Category Archives: BhagawadGita

BhagawadGita, Bab 17 s/d 18 (Tamat)


GitaDhyanam

  1. Arjuna Wisada Yoga, menguraikan keragu-raguan dalam diri Arjuna
  2. Samkhya Yoga, menguraikan ajaran yoga dan samkhya
  3. Karma Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena karma, usaha, perbuatan
  4. Jnana Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena ilmu pengetahuan suci
  5. Karma Samnyasa Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena prihatin
  6. Dhyana Yoga, menguraikan tentang makna dhyana sebaga satu sistem dalam yoga
  7. Jnana Widnyana Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena budi
  8. Aksara Brahma Yoga, menguraikan hakikat akan kekekalan Tuhan
  9. Raja Widya Rajaguhya Yoga, hakikat Ketuhanan sebagai raja dari segala ilmu pengetahuan (widya)
  10. Wibhuti Yoga, menguraikan akan sifat hakikat Tuhan yang absolut, tanpa awal, pertengahan dan akhir
  11. Wiswarupa Darsana Yoga, kelanjutan dari Wibhuti Yoga, dijelaskan dengan manifestasi secara nyata
  12. Bhakti Yoga, menguraikan tentang cara yoga dengan bhakti
  13. Ksetra Ksetradnya Yoga, menguraikan hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa dalam hubungan dengan purusa dan prakrti
  14. Guna Traya Wibhaga Yoga, membahas Triguna – Sattwam, Rajas dan Tamas
  15. Purusottama Yoga, menguraikan beryoga pada purusa yang Maha Tinggi, Hakikat Ketuhanan
  16. Daiwasura Sampad Wibhaga Yoga, membahas akan hakikat tingkah-laku manusia, baik dan buruk
  17. Sraddha Traya Wibhaga Yoga, menguraikan kepercayaan dan berkeyakinan pada Triguna
  18. Moksa Samnyasa Yoga, merupakan kesimpulan dari semua ajaran yang menjadi inti tujuan agama yang tertinggi.


Bhagavad Gita – Bab XVII

Saptadaso’dhyayah
Bab XVII

Sraddhatraya Wibhaga Yoga
Tiga Macam Fenomena Keyakinan

17-1

arjuna uvaca
ye shastra-vidhim utsrjya
yajante shraddhayanvitah
tesham nistha tu ka krishna
sattvam aho rajas tamah

“Arjuna inquired: O Krishna, what is the situation of those who do not follow the principles of scripture but worship according to their own imagination? Are they in goodness, in passion or in ignorance?”

Arjuna bertanya:
Mereka yang melalaikan petunjuk kitab suci, mempersembahkan upacara kurban yang disertai dengan keyakinan, bagaimanakah kedudukan mereka ini, wahai Krsna? Apakah ini disebut sattva, rajas atau tamas?

17-2

sri-bhagavan uvaca
tri-vidha bhavati shraddha
dehinam sa svabhava-ja
sattviki rajasi caiva
tamasi ceti tam shrinu

“The Supreme Personality of Godhead said: According to the modes of nature acquired by the embodied soul, one’s faith can be of three kinds—in goodness, in passion or in ignorance. Now hear about this.”

Sri Bhagavan bersabda:
Keyakinan dari perwujudan roh ada tiga macam, yang berasal dari sifat, sattvam, rajas dan tama. Dengarlah tentang hal itu sekarang.

17-3

sattvanurupa sarvasya
shraddha bhavati bharata
shraddha-mayo ’yam purusho
yo yac-chraddhah sa eva sah

“O son of Bharata, according to one’s existence under the various modes of nature, one evolves a particular kind of faith. The living being is said to be of a particular faith according to the modes he has acquired.”

Keyakinan dari setiap pribadi, wahai Bharata (Arjuna), tergantung pada sifatnya. Manusia merupakan wujud dari keyakinannya; apapun keyakinannya itu, sesungguhnya demikian ia adanya.

17-4

yajante sattvika devan
yaksha-rakshamsi rajasah
pretan bhuta-ganams canye
yajante tamasa janah

“Men in the mode of goodness worship the demigods; those in the mode of passion worship the demons; and those in the mode of ignorance worship ghosts and spirits.”

Orang-orang sattvika memuja para dewa, yang bersifat rajasa memuja para raksasa dan para yaksa dan yang lainnya, yaitu para tamasa memuja roh-roh orang mati dan roh-roh halus lainnya.

17-5 & 17-6

ashastra-vihitam ghoram
tapyante ye tapo janah
dambhahankara-samyuktah
kama-raga-balanvitah

karsayantah sarira-stham
bhuta-gramam acetasah
mam caivantah sarira-stham
tan viddhy asura-niscayan

“Those who undergo severe austerities and penances not recommended in the scriptures, performing them out of pride and egoism, who are impelled by lust and attachment, who are foolish and who torture the material elements of the body as well as the Supersoul dwelling within, are to be known as demons.”

Orang-orang sombong dan angkuh dan didorong oleh kekuatan nafsu dan keterikatan, yang melakukan tapah kekerasan (dengan menyiksa badan), yang tidak mengikuti aturan kitab suci. Karena kebodohannya, dengan menekan kelompok unsur dalam badan dan Aku yang juga bersemayam dalam badan; ketahuilah bahwa tujuan mereka itu bersifat jahat.

17-7

aharas tv api sarvasya
tri-vidho bhavati priyah
yajnas tapas tatha danam
tesham bhedam imam shrinu

“Even the food each person prefers is of three kinds, according to the three modes of material nature. The same is true of sacrifices, austerities and charity. Now hear of the distinctions between them.”

Bahkan makanan yang umum dimakan semua orang ada tiga jenisnya. Demikian pula yajna, tapah dan dana (amal sedekah). Dengarkanlah perbedaan ketiganya itu.

17-8

ayuh-sattva-balarogya-
sukha-priti-vivardhanah
rasyah snigdhah sthira hrdya
aharah sattvika-priyah

“Foods dear to those in the mode of goodness increase the duration of life, purify one’s existence and give strength, health, happiness and satisfaction. Such foods are juicy, fatty, wholesome, and pleasing to the heart.”

Makanan yang meningkatkan kehidupan, kekuatan, vitalitas, kesehatan, kegembiraan dan kesenangan, yang terasa lezat, lembut, menyegarkan dan enak, disukai oleh para sattvika.

17-9

katv-amla-lavanaty-usna-
tiksna-ruksa-vidahinah
ahara rajasasyesta
duhkha-sokamaya-pradah

“Foods that are too bitter, too sour, salty, hot, pungent, dry and burning are dear to those in the mode of passion. Such foods cause distress, misery and disease.”

Makanan yang pahit, masam, asin, pedas, kebanyakan rempah-rempah (bumbu), keras dan hangus, yang menyebabkan penderitaan dan penyakit serta kesusahan, disukai oleh kaum rajasa.

17-10

yata-yamam gata-rasam
puti paryusitam ca yat
ucchistam api camedhyam
bhojanam tamasa-priyam

“Food prepared more than three hours before being eaten, food that is tasteless, decomposed and putrid, and food consisting of remnants and untouchable things is dear to those in the mode of darkness.”

Makanan yang basi, kehilangan rasa, busuk, berbau, bekas sisa dan tidak bersih adalah yang disukai para tamasa.

17-11

aphalakanksibhir yajno
vidhi-disto ya ijyate
yastavyam eveti manah
samadhaya sa sattvikah

“Of sacrifices, the sacrifice performed according to the directions of scripture, as a matter of duty, by those who desire no reward, is of the nature of goodness.”

Yajna yang dipersembahkan sesuai dengan aturan kitab suci oleh mereka yang tidak mengharapkan ganjaran dan sangat percaya bahwa itu merupakan kewajiban yang harus dilakukan, merupakan yajna sattvika.

17-12

abhisandhaya tu phalam
dambhartham api caiva yat
ijyate bharata-srestha
tam yajnam viddhi rajasam

“But the sacrifice performed for some material benefit, or for the sake of pride, O chief of the Bharatas, you should know to be in the mode of passion.”

Tetapi, yang dipersembahkan dengan mengharapkan ganjaran atau hanya untuk pamer saja, ketahuilah, wahai Bharatasrestha (Arjuna), bahwa yajna itu bersifat rajasa

17-13

vidhi-hinam asrstannam
mantra-hinam adaksinam
shraddha-virahitam yajnam
tamasam paricakshate

“Any sacrifice performed without regard for the directions of scripture, without distribution of prasadam [spiritual food], without chanting of Vedic hymns and remunerations to the priests, and without faith is considered to be in the mode of ignorance.”

Yajna yang tidak mengikuti aturan, di mana tak ada makanan yang dibagikan, tak ada mantra diucapkan dan tanpa pemberian amal sedekah dan tanpa keyakinan, dinyatakan sebagai yajna tamasa

17-14

deva-dvija-guru-prajna-
pujanam shaucam arjavam
brahmacaryam ahimsa ca
sariram tapa ucyate

“Austerity of the body consists in worship of the Supreme Lord, the brahmanas, the spiritual master, and superiors like the father and mother, and in cleanliness, simplicity, celibacy and nonviolence.”

Pemujaan para dewa, para dwijati, para guru dan orang-orang bijak, kemurnian, kejujuran, pengendalian nafsu dan tanpa kekerasan; ini dikatakan sebagai tapah badan.

17-15

anudvega-karam vakyam
satyam priya-hitam ca yat
svadhyayabhyasanam caiva
van-mayam tapa ucyate

“Austerity of speech consists in speaking words that are truthful, pleasing, beneficial, and not agitating to others, and also in regularly reciting Vedic literature.”

Pengucapan kata-kata yang tidak menyebabkan sakit hati, dapat dipercaya, menyenangkan dan berguna serta membaca Veda secara teratur, ini dikatakan sebagai tapah dalam perkataan.

17-16

manah-prasadah saumyatvam
maunam atma-vinigrahah
bhava-samsuddhir ity etat
tapo manasam ucyate

“And satisfaction, simplicity, gravity, self-control and purification of one’s existence are the austerities of the mind.”

Kedamaian pikiran, sopan santun, pendiam, pengendalian diri dan kemurnian pikiran, ini dikatakan tapah dari pikiran.

17-17

shraddhaya paraya taptam
tapas tat tri-vidham naraih
aphalakanksibhir yuktaih
sattvikam paricakshate

“This threefold austerity, performed with transcendental faith by men not expecting material benefits but engaged only for the sake of the Supreme, is called austerity in goodness.”

Tiga macam tapah yang dilakukan dengan penuh keyakinan orang-orang yang pikirannya seimbang tanpa mengharapkan balas jasa, disebut sattvika

17-18

satkara-mana-pujartham
tapo dambhena caiva yat
kriyate tad iha proktam
rajasam calam adhruvam

“Penance performed out of pride and for the sake of gaining respect, honor and worship is said to be in the mode of passion. It is neither stable nor permanent.”

Tapah yang dilaksanakan agar mendapat kehormatan, disegani dan dipuja-puja, serta demi untuk pamer semata dikatakan sebagai tapah rajasa, yang tidak stabil dan tidak kekal

17-19

mudha-grahenatmano yat
pidaya kriyate tapah
parasyotsadanartham va
tat tamasam udahrtam

“Penance performed out of foolishness, with self-torture or to destroy or injure others, is said to be in the mode of ignorance.”

Tapah yang dilaksanakan dengan pemahaman bodoh dengan cara penyiksaan badan atau yang menyebabkan penderitaan orang lain, dikatakan sebagai tapah tamasa

17-20

datavyam iti yad danam
diyate ’nupakarine
dese kale ca patre ca
tad danam sattvikam smrtam

“Charity given out of duty, without expectation of return, at the proper time and place, and to a worthy person is considered to be in the mode of goodness.”

Amal sedekah yang diberikan kepada seseorang yang dianggap tak mungkin dapat membalasnya kembali, dengan perasaan bahwa sudah merupakan kewajibannya untuk memberi dan yang diberikan pada tempat, waktu dan orang yang layak menerimanya, sedekah semacam itu dianggap sebagai sattvika.

17-21

yat tu pratyupakarartham
phalam uddisya va punah
diyate ca pariklistam
tad danam rajasam smrtam

“But charity performed with the expectation of some return, or with a desire for fruitive results, or in a grudging mood, is said to be charity in the mode of passion.”

Tetapi amal sedekah yang diberikan dengan harapan balasan kembali atau dengan harapan perolehan masa depan atau dengan perasaan keberatan untuk memberikannya, dipandang sebagai bersifat rajasa

17-22

adesa-kale yad danam
apatrebhyas ca diyate
asat-kritam avajnatam
tat tamasam udahrtam

“And charity performed at an impure place, at an improper time, to unworthy persons, or without proper attention and respect is said to be in the mode of ignorance.”

Dan amal sedekah yang diberikan pada tempat, waktu yang salah serta terhadap orang yang tidak layak menerimanya, tanpa aturan semestinya aatu dengan sikap menghina, hal itu dinyatakan sebagai tamasa

17-23

om tat sad iti nirdeso
brahmanas tri-vidhah smrtah
brahmanas tena vedas ca
yajnas ca vihitah pura

“From the beginning of creation, the three words om tat sat were used to indicate the Supreme Absolute Truth. These three symbolic representations were used by brahmanas while chanting the hymns of the Vedas and during sacrifices for the satisfaction of the Supreme.”

Kata “Aum Tat Sat” ini dipandang sebagai lambang tiga aspek Brahman. Dengan tiga kata ini telah ditetapkan tentang para Brahmana, kitab suci Veda dan yajna jaman dahulu.

17-24

tasmad om ity udahrtya
yajna-dana-tapah-kriyah
pravartante vidhanoktah
satatam brahma-vadinam

“Therefore, transcendentalists undertaking performances of sacrifice, charity and penance in accordance with scriptural regulations begin always with om, to attain the Supreme.”

Oleh karena itu, dengan pengucapan suku kata “aum”, kegiatan yajna, dana dan tapah seperti yang dinyatakan dalam kitab suci senantiasa dipergunakan oleh para penganut Brahman

17-25

tad ity anabhisandhaya
phalam yajna-tapah-kriyah
dana-kriyas ca vividhah
kriyante moksha-kanksibhih

“Without desiring fruitive results, one should perform various kinds of sacrifice, penance and charity with the word tat. The purpose of such transcendental activities is to get free from material entanglement.”

Dan dengan pengucapan suku kata “tat”, kegiatan yajna, tapah dan berbagai kegiatan dana dilaksanakan oleh para pencari kebebasan, tanpa tujuan untuk mendapat balas jasa.

17-26 & 17-27

sad-bhave sadhu-bhave ca
sad ity etat prayujyate
prasaste karmani tatha
sac-chabdah partha yujyate

yajne tapasi dane ca
sthitih sad iti cocyate
karma caiva tad-arthiyam
sad ity evabhidhiyate

“The Absolute Truth is the objective of devotional sacrifice, and it is indicated by the word sat. The performer of such sacrifice is also called sat, as are all works of sacrifice, penance and charity which, true to the absolute nature, are performed to please the Supreme Person, O son of Prtha.”

Suku kata “sat” dipergunakan dalam pengertian realitas, kebajikan, wahai Partha (Arjuna); dan kata “sat” juga dipergunakan dalam kegiatan yang patut dipuji. Kemantapan dalam melakukan yajna, tapah, dana juga disebut “sat” dan juga setiap kegiatan untuk tujuan itu disebut “sat”

17-28

ashraddhaya hutam dattam
tapas taptam kritam ca yat
asad ity ucyate partha
na ca tat pretya no iha

“Anything done as sacrifice, charity or penance without faith in the Supreme, O son of Pritha, is impermanent. It is called asat and is useless both in this life and the next.”

Persembahan dan dana apapun yang dilakukan, tapah apapun yang dilaksanakan dan yajna apapun yang dilakukan tanpa keyakinan, itu disebut “asat”, wahai Partha (Arjuna), tak ada artinya baik disini maupun di dunia sana nantinya.

Di sini berakhir bab XVII, percakapan yang berjudul: Sraddhatraya Wibhaga Yoga

[Kembali]


Bhagavad Gita – Bab XVIII

Astadaso’dhyayah
Bab XVIII

Samnyasa Yoga
Penyangkalan harus dilakukan pada Hasil Kegiatan, bukan pada Kegiatan itu sendiri.

18-1

arjuna uvaca
sannyasasya maha-baho
tattvam icchami veditum
tyagasya ca hrishikesha
prithak kesi-nisudana

“Arjuna said: O mighty-armed one, I wish to understand the purpose of renunciation [tyaga] and of the renounced order of life [sannyasa], O killer of the Keshi demon, master of the senses.”

Arjuna bertanya:
Wahai Mahabaho (Krsna), aku ingin mengetahui sifat sejati dari penyangkalan (samnyasa) dan pelepasan (tyaga), wahai Hrsikesa (Krsna), masing-masing dari padanya, wahai Kesinisudana (Krsna)

18-2

sri-bhagavan uvaca
kamyanam karmanam nyasam
sannyasam kavayo viduh
sarva-karma-phala-tyagam
prahus tyagam vicakshanah

“The Supreme Personality of Godhead said: The giving up of activities that are based on material desire is what great learned men call the renounced order of life [sannyasa]. And giving up the results of all activities is what the wise call renunciation [tyaga].”

Sri Bhagavan bersabda:
ORang-orang bijak mengartikan kata “penyangkalan” sebagai pelepasan terhadap kegiatan kerja yang didorong oleh keinginan; pelepasan hasil dari segala kegiatan kerja, para terpelajar menyatakan sebagai tyaga


18-3

tyajyam dosa-vad ity eke
karma prahur manisinah
yajna-dana-tapah-karma
na tyajyam iti capare

“Some learned men declare that all kinds of fruitive activities should be given up as faulty, yet other sages maintain that acts of sacrifice, charity and penance should never be abandoned.”

Kegiatan kerja hendaknya ditinggalkan sebagai kejahatan, demikian kata beberapa orang terpelajar, tetapi yang lainnya menyatakan bahwa kegiatan yajna, dana dan tapah jangan ditinggalkan.

18-4

niscayam shrinu me tatra
tyage bharata-sattama
tyago hi purusha-vyaghra
tri-vidhah samprakirtitah

“O best of the Bharatas, now hear My judgment about renunciation. O tiger among men, renunciation is declared in the scriptures to be of three kinds.”

Sekarang dengarkanlah dari Ku, wahai Bharatasattama (Arjuna), kebenaran tentang tyaga, tyaga itu, wahai Purusavyagrha (Arjuna), ada tiga macam.

18-5

yajna-dana-tapah-karma
na tyajyam karyam eva tat
yajno danam tapas caiva
pavanani manisinam

“Acts of sacrifice, charity and penance are not to be given up; they must be performed. Indeed, sacrifice, charity and penance purify even the great souls.”

Kegiatan yajna, dana dan tapah jangan ditinggalkan tetapi harus dilaksanakan; karena kegiatan itu memurnikan orang-orang bijaksana

18-6

etany api tu karmani
sangam tyaktva phalani ca
kartavyaniti me partha
niscitam matam uttamam

“All these activities should be performed without attachment or any expectation of result. They should be performed as a matter of duty, O son of Pritha. That is My final opinion.”

Tetapi kegiatan kerja inipun hendaknya dilaksanakan dengan melepaskan keterikatan dan keinginan pada hasilnya. Wahai Partha (Arjuna), hal ini merupakan keputusan-Ku dan pendapat-Ku yang terakhir.

18-7

niyatasya tu sannyasah
karmano nopapadyate
mohat tasya parityagas
tamasah parikirtitah

“Prescribed duties should never be renounced. If one gives up his prescribed duties because of illusion, such renunciation is said to be in the mode of ignorance.”

Sesungguhnya melepaskan kewajiban yang harus dilakukan adalah tidak benar. Meninggalkan kewajiban karena kebodohan dinyatakan sebagai sifat dari tamasa

18-8

duhkham ity eva yat karma
kaya-klesa-bhayat tyajet
sa kritva rajasam tyagam
naiva tyaga-phalam labhet

“Anyone who gives up prescribed duties as troublesome or out of fear of bodily discomfort is said to have renounced in the mode of passion. Such action never leads to the elevation of renunciation.”

Ia yang meninggalkan kewajiban karena kesusahan atau karena takut akan penderitaan fisik, hanya melakukan tyaga yang bersifat rajasa dan tak akan memperoleh hasil dari tyaga tersebut.

18-9

karyam ity eva yat karma
niyatam kriyate ’rjuna
sangam tyaktva phalam caiva
sa tyagah sattviko matah

“O Arjuna, when one performs his prescribed duty only because it ought to be done, and renounces all material association and all attachment to the fruit, his renunciation is said to be in the mode of goodness.”

Tetapi dia yang melaksanakan kewajiban yang diharuskan sebagai hal yang harus dilakukan dengan meninggalkan segala keterikatan dan juga hasilnya, tyaga ini dianggap sebagai bersifat sattvika

18-10

na dvesty akusalam karma
kusale nanusajjate
tyagi sattva-samavisto
medhavi chinna-samsayah

“The intelligent renouncer situated in the mode of goodness, neither hateful of inauspicious work nor attached to auspicious work, has no doubts about work.”

Orang bijaksana yang penyangkalan dan keragu-raguannya telah lenyap, yang sifatnya sattvika, tidak membenci melakukan kegiatan yang tak menyenangkan dan tidak terikat dengan kegiatan kerja yang menyenangkan.

18-11

na hi deha-bhrta sakyam
tyaktum karmany asesatah
yas tu karma-phala-tyagi
sa tyagity abhidhiyate

“It is indeed impossible for an embodied being to give up all activities. But he who renounces the fruits of action is called one who has truly renounced.”

Memang tak mungkin bagi mahluk berwujud untuk absen dari kegiatan kerja sama sekali; tetapi ia yang melepaskan hasil dari kegiatan kerja itu dikatakan sebagai tyagi sejati.

18-12

anistam istam misram ca
tri-vidham karmanah phalam
bhavaty atyaginam pretya
na tu sannyasinam kvacit

“For one who is not renounced, the threefold fruits of action—desirable, undesirable and mixed—accrue after death. But those who are in the renounced order of life have no such result to suffer or enjoy.”

Menyenangkan, tak menyenangkan dan campuran adalah tiga macam hasil dari kegiatan kerja yang tumbuh setelah kematian terhadap mereka yang belum menjadi tyagi; tetapi tak ada sesuatupun yang terjadi bagi mereka yang telah menjadi samnyasin

18-13

pancaitani maha-baho
karanani nibodha me
sankhye kritante proktani
siddhaye sarva-karmanam

“O mighty-armed Arjuna, according to the Vedanta there are five causes for the accomplishment of all action. Now learn of these from Me.”

Wahai Mahabaho (Arjuna), pelajarilah dari-Ku kelima faktor ini, guna menyelesaikan segala kegiatan kerja seperti yang dinyatakan dalam ajaran Samkhya.

18-14

adhisthanam tatha karta
karanam ca prithag-vidham
vividhas ca prithak cesta
daivam caivatra pancamam

“The place of action [the body], the performer, the various senses, the many different kinds of endeavor, and ultimately the Supersoul—these are the five factors of action.”

Tempat kedudukan kegiatan (badan) dan juga pelaku, alat berbagai jenis, segala macam usaha dan anugerah Tuhan sebagai yang kelima.

18-15

sarira-van-manobhir yat
karma prarabhate narah
nyayyam va viparitam va
pancaite tasya hetavah

“Whatever right or wrong action a man performs by body, mind or speech is caused by these five factors.”

Kegiatan kerja apapun yang dilakukan seseorang dengan badan, kata-kata atau pikirannya, apakah benar atau salah, kelima unsur inilah sebagai faktor penyebabnya

18-16

tatraivam sati kartaram
atmanam kevalam tu yah
pasyaty akrita-buddhitvan
na sa pasyati durmatih

“Therefore one who thinks himself the only doer, not considering the five factors, is certainly not very intelligent and cannot see things as they are.”

Demikianlah masalahnya dengan pikiran yang tak murni, yang disebabkan oleh pemahamannya yang tak terlatih, memandang dirinya sendiri sebagai satu-satunya pelaku, sebenarnya ia tidak melihat apapun

18-17

yasya nahankrto bhavo
buddhir yasya na lipyate
hatvapi sa imaû lokan
na hanti na nibadhyate

“One who is not motivated by false ego, whose intelligence is not entangled, though he kills men in this world, does not kill. Nor is he bound by his actions.”

Ia yang bebas dari rasa keakuannya, yang pemahamannya tak tercemari, walaupun ia membunuh orang-orang ini, sebenarnya ia tak membunuh ataupun terbelenggu oleh kegiatannya.

18-18

jnanam jneyam parijnata
tri-vidha karma-codana
karanam karma karteti
tri-vidhah karma-sangrahah

“Knowledge, the object of knowledge, and the knower are the three factors that motivate action; the senses, the work and the doer are the three constituents of action.”

Pengetahuan, obyek pengetahuan dan yang mengetahui pengetahuan itu adalah tiga pendorong untuk melakukan kegiatan kerja; alat, kegiatan dan pelaku adalah tiga macam gabungan dari kegiatan

18-19

jnanam karma ca karta ca
tridhaiva guna-bhedatah
procyate guna-sankhyane
yathavac chrnu tany api

“According to the three different modes of material nature, there are three kinds of knowledge, action and performer of action. Now hear of them from Me.”

Pengetahuan, kegiatan kerja dan pelaku dikatakan dalam ilmu tentang sifat-sifat (guna) hanya tiga jenisnya, sesuai dengan perbedaan guna tersebut. Dengarkan tentang hal ini dengan sebenarnya.

18-20

sarva-bhutesu yenaikam
bhavam avyayam iksate
avibhaktam vibhaktesu
taj jnanam viddhi sattvikam

“That knowledge by which one undivided spiritual nature is seen in all living entities, though they are divided into innumerable forms, you should understand to be in the mode of goodness.”

Pengetahuan yang dipakai untuk melihat Keberadaan Abadi pada segala eksistensi, yang tak terbagi dalam yang terbagi, ketahuilah bahwa pengetahuan itu adalah sattvika

18-21

prithaktvena tu yaj jnanam
nana-bhavan prithag-vidhan
vetti sarveshu bhutesu
taj jnanam viddhi rajasam

“That knowledge by which one sees that in every different body there is a different type of living entity you should understand to be in the mode of passion.”

Pengetahuan yang melihat kejamakan keberadaan pada mahluk-mahluk yang berbeda, dengan alasan keterpisahannya, ketahuilah bahwa pengetahuan itu bersifat rajasa.

18-22

yat tu krtsna-vad ekasmin
karye saktam ahaitukam
atattvartha-vad alpam ca
tat tamasam udahrtam

“And that knowledge by which one is attached to one kind of work as the all in all, without knowledge of the truth, and which is very meager, is said to be in the mode of darkness.”

Tetapi yang bergantung hanya pada satu akibat seakan-akan keseluruhan tanpa perduli pada penyebab, tanpa mendapatkan yang sejati, dan sempit (picik) dinyatakan sebagai bersifat tamasa

18-23

niyatam sanga-rahitam
araga-dvesatah kritam
aphala-prepsuna karma
yat tat sattvikam ucyate

“That action which is regulated and which is performed without attachment, without love or hatred, and without desire for fruitive results is said to be in the mode of goodness.”

Suatu kegiatan yang bersifat wajib, yang dilaksanakan tanpa keterikatan, tanpa kasih sayang atau kebencian oleh orang yang tak mengharapkan hasil, itu dikatakan sebagai sattvika

18-24

yat tu kamepsuna karma
sahankarena va punah
kriyate bahulayasam
tad rajasam udahrtam

“But action performed with great effort by one seeking to gratify his desires, and enacted from a sense of false ego, is called action in the mode of passion.”

Tetapi kegiatan kerja yang dilakukan dengan usaha keras oleh seseorang yang mencari pemenuhan keinginannya atau yang didorong oleh keakuan, dikatakan sebagai bersifat rajasa

18-25

anubandham ksayam himsam
anapeksya ca paurusam
mohad arabhyate karma
yat tat tamasam ucyate

“That action performed in illusion, in disregard of scriptural injunctions, and without concern for future bondage or for violence or distress caused to others is said to be in the mode of ignorance.”

Kegiatan kerja yang dilakukan karena kebodohan, tanpa memperdulikan akibat atau kerugian dan melukai, serta tanpa memandang kemampuannya, kegiatan dikatakan bersifat tamasika

18-26

mukta-sango ’naham-vadi
dhrty-utsaha-samanvitah
siddhy-asiddhyor nirvikarah
karta sattvika ucyate

“One who performs his duty without association with the modes of material nature, without false ego, with great determination and enthusiasm, and without wavering in success or failure is said to be a worker in the mode of goodness.”

Si pelaku yang bebas dari keterikatan, yang tak memiliki rasa keakuan, penuh keteguhan hati dan bersemangat dan yang tak terpengaruh oleh kegagalan atau keberhasilan, dikatakan sebagai bersifat sattvika

18-27

ragi karma-phala-prepsur
lubdho himsatmako ’sucih
harsa-sokanvitah karta
rajasah parikirtitah

“The worker who is attached to work and the fruits of work, desiring to enjoy those fruits, and who is greedy, always envious, impure, and moved by joy and sorrow, is said to be in the mode of passion.”

Pelaku yang diombang-ambingkan oleh nafsu, yang sangat merindukan hasil dari kegiatannya, yang bersifat serakah dan bersifat menyakiti, tidak murni, yang dipengaruhi oleh rasa senang dan sedih, dikatakan sebagai bersifat rajasa

18-28

ayuktah prakritah stabdhah
satho naiskritiko ’lasah
visadi dirgha-sutri ca
karta tamasa ucyate

“The worker who is always engaged in work against the injunctions of the scripture, who is materialistic, obstinate, cheating and expert in insulting others, and who is lazy, always morose and procrastinating is said to be a worker in the mode of ignorance.”

Pelaku yang pikirannya tak seimbang, vulgar (biadab), sombong, tidak jujur, bersifat jahat, bebal, pengecut dan suka mengulur-ulur waktu, dikatakan sebagai yang bersifat tamasa

18-29

buddher bhedam dhrtes caiva
gunatas tri-vidham shrinu
procyamanam asesena
prithaktvena dhananjaya

“O winner of wealth, now please listen as I tell you in detail of the different kinds of understanding and determination, according to the three modes of material nature.”

Sekarang dengarkanlah tiga macam perbedaan pemahaman dan juga kemantapan, wahai Dhananjaya (Arjuna), sesuai dengan sifat (guna) yang dinyatakan secara keseluruhan dan masing-masing dari padanya.

18-30

pravrttim ca nivrttim ca
karyakarye bhayabhaye
bandham moksham ca ya vetti
buddhih sa partha sattviki

“O son of Pritha, that understanding by which one knows what ought to be done and what ought not to be done, what is to be feared and what is not to be feared, what is binding and what is liberating, is in the mode of goodness.”

Pengertian yang mengetahui makna kegiatan kerja dan tanpa kegiatan kerja, apa yang boleh dilakukan dan apa yagn tak boleh dilakukan, apa yang ditakuti dan apa yang tak harus ditakuti, apa yang membebaskan dan apa yang membelenggu, wahai Partha (Arjuna) pengertian tersebut bersifat sattvika.

18-31

yaya dharmam adharmam ca
karyam cakaryam eva ca
ayathavat prajanati
buddhih sa partha rajasi

“O son of Pritha, that understanding which cannot distinguish between religion and irreligion, between action that should be done and action that should not be done, is in the mode of passion.”

Pengertian yang mengetahui jalan yang salah dan benar, apa yang harus dilakukan dan apa yang boleh dilakukan, wahai Partha (Arjuna), pengertian itu bersifat rajasa

18-32

adharmam dharmam iti ya
manyate tamasavrta
sarvarthan viparitams ca
buddhih sa partha tamasi

“That understanding which considers irreligion to be religion and religion to be irreligion, under the spell of illusion and darkness, and strives always in the wrong direction, O Partha, is in the mode of ignorance.”

Pengertian yang tertutupi oleh kegelapan, menganggap yang salah sebagai benar dan melihat segala sesuatunya secara terbalik-balik (berlawanan dengan kebenaran), pengertian tersebut, wahai Partha (Arjuna), bersifat tamasa

18-33

dhrtya yaya dharayate
manah-pranendriya-kriyah
yogenavyabhicarinya
dhrtih sa partha sattviki

“O son of Pritha, that determination which is unbreakable, which is sustained with steadfastness by yoga practice, and which thus controls the activities of the mind, life and senses is determination in the mode of goodness.”
Kemantapan yang tak tergoyahkan dan dengan melalui konsentrasi seseorang mengendalikan kegiatan pikiran, nafas vital dan indra-indra, wahai Partha (Arjuna), kemantapan itu bersifat sattvika

18-34

yaya tu dharma-kamarthan
dhrtya dharayate ’rjuna
prasangena phalakanksi
dhrtih sa partha rajasi

“But that determination by which one holds fast to fruitive results in religion, economic development and sense gratification is of the nature of passion, O Arjuna.”

Kemantapan yang memandang kewajiban dengan ketat, kesenangan dan kekayaan dengan keinginan akan hasil dari padanya, wahai Partha (Arjuna), kemantapan itu bersifat rajasika

18-35

yaya svapnam bhayam sokam
visadam madam eva ca
na vimuncati durmedha
dhrtih sa partha tamasi

“And that determination which cannot go beyond dreaming, fearfulness, lamentation, moroseness and illusion—such unintelligent determination, O son of Pritha, is in the mode of darkness.”

Kemantapan yang membuat si bodoh tidak mau melepaskan kemalasan, takut, cemas, tertekan dan angkuh, wahai Partha (Arjuna), kemantapan ini bersifat tamasa

18-36

sukham tv idanim tri-vidham
shrinu me bharatarsabha
abhyasad ramate yatra
duhkhantam ca nigacchati

“O best of the Bharatas, now please hear from Me about the three kinds of happiness by which the conditioned soul enjoys, and by which he sometimes comes to the end of all distress.”

Dan sekarang dengarkanlah dari-Ku, wahai Bharatarsabha (Arjuna), tiga macam kebahagiaan. Dengan itu orang akan bergembira dan mencapai akhir dari kesedihan, melalui pelaksanaan yang lama.

18-37

yat tad agre visam iva
pariname ’mrtopamam
tat sukham sattvikam proktam
atma-buddhi-prasada-jam

“That which in the beginning may be just like poison but at the end is just like nectar and which awakens one to self-realization is said to be happiness in the mode of goodness.”

Kebahagiaan yang seperti racun pada awalnya dan seperti madu pada akhirnya, yang muncul dari pemahaman yang jelas tentang sang Diri, dikatakan kebahagiaan yagn bersifat sattvika

18-38

visayendriya-samyogad
yat tad agre ’mrtopamam
pariname visam iva
tat sukham rajasam smrtam

“That happiness which is derived from contact of the senses with their objects and which appears like nectar at first but poison at the end is said to be of the nature of passion.”

Kebahagiaan yang muncul dari hubungan indra-indra dan obyeknya dan yang seperti madu pada awalnya serta seperti racun pada akhirnya, kebahagiaan tersebut bersifat rajasa

18-39

yad agre canubandhe ca
sukham mohanam atmanah
nidralasya-pramadottham
tat tamasam udahrtam

“And that happiness which is blind to self-realization, which is delusion from beginning to end and which arises from sleep, laziness and illusion is said to be of the nature of ignorance.”

Kebahagiaan yang menipu sang roh, baik pada awal maupun pada akhirnya dan yang muncul dari kemalasan, tidur dan ketidakperdulian, dinyatakan sebagai kebahagiaan tamasa

18-40

na tad asti prithivyam va
divi devesu va punah
sattvam prakriti-jair muktam
yad ebhih syat tribhir gunaih

“There is no being existing, either here or among the demigods in the higher planetary systems, which is freed from these three modes born of material nature.”

Tak ada mahluk apapun, baik di bumi, apalagi diantara para dewa di surga, yang bebas dari ketiga sifat (guna) yang berasal dari prakrti ini

18-41

brahmana-kshatriya-visam
shudranam ca parantapa
karmani pravibhaktani
svabhava-prabhavair gunaih

“Brahmanas, kshatriyas, vaishyas and shudras are distinguished by the qualities born of their own natures in accordance with the material modes, O chastiser of the enemy.”

Di antara para Brahmana, para Ksatriya, Vaisya dan Sudra, wahai Paramtapa (Arjuna), kegiatan kerjanya dibedakan sesuai dengan sifat-sifat (guna) yang berasal dari prakrti mereka.

18-42

samo damas tapah shaucam
ksantir arjavam eva ca
jnanam vijnanam astikyam
brahma-karma svabhava-jam

“Peacefulness, self-control, austerity, purity, tolerance, honesty, knowledge, wisdom and religiousness—these are the natural qualities by which the brahmanas work.”

Ketenangan, pengendalian diri, tapah, kemurnian, kesabaran, kejujuran, kebijaksanaan, pengetahuan dan keyakinan dalam agama, semuanya ini merupakan kewajiban dari para Brahmana yang berasal dari sifatnya sendiri.

18-43

sauryam tejo dhrtir daksyam
yuddhe capy apalayanam
danam ishvara-bhavas ca
kshatram karma svabhava-jam

“Heroism, power, determination, resourcefulness, courage in battle, generosity and leadership are the natural qualities of work for the kshatriyas.”

Sifat kepahlawanan, pemberani, mantap, kemahiran, pantang mundur walaupun dalam pertempuran, kedermawanan dan kepemimpinan, semua ini merupakan kewajiban dari golongan Ksatriya, yang berasal dari sifatnya sendiri.

18-44

krsi-go-raksya-vanijyam
vaishya-karma svabhava-jam
paricaryatmakam karma
shudrasyapi svabhava-jam

“Farming, cow protection and business are the natural work for the vaishyas, and for the shudras there is labor and service to others.”

Pertanian, memelihara ternak dan perdagangan adalah kewajiban golongan Vaisya, yang berasal dari sifatnya; kegiatan kerja yang bercirikan pelayanan adalah kewajiban dari seorang Sudra yang berasal dari sifatnya.

18-45

sve sve karmany abhiratah
samsiddhim labhate narah
sva-karma-niratah siddhim
yatha vindati tac chrnu

“By following his qualities of work, every man can become perfect. Now please hear from Me how this can be done.”

Dengan mengabdikan kewajibannya sendiri manusia mencapai kesempurnaan. Bagaimana seseorang yang mengabdikan pada kewajibannya sendiri mencapai kesempurnaan, dengarkanlah ini.

18-46

yatah pravrttir bhutanam
yena sarvam idam tatam
sva-karmana tam abhyarcya
siddhim vindati manavah

“By worship of the Lord, who is the source of all beings and who is all-pervading, a man can attain perfection through performing his own work.”

Dari siapa seluruh mahluk ini muncul dan oleh siapa semuanya ini diliputi; dengan memuja-Nya melalui pelaksanaan kewajibannya sendiri, manusia mencapai kesempurnaan.

18-47

sreyan sva-dharmo vigunah
para-dharmat sv-anusthitat
svabhava-niyatam karma
kurvan napnoti kilbisam

“It is better to engage in one’s own occupation, even though one may perform it imperfectly, than to accept another’s occupation and perform it perfectly. Duties prescribed according to one’s nature are never affected by sinful reactions.”

Lebih baik dharmanya sendiri walaupun tak sempurna melakukannya dari pada dharma orang lain walaupun sempurna pelaksanaannya; karena orang tak akan melakukan dosa bila melakukan dharmanya sendiri yang ditentukan oleh sifatnya sendiri.

18-48

saha-jam karma kaunteya
sa-dosam api na tyajet
sarvarambha hi dosena
dhumenagnir ivavrtah

“Every endeavor is covered by some fault, just as fire is covered by smoke. Therefore one should not give up the work born of his nature, O son of Kunti, even if such work is full of fault.”

Seseorang hendaknya jangan meninggalkan kegiatan kerja yang cocok dengan sifatnya sendiri, wahai putra Kunti (Arjuna), walaupun itu mungkin tidak sempurna, karena semua perbuatan diliputi oleh kekurangsempurnaan bagaikan api yang diselimuti asap.

18-49

asakta-buddhih sarvatra
jitatma vigata-sprhah
naishkarmya-siddhim paramam
sannyasenadhigacchati

“One who is self-controlled and unattached and who disregards all material enjoyments can obtain, by practice of renunciation, the highest perfect stage of freedom from reaction.”

Ia yang pengertiannya tak terikat dimanapun juga, yang telah menaklukkan dirinya dan yang keinginannya telah lenyap, melalui pelaksanaan samnyasa ia sampai pada keadaan tertinggi yang melampaui segala kegiatan kerja.

18-50

siddhim prapto yatha brahma
tathapnoti nibodha me
samasenaiva kaunteya
nistha jnanasya ya para

“O son of Kunti, learn from Me how one who has achieved this perfection can attain to the supreme perfectional stage, Brahman, the stage of highest knowledge, by acting in the way I shall now summarize.”

Dengarkanlah dari-Ku secara ringkas, wahai putra Kunti (Arjuna), bagaimana setelah mencapai kesempurnaan ia mencapai Brahman, sebagai kesempurnaan kebijaksanaan tertinggi.

18-51, 18-52 & 18-53

buddhya vishuddhaya yukto
dhrtyatmanam niyamya ca
shabdadin visayams tyaktva
raga-dvesau vyudasya ca

vivikta-sevi laghv-asi
yata-vak-kaya-manasah
dhyana-yoga-paro nityam
vairagyam samupasritah

ahankaram balam darpam
kamam krodham parigraham
vimucya nirmamah santo
brahma-bhuyaya kalpate

“Being purified by his intelligence and controlling the mind with determination, giving up the objects of sense gratification, being freed from attachment and hatred, one who lives in a secluded place, who eats little, who controls his body, mind and power of speech, who is always in trance and who is detached, free from false ego, false strength, false pride, lust, anger, and acceptance of material things, free from false proprietorship, and peaceful—such a person is certainly elevated to the position of self-realization.”

Dilengkapi dengan pemahaman murni, dengan mantap mengendalikan dirinya, berpaling dari suara dan obyek-obyek indra lain serta membuang rasa senang dan benci. Berdiam di tempat terpencil, makan sekedarnya saja, dengan mengendalikan kata-kata, badan dan pikiran dan senantiasa tenggelam dalam meditasi dan konsentrasi serta berlindung pada kedamaian hati. Dan dengan mencampakkan rasa keakuan, kekuatan, keangkuhan, keinginan, kemarahan, kemilikan, tanpa keakuan dan ketenangan dalam pikiran, ia layak untuk menjadi satu dengan Brahman.

18-54

brahma-bhutah prasannatma
na socati na kanksati
samah sarveshu bhutesu
mad-bhaktim labhate param

“One who is thus transcendentally situated at once realizes the Supreme Brahman and becomes fully joyful. He never laments or desires to have anything. He is equally disposed toward every living entity. In that state he attains pure devotional service unto Me.”

Setelah menjadi satu dengan Brahman dan jiwanya telah tenang, ia tak lagi berduka atau berkeinginan. Dengan memandang semua mahluk sama ia mencapai pengabdian tertinggi pada-Ku.

18-55

bhaktya mam abhijanati
yavan yas casmi tattvatah
tato mam tattvato jnatva
visate tad-anantaram

“One can understand Me as I am, as the Supreme Personality of Godhead, only by devotional service. And when one is in full consciousness of Me by such devotion, he can enter into the kingdom of God.”

Melalui pengabdian ia mengetahui Aku, apa dan siapa Aku sebenarnya; lalu setelah mengetahui Aku yang sebenarnya, ia kemudian masuk ke dalam-Ku

18-56

sarva-karmany api sada
kurvano mad-vyapasrayah
mat-prasadad avapnoti
sasvatam padam avyayam

“Though engaged in all kinds of activities, My pure devotee, under My protection, reaches the eternal and imperishable abode by My grace.”

Dengan melaksanakan segala kegiatan terus menerus dan berlindung padaKu, ia mendapatkan anugerah-Ku berupa tempat kediaman yang kekal dan abadi.

18-57

cetasa sarva-karmani
mayi sannyasya mat-parah
buddhi-yogam upasritya
mac-cittah satatam bhava

“In all activities just depend upon Me and work always under My protection. In such devotional service, be fully conscious of Me.”

Dengan menyerahkan segala kegiatan kerja secara mental kepada-Ku, menganggap Aku sebagai Yang Tertinggi dan memasrahkan pada kemantapan dalam pemahaman, pusatkanlah pikiranmu senantiasa kepada-Ku

18-58

mac-cittah sarva-durgani
mat-prasadat tarisyasi
atha cet tvam ahankaran
na srosyasi vinanksyasi

“If you become conscious of Me, you will pass over all the obstacles of conditioned life by My grace. If, however, you do not work in such consciousness but act through false ego, not hearing Me, you will be lost.”
Dengan memusatkan pikiranmu pada-Ku, dengan anugerah-Ku engkau akan mengatasi segala kesulitan; tetapi bila karena kedengkian diri, engkau tidak mau mendengarkan Aku, engkau akan hancur.

18-59

yad ahankaram asritya
na yotsya iti manyase
mithyaisa vyavasayas te
prakritis tvam niyoksyati

“If you do not act according to My direction and do not fight, then you will be falsely directed. By your nature, you will have to be engaged in warfare.”

Bila dengan maksud memanjakan ahamkara engkau berpikir “Aku tak akan bertempur.” keputusanmu akan sia-sia saja; karena prakrti akan memaksa dirimu.

18-60

svabhava-jena kaunteya
nibaddhah svena karmana
kartum necchasi yan mohat
karishyasy avaso ’pi tat

“Under illusion you are now declining to act according to My direction. But, compelled by the work born of your own nature, you will act all the same, O son of Kunti.”

Yang engkau tak mau lakukan, karena khayalan, wahai putra Kunti (Arjuna), yang akan engkau lakukan walaupun bertentangan dengan kehendakmu, terbelenggu oleh kegiatanmu sendiri yang berasal dari sifatmu.

18-61

ishvarah sarva-bhutanam
hrd-dese ’rjuna tishthati
bhramayan sarva-bhutani
yantrarudhani mayaya

“The Supreme Lord is situated in everyone’s heart, O Arjuna, and is directing the wanderings of all living entities, who are seated as on a machine, made of the material energy.”

Tuhan bersemayam dalam hati segala mahluk, wahai Arjuanyang menyebabkan mereka berputar oleh kekuasaan-Nya, seakan-akan mereka terpasang pada sebuah mesin.

18-62

tam eva saranam gaccha
sarva-bhavena bharata
tat-prasadat param shantim
sthanam prapsyasi sasvatam

“O scion of Bharata, surrender unto Him utterly. By His grace you will attain transcendental peace and the supreme and eternal abode.”

Berlindunglah kepada-Nya dengan segenap jiwa ragamu, wahai Bharata (Arjuna). Dengan anugerah-Nya engkau akan mendapatkan kedamaian tertinggi dan tempat kediaman abadi.

18-63

iti te jnanam akhyatam
guhyad guhyataram maya
vimrsyaitad asesena
yathecchasi tatha kuru

“Thus I have explained to you knowledge still more confidential. Deliberate on this fully, and then do what you wish to do.”

Demikianlah kebijaksanaan yang lebih rahasia dari pada segala rahasia, telah Aku ajarkan kepadamu. Setelah mempertimbangkan semuanya ini sepenuhnya lakukanlah apa yang telah kamu pilih sendiri.

18-64

sarva-guhyatamam bhuyah
shrinu me paramam vacah
isto ’si me drdham iti
tato vaksyami te hitam

“Because you are My very dear friend, I am speaking to you My supreme instruction, the most confidential knowledge of all. Hear this from Me, for it is for your benefit.”

Dengarkanlah lagi ucapan suci-Ku, yang paling rahasia dari segalanya. Engkau sangat Ku sayangi, sehingga Aku akan memberitahumu apa yang baik bagimu.

18-65

man-mana bhava mad-bhakto
mad-yaji mam namaskuru
mam evaishyasi satyam te
pratijane priyo ’si me

“Always think of Me, become My devotee, worship Me and offer your homage unto Me. Thus you will come to Me without fail. I promise you this because you are My very dear friend.”

Pusatkanlah pikiranmu pada-Ku; mengabdilah pada-Ku; berkurban kepada-Ku; bersujud dihadapan-Ku; dengan demikian engkau akan sampai kepada-Ku. Aku berjanji sungguh-sungguh, karena engkau sangat Aku sayangi.

18-66

sarva-dharman parityajya
mam ekam saranam vraja
aham tvam sarva-papebhyo
mokshayisyami ma sucah

“Abandon all varieties of religion and just surrender unto Me. I shall deliver you from all sinful reactions. Do not fear.”

Lepaskanlah segala dharma, datanglah kepada-Ku saja untuk berlindung satu-satunya. Jangan bersedih, karena Aku akan membebaskanmu dari segala kejahatan

18-67

idam te natapaskaya
nabhaktaya kadacana
na casusrusave vacyam
na ca mam yo ’bhyasuyati

“This confidential knowledge may never be explained to those who are not austere, or devoted, or engaged in devotional service, nor to one who is envious of Me.”

Jangan pernah hal ini dibicarakan kepada orang yang tidak bertapa dalam kehidupannya atau pada seseorang yang tidak memiliki rasa pengabdian, atau pada orang yang tidak berminat atau yang menghina Aku.

18-68

ya idam paramam guhyam
mad-bhaktesv abhidhasyati
bhaktim mayi param kritva
mam evaishyaty asamsayah

“For one who explains this supreme secret to the devotees, pure devotional service is guaranteed, and at the end he will come back to Me.”

Dia yang mengajarkan rahasia tertinggi ini kepada para penganut-Ku, dengan memperlihatkan pengabdian tertinggi kepada-Ku, tanpa keraguan lagi akan sampai kepada-Ku

18-69

na ca tasman manusyesu
kascin me priya-krttamah
bhavita na ca me tasmad
anyah priyataro bhuvi

“There is no servant in this world more dear to Me than he, nor will there ever be one more dear.”

Tak seorangpun di antara manusia yang melakukan pelayanan yang lebih tulus kepada-Ku dan tak akan ada orang lain yang lebih Aku sayangi di dunia ini, kecuali dia.

18-70

adhyesyate ca ya imam
dharmyam samvadam avayoh
jnana-yajnena tenaham
istah syam iti me matih

“And I declare that he who studies this sacred conversation of ours worships Me by his intelligence.”

Dan, ia yang mempelajari percakapan suci kita ini, Aku akan dipujanya dengan pengorbanan pengetahuan, demikianlah pendapat-Ku

18-71

shraddhavan anasuyas ca
shrinuyad api yo narah
so ’pi muktah subhal lokan
prapnuyat punya-karmanam

“And one who listens with faith and without envy becomes free from sinful reactions and attains to the auspicious planets where the pious dwell.”

Dan orang yang mendengarkannya dengan penuh keyakinan dan tanpa mencela, merekapun akan dibebaskan dan akan mencapai kebahagiaan dunia kebajikan

18-72

kaccid etac chrutam partha
tvayaikagrena cetasa
kaccid ajnana-sammohah
pranastas te dhananjaya

“O son of Pritha, O conqueror of wealth, have you heard this with an attentive mind? And are your ignorance and illusions now dispelled?”

Wahai Partha (Arjuna), apakah engkau telah mendengar dengan pemikiran yang terpusatkan? Wahai Dhananjaya (Arjuna), apakah kekacauan pikiranmu yang disebabkan oleh kebodohan itu telah lenyap.

18-73

arjuna uvaca
nasto mohah smritir labdha
tvat-prasadan mayacyuta
sthito ’smi gata-sandehah
karisye vacanam tava

“Arjuna said: My dear Krishna, O infallible one, my illusion is now gone. I have regained my memory by Your mercy. I am now firm and free from doubt and am prepared to act according to Your instructions.”

Arjuna berkata:
Musnahlah sudah kekacauan pikiranku dan dengan anugerah-Mu aku telah menemukan kembali pemahamanku, wahai Acyuta (Krsna). Aku mantap berdiri dengan keragu-raguanku yang telah lenyap. Aku akan bertindak sesuai dengan ajaran-Mu

18-74

sanjaya uvaca
ity aham vasudevasya
parthasya ca mahatmanah
samvadam imam asrausam
adbhutam roma-harsanam

“Sanjaya said: Thus have I heard the conversation of two great souls, Krishna and Arjuna. And so wonderful is that message that my hair is standing on end.”

Sanjaya berkata:
Demikianlah telah kudengarkan percakapan yang luar biasa di antara Vasudeva (Krsna) dan Partha (Arjuna) sebagai roh mulia, yang menyebabkan bulu romaku merinding

18-75

vyasa-prasadac chrutavan
etad guhyam aham param
yogam yogeshvarat krishnat
sakshat kathayatah svayam

“By the mercy of Vyasa, I have heard these most confidential talks directly from the master of all mysticism, Krishna, who was speaking personally to Arjuna.”

Dengan anugerah bhagavan Vyasa, aku dapat mendengar rahasia tertinggi, berupa yoga yang diajarkan oleh Krsna sendiri sebagai Yogesvara (penguasa yoga) secara pribadi

18-76

rajan samsmrtya samsmrtya
samvadam imam adbhutam
keshavarjunayoh punyam
hrsyami ca muhur muhuh

“O King, as I repeatedly recall this wondrous and holy dialogue between Krishna and Arjuna, I take pleasure, being thrilled at every moment.”

Wahai sang Raja (Dhrtarastra), bila hamba ingat kembali akan percakapan yang suci dan luar biasa ini, antara Kesava (Krsna) dan Arjuna, hamba gemetar dengan kegembiraan demi kegembiraan

18-77

tac ca samsmrtya samsmrtya
rupam aty-adbhutam hareh
vismayo me mahan rajan
hrsyami ca punah punah

“O King, as I remember the wonderful form of Lord Krishna, I am struck with wonder more and more, and I rejoice again and again.”

Dan makin sering hamba ingat akan kehebatan wujud Hari (Krsna) yang luar biasa tersebut, sangat besar kekaguman hamba, wahai sang Raja (Dhrtarastra) dan hamba gemetar dengan kebahagiaan demi kebahagiaan

18-78

yatra yogeshvarah krsno
yatra partho dhanur-dharah
tatra srir vijayo bhutir
dhruva nitir matir mama

“Wherever there is Krishna, the master of all mystics, and wherever there is Arjuna, the supreme archer, there will also certainly be opulence, victory, extraordinary power, and morality. That is my opinion.”

Dimanapun ada Krsna, sebagai Yogesvara (Penguasa Yoga) dan Partha (Arjuna), pahlawan pemanah, aku yakin di sana ada keberuntungan, kemenangan, kesejahteraan dan kebajikan moral.

Disini berakhir bab ke-delapan belas dari Upanisad Bhagavadgita, ajaran tentang Brahmavidya dan Yogasastra, berupa percakapan antara Sri Krsna dan Arjuna, yang berjudul Samnyasa Yoga

Di sini kitab Bhagavadgita Upanishad, juga berakhir.

[Kembali]


Sumber: Pustaka Hindu


BhagawadGita, Bab 12 s/d 16


GitaDhyanam

  1. Arjuna Wisada Yoga, menguraikan keragu-raguan dalam diri Arjuna
  2. Samkhya Yoga, menguraikan ajaran yoga dan samkhya
  3. Karma Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena karma, usaha, perbuatan
  4. Jnana Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena ilmu pengetahuan suci
  5. Karma Samnyasa Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena prihatin
  6. Dhyana Yoga, menguraikan tentang makna dhyana sebaga satu sistem dalam yoga
  7. Jnana Widnyana Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena budi
  8. Aksara Brahma Yoga, menguraikan hakikat akan kekekalan Tuhan
  9. Raja Widya Rajaguhya Yoga, hakikat Ketuhanan sebagai raja dari segala ilmu pengetahuan (widya)
  10. Wibhuti Yoga, menguraikan akan sifat hakikat Tuhan yang absolut, tanpa awal, pertengahan dan akhir
  11. Wiswarupa Darsana Yoga, kelanjutan dari Wibhuti Yoga, dijelaskan dengan manifestasi secara nyata
  12. Bhakti Yoga, menguraikan tentang cara yoga dengan bhakti
  13. Ksetra Ksetradnya Yoga, menguraikan hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa dalam hubungan dengan purusa dan prakrti
  14. Guna Traya Wibhaga Yoga, membahas Triguna – Sattwam, Rajas dan Tamas
  15. Purusottama Yoga, menguraikan beryoga pada purusa yang Maha Tinggi, Hakikat Ketuhanan
  16. Daiwasura Sampad Wibhaga Yoga, membahas akan hakikat tingkah-laku manusia, baik dan buruk
  17. Sraddha Traya Wibhaga Yoga, menguraikan kepercayaan dan berkeyakinan pada Triguna
  18. Moksa Samnyasa Yoga, merupakan kesimpulan dari semua ajaran yang menjadi inti tujuan agama yang tertinggi.


Bhagavad Gita – Bab XII

Dvadaso’dhyayah
Bab XII

Bhakti Yoga

12-1

arjuna uvaca
evam satata-yukta ye
bhaktas tvam paryupasate
ye capy aksharam avyaktam
tesham ke yoga-vittamah

“Arjuna inquired: Which are considered to be more perfect, those who are always properly engaged in Your devotional service or those who worship the impersonal Brahman, the unmanifested?”

Arjuna berkata:
Para bhakta yang senantiasa bersungguh-sungguh memuja-Mu dan mereka yang memuja Yang Abadi dan Yang Tak Berwujud, yang manakah dari keduanya ini yang memiliki pengetahuan yoga yang lebih besar.

12-2

sri-bhagavan uvaca
mayy avesya mano ye mam
nitya-yukta upasate
shraddhaya parayopetas
te me yuktatama matah

“The Supreme Personality of Godhead said: Those who fix their minds on My personal form and are always engaged in worshiping Me with great and transcendental faith are considered by Me to be most perfect.”

Sri Bhagavan bersabda:
Mereka yang memusatkan pikirannya pada-Ku dengan menyembah-Ku dan senantiasa bersungguh-sungguh serta memiliki keyakinan yang sempurna, merekalah yang Aku anggap paling sempurna dalam yoga.

12-3 & 12-4

ye tv aksharam anirdesyam
avyaktam paryupasate
sarvatra-gam acintyam ca
kuta-stham acalam dhruvam

sanniyamyendriya-gramam
sarvatra sama-buddhayah
te prapnuvanti mam eva
sarva-bhuta-hite ratah

“But those who fully worship the unmanifested, that which lies beyond the perception of the senses, the all-pervading, inconceivable, unchanging, fixed and immovable—the impersonal conception of the Absolute Truth—by controlling the various senses and being equally disposed to everyone, such persons, engaged in the welfare of all, at last achieve Me.”

Tetapi mereka yang memuja Yang Abadi, Yang Tak Terdefinisikan, Yang Takberwujud, Yang Mahaada, Yang Takterpikirkan, Yang Takberubah dan Yang Tak Tergerakkan, Yang Konstan. Dengan menahan semua indra, senantiasa mantap dalam segala kondisi, senang dalam mensehjaterakan segala mahluk, mereka sesungguhnya datang kepada-Ku

12-5

kleso ’dhikataras tesam
avyaktasakta-cetasam
avyakta hi gatir duhkham
dehavadbhir avapyate

“For those whose minds are attached to the unmanifested, impersonal feature of the Supreme, advancement is very troublesome. To make progress in that discipline is always difficult for those who are embodied.”

Kesulitan dari mereka yang pikirannya terpusat pada Yang Takberwujud lebih besar, karena tujuan dari Yang Tak Berwujud itu sulit dicapai oleh mahluk-mahluk yang berwujud.

12-6 & 12-7

ye tu sarvani karmani
mayi sannyasya mat-parah
ananyenaiva yogena
mam dhyayanta upasate

tesam aham samuddharta
mrityu-samsara-sagarat
bhavami na cirat partha
mayy avesita-cetasam

“But those who worship Me, giving up all their activities unto Me and being devoted to Me without deviation, engaged in devotional service and always meditating upon Me, having fixed their minds upon Me, O son of Pritha—for them I am the swift deliverer from the ocean of birth and death.”

Tetapi mereka yang menyerahkan segala kegiatannya pada-Ku, bersungguh-sungguh kepada-Ku, memuja dan bermeditasi kepada-Ku, dengan pengabdian yang tak tergoyahkan. Yang pikirannya tertuju pada-Ku, dengan langsung dan segera Aku entaskan mereka dari lautan samsara (belenggu kelahiran dan kematian), wahai Partha (Arjuna).

12-8

mayy eva mana adhatsva
mayi buddhim nivesaya
nivasisyasi mayy eva
ata urdhvam na samsayah

“Just fix your mind upon Me, the Supreme Personality of Godhead, and engage all your intelligence in Me. Thus you will live in Me always, without a doubt.”

Kepada-Ku sajalah, pusatkan pikiranmu dan biarkanlah pemahamanmu berada di dalam-Ku. Hanya di dalam-Ku sajalah nantinya kamu akan hidup. Tentang hal ini tak perlu diragukan lagi.

12-9

atha cittam samadhatum
na saknosi mayi sthiram
abhyasa-yogena tato
mam icchaptum dhananjaya

“My dear Arjuna, O winner of wealth, if you cannot fix your mind upon Me without deviation, then follow the regulative principles of bhakti-yoga. In this way develop a desire to attain Me.”

Namun, apabila engkau tak mampu untuk memusatkan pikiranmu secara mantap pada-Ku, maka usahakanlah untuk mencapai-Ku dengan melaksanakan konsentrasi, wahai Dhananjaya

12-10

abhyase ’py asamartho ’si
mat-karma-paramo bhava
mad-artham api karmani
kurvan siddhim avapsyasi

“If you cannot practice the regulations of bhakti-yoga, then just try to work for Me, because by working for Me you will come to the perfect stage.”

Bila engkau juga tak mampu melakukan ini, maka jadikanlah dirimu sebagai orang yang melayani diri-Ku; bahkan dengan melakukan kegiatan demi untuk-Ku saja, engkau akan mencapai kesempurnaan.

12-11

athaitad apy asakto ’si
kartum mad-yogam asritah
sarva-karma-phala-tyagam
tatah kuru yatatmavan

“If, however, you are unable to work in this consciousness of Me, then try to act giving up all results of your work and try to be self-situated.”

Bila yang inipun tak dapat kamu lakukan, maka berlindunglah dalam kegiatanKu yang terdisiplinkan, lepaskan hasil dari segala kegiatan kerja dengan memasrahkan dirimu.

12-12

sreyo hi jnanam abhyasaj
jnanad dhyanam visisyate
dhyanat karma-phala-tyagas
tyagac chantir anantaram

“If you cannot take to this practice, then engage yourself in the cultivation of knowledge. Better than knowledge, however, is meditation, and better than meditation is renunciation of the fruits of action, for by such renunciation one can attain peace of mind.”

Sungguh lebih baik pengetahuan dari pada pelaksanaan konsentrasi; yang lebih baik dari pengetahuan adalah meditasi; lebih baik dari meditasi adalah pelepasan terhadap hasil dari kegiatan; karena dengan penyangkalan akan segera diikuti oleh kedamaian.

12-13 & 12-14

advesta sarva-bhutanam
maitrah karuna eva ca
nirmamo nirahankarah
sama-duhkha-sukhah ksami

santustah satatam yogi
yatatma drdha-niscayah
mayy arpita-mano-buddhir
yo mad-bhaktah sa me priyah

“One who is not envious but is a kind friend to all living entities, who does not think himself a proprietor and is free from false ego, who is equal in both happiness and distress, who is tolerant, always satisfied, self-controlled, and engaged in devotional service with determination, his mind and intelligence fixed on Me—such a devotee of Mine is very dear to Me.”

Dia yang tidak membenci semua mahluk, yang senantiasa bersikap ramah dan bersahabat, bebas dari rasa keakuan dan kemilikan serta pemaaf, berkeadaan sama dalam kesedihan maupun kesenangan. Yogi yang senantiasa puas, dengan sang diri yang terkendalikan, tak goyah oleh masalah apapun, dengan pikiran dan pemahaman yang diserahkan kepada-Ku, ia adalah bhakta-Ku yang Ku-kasihi.

12-15

yasman nodvijate loko
lokan nodvijate ca yah
harsamarsa-bhayodvegair
mukto yah sa ca me priyah

“He for whom no one is put into difficulty and who is not disturbed by anyone, who is equipoised in happiness and distress, fear and anxiety, is very dear to Me.”

Ia yang tidak mengganggu dunia dan tak terganggu oleh dunia, yang bebas dari kesenangan dan kemarahan, ketakutan dan kecemasan, ia juga Aku kasihi.

12-16

anapeksah sucir daksha
udasino gata-vyathah
sarvarambha-parityagi
yo mad-bhaktah sa me priyah

“My devotee who is not dependent on the ordinary course of activities, who is pure, expert, without cares, free from all pains, and not striving for some result, is very dear to Me.”

Dia yang tidak memiliki pengharapan, mahir dalam kegiatan kerja, tak perduli dan tak terusik, yang telah melepaskan segala inisiatif dalam kegiatan kerja, ia juga merupakan bhakta-Ku yang Aku kasihi.

12-17

yo na hrsyati na dvesti
na socati na kanksati
subhasubha-parityagi
bhaktiman yah sa me priyah

“One who neither rejoices nor grieves, who neither laments nor desires, and who renounces both auspicious and inauspicious things—such a devotee is very dear to Me.”

Dia yang tidak bersenang hati ataupun membenci, tidak bersedih ataupun berkeinginan dan yang telah melepaskan diri dari yang baik dan yang jahat, ia yang mengabdi seperti itu merupakan bhakta yang Aku kasihi.

12-18 & 12-19

samah satrau ca mitre ca
tatha manapamanayoh
sitosna-sukha-duhkhesu
samah sanga-vivarjitah

tulya-ninda-stutir mauni
santusto yena kenacit
aniketah sthira-matir
bhaktiman me priyo narah

“One who is equal to friends and enemies, who is equipoised in honor and dishonor, heat and cold, happiness and distress, fame and infamy, who is always free from contaminating association, always silent and satisfied with anything, who doesn’t care for any residence, who is fixed in knowledge and who is engaged in devotional service—such a person is very dear to Me.”

Ia yang bersikap sama terhadap kawan maupun lawan, juga terhadap kehormatan dan kehinaan dan yang bersikap sama pada panas dan dingin, kesedihan maupun kesenangan, bebas dari keterikatan. Ia yang memandang sama terhadap pujian dan makian, yang puasa bicara (mauna), yang tetap puas dengan apapun yang ada, yang tempat tinggalnya tidak tetap dan mantap dalam pikiran, orang yang berbhakti seperti ini sangat Aku kasihi.

12-20

ye tu dharmamritam idam
yathoktam paryupasate
sraddadhana mat-parama
bhaktas te ’tiva me priyah

“Those who follow this imperishable path of devotional service and who completely engage themselves with faith, making Me the supreme goal, are very, very dear to Me.”

Tetapi, mereka yang penuh keyakinan memandang-Ku sebagai tujuannya yang tertinggi, mengikuti kebijaksanaan abadi ini, bhakta yang demikian itulah yang paling Aku sayangi.

Disini berakhir Bab XII, percakapan yang berjudul: Bhakti Yoga

[Kembali]


Bhagavad Gita – Bab XIII

Trayodaso’dhyayah
Bab XIII

Ksetra Ksetrajna Wibhaga Yoga

13-1 & 13-2

arjuna uvaca
prakritim purusham caiva
kshetram kshetra-jnam eva ca
etad veditum icchami
jnanam jneyam ca keshava

sri-bhagavan uvaca
idam sariram kaunteya
kshetram ity abhidhiyate
etad yo vetti tam prahuh
kshetra-jna iti tad-vidah

“Arjuna said: O my dear Krishna, I wish to know about prakriti [nature], purusha [the enjoyer], and the field and the knower of the field, and of knowledge and the object of knowledge.

The Supreme Personality of Godhead said: This body, O son of Kunti, is called the field, and one who knows this body is called the knower of the field.”

Arjuna berkata:
Prakrti dan Purusa, ksetra dan ksetrajna, jnana dan jneya ini Aku ingin mengetahuinya, wahai Kesava (Krsna).

Sri Bhagavan bersabda:
Badan ini disebut sebagai Ksetra, wahai putra Kunti (Arjuna) dan yang mengetahuinya disebut Ksetrajna oleh mereka yang mengetahui hal ini.

13-3

kshetra-jnam capi mam viddhi
sarva-kshetresu bharata
kshetra-kshetrajnayor jnanam
yat taj jnanam matam mama

“O scion of Bharata, you should understand that I am also the knower in all bodies, and to understand this body and its knower is called knowledge. That is My opinion.”

Ketahuilah bahwa Aku adalah Yang Mengetahui (Ksetrajna) lapangan (ksetra) pada segala lapangan, wahai Bharata (Arjuna). Pengetahuan tentang lapangan (Ksetra) dan yang mengetahuinya (Ksetrajna). Aku anggap sebagai pengetahuan sejati

13-4

tat kshetram yac ca yadrk ca
yad-vikari yatas ca yat
sa ca yo yat-prabhavas ca
tat samasena me shrinu

“Now please hear My brief description of this field of activity and how it is constituted, what its changes are, whence it is produced, who that knower of the field of activities is, and what his influences are.”

Dengarkanlah secara singkat dari-Ku apa yang disebut lapangan (Ksetra), bagaimana sifat dan perubahan-perubahannya, dari mana asalnya; dan apa Ksetrajna itu serta apa kekuatannya.

13-5

rsibhir bahudha gitam
chandobhir vividhaih prithak
brahma-sutra-padais caiva
hetumadbhir viniscitaih

“That knowledge of the field of activities and of the knower of activities is described by various sages in various Vedic writings. It is especially presented in Vedanta-sutra with all reasoning as to cause and effect.”

Ini telah dikidungkan oleh para rsi dalam banyak cara dan saling berbeda, dalam berbagai macam irama dan juga dalam penalaran yang baik serta dalam pengungkapan konklusif dari aporisma tentang Yang Mutlak (brahmasutra).

13-6 & 13-7

maha-bhutany ahankaro
buddhir avyaktam eva ca
indriyani dasaikam ca
panca cendriya-gocarah

iccha dvesah sukham duhkham
sanghatas cetana dhrtih
etat kshetram samasena
sa-vikaram udahrtam

“The five great elements, false ego, intelligence, the unmanifested, the ten senses and the mind, the five sense objects, desire, hatred, happiness, distress, the aggregate, the life symptoms, and convictions—all these are considered, in summary, to be the field of activities and its interactions.”

Unsur-unsur dasar utama, keakuan, kecerdasan dan juga yang tak termanifestasikan, sepuluh indra dan pikiran serta lima obyek indra. Keinginan dan kebencian, kesenangan dan kesedihan, kumpulannya, kecerdasan dan kemantapan, sebagai Ksetra telah diuraikan secara singkat bersama-sama dengan modifikasinya.

13-8

amanitvam adambhitvam
ahimsa ksantir arjavam
acaryopasanam shaucam
sthairyam atma-vinigrahah

(9)

indriyarthesu vairagyam
anahankara eva ca
janma-mrityu-jara-vyadhi-
duhkha-dosanudarshanam

(10)

ashaktir anabhisvangah
putra-dara-grhadisu
nityam ca sama-cittatvam
istanistopapattisu

(11)

mayi cananya-yogena
bhaktir avyabhicarini
vivikta-desa-sevitvam
aratir jana-samsadi

(12)

adhyatma-jnana-nityatvam
tattva-jnanartha-darshanam
etaj jnanam iti proktam
ajnanam yad ato ’nyatha

“Humility; pridelessness; nonviolence; tolerance; simplicity; approaching a bona fide spiritual master; cleanliness; steadiness; self-control; renunciation of the objects of sense gratification; absence of false ego; the perception of the evil of birth, death, old age and disease; detachment; freedom from entanglement with children, wife, home and the rest; even-mindedness amid pleasant and unpleasant events; constant and unalloyed devotion to Me; aspiring to live in a solitary place; detachment from the general mass of people; accepting the importance of self-realization; and philosophical search for the Absolute Truth—all these I declare to be knowledge, and besides this whatever there may be is ignorance.”

Kerendahan hati, kejujuran, tanpa kekerasan, sabar, keadilan, pelayanan kepada guru, kemurnian badan dan pikiran, keteguhan hati dan pengendalian diri. Tak perduli pada obyek-obyek indriawi, menjauhkan diri dari bayangan jahatnya kematian, usia tua, kesakitan dan penderitaan. Tanpa keterikatan, bebas dari ketergantungan pada anak, istri, rumah dan sejenisnya, dan tetap berpikir seimbang terhadap peristiwa yang disenangi maupun yang tak disenangi. Pengabdian yang tak tergoyahkan kepada-Ku dengan pendisiplinan sepenuh hati, berlindung pada tempat yang terpencil, tidak menyukai kerumunan banyak orang. Secara terus menerus dalam pengetahuan tentang sang Diri, penglihatan batin tentang akhir dari pengetahuan Kebenaran – semuanya ini dinyatakan sebagai pengetahuan sejati dan semua yang lainnya sebagai bukan pengetahuan.

13-13

jneyam yat tat pravaksyami
yaj jnatvamritam asnute
anadi mat-param brahma
na sat tan nasad ucyate

“I shall now explain the knowable, knowing which you will taste the eternal. Brahman, the spirit, beginningless and subordinate to Me, lies beyond the cause and effect of this material world.”

Aku akan menguraikan tentang apa yang harus diketahui dan dengan mengetahuinya, kehidupan abadi dapat diperoleh. Itulah Brahman Tertinggi yang tanpa awal dan yang dikatakan bukan keberadaan maupun keberadaan (sat asat)

13-14

sarvatah pani-padam tat
sarvato ’ksi-siro-mukham
sarvatah shrutimal loke
sarvam avrtya tishthati

“Everywhere are His hands and legs, His eyes, heads and faces, and He has ears everywhere. In this way the Supersoul exists, pervading everything.”

Dengan tangan dan kaki dimana-mana, dengan mata, kepala dan muka pada semua sisi, dengan telinga pada segala sisi. Dia bersemayam di alam semesta ini, meliputi segalanya.

13-15

sarvendriya-gunabhasam
sarvendriya-vivarjitam
asaktam sarva-bhrc caiva
nirgunam guna-bhoktr ca

“The Supersoul is the original source of all senses, yet He is without senses. He is unattached, although He is the maintainer of all living beings. He transcends the modes of nature, and at the same time He is the master of all the modes of material nature.”

Dia tampaknya memiliki sifat-sifat seluruh indra namun tanpa indra sama sekali, tak terikat namun mendukung semuanya, bebas dari guna (sifat dari prakrti) namun menikmatinya.

13-16

bahir antas ca bhutanam
acaram caram eva ca
suksmatvat tad avijneyam
dura-stham cantike ca tat

“The Supreme Truth exists outside and inside of all living beings, the moving and the nonmoving. Because He is subtle, He is beyond the power of the material senses to see or to know. Although far, far away, He is also near to all.”

Ia ada di dalam dan di luar segala mahluk. Ia tak bergerak dan juga bergerak. Ia terlalu halus untuk dapat diketahui. Ia sangat jauh namun juga sangat dekat.

13-17

avibhaktam ca bhutesu
vibhaktam iva ca sthitam
bhuta-bhartr ca taj jneyam
grasisnu prabhavishnu ca

“Although the Supersoul appears to be divided among all beings, He is never divided. He is situated as one. Although He is the maintainer of every living entity, it is to be understood that He devours and develops all.”

Ia tak dapat dibagi-bagi namun juga tampaknya terbagi diantara mahluk-mahluk. Ia harus diketahui sebagai penopang mahluk hidup, memusnahkannya dan menciptakannya kembali.

13-18

jyotisam api taj jyotis
tamasah param ucyate
jnanam jneyam jnana-gamyam
hridi sarvasya visthitam

“He is the source of light in all luminous objects. He is beyond the darkness of matter and is unmanifested. He is knowledge, He is the object of knowledge, and He is the goal of knowledge. He is situated in everyone’s heart.”

Dia adalah Sinar dari segala sinar, yang dikatakan mengatasi kegelapan; obyek pengetahuan dan tujuan dari pengetahuan; Dia bersemayam dalam hati semua mahluk.

13-19

iti kshetram tatha jnanam
jneyam coktam samasatah
mad-bhakta etad vijnaya
mad-bhavayopapadyate

“Thus the field of activities [the body], knowledge and the knowable have been summarily described by Me. Only My devotees can understand this thoroughly and thus attain to My nature.”

Dengan demikian, ksetra, pengetahuan (jnana) dan obyek pengetahuan (jneya) telah diuraikan secara singkat. Para bhakta yang memahaminya layak untuk sampai ke tempat-Ku

13-20

prakritim purusham caiva
viddhy anadi ubhav api
vikarams ca gunams caiva
viddhi prakriti-sambhavan

“Material nature and the living entities should be understood to be beginningless. Their transformations and the modes of matter are products of material nature.”

Ketahuilah bahwa prakrti (alam) dan purusa (roh) keduanya tanpa awal; dan ketahui pulalah bahwa wujud dan sifat berasal dari prakrti (alam) tersebut.

13-21

karya-karana-kartrtve
hetuh prakritir ucyate
purushah sukha-duhkhanam
bhoktrtve hetur ucyate

“Nature is said to be the cause of all material causes and effects, whereas the living entity is the cause of the various sufferings and enjoyments in this world.”

Alam dikatakan sebagai penyebab dari akibat, alat dan pelaku dan roh dikatakan sebagai penyebab, dalam kaitannya dengan pengalaman kesenangan dan kesedihan.

13-22

purushah prakriti-stho hi
bhunkte prakriti-jan gunan
karanam guna-sango ’sya
sad-asad-yoni-janmasu

“The living entity in material nature thus follows the ways of life, enjoying the three modes of nature. This is due to his association with that material nature. Thus he meets with good and evil among various species.”

Roh di alam ini menyukai sifat-sifat yang berasal dari alam. Keterikatan terhadap sifat alam (prakrti) itu menyebabkan kelahirannya dalam kandungan yang baik maupun yang jahat.

13-23

upadrastanumanta ca
bharta bhokta maheshvarah
paramatmeti capy ukto
dehe ’smin purushah parah

“Yet in this body there is another, a transcendental enjoyer, who is the Lord, the supreme proprietor, who exists as the overseer and permitter, and who is known as the Supersoul.”

Roh Tertinggi dalam badan dikatakan sebagai Saksi, Pengawas, Penopang, Yang Mengalami, Penguasa Tertinggi dan sang Diri Tertinggi.

13-24

ya evam vetti purusham
prakritim ca gunaih saha
sarvatha vartamano ’pi
na sa bhuyo ’bhijayate

“One who understands this philosophy concerning material nature, the living entity and the interaction of the modes of nature is sure to attain liberation. He will not take birth here again, regardless of his present position.”

Ia yang mengetahui purusa (sang roh) dan prakrti (alam), bersama-sama dengan sifat (guna), walaupun ia berbuat dengan cara apapun, ia tak akan lahir kembali.

13-25

dhyanenatmani pasyanti
kecid atmanam atmana
anye sankhyena yogena
karma-yogena capare

“Some perceive the Supersoul within themselves through meditation, others through the cultivation of knowledge, and still others through working without fruitive desires.”

Dengan melakukan meditasi beberapa orang dapat mengetahui sang Diri dalam diri oleh diri-nya; yang lainnya dengan jalan pengetahuan namun yang lainnya lagi melalui jalan kegiatan kerja.

13-26

anye tv evam ajanantah
srutvanyebhya upasate
te ’pi catitaranty eva
mrityum shruti-parayanah

“Again there are those who, although not conversant in spiritual knowledge, begin to worship the Supreme Person upon hearing about Him from others. Because of their tendency to hear from authorities, they also transcend the path of birth and death.”

Namun yang lainnya, karena ketidaktahuannya (tentang yoga ini), mendengar dari orang lain dan memuja; dan mereka juga dapat melewati kematian dengan pengabdian mereka terhadap apa yang mereka dengar.

13-27

yavat sanjayate kincit
sattvam sthavara-jangamam
kshetra-kshetrajna-samyogat
tad viddhi bharatarsabha

“O chief of the Bharatas, know that whatever you see in existence, both the moving and the nonmoving, is only a combination of the field of activities and the knower of the field.”

Mahluk apapun yang lahir, baik yang bergerak maupun yang tak bergerak, wahai Bharatarsabha (Arjuna), ketahuilah bahwa itu berasal dari gabungan ksetra dan ksetrajna.

13-28

samam sarveshu bhutesu
tisthantam paramesvaram
vinasyatsv avinasyantam
yah pasyati sa pasyati

“One who sees the Supersoul accompanying the individual soul in all bodies, and who understands that neither the soul nor the Supersoul within the destructible body is ever destroyed, actually sees.”

Ia yang melihat Penguasa Tertinggi merata bersemayam pada semua mahluk, yang tak akan pernah musnah walaupun mereka musnah, sesungguhnya ia melihat.

13-29

samam pasyan hi sarvatra
samavasthitam ishvaram
na hinasty atmanatmanam
tato yati param gatim

“One who sees the Supersoul equally present everywhere, in every living being, does not degrade himself by his mind. Thus he approaches the transcendental destination.”

Karena, ketika ia melihat kehadiran Tuhan, merata dimana-mana, ia tak akan menyakiti Dirinya yang sejati dengan dirinya dan kemudian ia mencapai tujuan tertinggi.

13-30

prakrityaiva ca karmani
kriyamanani sarvasah
yah pasyati tathatmanam
akartaram sa pasyati

“One who can see that all activities are performed by the body, which is created of material nature, and sees that the self does nothing, actually sees.”

Ia yang melihat bahwa segala kegiatan kerja hanya dilakukan oleh prakrti dan dengan demikian sang diri bukanlah si pelaku, sesungguhnya ialah yang melihat (Kebenaran).

13-31

yada bhuta-prithag-bhavam
eka-stham anupasyati
tata eva ca vistaram
brahma sampadyate tada

“When a sensible man ceases to see different identities due to different material bodies and he sees how beings are expanded everywhere, he attains to the Brahman conception.”

Bila ia melihat bahwa berbagai keadaan mahluk-mahluk terpusatkan pada Yang Tunggal dan hanya dari sanalah ia muncul, maka ia mencapai Brahman.

13-32

anaditvan nirgunatvat
paramatmayam avyayah
sarira-stho ’pi kaunteya
na karoti na lipyate

“Those with the vision of eternity can see that the imperishable soul is transcendental, eternal, and beyond the modes of nature. Despite contact with the material body, O Arjuna, the soul neither does anything nor is entangled.”

Karena, sang Diri Tertinggi ini kekal, tanpa awal, tanpa sifat, wahai putra Kunti (Arjuna), sehingga walaupun Ia bersemayam dalam badan, Ia tak berbuat maupun ternoda.

13-33

yatha sarva-gatam sauksmyad
akasam nopalipyate
sarvatravasthito dehe
tathatma nopalipyate

“The sky, due to its subtle nature, does not mix with anything, although it is all-pervading. Similarly, the soul situated in Brahman vision does not mix with the body, though situated in that body.”

Seperti ruang (ether) yang meliputi segalanya itu tak ternodai dengan alasan karena kehalusannya, demikian juga sang Diri yang hadir pada setiap orang juga tidak menderita kecemaran (noda).

13-34

yatha prakasayaty ekah
krtsnam lokam imam ravih
kshetram ksetri tatha krtsnam
prakasayati bharata

“O son of Bharata, as the sun alone illuminates all this universe, so does the living entity, one within the body, illuminate the entire body by consciousness.”

Seperti satu matahari yang menyinari seluruh dunia ini, demikian pula Penguasa badan (ksetrajna) menyinari segenap badan ini, wahai Bharata (Arjuna).

13-35

kshetra-kshetrajnayor evam
antaram jnana-caksusa
bhuta-prakriti-moksham ca
ye vidur yanti te param

“Those who see with eyes of knowledge the difference between the body and the knower of the body, and can also understand the process of liberation from bondage in material nature, attain to the supreme goal.”

Mereka yang melihat ini dengan mata kebijaksanaan, antara ksetra dan ksetrajna, serta pembebasan mahluk-mahluk dari prakrti, mereka mencapai Yang Tertinggi.

Disini berakhir Bab XIII, percakapan yang berjudul Ksetra Ksetrajna Wibhaga Yoga

[Kembali]


Bhagavad Gita – Bab XIV

Caturdaso’dhyayah
Bab XIV

Guna Traya Wibhaga Yoga

14-1

sri-bhagavan uvaca
param bhuyah pravaksyami
jnananam jnanam uttamam
yaj jnatva munayah sarve
param siddhim ito gatah

“The Supreme Personality of Godhead said: Again I shall declare to you this supreme wisdom, the best of all knowledge, knowing which all the sages have attained the supreme perfection.”

Sri Bhagavan bersabda:
Kembali Aku katakan bahwa kebijaksanaan tertinggi adalah yang terbaik dari seluruh kebijaksanaan dan dengan mengetahuinya semua orang bijak telah terbebas dari dunia ini menuju kesempurnaan tertinggi.

14-2

idam jnanam upasritya
mama sadharmyam agatah
sarge ’pi nopajayante
pralaye na vyathanti ca

“By becoming fixed in this knowledge, one can attain to the transcendental nature like My own. Thus established, one is not born at the time of creation or disturbed at the time of dissolution.”

Setelah berlindung pada kebijaksanaan ini dan menjadi bersifat seperti Aku, mereka tak akan lahir lagi pada waktu penciptaan maupun terusik pada saat penyerapan kembali.

14-3

mama yonir mahad brahma
tasmin garbham dadhamy aham
sambhavah sarva-bhutanam
tato bhavati bharata

“The total material substance, called Brahman, is the source of birth, and it is that Brahman that I impregnate, making possible the births of all living beings, O son of Bharata.”

Brahma agung (prakrti) adalah Kandungan-Ku; disanalah Akun menanamkan benih dan dari sana lah munculnya mahluk-mahluk ini, wahai Bharata (Arjuna)

14-4

sarva-yonisu kaunteya
murtayah sambhavanti yah
tasam brahma mahad yonir
aham bija-pradah pita

“It should be understood that all species of life, O son of Kunti, are made possible by birth in this material nature, and that I am the seed-giving father.”

Apapun wujudnya semuanya lahir dari kandungan, wahai putra Kunti (Arjuna), brahma yang agung adalah kandungannya dan Aku adalah Bapak yang menanamkan benihnya.

14-5

sattvam rajas tama iti
gunah prakriti-sambhavah
nibadhnanti maha-baho
dehe dehinam avyayam

“Material nature consists of three modes—goodness, passion and ignorance. When the eternal living entity comes in contact with nature, O mighty-armed Arjuna, he becomes conditioned by these modes.”

Tiga sifat (guna), sattvam (kebaikan), rajas (bernafsu) dan tamas (kelembamam) berasal dari alam (prakrti) yang membelenggu badan jasmani, wahai Mahabahu (Arjuna), sedangkan yang abadi bersemayam dalam badan.

14-6

tatra sattvam nirmalatvat
prakasakam anamayam
sukha-sangena badhnati
jnana-sangena canagha

“O sinless one, the mode of goodness, being purer than the others, is illuminating, and it frees one from all sinful reactions. Those situated in that mode become conditioned by a sense of happiness and knowledge.”

Dari padanya, sifat sattvam (kebaikan) menjadi murni, menyebabkan pencerahan dan kesehatan, wahai Anagha (Arjuna), dengan keterikatan pada kebahagiaan dan pengetahuan.

14-7

rajo ragatmakam viddhi
trsna-sanga-samudbhavam
tan nibadhnati kaunteya
karma-sangena dehinam

“The mode of passion is born of unlimited desires and longings, O son of Kunti, and because of this the embodied living entity is bound to material fruitive actions.”

Ketahuilah bahwa sifat rajas (nafsu) adalah sifat ketertarikan yang muncul dari kerinduan dan keterikatan. Ia membelenggu dengan sangat eratnya, wahai putra Kunti (Arjuna), penghuni badan dengan keterikatan untuk melakukan kegiatan kerja.

14-8

tamas tv ajnana-jam viddhi
mohanam sarva-dehinam
pramadalasya-nidrabhis
tan nibadhnati bharata

“O son of Bharata, know that the mode of darkness, born of ignorance, is the delusion of all embodied living entities. The results of this mode are madness, indolence and sleep, which bind the conditioned soul.”

Tetapi, ketahuilah bahwa sifat tamas itu berasal dari kebodohan dan menipu seluruh keberadaan berwujud ini, wahai Bharata (Arjuna), edngan mengembangkan sifat-sifat tak perduli, malas dan tidur.

14-9

sattvam sukhe sanjayati
rajah karmani bharata
jnanam avrtya tu tamah
pramade sanjayaty uta

“O son of Bharata, the mode of goodness conditions one to happiness; passion conditions one to fruitive action; and ignorance, covering one’s knowledge, binds one to madness.”

Sifat sattva (kebaikan) mengikat seseorang pada kebahagiaan, sifat rajas (nafsu) dengan kegiatan kerja, wahai Bharata (Arjuna), tetapi kebodohan (tamas), menyelubungi kebijaksanaan dan terikat untuk bermalas-malasan (tak peduli).

14-10

rajas tamas cabhibhuya
sattvam bhavati bharata
rajah sattvam tamas caiva
tamah sattvam rajas tatha

“Sometimes the mode of goodness becomes prominent, defeating the modes of passion and ignorance, O son of Bharata. Sometimes the mode of passion defeats goodness and ignorance, and at other times ignorance defeats goodness and passion. In this way there is always competition for supremacy.”

Sifat sattvam (kebaikan) meningkat, mengatasi sifat rajas dan tamas, wahai Bharata (Arjuna). Sifat rajas meningkat, menguasai sifat sattva dan tamas, demikian pula sifat tamas meningkat, mengatasi sifat sattva dan rajas.

14-11

sarva-dvaresu dehe ’smin
prakasa upajayate
jnanam yada tada vidyad
vivrddham sattvam ity uta

“The manifestations of the mode of goodness can be experienced when all the gates of the body are illuminated by knowledge.”

Apabila sinar pengetahuan menembus seluruh gerbang badan, maka dapat diketahui bahwa sifat sattvam bertambah kuasa

14-12

lobhah pravrttir arambhah
karmanam asamah sprha
rajasy etani jayante
vivrddhe bharatarsabha

O chief of the Bharatas, when there is an increase in the mode of passion the symptoms of great attachment, fruitive activity, intense endeavor, and uncontrollable desire and hankering develop.

Serakah, kegiatan kerja, melakukan pekerjaan, gelisah dan ketagihan, semuanya ini meningkat, wahai Bharatarsabha (Arjuna), manakala sifat rajas tambah berkuasa.

14-13

aprakaso ’pravrttis ca
pramado moha eva ca
tamasy etani jayante
vivrddhe kuru-nandana

“When there is an increase in the mode of ignorance, O son of Kuru, darkness, inertia, madness and illusion are manifested.”

Kegelapan, tanpa kegiatan, tidak perduli dan hanya kebingungan – semuanya ini muncul, wahai Kurunandana (Arjuna), manakala sifat tamas bertambah besar.

14-14

yada sattve pravrddhe tu
pralayam yati deha-bhrt
tadottama-vidam lokan
amalan pratipadyate

“When one dies in the mode of goodness, he attains to the pure higher planets of the great sages.”

Apabila sifat sattvam (kebaikan) meningkat dan roh penghuni badan menemui masa peleburan, maka ia mencapai dunia murni dari mereka yang mengetahui Yang Tertinggi (Tuhan)

14-15

rajasi pralayam gatva
karma-sangisu jayate
tatha pralinas tamasi
mudha-yonisu jayate

“When one dies in the mode of passion, he takes birth among those engaged in fruitive activities; and when one dies in the mode of ignorance, he takes birth in the animal kingdom.”

Ketika sifat rajas meningkat saat bertemu dengan saat kematian, ia akan lahir di antara mereka yang terikat dengan kegiatan kerja; dan apabila ia mati di saat sifat tamas yang mendominasi, ia akan lahir dalam kandungan yang membingungkan.

14-16

karmanah sukritasyahuh
sattvikam nirmalam phalam
rajasas tu phalam duhkham
ajnanam tamasah phalam

“The result of pious action is pure and is said to be in the mode of goodness. But action done in the mode of passion results in misery, and action performed in the mode of ignorance results in foolishness.”

Hasil dari kegiatan baik dikatakan bersifat ‘kebaikan’; sementara hasil dari sifat rajas adalah penderitaan dan hasil dari sifat tamas adalah kebodohan

14-17

sattvat sanjayate jnanam
rajaso lobha eva ca
pramada-mohau tamaso
bhavato ’jnanam eva ca

“From the mode of goodness, real knowledge develops; from the mode of passion, greed develops; and from the mode of ignorance develop foolishness, madness and illusion.”

Dari sifat tattva timbul pengetahuan dan dari sifat rajas keserakahan; dari sifat tamas muncul ketidakperdulian, kesalahan dan juga kebodohan

14-18

urdhvam gacchanti sattva-stha
madhye tisthanti rajasah
jaghanya-guna-vrtti-stha
adho gacchanti tamasah

“Those situated in the mode of goodness gradually go upward to the higher planets; those in the mode of passion live on the earthly planets; and those in the abominable mode of ignorance go down to the hellish worlds.”

Mereka yang mantap dalam sifat sattva akan meningkat ke wilayah yang lebih tinggi; yang bersifat rajas beraa di wilayah tengah; dan yang bersifat tamas yang tenggelam dalam masalah yang lebih rendah, akan tenggelam makin ke bawah.

14-19

nanyam gunebhyah kartaram
yada drastanupasyati
gunebhyas ca param vetti
mad-bhavam so ’dhigacchati

“When one properly sees that in all activities no other performer is at work than these modes of nature and he knows the Supreme Lord, who is transcendental to all these modes, he attains My spiritual nature.”

Bila si pengamat menyadari bahwa tak ada pelaku lain selain dari pada sifat-sifat dan juga mengetahui yang melampaui sifat-sifat itu, ia mencapai keberadaan-Ku.

14-20

gunan etan atitya trin
dehi deha-samudbhavan
janma-mrityu-jara-duhkhair
vimukto ’mrtam asnute

“When the embodied being is able to transcend these three modes associated with the material body, he can become free from birth, death, old age and their distresses and can enjoy nectar even in this life.”

Bila roh penghuni badan dapat mengatasi ketiga guna yang berasal dari badan, ia terbebas dari kelahiran, kematian, usia tua, dan penderitaan serta mencapai kehidupan abadi.

14-21

arjuna uvaca
kair lingais trin gunan etan
atito bhavati prabho
kim acarah katham caitams
trin gunan ativartate

“Arjuna inquired: O my dear Lord, by which symptoms is one known who is transcendental to these three modes? What is his behavior? And how does he transcend the modes of nature?”

Arjuna bertanya:
Apakah tanda-tanda dari mereka yang telah mengatasi ketiga sifat (guna) tersebut, wahai Prabhu (Krsna)? Bagaimanakah cara hidup mereka? Bagaimana caranya mereka dapat mengatasi ketiga sifat itu?

14-22, 14-23, 14-24 & 14-25

sri-bhagavan uvaca
prakasam ca pravrttim ca
moham eva ca pandava
na dvesti sampravrttani
na nivrttani kanksati

udasina-vad asino
gunair yo na vicalyate
guna vartanta ity evam
yo ’vatishthati nengate

sama-duhkha-sukhah sva-sthah
sama-lostasma-kancanah
tulya-priyapriyo dhiras
tulya-nindatma-samstutih

manapamanayos tulyas
tulyo mitrari-pakshayoh
sarvarambha-parityagi
gunatitah sa ucyate

“The Supreme Personality of Godhead said: O son of Pandu, he who does not hate illumination, attachment and delusion when they are present or long for them when they disappear; who is unwavering and undisturbed through all these reactions of the material qualities, remaining neutral and transcendental, knowing that the modes alone are active; who is situated in the self and regards alike happiness and distress; who looks upon a lump of earth, a stone and a piece of gold with an equal eye; who is equal toward the desirable and the undesirable; who is steady, situated equally well in praise and blame, honor and dishonor; who treats alike both friend and enemy; and who has renounced all material activities—such a person is said to have transcended the modes of nature.”

Sri Bhagavan bersabda:
Dia yang tidak membenci sekali pencerahan, kegiatan dan khayalan, wahai Pandava (Arjuna), ketika mereka meningkat ataupun tidak merindukannya manakala mereka berhenti. Ia yang duduk seperti orang yang tak perduli, tak terusik oleh sifat-sifat itu, yang tetap terpisah tanpa tergoyahkan, ketahuilah bahwa itu hanyalah kegiatan dari guna (sifat) tersebut. Ia yang memandang sama terhadap suka maupun duka, yang teguh pendiriannya, yang memandang sama terhadap segumpal tanah, sebongkah batu dan sekeping emas, yang tetap tabah di tengah-tengah hal-hal yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, yang pikirannya mantap, yang memandang sama pujian maupun cacian. Ia yang tetap sama dalam kehormatan maupun kehinaan dan bersikap sama kepada kawan maupun lawan, serta telah melepaskan segala inisiatif kegiatan kerja, dikatakan telah melampaui sifat-sifat (guna)

14-26

mam ca yo ’vyabhicarena
bhakti-yogena sevate
sa gunan samatityaitan
brahma-bhuyaya kalpate

“One who engages in full devotional service, unfailing in all circumstances, at once transcends the modes of material nature and thus comes to the level of Brahman.”

Ia yang melayani-Ku dengan pengabdian yang tak kunjung padam, mengatasi ketiga guna, ia juga layak mencapai Brahman.

14-27

brahmano hi pratishthaham
amritasyavyayasya ca
sasvatasya ca dharmasya
sukhasyaikantikasya ca

“And I am the basis of the impersonal Brahman, which is immortal, imperishable and eternal and is the constitutional position of ultimate happiness.”

Karena Aku adalah kedudukan Brahman, Yang Abadi, Kekal, dharma abadi dan kebahagiaan mutlak.

Disini berakhir Bab XIV, percakapan yang berjudul: Guna Traya Wibhaga Yoga

[Kembali]


Bhagavad Gita – Bab XV

Pancadaso’dhyayah
Bab XV

Purusottama Yoga

15-1

sri-bhagavan uvaca
urdhva-mulam adhah-sakham
ashvattham prahur avyayam
chandamsi yasya parnani
yas tam veda sa veda-vit

“The Supreme Personality of Godhead said: It is said that there is an imperishable banyan tree that has its roots upward and its branches down and whose leaves are the Vedic hymns. One who knows this tree is the knower of the Vedas.”

Sri Bhagavan bersabda:
Mereka mengatakan tentang asvattham abadi sebagai memiliki akar di atas dan cabang-cabangnya di bawah. Daun-daunnya adalah kitab-kitab Veda dan ia yang mengetahui hal ini adalah yang mengetahui Veda.

15-2

adhas cordhvam prasrtas tasya sakha
guna-pravrddha visaya-pravalah
adhas ca mulany anusantatani
karmanubandhini manushya-loke

“The branches of this tree extend downward and upward, nourished by the three modes of material nature. The twigs are the objects of the senses. This tree also has roots going down, and these are bound to the fruitive actions of human society.”

Cabangnya tumbuh ke bawah dan ke atas, yang dihidupi oleh guna (sifat), dengan obyek-obyek indra sebagai tunas-tunasnya dan ke bawah di dunia manusia menjulur akar-akar yang berakibat dalam kegiatan kerja.

15-3 & 15-4

na rupam asyeha tathopalabhyate
nanto na cadir na ca sampratishtha
ashvattham enam su-virudha-mulam
asanga-sastrena drdhena chittva

tatah padam tat parimargitavyam
yasmin gata na nivartanti bhuyah
tam eva cadyam purusham prapadye
yatah pravrttih prasrta purani

“The real form of this tree cannot be perceived in this world. No one can understand where it ends, where it begins, or where its foundation is. But with determination one must cut down this strongly rooted tree with the weapon of detachment. Thereafter, one must seek that place from which, having gone, one never returns, and there surrender to that Supreme Personality of Godhead from whom everything began and from whom everything has extended since time immemorial.”

Bentuk sebenarnya tidak diketahui, baik ujung maupun pangkalnya ataupun batangnya. Setelah memotong pohon Asvattha yang berakar mantap ini dengan pedang kuat ketidakterikatan. Maka, jalan yang membawa seseorang dan tak kembali lagi harus dicari dengan mengatakan, “Aku berlindung hanya pada Pribadi Utama, sebagai sumber kemunculan alam dunia yang kuno ini berasal”.

15-5

nirmana-moha jita-sanga-dosa
adhyatma-nitya vinivrtta-kamah
dvandvair vimuktah sukha-duhkha-samjnair
gacchanty amudhah padam avyayam tat

“Those who are free from false prestige, illusion and false association, who understand the eternal, who are done with material lust, who are freed from the dualities of happiness and distress, and who, unbewildered, know how to surrender unto the Supreme Person attain to that eternal kingdom.”

Mereka yang bebas dari kesombingan dan ilusi, yang telah menaklukkan jahatnya keterikatan, yang segala keinginannya selalu untuk mengabdi pada Roh Tertinggi, yang terbebas dari dualitas yang dikenal sebagai senang dan susah dan tak terbingungkan, akan pergi menuju keadaan yang kekal itu.

15-6

na tad bhasayate suryo
na sasanko na pavakah
yad gatva na nivartante
tad dhama paramam mama

“That supreme abode of Mine is not illumined by the sun or moon, nor by fire or electricity. Those who reach it never return to this material world.”

Matahari tidak menyinarinya, demikian juga bulan ataupun api. Itulah tempat tinggal-Ku yang tertinggi dan orang yang mencapainya tak akan kembali lagi.

15-7

mamaivamso jiva-loke
jiva-bhutah sanatanah
manah-sasthanindriyani
prakriti-sthani karshati

“The living entities in this conditioned world are My eternal fragmental parts. Due to conditioned life, they are struggling very hard with the six senses, which include the mind.”

Suatu fragmen (cuplikan) dari diri-Ku sendiri, setelah menjadi roh yang hidup, kekal di dunia kehidupan ini, menarik indra-indra ke arah dirinya dan pikiran sebagai yang keenam, yang berada dalam alam (prakrti)

15-8

sariram yad avapnoti
yac capy utkramatishvarah
grhitvaitani samyati
vayur gandhan ivasayat

“The living entity in the material world carries his different conceptions of life from one body to another as the air carries aromas. Thus he takes one kind of body and again quits it to take another.”

Bila sang Jiva mengenakan badan jasmani dan ketika ia meninggalkannya, ia juga membawa serta indra-indra dan pikiran dan pergi bagaikan angin yang membawa bau harum dari tempatnya.

15-9

srotram caksuh sparshanam ca
rasanam ghranam eva ca
adhisthaya manas cayam
visayan upasevate

“The living entity, thus taking another gross body, obtains a certain type of ear, eye, tongue, nose and sense of touch, which are grouped about the mind. He thus enjoys a particular set of sense objects.”

Ia menikmati obyek indra dengan menggunakan telinga, mata, indra sentuhan, indra pengecap dan hidung, demikian juga pikiran.

15-10

utkramantam sthitam vapi
bhunjanam va gunanvitam
vimudha nanupasyanti
pasyanti jnana-caksusah

“The foolish cannot understand how a living entity can quit his body, nor can they understand what sort of body he enjoys under the spell of the modes of nature. But one whose eyes are trained in knowledge can see all this.”

Ketika Ia berangkat atau tinggal ataupun mengalami, dalam hubungannya dengan sifat-sifat (guna), mereka yang tersesat tak dapat melihat (roh penghuni badan), tetapi mereka yang memiliki mata kebijaksanaan dapat melihatnya.

15-11

yatanto yoginas cainam
pasyanty atmany avasthitam
yatanto ’py akritatmano
nainam pasyanty acetasah

“The endeavoring transcendentalists, who are situated in self-realization, can see all this clearly. But those whose minds are not developed and who are not situated in self-realization cannot see what is taking place, though they may try to.”

Para yogi juga berusaha mengetahui-Nya sebagai yang termantapkan pada sang Diri, tetapi mereka yang kurang cerdas, yang jiwanya tak terdisiplinkan walaupun berusaha keras tak dapat menemukan-Nya.

15-12

yad aditya-gatam tejo
jagad bhasayate ’khilam
yac candramasi yac cagnau
tat tejo viddhi mamakam

“The splendor of the sun, which dissipates the darkness of this whole world, comes from Me. And the splendor of the moon and the splendor of fire are also from Me.”

Kecemerlangan matahari yang menyinari seluruh dunia, yang ada pada bulan dan api, ketahuilah bahwa itu adalah kecemerlangan-Ku

15-13

gam avisya ca bhutani
dharayamy aham ojasa
pusnami causadhih sarvah
somo bhutva rasatmakah

“I enter into each planet, and by My energy they stay in orbit. I become the moon and thereby supply the juice of life to all vegetables.”

Dan dengan masuk ke dalam bumi, Aku menopang segala mahluk dengan energi vital-Ku dan dengan menjadi cairan sari soma (bulan), Aku menghidupi seluruh tanam-tanaman.

15-14

aham vaisvanaro bhutva
praninam deham asritah
pranapana-samayuktah
pacamy annam catur-vidham

“I am the fire of digestion in the bodies of all living entities, and I join with the air of life, outgoing and incoming, to digest the four kinds of foodstuff.”

Dengan menjadi api kehidupan dari badan mahluk hidup dan bersatu dengan nafas ke atas dan ke bawah, Aku mencernakan empat jenis makanan.

15-15

sarvasya caham hridi sannivisto
mattah smritir jnanam apohanam ca
vedais ca sarvair aham eva vedyo
vedanta-krd veda-vid eva caham

“I am seated in everyone’s heart, and from Me come remembrance, knowledge and forgetfulness. By all the Vedas, I am to be known. Indeed, I am the compiler of Vedanta, and I am the knower of the Vedas.”

Dan Aku berdiam dalam hati semua mahluk; dari Aku lah datangnya ingatan dan pengetahuan, demikian juga hilangnya. Akulah sesungguhnya yang harus diketahui oleh seluruh kitab Veda. Akulah sesungguhnya penyusun kita Vedanta dan Aku juga yang mengetahui kitab-kitab Veda

15-16

dvav imau purushau loke
ksharas cakshara eva ca
ksharah sarvani bhutani
kuta-stho ’kshara ucyate

“There are two classes of beings, the fallible and the infallible. In the material world every living entity is fallible, and in the spiritual world every living entity is called infallible.”

Ada dua macam orang di dunia ini, yaitu yang dapat musnah dan yang abadi; yang dapat musnah adalah seluruh eksistensi ini dan yang tak berubah adalah yang abadi.

15-17

uttamah purushas tv anyah
paramatmety udahrtah
yo loka-trayam avisya
bibharty avyaya ishvarah

“Besides these two, there is the greatest living personality, the Supreme Soul, the imperishable Lord Himself, who has entered the three worlds and is maintaining them.”

Tetapi, lain dari pada ini, Roh Tertinggi yang disebut sang Diri Tertinggi, sebagai Penguasa Abadi memasuki ketiga dunia ini dan menghidupinya.

15-18

yasmat ksharam atito ’ham
aksharad api cottamah
ato ’smi loke vede ca
prathitah purushottamah

“Because I am transcendental, beyond both the fallible and the infallible, and because I am the greatest, I am celebrated both in the world and in the Vedas as that Supreme Person.”

Karena Aku melampaui yang dapat musnah dan bahkan lebih tinggi dari yang tak termusnahkan, Aku dimuliakan sebagai Pribadi Tertinggi, baik di dunia ini maupun dalam kitab-kitab Veda

15-19

yo mam evam asammudho
janati purushottamam
sa sarva-vid bhajati mam
sarva-bhavena bharata

“Whoever knows Me as the Supreme Personality of Godhead, without doubting, is the knower of everything. He therefore engages himself in full devotional service to Me, O son of Bharata.”

Ia yang tak terbingungkan, mengetahui Aku sebagai Pribadi Tertinggi, yang mengetahui segalanya dan memuja Aku dengan segenap jiwa raganya, wahai Bharata

15-20

iti guhyatamam shastram
idam uktam mayanagha
etad buddhva buddhiman syat
krita-krtyas ca bharata

“This is the most confidential part of the Vedic scriptures, O sinless one, and it is disclosed now by Me. Whoever understands this will become wise, and his endeavors will know perfection.”

Jadi, ajaran yang sangat rahasia ini telah Aku ajarkan kepadamu, wahai Anagha (Arjuna). Dengan mengetahuinya, seseorang akan menjadi bijaksana dan dapat melaksanakan segala kewajibannya, wahai Bharata (Arjuna)

Disini berakhir Bab XV, percakapan yang berjudul: PURUSOTTAMA YOGA

[Kembali]


Bhagavad Gita – Bab XVI

Sodaso’dhyayah
Bab XVI

Daiwasura Sampad Wibhaga Yoga
Sifat Pikiran Yang Mulia dan Yang Jahat

16-1, 16-2 & 16-3

sri-bhagavan uvaca
abhayam sattva-samsuddhir
jnana-yoga-vyavasthitih
danam damas ca yajnas ca
svadhyayas tapa arjavam

ahimsa satyam akrodhas
tyagah shantir apaisunam
daya bhutesv aloluptvam
mardavam hrir acapalam

tejah ksama dhrtih shaucam
adroho nati-manita
bhavanti sampadam daivim
abhijatasya bharata

“The Supreme Personality of Godhead said: Fearlessness; purification of one’s existence; cultivation of spiritual knowledge; charity; self-control; performance of sacrifice; study of the Vedas; austerity; simplicity; nonviolence; truthfulness; freedom from anger; renunciation; tranquillity; aversion to faultfinding; compassion for all living entities; freedom from covetousness; gentleness; modesty; steady determination; vigor; forgiveness; fortitude; cleanliness; and freedom from envy and from the passion for honor—these transcendental qualities, O son of Bharata, belong to godly men endowed with divine nature.”

Sri Bhagavan bersabda:
Keberanian, kemurnian pikiran, bijaksana dalam membagi pengetahuan dan konsentrasi, amal sedekah, pengendalian diri dan berkorban, belajar kitab suci, melakukan tapah dan berbuat kejujuran. Tanpa kekerasan, kebenaran, bebas dari kemarahan, tanpa pamrih, tenang, benci dalam mencari kesalahan, welas asih terhadap mahluk hidup, bebas dari kelobaan, sopan, kerendahan hati dan kemantapan.
Berani, pemaaf, teguh, murni, bebas dari kedengkian dan kesombongan, yang semuanya ini, wahai Bharata (Arjuna) merupakan anugerah pada mereka yang lahir dengan sifat-sifat dewata

16-4

dambho darpo ’bhimanas ca
krodhah parusyam eva ca
ajnanam cabhijatasya
partha sampadam asurim

“Pride, arrogance, conceit, anger, harshness and ignorance—these qualities belong to those of demoniac nature, O son of Pritha.”

Berlagak, angkuh, membanggakan diri, marah dan juga kasar serta bodoh, semuanya ini, wahai Partha (Arjuna) adalah sifat-sifat mereka yang lahir dengan kecenderungan raksasa.

16-5

daivi sampad vimokshaya
nibandhayasuri mata
ma sucah sampadam daivim
abhijato ’si pandava

“The transcendental qualities are conducive to liberation, whereas the demoniac qualities make for bondage. Do not worry, O son of Pandu, for you are born with the divine qualities.”

Anugerah ilahi ini dikatakan untuk mencapai pelepasan dan sifat-sifat raksasa akan menuju keterikatan. Janganlah bersedih, wahai Pandava (Arjuna), engkau dilahirkan dengan sifat-sifat ilahi.

16-6

dvau bhuta-sargau loke ’smin
daiva asura eva ca
daivo vistarasah prokta
asuram partha me shrinu

“O son of Pritha, in this world there are two kinds of created beings. One is called the divine and the other demoniac. I have already explained to you at length the divine qualities. Now hear from Me of the demoniac.”

Ada dua macam mahluk diciptakan di dunia ini, yaitu yang bersifat ilahi dan bersifat raksasa. Yang bersifat ilahi telah diuraikan secara panjang lebar. Sekarang dengarkan, wahai Partha (Arjuna), tentang mahluk yang bersifat raksasa.

16-7

pravrttim ca nivrttim ca
jana na vidur asurah
na shaucam napi cacaro
na satyam tesu vidyate

“Those who are demoniac do not know what is to be done and what is not to be done. Neither cleanliness nor proper behavior nor truth is found in them.”

Yang bersifat raksasa tidak mengetahui tentang jalan kegiatan kerja ataupun jalan penyangkalan kerja. Juga kemurnian, perilaku bajik dan kebenaran tak ada pada mereka.

16-8

asatyam apratishtham te
jagad ahur anishvaram
aparaspara-sambhutam
kim anyat kama-haitukam

“They say that this world is unreal, with no foundation, no God in control. They say it is produced of sex desire and has no cause other than lust.”

Mereka berkata bahwa dunia ini tidak nyata, tanpa dasar moral, tanpa Tuhan, tidak berada dalam susunan yang teratur, yang disebabkan oleh keinginan saja.

16-9

etam drstim avastabhya
nastatmano ’lpa-buddhayah
prabhavanty ugra-karmanah
ksayaya jagato ’hitah

“Following such conclusions, the demoniac, who are lost to themselves and who have no intelligence, engage in unbeneficial, horrible works meant to destroy the world.”

Dengan berpegang teguh pada pandangan ini, roh-roh sesat engan pemahaman lemah, dengan perbuatan kejam, muncul sebagai musuh dunia menuju kehancurannya.

16-10

kamam asritya duspuram
dambha-mana-madanvitah
mohad grhitvasad-grahan
pravartante ’suci-vratah

“Taking shelter of insatiable lust and absorbed in the conceit of pride and false prestige, the demoniac, thus illusioned, are always sworn to unclean work, attracted by the impermanent.”

Dengan menyerahkan dirinya pada keinginan yang tak pernah puas, penuh dengan kemunafikan, kebanggaan dan keangkuhan, dengan pandangan yang salah karena khayalan, mereka berbuat dengan melibatkan ketidakmurnian.

16-11 & 16-12

cintam aparimeyam ca
pralayantam upasritah
kamopabhoga-parama
etavad iti niscitah

asa-pasa-satair baddhah
kama-krodha-parayanah
ihante kama-bhogartham
anyayenartha-sancayan

“They believe that to gratify the senses is the prime necessity of human civilization. Thus until the end of life their anxiety is immeasurable. Bound by a network of hundreds of thousands of desires and absorbed in lust and anger, they secure money by illegal means for sense gratification.”

Keranjingan dengan keinginan yang tak terhitung banyaknya yang hanya berhenti dengan adanya kematian, memandang pemuasan keinginan sebagai tujuan tertinggi, dengan memastikan bahwa inilah segala-galanya. Dibelenggu oleh ratusan keinginan, yang dipasrahkan pada nafsu dan kemarahan, mereka berusaha untuk menimbun kekayaan dengan cara yang tidak jujur, demi untuk memenuhi keinginannya.

16-13, 16-14 & 16-15

idam adya maya labdham
imam prapsye manoratham
idam astidam api me
bhavisyati punar dhanam

asau maya hatah satrur
hanisye caparan api
isvaro ’ham aham bhogi
siddho ’ham balavan sukhi

adhyo ’bhijanavan asmi
ko ’nyo ’sti sadrso maya
yaksye dasyami modisya
ity ajnana-vimohitah

“The demoniac person thinks: “So much wealth do I have today, and I will gain more according to my schemes. So much is mine now, and it will increase in the future, more and more. He is my enemy, and I have killed him, and my other enemies will also be killed. I am the lord of everything. I am the enjoyer. I am perfect, powerful and happy. I am the richest man, surrounded by aristocratic relatives. There is none so powerful and happy as I am. I shall perform sacrifices, I shall give some charity, and thus I shall rejoice.” In this way, such persons are deluded by ignorance.”

Hari ini telah aku dapatkan, keinginan ini harus aku dapatkan; ini adalah milikku dan kekayaan ini juga harus menjadi milikku nantinya. Musuh ini telah aku bunuh dan yang lainnya juga akan kubunuh, akulah penguasa, akulah penikmat, akulah yang berhasil, yang perkasa dan yang berbahagia. “Aku kaya raya dan berkelahiran mulia. Siapakah yang dapat menyamai aku? Aku akan melakukan upacara yajna, aku akan beramal sedekah, aku akan bergembira,” demikianlah mereka berkata dalam kedunguannya.

16-16

aneka-citta-vibhranta
moha-jala-samavrtah
prasaktah kama-bhogesu
patanti narake ’sucau

“Thus perplexed by various anxieties and bound by a network of illusions, they become too strongly attached to sense enjoyment and fall down into hell.”

Terbingungkan oleh banyak pemikiran, terlibat dalam jaring-jaring khayalan dan terseret menuju kesenangan dari keinginan, mereka jatuh ke dalam neraka yang menjijikkan.

16-17

atma-sambhavitah stabdha
dhana-mana-madanvitah
yajante nama-yajnais te
dambhenavidhi-purvakam

“Self-complacent and always impudent, deluded by wealth and false prestige, they sometimes proudly perform sacrifices in name only, without following any rules or regulations.”

Dengan menyombongkan diri, merasa diri benar, yang penuh dengan kebanggaan dan keangkuhan akan kekayaan, mereka melaksanakan upacara yajna sebagai pulasan belaka tanpa mengindahkan aturan yang semestinya.

16-18

ahankaram balam darpam
kamam krodham ca samsritah
mam atma-para-dehesu
pradvisanto ’bhyasuyakah

“Bewildered by false ego, strength, pride, lust and anger, the demons become envious of the Supreme Personality of Godhead, who is situated in their own bodies and in the bodies of others, and blaspheme against the real religion.”

Menyerah pada kesombongan diri, kekuasaan dan keangkuhan dan juga nafsu dan kemarahan, orang-orang dengki ini membenci Aku yang bersemayam dalam badan mereka dan yang lainnya.

16-19

tan aham dvisatah kruran
samsaresu naradhaman
ksipamy ajasram asubhan
asurisv eva yonisu

“Those who are envious and mischievous, who are the lowest among men, I perpetually cast into the ocean of material existence, into various demoniac species of life.”

Para pendendam yang kejam ini merupakan orang yang terburuk; Aku akan campakkan mereka selamanya ke dalam kandungan para raksasa dalam siklus kelahiran dan kematian ini.

16-20

asurim yonim apanna
mudha janmani janmani
mam aprapyaiva kaunteya
tato yanty adhamam gatim

“Attaining repeated birth amongst the species of demoniac life, O son of Kunti, such persons can never approach Me. Gradually they sink down to the most abominable type of existence.”

Terjerumus ke dalam kandungan para raksasa, mahluk-mahluk yang terbingungkan ini dari siklus kelahiran demi kelahiran, tak akan mencapai Aku, wahai putra Kunti (Arjuna), tetapi merosot menuju tempat yang paling rendah.

16-21

tri-vidham narakasyedam
dvaram nasanam atmanah
kamah krodhas tatha lobhas
tasmad etat trayam tyajet

“There are three gates leading to this hell—lust, anger and greed. Every sane man should give these up, for they lead to the degradation of the soul.”

Gerbang menuju neraka ini yang mengantar pada kemusnahan sang roh ada tiga jenis, yaitu: nafsu, kemarahan dan ketamakan. Oleh karena itu, seseorang harus melepaskan ketiganya ini.

16-22

etair vimuktah kaunteya
tamo-dvarais tribhir narah
acaraty atmanah sreyas
tato yati param gatim

“The man who has escaped these three gates of hell, O son of Kunti, performs acts conducive to self-realization and thus gradually attains the supreme destination.”

Orang yang terbebas dari ketiga gerbang kegelapan ini, wahai putra Kunti (Arjuna), melakukan apa yang baik bagi jiwanya dan kemudian mencapai keadaan tertinggi.

16-23

yah shastra-vidhim utsrjya
vartate kama-karatah
na sa siddhim avapnoti
na sukham na param gatim

“He who discards scriptural injunctions and acts according to his own whims attains neither perfection, nor happiness, nor the supreme destination.”

Tetapi, ia yang melalaikan (membuang) aturan kitab suci dan bertindak sesuai dengan dorongan keinginannya semata, ia tak akan mencapai kesempurnaan, kebahagiaan ataupun tujuan tertinggi.

16-24

tasmac chastram pramanam te
karyakarya-vyavasthitau
jnatva shastra-vidhanoktam
karma kartum iharhasi

“One should therefore understand what is duty and what is not duty by the regulations of the scriptures. Knowing such rules and regulations, one should act so that he may gradually be elevated.”

Oleh karena itu, biarlah kitab suci menjadi otoritasmu untuk menentukan apa yang harus dilakukan dan apa yang tak boleh dilakukan. Dengan mengetahui apa yang dinyatakan oleh aturan kitab suci tersebut, engkau hendaknya melakukan kegiatan kerja di dunia ini.

Di sini berakhir Bab XVI, percakapan yang berjudul: DAIWASURA SAMPAD WIBHAGA YOGA

[Kembali]


Sumber: Pustaka Hindu


BhagawadGita, Bab 8 s/d 11


GitaDhyanam

  1. Arjuna Wisada Yoga, menguraikan keragu-raguan dalam diri Arjuna
  2. Samkhya Yoga, menguraikan ajaran yoga dan samkhya
  3. Karma Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena karma, usaha, perbuatan
  4. Jnana Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena ilmu pengetahuan suci
  5. Karma Samnyasa Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena prihatin
  6. Dhyana Yoga, menguraikan tentang makna dhyana sebaga satu sistem dalam yoga
  7. Jnana Widnyana Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena budi
  8. Aksara Brahma Yoga, menguraikan hakikat akan kekekalan Tuhan
  9. Raja Widya Rajaguhya Yoga, hakikat Ketuhanan sebagai raja dari segala ilmu pengetahuan (widya)
  10. Wibhuti Yoga, menguraikan akan sifat hakikat Tuhan yang absolut, tanpa awal, pertengahan dan akhir
  11. Wiswarupa Darsana Yoga, kelanjutan dari Wibhuti Yoga, dijelaskan dengan manifestasi secara nyata
  12. Bhakti Yoga, menguraikan tentang cara yoga dengan bhakti
  13. Ksetra Ksetradnya Yoga, menguraikan hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa dalam hubungan dengan purusa dan prakrti
  14. Guna Traya Wibhaga Yoga, membahas Triguna – Sattwam, Rajas dan Tamas
  15. Purusottama Yoga, menguraikan beryoga pada purusa yang Maha Tinggi, Hakikat Ketuhanan
  16. Daiwasura Sampad Wibhaga Yoga, membahas akan hakikat tingkah-laku manusia, baik dan buruk
  17. Sraddha Traya Wibhaga Yoga, menguraikan kepercayaan dan berkeyakinan pada Triguna
  18. Moksa Samnyasa Yoga, merupakan kesimpulan dari semua ajaran yang menjadi inti tujuan agama yang tertinggi.


Bhagavad Gita – Bab VIII

Astamo’dhyayah
Bab VIII

Aksara Brahma Yoga

8-1

arjuna uvaca
kim tad brahma kim adhyatmam
kim karma purushottama
adhibhutam ca kim proktam
adhidaivam kim ucyate

“Arjuna inquired: O my Lord, O Supreme Person, what is Brahman? What is the self? What are fruitive activities? What is this material manifestation? And what are the demigods? Please explain this to me.”

Arjuna bertanya:
Apakah Brahman (Yang Mutlak) itu? Apakah sang Diri (Adhyatma) dan apakah kegiatan kerja (karma) itu, wahai Purusottama (Krsna)? Apakah yang dikatakan sebagai bidang wilayah unsur-unsur (Adhibutam) itu? Apakah yang disebut bidang para dewa (Adhidaiva) itu?

8-2

adhiyajnah katham ko ’tra
dehe ’smin madhusudana
prayana-kale ca katham
jneyo ’si niyatatmabhih

“Who is the Lord of sacrifice, and how does He live in the body, O Madhusudana? And how can those engaged in devotional service know You at the time of death?”

Apa yang menjadi bagian dari adhiyajna dalam badan dan bagaimana itu. wahai Madhusudana (Krsna). Bagaimana pula Engkau dapat diketahui pada saat kematian dengan pengendalian sang diri?

8-3

sri-bhagavan uvaca
aksharam brahma paramam
svabhavo ’dhyatmam ucyate
bhuta-bhavodbhava-karo
visargah karma-samjnitah

“The Supreme Personality of Godhead said: The indestructible, transcendental living entity is called Brahman, and his eternal nature is called adhyatma, the self. Action pertaining to the development of the material bodies of the living entities is called karma, or fruitive activities.”

Sri Bhagavan bersabda:
Brahman Yang Mutlak itu kekal abadi, Yang Tertinggi, dan sifat esensialnya disebut sebagai sang Diri. Karma adalah namya yang diberikan pada kekuatan kreatif yang memunculkan mahluk-mahluk

8-4

adhibhutam ksaro bhavah
purushas cadhidaivatam
adhiyajno ’ham evatra
dehe deha-bhrtam vara

“O best of the embodied beings, the physical nature, which is constantly changing, is called adhibhuta [the material manifestation]. The universal form of the Lord, which includes all the demigods, like those of the sun and moon, is called adhidaiva. And I, the Supreme Lord, represented as the Supersoul in the heart of every embodied being, am called adhiyajna [the Lord of sacrifice].”

Dasar dari segala hal yang diciptakan adalah alam fana ini; dasar dari unsur ilahi adalah roh kosmis (semesta). Dan dasar dari segala upacara kurban di sini adalah Diri-Ku sendiri, wahai keberadaan berwujud yang terbaik (Arjuna).

8-5

anta-kale ca mam eva
smaran muktva kalevaram
yah prayati sa mad-bhavam
yati nasty atra samsayah

“And whoever, at the end of his life, quits his body, remembering Me alone, at once attains My nature. Of this there is no doubt.”

Dan siapapun yang pada saat datangnya kematian, menanggalkan badan jasmani, senantiasa berpikir tentang Aku, ia akan sampai pada kedudukan-Ku, hal itu tak perlu diragukan lagi.

8-6

yam yam vapi smaran bhavam
tyajaty ante kalevaram
tam tam evaiti kaunteya
sada tad-bhava-bhavitah

“Whatever state of being one remembers when he quits his body, O son of Kunti, that state he will attain without fail.”

Keadaan apapun yang dipikirkannya pada saat-saat terakhir ketika menanggalkan badan jasmani, kesanalah ia akan sampai, wahai putra Kunti (Arjuna), karena ia senantiasa terserap dalam pemikiran hal itu saja.

8-7

tasmat sarveshu kaleshu
mam anusmara yudhya ca
mayy arpita-mano-buddhir
mam evaishyasy asamsayah

“Therefore, Arjuna, you should always think of Me in the form of Krishna and at the same time carry out your prescribed duty of fighting. With your activities dedicated to Me and your mind and intelligence fixed on Me, you will attain Me without doubt.”

Oleh karena itu, kapanpun juga ingatlah kepada-Ku dan berjuanglah. Bila pikiran dan kecerdasan senantiasa terpaku pada-Ku, tanpa diragukan lagi engkau akan sampai kepada-Ku

8-8

abhyasa-yoga-yuktena
cetasa nanya-gamina
paramam purusham divyam
yati parthanucintayan

“He who meditates on Me as the Supreme Personality of Godhead, his mind constantly engaged in remembering Me, undeviated from the path, he, O Partha, is sure to reach Me.”

Ia yang senantiasa bermeditasi pada Pribadi Tertinggi dengan pemikiran yang disesuaikan dengan pelaksanaan yang terus menerus dan tidak mengembara kemana-mana terhadap yang lainnya lagi, wahai Partha (Arjuna), ia akan sampai pada Pribadi Ilahi Tertinggi

8-9

kavim puranam anusasitaram
anor aniyamsam anusmared yah
sarvasya dhataram acintya-rupam
aditya-varnam tamasah parastat

“One should meditate upon the Supreme Person as the one who knows everything, as He who is the oldest, who is the controller, who is smaller than the smallest, who is the maintainer of everything, who is beyond all material conception, who is inconceivable, and who is always a person. He is luminous like the sun, and He is transcendental, beyond this material nature.”

Ia yang memusatkan perhatiannya pada Yang Maha Tahu, yang terpurba, Yang Mahakuasa, yang lebih halus dari pada yang halus, sebagai penopang segalanya, yang wujudnya tak terpahami, yang kesemarakannya bagaikan matahari itu mengatasi kegelapan.

8-10

prayana-kale manasacalena
bhaktya yukto yoga-balena caiva
bhruvor madhye pranam avesya samyak
sa tam param purusham upaiti divyam

“One who, at the time of death, fixes his life air between the eyebrows and, by the strength of yoga, with an undeviating mind, engages himself in remembering the Supreme Lord in full devotion, will certainly attain to the Supreme Personality of Godhead.”

Ia yang berbuat demikian pada saat kematian tiba, dengan pikiran pengabdian yang mantap dan kekuatan yoga serta memantapkan nafas hidup di tengah-tengah kedua alis mata, ia mencapai Pribadi Ilahi Tertinggi

8-11

yad aksharam veda-vido vadanti
vishanti yad yatayo vita-ragah
yad icchanto brahmacaryam caranti
tat te padam sangrahena pravaksye

“Persons who are learned in the Vedas, who utter omkara and who are great sages in the renounced order enter into Brahman. Desiring such perfection, one practices celibacy. I shall now briefly explain to you this process by which one may attain salvation.”

Aku akan melukiskan secara ringkas kepadamu keadaan yang disebut Abadi oleh mereka yang mengetahui kitab suci Veda, yang dimasuki para pertapa yang bebas dari nafsu dan yang diinginkan oleh mereka yang menjalani kehidupan pengendalian diri.

8-12

sarva-dvarani samyamya
mano hridi nirudhya ca
murdhny adhayatmanah pranam
asthito yoga-dharanam

“The yogic situation is that of detachment from all sensual engagements. Closing all the doors of the senses and fixing the mind on the heart and the life air at the top of the head, one establishes himself in yoga.”

Semua gerbang dari badan dikendalikan, pikiran dikurung dalam hati, daya kehidupannya dipusatkan pada kepala, dan dimantapkan dalam konsentrasi dengan yoga.

8-13

om ity ekaksharam brahma
vyaharan mam anusmaran
yah prayati tyajan deham
sa yati paramam gatim

“After being situated in this yoga practice and vibrating the sacred syllable om, the supreme combination of letters, if one thinks of the Supreme Personality of Godhead and quits his body, he will certainly reach the spiritual planets.”

Ia yang mengucapkan suku kata tunggal AUM, yaitu Brahman, dengan mengingat Aku ketika ia berangkat dengan menanggalkan badan jasmaninya, mencapai tujuan tertinggi.

8-14

ananya-cetah satatam
yo mam smarati nityasah
tasyaham sulabhah partha
nitya-yuktasya yoginah

“For one who always remembers Me without deviation, I am easy to obtain, O son of Pritha, because of his constant engagement in devotional service.”

Ia yang secara terus menerus memusatkan perhatiannya pada-Ku, tanpa memikirkan yang lainnya lagi, Aku mudah dicapai oleh mereka yang menjadi seorang yogi yang senantiasa berdisiplin (menyatu dengan Yang Tertinggi), wahai Partha (Arjuna)

8-15

mam upetya punar janma
duhkhalayam asasvatam
napnuvanti mahatmanah
samsiddhim paramam gatah

“After attaining Me, the great souls, who are yogis in devotion, never return to this temporary world, which is full of miseries, because they have attained the highest perfection.”

Setelah sampai kepada-Ku para roh agung ini tak akan kembali lahir ke tempat kesengsaraan yang tidak kekal ini, karena mereka telah mencapai kesempurnaan tertinggi.

8-16

a-brahma-bhuvanal lokah
punar avartino ’rjuna
mam upetya tu kaunteya
punar janma na vidyate

“From the highest planet in the material world down to the lowest, all are places of misery wherein repeated birth and death take place. But one who attains to My abode, O son of Kunti, never takes birth again.”

Dari wilayah kedudukan Brahma sang pencipta menurun, semua dunia mengalami kelahiran kembali, wahai putra Kunti (Arjuna), tetapi mereka yang mencapai Aku, tak akan lahir kembali ke dunia.

8-17

sahasra-yuga-paryantam
ahar yad brahmano viduh
ratrim yuga-sahasrantam
te ’ho-ratra-vido janah

“By human calculation, a thousand ages taken together form the duration of Brahma’s one day. And such also is the duration of his night.”

Mereka yang mengetahui bahwa satu hari Brahma adalah jangka waktu seribu yuga dan bahwa malam Brahma juga seribu yuga adalah yang mengetahui siang dan malam’

8-18

avyaktad vyaktayah sarvah
prabhavanty ahar-agame
ratry-agame praliyante
tatraivavyakta-samjnake

“At the beginning of Brahma’s day, all living entities become manifest from the unmanifest state, and thereafter, when the night falls, they are merged into the unmanifest again.”

Pada saat datangnya siang hari, segala yang berwujud muncul dari yang tak berwujud dan pada saat malam tiba mereka bergabung kembali dengan cara yang sama, yang disebut tak berwujud tersebut.

8-19

bhuta-gramah sa evayam
bhutva bhutva praliyate
ratry-agame ’vasah partha
prabhavaty ahar-agame

“Again and again, when Brahma’s day arrives, all living entities come into being, and with the arrival of Brahma’s night they are helplessly annihilated.”

Kejamakan eksistensi yang sama ini, yang muncul berkali-kali, dengan tak berdaya bergabung kembali pada saat datangnya malam hari, wahai Partha (Arjuna), dan muncul kembali pada saat datangnya siang hari.

8-20

paras tasmat tu bhavo ’nyo
’vyakto ’vyaktat sanatanah
yah sa sarveshu bhutesu
nasyatsu na vinasyati

“Yet there is another unmanifest nature, which is eternal and is transcendental to this manifested and unmanifested matter. It is supreme and is never annihilated. When all in this world is annihilated, that part remains as it is.”

Tetapi, di luar dari yang tak bermanifestasi ini masih ada Keberadaan Abadi Tak berwujud yang tidak lenyap walaupun ketika segala keberadaan ini lenyap semuanya.

8-21

avyakto ’kshara ity uktas
tam ahuh paramam gatim
yam prapya na nivartante
tad dhama paramam mama

“That which the Vedantists describe as unmanifest and infallible, that which is known as the supreme destination, that place from which, having attained it, one never returns—that is My supreme abode.”

Yang tak Berwujud ini disebut ‘Abadi’, yang dikatakan merupakan tempat kedudukan Tertinggi. Mereka yagn mencapai-Nya tak akan kembali lagi. Itulah tempat-Ku yang Tertinggi

8-22

purushah sa parah partha
bhaktya labhyas tv ananyaya
yasyantah-sthani bhutani
yena sarvam idam tatam

“The Supreme Personality of Godhead, who is greater than all, is attainable by unalloyed devotion. Although He is present in His abode, He is all-pervading, and everything is situated within Him.”

Inilah Pribadi Tertinggi, wahai Partha (Arjuna), sebagai tempat kediaman seluruh keberadaan, dan yang juga meresapi atau meliputinya, yang bagaimanapun juga dapat dicapai dengan pengabdian yang tak tergoyahkan.

8-23

yatra kale tv anavrttim
avrttim caiva yoginah
prayata yanti tam kalam
vaksyami bharatarsabha

“O best of the Bharatas, I shall now explain to you the different times at which, passing away from this world, the yogi does or does not come back.”

Kini Aku akan menyatakan kepadamu, wahai Arjuna, saat para yogi yang meninggal tak kembali lagi dan juga saat bepergian mereka dan kembali lagi.

8-24

agnir jyotir ahah suklah
san-masa uttarayanam
tatra prayata gacchanti
brahma brahma-vido janah

“Those who know the Supreme Brahman attain that Supreme by passing away from the world during the influence of the fiery god, in the light, at an auspicious moment of the day, during the fortnight of the waxing moon, or during the six months when the sun travels in the north.”

Api, cahaya, siang hari, malam cerah (purnama), enam bulan jalan matahari ke Utara, maka perjalanan roh mereka yang mengetahui Yang Mutlak akan pergi menuju-Nya

8-25

dhumo ratris tatha krishnah
san-masa daksinayanam
tatra candramasam jyotir
yogi prapya nivartate

“The mystic who passes away from this world during the smoke, the night, the fortnight of the waning moon, or the six months when the sun passes to the south reaches the moon planet but again comes back.”

Asap, malam hari, dan juga masa gelap, enam bulan jalan matahari ke Selatan, maka yogi yang berangkat pada saat demikian akan mencapai cahaya bulan dan akan kembali lagi ke dunia ini.

8-26

sukla-krsne gati hy ete
jagatah sasvate mate
ekaya yaty anavrttim
anyayavartate punah

“According to Vedic opinion, there are two ways of passing from this world—one in light and one in darkness. When one passes in light, he does not come back; but when one passes in darkness, he returns.”

Terang dan gelap, kedua jalan ini dianggap sebagai jalan abadi; oleh seseorang yang berangkat dan tak kembali dan oleh yang lainnya namun mereka kembali lagi.

8-27

naite srti partha janan
yogi muhyati kascana
tasmat sarveshu kaleshu
yoga-yukto bhavarjuna

“Although the devotees know these two paths, O Arjuna, they are never bewildered. Therefore be always fixed in devotion.”

Para yogi yang mengetahui kedua jalan ini, wahai Partha (Arjuna), tak pernah menjadi bingung. Oleh karena itu, wahai Arjuna, pada setiap waktu mantapkanlah dirimu dalam yoga.

8-28

vedesu yajnesu tapahsu caiva
danesu yat punya-phalam pradistam
atyeti tat sarvam idam viditva
yogi param sthanam upaiti cadyam

“A person who accepts the path of devotional service is not bereft of the results derived from studying the Vedas, performing austere sacrifices, giving charity or pursuing philosophical and fruitive activities. Simply by performing devotional service, he attains all these, and at the end he reaches the supreme eternal abode.”

Yogi yang setelah mengetahui semuanya ini, melampaui hasil-hasil dari perbuatan bajik yang ditandai dengan belajar kitab suci Veda, upacara kurban, melakukan tapah dan amal sedekah dan mencapai kedudukan yang utama dan tertinggi ini.

Di sini berakhir percakapan dalam bab VIII, yang berjudul Aksara Brahma Yoga

[Kembali]


Bhagavad Gita – Bab IX

Navamo’dhyayah
Bab IX

Rajavidya Rajaguhya Yoga

9-1

sri-bhagavan uvaca
idam tu te guhyatamam
pravaksyamy anasuyave
jnanam vijnana-sahitam
yaj jnatva moksyase ’subhat

“The Supreme Personality of Godhead said: My dear Arjuna, because you are never envious of Me, I shall impart to you this most confidential knowledge and realization, knowing which you shall be relieved of the miseries of material existence.”

Sri Bhagavan bersabda:
Kepadamu, yang tidak bersifat rewel, Aku akan menyatakan kebijaksanaan rahasia yang sangat mendalam ini yang dikombinasikan dengan pengetahuan; dan dengan mengetahuinya engkau akan dibebaskan dari segala kejahatan

9-2

raja-vidya raja-guhyam
pavitram idam uttamam
pratyakshavagamam dharmyam
su-sukham kartum avyayam

“This knowledge is the king of education, the most secret of all secrets. It is the purest knowledge, and because it gives direct perception of the self by realization, it is the perfection of religion. It is everlasting, and it is joyfully performed.”

Inilah ilmu pengetahuan tertinggi, rahasia tertinggi sebagai pensuci tertinggi , yang dapat diketahui dengan pengalaman langsung, yang sesuai dengan aturan, mudah dilaksanakan dan bersifat abadi.

9-3

asraddadhanah purusha
dharmasyasya parantapa
aprapya mam nivartante
mrityu-samsara-vartmani

“Those who are not faithful in this devotional service cannot attain Me, O conqueror of enemies. Therefore they return to the path of birth and death in this material world.”

Orang yang tidak memiliki keyakinan dengan cara ini tak akan mencapai Aku, wahai Paramtapa (Arjuna), dan akan kembali ke dunia kehidupan fana (samsara)

9-4

maya tatam idam sarvam
jagad avyakta-murtina
mat-sthani sarva-bhutani
na caham tesv avasthitah

“By Me, in My unmanifested form, this entire universe is pervaded. All beings are in Me, but I am not in them.”

Seluruh alam raya ini terselimuti oleh-Ku melalui wujud-Ku yang tak termanifestasikan. Semua mahluk ada pada-Ku, tetapi Aku tak ada pada mereka.

9-5

na ca mat-sthani bhutani
pasya me yogam aishvaram
bhuta-bhrn na ca bhuta-stho
mamatma bhuta-bhavanah

“And yet everything that is created does not rest in Me. Behold My mystic opulence! Although I am the maintainer of all living entities and although I am everywhere, I am not a part of this cosmic manifestation, for My Self is the very source of creation.”

Namun, mahluk-mahluk tidak berdiam pada-Ku; ketahuilah rahasia ilahi-Ku. Roh-Ku yang menjadi sumber dari segala mahluk menopang keberadaannya tetapi tidak berdiam pada mereka.

9-6

yathakasa-sthito nityam
vayuh sarvatra-go mahan
tatha sarvani bhutani
mat-sthanity upadharaya

“Understand that as the mighty wind, blowing everywhere, rests always in the sky, all created beings rest in Me.”

Seperti udara yang perkasa, yang bergerak di mana-mana, senantiasa berada di ruang angkasa (akasa), ketahuilah bahwa dengan cara yang sama seluruh keberadaan ini berada di dalam-Ku

9-7

sarva-bhutani kaunteya
prakritim yanti mamikam
kalpa-ksaye punas tani
kalpadau visrjamy aham

“O son of Kunti, at the end of the millennium all material manifestations enter into My nature, and at the beginning of another millennium, by My potency, I create them again.”

Seluruh mahluk, wahai putra Kunti (Arjuna), masuk ke dalam sifat alam (prakrti)-Ku, pada setiap akhir siklus (kalpa) dan awal siklus (kalpa) berikutnya Aku kembalikan lagi mereka itu.

9-8

prakritim svam avastabhya
visrijami punah punah
bhuta-gramam imam krtsnam
avasam prakriter vasat

“The whole cosmic order is under Me. Under My will it is automatically manifested again and again, and under My will it is annihilated at the end.”

Diliputi oleh sifat alam (prakrti)-Ku ini, Aku kembalikan berulang kali seluruh mahluk ini yang tanpa daya berada di bawah pengendalian prakrti-Ku

9-9

na ca mam tani karmani
nibadhnanti dhananjaya
udasina-vad asinam
asaktam tesu karmasu

“O Dhananjaya, all this work cannot bind Me. I am ever detached from all these material activities, seated as though neutral.”

Namun kegiatan kerja ini tidak mengikat-Ku, wahai Dhananjaya (Arjuna), yang duduk seakan-akan tak perduli, tak terikat dengan kegiatan tersebut.

9-10

mayadhyaksena prakritih
suyate sa-caracaram
hetunanena kaunteya
jagad viparivartate

“This material nature, which is one of My energies, is working under My direction, O son of Kunti, producing all moving and nonmoving beings. Under its rule this manifestation is created and annihilated again and again.”

Di bawah pengendalian-Ku, prakrti ini menyebabkan munculnya semua hal, baik yang bergerak maupun yang tak bergerak, dan dengan cara ini, wahai putra Kunti (Arjuna), dunia ini berputar.

9-11

avajananti mam mudha
manusim tanum asritam
param bhavam ajananto
mama bhuta-maheshvaram

“Fools deride Me when I descend in the human form. They do not know My transcendental nature as the Supreme Lord of all that be.”

Yang terbingungkan memandang rendah Aku yang mengenakan wujud manusia, tidak mengetahui hakekat-Ku yang lebih tinggi sebagai Penguasa dari segala eksistensi ini.

9-12

moghasa mogha-karmano
mogha-jnana vicetasah
rakshasim asurim caiva
prakritim mohinim sritah

“Those who are thus bewildered are attracted by demonic and atheistic views. In that deluded condition, their hopes for liberation, their fruitive activities, and their culture of knowledge are all defeated.”

Dengan mengambil bagian dari sifat yang bukan sebenarnya dari para setan dan orang-orang jahat, aspirasi mereka sia-sia, kegiatan mereka sia-sia dan pengetahuan merekapun sia-sia dan mereka tanpa pertimbangan sama sekali

9-13

mahatmanas tu mam partha
daivim prakritim asritah
bhajanty ananya-manaso
jnatva bhutadim avyayam

“O son of Pritha, those who are not deluded, the great souls, are under the protection of the divine nature. They are fully engaged in devotional service because they know Me as the Supreme Personality of Godhead, original and inexhaustible.”

Roh-roh agung, wahai Partha (Arjuna), yang memiliki sifat ilahi, yang mengetahui Aku sebagai sumber abadi segala mahluk, memuja-Ku dengan pikiran yang mantap.

9-14

satatam kirtayanto mam
yatantas ca drdha-vratah
namasyantas ca mam bhaktya
nitya-yukta upasate

“Always chanting My glories, endeavoring with great determination, bowing down before Me, these great souls perpetually worship Me with devotion.”

Dengan memuliakan Aku senantiasa, rajin dan mantap dalam sumpah, bersujud kepada-Ku dengan penuh pengabdian, mereka memuja-Ku dengan penuh disiplin

9-15

jnana-yajnena capy anye
yajanto mam upasate
ekatvena prithaktvena
bahudha vishvato-mukham

“Others, who engage in sacrifice by the cultivation of knowledge, worship the Supreme Lord as the one without a second, as diverse in many, and in the universal form.”

Yang lainnya lagi, berkurban dengan pengorbanan kebijaksanaan dan memuja-Ku sebagai Yang Tunggal, sebagai berbeda dan banyak, yang menghadap ke segala penjuru.

9-16

aham kratur aham yajnah
svadhaham aham ausadham
mantro ’ham aham evajyam
aham agnir aham hutam

“But it is I who am the ritual, I the sacrifice, the offering to the ancestors, the healing herb, the transcendental chant. I am the butter and the fire and the offering.”

Aku adalah kegiatan ritual dan upacara kurban; Aku adalah persembahan leluhur dan reramuan obat-obatan; Aku adalah ucapan suci dan keju cair (reramuan persembahan api); Aku adalah api dan juga persembahan.

9-17

pitaham asya jagato
mata dhata pitamahah
vedyam pavitram omkara
rk sama yajur eva ca

“I am the father of this universe, the mother, the support and the grandsire. I am the object of knowledge, the purifier and the syllable om. I am also the Rig, the Sama and the Yajur Vedas.”

Aku adalah bapak, ibu, penopang dan kakek dari alam dunia ini, Aku juga adalah ilmu pengetahuan, pensuci dan suku kata AUM dan Aku adalah mantra-mantra rk, saman, dan juga yajus.

9-18

gatir bharta prabhuh saksi
nivasah saranam suhrt
prabhavah pralayah sthanam
nidhanam bijam avyayam

“I am the goal, the sustainer, the master, the witness, the abode, the refuge, and the most dear friend. I am the creation and the annihilation, the basis of everything, the resting place and the eternal seed.”

Aku adalah tujuan, pengemban, penguasa, saksi, tempat kediaman, perlindungan dan kawan. Aku adalah asal mula dan pelebur, dasar, tempat bersandar dan benih abadi.

9-19

tapamy aham aham varsam
nigrhnamy utsrijami ca
amritam caiva mrityus ca
sad asac caham arjuna

“O Arjuna, I give heat, and I withhold and send forth the rain. I am immortality, and I am also death personified. Both spirit and matter are in Me.”

Aku memberi kehangatan, Akulah yang menahan dan menurunkan hujan. Aku adalah keabadian dan juga kematian; Aku keberadaan dan juga bukan keberadaan, wahai Arjuna.

9-20

trai-vidya mam soma-pah puta-papa
yajnair istva svar-gatim prarthayante
te punyam asadya surendra-lokam
asnanti divyan divi deva-bhogan

“Those who study the Vedas and drink the soma juice, seeking the heavenly planets, worship Me indirectly. Purified of sinful reactions, they take birth on the pious, heavenly planet of Indra, where they enjoy godly delights.”

Mereka yang mengetahuai ketiga kitab suci Veda, yang minum sari soma dan dibersihkan dari dosa, yang memuja-Ku dengan upacara kurban, memohon jalan ke surga. Mereka mencapai wilayah suci Indra (Indraloka) dan menikmati kenikmatan para dewa di surga

9-21

te tam bhuktva svarga-lokam visalam
ksine punye martya-lokam vishanti
evam trayi-dharmam anuprapanna
gatagatam kama-kama labhante

“When they have thus enjoyed vast heavenly sense pleasure and the results of their pious activities are exhausted, they return to this mortal planet again. Thus those who seek sense enjoyment by adhering to the principles of the three Vedas achieve only repeated birth and death.”

Setelah menikmati dunia surga tak terbatas, mereka kembali ke dunia fana, ketika pahala mereka telah habis; demikianlah sesuai dengan ajaran yang dinyatakan oleh ketiga kitab suci Veda dan keinginan akan kenikmatan, mreka memperoleh keadaan yang selalu berubah.

9-22

ananyas cintayanto mam
ye janah paryupasate
tesham nityabhiyuktanam
yoga-ksemam vahamy aham

“But those who always worship Me with exclusive devotion, meditating on My transcendental form—to them I carry what they lack, and I preserve what they have.”

Tetapi, mereka yang memuja-Ku dan hanya bermeditasi kepada-Ku saja, kepada mereka yang senantiasa gigih demikian itu, akan Aku bawakan segala apa yang belum dimilikinya dan akan menjaga apa yang sudah dimilikinya.

9-23

ye ’py anya-devata-bhakta
yajante shraddhayanvitah
te ’pi mam eva kaunteya
yajanty avidhi-purvakam

“Those who are devotees of other gods and who worship them with faith actually worship only Me, O son of Kunti, but they do so in a wrong way.”

Bahkan mereka yang merupakan bhakta dari para dewa lain, yang memujanya dengan penuh keyakinan, mereka juga sebenarnya hanya memuja-Ku, wahai putra Kunti (Arjuna), walaupun tidak sesuai dengan hukum ajaran yang sebenarnya.

9-24

aham hi sarva-yajnanam
bhokta ca prabhur eva ca
na tu mam abhijananti
tattvenatas cyavanti te

“I am the only enjoyer and master of all sacrifices. Therefore, those who do not recognize My true transcendental nature fall down.”

Karena, Aku adalah penikmat dan penguasa semua yajna; tetapi mereka tidak mengetahui-Ku dalam sifat-Ku yang sejati, sehingga mereka gagal dan kembali lagi.

9-25

yanti deva-vrata devan
pitrn yanti pitr-vratah
bhutani yanti bhutejya
yanti mad-yajino ’pi mam

“Those who worship the demigods will take birth among the demigods; those who worship the ancestors go to the ancestors; those who worship ghosts and spirits will take birth among such beings; and those who worship Me will live with Me.”

Para pemuja dewa akan pergi kepada para dewa; para pemuja leluhur akan pergi kepada para leluhur dan yang berkorban pada roh alam akan pergi kepada roh alam, namun yang berkorban kepada-Ku akan datang kepada-Ku

9-26

patram puspam phalam toyam
yo me bhaktya prayacchati
tad aham bhakty-upahrtam
asnami prayatatmanah

“If one offers Me with love and devotion a leaf, a flower, fruit or water, I will accept it.”

Siapapun yang mempersembahkan kepada-Ku dengan penuh pengabdian selembar daun, setangkai bunga, sebutir buah ataupun setetes air. Aku terima persembahan yang dilandasi kasih sayang dan hati yang murni itu.

9-27

yat karosi yad asnasi
yaj juhosi dadasi yat
yat tapasyasi kaunteya
tat kurusva mad-arpanam

“Whatever you do, whatever you eat, whatever you offer or give away, and whatever austerities you perform—do that, O son of Kunti, as an offering to Me.”

Apapun yang engkau kerjakan, apapun yang engkau makan, yang engkau persembahkan dan engkau amalkan; tapah apapun yang engkau laksanakan, wahai putra Kunti (Arjuna), lakukanlah itu sebagai persembahan kepada-Ku

9-28

subhasubha-phalair evam
moksyase karma-bandhanaih
sannyasa-yoga-yuktatma
vimukto mam upaisyasi

“In this way you will be freed from bondage to work and its auspicious and inauspicious results. With your mind fixed on Me in this principle of renunciation, you will be liberated and come to Me.”

Dengan demikian engkau akan terbebas dari belenggu kegiatan kerja yang berakibat baik maupun buruk. Dengan pikiran yang mantap pada penyangkalan, engkau akan terbebas dan mencapai Aku.

9-29

samo ’ham sarva-bhutesu
na me dvesyo ’sti na priyah
ye bhajanti tu mam bhaktya
mayi te tesu capy aham

“I envy no one, nor am I partial to anyone. I am equal to all. But whoever renders service unto Me in devotion is a friend, is in Me, and I am also a friend to him.”

Aku sama bagi semua mahluk. Tak seorangpun yang terbenci ataupun tersayang, tetapi bagi mereka yang memuja Aku dengan penuh pengabdian, mereka ada pada-Ku dan Aku pada mereka.

9-30

api cet su-duracaro
bhajate mam ananya-bhak
sadhur eva sa mantavyah
samyag vyavasito hi sah

“Even if one commits the most abominable action, if he is engaged in devotional service he is to be considered saintly because he is properly situated in his determination.”

Walaupun seandainya orang yang terjahat sekalipun, memuja Aku dengan pengabdian yang tak tergoyahkan, ia harus dianggap sebagai orang bajik, karena ia telah memutuskan jalan yang benar.

9-31

ksipram bhavati dharmatma
sasvac-chantim nigacchati
kaunteya pratijanihi
na me bhaktah pranasyati

“He quickly becomes righteous and attains lasting peace. O son of Kunti, declare it boldly that My devotee never perishes.”

Dengan cepat ia akan menjadi orang bajik dan memperoleh kedamaian abadi, wahai putra Kunti (Arjuna), dan ketahuilah bahwa secara pasti para bhakta-Ku tak akan pernah termusnahkan.

9-32

mam hi partha vyapasritya
ye ’pi syuh papa-yonayah
striyo vaishyas tatha shudras
te ’pi yanti param gatim

“O son of Pritha, those who take shelter in Me, though they be of lower birth—women, vaishyas [merchants] and shudras [workers]—can attain the supreme destination.”

Sebab, mereka yang berlindung pada-Ku, wahai Partha (Arjuna), walaupun mungkin berkelahiran rendah, para wanita, Waisya dan juga Sudra, mereka juga mencapai tujuan tertinggi.

9-33

kim punar brahmanah punya
bhakta rajarsayas tatha
anityam asukham lokam
imam prapya bhajasva mam

“How much more this is so of the righteous brahmanas, the devotees and the saintly kings. Therefore, having come to this temporary, miserable world, engage in loving service unto Me.”

Apa lagi para Brahmana suci dan penedta kerajaan yang budiman; setelah berada di dunia kesedihan yang sementara ini, hendaknya memuja Aku.

9-34

man-mana bhava mad-bhakto
mad-yaji mam namaskuru
mam evaishyasi yuktvaivam
atmanam mat-parayanah

“Engage your mind always in thinking of Me, become My devotee, offer obeisances to Me and worship Me. Being completely absorbed in Me, surely you will come to Me.”

Pusatkan pikiranmu pada-Ku, berbhaktilah pada-Ku; puja dan tunduklah pada-Ku, dan dengan mendisiplinkan dirimu serta menjadikan-Ku sebagai tujuan, engkau akan sampai kepada-Ku

Di sini berakhir bab IX, percakapan yang berjudul Rajavidya Rajaguhya Yoga

[Kembali]


Bhagavad Gita – Bab X

Dasamo’dhayah
Bab X

Vibhuti Yoga

10-1

sri-bhagavan uvaca
bhuya eva maha-baho
shrinu me paramam vacah
yat te ’ham priyamanaya
vaksyami hita-kamyaya

“The Supreme Personality of Godhead said: Listen again, O mighty-armed Arjuna. Because you are My dear friend, for your benefit I shall speak to you further, giving knowledge that is better than what I have already explained.”

Sri Bhagavan bersabda:
Di samping itu, wahai Mahabahu (Arjuna), dengarkanlah kata-kataKu yang termulia ini. Demi kebaikanmu, Aku akan menyatakannya sekarang kepaamu, yang merasa senang dengan kata-kataKu ini.

10-2

na me viduh sura-ganah
prabhavam na maharsayah
aham adir hi devanam
maharsinam ca sarvasah

“Neither the hosts of demigods nor the great sages know My origin or opulences, for, in every respect, I am the source of the demigods and sages.”

Baik para dewa maupun para rsi agung tidak mengetahui asal mula-Ku, karena Aku dalam segla hal merupakan sumber para dewa dan para rsi agung tersebut.

10-3

yo mam ajam anadim ca
vetti loka-maheshvaram
asammudhah sa martyesu
sarva-papaih pramucyate

“He who knows Me as the unborn, as the beginningless, as the Supreme Lord of all the worlds—he only, undeluded among men, is freed from all sins.”

Ia yang mengetahui Aku, yang tak terlahirkan, tanpa awal dan juga pengasa agung dari alam semesta raya ini, di antara mahluk-mahluk fana, ia terbingungkan dan bebas dari segala dosa

10-4 & 10-5

buddhir jnanam asammohah
ksama satyam damah samah
sukham duhkham bhavo ’bhavo
bhayam cabhayam eva ca

ahimsa samata tustis
tapo danam yaso ’yasah
bhavanti bhava bhutanam
matta eva prithag-vidhah

“Intelligence, knowledge, freedom from doubt and delusion, forgiveness, truthfulness, control of the senses, control of the mind, happiness and distress, birth, death, fear, fearlessness, nonviolence, equanimity, satisfaction, austerity, charity, fame and infamy—all these various qualities of living beings are created by Me alone.”

Pemahaman, pengetahuan, bebas dari kebingungan, kesabaran, kebenaran, pengendalian diri dan ketenangan, kesenangan dan kedukaan, keberadaan dan ketidak adaan, ketakutan dan keberanian. Tanpa kekerasan, keseimbangan pikiran, kepuasan, kesederhanaan (tapah), amal sedekah, kemasyhuran dan kehinaan, semuanya ini adalah keadaan dari mahluk-mahluk yang hanya berasal dari Aku saja.

10-6

maharsayah sapta purve
catvaro manavas tatha
mad-bhava manasa jata
yesham loka imah prajah

“The seven great sages and before them the four other great sages and the Manus [progenitors of mankind] come from Me, born from My mind, and all the living beings populating the various planets descend from them.”

Ketujuh rsi agung dan empat Manu jaman dahulu, juga adalah dari sifat-Ku dan lahir dari pikiran-Ku dan dari mereka segala mahluk di dunia ini ada.

10-7

etam vibhutim yogam ca
mama yo vetti tattvatah
so ’vikalpena yogena
yujyate natra samsayah

“One who is factually convinced of this opulence and mystic power of Mine engages in unalloyed devotional service; of this there is no doubt.”

Ia yang mengetahuai kemuliaan dan daya kemampuan-Ku ini, akan disatukan dengan-Ku oleh yoga yang tak tergoyahkan; hal ini tak perlu diragukan lagi.

10-8

aham sarvasya prabhavo
mattah sarvam pravartate
iti matva bhajante mam
budha bhava-samanvitah

“I am the source of all spiritual and material worlds. Everything emanates from Me. The wise who perfectly know this engage in My devotional service and worship Me with all their hearts.”

Aku adalah asal mula segalanya dan dari Aku seluruh ciptaan ini bermula. Dengan mengetahui hal ini, para bijak yang memiliki pendirian yang teguh memuja-Ku

10-9

mac-citta mad-gata-prana
bodhayantah parasparam
kathayantas ca mam nityam
tusyanti ca ramanti ca

“The thoughts of My pure devotees dwell in Me, their lives are fully devoted to My service, and they derive great satisfaction and bliss from always enlightening one another and conversing about Me.”

Pemikiran mereka termantapkan pada-Ku dan segenap kehidupannya dipasrahakannya pada-Ku; dengan saling mencerahi dan senantiasa mempercakapkan-Ku mereka terpuaskan dan bersenang hati pada-Ku

10-10

tesam satata-yuktanam
bhajatam priti-purvakam
dadami buddhi-yogam tam
yena mam upayanti te

“To those who are constantly devoted to serving Me with love, I give the understanding by which they can come to Me.”

Kepada mereka ini, yang secara terus menerus mengabdi dan memuja-Ku dengan cinta kasih, Aku menganugerahi konsentrasi pemahaman yang akan membawanya kepada-Ku

10-11

tesam evanukampartham
aham ajnana-jam tamah
nasayamy atma-bhava-stho
jnana-dipena bhasvata

“To show them special mercy, I, dwelling in their hearts, destroy with the shining lamp of knowledge the darkness born of ignorance.”

Akibat dari rasa kasih sayang kepada mereka itu, yang senantiasa tetap berada dalam keadaan-Ku yang sejati, Aku melenyapkan kegelapan yang berasal dari kebodohan, dengan lampu kebijaksanaan yang bersinar terang.

10-12 & 10-13

arjuna uvaca
param brahma param dhama
pavitram paramam bhavan
purusham sasvatam divyam
adi-devam ajam vibhum

ahus tvam rsayah sarve
devarsir naradas tatha
asito devalo vyasah
svayam caiva bravisi me

“Arjuna said: You are the Supreme Personality of Godhead, the ultimate abode, the purest, the Absolute Truth. You are the eternal, transcendental, original person, the unborn, the greatest. All the great sages such as Narada, Asita, Devala and Vyasa confirm this truth about You, and now You Yourself are declaring it to me.”

Arjuna berkata:
Engkau adalah Brahman Tertinggi, Tempat kediaman dan pemurni Tertinggi, Yang Abadi, Pribadi Ilahi. Yang Pertama dari segala dewa, tak Terlahirkan, Yang meliputi segalanya. Semua orang bijak mengatakan hal ini tentang Engkau, demikian pula rsi surgawi Narada dan juga Asita, Devala, Vyasa dan Engkau sendiri menyatakannya padaku.

10-14

sarvam etad rtam manye
yan mam vadasi keshava
na hi te bhagavan vyaktim
vidur deva na danavah

“O Krishna, I totally accept as truth all that You have told me. Neither the demigods nor the demons, O Lord, can understand Your personality.”

Segala yang Engkau katakan ini, wahai Kesava (Krsna), aku menganggapnya sebagai benar adanya, baik para dewa maupun para raksasa tidak mengetahui manifestasi-Mu wahai Bhagavan

10-15

svayam evatmanatmanam
vettha tvam purushottama
bhuta-bhavana bhutesa
deva-deva jagat-pate

“Indeed, You alone know Yourself by Your own internal potency, O Supreme Person, origin of all, Lord of all beings, God of gods, Lord of the universe!”

Sesungguhnya Engkau sendiri mengetahui Diri-Mu dengan Diri-Mu, wahai Purusa Utama (Krsna); sebagai sumber keberadaan ini, Penguasa mahluk-mahluk; Tuhannya para dewa dan Penguasa jagat raya ini.

10-16

vaktum arhasy asesena
divya hy atma-vibhutayah
yabhir vibhutibhir lokan
imams tvam vyapya tisthasi

“Please tell me in detail of Your divine opulences by which You pervade all these worlds.”

Engkau harus menjelaskan tentang manifestasi Ilahi-Mu tanpa kecuali, yang meliputi segenap alam semesta ini, mendiami dan melampauinya.

10-17

katham vidyam aham yogims
tvam sada paricintayan
kesu kesu ca bhavesu
cintyo ’si bhagavan maya

“O Krishna, O supreme mystic, how shall I constantly think of You, and how shall I know You? In what various forms are You to be remembered, O Supreme Personality of Godhead?”

Bagaimanakah aku dapat mengetahui Engkau, dengan meditasi yang terus-menerus, wahai Mahayogi? Dalam berbagai aspek apakah, wahai Bhagavan, aku dapat merenungkan-Mu

10-18

vistarenatmano yogam
vibhutim ca janardana
bhuyah kathaya trptir hi
shrinvato nasti me ’mrtam

“O Janardana, again please describe in detail the mystic power of Your opulences. I am never satiated in hearing about You, for the more I hear the more I want to taste the nectar of Your words.”

Ceritakanlah kepadaku secara rinci lagi, wahai Janardana (Krsna), tentang kekuasaan dan manifestasi-Mu; karena aku belum puas mendengarkan perkataan-Mu yang bagaikan nektar itu.

10-19

sri-bhagavan uvaca
hanta te kathayisyami
divya hy atma-vibhutayah
pradhanyatah kuru-srestha
nasty anto vistarasya me

“The Supreme Personality of Godhead said: Yes, I will tell you of My splendorous manifestations, but only of those which are prominent, O Arjuna, for My opulence is limitless.”

Sri Bhagavan bersabda:
Ya baiklah, Aku akan menyatakan kepadamu wujud ilahi-Ku, tetapi hanya yang penting-penting saja, wahai Kurusrestha (Arjuna), karena tak ada habisnya rincian wujud-Ku

10-20

aham atma gudakesha
sarva-bhutasaya-sthitah
aham adis ca madhyam ca
bhutanam anta eva ca

“I am the Supersoul, O Arjuna, seated in the hearts of all living entities. I am the beginning, the middle and the end of all beings.”

Wahai Gudakesa (Arjuna), Aku adalah Sang Diri yang bersemayam dalam hati semua mahluk. Aku adalah permulaan, pertengahan dan penghabisan dari semua keberadaan ini.

10-21

adityanam aham vishnur
jyotisam ravir amsuman
maricir marutam asmi
nakshatranam aham sasi

“Of the Adityas I am Vishnu, of lights I am the radiant sun, of the Maruts I am Marici, and among the stars I am the moon.”

Dari para Aditya, Aku adalah Visnu; dari yang bersinar Aku adalah Matahari yang cemerlang; dari para Marut. Aku adalah Marici; dan dari bintang-bintang, Aku adalah Bulan.

10-22

vedanam sama-vedo ’smi
devanam asmi vasavah
indriyanam manas casmi
bhutanam asmi cetana

“Of the Vedas I am the Sama Veda; of the demigods I am Indra, the king of heaven; of the senses I am the mind; and in living beings I am the living force [consciousness].”

Diantara kitab Veda, Aku adalah Sama Veda; diantara para dewa Aku adalah Indra; diantara indra-indra Aku adalah pikiran dan diantara unsur-unsur Aku adalah kesadaran

10-23

rudranam sankaras casmi
vitteso yaksha-rakshasam
vasunam pavakas casmi
meruh sikharinam aham

“Of all the Rudras I am Lord Shiva, of the Yakshas and Rakshasas I am the Lord of wealth [Kuvera], of the Vasus I am fire [Agni], and of mountains I am Meru.”

Diantara para Rudra Aku adalah Samkara (Siva); diantara para Yaksa dan Raksasa Aku adalah Kubera; diantara para Vasu Aku adalah Agni dan diantara puncak gunung Aku adalah Meru

10-24

purodhasam ca mukhyam mam
viddhi partha brihaspatim
senaninam aham skandah
sarasam asmi sagarah

“Of priests, O Arjuna, know Me to be the chief, Brihaspati. Of generals I am Kartikeya, and of bodies of water I am the ocean.”

Diantara para pendeta keluarga, wahai Partha (Arjuna) ketahuilah bahwa Aku lah pemimpinnya, sebagai Brhaspati; diantara para panglima perang Aku adalah Skanda dan diantara danau-danau Aku adalah samudera

10-25

maharsinam bhrgur aham
giram asmy ekam aksharam
yajnanam japa-yajno ’smi
sthavaranam himalayah

“Of the great sages I am Bhrgu; of vibrations I am the transcendental om. Of sacrifices I am the chanting of the holy names [japa], and of immovable things I am the Himalayas.”

Diantara para rsi agung Aku adalah Brhgu; diantara ucapan suci Aku adalah aksara tunggal AUM; diantara persembahan Aku adalah persembahan meditasi hening (Japa) dan diantara benda-benda yang tak dapat bergerak Aku adalah gunung Himalaya

10-26

ashvatthah sarva-vrksanam
devarsinam ca naradah
gandharvanam citrarathah
siddhanam kapilo munih

“Of all trees I am the banyan tree, and of the sages among the demigods I am Narada. Of the Gandharvas I am Citraratha, and among perfected beings I am the sage Kapila.”

Dari segala pepohonan Aku adalah Asvattha dan diantara para rsi Ilahi aku adalah Narada; diantara para gandharva Aku adalah Citraratha dan diantara para orang sempurna Aku adalah Kapila Muni.

10-27

uccaihsravasam asvanam
viddhi mam amrtodbhavam
airavatam gajendranam
naranam ca naradhipam

“Of horses know Me to be Uccaihsrava, produced during the churning of the ocean for nectar. Of lordly elephants I am Airavata, and among men I am the monarch.”

Ketahuilah bahwa diantara bangsa kuda Aku adalah Uccaihsrava, yang muncul dari madu nektar; diantara gajah perkasa Aku adalah Airavata dan diantara manusia Aku adalah maharaja

10-28

ayudhanam aham vajram
dhenunam asmi kamadhuk
prajanas casmi kandarpah
sarpanam asmi vasukih

“Of weapons I am the thunderbolt; among cows I am the surabhi. Of causes for procreation I am Kandarpa, the god of love, and of serpents I am Vasuki.”

Dari segala senjata Aku adalah halilintar; dari bangsa sapi Aku adalah Kamadhuk (pemberi segala keinginan); diantara para pemberi keturunan Aku adalah Kandarpa dan diantara para ular Aku adalah Vasuki

10-29

anantas casmi naganam
varuno yadasam aham
pitrnam aryama casmi
yamah samyamatam aham

“Of the many-hooded Nagas I am Ananta, and among the aquatics I am the demigod Varuna. Of departed ancestors I am Aryama, and among the dispensers of law I am Yama, the lord of death.”

Diantara para naga Aku adalah Ananta; diantara para penguasa air Aku adalah Varuna; diantara para roh leluhur Aku adalah Aryama dan diantara para penegak hukum Aku adalah Yama

10-30

prahladas casmi daityanam
kalah kalayatam aham
mrganam ca mrgendro ’ham
vainateyas ca paksinam

“Among the Daitya demons I am the devoted Prahlada, among subduers I am time, among beasts I am the lion, and among birds I am Garuda.”

Diantara para Daitya Aku adalah Prahlada; diantara para penghitung Aku adalah Kala (Waktu); diantara para binatang buas Aku adalah singa dan diantara para burung Aku adalah Garuda (putra Vinata)

10-31

pavanah pavatam asmi
ramah shastra-bhrtam aham
jhasanam makaras casmi
srotasam asmi jahnavi

“Of purifiers I am the wind, of the wielders of weapons I am Rama, of fishes I am the shark, and of flowing rivers I am the Ganges.”

Dari segala pensuci, Aku adalah anging; diantara para ksatriya Aku adalah Rama; diantara bangsa ikan Aku adalah Makara; dan diantara sungai-sungai Aku adalah sungai Ganga (Jahnavi)

10-32

sarganam adir antas ca
madhyam caivaham arjuna
adhyatma-vidya vidyanam
vadah pravadatam aham

“Of all creations I am the beginning and the end and also the middle, O Arjuna. Of all sciences I am the spiritual science of the self, and among logicians I am the conclusive truth.”

Dari penciptaan, wahai Arjuna, Aku adalah permulaan dan akhir serta juga pertengahan; dari segala ilmu pengetahuan Aku adalah ilmu tentang sang Diri (Atman); dan dari mereka yang berdiskusi Aku adalah dialektika

10-33

aksharanam a-karo ’smi
dvandvah samasikasya ca
aham evakshayah kalo
dhataham vishvato-mukhah

“Of letters I am the letter A, and among compound words I am the dual compound. I am also inexhaustible time, and of creators I am Brahma.”

Dari semua alfabet, Aku adalah huruf A dan dari paduan kata-kata, Aku adalah kata majemuk; Aku juga adalah waktu yang tiada hentinya dan Aku adalah pengembara yang menghadap segala penjuru.

10-34

mrityuh sarva-haras caham
udbhavas ca bhavisyatam
kirtih srir vak ca narinam
smritir medha dhrtih ksama

“I am all-devouring death, and I am the generating principle of all that is yet to be. Among women I am fame, fortune, fine speech, memory, intelligence, steadfastness and patience.”

Aku adalah kematian, pelahap semuanya dan asal mula dari apapun yang akan terjadi; dan dari mahluk wanita Aku adalah kemasyhuran, kemakmuran, ucapan, ingatan, kecerdasan, kemantapan dan kesabaran.

10-35

brihat-sama tatha samnam
gayatri chandasam aham
masanam marga-sirso ’ham
rtunam kusumakarah

“Of the hymns in the Sama Veda I am the Brihat-sama, and of poetry I am the Gayatri. Of months I am Margasirsa [November-December], and of seasons I am flower-bearing spring.”

Demikian pula halnya, diantara puji-pujian Aku adalah Brhatsama; diantara metrum Veda Aku adalah Gayatri; diantara bulan-bulan Aku adalah Margasirsa dan diantara musim Aku adalah musim semi.

10-36

dyutam chalayatam asmi
tejas tejasvinam aham
jayo ’smi vyavasayo ’smi
sattvam sattvavatam aham

“I am also the gambling of cheats, and of the splendid I am the splendor. I am victory, I am adventure, and I am the strength of the strong.”

Diantara para penipu Aku adalah perjudian; diantara yang indah Aku adalah kejelitaan; Aku adalah kemenangan; Aku adalah usaha dan Aku adalah kebaikan dari yang baik.

10-37

vrsninam vasudevo ’smi
pandavanam dhananjayah
muninam apy aham vyasah
kavinam usana kavih

“Of the descendants of Vrishni I am Vasudeva, and of the Pandavas I am Arjuna. Of the sages I am Vyasa, and among great thinkers I am Usana.”

Diantara para Vrsni Aku adalah Vasudeva; dari para Pandava Aku adalah Dhananjaya (Arjuna); diantara para bijak Aku adalah Vyasa dan diantara para kawi (penyair) Aku adalah Usana.

10-38

dando damayatam asmi
nitir asmi jigisatam
maunam caivasmi guhyanam
jnanam jnanavatam aham

“Among all means of suppressing lawlessness I am punishment, and of those who seek victory I am morality. Of secret things I am silence, and of the wise I am the wisdom.”

Diantara mereka yang berhak menghukum Aku adalah tongkat penghukumnya; dari mereka yang mencari kemenangan Aku adalah taktik yang bijaksana; dari hal-hal yang rahasia Aku adalah kebungkaman dan dari mereka yang mengetahui kebijaksanaan Aku adalah kebijaksanaan itu sendiri.

10-39

yac capi sarva-bhutanam
bijam tad aham arjuna
na tad asti vina yat syan
maya bhutam caracaram

“Furthermore, O Arjuna, I am the generating seed of all existences. There is no being—moving or nonmoving—that can exist without Me.”

Dan selanjutnya, wahai Arjuna, apapun yang menjadi benih dari seluruh keberadaan ini, Akulah adanya; karena tak ada sesuatupun yang dapat ada baik yang bergerak maupun yang tak bergerak, tanpa Aku.

10-40

nanto ’sti mama divyanam
vibhutinam parantapa
esa tuddesatah prokto
vibhuter vistaro maya

“O mighty conqueror of enemies, there is no end to My divine manifestations. What I have spoken to you is but a mere indication of My infinite opulences.”

Tak ada akhir dari manifestasi-Ku, wahai Paramtapa (Arjuna). Apa yang telah Aku nyatakan itu hanya ilustrasi dari kemuliaan-Ku yang tak terbatas

10-41

yad yad vibhutimat sattvam
srimad urjitam eva va
tat tad evavagaccha tvam
mama tejo-’msa-sambhavam

“Know that all opulent, beautiful and glorious creations spring from but a spark of My splendor.”

Segala apapun yang ada disana, yang memiliki kemuliaan, anugerah keindahan dan kekuatan, ketahuilah bahwa itu berasal dari kesemarakan fragmen-Ku

10-42

atha va bahunaitena
kim jnatena tavarjuna
vistabhyaham idam krtsnam
ekamsena sthito jagat

“But what need is there, Arjuna, for all this detailed knowledge? With a single fragment of Myself I pervade and support this entire universe.”

Tetapi, apa gunanya bagimu, wahai Arjuna, pengetahuan yang rinci semacam itu? Aku menunjang alam semesta raya ini dan meliputinya dengan sekelumit bagian kecil dari pada-Ku

Di sini berakhir bab X dari percakapan yang berjudul VIBHUTI YOGA

[Kembali]


Bhagavad Gita – Bab XI

Ekadaso’dhyayah
Bab XI

Visvarupa Darsana Yoga

11-1

arjuna uvaca
mad-anugrahaya paramam
guhyam adhyatma-samjnitam
yat tvayoktam vacas tena
moho ’yam vigato mama

“Arjuna said: By my hearing the instructions You have kindly given me about these most confidential spiritual subjects, my illusion has now been dispelled.”

Arjuna berkata:
Oleh rahasia tertinggi berupa wejangan yang berkenaan dengan sang Diri, yang telah Engkau berikan kepadaku atas anugerah-Mu, sekarang keragu-raguanku telah hilang.

11-2

bhavapyayau hi bhutanam
srutau vistaraso maya
tvattah kamala-patraksha
mahatmyam api cavyayam

“O lotus-eyed one, I have heard from You in detail about the appearance and disappearance of every living entity and have realized Your inexhaustible glories.”

Kelahiran dan kepunahan segala sesuatunya telah kudengar secara rinci dari-Mu, wahai yang bermatakan seperti bunga daun teratai (Krsna), demikian pula keagungan-Mu yang abadi.

11-3

evam etad yathattha tvam
atmanam paramesvara
drastum icchami te rupam
aishvaram purushottama

“O greatest of all personalities, O supreme form, though I see You here before me in Your actual position, as You have described Yourself, I wish to see how You have entered into this cosmic manifestation. I want to see that form of Yours.”

Benarlah apa yang telah Engkau nyatakan tentang keberadaan diri-Mu, wahai Penguasa Tertinggi; tetapi aku berkeinginan untuk menyaksikan wujud Ilahi-Mu, wahai Purusottama (Krsna)

11-4

manyase yadi tac chakyam
maya drastum iti prabho
yogeshvara tato me tvam
darsayatmanam avyayam

“If You think that I am able to behold Your cosmic form, O my Lord, O master of all mystic power, then kindly show me that unlimited universal Self.”

Wahai Prabhu (Krsna), bila Engkau berpendapat bahwa itu dapat aku saksikan, mohon perlihatkan kepadaku sang Diri Abadi tersebut, wahai Yogesvara (Krsna)

11-5

sri-bhagavan uvaca
pasya me partha rupani
sataso ’tha sahasrasah
nana-vidhani divyani
nana-varnakritini ca

“The Supreme Personality of Godhead said: My dear Arjuna, O son of Pritha, see now My opulences, hundreds of thousands of varied divine and multicolored forms.”

Sri Bhagavan bersabda:
Saksikanlah kini wujud-Ku, wahai Partha (Arjuna), ratusan, ribuan, berbagai jenis gambaran Ilahi dengan berbagai ragam wujud dan warnanya.

11-6

pasyadityan vasun rudran
asvinau marutas tatha
bahuny adrsta-purvani
pasyascaryani bharata

“O best of the Bharatas, see here the different manifestations of Adityas, Vasus, Rudras, Asvini-kumaras and all the other demigods. Behold the many wonderful things which no one has ever seen or heard of before.”

Lihatlah para Aditya, Rudra, Asvin kembar dan juga para Marut, wahai Bharata (Arjuna), banyak keajaiban yang belum pernah terlihat sebelumnya.

11-7

ihaika-stham jagat krtsnam
pasyadya sa-caracaram
mama dehe gudakesha
yac canyad drastum icchasi

“O Arjuna, whatever you wish to see, behold at once in this body of Mine! This universal form can show you whatever you now desire to see and whatever you may want to see in the future. Everything—moving and nonmoving—is here completely, in one place.”

Sekarang disini, lihatlah seluruh alam semesta, baik yang bergerak maupun yang tak bergerak serta apapun yang ingin kamu saksikan, wahai Gudakesa (Arjuna), semuanya menyatu dalam diri-Ku

11-8

na tu mam sakyase drastum
anenaiva sva-caksusa
divyam dadami te caksuh
pasya me yogam aishvaram

“But you cannot see Me with your present eyes. Therefore I give you divine eyes. Behold My mystic opulence!”

Tetapi engkau tak akan dapat menyaksikan Aku dengan mata manusiamu itu. Aku akan memberimu mata supra natural, lihatlah kekuasaan Ilahi-Ku

11-9

sanjaya uvaca
evam uktva tato rajan
maha-yogesvaro harih
darsayam asa parthaya
paramam rupam aishvaram

Sanjaya said: O King, having spoken thus, the Supreme Lord of all mystic power, the Personality of Godhead, displayed His universal form to Arjuna.

Sanjaya berkata:
Setelah berkata demikian, wahai sang Raja, Hari sebagai Yogesvara kemudian memperlihatkan Wujud Ilahi dan Tertinggi-Nya kepada Partha (Arjuna)

11-10 & 11-11

aneka-vaktra-nayanam
anekadbhuta-darshanam
aneka-divyabharanam
divyanekodyatayudham

divya-malyambara-dharam
divya-gandhanulepanam
sarvascarya-mayam devam
anantam vishvato-mukham

“Arjuna saw in that universal form unlimited mouths, unlimited eyes, unlimited wonderful visions. The form was decorated with many celestial ornaments and bore many divine upraised weapons. He wore celestial garlands and garments, and many divine scents were smeared over His body. All was wondrous, brilliant, unlimited, all-expanding.”

Dengan banyak mulut dan mata, dengan banyak visi luar biasa, banyak perhiasan ilahi serta senjata terhunus. Dengan mengenakan kalung rangkaian bunga dan pakaian surgawi, dengan wewangian dan minyak surgawi, yang semuanya gilang gemilang menakjubkan, tak terbatas, dengan muka menghadap ke segala arah.

11-12

divi surya-sahasrasya
bhaved yugapad utthita
yadi bhah sadrsi sa syad
bhasas tasya mahatmanah

“If hundreds of thousands of suns were to rise at once into the sky, their radiance might resemble the effulgence of the Supreme Person in that universal form.”

Bila sinar ribuan matahari sekaligus bercahaya semarak di angkasa, itu mungkin menyerupai kesemarakan dari Perwujudan yang sangat agung tersebut.

11-13

tatraika-stham jagat krtsnam
pravibhaktam anekadha
apasyad deva-devasya
sarire pandavas tada

“At that time Arjuna could see in the universal form of the Lord the unlimited expansions of the universe situated in one place although divided into many, many thousands.”

Di sana Pandava (Arjuna) menyaksikan seluruh alam semesta dengan berbagai macam bagian yang dikumpulkan jadi satu pada badan dewanya para dewa

11-14

tatah sa vismayavisto
hrsta-roma dhananjayah
pranamya sirasa devam
kritanjalir abhasata

“Then, bewildered and astonished, his hair standing on end, Arjuna bowed his head to offer obeisances and with folded hands began to pray to the Supreme Lord.”

Kemudian ia, Dhananjaya (Arjuna), yang tersentak perasaannya dengan rasa kagum dan bulu romanya berdiri, membungkukkan kepalanya kepada Yang Kuasa dengan tangan mencakup dalam bersembah, lalu berkata:

11-15

arjuna uvaca
pasyami devams tava deva dehe
sarvams tatha bhuta-visesa-sanghan
brahmanam isam kamalasana-stham
rsims ca sarvan uragams ca divyan

“Arjuna said: My dear Lord Krishna, I see assembled in Your body all the demigods and various other living entities. I see Brahma sitting on the lotus flower, as well as Lord Shiva and all the sages and divine serpents.”

Arjuna berkata:
Dalam Wujud-Mu, wahai Tuhan, aku melihat seluruh dewea dan juga berbagai tingkat keberadaan, demikian pula Brahma sang pencipta yang duduk pada singgasana teratai dan semua orang bijak dan para naga surgawi.

11-16

aneka-bahudara-vaktra-netram
pasyami tvam sarvato ’nanta-rupam
nantam na madhyam na punas tavadim
pasyami visvesvara vishva-rupa

“O Lord of the universe, O universal form, I see in Your body many, many arms, bellies, mouths and eyes, expanded everywhere, without limit. I see in You no end, no middle and no beginning.”

Aku melihat-Mu dalam wujud tak terbatas pada segala sisi, dengan tangan, perut, muka dan mata yang tak terhitung banyaknya, tetapi aku tak melihat akhir, pertengahan, dan permulaan-Mu, wahai Penguasa Alam Semesta dengan Wujud Universal.

11-17

kiritinam gadinam cakrinam ca
tejo-rasim sarvato diptimantam
pasyami tvam durniriksyam samantad
diptanalarka-dyutim aprameyam

“Your form is difficult to see because of its glaring effulgence, spreading on all sides, like blazing fire or the immeasurable radiance of the sun. Yet I see this glowing form everywhere, adorned with various crowns, clubs and discs.”

Aku melihat-Mu dengan mahkota, gada, cakram yang berkilau-kilauan di mana-mana bagaikan kilatan sinar yang sulit untuk membedakannya, yang gemerlapan pada semua sisi dengan pancaran nyala api dan matahari, yang tak ada bandingannya.

11-18

tvam aksharam paramam veditavyam
tvam asya vishvasya param nidhanam
tvam avyayah sasvata-dharma-gopta
sanatanas tvam purusho mato me

“You are the supreme primal objective. You are the ultimate resting place of all this universe. You are inexhaustible, and You are the oldest. You are the maintainer of the eternal religion, the Personality of Godhead. This is my opinion.”

Engkau adalah Yang Abadi, Yang Tertinggi yang harus diwujudkan. Engkau adalah tumpuan akhir dari alam semesta dan Engkau adalah pengawal dharma yang kekal. Kupikir Engkau adalah Pribadi Tertinggi.

11-19

anadi-madhyantam ananta-viryam
ananta-bahum sasi-surya-netram
pasyami tvam dipta-hutasa-vaktram
sva-tejasa vishvam idam tapantam

“You are without origin, middle or end. Your glory is unlimited. You have numberless arms, and the sun and moon are Your eyes. I see You with blazing fire coming forth from Your mouth, burning this entire universe by Your own radiance.”

Aku memandang-Mu sebagai tanpa awal, pertengahan ataupun akhir, dengan kekuasaan tak terbatas, tangan yang tak terhitung banyaknya, dengan bulan dan matahari sebagai mata-Mu, dengan muka bagaikan nyala api, yang pancarannya membakar alam semesta ini.

11-20

dyav a-prithivyor idam antaram hi
vyaptam tvayaikena disas ca sarvah
drishtvadbhutam rupam ugram tavedam
loka-trayam pravyathitam mahatman

“Although You are one, You spread throughout the sky and the planets and all space between. O great one, seeing this wondrous and terrible form, all the planetary systems are perturbed.”

Ruang antara surga dan bumi terliputi oleh-Mu saja, demikian pula seluruh penjuru semesta, wahai Mahatman (Krsna), ketika wujud-Mu yang menakutkan, menakjubkan itu terlihat, ketiga dunia ini gemetar ketakutan.

11-21

ami hi tvam sura-sangha vishanti
kecid bhitah pranjalayo grnanti
svastity uktva maharsi-siddha-sanghah
stuvanti tvam stutibhih puskalabhih

“All the hosts of demigods are surrendering before You and entering into You. Some of them, very much afraid, are offering prayers with folded hands. Hosts of great sages and perfected beings, crying “All peace!” are praying to You by singing the Vedic hymns.”

Di sana sekelompok besar para dewa memasuki-Mu dan beberapa kelompok lain dalam ketakutan dengan cakupan tangan memuja-Mu dan kumpulan para rsi serta para siddha menyerukan kata “svasti”, dan memuji-muji-Mu dengan kidung-kidung pujian.

11-22

rudraditya vasavo ye ca sadhya
visve ’svinau marutas cosmapas ca
gandharva-yakshasura-siddha-sangha
viksante tvam vismitas caiva sarve

“All the various manifestations of Lord Shiva, the Adityas, the Vasus, the Sadhyas, the Visvedevas, the two Asvis, the Maruts, the forefathers, the Gandharvas, the Yakshas, the Asuras and the perfected demigods are beholding You in wonder.”

Para Rudra, Aditya, Vasu, Sadhya, Visvedeva, Asvin kembar, Marut dan para Usmapa (roh leluhur) serta para Gandharva, Yaksa, Asura dan para Siddha, yang semuanya kagum memandang-Mu

11-23

rupam mahat te bahu-vaktra-netram
maha-baho bahu-bahuru-padam
bahudaram bahu-damstra-karalam
drishtva lokah pravyathitas tathaham

“O mighty-armed one, all the planets with their demigods are disturbed at seeing Your great form, with its many faces, eyes, arms, thighs, legs, and bellies and Your many terrible teeth; and as they are disturbed, so am I.”

Melihat wujud-Mu yang mahaagung dengan mulut dan mata yang banyak itu, wahai Mahabahu (Krsna), dengan banyak sekali lengan, paha dan kaki; dengan banyak perut ditambah dengan taring yang sangat mengerikan, seluruh alam semesta gemetaran, demikian pula Aku.

11-24

nabhah-sprsam diptam aneka-varnam
vyattananam dipta-visala-netram
drishtva hi tvam pravyathitantar-atma
dhrtim na vindami samam ca visno

“O all-pervading Vishnu, seeing You with Your many radiant colors touching the sky, Your gaping mouths, and Your great glowing eyes, my mind is perturbed by fear. I can no longer maintain my steadiness or equilibrium of mind.”

Ketika aku melihat-Mu yang menyentuh langit, yang cemerlang dengan berbagai warna, dengan mulut yang terbuka lebar dan mata lebar bersinar, hati kecilku gemetar ketakutan dan aku merasakan ketidakmantapan dan kedamaian, wahai Visnu.

11-25

damstra-karalani ca te mukhani
drishtvaiva kalanala-sannibhani
diso na jane na labhe ca sarma
prasida devesa jagan-nivasa

“O Lord of lords, O refuge of the worlds, please be gracious to me. I cannot keep my balance seeing thus Your blazing deathlike faces and awful teeth. In all directions I am bewildered.”

Ketika aku melihat mulut-Mu yang mengerikan dengan taring-taringnya seperti kobaran api pralaya, aku kehilangan arah dan tak menemukan kedamaian. Wahai Penguasa para dewa, tempat berlindung segenap alam semesta, berbaik hatilah padaku.

11-26 & 11-27

ami ca tvam dhritarashtrasya putrah
sarve sahaivavani-pala-sanghaih
bhismo dronah suta-putras tathasau
sahasmadiyair api yodha-mukhyaih

vaktrani te tvaramana vishanti
damstra-karalani bhayanakani
kecid vilagna dasanantaresu
sandrsyante curnitair uttamangaih

“All the sons of Dhritarashtra, along with their allied kings, and Bhishma, Drona, Karna—and our chief soldiers also—are rushing into Your fearful mouths. And some I see trapped with heads smashed between Your teeth.”

Disini semua putraputra Dhrtarastra bersama-sama dengan para raja lainnya, demikian juga Bhisma, Drona dan Karna bersama dengan para panglima perang di pihak kami. Semuanya berduyun-duyun masuk ke dalam mulut-Mu yang menakutkan dengan taring-taring yang mengerikan. Beberapa orang tersangkut diantara gigi-gigi terlihat dengan kepalanya yang remuk jadi tepung.

11-28

yatha nadinam bahavo ’mbu-vegah
samudram evabhimukha dravanti
tatha tavami nara-loka-vira
vishanti vaktrany abhivijvalanti

“As the many waves of the rivers flow into the ocean, so do all these great warriors enter blazing into Your mouths.”

Seperti arus sungai-sungai yang banjir mengalir menuju lautan, demikian pula para pahlawan dunia manusia ini berlomba-lomba masuk ke dalam mulut-Mu yang menyala berkobar-kobar.

11-29

yatha pradiptam jvalanam patanga
vishanti nasaya samrddha-vegah
tathaiva nasaya vishanti lokas
tavapi vaktrani samrddha-vegah

“I see all people rushing full speed into Your mouths, as moths dash to destruction in a blazing fire.”

Bagaikan kerumunan ngengat yang beterbangan masuk ke dalam kobaran api untuk musnah di sana, demikian juga manusia berlarian masuk ke dalam mulut-Mu dengan sangat kencangnya untuk kehancuran mereka sendiri.

11-30

lelihyase grasamanah samantal
lokan samagran vadanair jvaladbhih
tejobhir apurya jagat samagram
bhasas tavograh pratapanti visno

“O Vishnu, I see You devouring all people from all sides with Your flaming mouths. Covering all the universe with Your effulgence, You are manifest with terrible, scorching rays.”

Melahap seluruh alam semesta pada segala sisi dengan mulut-Mu yang menyala berkobar-kobar, Engkau menjilat semuanya. Sinar-Mu yang menggelora memenuhi segenap alam semesta dan membakarnya dengan kilauan cahaya yang dashyat, wahai Visnu (Krsna)

11-31

akhyahi me ko bhavan ugra-rupo
namo ’stu te deva-vara prasida
vijnatum icchami bhavantam adyam
na hi prajanami tava pravrttim

“O Lord of lords, so fierce of form, please tell me who You are. I offer my obeisances unto You; please be gracious to me. You are the primal Lord. I want to know about You, for I do not know what Your mission is.”

Beritahukanlah kepadaku siapakah yang berwujud menyeramkan ini. Aku bersujud kepada-Mu Dewata Agung, ampunilah aku. Aku ingin mengetahui Engkau, yang Maha Esa, karena aku tidak mengetahui kegiatan-Mu ini.

11-32

sri-bhagavan uvaca
kalo ’smi loka-ksaya-krt pravrddho
lokan samahartum iha pravrttah
rte ’pi tvam na bhavisyanti sarve
ye ’vasthitah pratyanikesu yodhah

“The Supreme Personality of Godhead said: Time I am, the great destroyer of the worlds, and I have come here to destroy all people. With the exception of you [the Pandavas], all the soldiers here on both sides will be slain.”

Sri Bhagavan bersabda:
Aku adalah waktu (kala), sebagai pemusnah alam dunia yang tumbuh menjadi masak dan terlibat di sini dalam memusnahkan dunia ini. Bahkan tanpa kegiatanmu, seluruh pasukan yang berdiri dalam formasi tempur ini akan musnah semuanya.

11-33

tasmat tvam uttistha yaso labhasva
jitva satrun bhunksva rajyam samrddham
mayaivaite nihatah purvam eva
nimitta-matram bhava savya-sacin

“Therefore get up. Prepare to fight and win glory. Conquer your enemies and enjoy a flourishing kingdom. They are already put to death by My arrangement, and you, O Savyasaci, can be but an instrument in the fight.”

Oleh karena itu, bangkitlah engkau dan raihlah kemenangan. Taklukkan musuh-musuhmu dan nikmatilah kerajaan yang makmur sejahtera. Sebenarnya mereka semua telah Aku musnahkan; sedangkan engkau hanyalah alat belaka, wahai Savyasacin (Arjuna)

11-34

dronam ca bhismam ca jayadratham ca
karnam tathanyan api yodha-viran
maya hatams tvam jahi ma vyathistha
yudhyasva jetasi rane sapatnan

“Drona, Bhishma, Jayadratha, Karna and the other great warriors have already been destroyed by Me. Therefore, kill them and do not be disturbed. Simply fight, and you will vanquish your enemies in battle.”

Bunuhlah Drona, Bhisma, Jayadratha, Karna dan para pahlawan agung lainnya, yang semuanya telah Aku musnahkan. Janganlah gentar; bertempurlah dan engkau harus menaklukkan musuh-musuh dalam peperangan ini.

11-35

sanjaya uvaca
etac chrutva vacanam keshavasya
kritanjalir vepamanah kiriti
namaskritva bhuya evaha krishnam
sa-gadgadam bhita-bhitah pranamya

“Sanjaya said to Dhritarashtra: O King, after hearing these words from the Supreme Personality of Godhead, the trembling Arjuna offered obeisances with folded hands again and again. He fearfully spoke to Lord Krishna in a faltering voice, as follows.”

Sanjaya berkata:
Setelah mendengar ucapan Kesawa (Krsna) seperti itu, Kiritin (Arjuna) dengan cakupan tangan dan gemetaran, kembali bersujud dan membungkukkan dirinya dengan sangat ketakutan mengucapkan suara tersendat gemetaran kepada Krsna:

11-36

arjuna uvaca
sthane hrishikesha tava prakirtya
jagat prahrsyaty anurajyate ca
rakshamsi bhitani diso dravanti
sarve namasyanti ca siddha-sanghah

“Arjuna said: O master of the senses, the world becomes joyful upon hearing Your name, and thus everyone becomes attached to You. Although the perfected beings offer You their respectful homage, the demons are afraid, and they flee here and there. All this is rightly done.”

Arjuna berkata:Wahai Hrsikesa (Krsna), benarlah bahwa dunia merasa bergembira dan senang dalam memuliakan-Mu. Para Raksasa lari ketakutan ke segala arah dan semua kumpulan para siddha bersujud di hadapan-Mu, bersembah.

11-37

kasmac ca te na nameran mahatman
gariyase brahmano ’py adi-kartre
ananta devesa jagan-nivasa
tvam aksharam sad-asat tat param yat

“O great one, greater even than Brahma, You are the original creator. Why then should they not offer their respectful obeisances unto You? O limitless one, God of gods, refuge of the universe! You are the invincible source, the cause of all causes, transcendental to this material manifestation.”

Dan mengapa mereka tidak memberi-Mu penghormatan, wahai Mahatma (Krsna), yang lebih agung dari pada Brahma, pencipta pertama? Wahai Keberadaan Takterbatas. Penguasa para dewa, tumpuan alam semesta; Engkau adalah abadi, keberadaan dan bukan keberadaan dan yang melampauinya.

11-38

tvam adi-devah purushah puranas
tvam asya vishvasya param nidhanam
vettasi vedyam ca param ca dhama
tvaya tatam vishvam ananta-rupa

“You are the original Personality of Godhead, the oldest, the ultimate sanctuary of this manifested cosmic world. You are the knower of everything, and You are all that is knowable. You are the supreme refuge, above the material modes. O limitless form! This whole cosmic manifestation is pervaded by You!”

Engkau adalah Pribadi Pertama, Yang Pertama dari para dewa, sebagai Tumpuan Alam Semesta yang Tertinggi. Engkau adalah yang mengetahui dan yang harus diketahui serta menjadi tujuan utama. Dan oleh-Mu jualah alam semesta ini diliputi, wahai Yang Berwujud Semesta

11-39

vayur yamo ’gnir varunah sasankah
prajapatis tvam prapitamahas ca
namo namas te ’stu sahasra-kritvah
punas ca bhuyo ’pi namo namas te

“You are air, and You are the supreme controller! You are fire, You are water, and You are the moon! You are Brahma, the first living creature, and You are the great-grandfather. I therefore offer my respectful obeisances unto You a thousand times, and again and yet again!”

Engkau adalah Vayu (dewa angin), Yama (dewa kematian), Agni (dewa api), Varuna (dewa laut), dan Sasarika (bulan) dan Prajapati (leluhur semua mahluk). Bagi-Mu kuucapkan Svasti, svasti ribuan kali. Svasti, svasti berkali-kali

11-40

namah purastad atha prsthatas te
namo ’stu te sarvata eva sarva
ananta-viryamita-vikramas tvam
sarvam samapnosi tato ’si sarvah

“Obeisances to You from the front, from behind and from all sides! O unbounded power, You are the master of limitless might! You are all-pervading, and thus You are everything!”

Sembah sujud di depan-Mu, di belakang-Mu, pada segala sisi-Mu; kekuasaan-Mu tak terbatas dan tak terukur kekuatan-Mu, wahai Semuanya ini. Engkau meliputi segalanya ini, sehingga Engkau adalah Semuanya ini.

11-41 & 11-42

sakheti matva prasabham yad uktam
he krishna he yadava he sakheti
ajanata mahimanam tavedam
maya pramadat pranayena vapi

yac cavahasartham asat-krto ’si
vihara-sayyasana-bhojanesu
eko ’tha vapy acyuta tat-samaksham
tat ksamaye tvam aham aprameyam

“Thinking of You as my friend, I have rashly addressed You “O Krishna,” “O Yadava,” “O my friend,” not knowing Your glories. Please forgive whatever I may have done in madness or in love. I have dishonored You many times, jesting as we relaxed, lay on the same bed, or sat or ate together, sometimes alone and sometimes in front of many friends. O infallible one, please excuse me for all those offenses.”

Terhadap apapun yang telah kukatakan kepada-Mu dengan kasar, dengan berpikir bahwa Engkau adalah kawanku dan tak menyadari akan keagungan-Mu, wahai Krsna, wahai Yadava, wahai Kawan; semuanya berasal dari kealpaan dan mungkin karena keakraban saja. Dan apapun kekurangsopanan yang telah kulakukan pada-Mu dalam senda gurauan ketika bermain atau di tempat tidur, ketika duduk-duduk atau pada saat makan sendirian maupun bersama yang lainnya, aku memohon kepada-Mu, wahai Acyuta (Krsna), ampunan dan maaf yang tak terkira banyaknya.

11-43

pitasi lokasya caracarasya
tvam asya pujyas ca gurur gariyan
na tvat-samo ’sty abhyadhikah kuto ’nyo
loka-traye ’py apratima-prabhava

“You are the father of this complete cosmic manifestation, of the moving and the nonmoving. You are its worshipable chief, the supreme spiritual master. No one is equal to You, nor can anyone be one with You. How then could there be anyone greater than You within the three worlds, O Lord of immeasurable power?”

Engkau adalah Bapak dari dunia yang bergerak maupun yang tak bergerak, Engkau adalah obyek pemujaan dan guru yang dimuliakan. Tak ada yang menyamai-Mu, sehingga mana mungkin ada yang lebih agung dari pada-Mu di ketiga dunia ini, wahai Engkau yang tak tertandingi.

11-44

tasmat pranamya pranidhaya kayam
prasadaye tvam aham isam idyam
piteva putrasya sakheva sakhyuh
priyah priyayarhasi deva sodhum

“You are the Supreme Lord, to be worshiped by every living being. Thus I fall down to offer You my respectful obeisances and ask Your mercy. As a father tolerates the impudence of his son, or a friend tolerates the impertinence of a friend, or a wife tolerates the familiarity of her partner, please tolerate the wrongs I may have done You.”

Oleh karena itu, dengan membungkukkan badanku di hadapan-Mu, Yang Maha Mulia, aku mohon berkah-Mu. Ya Tuhan Engkau harus memandangku sebagai seorang ayah pada anaknya, sebagai seorang teman dengan teman, sebagai seorang kekasih dengan yang dikasihinya.

11-45

adrsta-purvam hrsito ’smi drishtva
bhayena ca pravyathitam mano me
tad eva me darsaya deva rupam
prasida devesa jagan-nivasa

“After seeing this universal form, which I have never seen before, I am gladdened, but at the same time my mind is disturbed with fear. Therefore please bestow Your grace upon me and reveal again Your form as the Personality of Godhead, O Lord of lords, O abode of the universe.”

Aku telah menyaksikan apa yang sebelumnya belum pernah kusaksikan dan Aku merasa senang, tetapi hatiku gemetar ketakutan. Perlihatkan kepadaku wujud-Mu yang sebelumnya. Wahai Tuhan dan berbaik hatilah, wahai Penguasa para dewa dan Tumpuan Alam Semesta Raya ini.

11-46

kiritinam gadinam cakra-hastam
icchami tvam drastum aham tathaiva
tenaiva rupena catur-bhujena
sahasra-baho bhava vishva-murte

“O universal form, O thousand-armed Lord, I wish to see You in Your four-armed form, with helmeted head and with club, wheel, conch and lotus flower in Your hands. I long to see You in that form.”

Aku ingin menyaksikan-Mu semula, dengan mahkota, gada dan cakra di tangan; dalam wujud-Mu yang berlengan empat, wahai perwujudan semesta.

11-47

sri-bhagavan uvaca
maya prasannena tavarjunedam
rupam param darshitam atma-yogat
tejo-mayam vishvam anantam adyam
yan me tvad anyena na drsta-purvam

“The Supreme Personality of Godhead said: My dear Arjuna, happily have I shown you, by My internal potency, this supreme universal form within the material world. No one before you has ever seen this primal form, unlimited and full of glaring effulgence.”

Sri Bhagavan bersabda.
Dengan anugerah dan melalui kekuasaan-Ku, wahai Arjuna, telah Kuperlihatkan kepadamu wujud tertinggi yang cemerlang, semesta tak terbatas dan paling utama, yang tak seorangpun pernah menyaksikannya, kecuali engkau sendiri.

11-48

na veda-yajnadhyayanair na danair
na ca kriyabhir na tapobhir ugraih
evam-rupah sakya aham nr-loke
drastum tvad anyena kuru-pravira

“O best of the Kuru warriors, no one before you has ever seen this universal form of Mine, for neither by studying the Vedas, nor by performing sacrifices, nor by charity, nor by pious activities, nor by severe penances can I be seen in this form in the material world.”

Bukan dengan kitab suci Veda, pelaksanaan kurban, belajar, amal sedekah, upacara seremonial ataupun dengan melakukan tapah, Aku dapat dilihat di dunia manusia oleh siapapun juga kecuali engkau, wahai Kurupravira (Arjuna)

11-49

ma te vyatha ma ca vimudha-bhavo
drishtva rupam ghoram idrn mamedam
vyapeta-bhih prita-manah punas tvam
tad eva me rupam idam prapasya

“You have been perturbed and bewildered by seeing this horrible feature of Mine. Now let it be finished. My devotee, be free again from all disturbances. With a peaceful mind you can now see the form you desire.”

Semoga engkau tidak menjadi takut, maupun kebingungan dalam menyaksikan wujud-Ku yang menakutkan itu. Bebaskanlah dari rasa takut dan bersenang hatilah, lihatlah kembali wujud-Ku yang semula.

11-50

sanjaya uvaca
ity arjunam vasudevas tathoktva
svakam rupam darsayam asa bhuyah
asvasayam asa ca bhitam enam
bhutva punah saumya-vapur mahatma

“Sanjaya said to Dhritarashtra: The Supreme Personality of Godhead, Krishna, having spoken thus to Arjuna, displayed His real four-armed form and at last showed His two-armed form, thus encouraging the fearful Arjuna.”

Sanjaya berkata:
Setelah berkata demikian kepada Arjuna, Vasudeva (Krsna) memperlihatkan kembali wujudnya yang semula. Sang Mahatma setelah kembali mengenakan wujud welas asih-Nya yang menenangkan ketakutan Arjuna.

11-51

arjuna uvaca
drstvedam manusam rupam
tava saumyam janardana
idanim asmi samvrttah
sa-cetah prakritim gatah

“When Arjuna thus saw Krishna in His original form, he said: O Janardana, seeing this humanlike form, so very beautiful, I am now composed in mind, and I am restored to my original nature.”

Arjuna berkata:
Menyaksikan kembali wujud manusia-Mu yang lemah lembut, wahai Janardana (Krsna), aku kini telah menjadi tenang kembali seperti sebelumnya.

11-52

sri-bhagavan uvaca
su-durdarsham idam rupam
drstavan asi yan mama
deva apy asya rupasya
nityam darshana-kanksinah

“The Supreme Personality of Godhead said: My dear Arjuna, this form of Mine you are now seeing is very difficult to behold. Even the demigods are ever seeking the opportunity to see this form, which is so dear.”

Sri Bhagavan bersabda:
Wujud-Ku itu yang sungguh-sungguh sulit untuk melihatnya, telah Engkau saksikan. Bahkan para dewa sekalipun senantiasa berharap untuk dapat menyaksikan wujud itu.

11-53

naham vedair na tapasa
na danena na cejyaya
sakya evam-vidho drastum
drstavan asi mam yatha

“The form you are seeing with your transcendental eyes cannot be understood simply by studying the Vedas, nor by undergoing serious penances, nor by charity, nor by worship. It is not by these means that one can see Me as I am.”

Dalam wujud yang telah engkau saksikan tadi. Aku tak dapat disaksikan baik melalui kitab suci Veda maupun melalui pelaksanaan tapa ataupun dengan amal sedekah atau upacara kurban.

11-54

bhaktya tv ananyaya sakya
aham evam-vidho ’rjuna
jnatum drastum ca tattvena
pravestum ca parantapa

“My dear Arjuna, only by undivided devotional service can I be understood as I am, standing before you, and can thus be seen directly. Only in this way can you enter into the mysteries of My understanding.”

Tetapi dengan pengabdian yang tak tergoyahkan kepada-Ku, wahai Arjuna, Aku dapat diketahui dan benar-benar dilihat dan juga diselami, wahai Paramtapa (Arjuna)

11-55

mat-karma-krn mat-paramo
mad-bhaktah sanga-varjitah
nirvairah sarva-bhutesu
yah sa mam eti pandava

“My dear Arjuna, he who engages in My pure devotional service, free from the contaminations of fruitive activities and mental speculation, he who works for Me, who makes Me the supreme goal of his life, and who is friendly to every living being—he certainly comes to Me.”

Ia yang bekerja untuk-Ku, ia yang memandang Aku sebagai tujuannya dan memuja-Ku, terbebas dari keterikatan, ia yang bebas dari kedengkian terhadap semua mahluk, ia akan sampai kepada-Ku, wahai Pandava (Arjuna)

Di sini berakhir bab XI, percakapan yang berjudul: VIsvarupa Darsana Yoga

[Kembali]


Sumber: Pustaka Hindu


BhagawadGita, Bab 4 s/d 7


GitaDhyanam

  1. Arjuna Wisada Yoga, menguraikan keragu-raguan dalam diri Arjuna
  2. Samkhya Yoga, menguraikan ajaran yoga dan samkhya
  3. Karma Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena karma, usaha, perbuatan
  4. Jnana Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena ilmu pengetahuan suci
  5. Karma Samnyasa Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena prihatin
  6. Dhyana Yoga, menguraikan tentang makna dhyana sebaga satu sistem dalam yoga
  7. Jnana Widnyana Yoga, menguraikan pencapaian yoga karena budi
  8. Aksara Brahma Yoga, menguraikan hakikat akan kekekalan Tuhan
  9. Raja Widya Rajaguhya Yoga, hakikat Ketuhanan sebagai raja dari segala ilmu pengetahuan (widya)
  10. Wibhuti Yoga, menguraikan akan sifat hakikat Tuhan yang absolut, tanpa awal, pertengahan dan akhir
  11. Wiswarupa Darsana Yoga, kelanjutan dari Wibhuti Yoga, dijelaskan dengan manifestasi secara nyata
  12. Bhakti Yoga, menguraikan tentang cara yoga dengan bhakti
  13. Ksetra Ksetradnya Yoga, menguraikan hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa dalam hubungan dengan purusa dan prakrti
  14. Guna Traya Wibhaga Yoga, membahas Triguna – Sattwam, Rajas dan Tamas
  15. Purusottama Yoga, menguraikan beryoga pada purusa yang Maha Tinggi, Hakikat Ketuhanan
  16. Daiwasura Sampad Wibhaga Yoga, membahas akan hakikat tingkah-laku manusia, baik dan buruk
  17. Sraddha Traya Wibhaga Yoga, menguraikan kepercayaan dan berkeyakinan pada Triguna
  18. Moksa Samnyasa Yoga, merupakan kesimpulan dari semua ajaran yang menjadi inti tujuan agama yang tertinggi.


Bhagavad Gita – Bab IV

CATURTHO ‘DHYAYAH
BAB IV

Jnana Yoga

4-1

sri-bhagavan uvaca
imam vivasvate yogam
proktavan aham avyayam
vivasvan manave praha
manur iksvakave ’bravit

The Personality of Godhead, Lord Sri Krishna, said: I instructed this imperishable science of yoga to the sun-god, Vivasvan, and Vivasvan instructed it to Manu, the father of mankind, and Manu in turn instructed it to Ikshavaku.”

Sri Bhagavan bersabda:
Aku telah menyampaikan yoga abadi ini kepada Wiwaswan; Wiwaswan menyampaikannya pada Manu dan Manu mengajarkannya kepada Ikswaku.

4-2

evam parampara-praptam
imam rajarsayo viduh
sa kaleneha mahata
yogo nastah parantapa

“This supreme science was thus received through the chain of disciplic succession, and the saintly kings understood it in that way. But in course of time the succession was broken, and therefore the science as it is appears to be lost.”

Demikianlah yoga ini diteruskan secara turun menurun dan para penasehat (pendeta) kerajaan mengetahuinya hingga lenyap dari dunia ini melalui perjalanan waktu yang panjang, wahai Paramtapa (Arjuna)

4-3

sa evayam maya te ’dya
yogah proktah puratanah
bhakto ’si me sakha ceti
rahasyam hy etad uttamam

“That very ancient science of the relationship with the Supreme is today told by Me to you because you are My devotee as well as My friend and can therefore understand the transcendental mystery of this science.”

Yoga tua yang sama ini pulalah yang kini Aku ajarkan kepadamu, sebab engkau adalah pengikut-Ku dan kawan-Ku; dan yoga ini sangatlah rahasia.

4-4

arjuna uvaca
aparam bhavato janma
param janma vivasvatah
katham etad vijaniyam
tvam adau proktavan iti

“Arjuna said: The sun-god Vivasvan is senior by birth to You. How am I to understand that in the beginning You instructed this science to him?”

Arjuna bertanya:
Kelahiran-Mu adalah belakangan dan kelahiran Wiwaswan lebih dahulu. Bagaimana aku dapat memahami bahwa Engkau telah menyampaikannya kepadanya pada awalnya?

4-5

sri-bhagavan uvaca
bahuni me vyatitani
janmani tava carjuna
tany aham veda sarvani
na tvam vettha parantapa

“The Personality of Godhead said: Many, many births both you and I have passed. I can remember all of them, but you cannot, O subduer of the enemy!”

Sri Bhagavan bersabda:
Banyak kehidupan yang telah Aku jalani di masa lalu, demikian juga engkau, wahai Arjuna, semuanya itu Aku mengetahuinya, tetapi engkau tidak, wahai Paramtapa (Arjuna)

4-6

ajo ’pi sann avyayatma
bhutanam isvaro ’pi san
prakritim svam adhisthaya
sambhavamy atma-mayaya

“Although I am unborn and My transcendental body never deteriorates, and although I am the Lord of all living entities, I still appear in every millennium in My original transcendental form.”

Walaupun Aku tak terlahirkan, abadi dan penguasa segala makhluk, namun dengan menundukkan Prakrti-Ku sendiri. Aku mewujudkan diri-Ku, melalui kekuatan Maya-Ku

4-7

yada yada hi dharmasya
glanir bhavati bharata
abhyutthanam adharmasya
tadatmanam srjamy aham

“Whenever and wherever there is a decline in religious practice, O descendant of Bharata, and a predominant rise of irreligion—at that time I descend Myself.”

Manakala kebajikan (dharma) akan mengalami kemusnahan dan kebatilan (adharma) merajalela, wahai Bharata (Arjuna), maka Aku menjelmakan diri-Ku

4-8

paritranaya sadhunam
vinasaya ca duskritam
dharma-samsthapanarthaya
sambhavami yuge yuge

“To deliver the pious and to annihilate the miscreants, as well as to reestablish the principles of religion, I Myself appear, millennium after millennium.”

Demi untuk melindungi para sadhu (orang-orang suci) serta untuk memusnahkan orang-orang jahat dan demi untuk menegakkan dharma (kebajikan), Aku menjelma dari masa ke masa

4-9

janma karma ca me divyam
evam yo vetti tattvatah
tyaktva deham punar janma
naiti mam eti so ’rjuna

“One who knows the transcendental nature of My appearance and activities does not, upon leaving the body, take his birth again in this material world, but attains My eternal abode, O Arjuna.”

Ia yang mengetahui kelahiran dan kegiatan ilahi-Ku yang sejati, tak akan menjelma kembali setelah menanggalkan badan jasmaninya dan datang kepada-Ku, wahai Arjuna

4-10

vita-raga-bhaya-krodha
man-maya mam upasritah
bahavo jnana-tapasa
puta mad-bhavam agatah

“Being freed from attachment, fear and anger, being fully absorbed in Me and taking refuge in Me, many, many persons in the past became purified by knowledge of Me—and thus they all attained transcendental love for Me.”

Terlepas dari hawa nafsu, rasa takut dan kemarahan, terserap di dalam-Ku, berlindung pada-Ku, banyak orang yang tersucikan oleh laku tapa kebijaksanaan yang telah mencapai kondisi keberadaan-Ku

4-11

ye yatha mam prapadyante
tams tathaiva bhajamy aham
mama vartmanuvartante
manushyah partha sarvasah

“As all surrender unto Me, I reward them accordingly. Everyone follows My path in all respects, O son of Pritha.”

Jalan apapun orang memuja-Ku, pada jalan yang sama Aku memenuhi keinginanyna, wahai Partha, karena pada semua jalan yang ditempuh mereka, semuanya adalah jalan-Ku

4-12

kanksantah karmanam siddhim
yajanta iha devatah
ksipram hi manuse loke
siddhir bhavati karma-ja

“Men in this world desire success in fruitive activities, and therefore they worship the demigods. Quickly, of course, men get results from fruitive work in this world.”

Mereka yang menginginkan hasil dari kegiatan kerjanya di bumi ini, menghaturkan upacara kurban kepada para dewa, karena hasil dari kegiatan kerja di dunia manusia ini sangat cepat datangnya.

4-13

catur-varnyam maya srstam
guna-karma-vibhagasah
tasya kartaram api mam
viddhy akartaram avyayam

“According to the three modes of material nature and the work associated with them, the four divisions of human society are created by Me. And although I am the creator of this system, you should know that I am yet the nondoer, being unchangeable.”

Empat macam tatanan masyarakat (catur warna), Aku yang menciptakannya sesuai dengan pembagian sifat dan kegiatan kerja. Tetapi ketahuilah bahwa walaupun Aku yang menciptakannya, Aku bukanlah pelaku dan tanpa perubahan

4-14

na mam karmani limpanti
na me karma-phale sprha
iti mam yo ’bhijanati
karmabhir na sa badhyate

“There is no work that affects Me; nor do I aspire for the fruits of action. One who understands this truth about Me also does not become entangled in the fruitive reactions of work.”

Kegiatan kerja tidak berakibat pada-Ku; dan juga Aku tak mengharapkan hasil dari padanya. Mereka yang mengetahui Aku demikian itu, tak terikat lagi oleh kegiatan kerja.

4-15

evam jnatva kritam karma
purvair api mumuksubhih
kuru karmaiva tasmat tvam
purvaih purvataram kritam

“All the liberated souls in ancient times acted with this understanding of My transcendental nature. Therefore you should perform your duty, following in their footsteps.”

Jadi, dengan mengetahui bahwa kegiatan kerja juga dilakukan oleh orang-orang jaman dahulu yang mencari kelepasan, maka engkau juga hendaknya melakukan kegiatan kerja seperti yang dilakukan orang-orang jaman dahulu tersebut.

4-16

kim karma kim akarmeti
kavayo ’py atra mohitah
tat te karma pravaksyami
yaj jnatva moksyase ’subhat

“Even the intelligent are bewildered in determining what is action and what is inaction. Now I shall explain to you what action is, knowing which you shall be liberated from all misfortune.”

Apakah kerja itu? Apakah yang tak kerja itu? Bahkan orang-orang bijak pun bingung tentang hal ini. Aku akan memberitahumu apa yang disebut kegiatan kerja dan dengan mengetahuinya engkau akan terbebas dari dosa.

4-17

karmano hy api boddhavyam
boddhavyam ca vikarmanah
akarmanas ca boddhavyam
gahana karmano gatih

“The intricacies of action are very hard to understand. Therefore one should know properly what action is, what forbidden action is, and what inaction is.”

Seseorang harus memahami apa yang dimaksud dengan kegiatan kerja, demikian juga kegiatan yang salah dan ia juga harus memahami arti tidak kerja. Memang sulit untuk dapat memahami makna kegiatan kerja tersebut.

4-18

karmany akarma yah pasyed
akarmani ca karma yah
sa buddhiman manusyesu
sa yuktah krtsna-karma-krt

“One who sees inaction in action, and action in inaction, is intelligent among men, and he is in the transcendental position, although engaged in all sorts of activities.”

Ia yang melihat tidak kerja dalam kegiatan kerja dan kegiatan kerja dalam tidak kerja, adalah orang bijaksana di antara kelompok manusia, seorang yogin dan pelaku semua kegiatan kerja.

4-19

yasya sarve samarambhah
kama-sankalpa-varjitah
jnanagni-dagdha-karmanam
tam ahuh panditam budhah

“One is understood to be in full knowledge whose every endeavor is devoid of desire for sense gratification. He is said by sages to be a worker for whom the reactions of work have been burned up by the fire of perfect knowledge.”

Ia yang melakukan kegiatan yang seluruhnya bebas dari pamrih, yang kegiatan kerjanya dibakar oleh api kebijaksanaan (jnana), oleh para bijak ia disbut sebagai orang yang terpelajar

4-20

tyaktva karma-phalasangam
nitya-trpto nirasrayah
karmany abhipravrtto ’pi
naiva kincit karoti sah

“Abandoning all attachment to the results of his activities, ever satisfied and independent, he performs no fruitive action, although engaged in all kinds of undertakings.”

Setelah melepaskan keterikatan terhadap hasil dari kegiatan kerja, senantiasa dalam keadaan puas tanpa ketergantungan pada apapun, ia sesungguhnya tidak melakukan apa-apa walaupun senantiasa sibuk dalam kegiatan kerja.

4-21

nirasir yata-cittatma
tyakta-sarva-parigrahah
sariram kevalam karma
kurvan napnoti kilbisam

“Such a man of understanding acts with mind and intelligence perfectly controlled, gives up all sense of proprietorship over his possessions, and acts only for the bare necessities of life. Thus working, he is not affected by sinful reactions.”

Tanpa memiliki keinginan, dengan hati dan sang diri yang sepenuhnya terkendalikan, dengan melepaskan segala miliknya, hanya melakukan kegiatan dengan badan jasmani, dia tak akan berdosa.

4-22

yadrccha-labha-santusto
dvandvatito vimatsarah
samah siddhav asiddhau ca
kritvapi na nibadhyate

“He who is satisfied with gain which comes of its own accord, who is free from duality and does not envy, who is steady in both success and failure, is never entangled, although performing actions.”

Ia yang senantiasa puas dengan apapun yang ada, yang telah mengatasi dualitas (dari rasa senang dan susah), yang terbebas dari rasa iri dan dengki serta tetap tenang dalam keberhasilan maupun kegagalan, walaupun ia bekerja namun tak akan terbelenggu.

4-23

gata-sangasya muktasya
jnanavasthita-cetasah
yajnayacaratah karma
samagram praviliyate

“The work of a man who is unattached to the modes of material nature and who is fully situated in transcendental knowledge merges entirely into transcendence.”

Kegiatan kerja seseorang yang keterikatannya telah dipisahkan, yang terbebas dan pikirannya terpancang pada kebijaksanaan, yang melakukan kegiatan kerja sebagai yajna, seluruh kegiatannya akan lebur dengan sendirinya.

4-24

brahmarpanam brahma havir
brahmagnau brahmana hutam
brahmaiva tena gantavyam
brahma-karma-samadhina

“A person who is fully absorbed in Krishna consciousness is sure to attain the spiritual kingdom because of his full contribution to spiritual activities, in which the consummation is absolute and that which is offered is of the same spiritual nature.”

Baginya, kegiatan persembahan adalah Tuhan, persembahannya sendiri adalah Tuhan. Oleh Tuhan haturan itu dipersembahkan ke dalam api Tuhan. Tuhanlah yang dicapainya, yang mewujudkan Tuhan dalam kegiatan kerjanya.

4-25

daivam evapare yajnam
yoginah paryupasate
brahmagnav apare yajnam
yajnenaivopajuhvati

“Some yogis perfectly worship the demigods by offering different sacrifices to them, and some of them offer sacrifices in the fire of the Supreme Brahman.”

Beberapa orang yogi mempersembahkan yajna kepada para dewa, sementara yang lainnya mempersembahkan yajna dengan yajna itu sendiri, ke dalam api Yang Tertinggi (Tuhan)

4-26

srotradinindriyany anye
samyamagnisu juhvati
shabdadin visayan anya
indriyagnisu juhvati

“Some [the unadulterated brahmacaris] sacrifice the hearing process and the senses in the fire of mental control, and others [the regulated householders] sacrifice the objects of the senses in the fire of the senses.”

Beberapa orang mempersembahkan pendengaran dan indra-indra lainnya dalam api pengekangan; yang lainnya mempersembahkan suara dan obyek-obyek indra lainnya dalam api indra-indra

4-27

sarvanindriya-karmani
prana-karmani capare
atma-samyama-yogagnau
juhvati jnana-dipite

“Others, who are interested in achieving self-realization through control of the mind and senses, offer the functions of all the senses, and of the life breath, as oblations into the fire of the controlled mind.”

Beberapa orang lainnya lagi mempersembahkan seluruh kegiatan indra-indra dan kegiatan kekuatan vitalnya ke dalam api yoga pengendalian diri, yang dinyalakan oleh ilmu pengetahuan.

4-28

dravya-yajnas tapo-yajna
yoga-yajnas tathapare
svadhyaya-jnana-yajnas ca
yatayah samsita-vratah

“Having accepted strict vows, some become enlightened by sacrificing their possessions, and others by performing severe austerities, by practicing the yoga of eightfold mysticism, or by studying the Vedas to advance in transcendental knowledge.”

Beberapa orang lainnya mempersembahkan harta bendanya sebagai korban, atau kegiatan tapah ataupun latihan spiritual (yoga) nya, sementara yang lainnya mempersembahkan pikiran dan beberapa orang yang bernazar (bersumpah berat) mempersembahkan studi dan ilmu pengetahuannya.

4-29

apane juhvati pranam
prane ’panam tathapare
pranapana-gati ruddhva
pranayama-parayanah
apare niyataharah
pranan pranesu juhvati

“Still others, who are inclined to the process of breath restraint to remain in trance, practice by offering the movement of the outgoing breath into the incoming, and the incoming breath into the outgoing, and thus at last remain in trance, stopping all breathing. Others, curtailing the eating process, offer the outgoing breath into itself as a sacrifice.”

Yang lainnya lagi, yang taat melakukan pengendalian nafas, setelah melakukan penahanan nafas prang (nafas keluar) dan apana (nafas masuk), mempersembahkan prana sebagai korban ke dalam apana dan nafas apana ke dalam prana.

4-30

sarve ’py ete yajna-vido
yajna-ksapita-kalmasah
yajna-sistamrita-bhujo
yanti brahma sanatanam

“All these performers who know the meaning of sacrifice become cleansed of sinful reactions, and, having tasted the nectar of the results of sacrifices, they advance toward the supreme eternal atmosphere.”

Sementara yang lainnya, dengan pengaturan makanan, mempersembahkan nafas kehidupan sebagai korban ke dalam nafas kehidupan. Semuanya ini adalah yang mengetahui tentang yajna dan dengan yajna dosa-dosa mereka terhapuskan

4-31

nayam loko ’sty ayajnasya
kuto ’nyah kuru-sattama

“O best of the Kuru dynasty, without sacrifice one can never live happily on this planet or in this life: what then of the next?”

Mereka yang makan makanan suci sisa persembahan akan mencapai Yang Mutlak abadi; dunia ini bukan dimaksudkan bagi mereka yang tidak melakukan yajna, apalagi untuk dunia lainnya, wahai Kurusattama (Arjuna)

4-32

evam bahu-vidha yajna
vitata brahmano mukhe
karma-jan viddhi tan sarvan
evam jnatva vimoksyase

“All these different types of sacrifice are approved by the Vedas, and all of them are born of different types of work. Knowing them as such, you will become liberated.”

Jadi, banyak bentuk upacara korban yang dihaturkan kepada Brahman (yang dilakukan untuk dapat mencapai-Nya). Ketahuilah bahwa semuanya ini berasal dari kegiatan kerja, sehingga dengan mengetahui hal ini engkau akan terbebaskan.

4-33

sreyan dravya-mayad yajnaj
jnana-yajnah parantapa
sarvam karmakhilam partha
jnane parisamapyate

“O chastiser of the enemy, the sacrifice performed in knowledge is better than the mere sacrifice of material possessions. After all, O son of Pritha, all sacrifices of work culminate in transcendental knowledge.”

Ilmu pengetahuan sebagai yajna, lebih unggul dari pada yajna material apapun, wahai Paramtapa (Arjuna), karena segala kegiatan kerja tanpa kecuali memuncak dalam kebijaksanaan, wahai Partha (Arjuna)

4-34

tad viddhi pranipatena
pariprasnena sevaya
upadeksyanti te jnanam
jnaninas tattva-darshinah

“Just try to learn the truth by approaching a spiritual master. Inquire from him submissively and render service unto him. The self-realized souls can impart knowledge unto you because they have seen the truth.”

Belajarlah, bahwa dengan sujud bersembah, dengan bertanya dan dengan pelayanan; orang-orang bijaksana yang telah melihat kebenaran mengajarmu dalam ilmu pengetahuan.

4-35

yaj jnatva na punar moham
evam yasyasi pandava
yena bhutany asesani
draksyasy atmany atho mayi

“Having obtained real knowledge from a self-realized soul, you will never fall again into such illusion, for by this knowledge you will see that all living beings are but part of the Supreme, or, in other words, that they are Mine.”

Bila engkau telah mengetahui hal itu, engkau tak akan terbingungkan lagi, wahai Pandawa (Arjuna), karena dengan ini engkau akan melihat semua eksistensi tanpa kecuali ada pada sang Diri, dan di dalam-Ku

4-36

api ced asi papebhyah
sarvebhyah papa-krt-tamah
sarvam jnana-plavenaiva
vrjinam santarisyasi

“Even if you are considered to be the most sinful of all sinners, when you are situated in the boat of transcendental knowledge you will be able to cross over the ocean of miseries.”

Walaupun seandainya engkau paling berdosa di antara semua orang yang berdosa, engkau akan dapat menyeberangi segala kejahatan dengan perahu kebijaksanaan ini saja.

4-37

yathaidhamsi samiddho ’gnir
bhasma-sat kurute ’rjuna
jnanagnih sarva-karmani
bhasma-sat kurute tatha

“As a blazing fire turns firewood to ashes, O Arjuna, so does the fire of knowledge burn to ashes all reactions to material activities.”

Seperti api yang menyala, membakar habis kayu bakar menjadi abu, wahai Arjuna, demikian pula api kebijaksanaan membakar habis segala kegiatan kerja menjadi abu.

4-38

na hi jnanena sadrsam
pavitram iha vidyate
tat svayam yoga-samsiddhah
kalenatmani vindati

“In this world, there is nothing so sublime and pure as transcendental knowledge. Such knowledge is the mature fruit of all mysticism. And one who has become accomplished in the practice of devotional service enjoys this knowledge within himself in due course of time.”

Di bumi ini tak ada yang menyamai kemurnian kebijaksanaan. Mereka yang menjadi sempurna melalui yoga, dalam perjalanan waktu akan menemukan sang diri dalam dirinya sendiri.

4-39

shraddhaval labhate jnanam
tat-parah samyatendriyah
jnanam labdhva param shantim
acirenadhigacchati

“A faithful man who is dedicated to transcendental knowledge and who subdues his senses is eligible to achieve such knowledge, and having achieved it he quickly attains the supreme spiritual peace.”

Ia yang memiliki keyakinan, yang terserap di dalam kebijaksanaan dan yang telah menundukkan indra-indranya, akan memperoleh kebijaksanaan dan setelah memperoleh kebijaksanaan, dengan cepat ia akan mendapatkan kedamaian tertinggi.

4-40

ajnas casraddadhanas ca
samsayatma vinasyati
nayam loko ’sti na paro
na sukham samsayatmanah

“But ignorant and faithless persons who doubt the revealed scriptures do not attain God consciousness; they fall down. For the doubting soul there is happiness neither in this world nor in the next.”

Tetapi, orang yang bodoh, yang tidak memiliki keyakinan, yang bersifat ragu-ragu, akan musnah. Bagi yang ragu-ragu, tak ada kebahagiaan baik di dunia ini maupun di dunia sana nantinya.

4-41

yoga-sannyasta-karmanam
jnana-sanchinna-samsayam
atmavantam na karmani
nibadhnanti dhananjaya

“One who acts in devotional service, renouncing the fruits of his actions, and whose doubts have been destroyed by transcendental knowledge, is situated factually in the self. Thus he is not bound by the reactions of work, O conqueror of riches.”

Kegiatan kerja tak akan membelenggu mereka yang telah melepaskan segala kegiatan kerja dengan yoga, yang telah memusnahkan segala keragu-raguannya dengan kebijaksanaan dan yang senantiasa bersandar pada sang diri, wahai Dhanamjaya (Arjuna)

4-42

tasmad ajnana-sambhutam
hrt-stham jnanasinatmanah
chittvainam samsayam yogam
atisthottistha bharata

“Therefore the doubts which have arisen in your heart out of ignorance should be slashed by the weapon of knowledge. Armed with yoga, O Bharata, stand and fight.”

Oleh sebab itu, setelah memotong keragu-raguan dengan pedang ilmu pengetahuan (kebijaksanaan) dalam hati yang berasal dari ketidaktahuan, berlindunglah pada yoga dan bangkitlah, wahai Bharata (Arjuna)

Inilah akhir bab ke IV, percakapan yang berjudul JNANA YOGA

[Kembali]


Bhagavad Gita – Bab V

PANCAMO’DHYAYAH
BAB V

Karma Samnyasa Yoga

5-1

arjuna uvaca
sannyasam karmanam krishna
punar yogam ca samsasi
yac chreya etayor ekam
tan me bruhi su-niscitam

“Arjuna said: O Krishna, first of all You ask me to renounce work, and then again You recommend work with devotion. Now will You kindly tell me definitely which of the two is more beneficial?”

Arjuna bertanya:
Wahai Krsna, Engkau memuji penyangkalan kegiatan kerja dan juga pelaksanaan kegiatan kerja tanpa pamrih. Katakanlah kepadaku dengan pasti, yang manakah yang lebih baik di antara keduanya ini?

5-2

sri-bhagavan uvaca
sannyasah karma-yogas ca
nihsreyasa-karav ubhau
tayos tu karma-sannyasat
karma-yogo visisyate

“The Personality of Godhead replied: The renunciation of work and work in devotion are both good for liberation. But, of the two, work in devotional service is better than renunciation of work.”

Sri Bhagavan bersabda:
Penyangkalan dari kegiatan kerja dan pelaksanaannya yang tanpa pamrih keduanya mengantarkan pada pembebasan roh. Tetapi dari keduanya itu, yang lebih baik adalah pelaksanaan kegiatan kerja tanpa pamrih

5-3

jneyah sa nitya-sannyasi
yo na dvesti na kanksati
nirdvandvo hi maha-baho
sukham bandhat pramucyate

“One who neither hates nor desires the fruits of his activities is known to be always renounced. Such a person, free from all dualities, easily overcomes material bondage and is completely liberated, O mighty-armed Arjuna.”

Ia yang tidak membenci ataupun berkeinginan, dikenal sebagai orang yang senantiasa dalam semangat penyangkalan; karena terbebas dari dualitas dia dengan mudah terbebaskan, wahai Mahabahu (Arjuna)

5-4

sankhya-yogau prithag balah
pravadanti na panditah
ekam apy asthitah samyag
ubhayor vindate phalam

“Only the ignorant speak of devotional service [karma-yoga] as being different from the analytical study of the material world [Sankhya]. Those who are actually learned say that he who applies himself well to one of these paths achieves the results of both.”

Orang-orang bodoh yang mengatakan tentang penyangkalan dan pelaksanaan kegiatan kerja sebagai berbeda, bukanlah orang bijaksana. Ia yang mempersiapkan dirinya baik-baik terhadap salah satu dari padanya akan memetik hasil dari keduanya

5-5

yat sankhyaih prapyate sthanam
tad yogair api gamyate
ekam sankhyam ca yogam ca
yah pasyati sa pasyati

“One who knows that the position reached by means of analytical study can also be attained by devotional service, and who therefore sees analytical study and devotional service to be on the same level, sees things as they are.”

Kedudukan yang dicapai oleh orang dengan penyangkalan kerja juga dicapai oleh orang dengan kegiatan kerja. Ia yang melihat kedua jalan tersebut sebagai satu, ia lah sesungguhnya yang telah melihat.

5-6

sannyasas tu maha-baho
duhkham aptum ayogatah
yoga-yukto munir brahma
na cirenadhigacchati

“Merely renouncing all activities yet not engaging in the devotional service of the Lord cannot make one happy. But a thoughtful person engaged in devotional service can achieve the Supreme without delay.”

Tetapi, penyangkalan kerja sulit dicapai tanpa yoga, wahai Mahabahu (Arjuna), orang bijak yang bersemangat dalam melakukan yoga, dengan segera mencapai Yang Mutlak (Tuhan)

5-7

yoga-yukto vishuddhatma
vijitatma jitendriyah
sarva-bhutatma-bhutatma
kurvann api na lipyate

“One who works in devotion, who is a pure soul, and who controls his mind and senses is dear to everyone, and everyone is dear to him. Though always working, such a man is never entangled.”

Orang yang terlatih dalam jalan kegiatan dan hatinya murni, yang menguasai dirinya dan yang telah menaklukkan indra-indranya, yang jiwanya menjadi sang diri semua makhluk, tak akan tercemari oleh kegiatan kerja, walaupun ia bekerja.

5-8 & 9

naiva kincit karomiti
yukto manyeta tattva-vit
pasyan shrinvan sprsan jighrann
asnan gacchan svapan svasan

pralapan visrjan grhnann
unmisan nimisann api
indriyanindriyarthesu
vartanta iti dharayan

“A person in the divine consciousness, although engaged in seeing, hearing, touching, smelling, eating, moving about, sleeping and breathing, always knows within himself that he actually does nothing at all. Because while speaking, evacuating, receiving, or opening or closing his eyes, he always knows that only the material senses are engaged with their objects and that he is aloof from them.”

Orang yang disatukan dengan Yang Ilahi dan mengetahui kebenaran akan berpikir “Aku sama sekali tidak berbuat apapun” walaupun sedang melihat, mendengar, menyentuh, membaui, mengecap, berjalan, tidur maupun bernafas

Dalam berbicara, melepaskan, meraih, membuka dan menutup mata ia hanya menganggap bahwa hanya indra-indra sajalah yang bergerak di antara obyek indra-indra.

5-10

brahmany adhaya karmani
sangam tyaktva karoti yah
lipyate na sa papena
padma-patram ivambhasa

“One who performs his duty without attachment, surrendering the results unto the Supreme Lord, is unaffected by sinful action, as the lotus leaf is untouched by water.”

Ia yang bekerja setelah melepaskan keterikatan serta mempersembahkan kegiatan kerjanya kepada Tuhan, tak akan tersentuh oleh dosa, bagaikan daun teratai, yang tak terbasahi oleh air.

5-11

kayena manasa buddhya
kevalair indriyair api
yoginah karma kurvanti
sangam tyaktvatma-shuddhaye

“The yogis, abandoning attachment, act with body, mind, intelligence and even with the senses, only for the purpose of purification.”

Para yogi yang melaksanakan kegiatan kerja hanya dengan badan jasmani, pikiran, pengertian atau hanya dengan indra-indra, melepaskan keterikatan, demi untuk pemurnian jiwanya.

5-12

yuktah karma-phalam tyaktva
shantim apnoti naisthikim
ayuktah kama-karena
phale sakto nibadhyate

“The steadily devoted soul attains unadulterated peace because he offers the result of all activities to Me; whereas a person who is not in union with the Divine, who is greedy for the fruits of his labor, becomes entangled.”

Seorang pengabdi mencapai kedamaian dengan melepaskan keterikatan pada hasil kegiatan kerja, tetapi mereka yang tidak menyatukan jiwanya dengan yang Ilahi, didorong oleh keinginan-keinginan dan terikat dengan hasil kegiatan kerja sehingga mereka terbelenggu.

5-13

sarva-karmani manasa
sannyasyaste sukham vasi
nava-dvare pure dehi
naiva kurvan na karayan

“When the embodied living being controls his nature and mentally renounces all actions, he resides happily in the city of nine gates [the material body], neither working nor causing work to be done.”

Jiwa yang telah mengendalikan sifat-sifatnya dan melepaskan segala kegiatan kerja dengan pikiran yang mengarah ke dalam, bersemayam dengan tenang dalam kota dengan sembilan gerbang, tanpa bekerja maupun menyebabkannya bekerja.

5-14

na kartrtvam na karmani
lokasya srjati prabhuh
na karma-phala-samyogam
svabhavas tu pravartate

“The embodied spirit, master of the city of his body, does not create activities, nor does he induce people to act, nor does he create the fruits of action. All this is enacted by the modes of material nature.”

Sang Diri sebagai penguasa tidak menciptakan pelaku bagi orang-orang maupun berbuat. Dia juga tidak mengkaitkan kegiatan kerja dengan hasilnya. Sifatnya kegiatan kerja itu sendirilah terjadi.

5-15

nadatte kasyacit papam
na caiva sukritam vibhuh
ajnanenavrtam jnanam
tena muhyanti jantavah

“Nor does the Supreme Lord assume anyone’s sinful or pious activities. Embodied beings, however, are bewildered because of the ignorance which covers their real knowledge.”

Roh Yang meliputi segalanya ini tidak menerima dosa maupun kebajikan siapapun. Kebijaksanaan tertutupi oleh ketidaktahuan, sehingga makhluk-makhluk terbingungkan olehnya.

5-16

jnanena tu tad ajnanam
yesham nasitam atmanah
tesham aditya-vaj jnanam
prakasayati tat param

“When, however, one is enlightened with the knowledge by which nescience is destroyed, then his knowledge reveals everything, as the sun lights up everything in the daytime.”

Tetapi bagi mereka yang ketidaktahuannya telah dimusnahkan oleh kebijaksanaan, kebijaksanaan itu akan memperlihatkan Diri Tertinggi seperti matahari.

5-17

tad-buddhayas tad-atmanas
tan-nisthas tat-parayanah
gacchanty apunar-avrttim
jnana-nirdhuta-kalmasah

“When one’s intelligence, mind, faith and refuge are all fixed in the Supreme, then one becomes fully cleansed of misgivings through complete knowledge and thus proceeds straight on the path of liberation.”

Dengan memikirkan-Nya, mengarahkan segenap kesadaran kepada-Nya, menjadikan-Nya sebagai tujuan utama, menjadikan-Nya sebagai satu-satunya obyek pemujaannya, mereka mencapai keadaan tanpa jalan kembali dan dosa-dosanya akan terhapus oleh kebijaksanaan itu.

5-18

vidya-vinaya-sampanne
brahmane gavi hastini
suni caiva sva-pake ca
panditah sama-darsinah

The humble sages, by virtue of true knowledge, see with equal vision a learned and gentle brahmana, a cow, an elephant, a dog and a dog-eater [outcaste].

Orang bijak melihat dengan pandangan yang sama, baik seorang Brahmana terpelajar dan rendah hati, seekor sapi, seekor gajah, atau bahkan seekor anjing atau seorang yang berkelahiran hina.

5-19

ihaiva tair jitah sargo
yesham samye sthitam manah
nirdosam hi samam brahma
tasmad brahmani te sthitah

“Those whose minds are established in sameness and equanimity have already conquered the conditions of birth and death. They are flawless like Brahman, and thus they are already situated in Brahman.”

Bahkan di bumi sebagai ciptaan ini diatasi oleh mereka yang pikirannya mantap dalam keseimbangan; karena Tuhan Maha Sempurna dan bertindak sama terhadap semuanya. Oleh karena itu, orang semacam ini senantiasa mantap pada Tuhan.

5-20

na prahrsyet priyam prapya
nodvijet prapya capriyam
sthira-buddhir asammudho
brahma-vid brahmani sthitah

“A person who neither rejoices upon achieving something pleasant nor laments upon obtaining something unpleasant, who is self-intelligent, who is unbewildered, and who knows the science of God, is already situated in transcendence.”

Seseorang hendaknya tidak bergembira dalam mendapatkan apa yang menyenangkan, ataupun bersedih menerima apa yang tak menyenangkan. Ia yang pemahamannya mantap dan tak terbingungkan, yang mengetahui Tuhan seperti itu tetap teguh dalam Tuhan

5-21

bahya-sparsesv asaktatma
vindaty atmani yat sukham
sa brahma-yoga-yuktatma
sukham akshayam asnute

“Such a liberated person is not attracted to material sense pleasure but is always in trance, enjoying the pleasure within. In this way the self-realized person enjoys unlimited happiness, for he concentrates on the Supreme.”

Bila jiwanya tak lagi terikat dengan hubungan (byek) eksternal, seseorang akan menermukan kebahagiaan yang ada dalam sang Diri. Orang semacam itu, yang dirinya terkendali dalam Yoga pada Tuhan (Brahman) akan menikmati kebahagiaan abadi.

5-22

ye hi samsparsha-ja bhoga
duhkha-yonaya eva te
ady-antavantah kaunteya
na tesu ramate budhah

“An intelligent person does not take part in the sources of misery, which are due to contact with the material senses. O son of Kunti, such pleasures have a beginning and an end, and so the wise man does not delight in them.”

Kesenangan apapun yang berasal dari hubungan dengan obyek-obyek, hanya merupakan sumber kesedihan, karena ia memiliki awal dan akhir, wahai putra Kunti (Arjuna). Tak seorang bijaksanapun yang tertarik dengannya.

5-23

saknotihaiva yah sodhum
prak sarira-vimokshanat
kama-krodhodbhavam vegam
sa yuktah sa sukhi narah

“Before giving up this present body, if one is able to tolerate the urges of the material senses and check the force of desire and anger, he is well situated and is happy in this world.”

Ia yang mampu menahan nafsu keinginan dan kemarahan; bahkan disini ( di bumi ini) sebelum ia menanggalkan badan jasmaninya, ia adalah seorang yogi, orang yang berbahagia.

5-24

yo ’ntah-sukho ’ntar-aramas
tathantar-jyotir eva yah
sa yogi brahma-nirvanam
brahma-bhuto ’dhigacchati

“One whose happiness is within, who is active and rejoices within, and whose aim is inward is actually the perfect mystic. He is liberated in the Supreme, and ultimately he attains the Supreme.”

Ia yang menemukan kebahagiaan dalam dirinya, kegembiraan dan hanya cahaya batin dalam dirinya, maka yogin yang seperti itu menjadi bersifat Ilahi dan mencapai kerajaan Tuhan (brahmanirwana).

5-25

labhante brahma-nirvanam
rsayah ksina-kalmasah
chinna-dvaidha yatatmanah
sarva-bhuta-hite ratah

“Those who are beyond the dualities that arise from doubts, whose minds are engaged within, who are always busy working for the welfare of all living beings, and who are free from all sins achieve liberation in the Supreme.”

Orang suci yang dosa-dosanya termusnahkan, yang keragu-raguannya terhapuskan, yang pikirannya telah didisiplinkan dan yang bergembira melakukan kebajikan pada semua makhluk, mencapai penyatuan dengan Tuhan.

5-26

kama-krodha-vimuktanam
yatinam yata-cetasam
abhito brahma-nirvanam
vartate viditatmanam

“Those who are free from anger and all material desires, who are self-realized, self-disciplined and constantly endeavoring for perfection, are assured of liberation in the Supreme in the very near future.”

Bagi para yati yang bebas dari keinginan dan kemarahan dan telah menaklukkan pikirannya dan yang memiliki pengetahuan tentang sang Diri, dekat dirinya terdapat sikap-sikap Ilahi.

5-27 & 5-28

sparshan kritva bahir bahyams
caksus caivantare bhruvoh
pranapanau samau kritva
nasabhyantara-carinau

yatendriya-mano-buddhir
munir moksha-parayanah
vigateccha-bhaya-krodho
yah sada mukta eva sah

“Shutting out all external sense objects, keeping the eyes and vision concentrated between the two eyebrows, suspending the inward and outward breaths within the nostrils, and thus controlling the mind, senses and intelligence, the transcendentalist aiming at liberation becomes free from desire, fear and anger. One who is always in this state is certainly liberated.”

Dengan memutuskan semua obyek eksternal, dengan mengkonsentrasikan pandangan mata di antara kedua alis mata, bahkan dengan mengatur masuk dan keluarnya nafas lewat lubang hidung, orang-orang suci yang telah mengendalikan indra-indra, pikiran dan kecerdasannya serta berniat mendapat kelepasan, mencampakkan segala keinginan, rasa takut dan kemarahan, senantiasa berada dalam kebebasan.

5-29

bhoktaram yajna-tapasam
sarva-loka-maheshvaram
suhridam sarva-bhutanam
jnatva mam shantim rcchati

“A person in full consciousness of Me, knowing Me to be the ultimate beneficiary of all sacrifices and austerities, the Supreme Lord of all planets and demigods, and the benefactor and well-wisher of all living entities, attains peace from the pangs of material miseries.”

Dan setelah mengetahui Aku sebagai penikmat yajna dan tapah, sebagai Penguasa Tertinggi dari seluruh dunia, Kawan bagi semua makhluk, para bijak mencapai kedamaian tertinggi.

Di sini berakhir bab ke V, percakapan yang berujudl KARMA SAMNYASA YOGA

[Kembali]


Bhagavad Gita – Bab VI

Sasto’dhyayah
Bab VI

Dhyana Yogah

6-1

sri-bhagavan uvaca
anasritah karma-phalam
karyam karma karoti yah
sa sannyasi ca yogi ca
na niragnir na cakriyah

“The Supreme Personality of Godhead said: One who is unattached to the fruits of his work and who works as he is obligated is in the renounced order of life, and he is the true mystic, not he who lights no fire and performs no duty.”

Sri Bhagavan bersabda:
Ia yang melakukan kegiatan kerja tanpa mengharapkan hasil dari kegiatan, adalah seorang samnyasin dan juga seorang yogin, bukan mereka yang tidak menyalakan api suci dan melakukan upacara ritual.

6-2

yam sannyasam iti prahur
yogam tam viddhi pandava
na hy asannyasta-sankalpo
yogi bhavati kascana

“What is called renunciation you should know to be the same as yoga, or linking oneself with the Supreme, O son of Pandu, for one can never become a yogi unless he renounces the desire for sense gratification.”

Apa yang mereka sebut penyangkalan, adalah yang mengetahui kegiatan disiplin, wahai Pandawa (Arjuna), karena tak seorangpun dapat menjadi seorang yogin sebelum mereka melepaskan tujuan pamrihnya.

6-3

aruruksor muner yogam
karma karanam ucyate
yogarudhasya tasyaiva
samah karanam ucyate

“For one who is a neophyte in the eightfold yoga system, work is said to be the means; and for one who is already elevated in yoga, cessation of all material activities is said to be the means.”

Kegiatan kerja dikatakan sebagai cara orang bijaksana yang menginginkan mencapai yoga; bila ia telah mencapai yoga, ketenanganlah yang dikatakan sebagai alatnya.

6-4

yada hi nendriyarthesu
na karmasv anusajjate
sarva-sankalpa-sannyasi
yogarudhas tadocyate

“A person is said to be elevated in yoga when, having renounced all material desires, he neither acts for sense gratification nor engages in fruitive activities.”

Bila seseorang tidak lagi terikat pada obyek indra-indra atau kegiatan kerja dan telah melepaskan segala keinginan, maka ia dikatakan telah mencapai yoga.

6-5

uddhared atmanatmanam
natmanam avasadayet
atmaiva hy atmano bandhur
atmaiva ripur atmanah

“One must deliver himself with the help of his mind, and not degrade himself. The mind is the friend of the conditioned soul, and his enemy as well.”

Biarlah seseorang mengangkat dirinya oleh dirinya sendiri, jangan biarkan dia merendahkan dirinya, karena hanya sang Diri lah satu-satunya kawan dan dirinya dan sang Diri pulalah satu-satunya sebagai musuhnya.

6-6

bandhur atmatmanas tasya
yenatmaivatmana jitah
anatmanas tu satrutve
vartetatmaiva satru-vat

“For him who has conquered the mind, the mind is the best of friends; but for one who has failed to do so, his mind will remain the greatest enemy.”

Bagi mereka yang telah menundukkan sang diri (yang lebih rendah) dengan sang Diri (yang lebih tinggi), sang Diri itu akan menjadi teman, tetapi bagi mereka yang belum mampu menaklukkannya, sang Diri ini akan bertindak sebagai seorang musuh dengan rasa permusuhan.

6-7

jitatmanah prashantasya
paramatma samahitah
sitosna-sukha-duhkhesu
tatha manapamanayoh

“For one who has conquered the mind, the Supersoul is already reached, for he has attained tranquillity. To such a man happiness and distress, heat and cold, honor and dishonor are all the same.”

Apabila seseorang telah dapat menaklukkan sang diri (yang lebih rendah) dan telah mencapai ketenangan dalam penguasaan diri, sang Diri Tertinggi senantiasa berada dalam konsentrasi kedamaian dalam panas dan dingin, dalam senang dan susah, dalam pujian dan hinaan.

6-8

jnana-vijnana-trptatma
kuta-stho vijitendriyah
yukta ity ucyate yogi
sama-lostrasma-kancanah

“A person is said to be established in self-realization and is called a yogi [or mystic] when he is fully satisfied by virtue of acquired knowledge and realization. Such a person is situated in transcendence and is self-controlled. He sees everything—whether it be pebbles, stones or gold—as the same.”

Yoga yang jiwanya terpuaskan dengan kebijaksanaan dan pengetahuan, yang tak berubah serta penguasa dari indra-indranya, yang memandang segumpal tanah, sebongkah batu dan sekeping emas sebagai sama, dikatakan sebagai terkendalikan dalam yoga.

6-9

suhrn-mitrary-udasina-
madhyastha-dvesya-bandhusu
sadhusv api ca papesu
sama-buddhir visisyate

“A person is considered still further advanced when he regards honest well-wishers, affectionate benefactors, the neutral, mediators, the envious, friends and enemies, the pious and the sinners all with an equal mind.”

Ia yang berpikiran seimbang di antara kawan, rekan dan musuh, antara mereka yang netral dan menengah, di antara yang dibenci dan kerabat, di antara para orang suci dan para pendosa, adalah yang utama.

6-10

yogi yunjita satatam
atmanam rahasi sthitah
ekaki yata-cittatma
nirasir aparigrahah

“A transcendentalist should always engage his body, mind and self in relationship with the Supreme; he should live alone in a secluded place and should always carefully control his mind. He should be free from desires and feelings of possessiveness.”

Biarlah sang yogi berusaha secara konstan untuk mengkonsentrasikan pikirannya (pada Diri Tertinggi), dengan tetap dalam kesendirian terpencil, dengan diri terkendali, bebas dari keinginan dan kerinduan akan kekayaan.

6-11 & 6-12

sucau dese pratishthapya
sthiram asanam atmanah
naty-ucchritam nati-nicam
cailajina-kusottaram

tatraikagram manah kritva
yata-cittendriya-kriyah
upavisyasane yunjyad
yogam atma-vishuddhaye

“To practice yoga, one should go to a secluded place and should lay kusa grass on the ground and then cover it with a deerskin and a soft cloth. The seat should be neither too high nor too low and should be situated in a sacred place. The yogi should then sit on it very firmly and practice yoga to purify the heart by controlling his mind, senses and activities and fixing the mind on one point.”

Setelah mempersiapkan tempat duduk yang bersih, yang tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah, yang ditutupi dengan hamparan rumput suci, kulit rusa dan sepotong kain di atas yang lainnya. Di sana, dengan menempati tempat duduknya, membuat pikirannya menyatu dan mengendalikan pemikiran serta indra-indranya, biarlah dia melaksanakan yoga guna pemurnian jiwanya.

6-13 & 6-14

samam kaya-siro-grivam
dharayann acalam sthirah
sampreksya nasikagram svam
disas canavalokayan

prashantatma vigata-bhir
brahmacari-vrate sthitah
manah samyamya mac-citto
yukta asita mat-parah

“One should hold one’s body, neck and head erect in a straight line and stare steadily at the tip of the nose. Thus, with an unagitated, subdued mind, devoid of fear, completely free from sex life, one should meditate upon Me within the heart and make Me the ultimate goal of life.”

Dengan menjaga badan, leher dan kepala tetap tegak dan diam, dengan memandang ujung hidungnya tanpa memandang berkeliling (tanpa membiarkan matanya melihat kemana-mana). Tenteram dan tanpa ketakutan, mantap dalam wrata selibat (pembujangan), dengan menundukkan pikiran, biarlah dia duduk dengan menyelaraskan pikirannya yang ditujukan pada-Ku dan hanya tertuju pada-Ku saja.

6-15

yunjann evam sadatmanam
yogi niyata-manasah
shantim nirvana-paramam
mat-samstham adhigacchati

“Thus practicing constant control of the body, mind and activities, the mystic transcendentalist, his mind regulated, attains to the kingdom of God [or the abode of Krishna] by cessation of material existence.”

Yogi yang senantiasa mampu menundukkan pikirannya, dan menjaga dirinya tetap selaras, mencapai kedamaian sebagai nirwana tertinggi, yang berada dalam diri-Ku

6-16

naty-asnatas ’tu yogo ’sti
na caikantam anasnatah
na cati-svapna-silasya
jagrato naiva carjuna

“There is no possibility of one’s becoming a yogi, O Arjuna, if one eats too much or eats too little, sleeps too much or does not sleep enough.”

Sesungguhnya, yoga bukanlah bagi mereka yang makan terlalu banyak atau sama sekali tidak makan. Wahai Arujua, itupun bukan bagi mereka yang terlalu banyak tidur ataupun terlalu banyak terjaga.

6-17

yuktahara-viharasya
yukta-cestasya karmasu
yukta-svapnavabodhasya
yogo bhavati duhkha-ha

“He who is regulated in his habits of eating, sleeping, recreation and work can mitigate all material pains by practicing the yoga system.”

Bagi orang yang teratur dalam makanan dan rekreasi, yang terkendali dalam kegiatan kerjanya, yang tidur dan jaganya teratur, secara pasti yoga (disiplin) ini akan memusnahkan kesedihannya.

6-18

yada viniyatam cittam
atmany evavatisthate
nisprhah sarva-kamebhyo
yukta ity ucyate tada

“When the yogi, by practice of yoga, disciplines his mental activities and becomes situated in transcendence—devoid of all material desires—he is said to be well established in yoga.”

Bila pikiran yang terdisiplinkan itu dimantapkan pada sang Diri saja, serta dibebaskan dari segala keinginan, maka ia dikatakan telah diselaraskan dalam yoga.

6-19

yatha dipo nivata-stho
nengate sopama smrta
yogino yata-cittasya
yunjato yogam atmanah

“As a lamp in a windless place does not waver, so the transcendentalist, whose mind is controlled, remains always steady in his meditation on the transcendent self.”

Bagaikan lampu pada tempat yang tanpa angin yang nyalanya tak tergoyahkan seperti itulah pikiran sang yogi yang tertundukkan dalam melaksanakan penyatuan dengan sang Diri.

6-20, 6-21, 6-22, & 6-23

yatroparamate cittam
niruddham yoga-sevaya
yatra caivatmanatmanam
pasyann atmani tusyati

sukham atyantikam yat tad
buddhi-grahyam atindriyam
vetti yatra na caivayam
sthitas calati tattvatah

yam labdhva caparam labham
manyate nadhikam tatah
yasmin sthito na duhkhena
gurunapi vicalyate

tam vidyad duhkha-samyoga-
viyogam yoga-samjnitam

“In the stage of perfection called trance, or samadhi, one’s mind is completely restrained from material mental activities by practice of yoga. This perfection is characterized by one’s ability to see the self by the pure mind and to relish and rejoice in the self. In that joyous state, one is situated in boundless transcendental happiness, realized through transcendental senses. Established thus, one never departs from the truth, and upon gaining this he thinks there is no greater gain. Being situated in such a position, one is never shaken, even in the midst of greatest difficulty. This indeed is actual freedom from all miseries arising from material contact.”

Bahwa, ketika pemikiran berada dalam ketentraman, terkendalikan oleh pelaksanaan konsentrasi, yang memandang sang Diri melalui sang Diri dan bergembira dalam sang Diri. Bahwa, ia akan menemukan kegembiraan tertinggi, yang dirasakan oleh kecerdasan dan di luar pencapaian indra-indra; di sana ia dimantapkan dan tak lagi terjatuh dari kebenaran. Bahwa, dalam pencapaiannya ia berpikir tak ada perolehan yang lebih besar dari pada itu, yang kemantapannya tak tergoyahkan walaupun oleh kesedihan yang terberat sekalipun. Ketahuilah bahwa itu dinamakan yoga, ketiadaan hubungan penyatuan dengan penderitaan. Yoga ini hendaknya dilaksanakan dengan penuh keyakinan dan keteguhan hati.

6-24

sa niscayena yoktavyo
yogo ’nirvinna-cetasa
sankalpa-prabhavan kamams
tyaktva sarvan asesatah
manasaivendriya-gramam
viniyamya samantatah

“One should engage oneself in the practice of yoga with determination and faith and not be deviated from the path. One should abandon, without exception, all material desires born of mental speculation and thus control all the senses on all sides by the mind.”

Dengan melepaskan segala keinginan tanpa perkecualian, yang berasal dari kehendak akan pamrih, dengan pengendalian segala indra pada segala sisi dengan pikiran.

6-25

sanaih sanair uparamed
buddhya dhrti-grhitaya
atma-samstham manah kritva
na kincid api cintayet

“Gradually, step by step, one should become situated in trance by means of intelligence sustained by full conviction, and thus the mind should be fixed on the self alone and should think of nothing else.”

Biarkanlah dia lambat laun menjadi tenang dengan penalaran yang dikendalikan oleh kemantapan dan setelah mengkonsentrasikan pikiran pada sang Diri, jangan biarkan dia berpikir pada yang lainnya lagi.

6-26

yato yato niscalati
manas cancalam asthiram
tatas tato niyamyaitad
atmany eva vasam nayet

“From wherever the mind wanders due to its flickering and unsteady nature, one must certainly withdraw it and bring it back under the control of the self.”

Apapun yang membuat pikiran tidak mantap dan goyah terombang ambing, biarlah ia tertahan dan dikembalikan lagi dalam pengendalian sang Diri saja.

6-27

prashanta-manasam hy enam
yoginam sukham uttamam
upaiti santa-rajasam
brahma-bhutam akalmasam

“The yogi whose mind is fixed on Me verily attains the highest perfection of transcendental happiness. He is beyond the mode of passion, he realizes his qualitative identity with the Supreme, and thus he is freed from all reactions to past deeds.”

Karena, kebahagiaan tertinggi sampai pada para yogi yang pikirannya penuh kedamaian, yang nafsu-nafsunya telah mengendap, yang tanpa noda dan menjadi satu dengan Brahman.

6-28

yunjann evam sadatmanam
yogi vigata-kalmasah
sukhena brahma-samsparsham
atyantam sukham asnute

“Thus the self-controlled yogi, constantly engaged in yoga practice, becomes free from all material contamination and achieves the highest stage of perfect happiness in transcendental loving service to the Lord.”

Jadi, dengan membuat sang diri senantiasa selaras, sang yogi yang telah terlepas dari dosa dengan mudah mengalami kebahagiaan tak terbatas dari hubungannya dengan Yang Abadi.

6-29

sarva-bhuta-stham atmanam
sarva-bhutani catmani
iksate yoga-yuktatma
sarvatra sama-darshanah

“A true yogi observes Me in all beings and also sees every being in Me. Indeed, the self-realized person sees Me, the same Supreme Lord, everywhere.”

Ia yang sang dirinya diselaraskan oleh yoga melihat sang Diri yang bersemayam dalam semua makhluk dan semua makhluk dalam sang Diri, di mana-mana ia melihat hal yang sama.

6-30

yo mam pasyati sarvatra
sarvam ca mayi pasyati
tasyaham na pranasyami
sa ca me na pranasyati

“For one who sees Me everywhere and sees everything in Me, I am never lost, nor is he ever lost to Me.”

Ia yang melihat Aku dimana-mana dan melihat semua di dalam-Ku; Aku tidak pernah hilang dari mereka ataupun mereka hilang dari-Ku

6-31

sarva-bhuta-sthitam yo mam
bhajaty ekatvam asthitah
sarvatha vartamano ’pi
sa yogi mayi vartate

“Such a yogi, who engages in the worshipful service of the Supersoul, knowing that I and the Supersoul are one, remains always in Me in all circumstances.”

Sang Yogi yang teguh dalam kesatuan, memuja Aku yang bersemayam dalam semua makhluk; bagaimanapun aktifnya dia berada di dalam-Ku.

6-32

atmaupamyena sarvatra
samam pasyati yo ’rjuna
sukham va yadi va duhkham
sa yogi paramo matah

“He is a perfect yogi who, by comparison to his own self, sees the true equality of all beings, in both their happiness and their distress, O Arjuna!”

Ia yang melihat segala sesuatunya dalam gambarannya sendiri, wahai Arjuna, apakah dalam kesenangan ataupun dalam kesengsaraan, ia dianggap sebagai seorang yogi yang sempurna.

6-33

arjuna uvaca
yo ’yam yogas tvaya proktah
samyena madhusudana
etasyaham na pasyami
cancalatvat sthitim sthiram

“Arjuna said: O Madhusudana, the system of yoga which You have summarized appears impractical and unendurable to me, for the mind is restless and unsteady.”

Arjuna bertanya:
Yoga yang Engkau nyatakan ini sebagai sifat dari keseimbangan (ketenangan pikiran), wahai Madhusudana (Krsna), namun aku tidak melihat dasar yang mantap, karena ketidaktenangan pikiran.

6-34

cancalam hi manah krishna
pramathi balavad drdham
tasyaham nigraham manye
vayor iva su-duskaram

“For the mind is restless, turbulent, obstinate and very strong, O Krishna, and to subdue it, I think, is more difficult than controlling the wind.”

Sebab, pikiran itu sungguh-sungguh gampang berubah, wahai Krsna, ia sangat liar, kuat dan keras kepala. Aku pikir pengendaliannya sama sulitnya dengan mengendalikan angin.

6-35

sri-bhagavan uvaca
asamsayam maha-baho
mano durnigraham calam
abhyasena tu kaunteya
vairagyena ca grhyate

“Lord Sri Krishna said: O mighty-armed son of Kunti, it is undoubtedly very difficult to curb the restless mind, but it is possible by suitable practice and by detachment.”

Sri Bhagavan bersabda:
Tanpa keraguan lagi, wahai Mahabahu (Arjuna), pikiran memang sulit untuk dikendalikan dan selalu bergoyang, tetapi ia dapat dikendalikan, wahai putra Kunti (Arjuna), dengan pelaksanaan yang konstan dan ketidakterikatan.

6-36

asamyatatmana yogo
dusprapa iti me matih
vasyatmana tu yatata
sakyo ’vaptum upayatah

“For one whose mind is unbridled, self-realization is difficult work. But he whose mind is controlled and who strives by appropriate means is assured of success. That is My opinion.”

Aku juga setuju bahwa yoga itu sulit untuk dicapai oleh mereka yang tidak mengendalikan dirinya; tetapi pengendalian diri itu dapat dicapai dengan selalu beusaha melalui cara yang benar.

6-37

arjuna uvaca
ayatih shraddhayopeto
yogac calita-manasah
aprapya yoga-samsiddhim
kam gatim krishna gacchati

“Arjuna said: O Krishna, what is the destination of the unsuccessful transcendentalist, who in the beginning takes to the process of self-realization with faith but who later desists due to worldly-mindedness and thus does not attain perfection in mysticism?”

Arjuna bertanya:
Ia yang tak dapat mengendalikan dirinya walaupun memiliki keyakinan dengan pikiran yang mengembara jauh dari yoga yang gagal untuk mencapai kesempurnaan dalam yoga, jalan manakah yang harus dilaluinya, wahai Krsna?

6-38

kaccin nobhaya-vibhrastas
chinnabhram iva nasyati
apratistho maha-baho
vimudho brahmanah pathi

“O mighty-armed Krishna, does not such a man, who is bewildered from the path of transcendence, fall away from both spiritual and material success and perish like a riven cloud, with no position in any sphere?”

Apakah ia tak dapat lenyap seperti tebaran awan-awan, wahai Krsna, yang rontok dari keduanya tanpa pegangan apapun dan kebingunan di jalan menuju Yang Abadi?

6-39

etan me samsayam krishna
chettum arhasy asesatah
tvad-anyah samsayasyasya
chetta na hy upapadyate

“This is my doubt, O Krishna, and I ask You to dispel it completely. But for You, no one is to be found who can destroy this doubt.”

Engkau harus melenyapkan keragu-raguan ini sepenuhnya, wahai Krsna, karena tak seorangpun selain daripada-Mu yang mampu melenyapkan kebingunan ini.

6-40

sri-bhagavan uvaca
partha naiveha namutra
vinasas tasya vidyate
na hi kalyana-krt kascid
durgatim tata gacchati

“The Supreme Personality of Godhead said: Son of Pritha, a transcendentalist engaged in auspicious activities does not meet with destruction either in this world or in the spiritual world; one who does good, My friend, is never overcome by evil.”

Sri Bhagavan bersabda
Wahai Partha (Arjuna), baik dalam kehidupan ini maupun dalam kehidupan nantinya tak ada kebinasaan baginya; karena tak pernah seseorang yang menapak jalan kebajikan, wahai kawan, akan menapak jalan kesusahan

6-41

prapya punya-kritam lokan
usitva sasvatih samah
sucinam srimatam gehe
yoga-bhrasto ’bhijayate

“The unsuccessful yogi, after many, many years of enjoyment on the planets of the pious living entities, is born into a family of righteous people, or into a family of rich aristocracy.”

Setelah mencapai dunia kebajikan dan berdiam di sana selama waktu yang sangat lama, orang yang gagal dalam melaksanakan yoga kembali lahir pada keluarga yang murni dan makmur.

6-42
atha va yoginam eva
kule bhavati dhimatam
etad dhi durlabhataram
loke janma yad idrsam

“Or [if unsuccessful after long practice of yoga] he takes his birth in a family of transcendentalists who are surely great in wisdom. Certainly, such a birth is rare in this world.”

Atau, ia mungkin lahir pada keluarga para yogi yang diberkahi kebijaksanaan. Karena kelahiran semacam itu lebih sukar diperoleh di dunia ini.

6-43

tatra tam buddhi-samyogam
labhate paurva-dehikam
yatate ca tato bhuyah
samsiddhau kuru-nandana

“On taking such a birth, he revives the divine consciousness of his previous life, and he again tries to make further progress in order to achieve complete success, O son of Kuru.”

Di sana ia mendapatkan kembali kesan-kesan mental yang telah dikembangkan dalam kehidupannya terdahulu; dan dengan itu sebagai titik awalnya ia berusaha keras lagi untuk mencapai kesempurnaan, wahai Kurunandana (Arjuna)

6-44

purvabhyasena tenaiva
hriyate hy avaso ’pi sah
jijnasur api yogasya
shabda-brahmativartate

“By virtue of the divine consciousness of his previous life, he automatically becomes attracted to the yogic principles—even without seeking them. Such an inquisitive transcendentalist stands always above the ritualistic principles of the scriptures.”

Dengan pengalaman terdahulu, ia dipaksa untuk meneruskannya. Bahkan para pencari pengetahuan yoga saja akan melampaui aturan kitab Veda

6-45

prayatnad yatamanas tu
yogi samshuddha-kilbisah
aneka-janma-samsiddhas
tato yati param gatim

“And when the yogi engages himself with sincere endeavor in making further progress, being washed of all contaminations, then ultimately, achieving perfection after many, many births of practice, he attains the supreme goal.”

Tetapi, para yogi yang berusaha dengan sekuat tenaga, dengan membersihkan segala dosa, menyempurnakan dirinya melalui banyak kehidupan, kemudian mencapai tujuan tertinggi.

6-46

tapasvibhyo ’dhiko yogi
jnanibhyo ’pi mato ’dhikah
karmibhyas cadhiko yogi
tasmad yogi bhavarjuna

“A yogi is greater than the ascetic, greater than the empiricist and greater than the fruitive worker. Therefore, O Arjuna, in all circumstances, be a yogi.”

Para yogin lebih mulia dari pada para pertapa; ia dianggap lebih mulia dari pada orang berpengetahuan, lebih mulia dari pada orang yang melaksanakan upacara ritual, sehingga untuk itu, jadilah seoran yogi, wahai Arjuna.

6-47

yoginam api sarvesam
mad-gatenantar-atmana
shraddhavan bhajate yo mam
sa me yuktatamo matah

“And of all yogis, the one with great faith who always abides in Me, thinks of Me within himself, and renders transcendental loving service to Me—he is the most intimately united with Me in yoga and is the highest of all. That is My opinion.”

Dan dari semua yogin, ia yang penuh keyakinan memuja Aku, dengan sang diri batin yang bersemayam dalam diri-Ku, dia ku anggap sebagai yang paling sesuai bagi-Ku dalam Yoga.

Di sini berakhir bab VI, percakapan yang berjudul DHYANA YOGA

[Kembali]


Bhagavad Gita – Bab VII

Saptamo’dhyayah
Bab VII

Jnana Vijnana Yoga

7-1

sri-bhagavan uvaca
mayy asakta-manah partha
yogam yunjan mad-asrayah
asamsayam samagram mam
yatha jnasyasi tac chrnu

“The Supreme Personality of Godhead said: Now hear, O son of Pritha, how by practicing yoga in full consciousness of Me, with mind attached to Me, you can know Me in full, free from doubt.”

Sri Bhagavan bersabda:
Kini dengarkanlah, wahai Partha, bagaimana cara melaksanakan yoga dengan pikiran yang selalu tertuju pada-Ku, dengan Aku sebagai tempatmu berlindung dan tanpa diragukan lagi engkau akan mengetahui Aku sepenuhnya.

7-2

jnanam te ’ham sa-vijnanam
idam vaksyamy asesatah
yaj jnatva neha bhuyo ’nyaj
jnatavyam avasisyate

“I shall now declare unto you in full this knowledge, both phenomenal and numinous. This being known, nothing further shall remain for you to know.”

Aku akan menjelaskan kepadamu selengkapnya kebijaksanaan ini bersama-sama dengan pengetahuan dan dengan mengetahuinya tak ada lagi yang tersisa untuk diketahui

7-3

manushyanam sahasresu
kascid yatati siddhaye
yatatam api siddhanam
kascin mam vetti tattvatah

“Out of many thousands among men, one may endeavor for perfection, and of those who have achieved perfection, hardly one knows Me in truth.”

Di antara beribu-ribu orang hampir tak seorangpun yang berusaha mencapai kesempurnaan dan di antara mereka yang berjuang dan berhasil, hampir tak seorangpun yang mengetahui Aku dalam kebenaran.

7-4

bhumir apo ’nalo vayuh
kham mano buddhir eva ca
ahankara itiyam me
bhinna prakritir astadha

“Earth, water, fire, air, ether, mind, intelligence and false ego—all together these eight constitute My separated material energies.”

Tanah, air, api, udara, akasa, pikiran, akal dan rasa keakuan – ini merupakan 8 macam pembagian unsur alam-Ku

7-5

apareyam itas tv anyam
prakritim viddhi me param
jiva-bhutam maha-baho
yayedam dharyate jagat

“Besides these, O mighty-armed Arjuna, there is another, superior energy of Mine, which comprises the living entities who are exploiting the resources of this material, inferior nature.”

Ini adalah unsur alam-Ku yang lebih rendah. Ketahuilah unsur alam-Ku yqang lebih tinggi lainnya, yang merupakan sang roh, yang menyanggal alam dunia ini, wahai Mahabahu (Arjuna)

7-6

etad-yonini bhutani
sarvanity upadharaya
aham krtsnasya jagatah
prabhavah pralayas tatha

“All created beings have their source in these two natures. Of all that is material and all that is spiritual in this world, know for certain that I am both the origin and the dissolution.”

Ketahuilah bahwa semua mahluk mempunyai asal kelahiran di sini. Aku adalah asal mula dari seluruh alam semesta ini, demikian pula penyerapannya kembali.

7-7

mattah parataram nanyat
kincid asti dhananjaya
mayi sarvam idam protam
sutre mani-gana iva

“O conqueror of wealth, there is no truth superior to Me. Everything rests upon Me, as pearls are strung on a thread.”

Tak ada sesuatupun yang lebih tinggi dari pada-Ku, wahai Dhanamjaya (Arjuna). Semua yang ada di sini terikat dengan-Ku bagaikan untaian permata pada seutas tali (benang).

7-8

raso ’ham apsu kaunteya
prabhasmi sasi-suryayoh
pranavah sarva-vedesu
shabdah khe paurusam nrsu

“O son of Kunti, I am the taste of water, the light of the sun and the moon, the syllable om in the Vedic mantras; I am the sound in ether and ability in man.”

Aku adalah rasa dalam air, wahai putra Kunti (Arjuna). Aku adalah sinar pada bulan dan matahari. Aku adalah pranawa, atau suku kata suci AUM dalam semua kitab Veda; Aku adalah suara pada ruang (akasa) dan kemanusiaan pada manusia.

7-9

punyo gandhah prithivyam ca
tejas casmi vibhavasau
jivanam sarva-bhutesu
tapas casmi tapasvisu

“I am the original fragrance of the earth, and I am the heat in fire. I am the life of all that lives, and I am the penances of all ascetics.”

Aku adalah keharuman murni pada tanah dan kecemerlangan dalam api. Aku adalah nyawa dalam seluruh eksistensi ini dan ostiriti (kesederhanaan) pada para pertapa

7-10

bijam mam sarva-bhutanam
viddhi partha sanatanam
buddhir buddhimatam asmi
tejas tejasvinam aham

“O son of Pritha, know that I am the original seed of all existences, the intelligence of the intelligent, and the prowess of all powerful men.”

Ketahuilah, wahai Partha (Arjuna), bahwa Aku adalah benih abadi dari seluruh keberadaan ini. Aku adalah kecerdasan dari orang-orang cerdas. Aku adalah kesemarakan dari yang semarak.

7-11

balam balavatam caham
kama-raga-vivarjitam
dharmaviruddho bhutesu
kamo ’smi bharatarsabha

“I am the strength of the strong, devoid of passion and desire. I am sex life which is not contrary to religious principles, O lord of the Bharatas [Arjuna].”

Aku adalah kekuatan dari yang kuat, yang bebas dari keinginan dan nafsu. Pada mahluk-mahluk Aku adalah keinginan yang tidak bertentangan dengan hukum (dharma), wahai Bharatarsabha (Arjuna)

7-12

ye caiva sattvika bhava
rajasas tamasas ca ye
matta eveti tan viddhi
na tv aham tesu te mayi

“Know that all states of being—be they of goodness, passion or ignorance—are manifested by My energy. I am, in one sense, everything, but I am independent. I am not under the modes of material nature, for they, on the contrary, are within Me.”

Dan bagaimanapun keadaan mahluk-mahluk itu, apakah mereka itu selaras (sattvika), penuh nafsu (rajasa), ataupun malas (tamasa), ketahuilah bahwa semuanya itu berasal dari Aku. Aku tak ada di sana, tetapi mereka ada pada-Ku

7-13

tribhir guna-mayair bhavair
ebhih sarvam idam jagat
mohitam nabhijanati
mam ebhyah param avyayam

“Deluded by the three modes [goodness, passion and ignorance], the whole world does not know Me, who am above the modes and inexhaustible.”

Dikelabui oleh ketiga macam sifat alam (guna) ini, seluruh dunia tidak mengenal Aku, yang mengatasi mereka dan kekal abadi.

7-14

daivi hy esa guna-mayi
mama maya duratyaya
mam eva ye prapadyante
mayam etam taranti te

“This divine energy of Mine, consisting of the three modes of material nature, is difficult to overcome. But those who have surrendered unto Me can easily cross beyond it.”

Maya ilahi-Ku ini, yang mengandung ketiga sifat alam itu sulit untuk diatasi. Tetapi, mereka yang berlindung pada-Ku sajalah yang mampu untuk mengatasinya.

7-15

na mam duskritino mudhah
prapadyante naradhamah
mayayapahrta-jnana
asuram bhavam asritah

“Those miscreants who are grossly foolish, who are lowest among mankind, whose knowledge is stolen by illusion, and who partake of the atheistic nature of demons do not surrender unto Me.”

Para pelaku jahat yang dungu, yang berderajat rendah, yang pikirannya terselimuti ilusi dan yang memiliki sifat para asura, tidak berlindung pada-Ku

7-16

catur-vidha bhajante mam
janah sukritino ’rjuna
arto jijnasur artharthi
jnani ca bharatarsabha

“O best among the Bharatas, four kinds of pious men begin to render devotional service unto Me—the distressed, the desirer of wealth, the inquisitive, and he who is searching for knowledge of the Absolute.”

Orang-orang bajik yang memuja-Ku ada empat jenis, yaitu mereka yang sengsara, yang mencari pengetahuan, yang mencari kekayaan dan orang bijaksana, wahai Bharatarsabha (Arjuna)

7-17

tesam jnani nitya-yukta
eka-bhaktir visisyate
priyo hi jnanino ’tyartham
aham sa ca mama priyah

“Of these, the one who is in full knowledge and who is always engaged in pure devotional service is the best. For I am very dear to him, and he is dear to Me.”

Dari keempatnya ini, yang bijaksana, yang senantiasa berada dalam penyatuan terus-menerus dengan Yang Ilahi, yang pengabdiannya manunggal, adalah yang terbaik. Karena Aku sangat mengasihinya dan ia mengasihi Aku

7-18

udarah sarva evaite
jnani tv atmaiva me matam
asthitah sa hi yuktatma
mam evanuttamam gatim

“All these devotees are undoubtedly magnanimous souls, but he who is situated in knowledge of Me I consider to be just like My own self. Being engaged in My transcendental service, he is sure to attain Me, the highest and most perfect goal.”

Semuanya ini sungguh mulia, tetapi Aku memandang mereka yang bijaksana sungguh-sungguh adalah Diri-Ku sendiri; karena selama terselaraskan secara sempurna, ia berlindung hanya kepada-Ku sebagai tujuan tertingginya.

7-19

bahunam janmanam ante
jnanavan mam prapadyate
vasudevah sarvam iti
sa mahatma su-durlabhah

“After many births and deaths, he who is actually in knowledge surrenders unto Me, knowing Me to be the cause of all causes and all that is. Such a great soul is very rare.”

Pada akhir dari banyak kehidupan, orang bijaksana berlindung pada-Ku yang mengetahui bahwa semuanya ini adalah Wasudewa (Tuhan) saja adanya. Roh agung semacam itu sulit menemukannya.

7-20

kamais tais tair hrta-jnanah
prapadyante ’nya-devatah
tam tam niyamam asthaya
prakritya niyatah svaya

“Those whose intelligence has been stolen by material desires surrender unto demigods and follow the particular rules and regulations of worship according to their own natures.”

Tetapi, mereka yang pikirannya tercemari oleh keinginan, berlindung pada para dewa lainnya dengan melakukan berbagai upacara ritual yang didorong oleh sifat-sifat mereka sendiri.

7-21

yo yo yam yam tanum bhaktah
shraddhayarcitum icchati
tasya tasyacalam shraddham
tam eva vidadhamy aham

“I am in everyone’s heart as the Supersoul. As soon as one desires to worship some demigod, I make his faith steady so that he can devote himself to that particular deity.”

Apapun bentuk pemujaan yang dikehendaki para bhakta dengan keyakinannya, Aku buat keyakinannya itu mantap.

7-22

sa taya shraddhaya yuktas
tasyaradhanam ihate
labhate ca tatah kaman
mayaiva vihitan hi tan

“Endowed with such a faith, he endeavors to worship a particular demigod and obtains his desires. But in actuality these benefits are bestowed by Me alone.”

Dibekali dengan keyakinan itu, ia mencari kedamaian dari keyakinan tersebut dan dari sana ia memperoleh keinginannya, manfaat yang hanya diputuskan oleh-Ku saja

7-23

antavat tu phalam tesam
tad bhavaty alpa-medhasam
devan deva-yajo yanti
mad-bhakta yanti mam api

“Men of small intelligence worship the demigods, and their fruits are limited and temporary. Those who worship the demigods go to the planets of the demigods, but My devotees ultimately reach My supreme planet.”

Tetapi, hasil yang diperoleh oleh orang yang berpikiran picik ini bersifat sementara saja. Para pemuja dewa pergi menuju para dewa, tetapi para bhakta-Ku akan sampai ke tempat-Ku

7-24

avyaktam vyaktim apannam
manyante mam abuddhayah
param bhavam ajananto
mamavyayam anuttamam

“Unintelligent men, who do not know Me perfectly, think that I, the Supreme Personality of Godhead, Krishna, was impersonal before and have now assumed this personality. Due to their small knowledge, they do not know My higher nature, which is imperishable and supreme.”

Orang yang tanpa pemahaman berpikir tentang Aku yang tak berwujud sebagai memiliki wujud, tidak mengetahui sifat-Ku yang lebih tinggi, tak berubah dan Tertinggi.

7-25

naham prakasah sarvasya
yoga-maya-samavrtah
mudho ’yam nabhijanati
loko mam ajam avyayam

“I am never manifest to the foolish and unintelligent. For them I am covered by My internal potency, and therefore they do not know that I am unborn and infallible.”

Diselubungi oleh daya kreatif (yogamaya)-Ku, Aku tak terlihat oleh semuanya. Dunia yang terbingungkan ini tidak mengetahui Aku yang tak terlahirkan, yang tak berubah.

7-26

vedaham samatitani
vartamanani carjuna
bhavisyani ca bhutani
mam tu veda na kascana

“O Arjuna, as the Supreme Personality of Godhead, I know everything that has happened in the past, all that is happening in the present, and all things that are yet to come. I also know all living entities; but Me no one knows.”

Aku mengetahui mahluk-mahluk yang ada di masa lalu, yang ada sekarang, maupun yang akan muncul nantinya, wahai Arjuna, tetapi tak seorangpun dari mereka yang mengenal Aku

7-27

iccha-dvesa-samutthena
dvandva-mohena bharata
sarva-bhutani sammoham
sarge yanti parantapa

“O scion of Bharata, O conqueror of the foe, all living entities are born into delusion, bewildered by dualities arisen from desire and hate.”

Semua mahluk lahir menuju khayalan, wahai Bharata (Arjuna), diatasi oleh dualitas pertentangan yang berasal dari nafsu kerakusan dan kebencian, wahai Paramtapa (Arjuna)

7-28

yesham tv anta-gatam papam
jananam punya-karmanam
te dvandva-moha-nirmukta
bhajante mam drdha-vratah

“Persons who have acted piously in previous lives and in this life and whose sinful actions are completely eradicated are freed from the dualities of delusion, and they engage themselves in My service with determination.”

Tetapi mereka yang berbuat bajik, yang dosa-dosanya telah berakhir, bebas dari khayalan dualitas, memuja Aku dengan mantap dalam sumpah-sumpahnya

7-29

jara-marana-mokshaya
mam asritya yatanti ye
te brahma tad viduh krtsnam
adhyatmam karma cakhilam

“Intelligent persons who are endeavoring for liberation from old age and death take refuge in Me in devotional service. They are actually Brahman because they entirely know everything about transcendental activities.”

Mereka yang berlindung pada-Ku dan berusaha untuk terlepas dari usia tua dan kematian, mereka mengetahui Brahman Yang Mutlak seluruhnya mereka mengetahui sang Diri dan segala hal tentang kegiatan kerja (karma).

7-30

sadhibhutadhidaivam mam
sadhiyajnam ca ye viduh
prayana-kale ’pi ca mam
te vidur yukta-cetasah

“Those in full consciousness of Me, who know Me, the Supreme Lord, to be the governing principle of the material manifestation, of the demigods, and of all methods of sacrifice, can understand and know Me, the Supreme Personality of Godhead, even at the time of death.”

Mereka yang mengetahui Aku sebagai Yang Tunggal, yang mengatur aspek material dan ilahi serta segala upacara kurban, dengan pikiran yang diselaraskan, mereka mendapat pengetahuan tentang Aku, meskipun di saat keberangkatan mereka (dari dunia ini).

Di sini berakhir bab VII, percakapan yang berjudul JNANA VIJNANA YOGA

[Kembali]


Sumber: Pustaka Hindu


Mahabharata 1


Kisah-kisah pada tradisi India digolongkan menjadi:

  • Kavya (isinya bisa jadi tidak benar namun dituliskan dengan cara yang sungguh Indah),
  • Purana (Cerita-cerita yang tidak sungguh-sungguh terjadi namun memiliki nilai pendidikan, tujuannya agar orang mengerti bahwa dengan berbuat baik akan mendapat pahala baik). Purana adalah naskah yang hadir paling belakang. Ada 18 Purana utama yang disebut Mahapurana dan 18 Purana kecil yang disebut Upapurana. Kebanyakan pemeluk Hindu mendapatkan pengetahuan dari Purana, yang merepresentasikan bentuk populer dari Hinduisme.
  • Itikatha merupakan kejadian-kejadian yang disusun secara kronologis ataupun kejadian-kejadian yang berbeda-beda dan
  • Itihasa berasal dari kata ‘hasati’ = tertawa, merupakan bagian Itikata yang mempunyai nilai pendidikkan, yaitu MahaBharata ((Razmnama versi Persia)) dan Ramayana

Itihasa dan Purana digolongkan kedalam Smerti, sedangkan 4 Veda lainnya [Rig Veda, Yajur Veda, Sama Veda dan Atharva Veda] digolongkan sebagai Sruti. Itihasa [Mahabharata dan Ramayana] dan Purana disebut juga Veda yang ke-5:

    Dia pergi ke wilayah terakhir. sloka-sloka Rig, Sāma, Yajur dan ketaatan mengikutinya…Dia pergi ke daerah besar. Itihāsa, Purāna, Gāthā dan Nārāsansi mengikutinya [AtharvaVeda 15.6.3-4]

    O Maitreya, Rg, Yajur, Sama dan AtharvaVeda sama seperti para Itihasa dan Purana semua merupakan manifestasi dari nafas Tuhan” [Madhyandina-sruti, Brhad-aranyaka Upanisad 2.4.10]

    Sebagaimana Rg, Yajur, Sama dan Atharva adalah nama 4 Veda. Para Itihasa dan purana adalah VEDA YANG KE-5” [Kauthumiya Chandogya Upanisad 7.1.4]

    vedān adhyāpayām āsa mahābhārata pañcamān” (veda-veda disampaikan mahabharata ke-5) [Mahabharata 1.57 dan 12.327]

Veda, Itihasa dan Purana diyakini disusun Byasa/Vyasa, dari keluarga Nelayan yang hidup di suatu tempat antara pertemuan sungai Ganga dan Yamuna dekat Prayaga. Karena warna tanah tempat Vyasa lahir adalah kehitam-hitaman (Sanskrit = Krsna/Pali = Kanha], maka beliau juga disebut Krsna Dwipa. Anak yang lahir ditempat itu disebut Krsna Dwipayana [Pali: Kanha Dipayana]. Purana menjelaskan bahwa Vyasa adalah semacam gelar DAN BUKAN hanya 1 (satu) orang saja:

    Oh para Bramana, Megetahui bahwa Purana secara perlahan akan dilupakan, disetiap Yuga, Aku akan hadir dalam bentuk Vyasa dan menyusunnya” [Matsya Purana 53.8-9]

    Dalam setiap zaman ketiga (Dwapara), Vishnu, dalam diri Wyasa, untuk menjaga kualitas umat manusia, membagi Veda, yang seharusnya satu, menjadi beberapa bagian. Mengamati terbatasnya ketekunan, energi, dan dengan wujud yang tak kekal, Ia membuat Veda empat bagian, sesuai kapasitasnya; dan raga yang dipakainya, dalam menjalankan tugas untuk mengklasifikasi, dikenal dengan nama VedaVyasa. Di Manuantara saat ini, 28 kali Veda akan di susun oleh Resi-resi besar di Vaivasvata Manuantara..dan akan ada 28 Vyasa yang berlalu; Olehnya di periode tertentu Veda akan dibagi menjadi empat. Yang pertama…Pembagian dilakukan oleh Svayambu [Brahma] sendiri, kedua, penyusun Veda adalah Prajapati (dan seterusnya hingga 28) [Visnu Purana 3.3]

Jadi, arti Vyasa adalah Pembagi/Pembelah/Penyusun BUKAN Pengarang. Pada Literatur Buddhis, Jataka/Kehidupan lampau sang Buddha, setidaknya ada 2 (dua) Kanha-Dipayana/Krisna-Dwipayana berbeda:

  • Jataka no.444, Kanha-Dipayana Jataka, sang Buddha sebagai Pertapa Kanha-Dipayana dan Sariputta sebagai adiknya, yaitu Pertapa Ani-Mandaviya
  • Jataka no.454, Gatha Jataka, tentang kisah tentang 10 saudara, yang tertua bernama Vasudeva [kesava; Kanha = krisna = hitam] dan adik-adinya: Baladeva, Ajjuna, GathaPandita dan 6 lainnya. Sang Buddha saat itu sebagai Gathapandita dan Sariputra sebagai Vasudeva, Raja kerajaan Drawaka yang wafat terkena panah pemburu bernama Jara. Pertapa Kanha-Dipayana yang muncul di jataka ini, bukan kelahiran sebelumnya sang Buddha.

Mahabharata adalah produk yang dibuat secara bertahap, sekurangnya, Mahabharata Buku ke-1/Adi Parva sendiri mengakui adanya tahapan itu, yaitu awalnya 8800 sloka, kemudian menjadi 24.000 sloka hingga menjadi 100.000 sloka. [“The Sanskrit Epic”, J.L Brookington, Introduction, hal.21]. Para ahli sejarah [India dan barat], dari uji analisis menemukan ada perbedaan gaya, bahasa dan tingkat kepelikan di Mahabharata dan menyimpulkan bahwa penyusunan dilakukan pada masa yang berbeda-beda dan oleh tangan-tangan yang bebeda. Misalnya, Adiparwa bab 1 menunjukan banyak episode yang telah ditambahkan. Mahabharata saat ini adalah edisi ke-3 dan telah memperluas inti dari sejarah tersebut. [C. Jinarajadasa, R.G Bhandarkar, L.Von Schroeder]. Menurut Herman Jacobi, bentuk asli Mahabharata berasal dari sebelum abad ke-6 SM, berkembang dalam 4 tahap sampai masuknya materi didaktik ke bentuk sekarang tidak lebih lambat dari abad ke-2/3 SM. Menurut E Washburn Hopkins, tahun 400 SM, kisah-kisah Bharata dan Pandawa tidak diketahui, kemudian di abad 4-2 SM masuk kisah Krisna dan Pandawa, di abad 3 SM – tahun 100 M, terdapat tambahan episode baru dan interpolasi materi didaktik, penyusunan dilakukan setelah invasi Alexander, Mahabharata menjadi buku keyakinan tentang ketuhanan Krisna di abad ke 1 SM, epik ini hampir lengkap di tahun 200 M. Tidak ada bukti tahun bahwa keseluruhan epik ada di abad ke-2 SM. [The Age of Bharata War, Giriwar Charan Agarwala, 1997, hal 95]

Latar belakang MahaBharata

MahaBharata merupakan kisah kilas balik yang dituturkan oleh Resi Wesampayana untuk Maharaja Janamejaya yang gagal mengadakan upacara korban ular. Sesuai dengan permohonan Janamejaya, kisah tersebut merupakan kisah raja-raja besar yang berada di garis keturunan Maharaja Yayati, Bharata, dan Kuru, yang tak lain merupakan kakek moyang Maharaja Janamejaya. MahaBharata merupakan kisah besar keturunan Bharata.

Kisah Sang Bharata diawali dengan pertemuan Raja Duswanta dengan Sakuntala. Raja Duswanta adalah seorang raja besar dari Chandrawangsa keturunan Yayati, menikahi Sakuntala dari pertapaan Bagawan Kanwa, kemudian menurunkan Sang Bharata, raja legendaris. Sang Bharata lalu menaklukkan daratan India Kuno. Setelah ditaklukkan, wilayah kekuasaanya disebut Bharatawarsha yang berarti wilayah kekuasaan Maharaja Bharata (konon meliputi Asia Selatan). Sang Bharata menurunkan Sang Hasti, yang kemudian mendirikan sebuah pusat pemerintahan bernama Hastinapura. Sang Hasti menurunkan Para Raja Hastinapura. Dari keluarga tersebut, lahirlah Sang Kuru, yang menguasai dan menyucikan sebuah daerah luas yang disebut Kurukshetra (terletak di negara bagian Haryana, India Utara).

Sang Kuru menurunkan raja-raja Hastinapura, yaitu Pratipa, kemudian Santanu, hasil perkawinan Sentanu-Ganga lahir Bhisma, dari perkawinan Sentanu-Setyawati, lahir Chitrāngada dan Wicitrawirya, karena Bisma bersumpah tidak mau naik tahta. Maka anak Setyawati naik tahta. Wicitrawirya menurunkan Dretarastra, Pandu dan Vidura. Pandu menurunkan Pandawa sedangkan Dretarastra menurunkan Korawa, Setelah perang besar, Yudishtira digantikan cucu Arjuna dari Abimayu, yaitu Parikesit (Parikshita), setelah wafatnya Parikesit karena digigit ular Taksaka, Ia digantikan anaknya, Janamejaya.

Kerabat Wangsa Kaurawa (Dinasti Kuru) adalah Wangsa Yadawa, karena kedua Wangsa tersebut berasal dari leluhur yang sama, yakni Maharaja Yayati, seorang kesatria dari Wangsa Chandra atau Dinasti Soma, keturunan Sang Pururawa. Dalam silsilah Wangsa Yadawa, lahirlah Prabu Basudewa, Raja di Kerajaan Surasena, yang kemudian berputera Sang Kresna, yang mendirikan Kerajaan Dwaraka. Sang Kresna dari Wangsa Yadawa bersaudara sepupu dengan Pandawa dan Korawa dari Wangsa Kaurawa.

Pandawa dan Kurawa adalah bangsa Jat (satu dari beberapa bangsa asli India), Persatuan ini mulai digagas dengan perkawinan-perkawinan misalnya Bima menikahi Hidimba, gadis Mongol dari India Timur; Krsna menikahi Rukmini, gadis dari perbatasan timur-laut; Arjuna menikahi Citramgada, gadis Mongol dari negeri Manipura

Sistem kekerabatan yang digunakan di jaman MahaBharata adalah Matrilinier dan Patriliier. Dalam setiap kelompok terdapat seorang wanita yang disebut ‘Goshi Mata’ orang-orang memperkenalkan diri dengan menyebut nama wanita itu. System ini digunakan di daerah India Selatan dan Barat (bengala, Assam dan Kerala) contoh: pandawa lima mengenal diri mereka sebagai Kuntiya, anak-anak kunti.

Beberapa kelompok yang tinggal di bukit tertentu (gotra=penduduk di suatu bukit tertentu), orang memperkenalkan diri dengan menyebut pemimpin gotranya. Sistem ini digunakan di sekitar Delhi dan India barat laut, contoh pemimpinnya Kasyapa maka disebut Kasyapa Gotra.

Sistem Perkawinan adalah Poliandri, Poligami, Momogami. Poliandri ada pada bangsa Mongol di India Utara (sekarangpun di tibet dan Laddakh) Misalnya Drupadi menikahi Pandawa Lima secara sekaligus. Kunti mempunyai 4 Anak (Karna, Yudistira, Bima dan Arjuna) dari 4 Suami. System ini disebut Niyoga Putra dan tidak dipandang buruk pada jaman itu. Mahabarata di Pewayangan Jawa, yang terkena pengaruh Islam Drupadi dinyatakan bersuami satu. Padahal di MahaBharata versi India. Masing-masing suami memberikan satu anak kepada Drupadi.

Secara singkat, MahaBharata merupakan kisah mempersatukan bangsa-bangsa india yang terdiri dari banyak kerajaan kecil saat itu menjadi Bharatavarsa yang berpusat di sekitar konflik Pandawa lima dengan Korawa (sepupu mereka, seratus orang-an, jumlahnya 102 orang[]) mengenai sengketa hak pemerintahan tanah negara Astina. Puncaknya adalah perang Bharatayuddha di medan Kurusetra dan pertempuran berlangsung selama delapan belas hari.

Di India ditemukan dua versi utama MahaBharata dalam bahasa Sansekerta yang agak berbeda satu sama lain. Kedua versi ini disebut dengan istilah “Versi Utara” dan “Versi Selatan”. Biasanya versi utara dianggap lebih dekat dengan versi yang tertua.

Antara tahun 1919 dan 1966, para pakar di Bhandarkar Oriental Research Institute, Pune, membandingkan banyak naskah dari wiracarita ini yang asalnya dari India dan luar India untuk menerbitkan suntingan teks kritis dari MahaBharata. Suntingan teks ini terdiri dari 13.000 halaman yang dibagi menjadi 19 jilid. Lalu suntingan ini diikuti dengan Harivasa dalam 2 jilid dan 6 jilid indeks. Suntingan teks inilah yang biasa dirujuk untuk telaah mengenai MahaBharata.

Pengaruh dalam budaya

Selain berisi cerita kepahlawanan, MahaBharata juga mengandung nilai-nilai Hindu, mitologi dan berbagai petunjuk lainnya. Oleh sebab itu kisah MahaBharata ini dianggap suci, teristimewa oleh pemeluk agama Hindu. Kisah yang semula ditulis dalam bahasa Sansekerta ini kemudian disalin dalam berbagai bahasa, terutama mengikuti perkembangan peradaban Hindu pada masa lampau di Asia, termasuk di Asia Tenggara.

Di Indonesia, salinan berbagai bagian dari MahaBharata, seperti Adiparwa, Wirataparwa, Bhismaparwa dan mungkin juga beberapa parwa yang lain, diketahui telah digubah dalam bentuk prosa bahasa Kawi (Jawa Kuno) semenjak akhir abad ke-10 Masehi. Yakni pada masa pemerintahan raja Dharmawangsa Teguh (991-1016 M) dari Kadiri. Karena sifatnya itu, bentuk prosa ini dikenal juga sebagai sastra parwa.

Yang terlebih populer dalam masa-masa kemudian adalah penggubahan cerita itu dalam bentuk kakawin, yakni puisi lawas dengan metrum India berbahasa Jawa Kuno. Salah satu yang terkenal ialah kakawin Arjunawiwaha (Arjunawiwāha, perkawinan Arjuna) gubahan mpu Kanwa. Karya yang diduga ditulis antara 1028-1035 M ini (Zoetmulder, 1984) dipersembahkan untuk raja Airlangga dari kerajaan Medang Kamulan, menantu raja Dharmawangsa.

Karya sastra lain yang juga terkenal adalah kakawin Bharatayuddha, yang digubah oleh mpu Sedah dan belakangan diselesaikan oleh mpu Panuluh (Panaluh). Kakawin ini dipersembahkan bagi Prabu Jayabhaya (1135-1157 M), ditulis pada sekitar akhir masa pemerintahan raja Daha (Kediri) tersebut. Di luar itu, mpu Panuluh juga menulis kakawin Hariwangśa di masa Jayabaya, dan diperkirakan pula menggubah Gaţotkacāśraya di masa raja Kertajaya (1194-1222 M) dari Kediri. Di dalam masa yang lebih belakangan, kitab Bharatayuddha telah disalin pula oleh pujangga kraton Surakarta Yasadipura ke dalam bahasa Jawa modern pada sekitar abad ke-18.

Beberapa kakawin lain turunan MahaBharata yang juga penting untuk disebut, di antaranya adalah Kŗşņāyana (karya mpu Triguna) dan Bhomāntaka (pengarang tak dikenal, abad ke-12) keduanya dari jaman kerajaan Kediri, dan Pārthayajña (mpu Tanakung) di akhir jaman Majapahit. Salinan naskah-naskah kuno yang tertulis dalam lembar-lembar daun lontar tersebut juga diketahui tersimpan di Bali.

Kitab Adiparwa yang diterjemahkan dari Bahasa Sansekerta ke Bahasa Jawa Kuno atau Bahasa Kawi, banyak digubah menjadi cerita pewayangan. Dalam kitab Adiparwa yang diterjemahkan dari Bahasa Sansekerta mungkin terdapat perbedaan dengan lakon pewayangannya, yang kadang-kadang besar sekali, sehingga memberi kesan bahwa segala sesuatunya terjadi di Jawa. Hal ini disebabkan oleh kecerdasan para pujangga masa lampau yang mampu memindah alam pikiran para pembaca atau pendengarnya dari suasana India menjadi Jawa Asli. Jika Hastinapura sebenarnya terdapat di India, maka nama-nama seperti Jonggringsalaka, Pringgandani, Indrakila, Gua Kiskenda, sampai Gunung Mahameru dibawa ke tanah Jawa.

Begitu pula dengan tokoh Pancawala (Pancakumara). Jika dalam versi aslinya mereka terdiri dari lima orang, maka dalam pewayangan mereka dikatakan hanya satu orang saja. Menurut Mulyono dalam artikelnya berjudul “Dewi Dropadi: Antara kitab MahaBharata dan Pewayangan Jawa”, menyatakan bahwa terjadinya perbedaan cerita tentang Pancawala antara kitab MahaBharata dengan cerita dalam pewayangan Jawa karena pengaruh perkembangan agama Islam di tanah Jawa. Hal serupa juga terjadi pada kisah Dewi Dropadi dalam kitab Adiparwa. Jika dalam Adiparwa ia bersuami lima orang, maka dalam pewayangan Jawa Dropadi hanya bersuami satu orang saja. Menurut hukum Islam, seorang wanita tidak boleh memiliki suami lebih dari satu. Maka dari itu, cerita Dewi Dropadi dalam kitab MahaBharata versi asli yang bercorak Hindu menyalahi hukum Islam. Untuk mengantisipasinya, para pujangga ataupun seniman Islam mengubah cerita tersebut agar sesuai dengan ajaran Islam. Pancawala yang sebenarnya merupakan lima putera Pandawa pun diubah menjadi seorang tokoh yang merupakan putera Yudistira saja.

Kapan Jaman MahaBharata?

  • Prof. I.N. Iyengar yakin perang tersebut terjadi tahun 1478 SM
  • Dr. S. Balakrishna yakin perang tersebut terjadi tahun 2559 SM. [Atau di sini]. Juga disampaikannya bahwa Aryabhatta menyatakan Kaliyuga di mulai pada 3102 SM [Aryabhateeya by Brahmagupta, S.Shukla,New Delhi, INSA 1976]. Kitab Surya Siddhanta [Translation of an Ancient Indian Astronomical Text. Translation by Bapudeva, Varanasi, 1860] menyatakan matahari 54 derajat dari vernal equinox di Ujjain (75deg 47minE, 23deg 15min N) untuk Kaliyuga (yang dalam kalendar Julian: 17/18 February 3102 SM). Varaha Mihira menyatakan 2526 tahun sebelum tahun saka (entah: Shalivahana saka/79 M atau Vikrama Saka/57 SM) [Brihat Samhita]
  • Dr. B.N. Achar yakin perang tersebut terjadi di 22 Nov – 12 Des 3067 SM [Atau di sini].
  • Dr. P.V. Holay yakin perang tersebut terjadi mulai 13 Nov 3143 SM [Atau di sini]
  • Dr. P.V.Vartak yakin perang tersebut terjadi mulai 6 Okt – 2 Nov 5561 SM [Atau di sini]
  • Pembuktian fakta Mahabharata: [] dan []

18 Parwa (Astadasaparwa):

1. Adiparwa 7. Dronaparwa 13. Anusasanaparwa
2. Sabhaparwa 8. Karnaparwa 14. Aswamedhikaparwa
3. Wanaparwa 9. Salyaparwa 15. Asramawasikaparwa
4. Wirataparwa 10. Sauptikaparwa 16. Mosalaparwa
5. Udyogaparwa 11. Striparwa 17. Prasthanikaparwa
6. Bhismaparwa 12. Santiparwa 18. Swargarohanaparwa



The Scientific Dating of the Mahabharat War
By Dr.P.V.Vartak



INTRODUCTION
The Mahabharat has excercised a continuous and pervasive influence on the Indian mind for milleniums. The Mahabharat, orginally written by Sage Ved Vyas in Sanskrut, has been translated and adapted into numerous languages and has been set to a variety of interpretations. Dating back to “remote antiquity”, it is still a living force in the life of the Indian masses.

Incidently, the dating of the Mahabharat War has been a matter of challenge and controversy for a century or two. European scholars have maintained that the events described in the ancient Sanskrut texts are imaginary and subsequently, the Mahabharat derived to be a fictitiou tale of a war fought between two rivalries. Starting from the so- called Aryan invasion into Bharat, the current Bharatiya chronology starts from the compilation of the Rigved in 1200 B.C., then come other Ved’s, Mahaveer Jain is born, then Gautam Buddha lives around 585 B.C. and the rest follows. In the meantime, the Brahmanas, Samhi- tas, Puranas, etc. are written and the thought contained therein is well-absorbed among the Hindu minds. Where does the Ramayan and Mahabharat fit in ? Some say that the Ramayan follows Mahabharat and some opine otherwise. In all this anarchy of Indian histography, the date of the Mahabharat (the mythical story!) ranges between 1000 B.C.to 300 B.C. Saunskrut epics were academically attacked occasion- ally – an attempt to disprove the authencity of the annals noted therein. For example, the European Indologiest Maxmuller, tried the interpret the astronomical evidences to prove that the observations recorded in the Hindu scriptures are imaginary, probably because it did not match the prevelant views of European historians!

On the contrary, many Bharatiya scholars have vehemently maintained the actual occurance of the Mahabharat War. Astronomical and literary evidences or clues from the Pauranic and Vaidik texts have been deci- phered to provide a conclusive date for the Mahabharat War. The fifth century mathematician, Aryabhatta, calculated the date of the Mahabharat War to be approximately 3100 B.C. from the planetary posi- tions recorded in the Mahabharat. Prof. C.V. Vaidya and Prof. Apte had derived the date to be 3101 B.C. and Shri. Kota Venkatachalam reckoned it to be 3139 B.C. However, the astronomical data used by the above, and many other, scholars contained some errors as examined by a scho- lar from Pune, Dr. P.V. Vartak. Using astronomical references and variety of other sources, Dr. Vartak has derived the date of the ini- tiation of the Mahabharat War to be 16th October 5561 B.C. This pro- posed date has been examined by a few scholars and has been verfied. This may prove to be a break-through in deciding the chronology of the events in the history of Bharat (and probably the World).

In the following few posts, I have made an attempt to provide a glance at the proofs provided by Dr. Vartak in propounding the date of the very important landmark in the history of Bharat (World?), i.e., Mahabharat War. Only major points have been extracted from two sources: Dr.P.V. Vartak’s Marathi book “Swayambhu” and “Scientific Dating of the Mahabharat War” in English.

INSCRIPTIONS
Some scholars rely on the various inscriptions found in the temples and elsewhere to fix the date of Mahabharat War. If there is no other alternative then this method is tolerable, otherwise it is not reli- able because all the known inscriptions are dated as far back as 400 AD. Those who prepared those inscriptions were not conversant with the scientific methods available now in the modern Science Age. So, why should we depend on the conjectures of the ancient people? Why not use scientific methodology to come to the conclusion ourselves? I will prefer the use of the modern scientific ways to fix the date of Mahabharat War rather than to rely on the Inscriptions which are vague and inconclusive. Let us examine two famous inscriptions always quoted by the scholars.

AIHOLE INSCRIPTION
All the scholars have relied on this inscription found in the Jain Temple at Aihole prepared by one Chalukya King Pulakeshi. It says, according to scholars, that the temple was constructed in 30+3000+700+5 = 3735 years, after the Bharat War and 50+6+500 = 556 years of Shaka era in Kali era. Today Shaka era is 1910. Hence 1910- 556 = 1354 years ago the temple was constructed. Thus the year of inscribing this note is 634 AD. At this time 3735 years had passed from the Bharat War. So the date of the War comes to 3101 BC. This is also the date of Kali Yuga Commencement. Naturally, it is evident that relying on the beginning of Kaliyuga Era and holding that the War took place just before the commencement of Kaliyuga, this inscription is prepared. It is obvious from the Mahabharat that the War did not happen near about the beginning of Kaliyuga. (I have considered this problem fully at a later stage.) If we can see that the inscription is prepared by relying on some false assumption, we have to neglect it because it has no value as an evidence. Moreover the interpretation done by the scholars is doubtful because they have not considered the clauses separately and they held Bharat War and Kali Era as one and the same.

The verse inscribed is:
Trinshatsu Trisahasreshu Bhaaratdahavaditaha |
Saptabda Shatayukteshu Gateshwabdeshu Panchasu |
Panchashatasu Kalaukale Shatasu Panchashatsu cha |
Samatsu Samatitasu Shakaanamapi Bhoobhujaam ||

I would like to interprete the verse considering the clauses of the verse. It says “3030 years from the Bharat War” in the first line, ( Trinshatsu Trisahasreshu Bhaaratdahavaaditaha) where the first clause oF the sentence ends. in the second line, the second clause starts and runs upto the middle of the third line thus ( Saptabda…..Kalaukale) This means 700+5+50 = 755 years passed in the Kali Era. The remaining third clause is ( Shatasu )

Here the verse does not specifically say the Shalivahan Shaka but Scholars have taken granted that it is Shalivahan Shaka without any base or reasoning. The verse may have mentioned some other Shaka kings from ancient era. So we we neglect the doubtful part of the Shaka counting which is useless and adhere to the Kali era expressly mentioned. It is clear from the former portion of the verse that 3030 years passed from the Bharat War and 755 years passed from Kali Era. Kali Era started from 3101 BC. 755 years have passed so 3101-755 = 2346 BC is the year when 3030 years had passed from the Bharat War. So 2346+3030 = 5376 BC appears to be the date of Bharat War.

HISSE BORALA INSCRIPTION OF DEVA SENA
This inscription is of 5th century AD and scholars hold that it throws light on the time of Mahabharat War. It states. that Saptarshis were in Uttara at the time of this inscription. Scholars hold that Saptarshis were in Magha at the time of Yudhishthira because Varahmihira has stated so in Brihat-Samhita. Scholars also hold that Yudhishthira’s time is 3137 BC. Saptarshis stay in one Nakshtra for 100 years, and there are 27 Nakshatras. Hence Saptarshis would be again in Magha 2700 years later during 4th century BC. From here if we count upto 5th century AD there fall eight Nakshatras. Hence in the 5th century AD, Saptarshis should be in Anuradha and not Uttara. From Anuradha to Uttara Ashadha there is adifference of five Nakshatras, while from Anuradha to Uttara Phalguni there is a difference of six Nakshatras. So it is quite evident that at the time of Yudhisthira Saptarshis were not in Magha as held by the scholars. Here I have shown a mistake of five to six hundreds of years. Moreover, there are three ‘Uttaras’ and the inscription has not stated specifically which Uttara it denotes. Thus this source is unreliable and should be rejected.

I have considered Saptarshi Reckoning in details at a later stage on page 11. While going to examine the sources scientifically, I shall give the honour of the first place to Astronomy. One may question that how far Astronomy was advanced in those olden days? I say affirmatively that Astronomy was far advanced in the ancient times, and the ancient Indian sages had perfected the science of time measurement relying on Astronomy.

GREEK RECORDS
1. “The Greek Ambassodor Magasthenis has recorded that 138 generations have passed between Krishna and Chandragupta Maurya. Many scholars have taken this evidence, but taking only 20 years per generation they fixed the date of Krishna as 2760 years before Chandragupta. But this is wrong because the record is not of ordinary people to take 20 years per generation. In the matter of general public, one says that when a son is born a new generation starts. But in the case of kings, the name is included in the list of Royal Dynasty only after his corona- tion to the throne. Hence, one cannot allot 20 years to one king. We have to find out the average per king by calculating on various Indian Dynasties. I have considered 60 kings from various dynasties and calculated the average of each king as 35 years. Here is a list of some of important kings with the no. of years ruling.

Chandragupta Mourya 330-298 B.C. 32 years.
Bindusar 298-273 B.C. 25 years.
Ashok 273-232 B.C. 41 years.
Pushyamitra Shunga 190-149 B.C. 41 years.
Chandragupta Gupta 308-330 A.D. 22 years.
Samudragupta 330-375 A.D. 45 years.
Vikramaditya 375-414 A.D. 39 years.
Kumargupta 414-455 A.D. 41 years.
Harsha 606-647 A.D. 41 years.
———
327 years.
The average is 327/9 = 36.3 years.

Multiplying 138 generations by 35 years we get 4830 years before Chan- dragupta Mourya. Adding Chandrgupta’s date 320 B.C. to 4830 we get 5150 B.C. as the date of Lord Krishna.

2. Megasthenis, according to Arian, has written that between Sandro- cotus to Dianisaum 153 generations and 6042 years passed. From this data, we get the average of 39.5 years per king. From this we can cal- culate 5451 years for 138 generations. So Krishna must have been around 5771 B.C.

3. Pliny gives 154 generations and 6451 years between Bacchus and Alexander. This Bacchus may be the famous Bakasura who was killed by Bhimasena. This period comes to about 6771 years B.C.

Thus Mahabharat period ranges from 5000 B.C. to 6000 B.C.

SHRIMAD BHAGWAT
a) Bhagwat gives 28 Kaurava kings from Parikshit to Kshemaka. “From Kshemaka, the Pandava Dynasty will end in Kaliyug, and Magadha Dynasty will start.” [Bhagwad 9-22-45]. This implies that the Pandava kings ruled before the advent of Kaliyug, i.e., before 3101 B.C and Magadha dynasty will not super-impose the Pandava Dynasty.

b) Further it is stated in Bhagwat that after 28 Kaurava kings, Magadha Dynasty would rule and 22 Magadha kings would govern for 1000 years. Here it is given a average of 1000 years for 22 kings. It can be found that the 28 Kaurava kings would have ruled for 1273 years and then Magadha Dynasty started with King Sahadeva, whose son was Somapi. On the other hand, Maghasandhi was the son of Sahadeva and the grand- son of Jarasandha [Ashwamedh-82]. many scholars have neglected this fact and have assumed that this Sahadeva fought in the Mahabharat War and was the son of Jarasandha.

c) Ripunjaya is the last king in the list of 22 Magadhas. But Bhagwat 12.1.2-4 mentions that Puranjaya will be the last king who will be killed by his minister Shunak. It is to be noted that there is no men- tion of the kings between Ripunjaya and Puranjaya. People have wrongly taken the two names as that of one and the same person, without any evidence.

d) Bhagwat 12.1.2-4 state that Shunak would coronate his son Pradyota as the King and later five Kings would rule for 138 years. After this Pradotya Dynasty, Shishunga Kings, 10 in number, would rule for 360 years. Thereafter 9 Nandas would rule for 100 years. Nanda would be destroyed by a Brahmin and Chandragupta would be enthroned. We know that Chandragupta Maurya ascended the throne in 324 B.C. So we can thus calculate backwards:

9 Nandas 100 years
10 Shishungas 360 years
5 Pradotyas 138 years
22 Magadhas 1000 years
28 Kauravas 1273 years
———– ———-
74 Kings 2871 years

We find here only 74 kings, but Megasthenes tells us about 138 kings. So 138-74=64 kings are missing. These may be from the period between Ripunjaya and Puranjaya. Thus calculating from the data of 74 kings who ruled for 2871 years, we get a period of 2496 years for 64 kings. Adding the two we get 5367 years for 138 kings. This is preceding Chandragupta’s time, who came to throne in 324 B.C. Hence, 324+5367 = 5691 B.C. is the approximate date of Parikshit.

YUDHISHTIRA ERA AND KALIYUG
Scholars accept the date of the Mahabharat War to be 3100 B.C. which also happens to the initiation of the Yudhisthira Era. But this Era, is mentioned nowhere in the Mahabharat text itself! At the time of Aswamedha of Yudhisthira, Vyas has given descriptions in minute detail like collection of “Sruva”, formation of wells and lakes, but never has written even a word about, such an important event, as the begin- ning of the Yudhisthira Era.

Mahabharat also never mentions anything about the beginning of the Kaliyug, even at the time of Krishna’s death. Mahabharat Adiparva 2.13 states that the War took place in the interphase (“Antare”) of the Dwapaar and Kali Eras. Thus it makes it clear that the evening of the Dwapaar has not yet ended and the Kaliyug had not started when the War took place.

SAPTARISHIS
Bhagwat states at 12.2.27-32 that Saptarishis stay 100 years in one Nakshatra. At the time of King Parikshit, the Saptarishis were in Magha. When they proceeded to Purvashadha, Kali would start. There are 11 Nakshatras from Magha to Purvashadha. Hence it is seen that Shukacharya tells Parikshit that after 1100 years Kaliyug will start. Kaliyug started at 3101 B.C. Hence 3101 + 1100 = 4201 B.C. is the date of Parikshit.

Other references from Shrimad Bhagwat points quite closely to the same year as above.

But who is this Parikshit ? Is he the son of Abhimanyu ? No. A minute observation of this reveals that the above is not Abhimanyu’s son because Bhagwat is told to this Parikshit. On the other hand, Mahabharat is told to Janamejaya. In the Mahabharat, Parikshit’s death has been recorded. Hence it is evident that Mahabharat was written and published after the death of Parikshit, the son of Abhimanyu. Bhagwat is written after Mahabharat according to the Bhagawat itself. This Bhagwat is told to some Parikshit. How can this Parikshit be the son of Abhimanyu who died before the Mahabharat writing ? So this Parikshit appears to be somebody else than Abhimanyu’s son.

EQUINOX
Mahabharat mentions the ancient tradition as ‘Shravanadini Nakshatrani’,i.e., Shravan Nakshatra was given the first place in the Nakshatra- cycle (Adi-71/34 and Ashvamedh 44/2) Vishwamitra started counting the Nakshatras from Shravan when.he created ‘Prati Srushti’. He was angry with the old customs. So he started some new customs. Before Vishvamitra’s time Nakshatras were counted from the one which was occupied by the sun on the Vernal Equinox. Vishvamitra changed this fashion and used diagonally opposite point i.e. Autumnal Equinox to list the Nakshtras. He gave first place to Shravan which was at the Autumnal Equinox then. The period of Shravan Nakshatra on autumnal equinox is from 6920 to 7880 years B.C. This was Vishvamitra’s period at the end of Treta yuga. Mahabharat War took place at the end of Dwapar yuga. Subtracting the span of Dwapar Yuga of 2400 years we get 7880 – 2400 = 5480 B.C. as the date of Mahabharat War.

ASTROLOGY
Some scholars rely on the horoscope of Lord Krishna to calculate his birth-date so as to establish the period of Mahabharat. But they do not realise that the horoscope is a forged one, prepared many thousand years after Krishna’s death. Mahabharat Bhagvat and Vishnu purana have not given the planet positions at the time of Krishna’s birth. It is well-known and is recorded in many scriptures that Krishna was born in a jail, then who could have casted his horoscope? Moreover Krishna was not a prince so nobody would have casted his horoscope. Hence it is not wise to rely on the horoscope. It is prepared recently by consid- ering the charateristics of Krishna and so is useless to fix the birth-date.

Mr. G.S. Sampath Iyengar and Mr. G.S. Sheshagiri have fixed the birth-date of Krishna as 27th July 3112 BC. ‘The horoscope shows Lagna and Moon 52 deg. 15′ Rohini, Jupiter 91 deg. 16′ Punarvasu, Sun 148 deg. 15′ Uttara Phalguni, Mercury 172 deg. 35′ Hasta, Venus 180 deg. 15′ Chitra, Saturn 209 deg. .57′ Vishakha, Mars 270 deg. 1′ Uttara Ashadha Rahu, 160 deg. 1’.

At present on 27th July 1979 the Sun was at 99 deg. 57′, while at Krishna’s birth, according to their opinion, the sun was at 148 deg. 15′. The difference is 48 deg. 18′. This shows that the Sun has receded back by 48 deg. 18′ due to the precession at the rate of 72 years per degree. multiplying 48 deg. 18′ by 72 we get 3456 years. This shows that Krishna was born 3456 years ago or substracting 1979 from it we can say that Krishna was born during 1477 BC. Thus 3112 BC is found to be wrong. We cannot accept such a wrong date derived from a manipulated borscope. (This horoscope is printed in “The Age of Bharat War” on page 241-Publisher, Motilal Banarasidas 1979).

ARCHEAOLOGY
In 1971, when I hinted at the date of Mahabharat war as 5500 years BC, Archeaologists frowned at me saying it as impossible because no cul- ture was found in India dating so much back. But now evidences are pouring in Archeaology itself showing cultures in India upto 30000 to 40000 years BC. Padmashri Late Mr. V.S. Wakankar has dated the paint- ings in the caves of Bhimbetaka of Madhya Pradesh to about 40000 BC.

Recently Dr. S.B. Rao, Emeritus Scientist of the National Institute of Oceanography, Dona Paula, Goa, 403004, has discovered under the sea, Dwaraka and dated it as between 5000 to 6000 BC. This news has been published by all the leading newspapers on 22th October 1988.

Motilal Banarasidas News Letter October 1988 gives a news on page 6 under the heading “50,000 year old Relics” as follows:

Spectacular culture and physical relics dating back to 50,000 years BC have been excavated from the Central Narmada Valley in Madhya Pradesh. A team of Anthropological survey of India recently con- ducted the excavation. It explored sites in two districts Sebore and Hoshangabad.

In my book “Vastava Ramayan” I have shown the presence of culture in India as far back as 72000 years B.C. This recent news points to that ancient period. I am sure after some time Arecheaology may get evi- dence to show the presence of culture in India 72000 BC.

In Vastava Ramayan I have shown that Bali, the demon king went to south America during 17000 BC when the vernal equinox was at Moola Nakshatra. MLBD News letter Oct. 1988 gives a news thus :-“Dravidians in America” – According to a press report the Brazillian nuclear phy- sicist and researcher Arysio Nunes dos santos holds that the Dravi- dians of South India reached America much before Christopher Columbus.

Mr. Nunes dos Santos, of the’ Federal University of Minas Gerais maintains that the Dravidians colonised a vast South American region 11000 years before the Europians reached the new world. Vestiges of the Dravidian presence in America, he says, include the strange phonetics of Gourani, Paraguay’s national language. Moreover Bananas, Pine Apple, Cocunut and Cotton, all grown in India could have been taken to America by those navigators.

THE EXACT DATE OF MAHABHARAT WAR
16TH OCTOBER 5561 YEAR B.C.

Harivansh (Vishnu Purana A. 5) states that when Nanda carried Krishna to Gokul on Shravan Vadya Navami day, there was dry cow-dung spread all over the ground and trees were cut down. The presence of Dry Cowdung all over in Gokul indicates the presence of Summer in the month of Shravan. Trees are usually cut down in Summer to be used as fuel in the rainy season. The seasons move one month backwards in two thousand years. Today the rainy season starts in Jeshtha but two thousand years ago, at the time of KaIidas, rainy season used to start in Ashadha. At the time of Krishna’s birth the Summer was in the month of Shravan while today it is in Vaishakha. Thus the summer is shifted by four months, hence Krishna’s period comes to 4×2000 = 8000 years ago approximately. This means about 6000 years B.C., the same period we have seen above.

At the time of Mahabharat, the Vernal Equinox was at Punarvasu. Next to Punarvasu is Pushya Nakshtra. Vyas used “Pushyadi Ganana” for his Sayan method, and called Nirayan Pushya as Sayan Ashvini. He shifted the names of further Sayan Nakshtras accordingly. At that time Winter Solstice was on Revati, so Vyas gave the next Nakshatra Ashvini the first palee in the Nirayan list of Nakshatras. Thus he used Ashvinyadi Ganana for the Nirayan method. Using at times Sayan names and at times Nirayan names of the Nakshatras, Vyas prepared the riddles. By the clue that Nirayan Pushya means Sayan Ashvini, it is seen that Nirayan names of Nakshatras are eight Nakshatras ahead of the Sayan names Thus the Saturn in Nirayan Purva, and Sayan Rohini, Jupiter was in Nirayan Shravan, and Sayan Swati (near Vishakha), while the Mars was in Nirayan Anuradha, and Sayan Magha, Rahu was between Chitra and Swati, by Sayan way means it was in Nirayana. Uttara Ashadha (8 Nakshtras ahead). From these positions of the major planets we can calculated the exact date. My procedure is as follows:

I found out that on 5th May 1950, the Saturn was in Purva Phalguni. From 1950 I deducted 29.45 years to get the year 1920 when the Saturn was again in Purva. In this way I prepared a vertical column of the years when the Saturn was in Purva. Similarly, I prepared vertical columns of the years when the Jupiter was in Shravan and Rahu in Uttara Ashadha. Then I searched in horizontally to find out the year common in all the three columns. It was 5561-62 B.C. when all the three great planets were at the required places. Then I proceded for the detailed calculations.

Bhisma expired at the onset of Uttarayan i.e. on 22nd December. This is a fixed point according to the modern Scientific Calendar. He was on the arrow-bed for 58 nights and he had fought for ten days. Hence 68 days earlier than 22nd December the War had started. This shows that the War started on 16th October. We have to calculate the plane- tary positions of 16th October 5561 B.C.

SATURN
Encyclopedia of Astronomy by Larousse states that one rotation of Saturn takes 26 years and 166 days. One year means 365.25 days. So the Saturn’s round takes 29.4544832 years.

5th May 1950, Saturn conjugated with Purva. We have to see its posi- tion in 5561 years B.C. 5561+1950 = 7511 years. 7511 divided by 29.4544832 gives 255.00362 rounds. This means that Saturn completed 255 rounds and has gone ahead by 0.00362 or 1.3 degrees. Hence Saturn was in conjugation with Purva on 5th May 5561 B.C. On 16th October’ 5562nd B.C. i.e. 164 days later it must have travelled (0.0334597 degrees (daily pace) multiplied by 164 days =) 5.487 degrees. So Saturn was at 141 degrees or in Purva Nakshatra.

In October 1962, Saturn was at 281 dgrs. 1962 + 5561 = 7523 years. 7523 devided by 29.4544832 gives 255.41103 turns. After completing 255 full turns, Saturn has gone back by 0.411003 turn i.e. 148 dgrs. 281-148= 133 degrs. This was the position of Saturn in Purva.

Calculating from 1931 or 1989 also Saturn appears at 141 dgrs. in Purva. Thus on 16th of October 5562nd B.C. Saturn was in Purva as told by Vyas in Mahabharat.

RAHU
Rahu takes 18.5992 years per rotation. It was at 132 dgrs. on 16th Oct. 1979. 1979 + 5561 = 7540, divided by 18.5992 gives 405.39378 turns. 0.39378 turns means 141.7 dgrs. Rahu always goes in reverse direction. We have to go in the past, so adding 141.7 to orginal 132 we get 273 dgrs. This is Uttarashadha where Rahu was situated (by Nirayan method).

Calculations from 1989, 1962 and 1893 confirm Rahu in Uttara Ashadha.

JUPITER
Jupiter takes 11.863013 years per rotation. On 16th October 1979, it was at 129 dgrs. 1979+5561 = 7540. 7540 divided by 1.863013 gives 635.58892 turns. 0.58892 turn means 212 dgrs. So Jupiter was 212 dgrs behind the orginal position. 129 – 212 = -83. -83 means 360 – 83 = 277 degree 277 dgrs is the position of the star of Shravan. So Jupiter was in conjugation with Shravan. The span of Shravan is 280 deg. to 293 deg.

Calculations from 1989, 1932 and 1977 show Jupiter in 285 and 281 degrees or in the zone of Shravan. This confirms the position told by Vyas.

MARS
Mars takes 1.88089 years per rotation. On 16th October 1979, Mars was at 108 dgrs. 1979 + 5561 = 7540 yrs. 7540 divided by 1.88089 gives 4008.7405 turns. 0.7405 turns means 266 dgrs., Mars was 266 dgrs behind the original position of 108 deg. 108 – 266 = 158. 360 – 158 = 202 deg. This is just beyond the star of Vishakha which is at 200 dgrs. Though in Vishakha-zone Mars has crossed the Star of Vishakha and intends to go in Anuradha, so the description of Vyas as “Anurad- ham Prarthayate” that it requests or appeals Anuradha, appears to be correct.

Calculations from 1962 and 1900 show Mars at 206 and’ 208 dgrs and therefore though in Vishakha, it can be called as appealing Anuradha “Anuradham Prarthayate”. Thus it is seen that Vyas has used tricky but correct terms. He has not written any false statement because he was the Truth-abiding Sage.

HELIOCENTRIC AND GEOCENTRIC
Here an expert may raise a question whether I have used Heliocentric method or Geocentric method. I make it clear here that I have used the Heliocentric method that means I have considered the rotations of planets around the Sun. But after fixing the position of the planet around the Sun I have also seen where that planet will be seen from the earth.

I would like the scholars to consider one more point here. When I say that an insect is sitting near one o’ clock position on your watch or clock, one may think that the insect is between 12 and 1 while other may think that it is between 1 and 2. So the span to find that insect is from 12 to 2. Similarly Vyas has mentioned the Nakshatra in the vicinity of the planet and therefore we have a scope of one Nakshatra on either side to find out the planet. Thus if our answer is between +13 deg. and -13 deg. from the given position we are successful. In my calculations I have achieved the perfect positions, but by chance, somebody gets a different position he is requested to consider a span of -,+ 13 degrees. The positions given by other scholars are far away than the positions recorded by Vyas, so they are not acceptable.

I request the scholars, to be careful while doing calculations not to take a retrograde position of the present planet, because that may give a false position. Please note that all the planets become retro- grade only apparently when our earth is approaching them. We need not consider their retrograde motion each year because their rotational periods around the Sun are fixed and in that they are seen retrograde from the earth apparently. We have to see if the last position of the planet is retrograde. This can be done easily by considering the position of the Sun and planet. Any external planet becomes retrograde when it is in the house from 5th to 9th from the Sun.

LEAP YEAR
Please note that i have taken 365.25 days for a solar year. It covers the general leap years, but it does not take into account the leap years abandoned at centuries. At the interval of 400 years leap years are taken according to the modern scientific calendar. If these cen- tury years are considered, there may be an error of 50 days in 7500 years duration. As for dates these 50 days are automatically accounted for because we have taken the winter solstice as fixed on 22nd December, and it is referred by Vyas, while describing Bhishma’s death. As far as the planets like Saturn, Rahu and Jupiter are con- cerned 50 days are immaterial because in 50 days the Saturn will move only 1.6 deg. while Jupiter 4.1 deg. as an average. Hence their error is negligible.

Now, we have seen that all the four important planets satisfy their positions as told by Vyas on 16th October 5562nd B.C. Hence we have no other way but to accept this date as the exact date of Mahabharat War.

Please note that, so far, not a single Scholar has shown a date with the planetary positions satisfying the description by Vyas in Mahabharat. Late Mr. C. V. Vaidya and Prof. Apte show 3102 B.C., but their Mars is in Ashadha, Jupiter is in Revati, Saturn in Shatataraka and Rahu in Jeshtha. Prof. K. Shrinivasraghavan, Mr. Sam- pat Ayangar and Sheshagiri show 3067 B.C. but they put Jupiter and Saturn in Rohini and Sun, Rahu, Mars in Jeshtha. Garga, Varahmihir and Tarangini show 2526 Before Shaka i.e. 2449 B.C. But their Mars comes in Dhanishtha, Jupiter and Saturn in Bharani and Rahu in Hasta. P.C. Sengupta gives 2448 with Saturn 356 deg., Jupiter 8 deg., Mars 157 deg., Venus 200 deg., Sun 200 deg., (Ancient Indian chronology” Calcutta University). The Western scholars as well as Romeshchandra Datta and S. B. Roy show 1424 B.C. but their Saturn is in Shata- taraka, Jupiter in Chitra, Rahu in Purva and Sun in Anuradha with no eclipse. Billandi Ayer shows 1193 years B.C. but his Mars comes in Mula, Jupiter in Purva Bhadrapada, Saturn in Purva Ashadha and Rahu in Punarvasu. At 900 B.C. as is proposed by many other scholars, Jupiter comes in Mula, Rahu in Vishakha and Saturn in Jeshtha. Thus not a single scholar could coroborate his date with the facts written by Vyas.Hence, their dates have to be dismissed. (C. V. Vaidya’s Upasamhar page 94.” Age of Mahabharat War”).

I have shown all the planetary positions correct to the description of Mahabharat. In addition I have shown that the seasons tally with my date, and the seasons never tally with other dates. I have solved all the planetary riddles from Mahabharat which nobody could dare. So 16th October 5562nd BC. is the exact date of the first day of the Mahabharat War. At the beginning of the War, Vyas promised Dhrutarashtra that he will write history of the Kauravas; so most probably Vyas must have written the Astronomical data immediately.

URANUS (known to Vyas in 5561 B.C)
All the planets, viz., Sun, Moon, Mars, Jupiter, Venus, Saturn and Rahu show correct positions mentioned in the Mahabharat on 16th December 5561 B.C. This must be the exact date of the Mahabharat War. After pin-pointing the exact date, it struck to me that the three additional planets mentioned with positions by Vyas, may be Uranus, Neptune and Pluto. Vyas has named them as Shveta, Shyama and Teevra. Let us see if the conjecture is correct. We have to prove this with the help of Mathematics, because we have to go scientifically.

Vishesheena hi Vaarshneya Chitraam Pidayate Grahah….[10-Udyog.143]
Shevtograhastatha Chitraam Samitikryamya Tishthati….[12-Bheeshma.3]

In these two stanzas, Vyas states that some greenish white (Shveta) planet has crossed Chitra. This means that the planet was in Swati (or Vishakha, because Chitra and Swati are close together). This is the Sayan position hence Nirayan position is eight Nakshatras ahead in Shravan (or Dhanishtha). Neelakantha calls this “Mahapata” which means having greater orbit. Greater orbit indicates a planet beyond Saturn. Hence I assumed Shveta to be Uranus. Let us calculate and see if this true.

In October 1979, Uranus was at 206 degrees. Uranus takes 84.01 years per rotation. 1979 + 5561 = 7540. 7540/84.01 = 89.75122 turns. 0.75122 rotation means 270.4392 degrees. 206-270 = -64 = 296 degrees. This comes in the zone of Dhanishtha, but the star of Dhanishtha is at 297 degrees, so the position given by Vyas is confirmed. Hence Shveta must be Uranus.

In October 1883, Uranus was at 151 degrees. 1883 + 5561 = 7444 years. 7444/84.01 = 86.608498 rotations. 0.608498 turn means 219 degrees. 151-219 = 292 degrees. This is Shravan Nakshatra. So Uranus was in Shravan during Mahabharat War as stated by Vyas under the name of “Shveta”.

1930 calculations show Uranus to be at 292.54 degrees or Shravan. Thus our mathematics proves that Vyas has given correct position of Uranus under the name of Shveta. This proves that Vyas had the knowledge of Uranus under the name of Shveta, supposed to have recently discovered by Herschel in 1781. Shveta means greenish white. Uranus is actually greenish white in colour. So Vyas must have seen Uranus with this own eyes. Uranus is of 6th magnitude and is visible to the naked eye according to the modern science.

Neelakantha of 17th century also had the knowledge of Uranus or Shveta. He writes in his commentary on Mahabharat (Udyog 143) that Shveta, or Mahapata was a famous planet in the Astronomical science of India. Neelakantha was about 100 years before Herschel, who sup- posedly discovered Uranus. So we can conclude that one hundred before Herschel, Uranus was known to the Indian Astronomers and Vyas had discovered it at or before 5561 year B.C.

NEPTUNE (was known to Vyas in 5561 B.C.)
In 1781 A.D., Herschel discovered Uranus; but its calculated positions never corroborated with the actual positions. So the experts thought of another planet beyond Uranus. They fixed its position by mathemat- ics, and at that site, it was discovered by German Astronomers in 1846 A.D. I have found that Neptune is also mentioned by Vyas in Mahabharat, under the name of “Shyama”.

Shukrahah Prosthapade Poorve Samaruhya Virochate Uttare tu Parikramya Sahitah Samudikshyate….[15-Bheeshma.3]
Shyamograhah Prajwalitah Sadhooma iva Pavakah Aaindram Tejaswi Naksha- tram Jyesthaam Aakramya Tishthati…[16-Bheeshma.3]

Here Vyas says that there was some luminary with Venus in Poorva Bha- drapada. He adds further that a bluish white (Shyama) planet was in Jyeshtha and it was smoky (Sadhoom). Saayan Jyeshta means Nirayan Poorva Bhadrapada, so this is the description of one and the same planet named by Vyas as Shyama. Neelkantha calls it “Parigha” in his commentary on Mahabharat. Parigha means circumference, so this planet may be at the circumference of our solar system.; and so may be Nep- tune. Let us see by Mathematics is this statement is true. We will determine the position of Neptune on 16th December 5561 B.C.

Neptune takes 164.78 years per rotation. It was at 234 degrees in 1979. 1979 + 5561 = 7540 years. 7540 divided by 164.78 gives 45.75798 rotations. 0.75798 turn means 272.87 degrees. 234 – 272.87 = -38.87 = 321.13 degrees. This is the site of Poorva Bhadrapada. So Neptune was in Poorva-Bhadrapada during 5561 B.C.

In 1948, Neptune was at 172 degres. 1948 + 5561 = 7509. 7509/164.78 gives 45.56985 turns. 0.56985 turn means 205 degrees. 172-205 = -33 =360-33 = 327 deg. This is the zone of Poorva Bhadrapada.

In 1879, Neptune was at 20 degrees. 1879 + 5561 = 7440 years. 7440 divided by 164.78 gives 45.15111 turns. 0.15111 turn means 54.39 deg. 20 – 54.39 = -34.39 = 360 – 34.39 = 325.61 degrees. This is Poorva- Bhadrapada.

Thus the position of Shyama or Parigha is factually proved in the case of Neptune. Thus, we conclude that Vyas did know Neptune too. Vyas might have got his knowledge by Yogic Power or by Mathematics or by using telescopic lenses. Mathematics was far advanced then, that is why ancient Indian sages fixed the rate of precession of Equinoxes accurately. Even the world famous scientist Gamov praised the sages for their remarkable work in Mathematics. So could have mathematically calculated the position of Shyama or Neptune.

Mirrors are mentioned in the Mahabharat. So lenses too might have been present at that time. They had Microscopic Vision (Shanti A. 15,308). As microscopic vision was present, there might be telescopes too. Planets can be seen with mirrors as well as lenses. Vyas must have “seen” Neptune; its proof lies in the fact that he says that it is bluish white (Shyama). Neptune is, in fact, bluish white in colour. Hence we conclude that Neptune was known to Vyas in 5561 B.C.

PLUTO (was also known to Vyas in 5561 B.C)
Krittikaam Peedayan Teekshnaihi Nakshatram……[30-Bheeshma.3]

Vyas states that there was one Nakshatra, i.e, some immobile liminary troubling Krittika (Pleides) with its sharp rays. This “star” in Krit- tika must have been some “planet”. It must have been stationary for many years, that is why Vyas called it Nakshatra which means a thing that does not move according to Mahabharat itself [Na Ksharati Iti Makshatram].

Hence the Nakshatra was a planet moving very slowly like pluto which takes nine years to cross one Nakshatra of 13 degrees. My assumption that this Nakshatra was Pluto gets confirmed by B.O.R.I (Bhandarkar Oriental Research Institute?) Edition which states thus:

Krittikasu Grahasteevro Nakshatre Prathame Jvalan…… [26- Bhishma.3]

Some editions mention ‘Grahasteekshnah’. Thus Teevra, Teekshana and Nakshatra are the names of one and the same planet (graha) which was in Krittlka in 5561 B.C. Let us see if Vyas has given these names to Pluto and if Pluto was in Krittika. It is stated that Krittika was troubled with sharp rays by that planet – this indicates that it was Nirayan Krittika.

Pluto was at 175 degrees in 1979. It takes 248 years per rotation. 1979+5561=7540 years. 7540 divided by 248 gives 30.403223 turns. 0.403223 turn means 145 degrees. 175 – 145 = 30 degrees. This is the site of Krittika. Thus it is proved beyond doubt that Vyas bas men- tioned the position of Pluto, which was discovered to the modern world in 1930. Vyas could have used his Yogic Vision or mathematical brain or a lens or some other device to discover Teevra, Teekshna’ or Nakshatra or Pluto.

Thus all the three so-called ‘New’ planets are discovered from Mahabharat. It is usually held that before the discovery of Herschel in 1781 AD, only five planets were known to the world. This belief is wrong because Vyas has mentioned ‘seven Great planets’, three times in Mahabharat.

Deepyamanascha Sampetuhu Divi Sapta Mahagrahah….[2-Bhishma.17]

This stanza states that the seven great planets were brilliant and shining; so Rahu and Ketu are out of question. Rahu and Ketu are described as Graha’ 23 meaning Nodal points. (Parus means a node). Evidently Rahu and Ketu are not included in these seven great planets. The Moon also is not included, because it was not visible on that day of Amavasya with Solar Eclipse. From the positions discovered by me and given by Vyas it is seen that Mars, Sun, Mercury, Jupiter, Uranus, Venus and Neptune were the seven great planets accumulated in a small field extending from Anuradha to Purva Bhadrapada. So they appeared to Ved-Vyas as colliding with each other, during total solar eclipse.

Nissaranto Vyadrushanta Suryaat Sapta Mahagrahah….[4-Karna 37].

This stanza clearly states that these seven great planets were ‘seen’ moving away from the Sun. As these are ‘seen’, Rahu and Ketu are out of question. This is the statement of sixteenth day of the War, naturally the Moon has moved away from the Sun. Hence, Moon, Mars, Mercury, Jupiter, Uranus, Venus and Neptune are the seven great planets mentioned by Vyas.

Praja Samharane Rajan Somam Sapta grahah Iva……[22-Drona 37].

Here again seven planets are mentioned, excluding the Moon.

Even if we do not consider the planetary positions, from the above three stanzas, it is clear that seven planets are mentioned which do not include the Sun, Moon, Rahu and Ketu. Naturally the conclusion is inevitable that Vyas did know Uranus (Shveta) and Neptune (Shyama) as planets.

If they were known from 5561 years B.C. then why they got forgotten ? The answer is simple, that these two planets, Uranus and Neptune were not useful in predicting the future of a person. So they lost impor- tance and in the course of time they were totally forgotten. But, in any case, Neelakantha from 17th century knew these two planets very weIl. Neelakantha is about a hundered years ancient than Her- schel, and he writes that Mahapata (Uranus) is a famous planet in the Astronomical science of India. He also mentions the planet ‘Parigha’ i.e. Neptune. 22 So both were known in India, at least one Hundered years before Herschel. Vyas is 7343 years ancient than Herschel, but still he knew all the three planets Uranus, Neptune and Pluto.

ADDITIONAL EVIDENCE
Kshaya or Vishvaghasra Paksha
A fortnight of only thirteen days is told by Vyasa which occured just before the great War. Such a fortnight comes at the interval of 22 years. Calculations show that at 5562nd B.C. Kshaya Paksha did occur. It had occured 1962 and 1940. 1962+5562 = 7524 is completely divisi- ble by 22.

Amavasya confirmed
Krishna and Karna fixed the day of War on Amavasya (Udyog 142). Vyas also indicates in Bhishma 2 & 3 that the War started on the day second Amayasya, because two successive Amavasyas appeared then. Bhishma died on the day after 67 (58+9) nights from the onset of the War, on the occasion Uttarayan i.e. 22nd December. So the War must have commenced on 16th October. Let us see if Amavasya comes on this day.

In 1979, Amavasya was on 21st of October. Amavasyas repeat after the intervals of 29.53058 days. The Lunar year is of 354.367 days while the Solar year is 365.25 days. 1979+5561 = 7540 multiplied by 365.25 and divided by 354.367 gives 7771.5616 Lunar years. 0.5616 Lunar year means 199.0125 days. 199.0125 divided by 29.53058 gives 6.7392005. This indicates that 6 Amavasyas are completed and 0.7392005 lunar month or 22 days are left. These 22 days are left for 21st October and we have to go behind upto 16th October. So adding these 6 days to 22 we get 28 days. After 28 days Amavasya can occur. After 29 days it always occurs. Thus on 15th and 16th October 5562nd year B.C, there were two successive amavasyas as mentioned by Vyas.

Another method gives the same conclusion. At the interval of 19 years the Amavasya falls on the same date. 19×365.25 divided by 29.53058 gives 235.00215. So in 19 years 235 Amavasya are completed. I found that on 17th October 1963, there was an Amavasya. 1963+5561 = 7524 divided by 19 gives 396. This division is complete, so there was an Amavasya. Thus it is established that Vyas has reported Amavasya correctly.

Eclipses
Vyas has mentioned that there was Solar as well as Lunar eclipses in one month at the time of Mahabharat War. Calculations confirm that in October 5561 year B.C, both the Solar and Lunar eclipses did occur. Rahu and Ketu were in Uttara Ashadha at 273 deg. & 279 deg. so total eclipse of the Sun took place on the Margashirsha Amavasya day Only 13 days earlier, according to Vyasa, there was Pournirma with lunar eclipse, causing pallor of the Moon. Thirteen days earlier the sun would have been 13 deg. behind at (279 – 13 =) 266 in Purva Ashadha. It was Pournima so the Moon was diagonally opposite at (266-180=) 86 deg. in Punarvasu, just beyond Mruga, so it was Margashirsha Pournima though it is wrongly or enigmatically told to be Kartika Pournima. Rahu was at 273 deg., so Ketu was diagonally opposite in Punarvasu, so the ellipse of the moon was possible which was not total.

A Big comet
Vyas has mentioned that at the time of Mahabharat War a big comet was seen just beyond Pushya Nakshtra. There are many comets. Indian Astro- nomical works refer to more than 500 comets, but big comets are very few. Haley’s comet is one of the big comets which comes at the regu- lar intervals of 77 years. It was seen in 1910 and 1987. If we add 1910+5561 = 7271. 7271 is divisible completely by 77. Evidently it seems that it was Haley’s comet was seen at the Mahabharat War.

Conclusion
All the twelve planets confirm their said positions on 16th October 5561 years B.C. along with two Amavasyas, two eclipses, Kshaya Paksha and a Comet. Thus, in all 18 mathematical positions fix the same date. Therefore, we have to accept this date of the Mahabharat War, if we want to be scientific. Please note that all the twelve planets will come in the same positions again only after 2229 crores of years. That means it will never happen again in the life of our earth, because life of the earth is only 400 crores of years. So the date of the Mahabharat War is pin-pointed as 16th October 5561 B.C.

APPENDIX
Hereunder is provided a short table dates of important Mahabharat events in years. (Dates and Tithis in years in Rama Samvat assuming Shri Rama Samvat 1st January. 1 equivalent to 1st Jan 7323 B.C. Rama’s birth date has been conclusively proved to be 4th Dec. 7323 B.C.( “Vastav Ramayan”).

EVENT DATE
Going to forest 4th Sept. 5574 BC
Kitmeet Killed 7th Sept. 5574 BC
Going underground 19th May 5562 BC
Keechak killed 1st April 5561 BC
Anukeechak-Massacre 2nd April 5561 BC
End of secret life 9th April 5561 BC
Cows stolen 15th April 5561 BC
Arjuna exposed 16th April 5561 BC
All pandavas exposed 19th April 5561 BC
Marriage of Uttara & Abhimanyu. 4th May.
Krishna set out for a treaty. 27th Sept.
Stay at Upaplavya 27th Sept.
Stay at Vrukshthala 28th Sept.
Dinner to Brahmins 29th Sept.
Entry into Hastinapur 30th Sept.
Krishna meets Kunti etc. 1st Oct.
Invited for meeting 2nd Oct.
First meeting 3rd Oct.
2nd meeting & an attempt to arrest Krishna. 4th Oct.
Third meeting Vishvaroopa 7th Oct.
Stay at Kunti 8th Oct.
Krishna meets Karna. War fixed. 9th Oct.
Krishna returns 9th Oct.
Pandavas preparation Balaram’s visit. 11th Oct.
Mahabharat war started 16th Oct.
Abhimanyu killed 28th Oct. 5561 BC.
End of War 2nd November 5561 B.C.
Yudhishthira crowned 16th Nov. 5551 BC.
Bhishma expired 22nd Dec. 5561 BC
Pandava campaign for wealth 15th Jan. 5560 BC
Parikshita born 28th Jan. 5560 BC
Pandavas return 25th Feb. 5560 BC
Ashvamedh Deeksha. 1st March 5560 BC
Return of Arjuna Horse 15th Jan. 5560 BC
Ashvamedh yajna 22nd Feb. 5559 BC
Dhrutarashtra went to forest 18th Aug. 5545 BC
Pandavas visited Kunti Vidura expired 18th Aug. 5543 BC
Death of Kunti, Dhrutarashtra, and Gandhari Sept./Oct. 5541 BC
Yadava Massacre 5525 B.C.
Parikshit Dead 5499 B.C.

References
P.V.Vartak, Swayambhu (in Marathi), Ved Vidnyana Mandal, Pune [] [→]



DATING THE KURUKSHETRA WAR

Scholars from across the world came together, for the first time, in an attempt to establish the ‘Date of Kurukshetra War based on astronomical data.’ Undoubtedly, it was an amazing collation of information presented in a colloquium, held on January 5 and 6, 2003 at the Mythic Society, Bangalore. The colloquium was jointly organized by The Mythic Society, Indira Gandhi National Centre for the Arts – Southern Regional Centre and Sir Babasaheb (Umakanth Keshav) Apte Smarak Samithi Trust.

Inaugurating the two day session, Dr. Raja Ramanna, Member of Parliament and eminent nuclear scientist, emphasized that the ‘best clock for dating was the sky itself and the position of stars.’ He added that ‘research and scientific theory should be questioned although he found that many homes and libraries hampered the progress of research by keeping ancient manuscripts to themselves.’

Dr. Kalyan Raman clarified the purpose of the colloquium in his introductory remarks. Well-known historian, Dr. Suryanath Kamath, in his Presidential address explained the objective as an ‘ exploration of the authenticity of dates using planetary software and textual evidences containing over 150 references.’ He felt that ‘chronology was most important for the history of any society since history without chronology is like a body without a skeleton.’ He also gave a detailed explanation of the development of the Mythic library and the collections.

The other dignitaries present on the dais were Dr. M.K.L.N. Sastry – Hon. Secretary, Mythic Society, Prof. P.V. Krishna Bhat – Hon. Coordinator, IGNCA-SRC and Shri K. Narahari – Managing Trustee, Apte Trust. The opening session set the tone for the mind stirring sessions with various interpolations found in the Mahabharata. Several scholars put forth their perception and calculated derivations. Dr. S. Balakrishna (NASA, USA) proved the occurrence of ‘two eclipses in (a span of) 13 days prior to Mahabharata’. Analysing the astronomical possibility of Vyasa’s statement in Bhishma Parva “Amavasya occured on the 13th day. Two eclipses in a month, on the thirteenth day.” he presented the data of eclipses during the period 3300 BCJ (Before the Calendar of Julian Ceaser) to 700 BCJ visible at Kuruxethra, using Lodestar Pro software. He stated the possibility of 672 eclipse pairs, ten ‘thirteen day lunar first’ eclipse pairs and concluded that 2559 BC eclipse pair was nearest to the text of Mahabharata.

Prof. R.N. Iyengar (I.I.Sc., Bangalore) systematically dealt with “Internal consistency of eclipses and planetary positions in Mahabharata”. Verifying all double eclipses of 501-3000 B.C. and when Satur + Jupiter were near Vishaka, he concluded that 1478 B.C. was the most likely year of the war.

Dr. B.N. Narahari Achar (Dept. of Physics, University of Memphis, U.S.A.) gave a brief description of various available planetary software, a review of the works of astrophysicists Kochhar, Siddharth and astronomers, Sengupta and Srinivasa Raghavan and other astronomical references in the epic. He critically examined the limitations and the reliability of simulations and concluded that the astronomical events in the Mahabharata pointed to 3000 B.C.E. (Before Common Era)* and simulation of events to 3067 B.C.E., identical to the one given by Raghavan.

Speaking on ‘The date of Mahabharata War with reference to Bhishmashtami’, Dr. Kalyan Rama (Chennai) validated the ground truth of River Saraswati of Vedic times that established the historicity of the Mahabharata.

Dr. Shambhu Shastry (Franklin, USA) and Dr. Venkateswara Reddy dealt with ‘Natural cycles in the Solar System and Chaturyuga Cycles.’ Dr. Kalyan Raman (Chennai) validated the ground truth of River Saraswati of Vedic times that established the historicity of the Mahabharata.

Dr. Shambu Shastry (Franklin, USA) and Dr. Venkateswara Reddy dealt with ‘Natural cycles in the Solar System and Chaturyuga Cycles.’ Dr. Shambhu Shastry showed that the chatuyuga and manavantara schemes of Hindu chronology are directly from natural astronomical cycles and based on this, he stated, that the human race is about five million years old. He concluded that this helped demythologize the Mahabharata and Ramayana and placed them in the last descending Chaturyuga segment over a time span of not more than 6000 years.

Shri P.V. Holey (Nagpur) was of the opinion that the war began on the 13th day of November 3143 B.C. He sourced this to crucial events with planetary positions after a comparative study of astronomical dates based on nakshatra, the Julian and Gregorian systems.

On the second day, Dr. Mohan Gupta (Ujjain) dealt with Puranic and Astronomical evidences. Based on genealogical and astronomical calculations he concluded that 17th October 1952 B.C. Thursday, Marga Krsna Amavasya kali 1157 or shakapurva 2029, Julian year 2762 as the date when the Mahabharata war began. Dr. S.R. Rao based his derivation on archaeological evidence obtained from onshore and offshore excavations conducted in Dwaraka, Bet Dwarka and in the Kurukshetra region and found 1900-1700 B.C. as acceptable.

Dr. N.S. Rajaram (Bangalore) expressed a need to exercise caution while interpreting astronomicla statements and that it should take into account both the literary evolution and interpolated passages. He felt 3100m B.C. had the best astronomical support. Shri K.V. Ramakrishna Rao (Thiruvananthapuram), felt that due to periodical corrections in Indian astronomical works, changes had crept it and without the significance of the two ears – kali and saka – dates cannot be determined, Dr. M.V. Subba Rao (Secundrabad) gave astrological references of Sri Krishna and felt that the dates could be calcutated from the day of Ktrishna’s birth. Shri M.V. Narasimhan (Mysore) spoke of a research methodology using the shastric and the scientific inputs. Referring to Pulakesin’s inscription and comet at Nagercoil he concluded 3100 B.C. as the year of the war.

Despite the inspiring deliberations, it was observed that further resource data from varied fields was required to calibrate supportive evidence. Thus the concluding session unanimously drew a plan of action. Dr. S. Nagaraju reviewed the colloquium with regard to the two objectives set at the beginning – to establish internal consistency with respect to dates and chronology mentioned in the Mahabharata and whether it could be proved using planetary software and secondly, if a correct date of the Mahabharata could be derived from the 150 astronomical references and have a sheet anchor of chronology of pre-Buddhist India? He said that at least four papers dealt with the problem directly and clarified a non-discrepancy with respect to the dates given. This is he felt was the most important contribution of the colloquium. But a problem he sighted was, out of the one-lakh odd sholkas, to distinguish what was added at what time. In this context he suggested that more interactions might be had with people who had knowledge of geography and other related areas of study. Secondly, he felt that the dating of the Mahabharata war could not be done merely on the basis of astronomy alone. Since there are a number of texts one should find out the correct text and establish a critical edition giving all details.

Dr. R. Subramaniam in his observations also agreed that there was a need to develop a critical editions of the verses with interpretations in consensus with astronomy, history, archaeology, Sanskrit astrology and mathematics. He suggested that verifications should take into account occurrence of double eclipse, Saturn in Rohini and the use of all available software and data. Another valid point he raised was the absence of direct reference to winter solstice in the Mahabharata. Once that is available it was felt that ‘everything could be nailed.’

‘Where do we go from here?’ Answering the self-query Dr. Kalyan Raman voiced the common desire to ‘trash Western Indological work done with motivation and instead rewrite Indian history.’ The fundamental task would bring to light traditional works which can be achieved in a series of colloquiums. Truth, he felt, should be perceived in terms of our national heritage and his colloquium had established the reliability of this tool.

The Chairperson, Prof. K.I. Vasu addressed the various issues discussed and surmized that the Mahabharata could be ‘considered a historical document’.

– Report from Southern Regional Centre
(B.C.E. – Before Common Era (indicates dates before the Christian era, used especially by non-Christians; B.C.J. – indicated the Julian Calendar. The Julian Calendar is names after Julius Caesar who ordered its adoption in 45 B.C.E. upon the advice of Greek astronomer Sosigenes and decided to use a purely solar calendar. The Julian Calendar also established the order of the month and the days of the week as they exist in present day calendars. Caesar’s Calendar consisted of 11 months of 30 or 31 days and a 28 day February with no leap year. In 1582 Pope Gregory XIII ordered another reform of the calendar, which came to be known as the Gregorian calendar. The Gregorian calendar is still in official use and was [] [→]




Nama-nama Kurawa versi India dan versi Nusantara

Versi India
1. Duryodana (Duryodhana)
2. Dursasana (Dussāsana)
3. Abaya (Abhaya)
4. Adityaketu (Ādithyakethu)
5. Alalupa (Alolupa)
6. Amapramadi (Amapramādhy)
7. Anadrusya (Anādhrushya)
8. Antudara (Anthudara)
9. Anuwinda (Anuvindha)
10. Aparajita (Aparājitha)
11. Ayubahu (Ayobāhu)
12. Bahwasi (Bahwāsy)
13. Bilawardana (Belavardhana)
14. Bimabala (Bhīmabela)
15. Bimawiga (Bhīmavega)
16. Bimawikra (Bhīmavikra)
17. Carucitra (Chāruchithra)
18. Citra (Chithra)
19. Citrabana (Chithrabāna)
20. Citraksa (Chithrāksha)
21. Citrakundala (Chithrakundala)
22. Citrakundhala (Chithrakundhala)
23. Citranga (Chithrāmga)
24. Citrawarma (Chithravarma)
25. Citrayuda (Chithrāyudha)
26. Danurdara (Dhanurdhara)
27. Dirkabahu (Dhīrkhabāhu)
28. Dirkaroma (Dīrkharoma)
29. Dredahasta (Dridhahastha)
30. Dredakarmawu (Dhridhakarmāvu)
31. Dredaksatra (Dridhakshathra)
32. Dredaratasyara (Dhridharathāsraya)
33. Dredasanda (Dridhasandha)
34. Dredawarma (Dridhavarma)
35. Duradara (Durādhara)
36. Durdarsa (Durdharsha)
37. Durmada (Durmada)
38. Durmarsana (Durmarshana)
39. Durmuka (Durmukha)
40. Dursaha (Dussaha)
41. Dursala (Dussala)
42. Durwigaha (Durvigāha)
43. Durwimuca (Durvimocha)
44. Duskarna (Dushkarna)
45. Dusparaja (Dushparāja)
46. Duspradarsa (Dushpradharsha)
47. Jalaganda (Jalagandha)
48. Jarasanda (Jarāsandha)
49. Kancanadwaja (Kānchanadhwaja)
50. Karna (Karna)
51. Kawaci (Kavachy)
52. Kradana (Kradhana)
53. Kundabedi (Kundhabhedy)
54. Kundadara (Kundhādhara)
55. Kundase (Kundhasāi)
56. Kundasi (Kundhāsy)
57. Kundi (Kundhy)
58. Mahabahu (Mahabāhu)
59. Mahodara (Mahodara)
60. Nagadata (Nāgadatha)
61. Nanda (Nanda)
62. Nisamgi (Nishamgy)
63. Pasi (Pāsy)
64. Pramada (Pramadha)
65. Sadasuwaka (Sadāsuvāk)
66. Saha (Saha)
67. Sala (Sala)
68. Sama (Sama)
69. Sarasana (Sarāsana)
70. Satwa (Sathwa)
71. Satyasanda (Sathyasandha)
72. Senani (Senāny)
73. Somakirti (Somakīrthy)
74. Subahu (Subāhu)
75. Suhasta (Suhastha)
76. Sujata (Sujātha)
77. Sulocana (Sulochana)
78. Sunaba (Sunābha)
79. Susena (Sushena)
80. Suwarca (Suvarcha)
81. Suwarma (Suvarma)
82. Suwiryaba (Suvīryavā)
83. Ugrase (Ugrasāi)
84. Ugrasena (Ugrasena)
85. Ugrasrawas (Ugrasravas)
86. Ugrayuda (Ugrāyudha)
87. Upacitra (Upachithra)
88. Upananda (Upananda)
89. Urnanaba (Ūrnanābha)
90. Walaki (Vālaky)
91. Watawiga (Vāthavega)
92. Wikarna (Vikarna)
93. Wikatinanda (Vikatinanda)
94. Winda (Vindha)
95. Wirabahu (Vīrabāhu)
96. Wirajasa (Virajass)
97. Wirawi (Virāvy)
98. Wisalaksa (Visālāksha)
99. Wiwitsu (Vivilsu)
100. Wrendaraka (Vrindāraka)
101. Yuyutsu (Yuyulssu) *
102.Dursala (Dussala) *
Versi Indonesia
1. Duryodana (Suyodana)
2. Dursasana (Duhsasana)
3. Abaswa
4. Adityaketu
5. Alobha
6. Anadhresya (Hanyadresya)
7. Anudhara (Hanudhara)
8. Anuradha
9. Anuwinda (Anuwenda)
10. Aparajita
11. Aswaketu
12. Bahwasi (Balaki)
13. Balawardana
14. Bhagadatta (Bogadenta)
15. Bima
16. Bimabala
17. Bimadewa
18. Bimarata (Bimaratha)
19. Carucitra
20. Citradharma
21. Citrakala
22. Citraksa
23. Citrakunda
24. Citralaksya
25. Citrangga
26. Citrasanda
27. Citrasraya
28. Citrawarman
29. Dharpasandha
30. Dhreksetra
31. Dirgaroma
32. Dirghabahu
33. Dirghacitra
34. Dredhahasta
35. Dredhawarman
36. Dredhayuda
37. Dretapara
38. Duhpradharsana
39. Duhsa
40. Duhsah
41. Durbalaki
42. Durbharata
43. Durdharsa
44. Durmada
45. Durmarsana
46. Durmukha
47. Durwimocana
48. Duskarna
49. Dusparajaya
50. Duspramana
51. Hayabahu
52. Jalasandha
53. Jarasanda
54. Jayawikata
55. Kanakadhwaja
56. Kanakayu
57. Karna
58. Kawacin
59. Krathana (Kratana)
60. Kundabhedi
61. Kundadhara
62. Mahabahu
63. Mahacitra
64. Nandaka
65. Pandikunda
66. Prabhata
67. Pramathi
68. Rodrakarma (Rudrakarman)
69. Sala
70. Sama
71. Satwa
72. Satyasanda
73. Senani
74. Sokarti
75. Subahu
76. Sudatra
77. Suddha (Korawa)
78. Sugrama
79. Suhasta
80. Sukasananda
81. Sulokacitra
82. Surasakti
83. Tandasraya
84. Ugra
85. Ugrasena
86. Ugrasrayi
87. Ugrayudha
88. Upacitra
89. Upanandaka
90. Urnanaba
91. Wedha
92. Wicitrihatana
93. Wikala
94. Wikatanana
95. Winda
96. Wirabahu
97. Wirada
98. Wisakti
99. Wiwitsu (Yuyutsu)
100.Wyudoru (Wiyudarus)

Yuyutsu adalah putra Dretarastra dari seorang dayang-dayang.
Dursala adalah adik perempuan Korawa. Ia satu-satunya wanita di antara para Korawa. [] [→]


Pustaka: Wikipedia, Kuliah tentang Mahabharara (Shrii Shrii Anandamurti),Mahabharata Online, 18 Parwa Mahabharata


Mahabharata 2


[] []

Adiparwa

Adiparwa adalah buku pertama atau bagian (parwa) pertama dari kisah MahaBharata. Penuturan kisah keluarga besar Bharata tersebut dimulai dengan percakapan antara Bagawan Ugrasrawa yang mendatangi Bagawan Sonaka di hutan Nemisa. Bagian-bagian kitab Adiparwa itu di antaranya:

  • Cerita Begawan Ugrasrawa (Ugraçrawā) mengenai terjadinya pemandian Samantapañcaka dan tentang dituturkannya kisah MahaBharata oleh Begawan Waisampayana (Waiçampāyana). Kisah panjang tersebut dituturkan atas permintaan maharaja Janamejaya, raja Hastinapura, anak mendiang prabu Parikesit (Parīkşit) dan cicit Pandawa. Begawan Waisampayana bermaksud menghibur sang maharaja atas kegagalan kurban ular (sarpayajña) yang dilangsungkan untuk menghukum naga Taksaka, yang telah membunuh raja Pariksit.
  • Selain itu sang Ugrasrawa juga menjelaskan ringkasan delapan belas parwa yang menyusun MahaBharata; jumlah bab, seloka (çloka) dan isi dari masing-masing parwa.
  • Cerita dikutuknya maharaja Janamejaya oleh sang Sarama, yang berakibat kegagalan kurban yang dilangsungkan oleh sang maharaja.
  • Cerita Begawan Dhomya beserta ketiga orang muridnya; sang Arunika, sang Utamanyu dan sang Weda. Dilanjutkan dengan ceritera Posya, mengenai kisah asal mula sang Uttangka murid sang Weda bermusuhan dengan naga Taksaka. Oleh karenanya sang Uttangka lalu membujuk Maharaja Janamejaya untuk melaksanakan sarpayajña atau upacara pengorbanan ular.
  • Cerita asal mula Hyang Agni (dewa api) memakan segala sesuatu, apa saja dapat dibakarnya, dengan tidak memilah-milah. Serta nasihat dewa kepada sang Ruru untuk mengikuti jejak sang Astika, yang melindungi para ular dan naga dari kurban maharaja Janamejaya.
  • Ceritera Astika; mulai dari kisah sang Jaratkāru mengawini sang Nāgini (naga perempuan) dan beranakkan sang Astika, kisah lahirnya naga dan garuda, dikutuknya para naga oleh ibunya agar dimakan api pada kurban ular, permusuhan naga dengan garuda, hingga upaya para naga menghindarkan diri dari kurban ular.
  • Di dalam ceritera ini terselip pula kisah mengenai upaya para dewa untuk mendapatkan tirta amrta atau air kehidupan, serta asal-usul gerhana matahari dan burlan.
  • Cerita asal-usul Raja Parikesit dikutuk Begawan Çrunggī dan karenanya mati digigit naga Taksaka.
  • Cerita pelaksanaan kurban ular oleh maharaja Janamejaya, dan bagaimana Begawan Astika mengurungkan kurban ular ini.
  • Cerita asal-usul dan sejarah nenek moyang Kurawa dan Pandawa. Kisah Sakuntala (Çakuntala) yang melahirkan Bharata, yang kemudian menurunkan keluarga Bharata. Sampai kepada sang Kuru, yang membuat tegal Kuruksetra; sang Hasti, yang mendirikan Hastinapura; maharaja Santanu (Çantanu) yang berputra Bhîsma Dewabrata, lahirnya Begawan Byasa (Byâsa atau Abiyasa) –sang pengarang kisah ini– sampai kepada lahirnya Dhrestarastra (Dhŗţarāstra) –ayah para Kurawa, Pandu (Pãņdu) –ayah para Pandawa, dan sang Widura.
  • Cerita kelahiran dan masa kecil Kurawa dan Pandawa. Permusuhan Kurawa dan Pandawa kecil, kisah dang hyang Drona, hingga sang Karna menjadi adipati di Awangga.
  • Cerita masa muda Pandawa. Terbakarnya rumah damar, kisah sang Bima (Bhîma) mengalahkan raksasa Hidimba dan mengawini adiknya Hidimbî (Arimbi) serta kelahiran Gatutkaca, kemenangan Pandawa dalam sayembara Drupadi, dibaginya negara Hâstina menjadi dua untuk Kurawa dan Pandawa, pengasingan sang Arjuna selama 12 tahun dalam hutan, lahirnya Abimanyu (Abhimanyu) ayah sang Pariksit, hingga terbakarnya hutan Kandhawa tempat naga Taksaka bersembunyi.

Penuturan isi kitab tersebut bermula ketika Sang Ugrasrawa mendatangi Bagawan Sonaka yang sedang melakukan upacara di hutan Nemisa. Sang Ugrasrawa menceritakan kepada Bagawan Sonaka tentang keberadaan sebuah kumpulan kitab yang disebut Astadasaparwa, pokok ceritanya adalah kisah perselisihan Pandawa dan Korawa, keturunan Sang Bharata. Dari penuturan Sang Ugrasrawa, mengalirlah kisah besar keluarga Bharata tersebut (Mahābhārata).

Kisah Bagawan Dhomya menguji tiga muridnya

Dikisahkan seorang Brāhmana bernama Bagawan Dhomya, tinggal di Ayodhya. Beliau memiliki 3 murid, bernama: Sang Utamanyu, Sang Arunika, dan Sang Weda. Ketiganya akan diuji kesetiaannya oleh Sang Guru. Sang Arunika disuruh bersawah. Dengan berhati-hati Sang Arunika merawat biji padi yang ditanamnya. Ketika biji-bijinya sedang tumbuh, datanglah hujan membawa air bah yang kemudian merusak pematang sawahnya. Ia khawatir kalau air tersebut akan merusak tanamannya, maka ia perbaiki pematangnya untuk menahan air. Berkali-kali usahanya gagal dan pematangnya jebol, maka ia merebahkan dirinya sebagai pengganti pematang yang jebol untuk menahan air. Karena kesetiannya tersebut, Sang Arunika diberikan anugerah kesaktian oleh Bagawan Dhomya.

Sementara itu, Sang Utamanyu disuruh mengembala sapi. Sang Utamanyu tidak diperbolehkan untuk meminta-minta air kalau ia sedang haus saat mengembala sapi, maka ia menjilat susu sapi yang digembalanya. Hal tersebut juga ditentang oleh Sang Guru, maka Sang Utamanyu menghisap getah daun “waduri” untuk menghilangkan dahaga. Hal tersebut mengakibatkan matanya buta. Ia tidak tahu jalan sehingga terperosok ke dalam sumur kering. Sampai sore, Sang Utamanyu tidak juga kembali pulang, gurunya menjadi cemas. Ketika dicari, didapatinya Sang Utamanyu berada dalam sebuah sumur. Bagawan Dhomya kemudian mendengarkan cerita Sang Utamanyu. Karena kesetiannya terhadap kewajiban, Sang Utamanyu diberikan mantra sakti yang mampu menyembuhkan penyakit oleh Bagawan Dhomya.

Sementara itu, Sang Weda disuruh tinggal di dapur untuk menyediakan hidangan yang terbaik buat gurunya. Sang Weda selalu menuruti perintah gurunya, meski yang buruk sekalipun. Segala perintah gurunya dikerjakan dengan baik. Maka dari itu, Sang Weda dianugerahi segala macam ilmu pengetahuan, mantra Veda, dan kecerdasan.

Kisah Sang Winata dan Sang Kadru

Dikisahkan terdapat seorang Maharsi bernama Bagawan Kasyapa, putera bagawan Marirci, cucu Dewa Brahma. Ia diberi oleh Bagawan daksa empat belas puteri. Keempat belas puteri tersebut bernama: Aditi, Diti, Danu, Aristi, Anayusa, Kasa, Surabhi, Winata, Kadru, Ira, Parwa, Mregi, Krodhawasa, Tamra. Di antara empat belas puteri tersebut, Sang Winata dan Kadrru tidak memiliki anak. Mereka berdua kemudian memohon belas kasihan Bagawan Kasyapa. Sang Kadru memohon seribu anak sedangkan Sang Winata hanya memohon dua anak. Kemudian Bagawan Kasyapa memberikan Sang Kadru seribu butir telur sedangkan Sang Winata diberikan dua butir telur. Kedua puteri tersebut kemudian merawat telur masing-masing dengan baik.

Singkat cerita, seribu butir telur milik Sang Kadru menetas, dan lahirlah para Naga. Yang terkemuka adalah Sang Anantabhoga, Sang Wasuki, dan Sang Taksaka. Sementara telur Sang Kadru sudah menetas semuanya, telur Sang Winata belum menetas. Karena tidak sabar, maka telurnya dipecahkan. Ketika pecah, terlihatlah seorang anak yang baru setengah jadi, bagian tubuh ke atas lengkap sedangkan dari pinggang ke bawah tidak ada. Sang anak marah karena ditetaskan sebelum waktunya. Anak tersebut kemudian mengutuk ibunya supaya diperbudak oleh Sang Kadru berlebih-lebihan. Kelak, saudaranya yang akan menetas akan menyelamatkan ibunya dari perbudakan. Anak tersebut kemudian diberi nama Sang Aruna, karena tidak memiliki kaki dan paha. Sang Aruna menjadi sais (kuir) kereta Dewa Surya.

Kisah pemutaran Mandaragiri

Dikisahkan, pada zaman dahulu kala, para Dewa, detya, dan rakshasa mengadakan rapat untuk mencari tirta amerta (air suci). Sang Hyang Nārāyana (Wisnu) mengatakan bahwa tirta tersebut berada di dasar laut Ksira. Cara mendapatkannya adalah dengan mengaduk lautan tersebut. Para Dewa, detya, dan rakshasa kemudian menuju laut Ksira. Untuk mengaduknya, Naga Wasuki mencabut gunung Mandara (Mandaragiri) di pulau Sangka sebagai tongkat pengaduk. Gunung tersebut dibawa ke tengah lautan. Seekor kura-kura (Kurrma) besar menjadi penyangga/dasar gunung tersebut. Sang Naga melilit gunung tersebut, kemudian para Dewa memegang ekornya, sedangkan rakshasa dan detya memegang kepalanya. Dewa Indra berdiri di puncaknya agar gunung tidak melambung ke atas.

Beberapa lama setelah gunung diputar, keluarlah Ardhachandra, Dewi Sri, Dewi Lakshmi, kuda Uccaihsrawa, dan Kastubhamani. Semuanya berada di pihak para Dewa. kemudian, munculah Dhanwantari membawa kendi tempat tirta amerta. Para detya ingin agar tirta tersebut menjadi milik mereka sebab sejak awal tidak pernah dapat bagian. Tirta amerta pun menjadi milik mereka. Para Dewa memikirkan cara untuk merebut tirta tersebut. akhirnya Dewa Wisnu mengubah wujudnya menjadi seorang wanita cantik, kemudian mendekati para rakshasa dan detya. Para rakshasa-daitya yang melihatnya menjadi terpesona, dan menyerahkan kendi berisi tirta tersebut. Wanita cantik itu kemudian pergi sambil membawa tirta amerta dan berubah kembali menjadi Dewa Wisnu.

Para detya yang melihatnya menjadi marah. Tak lama kemudian terjadilah pertempuran antara para Dewa dan rakshasa-detya. Kemudian Dewa Wisnu teringat dengan senjata chakra-nya. Senjata chakra kemudian turun dari langit dan menyambar-nyambar para rakshasa-detya. Banyak dari mereka yang lari terbirit-birit karena luka-luka. Akhirnya ada yang menceburkan diri ke laut dan masuk ke dalam tanah. Para Dewa akhirnya berhasil membawa rtirta amerta ke surga.

Kisah Sang Garuda dan para Naga

Dikisahkan, pada suatu hari Sang Winata dan Sang Kadru, istri Bagawan Kasyapa, mendengar kabar tentang keberadaan seekor kuda bernama Uccaihsrawa, hasil pemutaran Gunung Mandara atau Mandaragiri. Sang Winata mengatakan bahwa warna kuda tersebut putih semua, sedangkan Sang Kadru mengatakan bahwa tubuh kuda tersebut berwarna putih sedangkan ekornya saja yang hitam. Karena berbeda pendapat, mereka berdua bertaruh, siapa yang tebakannya salah akan menjadi budak. Mereka berencana untuk menyaksikan warna kuda itu besok sekaligus menentukan siapa yang salah.

Sang Kadru menceritakan masalah taruhan tersebut kepada anak-anaknya. Anak-anaknya mengatakan bahwa ibunya sudah tentu akan kalah, karena warna kuda tersebut putih belaka. Sang Kadru pun cemas karena merasa kalah taruhan, maka dari itu ia mengutus anak-anaknya untuk memercikkan bisa ke ekor kuda tersebut supaya warnanya menjadi hitam. Anak-anaknya menolak untuk melaksanakannya karena merasa perbuatan tersebut tidak pantas. Sang Kadru yang marah mengutuk anak-anaknya supaya mati ditelan api pada saat upacara pengorbanan ular yang diselenggarakan Raja Janamejaya. Mau tak mau, akhirnya anak-anaknya melaksanakan perintah ibunya. Mereka pun memercikkan bisa ular ke ekor kuda Uccaihsrawa sehingga warnanya yang putih kemudian menjadi hitam. Akhirnya Sang Kadru memenangkan taruhan sehingga Sang Winata harus menjadi budaknya.

Sementara itu, telur yang diasuh Sang Winata menetas lalu munculah burung gagah perkasa yang kemudian diberi nama Garuda. Sang Garuda mencari-cari kemana ibunya. Pada akhirnya ia mendapati ibunya diperbudak Sang Kadru untuk mengasuh para naga. Sang Garuda membantu ibunya mengasuh para naga, namun para naga sangat lincah berlari kesana-kemari. Sang Garuda kepayahan, lalu menanyakan para naga, apa yang bisa dilakukan untuk menebus perbudakan ibunya. Para naga menjawab, kalau Sang Garuda mampu membawa tirta amerta ke hadapan para naga, maka ibunya akan dibebaskan. Sang Garuda menyanggupi permohonan tersebut.

Singkat cerita, Sang Garuda berhasil menghadapi berbagai rintangan dan sampai di tempat tirta amerta. Pada saat Sang Garuda ingin mengambil tirta tersebut, Dewa Wisnu datang dan bersabda, “Sang Garuda, jika engkau ingin mendapatkan tirta tersebut, mintalah kepadaku, nanti pasti aku berikan”.

Sang Garuda menjawab, “Tidak selayaknya jika saya meminta kepada anda sebab anda lebih sakti daripada saya. Karena tirta amerta anda tidak mengenal tua dan mati, sedangkan saya tidak. Untuk itu, berikanlah kepada saya anugerah yang lain”. Dewa Wisnu berkata, “Jika demikian, aku memintamu untuk menjadi kendaraanku, sekaligus menjadi lambang panji-panjiku”. Sang Garuda setuju dengan permohonan tersebut sehingga akhirnya menjadi kendaraan Dewa Wisnu. Kemudian Sang Garuda terbang membawa tirta, namun Dewa Indra tidak setuju kalau tirta tersebut diberikan kepada para naga. Sang Garuda mengatakan bahwa tirta tersebut akan diberikan kalau para naga sudah selesai mandi.

Sampailah Sang Garuda ke tempat tinggal para naga. Para naga girang ingin segera meminum amerta, namun Sang Garuda mengatakan bahwa tirta tersebut boleh diminum jika para naga mandi terlebih dahulu. Para naga pun mandi sesuai dengan syarat yang diberikan, tetapi setelah selesai mandi, tirta amerta sudah tidak ada lagi karena dibawa kabur oleh Dewa Indra. Para naga kecewa dan hanya mendapati beberapa percikan tirta amerta tertinggal pada daun ilalang. Para naga pun menjilati daun tersebut sehingga lidahnya tersayat dan terbelah. Daun ilalang pun menjadi suci karena mendapat tirta amerta. Sementara itu Sang Garuda terbang ke surga karena merasa sudah menebus perbudakan ibunya.

Wafatnya Raja Parikesit

Dikisahkan, ada seorang Raja bernama Parikesit, ayahnya adalah Abimanyu sedangkan putranya adalah Janamejaya. Beliau merupakan keturunan Sang Kuru, maka disebut juga Kuruwangsa.

Saat Maharaja Parikesit masih berada dalam kandungan, ayahnya yang bernama Abimanyu, turut serta bersama Arjuna dalam sebuah pertempuran besar di daratan Kurukshetra. Dalam pertempuran tersebut, Abimanyu gugur dalam serangan musuh yang dilakukan secara curang. Abimanyu meninggalkan ibu Parikesit yang bernama Utara karena gugur dalam perang.

Pada pertempuran di akhir hari kedelapan belas, Aswatama bertarung dengan Arjuna. Aswatama dan Arjuna sama-sama sakti dan sama-sama mengeluarkan senjata Brahmāstra. Karena dicegah oleh Resi Byasa, Aswatama dianjurkan untuk mengarahkan senjata tersebut kepada objek lain. Maka Aswatama memilih agar senjata tersebut diarahkan ke kandungan Utara. Senjata tersebut pun membunuh Parikesit yang masih berada dalam kandungan. Atas pertolongan dari Kresna, Parikesit dihidupkan kembali. Aswatama kemudian dikutuk agar mengembara di dunia selamanya.

Setelah parikesti lahir, Resi Dhomya memprediksikan kepada Yudistira bahwa ia akan menjadi pemuja setia Dewa Wisnu, dan semenjak ia diselamatkan oleh Bhatara Kresna, ia akan dikenal sebagai Vishnurata (Orang yang selalu dilindungi oleh Sang Dewa).

Resi Dhomya memprediksikan bahwa Parikesit akan selamanya mencurahkan kebajikan, ajaran agama dan kebenaran, dan akan menjadi pemimpin yang bijaksana, tepatnya seperti Ikswaku dan Rama dari Ayodhya. Ia akan menjadi ksatria panutan seperti Arjuna, yaitu kakeknya sendiri, dan akan membawa kemahsyuran bagi keluarganya.

Saat dimulainya zaman Kali Yuga, yaitu zaman kegelapan, dan mangkatnya Kresna Awatara dari dunia fana, lima Pandawa bersaudara pensiun dari pemerintahan. Parikesit sudah layak diangkat menjadi raja, dengan Krepa sebagai penasihatnya. Beliau menyelenggarakan Aswameddha Yajña tiga kali di bawah bimibingan Krepa.

Kutukan Sang Srenggi

Pada suatu hari, Raja Parikesit pergi berburu kijang ke tengah hutan. Kijang diikutinya sampai kehilangan jejak. Ia kepayahan, lalu berhenti untuk beristirahat. Akhirnya ia sampai di sebuah tempat pertapaan. Di pertapaan tersebut, tinggalah Bagawan Samiti. Beliau sedang duduk bertapa dan membisu. Ketika Sang Raja bertanya kemana buruannya pergi, Bagawan Samiti hanya diam membisu karena pantang berkata-kata saat sedang bertapa. Karena pertanyaannya tidak dijawab, Raja Parikesit marah dan mengambil bangkai ular dengan anak panahnya, lalu mengalungkannya ke leher Bagawan Samiti. Kemudian Sang Kresa menceritakan kejadian tersebut kepada putera Bagawan Samiti yang bernama Sang Srenggi yang bersifat mudah marah.

Saat Sang Srenggi pulang, ia melihat bangkai ular melilit leher ayahnya. Kemudian Sang Srenggi mengucapkan kutukan bahwa Raja Parikesit akan mati digigit ular setelah tujuh hari sejak kutukan tersebut diucapkan. Bagawan Samiti kecewa terhadap perbuatan puteranya tersebut, yang mengutuk raja yang telah memberikan mereka tempat berlindung. Akhirnya Bagawan Samiti berjanji akan mengakhiri kutukan tersebut. ia mengutus muridnya untuk memberitahu Sang Raja, namun Sang Raja sudah merasa tersinggung dan juga malu untuk menerima mengakhiri kutukan tersebut dan memilih untuk berlindung. setelah beliau diramalkan akan dibunuh oleh seekor ular. Maka beliaupun menyuruh untuk mengadakan upacara sarpayajna untuk mengusir semua ular dan berlindung di sebuah menara yang dijaga dan diawasi dengan ketat oleh prajurit dan para patihnya. Di sekeliling menara juga telah siap para tabib yang ahli menangani bisa ular.

Kemudian Naga Taksaka pergi ke Hastinapura untuk melaksanakan perintah Sang Srenggi untuk menggigit Sang Raja. Penjagaan di Hastinapura sangat ketat. Sang Raja berada dalam menara tinggi dan dikelilingi oleh prajurit, brahmana, dan ahli bisa. Naga Taksaka mengalami kesulitan untuk menjalankan perintah itu. Akhirnya pada hari ketujuh, yaitu hari yang diramalkan menjadi hari kematiannya, seekor naga yang bernama Taksaka menyamar menjadi ulat pada jambu yang dihaturkan kepada Sang Raja. Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Raja Parikesit wafat setelah digigit Naga Taksaka .

    Versi Jawa
    Parikesit adalah putera Abimanyu alias Angkawijaya, kesatria Plangkawati dengan permaisuri Dewi Utari, puteri Prabu Matsyapati dengan Dewi Ni Yustinawati dari Kerajaan Wirata. Ia seorang anak yatim, karena ketika ayahnya gugur di medan perang Bharatayuddha, ia masih dalam kandungan ibunya. Parikesit lahir di istana Hastinapura setelah keluarga Pandawa boyong dari Amarta ke Hastinapura.

    Parikesit naik tahta negara Hastinapura menggantikan kakeknya Prabu Karimataya, nama gelar Prabu Yudistira setelah menjadi raja negara Hastinapura. Ia berwatak bijaksana, jujur dan adil.

    Prabu Parikesit mempunyai 5 (lima) orang permasuri dan 8 (delapan) orang putera, yaitu:

    • Dewi Puyangan, berputera Ramayana dan Pramasata
    • Dewi Gentang, berputera Dewi Tamioyi
    • Dewi Satapi alias Dewi Tapen, berputera Yudayana dan Dewi Pramasti
    • Dewi Impun, berputera Dewi Niyedi
    • Dewi Dangan, berputera Ramaprawa dan Basanta.
    • Raja Janamejaya mengadakan upacara korban ular

Setelah Maharaja Parikesit mangkat, puteranya yang bernama Janamejaya menggantikan tahtanya. Pada waktu itu beliau masih kanak-kanak, namun sudah memiliki kesaktian, kepandaian, dan wajah yang tampan. Raja Janamejaya dinikahkan dengan puteri dari Kerajaan Kasi, bernama Bhamustiman. Raja Janamejaya memerintah dengan adil dan bijaksana sehingga dunia tenteram, setiap musuh pasti dapat ditaklukkannya. Ketika Sang Raja berhasil menaklukkan desa Taksila, Sang Uttangka datang menghadap Sang Raja dan mengatakan niatnya yang benci terhadap Naga Taksaka, sekaligus menceritakan bahwa penyebab kematian ayahnya adalah karena ulah Naga Taksaka.

Sang Raja meneliti kebenaran cerita tersebut dan para patihnya membenarkan cerita Sang Uttangka. Sang Raja dianjurkan untuk mengadakan upacara pengorbanan ular untuk membalas Naga Taksaka. Singkat cerita, beliau menyiapakan segala kebutuhan upacara dan mengundang para pendeta dan ahli mantra untuk membantu proses upacara. Melihat Sang Raja mengadakan upacara tersebut, Naga Taksaka menjadi gelisah. Kemudian ia mengutus Sang Astika untuk menggagalkan upacara Sang Raja. Sang Astika menerima tugas tersebut lalu pergi ke lokasi upacara. Sang Astika menyembah-nyembah Sang Raja dan memohon agar Sang Raja membatalkan upacaranya. Sang Raja yang memiliki rasa belas kasihan terhadap Sang Astika, membatalkan upacaranya. Akhirnya, Sang Astika mohon diri untuk kembali ke Nagaloka. Naga Taksaka pun selamat dari upacara tersebut.

Wesampayana menuturkan MahaBharata

Maharaja Janamejaya yang sedih karena upacaranya tidak sempurna, meminta Bagawan Byasa untuk menceritakan kisah leluhurnya, sekaligus kisah Pandawa dan Korawa yang bertempur di Kurukshetra. Karena Bagawan Byasa sibuk dengan urusan lain, maka Bagawan Wesampayana disuruh mewakilinya. Beliau adalah murid Bagawan Byasa, penulis kisah besar keluarga Bharata atau Mahābhārata. Sesuai keinginan Raja Janamejaya, Bagawan Wesampayana menuturkan sebuah kisah kepada Sang Raja, yaitu kisah sebelum sang raja lahir, kisah Pandawa dan Korawa, kisah perang di Kurukshetra, dan kisah silsilah leluhur sang raja. Wesampayana mula-mula menuturkan kisah leluhur Maharaja Janamejaya (Sakuntala, Duswanta, Bharata, Yayati, Puru, Kuru), kemudian kisah buyutnya, yaitu Pandawa dan Korawa.

Garis keturunan Maharaja Yayati

Leluhur Maharaja Janamejaya yang menurunkan pendiri Dinasti Puru dan Yadu bernama Maharaja Yayati, beliau memiliki dua permaisuri, namanya Dewayani dan Sarmishta. Dewayani melahirkan Yadu dan Turwasu, sedangkan Sarmishta melahirkan Anu, Druhyu, dan Puru. Keturunan Sang Yadu disebut Yadawa sedangkan keturunan Sang Puru disebut Paurawa.

Dalam silsilah generasi Paurawa, lahirlah Maharaja Dushyanta, menikahi Sakuntala, yang kemudian menurunkan Sang Bharata. Sang Bharata menaklukkan dunia dan daerah jajahannya kemudian dikenal sebagai Bharatawarsha. Sang Bharata menurunkan Dinasti Bharata. Dalam Dinasti Bharata lahirlah Sang Kuru, yang menyucikan sebuah tempat yang disebut Kurukshetra, kemudian menurunkan Kuruwangsa, atau Dinasti Kuru. Setelah beberapa generasi, lahirlah Prabu Santanu, yang mewarisi tahta Hastinapura.

    Hastinapura adalah sebuah kota dan Nagar Panchayat di distrik Meerut, Uttar Pradesh, negara bagian India. Hastinapura berasal dari kata Hasti (gajah) + Pura (kota). Banyak kejadian di kisah MahaBharata yang terjadi di Hastinapura. Pada masa kini, kota ini disebut Hastinapur, sebuah kota kecil yang terletak di Uttar Pradesh, jaraknya 120 km dari Delhi dan 37 km dari Meerut. Di sana terdapat objek wisata yang menarik untuk dikunjungi seperti Kuil Jain dan Taman Nasional Hastinapur. Populasi sekitar 20.000 jiwa. Perjalanan ke sana dapat ditempuh dengan bus dari Meerut yang siap sedia dari jam 7 pagi sampai 9 malam. Jalanan bagus dan bersih dengan pemandangan hijau dan hamparan persawahan di kiri-kanan. Di sana terdapat objek wisata yang menarik untuk dikunjungi seperti Kuil Jain dan Taman Nasional Hastinapur.

Prabu Santanu dan keluarga besarnya: Bisma dan Srikandi, Pandu, Drestarasta dan Gandari, Sakuni, Widura, Balarama, Kresna, Subadra, Pandawa, Korawa

Tersebutlah seorang Raja bernama Pratipa, beliau merupakan salah satu keturunan Sang Kuru atau Kuruwangsa, bertahta di Hastinapura. Raja Pratipa memiliki permaisuri bernama Sunandha dari Kerajaan Siwi, yang melahirkan tiga putera. Di antara ketiga putera tersebut, Santanu dinobatkan menjadi Raja.

Raja Santanu menikahi Dewi Gangga, kemudian berputera 8 orang yang merupakan penjelmaan dari delapan Wasu. Setiap putranya lahir, Ibunya (Dewi Gangga) pergi kesungai dan menenggelamkannya. Hal tersebut terjadi sebanyak tujuh kali. Saat putera yang kedelapan lahir, Raja mengikuti dan mencegah istrinya menenggelamkan anak mereka yang kedelapan. Putera yang selamat itu bernama Dewabrata, yang di kemudian hari dikenal sebagai Bhisma. Raja Santanu menikah sekali lagi dengan seorang puteri nelayan bernama Satyawati. Satyawati melahirkan 2 putera, bernama Chitrāngada dan Wicitrawirya.

7 putra tersebut ditenggelamkan merupakan penjelmaan dari Delapan Wasu yang mengalami kutukan karena perbuatannya mencuri lembu sakti milik Resi Wasistha. Dalam perjalanannya menuju bumi, mereka bertemu dengan Dewi Gangga yang juga mau turun ke dunia untuk menjadi istri putera Raja Pratipa, yaitu Santanu. Delapan Wasu kemudian membuat kesepakatan dengan Dewi Gangga bahwa mereka akan menjelma sebagai delapan putera Prabu Santanu dan dilahirkan oleh Dewi Gangga. Bisma merupakan penjelmaan Wasu yang bernama Prabhata.

Sementara tujuh kakaknya yang telah lahir berhasil mengakhiri kutukan karena ditenggelamkan ke sungai Gangga oleh ibu mereka sendiri, Bisma tidak berhasil mengikuti jejak 7 wasu yang lain karena di cegah oleh ayahnya. Kemudian, sang ibu membawa Bisma yang masih bayi ke surga, meninggalkan Prabu Santanu sendirian. Setelah 36 tahun kemudian, Dewi Gangga kemudian menyerahkan anak tersebut kepada Sang Prabu di hilir sungai Gangga, dan memberinya nama Dewabrata. Dewabrata kemudian menjadi pangeran yang cerdas dan gagah, dan dicalonkan sebagai pewaris kerajaan. Namun karena janjinya terhadap Sang Dasapati, ayah Satyawati (ibu tirinya), ia rela untuk tidak mewarisi tahta serta tidak menikah seumur hidup agar kelak keturunannya tidak memperebutkan tahta kerajaan dengan keturunan Satyawati. Karena ketulusannya tersebut, ia diberi nama Bisma dan dianugerahi agar mampu bersahabat dengan Sang Dewa Waktu sehingga ia bisa menentukan waktu kematiannya sendiri.

Nama Bhishma dalam bahasa Sanskerta berarti “Dia yang sumpahnya dahsyat (hebat)”, karena ia bersumpah akan hidup membujang selamanya dan tidak mewarisi tahta kerajaannya. Nama Dewabrata diganti menjadi Bisma karena ia melakukan bhishan pratigya, yaitu sumpah untuk membujang selamanya dan tidak akan mewarisi tahta ayahnya. Hal itu dikarenakan Bisma tidak ingin dia dan keturunannya berselisih dengan keturunan Satyawati, ibu tirinya.

Bisma mempelajari ilmu politik dari Brihaspati (guru para Dewa), ilmu Veda dan Vedangga dari Resi Wasistha, dan ilmu perang dari Parasurama (Ramaparasu; Rama Bargawa), seorang ksatria legendaris sekaligus salah satu Ciranjīvin[↓] yang hidup abadi sejak zaman Treta Yuga. Dengan berguru kepadanya Bisma mahir dalam menggunakan segala jenis senjata dan karena kepandaiannya tersebut ia ditakuti oleh segala lawannya.

Di lingkungan keraton Hastinapura, Bisma sangat dihormati oleh anak-cucunya. Tidak hanya karena ia tua, namun juga karena kemahirannya dalam bidang militer dan peperangan. Dalam setiap pertempuran, pastilah ia selalu menang karena sudah sangat berpengalaman. Yudistira juga pernah mengatakan, bahwa tidak ada yang sanggup menaklukkan Bisma dalam pertempuran, bahkan apabila laskar Dewa dan laskar Asura menggabungkan kekuatan dan dipimpin oleh Indra, Sang Dewa Perang.

Bisma memiliki dua adik tiri dari ibu tirinya yang bernama Satyawati. Mereka bernama Citrānggada dan Wicitrawirya. Demi kebahagiaan adik-adiknya, ia pergi ke Kerajaan Kasi dan memenangkan sayembara sehingga berhasil membawa pulang tiga orang puteri bernama Amba, Ambika, dan Ambalika, untuk dinikahkan kepada adik-adiknya.

Saat Amba di menangkan Bhisma, didalam hatinya Ia lebih memilih Salva, seorang raja dari Saubala, begitu pula sebaliknya. Mereka saling menyerahkan hatinya. Raja Salva mencegat Bisma dan terjadilah pertarungan. Pertarungan itu dimenangkan oleh Bisma.

Amba, Ambika, dan Ambalika hendak dinikahkan pada Citranggada, Amba berkata pada Bisma, ’Oh Putra Gangga, tentunya engkau mengentahui apa kata kitab suci. Hatiku telah memilih Sava sebagai suami namun engkau membawa paksa diriku kemari’. Bisma mengakui bahwa Amba di bawa paksa, kemudian dengan pengawalan ang pantas Ia di kembalikan ke Raja salva.

Amba merasa sangat bersukacita, Ia menceritakan apa yang terjadi pada Raja Salva, namun ternyata tidak sesuai dengan harapannya, raja Salva tidak mau menerima Amba lagi karena ia merasa Malu telah dikalahkan dan tidak dapat menyelamatkan pujaan hatinya dulu. Amba di minta kembali kepada Bisma. Amba kemudian di minta kembali ke Hastinapura dan menceritakan apa yang terjadi pada Bisma.

Karena Citrānggada wafat pada suatu pertempuran melawan seorang Raja Gandharva, pemerintahannya digantikan oleh adiknya, Wicitrawirya, maka Ambika dan Ambalika menikah dengan Wicitrawirya.

Mendengar penuturan Amba, maka kemudian Bisma kemudian membujuk Wicitrawirya untuk mengawini Amba. Namun Raja yang baru menikahi 2 wanita itu menolak menikahi Amba yang telah menyerahkan hatinya pada orang lainnya. Amba mendengar penolakan Raja dan akhirnya meminta pertanggungjawaban Bisma untuk mengawininya namun Bisma juga menolak karena terikat oleh sumpah bahwa ia tidak akan kawin seumur hidup. Ia kemudian berjanji akan mencari cara agar Raja Salva mau menerimanya.

Permulaan Amba merasa gengsi namun setelah enam tahun berjalan dalam kesedihan yang mendalam akhirnya Ia kembali mencari Raja Salva, namun tetap saja Raja itu menolaknya.

Sungguh sangat memelas nasib Amba bertahun-tahun nasibnya terkatung-katung tak tentu dan ia merasa bahwa ini adalah gara-gara Bisma sehingga kemudian menjadi sangat dendam kepada Bisma atas seluruh kejadian yang menimpanya. Ia kemudian berkeliling keseluruh penjuru mencari mengadukan nasibnya pada para ksatria dan meminta bantuan mereka untuk melawan Bisma. Seluruh ksatria saat itu tidak ada yang mau berhadapan dengan Bisma. Ia kemudian mencari perlidungan kepada Yang maha kuasa (subramanyam), Yang maha Kuasa memberikan sebuah karangan bunga lotus kepadanya bahwa barang siapa yang memakai itu akan dapat mengalahkan Bisma.

Sekali lagi ia pergi keseluruh penjuru mencari Ksatria yang ada, namun mereka terlalu gentar untuk melawan Bisma. Terakhir ia memohon kepada Raja Drupada, namun Raja itu juga menolak. Amba putus asa dan meletakan Karangan bunga itu di pintu gerbang Istana dan kemudian masuk menuju hutan. Di Hutan itu ia bertemu dengan beberapa pertapa yang menyarankan Amba untuk memohon bantuan pada Parasurama, guru dari Bisma

Gurunya Bisma, Parasurama, menaruh perhatian terhadap masalah Bisma dan Amba. Ia kemudian bertemu dengan Bisma, dari mulai membujuk halus hingga terjadilah pertarungan antara guru dan murid. Ternyata sang Guru juga dapat dikalahkan oleh muridnya. Kejadian itu juga yang mimicu sumpah Parasurama bahwa Ia tidak lagi menerima murid dari kasta Kshatriya.

Setelah tidak ada satu manusiapun yang mampu. Akhirnya Amba menuju Himalaya, melakukan tapabrata keras dan memasrahkan persoalan ini kepada Yang Mahakuasa, Shiva. Ditengah pertapaannya itu, Shiva hadir dihadapannya dan memberikan restu bahwa di kehidupan mendatang Ia akan dapat membunuh Bhisma. Amba senang mendengar ini namun ia sudah tidak sabar lagi menanti saat itu tiba. Ia kemudian membakar dirinya agar dapat segera membunuh Bisma dengan tangannya Sendiri.

Berkat Deva Shiva menjadikan Ia lahir sebagai anak Raja Drupada. Beberapa tahun kemudian setelah kelahirannya. Ia juga menemukan karangan bunga yang pernah ia letakan di gerbang Istana. Karangan buga itu masih ada, karena tidak ada seorangpun yang berani mengambilnya untuk berhadapan melawan Bisma. Ia kemudian memakainya. Raja Drupada melihat juga hal itu dan merinding melihatnya, kemudian Raja mengasingkannya di sebuah Hutan. Di hutan itu, Ia menggembleng diri dan melakukan tapabrata. Kelaminnya berubah menjadi Laki-laki dan Iapun dikenal denan nama Srikandi. Beberapa tahun kemudia Bisma tewas di tangan Srikandi yang membantu Arjuna dalam pertempuran akbar di Kurukshetra.

Bisma sangat dicintai oleh Pandawa maupun Korawa. Mereka menghormatinya sebagai seorang kakek sekaligus kepala keluarga yang bijaksana. Kadangkala Pandawa menganggap Bisma sebagai ayah mereka (Pandu), yang sebenarnya telah wafat. Saat perang antara Pandawa dan Korawa meletus, Bisma berada di pihak Korawa. Sesaat sebelum pertempuran, ia berkata kepada Yudistira bahwa dirinya telah diperbudak oleh kekayaan, dan dengan kekayaannya Korawa mengikat Bisma. Meskipun demikian, karena Yudistira telah melakukan penghormatan sebelum pertempuran, maka Bisma merestui Yudistira dan berdo’a agar kemenangan berada di pihak Pandawa, meskipun Bisma sangat sulit untuk ditaklukkan. Bisma juga pernah berkata kepada Duryodana, bahwa meski dirinya (Bisma) memihak Korawa, kemenangan sudah pasti berada di pihak Pandawa karena Kresna berada di sana, dan dimanapun ada Kresna maka di sanalah terdapat kebenaran serta keberuntungan dan dimanapun ada Arjuna, di sanalah terdapat kejayaan.

    Veris Jawa:
    Bisma adalah anak Prabu Santanu, Raja Astina dengan Dewi Gangga alias Dewi Jahnawi (dalam versi Jawa). Waktu kecil bernama Raden Dewabrata yang berarti keturunan Bharata yang luhur. Ia juga mempunyai nama lain Ganggadata. Dia adalah salah satu tokoh wayang yang tidak menikah yang disebut dengan istilah Brahmacarin. Berkediaman di pertapaan Talkanda. Bisma dalam tokoh perwayangan digambarkan seorang yang sakti, dimana sebenarnya ia berhak atas tahta Astina akan tetapi karena keinginan yang luhur dari dirinya demi menghindari perpecahan dalam negara Astina ia rela tidak menjadi raja.

    Resi Bisma sangat sakti mandraguna dan banyak yang bertekuk lutut kepadanya. Ia mengikuti sayembara untuk mendapatkan putri bagi Raja Hastina dan memboyong 3 Dewi. Salah satu putri yang dimenangkannya adalah Dewi Amba dan Dewi Amba ternyata mencintai Bisma. Bisma tidak bisa menerima cinta Dewi Amba karena dia hanya wakil untuk mendapatkan Dewi Amba. Namun Dewi Amba tetap berkeras hanya mau menikah dengan Bisma. Bisma pun menakut-nakuti Dewi Amba dengan senjata saktinya yang justru tidak sengaja membunuh Dewi Amba. Dewi Amba yang sedang sekarat dipeluk oleh Bisma sambil menyatakan bahwa sesungguhnya dirinya juga mencintai Dewi Amba. Setelah roh Dewi Amba keluar dari jasadnya kemudian mengatakan bahwa dia akan menjemput Bisma suatu saat agar bisa bersama di alam lain dan Bisma pun menyangupinya. Diceritakan roh Dewi Amba menitis kepada Srikandi yang akan membunuh Bisma dalam perang Bharatayuddha.

    Dikisahkan, saat ia lahir, ibunya moksa ke alam baka meninggalkan Dewabrata yang masih bayi. Ayahnya prabu Santanu kemudian mencari wanita yang bersedia menyusui Dewabrata hingga ke negara Wirata bertemu dengan Dewi Durgandini atau Dewi Satyawati, istri Parasara yang telah berputra Resi Wyasa. Setelah Durgandini bercerai, ia dijadikan permaisuri Prabu Santanu dan melahirkan Citrānggada dan Wicitrawirya, yang menjadi saudara Bisma seayah lain ibu.

    Setelah menikahkan Citrānggada dan Wicitrawirya, Prabu Santanu turun tahta menjadi pertapa, dan digantikan anaknya. Sayang kedua anaknya kemudian meninggal secara berurutan, sehingga tahta kerajaan Astina dan janda Citrānggada dan Wicitrawirya diserahkan pada Byasa, putra Durgandini dari suami pertama. Byasa-lah yang kemudian menurunkan Pandu dan Dretarata, orangtua Pandawa dan Korawa. Demi janjinya membela Astina, Bisma berpihak pada Korawa dan mati terbunuh oleh Srikandi di perang Bharatayuddha. Bisma memiliki kesaktian tertentu, yaitu ia bisa menentukan waktu kematiannya sendiri

Adik tiri Bisma, Wicitrawirya wafat tak lama setelah pernikahannya. Ia tidak memiliki keturunan. Oleh karena itu, Satyawati mengirim kedua istri Wicitrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika, untuk menemui Resi Byasa, sebab Sang Resi akan mengadakan suatu upacara bagi mereka agar memperoleh keturunan.

Byasa/Vyasa bergelar Veda Vyasa (orang yang mengumpulkan berbagai karya para resi dari masa sebelumnya, membukukannya, dan dikenal sebagai Weda). Beliau juga dikenal dengan nama Krishna Dwaipayana. Beliau adalah filsuf, sastrawan India yang menulis epos terbesar di dunia, yaitu MahaBharata.

Wisnupurana menyatakan bahwa alam semesta adalah suatu siklus, ada dan tiada berulang kali. Setiap siklus dipimpin oleh beberapa Manu, satu untuk setiap Manwantara, yang memiliki empat zaman, disebut Caturyuga (empat Yuga). Dwaparayuga adalah Yuga yang ketiga. Kitab Purana (Buku 3, Chanto 3):

    “Dalam setiap zaman ketiga (Dwapara), Wisnu, dalam diri Wyasa, untuk menjaga kualitas umat manusia, membagi Weda, yang seharusnya satu, menjadi beberapa bagian. Mengamati terbatasnya ketekunan, energi, dan dengan wujud yang tak kekal, ia membuat Weda empat bagian, sesuai kapasitasnya; dan raga yang dipakainya, dalam menjalankan tugas untuk mengklasifikasi, dikenal dengan nama Wedawyasa.”

Krishna Dwaipayana membagi Weda menjadi empat bagian (Caturweda), dan oleh karena itu ia juga memiliki nama Weda Wyasa yang artinya “Pembagi Weda”. Kata Wyasa berarti “membelah”, “memecah”, “membedakan”. Dalam proses pengkodifikasian Weda, Wyasa dibantu oleh empat muridnya, yaitu Pulaha, Jaimini, Samantu, dan Wesampayana.

Pada suatu ketika, timbul keinginan Resi Byasa untuk menyusun riwayat keluarga Bharata. Atas persetujuan Dewa Brahma, Hyang Ganapati (Ganesha) datang membantu Byasa. Ganapati meminta Wyasa agar ia menceritakan MahaBharata tanpa berhenti, sedangkan Ganapati yang akan mencatatnya. Setelah dua setengah tahun, MahaBharata berhasil disusun. Murid-murid Resi Byasa yang terkemuka seperti Pulaha, Jaimini, Sumantu, dan Wesampayana menuturkannya berulang-ulang dan menyebarkannya ke seluruh dunia.

Orangtua Byasa adalah Resi Parasara dan Satyawati (alias Durgandini atau Gandawati). Diceritakan bahwa pada suatu hari, Resi Parasara berdiri di tepi Sungai Yamuna, minta diseberangkan dengan perahu. Satyawati menghampirinya lalu mengantarkannya ke seberang dengan perahu.

Di tengah sungai, Resi Parasara terpikat oleh kecantikan Satyawati. Satyawati kemudian bercakap-cakap dengan Resi Parasara, sambil menceritakan bahwa ia terkena penyakit yang menyebabkan badannya berbau busuk.

Ayah Satyawati berpesan, bahwa siapa saja lelaki yang dapat menyembuhkan penyakitnya boleh dijadikan suami. Mendengar hal itu, Resi Parasara berkata bahwa ia bersedia menyembuhkan penyakit Satyawati. Karena kesaktiannya sebagai seorang resi, Parasara menyembuhkan Satyawati dalam sekejap.

Setelah lamaran disetujui oleh orangtua Satyawati, Parasara dan Satyawati melangsungkan pernikahan. Kedua mempelai menikmati malam pertamanya di sebuah pulau di tengah sungai Yamuna, konon terletak di dekat kota Kalpi di distrik Jalaun di Uttar Pradesh, India. Di sana Resi Parasara menciptakan kabut gelap nan tebal agar pulau tersebut tidak dapat dilihat orang. Dari hasil hubungannya, lahirlah seorang anak yang sangat luar biasa. Ia diberi nama Krishna Dwaipayana, karena kulitnya hitam (krishna) dan lahir di tengah pulau (dwaipayana). Anak tersebut tumbuh menjadi dewasa dengan cepat dan mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang resi.

Byasa juga dikenal sebagai penulis (pencatat) sejarah dalam MahaBharata, namun ia juga merupakan tokoh penting dalam riwayat yang disusunnya itu. Ibunya (Satyawati) menikah dengan Santanu, Raja Hastinapura. Dari perkawinannya lahirlah Citrānggada dan Wicitrawirya.

Selain dikenal sebagai tokoh yang membagi Weda menjadi empat bagian, Byasa juga dikenal sebagai penulis (pencatat) sejarah dalam MahaBharata, namun ia juga merupakan tokoh penting dalam riwayat yang disusunnya itu. Ibunya (Satyawati) menikah dengan Santanu, Raja Hastinapura. Dari perkawinannya lahirlah Citrānggada dan Wicitrawirya. Citrānggada gugur dalam suatu pertempuran, sedangkan Wicitrawirya wafat karena sakit. Karena kedua pangeran itu wafat tanpa memiliki keturunan, Satyawati menanggil Byasa agar melangsungkan suatu yadnya (upacara suci) untuk memperoleh keturunan. Kedua janda Wicitrawirya yaitu Ambika dan Ambalika diminta menghadap Byasa sendirian untuk diupacarai.

    Versi Jawa
    Abyasa merupakan putra pasangan Parasara dan Durgandini. Dikisahkan Durgandini menderita bau amis pada badannya semenjak lahir. Ia diobati Parasara seorang pendeta muda, di atas perahu sampai sembuh. Keduanya saling jatuh hati dan melakukan sanggama, sehingga lahir Abyasa. Abyasa tidak lahir sendiri. Parasara juga mencipta perahu, penyakit, dan alat-alat pengobatannya menjadi manusia berjumlah enam, yaitu Setatama, Rekathawati, Bimakinca, Kincaka, Rupakinca, dan Rajamala. Semuanya dipersaudarakan dengan Abyasa.

    Durgandini kemudian menjadi permaisuri Sentanu raja Hastina. Ia melahirkan Citranggada dan Citrawirya. Masing-masing secara berturut-turut naik takhta menggantikan Sentanu. Namun, keduanya masih muda. Citranggada meninggal saat belum menikah, sedangkan Citrawirya meninggal saat belum memiliki putra.

    Durgandini kemudian memanggil Abyasa untuk menikahi kedua janda Citrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika. Saat itu ia baru saja bertapa sehingga keadaan tubuhnya sangat buruk dan mengerikan. Ambika ketakutan saat pertama kali bertemu sampai memejamkan mata. Abyasa meramalkan kalau Ambika kelak melahirkan putra buta. Sementara itu, Ambalika memalingkan muka karena takut. Abyasa meramalkan kelak Ambalika akan melahirkan bayi berleher cacad. Abyasa juga menikahi dayang Ambalika bernama Datri. Perempuan itu ketakutan dan mencoba lari. Ia pun ditramal kelak akan melahirkan putra berkaki pincang. Akhirnya, Ambika, Ambalika, dan Datri masing-masing melahirkan putra yang diberi nama Dretarastra, Pandu, dan Widura.

    Pewaris sah takhta Hastina sesungguhnya adalah Bisma putra Sentanu dari istri pertama. Namun ia telah bersumpah tidak akan menjadi raja, sehingga sebagai pengganti Citrawirya, Abyasa pun naik takhta sampai kelak ketiga putranya dewasa. Setelah tiba saatnya, Abyasa pun turun takhta digantikan Pandu sebagai raja Hastina selanjutnya. Ia kembali menjadi pendeta di pertapaan Ratawu yang terletak di pegunungan Saptaarga. Abyasa merupakan pendeta agung yang sangat dihormati. Tidak hanya keluarga Hastina saja yeng menjadikannya tempat meminta nasihat, namunjuga dari negeri-negeri lainnya.

    Versi pewayangan mengisahkan kematian Abyasa sesaat sesudah perang Baratayuda usai, yaitu ketika keturunannya yang bernama Parikesit cucu Arjuna dilahirkan. Konon, atas jasa-jasanya selama hidup di dunia, datang kereta emas dari kahyangan menjemput Abyasa. Ia pun naik ke sorga bersama seluruh raganya. Nama Dipayana kemudian diwarisi oleh Parikesit.

Satyawati menyuruh Ambika agar menemui Resi Byasa di ruang upacara. Setelah Ambika memasuki ruangan upacara, ia melihat wajah Sang Resi sangat dahsyat dengan mata yang menyala-nyala. Hal itu membuatnya menutup mata. Karena Ambika menutup mata selama upacara berlangsung, maka anaknya terlahir buta. Anak tersebut adalah Dretarastra.

Ambalika disuruh oleh Satyawati untuk mengunjungi Byasa ke dalam kamar sendirian, dan di sana ia akan diberi anugerah. Ia juga disuruh agar terus membuka matanya supaya jangan melahirkan putera yang buta (Dretarastra) seperti yang telah dilakukan Ambika. Maka dari itu, Ambalika terus membuka matanya namun ia menjadi pucat setelah melihat rupa Sang Bagawan (Byasa) yang luar biasa. Maka dari itu, Pandu (puteranya), ayah para Pandawa, terlahir pucat. Atas anugerah Bagawan Byasa, seorang pelayan yang turut serta dalam upacara tersebut melahirkan seorang putera, bernama Widura yang sedikit pincang.

Pandu, merupakan anak kedua, Kakaknya adalah Dretarasta yang sebenarnya merupakan pewaris dari Kerajaan Kuru dengan pusat pemerintahan di Hastinapura, tetapi karena buta maka tahta diserahkan kepada Pandu dan Widura, yang tidak memiliki ilmu kesaktian apapun tetapi memiliki ilmu kebijaksanaan yang luar biasa terutama bidang ketatanegaraan.

Nama Pandu atau pāṇḍu dalam bahasa Sanskerta berarti pucat, dan kulit beliau memang pucat, karena ketika ibunya (Ambalika) menyelenggarakan upacara putrotpadana untuk memperoleh anak, ia berwajah pucat.

Di kalangan Jawi (jawa Kuna/Sunda), “Pandu” berasal dari “Wandu” yang artinya bukan laki bukan perempuan, tetapi bukan banci. Tegasnya, sajeroning lanang ana wadon, sajeroning wadon ana lanang, yaitu manusia yang sudah menemukan jodohnya dari dalam dirinya sendiri. Gusti Pangeran dan hambanya sudah bersatu dan selalu berjamaah.

Pandu merupakan seorang pemanah yang mahir. Ia memimpin tentara Dretarastra dan juga memerintah kerajaan untuknya. Pandu menaklukkan wilayah Dasarna, Kashi, Anga, Wanga, Kalinga, Magadha, dan lain-lain.

Saat berburu di hutan, tanpa sengaja Pandu memanah seorang resi yang sedang bersenggama dengan istrinya. Atas perbuatan tersebut, Sang Resi mengutuk Pandu agar kelak ia meninggal saat bersenggama dengan istrinya. Sejak saat itu apabila nanti Pandu bersenggama dengan Istrinya Ia akan mati.

Dalam suatu sayembara, Prabu Pandu berhasil memenangkan sayembara untuk mendapatkan Kunti putri dari Prabu Kuntiboja. Prabu Salya dari kerajaan Madra yang terlambat datang menantang Pandu untuk mendapatkan Dewi Kunti dengan taruhannya adalah Dewi Madri adiknya.

Salya dan Pandu kemudian bertanding dan Pandu menang sehingga juga mendapatkan Madri sebagai istri kedua. Madri dinikahkan dengan Pandu untuk mempererat hubungan antara Hastinapura dengan Kerajaan Madra.

Salya adalah raja Kerajaan Madra. Raja Kerajaan Madra semula bernama Artayana, yang memiliki dua orang anak bernama Salya dan Madri. Setelah Artayana meninggal, Salya menggantikannya sebagai raja. Merujuk pada nama ayahnya, Salya dalam MahaBharata sering pula disebut Artayani. Salya memiliki dua orang putra bernama Rukmarata dan Rukmanggada. Namun siapa nama istrinya atau ibu dari kedua anak tersebut tidak diketahui dengan jelas. Versi Bharatayuddha, yaitu sebuah naskah berbahasa Jawa Kuno menyebut nama istri Salya adalah Satyawati. Dari perkawinan itu kemudian lahir Rukmarata.

    Versi Jawa
    Kisah perkawinan Salya dan Setyawati terdapat dalam versi pewayangan Jawa. Salya yang sewaktu muda bernama Narasoma pergi berkelana karena menolak dijodohkan oleh ayahnya. Di tengah jalan ia bertemu seorang brahmana raksasa bernama Resi Bagaspati yang ingin menjadikannya sebagai menantu. Bagaspati mengaku memiliki putri cantik bernama Pujawati yang mimpi bertemu Narasoma dan jatuh hati kepadanya. Narasoma menolak lamaran Bagaspati karena yakin Pujawati pasti juga berparas raksasa. Keduanya pun bertarung. Narasoma kalah dan dibawa Bagaspati ke tempat tinggalnya di Pertapaan Argabelah. Sesampainya di Argabelah, Narasoma terkejut mengetahui bahwa Pujawati ternyata benar-benar cantik. Ia pun berubah pikiran dan bersedia menikahi putri Bagaspati tersebut. Narasoma yang sombong merasa jijik memiliki mertua seorang raksasa. Pujawati yang lugu menyampaikan hal itu kepada Bagaspati. Bagaspati menyuruh putrinya itu memilih antara ayah atau suami. Ternyata Pujawati memilih suami. Bagaspati bangga mendengarnya dan mengganti nama Pujawati menjadi Setyawati.

    Setyawati menyampaikan kepada Narasoma bahwa ayahnya siap mati daripada mengganggu keharmonisan rumah tangga mereka. Bagaspati rela dibunuh asalkan Setyawati jangan sampai dimadu. Narasoma bersedia. Ia kemudian menusuk Bagaspati namun tidak mempan. Bagaspati sadar kalau memiliki ilmu kesaktian bernama Candabirawa. Ia pun mewariskan ilmu tersebut kepada Narasoma terlebih dulu. Narasoma kemudian menusuk siku Bagaspati, yaitu tempat titik kelemahannya. Kali ini Bagaspati tewas seketika. Narasoma kemudian membawa Setyawati pulang ke Mandaraka.

    Mandrapati menyambut kedatangan Narasoma dan Setyawati dengan gembira. Namun ia berubah menjadi sedih begitu mendengar kematian Bagaspati yang ternyata merupakan sahabat baiknya. Mandrapati pun marah dan mengusir Narasoma pergi dari istana. Madrim yang masih rindu segera menyusul kepergian kakaknya itu. Narasoma dan Madrim tiba di Kerajaan Mandura di mana sedang diadakan sayembara untuk mendapatkan putri negeri tersebut yang bernama Kunti. Dengan mengerahkan Candabirawa, Salya berhasil mengalahkan semua pelamar dan memenangkan Kunti.

    Pandu pangeran dari Hastina datang terlambat dan memutuskan untuk pulang. Narasoma mencegah dan menantangnya. Namun Pandu tidak mau melayani tantangan itu karena Narasoma sudah ditetapkan sebagai pemenang. Narasoma yang sombong terus memaksa, bahkan menyerahkan Kunti dan Madrim sekaligus jika Pandu mampu mengalahkan dirinya. Pandu terpaksa melayani tantangan Narasoma. Narasoma pun mengerahkan ilmu Candabirawa. Dari jarinya muncul raksasa kerdil tapi ganas, yang jika dilukai jumlahnya justru bertambah banyak. Pandu sempat terdesak. Atas nasihat pembantunya yang bernama Semar, ia pun mengheningkan cipta menyerahkan diri kepada Tuhan. Anehnya, dengan cara tersebut Candabirawa justru lumpuh dengan sendirinya.

    Narasoma menyerah kalah. Tujuannya ikut sayembara bukan karena menginginkan Kunti, namun hanya sekadar untuk mencoba keampuhan Candabirawa saja. Sesuai perjanjian, Kunti dan Madrim pun diserahkan kepada Pandu. Narasoma kemudian kembali ke Mandaraka dan dikejutkan oleh kematian ayahnya yang serba mendadak. Konon, Mandrapati sangat sedih atas kematian Bagaspati yang tewas dibunuh Narasoma. Ia merasa telah gagal menjadi ayah yang baik dan memutuskan untuk bunuh diri menyusul sahabatnya itu. Narasoma kemudian menggantikan kedudukan Mandrapati sebagai raja, bergelar Salya. Pemerintahannya didampingi Tuhayata sebagai patih.

    Meskipun sudah menjadi raja, Salya tetap bersifat sombong. Ia langsung menerima lamaran Duryudana raja Hastina yang merupakan raja terkaya di dunia saat itu untuk menikahi Erawati, putri sulungnya. Namun, Erawati kemudian hilang diculik orang. Erawati berhasil diselamatkan oleh Baladewa yang saat itu menyamar sebagai pendeta muda. Menurut perjanjian, seharusnya Erawati diserahkan kepada Baladewa. Namun hal itu ditunda-tunda karena Salya lebih suka memiliki menantu seorang raja. Baru setelah ia tahu kalau Baladewa ternyata raja Kerajaan Mandura, Erawati pun diserahkan kepadanya. Salya kembali menerima lamaran Duryudana untuk Surtikanti. Namun putri keduanya itu diculik dan dinikahi Karna. Duryudana merelakannya karena Karna banyak berjasa kepadanya. Ia kemudian menikahi putri Salya yang lain, yaitu Banowati.

Kunti merupakan puteri Raja Kuntibhoja dari Wangsa Wresni, Ia adalah saudara dari Basudewa yang merupakan ayah dari Baladewa, Kresna dan Subadra. Ayah Kunti adalah Raja Surasena dari Wangsa Yadawa, dan saat bayi ia diberi nama Pritha. Ia merupakan adik Basudewa, ayah Kresna. Kemudian ia diadopsi oleh Raja Kuntiboja yang tidak memiliki anak, dan semenjak itu ia diberi nama Kunti. Setelah Kunti menjadi puterinya, Raja Kuntibhoja dianugerahi anak.

Pada saat Kunti masih muda, Ia menjamu dengan baik tamu ayahnya, yaitu seorang pendeta bernama Resi Durwasa. Atas jamuan itu, Durwasa merasa senang dan menganugerahi Kunti sebuah ilmu kesaktian bernama Adityahredaya, yaitu semacam mantra agar mampu memanggil Dewa mana saja dan memberikannya anak tanpa perlu menjalani kehamilan. Ketika Kunti bertanya mengapa ia diberikan mantra itu, Resi tersebut menjawab bahwa itu akan diperlukannya kelak kemudian.

Karena tidak yakin seampuh apa mantra itu, maka Kunti mencoba menggunakan mantra Adityahredaya sambil memandang matahari terbit. Akibatnya, dewa penguasa matahari yaitu Surya muncul dan siap menganugerahi Kunti seorang putra. Kunti yang ketakutan menjawab bahwa dirinya hanya ingin mencoba keampuhan Adityahredaya saja. Ia menolak memiliki anak karena saat itu dirinya belum menikah. Surya menyatakan dengan tegas bahwa Adityahredaya bukanlah mainan. Surya kemudian bersabda, dan seketika itu pula Kunti mengandung. Namun berkat bantuan dewa matahari tersebut, dalam waktu singkat Kunti langsung melahirkan seorang putera. Surya lalu kembali ke kahyangan setelah memulihkan keperawanan Kunti.

    Versi Jawa

    Guru Kunti bernama Resi Druwasa, sedangkan mantra yang diajarkannya bernama Aji Punta Wekasing Rasa Cipta Tunggal Tanpa Lawan. Dalam versi ini, yang membantu kelahiran Karna bukan Batara Surya, melainkan Resi Druwasa sendiri. Dengan kesaktiannya, ia membantu Kunti melahirkan “putera Surya” itu melalui telinga sehingga keperawanannya tetap terjaga. Kisah versi Jawa ini mungkin terpengaruh oleh makna harfiah Karna, yaitu “telinga”. Sementara versi asli menyebut Kunti melahirkan secara normal dengan bantuan Surya.

Kunti tidak ingin memiliki putera semasih muda, maka ia memasukkan anak tersebut ke dalam keranjang dan menghanyutkannya di sungai Aswa. Kemudian putera tersebut dipungut oleh seorang kusir di keraton Hastinapura yang bernama Adirata, dan anak tersebut diberi nama Karna.

Pandu menanggung kutukan bahwa ia akan meninggal apabila bersenggama, maka ia tidak bisa memiliki keturunan. Akhirnya Pandu dan istrinya mengembara di hutan sebagai pertapa dan meninggalkan Hastinapura. Di sana, Kunti mengeluarkan mantra rahasianya untuk memangil para Dewa. Ia menggunakan mantra tersebut tiga kali untuk memanggil Dewa Yama, Bayu, dan Indra. Dari ketiga Dewa tersebut ia memperoleh tiga putera, yaitu Yudistira, Bima, dan Arjuna. Kunti juga memberikan kesempatan bagi Madri untuk memanggil Dewa. Madri memanggil Dewa Aswin, dan mendapatkan putera kembar bernama Nakula dan Sadewa.

Lima belas tahun setelah ia hidup membujang, ketika Kunti dan putera-puteranya berada jauh, Tergodalah Pandu dan mencoba untuk bersenggama dengan Madri. Atas tindakan tersebut, Pandu wafat sesuai dengan kutukan yang diucapkan oleh resi yang pernah dibunuhnya. Baik Kunti maupun Madri bersedih dan hendak melakukan Satya, namun Madri menyatakan bahwa Ia yang menyebabkan kematian, maka biarkan ia yang melakukan Satya dan menitipkan putera kembarnya, Nakula dan Sadewa, agar dirawat oleh Kunti sementara ia membakar dirinya sendiri untuk menyusul suaminya ke alam baka.

    Versi Jawa
    Dalam pewayangan, tokoh Pandu (Bahasa Jawa: Pandhu) merupakan putera kandung Byasa yang menikahi Ambalika, janda Wicitrawirya. Bahkan, Byasa dikisahkan mewarisi takhta Hastinapura sebagai raja sementara sampai Pandu dewasa. Pandu digambarkan berwajah tampan namun memiliki cacat di bagian leher, sebagai akibat karena ibunya memalingkan muka saat pertama kali menjumpai Byasa. Para dalang mengembangkan kisah masa muda Pandu yang hanya tertulis singkat dalam MahaBharata. Misalnya, Pandu dikisahkan selalu terlibat aktif dalam membantu perkawinan para sepupunya di Mathura. Pandu pernah diminta para dewa untuk menumpas musuh kahyangan bernama Prabu Nagapaya, raja raksasa yang bisa menjelma menjadi naga dari negeri Goabarong. Setelah berhasil melaksanakan tugasnya, Pandu mendapat hadiah berupa pusaka minyak Tala.

    Pandu kemudian menikah dengan Kunti setelah berhasil memenangkan sayembara di negeri Mathura. Ia bahkan mendapatkan hadiah tambahan, yaitu Puteri Madri, setelah berhasil mengalahkan Salya, kakak sang puteri. Di tengah jalan ia juga berhasil mendapatkan satu puteri lagi bernama Gandari dari negeri Plasajenar, setelah mengalahkan kakaknya yang bernama Prabu Gendara. Puetri yang terakhir ini kemudian diserahkan kepada Dretarastra, kakak Pandu.

    Pandu naik takhta di Hastina menggantikan Byasa dengan bergelar “Prabu Pandu Dewanata” atau “Prabu Gandawakstra”. Ia memerintah didampingi Gandamana, pangeran Panchala sebagai patih. Tokoh Gandamana ini kemudian disingkirkan oleh Sangkuni, adik Gandari secara licik.

    Dari kedua istrinya, Pandu mendapatkan lima orang putra yang disebut Pandawa. Berbeda dengan kitab MahaBharata, kelimanya benar-benar putera kandung Pandu, dan bukan hasil pemberian dewa. Para dewa hanya dikisahkan membantu kelahiran mereka. Misalnya, Bhatara Dharma membantu kelahiran Yudistira, dan Bhatara Bayu membantu kelahiran Bima. Kelima putra Pandu semuanya lahir di Hastina, bukan di hutan sebagaimana yang dikisahkan dalam MahaBharata.

    Kematian Pandu dalam pewayangan bukan karena bersenggama dengan Madri, melainkan karena berperang melawan Prabu Tremboko, muridnya sendiri. Dikisahkan bahwa Madri mengidam ingin bertamasya naik Lembu Nandini, wahana Batara Guru. Pandu pun naik ke kahyangan mengajukan permohonan istrinya. Sebagai syarat, ia rela berumur pendek dan masuk neraka. Batara Guru mengabulkan permohonan itu. Pandu dan Madri pun bertamasya di atas punggung Lembu Nandini. Setelah puas, mereka mengembalikan lembu itu kepada Batara Guru. Beberapa bulan kemudian, Madri melahirkan bayi kembar bernama Nakula dan Sadewa.

    Sesuai kesanggupannya, Pandu pun berusia pendek. Akibat adu domba dari Sangkuni, Pandu pun terlibat dalam perang melawan muridnya sendiri, yaitu seorang raja raksasa dari negeri Pringgadani bernama Prabu Tremboko. Perang ini dikenal dengan nama Pamoksa. Dalam perang itu, Tremboko gugur terkena anak panah Pandu, namun ia sempat melukai paha lawannya itu menggunakan keris bernama “Kyai Kalanadah”. Akibat luka di paha tersebut, Pandu jatuh sakit. Ia akhirnya meninggal dunia setelah menurunkan wasiat agar Hastinapura untuk sementara diperintah oleh Dretarastra sampai kelak Pandawa dewasa. Antara putera-puteri Pandu dan Tremboko kelak terjadi perkawinan, yaitu Bima dengan Hidimbi, yang melahirkan Gatotkaca, seorang kesatria berdarah campuran, manusia dan raksasa.

    Istilah Pamoksa seputar kematian Pandu versi Jawa berbeda dengan istilah moksa dalam agama Hindu. Dalam “Pamoksa”, Pandu meninggal dunia musnah bersama seluruh raganya. Jiwanya kemudian masuk neraka sesuai perjanjian. Atas perjuangan putera keduanya, yaitu Bima beberapa tahun kemudian, Pandu akhirnya mendapatkan tempat di sorga. Versi lain yang lebih dramatis mengisahkan Pandu tetap memilih hidup di neraka bersama Madri sesuai janjinya kepada dewa. Baginya, tidak menjadi masalah meskipun ia tetap tinggal di neraka, asalkan ia dapat melihat keberhasilan putera-puteranya di dunia. Perasaan bahagia melihat dharma bakti para Pandawa membuatnya merasa hidup di sorga.

Drestarastra, sebagai anak tertua sebenarnya yang berhak menjadi Raja Hastinapura karena ia merupakan putera Wicitrawirya yang tertua. Akan tetapi Karena Dretarastra terlahir buta, maka tahta kerajaan diserahkan kepada adiknya, yaitu Pandu. Setelah Pandu wafat, Dretarastra menggantikannya sebagai raja (kadangkala disebut sebagai pejabat pemerintahan untuk sementara waktu).

Drestarastra menikahi Gandari yang merupakan puteri Subala, Raja Gandhara (di masa sekarang disebut Kandhahar), yaitu wilayah yang meliputi Pakistan barat daya dan Afghanistan timur, dan namanya diambil dari sana. Gandari menikahi Dretarastra, pangeran tertua di Kerajaan Kuru. Ketika mengetahui calon suaminya Buta, maka ia lalu menutupi matanya sendiri degan kain, “Kalau suamiku tidak bisa melihat lalu buat apa ku melihat”. Semenjak itu Gandari sengaja menutup matanya sendiri agar tidak bisa menikmati keindahan dunia karena ingin mengikuti jejak suaminya.

Saat Gandari hamil dalam jangka panjang yang tidak wajar, ia memukul-mukul kandungannya dalam keadaan cemburu pada Kunti yang telah memberikan Pandu tiga orang putera. Atas tindakannya, Gandari melahirkan gumpalan daging berwarna keabu-abuan. Kemudian Gandari memuja Byasa, seorang pertapa sakti, yang kemudian memberi berkah seratus orang anak kepada Gandari. Kemudian Byasa memotong gumpalan daging tersebut menjadi seratus bagian dan dimasukkan ke dalam guci kemudian dikubur selama setahun. Setelah guci-guci tersebut digali kembali, dari setiap potongan daging itu kemudian tumbuh seorang anak, yang kemudian menjadi Korawa. Di antara Korawa, yang terkemuka adalah Duryodana dan Dursasana,dan adik-adiknya yang lain.

Tanda-tanda yang buruk mengiringi kemunculannya dari dalam pot. Para brahmana di keraton merasakan adanya tanda-tanda akan bencana yang buruk. Widura mengatakan bahwa jika tanda-tanda seperti itu mengiringi kelahiran putranya, itu tandanya kekerasan akan mengakhiri dinasti tersebut. Widura dan Bisma menyarankan agar putera tersebut dibuang, namun Dretarastra tidak mampu melakukannya karena rasa cinta dan ikatan emosional terhadap putera pertamanya itu. Diantara korawa terdapat seorang puteri bernama Dursala yang menikahi Jayadrata.

Meskipun putera-putera Gandari disebut sebagai tokoh jahat, ajaran moral yang tinggi dalam MahaBharata mengacu kepada Gandari. Ia berulang kali menasihati puteranya agar mengkikuti dharma dan berdamai dengan Pandawa. Gandari dekat dengan Kunti yang menghormatinya seperti seorang kakak.

Pada saat perang antara Korawa dan Pandawa berkecamuk, satu-persatu putera Gandari gugur dalam pertempuran, hingga akhirnya hanya Duryodana yang tersisa. Takut akan kehancuran keturunannya, Gandari memberi anugerah kepada Duryodana agar puteranya tersebut mendapat kekebalan terhadap berbagai serangan musuh. Ia menyuruh agar Duryodana mandi dan setelah itu datang menemui ibunya dalam keadaan telanjang bulat. Pada saat Duryodana pergi untuk menemui ibunya, ia berpapasan dengan Kresna yang baru saja mengunjungi Gandari. Kresna mencemooh Duryodana yang tak tahu malu karena mau menghadap ibunya sendiri dalam keadaan telanjang bulat. Oleh karena malu terhadap ejekan Kresna, Duryodana mengambil kain dan menutupi wilayah kemaluannya, termasuk paha. Setelah itu ia pergi menemui ibunya.

Ketika Duryodana tiba, Gandari langsung membuka penutup matanya dan melihat Duryodana. Pada saat matanya terbuka, sinar ajaib muncul dan memberi kekuatan kepada Duryodana. Namun ketika ia mengetahui bahwa puteranya menutupi wilayah kemaluannya termasuk paha, Gandari mengatakan bahwa wilayah tersebut tidak akan kebal oleh serangan musuh karena tidak mendapat siraman kekuatan. Prediksi Gandari menjadi kenyataan. Pada saat Duryodana bertarung dengan Bima pada pertempuran di hari kedelapan belas, Duryodana gugur perlahan-lahan karena pahanya yang tidak kebal dihantam oleh gada Bima.

Setelah pertempuran besar di Kurukshetra berakhir, Gandari meratapi kematian seratus putera-puteranya. Gandari menghujat Kresna yang membiarkan perang berkecamuk. Ia juga menyalahkan Kresna yang tidak mampu mencegah peperangan dan tidak bisa mendamaikan kedua pihak. Kresna berkata bahwa kewajibannya adalah melindungi kebenaran, bukan mencegah peperangan. Kemudian Gandari mengutuk Kresna, bahwa keluarga Krena, yaitu Wangsa Wresni, akan binasa karena saling membantai sesamanya. Kresna menerima kutukan tersebut dengan senyuman dan sadar bahwa Wangsa Wresni tidak akan terkalahkan kecuali oleh sesamanya. Tiga puluh enam tahun setelah kutukan tersebut diucapkan, Wangsa Wresni melakukan pembantaian besar-besaran terhadap keluarga mereka sendiri. Mereka saling membunuh sesama. Hanya Kresna, Baladewa, dan para wanita yang bertahan hidup. Setelah itu, kediaman Wangsa Wresni, yaitu Kerajaan Dwaraka, tenggelam ke dalam lautan dan memusnahkan jejak mereka. Kresna dan Baladewa bertapa ke dalam hutan dan moksa di sana, sementara para wanita mengungsi ke Kurukshetra.

    Versi Jawa
    Dretarastra dalam pewayangan Jawa disebut sebagai putra kandung Abyasa. Dretarastra atau kadang disingkat Destarata, dilahirkan oleh Ambika dalam keadaan buta sebagai pengingat karena ketika pertama kali berjumpa dengan Abyasa, ibunya itu memejamkan mata. Kedatangan Abyasa ke negeri Hastina ialah atas undangan ibunya, yaitu Durgandini untuk menikahi janda-janda Citrawirya. Tujuannya ialah untuk menyambung garis keturunan Wangsa Bharata, karena pewaris yang sesungguhnya, yaitu Bisma, telah bersumpah untuk hidup wahdat. Sewaktu kecil Dretarastra serta kedua adiknya, yaitu Pandu dan Widura berguru kepada Bisma tentang ilmu pemerintahan dan kesaktian. Meskipun menyandang tunanetra, namun Dretarastra mampu menguasai ilmu Lebur Geni sehingga mampu meremukkan apa saja melalui genggamannya.

    Dikisahkan Pandu pulang dari Mandura dengan membawa Kunti sebagai hadiah sayembara, serta Madrim putri dari Mandaraka. Di tengah jalan rombongan itu dihadang oleh Gendara raja Plasajenar yang terlambat mengikuti sayembara di Mandura. Pertempuran terjadi antara keduanya dan berakhir dengan kematian Gendara. Ia berwasiat menitipkan kedua adiknya, yaitu Gendari dan Sengkuni untuk dibawa Pandu. Sesampainya di Hastina, Pandu menyerahkan ketiga putri boyongannya untuk dipilih salah satu sebagai istri Dretarastra. Kakaknya itu memilih Gendari yang diramalkannya akan memberinya banyak putra. Perkawinan tersebut memang melahirkan seratus orang anak, yang dikenal dengan nama Korawa.

    Karena menyandang cacad fisik, takhta Hastina pun diserahkan kepada Pandu, sedangkan Abyasa yang bertindak sebagai raja sementara kembali ke pertapaannya di Saptaarga. Sementara itu, Dretarastra diangkat sebagai adipati (raja bawahan) di daerah Gajah Oya, sedangkan Widura di Pagombakan.

Sakuni atau Sangkuni, adalah kakak dari Gandari sehingga merupakan paman para Korawa dari pihak ibu. Mereka berasal dari Kerajaan Gandhara. Ayah Sakuni bernama Suwala. Pada suatu hari adik perempuannya Gandari dilamar untuk dijadikan sebagai istri Dretarastra, seorang pangeran dari Hastinapura yang menderita tunanetra. Sangkuni marah atas keputusan ayahnya yang menerima lamaran tersebut. Menurutnya, Gandari seharusnya menjadi istri Pandu, adik Dretarastra.

Namun karena semuanya sudah terjadi, ia pun mengikuti Gandari yang selanjutnya menetap di istana Hastinapura. Sakuni dikatakan sebagai reinkarnasi dari Dwapara sedangkan Duryodana reinkarnasi dari Kali, yaitu sejenis dewa yang bertugas menciptakan kekacauan di muka bumi.

    Versi Jawa
    Dalam pewayangan, terutama di Jawa, Sangkuni bukan kakak dari Gandari, melainkan adiknya. Sementara itu Gandara versi pewayangan bukan nama sebuah kerajaan, melainkan nama kakak tertua mereka.

    Pada mulanya raja Kerajaan Plasajenar bernama Suwala. Setelah meninggal, ia digantikan oleh putra sulungnya yang bernama Gandara. Pada suatu hari Gandara ditemani kedua adiknya, yaitu Gandari dan Suman, berangkat menuju Kerajaan Mandura untuk mengikuti sayembara memperebutkan Kunti, putri negeri tersebut.

    Di tengah jalan, rombongan Gandara berpapasan dengan Pandu yang sedang dalam perjalanan pulang menuju Kerajaan Hastina setelah memenangkan sayembara Kunti. Pertempuran pun terjadi. Gandara akhirnya tewas di tangan Pandu. Pandu kemudian membawa serta Gandari dan Suman menuju Hastina.

    Sesampainya di Hastina, Gandari diminta oleh kakak Pandu yang bernama Dretarastra untuk dijadikan istri. Gandari sangat marah karena ia sebenarnya ingin menjadi istri Pandu. Suman pun berjanji akan selalu membantu kakaknya itu melampiaskan sakit hatinya. Ia bertekad akan menciptakan permusuhan di antara para Korawa, anak-anak Dretarastra, melawan para Pandawa, anak-anak Pandu.

    Pada suatu hari Suman berhasil mengadu domba antara Pandu dengan muridnya yang berwujud raja raksasa bernama Tremboko. Maka terciptalah ketegangan di antara Kerajaan Hastina dan Kerajaan Pringgadani. Pandu pun mengirim Gandamana sebagai duta perdamaian. Gandamana adalah pangeran dari Kerajaan Pancala yang memilih mengabdi sebagai patih di Kerajaan Hastina pada masa pemerintahan Pandu. Suman yang sangat berambisi merebut jabatan patih menggunakan cara-cara licik untuk menyingkirkan Gandamana.

    Di tengah jalan, Suman menjebak Gandamana sehingga jatuh ke dalam perangkapnya.

    Suman kemudian kembali ke Hastina untuk melapor kepada Pandu bahwa Gandamana telah berkhianat dan memihak musuh. Pandu yang saat itu sedang labil segera memutuskan untuk mengangkat Suman sebagai patih baru. Tiba-tiba Gandamana yang ternyata masih hidup muncul dan menyeret Suman. Suman dihajar habis-habisan sehingga wujudnya yang tampan berubah menjadi jelek.

    Sejak saat itu, Suman pun terkenal dengan sebutan Sangkuni, berasal dari kata saka dan uni, yang bermakna “dari ucapan”. Artinya, ia menderita cacad buruk rupa adalah karena hasil ucapannya sendiri.

    Setelah Pandu meninggal dunia, pusakanya yang bernama Minyak Tala dititipkan kepada Dretarastra supaya kelak diserahkan kepada para Pandawa jika kelak mereka dewasa. Minyak Tala sendiri merupakan pusaka pemberian dewata sebagai hadiah karena Pandu pernah menumpas musuh kahyangan bernama Nagapaya.

    Beberapa tahun kemudian, terjadi perebutan antara para Pandawa melawan para Korawa yang ternyata juga menginginkan Minyak Tala. Dretarastra memutuskan untuk melemparkan minyak tersebut beserta wadahnya yang berupa cupu sejauh-jauhnya. Pandawa dan Korawa segera berpencar untuk bersiap menangkapnya.

    Namun, Sangkuni dengan licik lebih dahulu menyenggol tangan Dretarastra ketika hendak melemparkan benda tersebut. Akibatnya, sebagian Minyak Tala pun tumpah. Sangkuni segera membuka semua pakaian dan bergulingan di lantai untuk membasahi seluruh kulitnya dengan minyak tersebut.

    Sementara itu, cupu beserta sisa Minyak Tala jatuh tercebur ke dalam sebuah sumur tua. Para Pandawa dan Korawa tidak mampu mengambilnya. Tiba-tiba muncul seorang pendeta dekil bernama Drona yang berhasil mengambil cupu tersebut dengan mudah. Tertarik melihat kesaktiannya, para korawa dan Pandawa pun berguru kepada pendeta tersebut.

    Sangkuni yang telah bermandikan Minyak Tala sejak saat itu mendapati seluruh kulitnya kebal terhadap segala jenis senjata. Meskipun ilmu bela dirinya rendah, namun tidak ada satu pun senjata yang mampu menembus kulitnya.

Widura adalah adik tiri Pandu dan Dretarasta karena memiliki ayah yang sama, tetapi lain ibu. Diceritakan bahwa pada saat Ambalika diminta untuk menghadap Resi Byasa untuk memperoleh keturunan, ia menolak karena merasa takut dengan raut wajah sang resi yang sangat dahsyat. Demi memenuhi permintaan mertuanya, yaitu Satyawati, Ambalika mengirimkan seorang pelayan untuk menemui Resi Byasa sendirian di dalam sebuah kamar. Pelayan tersebut melayani sang resi dengan baik sehingga sang resi berkata bahwa kelak anak yang akan dilahirkan dari rahim pelayan tersebut akan berperilaku mulia. Resi Byasa juga berkata bahwa anak yang akan dilahirkan sang pelayan merupakan penjelmaan Dewa Dharma. Namun satu hal yang membuat Satawati kecewa yakni putera tersebut bukanlah keturunan menantunya, melainkan keturunan seorang pelayan.

Saat Widura masih muda, ia belajar di bawah bimbingan Bisma bersama dengan kedua orang saudaranya. Menurut MahaBharata, ia paling bijaksana jika dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Ia belajar menjadi menteri raja, sementara Pandu diangkat menjadi panglima perang, sedangkan Dretarastra dipilih sebagai putera mahkota. Karena Dretarastra buta, Pandu menggantikannya dan memerintah atas nama Dretarastra, sedangkan Widura menjadi penasihat raja dan menemani Dretarastra.

Widura merupakan orang yang tanggap ketika timbul niat jahat di hati Dretarastra dan Duryodana untuk menyingkirkan para Pandawa. Maka sebelum Pandawa berangkat ke Waranawata untuk berlibur, Widura memperingati Yudistira agar berhati-hati terhadap para Korawa dan ayah mereka, yaitu Dretarastra. Saat keselamatan para Pandawa dan ibunya terancam di Waranawata, berkali-kali Widura mengirimkan pesuruh untuk membantu para Pandawa meloloskan diri dari setiap bencana yang menimpanya.

Dalam pertikaian antara Korawa dan Pandawa mengenai masalah Hastinapura, Widura telah berusaha untuk mendamaikannya, mengingat bahwa kedua belah pihak adalah satu keluarga dan saudara. Dalam usahanya mencari perdamaian ia menghubungi sesepuh-sesepuh Pandawa dan Korawa, antara lain Resi Bisma, Resi Drona, Prabu Dretarasta, Sri Kresna, Yudistira dan Duryodana serta menyatakan bahwa ialah yang menulis piagam penyerahan Hastinapura dari Resi Byasa (Abiyasa) kepada Prabu Dretarasta sebagai pemangku kerajaan setelah Prabu Pandudewanata mangkat. Ketika perang di Kurukshetra berkecamuk, Widura tetap tinggal di Hastinapura meskipun ia tidak memihak para Korawa.

    Versi Jawa
    Widura sering pula disebut dengan nama Yamawidura. Ia berkedudukan sebagai adipati Pagombakan, yaitu sebuah negeri kecil bawahan Hastina. Widura merupakan putra ketiga Abyasa yang lahir dari dayang bernama Datri. Abyasa kemudian diperintah ibunya (Durgandini) untuk “berhubungan” dengan Ambalika sekali lagi. Ambalika memerintahkan dayangnya yang bernama Datri supaya menyemar sebagai dirinya. Ternyata Datri juga ketakutan saat bertemu dengan Abyasa. Ia mencoba lari ke luar kamar. Akibatnya, Datri pun melahirkan bayi berkaki pincang, yang diberi nama Widura.

    Widura menikah dengan Padmarini, putri Dipacandra dari Pagombakan, bawahan negeri Hastina. Widura kemudian menggantikan kedudukan Dipacandra sepeninggal mertuanya itu. Yang menjabat sebagai patih di Pagombakan adalah Jayasemedi. Widura memiliki putra bernama Sanjaya yang menjadi juru penuntun Dretarastra. Sementara itu, dalam versi aslinya, antara Widura dengan Sanjaya sama sekali tidak terdapat hubungan darah.

    Sepeninggal Pandu, kelima putranya yang disebut Pandawa tidak menetap di istana Hastina, melainkan tinggal bersama Widura di Pagombakan. Widura berhasil mendidik kelima keponakannya itu menjadi manusia-manusia utama. Dalam dunia politik, Widura bermusuhan dengan Sangkuni, adik ipar Dretarastra yang berpangkat patih. Sangkuni sendiri menanamkan kebencian di hati para keponakannya, yaitu Korawa untuk membenci Pandawa sejak kecil.

    Ketika Pandawa hendak diserahi takhta Hastina warisan Pandu, mereka terlebih dulu dijebak oleh para Korawa dalam Balai Sigala-gala yang dibakar. Namun, karena Widura membangun terowongan rahasia di bawah gedung tersebut, Pandawa dan ibunya, yaitu Kunti berhasil meloloskan diri dari maut.

    Widura berusia sangat panjang. Sementara itu putranya, yaitu Sanjaya gugur dalam perang Bharatayuda melawan Karna. Widura meninggal dunia saat bertapa di dalam hutan, ketika Pandawa telah berhasil mendapatkan kembali kekuasaan atas negeri Hastina pasca tertumpasnya Korawa.

Basudewa mempunyai adik dua orang. Yang perempuan adalah Kunti (Ibu Pandawa) dan yang lelaki adalah Srutadewa atau Srutasrawas (Ayah dari Sisupala, yang kemudian menjadi musuh bebuyutan Kresna dan terbunuh oleh Krisna saat upacara Rajasurya di Istana Indraprasta yang diselenggarakan oleh Yudistira).

Mereka termasuk ke dalam wangsa Yadawa (nenek moyang mereka adalah Yadu atau kadang juga disebut Surasena, karena ada leluhur mereka yang juga terkemuka namanya). Termasuk bangsa Yadawa adalah wangsa Wresni, Andhaka, dan Bhoja. Wrêsni adalah seorang keturunan Yadu dalam Wangsa Yadawa. Wresni lahir sebagai putera sulung Maharaja Madhu dari generasi ke-19 keturunan Yadu, sang putera Yayati. Wangsa Wresni adalah keturunan Wresni. Kresna masuk ke dalam percabangan Chandrawangsa keturunan Wresni dan dari sanalah ia mendapat nama Warshneya. Rakyat Dwaraka dikenal sebagai Wangsa Wresni. Ibukota wangsa-wangsa ini adalah Mathura yang dipimpin oleh Ugrasena.

Dalam Bhagawata Purana dikisahkan, ada seorang rakshasa yang terbang di atas kota Mathura dan terpesona melihat Padmawati istri Ugrasena yang cantik luar biasa. Raksasa itu kemudian menjelma menjadi Ugrasena dan bersetubuh dengan Padmawati. Dari hubungan itu lahirlah Kamsa. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kenyataan ini, termasuk Kamsa sendiri.

Kamsa mempunyai dua orang kepercayaan yaitu Banasura, yang sering menganjurkan untuk merebut tahta. Canur, yang menyarankan agar Kamsa menikahi dua orang puteri Jarasanda raja Kerajaan Magadha, yang juga sahabat Banasura. Nama kedua putri itu adalah Asti dan Prapti. Kamsa akhirnya menantu dan sekutu Jarasanda. Pasukan Magadha yang dikirim Jarasanda untuk mengawal kedua putri digunakan Kamsa untuk memaksa Ugrasena turun dari takhta Mathura. Ugrasena kemudian dijebloskan ke dalam penjara istana. Kamsa mewarisi tahta Mathura setelah menjebloskan ayahnya, yaitu Raja Ugrasena ke Penjara.

Kamsa memiliki sepupu bernama Dewaki yang dianggapnya sebagai adik kandungnya sendiri. Dewaki menikah dengan Basudewa dan pernikahan mereka dirayakan secara meriah oleh Kamsa. Tiba-tiba terdengar suara dari langit bahwa kelak Kamsa akan mati di tangan anak Dewaki. Sebelumnya Basudewa telah mempunyai Istri bernama Rohini

Karena takut ramalan itu menjadi kenyataan, maka ia menjebloskan pasangan tersebut ke penjara Setelah itu setiap Dewaki melahirkan anak Ia ambil dan bunuh jabang bayi tersebut. Sudah 6 anak Dewaki tewas di bunuh oleh kakak kandungnya.

Di saat kehamilan Dewaki yang ke 7, Janin yang dikandungnya secara ajaib berpindah kepada Rohini, istri pertama Basudewa, yang sedang menginginkan seorang putera. Maka dari itu, Baladewa disebut pula Sankarsana yang berarti “pemindahan janin”. Balarama berkulit putih,

Di saat kehamilan Dewaki yang ke 8. Para Dewa membuat semua penjaga penjara tertidur, pintu penjara terbuka dan Basudewa dengan mudah diseundupkan keluar keluar dan dititipkan kepada kepada Yasoda dan Nanda atau Nadagopa di Gokula, Mahavana. Setelah itu, Basudewa membawa bayi perempuan anak Nandagopa kembali ke penjara. Esok paginya, Kamsa datang ke penjara untuk membunuh bayi Dewaki yang baru lahir. Ketika melihat bayi tersebut ternyata perempuan, ia pun merasa menang atas ramalan dewata. Krisna artinya “hitam” atau “gelap” Ia berkulit warna kulit gelap bersemu biru langit [Brahma Samhita 5.30].

Setelah Balarama dan Krisna Lahir, Akhirnya Rohini mempunyai anak sendiri, perempuan yang bernama Subadra, Ia berkulit Putih

Bayi yang dilahirkan oleh Rohini dan Dewaki masing-masing tumbuh menjadi pemuda bernama Balarama dan Kresna. Keduanya dibesarkan oleh pasangan Nandagopa dan Yasoda di lingkungan pedesaan. Kamsa akhirnya mengetahui keberadaan keduanya. Mereka pun diundang ke Mathura untuk menghadiri pesta perayaan. Ketika keduanya tiba di Mathura, Kamsa mencoba untuk membunuh mereka. Namun ramalan dewata benar-benar menjadi kenyataan. Dalam sebuah perkelahian, justru Kresna yang berhasil membunuh Kamsa.

    Versi Jawa
    Dalam pewayangan Jawa, Kamsa dieja dengan sebutan Kangsa, dan merupakan anak Basudewa raja Kerajaan Mandura. Adapun Ugrasena versi Jawa bukanlah mertua Basudewa, melainkan adik bungsunya. Dikisahkan, Basudewa memiliki empat orang istri, yaitu Mahira, Rohini, Dewaki, dan Badraini. Suatu hari ketika Basudewa berburu di hutan, muncul seorang raja raksasa dari Kerajaan Guargra, bernama Gorawangsa yang menyamar sebagai dirinya dan bersetubuh dengan Mahira. Hal ini diketahui oleh Rukma adik Basudewa. Gorawangsa pun dibunuhnya.

    Basudewa yang mendengar laporan Rukma segera membuang Mahira ke hutan. Di sana ia melahirkan Kangsa dengan bantuan seorang pendeta raksasa bernama Anggawangsa. Mahira sendiri kemudian meninggal dunia. Bayi Kangsa diubah menjadi dewasa dalam sekejap oleh Anggawangsa. Kangsa kemudian mendatangi Basudewa di Mandura untuk minta diakui sebagai anak. Kebetulan saat itu Mandura diserang oleh Suratrimantra adik Gorawangsa yang ingin menuntut balas. Kangsa berhasil mengalahkan Suratrimantra dan mendapat pengakuan dari Basudewa.

    Basudewa yang cemas melihat ambisi dan kesaktian Kangsa memutuskan untuk menitipkan anak-anaknya, yaitu Baladewa, Kresna, dan Subadra kepada pembantunya yang tinggal di desa Widarakandang, bernama Antagopa dan Sagopi.

    Sementara itu, Kangsa telah diberi kedudukan sebagai adipati di Sengkapura oleh Basudewa. Suratrimantra yang kini mengabdi sebagai patih memberi tahu Kangsa bahwa ia sebenarnya adalah anak kandung Gorawangsa. Kangsa pun memutuskan untuk merebut takhta dari tangan Basudewa.

    Kangsa juga mengetahui kalau anak-anak Basudewa disembunyikan di Widarakandang. Ia mengirim prajurit untuk membunuh mereka. Namun karena tidak ada, yang jadi sasaran adalah Antagopa, yang ditangkap dan dibawa ke tempat Kangsa. Sedangkan Sagopi dan Subadra berhasil meloloskan diri. Sagopi dan Subadra yang dikejar prajurit Kangsa berhasil diselamatkan oleh Arjuna keponakan Basudewa. Mereka juga bertemu Baladewa dan Kresna yang masing-masing baru saja berguru ilmu kesaktian. Bersama-sama mereka menuju tempat Kangsa untuk membebaskan Antagopa.

    Kangsa sendiri menantang Basudewa untuk mengadu jago. Jika jagoan Basudewa kalah, ia harus menyerahkan takhta Mandura kepada Kangsa. Jagoan Kangsa tidak lain adalah Suratrimantra, sementara jagoan Basudewa adalah Bimasena, kakak Arjuna.

    Dalam pertandingan di atas panggung, Bima berhasil mengalahkan Suratrimantra. Namun begitu melihat Baladewa datang, Suratrimantra segera turun untuk membunuhnya. Baladewa dengan cepat lebih dulu membunuh raksasa itu.

    Melihat kematian pamannya, Kangsa segera menangkap Baladewa. Kresna mencoba menolong tapi ikut tertangkap pula. Keduanya dicekik sampai lemas. Untuk menolong kedua kakaknya, Subadra berdiri di hadapan Kangsa. Kangsa pun terpesona sehingga lengah. Arjuna pun memanah dadanya, sehingga Baladewa dan Kresna pun terlepas. Pada saat itulah Baladewa dan Kresna bangkit menyerang Kangsa dengan senjata masing-masing. Kangsa pun tewas. Peristiwa ini dalam pewayangan dikenal dengan kisah Kangsa Adu Jago.

    Kangsa meninggalkan gada yang sangat berat bernama Rujakpolo dan tidak ada seorang pun yang bisa memindahkannya, kecuali Bimasena. Oleh karena itu, gada pusaka tersebut kemudian menjadi milik Bima.

Baladewa atau Balarama, disebut juga Balabhadra dan Halayudha, adalah kakak dari Kresna. Dalam filsafat Waisnawa dan beberapa tradisi pemujaan di India selatan, ia dipuja sebagai awatara keenam dari Maha Awatara dan termasuk salah satu dari 25 awatara dalam Purana. Menurut filsafat Waisnawa dan beberapa pandangan umat Hindu, ia merupakan manifestasi dari Sesa, ular suci yang menjadi ranjang Dewa Wisnu. Baladewa dipuja bersama Sri Kresna sebagai kepribadian dari Tuhan yang Maha Esa dan dalam pemujaan mereka sering disebut “Krishna-Balarama”. Di penitisan Wisnu sebelumnya yaitu Rama, maka Baladewa adalah Laksmana. Pada zaman Kali, beliau menitis sebagai Nityananda, sahabat Sri Caitanya.

Nanda, Ayah tiri Krisna mengundang Resi (muni) Garga, untuk memberikan nama kepada Kresna dan Baladewa. Upacara itu dilakukan secara rahasia agar tidak diketahui dan dicurigai Kamsa.

    “Karena Balarama, putera Rohini, mampu menambah pelbagai berkah, namanya Rama, dan karena kekuatannya yang luar biasa, ia dipanggil Baladewa. Ia mampu menarik Wangsa Yadu untuk mengikuti perintahnya, maka dari itu namanya Sankarshana’- [Bhagawatapurana, 10.8.12]

Pada masa kecilnya, ia bernama Rama. Namun karena kekuatannya yang menakjubkan, ia disebut Balarama (Rama yang kuat) atau Baladewa. Baladewa menghabiskan masa kanak-kanaknya sebagai seorang pengembala sapi bersama Kresna dan teman-temannya. Ia menikah dengan Rewati, puteri Raiwata dari Anarta.

Baladewa bersenjata bajak dan gada. Ia yang mengajari Bima dan Duryodana menggunakan senjata Gada. Dalam perang di Kurukshetra, Baladewa bersikap netral. Namun, ketika Bima hendak membunuh Duryodana, ia mengancam akan membunuh Bima. Kresna kemudian menyadarkan Baladewa bahwa Bima membunuh Duryodana adalah sebuah kewajiban untuk memenuhi sumpahnya. Selain itu, Kresna mengingatkan Baladewa akan segala prilaku buruk Duryodana.

    Versi Jawa
    Prabu Baladewa yang waktu mudanya bernama Kakrasana, adalah putra Prabu Basudewa, raja negara Madura dengan permaisuri Dewi Mahendra atau Maekah. Ia lahir kembar bersama adiknya, dan mempunyai adik lain ibu bernama Dewi Subadra atau Dewi Lara Ireng, puteri Prabu Basudewa dengan permaisuri Dewi Badrahini. Baladewa juga mempunyai saudara lain ibu bernama Arya Udawa, putra Prabu Basudewa dengan Ken Sagupi, seorang swarawati keraton Mandura.

    Prabu Baladewa yang mudanya pernah menjadi pendeta di pertapaan Argasonya bergelar Wasi Jaladara, menikah dengan Dewi Erawati, puteri Prabu Salya dengan Dewi Setyawati atau Pujawati dari negara Mandaraka. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putera bernama Wisata dan Wimuka.

    Baladewa berwatak keras hati, mudah naik darah tapi pemaaf dan arif bijaksana. Ia sangat mahir mempergunakan gada, sehingga Bima dan Duryodana berguru kepadanya. Baladewa mempunyai dua pusaka sakti, yaitu Nangggala dan Alugara, keduanya pemberian Brahma. Ia juga mempunyai kendaraan gajah bernama Kyai Puspadenta. Dalam banyak hal, Baladewa adalah lawan daripada Kresna. Kresna berwarna hitam sedangkan Baladewa berkulit putih.

    Pada perang Bharatayuddha sebenarnya prabu Baladewa memihak para Korawa, tetapi berkat siasat Kresna, beliau tidak ikut namun sebaliknya bertapa di Grojogan Sewu (Grojogan = Air Terjun, Sewu = Seribu) dengan tujuan agar apabila terjadi perang Bharatayuddha, Baladewa tidak dapat mendengarnya karena tertutup suara gemuruh air terjun. Selain itu Kresna berjanji akan membangunkannya nanti Bharatayuddha terjadi, padahal keesokan hari setelah ia bertapa di Grojogan Sewu terjadilah perang Bharatayuddha. Jika Baladewa turut serta, pasti para Pandawa kalah, karena Baladewa sangatlah sakti.

    Baladewa ada yang mengatakan sebgai titisan daripada naga sementara yang lainya meyakini sebagai titisan Sanghyang Basuki, Dewa keselamatan. Ia berumur sangat panjang. Setelah selesai perang Bharatayudha, Baladewa menjadi pamong dan penasehat Prabu Parikesit, raja negara Hastinapura setelah mangkatnya Prabu Kalimataya atau Prabu Puntadewa. Ia bergelar Resi Balarama. Ia mati moksa setelah punahnya seluruh Wangsa Wresni.

Krishna, Adik dari Balarama disebut pula Nārāyana, yaitu sebutan yang merujuk kepada perwujudan Dewa Wisnu yang berlengan empat di Waikuntha. Nama lain dari Krisna adalah Achyuta (yang tak pernah gagal), Arisudana (penghancur musuh), Bhagavān (kepribadian Yang Maha Esa), Gopāla (Pengembala sapi), Govinda (Pemberi kebahagiaan pada indria-indria), Hrishikesa (penguasa indria), Janardana (juru selamat), Kesava (yang berambut indah), Kesinishūdana (pembunuh raksasa Kesin), Mādhava (suami Dewi Laksmi), Madhusūdana (penakluk raksasa Madhu), Mahābāhu (yang berlengan perkasa), Mahāyogi, Purushottama (Manusia utama, awal mula), Varshneya (keturunan wangsa Wresni), Vāsudeva (putera Basudewa), Vishnu , Yādava (keturunan dinasti Yadu), Yogesvara (Penguasa segala kekuatan batin)

    “Dewa Brahma memberitahu para Dewa: Sebelum kami menyampaikan permohonan kepada Beliau, Beliau sudah sadar terhadap kesengsaraan di muka bumi. Maka dari itu, selama Beliau turun ke bumi demi menuntaskan kewajiban dengan memakai kekuatan-Nya sendiri sebagai sang waktu, wahai kalian para Dewa semuanya akan mendapat bagian untuk menjelma sebagai para putera dan cucu dari keluarga Wangsa Yadu”.- [Bhagavata Purana 10.1.22]

    Kresna dipuja sebagai awatara Wisnu yang kedelapan. Wisnu dianggap sebagai Awal dari semua Reinkarnasi [Bhagavata Purana 10.1.22].

Kemahakuasaan Tuhan sewaktu Perang di Kurukhsetra disaksikan oleh tiga orang yaitu: Arjuna, Sanjaya, dan Byasa. Namun Sanjaya dan Byasa tidak melihat secara langsung, melainkan melalui mata batin mereka yang menyaksikan perang Bharatayuddha. Berikut kutipan dari BhagavadGita yang menggambarkan siapa Krisna:

sloka Terjemahan
yadā yadā hi dharmasya, glānir bhavati bhārata, abhyutthānam adharmasya tadātmanaṁ sṛjāmy aham
Kapan pun kebenaran merosot dan kejahatan merajalela, pada saat itu Aku turun menjelma, wahai keturunan Bharata (Arjuna)
paritrāṇāya sādhūnāṁ, vināśāyā ca duṣkṛtām, dharma-saṁsthāpanārthāẏa, sambhavāmi yuge yuge  
Untuk menyelamatkan orang saleh dan membinasakan orang jahat, dan menegakkan kembali kebenaran, Aku sendiri menjelma dari zaman ke zaman
aham ātmā guḍākeśa sarva-bhūtāśaya-sthitaḥ, aham ādiś ca madhyaṁ ca bhūtānām anta eva ca 
O Arjuna, Aku adalah Roh Yang Utama yang bersemayam di dalam hati semua makhluk hidup. Aku adalah awal, pertengahan dan akhir semua makhluk
purodhasāṁ ca mukhyaṁ māṁ viddhi pārtha bṛhaspatim, senāninām ahaṁ skandaḥ, sarasām asmi sāgaraḥ
Wahai Arjuna, di antara semua pendeta, ketahuilah bahwa Aku adalah Brihaspati, pemimpinnya. Di antara para panglima, Aku adalah Kartikeya, dan di antara segala sumber air, Aku adalah lautan
prahlādaś cāsmi daityānāṁ, kālaḥ kalayatām aham mṛgāṇāṁ ca mṛgendro ‘haṁ vainateyaś ca pakṣiṇām
Di antara para Detya, Aku adalah Prahlada, yang berbakti dengan setia. Di antara segala penakluk, Aku adalah waktu. Di antara segala hewan, Aku adalah singa, dan di antara para burung, Aku adalah Garuda.
dyūtaṁ chalayatām asmi tejas tejasvinām aham jayo ‘smi vyavasāyo ‘smi sattvaṁ sattvavatām aham
Di antara segala penipu, Aku adalah penjudi. Aku adalah kemulian dari segala sesuatu yang mulia. Aku adalah kejayaan, Aku adalah petualangan, dan Aku adalah kekuatan orang yang kuat
vṛṣṇīnāṁ vāsudevo ‘smi pāṇḍavānām dhanañjayaḥ, munīnām apy ahaṁ vyāsaḥ kavīnām uśanā kaviḥ                                                                                                                                      
Di antara keturunan Wresni, Aku ini Kresna. Di antara Panca Pandawa, Aku adalah Arjuna. Di antara para Resi, Aku adalah Wyasa. Di antara para ahli pikir yang mulia, aku adalah Usana

Ayah angkat Krisna adalah Nanda merupakan pemimpin di komunitas para pengembala sapi, dan ia tinggal di Vrindavana. Kamsa yang mengetahui bahwa Kresna telah kabur terus mengirimkan raksasa (seperti misalnya Agasura) untuk membinasakannya. Sang raksasa akhirnya terkalahkan di tangan Kresna dan kakaknya, Baladewa. Beberapa di antara kisah terkenal tentang keberanian Kresna terdapat dalam petualangan ini serta permainannya bersama para gopi (pengembala perempuan) di desa, termasuk Radha. Kisah yang menceritakan permainannya bersama para gopi kemudian dikenal sebagai Rasa lila.

Kresna yang masih muda kembali ke Mathura, dan menggulingkan kekuasaan pamannya – Kamsa – sekaligus membunuhnya. Kresna menyerahkan tahta kembali kepada ayah Kamsa, Ugrasena, sebagai Raja para Yadawa. Ia sendiri menjadi pangeran di kerajaan tersebut. Lokasi dimana Kresna adalah India Utara, yang mana sekarang merupakan wilayah negara bagian Uttar Pradesh, Bihar, Haryana, Delhi, dan Gujarat. Kerajaan Kuru, tempat saudara sepupunya (Pandawa) tinggal di sisi lain Yamuna.

Setelah Krisna membunuh Kamsa, ayah mertua Kamsa yaitu Jarasanda memupuk kebencian pada Kresna dan berambisi untuk membunuhnya. Melihat kondisi menyedihkan yang terjadi kepada dua puterinya yang menjadi janda, Jarasanda bersumpah akan menyerang Mathura dan merebut kerajaan tersebut.

Jarasanda, ayah mertua Kamsa, menyerang Mathura dengan pasukan besar; dan walaupun Kresna menghancurkan pasukan raksasa tersebut, asura yang lain, Kalayawan namanya, juga mengepung Mathura dengan pasukan lain yang berjumlah tiga juta setan ganas. Kemudian Kresna berpikir bahwa lebih baik mereka mengungsi ke Dwaraka. (di masa sekarang disebut Gujarat).

    Versi Buddhis: Jataka no.454, Ghata Jataka
    Dahulu kala, seorang raja yang bernama Mahakansa berkuasa di Uttarāpatha, di wilayah Kaṃsa dalam kota Asitañjanā. Ia mempunyai dua anak laki-laki, Kaṃsa dan Upakaṃsa, dan satu anak perempuan yang bernama Devagabbhā. Di hari ulang tahun putrinya, para brahmana meramalkan kejadian masa depannya: “Anak laki-laki yang dilahirkan oleh wanita ini suatu hari akan menghancurkan negeri ini dan garis keturunan Kaṃsa.”

    Raja sangat menyayangi putrinya sehingga tidak tega untuk membunuhnya, ia membiarkan saudara-saudaranya yang mengatasi masalah ramalan ini, menjalani sisa hidupnya dan kemudian meninggal. Setelah ia meninggal, Kaṃsa menjadi raja dan Upakaṃsa menjadi wakil raja. Mereka berdua berpikir bahwa akan terjadi protes keras bila mereka membunuh saudara perempuannya, jadi mereka memutuskan untuk tidak menikahkan dirinya kepada pemuda manapun, dan agar rencana ini dapat berjalan dan dapat diawasi, mereka membangun sebuah menara untuk ia tinggal.

    Putri tersebut mempunyai seorang pelayan wanita yang bernama Nandagopā, dan suami pelayan wanita tersebut Andhakaveṇhu, yang bertugas menjaganya. Pada waktu itu seorang raja yang bernama Mahāsāgara berkuasa di Upper Madhurā, dan ia mempunyai dua orang putra, Sāgara dan Upasāgara.

    Setelah ayah mereka meninggal, Sāgara menjadi raja dan Upasāgara menjadi wakil raja. Pemuda ini adalah teman dari Upakaṃsa, besar bersama dengannya dan diajar oleh guru yang sama pula. Akan tetapi ia memiliki hubungan gelap dengan istri abangnya, dan melarikan diri ke wilayah Kaṃsa mencari Upakaṃsa sewaktu hubungannya itu diketahui oleh abangnya.

    Upakaṃsa memperkenalkannya kepada Kaṃsa, dan raja memberikannya kedudukan yang tinggi di sana. Di masa Upasāgara melayani raja, ia mengamati menara tempat Devagabhā. Di saat bertanya siapa gerangan yang tinggal di dalam menara tersebut, ia mengetahui tentang ceritanya dan menjadi jatuh cinta kepada wanita tersebut.

    Pada suatu hari, Devagabhā melihatnya ketika ia berangkat dengan Upakaṃsa untuk menjumpai raja. Ia bertanya kepada Nandagopā siapa pemuda itu, dan sewaktu diberitahu bahwa itu adalah Upasāgara, putra dari raja agung Sāgara, ia juga menjadi jatuh cinta kepadanya.

    Upasāgara memberikan sesuatu kepada Nandagopā sambil berkata, “Saudari, Anda dapat mengatur pertemuanku dengan Devagabhā.”

    Nandagopā berkata, “Cukup mudah,” dan ia pun memberitahukan putri tentang hal ini. Putri yang memang sudah jatuh cinta kepadanya langsung menyetujuinya. Suatu malam Nandagopā mengatur sebuah janji pertemuan, dan membawa Upasāgara masuk ke dalam menara tersebut; di sana ia tinggal berdua dengan Devagabhā.

    Dikarenakan hubungan intim terus menerus yang dilakukan mereka, Devagabhā menjadi hamil. Keadaan ini pun segera diketahui dan kedua saudara laki-lakinya bertanya kepada Nandagopā. Ia membuat mereka berjanji memaafkannya terlebih dahulu, kemudian menceritakan seluk beluk masalah tersebut.

    Setelah mendengar ceritanya, mereka berpikir, “Kita tidak mungkin membunuh adik. Bila ia melahirkan seorang anak perempuan, kita biarkan ia hidup; tetapi bila ia melahirkan seorang anak laki-laki, kita akan membunuhnya.”

    Dan mereka pun menjadikan Devagabhā sebagai istri dari Upasāgara. Di saat tiba waktunya, ia melahirkan seorang anak perempuan. Kedua saudara laki-lakinya merasa senang sewaktu mendengar kabar ini, dan memberinya nama Putri Añjanā.

    Mereka juga memberikan sebuah desa kepada adiknya sebagai tempat tinggal, yang disebut Govaḍḍhamāna. Upasāgara membawa Devagabhā tinggal bersama di desa tersebut. Tidak lama kemudian Devagabhā hamil lagi, dan Nandagopā juga mengandung.

    Di saat waktunya tiba, mereka melahirkan anak pada waktu yang sama, Devagabhā melahirkan seorang putra dan Nandagopā melahirkan seorang putri. Tetapi Devagabhā yang merasa takut anak laki-lakinya itu akan dibunuh, mengirimnya kepada Nandagopā dan mengambil anak perempuan Nandagopā sebagai anaknya. Mereka memberitahukan kedua saudara laki-lakinya tentang kelahiran tersebut.

    “Putra atau putri?” tanya mereka.

    “Putri,” jawabnya.

    “Kalau begitu, besarkanlah anak tersebut,” kata dua saudara itu. Dengan cara yang sama Devagabhā melahirkan sepuluh orang putra dan Nandagopā melahirkan supuluh orang putri. Semua putra tersebut tinggal dengan Nandagopā dan semua putri tersebut tinggal dengan Devagabhā. Tidak ada seorang pun yang mengetahui rahasia ini.

    Putra sulung Devagabhā diberi nama Vāsu-deva, yang kedua Baladeva, ketiga Canda-deva, keempat Suriya-deva, kelima Aggi-deva, keenam Varuṇa-deva, ketujuh Ajjuna, kedelapan Pajjuna, kesembilan Ghata-paṇḍita, dan yang kesepuluh Aṁkura.

    Mereka terkenal sebagai sepuluh putra dari Andhakaveṇhu si pelayan, Sepuluh Saudara Laki-laki. Seiring berjalannya waktu mereka menjadi tumbuh dewasa, kuat, kejam dan ganas. Mereka berkeliaran merampas barang milik orang lain, mereka bahkan merampas barang yang akan diberikan kepada raja. Orang-orang datang berbondong-bondong ke halaman istana raja sambil mengeluhkan, “Putra-putra Andhakaveṇhu, Sepuluh Saudara Laki-laki merampas seisi desa!”

    Maka raja menyuruh pengawal untuk membawa Andhakaveṇhu dan mengecamnya karena membiarkan anak-anaknya melakukan perampasan. Tiga atau empat kali dibuat keluhan ini dengan cara yang sama, dan raja mulai mengancam dirinya.

    Andhakaveṇhu merasa takut kehidupannya yang aman itu akan hilang, memberitahukan rahasianya, bahwasannya mereka itu bukan putra-putranya, melainkan putra-putra dari Upasāgara. Raja menjadi terkejut.

    “Bagaimana kita dapat melawan mereka?” ia bertanya kepada para menteri di istananya.

    Mereka menjawab, “Paduka, mereka adalah pegulat. Mari kita adakan sebuah pertandingan gulat di kota, dan ketika mereka masuk ke dalam arena, kita tangkap dan bunuh mereka.”

    Maka mereka pun memanggil dua orang pegulat Muṭṭhika, dan membuat pengumuman di seluruh kota dengan membunyikan drum, ”bahwasannya akan ada pertandingan gulat di hari ketujuh.”

    Arena pertandingan itu disiapkan di depan istana raja; dibuat pagar untuk pertandingan tersebut, arenanya dihiasi dengan indah, bendera-bendera kemenangan disiapkan. Seluruh isi kota sangat berantusias, baris demi baris tempat duduk
    penuh, deret demi deret juga.

    Cānura dan Muṭṭhika masuk ke dalam arena dan berkeliling di dalamnya dengan sombong, melompat-lompat, berteriak, menepuk tangan mereka. Sepuluh Saudara tersebut datang juga.

    Sebelumnya di dalam perjalanan, mereka merampas pakaian tukang cuci dan mengambil jubah yang berwarna cerah, dan mencuri minyak wangi dari toko, kalung bunga dari toko bunga; dengan tubuh mereka yang telah diberi wewangian, kalung bunga di kepala, anting-anting di telinga, mereka berjalan masuk dengan sombong ke dalam arena, melompat-lompat, berteriak, dan menepuk tangan mereka.

    Pada waktu itu, Cānura jalan mengitari dan menepuk tangannya. Baladeva yang melihatnya, berpikir, “Saya tidak akan menyentuh orang yang ada di sana dengan tanganku!” maka dengan mengambil sabuk dari dalam kandang gajah, sambil melompat dan berteriak, ia melemparkannya di sekeliling perut Cānura dan mengikat kedua ujung sabuk tersebut, memegangnya dengan ketat, kemudian mengangkatnya, memutarnya di atas kepala, dan mencampakkannya ke tanah dengan kuat sampai keluar dari arena.

    Setelah Cānura mati, raja mengeluarkan Muṭṭhika. Muṭṭhika naik ke dalam arena, melompat-lompat, berteriak dan menepuk tangannya. Baladeva menghantamnya dan menusuk matanya; dan di saat ia berteriak—“Saya bukan seorang pegulat! Saya bukan seorang pegulat!” Baladeva mengunci tangannya sambil berkata, “Pegulat atau bukan, tidak ada bedanya bagiku,” dan dengan kuat mencampakkannya ke tanah, membunuhnya dan melemparnya keluar dari arena.

    Muṭṭhika di saat menjelang kematiannya, mengucapkan sebuah permohonan—“Semoga nantinya saya menjadi yakkha dan memakan dirinya!” Dan ia pun menjadi yakkha di sebuah hutan yang dikenal dengan nama Kāḷamattiya.

    Raja berkata, “Bawa pergi Sepuluh Saudara tersebut.” Pada saat itu juga, Vāsudeva melemparkan sebuah senjata roda [cakra] yang menjerat putus kepala dari dua bersaudara [Raja dan saudaranya] itu. Kerumunan orang yang melihat ini menjadi ketakutan, berlutut, dan memintanya menjadi pelindung mereka.

    Demikianlah Sepuluh Saudara itu menguasai kota Asitañjanā setelah membunuh kedua paman mereka sendiri, dan membawa orang tuanya pindah ke sana. Kemudian mereka pergi ke luar dari istana dengan tujuan menguasai seluruh India.

    Tidak berapa lama berjalan, mereka tiba di kota Ayojjhā, tempat kekuasaan raja Kāḷasena. Mereka mengitari kota ini dan menghancurkan pepohonan di sekitarnya, merobohkan dinding dan menawan raja, serta mengambil alih kedaulatan dari tempat itu.

    Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke Dvāravatī. Kota ini berbatasan dengan laut di satu sisi dan di sisi yang lain adalah pegunungan. Dikatakan bahwa tempat itu ada yakkha-nya. Sang yakkha berjaga-jaga di sana, dan di saat melihat musuh datang, akan mengubah wujudnya menjadi seekor keledai dan mengeluarkan suara ringkikan keledai.

    Segera, kota itu berada melayang di udara dan menempatkan dirinya di pulau yang ada di tengah laut tersebut dengan kekuatan gaib sang yakkha itu; dan di saat musuh telah pergi, kota itu akan kembali ke tempat semulanya. Kali ini sama seperti biasanya, di saat keledai melihat kedatangan Sepuluh Saudara, ia mengeluarkan suara ringkikan keledai. Kota itupun langsung melayang di udara dan pindah ke pulau di tengah laut itu. Mereka tidak melihat kota apapun dan kembali. Kemudian kota itu kembali ke tempat semulanya. Mereka berbalik kembali—keledai itu juga mengucapkan hal yang sama seperti sebelumnya.

    Kedaulatan di kota Dvāravatī tidak dapat mereka ambil alih. Maka mereka pergi mengunjungi Kaṇha-dipāyana dan berkata:

    “Tuan, kami gagal mengambil alih kerajaan Dvāravatī. Beritahu kami cara untuk menaklukkannya.”

    Ia berkata, “Di dalam saluran air, di dalam sebuah tempat seperti itu, ada seekor keledai yang berjaga. Ia meringkik di saat melihat musuh, dan kota itu dengan cepat akan melayang di udara. Kalian harus bersujud di kakinya, itulah caranya untuk menaklukkannya.”

    Kemudian mereka pamit kepada petapa tersebut dan pergi menjumpai keledai itu. Dengan bersujud kepadanya, mereka berkata, “Tuan, hanya Anda yang dapat membantu kami! Di saat kami datang untuk mengambil alih kota, mohon Anda jangan mengeluarkan suara ringkikan!”

    Keledai itu menjawab, “Saya tidak dapat menahan suara ringkikanku. Akan tetapi, jika empat dari kalian datang dengan membawa bajak besi yang besar dan menggali lubang untuk tempat tonggak besi di keempat pintu gerbang kota kemudian mengaitkan rantai besi yang diikatkan ke bajak tadi pada tiang itu, ia tidak akan dapat melayang di udara.”

    Mereka berterima kasih kepada keledai tersebut; dan ia tidak mengeluarkan suara ringkikan di saat mereka mengambil bajak dan meletakkan tiang di dalam lubang yang dibuat di empat pintu gerbang kota, kemudian ia berdiri sambil menunggu. Tidak lama setelah itu, keledai tersebut meringkik dan kota tersebut mulai melayang. Tetapi mereka yang berdiri di keempat gerbang masing-masing dengan bajak besi yang terikat dengan rantai besi yang dikaitkan ke tiang, membuat kota tersebut tidak dapat melayang di udara.

    Saat itu juga, Sepuluh Saudara tersebut masuk ke dalam kota, membunuh rajanya dan mengambil alih kerajaan. Demikian caranya mereka menaklukkan seluruh India, dan di tiga ratus enam puluh ribukota mereka membunuh para rajanya dengan senjata cakra.

    Dan akhirnya mereka tinggal di Dvāravatī, dengan membagi kerajaannya menjadi sepuluh bagian, tetapi mereka melupakan adik perempuannya, Putri Añjanā. Maka mereka berkata, “Mari kita membaginya menjadi sebelas bagian.”

    Tetapi Aṁkura menjawab, “Berikan saja bagianku kepadanya. Saya akan mengerjakan hal yang lain untuk bertahan hidup; hanya saja kalian harus mengirimkan pajak masing-masing dari kerajaan kalian kepadaku.” Mereka menyetujuinya dan memberikan bagiannya kepada adik perempuan mereka. Dan mereka tinggal Dvāravatī bersama dengannya, sembilan raja, sedangkan Aṁkura melakukan usaha perdagangan.

    Seiring dengan berjalannya waktu, mereka dikaruniai dengan putra dan putri. Setelah waktu yang lama berlalu, orang tua mereka pun meninggal. Dikatakan bahwa pada waktu itu, usia seseorang mencapai dua puluh ribu tahun.

Jarasanda, secara berarti “disatukan oleh Jara”. Ayahnya bernama Brihadata. Karena Raja Brihadata dari Kerajaan Magadha tidak memiliki keturunan, ia memutuskan untuk meninggalkan kerajaannya dan hidup di hutan sebagai petapa. Di hutan, ia melayani seorang resi yang bernama Candakosika. Sang resi merasa kasihan kepada Brihadata yang tidak memiliki keturunan. Akhirnya, sang resi memberikan satu buah ajaib untuk dimakan oleh permaisuri Brihadata. Karena sang resi tidak tahu bahwa Brihadata memiliki dua permaisuri, maka ia hanya memberikan satu buah saja.

Ketika pulang ke istananya, Brihadata memotong buah ajaib pemberian resi Candakosika lalu membaginya kepada dua permaisurinya. Beberapa bulan kemudian, kedua permaisuri Brihadata melahirkan anak, namun badannya hanya separuh saja serta tidak ada tanda-tanda kehidupan. Karena takut, Brihadata memutuskan untuk membuang bayinya ke tengah hutan. Seorang raksasi bernama Jara memungut bayi tersebut dan menyatukan tubuhnya. Saat disatukan, bayi tersebut hidup dan menangis keras. Sang raksasi yang merasa kasihan, menyerahkan bayi tersebut kepada raja dan menjelaskan apa yang telah terjadi. Brihadata menamai bayi tersebut Jarasanda, yang secara harfiah berarti “disatukan oleh Jara”.

Saat Candakosika tiba di istana Brihadata, ia melihat si bayi dan meramal bahwa Jarasanda akan memperoleh anugerah istimewa, dan akan terkenal sebagai pemuja Siwa.

Jarasanda tumbuh menjadi raja yang terkenal dan amat kuat, senang memperluas wilayah kerajaannya. Ia menaklukkan banyak raja, dan diberi gelar Maharaja Magadha. Sementara kekuatannya terus bertambah, ia merasa cemas memikirkan masa depannya karena tidak memiliki pewaris tahta. Atas nasihat sahabatnya yaitu Banasura, maka Jarasanda mempersembahkan dua puterinya, Asti dan Prapti, untuk dinikahkan kepada putera mahkota Mathura, yaitu Kamsa. Jarasanda juga meminjamkan pasukan dan penasihatnya kepada Kamsa.

Jarasendra berusaha menyerang Mathura namun usahanya gagal saat Mathura dipimpin Ugrasena, yang didukung oleh Basudewa, penasihat militer Akrura, ditambah kekuatan Kresna dan Baladewa. Jarasanda tidak juga menyerah hingga ia menyerang Mathura untuk yang kedelapan belas kali. Dalam serangannya yang kedelapan belas, ia dibantu oleh Raja Sisupala dari Kerajaan Chedi, dan Raja Kalayawana dari Paschimadesa. Setelah serangan terakhir dari Jarasanda, Kresna memberi saran kepada Raja Ugrasena dan ayahnya untuk mengungsi dan mendirikan kerajaan baru di Dwaraka. Hal itu dilakukan karena alasan strategi peperangan.

Pada suatu hari, Kresna menerima pesan rahasia dari Magadha. Seseorang meminta bantuan Kresna untuk membebaskan para raja yang dipenjara oleh Jarasanda di benteng Giribraja. Karena Kresna tahu bahwa Jarasanda tidak mudah dikalahkan dalam peperangan, maka ia pergi ke Indraprastha untuk meminta bantuan Bima and Arjuna. Mereka pergi menghadap Jarasanda dengan cara menyamar menjadi tiga brahmana. Saat Jarasanda menjamu mereka dan meminta apa yang mereka butuhkan, ketiga brahmana meminta agar Jarasanda bertarung dengan salah seorang di antara mereka. Setelah melakukan pertimbangan, Jarasanda memilih Bima.

Jarasanda menolak untuk membebaskan para raja yang ditawannya, sehingga ia menerima tantangan duel dan memilih Bima. Pertarungan berlangsung lama sekali, sekitar 27 hari. Untuk mengakhiri pertarungan secepatnya, Kresna memberi isyarat kepada Bima. Ia mengambil sehelai daun, lalu menyobeknya menjadi dua dan melemparnya ke arah yang berlawanan. Bima melihat apa yang dilakukan Kresna dan ia mengerti maksud isyarat tersebut. Akhirnya, Bima menarik kaki Jarasanda, menyobek tubuhnya menjadi dua bagian dan melempar potongan tubuh tersebut ke arah yang berlawanan. Setelah kematian Jarasanda, segala raja yang ditawan dapat dibebaskan. Kresna mengangkat putera Jarasanda yang bernama Sahadewa menjadi raja. Sifat anak ini berbeda dengan ayahnya, sehingga Magadha menjadi sekutu Indraprastha.

Istri-istri krisna yang terkemuka adalah Radha, Rukmini (Putri Bismaka dari kerajaan Widarbha), Satyabama, Jambawati, Mitrabinda, Satyabama, dan lain-lain, yang ia peroleh dengan perbuatan besar; misalnya Ketika Kresna memerintah di Dwaraka, Duryodana menindas para Pandawa di Hastinapura dan berusaha membinasakan mereka. Kresna dan Balarama pergi untuk membantu mereka, dan saat itu Kresna menikahi Kalindi, putera Sang Surya. Setiap istrinya melahirkan sepuluh putera dan seorang puteri.

Kisah lainnya adalah ketika seorang raksasa bernama Bomasura/Narakasura membawa kabur dan menawan ribuan puteri, Kresna megejarnya dan membunuhnya dan membebaskan mereka semua. Menurut adat yang keras pada waktu itu, seluruh wanita tawanan tidak layak untuk menikah, artinya akan ada ribuan putri yang tidak mempunyai kehormatan di pandangan masyarakat. Namun Krisna justru dengan tangan terbuka dan gembira menyambut mereka sebagai puteri bangsawan di kerajaannya serta menjadikan 16.100 Putri itu sebagai Istrinya. Dalam tradisi Waisnawa, para istri Kresna di Dwarka dipercaya sebagai penitisan dari berbagai wujud Dewi Laksmi.

Narakāsura/Bhaumāsura/Bomasura adalah raja raksasa dari Kerajaan Pragjyotisha atau yang di masa sekarang dikenal sebagai daerah Assam, di India Timur. Ia merupakan putra dari Pertiwi sehingga ia juga dikenal dengan sebutan Boma yang bermakna “anak Bumi”. Ayah dari Naraka adalah Waraha, salah satu awatara Wisnu saat menolong bumi dari bencana yang disebabkan oleh Hiranyaksa.

Dalam Bhagawatapurana, Naraka adalah putra Pertiwi (perwujudan dewi bumi) dengan Waraha, salah satu awatara Wisnu. Wisnu menjelma sebagai Waraha (babi hutan) untuk menolong Bumi yang ditenggelamkan Hiranyaksa ke dalam suatu lautan kosmik. Dengan menggunakan kedua taringnya, Waraha berhasil mengembalikan Bumi ke dalam orbitnya, serta membunuh Hiranyaksa.

Setelah peristiwa tersebut, Waraha menikahi Pertiwi (perwujudan Bumi). Dari perkawinan itu lahir Naraka yang berwujud asura.

Naraka memerintah Kerajaan Pragjyotisha dengan kejam. Ia mengalahkan banyak raja serta menawan putri-putri mereka, bahkan para dewa pun diserangnya. Karena merasa resah, Indra raja kahyangan melaporkan kejadian tersebut kepada Sri Kresna. Kresna berhasil menewaskan Naraka dengan menggunakan senjata Cakra Sudarsana. Setelah itu ia pun membebaskan para raja dan putri yang ditawan oleh asura tersebut.

Kresna kemudian mengangkat putera Naraka yang bernama Bhagadatta untuk menjadi raja Pragjyotisha selanjutnya. Tokoh Bhagadatta ini kemudian memihak Korawa saat meletus perang besar di Kurukshetra. Ia akhirnya tewas di tangan Arjuna pada hari ke-12.

    Versi Bhomakawya (Bhomantaka, Abad ke-12)
    Kisah kematian Naraka dalam naskah Bhagawatapurana disadur dan dimodifikasi oleh pujangga Jawa dengan judul Bhomakawya, atau “Kematian Boma”. Naskah ini menggunakan bahasa Jawa Kuna dan ditulis pada zaman berkembangnya kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Jawa.

    Naraka atau Boma dikisahkan sebagai raja kejam dari Kerajaan Pragjyotisha yang suka mengganggu para pertapa. Ia memiliki seorang istri cantik bernama Yadnyawati, reinkarnasi seorang bidadari kahyangan. Perkawinan keduanya kurang harmonis karena Yadnyawati selalu berusaha menghindari suaminya itu.

    Kresna raja Kerajaan Dwarawati mengirim putra sulungnya yang bernama Samba untuk melindungi para pertapa dari serangan para prajurit Boma. Dengan bantuan seorang bidadari bernama Tilottama, Samba berhasil menyusup ke dalam istana Pragjyotisha dan menemui Yadnyawati.

    Kisah selanjutnya ialah Boma menyerang Kerajaan Dwarawati karena Samba telah membawa lari Yadnyawati. Dalam suatu pertempuran Boma berhasil menewaskan Samba. Namun ia sendiri akhirnya tewas di tangan Kresna.

    Setelah perang berakhir, Kresna menghidupkan Samba kembali. Samba kemudian menikahi Yadnyawati dan keduanya hidup bahagia.

    Versi Jawa lainnya
    Dalam pewayangan Jawa, Prabu Kresna merupakan Raja Dwarawati, kerajaan para keturunan Yadu (Yadawa) dan merupakan titisan Dewa Wisnu. Kresna adalah anak Basudewa, Raja Mandura. Ia (dengan nama kecil “Narayana”) dilahirkan sebagai putera kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya dikenal sebagai Baladewa (alias Kakrasana) dan adiknya dikenal sebagai Subadra, yang tak lain adalah istri dari Arjuna. Ia memiliki tiga orang istri dan tiga orang anak. Istri isterinya adalah Dewi Jembawati, Dewi Rukmini, dan Dewi Satyabama. Anak-anaknya adalah Raden Boma Narakasura, Raden Samba, dan Siti Sundari.

    Pada perang Bharatayuddha, beliau adalah sais atau kusir Arjuna. Ia juga merupakan salah satu penasihat utama Pandawa. Sebelum perang melawan Karna, atau dalam babak yang dinamakan Karna Tanding sebagai sais Arjuna, beliau memberikan wejangan panjang lebar kepada Arjuna. Wejangan beliau dikenal sebagai Bhagawadgita.

    Kresna dikenal sebagai seorang yang sangat sakti. Ia memiliki kemampuan untuk meramal, mengubah bentuk menjadi raksasa, dan memiliki bunga Wijaya Kusuma yang dapat menghidupkan kembali orang yang mati. Ia juga memiliki senjata yang dinamakan Cakrabaswara yang mampu digunakan untuk menghancurkan dunia, pusaka-pusaka sakti, antara lain Senjata Cakra, Kembang Wijayakusuma, terompet kerang (Sangkala) Pancajahnya, Kaca Paesan, Aji Pameling dan Aji Kawrastawan.

    Setelah meninggalnya Prabu Baladewa (Resi Balarama), kakaknya, dan musnahnya seluruh Wangsa Wresni dan Yadawa, Prabu Kresna menginginkan moksa. Ia wafat dalam keadaan bertapa dengan perantara panah seorang pemburu bernama Jara yang mengenai kakinya.

    Kresna dianggap sebagai penjelmaan Sang Hyang Triwikrama, atau gelar Bhatara Wisnu yang dapat melangkah di tiga alam sekaligus. Ia juga dipandang sebagai perantara suara Tuhan dalam menjalankan misi sebagai juru selamat umat manusia, dan disetarakan dengan segala sesuatu yang agung.

    Boma Narakasura, putra Batara Wisnu dengan Batari Pertiwi. Ia dilahirkan di Kahyangan Ekapratala tempat tinggal Batara Ekawarna, kakeknya dari pihak ibu. Menurut versi ini, nama kecil Boma adalah Sitija. Ia memiliki adik perempuan bernama Sitisundari yang kelak menjadi istri Abimanyu putra Arjuna dari keluarga Pandawa. Setelah dewasa, Sitija diminta para dewa untuk mengalahkan pamannya sendiri, yaitu Bomantara yang berani menyerang kahyangan. Dalam pertempuran tersebut Sitija berhasil membunuh Bomantara. Roh Bomantara kemudian bersatu dalam diri Sitija sehingga menambah kekuatannya.

    Setelah kematian Bomantara, Sitija pun menjadi raja Kerajaan Surateleng bergelar Boma Narakasura. Ia mengganti nama negeri peninggalan pamannya itu menjadi Trajutrisna. Selanjutnya, Boma mendengar bahwa ayahnya, yaitu Wisnu, telah terlahir ke dunia sebagai manusia bernama Kresna raja Kerajaan Dwarawati. Setelah melalui perjuangan berat, Boma akhirnya mendapat pengakuan sebagai putra sulung Kresna.

    Boma dilukiskan sebagai sosok antagonis yang sering terlibat persaingan dengan Gatutkaca putra Bimasena dari keluarga Pandawa. Meskipun demikian kematiannya tetap dikisahkan oleh tangan Kresna, “ayahnya” sendiri. Kematian Boma dalam pewayangan diadaptasi dari Kakawin Bhomakawya oleh para dalang, terutama Ki Narto Sabdo, namun dengan sedikit modifikasi sehingga lebih terkesan dramatis. Peristiwa tersebut dinamakan Gojalisuta atau perang antara ayah melawan anak.

    Istri Boma disebut dengan nama Agnyanawati, putri Karentagnyana raja Kerajaan Giyantipura. Ia hanya mau melayani Boma asalkan dibuatkan jalan raya lurus tanpa berbelok dari Trajutrisna menuju Giyantipura. Boma merasa bimbang karena jalan tersebut pasti menerobos bukit Gandamadana, tempat leluhur Kresna dimakamkan. Atas pertimbangan ibunya, Boma akhirnya memutuskan untuk menolak permintaan Agnyanawati, bahkan ia bersedia menceraikan istrinya itu. Ternyata Agnyanawati telah dilarikan oleh Samba, putra Kresna yang lahir dari Jembawati. Namun Boma merelakannya, bahkan ia berencana untuk menikahkan keduanya.

    Kresna di Dwarawati marah atas perilaku Samba yang berselingkuh dengan kakak iparnya sendiri. Utusan Boma bernama Pancadnyana kemudian datang meminta kepada Kresna supaya menyerahkan Samba dan Agnyanawati untuk dinikahkan di Trajutrisna. Kresna merestui dan menyerahkan pasangan tersebut. Namun di tengah jalan Arjuna muncul merebut Samba dan Agnyanawati karena mencurigai keputusan Boma. Arjuna juga melukai Pancadnyana dan ia mengirim surat tantangan kepada Boma supaya merebut Samba dan Agnyanawati melalui pertempuran.

    Boma marah membaca surat tantangan Arjuna. Ia pun memimpin pasukan menyerbu Kerajaan Dwarawati. Perang besar terjadi. Boma semakin marah karena dihasut kendaraannya yang berwujud burung raksasa bernama Wilmana. Dengan kejam, Boma membunuh Samba dan Agnyanawati serta memotong-motong tubuh mereka. Dalam pertempuran selanjutnya, Arjuna akhirnya mundur setelah dipermalukan di depan umum karena pakaiannya robek setelah diserang Wilmana, kendaraan Boma. Boma kemudian terlibat pertempuran sengit melawan Gatutkaca yang memihak Dwarawati.

    Kresna muncul dan menyesali terjadinya perang. Ia pun melepaskan senjata Cakra Sudarsana ke angkasa agar para prajurit yang sedang berperang mengetahui kehadirannya dan segera menghentikan pertempuran. Namun peristiwa itu justru menyebabkan Boma mengalami kecelakaan fatal ketika hendak mendarat. Burung Wilmana yang dikendarainya silau melihat kilauan cahaya Cakra Sudarsana sehingga terbang tak terkendali dan akhirnya menabrak senjata tersebut. Akibatnya, Wilmana sekaligus Boma sama-sama tewas dengan tubuh hancur. Berbeda dengan Bhomakawya, dalam versi ini Kresna tidak menghidupkan Samba kembali. Ia merelakan kedua putranya tersebut tewas sebagai korban Perang Gojalisuta.

Subadra adalah puteri bungsu pasangan Basudewa dan Rohini (istri pertama Basudewa), Ia berkulit putih dan lahir setelah ayahnya Basudeva dibebaskan Krisna.

Saat Arjuna menjalani masa pembuangannya karena tanpa sengaja mengganggu Yudistira yang sedang tidur dengan Dropadi, Dalam perjalanannya ia sampai di Dwaraka, yaitu kediaman sepupunya yang bernama Kresna, karena ibu Arjuna (Kunti) bersaudara dengan ayah Kresna (Basudewa). Di sana ia menyamar sebagai seorang pertapa untuk mendekati adik Kresna yang bernama Subadra. Kresna pun mengetahui hal tersebut dan berharap Arjuna menikahi Subadra. Pada saat itu status Arjuna adalah suami yang memiliki tiga istri, yaitu Dropadi, Citrānggadā, dan Ulupi. Krisna mengetahui Baladewa tidak akan pernah menyetujui pernikahan itu.

Ia mengatur sedemikian rupa sehingga Arjuna mendapat perhatian dan simpati dari Baladewa, Arjuna mendapat tempat peristirahatan yang layak di taman Subadra. Krisna berperan menentang mereka tingga disana, namun Baladewa meyakinkan bahwa peristiwa buruk tidak akan terjadi. Arjuna tinggal selama beberapa bulan di Dwaraka, dan Subadra telah melayani semua kebutuhannya selama itu. Ketika saat yang tepat tiba, Arjuna menyatakan perasaan cintanya kepada Subadra. Pernyataan itu disambut oleh Subadra. Di saat itu pulalah sebuah kereta sudah dipersiapkan oleh Kresna, mereka pergi ke Indraprastha untuk melangsungkan pernikahan.

Baladewa marah setelah mendengar kabar bahwa Subadra telah kabur bersama Arjuna. Kresna meyakinkan bahwa Subadra pergi atas kemauannya sendiri, dan Subadra sendiri yang mengemudikan kereta menuju Indraprastha, bukan Arjuna. Kresna juga mengingatkan Baladewa bahwa dulu ia menolak untuk membiarkan kedua pasangan tersebut tinggal bersama, namun usulnya ditentang oleh Baladewa dan dengan menghajar Arjuna bukan hanya menghambat rencana kebesaran Bharatawarsa tapi juga akan membuat kesedihan yang mendalam Subadra adik yang mereka cintai. Baladewa juga mengetahui bahwa adiknya, yaitu Krisna turut ‘bermain’ dalam perkawinan ini akhirnya ia membuat keputusan dengan menyelenggarakan upacara pernikahan yang mewah bagi Arjuna dan Subadra di Indraprastha. Ia juga mengajak kaum Yadawa untuk turut hadir di pesta pernikahan Arjuna-Subadra. Setelah pesta pernikahan berlangsung, kaum Yadawa tinggal di Indraprastha selama beberapa hari, lalu pulang kembali ke Dwaraka, namun Kresna tidak turut serta. Maka Subadra menjadi istrinya arjuna yang keempat.

Subadra dan Arjuna memiliki seorang putera, bernama Abimanyu. Saat Pandawa kalah main dadu dengan Korawa, mereka harus menjalani masa pembuangan selama dua belas tahun, ditambah masa penyamaran selama satu tahun. Subadra dan Abimanyu tinggal di Dwaraka sementara ayah mereka mengasingkan diri di hutan. Pada masa-masa itu Abimanyu tumbuh menjadi pria yang gagah dan setara dengan ayahnya.

Di India, Subadra menjadi salah satu dari tiga dewa yang dipuja di Kuil Jagannath di Puri, bersama dengan kakaknya yang bernama Kresna (sebagai Jagannatha) dan Baladewa (atau Balarama, Balabhadra). Salah satu kereta dalam Ratha Yatra yang diselenggarakan secara tahunan didedikasikan untuknya. Menurut beberapa interpretasi, Subhadra dianggap sebagai inkarnasi dari YogMaya.

    Tentang Yogmaya dan Subadra:
    Srimad Bhagavatam 10.2.6-11: Yogmaya BUKANLAH Subadra. Yogmaya tidak lahir dari pasangan Vasudeva-Rohini, melainkan dari pasangan: Nanda-Yasoda. Nama lain dari Yogmaya adalah Durgâ, Bhadrakâli, Vijaya, Vaishnavî, Kumudâ, Candikâ, Krishnâ, Mâdhavî, Kanyakâ [atau Kanyâ-kumâri], Mâyâ, Nârâyanî, Îs’ânî, S’âradâ dan Ambikâ

    Harivamsa 1.35.5-6: Pasangan Vasudeva-Rohini, disamping mempunya anak laki-laki, juga anak perempuan bernama Citra yang kemudian dikenal dengan nama Subadra.

    Mahabharata: Kitab Adiparva, Subadra Harana parva, 1.222: Pasangan Vasudeva – Rohini melahirkan anak perempuan bernama Badra/Subadra


[] []

Ciranjivas

They are extremely long-lived persons (ciran – long, jiva – life). Monier-Williams dictionary on p. 1157 (MBh 3.11262-3.13231, Ramayana 2, Brhad-samhita of Varaha Mihira) lists eight – Markandeya Rsi plus the following seven:

asvatthama balir vyaso hanumans ca bibhisanah
krpah parasuramas ca saptaite ciranjivinah

Asvatthama, Vyasa, Krpa, Parasurama are future saptarsis (SB 8.13.15-16), Bali is next Indra (SB 8.13.12,17, Garuda Purana 1.87.36), Hanuman was blessed by Brahma to live as long as him (Ramayana, Brhad-bhagavatamrta 1.4.41 – he is always free from old age and death), Bibhisana was blessed by Rama to live for one kalpa (SB 9.10.32).

Other famous ciranjivas
Jambavan: Rksaraja, or the king of rksas (bears/monkeys). (SB 8.21.8, Ramayana) Born from Brahma. With his army of rksas aided Rama in His invasion of Lanka and later fought with Krsna over the Syamantaka gem. (SB 10.56)

Devapi: Elder brother of Santanu who retired to the forest and thus Santanu became a king. He took to the path of mystic yoga, lives in Kalapa-grama and will revive the Soma (Candra) dynasty in the next Satya-yuga. (SB 9.22.16-19)

Maru: A king of the Iksvaku dynasty, the father of Prasusruta and son of Sighra. He had become “ciranjivi” (immortal) by his yogic power. He will revive the ksatriya race of Surya vamsa in the next Satya-yuga. In the meantime he lives in Kalapa-grama (SB 9.12.6).

Seven sages (saptarsis) are also very long-living – they must live for at least one manvantara during which they hold their posts. Current are Kasyapa, Atri, Vasistha, Visvamitra, Gautama, Jamadagni, and Bharadvaja. (SB 8.13.5, 9.16.24p.) Future (in 8th manvantara) will be Galava, Diptiman, Parasurama, Asvatthama, Krpa, Rsyasrnga, Vyasadeva. (SB 8.13.15, similar to Garuda Purana 1.87.34)

Galava is a son or disciple of Visvamitra. Identity of Diptiman is not clear as there are more persons with this name in sastras. Parasurama lives on Mahendra Parvata. (SB 9.16.26)

Ekanath Das:

    I found this verse quoted in the Vacaspatyam Sanskrit-Sanskrit dictionary under the entry “cirajivin”. The reference there is a little unclear, because it says “markandeye” and then proceeds to quote that verse and then refers to a scripture of the name Tithy-adi-tantra. The confusing thing here is that “markandeye” would mean “in the Markandeya Purana”. It could also be that the Tithyaditantra is quoting the Markandeya P. Unfortunately I cannot identify the verse in my Markandeya P., because my copy is lacking the first couple of pages in its sloka index. However, in the Sabdakalpadruma, the entry “ciranjivi”, gives a list of eight names, the first of which is Markandeya, and then refers to the Tithyaditantra. Boehtlingk (St. Petersburg dictionary), also gives eight names and refers to both Sabdakalpadruma and Tithyaditantra. Tithyaditantra would therefore be the safest reference and it also means that the verse is not from the Mahabharata, because that would have been known to the compilers of those dictionaries.

Puranic Encyclopedia:

    Ciranjiv (One who has no death). When the Pandavas were in exile in the forests sage Markandeya tells many stories to Dharmaputra to console him in his sad plight. The Pandavas asked Markandeya whether he knew of anybody living before him. Then the sage said, “In times of old Indradyumna, an ascetic king (rajarsi), fell down from heaven when he fell short of his accumulated ‘punya’. Sorrowfully he came to me and asked me whether I knew him. I replied in the negative adding that perhaps Pravirakarna, an owl living on the top of the Himalayas, might know him since he was older than me. At once Indradyumna became a horse and taking me on its back approached the owl living in the Himalayas. The owl also could not remember Indradyumna but directed him to a stork named Nadijamgha who was older than the owl. The ascetic king took me then to the Indradyumna lake where the stork lived. The stork also could not find the identity of Indradyumna. Perhaps, he said, that a tortoise of name Akupara living in that same lake might know him. We then approached the tortoise and inquired whether he knew Indradyumna. The tortoise sat in meditation for some time and then weeping profusely and shaking like a leaf stood bowing respectfully and said, “How can I remain without knowing him? There are several monuments of the useful work done by him here. This very lake is of his making. This came into existence by the march of the cows he gave away to the people”. The moment the tortoise finished speaking, a chariot appeared from heaven to take the king away. The king after leaving me and the owl in their proper places ascended to heaven in the chariot.
    Ciranjivi. The name of a crow, a character in the ‘Pancatantra’. (See under Meghavarna).

Meghavarna is a crow, character in a story of Pancatantra.

Bhusunda. A dispassionate and large-hearted crow. The residence of this crow was a kalpavrksa standing on a beautiful peak surrounded by luxuriant vegetation in the north-eastern corner of Mahameru. There were numerous bird-nests on the southern branch of that kalpavrksa. In one of them lived this centuries-old bird. She spoke with sage Vasistha about history. (Jnana Vasistha, Bhusundopakhyana) []


[] []

Mahabharata 3


[] [] []

Pandawa dan Kurawa

Pandawa dan Korawa hidup bersama-sama di istana Hastinapura. Istilah Korawa yang digunakan dalam MahaBharata memiliki dua pengertian, yaitu:

  • merujuk kepada seluruh keturunan Kuru (termasuk pandawa didalamnya),
  • merujuk kepada anak-anak Dretarastra, sebab ia merupakan keturunan yang tertua dalam garis keturunan Kuru (Pandawa tidak termasuk)

Rsi Drona mendidik mereka semasa kanak-kanak, bersama dengan puteranya yang bernama Aswatama. Selain itu mereka diasuh pula oleh Bhisma dan Bagawan Kripa. Setelah Pandu mangkat, kakaknya yang bernama Drestarastra melanjutkan pemerintahan. Drestarastra melihat talenta para Pandawa dan hendak mencalonkan Yudistira sebagai Raja, namun hal tersebut justru menimbulkan sikap iri hati dalam diri Duryodana, salah satu Korawa.

Karna seharusnya adalah anak pertama dari Kunti (ibu Pandawa). Secara harfiah karna bermakna “telinga”, sehingga muncul anggapan bahwa tokoh Karna lahir melalui telinga. Namun nama Karna baru dipakai setelah ia dewasa, karena nama ini juga bermakna “terampil” atau “pandai”. Dengan kata lain, nama Karna bukanlah nama asli sejak bayi, melainkan julukan yang ia sandang atas kepandaiannya itu.

Karna juga memiliki berbagai panggilan, yaitu Basusena, Radheya, Suryaputra, Sutaputra, Wresa dan Anggaraja Selain nama-nama tersebut dalam versi pewayangan Jawa masih dikenal beberapa nama tambahan lagi yaitu Basukarna, Suryatmaja, Arkasuta, Rawisuta, Pritasuta, Bismantaka, Talidarma dan Anggadipa

    Dalam versi jawa kunti melahirkan “putera Surya” itu melalui telinga sehingga keperawanannya tetap terjaga. Kisah versi Jawa ini mungkin terpengaruh oleh makna harfiah dari Karna, yaitu “telinga”. Sementara versi asli menyebut Kunti melahirkan secara normal dengan bantuan Surya.

Demi menjaga nama baik negaranya, Kunti yang melahirkan anak sebelum menikah terpaksa membuang “putera Surya” di sungai Aswa dalam sebuah keranjang. Bayi itu kemudian terbawa arus dan ditemukan oleh Adirata yang bekerja sebagai kusir kereta Drestarasta.

Adirata dengan perasaan gembira memungut bayi tersebut sebagai anaknya. Karena sejak lahir sudah memakai pakaian perang lengkap dengan anting-anting, kalung dan Baju besi pemberian Surya, maka bayi itu pun diberi nama Basusena. Sejak saat itu Basusena menjadi anak angkat keluarga Adirata, sehingga ia dikenal dengan sebutan Sutaputra atau “anak kusir”. Namun, namanya yang lebih terkenal adalah Radheya, yang bermakna “anak Radha”. Adapun Radha adalah nama istri Adirata.

Meskipun tumbuh dalam lingkungan keluarga kusir, Radheya justru bersita-cita ingin menjadi perwira kerajaan. Adirata pun mendaftarkannya ke dalam perguruan Resi Drona yang saat itu sedang mendidik para Pandawa dan Korawa. Akan tetapi Drona menolak Radheya karena ia hanya sudi mengajar kaum ksatriya saja. Radheya yang sudah bertekad bulat memutuskan tetap belajar meskipun secara diam-diam. Ia sering mengintai Drona saat sedang mengajarkan ilmu perang kepada murid-muridnya, terutama ilmu memanah atau Danurweda. Meskipun berguru secara tidak resmi, namun kehebatan Radheya dalam memanah melebihi murid-murid Drona, kecuali Arjuna. Bakat keterampilan inilah yang membuat Radheya dijuluki sebagai Karna.

Pada suatu hari Karna bertemu seorang pendeta bernama Parasurama yang dulu pernah mengajar Drona. Pendeta gagah berumur panjang, dari zaman Tretayuga (zaman Ramayana) sampai zaman Dwaparayuga (zaman MahaBharata). Parasurama memiliki pengalaman yang buruk dengan kasta ksatriya, sehingga ia terkenal sebagai pembenci kaum ksatriya. Hal itu membuat Karna harus menyamar sebagai brahmana muda untuk bisa mendekatinya. Dengan cara itu Karna berhasil menjadi murid Parasurama.

Pada suatu hari, saat Parasurama ingin beristirahat, Karna menyediakan pangkuannya sebagai bantal. Ketika Parasurama tertidur pulas, tiba-tiba muncul seekor serangga menggigit paha Karna. Karena rasa baktinya pada sang guru, Parasurama agar tidak mengganggu tidur nyenyaknya, Karna membiarkan pahanya terluka hingga darah mengucur sedangkan dirinya tidak bergerak sedikit pun. Ketika Parasurama bangun dari tidurnya, ia terkejut melihat kaki Karna telah berlumuran darah. Kemampuan Karna dalam menahan rasa sakit telah mengherankan Parasurama dan ia berkata pada Muridnya, ‘Karena engkau memiliki kekuatan sedemikan hebatnya untuk menahan rasa sakit, pastilah engkau bukan keturunan Brahmana’. Karna kemudian membenarkan, ‘Ya, hamba terlahir di dalam keluarga kusir kereta’. Merasa telah ditipu, Parasurama pun mengutuk Karna. Kelak, pada saat pertarungan antara hidup dan mati melawan seorang musuh terhebat, Karna akan lupa terhadap semua ilmu yang telah diajarkan Parasurama.

Setelah menerima kutukan dari Parasurama, Karna dengan sedih dan bergerak meninggalkan asrama. Setelah berjalan tanpa tujuan, ia pun tiba di tepi pantai. Sambil termangu-mangu memikirkan jati dirinya, dia duduk di sana untuk beberapa lama, kemudian bangun lalu pergi. Ketika ia kembali ke tempat tersebut, ia melihat sesosok binatang yang melaju dengan cepat. Karena mengira hewan tersebut seekor rusa, ia pun melepaskan panah untuk membunuhnya. Setelah melihat dari dekat, barulah Karna sadar kalau hewan yang dibunuhnya bukan rusa, melainkan sapi milik seorang brahmana. Karna pun pergi menemui si pemilik untuk meminta maaf atas kecerobohannya. Namun, brahmana itu terlanjur marah dan mengutuk kelak Karna akan mengalami kematian saat sedang lengah sebagaimana ia telah membunuh sapi kesayangannya yang juga dalam keadaan lengah.

    Versi lain mengisahkan, suatu hari Karna mengendarai sendiri keretanya dan melaju kencang hingga menewaskan seekor sapi yang sedang menyeberang jalan. Brahmana pemilik sapi menjadi marah, lalu mengutuk Karna supaya kelak roda keretanya akan terbenam dalam lumpur ketika bertarung melawan musuh terberatnya.

Karna merupakan sosok dengan sifat-sifat yang lengkap. Ia dikenal sebagai seorang yang penuh percaya diri, tegas, pemberani, kejam terhadap lawan, setia terhadap kawan, dan murah hati kepada kaum miskin.

Karna memiliki kemahiran dalam ilmu memanah yang hampir setara dengan Arjuna. ia mahir berperang, namun bakatnya terperangkap dalam status sosial yang rendah. Hal itu membuatnya haus akan status yang memberikannya identitas. Meskipun Karna diasuh dalam keluarga yang berkasta rendah, ia memiliki sikap seorang ksatria, meskipun jarang yang mengakuinya. Ia memiliki hubungan persahabatan yang erat dengan Duryodana, yang telah mengangkatnya menjadi raja di Kerajaan Anga, sekaligus menaikkan statusnya. Atas perlakuan baik yang dilakukan Duryodana terhadap dirinya, Karna berjanji bahwa ia akan selalu berada di pihak Duryodana. Kebencian Karna terhadap Arjuna bertemu dalam satu jalan dengan kebencian Duryodana terhadap para Pandawa.

Karna memiliki persaingan yang sangat hebat dengan Arjuna, dan berambisi bahwa ia akan membunuh Arjuna saja saat Bharatayuddha, bukan Pandawa yang lain. Sebelum Bharatayuddha, Kunti datang ke hadapan Karna dan mengatakan bahwa ia sebenarnya ibunya. Kunti menyuruh Karna agar memihak Pandawa. Karna mengatakan bahwa ia hanya mengakui Radha sebagai ibunya dan tetap memihak Korawa. Karna juga mengatakan, bahwa ia hanya mau membunuh Arjuna, bukan Pandawa yang lain.

Ketika tiba waktunya, Drona mempertunjukkan hasil pendidikan para Pandawa dan Korawa di hadapan segenap kaum bangsawan dan rakyat Hastinapura, ibu kota kerajaan Kuru. Setelah melaui berbagai tahap pertandingan, Drona akhirnya memutuskan bahwa Arjuna adalah murid terbaiknya, terutama dalam hal ilmu memanah. Tiba-tiba Karna muncul menantang Arjuna sambil memamerkan kesaktiannya. Resi Krepa sang pendeta istana meminta Karna supaya menjelaskan asal-usulnya terlebih dahulu karena untuk menghadapi Arjuna haruslah dari kaum yang sederajat. Mendengar permintaan itu, Karna pun tertunduk malu.

Duryodana sang pemimpin Korawa maju membela Karna. Menurutnya, keberanian dan kehebatan tidak harus dimiliki oleh kaum ksatriya saja. Namun apabila peraturan memang mengharuskan demikian, Duryodana bersedia mematuhinya. Ia lalu mendesak ayahnya, yaitu Dretarastra raja Hastinapura, supaya Karna diberi kedudukan sebagai raja bawahan di Angga. Dretarastra yang berhati lemah tidak mampu menolak permintaan itu. Akhirnya pada saat itu juga, Karna dinobatkan menjadi Raja Angga. Para brahmana membacakan weda-weda dan Duryodana memberi mahkota, pedang, dan air penobatan kepada Karna. Karna terharu dengan kemurahan hati Duryodana. Balasan yang diinginkan oleh Duryodana hanyalah persahabatan yang kekal.

Adirata muncul bersuka cita menyambut penobatannya. Akibatnya, semua orang pun tahu kalau Karna adalah anak Adirata. Melihat hal itu, Bimasena mengejek Karna sebagai anak kusir sehingga tidak pantas jika bertanding melawan Arjuna yang berasal dari kaum bangsawan. Melihat ulah Bimasena, Duryodana pun kembali tampil membela Karna. Suasana semakin tegang dan memanas. Namun tidak seorang pun yang menyadari kalau Kunti jatuh pingsan di bangku penonton setelah melihat putra sulung yang ia buang sejak lahir itu, kini telah dewasa dan saling berhadapan dengan putranya yang lain. Ciri-ciri yang membuat Kunti langsung mengenalinya adalah pakaian perang dan perhiasan pemberian Surya yang selalu dikenakan Karna. Senja pun tiba. Dretarastra membubarkan acara tersebut sehingga pertandingan antara Karna melawan Arjuna tertunda. Namun sejak saat itu dimulailah persahabatan antara Karna dengan Duryodana, pemimpin para Korawa. Karna memiliki putera bernama Wresasena.

    Nama istri Karna dalam versi pewayangan Jawa, yaitu Surtikanti, puteri ketiga Prabu Salya, raja kerajaan Madra (Mandaraka). Dikisahkan, Surtikanti menjalin cinta dengan Karna meskipun dirinya telah bertunangan dengan Duryudana (ejaan Jawa untuk Duryodana). Karna yang serba salah akhirnya menculik Surtikanti dan membawanya kabur. Tuduhan penculikan Surtikanti pun jatuh kepada Arjuna yang saat itu sedang bertamu ke istana Mandaraka, karena wajahnya mirip dengan Karna. Untuk membersihkan namanya, Arjuna berjanji akan segera menangkap pelaku yang sebenarnya.

    Arjuna akhirnya berhasil menemukan persembunyian Karna. Keduanya bertarung seru sampai akhirnya berhasil dipisah oleh Batara Narada yang turun dari kahyangan. Narada memberi tahu kalau keduanya masih bersaudara, yaitu sama-sama putera Kunti. Arjuna gembira mengetahui hal itu. Ia pun berniat membantu Karna supaya dapat menikahi Surtikanti. Kebetulan pada saat itu, Kerajaan Hastina (Hastinapura) sedang menghadapi pemberontakan dari seorang raja bawahan di Awangga yang bernama Prabu Kalakarna. Pemberontakan tersebut akhirnya berhasil ditumpas oleh Karna dengan bantuan Arjuna. Atas kemenangan itu, Duryudana mengangkat Karna sebagai Raja Awangga dan merelakan Surtikanti untuknya. Kemudian, Duryudana menikah dengan adik Surtikanti yang bernama Banowati sehingga hubungan persaudaraannya dengan Karna semakin erat. Dari perkawinan antara Karna dengan Surtikanti kemudian lahir dua orang putera bernama Warsasena dan Warsakusuma.

Dengan demikian terdapat dua perbedaan penting dalam kedua versi di atas.

  • Versi India mengisahkan pengangkatan Karna sebagai Raja Angga terjadi sewaktu ia muncul dalam arena pertandingan murid-murid Resi Drona. Sementara versi Jawa menyebut Karna menjadi Raja Awangga sebagai hadiah atas jasanya menumpas pemberontakan Kalakarna.
  • Perbedaan kedua ialah, Karna versi Jawa mengetahui kalau Pandawa merupakan adik-adiknya berkat pemberitahuan Batara Narada, sedangkan menurut versi India, Karna baru mengetahui hal itu dari Kresna sesaat menjelang Bharatayuddha meletus.

Meskipun berbeda waktu kejadiannya, namun sikap Karna tetap tegas yaitu berpihak pada Korawa.

Karna merupakan kekuatan utama pendukung Korawa. Ia banyak melakukan penaklukkan terhadap negeri-negeri yang menolak mengakui kedaulatan Duryodana. Berkat kesaktiannya, wilayah Hastinapura semakin luas dan bertambah kaya.

Dewa Indra khawatir membayangkan jika anaknya, Arjuna kelak sampai kalah saat menghadapi Karna. Ia pun merencanakan tipu muslihat untuk merebut pusaka Karna yang diberikan Surya sejak bayi, yaitu baju perang, kalung, dan sepasang anting. Surya yang mendengar rencana tersebut segera memberi tahu Karna bahwa Indra akan datang menyamar sebagai pendeta tua yang akan meminta semua pusaka Karna. Mendengar hal itu, Karna tidak khawatir dan tetap menjalani hidup seperti biasa, Karna terkenal sebagai seorang dermawan. Pendeta samaran Indra pun muncul di hadapan Karna.

Terjadilah tanya jawab, Karna berkata, ‘Apa yang Paduka inginkan? Uang, pakian atau apakah?’. Pendeta samaran itu berata, ‘Tidak, saya tidak memerlukan itu semua,’ Apapun yang ditawarkan Karna, Pendeta itu terus menolak. Pendeta samaran itu merasakan kedemawanan yang luarbiasa tidak juga tega mengungkapkan keinginan yang sebenarnya dan akhirnya Pendeta samaran berkata, ‘Saya pergi, jika demikian’. Namun Karna berkata, ’Tuan telah datang padaku, jadi tidak pantas kalau aku tidak memberikan sesuatu kepada tuan, lebih-lebih tuan pergi denga perasaan aku masih Hidup’. Pendeta itu berkata bahwa ia menginginkan semua yang melekat di badan Karna. Ia tahu dengan pasti apa yang sebenarnya diminta oleh pendeta samaran itu namun tetap ia laksanakan tanpa rasa menyesal sama sekali padahal Ia sedang diambang perang besar. Karna kemudian melepas baju perangnya menggunakan pisau karena telah melekat di kulitnya sejak bayi hingga lecet-lecet dan berdarah. Kalung dan anting juga ia berikan semua.

Karna mengatahui bahwa baju perang nya dan Anting pusakanya telah membuat tidak ada satupun yang mampu melukai dirinya. Namun Ia tetap memberikannya! Indra terharu melihat ketulusan Karna. Demi ingin menyaksikan Arjuna menang, ia telah berbuat tidak adil terhadap Karna. Indra pun melepas samarannya dan memberi Karna pusaka baru berupa Konta (yang bermakna tombak). Namun, pusaka tersebut hanya bisa digunakan sekali saja. Karna berterima kasih dan menyediakan Konta hanya untuk menghadapi Arjuna kelak.

    Versi Jawa
    Pusaka pemberian Indra tersebut bukan bernama Konta, melainkan bernama panah Badal Tulak. Adapun senjata Konta versi Jawa, atau yang lebih terkenal dengan sebutan Kuntawijayadanu, sudah didapatkan Karna jauh sebelumnya, yaitu ketika kelahiran Gatotkaca, putera Bimasena. Dikisahkan bahwa bayi Gatotkaca sampai berusia satu tahun tidak juga terpisah dengan ari-arinya (plasenta). Tidak ada satu pusaka pun yang dapat memotong tali pusar Gatotkaca. Arjuna kemudian pergi bertapa demi menolong keponakannya itu. Batara Guru memerintahkan Batara Narada untuk menyerahkan panah Kuntawijayadanu kepada Arjuna. Pada saat yang sama, Karna juga sedang bertapa. Batara Surya membantunya dengan menutupi cahaya matahari dan menyuruh Karna supaya mengaku sebagai Arjuna saat Narada tiba nanti. Narada akhirnya tiba di hadapan Karna yang dikiranya Arjuna.

    Sesuai rencana, panah Kunta pun jatuh ke tangan Karna. Menyadari telah tertipu, Narada pergi mencari Arjuna yang asli. Arjuna yang mendengar hal itu segera mengejar Karna. Pertarungan terjadi di mana Arjuna hanya mampu merebut sarung pembungkus pusaka tersebut. Meskipun demikian, sarung panah itu dapat digunakan untuk memotong tali pusar bayi Gatotkaca. Anehnya, benda itu ikut masuk ke dalam perut si bayi. Kelak ketika perang Bharatayuddha terjadi, panah Kunta digunakan Karna untuk membunuh Gatotkaca, sebagai simbol pusaka bertemu sarungnya.

Yudistira dikenal yang paling sulung dari Pandawa, Ia seharusnya anak Kedua Kunti bukan anak pertama. Yudistira bermakna “teguh atau kokoh dalam peperangan”. Nama lainnya adalah Dharmaraja, yang bermakna “raja Dharma”, karena ia selalu berusaha menegakkan dharma sepanjang hidupnya. Julukan lain yang dimiliki Yudhisthira adalah: Ajataśatru, “yang tidak memiliki musuh”, Bhārata, “keturunan Maharaja Bharata”, Dharmawangsa atau Dharmaputra, “keturunan Dewa Dharma”, Kurumukhya, “pemuka bangsa Kuru”, Kurunandana, “kesayangan Dinasti Kuru”, Kurupati, “raja Dinasti Kuru”, Pandawa, “putera Pandu”, Partha, “putera Prita atau Kunti”.

Beberapa di antara nama-nama di atas juga dipakai oleh tokoh-tokoh Dinasti Kuru lainnya, misalnya Arjuna, Bisma, dan Duryodana. Dalam versi pewayangan Jawa julukan yang lain lagi untuk Yudistira, adalah: Puntadewa, “derajat keluhurannya setara para dewa”. Yudistira, “pandai memerangi nafsu pribadi”, Gunatalikrama, “pandai bertutur bahasa”, Samiaji, “menghormati orang lain bagai diri sendiri”.

Kunti yang menguasai mantra Adityahredaya segera mewujudkan keinginan suaminya itu. Mantra tersebut adalah ilmu pemanggil dewa untuk mendapatkan putera. Dengan menggunakan mantra itu, Kunti berhasil mendatangkan Dewa Dharma (Yama) dan mendapatkan anugerah putera darinya tanpa melalui persetubuhan. Putera pertama itu diberi nama Yudistira. Dengan demikian, Yudistira menjadi putera sulung Pandu, sebagai hasil pemberian Dharma, yaitu dewa keadilan dan kebijaksanaan.

Sifat-sifat Yudistira tercermin dalam nama-nama julukannya, sebagaimana telah disebutkan di atas. Sifatnya yang paling menonjol adalah adil, sabar, jujur, taat terhadap ajaran agama, penuh percaya diri, dan berani berspekulasi. Kesaktian Yudistira dalam MahaBharata terutama dalam hal memainkan senjata tombak.

    Versi Jawa
    Kisah dalam pewayangan Jawa agak berbeda. Menurut versi ini, Puntadewa merupakan anak kandung Pandu yang lahir di istana Hastinapura. Kedatangan Bhatara Dharma hanya sekadar menolong kelahiran Puntadewa dan memberi restu untuknya. Berkat bantuan dewa tersebut, Puntadewa lahir melalui ubun-ubun Kunti. Dalam pewayangan Jawa, nama Puntadewa lebih sering dipakai, sedangkan nama Yudistira baru digunakan setelah ia dewasa dan menjadi raja. Versi ini melukiskan Puntadewa sebagai seorang manusia berdarah putih, yang merupakan kiasan bahwa ia adalah sosok berhati suci dan selalu menegakkan kebenaran. Ia pernah dikisahkan menjinakkan hewan-hewan buas di hutan Wanamarta dengan hanya meraba kepala mereka.

    Yudistira mempunyai beberapa pusaka, antara lain Jamus Kalimasada, Tunggulnaga, dan Robyong Mustikawarih. Kalimasada berupa kitab, sedangkan Tunggulnaga berupa payung. Keduanya menjadi pusaka utama kerajaan Amarta. Sementara itu, Robyong Mustikawarih berwujud kalung yang terdapat di dalam kulit Yudistira. Pusaka ini adalah pemberian Gandamana, yaitu patih kerajaan Hastina pada zaman pemerintahan Pandu. Apabila kesabaran Yudistira sampai pada batasnya, ia pun meraba kalung tersebut dan seketika itu pula ia pun berubah menjadi raksasa besar berkulit putih bersih.

Pandawa dan Korawa kemudian mempelajari ilmu agama, hukum, dan tata negara kepada Resi Krepa. Dalam pendidikan tersebut, Yudistira tampil sebagai murid yang paling pandai. Krepa sangat mendukung apabila tahta Hastinapura diserahkan kepada Pandawa tertua itu. Setelah itu, Pandawa dan Korawa berguru ilmu perang kepada Resi Drona. Dalam pendidikan kedua ini, Arjuna tampil sebagai murid yang paling pandai, terutama dalam ilmu memanah. Sementara itu, Yudistira sendiri lebih terampil dalam menggunakan senjata tombak.

Bima orang ke-2 dari Pandawa dan anak ke-3 Kunti. Bima artinya adalah “mengerikan”. Sedangkan nama lain Bima yaitu Wrekodara, artinya ialah “perut serigala”, dan merujuk ke kegemarannya makan. Nama julukan yang lain adalah Bhimasena yang berarti panglima perang.

Kunti (istri Pandu) berseru kepada Bayu, (marut/Maruta) dewa angin. Dari hubungan Kunti dengan Bayu, lahirlah Bima. Atas anugerah dari Bayu, Bima akan menjadi orang yang paling kuat dan penuh dengan kasih sayang.

Pada masa kanak-kanak Pandawa dan Korawa, kekuatan Bima tidak ada tandingannya di antara anak-anak sebayanya. Kekuatan tersebut sering dipakai untuk menjahili para sepupunya, yaitu Korawa. Salah satu Korawa yaitu Duryodana, menjadi sangat benci dengan sikap Bima yang selalu jahil. Kebencian tersebut tumbuh subur sehingga Duryodana berniat untuk membunuh Bima.

Pada usia remaja, Bima dan saudara-saudaranya dididik dan dilatih dalam bidang militer oleh Drona. Dalam mempelajari senjata, Bima lebih memusatkan perhatiannya untuk menguasai ilmu menggunakan gada, seperti Duryodana. Mereka berdua menjadi “murid” Baladewa/Balarama, yaitu saudara Kresna yang sangat mahir dalam menggunakan senjata gada. Dibandingkan dengan Bima, Baladewa lebih menyayangi Duryodana, dan Duryodana juga setia kepada Baladewa.

Pada suatu hari ketika Korawa serta Pandawa pergi bertamasya didaerah sungai Gangga, Duryodana menyuguhkan makanan dan minuman kepada Bima, yang sebelumnya telah dicampur dengan racun. Karena Bima tidak senang mencurigai seseorang, ia memakan makanan yang diberikan oleh Duryodana. Tak lama kemudian, Bima pingsan. Lalu tubuhnya diikat kuat-kuat oleh Duryodana dengan menggunakan tanaman menjalar, setelah itu dihanyutkan ke sungai Gangga dengan rakit. Saat rakit yang membawa Bima sampai di tengah sungai, ular-ular yang hidup di sekitar sungai tersebut mematuk badan Bima. Bisa ular tersebut menjadi penangkal racun yang dimakan Bima. Keadaan ini dalam Ayurveda disebut ‘samah samam shamayati’ atau racun melawan racun atau yang menyebabkan sakit dan yang menyembuhkannya sama. Ketika sadar, Bima langsung melepaskan ikatan tanaman menjalar yang melilit tubuhnya, lalu ia membunuh ular-ular yang menggigit badannya. Beberapa ular menyelamatkan diri untuk menemui rajanya, yaitu Naga Basuki.

Saat Naga Basuki mendengar kabar bahwa putera Pandu yang bernama Bima telah membunuh anak buahnya, ia segera menyambut Bima dan memberinya minuman ilahi. Minuman tersebut diminum beberapa mangkuk oleh Bima, sehingga tubuhnya menjadi sangat kuat. Bima tinggal di istana Naga Basuki selama delapan hari, dan setelah itu ia pulang. Saat Bima pulang, Duryodana kesal karena orang yang dibencinya masih hidup. Ketika para Pandawa menyadari bahwa kebencian dalam hati Duryodana mulai bertunas, mereka mulai berhati-hati.

    Versi Jawa
    Bima adalah seorang tokoh yang populer dalam khazanah pewayangan Jawa. Suatu saat mantan presiden Indonesia, Ir. Soekarno pernah menyatakan bahwa ia sangat senang dan mengidentifikasikan dirinya mirip dengan karakter Bima. Nama lain Bima adalah Bratasena, Balawa, Birawa, Dandungwacana, Nagata, Kusumayuda, Kowara, Kusumadilaga, Pandusiwi, Bayusuta, Sena, Wijasena dan Jagal Abilowo

    Bima memiliki sifat gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur, serta menganggap semua orang sama derajatnya, sehingga dia digambarkan tidak pernah menggunakan bahasa halus (krama inggil) atau pun duduk di depan lawan bicaranya. Bima melakukan kedua hal ini (bicara dengan bahasa krama inggil dan duduk) hanya ketika menjadi seorang resi dalam lakon Bima Suci, dan ketika dia bertemu dengan Dewa Ruci. Ia memiliki keistimewaan dan ahli bermain gada, serta memiliki berbagai macam senjata, antara lain: Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Alugara, Bargawa (kapak besar) dan Bargawasta. Sedangkan jenis ajian yang dimilikinya antara lain: Aji Bandungbandawasa, Aji Ketuklindu, Aji Bayubraja dan Aji Blabak Pangantol-antol.

    Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu: Gelung Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga. Sedangkan beberapa anugerah Dewata yang diterimanya antara lain: Kampuh atau Kain Poleng Bintuluaji, Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan Pupuk Pudak Jarot Asem.

    Bima tinggal di kadipaten Jodipati, wilayah Indraprastha. Ia mempunyai tiga orang isteri dan 3 orang anak, yaitu: Dewi Nagagini, berputera (mempunyai putera bernama) Arya Anantareja, Dewi Arimbi, berputera Raden Gatotkaca dan Dewi Urangayu, berputera Arya Anantasena. Menurut versi Banyumas, Bima mempunyai satu istri lagi, yaitu Dewi Rekatawati, berputera Srenggini.

Arjuna adalah yang ke-3 dari Pandawa dan merupakan Putra Bungsu Kunti (ke-4), Kunti menerima anugerah dari Resi Durwasa agar mampu memanggil Dewa-Dewa sesuai dengan keinginannya, dan juga dapat memperoleh anak dari Dewa tersebut. Pandu dan Kunti memanfaatkan anugerah tersebut kemudian memanggil Dewa Indra (Sakra) yang kemudian memberi mereka anak yang dinamakan Arjuna. Arjuna berarti “bersinar terang”, “putih” , “bersih”. Dilihat dari maknanya, kata Arjuna bisa berarti “jujur di dalam wajah dan pikiran”. Arjuna mendapat julukan “Kuruśreṣṭha” yang berarti “keturunan dinasti Kuru yang terbaik”. Ia merupakan manusia pilihan yang mendapat kesempatan untuk mendapat wejangan suci yang sangat mulia dari Kresna, yang terkenal sebagai Bhagawadgita (nyanyian Tuhan). Ketika ia ditanya tentang sepuluh namanya ia menjawab:

    “Sepuluh namaku adalah: Arjuna, Phālguna, Jishnu, Kirti, Shwetawāhana, Wibhatsu, Wijaya, Pārtha, Sawyashachi dan Dhananjaya. Aku dipanggil Dhananjaya ketika aku menaklukkan seluruh raja pada saat Yadnya Rajasuya dan mengumpulkan harta mereka. Aku selalu bertarung sampai akhir dan aku selalu menang, itulah sebabnya aku dipanggil Wijaya. Kuda yang diberikan Dewa Agni kepadaku berwarna putih, itulah sebabnya aku dipanggil Shwetawāhana. Ayahku Indra memberiku mahkota indah ketika aku bersamanya, itulah sebabnya aku dipanggil Kriti. Aku tidak pernah bertarung dengan curang dalam pertempuran, itulah sebabnya aku dipanggil Wibhatsu. Aku tidak pernah menakuti musuhku dengan keji, aku bisa menggunakan kedua tanganku ketika menembakkan anah panah, itulah sebabnya aku disebut Sawyashachī. Raut wajahku unik bagaikan pohon Arjun, dan namaku adalah “yang tak pernah lapuk”, itulah sebabnya aku dipanggil Arjuna. Aku lahir di lereng gunung Himawan, di sebuah tempat yang disebut Satsringa pada hari ketika bintang Uttarā Phālgunī berada di atas, itulah sebabnya aku disebut Phālguna. Aku disebut Jishnu karena aku menjadi hebat ketika marah. Ibuku bernama Prithā, sehingga aku disebut juga Pārtha. Aku bersumpah bahwa aku akan menghancurkan setiap orang yang melukai kakakku Yudistira dan menaburkan darahnya di bumi. Aku tak bisa ditaklukkan oleh siapa pun.”

Arjuna memiliki karakter yang mulia, berjiwa kesatria, imannya kuat, tahan terhadap godaan duniawi, gagah berani, dan selalu berhasil merebut kejayaan sehingga diberi julukan “Dananjaya”. Musuh seperti apapun pasti akan ditaklukkannya, sehingga ia juga diberi julukan “Parantapa”, yang berarti penakluk musuh. Di antara semua keturunan Kuru di dalam silsilah Dinasti Kuru, ia dijuluki “Kurunandana”, yang artinya putera kesayangan Kuru. Ia juga memiliki nama lain “Kuruprāwira”, yang berarti “kesatria Dinasti Kuru yang terbaik”, sedangkan arti harfiahnya adalah “Perwira Kuru”. Di antara para Pandawa, Arjuna merupakan kesatria pertapa yang paling teguh. Pertapaannya sangat kusuk. Ketika ia mengheningkan cipta, menyatukan dan memusatkan pikirannya kepada Tuhan, segala gangguan dan godaan duniawi tak akan bisa menggoyahkan hati dan pikirannya.

Arjuna didik bersama dengan saudara-saudaranya yang lain (para Pandawa dan Korawa) oleh Bagawan Drona. Kemahirannya dalam ilmu memanah sudah tampak semenjak kecil. Pada usia muda ia sudah mendapat gelar “Maharathi” atau “kesatria terkemuka”. Ketika Guru Drona meletakkan burung kayu pada pohon, ia menyuruh muridnya satu-persatu untuk membidik burung tersebut, kemudian ia menanyakan kepada muridnya apa saja yang sudah mereka lihat. Banyak muridnya yang menjawab bahwa mereka melihat pohon, cabang, ranting, dan segala sesuatu yang dekat dengan burung tersebut, termasuk burung itu sendiri. Ketika tiba giliran Arjuna untuk membidik, Guru Drona menanyakan apa yang ia lihat. Arjuna menjawab bahwa ia hanya melihat burung saja, tidak melihat benda yang lainnya. Hal itu membuat Guru Drona kagum bahwa Arjuna sudah pintar.

Pada suatu hari, ketika Drona sedang mandi di sungai Gangga, seekor buaya datang mengigitnya. Drona dapat membebaskan dirinya dengan mudah, namun karena ia ingin menguji keberanian murid-muridnya, maka ia berteriak meminta tolong. Di antara murid-muridnya, hanya Arjuna yang datang memberi pertolongan. Dengan panahnya, ia membunuh buaya yang menggigit gurunya. Atas pengabdian Arjuna, Drona memberikan sebuah astra yang bernama “Brahmasirsa”. Drona juga mengajarkan kepada Arjuna tentang cara memanggil dan menarik astra tersebut. Menurut MahaBharata, Brahmasirsa hanya dapat ditujukan kepada dewa, raksasa, setan jahat, dan makhluk sakti yang berbuat jahat, agar dampaknya tidak berbahaya.

Arjuna memiliki senjata sakti yang merupakan anugerah para dewata, hasil pertapaannya. Ia memiliki panah Pasupati yang digunakannya untuk mengalahkan Karna dalam Bharatayuddha. Busurnya bernama Gandiwa, pemberian Dewa Baruna ketika ia hendak membakar hutan Kandawa. Ia juga memiliki sebuah terompet kerang (sangkala) bernama Dewadatta, yang berarti “anugerah Dewa”.

    Versi Jawa
    Arjuna banyak memiliki nama dan nama julukan, antara lain: Parta (pahlawan perang), Janaka (memiliki banyak istri), Pemadi (tampan), Dananjaya, Kumbaljali, Ciptaning Mintaraga (pendeta suci), Pandusiwi, Indratanaya (putra Batara Indra), Jahnawi (gesit trengginas), Palguna, Indrasuta, Danasmara (perayu ulung) dan Margana (suka menolong). “Begawan Mintaraga” adalah nama yang digunakan oleh Arjuna saat menjalani laku tapa di puncak Indrakila dalam rangka memperoleh senjata sakti dari dewata, yang akan digunakan dalam perang yang tak terhindarkan melawan musuh-musuhnya, yaitu keluarga Korawa.

    Arjuna seorang kesatria yang gemar berkelana, bertapa dan berguru menuntut ilmu. Selain menjadi murid Resi Drona di Padepokan Sukalima, ia juga menjadi murid Resi Padmanaba dari Pertapaan Untarayana. Arjuna pernah menjadi brahmana di Goa Mintaraga, bergelar Bagawan Ciptaning. Ia dijadikan kesatria unggulan para dewa untuk membinasakan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka. Atas jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kahyangan Dewa Indra, bergelar Prabu Karitin.

    Jasanya bukan Cuma itu ia juga mendapat anugrah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain: Gendewa (dari Bhatara Indra), Panah Ardadadali (dari Bhatara Kuwera), Panah Cundamanik (dari Bhatara Narada) Keris Kiai Kalanadah diberikan pada Gatotkaca saat mempersunting Dewi Pergiwa (putera Arjuna), Panah Sangkali (dari Resi Drona), Panah Candranila, Panah Sirsha, Panah Kiai Sarotama, Panah Pasupati, Panah Naracabala, Panah Ardhadhedhali, Keris Kiai Baruna, Keris Pulanggeni (diberikan pada Abimanyu), Terompet Dewanata, Cupu berisi minyak Jayengkaton (pemberian Bagawan Wilawuk dari pertapaan Pringcendani) dan Kuda Ciptawilaha dengan Cambuk Kiai Pamuk. Sedangkan ajian yang dimiliki Arjuna antara lain: Panglimunan, Tunggengmaya, Sepiangin, Mayabumi, Pengasih dan Asmaragama. Arjuna juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu Kampuh atau Kain Limarsawo, Ikat Pinggang Limarkatanggi, Gelung Minangkara, Kalung Candrakanta dan Cincin Mustika Ampal (dahulunya milik Prabu Ekalaya, raja negara Paranggelung).

    Arjuna memiliki sifat cerdik dan pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah. Ia memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amarta. Setelah perang Bharatayuddha, Arjuna menjadi raja di Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata. Akhir riwayat Arjuna diceritakan, ia moksa (mati sempurna) bersama keempat saudaranya yang lain di gunung Himalaya.

    Ia adalah petarung tanpa tanding di medan laga, meski bertubuh ramping berparas rupawan sebagaimana seorang dara, berhati lembut meski berkemauan baja, kesatria dengan segudang istri dan kekasih meski mampu melakukan tapa yang paling berat, seorang kesatria dengan kesetiaan terhadap keluarga yang mendalam tapi kemudian mampu memaksa dirinya sendiri untuk membunuh saudara tirinya. Bagi generasi tua Jawa, dia adalah perwujudan lelaki seutuhnya. Sangat berbeda dengan Yudistira, Arjuna sangat menikmati hidup di dunia. Petualangan cintanya senantiasa memukau orang Jawa, tetapi secara aneh dia sepenuhnya berbeda dengan Don Juan yang selalu mengejar wanita. Arjuna begitu halus dan tampan sosoknya sehingga para puteri begitu, juga para dayang, akan segera menawarkan diri mereka. Merekalah yang mendapat kehormatan, bukan Arjuna. Ia sangat berbeda dengan Wrekudara. Arjuna menampilkan keanggunan tubuh dan kelembutan hati yang begitu dihargai oleh orang Jawa berbagai generasi. Arjuna mempunyai 15 orang istri dan 14 orang anak. Adapun istri dan anak-anaknya adalah: Dewi Subadra, berputera Raden Abimanyu, Dewi Larasati, berputera Raden Sumitra dan Bratalaras, Dewi Ulupi atau Palupi, berputera Bambang Irawan, Dewi Jimambang, berputera Kumaladewa dan Kumalasakti, Dewi Ratri, berputera Bambang Wijanarka, Dewi Dresanala, berputera Raden Wisanggeni, Dewi Wilutama, berputera Bambang Wilugangga, Dewi Manuhara, berputera Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati, Dewi Supraba, berputera Raden Prabakusuma, Dewi Antakawulan, berputera Bambang Antakadewa, Dewi Juwitaningrat, berputera Bambang Sumbada, Dewi Maheswara, Dewi Retno Kasimpar, Dewi Dyah Sarimaya, Dewi Srikandi

Nakula dan Sahadewa, merupakan yang ke-4 dan ke-5 dari pandawa. Nakula adalah anak ke-1 dari Dewi Madri (Istri ke-2 Pandu). Ia adalah saudara kembar Sadewa. Dewi Kunti mengajarkan Dewi Madri mantra Adityahredaya untuk memanggil Dewa Aswin, Dewa tabib kembar dan lahirlah Nakula dan Sahadewa. Nakula sangat tampan dan sangat elok parasnya. Menurut Dropadi, Nakula merupakan suami yang paling tampan di dunia. nakula merupakan nama lain dari Dewa Siwa, dalam bahasa Sansekerta merujuk kepada warna Ichneumon, sejenis tikus atau binatang pengerat dari Mesir. Nakula juga dapat berarti “cerpelai”, atau dapat juga berarti “tikus benggala”. Nakula dan Sadewa memiliki kemampuan istimewa dalam merawat kuda dan sapi.

Nakula digambarkan sebagai orang yang sangat menghibur hati. Ia juga teliti dalam menjalankan tugasnya dan selalu mengawasi kenakalan kakaknya, Bima, dan bahkan terhadap senda gurau yang terasa serius. Nakula juga memiliki kemahiran dalam memainkan senjata pedang.

    Versi Jawa
    Nakula dalam pedalangan Jawa disebut pula dengan nama Pinten (nama tumbuh-tumbuhan yang daunnya dapat dipergunakan sebagai obat). Ia merupakan putera keempat Prabu Pandudewanata, raja negara Hastinapura dengan permaisuri Dewi Madri, puteri Prabu Mandrapati dengan Dewi Tejawati, dari negara Mandaraka. Ia lahir kembar bersama adiknya, Sahadewa atau Sadewa. Nakula juga menpunyai tiga saudara satu ayah, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti, dari negara Mandura bernama Puntadewa (Yudistira), Bima alias Werkudara dan Arjuna

    Nakula adalah titisan Batara Aswin, Dewa tabib. Ia mahir menunggang kuda dan pandai mempergunakan senjata panah dan lembing. Nakula tidak akan dapat lupa tentang segala hal yang diketahui karena ia mepunyai Aji Pranawajati pemberian Ditya Sapujagad, Senapati negara Mretani. Ia juga mempunyai cupu berisi “Banyu Panguripan” atau “Air kehidupan” pemberian Bhatara Indra.

    Nakula mempunyai watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan dapat menyimpan rahasia. Ia tinggal di kesatrian Sawojajar, wilayah negara Amarta. Nakula mempunyai dua orang isteri yaitu: Dewi Sayati puteri Prabu Kridakirata, raja negara Awuawulangit, dan memperoleh dua orang putera masing-masing bernama Bambang Pramusinta dan Dewi Pramuwati. Istri kedua Nakula adalah Dewi Srengganawati, puteri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa yang tinggal di sungai Wailu (menurut Purwacarita, Badawanangala dikenal sebagai raja negara Gisiksamodra alias Ekapratala) dan memperoleh seorang putri bernama Dewi Sritanjung. Dari perkawinan itu Nakula mendapat anugrah cupu pusaka berisi air kehidupan bernama Tirtamanik.

    Setelah selesai perang Bharatayuddha, Nakula diangkat menjadi raja negara Mandaraka sesuai amanat Prabu Salya kakak ibunya, Dewi Madrim. Akhir riwayatnya diceritakan, Nakula mati moksa di gunung Himalaya bersama keempat saudaranya.

Sadewa merupakan anggota Pandawa yang paling muda, yang memiliki saudara kembar bernama Nakula. Meskipun kembar, Nakula dikisahkan memiliki wajah yang lebih tampan daripada Sadewa, sedangkan Sadewa lebih pandai daripada kakaknya itu. Terutama dalam hal perbintangan atau astronomi, kepandaian Sadewa jauh di atas murid-murid Resi Drona lainnya. Sadewa merupakan ahli perbintangan yang ulung dan mampu mengetahui kejadian yang akan datang. Namun ia pernah dikutuk apabila sampai membeberkan rahasia takdir, maka kepalanya akan terbelah menjadi dua. Selain itu ia juga pandai dalam hal ilmu peternakan sapi.

Meskipun Sadewa merupakan Pandawa yang paling muda, namun ia dianggap sebagai yang terbijak di antara mereka. Yudistira bahkan pernah berkata bahwa Sadewa lebih bijak daripada Brihaspati, guru para dewa.

Setelah kemenangan Arjuna atas sayembara memanah di Kerajaan Pancala, maka semua Pandawa bersama-sama menikah dengan Dropadi, putri negeri tersebut. Dari perkawinan tersebut Sadewa memiliki putra bernama Srutakirti. Selain itu, Sadewa juga menikahi puteri Jarasanda, raja Kerajaan Magadha. Kemudian dari istrinya yang bernama Wijaya, lahir seorang putra bernama Suhotra.

    Tokoh Utama Sudamala (Terdapat di pahatan Candi Sukuh, 1439 masehi)
    Sadewa merupakan tokoh utama dalam Kakawin Sudamala, yaitu karya sastra berbahasa Jawa Kuna peninggalan Kerajaan Majapahit. Naskah ini bercerita tentang kutukan yang menimpa istri Batara Guru bernama Umayi, akibat perbuatannya berselingkuh dengan Batara Brahma.

    Umayi dikisahkan berubah menjadi Rakshasi bernama Ra Nini, dan hanya bisa kembali ke wujud asal apabila diruwat oleh bungsu Pandawa. Maka, Sadewa pun diculik dan dipaksa memimpin prosesi ruwatan. Setelah dirasuki Batara Guru, barulah Sadewa mampu menjalankan permintaan Ra Nini.

    Sadewa pun mendapat julukan baru, yaitu Sudamala yang bermakna “menghilangkan penyakit”. Atas petunjuk Ra Nini yang telah kembali menjadi Umayi, Sadewa pun pergi ke desa Prangalas menikahi putri seorang pertapa bernama Tambrapetra. Gadis itu bernama Predapa.

    Versi Jawa
    Sadewa dikisahkan lahir di dalam istana Kerajaan Hastina, bukan di dalam hutan. Kelahirannya bersamaan dengan peristiwa perang antara Pandu melawan Tremboko, raja raksasa dari Kerajaan Pringgadani. Dalam perang tersebut keduanya tewas. Madrim ibu Sadewa melakukan bela pati dengan cara terjun ke dalam api pancaka.

    Versi lain menyebutkan, Sadewa sejak lahir sudah kehilangan ibunya, karena Madrim meninggal dunia setelah melahirkan dirinya dan Nakula.

    Sewaktu kecil, Sadewa memiliki nama panggilan Tangsen. Setelah para Pandawa membangun Kerajaan Amarta, Sadewa mendapatkan Kasatrian Baweratalun sebagai tempat tinggalnya.

    Istri Sadewa versi pewayangan hanya seorang, yaitu Perdapa putri Resi Tambrapetra. Dari perkawinan itu lahir dua orang anak bernama Niken Sayekti dan Bambang Sabekti. Masing-masing menikah dengan anak-anak Nakula yang bernama Pramusinta dan Pramuwati.

    Versi lain menyebutkan Sadewa memiliki anak perempuan bernama Rayungwulan, yang baru muncul jauh setelah perang Baratayuda berakhir, atau tepatnya pada saat Parikesit cucu Arjuna dilantik menjadi raja Kerajaan Hastina. Rayungwulan ini menikah dengan putra Nakula yang bernama Widapaksa.

    Tokoh Lain Bernama Sama
    Dalam mitologi Hindu dan sejarah India, terdapat beberapa tokoh lain yang bernama Sahadewa, yaitu: Nama putra Jarasanda, raja Kerajaan Magadha. Dengan demikian ia adalah saudara ipar Sahadewa putra Pandu. Salah satu raja dari kalangan Dinasti Surya, putera Dharmanandana juga bernama Sahadewa. Nama putra Sudasa atau ayah Somaka, raja Kerajaan Pancala. Nama seorang raksasa putera Dumraksa dan juga ayah dari Kresawa. Nama seorang Paman Gautama Buddha.

    Dalam legenda Jawa juga terdapat seorang bernama Sadewa dari zaman yang lebih tua. Ia merupakan cucu dari Watugunung raja Kerajaan Gilingwesi. Sadewa yang ini menderita kelainan seksual, yaitu mencintai sesama laki-laki atau homoseksual. Ia akhirnya berhasil menjadi raja di Kerajaan Medangkamulan bergelar Cingkaradewa.

    Cingkaradewa merupakan raja serakah yang ingin menguasai seluruh Pulau Jawa. Antara lain ia berhasil merebut Kerajaan Gilingwesi peninggalan kakeknya, yang saat itu dikuasai oleh Parikenan. Parikenan yang merupakan leluhur para Pandawa versi Jawa dikisahkan tewas di tangan Cingkaradewa. Cingkaradewa sendiri akhirnya berhasil dikalahkan seorang pertapa dari India bernama Resi Wisaka, yang merupakan samaran dari Aji Saka, seorang manusia setengah dewa yang melegenda.

Para Korawa (putera Dretarastra) yang utama berjumlah seratus. Kemudian Dewi Gandari melahirkan seorang putra lagi bernama Duskampana dan seorang putri bernama Dursala (atau Duççala atau Dussala). Nama-nama Kurawa yang lain di sini

Duryodana atau Suyodana merupakan yang sulung dari 100 Kurawa. Ia adalah inkarnasi dari Kali sedangkan Sakuni merupakan inkarnasi dari Dwapara. Ia lahir dari pasangan Dretarastra dan Gandari. Duryodana merupakan saudara yang tertua di antara seratus Korawa. Secara harfiah, nama Duryodana memiliki arti “sulit ditaklukkan” atau dapat pula berarti “tidak terkalahkan”.

Tubuh Duryodana dikatakan terbuat dari petir, dan ia sangat kuat. Ia dihormati oleh adik-adiknya, khususnya Dursasana. Dengan belajar ilmu bela diri dari gurunya, yaitu Krepa, Drona dan Balarama atau Baladewa, ia menjadi sangat kuat dengan senjata gada, dan setara dengan Bima, yaitu Pandawa yang kuat dalam hal tersebut.

Saat para Korawa dan Pandawa unjuk kebolehan saat menginjak dewasa, munculah sesosok ksatria gagah perkasa yang mengaku bernama Karna. Ia menantang Arjuna yang disebut sebagai ksatria terbaik oleh Drona. Namun Krepa mengatakan bahwa Karna harus mengetahui kastanya, agar tidak sembarangan menantang seseorang yang tidak setara.

Duryodana membela Karna, kemudian mengangkatnya menjadi raja di Kerajaan Anga. Semenjak saat itu, Duryodana bersahabat dengan Karna. Baik Karna maupun Duryodana tidak mengetahui, bahwa Karna sebenarnya merupakan putera Kunti. Karna juga merupakan harapan Duryodana agar mampu meraih kemenangan saat Bharatayuddha berlangsung, karena Duryodana percaya bahwa Karna adalah lawan yang sebanding dengan Arjuna.

Duryodana menikah dengan puteri Prabu Salya dan mempunyai putera bernama Laksmana (Laksmanakumara). Duryodana digambarkan sangat licik dan kejam, meski berwatak jujur, ia mudah terpengaruh hasutan karena tidak berpikir panjang dan terbiasa dimanja oleh kedua orangtuanya. Karena hasutan Sangkuni, yaitu pamannya yang berotak dan berlidah tajam, ia dan saudara-saudaranya senang memulai pertengkaran dengan pihak Pandawa.

Dalam perang Bharatayuddha, bendera keagungannya berlambang ular kobra. Ia dikalahkan oleh Bima pada pertempuran di hari kedelapan belas karena pahanya dipukul dengan gada.

    Pandangan lain
    Dalam pandangan para sarjana Hindu masa kini, Duryodana merupakan raja yang kuat dan cakap, serta memerintah dengan adil, namun bersikap licik dan jahat saat berusaha melawan saudaranya (Pandawa). Seperti Rawana, Duryodana sangat kuat dan berjaya, dan ahli dalam ilmu agama, namun gagal untuk mempraktekkannya dalam kehidupan. Namun kebanyakan umat Hindu memandangnya sebagai orang jahat yang suka mencari masalah.

    Duryodana juga merupakan salah satu tokoh yang sangat menghormati orangtuanya. Meskipun dianggap bersikap jahat, ia tetap menyayangi ibunya, yaitu Gandari. Setiap pagi sebelum berperang ia selalu mohon doa restu, dan setiap kali ia berbuat demikian, ibunya selalu berkata bahwa kemenangan hanya berada di pihak yang benar. Meskipun jawaban tersebut mengecilkan hati Duryodana, ia tetap setia mengunjungi ibunya setiap pagi.

    Di wilayah Kumaon di Uttranchal, beberapa kuil yang indah ditujukan untuk Duryodana dan ia dipuja sebagai dewa kecil. Suku Kumaon di pegunungan memihak Duryodana dalam Bharatayuddha. Ia dipuja sebagai pemimpin yang cakap dan dermawan.

Dursasana atau Duhsasana merupakan adik dari Duryodana. Dursasana terdiri dari dua kata, yaitu dur atau duh, dan śāsana. Secara harfiah, kata Dusśāsana memiliki arti “sulit untuk dikuasai” atau “sulit untuk diatasi”.

Yuyutsu adalah saudara para Korawa, dari ibu yang lain, seorang dayang-dayang. Berbeda dengan para Korawa, ia memihak Pandawa saat perang di Kurukshetra. Hal itu membuatnya menjadi penerus garis keturunan Drestarastra, sementara saudaranya yang lain (Korawa) gugur semua di medan Kuru atau Kurukshetra. Setelah Yudistira mengundurkan diri dari dunia, Yuyutsu diangkat menjadi raja di Indraprasta.

Perseteruan Pandawa dan Kourawa
Suatu hari Duryodana berpikir ia bersama adiknya mustahil untuk dapat meneruskan tahta Dinasti Kuru apabila sepupunya masih ada. Mereka semua (Pandawa lima dan sepupu-sepupunya atau yang dikenal juga sebagai Korawa) tinggal bersama dalam suatu kerajaan yang beribukota di Hastinapura. Akhirnya berbagai niat jahat muncul dalam benaknya untuk menyingkirkan Pandawa lima beserta ibunya.

Drestarastra yang mencintai keponakannya secara berlebihan. Ketika Ia mengangkat Yudistira sebagai putra mahkota tetapi ia langsung menyesali perbuatannya yang terlalu terburu-buru sehingga ia tidak memikirkan perasaan anaknya. Hal ini menyebabkan Duryodana iri hati dengan Yudistira. Irihati Duryodaya berkembang menjadi rencana pembunuhan. Sangkuni-pun memfasilitasinya. Duryodana mengundang Pandawa beserta ibunya berlibur ke tempat di dekat Hutan Waranawata. Di sana terdapat bangunan yang megah yang dinamakan Jatugraha yang dibuat oleh pesuruh Duryodana, yaitu Purocana, Bangunan itu dibuat dengan bahan seperti lilin sehingga cepat terbakar. Kemudian Sakuni akan membakar Gedung Jatugreha ketika Pandawa dan Ibunya terlelap tidur. Rencana itu sudah dipersiapkan sangat matang oleh Duryodana dan Sakuni namun diketahui dan dibocorkan oleh Widura yang juga merupakan paman dari Pandawa lima. Dalam pewayangan, peristiwa pembakaran ini terkenal dengan nama Balai Sigala-Gala.

Sebelum sampai di tempat peristirahatan tersebut Yudistira juga telah diingatkan oleh seorang petapa yang datang ke dirinya bahwa akan ada bencana yang menimpannya oleh karena itu Yudistira pun sudah berwaspada terhadap segala kemungkinan. Ketika Pandawa dan ibu sampai disana Yudistira dan Bima sadar bahwa rumah penginapan yang disediakan untuk mereka, telah dirancang untuk membunuh mereka serta ibu mereka. Bima hendak segera pergi, namun atas saran Yudistira mereka tinggal di sana selama beberapa bulan.

Pada suatu malam, Kunti mengadakan pesta dan seorang wanita yang dekat dengan Purocana turut hadir di pesta itu bersama dengan kelima orang puteranya. Ketika Purocana beserta wanita dan kelima anaknya tersebut tertidur lelap karena makanan yang disuguhkan oleh Kunti, Bima segera menyuruh agar ibu dan saudara-saudaranya melarikan diri dengan melewati terowongan yang telah dibuat sebelumnya. Kemudian, Bima mulai membakar rumah lilin yang ditinggalkan mereka. Oleh karena ibu dan saudara-saudaranya merasa mengantuk dan lelah, Bima membawa mereka sekaligus dengan kekuatannya yang dahsyat. Kunti digendong di punggungnya, Nakula dan Sadewa berada di pahanya, sedangkan Yudistira dan Arjuna berada di lengannya.

Ketika keluar dari ujung terowongan, Bima dan saudaranya tiba di sungai Gangga. Di sana mereka diantar menyeberangi sungai oleh pesuruh Widura, yaitu menteri Hastinapura yang mengkhwatirkan keadaan mereka. Setelah menyeberangi sungai Gangga, mereka melewati Sidawata sampai Hidimbawana. Dalam perjalanan tersebut, Bima memikul semua saudaranya dan ibunya melewati jarak kurang lebih tujuh puluh dua mil.

Di Hidimbawana, Bima bertemu dengan Hidimbi/arimbi yang jatuh cinta dengannya. Kakak Hidimbi yang bernama Hidimba, menjadi marah karena Hidimbi telah jatuh cinta dengan seseorang yang seharusnya menjadi santapan mereka. Kemudian Bima dan Hidimba berkelahi. Dalam perkelahian tersebut, Bima memenangkan pertarungan dan berhasil membunuh Hidimba dengan tangannya sendiri. Lalu, Bima menikah dengan Hidimbi. Dari perkawinan mereka, lahirlah seorang putera yang diberi nama Gatotkaca. Bima dan keluarganya tinggal selama beberapa bulan bersama dengan Hidimbi dan Gatotkaca, setelah itu mereka melanjutkan perjalanan.

Setelah melewati Hidimbawana, Bima dan saudara-saudaranya beserta ibunya tiba disebuah kota yang bernama Ekacakra. Di sana mereka menumpang di rumah keluarga brahmana. Pada suatu hari ketika Bima dan ibunya sedang sendiri, sementara keempat Pandawa lainnya pergi mengemis, brahmana pemilik rumah memberitahu mereka bahwa seorang raksasa yang bernama Bakasura meneror kota Ekacakra. Atas permohonan penduduk desa, raksasa tersebut berhenti mengganggu kota, namun sebaliknya seluruh penduduk kota diharuskan untuk mempersembahkan makanan yang enak serta seorang manusia setiap minggunya. Kini, keluarga brahmana yang menyediakan tempat tinggal bagi mereka yang mendapat giliran untuk mempersembahkan salah seorang keluarganya. Merasa berhutang budi dengan kebaikan hati keluarga brahmana tersebut, Kunti berkata bahwa ia akan menyerahkan Bima yang nantinya akan membunuh raksasa Baka. Mulanya Yudistira sangsi, namun akhirnya ia setuju.

Pada hari yang telah ditentukan, Bima membawa segerobak makanan ke gua Bakasura. Di sana ia menghabiskan makanan yang seharusnya dipersembahkan kepada sang raksasa. Setelah itu, Bima memanggil-manggil raksasa tersebut untuk berduel dengannya. Bakasura yang merasa dihina, marah lalu menerjang Bima. Seketika terjadilah pertarungan sengit. Setelah pertempuran berlangsung lama, Bima meremukkan tubuh Bakasura seperti memotong sebatang tebu. Lalu ia menyeret tubuh Bakasura sampai di pintu gerbang Ekacakra. Atas pertolongan dari Bima, kota Ekacakra tenang kembali.

Ia tinggal di sana selama beberapa lama, sampai akhirnya Pandawa memutuskan untuk pergi ke Kampilya, ibukota Kerajaan Panchala, karena mendengar cerita mengenai Dropadi dari seorang brahmana.

Dropadi/Drupadi atau Krishna Droupadi merupakan anak yang lahir dari hasil Putrakama Yadnya, yaitu ritual untuk memperoleh keturunan. Dalam kitab MahaBharata diceritakan bahwa setelah Drupada dipermalukan oleh Drona, ia pergi ke dalam hutan untuk merencanakan pembalasan dendam. Kemudian ia memutuskan untuk memperoleh seorang putera yang akan membunuh Drona. Atas bantuan dari Resi Jaya dan Upajaya, Drupada melangsungkan Putrakama Yadnya dengan sarana api suci. Drupadi lahir dari api suci tersebut. Pada mulanya, Dropadi diberi nama “Kresna”, merujuk kepada warna kulitnya yang kehitam-hitaman [Mahabaratha 1.169.44-46]. Dalam bahasa Sanskerta, kata “Krishna” secara harfiah berarti gelap atau hitam. Lambat laun ia lebih dikenal sebagai “Dropadi”, yang secara harfiah berarti “puteri Drupada”. Nama “Pañcali” juga diberikan kepadanya, yang secara harfiah berarti “puteri kerajaan Panchala”. Karena ia merupakan saudari dari Drestadyumna, maka ia juga disebut “Yadnyaseni”

Tersiar kabar bahwa Raja Drupada menyelenggarakan sayembara memperebutkan Dewi Dropadi. Bentuk pertandingannya adalah sebuah boneka ikan dari kayu yang dipasang pada sebuah roda yang berputar di atas arena. Tepat di bawah sasaran tersebut terdapat kolam berisi minyak. Para peserta sayembara harus dapat memanah mata boneka ikan tersebut melalui bayangan di dalam kolam, bukan melihat ke atas secara langsung.

Banyak ksatria di penjuru Bharatawarsha turut menghadiri seperti misalnya Karna dan Salya. Para Pandawa berkumpul bersama para kesatria lain di arena, namun mereka tidak berpakaian selayaknya seorang kesatria, melainkan menyamar sebagai brahmana.

Saat sayembara, tidak ada seorang pun yang mampu mengangkat busur berat pusaka negara Panchala, apalagi memanah sasaran sulit tersebut. Karna kemudian maju mewakili Duryodana setelah sahabatnya itu mengalami kegagalan. Dengan penuh penghormatan, ia berhasil mengangkat busur pusaka tersebut dan siap memanah sasaran sayembara. Tiba-tiba Dropadi menyatakan keberatan apabila Karna sampai berhasil memenangkan sayembara, karena dirinya tidak mau menikah dengan anak seorang kusir. Karna sakit hati mendengar penghinaan itu. Ia menyebut Dropadi sebagai wanita sombong dan pasti menjadi perawan tua karena tidak ada lagi peserta yang mampu memenangkan sayembara sulit tersebut selain dirinya.

Ucapan Karna membuat Drupada (ayah Dropadi) merasa cemas. Ia pun membuka pendaftaran baru untuk siapa saja yang ingin menikahi Dropadi tanpa harus berasal dari golongan ksatriya. Arjuna yang saat itu sedang menyamar sebagai brahmana maju mendaftarkan diri.

Para Pandawa yang diwakili oleh Arjuna turut serta. Arjuna tampil ke muka dan mencoba memanah sasaran dengan tepat. Panah yang dilepaskannya mampu mengenai sasaran dengan tepat, dan sesuai dengan persyaratan, maka Dewi Dropadi berhak menjadi miliknya. Namun para peserta lainnya menggerutu karena seorang brahmana mengikuti sayembara sedangkan para peserta ingin agar sayembara tersebut hanya diikuti oleh golongan kesatria. Karena adanya keluhan tersebut maka keributan tak dapat dihindari lagi. Arjuna dan Bima bertarung dengan kesatria yang melawannya sedangkan Yudistira, Nakula, dan Sadewa melarikan Dropadi ke rumah mereka. Sesampainya di rumah Dewi Kunti, ibu mereka. Kresna yang turut hadir dalam sayembara tersebut tahu siapa sebenarnya para brahmana yang telah mendapatkan Dropadi dan ia berkata kepada para peserta bahwa sudah selayaknya para brahmana tersebut mendapatkan Dropadi sebab mereka telah berhasil memenangkan sayembara dengan baik.

Arjuna dan Bima pun berkelahi dengan para ksatria di sana, sementara Yudistira, Nakula dan Sadewa melarikan Dropadi ke rumah mereka. Sesampainya di rumah, Walaupun Arjuna pun mengikuti sayembara itu dan berhasil memenangkannya, tetapi Bima yang berkata kepada ibunya, “lihat apa yang kami bawa ibu!”. Kunti, ibu para Pandawa, tidak melihat apa yang dibawa oleh anak-anaknya karena sibuk dan berkata, “Bagi dengan rata apa yang kalian peroleh”. Ketika ia menoleh, alangkah terkejutnya ia karena anak-anaknya tidak saja membawa hasil sedekah, namun juga seorang wanita. Kunti yang tidak mau berdusta, membuat anak-anaknya untuk berbagai istri. Karena perkataan ibunya maka Pancali (Dropadi) pun bersuamikan lima orang.

Alasan Mengapa Droupadi bersuamikan diterangkan sekurangnya dalam 3 versi: Versi pertama dari Narada dan Bayu Purana: Draupadi merupakan perwujudan dari sekaligus 5 avatar vdevi yaitu Shimala (Istri dari Deva Dharma), Bharati (Istri dari Deva Bayu), Sachi (Istri deva Indra), Usha (Istri Deva kembar Ashwini) dan Pandawa merupakan hasil dari seluruh Deva itu ketika Kunti dan Madrid meminta mereka Hadir. Versi ke-2: di kelahiran sebelumnya, Dropadi keinginan empat belas kualitas dan Deva Siva memberikan dia anugerah ini, sehingga Ia menikahi Yudhithira karena kebijaksanaan dharma; Bhima karena kekuatannya; Arjuna karena keberaniannya dan Nakula untuk ketampanananya dan Sahadeva untuk alasan kebijaksanaannya. Di versi ke-3: Vyasa Muni menjelaskan bahwa doa Dropadi kepada Tuhan lima kali ‘Tuhan, Beri aku suami’ (Mahabaratha 1.213).

Dikatakan bahwa Droupadi bergiliran hidup dengan masing-masing lima suaminya. Ia juga memiliki anugerah untuk tetap perawan setiap tahunnya dengan cara berjalan melalui api untuk mendapatkan kembali kesuciannya. Dari kelima Pandawa, Droupadi memiliki lima putera, yakni:

  • Pratiwinda (dari hubungannya dengan Yudistira)
  • Sutasoma (dari hubungannya dengan Bima)
  • Srutakirti (dari hubungannya dengan Arjuna)
  • Satanika (dari hubungannya dengan Nakula)
  • Srutakama (dari hubungannya dengan Sadewa)

Kelima putera Pandawa tersebut disebut Pancawala atau Pancakumara.

    Versi Buddhis tentang Drupadi
    ..Demikian Raja burung kangkok ranting (Citrakokila, Cuculus saturatus, tekukur, berwana) bernama Kunala menyapa Raja burung tekukur berbintik (Phusakokila, Tekukur berbintik) yang bernama Punnamukha, yang baru saja sembuh dari sakitnya, “Teman Punnamukha, telah kulihat Kanhā Dvepitika (krsna Drupadi. Krsna = Hitam, Dvepitika: punya dua ayah: Raja Kosala dan Raja Kasi) dan lima orang suami (Ajjuna, Nakula, Bhīmasena, Yudhitthila, Sahadeva), dan yang juga memberikan cintanya kepada orang ke-6, yaitu seorang cacat yang tak berkepala.

    Dikatakan pada satu kisah lampau, Kanhā,
    seorang wanita menikah dengan lima orang pangeran,
    masih merasa tidak puas, ia mencari lagi yang lain,
    dan dengan seorang pelayan bungkuk, ia mainkan peran
    seorang pelacur.


    Dahulu kala, dikatakan bahwa Brahmadatta, Raja Kāsi dengan bala tentaranya menyerang Kerajaan Kosala, membunuh rajanya dan membawa ratunya, yang sedang mengandung, ke Benares dan menjadikannya sebagai permaisuri. Seiring berjalannya waktu, ratu tersebut pun melahirkan seorang putri, dan karena raja tidak memiliki putra maupun putri dari keturunannya sendiri, ia merasa sangat gembira dan berkata, “Ratu, mintalah satu anugerah dariku.” Ia menerima anugerah itu dan menyimpannya. Waktu itu, mereka memberinya nama Kanhā.

    Ketika putrinya ini dewasa, ratu berkata demikian kepadanya, “Putriku, dahulu ayahmu memintaku untuk memohon satu anugerah darinya, yang kemudian kuterima dan kusimpan. Sekarang pilihlah anugerah apa saja yang Anda inginkan.” Dikarenakan nafsunya yang berlebihan dan dengan tak memedulikan lagi rasa malu dan segan untuk berbuat buruknya, ia berkata kepada ibunya, “Tidak ada kekurangan bagi diriku; mintalah ayah menyelenggarakan suatu sayembara untuk memilih seorang suami bagiku.”

    Sang ibu kemudian mengulangi ini kepada raja. Raja berkata, “Biarlah ia mendapatkan apa yang diinginkannya,” dan raja memerintahkan untuk mengadakan suatu sayembara untuk memilih seorang suami.

    Di halaman istana, kerumunan laki-laki berkumpul bersama, berdandankan segala kebesaran mereka. Kanha, yang membawa satu keranjang bunga di tangannya, melihat keluar dari jendela atas, tidak menyukai satu dari mereka semua. Kemudian Ajjuna, Nakula, Bhīmasena, Yudhitthila, Sahadeva, keturunan dari keluarga Pāṇḍu, kelima putra dari Raja Pandu ini, setelah mendapatkan pendidikan dalam segala cabang ilmu pengetahuan di Takkasila dari seorang guru yang terkemuka, yang sedang mengembara untuk menguasai kebudayaan-kebudayaan setempat, tiba di Benares, dan ketika mendengar adanya kegaduhan di kota dan untuk mengetahui jawaban atas pertanyaan mereka mengenai gerangan apakah kegaduhan itu terjadi, mereka berlima datang dan duduk di satu baris, dengan penampilan layaknya patung patung emas.

    Ketika melihat mereka berdiri di depan, Kanha jatuh cinta kepada mereka berlima semua dan melemparkan untaian bunga ke kepala mereka dan berkata, “Ibu, saya pilih kelima laki-laki ini.” Ratu memberitahukan ini kepada raja. Karena telah berjanji mengabulkan pilihan anugerahnya, raja tidak mengatakan, “Anda tidak boleh melakukan ini,” tetapi hanya merasa amat gusar. Ketika menanyakan asal muasal mereka dan putra siapakah mereka, dan mengetahui bahwa mereka adalah anak-anak dari Raja Pandu, ia pun memberikan hormat kepada mereka dan menikahkan putrinya kepada mereka.

    Dan dengan kekuatan nafsunya, Kanha mendapatkan cinta dari kelima pangeran ini dalam istana tujuh tingkatnya. Kala itu, Kanha memiliki seorang pelayan cacat yang bungkuk, dan setelah mendapatkan cinta dari kelima pangeran tersebut dengan kekuatan nafsunya, di saat mereka pergi dari istana, serasa mendapatkan kesempatan dan terbakar oleh nafsu, Kanha berbuat perbuatan tidak senonoh dengan pelayan bungkuk itu, dan berkata demikian kepadanya, “Tidak ada orang lain yang mengasihiku seperti dirimu; akan kubunuh pangeran-pangeran ini dan membuat kakimu berlumuran darah yang dikeluarkan dari mulut mereka.”

    Dan ketika ia bersama dengan pangeran sulung dari kelima bersaudara tersebut, ia akan berkata, “Anda-lah yang paling mengasihiku dibandingkan dengan keempat saudaramu. Demi dirimu, akan kukorbankan nyawaku sendiri. Setelah ayahku meninggal, takhta kerajaan akan kuberikan kepadamu seorang diri.” Tetapi ketika ia bersama dengan yang lainnya, ia juga akan mengatakan hal yang sama.

    Mereka merasa amat senang dengan dirinya dan masing-masing berpikir, “Ia menyukai diriku dan oleh karenanya, ia akan memberikan kekuasaan atas kerajaan ini kepadaku.” Suatu hari ketika ia sakit, mereka semua berkumpul di sisinya, satu orang mengelus-elus bagian kepala, dan yang lainnya masing-masing pada bagian kaki dan tangan, sedangkan pelayan bungkuk tersebut duduk di kedua kakinya.

    Kepada Ajjuna, pangeran tertua yang mengelus kepalanya, Kanha membuat suatu tanda yang mengisyaratkan, “Tidak ada yang lebih mengasihiku dibandingkan dirimu: seumur hidupku akan kuberikan nyawaku ini untukmu dan sepeninggal ayahku akan kuberikan kerajaan ini kepadamu,” dan demikianlah Kanha mendapatkan hatinya. Kepada yang lainnya juga, Kanha membuat tanda yang mengisyaratkan hal yang sama pula. Kepada pelayan bungkuknya, ia membuat tanda dengan lidahnya yang mengisyaratkan, “Hanya dirimulah yang mengasihiku. Saya hidup hanya demi dirimu.” Disebabkan oleh apa yang telah dikatakan kepada mereka sebelumnya, maka mereka semua mengerti arti dari tanda itu.

    Akan tetapi, ketika melihat gerakan tangan, kaki ataupun lidahnya, Pangeran Ajjuna berpikir, “Seperti halnya dengan diriku dan juga diri yang lainnya, dengan tanda ini pastinya ada isyarat yang diberikan dan tidak diragukan lagi pasti ia memiliki hubungan istimewa dengan orang bungkuk ini,” maka dengan membawa saudara-saudaranya beranjak keluar, ia bertanya, “Apakah tadi kalian melihat wanita yang bersuami lima itu membuat tanda dengan kepalanya kepadaku?” “Ya, kami melihatnya.” “Apakah kalian mengetahui arti dari isyarat itu?” “Kami tidak tahu.” “Arti dari isyarat itu adalah anu.

    Apakah kalian mengetahui arti dari isyarat yang diberikan kepada kalian dengan gerakan tangan dan kaki?” “Ya, kami mengetahuinya.” “Dengan cara yang sama pula, ia memberikan isyarat itu kepadaku. Apakah kalian mengetahui arti dari isyarat yang diberikan kepada si bungkuk dengan gerakan lidahnya?” “Kami tidak tahu.” Kemudian ia memberitahukan mereka, “Ia telah berbuat perbuatan tidak senonoh dengannya.”

    Dan ketika mereka tidak memercayai dirinya, ia memanggil si bungkuk dan menanyakan kepadanya, dan si bungkuk memberitahukan semuanya kepada dirinya. Ketika mereka mendengar apa yang dikatakan oleh si bungkuk, perasaan cinta mereka kepada Kanha seketika itu juga hilang. “Ah! benar-benar,” kata mereka, “wanita adalah makhluk yang keji dan licik. Tanpa memedulikan laki-laki seperti kita, yang berstatus tinggi dan berlimpahkan kekayaan, ia berbuat perbuatan tidak senonoh dengan seorang yang berstatus rendah, menjijikkan, bungkuk seperti ini. Orang bijak manakah yang dapat menemukan kebahagiaan dengan menikahi wanita yang tak tahu malu dan keji seperti ini?”

    Setelah mencela wanita demikian, kelima pangeran tersebut berpikir, “Kami sudah bosan dengan kehidupan rumah tangga,” dan hidup mengasingkan diri di daerah Himalaya. Setelah melaksanakan meditasi pendahuluan Kasina, setelah meninggal, mereka menuai hasil sesuai dengan perbuatan mereka masing-masing. [Jataka no.536/KUNĀLA-JĀTAKA. Jataka dalam kanon pali hanya berisi Syair-syair saja, tidak berisi kisahnya]

    Versi Jawa
    Dalam budaya pewayangan Jawa, Dewi Dropadi dinikahi oleh Yudistira saja dan bukan milik kelima Pandawa. Cerita tersebut dapat disimak dalam lakon Sayembara Gandamana. Dalam lakon tersebut dikisahkan, Yudistira mengikuti sayembara mengalahkan Gandamana yang diselenggarakan Raja Dropada. Siapa yang berhasil memenangkan sayembara, berhak memiliki Dropadi. Yudistira ikut serta namun ia tidak terjun ke arena sendirian melainkan diwakili oleh Bima. Bima berhasil mengalahkan Gandamana dan akhirnya Dropadi berhasil didapatkan. Karena Bima mewakili Yudistira, maka Yudistiralah yang menjadi istri Dropadi. Dalam tradisi pewayangan Jawa, putera Dropadi dengan Yudistira bernama Raden Pancawala. Pancawala sendiri merupakan sebutan untuk lima putera Pandawa.

    Terjadinya perbedaan cerita antara kitab MahaBharata dengan cerita dalam pewayangan Jawa karena pengaruh perkembangan agama Islam di tanah Jawa. Setelah kerajaan Majapahit yang bercorak Hindu runtuh, munculah Kerajaan Demak yang bercorak Islam. Pada masa itu, segala sesuatu harus disesuaikan dengan hukum agama Islam. Pertunjukan wayang yang pada saat itu sangat digemari oleh masyarakat, tidak diberantas ataupun dilarang melainkan disesuaikan dengan ajaran Islam. Menurut hukum Islam, seorang wanita tidak boleh bersuamikan lebih dari satu. Maka dari itu, cerita Dewi Dropadi dalam kitab MahaBharata dianggap menyalahi hukum Islam.

Setelah menikahi Dropadi, para Pandawa kembali ke Hastinapura dan memperoleh sambutan luar biasa, kecuali dari pihak Duryodana. Persaingan antara Pandawa dan Korawa atas tahta Hastinapura kembali terjadi. Setelah melalui perundingan, dan atas saran Bisma, Kerajaan Kuru dibagi dua.

Korawa mendapatkan istana Hastinapura, sedangkan Pandawa mendapatkan hutan Kandawaprastha sebagai tempat untuk membangun istana baru. Meskipun daerah tersebut sangat gersang dan angker, namun para Pandawa mau menerima wilayah tersebut. Selain wilayahnya yang seluas hampir setengah wilayah kerajaan Kuru, Kandawaprastha juga merupakan ibukota kerajaan Kuru yang dulu, sebelum Hastinapura. Atas bantuan dari sepupu Yudistira, yaitu Kresna dan Baladewa, mereka mengubah daerah gersang tersebut menjadi makmur dan megah, dan dikenal sebagai Indraprastha.

Indraprastha adalah sebuah kota besar di India utara pada zaman dahulu kala. Kota ini terletak di tepi sungai Yamuna, lokasinya dekat dengan ibukota India zaman sekarang, Delhi. Sebelum dikenal sebagai Indraprastha, kota ini dikenal sebagai Kandawaprastha yang merupakan ibukota kerajaan besar di India pada zaman dahulu kala, dan diperintah oleh para leluhur Pandawa dan Korawa, seperti misalnya Maharaja Pururawa, Nahusa, dan Yayati. Namun kota tersebut menjadi gersang akibat kutukan para resi, untuk menghukum putera Budha.

Saat diberikan kepada Pandawa, Kandawaprastha merupakan kota gersang. Melihat keadaan itu, Sri Kresna memanggil Indra, pemimpin para Dewa, untuk membantu Yudistira memperbaiki keadaan negeri tersebut. Dewa Indra memunculkan Wiswakarman, arsitek para Dewa yang merancang kota megah. Dengan suatu upacara, Wiswakarman berhasil mengusir segala penyakit di negeri tersebut dan menyuburkan kembali daerah yang gersang. Sesuai janji Kresna, Kandawaprastha akan diberi nama Indraprastha jika Indra mampu mengubah keadaan Kandawaprastha. Perlahan-lahan kota tersebut menjadi kota yang makmur dan berduyun-duyun orang-orang dari negeri tetangga bermigrasi ke negeri baru tersebut. Kota Indraprastha pun menjadi kota besar. Setelah Yudistira naik tahta, kota Indraprastha tetap mendapat pengawasan dari Hastinapura.

Catatan sejarah
Indraprastha berumur 50.000 tahun. Legenda mengatakan bahwa Indraprastha terletak di wilayah Purani Choot sekarang ini. Sebuah desa bernama Indraprat ada di Delhi sampai permulaan abad ke-20, kemudian digusur dan kota New Delhi dibangun di atasnya. Penggalian di wilayah perbukitan Indraprastha, ibukota para Pandawa, seperti yang ditunjukkan Purana Qila menemukan bukti bahwa daerah itu pernah didiami selama hampir 2.500 tahun. Indraprastha sempat menjadi kota besar selama berabad-abad, dari zaman Kerajaan Maurya sampai Kerajaan Gupta di India, namun kurang terkenal karena berdirinya kota-kota seperti Pataliputra, di sebelah tenggara daerah aliran sungai, yang menjadi sumber dua kerajaan terkuat di India. Indraprastha diserbu oleh bangsa Hun setelah jatuhnya Kerajaan Gupta. Raja Hindu bernama Dhilon konon membangun kota Delhi Kuno, dekat dengan Indraprastha.

    Versi Jawa
    Dalam versi pewayangan Jawa, nama Indraprastha lebih terkenal dengan sebutan kerajaan Amarta. Menurut versi ini, hutan yang dibuka para Pandawa bukan bernama Kandawaprastha, melainkan bernama Wanamarta.

    Versi Jawa mengisahkan, setelah sayembara Dropadi, para Pandawa tidak kembali ke Hastinapura melainkan menuju kerajaan Wirata, tempat kerabat mereka yang bernama Prabu Matsyapati berkuasa. Matsyapati yang bersimpati pada pengalaman Pandawa menyarankan agar mereka membuka kawasan hutan tak bertuan bernama Wanamarta menjadi sebuah kerajaan baru. Hutan Wanamarta dihuni oleh berbagai makhluk halus yang dipimpin oleh lima bersaudara, bernama Yudistira, Danduncana, Suparta, Sapujagad, dan Sapulebu. Pekerjaan Pandawa dalam membuka hutan tersebut mengalami banyak rintangan. Akhirnya setelah melalui suatu percakapan, para makhluk halus merelakan Wanamarta kepada para Pandawa.

    Sejarah ini dikenal dengan kisah atau lakon Babad Alas Wanamarta. Korawa yang telah merasa berhasil membunuh Pandawa dalam cerita Bale Sigalagala terkejut ketika mengetahui ternyata Pandawa masih hidup. Prabu Duryudana yang tidak ingin kerajaan Astina atau Hastina diminta oleh Pandawa selaku penguasa yang sah mencari berbagai cara agar bisa membunuh kembali Pandawa. Untuk memperhalus niatan tersebut, Pandawa diberikan daerah yang masih berupa hutan yang bernama hutan Wanamarta (Wana berarti Hutan). Hutan tersebut terkenal keangkerannya, begitu angkernya sehingga digunakan istilah “Manusia Datang, Manusia Mati, Hewan Datang, Hewan Mati” (Jalma Mara, Jalma Mati, Sato Mara, Sato Mati) untuk menggambarkan keangkerannya.

    Pandawa kesulitan dalam membuka hutan Wanamarta karena dikuasai oleh lima makhluk halus yang wajahnya mirip dengan para Pandawa. Kelima makhluk halus tersebut adalah Yudistira yang mirip dengan Prabu Puntadewa, Dandungwacana yang mirip dengan Bima, Dananjaya yang mirip dengan Arjuna, Nakula dan Sadewa yang mirip dengan si kembar Pinten dan Tansen. Kelima penguasa Wanamarta ini tidak sudi diganggu ketenangannya. Arjuna yang mempunyai minyak Jayengkaton mengoleskannya ke setiap mata Pandawa agar dapat melihat kelima makluk halus penguasa Wanamarta.

    Akhirnya Pandawa dapat mengalahkan kelima penguasa hutan Wanamarta tersebut dan kelimanya menitis masuk kedalam tubuh para Pandawa sehingga Pandawa memiliki nama yang sama dengan para penguasa hutan Wanamarta tersebut serta seketika itu juga hutan Wanamarta berubah menjadi kerajaan yang megah luar biasa bernama Indraprastha atau Amarta.

    Setelah menjadi Raja Amarta, Puntadewa berusaha keras untuk memakmurkan negaranya. Konon terdengar berita bahwa barang siapa yang bisa menikahi puteri Kerajaan Slagahima yang bernama Dewi Kuntulwinanten, maka negeri tempat ia tinggal akan menjadi makmur dan sejahtera. Puntadewa sendiri telah memutuskan untuk memiliki seorang istri saja. Namun karena Dropadi mengizinkannya menikah lagi demi kemakmuran negara, maka ia pun berangkat menuju Kerajaan Slagahima. Di istana Slagahima telah berkumpul sekian banyak raja dan pangeran yang datang melamar Kuntulwinanten. Namun sang puteri hanya sudi menikah dengan seseorang yang berhati suci, dan ia menemukan kriteria itu dalam diri Puntadewa. Kemudian Kuntulwinanten tiba-tiba musnah dan menyatu ke dalam diri Puntadewa. Sebenarnya Kuntulwinanten bukan manusia asli, melainkan wujud penjelmaan anugerah dewata untuk seorang raja adil yang hanya memikirkan kesejahteraan negaranya. Sedangkan anak raja Slagahima yang asli bernama Tambakganggeng. Ia kemudian mengabdi kepada Puntadewa dan diangkat sebagai patih di kerajaan Amarta.

    Sebagai bentuk syukur atas berdirinya kerajaan Indraprastha atau Amarta ini atas petunjuk Sri Batara Kresna maka dilakukan upacara yang disebut dengan Sesaji Raja Surya atau Sesaji Rajasuya.

    Makna Filosofis Babad Alas Wanamarta
    Lawan adalah diri kita sendiri (wujud yang sama dengan Pandawa)
    Untuk mengetahuinya digunakan cara atau sudut pandang yang lain (penggunaan minyak Jayengkaton)
    Jika mampu mengalahkan diri sendiri maka akan terjadi hal yang luar biasa (berubahnya hutan Wanamarta menjadi kerajaan yang megah)

Rajasuya
Rajasuya adalah sebuah upacara yang selama persiapan upacara, para jendral (patih, saudara, atau ksatria yang masih sekerabat) melakukan kampanye dengan menaklukkan daerah-daerah (kerajaan) di sekitar mereka, sekaligus mengambil upeti dari kerajaan yang berhasil ditaklukkannya. Raja yang kalah/menaklukan diri memberikan upeti dan menghadiri penyelenggaraan upacara. Upacara ini adalah seperti upacara Aswamedha dan kedua upacara ini hanya bisa dilakukan oleh seorang Raja yang merasa cukup kuat untuk menjadi rajadiraja. Perbedaan antara Aswamedha vs Rajasuya adalah:

  • Pada upacara Aswamedha, seekor kuda dilepaskan berjalan tanpa terputus ke daerah yang dilaluinya. Para prajurit mengikuti kuda tersebut dan menaklukan daerah yang dilalui kuda tersebut. Upacara ini disebutkan di Rig veda 1.162-163, Yajur veda (Krishna Yajurveda/Taittiriya Sanhita/TS 7.1.11-dst; Sukla Yajurveda/Vajasaneyi Madhyandiniya/VSM 22-25), Ramayana (Balakanda 1.13 dan 1.14), Mahabharata (Santiparva, 12.337), dst (lihat juga: Asvamedha dari Subhash Kak)
  • Sedangkan dalam upacara Rajasuya, kuda tidak diperlukan, penaklukan tetap dilakukan bagi yang membangkang. Upacara seperti ini disebutkan misalnya di: Mahābhārata, sabha Parva 2.14-33, Srimad Bhagavatam, dll.

Pada suatu hari, ketika Pandawa sedang memerintah kerajaannya di Indraprastha, seorang pendeta masuk ke istana dan melapor bahwa pertapaannya diganggu oleh para raksasa. Arjuna yang merasa memiliki kewajiban untuk menolongnya, bergegas mengambil senjatanya. Namun senjata tersebut disimpan di sebuah kamar dimana Yudistira dan Dropadi sedang menikmati malam mereka. Demi kewajibannya, Arjuna rela masuk kamar mengambil senjata, tidak mempedulikan Yudistira dan Dropadi yang sedang bermesraan di kamar. Atas perbuatan tersebut, Arjuna dihukum untuk menjalani pembuangan selama 1 tahun.

Arjuna menghabiskan masa pengasingannya dengan menjelajahi penjuru Bharatawarsha atau daratan India Kuno. Ketika sampai di sungai Gangga, Arjuna bertemu dengan Ulupi, puteri Naga Korawya dari istana naga atau Nagaloka. Arjuna terpikat dengan kecantikan Ulupi lalu menikah dengannya. Dari hasil perkawinannya, ia dikaruniai seorang putera yang diberi nama Irawan. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanannya menuju wilayah pegunungan Himalaya. Setelah mengunjungi sungai-sungai suci yang ada di sana, ia berbelok ke selatan. Ia sampai di sebuah negeri yang bernama Manipura. Raja negeri tersebut bernama Citrasena. Beliau memiliki seorang puteri yang sangat cantik bernama Citrānggadā. Arjuna jatuh cinta kepada puteri tersebut dan hendak menikahinya, namun Citrasena mengajukan suatu syarat bahwa apabila puterinya tersebut melahirkan seorang putera, maka anak puterinya tersebut harus menjadi penerus tahta Manipura oleh karena Citrasena tidak memiliki seorang putera. Arjuna menyetujui syarat tersebut. Dari hasil perkawinannya, Arjuna dan Citrānggadā memiliki seorang putera yang diberi nama Babruwahana. Oleh karena Arjuna terikat dengan janjinya terdahulu, maka ia meninggalkan Citrānggadā setelah beberapa bulan tinggal di Manipura. Ia tidak mengajak istrinya pergi ke Hastinapura.

Setelah meninggalkan Manipura, ia meneruskan perjalanannya menuju arah selatan. Dia sampai di lautan yang mengapit Bharatawarsha di sebelah selatan, setelah itu ia berbelok ke utara. Ia berjalan di sepanjang pantai Bharatawarsha bagian barat. Dalam pengembaraannya, Arjuna sampai di pantai Prabasa (Prabasatirta) yang terletak di dekat Dwaraka, yang kini dikenal sebagai Gujarat. Arjuna mampir ke Dwaraka dan disana ia mendapatkan Subadra sebagai istrinya yang ke-empat.

Pada suatu ketika, Arjuna dan Kresna berkemah di tepi sungai Yamuna. Di tepi hutan tersebut terdapat hutan lebat yang bernama Kandawa. Di sana mereka bertemu dengan Agni, Dewa Api. Agni berkata bahwa hutan Kandawa seharusnya telah musnah dilalap api, namun Dewa Indra selalu menurunkan hujannya untuk melindungi temannya yang bernama Taksaka, yang hidup di hutan tersebut. Maka, Agni memohon agar Kresna dan Arjuna bersedia membantunya menghancurkan hutan Kandawa. Kresna dan Arjuna bersedia membantu Agni, namun terlebih dahulu mereka meminta Agni agar menyediakan senjata kuat bagi mereka berdua untuk menghalau gangguan yang akan muncul. Kemudian Agni memanggil Baruna, Dewa Lautan. Baruna memberikan busur suci bernama Gandiwa serta tabung berisi anak panah dengan jumlah tak terbatas kepada Arjuna. Untuk Kresna, Baruna memberikan Cakra Sudarsana. Dengan senjata tersebut, mereka berdua menjaga agar Agni mampu melalap hutan Kandawa sampai habis.

Pengaruh dalam budaya
Kitab Adiparwa yang diterjemahkan dari Bahasa Sansekerta ke Bahasa Jawa Kuno atau Bahasa Kawi, banyak digubah menjadi cerita pewayangan. Dalam kitab Adiparwa yang diterjemahkan dari Bahasa Sansekerta mungkin terdapat perbedaan dengan lakon pewayangannya, yang kadang-kadang besar sekali, sehingga memberi kesan bahwa segala sesuatunya terjadi di Jawa. Hal ini disebabkan oleh kecerdasan para pujangga masa lampau yang mampu memindah alam pikiran para pembaca atau pendengarnya dari suasana India menjadi Jawa Asli. Jika Hastinapura sebenarnya terdapat di India, maka nama-nama seperti Jonggringsalaka, Pringgandani, Indrakila, Gua Kiskenda, sampai Gunung Mahameru dibawa ke tanah Jawa.

Begitu pula dengan tokoh Pancawala (Pancakumara). Jika dalam versi aslinya mereka terdiri dari lima orang, maka dalam pewayangan mereka dikatakan hanya satu orang saja. Menurut Mulyono dalam artikelnya berjudul “Dewi Dropadi:Antara kitab MahaBharata dan Pewayangan Jawa”, ia menyatakan bahwa terjadinya perbedaan cerita tentang Pancawala antara kitab MahaBharata dengan cerita dalam pewayangan Jawa karena pengaruh perkembangan agama Islam di tanah Jawa. Hal serupa juga terjadi pada kisah Dewi Dropadi dalam kitab Adiparwa. Jika dalam Adiparwa ia bersuami lima orang, maka dalam pewayangan Jawa (yang sudah terkena pengaruh Islam) Dropadi hanya bersuami satu orang saja. Menurut hukum Islam, seorang wanita tidak boleh memiliki suami lebih dari satu. Maka dari itu, cerita Dewi Dropadi dalam kitab MahaBharata versi asli yang bercorak Hindu menyalahi hukum Islam. Untuk mengantisipasinya, para pujangga ataupun seniman Islam mengubah cerita tersebut agar sesuai dengan ajaran Islam. Pancawala yang sebenarnya merupakan lima putera Pandawa pun diubah menjadi seorang tokoh yang merupakan putera Yudistira saja.


Sabhaparwa

Sabhaparwa adalah buku kedua MahaBharata. Buku ini menceritakan alasan mengapa sang Pandawa Lima ketika diasingkan dan harus masuk ke hutan serta tinggal di sana selama 12 tahun dan menyamar selama 1 tahun. Di dalam buku ini diceritakan bagaimana mereka berjudi dan kalah dari Duryodana.

Kitab MahaBharata bagian kedua atau Sabhaparwa mengisahkan niat Yudistira untuk menyelenggarakan upacara Rajasuya demi menyebarkan dharma dan menyingkirkan raja-raja angkara murka. Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa memimpin tentara masing-masing ke empat penjuru Bharatawarsha (India Kuno) untuk mengumpulkan upeti dalam penyelenggaraan upacara agung tersebut.

Pada saat yang sama, seorang raja angkara murka juga mengadakan upacara mengorbankan seratus orang raja. Raja tersebut bernama Jarasanda dari kerajaan Magadha. Yudistira mengirim Bima dan Arjuna dengan didampingi Kresna sebagai penasihat untuk menumpas Jarasanda. Akhirnya, melalui sebuah pertandingan seru, Bima berhasil membunuh Jarasanda.

Setelah semua persyaratan terpenuhi, Yudistira melaksanakan upacara Rajasuya di Indraprastha, seluruh kesatria di penjuru Bharatawarsha diundang, yang dihadiri sekian banyak kaum raja dan pendeta. Dalam kesempatan itu, Yudistira ditetapkan sebagai Maharajadhiraja. Hadir pula seorang sekutu Jarasanda bernama Sisupala dan juga Kurawa.

Duryodana dan Dursasana terkagum-kagum dengan suasana balairung Istana Indraprastha. Mereka tidak tahu bahwa di tengah-tengah istana ada kolam. Air kolam begitu jernih sehingga dasarnya kelihatan sehingga tidak tampak seperti kolam. Duryodana dan Dursasana tidak mengetahuinya lalu mereka tercebur. Melihat hal itu, Dropadi tertawa terbahak-bahak. Duryodana dan Dursasana sangat malu. Mereka tidak dapat melupakan penghinaan tersebut, apalagi yang menertawai mereka adalah Dropadi yang sangat mereka kagumi kecantikannya.

Ketika tiba waktunya untuk memberikan jamuan kepada para undangan, sudah menjadi tradisi bahwa tamu yang paling dihormati yang pertama kali mendapat jamuan. Atas usul Bisma, Yudistira memberikan jamuan pertama kepada Sri Kresna. Melihat hal itu, Sisupala, saudara sepupu Sri Kresna, menjadi keberatan dan menghina Sri Kresna di depan umum. Penghinaan itu diterima Sri Kresna bertubi-tubi hingga melewati penghinaan ke-100 maka Kemarahan Sri Kresna memuncak. Ia mengeluarkan Cakra Sudarsana dan memenggal kepala Sisupala di depan umum.

Pada waktu menarik Cakra, tangan Sri Kresna mengeluarkan darah. Melihat hal tersebut, Dewi Dropadi segera menyobek kain sari-nya untuk membalut luka Sri Kresna. Pertolongan itu tidak dapat dilupakan Sri Kresna.

Pamannya (Dretarastra) yang mengetahui bahwa Pandawa lima ternyata belum mati pun mengundang mereka untuk kembali ke Hastinapura dan memberikan hadiah berupa tanah dari sebagian kerajaannya, yang akhirnya Pandawa lima membangun kota dari sebagian tanah yang diberikan pamannya itu hingga menjadi megah dan makmur yang diberi nama Indraprastha.

Ketika menjadi tamu dalam acara Rajasuya, Duryodana sangat kagum sekaligus iri menyaksikan keindahan istana Indraprastha. Timbul niatnya untuk merebut kerajaan itu, apalagi setelah ia tersinggung oleh ucapan Dropadi dalam sebuah pertemuan. Duryodana sering termenung memikirkan usaha untuk mendapatkan kemegahan dan kemewahan yang ada di Indraprastha. Duryodana melihat bangunan yang begitu indah, megah dan artistik itu. Setelah pulang ke Hastinapura ia langsung memanggil arsitek terkemuka untuk membangun pendapa yang tidak kalah indahnya dari pendapa di Indraprastha. Ia ingin sekali mendapatkan harta dan istana milik Pandawa. Namun ia bingung bagaimana cara mendapatkannya. Terlintas dalam benak Duryodana untuk menggempur Pandawa, namun dicegah oleh Sangkuni.

Sangkuni berkata, “Aku tahu Yudistira suka bermain dadu, namun ia tidak tahu cara bermain dadu dengan akal-akalan. Sementara aku adalah rajanya main dadu dengan akal-akalan. Untuk itu, undanglah dia, ajaklah main dadu. Nantinya, akulah yang bermain dadu atas nama anda. Dengan kelihayanku, tentu dia akan kalah bermain dadu denganku. Dengan demikian, anda akan dapat memiliki apa yang anda impikan”.

Duryodana tersenyum lega mendengar saran pamannya. Bersama Sangkuni, mereka mengajukan niat tersebut kepada Dretarastra untuk mengundang Pandawa main dadu. Duryodana juga menceritakan sikapnya yang iri dengan kemewahan Pandawa. Dretarastra ingin mempertimbangkan niat puteranya tersebut kepada Widura, namun karena mendapat hasutan dari Duryodana dan Sangkuni, maka Dretarastra menyetujuinya tanpa pertimbangan Widura.

Pandawa dan Korawa main dadu
Dretarastra menyiapkan arena judi di Hastinapura, dan setelah selesai ia mengutus Widura untuk mengundang Pandawa bermain dadu di Hastinapura. Yudistira sebagai kakak para Pandawa, menyanggupi undangan tersebut. dengan disertai para saudaranya beserta istri dan pengawal, Yudistira berangkat menuju Hastinapura. Sesampainya di Hastinapura, rombongan mereka disambut dengan ramah oleh Duryodana. Mereka beristirahat di sana selama satu hari, kemudian menuju ke arena perjudian.

Yudistira berkata, “Kakanda Prabu, berjudi sebetulanya tidak baik. Bahkan menurut para orang bijak, berjudi sebaiknya dihindari karena sering terjadi tipu-menipu sesama lawan”. Setelah mendengar perkataan Yudistira, Sangkuni menjawab, “Ma’af paduka Prabu. Saya kira jika anda berjudi dengan Duryodana tidak ada jeleknya, sebab kalian masih bersaudara. Apabila paduka yang menang, maka kekayaan Duryodana tidaklah hilang sia-sia. Begitu pula jika Duryodana menang, maka kekayaan paduka tidaklah hilang sia-sia karena masih berada di tangan saudara. Untuk itu, apa jeleknya jika rencana ini kita jalankan?”

Yudistira yang senang main dadu akhirnya terkena rayuan Sangkuni. Maka permainan dadu pun dimulai. Yudistira heran kepada Duryodana yang diwakilkan oleh Sangkuni, sebab dalam berjudi tidak lazim kalau diwakilkan. Sangkuni yang berlidah tajam, sekali lagi merayu Yudistira. Yudistira pun termakan rayuan Sangkuni.

Mula-mula Yudistira mempertaruhkan harta, namun ia kalah. Kemudian ia mempertaruhkan harta lagi, namun sekali lagi gagal. Begitu seterusnya sampai hartanya habis dipakai sebagai taruhan. Setelah hartanya habis dipakai taruhan, Yudistira mempertaruhkan prajuritnya, namun lagi-lagi ia gagal. Kemudian ia mempertaruhkan kerajaannya, namun ia kalah lagi sehingga kerajaannya lenyap ditelan dadu. Setelah tidak memiliki apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, Yudistira mempertaruhkan adik-adiknya. Sangkuni kaget, namun ia juga sebenarnya senang. Berturut-turut Sahadewa, Nakula, Arjuna, dan Bima dipertaruhkan, namun mereka semua akhirnya menjadi milik Duryodana karena Yudistira kalah main dadu.

Dropadi dihina di muka umum
Harta, istana, kerajaan, prajurit, dan saudara Yudistira akhirnya menjadi milik Duryodana. Yudistira yang tidak memiliki apa-apa lagi, nekat mempertaruhkan dirinya sendiri. Sekali lagi ia kalah sehingga dirinya harus menjadi milik Duryodana. Sangkuni yang berlidah tajam membujuk Yudistira untuk mempertaruhkan Dropadi. Karena termakan rayuan Sangkuni, Yudistira mempertaruhkan istrinya, yaitu Dewi Dropadi. Banyak yang tidak setuju dengan tindakan Yudistira, namun mereka semua membisu karena hak ada pada Yudistira.

Duryodana mengutus Widura untuk menjemput Dropadi, namun Widura menolak tindakan Duryodana yang licik tersebut. karena Widura menolak, Duryodana mengutus para pengawalnya untuk menjemput Dropadi. Namun setelah para pengawalnya tiba di tempat peristirahatan Dropadi, Dropadi menolak untuk datang ke arena judi.

Setelah gagal, Duryodana menyuruh Dursasana, adiknya, untuk menjemput Dropadi. Dropadi yang menolak untuk datang, diseret oleh Dursasana yang tidak memiliki rasa kemanusiaan. Dropadi menangis dan menjerit-jerit karena rambutnya ditarik sampai ke arena judi, tempat suami dan para iparnya berkumpul.

Dengan menangis terisak-isak, Dropadi berkata, “Sungguh saya tidak mengira kalau di Hastina kini telah kehilangan banyak orang bijak. Buktinya, di antara sekian banyak orang, tidak ada seorang pun yang melarang tindakan Dursasana yang asusila tersebut, ataukah, memang semua orang di Hastina kini telah seperti Dursasana?”, ujar Dropadi kepada semua orang yang hadir di balairung. Para orangtua yang mendengar perkataan Dropadi tersebut tersayat hatinya, karena tersinggung dan malu.

Wikarna, salah satu Korawa yang masih memiliki belas kasihan kepada Dropadi, berkata, “Tuan-Tuan sekalian yang saya hormati! Karena di antara Tuan-Tuan tidak ada yang menanggapi peristiwa ini, maka perkenankanlah saya mengutarakan isi hati saya. Pertama, saya tahu bahwa Prabu Yudistira kalah bermain dadu karena terkena tipu muslihat paman Sangkuni! Kedua, karena Prabu Yudistira kalah memperteruhkan Dewi Dropadi, maka ia telah kehilangan kebebasannya. Maka dari itu, taruhan Sang Prabu yang berupa Dewi Dropadi tidak sah!”

Para hadirin yang mendengar perkataan Wikarna merasa lega hatinya. Namun, Karna tidak setuju dengan Wikarna. Karna berkata, “Hei Wikarna! Sungguh keterlaluan kau ini. Di ruangan ini banyak orang-orang yang lebih tua daripada kau! Baliau semuanya tentu tidak lebih bodoh daripada kau! Jika memang tidak sah, tentu mereka melarang. Mengapa kau berani memberi pelajaran kepada beliau semua? Lagipula, mungkin memang nasib Dropadi seperti ini karena kutukan Dewa. cobalah bayangkan, pernahkah kau melihat wanita bersuami sampai lima orang?” Mendengar perkataan Karna, Wikarna diam dan membisu.

Duryodana menghina Dropadi dengan menyuruh wanita tersebut berbaring di atas pahanya.

Karena sudah kalah, Yudistira dan seluruh adiknya beserta istrinya diminta untuk menanggalkan bajunya. Dropadi menolak untuk melepaskan pakaiannya, dipaksa oleh Dursasana. Dursasana yang berwatak kasar, menarik kain yang dipakai Dropadi. Dropadi berdo’a kepada para Dewa agar dirinya diselamatkan. Sri Kresna mendengar do’a Dropadi. Secepatnya ia menolong Dropadi secara gaib. Sri Kresna mengulur kain yang dikenakan Dropadi, Saat Dursasana menarik pakaian Dropadi dengan paksa, kain sari yang melilit di tubuhnya tidak habis-habis meski terus diulur-ulur. Akhirnya Dursasana merasa lelah dan pakaian Dropadi tidak berhasil dilepas. Pertolongan Sri Kresna disebabkan karena perbuatan Dropadi yang membalut luka Sri Kresna pada saat upacara Rajasuya di Indraprastha.

Melihat perbuatan Dursasana yang asusila, Bima bersumpah ia akan merobek dada Dursasana dan meminum darahnya dan ia akan memukul paha Duryodana kelak kelak dalam Bharatayuddha. Setelah bersumpah, terdengarlah lolongan anjing dan srigala, tanda bahwa malapetaka akan terjadi. Dretarastra mengetahui firasat buruk yang akan menimpa keturunannya, maka ia segera mengambil kebijaksanaan. Ia memanggil Pandawa beserta Dropadi. Dretarastra berkata, “O Yudistira, engkau tidak bersalah. Karena itu, segala sesuatu yang menjadi milikmu, kini kukembalikan lagi kepadamu. Ma’afkanlah saudara-saudaramu yang telah berkelakuan gegabah. Sekarang, pulanglah ke Indraprastha”.

Ratapan Dropadi saat dipermalukan di depan umum terdengar oleh Gandari, ibu para Korawa. Ia memerintahkan agar Duryodana menghentikan permainan dan mengembalikan semuanya kepada Pandawa. Dengan berat hati, Duryodhana terpaksa mematuhi perintah ibunya itu. Setelah mendapat pengampunan dari Dretarastra, Pandawa beserta istrinya mohon diri.

Duryodana kecewa, ia menyalahkan perbuatan ayahnya yang mengembalikan harta Yudistira. Dengan berbagai dalih, Duryodana menghasut ayahnya. Bersamaan dengan pembangunan pendapa di Hastinapura ia pun merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan Yudistira dan adik adiknya. Yang pada akhirnya Yudistra pun terjebak dalam rencananya Duryodana dan harus menjalani pengasingan selama 14 Tahun. Karena Dretarastra berhati lemah, maka dengan mudah sekali ia dihasut, maka sekali lagi ia mengizinkan rencana jahat anaknya. Duryodana menyuruh utusan agar memanggil kembali Pandawa ke istana untuk bermain dadu. Kali ini, taruhannya adalah siapa yang kalah harus mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun, dan setelah masa pengasingan berakhir (yaitu pada tahun ke-13), yang kalah harus menyamar selama 1 tahun. Pada tahun yang ke-14, barulah boleh kembali ke istana.

Pandawa tidak menolak undangan Duryodana untuk yang kedua kalinya tersebut. Harapannya adalah apabila menang, maka ini merupakan pelajaran bagi Kourawa, namun Sekali lagi, Pandawa kalah. Sesuai dengan perjanjian yang sah, maka Pandawa beserta istrinya mengasingkan diri ke hutan, hidup dalam masa pembuangan selama 12 tahun. Setelah itu menyamar selama satu tahun. Setelah masa penyamaran, maka para Pandawa kembali lagi ke istana untuk memperoleh kerajaannya.


Wanaparwa

Kitab Wanaparwa merupakan kitab ketiga dari seri Astadasaparwa. Kitab Wanaparwa menceritakan kisah pengalaman para Pandawa bersama Dropadi di tengah hutan.

Yudistira yang merasa paling bertanggung jawab atas apa yang menimpa keluarga dan negaranya berusaha untuk tetap tabah dalam menjalani hukuman. Ia sering berselisih paham dengan Bima yang ingin kembali ke Hastinapura untuk menumpas para Korawa. Meskipun demikian, Bima tetap tunduk dan patuh terhadap perintah Yudistira supaya menjalani hukuman sesuai perjanjian.

Krisna, Dhrishtadyumna dan para kerabat wangsanya datang menjenguk mereka di hutan Kamyaka. Melihat Krisna, Droupadi menangis dan menceritakan penghinaan yang diterimanya. Saat itulah Krisna bersumpah bahwa siapapun yang terlibat dipenghinaan itu akan menerima ganjarannya secara berdarah-darah dan ia akan membantu Pandawa setiap harinya

Dhrishtadyumna menambahkan,’Aku akan membunuh Drona, Srikandi akan membunuh Bisma, Bhima akan membunuh Duryodana, Dursasana dan adik-adiknya, Arjuna akan membunuh karna si anak kusir itu!’

Pandawa juga bertemu dengan Rsi Byasa, seorang guru rohani yang mengajarkan ajaran-ajaran Hindu kepada Pandawa dan Dropadi, istri mereka. Atas saran Rsi Byasa, Arjuna bertapa di gunung Himalaya agar memperoleh senjata sakti yang kelak digunakan dalam Bharatayuddha. Kisah Sang Arjuna yang sedang menjalani masa bertapa di gunung Himalaya menjadi inspirasi untuk menulis Kakawin Arjuna Wiwaha.

Arjuna memilih lokasi bertapa di gunung Indrakila. Dalam usahanya, ia diuji oleh tujuh bidadari yang dipimpin oleh Supraba, namun keteguhan hati Arjuna mampu melawan berbagai godaan yang diberikan oleh para bidadari. Para bidadari yang kesal kembali ke kahyangan, dan melaporkan kegagalan mereka kepada Dewa Indra. Setelah mendengarkan laporan para bidadari, Indra turun di tempat Arjuna bertapa sambil menyamar sebagai seorang pendeta. Dia bertanya kepada Arjuna, mengenai tujuannya melakukan tapa di gunung Indrakila. Arjuna menjawab bahwa ia bertapa demi memperoleh kekuatan untuk mengurangi penderitaan rakyat, serta untuk menaklukkan musuh-musuhnya, terutama para Korawa yang selalu bersikap jahat terhadap para Pandawa. Setelah mendengar penjelasan dari Arjuna, Indra menampakkan wujudnya yang sebenarnya. Dia memberikan anugerah kepada Arjuna berupa senjata sakti.

Setelah mendapat anugerah dari Indra, Arjuna memperkuat tapanya ke hadapan Siwa. Siwa yang terkesan dengan tapa Arjuna kemudian mengirimkan seekor babi hutan berukuran besar. Ia menyeruduk gunung Indrakila hingga bergetar. Hal tersebut membuat Arjuna terbangun dari tapanya. Karena ia melihat seekor babi hutan sedang mengganggu tapanya, maka ia segera melepaskan anak panahnya untuk membunuh babi tersebut. Di saat yang bersamaan, Siwa datang dan menyamar sebagai pemburu, turut melepaskan anak panah ke arah babi hutan yang dipanah oleh Arjuna. Karena kesaktian Sang Dewa, kedua anak panah yang menancap di tubuh babi hutan itu menjadi satu.

Pertengkaran hebat terjadi antara Arjuna dan Siwa yang menyamar menjadi pemburu. Mereka sama-sama mengaku telah membunuh babi hutan siluman, namun hanya satu anak panah saja yang menancap, bukan dua. Maka dari itu, Arjuna berpikir bahwa si pemburu telah mengklaim sesuatu yang sebenarnya menjadi hak Arjuna. Setelah adu mulut, mereka berdua berkelahi. Saat Arjuna menujukan serangannya kepada si pemburu, tiba-tiba orang itu menghilang dan berubah menjadi Siwa. Arjuna meminta ma’af kepada Sang Dewa karena ia telah berani melakukan tantangan. Siwa tidak marah kepada Arjuna, justru sebaliknya ia merasa kagum. Atas keberaniannya, Siwa memberi anugerah berupa panah sakti bernama “Pasupati”.

Setelah menerima anugerah tersebut, Arjuna dijemput oleh para penghuni kahyangan untuk menuju kediaman Indra, raja para dewa. Di sana Arjuna menghabiskan waktu selama beberapa tahun. Di sana pula Arjuna bertemu dengan bidadari Urwasi. Karena Arjuna tidak mau menikahi bidadari Urwasi, maka Urwasi mengutuk Arjuna agar menjadi banci.

Suatu ketika para Korawa datang ke dalam hutan untuk berpesta demi menyiksa perasaan para Pandawa. Namun, mereka justru berselisih dengan kaum Gandharwa yang dipimpin Citrasena. Dalam peristiwa itu Duryodana tertangkap oleh Citrasena. Akan tetapi, Yudistira justru mengirim Bima dan Arjuna untuk menolong Duryodana. Ia mengancam akan berangkat sendiri apabila kedua adiknya itu menolak perintah. Akhirnya kedua Pandawa itu berhasil membebaskan Duryodana. Niat Duryodana datang ke hutan untuk menyiksa perasaan para Pandawa justru berakhir dengan rasa malu luar biasa yang ia rasakan.

Bukan Cuma itu saja, para Brahmana banyak berkunjung dan memberikan wejangan selama 12 tahun ini, ada Brahmana Lomasa, Maitreya, markandeya dll.

Dikisahkan juga bahwa sejak awal mereka menjalani pembuangan di Hutan, Pandawa mendapat anugerah dari Dewa Surya yaitu kendaraan Akshayapatra yang selalu membawa makanan yang lebih dari cukup untuk mereka dan para tamu mereka di setiap harinya

Peristiwa lain yang terjadi adalah penculikan Dropadi oleh Jayadrata, adik ipar Duryodana. Bima dan Arjuna berhasil menangkap Jayadrata dan hampir saja membunuhnya. Yudistira muncul dan memaafkan raja kerajaan Sindu tersebut.

Peristiwa lainnya, adalah ketika Droupadi menemukan bunga yang sangat harum dan meminta Bhima untuk mencarikan bunga tersebut untuk ditanam. Bhima pergi mencari hingga sampailah ia di kaki suatu gunung dan ia melihat seekor kera besar bersinar-sinar berbaring tidur menghalangi jalannya. Ia coba mengusirnya dengan berteriak-teriak agar mahluk itu takut. Mahluk itu hanya membuka sebelah matanya dengan malasnya dan berkata, ‘aku lagi kurang nyaman makanya aku tidur disini mengapa engkau membangunkanku, Engkau adalah manusia bijaksana dan aku hanya binatang, seharusnya manusia yang rasional berbelas kasih pada bnatang sepertiku. Aku khawatir engkau ini tidak mengindahkan mana kebenaran dan kejahatan. Siapa kamu? Ngga mungkin engkau melanjutkan perjalanan lebih lanjut lagi, karena ini merupakan jalan dewa2, manusia ngga boleh melewati batas ini. Makan saja buah2 yang ada disini sesukamu dan pergilah dengan damai.

Bhima yang tidak biasa dianggap enteng menjadi marah dan berteriak,’Lho kamu ini siapa, kamu ini hanyalah kera namun sok berbicara tinggi, aku adalah Ksatriya, pahlawan keturuna Kuru dan anak dari Kunti. Aku adalah anak dari Deva Vayu, Ayo menyingkir!’. Mendengar ini, kera itu hanya tertawa dan berkata ‘Saya ini hanya kera, namun engkau akan mengalami kehancuran apabila memaksa jalan terus’. Bima berkata,’ itu bukan urusanmu, menyingkirlah atau aku singkirkan engkau!’. Kera itu berkata,’Aku tidak punya kekuatan untuk berdiri, jika engkau bersikeras untuk terus untuk pergi, lompati saja aku’ Bima berkata,’Ya itu sih mudah, namun kitab suci melarang iu, kecuali aku melompatimu dan gunung dalam satu lompatan seperti yang dilakukan Hanuman menyebrangi lautan. Kera itu berkata,’ Siapa Hanuman yang menyebrangi Lautan itu, ceritakanlah cerita itu padaku’.

Bima berkata ‘Belum pernah dengar Hanuman? Ia adalah kakak ku, yang dengan loncatanya menyebrangi lautan untuk mencari Sita istri Rama, Aku setara dengannya dalam hal kekuatan dan Kegagahan. Ah sudah cukup berbicara, ayo menyingkirlah dan memberi jalan, jangan memprovokasiku untuk menyakitimu. Kera itu berkata,’ Ah orang gagah, bersabarlah, lembutlah karena engkau kuat, berbelas kasihlah pada yang lemah dan tua. Aku tak berkekuatan untuk berdiri, karena kitab mu melarang untuk melompatiku, ya sudah singkirkan saja ekorku ini agar engkau dapat melanjutkan perjalanan’.

Bangga dengan kekuatannya, Ia pikir dapat dengan mudahnya menarik ekor Kera itu ke sisi jalan, namun ternyata hingga ia menggunakan seluruh kekuatannya ekor itu tidak bergerak sama sekali kemudian dengan malu ia berkata,’Maafkan aku, Apakah engkau adalah orang sakti, Gandharva atau Dewa?’ Hanuman berkata,’ Oh Pandava, Aku adalah kakakmu yang engkau sebut tadi, jika engkau melewati jalan yang merupakan jalan menuju dunia fana dimana Yaksha dan raksasa tinggal, engkau akan menghadapi bahaya dan itulah sebabnya aku menghalangimu. Tidak ada manusia yang dapat melewati jalan ini dan tetap hidup, namun di bawah sana ada aliran sungai dimana engkau akan temukan bunga saugandhika yang engkau cari itu’.

Bima menjawab dengan senangnya,’ Aku termasuk orang yang beruntung bertemu dengan mu, Kakak Ku, Aku memohon dapat melihat wujud-Mu saat engkau melompati lautan itu dan ia bersujud dihadapan hanuman’. Hanuman tersenyum dan mulai membesarkan ukuran tubuhnya yang berdiri kokoh seperti gunung dan terlihat menutupi seluruh area. Bhima gemetar melihat wujud Dewa dari kakaknya itu, tak dapat lagi ia membuka mata, silau oleh radiasi sinar yang menyilaukan dari tubuh kakaknya itu. Hanuman berkata,’dihadapan musuhku, tubuhku dapat membesar lebih dan lebih lagi’. Kemudian ia menyusutkan kembali tubuhnya di ukuran asalnya dan ia dengan lembut merangkul Bhima.

Bhagawan Vyasa berkata,’ Bhima kemudian sepenuhnya segar dan bertambah kuat lagi setelah dirangkul oleh Hanuman’. Hanuman berkata, ‘Orang gagah, kembalilah dan pikiran aku ketika engkau membutuhkan bantuanku, aku sesenangmu ketika aku menyentuh tubuh Sri Rama, Deva-Ku, mintalah sesuatu berkat yang engkau inginkan’. Bhima berkata, ‘berilah berkat pada pandawa agar dapat menaklukan musuh2nya’. Hanuman memberikan berkat dan berkata,’Teriakanmu bagaikan Singa di medan pertempuran, suaraku akan berada di suaramu dan memberikan teror ketakukan di hati setiap musuhmu. Aku akan hadir di bendera yang ada dikereta Arjuna, Engkau akan memperoleh kemenangan. Itu adalah jalur ke sungai terdekat dimana tumbuh bunga Saugandhika’ Bhim segera ingat bahwa Droupadi menunggu kepulangannya dan segera mengambil bunga2 itu untuknya.

Pada suatu hari menjelang berakhirnya masa pembuangan 12 tahun, Yudistira dan keempat adiknya membantu seorang brahmana yang kehilangan peralatan upacaranya karena tersangkut pada tanduk seekor rusa liar. Dalam pengejaran terhadap rusa itu, kelima Pandawa merasa haus. Yudistira pun menyuruh Sadewa mencari air minum. Karena lama tidak kembali, Nakula disuruh menyusul, kemudian Arjuna, lalu akhirnya Bima menyusul pula. Yudistira semakin cemas karena keempat adiknya tidak ada yang kembali.

Yudistira kemudian berangkat menyusul Pandawa dan menjumpai mereka telah tewas di tepi sebuah telaga. Muncul seorang raksasa yang mengaku sebagai pemilik telaga itu. Ia menceritakan bahwa keempat Pandawa tewas keracunan air telaganya karena mereka menolak menjawab pertanyaan sang raksasa. Sambil menahan haus, Yudistira mempersilakan Sang Raksasa untuk bertanya. Satu per satu pertanyaan demi pertanyaan berhasil ia jawab. Akhirnya, Sang Raksasa pun mengaku kalah, namun ia hanya sanggup menghidupkan satu orang saja. Dalam hal ini, Yudistira memilih Nakula untuk dihidupkan kembali. Raksasa heran karena Nakula adalah adik tiri, bukan adik kandung. Yudistira menjawab bahwa dirinya harus berlaku adil. Ayahnya, yaitu Pandu memiliki dua orang istri. Karena Yudistira lahir dari Kunti, maka yang dipilihnya untuk hidup kembali harus putera yang lahir dari Madri, yaitu Nakula.

Raksasa terkesan pada keadilan Yudistira. Ia pun kembali ke wujud aslinya, yaitu Dewa Dharma. Kedatangannya dengan menyamar sebagai rusa liar dan raksasa adalah untuk memberikan ujian kepada para Pandawa. Berkat keadilan dan ketulusan Yudistira, maka tidak hanya Nakula yang dihidupkan kembali, melainkan juga Bima, Arjuna, dan Sadewa.


Wirataparwa

Kitab Wirataparwa merupakan kitab keempat dari seri Astadasaparwa. Kitab ini menceritakan kisah penyamaran para Pandawa beserta Dropadi. Sesuai dengan perjanjian yang sah, setelah 12 tahun masa pengasingan, maka pada tahun ke 13 Pandawa mesti tidak diketahui keberadaannya selama 1 tahun penuh, apabila gagal maka pengasingan akan diulangi lagi selama 12 tahun berikutnya. Pandawa kemudian melakukan penyamaran dan menuju ke kerajaan Wirata.

Yudistira menyamar sebagai Brahmana dengan nama Kanka dan menemani raja bermain dadu setiap harinya. Bima menjadi Balawa sebagai tukang masak bernama Valala salah satu kegiatannya adalah menemani Raja bergulat. Arjuna memanfaatkan Kutukan Bidadari Urwasi dengan menyamar sebagai guru tari yang banci, dengan nama samaran Brihanala. Mengajarkan tari dan musik pada Putri Uttara (kakaknya juga bernama Uttara, namun dipewayangan jawa yang perempuan menjadi Utari). Nakula menyamar sebagai perawat kuda dengan nama samaran “Grantika” atau Dharmagranthi. Sadewa pun memilih peran sebagai seorang gembala sapi bernama Tantripala. Droupadi menyamar sebagai dayang istana bernama Sailandri melayani ratu Sudhesna.

Kichaka adalah kakak dari ratu Suhesna, Pengaruhnya ia di Istana adalah luar biasa, bahkan masyarakan menyatakan bahwa Ia adalah raja yang sebenarnya dari kerajaan Matsya daripada Wirata sendiri. Ia naksir Droupadi. Ia menolak dengan halus dengan menyatakan bahwa Suaminya adalah Gandharwa yang membunuh siapa saja yang bersikap tidak sopan terhadapnya. Kichaka tidak mempercayai itu dan tetap merayu Droupadi.

Droupadi menyatakan berkeberatan dengan tindakan kakak ratu tersebut. Ratu permulaan membelanya, namun kakaknya dengan berbagai cara berbicara dengan adiknya betapa menderitanya Ia karena merindukan Droupadi. Akhirnya mereka membuat rencana untuk menjebak Droupadi. Ia menjebak Droupadi untuk datang kerumah Kinchaka membawakan Minuman dan makanan, Droupadi menolak dan meminta agar dikirim orang lain, Ratu marah sehingga terpaksa droupadi kesana. Benarlah! Kichaka dalam keadaan mabu dan bernafsu memaksanya, mendorongnya, menendangnya dan mengeluarkan kata-kata yang tidak senonohnya dihadapan yang hadir di rumah Kichaka. Ia melupakan bahaya terbongkarnya penyamaran dan pergi ketempat Bhima menceritakan keadaan itu.

Mereka kemudian melakukan rencana, bahwa malam keesokan harinya Droupadi akan membawa Kichaka ke ruang tari. Disana Bhima sudah menunggunya. Saat itu yang seimbang bertarung gulat dengan Kichaka hanyalah Bhima dan Balarama saja. Perkelahian terjadi dan Kichaka tewas.

Droupadi membangunkan penjaga dan menceritakan gangguan dari Kichaka padahal telah diberitahu bahwa suami Gandharwanya akan menghabisi siapapun yang mengganggunya sambil menunjukan mayat Kichaka yang remuk mengecil yang hanya dapat dilakukan oleh bukan kekuatan manusia biasa. Cerita kematian Kichaka berkembang dimasyarakat kerajaan Matsya dan sangat menakutkan bagi mereka bahwa Droupadi yang begitu cantiknya mempunyai suami Gandarwa yang pencemburu sehingga berpotensi menyakiti siapa saja terutama keluarga kerajaan. Droupadi di minta di usir dari kerajaan Wirata, padahal tinggal 1 bulan saja dari akhir masa pembuangan 12 tahun plus 1 para Pandawa.

Sementara itu mata-mata Duryodana hampir mulai menyerah untuk menemukan Pandawa dan mereka mendengar kabar bahwa Kichaka tewas ditangan Gandharwa yang Istrinya diganggu. Mereka tahu yang dapat membunuh Kichaka adalah Cuma dua orang di muka bumi ini. Salah satunya adalah Bima dan Duryodana juga yakin bahwa istri Gandharwa itu adalah Droupadi.

Akhirnya Duryodana sampai pada rencana untuk menyerang Wirata. Melihat sifat Pandawa, mereka pasti akan menolong kerajaan Wirata sebagai ucapan terima kasih dan apabila Pandawa tidak ada di sana, paling tidak pundi kekayaan Duryodana menjadi meningkat. Raja Trigarta, Susarma juga hadir saat itu dan kerajaan tersebut sudah lama merasa terganggu dengan Kichaka, saat ini Kichaka telah tiada sehingga Wirata dalam keadaan lemah. Diputuskan Raja Susarma akan menyerang dari Selatan dan Hastina dari Utara.

Yudistira, bertindak seperti pikiran Duryodana, kecuali Arjuna mereka semua membatu Kerajaan Matsya beserta seluruh kekuatan kerajaan Matsya dikerahkan menghadapi tentara kerajaan Trigartha, sekutu Duryodhana. Akibatnya, istana Matsya menjadi kosong dan dalam keadaan terancam oleh serangan pasukan Hastinapura.

Utara putera Wirata yang ditugasi menjaga istana, berangkat ditemani Brihanala (banci, samaran Arjuna) sebagai kusir. Di medan perang, Uttara sangat ketakutan melihat pasukan Kurawa yang saat itu dlihatkan ada Bhisma, Drona, Kripa, Awatama, karna, Durydana dan ribuan lainnya. Ia membuang busur dan lari, kemudian dikejar oleh Brhidnala kemudian dipaksa masuk Kereta. Sesampainya mereka di dekat sebuah pohon Uttara diminta naik keatas untuk mengambil persenjataan Pandawa yang disembunyikan di sana.

Kemudian Brihanala menyentakan Busur Gendewanya yang bunyinya bergema di seluruh tempat. Bunyi itu sangat menakutkan pasukan Kourawa Kemudian ia meniupkan Terompetnya, Dewadatta yang berkumandang dan makin menggentarkan pasukan Kourawa. Saat itu mereka berteriak-teriak bahwa Pandava datang berkali2. Trompet itu menandakan berakhirnya masa pengasingan yang jatuh tempo satu hari sebelumnya. Bhisma juga memberitahukan pada Duryodana bahwa menurut pengetahuannya dan juga para ahli perbintangan maka tahun ke 13 masa pengasingan telah berakhir kemarin. Duryodana di sarankan untuk segera berdamai, namun ia menolak dan mengatakan tidak akan menyerahkan bahkan satu desapun kepada Pandawa serta memerintahkan mereka untuk segera berperang. Kemudian Duryodana, sang putera Mahkota dillindungi bersama kumpulan sapi2 yang hendak dijadikan hasil kemenangan saat itu.

Arjuna tampil seorang diri melawan seluruh pasukan Korawa. Sebelum mengejar Duryodana Arjuna menyalami para Gurunya dan Bhisma dengan membidik Panah dekat kaki mereka. Saat ia mengejar Duryodana, seluruh pasukan bergerak melindungi Duryodana, Arjuna membuat Karna keluar dari arena, Ia mengalahkan Drona, Kripa, Aswatama dan akhirnya berperang Melawan Bisma. Pertempuran antara Bisma dan Arjuna disaksikan para Dewa.

Kemudian Arjuna mengeluarkan sebuah panah yang membuah mereka semua menjadi tak sadarkan diri. Kemudian ia merenggut semua pakaian merka. Kumpulan pakaian itu sebagai tanda kemenangan di hari itu. Pasukan korawa pulang kandang dengan kekalahan memalukan ditangan satu orang, Arjuna. Peristiwa kemenangan Arjuna atas serangan Hastinapura tersebut telah membuat Utara berubah menjadi seorang yang pemberani. Ia ikut terjun dalam perang besar di Kurukshetra membantu pihak Pandawa.

Sementara itu, pasukan Wirata juga mendapat kemenangan atas pasukan Trigartha. Wirata dengan bangga memuji-muji kehebatan Utara yang berhasil mengalahkan para Korawa seorang diri. Kanka alias Yudistira menjelaskan bahwa kunci kemenangan Utara adalah Wrihanala. Hal itu membuat Wirata tersinggung dan memukul kepala Kanka sampai berdarah.

Saat batas waktu penyamaran telah melebih batas waktu, kelima Pandawa dan Dropadi pun membuka penyamaran. Mengetahui hal itu, Wirata merasa sangat menyesal telah memperlakukan mereka dengan buruk. Wirata merasa bersalah karena telah memperlakukan mereka dengan kurang baik. Ia pun menyerahkan putrinya, Utaraa kepada Arjuna sebagai tanda penyesalan dan minta maaf. Namun Arjuna menolaknya karena ia telah mengajar tarian dan kesenian pada mereka (dua uttara), untuk itu Utaraa (putri) pun diambil sebagai menantu untuk dinikahkan dengan Abimanyu, putranya yang tinggal di Dwaraka. Wirata pun berjanji akan menjadi sekutu Pandawa dalam usaha mendapatkan kembali takhta Indraprastha. Saat itu ada utusan dari Duryodana yang meminta mereka.

    Versi jawa

    Dalam versi pewayangan Jawa, Wirata adalah nama kerajaan, bukan nama orang. Sedangkan rajanya bernama Matsyapati. Dalam kerajaan tersebut, Yudistira atau Puntadewa menyamar sebagai pengelola pasar ibu kota bernama Dwijakangka.

    Ketika naskah MahaBharata disadur ke dalam bahasa Jawa Kuna, tokoh Utaraa pun diganti namanya menjadi Utari, misalnya dalam naskah Kakawin Bharatayuddha yang ditulis tahun 1157. Ketika kisah MahaBharata dipentaskan dalam pewayangan, para dalang lebih suka memakai nama Utari daripada Utaraa.

    Perkawinan Abimanyu dan Utari dalam pewayangan dihiasi dengan tipu muslihat. Ketika keduanya masih pengantin baru, paman Gatutkaca dari pihak ibu yang bernama Kalabendana datang menjemput Abimanyu untuk dibawa pulang karena istri pertamanya, yaitu Sitisundari putri Kresna merindukannya. Mendengar ajakan itu, Abimanyu langsung bersumpah di hadapan Utari bahwa dirinya masih perjaka dan belum pernah menikah. Ia bahkan menyatakan jika ucapannya adalah dusta maka kelak ia akan mati dikeroyok senjata.

    Gatutkaca yang membela Abimanyu memukul Kalabendana. Pukulan tidak sengaja itu justru menewaskan pamannya tersebut. Kelak dalam perang Baratayuda, Abimanyu benar-benar tewas dalam keadaan dikeroyok musuh. Sementara itu, arwah Kalabendana juga datang menjemput keponakannya dengan cara memegang senjata Konta milik Karna dan menusukkannya ke pusar Gatutkaca.

Di saat itu pula, tiba utusan Duryodana yang menyatakan bahwa tindakan Arjuna itu telah membongkar penyamaran mereka dan minta Pandawa untuk mengasingkan diri kembali selama 12 tahun, karena telah terbongkar sebelum waktunya. Yudistira tergelak tertawa, dan melalui utusan tersebut untuk menyampaikan pesan bahwa Yang terhormat kakek Bisma dan Mereka-mereka yang belajar perbintangan sangat mengetahui bahwa 13 tahun itu telah berlalu sebelum Arjuna meniupkan Terompet kerangnya dan menyentilkan tali gendewa yang membuat pasukan kurawa kucar-kacir ketakutan.


Udyogaparwa

Kitab Udyogaparwa merupakan kitab kelima dari seri Astadasaparwa. Kitab ini menceritakan sikap Duryodana yang tidak mau mengembalikan kerajaan para Pandawa yang telah selesai menjalani masa pengasingan selama 13 tahun berakhir. Pandawa kembali untuk mengambil kembali negeri mereka dari tangan Korawa. Namun pihak Korawa menolak mengembalikan Kerajaan Indraprastha dengan alasan penyamaran para Pandawa di Kerajaan Wirata telah terbongkar.

Pandawa yang selalu bersabar mengirimkan Krisna sebagai duta perdamaian ke pihak Korawa, namun usaha mereka tidak membuahkan perdamaian. Sebagai seorang pangeran, Pandawa merasa wajib dan berhak turut serta dalam administrasi pemerintahan, maka akhirnya hanya meminta lima buah desa saja. Tetapi Duryodana sombong dan berkata bahwa ia tidak bersedia memberikan tanah kepada para Pandawa, bahkan seluas ujung jarum pun. Jawaban itu membuat para Pandawa tidak bisa bersabar lagi dan perang tak bisa dihindari. Duryodana pun sudah mengharapkan peperangan.

Dalam kesempatan itu, Kresna menemui Karna dan mengajaknya berbicara empat mata. Ia menjelaskan bahwa para Pandawa sebenarnya adik seibu Karna. Apabila Karna bergabung dengan Pandawa, maka Yudistira pasti akan merelakan takhta Hastinapura untuknya.

Karna sangat terkejut mendengar jati dirinya terungkap, Dengan penuh pertimbangan ia memutuskan tetap pada pendiriannya yaitu membela Korawa. Ia tidak mau meninggalkan Duryodana yang telah memberinya kedudukan, harga diri, dan perlindungan saat dihina para Pandawa dahulu. Rayuan Kresna tidak mampu meluluhkan sumpah setia Karna terhadap Duryodana yang dianggapnya sebagai saudara sejati.

    Versi jawa
    Kedatangan Kresna bukan untuk membuka jati diri Karna, melainkan hanya untuk penegasan saja. Seperti telah dikisahkan sebelumnya, Karna sudah mengetahui jati dirinya dari Batara Narada menjelang perkawinannya dengan Surtikanti. Jadi, Kresna hanya ingin memastikan sikap Karna membela Korawa atau Pandawa. Jawaban dan alasan Karna pun sama persis dengan versi MahaBharata.

    Kresna dengan kepandaiannya berbicara akhirnya berhasil mengetahui alasan karna yang paling rahasia. Karna mengaku memihak Korawa demi kehancuran angkara murka. Ia sadar kalau Korawa adalah pihak yang salah. Setiap hari ia berusaha menghasut Duryodana supaya tidak takut menghadapi para Pandawa. Karna menjadi tokoh yang paling menginginkan perang terjadi, karena hanya dengan cara itu Korawa dapat mengalami kehancuran. Karna sadar sebagai seorang penghasut, dirinya harus memberi contoh berani dalam menghadapi Pandawa. Ia rela jika dalam perang nanti dirinya harus tewas bersama para Korawa. Ia bersedia mengorbankan jiwa dan raga demi untuk kemenangan para Pandawa dan kebahagiaan adik-adiknya itu. Kresna terharu mendengar rahasia Karna. Ia yakin meskipun selama di dunia Karna hidup bersama Korawa, namun kelak di akhirat pasti berkumpul bersama Pandawa.

Setelah pertemuan dengan Kresna, Karna ganti mengalami pertemuan dengan Kunti, ibu kandungnya. Kunti menemui Karna saat putera sulungnya itu bersembahyang di tepi sungai. Ia merayu Karna supaya mau memanggilnya “ibu” dan sudi bergabung dengan para Pandawa. Karna kembali bersikap tegas. Ia sangat menyesalkan keputusan Kunti yang dulu membuangnya sehingga kini ia harus berhadapan dengan adik-adiknya sendiri sebagai musuh. Ia menolak bergabung dengan Pandawa dan tetap menganggap Radha istri Adirata sebagai ibu sejatinya. Meskipun demikian, Karna tetap menghibur kekecewaan Kunti. Ia bersumpah dalam perang Bharatayuddha kelak, ia tidak akan membunuh para Pandawa, kecuali Arjuna.

Pandawa dan Korawa mempersiapkan kekuatannya dengan mencari bala bantuan dan sekutu ke seluruh pelosok Bharatawarsha (India Kuno). Arjuna dan Duryodana pergi ke Dwaraka untuk memohon bantuan dari Krishna

Duryodana datang terlebih dahulu, kemudian Arjuna. Krishna sedang beristirahat. Mereka masuk kekamarnya. Durodana duduk disisi Krishna, Arjuna berdiri tepat diujung kaki Krisna. Krisna kemudian terbangun dan membuka matanya melihat arjuna terlebih dahulu dan menyapanya Baru kemudian menyapa Duryodana. Ia menanyakan apa yang membuat mereka datang ke Dwaraka. Duryodana berbicara pertama bahwa Perang akan dimulai dan mereka meminta agar Krishna dan pasukannya membantu mereka, Ia juga menyampaikan bahwa Ia darang duluan. Krishna menyatakan bahwa mungkin benar Duryodana datang duluan, namun ia melihat Arjuna terlebih dahulu ketika terbangun, lagi pula adat yang berlaku selalu mempersilakan yang lebih muda untuk duluan. Untuk itu Krishna menyatakan bahwa Ia tidak bersedia bertempur secara pribadi. Sri Kresna mengajukan tawaran kepada Pandawa dan Korawa, bahwa di antara mereka boleh meminta satu pilihan: pasukannya atau tenaganya.

Pandawa yang diwakili Arjuna menginginkan Sri Kresna tanpa senjata Ia memohon Krishna bersedia mengendarai kereta perangnya dan menjadi penasihat Pandawa sedangkan Korawa yang diwakili Duryodana memilih pasukan Sri Kresna. Sri Kresna bersedia mengabulkan permohonan tersebut, dan kedua belah pihak merasa puas terlebih lagi Duryodana merasa pilihan arjuna merupakan suatu kebodohan karena ia tahu ketangguhan dari pasukan Krisna namun setibanya Duryodana dikerajaan dengan gembira ia ceritakan keberuntungannya itu dihadapan Sangkuni. Sangkuni justru memakinya sebagai orang paling Bodoh dan mengatakan 1 orang Krisna tidak dapat dibandingkan dengan ratusan ribu Prajuritnya walaupun sekuat apapun Prajuritnya itu.

Pandawa telah mendapatkan tenaga Kresna, sementara Korawa telah mendapatkan tentara Kresna. Persiapan perang dimatangkan. Sekutu kedua belah pihak yang terdiri dari para Raja dan ksatria gagah perkasa dengan diringi pasukan yang jumlahnya sangat besar berdatangan dari berbagai penjuru India dan berkumpul di markasnya masing-masing. Pandawa memiliki tujuh divisi sementara Korawa memiliki sebelas divisi. Beberapa kerajaan pada zaman India kuno seperti Kerajaan Dwaraka, Kerajaan Kasi, Kerajaan Kekeya, Magada, Matsya, Chedi, Pandya dan wangsa Yadu dari Mandura bersekutu dengan para Pandawa; sementara sekutu para Korawa terdiri dari Raja Pragjyotisha, Anga, Kekaya, Sindhudesa, Mahishmati, Awanti dari Madhyadesa, Kerajaan Madra, Kerajaan Gandhara, Kerajaan Bahlika, Kamboja, dan masih banyak lagi.

Pihak Pandawa
Melihat tidak ada harapan untuk berdamai, Yudistira, kakak sulung para Pandawa, meminta saudara-saudaranya untuk mengatur pasukan mereka. Pasukan Pandawa dibagi menjadi tujuh divisi. Setiap divisi dipimpin oleh Drupada, Wirata, Drestadyumna, Srikandi, Satyaki, Cekitana dan Bima. Setelah berunding dengan para pemimpin mereka, para Pandawa menunjuk Drestadyumna sebagai panglima perang pasukan Pandawa. MahaBharata menyebutkan bahwa seluruh kerajaan di daratan India utara bersekutu dengan Pandawa dan memberikannya pasukan yang jumlahnya besar. Beberapa di antara mereka yakni: Kerajaan Kekeya, Kerajaan Pandya, Kerajaan Chola, Kerajaan Kerala, Kerajaan Magadha, dan masih banyak lagi.

Pihak Korawa
Duryodana meminta Bisma untuk memimpin pasukan Korawa. Bisma menerimanya dengan perasaan bahwa ketika ia bertarung dengan tulus ikhlas, ia tidak akan tega menyakiti para Pandawa. Bisma juga tidak ingin bertarung di sisi Karna dan tidak akan membiarkannya menyerang Pandawa tanpa aba-aba darinya. Bisma juga tidak ingin dia dan Karna menyerang Pandawa bersamaan dengan ksatria Korawa lainnya. Ia tidak ingin penyerangan secara serentak dilakukan oleh Karna dengan alasan bahwa kasta Karna lebih rendah. Bagaimanapun juga, Duryodana memaklumi keadaan Bisma dan mengangkatnya sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa. Pasukan dibagi menjadi sebelas divisi. Seratus Korawa dipimpin oleh Duryodana sendiri bersama dengan adiknya — Duhsasana, putera kedua Dretarastra, dan dalam pertempuran Korawa dibantu oleh Rsi Drona dan putranya Aswatama, kakak ipar para Korawa — Jayadrata, guru Kripa, Kritawarma, Salya, Sudaksina, Burisrawa, Bahlika, Sangkuni, dan masih banyak lagi para ksatria dan Raja gagah perkasa yang memihak Korawa demi Hastinapura maupun Dretarastra.

Pihak netral
Kerajaan Widarbha dan rajanya, Raja Rukma dan juga kakak Kresna, Baladewa, berada pada pihak yang netral dalam peperangan tersebut. Balacewa netral karena kasih dan perdamaiannya pada duabelah pihak, namun netralnya Raja Rukma bukan karena ia tidak mau memihak, namun justru karena kesal dan merasa terhina oleh duabelah pihak

Kerajaan Widharba dahulunya dipimpin oleh Raja Bhismaka Ia mempunyai lima anak satu diantaranya wanita bernama Rukmini. Ia telah mendengar tentang Krisna dan kemasyurannya dan berharap dapat bersatu dengannya dalam satu perkawinan. Keluarganya menyetujui ide itu kecuali kakak tertuanya Rukma yang lebih mengingikan Rukmini dikawinkan dengan Sisupala raja Chedi.Karena raja semakin tua, Rukma menjadi dominan kehendaknya di kerajaan tersebut Rukmini menjadi takut bahwa ayahnya menjadi tidak berdaya. Kemudian ia mencari jalan mengatasi keadaan yang sulit ini. Ia kemudian meminta saran kepada seorang Brahmana yang kemudian pergi ke Drawaka untuk bertemu Krisna dan menyampaikan surat yang dikirim Rukmini.

“Hatiku telah menerimamu sebagai Tuhan dan pemimpin, Aku memintamu untuk datag dan menyelamatkanku dari Sisupala yang akan membawa ku dengan paksa. Hal ini tidak dapat ditunda lagi, datanglah esok. Pasukan Sisupala dan jarasandha akan berusaha menghadangmu sebelum engkau mendapatkanmu. Semoga engkau berkenan menyelamatkan ku. Dan sebagai bagian dari upacara perkawinan Aku akan berada di kuil untuk memuja Parvati (shakti Siva) bersama rombongan. Itu adalah saat yang terbaik untuk datang dan menyelamatkanku. Jika Engkau tidak hadir maka aku akan mengakhiri hidupku dan semoga akau akan bersatu dengan mu di kehidupan mendatang “

Setelah Krisna membaca itu, Ia segera menaiki keretanya menuju Kundinapura, Ibukota Widarbha. Balarama tahu kepergian yang tiba-tiba dan rahasia Krisna dan kemudian ia segera menyiapkan pasukan dan menuju Kundinapura. Di kuil Rukmini berdoa, ‘Oh Dewi, kuserahkan hidupku padamu”. Melangkah keluar kuil. Rukmini melihat Kereta Krisna dan segera berlari melayang bagikan jarum tersedot magnet menuju kereta Krisna. Krisna mengemudikan kereta dibawah pandangan kagum semua yang melihat mereka

Pengawal segera memberitahu Rukma mengenai apa yang terjadi, kemudian berkata ‘Aku tidak akan kembali sebelum membunuhnya!’ dan segera mengejar Krisna dengan pasukan yang besar. Sementara itu Balarama telah tiba dengan pasukannya dan pertempuran pun terjadi. Balarama dan Krisna pulang dengan memperoleh kemenangan.

Rukma yang telah kalah malu pulang kandang dan mendirikan kerajaan diantara Dwaraka dan menamakannya menjadi Bhojakata. Ketika Ia mendengar akan diadakan perang Khurkshetra, Rukma datang dengan pasukan besar berpikir untuk memperbaiki hubungannya dengan Krisna (Basudeva) dan menawarkan bantuan pada Pandawa

“Oh, Pandawa, Pasukan musuh begitu besarnya. Aku datang untuk menawarkan bantuan padamu. Berikan aku perintah dan aku akan menyerang semua tempat yang engkau perintahkan. Aku punya kekuatan untuk melawan Drona, Kripa dan bahkan Bhisma. Ku berikan kemenangan bagimu, katakanlah kehendakmu” Ujarnya pada Arjuna

Menoleh pada Basudeva, Arjuna tertawa, “Oh penguasa Bhojakata, Kami tidak mengkhawatirkan jumah musuh. Kami belum memerlukan bantuanmu. Engkau boleh menyingkir atau tetap di sekitar sini sesukamu”, Ujar Arjuna.

Rukma yang merasa marah dan malu, pergi ke Duryodana dengan pasukannya, “Pandawa menolak bantuan ku, Pasukanku terserah engkau akan apakan”, katanya pada Duryodana. “Jadi, setelah Pandawa menolakmu bantuanmu makanya engkau datang kemari? Saya tidak setakut itu untuk menerimamu setelah mereka membuangmu’ jawab Duryodana. Rukma merasa terhina oleh duabelah pihak dan ia kembali kekerajaannya tanpa ambil bagian dari perang besar itu

Di kisahkan juga perjalanan Salya – “Sang Raja Madra” – menuju markas Pandawa karena memihak mereka, Salya membawa pasukan besar menuju Upaplawya untuk menyatakan dukungan terhadap Pandawa menjelang meletusnya perang besar di Kurukshetra atau Baratayuda. Di tengah jalan rombongannya singgah beristirahat dalam sebuah perkemahan lengkap dengan segala jenis hidangan.

Salya menikmati jamuan itu karena mengira semuanya berasal dari pihak Pandawa. Tiba-tiba para Korawa yang dipimpin Duryodana muncul dan mengaku sebagai pemilik perkemahan tersebut beserta isinya. Duryodana meminta Salya bergabung dengan pihak Korawa untuk membalas jasa. Sebagai seorang raja yang harus berlaku adil, Salya pun bersedia memenuhi permintaan itu.

Salya kemudian menemui para keponakannya, yaitu Pandawa Lima untuk memberi tahu bahwa dalam perang kelak, dirinya harus berada di pihak musuh. Para Pandawa terkejut dan sedih mendengarnya. Namun Salya menghibur dengan memberikan restu kemenangan untuk mereka.

Untuk kesekian kalinya sebelum keputusan berperang, sekali lagi para Pandawa berusaha mencari sekutu dengan mengirimkan surat permohonan kepada para Raja di daratan India Kuno agar mau mengirimkan pasukannya untuk membantu para Pandawa jika perang besar akan terjadi. Begitu juga yang dilakukan oleh para Korawa, mencari sekutu. Hal itu membuat para Raja di daratan India Kuno terbagi menjadi dua pihak, pihak Pandawa dan pihak Korawa.

Sementara itu, Kresna mencoba untuk melakukan perundingan damai. Kresna pergi ke Hastinapura untuk mengusulkan perdamaian antara pihak Pandawa dan Korawa. Namun Duryodana menolak usul Kresna dan merasa dilecehkan, maka ia menyuruh para prajuritnya untuk menangkap Kresna sebelum meninggalkan istana. Tetapi Kresna bukanlah manusia biasa. Ia mengeluarkan sinar menyilaukan yang membutakan mata para prajurit Duryodana yang hendak menangkapnya. Pada saat itu pula ia menunjukkan bentuk rohaninya yang hanya disaksikan oleh tiga orang berhati suci: Bisma, Drona, dan Widura.

Setelah Kresna meninggalkan istana Hastinapura, ia pergi ke Uplaplawya untuk memberitahu para Pandawa bahwa perang tak akan bisa dicegah lagi. Ia meminta agar para Pandawa menyiapkan tentara dan memberitahu para sekutu bahwa perang besar akan terjadi.

Perang di Kurukshetra merupakan klimaks dari Mahābhārata, sebuah wiracarita tentang pertikaian Dinasti Kuru sebagai titik sentralnya. Kurukshetra sendiri bermakna “daratan Kuru”, yang juga disebut Dharmakshetra atau “daratan keadilan”. Lokasi ini dipilih sebagai ajang pertempuran karena merupakan tanah yang dianggap suci. Dosa-dosa apa pun yang dilakukan di sana pasti dapat terampuni berkat kesucian daerah ini.

Dataran Kurukshetra yang menjadi lokasi pertempuran ini masih bisa dikunjungi dan disaksikan sampai sekarang. Kurukshetra terletak di negara bagian Haryana, India.


[] [] []

Mahabharata 4 (Tamat)


[] []

Bhismaparwa

Bhismaparwa konon merupakan bagian terpenting MahaBharata karena kitab keenam ini mengandung kitab Bhagawad Gita. Dalam Bhismaparwa dikisahkan bagaimana kedua pasukan, pasukan Korawa dan pasukan Pandawa berhadapan satu sama lain sebelum Bharatayuddha dimulai. Lalu sang Arjuna dan kusirnya sang Kresna berada di antara kedua pasukan. Arjuna pun bisa melihat bala tentara Korawa dan para Korawa, sepupunya sendiri. Iapun menjadi sedih karena harus memerangi mereka. Walaupun mereka jahat, tetapi Arjuna teringat bagaimana mereka pernah dididik bersama-sama sewaktu kecil dan sekarang berhadapan satu sama lain sebagai musuh. Lalu Kresna memberi Arjuna sebuah wejangan. Wejangannya ini disebut dengan nama Bhagawad Gita atau “Gita Sang Bagawan”, artinya adalah nyanyian seorang suci.

Bhismaparwa diakhiri dengan dikalahkannya Bisma, kakek para Pandawa dan Korawa. Bisma mempunyai sebuah kesaktian bahwa ia bisa meninggal pada waktu yang ditentukan sendiri. Lalu ia memilih untuk tetap tidur terbentang saja pada “tempat tidur panahnya” (saratalpa) sampai perang Bharatayuddha selesai. Bisma terkena panah banyak sekali sampai ia terjatuh tetapi tubuhnya tidak menyentuh tanah, hanya ujung-ujung panahnya saja.


Divisi pasukan dan persenjataan
Setiap pihak memiliki jumlah pasukan yang besar. Pasukan tersebut dibagi-bagi ke dalam divisi (akshauhini). Setiap divisi berjumlah 218.700 prajurit yang terdiri dari:

  • 21.870 pasukan berkereta kuda
  • 21.870 pasukan penunggang gajah
  • 65.610 pasukan penunggang kuda
  • 109.350 tentara biasa

Perbandingan jumlah mereka adalah 1:1:3:5. Pasukan pandawa memiliki 7 divisi, total pasukan=1.530.900 orang. Pasukan Korawa memiliki 11 divisi, total pasukan=2.405.700 orang. Total seluruh pasukan yang terlibat dalam perang= 3.936.600 orang. Jumlah pasukan yang terlibat dalam perang sangat banyak sebab divisi pasukan kedua belah pihak merupakan gabungan dari divisi pasukan kerajaan lain di seluruh daratan India.

Senjata yang digunakan dalam perang di Kurukshetra merupakan senjata kuno dan primitif, contohya: panah; tombak; pedang; golok; kapak-perang; gada; dan sebagainya. Para ksatria terkemuka seperti Arjuna, Bisma, Karna, Aswatama, Drona, dan Abimanyu, memilih senjata panah karena sesuai dengan keahlian mereka. Bima dan Duryodana memilih senjata gada untuk bertarung.

Formasi militer
Dalam setiap perang di zaman MahaBharata, formasi militer adalah hal yang penting. Dengan formasi yang baik dan sempurna, maka musuh juga lebih mudah ditaklukkan. Ada beberapa formasi, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Formasi militer tersebut sebagai berikut:

  • Krauncha Vyuha (formasi bangau)
  • Chakra Vyuha (formasi cakram / melingkar)
  • Kurma Vyuha (formasi kura-kura)
  • Makara Vyuha (formasi buaya)
  • Trisula Vyuha (formasi trisula)
  • Sarpa Vyuha (formasi ular)
  • Kamala atau Padma Vyuha (formasi teratai)

Aturan perang
Dua pemimpin tertinggi dari kedua belah pihak bertemu dan membuat “peraturan tentang perlakuan yang etis”—Dharmayuddha—sebagai aturan perang. Peraturan tersebut sebagai berikut:

  • Pertempuran harus dimulai setelah matahari terbit dan harus segera dihentikan saat matahari terbenam.
  • Pertempuran satu lawan satu; tidak boleh mengeroyok prajurit yang sedang sendirian.
  • Dua ksatria boleh bertempur secara pribadi jika mereka memiliki senjata yang sama atau menaiki kendaraan yang sama (kuda, gajah, atau kereta).
  • Tidak boleh membunuh prajurit yang menyerahkan diri.
  • Seseorang yang menyerahkan diri harus menjadi tawanan perang.
  • Tidak boleh membunuh atau melukai prajurit yang tidak bersenjata.
  • Tidak boleh membunuh atau melukai prajurit yang dalam keadaan tidak sadar.
  • Tidak boleh membunuh atau melukai seseorang atau binatang yang tidak ikut berperang.
  • Tidak boleh membunuh atau melukai prajurit dari belakang.
  • Tidak boleh menyerang wanita.
  • Tidak boleh menyerang hewan yang tidak dianggap sebagai ancaman langsung.
  • Peraturan khusus yang dibuat untuk setiap senjata mesti diikuti. Sebagai contoh, dilarang memukul bagian pinggang ke bawah pada saat bertarung menggunakan gada.
  • Bagaimanapun juga, para ksatria tidak boleh berjanji untuk berperang dengan curang.

Kebanyakan peraturan tersebut dilanggar sesekali oleh kedua belah pihak.

Ringkasan isi Kitab Bhismaparwa
Janamejaya bertanya, “Bagaimanakah para pahlawan bangsa Kuru, Pandawa, dan Somaka, beserta para rajanya yang berasal dari berbagai kerajaan itu mengatur pasukannya siap untuk bertempur?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Wesampayana menguraikan dengan detail, kejadian-kejadian yang sedang berlangsung di medan perang Kurukshetra.

Suasana di medan perang, Kurukshetra
Sebelum pertempuran dimulai, kedua belah pihak sudah memenuhi daratan Kurukshetra. Para Raja terkemuka pada zaman India Kuno seperti misalnya Drupada, Sudakshina Kamboja, Bahlika, Salya, Wirata, Yudhamanyu, Uttamauja, Yuyudhana, Chekitana, Purujit, Kuntibhoja, dan lain-lain turut berpartisipasi dalam pembantaian besar-besaran tersebut. Bisma, Sang sesepuh Wangsa Kuru, mengenakan jubah putih dan bendera putih, bersinar, dan tampak seperti gunung putih. Arjuna menaiki kereta kencana yang ditarik oleh empat ekor kuda putih dan dikemudikan oleh Kresna, yang mengenakan jubah sutera kuning.

Pasukan Korawa menghadap ke barat, sedangkan pasukan Pandawa menghadap ke timur. Pasukan Korawa terdiri dari 11 divisi, sedangkan pasukan Pandawa terdiri dari 7 divisi. Pandawa mengatur pasukannya membentuk formasi Vajra, formasi yang konon diciptakan Dewa Indra. Pasukan Korawa jumlahnya lebih banyak daripada pasukan Pandawa, dan formasinya lebih menakutkan. Fomasi tersebut disusun oleh Drona, Bisma, Aswatama, Bahlika, dan Kripa yang semuanya ahli dalam peperangan. Pasukan gajah merupakan tubuh formasi, para Raja merupakan kepala dan pasukan berkuda merupakan sayapnya. Yudistira sempat gemetar dan cemas melihat formasi yang kelihatannya sulit ditembus tersebut, namun setelah mendapat penjelasan dari Arjuna, rasa percaya dirinya bangkit.

Setelah sepakat dengan formasi dan strategi masing-masing, pasukan kedua belah pihak berbaris rapi. Para Raja dan ksatria gagah perkasa tampak siap untuk berperang. Duryodana optimis melihat pasukan Korawa memiliki para ksatria tangguh yang setara dengan Bima dan Arjuna. Namun ada tokoh-tokoh lain yang setara dengan mereka seperti Yuyudana, Wirata, dan Drupada yang ia anggap sebagai batu rintangan dalam mencapai kajayaan dalam pertempuran. Ia juga optimis karena ksatria-ksatria yang sangat ahli di bidang militer, yaitu Bisma, Karna, Kritawarma, Wikarna, Burisrawas, dan Kripa, ada di pihaknya. Selain itu Raja agung seperti Yudhamanyu dan Uttamauja yang sangat perkasa juga turut berpartisipasi dalam pertempuran sebagai penghancur bagi musuh-musuhnya. Bisma, dengan diikuti oleh Para Raja dan ksatria dari kedua belah pihak meniup “sangkala” (terompet kerang) mereka tanda pertempuran akan segera dimulai.

Turunnya Bhagawad Gita
Sebelum pertempuran dimulai, terlebih dahulu Bisma meniup terompet kerangnya yang menggemparkan seluruh medan perang, kemudian disusul oleh para Raja dan ksatria, baik dari pihak Korawa maupun Pandawa. Setelah itu, Arjuna meminta Kresna yang menjadi kusir keretanya, agar membawanya ke tengah medan pertempuran, supaya Arjuna bisa melihat siapa yang sudah siap bertarung dan siapa yang harus ia hadapi nanti di medan pertempuran.

Di tengah medan pertempuran, Arjuna melihat kakeknya, gurunya, teman, saudara, ipar, dan kerabatnya berdiri di medan pertempuran, siap untuk bertempur. Tiba-tiba Arjuna menjadi lemas setelah melihat keadaan itu. Ia tidak tega untuk membunuh mereka semua. Ia ingin mengundurkan diri dari medan pertempuran.

Arjuna berkata, “Kresna yang baik hati, setelah melihat kawan-kawan dan sanak keluarga di hadapan saya, dengan semangat untuk bertempur seperti itu, saya merasa anggota-anggota badan saya gemetar dan mulut saya terasa kering…..Kita akan dikuasai dosa jika membunuh penyerang seperti itu. Karena itu, tidak pantas kalau kita membunuh para putera Dretarastra dan kawan-kawan kita. O Kresna, suami Lakshmi Dewi, apa keuntungannya bagi kita, dan bagaimana mungkin kita berbahagia dengan membunuh sanak keluarga kita sendiri?”

Dilanda oleh pergolakan batin, antara mana yang benar dan mana yang salah, Kresna mencoba untuk menyadarkan Arjuna. Kresna yang menjadi kusir Arjuna, memberikan wejangan-wejangan suci kepada Arjuna, agar ia bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kresna juga menguraikan berbagai ajaran Hindu kepada Arjuna, agar segala keraguan di hatinya sirna, sehingga ia mau melanjutkan pertempuran. Selain itu, Kresna memperlihatkan wujud semestanya kepada Arjuna, agar Arjuna tahu siapa Kresna sebenarnya.

Wejangan suci yang diberikan oleh Kresna kepada Arjuna kemudian disebut Bhagavad Gītā, yang berarti “Nyanyian Tuhan”. Ajaran tersebut kemudian dirangkum menjadi kitab tersendiri dan sangat terkenal di kalangan umat Hindu, karena dianggap merupakan pokok-pokok ajaran Hindu dan intisari ajaran Veda.


Note: Klik ini untuk membaca Bhagavad Gita


Setelah Arjuna sadar terhadap kewajibannya dan mau melanjutkan pertarungan karena sudah mendapat wejangan suci dari Kresna, maka pertempuran segera dimulai. Arjuna mengangkat busur panahnya yang bernama Gandiwa, diringi oleh sorak sorai gegap gempita. Pasukan kedua pihak bergemuruh. Mereka meniup sangkala dan terompet tanduk, memukul tambur dan genderang. Para Dewa, Pitara, Rishi, dan penghuni surga lainnya turut menyaksikan pembantaian besar-besaran tersebut.

Pada saat-saat menjelang pertempuran tersebut, tiba-tiba Yudistira melepaskan baju zirahnya, meletakkan senjatanya, dan turun dari keretanya, sambil mencakupkan tangan dan berjalan ke arah pasukan Korawa. Seluruh pihak yang melihat tindakannya tidak percaya. Para Pandawa mengikutinya dari belakang sambil bertanya-tanya, namun Yudistira diam membisu, hanya terus melangkah. Di saat semua pihak terheran-heran, hanya Kresna yang tersenyum karena mengetahui tujuan Yudistira. Pasukan Korawa penasaran dengan tindakan Yudistira. Mereka siap siaga dengan senjata lengkap dan tidak melepaskan pandangan kepada Yudistira. Yudistira berjalan melangkah ke arah Bisma, kemudian dengan rasa bakti yang tulus ia menjatuhkan dirinya dan menyembah kaki Bisma, kakek yang sangat dihormatinya.

Yudistira berkata, “Hamba datang untuk menghormat kepadamu, O paduka nan gagah tak terkalahkan. Kami akan menghadapi paduka dalam pertempuran. Kami mohon perkenan paduka dalam hal ini, dan kami pun memohon do’a restu paduka”.

Bisma menjawab, “Apabila engkau, O Maharaja, dalam menghadapi pertempuran yang akan berlangsung ini engkau tidak datang kepadaku seperti ini, pasti kukutuk dirimu, O keturunan Bharata, agar menderita kekalahan! Aku puas, O putera mulia. Berperanglah dan dapatkan kemenangan, hai putera Pandu! Apa lagi cita-cita yang ingin kaucapai dalam pertempuran ini? Pintalah suatu berkah dan restu, O putera Pritha. Pintalah sesuatu yang kauinginkan! Atas restuku itu pastilah, O Maharaja, kekalahan tidak akan menimpa dirimu. Orang dapat menjadi budak kekayaan, namun kekayaan itu bukanlah budak siapa pun juga. Keadaan ini benar-benar terjadi, O putera bangsa Kuru. Dengan kekayaannya, kaum Korawa telah mengikat diriku…”

Setelah Yudistira mendapat do’a restu dari Bisma, kemudian ia menyembah Drona, Kripa, dan Salya. Semuanya memberikan do’a restu yang sama seperti yang diucapkan Bisma, dan mendo’akan agar kemenangan berpihak kepada Pandawa. Setelah mendapat do’a restu dari mereka semua, Yudistira kembali menuju pasukannya, dan siap untuk memulai pertarungan.

Yuyutsu memihak Pandawa
Setelah tiba di tengah-tengah medan pertempuran, di antara kedua pasukan yang saling berhadapan, Yudistira berseru, “Siapa pun juga yang memilih kami, mereka itulah yang kupilih menjadi sekutu kami!”

Setelah berseru demikian, suasana hening sejenak. Tiba-tiba di antara pasukan Korawa terdengar jawaban yang diserukan oleh Yuyutsu. Dengan pandangan lurus ke arah Pandawa, Yuyutsu berseru, ”Hamba bersedia bertempur di bawah panji-panji paduka, demi kemenangan paduka sekalian! Hamba akan menghadapi putera Dretarastra, itu pun apabila paduka raja berkenan menerima! Demikianlah, O paduka Raja nan suci!”

Dengan gembira, Yudistira berseru, “Mari, kemarilah! Kami semua ingin bertempur menghadapi saudara-saudaramu yang tolol itu! O Yuyutsu, baik Vāsudewa (Kresna) maupun kami lima bersaudara menyatakan kepadamu bahwa aku menerimamu, O pahlawan perkasa, berjuanglah bersama kami, untuk kepentinganku, menegakkan Dharma! Rupanya hanya anda sendirilah yang menjadi penerus garis keturunan Dretarastra, sekaligus melanjutkan pelaksanaan upacara persembahan kepada para leluhur mereka! O putera mahkota nan gagah, terimalah kami yang juga telah menerima dirimu itu! Duryodana yang kejam dan berpengertian cutak itu segera akan menemui ajalnya!”

Setelah mendengar jawaban demikian, Yuyutsu meninggalkan pasukan Korawa dan bergabung dengan para Pandawa. Kedatangannya disambut gembira. Yudistira mengenakan kembali baju zirahnya, kemudian berperang.

Pertempuran dimulai.
Pihak Korawa dipimpin oleh Bisma, selama Bisma memimpin, karna tidak menolak berada di bawah perintah Bhisma. Kedua belah pihak maju dengan senjata lengkap. Divisi pasukan Korawa dan divisi pasukan Pandawa saling bantai. Bisma maju menyerang para ksatria Pandawa dan membinasakan apapun yang menghalangi jalannya. Abimanyu melihat hal tersebut dan menyuruh paman-pamannya agar berhati-hati. Ia sendiri mencoba menyerang Bisma dan para pengawalnya. Namun usaha para ksatria Pandawa di hari pertama tidak berhasil. Mereka menerima kekalahan. Putera Raja Wirata, Uttara dan Sweta, gugur oleh Bisma dan Salya di hari pertama. Saudara Utara yang bernama Sweta berusaha keras menyerang Salya. Salya terdesak namun berhasil diselamatkan oleh Kretawarma. Rukmarata putra Salya mencoba melindungi ayahnya. Namun ia segera tumbang tak sadarkan diri terkena senjata Sweta. Sementara itu menurut versi Kakawin Bharatayuddha, Rukmarata tidak sekadar pingsan tetapi tewas di tangan Sweta. Utara dikisahkan tewas di tangan Salya. Namun beberapa dalang mengisahkan pembunuh Utara adalah Bisma. Kekalahan di hari pertama membuat Yudistira menjadi pesimis. Namun Sri Kresna berkata bahwa kemenangan sesungguhnya akan berada di pihak Pandawa.

Hari ke-2,
Arjuna bertekad untuk membalikkan keadaan yang didapat pada hari pertama. Arjuna mencoba untuk menyerang Bisma dan membunuhnya, namun para pasukan Korawa berbaris di sekeliling Bisma dan melindunginya dengan segenap tenaga sehingga meyulitkan Arjuna. Pasukan Korawa menyerang Arjuna yang hendak membunuh Bisma. Kedua belah pihak saling bantai, dan sebagian besar pasukan Korawa gugur di tangan Arjuna. Setelah menyapu seluruh pasukan Korawa, Arjuna dan Bisma terlibat dalam duel sengit. Sementara itu Drona menyerang Drestadyumna bertubi-tubi dan mematahkan panahnya berkali-kali. Duryodana mengirim pasukan bantuan dari kerajaan Kalinga untuk menyerang Bima, namun serangan dari Duryodana tidak berhasil dan pasukannya gugur semua. Setyaki yang bersekutu dengan Pandawa memanah kusir kereta Bisma sampai meninggal. Tanpa kusir, kuda melarikan kereta Bisma menjauhi medan laga. Di akhir hari kedua, pihak Korawa mendapat kekalahan.

Hari ke-3,
Bisma memberi instruksi agar pasukan Korawa membentuk formasi burung elang dengan dirinya sendiri sebagai panglima berada di garis depan sementara tentara Duryodana melindungi barisan belakang. Bisma ingin agar tidak terjadi kegagalan lagi. Sementara itu para Pandawa mengantisipasinya dengan membentuk formasi bulan sabit dengan Bima dan Arjuna sebagai pemimpin sayap kanan dan kiri. Pasukan Korawa menitikberatkan penyerangannya kepada Arjuna, namun banyak pasukan Korawa yang tak mampu menandingi kekuatan Arjuna. Abimanyu dan Setyaki menggabungkan kekuatan untuk menghancurkan tentara Gandara milik Sangkuni. Bisma yang terlibat duel sengit dengan Arjuna, masih bertarung dengan setengah hati. Duryodana memarahi Bisma yang masih segan untuk menghabisi Arjuna. Perkataan Duryodana membuat hati Bisma tersinggung, kemudian ia mengubah perasaanya.

Arjuna dan Kresna mencoba menyerang Bhishma. Arjuna dan Bisma sekali lagi terlibat dalam pertarungan yang bengis, meskipun Arjuna masih merasa tega dan segan untuk melawan kakeknya. Kresna menjadi sangat marah dengan keadaan itu dan berkata, “Aku sudah tak bisa bersabar lagi, Aku akan membunuh Bisma dengan tanganku sendiri,” lalu ia mengambil chakra-nya dan berlari ke arah Bisma. Bisma menyerahkan dirinya kepada Kresna dengan pasrah. Ia merasa beruntung jika gugur di tangan Kresna. Arjuna berlari mengejarnya dan mencegah Kresna untuk melakukannya. Arjuna memegang kaki Kresna. Pada langkah yang kesepuluh, Kresna berhenti.

Arjuna berkata, “O junjunganku, padamkanlah kemarahan ini. Paduka tempat kami berlindung. Baiklah, hari ini hamba bersumpah, atas nama dan saudara-saudara hamba, bahwa hamba tidak akan menarik diri dari sumpah yang hamba ucapkan. O Kesawa, O adik Dewa Indra, atas perintah paduka, baiklah, hamba yang akan memusnahkan bangsa Kuru!”

Mendengar sumpah tersebut, Kresna puas. Kemarahannya mereda, namun masih tetap memegang senjata chakra. Kemudian mereka berdua melanjutkan pertarungan dan membinasakan banyak pasukan Korawa.

Hari ke-4,
merupakan hari dimana Bima menunjukkan kegagahannya. Bisma memerintahkan pasukan Korawa untuk bergerak. Abimanyu dikepung oleh para ksatria Korawa lalu diserang. Arjuna melihat hal tersebut lalu menolong Abimanyu. Bima muncul pada saat yang genting tersebut lalu menyerang para kstria Korawa dengan gada. Kemudian Duryodana mengirimkan pasukan gajah untuk menyerang Bima. Ketika Bima melihat pasukan gajah menuju ke arahnya, ia turun dari kereta dan menyerang mereka satu persatu dengan gada baja miliknya. Mereka dilempar dan dibanting ke arah pasukan Korawa. Kemudian Bima menyerang para ksatria Korawa dan membunuh delapan adik Duryodana. Akhirnya ia dipanah dan tersungkur di keretanya. Gatotkaca melihat hal tersebut, lalu merasa sangat marah kepada pasukan Korawa. Bisma menasehati bahwa tidak ada yang mampu melawan Gatotkaca yang sedang marah, lalu menyuruh pasukan agar mundur. Pada hari itu, Duryodana kehilangan banyak saudara-saudaranya.

Hari ke-5,
Malam hari menjelang pertandingan Duryodana datang ke tenda Bhisma dan bertanya mengapa setiap hari kekalahan demi kekalahan yang pihak mereka peroleh. Bisma menjawab bahwa Ia telah melakukan yang terbaik yang dapat ia lakukan, menasehati dan juga berperang untuk kejayaan Hastinapura, Sekarang belum terlambat untuk mencari menawarkan perdamaian dan di muka bumi ini tidak ada yang mungkin menang melawan Pandawa dibawah perlindungan ‘Sang Narayana’ sendiri.

Keesokan harinya pembantaian terus berlanjut. Pasukan Pandawa dengan segenap tenaga membalas serangan Bisma. Bima berada di garis depan bersama Srikandi dan Drestadyumna di sampingnya. Melihat Srikandi, Bisma menolak untuk bertarung dan pergi. Sementara itu, Setyaki membinasakan pasukan besar yang dikirim untuk menyerangnya. Pertempuran dilanjutkan dengan pertarungan antara Setyaki melawan Burisrawas dan kemudian Setyaki kesusahan sehingga berada dalam situasi genting. Melihat hal itu, Bima datang melindungi Setyaki dan menyelamatkan nyawanya. Di tempat lain, Arjuna bertempur dan membunuh ribuan tentara yang dikirim Duryodana untuk menyerangnya.Pertumpahan darah yang sulit dibayangkan terus berlanjut dari hari ke hari selama pertempuran berlangsung.

Hari ke-6,
merupakan hari yang hebat. Pandawa menggunakan formasi Makara (Ikan) sedangkan pihak korawa menggunakan fomasi Burung Bangau. Drona berhasil membunuh banyak prajurit di pihak Pandawa yang jumlahnya sukar diukur. Formasi kedua belah pihak pecah.

Hari ke-7,
tidak berubah, semua berperang sebaik-baiknya, Aswatama menghajar Srikandi namun tidak sampai terbunuh, dan banyak lagi yang terjadi, para ksatria hanya terluka tidak ada yang meninggal kecuali para prajurit banyak yang tewas hari ini.

Hari ke-8,
Korawa memakai Formasi Kura-kura sedangkan Pandawa memakai formasi 3 gigi. Bima membunuh delapan putera Dretarastra. Putera Arjuna—Irawan—terbunuh oleh para Korawa. Gatotkaca mengamuk Duryodana juga demikian takut keselamatan Duryodana terancam semua veteran2 kurawa mengeroyok Gatotkaca, Takut keselamatan Gatotkaca terancam, pasukan pandawa melindungi Gatotkaca. Hari ini 16 Saudara Duryodana terbunuh.

Hari ke-9,
Bisma menyerang pasukan Pandawa. Banyak laskar yang tercerai berai karena serangan Bisma. Banyak yang melarikan diri atau menjauh dari Bisma, pendekar tua nan sakti dari Wangsa Kuru. Kresna memacu kuda-kudanya agar berlari ke arah Bisma. Arjuna dan Bisma terlibat dalam pertarungan sengit, namun Arjuna bertarung dengan setengah hati sementara Bisma menyerangnya dengan bertubi-tubi. Melihat keadaan itu, sekali lagi Kresna menjadi marah. Ia ingin mengakhiri riwayat Bisma dengan tangannya sendiri. Ia meloncat turun dari kereta Arjuna, dengan mata merah menyala tanda kemarahan memuncak, bergerak berjalan menghampiri Bisma. Dengan senjata Chakra di tangan, Kresna membidik Bisma. Bisma dengan pasrah tidak menghindarinya, namun semakin merasa bahagia jika gugur di tangan Kresna. Melihat hal itu, Arjuna menyusul Kresna dan berusaha menarik kaki Kresna untuk menghentikan langkahnya.

Dengan sedih dan suara tersendat-sendat, Arjuna berkata, “O Kesawa (Kresna), janganlah paduka memalsukan kata-kata yang telah paduka ucapkan sebelumnya! Paduka telah mengucapkan janji bahwa tidak akan ikut berperang. O Madhawa (Kresna), apabila paduka melanjutkan niat paduka, orang-orang akan mengatakan bahwa paduka pembohong. Semua penderitaan akibat perang ini, hambalah yang harus menanggungnya! Hambalah yang akan membunuh kakek yang terhormat itu!…”

Kresna tidak menjawab setelah mendengar kata-kata Arjuna, tetapi dengan menahan kemarahan ia naik kembali ke atas keretanya. Kedua pasukan tersebut melanjutkan kembali pertarungannya sampai berakhirnya hari itu.

Malam harinya,
Pandawa dan Kresna mendatangi kemah Bisma dan ia menyambut mereka dengan ramah. Ketika Yudistira menanyakan apa yang bisa diperbuat untuk menaklukkan Bisma yang sangat mereka hormati, Bisma menjawab:

“…ketahuilah pantanganku ini, bahwa aku tidak akan menyerang seseorang yang telah membuang senjata, juga yang terjatuh dari keretanya. Aku juga tidak akan menyerang mereka yang senjatanya terlepas dari tangan, tidak akan menyerang orang yang bendera lambang kebesarannya hancur, orang yang melarikan diri, orang dalam keadaan ketakutan, orang yang takluk dan mengatakan bahwa ia menyerah, dan aku pun tidak akan menyerang seorang wanita, juga seseorang yang namanya seperti wanita, orang yang lemah dan tak mampu menjaga diri, orang yang hanya memiliki seorang anak lelaki, atau pun orang yang sedang mabuk. Dengan itu semua aku enggan bertarung…”

Bisma juga mengatakan apabila pihak Pandawa ingin mengalahkannya, mereka harus menempatkan seseorang yang membuat Bisma enggan untuk bertarung di depan kereta Arjuna, karena ia yakin hanya Arjuna dan Kresna yang mampu mengalahkannya dalam peperangan. Dengan bersembunyi di belakang orang yang membuat Bisma enggan berperang, Arjuna harus mampu melumpuhkan Bisma dengan panah-panahnya. Berpedoman kepada pernyataan tersebut, Kresna menyadarkan Arjuna akan kewajibannya. Meski Arjuna masih segan, namun ia menuntaskan tugas tersebut.

Hari ke-10,
pasukan Pandawa dipelopori oleh Srikandi di garis depan. Srikandi menyerang Bisma, namun ia tidak dihiraukan. Bisma hanya tertawa kepada Srikandi, karena ia tidak mau menyerang Srikandi yang berkepribadian seperti wanita. Melihat Bisma menghindari Srikandi, Arjuna memanah Bisma berkali-kali. Puluhan panah menancap di tubuh Bisma. Panah-panah tersebut menancap dan menembus baju zirahnya, kemudian Bisma terjatuh dari keretanya, tetapi badannya tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh puluhan panah yang menancap di tubuhnya. Pasukan Pandawa bersorak. Tepat pada hari itu senja hari. Kedua belah pihak menghentikan pertarungannya, mereka mengelilingi Bisma yang berbaring tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh panah-panah. Bisma menyuruh para ksatria untuk memberikannya bantal, Duryodana memberikan Bantal yang sangat indah namun tidak mau ia terima. Kemudian ia menyuruh Arjuna memberikannya bantal. Arjuna menancapkan tiga anak panah di bawah kepala Bisma sebagai bantal. Bisma merestui tindakan Arjuna. Namun Bisma tidak gugur seketika karena ia boleh menentukan waktu kematiannya sendiri Ia memilih hari kematian ketika garis balik matahari berada di utara.

Srikandi adalah salah satu puteri Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala, Srikandi/Śikhaṇḍin, bentuk feminimnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti “memiliki rumbai-rumbai” atau “yang memiliki jambul”. Ia seorang wanita, yang merupakan penitisan Dewi Amba yang merasa tersia-siakan hidupnya oleh Bisma merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.

Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.

Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang “seorang wanita”, ia menjatuhkan senjatanya. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.

    Versi Jawa
    Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.

    Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.

    Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Bisma.

________________________________________

Dronaparwa

Kitab Dronaparwa merupakan kitab ketujuh dari seri Astadasaparwa. Kitab ini menceritakan kisah diangkatnya Bagawan Drona sebagai panglima perang pasukan Korawa di Hari ke-11, setelah Rsi Bhisma gugur di tangan Arjuna dan sejak di hari ke-11, Karna mulai berperang sehingga segera membangkitkan semangat para Korawa. Ia menyarankan agar Duryodana memilih Drona sebagai pengganti Bisma, dengan alasan Drona merupakan guru bagi sebagian besar sekutu Korawa. Dengan terpilihnya Drona maka persaingan antara para sekutu Korawa memperebutkan jabatan panglima dapat dihindari.

Drona atau Dronacharya adalah guru para Korawa dan Pandawa. Ia merupakan ahli mengembangkan seni pertempuran, termasuk dewāstra. Arjuna adalah murid yang disukainya. Kasih sayang Drona terhadap Arjuna adalah yang kedua jika dibandingkan dengan rasa kasih sayang terhadap puteranya, Aswatama.

Drona dilahirkan dalam keluarga brahmana (kaum pendeta Hindu). Ia merupakan putera dari pendeta Bharadwaja, lahir di kota yang sekarang disebut Dehradun (modifikasi dari kata dehra-dron, guci tanah liat), yang berarti bahwa ia (Drona) berkembang bukan di dalam rahim, namun di luar tubuh manusia, yakni dalam Droon (tong atau guci).

Bharadwaja pergi bersama rombongannya menuju Gangga untuk melakukan penyucian diri. Di sana ia melihat bidadari yang sangat cantik datang untuk mandi. Sang pendeta dikuasai nafsu, menyebabkannya mengeluarkan air mani yang sangat banyak. Ia mengatur supaya air mani tersebut ditampung dalam sebuah pot yang disebut drona, dan dari cairan tersebut Drona lahir kemudian dirawat. Drona kemudian bangga bahwa ia lahir dari Bharadwaja tanpa pernah berada di dalam rahim. Drona menghabiskan masa mudanya dalam kemiskinan, namun belajar agama dan militer bersama-sama dengan pangeran dari Kerajaan Panchala bernama Drupada. Drupada dan Drona kemudian menjadi teman dekat dan Drupada, dalam masa kecilnya yang bahagia, berjanji untuk memberikan setengah kerajaannya kepada Drona pada saat menjadi Raja Panchala.

Drona menikahi Krepi, adik Krepa, guru di keraton Hastinapura. Krepi dan Drona memiliki putera bernama Aswatama.

Mengetahui bahwa Parasurama mau memberi pengetahuan yang dimilikinya kepada para brahmana, Drona mendatanginya. Sayangnya pada saat Drona datang, Parasurama telah memberikan segala miliknya kepada brahmana yang lain. Karena tersentuh oleh kesanggupan hati Drona, Parasurama memutuskan untuk memberikan pengetahuannya tentang ilmu peperangan kepada Drona.

Demi keperluan istri dan puteranya, Drona ingin bebas dari kemiskinan. Teringat kepada janji yang diberikan oleh Drupada, Drona ingin menemuinya untuk meminta bantuan. Tetapi, karena mabuk oleh kekuasaan, Raja Drupada menolak untuk mengakui Drona (sebagai temannya) dan menghinanya dengan mengatakan bahwa ia manusia rendah.

Drupada memberi penjelasan yang panjang dan sombong kepada Drona tentang masalah kenapa ia tidak mau mengakui Drona. Drupada berkata, “Persahabatan, adalah mungkin jika hanya terjadi antara dua orang dengan taraf hidup yang sama”. Dia berkata bahwa sebagai anak-anak, adalah hal yang mungkin bagi dirinya untuk berteman dengan Drona, karena pada masa itu mereka sama. Tetapi sekarang Drupada menjadi raja, sementara Drona berada dalam kemiskinan. Dalam keadaan seperti ini, persahabatan adalah hal yang mustahil. Tetapi ia berkata bahwa ia akan memuaskan hati Drona apabila Drona mau meminta sedekah selayaknya para brahmana daripada mengaku sebagai seorang teman. Drupada menasihati Drona supaya tidak memikirkan masalah itu lagi dan ingin ia hidup menurut jalannya sendiri. Drona pergi membisu, namun di dalam hatinya ia bersumpah akan membalas dendam.

Drona pergi ke Hastinapura dengan harapan dapat membuka sekolah seni militer bagi para pangeran muda dengan memohon bantuan Raja Dretarastra. Pada suatu hari, ia melihat banyak anak muda, yaitu para Korawa dan Pandawa yang sedang mengelilingi sumur. Ia bertanya kepada mereka tentang masalah apa yang terjadi, dan Yudistira, si sulung, menjawab bahwa bola mereka jatuh ke dalam sumur dan mereka tidak tahu bagaimana cara mengambilnya kembali.

Drona tertawa, dan menasihati mereka karena tidak berdaya menghadapi masalah yang sepele. Yudistira menjawab bahwa jika Sang Brahmana (Drona) mampu mengambil bola tersebut maka Raja Hastinapura pasti akan memenuhi segala keperluan hidupnya. Pertama Drona melempar cincin kepunyaannya, mengumpulkan beberapa mata pisau, dan merapalkan mantra Weda. Kemudian ia melempar mata pisau ke dalam sumur seperti tombak. Mata pisau pertama menancap pada bola, dan mata pisau kedua menancap pada mata pisau pertama, dan begitu seterusnya, sehingga membentuk sebuah rantai. Perlahan-lahan Drona menarik bola tersebut dengan tali.

Dengan keahliannya yang membuat anak-anak sangat terkesima, Drona merapalkan mantra Weda sekali lagi dan menembakkan mata pisau itu ke dalam sumur. Pisau itu menancap pada bagian tengah cincin yang terapung kemudian ia menariknya ke atas sehingga cincin itu kembali lagi. Karena terpesona, para bocah membawa Drona ke kota dan melaporkan kejadian tersebut kepada Bisma, kakek mereka.

Bisma segera sadar bahwa dia adalah Drona, dan keberaniannya yang memberi contoh, ia kemudian menawarkan agar Drona mau menjadi guru bagi para pangeran Kuru dan mengajari mereka seni peperangan. Kemudian Drona mendirikan sekolah di dekat kota, dimana para pangeran dari berbagai kerajaan di sekitar negeri datang untuk belajar di bawah bimbingannya.

Satu diantara yang terhebat dan terkemuka adalah Ekalawya, yang merupakan seorang pangeran muda dari suku Nishadha, mereka adalah kaum pemburu. Ekalawya datang mencari Drona karena minta diajari. Drona menolak mengajarinya. Ekalawya kemudian memasuki hutan, dan ia mulai belajar dan berlatih sendirian kemampuan luarbiasanya sehingga setara bahkan melebihi Arjuna.

Ekalawya secara harfiah berarti “ia yang memusatkan pikirannya kepada suatu ilmu/mata pelajaran”. Ekalawya Bertekad ingin menjadi pemanah terbaik di dunia, lalu ia pergi ke Hastina ingin berguru kepada Bagawan Drona. Keinginannya yang kuat untuk menimba ilmu panah lebih jauh, menuntun dirinya untuk datang ke Hastina dan berguru langsung pada Drona. Namun niatnya ditolak, Ini dikarenakan Drona melihat kemampuannya yang bisa menandingi Arjuna, padahal keinginan dan janji Drona adalah menjadikan Arjuna sebagai satu-satunya ksatria pemanah paling unggul di jagat raya. Ini menggambarkan sisi negatif dari Drona, serta menunjukkan sikap pilih kasih Drona kepada murid-muridnya, dimana Drona sangat menyayangi Arjuna melebihi murid-murid yang lainnya.

Penolakan sang guru tidak menghalangi niatnya untuk memperdalam ilmu keprajuritan, ia kemudian kembali masuk kehutan dan mulai belajar sendiri dan membuat patung Drona serta memujanya dan menghormati sebagai seorang murid yang sedang menimba ilmu pada sang guru. Berkat kegigihannya dalam berlatih, Ekalawya menjadi seorang prajurit yang gagah dengan kecapakan yang luar biasa dalam ilmu memanah, yang sejajar bahkan lebih pandai daripada Arjuna, murid kesayangan Drona. Suatu hari, ditengah hutan saat ia sedang berlatih sendiri, ia mendengar suara anjing menggonggong, tanpa melihat Ekalawya melepaskan anak panah yang tepat mengenai mulut anjing tersebut. Saat anjing tersebut ditemukan oleh para Pandawa, mereka bertanya-tanya siapa orang yang mampu melakukan ini semua selain Arjuna. Kemudian mereka melihat Ekalwya, yang memperkenalkan dirinya sebagai murid dari Guru Drona.

Mendengar pengakuan Ekalawya, timbul kegundahan dalam hati Arjuna, bahwa ia tidak lagi menjadi seorang prajurit terbaik, ksatria utama. Perasaan gundah Arjuna bisa dibaca oleh Drona, yang juga mengingat akan janjinya pada Arjuna bahwa hanya Arjuna-lah murid yang terbaik diantara semua muridnya. Kemudian Drona bersama Arjuna mengunjungi Ekalawya. Ekalawya dengan sigap menyembah pada sang guru. Namun ia malahan mendapat amarah atas sikap Ekalawya yang tidak bermoral, mengaku sebagai murid Drona meskipun dahulu sudah pernah ditolak untuk diangkat murid. Dalam kesempatan itu pula Drona meminta Ekalwya untuk melakukan Dakshina, permintaan guru kepada muridnya sebagai tanda terima kasih seorang murid yang telah menyelesaikan pendidikan. Drona meminta supaya ia memotong ibu jarinya, yang tanpa ragu dilakukan oleh Ekalawya serta menyerahkan ibu jari kanannya kepada Drona, meskipun dia tahu akan akibat dari pengorbanannya tersebut, ia akan kehilangan kemampuan dalam ilmu memanah. Ekalawya menghormati sang guru dan menunjukkan “Guru-bhakti”. Namun tidak setimpal dengan apa yang didapatkannya yang akhirnya kehilangan kemampuan yang dipelajari dari “Sang Guru”. Drona lebih mementingkan dirinya dan rasa ego untuk menjadikan Arjuna sebagai prajurit utama dan tetap yang terbaik.

Kematian Ekalawya termuat dalam Srimad Bhagawatam. Ekalawya bertempur untuk Raja Jarasanda dalam peperangan melawan Sri Kresna dan Balarama, dan terbunuh dalam pertempuran oleh pasukan Yadawa.

    Versi Jawa
    Dalam pewayangan Jawa, Ekalawya atau Ekalaya atau Ekalya (dalam cerita pedalangan dikenal pula dengan nama “Palgunadi”) adalah Raja negara Paranggelung. Ekalaya mempunyai isteri yang sangat cantik dan sangat setia bernama Dewi Anggraini, puteri hapsari (bidadari) Warsiki.

    Ekalaya seorang raja kesatria, yang selalu mendalami olah keprajuritan dan menekuni ilmu perang. Ia sangat sakti dan sangat mahir mampergunakan senjata panah. Ia juga mempunyai cincin pusaka bernama Mustika Ampal yang menyatu dengan ibu jari tangan kanannya. Ekalaya berwatak jujur, setia, tekun dan tabah, sangat mencintai istrinya.

    Ekalaya adalah seseorang yang gigih dalam menuntut ilmu. Suatu ketika Prabu Ekalaya mendapatkan bisikan ghaib untuk mempelajari ilmu atau ajian Danurwenda yang kebetulan hanya dimiliki oleh Resi Drona. Sedangkan Sang Resi sudah berjanji tidak akan mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain melainkan kepada para Pandawa dan Korawa saja. Dengan kegigihannya Prabu Ekalaya belajar sendiri dengan cara membuat patung Sang Resi dan belajar dengan sungguh-sungguh sehingga berhasil menguasai ajian tersebut.

    Istri Prabu Ekalaya sangat cantik jelita sehingga membuat Arjuna berhasrat padanya, Dewi Anggraini mengadukan hal tersebut kepada suaminya sehingga terjadi perselisihan dengan Arjuna. Prabu Ekalaya mempertahankan haknya sehingga bertarung dengan Arjuna yang menyebabkan Arjuna sempat mati yang kemudian dihidupkan kembali oleh Prabu Batara Sri Kresna

    Dalam perselisihannya dengan Arjuna, Ekalaya ditipu untuk merelakan ibu jari tangan kanannya dipotong oleh ‘patung’ Resi Drona, yang mengakibatkan kematiaannya karena cincin Mustika Ampal lepas dari tubuhnya. Menjelang kematiaanya, Ekalaya berjanji akan membalas kematiannya pada Resi Drona.

    Dalam perang Bharatayuddha, kutuk dendam Ekalaya menjadi kenyataan. Arwahnya menyatu dalam tubuh Arya Drestadyumena, kesatria Panchala, yang memenggal putus kepala Resi Drona hingga menemui ajalnya.

Karna yang ingin belajar di bawah bimbingan Drona juga ditolak dengan alasan bahwa Karna tidak berasal dari kasta kesatria. Karena merasa terhina, Karna belajar kepada Parasurama dengan menyamar sebagai brahmana.

Saat para Korawa dan Pandawa menyelesaikan pendidikannya, Drona menyuruh agar mereka menangkap Raja Drupada yang memerintah Kerajaan Panchala dalam keadaan hidup-hidup. Duryodana, Dursasana, Wikarna, dan Yuyutsu mengerahkan tentara Hastinapura untuk menggempur Kerajaan Panchala, sementara Pandawa pergi ke Kerajaan Panchala tanpa angkatan perang. Arjuna menangkap Drupada dan membawanya ke hadapan Drona. Drona mengambil separuh dari wilayah kekuasaan Drupada, dan separuhnya lagi dikembalikan kepada Drupada. Dengan dendam membara, Drupada melaksanakan upacara untuk memohon anugerah seorang putera yang akan membunuh Drona dan seorang puteri yang akan menikahi Arjuna. Maka, lahirlah Drestadyumna, yang kelak diperang Bharatayuddha akan membunuh Drona dan Dropadi yang menikahi Pandawa.

    Versi Jawa
    Resi Drona berwatak tinggi hati, sombong, congkak, bengis, banyak bicaranya, tetapi kecakapan, kecerdikan, kepandaian dan kesaktiannnya luar baisa serta sangat mahir dalam berperang. Karena kesaktian dan kemahirannya dalam olah keprajuritan, Drona dipercaya menjadi guru anak-anak Pandawa dan Kurawa. Ia mempunyai pusaka sakti berwujud keris bernama Keris Cundamanik dan panah Sangkali (diberikan kepada Arjuna).

    Bhagawan Drona atau Dorna (dibaca Durna) waktu mudanya bernama Bambang Kumbayana, putera Resi Baratmadya dari Hargajembangan dengan Dewi Kumbini. Ia mempunyai saudara seayah seibu bernama Arya Kumbayaka dan Dewi Kumbayani. Beliau adalah guru dari para Korawa dan Pandawa. Murid kesayangannya adalah Arjuna. Resi Drona menikah dengan Dewi Krepi, putri Prabu Purungaji, raja negara Tempuru, dan memperoleh seorang putra bernama Bambang Aswatama. Ia berhasil mendirikan padepokan Sokalima setelah berhasil merebut hampir setengah wilayah negara Pancala dari kekuasaan Prabu Drupada.

    Dalam perjalanannya mencari Sucitra, ia tidak dapat menyeberang sungai dan ditolong oleh seekor kuda terbang jelmaan Dewi Wilutama, yang dikutuk oleh dewa. Kutukan itu akan berakhir bila ada seorang satria mencintainya dengan tulus. Karena pertolongannya, maka sang Kumbayana menepati janjinya untuk mencintai kuda betina itu. Namun karena terbawa nafsu, Kumbayana bersetubuh dengan kuda Wilutama hingga mengandung, dan kelak melahirkan seorang putra berwajah tampan tetapi mempunyai kaki seperti kuda (bersepatu kuda), yang kemudian diberi nama Bambang Aswatama.

    Setelah bertemu Sucitra yang telah menjadi raja dan bergelar Prabu Drupada, ia tidak diakui sebagai saudara seperguruannya. Kumbayana marah merasa dihina, kemudian balik menghina Raja Drupada. Namun Mahapatih Gandamana (dulu adalah Patih di Hastinapura, saat pemerintahan Pandu) menjadi murka sehingga terjadi peperangan yang tidak seimbang. Meskipun Kumbayana sangat sakti ternyata kesaktiannya masih jauh di bawah Gandamana yang memiliki Aji Bandung Bondowoso (ajian ini diturunkan pada murid tercintanya, Raden Bratasena) yang memiliki kekuatan setara dengan seribu gajah.

    Kumbayana menjadi bulan-bulanan sehingga wajahnya rusak. Namun dia tidak mati dan ditolong oleh Sangkuni yang bernasib sama (baca sempalan MahaBharata yang berjudul Gandamana Luweng). Akhirnya ia diterima di Hastinapura dan dipercaya mendidik anak-anak keturunan Bharata (Pandawa dan Korawa).

    Dalam perang Bharatayuddha, Ia sangat mahir dalam siasat perang dan selalu tepat menentukan formasi perang.

Hari Ke-11,
Duryodana mengangkat Drona sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa. Karna dan Duryodana berencana untuk menangkap Yudistira hidup-hidup. Dalam kitab ini diceritakan bahwa Drona ingin menangkap Yudistira hidup-hidup untuk membuat Duryodana senang. Membunuh Yudistira di medan laga hanya membuat para Pandawa semakin marah, sedangkan dengan adanya Yudistira para Pandawa mendapatkan strategi perang. Drona membantu Karna dan Duryodana untuk menaklukkan Yudistira. Ia memanah busur Yudistira hingga patah. Para Pandawa cemas karena Yudistira akan menjadi tawanan perang. Melihat hal itu, Arjuna turun tangan dan menghujani Drona dengan panah dan menggagalkan rencana Duryodana. Usaha tersebut tidak berhasil karena Arjuna selalu melindungi Yudistira. Pasukan yang dikirim oleh Duryodana untuk membinasakan Arjuna selalu berhasil ditumpas oleh para ksatria Pandawa seperti Bima dan Satyaki.

Hari Ke-12,
Setelah menerima kegagalan, Drona yakin bahwa rencana untuk menaklukkan Yudistira sulit diwujudkan selama Arjuna masih ada. Raja Trigarta — Susharma — bersama dengan 3 saudaranya dan 35 putera mereka berada di pihak Korawa dan mencoba untuk membunuh Arjuna atau sebaliknya, mati di tangan Arjuna. Mereka turun ke medan laga pada hari kedua belas dan langsung menyerbu Arjuna. Namun mereka tidak berhasil sehingga gugur satu persatu. Semakin hari kekuatan para Pandawa semakin bertambah dan memberikan pukulan yang besar kepada pasukan Korawa.

Untuk menghancurkan mereka, Duryodana mencoba memanggil Bhagadatta, Raja Pragjyotisha. Bhagadatta merupakan putera dari Narakasura, raja jahat yang dibunuh oleh Kresna beberapa tahun sebelumnya. Bhagadatta memiliki ribuan mammoth, gajah yang berukuran sangat besar sebagai kekuatan pasukannya. Bhagadatta merupakan ksatria terkuat di antara seluruh pasukan penunggang gajah di dunia. Bhagadatta mencoba menyerang Arjuna dengan ribuan gajahnya. Pertempuran terjadi dengan sangat sengit. Pada hari kedua belas, setelah melalui pertarungan yang sengit, akhirnya Bhagadatta dan Susharma gugur di tangan Arjuna.

Hari ke-13,
pihak Korawa mengeluarkan tantangan dengan mengeluarkan formasi perang melingkar yang dikenal sebagai Chakrawyuha. Para Pandawa menerima tantangan tersebut karena Kresna dan Arjuna tahu bagaimana cara mematahkan berbagai formasi.

Namun, pada hari itu, Kresna dan Arjuna sibuk bertarung dengan laskar Samsaptaka. Oleh karena Pandawa sudah menerima tantangan tersebut, mereka tidak memiliki pilihan namun mencoba untuk menggunakan Abimanyu yang masih muda, yang memiliki pengetahuan tentang bagaimana cara mematahkan formasi Chakrawyuha namun tidak tahu bagaimana cara keluar dari dalamnya. Untuk meyakinkan bahwa Abimanyu tidak akan terperangkap dalam formasi tersebut, Pandawa bersaudara memutuskan bahwa mereka dan sekutu mereka akan mematahkan formasi itu bersama Abimanyu dan membantu sang pemuda keluar dari formasi tersebut.

Abimanyu adalah putera Arjuna dari istrinya yang bernama Subadra. Abimanyu terdiri dari dua kata abhi (berani) dan man’yu (tabiat). Dalam bahasa Sansekerta, kata Abhiman’yu secara harfiah berarti “ia yang memiliki sifat tak kenal takut” atau “yang bersifat kepahlawanan”.

Saat belum lahir karena berada dalam rahim ibunya, Abimanyu mempelajari pengetahuan tentang memasuki formasi mematikan yang sulit ditembus bernama Chakrawyuha dari Arjuna. MahaBharata menjelaskan bahwa dari dalam rahim, ia menguping pembicaraan Kresna yang sedang membahas hal tersebut dengan ibunya, Subadra. Kresna berbicara mengenai cara memasuki Chakrawyuha dan kemudian Subadra (ibu Abimanyu) tertidur maka sang bayi tidak memiliki kesempatan untuk tahu bagaimana cara meloloskan diri dari formasi itu.

Abimanyu menghabiskan masa kecilnya di Dwaraka, kota tempat tinggal ibunya. Ia dilatih oleh ayahnya yang bernama Arjuna yang merupakan seorang ksatria besar dan diasuh di bawah bimbingan Kresna. Ayahnya menikahkan Abimanyu dengan Uttara, puteri Raja Wirata, untuk mempererat hubungan antara Pandawa dengan keluarga Raja Wirata, saat pertempuran Bharatayuddha yang akan datang. Pandawa menyamar untuk menuntaskan masa pembuangannnya tanpa diketahui di kerajaan Raja Wirata, yaitu Matsya. Ditetapkan bahwa Abimanyu-lah yang akan meneruskan Yudistira. Dalam pertempuran besar di Kurukshetra Ia baru berusia enam belas tahun dan merupakan kesatria termuda dari pihak Pandawa.

Sebagai cucu Dewa Indra, Dewa senjata ajaib sekaligus Dewa peperangan, Abimanyu merupakan ksatria yang gagah berani dan ganas. Karena dianggap setara dengan kemampuan ayahnya, Abimanyu mampu melawan ksatria-ksatria besar seperti Drona, Karna, Duryodana dan Dursasana. Ia dipuji karena keberaniannya dan memiliki rasa setia yang tinggi terhadap ayahnya, pamannya, dan segala keinginan mereka.

Pada hari penting itu, Abimanyu menggunakan kecerdikannya untuk menembus formasi tersebut. pandawa bersaudara dan sekutunya mencoba untuk mengikutinya di dalam formasi, namun mereka dihadang oleh Jayadrata, Raja Sindhu, yang memakai anugerah Siwa agar mampu menahan para Pandawa kecuali Arjuna, hanya untuk satu hari. Abimanyu ditinggal sendirian untuk menangkis serangan pasukan Korawa.

Di dalam formasi tersebut, Abimanyu bertarung sendirian. Ia dikepung oleh para ksatria Korawa dan terdesak, sementara ksatria-ksatria Pandawa yang ingin menyelamatkan Abimanyu dihadang oleh Jayadrata.

Abimanyu membunuh dengan bengis beberapa ksatria yang mendekatinya, termasuk putera Duryodana, yaitu Laksmana. Setelah menyaksikan putera kesayangannya terbunuh, Duryodana marah besar dan menyuruh segenap pasukan Korawa untuk menyerang Abimanyu. Karena gagal menghancurkan baju zirah Abimanyu, atas nasihat Drona, Karna menghancurkan busur Abimanyu dari belakang. Kemudian keretanya dihancurkan, kusir dan kudanya dibunuh, dan seluruh senjatanya terbuang. Putera Dursasana mencoba untuk bertarung dengan tangan kosong dengan Abimanyu. Namun tanpa menghiraukan aturan perang, pihak Korawa menyerang Abimanyu secara serentak. Abimanyu mampu bertahan sampai pedangnya patah dan roda kereta yang ia pakai sebagai perisai hancur berkeping-keping. Tak berapa lama kemudian, Abimanyu dibunuh oleh putera Dursasana dengan cara menghancurkan kepalanya dengan gada.

Arjuna terkejut dan pingsan setelah mendengar kematian Abimanyu. Atas penjelasan para ksatria Pandawa, Abimanyu dikurung dalam formasi Cakrawyuha dan dibunuh dengan serangan serentak. Beberapa ksatria ingin membantu dan menyelamatkan Abimanyu, namun dihadang oleh Jayadrata. Mendengar hal itu, berita kematian Abimanyu membuat Arjuna terkejut dan Pingsan, Ia sangat sedih dan sakit hati. Ia sadar, bahwa seandainya Jayadrata tidak menghalangai para Pandawa memasuki formasi Chakrawyuha, Abimanyu pasti mendapat bantuan. Ia kemudian bersumpah akan membunuh Jayadrata pada keesokan harinya sebelum matahari tenggelam. Apabila tidak berhasil maka ia akan membakar diri.

Abimanyu adalah inkarnasi dari putera Dewa bulan. Ketika Sang Dewa bulan ditanya oleh Dewa yang lain mengenai kepergian puteranya ke bumi, ia membuat perjanjian bahwa puteranya tinggal di bumi hanya selama 16 tahun sebagaimana ia tak dapat menahan perpisahan dengan puteranya. Abimanyu berusia 16 tahun saat ia terbunuh dalam pertempuran.

Putera Abimanyu, yaitu Parikesit dari ibu bernama Uttara, lahir setelah kematiannya, dan menjadi satu-satunya kesatria Keluarga Kuru yang selamat setelah Bharatayuddha, dan melanjutkan garis keturunan Pandawa. Abimanyu seringkali dianggap sebagai kesatria yang terberani dari pihak Pandawa, yang sudi melepaskan hidupanya saat peperangan dalam usia yang masih sangat muda.

    Versi Jawa
    Dikisahkan Abimanyu karena kuat tapanya mendapatkan Wahyu Makutha Raja, wahyu yang menyatakan bahwa keturunannyalah yang akan menjadi penerus tahta Para Raja Hastina. Abimanyu dikenal pula dengan nama Angkawijaya, Jaya Murcita, Jaka Pangalasan, Partasuta, Kirityatmaja, Sumbadraatmaja, Wanudara dan Wirabatana. Ia merupakan putra Arjuna, salah satu dari lima ksatria Pandawa dengan Dewi Subadra, putri Prabu Basudewa, Raja Mandura dengan Dewi Dewaki. Ia mempunyai 13 orang saudara lain ibu, yaitu: Sumitra, Bratalaras, Bambang Irawan, Kumaladewa, Kumalasakti, Wisanggeni, Wilungangga, Endang Pregiwa, Endang Pregiwati, Prabakusuma, Wijanarka, Anantadewa dan Bambang Sumbada. Abimanyu merupakan makhluk kekasih Dewata. Sejak dalam kandungan ia telah mendapat “Wahyu Hidayat”, yang mamp membuatnya mengerti dalam segala hal. Setelah dewasa ia mendapat “Wahyu Cakraningrat”, suatu wahyu yang dapat menurunkan raja-raja besar.

    Abimanyu mempunyai sifat dan watak yang halus, baik tingkah lakunya, ucapannya terang, hatinya keras, besar tanggung jawabnya dan pemberani. Dalam olah keprajuritan ia mendapat ajaran dari ayahnya, Arjuna. Sedang dalam olah ilmu kebathinan mendapat ajaran dari kakeknya, Bagawan Abiyasa. Abimanyu tinggal di kesatrian Palangkawati, setelah dapat mengalahkan Prabu Jayamurcita. Ia mempunyai dua orang istri, yaitu:

    • Dewi Siti Sundari, puteri Prabu Kresna, Raja Negara Dwarawati dengan Dewi Pratiwi;
    • Dewi Utari, puteri Prabu Matsyapati dengan Dewi Ni Yutisnawati, dari negara Wirata, dan berputera Parikesit.

    Abimanyu gugur dalam perang Bharatayuddha setelah sebelumnya seluruh saudaranya mendahului gugur, pada saat itu kesatria dari Pihak Pandawa yang berada dimedan laga dan menguasai strategi perang hanya tiga orang yakni Bima, Arjuna dan Abimanyu. Gatotkaca menyingkir karena Karna merentangkan senjata Kuntawijayandanu. Bima dan Arjuna dipancing oleh kesatria dari pihak Korawa untuk keluar dari medan pertempuran, maka tinggalah Abimanyu.

    Ketika tahu semua saudaranya gugur Abimanyu menjadi lupa untuk mengatur formasi perang, dia maju sendiri ketengah barisan Korawa dan terperangkap dalam formasi mematikan yang disiapkan pasukan Korawa. Tak menyiakan kesempatan untuk bersiap-siap, Korawa menghujani senjata ke tubuh Abimanyu sampai Abimanyu terjerembab dan jatuh dari kudanya (dalam pewayangan digambarkan lukanya arang kranjang = banyak sekali). Abimanyu terlihat seperti landak karena berbagai senjata di tubuhnya. Konon tragedi itu merupakan risiko pengucapan sumpah ketika melamar Dewi Utari, bahwa dia masih belum punya istri dan apabila telah beristri maka dia siap mati tertusuk berbagai senjata ketika perang Bharatayuddha. Abimanyu berbohong karena ketika itu sudah beristrikan Dewi Siti Sundari.

    Dengan senjata yang menancap diseluruh tubuhnya sehingga dia tidak bisa jalan lagi tidak membuat Abimanyu menyerah dia bahkan berhasil membunuh putera mahkota Hastinapura (Laksmanakumara putera Duryodana) dengan melemparkan keris Pulanggeni setelah menembus tubuh empat prajurit lainnya. Pada saat itu pihak Korawa tahu bahwa untuk membunuh Abimanyu, mereka harus memutus langsang yang ada didadanya, kemudian Abimanyu pun gugur oleh gada Kyai Glinggang atau Galih Asem milik Jayadrata, ksatria Banakeling.

    Kutipan di bawah ini diambil dari Kakawin Bharatayuddha, yang menceritakan pertempuran terakhir Sang Abimanyu.

    Sloka


    Terjemahan


    Ngkā Sang Dharmasutā təgəg mulati tingkahi gəlarira nātha Korawa, āpan tan hana Sang Wrəkodara Dhanañjaya wənanga rumāmpakang gəlar. Nghing Sang Pārthasutābhimanyu makusāra rumusaka gəlar mahā dwija, manggəh wruh lingirāng rusak mwang umasuk tuhu i wijili rāddha tan tama


    Pada saat itu Yudistira tercengang melihat formasi perang Raja Korawa, sebab Bima dan Arjuna tak ada padahal merekalah yang dapat menghancurkannya. Hanya Putera Arjuna, yaitu Abimanyu yang bersedia merusak formasi yang disusun pendeta Drona itu. Ia berkata bahwa ia yakin dapat menggempur dan memasuki formasi tersebut, hanya saja ia belum tahu bagaimana cara keluar dari formasi tersebut.


    Sāmpun mangkana çighra sāhasa masuk marawaça ri gəlar mahā dwija. Sang Pārthātmaja çūra sāra rumusuk sakəkəsika linañcaran panah, çirṇa ngwyuha lilang təkap Sang Abhimanyu təka ri kahanan Suyodhana. Ḍang Hyang Droṇa Krəpāpulih karaṇa Sang Kurupati malayū marīnusi.


    Setelah demikian, mereka segera membelah dan menyerang formasi pendeta Drona tersebut dengan dahsyat. Sang Abimanyu merupakan kekuatan yang membinasakan formasi tersebut dengan tembakan panah. Sebagai akibat serangan Abimanyu, formasi tersebut hancur sampai ke pertahanan Duryodana. Dengan ini Dona dan Krepa mengadakan serangan balasan, sehingga Duryodana dapat melarikan diri dan tidak dikejar lagi.


    Ṇda tan dwālwang i çatru çakti mangaran Krətasuta sawatək Wrəhadbala. Mwang Satyaçrawa çūra mānta kəna tan panguḍili pinanah linañcaran. Lāwan wīra wiçesha putra Kurunātha mati malara kokalan panah. Kyāti ng Korawa wangça Lakshmanakumāra ngaranika kaish Suyodhana.


    Dengan ini tak dapat dipungkiri lagi musuh yang sakti mulai berkurang seperti Kretasuta dan keluarga Wrehadbala. Juga Satyaswara yang berani dan gila bertarung tertembak sebelum dapat menimbulkan kerusakan sedikit pun karena dihujani panah. Putera Raja Korawa yang berani juga gugur setelah ia tertusuk panah. Putera tersebut sangat terkenal di antara keluarga Korawa, yaitu Laksmanakumara, yang disayangi Suyodhana.


    Ngkā ta krodha sakorawālana manah panahira lawan açwa sarathi. Tan wāktān tang awak tangan suku gigir ḍaḍa wadana linaksha kinrəpan. Mangkin Pārthasutajwalāmurək anyakra makapalaga punggəling laras. Dhīramūk mangusir ỵaçānggətəm atễn pəjaha makiwuling Suyodhana.


    Pada waktu itu seluruh keluarga Korawa menjadi marah, dan dengan tiada hentinya mereka memanahkan senjatanya. Baik kuda maupun kusirnya, badan, tangan, kaki, punggung, dada, dan muka Abimanyu terkena ratusan panah. Dengan ini Abimanyu makin semangat. Ia memegang cakramnya dan dengan panah yang patah ia mengadakan serangan. Dengan ketetapan hati ia mengamuk untuk mencari keharuman nama. Dengan hati yang penuh dendam, ia gugur di tangan Suyodhana.


    Ri pati Sang Abhimanyu ring raṇāngga. Tənyuh araras kadi çéwaling tahas mas. Hanana ngaraga kālaning pajang lèk. Çinaçah alindi sahantimun ginintən.


    Ketika Abimanyu terbunuh dalam pertempuran, badannya hancur. Indah untuk dilihat bagaikan lumut dalam periuk emas. Mayatnya terlihat dalam sinar bulan dan telah tercabik-cabik, sehingga menjadi halus seperti mentimun.


Hari ke 14,
Jayadrata adalah seorang raja di Kerajaan Sindhu. Dia menikahi Dursala, adik perempuan Korawa bersaudara. Raja Sindhu – Jayadrata – memihak Duryodana dalam perang di Kurukshetra. Jayadrata merupakan tokoh penting di balik pembunuhan Abimanyu.

Jayadrata menghina Dropadi, istri para Pandawa, karena berusaha menculik dan mengawininya. Setelah Arjuna memburu dan menangkapnya hidup-hidup, nyawanya diselamatkan oleh Yudistira, dan ia dijadikan budak. Kemudian Bima mencukur rambutnya sehingga Jayadrata botak. Karena dendam terhadap perlakuan tersebut, Jayadrata melakukan tapa ke hadapan Siwa. Ia memohon kekuatan untuk menaklukkan Pandawa, namun Siwa mengatakan bahwa itu hal yang mustahil – namun ia menganugerahkan Jayadrata agar mampu mengalahkan seluruh Pandawa bersaudara pada hari pertama – kecuali Arjuna. Maka, akhirnya Arjuna berhasil mengalahkan Jayadrata.

Atas kematian Abimanyu di hari ke 13, Arjuna akan berusaha membalas dendam dan menepati sumpahnya untuk membunuh Jayadrata sebelum matahari terbenam apabila ia tidak berhasil ia akan membakar diri.

Menanggapi hal itu, pihak Korawa menempatkan Jayadrata sangat jauh dari Arjuna. Ribuan prajurit dan ksatria mengelilingi dan melindungi Jayadrata. Arjuna berusaha menjangkau Jayadrata, namun ribuan pasukan Korawa mengahalanginya. Hingga matahari hampir terbenam, Jayadrata masih jauh dari jangkauan Arjuna. Melihat hal ini, Kresna menggunakan kecerdikannya. Ia membuat gerhana matahari, sehingga suasana menjadi gelap seolah-olah matahari sudah tenggelam. Jayadrata menjadi lega. Pihak Korawa maupun Pandawa mengira hari sudah malam dan sesuai aturan, mereka segera menghentikan peperangan dan mulai beranjak untuk kembali ke kubu masing-masing padahal saat itu, kereta Arjuna sudah dekat dengan kereta Jayadrata.

Arjuna tertunduk lemas dan bersiap menunaikan sumpahnya sementara Jayadrata semakin gembira dan pongahnya melihat itu semua. Tiba-tiba matahari muncul kembali. Ternyata hari belum malam. Mereka semua terperanjat dan di saat itulah Kresna menyuruh Arjuna agar menggunakan kesempatan tersebut untuk membunuh Jayadrata. Arjuna mengangkat busurnya dan meluncurkan panah, memutus leher Jayadrata. Tepat pada saat tersebut, hari sudah sore, matahari sudah tenggelam dan Arjuna berhasil menuntaskan sumpahnya untuk membunuh Jayadrata.

Setelah perang berakhir, Arjuna bertarung dengan pasukan Sindhu ketika mereka menolak untuk mengakui Yudistira sebagai Maharaja dunia. Ketika Dursala (satu-satunya anak perempuan Korawa), istri Jayadrata, keluar untuk melindungi puteranya, yaitu raja muda penerus tahta Sindhu, Arjuna menghentikan pertarungan.

    Versi Jawa
    Jayadrata adalah seorang ksatria yang sangat sakti dari pihak Korawa. Misteri menyelubungi asal usulnya. Kisahnya bermula ketika Wrekudara lahir, ari-ari yang membungkusnya dibuang. Pertapa tua, yaitu Bagawan Sapwani, secara kebetulan memungutnya, mendoakannya, dan mengubahnya menjadi seorang bocah lelaki, yang tumbuh dewasa dengan nama Jayadrata. Dari pandangan sekilas saja tampak jelas kemiripan kekerabatan dengan Wrekudara dan putra Wrekudara, Raden Gatotkaca.

    Ketika Jayadrata beranjak dewasa, ia dibujuk untuk datang ke Hastina oleh Sangkuni yang cerdik, yang memandang perlu seorang sekutu yang seperti itu untuk melawan Pandawa. Di sana Jayadrata diberi suatu kedudukan yang tinggi dan dikawinkan dengan saudara perempuan Duryodana, Dewi Dursilawati. Hal ini mengikatnya dengan kuat pada pihak Kiri. Dalam Perang Bharatayuddha, dialah yang membunuh ksatria muda Abimanyu, dan setelah itu pada gilirannya ia dibunuh oleh Arjuna yang kehilangan anaknya. Karakter Jayadrata adalah jujur, setia, dan terus terang bagaikan Gatotkaca di antara Korawa. Ia mahir mempergunakan panah dan sangat ahli bermain gada. Oleh Resi Sapwani ia diberi pusaka gada bernama Kyai Glinggang.

    Jayadrata nama sesungguhnya adalah Arya Tirtanata atau Bambang Sagara. Arya Tirtanata kemudian dinobatkan sebagai raja negara Sindu, dan bergelar Prabu Sinduraja. Karena ingin memperdalam pengetahuannya dalam bidang tata pemerintahan dan tata kenegaraan, Prabu Sinduraja pergi ke negara Hastina untuk berguru pada Prabu Pandu Dewanata. Untuk menjaga kehormatan dan harga diri, ia menukar namanya dengan nama patihnya, Jayadrata. Di negara Hastina Jayadrata bertemu dengan Keluarga Korawa, dan akhirnya diambil menantu Prabu Dretarastra, dikawinkan dengan Dewi Dursilawati dan diangkat sebagai Adipati Buanakeling. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra bernama Arya Wirata dan Arya Surata.

Gatotkaca, arti harfiahnya “memiliki kepala seperti kendi” putra Bimasena atau Wrekodara dari keluarga Pandawa. Nama ini terdiri dari dua kata, yaitu ghaṭ(tt)am yang berarti “buli-buli” atau “kendi”, dan utkacha yang berarti “kepala”. Nama ini diberikan kepadanya karena sewaktu lahir kepalanya konon mirip dengan buli-buli atau kendi. Ibunya yang bernama Hidimbi, seorang Gadis Mongol dari India Timur, ia dikisahkan memiliki kekuatan luar biasa. Gatotkaca menikah dengan seorang wanita bernama Ahilawati. Dari perkawinan ini lahir seorang putra bernmama Barbarika. Baik Gatotkaca ataupun Barbarika sama-sama gugur dalam perang besar di Kurukshetra, namun di pihak yang berbeda.

Pada bagian Ghattotkacabadhaparwa. dikisahkan bagaimana Gatotkaca gugur dalam perang di Kurukshetra atau Baratayuda pada malam hari ke-14. Perang besar tersebut adalah perang saudara antara keluarga Pandawa melawan Korawa, di mana Gatotkaca tentu saja berada di pihak Pandawa.

Gatotkaca dikisahkan sebagai seorang raksasa memiliki kekuatan luar biasa terutama pada malam hari. Setelah kematian Jayadrata di tangan Arjuna, pertempuran seharusnya dihentikan untuk sementara karena senja telah tiba. Namun Gatotkaca menghadang pasukan Korawa kembali ke perkemahan mereka.

Pertempuran pun berlanjut. Semakin malam kesaktian Gatotkaca semakin meningkat. Prajurit Korawa semakin berkurang jumlahnya karena banyak yang mati di tangannya. Seorang sekutu Korawa dari bangsa rakshasa bernama Alambusa maju menghadapinya. Gatotkaca menghajarnya dengan kejam karena Alambusa telah membunuh sepupunya, yaitu Irawan putra Arjuna pada pertempuran hari kedelapan. Tubuh Alambusa ditangkap dan dibawa terbang tinggi, kemudian dibanting ke tanah sampai hancur berantakan.

Karna tampil dalam perang sebagai pendamping Drona. Pada hari ke-14 malam, perang tetap terjadi sehingga melanggar aturan yang telah disepakati. Duryodana menderita luka parah saat menghadapi Gatotkaca, putera Bimasena. Duryodana pemimpin Korawa merasa ngeri melihat keganasan Gatotkaca. Ia memaksa Karna menggunakan senjata pusaka pemberian Dewa Indra. Semula Karna menolak karena pusaka tersebut hanya akan dipergunakannya untuk membunuh Arjuna saja. Namun karena terus didesak, Karna terpaksa melemparkan pusakanya menembus dada Gatotkaca. Sesuai perjanjian dengan Indra, pusaka Konta pun musnah hanya dalam sekali penggunaan.

Para Pandawa, terutama Bimasena terkejut menyaksikan kekalahan Gatotkaca. Bimasena berteriak menyuruh Gatotkaca memperbesar ukuran tubuhnya, sebagaimana lazimnya ilmu yang dimiliki kaum rakshasa. Dalam keadaan sekarat, Gatotkaca melaksanakan perintah ayahnya. Tubuhnya membesar sampai ukuran maksimal dan kemudian roboh menimpa ribuan prajurit Korawa.

Dalam barisan Pandawa hanya Kresna yang tersenyum melihat kematian Gatotkaca. Ia gembira karena Karna telah kehilangan pusaka andalannya sehingga nyawa Arjuna dapat dikatakan relatif aman.

    Versi Jawa
    Ibu Gatotkaca lebih terkenal dengan sebutan Arimbi. Menurut versi ini, Arimbi bukan sekadar penghuni hutan biasa, melainkan putri dari Kerajaan Pringgadani, negeri bangsa rakshasa. Kesaktiannya dikisahkan luar biasa, antara lain mampu terbang di angkasa tanpa menggunakan sayap, serta terkenal dengan julukan “otot kawat tulang besi”. Namanya sewaktu masih bayi adalah Jabang Tetuka. Sampai usia satu tahun tali pusarnya belum bisa dipotong walau menggunakan senjata apa pun. Arjuna (adik Bimasena) pergi bertapa untuk mendapatkan petunjuk dewa demi menolong nasib keponakannya itu. Namun pada saat yang sama Karna, panglima Kerajaan Hastina juga sedang bertapa mencari senjata pusaka.

    Karena wajah keduanya mirip, Batara Narada selaku utusan kahyangan memberikan senjata Kontawijaya kepada Karna, bukan kepada Arjuna. Setelah menyadari kesalahannya, Narada pun menemui Arjuna yang sebenarnya. Arjuna lalu mengejar Karna untuk merebut senjata Konta.

    Pertarungan pun terjadi. Karna berhasil meloloskan diri membawa senjata Konta, sedangkan Arjuna hanya berhasil merebut sarung pembungkus pusaka tersebut. Namun sarung pusaka Konta terbuat dari Kayu Mastaba yang ternyata bisa digunakan untuk memotong tali pusar Tetuka.

    Akan tetapi keajaiban terjadi. Kayu Mastaba musnah dan bersatu dalam perut Tetuka. Kresna yang ikut serta menyaksikannya berpendapat bahwa pengaruh kayu Mastaba akan menambah kekuatan bayi Tetuka. Namun ia juga meramalkan bahwa kelak Tetuka akan tewas di tangan pemilik senjata Konta.

    Tetuka kemudian dipinjam Narada untuk dibawa ke kahyangan yang saat itu sedang diserang musuh bernama Patih Sekipu dari Kerajaan Trabelasuket. Ia diutus rajanya yang bernama Kalapracona untuk melamar bidadari bernama Batari Supraba. Bayi Tetuka dihadapkan sebagai lawan Sekipu. Anehnya, semakin dihajar bukannya mati, Tetuka justru semakin kuat.

    Karena malu, Sekipu mengembalikan Tetuka kepada Narada untuk dibesarkan saat itu juga. Narada kemudian menceburkan tubuh Tetuka ke dalam kawah Candradimuka, di Gunung Jamurdipa. Para dewa kemudian melemparkan berbagai jenis senjata pusaka ke dalam kawah. Beberapa saat kemudian, Tetuka muncul ke permukaan sebagai seorang laki-laki dewasa. Segala jenis pusaka para dewa telah melebur dan bersatu ke dalam dirinya.

    Tetuka kemudian bertarung melawan Sekipu dan berhasil membunuhnya menggunakan gigitan taringnya. Kresna dan para Pandawa saat itu datang menyusul ke kahyangan. Kresna kemudian memotong taring Tetuka dan menyuruhnya berhenti menggunakan sifat-sifat kaum raksasa.

    Batara Guru raja kahyangan menghadiahkan seperangkat pakaian pusaka, yaitu Caping Basunanda, Kotang Antrakusuma, dan Terompah Padakacarma untuk dipakai Tetuka, yang sejak saat itu diganti namanya menjadi Gatotkaca. Dengan mengenakan pakaian pusaka tersebut, Gatotkaca mampu terbang secepat kilat menuju Kerajaan Trabelasuket dan membunuh Kalapracona.

    Gatotkaca menikah dengan sepupunya, yaitu Pregiwa putri Arjuna. Ia berhasil menikahi Pregiwa setelah melalui perjuangan berat, yaitu menyingkirkan saingannya, bernama Laksmana Mandrakumara putra Duryudana dari keluarga Korawa.

    Dari perkawinan Gatotkaca dengan Pregiwa lahir seorang putra bernama Sasikirana. Ia menjadi panglima perang Kerajaan Hastina pada masa pemerintahan Parikesit, putra Abimanyu atau cucu Arjuna.

    Versi lain mengisahkan, Gatotkaca memiliki dua orang istri lagi selain Pregiwa, yaitu Suryawati dan Sumpaniwati. Dari keduanya masing-masing lahir Suryakaca dan Jayasumpena.

    Gatotkaca versi Jawa adalah manusia setengah raksasa, namun bukan raksasa hutan. Ibunya adalah Arimbi putri Prabu Tremboko dari Kerajaan Pringgadani. Tremboko tewas di tangan Pandu ayah para Pandawa akibat adu domba yang dilancarkan Sangkuni. Ia kemudian digantikan oleh anak sulungnya yang bernama Arimba.

    Arimba sendiri akhirnya tewas di tangan Bimasena pada saat para Pandawa membangun Kerajaan Amarta. Takhta Pringgadani kemudian dipegang oleh Arimbi yang telah diperistri Bima. Rencananya takhta kelak akan diserahkan kepada putra mereka setelah dewasa.

    Arimbi memiliki lima orang adik bernama Brajadenta, Brajamusti, Brajalamadan, Brajawikalpa, dan Kalabendana. Brajadenta diangkat sebagai patih dan diberi tempat tinggal di Kasatrian Glagahtinunu. Sangkuni dari Kerajaan Hastina datang menghasut Brajadenta bahwa takhta Pringgadani seharusnya menjadi miliknya bukan milik Gatotkaca.

    Akibat hasutan tersebut, Brajadenta pun memberontak hendak merebut takhta dari tangan Gatotkaca yang baru saja dilantik sebagai raja. Brajamusti yang memihak Gatotkaca bertarung menghadapi kakaknya itu. Kedua raksasa kembar tersebut pun tewas bersama. Roh keduanya kemudian menyusup masing-masing ke dalam telapak tangan Gatotkaca kiri dan kanan, sehingga manambah kesaktian keponakan mereka tersebut.

    Setelah peristiwa itu Gatotkaca mengangkat Brajalamadan sebagai patih baru, bergelar Patih Prabakiswa.

    Perang di Kurukshetra dalam pewayangan Jawa biasa disebut dengan nama Baratayuda. Kisahnya diadaptasi dan dikembangkan dari naskah Kakawin Bharatayuddha yang ditulis tahun 1157 pada zaman Kerajaan Kadiri.

    Versi pewayangan mengisahkan, Gatotkaca sangat akrab dengan sepupunya yang bernama Abimanyu putra Arjuna. Suatu hari Abimanyu menikah dengan Utari putri Kerajaan Wirata, di mana ia mengaku masih perjaka. Padahal saat itu Abimanyu telah menikah dengan Sitisundari putri Kresna.

    Sitisundari yang dititipkan di istana Gatotkaca mendengar suaminya telah menikah lagi. Paman Gatotkaca yang bernama Kalabendana datang menemui Abimanyu untuk mengajaknya pulang. Kalabendana adalah adik bungsu Arimbi yang berwujud raksasa bulat kerdil tapi berhati polos dan mulia. Hal itu membuat Utari merasa cemburu. Abimanyu terpaksa bersumpah jika benar dirinya telah beristri selain Utari, maka kelak ia akan mati dikeroyok musuh.

    Kalabendana kemudian menemui Gatotkaca untuk melaporkan sikap Abimanyu. Namun Gatotkaca justru memarahi Kalabendana yang dianggapnya lancang mencampuri urusan rumah tangga sepupunya itu. Karena terlalu emosi, Gatotkaca sampai memukul kepala Kalabendana. Mekipun perbuatan tersebut dilakukan tanpa sengaja, namun pamannya itu tewas seketika.

    Ketika perang Baratayuda meletus, Abimanyu benar-benar tewas dikeroyok para Korawa pada hari ke-13. Esoknya pada hari ke-14 Arjuna berhasil membalas kematian putranya itu dengan cara memenggal kepala Jayadrata.

    Duryudana sangat sedih atas kematian Jayadrata, adik iparnya tersebut. Ia memaksa Karna menyerang perkemahan Pandawa malam itu juga. Karna pun terpaksa berangkat meskipun hal itu melanggar peraturan perang.

    Mendengar para Korawa melancarkan serangan malam, pihak Pandawa pun mengirim Gatotkaca untuk menghadang. Gatotkaca sengaja dipilih kaarena Kotang Antrakusuma yang ia pakai mampu memancarkan cahaya terang benderang.

    Pertempuran malam itu berlangsung mengerikan. Gatotkaca berhasil menewaskan sekutu Korawa yang bernama Lembusa. Namun ia sendiri kehilangan kedua pamannya, yaitu Brajalamadan dan Brajawikalpa yang tewas bersama musuh-musuh mereka, bernama Lembusura dan Lembusana.

    Gatotkaca akhirnya berhadapan dengan Karna, pemilik senjata Kontawijaya. Ia pun menciptakan kembaran dirinya sebanyak seribu orang sehingga membuat Karna merasa kebingungan. Atas petunjuk ayahnya, yaitu Batara Surya, Karna berhasil menemukan Gatotkaca yang asli. Ia pun melepaskan senjata Konta ke arah Gatotkaca.

    Gatotkaca mencoba menghindar dengan cara terbang setinggi-tingginya. Namun arwah Kalabendana tiba-tiba muncul menangkap Kontawijaya sambil menyampaikan berita dari kahyangan bahwa ajal Gatotkaca telah ditetapkan malam itu.

    Gatotkaca pasrah terhadap keputusan dewata. Namun ia berpesan supaya mayatnya masih bisa digunakan untuk membunuh musuh. Kalabendana setuju. Ia kemudian menusuk pusar Gatotkaca menggunakan senjata Konta. Pusaka itu pun musnah bersatu dengan sarungnya, yaitu kayu Mastaba yang masih tersimpan di dalam perut Gatotkaca.

    Gatotkaca telah tewas seketika. Arwah Kalabendana kemudian melemparkan mayatnya ke arah Karna. Karna berhasil melompat sehingga lolos dari maut. Namun keretanya hancur berkeping-keping tertimpa tubuh Gatotkaca yang meluncur kencang dari angkasa. Akibatnya, pecahan kereta tersebut melesat ke segala arah dan menewaskan para prajurit Korawa yang berada di sekitarnya. Tidak terhitung banyaknya berapa jumlah mereka yang mati.

Hari ke 15,
Sebelum perang, Begawan Drona pernah berkata, “Hal yang membuatku lemas dan tidak mau mengangkat senjata adalah apabila mendengar suatu kabar bencana dari mulut seseorang yang kuakui kejujurannya”.

Dalam kitab Dronaparwa juga diceritakan tentang siasat Sri Kresna yang menyuruh agar Bima membunuh gajah bernama Aswatama. Setelah gajah tersebut dibunuh, Bima berteriak sekeras-kerasnya bahwa Aswatama mati. Drona menanyakan kebenaran ucapan tersebut kepada Yudistira, dan Yudistira berkata bahwa Aswatama mati.

Berpedoman kepada petunjuk tersebut, Sri Kresna memerintahkan Bhima untuk membunuh seekor gajah bernama Aswatama, nama yang sama dengan putera Bagawan Drona. Bhima berhasil membunuh gajah tersebut lalau berteriak sekeras-kerasnya bahwa Aswatama mati. Drona terkejut dan meminta kepastian Yudistira yang terkenal akan kejujurannya. Yudistira hanya berkata, “Aswatama mati”. Sebetulnya Yudistira tidak berbohong karena dia berkata kepada Drona bahwa Aswatama mati, entah itu gajah ataukah manusia (dalam keterangannya ia berkata, “naro va, kunjaro va” — “entah gajah atau manusia”). Gajah bernama Aswatama itu sendiri sengaja dibunuh oleh Pendawa agar Yudistira bisa mengatakan hal itu kepada Drona sehingga Drona kehilangan semangat hidup dan Korawa bisa dikalahkan dalam perang Bharatayuddha.

Benarlah, setelah mendengar hal tersebut, Drona kehilangan semangat berperang sehingga meletakkan senjatanya. Melihat hal itu, ia dipenggal oleh Drestadyumna. Setelah kematian Drona, Aswatama, putera Bagawan Drona, hendak membalas dendam.

    Versi Jawa
    Resi Drona gugur di medan pertempuran oleh tebasan pedang Drestadyumena, putera Prabu Drupada, yang memenggal putus kepalanya. Konon kematian Resi Drona akibat dendam Prabu Ekalaya, raja negara Parangggelung yang arwahnya menyatu dalam tubuh Drestadyumena. Akan tetapi sebenarnya kejadian itu disebabkan oleh taktik perang yang dilancarkan oleh pihak Pandawa dengan tipu muslihat karena kerepotan menghadapi kesaktian dan kedigjayaan sang Resi

________________________________________

Karnaparwa

Kitab Karnaparwa merupakan kitab kedelapan dari seri Astadasaparwa. Kitab ini menceritakan kisah diangkatnya Karna sebagai panglima perang pasukan Korawa, menggantikan Bagawan Drona yang telah gugur. Setelah Abimanyu dan Gatotkaca gugur, Arjuna dan Bima mengamuk. Mereka banyak membantai pasukan Korawa. Dalam kitab ini diceritakan bahwa Bima berhasil membunuh Dursasana dan merobek dadanya untuk meminum darahnya. Kemudian Bima membawa darah Dursasana kepada Dropadi. Dropadi mengoleskan darah tersebut pada rambutnya, sebagai tanda bahwa dendamnya terbalas. Kemattian Dursasana mengguncang perasaan Duryodana. Ia sangat sedih telah kehilangan saudaranya yang tercinta tersebut. Semenjak itu ia bersumpah akan membunuh Bima.

Untuk mengimbangi Arjuna yang mempunyai Krisna sebagai kusir kereta maka Karna meminta Salya bertindak sebagai kusir keretanya. Salya, Raja Madra, menjadi kusir kereta Karna. Kemudian terjadi pertengkaran antara Salya dengan Karna.

    Versi Jawa
    Menurut cerita pedalangan Yogyakarta ia tewas dalam kisah Bratayuda babak 5 lakon Timpalan / Burisrawa Gugur atau lakon Jambakan / Dursasana Gugur. Menurut tradisi Jawa ia berkediaman di wilayah Banjarjungut, peninggalan mertuanya.

    Pertengkaran yang terjadi karena Salya selaku mertua Karna merasa diperlakukan dengan kurang sopan. Namun Karna berhasil menghibur kemarahan mertuanya itu dengan mengatakan bahwa derajat Salya justru disejajarkan dengan Kresna yang menjadi kusir Arjuna. Adapun Kresna merupakan raja agung, titisan Batara Wisnu.

Hari ke-16,
Karna berhasil mengalahkan Yudistira, Bimasena, Nakula, dan Sadewa, namun tidak sampai membunuh mereka sesuai janjinya di hadapan Kunti dulu. Karna kemudian bertanding melawan Arjuna. Keduanya saling berusaha membunuh satu sama lain.

Ketika panah Karna melesat menuju kepala Arjuna, Kresna menekan kereta Arjuna ke dalam tanah dengan kekuatan saktinya sehingga panah Karna meleset beberapa inci dari kepala Arjuna.

    Versi Jawa
    Ketika Karna mengincer leher Arjuna menggunakan panah Badal Tulak, diam-diam Salya memberi isyarat pada Kresna. Kresna pun menggerakkan keretanya sehingga panah Badal Tulak meleset hanya mengenai rambut Arjuna.

Pertempuran tersebut akhirnya tertunda oleh terbenamnya matahari.

Hari ke-17,
perang tanding antara Karna dan Arjuna dilanjutkan kembali. Setelah bertempur dalam waktu yang cukup lama, akhirnya kutukan Parasurama menjadi kenyataan. Karna tiba-tiba lupa terhadap semua ilmu yang diajarkan gurunya tersebut. Kutukan kedua terjadi pula. Salah satu roda kereta Karna tiba-tiba terbenam ke dalam lumpur. Ia pun turun ke tanah untuk mendorong keretanya itu Ia minta Salya membantunya tapi kusir keretanya itu menolak untuk mendorong dan membantunya. Karna turun tangan sendiria untuk mengangkat kembali keretanya yang terperosok.

Arjuna membidiknya menggunakan panah Pasupati. Karena mematuhi etika peperangan, Arjuna menghentikan penyerangannya bila kereta Karna belum berhasil diangkat. Kresna mendesak agar Arjuna segera membunuh Karna karena ini merupakan satu-satunya kesempatan. Karna meminta Arjuna menaati peraturan karena saat itu dirinya sedang berada di bawah kereta, dan dalam keadaan tanpa senjata.

Kresna membantah kata-kata Karna. Menurutnya, Karna lebih sering berbuat curang daripada Arjuna dalam peperangan, seperti misalnya saat ia ikut serta mengeroyok Abimanyu, ataupun membunuh Gatotkaca pada malam hari. Kresna kembali mendesak Arjuna untuk bertindak dengan cepat. Arjuna pun melepaskan panah Pasupati yang segera melesat memenggal leher Karna. Kutukan ketiga menjadi kenyataan, Karna tewas dalam keadaan lengah tanpa memegang senjata.

    Versi Jawa
    Setelah kematian Karna, keris pusakanya yang bernama Kaladite melesat sendiri menyerang Arjuna. Arjuna menangkisnya menggunakan keris Kalanadah. Kedua pusaka itu pun musnah bersamaan. Arjuna kemudian mendekati mayat Karna untuk memberikan penghormatan terakhir. Surtikanti datang ke medan perang dengan diantar oleh Adirata. Melihat suaminya tewas, Surtikanti melakukan bela pati dengan menikam dadanya sendiri menggunakan keris. Melihat menantunya tewas bunuh diri, Adirata marah dan berteriak menantang Arjuna. Bimasena muncul menghardik Adirata. Adirata ketakutan dan melarikan diri, namun ia terjatuh dan meninggal dunia.

________________________________________

Salyaparwa

Kitab Salyaparwa merupakan kitab kesembilan dari seri Astadasaparwa. Kitab ini menceritakan kisah diangkatnya Salya sebagai panglima perang pasukan Korawa, menggantikan Karna yang telah gugur. di tangan Arjuna pada hari ke-17, Salya pun diangkat sebagai panglima baru pihak Korawa. Salya hanya memimpin selama setengah hari, karena pada hari itu juga Salya gugur di tangan Yudistira. Salya adalah kakak ipar Pandu yang terpaksa membantu Korawa karena tipu daya mereka.

Pada hari ke-18,
ia diangkat sebagai panglima oleh Duryodana. Akhirnya ia pun tewas terkena tombak Yudistira.

Naskah Bharatayuddha berbahasa Jawa Kuno mengisahkan bahwa Salya memakai senjata bernama Rudrarohastra, sedangkan Yudistira memakai senjata bernama Kalimahosaddha. Pusaka Yudistira yang berupa kitab itu dilemparkannya dan tiba-tiba berubah menjadi tombak menembus dada Salya.

Kematian Salya diuraikan pula dalam Kakawin Bharatayuddha. Ketika ia diangkat sebagai panglima, Aswatama yang menjadi saksi kematian Karna mengajukan keberatan karena Salya telah berkhianat, yaitu diam-diam membantu Arjuna. Namun, Duryodana justru menuduh Aswatama bersikap lancang dan segera mengusirnya.

Salya maju perang menggunakan senjata Rudrarohastra. Muncul raksasa-raksasa kerdil namun sangat ganas yang jika dilukai justru bertambah banyak. Kresna mengutus Nakula supaya meminta dibunuh Salya saat itu juga. Nakula pun berangkat dan akhirnya tiba di hadapan Salya. Tentu saja Salya tidak tega membunuh keponakannya tersebut. Ia sadar kalau itu semua hanyalah siasat Kresna. Salya pun dengan jujur mengatakan, Rudrarohastra hanya bisa ditaklukkan dengan jiwa yang suci.

Kresna pun meminta Yudistira yang terkenal berhati suci untuk maju menghadapi Salya. Rudrarohastra berhasil dilumpuhkannya. Ia kemudian melepaskan pusaka Kalimahosaddha ke arah Salya. Pusaka berupa kitab itu kemudian berubah menjadi tombak yang melesat menembus dada Salya.

Sementara itu,
menurut versi pewayangan Jawa, Rudrarohastra disebut dengan nama Candabirawa. Salya mengerahkan ilmu Candabirawa berupa raksasa kerdil mengerikan, yang jika dilukai jumlahnya justru bertambah banyak. Puntadewa maju mengheningkan cipta. Candabirawa lumpuh seketika karena Puntadewa telah dirasuki arwah Resi Bagaspati, yaitu pemilik asli ilmu tersebut. Bahkan, sejak itu Candabirawa justru berbalik mengabdi kepada Yudistira. Selanjutnya, Puntadewa melepaskan Jamus Kalimasada yang melesat menghantam dada Salya. Salya pun tewas seketika.

Baik versi Bharatayuddha ataupun versi pewayangan Jawa mengisahkan setelah Salya tewas, istrinya yaitu Setyawati datang menyusul ke medan pertempuran untuk melakukan bela pati. Setyawati dan pembantunya yang bernama Sugandika kemudian bunuh diri menggunakan keris.

Pada hari ke-18 ini juga Sangkuni bertempur melawan Sahadewa. Dengan mengandalkan ilmu sihirnya, Sangkuni menciptakan banjir besar melanda dataran Kurukshetra. Sadewa dengan susah payah akhirnya berhasil mangalahkan Sangkuni. Tokoh licik itu tewas terkena pedang Sadewa. Menurut versi MahaBharata bagian kedelapan atau Salyaparwa, Sangkuni tewas di tangan Sahadewa, yaitu Pandawa nomor lima. Pertempuran habis-habisan antara keduanya terjadi pada hari ke-18. Sangkuni mengerahkan ilmu sihirnya sehingga tercipta banjir besar yang menyapu daratan Kurukshetra, tempat perang berlangsung. Dengan penuh perjuangan, Sahadewa akhirnya berhasil memenggal kepala Sangkuni. Riwayat tokoh licik itu pun berakhir.

    Versi Jawa
    Menurut Kakawin Bharatayuddha yang ditulis pada zaman Kerajaan Kadiri tahun 1157, Sangkuni bukan mati di tangan Sahadewa, melainkan di tangan Bimasena, Pandawa nomor dua. Sangkuni dikisahkan mati remuk oleh pukulan gada Bima. Tidak hanya itu, Bima kemudian memotong-motong tubuh Sangkuni menjadi beberapa bagian.

    Pada hari terakhir Baratayuda, Sangkuni bertempur melawan Bima. Kulitnya yang kebal karena pengaruh Minyak Tala bahkan sempat membuat Bima merasa putus asa.

    Penasihat Pandawa selain Kresna, yaitu Semar muncul memberi tahu Bima bahwa kelemahan Sangkuni berada di bagian dubur, karena bagian tersebut dulunya pasti tidak terkena Minyak Tala. Bima pun maju kembali. Sangkuni ditangkap dan disobek duburnya menggunakan Kuku Pancanaka yang tumbuh di ujung jari Bima.

    Ilmu kebal Sangkuni pun musnah. Dengan beringas, Bima menyobek dan menguliti Sangkuni tanpa ampun. Meskipun demikian, Sangkuni hanya sekarat tetapi tidak mati.

    Pada sore harinya Bima berhasil mengalahkan Duryudana, raja para Korawa. Dalam keadaan sekarat, Duryudana menyatakan bahwa dirinya bersedia mati jika ditemani pasangan hidupnya, yaitu istrinya yang bernama Banowati. Atas nasihat Kresna, Bima pun mengambil Sangkuni yang masih sekarat untuk diserahkan kepada Duryudana. Duryudana yang sudah kehilangan penglihatannya akibat luka parah segera menggigit leher Sangkuni yang dikiranya Banowati.

    Akibat gigitan itu, Sangkuni pun tewas seketika, begitu pula dengan Duryudana. Ini membuktikan bahwa pasangan sejati Duryudana sesungguhnya bukan istrinya, melainkan pamannya yaitu Sangkuni yang senantiasa berjuang dengan berbagai cara untuk membahagiakan para Korawa.

Diceritakan Duryodana yang ditinggal mati saudara dan sekutunya dan kini hanya ia sendirian sebagai Korawa yang menyerang Pandawa. Semenjak seluruh saudaranya gugur demi memihak dirinya, Duryodana menyesali segala perbuatannya dan berencana untuk menghentikan peperangan.

Setelah kehabisan pasukan, Duryodhana bersembunyi di dasar telaga. Kelima Pandawa didampingi Kresna berhasil menemukan tempat itu. Ia pun bersedia untuk menyerahkan kerajaannya kepada para Pandawa agar mampu meninggalkan dunia fana dengan tenang. Sikap Duryodana tersebut menjadi ejekan bagi para Pandawa. Duryodana pun naik ke darat siap menghadapi kelima Pandawa sekaligus, sikap itu ditunjukan karena Ia tahu bahwa Pandawa tidak akan mungkin secara bersama-sama mengeroyoknya.

Yudistira menolak tantangan Duryodhana karena Pandawa pantang berbuat pengecut dengan cara main keroyok, sebagaimana para Korawa ketika membunuh Abimanyu pada hari ke-13. Yudistira mengajukan tawaran, bahwa ia harus bertarung dengan salah satu Pandawa, dan jika Pandawa itu dikalahkan, maka Yudistira akan menyerahkan kerajaan kepada Duryodana.

Bima terkejut mendengar keputusan Yudistira yang seolah-olah memberi kesempatan Duryodana untuk berkuasa lagi, padahal kemenangan Pandawa tinggal selangkah saja. Dalam hal ini Yudistira justru menyalahkan Bima yang dianggap kurang percaya diri. Duryodana malu mendengarkan pembicaraan kakak dan adik ini. Ia menyadari nasi sudah menjadi bubur dan sekarang saatnya untuk mengakhriri. Meskipun bersifat angkara murka namun ia juga seorang pemberani.

Duryodana memilih bertarung dengan senjata gada melawan Bima. Kedua-duanya memiliki kemampuan yang setara dalam memainkan senjata gada karena mereka berdua menuntut ilmu kepada guru yang sama, yaitu Baladewa. Pertarungan terjadi dengan sengit, keduanya sama-sama kuat dan sama-sama ahli bergulat dan bertarung dengan senjata gada. Khasiat mata sang Ibunda Gandari memanglah hebat tidak ada satupun badan dari Duryodana dapat dilukai Bima. Bima walaupun bertenaga sangat kuat namun ia tidak kunjung dapat melukai Duryodana, Bima mulai kehilangan kepercayaan diri dan kelelahan sementara Duryodana justu semakin meningkat kepercayaan dirinya dan mulai berusaha untuk membunuh Bima. Bima mulai mengalami banyak luka di sekujur tubuhnya, Ia semakin melemah sedangkan hari mendekati senja. Kontras dengan Bima, justru Duryodana semakin bersemangat.

Baladewa hadir juga menyaksikan pertempuran itu sehingga tidak leluasa bagi Krisna untuk memberikan petunjuk secara langsung kepada Bima. Satu kesalahan saja, akan membuat Baladewa memihak Duryodana. Akhirnya Kresna mengingatkan Bima akan sumpahnya (bahwa ia akan mematahkan paha Duryodana karena perbuatannya yang melecehkan Dropadi). Atas petunjuk Kresna, Bima menjadi ingat perbuatan keji Duryodana terhadap Droupadi dan mengingat sumpahnya kembali. Kemarahannya meningkat walaupun ia tidak yakin mampu melukai Duryodana Ia langsung mengarahkan gadanya ke paha Duryodana. Setelah pahanya dipukul dengan keras, Duryodana tersungkur dan roboh. Ia mulai mengerang kesakitan, sebab itulah bagian tubuhnya yang tidak kebal telah dipukul oleh Bima. Keadaan itu terjadi ketika Gandari meminta Duryodana telanjang dihadapannya, namun krisna waktu itu mengejeknya tidak tahu tahu sopan santun karena menghadap ibunda dengan posisi telanjang. Ia kemudian memakai penutup pinggang hingga ke paha.

Saat Bima ingin mengakhiri riwayat Duryodana, Baladewa datang untuk mencegahnya dan mengancam bahwa ia akan membunuh Bima. Baladewa juga memarahi Bima yang telah memukul paha Duryodana, karena sangat dilarang untuk memukul bagian itu dalam pertempuran dengan senjata gada.

Kresna kemudian menyadarkan Baladewa, bahwa sudah menjadi kewajiban bagi Bima untuk menunaikan sumpahnya. Kresna juga membeberkan kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh Duryodana. Duryodana lebih banyak melanggar aturan-aturan perang daripada Bima. Ia melakukan penyerangan secara curang untuk membunuh Abimanyu. Ia juga telah melakukan berbagai perbuatan curang agar Indraprastha jatuh ke tangannya.

Duryodana gugur dengan perlahan-lahan pada pertempuran di hari kedelapan belas. Hanya tiga ksatria yang bertahan hidup dan masih berada di pihaknya, yaitu Aswatama, Krepa, dan Kretawarma. Sebelum ia meninggal, Aswatama yang masih hidup diangkat menjadi panglima perang.
________________________________________

Sauptikaparwa

Kitab Sauptikaparwa merupakan kitab kesepuluh dari seri Astadasaparwa. Kitab ini menceritakan kisah tiga ksatria dari pihak Korawa yang melakukan serangan membabi buta pada di malam hari, saat tentara Pandawa sedang tertidur pulas. Ketiga ksatria tersebut adalah Aswatama, Krepa, dan Kritawarma.

Aswatama atau Ashwatthaman adalah putera Drona dengan Kripi, adik Krepa dari Hastinapura. Sebagai putera tunggal, Drona sangat menyayanginya. Saat kecil keluarganya hidup misikin, namun mengalami perubahan setelah Drona diterima sebagai guru di istana Hastinapura. Ia mengenyam ilmu militer bersama dengan para pangeran Kuru, yaitu Korawa dan Pandawa. Kekuatannya hampir setara dengan Arjuna, terutama dalam ilmu memanah. Saat perang di Kurukshetra berakhir, hanya ia bersama Kertawarma dan Krepa yang bertahan hidup. Oleh karena dipenuhi dendam atas kematian ayahnya, ia menyerbu kemah Pandawa saat tengah malam dan melakukan pembantaian membabi buta terhadap lima putera Pandawa namun lima putera Pandawa tidak terselamatkan nyawanya.

Saat perang di antara Pandawa dan Korawa meletus, ia memihak kepada Korawa, sama dengan ayahnya, dan berteman dengan Duryodana. Untuk membangkitkan semangat pasukan Korawa setelah dipukul mundur, ia memanggil senjata Narayanastra yang dahsyat. Mengetahui hal tersebut, Kresna membuat sebuah taktik dan karenanya senjata itu berhasil diatasi. Ia juga memanggil senjata Agneyastra untuk menyerang Arjuna, namun berhasil ditumpas dengan senjata Brahmastra. Pertarungannya dengan Bima dalam Bharatayuddha berakhir secara “skakmat”.

Kabar angin yang salah mengenai kematiannya dalam perang di Kurukshetra membuat ayahnya meninggal di tangan pangeran Drestadyumna dari kerajaan Panchala. Aswatama yang menaruh dendam mendapat izin dari Duryodana untuk membunuh Drestadyumna secara brutal setelah perang berakhir secara resmi. Saat akhir peperangan, Aswatama yang didasari motif balas dendam berjanji kepada Duryodana bahwa ia akan membunuh Pandawa, Ia menyerang kemah Pandawa saat tengah malam, Aswatama membunuh seluruh pasukan Panchala, Drestadyumna yang membunuh Drona, Srikandi serta kelima putera Pandawa atau Pancawala (anak Pandawa dari Dropadi). Kemudian Aswatama sejenak menyesali perbuatannya lalu pergi ke tengah hutan, berlindung di pertapaan Rsi Byasa.

Pandawa yang marah dengan perbuatan tersebut memburu Aswatama dan akhirnya ia bertarung dengan Arjuna. Saat pertarungan, Aswatama memanggil senjata ‘Brahmastra’ yang sangat dahsyat, yang dulu ingin ditukar dengan cakra milik Kresna namun tidak berhasil. Dengan senjata itu ia menyerang Arjuna dan Arjuna membalasnya dengan mengeluarkan senjata yang sama. Takut akan kehancuran dunia, Bhagawan Byasa menyuruh agar kedua kesatria tersebut menarik senjatanya kembali. Sementara Arjuna berhasil melakukannya, Aswatama tidak bisa melakukannya dan diberi pilihan agar senjata menyerang target lain untuk dihancurkan. Dengan rasa dendam, Aswatama mengarahkan senjata menuju rahim para wanita di keluarga Pandawa. Di antara mereka adalah Utara, menantu Arjuna.

Setelah Aswatama mengarahkan Brahmastra menuju perut Utara yang sedang mengandung, senjata itu berhasil membakar janin Utara, namun Kresna menghidupkannya lagi dan mengutuk Aswatama agar menderita kusta dan mengembara di bumi selama 6.000 tahun sebagai orang buangan tanpa rasa kasih sayang. Dalam versi lain, dipercaya bahwa ia dikutuk agar terus hidup sampai akhir zaman Kaliyuga. Karena dikutuk untuk hidup selamanya tanpa memiliki rasa cinta ini menjadikan ia sebagai satu di antara tujuh Chiranjiwin.

Legenda mengatakan bahwa Aswatama pergi mengembara ke daerah yang sekarang dikenal sebagai semenanjung Arab. Ada juga legenda yang mengatakan bahwa Aswatama masih mengembara di dunia dalam wujud badai dan angin topan. Sebuah benteng kuno di dekat Burhanpur, India, yang dikenal dengan Asirgarh memiliki kuil Siwa di puncaknya. Konon setiap subuh, Aswatama mengunjungi kuil tersebut untuk mempersembahkan bunga mawar merah. Masyarakat yang tinggal di sekitar benteng mencoba untuk menyaksikannya namun tidak pernah berhasil. Konon orang yang bisa menyaksikannya akan menjadi buta atau kehilangan suaranya. Di Gujarat, India, ada Taman Nasional Hutan Gir yang dipercaya sebagai tempat Aswatama mengembara dan ia masih hidup.

Menurut legenda, Aswatama menyerahkan batu permata berharga (Mani) yang terletak di dahinya, yaitu permata yang membuatnya tidak takut terhadap segala senjata, penyakit, atau rasa lapar, dan membuatnya tak takut terhadap para Dewa, danawa, dan naga.

    Versi Jawa
    Aswatama adalah putra Bhagawan Drona alias Resi Drona dengan Dewi Kripi, puteri Prabu Purungaji dari negara Tempuru. Ia berambut dan bertelapak kaki kuda karena ketika awal mengandung dirinya, Dewi Krepi sedang beralih rupa menjadi kuda sembrani, dalam upaya menolong Bambang Kumbayana (Resi Drona) terbang menyeberangi lautan. Aswatama berasal dari padepokan Sokalima dan seperti ayahnya, ia memihak para Korawa saat perang Bharatayuddha. Ketika ayahnya menjadi guru Keluarga Pandawa dan Korawa di Hastinapura, Aswatama ikut serta dalam mengikuti pendidikan ilmu olah keprajuritan. Ia memiliki sifat pemberani, cerdik dan pandai mempergunakan segala macam senjata. Dari ayahnya, Aswatama mendapat pusaka yang sangat sakti berupa panah bernama Panah Cundamanik.

    Pada perang Bharatayuddha, Drona gugur karena terkena siasat oleh para Pandawa. Mereka berbohong bahwa Aswatama telah gugur, tetapi yang dimaksud bukan Aswatama manusia, melainkan seekor gajah yang bernama Hestitama (Hesti berarti “Gajah”) namun terdengar seperti Aswatama. Lalu Drona menjadi putus asa setelah ia menanyakan kebenaran kabar tersebut kepada Yudistira yang dikenal tak pernah berbohong. Aswatama merasa kecewa dengan sikap Duryodana yang terlalu membela Salya yang dituduhnya sebagai penyebab gugurnya Karna. Aswatama memutuskan untuk mundur dari perang Bharatayudha. Setelah Perang Bharatayuda berakhir dan keluarga Pandawa pindah dari Amarta ke Hastinapura, secara bersembunyi Aswatama masuk menyelundup ke dalam istana Hastinapura. Ia berhasil membunuh Drestadyumna (pembunuh ayahnya), Pancawala (putera Puntadewa alias Yudistira), Banowati (Janda Duryodana) dan Srikandi. Diceritakan bahwa akhirnya ia mati oleh Bima, karena badannya hancur dipukul Gada Rujakpala.

Kritavarma adalah salah seorang kepala suku dari wangsa Yadawa, Ia disebut dalam MahaBharata, Vishnu Purana, Bhagavata and the Harivamsa. Ia lahir di wangsa Andhaka yang masih keluarga besar Wangsa Yadawa. Ia yang juga melakukan konspirasi terbunuhnya Mertua Khrisna saat di episode Permata Syamantaka. Diperang ini ia memimpin pasukan Yadawa disisi Kourawa dan membantu Aswathama membantai Prajurit Pancala dan lainnya. Seteah perang besar Ia kembali ke kerajaannya dan kelak terbunuh oleh Satyaki ketika musnahnya wangsa Yadawa di Mausala Parva.
________________________________________


Versi Jawa: Baratayuda
Baratayuda adalah istilah yang dipakai di Indonesia untuk menyebut perang besar di Kurukshetra antara keluarga Pandawa melawan Korawa. Perang ini merupakan klimaks dari kisah MahaBharata, yaitu sebuah wiracarita terkenal dari India.

Istilah Baratayuda berasal dari kata Bharatayuddha, yaitu judul sebuah naskah kakawin berbahasa Jawa Kuna yang ditulis pada tahun 1157 oleh Mpu Sedah atas perintah Maharaja Jayabhaya, raja Kerajaan Kadiri.

Kisah Kakawin Bharatayuddha kemudian diadaptasi ke dalam bahasa Jawa Baru dengan judul Serat Bratayuda oleh pujangga Yasadipura I pada zaman Kasunanan Surakarta.

Di Yogyakarta, cerita Baratayuda ditulis ulang dengan judul Serat Purwakandha pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana V. Penulisannya dimulai pada 29 Oktober 1847 hingga 30 Juli 1848.
Sebab Peperangan
Sama halnya dengan versi aslinya, yaitu versi MahaBharata, perang Baratayuda merupakan puncak perselisihan antara keluarga Pandawa yang dipimpin oleh Puntadewa (atau Yudistira) melawan sepupu mereka, yaitu para Korawa yang dipimpin oleh Duryudana.

Akan tetapi versi pewayangan menyebut perang Baratayuda sebagai peristiwa yang sudah ditetapkan kejadiannya oleh dewata. Konon, sebelum Pandawa dan Korawa dilahirkan, perang ini sudah ditetapkan akan terjadi.

Bibit perselisihan antara Pandawa dan Korawa dimulai sejak orang tua mereka masih sama-sama muda. Pandu, ayah para Pandawa suatu hari membawa pulang tiga orang putri dari tiga negara, bernama Kunti, Gendari, dan Madrim. Salah satu dari mereka dipersembahkan kepada Dretarastra, kakaknya yang buta. Dretarastra memutuskan untuk memilih Gendari, sehingga membuat putri dari Kerajaan Plasajenar itu tersinggung dan sakit hati. Ia pun bersumpah keturunannya kelak akan menjadi musuh bebuyutan anak-anak Pandu.

Gendari dan adiknya, bernama Sengkuni, mendidik anak-anaknya yang berjumlah seratus orang untuk selalu memusuhi anak-anak Pandu. Ketika Pandu meninggal, anak-anaknya semakin menderita. nyawa mereka selalu diincar oleh sepupu mereka, yaitu para Korawa. Kisah-kisah selanjutnya tidak jauh berbeda dengan versi MahaBharata, antara lain usaha pembunuhan Pandawa dalam istana yang terbakar, sampai perebutan Kerajaan Amarta melalui permainan dadu.

Akibat kekalahan dalam perjudian tersebut, para Pandawa harus menjalani hukuman pengasingan di Hutan Kamiyaka selama 12 tahun, ditambah dengan setahun menyamar sebagai orang rakyat jelata di Kerajaan Wirata. Namun setelah masa hukuman berakhir, para Korawa menolak mengembalikan hak-hak para Pandawa. Keputusan inilah yang membuat perang Baratayuda tidak dapat dihindari lagi.

Kitab Jitabsara
Dalam pewayangan Jawa dikenal adanya sebuah kitab yang tidak terdapat dalam versi MahaBharata. Kitab tersebut bernama Jitabsara berisi tentang urutan siapa saja yang akan menjadi korban dalam perang Baratayuda. kitab ini ditulis oleh Batara Penyarikan, atas perintah Batara Guru, raja kahyangan.

Kresna raja Kerajaan Dwarawati yang menjadi penasihat pihak Pandawa berhasil mencuri kitab tersebut dengan menyamar sebagai seekor lebah putih. Namun, sebagai seorang ksatria, ia tidak mengambilnya begitu saja. Batara Guru merelakan kitab Jitabsara menjadi milik Kresna, asalkan ia selalu menjaga kerahasiaan isinya, serta menukarnya dengan Kembang wijayakusuma, yaitu bunga pusaka milik Kresna yang bisa digunakan untuk menghidupkan orang mati. Kresna menyanggupinya. Sejak saat itu Kresna kehilangan kemampuannya untuk menghidupkan orang mati, namun ia mengetahui dengan pasti siapa saja yang akan gugur di dalam Baratayuda sesuai isi Jitabsara yang telah ditakdirkan dewata.

Aturan Peperangan
Jalannya perang Baratayuda versi pewayangan sedikit berbeda dengan perang versi MahaBharata. Menurut versi Jawa, pertempuran diatur sedemikian rupa sehingga hanya tokoh-tokoh tertentu yang ditunjuk saja yang maju perang, sedangkan yang lain menunggu giliran untuk maju.

Sebagai contoh, apabila dalam versi MahaBharata, Duryodhana sering bertemu dan terlibat pertempuran melawan Bimasena, maka dalam pewayangan mereka hanya bertemu sekali, yaitu pada hari terakhir di mana Duryudana tewas di tangan Bima.

Dalam pihak Pandawa yang bertugas mengatur siasat peperangan adalah Kresna. Ia yang berhak memutuskan siapa yang harus maju, dan siapa yang harus mundur. sementara itu di pihak Korawa semuanya diatur oleh Duryudana sendiri, yang seringkali dilakukannya tanpa perhitungan cermat.

Pembagian babak
Di bawah ini disajikan pembagian kisah Baratayuda menurut versi pewayangan Jawa.

  • Babak 1: Seta Gugur
  • Babak 2: Tawur (Bisma Gugur)
  • Babak 3: Paluhan (Bogadenta Gugur)
  • Babak 4: Ranjapan (Abimanyu Gugur)
  • Babak 5: Timpalan (Burisrawa Gugur atau Dursasana Gugur)
  • Babak 6: Suluhan (Gatotkaca Gugur)
  • Babak 7: Karna Tanding
  • Babak 8: Rubuhan (Duryudana Gugur)
  • Babak 9: Lahirnya Parikesit

Karena kisah Baratayuda yang tersebar di Indonesia dipengaruhi oleh kisah sisipan yang tidak terdapat dalam kitab aslinya, mungkin banyak terdapat perbedaan sesuai dengan daerah masing-masing. Meskipun demikian, inti kisahnya sama.

Babak pertama
Dikisahkan, Bharatayuddha diawali dengan pengangkatan senapati agung atau pimpinan perang kedua belah pihak. Pihak Pandawa mengangkat Resi Seta sebagai pimpinan perang dengan pendamping di sayap kanan Arya Utara dan sayap kiri Arya Wratsangka. Ketiganya terkenal ketangguhannya dan berasal dari Kerajaan Wirata yang mendukung Pandawa. Pandawa menggunakan siasat perang Brajatikswa yang berarti senjata tajam. Sementara di pihak Kurawa mengangkat Bisma (Resi Bisma) sebagai pimpinan perang dengan pendamping Pendeta Drona dan prabu Salya, raja kerajaan Mandaraka yang mendukung Korawa. Bisma menggunakan siasat Wukirjaladri yang berarti “gunung samudra.”

Balatentara Korawa menyerang laksana gelombang lautan yang menggulung-gulung, sedang pasukan Pandawa yang dipimpin Resi Seta menyerang dengan dahsyat seperti senjata yang menusuk langsung ke pusat kematian. Sementara itu Rukmarata, putra Prabu Salya datang ke Kurukshetra untuk menonton jalannya perang. Meski bukan anggota pasukan perang, dan berada di luar garis peperangan, ia telah melanggar aturan perang, dengan bermaksud membunuh Resi Seta, Pimpinan Perang Pandawa. Rukmarata memanah Resi Seta namun panahnya tidak melukai sasaran. Setelah melihat siapa yang memanahnya, yakni seorang pangeran muda yang berada di dalam kereta di luar garis pertempuran, Resi Seta kemudian mendesak pasukan lawan ke arah Rukmarata. Setelah kereta Rukmarata berada di tengah pertempuran, Resi Seta segera menghantam dengan gada (pemukul) Kyai Pecatnyawa, hingga hancur berkeping-keping. Rukmarata, putera mahkota Mandaraka tewas seketika.

Dalam peperangan tersebut Arya Utara gugur di tangan Prabu Salya sedangkan Arya Wratsangka tewas oleh Pendeta Drona. Bisma dengan bersenjatakan Aji Nagakruraya, Aji Dahana, busur Naracabala, Panah kyai Cundarawa, serta senjata Kyai Salukat berhadapan dengan Resi Seta yang bersenjata gada Kyai Lukitapati, pengantar kematian bagi yang mendekatinya. Pertarungan keduanya dikisahkan sangat seimbang dan seru, hingga akhirnya Bisma dapat menewaskan Resi Seta. Bharatayuddha babak pertama diakhiri dengan sukacita pihak Korawa karena kematian pimpinan perang Pandawa.

Babak Kedua
Setelah Resi Seta gugur, Pandawa kemudian mengangkat Drestadyumna (Trustajumena) sebagai pimpinan perangnya dalam perang Bharatayuddha. Sedangkan Bisma tetap menjadi pimpinan perang Korawa. Dalam babak ini kedua kubu berperang dengan siasat yang sama yaitu Garudanglayang (Garuda terbang).

Dalam pertempuran ini dua anggota Korawa, Wikataboma dan kembarannya, Bomawikata, terbunuh setelah kepala keduanya diadu oleh Bima. Sementara itu beberapa raja sekutu Korawa juga terbunuh dalam babak ini. Diantaranya Prabu Sumarma, raja Trigartapura tewas oleh Bima, Prabu Dirgantara terbunuh oleh Arya Satyaki, Prabu Dirgandana tewas di tangan Arya Sangasanga (anak Setyaki), Prabu Dirgasara dan Surasudirga tewas di tangan Gatotkaca, dan Prabu Malawapati, raja Malawa tewas terkena panah Hrudadali milik Arjuna. Bisma setelah melihat komandan pasukannya berguguran kemudian maju ke medan pertempuran, mendesak maju menggempur lawan. Atas petunjuk Kresna, Pandawa kemudian mengirim Dewi Wara Srikandi untuk maju menghadapi Bisma. Dengan tampilnya prajurit wanita tersebut, Bisma merasa bahwa tiba waktunya maut menjemputnya, sesuai dengan kutukan Dewi Amba yang tewas di tangan Bisma. Bisma gugur dengan perantaraan panah Hrudadali milik Arjuna yang dilepaskan oleh istrinya, Srikandi.

Tawur demi kemenangan
Dalam babak ini juga diadakan korban demi syarat kemenangan pihak yang sedang berperang. Resi Ijrapa dan anaknya Rawan dengan sukarela menyediakan diri sebagai korban (Tawur) bagi Pandawa. Keduanya pernah ditolong Bima dari bahaya raksasa. Selain itu satria Pandawa terkemuka, Antareja yang merupakan putra Bima juga bersedia menjadi tawur dengan cara menjilat bekas kakinya hingga tewas. Sementara itu Sagotra, hartawan yang berhutang budi pada Arjuna ingin menjadi korban bagi Pandawa. Namun karena tidak tahu arah, ia bertemu dengan Korawa. Oleh tipu muslihat Korawa, ia akan dipertemukan dengan Arjuna, namun dibawa ke Astina. Sagotra dipaksa menjadi tawur bagi Korawa, namun menolak mentah-mentah. Akhirnya, Dursasana, salah satu anggota Kurawa membunuhnya dengan alasan sebagai tawur pihak Korawa.

Kutipan dari Kakawin Bharatayuddha
Kutipan di bawah ini mengambarkan suasana perang di Kurukshetra, yaitu setelah pihak Pandawa yang dipimpin oleh Raja Drupada menyusun sebuah barisan yang diberi nama “Garuda” yang sangat hebat untuk menggempur pasukan Korawa.

Sloka


Terjemahan


Ri huwusirə pinūjā dé sang wīrə sirə kabèh, ksana rahinə kamantyan mangkat sang Drupada sutə, tka marêpatatingkah byūhānung bhayə bhisamə, ngarani glarirèwêh kyāti wīrə kagəpati Setelah selesai dipuja oleh ksatria semuanya, maka pada siang hari berangkatlah Sang Raja putera Drupada, setibanya telah siap mengatur barisan yang sangat membahayakan, nama barisannya yang berbahaya ialah “Garuda” yang masyur gagah berani
Drupada pinakə têndas tan len Pārtha sirə patuk, parə Ratu sirə prsta śrī Dharmātmaja pinuji, hlari têngênikī sang Drstadyumna sahə balə, kiwə pawanə sutā kas kocap Satyaki ri wugat Raja Drupada merupakan kepala dan tak lain Arjuna sebagai paruh, para Raja merupakan punggung dan Maharaja Yudistira sebagai pimpinan, sayap bagian kanan merupakan Sang Drestadyumna bersama bala tentara, sayap kiri merupakan Bhima yang terkenal kekuatannya dan Satyaki pada ekornya
Ya tə tiniru tkap Sang śrī Duryodhana pihadhan, Sakuni pinakə têndas manggêh Śālya sirə patuk, dwi ri kiwa ri têngên Sang Bhīsma Drona panalingə, Kuru pati Sirə prstə dyah Duśśāsana ri wugat Hal itu ditiru pula oleh Sang Duryodana. Sang Sakuni merupakan kepala dan ditetapkan Raja Madra sebagai paruh, sayap kanan kiri adalah Rsi Bhisma dan pendeta Drona merupakan telinga, Raja Kuru merupakan punggung dan Sang Dursasana pada ekor
Ri tlasirə matingkah ngkā ganggā sutə numaso, rumusaki pakekesning byuhē pāndawə pinanah, dinasə gunə tkap Sang Pārthāng laksə mamanahi, linudirakinambah de Sang Bhīma kasulayah Setelah semuanya selesai mengatur barisan kala itu Rsi Bhisma maju ke muka, merusak bagian luar pasukan Pandawa dengan panah, dibalas oleh Arjuna berlipat ganda menyerang dengan panah, ditambah pula diterjang oleh Sang Bima sehingga banyak bergelimpangan
Karananikə rusāk syuh norā paksə mapuliha, pirə ta kunangtusnyang yodhāgal mati pinanah, Kurupati Krpa Śalya mwang Duśśāsana Śakuni, padhə malajêngumungsir Bhīsma Drona pinakə toh Sebab itu binasa hancur luluh dan tak seorang pun hendak membalas, entah berapa ratus pahlawan yang gugur dipanah, Raja Kuru – Pendeta Kripa – Raja Salya – dan Sang Dursasana serta Sang Sakuni, sama-sama lari menuju Rsi Bhisma dan Pendeta Drona yang merupakan taruhan
Niyata laruta sakwèhning yodhā sakuru kula, ya tanangutusa sang śrī Bhīsma Drona sumuruda tuwi pêtêngi wêlokning rènwa ngdé lêwu wulangun, wkasanawa tkapning rah lumrā madhêmi lebū Niscaya akan bubar lari tunggang langgang para pahlawan bangsa Kaurawa, jika tidak disuruh oleh Rsi Bhisma dan Pendeta Drona agar mereka mundur, ditambah pula keadaan gelap karena mengepulnya debu membuat mereka bingung tidak tahu keadaan, akhirnya keadaan terang karena darah berhamburan memadamkan debu
Ri marinika ptêng tang rah lwir sāgara mangêbêk, maka lêtuha rawisning wīrāh māti mapupuhan, gaja kuda karanganya hrūng jrah pāndanika kasêk, aracana makakawyang śārā tan wêdi mapulih Setelah gelap menghilang darah seakan-akan air laut pasang, yang merupakan lumpurnya adalah kain perhiasan para pahlawan yang gugur saling bantai, bangkai gajah dan kuda sebagai karangnya dan senjata panah yang bertaburan laksana pandan yang rimbun, sebagai orang menyusun suatu karangan para pahlawan yang tak merasa takut membalas dendam
Irika nasēmu képwan Sang Pārthārddha kaparihain, lumihat i paranāthākwèh māting ratha karunna, nya Sang Irawan anak Sang Pārthāwās lawan Ulupuy, pêjah alaga lawan Sang Çrênggi rākshasa nipunna Ketika itu rupanya Arjuna menjadi gelisah dan agak kecewa, setelah ia melihat Raja-Raja yang secara menyedihkan terbunuh dalam keretanya, di sanalah terdapat Sang Irawan, anak Sang Arjuna dengan Dewi Ulupi yang gugur dalam pertempuran melawan Sang Srenggi, seorang rakshasa yang ulung

Striparwa

Kitab Striparwa merupakan kitab kesebelas dari seri Astadasaparwa. Kitab ini menceritakan kisah ratap tangis para janda yang ditinggal suaminya di medan perang. Dikisahkan pula Dretarastra yang sedih karena kehilangan putera-puteranya di medan perang, semuanya telah dibunuh oleh Pandawa. Yudistira kemudian mengadakan upacara pembakaran jenazah bagi mereka yang gugur dan mempersembahkan air suci kepada arwah leluhur. Dalam kitab ini, Kunti menceritakan asal-usul Karna yang selama ini menjadi rahasia pribadinya.

    Versi AnandaMarga (Srii Srii Anandamurti)
    Ketika dilangsungkan upacara pembakaran mayat, semua anak menantu Gandari telah menjadi janda dan menangis sedih di hadapan mayat-mayat suami yang telah tewas. Gandari juga ada di tempat itu. Para Pandawa dengan ditemani oleh Kunti dan Sri Krisna juga hadir di iringi oleh rakyat yang merasa sangat sedih karena kehilangan sanak saudara mereka. krisna menghibur Gandari, dan berkara, ‘ Mengapa Ibunda menangis? Inilah dunia Ibupun pada suatu ketika akan meninggalkan dunia ini. lalu mengapa menangis?’. Gandari menjawab, ‘Kalau saja anda tidak merencanakan hal ini maka semua anak-anak-ku akan hidup, tidak terbunuh seperti ini. Krisna menjawab, ‘Perang untuk menegakan Dharma tidak dapat dicegah. Apa yang dapat kuperbuat, aku hanya suatu alat’. Lalu Gandari berkata, ‘Paduka ini Taraka Brahma. Apabila paduka menghendaki, paduka bisa mengubah pikiran mereka tanpa perlu melakukan pertempuran’.

    Biarlah seluruh dunia melihat dan menarik pelajaran.

    Selanjutnya Gandari mengucapkan sumpah, ‘Seperti halnya anggauta keluargaku mengalami kehancuran dihadapan mataku sendiri demikianlah hendaknya anggauta keluarga paduka mengalami kehancuran dihadapan mata paduka sendiri’

    Krisna tersenyum dan menjawab, ‘Semoga demikian’. Krisna menerima sumpah itu. Ia ingin menunjukkan bahwa kekuatan moral itu mempunyai nilai dalam kehidupan dan kekuatan itu harus diakui adanya

Kutukan Gandhari menurut versi Kisari Mohan Ganguli, tr (Bagian ke-25):

    …”Gandhari berkata, O Krishna, baik ‘Pandawa dan Dhartarashtra, keduanya telah terbakar. keduanya terbasmi, O Janardana, mengapa engkau abaikan mereka? Engkau sangat kompenten mencegah pembantaian ini, Engkau punya sejumlah besar pengikut dan berkekuatan besar. Engkau sangat fasih berbicara, dan engkau punya kekuatan (untuk mewujudkan perdamaian). Karena dengan sengaja, O pembunuh dari Madhu, engkau acuh tak acuh terhadap pembantaian massal ini, oleh karenanya, O Senjata yang paling perkasa, engkau seharusnya menuai buah tindakan ini. Dengan kebaikan kecil yang telah aku dapatkan dari kepatuhanku melaksanakan kewajiban pada suamiku, dengan pahala itu yang begitu sulit diperoleh, aku akan mengutuk engkau, O pemilik cakram dan gada! Karena engkau telah mengabaikan para Kuru dan Pandawa sehingga saling membunuh satu sama lainnya, oleh karenanya, O Govinda, engkau akan menjadi pembunuh sanak-Mu sendiri! Pada tahun ke 36 sejak sekarang, O pembunuh dari Madhu, engkau, setelah menyebabkan pembantaian kerabatMu, teman-temanMu dan anak-anakMu, binasa dengan cara menjijikkan di padang gurun. Para wanita dari ras-Mu, kehilangan anak, sanak saudara, dan teman-teman, akan meratap dan menangis seperti para wanita dari ras Bharata ini!'”

    Vaishampayana melanjutkan, “Mendengar kata-kata ini, Vasudeva Sang Jiwa utama, kepada Gandhari, mengatakan kepadanya kata-kata ini, dengan senyum tipis,”Tidak ada di dunia, yang menyelamatkan diri, yang mampu membasmi bangsa Vrishni. Aku tau ini dengan pasti. Aku akan wujudkan. Dalam mengucapkan kutukan ini, O ini kaulmu yang sangat baik, Engkau telah membantu aku menyelesaikannya. Bangsa Vrishni tidak mampu dibunuh oleh yang lainnya, baik itu para manusia atau dewa atau Danava. Bangsa Yadawa, karenanya akan musnah oleh tangan mereka sendiri.” Setelah Ia dari ras Dasharha mengatakan ini, Pandawa menjadi terheran-heran. Dipenuhi dengan kecemasan, mereka semua menjadi hidup tersia-sia!

________________________________________

Santiparwa

Kitab Santiparwa merupakan kitab kedua belas dari seri Astadasaparwa. Kitab ini menceritakan kisah berkumpulnya Dretarastra, Gandari, Pandawa, dan Kresna di Kurukshetra. Mereka sangat menyesali segala perbuatan yang telah terjadi dan hari itu adalah hari tangisan.

Pada akhir pertempuran, Dretarastra menahan rasa duka dan kemarahannya atas kematian seratus puteranya. Saat ia bertemu para Pandawa yang meminta restunya karena mereka menjadi pewaris tahta, ia memeluk mereka satu persatu. Ketika tiba giliran Bima, pikiran jahat merasuki Dretarastra dan rasa dendamnya muncul kepada Bima atas kematian putera-puteranya, terutama Duryodana dan Dursasana. Kresna tahu bahwa meskipun Dretarastra buta, ia memiliki kekuatan yang setara dengan seratus gajah. Maka dengan cepat Kresna menggeser Bima dan menggantinya dengan sebuah patung menyerupai Bima. Pada saat itu juga Dretarastra menghancurkan patung tersebut sampai menjadi debu. Akhirnya Bima selamat dan Dretarastra mulai mengubah perasaannya serta memberikan anugerahnya kepada Pandawa.

    Versi jawa
    Setelah Korawa tumpas dalam perang Baratayuda, pihak Pandawa datang ke Hastina untuk mengambil hak mereka atas takhta negeri itu. Dretarastra memanggil Bimasena (Pandawa nomor dua) untuk dipeluknya. Karena curiga, Kresna selaku penasihat Pandawa memberi isyarat agar Bima menyerahkan benda lain sebagai ganti dirinya.

    Bimasena pun menyodorkan pusakanya bernama Gada Rujakpolo untuk dipeluk Dretarastr