Category Archives: Apanya yang lucu

Kisah Para Rasul Taianjing


Di suatu hari, Sangaloh taianjing, membangun taman, dan menjadikan si Udin tukang tamannya, ketika, si Udin bangun tidur, disisinya ada cewe, sebutlah dia si Ewe. Sebagai upah ngurus taman, mereka boleh makan buah, tapi hanya gara-gara makan satu jenis buah tok, si Udin dan Ewe diusir keluar taman, disuruh jadi tukang taman di luaran dan dijanjikan setelah mati nanti, boleh balik ke taman dan bahkan taman itu bakal jadi warisan turunannya, untuk kapan waktunya, pokoknya nanti, setelah kiamat kuda.

Jadilah si Udin, rasul taianjing pertama.

Ribuan taun kemudian, seorang anak haram, tukang angon kambing, bernama si Emut, ketiban rejeki nomplok dapat kawin dengan janda yang tuaan 15 tahun, beranak, gatelan karena bekas kawin 2x tapi kaya raya, sebutlah dia si Ijah. Pada suatu hari, si Emut ngaku dapat wangsit via pewisik dan mengklam diri sebagai rasul taianjing terakhir, ajarannya dikenal sebagai ajaran ngewe abadi di taman dengan ratusan pelacur taman. Entah itu gubahannya sendiri ato dari si pewisik, yaitu si Japri, tapi tampaknya tidak tahu bahwa si rasul taianjing pertama saja, yaitu si Udin cuma jadi tukang taman belaka, bukannya tukang ngewe, kebetulan saja, istrinya yang bernama si Ewe.

Si Emut, awalnya mengajar ngumpet-ngumpet sambil menghina sesembahan dan istiadat sukunya, maka akibatnya, Ia ditegur sukunya dan si Emut pun berdalih bahwa Sangaloh taianjing sekarang sudah melarangnya menghina, tapi pada kenyataannya, hinaan terhadap sesembahan dan istiadat sukunya tetap berlanjut, akibatnya, sukunya jengkel, si Emut dan kawanannya kemudian di isolir sampe miskin dan si Ijah pun mati dalam keadaan miskin.

Abis bini mati, dengan dalih memperkuat persodaraan, si Emut berhasil ngembat anak perempuan kawannya sendiri yang baru berusia 6 tahun, sebutlah dia si Isah dan gak tanggung-tanggung, sekalian juga Ia embat berikut babunya, sebutlah dia si Idah. Karena emang dasarnya gatelan, ketika sedang asik ngendon dirumah gebetan lamanya, sebutlah dia si Edun, Massa menggrebeknya, lantas terbitlah dongengan naik kuda lumping istimewa ke 7 taman, dimana Ia bertemu para rasul taianjing lainnya, plus diberi ilmu nungging dari Sangaloh taianjing, yang awalnya harus nungging 50 jurus, berkat kepiawaiannya nawar, sukses, jadi cuma 5 jurus nungging.

Sejak peristiwa dongeng naik kuda lumping istimewa, si miskin tukang hina lagi gatelan ini, makin gak dipercaya, bukannya instropeksi diri, tapi malah makin kesumat, saban ada suku lain lewat kampungnya, Ia hasut agar mau gebuk sukunya sendiri, tentu saja usahanya gagal dan membuat sukunya makin jengkel, Ia jadi ketakutan dan dirancanglah rencana kabur, tapi demi jaga gengsi dihadapan pengikut, lantas Ia buat karangan bahwa Sangaloh taianjing nyuruh mereka merantau ke lain kampung. Di kampung baru, jadilah Ia kepala preman yang idup dari hasil palak iuran keamanan dan disela-sela itu, gatelnya kumat, demi bisa ngembat si Jembut, bini anak angkatnya, Ia bikin karangan bahwa itu perintah Sangaloh taianjing dan tak luput juga beberapa cewe muda lainnya sebagai pemuas dahaga kegatelannya.

Sebagai kepala preman, tak elok, jika merampok di areanya sendiri, maka Ia dan pengikutnya beroperasi dengan kekerasan di area lain, akibatnya, koleksi cewe dan hartanya melimpah, tentu saja, Ia sempatkan diri mengajar bahwa Ia utusan terakhir Sangaloh taianjing, bahwa kiamat kuda sudah sangat dekat, saking dekatnya hampir saja mendahului kedatangannya, pokoknya, kiamat kuda sudah sangat teramat dekat, dan saat itu terjadi, Ia dan pengikutnya, bebas ngewe abadi di taman dengan ratusan pelacur taman. Syarat keanggotaan mudah saja, cukup taat perintahnya, walau membuat mati sekalipun, entah saat ngerampok yang diperintahkan ataupun saat membela ajaran Sangaloh taianjing, pokoknya jika nurut maka selamat dan dapat hadiah ngewe abadi

Ajaran ngewe abadi di taman dengan ratusan pelacur taman dalam waktu yang teramat sangat dekat, bikin ngiler dan linu peler pengikutnya, juga menarik minat para ahli peler lainnya, maka semakin giatlah mereka beroperasi, karena rajin ngerampok, pangkal kaya, bukan cuma harta tapi juga koleksi tawanan cewe untuk ajang asah peler, dan saat mati nanti, saat kiamat kuda tiba, plus hak ngewe abadi di taman bersama ratusan pelacur taman. Mantap betul! Rupanya mereka tidak tahu bahwa si rasul taianjing pertama saja, yaitu si Udin hanya jadi tukang taman belaka, bukan tukang ngewe, kebetulan saja, istrinya yang bernama si Ewe

Disuatu hari, selepas operasi kilat ngerampok, mereka pun pesta daging panggang hadiah si janda yahud yang sukunya baru saja mereka habisi, satu peserta pesta setelah ngembat daging itu, kulitnya berubah jadi hijau, maka tahulah Ia bahwa itu beracun tapi sempat-sempatnya pula Ia ngibul bahwa dagingnya sendiri yang ngomong ada racunnya dan 3 taunan kemudian, akibat racun si janda yahud, sekaratlah si Emut dalam keadaan kesakitan dipangkuan Isah sambil ngutuki si yahud kalang kabut dan ngigo merengek-rengek pada Sangaloh taianjing agar bisa dapet taman.

Pengikut si Emut udah gak tau kenapa mereka lahir, tujuan terlahir, berlagak tahu bahwa tujuan hidup adalah agar bisa masuk taman, kuburan aman, tempat menetap yang bisa bebas makan buah taman, kayak monyet utan, bisa bebas mabok tuak taman bak preman, sambil ngewe ratusan pelacur taman, sementara pengikutnya yang cewe, tidak tahu kalo mereka saat mati gak dapet apa, kecuali bareng jadi objek MULTISOM ABADI, bersama ratusan pelacur taman lainnya.

Mereka tidak tau, bahwa si Udin yang jadi rasul taianjing pertama saja, cuma jadi tukang taman belaka, bukannya tukang ngewe, istrinya saja yang kebetulan bernama si Ewe, sementara pendiri ajaran ngewe abadi di taman bersama ratusan pelacur taman, yaitu si Emut, bahkan sampe wafatnya, gak dapet taman, karena ketika sedang kesakitan saat sekarat sampai mati, sang pewisiknya sendiri, yaitu si Japri, malah bolos, gak nongol lagi.

….Tamat…


Disclaimer:
Kisah ini hanyalah fiksi belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, hanya kebetulan semata. Mencocokloginya, hanya akan membuat anda menjadi tampak sangat, sangat dan sangat tolol.


..dan Sang Kyai pun bersyahadat..kembali


Ada seorang pemuda yang diminta belajar Islam, Ia bersedia dengan syarat dicarikan seorang ulama/ustadz yang sangat mumpuni agar dapat menjawab 3 pertanyaan yang selama ini mengganjal di hatinya dan akhirnya seorang Kyai besar berkenan datang untuk membimbingnya.

Pemuda: “Anda siapa dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?“

Sang Kyai: “Saya hanya seorang hamba Allah yang mengharapkan ridhaNya dan dengan se-izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.“

Pemuda: “Anda yakin? karena sudah banyak orang yang berpikir dirinya mampu namun tidak dapat menjawab pertanyaan saya?”

Sang Kyai: “Demi keagungan dan segala hidayah dari Allah SWT sang pemilik Ilmu, saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.“

Pemuda: “O, ya, karena jika terjawab, saya akan bersyahadat, maka bagaimana jika tidak terjawab? …mmmhhh…..misalnya di 1 jam kemudian?”

Sang Kyai: “Atas seijin Allah SWT, untuk setiap pertanyaan yang tidak terjawab, maka silakan tampar saya, karena telah menyia-nyiakan hidup dalam Ilmu Subhanahu wa ta’ala

Pemuda: “Baik, jadilah jika demikan” Dan keduanya pun bersalaman.

Pemuda: “Pertanyaan ke-1, jika memang Allah itu Tuhan, kenapa banyak kesalahan dalam Qurannya?”

Sang Kyai: “…………. “ (1 jam berlalu).

Lalu pemuda itu pun menampar sang Kyai.

Pemuda: “Pertanyaan ke-2, jika memang Quran itu sempurna, kenapa harus ada hadis. Apa Quran itu kurang lengkap?”

Sang Kyai: “…………. “ (1 jam berlalu).

Lalu pemuda itu pun menampar sang Kyai lagi

Pemuda: “Pertanyaan terakhir, “Jika memang Quran itu sempurna, lalu apa arti Alif Lam Mim?”

Sang Kyaipun tertunduk lesu dan segera memeluk si pemuda sambil berucap, Laa illaaha, Laa illaaha, Laa illaaha,” (“Tiada Tuhan, Tiada Tuhan, Tiada Tuhan“)


[Digubah dari tulisan yang aslinya ditulis: Irsan Yanuar]

Dongeng tentang David, Sulaiman, Ratu Sheba, Muhammad sampai ke paha kambing bicara..


Jika kebohongan disampaikan secara berulang, lambat laun orang akan percaya dan bahkan dirinyapun akan percaya ~ anonim
SEMAKIN BESAR KEBOHONGANNYA, semakin banyak orang yang percaya ~ Anonim


Di artikel sebelumnya telah kita ketahui bahwa:

ternyata hanyalah dongeng orang-orang dahulu kala [AQ 68.15] belaka.

Kali ini, kita coba telusuri kebenaran klaim adanya David, Sulaiman dan Ratu Bilqis. Mengapa? Karena:

  • Negara Ethiopia pernah mengklaim keberadaan Sulaiman dan ratu Sheba, pada artikel 3 konstitusi modern negara mereka, tertanggal 16 Juli 1931:
      Artikel.3. Hukum menentukan bahwa kemuliaan kekaisaran akan tetap berkesinambungan melekat pada garis Yang Mulia Haile Selassie I, turunan Raja Sahle Selassie, yang garis turunannya tak terputus sejak dinasti Menelik I, putra Raja Sulaiman Yerusalem dan Ratu Ethiopia, yang dikenal sebagai Ratu Sheba. [“The Ethiophian Constitution“, William M. Steen, Penerbit: The Ethiopian research Council, Washington D.C, 1936, hal.8 atau di sini]

    Konstitusi ini dibuat untuk menggantikan Fetha Nagest (“Hukum para Raja” dari abad pertengahan, yaitu masa Raja Zar’a Ya’qob, 1434 M – 1468 M dan sejak itu menjadi hukum tertinggi Ethiopia).

  • Sekumpulan orang, melakukan tindakan konyol mengklaim: bahwa candi Borobudur merupakan peninggalan Sulaiman; bahwa negeri Sheba/Bilqis ada di Wanasaba, Jawa tengah (padahal di Indonesia ini saja, sekurangnya ada 6 (enam) daerah bernama Wanasaba, yaitu: Bengkulu, Lampung, Jawa Barat: Cirebon, Jawa Tengah), Jawa Timur (Pacitan dan Banyuwangi) dan Lombok Timur); bahwa candi Ratu Boko (Raja bangau, ayah dari Loro Jonggrang) adalah salah satu tempatnya ratu Sheba dengan klaim berupa temuan lempeng emas di kawasan candi ratu boko, yang tertulis dalam aksara jawa kuno namun koq dengan tega dan nekad memlintir artinya menjadi berbau lafal arab, “Bismillah” 🙂

    Foto tersebut,

    Nah anda dapat lihat sendiri terjemahan latin pada aksaranya, sangatlah tidak nyambung dengan apapun yang berbau-bau “bismillah”. Para pengklaim ini, bahkan hanya sekedar untuk mengenali beda antara aksara arab vs aksara jawa kuno saja, sudah tidak berkemampuan dan kalah dengan anak SMA kelas 1, yang saya minta untuk menuliskan perkiraan aksara pada lempeng di atas ini 🙂

Karena itu, kita perlu tahu lebih jelas:

  • Tentang David/Daud: Umur dan keturunannya [↓]; Perzinaan Nabi Daud/David dengan Batsyeba (ibu Sulaiman) [↓]; Klaim ada ratu Tahpanas di Inskripsi Mesir [↓]; Klaim nama Daud di Prasasti Tel Dan, Obeliks Hitam dan Mesha [↓]
  • Tentang Sulaiman: Usia ketika menjadi raja [↓]; Klaim 4 nama firaun di Alkitab [↓]; Klaim Sulaiman menjadi Menantu Firaun Mesir [↓]; Klaim Sulaiman membuat rumah tuhan (Baitul Aqsa) dan Istana [↓]
  • Tentang Ratu Sheba/Bilqis: Dari negeri mana asalnya: Yaman? Ethiophia? Wanasaba? [↓]; Apakah Sheba menikah dengan Sulaiman? dan benarkah ada keturunan Israel Ethiophia dan lain sebagainya.

Setelah satu persatu di ketahui, maka kitapun akan berada pada satu kesimpulan yang sama bahwa David/Daud, Sulaiman dan Ratu Bilqis/Sheba ternyata hanya tokoh dongeng belaka.

Kemudian,
Ingatan beberapa binatang, jika diuji tanding, bahkan mampu mengalahkan manusia [↓] dan dengan alat bantu tertemtu, mereka bahkan dapat berkomunikasi dengan manusia [↓]. Namun di Islam: pohon, batu dan binatang dapat bercakap-cakap dengan manusia tanpa alat bantu sama sekali dan ini bukan semata-mata sebagai salah satu tanda menjelang kiamat (batu dan pohon bicara dan juga binatang yang mementung kafir) [↓] karena Muhammad sendiri mengaku pernah disalami batu [↓]; Bahkan dijaman sebelumnya, Sulaiman sampai tersenyum geli mendengarkan percakapan semut disituasi panik [↓]; Dijaman Muhammad, tercatat para manusia dunia islam abad ke-7 M, juga berkemampuan bak Sulaiman, dapat berbicara dan mendengarkan binatang yang berbicara bak manusia, yaitu Sapi dan Serigala bicara [↓]; Kijang bicara [↓]; Keledai bicara [↓]; Unta bicara dan bagaimana Unta diciptakan Allah SWT [↓]; dan malah paha kambingpun bisa bicara! [↓]

Selamat Membaca.



Umur David/Daud dan turunannya
David menjadi Raja di usia 30 tahun memerintah selama 40 tahun Kemudian wafat diwaktu telah putih rambutnya, lanjut umurnya, penuh kekayaan dan kemuliaan, kemudian naik rajalah Sulaiman, anaknya, menggantikannya.[2 taw 29.27-28]. Pemerintahan selama 40 tahun, yaitu: Di Hebron 7 tahun 6 bulan dan berlanjut menjadi raja di Yerusalem selama 33 tahun. [2 Sam 5.4-51, 1 taw 3.1-9, 1 taw 29.27]. Jadi, David berusia 70 tahun ketika wafat.

    Islam:
    Usia David saat wafat adalah 100 tahun

    Riwayat Muhammad bin Basysyar – Shafwan bin Isa – Al Harits bin Abdurrahman bin Abu Dzubab – Sa’id bin Abu Sa’id Al Maqburi – Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah SAW bersabda:

    “Tatkala Allah menciptakan Adam dan meniupkan ruh padanya maka ia bersin, lalu mengucapkan alhamdulillah. Ia memuji Allah dengan seizinNya. Kemudian Tuhannya mengucapkan; yarhamukallah. Wahai Adam, pergilah kepada para malaikat itu, kepada kelompok mereka yang sedang duduk-duduk dan ucapkan assalaamu’alaikum. Mereka pun mengucapkan wa ‘alaikassalaam wa rahmatullaah. Kemudian ia kembali kepada Tuhannya. Kemudian Allah berfirman: Ini adalah ucapan selamatmu dan ucapan selamat anak-anakmu diantara mereka.

    Kemudian Allah berfirman kepadanya sementara kedua tanganNya tergenggam: Pilihlah diantara keduanya yang engkau kehendaki! Adam berkata; saya memilih kanan Tuhanku, dan kedua tangan Tuhanku adalah kanan yang mendapatkan berkah. Kemudian Allah membuka tanganNya, dan ternyata padanya terdapat Adam dan anak-anak keturunannya. Kemudian ia berkata; wahai Tuhanku, siapakah mereka? Kemudian Allah berfirman: Mereka adalah anak keturunanmu, dan ternyata setiap orang tertulis umurnya diantara kedua matanya dan ternyata diantara mereka terdapat orang yang paling bersinar, atau diantara orang yang paling bersinar.

    Adam berkata; wahai Tuhanku, siapakah orang ini? Allah berfirman: ini adalah anakmu Daud, Aku telah menuliskan umurnya 40 tahun. Adam berkata; wahai Tuhanku, tambahlah umurnya. Allah berfirman: Itu yang telah aku tulis untuknya. Adam berkata; wahai Tuhanku, aku Telah memberikan sebagian umurku untuknya 60 tahun. Allah berfirman: Itu adalah hakmu.”

    Rasulullah SAW bersabda: “Kemudian ia ditempatkan di Surga sesuai yang dikehendaki Allah kemudian diturunkan darinya. Dan Adam menghitung umurnya sendiri.”

    Beliau bersabda: “Kemudian malaikat maut datang kepadanya dan Adam berkata kepadanya; engkau telah terburu-buru, telah dituliskan untukku umur 1000 tahun. Malaikat tersebut berkata; benar, akan tetapi engkau telah memberikan 60 tahun untuk anakmu Daud. Kemudian Adam mengingkari dan anak keturunannyapun mengingkari, ia lupa dan anak keturunannyapun lupa.” Beliau bersabda: “Maka dari saat itu ia diperintahkan untuk menulis dan mendatangkan saksi.”

    Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan gharib dari sisi ini, dan telah diriwayatkan tidak hanya dari satu sisi dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW. Dari riwayat Zaid bin Aslam – Abu Shalih – Abu Hurairah – Nabi SAW

    [Tirmidzi no.3290. Juga di Musnad Ahmad no.2157, 2578, 3339 (Dari Ibn Abbas dari Nabi SAW), walaupun usia wafatnya 100 tahun juga namun ada perbedaan perhitungan, yaitu awalnya usianya ditetapkan: 60 tahun + tambahan 40 tahun yang diberikan Adam. 3 hadis Ahmad ini bermasalah pada perawi Ali bin Zaid yang dinyatakan Dhaif (lemah) oleh Ibn Hajar, Yahya bin Ma’in dan Nasa’i]

Anak-anak David/Daud yang lahir di Hebron:
Ahinoam -> Amnon, Abigail -> Daniel, Maakha -> Absalom, Hagit -> Adonia, Abital -> Sefaca; dan Egla -> Yitream. [1 Taw 3.1-4]

Anak-anak David/Daud yang lahir di Yerusalem:
Batsyeba -> Simea, Sobab, Natan dan Sulaiman. Selain dari Batsyeba, ada 9 anak lagi dari Istri lainnya: Yibhar, Elisama, Elifelet, Nogah, Nefeg, Yafia, Elisama, Elyada dan Elifelet. Semua ini belum terhitung anak-anak dari gundik-gundiknya dan juga Tamar saudara perempuan mereka. [2 Samuel 5.13-16, 1 Taw 3.5-9, 1 Taw 14.3-7]. [↑]

Perzinaan nabi Daud dan Batsyeba
Untuk memahami betapa seriusnya perbuatan yang dilanggar David dan Batsyeba, juga betapa beruntungnya mereka, setelah melanggar hukum Allah, tidak dihukum rajam sampai mati, maka kita perlu ketahui BEDA antara perbuatan yang tidak disukai Allah yang MASUK kategori DOSA vs yang TIDAK MASUK kategori DOSA.

Menurut aturan bagi pelanggar 10 Perintah Allah[1],
Segala perbuatan yang MASUK KATEGORI DOSA, agar mendapatkan pendamaian di hadapan TUHAN dan untuk menerima pengampunan [Imamat 6.6-7] maka DARAH PERLU DITUMPAHKAN atau KEHIDUPAN PERLU DIMUSNAHKAN, baik itu berupa HEWAN ataupun MANUSIA. Ini adalah pendamaian dengan perantaraan nyawa [Imamat 17.11]. Untuk perbuatan yang TIDAK MASUK kategori DOSA, maka TIDAK ADA DARAH yang perlu ditumpahkan.

Pelanggaran apa yang dilakukan David?

Di suatu petang,
David mengintip perempuan mandi dan kemudian berzina dengannya. Perempuan itu bernama Batsyeba, istrinya Uria. Saat Batsyeba hamil. David merancang agar Uriah terbunuh, Ia menempatkan Uria berada di garis depan medan pertempuran dan pasukannya mengundurkan diri dari pertempuran sehingga berakibat Uria tewas. Batsyeba kemudian menjadi istri David, anak hasil perzinaan itu lahir namun wafat 7 hari kemudian akibat menderita sakit akibat kutukan Nabi Nathan.

David belum melakukan perbuatan dosa ketika menginginkan istri Uriah, namun pintu DOSA itu menjadi terbuka lebar dan kemudian dimasukinya dengan melakukan hubungan seksual ilegal (Romawi: Moeicheia. Ibrani: Naaph) dengan istri Uriah (melanggar perintah ke-7), melakukan tipu daya agar dapat membunuh Uria (melanggar perintah ke-6) dan menyebut nama tuhan dengan sia-sia/sembarangan karena janji perkawinannya dengan istri/suami sebelumnya yang dilakukan dihadapan tuhan (melanggar perintah ke-3).

Sehingga,
David dan Batsyeba telah melakukan perbuatan dosa yang seharusnya dihukum rajam sampai mati, tapi cilakanya tidak 1 (satu)-pun, dari para Nabi/tetua Yahudi dan/atau masyarakat saat itu berani menghukum David! Bahkan Allahpun juga tidak berani. Allah mengalihkan dosa itu pada yang lainnya, yaitu pada turunan David: bayi yang baru lahir itu dibuat sakit hingga mati, anak perempuan David membayar dosa turunan dengan mengalami perkosaan oleh kakak tirinya:

    Alkitab:
    TUHAN mengutus Natan kepada Daud. Ia datang kepada Daud dan berkata kepadanya: “Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin. Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi; si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya. Pada suatu waktu orang kaya itu mendapat tamu; dan ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing dombanya atau lembunya untuk memasaknya bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Jadi ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu.” Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan: “Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati. Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan.”

    Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: “Engkaulah orang itu!….

    Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon. Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu.

    Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari. Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan.” Lalu berkatalah Daud kepada Natan: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” Dan Natan berkata kepada Daud: “TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati. Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati.” [2 Sam 12.1-14]

    VS

    Quran:
    Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar? Ketika mereka masuk Daud lalu terkejut karena mereka. Mereka berkata: “Janganlah kamu merasa takut; adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai 99 ekor kambing betina dan aku mempunyai 1 saja. Maka dia berkata: “Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.” Daud berkata: “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini.” Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik. [AQ 38.21-25]

Apakah kisah orang yang punya kambing banyak merebut satu-satunya kambing orang miskin ini sebuah perumpamaan atau bukan?

  • Bagi Alkitab, kisah ini HANYALAH PERUMPAMAAN yang disampaikan Nabi Nathan ketika berbicara dengan David.
  • Bagi Quran, jelas menyatakan bahwa kisah ini BUKAN perumpamaan.

Namun bagi beberapa penafsir quran menyatakan kisah itu adalah perumpamaan, dua orang yang berselisih adalah malaikat yang menyamar dan kisah itu terkait dengan perzinahan antara Daud dan Batsyeba:

    Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs:
    (saudaraku ini mempunyai 99 ekor kambing betina) artinya 99 istri (dan aku mempunyai seekor saja) artinya 1 istri; (Maka dia berkata: “Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan) ini adalah perumpamaan yang digunakan menampar David agar mengerti apa yang ia lakukan pada Uriah..(AQ 38.23) ..(dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu) yang seperti ketika kamu lakukan pada Bathseba, Istri Uriah, yang juga sepupu David [AQ 38.26] ..(sebagai sunnah-Nya) merupakan ketetapan Allah (pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu) Sebelum Muhammad; kaitannya di sini adalah pada David dan perkawinannya dengan istri Uriya;dan ini juga dikatakan berkaitan dengan perkawinan Sulaiman dengan Balqis [AQ 33.38]

    Tafsir Jalayn:
    (Ketika mereka masuk Daud lalu terkejut karena mereka. Mereka berkata: “Janganlah kamu merasa takut)… Ini adalah 2 malaikat yang datang dalam bentuk orang yang berselisihan..hanya sebagai hipotetis – bertujuan mengingatkan David atas apa yang ia telah lakukan : Ia punya 99 Istri namun menginginkan perempuan yang dimiliki seorang pria yang punya hanya dia saja dan tidak ada lainnya. Ia [David] telah mengawininya dan menggaulinya..[AQ 38.22] .. David kemudian diingatkan [atas perbuatannya]. Allah berkata: (Dan Daud mengetahui), dengan kata lain, Ia menjadi pasti,(bahwa Kami mengujinya), bahwa kami berikan cobaan, sebuah test, melalui cintanya pada perempuan itu [AQ 38.24]

    Tabari:
    Muhammad b.al-Husayn – Ahmad b.al-Mufaddal – Asbat – al-Suddi:
    ..Ia melihat seorang wanita mandi sendiri di atas atap, satu wanita paling cantik. Perempuan ini kebetulan membalik badannya dan melihatnya. Ia menurunkan rambutnya menutupi dirinya dengan itu. Itu malahan meningkatkan gairahnya pada perempuan itu.

    Ia bertanya tentang perempuan itu dan disampaikan bahwa ia bersuami yang berada di pasukan bla dan bla. Ia perintahkan komandan pasukan agar menempatkan Uriah [Ahriya/Awriya] melawan musuh bla dan bla..ia mengalahkannya..kepala pasukan menyurati david mengenai kemenangan itu, dan david menulis kembali dan berkata, “kirim melawan yang lebih kuat”, Uriah dikirim lagi dan menang lagi dan ia (kepala pasukan) kembali menulis kepada David tentang kemenangan ke-2. David menulis padanya, “kirim ke musuh bla dan bla”, Uriah kirim lagi dan pada kali ke-3 Uriah terbunuh.

    David mengawini istri Uriah. Ketika perempuan itu datang padanya, baru sebentar datang ketika Tuhan mengirimkan 2 malaikat dalam bentuk Manusia…kami dua orang yang sedang berpekara..David berkata, “ceritakan masalahnya” Satu dari mereka berkata, “sesungguhnya saudaraku ini punya 99 kambing betina sementara aku punya 1 kambing betina. Ia ingin mengambil kambing betinaku agar genap menjadi 100”..dengan paksaan..David berkata, “Ia tidak boleh melakukan itu..Aku akan hajar hidung dan jidatnya” Ia berkata, “David! Kamu lebih pantas untuk di hajar karena kamu punya 99 Istri sementara Uriah hanya punya 1 istri. Namun engkau tdak kunjung berhenti untuk membuatnya terbunuh hingga ia mati dan engkau kawini istrinya”..[The History of al-Tabari Vol. 3: The Children of Israel, hal.144-145]

    Bishr – Yazid – Sa‘id – Matar – al-Hasan:
    ..Ia terus mengikuti itu hingga pandangannya melihat seorang wanita sedang mandi, bentuk dan kecantikan perempuan ini menggerakannya. Ketika perempuan ini mengetahui bayangannya di tanah, ia menutupi diri dengan rambutnya, yang malah makin menggairahkannya. Ia mengirim suami perempuan ini ke satu dari pasukannya, dan tuliskan perintah agar Ia pergi ke tempat bla dan bla, sebuah tempat di mana ia tidak akan kembali. Uriah menuju ke sana dan terbunuh, kemudian david melamar istrinya dan mengawininya. Qatadah mengatakan pada kami bahwa ia mendengar bahwa perempuan itu adalah Ibu Sulaiman. Ketika Ia (David) sedang di kamarnya, lihat! Dua malaikat memanjat dinding ke arahnya..[Hal. 146-147]

    Yunus b.‘Abd al-A‘la – Ibn Wahb – Ibn Lahi‘ah – Abu Sakhr – Yazid al-Raqashi- Anas b.Malik:
    Rasullullah SAW berkata Allah berkata bahwa ketika nabi daud melihat perempuan itu dan menjadi gelisah, ia kumpulkan pasukan anak-anak Israel dan memberikan perintah pada pemimpinnya, “jika musuh muncul lakukan bla dan bla dekati dan maju di depan tabut.” Saat itu tabut di kawal: siapa yang maju didepan tabut jangan kembali hingga ia terbunuh atau musuh melarikan diri darinya. Kemudian suami dari perempuan itu terbunuh, dan dua malaikat turun…[hal. 149].

Tidak semua penafsir sepakat bahwa ayat ini turun berkaitan dengan perzinaan David dan Batsyeba. Alasannya adalah Nabi tidak mungkin melakukan tindakan salah.:

    “عن سعيد بن المسيب أن علي بن أبي طالب كرم اللّه تعالى وجهه قال: «من حدثكم بحديث داود على ما يرويه القصّاص جلدته مائة و ستين(جلّدته مائة جلدة مضاعفا) و هو حد الفرية على الأنبياء»” (Tafsir al-Kabir, al-Razi, vol 26, p 379; Ruh al-Ma’ani, vol 12, p 178; Tafsir al-Muraghi, vol 23, p 111.)

    “روي عن أمير المؤمنين (ع) أنه قال لا أوتى برجل يزعم أن داود تزوج امرأة أوريا إلا جلدته حدين حدا للنبوة و حدا للإسلام” (Tafsir Majma’ al-Bayan, vol 8, p 736.) “لأنّ المزاعم المذكورة تتّهم من جهة إنسانا مؤمنا بارتكاب عمل محرّم، و من جهة اخرى تنتهك حرمة مقام النبوّة، و من هنا حكم الإمام بجلد من يفتري عليه عليه السّلام مرّتين (كلّ مرّة 80 سوطا)”(Tafsir Nemooneh, vol 19, p 257.)

    Terjemahannya kurang lebih:
    Ali bin Abi Talib: “Siapapun yang berkata bahwa David, telah mengawini Istri Uriah sebagaimana di narasikan legenda, Aku akan menghukumnya 2x: satu untuk qazf (salah menuduh orang lain berbuat zina) dan lainnya untuk memfitnah/menistakan kenabian”[Tafsir al-Kabir and Majma’ al-Bayan].

    Hadis lainnya dari ulama Shia berkata bahwa Ali Al-Ridha (765 – 818), Ketika melakukan diskusi tentang nabi tidak dapat berbuat salah dengan para ulama agama lain, satu diantara mereka bertanya, “Apa pendapatmu tentang David?” Ia berkata “David sedang berdoa, ketika seekor burung cantik muncul dihadapannya dan David meninggalkan doanya dan mengejar burung tersebut. Ketika ia sedang berjalan di atap di istananya, ia melihat Bathsheba sedang mandi… Kemudian david menempatkan suaminya di garis depan medan peperangan, agar mati, sehingga ia dapat mengawini Bathsheba.” Ali Al-Ridha marah dan berkata: “Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un, Engkau mengatakan doa nabi tidak khusyuk, dan menuduhnya bertindak tidak senonoh, dan menuduhnya membunuh pria tidak bersalah!” Ia bertanya “Jadi bagaimana kisah tentang Uriah?” dan Ali Al-Ridha berkata “Saat itu, perempuan yang suaminya telah wafat/terbunuh di peperangan, tidak dapat kawin lagi (dan ini menjadi sumber dari banyak kejahatan). David adalah orang pertama yang menghapuskan tradisi ini. Jadi setelah Uriah terbunuh tidak sengaja di peperangan, David mengawini istrinya, namun masyarakat sulit menerima perkawinan (dan oleh karenanya beberapa legenda dibuat atas perkawinan ini) [sumber: Wikipedia].

Argument Ali Al-Ridha yang berkata bahwa tradisi pada jaman itu, wanita menjanda yang ditinggal mati suami tidak dapat kawin lagi adalah tidak berdasar karena di kitab Rut (sebelum jaman David), memuat kisah tentang Rut, janda yang ditinggal mati suami dan kawin lagi dengan Boas.

Disamping itu,
Islam juga memberikan konfirmasi bahwa nabi DAPAT bertindak Zalim dan/atau berbuat dosa, sebagaimana Quran dan Hadis sampaikan:

    Quran:
    Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus,[AQ 48.1-2]

    Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. [AQ 47.19]

    Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.[AQ 40.55]

    Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling karena datang seorang buta kepadanya Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya atau dia mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada atasmu kalau dia tidak membersihkan diri Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera sedang ia takut kepada (Allah) maka kamu mengabaikannya [AQ 80.1-10]

    Hadis:
    Riwayat [Suwaid bin Sa’id – Hafsh (Ibnu Maisarah Ash Shan’ani) – Musa bin ‘Uqbah] dan [Umayyah bin Bistham – Yazid bin Zurai’ – Rauh (Ibnu Al Qasim) – Muhammad bin ‘Ajlan] dan [Zuhair bin Harb – Syababah – Warqa] – Abu Az Zinnad – Al A’raj – Abu Hurairah – Nabi SAW berkata:

    “Dahulu ada dua orang wanita yang sedang bermain bersama anak mereka masing-masing. Tiba-tiba datang seekor serigala yang menerkam dan membawa anak salah seorang dari mereka. Seorang dari mereka berkata, ‘sebenarnya yang dimangsa serigala adalah anakmu’. Wanita satunya menyangkal, ‘Tidak, yang dimangsa serigala adalah anakmu’.

    Akhirnya kedua wanita meminta keputusan Daud, namun Daud menetapkan bahwa anak yang masih hidup itu milik wanita yang usianya lebih tua.

    Kemudian keduanya pergi menemui Sulaiman bin Daud, lantas menceritakan apa yang terjadi, setelah mendengar, Sulaiman berkata, ‘Ambilkan aku pisau, aku akan membelah dan membagi dua anak ini untuk kalian berdua’. Tiba-tiba wanita yang lebih muda berkata, ‘Tidak, semoga Allah merahmati anda, berikanlah anak tersebut untuknya’. Maka Sulaiman pun menetapkan anak itu untuk wanita yang lebih muda umurnya.”..

    [Muslim no.3245, Bukhari no.6271, 3173 (Abu Al Yaman – Syu’aib – Abu Az Zanad – ‘Abdurrahman – Abu Hurairah – Rasulullah SAW). Ahmad no.7931. Nasai no.5307]

Kisah hadis tentang serigala yang memakan anak ini janggal, karena 2 wanita tersebut rupanya tidak memiliki tetangga lainnya, jika ada, tentunya tetangga mereka tahu pasti anak siapa yang dimangsa serigala. Juga, berapakah umur Sulaiman saat itu, karena saat itu, ia bukanlah raja dan malah dapat menganulir keputusan seorang Raja (Daud)… [↑]

Klaim ada Ratu Tahpanas dalam Inskripsi Mesir
Di jaman Daud,
Hadad muda, anak raja Edom yang kalah, melarikan diri dan menetap di Mesir, Hadad kawin dengan adik istri Firaun, Tahpanas dan punya anak bernama Genubat. Setelah wafatnya Daud, Hadad kembali ke Edom. [1 raja 11.4-22].

    Note:
    Dalam sejarah Mesir, tidak ada 1 Ratu mesir-pun bernama Tahpanas dan cilakanya, cocoklogi paksa pada inskripsi Mesir-pun sengaja dilakukan:

    “Apakah ada diantara ratu-ratu raja Amasis (note: Tahun dengan uji radiocarbon: 1557 SM), satu dengan nama `Tah-pen-es’?…kita temukan tercatat dan dibaca,`Tanethap, Tenthape’, atau mungkin, Tahpenes, nama sebuah kota di delta Nil..” [Ages in Chaos I: From the Exodus to Kind Akhnaton, Immanuel Velikovsky, hal.99 dan P. Clayton, Chronicle of the Pharaohs, hal.100]

Padahal, secara umum telah dinyatakan bahwa David hidup di kisaran tahun 1000an SM, cocoklogi paksa ini malah membuat Hadad kawin dengan adik seorang perempuan yang berusia lebih dari 500 tahunan? ataukah perlu dicocoklogi paksa lagi bahwa sekarang tahun kehidupan David adalah disekitar 1500an SM, juga???

Kacau sekali, bukan?! [↑]

Klaim Ada Nama Daud dalam Prasasti Tel Dan Stele, Obeliks Hitam dan Mesha
Prasasti Tel Dan,
merupakan pernyataan pengalaman pribadi Raja Aram saat itu. Link di atas jika dibuka, berisi hasil rekontruksi prasasti yang pecah dan dilakukan terjemahan bahasa Aram menurut versi Biran dan Navel:

Ayahku bertempur..Ayahku terbaring, pergi ke..nya.. HADAD menjadikanku.. dan membunuh (וקתל) ..ram bin A.., ..Yahu bin…

Hasil rekontruksi pada baris ke-8 dan ke-9 prasasti unyinya menjadi:
“וקתל[ת.אית.אחז]יהו.בר[.יהורם.מל]ך.ביתדוד, ‘..dan membunuh (וקתל) [..]Yahu (הו) anak (בר) Raja Yoram (יהורם.מלך, ditambahkan “יהורם.מל” pada sisa huruf yang utuh “ך”) keluarga David (ביתדוד)”.

Beberapa menganggap pernyataan di prasasti tersebut terkait kisah Hazael di Alkitab, jika pun benar, maka hasil rekontruksi ini menjadi tidak selaras Alkitab:

  • Raja Aram yang berperang dan kemudian berdamai yang hidup sejaman dengan Raja Ahab (Kerajaan Israel/Samaria) adalah BenHadad (1 Raja 20.1-2). Raja Aram, BenHadad ini dibunuh Hazael dan kemudian Hazel menjadi raja Aram (2 Raja 8.9,15). Hazael memerintah lebih dari 51 tahun. (Mulai menjadi raja Aram disekitar tahun ke-5 pemerintahan Raja Israel/Samaria, 2 Raja 18.7-16] dan wafat di jaman Yoas bin Yoahas)

    Pecahan Prasasti memberikan petunjuk bahwa: Hadad adalah ayah Hazael, Hadad wafat setelah atau karena pertempuran dan BUKAN karena dibunuh Hazael dan Hadad-lah yang menjadikan Hazael sebagai raja Aram

    Karena tampak bertentangan dengan alkitab, maka ada pula pendapat bahwa Hadad di prasasti ini bukan nama seorang raja tapi nama semacam Dewa yang disembah. 🙂

    Perlu kita ingat bahwa prasasti tersebut adalah pernyataan pengalaman pribadi Raja “Hazael” sementara kitab 1 raja dan 2 raja justru ditulis oleh penulis yang tidak dikenal/anonim.

  • Alkitab: Yoram bin Ahab (Raja Israel/Samaria) dan Ahazia bin Yoram bin Yosafat (raja Yehuda) dibunuh Yehu [2 Raja 9.24,27]. Yehu wafat tidak dibunuh oleh Hazael.

    Para ahli yang melakukan rekontruksi prasasti ini tentunya paham juga alkitab sehingga dalam merekontruksi, mereka pun menggunakan pengetahuan tentang silsilah raja-raja dari alkitab dan diaplikasikan dalam rekontruksi.

    Untuk itu,
    baris ke-8 direkontruksi menjadi “Yoram bin Ahab”. Namun cilakanya hasil rekontruksinya menjadi Yoram bin Ahab dibunuh oleh Hazael!

    kata “Yahu” di baris ke-8 dan kata “bytdwd” pada baris ke-9 direkontruksi dengan tambahan kata “ahazi” setelah “yahu/iahu”, agar menjadi “Ahaziahu” dan pada bagian prasasti yang pecah/hilang seluruhnya kecuali di 1 huruf di setelah kata “bin” ditambahkan 2 kata yaitu: “raja Yoram”, sehingga hasilnya menjadi “Ahaziahu bin raja Yoram dari keluarga David”. Hasil rekontruksi ini tetap saja bertentangan dengan alkitab karena raja Ahazia di alkitab juga dibunuh oleh Yahu bukan oleh Hazael.

    Apapun rekontruksinya, baik itu tetap sebagai Yahu ataupun berubah Ahaziahu, maka hasilnya akan tetap bertentangan dengan alkitab, karena alkitab menyatakan mereka tidak terbunuh Hazael dan juga keduanya bukanlah “keluarga David”.

      Yehu dikatakan sebagai Yehu bin Yosephat (bukan Yosephat yang menjadi raja) bin Nimsi (2 raja 9.2, 14) namun terkadang dituliskan bin Nimsi (1 Raja 19.16, 2 raja 9.20, 2 Taw 22.7). Tidak jelas darimana asal-usul Yehu. Pun jika ada pendapat bahwa Yehu diurapi menjadi raja oleh Nabi Yahudi, Elia (1 Raja 19.16), maka perlu diketahui bahwa Hazael, si orang kafir ini juga diurapi Elia menjadi raja Aram (1 Raja 19.15)!

      Ahazia adalah bin Ahab bin Omri. Sementara asal usul Omri sendiri tidak dikenal dan diperkirakan bahwa ia adalah seorang tentara asing yang disewa/tentara bayaran. Ketika Ela bin Baesa menjadi raja Israel, Ia punya dua panglima yaitu Zimri (panglima 1/2 pasukan kereta, 1 raja 16.9) dan Omri (1 raja 16.16). Raja Ela terbunuh oleh Zimri. Kemudian Zimri menjadi raja 7 hari dan mati terbakar dalam Istana (1 raja 16.15, 18) Saat kekacauan kudeta itu, rakyat Israel mengangkat Omri sebagai raja untuk melawan Zimri (1 raja 16.15)

    Jika hasil rekontruksi ini benar, maka Alkitab-lah yang keliru, bukan?

  • Frase: “ביתדוד, bytdwd” dituliskan di prasasti tanpa pemisah kata (“.”). Jika dengan pemisah kata harusnya tertulis “בית.דוד, byt.dwd”.

    Kedua,
    jika “bytdwd” harus diartikan sebagai keluarga David dan Alkitab telah menyampaikan bahwa keduanya bukanlah turunan David, maka adalah janggal jika raja Aram tidak tahu siapa lawannya hingga keliru menyatakan asal keluarganya sebagai “keluarga david”, bukan? atau jika harus tetap diartikan sebagai “keluarga david”, maka konsekuensinya Alkitab telah keliru membuat silsilah.

    Disamping itu,
    prasasti tersebut memang ditemukan dalam keadaan tidak utuh, ada banyak kata yang hilang sebelum sampai ke kata “bytdwd”.

    Dengan tidak adanya pemisah kata di kata “bytdwd”, maka ini seperti kata “ביתלחם, bytlhm”. Kata bytlhm tidaklah diterjemahkan sebagai “keluarga roti”. Alkitab tidak pernah memuat kisah ada seorang manusia bernama “roti” yang terkenal dan/atau berketurunan hingga turunannya (misalnya bernama x) disebut x dari keluarga roti :). Kata “bytlhm” ini bukanlah nama orang/keluarga namun sebuah nama tempat yaitu Bethlehem. Jadi “bytdvd” ini adalah juga nama sebuah tempat dimana yahu bin…berasal.

Terdapat hal menarik lain mengenai Yehu,
Di prasasti Obeliks hitam raja Shalmaneser, dituliskan bahwa Yehu berasal dari keluarga khumri:

upeti dari Iaua (Yehu) dari khumri, saya terima darinya perak, emas, mangkuk emas, vas emas dengan dasar runcing, gelas emas, ember emas, timah, batangan tombak untuk raja [dan] tombak” [lihat detail lainnya: Obeliks]

Prasasti ini adalah pengalaman pribadi raja Shalmaneser yang selaras dengan prasasti Mesha yaitu, jika kita ikuti anggapan umum bahwa kata “khumri” = “Omri”, maka yang membunuh turunan Ahab (termasuk Yoram dan Ahazi) adalah bukan Yehu seperti klaim Alkitab namun Hazael.

Lagi-lagi prasasti dari raja lainnya juga tidak mendukung Alkitab, tulisan penulis yang tidak dikenal/anonim.

Yang mengherankan,
David yang diklaim sebagai raja besar di Alkitab bahkan tidak sebanding Yehu yang keberadaaanya disebutkan negara-negara tetangganya pada sekurangnya di 2 Prasasti! Sementara David, malah tidak ada disebutkan sama sekali :(.

Prasasti Mesha
berisi 34 baris pernyataan raja Mesa dari Moab yang juga tidak memuat tentang “David” ataupun “Beth David” sebagaimana klaim paksa pada baris ke-12, ke-31-nya.

Silakan buka link di atas, yaitu pada hal.52,
Anda akan temukan 12 terjemahan Prasasti dari para penterjemah berbeda dan seluruhnya tidak ada kata “David”-nya. Penulis terjemahannya adalah: (1) Prof. Noeldeke, (2) Prof. Haug, (3) Dr. Geiger, (4) M.Ganneau, (5) M.Derenbourg, (6) Prof, Schlottman, (7) Prof. Kaempf, (8) Prof. Hitziq, (9) M.Neubauer, (10) Mr. Hayes, (11) Prof. Wright dan (12) Dr. Ginsburgh.

Ringkasan prasastinya adalah:

  • Raja Mesha, pemuja tuhan Chemosh, mewarisi tahta Moab, setelah ayahnya, chemoshyad dari Dibon telah memerintah lebih dari 30 tahun. Ketika itu, Raja Omri dan anak yang mewarisi tahtanya telah menjajah Moab selama 40 tahun. Atas berkat Chemosh, Mesha berhasil membangun Baal Meon, membebaskan Kirjathaim, Ataroth, yang telah lama diduduki kaum Gad dan yang dibangun raja Israel, Ia taklukan dan dipersembahkan pada Chemosh dan menempatkan kaum Siran dan Morach di sana
  • Chemosh menyeruhnya menaklukan Nebo memerangi Israel dan mulai senja hingga siang ia berhasil membunuh 7000 perajurit dan membawa perempuan dan budak dihadapan Asthar-Chemosh dan Ia bawa pula Altar Jehova dan persembahan dihadapan Chemosh. Area Jahaz dikuasai raja Israel ketika hendak memeranginya. Ia bawa 200 orang miskin dari Moab untuk menaklukan Jahaz dan Dibbon.
  • Mesha membangunan area Korcha: tembok-tembok dan gerbang untuk hutan dan kota, menara-menara, istana-istana, penjara untuk penjahat. Saat itu tidak ada tangki air di Korcha, ia perintah seluruh rakyat mempersiapkan tangki air, dan ia gali saluran air dengan menggunakan budak-budak Israel. Ia bangun Aeror, membangun jalan melintasi sungai Arnon, membangun kembali Beth Bamoth yang telah hancur, membangun Bezer yang dulu dihancurkan prajurit Dibon dan sekarang mereka setia padanya
  • Ia berkuasa dari mulai Bikran yang telah menjadi tanahnya, membangun area Beth Gamul, Beth Diblathaim, Beth Baal Meon yang dihuni oleh orang miskin dan juga Horonaim (kaum Edom); Ia diperintahkan Chemosh untuk menaklukannya…

Pernyataan pengalaman pribadi Raja Mesha ini juga bertentangan dengan Alkitab, di antaranya:

  • Prasasti: Raja Mesha menyatakan kerajaan Moab dijajah selama 40 tahun yaitu sejak pemerintahan Raja Omri sampai pada anaknya dan Raja Mesha mengaku dirinya berperang melawan anak raja Omri. Jadi hitungan 40 tahun ini adalah sampai Ahab menjadi Raja baru Israel/Samaria.

    VS

    Alkitab: Penulis anonim Alkitab menyatakan di 1 raja dan 2 raja bahwa pemberontakan kerajaan Moab terjadi pada jaman cucu raja Omri, setelah Ahab (anak Omri) wafat (2 Raja 3.5).

    [Pemeritahan Omri: 12 tahun (1 Raja 16.23) + Ahab bin Omri: 22 tahun (1 raja 16.29) + Ahazia bin Ahab: 2 tahun (1 raja 22.51) + Yoram bin Ahab: 12 tahun (2 Raja 3.1). Total Omri – AHAB = 34 tahun. Total Omri – Yoram = 48 tahun]

    Terdapat selisih tahun yang sangat besar antara versi Prasasti raja Mesha vs tulisan 1 raja dan 2 raja.

    Untuk mengakali ini,
    beberapa berdalih kata “turunan” adalah jamak (“sons”), sehingga seharusnya diterjemahkan: “turunan-turunan dari”. Namun, link di atas, yaitu hal.25, 39, 52 12 ahli bahasa moab menterjemahkannya sebagai orang ke-3 tunggal. Ini menunjukan Raja Mesha tau persis siapa yang dilawannya, yaitu anaknya raja Omri.

  • Penulis anonim kitab 1 raja menyampaikan bahwa Yosefat menjadi raja Yehuda adalah pada tahun ke-4 Raja Ahab menjadi Raja Israel/Samaria. Yosefat memerintah 25 tahun lamanya. Dimasa pemerintahan Yosefat, tidak ada raja di Edom, yang ada hanya kepala daerah (1 raja 22.41-47).

    Yoram bin Ahab menjadi raja Israel/Samaria mulai tahun ke-18 pemerintahan Yosefat (= tahun ke-22, Ahab: 2 raja 3.1-5). Pada tahun ke-5 Raja Israel, Yoram bin Ahab (= tahun ke-23, pemerintahan Yosefat). Yoram bin Yosefat menjadi Raja Yehuda dan pada jamannya, Edom memberontak dari Yehuda dengan mengangkat raja sendiri dan melepaskan diri dari Yehuda (2 raja 8.16-22).

    Ini menunjukan adalah benar Edom tidak memiliki raja hingga tahun ke-23 pemeritahan raja Yosefat (atau tahun ke-5 setelah kematian Ahab).

    Namun sebelum tahun kejadian itu,
    yaitu saat memerangi pemberontakan raja Mesha, Alkitab malah menulis terdapat 3 raja berjalan melintasi padang gurun Edom, yaitu: raja Yehuda (Yosefat), Yoram bin Ahab (raja baru Israel/Samaria) dan raja Edom (2 raja 3.6-9, 12)!

    Celakanya lagi,
    Seorang yang disebut sebagai Raja Edom (tidak disebutkan namanya) dan para prajuritnya malah tidak tahu letak sumber air gurun di daerah mereka sendiri! sehingga berakibat mereka semua kehausan 7 hari lamanya hingga perlu kuasa tuhan lewat nabi Elisa yang membuat esok harinya lembah itu tiba-tiba terdapat parit-parit dan air datang melimpahnya dari arah Edom 🙂 (2 Raja 3.9-20). Orang Moab ketika melihat air di depannya merah seperti darah dan berpikir pasukan 3 raja saling membunuh, mereka kemudian maju untuk menjarah namun dapat dipukul mundur dan mereka dikejar terus hingga ke kota-kota Moab, membunuhi orang Moab dan meruntuhkan kota-kota mereka. (2 raja 3.22-25). Raja Mesha membawa 700 prajuritnya menerobos ke jurusan raja Edom namun tidak berhasil. Barulah setelah Raja Mesha mengambil anak sulungnya yang akan menggantikannya menjadi raja dipersembahkan sebagai korban bakaran di atas pagar tembok maka Orang Israel menjadi gusar dan pulang ke negeri mereka.

    Hah?! Bagaimana mungkin tentara 3 kerajaan ini sedemikian mudahnya menarik pasukan hanya karena melihat raja Mesha membakar anaknya sendiri dan melupakan alasan utama mereka memerangi Moab, yaitu karena pemberontakan raja Mesha?

    VS

    Prasasti mencatat bahwa Raja Mesha membangun kota-kota yang dibebaskannya dari penjajah, membuat parit-parit untuk mendapatkan air! Setelah kota dibangun ia tempatkan orang-orang miskin di sana.

    Dengan tenaga 200 orang, Raja Mesha berhasil mengusir Raja Israel dari Jahaz, menaklukan Dibon dan juga Horonaim, kota kaum Edom!

    Tidak tercatat bahwa Raja Mesha perlu membakar anak sulungnya sendiri agar tentara penjajah mundur. para penjajah (Raja Israel) mundur adalah karena kalah berperang..

    Jika anda diharuskan memilih antara 2 kisah di atas, maka kisah mana yang anda percayai? Tentara lawan mundur karena kalah perang atau tentara lawan mundur karena melihat raja membakar anaknya sendiri?

  • Prasasti juga menyampaikan bahwa J@hova merupakan nama tuhan kaum Yahudi yang sebenarnya. Kitab kaum Yahudi, menyatakan sangat TERLARANG menyebutkan nama ini dan bahkan ada ancaman hukuman jika menyebutkan nama Tuhan secara sembarangan dan/atau orang biasa tidak boleh menyebutkan nama Tuhan Yahudi dengan sembarangan (Keluaran 20.7, Ulangan 5.11, juga di Mishnah: Sota 7.6, Sanhedrin 7.5).

    Tampaknya larangan itu tidak benar, karena nama yang tidak boleh sembarangan disebutkan ini, sudah dikenal luas di jaman itu, terbukti raja Mesha-pun menuliskannya di prasasti. Ini menunjukan bahwa seluruh larangan berkaitan dengan merahasiakan nama dan tidak boleh sembarangan menyebutkan adalah ditulis kitab-kitab setelahnya dan merupakan hasil mutasi yang mengada-ada.

    Prasasti juga menyampaikan bahwa J@hova, tuhan yang disembah kaum Yahudi itu diletakan pada sebuah wadah tertentu. Penempatan Tuhan yang diagungkan pada wadah tertentu tampaknya merupakan kebiasaan agama-agama di area tersebut, sehingga ketika sesembahan tersebut dirasakan tidak berguna dan dapat dibuang, maka pada wadah yang sama itu ditempatkan sesembahan baru yang dirasakan berguna.

    Cara inilah yang ditiru Muhammad ketika membebaskan kota Mekkah, ia menyingkirkan 360 sesembahan lain di kabah dan hanya menyisakan 1 sesembahan saja pada wadah tersebut.

      Di riwayatkan Abdullah bin Masud:
      Rasullullah SAW memasuki Mekkah (pada tahun penaklukan Mekkah) dan terdapat 360 berhala di sekitar Ka’bah. kemudian Ia mulai memukul mereka dengan tongkat di tangan dan berkata, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”(AQ 17.81) ‘”Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak akan mengulangi (AQ 34.49) [Bukhari 6.60.244]

Keberadaan raja Mesha dalam sejarah dunia sekurangnya tercantum dalam 2 prasasti, disamping prasasti Mesha, prasasti lainnya adalah inkripsi el-kerak,

“..[Aku Mesha, anak dari K]emosh-yat, raja Moab dari Dib[on]..”.

namun bukti temuan arkeologis keberadaan David yang konon raja besar ini, sama sekali TIDAK ADA di manapun kecuali dengan cocoklogi paksa semata. [↑]

Umur Sulaiman menjadi Raja

Alkitab menginformasikan beberapa orang menjadi raja ketika berusia kecil, diantaranya: Yoas: di usia 7 tahun [2 raja 11:21, 12:1], Yosia: di usia 8 tahun [2 Taw 34.1] dan Manasye: di usia 12 tahun [2 raja 21.1] namun herannya untuk urusan Sulaiman, alkitab tidak eksplisit menyampaikan berapa usia Sulaiman ketika menjadi raja menggantikan David,

    Demikianlah Daud bin Isai telah memerintah atas seluruh Israel. Ia memerintah atas orang Israel selama 40 tahun..Kemudian matilah ia pada waktu telah putih rambutnya, lanjut umurnya, penuh kekayaan dan kemuliaan, kemudian naik rajalah Sulaiman, anaknya, menggantikan dia. [1 Taw 29.27-29]

Namun demikian, terdapat beberapa petunjuk yang mengindikasikan bahwa usianya saat menjadi Raja adalah sekitar 12 tahunan dan saat di mahkotai itu ia sudah menikah.

    Saat David telah berusia 37.5 tahun (Di Usia 30 tahu menjadi raja di Hebron selama 7 tahun 6 bulan), Ia menuju Yerusalem merebut kota Sion, mendirikan istananya yang dibantu raja Hiram [2 sam 5.6-11, 1 taw 14.1]. Kemudian David memerangi orang Filistin (tidak diketahui berapa lama), ada urusan pemindahan Tabut Allah (lebih dari 3 bulan, 2 Sam 6.11) dan juga disibukkan lebih banyak pertempuran lainnya, yaitu dengan orang Moab, Raja Zoba, orang Aram dan orang Edom

      Umur anak Mefiboset, Mikha:
      Saat Saul dan Yonathan wafat dan David menjadi Raja di Hebron, Mefiboset baru berusia 5 tahun (2 Sam 4.4), Saat David baru menjadi raja Israel di Yerusalem, Mefiboset berusia 12 tahun 6 bulan. Bertahun-tahun kemudian, yaitu setelah pertempuran dengan orang Edom, Mefiboset bertemu David. Saat itu Mefiboset telah punya anak (ben) yang masih kecil (qatan) bernama Mikka. (2 Sam 9.12).

      Di 1 raja 3.7, Sulaiman menyebut dirinya Qatan (sangat muda) Na’ar (anak kecil) = anak kecil yang sangat muda [juga lihat: 1 taw 22.5, 29.1]. Jewish Encyclopedia menuliskan Sulaiman mulai memerintah di usia 12/13 tahun. Bar Mitzvah diadakan ketika anak mencapai usia 12 tahun (perempuan/bat) atau 13 tahunan (pria/bar) [1 Raja 2.2-3]

      Dengan perbandingan ini, cukup pantas dikatakan pertemuan David dan Mefiboset terjadi tidak kurang dari 12/13 tahun kemudian, sehingga saat itu usia David adalah 37.5 + (12/13) = 50an tahun.

    Sesudah itu terjadi pertempuran dengan Bani Amon. Setelah kekalahan Bani Amon dan saat pengepungan kota Raba, David berzina dengan Batsyeba. David meminta Yoab mengirim Uriah ke kota Raba dan Uria tewas di Sana, setelah itu David menyerbu dan merebut kota Raba,

      Tamar, adik perempuan Absalom diperkosa Amnon (2 Sam 13.1-39):
      Amnon dan Absalom keduanya adalah anak David yang lahir di Hebron. Amnon adalah anak sulung David, namun bisa jadi usia Amnon dan Absalon tidak berbeda jauh karena lahir dari Ibu yang berbeda.

      Tamar adalah adik perempuan kandung Absalom. Kelahiran Tamar disebutkan pada bagian anak-anak David yang lahir di Yerusalem. Saat Tamar diperkosa, Ia dikatakan sebagai gadis yang masih perawan (2 Sam 13.2,18). Seorang mulai disebut gadis perawan adalah setelah perayaan Bat Mitzvah, di usia ke-12.

      Kejadian Amnon memperkosa Tamar ada di setelah pertemuan David dengan Batsyeba, sehingga dapat dikatakan pertemuan antara David – Batsyeba terjadi sekurangnya setelah 12 tahun di Yerusalem. Maka Usia David saat bertemu Batsyeba adalah 50 tahun.

Dari perempuan bernama Batsyeba, David mempunyai 4 anak (Syamua/Simea, Sobab, Natan dan Sulaiman [2 Sam 5.14, 1 taw 3.5, 14.4) dan Anak hasil zina mereka wafat di hari ke-7.

Apakah anak perzinaan itu masuk dalam garis keturunan David atau tidak?

  • Jika memang masuk sebagai keturunan Daud-Batsyeba, maka Alkitab akan menyatakan mereka mempunyai 5 anak bukan 4 anak. Bukti terhadap ini dilandasi alasan bahwa anak hasil perzinaan tidak bernama/tidak diberi nama, Alasannya adalah di perjanjian baru disebutkan penamaan bayi baru dilakukan pada hari saat di sunat (Lukas 1.59).
  • Namun perjanjian lama Alkitab menyatakan Abraham menamai anaknya Ishak (dari Istrinya, Sara) saat baru lahir dan pada hari ke-8nya, Ishak di sunat (Kej 21.3-4). Sehingga ini memperkuat argumen bahwa anak perzinaan tidak bernama dan tidak masuk dalam garis ayah David.

Berapa tahun selisih jarak pertemuan David-Batsyeba dan kelahiran Sulaiman?

    Maka sekarang, ya TUHAN, Allahku, Engkaulah yang mengangkat hamba-Mu ini menjadi raja menggantikan Daud, ayahku, sekalipun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman. [1 Raja 3.7]

Dengan menggunakan ketentuan usia sapih menyusui 3 tahun (2 Mac 7:27; 2 Trw 31.16), dapat kita gunakan untuk membuat perkiraan jarak sampai Sulaiman terlahir:

  • Maksimum 9 tahunan kemudian (3 x 3 tahun) + menunggu Uriah tewas, sehingga saat Sulaiman lahir, David saat itu berusia 59 tahun dan keika David wafat (usia 70 tahun), maka Sulaiman berusia 11 tahunan.
  • Maksimum 6 tahunan kemudian (2 x 3 tahun), anak hasil Zina dan wafat di hari ke-7 + menunggu Uriah tewas, sehingga saat Sulaiman lahir, David saat itu berusia 57 tahun dan ketika David wafat (usia 70 tahun), maka Sulaiman berusia 13 tahunan.

Alkitab menyampaikan saat menjadi raja, Sulaiman sudah menikah:

    puteri-puteri Sion, keluarlah dan tengoklah raja Salomo dengan mahkota yang dikenakan kepadanya oleh ibunya pada hari pernikahannya, pada hari kesukaan hatinya.[Kidung Agung 3.11]

Keping terakhir ini membantu kita memastikan bahwa Saat Sulaiman menjadi raja, ia telah menikah dan berusia 12/13an tahun. [↑]

Klaim 4 nama firaun di Alkitab
Sulaiman bermaksud membunuh Yerobeam namun ia melarikan diri ke Mesir, kepada Sisak, raja Mesir dan tinggal di sana sampai wafatnya Sulaiman. [1 raja 11.40]. Sulaiman menjadi raja selama 40 tahun hingga wafatnya [2 taw 9.30], jadi Sulaiman wafat di usia 52/53 tahun. Ia digantikan anaknya, Rehabeam, yang berusia 41 tahun ketika menjadi raja [1 raja 14.21, 2 taw 12.13]. Ini menunjukan Sulaiman telah bersetubuh sebelum berusia 11/12 tahun.

Pada tahun ke-5 zaman raja Rehabeam menjadi raja Israel, Sisak, raja Mesir, menyerang Yerusalem dan merampas semua barang di rumah TUHAN dan rumah raja, termasuk perisai emas yang dibuat Sulaiman, sehingga Rehabeam mengantikanya dengan perisai tembaga [1 Raja 14.25-27]

Adakah nama Sisak dalam sejarah mesir?

Alkitab menyinggung keterlibatan sekian banyak firaun atau raja mesir dengan sejarah Israelnya, namun dari sekian banyak kata “firaun/raja mesir” yang muncul, hanya 4 nama firaun yang disampaikan, yaitu: Sisak (1 raja 11.40, 14.25, 2 taw 12.2), So (2 Raja 17.4), Nekho (2 raja 23.29,33-35, 2 taw 35.22, 36.4, Yer 46.2) dan Hofra (Yer 44.30).

Apakah nama mereka ini ada di catatan sejarah arkelogi Mesir?

Untuk Firaun So dan Tirhaka,
Alkitab mencatat bahwa Raja Ahas memerintah Yehuda selama 16 tahun [2 raja 16.2, yaitu mulai 744 SM (atau 732/731 SM) s.d 728 SM (atau 716/715 SM)]. Pada tahun ke-12 pemerintahan Raja Ahas, Hosea bin Ela menjadi raja Samaria 9 tahun lamanya. Pada tahun ke-15, Ahas memerintah bersama Hizkiah bin Ahas (tahun 729 SM atau 716 SM) dan setelah kematian Ahas, Hizkia menjadi Raja Yehuda 29 tahun lamanya (716 – 697 SM).

Tahun ke-15 pemerintahan Raja Ahas adalah tahun ke-3 Raja Hosea [2 Raja 18.1]

Raja Shalmaneser mengetahui bahwa Hosea mengirimkan utusan-utusan pada Firaun So, maka di tahun ke-4 Hizkia (tahun ke-7 Hosea), Shalmaneser mengepung Samaria 3 tahun lamanya dan Hosea jatuh di tahun ke-9 (2 Raja 17.4-6 atau tahun ke-6 Hizkia).

    Dalam sejarah,
    terdapat 5 nama Shalmaneser sebagai raja Assyria, yaitu: Shalmaneser I (1274 – 1245 SM /1265 – 1235 SM), Shalmaneser II (1031 – 1019 SM), Shalmaneser III (859 – 824 SM), Shalmaneser IV (783 – 773 SM) dan Shalmaneser V (727 – 722 SM, memerintah: 5 tahun).

    Setelah raja Shalmaneser V, maka raja Assyria berikutnya adalah Sargon II (722 – 705 SM, 17 tahun) dan kemudian raja Sanherib (705 – 681 SM)

    Sementara itu,
    Firaun yang tercatat dalam sejarah Mesir dikisaran tahun tersebut adalah Firaun dari Nubia: (AlaraKashta) – Firaun Piye (752–721 SM) – Firaun Shabaka (721–707/6) – Firaun Shebitku (707/706 – 690 SM) – Firaun Taharqa (690 – 664 SM).

Pada tahun ke-14 pemerintaha raja Yehuda, Hizkiah, terjadi penyerbuan terhadap Yehuda oleh raja Assyria yang baru, Sanherib. (2 Raja 18.13, Yesaya 36.1). Raja Hizkia mengirimkan utusan pada Raja kuwsh, Tirhaqa, (kuwsh sering diterjemahkan: Ethiophia atau Sudan atau Nubia di 2 Raja 19.9, Yesaya 37.9).

Apa yang aneh dengan kisah di atas ini?

  • Saat di tahun ke-14nya Jaman Hizkia harusnya BUKAN raja Sanherib, namun masih raja Sargon II.
  • TIDAK 1 (satu)-PUN ada nama So dalam inskripsi kalangan Mesir dan Syiria atau negeri manapun di sekitarnya yang mirip-mirip namanya agar dapat diplesetkan menjadi “So”.
  • Jika Firaun Piye diplesetkan paksa menjadi Firaun So dan Tirhaqa diplesetkan menjadi Taharqa, maka hasil plesetan ini membuat Hizkia sudah lama wafat sebelum bertemu Taharqa 🙂

Untuk Firaun Nekho,
Di bawah ini terdapat perbedaan jumlah tahun memerintah dari Rehabeam – Yosia terbunuh:

    Versi Alkitab: Dari masa Rehabeam (anak Sulaiman) mulai menjadi raja hingga Raja Yosia (memerintah 31 tahun) terbunuh Firaun Nekho adalah 371 tahun

    VS

    Firaun Shosheng I mulai memerintah (943 SM, dinasti ke-22 dan ini yang diduga sebagai Sisak dalam alkitab) hingga tahun ke-1 Firaun Nekho-Wehemibre (609 SM, dinasti ke-26 dan ini yang diduga sebagai Nekho dalam alkitab) adalah 334 tahun

Perbedaan jumlah tahun wajar saja terjadi karena para ahli sejarah saat melakukan perhitungan, mereka memaksakan diri percaya bahwa alkitab bukan dongeng dan menggunakannya dalam cocoklagi: Nekho dianggap sama dengan Nekau Wehemibre yang dikatakan melawan raja Asyria dan hidup sejaman dengan Nebudkadnezar (konon Mesir takluk pada Nebudkadnezar di tahun ke-4 raja Yoyakim: Yer 46.2 dan catatan Herodotus yang penuh pengaruh kisah-kisah alkitab)

    Buku-buku tentang Sejarah mesir menceritakan perluasan kisah perang Necho (ii) melawan Nebuchadnezzar, namun kisah ini kaya bahan muatan dari kitab suci. Aktivitas lainnya digambarkan berdasarkan bantuan informasi yang dikumpulkan Herodotus. Inskripsi mesir telah diselidiki tentang nama firaun Neco dan perangnya. Arkelog Mesir tidak dapat mendukung kisah perang panjang ini. Satu-satunya prasasti yang masih ada yang bernilai sejarah yang berhubungan dengan Firaun Nekho harusnya adalah prasasti Serapeum, yang mencatat penguburan dari Apis oleh Nekau – Wehemibre,….

    Historiography berisi relik monumental tunggal yang kaya dengan sejarah lampau Firaun Necho.

    Cukup aneh memang bahwa dalam sejarah Mesir tak ada catatan perang panjang antara Nekau Wehemibre dan Nebukadnezar, tak ada catatan tentang kegiatan sipil Nekau Wehemibre, tak ada tentang hukum yang terbit dizamannya, tak ada kuil yang dibangun olehnya yang telah tergali, tak ada gulungan tertulis, tak ada mumi atau tak ada peti mati. Menilai bahan Mesir ini, Ia pastinya pemimpin yang kurang prestasi. bagaimana mungkin ia bisa menjadi tandingan bagi Nebukadnezar selama hampir satu generasi? Bagaimana mungkin ia berhasil membuat raja-raja Palestina, Yoahas, Yoyakim dan Zedekia percaya akan mampu membebaskan Palestina dari penindasan raja terkuat babel yang pernah ada? [Ages in Chaos II: Ramses II and His Time, Immanuel Velikovsky, hal.13-14]. Juga lihat: Chapter 8: Necao & the Persian Wars Necao Wahemibre & Darius I, mulai hal 252

Prasasti yang ada ini tidak menuliskan rincian apapun tentang aktivitas Nekho -Wehemimbre, maka tidak benar ini adalah Nekho-nya alkitab. Rupanya “Para ahli” terlalu asik mencampurkan bahan dalam membuat rekayasa cocokloginya

Untuk Firaun Sisak.
Sisak di alkitab tidak menggunakan huruf “n”, sementara Shoshenk I yang kerap diklaim sebagai Sisak-nya Alkitab, punya “n” sebagaimana tertulis pada patung Shoshenk I dengan praenomen (nama lahir yang diberikan orang tua) dan Nomen (nama keluarga) sang raja dan pada prasasti Phonesia dari Raja Abibaal dari Byblos (Byblos adalah nama bahasa Yunani untuk Phonesia/Fenisia). Prasasti, ditemukan di Byblos, tertulis Sh-sh-nk, bukan Sh-sh-k. [P. Montet: Byblos et l’Egypte I, Paris, 1928)] dan Fragmen dari stela dari Megiddo bantalan cartouches dari Shoshenk I – ejaan Nomen sang raja juga Sh-sh-nk, termasuk huruf `n ‘. [The Excavation of Armageddon, CS Disher, 1929] [Lihat: Shoshenk and Shishak-A Case of Mistaken Identity?].

Ada alasan lainnya mengapa cocoklogi ini tidak manjur: Akitab menyampaikan bahwa kota Gezer dan Yerusalem digasak Sisak, namun 2 kota ini justru tidak tercantum dalam list di inskripsi raja Shoshenk I!

    ..namun tak ada konfirmasi dari sisi kaum Mesir, dan ketidakpastian kronologis, meski dalam batas yang cukup sempit, Cukup untuk membuat itu diragukan Firaun mana yang khususnya terkait. Juga identifikasi nama Tahpenes tak ada dalam hieroglif..Tak ada sebutan nama baik Gezer maupun Yerusalem yang menyertai adegan besar dari portal Bubastite. Nama-nama ini tersaji secara tradisi, kita kenali berhubungan dengan penaklukan Tuthmosis III, yang tertera dalam bentuk pahatan tawanan yaitu bentuk besar Firaun menghadap ke depan mempersembahkan pada ayahnya Amin-Re’..

    Dari 150 dan lebih nama tempat hanya sedikit yang menjelaskan rute penyisiran pada area sekitar bukit Samaria tanpa menjangkau pusat kerajaan Israel. Juga tak ada tanda sama sekali bahwa mereka pernah menyentuh Yehuda. Namun, terdapat beberapa indikasi serangan ke wilayah Edom. Sebuah keyakinan lama yang diterima bahwa ‘Ladang Abraham’ demikian dahulunya dibaca dalam daftar, sekarang ditolak (note: Alasan diantaranya: Tulisan pada inskripsinya sendiri adalah ‘ladang Abram’ bukan ‘ladang Abraham’, sementara kitab kejadian 17.5 telah menyatakan ada perubahan nama dari Abram menjadi Abraham, sehingga jika ini merujuk pada peninggalan, maka perubahan nama ini harusnya telah diketahui, kecuali jika hal ini merujuk pada hal sesuatu yang berbeda)…

    Bahwa keduanya yaitu Shoshenk dan penerusnya Osorkon I memperbaharui persahabatan Mesir sekuler dengan para pangeran Byblos konfirmasinya melalui keberadaan patung mereka di sana, mungkin hadiah yang dikirim orang-orang Firaun sendiri. [“Egypt: History – Dynasty XXII (Twenty-second Dynasty)“]

Kacau, bukan?! [↑]

Klaim Sulaiman menjadi Menantu Firaun
Sebelum pembangunan rumah tuhan dan istananya, Sulaiman telah menjadi menantu Firaun, raja Mesir, dan membawa putri Firaun ke kota Daud [1 Raja 3.1], –Sebab Firaun, raja Mesir, telah maju berperang dan merebut Gezer, lalu membakarnya dan membunuh orang-orang Kanaan yang diam di kota itu. Kemudian diberikannya kota itu sebagai hadiah kawin kepada anaknya, isteri Salomo, [1.Raja 9.16].

Jadi,
ketika Sulaiman beristrikan anaknya Firaun, usianya sekitar 12 tahunan.

Sulaiman membuat rumah Tuhan di tahun ke-4 [1 Raja 6.1, 2 Taw 3.2], rumah tuhan itu dibuat 7 tahunan dan selesai pada tahun ke-11 [1 Raja 6.38]. Kemudian, Sulaiman mendirikan istananya sendiri 13 tahun lamanya [1 Raja 7.1] termasuk di dalamnya ia mendirikan bangunan bagi anak Firaun yang diambil sebagai Istri olehnya [1 Raja 7.8]. Setelah lewat 20 tahun selesailah Sulaiman mendirikan kedua rumah itu, yakni rumah TUHAN dan istana raja. [1 Raja 9.10, 2 Taw 8.1].

Dan Sulaiman memindahkan anak Firaun dari kota Daud ke rumah yang didirikannya baginya, karena katanya: “Tidak boleh seorang isteriku tinggal dalam istana Daud, raja Israel, karena tempat-tempat yang telah dimasuki tabut TUHAN adalah kudus.”[1 Raja 9.24, 2 Taw 8.11]

Benarkah Klaim ada putri kekaisaran Mesir yang boleh dikawini orang asing?

Para putri kerajaan Mesir kuno, dari sejak sebelum dinasti ke-18 hingga hancurnya dinasti ke-26 Mesir oleh Persia, tidak ada yang dikawinkan dengan raja/pangeran asing manapun. Mesir menganggap bangsa asing tidak sepadan untuk mempersunting para putri Mesir.

    ..Perempuan kerajaan tidak akan pernah dinikahkan dengan para raja asing atau pangeran. (Hanya ada satu kasus dalam alkitab pada raja Sulaiman). Ada sebuah catatan tertulis bahwa Raja Babel mengirimkan seorang putri kerajaannya untuk Raja Amenhoptep III [1382 SM – 1344 SM, atau: 1391–1353/1388–1351 BC] untuk menikah dan Ia memohon agar seorang Putri kerajaan Mesir dikirim ke Babel untuk dinikahinya. Amenhoptep III menolak permintaan itu dan memberikan jawaban, “Bahwa sejak jaman dahulu tidak ada putri kerajaan Mesir untuk diberikan kepada siapa pun

    Putri kerajaan asing diterima menikah dengan Firaun tapi putri kerajaan Mesir tidak menikah dengan raja kerajaan asing atau pangerannya. Setiap putri kerajaan asing yang menikah dengan Firaun datang dengan membawa banyak mahar dan pembantu, ia menetap di istana dengan mengambil nama Mesir dan menjadi istri kecil (minor), meskipun Ramesses II [1279 SM – 1213 SM] menganugerahi gelar “Istri Besar” kepada putri kerajaan Het yang bernama Maatneferure.

    Perlu diketahui bahwa ia saat itu memiliki dua istri Mesir yang bergelar “Istri Besar” jadi ini bukanlah tradisi biasa. Para perempuan lain dengan derajat kelahiran kurang mulia digelari “Selir.” Anak-anak para istri status rendahan menjadi penting hanya jika “Istri Besar” tidak punya anak untuk menjadi penerus sang ayah. Itu adalah kasus pada Thutmoses III [1504 SM – 1450 SM], penerus Hatshepsut [1473 SM -1458 SM]. Ibunya adalah istri kecil dan anaknya mewarisi tahta Mesir. Ini memberinya gelar “Ibu dari Firaun” dan tidak mengubah fakta bahwa Hatshepsut adalah “Istri Tuhan” dari Thutmoses II (1518 SM – 1504 SM). [Women in Ancient Egpyt, 2 Desember 2004]

Para putri kekaisaran Mesir, tampaknya merupakan bunga rampai impian sebagai wujud “kekuasaan sesungguhnya” yang kerap dituliskan para penulis dari para penguasa asing dalam dongengannya..

Diseputaran dinasti ke-18.
Urutan raja-raja terakhir dinasti ke-18 Mesir setelah Amenhotep III memerintah 39 tahun yaitu raja Ankhenaten (Amenhotep/Amenophis IV) yang naik tahta karena kakaknya (Tuthmose/Tuthmosis), pangeran yang ditunjuk meneruskan tahta, meninggal. Raja Ankhenaten memerintah 17 tahun (1352-1336 SM), istri utamanya ratu Nefertiti (anak Penasehat Ay), anak dari Ankhenaten-Selirnya/anak perempuan Amenhotep III/Tiye adalah Tutankhaten/Tutankhamun. Perdana mentri muda Raja Ankhenaten: Ay (penasehat raja Tut yang kemudian menjadi raja selama 3 tahun setelah Tutankhaten wafat) dan Panglima militernya: Horemheb (menjadi raja selama 14 tahun setelah Ay wafat. Istri Horemheb: Ratu Mutnodjme, saudari Nefertiti, anak dari Ay). Di bulan ke-7, tahun ke-5 pemerintahan Amenhotep IV, Ia ganti namanya menjadi Akhenaten dan di hari ke-13, bulan ke-8, tahun ke-5 pemerintahannya, Ia hadir di lokasi kota baru, Akhetaten/Amarna [“Akhenaten: King of Egypt”, Cyril Aldred, 1991, hal.259–68]. Raja Ankhenaten murtad dari agama lama Mesir (memuja Amun-Ra) menjadi pemuja Aten-Ra, Raja ini pencipta monoteisme Aton (lihat kemiripannya dengan Adonai). Raja Akhenaten adalah sosok penting untuk diketahui karena Raja inilah yang oleh para penulis dongeng Ibrani, diubah menjadi sosok Musa, tokoh fiktif kaum Ibrani, dijadikan Nabi setelah melakukan kisah fiktif eksodus.

Setelah Firaun Ankhenaten wafat,
Semenkhkare menggantikannya menjadi raja selama 1 tahun (1335-1334) dan kemudian digantikan oleh seorang Firaun perempuan: Neferneferuaten yang memerintah selama 2 tahun (1334–1332).

Setelah mereka berdua wafat,
Tutankhaten menjadi raja selama 9/10 tahun (1332–1323, Istri: Ratu Ankhesenamun, nama lahir: Ankhesenpaaten, lebih tua dari suaminya). Raja Tut, mengembalikan agama kerajaan menjadi pemuja Amun-ra, mengubah nama dirinya dan istrinya. Ia wafat di tahun ke-9 pemerintahannya dan menurut Penelitian tahun 2010-2013 dugaan penyebab kematiannya antara: infeksi kaki kiri dan/atau malaria. Ratu Ankhesenamun ditinggal wafat tanpa punya anak. (di peti mati raja Tut, ditemukan mumi 2 janin yang diduga merupakan anak mereka).

Setelah Firaun Tutanhamun wafat,
Ay menjadi raja selama 4 tahun (1323–1319/1327–1323, Ia mengawini mantan Istri Tutankhamun: Ankhesenamun).

Setelah Firaun Ay wafat,
Tahta terakhir dinasti ke-18, seharusnya jatuh pada Nakhtmin (Anak Ay), namun ia wafat di jaman Ay sehingga Firaun terakhir dinasti ke-18 adalah HoremHeb yang memerintah selama 14 tahun (1323-1295, Janda Ay, Ankhesenamun menolak untuk dikawininya).

Sejak pemerintahan raja Ankhenaten,
Mesir telah dikelilingi banyak musuh kuat diantaranya kekaisaran Heb yang rajanya bernama raja Suppiluliuma I (1344 – 1322 SM). Surat menyurat hubungan raja Heb dan Ankhenaten tercatat dalam Tablet Amarna (Surat menyurat dengan bangsa asing Masa: Amenhotep III s.d Akhenaten). Raja Suppiluliuma I tewas akibat terkena wabah penyakit

Namun,
kisah kematian raja Heb, Suppiluliuma I yang terkait klaim adanya Ratu Mesir yang meminang putra Suppiluliuma, untuk dijadikan raja Mesir, hanya ada di catatan kerajan Heb, jaman Mursilli II (Anak lainnya dari raja Suppiluliuma):

    Ketika ayahku (Suppiluliuma) berada di Karkemish, Ia mengirim Lupakkish dan Teshub – Zalmash ke area Amqa…mereka membawa kembali untuk ayahku tawanan dan sejumlah hewan ternak. Ketika Orang Misra (Mesir) tahu tentang kehancuran Amqa, mereka takut, jika keadaan ini makin memburuk bagi mereka, Nibhururia [Raja Mesir] baru saja wafat dan Dakhamunzu (istri raja) mengirimkan utusan pada ayahku dan menulis surat: “Suamiku telah wafat dan aku tidak punya putra. Orang mengatakan Kau punya banyak putra. Jika Kau mengirimkan salah satu putra Anda padaku, dia akan menjadi suamiku karena menjijikkan bagiku untuk mengawini bawahanku”..

    Ayahku, bersama dengan dewan besar, berkata: “Sejak jaman dahulu hal seperti itu belum pernah terjadi”.

    Ia memutuskan untuk mengirim Hattu-Zittish, kepala rumah tangga untuk menyelidiki, “Mungkin mereka memiliki seorang pangeran, atau mencoba menipuku dan tidak benar-benar menginginkan salah satu anakku memerintah atas mereka”.

    Ratu Mesir menjawab surat: “Mengapa kau katakan ‘Mereka mencoba untuk menipuku?’ Jika Aku memiliki seorang putra, mengapa Aku harus menulis surat ke luar negeri yang memalukan untukku dan negaraku seperti ini? Kau tidak mempercayaiku yang berkata, “suamiku sudah mati dan aku tidak punya anak. Haruskah aku mengambil salah satu hambaku dan menjadikannya suami? Aku menulis kepada negara lain, aku menulis kepadamu. Mereka mengatakan bahwa Kau memiliki banyak anak. Beri aku salah satu putramu dan dia akan menjadi suamiku dan tuan dari tanah Mesir”.

    Karena ayahku murah hati, ia mengabulkan permintaan wanita itu dan memutuskan untuk mengirim anaknya, pangeran Zannanza.

Pangeran ini wafat saat perjalanan ke Mesir. Ay saat itu telah menikahi Ankhesenamun, menduduki tahta Mesir dan Ankhesenamun wafat tak lama sesudahnya.

Catatan kekaisaran Heb berlanjut dengan menyatakan bahwa Raja Suppiluliuma menuduh Mesir bertanggungjawab atas kematian anaknya dan disampaikan surat kemarahan Suppiluliuma kepada Firaun Mesir saat itu yang berlanjut dengan pengiriman pasukan ke area jajahan Mesir di Kanaan dan Syiria Utara yang menangkap banyak tawanan dan ternyata para tawanan itu terkena wabah yang mengakibatkan kematian Suppiluliuma I dan anaknya Arnuwanda II.

Apakah klaim ini ada dalam catatan kaum Mesir?

Klaim kaum Heb ini, tidak ada dalam catatan Mesir manapun bahkan dinasti ke-18 Mesir ini baik-baik saja dan menikmati kelangsungannya hingga 18 tahunan lamanya hingga kemudian berganti menjadi dinasti ke-19 Mesir yang jauh lebih kuat lagi dari sebelumnya!

Diseputaran dinasti ke-26.
Berikut sekilas silsilah dari kerajaan Persia di kisah ini: Cirus 1 (652 – 600 SM) -> Cambyses I (600 – 559 SM) -> Koresh Yang Agung (559 – 530 SM)-> Cambyses II (530 – 522 SM). Terdapat 3 versi cerita yang dikisahkan Herodotos:

  • Versi Persia: Suatu ketika raja Persia, Koresh Yang Agung, sakit mata, dan Mesir saat itu terkenal dengan ilmu pengobatannya sehingga Ia meminta raja Mesir, Amasis (570 – 526 SM) untuk mengirimkan dokter paling hebat mereka ke Persia. Dokter yang dikirim rupanya tidak suka meninggalkan keluarganya ke Persia. Hingga kematian Koresh yang agung, dokter itu masih di Persia. Dokter ini kemudian menyusun rencana untuk membalas Amasis, Ia kemudian memberikan saran pada raja Cambyses II, agar Amasis mengirim putrinya untuk dikawinkan dengan Cambyses II.

    Jika Amasis menerima, Ia akan merasakan pisah dengan keluarga seperti yang dirasakannya sekarang. Jika Amasis menolak, ini akan menjadikan Raja Cambyses II sebagai musuhnya, apapun pilihan Amasis adalah cukup bagi sang dokter.

    Cambyses II segera mengirim utusan kepada Amasis dan membuat raja Mesir berada pada situasi sulit yaitu tidak ingin bermusuhan namun juga takut jika mengirim putrinya. Kemudian Ia mengakalinya dengan mengirimkan putri mantan raja sebelumnya, Apris (589-570 SM), yang bernama Nitetis sebagai ganti putrinya. Nitetis didandani dengan baik dan disampaikan agar mengaku sebagai putri Amasis. Nitetis tidak ingin membantu Amasis, karena kerajaan ayahnya direbut oleh Amasis, maka ketika kemudian raja Cambyses II menyambutnya dan memanggilnya putri raja Amasis, Nitetis membuka jati dirinya. Hal ini membuat Cambyses II marah dan menyerbu Mesir setelah Amasis wafat.

  • Versi Mesir, namun menurut Herodotus, versi ini palsu:
    Bukan Cambyses II yang meminta namun raja Koresh yang Agung yang meminta agar Amasis mengirimkan putrinya. Amasis mengirimkan Nitetis yang kemudian menikah dengan Koresh dan melahirkan Cambyses II. Kelak Cambyses II menyerbu Mesir untuk mengklaim warisannya.
  • Versi ke-3 juga disampaikan Herodotus dan versi inipun tidak dipercayai Herodotus sendiri:
    Cambyses II adalah anak Koresh yang agung dari perkawinannya dengan Cassadane, sedangkan Nitetis adalah gundik raja Koresh. Seorang wanita mengunjungi Cassadane dan memuji Cambayses II yang saat itu berusia 10 tahun. Ibu Cambyses secara terbuka menyampaikan bahwa Koresh menghina dirinya dan mengagungkan gundiknya di depan Cambyses II dan anak ini kemudian berjanji saat besar nanti, Ia akan membuat Mesir porak poranda
  • [Herodotus, The Histories 3.1.3]

Tiga kisah di atas ini dibumbui keterlibatan seorang perempuan, bernama Nitetis sebagai alasan Persia menyerbu Mesir.

Kelemahan mencolok pada kisah ke-1, versi Persia, yang dipercaya Herodotus justru pada umur Nitetis!

Apris digulingkan Amasis pada tahun 570 SM, Ia kabur meninggalkan Mesir dan tewas 3 tahun kemudian (tahun 567 SM) dalam upayanya merebut kembali tahta. Sementara itu, penyerbuan bangsa Persia ke Mesir terjadi setelah Amaris wafat (526 SM), yaitu 1 tahunan setelahnya (525 SM). Jarak tahun antara kematian Apris vs penyerbuan Persia, membuat umur Nitetis saat itu, sekurangnya 41 tahun! (itupun jika Nitetis lahir dimenjelang kematian ayahnya, dan akan jauh lebih tua lagi jika ia lahir di sebelum penggulingan!)

Masa iya, Amasis mengirimkan perempuan berusia lebih dari 41 tahun sebagai istri Cambyses II?

Disamping itu,
Chedebnitjerbone II, satu dari anak Apris merupakan Istri Amasis dan juga penguburan Apris diselenggarakan dengan baik oleh Amasis, sehingga terlalu berlebihan jika unsur balas dendam menjadi alasan penyerbuan ini. Malah, “The British Museum: Dictionary of Ancient Egypt“, Ian Shaw dan Paul Nicholson”, hal.36 menyampaikan, “Herodotus mengklaim bahwa istri Aparis adalah Nitetis, tidak ada referensi kontemporer menyebutkan namanya”.

Padahal ada alasan sederhana mengapa penyerbuan Persia ke Mesir pasti akan terjadi tanpa dibumbui keterlibatan seorang perempuan bernama Nitetis.

Apa itu?

Dalam banyak tahun, Koresh yang agung bergiat menaklukan banyak wilayah namun sampai sejauh itu, ia belum berani terang-terangan mengganggu Mesir yang tengah beraliansi dengan Yunani. Koresh hanya bergiat pada penaklukannya di wilayah lain hingga kemudian ia menemui batunya ketika menyerbu bangsa Hun (Massagetae) yang dipimpin ratunya, Ratu Tomyris. Di pertempuran ke-2, yang merupakan pertempuran tersengit melawan bangsa Hun, Koresh yang agung tewas (530 SM).

    “Tomyris, ketika Ia temukan bahwa Koresh tak memedulikan sarannya, Ia kumpulkan semua kekuatan kerajaan, dan memberinya pertempuran. Dari semua pertempuran di mana orang-orang barbar terlibat, saya rasa ini yang paling sengit..Pertama, dua tentara berdiri terpisah dan saling menembakkan panah mereka, Setelah kantong panah kosong, dalam jarak dekat mereka bertempur dengan tombak dan belati ditangan; Mereka bertempur dalam waktu yang panjang, tidak memilih menyerah. Pada akhirnya Kaum Massagetae menang, sebagian besar tentara Persia hancur dan Koresh sendiri tewas, setelah memerintah 29 tahun. Pencarian tubuh Koresh dilakukan atas perintah Ratu dan ketika ditemukan, Ia ambil kulit dan mengisinya penuh dengan darah, ia celupkan kepala Cyrus, Ia hinakan mayatnya dan berkata, “Aku hidup dan telah taklukkan kau dalam pertempuran, namun karenamu aku pun hancur, karena kau ambil anakku dengan tipu daya; tapi aku telah peringati kau, hausmu akan darah aku beri kau darahmu”. Dari sekian banyak catatan tentang Koresh, ini yang tampaknya paling layak [“The Histories”, Herodotus, I.214]

Tahta Persia kemudian berlanjut ditangan Cambyses II. Selama 4 tahun pemerintahan Cambyses II, Persia belum berani mengganggu Mesir, hanya setelah Amasis wafat dan mereka mampu memecahkan aliansi mesir dan Yunani, yang menyebabkan Yunani berbalik bersekutu dengan Persia-lah, mereka menyerang Mesir dan dilanjutkan terus ke Selatan, yaitu Nubia dan area lainnya.

Jadi, penyerbuan ke Mesir adalah mutlak pada motif perluasan kekuasaan dan bukan urusan perempuan.

Sehingga, dari sebelum Dinasti ke-18 bahkan sampai runtuhnya Mesir pada dinasti ke-26 pun, tak satupun putri mesir dibiarkan menikahi raja/pangeran asing. [↑]

Klaim Sulaiman membangunan Rumah Tuhan (Baitul Maqdis) dan Istananya
Perjanjian lama menyajikan informasi pembangunan rumah tuhan yang LUAR BIASA BESARNYA, yang berlokasi di Yerusalem di Gunung Moria [2 Taw 3.1]. Bahan-bahan pembuatan rumah tuhan disiapkan Raja Daud, pembangunannya dilakukan di jaman Sulaiman, yaitu mulai tahun ke-4 hingga selesai di tahun ke-11:

    Daud menyuruh mengumpulkan ORANG-ORANG ASING YANG ADA DI NEGERI ORANG ISRAEL, lalu ditempatkannya TUKANG-TUKANG untuk MEMAHAT batu yang akan dipakai untuk mendirikan rumah Allah. Selanjutnya Daud menyediakan SANGAT BANYAK: BESI untuk paku-paku bagi daun pintu gerbang dan bagi tupai-tupai + TEMBAGA yang tidak tertimbang beratnya + KAYU ARAS yang tidak terbilang banyaknya (dari orang Sidon dan orang Tirus). Karena pikir Daud: “Salomo, anakku, masih kecil [Na’ar = anak kecil, lihat: 1 taw 22.5,29.1 dan 1 raja 3.7: qatan (sangat muda) na’ar (anak kecil)] dan kurang berpengalaman, dan rumah yang harus didirikannya bagi TUHAN haruslah LUAR BIASA BESARNYA sehingga menjadi kenamaan dan termasyhur di segala negeri; sebab itu baiklah aku mengadakan persediaan baginya!” Lalu Daud membuat sangat banyak persediaan SEBELUM IA MATI. [1 Taw 22.3-5]

    ..aku telah menyediakan untuk rumah TUHAN itu 100.000 talenta emas + 1.000.000 talenta perak + sangat banyak tembaga dan besi, sehingga beratnya tidak tertimbang + kayu dan batu. [1 taw 22.14]

Islam juga menyatakan bahwa Bayt Al Maqdis/rumah suci (atau juga disebut Masjid Al Aqsa/Masjid terjauh) dibangun oleh Sulaiman:

    Al Wasiti dan Ibn Al-Muragga:
    Peletakan dasar Bayt Al-Maqdis dilakukan oleh Daud dan Pembangunannya sampai tuntas oleh Sulaiman [“The Ḥaram of Jerusalem, 324-1099: Temple, Friday Mosque, Area of Spiritual Power“, Andreas Kaplony, hal 231-233, catatan kaki no.3. Di hal 391, Kaplony mengatakan daud membangun fondasi (asas) Mesjid terjauh].

    Riwayat ‘Amr bin Manshur – Abu Mushar – Sa’id bin ‘Abdul ‘Aziz – Rabi’ah bin Yazid – Abu Idris Al-Khaulani – Ibnu Ad-Dailami dari ‘Abdullah bin ‘Amr – Rasulullah SAW:
    “Sulaiman bin Daud AS ketika membangun Baitul Maqdis meminta kepada Allah Azza wa Jalla tiga hal:..”

    [Nasa’i no. 686, juga di Ibn Majjah no.1398, “Ubaidullah Ibnul Jahm Al Anmathi – Ayyub bin Suwaid – Abu Zur’ah As Saibani Yahya bin Abu Amru – Abdullah bin Ad Daili – Abdullah bin Amru – Nabi SAW: “Ketika Sulaiman bin Dawud selesai membangun Baitul Maqdis ia meminta Allah tiga hal”]

Kemudian,
Muhammad menyatakan bahwa Mesjid Aqsa dibangun 40 tahun lebih belakangan dari Masjidil Haram.

    Riwayat Al A’masy – Ibrahim at-Taymiy – bapaknya – Abu Dzarr: Aku bertanya pada Rasulullah SAW, masjid apakah yang pertama di bangun di muka bumi ini?”. Beliau menjawab: “al-Masjidil Haram” (Mekah). aku tanya lagi; “Kemudian apa?”. Beliau menjawab: “al-Masjidil Aqsa” (Yerusalem). Aku bertanya lagi; “Berapa lama selang waktu antara keduanya?”. Beliau menjawab: “40 tahun“.. [Bukhari no.3115/4.55585, no.3172/4.55.636. Muslim no.808, no.809]

..dan ketika Muhammad pergi Isra ke masjid Aqsa (Bayt Al-Maqdis), bangunan MESJID itu MASIH ADA.

Problemnya,
sejarah telah menjadi saksi bahkan hingga wafatnya Muhammad, Mesjidil Aqsa masih BELUM ADA. Konon bangsa Romawi yang menghancurkan kuil di 70 Masehi, sejak saat itu, tidak ada kuil, gereja apalagi masjid di tempat itu. Saat Umar bin Khatab menaklukan Jerusalem di tahun 638 M, tidak ada 1 (satu)-pun mesjid di sana dan Ia menjadi orang pertama yang shalat di sebuah tempat yang Ka’b al-Ahbar perkirakan sebagai bait Sulaiman:

    Saat Umar Shalat pun tidak di dalam bangunan namun diruang terbuka, sebagaimana disampaikan hadis dari riwayat Aswad Bin ‘Amir – Hammad Bin Salamah – Abu Sinan – [Ubaid Bin Adam dan Abu Maryam dan Abu Syu’aib] bahwa ketika Umar Bin Khaththab di Jabiyah, dia menyebutkan pembebasan kota Baitul Maqdis. Aswad – Abu Salamah – Abu Sinan – ‘Ubaid Bin Adam:

    aku mendengar Umar Bin Al Khaththab bertanya kepada Ka’ab; “Di mana menurutmu aku melaksanakan shalat (صَلِّيَ)?” Ka’ab menjawab; “Jika kamu menerima pendapatku shalatlah kamu di belakang batu besar, maka Al Quds semuanya akan berada di hadapanmu, ” Umar berkata; “Kamu menyerupai orang-orang Yahudi, tidak, akan tetapi aku akan shalat seperti Rasulullah SAW.” Dia maju dan menghadap ke arah Qiblat dan melaksanakan shalat, dia bentangkan selendangnya dan menyapu dengan selendangnya, kemudian orang-orang pun mengikuti menyapu juga

    [Musnad Ahmad no.252 atau I/268-269 no. 261, tahqiq Ahmad Syakir, dan beliau berkata, “Isnadnya hasan..”. Juga lihat di “The History of al-Tabari”. Vol. 12, hal.194-195].

    Ibn Taymiyya:
    Sehubungan dengan batunya, tidak satupun baik itu Umar maupun para sahabat shalat di situ dan tidak ada kubah di atasnya pada jaman Khulafa’ al-Rashidin. Tanpa ada atapnya selama masa Khilafah Umar, Uthmaan, Ali, Muʿawiyah, Yazid dan Marwaan. Namun sampai pada masa pemerintahan anaknya, Abdul Malik Al-Sham, dan terdapat peristiwa fitnah antara dia dan Ibnu Al-Zubair, Masyarakat melakukan haji dan bergabung dengan Ibn Al-Zubair [yang menguasai kota mekah saat itu], Abdul Malik ingin mengalihkan perhatian publik dari Ibn Al-Zubair, Maka ia bangun kubah di atas batunya dan menutupnya di musim dingin dan panas dengan tujuan mengarahkan masyarakat agar datang ke Jerusalem (untuk berhaji), dan menahan mereka dari bergabung dengan Ibnu Al-Zubair. [Majmoo’a al-Rasaa’il al-Kubraa 2/61: Ziyaarah Bait al-Maqdis atau lihat: Taqi al-Din Ibn Taimiyah]

    Batu pada dome of rock (Qubbat (kubah) As-Sakhrah (batu), “kubah di atas batu”) adalah batu yang berbeda dengan batu Yakub yang disebutkan Alkitab: “..Ia mengambil sebuah batu yang terletak di tempat itu dan dipakainya sebagai alas kepala, lalu membaringkan dirinya di tempat itu..Keesokan harinya pagi-pagi Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi tugu dan menuang minyak ke atasnya. Ia menamai tempat itu Betel; dahulu nama kota itu Lus.” [Kej 28.11, 18-19, lokasi tempat itu ada diantara Batsyeba dan Haran (Kej 28.10-11), Baryeba – Yerusalem: 74 Km. Yerusalem – Haran: 890 Km]

Masjidil Al Aqsa dibangun di atas (tempat yang diperkirakan sebagai) Temple Mount di akhir abad 7 (“The Concise Encyclopedia of Islam”, Harper & Row, 1989, halaman 46-102) dan mesjid itu tidak dibangun oleh Umar bin Khattab. Lantas siapa yang membangunnya? dan apakah Mesjid ini yang disebutkan di AQ 17.1?

Berikut beberapa sebab mengapa mesjid Al Aqsa di Jerusalem bukan mesjid yang dibangun Umar dan bukan pula mesjid yang dimaksudkan dalam AQ 17.1:

  • Menurut Quran, Syria/Damaskus itu dekat ketika menyatakan bangsa Romawi dikalahkan di negeri terdekat (AQ 30.3: fii adnaa al-ardhi, yang merujuk pada Syria) sementara Al Aqsa berarti “terjauh”, (AQ 17.1: almasjidi al-aqshaa = Mesjid terjauh), karena Syria (Damaskus) lebih jauh lagi dari Jerusalem, maka menyatakan Al Aqsa ada di Jerusalem adalah keliru.
  • Pendapat-pendapat ada yang mengatakan bahwa Mesjid dibangun oleh Khalifah Abdul Malik, ada pula yang mengatakan anaknya Al-Walid yang membangun ke-2 nya dan bahkan Al Walid sendiri yang memberikan nama Al-Aqsa pada mesjidnya tersebut. Pastinya pembangunan Mesjid Al Aqsa baru terjadi PULUHAN tahun setelah Umar shalat di tanah terbuka. Gempa yang terjadi di tahun 746 M menghancurkan seluruh masjid ini namun pada 754 M dibangun kembali oleh khalifah Abbasiyah Al-Mansur dan di tahun 780 M mesjid ini diperluas lagi oleh penggantinya, Al-Mahdi. Gempa tahun yang terjadi di tahun 1033 M menghancurkan sebagian besar mesjid ini namun dua tahun kemudian, khalifah Fatimiyyah Ali Azh-Zhahir, membangunnya kembali dan tetap berdiri hingga kini. [Detail lainnya lihat: “Medieval Jerusalem and Islamic Worship: Holy Places, Ceremonies, Pilgrimage”, Oleh Amikam Elad, mulai hal.23 dan “The Muslim Claim to Jerusalem“, Daniel Pipe].

    Islamweb: “Memory of Arson at Al-Aqsa Mosque” menjelaskan bahwa yang membangun Al Aqsa bukanlah Umar: “..Masjid Al-Aqsa dibangun oleh khalifah Umayyah Al-Waleed bin ‘Abdul Malik antara 90 dan 96 AH (709-714 M), yang dibuktikan dengan dokumen papirus yang berisi korespondensi antara gubernur Umayyah Mesir, Qurrah ibn Shareek (90-96 AH / 709-714 M) dan salah satu penguasa Mesir bagian atas. Korespondensi ini termasuk daftar nama-nama pekerja yang berpartisipasi membangun mesjid Al Aqsa, yang menegaskan bahwa itu dibangun oleh Khalifah Al-Walid bin ‘Abdul-Malik..” [Lihat juga: “Medieval Jerusalem and Islamic Worship: Holy Places, Ceremonies, Pilgrimage”, Amikam Elad, hal.26, hal.37].

    Fakhr Al-Din Al-Razi: “Masjid Al Aqsa pertama kali dibangun di Jerusalem di jaman Abd Al-Malik [685-705] atau Al-Walid [705-715], yang diidentifikasikan dengan AQ 17.1, tidak ada di jaman kunjungan Nabi Muhammad”. [“Moses in the Qur’an and Islamic Exegesis”, Brannon M. Wheeler, hal.111]

    Sehingga menyebutnya sebagai Mesjid Umar-pun: keliru.

  • Berikut ini beberapa teori tentang Al Aqsa [lihat juga: “Crossovers: Anti-Zionism and Anti-Semitism”, Shlomo Sharan, Dāwid Bûqay, hal.142]:
    • Nama yang dialamatkan pada sebuah tempat shalat yang berlokasi 20 km Timur Laut Mekah. Al waqidi menyampaikan dari isnad (rantai perawi) otentik yang menyatakan Mesjid Al Aqsa di jaman Muhammad relatif berada di dekat Mekah. Ulama lain menyampaikan lokasi Mesjid adalah 16 km dari Mekah ke arah Medina, di tempat yang disebut Ji’aranah.
    • Ibn Hisham menyatakan ada tambahan kesaksian perjalanan malam Muhammad yang diangkut ketika ia sedang tidur dan tidak masuk di Quran. Perjalanan ini tidak termasuk mengunjungi tempat-tempat lainnya diluar Mekah. Ibn Hisham menyampaikan ucapan Aisyah bahwa Muhammad sedang berbaring di sebelahnya sepanjang malam dan Allah membawa jiwanya ke langit saat itu
    • Ibn Sa’d berpendapat bahwa kejadian AQ 17.1 terjadi 18 bulan sebelum Hijrah di tempat yang dinamakan Maqam Ibrahim dekat sumur Zam-Zam di Mekah. Hadis yang sama tercantum di Bukhari dan Nasa’i
    • Egyptian Ministry of Culture Publication, 5 Agustus 2003, menyampaikan tulisan Ahmad Muhammad ‘Arafa, kolumnis mingguan Mesir Al-Qahira yang diterbitkan Departemen Kebudayaan Mesir:

      Bahwa perjalanan malam di AQ 17.1 tidak merujuk pada perjalanan ajaib dari Mekah ke Yerusalem namun dalam konteks tentang hjrah dari Mekah ke Medinah [Memri.org, 13 Sep 2003, Spesial Dispacth no.564: “The Prophet Muhammad’s ‘Night Journey’ was Not to Jerusalem but to Medina”. Pendapat senada juga disampaikan oleh Dr. Shabbir Ahmed lihat di sini (bab.8, no.26, hal.63), di sini (tanggapan hadis #339) dan di sini ].

      Dua minggu kemudian, Ahmad Muhammad ‘Arafa juga menuliskan:

      Pembangunan Aqsa adalah dalam konteks persaingan politik antara Khalifa baru ‘Abd Al-Malik VS Ibn Al-Zubayr yang menguasai Hijaz, (jalan ke Mekah dan Medinah), yang dikhawatirkan Ibn Al-Zubayr akan mendapatkan janji kesetiaan dari mereka yang pergi Haji/Umrah. Untuk itu ‘Abd Al-Malik mulai membangun mesjid di Jerusalem agar orang tidak pergi haji sampai Ibn Al-Zubayr dapat dikalahkan; karena tempat itu adalah kiblat pertama; karena lebih jauh lagi dari Medina agar sesuai dengan AQ 17.1 dan karena Jerusalem disebut juga tanah suci (al-ard al muqadassah) atau tanah yang diberkati (al-ard al mubarakah), maka mesjid baru yang tadinya disebut ‘Aelia’ diubah menjadi ‘Al-Aqsa’ dan menjadi mesjid paling suci ke-3 setelah mesjid di Mekah dan Medina. [Spesial Dispacth no.583: “The Al-Aqsa Mosque and Dome of the Rock were Built to Divert The Pilgrimage from Mecca; Jerusalem was Not the Center of Worship for the Followers of the Prophet Muhammad”]

Bagaimana sumber islam mengkaitkan antara mesjidil Haram di Mekkah dan Mesjid terjauh (entah yang mana yang dimaksud)? Ibn Hajjar dalam Fath al-Bari mengutip Ibn al-Jawzi:

    Sulaiman – SAW – yang membangun mesjid terjauh (Masjid Al Aqsa) diriwayatkan al-Nasâ’î dari hadis `Abd Allah Ibn `Amr Ibn al-`As yang bersandar pada ucapan nabi dengan rantai perawi yang otentik bahwa “Ketika Sulaiman membangun Bait Al-Maqdis Ia memohon Allah yang maha besar 3 hal dsb.” dan dalam Tabarânî dari hadis Râfi’ Ibn ‘Umayrah bahwa “Daud – SAW – mulai membangun Bayt Al-Maqdis namun Allah menginspirasikanya: Aku selesaikan bangunan ini bersama Sulaiman”. dan hadis punya kisahnya.

    Ibn al-Jawzi:
    “Jawaban untuk itu adalah semua pernyataan itu berkenaan dengan konstruksi awal dan fondasi masjid dan bukan Abraham yang pertama membangun Kabbah juga bukan Salomo yang pertama membangun Bayt al-Maqdis. Betul, kami telah diriwayatkan bahwa yang pertama membangun Ka’bah adalah Adam. Kemudian keturunannya tersebar di bumi. Oleh karenanya, adalah mungkin bahwa salah satu dari mereka membangun Bayt al-Maqdis. Kemudian, Abraham membangun Ka’bah sesuai dengan Al Qur’an.” Juga, al-Qurtubi mengatakan: hadits tidak menunjukkan bahwa Abraham dan Salomo yang pertama untuk membangun dua masjid. Itu hanya renovasi apa yang telah didirikan orang lain

    Ibnu Hajar:
    Tapi kemungkinannya yang disebutkan Ibn al-Jawzi adalah lebih relevan. Dan aku menemukan bukti yang mendukung orang-orang yang mengatakan bahwa itu adalah Adam yang mendirikan kedua masjid. Misalnya, Ibn Hisham dalam “Kitab al-Tijan” menyebutkan bahwa ketika Adam membangun Kabah, Allah memerintahkannya pergi ke Bayt al-Maqdis dan membangunnya dan itu dilakukannya dan shalat di dalamnya. Dan pembangunan rumah [Arab: al-Bayt, yaitu Ka’bah] adalah terkenal dan telah kami sebutkan sebelumnya hadis dari ‘Abd Allâh Ibn ‘ Amr bahwa rumah diangkat pada saat banjir sampai Allah menunjukkan lokasinya pada Abraham. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Mamar dari Qatadah: Allah membangun rumah bersama Adam ketika ia diturunkan. Tapi Adam merindukan suara para malaikat dan doa-doa mereka. Oleh karenanya, Allah mengatakan kepadanya: Aku turunkan Rumah yang disekitarnya [orang-orang] akan mengelilinginya seperti yang dilakukan ditahtaku, jadi lakukan itu. Adam berangkat ke Makkah – Dia diturunkan di India, dan langkah kakinya besar sampai ia mencapai rumah dan mengelilinginya. Juga dikatakan bahwa ketika ia berdoa di Ka’bah, ia diperintahkan ke Yerusalem untuk membangun sebuah masjid dan shalat di dalamnya sehingga menjadi kiblat dari sebagian keturunannya

    [Tulisan Ibn Hajjar di atas ini diambil dari bagian perdebatan INI vs INI]

Pendapat ini malah bertentangan Quran yang menyatakan bahwa Kabah dibangun oleh Ibrahim:

    Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah BAITULLAH yang di BAKKAH (Mekkah) (“بِبَكَّةَ” = bi-bakkata) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia [AQ 3.96]. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) MAQAM IBRAHIM; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah…[AQ 3.97]

    Dan, ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud” [AQ 2.125].

    Dan ketika Ibrahim mengangkat (yarfaʿu) Baitullah bersama Ismail: “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” [AQ 2.127]

Peristiwa Ibrahim dan Ismail ketika membangun kabah:

    Riwayat Ibn Abbas:

    ..Abu Al-Qa-sim (yaitu Nabi) berkata, “Karena panggilan Abraham ada berkah (di Mekkah)”. Sekali lagi Abraham berpikir untuk berkunjung ke keluarganya yang telah ia tinggalkan (di Mekkah), Jadi ia sampaikan pada istrinya (Sarah) tentang keputusannya. Ia pergi dan temukan Ismail di belakang sumur Zam-zam, meraut anak panahnya. Abraham berkata, “Hai Ismail, Tuhanmu telah memerintahkan aku untuk membangun rumah bagi-Nya”. Ismail berkata, “Taatilah (perintah) Tuhanmu”. Abraham berkata, “Allah juga memerintahkan ku bahwa engkau harus membantu saya”. Ismail berkata, “Aku akan lakukan.”

    Kemudian keduanya bangkit dan Abraham mulai membangun (Ka’bah), sementara Ismail menangani batu-batu dan keduanya berkata, “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (AQ 2.127). Ketika bangunan menjadi tinggi dan orang tua (Abraham) tidak lagi dapat mengangkat batu-batu (pada posisi yang tinggi), Abraham berdiri di atas batu dari maqam dan Ismail membawa batu-batu yang diserahkannya, dan keduanya berkata, ‘Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (AQ 2.127). [Bukhari 4.55.584]

    Riwayat Ibn Abbas:
    ..Nabi berkata, “Ini adalah sumber dari tradisi masyarakat berjalan antara itu ketika Ia mencapai Marwa. Ia mendengar suara dan Ia bergumam untuk menenangkan diri dan mendengarkan dengan perhatian. Ia dengar suara lagi dan berkata, ‘O, Engkau telah membuat saya mendengar suara mu! Punyakan engaku sesuatu untuk menolongku?” Dan lihatlah! Ia melihat satu malaikat di tempat Zam-zam, menggali bumi dengan tumitnya (atau sayapnya), hingga air mengalir dari tempat itu. Hajar mulai membuat sesuatu seperti baskom di sekitarnya, menggunakan tangannya dengan cara itu, dan dengan tangannya menuangkan air ke kantung air kulitnya, dan air itu mengalir keluar setelah ia meraup sebagiannya” Nabi menambahkan, “Semoga Allah melimpahkan rahmat pada ibunya Ismail! Apakah Ia membiarkan Zam-zam, Zam-zam akan menjadi sungai yang mengalir di permukaan bumi.”

    Nabi lebih lanjut menambahkan, “Lalu Ia minum dan menyusui anaknya Malaikat berkata padanya, ‘Jangan takut diabaikan, karena ini adalah Rumah Allah yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya dan Allah tidak pernah mengabaikan umat-Nya”. Rumah ini (yaitu Kaba; PADA WAKTU ITU ADA DI TEMPAT TINGGI YANG MENYERUPAI SEBUAH BUKIT KECIL, dan banjir datang, mengalir ke kanan dan kiri…

    ..Lalu Abraham tinggal jauh dari mereka untuk jangka waktu yang Allah kehendaki dan mendatangi mereka lagi setelah beberapa waktu. Ia lihat Ismael dibawah pohon di dekat Zamzam, sedang mengasah anak panahnya. Ketika ia lihat Abraham, ia bangkit untuk menyambutnya (dan saling menyapa seperti seorang ayah kepada anaknya atau seperti anak kepada ayahnya). Abraham berkata, ‘Hai Ismail! Allah telah memerintahkanku.’ Ismail berkata, ‘Lakukan apa yang Tuhanmu perintahkan engkau untuk lakukan” Abraham bertanya, ‘Maukah engkau membantuku?’. Ismail berkata, ‘Aku akan membantumu’ Abraham berkata, ‘Allah telah memerintahkanku untuk membangun rumah di sini’ sambil dia MENUNJUK KE BUKIT TINGGI (“أَشَارَ إِلَى أَكَمَةٍ مُرْتَفِعَةٍ عَلَى”) dari SEKITARNYA’

    Nabi menambahkan, “Kemudian mereka mengangkat fondasi rumah (yaitu Ka’bah). Ismail membawa batu-batu dan Abraham yang membangun, dan ketika dinding menjadi tinggi, Ismail membawa batu ini dan meletakkannya untuk Abraham yang berdiri di atasnya dan melanjutkan membangun, sedangkan Ismail menyerahkan batu, dan keduanya berkata, ‘Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

    Nabi menambahkan, “Lalu mereka berdua terus membangun dan berkeliling Ka’bah berkata: ‘Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’ (2,127) [Bukhari 4.55.583]

      note:
      Pada tanggal 12 Januari 930 M, sekte Qarmatiah, di saat musim haji, menyerang Mekkah, membunuhi banyak penduduk dan juga yang berhaji serta mencopot hadjar aswad dan dikembalikan 22/23 tahun kemudian (952 M) dalam keadaan patah dan rusak [link dan link], Dilaporkan bahwa mereka memaksa calon korban berjalan melintasi dataran Najd, merebut kota dan membantai 30.000 yang berhaji. Pada sumur zam-zam, mayat-mayat dimasukan ke dalamnya [link]

      Air Zam-zam bukanlah air alami dari mata air alami yang muncul dari retakan tanah dan muncrat sendiri ke permukaan. Air ini muncul secara buatan melalui proses penggalian tanah. Hadis yang menyatakan malaikat menggali bumi dengan tumitnya jelas tidak benar, kejadian penutupan sumur Zam-zam dengan mayat-mayat telah menunjukan bahwa sumur tersebut mempunyai kedalaman dan juga diameter yang cukup besar.

      Saat ini kedalaman sumur Zam-zam tercatat tidak kurang dari 30.5 meter dengan internal diameter lubang sumur 1.08 M – 2.66 M. Air zam-zam ini, sebelum sampai ke konsumen, harus melalui serangkaian proses pengolahan berupa filter pasir, filter mikro, disinfektan dengan sinar ultraviolet. Proses kebersihan air, saat ini semakin ditingkatkan lagi menjadi 3 Fase pengolahan [Sumber: Saudi Geological Survey (sgs.org.sa)]

Ibn Kathir mengatakan Ibrahim-lah orang pertama yang membangun Ka’bah:

    Dinyatakan bahwa Adam adalah yang pertama membangunnya, statemen seperti itu diturunkan dalam hadis yang marfu’ dan berasal dari otoritas ‘Abd Allah b. ‘ Amr; Ibn Lahi’a adalah satu dari otoritas rantai perawi dan ia dianggap daif, lemah.

    Statement-statemen yang paling kredibel adalah Abraham, al-Khalil, “sahabat sejati”, SAW, adalah yang pertama membangun itu, sebagaimana laporan di atas. Simak b. Harb – Khalid b. ‘Ar’ara – ‘Ali b. Abu Thalib yang berkata “Kemudian itu runtuh, dibangun kembali oleh al-‘amaliqa ‘kaum raksasa’, runtuh dan dibangun kembali oleh Jurhum; kemudian runtuh kembali dan dibangun lagi oleh Quraysh.” [Ibn Kathir, The Life of the Prophet Muhammad (Al-Sira al-Nabawiyya), translated by Professor Trevor Le Gassick, reviewed by Dr. Ahmed Fareed, Vol.I, p. 119]

Juga di tafsir Ibn Kathir untuk AQ 17.39:

    …Banyak ulama mengambil ini sebagai bukti untuk menudukung pandangan bahwa Ibrahim ADALAH ORANG PERTAMA yang membangun kabah dan ITU TIDAK DI BANGUN SEBELUM JAMANNYA..(Tafsir Ibn Kathir-Abridged Vol. 6 Surat Al-Isra’, Verse 39 to the end of Surat Al-Mu’minun, first edition July 2000, p. 554)

Sehingga,
Jika keberadaan Ibrahim dianggap nyata ada yang hidup dikisaran tahun 2000 SM dan telah membangun kabah, kemudian, Bayt al Maqdis (Masjidil Aqsa) yang dianggap dibangun tahun 958-951 SM oleh Sulaiman (dan daud), maka kedua bangunan ini jelas berselisih ± 1040-an tahun dan BUKAN 40 tahun, bukan?!

Baiklah,
kita tinggalkan problem dunia Islam pada kekacauan pengakuan pembangungan Kabah vs Baitul Maqdisnya, sekarang kita kembali lagi pada rumah tuhan yang dibangun oleh Sulaiman.

Seberapa luar biasa besar sih ukuran rumah tuhan yang di buat Sulaiman ini?

    Panjang: 60 hasta, Lebar: 20 hasta, Tinggi: 30 hasta [1 raja 6.2] atau ukurannya cuma sebesar: 27 M x 9 M x 13.5 M (1 hasta = 45 cm)

Hah?! Rupanya ukuran bangunan yang kecil ini saja sudah dipersepsikan penulisnya dengan kalimat “luar biasa besarnya“!

Berapa banyak tenaga kerja dan lama waktu pengerjaannya?

    30.000 orang rodi selama 1 bulan [1 Raja 5.13-14], 70.000 kuli + 80.000 tukang pahat + 3300 mandor [1 Raja 5.15-16 tapi di 2 Taw 2.2 DAN 2 Taw 2.18 = 3600 mandor,] + Kiriman tenaker dari Raja Hiram, sehingga total 153.601 orang pekerja!

    ….dan pengerjaannya pun ternyata butuh waktu 7 tahun lamanya! [1 raja 6:38]

Hah?! Masa iya sampai perlu 153.000 orang HANYA untuk mengerjakan sebuah bangunan kecil, seukuran: 27 M x 9 M x 13 M? dan itupun baru selesai selama 7 tahun?!

    Sebagai ungkapan syukur atas rampungnya pekerjaan membuat rumah tuhan, raja Sulaiman membuat mezbah tembaga ukuran Panjang (20 hasta/9 m) X lebar (20 hasta/9 m) X tinggi (10 hasta/4.5 m) [2 Taw 4.1] mempersembahkan 142.000 binatang korban sembelihan: 22.000 sapi + 120.000 kambing/domba [2 Taw 7.5], karena banyaknya korban sembelihan, Sulaiman menguduskan pertengahan pelataran yang di depan rumah TUHAN, sebab di situlah diolahnya segala korban bakaran dan lemak korban keselamatan, sebab mezbah tembaga yang dibuat Sulaiman tidak dapat memuat korban bakaran dan korban sajian dan segala lemak korban [2 Taw 7.7]. Korban bakaran, harus telah terjagal pada pagi hari dan juga senja [Keluaran 29.38-42], dengan lama perayaan 1 minggu penuh [2 Taw 7.8-9]

Perlu di ketahui,
Waktu yang diperlukan seorang penjagal berpengalaman (sertifikasi MUI bersama 2 rekan), untuk menjagal dan menguliti seekor sapi, kira-kira: 30 menit dan untuk kambing/domba: 15 menit. Setelah dipenggal dan dikuliti, berat bersih daging seekor Sapi seberat 380-500 kg: 160 kg [total untuk 22.000 sapi: 3.52 juta kg] dan untuk kambing 45-90 kg: 20 kg [total untukk 120.000 kambing: 2.40 juta kg], sehingga di pelataran dan Mezbah, terdapat total 5.92 juta kg daging siap dibakar.

    Setelah Salomo mengakhiri doanya, api turun dari langit (‘esh yarad shamayim) memakan habis korban bakaran dan korban-korban sembelihan itu, dan kemuliaan TUHAN memenuhi rumah itu. [2 taw 7.1]

“Api langit” ajaib itu secara luar biasa memakan habis 5.92 juta kg daging korban sembelihan. Api ajaib ini akan memberikan angin panas (akibat perbedaan tekanan udara terdapat aliran udara dari panas ke dingin, ini mirip wedus gembelnya gunung merapi yang bersuhu 700oC yang kecepatannya dapat mencapai 100km/jam menghanguskan apapun yang dilaluinya), radiasi gelombang panas (kalor/detik) dan hentakan luar biasa saat kejadian. Perlu di ketahui, suhu panas api berwana merah < 1000oC, namun api warna biru dan putih bersuhu > 1000oC sd > 2000oC

    …Ada pengalaman khusus dari salah seorang Team work kami didaerah kawasan rehabilitasi mangrove, Rungkut Surabaya. Yakni ada seorang pemancing di sebuah kolam pemancingan tersambar petir (meninggal seketika) saat itu juga kawan sepemancingan yang duduk sejauh 3 meter dari korban, terlempar sejauh 5 meter dari posisinya memancing.

    Untuk korban yang meninggal dunia dia terkena direct strike (sambaran langsung) yang menghunjam tepat di tubuhnya tentu ini sangat fatal . Sedangkan untuk orang yang berada sejauh 3 meter terkena efek impact tanpa sengatan listrik, dengan perkiraan berat tubuh 50 kg bisa terlempar sejauh 5 meter, tentu efek tumbukan yang luar biasa.

    Pernah pula kita mendapati kesaksian dari seorang direktur perusahaan di Pasuruan, bahwa dia mengalami koma selama 3 hari disebabkan sambaran petir melewati tepat di depannya (tanpa mengenai tubuhnya) hal ini biasa kita sebut pula efek induksi petir.

    ..kita bisa bayangkan tenaga yang sangat dahsyat dengan kekuatan dalam ukuran giga joule masuk..akan terjadi hal yang luar biasa kalo boleh diumpamakan seperti hebohnya kembang api di tahun baru. [sumber: Serangan Fajar]

Berhubung tidak ada informasi lanjutan tentang luas pelataran korban sembelihan yang di bakar, maka sebagai perkiraan untuk memperkirakan laju gelombang radiasi panas/detik, kita gunakan luas mezbah tembaga 600oC (T = 873.15oK, emisivitas (e) = 0.6, Luas Mezbah (A): 9 m x 9 m = 81 M2 dan σ konstanta Stefan-Boltzmann: 5,67 x 10-8 W/m2.K4, dengan rumus q = σ T4 A), maka laju gelombang radiasi panas mezbah tembaga adalah 1.6 Mega Watt (Joule/detik) yang berlangsung terus selama korban bakaran terbakar sampai perlahan mendingin.

Inilah efek menakutkan pasca sambaran api yang turun langit.

Namun,
Sekumpulan orang yang berada dihadapan pelataran tempat bakar-bakaran rupanya tidak mengalami hentakan dan/atau luka terkena gelombang radiasi panas/angin panas bersuhu tinggi atau tidak ada korban sembelihan yang terpental setelah tersambar “api dari langit dan/atau bangunan kayu rumah tuhan tidak mengalami kerusakan ataupun bagian kayu (atap) tidak ikut hangus terbakar terkena gelombang panas.

Tentu saja, akan ada saja, yang setelah membaca ini, masih berkata, “tidak ada yang tidak mungkin jika tuhan menghendaki” 🙂

Selain rumah tuhan,
Sulaiman juga membangun juga istananya selama 13 tahun, diantarannya “hutan libanon: 100 hasta/45 m, lebar: 50 hasta/22.5 m, tinggi: 13.5 m. Balai Saka: 50 hasta/22.5 m x 13.5 m. Gedung bagi dirinya dan bagi anak Firaun yang dijadikan istri dibuatkan bangunan, dimana dasar gedung-gedung dari batu yang mahal berukuran 10 hasta dan 8 hasta

Setelah lewat 20 tahun selesailah Sulaiman mendirikan kedua rumah itu, yakni rumah TUHAN dan istana raja. [1 Raja 9.10]

sayangnya ini hanyalah klaim kosong belaka. Samasekali TIDAK ADA bukti temuan arkeologi berupa bangunan monumental, atau prasasti apapun sebagai buktinya…0 (nol) …tidak ada!

Padahal tidak kurang banyaknya piramida, rumah, kuburan yang bahkan jauh lebih tua ditemukan di dunia ini atau telah pula ditemukan seruling yang berumur 35.000an tahun dan masih dapat dilihat hingga hari ini, namun TIDAK 1 (satu)-pun ada bukti bagi keberadaan Sulaiman di muka bumi ini, kecuali kisah dongeng yang disirkulasikan secara berulang selama berabad-abad 🙂 [↑]

Klaim keberadaan Ratu Bilqis/Sheba
Setelah Istana Sulaiman selesai, ratu Sheba mengadakan kunjungan ke Yerusalam [2 Taw 9.1-12], Peristiwa ini terjadi sekurangnya setelah lewat tahun ke-24 (tahun ke4 mulai memerintah + 7 tahun (pembangunan rumah tuhan) + 13 tahun (pembangunan istananya).

Benarkah ratu Sheba/Bilqis ada?
Dimanakah letak Negeri Saba itu?

Walaupun banyak filem dan buku menceritakan tentang dirinya namun tidak ada bukti fisik yang mendukung keberadaannya. [Gnosis: The Secret of Solomon’s Temple Revealed: Easyread Comfort Edition, Gardiner Philip, hal. 233] bahkan nama Sheba pun tidak seragam disebutkan, Kaum Yaman dan Arab di semenanjung Arab menyebutnya dengan nama Bilqis. Kaum nasrani Ethiophia menyebutnya dengan nama Makeda. Josephus, seorang sejarahwan kuno romawi menyebutnya dengan nama Nicaule.

Alkitab tidak menyebutkan di mana lokasi negara ratu Syeba, namun Seorang Yahudi bernama Flavius Yosephus (37 – 100 M), menyatakan lokasinya ada di Ethiophia:

  • ..Saba, yang merupakan ibu kota Ethiopia, dimana Cambyses (529 SM – 522 SM) kemudian menamainya Mero, nama dari adik perempuannya” [Antiquities of the Jews 2.10]
  • ..lebih dari 1300 tahun berlalu sejak Abraham sampai ke Sulaiman..Setelah kematian raja-raja Mesir, termasuk mertua Sulaiman (8.2), berkuasalah seorang perempuan bernama Nicaule sebagai ratu Mesir dan Ethiophia dan ratu inilah yang mengunjungi Sulaiman (8.6)

Nama ratu yang disampaikan Yosephus berbeda dengan nama ratu yang disampaikan Alkitab.

Arti nama Nicaule berbeda dengan arti nama Syeba. Nicaule artinya orang-orang yang menang, sedangkan Syeba/Sheba, artinya adalah sumpah seperti arti dari kata bersheba, yang berasal dari 2 kata yaitu: be’er (sumur) dan Sheva (sumpah) [Kej 21.31; 26.33].

Sementara itu,
Islam menyatakan bahwa lokasi negeri Saba adalah di Selatan yaitu di Yaman dan berhubungan dengan banjir besar karena hancurnya bendungan Ma’rib:

    Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun (jannatāni) di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka Banjir besar (sayla) dari bendungan (Al-ʿarimi) dan Kami ganti kedua kebun mereka (bijannatayhim) dengan dua kebun (jannatayni) yang ditumbuhi yang berbuah pahit (khamṭin) dan pohon Atsl (wa-athlin, cemara) dan sedikit dari pohon Sidr (pohon bidara). Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab, melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. [AQ 34.15-17]

Menurut Tafsir Jalalyn AQ 34.15 dan juga Ibn Kathir untuk AQ 34.15 Arti Saba adalah BUKAN tempat dan BUKAN wanita, namun seorang lelaki Arab yang punya 10 keturunan, 6 orang diantaranya tinggal di Yaman dan 4 sisanya kemudian ke Sham.

Dalam Tafsir Ibn Abbas AQ 34.15, dikatakan:
(Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda) bagi penduduk Sheba, yang merupakan sebuah kota di Yaman (di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan) dari jalan ( dan di sebelah kiri) dari jalan. Ada sekitar 13 kota-kota ke arah Yaman. Allah mengirim mereka 13 nabi. yang berkata pada mereka: (Makanlah olehmu dari rezki Tuhanmu) makan dari harta rampasan..

Hadis Abu Dawud dan Tirmidhi:

    Riwayat Utsman bin Abu Syaibah dan Harun bin Abdullah – Abu Usamah – Al Hasan bin Al Hakam An Nakha’i – Abu Sabrah An Nakha’i – Farwah bin Musaik Al Ghuthaifi berkata, “Aku pernah datang kepada Nabi SAW..kemudian ia menyebutkan hadits tersebut. Seorang laki-laki dari para sahabat lalu berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukan kepada kami mengenai Saba`, apakah Saba` itu, tanah ataukah seorang wanita?” Beliau kemudian bersabda: “Bukan tanah dan bukan seorang wanita, akan tetapi seorang laki-laki yang melahirkan sepuluh orang Arab. Kemudian 6 orang menuju ke Yaman dan tinggal di sana, dan 4 orang menuju Syam serta tinggal di sana.” Utsman mengatakan, “Al Ghathafani sebagai ganti Al Ghuthaifi.” Ia berkata lagi, “Al Hasan bin Al Hakam An Nakha’I menceritakannya kepada kami.” [Abu Dawud no.3474, albani mengklafsifikasikan hadis ini Hasan. Juga di Tirmidhi no. 3156]

Lebih lanjut dalam tafsir Ibn Kathir untuk AQ 34.15-17:

    Saba’ adalah para raja dan penduduk negeri Yaman. Tababi’ah dan Balqis, sahabat wanita Nabi Sulaiman as. Merupakan bagian dari bangsa Saba’. Mereka berada dalam kenikmatan yang amat besar dan kemakmuran di negeri mereka, kebahagiaan, keluasan rizki, tanam-tanaman dan buah-buahan mereka…Maka mereka pun berada seperti itu dalam waktu yang dikehendaki oleh Allah, lalu mereka berpaling dari perintah itu. Sehingga mereka dihukum dengan dikirimnya banjir besar, perpecahan di dalam negeri yang serba kacau. Sebagaimana rincian dan penjelasannya akan diutarakan pada pembahasan lain.

    Imam Ahmad berkata, bahwa ‘Abdurrahman bin Wa’lah berkata, aku mendengar Ibnu ‘Abbas berkata, sesungguhnya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw. tentang Saba’. Apakah seorang laki-laki, perempuan atau satu negeri? Rasulullah bersabda: “Dia adalah seorang laki-laki yang mempunyai anak 10 orang. Di antara mereka yang tinggal di Yaman ada 6 orang dan yang tinggal di Syam 4 orang. Adapun yang tinggal di Yaman yaitu: Madzhij, Kindah, Adz, Asy’ariyyun, Anman dan Himyar. Sedangkan yang tinggal di Syam adalah: Lakhm, Judzam, ‘Amilah dan Ghassan.” (diriwayatkan pula dari ‘Abd, dari al-Hasan bin Musa dari Ibnu Lahi’ah, dan ini isnadnya hasan dan mereka tidak mentakhrijnya. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abdil Barr di dalam Kitab al-Qashdu Amam bin Ma’rifati Ushuuli Ansaabil ‘Arab wal ‘Ajam. Serta diriwayatkan oleh at-Tirmidzi di dalam Jami’nya dari Abu Kuraib dan ‘Abd bin Humaid yang berakata, telah bercerita kepada kami Abu Usamah, lalu dia menyebutkan hadits yang lebih pendek dari ini, kemudian ia berkata: “Hadits ini hasan dan gharib.”…

    Ulama nasab –di antara mereka Muhammad bin Ishaq- berkata: “Nama Saba’ adalah Abdu Syams bin Yasyjab bin Ya’rib bin Qahthan. Dia dinamakan Saba’ karena dia adalah orang yang pertama kali bersaba’ (bersumpah) di antara bangsa Arab. Dia diberi gelar ar-Ra-isy karena dia adalah orang yang pertama kali menerapkan ghanimah dalam peperangan untuk dibagikan kepada kaumnya…

    Aslam merupakan satu kabilah Anshar –sedangkan Anshar dengan Aus dan Khazrajnya adalah dari Ghassan, dari Arab Yaman dari Saba’- mereka menempati Yatsrib, ketika di dalam negeri Saba’ porak-poranda saat di saat Allah mengirimkan banjir besar, dan satu kelompok di antara mereka menempati negeri Syam. Mereka dikatakan Ghassan disebabkan mereka singgah disana; dan satu pendapat mengatakan di Yaman.

    Bendungan tersebut adalah dikarenakan air datang dari dua celah gunung serta bersatu pula di dalamnya dengan air hujan dan mata air. Lalu para raja mereka yang terdahulu mulai membangun suatu bendungan besar yang kokoh di antara dua gunung itu, sehingga air melimpah dan mengalir ke setiap perkebunan.

    Maka mereka mulai menanam pohon-pohon dan memproduksi buah-buahan yang mencapai hasil yang amat banyak dan baik, sebagaimana yang disebutkan oleh banyak kalangan ulama salaf di antara mereka adalah Qatadah.

    Bendungan ini berada di Ma’rib, sebuah kota yang berjarak 3 marhalah (jarak perjalanan 1 hari) dengan Shan’a dan dikenal dengan nama bendungan Ma’rib. Sebagaimana Allah berfirman: laqad kaana lisaba-in fii maskaniHim aayaH (“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda [kekuasaan Rabb] di tempat kediaman mereka.”) kemudian ditafsirkan oleh firman Allah: jannataani ‘ay yamiiniw wa syimaal (“Yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.”) yaitu dari sisi kedua gunung. Sedangkan negeri itu berada di antara kedua kebun itu.

    ..
    Firman Allah: fa a’radluu (“Tetapi mereka berpaling”) yaitu dari tauhid dan beribadah kepada Allah dan bersyukur atas nikmat yang diberikan kepada mereka serta berpaling kepada menyembah matahari, selain Allah. Sebagaimana burung hud-hud berkata kepada Sulaiman as: “Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan Dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati Dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk,” (an-Naml: 22-24).

    Muhammad bin Ishaq berkata dari Wahb bin Munabbih: “Allah Ta’ala mengutus 13 orang nabi kepada mereka.” wallaaHu a’lam.

    Firman Allah: fa arsalnaa ‘alaiHim sailal-‘arimi (“Maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar.”) yang dimaksud dengan al-‘arimi adalah air; dan satu pendapat mengatakan, adalah wadi [lembah]…

    Banyak ulama [di antara mereka adalah: Ibnu ‘Abbas, Waab bin Munabbih, Qatadah dan adl-Dlahhak] yang mengatakan bahwa tatkala Allah hendak menghukum mereka dengan banjir besar, maka Dia mengirimkan kepada bendungan itu binatang melata yang disebut dengan al-juradz [tikus bersar] yang masuk ke bendungan itu dan membuat lubang-lubang sehingga bendungan itu pun runtuh menimpa mereka.

    Firman Allah: wa baddalnaaHum bijannataiHim jannataini dzawaatai ukulin khamthin (“Dan kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi [pohon-pohon] yang berbuah pahit.”) Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, ‘Atha’ al-Khurasani, al-Hasan, Qatadah dan as-Suddi mengatakan: “Yaitu kayu arak dan makanan orang Barbar.” Wa atslin; al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Yaitu pohon yang berduri.” Ulama lain berkata: “Yaitu pohon yang menyerupai pohon berduri.” wallaaHu a’lam.

    Allah berfirman: wa syai-im min sidring qaliilin (“Dan sedikit dari pohon Sidr.”) ketika pohon-pohon yang terbaik ini diganti dengan pohon sidr. Inilah yang terjadi di antara dua kondisi dua kebun tersebut. Setelah buah-buahan yang lezat, pemandangan yang indah, teduhan yang lebat dan sungai-sungai yang mengalir digantikan oleh pohon arak, berduri, sidr yang berduri besar dan berbuah sedikit…[Tafsir Ibnu Katsir, Dr. ‘Abdullah b. Muhammad b. Abdurrahman b. Ishaq Al-Syeikh, Pustaka Imam Syafi’i, jilid ke-6, cetakan ke-1, tahun 1994, hal.559-563]

Ibn Ishaq juga mencatat peristiwa turunnya surat Saba dengan kejadian banjir dari bendungan Ma’rib:

    Penyebab keluarnya Amr bin Amir dari Yaman seperti dikatakan Abu Zaid Al-Anshari kepadaku, bahwa ia melihat tikus besar melubangi Bendungan Ma’rib. Bendungan tersebut adalah tempat penampungan air, dan mereka bebas mengalirkannya ke sawah ladang mereka..Oleh karena itu, ia berniat angkat kaki dari Yaman…Amr bin Amir pergi dari Yaman dengan anaknya, dan cucunya. Orang-orang Azd berkata,”Kami tidak akan berpisah dengan Amr bin Amir.”..lalu ikut keluar bersama Amr bin Amir hingga berhenti di daerah-daerah Akka..dari Akka dan pergi berpencar-pencar menuju daerah yang berbeda. Keluarga Jufnah bin Amr bin Amir berhenti di Syam, Al-Aus dan Al-Khazraj berhenti di Yatsrib. Khuza’ah berhenti di Marra. Azd As-Sarah berhenti di Sarah. Azd Oman berhenti di Oman. Setelah itu, Allah Ta’ala mengirimkan banjir ke bendungan tersebut dan menghancurkannya. Tentang peristiwa tersebut, Allah Ta’ala menurunkan ayat-Nya kepada Rasul-Nya, Muhammad SAW, Saba’.15-16 [Sirah Nabawiyah Ibn Ishaq/Hisyam, Jilid ke-1, Bab.3, Hal.8-9]

Sangat jelas,
dari sumber-sumber otentik Islam, Nasrani/Yahudi, keberadaan Saba ada di wilayah Yaman atau di Ethiopia/Abyssina dan BUKAN di Indonesia (dengan cocoklogi konyol “Wanasaba”-nya). Juga kita ketahui bahwa area Wanasaba di Jawa (juga lombok dan tempat lainnya) lokasinya tidak di apit 2 gunung dan juga tidak ada bendungan air dan mengenai buah pahit yang tercantum di Quran adalah BUKAN buah Maja.

Jadi,
untuk kalangan Islam yang mengklaim lokasi Saba ada di Indonesia dan khususnya berada di Jawa tengah, maka saya sarankan agar lebih giat lagi dalam mempelajari ilmu agamanya.

Klaim bahwa Bar’an (Arsh Bilqis) dan Kuil Awwam (Mahram Bilqis) di Ma’rib sebagai bukti keberadaan Ratu Bilqis

Hasil uji karbon mengungkapkan bahwa tahun terawal pembangunan dan tradisi penyembahan di kuil Al Maqah di Bar’an (“Arsh Bilqis”/tahta ratu Bilqis) terjadi di menjelang berakhirnya abad ke-9 SM (atau tahun 800an SM). [Radiocarbon Datings From The AlMaqah Temple of Bra’an, Ma’rib Republic Of Yemen: Approximalterly 800Cal BC to 600 Cal AD, Jochen Görsdorf & Burkhardt Vogt, conclusions, hal.1368]

Sementara itu,
Di kuil Awwam ditemukan beberapa inskripsi penghiasi dinding kuil yang berasal dari Abad ke-7 SM (600an SM). Penemuan piagam perunggu yang ada pada bagian atas lapisan arkeologi tahun abad ke-3 M Kuil ini menuliskan tentang persembahan kepada Al Maqah (Maskulin: dewa Bulan) melalui perantara dewa Attar (Maskulin: dewa bintang fajar, dewa perang) yang dilakukan 2 penguasa abad ke-5 SM.

Siapa Al Maqah itu? Dewa Bulan ataukah Dewa Matahari?.

    Dewa Nasioal kaum Sabean, dewa bulan Al Maqah, adalah dewa kuil tempat piagam perunggu ini ditemukan; Sekarang ini kuil awam umumnya disebut Mahram Bilqis/Kuil Bilqis. Al Maqah sebagai tuhan kuil Awam disebutkan diratusan inskripsi Sabean yang berasal dari Mahram Bilqis dan tempat lainnya…

    Urutan penghormatan mulai dengan Attar, Al Maqah, berlanjut pada Dat Hamim dan Dat Bacdan, dan penguasa (raja) Sabean yaitu Yatacamar and Yada0il. Dat Hamim and Dat Bacdan adalah sebutan untuk dewi matahari Sabean..[“A Recently Discovered Inscribed Sabean Bronze Plaque From Mahram Bilqis Near Marib, Yemen”, Mohammed Maraqten (Professor at University Marburg)& Yusuf Abdallah (Professor of Archeology & Epigraphy at the University of Sana’a in Yemen), hal.52]

    note:
    Saad D. Abulhab, dalam “Inscriptional Evidence of Pre-Islamic Classical Arabic: Selected Readings in the Nabataean, Musnad, and Akkadian Inscriptions”, tahun 2013, hal.126-127 dan dalam, “DeArabizing Arabia: Tracing Western Scholarship on the History of the Arabs and Arabic Language and Script”, tahun 2011, hal.167-168, yaitu ketika menterjemahkan Inskripsi Sa’ad Ta’lib (250 Masehi), Ma’rib, Yaman, ke bahasa arab Modern, Ia menyatakan:

    “..kata pertama “ilmqh”, seperti di klaim beberapa ahli merupakan turunan dari kata ‘il’ (berarti dewa dalam bahasa Ibrani) dan maqah (pelindung). Aku tidak temukan dukungan bukti untuk bacaan ini. Ibn Manzur mengindikasikan di “Lisan Al-‘Arab” bahwa akar kata (tanpa tambahan diacritics) mempunyai banyak arti termasuk ‘putih bercahaya’. Menurut bukunya, kata Al-Maqh (juga dapat berarti Al-Miqh) dan Al-Amqah adalah kata sifat yang berarti ‘putih bercahaya’. terikuti jelas di inskripsi ini, dan juga banyak inskripsi di Yaman, kata ini adalah ‘al-maqh’ atau ‘al miqh’ yang menggunakan artikel arab al (bukan ibrani il) yang artinya adalah dewa…Ibn Manzur menyitir sebuah hadis, dimana kata Al maqh artinya “cinta”. Juga dapat dimungkinkan kata ‘Al Miqh’ artinya adalah cahaya “dewa bulan” sebagaimana diyakini dan terindikasi dalam kebanyakan sumber. Namun berdasarkan sisa seluruh inskripsi dapat berarti nama sebuah patung emas juga. Arti dari Al Maqh yang membawa gambaran cahaya terang cocok dengan deskripsi pantulan sinar patung emas dan juga cahaya bulan yang merupakan arti pasti al miqh yang disampaikan dalam lisan al-arab..”

Penyebutan Al Maqah (Dewa Bulan) sebagai dewa nasional kaum Sabean juga sebagai dewa kuil Awam dan Bar’an dan tradisi menyembah dewa-dewa lainnya sejak awal peradaban Sabean, maka tradisi penyembahan area Selatan jazirah Arab ini tidak cocok dengan klaim AQ 27.24 tentang penyembahan yang dilakukan ratu Bilqis dan kaumnya,

    Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, [27.24]

Namun,
jika ayat tersebut hendak dikaitkan dengan isi penemuan inskripsi abad ke-5 SM di atas, maka dalam artian lain. secara implisit, Quran menyatakan: “Dia dan kaumnya menyembah Dat Hamim dan Dan Bacdan selain Dewa Bulan..” atau dengan kata lain Quran menyatakan sendiri bahwa Allah adalah Dewa Bulan. [Juga simak PRO VS KONTRA tentang Allah adalah dewa bulan, yang diklaim Dr. Robert Morey di bukunya, “Invasi Islam“, mulai hal.49]

Masyarakat kuno mana saja paham koq bahwa menyembah dewa matahari, dewa bulan dan dewa bintang tidaklah sama dengan menyembah matahari (Al Sham: feminim), bulan (Al Qamar: maskulin) dan bintang (kawkaban: Maskulin) sebagai maksud quran:

    Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan [AQ 6.76-78]

    Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.[AQ 41.37]

    “Dan ketika Kami tempatkan/tetapkan tempat (bawwa-naa) kepada Ibrahim (li Ibrahim) lokasi/sisi (makaana) Baitullah (albayti) bahwa “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu (baytiya) ini bagi orang-orang yang thawaf (lilththaa-ifiina), dan yang berdiri/beribadat (waalqaa-imiina) dan yang ruku’ dan sujud (waalrrukka’i alssujuudi)” [AQ 22.26]

Kaum Sabean dan kaum Selatan Arab lainnya tahu juga bahwa matahari, bulan dan bintang adalah benda-benda yang diciptakan Dewa mereka. Benda-benda tersebut merupakan semacam lokasi rumah dan atau digunakan sebagai perlambangan saja, seperti Islam juga yang dilambangkan dengan bulan sabit dan menyebut Kabah sebagai rumah Allah, maka demikian pula kepercayaan sebelum islam muncul bahwa matahari, bulan dan bintang adalah benda belaka dan atau rumah dari dewa yang menciptakan benda-benda itu, dan tidak pernah mereka memperserikatkan dewa mereka itu dengan dewa lainnya di rumah dewa mereka (matahari, bulan dan bintang), Namun demikian, Islam memang agak berbeda, yaitu tawaf di Kabah, berhenti di satu sudut, mencium batu hitam yang Muhammad sendiri menyebutnya dengan jelas sebagai Allahuakbar. 🙂

Di luar itu semua,
TIDAK ADA satu bukti arkeologi yang menyebutkan terdapat sosok penguasa perempuan di Saba, Yaman ataupun di Ma’rib yang disebut sebagai Bilqis. Bahkan dari hasil uji karbon pada kuil-kuil tersebut yang menunjukan bahwa tahun terawal tradisi mereka adalah dikisaran tahun 800an SM. Ini adalah lebih muda 2 abad dari seluruh asumsi keberadaan Sulaiman. Karena Ratu Bilqis hidup sejaman dengan Sulaiman, maka tidak terbukti ada ratu bilqis (dan juga Sulaiman).

Bagaimana dengan klaim kaum Nasrani dan Yahudi bahwa Ratu Saba berasal dari Ethiophia?

Peter Shchmidt (Professor antropologi, arkeolog Prasejarah Afrika) menyatakan:

Pada akhir abad ke-13,
Dinasti Zagwe, Ethiophia, tidak dapat mengontrol beberapa kerajaan kristen kecil di utara Shewa yang menjadi kaya karena mengalihkan perdagangan jauh dari rute tradisional melalui Lasta. Pemimpin Kaum Shewa saat itu bernama Yekuno Amlak [w.1285], mendapat dukungan kuat dari kaum pendeta kristen lokal, karena Ia berjanji akan membuat institusi gereja menjadi semi mandiri. Ketika kemudian kaum Shewa memberontak terhadap Yetbarak (raja terakhir Zagwe), Gereja-gereja mengambil sikap netral. Pada 1270, yait setelah serial pertempuran yang terjadi di area Lasta dan Begemdir, Yekuno berhasil membunuh Raja Zagwe terakhir dan mengangkat dirinya menjadi raja di raja (nägäst nəgusä) Ethiophia. Sebagai perampas kekuasaan, raja baru ini menghadapi hambatan kuati dan agar menang melawan Tigray yang padat dengan tradisi Aksumnya, Raja dan para pendukungnya mulai mensirkulasikan dongengan bahwa dirinya adalah keturunan Sulaiman dan Makeda/Ratu Sheba, silsilah itu, memberinya sebuah legitimasi tradisional dan kehormatan yang berkelanjutan di sejarah nasional Ethiopia hingga kemudian. [“A History of Ethiopia“, Harold G. Marcus, hal.15-16].

Klaim dengan garis turunan Sulaiman ini tercantum di Kebra Nagast (Kemuliaan para raja), yang dituliskan pada jaman Raja Amda Siyon (1314 M – 1344 M) [“The Fetha Nagast and Its Ecclesiology: Implications in Ethiopian Catholic Church Today”, Negussie Andre Domnic, 2010, hal.22]

Para turis yang berkunjung ke Ibu kota Ethiopia, Adis Adeba kerap membeli lukisan komik tentang garis turunan dinasti Sulaiman. 44 adegannya di ambil dari Kebra Nagast (total 117 bab), yang merupakan gabungan bunga rampai legenda awal abad ke-14, oleh 6 ahli Taurat kaum Tigrayan. Yishak, kepala para penyusun, mengklaim bahwa ia dan para rekannya hanya menerjemahkan karya koptik berbahasa Arab ke bahasa Ge’ez. Bahkan timnya mencampurkan tradisi oral lokal dan regional dan gaya dan isi dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, berbagai teks apokrif, Yahudi dan kitab komentar Islam serta tulisan-tulisan Patriastik. Tujuan utama Kebra Negest adalah melegitimasi kekuasaan raja Yekuno Amlak dan ‘mengembalikan’nya pada garis Sulaiman. Oleh karenanya, Sebagian besar buku ini sengaja dikhususkan diketurunan Kaisar Menelik-I [“A History of Ethiopia“, Harold G. Marcus, hal.17]

Kebra Negast menyampaikan klaim bahwa Ethiopia adalah turunan suku-suku Israel yang datang ke Etiopia bersama Menelik I, putra Sulaiman dan Ratu Sheba (Ratu Makeda, Kebra Nagast, Bab.32). Legenda menyampaikan cerita Menelik, ketika berusia 22 tahun, pergi ke Yerusalem mengunjungi ayahnya, Sulaiman, kemudian Menelik ditempatkan di Ethiopia dengan membawa Tabut Perjanjian bersamanya. [Bab 41 – 50]

Sulaiman dan Ratu Sheba/Bilqis/Makeda
Di beberapa rangkaian kitab-kitab Kaum Abrahamik, Sulaiman dan ratu Bilqia/Sheba berada di jaman yang sama dan Sang ratu sampai melakukan perjalanan panjang sejauh 1500 Mil/2,414 Km menuju Jerusalem untuk menemui Sulaiman. (Pliny, Filsuf dan sejarahman romawi abad ke-1 M: Caravan berjalan 20-25 Mil/32-40 km per hari, sehingga waktu tempuh perjalanan itu minimum 75 hari). Perjalanan Ratu Sheba menuju Jerusalem termuat di Perjanjian Lama [1 Raja 10.2; 2 Taw 9.1], Targum Ester, Quran [AQ 27.42-44] dan Kebra Nagast [mulai bab.21].

    “Targum Ester disebutkan dalam Talmud Yerusalem dan dikutip dalam Tractrate Sopherim (XIII: 6). Dengan demikian keberadaannya sekurangnya di masa Amoraic kali. {Yaitu abad ke-4 M} [The Targum of Esther (kedua) (Targum Sheni), translasi oleh Bernard Crossfeld – Professor Ibrani dan Aramaik University Wisconsin – Milwaukee, dan anggota pendiri Association for Targumic Studies. terbit tahun 1991, oleh T & T CLARK LTD, Edinburgh, bekerja sama dengan The Liturgical Press, Collegeville, Minnesota 56321 USA. ISBN 0-567-09495-8].

    Kemudian:
    Talmud Yerusalem disusun sekitar 1 abad sebelum Babel di 500 M..karena situasi yang terjadi di (Erez) Israel. Kegiatan aliran utama, yaitu Tiberius, berakhir di 421 M [Encyclopedea Judaica 1996 edition, Vol 15, p 772]

Sehingga jika diurutkan kemunculannya dari yang tertua hingga termuda: Perjanjan Lama → Targum ester → Talmud → Quran → Kebra Nagast.

Dalam perjalanan sejarah,
dongengan ini berevolusi dengan banyak variasi pengembangan yang membuatnya makin tidak singkron dengan dongengan sebelumnya, Contoh ketidaksingkronan antara Kebra Nagast vs Perjanjian lama/Talmud, misalnya:

  • Klaim garis turunan Menelik I, Putra Sulaiman – Makeda/Sheba/Bilqis.
    Perjanjan lama (1 Raja-raja 10:1-13 dan 2 Tawarikh 9:1-12), tidak pernah menyampaikan bahwa Sulaiman dan Ratu Sheba berhubungan seksual yang menyebabkan mempunyai anak darinya. Pun jika ada yang mengklaim yang menyinggung ada satu perempuan kulit hitam di kidung Agung 1. 5,

      Memang hitam aku, tetapi cantik, hai puteri-puteri Yerusalem, seperti kemah orang Kedar, seperti tirai-tirai orang Salma”,

    Padahal di ayat berikutnya telah juga disampaikan bahwa hitamnya kulit tersebut akibat dari terik matahari,

      “Janganlah kamu perhatikan bahwa aku hitam, karena terik matahari membakar aku. Putera-putera ibuku marah kepadaku, aku dijadikan mereka penjaga kebun-kebun anggur; kebun anggurku sendiri tak kujaga” [Kidung agung 1.6]
  • Klaim tabut perjanjian diangkut dari Yerusalem ke Ethiophia
    Di perjanjian lama kita temukan bahwa hingga abad ke-6 SM, yaitu di jaman raja Hizkia, tabut perjanjian itu masih tetap berada di Yerusalem (2 raja-raja 19.15) dan bahkan hingga abad ke-5 SM, yaitu pada jaman raja Josiah, juga masih berada di Yerusalem (2 taw 33-35.3). Bukan hanya itu,

      Profesor Edward Ullendroff, pemegang jabatan pertama satu-satunya untuk kursi Studi Ethiopia di Inggris. Bukunya “Ethiopia and the Bible”, yang diterbitkan Oxford University, diakui sebagai karya ilmiah klasik dalam bidang agama di Ethiopia. Ketika buku Graham Hancock tentang Tabut di Ethiopia, “Sign and Seal”, pertama kalinya dirilis, Wartawan mencari Ullendroff sebagai saksi ahli untuk mengevaluasi teorinya Hancock. Di sebuah wawancara dengan Los Angeles Times, Ullendroff, setelah mengatakan buku Handcock itu sebagai “lelucon yang menyedihkan”, menyatakan bahwa Ia telah melihat sendiri objek di Axum: “Mereka punya kotak kayu, tapi itu kosong … Kontruksinya dari masa pertengahan hingga akhir abad pertengahan yang khusus dibuat untuk pemalsuan” Lebih lanjut Ullendorff mengatakan bahwa para imam dan pemerintah mengabadikan aura misteri di sekitar objek” utamanya untuk mempertahankan gagasan bahwa itu adalah objek keramat” Hancock dan Cornuke, juga para orang Barat lainnya yang telah mengunjungi situs itu, mengklaim bahwa tidak ada orang yang diizinkan memasuki gereja dan melihat tabut

      Ullendrof, sebaliknya mengatakan ini hanya karena mereka adalah orang Barat yang tidak punya pengetahuan bahasa dan adat istiadat Ethiopia: “Aku telah melihatnya. Tidak ada masalah dalam mendapatkan aksesnya ketika aku melihatnya di tahun 1941 …. Anda harus dapat berbicara bahasa mereka, bahasa klasik Ge’ez; Anda harus mampu menunjukkan keseriusan Anda” oleh karenanya, menurut saksi ahli ini, objek di Axum merupakan peninggalan abad pertengahan yang dapat dilihat siapa saja selama imam ijinkan untuk melihatnya.

      Karena Kebra Negast mendukung klaim kerajaan, yang telah menjadi epik nasional negara dan kepemilikannya “tabut” adalah penting untuk mempertahankan keunggulan Kristen Abyssinia. Ini juga dianggap Tabut oleh mereka yang “Yakin” dan umumnya akui demikian oleh seluruh penduduk yang menganggapnya sebagai bagian kebanggaan nasional mereka. Oleh karenanya, terlepas dari apa yang ada di kapel Axum, Ethiopia tetap mengklaimnya sebagai tabut [“Searching for the Ark of the Covenant”, Randall Price, hal.177]

    Berkaitan ini, Bahkan Professor Tidor Parfitt, sejarahwan Smith Hempstone dan banyak ahli lainnya menyatakan ini adalah hoax:

      Professor Tidor Parfitt:
      Mayoritas klaim tentang Amhara berkenaan dengan Ratu Sheba, seorang ratu Ethiophia, yang berkunjung ke Raja Sulaiman di Yerusalem, di mana ia dihamili sang raja besar. Tentang Tabut yang dicuri anak mereka Manelik, raja pertama Ethiophia. Bagi kaum kristen Amhara kisah tentang tabut merupakan pijakan mitos mereka, pijakan mitos seperti ini tidak bagi kaum lainnya di bumi.

      Namun adakah landasan sejarah untuk dongeng ini? Pada tradisi arab tentang Ratu Seba yang disebut Bilqis dan yang dihubungkan dengan jaman Pra Islam kerajaan Saba di Selatan Saudi. Yang bahkan sama sekali tidak ada bukti bahwa Ratu Sheba pernah ada. Namun, untuk dugaan sebagai pasangannya Sulaiman telah berkembang dalam legenda yang tak terhitung banyaknya di seluruh dunia. Di Ethiopia, legenda ini diceritakan ulang, kisah dan substansi tabut mengalami perubahan bentuk. Kebanyakannya dibumbui menjadi sebuah kotak altar nasrani cantik. Ini digunakan dalam perayaan kudus Nasrani. Bermetamorfosis menjadi sesuatu yang diterima, aman dan merakyat dan pastinya menyimpang dari tabut Musa. Telah berubah menjadi sesuatu yang lain.

      Juga bukan sebuah petunjuk tipis tentang objek di kapel Gereja St Mary Zion di Aksum yang punya banyak barang kuno atau berkaitan dengan tabut asli atau dengan keaslian tabut dalam banyak hal. Justru sebaliknya: Ini membuktikan dengan tanpa keraguan bahwa itu adalah bukan.

      Namun dalam konsep pun, ini adalah palsu, Tabut Kristen yang digambarkan Abu Salih dan digambarkan sebagai sesuatu yang bahkan lebih berornamen oleh pengunjung lainnya yang ke Aksum, adalah bukan tabut yang saya cari. Ini bukanlah Tabut. [Madote: “The Lost Ark of the Covenant: Solving the 2,500-Year-Old Mystery of the Fabled Biblical Ark, Professor Tudor Parfitt, hal.72-73]

      Sejarahwan Smith Hempstone:
      “Sejarahwan dan para arkeolog secara umumnya sepakat bahwa seluruh kisah ini adalah total pemalsuan [Madote: The Africa, angry young giant, Smith Hempstone, Hal. 69]

  • Klaim keturunan Israel (Yahudi-Ethiophia/Beta-Israel, “Rumah/Komunitas-Israel”)
    Kebra Nagast menyatakan bahwa mereka adalah keturunan satu batalion orang-orang Yehuda yang melarikan diri ke arah selatan selatan ke pesisir Arab dari Yudea setelah pecahnya Kerajaan Israel menjadi dua di abad ke-10 SM (ketika Raja Rehabeam memerintah atas Yehuda). Kaum ini sejak abad ke-15 disebut sebagai Falasha (orang luar, pengelana)

    Beberapa kali pengujian DNA terhadap Israel-Beta/Falasha Ethipia menunjukan bahwa mereka ini tidak terbukti secara genetis sebagai keturunan Yahudi.

      Sampel DNA para Beta Israel/Yahudi Falasha dan Etiopia diteliti dengan Y-Kromosom-spesifik DNA probe p49a untuk menyaring TAQ1 pembatasan polimorfisme dan haplotype. Dua haplotype (V dan XI) paling banyak terdapat di Beta Israel dan Etiopia, mewakili sekitar 70% total jumlah haplotipe di Ethiopia. Karena Yahudi haplotipe VII dan VIII tidak terwakili di populasi Falasha, kami menyimpulkan bahwa orang-orang ini berasal dari penduduk kuno Ethiopia yang masuk agama Yahudi [DNA & Tradition: The Genetic Link to the Ancient Hebrews, Yaakov Kleiman, 2004, hal.83]

    Perlu juga diketahui,
    di abad ke-10 masehi, terdapat seorang wanita bernama Yodit (atau Gudit, Judith, Esato, Ester) yang merebut kekuasaan. Beberapa sejarahwan mempunyai ragam spekulasi satu kelompok mengatakan bahwa wanita ini adalah turunan Yahudi namun kelompok lainnya mengatakan wanita ini keturunan kaum penyembah berhala di Selatan

      Ibn Hawqal (w setelah 378 H / 988 M): Berkenaan dengan Negara habasha di perintah oleh seorang wanita selama banyak tahun sekarang: Ia membunuh raja habasha yang bernama Haḍani [Ge’ez: haṣ́ani, modern aṣ́e atau atse]. Hingga hari ini Ia memerintah dengan kebebasan penuh di negaranya dan area perbatasan dari Haḍani, di bagian selatan habashi [The Zagwe period re-interpreted: post-Aksumite Ethiopian urban culture, Tekeste Negash, : Trimingham 1952, hal. 52, juga: Di sini).

Kemudian,
Hasil pengujian karbon pada peradaban Eritrea Asmara, menyajikan umur terawal peradaban tersebut di kisaran abad 8 SM. Penemuan ini 2 abad lebih muda dari apa yang umum yakini mengenai kebudayaan di Afrika. Peter Schmidt, profesor University Florida bersama beberapa rekan mudanya dari departemen arkeologi Universitas Asmara, menunjukkan bahwa antara 800 SM dan 400 SM, di dataran tinggi sekitar Asmara, terdapat komunitas pedesaan dan agraris terawal di tanduk benua Afrika (horn of Africa). [“New discoveries in Africa change face of history“, November 2001 atau di sini].

Kemudian,
klaim Dr. Bernard Leeman yang menyatakan bahwa penemuan inskripsi Sabean pada 2 pembakaran dupa, Addi Akaweh, Wukro, Selatan Tigre, Ethiopia terkait dengan Perjanjian Lama Ibrani, memberikan konfirmasi pada tradisi Ethiopia kuno tentang Raja Sulaiman dan Ratu Sheba adalah TIDAK BENAR

Mengapa?

Anda tinggal membuka sendiri tulisan A.K Irvine yaitu “AN ETHIOPIAN SABAEAN INSCRIPTION FROM SOUTHERN TIGRE, ETHIOPIA“, membaca isinya, dapat kita ketahui pasti bahwa inskripsi tersebut sama sekali TIDAK ada kaitannya dengan perjanjian lama, TIDAK menyatakan hubungan Raja Sulaiman dan ratu Sheba, TIDAK menyebut keberadaan ratu Sheba maupun turunannya padahal inskripsi itu berasal dari abad ke-4-5 SM .

Tidak ada 1 kerajaan pun di wilayah tanduk benua Afrika (horn of Africa), pada masa itu, menyinggung tentang adanya ratu Sheba atau Tabut Perjanjian di berbagai teks mereka dan bahkan hasil uji tahun dengan C14 ini telah memporakporandakan telak seluruh klaim keberadaan Ratu Bilqis/Sheba.

Apa kesimpulan dari seluruh penelusuran ini?

David, Sulaiman, dan Ratu Sheba ternyata hanyalah tokoh dongeng belaka. [↑]

***

Binatang berkomunikasi dengan Manusia
Sebagai bagian dari kecerdasan, Binatang juga mempunyai ingatan jangka panjang dan pendek. Telah dilakukan uji tanding ingatan jangka pendek antara spesies manusia vs Kera dan hasilnya Kera berhasil mengalahkan sekelompok mahasiswa jepang dan juga juara mengingat dari Inggris:

    Sebuah penelitian di Kyoto, Jepang, baru-baru ini, dalam dua kali tes resmi uji memori jangka pendek menunjukkan simpanse selalu lebih cepat dari manusia.

    Tes yang digelar oleh peneliti Universitas Kyoto sebenarnya relatif sederhana. Peserta tes yakni simpanse dan sejumlah manusia yang jadi relawan. Mereka diharuskan menghapal letak angka yang terlihat pada sebuah layar komputer..

    Waktu yang diberikan untuk mengingat hanya sebentar. Setelah itu, semua angka hilang serta berganti titik putih yang harus disentuh sesuai urutan numerik. Hasil tes membuktikan simpanse berusia lima tahun menyelesaikan tes lebih cepat. Masalah akurasi, kemampuan manusia dan simpanse berimbang..

    Keunggulan simpanse tak hanya saat tes resmi. Dalam masa pelatihan selama enam bulan, tiga dari mahasiswa yang dilatih tetap tidak bisa menyaingi kecepatan tiga simpanse yang juga sudah dilatih. Tes ini mematahkan teori bahwa manusia selalu lebih pandai dari simpanse pada fungsi kognitifnya.[sumber: Di sini, tanggal 05 Desember 2007] dan bahkan kemampuan ingatan seekor simpanse Ayumu malah menang dalam lomba melawan juara mengingat Inggris, Ben Pridmore [sumber: Daily mail, tanggal 29 Januari 2013] [↑]

Kera tersebut tentu saja telah mendapatkan pelatihan agar dapat memahami perintah kapan mulai dan apa yang dilakukannya kemudian. Komunikasi antar spesies memang telah dilakukan sejak jaman dahulu dan pola komunikasi ini berbeda dengan sesama spesiesnya.

Salah satu cara manusia berkomunikasi adalah dengan berbicara dengan dengan suara. Kerja sama Pita suara dengan beraragam otot dan objek (diantaranya angin dan tekanan) menghasilkan suara/bunyi. Secara umum, diperlukan keterlibatan 72 otot dalam memproduksi suara namun lebih tepatnya adalah diperlukan sekurangnnya 10-12 objek berbeda [list: otot untuk memproduksi suara].

Untuk menyampaikan maksudnya, dengan kemampuan kognitif Manusian, suara ini kemudian diterjemahkan dalam huruf/abjad di susun menjadi bentuk kata/kalimat. Alternatif lain dalam berkomunikasi misalnya dengan penemuan Samuel F. B. Morse berupa variasi ketukan panjang dan pendek yang diterjemahkan dalam kode angka dan huruf. Kode-kode ini kemudian disusun dalam kata/kalimat untuk menyampaikan maksud. Dalam kedua contoh diatas, setiap peserta, perlu diajari mengenal caranya dan berkemampuan mengubahnya menjadi bentuk kata/kalimat.

Binatang dengan latihan tertentu dapat berkomunikasi dengan manusia, menyusun bentukan tertentu dalam menyampaikan maksudnya

    Seekor bonobo bernama Kanzi yang belajar berkomunikasi dengan sebuah papan Leksigram, menekan simbol-simbol yang mengartikan kata-kata. Papan tersebut tersambung ke sebuah komputer, sehingga kata tersebut kemudian disuarakan dengan keras oleh komputer. Hal ini membantu Kanzi mengembangkan kosa-katanya dan membuatnya mampu berkomunikasi dengan para peneliti.

    Pada suatu hari, Rumbaugh menggunakan komputer untuk berbicara dengan Kanzi, “Dapatkah kamu membuat anjing menggigit ular?” Dipercaya bahwa Kanzi belum pernah mendengar kalimat ini sebelumnya. Dalam menjawab pertanyaan tersebut, Kanzi mencari di antara objek-objek yang ada sampai dia menemukan mainan anjing dan ular, menaruh ular di mulut anjing, dan menggunakan jempol dan jarinya untuk menutup mulut anjing dengan ular di dalamnya. Pada tahun 2001, Alexander Fiske-Harrison, menulis di Financial Times, mengamati bahwa Kanzi “ditanya oleh seorang pemeriksa yang tidak terlihat lewat headphone (untuk menghindari pengisyaratan) untuk mengidentifikasi 35 item berbeda dalam 180 percobaan. Laju keberhasilannya adalah 93 persen”. Dalam penelitian lebih lanjut, dimulai dari dia berumur 7,5 tahun, Kanzi ditanyai 416 pertanyaan kompleks, menjawab secara benar lebih dari 74% secara keseluruhan. Kanzi telah diamati mengucapkan sebuah kata benda berarti kepada saudara perempuannya [Wikipedia. Juga lihat: ScienceDaily dan NPR.org]

Namun percakapan itupun dilakukan melalui alat bantu dan bukan percakapan penuh yang mengungkapkan hal yang kompleks. Namun rupanya, dunia islam mempunyai catatan tersendiri bahwa binatang pun mampu bercakap-cakap dengan manusia dan berbicara dengan bahasa manusia [↑]

Dongeng terakhir,

    Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang
    melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia
    dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat KAMI
    [AQ 27.82]

Quran di atas memberikan informasi menggelitik bahwa salah satu peserta “KAMI” dari Allah dalam bentuk jamak ini ternyata…berjenis BINATANG!

Tafsir Ibn Kathir untuk AQ 27.82:
Ibn Abbas, Al Hasan, Qatadah berkata: dan diriwayatkan dari Ali, ia berkata, “dia mengajak mereka berbicara tentang satu pembicaraan, yaitu berdialog dengan mereka”

Binatang membawa tongkat dan mementungi kafir:
Riwayat (Yazid dan Affan) – Hammad bin Salamah – Ali bin Zaid – Aus bin Khalid – Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda:
“Kelak akan ada binatang melata membawa tongkat Musa dan cincin Sulaiman, lalu ia menghancurkan orang kafir.” ‘Affan berkata dalam riwayatnya; “memukul hidung orang kafir dengan cincin, dan binatang tersebut juga menyibak wajah mukmin dengan tongkat Musa sehingga orang-orang yang berada di meja makanan berkumpul pada meja makanan mereka, lalu yang ini berkata; ‘Wahai mukmin, ‘ dan yang itu berkata; ‘Wahai kafir.'” [Ahmad no.7596, no.9966. Tirmidzi no.3111]

Batu dan Pohon bicara saat kiamat:
Riwayat Qutaibah bin Sa’id – Ya’qub bin Abdurrahman – Suhail – ayahnya – Abu Hurairah: Rasulullah SAW bersabda:
“Kiamat tidak terjadi hingga kaum muslimin memerangi Yahudi lalu kaum muslimin membunuh mereka hingga orang Yahudi bersembunyi dibalik batu dan pohon, BATU atau POHON BERKATA, ‘HAI MUSLIM, HAI HAMBA ALLAH INI ORANG YAHUDI DIBELAKANGKU, KEMARILAH, BUNUH DIA’ kecuali pohon gharqad, ia adalah pohon Yahudi’.” [Muslim no.5203. Juga di: Bukhari no.2709, Ahmad no.9029, no.10437]

Rupanya demikianlah salah satu gambaran menjelang kiamat,
yang bahkan hingga menjelang kiamatpun, bangsa yahudi yang selalu dimusuhi kaum muslim dan Allah ini, tetap tidak mampu dibasmi Allah. [↑]

Hadis-hadis di bawah ini menguak fakta bahwa,
benda mati seperti batu dan juga binatang yang bicara dengan manusia, sudah lumrah terjadi di dunia islam:

Batu bicara di jaman Muhammad
Riwayat Abu Bakr bin Abu Syaibah – Yahya bin Abu Bukair – Ibrahim bin Thahman – Simak bin Harb – Jabir bin Samurah:
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya akulah yang paling mengenal batu di Mekkah. Batu-batu itu memberi salam kepadaku sebelum aku diutus menjadi Rasul. Kini aku ingat peristiwa itu. [Muslim no.4222. Juga di: Tirmizi no.3557. Darimi no.20. Ahmad no.19912, 19988, 20097] [↑]

Sulaiman mendengarkan semut berbicara
Quran menyampaikan kisah sulaiman yang mendengarkan semut bercakap-cakap sebagai berikut:

    “Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah (Qalat) seekor semut (namlatun, feminim, single): “Hai kaum semut (al-namlu, plural, masukulin), masuklah ke sarang-sarangmu, agar kalian tidak diinjak Sulaiman dan tentaranya, saat mereka tidak menyadarinya; maka dia (Sulaiman) tersenyum tertawa pada perkataannya [qawlihā: single, feminim] dan berkata [waqāla]: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku…” (AQ 27.18-19).

Seberapa jauh jarak antara semut vs tentara Sulaiman tersebut sehingga semut itu mampu mengenali itu adalah tentara Sulaiman bukan segerombolan pedagang? bukan segerombolan binatang yang membuatnya cukup waktu untuk mengindar?
Bagaimana caranya semut itu tahu bahwa orang ini bernama Sulaiman bukan Sutiyem?

Bagaimana caranya semut itu tahu perbedaan perbuatan yang disadari dan tidak?

Ratusan tahun sebelum islam,
ide semut bercakap-cakap antar sesamanya dengan kemampuan linguistik bak antar manusia bercakap-cakap, sudah dianggap konyol, sebagaimana disampaikan Oregon (185 M – 253/254 M) dalam bukunya “Melawan Celcus”:

    ..Tapi kenapa saya mengatakan “tidak rasional,” sejak Celsus berpendapat bahwa hewan-hewan ini, yang, mengiyakan ide umum semua orang, yang disebut tidak rasional..Juga ia (celcus) anggap semut..berbicara tentang “hal umum” dan membanggakan kebenarannya ini di bukunya. dalam hal bahwa semut-semut bercakap-cakap antar satu dengan lainnya, Ia (Celcus) menggunakan bahasa: “Dan ketika mereka bertemu satu sama lainnya, mereka berada dalam percakapan, yang menyebabkan mereka tidak pernah keliru dalam berjalan; konsekuensinya mereka punya sekumpulan penuh hal dan beberapa ide tentang topik-topik umum dan suara untuk mengekspresikan diri mereka sehubungan dengan hal-hal tertentu” Sekarang percakapan antar satu manusia dan manusia lainnya dibawakan dalam bentuk suara, untuk mengekspresikan pada makna yang dimaksud dan juga pengucapan pada apa yang disebut dengan “hal-hal tertentu” namun untuk menyatakan ini pada kasus semut adalah pernyataan yang sangat konyol.[Oregon, “Contra Celcus”, bab 84, dituliskan pada 248

Para semut tidaklah bercakap seperti manusia, cara mereka berkomunikasi dengan sesamanya adalah:

  1. melalui bau-bauan [Feromon) dan
  2. membuat 2 jenis bunyi-bunyian, yaitu ketukan tubuh ke lantai subtratum) dan gesekan/garukan (stridulation)
  3. [the ants, Bert Hölldobler, hal 255-257]

Tafsir AQ 27.18-19:

    Ketika Qatada (680 M/61AH -735 M/117AH), seorang Muhaddith, datang ke Kufa (Iraq), Ia dikelilingi para muslim, di sana berkali-kali berkata: “sallu aman shi’atum” (engkau dapat bertanya padaku apapun yang engkau mau). Abu Hanifa (699 M/80AH — 757 M/148AH), yang saat itu masih muda, melalui seseorang, bertanya padanya: “Semut yang ada di kisah Sulaiman apakah jantan atau betina?”. Qatada terdiam. Abu Hanifa diminta menjawab pertanyaannya itu, menjawab: “Semut itu betina”. Qatada bertanya: “buktinya?”. Abu Hanifa: “Buktinya ada di Quran pada kalimat “wa qaalat namlatun”, jika semutnya jantan, kalimat yang digunakan “wa qaalat namlun”. [di sini, islamicencyclopedia atau pada Behind the Veil, Ch.13, terdapat informasi: “Ini yang Zamakh-shari sampaikan. Ia bahkan menyebutkan bahwa semut yang memberikan peringatan teman-temannya itu bernama Tahina dan Sulaiman mendengarnya ketika masih 3 mil jauhnya]
      note:
      NAML(نَمْل):NAMLAH( نملة) NAMLATUN( نَمْلَةٌ) artinya seekor semut digunakan baik maskulin dan feminim dan AN-NAML(النَّمْل) adalah juga kata benda plural dan kata benda keterangan. artinya sebuah tempat yang penuh dengan semut [quransynonyms].

      Namlun = “semut-semut (penyebutan umum)”, naml+atun “seekor semut”, Naml+at+āni “dua semut”, namal+ātun atau nimālun “beberapa semut (jumlah tertentu) [A Descriptive and Comparative Grammar of Andalusi Arabic, Federico Corriente, hal.66]

      Ibn Kathir menyampaikan kemampuan Sulaiman mengerti bahasa binatang bukan kemampuan alami, namun baru terjadi setelah menjadi raja menggantikan Daud yang wafat. [Ibn kathir dalam “Story of Prophet Sulaiman”]

      Jalaludin (Mahalli dan Suyuthi) untuk ayat ini menyatakan bahwa lokasi lembah semut itu berada disalah satu tempat, di Thaif atau di Suriah dan semut yang berbicara adalah semut ratu serta Semut adalah seperti makhluk rasional dalam penggunaan percakapan mereka [Tafsir Jalalyn].

      Ibn Qayyim menyampaikan bahwa perkataan semut di AQ 27.18 mengandung 10 parameter linguistik: Al Nida-a (Seruan); Al Tanbih (Peringatan); Al Tasmiyah (Penamaan); Al Amr (Perintah); An Nass (Penegasan); At Tahdhir (peringatan keras); Al Takhsis (pengkhususan); Al Tafhim (pemahaman); At Ta’mim (pengumuman); Al I’itithar (alasan) [Miftaah Dar as Sa’aadah: 2/150 atau Vol. 1, Pg. 243/arab]

    …dan tetap saja tidak tidak dapat menjelaskan bagaimana semut dapat mengenali antara segerombolan tentara vs binatang/pedagang, antara manusia dan bukan, antara Sulaiman vs Sutiyem.. [↑]

    Beberapa hadis yang menginformasikan bahwa Muhammad dan beberapa manusia dijamannya pun berkemampuan bak Sulaiman, mampu berbicara dengan binatang.

    Sapi dan Serigala bicara

    • Riwayat ‘Ali bin ‘Abdullah – Sufyan – Abu ‘Abdur Razzaq – Zanad – Al A’raj – Abu Salamah – Abu Hurairah;“Rasulullah SAW melaksanakan shalat Shubuh (setelah selesai) Beliau menghadap kepada jama’ah lalu bersabda: “Ada orang yang sedang menggiring sapi betina lalu ketika ditungganginya dia memukul sapi tersebut, lalu SAPI ITU BERBICARA: “Aku diciptakan bukan untuk dipukuli seperti ini, tapi aku diciptakan untuk membantu pengembangan sawah ladang”.

      Lalu orang-orang berkata; “Maha suci Allah, SAPI DAPAT BERBICARA?“.

      Beliau SAW bersabda: “Aku beriman tentang kejadian itu, begitu juga Abu Bakar dan ‘Umar”. Saat itu keduanya tidak hadir disana.

      Dan ada pula seseorang yang sedang bersama kambingnya lalu ada seekor serigala yang akan memangsa kambingnya dan ketika serigala itu membawanya kabur, orang itu mencarinya seakan dia mengawasi kambingnya dari ancaman serigala maka SERIGALA ITU BERBICARA KEPADANYA; “Kini kamu merasa menjaganya dari aku tapi siapa yang menjaganya pada hari berburu saat tidak ada pengembala yang mengawasinya?”.

      Lalu orang-orang berkata; “Maha suci Allah, serigala dapat berbicara?”.

      Beliau SAW bersabda: “Aku beriman tentang kejadian itu, begitu juga Abu Bakar dan ‘Umar”. Saat itu keduanya tidak hadir disana.

      Dan telah bercerita kepada kami ‘Ali – Sufyan – Mis’ar – Sa’ad bin Ibrahim – Abu Salamah – Abu Hurairah – Nabi SAW.[Bukhari no.3212, Hadits-hadits yang meriwayatkan tentang para Nabi, Bab : Hadits gua]

    • Riwayat Muhammad bin Basysyar – Ghundar – Syu’bah – Saad bin Ibrahim – Abu Salamah – Abu Hurairah – Nabi SAW bersabda:
      “orang yang menunggang sapi betina akan diremukkan oleh SAPI TERSEBUT SERAYA BERKATA: Aku diciptakan bukan untuk ini, tapi aku diciptakan untuk membajak “.

      Beliau SAW bersabda; “Aku beriman tentang kejadian itu, begitu juga Abu Bakar dan ‘Umar”.

      Dan akan ada pula seekor serigala yang memakan kambing lalu pengembalanya mengikutinya. Maka SERIGALA BERKATA KEPADA PENGGEMBALA ITU: “Siapa yang mengawasi kambing itu pada hari berburu ini yang tidak ada yang menjaganya kecuali aku?”

      Beliau bersabda: “Aku beriman tentang kejadian itu, begitu juga Abu Bakar dan ‘Umar”.

      Berkata, Abu Salamah: “Saat itu Abu Bakar dan ‘Umar tidak berada ditengah-tengah orang saat Beliau menceritakan.” [Bukhari no.2156]

    • Riwayat ‘Abdullah bin Yusuf – Al Laits – ‘Uqail – Ibnu Syihab – [Sa’id bin Al Musayyab dan Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman] – Abu Hurairah – Rasulullah SAW bersabda:
      “Ada seorang pengembala ketika sedang bersama kambing-kambing gembalaannya, tiba-tiba datang seekor serigala menyerang lalu mengambil seekor kambingnya. Gembala itu pun mencarinya hingga menemukannya lalu SERIGALA MENOLEH KEPADANYA SERAYA BERKATA: “Siapa yang menjaga kambing itu pada hari berburu ketika tidak ada yang menggembalakannya selain aku?”.

      Orang-orang berujar keheranan; “Subhaanallah (Maha Suci Allah)!”.

      Maka Nabi SAW bersabda: “Sungguh aku beriman tentang kejadian itu. Begitu juga Abu Bakr dan Umar”. Saat itu Abu Bakr dan ‘Umar tidak berada di sana. [Bukhari no.3414]

    • Riwayat [Abu Ath Thahir Ahmad bin ‘Amru bin Sarh dan Harmalah bin Yahya] – Ibnu Wahb – Yunus – Ibnu Syihab – Sa’id bin Al Musayyab dan Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman – Abu Hurairah – Rasulullah SAW:
      ‘Ketika seorang laki-laki sedang menggiring sapinya dengan muatan, tiba-tiba SAPI ITU MENOLEH dan BERKATA; ‘Sesungguhnya aku tidak diciptakan untuk melakukan pekerjaan seperti ini, tetapi aku diciptakan hanya untuk membajak sawah.’

      Para sahabat bertanya-tanya, “Subhanallah, sungguh aneh dan luar biasa! APAKAH MUNGKIN SEEKOR SAPI DAPAT BERBICARA?

      Maka Rasulullah pun bersabda: “Sesungguhnya aku, Bakar, dan Umar mempercayai hal itu.”

      Abu Hurairah berkata; “Rasulullah SAW juga bersabda: ‘Ketika seorang laki-laki sedang menggembalakan kambingnya, tiba-tiba seekor serigala menyerang kambing itu dan membawanya pergi. Lalu penggembala itu mencari dan membebaskannya dari cengkraman srigala tersebut. Tetapi, uniknya, SERIGALA ITU MENOLEH KEPADANYA SERAYA BERKATA, Siapakah yang dapat menguasai hari yang sangat menakutkan, di hari ketika tidak ada penguasa selain aku?”

      Para sahabat terheran-heran dan berkata; “Subhaanallah, sungguh aneh dan luar biasa.”

      Lalu Rasulullah pun berkata: “Sungguh aku, Abu Bakar, dan Umar mempercayai hal itu.”

      Riwayat ‘Abdul Malik bin Syu’aib bin Al Laits – Syu’aib bin Al Laits bin Sa’ad – Laits bin Sa’ad bin ‘Abdur Rahman -‘Uqail bin Khalid – Ibnu Syihab melalui jalur ini –mengenai kisah seekor kambing dan srigala, dia tidak menyebutkan kisah seekor sapi.–

      Riwayat [(Muhammad bin ‘Abbad – Sufyan bin ‘Uyainah) dan (Muhammad bin Rafi’ – Abu Dawud Al Hafari – Sufyan)] – Abu Az Zanad – Al A’raj – Abu Salamah – Abu Hurairah – Nabi SAW yang semakna dengan Hadits Yunus – Az Zuhri, di dalam Hadits keduanya disebutkan kisah seekor sapi dan kambing secara bersamaan. Keduanya juga menyebutkan sabda Rasulullah; ‘Sesungguhnya aku, Abu Bakr dan Umar mempercayai hal itu.’

      Riwayat [Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basysyar] – Muhammad bin Ja’far – Syu’bah; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abbad – Sufyan bin ‘Uyainah – Mis’ar keduanya – Sa’d bin Ibrahim – Abu Salamah – Abu Hurairah – Nabi SAW. [Muslim no.4401, Kitab: Keutamaan sahabat, Bab : Keutamaan Abu Bakar Ash Shiddiq, dengan total 11 jalur perawi]

    • Riwayat Mahmud bin Ghailan – Abu Daud Ath Thayalisi – Syu’bah – Sa’d bin Ibrahim – Abu Salamah – Abu Hurairah – Nabi SAW bersabda:
      “Ketika seorang laki-laki sedang menggembalakan kambing miliknya, tiba-tiba seekor serigala datang dan menerkam seekor kambing, lantas pemiliknya datang dan menyelamatkannya dari serigala tersebut, maka SERIGALA ITU BERKATA: “Siapa yang akan menjaganya pada hari yang tidak ada penjaga selain aku? ‘”

      Rasulullah SAW bersabda: “Maka saya beriman dengannya, juga Abu Bakar dan Umar.”

      Abu Salamah berkata; “Padahal pada waktu itu keduanya tidak bersama Nabi.”

      Riwayat Muhammad bin Basyar – Muhammad bin Ja’far – Syu’bah – Sa’d bin Ibrahim seperti hadits di atas, Abu Isa berkata; “Hadits ini adalah hadits hasan shahih.” [Tirmidhi no.3628]

    • Riwayat Sufyan – Abu Az Zinad – Al A’raj – Abu Salamah – Abu Hurairah – Rasulullah SAW pernah melaksanakan shalat bersama kami, lalu beliau menghadapkan wajahnya ke arah kami seraya bersabda, “Ketika seorang laki-laki mengendarai seekor sapi lalu memukulnya, BERKATALAH SAPI TERSEBUT, ‘Sesungguhnya kami tidak dicipatakan untuk ini, tapi kami dicipta untuk membajak.'”

      Maka orang-orang pun berkata; “Subhaanallah, ada seekor sapi yang bisa berbicara?”

      Lalu beliau bersabda: “Sungguh aku beriman dengan ini semua, demikian dengan Abu Bakar dan Umar.” Padahal keduanya tidak ada di sana.

      “Dan ketika seorang laki-laki sedang bersama kambing gembalaannya, datanglah srigala dan mengambil seekor darinya, kemudian ia mencarinya sehingga ia temukan dan selamatkan dari terkaman srigala tersebut. Lalu BERKATALAH SERIGALA ITU, ‘Wahai pengembala, engkau telah mengambilnya dariku, siapakah yang akan menjaganya pada hari keganasan binatang buas, hari yang tidak ada penjaga selain aku.”

      Maka orang-orang pun berkata; “Subhaanallah, SEEKOR SERIGALA BISA BERBICARA.”

      Lalu beliau bersabda: ” Sungguh aku beriman dengan ini semua, demikian dengan Abu Bakar dan Umar.” Padahal keduanya tidak ada di sana. [Musnad Ahmad no.7047]

    • Riwayat Muhammad bin Ja’far – Syu’bah – Sa’d bin Ibrahim – Abu Salamah – Abu Hurairah – Nabi SAW bersabda:
      “Ketika seorang laki-laki mengendarai sapi, SAPI ITU MENOLEH KEPADANYA DAN BERKATA; ‘Sesungguhnya aku diciptakan bukan untuk ini, akan tetapi aku diciptakan untuk bertani (membajak), “

      Beliau bersabda: “Maka aku beriman dengannnya, juga Abu Bakar dan Umar.”

      Beliau bersabda: “Dan ada seekor serigala yang mencuri seekor kambing dan penggembala mengikutinya untuk mengambil, maka BERKATALAH SERIGALA; ‘Siapa yang akan menjaganya pada hari yang tidak ada penjaga selain aku? ‘”

      Beliau bersabda: “Maka aku beriman dengannya, juga Abu Bakar dan Umar.”

      Abu Salamah berkata; “Padahal pada waktu itu keduanya tidak bersama Nabi.” [Musnad Ahmad no.8605]

    • Riwayat Abdurrazzaq – Ma’mar – Asy’ab bin Abdullah – Syahr bin Hausyab – Abu Hurairah:
      Ada seekor serigala yang datang kepada penggembala kambing lalu mengambil satu kambingnya, maka sang penggembala pun mencarinya dan mengambil kembali kambingnya dari serigala tersebut, “
      Abu Hurairah berkata; “maka SERIGALA ITU naik ke atas gundukan tanah lalu jongkok dan menggerakkan ekornya BERKATA; “Aku telah berusaha mencari rizqi yang telah Allah berikan kepadaku namun kamu mencabutnya dariku, “

      maka laki-laki pengembala itu berkata; “Aku tidak pernah melihat kejadian seperti hari ini, BAGAIMANA MUNGKIN SEEKOR SERIGALA BERBICARA?

      SERIGALA BERKATA; “Aku kagum dengan seorang laki-laki yang berada di tanah pohon kurma di antara dua tanah yang tidak berpasir (yaitu madinah), ia memberi kabar kepada kalian tentang cerita yang telah lampau dan kejadian yang akan datang setelah kalian.”

      Laki-laki penggembala tersebut adalah seorang yahudi, lalu ia datang kepada Nabi SAW dan masuk Islam, ia memberitahu beliau tentang apa yang terjadi padanya dan Nabi pun membenarkannya seraya bersabda: “Sesungguhnya yang demikian itu adalah di antara tanda-tanda hari kiamat, sungguh hampir-hampir akan ada seorang laki-laki yang pergi keluar dan tidak kembali sehingga dua sandal dan cemetinya menceritakan kepadanya tentang apa yang terjadi dengan keluarganya sepeninggalnya.” [Ahmad no.7718]

    • Riwayat Yazid – Al Qasim bin Al Fadhl Al Hudani – Abu Nadhrah – Abu Sa’id Al Khudri:
      “Seekor serigala mengambil seekor domba, maka penggembala domba tersebut kemudian mencari dan merebutnya kembali, sehingga SERIGALA ITU duduk di atas ekornya seraya BERKATA; “Tidakkah kamu takut kepada Allah, karena kamu telah merebut rizki yang telah Allah berikan kepadaku?”

      Maka penggembala tersebut berkata; “Betapa anehnya, seekor serigala yang duduk di atas ekornya dapat berbicara kepadaku layaknya manusia!”

      Kemudian SERIGALA ITU BERKATA LAGI, “Maukah aku beritahukan kepadamu sesuatu yang lebih menakjubkan dari itu semua? Sesungguhnya Muhammad SAW yang berada di Yatsrib sedang mengabarkan kepada manusia tentang kabar-kabar yang telah berlalu.”

      Abu Sa’id berkata; Kemudian penggembala tersebut segera menggiring domba-dombanya hingga sampai di Madinah. Lalu dia menelusuri sudut-sudut kota Madinah, kemudian ia menemui Rasulullah SAW seraya memberitahukan kejadian tersebut kepadanya. Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan seseorang untuk mengumandangkan; ‘Asshalaatul jaami’ah’. Maka orang-orang pun berkumpul, lalu Rasulullah SAW memerintahkan penggembala tersebut untuk memberitahukan kepada mereka apa yang telah ia alami, maka ia pun mengabarkan kepada mereka kejadian yang ia alami, setelah itu Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat belum akan terjadi sehingga binatang buas dapat berbicara kepada manusia, pecut serta tali sandal seseorang dapat berbicara kepada pemiliknya, dan pahanya dapat memberitahukannya apa yang telah diperbuat istrinya ketika ia tidak ada di rumah.” [Musnad Ahmad no.11365]

    • Riwayat Abu Al Yaman – Syu’aib – Abdullah bin Abu Husain – Syahr – Abu Sa’id Al Khudri – Nabi SAW, beliau menuturkan:
      “Ketika seorang arab badui sedang berada di pinggiran kota Madinah bersama kambing gembalaannya, lalu datanglah seekor serigala mencuri seekor kambing miliknya. Arab badui tersebut memergokinya, lalu iapun merampas dan menyelamatkan kambingnya dari serigala tersebut. Akhirnya SERIGALA ITU berjalan dan duduk iq’aa` (duduk di atas pantat) sambil menggerak-gerakkan ekornya, lalu BERKATA KEPADA SANG PENGEMBALA; ‘Engkau telah mengambil rizki yang Allah berikan kepadaku,’

      Penggembala itu berkata; ‘Sungguh aneh, ada seekor serigala yang duduk sambil menggerak-gerakkan ekornya dapat berbicara denganku,’

      SERIGALA ITU BERKATA LAGI; ‘Demi Allah, sungguh engkau akan lebih heran lagi,’

      Penggembala itu berkata; ‘Terhadap apa aku akan lebih heran lagi? ‘ serigala itu menjawab; ‘Rasulullah SAW sekarang berada di antara dua pohon kurma, antara dua tanah berbatu sedang menceritakan kepada manusia tentang berita-berita dimasa lampau dan apa-apa yang akan terjadi dimasa mendatang.”

      Abu Sa’id berkata; Lalu arab badui tersebut menggiring kambingnya dengan cepat hingga ia tiba di kota Madinah, lalu ia mendatangi Nabi SAW dan mengetuk rumah beliau. Maka ketika Nabi SAW selesai dari shalatnya beliau bersabda: “Mana arab badui sang pemilik kambing itu?”

      Arab badui itu berdiri, lalu Nabi SAW bersabda kepadanya: “Ceritakanlah apa yang telah engkau dengar dan engkau lihat kepada manusia, ” lalu arab badui itupun menceritakan kepada orang-orang apa-apa yang telah ia lihat dan ia dengar. Maka saat itulah Nabi SAW bersabda: “Dia benar, itu adalah tanda-tanda sebelum datangnya hari kiamat, demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, tidak akan terjadi hari kiamat hingga salah seorang dari kalian keluar dari rumahnya, lalu sandal, pecut, atau tongkatnya mengabarkan kepadanya tentang apa yang telah dilakukan oleh istrinya sepeninggal kepergiannya.” [Musnad Ahmad no.11413] [↑]

    Kijang yang bicara

      قال الحافظ أبو نعيم الأصبهاني رحمه الله في كتابه “دلائل النبوة” حدثنا سليمان بن أحمد إملاء، ثنا محمد بن عثمان بن أبي شيبة، ثنا إبراهيم بن محمد بن ميمون، ثنا عبد الكريم بن هلال الجعفي عن صالح المري عن ثابت البناني عن أنس بن مالك قال: مر رسول الله صلى الله عليه وسلم على قوم قد اصطادوا ظبية فشدوها على عمود فسطاط فقالت: يا رسول الله، إني أخذت ولي خشفان فاستأذن لي أرضعهما وأعود إليهم. فقال: “أين صاحب هذه؟” فقال القوم: نحن يا رسول الله. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم “خلوا عنها حتى تأتي خشفيها ترضعهما وترجع إليكم” فقالوا من لنا بذلك؟ قال: “أنا” فأطلقوها فذهبت فأرضعت، ثم رجعت إليهم فأوثقوها فمر بهم رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: “أين أصحاب هذه؟” فقالوا: هو ذا نحن يا رسول الله. فقال: “تبيعونيها؟” فقالوا هي لك يا رسول الله فقال: “خلوا عنها” فأطلقوها فذهبت.

      وقال أبو نعيم: حدثنا أبو أحمد محمد بن أحمد الغطريفي من أصله، ثنا أحمد بن موسى بن أنس بن نصر بن عبيد الله بن محمد بن سيرين بالبصرة، ثنا زكريا بن يحيى بن خلاد ثنا حبان بن أغلب بن تميم ثنا أبي، عن هشام بن حسان عن الحسن عن ضبة بن محصن، عن أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه وسلم قالت: بينما رسول الله صلى الله عليه وسلم في صحراء من الأرض إذا هاتف يهتف: يا رسول الله، يا رسول الله. قال: “فالتفت فلم أر أحدا” قال: “فمشيت غير بعيد فإذا الهاتف: يا رسول الله، يا رسول الله قال. التفت فلم أر أحدا وإذا الهاتف يهتف بي فاتبعت الصوت وهجمت على ظبية مشدودة في وثاق وإذا أعرابي منجدل في شملة، نائم في الشمس، فقالت الظبية: يا رسول الله إن هذا الأعرابي صادني قبيل ولي خشفان في هذا الجبل فإن رأيت أن تطلقني حتى أرضعهما ثم أعود إلى وثاقي؟” قال: “وتفعلين؟ قالت: عذبني الله عذاب العشار إن لم أفعل” فأطلقها رسول الله صلى الله عليه وسلم فمضت فأرضعت الخشفين وجاءت قال: فبينما رسول الله صلى الله عليه وسلم يوثقها إذ انتبه الأعرابي فقال بأبي أنت وأمي يا رسول الله، إني أصبتها قبيلا، فلك فيها من حاجة؟ قال: قلت: نعم قال هي لك. فأطلقها فخرجت تعدو في الصحراء فرحا وهي تضرب برجليها في الأرض وتقول: أشهد أن لا إله إلا الله وأنك رسول الله.

      راجع البداية و النهاية لإبن كثير .. باب حديث الغزالة

      Terjemahannya kurang lebih:
      Riwayat dari Al-HafiZ Abu Naim Al-Asbahani dalam bukunya “tanda kenabian” yang diriwayatkan dari Sulaiman Ibn Ahmad – Muhammad Ibn Uthman Ibn Abu Shabiba – Ibrahim Ibn Muhammad Ibn Maimun – Abd Al-Karim Ibn Hilal Al-Ja’fy – Salih Al-Murri – Thabit Al-Banani – Anas Ibn Malik berkata:

      “Nabi SAW melewati seorang badui yang membawa seekor kijang yang diikat di tiang granit. KIJANG BERKATA, ‘O Nabi, Saya telah ditangkap dan mempunyai anak. Ijinkan aku menyusui mereka dan setelahnya aku akan kembali kemari’ Kemudian Nabi berkata: Siapa yang punya kijang ini? orang badui itu berkata, “punya kami, Nabi?”

      Nabi menjawab, ‘lepaskan ia agar ia dapat memberi makan anaknya dan ia akan kembali pada mu’ Orang badui itu bertanya, “Siapa yang menjamin kami tentang ini?” Nabi menjawab, “Aku”. Kemudian mereka melepaskan kijang itu, dan pergi dan memberi makan anaknya dan kembali dan diikat kembali.

      Nabi melewati lagi tempat itu dan bertemu kijang itu. dan berkata, “Punya siapa kijang ini?” Para suku badui berkata, “kami, O nabi”. Nabi kemudian berkata, “jual pada ku”. namun mereka menjawab, “Ia milikmu”. Kemudian Nabi berkata pada mereka, “bebaskan dia” kemudian mereka membebaskannya dan pergi”

      Abu Naim berkenaan dengan hal tersebut dari riwayat Ahmad Muhammad Ibn Ahmad Al-Ghatrifi – Ahmad Ibn Musa Ibn Anas Ibn Nasr Ibn Ubaid Allah Ibn Muhammad Ibn Sireen asal Al-Basra – Zakariah Ibn Yahya Ibn Khalad – Haban Ibn Aghlab Ibn Tamim – Hisham Ibn Hasan – Al Hasan – Daba Ibn Muhsin – Um Salamah, Istri nabi, berkata:

      “Ketika Nabi SAW, suatu ketika berada di padang pasir ia mendengar panggilan, “O Rasullullah! Rasullullah!” Nabi SAW melihat kesekeliling namun tidak melihat siapapun jadi ia meneruskan perjalanannya lagi. Ia kemudian mendengar panggilan berkata, “O rasullullah! O rasullullah!’ Ia melihat sekelilingnya namun lagi tidak melihat siapapun. Pemanggil itu menangis lagi sehingga Nabi mengikuti suaranya hingga menjumpai seekor kijang yang terikat tali. Nabi melihat seorang Badui berbaring disebelahnya, tidur di bawah matahari
      .
      KIJANG BERKATA, “O Rasullullah! Orang Badui ini menangkapku namun aku mempunyai anak di gunung ini. lepaskan aku agar aku bisa memberikan makan padanya, Aku berjanji akan kembali lagi.’ Nabi berkata, “dan kamu akan kembali?”

      KIJANG MENJAWAB, “Biarlah aku disiksa dengan siksaan pendosa jika aku tidak berbuat itu”. Nabi kemudian melepaskannya, ia kemudian pergi memberi makan anaknya dan kembali.

      Ketika nabi sedang mengikatnya lagi. Orang Badui itu bangun dan berkata pada Nabi, “Demi ibu dan bapakku, O nabi aku tangkap kijang ini beberapa waktu lalu, namun ada yang anda butuhkan tentangnya?’ Nabi berkata, ‘Ya’, Kemudian orang Badui itu berkata padanya, “Ini jadi milikmu” Nabi kemudian melepaskannya dan ia kembali dengan riang ke padang pasir. mengetukan kakinya ditanah dan berkata, “aku bersaksi tidak ada tuhan selain allah dan engkau adalah utusan Allah’ [Al-Bidaya wa al-Nihaya, Ibn Kathir, buku ke-6, hal. 163-164]

    Kisah Muhammad berbicara dengan kijang, FATWA no. 144539, menyatakan:

    “..Berkenaan dengan hadis tentang Nabi SAW berbicara dengan seekor kijang, sebagaimana disampaikan At-Tabaraani di “Al-Mu’jam” dan Abu Naim di “Dalaa’il An-Nubuwwah”. Shaykh Al-Albaani dalam “Silsilat Al-Ahadith Adh-Dha’ifah” menyatakannya sangat lemah [Dha’if]. Untuk itu, seorang muslim seharusnya tidak menarasikan hadis ini kecuali untuk mengklarifikasi bahwa ini adalah hadis dhaif..” [↑]

    Keledai bicara

    Sunni dan Syiah sepakat bahwa Keledai tunggangan Muhammad bernama Yafur/Ufair dapat berbicara :

    Mulai dari no.5:
    “.. أول شئ من الدواب توفي عفير ساعة قبض رسول الله صلى الله عليه وآله قطع خطامه ثم مر يركض حتى أتى بئر بني خطمة بقباء (6) فرمى بنفسه فيها فكانت قبره. وروي أن أمير المؤمنين عليه السلام قال: إن ذلك الحمار كلم رسول الله صلى الله عليه وآله فقال: بأبي أنت وامي إن أبي حدثنى، عن أبيه، عن جده، عن أبيه أنه كان مع نوح في السفينة فقام إليه نوح فمسح على كفله ثم قال: يخرج من صلب هذا الحمار حمار يركبه سيد النبيين وخاتمهم، فالحمد لله الذي جعلني ذلك الحمار.”

    Terjemahannya kurang lebih:
    ..Hal pertama yang wafat ketika Rasulullah SAW wafat adalah ‘Ufair. Ia putuskan tali kekangnya berjalan mendatangi sumur bani Khutmah lalu menceburkan dirinya yang kemudian menjadi kuburnya. Diriwayatkan Amirul-Mukminiin: “Bahwa KELEDAI TUNGGANGAN Rasullullah SAW BERKATA (kepada Rasullullah SAW): “Demi ayahmu dan ibuku, bahwa ayahku telah menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ayahnya bahwa ia pernah bersama Nuh di dalam perahu. Nuh berdiri mengusapnya dan kemudian berkata: ‘Akan muncul dari sulbi keledai ini seekor keledai tunggangan pemimpin para nabi dan termulia/penutup’. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku sebagai keledai itu” [Ushulul Kafi, Al Kulaini, 1/237, atau di sini dan juga di sini]

    Ibn kathir:

      [حديث الحمار‏:‏

      وقد أنكره غير واحد من الحفَّاظ الكبار فقال أبو محمد بن عبد الله بن حامد‏:‏ أخبرنا أبو الحسن أحمد بن حمدان السحركي، حدَّثنا عمر بن محمد بن بجير، حدَّثنا أبو جعفر محمد بن يزيد إملاءً، أنَّا أبو عبد الله محمد بن عقبة بن أبو الصَّهباء، حدَّثنا أبو حذيفة عن عبد الله بن حبيب الهذلي، عن أبي عبد الرَّحمن السلميّ، عن أبي منظور قال‏:‏ لما فتح الله على نبيه صلَّى الله عليه وسلَّم خيبر أصابه من سهمه أربعة أزواج بغال، وأربعة أزواج خفاف، وعشر أواق ذهب وفضة، وحمار أسود ومكتل‏.‏

      قال‏:‏ فكلَّم النَّبيّ صلَّى الله عليه وسلَّم الحمار، فكلمه الحمار فقال له‏:‏ ‏(‏‏(‏ما اسمك‏؟‏‏)‏‏)‏

      قال‏:‏ يزيد بن شهاب، أخرج الله من نسل جدي ستين حماراً كلَّهم لم يركبهم إلا نبي لم يبق من نسل جديّ غيريّ، ولا من الأنبياء غيرك وقد كنت أتوقعك أن تركبني، قد كنت قبلك لرجل يهوديّ وكنت أعثر به عمداً، وكان يجيع بطنيّ، ويضرب ظهريّ‏.‏

      فقال النَّبيّ صلَّى الله عليه وسلَّم‏:‏ ‏(‏‏(‏سميتك يعفور، يا يعفور‏)‏‏)‏‏.‏

      قال‏:‏ لبيك‏.‏

      قال‏:‏ ‏(‏‏(‏تشتهي الإناث‏؟‏‏)‏‏)‏

      قال‏:‏ لا، فكان النَّبيّ صلَّى الله عليه وسلَّم يركبه لحاجته فإذا نزل عنه بعث به إلى باب الرَّجل، فيأتي الباب فيقرعه برأسه، فإذا خرج إليه صاحب الدَّار أومأ إليه أن أجب رسول الله صلَّى الله عليه وسلَّم‏.‏

      فلمَّا قُبض النَّبيّ صلَّى الله عليه وسلَّم جاء إلى بئر كان لأبي الهيثم بن النبهان فتردَّى فيها فصارت قبره جزعاً منه على رسول الله صلَّى الله عليه وسلَّم‏.‏]


      Terjemahan kurang lebih:
      Riwayat Abu Muhammad Ibn Abdullah Ibn Hamid – Abu Al-Hussian Ahmad Ibn Hadan Al-Sijsi – Umar Ibn Muhammad Ibn Bajir – Abu Jafaar Muhammad Ibn Mazid – Abu Abdullah Muhammad Ibn Akba Ibn Abu Al-Sahba’- Abu Huthaifa – Abdullah Ibn Habib Al-Hathli – Abu Abd Al-Rahman Al-Silmy – Abu Manthur:

      Setelah Allah membukakan Khaibar kepada Nabinya Muhammad SAW, dia (muhammad) mendapat bagian harta rampasan berupa 4 domba, 4 kambing, sepuluh pot emas dan perak dan keledai hitam kuyu,

      Nabi SAW bertanya pada keledai, “Siapa namamu?”


      SI KELEDAI MENJAWAB
      , “Yazid Ibn Shihab. Allah telah melahirkan dari leluhurku 60 keledai, tak satupun dari mereka ditunggangi kecuali oleh para nabi. Tak satupun dari keturunan kakekku tersisa kecuali aku, dan tak satupun dari para nabi yang tersisa kecuali engkau, dan aku mengharap agar engkau menunggangiku. Sebelum engkau, aku adalah milik seorang laki-laki Yahudi, yang sering kubikin tersandung dan terjatuh sehingga dia biasa menendang perutku dan memukul punggungku.”

      “Nabi SAW berkata kepadanya, ‘Aku akan memanggilmu Ya’fur. Wahai, Ya’fur!’

      Ya’fur MENJAWAB
      , “Aku tunduk.”
      Nabi bertanya, ‘Pernahkah engkau bernafsu terhadap betina?’

      SI KELEDAI MENJAWAB
      , ‘Tidak!’”

      Nabi pakai keledai ini dalam menyelesaikan urusannya dan setelah selesai, Ia (nabi) kirim keledai ke rumah orang yang ingin Ia kunjungi dan Ya’foor kemudian mengetuk pintu dengan kepalanya. Ketika pemilik rumah menjawab, keledai akan memberi sinyal kepada orang itu untuk pergi kepada nabi.

      Ketika nabi meninggal, keledai itu mendatangi sumur milik Abu Al – Haytham Ibn Al – Tahyan menceburkan dirinya, karena sedih atas akibat kematian nabi, dan menjadi kuburnya” [Al-Bidaya wa al-Nihaya, Ibn Katsir, buku ke-6, hal.166]

    Ibn Hajar berkata, “Ibn Sa‘ad menyebutkan sebuah riwayat dari Abdullah ibn Abdul Rahman ibn Abi Sha‘sha‘ah, dia berkata, “Pada tahun ke-7 H, Raja Muqauqis—salah seorang penguasa Kerajaan Alexandria di Mesir—mengirimkan hadiah kepada Rasulullah Saw Yaitu, Maria dan saudarinya yang bernama Sirin, seribu kantong emas, dua puluh baju yang lembut, bagal Duldul, dan keledai/himar ‘Afir (atau Ya‘fur). [“Maria qibthiyah”, Abdullah Hajjaj, hal.42]

    Atau dari “Al-Tabaqat Al-Kabir”, Ibn Sa’ad, vol 1.37.1:

      Riwayat Ibn Sa`d – Muhammad Ibn `Umar Ibn Waqid al-Aslami – Abd al-Hamid lbn Ja`far – Ayahnya: ketika Rasullullah SAW kembali dari Hudaybiyah di bulan Dhu al-Qa`dah 6 A.H. Ia mengirim Hátib Ibn Abi Balta`ah ke al-Muqawqas Mesir, Penguasa Alexandria dan surat untuk mengajaknya masuk Islam…Ia menjawab surat tersebut namun tidak masuk islam dan menghadiahkan nabi SAW Mariyah (Mary), adik perempuannya Sirin, keledai Ya’fur dan bagal Duldul yang berwana putih. Di masa itu tidak ada warna tersebut di Arabiya. [lihat juga di: Sejarah hidup Muhammad, Haikal dan juga di: Musnad Ahmad no.21058].

    Tidak pernah diriwayatkan bahwa penguasa Mesir juga mengatakan Ya’fur, sang keledai, merupakan keledai ajaib yang dapat berbicara. Rupanya hanya Muhammad saja yang mampu bercakap-cakap dengan keledai itu sementara yang lainnya tidak :).

    Berdasarkan rangkaian hadis-hadis di atas ini,
    Ya’fur merupakan keledai turunan ke-61 sejak jaman Nuh yang pada 628 M yang diberikan sebagai hadiah kepada Muhammad. Situs ini menyampaikan bahwa rata-rata umur keledai hidup adalah 27 tahun dan dapat hidup lebih dari 40 tahun, sehingga perkirakan jaman Nuh menurut hadis ini terjadi pada antara 1019 SM (61 x 27 – 628 M) s.d 1812 SM (61 x 40 – 628 M)

    (KLIK!) Sumber lainnya tentang keledai yang bicara

    القاضي عياض – الشفا بتعريف حقوق المصطفى – الجزء : ( 1 ) – رقم الصفحة : ( 314 )

    – وما روى عن إبراهيم بن حماد بسنده من كلام الحمار الذى أصابه بخيبر ” وقال له اسمى يزيد بن شهاب فسماه النبي صلى الله عليه
    وسلم ” يعفورا” وأنه كان يوجهه إلى دور اصحابه فيضرب عليهم الباب برأسه ويستدعيهم ” وأن النبي صلى الله عليه وسلم لما مات تردى
    في بئر جزعا وحزنا فمات .

    أبن عساكر – تاريخ مدينة دمشق – الجزء : ( 4 ) – رقم الصفحة : ( 232 )
    – أخبرنا أبو غالب وأبو عبد الله قالا أنبأ أبو سعد بن أبي علانة أنا أبو طاهر المخلص وأبو أحمد بن المهتدي حدثني أبو الحسن الأسدي عمر بن بشر بن موسى نا أبو حفص عمر بن مزيد نا عبد الله بن محمد بن عبيد بن أبي الصهباء نا أبو حذيفة عبد الله بن حبيب الهذلي عن أبي عبد الله السلمي عن أبي منظور قال لما فتح رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) يعني خيبر أصاب أربعة أزواج ثقال أربعة أزواج خفاف وعشر أواقي ذهب وفضة وحمار أسود مكبلا ” قال فكلم رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) الحمار فكلمه الحمار فقال له النبي ( صلى الله عليه وسلم ) ما اسمك قال يزيد بن شهاب أخرج الله عز وجل من نسل جدي ستين حمارا كلهم لم يركبهم إلا نبي قد كنت أتوقعك أن تركبني لم يبق من نسل جدي غيري ولا من الأنبياء غيرك قد كنت قبلك لرجل يهودي وكنت أتعثر به عمدا وكان يجيع بطني ويضرب ظهري قال فقال له النبي ( صلى الله عليه وسلم ) فأنت ” يعفور ” يا يعفور قال لبيك قال أتشتهي الإناث قال لا ” قال فكان رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) يركبه في حاجته وإذا نزل عنه بعث به إلى باب الرجل فيأتي الباب فيقرعه برأسه فإذا خرج إليه صاحب الدار أومئ إليه أن أجب رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) فلما قبض النبي ( صلى الله عليه وسلم ) جاء إلى بئر كانت لأبي الهيثم بن التيهان فتردى فيها جزعا على رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) فصارت قبره [ 1008 ] .

    إبن كثير – البداية والنهاية – الجزء : ( 6 ) – رقم الصفحة : ( 160 )
    – روى البيهقي عن أبي عبد الرحمن السلمي ، سمعت الحسين بن أحمد الرازي ، سمعت أبا سليمان المقري يقول : ” خرجت في بعض البلدان على حمار فجعل الحمار يحيد بي عن الطريق فضربت رأسه ضربات ، فرفع رأسه إلي وقال لي : اضرب يا أبا سليمان فإنما على دماغك هو ذا يضرب ، قال : قلت له : كلمك كلاما يفهم ! قال : كما تكلمني وأكلمك ” .

    الرابط:

    http://www.al-eman.com/Islamlib/viewchp.asp?BID=251&CID=95&SW=دماغك#SR1

    أبن كثير – البداية والنهاية – الجزء : ( 6 ) – رقم الصفحة : ( 166 )
    – أخبرنا أبو الحسن أحمد بن حمدان السحر كي ، حدثنا عمر بن محمد بن بجير ، حدثنا أبو جعفر محمد بن يزيد – إملاء – ، أنا أبو عبد الله محمد بن عقبة بن أبي الصهباء ، حدثنا أبو حذيفة عن عبد الله بن حبيب الهذلي ، عن أبي عبد الرحمن السلمي عن أبي منظور قال : لما فتح الله على نبيه صلى الله عليه وسلم خيبر أصابه من سهمه أربعة أزواج بغال وأربعة أزواج خفاف ، وعشر اواق ذهب وفضة ، وحمار أسود ، ومكتل ، قال : ” فكلم النبي صلى الله عليه وسلم الحمار فكلمه الحمار ، فقال له : ما اسمك ، قال : يزيد بن شهاب ، أخرج الله من نسل جدي ستين حمارا كلهم لم يركبهم إلا نبي ، لم يبق من نسل جدي غيري ، ولا من الانبياء غيرك ، وقد كنت أتوقعك أن تركبني ، قد كنت قبلك لرجل يهودي ، وكنت أعثر به عمدا ، وكان يجيع بطني ويضرب ظهري ، فقال النبي صلى الله عليه وسلم : سميتك ” يعفور” ، يا يعفور ، قال : لبيك ، قال : تشتهي الاناث ؟ قال : لا “، فكان النبي صلى الله عليه وسلم يركبه لحاجته ، فإذا نزل عنه بعث به إلى باب الرجل فيأتي الباب فيقرعه برأسه فإذا خرج إليه صاحب الدار أومأ إليه أن أجب رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فلما قبض النبي صلى الله عليه وسلم جاء إلى بئر كان لابي الهيثم بن النبهان فتردى فيها فصارت قبره جزعا منه على رسول الله صلى الله عليه وسلم .

    الرابط:
    http://www.al-eman.com/Islamlib/viewchp.asp?BID=251&CID=95&SW=سميتك#SR1

    أبن كثير – البداية والنهاية – الجزء : ( 6 ) – رقم الصفحة : ( 166 )

    [ النص طويل لذا إستقطع منه موضع الشاهد ]
    – …… عن أبي منظور قال : لما فتح الله على نبيه صلى الله عليه وسلم خيبر أصابه من سهمه أربعة أزواج بغال وأربعة أزواج خفاف ، وعشر اواق ذهب وفضة ، وحمار أسود ، ومكتل ، قال : ” فكلم النبي صلى الله عليه وسلم الحمار فكلمه الحمار ، فقال له : ما اسمك ، قال : يزيد بن شهاب ، أخرج الله من نسل جدي ستين حمارا كلهم لم يركبهم إلا نبي ، لم يبق من نسل جدي غيري ، ولا من الانبياء غيرك ……….

    الرابط:

    http://www.al-eman.com/Islamlib/viewchp.asp?BID=251&CID=95&SW=ومكتل#SR1

    المقريزي – إمتاع الأسماع – الجزء : ( 7 ) – رقم الصفحة : ( 266 ) – طبعة : دار الكتب العلمية بيروت – سنة : 1999 م

    – أنّ رسول الله (ص) أصاب بخيبر أربعة أزواج أخفاف ، وعشرة أواقي ذهب ، وحماراً أسود ، ” فقال : ما اسمك ؟ فكلمه الحمار وقال : إسمي يزيد بن أسود ، أخرج الله من نسل جدي ستين حماراً ، كلهم لم يركبهم إلا نبي ، وقد كنت أتوقعك أنْ تركبني ، وكنت ملك رجل يهودي ، وكنت أتعثر به عمداً ، وكان يجيع بطني ، ويظرب ظهري ، قال : فأنت ” يعفور” ، يايعفور ؟! قال : لبيك ؟ قال : أتشتهي الإناث ؟ قال : لا “، فكان يركبه ، فإذا نزل عنه بعثه إلى باب الرجل فيقرعه برأسه ، فإذا خرج صاحب الدار أومأ إليه أنْ أجب رسول الله (ص) ، فلما توفي رسول الله (ص) جاء إلى بئر كانت لأبي الهيثم بن التيهان فتردّى فيها فصارت قبره جزعاً منه على رسول الله (ص) .

    الملا علي القاري – شرح الشفا – الجزء : ( 1 ) – رقم الصفحة : ( 640 ) – دار الكتب العلمية – بيروت

    [ النص طويل لذا إستقطع منه موضع الشاهد ]

    – قال الملا علي القاري الحنفي : قصة يعفور ذكرها غير القاضي ، فقد نقلها السهيلي في روضه عن ابن فورك في كتاب الفصول ،قال السيهيلي : وزاد الجويني في كتاب الشامل ” أنّ النبي صلى الله عليه (وآله) وسلم كان إذا أراد أحداً من أصحابه أرسل هذا الحمار فيذهب حتى يضرب برأسه الباب ، فيعلم أنْ قد أرسل إليه النبي صلى الله عليه (وآله) وسلم ” ، وفي رواية : ” فإذا خرج إليه صاحب الدار أومأ إليه أنْ أجب رسول الله صلى الله عليه (وآله) وسلم ” وقد أخرجه ابن عساكر عن ابن منظور وله صحبة “.

    محمد بن حديدة الأنصاري – المصباح المضئ – الجزء : ( 1 ) – رقم الصفحة : ( 262 )

    [ النص طويل لذا إستقطع منه موضع الشاهد ]

    – وهذا علم من أعلام نبوته ، ” فليتني كنت شعرة في جلد هذا الحمار الذي كان في كل وقت يلامس جلده جلد سيد البشر ” ، ويسمع له ، ويُطيعه ، ويُخاطبه ، ويفهم عنه ، وناهيك بها معجزة من معجزاته .

    [↑]

    Unta bicara
    Dari buku, “Risale-i nur Collection 2, “Letters”, 1928-1932″, Bediuzzaman said nursi, tanda ke-15, hal.190 (atau di sini):

      …Narasi tentang Unta, secara bulat disampaikan melalui 5 atau 6 rantai perawi para sahabat nabi seperti Abu Huraira, Tha‘laba bin Malik, Jabir bin ‘Abdullah, ‘Abdullah bin Ja‘far, dan ‘Abdullah bin Abi Aufa, yang mengawali perawi..

      Menurut sejumlah rantai perawi, Unta tersebut ngamuk di sebuah taman dan menjadi liar, menyerang siapapun yang mendekatinya. Ketika Rasullullah muncul, unta itu menghampirinya, bersujud di depannya sebagai tanda hormat, berlutut.

      Nabi mengenakan tali kekang padanya dan UNTA TERSEBUT BERKATA, “Mereka membuatku bekerja sangat keras dan sekarang mereka ingin membunuhku. Itulah mengapa aku menjadi liar”.

      Rasullullah SAW bertanya pada pemiliknya apakah hal ini benar. “Ya” jawabnya

    [Darimi, Muqaddima, 4; Musnad, iv, 173; al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id, ix, 4; al-Sa’ati, al-Fath al-Rabbani, xxii, 50-1; al-Khafaji, Sharh al-Shifa’, iii, 87; Ibn Kathir, al-Bidaya wa’l-Nihaya, vi, 135; al-Albani, Silsilat al-Ahadith al-Sahiha, 485; al-Hakim, al-Mustadrak, ii, 99, 100, 618.].

    Kisah penciptaan unta.

      Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan [AQ 88.17]

      Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhammu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.”..Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: “Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah).” [AQ 7.73-78. Juga di AQ 11.64-68].

      Unta betina minum air bergantian dengan penduduk Tsamud, lihat di AQ 54.28, 26.155. Penduduk Tsamud bersepakat membunuh Unta tersebut lihat juga di AQ 91.14, 17.59. Sejumlah 9 orang yang membunuh Unta tersebut, lihat di: AQ 27.48

    Bagaimana unta diciptakan Allah?

    Ternyata, menurut islam,
    Unta tercipta dari sebuah batu! Beberapa tafsir quran, menyampaikan hadis mengenai prosesnya, diantaranya di tafsir Ibn kathir untuk AQ 7.73-78:

      ..Mereka sebelumnya meminta kepada Salih mendatangkan suatu tanda dan mengusulkan mengeluarkan seekor unta betina yang sedang hamil dari sebongkah batu yang besar dan keras yang mereka dapat lihat dengan kepala mereka sendiri.

      Satu-satunya batu besar yang ada di Hijr, yang mereka namakan Al-Kaatibah.

      Kemudian Nabi salih mengikat janji mereka, jika Allah mengabulkan maka mereka akan beriman. Setelah mereka berjanji, Nabi salih mengerjakan shalat dan doa kemudian batu itu bergetar, retak dan keluarlah darinya seekor unta betina yang sedang hamil terbungkus kain wol tipis yang janinnya terlihat bergerak di perutnya..

      Unta tersebut tetap berada di Thamud, begitupula turunannya setelah melahirkan dihadapan mereka..Unta ini biasa minum air di sumur di satu hari dan membiarkan kaum Thamud meminumnya di hari berikutnya. Mereka meminum susu unta itu ketika unta itu meminum air dan mengisi bejana-bejana mereka dengan susunya..

      Kejadian ini berlangsung untuk beberapa lama dan keberatan kaum Thamud menjadi meningkat, mereka berniat membunuh unta itu agar mereka dapat mengambil airnya setiap hari. Dikatakan bahwa seluruh kaum Thamud bersepakat membunuh unta tersbut. Qatadah berkata, “Yang ditunjuk membunuh unta mendatangi mereka semua, termasuk perempuan dalam pingitan dan juga anak-anak, dan seluruhnya setuju membunuh unta itu..jumlahnya 9 orang dan mereka adalah pemimpin dari kaumnya dan mereka dapat mempengaruhi seluruh kaumnya setuju membunuh unta tersebut..kemudian Qidah menusuk leher unta itu dan menyembelihnya. Anak unta tersebut naik ke batu dan berteriak.`

      Abdur-Razzaq meriwayatkan dari Ma`mar dari SESEORANG yang mendengar Al-Hasan Al-Basari bahwa ANAK UNTA ITU BERKATA, “O tuhanku! Dimana ibuku” dan disebtkan anak unta itu melenguh 3x, masuk kedalam batu dan mengilang di dalamnya atau mereka mengikutinya dan membunuhnya bersama dengan ibunya.

        Note:
        Tafsir Ibn Kathir untuk riwayat Abur-razzaq yang meriwayatkan dari seseorang yang tidak diketahui namanya bukanlah merupakan hadis yang baik, namun rupanya Ibn Kathir tidak membuat penilaian mengenai hadis ini.

      [Kisah unta betina yang tercipta dari batu disampaikan di banyak tafsir, diantaranya di tafsir Jalalyn (lihat di: AQ 7.73) dan Tabari yang meriwayatkannya dalam dua rantai perawi, yaitu riwayat (al-Hasan bin Yahya – Abd al-Razzaq – Isra’il – Abd al-‘Aziz bin Rufay’- Abu al-Tufayl) dan tiwayat(Al Qasim – Al Husyan – Hajjaj – Abu Bakar bin Abd al rahman – Shahr bin Hawshab – Amir bin Kharijah), lihat di: “History of tabari” vol 2. hal.41-44] [↑]

    Terakhir,
    Daging kambing bicara bahwa dirinya telah dibubuhi racun

    Riwayat Wahb bin Baqiyyah -dalam riwayat lain- dari Khalid – Muhammad bin Amru – Abu Salamah -namun ia tidak menyebutkan Abu Hurairah, Ia berkata,

    “Rasulullah SAW menerima hadiah namun tidak makan zakat.” Ia menambahkan, “Maka ada seorang wanita Yahudi Khaibar yang memberi hadiah daging guling yang telah dilumuri racun kepada beliau. Rasulullah SAW dan para sahabatnya lalu makan daging kambing tersebut.

    Namun kemudian, beliau bersabda: “Angkatlah tangan kalian (berhenti makan), karena sesungguhnya DAGING KAMBING INI TELAH MEMBERIKU KABAR BAHWA IA TELAH DIBUBUHI RACUN

    Bisyr Ibnul Al Bara bin Ma’rur Al Anshari akhirnya meninggal dunia.

    Rasulullah kemudian mengutus utusan kepada wanita Yahudi tersebut. Beliau bertanya: “Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?” Wanita itu menjawab, “Jika engkau seorang Nabi, maka apa yang aku lakukan tidak akan membahayakanmu. Namun jika engkau hanya seorang raja, maka dengan begitu aku telah mengistirahatkan manusia darimu.”

    Rasulullah SAW lantas memerintahkan agar wanita itu dibunuh, maka ia pun dibunuh. Kemudian beliau berkata pada saat sakit yang membawanya kepada kematian: “Aku masih merasakan apa yang pernah aku makan di Khaibar, dan sekarang adalah waktu terputusnya punggungku (kematianku).” [Abu Dawud no.3912]

    Luar biasa, bukan? [↑]


    Catatan:
    [1] Berikut ini ringkasan peta akibat melakukan pelanggaran 10 Perintah Allah, yaitu:

    1. Hukuman mati bagi yang mempunyai Allah lainnya [Keluaran 22.20, Ulangan 18.20] atau Pendakwah (Nabi, saudara laki-laki, anak ibu, anak sendiri: Pria/wanita, isteri atau sahabat karibmu) yang mengajak MURTAD dan/Atau menyembah Allah lain (Ulangan 13.5-10)
    2. Hukuman mati bagi yang melayani/berbakti pada allah lain (Ulangan 13.5-10) atau pada Molokh/Molekh[2] (Imamat 18.21) atau berkomunikasi/kerasukan roh (Imamat 20.27)
    3. Hukuman mati karena menghujat/mengutuki atau menyebut nama tuhan dengan kesia-siaan/sembarangan (Imamat 24.15-16), atau melanggar tanah suci (Keluaran 19.12)
    4. Hukuman mati karena bekerja di hari Sabat (Keluaran 31.14-15; 35.2, Bilangan 15.35)
    5. Hukuman mati karena tidak menghormati ayah dan ibunya (Keluaran 21.15,17, Imamat 20.9)
    6. Hukuman mati karena membunuh (Keluaran 21.12, Imamat 24.17,21, Bilangan 35.16-31) atau bagi Hewan dan pemilik hewan (setelah dirinya diingatkan) bahwa hewannya telah/sering membunuh orang dan hewan itu membunuh orang lagi (Keluaran 21.29) atau dengan tipu daya [Ulangan 21.14]
    7. Hukuman mati karena Naaph[3] di 18 kategori [Imamat 18.23], yaitu terhadap kerabat dan sesama, Inses, Perkosaan, Homoseksual dan Bestiality[4]:

      (1)
      Istri ayah (Ibu sendiri) [Imamat 18.7, 20.11] atau memperistri Ibu sendiri (Imamat 20.11)
      (2) Istri Ayah (selain ibu sendiri) (Imamat 18.8),
      (3) Saudara perempuan (anak dari) ibu dan/atau ayah yang lahir dimanapun (Imamat 18.9, 20.17),
      (4) Anak perempuan dari anak (Imamat 18.10, 20.17),
      (5) Anak perempuan sendiri (Imamat 18.10),
      (6) Anak perempuan dari Istri ayah yang lahir dari Ayah (Imamat 18.11),
      (7) Saudara perempuan Ayah (Imamat 18.12),
      (8) Saudara perempuan Ibu (Imamat 18.13),
      (9) Istri dari saudara Ayah (Imamat 18.14),
      (10) Menantu perempuan (Imamat 18.15, 20.12),
      (11) Istri saudara sendiri (Imamat 18.16),
      (12) Perempuan dan anaknya yang perempuan dari kerabatmu (Imamat 18.17),
      (13) Madunya kakak (Imamat 18.18),
      (14) Perempuan yang sedang Menstruasi (Imamat 18.19, 20.18),
      (15) Istri sesamamu (Imamat 18.20, 20.10),
      (16) Homoseksualitas (Imamat 18.21, 20.13),
      (17) Bestiality/Seks dengan binatang (18.22, keluaran 22.19, 20.15-16: laki dan perempuan).
      (18) Perkosaan (Ulangan 22.25).
    8. Berkurban hewan karena telah mencuri kekayaan fisik (Imamat 6.2,5), atau hukuman mati karena menculik untuk tujuan menjual dia (Keluaran 21:16, Ulangan 24.7)
    9. Berkurban hewan karena telah berbohong tentang barang titipan (Imamat 6.1-6), atau hukuman mati karena bersaksi dusta di situasi tertentu (Ulangan 5.20, 19.16-21, Amsal 19.9, 21.28)
    10. namun, TIDAK ADA hukuman untuk kategori “mempunyai hasrat/menginginkan” kepunyaaan Orang lain (Istri, Rumah, Budak, Harta, apapun yang dipunyai) [Kel. 20.17]. Mengapa tidak ada hukuman? karena “menginginkan/berhasrat” BUKAN perbuatan dosa, namun pembuka pintu dosa. [↑]

    [2] Definisi Molokh/Molekh sendiri tidak bulat, sekurangnya terdapat 3 pendapat tentang ini:

    • Molekh/Melekh adalah nama Allah kaum Ammon dan Phoenisia, yaitu dewa Api, di mana, kaum Israel kuno melakukan ritual membakar bayi mereka untuk dipersembahkan kepada Dewa Molekh di lembah Hinnom (Sebelah Barat dan Selatan Yerusalem). Untuk memperkuat dalih ini, disampaikanlah beberapa nama di Alkitab yang terkait dengan melekh (dewa/raja/pemimpin) misal: Avimelekh (Kejadian 20.2: Ayahku Dewa/Raja/pemimpin); AhiMelekh (1 Sam 21.2: Saudaraku Dewa/raja/pemimpi); EliMelekh (Ruth 1.2:Tuhan Raja), namun ada juga statement bahwa sedari dulu persembahkan RAJA ini untuk Allah
        Sebab sedari dahulu sudah diatur tempat pembakaran (tophet) bukankah itu untuk RAJA (Melekh) dibuat dalam dan lapang, pancakanya penuh api dan kayu; nafas TUHAN (Y@hova/Yahwe) menghanguskannya seperti sungai belerang [Yesaya 30.33]
    • Molekh bukan nama Dewa atau bukan berarti raja, namun terminologi teknis ritual pengorbanan [pengorbanan Molk/mulk] yang ditujukan kepada yahwe (bukan ke Dewa lainnya). Pendapat ini disampaikan oleh Otto Eissfeldt. Seperti pada kisah Yefta, yang setelah di hampiri roh tuhan, ia bernazar dihadapan tuhan, “Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon ke tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku menemuiku, saat aku selamat kembali dari bani Amon, akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan persembahkannya sebagai korban bakaran (Hakim 11.29-40). Anak sulung perempuan Yefta menemuinya saat itu, sehingga ia dijadikan kurban bakaran bagi yahwe. Juga misalnya ketika Daud mempersembahkan 7 anak Saul bagi kaum Gibon, yang di minta kaum itu untuk dipersembahkan pada tuhan dengan cara di gantung agar bencana kelaparan berhenti (2 Sam 21.1-14). Juga ketika Tuhan meminta Abraham mengurbankan anak lelaki sulungnya, Ishak sebagai korban bakaran (Kej 22.1], namun dalam hal ini Ishak tidak jadi di kurbankan dan berubah menjadi domba jantan (Kej. 22.11-13] atau perintah Allah di Keluaran 22.29, “Janganlah lalai mempersembahkan hasil gandummu dan hasil anggurmu. Yang sulung dari anak-anakmu lelaki haruslah kaupersembahkan kepada-Ku” atau di Mikha 6.7, “Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri?” [Lihat juga: “Moloch, Molekh or molk‐sacrifice? A reassessment of the evidence concerning the Hebrew term Molekh”, Klaas A.D. Smelik]
    • Molekh adalah tradisi menyerahkan anak bayi disetelah usia sapih untuk diserahkan melayani Tuhn di Kuil, jadi tidak dibakar, seperti pada kejadian Hana menyerahkan Samuel sebagai terpenuhinya sumpahnya (1 Samuel 1.24-28) kepada Yahwe di Shiloh. Pendapat ini dikemukakan oleh Moshe Weinfeld [“The Worship of Molech and of the Queen of Heaven and its Background”, 1972]. Lihat juga: “Sacrifice and Gender in Biblical Law”, Nicole J. Ruane, hal.215-224

    Statement Alkitab mengenai hal ini, tidak konsisten,
    dua pendapat di atas menunjukan bahwa Yahwe sendiri senang dengan kurban manusia dan memang bukan hal menjijikan baginya jika dipersembahkan korban manusia. Bahkan, Allah sendirilah yang mengeluarkan peraturan-peraturan ngaco dan membiarkan pengurbanan manusia kepada Allah lainnya sebagai bentuk hukuman

      Kemudian Kuberikan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan yang tidak dapat memberi hidup. Kubiarkan mereka menajiskan diri dengan kurban-kurban mereka sendiri, bahkan anak-anak lelaki mereka yang sulung mereka kurbankan. Dengan cara itu Aku menghukum mereka supaya mereka tahu bahwa Akulah TUHAN [Yehezkiel 20.25-26]

    Lucunya, ia yang mengklaim menyuruh dan membiarkan adanya kurban mansuia tapi juga marah jika kurban manusia itu dialamatkan kepada elohim lain.

    Sehingga,
    jika kemudian bangsa lain dituduh sebagai sumber kekacauan asal musal persembahan kurban manusia, maka ini 100% tidak benar, salah satu tertuduhnya misalnya kaum Phonesia yang dianggap biang kerok pengurbanan manusia kepada Allah lain. Disamping klaim ini TIDAK didukung Alkitab, TIDAK didukung kitab-kitab lainnya juga TIDAK didukung bukti arkeologi.

    • Pengujian pada sisa-sisa kuburan di Chartage, Punisia, yang dilakukan oleh tim gabungan dari: Fakultas Anthropology + Sejarah dan filsapat sains, Universitas Pittsburgh, Pennsylvania, USA (Jeffrey H. Schwartz); Yayasan Riset Veteran, Pittsburgh, Pennsylvania, USA (Frank Houghton); De´partement de Pre´histoire, Centre National de la Recherche Scientifique (CNRS), Muse´um national d’Histoire naturelle, Paris, France dan De´partement Ge´osciences, Universite´ de Poitiers, France (Roberto Macchiarelli) dan Sezione di Antropologia, Museo Nazionale Preistorico Etnografico ‘‘L. Pigorini’’, Roma, Italia (Luca Bondioli) menyampaikan Jurnal penelitiannya di February 2010 dengan judul, “Skeletal Remains from Punic Carthage Do Not Support Systematic Sacrifice of Infants“.
    • Disertasi Helen M. Dixon, dalam memenuhi persyaratan Doktoral Filsafat dari Universitas Michigan tahun 2013, Ia teliti praktek penguburan Periode jaman besi I s.d III, hingga dokumentasi dan analisa material ekspresi identitas sosial Levantine Phoenicia. Di antaranya, Ia simpulkan bahwa:

      TIDAK ADA SATUPUN dari 24 karya klasik yang ditulis oleh: Sophocles (497-405 SM), Plato (Abad 4 -3 SM), Theophrastus (371 -287 SM), Kleitarchos (Abad 3 SM), Ennius (239 -169 SM), Cicero (106 – 43 SM), Diodorus (90-30 SM), Dionysius (60 – 7 SM), Pompeius Trogus (1 SM) dan penulis lainnya SETELAH MASEHI, yang bercerita tentang adanya kurban bayi di Phunisia merupakan saksi mata kejadian (bahkan tidak ada yang mengutip dari seseorang yang menyaksikan itu), karya-karya ini berasal dari tangan ke-2 dan seterusnya, tidak ada yang mengalaminya sendiri; Beberapa penulis itu bahkan tidak menulis adanya pengorbanan anak kecil SEBELUM kejatuhan Chartage, Punisia pada perang ke-3 (146 SM), bahkan Herodotus (484 SM – 425 SM) tidak menyinggung adanya praktek ini di Phunisia, Chartage; Tidak satupun dari penulis yang asli Phunisia, atau yang tinggal di sana atau yang pernah menetap di sana, atau yang berada di area sana, menyatakan adanya ritual itu berdasarkan pengalaman mereka, kecuali mengutip karya-karya pendahulunya. [“Phoenician Mortuary Practicein the Iron Age I – III (ca. 1200 – ca. 300 BCE) Levantine “Homeland”, Helen M. Dixon, tahun 2013, hal 428-451] [↑]

    [3] Naaph adalah hubungan seksual terlarang. Dalam setiap konteks naaph, para Prianya selalu di vonis hukuman mati jika melakukannya, namun kaum wanita tidak selalu di vonis mati, karena masih tergantung faktor lainnya, yaitu: Apakah WANITA itu: sudah BERTUNANGAN (atau MENIKAH)? atau DIPERKOSA?:

    • Hukuman mati kepada Pria dan Wanita, jika Pria (menikah atau tidak) melakukan hubungan seksual (suka sama suka) dengan wanita lain yang TELAH MENIKAH/BERTUNANGAN. [Imamat 20.10, Ulangan 22.22-24]
    • Hukuman mati kepada Pria, jika Pria (menikah atau tidak) memperkosa wanita yang TELAH MENIKAH/BERTUNANGAN [Ulangan 22.25-27 dan pada kasus Sikkhem memperkosa Dina (anak perempuan Yakub, Sikkhem dibunuh setelah anak-anak Yakum menipu Sikkhem agar mau disunat seperti kaum Yahudi [Kejadian 34.1-31] atau pada kejadian Sesama anak David, yaitu Amnon memperkosa Tamar: 2 Sam 13.32]
    • TIDAK dihukum mati, jika Pria (menikah atau tidak) melakukan hubungan seksual (suka sama suka) dengan wanita yang TIDAK/BELUM MENIKAH/BERTUNANGAN:
      • jika wanitanya MASIH PERAWAN, maka si pria WAJIB membayar 50 Syikal Perak[5] kepada orang tuanya dan kemudian yang perempuan harus dikawini (kejadian 4.19; 29.23-30; 31.17; 32.22; 36.2,6, Keluaran 21.10; 22.16-17, Ulangan 21.15-17; 22.28; 25.5-10, Hakim 8.30, 1 Sam 1.2; 25.42-43; 30.18, 2 Sam 5.13, 1 raja 11.1-3, 1 Taw 4.5; 8.8; 14.3, 2 Taw 11.21; 12.7-8; 13.21; 24.3, Daniel 5.2-3]. Jika ayah si gadis menolak si pria itu, maka si Pria tidak mengawini si perempuan namun si pria tetap membayar mas kawin [Keluaran 22.17]
      • Jika wanitanya SUDAH PERNAH MENIKAH/TIDAK PERAWAN, maka tidak dibayar ganti rugi/mas kawin. Ini bertujuan untuk mencegah ayah menjadi mucikari bagi anak perempuannya
    • Dalam kasus pria mengambil istri, yaitu dalam perkawinan, si pria MENUDUH istrinya TIDAK PERAWAN maka:
      • Jika tidak terbukti,
        si PRIA dihajar beramai-ramai, si pria harus membayar 100 Syikal (13.2 juta) kepada ayah si perempuan dan perempuan yang dituduhnya harus tetap menjadi istrinya selama hidup si pria dan tidak boleh membuang perempuan itu. [Ulangan 22.13-19]
      • Jika terbukti,
        si perempuan akan rajam oleh orang sekota hingga mati karena telah menodai orang israel dengan bersundal (zanah) di rumah ayahnya [Ulangan 22.20-22]
    • Perempuan single/janda yang MELACURKAN DIRI dan/atau Pria (menikah/tidak) yang BERMAIN PELACUR PEREMPUAN janda/single BUKAN perbuatan DOSA, tidak ada HUKUMAN untuk hal ini jadi tidak perlu menumpahkan darah untuk mendapat pengampunan, NAMUN khusus bagi anak perempuan seorang Imam, Ia DILARANG bersundal (Zanah), jika melanggar Ia DIBAKAR API [Imamat 21.9]
      • Sample:
        Yehuda (leluhur DAUD) beristri Syua dan punya 3 anak laki-laki: Er, Onan dan Syela. Istri Er adalah Tamar. Er mati tanpa anak dan Onan dikawinkan pada Tamar namun hingga matinya Onan hanya membuang-buang Maninya diluar kandungan Tamar. Tamar disuruh tinggal dirumah sambil menantikan Syela besar untuk dikawinkan dengan Tamar. Jadi status Tamar saat itu adalah perempuan yang bertunangan.

        Istri Yehuda, yaitu Syua wafat. Setelah waktu berkabung, Yehuda bepergian ke kota lain. Syela saat itu sudah besar namun tidak dikawinkan pada Tamar. Tamar melepas baju menjada dan memakai hijab menyusul Yehuda keluar kota. Yehuda saat itu sedang horni dan Tamar yang berhijab tidak dikenalinya, disangka pelacur dan minta untuk berhubungan seks dengannya. Tamar mau dengan meminta bayaran dan setelahnya Tamarpun hamil. Mertua Tamar (Yehuda) mendengar Tamar hamil, menjadi marah dan hendak membakarnya namun Tamar menyampaikan Pelakunya adalah Yehuda dan juga alasannya adalah Syela yang sudah besar yang dijanjikan kepadanya tidak diberikan, jadi ia tidak dalam kondisi bertunangan. Tamar kemudian tidak jadi dibakar dan melahirkan 2 anak kembar yang turunannya kelak adalah David dan Sulaiman [Kejadian 38.1-30].

        Kasus lainnya:
        2 pengintai kiriman Yosua bin Nun bermalam ditempat pelacur (Zanah) bernama Rehab (leluhur perempuan David dan Sulaiman). Rahab si perempuan sundal ini dipuji di Ibrani 11.3 dan Yakobus 2.25) [Yosua 2.1). Juga pada kasus Samson yang meniduri pelacur (Zanah) dan Ia pergi pada tengah malam [Hakim 16.1,3], Mereka semua tidak ada yang dihukum tuhan

      • Yang dilarang:
        (1) menjadi sundal-sundal bakti (qadesh (Pria)/Qadeshah(wanita): pelayan kuil yang melayani tuhan lain) [Ulangan 23.17], Perselingkuhan ini adalah terhadap tuhan, sehingga masuk pada pelanggaran ke-1 s.d 3 dari 10 perintah tuhan.

        (2) Ayah membuat anak perempuannya menjadi pelacur [Imamat 29.19]. namun jika anak perempuannya sendiri yang berkehendak melacur, tidak ada hukuman bagi anak itu sebagaimana yang Allah katakan: “Aku tidak akan menghukum anak-anak perempuanmu karena berzinah (Zanah), atau menantu-menantumu perempuan karena bersundal (naaph: perbuatan terlarang); sebab kalian para laki-laki sendiri mengasingkan diri bersama-sama dengan perempuan-perempuan sundal (zanah) dan mempersembahkan korban bersama-sama dengan sundal-sundal bakti (Qadesha)” [Hosea 4.14].

        Kata Zanah bisa berarti bersundal dengan hubungan seksual atau melayani Allah lain. Jadi larangan anak perempuan seorang Imam bersundal (Imamat 21.9, juga di Ulangan 23.17) adalah untuk keduanya. Walaupun terdapat ayat yang seolah-olah mengutuk profesi pelacur, dengan mengatakan perbuatan ini mengakibatkan, “..banyak orang yang gugur ditewaskannya, sangat besarlah jumlah orang yang dibunuhnya. Rumahnya adalah jalan ke dunia orang mati” (Amsal 7.26-27) namun perempuan pada Amsal ini TELAH BERSUAMI (Amsal 7.19). Sehingga, bukan melacurnya yang menjadi persoalannya karena jika Pria (menikah/tidak) menggauli wanita yang BERSUAMI, maka bagi KEDUANYA dikenakan HUKUMAN MATI.

        (3) Khusus bagi para Imam: Di samping anak perempuan kaum imam tidak boleh melacur (Imamat 21.9), Para imam juga tidak boleh: mengawini seorang perempuan sundal (Zanah) atau perempuan yang sudah dirusak kesuciannya atau seorang perempuan yang telah diceraikan oleh suaminya, Ia harus kawin dengan seorang perawan dari antara orang sebangsanya (Imamat 21.7, 14). Akan tetapi, terdapat satu sample yang menunjukan bahkan nabi saja boleh mengawini pelacur sehingga perempuan yang melacurkan tubuhnya jelas tidak dibenci tuhan yaitu pada kasus Hosea, Di sini, malah tuhan sendiri yang menyuruhnya untuk mengawini pelacur [Hosea 1.1-3].

        Ini mengindikasikan pekerjaan melacur tidak dibenci tuhan, bukan?

        Hosea bin Beeri ini seorang NABI dan dikatakan keturunan Isakhar (ada juga yang mengatakan turunan Ruben, Lihat komentar bible dari Adam Clark) dan menjadi nabi lama sekali, yaitu:

        Tidak diketahui berapa umur Hosea, ketika tuhan pertama kalinya datang dan berbicara padanya. Kejadian tuhan datang dan bicara pada Hosea terjadi pada jaman Yerobeam + Ahazia, yaitu paling cepat setelah tahun ke-14 Yerobeam (hingga 27 tahun kemudian atau maksimum sampai tahun ke-25nya dari 52 tahun pemerintahan Uzzia).

        Saat Amazia memerintah Yehuda pada tahun ke-15, Yerobeam II anak Yoas menjadi Raja Israel/Samaria dan memerintah selama 41 tahun (2 Raja 14.23). Amazia merintah selama 29 tahun, terbunuh (2 Raja 14.1-2. Ini terjadi di tahun ke-14nya Yerobeam) dan digantikan Uzziah yang kemudian memerintah selama 52 tahun.

        Ia mengalami kehidupan banyak raja Yehuda lainnya: Yotam (16 tahun) + Ahas (16 tahun) + Hizkia (29 tahun).

        Dari sisa pemerintahan Uzziah (25 tahun) s.d Ahaz adalah 59 tahun lamanya + Ia juga hidup saat raja Asyur menjatuhkan Israel/Samaria di tahun ke-6 Hizkia (2 raja 18.10, Hosea 8.8] dan Yehuda jatuh di tahun ke-14 Hizkia (2 Raja 18.13-16, Hosea 1. 11, 8.9). Saat itu, sekurangnya ia telah menjadi nabi selama 73 tahun. Kemudian, tampaknya Ia masih hidup saat Hizkia wafat (15 tahun kemudian) dan digantikan Manasye yang kembali memuja Baal (2 raja 21.2. Hosea 11.7, 12), yaitu di awal-awal pemerintahan Manasye (memerintah 55 tahun). Ini menjadikan sekurangnya selama 88 tahunan menjadi nabi. Sehingga jika diasumsikan Ia pertama kali didatangi tuhan pada umur 27an tahunan, maka usia Hosea sekurangnya 115 tahun!

      Dalam Islam, pelacuran diperkenankan dan diatur dalam kawin Mut’ah.

    Islam juga memuat ketentuan penanganan perbuatan ilegal seksual, namun jika anda lihat pelaksanaannya dibawah ini, maka hukum kaum Yahudi ini lebih ‘women Friendly’ dibandingkan hukum kaum muslmin:

    Islam:
    Pelakunya (AQ 24:2,3) tidak dibedakan apakah bikr/perawan atau thayyib/pernah menikah atau mukhsan/menikah, semuanya disebut Zaanii (pelaku zina Pria, Jamak: yaznuuna)dan Zaaniyah (pelaku zina wanita, Jamak: yaznīna) AQ 25.8, 68 dan AQ 60:12]. Tindakan zina dikategorikan sebagai perbuatan keji “فَاحِشَةً” (fahishah)

    Apakah hukuman bagi penzina?

      Dan mereka (waallaatii) yang melakukan (yatiina) perbuatan keji (alfaahisyata) dari (min) para wanitamu (nisaa-ikum) maka datangkanlah saksi-saksi (fa-is’tashhiduu, maskulin) terhadap mereka (‘alayhinna) 4 (arba’atan) diantara kalian (minkum). Dan jika (fa-in) mereka telah bersaksi (syahiduu, maskulin), MAKA KURUNGLAH MEREKA (fa-amsikuuhunna) di rumah mereka (fii albuyuuti) HINGGA (hattaa) mereka menemui ajalnya (yatawaffaahunna almawtu) ATAU (aw) dijadikan Allah (yaj’ala allaahu) untuk mereka (lahunna) suatu jalan (sabīlan). [AQ 4.15]

      Dan dua orang (waalladzaani) yang melakukan (yatiyānihā) di antara kalian (minkum), maka berilah hukuman kepada keduanya (faaadzuuhumaa) dan jika (fa-in) bertaubat (taabaa) dan memperbaiki diri (wa-ashlahaa), biarkanlah (berpalinglah dari) keduanya (anhumaa). Sesungguhnya (inna) Allah (allaaha) adalah (kaana) Penerima taubat pengampun (tawwaaban rahiimaan)

    Kalimat “Atau dijadikan Allah untuk mereka suatu jalan” menunjukan hukuman ini bukanlah hukuman wajib dan masih terdapat alternatif hukuman lainnya yang juga dapat memberikan jalan bagi pelaku untuk dapat tetap hidup untuk memperbaiki diri dan bertaubat.

    Untuk itu, sebagai alternatif lain, adakah HUKUMAN WAJIB bagi para penzina? ADA

      satu surat [suuratun] Kami turunkan [anzalnaahaa] DAN KAMI WAJIBKAN [wafaradhnaahaa] dan Kami turunkan [wa-anzalnaa] di dalamnya [fiihaa] ayat ayat [aayaatin] YANG JELAS [bayyinātin], agar kamu dapat [la’allakum] MENGINGATNYA [tadzakkaruuna] [AQ 24.1]

      Apa hukuman wajibnya?

        Wanita penzina (alzzaaniyatu) dan (wa) pria penzina (alzzaanii), maka deralah (fa-ijliduu) tiap (kulla) seorang (waahidin) dari mereka (minhumaa) 100 (mi-ata) pecutan (jaldatin), dan jangan (walaa) menjadikanmu (takhudh’kum) pada mereka (bihima) kasihan (rafatun) di jalan Allah (fii diini allaahi) jika (in) kamu (kuntum) beriman (tu’minūna) pada Allah dan hari akhir (biallaahi waalyawmi al-aakhiri) dan hendaklah hukuman mereka disaksikan sekumpulan orang beriman. [AQ 24.2]

        ..Para wanita menikah (muḥ’ṣanātin) SELAIN (ghayra) wanita penzina (musāfiḥātin. Untuk Pria: musāfiḥīna) dan bukan (wala) wanita yang mengambil (muttakhidhāti, Untuk pria: muttakhidhī) gundik/piaraan (akhdānin, jenis kelamin: pria); dan jika (fa-idzaa) KAWIN [uhsinna, arti: dijaga, tapi di AQ 5.5 kata muchshinîna artinya mereka yang mengawini], dan jika (fa-in) mereka melakukan (atayna, perempuan) perbuatan keji (bifāḥishatin, sering diartikan zina), maka UNTUK MEREKA (fa’alayhinna, perempuan) 1/2 (niṣ’fu) APA (maa) terhadap/atas (‘alaa) WANITA-WANITA YANG BERSUAMI (baca: waalmuhsanaatu di ayat 4.24 juga diartikan wanita2 bersuami tidak menggunakan kata tambahan “merdeka”) dari (mina) hukuman (al’adzaabi). Itu (dzaalika), UNTUK SIAPAPUN (liman) yang takut (khasyiya) susah/sulit (al’anata) di antara kalian (minkum), dan itu (wa-an) kamu bersabar (tashbiruu) itu lebih baik (khayrun) bagimu (akum). dan Allah (waallaahu) pengampun (ghafuurun) penyangan (rahiimun)[AQ 4.25]

      Kalimat ini jelas menyampaikan bahwa hukuman dari wanita menikah adalah 100 cambukan, selain itu 50 cambukan. Ini mengindikasikan bahwa PRIA menerima 100 cambukan baik (menikah maupun tidak).

      Kemudian, di AQ 5.5 terdapat kalimat, “pria yang mengambil (muttakhidhī) gundik pria (akhada)”, ini adalah tindak homoseksual. Di kisah luth, para pelaku homo seksual mengusir luth dan para pelaku menerima hukuman langsung dari tuhan berupa hujan (mataran) [AQ 7.80-83; 26.165-175 dan 27.54-57]

      Apakah masih ada hukuman wajib tambahan lainnya? YA.

        Seorang pria penzina (alzzaanii) TIDAK AKAN (laa) mengawini (yankihu) SELAIN (illaa): Seorang Wanita penzina (zaaniyatan, jamak) atau (aw) seorang wanita musyrik (musyrikatan, jamak); dan PARA PENZINA PEREMPUAN (waalzzaaniyatu) TIDAK AKAN (Laa) dikawini (yankihuhaa) SELAIN (ilaa) SEORANG PENZINA LELAKI (zaanin) atau (aw) seorang musyrik (musyrikun), dan diharamkan (wahurrima) itu (dzaalika) atas/terhadap (‘alaa) para MUKMIN (almu/miniina) [AQ 24.2]

      Ayat ini menunjukan bahwa para penzina ini hanya dapat di kawini oleh penzina lainnya atau oleh para kaum musyrik.

      Apakah masih ada lagi hukuman wajib lainnya di surat ini dan/atau di surat lainnya? TIDAK ADA.

    Semua ketentuan dan persyaratan untuk pelaksanaan hukuman pada tuduhan Fahishah (zina), mewajibkan syarat keberadaan 4 (empat) saksi [AQ 24:4,13 dan AQ 4:15 merujuk pada saksi Pria, jika tidak ada saksi pria maka 2 wanita = 1 pria sebagai mana bunyi,”Jika tak ada 2 orang lelaki, maka 1 lelaki dan 2 orang perempuan..” AQ 2.282]. Kegagalan pemenuhan pada syarat kesaksian maka si penuduh akan dihukum 80 x cambukan [AQ 24:24].

    Detail lainnya tentang rajam, silakan lihat di: “SELANGKANGAN[↑]

    [4] Sistem kekerabatan ditradisi ini adalah Patrilineal yang terjadi karena perkawinan, namun tampaknya aturan di alkitab tentang perkawinan saling bertabrakan satu sama lainnya:

    • Larangan kawin campur dengan selain suku Yahudi misalnya (Ulangan 7.3; keluaran 34.16; Malaeki 2.11; Ezra 2.59-63; 7.61-65, 13.23-29), bahkan sampai sfesifik untuk tidak mengawini salah satu dari 7 suku lainnya yaitu Het, orang Girgasi, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus.

      Anak yang terlahir dari perbuatan Naaph (seksual ilegal), disebut Mazmer, mereka ini tidak boleh masuk menjadi jemaah TUHAN, bahkan keturunannya yang ke-10pun tidak boleh masuk jemaah TUHAN. [Ulangan 23.2]

      Mengadopsi Anak:
      Alkitab hanya mencatat mengangkat anak yang jelas asal-usulnya, masih lingkup keluarga dan sesama rumpun Yahudi saja, sebagai contoh Esther, diangkat anak oleh sepupunya (Mordekai: Ester 2.7), diluar dari kasus ini, yaitu mengangkat anak yang TIDAK JELAS asal-usulnya (dan/atau bukan Yahudi) TIDAK ADA, dan hanya tercatat dilakukan oleh non Yahudi, seperti bangsa Mesir (dalam kasus Musa dan Genubat) dan bangsa Yunani/romawi (sehingga ada penggunaan kata Huiothesia: misal di Rom 8.23).

      Di ajaran Islam:
      Mengangkat anak telah DIHARAMKAN yaitu diseputaran kasus Muhammad bergairah pada mantunya,”Zainab binti Jahsy” yang sebelumnya adalah istri zayd bin muhammad, anak angkat Muhammad. Allah sampai khusus menurunkan ayat agar nabi halal mengawini mantan mantunya ini, setelah di ayat sebelumnya mengenghapuskan adopsi, dan berdosa jika mengangkat anak dan menganggapnya anak sendiri serta memanggilnya tidak dengan nama ayah kandungnya [33:4,5] (yang mengherankan adalah perlu waktu yang begitu lama untuk seorang rasul menyadari bahwa hal ini adalah dosa dan yang lebih menakjubkan lagi adalah ayat ini turun justru ketika Nabi bergairah melihat istri anak angkatnya sendiri)

      Dalam ISLAM, Bestiality tidak ada hukumannya, hanya binatangnya saja yang dibunuh, sedangkan daging binatangnya boleh dijual asal dijual di luar kotanya

    • Boleh kawin campur, misal dalam kasus: dengan perempuan Kanaan (Yehuda vs Syua: Kejadian 38.1-2). Simeon: Kej 46.10), Dengan perempuan Mesir (Abraham Vs Hagar: 16.3, Yusuf vs Asnat: Kej 41.45), Dengan Budak (Abraham dan Bilha+Zilpha); Dengan perempuan Moab (Boas vs Ruth: Rut 4.13) Dengan perempuan Kush/Ethiopia (Musa vs Zipora: Keluaran 2.21, Bilangan 12.1), Dengan perempuan Geshur: (David vs Macah: 2 SAM 3.3), Dengan berbagai perempuan non Yahudi: Mesir, Moab, Amon, Edom, Sidon, dan Hitti (Sulaiman). Praktis larangan ini telah terjadi di jaman Abraham dan sesudahnya.

      Anjuran mengawini tawanan wanita:
      Ketika berperang dengan musuh dan mendapatkan tawanan cantik, maka ia boleh dijadikan istri (Ulangan 21:10-14). Jadi, mengangkat anak seharusnya tidak bermasalah (kecuali untuk Imam, ia harus menikah dengan sesama Yahudi)

      Islam pun mempunyai referensi mengenai menyetubuhi tawanan wanita:

      “Diharamkan atas kamu..dan wanita yang bersuami, KECUALI ma malakat aymanukum (apa yang tangan kananmu miliki)..” [An Nisa 4:24]

      Tafsir Ibn Kathir menjelaskan bahwa bagian dari ayat ini diturunkan Allah sebagai IJIN MEMPERKOSA tawanan wanita:

        Koleksi Imam Ahmad (no.11266, 11370) bahwa Abu Sa`id Al-Khudri berkata, “Kami TANGKAP BEBERAPA PEREMPUAN di area Awtas yang TELAH MENIKAH dan kami TIDAK SUKA melakukan SEKS dengan mereka karena mereka TELAH MEMPUNYAI SUAMI. Jadi KAMI TANYA pada NABi tentang hal ini, DAN AYAH INI DITURUNKAN,

        “وَالْمُحْصَنَـتُ مِنَ النِّسَآءِ إِلاَّ مَا مَلَكْتَ أَيْمَـنُكُمْ”.

        Konsekuensinya, KAMI MELAKUKAN HUBUNGAN SEKS dengan wanita2 ini. Ini ada di koleksi At-Tirmidhi (no.1051, 2942-43) An-Nasa’i (no.3281), Ibn Jarir dan Muslim (8.3342-3343/no.2643-44) di sahihnya (juga di Abu Dawud no.1841/11.2150).

        note:
        Walaupun dalam tafsir tertulis agar dipastikan dulu bahwa mereka yang diperkosa ini tidak sedang hamil, namun Islam JELAS menyebutkan waktu tunggu Iddah untuk menggauli harusnya adalah 4 bulan 10 hari.

        Satu contoh sample hadis yang menarik misal dari Musnad Ahmad no.11266:
        Riwayat Abdurrazzaq – Sufyan – Utsman Al Batti – Abu khalil – Abu Sa’id Al Khudri: “Kami mendapatkan wanita-wanita dari tawanan Awtas, kami tidak ingin menggauli mereka karena mereka telah mempunyai suami, kami bertanya kepada Nabi SAW, lalu turunlah ayat: “dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki..”. Abu Sa’id: “MAKA KAMIPUN DENGAN AYAT MENGHALALKAN KEMALUAN-KEMALUAN MEREKA”

      Priaku seksual di atas, yang bagi masyarakat normal dikategorikan sebagai tindakan biadab, namun dalam Islam, tindakan ini BUKAN biadab dan BUKAN ZINA karena telah diperkenankan Allah dan Nabinya.

    Alasan mengapa dilarang kawin campur disebutkan jelas,
    diantaranya dikhawatirkan suami/istri menjadi pindah sesembahan, namun alasan ini pun tidak dapat digunakan, mengingat beberapa perkawinan campur menghasilkan keturunan yang bahkan disayangi Y@hova, misal Ruth yang mengawini Boas (yang kelak menurunkan David dan Sulaiman), kemudian Yusuf yang mengawini Asnat (yang kelak menurunkan 2 orang suku pilihan Y@hova) dan banyak lagi.

    Sehingga alasan yang paling mungkin adalah berkaitan dengan kemurnian atau gara-gara urusan menjadi “BANGSA PILIHAN”.

    Karena Y@hova BERJANJI memberikan KESELAMATAN HANYA kepada BANGSA turunan ISRAEL (Nama lain Yakob: Kej 32.28, 1 Taw 16.13) dan janji tersebut TIDAK DIBERIKAN dan/atau TIDAK BERLAKU untuk SUKU/BANGSA lain MANAPUN lagi.

      Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN (Y@hova), Allahmu (Elohim); engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya. Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu–bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? –tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu [Ulangan 7.6-8, 14.2, juga di Mazmur 33.12; 105.6, 43]

      Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau (Abraham) serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. [Kej 17.7]..isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya..Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar..Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.” [Kej 17.19-21]

      ..demikianlah firman TUHAN, engkau akan memanggil Aku: Suamiku (Iysh], dan tidak lagi memanggil Aku: TUANKU [Ba’aliy]! Aku menjauhkan nama para Baal dari mulutmu, maka nama mereka tidak lagi disebut.. Aku akan mengikat perjanjian bagimu pada waktu itu..akan membuat engkau berbaring dengan tenteram. Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang..dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN. [Hosea 2.16-20]

    Demikianlah ikatan perkawinan JANJI KESELAMATAN PASTI antara Y@hova dan turunan Israel, yaitu ke-12 keturunan Yakub dari ke-4 Istrinya, yang kelak disebut sebagi “12 suku Israel” yang seharusnya 14 suku Israel (kejadian 49.1-28), juga daftar perubahannya, di mana tidak ada Yusuf dan Lewi: Bilangan 2.1-29):

    1. Leah: Ruben
    2. Leah: Simeon
    3. Leah: Levi. Pada Bilangan 1.47-54, karena penugasan Lewi sebagai Imam, maka terjadi perubahan daftar, yaitu nama Lewi tidak ada lagi, dan nama Yusuf yang tidak ada diganti menjadi dua anaknya Yusuf: Manasye dan Efraim. Kemudian di Yehezkiel, terdapat lagi perubahan, yaitu dari turunan Lewi, hanya turunan Zadok (Levi – kohat – Amran – Harun – Eleazar) yang boleh menjadi Imam dan bukan lagi sfesifik turunan Lewi yang boleh menjadi Imam (Yehezkiel 40.46, 43.19, 44.15, 48.11), sehingga daftar kembali ke posisi awal, dimana nama Lewi dan Yusuf muncul kembali (Yehezkiel 48.31-35)
    4. Leah: Judah
    5. Leah: Issachar
    6. Leah: Zebulun
    7. Rachel: Yusuf:, yaitu pada: Manasye + Efraim
    8. Rachel: Benjamin
    9. Bilhah (Budaknya Rachel): Dan
    10. Bilhah (Budaknya Rachel): Naphtali
    11. Zilpah (Budaknya Leah): Gad
    12. Zilpah (Budaknya Leah):Asher

    Bersama 14 turunan ini, melekat dalam anak perjanjian tersebut adalah seluruh orang asing yang tinggal bersama 14 suku itu, tapi mereka harus HARUS disunat dan patuh:

      Tetapi apabila seorang asing telah menetap padamu dan mau merayakan Paskah bagi TUHAN, maka setiap laki-laki yang bersama-sama dengan dia, wajiblah disunat; barulah ia boleh mendekat untuk merayakannya; ia akan dianggap sebagai orang asli. Tetapi tidak seorangpun yang tidak bersunat boleh memakannya. [Ulangan 12.48]

    Juga,
    SEBELUM ada perjanjian antara Y@hova vs Yakub, TERLEBIH DAHULU ada perjanjian antara Y@hova vs Ishak dan Perjanjian Y@hova vs Abraham:

      maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan Yakub; juga perjanjian dengan Ishak dan perjanjian-Ku dengan Abrahampun akan Kuingat dan negeri itu akan Kuingat juga. [Imamat 26.41-42]

      Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal. Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.” .. Setelah itu Abraham memanggil Ismael, anaknya, dan semua orang yang lahir di rumahnya, juga semua orang yang dibelinya dengan uang, yakni setiap laki-laki dari isi rumahnya, lalu ia mengerat kulit khatan mereka pada hari itu juga, seperti yang telah difirmankan Allah kepadanya. [Kejadian 17.13-14, 23)

    Mereka yang DI ATAS INI semua terikat HARUS menjalankan 10 Perintah Y@hova.

    Dalam kasus mereka tergelicir melanggar dan pada akhirnya mereka akan mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, maka apapun kesalahannya hukuman di dunia telah diberikan, Setelah mati, mereka akan dalam pelukan Y@hova. Ini mirip anak yang senakal apapun adalah tetap anak sendiri, ia akan dimaafkan dan dimanja oleh Ayah dan Ibunya

      Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia. Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu. Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya.” [2 sam 7.14-16]

    Mengapa? Karena Y@hova telah memperbaharui lagi perjanjian itu untuk selamanya:

      Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel (Samaria) dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel (keturunan Yakub) sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka. Beginilah firman TUHAN..semesta alam nama-Nya: “Sesungguhnya, seperti ketetapan-ketetapan ini tidak akan beralih dari hadapan-Ku, demikianlah firman TUHAN, demikianlah keturunan Israel juga tidak akan berhenti menjadi bangsa di hadapan-Ku untuk sepanjang waktu…demikianlah juga Aku tidak akan menolak segala keturunan Israel, karena segala apa yang dilakukan mereka, demikianlah firman TUHAN. [Yeremia 31.31-37]

    Jadi, Keturunan Yakub ini bagaikan mendapatkan rejeki nomplok, SELAMA GEN KELAHIRAN MEREKA mampu mengenali Y@hova sebagai tuhannya, maka SELAMATLAH IA, karena mereka adalah GEN YANG TERPILIH!

    Mengapa?

      Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” [Yeremia 1.4-5]

      Beginilah firman TUHAN yang menjadikan engkau, yang membentuk engkau sejak dari kandungan dan yang menolong engkau: Janganlah takut,hai hamba-Ku Yakub, dan hai Yesyurun,yang telah Kupilih! [Yesaya 44.2]

      Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. [Yesaya 55.8-9]

        Note:
        Bahkan di Islampun disebutkan bahwa penempatan surga Neraka telah DITETAPKAN sejak ADAM diciptakan, misalnya:

        iwayat Abu Bakr bin Abu Syaibah – Waki’ – Thalhah bin Yahya – bibinya, ‘Aisyah binti Thalhah – ‘Aisyah ummul Mu’minin:

        “Pada suatu ketika, Rasulullah SAW pernah diundang untuk melayat jenazah seorang bayi dari kaum Anshar. Kemudian saya (Aisyah) berkata kepada beliau; ‘Ya Rasulullah, sungguh berbahagia bayi kecil ini! Ia seperti seekor burung dari sekian burung surga yang belum pernah berbuat dosa dan belum pernah ternodai oleh dosa.’

        Rasulullah SAW bersabda: ‘hai Aisyah bahwa Allah telah menciptakan orang-orang yang akan menjadi penghuni surga ketika mereka masih berada dalam tulang rusuk (sulbi) bapak-bapak mereka (قَالَ أَوَ غَيْرَ ذَلِكَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ لِلْجَنَّةِ أَهْلًا خَلَقَهُمْ لَهَا وَهُمْ فِي أَصْلَابِ آبَائِهِمْ ).

        Allah pun telah menciptakan orang-orang yang akan menjadi penghuni neraka ketika mereka masih berada dalam tulang rusuk bapak-bapak mereka.’

        Riwayat Muhammad bin Ash Shabbah – Isma’il bin Zakaria – Thalhah bin Yahya. Riwayat Sulaiman bin Ma’bad – Al Husain bin Hafsh. Riwayat Ishaq bin Manshur – Muhammad bin Yusuf keduanya dari Sufyan Ats Tsauri – Thalhah bin Yahya dengan sanad Waki’ seperti haditsnya. [Muslim 33.6436/no.4813, juga di no. 4812. Juga di Abu dawud no.4090]

        ***

        Riwayat Qa’nabi – Malik – Zaid bin Unaisah – Abdul Hamid bin ‘Abdurrahman bin Zaid Ibnul Khaththab – Muslim bin Yasar Al Juhani – Umar Ibnul Khaththab pernah ditanya tentang ayat ini:

        (Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka) -Qs. Al A’raf: 172- Al Qa’nabi membaca ayat tersebut, lalu Umar berkata, “Aku juga pernah mendengar Rasulullah SAW ditanya tentang ayat itu, lalu beliau menjawab; “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam,

        lalu ALLAH MENGUSAP PUNGGUNGNYA (sulbi) DENGAN TANGAN KANAN-Nya hingga keluarlah keturunan Adam dari punggungnya. Kemudian Allah berfirman: “AKU MENCIPTAKAN MEREKA UNTUK MASUK SURGA, dan mereka akan beramal dengan amalan-amalan penduduk surga.”

        kemudian ALLAH KEMBALI MENGUSAP PUNGGUNG ADAM hingga keluarlah keturunan Adam dari punggungnya. Setelah itu Allah berfirman: “AKU MENCIPTAKAN MEREKA UNTUK MASUK NERAKA, dan mereka akan beramal dengan amalan-amalan penduduk neraka.”

        Seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu untuk apa gunanya beramal?”

        Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya jika Allah menciptakan seorang hamba untuk masuk ke dalam surga maka Ia akan menjadikannya beramal dengan amalan penduduk surga, sehingga ia mati dengan amalan penduduk surga lalu memasukkannya ke dalam surga.

        Dan jika Allah menciptakan seorang hamba untuk masuk ke dalam neraka maka Ia akan menjadikannya beramal dengan amalan penduduk neraka, sehingga ia mati dengan amalan penduduk neraka lalu memasukkannya ke dalam neraka.”

        Riwayat Muhammad Ibnul Mushaffa – Baqiyyah – Umar bin Ju’tsum Al Qurasyi – Zaid bin Abu Unaisah – Abdul Hamid bin ‘Abdurrahman – Muslim bin Yasar – Nu’iam bin Rabi’ah: “Aku sependapat dengan Umar Ibnul Khaththab dengan hadits ini, namun hadits Malik lebih lengkap.”

        [Abu Dawud no.4081, Juga di Tirmidhi no.3001 (Hadis Hasan), 3002 (Hadis Hasan sahih). Malik no.1395. Ahmad no. 294, 2157, 17000. Kemudian di hadis Ahmad no. 26216, Riwayat Haitsam – Abu Ar Rabi’ – Yunus – Abu Idris – Abu Darda’ – Nabi SAW bersabda: “Ketika Allah menciptakan Adam, Allah memukul bahu kanan Adam, maka keluarlah keturunan berkulit putih seperti molekul, dan memukul bahu kirinya keluar keturunan berkulit hitam seperti arang, Allah berkata pada yang di bagian kanannya, ‘Masuklah ke Surga dan Aku tidak perduli’. berkata pada yang di bagian kirinya, ‘Masuklah ke dalam Neraka dan Aku tidak perduli'”]

    Karena kita ketahui sekarang bahwa PERJANJIAN BARU yang dilakukan Y@hova, ADALAH TETAP menyatakan keturunan Yakub sebagai bangsa pilihannya, maka ketika SEKELOMPOK orang MENCOBA MENGKLAIM diri sebagai utusan Y@hova (dan bahkan mengaku sebagai Y@hova), misal:

      Nasrani:
      Ketika orang-orang Farisi sedang berkumpul, Yesus bertanya kepada mereka: “Apakah pendapatmu tentang Kristus (kerap diterjemahkan sebagai mesias padahal kata itu muncul belakangan dan merupakan plesetan dari chrestos yang artinya adalah baik. Matius saat menggunakan kata Kristus, merujuk pada Yesus: Mat 1.1)? Anak siapakah Dia?” Kata mereka: “Daud”. Kata-Nya: “maka bagaimanakah Daud dalam Roh menyebutnya Kurios (Tuan/pemilik) berkata: Kurios telah berfirman kepada Kurios: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Karena jika Daud menyebutnya Kurios, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?” [Matius 22.41-46]

      Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku [Yohanes 14.6], dan banyak lagi ayat yang menyatakan Yesus menyebutkan dirinya setara Y@hova :). [Lihat juga: di sini, yang menjelaskan mengapa Yesus harus diwafatkan]

      Islam:
      Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya yusallûna (يُصَلُّونَ) untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, sallû (صَلُّوا) untuknya (عَلَيْهِ, alahi).. [AQ 33.56] . [note: Terjemahan Indonesia kata arab “yusalluna” dan “sallu” adalah bersalawat :), padahal di surat lain diartikan SHALAT], Ini mengindikasikan deraja Muhammad lebih tinggi dari Y@hova :). [Lihat aplikasi kata shalat: di sini dan wafatnya muhammad: di sini]

    Mereka ini TELAH BERSAKSI PALSU dan/atau mengajak melanggar 10 Perintah Y@hova dengan menduakan Y@hova.

    Sejak Y@hova memperbaharui perjanjiannya DENGAN TETAP MENGKAITKAN turunan Yakub sebagai kesayangannya, maka ketika mereka-mereka yang lahir sesudahnya NEKAT mengaku sebagai juru selamat dan atau utusan Y@hova namun MENUMPANGKAN AJARANNYA atau malah menyatakan ajarannya MENGGENAPKAN atau MEMPERBAIKI ajaran Yahudi, INI JADI KONYOL SEKALI, bukan? [↑]

    [5] 1 Syikal = 11 gram jadi 50 syikal: 550 gram perak. Misal harga perak/gram=12.000 maka 550 gram = 6.6 juta rupiah. [↑]


    Mitos: Islam Agama Toleran dan Tanpa Paksaan


    Bagaimanakah MUSLIM KAFAH berurusan dengan kaum kafir?

    [Orang Kafir = Ahli kitab dan Orang Musyrik (AQ 98.1,6) + Fatwa: muslim “..yang tidak mengkafirkan orang kafir setelah ditegakkan hujjah baginya, maka ia kafir” (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’, Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, wakil: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh, Anggota: Syaikh Bakr Abu Zaid dan Syaikh Shalih Al Fauzan, Fatwa no. 19402, 12: 275-284)].

    Orang musyrik itu NAJIS (AQ 9.28. Surat ini turun di: sebelum, sedang dan setelah perang Tabuk, 9 H). KAUM Kafir adalah BINATANG YANG PALING BURUK (AQ 8.22,25), SEBAGAI BINATANG TERNAK (“kaal-an’aami”AQ 7.179; 25.43-44) ayat ini BUKAN perumpamaan, tidak ada kata “Matsal/amtsaal” di situ]

    • Riwayat Abdullah bin Muhammad Al Musnadi – Abu Rauh Al Harami bin Umarah – Syu’bah – Waqid bin Muhammad – bapakku (Muhammad bin Zaid bin ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al Khaththab) – Ibnu Umar – Rasulullah SAW:

      Aku diperintahkan untuk MEMBUNUHI/MEMERANGI [“قَاتِلَ”: qātila=perbuatan dengan itikad membunuh] MANUSIA hingga mereka bersaksi; tidak ada ilah kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka lakukan yang demikian maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haq Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah”

      [Bukhari no.24 dan Muslim no.33. Juga di Nasai no.4917 dari riwayat Muhammad bin Hatim bin Nu’aim – Hibban – Abdullah – Humaid Ath Thawil – Anas bin Malik – Rasulullah SAW dengan tambahan kalimat, “..menghadap ke kiblat kita, MEMAKAN SEMBELIHAN KITA, dan melakukan shalat (seperti) sholat kita maka sungguh telah diharamkan atas kita darah dan harta mereka, kecuali dengan haknya. Bagi mereka apa yang menjadi hak kaum muslimin dan atas mereka apa yang menjadi kewajiban kaum muslimin. Juga di Ahmad no. 8188 dari riwayat ‘Affan – Abdul Wahid bin Ziyad – Sa’id bin Katsir bin ‘Ubaid – bapakku – Abu Hurairah – Rasulullah SAW. Juga Ahmad no 12869, 12583 dari riwayat (‘Ali Bin Ishaq dan Al-Hasan Bin Yahya) – Abdullah (Ibnu Mubarak) – Humaid Ath Thawil – Anas Bin Malik – Rasulullah SAW]

    • Riwayat Ahmad bin hanbal – Muhammad bin Ja’far – Syu’bah – An Numan – Aus berkata:
      Aku pernah mendatangi Rasulullah SAW yang tengah berkumpul bersama utusan utusan Bani Tsaqif, ketika itu kami berada di suatu bangunan. Lalu orang-orang penghuni bangunan itu berdiri kecuali saya dan Rasulullah SAW. Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang memancing kemarahan nabi SAW, lalu nabi berkata; “PERGI [“اذْهَبْ”:ạdẖ̊hab̊=pergi] DAN BUNUH DIA [“فَاقْتُلْهُ”:fa+q̊tul̊+hu: kemudian+bunuh+dia]“.

      Tapi beberapa saat kemudian nabi SAW bersabda: “Namun bukankah dia mengucapkan kalimah syahadah (Tidak ada tuhan selain Allah)?” Aus menjawab, Ya, tapi dia mengucapkannya hanya sebagai alat untuk menghindarkan diri dari pembunuhan? (Rasulullah SAW) bersabda: “Lepaskanlah dia”

      lalu beliau bersabda: Aku diperintahkan untuk MEMBUNUHI/MEMERANGI [“قَاتِلَ”: qātila=perbuatan dengan itikad membunuh] manusia hingga mereka mengucapkan, “Tidak ada tuhan selain Allah’, jika mereka telah mengucapkannya, maka haram bagiku darah dan harta mereka kecuali karena alasan yang dibenarkan.” Saya bertanya kepada Syu’bah, ‘Apakah dalam hadis terdapat redaksi kemudian ia berkata; bukankah dia bersaksi bahwa ‘tidak ada tuhan selain Allah dan saya adalah Rasul Allah? ‘. Syu’bah berkata; saya pikir begitu, namun saya tidak tahu.

      [Ahmad no.15573. Juga di Ahmad no.15576 dari riwayat: Ahmad bin hanbal – Abdullah bin Bakr As-Sahmi – Hatim bin Abu Saghirah – An Nu’man bin Salim ‘Amr bin Aus – Bapaknya, Aus dan dari riwayat Ahmad bin hanbal – Muhammad bin Abdullah Al Anshari – Abu Yunus, Hatim bin Abu Saghirah – Nu’man bin Salim ‘Amr bin Aus- Bapaknya, Aus. Juga di Nasai no.3916. Nasa’i no.3917 dari riwayat Muhammad bin Basysyar – Muhammad – Syu’bah – An Nu’man bin Salim – Aus. Juga di Darimi no.2338]

      DETAIL LAINNYA lihat: “TAK BOM KEMANA-MANA..

    Nasehat tersebut telah diikuti dengan baiknya oleh Abu Hamza Al-Masri (lihat video kejadian 1998, mulai menit ke 04:42, dari “obsession: radical islam’s war against the west: jihad in the west”):

    Jika seorang kafir berjalan di NEGARA MUSLIM, Ia ini seperti seekor SAPI. Siapapun dapat menangkapnya. Itu adalah HUKUM ISLAM. Jika seorang kafir berjalan dan engkau menangkapnya, Ia adalah tawanan. Engkau dapat menjualnya di PASAR, atau membunuhnya. Itu adalah baik

    Kalimat di atas selaras dengan perintah Allah SWT yang turun di baiat Aqaba ke-2 pada beberapa bulan sebelum Hijrah berupa 2 ayat ijin membunuh, yaitu AQ 22.39-40 dan AQ 2.193. [Sirat Nabawiyah, Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Bab 89, hal 422-423], yang pertama turun adalah AQ 22.39-40 bagi “orang-orang yang mengalami hendak dibunuh karena dizalimi” [udhina lilladhīna yuqātalūna bi-annahum ẓulimū] dan dilanjutkan AQ 2.193, “Dan BUNUHLAH mereka [waqātilūhum], sehingga tidak ada fitnah (syirik)[1] lagi Dan ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.

      Note:
      Akar kata Q-T-L (Qaf-Ta-Lam) kerap diterjemahkan sebagai “perang“. Terjemahan ini justru mengaburkan maksud Allah. Akar kata QTL menunjukan suatu perbuatan yang berakibat ‘kematian atau terjadinya pembunuhan’, misal: qatala: ‘dia (pria) membunuh’, qattala: ‘Ia sering membunuh’, qutila: ‘dia (pria) dibunuh’, qutilū: ‘mereka dibunuh’, uqtul: ‘membunuh’, qātil: ‘membunuh, ‘iqtāl: ‘sebab untuk membunuh, qatl: ‘pembunuhan’ ‘qitl’: musuh (yang ingin membunuh), qutl/qātil: ‘pembunuh’, maqtal: ‘titik vital ditubuh (luka yang membawa kematian)’, istaqtala: ‘membahayakan nyawa seseorang’ [lihat di: sini, sini, sini, sini dan sini]

      AQ 22.39-40 adalah ayat pertama yang turun tentang JIHAD. Para penafsir biasanya memberikan alasan bahwa peperangan ini diijinkan karena ketika itu umat Islam Mekkah diperlakukan zalim oleh kaum musyrik Quraish. Alasan ini TIDAK BENAR, Ikrimah dan Qatadah mengatakan orang yang zalim ialah orang yang menolak mengucapkan ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’. Kemudian jika dimaksudkan sebagai dianiaya, ini juga TIDAK BENAR dan TERBALIK karena sedari awal dan secara konstan, kaum Quraish-lah yang JUSTRU mengalami pelecehan, penghinaan keagamaan dari Nabi SAW dan pengikutnya:

        Ketika Rasul secara terbuka menggambarkan Islam sebagai Allah yang memerintahkan dia, kaum Quraish TIDAK BERBALIK MELAWANNYA, sejauh saya dengar, hingga Ia berbicara yang meremehkan dewa-dewa mereka. Ketika dia melakukan itu, mereka tersinggung hebat dan memutuskan bulat untuk memperlakukannya sebagai musuh.(“The Life of Muhammad”/Sirat Nabawiyah’s Ibn Ishaq, translasi A. Guillaume, no.167, hal.118)

        maka [Orang-orang terkemuka Mekkah] pergi ke Abu Talib [dan berkata] “keponakanmu telah mengutuk tuhan-tuhan kita, menghina agama kita, mengejek cara hidup kita & menuduh nenek moyang kita salah. Entah apakah kamu yang harus menghentikannya atau Kamu harus membiarkan kita mengajar adat padanya” Tapi Abu Thalib tidak akan mengalah. Rasul terus melakukan dengan caranya… konsekuensinya, hubungannya dengan orang-orang Quraisy [Mekah] memburuk & mereka menjauhinya dalam permusuhan.(Ibid no.168, hal.119)

        [Orang-orang Mekkah] berkata bahwa mereka tidak pernah ketemu kekacauan terus menerus seperti yang dilakukan orang ini. Ia nyatakan cara hidup mereka bodoh, menghina nenek moyang mereka, mencerca agama mereka, memecah komunitas dan mengutuki tuhan mereka (Ibid no.183, hal.130-131)

        Riwayat Abu Salamah b. ‘Abd al-Rahman berkata pada ‘Abdullah b. ‘Amr b. al-‘As, “..Mereka berkata, “kita tidak pernah menyaksikan seperti yang kita terima bertubi-tubi dari orang ini. Ia telah mencomooh nilai-nilai tradisi kita, melecehkan nenek moyang kita, mencerca agama kita, menyebabkan perpecahan dikalangan kita semua, dan menghina tuhan-tuhan kita. Kita telah menerima bertubi-tubi banyaknya dari dia“….Nabi tiba-tiba muncul, mereka loncat ke depannya, mengelilinginya dan berkata, “Benarkah engkau mengatakan ini dan itu?” mengulangi apa yang mereka dengar atas ucapannya dan juga tentang tuhan dan agamanya. nabi berkata “Ya, sayalah yang mengatakan itu”.. [“The History of al-Tabari”, translated and annotated by W. Montgomery Watt and M.V. McDonald, State University of New York Press (SUNY), Albany 1988, Vol. 6. hal 101, Riwayat Ibn Humayd — Salamah — Muhammad b. Ishaq — Yahya b. ‘Urwah b. al-Zubayr — his father ‘Urwah—‘Abdullah b. ‘Amr b. al-‘As]

      Tindakan keji berulang tanpa teguran dari klannya inilah sehingga mengakibatkan diberlakukannya sangsi adat, sosial dan ekonomi kepada bani Hasyim (Muslim maupun Non) yang dituangkan dalam satu maklumat dan ditempelkan di Ka’bah. Isinya berupa larangan berhubungan baik itu menikah dan melakukan jual-beli dengan suku Hasyim. Maklumat itu ditandatangani oleh 40 (empatpuluh) pemimpin suku Quraish. Pada maklumat itu terdapat kata “Bismikallahumma” (“ﺑﺎﺳﻤﻚ اﷲ”, Atas Nama Allah) [“Journal of Religious Culture No. 90”, (2007), A Different Approach to the Narratives about the Tear of the Boycott Document Placed inside al-Ka’bah, By İsrafil Balcı, hal.2].

      Beberapa kaum muslim dalam menghindari terkena getah meninggalkan Nabinya ke Habasyah/Abyssinia, diantaranya USMAN, sepulangnya dari sana, 3 bulan kemudian, Ia TIDAK IKUT menemani Nabinya dan malah menetap di Mekkah membangun bisnisnya. Demikian pula ABU BAKAR dan UMAR TIDAK IKUT menemani nabinya dan menetap di Mekkah. Bahkan ketika kaum Islam sedang kekurangan pangan akibat sangsi adat, mereka ini juga TIDAK TERCATAT membantu Nabi dan rekan seiman mereka, malah kaum musyrik-lah yang justru membantu para muslim dengan pangan, diantaranya Hakim b. Hizam b. Huwaylid.

      Juga,
      para muslimpun TIDAK PERNAH diusir dari Mekkah karena alasan agama ataupun tuhannya, MALAH kaum Musyrik yang justru berusaha menahan mereka ketika hendak pergi.

      Menariknya Allah-lah yang justru menurunkan AQ 22:40 bahwa PENGUSIRAN YANG DIPERBOLEHKAN HARUSLAH dengan alasan YANG BENAR, yaitu: “Tuhan kami hanyalah Allah”!. Ini menunjukan bahwa TOLERANSI dalam Islam MEMANG TIDAK ADA

      Jadi, MENGHINA KAFIR dianggap wajar namun mengina MUSLIM menjadi kurang ajar:

        Ketika orang-orang Quraisy semakin membangkang kepada Allah Azza wa Jalla, menolak kehendak Allah untuk memuliakan mereka, mendustakan hamba-Nya yang menyembah-Nya, mentauhidkan-Nya, membenarkan Nabi-Nya dan berpegang teguh kepada agama-Nya, maka Allah Azza wa Jalla mengizinkan Rasul-Nya SAW berperang..[Ibn Ishaq hal.421-422]

      [Detail lainya selama di Mekkah, lihat “Muhammad di Mekkah: Ke-Tauhid-an, Alat Berbalut Motif Ekonomi dan Balas Dendam“]

    Tertera jelas bahwa toleransi untuk umat beragama lain dalam ajaran Islam MEMANG TIDAK ADA (atau toleransi ini BERSYARAT, yaitu selama ada nilai keuntungan materi atau lainnya bagi kaum Muslim), salah satu sample paksaan masuk Islam dengan siksaan, misalnya yang dilakukan Umair bin Wahab, sewaktu masih kafir, Ia bersama kaum Quraish di peristiwa Badar, anaknya (Wahab bin Umair) kemudian ditawan kaum muslim, Umair pergi ke Medina untuk membebaskannya, demi membebaskan anak, Ia masuk Islam, anaknya dibebaskan dan kemudian pulang ke Mekkah. Ibnu Ishaq: “Ketika Umair bin Wahb telah tiba di Makkah, ia menetap di sana guna mengajak manusia kepada Islam, dan menyiksa dengan siksaan keras siapa saja yang menentangnya. Banyak sekali orang-orang yang masuk Islam karena dakwahnya” [Sirah Nabawiyah, Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 1, Bab 119, hal.638]

    Namun demikian,
    masih akan banyak muslim yang membantah ini dengan mengetengahkan satu atau beberapa ayat, misalnya:

    • Kalimat yang tertera di AQ 2.256, “TIADA PAKSAAN dalam AGAMA”, dan/atau
    • mengetengahkan sepotong ayat ini, “fa-in qātalūkum fa-uq’tulūhum” (“jika kamu hendak dibunuh/diperangi maka bunuhlah/perangilah mereka”) yang merupakan potongan dari AQ 2.191, berikut komentar bahwa islam tidak pernah memulai peperangan. Tetapi apa bila islam diperangi maka baru diperintahkan untuk memerangi mereka, dan/atau
    • akan coba membawa kalimat “semoga Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan musuh – musuhmu. Allah maha kuasa. Dan allah maha pengampun dan penyayang. Allah tak melarangmu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap mereka yg tak memerangimu dalam urusan agama dan tak pula mengusirmu dari kampung halamanmu. Bahwasanya Allah mencintai yang berlaku adil. Namun Allah melarang orang – orang yang memerangimu menjadi kawanmu dan mengusir kampung halamanmu, serta mereka terlibat membantu pengusiran terhadapmu. Barangsiapa yang menjadi kawan, itulah orang zalim [AQ 60.7-9]

    Demikianlah upaya untuk menyatakan, “Islam agama damai dan/atau agama yang memahami toleransi“. Mereka yang mengetengahkan ayat-ayat di atas, sekurangnya sedang berada dalam 3 kategori:

    1. Tidak mengerti ajaran agamanya sendiri.
    2. Pura-pura tidak tahu maksud ayat itu, asbabunuzulnya, kapan dan dalam konteks apa (atau Ia sedang keadaan bertaqiyya[2].)
    3. Sok tahu

    Berdalih dengan ayat AQ 2.191 dan AQ 60.7-9 sebagai alasan toleransi dalam islam adalah TIDAK TEPAT (detail tanggapannya, SILAKAN BACA di catatan kaki. no.1 artikel ini). Saat ini, mari kita fokuskan pada alasan “TIADA PAKSAAN dalam AGAMA” (AQ 2.256). Untuk itu, agar lebih jelas makna ayat tersebut, mari lihat asbabunuzul AQ 2.256:

      “Riwayat Abdullah ibn Abbas: Ketika anak-anak seorang wanita (jaman Pra-Islam) tidak dapat bertahan hidup, Ia bersumpah pada dirinya bahwa jika anak-anaknya hidup, Ia akan menjadi Yahudi. Ketika Bani an-Nadir di usir (dari Arabia), terdapat beberapa anak kaum ansar (kaum penolong) diantara mereka. Mereka berkata: Kita tidak seharusnya meninggalkan anak-anak kita. Kemudian Allah yang maha tinggi menyerukan; “Tidak ada paksaan dalam agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” [Abu Dawud 14.2676]

      Dalam Asbab Al-Nuzul by Al-Wahidi, di katakan:

      (Tidak ada paksaan dalam agama…) [2:256]. Muhammad ibn Ahmad ibn Ja’far Al Muzakki – Zahir ibn Ahmad – Al Husayn ibn Muhammad ibn Mus’ab – Yahya ibn Hakim – Ibn Abi ‘Adiyy – Shu’bah – Abu Bishr – Sa’id ibn Jubayr- Ibn ‘Abbas berkata:
      “Para wanita kaum Ansar yang punya anak selalu wafat ketika bayi biasa bersumpah akan menjadikan anak mereka yahudi jika mereka hidup. Ketika Bani-Nadir diusir keluar, diantara mereka terdapat anak-anak kaum Ansar. Kaum Ansar berkata: ‘Kami tidak akan meninggalkan anak kami!’ Kemudian Allah, yang maha tinggi mewahyukan (Tidak ada paksaan dalam agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat…)”.

      Muhammad ibn Musa ibn al-Fadl => Muhammad ibn Ya’qub => Ibrahim ibn Marzuq => Wahb ibn Jarir => Shu’bah => Abu Bishr => Sa’id ibn Jubayr => Ibn ‘Abbas yang berkata sehubungan dengan pernyataan Allah, yg maha tinggi, (Tidak ada paksaan dalam agama…):
      “Wanita dari kaum Ansar yang anaknya tidak pernah selamat biasa bersumpah bahwa jika putera mereka hidup, Ia akan merawatnya sebagai Yahudi. Ketika Bani-Nadir diusir keluar dari Medina diantara mereka terdapat anak-anak kaum Ansar. Kaum Ansar berkata: ‘O Rasullullah! Anak-anak kami!’ Allah yg maha tinggi, kemudian mewahyukan (Tidak ada paksaan dalam agama…)”.

      Sa’id ibn Jubayr berkata:
      “Mereka yang ingin pergi dengan kaum Yahudi jadi pergi, dan mereka yang ingin masuk Islam menjadi muslim”.

      Kata Mujahid:
      “Ayat ini turun tentang seorang pria dari kaum Ansar yang punya anak berkulit hitam bernama Subayh yang dulunya dipaksa menjadi muslim”.

      Al-Suddi berkata:
      “Ayat ini turun tentang seorang pria dari kaum Ansar bernama Abu’l-Husayn. Pria ini punya dua anak. Pernah terjadi beberapa pedagang dari Syria datang ke Medina berjualan minyak. Ketika para pedagang tersebut hendak meninggalkan Medina, Kedua anak Abu’l-Husayn mengajak mereka untuk masuk Nasrani.

      Para pedagang ini pindah menjadi Nasrani dan kemudian meninggalkan Medina.

      Abu’l-Husayn menyampaikan apa yang telah terjadi ini pada Rasullullah SAW. Nabi meminta dirinya memanggil kedua anaknya. Kemudian Allah yang maha tinggi mewahyukan (Tidak ada paksaan dalam agama…).

      Rasullullah SAW, berkata: ‘Semoga Allah mengusir keduanya. Mereka adalah Kafir pertama‘.

      Ini adalah sebelum Rasullulah SAW, diperintahkan untuk memerangi para ahlul kitab. tapi kemudian perkataan Allah (Tidak ada paksaan dalam agama…) di BATALKAN dan Nabi diperintahkan untuk memerangi para ahlul kitab dalam surat At-taubah (surah no. 9)”

      Masruq berkata:
      “Seorang pria kalangan Ansar, dari Bani Salim Bani ‘Awf, punya dua anak yang pindah kristen sebelum kebangkitan NABI SAW. [Setelah hijrahnya Nabi SAW ke Medina] Kedua anak ini datang ke Medina bersama sekelompok pedagang nasrani yang berjualan makanan. Ayah mereka pergi kepada mereka dan menolak meninggalkan mereka, berkata: ‘Demi Allah! Aku tak akan meninggalkanmu hingga engkau menjadi muslim’. Mereka menolak menjadi muslim dan mereka semua pergi ke Rasullullah SAW, menyelesaikan perselisihan mereka. Sang Ayah berkata: ‘O Rasullullah! bagaimana bisa ku tinggalkan bagian diriku masuk neraka semenara aku hanya duduk dan menonton?’ Allah yang mulia dan yang paling Mulia kemudian mewahyukan (Tidak ada paksaan dalam agama…) setelah ia lepaskan mereka pergi”.

      Abu Ishaq ibn Ibrahim al-Muqri’ => Abu Bakr ibn Muhammad ibn Ahmad ibn ‘Abdus => Abu’l-Hasan ‘Ali ibn Ahmad ibn Mahfuz => ‘Abd Allah ibn Hashim => ‘Abd al-Rahman ibn Mahdi = Sufyan => Khusayf => Mujahid berkata:
      “Terdapat beberapa orang yang dibesarkan diantara kaum Yahudi, Bani Qurayzah dan Bani-Nadir. ketika Nabi SAW, memerintahkan pengusiran Bani-Nadir keluar dari Medina, para putera dari kaum Aws yang dibesarkan oleh kaum Yahudi berkata ‘Kami akan pergi bersama mereka dan mengikuti agama mereka’. Keluarga mereka menghentikan mereka dan ingin memaksa mereka masuk Islam. Kemudian ayat (Tidak ada paksaan dalam agama…) turun”.

    Dalam Tafsir Ibn Kathir disampaikan:

      Ibn Jarir mencatat bahwa Ibn `Abbas berkata

      “(Pra Islam) ketika wanita (Ansar) tidak akan melahirkan anak yang hidup, Ia bersumpah bahwa jika ia melahirkan dan anak itu tetap hidup, Ia akan pelihara anak itu sebagai Yahudi. Ketika Bani An-Nadir (Suku Yahudi) di keluarkan dari Al-Madinah, beberapa anak kaum ansar dibesarkan diantara mereka, dan kaum ansar berkata, `kami tidak akan meninggalkan anak-anak kami.’ Allah menurunkan, (Tidak ada paksaan dalam agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.)” Abu Dawud dan An-Nasa’i juga mengumpulkan hadis ini.

      Dalam kumpulan hadis Imam Ahmad, diriwayatkan Anas bahwa Rasullullah berkata pada seorang pria “Masuklah Islam.” Pria itu berkata, “Aku tak menyukainya” Nabi berkata, “Pun jika engkau tidak menyukainya”)

      …(وقد ذهب طائفة كثيرة من العلماء أن هذه محمولة على أهل الكتاب ومن دخل في دينهم قبل النسخ والتبديل إذا بذلوا الجزية. وقال آخرون: بل هي منسوخة بآية القتال وأنه يجب أن يدعى جميع الأمم إلى الدخول في الدين الحنيف دين الإسلام, فإن أبى أحد منهم الدخول فيه ولم ينقد له أو يبذل الجزية, قوتل حتى يقتل. وهذا معنى الإكراه قال الله تعالى (ستدعون إلى قوم أولي بأس شديد تقاتلونهم أو يسلمون) [الفتح: 16] وقال تعالى (يا أيها النبي جاهد الكفار والمنافقين واغلظ عليهم) [التحريم: 9] وقال تعالى (يا أيها الذين آمنوا قاتلوا الذين يلونكم من الكفار وليجدوا فيكم غلظة واعلموا أن الله مع المتقين) [التوبة: 123 ])

      (…Beberapa mengatakan: ayat ini di BATALKAN dengan ayat “perang” dan untuk itu semua orang di seluruh dunia harus diajak ke Islam. Jika siapapun dari mereka menolak melakukannya atau menolak membayar Jizya[3] mereka harus diperangi hingga terbunuh dan dalam artian memaksa, Allah berkata (Kamu diajak untuk memerangi kaum yang mempunyai kekuatan besar, kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah) (AQ 48.16). Allah juga berkata: (Hai Nabi, berjihadlah melawan kaum kafir dan munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka.) (AQ 9.73), dan berkata: (Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa (Al-Muttaqin)), (AQ 9.123)).

      Dalam sahih, Nabi berkata:
      “Allah bertanya-tanya pada kaum yang akan masuk surga dalam rantai”, yang berarti para tahanan dibawa dengan rantai di area muslim, mereka kemudian masuk Islam dengan tulus dan menjadi benar, dan dimasukkan di antara penduduk surga.(Tafsir of Ibn Kathir, Surah Al-Baqarah, ayat 253 to 286, Surah Al-Imran, ayat 1 to 92, abridged by Sheikh Muhammad Nasib Ar-Rafa‘i [Al-Firdous Ltd., London, 1999: First Edition], Part 3, pp. 37-38; Tafsir Ibn kathir dalam: Inggris (tidak lengkap, krn tulisan arab itu tidak muncul) dan dalam Arab1 (lengkap) Arab2 (lengkap), untuk bagian pembatalan ayat AQ 2.256 oleh ayat AQ 48.16, AQ 9.73, 123]

      Juga di Tabari untuk tafsir (Tidak ada paksaan dalam agama) dalam bahasa arab, dimana ia memuat keterangan yang kurang lebih sama seperti di atas

    Komentar Mahmoud M. Ayoub tentang ayat AQ 2.256:
    Mujahid berkata,
    “Ini adalah sebelum rasullulah diperintahkan untuk memerangi ahlul kitab. perkataan Allah, ‘Tidak ada paksaan dalam Agama’ telah di BATALKAN dan ia diperintahkan untuk memerangi para ahlul kitab dalam surat Bara‘ah” (Q. 9:29). (Wahidi, hal. 77-78) …

    Menurut tradisi lainnya, ayat ini turun berkenaan dengan para ahlul kitab yang tidak boleh dipaksa untuk masuk Islam selama mereka membayar jizyah (pajak jizyah). Ayat ini, oleh karenanya, TIDAK DIBATALKAN. Tabari menyatakan dari otoritas Qatadah,

    “Masyarakat Arab DIPAKSA masuk islam karena mereka merupakan komunitas tak berpengetahuan [umat ummiyah], tak memiliki kitab yang membuat mereka tahu. Jadi tidak ada lagi selain islam yang diterima dari mereka. Kaum ahlul kitab tidak dipaksa masuk islam jika mereka membayar Jizya atau Kharaj (pajak tanah, untuk penggarap pekerjaan mengandalkan tanah)”.

    Pandangan senada juga dari otoritas Al-Dahhak, Mujadif, dan Ibn ‘Abbas (Tabari, V. hal. 413-414).

    Tabari sepakat dengan pandangan ini dan menegaskan bahwa ayat ini diaplikasikan pada 2 ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) dan kaum kaum Zoroastria (Majus)…

    Qurtubi menghubungkannya dengan pandangan lainnya yang menyatakan,
    “Ini mengacu pada TAWANAN yang, jika mereka kaum ahlul kitab, tidak ada paksaan jika mereka sudah dewasa, tapi jika mereka Zoroaster atau penyembah berhala, tua atau muda, mereka harus DIPAKSA untuk menerima Islam, karena tuan mereka tak mendapatkan manfaatnya jika mereka masih menyembah berhala”.

    Qurtubi menambahkan,
    “Apakah kau tak lihat bahwa binatang disembelih mereka akan haram hukumnya untuk dimakan dan wanita mereka dapat dinikahi [para muslim]? Mereka mempraktekkan makan bangkai dan hal najis lainnya. Jadi tuan mereka akan lihat mereka najis dan karena itu sulit mendapatkan manfaat dari mereka sebagai budak[4]. Maka adalah SAH UNTUK MEMAKSA MEREKA” (Qurtubi, II, hal. 280; lihat juga Shawkani, I, hal. 275). [“The Qur’ an dan Its Interpreters: Surah Al Baqarah“, Mahmoud Mustafa Ayoub, State University of New York Press (SUNY), Albany, 1984, Vol. I, hal. 253-254].

    Dari statement-statement di atas, maka kalimat “tiada paksaan dalam Islam”, dimaksudkan dalam kondisi:

    1. Ajak masuk islam, jika menolak, selama waktu tunggu mau masuk Islam:
    2. minta mereka bayar jizyah, kemudian, jika menolak maka:
    3. Di bunuh

    Tiga pilihan “tanpa paksaan” itu HANYA BERLAKU pada penganut 3 ajaran (Yahudi, Nasrani dan Majusi) dan TIDAK BERLAKU pada kaum kafir.

    Mengapa perlu memberikan pilihan “tanpa paksaan”?

    Misalnya dari satu hadis pada peristiwa perampokan karavan kaum Quraish di area Badar (yang kelak dinamakan perang Badr). Tidak semua tawanan kaya. Tawanan yang miskin namun berpendidikan dibebaskan dengan syarat harus mengajarkan baca tulis kepada 10 orang penduduk Ansar (Musnad Imam Ahmad, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007, jilid III, hal. 30. Atau lihat di sini). Zayd bin Tsabit (kelak menjadi sekretaris nabi), mendapatkan pendidikan baca-tulisnya dari peristiwa ini. Di hadis lain, dikatakan bahwa Zayd mahir Ibrani. Maka sekarang dapat diduga bahwa tawanan-tawanan miskin ini TERNYATA BERASAL dari kalangan 3 agama.

    Bagi muslim, Jizya adalah pendapatan, sebagaimana yang diriwayatkan Juwairiya bin Qudama At-Tamimi:

      Kami berkata pada ‘Umar bin Al-Khattab, “O Pemimpin kaum beriman! Beri kami saran.” Ia berkata, “Ku sarankan kalian mematuhi perjanjiannya Allah (dibuat dengan Dzimmi) karena itu adalah perjanjian dari Nabimu dan SUMBER PENDAPATAN tanggunganmu (yaitu pajak dari para Dzimmi.) “(Bukhari 4.53.388)

    Untuk lebih meresapi kata pendapatan yang diambil dari kaum ahlul kitab, tafsir Ibn kathir ayat AQ 9.28-29. (turun di 9 H (Yusuf ali: ayat ke-1 s.d 29 turun di bulan ke-10, 9H , “The Holy Qur’an”, 1989, hal.435).

      Muhammad bin Ishaq: “Orang-orang berkata,` Pasar kami akan ditutup, perdagangan kita terganggu, dan apa yang kita diperoleh akan lenyap. Maka Allah menurunkan ayat (Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, Allah akan memperkaya Anda, keluar dari karunia-Nya), dari sumber lain,..(Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar, yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk)

      Arti dari ayat tersebut, `Ini sebagai kompensasi bagimu atas tutupnya pasar yang kau khawatirkan sebagai dampaknya. Untuk itu, bagi mereka, Allah berikan kompensasi atas kerugian yang timbul akibat pemutusan hubungan dengan kaum penyembah berhala yaitu melalui jizya yang mereka dapatkan dari kaum ahlul kitab. Pernyataan serupa disampaikan Ibn `Abbas, Mujahid, `Ikrimah, Sa`id bin Jubayr, Qatadah, Ad-Dahhak dan lainnya.[Ibn kathir 9:28-29, atau lihat di sini]

    Namun demikian, Quran juga menyampaikan perintah agar kaum muslimin bersabar. Apakah ini bertentangan? Tidak, Kepatuhan pada perintah Allah untuk memerangi juga melihat kondisi para muslim disaat itu. Di buku M.A Khan hal 79, yaitu “Islamic Jihad: A Legacy of Forced Conversion, Imperialism, and Slavery, dikutip pendapat Dr. Sobhy as-Saleh yang mengutip Al-Suyuti (w. 1505 M):

      Perintah untuk melawan orang-orang kafir ditunda hingga para muslim menjadi kuat, ketika lemah mereka diperintahkan bertahan dan bersabar [Sobhy as-Saleh, Mabaheth, pihak Fi ‘Ulum al-Qur’an, Dar al-‘ ilm Lel-Malayeen, Beirut, 1983, hal. 269​​.]

    Sobhy juga menambahkan pendapat Abi Bakr Al Zarkashi [w 1411]:

      Allah yang maha tinggi dan bijaksana menunjukkan pada Muhammad situasi apa yang cocok untuk kondisi sedang lemah, berkat rahmat-Nya padanya dan para pengikutnya. Karena jika diberikan perintah memerangi di saat sedang lemah itu akan menjadi sangat memalukan dan sulit, tapi ketika Yang maha tinggi menjadikan Islam berjaya Ia perintahkan nabi dengan apa yang cocok disituasinya, yaitu meminta kaum ahlul kitab menjadi Muslim atau membayar pajak dan kaum kafir menjadi Muslim atau mati. “[Ibid, hal 270.].

    Penjelasan yang sangat gamblang mengenai maksud AQ 2.256, dapat kita temukan di Fatawa no 34770, dari Ibn Baaz:

      Pertanyaan:
      Beberapa teman mengatakan bahwa siapa pun yang tidak memeluk Islam, adalah pilihan dan tidak boleh dipaksa menjadi Muslim, mengutip sebagai bukti ayat2 di mana Allah berfirman:

      “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?”[AQ 10.99]
      “Tidak ada paksaan dalam agama” [AQ 2.256]
      ——-

      Jawaban:
      Para ulama menjelaskan bahwa di kedua ayat, dan ayat2 serupa lainnya, diaplikasikan pada mereka yang dapat dikenakan jizyah, yaitu seperti kaum Yahudi, Kristen dan Magian (Zoroaster). Mereka tidak dipaksa, lebih semacam diberikan pilihan antara menjadi Muslim atau membayar Jizyah.

      Ulama lain mengatakan bahwa ini diterapkan di permulaan penyebaran, namun kemudian DIBATALKAN perintah Allah untuk melawan dan berjihad. Jadi siapa pun yang menolak masuk Islam harus diperangi jika para muslim mampu melawan, hingga mereka masuk Islam atau membayar jizyah jika mereka termasuk yang dapat dikenakan jizyah.

      Orang kafir (kuffar) HARUS DIPAKSA masuk Islam jika mereka bukan orang-orang yang dapat dikenakan jizyah, karena itu akan membawa pada kebahagiaan dan keselamatan bagi mereka di dunia ini dan di akhirat kelak. Mewajibkan seseorang untuk mematuhi kebenaran yang memiliki petunjuk dan kebahagiaan adalah lebih baik daripada kebatilan.

      Sama seperti seseorang dapat dipaksa melakukan tugas kewajibannya pada orang lain bahkan jika itu dengan cara MEMENJARAI atau MEMUKULI, Jadi memaksa para kafir beriman pada Allah semata dan masuk agama Islam adalah lebih penting dan lebih mendasar, karena itu akan membawa pada kebahagiaan mereka di dunia ini dan di akhirat kelak

      Hal ini diterapkan KECUALI mereka adalah ahli kitab, yaitu, kaum Yahudi dan Kristen atau Magian, karena Islam mengatakan bahwa ketiga kelompok ini dapat diberikan pilihan: masuk Islam atau membayar jizyah dan merasa dirinya patuh.

      Beberapa ulama berpandangan bahwa orang lain dapat juga diberikan pilihan antara Islam dan jizyah, TETAPI PANDANGAN YANG PALING BENAR adalah tidak seorangpun harus diberikan pilihan ini, dibandingkan 3 kelompok ini saja yang mungkin diberikan pilihan, karena Nabi (damai dan berkah Allah besertanya) memerangi para kafir (kuffar) di Semenanjung Arab dan Beliau hanya menerima jika mereka menjadi Muslim. Dan Allah berfirman (interpretasi artinya):

      “Tetapi jika mereka bertobat [dengan menolak syirik (politeisme) dan menerima Tauhid Islam] dan melakukan As-shalat (Iqaamat-as-shalat), dan memberikan Zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.” [AQ 9.05]

      Ia tidak berkata, “jika mereka membayar jizyah”.


      Kaum Yahudi, Kristen dan Magian HARUS diminta masuk islam; Jika menolak maka mereka harus membayar Jizyah. Jika menolak membayar jizyah maka kaum Muslimin HARUS melawan mereka jika mereka mampu melakukannya. Allah berfirman (interpretasi artinya):

      “Perangilah orang-orang yang (1) tidak beriman kepada Allah, (2) maupun hari kemudian, (3) atau tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya (Muhammad), (4) dan tidak beragama dengan agama yang benar (Islam) di antara kaum yang diberikan Al kitab kepada mereka (Yahudi dan Kristen),sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk” [AQ 9.29]

      Dan itu adalah bukti bahwa Nabi (damai dan berkah Allah besertanya) menerima jizyah dari kaum Magian, tapi itu tidak terbukti bahwa Nabi (damai dan berkah Allah besertanya) atau para sahabatnya (semoga Allah senang dengan mereka) menerima jizyah dari siapapun kecuali dari tiga kelompok yang disebutkan di atas. Prinsip dasar mengenai itu adalah kata-kata Allah (interpretasi artinya):

      “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah (kekafiran dan kemusyrikan, yaitu menyembah selain Allah), dan supaya agama (ibadah) itu semata-mata untuk Allah [di seluruh dunia]” [AQ 8.39]

      “Apabila bulan-bulan Haram itu (bulan ke-1, 7, 11, dan 12 dalam kalender Islam) maka bunuhlah orang-orang musyrikin (lihat V.2: 105) itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat [dengan menolak syirik (politeisme) dan menerima Tauhid Islam] dan melakukan As-shalat (Iqaamat-as-shalat), dan memberikan Zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ” [AQ 9.5]

      Ayat ini dikenal sebagai Ayat al-Sayf (ayat pedang).

      Ini dan ayat sejenis MEMBATALKAN ayat-ayat tiada paksaan untuk menjadi Muslim.

      Dan Allah adalah Sumber kekuatan.

      Majmoo’ Fataawa wa Maqaalaat li’l-Shaykh Ibn Baaz, 6/219

    Dengan demikian maka JUKLAK penanganan para kafir adalah:

    jika belum mampu mengislamkan dengan jalan kekuatan, maka bersabar. Setelah berkekuatan: Minta mereka masuk islam, jika menolak (atau selama waktu tunggu), minta membayar jizya, jika masih juga menolak, bunuh.

    Habis perkara.

    [Bacaan lain yg patut di baca, lihat: “Islam Menolak Ide Kebebasan Beragama, atau kesamaan idenya juga lihat di sini dan di sini, serta di sini]

    Rupanya,
    IMPLEMENTASI paksa memaksa ini sudah mentradisi dalam ajaran, bahkan dikalangan Islam, kanibalisasi sesama telah terjadi misal antara sesama sunni (dicontohkan melalui perang Ridda oleh Abu Bakar, di 632 M), kemudian Sunni vs (Syiah, Ahmadiyah dan samin):

    Sehingga, jika dalam intra ajaran Islam saja sudah tidak sungkan-sungkan memaksa, apalagi di luar ajaran, misal:

    …dan masih tak terhitung lagi banyaknya. [Link-link dari hampir seluruh berita di atas, berasal dari SINI, juga baca link ini sebagai tambahan]

    ——
    Catatan kaki:

    [1] Arti Fitna = syirik dapat anda jumpai di tafsir Tabari yaitu dari:

    • Ibn abi hatim [1/327] yaitu dari riwayat Bisyr bin Mu’ads => Yazid bin zurai => Sa’id [atau dari jalur: Al Hasan bin Yahya => Abdurrazzaq => Mamar ] => Qatadah yg berkata, “sehingga tidak ada kemusyrikan
    • Abdurrazzag dalam tafsirnya (1/315) dan ibnu Abu hatim [1/327] dari riwayat Muhammad bin Amar => Abu Ashim => Isa => Ibn Abi Najih => Mujahid yang berkata fitnah yaitu syirik [juga dari jalur Al mutsanna => Abu Hudzaifah => Syibil]
    • Ibnu Katsir
      • Dalam tafsirnya [2/217] Musa bin harun => Amr bin Hammad => Asbath => As Suddi: Fitnah yaitu Syirik.
      • Syirik adalah lebih buruk dari membunuh
        Menjadi kafir adalah jauh lebih buruk dari melakukan pembunuhan [Abu Al-`Aliyah, Mujahid, Sa` id bin Jubair, ‘Ikrimah, Al-Hasan, Qatadah, Ad-Dahhak dan Ar-Rabi `bin Anas]
      • Perintah untuk memerangi hingga tidak ada lagi Fitna, dalam AQ 2.193
        (…sampai tak ada Fitnah lagi) fitnah di sini berarti Syrik. Ini adalah pendapat Ibn `Abbas, Abu Al-`Aliyah, Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, Ar-Rabi`, Muqatil bin Hayyan, As-Suddi dan Zayd bin Aslam.

        Allah berkata: (…dan agama (segala dan setiap jenis penyembahan) hanya untuk Allah (Saja).) artinya, `Jadi bhw agama Allah menjadi dominan di atas segala agama lainnya.’ Tercatat dalam 2 hadis bahwa Abu Musa Al-Ash`ari berkata: “Nabi di tanya, ‘Wahai Rasullullah! Seorang pria berperang dengan gagah berani, dan pria lain berperang karena ingin pamer keberanian, mana diantara mereka yang berperang di jalan Allah?’

        Nabi menjawab: (Ia yang berperang agar Firman Allah menjadi unggul, lalu Ia yang berperang untuk Allah.) Tambahan keterangan terdapat dalam dua hadis sahih:

        (Aku telah diperintahkan (oleh Allah) untuk memerangi orang2 sampai mereka menyatakan, `Tiada yang layak sembah kecuali Allah.’ Siapapun yang berkata itu, maka nyawa dan hartanya selamat dariku, kecuali untuk kasus2 hukum Islam, dan pertanggungjawaban mereka adalah pada Allah.)

        Allah berkata: (Tapi jika mereka berhenti, maka jangan perangi lagi kecuali terhadap para pengacau.)
        hal ini dimaksudkan, `Jika mereka berhenti melakukan Syrik dan melawan Muslim, maka berhentilah memerangi. Siapapun yang tetap memerangi mereka setelahnya berarti telah melakukan ketidakadilan. Sesungguhnya aggresi hanya boleh dilakukan terhadap yang tidak mentaati hukum.’ Inilah maksud pernyataan Mujahid bahwa hanya memerangi yang harus dilawan.

        Atau arti ayat ini menyiratkan bahwa, ‘Jika mereka berhenti melawan hukum, dalam hal ini Syrik, maka jangan mulai menyerang mereka setelahnya.’ Penyerangan/agresi di sini berarti membalas dan memerangi mereka, seperti yang Allah katakan: (Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia) (2:194)

        Hal yang serupa yang dikatakan Allah: (Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.) (42:40), dan: (Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.) (16:126) `Ikrimah dan Qatadah berkata,”Orang yang melawan hukum adalah orang yang menolak untuk menyatakan,’Tiada Tuhan yang layak sembah kecuali Allah’.”

        Dalam pernyataan Allah: (Dan perangi mereka hinga tiada Fitna lagi) Al-Bukhari mencatat bahwa Nafi` berkata bahwa dua orang pria mendatangi Ibn `Umar saat terjadi perseteruan dengan Ibn Az-Zubayr dan berkata padanya, “Orang2 sudah jatuh dalam dosa dan kau adalah anak `Umar dan sahabat Nabi. Dengan demikian, apa yang menghalangimu berperang?” Dia berkata, “Yang menghalangiku adalah Allah yang melarangku untuk membunuh saudara2ku (yang Muslim).”

        Mereka berkata, “Bukankah Allah berkata: (Dan perangi mereka hingga tiada lagi Fitna (tak beriman dan menyembah tuhan lain bersama Allah))” Dia berkata, “Kami telah perangi mereka hingga tiada lagi Fitnah dan agama hanya untuk Allah semata. Kau ingin hingga ada Fitnah dan agama bagi selain Allah!”

        `Uthman bin Salih menambahkan bahwa seorang pria mendatangi Ibn `Umar dan bertanya padanya, “O Abu `Abdur-Rahman! Apa yang membuatmu melakukan ibadah Haji di satu tahun dan ‘Umrah di tahun lainnya dan tidak melakukan Jihad di jalan Allah, meskipun kau tahu betapa Allah telah memerintahkan melakukan itu.”

        Dia berkata, ”O ponakanku! Islam dibangun atas lima pilar: percaya pada Allah dan RasulNya, sholat lima waktu, puasa di bulan Ramadan, membayar Zakat, dan melakukan ibadah haji di bait Allah.”

        Mereka berkata, “O Abu `Abdur-Rahman! Tidakkah kau dengar apa yang dikatakan Allah di bukuNya: (Dan Jika ada dua golongan diantara mereka yang beriman saling berperang maka damaikanlah keduanya! Tapi jika yang satu menganiaya lainnya, maka kalian semua harus memeranginya hingga patuh pada perintah Allah.) (49:9) dan (Dan perangi hingga tiada lagi Fitna (kekafiran))

        Dia berkata, “Itulah yang kami lakukan di jaman Rasullullah ketika Islam masih lemah dan Muslim banyak mengalami cobaan karena agamanya, seperti pembunuhan dan penyiksaan. Ketika Muslim telah jadi kuat dan nyata, maka tiada lagi Fitna.”

        Dia berkata, “Apakah pendapatmu tentang ‘Ali dan ‘Uthman”

        Dia berkata, “tentang ‘Uthman, Allah telah mengampuninya. Akan tetapi, kau benci fakta bahwa Allah telah mengampuninya! Tentang ‘Ali, dia adalah saudara sepupu Rasullullah dan menantunya.” Dia lalu menunjuk dengan tangannya dan berkata, “Di sinilah letak rumahnya (berarti, ‘begitu dekat dengan rumah Nabi sama seperti ‘Ali dekat dengan Nabi sendiri’).”

    Khusus potongan ayat “Jika mereka memerangi kamu, maka bunuhlah mereka” (dari rangkaian AQ 2.190 – 2.193), yang kerap dijadikan alasan “bahwa islam tidak pernah memulai peperangan. Tetapi apa bila islam diperangi maka baru diperintahkan untuk memerangi mereka” adalah TIDAK BENAR, karena menurut tafsir Ibn Kathir dan Jalalyn untuk AQ 2:190:

      Setelah Nabi (s) telah dicegah [mengunjungi] ke Kabah pada tahun pertempuran Hudaybiyya, ia membuat perjanjian dengan orang kafir bahwa ia akan diizinkan untuk kembali pada tahun berikutnya, pada saat itu mereka akan mengosongkan Mekah selama 3 hari. Setelah siap untuk berangkat [‘umroh], [ia dan] orang beriman KHAWATIR bahwa Quraisy tidak akan menepati perjanjian dan memicu pertempuran. PARA MUSLIM MENOLAK (note: perintah Nabi) TERLIBAT PERTEMPURAN KETIKA SEDANG HAJI dalam [al-haram] dan SELAMA BULAN-BULAN SUCI (note: Adat istiadat pra-islam adalah tidak melakukan perang/berkelahi di bulan-bulan haram/ ketika saat beribadah haji), sehingga diturunkan: perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas: ketentuan ini DIBATALKAN ayat bara ‘kekebalan’ [AQ 9.01], atau dengan-Nya mengatakan [di bawah]:191-194

      Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu temukan, dan usir mereka dari tempat mereka usir Anda, yaitu, dari Mekah, dan ini dilakukan setelah Penaklukan Mekkah, FITNA/SYIRIK, penyembahan berhala, adalah lebih menyedihkan, lebih serius, selain membunuh, mereka di bait suci atau di saat ibadah haji tidak dapat diganggu gugat haji, hal yang sangat ditakuti. Tapi melawan mereka bukan di Masjidi lharam, yaitu, di bait suci, sampai mereka terpaksa melawan di sana, kemudian jika mereka memerangi kamu, di sana, bunuhlah mereka, ada (variasi bacaan menambahkan alif dalam tiga kata kerja [sc. wa-la taqtilūhum, Hatta yaqtulūkum, fa-in qatalūkum, Jadi kalimat ini adalah ‘bunuh’ di ketiganya dan bukan hanya ‘lawan’)] – seperti, pembunuhan dan pengusiran, adalah pembalasan bagi orang-orang kafir. Tetapi jika mereka berhenti dari kafir dan menjadi Muslim, tentu saja Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang, kepada mereka.

      Perangi mereka hingga tiada lagi FITNA, tiada lagi penyembahan berhala, dan agama, ibadah semua adalah untuk Allah semata dan tidak ada yang disembah selain-Nya, kemudian jika mereka berhenti, dari berhala, jangan perangi mereka. Hal ini ditunjukkan dengan kata-kata berikut, tidak akan ada permusuhan, tidak ada agresi melalui pembunuhan atau sebaliknya, kecuali terhadap pelaku kejahatan. Mereka yang berhenti, bukan pelaku kejahatan dan tidak boleh ditampilkan permusuhan apapun.

    Sangat jelas bahwa tidak dilawanpun kaum muslim tetap saja diperintahkan untuk berperang, bukan?

    Keterangan di atas, menyajikan fakta bahwa adat-istiadat pra islam untuk tidak berperang/bertengkar di bulan-bulan haram DIBATALKAN SEPIHAK oleh Allah:

      “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) [yasalūnaka] mengenai [ʿani] (di) bulan haram [l-shahri l-ḥarāmi] membunuh (berperang) di dalamnya [qitālin fīhi], Katakanlah [qul]: “membunuh (berperang) [qitālun] di dalamnya [fīhi] (dosa) besar [kabirun], dan menghalangi [waṣaddun] dari jalan Allah [ʿan sabīli l-lahi], kafir pada Allah [wakuf’run bihi] dan Masjidilharam [wal-masjidilḥarāmi] dan mengusir kaummu darinya [wa-ikh’rāju ahlihi min’hu] (dosanya) lebih besar [akbaru] di sisi Allah [ʿinda l-lahi] dan fitna/syirik [wal-fit’natu] (dosanya) lebih besar [akbaru] dari membunuh [mina l-qatli] dan tidak [walā] mereka berhenti [yazālūna] membunuh (memerangi) kalian [yuqātilūnakum] hingga [ḥattā] kalian murtad dari agama kalian [yaruddūkum ‘an dīnikum] Jika [ini] mereka dapat [is’taṭāʿū]. Dan barangsiapa [waman] diantara kalian murtad dari agamanya [yartadid minkum ‘an dīnihi] kemudian dia mati [fayamut] dalam keadaan kafir [wahuwa kāfirun], maka bagi mereka [fa-ulāika] menjadi sia-sia/menjadi terhapus [ḥabiṭat] amalan-amalan mereka [aʿmāluhum] di dunia dan akhirat [fī l-dun’yā wal-ākhirati] dan merekalah penghuni neraka dan mereka kekal di dalamnya [wa-ulāika aṣḥābu l-nāri hum fīhā khālidūna]…” [AQ 2.217]

    Ayat ini turun hanya karena SEORANG MUSLIM yang sedang merampok karavan Quraish membunuh seorang KAFIR Quraish dan PEMBUNUHAN INI dilakukan JUSTRU di bulan haram. Hadis Ibn Hatim dalam TAFSIR IBN KATHIR AQ 2.217, mengatakan: Mereka menyerang TANPA MENGETAHUI saat itu adalah BULAN HARAM[a]

    Aturan TIDAK BERPERANG di bulan puasa[b] yang telah mentradisi pada PRA ISLAM, DILANGGAR kaum Muslim ketika Muhammad SAW mengirim Abdullah bin Jahsy Asadi [sepupunya dari pihak Ibu] ke Nakhla untuk memimpin 12 Muhajirin dengan 6 ekor unta dan memberikan surat yang hanya boleh dibuka setelah sampai di lembah Mallal [2 hari Perjalanan].

    Setelah sampai, Abdullah membuka surat itu dan membacakannya dihadapan rekan-rekannya [Muir. hal 70], yaitu “Atas berkat dan rahmat Allah, lanjutkan menuju Nakhla [antara Mekah dan Taif], Namun jangan memaksa pengikutmu yang berkeberatan. Lanjutkan dengan orang-orang yang mau menyertaimu. Setibanya di lembah Nakhla, bertiarap menunggu kafilah-kafilah dari Quraish[b]

    Setelah membaca instruksi, Abdullah bin Jahsh, mengatakan pada rekan-rekannya bahwa siapa memilih jalan syahid bergabung dengannya dan yang tidak untuk kembali ke Medina. “sementara saya sendiri”, Ia menambahkan, “akan memenuhi perintah Nabi” Semua sepakat mengikutinya [Muir. hal.72]

    (beberapa penulis menuliskan 2 orang memutuskan kembali ke Medina).

    Sa’d bin Abi Waqqas dan Utbah bin Ghazwan kehilangan seekor unta yang mereka kendarai secara bergiliran. Unta ini tersesat dan pergi ke Buhran, jadi mereka pergi mencari unta itu ke Buhran dan berpisah dari kelompok.

    Salah satu anak buah Abdullah bin Jahsy, yaitu Ukas bin Mihsan, mencukur kepalanya untuk menyembunyikan tujuan sebenarnya perjalanan mereka dan untuk menipu Quraisy dengan memberi kesan bahwa mereka akan melaksanakan haji kecil (Umrah), karena saat itu merupakan bulan Rajab, bulan PUASA, saat itu, seluruh suku asli tengah menahan diri dari peperangan, pembalasan dendam apalagi perampokan.

    Ketika orang Quraisy melihat kepala gundul Ukas, mereka pikir kelompok tersebut sedang dalam perjalanan haji, mereka merasa lega dan mulai mendirikan kemah. Karena saat itu sedang bulan Rajab, baik awal/akhir Rajab (pendapat para ahli sejarah berbeda-beda) adalah satu dari empat bulan suci larangan total berpeperang dan pertumpahan darah di Semenanjung Arab

    Abdullah bin Jahsy pada awalnya ragu untuk menyerang kafilah Mekkah itu. Namun, setelah berunding para Muslim tidak ingin kafilah itu melarikan diri. Jadi mereka memutuskan melakukan perampasan harta jarahan. Ketika kaum Quraisy sedang sibuk-sibuknya menyiapkan makanan, para Muslim menyerang mereka dan kaum Quraisy kemudian melawan.

    Dalam pertempuran itu, Waqid bin Abdullah membunuh Amr bin Hadrami, pemimpin kafilah Quraisy, dengan panah. Naufal bin Abdullah melarikan diri. Para Muslim menawan Usman bin Abdullah dan al-Hakam bin Kaysan. Abdullah bin Jahsy kembali ke Medina dengan jarahan dan 2 tawanan Quraisy. Kedatangan mereka membawa banyak jarahan, tawanan. Muhammad memarahi mereka karena berperang di bulan suci: “Saya tidak pernah memerintahkan engkau berperang di bulan suci

    Abdullah dan rekannya merasa malu dan sedih, orang-orang juga mencela perbuatan mereka. Tapi Muhammad tak mau mengecilkan hati para pengikutnya, tak lama kemudian, Ia mengumumkan wahyu yang membenarkan PERBUATAN itu yang dilakukan selama bulan suci untuk penyebaran iman, sebagai kejahatan yang lebih rendah dari penyembahan berhala dan bertentangan dengan agama Islam: –

    “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitna/syirik lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”

    Setelah ayat turun, Muhammad, membagikan jarahan pada yang mengusahakannya, membayar tebusan dan uang darah, setelah menyisihkan 1/5 bagian untuk Muhammad, sisanya dibagikan di antara mereka[c]

    ———–
    Catatan kaki:

      [a] Catatan kaki Muir di Hal.74-76:
      [..]ada yang mengatakan terjadi menjelang Jumadi 2 (Oktober) dan awal Rajab, Yang disampaikan Abdallah kepada Muhammad sekembali dirinya: “Kami menyerang kafila di hari itu, dan pada malam harinya kami melihat bulan baru Rajab, dan kami tidak pasti tahu apakah kami menyerang mereka di Rajab atau pada hari terakhir dari Jumadi 2. ” Wackidi, 8.

      Ini adalah keinginan untuk menghilangkan skandal serangan yang dilakukan selama bulan haram. Ekspedisi ini, selalu dinyatakan dilakukan di bulan rajab dan dibuktikan berangkat dari Madina menjelang akhir bulan itu dan awal mula berikutnya (Shaban, atau Desember)

      [b] Catatan kaki Muir hal.71:
      Terjemahan harfiah dari Wackidi, hal. 8. adalah singkat dan tidak memuaskan. Hishami dan Tabari, mengikuti Ibn Ishaq; masukkan klausul pada penutupan: — “dan amati apa yang mereka lakukan” Weil (p.99) menunjukkan hal ini ada tambahan palsu. Selain tidak pada tempatnya, tidak sesuai dengan pidato Abdullah (seperti yang disampaikan perawi yang sama) pada pembukaan surat, yaitu. : — “Mari siapapun yang berharap mati syahid ikut denganku“. Pidato ini sama palsunya, terhadap pemikiran tentang kemartiran dalam pertempuran belumlah muncul hingga perang Badar. Juga ini tidak konsisten dengan perundingan yang dilakukan Abdullah tepat sebelum penyerangan kafilah.

      [c] Catatan kaki Muir. hal.74
      Turunan Abdullah menambahkan kejadian ini, sebagai antisipasi turunnya perintah 1/5 bagian bagi nabi. beberapa berkata, bahwa jarahan tidak dibagi dan terjadi setelah perang Badar. Setelah perintah turun bahwa 1/5 bagian selalu untuk Nabi. Porsi bagian bagi pemimpin arab adalah yang ke-4. Wackidi, 10. juga lihat vol. i. ccxxi. bagian catatan.

      Catatan kaki Muir di Hal.76:
      [..]Penebusan para tawanan lama terjadi setelah kembalinya ekspedisi (sejak Sad dan Otba tidak datang kembali ketika utusan itu tiba dari Mekah), dan tidak setelah Badar, yaitu 2 bulan kemudian.

    Asbabunuzul ayat 2.217 menyajikan fakta bahwa turunnya ayat tersebut BUKAN karena mendapatkan serangan dari kafir, BUKAN karena diajak menjadi kafir, BUKAN karena diajak untuk syirik namun HANYA KARENA muslim telah melakukan pembunuhan di bulan haram ketika merampok karavan dagang Quraish. Demi menyenangkan si pembunuh dan para perampok, Allah sekaligus membatalkan 4 bulan suci berpuasa tradisi kaum arab pra-Islam dengan menurunkan AQ 2.217 dan sejak itulah maka di bulan-bulan tersebut sudah boleh melakukan aksi berdarah-darah atas nama JIHAD.

    Juga,
    Hadis mencatat nabi Muhammad membatalkan larangan bertengkar, berkelahi dan melakukan “JIHAD” selama BULAN RAMADHAN:

      Diriwayatkan Kab bin Malik:
      Aku tak pernah gagal ikut Rasul Allah selama Ghazawa-nya [Nabi turun langsung dalam penyerangan] kecuali di Ghazwa Tabuk. Namun, Aku tidak ikut ambil bagian di Ghazwa Badar, tetapi yang tidak ikut, tidak ada yang disalahkan, karena Rasul Allah SUDAH PERGI MENCEGAT KARAVAN-KARAVAN DAGANG (Quraisy, tapi Allah menyebabkan mereka (yaitu muslim) bertemu para musuh mereka secara tak terduga (TANPA ADA NIATAN SEBELUMNYA)[Bukhari vol 5, Book 59 no.287]

    TERNYATA yang disebut “perang” yang kaum MUSLIMIN kerap ketengahkan dalam beralasan adalah aksi mencegati dan merampoki karavan dagang kaum Quraish dan karena kaum Quraish tidak mau barang mereka dirampok mentah-mentah, maka terjadilah perlawanan 🙂

    Inilah maksud perang di dunia Islam itu.

    Kemudian,
    Terdapat beberapa ayat Quran yang turun sehubungan dengan PERANG di HUDABIYAH (Kaum muslim biasanya mengatakan ini perjanjian Hudaibiyah) dan kerap dijadikan dalih sebagai ayat toleransi, yaitu:

    • AQ 2.194:
        “Bulan haram [al-shahru l-ḥarāmu] dengan bulan haram [bil-shahri l-ḥarāmi] dan dalam semua keharaman berlaku qishaash [wal-ḥurumātu qiṣāṣun]. Kemudian barangsiapa [famani] melanggar batas padamu [iʿ’tadā ʿalaykum], maka kalian langgar batas padanya [fa-iʿ’tadū ʿalayhi], dengan cara yang sama apa yang Ia langgar batas pada kalian [bimith’li mā iʿ’tadā ʿalaykum]. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa [AQ 2.194].

      Kata “tadā” dan “tadū” sering diterjemahkan serang, padahal artinya adalah melampaui/melewati/melanggar batas.

    • AQ 60.7-9.
      Di AQ 60.7, “Allah MUNGKIN hendak menimbukan kasih sayang diantara mereka yang bermusuhan”. Di tafsir Ibn Abbas dan asbabnuzul al wahidi, hanya menyajikan tentang perkawinan Umm Habibah (anak Abu Sufyan) dan Muhammad. Ibn Kathir dalam tafsirnya hanya menyampaikan, “maksudnya adalah kasih sayang setelah kebencian, kasih sayang setelah permusuhan, dan kerukunan setelah pertikaian”.

      Di AQ 60.8 dan 9, tafsir Ibn Kathir menceritakan peristiwa kedatangan antar keluarga inti yang berbeda agama, yaitu: Qutailah, ibu yang masih kafir dari Asma ibn Abu Bakar datang dengan membawa daging dan minyak samin, awalnya ditolak Asma namun setelah ditanyakan pada Muhammad itu diperbolehkan, maka ia terima. Namun dalam memberikan kepada Kafir, ada kekhususan syarat, yaitu jika ada tujuan untuk melunakan hati agar mau masuk Islam (kasus Umar, Bukhari no.2426) dan bukan diberikan pada kafir yang memusuhi.

      Di AQ 60.9. tafsir Ibn kathir malah menyampaikan:

      Allah akan memaafkan kaum kafir jika mereka bertobat dan kembali pada Allahnya dan menjadi Islam. Sesungguhnya, Dia adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang-bagi mereka yang bertobat kepada-Nya dari dosa-dosa mereka, tidak peduli apapun jenis dosanya dan kemudian di lanjutkan dengan larangan dan ancaman untuk tidak berteman dengan mereka seperti ini, “Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” kemudian ditekankan dengan bunyi larangan seperti juga tidak bersekutu/teman dengan/pada para Yahudi dan Nasrani sebagaimana tercantum dalam AQ 5.51 (QS Al Maa’idah : 51), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi “أَوْلِيَآءُ” (awliyaa); sebahagian mereka adalah awliyaau bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil yatawallahum, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

        Note:
        Kata “awliyaa / auliya artinya adalah “Sekutu atau penolong atau pelindung”, namun anehnya ada yang menterjemahkannya sebagai pemimpin. Berikut beberapa sample arti kata “awliyaa / auliya” di beberapa ayat Quran:

        AQ 2.257 (Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan); AQ 3.28 (Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali); AQ 3.175 (Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti dengan kawan-kawannya); AQ 4.76 (sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu); AQ 4.89 (Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong); AQ 4.139/144 (mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong); AQ 5.81 (mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong); AQ 6.121 (syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya); AQ 6.128 (lalu berkatalah kawan-kawan mereka); AQ 7.3 (janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya); AQ 7.27 (Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin); AQ 7.30 (menjadikan syaitan-syaitan pelindung selain Allah); dst

        Untuk tahu arti yang tepat dari kata awliyaa, perlu kita ketahui Asbabunuzul ayat ini (asal usul turunnya ayat):

        Ibn Kathir mulai tafsirnya dengan menceritakan kejadian di jaman khalifah umar (Ia menjadi khalifah di tahun ke-2/3 setelah wafatnya Muhammad SAW dan terjadi jauh tahun setelah turunnya ayat ini). Kejadian pada jaman Umar diriwayatkan Ibnu Abu Hatim – Kasir ibnu Syihab – Muhammad (Ibnu Sa’id ibnu Sabiq) – Amr ibnu Abu Qais – Sammak ibnu Harb – Iyad, bahwa Umar pernah memerintahkan Abu Musa Al Asyari untuk melaporkan kepadanya tentang semua yang diambil dan dibelanjakannya. Abu musa saat itu mempunyai sekretaris seorang nasrani dan Ia mampu memenuhi yang diminta Umar. Umar merasa senang dan memuji, “Sesungguhnya orang ini benar-benar pandai, apakah kamu dapat membacakan untuk kami sebuah surat di dalam masjid (Masjid Nabawi di Madina) yang datang dari negeri Syam?” Abu Musa: “Dia tidak dapat”. Khalifah Umar: “Apakah dia sedang kotor?” Abu Musa: “Tidak, Ia seorang Nasrani.” Umar membentakku dan memukul pahaku, lalu berkata, “USIR DIA (“akhrijuhu” -> dari Medina)” Selanjutnya Umar membacakan ayat ini [Ringkasan Tafsir Ibn kathir online]

        Hadis ini menunjukan bagaimana Umar mengimpretasikan ayat 51 tersebut kepada seorang Nasrani yang BUKAN SEORANG PEMIMPIN DAERAH ATAU AGAMA, namun HANYA seorang BAWAHAN DI PEMERINTAHAN, Umar TIDAK MENYURUH Abu Musa untuk memecat sang Nasrani namun hanya menyuruh Abu Musa untuk mengusir sang Nasrani dari Madina (karena Umar pernah bersumpah untuk mengusir seluruh kafir dari jazirah arab)

        Kemudian, Ibn Kathir menyatakan terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama mengenai asal-usul turunya ayat:

        As-Suddi:
        Ayat ini turun berkenaan dengan dua orang lelaki (Muslim) di sesudah Perang Uhud. Salah seorang Muslim: “Saya akan pergi kepada si Yahudi itu, lalu berlindung padanya dan ikut masuk agama Yahudi bersamanya, barangkali ia berguna bagiku jika terjadi suatu perkara atau suatu hal.” Sedangkan yang lainnya : “Saya akan pergi kepada si Fulan yang beragama Nasrani di negeri Syam, lalu saya berlindung padanya dan ikut masuk Nasrani bersamanya.” Maka Allah Swt menurunkan ayat ini. [Tafsir Ibn Kathir]

        Ikrimah:
        Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Lubabah bin Abdul Munzir ketika Rasulullah Saw mengutusnya kepada Bani Quraizah dan mereka bertanya kepadanya, “Apakah yang akan dilakukan olehnya terhadap kami?” Maka Abu Lubabah memberi isyarat tangan ke arah tenggorokan, yang maksudnya bahwa Nabi Saw. akan menyembelih mereka. Demikian yang diriwayatkan Ibnu Jarir. [Tafsir Ibn Kathir]

        Menurut pendapat lainnya, ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Ubay bin Salul.

        Ibnu Jarir:
        Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib – bin Idris – ayahnya – Atiyyah bin Sa’d, bahwa Ubadah bin Samit bin Haris bin Khazraj datang kepada Rasulullah Saw: ‘Saya memiliki awliya (penolong/pendukung/sekutu/pelindung) dari kaum Yahudi, jumlah mereka banyak dan pengaruhnya besar. Tapi saya melepas dari dari mereka dan mengikuti Allah SWT dan RasulNya. Tiada pelindung bagi saya, kecuali Allah dan Rasul-Nya’. Abdullah bin Ubay: ‘Saya seorang yang takut akan bencana, karenanya aku tidak mau melepas mereka yang telah menjadi penyelamatku. Rasulullah Saw: “Hai Abul Hubab (Abdullah bin Ubay), apa yang menjadi kehendakmu yaitu tidak mau melepaskan kesetiaan pertemanan dengan orang-orang Yahudi, tidaklah seperti Ubadah bin Samit. Maka hal itu hanyalah untukmu, bukan untuk Ubadah.” Abdullah bin Ubay: “Saya terima.” Maka Allah Swt. menurunkan ayat ini. [Tafsir Ibn Kathir]

        Ibnu Ishaq – Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku, “Kemudian Rasulullah SAW mengepung orang-orang Yahudi Bani Qainuqa‘ hingga mereka menerima keputusan beliau. Abdullah bin Ubay bin Salul–ketika Allah memberinya kedudukan di atas orang-orang Yahudi–menghadap Rasulullah SAW dan berkata, ‘Hai Muhammad, berbuat baiklah kepada para pengikutku –mereka adalah sekutu Al-Khazraj–. ‘Rasulullah SAW diam tidak memberi jawaban hingga Abdullah bin Ubai bin Salul berkata untuk kedua kalinya, ‘Hai Muhammad, berbuat baiklah kepada para pengikutku.’ Rasulullah SAW memalingkan muka dari Abdullah bin Ubai bin Salul, kemudian Abdullah bin Ubai bin Salul memasukkan tangannya ke saku baju besi Rasulullah SAW”

        Ibnu Ishaq: “Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada Abdullah bin Ubai bin Salul, ‘Kirim mereka kepadaku!’ Rasulullah SAW marah hingga wajah beliau menghitam karena ucapan dan perbuatan Abdullah bin Ubai bin Salul. Rasulullah SAW bersabda lagi, ‘Celakalah engkau, kirim mereka kepadaku! Abdullah bin Ubai bin Salul berkata, ‘Tidak, demi Allah, aku tidak akan mengirimkan mereka kepadamu hingga engkau berbuat baik kepada para pengikutku, yaitu 400 tentara tanpa baju besi dan 300 tentara berbaju besi yang telah melindungiku dari orang-orang berkulit merah dan orang-orang negro, namun engkau bunuh mereka di satu pagi. Demi Allah, sungguh aku orang yang paling takut malapetaka.’ Rasulullah SAW berkata, ‘Mereka menjadi milikmu’.” [Ishaq/Hisyam, Jilid ke-2, bab 133 hal.6-10. Juga dalam Tafsir Ibn Kathir]

        Muhammad bin Ishak – Abu Ishaq ibnu Yasar – Ubadah bin al-Walid bin Ubadah bin Shamit: ”Tatkala Bani Qainuqa” memerangi Rasulullah saw, Abdullah bin Ubay bin Salul bergantung pada mereka dan berdiri di belakang mereka. Ubadah bin Shamit pergi menuju Rasulullah saw. Ubadah adalah salah seorang dari Bani Auf bin Khazraj. Banyak Bani Auf yang menjadi mitra Ubadah, seperti Bani Qainuqa’ yang menjadi mitra Abdullah bin Ubay. Maka Ubadah menyuruh Bani Auf agar menghadap Rasulullah saw, membebaskan diri dari kemitraan, lalu menuju kepada Allah dan Rasul-Nya. Ubadah berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku membebaskan diri dari sumpah mereka dengan berlindung kepada Allah, kepada Rasul-Nya, serta berwali kepada Allah, Rasul-Nya, dan kaum mukminin. Aku pun melepaskan diri dari kemitraan dengan kaum kafir dan perwalian kepada mereka.” Jadi sekaitan dengan Ubadah binn Shamit dan Abdullah bin Ubay bin Sahul-lah diturunkannya ayat dalam surat Al Maa’idah (5.51-56) [Ringkasan Tafsir Ibn Kathir, vol.2, Gema Insani, 1999, hal.109]

        Ibnu Jarir:
        Telah menceritakan kepada kami Hannad – Yunus bin Bukair Usman bin Abdur Rahman – Az-Zuhri bahwa ketika kaum musyrik mengalami kekalahan dalam Perang Badar, kaum muslim berkata kepada teman-teman mereka yang dari kalangan orang-orang Yahudi, “Masuk Islamlah kalian sebelum Allah menimpakan kepada kalian suatu bencana seperti yang terjadi dalam Perang Badar.” Malik bin Saif: “Kalian telah teperdaya dengan kemenangan kalian atas segolongan orang-orang Quraisy yang tidak mempunyai pengalaman dalam peperangan. Jika kami bertekad menghimpun kekuatan untuk menyerang kalian, maka kalian tidak akan berdaya untuk memerangi kami.” Ubadah bin Samit: “Wahai Rasulullah, teman-temanku dari kalangan Yahudi berjiwa keras, banyak memiliki senjata, dan kekuatan mereka cukup tangguh. Tapi saya melepas dari dari mereka dan mengikuti Allah SWT dan RasulNya. Tiada pelindung bagi saya, kecuali Allah dan Rasul-Nya” Abdullah bin Ubay: “Tetapi aku tidak mau melepas mereka, kaum yahudi yang telah menjadi penyelamatku” Rasulullah Saw: “Hai Abul Hubab, Bagaimana jika, apa yang kamu sayangkan, yaitu bersetia dengan orang-orang Yahudi, hal itu hanya untukmu, bukan untuknya?” Abdullah bin Ubay: “Kalau begitu, aku bersedia menerima­nya.” Maka Allah Swt. menurunkan ayat ini. [Tafsir Ibn Kathir]

        Imam Ahmad – Qutaibah bin Sa’id – Yahya bin Zakaria bin Abu Zaidah – Muhammad bin Ishaq – Az-Zuhri – Urwah – Usamah bin Zaid bahwa ia pernah bersama dengan Rasulullah Saw. menjenguk Abdullah bin Ubay yang sedang sakit. Nabi Saw: Aku pernah melarangmu jangan berteman dengan kaum Yahudi. Abdullah bin Ubay: “As’ad ibnu Zararah pernah membenci mereka, dan ternyata dia mati.”. Hal yang sama telah diriwayatkan Abu Daud melalui hadis Muhammad bin Ishaq

        [Sumber: Tafsir Ibn Kathir. Tafsir Al-Baghawi; Asbab Al-Nuzul Al-Wahidi; Tafsir Ath Tabari, dll]

        Apapun asbabunuzulnya untuk ayat ini, maka arti awliya selalu merujuk pada persekutuan/aliansi atau berserikat dalam pertempuran, mengambil perlindungan dengan suku/kaum non muslim dalam pertempuran, atau pertolongan dalam pertempuran DAN BUKAN dalam arti pimpinan/pemimpin (pemimpin daerah maupun agama). Ini jelas merujuk pada maksud bahwa KESETIAAN, PERLINDUNGAN, PERTOLONGAN HANYA UNTUK ALLAH dan RASULNYA bukan untuk yang lain

        Perlu diketahui,
        BANI QAYNUQA (juga Bani QURAIZAH) dalam asbabunuzul di atas adalah PIHAK YANG DISERANG HANYA KARENA MEREKA TIDAK MAU IKUT DALAM PERJANJIAN MADINA

        Muir:

        “Bani Qainuqa dikepung ketat oleh Muhammad selama 15 hari, ketika, putus asa menanti bantuan sekutu mereka, Khazraj, mereka menyerah menerima keputusan[10]. Satu persatu mereka dikeluarkan dari benteng dengan tangan terikat di belakang punggung mereka, di persiapkan untuk eksekusi[11]. Tapi Abdallah ibn Obey, dari bani Khazraj, tak lagi bisa bertahan melihat sekutu setia mereka akan di bantai Muhammad dengan darah dingin. Mendekati Muhammad, ia memohon belas kasihan untuk mereka, tetapi Muhammad memalingkan wajahnya. Abdallah bertahan..menyandera Muhammad, karena ia bersenjata.. “Lepaskan aku!” teriak Muhammad, tetapi Abdallah tak mengendurkan genggamannya. Tanda-tanda kemarahan terpasang di wajah Nabi, dan sekali lagi ia berseru keras, “Orang celaka, lepaskan aku!”

        “Tidak!” kata Abdullah, Aku tak akan melepaskanmu, sampai kasih sayang kau berikan pada teman-temanku, 300 tentara bersenjata berbaju besi, dan 400 tanpa baju besi, – mereka melindungiku dari setiap musuh di medan perang Bu’ath. Engkau memembunuh mereka dalam satu hari, O Muhammad?”. Aku sesungguhnya orang yang takut dengan malapetaka. Karena Abdallah masih terlalu kuat bagi Muhammad untuk dapat di abaikan permohonannya hingga dengan segera Ia katakan “lepaskan mereka”. dengn muka masam ia berkata, “Allah mengutuk mereka, dan Allah mengutuk mu pula” Jadi Mahomet membebaskan mereka dari kematian, dan memerintahkan bahwa mereka usir [Muir, Ch 13, Hal 134-137].

        Catatan kaki Muir:
        [10] Kondisi menyerah adalah harta mereka di serahkan, wanita dan anak-anak di ampuni
        [11] menunggu hukuman mati itu ada di nyatakan Tabari (p. 825) dari riwayat of Wackidi dan Muhammad ibn Salih, melalui Omar ibn Cutada..”

        Detail mengenai PIAGAM MADINA dan PERISTIWA PENYERANGAN KAUM LAINNYA KARENA TIDAK MAU MASUK PERJANJIAN MADINA, lihat: “Muhammad di Medina

      Dalam tafsir Jalalyn untuk surat AQ 60.8, disampaikan bahwa ayat ini disampaikan SEBELUM TURUN perintah MELAWAN melawan mereka.[ini artinya bahwa ayat ini telah digantikan (abogasi) oleh ayat AQ 9.29 (atau lihat FATWA sebelumnya) yang juga menyatakan bahwa ayat AQ 60.8-9 telah diabrogasi (detail ayat lain yang diabrogasi lihat di sini)]

    Tidak nyambung, bukan? Jadi sekali lagi,
    perintahnya adalah TETAP SAJA yaitu melawan mereka sampai tidak ada lagi FITNA/SYIRIK, kecuali mereka tunduk dan patuh kepada Islam.

    Apa sih Hudaibiyah itu, yang melatarbelakangi turunnya beberapa surat di atas ini?

    Pada bulan DulQaidah 6 H, Muhammad besama 1400 kaum muslim (Bukhari no.3312, 4463, Muslim no.3449) dengan dalih hendak umrah dan membawa hewan kurban, mereka berangkat dari Medinah menuju Mekkah dan siap berperang (Bukhari no.2945, 3868, 4466). Karena datang dengan membawa persenjataan. Mereka terhenti di sebuah sumur di daerah Hudaibiyah (sekitar 22 km di Barat Daya luar kota Mekah). Di tempat itu, itu kaum muslim berbaiat (di bawah sebuah pohon) untuk menyongsong kematian (Bukhari no.2740, 6666, Muslim 3462, Tirmidhi no.1518) dan ditempat itu juga dilakukan perjanjian dengan kaum Quraish.

      Bapak dari Abdullah bin Abu Qatadah spesifik menyatakan peristiwa terhenti di Hudabiyah dari Medinah menuju Mekkah adalah “غَزْوَةَ الْحُدَيْبِيَةِ” (gẖaz̊waẗa Al-Hudaibiyah = perang Hudaibiyah, di hadis Muslim no.2066, Nasai no.2776). Abdullah bin Mas’ud juga menyatakannya sebagai “غَزْوَةِ الْحُدَيْبِيَةِ” (gẖaz̊waẗi ạl̊ḥudaẙbīaẗi = Perang Hudaibiyyah, di Ahmad no.3526)

    Sebagai orang yang di klaim sebagai Nabi dan juga asli Arab, seharusnya beliau tahu syarat UMROH/HAJI karena itu kebiasaan turun temurun sebelumnya.

      (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (sehubungan dengan seksual), berbuat fasik (dosa) dan BERBANTAH BANTAH di dalam masa mengerjakan haji (AQ 2.197)

    Kaum muslim datang TIDAK MEMAKAI PAKAIAN IHRAM MALAH MEMAKAI BAJU BESI (Al Mughira bin Syu’bah di Bukhari no.2529. Umar di Muslim no.3866 minta dibawakan kuda untuk berperang), TAMENG dan PERISAI (misal Muhammad memberikannya ke Salamah di Muslim no.3372) dan juga membawa:

    • Panah-panah (Bukhari no.2529),
    • Pedang terhunus tidak dalam sarung (Bukhari no.2529)
    • Tameng dan Perisai (Muslim no. 3372)
    • Senjata-senjata (Bukhari no.3868)
    • Beberapa datang tidak untuk umroh malah berburu dan membunuh keledai buruannya (misal Bapaknya Abu Qatadah di Bukhari no.1693, Muslim no.2066).

    maka jelas sekali bahwa sedari awal, mereka tidaklah bertujuan hendak umroh namun hendak berperang, bukan?

    Di Hudabiyah ini, Umar bin Khattab bahkan mendekatkan pedangnya agar dapat digunakan Abu Jandal untuk membunuh ayahnya sendiri:

      Az-Zuhri berkata, “Umar bin Khaththab berdiri ke tempat Abu Jandal kemudian berjalan di sampingnya dan berkata, ‘Bersabarlah engkau, hai Abu Jandal, sesungguhnya mereka orang-orang musyrikin dan darah mereka adalah darah anjing.’ Umar bin Khaththab berkata, ‘ Umar bin Khaththab mendekatkan PEGANGAN PEDANG kepada Abu Jandal. Umar bin Khaththab berkata, ‘Aku berharap Abu Jandal mengambil pedang terebut kemudian membunuh ayahnya dan permasalahanpun selesai.” [“Sirat Nabawiyah”, Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, bab 169, hal 284]

      Note:
      Dalam Islam, membunuh orang tua sendiri yang melawan Allah dan Rasulnya adalah BAIK dan BENAR:

      1. Quran:
        DAN JIKA KEDUANYA MEMAKSAMU UNTUK MEMPERSEKUTUKAN AKU DENGAN SESUATU YANG TIDAK ADA PENGETAHUANMU TENTANG ITU, MAKA JANGANLAH KAMU MENGIKUTI KEDUANYA, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan [AQ 31.15, turun di urutan ke-57]

        Dan Kami wajibkan manusia kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan JIKA KEDUANYA MEMAKSAMU UNTUK MEMPERSEKUTUKAN AKU DENGAN SESUATU YANG TIDAK ADA PENGETAHUANNYA TENTANG ITU, MAKA JANGAN KAMU MENGIKUTI KEDUANYA. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. [AQ 29.8, turun di urutan ke-85]

          Surat no.8 turun diurutan ke-88:
          ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan orang-orang yang telah beriman.” KELAK AKAN AKU JATUHKAN RASA KETAKUTAN KE DALAM HATI ORANG2 KAFIR, MAKA PENGGALLAH KEPALA MEREKA DAN PANCUNGLAH TIAP-TIAP UJUNG JARI MEREKA. yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya. [AQ 8.12-13]

          Surat no.59 turun di urutan ke-101:
          Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, SESUNGGUHNYA ALLAH SANGAT KERAS HUKUMAN-NYA. [AQ 59.4]. Sesungguhnya KAMU DALAM HATI MEREKA LEBIH DI TAKUTI DARIPADA ALLAH. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti. [AQ 59.13]

        Surat no.58 turun di urutan ke-105:
        Sesungguhnya orang-orang yang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan. Sesungguhnya Kami telah menurunkan bukti-bukti nyata. DAN BAGI ORANG-ORANG KAFIR ADA SIKSA YANG MENGHINAKAN [AQ 58.5] … Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina [AQ 58.20] Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.”..[AQ 58.21] Kamu TAK AKAN mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, SEKALIPUN ORANG-ORANG ITU BAPAK-BAPAK, ATAU ANAK-ANAK ATAU SAUDARA-SAUDARA ATAUPUN KELUARGA MEREKA..[AQ 58.22].

        Tafsir Ibn Kathir tentang AQ 58.22,
        …Sa’id ibnu Abdul Aziz dan lain-lainnya telah mengatakan bahwa ayat ini, yaitu firman-Nya: Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. (Al-Mujadilah: 22), hingga akhir ayat. diturunkan berkenaan dengan Abu Ubaidah alias Amir ibnu Abdullah ibnul Jarrah ketika membunuh ayahnya dalam Perang Badar…Menurut pendapat yang lain, firman-Nya: ..(Al-Mujadilah: 22) diturunkan berkenaan dengan Abu Ubaidah yang membunuh ayahnya (yang musyrik) dalam Perang Badar. atau (sekalipun mereka adalah) anak-anak (nya)..diturunkan berkenaan dengan sahabat Abu Bakar As-Siddiq, yang pada hari itu (Perang Badar) hampir saja membunuh anaknya (yang saat itu masih musyrik), yaitu Abdur Rahman. atau (sekalipun mereka adalah) saudara-saudara (nya)… berkenaan dengan Mus’ab ibnu Umair. Dia telah membunuh saudara kandungnya yang bernama Ubaid ibnu Umair dalam perang tersebut. atau (sekalipun mereka adalah) keluarga (nya). (Al-Mujadilah: 22) diturunkan berkenaan dengan Umar yang dalam Perang Badar itu telah membunuh salah seorang kerabatnya yang musyrik, juga berkenaan dengan Hamzah, Ali, dan Ubaidah ibnul Haris; masing-masing dari mereka telah membunuh Atabah, Syaibah, dan Al-Walid ibnu Atabah dalam perang tersebut..

        Tafsir Jalalain tentang AQ 58.22,
        Disamping hadis tentang Abu Ubaidah bin Jarrah seperti di atas [dari Ibn Abu Hatim, Imam ath-Thabrani dan al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak], Suyuti juga menambahkan dengan hadis Ibnul Mundzir meriwayatkan dari Ibnu Juraij: “suatu ketika Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) mencaci maki Nabi saw.. Abu Bakar langsung memukul kepalanya hingga terjatuh. Ketika peristiwa itu didengar oleh Nabi saw. beliau lalu berkata, ‘Benarkah engkau berbuat seperti itu, wahai Abu Bakar?’ Abu Bakar lalu menjawab, ‘Demi Allah, sekiranya pada saat itu ada pedang di dekat saya, niscaya akna saya tebas lehernya.’ Tidak lama kemudian turunlah ayat ini.” [Jalaluddin As-Suyuthi, Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, Abdul Hayyie, hal. 551–558]

        Note:
        Hadis tentang Abu Ubaidah bin Jarrah membunuh ayahnya diperang badar, rantai perawinya terputus di Ibnu Syaudzab: Riwayat Sulaimān bin Aḥmad – Abū Yazīd al-Qarāthīsī – Asad bin Mūsā – Dhamrah – Ibnu Syaudzab: “Ayahnya Abū ‘Ubaidah bin Jarrah menjadikan berhadapan dengan anaknya yaitu Abū ‘Ubaidah pada waktu perang Badar, lalu Abū ‘Ubaidah menghindar darinya. Ketika sudah sering berhadapan, maka akhirnya Abū ‘Ubaidah mengincarnya lalu membunuhnya. Dari sini Allah menurunkan ayat berikut ini ketika dia membunuh ayahnya:(AQ 58.22)” [Hadis Abu Naim no.315]. IBN SYAUDZAB (lahir 86-156H), Tabi’ut Tabi’in kalangan tua, Kuniyah: Abu ‘Abdur Rahman. Walaupun Ibn Syaudzab Tsiqah, namun terhenti didirinya. Menurut Ibn hajar dalam Fath Bari: Al-Waqidi menyatakan ayah Abu Ubaidah telah wafat sebelum diutusnya Nabi saw.

      2. Ibnu Ishaq – Al-Abbas bin Abdullah bin Ma’bad – dari salah seorang dari keluarganya dari Ibnu Abbas – Rasulullah SAW: “Sungguh aku tahu, bahwa banyak sekali dari Bani Hasyim dan selain Bani Hasyim dipaksa keluar untuk perang. Mereka tidak mempunyai keperluan berperang dengan kita. Oleh karena itu, barangsiapa bertemu dengan salah seorang dari Bani Hasyim, maka jangan bunuh dia. Barangsiapa bertemu dengan Abu Al-Bakhtari bin Hisyam bin Al-Harits bin Asad, maka jangan bunuh dia. Barangsiapa bertemu dengan Al-Abbas bin Abdul Muththalib paman Rasulullah SAW, maka jangan bunuh dia, karena ia dipaksa keluar untuk berperang.” Abu Hudzaifah (salah seorang Muhajirin yang hijrah ke Medina) berkata, “KITA BUNUH AYAH-AYAH KITA, ANAK-ANAK KITA, SAUDARA-SAUDARA KITA, DAN KELUARGA KITA, kemudian kita biarkan Al-Abbas begitu saja? Demi Allah, jika aku bertemu dengannya, aku pasti membunuhnya.” Hal ini didengar Rasulullah SAW, kemudian ia bersabda kepada Umar bin Khaththab, “Hai Abu Hafsah!” Umar bin Khaththab berkata, “Demi Allah, saat itulah untuk pertama kalinya Rasulullah SAW memanggilku dengan nama Abu Hafsah.” Sabda Rasulullah SAW lebih lanjut, “Bolehkah paman Rasulullah SAW dipukul dengan pedang?” Umar bin Khaththab menjawab, “Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya (Abu Hudzaifah)! Demi Allah, dia telah munafik.” Abu Hudzaifah berkata, “Sejak saat itu, aku tidak merasa aman dengan ucapanku tersebut. Aku selalu dihantui ketakutan karenanya..[Sirat Nabawiyah, Ibn Ishaq/Ibn Hisyham, Jilid 2, Bab.117, hal.605]
      3. Mereka (para perawi) berkata: Rasulullah mengirim pasukan di bawah perintah al-Dahhak Ibn Sufyan Ibnu ‘Auf Ibn Abu Bakr al-Kilabi, melawan al-Qurara. Al-Asyad Ibnu Salamah Ibn Qart bersamanya. Mereka saling berhadapan di al-Zujj dari Lawah dan meminta mereka masuk Islam, Karena mereka menolak, diserang hingga melarikan diri. Al-Asyad berhadapan dengan ayahnya, Salamah, di atas kudanya, di kolam al-Zujj. Dia meminta Ayahnya masuk islam dan menjanjikan pengampunan. Ayahnya menegurnya karena memeluk Islam, Ia marah dan membacok kuda ayahnya, Kuda salamah rebah dan Ia bertahan dengan tombaknya di air. Al-Asyad terus menahannya hingga satu diantara para muslim datang kesana dan membunuhnya. Di katakan anaknya tidak membunuhnya. [Ibnu Sa’ad, “Al-Tabaqat Al-Kabir”, terjemahan Inggris oleh S. Moinul Haq, MA, Ph.D, dipandu: HK Ghazanfar MA [Kitab Bhavan Eksport & Import, 1784 Kalan Mahal, Daryaganj, New Delhi – 110 002 India ], Vol. II, hal. 201]
      4. Menurut Ibnu Humaid-Salamah – Muhammad b. Ishaq-‘Asim b. ‘Umar b. Qatadah: ‘Abdallah b. ‘Abdallah b. Ubayy b. Salul datang ke Rasulullah dan berkata: “Rasulullah, saya diberitahu bahwa Anda ingin membunuh ‘Abdallah b Ubayy (ayahnya) karena apa yang telah dilaporkan padamu tentang dirinya. Jika Anda akan melakukannya, perintahkanlah aku dan aku akan membawa kepala ayahku padamu. Demi Allah, Kaum al-Khazraj tahu bahwa tak ada pria yang lebih berbakti pada ayahnya selain dari aku sendiri. Aku takut engkau akan perintahkan lain orang untuk melakukannya dan Ia bisa jadi membunuhnya, jiwaku tak mengijinkan Aku melihat pembantai ayahku berjalan diantara orang-orang, Aku pasti membunuhnya, membunuh seorang Muslim untuk membalas kafir, akan masuk Api [neraka]. Rasul Allah berkata,”Tidak, kita akan bersabar, dan bergaul dengan ramah selama ia tinggal bersama kita”.. (The History of al-Tabari: The Victory of Islam, translated by Michael Fishbein [State University of New York Press (SUNY), Albany 1997], Vol. VIII (8), p. 55)
      5. Shaikh Burhanuddin Ali dari Marghinan (w. 1196), Ahli hukum mazhab Hanafi:
        Jika dalam pertempuran, sang ayah adalah kafir dan jika tetap mengejar sang ayah, ia tidak harus membunuhnya sendiri, tapi menahannya sejenak hingga yang lain datang untuk membunuhnya..Namun, jika upaya ayah membunuh sang anak, sedemikian rupa hingga sang anak tidak mampu lagi mengusirnya kecuali dengan membunuhnya, dalam hal ini, sang anak TIDAK PERLU RAGU MEMBUNUHNYA, maka halal bagi sang anak membunuh ayahnya…,di mana ayah adalah kafir dan berupaya membunuh anaknya, SAH bagi sang anak membunuh ayahnya dalam upaya pembelaan diri [Cuplikan dari Hidayah, Translasi English dalam Thomas P. Hughes, A Dictionary of Islam (London: W. H. Allen, 1895), pp. 243-248]

    Kaum Quraish Mekkah tentunya tahu persis maksud kedatangan Muhammad dengan 1400 orang yang berdalih untuk umrah namun datang dengan persenjataan. Tentu saja gerombolan dengan itikad TIDAK SUCI ini tidak akan dibolehkan masuk kota sehingga pergerakan mereka tertahan di sebuah sumur di HUDAIBIYYAH. Hal ini wajar saja mengingat kaum Quraish telah kenyang mengalami hinaan ucapan (pada nenek moyang, adat istiadat dan tuhan-tuhan mereka) dari mulai sebelum HIJRAH, juga siksaan lain (perampokan karavan dagang mereka dan pembunuhan di bulan haram oleh kaum Muslim) yang tidak putus-putusnya dilakukan sejak Hijrah.

    Walaupun tahu maksud sebenarnya kedatangan Muhammad dan juga walaupun kaum Quraish unggul jumlah, tapi karena saat itu bulan HARAM, untuk inisiatif berdamai datangnya pun BUKAN dari pihak Muslim namun justru dari pihak Quraish.

      “..orang-orang Quraisy mengutus Suhail bin Amr saudara Bani Amr bin Luai kepada Rasulullah SAW. Mereka berkata kepada Suhail bin Amr, ‘Pergilah kepada Muhammad, berdamailah dengannya, dan isi perdamaian ialah bahwa ia harus pergi dari tempat kita tahun ini. Demi Allah, orang-orang Arab tidak boleh memperbincangkan kita bahwa ia datang kepada kami dengan kekerasan [Ibn Ishaq, bab 169,hal 282]

    Dengan menggunakan alasan yang sama, yaitu umrah, setelah kaum muslim ditolak masuk Mekkah, kemudian diikat perjanjian yang diantaranya: tahun depan kaum Muslim dapat melakukan umrah selama 3 hari dan tidak memasukinya kecuali pedang-pedang disarungkan (Buhari no.2500). Pada tahun berikutnya, di bulan Dulqaidah, Kaum Muslimin melakukan umrah dan tinggal selama 3 malam di Mekkah.

      Note:
      AQ 2.197 diatas, mengisyaratkan rafat/tindakan dan ucapan yang BERHUBUNGAN dengan urusan SEKSUAL tidak boleh dilakukan saat umroh/Haji, namun dikalangan islam ada pula aturan ini:

        ولو وطئ بهيمة لا يفسد حجه

        “Jika Ia melakukan hubungan seksual dengan seekor binatang, itu tidak membuat hajinya batal” [Abu Bakar al-Kashani (d. 587 H), Badaye al-Sanae, Vol. 2, p. 216]

        Jadi tampaknya, segala hal seksual yang dimaksud diharamkan saat umroh/haji ini tampaknya jika dilakukan dengan jenis manusia saja bukan dengan binatang

      Tentu saja bukan hal yang itu yang kita hendak ketahui lebih lanjut, melainkan peristiwa umroh yang dilakukan Nabi di 1 tahun (7 AH) setelah Hudabiyyah. Ini dikenal sebagai ibadah haji pengganti/Umrat Al Qada.

      Di saat umroh pengganti tersebut, Muhammad menerima lamaran dan menikah dengan Maymunah binti Harits

        Saat Muhammad SAW melakukan ibadah haji pengganti (Umrat Al Qada] di tahun 7 H (629 M), Abbas bin Abdul Muthalib usul agar Muhammad (60 tahun) menikahi Maimunah yang akan menguatkan ikatan persaudaraan. Muhammad SAW setuju dan pernikahan dilakukan di Saraf sektiar 10 km dari Mekah. Usia Maimunah saat itu sekitar 30 tahun [Abbas Jamal, Halaman 84 – 86.. Usia itu juga disebutkan di Sunan Nasa’i vol.1 #43 p.120] Sumber lain yang menyatakan usia Maymunah saat itu adalah 26 tahun [“The Wives of the Messenger of Allah (P.B. U.H.), Translated by AH Carreraga, Published by Dar Al-Ghadd Al-Cadeed, hal.166]

        Ibn Hisham: Ia menyerahkan dirinya pada Nabi, menerima lamaran Muhammad saat di atas unta. Maymunah berkata, “Unta dan apa yang ada di atasnya adalah kepunyaan Nabi” Kemudian turun ayat, “dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya” [AQ 33.50] [Catatan kaki no.900 di Tabari, vol.9, hal.135. Juga di catatan kaki dikatakan wanita lain yang menyerahkan dirinya kepada nabi adalah Zainab Bint Jahsh atau Umm Sharik Ghaziyyah binti Jabir. Beberapa lagi mengatakan perempuan dari Bani Samah bin Lu’ayy namun Nabi menunda hal ini]

        Riwayat Ibn ‘Umar [al-Waqidi] — Musa b. Muhammad b. ‘Abd al-Rahman — Ayahnya: ‘Amrah [bt. ‘Abd al-Rahman] dan menurut riwayat Ibn ‘Umar [al-Waqidi] — [‘Abd al-Malik b. ‘Abd al-‘Aziz] Ibn Jurayj — Abu al-Zubayr — ‘Ikrimah: Maymunah bt. al- Harith memberikan dirinya kepada Nabi [Tabari vol.39, hal.186]

        Jabir bin Zaid (Abu Sya’tsa’, w.93 H) berkata bahwa para ulama berselisih pendapat mengenai pernikahan Nabi SAW dengan Maimunah karena beliau menikahinya di jalan kota Makkah. Sebagian berpendapat; ‘Nabi menikahinya dalam keadaan sudah halal, namun kelihatannya beliau menikah dalam keadaan sedang ihram/Haram. [Tirmidhi no.773].

      Karenanya terdapat sekurang 30an hadis dari berbagai pengumpul hadis yang mewartakan mengenai hal ini saja.

      • Yang meriwayatkan dari Ibn Abbas (w.68 H, ponakan Maimunah), bahwa Nabi menikahi Maimunnah dalam keadaan Ihram adalah 6 orang: Atha bin Abu rabah (w.114 H), Ikrimah (104 H, Maula Ibn Abbas), Jabir bin Zaid (w.93 H), Thawus bin Kaisan (w.106 H), Mujahid bin Jabar (w.102 H) dan Sa’id bin Jubair bin Hisyam (94 H)
      • Yang meriwayatkan dari Yazid bin Aslam (l.30H, w.103H, juga ponakan Maimunah) dan mengaku meriwayatkan ini dari Maimunah bahwa Nabi menikahi dalam keadaan tidak ihram, TERNYATA HANYA berdasarkan kabar 1 orang saja yaitu Abu Fazarah (Rashid bin Kaysan). Sementara itu Abu Fazarah saja pernah menyampaikan hadis dari Abu Zaid maula ‘Amru bin Huraits yang dikatakan Majhul oleh Ahmad Hanbal, Bukhari, Zuhrah.
      • Yang meriwayatkan dari Abu Rafi bahwa Nabi menikahi dalam keadaan tidak Ihram, juga TERNYATA HANYA berasal dari kabar 1 orang saja yang sanadnya ini disambungkan oleh Mathar bin Thaman yang menurut ulama As Saji, Mathar shaduuq tapi punya keragu-raguan.
      • Muslim no. 2527 meriwayatkan dari Sufyan Ibn Uyainah bahwa Ia mendengar dari Amru bin Dinar dari Abu As Sya’tsa` dari Ibnu Abbas: Nabi SAW menikahi Maimunah sedang berihram dan Sufyan mengklaim menceritakan ini pada Az Zuhri dan Zuhri menyatakan bahwa Yazid menyatakan bahwa beliau menikahinya ketika sedang halal. Ulama Abu Hatim Ar-razi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani tampaknya meragukan Sufyan, karena mereka berkata bahwa Sufyan terkenal taldis hadis jika meriwayatkan dari Az-Zuhri. Disamping itu, Tirmidhi mengatakan Banyak yang meriwayatkan hadits Yazid Al Asham SECARA MURSAL (terputus sanadnya): bahwa Rasulullah SAW menikahi Maimunah ketika sedang halal
      • Abu dawud meriwayatkan dari Musaddad bahwa Nabi SAW menikahi Maymunah dalam keadaan Ihram dan menyampaikan hadis dari riwayat Ibnu Basysyar – Abdurrahman bin Mahdi – Sufyan – Ismail bin Umayyah – seorang laki-laki – Sa’id bin Al Musayyab berkata bahwa Ibnu Abbas telah salah mengenai pernikahan Maimunah dan beliau dalam keadaan berihram. [Abu Dawud no.1571]. Seseorang yang tidak dikenal masuk sebagai perawi jelas bukan hadis yang baik.
      • Walaupun saat kejadian, Ibn Abbas tidak di Mekkah, namun yang mengawinkan Muhammad pada Maymunah adalah BAPAKNYA IBN ABBAS, sebagaimana disampaikan Ibn Humayd – Salamah – Muhammad b. Ishaq – Aban b.Salih dan ‘Abdallah b. Abi Najih – ‘Ata’ b. Abi Rabah dan Mujahid – Ibn ‘Abbas: NABI SAW mengawini Maymunah binti al Harith pada perjalanan ini ketika ia sedang Ihram. AL ABBAS BIN ABDUL MUTTALIB yang MENGAWININYA dengan NABI. [Tabari]

        IBN ISHAQ: “Nabi SAW tinggal di mekkah 3 malam. di hari ke-3…mereka bertanya padanya, “Waktu perjanjian telah habis, pergi dari kami!” Nabi saw berkata pada mereka, “bagaimana ini akan menyakiti kalian jika kalian membiarkan aku dan AKU MERAYAKAN PERAYAAN PERKAWINAN diantara kalian? Kami sedang mempersiapkan makanan untuk kalian dan mengharapkan kehadiran kalian” Mereka berkata, Kami tidak butuh makananmu, pergi dari kami!” Nabi SAW pergi meninggalkan ABU RAFI untuk bertanggung jawab terhadap MAYMUNAH [Tabari vol.8 hal.136.137]

      Kemudian,
      Tirmidhi no.770 s.d no.774, memberikan analisa haram vs halalnya Muhammad menikahi maimunah disaat itu:

      • Banyak yang mengklaim mewartakan dari Yazid bahwa muhammad mengawini Maimunah secara halal, disamping periwayatannya GHARIB dan MURSAL (terputus sanadnya) [Tirmidhi no.774]
      • Yang mengklaim mewartakannya dari Abu Rafi bahwa Muhammad mengawini Maimunah, periwayatannya tunggal saja, TIDAK DIKETAHUI LAIN ORANG YANG menyambungkan sanadnya KECUALI menurut versi Hammad bin Zaid – Mathar Al Warraq. Hadis dari Malik dan Sulaiman bin Bilal dari Rabiah periwayatanya Mursal [Tirmidhi no.770]. Ulama As Saji katakan Mathar adalah shaduuq tapi punya keragu-raguan.
      • Yang mengklaim bahwa Muhammad mengawini Maymunah saat sedang Ihram (haram) TERNYATA berasal dari 2 sumber: yaitu dari AISYAH dan dari IBN ABBAS. Hadis tentang Muhammad menikahi saat sedang Ihram diamalkan sebagian ulama dan merupakan pendapat Sufyan Ats Tsauri dan penduduk Kufah.” [Tirmidhi no.771]

      Tampaknya berita Muhammad menikah dalam keadaan Ihram mempunyai PENDUKUNG yang lebih KUAT, lebih BANYAK secara jumlah dan JALUR perawi hingga ke bawah. [Sumber: Bukhari no.1706, 3926, 3148, 4722. Muslim no.2527, 2528, 2529. Tirmidhi no.770-774, Juga dari Nasai, Abu Dawud, dan 15an hadis dari Imam Ahmad]

    Kemudian, disamping tentang umroh, juga terdapat beberapa hal lain dalam perjanjian yang terjadi di Hudaibiyah tersebut diantaranya:

      ‘Tulislah ini perdamaian antara Muhammad bin Abdullah dengan Suhail bin Amr. Keduanya berdamai untuk menghentikan perang selama sepuluh tahun, masing-masing pihak memberikan keamanan selama jangka waktu tersebut, masing-masing pihak menahan diri dari pihak lainnya, barangsiapa di antara orang-orang Quraisy datang kepada Muhammad tanpa izin pemiliknya maka ia dikembalikan kepadanya, barangsiapa di antara pengikut Muhammad pergi kepada orang-orang Quraisy maka ia tidak dikembalikan kepadanya, kita harus komitmen dengan isi perdamaian, pencurian rahasia dan pengkhianatan tidak diperbolehkan, barangsiapa ingin masuk ke dalam perjanjian Muhammad maka ia masuk ke dalamnya, dan barangsiapa ingin masuk ke dalam perjanjian orang-orang Quraisy maka ia masuk ke dalamnya.’

      Orang-orang Khuza’ah berdiri dan berkata, ‘Kami masuk ke dalam perjanjian Muhammad.’
      Orang-orang Bani Bakr juga berdiri dan berkata, `Kami masuk ke dalam perjanjian orang-orang Quraisy.’

      Isi perdamaian lebih lanjut, ‘Engkau (Muhammad) pulang dari tempat kami tahun ini dan tidak boleh masuk ke Makkah pada tahun ini. Tahun depan, kami keluar Makkah, kemudian engkau memasuki Makkah dengan sahabat-sahabatmu, engkau berada di sana selama tiga hari dengan membawa senjata layaknya musafir yaitu pedang di sarungnya dan tidak membawa senjata lainnya’.” [ibn ishaq, bab 167, hal.283]

      Dalam Sahih al-Bukhari 3:49:62 dan Sahih Muslim 19:4404 tercatat Nabi sendiri menghapus kata “Muhammad sebagai utusan Allah” karena Suhail bin Amr sebagai wakil Quraish menolak ucapan itu.

    Namun kemudian, terjadi pelanggaran perjanjian yang dilakukan oleh kedua belah pihak

    Pelanggaran yang dilakukan Muslim:

      [..]Abu Bashir pulang bersama kedua utusan orang-orang Quraisy tersebut. Ketika Abu Bashir tiba di Dzul Al-Hulaifah, ia duduk di samping tembok dan duduk bersama kedua utusan tersebut. Abu Bashri berkata, ‘Hai saudara Bani Amir, apakah pedangmu tajam?’ Utusan orang-orang Quraisy tersebut menjawab, ‘Ya.’ Abu Bashir berkata, ‘Bolehkah aku melihatnya?’ Utusan orang-orang Quraisy tersebut berkata, ‘Silahkan lihat, kalau engkau mau.’ Abu Bashir mengambil pedang tersebut dari sarungnya, kemudian memukulkannya ke utusan orang Quraisy tersebut hingga tewas. [Ibn Ishaq, bab 170 hal 291]

      Ada sekitar tujuh puluh orang yang berkumpul dengan Abu Bashir. Mereka menekan orang-orang Quraisy dengan membunuh siapa saja di antara orang-orang Quraisy yang berhasil mereka tangkap dan merampas kekayaan rombongan dagang yang berjalan melewati mereka. [hal.292]

      Imarah bin Uqbah dan Al-Walid bin Uqbah, datang kepada beliau guna meminta beliau menyerahkan Ummu Kultum kepada keduanya sesuai perjanjian beliau dengan orang-orang Quraisy di Al-Hudaibiyah. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menolak mengabulkan permintaan keduanya, karena Allah tidak menghendakinya.” [Ibn Ishaq, Bab 171, hal 194]

    Dalam pelanggaran yang dilakukan kaum Muslim ini, banyak kaum quraish yang terbunuh, namun tetep saja kaum QURAISH berusaha untuk tidak membatalkan perjanjian.

    Berbeda dengan pihak Muhammad dan kawanannya, setelah perjanjian tersebut, para pengikutnya kecewa [Bukhari 3:50:891] karena gagal menyerbu mekkah tentunya, untuk mengobati kekecewaan mereka, turunlah beberapa perintah allah dalam surat no.48, diantaranya AQ 48.16-17, AQ 48.27.

      AQ 48.16 itu adalah perintah untuk memerangi mereka yang berkekuatan besar. Ibn kathir merangkum maksud dari “mereka yg berkekuatan besar” dalam 4 (empat) pendapat, yaitu kaum Hawazan, penduduk Tsaqif, bani Hanifah dan Persia.

      Ibn hatim meriwayatkan dari az-zuhri – said bin al mushyabab – abu huraira -muhammad saw: “tidak akan datang kiamat hingga kalian memerangi suatu kaum yang bermata sipit, berhidung pesek, seolah2 wajahnya seperti prisai”. Sufyan berkata yg dimaksud adalah turki, abu huraira berpendapat dari sabda muhammad saw, “kalian akan memerangi kaum yg sandalnya bulu” dan ditafsirkan bangsa kurdi. Kemudian allah yg menyatakan, “kalian akan memerangi mereka atau mereka akan menyerah” disyariatkan untuk melakukan jihad dan memerangi mereka.

      kemudian untuk “Maka jika kamu patuhi (ajakan itu)” di maksudkan agar mematuhi dan pergi jihad. Kemudian, ayat 17 adalah pengecualian jenis-jenis orang yang boleh tidak ikut berjihad dan dilanjutkan dengan memberikan perintah jihad, “Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barang siapa yang berpaling” yakni yang enggan berjihad, maka “niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih” yakni di dunia dengan kehinaan dan di akhirat dengan api neraka. [Tafsir Ibn kathir, Jilid 7, juz 26 hal 438-40].

    Inilah mengapa AYAT INI dikatakan membatalkan AQ 2.256.

      Note:
      Terkadang beberapa muslim juga menggunakan dalih adanya toleransi dengan hadis ini:

      Riwayat Qais bin Hafsh – ‘Abdul Wahid – Al Hasan bin ‘Amru – Mujahid – ‘Abdullah bin ‘Amru – Nabi SAW: “Barang siapa yang membunuh mu’ahad (orang kafir yang terikat perjanjian) maka dia tidak akan mencium bau surga padahal sesungguhnya bau surga itu dapat dirasakan dari jarak 40 tahun perjalanan” [Bukhari no.2930, 6403. Di Ahmad 6457, kata yang dipakai ahli dzimmah/orang kafir yang berada dalam perlindungan PEMERINTAHAN ISLAM, yaitu dari riwayat Isma’il bin Muhammad/Abu Ibrahim Al Mu`aqqob – Marwan – Al Hasan bin ‘Amru Al Fuqaimi – Mujahid – Junadah bin Abu Umayyah – Abdullah bin ‘Amru -Nabi SAW]

      Muhammad bin Basysyar – Ma’di bin Sulaiman/Al Bashri – Ibnu ‘Ajlan – ayahnya – Abu Hurairah – Nabi SAW: “Ketahuilah, barangsiapa membunuh seseorang yang terikat janji dengan kaum muslimin DAN MEMILIKI JAMINAN DARI ALLAH DAN RASULNYA, maka ia telah melanggar perlindungan Allah dan ia tidak akan mencium bau surga, dan sesungguhnya baunya dapat dicium sejauh perjalanan 70 masa.” Abu ‘Isa: Hadits Abu Hurairah adalah hasan shahih.. [Tirmidhi no.1323. Ibn Majjah no.2677, kalimatnya “orang kafir mu’ahad yang berada dalam perlindungan Allah dan perlindungan RasulNya“.]

        Yahya bin Yahya – Malik – Abu Nazhr – Abu Murrah, mantan budak Ummu Hani` binti Abu Thalib – Ummu Hani` binti Abu Thalib: ..[muslim no.1179: “di tahun” namun Bukhari no.344 dan no.2935: “di hari”] penaklukan kota Mekkah..”Wahai Rasulullah, Saudaraku, yaitu Ali bin Abu Thalib [Muslim no.1179: “Ia hendak membunuh” NAMUN di bukhari no.2935 “Ia telah membunuh”] seseorang yang aku lindungi, yaitu fulan bin Hubairah. [NAMUN Bukhari no 344: “anak ibuku mengatakan dia telah membunuh seseorang dan aku telah memberi ganti rugi kepada seseorang yakni Abu Hubairah“] Rasulullah SAW: [Muslim no.1179 DAN Bukhari no. 2935: “Aku melindungi siapa saja yang engkau lindungi wahai ummu Hani`NAMUN Bukhari no. 344, “Kami telah setuju apa yang engkau berikan wahai Ummu Hani“] [Muslim no.1179. Bukhari no.2935. Bukhari no.344]

      Al Husain bin Huraits – Isma’il – Yunus – Al Hakam bin Al A’raj – Al Asy’ats bin Tsurmulah – Abu Bakarah – Rasulullah SAW: “Barang siapa yang membunuh orang kafir mu’ahid TIDAK PADA WAKTU HALALNYA maka Allah mengharamkan baginya untuk mencium bau Surga. [Nasai no 4667. Abu Dawud no.2379. Darimi no.2393, Ahmad no.19052. Dalam hadis Ahmad no.19483/19601/19610 kalimatnya “membunuh kafir mu’ahad dengan cara yang tidak dibenarkan” Ahmad no.19489/19502/19618, “tanpa sebab yang dihalalkan”]

      dan/atau dikaitkan dengan AQ 4.90, “kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai)atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.”

      Penggunaan dalih-dalih tersebut di atas,
      sangatlah absurd, mengingat hadis juga menyebutkan orangnya BOLEH dan JUGA TELAH DIBUNUH (ada DIYAT berlaku), dan juga, toleransi ini adalah toleransi berbatas pada mereka yang TELAH TERIKAT PERJANJIAN (dengan PEMERINTAH MUSLIM, dengan RASUL), karena kata kafir dzimmi adalah merujuk pada jenis KAFIR yang terikat perjanjian dengan MUSLIM, karena beberapa alasan diantaranya si kafir dapat dimanfaatkan keadaannya sehingga ada gunanya tetap dibiarkan hidup juga dengan harapan selama periode perjanjian ini, akan masuk Islam, makanya mereka dianggap dalam perlindungan atau hanya karena mereka masih terlalu kuat (itulah sebabnya muslim membuat perjanjian agar dapat mengulur waktu). Namun kondisi dan keadaan itupun TELAH BERLALU karena TELAH DIBATALKAN Allah dan NABI sendiri disaat beliau masih HIDUP! Jadi penggunaan alasan ini jelas mengada-ada.

      Tafsir Ibn Kathir AQ 4:88-91:

      Imam Ahmad mencatat, Zayd bin Thabit meriwayatkan bahwa Nabi sedang bersiap berperang menuju Uhud, beberapa orang yang menemani beliau berbalik kembali ke Medinah, Melihat ini para sahabat menjadi terbagi dua, satu menyatakan mereka harus dibunuh, sementara yang lainnya berkeberatan.

      Al Awfi mencatat bahwa Ibn Abbas meriwayatkan berkata bahwa Ayat ini [4:88] turun mengenai beberapa orang di mekkah yang sudah masuk Islam dan bepergian keluar mekkah utk suatu urusan, Ketika yang lain mengetahui, mereka pecah pada dua, yang satu ingin mengejar dan membunuhnya sementara yang lain tidak. Nabi berada diantara mereka dan tidak menghentikan argumen2 mereka sehingga turunlah ayat Allah, yaitu Allahlah yang membalikan mereka menuju kekafiran [Ibn Abi Hatim & Ibn Abbas meriwayatkan demikian] Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya.

      Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling [Ibn Abbas meriwayatkan. As-Suddi berkata bagian ayat itu berarti “Jika mereka menyatakan kemurtatadannya secara terbuka”]

      Pengecualian jika mereka yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau juga mereka yang Dimmah (mereka yang di bawah perlindungan dengan membayar pajak tahunan [Jizyah]) perlakukan mereka seperti engkau telah berdamai [diriwayatkan As-Suddi, Ibn Zayd and Ibn Jarir].

      Sahih Bukhari merekam kisah Perjanjian Al-Hudaibiyyah, antara kaum Quraish dan Kaum Nabi Muhammad, Ibn Abbas meriwayatkan bahwa AYAT PENGECUALIAN TERSEBUT TELAH DI ABROGASI [diganti] dengan turunnya ayat, “Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu], maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka [QS 9:5]”

      Dalam tafsir Ibn kathir utk AQ 9.5 (juz 10 hal.95-96) dikatakan,
      “ayat yang mulia ini adalah ayat as-syaif (pedang), di mana dalam hal ini adh-dhahhak bin Muzahim berkata, ‘Ayat ini menghapus SEMUA PERJANJIAN antara Nabi SAW dengan salah seorang Musyrik, SEMUA PERJANJIAN, dan semua batas waktu yang disepakati'”

      Al ‘Aufi berkata dari ibn Abbas berkaitan dengan ayat ini, ‘TIDAK ADA perjanjian dan perlindungan yang masih berlaku bagi seorang musyrikpun SEMENJAK DITURUNKANNYA berita penghapusan hubungan, dan berlalunya bulan-bulan suci’. Batas waktu perjanjian yang dilakukan oleh orang musyrik sebelum diturunkannya berita pemutusan hubugan adalah empat bulan dari semenjak berita pemutusan hubungan di bacakan hingga 10 Rabiul Akhir. Setelah itu para muffasir berbeda pendapat mengenai ayat pedang ini, adh-Dahhak dan as-suddi, ayat ini dinasakh-an dengan firman Allah AQ 47.4, “kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan” sedangkan Qatadah berkata sebaliknya.”

        Note:
        Dalam tafsir ibn kathir utk AQ 47.4-9, dikatakan:
        Ayat AQ 47.4 turun di saat perang Badar, di mana Allah mencela mereka yang memperbanyak tawanan dengan tujuan mendapatkan tebusan dan saat itu tidak banyak membunuh padahal yang seharusnya dilakukan adalah “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka”

        Oleh karenanya Allah berfirman, “Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki akhirat. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.” (AQ 8.67-68)

        Ibn kathir menyampaikan beberapa kelompok pendapat para ulama, yaitu:

        • ayat yang memberikan pilihan membebaskan mereka atau menerima tebusan dibatalkan oleh AQ 9.5, sebagian lain mengatakan tidak di batalkan
        • Ulama lain berpendapat boleh dibebaskan cuma-cuma atau diminta tebusan tidak boleh dibunuh, sementara ulama lainnya mengatakan boleh membunuhnya

        Untuk tafsir, “sampai perang berakhir”, Mujahid berkata, “sampai Isa putra Maryam turun”

        ATAU

        Pendapat lannya mengutip Imam Ahmad bin Jubair direkam dari Nufayr yang dilaporkan dari Salamah bin Nufayl bahwa ia pergi ke Rasulullah dan berkata, “Aku telah melepaskan kudaku pergi, dan melemparkan senjataku, karena perang telah berakhir. Tidak ada lagi pertempuran. ” Kemudian Nabi berkata kepadanya, Sekarang saat pertempuran telah tiba. AKAN SELALU ADA SEKELOMPOK DARI UMATKU DOMINAN ATAS ORANG LAIN. ALLAH AKAN MENGUBAH BEBERAPA ORANG, SEHINGGA MEREKA AKAN MELAWAN mereka

        ATAU

        Qatadah mengatakan, “HINGGA TIDAK ADA KEMUSYRIKAN” hal yang sama seperti bunyi AQ 2.193

        ATAU

        Sebagian mengatakan hingga pasukan musyrik berhenti yaitu dengan bertaubat kepada Allah.

        Pada kalimat, “tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain” adalah MENSYARIATKAN untuk JIHAD dan PERLAWANAN terhadap MUSUH untuk MEMBERIKAN UJIAN. Sehingga bagi yang terbunuh, “Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.”

        -> Jadi MEMERANGI KAFIR itu TETAP BERLAKU SELAMA-LAMANYA karena selama masih ada kaum musyrik di muka bumi, maka muslim terus menerus berada dalam kondisi di MEDAN PERANG.

      Tafsir ibn kathir juz ke-10 hal 96-98 untuk ayat AQ 9.6 menyampaikan 2 (dua) kondisi kenapa memberikan perlindungan, yaitu yang pertama adalah agar ia MENDAPAT KESEMPATAN mendengarkan kalimat allah dan perlindungan untuk mengantarkannya ke tempat aman.

      Dan yang kedua jika ia datang sebagai UTUSAN (untuk kafir Harbi, karena ada perjanjian dengan PEMERINTAHAN ISLAM/dan Rasul masuk kategori Mu’ahad dan Musta’man).

      Lamanya perlindungan terdapat beberapa pendapat berbeda: Mereka di lindungi selama 4 bulan saja (beberapa mengatakan TIDAK LEBIH dari 1 tahun) sebagian membolehkan dan sebagian tidak).

      Untuk ayat 7, adalah pemutusan hubungan dengan kaum kafir dan memberikan tempo pada mereka selama 4 bulan lalu dilanjutkan dengan tindakan berupa PEMBUNUHAN TANPA PANDANG BULU DIMANAPUN DITEMUKAN. (Perjanjian Hudabiyah dzulkaidah 6 AH s/d pemutusannya di bulan Ramadhan tahun ke-8 AH dan diberikan 4 bulan perlindungan)

      Di ayat ke-8, Allah menyampaikan firmannya seraya memberikan dorongan pada kaum beriman untuk memusuhi dan memutuskan hubungan dengan kaum kafir seraya menjelaskan bahwa mereka tidak berhak mendapatkan perjanjian allah karena menyekutukan allah dan mengingkari rasulnya.

      Tuduhan allah adalah karena jika jika mereka dapat mengalahkan kaum islam tidak akan menjaga kekerabatan dan mengindahkan perjanjian mereka akan menghabisi kaum muslim.

      Ali bin Abi Thalhah, Ikrimah, dan Al-‘Aufi mengatakan dari Ibn Abbas bahwa al-ill adalah kerabat, sedangkan adz-dzimmah adalah perjanjian.

    Setelah Hudaybiyya (628 M),
    Selama periode terjadinya perjanjian tersebut Muhammad mengirimkan surat-surat kepada para penguasa negeri yang berbatasan dengan jazirah arab, termasuk kepada Heraklius dan memerintahkan mereka masuk Islam dan menyerah (Aslim taslim, demikian di akhir surat tersebut tertulis) dan juga mengirimkan banyak ekspedisi, salah satunya ke arah kota Busra dengan tujuan mengajak mereka (Pagan dan Kristen) untuk masuk Islam dan jika menolak maka akan dibasmi, salah satu insiden terjadi di desa Mu’tah yang kemudian dikenal sebagai perang Mu’tah (629M). Latar belakang kejadian, telah disirkulasikan para muslim menurut sumber di bawah ini:

      Waqidi – Rabi’a b. ‘Uthman – ‘Umar b. al-Hakam berkata: Rasullullah mengirim al-Harith b. ‘Umayr al-Azdi, seorang dari Banu Lihb, kepada raja Busra dengan sebuah dokumen. Ketika ia sampai di Mu’ta, Shurahbil b. ‘Amr al-Ghassani mencegatnya dan berkata, “Akan pergi kemana anda?” Ia menjawab, “Al-Sham.” Ia Berkata, “Mungkin anda adalah satu dari utusan Rasullullah?” Ia jawab, “Ya. Saya adalah utusan Rasullullah.” Kemudian, Shurahbil memerintahkan agar dia di ikat dengan tali dan dibunuh. Hanya Ia dibunuh karena utusan Rasullullah [The Life of Muhammad: Al-Waqidi’s Kitab Al-Maghazi, hal.372]

        Note:
        Problem dari kisah ini ada beberapa: Pertama, berita berasal dari rantai perawi TUNGGAL; Kemudian, perawi Rabi’ah bin Usman, menurut Ibn Hatim adalah periwayat hadis Mungkar (mungkarul hadits). Ibn Saad katakan Rabi’a wafat diusia 77 tahun (tahun 154 AH, jaman khalifah Abu Jaffar) dan Perawi Umar bin Alhakam wafat diusia 80 tahun (tahun 117 AH, jaman Khalifah Hisham bin Abdul Malik) Jadi, pada tahun 37 AH, yaitu ketika Umar bin Al Hakam lahir, kejadian tentang Al-harith telah lewat 30 tahun dan ketika Rabi’a berumur 20 tahun, kejadian ini telah lewat 60 tahun dan TIDAK DIKETAHUI darimana Umar menerima berita itu.

    Jadi, di samping perawinya ada yang mungkar, sumber berita awalpun tidak jelas. Juga terdapat 2 hadis lain yang memuat latar belakang yang berbeda sama sekali dari kisah di atas:

      Waqidi – Muhammad bin ‘Abdullah bin Muslim bin ‘UbaIdillah bin ‘Abdullah bin Syihab (w.154) – Zuhri (w.124 H) berkata Rasullullah mengirimkan Ka’b bin Umair Al-Ghiffari bersama 15 orang ke Dhat Atlath dekat negeri Sham. Mereka menemukan sejumlah besar dan mengundangnya masuk Islam, mereka tidak menjawab dan melemparkan anak panah, sehingga semua tewas, satu yang terluka kembali. Nabi hampir saja mengirimkan penyerbuan namun mereka telah pergi ketempat lainnya.

      Waqidi – Ibn Abi Sabra – Al Harith bin Fudail berkata: Ka’b biasa bersembunyi disiang hari dan berjalan dimalam hari hingga mendekati mereka. Mata-mata mereka melihatnya dan menyampaikan pada kaumnya ada sejumlah orang sahabat Rasul. Kemudian, dengan berkuda mereka mendatangi dan membunuh mereka. [The Life of Muhammad: Al-Waqidi’s Kitab Al-Maghazi, hal.372]

        Note:
        Menurut Yahya bin Main: Muhammad bin ‘Abdullah bin Muslim bin ‘UbaIdillah adalah DHAIF

    Sehingga sirkulasi yang beredar mengenai latar belakang perang di Mutah sebagai balasan atas kematian para utusan Muhammad adalah BOHONG BELAKA. Sementara itu, dari sumber NON ISLAM, terdapat satu catatan yang diduga sebagai perang Mutah:

      Sebelum Muhammad wafat, Ia menunjuk 4 pemimpin pasukan untuk menyerang kaum Arab kristen. Dan mereka berencana menyerang pagan arab setempat di perayaan hari kurban mereka. Theodore, sang Penanggung jawab area (Vicaous) tersebut, mengetahui hal ini dari Koutabas, seorang pelayannya dari suku Quraish dan kemudian menyusun Pasukan, Ia mencegat mereka di daerah Mothous, berhasil membasmi banyak dari pasukan Saracen (Sebutan umum bagi kaum arab saat itu) dan dari 4 orang pemimpin pasukan, 3 orang berhasil dibunuh namun 1 orang bernama Khalid berhasil melarikan diri (Thopanes sebutkan juga gelarnya, yaitu Pedang Allah). [“The Chronicle of Theophanes”, Anni mundi 6095-6305, hal.36]

        Note:
        4 pemimpin yang ditunjuk saat memimpin ekspedisi Mutah ini menurut sumber Islam adalah Zayd bin Harithah (anak angkat Nabi Nuhammad), Jafar ibn Abi Talib (Anak dari Paman Nabi), Abdullah bin Rawahah dan Khālid ibn al-Walīd. Yang berhasil lolos dari kematian hanyalah Khalid bin Walid.

    Catatan sumber NON MUSLIM ini memberikan satu alur KONSISTEN latarbelakang perang Mutah dengan apa yang diperintahkan Allah dan Nabinya, yaitu memerangi kaum Musyrik dan ahlul kitab yang menolak masuk Islam.

    Kemeudian,
    Dalam AQ 48.27, terdapat kalimat, “sebelum itu dalam waktu yang dekat”, ini adalah hiburan yang diberikan Allah untuk meningkatkan moralitas berupa pembasmian suku yahudi di Kaybar (628 M, di tempat ini Muhammad terkena batunya, ia makan domba yang telah diracuni yang kemudian menjadi sebab kematiannya yang menyakitkan).

    Setelah itu selama beberapa bulan Muhammad di Medinnah (ada yang mengatakan 2 bulan), dan hanya melakukan perampokan-perampokan kecil. Kemudian seseorang yang berasal dari B. Bakr, yakni suku Quraish, telah membunuh seorang dari B. Khuzaa’h di tempat pengambilan air di Mekah. Suku Khuzaa’h adalah sekutu Muhammad dan dilaporkan bahwa orang yang dibunuh adalah orang Muslim. Penyerangan atas orang Khuzaa’h ini adalah pembalasan dendam atas pertentangan berdarah kedua suku yang bermusuhan itu. Lingkaran saling berbalasan dendam berdarah ini sudah dimulai lama sebelum Muhammad lahir.

    Wakil Khuzza’h yang bernama Amr b. Salim al-Khuzai pergi ke Medinah untuk melaporkan Muhammad akan peristiwa ini dan minta tolong kepadanya. Muhammad tidak tertarik sama sekali untuk menjaga perdamaian. Dia tidak melakukan usaha apapun untuk menengahi pertengkaran ini dengan pihak Quraish. Malah sebaliknya, dia menggunakan pertengkaran sepele ini sebagai alasan bagi kesempatan emas menyerang orang-orang Mekkah.

    Kejadian 1 orang ini saja membuat pihak muhammad kemudian memutuskan perjanjian! Padahal pihak quraish telah mengirim Abu Sufyan b Harb ke Medina. Abu Sufyan malah sempat di caci maki oleh anak perempuannya sendiri yang menjadi Istri dari Muhammad ke sekian sepulangnya dari Ethiophia bahwa Ayahnya adalah seorang pagan najis (kotor) dan tidak pantas untuk duduk di ranjang Muhammad yang suci. Tidak berapa lama kemudian Muhammad mengirim sebuah kelompok Jihadi di bawah pimpinan gabungan Abd Allah b. Abi Hadrad al-Aslami dan Abu Qatadah al-Harith b. Ribi, ke Batn. Idam, sebelah Utara Medinah untuk menyerang kafilah Mekah yang melewati daerah itu.

    Kemudian terjadilah penaklukan kota mekkah,
    Itulah mengapa di awal surat AQ 9, terus menerus muncul kata: pemutusan perjanjian dst..Surat ini muncul adalah karena yang melanggar dan/atau memutuskan perjanjian adalah Muhammad dan kaummnya bukan kaum Quraish.

    Adalah tidak benar penaklukan Kota Mekkah tanpa darah.

    Di atas telah disampaikan satu contoh pendahuluan adanya penyerangan pada kafilah Mekkah. Salah satu sample korban wafat dari kubu Muslim di saat penaklukan Mekkah adalah Kurz bin Jabir (Bukhari no.3944). Juga pemaksaan dengan teror dan ancaman dalam mengislamkan, misalnya Abu Sufyan

      Al-Abbas dengan cepat memperingatkan Abu Sufyan agar memeluk Islam, kalau tidak kepalanya bisa dipancung Muhammad. Inilah yang dikatakan al-Abbas, “Hati2lah! Katakan pengakuanmu sebelum, demi Allah, dia akan memancung kepalamu.” Karena takut dan ingin menyelamatkan nyawanya, Abu Sufyan tidak punya pilihan dan saat itu juga dia jadi Muslim.

    Meskipun Abu Sufyan menyerah, beberapa pemimpin Quraish yang lain di bawah pimpinan Ikrimah b. Abi Jahl tidak mau membiarkan kaum Muslim masuk Mekah tanpa perlawanan. Maka mereka mengumpulkan orang dari B. al-Harith b. Abd Manat dan orang2 Ahabish dan beberapa suku kecil lain yang merupakan bagian dari Mekah untuk melawan tentara Muhammad. Khalid b. Walid ditunjuk untuk melawan orang2 ini. Pasukan Ikrimah bertarung melawan pasukan Khalid, tapi kalah sehingga Ikrimah b. Abi Jahl melarikan diri bersama beberapa pasukannya.

    24 orang pagan (atau 28 menurut Muir) dibunuh. Ini adalah satu2nya pertempuran yang terjadi di Mekah.

    Ketika Muhammad masuk Mekah, dia memberikan pengampunan bagi seluruh penduduk Mekah kecuali bagi 8 orang (atau 10 menurut Ibn Sa’d). Dia memerintahkan agar orang2 ini dibunuh bahkan walaupun mereka bersembunyi di bawah tirai Ka’abah. Sebenarnya menumpahkan darah di tempat suci itu sangatlah dilarang bagi kaum pagan. Muhammad ingin mempertahankan tradisi ini, tapi keinginannya untuk membalas dendam lebih kuat sehingga dia menyatakan bahwa Allah mengijinkan hanya untuknya untuk menumpahkan darah di tempat suci untuk beberapa jam saja.

    Berikut dibawah ini hadis Sahih tentang hak bagi Muhammad untuk menumpahkan darah di tempat suci.

    Hadis Sahih Bukhari 3.34.303:
    Dikisahkan oleh Ibn Abbas:
    Rasul Allah berkata, “Allah membuat Mekah sebagai tempat suci dan tidak diijinkan seorangpun sebelumnya atau sesudah aku (untuk berperang di tempat itu). Dan [berperang diperbolehkan bagiku untuk beberapa jam dalam satu hari khusus saja]. Tidak seorang pun boleh mencabut semak2nya yang berduri atau memotong pohon2nya atau mengejar maksudnya atau memungut Luqata (benda2 yang jatuh – nya kecuali oleh orang yang akan mengumumkan hal ini secara umum.” ‘Abbas bin ‘Abdul-Muttlib meminta kepada sang Nabi, “Kecuali Al- Idhkhir, bagi tukang2 emas kami dan atap2 rumah kami.” Sang Nabi berkata, “Kecuali Al-Idhkir.” ‘Ikrima berkata, “Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan mengejar maksudnya? Itu berarti memindahkannya dari kegelapan dan duduk di tempatnya.” Khalid berkata, “(‘Abbas berkata: Al Idhkir) bagi tukang2 emas dan kuburan2 kita.

    Pembunuhan gadis penyanyi, tercatat dalam sunan Abu Daud 14.2678:

    Dikisahkan oleh Sa’id ibn Yarbu’ al-Makhzumi:
    Sang Nabi berkata: di hari penaklukkan Mekah, ada 4 orang yang tidak akan kuampuni di tempat suci maupun non suci. Dia lalu menyebutkan nama orang2 itu. Dua gadis penyanyi al-Maqis; yang seorang dibunuh dan yang seorang lagi melarikan diri dan memeluk Islam.

    Demikianlah sekelumit kisah yang mendahului surat AQ 9, AQ 2 dan juga AQ 60. [Sumber selain dari blog di atas, yang juga di ambil berdasarkan tulisan Ibn Sa’ad adalah juga dari Tabari vol.7 hal.164-165] [↑]

    [2] Arti kata “taqiyya (تقية)” di kamus: Penipuan/pura-pura – menyembunyikan, sebagian menyembunyikan / menyamarkan perasaan, kepercayaan atau informasi ketika ada ancaman bahaya kematian atau serius dan ketika ada ancaman dari iblis besar.

    Referensi dari kalangan Sunni:

    1. Jalal al-Din al-Suyuti dalam “al-Durr al-Manthoor Fi al-Tafsir al-Ma’athoor,” Ibnu ‘Abbas menyatakan, Ia adalah periwayat yang PALING terkenal dan terpercaya tradisi dalam pandangan kaum Sunni, pendapat tentang al-Taqiyya dalam ayat Alquran:

      “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena memelihara diri (” tat-taqooh “), supaya kamu terlindungi (“tooqatan”) dari mereka …. [AQ 3.28]

      Bahwa Ibnu Abbas mengatakan: “al-Taqiyya adalah dengan lidah saja, ia yang telah dipaksa untuk mengatakan apa yang membuat murka Allah (SWT), dan hatinya damai ( yaitu, iman BENAR nya BELUM goyah), maka (mengatakan yang terpaksa untuk dikatakan) tidak akan membahayakan dirinya (sama sekali), (karena) al-Taqiyya adalah dengan lidah saja, (TIDAK di hati) “.

      Di Sunan al-Bayhaqi and Mustadrak al-Hakim, Ibn Abbas berkata: “al-Taqiyya disampaikan dengan lidah, sementara hati tetap beriman”

    2. Abu Bakr al-Razi dalam “Ahkam al-Quran,” v2, hal.10, menjelaskan ayat”…kecuali karena memelihara diri (“tat-taqooh“), supaya kamu terlindungi (“tooqatan“) dari mereka …. [AQ 3.28]” dengan menegaskan bahwa al-Taqiyya HARUS DI GUNAKAN ketika seseorang takut hidupnya. Sebagai tambahan, Ia riwayatkan dari Qutadah yang berkata sehubungan ayat di atas: “Di ijinkan untuk menggunakan kata-kata menipu ketika al-Taqiyya adalah wajib”
    3. Telah diriwayatkan oleh Abd al-Razak, Ibnu Sa’ad, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardawayh, al-Baihaqi dalam bukunya “Al-Dala-il,” dan itu dikoreksi oleh Al-Hakim dalam bukunya “al-Mustadrak” bahwa:

      “Para kafir ditangkap, ‘Ammar bin Yasir (disiksa sampai) mengucapkan kata-kata kotor tentang Nabi SAW dan memuji dewa-dewa mereka, dan ketika dibebaskan, dia pergi ke Nabi SAW, Nabi berkata: “Apakah ada sesuatu di pikiran mu?”
      ‘Ammar bin Yasir berkata: “buruk, Mereka tidak melepaskan saya hingga saya bicara buruk tentang Anda dan memuji dewa-dewa mereka!”
      Nabi berkata: “Bagaimana jadinya dengan Iman mu?”
      Ammar menjawab: “masih ber-iman.”
      Jadi Nabi berkata: “Nanti jika mereka datang lagi untukmu, lalukan hal yang sama lagi.” Saat itu Allah menurunkan ayat AQ 16.106″

      Btw,
      Kisah Yasir sekeluarga telah tersirkulasi secara keliru, yaitu bahwa orang tuanya [Yasir dan Summayya] wafat disiksa dan bahwa Sumayya (ibunya) adalah martir wanita pertama dalam Islam. Kisah ini adalah dusta, TABARI mencatat bahwa Sumayya tidaklah wafat dan malah kawin lagi dengan Al Azraq: Setelah Yasir wafat, Sumayya dikawinkan dengan Al-Azraq, seorang budak Bizantium milik al-Harith b.Kaladah Al Thaqafi[134]. Al-Azraq adalah satu dari budak-budak kaum Ta’if yang pergi ke Nabi selama pengepungan al-Taif, dan Nabi membebaskan mereka; dan diantara yang dibebaskan adalah [juga] Abu Bakrah[135]. Sumayyah melahirkan anak [lelaki], yaitu Salamah b.Al-Azrag, ini menjadi saudara tiri Ammar

      134 Ia hidup dijaman Pra-Islam, belajar ilmu pengbatan di Persia, dikenal sebagai dokter Arab dimasanya. Lihat Hawting, “Development”
      135 Anak Al-Harith b.Kaladah dari budak wanita bernama Sumayyah (BUKAN ibunya Ammar). Ia dibebaskan Nabi dan menjadi seorang sahabat yang terkenal. Keturunannya mencapai posisi tinggi dalam pembelajaran dan administrasi. Lihat Ibn ‘Abd al-Barr, Isti’db, IV, 23 dan Ibnu Hajar, Isabah, IV, 334-35, untuk perbedaan antara Sumayyah budak wanitanya Abu Hudzaifah, yang jadi Ibunya Ammar dan Sumayyah budak wanita Al-Harith b.Kaladah yang jadi ibunya Abu Bakrah dan Salamah.

    4. Taqiyya dapat dilakukan bukan hanya ketika terancam namun juga dapat diberlakukan ketika mendapatkan kesempatan membunuh bagi Nabi (dan Allah):
        Diriwayatkan Jabir bin Abdullah:

        Rasul Allah berkata “Siapakah yang mau membunuh Ka`b bin al-Ashraf yang telah menyakiti Allah dan RasulNya?”

        Berdirilah Maslama dan berkata,”O Rasul Allah! Maukah kamu agar aku membunuhnya?”

        Sang Nabi berkata,”Iya”.

        Maslama berkata, “Maka izinkan saya untuk berkata sesuatu (yang menipu Ka`b).”

        Sang Nabi berkata, “Silakan katakan.”

        Maslama mengunjungi Ka`b dan berkata,”Orang itu (Muhammad) menuntut Sadaqa (zakat) darim kami, dan dia telah menyusahkan kami, dan aku datang untuk meminjam sesuatu dari kamu.”
        Ka`b menjawab, “Demi Allah, engkau akan merasa lelah berhubungan dengan dia!”

        Maslama menjawab,”Sekarang karena kami sudah mengikuti dia, kami tidak mau meninggalkan dia kecuali dan sampai kami melihat bagaimana nasibnya akhirnya.

        Sekarang kami mau engkau meminjamkan dua ekor unta dengan satu atau dua buah bekal makanan.”

        Ka`b berkata, “Iya, tapi kalian harus menggadaikan sesuatu denganku.”

        Maslama dan kawannya berkata,”Apa yang kau inginkan?”

        Ka’ b menjawab, “Gadaikanlah istri-istrimu padaku.”

        Mereka menjawab, ”Bagaimana kami dapat menggadaikan istri2 kami padamu sedangkan kamu adalah orang yang paling tampan diantara orang2 Arab?”

        Ka`b berkata, “Kalau begitu gadaikan anak2 lakimu padaku.”

        Mereka berkata, “Bagaimana kami dapat menggadaikan anak2 laki kami padamu? Nanti mereka akan diejek orang2 yang mengatakan ini dan itu dan mereka telah digadaikan dengan seekor unta penuh bekal makanan. Ini akan membuat kami sangat malu, tapi kami mau menggadaikan senjata2 kami padamu.”

        Maslama dan kawannya berjanji pada Ka`b bahwa Maslama akan kembali padanya. Dia kembali pada Ka`b pala malam harinya bersama saudara angkat Ka`b, yakni Abu Na’ila. Ka`b mengajak mereka ke bentengnya dan dia pergi bersama mereka. Istrinya bertanya, “Hendak ke manakah kau selarut ini?”

        Ka`b menjawab,”Maslama dan saudara (angkat) ku Abu Na’ila telah datang.”

        Istrinya menjawab, “Aku mendengar suara seperti darah mengucur dari dirinya.”

        Ka`b menjawab, “Mereka tidak lain adalah saudaraku Maslama dan saudara angkatku Abu Na’ila. Orang dermawan seharusnya menjawab permintaan (untuk datang) di malam hari meskipun (permintaan itu) adalah undangan untuk dibunuh.”

        Maslama pergi dengan dua orang dan berkata pada mereka, “Jika Ka`b datang, aku akan menyentuh rambutnya dan mengendusnya (menghirup bau rambutnya), dan jika kalian melihat aku telah mencengkeram kepalanya, tusuklah dia. Aku akan biarkan kalian mengendus kepalanya.”

        Ka`b bin al-Ashraf datang pada mereka, pakaiannya membungkus badannya dan menebarkan bau parfum. Maslama berkata, “Aku belum pernah mencium bau yang lebih enak daripada ini.”

        Ka`b menjawab, “Aku kenal wanita2 Arab yang tahu bagaimana menggunakan parfum kelas atas.”

        Maslama minta pada ka`b, “Maukah engkau mengizinkanku mengendus kepalamu?”

        Ka`b menjawab, “Boleh.”

        Maslama mengendusnya dan mengajak kawannya melakukan hal yang sama. Lalu ia minta pada Ka`b lagi, “Maukah engkau mengizinkanku mengendus kepalamu?”

        Ka`b berkata, “Ya”.

        Ketika Maslama berhasil mencengkeram kepala Ka`b erat2, dia berkata (pada kawan2nya), “Bunuh dia!”

        Lalu mereka membunuhnya dan pergi melaporkan hal itu pada sang Nabi. [Bukhari 5.59.369; Muslim 19.4436; juga di Ibn Ishaq, hal.368; Tabari, vol.7, hal.94-97]
    5. Atau simak Fatawa no.59879 tentang bolehnya ber-taqiyya ketika berteman dengan musuh [orang kafir] dengan tujuan agar Ia dapat ditarik menjadi Islam, namun jika sudah tidak bisa maka perlakukanlah kembali Ia sebagai musuh Allah

      Juga contoh bagaimna cara menipu AGAR seseorang menjadi mualaf, seperti dalam video di bawah ini (Memri TV (Al-Nas TV), tanggal 10 Agustus 2009, dari ulama Mesir, Mahmud Al Masri (Gambar kecil di kiri bawah sang ulama, aslinya bukanlah kartun):

    6. Sumpah dapat diingkari dengan membayar denda:
        Riwayat Muhammad bin Abdullah – Utsman bin Umar bin Faris – Ibnu ‘Aun – Al Hasan – Abdurrahman bin Samurah – Rasulullah saw: “..Jika kamu bersumpah atas suatu sumpah, kemudian melihat ada yang lain lebih baik, maka lakukan yang lebih baik, dan bayarlah kaffarat sumpahmu.” [Bukhari no.6227]
        Riwayat – Zuhair bin Harb – Ibnu Abu Uwais – Abdul Aziz bin Muthalib – Suhail bin Abu Shalih – Ayahnya – Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Barangsiapa mengucapkan sumpah, kemudian dia melihat ada sesuatu yang lebih baik dari yang dia ucapkan, hendaknya dia melakukan hal itu dengan membayar kafarah (denda) dari sumpahnya.” [Muslim no.3115]

      Quran-pun mencatat bahwa Allah SWT mengijinkan Muhammad SAW mengingkari sumpahnya, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu [AQ 66.2]

    Sekarang anda dapat memahami betapa luasnya dimensi taqiya ini yaitu tidak harus selalu dalam keadaan nyawa terancam bahkan dapat diaplikasikan agar seseorang menjadi mualaf, yang dalam bahasa sederhananya, berbohong dalam Islam juga berarti sebuah cara cerdik. [Bacaan lain lihat: di sini dan di sini]

    Tentang julukan “Al-Amin”-nya Muhammad:

      Abu ja’far (al-Tabari): ..10 tahun setelah pernikahan Nabi (dengan Khadijah), Quraish menghancurkan Kabah dan membangunnya ulang. Menurut Ibn Ishaq, ini terjadi saat Nabi SAW berusia 35 tahun [Tabari, vol.6, hal.51]. Riwayat Humayd – Salamah – Muhammad b.Ishaq – perawi tertentu: Semua kabilah di Quraisy mengumpulkan batu-batu untuk membangun ulang Kabah. Setiap kabilah mengumpulkan batu sendiri-sendiri ketika memasuki tahap peletakan Hajar Aswad, mereka bertengkar. Setiap kabilah ingin mengangkat Hajar Aswad, mereka bertengkar..dan bersiap-siap untuk perang..Orang-orang Quraisy selama empat atau lima malam dalam kondisi seperti itu..Kemudian mereka bertemu di Masjidil Haram untuk berunding. Beberapa perawi menambahkan bahwa Abu Umaiyyah bin Al-Mughirah, orang tertua di kalangan Quraisy berkata, “Hai kaum Quraish, biarlah orang yang pertama masuk pintu Mesjid ini menjadi penengah perbedaan kalian dan boleh menjadi hakim untuk masalah ini” Orang pertama yang masuk adalah Nabi SAW dan ketika mereka melihatnya mereka berkata, “Ini adalah seorang ‘Al-Amin“, Kami menerimanya, Ia adalah Muhammad”..Sebelum Rasulullah SAW menerima wahyu, orang-orang Quraisy menyebutnya Al-Amin (orang yang terpercaya).” [Tabari, vol.6, hal.58-59]

    Dengan mengesampingkan bahwa pada hadis di atas terdapat perawi yang tidak diketahui, sehingga bukan hadis terpercaya, maka kata Al-Amin BUKANLAH gelar yang khusus diberikan hanya kepada Muhammad. Kata “Amin” adalah kata benda, yang artinya, “Sesuatu yang dipercayakan padanya, pengawas, administrator”, yaitu posisi dalam tanggung jawab ekonomi atau keuangan atau representatif sah. Arti teknis kata “amin” adalah “kepala sebuah serikat dagang”. Kata “amin” dalam jamak adalah “aminat” [Lihat Kamus: “The New Encyclopedia of Islam“, Cyril Glassé, hal.48 atau “Encyclopaedia of Islam“, Edited by: P. Bearman, Th. Bianquis, C.E. Bosworth, E. van Donzel, W.P. Heinrichs. hal.437]. Di masa itu, dari sebelum kawin (hingga 10 tahun kemudian), Muhammad adalah penanggung jawab urusan bisnis dagang kepercayaan Khadijah, Istrinya, sebagaimana termuat dalam:

      Riwayat Ibn Humayd – Salamah – Ibn Ishaq: ..Khadijah meminta Rasulullah SAW menjualkan barang dagangannya ke Syam…beliau menerima tawaran Khadijah,..membawa barang dagangan Khadijah..hingga di Syam..Setelah itu, menjual barang dagangan yang dibawanya dari Makkah, dan membeli apa yang ingin beliau beli. Setelah merampungkan aktifitas bisnisnya, beliau pulang ke Makkah..Tiba di Makkah, beliau menyerahkan uang hasil penjualan barang dagangan kepada Khadijah, dan Khadijah membeli barang dagangan yang dibawanya dengan harga dua kali lipat atau lebih sedikit..” [Tabari, vol.6, hal.47-48]
      Riwayat Al-Harith – Muhammad b.Sa’d – Muhammad b.’Umar – Ma’mar dan lainnya – Ibn Shihab al-Zuhri: Riwayat yang sama disampaikan para ulama lokal, Khadijah hanya menyewa Muhammad SAW dan satu orang lain dari suku Quraish untuk pergi ke Pasar Hubashah di Tihamah..[Tabari, vol.6, hal.49]

    Jadi kata “Al-Amin” adalah gelar posisi dalam bisnis BUKAN sebagai pujian karena tidak pernah berdusta atau karena tepat ucapan, apalagi, ayat Quran di atas telah menyampaikan bahwa Muhammad diijinkan untuk mengingkari sumpah, juga pada ayat Quran lainnya, terekam jelas pandangan umum kaum Quraish Mekkah terhadap Muhammad di masa itu, yaitu sebagai seorang pendusta, misal di AQ 42.24, “Dia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah.” atau AQ 25.4, “Dan orang-orang kafir berkata: ‘Al Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan Muhammad dan dia dibantu kaum yang lain'” [↑]

    [3] Para muslim dalam melakukan pembelaan diri berargument bahwa para muslim juga punya kewajiban membayar Zakat jadi tidak ada salahnya dengan menerapkan Jizya.

    Mereka yang berargumen ini tidak tahu bahwa kata zakat telah ada di quran sebelum hijrah dalam 8 surat [AQ 7.156; 19.31, 55; 21.73, 23.4; 27.3; 30.39; 31.3 dan 41.7]. Syaikhul Islam Nawawi di Al Hawi menyatakan: kata ini telah dikenal dalam syair-syair di jaman jahiliyah. Kata ini dalam bahasa Ibrani adalah zakut yang artinya adalah membersihkan. Ini mengindikasikan bahwa bahkan orang-orng Mekkah jahiliyah baik dia kalangan penganut agama Abrahamic maupun bukan punya kebiasaan berzakat (atau juga dikenal dengan bersedekah), misalnya dalam hadis di bawah ini:

      Riwayat ‘Ubaidullah bin Isma’il – Abu Usamah – Hisyam – bapaknya bahwa Hakim bin Hizam RA pada zaman jahiliyah membebaskan 100 budak dan memotong 100 unta (sebagai sedekah)..[Bukhari 3.46.715] atau dari riwayat ‘Abdullah bin Muhammad – Hisyam – Ma’mar – Az Zuhriy – ‘Urwah – Hakim bin Hiram: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu, saat masih di zaman Jahiliyah aku sering ber’ibadah mendekatkan diri dengan cara bershadaqah, membebaskan budak dan juga menyambung silaturrahim, apakah dari itu semuanya aku akan mendapatkan pahala?”. Maka Nabi SAW bersabda: “Kamu akan menerima dari kebaikan yang dahulu kamu lakukan”. [Bukhari 2.24.517, Dalam kitab ZAKAT]. Hakim bin Hizam lebih tua dari Muhammad SAW (Sekitar 5 tahun) dan baru masuk Islam setelah penaklukan kota Mekkah (> 8 H)

    Besaran dan variasi bisnis yang terkena zakat baik disebelum dan sesudah turunnya ayat zakat bahkan di setelah Muhammad wafat mengalami variasi perkembangan, misalnya di jaman Khalifah Umar bisnis kuda menjadi terkena objek bayar zakat (karena harganya melebih unta). Namun secara umum disampaikan besaran zakat adalah 2.5% setahunnya (dari penghasilan)

    Penegakan JIZYA baru TERJADI setelah turunnya surat 9.28-29 yaitu di 9 H dan berlakau secara perorangan untuk yang telah akil baliq baik budak ataupun bukan karena menolak masuk Islam. Besaran Jizya juga bervariasi, misalnya:

      “jika kaum Yahudi berdagang di daerah muslim, datang dan ambil pada mereka mereka, 10% dari apa yang mereka investasikan dalam dagangnya [Muwatta 17.17.24.46]. Binatang ternak juga diterima sebagai pembayaran [Muwata 17.17.24.45].

      Atau ditetapkan per kepala sebesar 1 dinar (10/12 dirham)/ setara baju jaman itu (pada sample kasus ketika Muhammad menarik Jizya pada kaum kristen Najran berlaku bagi budak maupun bukan yang sudah akil baliq).

    Contoh penerapan misalnya pada kasus Yahudi Khaibar yang harta bendanya ludes disikat kaum Muslim.

      Riwayat Ibnu Rumh – Al Laits – Muhammad bin Abdurrahman – Nafi’ – Abdullah bin Umar – Rasulullah SAW bahwa Beliau pernah menyerahkan kebun kurma kepada orang-orang yahudi Khaibar supaya mereka garap dengan BIAYA MEREKA SENDIRI, dengan ketentuan; 1/2 hasil panenan untuk Rasulullah SAW [Muslim no.2898]

    Dahulu tanah dan perkebunan ini dahulu milik mereka, setelah peristiwa Khaibar menjadi milik perampoknya. Karena pihak muslim mau memperkerjakan mereka maka dengan MEMBAYAR SELURUH BIAYA pengolahan pertanian, mereka memperoleh 1/2 hasilnya.

    Jika para Yahudi ini disetelah 9 H TETAP TIDAK MAU masuk islam, walaupun penghasilan mereka berkurang 1/2nya, mereka akan melakukan ZAKUT (membersihkan hasil perolehan dengan bersedekah) sesuai ajaran mereka dan sekarang bebannya ditambah dengan MEMBAYAR Kharaj (pajak tanah, untuk penggarap pekerjaan mengandalkan tanah) + pajak baru JIZYA agar tidak digorok karena menolak masuk Islam

      Note:
      Kata Kharaj, muncul di AQ 18.94, AQ 23.72, yang diartikan pembayaran. Jizyah berhenti dibayarkan ketika menjadi muslim, Kharaj tidak berhenti dibayarkan walaupun telah menjadi Muslim. Praktek Kharaj telah diterapkan sebelum jaman Islam, misal di jaman kerajaan Persia dan Byzantium, namun berbeda-beda besaran dan polanya [↑]

    [4] “Perbudakan adalah bagian dari Islam” Demikian yang disampaikan Ulama Saudi Sheikh Saleh Al-Fawzan (Anggota Dewan Ulama Senior, badan tertinggi agama Arab Saudi, Badan Informasi independen Saudi atau SIA). Sheikh mengatakan, “Perbudakan adalah bagian dari jihad, dan jihad akan tetap ada selama Islam ada.” Buku-buku agama nya digunakan untuk mengajar 5 juta mahasiswa Saudi, baik di dalam negeri dan luar negeri, termasuk Amerika Serikat. Al Fawzan – mengatakan umat Islam yang berpendapat Islam menentang perbudakan “bodoh, bukan ulama.” “Mereka hanyalah penulis,” katanya, menurut SIA. “Siapapun yang mengatakan hal tersebut adalah kafir.”.

    Statement di atas benar adanya. TIDAK ADA 1 pun ayat quran yang MENGHARAMKAN perbudakan, juga TIDAK ADA anjuran MENGHAPUSKAN PERBUDAKAN dan bahkan, Nabi saja, di setelah hijrah ke Medina, terecord mempunyai lebih dari 38 Budak:

    • Nama-nama 27 Budak lelaki yg dimiliki oleh Nabi:
      “Yakan Abu Sharh, Aflah, ‘Ubayd, Dhakwan, Tahman, Mirwan, Hunayn, Sanad, Fadala Yamamin, Anjasha al-Hadi, Mad’am, Karkara, Abu Rafi’, Thawban, Ab Kabsha, Salih, Rabah, Yara Nubyan, Fadila, Waqid, Mabur, Abu Waqid, Kasam, Abu ‘Ayb, Abu Muwayhiba, Zayd Ibn Haritha, dan juga satu budak kulit hitam yang bernama Mahran, yang dijuluki (by Muhammad) Safina (`si kapal’)”

      diriwayatkan “si kapal”:
      Rasullulah dan para sahabatnya melanjutkan perjalanan (ketika) barang2 mereka menjadi terlalu berat untuk mereka bawa, Nabi berkata pada ku, ‘letakan pakaianmu’. Mereka mengisinya dgn barang2 mereka, kemudian mereka meletakkannya pada ku. Rasullulah berkata padaku, `bawa (itu), itu karena kau adalah si kapal’. Bahkan jika aku bawa beban 6 atau 7 keledai ketika kami dalam perjalanan, siapapun yang merasa lelah akan melemparkan pa saja yang merasa lemah akan melemparkan pakaiannya atau baju besinya atau pedangnya pada ku sehingga aku harus memanggul beban berat. Nabi berkata pada ku, `Kamu adalah si Kapal ‘(lihat Ibnu Qayyim, hal 115-116; al-Hulya, Vol 1, hal 369, dikutip dari Ahmad 5.222)

    • Berikut ini nama 11 Budak wanita yg dimiliki oleh Nabi:
      “adalah Salma Um Rafi’, Maymuna anak perempuan Abu Asib, Maymuna anak perempuan Sa’d, Khadra, Radwa, Razina, Um Damira, Rayhana, Mary sang koptic, sebagai tambahan 2 lagi budak perempuan, satu dari diberikan kepadanya sebagai hadiah oleh sepupunya, Zaynab, dan satunya lagi merupakan hasil tangkapan dalam perang” [Ibn Qayyim al-Jawziyya “Zad al-Ma’ad” – Part 1, Pages 114-116]

    NABI-pun melakukan: JUAL, BELI dan MENYEWAKAN BUDAK:

      “Muhammad mempunyai banyak budak laki dan perempuan. Ia biasa membeli dan menjual mereka, namun Ia membeli lebih banyak budak daripada menjualnya, terutama setelah Allah menguatkannya dengan firmannya, setelah hijrah dari Mekkah. Suatu ketika ia pernah menjual budak kulit hitam untuk 2 budak, namanya adalah Jacob al-Mudbir. Pembelian dari budak2nya melebihi dari yang ia jual. Ia biasa menyewakan keluar dan menyewa banyak budak, namun ia menyewa budak lebih banyak dari ia sewakan”[Wikipedia, merujuk: Ibn Qayyim al-Jawziyya “Zad al-Ma’ad” – part 1, page 160, tidak ada di versi ringkas/abridge]

    Tentu saja, SUPPLAY UTAMA perbudakan BUKANLAH berasal dari hasil: jual, beli, sewa dan pemberian orang, NAMUN dari hasil peperangan. Allah secara khusus telah menghalalkannya HANYA bagi kaum muslimin dan TIDAK bagi KAUM/NABI LAINNYA, misalkan:

    • Riwayat Jabir bin Abdullah, Rasullullah SAW berkata: “Aku diberikan lima perkara yang mana belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelumku:..ghanimah dihalalkan untukku, namun tidak dihalalkan untuk seorang pun sebelumku [Muslim no.810. Juga di: Bukhari 323, 419. Darimi no.328,1353. Ahmad no.2606, 13745, 20352, 20463]
    • Riwayat Abu Huraira, Rasulullah SAW berkata: “Tidak dihalalkan ghonimah bagi orang-orang sebelum kalian..Sedangkan pada perang badar orang-orang bersegera untuk mendapatkan harta ghonimah, maka Allah Azza Wa Jalla pun menurunkan ayat: “Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik. (AQ 8.68-69)” [Ahmad no.7124. Tirmidhi no.3010 (Hasan Gharib)]
    • Riwayat Abu Sa’id Kudri: Sa’d bin Mu’adh berkata: “Bunuh para pejuang mereka dan ambil keturunannya sebagai tawanan, “. Atas hal itu Nabi berkata, “engkau telah memutuskan sesuai keputusan Allah,”..[Bukhari 5.59.447]

    Demikianlah dalam perolehan peperangan, selain harta, terkandung juga di dalamnya budak dan tawanan wanita.

    Fungsi para tawanan wanita adalah untuk memuaskan hasrat seksual [Bukhari 8.77.600, 7.62.137; Muslim 8.3371, 8.3432-33, Muslim No.2599], yang juga dilakukan oleh Nabi misalnya dari perolehan perang di Hunayn, Nabi membagikan menantunya, Ali, seorang budak wanita bernama Baytab. Juga untuk Usman seorang budak wanita bernama Zaynab dan tidak ketinggalan pula untuk Umar [Ishaq:593]. Di bawah ini beberapa sample hadis berupa hadiah kenikmatan seksual sebagai hasil langsung dari harta rampasan perang:

    • ‘Aku memasuki Mesjid, melihat Abu, duduk disebelahnya dan berbincang mengenai Sex. Abu Said berkata ‘Kami pergi bersama Nabi dan kami memperoleh budak-budak wanita diantara hasil tangkapan/jarahan. Kami menginginkan wanita-wanita itu dan kami suka sekali menyetubuhi mereka.[Bukhari 5.59.459]
    • Jabir: Kami melakukan ‘azl pada zaman Rasulullah SAW dan al-Qur’an masih diturunkan, jika ia merupakan sesuatu yang dilarang, niscaya al-Qur’an melarangnya pada kami. Muttafaq Alaihi (Bukhari dan Muslim). Menurut riwayat Muslim: Hal itu sampai kepada Nabi SAW dan beliau tidak melarangnya pada kami
    • riwayat Jabir: Kami tetap melakukan `azl di lakukan saat Alquran masih turun. Ishaq menambahkan: Sufyan berkata: Kalau ada sesuatu yang terlarang pasti Alquran telah melarang hal tersebut. [Sahih Muslim No.2608]

    Sebagai Nabi pendiri ajaran ini, tentu saja beliaupun mempunyai budak seks, berikut 4 Budak wanita yang biasa dipakai bersenang-senang melepas hasrat birahi Nabi:

    • ..Namun jika ia maksudkan budak-budak yang Rasullullah biasa bersenang-senang (ya ta sarra behina), artinya meniduri mereka karena hak kepemilikan tangan kanannya? Dikatakan empat: Mariyah al-Qibtiyah, dan Rayhanah dari Bani Qurayza, dan yang ke-3 yang tidurinya selama ia diperbudak dan yg ke-4 diberikan oleh Zaynab bint Jahsh (Fatwa: 20780]
    • ..Rasulullah SAW juga mempunyai 4 budak wanita. Hazrat Maria Qibtiyya..yang lainnya adalah, Hazrat Rayhaan binti Samoon; Hazrat Nafisa dan yang ke-4, namanya tidak tercatat dalam sejarah [Mufti Ebrahim Desai, Pertanyaan 17298 dari Afrika selatan: “what is the Islamic law with regard to slave-women? Was It permissible to have relations with these slave-women without a formal marriage ceremony?”]
    • Di samping ini, Ia punya dua budak seksual. Pertama adalah Mariyah..Yang kedua adalah Raihanah bint Zaid An-Nadriyah atau Quraziyah..Abu ‘Ubaidah membicarakan dua lagi budak, Jameelah, tawanan, dan seorang lagi..diberikan oleh Zainab bint Jahsh. [Za’d Al-Ma’ad 1/29] (Ar-Raheeq Al-Makhtum (THE SEALED NECTAR), Biography of the Noble Prophet, Saif-ur-Rahman al-Mubarakpuri [Maktaba Dar-us-Salam Publishers & Distributors, First Edition 1995], “The Prophetic Household”, hal. 485]

    Dulu Islam masih membedakan antara seseorang yang bersatus sebagai tawanan VS seseorang yang berstatus sebagai budak, di mana, seorang tawanan bukanlah budak:

      Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [AQ 8.67, turun setelah perampokan Badar, 2H/624 Masehi]

      Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. [AQ 47.4, turun setelah perampokan di Badar 2H/624 M]

      Tafsir Jalalyn menyatakan AQ 47.4 mengabrogasi AQ 8.67, namun Ibn kathir menyatakan sebaliknya.

    5 tahun berlalu sejak peristiwa itu dan kemudian terjadilah perang di Awtas (630 Masehi). Di perang ini, para muslim rupanya tidak sabar untuk menyetubuhi tawanan-tawanan wanita yang mereka dapatkan dan juga enggan menyetubuhi tawanan wanita yang masih bersuami. Allah yang maha pemurah mendengar keluh kesah selangkangan mereka ini dan menurunkan ayat suci melegalkan perkosaan terhadap tawanan wanita yang telah bersiami. Sejak ayat ini turun maka setiap tawanan statusnya menjadi sama saja dengan budak:

      “Diharamkan atas kamu..dan wanita yang bersuami (waalmuhsanaatu), KECUALI MA malakat aymanukum (APA yang tangan kananmu miliki)..” [An Nisa 4:24]

      Note:
      namun “muhsanaatu” (AQ 5.5) TIDAK diartikan wanita yang bersuami tapi wanita yang menjaga kehormatan, juga kata “muhashshanatin” (AQ 59.14) = benteng. Pada variasi dari akar yang sama, misal: “tuhsinuuna” (AQ 12:48) = “simpan”; “lituhsinakum” (AQ 21.80) = melindungi; “ahsanat” (AQ 21.91; 66:12) = memelihara kehormatan; “tahashshunan” (AQ 24:33) = kehormatan.

      Tangan Kanan = Budak (Muslim dan Kafir) + Binatang milik (Binatang + kafir + Tawanan wanita yang bersuami kafir)

      Orang Kafir = Ahli kitab dan Orang Musyrik (AQ 98.1,6) + Fatwa: muslim “..yang tidak mengkafirkan orang kafir setelah ditegakkan hujjah baginya, maka ia kafir” (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’, Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, wakil: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh, Anggota: Syaikh Bakr Abu Zaid dan Syaikh Shalih Al Fauzan, Fatwa no. 19402, 12: 275-284).

      Orang musyrik itu NAJIS (AQ 9.28. Surat ini turun di: sebelum, sedang dan setelah perang Tabuk, 9 H). KAUM Kafir adalah BINATANG YANG PALING BURUK (AQ 8.22,25), SEBAGAI BINATANG TERNAK (“kaal-an’aami”AQ 7.179; 25.43-44) ayat ini BUKAN perumpamaan, tidak ada kata “Matsal/amtsaal” di situ

    Tafsir Ibn Kathir menjelaskan bahwa bagian dari ayat ini diturunkan Allah sebagai IJIN MEMPERKOSA tawanan wanita:

      Koleksi Imam Ahmad (no.11266, 11370) bahwa Abu Sa`id Al-Khudri berkata, “Kami TANGKAP BEBERAPA PEREMPUAN di area Awtas yang TELAH MENIKAH dan kami TIDAK SUKA melakukan SEKS dengan mereka karena mereka TELAH MEMPUNYAI SUAMI. Jadi KAMI TANYA pada NABi tentang hal ini, DAN AYAH INI DITURUNKAN,

      “وَالْمُحْصَنَـتُ مِنَ النِّسَآءِ إِلاَّ مَا مَلَكْتَ أَيْمَـنُكُمْ”.

      Konsekuensinya, KAMI MELAKUKAN HUBUNGAN SEKS dengan wanita2 ini. Ini ada di koleksi At-Tirmidhi (no.1051, 2942-43) An-Nasa’i (no.3281), Ibn Jarir dan Muslim (8.3342-3343/no.2643-44) di sahihnya (juga di Abu Dawud no.1841/11.2150).

      note:
      Walaupun dalam tafsir tertulis agar dipastikan dulu bahwa mereka yang diperkosa ini tidak sedang hamil, namun Islam JELAS menyebutkan waktu tunggu Iddah untuk menggauli harusnya adalah 4 bulan 10 hari.

    Juga scan tafsir Tabari, hal.694-695, untuk AQ 4.24 yang juga menyampaikan izin dari Allah SWT untuk memperkosa tawanan wanita yang telah bersuami.

    Sample hadis yang juga menyampaikan IZIN memperkosa tawanan wanita yang telah bersuami :

      Riwayat ‘Abd bin Humaid – Habban bin HIilal – Hammam bin Yahya – Qatadah – Abu Al Khalil – Abu ‘Alqamah Al Hasyimi – Abu Sa’id Al Khudri;
      “Ketika terjadi perang Authas, KAMI MENGGAULI PARA WANITA (tawanan) YANG MEMILIKI SUAMI KAUM MUSYRIKIN, maka sebagian orang diantara kami membenci mereka. Lalu Allah menurunkan ayat: Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki. QS An-Nisa`: 24. Abu Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. [Tirmidhi no.2942]

      Riwayat Abdurrazzaq – Sufyan – Utsman Al Batti – Abu khalil – Abu Sa’id Al Khudri:
      “KAMI MENDAPATKAN WANITA-WANITA TAWANAN DARI AWTAS, KAMI TIDAK INGIN MENGGAULI MEREKA KARENA MEREKA TELAH BERSUAMI, kami bertanya kepada Nabi SAW, lalu turunlah ayat: “dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki..”. Abu Sa’id: “MAKA KAMIPUN DENGAN AYAT MENGHALALKAN KEMALUAN-KEMALUAN MEREKA” [Ahmad no.11266]

    Banyak muslim yang malu pada ajarannya berdalih bahwa Islam ada kewajiban membebaskan budak dengan merujuk AQ 90.10-13. Hal ini 100% TIDAK BENAR karena itu BUKAN kewajiban dan bahkan BOLEH BATAL dengan menggantikannya dengan hal lain misal: berpuasa atau memberikan makan pada orang miskin. TIDAK ADA 1 ayatpun yang melarang perbudakan juga TIDAK ADA ayat-ayat yang secara bertahap melarang seperti ketika mengharamkan miras [5].

    Islam KONSISTEN TIDAK melarang, TIDAK mengharamkannya malah perbudakan dianjurkan misalnya di AQ 33.50, AQ 23.6, (ma malakat aymanuhum, apa yang tangan kanan kalian miliki = budak) yang jika melihat riwayat turunnya ayat,

    AQ 90 [Al Makiyya] -> turun diurutan ke-35
    AQ 23 [Al Makiyya] -> turun diurutan ke-74
    AQ 33 [Al Madaniya]-> turun diurutan ke-90

    Maka sangat jelas terlihat bahwa memperbudak merupakan perintah yang membumi di Islam. Bahkan, syarat untuk melakukan pembebasan budakpun, diatur dalam suatu KONDISI yang tidak boleh kurang, misalnya:

    • BUDAK ITU HARUS MUSLIM atau berpotensi menjadi Islam sebagaimana yang disyaratkan pada AQ 4.92, – “Fatahriru raqabatin” -> kemudian membebaskan budak yang beriman (muslim), AQ 2.177 dan AQ 9.60 pada kata “الرِّقَابِ” = alrriqâbi -> “l’riqabi wa raqabatin” -> membebaskan leher dari orang yang beriman dan BUKAN kaum kafir.

      Misalnya ketika Abu Bakr “membebaskan leher” bilal DENGAN cara MENUKARnya dengan 1 orang Budak Hitam (saat itu bilal bukan muslim namun seorang penyembah allah yang tunggal). “Abu Bakr fakku l’riqabi Bilal ibn Rabah wa Hamama” -> Abu Bakr “membebaskan leher” bilal anak Rabah dan Hamama. Berkata: “Na’am Bilaal, ahad! -> Ya, Bilaal, Satu!

      Contoh lain misalnya Hadis dari Abu Huraira bahwa membebaskan seorang budak yang muslim adalah berpahala [Hadis bukkhari 3.46.693] namun ada yang lebih berpahala daripada membebaskan budak, yaitu dengan menghibahkan budaknya itu kepada bibi/keluarga lainnya sebagaimana hadis dari riwayat kurib bhw Maimuna bint Al-Harith yang telah membebaskan budaknya malah dinasehati nabi bahwa daripada membebaskan budak maka lebih berpahala lagi jika memberikan/menghibahkan budaknya itu kepada para bibinya [bukhari 3.47.765/no.2403 atau muslim no.1666 atau ahmad no.25589, 25593 atau Abu dawud no.1440].

      Contoh lainnya misalnya hadis riwayat Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, dimana ia meminta ijin Muhammad untuk membebaskan budak wanita karena menyesal telah ia pukuli. Muhammad memintanya membawa budak itu kepadanya dan kemudian Muhammad uji. yaitu: ‘Di manakah Allah? ‘ Budak itu menjawab, ‘Di langit.’ Beliau bertanya, ‘Siapakah aku? ‘ Dia menjawab, ‘Kamu adalah utusan Allah.’ Beliau bersabda, ‘Bebaskanlah dia, karena dia seorang wanita mukminah'” [Muslim no.836, Ahmad no.22645, 22649] atau Abu Mas’ud meriwayatkan bahwa ia memukuli budaknya dan budaknya berkata, “Aku berlindung pada Allah”, namun tetap saja Ia dipukuli, hingga kemudian budak itu mengatakan, “aku berlindung pada Rasullullah”, Ia kemudian lepaskan..[Muslim 15.4089]

      Note:
      Perlu di perhatikan bahwa TIDAK ADA KEWAJIBAN membebaskan budak yang telah dipukuli sekalipun, misal: Diriwayatkan Asma’ bint Abu Bakar:

      …Peralatan dan barang pribadi dari abu bakar dan rasullullah SAW ditempatkan di unta yang dibawa oleh budaknya abu bakar. Abu bakar sedang duduk dan menanti kedatangannya. Budaknya datang tanpa untanya. ketika ditanya, “Dimana untamu?”. Ia menjawab, “Aku kehilangannya tadi malam”. Abu Bakar menjawab, “Ini hanya 1 unta dan bahkan kamu telah hilangkan”. Ia kemudian memukulinya sementara Rasullullah SAW tersenyum dan berkata, lihat orang yang sedang bersuci ini, apa yang dilakukannya?..[Abu Dawud 10.1814]

      Atau contoh lain seperti diriwayatkan Ali bin abu talib,
      seorang budak perempuan keluarga muhammad melakukan zina, Nabi menyuruhnya memukuli budak perempuan itu, Ali lakukan hingga darah mengalir tidak berhenti, Ali kemudian bertanya pada nabi tentang ini. Nabi berkata biarkan hingga darahnya berhenti setelah itu lanjutkan. (“..فَقَالَ يَا عَلِيُّ انْطَلِقْ فَأَقِمْ عَلَيْهَا الْحَدَّ فَانْطَلَقْتُ فَإِذَا بِهَا دَمٌ يَسِيلُ لَمْ يَنْقَطِعْ فَأَتَيْتُهُ فَقَالَ يَا عَلِيُّ أَفَرَغْتَ قُلْتُ أَتَيْتُهَا وَدَمُهَا يَسِيلُ فَقَالَ دَعْهَا حَتَّى يَنْقَطِعَ دَمُهَا ثُمَّ أَقِمْ عَلَيْهَا الْحَدَّ وَأَقِيمُوا الْحُدُودَ عَلَى مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ..” (“..kemudian berkata (Faqaala), O Ali (yā ʿalīũ) pergi padanya (ạn̊ṭaliq̊ ʿalaẙhā) tegakkan hukum (fāảqim̊ ạl̊ḥadã), kemudian aku pergi (fān̊ṭalaq̊tu) maka ketika (fāi̹dẖā) darahnya (bihā damuⁿ) mengalir (yasīlu) tidak (lam̊) berhenti (yan̊qaṭi) kemudian aku datangi (nabi) (fāảtaẙtuhu) kemudian berkata (faqāla) O Ali (yā ʿalīũ) sudahkah kau selesai (ạảfaragẖ̊ta) aku berkata (qul̊tu) ạảtaẙtuhā (telah aku datang padanya) wadamuhā (dan darahnya) mengalir (yasīlu) kemudian berkata (faqāla) biarkan dia (daʿ̊hā) hingga (ḥatãy̱) berhenti (yan̊qaṭi) darahnya (damuhā) kemudian (tẖumã) tegakkan hukum padanya (ạảqim̊ ʿalaẙhā ạl̊ḥadã) dan tegakkan hukum (wāảqīmūạ ạl̊ḥudūda) pada budak kalian (ʿalay̱ mā malakat̊ ạảẙmānukum̊) ..”) [Abu dawud 38.4458]

      Kemudian,
      dalam hal terjadi pembunuhan, maka Islam menyatakan: Orang MERDEKA (muslim) TIDAK BOLEH dibunuh lantaran BUDAK:

        Ibn Taymiyya mengatakan dengan mengutip Malik Ibn Anas yang ditanya: “Apa hukumannya jika seorang tuan memukuli Budaknya hingga mati? Jawabnya, “TIDAK ADA” (Vol. 6, Part 15, p 164)

        Riwayat Ali Ibnul Ja’d – Syu’bah. (dalam jalur lain disebutkan) Musa bin Isma’il – Hammad – Qatadah – Al Hasan – Samurah bahwa Nabi SAW bersabda: “… Abu Dawud berkata, ” Abu Dawud Ath Thayalisi meriwayatkannya dari Hisyam seperti hadits Mu’adz. Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Ali – Sa’id bin Amir – Ibnu Abu Arubah – Qatadah dengan sanad Syu’bah seperti hadits itu. Hanya saja ia menambahkan, bahwa Al Hasan melupakan hadits ini. Ia menyebutkan, “ORANG MERDEKA TIDAK BOLEH DI BUNUH KARENA SEORANG BUDAK” [Abu dawud no.3914]

        …Sebagian ulama dari kalangan tabi’in seperti Ibrahim An Nakha’i berpendapat seperti ini namun sebagian ulama seperti Al Hasan Al Bashri dan ‘Atha` bin Abu Rabah berpendapat; TIDAK ADA QISHASH terhadap jiwa antara orang merdeka dan budak, JUGA TIDAK pada selain jiwa. Ini menjadi pendapat Ahmad dan Ishaq, sedangkan sebagian dari mereka berpendapat; Jika ia membunuh budaknya maka ia tidak dibunuh karenanya, namun jika ia membunuh budak orang lain maka ia dibunuh karenanya, ini menjadi pendapat Sufyan Ats Tsauri dan ulama Kufah. [Tirmidhi no.1334]

      Apapun pendapat itu (baik ia merdeka ataupun tidak), yang perlu digarisbawahi adalah TIDAK SEORANG MUSLIMPUN boleh DIBUNUH LANTARAN ORANG KAFIR:

        Riwayat ..- Amru bin Syu’aib – Bapaknya (Syu’aib bin ‘Abdullah bin
        ‘Amru) – Kakeknya (Abdullah bin ‘Amru bin Al’Ash bin Wa’il) – Nabi SAW bersabda: “Seorang mukmin TIDAK BOLEH dibunuh karena orang kafir (sebagai qishas).” [Abu Dawud no.3907, Ahmad no.6375, Ibn Majjah no.2649, Tirmidhi no.1333. Dari jalur berbeda yaitu dari hadis Ali di Nasai no.4663]

        Riwayat ..- Al Hajjaj bin Al Hajjaj – Qatadah – Abu Hasan Al A’raj – Al Asytar – Ali: “Rasulullah SAW tidak mewasiatkan sesuatupun kepadaku yang tidak diwasiatkan kepada manusia, hanya saja dalam sarung pedangku ini terdapat lembaran yang ternyata isinya adalah: “Orang-orang mukmin darah mereka sederajat, dan mereka adalah satu tangan atas orang selain mereka, orang yang paling rendah diantara mereka berjalan dengan jaminan keamanan dari mereka, ketahuilah TIDAKLAH ORANG MUKMIN DIBUNUH LANTARAN ORANG KAFIR, dan tidak pula dibunuh orang yang memiliki perjanjian selama dalam perjanjiannya“. [Nasai no. 4665, juga di Nasai no.4664, 4654]

        Riwayat Ahmad bin Mani’ – Husyaim – Mutharrif – Asy Sya’bi – Abu Juhaifah: Ia bertanya pada Ali (Amirul Mukminin/Khalifah):..Apa yang ada di mushaf itu? ia menjawab; Akal. Dan agar ORANG MUKMIN TIDAK DIBUNUH oleh orang kafir. Ia mengatakan; Dalam hal ini ada hadits serupa dari Abdullah bin Amru. Abu Isa berkata; Hadits Ali adalah hadits hasan shahih dan menjadi pedoman amal menurut sebagian ulama, yaitu pendapat Sufyan Ats Tsauri, Malik bin Anas, Asy Syafi’i, Ahmad dan Ishaq, mereka berpendapat; Orang mukmin TIDAK DIBUNUH karena membunuh orang kafir, sedangkan sebagian ulama lain berpendapat; Orang mukmin dibunuh karena membunuh orang kafir yang terikat dengan perjanjian (Dzimmi). PENDAPAT PERTAMA ADALAH LEBIH SAHIH. [Tirmidhi no.1332]

      Karena Qishas TIDAK BERLAKU bagi muslim yang membunuhi Kafir dan/atau Dzimmi (termasuk dalam kategori dzimmi adalah juga Mu’ahad dan Musta’man), maka sebagai ganti qishash jiwa (dan selain jiwa) diberikan DIYAT (uang darah) dengan TARIF sebagai berikut:

        Riwayat Isa bin Ahmad – Ibnu Wahb – Usamah bin Zaid – Amru bin Syu’aib – ayahnya – kakeknya – Rasulullah SAW bersabda: “Orang mukmin tidak dibunuh karena membunuh orang kafir.” Dengan sanad yang sama juga diriwayatkan dari Nabi SAW bersabda: “Diyat orang kafir adalah 1/2 diyat orang mukmin.” Abu Isa berkata; Hadits Abdullah bin Amr dalam hal ini adalah hadits hasan, para ulama berselisih pendapat tentang diyat orang yahudi/nashrani. Sebagian ulama berpendapat tentang diyat orang yahudi/nasrani kepada apa yang telah diriwayatkan dari Nabi SAW. Umar bin Abdul Aziz berpendapat; Diyat orang yahudi dan nashrani adalah 1/2 diyat orang muslim. Dan Ahmad bin Hanbal juga berpendapat demikian dan diriwayatkan dari Umar bin Al Khaththab bahwa ia mengatakan; Diyat orang Yahudi dan nashrani adalah 4000 dirham, sedangkan diyat orang Majusi adalah 800 dirham. Malik bin Anas, Asy Syafi’i dan Ishaq berpendapat dengan pendapat ini sedangkan sebagian ulama berpendapat; Diyat orang Yahudi/Nashrani adalah seperti diyat orang muslim, ini menjadi pendapat Sufyan Ats Tsauri dan ulama Kufah

        [Tirmidhi no.1333. Ahmad no.6795. Juga di Nasai no.4724 (“Diyat ahli dzimmah adalah 1/2 diyat orang muslim..”). Ibn Majjah no.2634. Ahmad no.6429 (“Sesungguhnya akal dua ahli kitab adalah 1/2 akal kaum muslimin, mereka itu adalah Yahudi dan Nasrani”]. Untuk jenis KAFIR LAINNYA: 800 dirham (1/10) [Malik no.1361]. Keputusan besaran Diyat dapat berubah sewaktu-waktu tergantung Amirul Mukmin saat itu, misal dijaman Umar diyat tertentu lebih kecil daripada jaman Muawiyah (Malik no.1357)]

    • BUDAK yang sudah muslim itu BUKAN HARTA satu-satunya dari MAJIKANNYA, misal dari Riwayat Jabir bin Abdullah: Seorang yang berniat membebaskan budaknya tapi ia tidak punya HARTA selain dari BUDAKNYA, maka NABI MEMBATALKAN PEMBEBASANNYA ITU dan malah MENJUAL BUDAK ITU seharga 800 dirham dan uangnya diserahkan pada sang pemilik budak [Bukhari 3.41.598, Bukhari 3.46.711, 9.89.296] atau dari riwayat Imran b. Husain yaitu seseorang yang tidak punya harta dan berjanji membebaskan 6 budaknya setelah ia wafat, Muhammad memanggil budak itu dan memisahkan mereka jadi 3, Ia membebaskan 2 orang dan menetapkan 4 lagi dalam perbudakan [muslim 15.4112]

    Bahkan ketika seseorang telah berjanji membebaskan Budaknya, ia boleh untuk menjilat ludahnya dan menggantikan dengan hal lainnya sebagaimana disampaikan oleh syaikhul al-Islam Ibn Timiyya: “Siapapun yang berkata, “Jika saya melakukan (bla..bla..bla), setiap budak yang saya punyai akan saya bebaskan” ADALAH TIDAK MENJADI KEWAJIBAN untuk SUMPAHNYA dan ia dapat menebus sumpahnya itu dalam cara apapun dan mempertahankan budak-budaknya. (Ia dapat melakukan itu) dengan berpuasa beberapa hari atau memberikan makan orang yang lapar” [Vol. 33, p. 61 atau di AQ 5.89]. Bandingkan Bandingkan kasus ini dengan kasus HINDUN seorang wanita jahiliyah quraish yang benar-benar menepati janjinya membebaskan Wahshi ibn harb, ketika berhasil MEMBUNUH HAMZA.

    Nabi memberikan contoh seperti ini:
    riwayatkan Jabir ibn Abdullah: Datanglah seorang budak dan berjanji setia kpd nabi (saw) saat hijrah; ia (nabi) tidak tahu bahwa ia seorang budak. Lalu datanglah pemiliknya dan menuntutnya kembali. Nabi (saw) mengatakan, Jual dia kpd saya. Dan ia membeli dua budak hitam, dan sejak itu ia (nabi) tidak mengambil sumpah setia dari siapapun, sebelum ia tanya apakah ia seorang budak (atau orang bebas). [Muslim 10.3901]

    Malah jika ia MUSLIM sekalipun, maka itupun masih perlu dilihat apakah ia termasuk RAS ARAB atau bukan, sebagaimana disampaikan Ibn Taymiyya dalam Beberapa KETENTUAN HUKUM ISLAM tentang PERBUDAKAN: Pertanyaan pada Ibn Timiyya yang Mufti Islam (Vol. 31, pp 376, 377), “Seorang pria menikahi budak wanita, melahirkan anak baginya. Apakah anak itu berstatus merdeka atau tetep budak?” Ibnu Timiyya mengatakan dengan tegas, “Anaknya si wanita itu akan menjadi milik tuannya menurut semua Imam (empat cabang hukum Islam) karena anak mengikuti (status) ibunya apakah merdeka atau budak.

    Jika si anak bukan dari ras Arab, maka ia budak, tetapi para ulama masih bersengketa jika ia berasal dari ras Arab – apakah berstatus merdeka/budak karena ketika Aisha (Istri Muhammad) punya budak wanita berasal dari ras Arab, Muhammad bilang pada Aisha, `Bebaskan gadis itu karena dia dari anak-anak Ismael. ‘”. Kemudian Ibnu Timiyya menyatakan (Vol. 31, hal 380) bahwa ahli undang-undang Abu Hanifah mengatakan, “Muhammad adalah seorang Arab, oleh karena itu tidak diterima untuk memperbudak orang Arab karena bangsawan ras ini karena Muhammad adalah dari mereka.”

    Bahkan di Islam, dikatakan ada keuntungan bersetubuh dengan budak wanita adalah karena anaknya juga akan jadi BUDAK: “Adalah terlarang bagi PRIA ARAB MERDEKA untuk menikahi budaknya sendiri, kecuali tak terhidarkan, seperti misalnya tidak mampu menikahi seorang wanita merdeka. Jika ini terjadi dan ia menikahi budaknya, maka anak-anak si wanita adalah tetap berstatus budak juga, karena mereka mengikuti status dari ibu mereka dalam perbudakan” (Vol. 31, p. 383)

    Dalam urusan seks dan perkawinan dengan budak, Ibnu Timiyya menyatakan: “Orang, pemilik si ibu juga memiliki anak-anak wanita itu. Menjadi tuan dari si Ibu menjadikan ia menjadi tuan dari anak-anaknya, apakah mereka dilahirkan karena seorang suami ataupun secara tidak sah. Oleh karena itu, Sang pemilik mempunya HAK UNTUK BERHUBUNGAN SEKSUAL DENGAN ANAK PEREMPUAN dari BUDAK PEMBANTU-nya, karena mereka adalah milik-Nya, ASALKAN IA TIDAK MENIDURI IBU dan ANAK secara BERSAMAAN” (Vol. 35, hal. 54).

    kemudian, Malik Ibn Anas mencatat, “Adalah haram bagi pria menikahi budaknya ketika ia punya seorang wanita merdeka yang telah di nikahinya. Dalam kasus ini, Si wanita mempunyai hak untuk menceraikannya. Demikian pula jika ia menikahi wanita merdeka sementara ia telah menikahi seorang budak dan ia tidak memberitahukan sebelumnya, sang wanita merdeka mempunyai hak meninggalkannya” (Malik, Vol. 2, p. 204).

    Hukum seorang wanita merdeka yang menikahi budak prianya, Ibn Hazm mencatat, “Seorang perempuan yang menikahi budak prianya. Umar bermaksud untuk rajam sang wanita, namun sebagai gantinya ia memisahkan mereka dan mengirim si budak untuk di asingkan. Umar katakan pada si wanita, “Adalah haram bagimu untuk mengawini budakmu sendiri!” Seorang wanita lain menikahi budaknya. Umar memberikannya hukum cambuk dan MELARANG SETIAP PRIA untuk MENIKAHINYA.

    Pada suatu waktu, seorang wanita bebas mandiri datang kepada Umar dan menyampaikan padanya, “Aku bukan wanita yang catik dan aku mempunyai seorang Budak yang ingin aku NIKAHI”. Umar menolak menikahkan mereka.

    Ia mencambuk si budak dan memerintahkan si budak untuk dijual di luar negeri. Ia katakan pada si wanita, “Haram bagimu menikahi apa yang “tangan kananmu” punyai. Hanya PRIA YANG PUNYA HAK MENIKAHI apa yang “tangan kanannya” punyai. Bahkan jika ENGKAU MERDEKAKAN si BUDAK agar dapat kau NIKAHI dan menjadikan ia sebagai seorang yang merdeka, pembebasan seperti ini menjadi tidak sah dan perkawinan menjadi tidak sah” [Vol. 8, Part 11, pp. 248, 249]. [Detail lanjutan baca di sini]

    Demikian ringkasan perbudakan yang merupakan bagian dari ajaran Islam dan juga bagian mengapa agama toleran dan tanpa paksaan adalah hanya mitos belaka [↑]

    [5] Pelarangan secara bertahap MIRAS dalam ISLAM
    Minum memabukan dari SETELAH Muhammad menjadi nabi hingga MENJELANG WAFATNYA (14 Rabiul Awal 11H / 8 Juni 632 M, hampir 22 tahun atau terakhir SEKITAR 20 BULAN SEBELUM wafatnya) TETAP DIPERBOLEHKAN dan pelarangan secara gradual baru dilakukan pada tahun-tahun menjelang wafatnya

      Diperbolehkan:
      anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan kurma, kebun-kebun lebat dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu [AQ 80.28-32, Al Makiyya, turun urutan ke-24] Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.[AQ 16.67, Al makiyya, turun urutan ke-70]

      Belum dilarang tapi dianggap lebih banyak mudharatnya dari manfaatnya:
      Mereka bertanya kepadamu tentang khamar[136] dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” [AQ 2.219, Al Madaniya, turun urutan ke-87]
      [136] Segala minuman yang memabukan.

        note:
        Khamar secara lugawi Khamar artinya menutupi disebut khamar karena dapat menutupi akal yaitu “kullu syaraabin muskirin” (segala minuman yang memabukan). Sayyid Sabiq mendefinisikannya: “cairan yang dihasilkan dari peragian biji atau buah mengubah saripatinya menjadi alkohol dengan menggunakan katalisator yang mampu memisahkan unsurnya dalam proses peragian” [“Fikih Sunnah”, Bab 9, Sayyid Sabiq, Bandung: PT Al Ma’arif, 1984, hal.46]

      Dilarang hanya bagi yang hendak shalat:
      Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub..[AQ 4.43, Al madaniya, turun urutan ke-92]

      Larangan:
      Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu [AQ 5.90-91, Al Madaniya, turun urutan ke-112. Menurut Maududi, surat Al maidah turun SETELAH tahun ke-6 Hijriah (setelah Perjanjian Hudabiyah) di dalam surat ini, ada ayat-ayat yang turun seputaran Haji Wadda, 9-10 H, dan hadis dibawah merekam surat ini turun setelah perang Tabuk/9H]

      Ayat itu turun BERAPA LAMA SETELAH peristiwa PELARANGAN MENJUAL KHAMAR yang terjadi di SAAT penaklukan kota Mekkah (Fathu Makkah, 20 Ramadhan 8H/11 Januari 630H), sebagaimana disampaikan hadis muslim no.2960, Ahmad no. 6702, Nasa’i 4183, 4590, Tirmidzi no.1218.

        Riwayat Qutaibah bin Sa’id – Laits – Yazid bin Abu Habib – ‘Atha bin Abu Rabah – Jabir bin Abdullah – Rasulullah SAW bersabda ketika penaklukan kota Makkah: “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah melarang jual beli khamer..” [Muslim no.2960]

      Hadis merekam minum minuman keras tetap berlangsung hingga SETELAH perang Tabuk, Rajab 9H/Oktober 630 M:
      Riwayat Yahya bin Yahya At Tamimi – Hajjaj bin Muhammad – Ibnu Juraij – Ibnu Syihab – Ali bin Husain bin Ali – ayahnya Husain bin Ali – Ali bin Abu Thalib:

      ..saat hendak menikahi Fatima..[2 H, yaitu setelah Badr dan Sebelum Uhud]..

      Di dalam rumah tersebut terdapat Hamzah bin Abdul Mutthalib sedang meminum minuman keras, sedang dihibur oleh seorang penyanyi perempuan yang dalam salah satu nyanyiannya terselip kata-kata, “Wahai Hamzah, ingatlah pada unta-unta yang montok.” Maka Hamzah pun berdiri dengan membawa pedang terhunus. Lalu dia memotong punuk kedua unta tersebut, lalu membelah perutnya dan mengambil hati yang ada di dalamnya.” Saya lalu bertanya kepada Ibnu Syihab, “Dan dua punuknya?” dia menjawab, “Dan dia telah memotong kedua punuk unta tersebut.”

      Ibnu Syihab berkata, “Ali berkata, “Saya melihat pemandangan yang mengejutkan bagiku, lantas saya langsung mendatangi Nabi SAW, dan di samping beliau terdapat Zaid bin Haritsah. Lalu saya memberitahukan kepada beliau apa yang terjadi. Setelah itu beliau keluar bersama Zaid bin Tsabit, dan saya pun ikut bersama beliau.

      Kemudian beliau menemui Hamzah dan memarahinya. Ternyata Hamzah memandangi beliau sambil berkata, “أَنْتُمْ إِلَّا عَبِيدٌ لِآبَائِي” (KAMU (antum “أَنْتُمْ”) TIDAK LAIN HANYALAH BUDAK (Abiidun “عَبِيدٌ”) BAPAKKU)

      (Muslim 23.4881/no.3661:
      Lalu Rasulullah SAW mulai mencela Hamzah terhadap apa yang telah diperbuatnya. Pada saat itu, kedua mata Hamzah memerah dan dia juga mulai mengamati Rasulullah SAW dari kedua lutut naik ke pusar dan akhirnya ke wajah beliau. Kemudian Hamzah berkata, “Kamu tidak lain hanyalah budak bapakku

      Bukhari 4.53.324/no.2861:
      Maka Rasulullah SAW langsung mencela Hamzah atas apa yang telah dilakukannya. Ternyata Hamzah benar-benar dalam keadaan mabuk, kedua matanya merah. Hamzah memandangi Rasulullah SAW, lalu mengarahkan pandangannya ke atas, kemudian memandang ke arah lutut Beliau, lalu mengarahkan pandangannya kembali ke atas, kemudian memandang pusar Beliau, lalu mengarahkan pandangan ke atas lagi, kemudian memandang wajah Beliau. Kemudian Hamzah berkata; “Kamu tidak lain hanyalah budak bapakku

      Bukhari 5.59.340/no.3702:
      Lalu Nabi SAW mulai mencela Hamzah terhadap apa yang telah di perbuatnya. Pada saat itu, kedua mata Hamzah memerah dan dia juga mulai mengamati Nabi SAW, mulai dari kedua lutut beliau naik hingga ke wajah beliau. Kemudian Hamzah berkata, “Kamu tidak lain hanyalah budak bapakku“)

      [note: Ucapan orang mabuk tanpa rem ini memberi bukti bahwa Ayah muhammad bukanlah Abdullah sebagaimana yang tersiar selama ini].

      Akhirnya Rasulullah SAW kembali pulang dan meninggalkan mereka.” Dan telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid telah mengabarkan kepadaku Abdurrazaq telah mengabarkan kepadaku Ibnu Juraij dengan isnad seperti ini.” [Muslim 23.4879/no.3660]

      Riwayat Shadaqah bin Fadll – Ibnu ‘Uyainah – ‘Amru – Jabir:
      Beberapa orang yang berangkat ke Uhud [3 H] meminum khamr diwaktu pagi, lalu mereka terbunuh semua sebagai syahid, hal itu terjadi sebelum pengharamanan khamr. [Bukhari no.4252]

      Pelarangan Khamar TERJADI di SETELAH pulang PERANG TABUK (9 H) yaitu SETELAH wafatnya Suhail ibn Wahab/Suhail Bin Baidla:
      Riwayat Yunus – Hammad (Ibnu Zaid) – Tsabit – Anas:
      Saya sedang menuangkan minuman untuk suatu kaum dikala arak diharamkan. (Anas bin Malik) berkata, Saat itu Abu Thalhah sedang dikerumuni oleh sahabat-sahabatnya. Lalu datanglah seorang laki-laki berujar, bukankah arak telah diharamkan?. (Anas bin Malik) berkata, Abu Thalhah berkata kepadaku, keluarlah dan perhatikanlah. (Anas bin Malik) berkata, maka saya keluar dan saya perhatikan, dan saya mendengar seseorang mengucapkan “arak telah diharamkan!. (Anas bin Malik) berkata, maka berita itu saya kabarkan. (Abu Thalhah) berkata, pergilah dan tumpahkanlah!. (Anas bin Malik): lalu saya pergi dan saya tumpahkan. (Anas bin Malik) berkata, sebagian sahabat berkata, Suhail bin Baidha’ telah meninggal sedang arak telah telanjur masuk perutnya. (Anas bin Malik) berkata, maka Allah ‘azza wajalla menurunkan “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu” sampai akhir ayat. (Anas bin Malik) berkata, arak mereka pada waktu itu adalah oplosan antara fadhikh (minuman yang terbuat dari busr), busr (kurma yang masih muda) dan kurma

      [Ahmad no.12897. Bukhari no.4254. Muslim no.3662. Darimi no. 1997. Suhail bin Wahab bin Rabi’ah/Suhail bin Baidla wafat setelah Muhammad pulang dari Perang Tabuk 9 H. Di Hadis Muslim no. 3665 menyampaikan terdapat sekumpulan sahabat Nabi masih minum khamar setelah kematian Hamza (pada perang Uhud) hingga terjadinya pelarangan diantaranya adalah Anas, Abu Thalhah, Abu Dujanah, Mu’adz bin Jabal, Suhail bin Baidla dan para kaum Ansar]

      Muhammad SAW juga peminum Khamar:
      Riwayat Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib (lafazh milik Abu Kuraib) – Abu Mu’awiyah – Al A’masy – Abu Shalih – Jabir bin Abdullah:
      ketika kami bersama Nabi SAW tiba-tiba beliau meminta air. Lalu ada seorang laki-laki berkata; ‘Maukah aku beri nabidz (minuman yang biasa terbuat dari kurma atau anggur)? Beliau menjawab: “Ya.” (Jabir bin Abdullah) berkata; maka laki-laki itu mencari keluar, lalu dia datang dengan membawa bejana yang berisi nabidz. Nabi SAW: “Tidakkah engkau menutupinya? Walaupun hanya dengan membentangkan sepotong kayu.” (Jabir bin Abdullah) berkata; kemudian minum. [Muslim no.3753. Juga di Abu dawud no.3245. Ahmad 13848]

      Riwayat Abu Kuraib – Isma’il bin Shabih – Abu Israil – Abu Umar Al Bahrani – Ibnu Abbas: “Rasulullah SAW dibuatkan minuman dari perasan anggur, beliau lalu meminumnya di hari itu juga, keesokan harinya dan hari ketiganya. Jika (di hari ketiga) masih tersisa, maka beliau membuangnya atau memerintahkan untuk membuangnya.” [Ibn Majjah 3390]

        Note:
        Riwayat Qutaibah – Isma’il bin Ja’far – Daud bin Bakr bin Abu Al Furat – Muhammad bin Al Munkadir – Jabir bin Abdullah: “Rasulullah SAW: ‘Sesuatu yang memabukkan, maka banyak dan sedikitnya adalah haram‘” [Abu Dawud no. 3196, Juga variasi lain dengan maksud yang sama tercantum di: Ibn Majjah no.3385, Darimi no.2007, Ahmad no.5390, 6271, 6387, 14176. Di Ahmad no. 23287 ada kalimat: “..maka setetes darinya adalah haram”]

        Seberapa jauh statement hadis ini dipatuhi umat Islam? Mari kita lihat cara membuat minuman berethanol:

        Air manis/Perasan buah manis apapun jika didiamkan akan terfermentasi secra alami (tanpa ragi/khamir) menjadi etanol + CO2 (jika tambah ragi/khamir maka fermentasi menjadi lebih cepat).

        Waktu yang dibutuhkan agar menjadi berethanol > 1% (FATWA MUI tanggal 18 April 2000 dan Fatwa MUI no.4/2003 (25 May 2003) kadar Ethanol: > 1% untuk fermentasi yang tidak direkayasa, jika direkayasa < 1% sudah termasuk khamar. Tape tidak tergolong khamar namun air perasannya dengan kadar 1% adalah khamar).

          Quote Sripsi:
          Terbentuknya gas/gelembung pada jus yang disimpan pada suhu ruang dan terbuka adalah ciri-ciri terjadinya fermentasi alkohol dan ini biasanya terjadi setelah jus disimpan pada suhu ruang dan terbuka selama lebih dari 2 hari.

          Setelah dilakukan tes menghitung kadar alkohol perasan anggur yang lebih dari dua hari tersebut, kadar alkohol yang didapat sebanyak 1 %….[Didinkaem, 2006]

        Seharusnya kadarnya adalah > 1%, untuk jelasnya berikut sample membuat minuman berethanol secara alami:

        …Nira secara alami mulai mengalami proses fermentasi begitu dikumpulkan dari pohon, karena ragi alami dalam pori-pori pot dan udara (sering dikarenakan oleh ragi sisa yang tersisa di wadah pengumpulan). DALAM WAKTU DUA JAM, fermentasi menghasilkan tuak aromatik dengan kadar alkohol sampai 4%, sedikit memabukkan dan manis.” [Wikipedia: Tuak Nira] dan waktunya makin lama, misal hingga 1 minggu, kadar ethanolnya dapat mencapai < 15%.

        Sumber lainnya juga menyajikan persentase ethanol yang sama dalam waktu 2 jam fermentasi untuk jenis perasan buah: kurma, kelapa, anggur, dll [“How to Make Palm Wine” atau dari FAO: “FERMENTED FRUTIS AND VEGETABLES..“].

        Tabel di sebelah menyajikan tabel persentase ethanol selama proses fermentasi alami yang dikaitkan dengan perubahan suhu dan waktu fermentasi. Percobaan ini dimulai pada suhu 30 derajat dan dalam waktu 24 jam, kadar ethanol sudah mencapai 6%. Pada hari ke-3, yaitu ketika suhu menurun hingga 25 derajat, tetap saja kadar ethanol meningkat dan bahkan dapat mencapai 14.5% [Lihat hasil penelitian lain misal (Pdf) yang melibatkan suhu: “Identification of a thermo-tolerant Acetobacter strain isolated from Iranian date palm (Rotab) suitable for date vinegar production in agricultural biotechnology..”]

        Kemudian,
        Proses PENYULINGAN untuk membuat kadar ethanol menjadi LEBIH TINGGI dapat dilakukan dengan cara MEMASAKNYA hingga uapnya menetes. Kadar alkohol pada wadah awal dapat mencapai hingga 90% (tak bisa di minum), setelah seluruh rendaman habis tersuling dan dicampur seluruhnya maka kadar ethanol menjadi berkisar 20% – 50%

        Bagaimana membuat agar berkarbonasi (CO2)? Mudah, wadahnya saja yang ditutup rapat ini akan membuat kadar CO2 menjadi tinggi sehingga menjadi minuman BERETANOL dan juga BERKARBONASI.

        Perlu di tegaskan lagi,
        LARANGAN menimum khamr BARU TERJADI SETELAH KEMATIAN SUHAIL, yaitu SETELAH PULANG dari perang TABUK (9H), artinya: kurang/lebih 1 tahunan SEBELUM wafatnya Muhammad.

    Muhammad SAW juga terampil dalam membuat khamar:
    Riwayat Yahya bin Yahya – Abu ‘Awanah – Abu Zubair – Jabir bin Abdullah bahwa Nabi SAW biasa membuat perasan dalam wadah yang terbuat dari batu.” [Muslim no. 3721. Ibn Majjah no.3391 (dalam kitab Sifat Nabidz dan meminumnya). Juga dalam jalur perawi berbeda dari Zubair – Jabir di Nasai no. 5554 dan Darimi no.2015 (terjemahan lidwa software lebih sfesifik lagi dengan menyebutkan “rendaman khamer“]

    Salah satu tempat favorit penyimpanan anggur Nabi adalah di Mesjid:
    Riwayat Abu Kuraib – Ibnu Abi Zaidah – Hajjaj dan Ibnu Abi Ghaniyyah – Tsabit bin Ubaid – al Qasim bin Muhammad – Aisyah:
    ‘Rasulullah memerintahkanku untuk mengambilkan anggur sulingan (“الْخُمْرَةَ مِنْ”, menariknya kata ini tidak konsisten diterjemahkan yaitu: kadang diterjemahkan tikar, kadang jadi kain dan kadang jadi minyak wangi :)] dari masjid. Aku jawab; ‘Aku sedang haid.’ Beliau menjawab: “Ambillah karena (darah) haid tidak berada di tanganmu.” [Muslim no.451. Ahmad no.5126, 24890. Darimi no.1053]

    Hadis Qudsi tentang Malaikat Harut dan Marut minum khamar:
    Yahya bin Abi Bukair – Zuhair bin MuhammadMusa bin Jubair – Nafi’ (budak Abdullah bin Umar) – Abdullah bin Umar – Nabi SAW:
    “Ketika Nabi Adam SAW diturunkan Allah ke muka bumi, para malaikat berkata: ‘Wahai Rabb, apakah Engkau jadikan disana orang-orang yang suka berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami selalu memuji-mujiMu dan mensucikanMu.’ Dia berkata “Aku Maha Mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.’ Para malaikat: ‘Wahai Rabb, kami adalah para makhluq yang lebih ta’at kepadaMu daripada anak cucu Adam.’ Allah Ta’ala berkata pada para malaikat:

    (note: terjemahan kitab 9 hadis lidwa terhenti sampai “..para malaikat:“. Selebihnya di bawah ini, lanjutannya diambil dari “1000 Qudsi Hadiths: An Encyclopedia of Divine Sayings”, Arabic Virtual Translation Center”, hadis Qudsi no.1019 dan dinyatakan sebagai hadis SAHIH)

    -> “datangkan dua malaikat yang akan turun ke bumi dan lihat apa yang akan diperbuat keduanya”. (Para malaikat) menjawab: “Tuhan kami, turunkanlah Harut dan Marut ke bumi”. Kemudian diciptakan perawan kembang yang tercantik dari manusia untuk mendatangi keduanya. Keduanya menjadi bernafsu (untuk menggaulinya). Wanita: “Tidak, demi Allah, kecuali kalian menyebutkan syirik pada Allah”. Malaikat: “Demi Allah, kami tidak berbuat syirik pada Allah”. Wanita itu pergi dan kembali dengan seorang bayi. Keduanya menjadi bernafsu (untuk menggaulinya). Wanita: “Tidak, demi Allah, kecuali kalian membunuh bayi ini”. Kedua malaikat: “Demi Allah, kami tidak membunuh”. Wanita itu pergi dan kembali membawa minuman keras (Khamar). Keduanya menjadi bernafsu padanya (untuk menggaulinya). Wanita: “Tidak, demi Allah, kecuali kalian meminum khamar ini”. KEMUDIAN KEDUANYA MEMINUM KHAMAR, MENGGAULI WANITA ITU DAN MEMBUNUH BAYI

    [Hadis Qudsi no.1019 yang berasal dari Imam Ahmad no.5902/No.6009 (arab). Musnad Bazzar no.1600. Ibn Hibban dalam sahih XIV/63 no.6186. Ibn Abi Ad-Dunya di Al-Uqubat no.222. Abdul ibn Humaid di Al-Muntakhab no.787. Variasi hadis lihat juga di “Angels in Islam: Jalal al-Din al-Suyuti’s al-Haba’ik fi akhbar al-mala’ik”, Stephen Burge, hal. 154-157. Untuk urusan sihir, terkait harut dan Marut, tafsir Ibn Kathir AQ 2.102 (arab) menyatakannya sebagai Israiliyat.

    Penilaian perawi hadis di atas untuk: Zuhair (Yahya bin Ma’in, Ahmad bin Hanbal: Tsiqah/jujur. An Nasa’i: da’if. Ibnu Hibban: disebutkan dalam ‘ats tsiqaat. Adz Dzahabi: Tsiqah Yughrab). Untuk Musa (Ibnu Hibban: disebutkan dalam ‘ats tsiqaat, Ibnul Qaththan: karakternya tidak dikenal. Ibnu Hajar al ‘Asqalani: mastuur (adil dan jujur, tapi belum tercapai kebulatan kesepakatan di antara para ulama). Adz Dzahabi: Tsiqah)].

    Khalifah yang hobi minum miras:
    A-Rashid dan Al-Mamun; Yazid I (680-683), anak Muawiyah, mabok tiap hari dan digelari Yazid al-Khumur (Yazid sang arak), Abd al-Malik (685-705), mabok sebulan sekali; Al-Walid I (705-715); Hisham ((724-743); Al-Walid II (743-744), anaknya Yazid II [History of the Arabs; Philip K. Hitti, ch. xxvi, p.337) (Foot note 5: Mishkah, vol. ii, pp.172-3; ibn Hanbal, Musnad (Cairo, 1313), vol.i, pp. 240,287, 320; Bukhari vol. vi, p.232].

    Lain-lain:
    Arti Nabidh sebagai minuman beralkohol yang diharamkan lihat riwayat Ishaq bin Ibrahim – (Abu Amir dan An Nadlr bin Syumail dan Wahb bin Jurair) – Syu’bah – Salamah bin Kuhail – Abu Al Hakam – Ibnu Abbas, “Barangsiapa suka mengharamkan sesuatu yang telah Allah haramkan, maka hendaklah ia haramkan perasan nabidz.” [Nasai no.5593, juga di sini dan di sini]. Nabidz memang diartikan juga minuman keras: “112. Wine and date wine (nabiz)..” di tulisan Ayatolah khoe atau “It is called nabeezen because whoever takes it, he takes dates or raisin and yanbuzu (the act ) in a pot or something like that (sekaa) and adds water to them and leaves them till they ferment يفور and they become intoxicant.” (sumber)]. Untuk bantahan yang lucu tentang ini [lihat: ini]. Penggunaan kata “sakaran” di AQ 16.67. Posisi gradual melarang adalah sangat aneh karena sebelum melarang malah sempat membolehkannya [Lihat: di sini dan di sini] [↑]


    Tips menolong KORBAN KECELAKAAN di area MAYORITAS Ajaran Tertentu


    Jika anda tinggal di daerah mayoritas AJARAN TERTENTU, maka BERPIKIRLAH ratusan kali jika anda (para pria) hendak menolong wanita yang mengalami kecelakaan.

    1. Jika anda tidak punya ilmu kanuragaan yang dapat mengangkat tanpa menyentuh, maka jangan ditolong, atau
    2. mungkin saja pertolongan dapat dilakukan dengan alat bantu lain, misalnya kayu, sebagai contoh:
        jika anda jalan di suatu tempat, kemudian melihat onggokan yang mirip-mirip pisang goreng tapi anda curiga bahwa itu bukan pisang goreng melainkan tai maka tentunya anda akan check itu TIDAK dengan menggunakan tangan tapi dengan kayu karena siapa tahu, onggokan itu bukan pisang goreng melainkan tai. Jadi tidak rugi bandar.

      Untuk itu, jika masih bersikeras hendak menolong, carilah kayu agar tidak bersentuhan, atau

    3. TANYALAH dahulu AGAMA dari si korban. Jika korban berasal dari AGAMA TERTENTU, maka SEGERA tinggalkan TKP karena salah-salah, setelah menolong, anda akan dianggap melakukan tindak pelecehan seksual, ini dapat berakibat rusuh massal yang berpotensi banyak yang terbunuh nantinya. Biarkan saja korban yang berasal dari AGAMA TERTENTU itu saja yang mati, jangan sampai belas kasihan anda merembet mencelakai orang sekampung (KLIK !)
        Pada hari Minggu tanggal 28 Oktober 2012 pukul 09.30 WIB di desa Sidorejo kecamatan Sidomulyo kabupaten Lampung Selatan, telah terjadi bentrokan antara warga suku Lampung dan warga suku Bali.

        Kronologis kejadian : Pada hari Sabtu tanggal 27 Oktober 2012 pukul 17.30 WIB telah terjadi kecelakaan lalu-lintas di jalan Lintas Way Arong Desa Sidorejo (Patok) Lampung Selatan antara sepeda ontel yang dikendarai oleh suku Bali di tabrak oleh sepeda motor yang dikendarai An. Nurdiana Dewi, 17 tahun, (warga Desa Agom Kec. Kalianda Kab. Lampung Selatan berboncengan dengan Eni, 16 Th, (warga desa Negri Pandan Kec. Kalianda Kab. Lampung Selatan).

        Dalam peristiwa tersebut warga suku Bali memberikan pertolongan terhadap Nurdiana Dewi dan Eni, namun warga suku Lampung lainnya memprovokasi bahwa warga suku Bali telah memegang dada Nurdiana Dewi dan Eni sehingga pada pukul 22.00 WIB warga suku Lampung berkumpul sebanyak + 500 orang di pasar patok melakukan penyerangan ke pemukiman warga suku Bali di desa Bali Nuraga Kec. Way Pani. Akibat penyerangan tersebut 1 (satu) kios obat-obatan pertanian dan kelontongan terbakar milik Sdr Made Sunarya, 40 tahun, Swasta.

        Pada hari Minggu tanggal 28 Oktober 2012 pukul 01.00 WIB, masa dari warga suku Lampung berjumlah + 200 orang melakukan pengrusakan dan pembakaran rumah milik Sdr Wayan Diase. Pada pukul 09.30 WIB terjadi bentrok masa suku Lampung dan masa suku Bali di Desa Sidorejo Kecamatan Sidomulyo Kabupaten Lampung Selatan.

        Akibat kejadian tersebut 3 (tiga) orang meninggal dunia (1) Yahya Bin Abdul Lalung, 40 tahun..(2) Marhadan Bin Syamsi Nur, 30 tahun..(3) Alwi Bin Solihin, 35 tahun[..]

        Antaranews: sedangkan dalam bentrokan pada hari kedua, Senin (29/10), korban tewas sebanyak 10 orang, dari Desa Balinuraga.

        [Detik: jumlah korban 9 orang dari warga Bali Nuraga, Kalianda: (1) Rusnadi, laki-laki, 45-55th; (2) Pan Malini laki-laki, 50-60 tahun; (3) Ratminingsih laki-laki, 45-56 tahun; (4) Wayan Kare, laki-laki, 40-50 tahun; (5) Muriyati, laki-laki, 55-65 tahun; (6) Gede Semarajaya, laki-laki, 20-30 tahun; (7) Pan Kare, laki-laki, 60-70 tahun; (8) Ketut Buder, laki-laki, 55-65 tahun; (9) Pan Ladri, laki-laki, usia 60 tahun. Semua korban ini di kremasi di krematorium: Lempasing, Yayasan Bodhisattva, Pesiwaran, Lampung]

      Jika korban lebih dari 1 (satu) orang dan tentunya TELAH DITANYA agamanya apa, maka tolonglah korban yang BUKAN BERAGAMA TERTENTU karena kecil sekali kemungkinannya, setelah menolong, anda akan mengalami dampak lanjutan terkena TUDUHAN PELECEHAN SEKSUAL, atau

    4. Jika nurani tetap muncul untuk menolong korban yang berasal dari AGAMA TERTENTU, maka SEBELUM menolong, PASTIKAN tersedia kertas yang TELAH DIBUBUHI MATERAI secukupnya, kertas tersebut HARUS DIPASTIKAN telah ditandatangani oleh korban atau jika tidak ada pulpen, anda dapat memintanya membubuhi cap jempol [gunakan darah korban sebagai tinta] namun TETAPLAH WASPADA untuk TIDAK menyentuh korban.

      Jika korban menyatakan tidak sanggup untuk melakukan tandatangan, MAKA jangan biarkan BELAS KASIHAN anda MENUTUPI RASIO ANDA. Apapun caranya KORBAN mesti bertandatangan [ato cap jempol] pada isi pernyataan:

      1. MEMBEBASKAN diri ANDA dari segala TUDUHAN.
      2. surat ini ditulis dalam keadaan SEHAT ROHANI dan tidak sedang dan/atau di bawah paksaan/ancaman

      Setelah ditandatangani, langkah berikutnya adalah: TUNGGU KERING DULU [terutama jika korban menggunakan cap jempol dengan tinta darah]

      Simpan baik-baik surat tersebut jangan sampai hilang [jika perlu, LAMINATINGLAH, karena ada kekhawatiran akan luntur terkena keringat, dan lain sebagainya]

      Nah, setelah selesai dan kering, barulah korban dapat ditolong. [PASTIKAN surat tersebut disimpan di tempat yang tersembunyi dan aman agar TIDAK TERCOPET oleh korban ketika sedang diberi pertolongan].

      Untuk itu, dalam setiap bepergian, siapkan diri anda: KERTAS, MATERAI dan PULPEN

    Semoga tips ini berguna.


    Otak, Organ XXX TerBESAR..


    Ketika “surfing” di net, anda akan temukan banyak artikel tentang jumlah kalori yang dibakar saat berhubungan seksual, salah satu diantaranya adalah seperti ini:

      MENANGGALKAN PAKAIANNYA
      Dengan persetujuannya
      Tanpa persetujuannya

      MELEPAS BRA NYA
      Dengan kedua tangan
      Dengan satu tangan
      Dengan gigi Anda

      MENGENAKAN KONDOM
      Sedang ereksi
      Tidak sedang ereksi
      (semakin stress, Kalori jadi semakin banyak)

      POSISI
      Konvensional (atas-bawah)
      Posisi 69 (berbaring)
      Posisi 69 (berdiri)
      Doggy style

      ORGASME
      Orgasme betulan
      Orgasme boongan

      PASCA ORGASME
      Berbaring berpelukan
      Cepat-cepat turun dari ranjang
      Menjelaskan kenapa buru2 turun dari ranjang

      MENGALAMI EREKSI KEDUA
      20 – 29 tahun
      30 – 39 tahun
      40 – 49 tahun
      50 – 59 tahun
      60 – 69 tahun
      >= 70 tahun

      BERPAKAIAN SESUDAHNYA
      Dengan tenang
      Dengan tergesa-gesa
      Ayahnya menggedor-gedor pintu
      Istri/suami/pacar menggedor2 pintu

      12 Kalori
      187 Kalori

      8 Kalori
      12 Kalori
      85 Kalori

      6 Kalori
      315 Kalori

      12 Kalori
      78 Kalori
      112 Kalori
      326 Kalori

      112 Kalori
      315 Kalori

      18 Kalori
      36 Kalori
      816 Kalori

      36 Kalori
      80 Kalori
      124 Kalori
      972 Kalori
      2916 Kalori
      Hasilnya belum ada

      32 Kalori
      98 Kalori
      1218 Kalori
      3521 Kalori

      [Postingan terawal tentang hal ini yang gw lihat adalah dalam bahasa Inggris, yaitu tanggal 25/09/01 16:29, di sini]

    Gw jadi penasaran, benar ngga sih artikel-artikel ini bukan sekedar lucu-lucuan dan emang beneran ada penelitian untuk masalah gituan?

    Setelah ngos-ngosan “surfing” di berbagai tempat, akhirnya gw temukan beberapa penelitian yang bisa jadi memberikan inspirasi awal pembuatan artikel-artikel tersebut dan kemudian secara menggila tersirkulasi di internet:

    1. Beberapa dari aktivitas di atas, di ambil dari kalimat Prof. Bruno Fabbri, pakar nutrisi Italia, yang dilansir situs News2000, “[..]ritual selama 26 menit dengan orgasme membakar kalori setara dengan separuh porsi pizza..Saat Anda membuka kait bra dengan dua tangan, 8 kalori..dengan satu tangan,18 kalori..dengan mulut, 87 kalori” [Koran tempo, 17 Juli 2002, “Seks, Burger dan Bugar“, atau di ananova, 13 july 2002]

      note:
      Karena begitu banyaknya tipe pizzanya, maka untuk tau nilai Kalori dari 1/2 potongnya silakan lihat di situs ini

    2. Gabe Mirkin, MD menyatakan “Seks secara agresif membakar 250 kalori dalam 1 jamnya [4 calori/menit]. Rata-rata orang berhubungan seks selama 5 menit..jadi menghabiskan < 25 kalori. Energi yang sebanding dengan menaiki anak tangga sebanyak 2 lantai“. [“Sex Before Competition“, Report #6750 3/10/96, Gabe Mirkin, M.D., for CBS Radio News; “Does Sex the Night Before Competition Decrease Performance?“. McGlone, Samantha; Shrier, Ian MD, PhDClinical; Journal of Sport Medicine: October 2000 – Volume 10 – Issue 4 – pp 233-234]
    3. Cathy K. Naughton, MD menyatakan, “Individu dengan berat tubuh 81.65 kg, ketika melakukan berhubungan seksual, dalam se jam-nya membakar: jika dilakukan dengan menggebu-gebu, 120 kalori..dilakukan sedang-sedang saja, 100 calories..hanya berpelukan dan berciuman saja, 80 kalori” [“BETTER SEX THROUGH EXERCISE“]
    4. Menurut situs Kalori perJam [klik: Activity Calculator, huruf “s”]:

        AKTIVITAS
        Memakai dan melepas baju
        Berbaring tidak tidur
        Seks ringan [ciuman/pelukan]
        Seks sedang-sedang saja
        Seks menggebu-gebu
        30 MENIT
        75
        38
        38
        49
        56
        1 JAM
        150
        75
        75
        98
        113

        [Nilai Kalori di atas berdasarkan berat badan = 75 kg. Model hitungan menurut Dr. Edward Howley, Profesor Kesehatan dan sains Olah Tubuh, Universitas Tennessee]

    5. Jeremy Brecher Phd, menyatakan, “Sex sebenarnya merupakan bentuk ideal dari olah tubuh. Masing-masing pasangan menghabiskan kurang lebih 100 kalori” [“Sex, Stress, and Health“, hal 89-95, International Journal of Health Services, Volume 7, Number 1 / 1977]
    6. Richard Smith, menyatakan, “Mulut yang berisik ketika berhubungan seks menghabiskan lebih banyak kalori daripada yang diam..Dengan rintihan, 11 kalori..Dengan berucap sesuatu, 25 kalori..Menggerakan jari kaki ketika pemanasan, 68 Kalori..Jika wanitanya yang bergairah sangat untuk berhubungan seks, Pria hanya menghabiskan 1/4 kalori namun jika tidak, maka pria menghabiskan 274 Kalori” [JET, Vol.54, No.22, 17/08/1978, HAL 29, Johnson Publishing Co., Resensi: “The dieter’s guide to weight loss during sex”, Richard Smith]
    7. Menurut Dr. Wieder dari CaloriLab.com:

        ALASAN MELAKUKAN
        Terbakar nafsu
        Ngga ada yang menarik di TV
        Karena rasa bersalah
        Ingin tau saja

        PEMANASAN DENGAN
        Gelitikan
        Jilatan
        Gigitan
        Hisapan

        SAAT BERHUBUNGAN
        Keduanya terangsang
        Wanita tidak terlalu terangsang
        Pria tidak terlalu terangsang

        POSISI SAAT BERHUBUNGAN
        Wanita yg di atas
        Pria yg diatas

        PASCA BERHUBUNGAN
        Merokok
        Tidur
        Koma

        PERASAAN SETELAH BERHUBUNGAN
        Lega
        Frustasi
        Jijik
        Bersalah

        KALORI
        85
        37
        55
        73

        17
        24
        28
        38

        11
        46
        108

        75
        23

        8
        7
        2

        9
        14
        13
        12

        Note:
        …dan masih banyak ragam aktivitas seks lainnya, diantaranya berdasarkan outdoor/Indoor, waktu, tempat, dll. Untuk detailnya, buka aja CaloriLab.com

    8. Untuk tau kebutuhan Kalori/hari tubuh kita, silakan buka situs kalkulator Kalori. Kemudian di jurnal “Human Powered Wearable Computing“, akan kita temukan variasi Kalori/jam yang terpakai pada berbagai aktivitas non seks, mulai dari tidur [70 Kalori] s/d lari Sprint [1400 Kalori]

    Karena begitu banyaknya faktor yang mempengaruhi, maka bahkan nilai Kalori hasil penelitian para “Phd” dan “M.D” ini pun menjadi sangat bervariasi satu sama lainnya.

    Apa sih yang menjadi pemicu terjadinya aktivitas seksual tersebut?

    Ativitas-aktivitas di atas merupakan perjalanan panjang yang dimulai dari kontak antara objek dan panca indera + ingatan yan diteruskan ke system syaraf pusat [otak dan sumsum tulang belakang, keduanya didefinisikan sebagai otak].

    Pikiran di otak merespon dengan membuat otak melepaskan beberapa senyawa kimiawi yang diteruskan kembali ke seluruh indera dan juga tubuh kita. Senyawa-senyawa kimia itulah yang menghasilkan rasa senang, kasihan, bersalah dll.

    Ternyata Otak adalah organ seks terbesar yang kita punyai!

    Struktur otak kita berperan besar dalam menghasilkan emosi/mood, gairah/nafsu, ketertarikan, keterikatan dan orientasi seksual, yang diantaranya adalah:

    • Limbik Sistem, mengurusi emosi, sedih, senang, marah, kepribadian dan juga orientasi seksual pada manusia. Di sini ada nukleus supra-chiasmatik. Pria Heteroseksual memiliki nukleus supra-chiasmatik yang lebih kecil dari Pria Homoseksual dan wanita.
    • Hipothalamus, berhubungan sangat erat dengan pituitary gland (kelenjar bawah otak) terdekat. Ini merupakan kelenjar induk tubuh yang mengatur hormon, secara langsung atau melalui stimulasi kelenjar lain untuk mengeluarkan hormon [cairan kimiwai dan kelistrikan tubuh]. Di sini ada hipofise yang berfungsi mengontrol aktivitas2 kelenjar endokrin yang mengeluarkan hormon. Hormon-hormon inilah yang mengembangkan emosi kita.
    • Amigdala, bagian otak yang mengolah emosi kita [rasa takut, senang, sedih, cinta, bersahabat, dll]. Kekacauan di Amigdala dan commisura anterior dapat mengakibatkan kekacauan orientasi seksual, misalnya: senang melakukan hubungan seksual dengan hewan, hyperseks, dll
    • Lobus Frontal, bagian depan otak yang mengatur moralitas dan kepatutan, adab, sopan-santun, etika, tatakrama [termasuk seksual]. Kekacauan di fungsi ini dapat mengakibatkan seseorang mudah berkata-kata kotor, di tengah keramaian/kendaraan umum menggosok2kan kelaminnya pada tubuh wanita, melecehkan secara seksual misal: menepuk pantat ato bahkan melakukan onani di depan umum.

    Hormon Testosteron [menjadikan agresif, lugas, tajam, mendominasi, maskulin, dan berpengaruh pada libido]. Jika kebanyakan hormon Testosteron, membuat seseorang menjadi maskulin dan feminim jika sebaliknya. Turunnya plasma testetoron meningkatkan hormon esterogen. Hormon progesteron berfungsi sebagai penenang esterogen.

    Peningkatan esterogen berpengaruh pada fungsi syaraf tepi otonom [syaraf simpatis dan para simpatis], yang sangat berperan pada urusan ereksi/ejakulasi, seksresi vagina, pembesaran klitoris, dan orgasme. Hormon estrogen merupakan teman baik dari hormon dopamin [membuat tertarik pada objek yang menjadi perhatian kita, mendekatinya dan kemudian memicu hormon oksitosin]

    Oksitosin adalah semacam cairan kimia [syaraf pengantar], ketika otak melepaskan oksitoksi, kita menjadi lebih melekat pada objek karena timbulnya rasa senang mengasuh, memeluk, menolong. Pria menjadi lebih tidak egois sehingga dapat diraih dan menimbulkan kedekatan

    Reaksi Dopamin-Oksitosin [DO] inilah yang menyebabkan mengapa setelah berhubungan seks kemudian menjadi lebih terikat secara emosional, misal: Perasaan marah sebelumnya ketika bertengkar menjadi hilang. Reaksi DO juga yang menyebabkan kita berfantasi hal-hal sensual. Pikiran menciptakan image-image sensual, otak melepaskan cairan kimiawi ini, membuat terangsang dan melakukan hal-hal “ajaib” secara seksual.

    Hormon estrogen juga mempengaruhi hormon serotonin [rasa cemas/tidak, insomia/tidak], hormon vasopresin [menjadikan senang bersoalisasi dan agresif yang halus], kortisol [rewel, lelah, stress, menjadikan peka terhadap fisik dan emosi], pheromone [bebauan] dan norefinefrin [juga efinefrin, merespon rangsangan dari saraf simpatik dalam hal mempercepat detak jantung, makan, dll].

    Ketika kita “jatuh cinta” debaran jantung meningkat, selera makan berkurang,tidur menjadi sulit dan gairah meningkat [Penelitian Robert Winston, “Human”, di tahun 2004, menyatakan level ini dapat bertahan hingga 3 tahunan].

    Nafsu dan ketertarikan ini besifat jangka pendek. pada level lanjutan, yaitu di jangka panjangnya, bergantung pada hormon oksitosin dan vasopresin yang menyebabkan seseorang hidup dalam pernikahan. [Untuk tau cara kerja emosi lainnya di otak, silakan lihat di sini]

    [sumber: “Otak merangsang orientasi seks”“; “The Female Brain“,Oleh Louann Brizendine; “Your Brain On Sexual Imagery” oleh Andrea Kuszewski,Ethical Technology; “Raised plasma nerve growth factor levels associated with early-stage romantic love“, Psychoneuroendocrinology. 2005 Nov 9]

    Memperhatikan begitu padatnya kesibukan di otak, maka berapa banyak Kalorikah yang diperlukannya?

    Menurut konsensus yang termuat di “Power of a Human Brain“, Kalori yang dibutuhkan untuk berpikir ternyata hanya 20 Watt atau ± 86 Kalori/jam saja!

    Wow!

    Padahal aktivitas yang ada di otak bukan melulu seks saja, namun meliputi seluruh kegiatan manusia selama 24 jam di sepanjang hidupnya! dan bahkan banyak aktivitas dapat dilakukan secara bersamaan!

    Sehingga otak bukan hanya organ seks terbesar yang kita punyai namun merupakan hal “terbesar” yang kita miliki.

    Dalam suatu wawancara di MetroTV antara Desi Anwar dan Ajahn Brahm [seorang kelahiran Inggris yang kemudian menjadi Biksu dan menetap di Australia]. Ajahn, bercerita tentang anak seorang teman sekolahnya dulu yang saat itu berusia 5 tahun dan murid tahun pertama sekolah dasar.

      Suatu ketika gurunya bertanya pada anak-anak di kelas, “benda apa yang paling besar di dunia”.

      Salah satu anak mengatakan, “Ayahku”.

      “Seokor gajah”, kata seorang anak lelaki.

      “gunung”, kata yang lainnya.

      Anak temannya ini berkata, “Mataku adalah benda terbesar di dunia”.

      Kelas menjadi sunyi, mencoba untuk mencerna maksudnya.

      “Apa maksudmu?”, gurunya bertanya.

      Anak itu menjelaskan, “mataku melihat ayahnya, gajah, gunung dan banyak hal lainnya. karena semua masuk ke dalam mataku maka mataku mestinya benda terbesar di dunia”

    Dalam wawancara itu, Ajahn Brahm menambahkan bahwa jawaban anak itu tidaklah sepenuhnya tepat. Semua hal yang dapat dilihat dan tidak dapat dilihat matapun, masuk ke dalam pikiran kita.

    Gw sependapat dengan Ajahn Brahm, karena bahkan TUHAN YANG MAHA BESAR sekalipun bisa masuk ke dalam pikiran kebanyakan manusia.

    Bahkan dalam ritual yang menggebu, Tuhan Maha besar masuk ke dalam pikiran, menandai akhir sebuah ritual dengan seruan panjang dan berulang, “Oh Yes..Oh God..Oh God, I’m Coming..I’m Coming, Ohh..God!!”

    ..dan kemudian semua tergeletak dalam kelelahan..


    Bisa Jadi..Surga dan Neraka..sama-sama Panasnya!


    Berikut di bawah ini adalah sebuah cerita yang udah tahunan lamanya tersirkulasi di Internet.

      Terdapat sebuah pertanyaan saat Ujian Tengah Semester Universitas Washington, karena jawabannya begitu “dalam” hingga Sang Profesor membagikan jawabannya pada rekan-rekan seprofesinya…

      Bonus Pertanyaan:

      Apakah Neraka eksotermik (mengeluarkan panas) atau endotermik (menyerap panas)?

      Kebanyakan siswa menuliskan bukti kepercayaannya dengan menggunakan Hukum Boyle, (gas mendingin ketika mengembang dan memanas ketika memampat) atau beberapa variannya. namun, satu siswanya menulis sebagai berikut:

        “Pertama-tama, kita perlu tahu bagaimana massa neraka berubah-ubah setiap waktunya. Jadi kita perlu mengetahui rata-rata jiwa-jiwa yang keluar dan masuk neraka. Saya pikir untuk amannya kita dapat berasumsi bahwa sekali jiwa masuk neraka ia tidak akan pergi lagi. Oleh karena itu, tidak ada jiwa yang keluar dari neraka.

        Adapun untuk berapa banyak jiwa yang masuk neraka, mari kita lihat dari agama-agama yang berbeda yang masih ada hingga saat ini. Beberapa dari agama-agama tersebut menyatakan bahwa jika anda bukan pemeluk agama mereka, maka anda akan masuk neraka.

        Karena ada lebih dari satu agama dan juga karena orang memeluk tidak lebih dari satu agama, kita dapat memproyeksikan bahwa semua jiwa pergi ke neraka. Dengan tingkat kelahiran dan kematian sebagaimana adanya, maka kita dapatkan jumlah jiwa-jiwa di neraka meningkat secara eksponensial.

        Sekarang, kita lihat tingkat perubahan volume neraka akibat Hukum Boyle yang menyatakan agar temperatur dan tekanan di neraka tetap sama, maka volume neraka harus mengembang sebanyak jiwa yang ditambahkan. Hal ini memberikan dua kemungkinan:

        1. Jika neraka berkembang pada laju yang lebih lambat daripada tingkat jiwa yang masuk ke neraka, maka suhu dan tekanan di neraka akan meningkat hingga seluruh neraka pecah.
        2. Tentu saja, jika neraka berkembang dengan laju lebih cepat dibandingkan dengan tingkat penambahan jiwa-jiwa ke neraka, maka suhu dan tekanan akan turun hingga neraka membeku.

        Jadi, yang mana?

        Jika kita menerima dalil yang Teresa berikan padaku selama kuliah tahun pertamaku yaitu,

        Akan menjadi hari yang dingin di neraka sebelum Aku tidur denganmu

        dengan menyertakan fakta bahwa aku menidurinya tadi malam, maka yang no.2 pastilah benar dan dengan demikian saya yakin bahwa neraka itu eksothermik dan telah membeku.

        Konsekuensi dari teori ini, karena neraka telah membeku, maka tidak dapat lagi menerima jiwa manapun, dan oleh karenanya maka neraka telah punah..yang tertinggal hanyalah Surga, dibuktikan dengan kehadiran mahluk ilahi yang menjelaskan mengapa, malam tadi, Teresa terus-terusan menjerit, “Oh tuhanku

      Hanya mahasiswa ini yang menerima A.

    —-

    Catatan di bawah ini merupakan penjelasan historis kisah di atas dan analisa lanjutan dari beberapa sumber mengenai temperatur di Surga dan Neraka:

    Kisah di atas bukan merupakan tulisan asli namun salah satu variasinya. Aslinya di tulis oleh Paul Darwin Foote, seorang ilmuwan, yang dikenal melalui karyanya pada bidang pengukuran temperatur tinggi dan muncul di “Rumah Organ” Perusahaan Instrumen Taylor pada tahun 1920.

    Saat karier Foote sedang mapannya, Ia menulis artikel sebagai humor berjudul “Suhu Surga dan Neraka” dengan melakukan deduksi ilmiah pada deskripsi mengenai keadaan bermacam substansi material yang tertera di ALKITAB dan menyimpulkan bahwa Surga LEBIH PANAS dari Neraka.

    Tulisan itu muncul tanpa atrribut di “Applied Optics” vol. 11, A14 edisi tahun 1972 dan sebagai cerita pada sebuah buku tahun 1962.

    Tentunya kita tau bahwa temperatur Surga dan Neraka tidak tertera di Alkitab, bisa jadi karena Termometer (Celcius, Farenheit, Reaumur, Rankin dan Kelvin) belum tercipta saat itu.

    Namun mari kita lihat apa sih deduksi humor yang ditulis foote, seperti tulisan yang tercantum di “applied optics“, atau yang tertera di sini dan di sini adalah seperti di bawah ini:

      Suhu Surga adalah menurut petunjuk yang tertera pada Yesaya 30:26,

        Maka terang bulan purnama akan seperti terang matahari terik dan terang matahari terik akan tujuh kali ganda, yaitu seperti terangnya tujuh hari, pada waktu TUHAN membalut luka umat-Nya dan menyembuhkan bekas pukulan.

      Menurut tafsiran satu individu pada ayat tersebut dengan arti bahwa radiasi yang diterima oleh Surga dari matahari adalah 7 x 7 = 49 lipat Radiasi dari yang diterima bumi saat ini. Kemudian, di tambahkan dengan kontribusi terangnya bulan yang sama dengan teriknya matahari saat ini. Jadi, Surga akan menerima [49 + 1] radiasi sinar Matahari yang diterima bumi saat ini. Dengan menggunakan hukum ke empat kekuatan radiasi Stefan-Boltzmann, yaitu hubungan antara suhu benda dengan radiasi yang diterima:

        [H/E]4 = 50
        Di mana E = suhu absolute Earth (Bumi), yaitu 300°K (273 + 27), yaitu 0°C ditambah range maksimum suhu permukaan bumi dengan 4 musim di katulistiwa: 18°C – 27°C

      Maka dapat diketahui suhu absolute Heaven (Surga), yaitu 798°K atau 977°F atau 525°C!

      Lain lagi jika menggunakan hukum boyle, menentukan tekanan atmospir yang kemudian dikonversi menjadi suhu, akibat jumlah seluruh orang yang masuk surga hingga kiamat jika dibandingkan dengan volume surga bentuk kubus: 12.000 stadia3 [Wahyu 21.16-17] [1 mil = 10 stadia; 12.000 stadia = 1200 mil; 1 Mil = 1.609,344 M; 12.000 stadia = 1931,2 KM; LUASNYA = 3,73 x 106 KM2 (belum dipotong luas untuk ruang hijau yang terdiri dari taman, sungai dan danau yang bukan untuk hunian); VOLUMENYA = 7.2 x 109 Km3]. Ruangan tertutup tembok berbentuk kubus ini akan menjadi isolasi panas yang baik pula, bukan?!

      Suhu Neraka adalah menurut petunjuk yang tertera pada Kitab Wahyu 21:8,

        Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.

      Suhu elemen sulfur dalam keadaan mendidih cair adalah 832 ºF atau 444.6°C!

      Jadi, suhu Surga 80°C atau 145 ºF LEBIH PANAS dari suhu Neraka!

      Namun, berdasarkan “Journal of Irreproducible Results” untuk edisi tahun 1979 terdapat artikel yang ditulis oleh Dr. Tim Haeley sebagai sanggahan atas “Applied optics“, menyimpulkan bahwa NERAKA jauh lebih panas dari SURGA:

        Tekanan atmosphir NERAKA = 14.5 x 109 ATM (menggunakan hukum Boyle: P1V1 = P2V2, maka P2 = P1V1/V2, asumsi suhu konstan, equilibirium. Namun Ia keliru dalam mengasumsi lokasi neraka/gehenna yaitu di lembah Gehinnom/Jehoshaphat, sehingga luasnya hanya: 6 x 107 M2 dan juga diasumsikan tinggi neraka = 2 M [Maka V2 = 6 x 107 x 2 M3]. Diasumsikan jumlah nerakawan hingga tahun 2000 = 29.422 x 1018 orang dengan asumsi kebutuhan ruang = 30cm × 20cm x rata-rata tinggi nerakawan 100cm = 0.06 M3 [Maka P1V1 = 29.422 x 1018 x 0.06 M3].

        Untuk suhu surga yang 525°C adalah setara dengan 2.86 ATM [Persamaan Clausius-Cleypeyron: Log P = 7.43287 – 3268.2/T, P = tekanan dalam mm Hg dan T = titik didih angkat °K: Log P = 7.43287 – (3268.2/798°K) = 3.3373813, P = 2174.607 mm Hg = 2.86 ATM]

        Tentu saja dengan cara ini, maka Neraka MENJADI JAUH LEBIH PANAS daripada Surga!

        Masalahnya, lembah Gehinnom/Jehoshaphat bukanlah neraka tapi tempat persembahan bagi Molokh dan Baal [Misal: 1 Raja 11.7, 2 Raja 23.10, Yeremia 32.35], sedangkan lokasi neraka justru ada di permukaan bumi, merujuk pada peristiwa setelah kebangkitan pertama, ketika iblis dilepaskan dari penjaranya, menyesatkan 4 penjuru bumi beserta para tentaranya (para orang mati di alam kubur dalam bumi) yang naik ke seluruh permukaan bumi dan kemudian dari langit turunlah api menghanguskan mereka, dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya [Wahyu 20.5-10].

        Sehingga, luas neraka adalah seluas daratan bumi = 148.94 x 106 KM2 (29.2% Luas Bumi dan jika dibandingkan dengan luas Yerusalem baru, maka luas surga 2.5% luas Neraka) dengan tinggi lautan api sebagaimana besarnya api yang turun dari langit dengan tekanan atmospir permukaan ruang terbuka, maka suhunya adalah suhu belerang cair.

    Nah kawan-kawan,
    Apapun hasil perhitungan mereka, kelihatannya mereka bisa sepakat bahwa titik didihnya sulfur cair adalah 444.6°C, sehingga para kaum berdosa ketika mendapat bagiannya di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang, sesungguhnya bagaikan orang yang berendam “ngadem” di saat udara NERAKA [dan juga SURGA] yang sedang panas-panasnya. Malah sebaiknya para penghuni SURGA meluangkan waktu mereka untuk acara “ngadem” bareng para pendosa di danau hukuman. Ya, Bagaimana tidak? karena suhu sulfur cair yang mendidih di danau hukuman itu LEBIH RENDAH 80°C dari suhu di SURGA!

    Paling tidak,
    Hal ini bisa menjelaskan satu hal saja yaitu di surga, tubuh fisik manusia tidak perlukan karena akan meleleh di suhu yang sangat tinggi! dan juga menjelaskan banyak hal lagi di antaranya adalah sangatlah tidak nyaman di udara yang begitu panasnya dan tetap melakukan aktivitas tanpa henti dengan 72 bidadari, bukan?!

    Note:
    Tentunya akan ada aja yang berkeberatan, Hoiii..surga ajaran agama gw make tubuh fisik, tao! jadi, atas kehendak “Allah” yang memungkinkan segala hal bisa terjadi, pastilah bisa melakukan aktivitas tanpa henti dengan 72 bidadari..dan itu janji Allah, tao!

    Oke deh, Brotha!

    It’s all fine..So, Let’s make more bomb and not love, shall We?!




    [Gambar di ambil dari: sini, sini, sini, sini dan sini]

    Sialan…ternyata gw emang kampungan!


    Sore ini, Kamis, 05 Maret 2009, jam 16:16, Aku dapat lagi seorang kawan baru yang berasal dari stok lama..O ya..Kawan baru ku itu bernama Risye Kotambunan dan sebagai say hello ia tulis di dinding ku begini,

    “Waaaa Pak Eka gaul jg ya punya Fb. Pak Eka kl kt main ke sana boleh ga?”

    Buseett..! cilaka amat gw ya!

    Say hello risye itu mengungkit lagi kisah kelabu dalam hidupku..gw jadi inget alasan kenapa pisbuk ini gw buat..ya alasanya adalah karena boseennn ditanya2in terus ama beberapa kawan, “koq ngga punya fb sih” ato “masa hare gene ngga punya fb!!”lah..inilah itulah

    pusing gw..tapi walopun pusing..dasar dableg tetap aja gw tegar..mereka gw cueki..ya seperti kata pepatah gitu deh, “anjing berlalu, kapilah menggonggong”…eh..kebalik kali ya…”kapilah menggonggong, anjing berlalu”…halah!..

    Hari berganti hari..minggu berganti minggu..bulan pun berganti..dan pertanyaan itu tak kunjung padam..hingga habis sudah kesabaran ini.

    Aku pun bersumpah, “Jika satu kali lagi aja ada yang berani nanya-nanyain masalah kenapa gw ngga punya pisbuk, maka jika ia seorang pria, ia tetep akan ku cueki juga namun jika ia seorang wanita, maka ia akan kupaksa..ya..akan kupaksa ia..death or a live!”

    Benarlah..pada suatu hari..satu orang tiba-tiba meng-kontak-ku lewat Yahoo! Messanger dan ia seorang wanita..setelah beberapa obrolan..ia pun bertanya, “Ngga ada pesbuknya ya..koq ngga bikin?”…

    Walah! Pucuk dicinta ulam tiba!!!

    Maka segera saja kupenuhi sumpahku itu! Wanita “malang” ini bernama Rochayati-rochayati..ia kupaksa…ya..berulang-ulang..again and again..dengan cara berbeda, “mau..mau..mau”..

    Ia kupaksa untuk mengajariku…hingga ia pun luluh..dengan sabar dan telaten..ia puaskan kemauanku…ia layani aku..apapun yang ku mau untuk FB ini…akhirnya..akhirnya..akhirnya..jadilah aku berrrrrrpisbuk

    Gitu lho ceritanya…


    Memetik, Menebang, Membelah, Membeli & K.O: Cinta & Perkawinan


    Cinta dan Perkawinan

    Pada suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apakah cinta itu? Bagaimana aku mendapatkannya? “

    Gurunya menjawab, “Di depan sana, ada sebuah ladang gandung yang sangat luas. Berjalanlah kedepan tanpa berbalik arah, ambilah hanya satu batang. Jika engkau temukan satu batang yang menurutmu terbaik dari semuanya maka engkau telah menemukan arti cinta”

    Plato pun masuk ke ladang gandung dan taklama kemudian ia kembali dengan tangan kosong.

    Gurunya bertanya, “Mengapa tidak satupun batang gandum engkau bawa? “

    Plato menjawab, “Karena aku hanya boleh mengambil satu tanpa boleh berbalik lagi. Jadi, ketika telah kutemukan satu batang yang sangat baik, namun kupikir bisa jadi ada batang yang lebih baik lagi dii depan sana, sehingga batal kupetik. Terus ku melangkah, namun tiap batang yang kulihat tidaklah sebaik yang sebelumnya hingga akhir ladang tidak ada yang dapat kupetik”.

    Gurunya berkata, “dan begitulah cinta”

    ***

    Di hari yang lainnya, Plato bertanya pada gurunya, “Apakah pernikahan itu? Bagaimana aku mendapatkannya? “

    Gurunya menjawab, “Didepan sana ada hutan yang lebat, Berjalanlah kedepan tanpa berbalik arah dan tebanglah hanya satu pohon. Jika engkau temukan pohon yang tertinggi, maka engkau temukan arti pernikahan”

    Plato berjalan masuk ke hutan, tidak berapa lama, ia kembali dengan sebatang pohon. Pohon itu tidaklah buruk dan juga tidaklah tinggi. Hanya biasa-biasa saja, tidaklah yang terbaik.

    Gurunya bertanya , “Mengapa engkau tebang pohon yang biasa-biasa saja? “

    Plato menjawab, “Karena di pengalamanku sebelumnya, Aku berjalan hingga akhir ladang, namun kembali dengan tangan hampa. Kali ini, ku temukan pohon ini dan kurasa ini adalah pohon bagus pertama yang kulihat, jadi kutebang ia dan ku bawa kembali. Tidak lagi aku ingin menyia-nyiakan kesempatan”.

    Gurunya kemudian menjawab, “Dan begitulah perkawinan”

    Sumber: ditemukan di rerimbunan belantara net, semoga sang penulis diberkati.


    Berbelanja Suami [dan Istri]

    Di New York City,terdapat sebuah toko baru yang menjual suami baru dimana wanita dapat memilih sesuai yang diinginkannya dengan mengikuti instruksi di area masuk:

    “Engkau hanya boleh memasuki toko ini hanya satu kali! Ada enam lantai yang masing-masing tertera nilai dari setiap produk dan meningkat nilainya di tiap lantai. Pembeli dapat memilih item apapun di lantai tertentu atau naik ke lantai berikutnya, tapi engkau tidak dapat kembali kebawah kecuali keluar gedung”

    Seorang wanita pergilah ketoko untuk mencari suami. Pada lantai pertama, tertulis tanda:

    Lantai-1, Para pria di sini memiliki pekerjaan

    Minatnya tergoda, namun ia putuskan naik kelantai berikutnya, dan terdapat tanda tertulis:

    Lantai-2, Para Pria disini memiliki pekerjaan dan mencintai anak-anak

    “Ah, itu baik sekali”, pikirnya, tapi ia ingin sesuatu yang lebih. Jadi ia lanjutkan naik. Di tangga ke tiga tertulis tanda:

    Lantai-3, Para pria disini punya pekerjaan, mencintai anak-anak dan luarbiasa tampan.

    “Wow”, Ia berpikir, tapi ia paksakan dirinya untuk melanjutkan. Ia menuju ke lantai 4 dan tertulis tanda:

    lantai-4, Para pria disini punya pekerjaan, mencintai anak-anak dan ganteng abis dan ringan tangan dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

    “Ah, beruntungnya aku!”, ia berseru, “Sulit sekali rasanya untuk menahan diri! “. Namun tetap saja, ia lanjutkan menuju lantai ke 5 dan tertulis tanda:

    lantai-5, Para pria disini punya pekerjaan, mencintai anak-anak, ganteng abis, ringan tangan dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan sangat romantis.

    Ia sangat tergodanya untuk berhenti di situ, namun akhirya ia tetap lanjutkan ke lantai 6, dimana tertulis tanda:

    Lantai-6, Anda adalah pengunjung ke- 999.999.999. Tidak ada pria di lantai ini. Lantai ini dibangun hanya untuk membuktikan bahwa wanita mustahil untuk dipuaskan. Terima kasih untuk berbelanja di toko suami.

    ***

    Seorang wanita yang cerdas dan emosi dengan tulisan ini, menambahkan, Mohon juga di baca:

    Tepat di seberang jalan,telah dibuka pula toko “Istri baru”.

    Lantai-1, berisi para istri yang sangat menyukai Seks
    Lantai-2, berisi para istri yang menyukai seks dan punya banyak uang
    Lantai-3, 4, 5 dan 6 tidak pernah di kunjungi.

    Sumber: Love-marriage


    Ketika Cinta Membelah

    Suami saya adalah seorang insinyur. Saya mencintai sifatnya yang alami, dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul ketika saya bersender di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam masa kenalan dan bercumbu, sampai sekarang, dua tahun dalam masa pernikahan, harus saya akui, saya mulai merasa lelah dengan semua itu.

    Alasan saya mencintainya pada waktu dulu, telah berubah menjadi sesuatu yang melelahkan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang menginginkan permen. Dan suami saya bertolak belakang dari saya, rasa sensitifnya kurang, dan ketidakmampuannya untuk menciptakan suasana yang romantis di dalam pernikahan kami telah mematahkan harapan saya tentang cinta.

    ***

    Suatu hari, akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan keputusan mahaberat saya kepadanya. Saya menginginkan perceraian!

    “Mengapa?” Dia bertanya dengan terkejut. “Ada orang ketiga?!”

    Saya menggeleng. “Saya lelah. Terlalu banyak alasan yang tak akan pernah kamu pahami,” jawab saya.

    Dia terdiam dan termenung sepanjang malam dengan rokok yang tidak ada putus-putusnya.

    Kekecewaan saya semakin bertambah. Seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang saya bisa harapkan darinya?

    Dan akhirnya dia bertanya seolah dapat membaca alam pikiran saya. “Apa yang dapat saya lakukan untuk mengubah pikiranmu?”

    Seorang bijak pernah berkata, mengubah kepribadian orang lain sangatlah sulit. Mungkin itu benar. Saya pikir, saya mulai kehilangan kepercayaan dan kesabaran diri bahwa saya bisa mengubah pribadinya menjadi seorang yang romantis seperti obsesi saya selama ini. Dan tidak ada cara lain untuk mengakhiri semuanya itu dengan perceraian!

    Di dalam kekecewaan dan putus asa, saya menatap dalam-dalam matanya dan melontarkan tanya.

    “Saya punya pertanyaan untukmu. Jika kamu dapat menemukan jawabannya yang ada di dalam hati saya, mungkin saya akan berubah pikiran. Seandainya, katakanlah saya menyukai setangkai bunga yang ada di tebing gunung, dan kita berdua tahu, jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?”

    Dia berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.”

    Hati saya langsung gundah mendengar responnya. Dia seperti laki-laki yang tidak memiliki hati. Dia meninggalkan saya sendiri, tepekur dengan pertanyaan-pertanyaan saya yang serupa mistis.

    ***

    Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya melihat selembar kertas dengan coret-coretan tangannya, di bawah sebuah gelas kristal kosong, yang bertuliskan:

    “Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu. Tapi izinkan saya untuk menjelaskan alasannya.”

    Sebaris kalimat pertama tadi menghancurkan hati saya. Saya mencoba untuk kuat melanjutkan membacanya kembali….

    “Suatu ketika, saat kamu mengetik di komputer dan tanpa sengaja telah mengacaukan program di PC, dan akhirnya menangis di depan monitor karena semua data kamu hilang, maka saat itu pula saya akan datang membantu kamu. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki program komputer itu, dan mendapatkan data kamu yang hilang tersebut.”

    Saya menyimak dengan hati belah.

    “Suatu ketika, saat kamu keluar dan lupa membawa kunci rumah, saat itu saya harus pulang dari kantor untuk sekedar mendobrak pintu rumah dengan cara menendangnya, supaya kamu bisa masuk dan tidak membiarkanmu menunggu saya pulang kantor berjam-jam di luar rumah.”

    Kalimat ketiga tadi mulai menggugah saya dalam haru.

    “Suatu ketika, saat kamu jalan-jalan ke luar kota dan nyasar di tempat baru yang kamu kunjungi itu, maka saat itu saya begitu panik dan nyaris gila mencarimu. Saat menemukanmu, saya seperti menemukan sebuah permata yang tidak dapat saya gambarkan nilainya. Saya memelukmu, dan rasa-rasanya tidak ingin melepaskan kamu saat itu.”

    Sepasang pelupuk mata saya memanas.

    “Suatu ketika, saat kamu selalu pegal-pegal setiap ‘kedatangan tamu’ pada setiap bulannya, maka saat itu pula atas inisiatif saya sendiri, saya akan memijat kakimu yang pegal meskipun saya sudah mengantuk dan bahkan tertidur.”

    Bibir saya bergetar.

    “Suatu ketika, saat kamu sedang diam dan sendirian di rumah karena kita belum dikaruniai seorang anak, maka saya akan meriuhkan suasana ‘keterasinganmu’ dengan menjaring dan merangkai cerita supaya kamu tidak kesepian. Saya akan membanyol supaya kamu ceria di dalam senyum atau tawa lucu, meskipun saat itu saya masih lelah dan penat sehabis pulang kerja dari kantor.”

    Tubuh saya mulai menggemetar.

    “Suatu ketika, saat kamu asyik dan lama menatap monitor komputer, maka saat itu saya akan menegurmu untuk beristirahat, dan mengatakan kalau terlalu lama di depan layar monitor tidak baik untuk kesehatan matamu. Dan sejak saat itu pula, saya berikrar untuk harus menjaga kesehatan mata saya sehingga kelak kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Saya akan memegang tanganmu, menelusuri pantai, menikmati sinar matahari dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga kepadamu yang bersinar seperti wajah cantikmu….”

    Kerongkongan saya memerih.

    “Sayang, saya yakin ada banyak orang yang mencintaimu lebih dari cara saya mencintaimu. Tapi saya tidak akan mengambil bunga di tebing gunung itu, seperti yang kamu inginkan, kalau toh pada akhirnya bunga itu akan mati layu….”

    Airmata saya sudah menggumpal dan sedikit meruap di pinggir pelupuk mata.

    “Saya hanya ingin memberimu cinta, cinta yang tak akan pernah layu meski mungkin cinta itu tidak dapat kamu lihat sebagai sebuah keindahan. Keindahan seperti bunga. Keindahan seperti harum melati dan mawar. Tapi demikianlah saya yang apa adanya. Yang hanya memiliki niat sederhana untuk membahagiakan kamu dengan cara saya, cara yang mungkin bagi kamu tidak romantis. Ya, tidak romantis dan begitu menjenuhkan. Tapi saya yakin cinta saya ini akan abadi, dan tidak akan layu seperti keindahan bunga yang sekejap layu lalu mati.”

    Airmata saya sudah menetes dan jatuh ke atas kertas tulisannya. Saya berusaha untuk menahan tangis, namun tidak bisa. Buncah sesal seperti menohok hati saya telak-telak. Saya memang tak pandai mengartikan cinta yang sejati. Cinta tulus yang telah diberikan suami saya dengan caranya sendiri.

    “Sayang, sekarang setelah selesai membaca jawaban saya, kamu berhak memilih dan menentukan jalan hidup kamu. Tak ada paksaan. Namun jika kamu dapat menerima cinta cara saya yang apa adanya, seperti yang telah saya persembahkan kepada kamu selama ini, tolong bukalah pintu rumah kita. Sekarang, saya sedang berdiri di sana dengan susu segar dan roti kesukaanmu….”

    Saya segera membuka pintu, dan melihat wajahnya yang dulu sangat saya cintai. Matanya tampak merah dan berkaca-kaca, berdiri dengan sikap tegar sembari memegang nampan berisi segelas susu segar dan beberapa roti iris dalam piring.

    Saya tidak kuat lagi, memeluknya dan merebahkan kepala saya di bahunya yang bidang sambil menangis.

    From: Yeni Kurniawi, Ketika Cinta Membelah


    Komunikasi yang terjaga

    Setelah melalui pertengkaran hebat, sepasang suami istri sepakat untuk tidak bicara satu sama lain. Menyapa pun tidak. Meskipun mereka masih tidur satu ranjang, mereka tidur saling membelakangi.

    Suatu hari si suami berencana ke luar kota untuk menghadiri meeting tahunan di kantor pusat. Ia harus bangun pagi untuk mengejar penerbangan pertama. Namun si suami ini punya kebiasaan bangun kesiangan. Walau sudah memasang weker, ia tetap saja molor. Biasanya si istri yang membangunkannya.

    Si suami pun bingung harus bagaimana supaya ia bisa bangun pagi. mau ngobrol dengan istrinya, ia ingat akan perjanjian untuk tidak saling bicara. Mau bicara duluan juga gengsi. Akhirnya ia mengambil secarik kertas dan menulis :

    “Mama, besok pagi bangunkan saya jam 5 tepat. Saya harus mengejar penerbangan pertama besok pagi karena ada pertemuan tahunan di kantor pusat. Terimakasih”

    kemudian kertas itu ditempelkan di pintu kulkas. lalu tidurlah si suami.

    Keesokan harinya si suami bangun dan melihat jam. Ternyata sudah jam 9 pagi. Tentu saja ia ketinggalan penerbangan. Dengan perasaan kesal yang mendalam terhadap istrinya, ia berjalan keluar kamar. Ia cari istrinya, mau dimarahi. Tapi rumah tampak sepi. Ia berjalan menuju dapur untuk melihat pesan yang sudah ditempelkan di pintu kulkas. Dan ternyata si suami mendapati secarik kertas dari istrinya yg berisi:

    “Papa bangun! ini sudah jam 5 kurang lima menit! Cepat bangun atau kau akan ketinggalan pesawat!”

    Sumber:
    ditemukan di rerimbunan belantara net, semoga sang penulis diberkati.


    K.O Di Hotel

    Dengan Rp 165.000,- orang kini bisa naik pesawat murah meriah Jakarta – Surabaya. Gara-gara itulah barangkali, Dalijo, 66, jadi kelewat pede. Punya uang Rp 162.500,- saja berani “naik orang” di sebuah hotel Ponorogo. Tapi akibatnya fatal, baru selesai ronde pertama, langsung KO akibat serangan jantung.

    Istri memang kebutuhan vital setiap lelaki normal. Dengan istri ada teman bertukar pikiran, berbagi suka dan duka. Karena istri, kerja suami menjadi lebih bersemangat. Dan karena istri pula, seorang lelaki tak perlu kadhemen (kedinginan) di malam hari. Dia merupakan “bed kafer” multiguna, yang menjanjikan kehangatan, keasyikan tersendiri bagi lelaki. “Aja ngenyek karo wong wedok, ditinggal lunga setengah mati,” begitu kata Waldjinah si ratu kembang kacang dari Solo.

    Nah, dalam urusan perempuan Mbah Dalijo kini boleh dikata paling malang. Sejak 6 tahun lalu istrinya meninggal. Praktis sejak itu dia tak ada yang menangani dalam segala hal. Ada memang sih, sejumlah anak-anaknya. Tapi mereka kan hanya bisa meladeni makan minum, mencucikan pakaian, dan mempersiapkan kebutuhan untuk mandi. Tapi untuk hal yang paling prinsipil dan nyempil, siapa yang nanggung?

    Duda dalam usia 60 tahun kala itu, memang sangat menyiksa diri. Soalnya, sebagai lelaki normal Mbah Dalijo masih membutuhkan “sporing balancing” ibaratnya sebuah kendaraaan. Tapi semenjak istri mendahului pergi, kini dia jadi ngaplo (tanpa kegiatan). Padahal pendulumnya masih selalu kontak blip, blip di sepanjang hari. Mbah Dalijo pernah melempar usul pada anak-anak untuk kawin lagi, tapi anak-anak melarang. “Wis tuwa arep ngapa ta mbah (sudah tua mau apa lagi mbah)?” kata anak-anak.

    Ah, anak-anak ternyata tak bisa memahami kebutuhan hakiki seorang lelaki. Padahal penyakit rindu wanita sudah makin menggebu. Dari pada si rindu mengkristal jadi kemenyan, lelaki yang tinggal di Jl. KBP Duryat, Mangkjayan, Ponorogo ini beberapa hari lalu dia nekad mencari wanita pelabuhan asmara. Padahal asal tahu saja, uang di kantong tinggal Rp 162.500,- Pikirnya: cukuplah, naik pesawat Jakarta – Surabaya saja hanya Rp 165.000,- apa lagi naik orang!

    Kurang jelas, dari mana Mbah Dalijo dapat lawan. Yang jelas, perempuan pelacur bernama Sawitri, 26, itu sudah berhasil dibawa masuk ke hotel Larasati di Jalan Basuki Rahmad. Taripnya berapa juga tak diketahui pasti. Yang pasti dua makhluk berlainan jenis itu langsung “bertarung” antara hidup dan mati. Celakanya, baru saja menyelesaikan ronde pertama, Mbah Dalijo langsung terjengkang di pojok ranjang dengan kondisi masih telanjang. Sawitri pun jadi panik. Digoyang-goyang tubuhnya, Mbah Dalijo tetap saja tak bergerak. Padahal tadi, gerakannya aktif sekali.

    Untuk selanjutnya Sawitri lapor ke Satpam hotel, dan kemudian diteruskan ke polisi Polres Ponorogo. Ternyata kakek malang ini memang sudah wasalam, pulang ke rahmatullah dengan cara memalukan. Di kantongnya masih utuh uang Rp 162.500,- di samping sebungkus rokok dan gigi palsu. Diduga keras Mbah Dalijo serangan jantung, akibat tak bisa mengontrol emosinya setelah sekian lama tak pernah berhubungan intim. Kasihan. Pilot saja setelah lama grounded, harus latihan lagi! [JP/Gunarso TS]

    Sumber: Artikel Mbah Dalijo, merupakan kisah nyata, diambil dari Pos Kota, Selasa 19 Februari 2008, Jam: 10:19:00

    Note:
    Akan terus ditambah dengan topik serupa jika saya temukan lagi yang menarik


    Photo-Photo Korban Kebiadaban


    Ini adalah sebuah kisah nyata. Kisah seorang Bocah biasa berusia belasan. Seperti nak-anak umumnya pada jaman ini yang fasih komputer dan Internet maka Ia-pun menggunakan teknologi ini untuk berbagi kenangan bersama rekan sebayanya, melalui internet mengirim photo, namun seseorang telah menyalahgunakannya secara tidak bertanggung jawab!
    Ah, betapa malangnya bocah ini! Si Pelaku ternya ta seorang maniak kejam, biadab yang tidak berperikemanusiaan. Ia tidak memandang bulu siapa korbannya. Akibat dari tindakannya, bocah ini mengalami gejala-gejala multi kepribadian seperti yang terlampir dibawah ini yang merupakan rekaman hasil kebiadadaban si Pelaku. Semoga kita dapat menarik pelajaran dari hal ini dan semakin lebih berhati-hati dalam bertindak

    Ketika orang tuanya mengetahui, maka mereka memutuskan untuk menjaganya secara ketat, dengan menyewa seorang pengasuh wanita yang nantinya dapat mengasuh dan menemaninya hampir 24 Jam, Namun, trauma itu bukannya mereda malah menjadi makin buruk lagi. Ia-pun mulai mempunyai kepribadian ganda. Ya, di suatu saat, Ia berpikir bahwa Ia adalah seorang wanita tulen!

    Semakin dalam dengan sisi kepribadiannya sebagai seorang wanita maka Iapun makin tertarik dengan majalah-majalah wanita dan fashion! Lama-kelamaan, bosanlah ia dengan wanita tipe model pengasuhnya…dari majalah fashion milik ibunya ia temukan bahwa wanita-wanita eropa dan amerika begitu menariknya..Ia akhirnya terobsesi menjadi seorang wanita eropa lajang, menawan sexy dan menggairahkan

    Seiring dengan ketatnya pengawasan, dan ketakukan akan perubahan prilaku anaknya..maka semua majalah-majalah wanita disingkirkan. Ia pun lebih sering dikurung di rumah dan kesibukan yang tersedia hanyalah menonton TV. Ternyata, penelitian yang dilakukan para pakar psikologi adalah benar adanya bahwa TV berdampak pada perkembangan pola pikir dan kepribadian anak! Akibatnya mudah ditebak, obsesinya berubah-ubah mengikuti pergantian acara TV yang ia tonton. Sekarang perubahan kepribadiannya malah makin menjadi-jadi! Kadang Ia berpikir bahwa dirinya adalah pahlawan bertopeng pelindung kota Gotham, Ia pikir dirinya adalah Batman.

    Perubahan-perubahan tayangan TV benar-benar begitu menggodanya, setiap perubahan acara TV, ia-pun ikut berubah. terkadang Ia juga berpikir bahwa dirinya adalah seorang petualang samudra..Ya, anda benar Ia pikir dirinya adalah Sinbad si pelaut!

    Ya, namanya juga anak-anak, diusianya saat ini perkembangan khayalannya adalah sangat luar biasa. Begitu banyak yang diinginkannya di dalam pikirannya, kadang ingin begitu..kadang ingin begini..pokoknya banyak sekali! Maka ketika ada acara TV lainnya, kepribadiannya-pun berubah lagi, kini ia adalah Doraemon. Ya! Karena hanya Doraemon-lah yang mampu mengusahakan apa saja dengan kantong ajaib.

    Wanita yang mengasuhnya adalah seorang berusia muda, dalam keisengannya membunuh waktu, pengasuh ini jadi ikut menonton tayangan-tayangan TV dan sesuai umur dan selera, lebih banyak ayang ditontonnya berupa tayangan untuk dewasa. Awalnya kontrol sang pengasuh begitu ketatnya, namun keasikan menonton membuat ia lupa dengan tugas utamanyanya dan anak itupun secara sembunyi-sembunyi ikut menonton, lama kelamaan karena cape melarang, akhirnya anak dan pengasuhnya malah nonton bareng. Suatu saat ia bergitu terpesonanya dengan akting Leonardo De Caprio dan Ia menjadi sangat terobsesi dengan Leonardo. Seketika itu juga kepribadiannya berubah…Ia begitu pinginnya berada dalam pelukan Leonardo Decaprio.

    Pengaruh tayangan TV semakin merasuk dalam di pikirannya dan makin lama Ia malah semakin menggila! Pikiran-pikiran yang lebih mengerikan muncul dibenaknya! Suatu saat, entah karena terpesona dengan Michael Douglas atau bagaimana yang pasti, tiba-tiba saja Ia merasa bosan menjadi wanita..dan malah berdekapan dengan Sharon Stone

    Ketika Dangdut menjadi laris manis di semua stasiun TV..maka tiada hari tanpa dangdut. Setiap saat, kapan saja, dimana saja..pokoknya setiap waktu tayang dangdut muncul di TV maka pastilah Ia hadir. Begitu majikan kecilnya maka begitu pula pengasuhnya! Mereka selalu setia di setiap tayangan. Sebut saja satu lagu, maka mereka berdua begitu fasihnya menyanyi.. Pokoknya hampir semua lagu dangdut terpopuler masa kini mereka pasti hafal mati dan tentu saja termasuk juga siapa biduannya, mereka pasti hafal. Bahkan bukan cuma itu! Goyangan-goyangan syur khas masing-masing biduan-pun anak itu mampu melakukannya. Nah, inilah yang sesungguhnya sangat menakutkan! Ia begitu terobsesinya untuk menjadi seorang biduan dangdut…dan kali ini malah begitu mengerikannya!


    Sambil bergoyang-goyang yang sangat mengerikan itu….Ia kumandangkan juga syairnya:

    Bang SMS siapa ini bang….Bang isinya pake sayang-sayang…”

    Inginkah anda dan/atau keluarga mengalami hal-hal mengerika ini yang bermula dari sekedar mengirim photo diri ke internet?
    Apabila tidak, maka jagalah diri anda dan keluarga baik-baik…jangan sampai lengah! Ingat kejahatan senantiasa mengintai kita!

    WASPADALAH!!…WASPADALAH!!..WASPADALAH!!..WASPADALAH!!.. WASPADALAH!!


    Di gubah dari email kiriman :
    “inyo teguh” , atik atik , wirakusuma dan putu widyastuti rudolf