy-sayfi’i, Bogor, cetakan ke-2, Mei 2003]

      Tafsir Ibn kathir menyatakan:

        Ibn jarir menyampaikan hadis dari Hudhayfah yang ditanya oleh orang-orang tentang Al A’raaf dan berkata, “Mereka yang kebaikan dan kejahatannya setara. perbuatan buruknya mencegah dirinya termasuk golongan surga dan perbuatan buruknya mencegahnya masuk neraka. karena itu mereka dihentikan di sana pada sebuah dinding hingga allah menghakiminya.

      Kondisi langit dan bumi disaat kiamat digambarkan sangat hancur-lebur:

        Langit bergoncang, gunung berjalan (AQ 52.9-10); Bumi dan gunung2 bergoncangan, gunung2 itu tumpukan2 pasir berterbangan (AQ 73.14); bumi digoncangkan sedahsyat2nya, dan gunung2 dihancurluluhkan seluluh2nya, jadi debu yang beterbangan (AQ 56.4-6); Bumi dan gunung2 dibenturkan sekali bentur, langit terbelah (AQ 69.13-16) langit menjadi seperti luluhan perak, dan gunung2 menjadi seperti bulu (yang berterbangan) (AQ 70.8-9)

      Yang mengherankan adalah di beberapa hadis nabi yang sahih malah disampaikan bahwa Surga dan Neraka sudah berpenghuni di sebelum kiamat!

        Diriwayatkan Abu Dhar,
        Muhammad berkata, saat ia mencapai Langit pertama. Ia berjumpa Adam bersama jiwa-jiwa anak cucunya pada sisi kanan dan kiri Adam, dimana yang dikanannya merupakan penghuni Surga dan dikirinya adalah penghuni neraka [Bukhari 1.8.345, juga di Muslim 1.313]

      Dikatakan, saat mencapai langit ke-1,
      Jibril tercatat mengenali para nabi yang telah wafat di ratusan atau ribuan tahun lalu, namun kocaknya, JIBRIL TIDAK MAMPU mengenali: Ayah dan Ibu, kakek, paman (Abu Thalib) dan Khadijjah (Istri Nabi) yang wafat baru beberapa bulan atau tahun saja. Seharusnya Khadijah ada di barisan sebelah KANAN Adam, sedangkan: Ayah+ibu, kakek dan paman nabi ada di barisan sebelah KIRI Adam.

        Riwayat Musa bin Isma’il – Hammad – Tsabit – Anas: Seorang laki-laki bertanya, “Ya Rasulullah! Di manakah ayahku?” beliau menjawab, “Di Neraka!” [Abu Dawud no.4095/41.4700]. Ketika orang itu pergi, beliau memanggilnya seraya berkata, “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di neraka” [Muslim no.302/1.398 (Riwayat Abu Bakar bin Abu Syaibah – Affan – Hammad – Tsabit – Anas). Ahmad no.11747, 13332, Juga “Qaa’idatun Jalilah At-Tawassul wal Wasilah”, Cetakan 1977, Hal.8, Lahore-Pakistan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah]

        “Riwayat Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb – Muhammad bin Ubaid – Yazid bin Kaisan – Abu Hazim – Abu Hurairah: Nabi SAW menziarahi kubur ibunya, lalu beliau menangis sehingga orang yang di sekelilingnya pun ikut menangis. Kemudian beliau berkata: “Aku mohon izin Rabb-ku untuk memintakan ampunan baginya, namun tidak diperkenankanNya..” [Muslim no.1622/4.2130, 1621/4.2129, Abu Daud no.2815/20.3228, Nasa’i no.2007/3.21.2036, Ibnu Majah no.1561/1.6.1572, Ahmad no.9311, Baihaqi (4/76). Tafsir Ibnu Katsir jilid 2 hal.393-395]

        Riwayat Hasan bin Musa dan Ahmad bin ‘Abdul Malik – Zuhair – Zubaid bin Al Harits – Muharib bin Ditsar – ‘Abdullah bin Buraidah – ayahnya: Kami bersama Nabi SAW, beliau singgah di tempat kami, saat itu beliau bersama sekitar seribu tentara berkuda, beliau shalat dua rakaat kemudian beliau menghadapkan wajah ke arah kami bercucuran air mata. Umar bin Al Khaththab menghampirinya berkata: Wahai Rasulullah! Ada apa denganmu? Rasulullah SAW berkata: “Aku memintakan ampunan untuk ibuku pada Rabbku AzzaWaJalla tapi Ia tidak mengizinkanku, aku pun bercucuran air mata karena iba padanya dari Api (Neraka) (مِنْ النَّارِ)” [Ahmad no.21925, Ibnu Abi Syaibah, Hakim (1/376), Ibnu Hibban (no. 791), Baihaqi (4/76) dan Tirmidzi]

      Kenapa Ayah+ibu, kakek dan paman nabi masuk neraka?

        “Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya” [AQ 35.8; 14.4; 16.93; 13.27; 47.1,8] NAMUN di ayat lainnya malah disampaikan yang menyesatkan manusia adalah IBLIS! [misal: AQ 15:39, 36:26, 38:82]

        Riwayat Muhammad bin al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar – Muhammad bin Ja’far – Syu’bah – Washil al-Ahdab – al-Ma’rur bin Suwaid – Abu Dzar Nabi SAW:

        “Jibril mendatangiku lalu memberikan kabar gembira kepadaku, bahwa orang yang meninggal dari umatmu dalam keadaan tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu apa pun niscaya masuk surga.” Maka aku bertanya: “Meskipun dia berzina dan mencuri?” Jibril menjawab, “Walaupun dia berzina dan mencuri.” [Muslim: no.137/1.171, 138/1.172. Bukhari: no.1161, no.2983, no.5379/7.72.717, no.6933/9.93.579].

          Note:
          Walaupun demikian, ternyata ada batasan quota maksimum surgawan/wati yang dijanjikan allah pada Muhammad, yaitu: 80 baris, dimana: rombongan pertama (70.000, tanpa hisab) ditambah rombongan selanjutnya (per-1000nya (dari 70.000) membawa 70.000 orang lagi = 4.9 juta), jadi total = 4.97 juta orang. Allah juga berfirman, jika jumlah itu tidak terpenuhi, Allah akan mengisinya dari ARAB BADUI. [Untuk jelasnya, lihat detail argumen di bagian selanjutnya]

        Riwayat Qa’nabi – Malik – Zaid bin Unaisah – Abdul Hamid bin ‘Abdurrahman bin Zaid Ibnul Khaththab – Muslim bin Yasar Al Juhani – Umar Ibnul Khaththab pernah ditanya tentang ayat ini:

        (Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka) -Qs. Al A’raf: 172- Al Qa’nabi membaca ayat tersebut, lalu Umar berkata, “Aku juga pernah mendengar Rasulullah SAW ditanya tentang ayat itu, lalu beliau menjawab;

        “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam, lalu ALLAH MENGUSAP PUNGGUNGNYA (sulbi) DENGAN TANGAN KANAN-Nya hingga keluarlah keturunan Adam dari punggungnya. Kemudian Allah berfirman: “AKU MENCIPTAKAN MEREKA UNTUK MASUK SURGA, dan mereka akan beramal dengan amalan-amalan penduduk surga.”

        kemudian ALLAH KEMBALI MENGUSAP PUNGGUNG ADAM hingga keluarlah keturunan Adam dari punggungnya. Setelah itu Allah berfirman: “AKU MENCIPTAKAN MEREKA UNTUK MASUK NERAKA, dan mereka akan beramal dengan amalan-amalan penduduk neraka.”

        Seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu untuk apa gunanya beramal?”

        Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya jika Allah menciptakan seorang hamba untuk masuk ke dalam surga maka Ia akan menjadikannya beramal dengan amalan penduduk surga, sehingga ia mati dengan amalan penduduk surga lalu memasukkannya ke dalam surga.

        Dan jika Allah menciptakan seorang hamba untuk masuk ke dalam neraka maka Ia akan menjadikannya beramal dengan amalan penduduk neraka, sehingga ia mati dengan amalan penduduk neraka lalu memasukkannya ke dalam neraka.”

        Riwayat Muhammad Ibnul Mushaffa – Baqiyyah – Umar bin Ju’tsum Al Qurasyi – Zaid bin Abu Unaisah – Abdul Hamid bin ‘Abdurrahman – Muslim bin Yasar – Nu’iam bin Rabi’ah: “Aku sependapat dengan Umar Ibnul Khaththab dengan hadits ini, namun hadits Malik lebih lengkap.” [Abu Dawud no.4081, Juga di Tirmidhi no.3001 (Hadis Hasan), 3002 (Hadis Hasan sahih). Malik no.1395. Ahmad no. 294, 2157, 17000]

        Riwayat [Qutaibah atau Hasyim bin Qasim] – [Al Laits atau Bakr bin Mudhar] – Abu Qabil/Huyaiy bin Hani – Syufayyi bin Mati’ – ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash:

        Rasulullah SAW keluar menemui kami sementara di tangan beliau terdapat dua kitab. Kemudian beliau pun bertanya: “Apakah kalian tahu kitab apakah kedua kitab ini?” Maka kami pun menjawab: “Tidak wahai Rasulullah, kecuali Anda mengabarkannya pada kami.”

        Akhirnya beliau pun bersabda terkait dengan kitab yang berada pada tangan kanannya:

        “Ini adalah kitab yang berasal dari Rabb semesta alam. Di dalamnya terdapat nama-nama penduduk surga dan juga nama-nama orang tua serta kabilah mereka. Jumlahnya telah ditutup dengan orang yang terakhir dari mereka, dan tidak akan ditambah dan jumlah mereka tidak pula dikurangi lagi.”

        Kemudian beliau bersabda terkait dengan kitab yang berada di tangan kirinya: “Adapun ini, ia adalah kitab yang juga berasal dari Rabb semesta alam. Di dalamnya telah tercantum nama-nama penghuni neraka, dan juga nama-nama bapak mereka serta kabilah mereka, dan telah dijumlah dengan orang yang terakhir dari mereka. Sehingga jumlah mereka tidak lagi akan bertambah dan tidak pula akan berkurang selama-lamanya.

        Kemudian para sahabat pun berkata, “Kalau begitu, dimanakah letaknya amalan wahai Rasulullah jika memang perkara sudah habis?”

        Beliau menjawab: “Berusahalah dan mendekatlah, karena sesungguhnya penduduk surga akan ditutup dengan amalan penduduk ahli surga, meskipun ia mengamalkan amalan apa saja. Dan sesungguhnya penduduk neraka akan ditutup pula dengan amalan penduduk neraka, meskipun ia mengerjakan amalan apa saja.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda dengan kedua tangannya lalu menghempaskannya dan bersabda: “Sesungguhnya Allah telah selesai terhadap urusan para hamba-Nya. Satu golongan di dalam surga dan satu kelompok pula di dalam neraka.”. Abu Isa berkata; Hadits semakna juga diriwayatkan dari Ibnu Umar. Dan hadits ini adalah Hasan Shahih Gharib. [Tirmidhi no. 2067/4.6.2141. Ahmad no.6275]

      Mereka masuk Neraka adalah karena tidak memuja Allah (disesatkan Allah dan Iblis) hingga wafatnya. Saat ibundanya wafat dan masuk neraka, Muhammad masihlah seorang kafir berusia 6 tahunan. Jadi, tidak perduli apakah mereka kenal/tidak, tahu/tidak dengan Allah SWT, pokoknya selama sebelum wafat tidak memuja Allah, maka masuk neraka.

      ..dan entah mengapa, ketika melakukan perjalanan Isra Miraj, Jibril dan Nabi tiba-tiba mengalami amnesia berat, tidak mampu mengenali 1 pun diantara almarhum baru di sebelah kanan/kiri Adam.

      Bingung, kan 🙂

      KAPAN TERJADINYA KIAMAT?

      Periode kenabian: Awal – Hijrah
      Mereka menanyakan kepadamu tentang: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. [AQ 7.187, Al Makiyya, turun urutan ke-39. Juga di surat Al makiyya lainnya: AQ 20.15, urutan ke-36. AQ 41.47, urutan ke-61. AQ.53.57-58, turun urutan ke-23. AQ 31.34, urutan ke-57]. Pembicaraan dekatnya kiamat, sekurangnya dimulai bahwa “iqtarabati alssaa’atu wainsyaqqa alqamaru (telah dekat saat itu dan telah terbelahnya bulan)” [AQ 54.1, Almakiyya, urutan ke-37]

      Hadis-hadis di bawah ini adalah posisi di saat/setelah turunnya AQ 31.34:

        Riwayat ..Abu Zur’ah – Abu Hurairah/Abu Dzar: “..Ketika kami tengah duduk, sedang Rasulullah SAW berada di tempat duduk beliau, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki…dia berkata; “..Wahai Muhammad, beritahukan kepadaku kapankah Hari Kiamat tiba?”

        Beliau menundukan kepada dan tidak menjawab sedikitpun, kemudian orang tersebut mengulang pertanyaan dan beliau tidak menjawab sedikitpun. Lalu beliau mengangkat kepalanya seraya bersabda: “Orang yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”

        Akan tetapi ia memiliki tanda-tanda yang dengannya Hari Kiamat tersebut diketahui. Yaitu..Itulah 5 tanda yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Sesungguhnya Allah memiliki ilmu mengenai Hari Kiamat hingga firman Allah: Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Kemudian beliau bersabda: “Demi Dzat yang mengutus Muhammad dengan kebenaran sebagai pemberi petunjuk dan kabar gembira, tidaklah aku lebih mengetahui dari salah seorang dari kalian. Sesungguhnya ia adalah Jibril yang turun dalam bentuk Dihyah Al Kalbi.”

        [Nasai no. 4905. Juga di Bukhari no. 48, 4404. Muslim no.10, 11. Ibn Majjah. no.63, 4034. Ahmad no. 9137. Dari jalur perawi Abdullah bin Buraidah – Yahya bin Ya’mar – Ibn Umar/Umar – Nabi SAW dengan sanad yang kurang lebih sama di sampaikan di Muslim no.9. Dawud no.4075. Tirmidhi no.2535. Nasai no.4904. Ibn Majjah no.62. Ahmad no.352. Kemudian, Lamanya Umar diberitahukan bahwa yang datang itu adalah Jibril adalah Setelah 3 hari kemudian ada di: Ahmad no.346, 179. Ibn Majjah no. 62, Nasai no. 4904 dan Abu Dawud no.4075].

      Selain 5 tanda kiamat di atas, terdapat juga variasi lain tanda-tanda kiamat, di antaranya:

      • 10 tanda kiamat: Riwayat Bundar – Abdurrahman bin Mahdi – Sufyan – Furat Al Qazzar – Abu Ath Thufail – Hudzaifah bin Usaid: Rasulullah SAW bersabda:

        “Kiamat tidaklah terjadi hingga kalian melihat 10 tanda-tanda; terbitnya matahari dari barat, ya’juj dan ma’juj, binatang, tiga gerhana; gerhana di timur, gerhana di barat dan gerhana di jazirah arab, api muncul dari bawah ‘Aden..”

        Riwayat Mahmud bin Ghailan – Waki’ – Sufyan – Furat menambahkan dalam riwayatnya: Asap. Riwayat Hannad – Abu Al Ahwash – Furat Al Qaffaz, seperti hadits Waki’ – Sufyan.

        Riwayat Mahmud bin Ghailan – Abu Dawud Ath Thayalisi – Syu’bah dan Al Mas’udi – Furat Al Qazzaz seperti hadits Abdurrahman – Sufyan – Furat dan menambahkan dalam riwayatnya: Dajjal atau asap.

        Riwayat Abu Musa Muhammad bin Al Mutsanna – Abu An Nu’man Al Hakam bin Abdullah Al ‘Ijlani – Syu’bah – Furat seperti hadits Abu Dawud – Syu’bah dan menambahkan: Rasulullah SAW bersabda: “Dan yang ke-10 mungkin angin melemparkan mereka ke laut atau turunnya Isa bin Maryam. Berkata Abu Isa: dalam hal ini ada hadits serupa dari ‘Ali, Abu Hurairah, Ummu Salamah, Shafiyyah binti Huyay dan hadits ini hasan shahih.

        [Tirmidhi no.2109. Hadis lainnya tidak menggunakan kata gerhana namun: longsor (Muslim no. 5162, 5163), gempa bumi (Abu Dawud no. 3757), berkobarnya api (Ahmad no.15555) dan kerusakan (Ahmad no.15557, 15558)] ATAU

      • Penggolongan tanda-tanda kiamat versi lain: Riwayat Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Hari kiamat tidak akan terjadi hingga: 2 kelompok besar saling berbunuhan besar-besaran padahal ajakan keduanya satu; muncul para pendusta yang kurang lebihnya 30, kesemuanya mengaku ia utusan Allah; hingga ilmu diangkat; banyak keguncangan; zaman terasa singkat; fitnah muncul dimana-mana; dan banyak alharaj, yaitu pembunuhan; hingga ditengah-tengah kalian harta melimpah ruah dan berlebihan, sehingga pemilik harta mencari-cari orang yang mau menerima sedekahnya, sampai ia menawar-nawarkan sedekahnya, namun orang yang ditawari mengelak seraya mengatakan ‘ Aku tak butuh sedekahmu’, sehingga manusia berlomba-lomba meninggikan bangunan; sehingga seseorang melewati kuburan seseorang dan mengatakan; ‘Aduhai sekiranya aku menggantikannya’; hingga matahari terbit dari sebelah barat, padahal jika matahari telah terbit dari sebelah barat dan manusia melihatnya, mereka semua beriman, pada saat itulah sebagaimana ayat; ‘Ketika itu tidak bermanfaat lagi bagi seseorang keimanannya, yang ia belum beriman sebelumnya atau belum mengerjakan kebaikan dengan keimanannya.” (AQ 6.158); ketika dua orang telah menyerahkan kedua bajunya tetapi keduanya tidak jadi melakukan jual beli, keduanya tidak jadi melipatnya; dan hari kiamat terjadi sedang seseorang telah pulang membawa susu sapinya tetapi tidak jadi ia meminumnya, dan hari kiamat terjadi ketika seseorang memperbaiki kolam (tempat minum) nya tetapi dia tak jadi meminumnya, dan hari kiamat terjadi sedang seseorang telah mengangkat suapannya tetapi dia tidak jadi menyantapnya.” [Bukhari no.6588] ATAU
      • Mencemburui kuburan: Riwayat Abu Hurairah – Nabi SAW: “Hari kiamat tidak akan terjadi sehingga seseorang melewati kuburan seseorang, lantas mengatakan; ‘duhai sekiranya aku menggantikan dia.'” [Bukhari no.6582. Muslim no.5175 . Ahmad no.6929, 10446. Malik no.508] ATAU
      • Binatang dan benda-benda berbicara: Riwayat Abu Sa’id Al Khudri – Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat belum akan terjadi sehingga binatang buas dapat berbicara kepada manusia, pecut serta tali sandal seseorang dapat berbicara kepada pemiliknya, dan pahanya dapat memberitahukannya apa yang telah diperbuat istrinya ketika ia tidak ada di rumah.” [Ahmad no.11365, 11413] ATAU
      • Api Keluar dari Hejaz: Riwayat Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Hari kiamat tidak akan tiba hingga api keluar dari tanah Hejaz yang bisa menyinari tengkuk unta di Bushra.” [Bukhari no.6585. Muslim no.5164] ATAU
      • Wanita berjoget: Riwayat Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Hari kiamat tidak akan tiba sehingga pantat-pantat wanita daus berjoget pada Dzul khulashah, dan Dzul khulashah ialah thaghut suku Daus yang mereka sembah di masa jahiliyah.” [Bukhari no.6583. Muslim no.5173. Ahmad no.7352] ATAU
      • Kabilah Qahthan: Riwayat Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Hari kiamat tidak akan tiba hingga seseorang dari kabilah Qahthan menggiring manusia dengan tongkatnya.” [Bukhari no.6584, 3256. Muslim no.5182. Ahmad no.9037] ATAU
      • Bermegah-megahan Membangun Mesjid: Riwayat Anas bin Malik – Nabi SAW: “Tidak akan tiba Hari Kiamat sampai manusia bermegah-megahan dalam membangun Masjid.” [Abu Dawud no.379, Ahmad no. 10348 (manusia saling berlomba mendirikan bangunan). Ahmad no.11931, 12016, 12079, 12925, 13509. Darimi no.1372. Nasai no.682] ATAU
      • Tidak ada yang menyebut Allah, Allah: Riwayat Anas bin Malik – Rasulullah SAW: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga di muka bumi tidak ada yang menyebut; ‘Allah, Allah.” [Muslim no.211, 212. Bukhari no. 2709. Tirmidhi no. 2133. Ahmad no.11601, 12199, 12609, 13232, 13331] ATAU
      • Memerangi Yahudi: Riwayat Abu Hurairah – Nabi SAW: “kiamat tidak akan terjadi sehingga kalian akan memerangi orang-orang Yahudi, sehingga ada seorang Yahudi yang lari dan bersembunyi di balik batu, lalu batu tersebut berkata; ‘Wahai hamba Allah, wahai muslim, ini ada Yahudi di belakangku.’ kiamat tidak akan terjadi sehingga kalian memerangi kaum yang sandal mereka dari bulu.” [Musim no. 5203. Ahmad no. 9029. Ahmad no.8807 (Sanadnya seperti di atas, namun didahului kalimat: kiamat tidak akan terjadi sehingga matahari terbit dari arah terbenamnya, maka manusia akan beriman semuanya pada hari yang “tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.”)] ATAU
      • Memerangi Turki: Riwayat Abu Hurairah – Nabi SAW: “Tidak akan terjadi hari qiyamat hingga kalian memerangi bangsa Turki yang bermata kecil, wajah kemerahan dan hidungnya pesek. Wajah mereka seakan seperti perisai yang menutupi kulit. Dan tidak akan terjadi hari qiyamat hingga kalian memerangi kaum yang bersandal bulu” [Bukhari no.2711, 2712, 3322. Muslim no.5184-5187. Tirmidhi no.2131. Ibn Majjah no. 4086-4089, Abu Dawud no.3749, Ahmad no.7351, 7892, 6965, 9994, 10440, 10441, 10831] ATAU
      • Banjir ajaib: Riwayat Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Kiamat tidak akan terjadi sampai manusia di hujani oleh air hujan yang tidak akan merendam rumah-rumah yang terbuat dari tanah liat dan tidak akan merendam kecuali rumah-rumah yang terbuat dari serabut.” [Ahmad no.7248] ATAU
      • Hujan setahun, tak menumbuhkan: Riwayat Anas – Rasulullah SAW: : “Tidak akan datang hari kiamat hingga manusia mendapatkan hujan selama setahun, namun bumi tidak menumbuhkan sesuatu pun.” [Ahmad no.11979] ATAU
      • Orang hina bahagia: Riwayat Hudzaifah bin Al Yaman – Nabi SAW: “Kiamat tidak akan terjadi hingga orang yang paling bahagia didunia adalah orang hina putra orang hina.” [Tirmidhi no. 2135, Ahmad no.22214] ATAU
      • Jumlah Wanita jauh melebihi Pria: Riwayat Anas bin Malik – Rasulullah SAW: “Tidak akan datang hari kiamat hingga pada setiap 50 wanita terdapat 1 orang laki-laki, wanita akan semakin banyak dan laki-laki akan semakin sedikit.” [Ahmad no.11764] ATAU
      • Kecuali atas manusia-manusia Buruk: Riwayat Abdullah – nabi SAW: “Kiamat tidak terjadi kecuali atas manusia-manusia buruk.” [Muslim no.5243. Ahmad no.15491 (Riwayat Ilba’ As-Sulamy – Rasulullah SAW: “”…kecuali menimpa manusia-manusia yang buruk”). Ahmad no. 3548 (Riwayat Abdullah bin Mas’ud – Nabi SAW: “..kecuali atas sejahat-jahat manusia.”. Ahmad no. 3930], dan/ATAU
      • Bahkan sungai furat (Euphrat), gunung emas-pun dijadikan bahan ramalan namun tidak semua hadis kompak bahwa ini ramalan kiamat misalnya riwayat Abu Sa’id Al Asyuj – Uqbah bin Khalid – Ubaidullah bin Umar – Khubaib bin Abdurrahman – kakeknya, Hafsh bin Ashim – Abu Hurairah: Rasulullah SAW: “HAMPIR SAJA sungai Eufrat mengumpulkan harta simpanan dari emas, siapa pun mendatanginya jangan mengambil apa pun.” Abu Isa berkata: Hadits ini hasan shahih. Riwayat Abu Sa’id Al Asyuj – Uqbah bin Khalid – Ubaidullah – Abu Az Zinad – Al A’raj – Abu Hurairah dari nabi SAW sepertinya, hanya saja ia berkata dalam riwayatnya: Mengumpulkan gunung emas. Abu Isa berkata: Hadits ini hasan shahih” [Tirmidhi no.2493. Muslim no.5153-54. Ahmad no.8203, 8999]. Dalam Hadis Muslim dan Ahmad dijelaskan bahwa ini tentang mengumpulkan kekayaan misalnya riwayat [Abu Kamil Fudhail bin Husain dan Abu Ma’nu Ar Raqasyi] – Khalid bin Al Harits – Abdulhamid bin Ja’far – ayahku – Sulaiman bin Yasar – Abdullah bin Al Harits bin Naufal: Aku pernah istirahat bersama Ubai bin Ka’ab. Ia berkata: Orang-orang terus sibuk mencari dunia. Aku menjawab: Benar. Ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “HAMPIR SAJA Furat mengumpulkan harta simpanan dari emas. Saat mendengarnya, orang-orang menghampirinya lalu orang yang didekatnya berkata: ‘Bila kita biarkan orang-orang mengambilnya, mereka akan menghabiskan semuanya.” Beliau bersabda: “Mereka berperang karenanya, dari setiap 100 orang, 99nya terbunuh.” Abu Kamil berkata dalam haditsnya: Ia berkata: Aku dan Ubai bin Ka’ab istirahat di bawah naungan kebun Hassan [Muslim no.5155. Ahmad no.20308, 20309] dan MASIH BANYAK LAGI VARIASI “ramalan”-NYA

      Melihat berubah-ubahnya tanda-tanda kiamat yang diucapkan oleh seorang nabi, utusan kesayangan ALLAH ini, maka sangatlah wajar jika seseorang menjadi bertanya-tanya: Apakah Muhammad ini memahami apa yang dibicarakannya?

      Mengapa?

      Karena Quran juga menyampaikan bahwa diantara nabi yang mengetahui tentang kiamat adalah Isa, “Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat (la’ilmun lilssaa’ati). Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku” [AQ 43.61, Al Makiyya, turun urutan ke-63] dan tentu saja pengetahuan tentang kiamat (‘ilmu alssaa’ati) ada disisi Allah [AQ 43.85, Al Makiyya, turun urutan ke-63] juga diturunkanNya, melalui Jibril dengan perintahNya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan tentang hari pertemuan (yawmaalttalaaqi) [AQ 40.15, Al Makiyya, turun urutan ke-60].

      Maka Muhammad-pun mengakui dirinya dibekali ilmu sisi Allah tentang itu:

      • wayaquuluuna mataa haadzaa alwa’du in kuntum shaadiqiina (Dan mereka berkata: “Kapankah datangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar?”) qul innamaa al’ilmu ‘inda allaahi wa-innamaa anaa nadziirun mubiinun (Katakanlah: “Sesungguhnya ilmu hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang menjelaskan)”[AQ 67.25-26, Al makiyya, turun urutan ke-77]
      • yas-aluunaka ‘ani alssaa’ati ayyaana mursaahaa (mereka bertanya kepadamu tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya?) fiima anta min dzikraahaa (Apa kamu dari menyebutkannya?) ilaa rabbika muntahaahaa (Pada Tuhanmu kesudahannya) innamaa anta mundziru man yakhsyaahaa (Kamu hanya pemberi peringatan bagi siapa yang takut padanya) [AQ 79.42-44, Al Makiyya, urutan ke-81]

      Periode kenabian: Setelah Hijrah Ke Medina
      Hadis di bawah ini menginformasikan telah terjadi transfer pengetahuan tentang kiamat, misalnya dari riwayat Anas bin Malik dan juga Abdullah bin Salam menantikan Muhammad di hari hijrahnya Muhammad ke Medina dan kemudian Ia bertanya, “Sesungguhnya saya akan bertanya kepada tuan tentang tiga hal, yang tidak akan ada yang mengetahui jawabannya kecuali seorang Nabi. 1. Apa tanda-tanda pertama hari kiamat, 2. Makanan apa yang pertama-tama dimakan oleh ahli syurga, dan 3. Mengapa si anak menyerupai bapaknya atau kadang-kadang menyerupai ibunya?” Jawab Nabi SAW: “Baru saja Jibril memberitahukan hal ini padaku” Kata Abdullah bin Salam: “Jibril?” Jawab Rasulullah SAW: “Ya.” Kata Abdullah bin Salam: “Dia itu termasuk malaikat yang termasuk musuh kaum Yahudi.” Lalu Nabi membacakan ayat ini (S. 2: 97) sebagai teguran kepada orang-orang yang memusuhi malaikat pesuruh Allah. [Bukhari 4.55.546; 5.58.275; 6.60.7 dan Muslim 3.614]

      Setelah ini, terjadi peningkatan pengetahuan Muhammad. Pengetahuan Muhammad, bukan cuma tanda-tandanya saja bahkan ia pun telah diberitahukan Allah SWT bahwa waktunya pun sudah sangat dekat sekali,

      Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.” Dan tahukah kamu, boleh jadi (la’alla) hari berbangkit itu sudah dekat waktunya. [AQ 33.63]

        Maududi: Di surah ini terdapat 3 event penting yaitu: perang parit, Penyerbuan Bani Quraiza dan Muhammad mengawini Zaynab bint Jash, yang terjadi di Dhul Qaidha 5 AH

      Terdapat beberapa hadis yang memberikan kejelasan bahwa kiamat itu memang sudah dekat karena telah Dajal telah muncul dan adanya perang dua kelompok dalam Islam:

        Riwayat Al Hakam bin Nafi’ – Syu’aib – Az Zuhriy – Abu Salamah – Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Tidak akan terjadi hari qiyamat hingga ada dua kelompok yang saling berperang, yang keduanya mengaku satu agama (Islam)”.

        Riwayat Abdullah bin Muhammad – ‘Abdur Razzaq – Ma’mar – Hammam – Abu Hurairah – Nabi SAW: “Tidak akan terjadi hari qiyamat hingga ada dua kelompok yang saling berperang, ketika itu para korban yang terbunuh sangat banyak padahal keduanya mengaku satu agama dan tidak akan terjadi hari qiyamat hingga timbul para dajjal pendusta yang jumlahnya hampir mendekati 30 orang semuanya mengaku dirinya Rasul Allah”. [Bukhari no.3340, juga di Bukhari no.6423, Muslim no.5142 dan Ahmad no.10444: tanpa menyebutkan adanya Dajjal].

      Peperangan dua kelompok sesama Islam terjadi di setelah wafatnya Muhammad dan juga telah terjadi perang antara Muslim dan Romawi di Dabiq, sebagaimana hadis di bawah ini:

        Riwayat Zuhair bin Harb – Mu’alla bin Manhsur – Sulaiman bin Bilal – Suhail – ayahnya – Abu Abu Hurairah: Rasulullah SAW bersabda:

        “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga bangsa Romawi turun ke medan perang di suatu tempat bernama A’maq atau Dabiq (Syam), sehingga ada sekelompok pasukan dari Madinah yang keluar menghadapi mereka. Mereka adalah sebaik-baik penduduk bumi ketika itu. Dan tatkala mereka berhadapan, pasukan Romawi berkata: ‘Biarkanlah kami memerangi orang-orang yang menawan kami! ‘ Kaum muslimin menjawab: ‘Tidak, demi Allah, kami tidak akan membiarkan kalian memerangi saudara-saudara kami.’ Maka terjadilah peperangan antara mereka. Lalu ada 1/3 yang kalah dimana Allah tidak akan mengampuni dosa mereka untuk selamanya, dan 1/3 lagi terbunuh sebagai sebaik-baik para syuhada’ di sisi Allah, dan 1/3 lagi Allah memberikan kemenangan kepada mereka. Mereka tidak akan ditimpa sebuah fitnah untuk selamanya, lalu selanjutnya mereka menaklukkan kostantinopel. Dan ketika mereka sedang membagi-bagi harta rampasan perang dan tengah menggantungkan pedang-pedang mereka pada pohon zaitun, tiba-tiba setan meneriaki mereka ‘Sesungguhnya Al Masih telah muncul di tengah-tengah keluarga kalian, ‘ merekapun berhamburan keluar, dan ternyata itu hanyalah kebohongan belaka. Ketika mereka mendatangi Syam, ia muncul. Dan ketika mereka sedang mempersiapkan peperangan dan sedang merapikan barisan, tiba-tiba datanglah waktu shalat, dan turunlah Nabi Isa bin Maryam SAW, lalu ia mengimami mereka. Dan apabila musuh Allah (Dajjal) melihatnya, niscaya ia akan meleleh sebagaimana garam yang mencair di dalam air, meskipun seandainya saja ia membiarkannya nantinya ia juga akan meleleh lalu binasa akan tetapi Allah menginginkan ia membunuhnya dengan tangannya lalu memperlihatkan kepada mereka darahnya yang berada di ujung tombaknya.” [Muslim no.5157]

      Kejadian perang yang mirip hadis ini terjadi pada jaman Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik (nama panggilan: Abu Ayyub, 96 H – 99 H) yang berupaya menaklukan Konstatinopel dan menempatkan pasukan sebanyak kurang lebih 100.000 personel di daerah Dabiq yang berbatasan dengan Romawi namun kemudian Romawi menyerang dan menggagalkannya [Tarikh Khulafa: Imam As Suyuti dan “Dinasti Umawiyah”, Dr. Yusuf al ‘Isy]

      Mengenai Dajjal,
      2 diantaranya disebutkan berada di jaman Muhammad, yaitu: Al Masih Dajjal dan Ibn Shayyad Dajjal (saat di temui Muhammad ia belum baligh):

        Dajjal Ibn Shayyad:

        • Riwayat Hammad bin Humaid – ‘Ubaidullah bin Mu’adz – Ayahku – Syu’bah – Sa’d bin Ibrahim – Muhammad bin Al Munkadir: ‘Pernah aku melihat Jabir bin Abdullah bersumpah dengan nama Allah bahwa Ibnu Shayyad adalah dajjal. Maka saya katakan, ‘Engkau bersumpah atas nama Allah? ‘ ia jawab, ‘Saya mendengar Umar bersumpah atas yang demikian disisi Nabi SAW dan beliau SAW tidak memungkirinya.’ [Bukhari no.6808. Muslim no.5214 Di Ahmad no.22680 disebutkan mata anak kecil itu (Ibn Shayyad) buta sebelah)
        • Riwayat Sufyan bin Waki’ – ‘Abdul A’la – Al Jurairi – Abu Nadlrah – Abu Sa’id: Rasulullah SAW bertemu dengan Ibnu Sha’id (Ibn Shayyad) di suatu jalan Madinah lalu beliau menahannya, ia adalah budak Yahudi dan ia memiliki rambut yang dipintal, saat itu Rasulullah SAW bersama Abu Bakar dan Umar, Rasulullah SAW bertanya padanya: “Apa kau bersaksi bahwa aku utusan Allah?” ia balik bertanya: Apa kau bersaksi bahwa aku utusan Allah? Nabi SAW bersabda: “Aku beriman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul dan hari akhir.” Nabi SAW: “Apa yang kau lihat?” Abu Sha’id menjawab: Aku melihat ‘arsy diatas air. Nabi SAW: “Kau melihat ‘arsynya iblis diatas laut.” Beliau bertanya: “Apa yang kau lihat?” Ibnu Sha’id menjawab: Aku melihat seorang jujur dan dua pendusta atau dua orang jujur dan seorang pendusta. Nabi SAW: “Disamarkan baginya.” Lalu nabi SAW memanggilnya [Tirmidhi no.2173, Hadis ini Hasan]

          Riwayat Abdullah bin Mua’wiyah Al Jumhi – Hammad bin Salamah – ‘Ali bin Zaid – Abdurrahman bin Abu Bakrah – ayahnya: Rasulullah SAW bersabda: “Ayah dan ibu Dajjal tinggal selama 30 tahun, keduanya tidak memiliki anak, setelah itu keduanya melahirkan bayi buta sebelah mata, ia paling berbahaya dan sedikit manfaatnya, matanya tidur tapi hatinya tidak.” Setelah itu Rasulullah SAW menyebutkan ciri-ciri kedua orang tua Dajjal, beliau bersabda: “Ayahnya tinggi, kurus, hidungnya seperti paruh dan ibunya gemuk bertangan panjang.” Berkata Abu Bakrah: Kami mendengar bayi lahir dikalangan yahudi Madinah, lalu aku pergi bersama Zubair bin Awwam hingga kami memasuki kediaman kedua orang tuanya, ternyata ciri-ciri yang disebutkan Rasulullah SAW ada pada keduanya, kami bertanya: Apa kalian punya anak? Keduanya menjawab: Kami tinggal selama 30 tahun tapi tidak punya anak, setelah itu kami punya anak buta sebelah mata, ia membahayakan dan sedikit sekali manfaatnya, matanya tertidur tapi hatinya tidak. Berkata Abu Bakrah: Lalu kami keluar dari kediaman mereka berdua ternyata ia tengah tergeletak di tanah di bawah terik matahari dalam kain beludru dan ia berbicara tapi tidak difahami. Lalu ia membuka penutup kepalanya, ia bertanya: Apa yang kalian berdua katakan? Kami menjawab: Apa kau mendengar ucapan kami? Ia menjawab: Ya, kedua mataku tidur tapi hatiku tidak. Berkata Abu Isa: hadits ini hasan gharib [Tirmidhi no.2174].

          Riwayat ‘Abd bin Humaid – Abdurrazzaq – Ma’mar – Az Zuhri – Salim – Ibnu Umar: Rasulullah SAW melewati Ibnu Shayyad bersama beberapa sahabat, diantara mereka ada Umar bin Al Khaththab, ia bermain bersama anak-anak kecil didekat Uthum bin Maghalah, ia adalah seorang budak, ia tidak merasa hingga Rasulullah SAW memukul punggungnya lalu beliau bertanya: “Apa kau bersaksi bahwa aku utusan Allah?” Ibnu Shayyad memandang beliau, ia menjawab: Aku bersaksi bahwa engkau adalah rasul kaum ummi. Selanjutnya Ibnu Shayyad bertanya: Apa kau bersaksi bahwa aku utusan Allah? Rasulullah SAW: “Aku beriman kepada Allah dan rasulNya.” Setelah itu nabi SAW: “Apa yang mendatangimu?” Ibnu Shayyad menjawab: Seorang jujur dan seorang pendusta mendatangiku. Nabi SAW: “Urusan dicampur adukkan padamu.” Setelah itu Rasulullah SAW: ” aku menyembunyikan sesuatu padamu.” Nabi SAW ketika itu menyembunyikan kutipan ayat yang berbunyi “dan ingatlah ketika langit membawa asap yang nyata (QS. Addukhan 44.10). Ibnu Shayyad menjawab: Itu adalah asap. Rasulullah SAW bersabda: “Hinalah engkau, engkau tidak bakalan melampaui batas kemampuanmu sebagai dukun!.” Umar berkata: Wahai Rasulullah, izinkan aku menebas lehernya. Rasulullah SAW bersabda: “Bila ia benar, kau tidak akan bisa menguasainya dan bila tidak, tidak ada baiknya bagimu untuk membunuhnya.” Berkata ‘Abdur Razza: Maksud beliau Dajjal. Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih. [Tirmidhi no.2175].

        • Juga di Bukhari no.1267, 2827, 5208, 5707, Muslim no.5215. Abu Dawud no.3768, dst.

        Al Masih Dajjal:

          Muhammad SAW menjadi saksi bahwa Isa Al Masih dan Al Masih Dajjal telah turun ke bumi dan telah saling bertemu:
          Riwayat Ibnu Numair (Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair) – bapakku (Abdullah bin Numair) – Hanzhalah (bin Abu Sufyan)- Salim (bin Abdullah bin Umar) – Ibnu Umar (Abdullah bin Umar) – Rasulullah SAW: “Aku melihat di sisi Ka’bah seorang laki-laki sawo matang, rambut terurai dalam keadaan meletakkan kedua tangannya pada dua orang laki-laki. Kepalanya mengucurkan atau meneteskan air, maka aku bertanya, ‘Siapakah orang ini? ‘ Mereka menjawab, ‘Isa putra Maryam atau al-Masih bin Maryam -Kami tidak mengetahui yang mana perkataan beliau itu-.” Beliau bersabda lagi: ‘Dan aku melihat di belakangnya seorang laki-laki berkulit merah, berambut keriting, buta sebelah kanan mirip orang yang pernah aku lihat, Ibnu Qathan. Lalu aku bertanya, ‘Siapakah ini? ‘ Mereka menjawab, ‘Al-Masih ad-Dajjal‘.”

          [Muslim no.248. Ahmad no.4513, Ahmad no.4736 (Riwayat Ishaq bin Sulaiman – Hanzhalah – Salim – Abdullah bin Umar – Rasullulllah SAW), Ahmad no.6137 (Riwayat Muhammad bin Bakar – Hanzhalah – Salim – Abdullah bin Umar – Nabi SAW: Saya melihat di sisi Ka’bah dekat Maqam Ibrahim..Ia meletakkan tangannya di atas pundak dua orang laki-laki sedang kepalanya meneteskan air. Saya bertanya, ‘Siapakah ini? ‘ Tiba-tiba ada jawaban, ‘Isa bin Maryam atau Al Masih bin Maryam.’ Saya tidak ingat persis redaksinya. Kemudian di belakangnya saya melihat seorang laki-laki yang berkulit kemerah-merahan, keriting rambutnya dan buta mata kanannya. Yakni menyerupai orang yang pernah kulihat yaitu Ibnu Qathan. Maka saya bertanya, ‘Siapakah ini? ‘ Tiba-tiba ada jawaban, ‘Ini adalah Al Masih Ad Dajjal‘”)]

          Hadis lain bahwa Al Masih Dajjal telah ada:
          Riwayat An Nufaili – Utsman bin ‘Abdurrahman – Ibnu Abu Dzi`b – Az Zuhri – Abu Salamah – Fatimah binti Qais:, “Pada suatu malam pernah Rasulullah SAW mengakhirkan shalat isya` yang akhir, lalu beliau keluar dan bersabda: “Sesungguhnya yang menghalangiku adalah kisah yang diceritakan Tamim Ad Dari kepadaku dari seorang laki-laki yang berada di sebuah pulau dari gugusan pulau-pulau. Tamim berkata, “Saat itu tiba-tiba ada seorang wanita yang berambut panjang.” Tamim selanjutnya bertanya, “Siapa kamu?” Ia menjawab, “Aku adalah Jasasah. Pergilah kamu ke istana itu.” Tamim berkata, “Aku pun mendatanginya, ternyata di sana ada seorang laki-laki berambut panjang yang terikat dengan sebuah rantai. Tingginya menjulang antara langit dan bumi. Aku lalu bertanya, “Siapa kamu?” Ia menjawab, “Aku adalah Dajjal. Apakah telah ada seorang Nabi ummiy yang diutus?” Aku menjawab, “Ya.” Ia kembali bertanya, “Apakah orang-orang mentaatinya atau mengingkarinya?” Aku menjawab, “Orang-orang mentaatinya.” Ia berkata, “Itu yang lebih baik bagi mereka.”

          Riwayat Hajjaj bin Abu Ya’qub – Abdu Ash Shamad – Bapakku – Husain Al Mu’allim – Abdullah bin Buraidah – Amir bin Syurahil Asy Sya’bi – Fatimah binti Qais:..Ketika Rasulullah SAW selesai dari shalatnya, beliau duduk sambil tertawa, beliau bersabda: “Hendaklah setiap orang tetap di tempat shalatnya (duduk).”

          Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: “Apakah kalian tahu, kenapa aku kumpulkan kalian di sini?” Para sahabat, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda: “Aku kumpulkan kalian bukan atas sesuatu yang membuat takut atau senang, namun aku kumpulkan kalian adalah karena Tamim Ad Dari, seorang lelaki Nashrani yang datang dan berbaiat masuk Islam, ia menceritakan kepadaku sebuah kisah yang mirip dengan cerita yang pernah aku ceritakan kepada kalian tentang Dajjal.

          Ia ceritakan kepadaku bahwasanya ia pernah menaiki sebuah perahu bersama 30 laki-laki dari kaum Lakhm dan Judzam, mereka kemudian diombang-ambingkan oleh ombak selama 1 bulan di tengah laut, sampai akhirnya mereka menepi ke sebuah pulau saat matahari terbenam. Mereka lantas duduk di sisi kapal mereka, setelah itu mereka bergegas memasuki pulau tersebut hingga akhirnya bertemu dengan binatang melata besar dan berbulu lebat. Mereka berkata, “Celaka engkau, siapa kamu ini!” binatang itu menjawab, “Aku adalah Jasasah. Temuilah laki-laki yang ada dalam sebuah gua, karena ia sangat berkeinginan untuk mendengar berita dari kalian.” Tamim berkata, “Saat ia menyebut laki-laki, maka kami ketakutan jikalau dia adalah setan lalu kami cepat pergi hingga memasuki gua tersebut. Dan ternyata di dalamnya terdapat manusia yang paling besar yang pernah kami lihat, talinya sangat kuat, dan tangannya menyatu dengan leher (terikat dengan rantai).” Lalu perawi menyebutkan hadits tersebut dengan lengkap.

          Manusia besar (Dajjal) itu bertanya kepada mereka tentang Nakhl Baisan (nama tempat dekat Yordania), mata air Zughar (nama tempat di Syam) dan seorang Nabi ummiy. Manusia besar itu berkata, “Aku adalah Al Masih Dajjal, dan hampir-hampir aku mendapat izin untuk segera keluar.”

          Nabi SAW bersabda: “Sesunggunya ia (Dajjal) berada di laut Syam, atau laut Yaman. Bahkan ia akan muncul dari arah timur tempat ia berasal -beliau ucapkan hingga dua kali seraya menunjuk ke arah timur-. Fatimah berkata, “Aku hafal perkataan ini dari Rasulullah SAW, lalu ia menyebutkan hadits selengkapnya.”

          Riwayat Muhammad bin Shadran – kami Al Mu’tamir – Isma’il bin Abu Khalid – Mujalid bin Sa’id – Amir – Fatimah bin Qais: pernah Nabi SAW shalat zhuhur kemudian naik ke atas mimbar, padahal sebelum hari itu beliau tidak penah naik ke atas mimbar tersebut kecuali di hari jum’at. Kemudian beliau menyebutkan kisah ini.” Abu Dawud berkata, “Ibnu Shadran adalah orang Bashrah, ia pernah tenggelam di lautan bersama Ibnu Miswar, dan tidak ada yang selamat dari mereka selain dia.”

          Riwayat Washil bin Abdul A’la – Ibnu Fudhail – Al Walid bin Abdullah bin Jumai’ – Abu Salamah bin ‘Abdurrahman – Jabir:, “Pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda di atas mimbar: “Ketika ada beberapa orang berlayar di lautan, makanan mereka hilang (habis), lalu tampaklah oleh mereka sebuah pulau. Mereka pun menuju pulau tersebut untuk mencari roti, namun mereka dihadang oleh Jasasah.” Aku (Walid bin Abdullah) lantas bertanya kepada Abu Salamah, “apa itu Jassasah?” Ia menjawab, “Seorang wanita yang rambutnya menutupi kulit dan kepalanya. Wanita itu berkata, “Dalam istana ini.” Lalu ia menceritakan haditsnya, dan ia bertanya tentang Nakhl Baisan dan mata air Zughar, ia menjawab; “Dia adalah Al Masih”, maka Abu Salamah berkata kepadaku; Dalam hadits ini ada beberapa lafadz yang tidak aku hafal. Abu Salamah berkata, “Jabir bersaksi bahwa laki-laki itu adalah Ibnu Shayyad.” Aku berkata, “Tapi Ibnu Shayyad telah mati!” Jabir menjawab, “Meskipun ia telah mati.” Aku bertanya lagi, “Ia juga telah masuk Islam.” Jabir berkata, “Meskipun ia telah masuk Islam.” Aku bertanya, “Ia juga telah masuk ke kota Madinah.” Jabir menjawab, “Meskipun ia telah masuk kota Madinah.”

          [Abu Dawud no.3767. Muslim no.5235]

      Ya’juj Ma’juj sebagai PERTANDA bahwa KIAMAT SUDAH SANGAT DEKAT dan AKAN SANGAT CEPAT TERJADINYA,

        Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”..Dzulkarnain berkata: “..maka tolonglah aku dengan kekuatan, agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka….berilah aku potongan-potongan besi..Berilah aku tembaga agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu..Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya…Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar.” [AQ 18.94-97, Al Makiyya, turun urutan ke-69]

        Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir..[AQ 21.96, Al Makiyya, turun urutan ke-73]

        Tentang GOG dan MAGOG (Ya’juj dan Ma’juj):

        • GOG adalah turunan dari Nuh – Sem – Arpakhsad – Selah – Eber – Peleg – Rehu – Serug – Nahor – Terah – Abraham – Ishak – Yakub – Yusuf – Efraim – .. – Zuf – Tohu – Elihu – Yeroham – Elkana – Samuel – Yoel – Semaya – GOG [Kej.11, 25, 30, 46, 1 Sam 1.1, 1 tar 5.4]
        • MAGOG adalah turunan dari Nuh – Yapet – MAGOG (keturunan lain Yapet diantaranya: Tubal, Mesekh) [Kejadian 10.2, 1 tar 1.15]
        • Masing-masing dari nama mereka kemudian menjadi nama sebuah bangsa dan sebuah negeri.
        • Kemudian ada pula GOG yang berada di tanah MAGOG, yaitu raja agung negeri Mesekh dan Tubal [Yeh 38.2,3]
        • Di Perjanjian lama, baik itu GOG maupun MAGOG, bukanlah Iblis

        Seluruh referensi Perjanjian lama TIDAK PERNAH menyatakan bahwa GOG dan MAGOG sebagai satu kesatuan dan/atau 2 (dua) nama tersebut berada di satu jaman tertentu yang sama. Namun, di kitab Wahyu 20.8, nama GOG dan juga nama MAGOG tiba-tiba saja menjadi satu kesatuan dan berfungsi sebagai “ramalan”.

        Islam yang tidak mempercayai kitab-kitab PASCA Yesus wafat malah mengadopsi khayalan Yohanes dengan mengaplikasikanYajuj dan Majuj sebagai penanda kiamat.

      Kapan tembok/benteng Yajuj dan Majuj terbuka?

        Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – ‘Uqail – Ibnu Syihab – ‘Urwah bin Az Zubair – Zainab binti Abu Salamah – Ummu Habibah binti Abu Sufyan – Zainab binti Jahsy: Nabi SAW datang kepadanya dengan gemetar sambil berkata: “Laa ilaaha illallah, celakalah bangsa Arab karena keburukan yang telah dekat, HARI INI TELAH dibuka benteng Ya’juj dan Ma’juj seperti ini”. Beliau memberi isyarat dengan mendekatkan telunjuknya dengan jari sebelahnya. Zainab binti Jahsy berkata, Aku bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa sedangkan di tengah-tengah kita banyak orang-orang yang shalih?”. Beliau menjawab: “Ya, benar jika keburukan telah merajalela”. [Bukhari no. 3097, 3331]

        Riwayat Malik bin Isma’il – Ibnu ‘Uyainah – Az Zuhri – ‘Urwah – Zainab binti Ummu Salamah – Ummu Habibah – Zainab binti Jahsy: Nabi SAW bangun tidur dalam keadaan wajahnya memerah seraya mengucapkan: “laa-ilaaha-illallah, celaka bangsa arab karena keburukan yang telah dekat, HARI INI TELAH dibuka benteng Ya’juj dan Ma’juj seperti ini” –Sedang Sufyan menyatakan secara pasti jumlahnya yaitu sembilan puluh atau seratus-maka beliau di tanya; ‘Apakah kita juga akan binasa sedang diantara kita masih ada orang-orang yang shalih? ‘ Nabi menjawab; “Iya, jika kejahatan telah mewabah.” [Bukhari no.6535, 3098. Muslim no.5130]

      Hadis di atas menyampaikan bahwa Muhammad bangun tidur bercerita kepada Zaynab bint Jashy tentang Yajuj dan Majuj, ini menunjukan mereka telah berada di perkawinan sehingga berita telah bolongnya tembok ini terjadi di setelah turunnya surat AQ 33.63 (5 H)

      Maka kiamat, sudah benar-benar luar biasa dekatnya!

      Muhammad DIUTUS BERSAMAAN DENGAN KIAMAT dalam KISARAN 100 TAHUN!

        Riwayat Sulaiman bin Dawud Al Mahri – Abdullah Ibnu Wahb bin Muslim – Sa’id bin Abu Ayyub – Syarahil bin Yazid Al Mu’arifi – Abu Alqamah – Abu Hurairah – Nabi SAW: “Allah mengirimkan kepada umat ini setiap 100 tahun seorang pembaharu agamaNya” (inna Allaha yab’athu lihadhihi ạl ủmaati ala rasi kuli miayati sanatin MAN YUJADDIDU LAHA DINAHA) Abu Dawud berkata, “Abdurrahman bin Syuraih Al Iskandarani meriwayatkan hadits ini, namun tidak menyebutkan Syarahil.” [Abu Dawud no.3740]

      Kalimat “man yujaddidu”, bukanlah jamak, jadi Allah mengirim “seorang” pembaharu kepada umatnya. Muhammad adalah pembaharu “PENUTUP” dari agama Allah karena disamping Muhammad sendiri telah menyampaikan bahwa tembok Yajuj dan Majuj telah terbuka, beliau juga menyampaikan bahwa beliau dikirim bersamaan dengan hari kiamat dan bahkan hari itu akan terjadi sebelum seorang anak kecil dari suku Azd Syanu’ah Yaman yang sebaya Anas bin Malik menjadi lanjut usia! Jadi Kiamat akan terjadi dalam 100 tahun sejak Muhammad diutus Allah!

        Riwayat Mahmud bin Ghailan – Abu Dawud – Syu’bah – Qatadah – Anas bin malik: Rasulullah SAW: “Aku diutus bersamaan dengan hari kiamat seperti dua ini (maksudnya sangat dekat).” Abu Dawud mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah, ia tidak melebihkan salah satunya atas yang lain. berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih. [Tirmidhi no.2140. Bukhari no.4555, 4889, 6022-6024. Muslim no.5244-5247]

        Riwayat Muhammad bin Ubaid- Al A’masy – Ibnu Abu Khalid – Wahb As Su`ali – Rasulullah SAW: “Dan aku diutus, sementara jarak antara aku dan hari kiamat adalah seperti jarak dari sini ke sini, dan hampir saja ia akan mendahuluinya.” Maka Al A’masy menempelkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Dan sekali waktu, Muhammad berkata; “Hampir saja ia mendahuluiku..” [Ahmad no.18021, 21869]

      DIKISARAN 100 TAHUN!

      • Disampaikan antara SETELAH turunnya AQ 33.63 (5H) hingga 7H:
        Riwayat Hajjaj bin Asy Sya’ir – Sulaiman bin Harb – Hammad bin Zaid – Ma’bad bin Hilal Al Anazi – Anas bin Malik: seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW kapan terjadinya kiamat. Beliau terdiam sejenak lalu melihat anak kecil (gẖulāmi) dari Azd Syanu`ah yang ada didepan beliau, beliau menjawab: “Bila anak ini masih hidup, ia tidak sampai tua hingga kiamat terjadi.” Anas berkata: ANAK ITU (ạl̊gẖulāmu) SEBAYAKU SAAT ITU [Hadis Muslim Bab: Dekatnya kiamat no.41.7452/5250; 41.7451/5249 (Riwayat Abu Bakr bin Abu Syaibah – Yunus bin Muhammad – Hammad bin Salamah – Tsabit – Anas); 41.7453/5251 (Riwayat Harun bin Abdullah – Affan bin Muslim – Hammam – Qatadah – Anas: Anak Mughirah bin Syu’bah, sebayaku, melintasi lalu nabi SAW bersabda: “Bila anak ini panjang umur, ia tidak sampai tua hingga kiamat terjadi” (تَقُومَ السَّاعَةُ,(taquum alssaa’tu) -> AQ 30.12,14,55; AQ 40.46; 45.27 yang artinya waktu kiamat)). Hadis senada ada juga di Musnad Ahmad no. 12097 (Riwayat Yunus dan Hasan bin Musa – Hammad bin Salamah – Tsabit Al Bunani – Anas bin Malik)]

        Riwayat Shadaqah – ‘Abdah – Hisyam – Ayahnya – ‘Aisyah: ada beberapa laki-laki arab badui yang keras perangainya mendatangi Nabi SAW, mereka bertanya kepada beliau kapan waktu itu? (مَتَى السَّاعَةُ فَكَانَ) Beliau melihat yang termuda diantara mereka sembari mengatakan: “Jika anak ini hidup, belum hingga ia lanjut usia (لَا يُدْرِكْهُ الْهَرَمُ حَتَّى), terjadi waktu kiamat (تَقُومَ عَلَيْكُمْ سَاعَتُكُمْ,”taqūmu ʿalaykum saa’tukum”)” Kata Hisham berarti kematian. [Bukhari 8.76.518/6030. kata “taqūmu” dalam AQ 30.12,14,55; AQ 40.46; 45.27 diartikan “kiamat, kebangkitan”. Perawi Hisham bin Urwah tidak bertemu Nabi, Ia lahir 61AH dan wafat 146AH. Ayahnya yaitu Urwah bin Zubair lahir diawal jaman ke Khalifahan Usman. Pernyataan bahwa ini merujuk kiamat disampaikan hadis Muslim di Bab: Dekatnya Kiamat 41.7450/5248 Riwayat Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib – Abu Usamah – Hisyam – ayahnya – Aisyah:” …belum ia tua (لَمْ يُدْرِكْهُ الْهَرَمُ), (قَامَتْ عَلَيْكُمْ سَاعَتُكُمْ, “qamat ʿalaykum saa’tukum” (terjadi waktu kiamat)]

          Note:
          Ghulam adalah anak yang belum baligh.
          Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – Uqail – Ibnu Syihab – Anas bin Malik: Saat Rasulullah SAW datang di Madinah, ia (anas) masih anak-anak usia 10 tahun..saat Nabi SAW wafat aku adalah pemuda yang telah berumur 20 tahun. [Bukhari no.4768, 5769. Muslim no.3784. Ahmad no.11634, 12255]. Juga mengatakan di Mekkah 10 tahun, Medina 10 tahun dan wafat 60 tahun. [Muslim no. 4330]. Nabi Muhammad wafat di 11 H.

          Anas bin Malik hampir baligh (dewasa) di menjelang Perang Khaibar (7H):
          Riwayat Qutaibah -Ya’qub – ‘Amru – Anas bin Malik: Nabi SAW berkata pada Abu Thalhah: “Carilah seorang ghulam (anak kecil sebagai pelayan) dari ghulam milikmu untuk melayaniku selama keberangkatan ke Khaibar. Maka Abu Thalhah keluar bersamaku dengan memboncengku. Saat itu aku adalah seorang anak kecil yang hampir baligh. Aku melayani Rasulullah SAW saat Beliau singgah..Kemudian kami sampai di Khaibar. Ketika Allah membukakan kemenangan kepada Beliau pada peperangan itu, diceritakan kepada Beliau tentang kecantikan Shafiyah binti Huyay bin Akhthab yang suaminya telah terbunuh dan dia menjanda. Maka Rasulullah SAW memilihnya untuk diri Beliau sendiri. [Bukhari no.2679, dalam bab: Keutamaan orang yang mengajak anaknya dalam peperangan sebagai pelayan]

          Batasan usia lelaki baligh, menurut Umar adalah 15 tahun:
          Riwayat ‘Ubaidullah bin Sa’id – Abu Usamah – ‘Ubaidullah – Nafi’ – Ibnu’Umar bahwa dia pernah menawarkan diri kepada Rasulullah SAW untuk ikut dalam perang Uhud, saat itu umurnya masih 14 tahun namun Beliau tidak mengijinkannya. Kemudian ia menawarkan lagi pada perang Khandaq saat itu usiaku 15 tahun dan Beliau mengijinkanku”. Nafi’ berkata; “Aku menemui ‘Umar bin ‘Abdul ‘aziz saat itu dia adalah khalifah lalu aku menceritakan hadis ini, dia berkata: “Ini adalah batas antara anak kecil dan orang dewasa”. [Bukhari no.2470]

          Jadi di saat perang Khaibar usia Anas bisa jadi sudah 15 tahun. Maka ketika bertemu suku Badui dan kemudian Anas mengatakan bahwa usianya dan usia anak kecil itu sebaya maka itu ada di kisaran 13-15 tahunan!


          Anas pernah mengatakan panjang umurnya adalah 99 tahun

          Riwayat Mu’tamir bin Sulaiman – Humaid bin humaid (68H – 142H) – Anas bin Malik: “bahwasanya ia diberikan umur 100 tahun kurang 1 tahun.” [Ahmad no. 11802].

          Anas mempercayai bahwa kiamat terjadi bersamaan dengan Muhammad di Utus, sehingga Ia percaya akan terjadi di penghujung 100 tahun, terhitung sejak Muhammad menjadi nabi [Anas lahir = Muhammad menjadi Nabi], maka ketika Muhammad wafat [11H, Anas ketika itu berusia 20 tahun], sisanya sampai kiamat adalah 80 tahun lagi [11H + 80 = 91H]. Ketika perawi Humaid akil balig (15 tahun) maka usia Anas sudah 93 tahun (68H + 15 + 10), sehingga wajar saja Anas kemudian menyampaikan prediksi bahwa umurnya 99 karena akan kiamat! Namun ternyata, meleset, Anas wafat di usia lebih dari 100 tahun, yaitu di usia 102/103 tahun (93 H).

      • Disampaikan lagi pada 2 TAHUN sebelum wafat beliau (9 H):
        Riwayat (Ibnu Numair – Abu Khalid) dan (Abu Bakr bin Abu Syaibah – Sulaiman bin Hayyan) – Dawud – Abu Nadhrah – Abu Sa’id: Tatkala Nabi SAW kembali dari perang Tabuk (Akhir Oktober 630/Rajab 9H), para sahabat bertanya kepada beliau tentang hari kiamat. Lalu beliau bersabda: “Tidak akan ada lagi orang-orang yang hidup pada hari ini, setelah 100 tahun yang akan datang.” [muslim no.4608]
      • Disampaikan lagi pada 1 BULAN sebelum beliau wafat (11 H):
        Riwayat Harun bin ‘Abdullah dan Hajjaj bin Asy Sya’ir – Hajjaj bin Muhammad – Ibnu Juraij – Abu Az Zubair – Jabir bin ‘Abdullah: Rasulullah SAW bersabda sebulan sebelum wafatnya: “Kalian menanyakan kepadaku tentang Hari Kiamat, ketahuilah bahwa ilmunya di sisi Allah. Saya bersumpah demi Allah, tidak akan ada manusia yang hidup pada hari ini di atas bumi, setelah 100 tahun yang akan datang.” Riwayat Muhammad bin Hatim – Muhammad bin Bakr – Ibnu Juraij (tidak menyebutkan perkataan; ‘sebulan sebelum wafatnya.’) [muslim no.4606. Namun di Muslim no.4607 terdapat 2 jalur perawi lain yg menyebutkan kata “sebulan sebelum wafatnya” juga di Ahmad no.13929 ]
      • Disampaikan lagi di HARI-HARI AKHIR sebelum beliau wafat (11 H):
        Riwayat Sa’id bin ‘Ufair – Al Laits – ‘Abdurrahman bin Khalid bin Musafir – Ibnu Syihab – Salim dan Abu Bakar bin Sulaiman bin Abu Hatsmah – ‘Abdullah bin ‘Umar: “Nabi SAW shalat Isya’ bersama kami di hari-hari akhir hayatnya. Setelah selesai memberi salam beliau berdiri dan bersabda: “Tidakkah kalian perhatikan malam kalian ini?. Tidak akan tersisa seorangpun dipermukaan bumi yang ada di malam ini pada penghujung 100 tahun sejak malam ini” [Bukhari 1.3.116/no.113; Bukhari 1.10.539/no.531 dan Ahmad no.5873 (tidak ada kata di hari-hari akhir hayat)].

        Di hadis lainnya, yaitu yang berasal dari perawi yang sama (Salim dan Abu Bakar bin Sulaiman bin Abu Hatsmah – ‘Abdullah bin ‘Umar) namun ujung perawi lanjutannya yang berbeda-beda, disampaikan TAMBAHAN variasi TAFSIR dari Abdullah ibn Umar mengenai maksud Rasullulah tentang 100 tahun, di antaranya:

        • “Sesungguhnya maksud sabda Nabi, ‘Tidak akan ada orang yang tersisa di atas bumi ini’ adalah berakhirnya generasi tersebut’.” [bukhari 1.10.575/no.566. Tirmidhi 33.2471/no.2177].
        • hanyasanya yang beliau inginkan dari sabdanya “Tidak ada lagi disana seorang pun yang hari ini di atas bumi.’ maksudnya, generasi (manusia yang hidup dalam) 100 tahun itu berhenti, dan diganti generasi lain.” [ahmad no.5755]
        • Sebenarnya Rasulullah SAW hanya ingin mengatakan: ‘Di awal abad yang akan datang, orang yang hidup pada masa sekarang ini tak satupun yang masih hidup.’ Maksudnya masa para sahabat itu akan habis. [muslim no.4605]
        • Sebenarnya Rasulullah SAW mengatakan: “Orang-orang yang hidup hari ini, maka 100 tahun ke depan tidak akan ada lagi yang masih hidup di muka bumi.” Maksudnya, beliau menegaskan bahwa masa itu akan terjadi.” [Abu dawud no.3784]
        • yang Rasulullah SAW maksudkan adalah: “‘Pada hari ini tidak ada seorangpun yang berada di hamparan bumi menginginkan untuk melewati abad ini.’ [ahmad no.5360]

        Melihat begitu bervariasinya dan tidak konsistennya pendapat dari Ibn Umar di atas, maka TAMBAHAN PENDAPATNYA ini saja sudah patut diabaikan.

        Disamping itu,
        Apa istimewanya sehingga sedemikian pentingnya perlu memperhatikan malam itu saja, jika ternyata maksud pernyataan muhammad cuma sekedar hendak menyatakan bahwa generasi akan berganti, padahal tanpa perlu “sabda supranatural”nya, tetap saja generasi akan berganti. Pun pada yang berpendapat bahwa maksudnya adalah tidak akan ada orang yang akan berusia sampai 100 tahun, maka pada jaman Muhammad hidup saja, Abu Afak, sudah berusia 120 tahun ketika ia dibunuh atas perintah Muhammad akibat ketajaman syairnya menyindir Muhamad dan juga Anas bin Malik, yang pada kenyataannya wafat di usia 102/103 tahun telah membantah telak spekulasi tersebut!

      Sekarang, 1400an tahun telah berlalu dan ramalan beliau ini malah meleset nggak tangung-tanggung.. 🙂

      Tambah bingung?

      Oh, itu sih masih belum seberapa,
      Yang paling seru adalah kekekalan para surgawan/wati + bidadari untuk ada di surga (al janati) ini ternyata ADA BATASAN WAKTUNYA yaitu SELAMA LANGIT dan BUMI ADA! [11:107-108].

        note:
        Mereka yang menasirkan ketidakkekalan surgawan dengan AQ 14.48 jelas SALAH KONTEKS, karena AQ 14.48 adalah dalam konteks saat kiamat, mereka sedang DIKUMPULKAN di padang Masyar atau dalam kegelapan di bawah shirath/jembatan (Hadis muslim no.473/3.614) setelah bumi dan langit hancur total DAN BUKAN ketika mereka TELAH mendapat surga/neraka.

      Loh! Jadi kapan masuk surganya??!!!!

      Berapa QUOTA MAXIMUM surga kaum Muslimin?

      Quran telah menyatakan bahwa sejak awal sekali Alah telah menetapkan dan mencatat jumlah orang yang masuk surga/neraka, takdir apapun yang diperbuatnya yang menyebabkan mereka berakhir di neraka atau surga:

      • Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti.[AQ 19.94, turun di urutan ke-44]
      • Dan tiap-tiap manusia telah Kami tetapkan takdirnya (thaa-irahu) di lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka.[AQ 17.13, turun di urutan ke-50]
      • …Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat [AQ 37.96, turun di urutan ke-56]
      • …sesungguhnya kitab para durhaka (alfujjaari) dalam (lafii) sijjin. …kitab para orang benar (al-abraari) dalam (lafii) illiyiina [AQ 83.7,18. Turun di urutan ke-83]
      • Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab sebelum Kami menciptakannya..[AQ 57.22, turun di urutan ke-94]

        Note:
        Banyak muslim menyelewengkan ayat AQ 13.11: “..inna (Sesungguhnya) al-laha (Allah) laa (tidak) yughayyiru (merobah) maa (apa) biqawmin (sesuatu kaum) hattaa (hingga) yughayyiruu (mereka merubah) maa (apa) bi-anfusihim (mereka sendiri)..” (juga di AQ 8.53), yaitu pada kata “maa (apa)” yang diartikan seenaknya menjadi: “Nasib” yang kemudian ayat ini masyhur sebagai rujukan paksa bahwa “manusia bisa merubah nasibnya asal mau berusaha (misal: dengan akal/pengetahuan)“. Namun jika saja mereka mau membaca ayatnya sendiri dengan baik, maka jelas disebutkan dilanjutannya, bahwa “wa-idha (Dan jika) araada (kehendak) allaahu (Allah) biqawmin (suatu kaum) suuan (sial) falaa (maka TIDAK ADA) maradda (yang dapat menghindar) lahu (darinya)” [Tafsir Ibn kathir AQ 8.53, menyebutkan bahwa yang dimaksudkan “maa (apa)” adalah ni’mat]. Jadi manusia tetap saja tidak dapat mengubah nasib, karena qadarnya telah ditentukan Allah sebagaimana disampaikan ayat-ayat di atas.

      Di mana kita temukan besaran quota jumlah orang yang masuk surga? Di hadis.

        Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. [AQ 4.59]

      Sekumpulan hadis yang memberikan informasi detail hitungan quota surga bagi kaum MUSLIMIN (lihat: fatawa: 4203 (inggrisIndonesia), 139092 dan 169822 dan 168523)

      Hadis menyampaikan bahwa sejak Adam diciptakan hingga kiamat kelak, Allah telah memberikan jumlah proprosional yang masuk neraka, yaitu “dari setiap 1000, 999 dijebloskan neraka!” [Bukhari no.3099, 4372, 6049. Muslim no.327, 5233. Ahmad no.6268, 10854], barisan surgawan adalah 120 baris, di mana, 80 barisnya merupakan umat muhammad dan rombongan pertama terdapat 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan sejumlah berikutnya masuk surga setelah melalui hisab:

      1. Rombongan pertama adalah 70.000 orang tanpa dihisab (tanpa siksa neraka) [Hadis Qudsi no.9/110 dari Ibn Mas’ud (Ibn Hibban); Hadis Bukhari: no.5270, 5311, 5991 (atau: 8.76.479, 8.76.549 (6059), Tirmidhi no. 2370 dari Ibn Abbas; Muslim: 1.367 dari Abu Zubair, 1.418, Darimi no.2686 dari Abu huraira, 1.422/320, 1.423/321 dari Imran, 1.425 dari Husain b. ‘Abd al-Rahman].

        Rombongan pertama, 70.000 orang tanpa hisab ini, akan dijamu Allah dengan lauk “lembu/sapi (balaam) dan hati ikan paus (nun)” [Bukhari no.6039/8.76.527. Atau di Muslim no.5000/39.6710 (arab: terdapat penjelasan: “أَمَّا ( النُّون ) فَهُوَ الْحُوت بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاء” / “Nun adalah Ikan paus menurut konsensus para ulama”)]

        Riwayat Yazid bin Harun – Isma’il bin Abi Khalid – Ziyad Al Makhzumi – Abu Hurairah – Rasulullah SAW:

          “..rombongan pertama yang akan masuk surga dari umatku adalah 70.000 tanpa hisab, setiap orang dari mereka wajahnya seperti rembulan di malam purnama, kemudian setelah mereka seperti bintang yang paling terang cahayanya di langit, kemudian mereka akan menempati surga sesuai dengan tingkatannya masing-masing.” [Ahmad no.10144].

        Cilakanya Hadis-hadis nabi yang dikategorikan sahih ini malah bertentangan dengan Quran yang menyatakan telak kepastian Allah bahwa bahwa SELURUH MUSLIM akan nyemplung ke Neraka dulu dan tidak ada yang langsung masuk surga

          Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui (tsumma lanahnu a’lamu) orang-orang yang seharusnya (bialladziina hum awlaa) dimasukkan ke dalam neraka/terbakar di dalamnya (bihaa shiliyyaan). DAN TIDAK ADA SEORANGPUN DARIPADA MU (wain minkum) MELAINKAN MENDATANGI (neraka) ITU (illaa waariduhaa kaana). Hal itu bagi Tuhanmu ADALAH SUATU KEMESTIAN YANG SUDAH DITETAPKAN. (‘alaa rabbika hatman maqdhiyyaan). Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa (tsumma nunajjii alladziina ittaqaw) dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut (wanadzaru alzhzhaalimiina fiihaa jitsiyyaan). [AQ 19.70-72, Surat Maryam adalah Al Makiyyah dan turun di urutan no.44 dengan pengecualian, yaitu ayat no.58 dan no.71 adalah madaniyyah]

        Kemudian, Untuk mengetahui JUMLAH TOTAL selain dari yang 70.000 (tanpa hisab), berikut rincian dan dalilnya:

        • Untuk hadis Nabi dari jalur riwayat Abu Hazim – Sahl ibn Sa’d – Rasullullah SAW: “DI ANTARA UMATKU ada 70.000 orang” atau “700.000 orang -Sahal ragu kepastiannya-” masuk surga dengan TANPA HISAB, mereka saling berhimpitan, satu sama lain saling bergandengan, dari yang pertama-tama hingga yang terakhir masuk surga, wajah mereka bercahaya bulan di malam purnama”. [Bukhari no.6061/8.76.551 atau dengan narasi yang sedikit berbeda: Bukhari no.6070/8.76.560, Muslim no.322/1.424 (Di sebutkan: Abu Hazim ragu kepastiannya). Juga Bukhari no.3008 atau lihat: Fath al-Bâri 6/319]. Hadis ini mengindikasikan BUKAN jumlah TOTAL surgawan melainkan hanya jumlah yang TIDAK DI HISAB. Karena perawinya sendiri (Sahlal dan/atau Abu Hazim) TIDAK YAKIN mana dari dua angka tersebut yang benar dan juga terdapat banyak jalur perawi lain yang tegas menyatakan jumlah 70.000 tanpa hisab, maka jumlah 700.000 dapat kita abaikan
        • Untuk hadis nabi yang menyebutkan, “..setiap orang dari 70.000 akan membawa 70.000 masuk surga bersama mereka”. Hadits ini tidak tercatat di Bukhari maupun Muslim, namun dilaporkan oleh Ahmad no.22 (riwayat Abu Bakar Ash Shiddiq, namun salah satu rantai perawi namanya tidak diketahui). Ahmad no.1613 (riwayat Abdurrahman bin Abu Bakar, rantai perawi bermasalah adalah Musa bin ‘Ubaid (tabiin kalangan biasa bukan tabiin kibar dinilai majhul) dan Al Qasim bin Mihran (Ibn Hajar mengatakan ia mastur (penilaian terhadapnya belum bulat)) dan lainnya misal: Sahîh al-Jâmi’, 1/350 no. 1068 dan 6/108 no. 2988. Juga di Tirmidhi dan Ibn Hibbân.

          Untuk hadis-hadis di atas ini, Ibnu Hajar berkata, “Ada dua perawi dalam rantai narasi, salah satunya lemah dan yang lainnya tidak disebutkan“. Selain itu, Abdul Qadir Al Arna’ut mengklasifikasikan sebagai dha’if (lemah) ketika berbicara hadis dari Musnad Imam Ahmad.

          Jadi ini pun dapat kita abaikan.

        • Untuk hadis nabi yang menyebutkan, “..setiap 1000-nya disertai dengan 70.000″, terdapat hadis yang dikategorikan dha’if (lemah) dan ada pula hadis yang dikategorikan sahih.
          • 3 hadis nabi di bawah ini adalah dha’if dan tidak dapat dijadikan hujjah karena di rantai perawinya ada Ibn Lahi’ah:
            • “..bahwa yang pertama masuk surga dari ummatku adalah 70.000 orang, setiap 1000-nya bersama 70.000, mereka tidak dihisab” – Ahmad no.22246 (riwayat Al Hasan bin Musa – Ibnu Lahi’ah – Ibnu Hubairah – Abu Tamim Al Jaisyani – Sa’id – Hudzaifah – Rasulullah SAW)
            • “..Rabb kalian menawariku antara 70.000 umatku masuk surga tanpa hisab atau simpanan disisiNya untuk ummatku.” Sebagian sahabat bertanya kepada beliau: Wahai Rasulullah! Apakah Rabb baginda menyembunyikannya?. Rasulullah SAW masuk rumah lalu keluar, beliau bertakbir lalu bersabda: “Rabbku menambahiku, setiap 1000-nya bersama 70.000 dan simpanan disisiNya” Abu Ruhm: Hai Abu Ayyub! Menurutmu, simpanan Rasulullah SAW itu apa?..Berkata Abu Ayyub: Biarkan orang itu dan aku akan memberitahu kalian tentang simpanan Rasulullah SAW seperti yang aku kira, bahkan seperti orang yang yakin bahwa simpanan Rasulullah SAW adalah firman Rabb: “Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang haq) kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya seraya lisannya membenarkan hatinya, Aku memasukkannya ke surga.” – Ahmad no.22406 (Riwayat Hasan bin Musa – Ibnu Lahi’ah – Abu Qabil – ‘Abdullah bin Nasyir (di kategorikan majhul) – Bani Sari’ – Abu Ruhm – Abu Ayyub Al Anshari – Rasulullah SAW)
            • “..maka golongan pertama yang selamat, wajah mereka seperti rembulan di Malam Purnama, ada 70.000 orang yang tidak dihisab, kemudian disusul orang-orang yang wajah mereka bagaikan cahaya bintang-bintang di langit, kemudian begitu seterusnya, kemudian tibalah syafaat, dan mereka memberikan syafaat hingga orang yang pernah mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH keluar dari neraka, yaitu mereka yang di dalam hatinya masih terdapat iman meski seberat biji gandum, lalu mereka ditempatkan di halaman surga dan para penghuni surga pun menyiramkan air kepada mereka, hingga mereka tumbuh seperti tumbuhnya tetumbuhan dalam genangan air, dan bekas sengatan api pada diri mereka pun hilang seketika, lalu ia memohon kepada Allah AzzaWaJalla hingga Allah memberikan dunia kepadanya dan sepuluh kali lipat darinya” – Ahmad no.14194 (Riwayat Musa bin Daud – Ibnu Lahi’ah – Abu Az Zubair – Jabir bin Abdullah – Rasulullah SAW)

            Pendapat ulama tentang Abdullah bin Lahi’ah:

            • Abu Zur’ah: la yadlbuth (tidak kuat hapalannya)
            • Muhammad bin Sa’d: Ia dha’if
            • Hakim: Ia dzahibul hadits (penghilang hadis)
            • Ibnu Hajar: Ia Shaduuq (Namun Ibn Hajr lebih dari 13x menyatakan ia Dhaif/lemah (At-Talkhis Al-Habir fi Takhrij Ahadits Ar-Rofi’I Al-Kabir, misal di vol 3, hal.399), “Ia kacau hafalannya setelah kitab-kitab hadisnya terbakar” (Taqrib At-Tahdzib I/319 no.3563). Para ahli hadis telah memberikan arahan:
              (عَنْ عَمْرِو بْنِ عَلِىٍّ يَقُوْلُ عَبْدُ اللهِ بْنُ لَهِيْعَةَ إِحْتَرَقَتْ كُتُبُهُ فَمَنْ كَتَبَ عَنْهُ قَبْلَ ذلِكَ مِثْلُ بْنِ الْمُبَارَكِ وَعَبْدِ اللهِ بْنِ يَزِيْدَ الْمُقْرِى أَصَحُّ مِنَ اَّلذِيْنَ كَتَبُوْا بَعْدَمَا احْتَرَقَتِ الْكُتُبُ) Amr bin Ali: “Abdullah bin Lahi’ah terbakar kitab-kitabnya, siapa yang menulis hadis darinya sebelum kitabnya terbakar, seperti Abdullah bin Mubarak, Abdullah bin Yazid al-Muqri, itu lebih sahih daripada orang-orang yang menulis setelah kitab-kitabnya terbakar” (Al-Jarh wat Ta’dil, V, hal.147) dan (وَرِوَايَةُ بْنِ الْمُبَارَكِ وَابْنِ وَهْبٍ عَنْهُ أَعْدَلُ مِنْ غَيْرِهِمْ)
              “riwayat Abdullah bin Mubarak dan Abdullah bin Wahab darinya lebih adil daripada riwayat yang lain” (Taqribut Tahdzib I/319)
            • Ibnu Hiban (Abu Hatim bin Hiban al-Busthi): (وَكَانَ شَيْخًا صَالِحًا وَلكِنَّهُ كَانَ يُدَلِّسُ عَنِ الضُّعَفَاءِ قَبْلَ اخْتِرَاقِ كُتُبِهِ) “Ia seorang syekh yang saleh tapi melakukan tadlis dari rawi-rawi dhaif sebelum kitabnya terbakar” (Al-Majruhin, II.11) atau “Sebagian sahabat kami mengatakan, ‘Siapa yang menerima hadisnya sebelum kitab-kitabnya terbakar, seperti abadilah (para rawi bernama Abdullah, yaitu Abdullah bin al-Mubarak, Abdullah bin Wahab, Abdullah bin Yazid al-Muqri, dan Abdullah bin Maslamah al-Qa’nabi), maka itu sahih, dan siapa yang menerima setelah kitab-kitabnya terbakar, maka laisa bi syai-in (tidak ada nilainya)” (Siyar A’lam An-Nubala, 8:23)
            • Tabari: Ia pikun di akhir umurnya
            • Ibn Kathir: Ia dan gurunya (Abdurrahman bin Ziyad bin Al-‘Amm) keduanya adalah dhaif [Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, vol 1, hal.593]
            • Ibrahim bin Ya’qub Al Jauzajani: (إِبْنُ لَهِيْعَةَ لاَ يُوْقَفُ عَلَى حَدِيْثِهِ وَلاَ يَنْبَغِيْ أَنْ يُحْتَجَّ بِهِ وَلاَ يُغْتَرُّ بِرِوَايَتِهِ) “Ibnu Lahi’ah tidak diketahui hadisnya, tidak dapat dijadikan hujjah, jangan tertipu oleh riwayatnya” (Ahwaal Ar-Rijaal, No. 274)
            • Imam Tirmidhi: (إِبْنُ لَهِيْعَةَ ضَعِيْفٌ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيْثِ, ضَعَّفَهُ يَحْيَى بْنُ سَعِيْدٍ الْقَطَّانُ وَغَيْرُهُ مِنْ قِبَلِ حِفْظِهِ) “Ia dhaif menurut ahli hadits, didaifkan oleh Yahya bin Sa’id al-Qathan dan yang lainnya dari segi hapalan (Sunan 1/16 no.10)
            • Ad-Daruquthni: tidak boleh berhujah dengan haditsnya (sunan no. 250 dan di no.251: haditsnya Dhaif (Adh-Dhu’afa no. 322)
            • Adz-Dzahabi: Ia dhaif, tidak boleh berhujah darinya (Al-Mizan Juz 3 no.4530)
            • Ad-Darimi: “dha’iful hadis”
            • Imam khatib Baghdad: Ia seorang yang tasahul dalam periwayatan, krn itu banyak yang mengingkari riwayatnya”
            • An Nawawi (Tahdzib Al-Asma wal Lughoh 1/392 no. 328) dari Ibn Mu’in: Dia dha’if baik sebelum kitabnya terbakar atau setelahnya (Mu’in: (لاَيُحْتَجُّ بِحَدِيْثِهِ),”Hadisnya tidak dapat dijadikan hujjah”). Dan telah mendha’ifkannya: Laits ibn Sa’ad, Yahya ibn Sa’id, Bukhari, Nasai [Adh-Dhu’afa wa Al-Matrukin, I/64 no.346], Ibn Sa’ad dan lainnya. Berkata Baihaqi, “Ijma (kesepakatan) ahli hadits atas kedha’ifan Ibn Lahi’ah, dan (mereka) meninggalkan berhujjah dengannya dengan apa-apa yang ia menyendiri dengan riwayatnya (tidak ada saksi)”
            • Al-Albani: Ia Dhaif (Silsilah Al-Hadits Adh-Dhai’fah 2/589)

            Jadi ini pun dapat kita abaikan.

          • Di bawah ini adalah hadis nabi yang hasan (baik) dan dapat dijadikan hujjah:

            “Rabbku berjanji padaku untuk memasukkan 70.000 orang dari ummatku tanpa hisab dan adzab, setiap 1000nya bersama 70.000..” [Tirmidhi no.2361 (2624) dari Abu Umamah. Pendapat Abu Isa: Hadits ini hasan gharib]

            note:
            “حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ، حَدَّثَنَا اِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ الاَلْهَانِيِّ، قَالَ سَمِعْتُ اَبَا اُمَامَةَ، يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏”‏ وَعَدَنِي رَبِّي اَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ مِنْ اُمَّتِي سَبْعِينَ اَلْفًا لاَ حِسَابَ عَلَيْهِمْ وَلاَ عَذَابَ مَعَ كُلِّ اَلْفٍ سَبْعُونَ اَلْفًا وَثَلاَثُ حَثَيَاتٍ مِنْ حَثَيَاتِهِ ‏”‏ ‏.‏ قَالَ اَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ ‏.‏”.

            (Hadis dengan narasi seperti di atas juga yang juga dari riwayat Abu Umamah ada di Ibn Majah no.4276 (4427) “..70.000 orang dari ummatku ke dalam surga tanpa hisab dan siksa. Dan setiap 1000 orang dengan 70.000 orang” dan Ahmad no. 21271 “70.000 dari ummatku akan masuk surga tanpa hisab dan adzab, setiap 1000nya bersama 70.000”, juga di Ahmad no.21135)

            Perlu di catat,
            tidak ada informasi di hadis ini yang menyatakan bahwa mereka yang berikutnya masuk surga ini uga tanpa hisab. Jadi, mereka ini bukan kelompok pertama dan merupakan kelompok berikutnya yang masuk surga setelah melalui hisab.

            Dalil bahwa SELAIN dari kelompok pertama (70.000 orang, masuk surga TANPA di hisab dan azab) adalah kelompok (setiap 1000-nya bersama 70.000) yang masuk surga SETELAH keluar dari neraka (SETELAH di HISAB):

              Riwayat Suwaid bin Sa’id – Hafsh bin maisarah – Zaid bin Aslam – ‘Atha’ bin Yasar – Abu Sa’id Al Khudri – Rasulullah SAW:

              ….lalu jatuh ke dalam neraka, hingga tidak tersisa melainkan orang yang menyembah Allah dari kalangan orang baik dan orang fajir..Kemudian di bentangkan jembatan di atas Jahannam, dan berlakulah syafa’at pada saat itu, mereka berguman; “ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah.”..Maka dikatakan kepada mereka; “keluarkanlah orang-orang yang kalian ketahui…”kembalilah kalian, maka barangsiapa yang kalian temukan didalam hatinya kebaikan seberat dinar…setengah dinar…seberat biji jagung, keluarkanlah.” Maka merekapun kembali mengeluarkan jumlah yang begitu banyak. Kemudian mereka berkata; “wahai Rabb kami, kami tidak menyisakan di dalamnya kebaikan sama sekali.”…

              Allah lantas berfirman: “Para Malaikat, Nabi dan orang-orang yang beriman telah memberi syafaat, sekarang yang belum memberikan syafaat adalah Dzat Yang Maha Pengasih.” Kemudian Allah menggenggam satu genggaman dari dalam neraka, dari dalam tersebut Allah mengeluarkan suatu kaum yang sama sekali tidak melakukan kebaikan, dan mereka pun sudah berbentuk seperti arang hitam…Dan mereka adalah orang-orang yang Allah merdekakan dan Allah masukkan ke dalam surga tanpa amalan dan kebaikan sama sekali..”[Muslim no.269/1.352]

              Riwayat Ubaidulah bin Sa’id dan Ishaq bin Manshur – Rauh bin Ubadah al-Qaisi – Ibnu Juraij – Abu az-Zubair – Jabir bin Abdullah:

              “Kita dibangkitkan pada Hari Kiamat begini dan begini…Setiap seorang di antara mereka baik munafik atau mukmin akan diberi Cahaya. Kemudian mereka mengikuti cahaya tersebut melalui jembatan Neraka Jahanam. Di atasnya terdapat besi-besi pengait dan berduri yang merenggut siapa saja yang dikehendaki oleh Allah. Kemudian cahaya orang-orang munafik padam

              maka orang-orang beriman selamat rombongan pertama dan wajah mereka bagaikan bulan purnama 70.000 orang tanpa dihisab (ثُمَّ يَنْجُو الْمُؤْمِنُونَ فَتَنْجُو أَوَّلُ زُمْرَةٍ وُجُوهُهُمْ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ سَبْعُونَ أَلْفًا لَا يُحَاسَبُونَ) maka yang berikutnya seperti terangnya bintang-bintang di langit maka demikian kemudian berganti syafaat, bersyafa’at hingga keluar dari Neraka (ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ كَأَضْوَإِ نَجْمٍ فِي السَّمَاءِ ثُمَّ كَذَلِكَ ثُمَّ تَحِلُّ الشَّفَاعَةُ وَيَشْفَعُونَ حَتَّى يَخْرُجَ مِنْ النَّارِ), yaitu orang yang mengucapkan, ‘Laa Ilaaha Illaahau (Tidak ada tuhan selain Allah), dan dahulu di hatinya terdapat kebaikan seberat biji gandum. Mereka akan ditempatkan di halaman Surga, lalu Ahli Surga akan memercikkan mereka dengan air sehingga daging mereka tumbuh bagaikan tumbuhnya sesuatu tumbuhan selepas banjir, dan hilanglah hangusnya. Kemudian dia (orang terakhir meminta), sehingga diberikan kepadanya dunia dan sepuluh kali lipatnya.” [muslim 1.367/no.278]

            Demikianlah dalil bahwa SELAIN 70.000 orang (kelompok pertama, TANPA hisab), maka SISANYA masuk surga juga SETELAH melalui hisab.

        Sehingga,
        perhitungan quota yang beroleh surga adalah: Per 1000 surgawan dari (poin ke-1) akan membawa lagi: 70.000 orang -> 70 x 70.000 = 4.9 juta orang + (point ke-1) = 4.97 juta orang (1/3-nya adalah pria).

      2. Sebagai pembanding kesesuaian perhitungan,
        simak juga hadis nabi yang menyatakan barisan surgawan banyaknya adalah 120 baris dan 80 barisnya merupakan umat muhammad [Tirmidi no.3469, Tirmidhi berkata, “Ini hadis Hasan” (Fatwa no.4203) atau lihat di Tirmidhi no.2469 (Dua jalur perawi) sehingga tentunya sisanya adalah umat-umat lain termasuk non Ahlul kitab. Misalnya:
          Riwayat ‘Affan Abdul Wahid bin Ziyad – Al Harits bin Hashirah – Al Qosim bin Abdurrahman – ayahnya – Ibnu Mas’ud: Rasulullah SAW bertanya kepada kami: “Bagaimana jika kalian menjadi 1/4 penghuni surga, kalian 1/4nya sementara seluruh manusia 3/4nya?” Mereka menjawab; Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui. Beliau bertanya lagi: “Bagaimana jika kalian menjadi 1/3nya?” Mereka menjawab; Itu lebih banyak. Beliau bertanya lagi: “Bagaimana jika kalian menjadi 1/2nya?” Mereka menjawab; Itu juga lebih banyak. Rasulullah SAW bersabda: “Pada hari kiamat, penduduk surga berjumlah 120 barisan, sedangkan kalian sebanyak 80 barisan.” [Ahmad no.4100, 21862, 21983 dan 21924. Juga di Sunan Darimi no.2713].

          Di ahmad no. (3615, 3768, 3790) dari riwayat Ibn Mas’ud, disebutkan bahwa dari sekian banyak orang yang memenuhi lembah/bukit dan ufuk yang masuk surga dan yang merupakan umat muhammad, hanya 70.000 orangnya yang tidak di hisab. di hadis Ahmad no.3615 terdapat tambahan kata:, “Lalu dikatakan kepadaku: Sesungguhnya diantara mereka ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab. Lantas Nabi SAW berkata: Jika kalian mampu jadilah termasuk dari yang 70.000 dan jika tidak mampu jadilah termasuk dari orang-orang yang memenuhi lembah namun jika tidak maka jadilah orang-orang yang memenuhi ufuk“.

          Di Bukhari no.6059/8.76.549 dari perawi Ibn Abbas dan muslim no.278/1.367 dari Abu Zubair, disampaikan, “..‘Wahai Jibril, apakah mereka itu ummatku? Jibril menjawab, ‘Bukan, tapi lihatlah ke ufuk!’ Maka aku pun melihat ternyata ada sejumlah besar manusia. Jibril berkata, ‘Mereka adalah ummatmu, dan mereka yang di depan, 70.000 orang (Abbas: Those are your followers, and those are seventy thousand (persons) in front of them. Abu Zubair: the first group to achieve it would comprise seventy thousand) tidak akan dihisab dan tidak akan diadzab.”

        Berdasarkan hadis tersebut, Karena baris yang depan adalah 70.000 surgawan, maka quota umat muhammad di surga -> 80 x 70.000 = 5.6 juta orang (1/3-nya adalah pria).

        [note:
        hasil hitungan dengan hadisl hadis yang kita gunakan sebagai pembanding, ternyata hanya berselisih: 700.000. Ini juga merupakan sebuah kebetulan yang sangat menarik, mengingat di atas terdapat hadis sahih yang meriwayatkan keraguan perawinya (sahlal/Abu Hazim), mengenai angka yang mana di antara: “70.000 atau 700.000“.]

      Di samping hal di atas,
      terdapat juga hadis menarik yang perlu anda SIMAK dan PERHATIKAN dengan baik, yaitu Ahmad no.8352 (Riwayat Yahya bin Abu Bukair – Zuhair bin Muhammad – Suhail bin Abu Shalih – bapaknya (Dzakwan) – Abu Hurairah – Rasulullah SAW):

        “Aku memohon kepada Rabbku ‘azza wajalla, lalu Allah memberiku janji untuk memasukkan dari umatku sebanyak 70.000 semisal bulan di malam purnama, lalu aku meminta tambahan, dan Dia memberiku tambahan bahwa setiap 1000 orang akan membawa 70.000 orang.

        Lalu aku berkata; ‘Wahai Rabb, BAGAIMANA JIKA JUMLAH ITU TIDAK TERPENUHI dari orang-orang yang berhijrah dari umatku?

        ALLAH BERFIRMAN: ‘KALAU BEGITU AKAN AKU PENUHI JUMLAH ITU DARI ARAB BADUI
        ‘”.

      Hadis di atas menunjukan:

      • Kata hijrah yang dimaksud jelas bukanlah hijrah dari Mekkah ke Medina, karena kita tahu jumlah yang hijrah ke Medina ketika itu tidak sampai 100 orang.
      • Menunjukan jumlah quota yang Allah janjikan adalah jumlah final (total 4.97 juta) dan pun sudah diberikan kepastian bahwa jika quota tidak terpenuhi maka akan di isi dari ras Arab Badui BUKAN dari ras lainnya.

      Hadis ini dulunya menjadi faktor yang menguntungkan, karena dapat dipakai sebagai daya tarik “memualafkan” para ras Arab Badui, namun abad demi abad pun berlalu, disamping pemeluk islam jumlahnya milyaran, bahkan multi ras pula, maka sekarang hadis diatas, justru menjadi faktor yang merugikan, terutama jika terbaca dan diketahui oleh mereka dari ras NON Arab Badui. Hadis ini akan menjadi bulan-bulanan, dipertentangkan, dipermasalahkan dan dicari celahnya agar dapat digugurkan.

      Secara politis, tentunya akan lebih menguntungkan jika hadis ini tidak ada, bukan?! Untuk itu, berikut pendapat ulama mengenai perawi Suhail bin Abu Shalih:

      1. Abu Hatim Ar Razy: Shaduuq (jujur) dan Tsiqah (saleh, adil, baik hafalannya dan konsisten dokumentasinya)
      2. Nasa’i + Sufyan bin uyainah + Ibnu ‘Adiy: Tsabat (dapat diterima hadisnya)
      3. Maslamah bin Qasim + Ibn Hiban + Ahmad ibn Abdillah al-Ajli + Muhammad bin Saad: Tsiqah
      4. Daruqutni: “Tidak ada cacat padanya yang dapat membuat riwayatnya tertolak”.
      5. Ahmad: “tidak ada yang salah pada dirinya”, di riwayat lainnya: “Suhail lebih tsabat dari Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah”.
      6. Ibnu Hajar: “Shaduuq, hafalannya berubah di akhir usianya”
      7. Al-Zahabi, di “Meezaan al-Ai`tidaal”:
        Mengutip Abbas: Yahya berkata Suhail tidak dapat dipercaya untuk hadis dan hadis yang dinarasikannya tidak cukup dapat diandalkan sebagai bukti (perkataan Nabi).

        mengutip Ibn Abu Khaithamah yang mengutip Ibn Muin: “orang-orang berhati-hati terhadap haditsnya” Di riwayat akhir: “laisa bi dzaka (bukan perawi yang kuat)” (Di suatu waktu ia berkata: Suhail, narator yang lemah).

        Pendapat Al Zahabi sendiri: “tsiqah, hafalannya berubah”.

        Di samping itu,
        pendapat Ibn Muin (yang terkenal ketat dalam hadis) tentang Suhail juga bervariasi: “Sumayya (maula Abu Bakr bin Abdurrahman) lebih baik dari Suhail”. Di riwayat lainnya yaitu di Abbas Ad-Duriy: “Tsiqah (Ia (Suhail) dan saudaranya). Suhail dan Al-’Alaa’ hadis keduanya bukan hujjah”.

      Perlu diketahui,
      Perawi Suhail bin Abu Shalih ini dipercaya Imam Bukhari di sahihnya pada 5 hadis, Imam Muslim di kitab sahihnya pada 113 hadis, Abu dawud dan Tirmidhi di kitab sunannya pada 49 hadis, belum lagi para pengumpul hadis lainnya.

      Kemudian,
      jika anda bersikeras menolak hadis di atas dengan bersandar pada segelintir ulama yang meragukan Suhail (namun ternyata mereka sendiripun tidak benar menolaknya) dan mengabaikan pendapat banyaknya ulama yang menerima Suhail, maka silakan juga tolak hadis dari riwayat Hannad – Waki’ – Sufyan – Suhail bin Abu ShalihAl Harits bin Makhlad – Abu Hurairah – Rasulullah SAW:

        Terlaknatlah, orang yang menggauli isteri pada duburnya” [Abu Dawud no.1847. juga di Ahmad no.9356, 9816]

      Hadis ini problemnya juga bertambah dengan perawi “Al-Harits bin Makhlad”

        Al-Zahabi di “Mizan al-Ai`tidal”:
        mengutip Al Bazzar: “Ia (Al-Harits bin Makhlad) tidak dikenal”. Ibnu Hajar al ‘Asqalani + Ibnul Qaththan: “Majhulul hal (Tidak dikenal, tidak diketahui sifat dan latar belakang, baik ketaqwaan dan pengetahuannya)” meski Ibn Hibban memasukannya diantara orang yang dipercaya.

      Dengan dua perawi yang dianggap bermasalah ini maka sudah merupakan sebuah kewajaran jika hadis nabi tentang “larangan seks di dubur istri” harus ditolak, namun tidak untuk hadis nabi tentang “firman allah bahwa jika quota surga tidak terpenuhi maka akan di isi dari ras Arab Badui”, bukan?!

      Sungguh sial,
      bahkan dari sumber islam sendiri, kesempatan kalian, para ras NON ARAB BADUI (baca: anda), untuk sekedar hanya bermimpi beroleh surganya Allah SWT-pun berakhir di 0 (nol) BESAR!

      Tapi para muslim (dan calon mualaf) pun tidak perlu lagi merasa iri pada kaum ras arab badui.

      Mengapa?

      karena sekarang ini, jangankan kalian, bahkan TIDAK AKAN ADA 1 orang dari ras ARAB BADUI-pun yang masih bisa berimimpi untuk beroleh surga Allah SWT.

      Mengapa?

      Di jaman kehidupan Muhammad dari mulai menjadi Nabi s.d wafatnya, sekurangnya jutaan Muslim (ras arab badui dan bukan) telah wafat (karena dan saat: Bayi, Tua, Sakit, Kecelakaan dan syahid dalam perang dan menjalankan perintah lainnya). Mereka wafat dalam keadaan Islam.

      Selama 1400an tahun ini, telah berlalu 27 generasi. Jumlah Muslim yang wafat (ras badui dan bukan) sudah mencapai puluhan bahkan ratusan milyaran orang karena berbagai alasan diantaranya selain masa balita, sakit, tua kecelakaan, juga syahid menjalankan perintah agama, mempertahankan Islam, menolak dikafirkan, benar-benar fasih quran, hadis dan hidupya jauh dari gangguan dari peradaban barat laknatullah.

      Perlu di ketahui,
      Ketika itu, untuk masuk Islam adalah sangat mudah, cukup mengucapkan, “Laillahaillah”, misalnya pada kasus Abu Thalib namun tidak mau Ia lakukan, sehingga di setelah wafatnya, Ia menjadi ahli waris neraka bersama dengan ibunda, ayahanda dan kakek nabi

      Nah yang perlu sekarang anda ketahui adalah apakah quota surganya telah terlampaui?

      Untuk menjawab ini,
      mari kita gunakan data penelitian kematian Neo-Natal (Max: 28 hari) di negara berkembang dan selama tahun 2000, tercatat 10.8 Juta balita (Max: 5 tahun) wafat dan 1/3-nya adalah Neo-Natal. Tingkat kematian bayi semakin berkurang seiring majunya teknologi dan perekonomian atau dengan kata lain tingkat kematian neo natal di masa lampau adalah jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jaman sekarang.

      Dengan memakai asumsi 20%-nya adalah muslim, maka bayi neo natal muslim yang wafat selama 1400 tahun ini sekurangnya 1,008.000.000 bayi [Jumlah ini kita anggap bukan hanya mewakili neo natal namun seluruh balita, seharusnya jumlah kematian balita adalah 3.024 M]..dan ini barulah kematian BALITA yang muslim.

      Bayangkan saja besarnya jumlah untuk selain BALITA…

      Harusnya juamlah tersebut tidak perlu lagi dikorting hingga tersisa 20%, karena menurut Hadis Qudsi Musnad Ahmad no. 64/110 yang bersumber dari Syurahbil Bin Syuaah, anak yang belum Aqil baliq akan masuk surga, di mana Allah berkata, “Masuklah kalian ke dalam Surga”..”Masuklah kalian ke dalam Surga bersama orang tua kalian” [juga di tafsir Ibn kathir jus 8/370 mengutip hadis bukkhari dan muslim yang berasal dari riwayat Abu Huraira bahwa nabi berkata semua anak dilahirkan di atas fitrah (islam) kedua orang tuanya yang menjadikan mereka Yahudi, Nasrani dan Majusi. Kemudian hadis muslim dari riwayat iyadh bin himar menyampaikan bahwa Nabi berkata Allah berfirman: sesungguhnya aku telah menciptakan hamba-hambaku dalam keadaan hanif (lurus/islam), lalu datang setan yang mengalikan mereka dari agama mereka.(“Lubaabut Tafsiir Min Ibni Katsir”, Penerbit Mu-assasah Daar Al-Hilaal Kairo, cetakan ke-1, 1994, pustaka Imam Asy-sayfi’i, Bogor, cetakan ke-2, Mei 2003)]

      Pernyataan Ibn Kathir yang mengutip Bukkhari dan Muslim ini MALAH BERTABRAKAN TIDAK KARUAN dengan HADIS-HADIS lain yang bersadar dari nabi:

      • Disampaikan Ahmad dan diriwayatkan Ali bin abu talib: Anak-anak Khadijja (Istri Muhammad) yang wafat sebelum Islam muncul yaitu yang berasal dari Muhammad, masuk surga sementara yang bukan berasal dari Muhammad, masuk neraka dan kemudian mengutip AQ 52.21 [Tirmidhi no. 117]
      • Riwayat Salamah bin Syabib – Al Hasan bin A’yan – Ma’qil – Abu Az Zubair – Jabir – nabi SAW:

        TIDAK SEORANGPUN DARI KALIAN YANG DIMASUKAN SURGA OLEH AMALNYA dan TIDAK JUGA DISELAMATKAN DARI NERAKA KARENANYA, TIDAK JUGA AKU KECUALI KARENA RAHMAT DARI ALLAH.”

        [Muslim no.5042, juga dalam perawi berbeda dari Abu Salamah – Aisyah – Nabi SAW di Muslim no.5043 dan di perawi berbeda dari Abu Huraira – Nabi SAW di: Muslim no. 5037-5041; Bukhari no.5241, no.5982; Ibn Majah no.4191 dan di Musnad Ahmad]

      • Sederatan hadis-hadis di bawah ini, memberikan informasi bahwa masuk/tidaknya para manusia ke SURGA telah ditetapkan sejak awal yaitu tidak lama setelah ADAM DICIPTAKAN!

        Riwayat Abu Bakr bin Abu Syaibah – Waki’ – Thalhah bin Yahya – bibinya, ‘Aisyah binti Thalhah – ‘Aisyah ummul Mu’minin:

        “Pada suatu ketika, Rasulullah SAW pernah diundang untuk melayat jenazah seorang bayi dari kaum Anshar. Kemudian saya (Aisyah) berkata kepada beliau; ‘Ya Rasulullah, sungguh berbahagia bayi kecil ini! Ia seperti seekor burung dari sekian burung surga yang belum pernah berbuat dosa dan belum pernah ternodai oleh dosa.’

        Rasulullah SAW bersabda: ‘hai Aisyah bahwa Allah telah menciptakan orang-orang yang akan menjadi penghuni surga ketika mereka masih berada dalam tulang rusuk (sulbi) bapak-bapak mereka (قَالَ أَوَ غَيْرَ ذَلِكَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ لِلْجَنَّةِ أَهْلًا خَلَقَهُمْ لَهَا وَهُمْ فِي أَصْلَابِ آبَائِهِمْ ).

        Allah pun telah menciptakan orang-orang yang akan menjadi penghuni neraka ketika mereka masih berada dalam tulang rusuk bapak-bapak mereka.

        Riwayat Muhammad bin Ash Shabbah – Isma’il bin Zakaria – Thalhah bin Yahya. Riwayat Sulaiman bin Ma’bad – Al Husain bin Hafsh. Riwayat Ishaq bin Manshur – Muhammad bin Yusuf keduanya dari Sufyan Ats Tsauri – Thalhah bin Yahya dengan sanad Waki’ seperti haditsnya. [Muslim 33.6436/no.4813, juga di no. 4812. Juga di Abu dawud no.4090]

        ***

        Riwayat Qa’nabi – Malik – Zaid bin Unaisah – Abdul Hamid bin ‘Abdurrahman bin Zaid Ibnul Khaththab – Muslim bin Yasar Al Juhani – Umar Ibnul Khaththab pernah ditanya tentang ayat ini:

        (Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka) -Qs. Al A’raf: 172- Al Qa’nabi membaca ayat tersebut, lalu Umar berkata, “Aku juga pernah mendengar Rasulullah SAW ditanya tentang ayat itu, lalu beliau menjawab; “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam,

        lalu ALLAH MENGUSAP PUNGGUNGNYA (sulbi) DENGAN TANGAN KANAN-Nya hingga keluarlah keturunan Adam dari punggungnya. Kemudian Allah berfirman: “AKU MENCIPTAKAN MEREKA UNTUK MASUK SURGA, dan mereka akan beramal dengan amalan-amalan penduduk surga.”

        kemudian ALLAH KEMBALI MENGUSAP PUNGGUNG ADAM hingga keluarlah keturunan Adam dari punggungnya. Setelah itu Allah berfirman: “AKU MENCIPTAKAN MEREKA UNTUK MASUK NERAKA, dan mereka akan beramal dengan amalan-amalan penduduk neraka.”

        Seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu untuk apa gunanya beramal?”

        Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya jika Allah menciptakan seorang hamba untuk masuk ke dalam surga maka Ia akan menjadikannya beramal dengan amalan penduduk surga, sehingga ia mati dengan amalan penduduk surga lalu memasukkannya ke dalam surga.

        Dan jika Allah menciptakan seorang hamba untuk masuk ke dalam neraka maka Ia akan menjadikannya beramal dengan amalan penduduk neraka, sehingga ia mati dengan amalan penduduk neraka lalu memasukkannya ke dalam neraka.”

        Riwayat Muhammad Ibnul Mushaffa – Baqiyyah – Umar bin Ju’tsum Al Qurasyi – Zaid bin Abu Unaisah – Abdul Hamid bin ‘Abdurrahman – Muslim bin Yasar – Nu’iam bin Rabi’ah: “Aku sependapat dengan Umar Ibnul Khaththab dengan hadits ini, namun hadits Malik lebih lengkap.”

        [Abu Dawud no.4081, Juga di Tirmidhi no.3001 (Hadis Hasan), 3002 (Hadis Hasan sahih). Malik no.1395. Ahmad no. 294, 2157, 17000. Kemudian di hadis Ahmad no. 26216, Riwayat Haitsam – Abu Ar Rabi’ – Yunus – Abu Idris – Abu Darda’ – Nabi SAW bersabda: “Ketika Allah menciptakan Adam, Allah memukul bahu kanan Adam, maka keluarlah keturunan berkulit putih seperti molekul, dan memukul bahu kirinya keluar keturunan berkulit hitam seperti arang, Allah berkata pada yang di bagian kanannya, ‘Masuklah ke Surga dan Aku tidak perduli‘. berkata pada yang di bagian kirinya, ‘Masuklah ke dalam Neraka dan Aku tidak perduli’“]

        ***

        Riwayat (Abu Bakr bin Abu Syaibah – Abu Mu’awiyah dan Waki’ atau dari jalur lainnya riwayat Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair Al Mahdani – Bapakku dan Abu Mu’awiyah dan Waki’) – Al A’masy – Zaid bin Wahb – ‘Abdullah – Rasulullah SAW (Ash Shadiq Al Mashduq, seorang yang jujur menyampaikan dan berita yang disampaikannya adalah benar):

        ‘seorang manusia mulai diciptakan dalam perut ibunya selama 40 hari. Kemudian menjadi segumpal daging pada 40 hari berikutnya. Lalu menjadi segumpal daging pada 40 hari berikutnya. Setelah 40 hari berikutnya, Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya dan diperintahkan untuk menulis empat hal: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagianya.’

        ..seseorang darimu yang mengerjakan amal perbuatan ahli surga, hingga jarak antara dirinya dan surga hanyalah satu hasta, namun SURATAN TAKDIR rupanya ditetapkan baginya hingga ia mengerjakan amal perbuatan ahli neraka dan akhirnya ia pun masuk neraka.

        Ada pula orang yang mengerjakan amal perbuatan ahli neraka, hingga jarak antara ia dan neraka hanya satu hasta, namun SURATAN TAKDIR rupanya ditetapkan baginya hingga kemudian ia mengerjakan amal perbuatan ahli surga dan akhirnya ia pun masuk surga.’ [Muslim no.4781. Bukhari no.3085]

        ***

        Riwayat ‘Amru bin ‘Utsman bin Sa’id bin Katsir bin Dinar Al Himshi – ‘Abbad bin Yusuf – Shafwan bin ‘Amru – Rasyid bin Sa’d – ‘Auf bin Malik – Rasulullah SAW: “Yahudi akan terpecah menjadi 71 golongan, 1 golongan akan masuk surga dan yang 70 golongan akan masuk neraka. Nashrani terpecah menjadi 72 golongan, yang 71 golongan masuk neraka dan yang 1 golongan akan masuk surga. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada ditangan-Nya, sungguh ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan, yang 1 golongan masuk surga dan yang 72 golongan akan masuk neraka.” Lalu beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka (yang masuk surga)?” beliau mennjawab: “Yaitu Al Jama’ah.” [Ibn Majjah no.3982 (Komentar ulama terhadap Abbad bin Yusuf: Ibnu Hibban: tsiqaat, Ibnu Hajar al ‘Asqalani: Maqbul,
        Adz Dzahabi: Shaduuq yaghrib). Abu Dawud 3981 ([Riwayat Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Yahya – Abu Al Mughirah] dan [Amru bin Utsman – Baqiyyah] – Shafwan – Azhar bin Abdullah Al Harazi – Abu Amir Al Hauzani – Mu’awiyah bin Abu Sufyan – Rasulullah SAW: “orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlu kitab berpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku akan berpecah menjadi 73 golongan; 72 golongan masuk neraka dan 1 golongan masuk surga, yaitu Al Jama’ah.”). Tirmidhi no.2656 (Riwayat Mahmud bin Ghailan – Abu Daud Al Hafari – Sufyan Ats Tsauri – Abdurrahman bin Ziyad – Abdullah bin Yazid dari Abdullah bin Amru – Rasulullah SAW: ..bani Israil terpecah menjadi 72 golongan dan ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan semuanya masuk ke dalam neraka KECUALI 1 golongan,” ..Abu Isa berkata; ‘Hadits ini hasan gharib mufassar)]

        ***

        Riwayat [Qutaibah atau Hasyim bin Qasim] – [Al Laits atau Bakr bin Mudhar] – Abu Qabil/Huyaiy bin Hani – Syufayyi bin Mati’ – ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash:

        Rasulullah SAW keluar menemui kami sementara di tangan beliau terdapat dua kitab. Kemudian beliau pun bertanya: “Apakah kalian tahu kitab apakah kedua kitab ini?” Maka kami pun menjawab: “Tidak wahai Rasulullah, kecuali Anda mengabarkannya pada kami.”

        Akhirnya beliau pun bersabda terkait dengan kitab yang berada pada tangan kanannya:
        “Ini adalah kitab yang berasal dari Rabb semesta alam. Di dalamnya terdapat nama-nama penduduk surga dan juga nama-nama orang tua serta kabilah mereka. Jumlahnya telah ditutup dengan orang yang terakhir dari mereka, dan tidak akan ditambah dan jumlah mereka tidak pula dikurangi lagi.

        Kemudian beliau bersabda terkait dengan kitab yang berada di tangan kirinya: “Adapun ini, ia adalah kitab yang juga berasal dari Rabb semesta alam. Di dalamnya telah tercantum nama-nama penghuni neraka, dan juga nama-nama bapak mereka serta kabilah mereka, dan telah dijumlah dengan orang yang terakhir dari mereka. Sehingga jumlah mereka tidak lagi akan bertambah dan tidak pula akan berkurang selama-lamanya.”

        Kemudian para sahabat pun berkata, “Kalau begitu, dimanakah letaknya amalan wahai Rasulullah jika memang perkara sudah habis?” beliau menjawab: “Berusahalah dan mendekatlah, karena sesungguhnya penduduk surga akan ditutup dengan amalan penduduk ahli surga, meskipun ia mengamalkan amalan apa saja. Dan sesungguhnya penduduk neraka akan ditutup pula dengan amalan penduduk neraka, meskipun ia mengerjakan amalan apa saja.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda dengan kedua tangannya lalu menghempaskannya dan bersabda: “Sesungguhnya Allah telah selesai terhadap urusan para hamba-Nya. Satu golongan di dalam surga dan satu kelompok pula di dalam neraka.”. Abu Isa berkata; Hadits semakna juga diriwayatkan dari Ibnu Umar. Dan hadits ini adalah Hasan Shahih Gharib. [Tirmidhi no. 2067/4.6.2141. Ahmad no.6275]

      Waduh, koq malah tambah runyam, yah..?!

      ..dan bahkan,
      dari perhitungan kasar jumlah balita yang telah wafat di atas, jumlah quota masuk surga versi muslim ini bahkan TELAH LAMA terlampaui. Milyaran balita muslim, yang tidak pernah MINTA DILAHIRKAN, terlahir dalam keadaan TIDAK TAU APAPUN, tanpa tau ujung-pangkalnya, tanpa hujan dan angin, nasib surga mereka tak menentu. Ini hanya karena Allah melalui Nabinya telah keliru menetapkan jumlah quota surgawannya sehingga bahkan telah lama terlampaui.

      waittt.. kelucuan ini masih belum selesai…masih ada satu hal terakhir yang benar-benar sangat mengerikan..

      apa itu?

      Muhammad SAW sendiri bahkan tidak tahu akan dimana setelah Ia wafat!

        Quran:
        Katakanlah: “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul (qul maa kuntu bid’an mina alrrusuli) DAN AKU TIDAK MENGETAHUI APA YANG AKAN DIPERBUAT TERHADAPKU DAN TIDAK (PULA) TERHADAPMU (wamaa adrii maa yuf’alu bii walaa bikum)…. [AQ 46.9, Al Makiyya, turun diurutan ke-66]

        Penafsir ayat yang hidup ratusan tahun setelah Muhammad wafat, menafsirkan ayat ini sebatas bahwa Muhammad tidak tahu bagaimana Ia akan diwafatkan, namun, faktanya, hadis-hadis sahih yang berasal dari ucapan Muhammad dan para sahabatnya sendiri, secara konsisten menyatakan bahwa Muhammad juga tidak tahu, Ia akan ditempatkan dimana setelah wafatnya!

        Hadis:
        Riwayat Musa bin Isma’il – Ibrahim bin Sa’ad – Ibnu Syihab – Kharijah bin Zaid bin Tsabit – Ummu Al ‘Ala’: “Utsman bin Madz’un (Ikut perang Badar dipihak kaum Muslim, 2 H/624M) mengeluhkan sakitnya di sisi kami kemudian kami merawatnya sampai ketika dia meninggal kami menyelimutinya dengan bajunya.. Rasulullah SAW bersabda: “Kematian dari Rabbnya telah datang kepadanya, aku berharap dia mendapatkan kebaikan. Demi Allah, MESKIPUN AKU SEORANG NABI, AKU TIDAK TAHU APA YANG AKAN AKU DAPATKAN.”

        [Bukhari no.3636. Juga di Bukhari no.1166, 2490, 6487, Bukhari no. 6500: “…demi Allah, aku tidak tahu padahal aku adalah Rasulullah bagaimana nantinya aku diperlakukan, juga tidak tahu bagaimana kalian diperlakukan.”. Juga di Ahmad no.2938 dari riwayat (Abdush Shamad, Hasan bin Musa, Affan bi Muslim) – Hammad – Ali bin Zaid – Yusuf bin Mihram – Ibnu Abbas: “..ketika Utsman bin Mazh’un meninggal dunia, istrinya berkata; Selamat bagimu wahai Ibnu Mazh’un di surga. Maka Rasulullah SAW melihatnya dengan pandangan marah, lalu beliau bersabda; “Apa yang membuatmu tahu? DEMI ALLAH, SESUNGGUHNYA AKU ADALAH UTUSAN ALLAH, NAMUN AKU TIDAK TAHU APA YANG AKAN TERJADI PADAKU.” ‘Affan berkata; “Dan tidak pula dengannya.”. Juga di Ahmad no.2020 (dari Ibnu Abbas) dan no.26186 (Dari Ummu Al’ Ala)]

      Bahkan hadis Bukhari, Muslim, Ahmad, Malik dan Tirmidhi mencatat ucapan Muhammad pada detik terakhirnya:

        Riwayat Mu’alla bin Asad – Abdul ‘Azid bin Mukhtar – Hisyam bin Urwah – Abbad bin Abdullah bin Zubair – Aisyah:

        Rasulullah SAW berkata sebelum beliau wafat di pangkuan Aisyah..; Ya Allah, AMPUNILAH AKU, berikanlah rahmat kepadaku dan pertemukanlah aku dengan kekasihku! [Bukhari no. 4086, 5242. Muslim no. 4474, Ahmad no.24757. Malik no.501. Tirmidhi no.3418]

      Itu adalah saat menjelang ajalnya dan Muhammad sendiri masih tidak jelas Nasibnya..

      Padahal,
      Bukannya, Muhammad sendiri yang menyampaikan bahwa sejak awal sekali Allah telah menetapkan dan mencatat jumlah orang yang masuk surga/neraka, takdir apapun yang diperbuatnya yang menyebabkan mereka berakhir di neraka atau surga? dan bukankah Muhammad sendiri yang mengatakan bahwa Ia ADALAH PEMIMPIN SELURUH MANUSIA PADA HARI KIAMAT, PARA NABI LAIN TIDAK ADA YANG MAMPU MEMBERIKAN SYAFAAT BAHKAN PARA NABI INI SAJA MASIH BUTUH SYAFAAT KECUALI MUHAMMAD SEORANG YANG TIDAK PERLU SYAFAAT DAN BAHKAN MAMPU MEMBERIKAN SYAFAAT sebagaimana disampaikan hadis Bukhari no.4343. Muslim no.284, 287 dan Tirmidhi no. 2358 di bawah ini?

        Riwayat Abu Kamil Fudlail bin Husain al-Jahdari dan Muhammad bin Ubaid al-Ghubari (lafazh milik Abu Kamil) – Abu ‘Awanah – Qatadah – Anas bin Malik – Rasulullah SAW bersabda:

          [Bukhari no. 4343. Muslim no.287 dan Tirmidhi no.2358:
          Riwayat Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Muhammad bin Abdullah bin Numair – Muhammad bin Bisyr – Abu Hayyan – Abu Zur’ah – Abu Hurairah: Rasullullah bersabda: “Aku PEMIMPIN MANUSIA PADA HARI KIAMAT, TAHUKAH KALIAN KENAPA?]

        “Allah akan mengumpulkan manusia pada Hari Kiamat. Ketika itu mereka memandang penting masalah syafaat.” Ibnu Ubaid menyebutkan, “Mereka diberi ilham untuk menanyakan hal itu. Mereka berkata, ‘Sekiranya saja kita dapat memohon syafaat kepada Tuhan, agar Dia mengizinkan kita beristirahat dari keadaan kita ini.

        Lalu mereka pergi kepada Nabi Adam AS, lalu berkata, ‘Wahai Adam! Kamu adalah bapak semua manusia. Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya dan meniupkan roh ke dalam badanmu serta telah memerintahkan para malaikat supaya sujud kepadamu. Syafaatilah kami di hadapan Tuhanmu, agar mengizinkan kami beristirahat dari keadaan begini’.

        Adam menjawab, ‘Aku bukan pemilik hak memberikan syafa’at -Adam lalu menyebut kesalahan yang pernah dilakukannya, sehingga membuatnya merasa malu kepada Tuhan karena kesalahan tersebut-, akan tetapi datanglah kepada Nuh, Rasul pertama yang diutus oleh Allah’.

          [Muslim no.287:
          ..Diriku sendiri butuh syafa’at, silahkan pergi menemui selainku, pergilah menemui Nuh.’]

        Lantas mereka pergi menemui Nabi Nuh AS, namun beliau berkata, ‘Aku bukanlah orang yang bias memberikan syafa’at -lalu menyebut kesalahan yang pernah dilakukannya hingga membuatkannya merasa malu kepada Tuhan karena kesalahan tersebut-, akan tetapi datanglah menemui Nabi Ibrahim AS, yang telah dianggap sebagai kekasih Allah.’

          [Muslim no.287:
          ..Diriku sendiri butuh syafa’at, silahkan pergi menemui selainku, pergilah menemui Ibrahim.’]


        Mereka pun pergi menemui Nabi Ibrahim AS, ia juga berkata, ‘Aku bukanlah orang yang berhak memberikan syafa’at -lalu dia menyebutkan kesalahan yang pernah dilakukannya, hingga membuatnya merasa malu kepada Tuhan karena kesalahan tersebut- akan tetapi datanglah menemui Nabi Musa AS, yang pernah diajak bicara oleh Allah dan diberi Kitab Taurat.’

          [Muslim no.287:
          ..Diriku sendiri butuh syafa’at, silahkan pergi menemui selainku, pergilah menemui Musa.’]


        Mereka pun pergi menemui Nabi Musa AS, namun ia juga berkata, ‘Aku bukanlah orang yang berhak memberikan syafa’at -lalu dia menyebut kesalahan yang pernah dilakukannya, hngga membuatnya merasa malu kepada Tuhan karena kesalahan tersebut- akan tetapi kalian datanglah menemui Nabi Isa AS, ruh Allah dan Kalimat-Nya.’

          [Muslim no.287:
          ..Diriku sendiri butuh syafa’at, silahkan pergi menemui selainku, pergilah menemui Isa.’]


        Mereka pun pergi menemui Nabi Isa AS, ruh Allah dan Kalimat-Nya. Namun ia juga berkata, ‘Aku bukanlah orang yang berhak memberikan syafa’at, tetapi pergilah kamu semua kepada Muhammad SAW, hamba Allah yang telah diampuni dosanya yang terdahulu dan yang terkemudian’.”

          [Muslim no.287:
          ..Diriku sendiri butuh syafa’at, silahkan pergi menemui selainku, pergilah menemui Muhammad.’]

        Rasulullah SAW meneruskan sabdanya: ‘Mereka datang kepadaku, lalu aku meminta izin kepada Tuhan. Aku pun diberi izin.

        Ketika aku melihat-Nya, aku menyungkurkan diri dalam keadaan bersujud.

          [Bukhari no.4343. Muslim no.287 dan Tirmidhi no.2358Lalu aku pergi hingga sampai di bawah ‘arsy, aku tersungkur sujud pada Rabbku LALU ALLAH MEMULAI DENGAN PUJIAN DAN SANJUNGAN UNTUKKU YANG BELUM PERNAH DISAMPAIKAN PADA SEORANGPUN SEBELUMKU, lalu ada suara: Hai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah pasti kau diberi, berilah syafaat nicaya kau diizinkan untuk memberi syafaat.

          Lalu aku mengangkat kepalaku, aku berkata: Wahai Rabb, ummatku, wahai Rabb, ummatku, wahai Rabb, ummatku.

          Ia berkata: Hai Muhammad, masukkan orang yang tidak dihisab dari ummatmu melalui pintu-pintu surga sebelah kanan dan mereka adalah sekutu semua manusia selain pintu-pintu itu.”]

        Dia memanggil-manggilku, kemudian berfirman kepadaku: ‘Angkatlah kepalamu wahai Muhammad! Katakanlah sesuatu, niscaya kamu akan didengar. Mohonlah, niscaya kamu akan diberi. Syafaatilah, niscaya Aku akan terima syafaat yang kamu pinta.

        Aku mengangkat kepalaku dan memuji Tuhan dengan pujian yang telah diajarkan oleh Allah kepadaku. Kemudian aku memberi syafa’at.

        Lalu Allah memberikan kriteria (orang yang berhak mendapatkan syafa’at) kepadaku. Lalu aku mengeluarkan lagi orang-orang dari Neraka dan memasukkan mereka ke dalam Surga.

        Kemudian aku kembali jatuh bersujud.

        Maka Allah memanggilku sebagaimana Dia kehendaki kemudian berfirman kepadaku: ‘Angkatlah kepalamu wahai Muhammad! Katakanlah, niscaya kamu akan didengar. Mohonlah, niscaya kamu akan diberi. Syafaatilah, niscaya Aku akan terima Syafaat yang kamu pinta.”

        Perawi Hadits berkata, “Aku tidak mengetahui secara pasti pada kali yang ketiga atau kali yang keempat.

        Beliau bersabda: “Wahai Tuhanku! Yang masih ada di dalam Neraka hanyalah orang-orang yang ditahan oleh al-Qur’an, yaitu orang yang memang seharusnya kekal di dalam Neraka’.”

        Ibnu Ubaid menyebutkan dalam riwayatnya, ‘Qatadah berkata, “Maksudnya wajib kekal di dalamnya.” …[Muslim no.284]

      Sudahkah anda membaca ini???

      Sekarang bahkan sang PENDIRI AJARANNYA SENDIRI yang masih di kondisi mengiba-iba, mengemis meminta ampunan dan surga disebelum wafatnya. Jelas bahwa Ia sendiri TIDAK TAHU tentang nasib dan kebenaran yang ia ajarkan, maka apa perlunya lagi untuk dipercaya?

      Facepalm..


      Advertisements

      180 thoughts on “SURGA di ISLAM: Jumlah Quota Maksimum? Dapat Apa Aja? Kapan?”

      1. Jafar, Muhammad, abdul sahab, dll,
        Ini adalah AKHIR hari ke-4, sampe sejauh ini sih tuhan gadungan yg tunggang tungging kalian sembah..tetep gak mampu MEMBINASAKAN GW…

        So, karena yg kalian sembah itu bener2 gak berguna sama sekali, gimana kalo kita ganti aja deh namanya jadi allah si melekete…sama aja, toh? Sama-sama gak ada gunanya 🙂

      2. Jafar, Muhammad, abdul sahab, dll,
        Ini adalah AKHIR hari ke-5, BTW, Allah kalian ini..tau gak sih beda antara wirajhana dan uje?..koq malah uje yg dibinasakan?…gimana sih! menentukan sasaran aja, Allah kalian udah gak becus..ehhh, masih aja dianggap tuhan..hadeeeehhhh.

      3. Jafar, Muhammad, abdul sahab, dll,
        Ini adalah AKHIR hari ke-6, wah, sry yah,,,agak telat dikit bikin laporan harian ketidakbecusan Allah dogolmu yg tetep gak kunjung mampu membinasakan gw..abis tadi gw lagi asik nonton film..O ya, saran gw daripada nyembah allah dogol gak becus spt ini..mending sekalian aja sembah batu..sama aja lah.

      4. Jafar, Muhammad, abdul sahab, dll,
        Ini adalah AKHIR hari ke-7.
        Demonstrasi seminggu ini (7 x 24 jam) telah telak menunjukan betapa gak bergunanya allahmu sebagai tempat mu meminta utk membinasakan gw. Ini juga bukti bahwa Quran mu telah TELAK-TELAK berdusta tidak memenuhi apa yg tertera di dalamnya:

        1. Katakanlah: “Ya Tuhanku, jika Engkau sungguh-sungguh hendak memperlihatkan kepadaku azab yg diancamkan kepada mereka,..Dan sesungguhnya Kami benar2 kuasa untuk memperlihatkan kepadamu apa yg Kami ancamkan pada mereka. [AQ 23.93,95]

        -> ngibul alias gak manjur.

        2. Dan apabila hamba2-Ku bertanya padamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yg berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.[AQ 2.186]

        Hadis utk AQ 2.186 dan AQ 40.60:
        Rasulullah SAW: “Janganlah kalian berkecil hati dalam berdoa, karena Allah SWT telah berfirman “Ud'uni astajib lakum” yg artinya berdoalah kamu kepada-Ku, pasti aku mengijabahnya) (S. 40. 60). Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Wahai Rasulullah! Apakah Tuhan mendengar doa kita atau bagaimana?” Sebagai jawabannya, turunlah ayat ini (S. 2: 186) (Ibnu 'Asakir, bersumber dari Ali.)

        -> lagi-lagi ngibul alias gak manjur

        3. Betapa banyaknya negeri yg telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari. [AQ 7.4]

        Padahal,
        Test thd klaim kemampuan membinasakan si barang gadungan ini (baca: allah swt) udah berkali2 dilakukan di kurun waktu berbeda, dgn jumlah interval waktu pengamatan yg berbeda (kadang 3 hari, kadang 7 hari) dan dgn orang yg berbeda (lebih dari: 10x).

        Menariknya hasilnya selalu sama, yaitu klaim kemampuan barang gadungan untuk membinasakan hasilnya O (nol) besar.

        Jika kalian paham probablitas: Maka jika SEMAKIN SERING DILAKUKAN, SEHARUSNYA hasilnya mendekati rasio 50:50 (dalam konteks tantangan ini seharusnya gw udah binasa berkali2, dong), tapi hasilnya ini tetep selalu O (nol) besar..dan gw tetep gak binasa.

        Pembuktian ini menunjukan allah swt emang barang gadungan.

        Binasa/tidaknya seseorang TIDAK tergantung dari doa mohon orang binasa [Yahudi aja gak musnah2 padahal udah 1400-an taon didoain kehancurannya] dan terutama TIDAK berhubungan dgn klaim kemampuan membinasakan yg konon dimiliki oleh sosok gadungan yg diberi judul allah swt dan dibantu kacung2 nya yg dinamakan para malekat itu.

        Karena yg kamu sembah ini nyata2 barang gadungan, konsekuensi lanjutannya adalah:
        si penyampai (baca: muhammad saw) telah melakukan kebohongan pernyataaan ttg keberadaan tuhan, malaikat dan setan…Sehingga tidak mengherankan jika ternyata ajarannya penuh kekerasan, kekacauan dan dusta (krn hanya berfungsi pembenaran dari tindakan dan motif politik semata).

        KEMATIAN yg terjadi selama masanya adalah dilakukan oleh dirinya dan pengikutnya..juga perampokan, penjarahan, perusakan, pemerkosaan, memperbudak semua dilakukan dirinya dan pengikutnya..MUTLAK BUKAN suruhan siapapun kecuali keserakahan dan kebencian nya sendiri yg sebagai motif tindakan keji itu.

        Karena yang disampaikannya hanya dusta, belaka, maka:
        seluruh keterangan ttg surga neraka dan bumi dan cara mendapatkan yg disampaikan oleh penyampainya, yaitu bhw ini adalah milik barang gadungan allah swt adalah dusta belaka..Ini juga menjelaskan mengapa seluruh penyampaian dari si penyampai ttg barang gadungan dan klaim buatannya adalah kacau balau dan tidak konsisten.

        Jadi,
        yg seharusnya ketakutan adalah dirinya sendiri..karena setelah mati..Ia bersia-sia..nubruk angin 🙂

        Ya, sapa suruh selagi masih idup pikirannya gak digunain, malah mau aja disuruh tunggang tungging nyembah barang gadungan.

      5. Kamu pikir dengan 7 hari yang telah lewat ini menunjukkan bahwa Allah yang menguasai Alam Semesta ini tak mampu untuk membinasakan 1 jiwa ???

        wkwkwkwkwkwkkwkwkwk

        Kamu bukannya bertaubat malah minta adzab di segerakan kepadamu..ini sama seperti kata-kata kaum Tsamud dahulu bahwa mereka meminta di segerakannya adzab akibat mendurhakai rasul Allah

        Teruskan saja olok-olok mu itu LAKNATULLAH…

        Kamu nekad mengatakan bahwa rasulullah berdusta pernyataaan ttg keberadaan tuhan, malaikat dan setan ??????

        Tetapi tuduhan mu ini tak benar…

        Apakah kamu di saat berusaha keras mempelajari agama kami lewat al qur'an,hadits,tafsir untuk menfitnah kami tak pernah membaca bahwa sebelum Rasulullah di utus menjadi nabi adalah sosok yang terkenal akan KEJUJURANNYA DAN DAPAT DI PERCAYA..

        Sampai-sampai sahabat,keluarga,tetangga dan musuh beliau pun mengakui kejujurannya selama ia belum di utus menjadi rasul..

        Hal ini membuktikan bahwa dengan KEJUJURANNYA semua yang di sampaikan oleh rasulullah adalah benar…,bukan KEBOHONGAN..,

        Menurut kamu bahwa tujuan kamu menulis artikel yang isinya untuk menyadarkan ajaran kami yang kacau balau ?????

        Lalu kenapa kalau ajaran islam kacau balau.. kamu juga membual ajaran kristen ??

        Ini kamu lakukan bukan untuk menyadarkan kami…,tetapi ini menandakan bahwa kamu hanyalah merendahkan dan membuat agama kami di mata dunia kepalsuan???

        Dan akhirnya kamu menghendaki agama budha kamu yang unggul…

        Coba deh lihat aja berbagai reaksi umat kristen terhadap kamu di website http://bengcumenggugat.wordpress.com/2012/06/13/bengcu-menggugat-karena-budhis-menyerahkan-diri-untuk-ditipu-mentah-mentah/

        Mereka mengatakan bahwa kamu tolol dan tukang penipu..
        Dan hal ini sudah saya prediksikan bahwa kamu ini orang kafir yang mempelajari al qur'an,hadits,dan tafsir hanya untuk menggoyahkan kami ?????

      6. Dan satu hal yang membuat saya geli bahwa kamu menganggap Hajar Aswad adalah Allah????
        wkwkwkwkwkk
        Kamu ini stres,gila yang bisa-bisanya berpaham seperti ini…

        Berikut ini akan saya beberkan dalil-dalil untuk MENGHUJAT kamu

        Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan; TIDAK PULA ADA SEORANG PUN YANG SETARA DENGAN-NYA.” (QS al-Ikhlas: 1-4).

        “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan TIDAK ADA SESUATUPUN YANG MENYERUPAI-NYA”. (Q.S. As-Syura: 11)

        “Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau ini batu yang tidak memberikan mudharat dan tidak pula mendatangkan manfaat. Jika aku tidak melihat Rasulullah menciummu, maka aku tidak akan menciummu pula” (HR.Bukhari dari Abis bin Rabi’ah RA).

        Jadi sangat jelas Allah tidak setara dengan makluknya dan tidak mungkin menyerupai makhluk-Nya. Apalagi dianggap sama dengan batu Hajar Aswad. Sudah jelas sekarang bahwa Hajar Aswad bukan Allah yang kami sembah

      7. Mas Wirajhana, anda ini keterlaluan dan mendurhakai tuhan yang telah memberi rizki berlimpah di dunia ini dengan harta,istri,anak,dan kesehatan yang anda miliki..

        Coba deh perhatikan ayat ini

        “Kami akan memperlihatkan kepada mereka (orang yang belum percaya kepada Al-Qur’an ini) tanda-tanda (kekuasaan dan kebenaran) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS.Fushshilat: 53)

        Sebagai buktinya,ini dia:

        1.Mukjizat Islam bahwa Tidak Semua Sperma Membuahi
        Sel Telur

        Para dokter ahli menemukan bahwa hanya sebagian
        kecil dari mani yang akan menjadi janin, dan bahwa satu pancaran mani
        mengandung seratus sampai delapan ratus juta sperma. Dan bahwa satu
        sperma saja mampu membuahi sel telur. Pengetahuan ini belum ditemukan
        kecuali setelah abad kedua puluh.

        Rasulullah saw memberitakan
        pengetahuan ini dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan
        Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri, dia bertutur,”Rasulullah saw ditanya
        tentang berjimak dengan mengeluarkan mani di luar vagina istri (azl).
        Maka beliau bersabda,

        مَامِنْ كُلِّ الْمَاءِيَكُوْنُ الْوَلَدُ،
        وَإِذَا أَرَادَاللهُ خَلْقَ شَيُءِلَمْ يَمْنَعْهُ شَيْءٌ

        “Tidaklah semua air mani menjadi seorang anak. Jika Allah berkehendak menciptakan
        sesuatu, maka tiada suatu pun yang mencegahnya.”

        2. Mukjizat Islam tentang Teori Big Bang
        Para astronom menemukan (ilmu pengetahuan) bahwa pada awalnya langit dan
        bumi saling melekat menjadi satu, kemudian keduanya terpisah dari yang
        lain. Penemuan ini dinamakan dengan teori Ledakan Dahsyat (Big Bang)
        yang berbunyi, Pada mulanya alam berbentuk massa yang sangat tebal,
        berkilau dan sangat panas. Kemudian akibat pengaruh tekanan dahsyat yang
        datang dari suhu panasnya yang sangat tinggi maka terjadilah ledakan
        dahsyat yang meledakkan massa gas tadi dan melemparkan
        kepingan-kepingannya ke seluruh penjuru. Bersama berjalanya waktu, maka
        terbentuk planet-planet dan bintang-bintang.

        Pada tahun 1989 M,
        satelit Amerika (NASA) mengirim data-data yang mengokohkan teori ledakan
        Dahsyat, dan sebelumnya pada tahun 1986 M, Stasiun Antariks Uni Soviet
        juga mengirimkan data-data yang mengokohkan teori ledakan dahsyat ini.
        Penemuan ini baru dilihat oleh orang-orang kafir pada masa kita sekarang
        ini, sementara Allah telah memberitakannya di dalam Al-Qur'an al-Karim
        bahwa orang-orang kafir akan menyaksikan pengetahuan ini. Allah swt
        berfirman dalam surat Al-Anbiya,

        أَوَلَمْ يَرَ الََّذِينَ
        كَفَرُوا أَنًَّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ كَانَتَا رَتْقًا
        فَفَتَقْنَٰهُمَا

        “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak
        mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu
        yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya (Al-Anbiya : 30)

      8. 3. Mukjizat Islam tentang Langit yang Meluas

        Para ahli astronomi menemukan bahwa langit semakin hari semakin meluas, dan di
        Amerika penemuan ini dipublikasikan lewat media-media masaa. Para
        ilmuwan menyaksikan lewat teleskop bahwa dunia yang kita tempati ini
        adalah bentuk yang terus-menerus meluas. Oleh karena itu, benda-benda
        langit semakin menjauh dari kita (bumi), begitu juga antara benda langit
        yang satu dengan benda langit yang lain, dengan kecepatan yang
        kadang-kadang mendekati kecepatan cahaya. Dan Al-Qur'an telah
        menggambarkan hakikat ini secara jelas. Silahkan lihat dalam ayat yang
        mulia, Allah swt berfirman,

        وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَٰهَا بِأَيْدٍ
        وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

        Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan
        (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. (Adz-Dzariyat
        47)
        4. Mukjizat Islam Bahwa Dada Semakin Sesak Ketika Naik Ke Udara

        Para ilmuwan berkata bahwa perubahan besar pada tekanan udara yang terjadi
        ketika naik ke angkasa menjadikan dada manusia sesak dan sempit. Blits
        Pascall, seorang ilmuwan ternama, menyatakan bahwa tekanan udara akan
        semakin berkurang setiap kita semakin jauh dari permukaan bumi. Dan
        Allah telah memberitakan dalam ayat ini, apa yang akan terjadi pada
        manusia jika dia naik ke angkasa. Allah SWT berfirman :

        فَمَنْ
        يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ
        أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ
        فِي السَّمَاءِ

        “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan
        memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk
        (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah
        kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit,
        seolah-olah ia sedang mendaki langit.” (Al-An'am : 125)

        5. Mukjizat Islam bahwa Tentang Gunung Sebagai Pasak

        Para
        ahli geologi menemukan bahwa gunung memiliki akar yang memanjang di
        bawah permukaan bumi sebanding dengan 4,5 kali lipat ketinggiannya di
        atas permukaan bumi, dan bahwa fungsinya adalah mengukuhkan dan menjaga
        kestabilan bumi. Rahasia ini telah disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur'an
        Al-Karim jauh sebelum 1400 tahun yang lalu. Allah SWT berfirman:
        وَالْجِبَالَ
        أَوْتَادًا

        “Dan (bukanlah Kami telah menjadikan)
        gunung-gunung sebagai pasak?,” (An-Naba : 7)

        Dan juga Allah
        berfirman,
        وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا

        “Dan gunung-gunung
        dipancangkan-Nya dengan teguh” (An-Nazi'at : 32)

      9. 6. Mukjizat Islam Tentang Tato

        Lembaga Eropa mengingatkan para penggemar tato bahwa tindakan membuat tato pada
        kulit adalah meracuni badan dengan bahan kimia yang beracun. laporan
        itu berbunyi bahwa tato dapat menyebabkan kanker kulit dan penyakit
        kulit kronis. Ilmu pengetahuan pada masa ini datang memperlihatkan
        kepada manusia bahaya-bahaya apa yang dilarang Rasulullah SAW. Di dalam
        hadits, dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW bersabda :

        لَعَنَ
        اللّهُ الْوَاصِلَةِ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ وَالْوَاشِمَةَ
        وَالْمُسْتَوْشِمَةَ

        “Allah melaknat wanita yang menyambung
        rambutnya dan yang minta disambungkan rambutnya, serta wanita yang
        bertato dan yang minta tato.” (HR. Al-Bukhari)

        7. Mukjizat Islam Bahwa Wabah Penyakit Datang
        dengan Waktu Tertentu

        Ilmu kedokteran modern menetapkan
        bahwa penyakit-penyakit menular pada musim tertentu. Bahkan sebagiannya
        muncul pada musim-musim tertentu. Bahkan sebagiannya muncul pada
        bilangan tahun-tahun tertentu dan dengan cara tertentu. Di antara
        contohnya: penyakit campak dan polio pada anak-anak banyak di jumpai
        pada bulan september dan oktober, dan tifoid banyak ditemukan pada musim
        panas. Di antara ilmu yang tidak pernah di ketahui kecuali setelah di
        temukannya mikroskop, adalah bahwa beberapa penyakit menular berpindah
        melalui hujan rintik-rintik lewat udara yang berdebu, dan kuman
        (mikroba) ikut bersama debu ketika di bawa terbang oleh angin dari orang
        yang sakit kepada orang yang sehat. Penumuan ini menobatkan Nabi SAW
        sebagai peletak pertama kaidah menjaga kesehatan dengan menjaga diri
        dari bahaya wabah dan penyakit-penyakit menular. Dalam hadits dari Jabir
        bin Abdillah, dia berkata bahwa Rasululllah SAW bersabda:

        غَطُّوا
        اْلإِنَاءَ وَأَوْكُوا ِلسِّقَاءِ فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةًََ
        يَنْزِلُ فِيْهَا وَبَاءٌُ لاَ يَمُرُّ بِإِنَاءٍِ لَيْسَ عَلَيْهِ
        غَطَاءٌُ أَوْ سِقَاءٍِ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌُ إِلاَّ نَزَلَ فِيْهِ
        مِنْ ذٰلِكَ الْوَبَاءِ

        “Tutuplah bejana dan alat minum, Sungguh
        dalam satu tahun ada satu malam yang pada malam itu wabah turun.
        Tidaklah ia lewat pada sebuah bejana atau alat minum yang tidak ditutup,
        melainkan wabah itu hinggap padanya.” (HR. Muslim)

        8. Mukjizat Islam Tentang Hikmah Larangan Kencing pada Air Tergenang)

        Banyak
        dokter menyebutkan bahwa jutaan orang mengidap penyakit kutu air
        (bilharziazis = penyakit yang hidup di air, apabila penyakit itu hinggap
        maka akan menjadikan kaki pecah-pecah). Penyebab penyakit ini adalah
        seseorang kencing pada air tergenang yang tidak bergerak, lalu orang
        lain datang mandi di air tersebut dan tertimpa penyakit ini. Apabila
        seseorang kencing pada air yang tergenang, maka akan keluar telur, lalu
        menetas, dan melahirkan penyakit. Seandainya manusia tidak kencing pada
        air tergenang, tentu penyakit bilharziazis tidak akan ada di dunia.

        Ilmu
        pengetahuan telah membuktikan bahwa semua ajaran yang disebutkan
        Rasulullah SAW bagi manusia merupakan kebaikan bagi manusia. Telah
        disebutkan dalam hadits ini, dari Jabir ra,

        أَنَّ رَسُوُلَ اللّهِ
        نَهَى أَنْ يُبَالَ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ

        “Sesungguhnya
        Rasulullah melarang kencing pada air yang tergenang.” (HR. Muslim)

      10. 9. Mukjizat Islam Tentang Berbaring di Sisi Tubuh yang Kanan

        Dari
        Al-Barra' bin Azib, Bahwa Rasulullah SAW bersabda,

        إِذَا
        أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَ ضّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ
        عَلَى شِقِكَ اْلأَيْمَنِ

        “Apabila kamu hendak tidur, berwudhulah
        (dengan sempurna) seperti kamu berwudhu untuk shalat, kemudian
        berbaringlah di atas sisi tubuhmu yang kanan.” (HR. Bukhari)

        Dalam
        hadits ini, Rasulullah SAW mengarahkan manusia agar tidur berbaring di
        atas sisi sebelah kanan, lalu ilmu pengetahuan datang mengungkap
        manfaat-manfaat sesuatu yang diperintah Rasulullah SAW tersebut.

        Majalah
        The Times mempublikasikan hasil kajian yang menunjukkan peningkatan
        angka kematian pada anak-anak yang tidur telungkup di atas perut mereka.
        Seorang peneliti Australia memperlihatkan adanya peningkatan angka
        kematian pada anak-anak ketika mereka tidur telungkup di atas perut
        mereka.

        Adapun tidur telentang di atas punggung, maka tidur
        seperti ini menyebabkan pernafasan mulut. Sementara tidur berbaring di
        atas sisi sebelah kiri, maka tidak diterima (oleh ilmu kedokteran),
        karena pada posisi ini, jantung berada di bawah tekanan paru-paru kiri,
        sehingga tidur berbaring di atas sisi sebelah kanan adalah posisi tidur
        yang benar.

        10. Mukjizat Islam Tentang Susu

        Setelah menggunakan alat-alat
        canggih, para ahli anatomi sampai pada penemuan bahwa susu merupakan
        bahan hasil saringan dari sisa-sisa makanan dan darah. Dan Allah telah
        mengabarkan kepada kita tentang pengetahuan ini dalam Al-Qur'an, surat
        AN-Nahl, Allah SWT berfirman,

        نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ
        مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّٰرِبِينَ

        “Kami
        memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu
        yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang
        yang meminumnya” (An-Nahl : 66)

      11. Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat Kami dan peringatan-peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokkan. (QS.Alkahfi:56)

      12. 🙂 maklumlah kafir penyembah jin iblis ya begitu itu logikanya, maklum sajalah..

        Segala penggambaran tentang surga itu hanya PERUMPAMAAN saja, karena tak ada apapun di dunia ini yang bisa disamakan dan dijadikan untuk gambaran tentang surga. Jadi semua itu hanya kiasan,hanya perumpamaan untuk menjelaskan betapa nikmatnya surga itu TAK TERTANDINGI oleh APAPUN nikmat duniawi ini. Seperti bagi kaum lelaki, nikmat tertinggi bagi lelaki adalah orgasme sex dgn wanita tercantik yang tersuci hanya tersentuh oleh dirinya, maka itupun tak bisa mengalahkan nikmat surga, karena misalnya di dunia orgasme sex dgn 1 wanita cantik saja sudah dibilang nikmat, maka di surga kenikmatan itu jauh-jauh lebih, IBARATnya orgasme sex yang panjang, tak hanya sebentar, dan tak hanya dengan satu tapi lebih banyak dan lebih cantik wanita dan lebih suci. bahkan kalau di dunia sex dgn pelacur, wanita bekas, janda saja sudah dibilang nikmat, maka nikmatnya surga itu IBARATnya orgasme sex dengan wanita cantik yang masih perawan dan masih suci belum tersentuh oleh lelaki lain. Nah, sedangkan bagi wanita, mungkin nikmat tertinggi adalah kekayaan dan kekuasaan, makanya diibaratkan di surga itu mereka akan bergelimangan emas sutera, penuh mutiara, bergelimang kekayaan dan kekuasaan. Juga bagi penduduk gurun, maka sungai dan air adalah kenikmatan tiada tara. Nah, disurga itu IBARATnya penuh sungai, diseluruh penjuru surga penuh sungai, bukan cuma di lantai langit tertentu saja, tapi di seluruh pelosok surga adalah penuh sungai jernih dan udara sejuk. Itulah secuplik gambarannya saja, untuk menjelaskan bahwa nikmatnya surga tak akan bisa terkalahkan oleh apapun nikmat duniawi. Paham?
        Huur itu terjemahannya bukan hanya bidadari, tapi adalah SEGALA HAL YANG MEMBAHAGIAKAN.
        Makanya sebelum penulis asal bacod, asal memfitnah, asal menafisr tentang kitab suci dan agama orang lain, sebaiknya bertanya terlebih dahulu kepada ahlinya, dan pelajari bahasa aslinya. Jadi tidak sembarang menulis artikel sampah seperti ini.

      13. Dan tak ada itu batas kuota surga. Allah telah merahmati manusia muslim. JAdi SELURUH muslim akan berakhir kekal di surga, menjalani bahagaia sejati, sedangkan kafir akan kekal selamanya di neraka, menjalani penderitaan dan penuh penyesalan.
        sedangkan yang tanpa dihisab itu adalah muslim yang bisa LANGSUNG masuk ke surga. Karena ada manusia muslim yang dosanya lebih besar dari amal baiknya, sehingga harus menjalani hukuman di neraka dulu sebelum akhirnya bisa diangkat ke surga berkat keimanan keIslamannya, yang berkat rahmat Allah, maka setelah selesai masa hukumannya menebus dosanya di neraka , muslim bisa diangkat ke surga kemudian. Sehingga pada akhirnya seluruuuh muslim akan hidup kekal di surga, menjalani kebahagiaan yang sejati.
        Karena bahagia dunia ini cuma semu dan sementara, juga penderitaan dunia ini cuma semu dan sementara. yang sejati dan kekal itu di akherat.

        Apa yang nabi alami itu adalah perjalanan penjelajahan ke masa depan, sehingga nabi dapat melihat seperti apa itu penghuni neraka dan penghuni surga kelak setelah kiamat. Surga itu ditutup setelah nabi Adam turun ke bumi, baru dibuka kembali kelak setelah kiamat. Dan nabi Muhammad beserta umatnya yang beriman adalah yang pertama-tama masuk surga.

        Apa yang kafir hindu budha kira sebagai moksa itu sebenarnya adalah lenyapnya roh manusia dari dunia fana ini, beralih ke alam kubur, alam barzah. KArena setelah di alam kubur roh manusia tak lagi bisa kembali ke dunia fana ini, hanya bisa menunggu hingga kiamat, menjalani pengadialh akhir, untuk menentukan tempat berpulangnya, yakni ke nerakan atau surga, sesuai amal dan keimanan masing-masing.

        Apa yang hindu budha pikir sebaai reinkarnasi itu sebenarnya adalah pengaruh jin qarin, tiap manusia disertai jin pendamping, jin qarin. Berhubung usia jin qarin itu lebih panjang, maka ia bisa menyertai lebih dari 1 manusia, setelah manusia yang ia dampingi mati, maka ia akan beralih mendampingi manusia lain, sambil masih tetap membawa memori dan sedikit kebiasaan manusia yang sebelumnya ia sertai, yang akan bisa membawa pengaruh kepada manusia yang ia sertai berikutnya. Ini yang sering dikira sebagai reinkarnasi itu. Jin qarin itulah juga yang sering dikira sebagai roh leluhur, roh orang mati, padahal roh orang mati itu sesungguhnya sudah moksa, sudah lenyap dari dunia fana ini, sudah di alam kubur, tak bisa kembali ke dunia ini lagi.

        Dunia ini hanya ajang untuk ujicoba bagi manusia dan jin, tempat hidupnya kelak di dunia apakah di surga atau di neraka. Sesuai amal perbuatan dan keimanan masing-masing.

      14. Ini juga penafsiran ngaco seorang kafir bernama wira, sudah paham kan sekarang tentang keterbatasan otak kamu. Tak ada itu quota surga, semuaaa muslim pada akhirnya akan masuk surga, meski ada yang LANGSUNG, tanpa dihisab, langsung masuk surga, dan ada yang harus menjalani hukuman di neraka DULU, karena dosanya yang lebih banyak dari amal kebaikannya, hingga ketika rahmat Allah turun, maka seluruh muslim akibat keimanan keislamannya, lantas diangkat ke surga.

        Jadi tak ada itu quota surga, yang ada adalah keterbatasan otak kamu. Sok tahu tentang agama orang lain, dan justru tidak mendalami agama kamu sendiri yang sangat banyak sekali kelemahannya.

      15. Semua muslim akan berakhir di surga menjalani kebahagiaan sejati selamanya, tak ada batas quota.

        hadits Shahih Bukhari ke-44:

        عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَفِى قَلْبِهِ وَزْنُ شَعِيرَةٍ مِنْ خَيْرٍ ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَفِى قَلْبِهِ وَزْنُ بُرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَفِى قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ

        Dari Anas radhiyallaahu 'anhu bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda: “Akan dikeluarkan dari neraka dan diangkat ke surga orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dan dalam hatinya ada iman Islam seberat sya'irah. Dan akan dikeluarkan dari neraka dan diangkat ke surga orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dan dalam hatinya ada iman Islam seberat burrah. Dan akan dikeluarkan dari neraka dan diangkat ke surga orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dan dalam hatinya ada keimanan Islam meski hanya seberat dzarrah.”

      16. yah maklum, kekafiran memang dekat dengan kebodohan, sehingga si wira ini asal tulis sembarangan, asal bicara tanpa pelajari dulu kebenarannya, tapi bagaimanpun kebodohan itu jangan dibiarkan, perangi kebodohan dan perangi kejahatan. soal pilihan itu lain lagi.

      17. ha ha ha…ini blog humor ya???? jadi bingung???? mana yang benar atau salah???? biarpun rada rada menghina n ngelecehin asalkan lucu dan berbau hunor lumayan buat kesehatan asal jangan pada kesetanan aja ha ha ha…

      18. wah ternyata yg di dai bersumber dari sini ya pak eka
        komen saya sebagimana di dai (dialog ateis indonesia) saya copas di sini tentang kesalahan membaca dan memahami thma hadis dan perhitungan yg salah yg di lakukan oleh pak wirajhana eka.
        dimulai dari bahwa syurga itu bukan satu tapi ada beberapa surga itu bukan satu tapi ada beberapa:
        1.Surga Firdaus,
        2.Surga Adn,
        4.Surga Ma'wa,
        5.Surga Darussalam,
        6.Surga Darul Muqomah,
        7.Surga Al Maqoomul Amiin,
        8.Surga khuldi.

        trus cfm al quran quotanya adalah un limited :
        surga firdaus ini, dalam Al Qur'an, surat Al Kahfi, ayat 107, Allah swt. telah menjelaskan :

        إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُ لاً.

        “sesungguhnya org2 yg beriman dan mengerjakan amal shaleh bagi mereka adalah 'surga firdaus menjadi tempat tinggal”.

        Juga penegasanya dalam Al Qur'an, surat Al Mu'minuun, ayat 9-11.

        وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ.أُولَٰئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ.الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ.

        “Dan orang-orang yang memelihara shalat: Mereka itu adalah org2 yg akan mewarisi (yaitu) yang bakal mewarisi surga firdaus, mereka kekal di dalamnya”

        dan dari ayat di atas quota nya adalah unlimited pada kriteria itu

        Surga 'Adn dijelaskan dlm Al Qur'an, surat Thaaha ayat 76.

        جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلاَ نْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ مَنْ تَزَكَّىٰ.

        “(Yakni) surga 'Adn yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, didalamnya mereka kekal. dan itulah (merupakan) balasan bagi orang yang ( dalam keadaan ) bersih ( saat didunianya dari berbagai dosa )”.

        surat Shaad, ayat 49-50 :

        هٰذا ذِكرٌ ۚ وَإِنَّ لِلمُتَّقينَ لَحُسنَ مَـٔابٍ ﴿٤٩﴾
        Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik,

        جَنَّاتِ عَدْنٍ مُفَتَّحَةً اْلاَ لَهُمُ بْوَابُ.
        ” (Yaitu) surga'Adn yg pintu2nya terbuka bagi mereka”.

        lagi2 quota nya un limited dan begitu juga surga2 yg lainnya, silahkan di cek sendiri ke al quran

        mengenai matematika wirajhana eka dalam mensensus penduduk surga cfm hadis saya komentari sebagai berikut :
        70000 akan masuk syurga tanpa hisab,

        dan sesuai dgn hadis yg di ujuk2 eka yaitu :
        “Rabbku berjanji padaku untuk memasukkan 70.000 orang dari ummatku tanpa hisab dan adzab, setiap 1000nya bersama 70.000..” [Tirmidhi no.2361 (2624) dari Abu Umamah. Pendapat Abu Isa: Hadits ini hasan gharib]

        maka perhitungan utk yg tanpa hisab ini adalah :
        ada tambahan setiap 1000 muslim akan ada 70 muslim (70.000 : 1.000 setiap 1000) yg akan juga masuk syurga juga tanpa hisab, mengiringi yg 70.000 muslim tersebut

        jadi sejak wakhyu turun sampai hari ini selain yg 70.000 maka akan ada quota syurga tanpa hisab 70 org tiap 1000 muslim sampai akhir zaman

        wirajhana bisa hitung itu ada berapa miyar itu?

        salah total kan perhitungan mu wirajana eka

        (bersambung)

      19. so …
        kita lihat dan baca baik2 hadis yg wirajhana eka unjuk2 itu yah,
        sbb :
        “Rabbku berjanji padaku untuk memasukkan 70.000 orang dari ummatku tanpa hisab dan adzab, setiap 1000nya bersama 70.000..” [Tirmidhi no.2361 (2624) dari Abu Umamah. Pendapat Abu Isa: Hadits ini hasan gharib]

        anda wirajhana eka tahu apa thema dari hadis ini yaitu “YG MASUK SYURGA TANPA HISAB” dan ini berada di syaf/ barisan pertama di pintu syurga

        hadis ini TIDAK MEMBAHAS YG DI HISAB tapi hanya yg “tanpa hisab”
        luar biasa yah, syaf perama saja dah segitu banyak nya plus 79 syaf lagi yg simetris ke/ di-belakang nya hehehe
        vs
        sedang kalo memakai logika matematik nya wirajhana eka yg nggak paham cara bersyaf/ berbaris maka sangat panjang/ banyak yaitu 70.000 + (tambahan yg tidak di hisab) di syaf pertama lalu cuma 62.025 di syaf kedua juga cuma 62.025 di syaf kedua dst
        hahaha ini cara bersyaf yg nggak ada di dalam islam
        hehehe syaf yg lucu
        dan hitungan2 eka tidak sesuai dgn aturan org2 bersyaf dalam syariat islam
        artinya logika sederhana saja untuk bersyaf hitungan2 wirajana eka sudah hancur lebur hehe

        boleh dikatakan wirajhana eka tidak dapat mendapatkan/ menangkap/ mengambil tema bacaan anda dgn jelas pada hadis di atas, padahal yg segitu ini cuma pelajaran anak sd toh

        jadi kita nggak perlu hadis lain, karena hadis ini saja sudah JELAS2 ber-thema-kan yg masuk tanpa hisab yaitu 70.000 plus 70 setiap 1000 muslim sampai akhir zaman

      20. wehhh tiba2 nyangkol neh, ke ni blog…tema yang cukup menarik. pertanyaannya apakah wirajhana percaya akan surga / neraka?? klo percaya maka kasihhaaan bangett dia, gak bakalan dapet quotaa wakakakakakaa…trus klo gak percaya ngapain juga iseng banget and kurang kerjaan banget ngitung2 jumlah quota.. kalo Dari Abu Huroiroh, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

        “Allah telah berfirman : Aku telah menyiapkan bagi hamba-hambaku yang sholeh (di surga) kenikmatan-kenikmatan yang tidak pernah terlihat oleh mata-mata, dan tidak pernah terdengar oleh telinga-telinga, dan tidak pernah terbetik dalam benak manusia”,

        nah lohh..klo masih bisa di itung2 dibayangkan brarti blum surga tuhh bungg… lagian Islam itu demokratis demokratis aja koq, loe mau pake silahkan kagak juga silahkan..loe mau percaya surga or not silahkan, itu aja koq repot

      21. Walaupun demikian, ternyata ada batasan quota maksimum surgawan/wati yang dijanjikan allah pada Muhammad, yaitu: 80 baris, dimana: rombongan pertama (70.000, tanpa hisab) ditambah rombongan selanjutnya (per-1000nya (dari 70.000) membawa 70.000 orang lagi = 4.9 juta), jadi total = 4.97 juta orang. Allah juga berfirman, jika jumlah itu tidak terpenuhi, Allah akan mengisinya dari ARAB BADUI. [Untuk jelasnya, lihat detail argumen di bagian selanjutnya]
        ____________

        Inilah yang tidak anda tahu. Dasar tulisan anda hanya atas kebencian mendalam terhadap islam (yang kebenciannya selevel dengan Gert Wilders). Yang dimaksud dengan 70.000 dalam bahasa Arab artinya SANGAT BANYAK. Bukan berarti harus 70.000 secara nominal. Jika anda masih tidak percaya hal ini, anda boleh bertanya langsung dengan orang-orang arab saudi yang tinggal di indonesia. Angka 7 mirip dengan angka 1(se=satu) dalam bahasa indonesia.

        Sehingga tidak mengherankan, jika kita banyak mendapati hadist-hadist menyebut angka 70.000.

        selebihnya, saya belum membaca seluruh artikel ini.

      22. udah biarin aja ,,,, karena biar dah diberi bukti2 yg haq , si WE ini pasti akan menyangkal beribu alasan , jadi ga ada gunanya debat ama orang yg sudah menutup hati

        biarkan lah Dzat yg menciptakanya yg menegur si WE scara langsung

      23. M Hasan,
        saya pahami kenapa kamu shock, karena kenyataan surga Islam yg saya ungkapkan yg tertera di artikel ini sangat mengerikan bagi orang muslim sendiri. Namun yang tertulis emang demikian, quota surgamu udah habis sejak lama..

        btw, kamu mengartikan MUSTASBIHAT aja salah…jadi tambah kasihan gw ngelihat betapa kamu gak ngerti ajaranmu sendiri.

        “Dia-lah (huwa) yang (alladhī) menurunkan (anzala) kepadamu (ʿalayka) kitab (Al-kitāba). Di antara nya (min'hu) ayat-ayat (āyātun) muhkamaat (jelas), mereka (hunna: ini kata ganti untuk orang, tapi digunakan untuk ayat) isi pokok/dasar (ummu) kitab (al-kitābi) dan yang lain (wa-ukharu) mutasyaabihaat (serupa). Adapun (fa-ammā) yang (alladhīna: jamak) dalam (fii) hati mereka (qulūbihim) menentang/sesat (zayghun), mereka mengikuti (fayattabiʿūna) apa (mā) tashābaha (serupa/mirip) daripadanya (min'hu) mencari (ib'tighāa) perselisihan/fitna (al-fit'nati) dan mencari (wa-ib'tighāa) ta'wilnya (penjelasan/tafsir), Dan tidak ada (wamā) yang tahu (yaʿlamu) ta'wilnya kecuali (illā) Allah (Allahu). Dan orang-orang yang mendalam (wal-rāsikhūna) dalam (fii) pengetahuan/ilmu (al-ʿil'mi), mereka berkata (yaqūlūna): “Kami beriman (āmannā) kepadanya (bihi: kata ganti orang ke-3 tunggal) setiap/seluruh (kullun) min (adalah/dari) sisi (ʿindi) Tuhan kami (rabbinā).” Dan tidak (wamā) memperhatikan/ingat (yadhakkaru) kecuali (illā) orang-orang (ulū) berakal (Al-albābi)” [AQ 3.7]

        note:
        kata “mutasyaabih..” muncul di AQ 2.25, 6.99, 6.141, 39.23 dan 3.7. Kata tersebut di seluruh ayat lain kecuali AQ 3.7 diterjemahkan “serupa”
        kata “tasyaabaha” muncul di AQ 2.70, 2.118, 13.16 dan 3.7. Kata tersebut di seluruh ayat lain kecuali AQ 3.7 diterjemahkan “serupa” atau “mirip”
        kata “muhkamaat” ada di AQ 47.20 dan 3.7, artinya adalah tepat/persis atau jelas.

        Seharusnya, jika konsisten menterjemahkan, maka kata-kata tersebut di AQ 3.7 diterjemahkan sama, yaitu: SERUPA/MIRIP

        Semoga kamu makin memahami..betapa mengerikannya kenyataan yg kamu hadapi sekarang ini…udah di dunia ketipu…eh di akhiratnya malah terkatung-katung pula..

        kasihan sekali…tapi ya sapa suruh gak pinter2 🙂

      Leave a Reply

      Fill in your details below or click an icon to log in:

      WordPress.com Logo

      You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

      Twitter picture

      You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

      Facebook photo

      You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

      Google+ photo

      You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

      Connecting to %s