Samädhi/Meditasi dan Paññā


Meditasi BUKAN aktifitas mengosongkan pikiran,
TIDAK mengosongkan pikiran.
TIDAK HARUS dalam postur duduk,
DAPAT dalam postur: berdiri, berjalan, berbaring.
Jikapun duduk bersila, TIDAK HARUS dalam posisi LOTUS.
TIDAK HARUS dilakukan berjam-jam,
DAPAT dilakukan beberapa menit.
dan TIDAK TERKAIT DENGAN AGAMA MANAPUN.


Sang Buddha pernah berkata bahwa 5 Indriya/Pañcindriyāni/5 kemampuan (saat mahir tak tergoyahkan/mencapai kesucian disebut 5 Kekuatan/pañca balā), jika dikembangkan dan dilatih (bhāvitāni bahulīkatāni), akan menuntun pada (saṃvattanti): Hancurnya noda-noda (āsavānaṃ khayāya) atau Hancurnya belenggu-belenggu (saṃyojanappahānāya) atau Tercabutnya kecenderungan tersembunyi (anusayasamug-ghātāya) atau Pemahaman penuh pada sang jalan (addhā-napariññāya)” [SN 48.61-64]. 5 Indriya (atau 5 kekuatan, SN 48.3), yang dimaksud adalah:

  1. Kemampuan/Kekuatan-Keyakinan (Saddha-Indriya/Bala), harus terlihat dalam (daṭṭhabba) 4 faktor memasuki-arus (Catūsu sotāpattiyaṅgesu) [SN 48.8, AN 5.15] atau CERMIN DHAMMA/dhammādāso (SN 55.8-10): Keyakinan kokoh tak tergoyahkan pada (1) Buddha, (2) Dhamma, (3) sangha, dan (4) moralitas yang disenangi para mulia yaitu moralitas yang tidak rusak, tidak robek, tanpa noda, tanpa bercak, membebaskan, tidak digenggam/melekat dan menuntun pada pikiran terpusat [SN 55.1,2]. Pengelompokan lain 4 faktor pemasuk arus: (1) Pergaulan dengan orang Mulia (Sappurisasaṃseva), (2) mengikuti dhamma sejati (saddhammassavana), (3) perhatian benar (yonisomanasikāra) dan (4) berprilaku sesuai dhamma/ajaran (dhammānudhammappaṭi-patti). Arus adalah 8 jalan mulia (pandangan benar..pemusatan pikiran yang benar). Pemasuk arus adalah yang memiliki 8 jalan mulia [SN 55.5, 50; DN 33]
      Note:
      Karena Sang Buddha juga bersabda: “..Sekarang, Ānanda, penghidupan BRAHMA/SUCI menjadi tidak bertahan lama. Sekarang, Ānanda, DHAMMA SEJATI hanya bertahan 500 tahun (na dāni, ānanda, brahmacariyaṃ ciraṭṭhitikaṃ bhavissati. Pañceva dāni, ānanda, vassasatāni saddhammo ṭhassati)” [AN 8.51, Cullavagga X.1.6], maka, setelah tahun ke-500nya penahbisan Mahapajapati Gotami, Dhamma sejati lenyap, pencapaian Sotapanna TIDAK DIMUNGKINKAN di alam Manusia. Mereka yang mengaku berkeyakinan terhadap Buddha, Dhamma, seharusnya juga YAKIN pada sabda sang Buddha tentang yang ini [Untuk tahu ajaran Buddhisme lihat,”Ringkasan Ajaran Buddha“, juga lihat, “Riwayat Buddha Gautama“]

    Sidharta Gautama dengan usahanya sendiri, menembus pencerahan, pengetahuan ini diajarkanNya pada yang patut dijinakkan. Jadi, seseorang, melihat orang yang dikenalnya, menjalani latihan ajaran ini dan mencapai pencapaian. Ini menginspirasikannya untuk mengikutinya atau untuk membuktikannya, ATAU Seseorang, setelah mendengar/membaca ajaran, Ia merenungkannya dan melihat manfaatnya ada, Ini adalah benih awal keyakinannya, Ia ingin membuktikan kelanjutannya dan Ia mencapai beberapa kemajuan mental seperti yang tertera di ajaran, oleh karenanya, keyakinannya mengokoh dan makin tak goyah.

    Alur maju dari indriya Keyakinan:

      “..yang berbakti sepenuhnya kepada Sang Tathāgata dan berkeyakinan penuh pada-Nya tidak memiliki kebingungan atau keraguan terhadapNya atau ajaranNya → akan terbangkitkan kegigihannya untuk meninggalkan kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan mendapatkan kondisi-kondisi yang bermanfaat → menjadi mengingat ini, berdaya ingat kuat, cerdas dalam mengingat, ingat akan ingatan, perkataan dan perbuatan yang telah lama → akan memperoleh keterpusatan pikiran, akan memperoleh pikiran yang terpusat, setelah melepaskan objek → dan akan memahami..

      Ketika ia, berulang-ulang berusaha dengan cara demikian, berulang-ulang merenungkan demikian, berulang-ulang memusatkan pikiran demikian, berulang-ulang mengetahuinya dengan cara demikian, siswa mulia itu memperoleh keyakinan penuh sebagai berikut: ‘Sehubungan dengan hal-hal ini yang hanya pernah kudengar sebelumnya, Aku, sekarang, setelah menyentuhnya dengan jasmani dan, setelah menembusnya melalui kebijaksanaan, aku melihat.’ Keyakinannya itu adalah indriya keyakinan.” [SN 48.50. Juga lihat: MN 68/Nalakapanasutta dan MN 11/Culasihanada Sutta]

    Perumpamaan tentang Kereta Dhamma dari Sang Buddha:

      Adalah keyakinan dan kebijaksanaan (yassa saddhā ca paññā ca)
      pasangan yang terjalin bersama (dhammā yuttā sadā dhuraṃ)
      rasa malu tiangnya, pikiran gandar-ikatnya (Hirī īsā mano yottaṃ)
      ingatan kusir pengarahnya (sati ārakkhasārathi)

      moralitas perlengkapan keretanya (ratho sīlaparikkhāro)
      jhana as-nya kegigihan rodanya (jhānakkho cakkavīriyo)
      keseimbangan terjalin pikiran terpusat (upekkhā dhurasamādhi)
      dan ketiadaan keinginan sebagai penutupnya (an-icchā parivāraṇaṃ)

      tanpa niat buruk tanpa kekejaman (Abyāpādo avihiṃsā)
      dan melepaskan adalah persenjataannya (viveko yassa āvudhaṃ)
      kesabaran perisai zirahnya (Titikkhā cammasannāho)
      bebas kemelekatan arahnya (yogakkhemāya vattati)

      berasal dari diri sendiri (tadattani sambhūtaṃ)
      kendaraan brahma yang tiadatara (brahmayānaṃ anuttaraṃ)
      dikendarai para bijak dunia kita (Niyyanti dhīrā lokamhā)
      pasti berjaya dengan kemenangan (aññadatthu jayaṃ jayan”ti) [SN 45.4]

  2. Kemampuan/Kekuatan-Kegigihan (vīriya-Indriya/Bala), harus terlihat dalam 4 usaha benar (Catūsu sammappadhānesu) [SN 48.8, AN 5.15], Membangkitkan kegigihan untuk:
    • meninggalkan kondisi-kondisi tak bermanfaat dan mendapatkan kondisi-kondisi bermanfaat; kuat, teguh dalam usaha, tidak melalaikan tanggung jawab untuk melatih kondisi-kondisi bermanfaat. Membangkitkan keinginan untuk tak memunculkan kondisi-kondisi buruk tak bermanfaat yang belum muncul;
    • Mengarahkan pikirannya, berupaya dan membangkitkan keinginan untuk: meninggalkan kondisi-kondisi buruk tak bermanfaat yang telah muncul dan membangkitkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul;
    • Mengarahkan pikirannya, berupaya dan membangkitkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul dan;
    • mengarahkan pikirannya, berupaya dan membangkitkan keinginan untuk mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul, untuk ketidak-rusakannya, meningkatkannya, memperluasnya, dan memenuhinya melalui pengembangan [SN 48.10; DN 16]

    Sang Buddha: Jika 4 Indriya/kemampuan (catunnaṃ indriyānaṃ) yaitu: Kebijaksanaan, Pikiran terpusat, Ingatan dan Kegigihan, telah dikembangkan dan dilatih, ini akan menuntun pada hancurnya noda-noda [SN 48.47]

  3. Kemampuan/Kekuatan-Ingatan (sati-indriya/bala), yaitu berdaya ingat kuat (satimā hoti paramena) cerdas dalam mengingat (satinepakkena samannāgato) ingat akan ingatan, perkataan dan perbuatan yang telah lama (cirakatampi cirabhāsitampi saritā anussaritā). Indriya ingatan harus terlihat dalam 4 landasan ingatan (Catūsu satipaṭṭhānesu), yaitu setelah meninggalkan kerinduan kegundahan dunia berdiam tekun mengingat untuk sepenuhnya mengatahui terkait: (1) Jasmani mengamati jasmani (kāye kāyānupassī) ..(2) Perasaan mengamati perasaan (vedanāsu vedanānupassī) ..(3) Pikiran mengamati pikiran (citte cittānupassī) .. (4) Dhamma/hal (berkondisi, terkondisi, tak terkondisi) mengamati dhamma (dhammesu dhammānupassī) [SN 48.8, 48.10, AN 5.15]

    Sang Buddha: Mereka yang BELUM meninggalkan 6 hal, TIDAK AKAN MAMPU terkait jasmani mengamati jasmani secara ke dalam/diri sendiri atau ke luar/selain diri sendiri.. perasaan.. pikiran.. dhamma adalah dhamma secara ke dalam atau ke luar. 6 hal yang dimaksud adalah senang/gemar dalam:

    1. kesibukan/menyibukan diri bekerja (Kammārāmata)
    2. berbicara/ngobrol (tulis dan ucapan) (bhassārāmata)
    3. tidur (niddārāmata)
    4. berkumpul/kumpul-kumpul (saṅgaṇikārāmata)
    5. tidak menjaga pintu-pintu indriya (indriyesu aguttadvārata), dan
    6. makan berlebihan/tak membatasi (bhojane amattaññuta) [AN 6.118]

    Sang Buddha: Jika 3 Indriya/kemampuan (tiṇṇannaṃ indriyāna) yaitu: Kebijaksanaan, Pikiran terpusat dan Ingatan, telah dikembangkan dan dilatih, ini akan menuntun pada hancurnya noda-noda. [SN 48.49/Pindola]

  4. Kemampuan/Kekuatan-Pikiran Terpusat (samādhi-indriya/bala) atau juga disebut Samatha (AN 6.54) yaitu memperoleh samadhi, memperoleh keterpusatan pikiran, setelah melepaskan objek. Indriya keterpusatan pikiran harus terlihat dalam 4 Jhana (Catūsu jhānesu): Jhana ke-1 s.d Jhana ke-4 [SN 48.8, 9; AN 5.15].

    “Sammā-samādhi” dengan pendukung dan perlengkapan berupa Pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar, usaha benar dan ingatan benar, mengarah pada nibbana atau hancurnya kekotoran mental [SN 45.28].

    Sang Buddha: Jika 2 Indriya/kemampuan (dvinnaṃ indriyānaṃ), yaitu: kebijaksanaan/Kebijaksanaan mulia dan Kebebasan mulia/Indriya pikiran terpusat, telah dikembangkan dan dilatih, ini akan menuntun pada hancurnya noda-noda [SN 48.46]

  5. Kemampuan/Kekuatan-Kebijaksanaan (pañña-Indriya/Bala) atau Pengetahuan Mulia (Ariyā paññā) atau vipassana (AN 6.54): Mengarah pada muncul-lenyapnya dan dapat menembus, menuntun pada hancurnya penderitaan [SN 48.9], Indriya Kebijaksanaan harus terlihat dalam 4 Kesunyataan mulia (Catūsu ariyasaccesu), yaitu: tentang dukkha, asalmulanya, lenyapnya dan jalan menuju lenyapnya dukkha [SN 48.8, AN 5.15].

    Sang Buddha: Jika 1 indriya/kemampuan (ekassa indriyassa), yaitu kebijaksanaan atau pengetahuan Mulia, telah dikembangkan dan dilatihnya, ini akan menuntun pada hancurnya noda-noda. Selama pengetahuan mulia belum muncul, maka selama itu tidak ada: kekokohan (saṇṭhiti) dan kekuatan (avaṭṭhiti) pada 4 indriya/kemampuan lainnya. Dengan memiliki kebijaksanaan, maka 4 Indriya/kemampuan lainnya akan menjadi stabil (saṇṭhāti). Oleh karenanya, Indriya/Kemampuan kebijaksanan adalah yang terunggul dari 4 Indriya lainnya dalam kondisi-kondisi yang mendukung pencapaian pencerahan (bodhipakkhiyā dhammā) atau dalam tahap-tahap menuju tercapainya pencerahan (padāni bodhāya saṃvattanti)) [SN 48.45, 51, 52, 54, 67-70]

Kemudian, Sang buddha juga menyampaikan ajarannya tentang: “Yang tak terkondisi” (asaṅkhata = Nibbana, yaitu: hancurnya (kkhayo): Ketagihan/rāga, Kebencian/dosa dan Kekeliruan tahu/moha) dan jalan-jalan menuju “yang tak terkondisi” (asaṅkhatagāmiñca maggaṃ) [SN 43.12], yaitu:

  • Ingatan pada jasmani (Kāyagatāsati), Setelah mengajarkan itu, beliau menginstruksikan muridnya untuk, “jhāyatha” [SN 43.1], atau juga
  • Ketenangan (samatha: tenang/hening) dan melihat secara khusus (vipassanā: vi = pemisahan/khusus/dalam + “passana/passati” = melihat, mengamati). Setelah mengajarkan samatha dan vipassana sebagai jalan menuju yang tak terkondisi, beliau menginstruksikan muridnya untuk, “jhāyatha” [SN 43.1,2]

    Ada 2 hal yang mendukung pada pengetahuan (vijjābhāgiyā), yaitu Samatha dan Vipassanā. Ketika Samatha dikembangkan, apa tujuannya? Citta/Pikiran dikembangkan. Ketika pikiran dikembangkan, apa tujuannya? Kemelekatan ditinggalkan. Ketika Vipassana dikembangkan, apa tujuannya? Paññā/Kebijaksanaan dikembangkan. Ketika Paññā dikembangkan, apa tujuannya? Avijjā/ketidaktahuan ditinggalkan. Dikotori kemelekatan, pikiran tak terbebaskan. Dikotori ketidaktahuan, Paññā tak berkembang. ketiadaan ketagihan (rāgavirāgā) adalah cetovimutti (Kebebasan pikiran). Ketiadaan ketagihan karena ketidaktahuan (avijjāvirāgā: tentang paticcasamupada/sebab kemunculan) adalah Paññāvimutti (kebebasan kebijaksanaan) [AN 2.30/Vijja-bhagiya Sutta]

    “..mencapai kearahatan melalui salah satu dari 4 jalan ini:

    1. mengembangkan Vipassana yang didahului Samatha [samathapubbaṅgamaṃ vipassanaṃ bhāveti]
    2. mengembangkan Samatha yang didahului Vipassana [vipassanāpubbaṅgamaṃ samathaṃ bhāveti]
    3. mengembangkan gabungan Samatha dan Vipassana. [samathavipassanaṃ yuganaddhaṃ bhāveti]
    4. pikiran yang dicengkram kegelisahan akan Dhamma (hal yang berkondisi maupun bukan) [dhamma+uddhacca+viggahitaṃ mānasaṃ hoti], di suatu waktu kemudian [Hoti so,..samayo yaṃ taṃ] secara internal pikirannya kokoh, tersusun, manunggal menjadi terpusat [cittaṃ ajjhattaṃyeva santiṭṭhati sannisīdati ekodi hoti samādhiyati] [AN 4.170/Yuganaddha Sutta]

    Ke-4 jalan di atas ini berkorelasi dengan 4 tipe orang di AN 4.92-94/Samādhi sutta (juga AN 10.54), sehingga:

    1. Untuk Samatha: “cittaṃ/pikiran saṇṭha(i)petabba (dibangun/teguhkan/kokohkan/selaraskan), sanni­sā­detab­ba (disusun/tenangkan), ekodi (manunggal)”. Variasi/detail caranya di MN 119/kāyagatāsati dan MN 122/Mahasunnata sutta
    2. Untuk Vipassana: bagaimana seharusnya saṅkhārā/fenomena/dhamma: dilihat/digigit (daṭṭhabbā), bergantung pada/disentuh/digali (sammasitabbā) dan dilihat khusus (vipassitabba)”. AN 4.177 menyampaikan cara melihat/menggigit yaitu dengan sebagaimana adanya (yathābhūtaṃ) yaitu ini bukan milikku, bukan aku, bukan diriku (netaṃ mama, nesohamasmi, na meso attā). SN 12.66 dan Cnd 23 menyampaikan cara menggali dan melihat khusus melalui 4 kesunyataan mulia yaitu ini anicca.
    3. Untuk no.4 AN 4.170, kegelisahan (akan dhamma) dihilangkan dengan Samatha (AN 6.116), menenang seiring tahu bahwa: (1) menyukai (assādo) muncul disebabkan kesenangan dan kenikmatan (paṭicca uppajjati sukhaṃ somanassaṃ) pada hal-hal; (2) kesedihan/kesusahan (ādīna­vo) karena hal-hal adalah anicca, dukkha, mengalami perubahan (vipari­ṇāma­dhammā); (3) jalan keluar/bebas (nissaraṇam) dengan mendisiplinkan/menyingkirkan (vinayo) dan menanggalkan (­pahāna) hasrat-ketagihan (­chanda­rāga) [SN 22.26-27; 22.129-130; 35.13-16]

    Karena ke-4 jalan di AN 4.170 semuanya merujuk pada pemusatan pikiran/samadhi, maka ini harus terlihat dalam 4 Jhana (SN 48.8,9)

    Samatha-Vipassana disebut sepasang utusan cepat (sīghaṃ dūtayuga) karena dilakukan berpasangan berada di jalan 8 mulia, masuk dan keluarnya melalui satu pintu indriya yang sama yang dijaga sati yang bertugas mengawal kesadaran indriya sehingga melihat secara apa adanya (yathābhūta) sebagai suatu pesan Nibbana. Jadi: Dengan pikiran terpusat pada 1 objek yang sama di 1 pintu indriya yang sama, memperhatikan MENENANGNYA segala bentukan kehendak/sankhara dan melihatnya secara apa adanya sebagai suatu kemunculan dan kelenyapan. [SN 4.91-94, SN 35.245] → tidak terkesan → tidak menginginkannya → pengetahuan kebebasan

    Jika mengharapkan (Ākaṅkheyya): ‘dengan hancurnya noda-noda (āsavānaṃ khayā), merealisasikan bagi dirinya pengetahuan langsung di kehidupan ini: kebebasan pikiran tanpa noda dan kebebasan kebijaksanaan (anāsavaṃ cetovimuttiṃ paññāvimuttiṃ diṭṭheva dhamme sayaṃ abhiññā sacchikatvā) dan setelah mencapainya, Ia berada di dalamnya (upasampajja vihareyyan’ti)’, Ia haruslah seorang yang penuh moralitas, menekuni ketenangan pikiran internal, tidak mengabaikan jhāna-jhāna, berpandangan terang (sīlesvevassa paripūrakārī ajjhattaṃ cetosamathamanuyutto anirākatajjhāno vipassanāya samannāgato brūhetā)..”. [AN 10.71, MN 6] → Samatha-Vipasana membutuhkan prasyarat kesempurnaan moralitas dan kepiawaian dalam jhana!

    Samatha dan Vipassana dilakukan dengan pemusatan pikiran, namun di setelah abad masehi, Vipassana menjadi sebuah teknik konsentrasi bergerak, pegangan awal satu objek, namun JIKA MUNCUL objek dominan LAIN, objek tersebut diamati/dicatat, tidak dinilai, terus demikian, padahal arti samadhi sendiri justru terpusatnya pikiran. Juga, muncul jenis samadhi lain, yaitu Khaṇikā samadhi (konsentrasinya bersifat sementara) dan Upacāra samadhi (dekat atau hampir di samadhi), yang tidak pernah diajarkan sang Buddha dan para Arahat lainnya. Entah mengapa Buddhaghosa berani sekali menambahkan hal-hal yang tidak pernah diajarkan Sang Buddha dan para Arahat lainnya []

  • Samādhi/Pikiran terpusat, melalui: Savitakkasavicāra (awal (pikiran) menggenggam dan mempertahankan objek, atau Jhana ke-1), avitakkavicāramatta (tanpa awal menggenggam objek dan hanya mempertahankan objek, Jhana ke-1 menjelang jhana ke-2), avitakkaavicāra (dengan tanpa awal menggenggam dan tanpa mempertahankan objek, Jhana ke-2 s.d 9), Suññata (Landasan kekosongan), animitta (landasan tanpa gambaran), appaṇihita (Landasan tanpa tujuan/keinginan). Setelah mengajarkan itu, beliau menginstruksikan muridnya untuk, “jhāyatha” [SN 43.3-4], atau juga
  • 4 landasan ingatan/Cattāro satipaṭṭhānā atau juga disebut gambaran samadhi/samādhi-nimittā (MN 44, AN 8.63, Cattāro satipaṭṭhānā secara eksplisit disebut sebagai pikiran terpusat atau samadhi); 4 Usaha benar/Cattāro sammappadhānā atau juga disebut Perlengkapan Samadhi/samādhi-parikkhārā (MN 44). Setelah mengajarkan ini, beliau menginstruksikan muridnya untuk, “jhāyatha” [SN 43.5, 6], atau juga
  • 4 landasan kemahiran supra-mental/Cattāro iddhipādā memiliki upaya kreatif dari pikiran terpusat dengan: (1) hasrat (chanda-samādhippadhānasaṅkhārasamannāgata) (2) kegigihan (vīriya..samannāgata) (3) pemikiran (citta..samannāgata) (4) penyelidikan (vīmaṃsā-samādhippadhānasaṅ-khārasamannāgata) [SN 51.11]. Setelah mengajarkan ini, beliau menginstruksikan para muridnya untuk, “jhāyatha” [SN 43.5, 6], atau juga
  • 5 Indrya/Pañcindriyāni atau juga disebut 5 Kekuatan/Pañca balāni; 7 faktor pencerahan/Satta bojjhaṅgā; 8 jalan mulia/aṭṭhaṅgiko magga (Pandangan benar..Pemusatan pikiran yang benar). Setelah mengajarkan ini, beliau menginstruksikan muridnya untuk, “jhāyatha” [SN 43.7- 11]

Setiap telah mengajarkan jalan-jalan menuju “yang tak terkondisi” tersebut, Sang Buddha, selalu menginstruksikan mereka untuk, “Jhāya” [SN 43.12/Asaṅkhatasaṃyutta, dll]

    Note:
    Di SN 48.10 ada kalimat, “Katamañca, bhikkhave, samādhindriyaṃ? ..labhati samādhiṃ, labhati cittassa ekaggataṃ—idaṃ vuccati, bhikkhave, samādhindriyaṃ” (Dan apakah, para bhikkhu, indriya samadhi?..memperoleh samādhi, memperoleh keterpusatan pikiran. Ini disebut indriya samādhi) dan di MN 44 ada kalimat, “Katamo panāyye, samādhi?..cittassa ekaggatā ayaṃ samādhi” (Sekarang, Yang mulia, apakah samadhi?…keterpusatan pikiran adalah samadhi). “Sammā-samādhi” (sammā = benar; sama = seimbang/tenang/tentram/rata/serupa; adhi = menuju/ke/pada/ke atas). Secara literal Sammā-samādhi = “menuju ketenangan yang benar”, namun, 2 sutta di atas, sfesifik mendefinisikan Samādhi = “Pikiran yang terpusat”, jadi sammā-samādhi = “pikiran terpusat yang benar”.

    Di SN 34.11 ada frase “ekacco jhāyī samādhismiṃ” (seorang jhāyi bersamadhi). Di Sutta SN 43.12, ada kata Jhāyatha dan Samādhi. Di SN 40.8, ada kalimat: “Kattha ca, bhikkhave, samādhindriyaṃ daṭṭhabbaṃ? Catūsu jhānesu” (Dan di manakah, para bhikkhu, indriya samādhi harus terlihat? dalam 4 jhāna). Di DN.27/Aggañña Sutta ada kalimat,

      ..araññāyatane paṇṇakuṭīsu jhāyantī’ti. jhāyantīti kho, vāseṭṭha, ‘jhāyakā, jhāyakā’..sattānaṃ ekacce sattā araññāyatane paṇṇakuṭīsu taṃ jhānaṃ anabhisambhuṇamānā (di gubuk-gubuk daun di hutan mereka ber-jhāyanti. Mereka ber-jhāyanti, Vasettha, ‘jhāyakā, jhāyakā’..beberapa yang tinggal di gubuk-gubuk daun di hutan tidak mampu mencapai jhana)

    Di SN 34.11/Sandhasutta:

      “ber-jhāya-lah seperti jhāyi seekor kuda berdarah murni, Sandha/nama orang (jānīyajhāyitaṃ kho, saddha, jhāya), bukan jhāyi sekor anak kuda liar (mā khaḷuṅkajhāyitaṃ). Bagaimanakah jhāyi seekor anak kuda liar? (Kathañca, khaḷuṅkajhāyitaṃ hoti)? Ketika seekor anak kuda liar, Sandha, diikat di tempat makanan, ia ber-jhāyati: ‘rumput, rumput!’ (Assakhaḷuṅko hi, saddha, doṇiyā baddho ‘yavasaṃ yavasan’ti jhāyati)”

    Di SN 4.23 ada kata “jhāyī jhāna-rato sadā” (jhāyī selalu gemar-Jhana) dan di DN 19 ada kata “karuṇaṃ jhānaṃ jhāyati” (jhāyati welas asih jhāna, yaitu meditator mencapai pikiran yang disertai welas asih atau mencapai jhana ke-3)

    “jhāya” (kata kerja orang ke-2 jamak: Jhāyatha, Orang ke-2 tunggal: Jhāyati, Orang ke-3 jamak: jhāyantī) = Memusatkan pikiran, mengarahkan pikiran atau membuat pikiran tercerap, terpesona, terbakar. Pelakunya disebut “jhāyī” atau “jhāyakā”. Hasil jhāya atau samadhi atau “hasil dari kegiatan agar pikiran tercerap/terpesona/terbakar dengan pikiran terpusat” disebut jhāna

    Apakah yang disebut dengan mengembangkan samadhi (samādhi-bhāvanā)? Pengulangan [dhammāna āsevanā], praktek/mengolah [bhavana] hingga mahir [bahulīkammaṃ] adalah mengembangkan Samadhi [MN 44/Mahavedala sutta]

    Pencapaian samadhi jhana ke-1 s.d ke-4 disebut kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini (Diṭṭhadhammasukhavihārā). Pencapaian samadhi jhana ke-5 s.d ke-8 disebut kediaman yang damai (Santā ete vihārā) [MN.8/Sallekha Sutta]

    Untuk mencapai jhana, TIDAKLAH PERLU menjadi bhikkhu dulu, karena di jaman sang Buddha, para umat awampun telah mencapainya, misal: Perumah tangga Pria Citta (SN 48.1, 41.9) dan perumah tangga wanita Nandamātā (AN 7.53)

Jadi, apapun jalan untuk menghancurkan asava, beliau selalu instruksikan dengan melalui jhana.

Tugas pelaku Samadhi?
Tekun untuk tetap ingat dalam sepenuhnya mengetahui apapun yang dilakukannya.

    Pengendalian Indriya Jasmani dan Moralitas → pikiran tak tercemari hal buruk (abyāsittacittassa) dan ketidakmenyesalan (Avippaṭisāro) → timbul sukacita (Pāmojja) → timbul girang (pīti) → muncul ketenangan (passaddhi) → timbul bahagia (Sukhaṃ) → Pikiran terpusat (Samādhi) → mengetahui dan melihat sebagaimana adanya (Yathā bhūta ñāṇa dassana) → menjadi tidak terkesan (nibbidā) → menjadi tidak menginginkan (viraga) → mengetahui dan melihat kebebasan (vimuttiñāṇadassana) [Gabungan dari AN 11.1 dan SN 35.97]

4 postur dan sikap dalam bersamadhi
Posisi/sikap/postur (Iriyapatha) 4 posisi (cattaro iriyapatha), yaitu: berbaring (sayano), berdiri (caram/ṭhito), duduk (nissino) atau berjalan (gacchanto atau cankama). Ketika Ia berbaring.. berdiri.. duduk.. berjalan, Ia mengetahui bahwa dirinya sedang: berbaring.. berdiri.. duduk.. berjalan. Ia mengetahui dengan jelas bagaimanapun tubuhnya berposisi. Ketika hal ini dilakukan dengan rajin, tekun, bersungguh-sungguh, maka ingatan-ingatan dan kehendak-kehendak sehubungan keduniawian menjadi ditinggalkan; dengan ditinggalkannya itu, pikirannya menjadi kokoh ke dalam, tenang, manunggal dan pikirannya menjadi terpusat [ajjhattameva cittaṃ santiṭṭhati, sannisīdati, ekodi hoti, samādhiyati] [MN 119/Kayagati Sutta].

sati
berdaya ingat kuat, cerdas dalam mengingat, ingat akan ingatan, perkataan dan perbuatan yang telah lama. [SN 48.8, 48.10, AN 5.14]

sampajañña/sampajāna (mengetahui sepenuhnya)
Kemunculan-berlangsung-berakhirnya vedanā/perasaan, vitakkā/awal pemikiran dan saññā/persepsi/ingatan (SN 47.35/sati Sutta) saat: bertindak bolak-balik (abhikkante paṭikkante); melihat ke depan, ke samping (ālokite vilokite); menarik atau merentangkan tangan-kaki (samiñjite pasārite); menggunakan jubah/pakaian, jubah luar dan mangkuk (saṅghāṭi patta cīvara dhāraṇe); makan (asita), minum (pīta), mengunyah (khāyita), dan mengecap (sāyita); buang air besar (uccāra) dan kencing (passāva); berjalan (gata), berdiri (thita), duduk (nisinna), tidur (sutte), terbangun/terjaga (jāgarite), berbicara (bhāsita), dan tidak berbicara (tuṇhībhāva) [SN 47.2/Satisutta]

    Note:
    ‘Sutte’ (keadaan tidur: di kursi, pembaringan, bersender, duduk, berdiri) tetap mengingat untuk sepenuhnya mengetahui itu. ‘Jagarite’ (terjaga: selain tidur, termasuk saat berbaring sakit atau keadaan yang tidak memungkinkan bangkit dari posisi berbaring) tetap mengingat untuk sepenuhnya mengetahui itu, jadi, ini bahkan di sebelum membuka mata ketika terjaga. Ingat untuk sepenuhnya mengetahui ini dilakukan terus menerus tanpa putus, seperti sabda sang Buddha, “yang senantiasa waspada, giat berlatih siang-malam, mengarahkan diri ke nibbana, kekotoran mentalnya akan musnah” [Dhammapada syair no.226]’

Sewaktu berada rajin, tekun, bersungguh-sungguh mengingat untuk sepenuhnya mengetahui secara demikian, jika muncul perasaan: menyenangkan atau menyakitkan atau bukan keduanya, dalam dirinya,

Ia mengetahui:
Telah muncul perasaan (menyenangkan atau menyakitkan atau bukan keduanya) dalam diriku. Perasaan itu muncul disebabkan jasmani ini dan jasmani ini tidak kekal, terkondisi dan muncul karena sebab sebabnya. Maka perasaan yang muncul adalah juga tidak kekal, terkondisi dan muncul karena sebab-sebabnya

    Ia mengamati ketidakkekalan jasmani dan perasaan itu,
    Ia mengamati kelapukannya (awal – akhir dari jasmani dan perasaan itu),
    Ia mengamati memudarnya (minat / pencarian / mendapatkan / mempertahankan jasmani dan perasaan: menyenangkan atau bukan menyakitkan bukan menyenangkan atau menolak jasmani dan perasaan: menyakitkan),
    Ia mengamati melenyapnya (minat/pencarian atau penolakan) jasmani dan perasaan itu,
    Ia mengamati kejenuhan (minat/pencarian atau penolakan) jasmani dan perasaan itu.

Ketika berada secara demikian, kecenderungan tersembunyi (minat/pencarian atau penolakan) sehubungan dengan jasmani dan perasaan itu menjadi ditinggalkannya

Jika merasakan perasaan (menyenangkan atau menyakitkan atau bukan keduanya), Ia mengetahui: ‘ini: tidak kekal, tidak menyenangkan, tidak meminatinya’ (anicca, anajjhosita, anabhinandita)
Jika merasakan perasaan (menyenangkan atau menyakitkan atau bukan keduanya), Ia merasakannya dengan tidak terkait/melekat.

Ketika ia merasakan perasaan yang berujung pada berakhirnya jasmani, Ia mengetahui: Aku merasakan perasaan yang berujung pada berakhirnya jasmani’
Ketika ia merasakan perasaan yang berujung pada berakhirnya kehidupan, ia mengetahui: ‘Aku merasakan perasaan yang berujung pada berakhirnya kehidupan’ Ia mengetahui: ‘Dengan hancurnya jasmani, berujung pada berakhirnya kehidupan, semua yang dirasakan, tidak menyenangkan (untuk tertarik atau menolak) (anabhinanditāni), akan mendingin di sini’.

Seperti halnya, sebuah lampu minyak menyala yang bergantung pada minyak dan sumbu, dengan habisnya minyak dan sumbu maka lampu itu menjadi padam karena kehabisan minyak [SN 36.7]

Objek Meditasi/Samadhi
Objek/Kammatthana dari Samatha jumlahnya lebih dari 40. Buddhaghosa (abad ke-5 M) menyatakan objek/Kammathana berjumlah 40[13]. Di abad ke-19, Mahasi Sayadaw, memperkenalkan 1 objek lagi yaitu kembang kempis-nya perut, Objek ini juga menggunakan “badan dan nafas” sebagai landasan, sehingga jumlahnya memang lebih dari 40

Oleh karenanya, pilih dan tekuni cukup 1 objek saja karena apapun objeknya, tujuan dan hasilnya adalah untuk menghancurkan kekotoran mental. Dari sekian banyak objek Samadhi, salah satunya adalah bernafas [ānāpāna: āna/menarik nafas + apāna/mengeluarkan nafas]. Nafas adalah kondisi alami manusia. Juga, ānāpānasati [ingatan pada nafas yang keluar/masuk] adalah objek samadhi yang digunakan seluruh SammasamBuddha. Buddha Gotama, selama masa vassa berdiam pada objek ini [SN 54.11/Icchānaṅgala].

    Note:
    Indriya (perasa) dan objeknya (udara/tekanan) → persentuhan (di sekitar hidung atau perut atau dada) = kesadaran hidung/badan, ke-3nya (Indriya perasa, objek: udara/tekanan dan kesadaran) = kontak hidung/badan. Kontak memunculkan perasaan (menyenangkan, menyakitkan atau bukan ke-2nya). Apa yang dirasakan, itu yang dipersepsikan, itu yang dipikirkan, itu yang berkembang biak berupa: sumber, persepsi, gagasan di masa lalu (ingatan), depan atau sekarang (misal tentang nafas yang panjang/pendek, cepat/lambat, halus/kasar, menyenangkan/menyakitkan, bukan ke-2nya, dll) yang dikenali oleh indriya perasa

    Ketika sedang menggunakan objek bernafas sebagai landasan ingatan, maka:

    • Jika pikiran berkeliaran (Pikiran apa saja: baik, buruk, indah, jahat, erotis, berguna/tidak), maka jangan senang dengan pikiran baik dan jangan murung dengan pikiran buruk, cukup diketahui, tidak melibatkan diri secara emosi, akal; tidak mengomentari, menyalahkan, menilai maupun memuji dan segera kembalikan ingatan pada gerak napas
    • Jika mendengar suara, hanya dikenali dan segera kembalikan ingatan pada gerak napas
    • Begitu pula dengan bau, rasa, sentuhan: menyenangkan, sakit, gatal, maka cukup diketahui, tidak terlibat dengan menolak atau menerima, meditator, bertahan untuk tidak meladeni dan segera kembalikan ingatan pada gerak napas
    • Bisa juga akan muncul bayangan yang dihasilkan dari ingatan dan khayalan, seperti cahaya, warna, bentukan dan sebagainya. Jangan terpengaruh dengan mengira bahwa inilah kehebatan mental. Ini jauh dari itu, semua ini hanyalah rintangan yang menghambat kemajuan. Waspada terhadap semua bayangan ini tanpa terlibat, segera kembalikan ingatan pada gerak napas

    Seiring waktu, pengulangan ingatan pada napas keluar dan masuk, napas bisa menjadi amat lembut dan halus hingga tidak terasa atau bahkan tidak dapat dibedakan apakah itu tarikan atau hembusan nafas. Perhatian benar berarti mengamati nafas secara apa adanya, tanpa menilai baik/buruknya, hanya mengawasi, mengenali kemunculannya hingga kelenyapannya baik di setiap tarikan dan/atau ketika menghembus.

    Dengan menguatnya pemusatan perhatian, yang ada hanya hembusan keluar dan masuknya napas tanpa ada pelaku di baliknya. Mungkin saja keadaan ini hanya sebentar dan pikiran berkelana kembali, terasa sulit untuk berkonsentrasi, merasa malas atau ingin tidur, bosan dan gelisah, merasa jemu dengan latihan samadhi. Tidak mengapa, yang diperlukan adalah menumbuhkan kembali kemauan, menetapkan ketekunan, siap bertempur.

    Mengembangkan mental seperti ini bukanlah sesuatu yang dapat dicapai dalam satu malam. Keteraturan dan kesinambungan merupakan aturan yang harus ditaati. Seluruh latihan mental harus dilaksanakan secara wajar dan penuh kewaspadaan; sebab ‘berkobar-kobar saja tanpa kewaspadaan bagaikan berlari-lari di malam yang gelap gulita’. [Beberapa paragraph di atas ini, berasal dari: “Buddhis Meditation”, Piyadassi Thera]

    Sangat dianjurkan untuk tidak percaya begitu saja, selidiki secara empiris [KBBI: EMPIRIS = berdasarkan pengalaman] atau EHIPASSIKO [datang dan alamilah sendiri]

METODE ANAPANASATI (Ingatan pada objek nafas)
Tercantum di: SN 54.7, 10; DN 22, MN 10, 62, 118, MN119 dan masih banyak lagi

    Ananda:
    Yang Mulia, apakah 1 hal (ekadhammo) yang, jika dikembangkan dan dilatih (bhāvito bahulīkato), memenuhi 4 hal (cattāro dhamme); dan 4 hal yang, jika dikembangkan dan dilatih, memenuhi 7 hal (satta dhamme); dan 7 hal yang, jika dikembangkan dan dilatih, memenuhi 2 hal (dve dhamme)?”

    Sang Buddha:
    “Pikiran terpusat dengan ingatan pada nafas (Ānāpānassati samādhi), Ānanda, adalah 1 hal yang jika dikembangkan dan dilatih, memenuhi 4 Landasan ingatan (cattāro satipaṭṭhāna).
    4 Landasan ingatan, jika dikembangkan dan dilatih, memenuhi 7 Faktor Pencerahan (satta bojjhaṅga). 7 Faktor Pencerahan, jika dikembangkan dan dilatih, memenuhi pengetahuan dan kebebasan (vijjā-vimuttiṃ) [SN 54.13]

    Note:
    1 hal ingatan pada nafas terdiri dari 4 x 4 set landasan ingatan, yaitu terkait:

    • Jasmani/tubuh: yaitu tarikan dan hembusan nafas
    • Perasaan ketika bernafas,
    • Pikiran ketika bernafas dan
    • Dhamma/HAL (berkondisi, terkondisi, tak terkondisi) atau bentukan ketika bernafas.

Bagaimana mengembangkan anapanasati: 4 x 4 = 16 ingatan pada nafas?
Duduk bersila (nisīdati pallaṅkaṃ ābhujitvā), tubuh tegak/lurus (ujuṃ kāyaṃ paṇidhāya), wajah menghadap ke depan, ingatan ditegakkan (parimukhaṃ satiṃ upaṭṭhapetvā). Ingatan hanya [satova: sato+va/eva] ingat sedang menarik nafas [assa-sati], ingatan hanya [satova] ingat sedang mengembuskan nafas [passa-sati]

    Note:
    Kitab Abhidhamma buku ke-2, Vibhanga 12 (buku ke-2, bagian matika, dibuat jauh lebih belakangan dari buku ke-4 dan sebagian buku ke-1 Abhidhamma, yaitu s.d tahun 50 SM) dan Ps 1.3 (dibuat jauh lebih belakangan lagi daripada Vibhanga-nya Abhidhamma, karena kerap mengutip Vibhanga), menyatakan bahwa kata “parimukha” adalah nāsikagge (ujung hidung) dan/atau parimukhanimitta diterjemahkan “ujung bibir atas”. Dukungan 2 text ini menyebabkan “parimukha” banyak diterjemahkan sebagai “ujung hidung/bibir atas”. Maksud dan terjemahan ini menjadi aneh, mengingat arti kata mukha = “mulut, wajah, di depan/di hadapan”; nāsika = hidung; nāsikasota = lubang hidung; ottha = bibir.

    Di banyak sutta (misal AN 5.193, SN 22.83, MN 77) kata parimukhanimitta diterjemahkan “bayangan/pantulan wajah”, vinaya Cullavagga KhuddakaVatthu (V.27.3-6), tentang aturan bulu/rambut, “parimukhaṃ kārāpenti dan parimukhaṃ kārāpetabbaṃ” (yang ditulis tanpa ada kata massu/jenggot) diartikan: “bulu dada” bukan ”bulu wajah/bibir/hidung”.

    Di MN 62/MahaRahulavada Sutta, saat Rahula duduk bersila menegakkan ingatan adalah dalam rangka Pancakhanda, tidak ada kaitannya dengan ujung atas bibir/mulut, wajah atau ujung hidung. Sehingga, sutta-sutta dengan frase “..parimukhaṃ satiṃ upaṭṭhapetvā” (misal: SN 7.18, AN 6.28) adalah tentang duduk bersila, tubuh tegak/lurus, wajah menghadap ke depan, ingatan (tentang sesuatu) ditegakkan, jika objeknya nafas, maka, ingatan TIDAKLAH pada hidung/ujung bibir atas, melainkan HANYA pada NAFAS.

Postur duduk idealnya dilakukan dengan kaki bersila (dengan sikap teratai sempurna atau tidak, duduk di lantai dengan alas tebal ataupun tidak atau di atas kursi dengan bersila atau tidak). Saat duduk, tulang belakang dan kepala tegak, seimbang dan lurus namun tidak kaku. Posisi kedua tangan diletakkan lemas di atas pangkuan paha (boleh juga tidak, yang penting dalam keadaan lemas dan nyaman). Mata boleh dipejamkan ataupun tidak, selama hal ini menunjang pemusatan pikiran (karena yang aktif adalah Indriya perasa, pikiran ketika bersentuhan dengan objeknya). Badan diupayakan tidak bergerak sekecil apapun.

Kenyamanan duduk adalah upaya diri untuk menerima kondisi. Perubahan apapun untuk memperbaiki kenyamanan ketika duduk, hanya berhasil untuk sementara, namun posisi itupun lambat laun akan menjadi tidak nyaman pula karena Sabbe sankhāra anicca.. dukkha (semua yang berkondisi adalah tidak kekal dan tidak memuaskan) sehingga kesabaran dalam bertahan sangatlah diperlukan, berusaha untuk membiasakan tubuh menerima posisi tersebut, berusaha untuk tidak bergerak atau merubah posisi sekecil apapun selama waktu yang ditetapkannya

    Note:
    Asava/noda-noda ada yang harus ditinggalkan melalui kesabaran..dengan sabar (adhivāsanāya) bertahan terhadap: dingin-panas, lapar-haus; kontak dengan: lalat, nyamuk, angin, panas matahari, ular-ular; ucapan: kasar dan menghina;perasaan jasmani: menyakitkan, menyiksa, tajam, menusuk, mengerikan, tidak menyenangkan, melemahkan vitalitas. Noda-noda, gangguan/yang menyusahkan dan gejolak/menyebabkan demam, dapat saja muncul pada mereka yang tidak dengan sabar bertahan namun tidak muncul pada mereka yang dengan sabar bertahan. [MN 2/Sabbāsavā sutta, AN 6.58/āsavā sutta]

Ketika lelah duduk (atau karena perasaan menyakitkan yang tak tertahankan lagi), ini Ia harus ingat untuk sepenuhnya mengetahui (bahwa ini bukan karena penolakan atau kemalasan atau perasaan baru yang tak bermanfaat/akusala atau meningkatkan perasaan akusala sebelumnya), setelah menimbang demikian, tetap ingat untuk sepenuhnya mengetahui: dalam berkehendak, merubah posisi: badan, kaki, lengan dan tangan atau menggosok tangan ke bagian yang penat atau melemaskan otot dengan cara berdiri, berjalan, memutar, berhenti bergerak, saat berjalan kaki menyentuh lantai/tanah, atau saat mata memandang sekitar, dll. Ketika melakukan pergerakan, maka objek nafas TIDAK LAGI DIGUNAKANNYA, ingatan dan objeknya saat itu adalah pada gerakan) dan ini semua dilakukan dengan tetap ingat untuk sepenuhnya mengetahui

4 SET KE-1: [terkait tubuh/jasmani (kāye) kāyānupassī (mengamati tubuh); anupassi = mengamati/merengungkan]

  1. mengetahui (pajānāti) nafas panjang/dalam (dīgha):

    ‘Aku mengetahui sedang menarik nafas panjang’; atau
    ‘Aku mengetahui sedang mengembuskan nafas panjang’

  2. mengetahui (pajānāti) nafas pendek (rassa):

    ‘Aku mengetahui sedang menarik nafas pendek’; atau
    ‘Aku mengetahui sedang mengembuskan nafas pendek

  3. Berlatih (sikkhati] merasakan/mengalami sepenuhnya (paṭisaṃvedī) seluruh tubuh (sabbakāya):

    ‘berlatih merasakan sepenuhnya seluruh tubuh nafas, aku menarik nafas’;
    ‘berlatih merasakan sepenuhnya seluruh tubuh nafas, aku mengembuskan nafas’

  4. Berlatih (sikkhati), menenangnya (Passambhaya) bentukan tubuh (kāyasaṅkhāra):

    ‘dengan menenangnya bentukan tubuh nafas, aku menarik nafas’;
    ‘dengan menenangnya bentukan tubuh nafas, aku menghembuskan nafas’

    Bagaikan seorang pekerja bubut yang terampil atau muridnya:

    Ketika melakukan putaran panjang, Ia mengetahui: ‘Aku melakukan putaran panjang’; atau
    ketika melakukan putaran pendek, Ia mengetahui : ‘Aku melakukan putaran pendek’;

    Demikian pula, menarik nafas panjang, Ia mengetahui: ‘Aku sedang menarik nafas panjang’.. aku sedang menghembuskan nafas panjang”.. pendek.. seluruh tubuh nafas.. dengan menenangnya bentukan tubuh nafas, aku menghembuskan nafas’ [MN 10]

Melalui suatu jenis tertentu dari tubuh (kāyaññatarāhaṃ: nafas masuk dan keluar/assāsapassāsā), tekun mengingat untuk sepenuhnya mengetahui terkait jasmani mengamati jasmani, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesuraman akan dunia (vineyya loke abhijjhādomanassaṃ) [SN 54.13, MN 118]

Note:
pajānāti: tahu, mengenali, mengerti, memahami, ‘melihat’ jelas
Passambhaya: tenang, reda, hening, diam, berhenti, lenyap.

Ada 3 bentukan [sankhāra] dalam konteks samädhi:

  1. Bentukan jasmani/kaya sankhāra: (Seluruh) tubuh nafas/(sabba)kāya adalah (seluruh) nafas masuk-keluar/assāsapassāsā [MN 118]. Karena nafas keluar-masuk terikat dengan jasmani (kāyap­paṭi­baddhā), disebut kāyasaṅkhāra [SN 41.6, MN 44]
  2. Bentukan ucapan/vaci sankhāra: usaha pikiran menggenggam obyek nafas [vitakka] dan mempertahan objek nafas [vicara] dan kemudian terjadi kegiatan mengungkapkannya [membatin] [SN 41.6, MN 44]
  3. Bentukan-kehendak pikiran/cittasankhāra: Persepsi dan perasaan dan yang menyertai pikiran, kondisi ini terikat dengan pikiran. Itulah persepsi, perasaan, bentukan pikiran [SN 41.6, MN 44]. Perasaan, persepsi dan kesadaran, kondisi ini tergabung bukan terpisah. tidak dapat memisahkan kondisi ini satu sama lainnya untuk menggambarkan beda antaranya. Karena apa yang dirasakan, itulah yang dipersepsikan; dan yang dipersepsikan, itulah yang dikenali [MN 43]

Meditator, ketika menarik nafas, akan mengetahui bahwa ketika nafas ditarik secara perlahan, tidak berbunyi, tarikan menjadi panjang. Demikian pula ketika menghembus nafas secara perlahan, tidak perbunyi, hembusan menjadi panjang. Karena bukan nafas yang biasa dilakukan, sejenak terjadi fase kekurangan oksigen, ada keinginan untuk cepat menarik nafas berikutnya (keinginan ini salah satu yang timbul dan tidak harus diikuti), ketika nafas ditarik, menjadi pendek dan ketika dihembus, menjadi pendek. Ini adalah kondisi atau bentukan pada jasmani

    ‘mengetahui (Pajānāti), mengetahui (Pajānāti),’ teman (avuso), itulah mengapa (tasmā) disebut ‘memiliki kebijaksanaan” (paññavāti vuccati).’ mengetahui apa? Mengetahui: “ini tidak memuaskan (dukkha), “ini asalmula (samudayo), “ini lenyapnya (nirodho) dan “ini jalan menuju lenyapnya (nirodhagāminī paṭipadā) dukkha” [MN.43]

Ketika telah terbiasa dalam melatih ingatan pada nafas, tidak ada keinginan terburu-buru dalam menarik dan menghembuskan nafas, tidak ada perbedaan putaran panjang dan pendek, di suatu saat, bahkan tidak ada perbedaan antara tarikan dan hembuskan nafas, seolah-olah tercampur antara menarik nafas dan mengeluarkan nafas, seolah-olah tidak lagi sedang bernafas.

Kata terampil mengindikasikan ADANYA PENGULANGAN yang cukup. PENGULANGAN tarikan/keluaran nafas panjang kemudian PENDEK yang berulang: dari kasar menjadi halus, mengetahui: dari kasar menjadi halus, merasakan sepenuhnya: dari kasar menjadi halus, dan mereda dalam kehalusan. Seperti seorang yang mulai belajar naik sepeda, permulaan sekali ia akan menggenggam (vitakka) stang dan mempertahankan (vicara) erat sedemikian rupa hingga memahami teknik keseimbangan. Setelah mahir tidak perlu erat menggenggam bahkan dapat melepas stang namun tetap di keseimbangan.

Sabbakāya (keseluruhan tubuh, yaitu nafas): masing-masing terdapat 2 atau 3 fase dalam setiap tarikan atau hembusan nafas: (awal – akhir) atau (awal – berlangsungnya – akhir).

Kata berlatih bisa juga mengindikasikan ada semacam kesengajaan (awalnya) MENGATUR NAFAS ketika menarik dan menghembuskan nafas. Namun nafas, baik itu sengaja diatur maupun alami, perhatian dan ingaan adalah pada keseluruhan tubuh nafas, untuk diketahui dan dialami sepenuhnya: awal, berlangsung dan berakhirnya

Kemudian, dalam upaya mencapai 5 faktor Jhana, langkah ke-3 adalah bagian penting untuk mendapatkan cittekaggatā/pemusatan pikiran melalui vitakka (menggenggam objek) dan juga vicara (mempertahankan objek), oleh karenanya, beberapa cara yang sering disampaikan para pengajar untuk memantapkan perhatian agar ingatan hanya pada napas, misalnya dengan cara menghitung:

  • Hitungan ‘satu’ pada saat masuknya napas dan ‘dua’ pada saat napas keluar, mencatat dalam pikiran: ‘satu’ pada akhir masuknya napas dan ‘dua’ pada akhir hembusan dan keluarnya napas dan begitu pula seterusnya. Saat sudah tertuju pada nafas, hitungan dihentikan, atau
  • dalam satu kesatuan tarikan nafas masuk hingga nafas keluar, ditandai sebagai hitungan: ‘satu’, demikian seterusnya hingga hitungan ke-‘lima’ dan ulangi dari “satu”. Saat sudah tertuju pada nafas, hitungan dihentikan

HARUS DIHINDARI

Cara menghitung akan berakibat membuyarkan lagi ingatan yang akan dan sedang dibentuk melalui latihan merasakan sepenuhnya seluruh tubuh nafas. Cara menghitung MENJADI MENGGANGGU, namun jikapun tetap memaksakan untuk menggunakan hitungan, itu juga tidak mengapa, karena dapat juga dianggap sebagai latihan pembuyaran pikiran-pikiran lain hingga ingatannya hanya terpusat pada nafas masuk dan nafas keluar, yang ketika telah terbiasa, cara menghitung pun dengan sendirinya akan tinggalkan. Namun, cara menghitung, hanya memperpanjang rute atau memperlama proses yang seharusnya dapat ditempuh

4 SET KE-2: [terkait perasaan (vedanāsu) mengamati perasaan (vedanānupassī)]

  1. Berlatih (sikkhati] merasakan sepenuhnya (paṭisaṃvedī) gembira (Pīti):

    ’Dengan merasakan sepenuhnya gembira, aku menarik nafas’; atau
    ‘Dengan merasakan sepenuhnya gembira, Aku mengembuskan nafas’

  2. Berlatih (sikkhati] merasakan sepenuhnya (paṭisaṃvedī) bahagia (sukha):

    ’Dengan merasakan sepenuhnya bahagia, aku menarik nafas’; atau
    ‘’Dengan merasakan sepenuhnya bahagia, aku mengembuskan nafas’

  3. Berlatih (sikkhati] merasakan sepenuhnya (paṭisaṃvedī) bentukan-kehendak pikiran (citta-saṅkhāra):

    ’Dengan merasakan sepenuhnya bentukan-kehendak pikiran, aku menarik nafas’; atau
    ’Dengan merasakan sepenuhnya bentukan-kehendak pikiran, aku mengembuskan nafas’

  4. Berlatih (sikkhati), menenangnya (Passambhaya) bentukan-kehendak pikiran (citta-saṅkhāra):

    ’Dengan menenangnya bentukan-kehendak pikiran, aku menarik nafas’; atau
    ’Dengan menenangnya bentukan-kehendak pikiran, aku mengembuskan nafas’

Melalui suatu jenis tertentu dari perasaan (vedanāññatarāhaṃ: memperhatikan seksama keluar masuknya nafas/assāsapassāsānaṃ sādhukaṃ manasikāraṃ), tekun mengingat untuk sepenuhnya mengetahui terkait perasaan mengamati perasaan, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesuraman akan dunia. [SN 54.13, MN 118]

Note:
Piti = gembira/girang; sukha = bahagia/nikmat; passambhaya = menenangnya. Kemunculan piti dan sukha menunjukan ini telah memasuki jhana ke-1/ke-2.

Disebut Pañña/Kebijaksanaan, karena MENGETAHUI/PAHAM/Pajānāti [MN 43], misal: tentang Dukkha, ASAL-MULA, LENYAPNYA, JALAN LENYAPNYA DUKKHA. Disebut Viññāṇa/Kesadaran, karena MENGENALI BEDA/Vijānāti: pahit vs asin vs manis dll, menyenangkan vs menyakitkan vs bukan keduanya. Biru, vs merah, dll. Disebut Saññā/Persepsi, karena MENGANGGAP/MEMPERSEPSIKAN/MEMBAYANGKAN/INGAT/Sañjānāti: biru atau merah dll. Disebut saṅkhāra karena mengkondisikan terkondisinya: bentukan, sensasi/rasa, kreativitas persepsi, formasi kehendak dan stimulus kesadaran [SN 22.79]

Pañña dan Viññāṇa kondisi ini tergabung bukan terpisah, TIDAK DAPAT memisahkan kondisi satu sama lainnya untuk menggambarkan beda antaranya, yang DIPAHAMI/Pajānāti, itu yang DIKENALI/Vijānāti, yang DIKENALI, itu YANG DIPAHAMI. Pañña perlu dikembangkan (bhāvetabbā) sedang Viññāṇa agar diketahui baik (pariññeyyaṃ) …Vedana, Sanna dan Vinnana, kondisi ini tergabung bukan terpisah. Tidak dapat memisahkan kondisi ini satu sama lainnya untuk menggambarkan beda antaranya. Yang dirasakan, itu yang DIPERSEPSIKAN/sañjānāti; Yang dipersepsikan, itu yang DIKENALI/Vijānāti [MN.43]. “Persepsi, perasaan, yang menyertai pikiran, kondisi ini terikat dengan pikiran/Citta. Itulah persepsi, perasaan, bentukan pikiran/cittasaṅkhāroti” [MN.44]

Seseorang merasakan:

  • perasaan menyenangkan (sukha vedana) atau perasaan jasmani/material yang menyenangkan (sāmisā sukha) atau perasaan non-material yang menyenangkan (nirāmisa sukha) atau
  • perasaan menyakitkan (dukkha vedana) atau perasaan jasmani/material yang menyakitkan (sāmisā dukkha) atau perasaan non-material yang menyakitkan (nirāmisa dukkha) atau
  • perasaan bukan keduanya (adukkhamasukha vedana) atau perasaan jasmani/materi yang bukan keduanya (sāmisā adukkhamasukha) atau perasaan non-material yang bukan keduannya (nirāmisa adukkhamasukha)

Ia mengetahui sedang merasakan perasaan itu. terkait perasan ia mengamati perasaan secara ke dalam/diri sendiri rasakan atau keluar/pihak lain merasakannya, munculnya, lenyapnya, muncul-lenyapnya perasaan itu atau memperhatikan “ada perasaan” di dirinya hanya sejauh yang diperlukannya untuk diketahui dan diperhatikannya tanpa bergantung tanpa melekati apapun di dunia ini [DN22 dan MN 10/Satipatthana sutta]

  • Ada 3 jenis perasaan gembira (pīti), dari: tubuh jasmani/material (sāmisā pīti), non-material (nirāmisā pīti), yang melebihi non-material (nirāmisā nirāmisatarā pīti)
  • Ada 3 jenis perasaan bahagia (sukha), dari: tubuh jasmani/material (sāmisaṃ sukha), non-material (nirāmisā sukha), yang melebihi non-material (nirāmisā nirāmisatarā sukha)
  • Ada 3 jenis perasaan tenang-seimbang (upekkhā), dari: tubuh jasmani/material (sāmisaṃ upekkhā), non-material (nirāmisā upekkhā), yang melebihi non-material (nirāmisā nirāmisatarā upekkhā)

Perasaan Indriya/tubuh jasmani/material, baik itu: gembira (sāmisā pīti) atau bahagia (sāmisaṃ sukha) atau tenang-seimbang (sāmisaṃ upekkhā), kemunculannya adalah karena 5 utas kenikmatan indriya (pañca kāmaguṇe): bentukan yang dikenali mata, … , objek-objek sentuh yang dikenali badan, yang disukai, indah, menyenangkan, nikmat, memikat indriya, menggoda)

Perasaan gembira non-material (nirāmisā pīti) kemunculannya sehubungan dengan jhana ke-1 dan ke-2; Perasaan bahagia non-material (nirāmisā sukha) kemunculannya sehubungan dengan Jhana ke-1 s.d Jhana ke-3; Perasaan yang tenang-seimbang non-material (nirāmisā upekkhā) kemunculannya sehubungan dengan jhana ke-4

Perasaan gembira atau bahagia atau tenang-seimbang yang melebihi non material, kemunculannya sehubungan dengan yang noda-nodanya telah dihancurkan, meninjau mentalnya terbebas dari ketagihan, kebencian, kekeliruan tahu [SN 36.31]

Hubungan 5 perasaan (atau juga disebut 5 indriya, SN 48.31) dan pencapaian jhana:

  • Indriya kesakitan (dukkhindriyaṃ): Kesakitan tubuh (kāyikaṃ dukkhaṃ) dan ketidaknyamanan tubuh (kāyikaṃ asātaṃ). Perasaan sakit tubuh dan tidaknyaman tubuh yang berasal dari kontak jasmani (kāyasamphassajaṃ dukkhaṃ asātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36]

    Di manakah indriya kesakitan lenyap tanpa sisa? ..Di Jhana ke-1 [SN 48.39,40]

  • Indriya ketidaksenangan (domanassindriyaṃ): Kesakitan mental (cetasikaṃ dukkhaṃ) dan ketidaknyamanan mental (cetasikaṃ asātaṃ). Perasaan sakit mental dan tidak-nyaman mental yang berasal dari kontak pikiran (manosamphassajaṃ dukkhaṃ asātaṃ vedayitaṃ)[SN 48.36]

    Di manakah indriya ketidaksenangan lenyap tanpa sisa? ..Di Jhana ke-2 [SN 48.39,40]

    Indriya kesakitan dan indriya ketidaksenangan harus dilihat sebagai perasaan menyakitkan (dukkhā sā vedanā) [SN 48.37-38]

  • Indriya kesenangan (Sukhindriyaṃ): Kesenangan tubuh (kāyikaṃ sukhaṃ) dan kenyamanan tubuh (kāyikaṃ sātaṃ). Perasaan nikmat tubuh dan nyaman tubuh yang berasal dari kontak jasmani (kāyasamphassajaṃ sukhaṃ sātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36]

    Di manakah indriya kesenangan lenyap tanpa sisa? ..Di Jhana ke-3 [SN 48.39,40]

  • Indriya kegembiraan (somanassindriyaṃ): Kesenangan mental (cetasikaṃ sukhaṃ) dan kenyamanan mental (cetasikaṃ sātaṃ), perasaan senang dan nyaman mental yang berasal dari kontak pikiran (manosamphassajaṃ sukhaṃ sātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36]

    Di manakah indriya kegembiraan lenyap tanpa sisa? ..Di Jhana ke-4 [SN 48.39,40]

    Indriya kesenangan dan indriya kegembiraan harus dilihat sebagai perasaan menyenangkan (sukhā sā vedanā) [SN 48.37-38]

  • Indriya keseimbangan (upekkhindriyaṃ): Perasaan tubuh atau mental yang bukan-nyaman juga bukan tidak-nyaman (kāyikaṃ vā cetasikaṃ vā nevasātaṃ nāsātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36]. Indriya keseimbangan harus dilihat sebagai perasaan bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan (adukkhamasukhā sā vedanā) [SN 48.37-38]

    Di manakah indriya keseimbangan itu lenyap tanpa sisa? ..di pencapaian “lenyapnya persepsi dan perasaan” (saññāvedayitanirodhaṃ). Di sinilah indriya keseimbangan yang telah muncul itu lenyap tanpa sisa [SN 48.39, 40]

    Terdapat perbedaan untuk perasaan upekkha/netral antara sutta vs Abhidhamma. Menurut Abhidhamma, semua perasaan jasmani yang muncul melalui sensitivitas jasmani (kāyappasāda) hanyalah menyenangkan atau menyakitkan. Tidak ada perasaan netral yang muncul melalui sensitivitas Jasmani [Lihat juga: ini dan ini]. SN 36.19 : ada 2 perasaan: sukhā vedanā, dukkhā vedanā(perasaan nikmat, perasaan menyakitkan) dan tentang adukkhamasukhā vedanā, santasmiṃ esā paṇīte sukhe (perasaan bukan menyakitkan bukan menyenangkan adalah kenikmatan yang damai luhur)

4 SET KE-3: [terkait pikiran (citte) mengamati pikiran (cittānupassī)]

  1. Berlatih (sikkhati] merasakan/mengalami sepenuhnya (paṭisaṃvedī) pikiran (citta):

    ’Dengan merasakan sepenuhnya pikiran, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan merasakan sepenuhnya pikiran, aku menghembuskan nafas’

  2. Berlatih (sikkhati] pikiran gembira/puas (abhippamodayaṃ cittaṃ):

    ’Dengan pikiran senang, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan pikiran senang, aku menghembuskan nafas’

  3. Berlatih (sikkhati] memusatkan pikiran (samādahaṃ cittaṃ):

    ’Dengan memusatnya pikiran, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan memusatnya pikiran, aku menghembuskan nafas’

  4. Berlatih (sikkhati] bebasnya pikiran (vimocayaṃ cittaṃ):

    ’Dengan terbebasnya pikiran, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan terbebasnya pikiran, aku menghembuskan nafas’

Dengan tekun mengingat untuk sepenuhnya mengetahui terkait pikiran mengamati pikiran (citte cittānupassī), setelah menyingkirkan ketamakan dan kesuraman akan dunia. karena, tidak ada pengembangan pikiran terpusat melalui ingatan pada pernafasan bagi seseorang yang ingatannya kacau dan tidak sepenuhnya mengetahui (muṭṭhassatissa asampajānassa ānāpānassatisamādhibhāvanaṃ) [SN 54.13, MN 118]

Note:
Cit (merasa, tahu, berpikir) + suffix “-ta”; abhi/punya-p-pamoda/puas/senang; samadaha = manunggal, terpusat, terkonsentrasi, menjadi satu; vimocaya = bebas, lepas, longgar

Ketika indriya pikiran/mano bertemu objeknya (ingatan/persepsi, dsb) muncullah kesadaran pikiran/manoviññāṇa. Di sinilah Viññāṇa = Citta (kesadaran = pikiran). Dalam landasan ingatan: Nāmarūpasamudayā cittassa samudayo; nāmarūpanirodhā cittassa atthaṅgamo. Manasikārasamudayā dhammānaṃ samudayo; manasikāranirodhā dhammānaṃ atthaṅgamo (mentalmateri muncul pikiran muncul; mentalmateri berhenti pikiran lenyap; pengarahan pikiran/Perhatian muncul fenomena/hal berkondisi atau terkondisi muncul; Pengarahan pikiran berhenti fenomena lenyap)[SN 47.42].

Variasi lain, ..mengetahui (pajānāti): “pikiran yang [(disertai/sa: ketagihan/rāga, kebencian/dosa, kebodohan/moha); tersusun/saṅkhitta; luhur/mahaggata; melampaui/sauttara; memperoleh pencapaian/samāhita; terbebaskan/vimutta] sebagai pikiran yang [(disertai: ketagihan, kebencian, kebodohan);..; terbebaskan/vimutta] dan pikiran yang [(tidak disertai/vita: ketagihan, kebencian, kebodohan); berserakan/kacau/vikkhitta; tidak luhur/amahaggata; unggul/anuttaraṃ; tidak memperoleh pencapaian/asamāhita; tidak terbebaskan/avimutta] sebagai pikiran yang [(tidak disertai/vita: ketagihan, kebencian, kebodohan);..; tidak terbebaskan/avimutta]”

Demikian terkait pikiran, Ia mengamati pikiran: secara ke dalam atau ke luar, munculnya, lenyapnya, muncul-lenyapnya di pikiran atau memperhatikan “ada pikiran” dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukannya untuk diketahui dan diperhatikan tanpa bergantung tanpa melekati apapun di dunia ini [DN22 dan MN 10/Satipatthana sutta]

apapun (yaitu dhamma/kondisi/fenomena: di AN 9.36: pancakhanda dan jhana 1-8, Di AN 11.18, 8: Indriya dan objeknya, catumahabhuta, jhana ke-5-8, persepsi/pikiran tentang dunia ini dan dunia lain, apapun yang dilihat, didengar, diindriya, dikenali, dijangkau, dicari, dan diperiksa pikiran) dilihat sebagai: tidak kekal, tidak memuaskan, penyakit, tumor, duri, bencana, malapetaka, asing, kehancuran, kehampaan, bukan diri.

dari kondisi-kondisi itu, pikirannya dibebaskan, Ia arahkan pikiran pada unsur amatāya (tanpa kematian: fenomena dilihat sebagai: anicca, dukkha…anatta atau terbelenggu tanha – SN 48.50): ‘ini damai, ini luhur, yaitu, tenangnya segala bentukan, lepasnya segala kehausan, hancurnya ketagihan, tidak menginginkannya, berhenti, padam’ [MN 64, AN 9.36]

4 SET KE-4: [terkait Dhamma (dhammesu) mengamati dhamma (dhammānupassī), Dhamma/hal: berkondisi/terkondisi, pancakhanda, bentukan kehendak: pikiran, ucapan, perbuatan]

  1. Berlatih (sikkhati] mengamati (anupassī) ketidakkekalan (anicca: adanya awal dan akhir):

    ’Dengan mengamati ketidak-kekalan, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan mengamati ketidak-kekalan, aku menghembuskan nafas’

  2. Berlatih (sikkhati] mengamati pemudaran (virāga: tidak terkesan → tidak minat → tidak menginginkan):

    ’Dengan mengamati pemudaran, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan mengamati pemudaran, aku menghembuskan nafas’

  3. Berlatih (sikkhati] mengamati penghentian (nirodha: tidak menginginkan → berhenti):

    ’Dengan mengamati penghentian, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan mengamati penghentian, aku menghembuskan nafas’

  4. Berlatih (sikkhati] mengamati pelepasan (paṭinissagga: berhenti → melepaskan → bebas darinya):

    ’Dengan mengamati pelepasan, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan mengamati pelepasan, aku menghembuskan nafas’

Dengan tekun mengingat untuk sepenuhnya mengetahui terkait dhamma/hal mengamati dhamma (dhammesu dhammānupassī), setelah menyingkirkan ketamakan dan kesuraman akan dunia, mengamati sepenuhnya dengan bijak ketamakan dan kesedihan ditinggalkan, Ia mendapatkan keseimbangan [SN 54.13, MN 118]

    Note:
    Yang terkait dhamma: 5 nivarana/5 rintangan, pañcupādā­nak­khan­da (5 kelompok yang melekati), 6 landasan indriya, 7 faktor pencerahan, 5 unsur (catumahabhuta+akasa), 4 kebenaran mulia [MN 10, 62, DN 2], yaitu tentang kemunculan dan kelenyapannya, ada dan tidaknya.

    Sang Buddha: Rāhula, bentukan/materi apapun, di masa lampau, depan, atau sekarang, di bagian dalam/luar, kasar/halus, rendah/mulia, jauh/dekat, semua bentukan/materi harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar (yathābhūtaṃ sammappaññāya daṭṭhabba) sebagai:

    Ini bukan milik-KU [Netaṁ mama],
    ini bukan AKU [nesoham-asmi],
    ini bukan diri-KU [na meso attā ti].

    Rahula: Hanya materi [rupa], Sang Bhagavā? Hanya materi, Yang Sempurna?

    Sang Buddha: materi [rupa], perasaan [vedanā], persepsi/ingatan [saññā], bentukan kehendak [saṅkhārā], dan kesadaran [viññāṇa].” [= Pancakhanda].. [MN 62]

Ketika pikiran terpusat melalui ingatan pada pernafasan dikembangkan dan dilatih dengan cara ini, maka 4 Landasan ingatan terpenuhi [MN 118]

5 RINTANGAN (PANCANIVARANA)
Ada 5 rintangan [nivarana] yang muncul ketika berupaya membangun pemusatan pikiran. Berikut ini adalah yang tercantum dalam TEVIJJA SUTTA (dan DN 2/Samanaphala sutta):

    Setelah menjalani kehidupan yang terkendali dengan pengendalian lewat aturan-aturan (pātimokkha saṃvara saṃvuto viharati), mempertahankan perilaku benar (ācāra gocara sampanno), melihat bahaya dalam kesalahan terkecil (aṇumattesu vajjesu bhayadassāvī), melatih diri dalam latihan (samādāya sikkhati sikkhāpadesu) perbuatan jasmani dan ucapan yang penuh manfaat (kāyakamma vacīkammena samannāgato kusalena), berpenghidupan murni (parisuddhājīvo), sempurna dalam moralitas (sīlasampanno), menjaga indriyanya (indriyesu guttadvāro), memiliki ingatan untuk sepenuhnya mengetahui (satisampajaññena samannāgato) berpuas diri (santuṭṭho)

    Ia memilih tempat-tempat sunyi, duduk bersila, tubuh tegak/lurus wajah menghadap ke depan ingatan ditegakkan… Dengan menyingkirkan, rintangan:

    1. hasrat indriya/duniawi (abhijjha = kamacchanda = lobha), Pikirannya bebas dari hasrat duniawi, Ia membersihkan pikiran dari hasrat duniawi
    2. permusuhan/kemarahan/penolakan/kebencian (Byāpādapadosa = Byapada), Pikirannya bebas dari permusuhan (abyāpannacitto), dengan pikiran bersahabat penuh kasih pada semua makhluk, semua yang hidup, ia membersihkan pikiran dari permusuhan
    3. kemalasan (thina) – kelambanan/ngantuk (middha), pikirannya bebas dari malas-lamban; dengan memusatkan perhatian/ingatan pada āloka-saññi (persepsi penglihatan), Ia membersihkan pikiran dari kemalasan dan kelambanan.

      Note:
      āloka = melihat, penglihatan, pandangan, pemandangan, cahaya; anāloka = buta; saññi = persepsi

      Nasehat Sang Buddha kepada Mahamoggalana tentang mengatasi kantuk, “jika engkau tak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus memperhatikan persepsi penglihatan (ālokasañña); engkau harus mempersepsikan siang hari (divāsañña) sebagai berikut: ‘Seperti halnya siang, demikian pula malam; seperti halnya malam, demikian pula siang.’ Demikianlah, dengan pikiran terbuka dan tidak tertutup, engkau harus mengembangkan pikiran yang dipenuhi dengan kecemerlangan (sappabhāsa: “kecemerlangan pikiran dapat dikotori oleh kotoran dari luar”, AN 1.51-52). Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan” [AN 7.61]. Namun rupanya kitab komentar menyampaikan secara literal: Saat mengantuk agar memperhatikan cahaya (bintang/lilin/bulan). Ini pendapat yang bermasalah, karena samadhi di jaman itupun, dilakukan dalam ruangan tertutup yang gelap tanpa cahaya, sehingga maksudnya JELAS BUKANLAH persepsi cahaya, namun persepsi yang jelas dalam hal: materi (4 bhuta), perasaan, persepsi, sankhāra, kesadaran

      Di MN 128/Upakilesa Sutta dan AN 8.64/Gayasisasutta, sang Buddha menyampaikan kepada mereka yang ingin mendapatkan pengetahuan penglihatan (ñāṇadassana) tentang landasan perenungan (anussatiṭṭhānānī): “persepsi kejelasan terlihatnya bentukan” (obhāsañceva sañjānāmi dassanañca rūpānaṃ).

      Arti kata obhāsa: “cahaya, jelas”. Misalnya untuk arti “jelas”: “telah diberikan isyarat yang nyata oleh Sang Bhagavā, walaupun ia diberikan petunjuk yang jelas (bhagavatā oḷārike nimitte kayiramāne oḷārike obhāse kayiramāne nāsakkhi paṭivijjhituṃ, SN 51.10/Ud 6.1/AN 8.70/DN 16)

      ”Pencerapan kejelasan dan terlihatnya bentukan” dapat jatuh karena keterpusatan pikiran jatuh. Keterpusatan pikiran jatuh karena: keragu-raguan (vicikicchā), tidak mengarahkan pikiran/perhatian (amanasikāro), malas-lamban (thinamiddha), ketakutan (chambhitatta), menggelembung/kegirangan (uppila), cabul (duṭṭhulla), gigih yang berlebihan (accāraddhavīriya), kurang gigih (atilīnavīriya), mengharapkan/rindu (abhijappā), ragam persepsi (nānattasaññā) dan samadhi berlebihan pada bentukan (atinij-jhāyitattaṃ rūpānaṃ)

    4. gelisah (Uddhacca) dan cemas (kukkucca), pikirannya bebas dari kekacauan (anuddhato); pikirannya tenang ke dalam (ajjhattaṃ vūpasantacitto), Ia membersihkan pikiran dari kegelisahan dan kekhawatiran.
    5. keragu-raguan (vicikiccha), pikirannya bebas dari keraguan; tanpa ragu pada hal yang bermanfaat (akathaṅkathī kusalesu dhammesu), Ia membersihkan pikiran dari keragu-raguan’.

      Note:
      Makanan kamacchanda adalah subhanimitta (Gambaran keindahan)
      Makanan byapada adalah paṭighanimitta (Gambaran kejenuhan)
      Makanan thina-midha adalah arati tandi vijambhitā bhattasammado cetaso ca līnattaṃ (enggan, lesu menggerakan badan, pikiran mengantuk setelah makan atau segan)
      Makanan uddhacca-kukkucca adalah cetaso avūpasama (pikiran yang tidak tenang → bergejolak)
      Makanan vicikiccha adalah vicikicchāṭṭhānīyā dhammā (hal-hal yang membuat ragu)
      Perhatian tidak benar (ayonisomanasika) secara berulang adalah makanan bagi munculnya 5 Nivarana yang belum muncul; Meningkatkan/ mengembangkan 5 nivarana yang telah muncul [SN 46.51]

    ‘Vasettha, seperti seseorang yang berhutang untuk berdagang, setelah berhasil, bukan saja ia mampu membayar hutangnya, namun masih ada kelebihan untuk merawat istrinya. Ia berpikir: “Dulu aku berhutang dan berdagang sampai berhasil, kini bukan saja aku dapat membayar hutangku, tetapi masih ada kelebihan untuk merawat istriku”.

    Karenanya ia bersukacita, menjadi lega (labhetha pāmojjaṃ, adhigaccheyya somanassaṃ)’.

    ‘Vasettha, seperti seorang yang sakit, menderita, amat parah, tak dapat makan, sehingga badannya lemah; namun setelah sembuh, dapat makan, sehingga badannya pulih. Ia berpikir: ‘Dulu aku sakit, menderita, amat parah, tak dapat makan, badanku lemah, namun kini aku telah sembuh, dapat makan sehingga badanku pulih’.

    Karenanya ia bersukacita, menjadi lega’.

    ‘Vasettha, seperti seorang yang dipenjara, kemudian bebas dari penjara, aman dan sehat, barang-barangnya tak ada yang dirampas. Ia berpikir: ‘Dulu aku dipenjara, kini aku telah bebas dari penjara, aman dan sehat, barang-barangku tak ada yang dirampas’.

    Karenanya ia bersukacita, menjadi lega’

    ‘Vasettha, seperti seseorang yang menjadi budak, bukan tuan dirinya sendiri, tunduk pada orang lain, tak dapat pergi ke mana ia suka; Kemudian ia bebas dari perbudakan, menjadi tuan dirinya sendiri, tak tunduk pada orang lain, bebas pergi ke mana ia suka. Ia berpikir: ‘Dulu aku seorang budak, bukan tuan diriku sendiri, tunduk pada orang lain, tak dapat pergi ke mana aku suka; kini aku telah bebas dari perbudakan, menjadi tuan diriku sendiri, tak tunduk pada orang lain, bebas pergi ke mana aku suka’.

    Karenanya ia bersukacita, menjadi lega’.

    ‘Vasettha, seperti seorang yang membawa kekayaan dan barang, melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tak ada makanan selain banyak bahaya; kemudian Ia berhasil keluar dari padang pasir selamat tiba di perbatasan desanya, suatu tempat yang aman, tak ada bahaya. Ia berpikir: ‘Dulu, dengan membawa kekayaan dan barang, aku melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tak ada makanan selain banyak bahaya; kini aku telah keluar dari padang pasir itu, selamat tiba di perbatasan desaku, suatu tempat yang aman, tak ada bahaya’.

    Karenanya ia bersukacita, menjadi riang’.

    ‘Vasettha, demikianlah selama 5 rintangan (panca nivarana) belum disingkirkan, seorang bhikkhu merasakan seperti seorang yang sedang berhutang, terserang penyakit, dipenjara, menjadi budak, melakukan perjalanan di padang pasir. Vasettha, tetapi setelah 5 rintangan disingkirkan, maka seorang bhikkhu merasakan seperti orang yang telah bebas dari hutang, penyakit, penjara, perbudakan, sampai di tempat yang aman.

    ‘Apabila ia tahu (samanupassato) 5 rintangan telah disingkirkannya:

    1. memperoleh sukacita (pāmojjaṃ jāyati),
    2. lega/sukacita menimbukan girang (pamuditassa pīti jāyati),
    3. pikiran girang membuat tubuh nyaman (pītimanassa kāyo passambhati),
    4. tubuh nyaman nikmat dirasakan (passaddhakāyo sukhaṃ vedeti),
    5. dalam pikiran nikmat pikirannya terpusat (sukhino cittaṃ samādhiyati).

    Kemudian, setelah lepas dari kenikmatan indriya yang tak bermanfaat, (melalui pemusatan pikiran) dengan: menggenggam dan mempertahankan (objek tertentu: agar dapat meninggalkan 5 nivarana). Dari meninggalkan/melepas itu merasakan girang-nikmat (pīti-sukha), Keberadaan jhana ke-1 dicapai. Piti-sukha yang muncul dari melepas ini memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya. Tak ada satu bagian tubuhnya yang tak diliputi perasaan girang-nikmat yang muncul dari melepas itu.

      Note:
      samadhinimitta berupa Jhana, tidak serta merta mereda setelah keluar dari keadaan samadhi. Keadaan tersebut masih dirasakannya dibeberapa waktu lamanya: “..Di malam hari, ketika seorang bhikkhu terhormat telah keluar dari keterasingan dan sedang duduk bersila di bawah keteduhan tempat kediamannya, tubuh tegak/lurus, wajah menghadap ke depan, ingatan ditegakkan, gambaran pikiran terpusat (samadhinimitta) yang ia perhatikan selama siang hari masih ada padanya..” [AN 6.28/dutiyasamaya sutta]

    ‘Kemudian pikiran yang disertai cinta kasih (mettā. Metta = abhyapada = tidak ada permusuhan/penolakan (AN 6.13), karena perasaan tubuh menyakitkan dan tidak nyaman yang berasal dari kontak jasmani, lenyap di jhana ke-1) memancar ke satu arah, 2 arah, 3 arah dan 4 arah, ke: atas, bawah, bulak-balik, ke mana saja, pada mahluk alam apapun, pikiran yang disertai cinta kasih memancar: berlimpah, luhur, tak berbatas, lembut, tanpa halang rintang

    ‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara tanpa kesulitan ke semua arah; begitu pula semua bentukan dan ragam ukuran makhluk, tanpa terkecuali, dengan memperhatikan itu semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh cinta kasih‘.

    ‘Vasettha, inilah jalan bersatu dengan Brahma’.

    “Kemudian dalam pikiran yang diliputi welas asih (karuṇā = avihesā = tidak adanya kekejaman/tidak ada keinginan mencelakakan karena perasaan mental yang menyakitkan dan tidak-nyaman yang berasal dari kontak pikiran, lenyap di jhana ke-2) … dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh welas asih‘ … ‘Vasettha, inilah jalan bersatu dengan Brahma’.

    simpati (muditā = rati = nyaman dan puas, karena di samping sebelumnya, seluruh perasaan tubuh dan mental yang menyakitkan yang berasal dari kontak jasmani dan pikiran telah lenyap, sekarang bahkan perasaan tubuh yang menyenangkan dan nyaman yang berasal dari kontak jasmani pun lenyap di jhana ke-3) … dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh simpati‘ … ‘Vasettha, inilah jalan bersatu dengan Brahma’.

    tenang seimbang (upekkhā = a-raga = tanpa ketagihan. karena seluruh perasaan tubuh dan mental yang menyakitkan dan menyenangkan yang berasal dari kontak jasmani dan kontak pikiran, lenyap di jhana ke-4) … dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh tenang seimbang‘ … ‘Vasettha, inilah jalan bersatu dengan Brahma’. [..] []

Bagaimana terpenuhinya 7 faktor pencerahan melalui mengembangkan dan melatih 4 landasan ingatan? Di MN 118 dan SN 54.13, disampaikan:

  1. Sewaktu, Ia mengamati jasmani, ..perasaan, ..pikiran, ..dhamma, maka saat itu, ingatan yang tidak kacau muncul dalam dirinya, saat itu, faktor pencerahan ingatan (satisambojjhaṅga) dibangkitkannya; dikembangkannya; Faktor pencerahan ingatan terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya
  2. Sewaktu, Ia dengan melakukan ingatan demikian, melalui kebijaksanaan membedakan Dhamma, memeriksanya, menyelidikinya, maka saat itu, faktor pencerahan pembedaan kondisi-kondisi (dhammavicayasambojjhaṅga) dibangkitkannya; dikembangkanya; Faktor pencerahan pembedaan kondisi-kondisi terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya.
  3. Sewaktu, Ia melalui kebijaksanaan membedakan Dhamma, memeriksanya, menyelidikinya, maka, kegigihannya dibangkitkan tanpa mengendur, Saat itu faktor pencerahan kegigihan (vīriyasambojjhaṅga) dibangkitkannya; dikembangkan; Faktor pencerahan kegigihan terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya
  4. Sewaktu, Ia membangkitkan kegigihan, muncul perasaan gembira (pīti) yang bebas hasrat sensual (nirāmisā). Maka saat itu faktor pencerahan kegembiraan (pītisambojjhaṅga) dibangkitkannya; dikembangkanya. Faktor pencerahan kegembiraan terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya
  5. Seorang dengan pikiran yang diliputi kegembiraan, tubuh dan pikirannya menjadi tenang (kāyopi passambhati, cittampi passambhati), maka saat itu faktor pencerahan ketenangan (passaddhisambojjhaṅga) dibangkitkannya, dikembangkannya, Faktor pencerahan ketenangan terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya
  6. Seseorang dengan tubuh tenang dan pikiran bahagia, pikirannya menjadi terpusat (Passaddhakāyassa sukhino cittaṃ samādhiyati), maka saat itu faktor pencerahan pikiran terpusat (samādhisambojjhaṅga) dibangkitkannya; dikembangkannya. Faktor pencerahan pikiran terpusat terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya
  7. Seorang dengan pikiran terpusat demikian, secara seksama melihat dalam keseimbangan (So tathāsamāhitaṃ cittaṃ sādhukaṃ ajjhupekkhitā hoti). Maka, saat itu, faktor pencerahan keseimbangan (upekkhāsambojjhaṅga) dibangkitkannya; dikembangkannya. Faktor pencerahan keseimbangan terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya

Bagaimana terpenuhinya pengetahuan dan kebebasan melalui mengembangkan dan melatih 7 faktor pencerahan? Di MN 118 dan SN 54.13, disampaikan:

    Seorang yang mengembangkan 7 faktor pencerahan, maka, saat itu, Ia bersandar pada: keterasingan, tidak menginginkan, penghentian, siap dalam melepas (vivekanissitaṃ virāganissitaṃ nirodhanissitaṃ vossaggapariṇāmiṃ)

—————

JHANA ke-1 s.d ke-9

Kesempurnaan atau hasil samädhi ditandai dengan tercapainya jhana. Sang Buddha menyamakan pencapaian jhana sebagai makna sementara keterbebasan/vimutti seorang melalui: pikiran (AN 9.41) atau saksi tubuh (AN 9.43) atau kebijaksanaan (AN 9.44) atau dalam kedua aspek (AN 9.45: kebijaksanaan dan pikiran) atau dhamma yang terlihat langsung (AN 9.46) atau nibbāna yang terlihat langsung (AN 9.47) atau nibbāna (AN 9.48) atau parinibbana (AN 9.49) atau nibbāna dalam aspek tertentu (AN 9.50) atau nibbāna dalam kehidupan ini (AN 9.51) dan lainnya.

Dalam AN 9.35/Gavi Sutta, sang Buddha mengingatkan agar MENGUASAI dengan baik setiap pencapaian samadhi SEBELUM berlanjut kepencapaian berikutnya melalui perumpamaan sapi gunung yang bodoh, tidak berpengalaman, tidak terbiasa dengan padang rumputnya, tidak pula terampil menjelajah pegunungan terjal namun pergi ke daerah yang tak dikenal dan tak pernah didatanginya untuk mencoba rumput dan air yang tak pernah ia makan dan minum sebelumnya, sehingga ketika melangkah, Ia tidak dapat meletakan kakinya dengan baik dan membuatnya tak dapat maju maupun kembali

Pencapaian jhana bukan monopoli ajaran Buddha.
Sebelum mencapai pencerahan, Sidhartha Gotama belajar samadhi pada beberapa guru (visvamitta/sabbamitta, Alara Kalama, Uddaka ramaputta), oleh karennya, tahu cara mencapai alam rupa dan arupa. Dikehidupan lampunya-pun, beliau melatih Jhana.

    Di jaman lampau yang berbeda, terdapat 7 guru (Sunetta, Mūgapakkha, Aranemi, Kuddālaka, Hatthipala, Jotipāla dan Araka) yang bebas hasrat indriya dan mengajarkan pada banyak muridnya cara terlahir di alam Brahma. [AN 6.54/Dhammika Sutta, AN 7.66/Satasuriya sutta, AN 7.73/Suneta Sutta, AN 7.74/Araka Sutta]

    Para murid yang memahami ajaran, setelah kematian terlahir di ALAM Brahma. Beberapa yang tidak memahami penuh, terlahir di alam paranimmitavasavattīnaṃ.. nimmānaratīnaṃ.. tusitānaṃ.. yāmānaṃ.. tāvatiṃsānaṃ.. cātumahārājikānaṃ.. sebagai Ksatria, Brahma dan perumah tangga [AN 7.66]. Mereka yang tidak memahami dan tidak menjalankan ajaran dan mempunyai keyakinan pada ajaran gurunya, muncul di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka [AN 6.54, AN 7.73, AN 7.74].

    Guru-guru ini berpikir tidak pantas jika mereka terlahir di alam yang sama juga dengan para muridnya, oleh karenanya, mereka mengembangkan pikiran penuh metta selama 7 tahun. Setelah wafat, selama 7 kalpa menyusut dan mengembang, tidak pernah kembali ke alam ini. Bila kappa menyusut, muncul di alam brahma ābhassara. Ketika kappa mengembang, muncul di alam brahma yang kosong [suññaṃ brahmavimānaṃ] menjadi Brahma yang agung/mahābrahmā, 36 x menjadi Sakka, raja para dewa. Ratusan kali terlahir sebagai Raja dunia/cakkavattī dhammiko dhammarājā

    Walaupun guru-guru ini hidup panjang namun tidak terbebas dari kelahiran, pelakukan, kematian, duka, lara, ketidakpuasan dan penderitaan karena mereka tidak menjalankan moralitas, samädhi, kebijaksanaan dan pembebasan yang mulia [AN 7.66]

Jhana ke-1,
kenikmatan sensualitas adalah kenikmatan kasar, sehingga: Harus secara total melepas: Perhatian persepsi terkait sensualitas (kāmasahagatā saññāmanasikārā). Karena pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.1/Paṭhamajhānapañhā sutta]

Deskripsi Jhana ke-1 (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta/pikiran menjelang kematian-nya di jhana ke-1):

Ia memilih tempat-tempat sunyi, duduk bersila, tubuh tegak/lurus wajah menghadap ke depan dan ingatan ditegakkan. Setelah melewati 5 rintangan (5 nivarana) dan/atau cukup terasing dari kenikmatan indriya, terasing dari hal yang tak bermanfaat (vivicceva kāmehi vivicca akusalehi dhammehi ):

    (melalui pemusatan pikiran) dengan: menggenggam dan mempertahankan (objek tertentu: agar 5 nivarana dapat ditinggalkan/dilepaskan) (savitakka savicāra) dari meninggalkan/melepas itu merasakan pīti-sukha (vivekajaṃ pītisukhaṃ), Keberadaan jhana ke-1 dicapai (paṭhamaṃ jhānaṃ upasampajja viharati) [MN 111/Anupadasutta, AN 4.123, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

    atau

    Yang menggunakan keindahan/subha sebagai landasan: (Dalam dirinya) muncul sukacita (pāmojjaṃ jāyati), sukacita menimbukan kegirangan (pamuditassa pīti jāyati), pikiran girang membuat tubuh nyaman (pītimanassa kāyo passambhati), tubuh nyaman nikmat dirasakannya (passaddhakāyo sukhaṃ vedeti), dalam pikiran yang nikmat, terpusat pikirannya (sukhino cittaṃ samādhiyati: artinya masuk jhana ke-1)

    Pikiran yang disertai cinta kasih (mettāsahagatena cetasā. Metta = abhyapada = tidak ada permusuhan/penolakan (AN 6.13) karena perasaan tubuh menyakitkan dan tidak nyaman yang berasal dari kontak jasmani, lenyap (SN 48.36)) memancar ke satu arah (ekaṃ disaṃ pharitvā viharati), 2 arah, 3 arah dan 4 arah (tathā dutiyaṃ tathā tatiyaṃ tathā catutthiṃ), ke: atas, bawah, bulak-balik, ke mana saja, pada mahluk alam apapun (termasuk dirinya) (iti uddhamadho tiriyaṃ sabbadhi sabbattatāya sabbāvantaṃ lokaṃ) pikiran yang disertai cinta kasih memancar: berlimpah, luhur, tak berbatas, lembut, tanpa halang rintang (mettāsahagatena cetasā vipulena mahaggatena appamāṇena averena abyāpajjhena pharitvā viharati) [AN 4.125/Metta sutta, DN 13/Tevijja sutta: Kesempurnaan pancaran metta terjadi setelah tercapainya jhana ke-1]

    Versi MN 21: ‘..Tañca puggalaṃ mettā­saha­gatena cetasā pharitvā viharissāma (pikiran yang disertai cinta kasih memancar ke orang itu), tadārammaṇañca (dalam pikiran yang sama) sabbāvantaṃ lokaṃ (ke segala alam) mettā­saha­gatena cittena vipulena... (pikiran yang disertai cinta kasih memancar: berlimpah..)

Perasaan piti-sukha memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya. Tak ada satu bagian dari tubuhnya yang tidak diliputi perasaan girang-nikmat yang muncul dari pelepasan itu.

‘Bagaikan seorang petugas pemandian yang terampil atau pembantunya, mengadon bubuk-sabun yang telah dibasahi air, membentuknya dalam sebuah piringan logam, menjadi bongkahan lunak, sehingga bola bubuk-sabun itu menjadi satu bongkahan berminyak, terekat oleh minyak sehingga tak ada yang berserakan—demikian pula piti-sukha meliputi, basah seluruhnya, mengisi dan memenuhi tubuhnya sehingga tak ada bagian tubuhnya yang tak tersentuh..’ [DN 2, 9, 13; MN 39, 77, 119].

    Ilustrasi bedanya pīti vs sukha:
    Seseorang di padang pasir, kehabisan air, dilanda haus, lemah dan pegal. Ketika berjalan tertatih, dari kejauhan dilihatnya Oasis [sumber mata air]. Pikirannya makin dipusatkan sehingga Ia yakin itu adalah oasis, perasaan girang muncul dan terus menguat, rasa haus dan payahnya teralihkan, Ia bersemangat ke Oasis. Keadaan ini menyerupai PITI. Nikmat yang dirasakannya saat meminum air. menyerupai SUKHA

    Seseorang di kemacetan lalulintas dilanda keinginan buang air yang hebat. Saat itu, Pikirannya terpusat pada kakus. Ketika menemukannya, muncul perasaan girang. Ini menyerupai Piti, Nikmatnya membuang hajat/kencing menyerupai sukha

“Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap didalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva Brahmakayika dengan batasan kehidupan 1 kappa” (So tadassādeti taṃ nikāmeti tena ca vittiṃ āpajjati. Tattha ṭhito tadadhimutto tabbahulavihārī aparihīno kālaṃ kurumāno. brahmakāyikānaṃ devānaṃ sahavyataṃ upapajjati. Brahmakāyikānaṃ bhikkhave devānaṃ kappo āyuppamāṇaṃ) [AN 4.123, 125][alam ↑]

Saat mencapai Jhana ke-1:
Ia meninggalkan 5 rintangan/nivarana dan meraih 5 faktor jhana diraih (MN 43). Keadaan ini disebut berada di luar jangkauan Mara (MN 25, AN 9.39).

    5 rintangan:
    Kamacchanda/hasrat indriya;
    byapada (kehendak buruk, penolakan, benci, permusuhan);
    Thina-middha (kelambanan-kemalasan/ngantuk);
    Uddhacca-kukkucca (gelisah-cemas) dan
    Vicikiccha (keragu-raguan)

    5 Faktor Jhana:
    Vitakka (pikiran menggenggam/mengarahkan pikiran pada objek);
    Vicāra (pikiran mempertahankan objek/mempertahankan pikiran pada objek);
    Pīti (gembira/girang/tergiur) → masuk dalam sankhāra khanda;
    Sukha (bahagia/nikmat) → masuk dalam vedana khanda;
    Pikiran terpusat (cittekaggatā) [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

Lenyap tanpa sisanya dukkhindriyam/Indriya kesakitan: Perasaan tubuh yang menyakitkan dan tidak nyaman yang berasal dari kontak jasmani (kāyasamphassajaṃ dukkhaṃ asātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36, 39, 40]

Lenyapnya persepsi Indriya/kamasanna niruddha (DN 9, AN 9.31). Lenyapnya “bicara” [vaca niruddha] (SN 36.11, SN 36.15). Oleh karenanya, kebisingan adalah duri (saddo kaṇṭako) bagi jhāna ke-1 (AN 10.72)

Lenyap tanpa sisanya kehendak-kehendak YANG TIDAK bermanfaat/akusalānaṃ saṅkappānaṃ, yaitu kehendak: keinginan indriya, kehendak buruk/permusuhan/penolakan, dan kehendak kekejaman.

    Dan dari manakah kehendak-kehendak YANG TIDAK bermanfaat ini berasal-mula?
    Kehendak-kehendak YANG TIDAK bermanfaat ini harus dikatakan bermula dari persepsi. Persepsi apakah?.. persepsi keinginan indriya, persepsi kehendak buruk/permusuhan, dan persepsi kekejaman.

    Dan dimanakah kehendak-kehendak YANG TIDAK bermanfaat ini lenyap tanpa sisa?.. jhana ke-1.. [MN 78]

    Tanpa meninggalkan/melenyapkan 6 Hal, seseorang tidak akan mencapai Jhana ke-1, yaitu: Pikiran indriya (Kāmavitakka), pikiran buruk (byāpādavitak-ka), pikiran kejam/mencelakai (vihiṃsāvitakka), persepsi indriya (kāmasañña), persepsi buruk (byāpādasañña), dan persepsi mencelakai (vihiṃsāsañña) [AN 6.74]

Mengapa mettā dikaitkan dengan keadaan Jhana ke-1?

Kesakitan tubuh (kāyikaṃ dukkhaṃ) dan ketidaknyamanan tubuh (kāyikaṃ asātaṃ), perasaan sakit dan tidaknyaman dari kontak jasmani (kāyasamphassajaṃ dukkhaṃ asātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36] lenyap di keadaan itu, sehingga tidak mungkin kehendak buruk/penolakan/permusuhan menguasai pikiran (byāpādo cittaṃ pariyādāya tiṭṭhatī) [AN 6.13/Nissāraṇīyasutta], kehendak-kehendak tak bermanfaat lenyap tanpa sisa (MN 78). Pikirannya dipenuhi perasaan menyenangkan: girang dan nikmat (pīti-sukha) yang ingin dibagikannya ke seluruh dunia, karena “Apa yang dirasakan, itu yang dipersepsikan, itu yang dipikirkan, itu yang berkembang biak berupa sumber, gagasan, Ide di masa lalu, depan atau sekarang yang dikenali Indriyanya (pikiran, mata, dll)“.

Terdapat 11 manfaat ketika kebebasan pikiran melalui cinta kasih telah diusahakan, dikembangkan, dan dilatih, dijadikan kendaraan dan landasan, dijalankan, dikokohkan, dan dengan benar dilakukan:

(1) Tidur nyaman (sukham supati); (2) terjaga nyaman (sukham paṭibujjhati); (3) tidak mimpi buruk (na pāpakaṃ supinaṃ passati); (4) disukai orang (manussānaṃ piyo hoti); (5) disukai makhluk bukan orang (amanussānaṃ piyo hoti); (6) dilindungi Devata (devata rakkhanti) (7) lolos/terhindar dari api, racun dan senjata (nassa aggi va visam va satthaṃ va kamati); (8) pikirannya terpusat dengan cepat (tuvaṭaṃ cittam samādhiyati); (9) raut wajahnya tenang (mukhavaṇṇo vippasīdati); (10) ketika tiba waktunya (untuk wafat) tidak dalam kebingungan (asammūḷho kālaṃ karoti); dan (11) jika tidak menembus lebih jauh, terlahir di alam brahmā (uttari appaṭivijjhanto brahmalokūpago hoti) [AN 8.1/AN 11.15/Mettânisaṁsa Sutta]. Agar tidak tiba waktunya (untuk wafat) karena digigit ular [atau digigit tidak menyuntikan bisa: gigitan kering atau ini] (na hi so..ahinā daṭṭho kālaṃ kareyya).. agar mahluk tak berkaki, berkaki 2, 4, banyak tak mencelakai (ma mam apada.. dvi.. catu.. himsi bahuppado) [AN 4.67/Ahina Sutta]

Jhana ke-2,
kenikmatan menggenggam dan mempertahankan objek adalah kenikmatan kasar, sehingga: Harus secara total melepas: Perhatian persepsi terkait usaha awal pikiran menggenggam obyek (vitakkasahagatā saññāmanasikārā). Karena pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.2/Dutiyajhānapañhā sutta, SN 21.1/Kolita Sutta].

Deskripsi Jhana ke-2 (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di jhana ke-2):

    Meredanya pemusatan pikiran melalui menggenggam dan mempertahankan objek [vitakkavicārānaṃ vūpasamā], terjadi keheningan di dalam [ajjhattaṃ sampasādo], pikirannya menjadi terpusat tanpa dengan usaha menggenggam dan mempertahankan objek [cetaso ekodibhāvaṃ avitakkaṃ avicāraṃ]. Dari pikiran yang terpusat seperti ini, Ia merasakan girang dan nikmat [samādhijaṃ pītisukhaṃ], jhana ke-2 dicapai (dutiyaṃ jhānaṃ upasampajja viharati) [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

    atau

    Yang menggunakan keindahan/subha sebagai landasan: Pikiran yang disertai welas asih (karuṇāsahagatena cetasā. Karuṇā = avihesā = tidak adanya kekejaman/tidak ada keinginan mencelakakan karena seluruh perasaan tubuh dan mental menyakitkan dan tidak nyaman yang berasal dari kontak jasmani dan pikiran, lenyap (SN 48.36)) memancar ke satu arah, 2 arah, 3 arah dan 4 arah, ke: atas, bawah, bulak-balik, ke mana saja, pada mahluk alam apapun (termasuk dirinya), pikiran yang disertai welas asih memancar: berlimpah, luhur, tak berbatas, lembut, tanpa halang rintang [AN 4.125/Metta sutta; DN 13/Tevijja sutta]

Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva ābhassarā. Deva ābhassarā dengan batasan kehidupan 2 kappa (ābhassarānaṃ devānaṃ sahavyataṃ upapajjati. Ābhassarānaṃ bhikkhave devānaṃ dve kappā āyuppamāṇaṃ)[AN 4.123, 125][alam ↑]

Kondisi/faktor di Jhana ke-2 adalah: hening di dalam (tanpa vitakkavicara), piti, sukha dan pikiran terpusat [cittekaggatā]

Saat mencapai jhana ke-2:
Jika pada sebelumnya pemusatan pikiran dengan vitakka-vicara, untuk melepas memunculkan persepsi girang dan nikmat, maka ketika pemusatan pikiran dapat dilakukannya tanpa melalui vitakka-vicara, dari pikiran terpusat dengan cara itu, persepsi perasaan girang dan nikmat memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya. Tak ada satu bagian dari tubuhnya yang tidak diliputi perasaan girang dan nikmat yang muncul dari keterpusatan pikiran dengan cara itu.

‘Bagaikan sebuah danau yang bersumber dari sebuah mata air, tak ada air yang mengalir dari timur, barat, utara atau selatan, tidak bertambah dengan hujan dari waktu ke waktu, kemudian mata air sejuk memenuhi, mengisi, meliputi seluruh danau itu, sehingga tak ada bagian danau itu yang tidak terliputi air sejuk itu—demikian pula dengan kegirangan dan kenikmatan yang muncul dari pikiran terpusat meliputi seluruh tubuhnya sehingga tak ada bagian yang tidak tersentuh. [DN 2, DN 9, MN 39, MN 77, MN 119]

Jhana ke-2 disebut keheningan ariya/kesunyian ariya/noble Silence (“ariya tuṇhībhāva”, SN 21.1), yaitu lenyapnya (Niruddha): awal pikiran menggenggam dan mempertahankan objek [avitakkavicārā] (SN 36.11, 36.15, AN 9.31) atau berhentinya vacīsaṅkhāra [MN 44, SN 41.6], sekarang ini vitakkavicārā adalah duri di jhāna ke-2 [AN 10.72]

    Note:
    Melatih ariya tuṇhībhāva mulai dari menyempurnakan sila (sila ke-4: tidak musavada, tidak bergosip, hanya berkata benar, dst) mengendalikan indriyanya, dengan mengingat untuk sepenuhnya mengetahui, Ia berpuas diri, Ia membatasi pikiran dan dirinya untuk berkata seperlunya. Sang Buddha: Seorang yang melakukan praktek brahmacariya (Penghidupan BRAHMA/SUCI), ketika berkumpul, Ia melakukan salah satu dari 2 hal: berdiskusi Dhamma atau mempertahankan keheningan mulia [MN 26/Ariyapariyesana sutta].

    Sample lain, misalnya cara YM Anuruddha dan 2 teman seperjuangan dalam keseharian mereka: “..Siapapun yang melihat kendi air minum, air untuk mencuci, atau kakus sudah hampir habis atau sudah habis maka ia akan melakukan apa yang harus ia lakukan. Jika terlalu berat baginya, maka ia akan memanggil seseorang lain dengan isyarat tangan dan mereka bersama-sama memindahkannya, tetapi hal ini tidak membuat kami terlibat dalam percakapan. Tetapi setiap 5 hari kami duduk bersama sepanjang malam mendiskusikan Dhamma”. [MN 128/Upakilesa Sutta]

Lenyap tanpa sisanya domanassindriyaṃ/Indriya ketidaksenangan: Perasaan mental yang menyakitkan dan tidak nyaman yang berasal dari kontak pikiran (manosamphassajaṃ dukkhaṃ asātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36, 39, 40]

Lenyap tanpa sisanya kehendak-kehendak YANG bermanfaat/kusalā saṅkappā, yaitu kehendak: pelepasan keduniawian (Nekkhammasaṅkappo), tanpa permusuhan/penolakan/kehendak buruk (abyāpādasaṅkappo) dan tanpa-kekejaman (avihiṃsāsaṅkappo)

    dari manakah YANG kehendak-kehendak bermanfaat ini berasal-mula?
    Kehendak-kehendak YANG bermanfaat ini harus dikatakan bermula dari persepsi. Persepsi apakah?..persepsi pelepasan keduniawian (Nekkhammasaññā), persepsi tanpa kehendak buruk (abyāpādasaññā), dan persepsi tanpa-kekejaman (avihiṃsāsaññā)

    Dan di manakah kehendak-kehendak YANG bermanfaat ini lenyap tanpa sisa?.. Jhana ke-2. [MN 78]

Mengapa karuṇā dikaitkan dengan keadaan Jhana ke-2?

Disamping perasaan tubuh menyakitkan dan tidak nyaman yang berasal dari kontak jasmani sudah lenyap di jhana ke-1, sekarang bahkan: perasaan mental menyakitkan (cetasikaṃ dukkhaṃ) dan tidak nyaman (cetasikaṃ asātaṃ) yang berasal dari kontak pikiran [SN 48.36] juga lenyap, sehingga tidak mungkin kehendak buruk, permusuhan, kekejaman atau keinginan mencelakakan menguasai pikirannya [AN 6.13/Nissāraṇīyasutta]. Pikirannya yang hening di dalam dan dipenuhi perasaan menyenangkan: girang dan nikmat (pīti-sukha) ingin dibagikannya ke seluruh dunia

Jhana ke-3,
Kenikmatan piti adalah kenikmatan kasar, sehingga: Harus secara total melepas: Perhatian persepsi terkait perasaan gembira/girang (pītisahagatā saññāmanasikārā). Karena pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.3/Tatiyajhānapañhā sutta].

Deskripsi Jhana ke-3 (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di jhana ke-3):

    Perasaaan gembira mereda (pītiyā ca virāgā), (pikirannya) dan berada dikeseimbangan (upekkhako ca viharati) tetap ingat untuk sepenuhnya mengetahui (sato ca sampajāno), tubuhnya merasakan nikmat (sukhañca kāyena paṭisaṃvedeti), sebagaimana dikatakan para ariya (Yaṃ taṃ ariyā ācikkhanti): “ingat berada nyaman seimbang” (upekkhako satimā sukhavihārī’ti). jhana ke-3 dicapai [MN 111, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

    atau

    Yang menggunakan keindahan/subha sebagai landasan: Pikiran yang disertai simpati/empati (muditāsahagatena cetasā. Muditā = rati = nyaman dan puas karena disamping sebelumnya seluruh perasaan tubuh dan mental yang menyakitkan dan tidak nyaman yang berasal dari kontak jasmani maupun mental telah lenyap, sekarang bahkan perasaan tubuh menyenangkan dan nyaman yang berasal dari kontak jasmani juga lenyap (SN 48.36)) memancar ke satu arah, 2 arah, 3 arah dan 4 arah, ke: atas, bawah, bulak-balik, ke mana saja, pada mahluk alam apapun (termasuk dirinya), pikiran yang disertai simpati memancar: berlimpah, luhur, tak berbatas, lembut, tanpa halang rintang [AN 4.125/Metta sutta; DN 13/Tevijja sutta]

Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva subhakiṇhā. Deva subhakiṇhā dengan batasan kehidupan 4 kappa (subhakiṇhānaṃ devānaṃ sahavyataṃ upapajjati. Subhakiṇhānaṃ bhikkhave devānaṃ cattāro kappā āyuppamāṇaṃ) [AN 4.123, 125]. [alam ↑]

Kondisi/faktor di Jhana ke-3 adalah sukha, sati, sampajāna dan cittekaggatā. Sementara itu, perasaan gembira (piti) adalah duri bagi jhana ke-3 [AN 10.72]

Saat mencapai Jhana ke-3:
Jika sebelumnya persepsi kegirangan dan kenikmatan setelah lenyapnya vitakka dan vicara muncul dari pikiran terpusat, maka ketika kegirangan (piti) melenyap, munculah nikmat yang memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya. Tak ada satu bagian dari tubuhnya yang tidak diliputi nikmat yang muncul karena lenyapnya kegirangan itu

‘Bagaikan, di sebuah kolam, teratai biru atau merah atau putih tumbuh dan berkembang dalam air tanpa keluar dari air, dan air sejuk membasahi, merendam, mengisi, dan meliputi teratai-teratai itu dari pucuk hingga ke akarnya; demikian pula, nikmat yang memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya. Tak ada satu bagian dari tubuhnya yang tidak diliputi nikmat yang muncul karena lenyapnya kegirangan itu [DN 2, DN 9, MN 39, MN 77, MN 119]

Lenyap tanpa sisanya sukhindriyaṃ/Indriya kesenangan: Perasaan tubuh yang menyenangkan dan nyaman yang berasal dari kontak jasmani (kāyasamphassajaṃ sukhaṃ asātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36, 39, 40]

Mengapa muditā dikaitkan dengan keadaan Jhana ke-3?

Disamping seluruh perasaan tubuh dan mental yang menyakitkan yang berasal dari kontak jasmani dan pikiran telah lenyap di jhana ke-1 dan jhana ke-2, sekarang bahkan perasaan tubuh menyenangkan dan nyaman yang berasal dari kontak jasmani juga lenyap, sehingga tidak mungkin ketidak-puasan masih menguasai pikirannya (arati) [AN 6.13/Nissāraṇīyasutta]. Pikirannya yang sekarang berada dalam keadaan nikmat nyaman dalam memperhatikan, ingin dibagikannya ke seluruh dunia

Jhana ke-4,
Kenikmatan sukha adalah kenikmatan kasar, sehingga: Harus secara total melepas: Perhatian persepsi terkait perasaan nikmat (sukhasahagatā saññāmanasikārā). Karena pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.4/Catutthajhānapañhā sutta].

Deskripsi Jhana ke-4 (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di jhana ke-4):

    Perasaan menyenangkan (jasmani) dan perasaan menyakitkan (jasmani dan mental) telah ditinggalkannya (sukhassa ca pahānā dukkhassa ca pahānā), kegembiraan-kesedihan sebelumnya mereda (pubbeva somanassadomanassānaṃ atthaṅgamā), merasakan perasaan yang tanpa menyakitkan – tanpa menyenangkan (adukkhaṃasukhaṃ) ingatan murni seimbang (upekkhā-sati-pārisuddhiṃ), jhana ke-4 dicapai [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

    atau

    Yang menggunakan keindahan/subha sebagai landasan: Pikiran yang disertai tenang seimbang (upekkhāsahagatena cetasā. Upekkhā = a-rāgo = tidak ketagihan karena seluruh perasaan tubuh dan mental menyakitkan dan menyenangkan yang berasal dari kontak jasmani dan pikiran telah lenyap sepenuhnya (SN 48.36)) memancar ke satu arah, 2 arah, 3 arah dan 4 arah, ke: atas, bawah, bulak-balik, ke mana saja, pada mahluk alam apapun (termasuk dirinya), pikiran yang disertai tenang seimbang memancar: berlimpah, luhur, tak berbatas, lembut, tanpa halang rintang [AN 4.125/Metta sutta; DN 13/Tevijja sutta]

Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva vehapphalā. Deva vehapphalā dengan batasan kehidupan 500 kappa (Vehapphalānaṃ bhikkhave devānaṃ pañcakappasatāni āyuppamāṇaṃ) [AN 4.123, 125][alam ↑]

Kondisi/faktor di Jhana ke-4 adalah keseimbangan (upekkhā), perasaan tanpa menyakitkan tanpa menyenangkan (adukkhamasukhā vedanā), Pikirannya santai tidak berkecondongan, ingatannya murni dalam keterpusatan pikiran (passaddhattā cetaso anābhogo satipārisuddhi cittekaggatā) [MN 111]

Jika sebelumnya persepsi kenyamanan dan perasaan nikmat muncul dari ketiadaan kegirangan, maka persepsi kenyamanan mereda, muncul ingatan murni seimbang dari persepsi perasaan tanpa menyakitkan tanpa menyenangkan, ini memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya dengan pikiran murni bersih

Bagaikan seorang yang duduk dan ditutupi dengan kain putih dari kepala ke bawah, sehingga tak ada bagian dari tubuhnya yang tidak tertutupi oleh kain putih itu; Demikianlah Tak ada satu bagian dari tubuhnya yang tidak diliputi pikiran murni bersih itu.

Ia berdiam bersama dengan para dewa yang telah muncul dalam alam yang sepenuhnya nikmat, berbicara dan berbincang-bincang dengan mereka [Yā tā devatā ekantasukhaṃ lokaṃ upapannā tāhi devatāhi saddhiṃ santiṭṭhati sallapati sākacchaṃ samāpajjati]. Pada titik ini alam yang sungguh menyenangkan itu telah tercapai (MN 79)

Lenyap tanpa sisanya somanassindriyaṃ/Indriya kegembiraan: Perasaan mental yang menyenangkan dan nyaman yang berasal dari kontak pikiran (manosamphassajaṃ sukhaṃ sātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36, 39, 40]

Berhentinya pernafasan (SN 36.11, 36.15, AN 9.31). Kayasankhāra (semua formasi rupa/kaya [nafas keluar/masuk]) terhenti = ditenangkan sempurna. Sehingga dikatakan bahwa napas-masuk dan napas-keluar adalah duri bagi jhāna ke-4 [AN 10.72]

Keluar dari tahap ini, Ia berjalan, berdiri dan seterusnya dengan kebahagiaan yang muncul dari ketenangan (AN 3.63)

Pikiran kokoh/terpusat (samāhite citte), murni (parisuddhe), bersih (pariyodāte), tidak ternoda (anaṅgaṇe), bebas kekotoran (vigatūpakkilese), lentur (mudubhūte), mudah dibentuk (kammaniye), kokoh (ṭhite), setelah mendapatkan (pāpuṇāti) kondisi tanpa-gangguan/tenang sekali (āneñja/āneñjappatte), diarahkan (abhinīharati) condong (abhininnāmeti) pikirannya untuk merelisasikan ragam pengetahuan langsung:

  1. pengetahuan melihat (ñāṇadassanāya) badan jasmani adalah materi catumahabutha, tidak kekal, dapat luka dan usang, rusak dan hancur, kesadaran melekat dan bergantung padanya,
  2. menghasilkan tubuh ciptaan-pikiran (manomayaṃ kāyaṃ abhinimmānāya) dari tubuhnya, menghasilkan tubuh lain, berbentuk, ciptaan-pikiran, lengkap dengan semua bagian tubuh dan indriyanya,
  3. bermacam kekuatan mental (anekavihitaṃ iddhividhāya): memperbanyak diri, dari banyak menjadi satu; menjadi tampak, menjadi lenyap; menembus dinding, benteng, gunung seolah berjalan di ruangan; masuk keluar tanah seolah di air; berjalan di air tanpa tenggelam seolah di tanah; duduk bersila melayang di udara seperti burung; (ime pi candimasūriye evaṃ mahiddhike evaṃ ma­hānu­bhāve pāṇinā parimasati parimajjati yāva brahmalokāpi kāyena vasaṃ vatteti) dan juga bulan matahari yang sangat kuat-perkasa yang menyentuh, menghanyutkan kehidupan/dengan tangannya bahkan sejauh alam brahma kemahiran jasmaninya berlanjut
  4. telinga deva (dibbāya sotadhātuyā) mendengar suara alam dewa dan manusia jauh maupun dekat
  5. pengetahuan atas pikiran makhluk lainnya (cetopariyañāṇāya),
  6. pengetahuan kehidupan lampau (pubbenivāsānussatiñāṇāya)

    Note:
    Beberapa, karena kamma lampaunya, walau tidak punya Jhana, dapat juga ingat satu/beberapa kehidupan lampau, misal: para dewa (DN 21), peta (Petavatthu 2.2), untuk orang misal DN 1 (beberapa petapa/Brahmana, mungkin punya jhana, mungkin tidak), komentar Jataka Mahānārada Kassapa (no.544): Jendral Alāta ingat sebagai jagal sapi bernama Piṅgala..budak bernama Vījaka, ingat sebagai orang kaya..Putri raja Aṅgati negara Videha bernama Rujā (Kelak adalah Bhikkhu Ānandā) dapat ingat 7 kehidupan lampau dan 7 kehidupan mendatang. Komentar Jataka Kummāsapiṇḍi (no.415): Putra Ratu Benares, Brahmadatta, sejak dapat berjalan ingat kelahiran-kelahiran lampaunya, semua yang dilakukannya, seperti melihat bayangannya di cermin bening. Jadi, beberapa ini dapat mengingat (anussara) 5 kelompok unsur kehidupan (Rupa, vedana, .., vinnana) yang tunduk pada kemelekatan atau salah satu di antaranya pada masa lalunya (SN 22.79/Khajjaniya Sutta)

  7. pengetahuan lenyapnya dan munculnya makhluk-makhluk dengan mata dewa (sattānaṃ cutūpapātañāṇāya),
  8. pengetahuan hancurnya noda-noda (āsavānaṃ khayañāṇāya) [DN2, MN 76-79, dll]

Penting untuk diketahui bahwa di AN 9.35/Gavi sutta, dinyatakan bahwa 8 pengetahuan langsung di atas (di AN 9.35 hanya tercatat 6 abhinna/pengetahuan langsung), DAPAT MULAI di tiap tingkatan manapun:

    Ketika,.. seorang.. masuk dan keluar dari tiap-tiap pencapaian tersebut (jhana ke-1 s.d jhana ke-9), pikirannya menjadi lunak dan lentur [.. taṁ tad eva samāpattiṁ samāpajjatipi vuṭṭhāti pi]. Dengan pikiran lentur dan mudah dibentuk, tak terbatas pengembangan dari pemusatan pikiran [Tassa muduṁ cittaṁ hoti kammaññaṁ, mudunā citte kammaññena, appamāṇo samādhi hoti subhāvito]. Dengan tak terbatas pengembangan dari pemusatan pikiran, apa pun pengetahuan tinggi yang seharusnya dengan mengarahkan pikirannya ia mendapatkannya [So appamāṇena samādhinā subhāvitena, yassa yassa abhiññā,sacchikaraṇīyassa, dhammassa cittaṁ abhininnāmeti, abhiññā,sacchikiriyāya]. Ia mengalami sendiri aspek di dalamnya, bila kondisinya tepat [Tatra tatr’eva sakkhi,bhabbataṁ pāpuṇāti sati sati āyatane]

Mengapa upekkhā dikaitkan dengan keadaan Jhana ke-4?

Seluruh perasaan tubuh dan mental yang menyenangkan dan menyakitkan yang berasal dari kontak jasmani dan pikiran telah lenyap sepenuhnya, sekarang Ia berada pada perasaan bukan menyakitkan dan bukan menyenangkan, Pikirannya santai tak berkecondongan, ingatannya murni dalam keterpusatan pikiran [MN 111], sehingga tidak mungkin ketagihan masih menguasai pikirannya [AN 6.13]. Pikirannya dalam keseimbangan dengan ingatan murni, ingin dibagikannya ke seluruh dunia

Ke-5,
Landasan ruang tak berbatas (ākāsaañancaāyatana: ākāsa = ruang; ananca = tak berbatas, tanpa akhir; āyatana = landasan),

Keseimbangan terkait pesepsi rupa (objek) adalah keseimbangan kasar, sehingga: Harus secara total melepas: Perhatian persepsi terkait Jasmani/materi (rūpasahagatā saññāmanasikārā). Karena pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.5/Ākāsānañcāyatanapañhā sutta]

Deskripsi landasan ini (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di landasan ini):

    Setelah sepenuhnya melampaui persepsi bentuk/materi penolakan pada/reaksi persepsi mereda ragam persepsi tidak diperhatikan [Merasakan:] ‘ākāso (ruang/melihat) ananto (tak berbatas)’, landasan ruang/penglihatan tak berbatas dicapai [MN 111, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva ākāsānañcāyatana. Deva ākāsānañcāyatana dengan batasan kehidupan 20.000 kappa (ākāsānañcāyatanūpagānaṃ devānaṃ sahabyataṃ upapajjati. Ākāsānañcāyatanūpagānaṃ, bhikkhave, devānaṃ vīsati kappasahassāni āyuppamāṇaṃ) [AN 3.116/Āneñja sutta][alam ↑]

Kondisi/faktor di landasan ini adalah: Perasaan adukkhamasukhā, Persepsi landasan ruang tak berbatas dan keterpusatan pikiran.

    note:
    Di Brahmajala sutta: Para Brahma itu melayang di ruang antar batasan [antalikkhe], jadi ruang tanpa batas = bebas dari batas-batasan materi/fisikal

Pencapaian arupa di 4 Nikaya disebutkan sebagai pencapaian [samapatti: DN.3, MN.3, AN 1,4,5] atau keadaaan arupa [aruppa: MN1, It 61, Kvu 325] atau alam dengan landasan citta [DN2, MN2, AN4]

Ke-6,
Landasan Kesadaran tak berbatas (viññāṇaañancaāyatana)

Keseimbangan terkait ruang tak berbatas adalah keseimbangan kasar, sehingga: Harus secara total melepas: Perhatian persepsi terkait landasan ruang tak berbatas (ākāsānañcāyatanasahagatā saññāmanasikārā). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.6/Viññānañcāyatana sutta]

Deskripsi landasan ini (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di landasan ini):

    Setelah sepenuhnya melampaui landasan ruang/penglihatan tak berbatas, [merasakan:] ‘viññāṇa (Kesadaran) ananta (tak berbatas)’, landasan kesadaran tak berbatas tercapai (viññāṇaanañcaāyatana upasampajja viharati) [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva viññāṇañcāyatana. Deva viññāṇañcāyatana dengan batasan kehidupan 40.000 kappa (viññāṇañcāyatanūpagānaṃ devānaṃ sahabyataṃ upapajjati. Viññāṇañcāyatanūpagānaṃ, bhikkhave, devānaṃ cattārīsaṃ kappasahassāni āyuppamāṇaṃ) [AN 3.116/Āneñja sutta][alam ↑]

Kondisi/faktor di landasan ini adalah: Perasaaan adukkhamasukhā, Persepsi landasan kesadaran tak berbatas dan keterpusatan pikiran

Ke-7,
Landasan tak ada apapun (ākiñ­cañ­ñā­yatana. ākiñcañña = tak ada apapun)

Keseimbangan terkait kesadaran tak berbatas adalah keseimbangan kasar, sehingga: Harus secara total melepas: Perhatian persepsi terkait landasan kesadaran tak berbatas (viññāṇañcāyatanasahagatā saññāmanasikārā). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.7/Ākiñcaññāyatana sutta]

Deskripsi landasan ini (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di landasan ini):

    Setelah sepenuhnya melampaui landasan kesadaran tak berbatas, [merasakan:] ‘natthi (tak ada) kinci (apapun)’, landasan tak ada apapun tercapai (ākiñcaññāyatanaṃ upasampajja viharati) [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva ākiñcaññāyatana. Deva ākiñcaññāyatana dengan batasan kehidupan 60.000 kappa (ākiñcaññāyatanūpagānaṃ devānaṃ sahabyataṃ upapajjati. Ākiñcaññāyatanūpagānaṃ, bhikkhave, devānaṃ saṭṭhi kappasahassāni āyuppamāṇaṃ) [AN 3.116/Āneñja sutta][alam ↑]

Kondisi/faktor di landasan ini adalah: Perasaan adukkhamasukhā, persepsi landasan tak ada apapun dan keterpusatan pikiran.

Ke-8,
Landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatana. Sanna = Persepsi, sumber, gagasan, ide, cerapan, ingatan)

Keseimbangan terkait persepsi tak ada apapun adalah keseimbangan kasar, sehingga: Harus secara total melepas: Perhatian persepsi terkait landasan tak ada apapun (ākiñcaññāyatanasahagatā saññāmanasikārā). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.8/Nevasaññānāsaññāyatana sutta]

Deskripsi landasan ini (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di landasan ini):

  • Setelah sepenuhnya melampaui landasan tak ada apapun, [Mengetahui:] landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi tercapai (nevasaññānaasaññaayatanaṃ upasampajja viharati) [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36], atau
  • Tidak perhatian pada (amanasikaritvā) persepsi: landasan kesadaran tidak berbatas dan landasan tak ada apapun (viññāṇañcāyatanasaññaṃ ākiñcaññāyatanasaññaṃ), Perhatian hanya terkait pada (paṭicca manasi karoti ekattaṃ) landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatanasañña). Di persepsi landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (tassa nevasaññānāsaññāyatanasaññāya) pikirannya (cittaṃ) mendapatkan kepuasan (pakkhandati), kejelasan (pasīdati), kokoh (santiṭṭhati), dan menetap (adhimuccati) [MN 121]

Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (wafat). Ia terlahir di antara Deva nevasaññānāsaññāyatana (nevasaññānāsaññāyatanūpagānaṃ devānaṃ sahavyataṃ upapajjati) [AN 4.171]

Di Sutta (di 5 Nikaya), TIDAK ditemukan berapa panjang umur kehidupan deva alam ini, jika melihat peningkatan dari urutan sebelumnya, maka umur kehidupan deva ini tampaknya atau bisa jadi MELEBIHI dari umur deva ākiñcaññāyatana. Namun demikian, di kitab Vibhanga 18, umur kehidupan deva alam ini disebutkan sepanjang 84.000 Kappa (Caturāsīti kappasahassānīti ) dan informasi tersebut, dikutip ulang di kitab non kanon pali, Patisandhicatukka, Abhidhammattha-sangaha. Walau kelihatannya, ini mengikuti pola, namun jelas bukan sabda sang buddha (Atau para arahat lain yang hidup di jaman sang Buddha di konsili ke-1 atau para Arahat yang merupakan murid para Arahat jaman sang Buddha, yang ikut di konsili ke-2), maka informasi ini bisa saja kita abaikan.[alam ↑]

Kondisi/faktor di landasan ini adalah: perasaan adukkhamasukhā, persepsi landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi dan pikiran terpusat.

***

Sebelum melanjutkan ke pencapaian ke-9,
Perbedaan antara para siswa agung (ariyasāvakassa, murid Sang Buddha), yang berlatih (sutavato) [= para mahluk suci: deva/manusia, mulai sotapanna atau lebih] vs Puthujjana yang tidak terlatih [bukan mahluk suci: deva dan manusia]: Para puthujjana, setelah habis umurnya di alam itu, Ia dapat saja telahir kembali ke alam: Neraka, binatang atau Peta (Mahluk halus). Sedangkan para ariya savaka, setelah habisnya umur di alam itu, Ia mencapai Nibbana akhir [Bhagavato pana sāvako tattha yāvatāyukaṃ ṭhatvā yāvatakaṃ tesaṃ devānaṃ āyuppamāṇaṃ taṃ sabbaṃ khepetvā tasmiṃ yeva bhave parinibbāyati] [AN 4.123/Jhana sutta dan AN 4.125/Metta sutta (1), AN 3.116/Āneñja]

siswa sang Buddha melihat,
apapun (yaitu dhamma/kondisi/fenomena: di AN 9.36: pancakhanda dan jhana 1-8, Di AN 11.18, 8: Indriya dan objeknya, catumahabhuta, jhana ke-5-8, persepsi/pikiran tentang dunia ini dan dunia lain, apapun yang dilihat, didengar, diindriya, dikenali, dijangkau, dicari, dan diperiksa pikiran) sebagai: tidak kekal, tidak memuaskan, penyakit, tumor, duri, bencana, malapetaka, asing, kehancuran, kehampaan, bukan diri. [AN 124, 126, MN 64, AN 9.36]:

  • dari kondisi-kondisi itu, pikirannya dibebaskan, Ia arah pikiran pada unsur amatāya (tanpa kematian: fenomena dilihat sebagai: anicca, dukkha…anatta atau terbelenggu tanha – SN 48.50): ‘ini damai, ini luhur, yaitu, tenangnya segala bentukan, lepasnya segala kehausan, hancurnya ketagihan, tidak menginginkannya, berhenti, padam’, Jika ia [MN 64, AN 9.36]:
    • kokoh di dalam itu, maka ia mencapai hancurnya noda-noda.
    • tidak mencapai hancurnya noda-noda karena keinginan akan Dhamma itu, kegembiraan dalam Dhamma itu, maka dengan hancurnya 5 belenggu yang lebih rendah, muncul kembali secara spontan dan di sana mencapai Nibbāna akhir tanpa pernah kembali ke alam ini. [MN 64, AN 9.36]
  • Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, Ia muncul kembali di alam suddhavasa. [AN 124/Jhana Sutta dan AN 4.126/Metta sutta (2)]

——
Note:

  • AN 123, 125: Mereka yang telah menghancurkan 5 belenggu yang lebih rendah dan berada di alam jhana ke-1 s.d ke-4, namun belum mencapai Nibbana saat wafat, Ia akan terlahir di alam Suddhavasa.
  • AN 3.117: Mereka yang telah menghancurkan 5 belenggu yang lebih rendah berada di alam landasan: ruang tak berbatas, kesadaran tak berbatas dan tak ada apapun, namun belum mencapai Nibbana saat wafat, Ia akan terlahir di alam Suddhavasa.
  • AN 4.171: Tujuan kematian mereka yang belum menghancurkan 5 belenggu lebih rendah vs yang telah menghancurkan 5 belenggu lebih rendah namun saat ada di landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi:
      Mahluk tertentu (ekaccassa puggala) yang tidak menghancurkan (appahīṇā) belenggu (saññojanāni) lebih rendah (orambhāgiyāni), Ia, sekarang dan saat ini (diṭṭheva dhamme) berada di landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi. Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva nevasaññānāsaññāyatana. Ia dari sini [So tato] setelah wafat [cuto] menjadi kembali [āgāmī hoti] kembali ke alam ini [āgantā itthattaṃ: selain alam suddhavasa].

      Mahluk tertentu yang menghancurkan (pahīṇā) belenggu lebih rendah yang mengikatnya di alam sensual, Ia, sekarang dan saat ini berada di landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi. Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva nevasaññānāsaññāyatana. Ketika wafat ia TIDAK kembali lagi (ānagāmī) tidak kembali ke alam ini [anāgantā itthattaṃ: Terlahir di alam Suddhavasa] [AN 4.171]

    Di sutta MN 106/Āneñjasappāya Sutta[↓] latihan dilakukan oleh seorang bhikkhu/manusia, tidak tertulis apakah latihan itu dapat juga dilakukan deva di alam bukan persepsi bukan tanpa persepsi

    Namun, para ariya yang menjadi deva bukan persepsi bukan tanpa persepsi, jika sudah menghancurkan 5 belenggu, saat kematian, Ia terlahir kembali di alam Suddhavasa, jika telah menghancurkan 3 belenggu namun kurang dari 5 belenggu, Ia terlahir kembali ke alam deva lainnya namun tidak di alam manusia (dan di bawahnya), sampai Ia dapat menghancurkan seluruh belenggu dan mencapai nibbana.

***

Ke-9,
Pikiran terpusat tanpa bentukan/ciptaan pikiran (animitta cetosamādhi. Nimitta = ciptaan/buatan; hiasan; membangun; menghasilkan; penetapan ukuran; berencana; gambaran)

Harus secara total melepas: kesadaran mengikuti bentukan (nimittânusāri viññāṇaṁ). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.9/Animitta sutta, MN 43, SN 41.7].

Deskripsi samädhi ini:

    Segala gambaran tidak diperhatikan (sabbanimittānaṃ amanasikārā); pikiran dengan pikiran terpusat tanpa gambaran dicapai keberadaannya (animittaṃ cetosamādhiṃ upasampajja viharati) [SN 40.9]

Atau:

    Tidak perhatian pada (amanasikaritvā):

    • Persepsi landasan tak ada apapun (ākiñcaññāyatanasañña),
    • Persepsi landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatanasañña)

    Perhatian hanya terkait pada pikiran yang terpusat tanpa gambaran (animittaṃ cetosamādhiṃ paṭicca manasi karoti ekattaṃ). Pada pikiran yang terpusat tanpa gambaran (Tassa animitte cetosamādhimhi) pikirannya (cittaṃ) mendapatkan kepuasan (pakkhandati) kejelasan (pasīdati), kokoh (santiṭṭhati), dan menetap (adhimuccati) [MN 121]

Ada 2 kondisi bagi pencapaian kebebasan tanpa gambaran pikiran: (1) tanpa-perhatian pada segala bentukan/ciptaan dan (2) perhatian pada unsur tanpa bentukan/ciptaan.

Ada 3 kondisi bagi pencapaian kebebasan pikiran tanpa gambaran yang terus-menerus: (1) tanpa-perhatian pada segala gambaran dan (2) perhatian pada unsur tanpa gambaran dan dan tekad sebelumnya (pubbe ca abhisaṅkhāro) [MN 43]

Di SN 43.4: pikiran terpusat pada kekosongan (Suññato samādhi), Pikiran terpusat pada tanpa gambaran/bentukan/ciptaan pikiran (animitto samādhi) dan Pikiran terpusat pada tanpa tujuan/keinginan (appaṇihito samādhi)

Karena lenyapnya Indriya upekkha terjadi setelah melampaui landasan tak ada apapun dan bukan persepsi dan bukan tanpa persepsi, maka lenyap juga di animitta samadhi [SN 48.40]

Deskripsi samädhi saññāvedayitanirodhaṃ:

    Setelah sepenuhnya melampaui landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatanaṃ samatikkamma) [mengetahui:] Keberadaan lenyapnya persepsi dan perasaan dicapai (saññāvedayitanirodhaṃ upasampajja viharati) [MN 111]

Lenyap tanpa sisanya upekkhindriyaṃ/Indriya keseimbangan atau perasaan bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan/adukkhamasukhā sā vedanā: Perasaan tubuh dan mental yang bukan-nyaman juga bukan tidak-nyaman (kāyikaṃ vā cetasikaṃ vā nevasātaṃ nāsātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36-38] Di manakah indriya keseimbangan lenyap tanpa sisa? ..di pencapaian “lenyapnya persepsi dan perasaan” (saññāvedayitanirodhaṃ) [SN 48.39, 40]

Berikut dari MN.44/Mahavedalla sutta [dan juga SN 41.7]

    Visakha: Yang Mulia, ada berapakah bentukan kehendak (saṅkhārā) itu?”

    Dhammadinna: “Ada 3: bentukan jasmani [kāyasaṅkhāro], bentukan ucapan [vacīsaṅkhāro], dan bentukan pikiran [cittasaṅkhāro]..Nafas masuk dan keluar [Assāsa-passāsā] adalah bentukan jasmani; vitakkavicārā adalah bentukan ucapan; persepsi dan perasaan [saññā ca vedanā], bentukan pikiran”

    Visakha: “..mengapa: nafas-masuk dan nafas-keluar adalah bentukan jasmani? awal pikiran dan kelangsungan pikiran adalah bentukan ucapan? persepsi dan perasaan, bentukan pikiran?

    Dhammadinna: “nafas-masuk dan nafas-keluar adalah jasmani, kondisi-kondisi ini terikat dengan jasmani; itulah sebabnya mengapa nafas-masuk dan nafas-keluar adalah bentukan jasmani. Pertama-tama seseorang mulai berpikir dan mempertahankan pikiran, dan selanjutnya ia mengungkapkannya melalui ucapan; itulah sebabnya mengapa awal-pikiran dan kelangsungan pikiran adalah bentukan ucapan. Persepsi dan perasaan, yang menyertai pikiran, kondisi-kondisi ini terikat dengan pikiran; itulah persepsi dan perasaan, bentukan pikiran.” …

    Visakha: “..ketika..sedang mencapai lenyapnya persepsi dan perasaan [saññāvedayita-nirodha-samāpatti], kondisi manakah yang pertama lenyap dalam dirinya: bentukan jasmani, bentukan ucapan, atau bentukan pikiran?”

    Dhammadina: “.., pertama-tama bentukan ucapan lenyap [ini jhana ke-2], kemudian bentukan jasmani [ini jhana ke-4], kemudian bentukan pikiran [ini pencapaian ke-9].” …

    Visakha: “..ketika..keluar dari pencapaian lenyapnya persepsi dan perasaan, kondisi manakah yang pertama muncul dalam dirinya: bentukan jasmani, bentukan ucapan, atau bentukan pikiran?”

    Dhammadina: “.., pertama-tama bentukan pikiran muncul, kemudian bentukan jasmani, kemudian bentukan ucapan

    Visakha: “..ketika..keluar dari pencapaian lenyapnya persepsi dan perasaan, ada berapakah kontak yang menyentuhnya?”

    Dhammadina: “..3 jenis kontak menyentuhnya: kontak kehampaan/kekosongan [Suññato phasso], kontak tanpa gambaran, bentukan/ciptaan pikiran [animitto phasso], kontak tanpa: mengarahkan, berkeinginan, mengarahkan, menuju [appaṇihito phasso]”

      Note:
      Karena kontak memuncukan perasaan, maka perasaan adukkhamasukhā akan juga muncul di samadhi: sunnato, animitto dan appanihito

    Visakha: “..ketika..keluar (vuṭṭhita) dari pencapaian lenyapnya persepsi dan perasaan, pada apakah pikirannya: condong (ninna)?, bersandar (poṇa)?, mengarah (pabbhāra)?”

    Dhammadina: “.., pikirannya condong, bersandar, dan mengarah pada: pelepasan (viveka).”

Di pencapaian samädhi lenyapnya persepsi dan perasaan, kondisinya mirip orang mati:

    Teman, dalam hal seorang yang mati, yang telah menyelesaikan waktunya, bentukan jasmaninya [kaya sankhāra], bentukan ucapannya [vici sankhāra] dan bentukan pikirannya [citta sankhāra] telah memudar dan sirna, vitalitasnya [ayu] padam, panasnya [usma] berhamburan, dan indriyanya hancur seluruhnya.

    Dalam hal seorang bhikkhu yang memasuki lenyapnya persepsi dan perasaan, bentukan jasmaninya dan bentukan ucapannya telah memudar dan sirna, tetapi vitalitasnya tidak padam, panasnya tidak berhamburan, dan indriyanya menjadi sangat jernih.

    Ini adalah perbedaan antara seseorang yang mati, yang telah menyelesaikan waktunya, dan seorang yang memasuki lenyapnya persepsi dan perasaan [MN 43 dan SN 41.6] []

BEBERAPA VERIFIKASI ILMIAH MEDITASI:
Berikut beberapa KEGUNAAN MEDITASI YANG TELAH TERVALIDASI SECARA ILMIAH (mengutip tulisan, Emma M Seppala PhD):