Category Archives: Ragam Indonesia

TNI..Masihkah kalian Netral?


Mari kita simak cuplikan beberapa kutipan di bawah ini:

  • Dengan dalih menjaga keamanan, TNI mendata dan menekan warga Ahmadiyah untuk beribadah di luar masjid mereka. Sementara Panglima Kodam III Siliwangi Moeldoko mengajak umat non Ahmadiyah untuk meduduki tempat ibadah milik Jemaat Ahmadiyah” [Sumber]
  • Di Sadarsari, Majalengka, & Sukabumi, koramil meminta data keluarga & memaksa utk menghadiri penyuluhan & ikrar pertobatan..Tim menemukan sekitar 56 kasus intimidasi TNI thd anggota Ahmadiyah di Jabar & Lampung…Choirul Anam: TNI bersama kepolisian & aparatur negara jg memaksa utk menguasai masjid dgn menjadi imam salat Jumat..Tim menilai tindakan TNI melanggar UU No 34/2004 tentang TNI” [Sumber]
  • di Jawa Barat ada SK Pembubaran Ahmadiyah. Kemudian di situ dikerahkan prajurit untuk mendatangi ke kampung mendata orang-orang Ahmadiyah dan itu menimbulkan ketakutan. Mereka lalu masuk menguasai masjid, lalu mengumpulkan orang-orang Ahmadiyah dan diperintahkan pertobatan..Operasi terencana yang diperintahkan langsung oleh Pangdam berdasarkan SK itu karena itu SK Gubernur dan perintah panglima..Hasanuddin juga membenarkan bahwa di daerahnya, Majalengka, hal itu benar-benar terjadi. Para prajurit berseragam mendatangi kampung-kampung dan menimbulkan keresahan dengan mengumpulkan jemaah Ahmadiyah dan memerintahkan mereka untuk bertobat dan mengganti iman mereka” [Sumber]
  • Kita merindukan hubungan dan kerja sama yang lebih baik antara ulama dengan TNI, khususnya TNI AD. Apalagi, dalam kepengurusan MUI Pusat dan MUI Sumut pernah masuk di dalamnya anggota TNI” [Sumber]

Empat berita di atas menimbulkan pertanyaan bagi saya:

    Kenapa TNI ikutan?
    Apakah ini berhubungan dengan pembentukan MUI di jaman Soeharto dulu dimana TNI juga dilibatkan dalam MUI?
    Masihkah ada anggota TNI di kepengurusan MUI?

Pengurus MUI saat ini lihat di sini, 1 orang penasehat berpangkat terakhir LETJEN [Purn]..sayang saya ngga tau yang lainnya.

Sejarah MUI emang menunjukan pembentukan MUI pesertanya juga termasuk dari perwakilan ABRI:

    Saat pembentukan MUI pertama kalinya di tahun 1970, Hamka tidak setuju pelibatan sarjana sekuler dalam ijtihad kolektif! namun malah mengusulkan pada Presiden Soehario agar memilih seorang Mufti yang dapat memberikan nasihat kepada pemerintah dan umat Islam di Indonesia

    …namun tidak jadi terwujud

    Pada tanggal 24 Mei 1974, lagi-lagi Soeharto menegaskan pentingnya sebuah majelis setelah menerima kunjungan dari Utusan Dewan Masjid Indonesia, tak lama berselang Menteri Dalam Negeri Letnan Jendral Amir Machmud menginstruksikan agar semua gubernur mulai mendirikan Majelis ulama di daerahnya masing-masing.

    Maka digelarlah sebuah konferensi Ulama nasional pada tanggal 21 s/d 27 Juli 1975. Pesertanya terdiri dari wakil majelis ulama daerah yang baru berdiri, pengurus pusat organisasi Islam, sejumlah ulama Independen dan serta wakil dari angkatan bersenjata Republik Indonesia (ABRI kini TNI), Dari pertemuan itu lahirlah sebuah deklarasi, limapuluh tiga orang peserta menandatanganinya, walhasil konferensi tersebut diakhiri dengan pengumuman berdirinya perkumpulan para ulama dengan sebutan MUI.

    Sayangnya tidak semua segmen masyarakat muslim setuju dengan perkumpulan ini, pada saat inagurasi MUI, ada protes dari sejumlah tokoh. Mereka yang tidak setuju umumnya khawatir akan terjadinya politisasi dalam tubuh MUI. MUI hanya menguntungkan salah satu kelompok dan merugikan kelompok lain, kata sebagian dari mereka. Sebagian yang lain bahkan lebih jauh menyebut MUI hanya menjadi alat negara.

    Jelas sekali bahkan MUI saja BUKAN merupakan pengejawantahan dari UIL AMRI yang dimasud di AQ 4:59 “ulil amri di antara kamu”!..

    karena TERBUKTI ada PROTES yang merasa tidak terwakilkan bahkan di awal PENDIRIANNYA!

    Terakhir,
    Saya kutipkan bagaimana MENSIKAPI tentang FATWA yang PENDAPAT ini JUSTRU BERASAL dari orang MUI kalangan AWAL sendiri:

      KH.Totoh Abdul Fatah (Ketua MUI Jawa Barat tahun 1998) mengatakan bahwa Fatwa MUI wajib diikuti. Ulama-ulama MUI adalah ulama senior yang memiliki Otoritas keagamaan, menurutnya semua umat Islam Indonesia harus mengikuti fatwa MUI.

      Berbeda dengan KH.Totoh Abdul Fatah, Ibrahim Hosen (yang saat ini menjabat ketua komisi Fatwa), meyakini bahwa tidak ada kewajiban untuk mengikuti mazhab hukum Islam atau Fatwa tertentu baik dari seorang Ulama maupun kelompok, masyarakat Islam bebas untuk mengambil Fatwa yang sesuai dengan mereka. Berdasarkan prinsip Al Maslahah al’Ammaah, Ibraim Hosen berpendirian bahwa setiap muslim memiliki hak untuk memilih dan menentukan fatwa mana yang terbaik. Sebab dengan begitu akan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat muslim.

    Oleh sebab itu masalahnya bukanlah pada senioritas dalam otoritas agama melainkan hak individu dan kemanfaatan bagi masyarakat. Kini Masyarakat Muslim sudah dihadapkan pada pasar bebas hukum Islam (Free Market of Islamic Jurisprudence), Tak dapat dipungkiri dan dinafikan Seratus Persen Hak untuk memilih dan menentukan ada pada Mereka.

    [Kutipan di atas berasal dari sini]

Juga simak kisah tentang Yayasan amal bakti pancasila dalam petikan buku Lengser Keprabon, di mana sangat erat terlihat hubungan ABRI dan MUI.

Beberapa note PENTING:

    Masykuri Abdillah, Demokrasi di Persimpangan Makna, hlm. 47; bnd. Alwi Shihab, Membendung Arus, hlm. 181-2 dan hlm. 264, yang al mencatat pernyataan Hasan Basri, Ketua Umum MUI sekitar tahun 1990:

    MUI (juga) berfungsi sebagai penjaga gawang untuk menjamin agar tidak ada undang-undang di negara ini yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam

Tentang TNI berikut saya sampaikan:

Petikan sapta marga:

    Kami Patriot Indonesia, pendukung serta pembela Ideologi Negara yang bertanggung jawab dan tidak mengenal menyerah.
    Kami Kesatria Indonesia, yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta membela kejujuran, kebenaran dan keadilan.

Petikan jati diri TNI:

  1. Tentara Nasional, yaitu tentara kebangsaan Indonesia yang bertugas demi kepentingan negara di atas kepentingan daerah, suku, ras, dan golongan agama; dan
  2. Tentara Profesional, yaitu tentara yang terlatih, terdidik, diperlengkapi secara baik, tidak berpolitik praktis, tidak berbisnis, dan dijamin kesejahteraannya, serta mengikuti kebijakan politik negara yang menganut prinsip demokrasi, supremasi sipil, hak asasi manusia, ketentuan hukum nasional, dan hukum internasional yang telah diratifikasi.

Petikan sumpah prajurit:

    Bahwa saya akan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

TNI..Masihkah kalian Netral?


Catatan Akhir Tentang Ke-Islam-an Ahmadiyah Dan Sisanya Biarkan Takdir Yang Meneruskan..


Tulisan ini adalah finalisasi dari keprihatinan pada penyelesaian dengan kekerasan dan fitnah yang melanda Ahmadiyah [lihat di sini]

Kenapa saya juga merasa BERHAK menulis tentang AHMADIYAH walaupun bukan seorang MUSLIM?

    Karena saya juga MEMBAYAR PAJAK!

    Sebagai non muslim saya jelas terganggu karena TOH uang pajak yang saya bayarkan dimakan oleh mereka yang pemerintahan dan di kementrian agama, diberbagai instansi termasuk digunakan untuk membangun MESJID, MUSHALA dilingkungan mereka dan juga menjadi fasilitas umum [listrik, air, jalan, dll] yang dipakai oleh mereka yang bersimaharajalela dan para korban.

    Jadi, jelas saya sama berhaknya menuntut ketenangan dan kedamaian yang sama, bukan?!

Untuk itu, berikut dibawah ini merupakan catatan akhir saya tentang aliran Islam Ahmadiyah, dimulai dengan ulasan ada/tidak NABI PENUTUP atau cuma nabi TANPA SYARIAH dan di akhiri dengan kompatibilitasnya terhadap rukun iman di Islam.

Paham ada/tidak nabi terakhir ya tergantung MAU MEGANG tafsir apa dari “Khatam al nabiyin” surah AQ 33:40 yang turun sehubungan gonjang gajing pernikahan Nabi dengan zainab [ex istri anak angkat Nabi, Zaid]

Argument hadis bagi mereka yang sepakat dengan arti KHATAM = PENUTUP, salah satunya dapat lihat di sini dan bagi mereka yang TIDAK SEPAKAT, saya mencoba menuliskannya dari yang saya mengerti:

Kurang lebih SETAHUN SETELAH turunnya AQ 33:40,
Nabi menggauli Maria Qibtiyah [seorang budak yang diberikan sebagai hadiah oleh penguasa Mesir, sepulangnya Hatib Abi Balta’ah dari al-Muqawqis, lihat di Sahih Bukhari 3.43.648; Muslim 2.3507; Tabari(VIII:100; IX:137, IX:147; Vol.8 p.66,131; Vol.39, p.194), Kitab al-Tabaqat al-Kabir”, Hal 151; Martin Lings, Hal.439 – 440]. Dari Budak ini lahirlah seorang anak bernama Ibrahim. Ibrahim ternyata tidak berumur panjang dan wafat 18 BULAN KEMUDIAN [riwayat aisha, hadis muslim 20.3181]

Jadi selisih waktu antara turunya AQ 33:40 dan Wafatnya IBRAHIM adalah 3.5 tahunan.

Berkenaan dengan wafatnya Ibrahim terekam ucapan sebagai berikut:

    Narrated Isma’il:
    I asked Abi Aufa, “Did you see Ibrahim, the son of the Prophet ?” He said, “Yes, but he died in his early childhood. Had there been a Prophet after Muhammad then his son would have lived, but there is no Prophet after him.” [Hadis Bukhari 8.73.214]

    Juga dari riwayat Ibnu Abbas:
    “Ketika Ibrahim ibnu Rasulullah s.a.w. wafat, beliau menyembahyangkan jenazahnya dan berkata, “Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan kalau usianya panjang, ia akan menjadi nabi yang benar.” [Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no. 1511].

Pertanyaannya:
Kenapa 3.5 tahunan setelah kejadian turunnya AQ 33.40, Isma’il dan Abi Aufa, SEBAGAI ORANG ARAB TOTOK, tidak tau bahwa kata “khatam” HARUS hanya berarti PENUTUP? dan malah masih menganggap akan ada nabi berikutnya [dalam konteks ini adalah ibrahmim]?

Imam mazhab Hanafi, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan:

    “Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi, maka mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah s.a.w.. Seperti halnya Isa, Khidir, dan Ilyas ‘alaihimus salaam. Hal itu tidak bertentangan dengan ayat Khaataman-Nabiyyiin. Sebab, ayat itu hanya berarti bahwa sekarang, sesudah Rasulullah s.a.w. tidak dapat lagi datang Nabi lain yang membatalkan Syari’at beliau s.a.w. dan bukan ummati beliau s.a.w.” (Maudhu’aat Kabiir, hlm. 69).

Kemudian pada penggunaan kata “servant of Allah”:

    When Ali said to Anas: “Why don’t you stand up and testify what you heard from the Messenger of Allah on the day of Ghadir?” He answered, “O Amir al-Mumineen! I have grown old and do not remember.” Thereupon Ali said: “May Allah mark you with a white spot (of leprosy; Alphosis) unconcealable with your turban, if you are intentionally withholding the truth.” And before Anas got up from his place he bore a large white spot on his face, Thereafter Anas used to say, “I am under the curse of the righteous servant of Allah.”

    Sunni references:

    1. al-Ma’arif, by Ibn Qutaybah, p14, in the account of Anas among disabled persons.
    2. Musnad Ahmad Ibn Hanbal, v1, p199, where he testifies to the above anecdote, as he says : “All stood up except three persons who came under the curse of Ali.”
    3. Hilyatul Awliya’, by Abu Nu’aym, v5, p27

Yang menarik dari peristiwa itu adalah…Hadis Muslim hanya mengambil riwayat dari Sa’d b. Abi Waqqas, yang hanya merupakan 1 (satu) diantara ratusan ribu orang yang menyaksikan peristiwa di Ghadir [ada yang menyatakan jumlah yang hadir saat itu adalah 120000], yang mengaku mengutip ucapan nabi spt ini,

    “You are in the same position with relation to me as Aaron- (Harun) was in relation to Moses but with (this explicit difference) that there is no prophet after me.”

Ya, hanya sa’d dari 120000 orang yang di record muslim!…..dan 3 reference di atas mengungkapkan kesaktian ucapan dari “SERVANT of ALLAH!”

Kemudian,
Anda bisa lihat bagaimana AISAH sendiri BERKEBERATAN bila MUHAMMAD dinyatakan sebagai NABI PENUTUP:

    Aisyah mengatakan,
    “Katakanlah bahwa beliau (Rasulullah s.a.w.) adalah Khataman Nabiyyin, tetapi janganlah mengatakan tidak akan ada nabi lagi sesudah beliau” (Durr Mantsur oleh Hafizh Jalal-ud-Din ‘Abdur Rahman Sayuth dan situs ini).

    “Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiya’, tetapi jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya ba’dahu (tidak ada Nabi sesudahnya)” (Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 5)

Kemudian,
berikut di bawah ini anda akan temukan 40 sample lebih kata “khatam” yang TIDAK BERARTI PENUTUP:

    Return-Path:
    Date: Mon, 12 Feb 2001 14:15:16 +0100
    From: “Ch. Muzafar Ah. Shiraz”
    X-Accept-Language: de,en
    Subject: KHatam, SEAL OR LAST?

    1. KHATAM-USH-SHU’ ARAA (seal of poets) was used for the poet Abu Tamam. (Wafiyatul A’yan, vol. 1, p. 123, Cairo)
    2. KHATAM-USH-SHU’ ARAA again, used for Abul Tayyeb. (Muqaddama Deewanul Mutanabbi, Egyptian p. 4)
    3. KHATAM-USH-SHU’ ARAA again, used for Abul ‘Ala Alme’ry. (ibid, p.4, footnote)
    4. KHATAM-USH-SHU’ ARAA used for Shaikh Ali Huzain in India. (Hayati Sa’di, p. 117)
    5. KHATAM-USH-SHU’ ARAA used for Habeeb Shairaazi in Iran. (Hayati Sa’di, p. 87) Note here that all five people have been given the above title. How could it be interpreted as “last”. They did not come and go at the exact same time.
    6. KHATAM-AL-AULIYAA (seal of saints) for Hazrat Ali (May God be pleased with him). (Tafsir Safi, Chapter AlAhzab) Can no other person now attain wilaayat, if “seal” meant last?
    7. KHATAM-AL-AULIYAA used for Imam Shaf’ee. (Al Tuhfatus Sunniyya, p. 45)
    8. KHATAM-AL-AULIYAA used for Shaikh Ibnul ‘Arabee. (Fatoohati Makkiyyah, on title page)
    9. KHATAM-AL-KARAAM (seal of remedies) used for camphor. (Sharah Deewanul Mutanabbee, p. 304) Has no medicine been found or used after camphor, if “seal” means “last”?
    10. KHATAM-AL-A’ IMMAH (seal of religious leaders) used for Imam Muhammad ‘Abdah of Egypt. (Tafseer Alfatehah, p. 148) Don’t we have leaders today?
    11. KHATAM-ATUL- MUJAHIDEEN (seal of crusaders) for AlSayyad Ahmad Sanosi. (Akhbar AlJami’atul Islamiyyah, Palestine, 27 Muharram, 1352 A.H.)
    12. KHATAM-ATUL- ULAMAA-ALMUHAQQI QEEN (seal of research scholars) used for Ahmad Bin Idrees. (Al’Aqadun Nafees)
    13. KHATAM-ATUL- MUHAQQIQEEN (seal of researchers) for Abul Fazl Aloosi. (on the title page of the Commentary Roohul Ma’aanee)
    14. KHATAM-AL-MUHAQQIQE EN used for Shaikh AlAzhar Saleem Al Bashree. (Al Haraab, p. 372)
    15. KHATAM-ATUL- MUHAQQIQEEN used for Imam Siyotee. (Title page of Tafseerul Taqaan)
    16. KHATAM-AL-MUHADDITH EEN (seal of narrators) for Hazrat Shah Waliyyullah of Delhi. (‘Ijaalah Naafi’ah, vol. 1)
    17. KHATAMAT-AL- HUFFAAZ (seal of custodians) for AlShaikh Shamsuddin. (AlTajreedul Sareeh Muqaddimah, p. 4) A “hafiz” is one who has memorised the full arabic text of the Holy Quran. Two of my cousins happen to belong to this category and more people will memorize it.
    18. KHATAM-AL-AULIA (seal of saints) used for the greatest saint. (Tazkiratul Auliyaa’, p. 422)
    19. KHATAM-AL-AULIA used for a saint who completes stages of progress. (Fatoohul Ghaib, p. 43)
    20. KHATAM-ATUL- FUQAHAA (seal of jurists) used for Al Shaikh Najeet. (Akhbaar Siraatal Mustaqeem Yaafaa, 27 Rajab, 1354 A.H.)
    21. KHATAM-AL-MUFASSIRE EN (seal of commentators or exegetes) for Shaikh Rasheed Raza. (Al Jaami’atul Islamia, 9 Jamadiy thaani, 1354 A.H.)
    22. KHATAM-ATUL- FUQAHAA used for Shaikh Abdul Haque. (Tafseerul Akleel, title page)
    23. KHATAM-ATUL- MUHAQQIQEEN (seal of researchers) for Al Shaikh Muhammad Najeet. (Al Islam Asr Shi’baan, 1354 A.H.)
    24. KHATAM-AL-WALAAYAT (seal of sainthood) for best saint. (Muqaddimah Ibne Khuldoon, p. 271)
    25. KHATAM-AL-MUHADDITH EEN WAL MUFASSIREEN (seal of narrators and commentators) used for Shah ‘Abdul ‘Azeez. (Hadiyyatul Shi’ah, p. 4)
    26. KHATAM-AL-MAKHLOOQA AT AL-JISMAANIYYAH (seal of bodily creatures) used for the human being. (Tafseer Kabeer, vol. 2, p. 22, published in Egypt)
    27. KHATAM-ATUL- HUFFAAZ used for Shaikh Muhammad Abdullah. (Al Rasaail Naadirah, p. 30)
    28. KHATAM-ATUL- MUHAQQIQEEN used for Allaama Sa’duddeen Taftaazaani. (Shara’ Hadeethul Arba’een, p. 1)
    29. KHATAM-ATUL- HUFFAAZ used for Ibn Hajrul ‘Asqalaani. (Tabqaatul Madlaseen, title page)
    30. KHATAM-AL-MUFASSIRE EN (seal of commentators) used for Maulvi Muhammad Qaasim. (Israare Quraani, title page)
    31. KHATAM-AL-MUHADDITH EEN (seal of narrators) used for Imam Siyotee. (Hadiyyatul Shee’ah, p. 210)
    32. KHATAM-AL-HUKKAAM (seal of rulers) used for kings. (Hujjatul Islam, p. 35)
    33. KHATAM-AL-KAAMILEEN (seal of the perfect) used for the Holy Prophet (pbuh). (Hujjatul Islam, p. 35)
    34. KHATAM-AL-MARAATAB (seal of statuses) for status of humanity. (‘Ilmul Kitaab, p. 140) We have the “highest, not “last” status.
    35. KHATAM-AL-KAMAALAAT (seal of miracles) for the Holy Prophet (pbuh). (ibid, p. 140)
    36. KHATAM-AL-ASFIYAA AL A’IMMAH (seal of mystics of the nation) for Jesus (peace be on him). (Baqiyyatul Mutaqaddimeen, p. 184)
    37. KHATAM-AL-AUSIYAA (seal of advisers) for Hazrat Ali (R.A.A.). (Minar Al Hudaa, p. 106)
    38. KHATAM-AL-MU’ ALLIMEEN (seal of teachers/scholars) used for the Holy Prophet(pbuh) . (Alsiraatul Sawee by Allama Muhammad Sabtain Now, I am a teacher myself, and you know that I still exist, AFTER the Holy Prophet (pbuh), but I am nowhere close to being able to teach as PERFECTLY as he could or did. How then could he be “last” of teacher Seal means “best” here and not “last”.
    39. KHATAM-AL-MUHADDITH EEN (seal of narrators) for Al Shaikhul Sadooq. (Kitaab Man Laa Yahdarahul Faqeeh)
    40. KHATAM-AL-MUHADDITH EEN used for Maulvi Anwar Shah of Kashmir. (Kitaab Raeesul Ahrar, p. 99)

Tentunya akan ada yang bertanya, “Koq ngga ada satupun contoh dari si GHULAM AHMAD yang juga menyatakan Khatam itu BUKAN berarti Penutup?

Ya tentu saja tidak ada..karena ini adalah contoh-contoh kata “KHATAM” yang TIDAK MENDUKUNG bahwa KHATAM harus berarti PENUTUP!..artinya adalah Arti Khatam bukan cuma 1 (satu) saja, Bukan?!

Trus bagaimana PENDAPAT GHULAM AHMAD, apakah Muhammad itu Nabi penutup/tidak?

Salah satu pandangan bahwa MGA mengaku nabi, saya ambil dari tulisan Qosim Nursheha Dzulhadi ketika menanggapi Saiful Munjani di 12 hari kemudian, dengan tulisan seperti di bawah ini:

    Mereka (Ahmadiyah) mengaku-ngaku sebagai “Muslim”, tapi keyakinannya menyimpang jauh dari ajaran Islam, khususnya dalam masalah “kenabian” (al-nubuwwah). Di mana pada tahun 1902, Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) mengklaim dirinya sebagai nabi, dalam satu tulisannya, Tuhafat al-Nadwah, yang ditujukan kepada anggota komunitas Ulama di Lucknow, India.

    Selain dalam Tuhfat al-Nadwah, Mirza Ghulam Ahmad juga mengklaim dirinya disebut sebagai seorang “nabi” oleh Allah. Dia menyatakan, “Allah menyebutku sebagai seorang ‘nabi’ di bawah sinaran kenabian Muhammad (fayadh al-nubuwwah al-Muhammadiyyah). Dan Allah memberikan wahyu kepadaku. Maka, kenabianku adalah kenabiannya.” (Lihat, Mirza Ghulam Ahmad, al-Istitfta’ (Rabwah-Pakistan: Mathba’ah al-Nashrat, 1378 H), hlm. 16-17).

SEMENTARA ITU,
Ada record bahwa MGA tidak mengaku sebagai nabi, setidaknya 1 tahun sebelum wafatnya beliau di tahun 1907:

    “Suatu kebodohan yang lainnya adalah bahwa, untuk menghasut orang-orang yang bodoh mereka menyatakan bahwa saya mendakwakan diri sebagai Nabi. Ini adalah rekayasa yang sempurna dari pihak mereka.” (Haqiqatul-Wahy,1907,halaman390).

    Dengan menyatakan ‘Tidak ada nabi sesudahku ‘, Nabi Suci menutup pintu secara mutlak kepada sebarang nabi baru atau datang kembalinya sebarang nabi lama. (Ayyam as-Sulh, hal. 152, Ruhani Khaza’in, jilid 14, bal. 400).

    “Salah satu keberatan dari mereka yang mengatakan saya kafir adalah mereka berkata: Orang ini menyatakan diri kepada kenabian dan berkata saya adalah salah satu dari nabi-nabi.”

    “Jawabannya adalah bahwa kalian harus tahu, wahai, saudara, bahwa saya tidak mendakwakan diri kepada kenabian, ataupun saya telah berkata kepada mereka bahwa saya adalah seorang nabi. Tetapi mereka gegabah (terburu-buru) dan membuat suatu kesalahan dalam memahami kata-kata saya. … Itu tidak pantas bagi saya bahwa saya akan menyatakan diri kepada kenabian dan meninggalkan Islam dan menjadi seorang yang tak beriman… Bagaimana saya dapat menyatakan diri kepada kenabian sedangkan saya seorang Muslim?” (Hamamat al-Bushra, hal. 79, Ruhani Khaza’in, jilid 7, hal. 296-297).

    “Biarlah menjadi Jelas bagi mereka bahwa saya mengutuk orang yang mendakwakan diri kepada kenabian. Saya pegang bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan-Nya, dan saya percaya pada selesainya (berakhirnya) kenabian pada Nabi Suci. Jadi, karena tidak ada pendakwaan kenabian dari pihak saya, hanya pada wali dan mujaddid…” (Majmu’a Ishtiharat, edisi lama, Jilid iii, hal. 224. edisi 1986, jilid 2, hal. 297-298).

    “Kujelaskan kepadanya [seorang penentang Maulvi] bahwa aku juga mengutuk orang yang mengaku sebagai nabi… yang diterima oleh para wali di bawah bayangan kenabian Nabi Suci Muhammad, karena ketaatan mereka yang sempurna kepadanya adalah wahy wilayat, bukan wahy nubuwwat. Terhadap inilah kami percaya…. Jadi, aku tidaklah mengaku sebagai nabi. Pengakuanku hanyalah atas wilayat [kewalian] dan kemujaddidiyya [sebagai seorang Mujaddid].” (Majmu’a Ishtiharat, vol. ii, hal. 297-298, Januari 1897).

    [Untuk lebih lanjutnya silakan baca di sini dan di sini]

Tentang apakah MUBHALA pernah dilakukan/tidak dengan TSANAULAH?

Silakan baca catatan saya di sini dan anda akan temukan jawabannya bahwa ternyata mubahala tersebut TIDAK PERNAH dilakukan dan bahkan di tulisan itu anda juga akan temukan bukti telak bahwa bahkan para ULAMA yang menuduh Ghulam Ahmad Kafirpun selama 12 tahun lebih hingga wafatnya Ghulam Ahmad, TIDAK PERNAH BERNYALI untuk mempertanggungjawabkan TUDUHAN KAFIR itu dihadapan ALLAH mereka sendiri dengan BERMUBAHALA

Tentang Klaim bahwa Tsanaullah yang bahkan hidup lama

Lha emang dia sendiri mengatakan PENDUSTA akan hidup lama ketika ia bersikeras menolak untuk melakukan MUHABALLA. Tsanaullah mengambil contoh MUSAILLAMAH vs MUHAMMAD. Di link catatan saya di atas, terdapat recordnya yaitu pada tanggal 26 April 1907, Ahli Hadis hal.5-6, TSANAULLAH menulis:

    “Tuan tidak minta izin terlebih dahulu kepada saya untuk menuliskan doa itu. Oleh sebab itu saya tidak mau menerima doa itu. Saya melawan tuan. Tetapi kalau saya mati apa faedahnya untuk orang lain? Rasul yang datang dari Allah senantiasa mau supaya orang lain jangan binasa. Apa sebab tuan mendoa untuk membinasakan saya? Allah SWT akan memberi umur panjang kepada orang dusta. Orang yang mufsid dan orang penipu dan orang yang melawan hukum Allah, supaya ia leluasa untuk berbuat jahat. Oleh sebab itu saya tidak mau menerima tulisan tuan itu, dan tidak bisa diterima oleh seorang yang berakal”

Tentang Tazkirah benarkah ini merupakan KITAB SUCI para AHMADIYA?

Di zaman Ghulam Ahmad masih hidup, beliau menulis catatan-catatan tentang kasyaf, ilham, wahyu dan mimpi-mimpi yang beliau akui berasal dari Allah Ta’ala dan di catat dibanyak buku, selebaran atau majalah-majalah.

27 tahun setelah wafatnya Ghulam Ahmad (jadi Ghulam Ahmad sendiri tidak mengetahui hal ini), yaitu di tahun 1935, catatan-catatan itu dikumpulkan, dihimpun, dan diberi nama ‘Tadzkirah’. Sebelum tahun 1935, Saat Ahmadiyah telah berdiri di dunia selama 46 tahun, kumpulan catatan itu belumlah mempunyai nama. Baru sejak di cetak untuk pertama kalinya di tahun 1953, nama Tadzkirah ada.

Karena itu, mengatakan bahwa Tadzkirah adalah kitab sucinya Ahmadiyah adalah perkataan yang sangat janggal dan hujatan palsu yang sangat keji [selanjutnya lihat di sini]

Tentang Syahadat, Shalat dan Adzan dari kaum Ahmadiyah, apakah berbeda?

Karena Ahmadiyah adalah Islam, maka kalimah Syahadat yang dikumandangkan setiap hari dari mesjid-mesjid Ahmadiyah di 189 negara ketika adzan untuk shalat lima waktu, adalah:

Asyhadu allailaaha illallahu Wa asyahadu anna muhamadarrasulullah”.

Demikian juga ketika seseorang baiat ke dalam ahmadiyah,maka ia wajib membaca dua kalimah syahadat tersebut. Dan kalimah syahadat itu adalah harga mati untuk seorang ahmadi muslim yang sejati. Berkenaan dengan Kalimah Syahadat ini, Pendiri Ahmadiyah HMGA a.s. menulis :

    “Inti dari kepercayaan kami adalah: Laa Ilaaha Illallahu, Muhammadur-Rasulullahu (Tak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah). Kepercayaan kami inilah yang menjadi pergantungan dalam hidup ini, dan yang padanya dengan rahmat dan karunia Allah, kami berpegang teguh sampai akhir hayat kami. (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Izalah Auham, 1891: 137)

[terusannya lihat di sini ]

Bagaimana para Ahmadiyah melakukan Shalat 5 (lima) waktunya?
Silakan lihat di sini dan di sini.

Bagaimana bunyi Adzan dan waktu mereka shalat>
Silakan lihat di sini

Jadi, dilihat dari cara ber-SYAHADAT, SHALAT dan AZAN..ternyata SAMA AJA TUH!

Menurut RUKUN IMAN,
Maka kalangan ahmadiyah ternyata kompatible dengan aliran islam manapun :

  1. Beriman kepada ALLAH SWT
  2. Beriman kepada Malaikat-malaikat
  3. Beriman kepada Kitab-kitab [Al Quran]
  4. Beriman kepada Rasul-rasul [Isa, Muhammad SAW sebagai nabi terakhir yang membawa syariah]
  5. Beriman kepada Hari Kiamat
  6. Beriman kepada Qada dan Qadar

    Allah mengetahui apa-apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi; menentukan dan menulisnya dalam lauhul mahfudz; dan bahwasanya segala sesuatu yang terjadi, baik maupun buruk, kafir, iman, ta’at, ma’shiyat, itu telah dikehendaki, ditentukan dan diciptakan-Nya ; dan bahwasanya Allah itu mencintai keta’atan dan membenci kemashiyatan, dengan murujuk kalimat ALLAH:

      “Dan kamu tidak bisa berkemauan seperti itu kecuali apabila Allah menghendakinya”.(At-Takwir : 81:29)

    Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika turun ayat S.81:28, Abu Jahal berkata: “Kalau demikian, kitalah yang menentukan apakah mau lurus atau tidak.” Maka Allah menurunkan ayat berikutnya (S.81:29) membantah anggapan itu, dan menegaskan bahwa Allah yang menentukannya. [Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sulaiman bin Musa. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim dari Baqiyah bin ‘Amr bin Muhammad dari Zaid bin Aslam yang bersumber dari Abi Hurairah. Diriwayatkan pula oleh Ibnul Mundzir dari Sulaiman bin al-Qasim bin Mukhaimarah.]

KESIMPULANNYA
Kompatibiltas Ahmadiyah dari sisi TUHAN, NABI, KITAB, SHALAT, SYAHADAT, AZAN adalah KONGRUEN 100%

…kaum AHMADIYAH tidak bisa dinyatakan BUKAN ISLAM

Dengan kondisi ini siapapun yang benar2 MENCARI KEBENARAN, tidak pernah boleh MENGKAFIRKAN sekelompok orang yang memenuhi rukun iman tsb.

PENUTUP
Sudah saatnya Penyelesaian persoalan Ahmadiyah dilakukan dengan MUBAHALA NASIONAL:

    ULAMA Pelarang AHMADIYAH (+FPI, Ormas Islam lainnya) VS ULAMA AHMADIYA

Sehingga biarkan saja para PENTOLAN itu yang saling BERSUMPAH untuk di azab bagi yang dinyatakan keliru oleh Allah mereka sendiri..Sehingga azab dahsyat Allah tersebut dapat turun TEPAT SASARAN tanpa nyasar kemana-mana terutama pada yang tidak bersalah.

    Definisi Mubahala:
    Mubahalah adalah do’a dengan laknat atas yang berdusta di antara dua pihak (Fatwa: Asy-Syabakah Al-Islamiyah juz 8 halaman 85) atau

    Repulika: perang tanding melalui doa dengan membawa anak dan keluarga masing2 dengan tujuan memohon pertolongan Allah SWT agar orang yang berdusta dikutuk Tuhan dalam kehidupannya termasuk keluarganya di dunia dan akhirat.


Karena Mubahala maka Mirza Ghulam Ahmad wafat? Di atas Kotorannya Sendiri?..masa seeh?!


Terdapat banyak sekali hal-hal yang tidak benar yang selalu di sirkulasikan secara berulang sebagai bahan cuci otak untuk para bloon hingga mereka siap bersimaharajalela dimanapun yang diperintahkan untuk melakukan pengerusakan harta benda, penganiayaan bahkan pembunuhan biadab seperti yang dilakukan di Cikeusik baru lalu ini.

[Peringatan:
Video peristiwa CIKEUSIK di bawah ini, BENAR-BENAR sangat mengerikan, jika anda TIDAK berusia 18 tahun + dan tidak menyukai ketegangan, disarankan UNTUK TIDAK MEMUTARNYA]

Untuk alasan itulah maka catatan ini ada.

Orang-orang yang memerintahkan ini memang mengakui secara terbuka untuk melakukan kekerasan dan bahkan membunuh sekalipun terhadap warga ahmadiyaa. Mereka yang melakukan semua kekerasan ini beragama Islam dan meneriakan “AllahuAkbar! AllahuAkbar! Allahuakbar!” dalam melakukan aksinya.

Video kotbah di bawah ini merupakan sample kotbah yang inspiratif yang benar-benar dapat membakar semangat mereka yang percaya

[Peringatan:
Video kotbah di bawah ini, BENAR-BENAR sangat mengerikan, jika anda TIDAK berusia 18 tahun + dan tidak menyukai ketegangan, disarankan UNTUK TIDAK MEMUTARNYA]


http://www.youtube-nocookie.com/v/U7RLCXNdKF4?fs=1&hl=en_US


Walaupun keBIADABan itu telah terekam dengan baik di video di atas, namun tetap akan banyak yang melakukan pengingkaran. Alasan paling favorit yang digunakan diantaranya bahwa ini dalah oknum dan/atau BUKAN Muslim/islam dan juga karena Ahmadiya adalah aliran sesat ISLAM  dan/atau BUKAN Islam

Benarkah mereka bukan ISLAM dan SESAT? Untuk tahu benar/tidaknya, lihat di sini.

…dan Mereka yang seharusnya membela dan/atau melindungi yang lemah teraniayapun, turut berpaling muka…dan ini baru satu dari sekian kejadian, masih akan terjadi lagi, lagi dan lagi…tidak akan pernah berakhir…

Para pengelola Pemerintahan negeri ini juga telah menikmati uang yang dibayarkan oleh para wajib pajak warga Ahmadiya. Uangnya mereka nikmati namun kewajiban untuk melindungi dan menegakan konstitusi negara mereka lalaikan sehingga makin memperpanjang daftar penganiayaan yang terjadi pada warga Ahmadiya.

Negara Republik Indonesia, hampir dipastikan segera akan menjuarainya.

Kemudian,
yang juga paling membuat saya muak adalah sirkulasi fitnah keji terhadap Mirza Ghulam Ahmad bahwa akibat peristiwa Mubahala, maka Ia wafat dalam keadaan dilumuri kotoran, seperti kutipan di bawah ini:

    HM Ghulam Ahmad akhirnya mengeluarkan pernyataan pada tanggal 15 April 1907 yang ditujukan kepada Asy-Syaikh Tsana’ullah. Di antara bunyinya:

    “…Engkau selalu menyebutku di majalahmu (‘Ahlu Hadits’) ini sebagai orang terlaknat, pendusta, pembohong, perusak… Maka aku banyak tersakiti olehmu… Maka aku berdoa, jika aku memang pendusta dan pembohong sebagaimana engkau sebutkan tentang aku di majalahmu, maka aku akan binasa di masa hidupmu. Karena aku tahu bahwa umur pendusta dan perusak itu tidak akan panjang… Tapi bila aku bukan pendusta dan pembohong bahkan aku mendapat kemuliaan dalam bentuk bercakap dengan Allah, serta aku adalah Al-Masih yang dijanjikan maka aku berdoa agar kamu tidak selamat dari akibat orang-orang pendusta sesuai dengan sunnatullah.

    Aku umumkan bahwa jika engkau tidak mati semasa aku hidup dengan hukuman Allah yang tidak terjadi kecuali benar-benar dari Allah seperti mati dengan sakit tha’un, atau kolera berarti AKU BUKAN RASUL DARI ALLAH…

    Aku berdoa kepada Allah, wahai penolongku Yang Maha Melihat, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Berilmu, Yang mengetahui rahasia qalbu, bila aku ini adalah pendusta dan perusak dalam pandangan-Mu dan aku berdusta atas diri-Mu malam dan siang hari, ya Allah, maka matikan aku di masa hidup Ustadz Tsana`ullah. Bahagiakan jamaahnya dengan kematianku –Amin–.

    Wahai Allah, jika aku benar dan Tsana`ullah di atas kesalahan serta berdusta dalam tuduhannya terhadapku, maka matikan dia di masa hidupku dengan penyakit-penyakit yang membinasakan seperti tha’un dan kolera atau penyakit-penyakit selainnya….

    Akhirnya, aku berharap dari Ustadz Tsana`ullah untuk menyebarkan pernyataan ini di majalahnya. Kemudian berilah catatan kaki sekehendaknya. Keputusannya sekarang di tangan Allah.

    Penulis, hamba Allah Ash-Shamad, Ghulam Ahmad, Al-Masih Al-Mau’ud. Semoga Allah memberinya afiat dan bantuan. (Tabligh Risalat juz 10 hal. 120)

    Kemudian pada akhir artikel ditambah dengan bumbu, “Begitulah bunyi doa Mirza Ghulam Ahmad. Sebuah doa mubahalah. Dan benarlah, doa yang ia tulis dalam suratnya tersebut dikabulkan oleh Allah SWT, tepatnya, 13 bulan 10 hari sejak doanya itu, yaitu pada tanggal 26 bulan Mei 1908M. Mirza Ghulam Ahmad ini dibinasakan oleh Allah SWT dengan penyakit kolera yang dia harapkan menimpa Syekh Tsanaullah” [hal. 42]

[Isi Keseluruhan kutipan artikel di atas silakan lihat di sini atau di “Matinya Mirza Ghulam Ahmad” dalam rubrik Cakrawala Majalah Keluarga Islam NIKAH Vol. 7 No. 3 Juni-Juli 2008]

Benarkah demikian yang terjadi?

Mubahalah adalah do’a dengan laknat atas yang berdusta di antara dua pihak (Fatwa: Asy-Syabakah Al-Islamiyah juz 8 halaman 85) atau Repulika: perang tanding melalui doa dengan membawa anak dan keluarga masing-masing dengan tujuan memohon pertolongan Allah SWT agar orang yang berdusta dikutuk Tuhan dalam kehidupannya termasuk keluarganya di dunia dan akhirat.

Berkenaan peristiwa Mubahalah tersebut, saya sampaikan dua kisah tentang ini sebagai pembanding:

  • Mubahalah HM Ghulam Ahmad vs Syekh Maulwi Tsanaullah dan
  • Mubahalah Muhammad SAW vs Pendeta Kristen dari Najran

MUBAHALAH MIRZA VS TSANA’ULLAH
Proses Mubahalah antara HM Ghulam Ahmad dengan Syekh Maulwi Tsanaullah tidaklah dimulai pada tahun 1907, berikut di bawah ini adalah kronologisnya:

  • Pada tahun 1890, ketika HM Ghulam Ahmad [56 tahun] mendakwakan diri sebagai “Masih Yang Dijanjikan”, para ulama membuat fatwa bahwa Ia kafir. Beberapa lawannya bahkan menantang untuk mengadakan Mubahalah (Izaala Auhaam, hal. 637-638)
  • Pada tahun 1893, HM Gulam Ahmad [59 tahun] kepada lawan-lawannya meminta dengan sangat (mendesak) agar berhenti menyatakan Ia kafir dan bila Mubahalah memang merupakan cara satu-satunya untuk menyelesaikan masalah, maka Ia siap
  • Pada tahun l896, HM Gulam Ahmad [62 tahun] menginventarisir sejumlah ulama penentang kerasnya di bukunya (Anjaami Atham) dan Syekh Maulwi Tsanaullah [29 tahun, kelahiran Amritsar, Punjab, India] berada pada urutan ke-11.
  • Pada tahun 1897, Syekh Maulwi Sanaaullah menjauhkan diri [Anjaami Atham, hal. 65-66]. Mereka yang ditantang bermubahalah malah diam tak menjawab, tetapi beberapa tahun kemudian karena desakan kawan-kawannya, Syekh Maulwi Tsanaullah berani menyambut tantangan mubahalah itu
  • Pada tahun 1902, di Ijaazi Ahmadi, hal. 12 & 15, HM Ghulam memberikan format Mubahalah dan Syekh Maulwi Tsanaullah tetap diam
  • Pada tanggal 17 Maret 1907, HM Ghulam Ahmad sekali lagi mengingatkannya dalam surat kabar Al-Hakm tentang Mubahalah tersebut
  • Pada tanggal 29 Maret 1907, Syekh Maulwi Tsanaullah, menjawab di surat kabar Ahli Hadis:
  • “Datanglah di tempat mana yang kamu inginkan dan bersumpah dengan kami”
    “Mirzaais! Bila kamu benar, maka datanglah dan bawa serta kelompokmu bersama denganmu”
    “Dengan dasar yang sama di Amritsar (tempat tinggal Maulwi Sanaaullah), telah siap Sufi Abdul Ghaznawi untuk Mubahalah sekalian”
    “Bawa serta mereka ke kami, yang dalam Anjaami Atham telah engkau undang pula untuk Mubahalah”

  • Pada tanggal 4 April 1907, HM Ghulam Ahmad menjawabnya di surat kabar Badr:
  • “Tantangan Maulwi untuk melakukan Mubahalah telah diterima”

  • Pada tanggal 12 April 1907, di surat kabar Ahli Hadis, Syekh Maulwi Tsanaullah malah menjawab sebagai berikut:
  • “Saya akan datang untuk bersumpah, tapi kamu menyebutnya sebagai Mubahalah, meskipun Mubahalah adalah jika dua kelompok bersumpah satu terhadap yang lain”
    “Saya berkata saya akan bersumpah, saya tidak pernah berkata Mubahalah. Bersumpah adalah satu hal, Mubahalah adalah hal lain”

    [Catatan: Pernyataan tanggal 12 April 1907 ini, Syekh Maulwi Tsanaullah hanya mengakui untuk bersumpah, berbeda dengan pernyataannya tanggal 29 Maret 1907].

    Konon, HM Ghulam Ahmad setelah membaca surat kabar tanggal 13 April tersebut, pada waktu malam harinya memohon petunjuk Allah SWT. Pada tanggal 14 April beliau menerima jawaban (dari Allah SWT): “Saya akan menjawab panggilan dari seorang pemohon” yang mengindikasikan Allah telah memberi ijin untuk meneruskan Mubahalah.

  • Pada tanggal 15 April 1907, sebagai upaya terakhir untuk meyakinkan Syekh Maulwi Tsanaullah tentang pendakwaannya, HM Ghulam Ahmad melakukan do’a/salat dari pihak sendiri, sambil mengundang pihak Syekh Maulwi Tsanaullah untuk melakukan do’a/salat di pihaknya dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.

    [Sejak tahun 1902, dalam Ijaazi Ahmadi, HM Ghulam Ahmad menulis sebagai berikut, “Marilah kita berdua berdo’a/salat/ memohon bahwa pembohong akan mati dalam waktu selagi yang benar masih hidup” dan di hal. 37, Ia secara jelas menyatakan, “Bila dia menerima tantangan ini yaitu bahwa pembohong akan mati di hadapan yang benar, maka pastilah dia akan mati lebih dulu”]

    Dengan situasi ini, Syekh Maulwi Tsanaullah lalu mengundurkan diri.

  • Pada tanggal 19 April 1907, Di Ahli Hadits hal. 4, Syekh Maulwi Tsanaullah menulis:

    “Saya tidak pernah mengajak tuan untuk mubahalah. Saya cuma mengatakan mau bersumpah, tetapi tuan anggap perkataan saya itu sebagai ajakan untuk mubahalah. Padahal dalam mubahalah mesti bersumpah kedua belah pihaknya. Saya mau bersumpah, bukan mubahalah; sumpah lain dengan mubahalah”

  • Pada tanggal 24 April 1907, di Ahli Hadis, Syekh Maulwi Tsanaullah menyatakan:
    • Pertama: “Saya tidak pernah setuju berdo’a/salat yang seperti itu dan tanpa persetujuan (ijin, sepengetahuan) saya mengenai berdoa/salat ini, diterbitkan”.
    • Kedua: “Hal ini tidak diterbitkan dengan cara ilham, tapi lebih baik dikatakan bahwa ini bukanlah suatu ramalan dan ilham, tapi itu hanyalah suatu do’a/salat”
    • Ketiga: “Keluhanku pada anda (HM Ghulam Ahmad) bila saya mati, bukti (atau fakta) apa yang dapat diambil bagi orang-orang lain?”
    • Keempat: “Anda sangat cerdik, (untuk berdo’a agar mati karena wabah pes) setelah melihat bahwa sekarang ini wabah sedang menghebat di Punjab. Dan di Punjab, terutama di ibu kota Lahore yang sangat dekat dengan Amritsar (dimana Syekh Maulwi Tsanaullah tinggal)”.
    • Kelima: “Permohonan anda samasekali tidak menyelesaikan masalah, karena seorang muslim mati karena wabah, menurut hadis, dianggap sebagai mati syahid. Jadi, bagaimana permohonan dapat menunjukkan seseorang yang mati karena wabah pes sebagai pembohong?”
    • Keenam: “Anda juga cerdik, pada permulaan anda mohon kematian karena wabah pes atau kholera; tapi kemudian anda juga mengatakan malapetaka yang lain yang menyebabkan kematian”.
    • Syekh Maulwi Tsanaullah menyimpulkan:

      “Ringkasnya menurut permintaan anda, saya siap sedia mengambil sumpah bila anda mau memperlihatkan kepadaku hasil dari sumpah ini. dan tulisan ini (yaitu soal permohonan/do’a/salat) dari anda, SAYA MAUPUN SEBARANG ORANG LAIN YANG BIJAKSANA (BERAKAL) TIDAK AKAN MAU MENERIMANYA

    Jawaban Syekh Maulwi Tsanaullah pada tanggal 24 April 1907 jelas menunjukan bahwa Ia sendiri MENOLAK atau MENGINGKARI kesediaannya untuk melakukan Mubahalah dengan HM Ghulam Ahmad atau SANGAT TERLIHAT JELAS bahwa Syekh Maulwi Sanaaullah yang tadinya mau melakukan Mubahalah tapi akhirnya mundur, tidak mau berMubahalah.

  • Pada tanggal 25 April 1907, dalam konteks ini, HM Ghulam Ahmad mengumumkan bahwa “Permohonanku telah diterima”. Syekh Maulwi Sanaaullah telah terbukti sebagai pembohong. Karena:
    • Pada tanggal 29 maret 1907, sebagaimana dirujuk sebelumnya, Syekh Maulwi Sanaaullah menulis:
    • “bersumpah dengan kami”
      “bawa serta kelompokmu bersama denganmu”
      “Bawa mereka kepada kami (nama-nama) mereka yang diundang di Anjaami Atham untuk Mubahalah”.

    • Pada tanggal 12 April 1907, Syekh Maulwi Sanaaullah berkata:
    • “Saya tidak pernah mengatakan Mubahalah”
      “Mubahalah adalah bila dua kelompok bersumpah satu terhadap yang lain”.

    Jelas sekali Terlihat bahwa Syekh Maulwi Sanaaullah memaksudkan Mubahalah ketika dia menulis “bawa serta kelompokmu bersama denganmu” juga “Bawa mereka kepada kami (nama-nama) mereka yang diundang di Anjaami Atham untuk melakukan Mubahalah”

  • Pada tanggal 26 April 1907, Syekh Maulwi Sanaaullah,di Ahli Hadis hal.5-6, menyatakan:

    “Tuan tidak minta izin terlebih dahulu kepada saya untuk menuliskan doa itu. Oleh sebab itu saya tidak mau menerima doa itu. Saya melawan tuan. Tetapi kalau saya mati apa faedahnya untuk orang lain? Rasul yang datang dari Allah senantiasa mau supaya orang lain jangan binasa. Apa sebab tuan mendoa untuk membinasakan saya? Allah SWT akan memberi umur panjang kepada orang dusta. Orang yang mufsid dan orang penipu dan orang yang melawan hukum Allah, supaya ia leluasa untuk berbuat jahat. Oleh sebab itu saya tidak mau menerima tulisan tuan itu, dan tidak bisa diterima oleh seorang yang berakal”

  • Pada tanggal 25 May 1908, Di usia ke-73, HM Ghulam Ahmad, yaitu masih dalam keadaan memegang bolpoinnya, ketika baru saja menyelesaikan baris-baris terakhir pesannya yang kemudian dikenal dengan “Message of Peace”, yaitu garis besar dasar perdamaian abadi antara Hindu dan Muslims, tiba-tiba pada jam 10 malam, Ia terserang diarrhoea dan ke esokan harinya pada jam 10 pagi, tanggal 26 May 1908 Ia Wafat. Berdasarkan sertifikat kematian dari Civil Surgeon of Lahore, HM Ghulam Ahmad, dinyatakan wafat BUKAN karena wabah penyakit menular sehingga Jenazahnya diizinkan dibawa dengan kereta api menuju Qadian untuk di makamkan pada tanggal 27 May 1908

Dalam perkembangan selanjutnya, mereka yang anti Ahmadiyah lalu tidak memunculkan lagi [baca: menghapus] semua jawaban Syekh Maulwi Sanaaullah tanggal 19, 24 dan 26 April 1907 [Terutama tanggal 24 April], sehingga seolah-olah Mubahalah tetap terlaksana, padahal tidak ada Mubahalah samasekali, lalu secara semena-mena mengatakan:

“Setelah melakukan Mubahalah, setahun kemudian (pada tahun 1908) HM Ghulam Ahmad meninggal”

Sungguh suatu rekayasa pembohongan yang hebat dari pihak yang anti Ahmadiyah.

Ahmadiyah dapat mengerti bila ada orang-orang yang membaca riwayat masalah Mubahalah tersebut tanpa tulisan-tulisan yang dicetak huruf tebal (karena sudah dihapus), sehingga lalu memandang HM Ghulam Ahmad sebagai pembohong. Tetapi Ahmadiyah tidak dapat mengerti orang yang menghapus tulisan yang dicetak dengan huruf tebal tersebut untuk menipu para pembacanya.

Jelas orang itu orang yang suka memfitnah, bukan orang yang jujur.

Note:
Dibeberapa puluh tahun kemudian, Mubahala juga ditantangkan oleh Khalifah Ahmadiya ke-4, Tahir Ahmad kepada presiden Zia Ul Haq [Pakistan]. Ini juga merupakan bukti bahwa wafatnya Ghulam Ahmad tidak ada hubungannya dengan Mubahala, untuk jelasnya peristiwa tantangan Mubahala dari Tahir Ahmad kepada Zia Ul Haq, silakan baca di “A Man Of God“, bab 21, diterjemahkan oleh Abdul Qayum Khalid dan juga “Al Ahmadiyyah, Aqa’id wa Ahdats“, karangan Hasan Bin Mahmud Audah, seorang yang murtad dari Ahmadiyah, pernah ditugaskan sebagai staff dep. Arabic Desk urusan Palestina [orang tua dan kakeknya warga Ahmadiyah yang berasal dari Palestina dan kemudian tinggal di Swedia] di buku inipun, ia tidak menyebutkan Ghulam Ahmad wafat akibat Mubahala dan juga tidak menyebutkan beliau menderita sakit berminggu2 karena diarrhoea sebelum wafatnya [berdasarkan klaim sepihak dari Hartono Ahmad Jaiz, ustad yang kerap mengkafirkan banyak orang diantaranya Gusdur, Caknun bahwa Hasan bin Mahmud Audah menyatakan demikian]

[Sumber: Ahmadiyah.org yang diambil sebagian besar dari buku ‘Tayo Lies’ oleh Maulana M.K. Hydal, juga dari situs ini, wikipedia, The Founder of the Ahmadiyya Movement, by Maulana Muhammad Ali., Ch 7, Hari terakhir dan “Prophecies of Hadhrat Ahmad: A Critical Study”, oleh Naeem Osman Memon., Bab 3, Hal 24-30]

Untuk versi lainnya, silahkan klik untuk membuka dan bandingkan antara isapan jempol wafatnya Mirza ghulam vs “The death of his Holiness, on whom be peace”

“He always had complaints of diarrhea. This disease worsened on his arrival in Lahore, and since there were hordes of people who were ever present to meet with him, he did not have a chance to rest and recuperate. He was in this state when he received this revelation “Arabic: arraheelo summa arraheelo” that is ‘the time for departure has arrived, again the time for departure has arrived’. This revelation worried many who were present there, but right then they received news from Qadian of the demise of an affectionate friend, and people thought that this revelation was with regards to this person and thus felt relieved, but when he (The Promised Messiah a.s) was asked, he said that this revelation concerned someone very important to the community, and was not regarding the person who had died.

The revelation caused anxiety to mother, who one day suggested that we go back to Qadian, but he replied ‘going back to Qadian is not within our means anymore. Only if God takes us could we go.’ But despite this revelation and his ailment, he continued to work, and even in this state of bad health he proposed to deliver a lecture to promote peace and harmony between the Hindus and the Muslims, and had even started writing the lecture, and gave it the name “Paigham e Sulah” (The Message of Peace). This worsened his condition and made him weaker and his diarrhea became even worse. One the night preceding the day this lecture was completed he received another revelation

that is, ‘do not trust the mortal age’. He told everyone in the house about this revelation right then and said that it was regarding his own self. The lecture finished that day and it was handed out to be printed. At night he passed loose excrements and was gripped with extreme weakness. Mother was woken up. By the time she got up, his condition was extremely weak. Mother worrisomely asked what had happened to him? He replied “same thing that I used to tell you” (that is the ailment of death).

He passed another loose excrements and the weakness worsened. He asked for Maulvi Nooruddin sahib (Maulvi Nooruddin, as has been said above, was a reputable physician). Then he asked for Mahmood (the writer of these lines) and Mir sahib (his father in law) to be woken up. My bed was only a little distance from his, and when I woke up I saw him to be in a state of immense ailment. The doctors came and started medication but that didn’t improve his state. At last some medication was given via injection after which he went into sleep.

When it was morning, he woke up to say his prayers. His throat was so weak that when he tried to speak no words came out. At this he asked for pen but couldn’t write either and the pen fell from his hand. After this he lied down and in a little while he was overcome by unconsciousness and around 10:30 in the morning his soul appeared before that True Emperor for the sake of serving Whose religion he had spent his entire life. Innalillah e wa inna ilayhe rajioon (indeed we are from Allah and to Him is our return). All through his ailment, there was one word constantly on his lips, and that word was “Allah”.

The news of his demise spread throughout Lahore at lightening speed. Members of the community living at different places were telegraphed with this news, and on the same evening or the next morning the newspaper delivered the news of the death of this great person all over India. Whereas the grace with which he had dealt with his adversaries will always be remembered, that happiness cannot be forgotten which was celebrated by his opponents at his death. A mob of Lahorites gathered within half an hour around the house in which his blessed body was present, and showed its narrow-mindedness by singing songs of jubilation. Some had donned weird costumes to show off their wickedness.”

[Sumber: The death of his Holiness, on whom be peace]

Mubahallah Muhammad SAW VS Pendeta Nasrani dari Najran
Beberapa ayat di Al Imran turun sehubungan dengan peristiwa MUBAHALA antara Muhammad VS Delegasi Kristen dari Najran (Utara Yaman, Selatan Mekkah), yang terjadi di 24 Dhul hijja 9H/3 April 631M.

Sekelompok Nasrani Arab dari Najran [Utara Yaman, Saudi Arabia] bertemu dengan Nabi Muhammad dan mendebatkan mana diantara dua pihak yang keliru mengenai doktrin Yesus, ketuhanan dan lainnya. Dalam Mubahala ini, Muhammad membawa: Fatima (Anak perempuannya), Menantunya (Ali bin Abi Talib) dan cucunya (Hasan dan Hussein), yang ia katakan, “keluargaku” (Ahl al-Bayt) sambil menutupi mereka dengan Jubah

Terdapat 2 versi SIAPA yang menantang/ditantang untuk bermubahala dan berapa JUMLAH penantang:

  • 2 Orang datang untuk melaknat Muhammad: “Riwayat Abbas bin Husain – Yahya bin Adam – Israil – Abu Ishaq – Shilah bin Zufar – Hudzaifah: Seorang baginda dan budak dari Najran mendatangi Nabi SAW untuk melaknat beliau, Hudzaifah berkata; salah satu dari mereka berkata kepada temannya; ‘Jangan kamu lakukan, Demi Allah, Seandainya dia benar seorang nabi maka dia yang akan melaknat kita, hingga kita tidak akan pernah beruntung dan tidak punya keturunan lagi setelah kita. Kemudian keduanya berkata: wahai Rasulullah! Kami akan memberikan apa yang engkau minta kepada kami. Oleh karena itu utuslah orang kepercayaan engkau kepada kami. Dan jangan sekali-kali engkau mengutusnya kecuali memang orang itu sangat terpercaya…Maka nabi SAW bersabda: “Aku akan mengutus orang kepercayaan yang sebenar-benarnya..Berdirilah wahai Abu Ubaidah bin Jarrah!..Dialah orang kepercayaan umat ini. [Bukhari no.4029, 4030, 6713. Muslim no.4444. Ahmad no.3735, 22288, 22307. Ibn Majjah no.132]
  • Muhammad menantang bermubahala pada Delegasi kristen Najran (ibn Ishaq: 60 orang lebih yang datang).

Untuk yang 60 orang, terdapat 2 versi mengenai jadi/tidaknya bermubahala:

  • Versi 1: Tidak ada mubahala, terjadi perjanjian dan membayar jiyza. (Tafsir Ibn Kathir AQ 3:59-63), jika ini benar, maka mengapa Muhammad tetap mengirim Khalid bin Walid ke Najran untuk memberikan ultimatum bahwa dalam 3 hari mereka harus memutuskan: Masuk Islam atau bayar Jizya? Konteks lebih cocok pada peristiwa 2 orang saja.
  • Versi 2: JADI BERMUBAHALA. Imam Fakhruddin Razi dalam Tafsir-e-Kabir, Qur’an 3.60(61). vol.2, hal.73: “Ketika ayat ini diturunkan kepada Nabi suci, orang-orang Kristen Najran MENERIMA tantangan ‘Mubahala’ dan Nabi mengambil bersamanya Imam Husain, Imam Hasan, Janab-e-Fatima dan Hazrat Ali ke lapangan Mubahalah.” [Ali The Magnificent, Yousuf N. Lalljee, Ch 7: Mubahala. Atau di sini dan di sini). Statement ini sesuai dengan kepergian Khalid bin Walid ke Najran untuk memberikan Ultimatum.

Pada 3 atau 4 bulan setelah peristiwa Mubahala, Muhammad mengirimkan Khalid bin Walid ke Najran [Versi Kaitib Wakidi, Mu’ir: Rabiul Awal 10H/Jun 631M. versi Ibn Ishaq: Rabiul Akhir/Jumadil Awal 10H/Agustus 631M] dan di 1 tahun 3 bulan setelah peristiwa Muhabala, Muhammad wafat (Senin, 13 Rabiul Awal 11 H/8 Jun 632).

  • Konversi paksa pada kaum Najran di Utara Yaman oleh Khalid b. Walid

    Serangan ini berlangsung di hari-hari akhir Muhammad, ketika keadaan “kedamaian Islam” berjalan di Medina. Muhammad mengirim Khalid ke Najran, di Utara Yaman untuk menghadapai B. al-Harith b. Ka’b mengajak kaum Najran  (Nasrani, pagan dan mereka yang tidak punya ikatan perjanjian dengan Muhammad) untuk masuk Islam atau jika tidak diperangi para Muslim. Najran terkenal dengan komunitas kristen yang makmur. Di sana terdapat pula sejumlah kaum pagan yang hidup damai bersama saudara kristen mereka. Seluruh penduduk Najran berasal dari suku B. al-Harith. Ketik sampai di Najran, Khalid memberikan ultimatum, 3 hari pemberitahuan untuk masuk islam atau menghadapi kematian. Ia menyampaikan, “Hai Masyarakat, masuk islam dan engkau akan selamat” [Tabari, vol.ix, hal.82]

    Masyarakan Najran kini dipaksa untuk menerima Islam. Khalid tinggal bersama mereka mengajarkan mereka Alquran dan Sunnah dari Muhammad. Lalu Khalid menulis surat kepada Muhammad mengabarkan penerimaan Islam oleh B. al-Harith di bawah teror

    Muhammad menyukai kaum B. al-Harith menerima Islam dengan tekanan dan tanpa pertempuran. Ia menulis surat pada Khalid agar kembali ke Madinah dan membawa delegasi B. al-Harith. Ketika Khalid tiba bersama delegasi, Muhammad bertanya pada Khalid mengenai siapa orang-orang ini karena mereka mirip orang India. Ketika Khalid mengatakan pada Muhammad bahwa mereka adalah orang Arab Yaman, Muhammad mengingatkan mereka berulang-kali karena mengambil jalam perang pada kesempatan sebelumnya. Ia berkata, “Jika Khalid b. Al – Walid tidak menuliskan pada saya bahwa kalian telah menyerah tanpa melawan, akan saya gelindingkan kepala kalian di kaki kalian” [Tabari, vol.ix, p.84]

    kaum B. al-Harith merupakan keturunan para para budak dan tidak pernah berlaku tidak adil atau melawan secara curang. Namun Muhammad bersikeras bahwa mereka pernah melawan balik di jaman Jahiliyah. Akan hal ini mereka jawab, “Ya Rasulullah, kami lawan mereka yang menyerang kami karena kami merupakan keturunan para budak dan kami bersatu bukan terpecah-belah, dan tidak pernah melakukan ketidakadilan pada siapa pun. ” Muhammad menerima pada apa yang mereka sampaikan dan menunjuk Qays b. al-Husein sebagai pemimpin mereka

    Muhammad menunjuk Amr b. Hazm al-Ansari untuk memberikan arahan pada B. al-Harith tentang Islam dan mengumpulkan Zakat dari mereka. Ia tuliskan beberapa Instruksi pada Amr sebelum Ia menuju Najran: Untuk memenuhi perjanjian (5:1), takut akan Alah (16:128), Tidak menyentuh quran kecuali disucikan (56:79), tegas yang berbuat zalim dan memberikan kabar gembira mengenai surga (11:18) dan mengingatkan mereka akan siksa api neraka, melarang mereka shalat dengan satu kain kecuali kain dilapisi sampai bahu, tidak membungkus diri dalam satu pakaian, tidak condong pada suku dan keluarga ketika terjadi pertengkaran namun condong hanya pada Allah, Mereka yang condong pada suku dan kerabat akan dipacung pedang, berwudhus secara keseluruhan dengna banyak air, melakukan shalat pada waktu yang telah ditetapkan, melakukan mandi wajib saat shalat berjamaah, pemungut pajak mendapat 1/5 hasil rampasan dan zakat. 1/10 dari tanah property yang disirami air sungai dan hujan, 1/20 dari tanah yang di sirami kantong air; 2 domba setiap 10 unta, 1 sapi setiap 40 sapi and 1 kerbau atau anak sapi setiap 30 sapi; 1 domba setiap 40 domba yang subur.

    Versi lain dari penyerangan ini menyampaikan bahwa al-Harith adalah pendeta yang menolak masuk Islam. Jadi satu delegasi mereka datang ke Medina berdiskusi tentang teologi..dan dikatakan para muslim terkejut dan terpesona pada kemewahan pendeta B. al-Harith ketika mengunjungi Medina. Allah menurunkan ayat 3:61 menegur mereka yang melawan Rasulnya [Rodwell, p.438, note 19] Pada akhirnya, al-Harith dan kaumnya memutuskan untuk membayar Jizya untuk lolos dari invansi muslim ke daerah mereka. Muhammad menerima keputusan mereka dan para delegasi kristen kembali ke Najran.[Mubarakpuri, p.527]

    Pajak Jizya di tetapkan 1 dinar (atau ganti pakaian) untuk setiap orang dewasa, laki atau perempuan, bebas maupun budak. Jika para yahudi dan nasrani menolak membaya Jizya maka mereka akan menjadi musuh Allah (Jadi, diwajibkan dibunuh).

    [Sumber: The Muslim Empire and the Land of Gold, by Rodney J. Phillips. Hal 379-380 dan A Critical Analysis of “Real Islam”. Its People, Culture, Philosophy, and Practices Yesterday and Today, Appendix B ~ Diary of Muhammad, 4c]

  • Muhammad SAW dan keluarga:
    • Ibrahim bin Muhammad, anak laki-laki Muhammad, wafat hanya di beberapa bulan saja setelah peristiwa Mubahala!
      • Ibrahim bin Muhammad (Ibunya adalah budak seks Muhammad, Maria Qibitiyya) lahir: Bulan Dhul Hijja 8H (April 630 M) [Tabari Vol 9. Hal.39, “Life of Mahomet”, Muir, Vol.4, Ch.26, Hal.158 dan “Al-Tabaqat Al-Kabir”, Ibn Sa’d, Vol.1. Bagian 1.37.3, Riwayat Ibn Sa`d – Muhammad Ibn `Umar – Ibn Abi Sabrah – Ishaq Ibn ‘Abd Allah – Abu Ja’far:..Muhammad Ibn `Umar: Ia melahirkannya (Ibrahim) di Dhu al-Hijjah 8H]

        Wafat: 10/12 Rabiul Awal 10H Minggu/Selasa, 16/18 Juni 631 [Riwayat Ibn Sa`d – Muhammad Ibn ‘Umar -Usàmah Ibn Zayd al-Laythi – al-Mundhir Ibn `Ubayd – `Abd al-Rahman Ibn Hassan Ibn Thabit – Ibunya (Sirin):..(Ibrahim) wafat pada hari Selasa, 10 Rabiul Awal 10H (Selasa jatuh pada 18 Juni 631; Namun penanggalan Qamariah menurut Mahler adalah 12 Rabiul Awal. Biasanya Gerhana matahari terjadi di bulan baru. Bukhari, Muslim dan para muhaddithin utama tidak menyebutkan tanggal wafatnya Ibrahim. Namun mereka secara bulat menyatakan terjadi gerhana matahari di hari itu), “Al-Tabaqat Al-Kabir” Ibn Sa’d, Vol.1. Bagian 1.37.44].

        Ibn Kathir juga menyatakan tanggal ini sebagai tanggal wafatnya Ibhraim di “al-Bidayah wa al-Nihayah”, juz.3, Beirut, 2001, Dar al-Ma‘rifah, hal. 324.

        Tanggal wafat di atas, menunjukan usia wafat Ibrahim hanya 15an bulan.

        Muir menyatakan bahwa wafatnya Ibrahim di Rabiul Awal atau Rabiul Akhir 10 H dan dalam catatan kaki di hal.164-165, Ia tuliskan sebagai berikut: dua tradisi yang disampaikan oleh Katib wakidi, menyatakan Ibrahim wafat di bulan ke-16. Penetapan tanggal 10 Rabiul Awal, membuatnya hanya berumur 15 bulan. Jalur tradisi ke-4 menyatakan Ia berusia 18 bulan. (K. Wackidi, 26, 27). Ibn Kutaiba menyatakan umurnya saat wafat adalah 20 bulan dan 8 hari.

        Beberapa pendapat di bawah berasal dari “Jurnal Fiqh, No. 7 (2010) 185-200: PENENTUAN TARIKH KEMATIAN IBRAHIM“: Ibn Hajjar mengatakan Ibrahim wafat di bulan Ramadhan (21 bulan) atau Dhul Hijjah (24 bulan) di hari ke-4 atau hari ke-14 bulang tersebut [Fath al-Bari, juz. 2, Riyadh, 2000, Dar al-Salam, hal. 682]. Terdapat pendapat yang menyatakan bahwa wafatnya ibrahim 1 tahun sebelum wafatnya Muhammad. [Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, juz.3, tahun 1994, hal.468].

        Penulis jurnal mempunyai analisa penetapan tanggal sendiri dengan merujuk pada pendekatan perhitungan gerhana matahari yang terjadi di area madina pada kehidupan Muhammad, sehingga perlu baginya menyampaikan rangkaian variasi tanggal agar dapat mementahkan tradisi tanggal yang telah ada dan mengukuhkan pendapatnya sendiri.

        Cuplikan beberapa hadis yang meriwayatkan Ibrahim wafat di usia:

        • 16 bulan
          Ahmad no.17816, 17881, 17956 dan no.17766. Juga di Ibn Sa’d di “Al Tabaqat Al Kabir”, Bag.1:
          • 1.37.27 (Ibn Sa`d -`Ubayd Allah Ibn Musà al`Absi – Isrà’il Ibn Yunus – Jabir – ‘Amir – Al Bará)
          • 1.37.28: (Ibn Sa`d – Waki – Sufyan – Jábir – Amir)
          • 1.37.34 (Ib Sa’d – Yahyá Ibn Hammád – Abu ‘Awánah – Sulayman (al-A’mash) – Muslim – al Bari)


          atau

        • 18 bulan [Ahmad no. 25101, Abu Dawud 20.3181/no.2772 (Muhammad bin Yahya bin Faris – Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’d – ayahku – (Ibrahim bin Sa’d) Ibnu Ishaq – Abdullah bin Abu Bakr – ‘Amrah binti Abdurrahman – Aisyah: Ibrahim anak Nabi SAW telah meninggal pada saat berumur 18 bulan dan Rasulullah SAW tidak menshalatinya).

      • Dalam banyak riwayat dikatakan, saat Ibrahim wafat terjadi gerhana matahari dan kemudian beredar isu bahwa gerhana matahari terjadi karena wafatnya Ibrahim. Kemudian Muhammad menyampaikan bahwa gerhana bukanlah tanda dari kelahiran dan kematian seseorang. [Ahmad no.17472, 17508, 13897. Bukhari no.985, 1000, 1002. Muslim no.1522, 1517, 1508 dan lainnya] namun sebagai tanda dari kiamat. [Bukhari no.999. Muslim no.1518. Ahmad no.6195, 6472. Salah satu tanda kiamat adalah tiga gerhana (timur, barat, jazirah arab): Tirmidhi no.2109, Ibn Majjah no.4045]

        Dalam banyak riwayat disampaikan aktivitas yang tengah Muhammad lakukan ketika terjadi gerhana dan sekurangnya terdapat 2 (dua) aktivitas berbeda yang dilakukannya, misal:

        • Muhammad tengah pergi menunggangi kendaraan di pagi hari (Bukhari no. 991, 996) atau di siang hari (Muslim no.1506) kemudian terjadi gerhana, segera kembali, yaitu di waktu dluha (Bukhari 991, 996. Muslim 1506, Malik no.400) atau saat matahari setinggi 2 atau 3 tombak menurut pandangan mata [Ahmad no.19318. Abu dawud no.1000. Nasai no.1467] atau di saat terik matahari begitu sangat menyengat [Muslim no.1507], Beliau lewat di antara kamar-kamar istrinya menuju tempat shalat dan shalat berjamaah
        • Nabi tengah duduk-duduk bersama beberapa orang lalu terjadi gerhana matahari (Bukhari no.982), beliau terkejut dan bergegas berdiri dengan rasa takut/khawatir (kalau-kalau) akan terjadi kiamat [Bukhari no.999, Muslim no.1518, Nasai no.1486, 1468, 1469. Ahmad no.6195, 6472] maka beliau pun segera mengambil baju besi hingga memakaikannya dengan bajunya. [Muslim no.1510, 1511], keluar menuju masjid [Muslim no. 1500.] tergesa-gesa [Nasai no.1473] sambil menarik bajunya [Bukhari no. 1002, 5339. Ibn Majjah no.1252] dan Shalat berjamaah.
        • Shalat gerhana di catatan dilakukan 6 rakaat 4x sujud (Musim no.1508 dan Ahmad no.1387) atau 4 rakaat dan setiap rakaat 4x sujud (Muslim no.1501, Ahmad no.23432) atau di hadis lainnya dilakukan 2 rakaat dan 4x sujud

        Wafatnya Ibrahim tampaknya terjadi pada SIANG HARI, yaitu ketika Abu Saif tengah melakukan pekerjaannya menempa besi:

          Riwayat Haddab bin Khalid dan Syaiban bin Farrukh – Sulaiman bin Al Mughirah – Tsabit Al Bunani – Anas bin Malik: Rasulullah SAW pernah bersabda: “Pada suatu malam anakku lahir, seorang bayi laki-laki, kuberi nama dengan nama bapakku, Ibrahim. Kemudian anak itu beliau berikan kepada Ummu Saif, isteri seorang pandai besi, yang bernama Abu Saif. Rasulullah SAW mendatanginya dan aku ikut menyertai beliau. Ketika kami sampai di rumah Abu Saif, aku dapatkan dia sedang meniup Kirnya (alat pemadam besi) sehingga rumah itu penuh dengan asap. Maka aku segera berjalan di depan Rasulullah SAW, lalu kuberi tahu Abu Saif; “Hai, Abu Saif! Berhentilah! Rasulullah SAW!” Maka dia pun berhenti. Kemudian Nabi SAW menanyakan bayinya, lalu diserahkan ke pangkuan beliau. Nabi SAW mengucapkan kata-kata sayang apa saja yang Allah kehendaki. Kata Anas; “Kulihat bayi itu begitu tenang di pangkuan beliau saat ajal datang kepadanya. Maka Rasulullah SAW menangis mengucurkan air mata..” [Muslim no.4279, 4280. Bukhari no.1220. Abu Dawud no. 2719. Ibn Majjah no.4279]

          Riwayat Bahza bin Asad, ‘Affan bin Muslim, Hasyim bin Al Qasim bin Muslim – Sulaiman bin Al mughirah – Tsabit – Anas: Rasulullah SAW bersabda: “Tadi malam aku kelahiran bayi, dan kuberi nama dengan nama ayahku ‘Ibrahim'”. (Anas bin Malik) berkata, kemudian Beliau SAW menyerahkannya kepada Ummu Saif, istri Qain (Abu Saif) di Madinah. (Anas bin Malik) berkata, lalu Rasulullah SAW pergi menemui anaknya dan saya ikut berangkat bersamanya. Ketika saya sampai di tempat Abi Saif, dia sedang meniup pemanggang besi di rumahnya sehingga rumahnya penuh asap. (Anas bin Malik) berkata, maka dengan bergegas aku menemui Rasulullah SAW. (Anas bin Malik) berkata, lalu saya berteriak teriak, wahai Abu Saif! Rasulullah SAW datang!. akhirnya Abi Saif menghentikan tiupan pemanggang besinya. Lalu Rasulullah SAW masuk, memanggil anaknya lalu mendekapnya. Anas berkata, sungguh saya melihat anak itu kemudian meninggal persis di kedua tangan Rasulullah SAW. maka Rasulullah SAW meneteskan air mata..” [Ahmad no.12544]

        Kalimat “pada suatu malam anakku lahir..kuberi nama dengan nama bapakku” dan “tadi malam aku kelahiran bayi, dan kuberi nama dengan nama ayahku”, pada 2 hadis di atas, dapat mempunyai 2 (dua) arti, yaitu: sedang membicarakan Ibrahim anak muhammad SAW atau sedang membicarakan Ibrahim anak seorang lainnya yang baru saja lahir.

        Ibn Sa’d menyampaikan riwayat bahwa “tadi malam” yang dimaksudkan adalah ada seorang anak lain lahir malamnya dan Muhammad menamainya dengan nama Ibrahim juga.

          Ibn Sa`d – Abu Mu`awiyah Muhammad Ibn Khazim al-Darir – Isma’il Ibn Muslim – Yunus Ibn `Ubayd – Anas bin Malik: Rasullullah datang di pagi hari dan berkata: seorang anak laki-laki telah lahir malam ini dan aku berikan nama dengan nama leluhurku, Ibrahmim [Al Tabaqat Al Kabir, Vol.1 Bagian 1.37.5]

          Ibn Sà`d – Shabbabah Ibn Sawwàr – Al-Mubarak Ibn Fudálah – al Hasan: Rasullullah SAW berkata: tadi mala seorang anak lelaki terlahir dan aku namakan ia dengan nama leluhurku Ibrahim [Al Tabaqat Al Kabir, Vol 1, bagian 1.37.6]

          Kumpulan hadis di bawah ini menyampaikan bahwa seorang anak dari Abu Musa lahir dan Muhammad menamainya Ibrahim:

           Riwayat Ishaq bin Nashr – Abu Usamah – Buraid – Abu Burdah – Abu Musa:
          “Anak laki-lakiku lahir, kemudian aku membawanya kepada Nabi SAW. Beliau lalu memberinya nama Ibrahim, beliau menyuapinya dengan kunyahan kurma dan mendoakannya dengan keberkahan, setelah itu menyerahkannya kepadaku.” Ibrahim adalah anak tertua Abu Musa. [bukhari 6.66.376/no.5045, 5730. Ahmad no.18749. Muslim no. 3997]

        Terdapat 2 (gerhana) yang terjadi di tahun 10 H, yaitu:

        • 28 Rabiul Akhir 10 H / 03 Agustus 631.
          Gerhana ini terjadi di sore hari, yaitu setelah Ashar dan sebelum magrib, TIDAK terlihat di Medina dan hanya terlihat secara parsial di sebagian kecil wilayah Habasyah (ethiophia)

          Saat gerhana ini terjadi, usia Ibrahim bin Muhammad ADALAH BENAR 16 bulan dan malam sebelumnya telah lahir Ibrahim bin Abu Musa, maka wajar saja kelak terjadi isue bahwa gerhana pertanda kelahiran dan kematian seseorang. Kemudian, di suatu kesempatan gerhana berikutnya, Muhammad memperbaiki pandangan keliru ini yaitu gerhana tidak berhubungan dengan kelahiran maupun kematian seseorang namun merupakan sebuah TANDA akan terjadi KIAMAT.

        • 28 Syawal 10H / 27 Jan 632.
          Gerhana ini melanda pula area Medina (24° 28′ 0″ N, 39° 36′ 0″ E) yang BUKAN gerhana total dan juga BUKAN gerhana annular NAMUN gerhana parsial, terjadi mulai: ± 07.15 (pagi), puncaknya: ± 08:29 dan berakhir: ± 09:54 waktu setempat (Medina).

          Jika 27 January 632 ini dianggap sebagai tanggal wafatnya Ibrahim, maka usia Ibrahim saat itu adalah 22 bulan, ini jauh sekali dengan catatan kumpulan hadis yang menyatakan umur Ibrahim saat wafat adalah 16 bulan atau 18 bulan.

        Dengan 2 gerhana ini, maka catatan hadis yang menunjukan adanya 2 aktivitas berbeda yang dilakukan Muhammad,  wafatnya ibrahim bin Muhammad TERJADI di usia 16 bulan dan malam sebelumnya terlahir Ibrahim bin Abu Musa serta ketakutan yang melanda Muhammad bahwa itu adalah pertanda kiamat telah berkesesuaian dengan kumpulan informasi hadis.

    • Muhammad wafat 8 Jun 632, akibat di racun perempuan Yahudi.

      Riwayat Abdurrahman – Sufyan – Al A’masy – Abdullah bin Murrah – Abu Al Ahwash dari Abdullah bin Mas’ud: Sungguh aku bersumpah 9x bahwa Rasulullah SAW terbunuh, lebih aku sukai dari pada aku bersumpah 1x bahwa beliau tidak akan terbunuh. Hal itu karena Allah mengambilnya sebagai Nabi dan menjadikanya sebagai saksi. Lalu aku berkata; Lalu aku menyebutkan hal itu kepada Ibrahim, ia pun berkata; Mereka melihat dan mengatakan bahwa orang yahudi pernah meracuni beliau beserta Abu Bakar [Ahmad no.3925, 3679, 3435]

      Kisahnya sebagai berikut:
      Ketika kaybar telah ditaklukan dan masyarakat sudah tenang, Zainab Bint al-Harith, Istri dari Salam Ibn Mishkam, bertanya pada beberapa orang mengenai bagian mana dari domba yang paling disukai nabi. Mereka memberitahukannya, ‘kaki depan, dan paha atas adalah bagian terbaiknya’. Ia kemudian menyembelih seekor domba dan memotong-motongnya. Kemudian Ia ambil racun mematikan yang dapat membunuh dengan seketika, membubuhkannya pada daging domba, dan membubuhkan lebih banyak lagi pada bagian kaki dan paha.

      Ketika Matahari terbenam, Nabi Muhammad memimpin Sholat. Setelah selesai sholat dan hendak pergi, Zainab berkata pada nabi, ‘ Oh Abu al-Qasim, aku punya hadiah untuk mu’. Nabi kemudian meminta beberapa sahabat mengambil persembahan itu dan diletakan dihadapan Nabi Muhammad dan para sahabat, diantaranya terdapat Bishr Ibn al-Bara’ Ibn Ma’rur. Nabi Muhammad berkata pada mereka, ‘Ayo kemari dan duduklah’. Nabi Muhammad mengambil bagian kaki dan memakanya. Ketika Nabi Muhammad telah menelannya, Bishr juga telah menelannya dan para sahabat yang lain juga memakannya. Nabi Muhammad berkata, ‘Angkat tanganmu; Daging kaki dan paha ini berkata bahwa mereka telah dibubuhi racun. Bishr berkata, ‘Demi Allah yang menyayangimu, Aku pun merasakan yang sama. Tapi ngga ku muntahkan karena dapat mengacaukan selera makan anda

      Ketika engkau makanan itu ada di mulutmu, Aku juga tidak berharap engkau menelannya”. [Satu pendapat mengatakan] Bishr wafat kemudian di sana. Sisa daging itu di lemparkan kepada anjing, kemudian anjing itu mati. Pendapat lainnya mengatakan bahwa (bishr) warnanya berubah hitam setelah mengalami kesakitan selama dua tahun, ketika ia meninggal. Juga dikatakan bahwa Nabi Muhammad menggigit daging domba itu, mengunyahnya dan memuntahkannya kemudian sementara Bishr memakan bagiannya. Kemudian Nabi Muhammad mengirimkan yahudi2 dan bertanya pada Zainab, ‘Apa benar kau meracuni domba ini?’

      Ia berkata, ‘Engkau punya suatu kegemaran ketika engkau menghakimi mereka yang tidak setia padamu. Engkau bunuh Ayahku, pamanku dan saudaraku..jadi aku berkata, ‘Jika Ia adalah raja, maka aku akan membebaskan kami dari mu, dan jika Dia adalah Nabi, Ia tentu akan merasakannya’ Ada yang mengatakan bahwa Nabi memaafkannya sementara yang lainnya mengatakan bahwa Ia memerintahkan agar Zainab di hokum mati dan disalib. Ketika Nabi Muhammad sakit di menjelang wafatnya, Ia berkata pada Aisha, ‘Aisha, Aku masih merasakan effect makan beracun yang aku makan. Sekarang saat kematianku akibat racun itu’ ketika kakak Bishr hadir menjenguknya, Nabi mengatakan padanya, Ini adalah saat kematianku karena makanan yang aku makan bersama kakakmu di Khaybar’ [Abdallha Abd Al-Fadi, Is The Koran Infallible, Pg. 378-381, mengutip Al-Baidawi]

      Riwayat Qutaibah – Al Laits – Sa’id bin Abu Sa’id – Abu Hurairah: ketika Khaibar ditaklukkan, Rasulullah SAW diberi hadiah seekor kambing beracun. Rasulullah SAW bersabda: ‘Tolong kumpulkanlah orang-orang Yahudi yang ada di sini.’ Maka mereka dikumpulkanlah di hadapan beliau. Lalu Rasulullah SAW bersabda: ‘Saya akan bertanya kepada kalian tentang sesuatu, apakah kalian akan menjawab dengan jujur? ‘, mereka menjawab; ‘Ya,..Rasulullah SAW: ‘Siapakah penghuni neraka? ‘ Mereka menjawab; ‘Kami berada di dalamnya sebentar dan kemudian baginda menggantikan kami di dalamnya.’ Maka Rasulullah SAW berkata kepada mereka: Terhinalah kalian di dalamnya, demi Allah kami tidak akan menggantikan kalian di dalamnya selamanya.”..Lalu Rasulullah SAW: “Apakah kalian membubuhi racun pada (daging) kambing tersebut?” Mereka menjawab; “Ya, ” beliau bertanya: “Apa yang menyebabkan kalian berbuat demikian?” Mereka menjawab; “Kami ingin terbebas jika tuan seorang pembohong dan jika baginda benar seorang Nabi maka (racun itu) tidak bakalan mencelakai tuan” [Bukhari no.5332, 2933, 3918 atau Bukhari 4.53.394, 5.59.551, 7.71.669. Abu dawud no.3910]

      Riwayat ‘Abdullah bin ‘Abdul Wahhab – Khalid bin Al Harits – Su’bah – Hisyam bin Zaid – Anas bin Malik: bahwa, ada seorang wanita Yahudi yang datang menemui Nabi SAW dengan membawa seekor kambing yang telah diracun lalu Beliau memakannya. Kemudian wanita itu diringkus dengan bukti daging tersebut dan dikatakan; “Tidak sebaiknyakah kita bunuh saja?” Beliau menjawab: “Jangan”. Sejak itu aku senantiasa aku melihat bekas racun tersebut pada anak lidah Rasulullah SAW. [Bukhari no.2424]

      “Diriwayatkan ‘Aisha:
      Nabi SAW ketika sakit yang menyababkan kematiannya, kerap berkata, “O Aisha! Aku masih merasakan sakit akibat makanan yang aku makan di Khaibar, dan sekarang ini Aku rasakan nadiku di iris racun itu” (وَقَالَ يُونُسُ عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ عُرْوَةُ قَالَتْ عَائِشَةُ ـ رضى الله عنها ـ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ ‏ “‏ يَا عَائِشَةُ مَا أَزَالُ أَجِدُ أَلَمَ الطَّعَامِ الَّذِي أَكَلْتُ بِخَيْبَرَ، فَهَذَا أَوَانُ وَجَدْتُ انْقِطَاعَ أَبْهَرِي مِنْ ذَلِكَ السَّمِّ) [Bukhari 5.59.713]

      Riwayat Yahya bin Habib Al Haritsi – Khalid bin Al Harits – Syu’bah – Hisyam bin Zaid – Anas bin malik: bahwa seorang perempuan Yahudi mengantarkan daging yang telah dibubuhi racun kepada Nabi SAW, lalu beliau makan sebagian. Kemudian perempuan itu dipanggil ke hadapan Rasulullah SAW, lalu beliau menanya kepadanya tentang racun itu. Jawabnya; ‘Aku sengaja hendak membunuh Anda.’ Sabda Nabi SAW: ‘Tidak mungkin Allah akan memberi wewenang kepadamu untuk berbuat demikian.’..Kata Anas selanjutnya; ‘Kami melihat jelas bekas racun itu kelihatan di leher Rasulullah SAW’ [Muslim no.4060. Juga di Abu Dawud no.3090]

      Riwayat Muhammad bin Basysyar – Abu Daud – Zuhair – Abu Ishaq – Sa’d bin ‘Iyadl – Abdullah bin Mas’ud: “Nabi SAW menyukai paha kambing.” Ia berkata, “Pernah paha kambing diberi racun, dan beliau melihat bahwa yang orang-orang Yahudi yang telah meracuninya.” [Abu Dawud no.3287. Ahmad no.3545, 3546, 3589]

      Wahb bin Baqiyyah – Khalid – Muhammad bin Amru – Abu Salamah bahwa Rasulullah SAW pernah diberi hadiah kambing panggang oleh seorang wanita Yahudi Khaibar yang ditaburi racun pada daging kambing panggang. Kemudian ia menghadiahkan daging itu kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW lantas mengambil lengan kambing tersebut dan memakannya bersama para sahabatnya. Ia (perawi) berkata, “Bisyr bin Al Bara bin Ma’rur Al Anshari meninggal dunia (karena makan daging kambing), maka Rasulullah mengutus seseorang untuk menjemput wanita Yahudi tersebut. Beliau bersabda: “Apa yang mendorongmu untuk melakukan itu?”..wanita Yahudi itu menjawab, “Dalam hati aku berkata, ‘Jika dia memang seorang Nabi maka dia tidak akan mendapatkan bahaya, tetapi jika bukan seorang Nabi maka kami dapat beristirahat darinya’..Rasulullah SAW kemudian memerintahkan supaya wanita itu dihukum, maka wanita itu pun dibunuh. Namun ia tidak menyebutkan tentang cerita bekam.” [Abu Dawud no.3911, 3912 (di bagian akhir ada tambahan kalimat: Kemudian Nabi SAW berkata pada saat sakit yang membawanya kepada kematian: “Aku masih merasakan apa yang pernah aku makan di Khaibar, dan sekarang adalah waktu terputusnya punggungku/nadiku”)]

      Riwayat Makhlad bin Khalid – Abdurrazaq – Ma’mar – Az Zuhri – Ibnu Ka’b bin Malik – Bapaknya: “Ummu Mubasysyir berkata kepada Nabi SAW pada saat sakit yang menghantarkan beliau kepada kematian, “Apa yang engkau keluhkan ya Rasulullah? Aku tidak mengeluhkan apapun atas anakku kecuali daging kambing beracun yang ia makan bersamamu waktu di Khaibar.” Nabi SAW menjawab: “Aku juga tidak mengeluhkan apapun selain daging kambing beracun itu, dan sekarang adalah waktu terputusnya nadiku” Abu Dawud: “Barangkali Abdurrazaq menceritakan hadits ini secara mursal dari Ma’mar – Az Zuhri – Nabi SAW. Dan barangkali ia juga menceritakan hadits dari Az Zuhri – ‘Abdurrahman bin Ka’b bin Malik.” Abdurrazaq menyebutkan bahwa Ma’mar menceritakan hadits ini kepada mereka sekali waktu secara mursal. Namun, sekali waktu mereka yang menulisnya sedangkan dia menceritakannya kepada mereka. Dan semua itu menurut kami shahih” Abdurrazaq berkata: “Ketika Ibnul Mubarak datang kepada Ma’mar, maka Ma’mar menyandarkan kepada Ibnu Mubarak beberapa hadits yang ia mauqufkan.” Riwayat Ahmad bin Hanbal – Ibrahim bin Khalid – Rabah – Ma’mar – Az Zuhri – ‘Abdurrahman bin Abdullah bin ka’b bin malik – ibunya Ummu Mubasysyir. Abu Sa’id Ibnul A’rabi berkata; demikian ia berkata dari ibunya. Namun yang benar adalah; dari bapaknya, dari Ummu Mubasysyir, ia berkata, “Aku masuk menemui Nabi SAW… lalu ia menyebutkan sesuai makna hadits Makhlad bin Khalid, seperti hadits Jabir. Ia (perawi) berkata, “Bisyr Ibnul Bara bin Ma’rur meninggal, maka beliau mengutus seseorang kepada wanita Yahudi tersebut. Beliau bertanya: “Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?” -lalu ia menyebutkan seperti hadits Jabir – Rasulullah SAW lalu memerintahkan untuk menghukum wanita tersebut, maka wanita itu pun dibunuh.” [Abu Dawud no. 3913]

      Rasullullahberkata selama sakitnya yang mengakitkan kematiannya – ibu Bishr datang menjenguknya – “Umm Bishr, pada saat ini aku merasa aorta (urat nadi) ku dirobek akibat makanan yang kumakan bersama putramu di Kaibar. [Tabari, Vol.8, hal. 124]

      Riwayat Suraij -‘Abbad – Hilal – Ikrimah – Ibnu Abbas: bahwa seorang wanita dari kaum Yahudi memberi hadiah kepada Rasulullah SAW berupa (daging) kambing yang telah diracun. Lalu beliau mengirim utusan kepadanya, untuk menanyakan kepadanya; “Apa yang mendorongmu untuk melakukan apa yang telah engkau perbuat ini?” ia menjawab; “Aku mau.” Atau ia berkata; “Aku ingin, bila engkau seorang nabi, maka Allah akan memberitahumu tentang itu, namun bila engkau bukan nabi, aku akan menentramkan manusia darimu.” [Ahmad no.2648, 2649]

    • Fatimah wafat 6 bulan setelah nabi wafat, karena kekerasan yang dilakukan oleh sahabat nabi sendiri, salah satu terduduh adalah Umar. Fatiwa wafat dalam keadaan patah tulang rusuk, keguguran, pendarahan dan akhirnya meninggal (Oktober 632)

      Terdapat dua pandangan tentang kematian Fatima diantara kaum Shia – Sunni. Shia bertahan, menggunakan sumber kalangan Sunni bahwa Fatima wafat setelah Umar memimpin serombongan orang bersenjata menuju rumah Ali di Medina, memanggil Ali dan pengikutnya untuk keluar dan berbaiat pada Abu Bakar, yang telah mereka putuskan mengambil alih kekuasaan pada rapat di Saqifah. Umar dan Khalid bin Walid mengancam hendak membakar rumah jika mereka tidak tunduk. Mereka menerobos masuk, mengakibatkan tulang rusuk Fatimah patah akibat terhimpit pintu yang rubuh dan dinding dan mengalami keguguran kehamilan calon bayi yang akan dinamainya Muhsin. Menurut beberapa sumber, Umar memerintahkan memukuli Fatima, beberapa mengatakan Umar pribadi yang menendang Fatimah di perutnya yang menyebabkan keguguran

      [Disarikan dari: Sunni dan Syiah, The Conference of Baghdad’s Ulema, Translator: Taher Al-Shemaly (TJ), Kuwait, February, 2007 hal.45, Kitab Sulaym Ibn Qays al-Hilali, Hadith 4, p48-67 (Eng. Translation), Wikipedia: Umar at Fatimah’s house dan Fatima]

    • Ali, wafat akibat luka tebasan pedang yang di olesi racun.

      Pada hari ke-19 Ramadhan, ketika Ali sedang shalat di Mesjid Kufa, Kaum Kharijite Abdulrahman Ibn Muljam membunuhnya dengan tebasan pedang yang diolesi racun. Ali terluka pedang beracun, hidup selama 2 hadi dan wafat di Kufa pada hari ke-21 Ramadhan 661 M

      Ali memerintahkan anak-anaknya untuk TIDAK menyerang kaum Kharijite, karena pembunuhan dilakukan seorang anggota kelompok. Mereka harus membalas dendam hanya terhadap Ibn Muljam. Kemudian, Hasan melakukan Qisas dan membunuh Ibn Muljam.

      [sumber: Sunah.org, kalifah ke-4, Wikipedia: Ali]

    • Hassan, wafat karena di racun oleh istri sendiri, sample:

      Hasan bin ‘Alî diracun istrinya (Ja’dah binti Asy’ats bin Qai) dengan bayaran 100 ribu dinar, atas suruhan Mu’âwiyah. Mu’âwiyah memerintahkan Marwân bin Hakam (gubernur Madînah) untuk mengamati Hasan. Ketika datang kabar bahwa Hasan telah meninggal, seluruh penduduk Syam bertakbir. Seorang wanita, Fakhîtah binti Quraidhah, bertanya kepada Mu’âwiyah: ‘Kamu bertakbir bagi matinya putra Fathimah?’ Mu’awiyah berkata: ‘Ya, aku bertakbir karena aku gembira’. Ia begitu bergembiranya hingga bersujud dan semua yang hadirpun ikut bersujud [Ibnu Qutaibah, “Al-Imâmah wa’s-Siyâsah”, jilid 1, hal.144; Ibnu ‘Abdu Rabbih, “Al-’Iqd al-Farîd”, jilid 2, hal. 298, dll]

      Ibnu al-Jauzî: “‘Abdul Barr: Al Hasan diracuni istrinya, Ja’dah binti Asy’ats bin Qais al-Kindî; As-Sûdî: Yang memerintahkan adalah Yazîd bin Mu’âwiyah dan berjanji akan mengawininya. Ketika Hasan meninggal, Ja’dah bersurat kepada Yazîd menagih janjinya. Yazîd berkata: ‘Hasan saja kau bunuh, bagaimana aku..’; Asy-Sya’bî: Mu’âwiyah berkata kepada istri Hasan agar meracuni Hassan dgn janji akan dinikahkan kepada Yazîd dan diberi uang 100.000 dirham. Ketika Hasan meninggal Ja’dah menuntut janjinya. Mu’âwiyah memberinya uang namun tidak mengawinnya dengan Yazid dengan alasan takut Ja’dah membunuh Yazid pula..[Ibnu al-Jauzî, ‘al-Tadzkirah Khawâshsh’l-Ummah’, hlm. 121]

      Abul Hasan al-Madâ’inî: ‘Hasan wafat tahun 49 H/669 M, umur 47 tahun. karena diracuni Mu’âwiyah melalui tangan Ja’dah binti Asy’ats, istri Hasan dengan janji akan mendapat 100.000 dinar dan akan dikawinkan dengan Yazîd. Ketika Hasan meninggal, Mu’awiyah memberikan uang namun tidak mengawininya dengan Yazîd karena takut anaknya diracuni juga seperti Hassan [Ibn Abîl-Hadîd, Syarh Nahju’l-Balâghah, jilid 4, hal. 4,7]

    • Hussain tertipu, terbunuh dan termutilasi, sample:

      Suyuti: Yazid bersurat kepada Ubaidullah bin Ziyad, agar memeranginya (Husein) [Suyuti, “Tarikh Al-Khulafa”, hal. 207]. Ibn Sa’ad: Yazid khawatir Nu’man bin Basyir (Gubenur Kuffah sebelumnya) tidak berani menghadapi Husein sehingga ia bersurat kepada Ubaidullah bin Ziyad agar menjadi gubernur di Kufah, menggantikan Nu’man dan memerintahkannya untuk menghadapi Husein [Ibn Sa’ad, “Thabaqat”, “Maqtal al-Husein”].

      Al-Qasim bin Abdurahman (budak Yazid bin Mu’awiyah): “Tatkala kepala-kepala diletakkan dihadapan Yazid bin Mu’awiyah, yaitu kepala Husein, keluarga dan para sahabatnya. Yazid berkata: “kami telah membelah kepala para lelaki yang angkuh terhadap kami, orang-orang yang paling durhaka dan paling lalim [Tabari, “Tarikh Al-Umam wa al-Mulk”, jilid 6, hal.391]. Al-Qasim bin Bukhait: Yazid mengizinkan orang-orang masuk, sementara kepala (Husein) berada dihadapannya. Ia memukul-mukul mulut kepala itu dengan tongkat sambil bersyair. [Tabari, hal.396-397].

      Setelah diarak keliling kota, Ibn Ziyad (gubernur Kufah) mengirim kepala al-Husein kepada Yazid bin Mu’awiyah di Syam (Damaskus). Yazid sedang bersama Abu Barzah al-Aslami. Yazid meletakkan kepala tersebut di hadapannya dan memukul-mukul mulut dari kepala itu dengan tongkat seraya bersyair [Ibn Katsir, “Al-Bidayah wa al-Nihayah”, jilid 7, hal.190]

Benar/tidaknya mereka wafat berhubungan dengan Mubahalah, tidak dapat saya pastikan, namun yang pasti, semua keluarga yang diajak Nabi bermubahalah disisinya melawan para Pendeta kristen wafat dalam keadaan tidak wajar.

Kalau melihat jarak kematian maka:

  • Nabi Muhammad dan Fatima meninggal 2 tahunan setelah Peristiwa Mubahala
  • Mirza Ghulam Ahmad wafat 12 tahun kemudian, yaitu sejak menantang berMubahala pada para ulama, yang telah bertindak laksana Allah, yang tidak berhenti menyatakan dirinya kafir hingga wafatnya kemudian dan tetap tidak ada 1 (satu)pun dari para ulama tersebut yang berani menerima tantangannya serta mempertanggungjawabkannya langsung dihadapan Allah mereka sendiri.

Kesimpulannya jadi bagaimana?


Catatan:


FPI Jempol! Menghajar ngga tanggung2: Ambulan, Kyai, anak2, perempuan s/d orang cacat!


Minggu, 1 Juni 2008, adalah hari Kesaktian Pancasila. Ketika tengah menonton TV..tiba-tiba aku terpaku..terhenyak pada satu tayangan keberingasan..yang sangat ku kenal! De Javu! Akhirnya Itu terjadi kembali! Dilakukan terhadap sesama anak bangsa, satu tanah air, satu negara, satu bahasa dan…kemungkinan besar, banyak dari mereka beragama sama dengan penyerangannya!

Ya!..hari itu, sekali lagi Kesaktian Pancasila mengalami ujian! Ia diuji dengan dahsyat! Mari kita simak potongan-potongan berita berkenaan dengan hal itu:


http://www.vhrmedia.com/vhr-news/berita,FPI-Serbu-Aksi-Peringatan-Kelahiran-Pancasila-1809.html

Salah satu tokoh korban yang terkena pukulan adalah Suaedi, Direktur Eksekutif Wahid Institute. Ketika penyerangan terjadi, dia berada di tengah-tengah massa yang sedang mempersiapkan aksi. “Mereka (massa FPI) datang dari arah kanan. Saya tidak lari, karena ada istri saya dan beberapa orang tua yang menggunakan kursi roda. Dia juga tak luput dari hajaran pasukan berjubah itu,” kata Suaedi.

* * *

01/06/2008 13:46 WIB
Rusuh Monas, FPI Kejar Ambulans yang Bawa Korban
Moksa Hutasoit – detikcom

Jakarta – Korban akibat amukan massa yang mengenakan atribut FPI terus berjatuhan. Upaya pertolongan oleh petugas medis dihalangi orang-orang yang bertindak brutal itu.

Pantauan detikcom Minggu (1.6.2008) pukul 13.30 WIB, 3 ambulans yang hendak membawa para korban ke rumah sakit terdekat malah dikejar oleh massa.

Mereka tampak memukul-mukulkan kayu ke badan mobil berwarna putih itu. Untung saja, ketiga ambulans itu dapat selamat dari amukan massa.

Pukul 13.40 WIB, aksi pemukulan berhasil dihentikan oleh polisi. Massa yang berjumlah sekitar 500 orang itu kini dihadang oleh polisi. ( ken / iy )

* * *

http://www.waspada.co.id/Berita/Nasional/FPI-Bubarkan-Apel-Massa-AKK.html

Kiai Maman Imanulhaq mengaku diinjak dan dipukuli dengan bambu oleh massa FPI. “Ketika itu antara pukul satu dan setengah dua siang. Kita di Monas untuk aksi damai memperingati Hari Kelahiran Pancasila. Tiba-tiba massa FPI sambil berteriak bubarkan Ahmadiyah, bubarkan kafir sambil membawa bambu,” kata Maman, yang ditemui di RS Mitra Internasional, Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (1/6).

Setelah itu, kata Maman, ada 10 orang dari massa FPI yang mengeroyoknya. “Mereka memukul muka dan menendang. Setelah itu, saya jatuh diinjak-injak dan dipukuli pakai bambu,” ujar Maman.

Akibatnya, dagu Maman mengeluarkan darah. Setelah kejadian itu dirinya tidak sadarkan diri. Maman lalu dibawa ke RS Mitra dengan menggunakan taksi. Dagu Maman yang luka dijahit 5 jahitan.

* * *

http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/06/02/1/114777

JAKARTA – Korban kekerasan yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI) terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), total 41 orang dari pengikut Ahmadiyah.

Korban yang terdiri dari orangtua dan anak-anak, umumnya menderita luka akibat pukulan.

“Semua korban akibat serangan FPI terdiri dari anak-anak, ibu-ibu, dan orangtua,” ujar Humas Ahmadiyah Yendra Budiyana kepada okezone, di Jakarta, Senin (2/6/2008).



Aku paham bahwa TV biasanya lebih bernuansa komersil daripada menyuarakan kebenaran pemberitaan…

Namun, kalau ucapan dan keadaan yang diderita oleh Kyai tersebut dimuat oleh banyak media bahwa ia digebuki oleh orang-orang dengan atribut agama yang sama…itu bukan lagi berita komersil namun sungguh keterlaluan!

Namun, kalau pembicaraan dan derita kesakitan seseorang yang tengah melindungi wanita dan seorang cacatdikursi roda dimuat banyak media (dagunya benjol) setelah ikut pula digebuki bersama orang yang ia lindunginya oleh orang-orang yang membawa atribut-atribut islam yang dongengnya adalah agama cinta damai…maka itu sungguh biadab!

Namun, kalau pembicaraan itu dilakukan oleh beberapa wanita, dimuat di banyak media bahwa mereka diberangus hak berkumpul, hak menyuarakan pendapat…apapun alasannya digebuki oleh sekelompok orang-orang yang membawa atribut-atribut islam yang dongengnya adalah agama yang paling melindungi wanita…maka itu sungguh munafik!

Atas nama Islam…mereka telah melakukan sendiri PENODAAN ajaran yang mereka mendongengkan kepada pihak lain dan menuduhkan bahwa oranglain-lah yang melakukan penodaan agama! Mereka menghajar tanpa pandang bulu dengan TONGKAT dan KEROYOKAN kepada Kyai mereka sendiri, orang-orang tua, wanita dan penyandang cacat…yang saat itu sama sekali tidak tengah mempersenjatai diri?

Tidakkah anda merasa terenyuh, betapa tersia-sianya saat-saat akhir Sang Nabi Besar disakratul maut, beliau merintih dengan penuh penderitaan…pun masih menyuarakan luapan rasa yang sarat kepedihan dan kecemasan:

“Umat..ku.. Um..at..ku.. U..m..a..t..k..u”

* * *

Bisa jadi, FPI merasa sangat terhormat dapat menghajar dan mengeroyok para anak-anak, ibu-ibu dan orang-orang tua yang tidak berdaya! dan Kelihatannya….kalau orang-orang FPI di suruh untuk memilih mana yang dihajar duluan antara orang-orang Ahmadiyah dan anjing, maka yang duluan di HAJAR adalah orang-orang Ahmadiyah!

Pikiran itu memang berkelebat sejenak dalam benakku. Namun, meluap sudah rasa penasaranku dibuatnya! Benarkah mereka akan memilih pilihan itu???? Saat itu juga, segera aku adakan survey terhadap 25 orang yang aku kenal (pria, muslim dan berkeluarga) dengan pertanyaan sebagai berikut:

‘Kalau kamu bertemu dengan FPI (Front Pembela Islam), Ahmadiyah dan Anjing…mana di antara ketiganya yang akan kamu hajar habis-habisan terlebih dahulu??’

Menariknya adalah 21 orang menjawab sesuai dugaan ku, AHMADIYAH!!!!!”

Pertanyaanku yang berikutnya, “Lantas yang lainnya diapain???”

Jawab mereka, “Ya sama-sama ngga diapa-apain…”

Luar biasa bukan? proses belajar mengajar, doktrinasi yang diterima, bahwa atas nama agama bisa menumbuhkan kebencian dan rasa permusuhan yang dalam serta meniadakan rasa kemanusian??!!

Tapi, paling tidak aku mengetahui satu hal dan menurutku ini adalah kenyataan yang lucu, ternyata pada akhirnya mereka toh mengelompokkan FPI dan ANJING pada kelompok yang sama!


Lampiran:


Tanggal 04 Juni 2008, 14:11 WIB melalui detik.com, aku mendapat satu kepastian paling gila!!!!! yaitu INTELKAM MABES POLRI SUDAH TAHU bakal ada penyerangan FPI itu!!!!

Sekjen PDIP Pramono Anung bersyukur mendapat telepon dari Kabag Intelkam Mabes Polri Irjen Saleh Saaf. Karena telepon itulah PDIP tidak ikut tercoreng kerusuhan Monas 1 Juni lalu.

“30 Menit sebelum kejadian (kerusuhan), saya ditelepon oleh mantan Kadiv Humas Polri Saleh Saaf (kini Kabag Intelkam-red) . Katanya meminta saya agar massa PDIP ditarik. Akan ada kelompok lain yang datang. Akan ada kejadian. Kalau ada kejadian, PDIP akan tercoreng,” cerita Pram

Dari informasi itu, Pram menyadari bahwa polisi sejatinya sudah mengetahui akan ada dua massa yang berhadapan. Pram menyesalkan polisi tidak mengantisipasi serangan massa FPI pada massa AKKBB.

Sumber:
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/06/tgl/04/time/141106/idnews/950355/idkanal/10/idpartner/

Wow!!!! SULIT untuk percaya bahwa Penyerangan FPI di MONAS tanggal 1 Juni 2008 BUKAN merupakan TAKTIK PEMERINTAH untuk mengalihkan ISU kenaikan harga BBM!!! Seperti bantahan Andi Malarangeng di ANTARANEWS,
03/06/08, 19:02:Malarangeng: Penanganan Bentrokan di Monas Bukan Pengalihan Isu”

[Kembali]



FPI sudah menghancurkan wajah Islam yang kukenal 2008/06/04 12:52
di ambil dari Hidayatulah. com dan merupakan tulisan
Muslihah Razak sendiri di milis mediacare



Namaku Muslihah Razak, lahir dari keluarga kyai di sebuah desa yang di Kabupaten Cirebon. Dari kecil aku sudah bersekolah di sekolah agama. Pada sore harinya, aku juga ikut belajar kitab dan tata bahasa Arab, juga sekolah malam hari yang khusus mengkaji kitab-kitab kuning.


Selesai Tsanawiyah aku langsung memasuki pesantren selama 4 tahun, dan kemudian melanjutkan ke IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang kini sudah berganti nama menjadi UIN, dengan mengambil Fakultas Syariah.

Aku bangga dengan keislamanku, dengan panutan suri tauladan Nabi Muhammad. Beliau adalah seorang revolusioner, seorang yang lembut dan penuh kasih. Ajarannya begitu luhur, mampu merangkul dan melindungi semua kelompok apapun agamanya.

Bagiku Muhammad bukan hanya sebuah nama atau pribadi tapi dia adalah akidah yang hidup. Raganya sudah meninggalkan kita tapi ajarannya akan hidup sepanjang jaman. Muhammad adalah kita semua, cerminan sikap yang lembut dan penuh kasih, anti kekerasan, pemaaf dan cinta damai.

Aku bangga dengan keislamanku sampai ada peristiwa yang begitu menamparku dan membuatku merasa sangat terhina dan malu. Pada peringatan 63 tahun Hari Kelahiran Pancasila, 1 Juni 2008 di Lapangan Monas yang lalu, sekelompok orang dengan memakai kaos FPI berbendera hijau bertuliskan La Ilaha Ilallah, menyerang kami sambil mengumandangkan Allahu Akbar.

Tatapan mereka sangat beringas. Teriakan ibu-ibu, suara tangisan anak kecil, jeritan perempuan-perempuan tidak membuat hati mereka luluh.

Tidak ada satupun dari kami yang melakukan perlawanan. Kami hanya menghindar sampai terpojok didepan tugu yang di kanan kirinya ada pembatas. Kami masih tetap diburu walaupun sudah terpojok.

Dari atas tugu mereka bahkan melempari kami dengan batu-batu besar yang pasti sudah dipersiapkan sebelumnya, karena batu sebesar itu tidak ada di taman Monas.

Mereka memakai pentungan dan bambu berpaku untuk memukul teman-teman yang tidak bisa menaiki tembok pembatas taman. Teman-teman yang sudah jatuh tersungkur pun, masih ditendang dan diinjak-injak.

Mereka menyerang siapa saja, tidak peduli orang Kristen, Hindu, Budha, Konghucu. Ibu-ibu yang memakai pakaian muslim pun mereka pukuli. Aku bahkan melihat ada anak kecil yang kepalanya dibenturkan ke tembok.

Teman-teman kami banyak yang terluka. Tidak sedikit yang harus di rawat di rumah sakit, karena gegar otak, kepalanya bocor, atau memar. Luka fisik dapat kami obati, tapi luka batin begitu dalam.

Secara pribadi sebagai muslimah aku begitu shock melihat bangsaku begitu beringas. Saat ini aku masih trauma mendengar kalimat Allahu Akbar, tulisan syahadat, dan semua panji-panji Islam. Semua nilai-nilai Islam yang kuyakini dari kecil seperti hancur berantakan.

Aku marah dan tidak rela FPI mewakili Islam. Islam yang mereka bawa sama sekali tidak mencerminkan Islam yang lembut yang aku kenal. Islam tidak perlu pembela seperti mereka yang tidak punya hati, mereka yang tidak mampu mendengar jeritan dan tangisan saudara sebangsanya sendiri.

Kata “maaf” terbersit dalam hatiku karena saat mereka meneriakkan yel-yel Islam, aku sempat menjawab dalam hati, kalau kalian Islam biarkan aku menjadi kafir karena aku tidak mau menjadi bagian dari kalian.

Aku yakin lebih bangak muslim yang waras daripada mereka yang tidak waras. Namun suara mereka terlalu keras karena hanya itu yang mereka punya untuk menutupi kekerdilan hati mereka.

Karena itu, mari teman-temanku kita saling bergandengan tangan. Mari kita membuat Nabi Muhammad terlahir setiap hari dengan perbuatan kita yang mencerminkan ahlak beliau yang penuh kasih.

Kami yakin darah dan air mata teman-teman tidak sia-sia karena begitu banyak mata melihat kebrutalan FPI. Tidak ada satupun ummat islam yang mau kalian wakili, kecuali orang-orang yang hatinya keras seperti batu.

Aku mencintai kalian semua teman-temanku di FPI. Aku yakin kalian hanya kurang memahami. Tidak usahlah berbicara tentang agama yang jelas-jelas melarang kekerasan. Tapi bicara dengan kemanusiaan pasti kalian masih terketuk hatinya untuk tidak lagi menyakiti dan melakukan tindakan anarkis.

Aku akan bergabung dengan kalian mencintai Nabi Muhammad sebagai uswatun hasanah. Dan seperti Nabi Muhammad, mari kita menciptakan perdamaian di manapun kaki kita berpijak.

[Kembali]



03/06/2008 04:03 WIB
Kronologi Rusuh Monas Versi FPI
Irwan Nugroho – detikcom

Jakarta – Front Pembela Islam (FPI) mengklaim tindakannya terhadap aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB) bukan tanpa alasan. Tindakan itu akibat provokasi yang dilakukan AKK-BB saat mereka secara bersamaan menggelar aksi di Monas.

Berikut kronologi rusuh di Monas versi FPI seperti yang disampaikan kepada detikcom, Selasa (3/6/2008). Kronologi ini dapat dilihat di blog FPI dengan alamat http://fpipetamburan.blogspot.com.

Pada Minggu 1 Juni itu, massa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menggelar aksi menolak kenaikan harga BBM menuju Istana Negara yang diikuti perwakilan Serikat Kerja PLN, FPI, dan sebagainya.

Demo itu telah mendapatkan izin dari aparat kepolisian setempat dengan pengawalan yang rapi dan ketat. Sehingga dapat dikatakan demo itu adalah kegiatan resmi dan legal berdasarkan UU.

Pada saat yang bersamaan, muncul kelompok yang menamakan diri Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan berkeyakinan (AKK-BB), yang notabene pro Ahmadiyah.

Seperti dilansir dalam siaran TV, kegiatan AKK-BB di Monas tidak diperkenankan oleh Kepolisian, karena akan berbenturan dengan pihak yang tidak mendukung acara mereka. Dengan kata lain, kegiatan AKK-BB tidak mendapat izin polisi.

Melihat gelagat negatif itu, FPI menginstruksikan beberapa personelnya untuk mengetahui apa yang dilakukan AKK-BB di wilayah aksi HTI. Ternyata, AKK-BB melakukan orasi yang menjelekkan FPI dengan mengatakan, “Laskar Setan” dan sebagainya.

Mendengar orasi tersebut, personel FPI melaporkan kepada Laskar FPI. Laskar FPI pun lantas meminta klarifikasi AKK-BB. Namun, AKK-BB mengelak dan menjawab dengan sikap yang arogan sehingga membuat Laskar FPI kesal.

Arogansi AKK-BB makin menjadi dengan mengeluarkan sepucuk senjata api dan menembakkannya ke udara sebanyak 1 kali. Mendengar letusan itu, laskar FPI berusaha mencegah, namun justru ditanggapi dengan tembakan ke udara kembali hingga 4 kali.

Laskar FPI yang makin kesal langsung memukul provokator. Tidak ada anak-anak dan wanita yang menjadi sasaran amarah FPI. Hanya oknum yang sok jagoan dan arogan yang telah mengejek dan menghina kafir kepada laskar FPI yang menjadi sasaran empuk.

FPI menduga AKK-BB adalah kelompok bersenjata yang sengaja disusupkan ke dalam kegiatan demo BBM tersebut. Dengan menyertakan anak kecil dan wanita, mereka berniat mengalihkan isu BBM menjadi pembubaran FPI dengan memprovokasikan sebutan laskar kafir dan tembakan senjata api.

FPI kini menjadi obyek makian masyarakat dan intimidasi oleh Nahdlatul Ulama (NU) berserta elemen-elemennya. Sehingga, makin terbukti bahwa dakwah di jalah Allah SWT akan ditebus oleh fitnah, intimidasi, makian, dari kafirun dan munafikun. Itu semua kronologi versi FPI.
( irw / irw )

[Kembali]



Kronologi Penyerbuan FPI (versi AKKBB)

Ditulis pada oleh sumardiono

Ada kronologi penyerbuan FPI di Monas versi FPI ada kronologi penyerbuan versi AKKBB. Karena kronologi versi FPI sudah dimuat di DetikCom, berikut ini kronologi versi AKKBB yang aku dapat.

Silakan masyarakat menilai sendiri.

Kronologi Tragedi Pancasila Berdarah
Aksi 63 tahun Pancasila; “Satu Indonesia untuk Semua”
Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB)
Pelataran Monas, 1 Juni 2008

12.45
Massa AKKBB mulai berdatangan ke belakang Stasiun Gambir, bercampur dengan massa gerak jalan sehat PDIP. Ada 3-4 polisi yang mengatur lalu lintas dan mengatur massa PDIP yang menuju pulang

12.55
Massa AKKBB yang lain berdatangan ke dalam Pelataran Monas, berkumpul di satu titik untuk konsolidasi.

13.10
Massa AKKBB yang berada di belakang Stasiun Gambir berjalan menuju ke dalam Monas untuk merapatkan barisan dengan massa yang lain, untuk memberi kesempatan kepada massa PDIP membubarkan diri dari tempat parkir di belakang Stasiun. Ada seorang polisi berpakaian preman yang berkumpul di lokasi ini, dan 2 polisi berseragam agak jauh dari lokasi.

13.20
500-an massa FPI-HTI berjalan dari arah utara selayaknya orang baris berbaris.

13.25
Massa FPI-HTI sampai di depan massa AKKBB yang sedang mengatur barisan, dan tanpa basa basi langsung memukuli massa AKKBB yang sebagian duduk-duduk di aspal, tanpa perlawanan. Mereka memukuli membabi buta sambil berteriak: “Kamu Ahmadiyah ya”. “Allahu Akbar”. Tidak ada seorang aparat pun yang menolong. FPI-HTI sudah menyiapkan laskarnya dalam 4 lapis dan lapis terakhir laskar memakai baju hitam hitam, tutup muka dan senjata tajam seperti pedang, sejenis samurai, kayu seperti tombak. Juga pasir pedas yang dilemparkan ke mata.

13.30
Lapisan pertama membubarkan diri namun datang lapisan kedua sambil berteriak Allah Akbar dan minta lapisan pertama kembali menyerang, sehingga bertambah rombongan FPI-HTI yang menyerang teman teman AKKBB. Seorang polisi dengan mobil patroli datang menghampiri namun mobil nya ditendang beberapa orang FPI-HTI sehingga polisi itupun lari. Beberapa anggota AKKBB mencoba minta polisi berbuat sesuatu tapi polisi itu malah pergi. Mereka sempat dihampiri seorang anggota FPI-HTI dengan mengatakan,”Pergi lu, gue tahu lu Ahmadyah, pergi lu, mau mampus lu”.

13.35
Massa AKKBB sudah lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Serombongan polisi bermotor datang ke lokasi, melokalisir massa FPI-HTI. Massa FPI-HTI menghancurkan mobil dan soundsystem di dalamnya, kemudian membakarnya, di depan para polisi yang mengelilingi mereka.

14.00
Tim AKKBB menyisir seluruh lokasi, dan ada beberapa massa AKKBB yang masih tersisa di dalam dan tak berani keluar. Mereka memilih berdampur dengan pengunjung umum Monas, menunggu massa FPI-HTI bubar.

14.15
Massa FPI-HTI berjalan ke arah istana, bergabung dengan aksi HTI yang lain di depan istana.

14.28
AKKBB membuat konferensi pers dadakan di pelataran Galeri Nasional. Polisi mengingatkan massa AKKBB untuk tidak berlama-lama di Galeri Nasional, karena ada kemungkinan massa FPI-HTI masih akan mengejar.

15.00
Massa AKKBB bubar dari Pelataran Galeri Nasional

16.00
8 Sepeda motor berbendera FPI berhenti di depan Galeri Nasional dan melakukan pengamatan. Hanya tersisa beberapa orang di Pelataran Galeri Nasional.

Daftar korban menurut blog ini adalah 42 orang tapi menurut yang ini mencapai 70 orang.

[Kembali]



Kronologi Penyerbuan FPI Versi Salah Satu Korban FPI

Berita ini tidak saya dapatkan dari media massa manapun atau blog manapun. Berita ini langsung saya dapatkan dari salah satu korban FPI yang kebetulan adalah kerabatku.

Sebelum lebih lanjut, perlu dicatat bahwa AKK-BB bukanlah sebuah kelompok tunggal melainkan gabungan dari berbagai kelompok yang resah dengan aksi-aksi memaksakan keyakinan yang terjadi akhir-akhir ini.

Korban FPI berasal dari BKOK (Badan Kerjasama Organisasi Kepercayaan2 — kumpulan dari aliran kepercayaan) yang juga mendukung AKK-BB. Pada tanggal 1 Juni kemarin, korban beserta kawan-kawannya berniat melakukan demonstrasi damai.

Dari BKOK, tidak ada orang yang dibayar untuk demonstrasi karena demonstrasi ini menyangkut hidup mereka.

Korban dan seorang kawannya dari BKOK, sebelum peristiwa diminta melihat situasi di Monas untuk melihat apakah AKK-BB sudah ada sementara kawan-kawannya menunggu di Gambir. Di tangga monas, korban dan kawannya menemukan ibu-ibu dari NU yang akan ikut aksi AKK-BB sudah berada di tempat. Benar ada beberapa dari Ahmadiyah tetapi lebih banyak dari NU.

Sudah tampak FPI di jalan di arah Masjid Istiqlal. Tidak ada satupun dari mereka yang menyangka bahwa kelompok FPI yang diam saja dari tadi kelak akan menyerang mereka.

Kelompok pertama AKK-BB yang sudah berada di lokasi tidak membawa atribut apapun.

Kemudian muncul kelompok AKK-BB lain yang akan bergabung dengan kelompok pertama. Kelompok kedua ini membawa beberapa atribut.

Perlu dicatat bahwa pada saat itu, AKK-BB belum memulai demonstrasi. Masih akan ada rombongan-rombongan lain yang ditunggu.

Selain itu, baik kelompok pertama maupun kelompok kedua, sebagian besar terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak. Jumlah pemuda laki-laki dan bapak-bapak hanya sedikit.

Begitu kelompok pendatang AKK-BB bergabung dengan kelompok yang sudah ada di Monas, FPI mulai bergerak sambil meneriakkan “Allahu Akbar”.

Para pemuda mulai menarik tali untuk menjaga agar tidak ada dari AKK-BB yang terprovokasi untuk menyerang FPI. Hingga detik tersebut, tidak ada satupun dari AKK-BB yang menyangka bahwa FPI berniat menyerang mereka. Mereka membayangkan, paling banter FPI hanya melakukan provokasi namun sambil lewat. Bahkan hingga FPI mendekat, tidak ada prasangka di antara AKK-BB rencana FPI menyerang mereka.

Tiba-tiba FPI mendesak maju sambil membawa panji-panji bendera dari bambu sambil berteriak “Bubar! Bubar!”. Para pemuda AKK-BB berusaha menenangkan tetapi FPI malah mendesak maju dan menggunakan tongkat-tongkat bambu untuk memukuli AKK-BB.

FPI lebih mendesak masuk di bagian yang belum sempat dijaga dengan tali dan langsung menyerbu belakang yang sebagian besar berisi ibu-ibu termasuk ibu-ibu NU yang sudah datang lebih dahulu.

Adalah dusta bila FPI mengatakan tidak menganiaya wanita dan anak-anak karena korban melihat ibu-ibu NU yang tadi berbicara dengannya sebelum tragedi berlangsung ikut terkena pukulan.

Beberapa orang dari AKK-BB yang sudah lari ke Taman Monas tetap dikejar oleh FPI. Sementara korban yang juga kerabat saya, yang tadinya melawan akhirnya mengikuti kawannya lari sambil memberi peringatan melalui ponsel pada kawan-kawan BKOK yang masih di Gambir untuk tidak ke Monas.

Pada saat peristiwa, beberapa simpatisan AKK-BB baru tiba di sekitar Monas, namun langsung diarahkan oleh kawan-kawannya untuk segera pergi agar tidak terjadi kerusakan lebih lanjut. Apalagi sebagian besar simpatisan AKK-BB yang baru datang adalah wanita.

Korban tidak melihat lagi peristiwa-peristiwa yang lebih buruk yang terjadi setelahnya tetapi sebelum pergi, korban hanya melihat kurang dari 10 polisi yang berada di tempat kejadian tanpa bisa berbuat apa-apa. Beberapa anggota keamanan yang dipersiapkan oleh AKK-BB masih berusaha bertahan untuk menyelamatkan anggota AKK-BB yang lain.

Dengan kata lain,
dari kesaksian korban,
FPI memiliki waktu lama melihat siapa saja anggota AKK-BB,
dan mereka pasti sangat menyadari bahwa
kelompok yang mereka serang sebagian besar terdiri dari wanita
dan mereka berani menyangkal,
memutarbalikkan fakta,
mengalihkan perhatian dari tindakan kriminal yang mereka lakukan.



Klaim FPI: Pistol Diacungkan Pihak AKK-BB

Bukti yang di serahkan FPI:


Penjelasan Panitia dan Komentar:

TEMPO Interaktif, Jakarta :
Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) menilai pengamanan oleh polisi sangat lemah sehingga penyerangan brutal oleh laskar Front Pembela Islam (FPI) pada Ahad lalu terjadi.

Koordinator AKKBB Anik mengatakan hanya melihat tiga polisi ketika terjadi penyerangan di lapangan Monumen Nasional, Jakarta, lalu. “Dua berpakaian polisi, satunya preman,” katanya kepada Tempo setelah kejadian. “Saya tak tahu polisi menjaga kami atau kegiatan PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan).”

Koordinator Media AKKBB, Budi Kurniawan, mengaku hanya melihat seorang polisi ketika penyerangan terjadi sekitar 13.30 WIB. “Berpakaian preman menggengam pistol berusaha mencegah aksi brutal FPI,” katanya di Galeri Nasional setelah kejadian.
….

Menurut GP Ansor :
Oleh : Sugeng Riyadi, SE
….
Benarkah demikian? Ini masih misteri. (namun herannya ketika saya melihat siaran langsung di televisi mengenai pencidukan anggota Front Komando Islam di Petamburan, di sana kita dapat melihat jelas bahwa para polisi yang berpakaian preman semuanya menyematkan pita merah putih dilengan kirinya.
….

Menurut Saya:
Tidak ada suara letusan pestol ke udara. Monas merupakan ring 1 dan saat itu, tanggal 1 Juni 2008, yang ber-acara bukan saja cuma AKK-BB namun juga PDIP, dimana ada MANTAN Presiden Megawati Sukarnoputri, beberapa Pejabat penting dan juga Wapres ada disekitar lokasi (Sudirman). Letusan Pistol akan memancing banyak aparat untuk segera mendekati lokasi.

Orang yang memegang pistol (dilengan kirinya ada pita merah putih!) berusaha menghalangi gerak maju massa FPI dan melindungi seorang anak remaja yang tengah ketakutan! Di belakang mereka, tampak orang yang memakai Tag pengenal yang digantungkan di leher.

Pita merah putih! itu menunjukan ciri-ciri keorganisasian..Ada perencanaan, ada saksi..ada gambar video, ada wajah yang dikenali…masa iya, polisi tak dapat menangkap (sesuai permintaan FPI)!

Orang tersebut adalah angggota Polisi berpakaian preman yang bertugas di sana dan saat itu Ia sedang berusaha mencegah AKSI BRUTAL berkelanjutan dari massa FPI.

[Kembali]


Ahmadiyah Sesat dan Bukan Islam? Ah, Masa Seeh!!


Pengantar

Tulisan ini ada hanya karena masalah keprihatinan semata!, Bagaimana tidak? Ketika seorang Habib Assegaf dengan lantangnya meneriakan “Darah mereka Halal!!” yang ditujukan kepada kaum Ahmadiyah (lihat: Suara merdeka, 18 April 2008). Dapatkah anda bayangkan betapa mengerikannya implikasi teriakan perang tersebut?

Dari 195 Jutaan penduduk Islam di Indonesia pada tahun 2005 (Wikipedia), maka 99%-nya adalah kaum Sunni. Saat ini jumlah pemeluk Ahmadiyah di Indonesia mencapai 500 ribu orang (republika.co.id), jadi potensi bencana yang dapat muncul adalah ratusan ribu manusia akan tersia2, Ibu dan anak yang akan menjadi janda dan yatim piatu, harta benda akan ludes tidak tersisa. Semua ini bermula dari sebuah perbedaan pendapat yang berpotensi menuju medan laga! Padahal Negara ini masih ada, namun Ia turut kedalam pusaran dan malah berperan aktif menuju ke sebuah episode genocide

* * *

Semua ini merupakan rangkaian kompilasi fatwa MUI bahwa Ahmadiyah adalah diluar Islam, sesat dan menyesatkan


KEPUTUSAN FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor : 11/MUNAS VII/MUI/15/2005
Tentang
ALIRAN AHMADIYAH

Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawaran Nasional MUI VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426H./ 26-29 Juli 2005 M. setelah

MENIMBANG :
Bahwa sampai saat ini aliran Ahmadiyah terus berupaya untuk mengembangkan pahamnya di Indonesia, walaupun sudah ada fatwa MUI dan telah dilarang keberadaannya;

Bahwa upaya pengembangan paham Ahmadiyah tersebut telah menimbulkan keresahaan masyarakat;

Bahwa sebagian masyarakat meminta penegasan kembali fatwa MUI tentang faham Ahmadiyah sehubungan dengan timbulnya berbagai pendapat dan berbagai reaksi di kalangan masyarakat;

Bahwa untuk memenuhi tuntutan masyarakat dan menjaga kemurnian aqidah Islam, MUI memandang perlu menegaskan kembali fatwa tentang aliran Ahmadiyah.

MENGINGAT :
Firman Allah SWT.,
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi; dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Ahzab [33]: 40)
Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu di perintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa (QS. Al- An’am [6]: 153)
Hai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu. Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk…. (QS. Al-Ma’idah [5]: 105)

Hadist Nabi S.A.W.; A.l.:
Rasulullah bersabda: Tiadak ada Nabi sesudahku (HR. al-Bukhari).
Rasulullah bersabda: “Kerasulan dan kenabian telah terputus; karena itu, tidak ada Rasul maupun Nabi sesudahku (HR Tirmidzi)

MEMPERHATIKAN :
Keputusan Majma al-Fiqh al-Islami Organisasi Konferensi Islam (OKI) Nomor 4 (4/2) dalam Muktamar II di Jeddah, Arab Saudi, pada tanggal 10-16 Rabi’ al-Tsani 1406H./22-28 Desember 1985M tentang Aliran Qodiyaniyah, yang antara lain menyatakan; bahwa aliran Ahmadiyah yang mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi sesudah Nabi Muhammad dan menerima wahyu adalah murtad dan keluar dari Islam karena mengingkari ajaran Islam yang qath’i dan di sepakati oleh seluruh Ulama Islam bahwa Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir.

Keputusan Majma’ al-Fiqh Rabitha’ Alam Islami.
Keputusan Majma’ al-Buhuts.
keputusan Fatwa MUNAS II MUI pada tahun1980 tentang Ahmadiyah Qodiyaniyah.
Pendapat Sidang Komisi C Bidang Fatwa pada Munas VII MUI 2005

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT

M E M U T U S K A N
MENETAPKAN : FATWA TENTANG ALIRAN AHMADIYAH

Menegaskan kembali keputusan fatwa MUI dalam Munas II Tahun 1980 yang menetapkan bahwa Aliran Ahmadiyah berada di luar Islam, sesat dan menyesatkan, serta orang Islam yang mengikutinya adalah murtad (keluar dari Islam)’

Bagi mereka yang terlanjur mengikuti Aliran ahmadiyah supaya segera kembali kepada ajaran Islam yang haq (al-ruju’ ila al-haqq), yang sejalan dengan al-Qur’an dan al-Hadis.

Pemerintah berkewajiban untuk melarang penyebaran faham Ahmadiyah di seluruh Indonesia dan membekukan organisasi serta menutup semua tempat kegiatannya.

Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 22 Jumadil Akhir 1426 H
29 Juli 2005 M
MUSYAWARAH NASIONAL VII
MAJELIS ULAMA INDONESIA,
Pimpinan Sidang Komisi C Bidang Fatwa

Ketua, Sekretaris,
K.H. MA’RUF AMIN HASANUDIN
Ahmadiyah Qadiyam


Majelis Ulama Indonesia dalam Musyawarah Nasional II tanggal 11-17 Rajab 1400 H/26 Mei – 1 Juni 1980 M. di Jakarta memfatwakan tentang jama’al Ahmadiyah sebagai berikut :

Sesuai dengan data dan fakta yang diketemukan dalain 9 (sembilan) buah buku tentang Ahmadiyah, Majelis Ulama Indonesia memfatwakan bahwa Ahmadiyah adalah jama’ah di luar Islam, sesat dan menyesatkan.

Dalam menghadapi persoalan Ahmadiyah hendaknya Majelis Ulama Indonesia selalu berhubungan dengan Pernerintah. Kemudian Rapat Kerja Nasional bulan 1- 4 Jumadil Akhir 1404 H./4 – 7 Maret 1984 M., merekomendasikan tentang jama’ah Ahamdiyah tersebut sebagai berikut:

Bahwa Jemaat Ahmadiyah di wilayah Negara Republik Indonesia berstatur sebagai badan hukum berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehakiman RI No. JA/23/13 tanggal 13-3-1953 (Tambahan Berita Negara: tangga131-3-1953 No. 26), bagi ummat Islam menimbulkan :

Keresahan karena isi ajarannya bertentangan dengan ajaran agama Islam
Perpecahan, khususnya dalam hal ubudivah (shalat), bidang munakahat dan lain-lain.
Bahaya bagi ketertiban dan keamanan negara.

Maka dengan alasan-alasan tersebut dimohon kepada pihak yang berwenang untuk meninjau kembali Surat Keputusan Menteri Kehakiman RI JA/22/ 13, tanggal 31-3-1953 (Tambahan Berita Negara No. 26, tanggal 31– – 1953).

Menyerukan :
Agar Majelis Ulama Indonesia, Majelis Ulama Daerah Tingkat I, Daerah Tingkat II, para ulama, dan da’i di seluruh Indonesia, menjelaskan kepada masyarakat tentang sesatnya Jema’at Ahmadiyah Qadiyah yang berada di luar Islam.

Bagi mereka yang telah terlanjur mengikuti Jema’at Ahmadiyah Qadiyah supaya segera kembali kepada ajaran Islam yang benar.

Kepala seluruh ummat Islam supaya mempertinggi kewaspadaannya, sehingga tidak akan terpengaruh dengan faham yang sesat itu


, press release dari pengurus Ahmadiyah


PRESS RELEASE

Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia
16 April 2008

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu,
Sehubuangan dengan pemberitaan di media massa berkenaan dengan rekomendasi bakor pakem tentang Jemaat Ahmadiyah Indonesia, maka pimpinan Jemaat Ahmadiyah memberikan penjelasan sebagai berikut :

1. Kepada seluruh anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia dimanapun berada, sampai saat ini Pemerintah Republik Indonesia tidak melarang Jemaat Ahmadiyah Indonesia.

2. Oleh karena itu tetaplah tenang, berdoa dan lakukan sholat Tahajud bersama memohon perlindungan Allah SWT untuk memberikan hasil yang terbaik untuk Jemaat Illahi ini.

3. Menurut penjelasan Bakor Pakem bahwa rekomendasi ini masih akan melalui proses selanjutnya. Beliau menghimbau agar masyarakat tidak melakukan tindakan melawan hukum dan kekerasan terhadap warga Jemaat Ahmadiyah Indonesia.

4. Kepada seluruh masyarakat kami tegaskan bahwa Jemaat Ahmadiyah Indonesia adalah organisasi resmi yang berbadan hokum dan bukan organisasi terlarang,

5. Ahmadiyah sebagai Jemaat Illahi yang menjalankan ajaran Islam diantaranya taat kepada pemerintah, maka Jemaat Ahmadiyah Indonesia akan selalu mengkoordinasikan hal-hal yang di hadapi kepada pihak pemerintah dan pihak keamanan

6. Petunjuk resmi hanya akan disampaikan oleh pimpinan Jemaat Ahmadiyah Indonesia sesuai dengan sistem yang berlaku didalam Jemaat Ahmadiyah.

7. Jangan terpengaruh oleh berita-berita tidak resmi yang datang bukan dari pimpinan Jemaat Ahmadiyah Indonesia

Jakarta, 16 April 2008
Juru Bicara Jemaat Ahmadiyah Indonesia
Zafrullah Ahmad Pontoh


dan 12 Butir Penjelasan Versi Ahmadiyah


1. Kami warga Jemaat Ahmadiyah sejak semula meyakini dan mengucapkan dua kalimah syahadat sebagaimana yang diajarkan oleh Yang Mulia Nabi Muhammad Rasulullah SAW, yaitu Asyhaduanlaa-ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadar Rasullulah, artinya: aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah.

2. Sejak semula kami warga jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa Muhammad Rasulullah adalah Khatamun Nabiyyin (nabi penutup).

3. Di antara keyakinan kami bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang guru, mursyid, pembawa berita dan peringatan serta pengemban mubasysyirat, pendiri dan pemimpin jemaat Ahmadiyah yang bertugas memperkuat dakwah dan syiar Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW.

4. Untuk memperjelas bahwa kata Rasulullah dalam 10 syarat bai’at yang harus dibaca oleh setiap calon anggota jemaat Ahmadiyah bahwa yang dimaksud adalah nabi Muhammad SAW, maka kami mencantumkan kata Muhammad di depan kata Rasulullah.

5. Kami warga Ahmadiyah meyakini bahwa

a. tidak ada wahyu syariat setelah Al-Quranul Karim yang diturunkan kepada nabi Muhammad.
b. Al-Quran dan sunnah nabi Muhammad SAW adalah sumber ajaran Islam yang kami pedomani.

6. Buku Tadzkirah bukan lah kitab suci Ahmadiyah, melainkan catatan pengalaman rohami Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan dan dibukukan serta diberi nama Tadzkirah oleh pengikutnya pada 1935, yakni 27 tahun setelah beliau wafat (1908).

7. Kami warga jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengkafirkan orang Islam di luar Ahmadiyah, baik dengan kata maupun perbuatan.

8. Kami warga jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan menyebut Masjid yang kami bangun dengan nama Masjid Ahmadiyah.

9. Kami menyatakan bahwa setiap masjid yang dibangun dan dikelola oleh jemaat Ahmadiyah selalu terbuka untuk seluruh umat Islam dari golongan manapun.

10. Kami warga jemaat Ahmadiyah sebagai muslim melakukan pencatatan perkawinan di Kantor Urusan Agama dan mendaftarkan perkara perceraian dan perkara lainnya berkenaan dengan itu ke kantor Pengadilan Agama sesuai dengan perundang-undangan.

11. Kami warga jemaat Ahmadiyah akan terus meningkatkan silaturahim dan bekerja sama dengan seluruh kelompok/golongan umat Islam dan masyarakat dalam perkhidmatan sosial kemasyarakat untuk kemajuan Islam, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

12. Dengan penjelasan ini, kami pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia mengharapkan agar warga Jemaat Ahmadiyah khususnya dan umat Islam umumnya serta masyarakat Indonesia dapat memahaminya dengan semangat ukhuwah Islamiyah, serta persatuan dan kesatuan bangsa.

Jakarta, 14 Januari 2008

PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia

H. Abdul Basit
Amir

Mengetahui (disertai tanda tangan)
1. Prof. Dr. H.M. Atho Mudzhar (Kabalitbang dan Diklat Depag RI)
2. Prof. Dr. H. Nasarudin Umar, MA (Dirjen Bimas Islam Depag RI)
3. Prof. Dr. H. Azyumardi Azra, MA (Deputi Seswapres Bidang Kesra)
4. Drs. Denny Herdian MM (Ditjen Kesbangpol Depdagri)
5. Ir. H. Muslich Zainal Asikin, MBA, MT (Ketua II Pedoman Besar Gerakan Ahmadiyah Indonesia – GAI)
6. KH Agus Miftah (Tokoh masyarakat)
7. Irjen Pol. Drs. H. Saleh Saaf (Kaba Intelkam Polri)
8. Prof. Dr. HM Ridwan Lubis (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
9. Ir. H. Anis Ahmad Ayyub (Anggota Pengurus Besar JAI)
10. Drs. Abdul Rozzaq (Anggota Pengurus Besar JAI)


. Fatwa sesat itu sudah lama ada


Sampai dengan 2008, di Indonesia masalah Ahmadiyah belum juga tuntas. Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pada 2005 lalu mengeluarkan fatwa Ahmadiyah sesat, malah dipersoalkan. Padahal, fatwa serupa sudah lama keluar dan mendunia.

Di Pakistan, kampung asalnya, Ahmadiyah baik Qadian maupun Lahore– hanya boleh hidup dengan syarat: tidak mengaku Islam. Di sana, sejak 1974, ajaran yang dibawa Mirza Ghulam Ahmad itu ditetapkan sebagai agama tersendiri. Itulah kompromi maksimalnya agar harmonis.

Fatwa penganut Ahmadiyah murtad, juga lahir dari pertemuan para ulama dari seluruh dunia di Jeddah, Arab Saudi. Tahun 1981, Rabithah Alam Islami, juga menyatakan Ahmadiyah Qadian murtad dan kafir. Pada saat yang sama, Kedubes Arab Saudi di Jakarta, juga telah meminta Ahmadiyah dilarang. Malaysia dan Brunei Darussalam telah lama melarangnya. ”Jadi, bukan fatwa MUI saja, tapi dari seluruh ulama di dunia,” kata Ketua MUI, KH Ma’ruf Amin, kemarin.

Penganut Ahmadiyah, kata Ma’ruf, telah diberi pilihan: kembali ke Islam, atau keluar dari Islam. ”MUI menyatakan Ahmadiyah sesat dan menyesatkan sama sekali tak melanggar HAM. Ini masalah akidah.” Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi, mengatakan MUI dan fatwanya tak bisa dituding penyebab kekerasan terhadap pengikut Ahmadiyah. Sebab, fatwa serupa sudah lama ada. hri/osa [Republika]


dan MUI hanya merupakan kepanjangan tangan dari kesepakatan seluruh majelis ulama di dunia. Di Pakistan, pemberangusan Ahmadiyah adalah dimungkinkan, mengingat system konstitusi mereka berbeda dengan Negara kita (lihat: konstitusi Pakistan


The Constitution of Pakistan


CONSTITUTION (SECOND AMENDMENT) ACT, 1974


An Act to amend the Constitution of the Islamic Republic of Pakistan [Gazette of Pakistan, Extraordinary, Part I, 21st September, 1974]
The following Act of Parliament received the assent of the President on 17th September,1974, and is hereby published for general information:-

Whereas it is expedient further to amend the Constitution of the Islamic Republic of Pakistan for the purposes hereinafter appearing ;

It is hereby enacted as follows:-

1- Short title and commencement.

(1) This Act may be called the CONSTITUTION (SECOND AMENDMENT) ACT, 1974
(2) It shall come into force at once.

2- Amendment of Article 106 of the Constitution.

In the Constitution of Islamic Republic of Pakistan, hereinafter referred to as the Constitution in Article 106, in clause (3) after the words “communities” the words and brackets “and persons of Quadiani group or the Lahori group (who call themselves ‘Ahmadis’)” shall be inserted.

3- Amendment of Article 260 of the Constitution.
In the Constitution, in Article 260, after clause (2) the following new clause shall be added, namely–

(3) A person who does not believe in the absolute and unqualified finality of The Prophethood of MUHAMMAD (Peace be upon him), the last of the Prophets or claims to be a Prophet, in any sense of the word or of any description whatsoever, after MUHAMMAD (Peace be upon him), or recognizes such a claimant as a Prophet or religious reformer, is not a Muslim for the purposes of the Constitution or law.”


Thanks: Mr Abdul Hameed Cheema (ahchima@brain.net.pk)


PART XII (contd), Miscellaneous, Chapter 5. Interpretation

[..]

[279]
[(3) In the Constitution and all enactments and other legal instruments, unless there is anything repugnant in the subject or context

(a) “Muslim” means a person who believes in the unity and oneness of Almighty Allah, in the absolute and unqualified finality of the Prophethood of Muhammad (peace be upon him), the last of the prophets, and does not believe in, or recognize as a prophet or religious reformer, any person who claimed or claims to be a prophet, in any sense of the word or of any description whatsoever, after Muhammad (peace be upon him); and

(b) “non-Muslim” means a person who is not a Muslim and includes a person belonging to the Christian, Hindu, Sikh, Buddhist or Parsi community, a person of the Quadiani Group or the Lahori Group who call themselves ‘Ahmadis’ or by any other name or a Bahai, and a person belonging to any of the Scheduled Castes.]


Notes for Part XII, Chapter 5
279
Substituted by the Constitution (Third Amendment) Order, 1985 (P.O.No. 24 of 1985), section 6 (with effect from March 19, 1985) for clause (3), added by the Constitution (Second Amendment) Act, 1974 (49 of 1974), section 3 (with effect from September 17, 1974); it read:

“(3)

A person who does not believe in the absolute and unqualified finality of the Prophethood of Muhammad (Peace be upon him) the last of the Prophets, or claims to be a Prophet, in any sense of the word or of any description whatsoever, after Muhammad (Peace be upon him), or recognizes such a claimant as a prophet or a religious reformer, is not a Muslim for the purposes of the Constitution or law.”


). Telah dinyatakan dalam konstitusi mereka bahwa Ahmadiyah adalah aliran non muslim. Sedangkan Di Indonesia ruang gerak pemberangusan kebebasan beragama seharusnya tidak dimungkinkan! Jadi tidak ada ruang gerak dimana Negara ini berubah menjadi banci dengan mengakomodir sekelompok orang untuk memaksakan kehendak (bahkan kalau mereka adalah mayoritas sekalipun)!

Jadi, tindakan dari Habib Assegaf dan juga FUI yang terdiri dari sejumlah ormas Islam, di antaranya Persatuan Umat Islam (PUI), Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Majelis Mujahiddin Indonesia dan Tim Pembela Muslim. Beberapa perwakilan partai politik juga datang, antara lain, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Bulan Bintang (PKB) dan Partai Bintang Reformasi (PKB) yang berusaha untuk mengamankan Fatwa itu walau dengan jalan kekerasan sekalipun maka seharusnya sudah merupakan tindakan anarkis! dan harus segera diberangus! (lihat: waspada.co.id)

* * *

Perlu kiranya saya kutip pendapat Muhammad Guntur Romli mengenai Habib Assegaf dan FUI:

    Forum Umat Islam (FUI) melalui tokohnya Muhammad al-Khaththath. Sepanjang pengetahuan saya, al-Khaththath ini ketua Hizb Tahrir Indonesia: sebuah partai Islam transnasional yang akidah politiknya bertentangan dengan ideologi negara kita. Sistem negara yang diingkan oleh Hizb Tahrir bukan republik (jumhuriyah), atau federasi (ittihadiyah) namun negara khilafah yang bertentangan dengan sistem negara kita yang republik. Hizb Tahrir juga akan menghapus teritori wilayah Idonesia dengan memasukkannya dalam wilayah khilafah Islam. Hizb Tahrir juga memiliki keyakinan bahwa demokrasi adalah sistem kafir (nidzamul kufr). Hizb Tahrir inilah yang semestinya perlu diwaspadai karena akan menghancurkan ideologi yang telah dibangun oleh founding fathers kita. Dibanding ormas-ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, Al-Wahsliyah termasuk juga Ahmadiyah yang memiliki sejarah yang cukup panjang di Indonesia, Hizb Tahrir tak hanya “masbuq” dalam jemaah ormas Islam itu, namun sudah ketinggalan jauh, sehingga ideologi dan tujuan kelompok ini bertentangan dengan ideologi negeri kita: NKR, Pancasila dan UUD 45.

    Pun karakter Islam Hizb Tahrir juga bukan karakter Islam di Indonesia yang lebih mengutamakan dakwah kultural dan menggarap langsung masyarkat melalui pendidikan: pesantren dan sekolah, rumah sakit, dan lain-lain. Sedangkan Hizb Tahrir adalah kelompok yang dibayangi trauma kekalahan akibat runtuhnya Imperium Othmaniyah di Turki, dan kelompok ini sebagai partai politik transnasional tidak memiliki lembaga-lembaga pendidikan, pelayanan kesehatan, atau yang berkaitan langsung dengan hajat masyarakat banyak.

    Saya memiliki dugaan, Forum Umat Islam (FUI) ini adalah kamuflase dari Hizb Tahrir yang akhir-akhir ini terpojok karena ideologi mereka dihadapkan dengan ideologi negara kita, sehingga beberapa petinggi mereka perlu melakukan strategi dengan memperbanyak topeng. Dugaan ini bisa menjadi keyakinan karena kuatnya suara Muhammad al-Khaththath, ideolog Hizb Tahrir Indonesia di kelompok ini. Selain FUI, Hizb Tahrir juga memiliki “produk baru” lain yaitu Gerakan Mahasiswa Pembebasan yang setiap demonstrasi mereka menggunakan ikat kepala putih dengan tulisan dua kalimat syahadat bertinta hitam. Namun Hizb Tahrir ini tak bisa membohongi masyarakat umum karena ada kemiripan slogan, agenda, modus pergerakan hingga font (jenis huruf) yang mereka gunakan sebagai pamflet.

    Kelompok yang menamakan dirinya Gerakan Umat Islam Indonesia (GBUII) yang dipimpin oleh Habib Abdurrahman Assegaf. Melalui informasi yang kami kumpulkan di Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), Abdurrahman Assegaf ini memiliki nama asli Abdul Haris Umarella, putra asli Ambon. Kami juga tidak tahu dari mana ia mendapatkan gelar kehormatan habib dan mendapatkan gelar marga bangsawan Arab: Assegaf. Abdul Haris Umarella ini pula yang selama ini terus melakukan intimidasi terhadap masjid-masjid yang digunakan oleh jamaah Ahmadiyah untuk salat jemaah.

    Masih segar dalam ingatan saya ketika Abdul Haris Umarella mendatangi masjid al-Fadl bersama anak buahnya di Bogor bulan Desember kemaren, ia membawa kitab tebal yang ia yakini sebagai Tadzkirah, dalam tuduhannya juga Tadzkirah adalah kitab suci Ahmadiyah. Dan ia pun menginjak-injak kitab tersebut. Saya hanya bisa terperangah, bagaimana ia bisa menginjak sebuah kitab yang di dalamnya ada tulisan lafadz Allah, dan ayat-ayat al-Quran?


Apa amanat dari konstitusi?

UUD 45 Pasal 29 ayat (2) disebutkan, “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.” Dalam Pasal 28E tentang Hak Asasi Manusia hasil amendemen UUD 1945 tahun 2000 disebutkan, (1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya… (2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

Dalam UU No 39 Tahun 1999 tentang HAM, Pasal 22 juga ditegaskan, 1) Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu; 2) Negara menjamin kemerdekaan setiap orang memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Dan dalam Pasal 8 juga ditegaskan bahwa negara—dalam hal ini pemerintah—memiliki tanggungjawab menjamin prinsip kebebasan tersebut yang menjadi hak asasi manusia, “Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia menjadi tanggung jawab negara, terutama pemerintah” [islamlib.com]


Bagaimana Pelaksanaan Konstitusi?

Perintah dan peringatan keras kepada Ahmadiyah untuk menghentikan kegiatannya dilakukan melalui surat keputusan bersama Mendagri, Jaksa Agung, dan Menteri Agama. Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan (Bakor Pakem) akan meminta Surat Keputusan Bersama (SKB) tersebut segera diterbitkan.

“SKB ini akan kita kirim surat ke masing-masing beliau Jaksa Agung, Menag, dan Mendagri dengan tembusan Menko Polhukam. Diharapkan melalui forum Menko Polhukam supaya peringatan ini segera dikeluarkan,” kata Ketua Bakor Pakem Wisnu Subroto dalam konferensi pers soal hasil rapat Bakor Pakem di Kejagung, Jl Sultan Hasanudin, Jakarta, Rabu (16/4/2008).

Dia menjelaskan Ahmadiyah memang telah dinyatakan menyimpang, namun Bakor Pakem tidak dapat membubarkan Ahmadiyah secara langsung. Pembubaran itu, kata Wisnu, dilakukan oleh Presiden berdasarkan pertimbangan dari Mendagri, Jaksa Agung, dan Menteri Agama. Hal itu pun dapat dilakukan jika Ahmadiyah tetap aktif meski telah diperingatkan.

“Menurut UU, pembubaran bisa dimintakan oleh Mendagri, Menag, dan Jaksa Agung. Mereka dapat memberikan pertimbangan Presiden untuk membubarkan,” jelasnya. [menkokesra.go.id]


Apa Kata Ketua Mahkamah Konstitusi?

Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Jimly Asshiddiqie menilai persoalan agama lebih baik dikembalikan kembali kepada internal agama dan pemerintah lebih baik jangan ikut campur. “Tetapi kalau ada kekerasan, barulah pemerintah melindunginya,” katanya. [menkokesra.go.id]


Bagaimana perspektif penafsiran dalam Islam?

Sebelum melihat bagaimana pendapat-pendapat tersebut memainkan peranannya dan berhadapan saling bertolak belakang, ada baiknya kita simak dulu Al Itqaan Fii Ulumil Qur’an karya Jalaluddin As Suyuti dibawah ini:

    All Muslim scholars acknowledge that the Qur’an contains words which even Muhammad’s relatives and companions have failed to understand. In his book, “The Itqan” (part 2, p. 4), the Suyuti states clearly,

    “Muhammad’s companions, who are genuine Arabs, eloquent in language, in whose dialect the Qur’an was given to them, have stopped short in front of some words and failed to know their meanings, thus they said nothing about them. When Abu Bakr was asked about the Qur’anic statement ‘and fruits and fodder’ (8:31), he said, ‘What sky would cover me or what land would carry me if I say what I do not know about the book of God?’ ’Umar ibn al-Khattab read the same text from the rostrum, then he said, ‘This fruit we know, but what is fodder?’ Sa’id ibn Jubair was asked about the Qur’anic text in chapter 13 of Mary. He said, ‘I asked ibn ’Abbas about it, but he kept silent.”’

Berikut kutipan dari majalah Fatawa 05/II/1425H hal. 60 – 63:

    Abdurrahman bin Muhammad mendengar Abdurrahman bin Mahdi berkata,
    Fitnah dalam masalah hadits itu lebih dahsyat akibatnya dibanding dengan fitnah harta atau anak.

    Abu Qudamah mendengar Abdurrahman bin Mahdi berkata,
    Sungguh, saya mengetahui cacat/cela sebuah hadits lebih aku cintai daripada saya mengambil faedah/manfaat dari 10 hadits.

Jadi, jangankan para Ulama yang jelas-jelas tidak hidup sejaman dengan Nabi, pun bahkan para sahabat Beliau tidaklah sepenuhnya mampu mengartikan apa yang Allah maksudkan pada kalimat-kalimatNya.

Titik tolak perbedaan pendapat ini, salah satunya berkenaan dengan kenabian Mirza Gulam Ahmad (MGA) (tentunya juga terhadap nabi-nabi lain dari aliran islam lainnya).

Terbuka atau tertutupnya pintu kenabian setelah Nabi Muhammad Wafat adalah mengikuti bagaimana menafsirkan ‘khaatama alnnabiyyiina dari surat Al Ahzab:40 dibawah ini:

    ًmaa kaana muhammadun abaa ahadin min rijaalikum walaakin rasuula allaahi wakhaatama alnnabiyyiina wakaana allaahu bikulli syay-in ‘aliimaan

    [33:40] Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu1224, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
    1224: Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. bukanlah ayah dari salah seorang sahabat, karena itu janda Zaid dapat dikawini oleh Rasulullah s.a.w.

Kutipan ayat di atas, terutama dalam mengartikan kata khaatama alnnabiyyiina, merupakan ajang perang tanding pendapat yang tak berkesudahan tentang tertutup atau tidaknya pintu kenabian setelah Muhammad Wafat!

Pendapat-pendapat bahwa khaatama alnnabiyyiina berarti PENUTUP NABI-NABI merupakan pendapat dari aliran main-stream Islam dan anda dapat lihat pendapat itu di sini


Pendapat-pendapat yang menyatakan arti sebagai Nabi penutup:

Al-Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghowiy (wafat 516 H) -rahimahullah- berkata ketika menafsirkan ayat ini, “Ibnu Abbas berkata, “Allah menginginkan bahwa andai Aku (Allah) tidak menutup para nabi dengan Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, maka Aku akan berikan kepadanya seorang putra yang akan jadi nabi setelahnya. Diriwayatkan dari Atho’ dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Allah -Ta’ala- tatkala telah memutuskan bahwa tak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, maka Allah tak berikan kepada beliau seorang putra yang akan jadi pria dewasa. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. [Lihat Ma’alimAt-Tanzil (1/357)]

Al-Imam Ath-Thobariy (wft 310 H) -rahimahullah- berkata menafsiri ayat ini, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi yang menutup pintu kenabian; Beliau (Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-) menutup pintu kenabian, maka tak akan dibuka lagi bagi seorang pun sampai tegaknya hari kiamat”.[Lihat Jami’ Al-Bayan (1/305)]

Al-Imam Abu Sa’id Abdullah bin Umar Al-Baidhowiy (wafat 685 H)-rahimahullah- berkata, ” “dan penutup nabi-nabi”, yaitu yang akhir diantara mereka, yang menutup para nabi, atau mereka ditutup dengannya menurut bacaan Ashim dengan mem-fathah huruf kho’nya. Hal ini tidaklah masalah dengan turunnya Isa setelah Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, karena jika Isa turun, maka ia akan berada di atas agama Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Selain itu, yang dimaksudkan penutup para nabi, bahwa Nabi Muhmmad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang paling terakhir diangkat menjadi nabi”. [Lihat Anwar At-Tanzil (1/377)]

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Tak ada seorang nabi antara aku dengan Isa -alaihis salam-; sesungguhnya ia akan turun. Jika kalian melihatnya, maka kenalilah; ia adalah seorang yang berperawakan sedang, (warna kulitnya) condong kepada merah dan putih antara dua warna kuning; seakan-akan kepalanya meneteskan (air), sekalipun tak basah. Isa akan memerangi manusia berdasarkan Islam; ia akan mematahkan salib-salib, membunuh babi-babi. Allah akan membinasakan semua agama di zamannya, kecuali Islam; Dia akan membunuh Al-Masih Dajjal. Kemudian ia akan tinggal di bumi selama 40 tahun, lalu ia wafat. Maka kaum muslimin pun melakukan sholat jenazah atasnya”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya(4324), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (6775 & 6782), dan Ahmad dalam Al-Musnad (2/402). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (2182)]

Muhaddits Negeri India, Syamsul Haq Al-Azhim Abadi-rahimahullah- berkata, “Jika demikian halnya (yakni tak adanya Nabi setelah Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-), maka tak boleh disangka bahwa Isa –alaihis salam- akan turun sebagai nabi dengan membawa syari’at baru, selain syari’at Muhammad, Nabi kita. Bahkan jika ia turun, maka Isa pada hari itu akan menjadi pengikut Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tatkala ia bersabda kepada Umar,

“Andaikan Musa hidup, maka tak boleh baginya, kecuali ia harus mengikutiku”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (14672), dan Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (176). Lihat Takhrij Al-Misykah (177)] [Lihat Aunul Ma’bud (11/305)]

Al-Imam Abus Su’ud Muhammad Al-Imadiy (wafat 982 H) -rahimahullah- berkata, “(penutup nabi-nabi), maksudnya: Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- nabi paling akhir diantara para nabi, yang mereka ditutup dengan beliau. Hal ini tidaklah masalah dengan turunnya Isa setelah Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam, karena jika Isa turun, maka ia akan berada di atas agama Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Karena maknanya “ia penutup nabi-nabi” bahwa tak ada seorangpun yang akan diangkat jadi nabi setelah Nabi Muhmmad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Sedang Isa termasuk orang yang diangkat jadi nabi sebelum Nabi Muhammad. Ketika Isa turun, ia turun hanyalah untuk menerapkan syari’at Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-; sholat menghadap kiblatnya, seakan-akan Isa adalah bagian dari ummat Nabi Muhammmad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-“. [Lihat Irsyad Al-Aql As-Salim (7/106)]

Abul Barokat Abdullah bin Ahmad An-Nasafiy (wafat 701 H)-rahimahullah- berkata ketika menafsirkan ayat di atas, ” “Wa khotaman Nabiyyin” (penutup nabi-nabi) –dengan terfathah huruf kho’nya- menurut bacaan Ashim, bermakna penutup, maksudnya yang paling akhir diantara mereka, yaitu tidak diangkat lagi setelahnya seorang menjadi nabi. Sedang Isa termasuk orang yang diangkat jadi nabi sebelum Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Tatkala ia turun untuk menerapkan syari’at Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, maka ia seakan sebagian dari ummat Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-“. [Lihat Tafsir An-Nasafiy (3/308)]

Abul Faroj Abdur Rahman Ibnul Jauziy Al-Hambaliy -rahimahullah- berkata, “Barang siapa yang membaca kata “khotam” dengan meng-kasroh huruf ta’nya, maka maknanya adalah Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- telah menutup para Nabi. Barang siapa yang mem-fathah-nya, maka maknanya adalah (Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-) nabi yang paling terakhir. Ibnu Abbas berkata, “Allah menginginkan bahwa andai Aku (Allah) menutup para nabi dengan Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, maka Aku akan berikan kepada Muhammad seorang anak lelaki yang akan menjadi nabi setelahnya”.”. [Lihat Zaadul Masir (6/393)]

Al-Imam Abul Hasan Ali bin Ahmad Al-Wahidiy-rahimahullah- berkata dalam Al-Wajiz fit Tafsir (1/868), ” “tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi”, yaitu tak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-“.

Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda,
“Dahulu Bani Isra’il dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang Nabi meninggal, maka ia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tak ada lagi nabi setelahku; akan ada khalifah-khalifah, lalu mereka banyak”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3268), Muslim dalam Shohih-nya (1842), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (2871), Ahmad dalam Musnad-nya (7947), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (4555 & 6249), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro(16325), dan Ibnu Rohuyah dalam Musnad-nya (222)]

Ibnu Athiyyah-rahimahullah- berkata setelah menjelaskan makna Khotaman nabiyyin (Penutup nabi-nabi), “Lafazh-lafazh ini -menurut sekelompok ulama sejak dulu, dan belakangan- diwarisi secara umum dan sempurna, yang mengharuskan secara nash bahwa tak ada nabi setelah Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-“. [Lihat Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (14/173)]

Ahli Tafsir Negeri Syam, Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad- Dimasyqiy-rahimahullah- berkata saat menafsirkan ayat di atas, “Ayat ini merupakan nash bahwa tak ada nabi setelah Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Jika tak ada nabi setelahnya, maka tentunya lebih utama tak ada rasul setelahnya, karena jenjang kerasulan lebih khusus dibandingkan jenjang kenabian. Jadi setiap rasul adalah nabi, bukan sebaliknya”.[Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (3/650)]


Sedangkan pendapat-pendapat bahwa khaatama alnnabiyyiina berarti Nabi yang Termulia dan/atau Nabi yang berahlak sempurna adalah sebagai berikut:

Penjelasan pada catatan kaki 1224 pada surat 33:40 di atas menyebutkan bahwa turunnya ayat adalah dalam konteks peristiwa Nabi menikahi Siti Zainab yang sebelumnya merupakan menantu Nabi dari perkawinannya dengan Zaid ibn Harits(anak angkat Nabi). Pada waktu itu orang-orang Arab mencerca habis-habisan Beliau dan dianggap telah melanggar tradisi dengan menikahi bekas menantunya sendiri. Para kritikus mengatakan bahwa Nabi. telah memerintahkan Zaid menceraikan Zainab karena Nabi jatuh cinta kepada menantunya.

khaatama alnnabiyyiina merupakan sebuah penegasan Allah mengenai rasulNya Bahwa Ia adalah seorang yang mempunyai ahlak yang setinggi-tingginya, yang paling paling mulia dan yang paling sempurna, serta di antara semua manusia dan para nabi maka Beliau-lah khaatama alnnabiyyiina dalam segala kebaikan sebagai manusia dan nabi Allah.

Jadi, menurut asal muasal turunnya ayat, maka arti khataam lebih dekat pada arti yang ‘paling mulia’ daripada ‘penutup’ seperti pendapat kebanyakan para aliran mainstream.

* * *

Berikut di bawah ini adalah kumpulan pendapat bahwa ada pintu yang memungkinkan adanya Nabi setelah Muhammad dan pendapat-pendapat ini banyak digunakan oleh kaum Ahmadiyah dalam mendukung Mirza Gulam Ahmad bisa jadi adalah seorang Nabi dan juga para aliran lainnya berkenaan dengan nabi-nabi mereka:

    Siti Aisyah, Istri Rasulullah s.a.w. menurut riwayat pernah mengatakan,
    “Katakanlah bahwa beliau (Rasulullah s.a.w.) adalah Khataman Nabiyyin, tetapi janganlah mengatakan tidak akan ada nabi lagi sesudah beliau” (lihat Durr Mantsur oleh Hafizh Jalal-ud-Din ‘Abdur Rahman Sayuthi dan situs ini).

    “Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiya’, tetapi jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya ba’dahu (tidak ada Nabi sesudahnya)” (Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 5)

    Rasulullah s.a.w. adalah yang terbaik, termulia, dan paling sempurna dari antara semua nabi dan juga beliau adalah sumber hiasan bagi mereka (lihat Syarh Zurqani oleh Imam Muhammad ibn ‘Abdul Baqi al-Zurqani, dan Syarah Mawahib al-Laduniyyah oleh Syihab-ud-Din Ahmad Qastalani).

    Berkata Sheikh Muhyiddin Ibnu Arabi: “Maksud sabda Nabi Muhammad SAW sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus dan tidak ada lagi rasul dan nabi sesudahku, ialah tidak akan ada nabi yang membawa syariat yang akan menentang syariat aku. Maka tidaklah nubuwat itu terangkat seluruhnya. Karena itu kami mengatakan sesungguhnya yang terangkat ialah nubuwat tasyri’i (kenabian yang pakai syariat), maka inilah ma’na tidak ada nabi sesudah beliau”.(Futuhatul Makkiyah, jilid II halaman 73).

    Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi r.h. dalam kitabnya Futuuhatul Makiyyah menulis:
    “Inilah arti dari sabda Rasulullah s.a.w., “Sesungguhnya risalah dan nubuwat sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan Nabi yang datang sesudahku yang bertentangan dengan Syari’atku. Apabila ia datang, ia akan ada di bawah Syari’atku.” (Futuuhatul Makiyyah, Ibnu Arabi, Darul Kutubil Arabiyyah Alkubra, Mesir, jld II, hlm. 3)

    Imam Muhammad Thahir Al-Gujarati berkata: “Ini tidaklah bertentangan dengan hadits tidak ada nabi sesudahku, karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi nabi yang akan mebatalkan syariat beliau”….(Takmilah Majmaul Bihar, halaman 85).

    Mulla ‘Ali Al-Qari berkata: “Maka tidaklah hal itu bertentangan dengan ayat “khaatamannabiyin” karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi nabi yang akan membatalkan agama beliau dan nabi yang bukan dari umat beliau”……(Maudhuat Kabir, halaman 59).

    Nawwab Siddiq Hasan Khan menulis: “Benar ada hadist yang berbunyi “la nabiyya ba’di” artinya menurut pendapat ahli ilmu pengetahuan ialah bahwa sesudahku tidak akan ada lagi nabi yang menasikhkan / membatalkan syariatku”…..(Iqtirabussa’ah, halaman 162).

    Imam Sya’rani berkata:”Dan sabda Nabi Muhammad SAW, tidak ada nabi dan rasul sesudahku, adalah maksudnya tidak ada lagi nabi sesudah aku yang membawa syariat”….(Al-Yawaqit wal Jawahir, jilid II halaman 42).

    Arif Rabbani Sayyid Abdul Karim Jaelani berkata:”Maka terputuslah undang-undang syariat sesudah beliau dan adalah Nabi Muhammad SAW ‘khaatamannabiyyin”…(Al-Insanul Kamil halaman 66).

    Sayyid Waliuyullah Muhaddist Al-Dahlawi berkata:” Dan khaatamlah nabi-nabi dengan kedatangan beliau, artinya tidak akan ada lagi orang yang akan diutus Allah membawa syariat untuk manusia”…(Tafhimati Ilahiyah, halaman 53).

    Imam Suyuti berkata: “Barang siapa yang mengatakan bahwa Nabi Isa apabila turun nanti pangkatnya sebagai Nabi akan dicabut, maka kafirlah ia sebenar-benarnya. Maka dia (Isa yang dijanjikan) sekalipun ia menjadi khalifah dalam umat Nabi Muhammad SAW, namun ia tetap berpangkat rasul dan nabi yang mulia sebagaimana semula”…(Hujajul Kiramah , halaman 31 dan 426).

    Ima m Abdul Wahab Asy-Syarani r.h. berkata:
    “Dan sabda Nabi s.a.w.: “tidak ada Nabi dan Rasul sesudah aku, adalah maksudnya: tidak ada lagi Nabi sesudah aku yang membawa Syari’at.” (Al-Yawaqit wal Jawahir, jld. II, hlm. 42)

    Imam Thahir Al Gujrati berkata:
    “Ini tidaklah bertentangan dengan Hadits tidak ada Nabi sesudahku, karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi Nabi yang akan membatalkan Syari’at beliau.” (Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 85)

    Imam mazhab Hanafi yang terkenal, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan:
    “Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi, maka mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah s.a.w.. Seperti halnya Isa, Khidir, dan Ilyas ‘alaihimus salaam. Hal itu tidak bertentangan dengan ayat Khaataman-Nabiyyiin. Sebab, ayat itu hanya berarti bahwa sekarang, sesudah Rasulullah s.a.w. tidak dapat lagi datang Nabi lain yang membatalkan Syari’at beliau s.a.w. dan bukan ummati beliau s.a.w.” (Maudhu’aat Kabiir, hlm. 69).

    Peristiwa wafatnya Ibrahim (putera Rasulullah dari Maria Qibtiyah) tercatat sebagai berikut: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkatalah ia: “Ketika Ibrahim ibnu Rasulullah s.a.w. wafat, beliau menyembahyangkan jenazahnya dan berkata, “Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan kalau usianya panjang, ia akan menjadi nabi yang benar.” (Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no. 1511).

    Peristiwa wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun 9 H, sedangkan ayat “khaataman-nabiyyiin” diturunkan pada tahun 5 H. Jadi, ucapan beliau mengenai Ibrahim sebagaimana ditemukan dalam Hadits itu adalah 4 tahun kemudian setelah beliau menerima ayat “khaataman-nabiyyiin.” Jika ayat “khaataman-nabiyyiin” diartikan sebagai “penutup / kesudahan / penghabisan /akhir” nabi-nabi yaitu tidak boleh ada nabi lagi apa pun juga setelah beliau s.a.w., maka seharusnya beliau mengatakan jikalau usianya panjang, tentu ia tidak akan pernah menjadi nabi karena akulah penutup nabi-nabi. Nabi s.a.w-lah yang menerima wahyu, jadi beliaulah yang paling mengetahui arti/makna wahyu yang diterimanya.

    Dalam Kitab Nuzulul Masih, Imam Jalaluddin Assuyuti rh (Mujaddid abad IX) menyatakan bahwa hadis-hadis yang menyatakan bahwa tidak ada lagi wahyu setelah nabi Muhammad saw adalah Palsu.

* * *

Pantas juga disimak surat Al Maa-idah 5:19-20 dan Al A’Raaf 7:35 dibawah ini

    yaa ahla alkitaabi qad jaa-akum rasuulunaa yubayyinu lakum ‘alaa fatratin mina alrrusuli an taquuluu maa jaa-anaa min basyiirin walaa nadziirin faqad jaa-akum basyiirun wanadziirun waallaahu ‘alaa kulli syay-in qadiirun
    [5:19] Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: “Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

    wa-idz qaala muusaa liqawmihi yaa qawmi udzkuruu ni’mata allaahi ‘alaykum idz ja’ala fiikum anbiyaa-a waja’alakum muluukan waaataakum maa lam yu/ti ahadan mina al’aalamiina
    [5:20] Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah ni’mat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain”.

    yaa banii aadama immaa ya/tiyannakum rusulun minkum yaqushshuuna ‘alaykum aayaatii famani ittaqaa wa-ashlaha falaa khawfun ‘alayhim walaa hum yahzanuuna
    [7:35] Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran ter-hadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Mengambil kisah Nabi Isa sebagai contoh, di mana Ia diperuntukan hanya dan hanya bagi kaum keturunan Israel maka apakah kaum mainsteam jaman nabi Isa saat itu dapat menerima Isa sebagai Nabi berikutnya? Sejarah telah mencatat TKP-nya di Golgota, yaitu ketika Nabi yang tidak dipercayai para pengikut mainsteram saat itu harus memikul sendiri kayu salibnya dan kemudian disalibkan di bukit itu.:

    wa-idz qaala ‘iisaa ibnu maryama yaa banii israa-iila innii rasuulu allaahi ilaykum mushaddiqan limaa bayna yadayya mina alttawraati wamubasysyiran birasuulin ya/tii min ba’dii ismuhu ahmadu falammaa jaa-ahum bialbayyinaati qaaluu haadzaa sihrun mubiinun
    [61:6] Dan (ingatlah) ketika ‘Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”

* * *

Kemudian, apabila aliran-aliran mainstream masih dan tetap percaya bahwa Nabi Isa diturunkan Allah hanya dan hanya untuk kaum Israel, maka kepada siapakah Isa datang untuk kedua kalinya? Bukankah tetap saja hanya dan hanya kepada kaum Israel juga?

Alasan berikutnya, apabila aliran mainstream masih tetap percaya bahwa tidak ada ‘nabi’ setelah Nabi Muhammad wafat maka konsekuensi logisnya adalah tidak akan pernah ada Nabi Isa yang datang saat mendekati kiamat nantinya.

Dan Nabi Isa yang masih harus datang karena Allah mengisyaratkan demikian, maka kalimat yang cocok untuk Nabi Isa seharusnya adalah NABI PENUTUP Ya toh?!, bukankah cuma Beliau yang diisyaratkan sangat jelas untuk yang paling terakhir turun sebelum kiamat!

Kemudian bagi yang mempercayai bahwa nabi Isa itu masih hidup dan ‘di simpan’ dilangit maka perlu jawaban serius atas pertanyaan itu, yaitu mengapa nabi Muhammad koq hanya diberi umur hanya 63 tahun saja (berikut mengalami sakit berkepanjangan sebelum akhirnya meninggal) padahal Beliau sudah jelas-jelas merupakan Nabi yang sangat disayang oleh Allah.

Perhatikan ayat- dibawah ini:

    wa-in tuthi’ aktsara man fii al-ardhi yudhilluuka ‘an sabiili allaahi in yattabi’uuna illaa alzhzhanna wa-in hum illaa yakhrushuuna
    [6:116] Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)500.

    500: Seperti menghalalkan memakan apa-apa yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan apa-apa yang telah dihalalkan Allah, menyatakan bahwa Allah mempunyai anak.

Apabila aliran mainstream ini benar, maka jelas sudah bahwa pintu kenabian tertutup, namun ayat diatas justru mengingatkan untuk tidak serta merta menuruti kebanyakan cara berpikir dari orang-orang dimuka bumi ini yang belum tentu benar!. Seperti yang disabdakan Nabi:

    “Sesungguhnya sesorang ada yang mengerjakan pekerjaan isi surga menurut pandangan orang banyak, sedang dia termasuk isi neraka. Sesungguhnya ada pula sesorang yang mengerjakan pekerjaan isi neraka menurut pandangan orang banyak, sedang dia termasuk isi surga.” (HR Bukhari dan Muslim).

AQ dan sejarah telah mencatat bahwa kaum mayoritas-lah yang selalu mati-matian menolak setiap kali ada Nabi diturunkan Allah ke dunia, mereka yang paling gencar menghujatnya mendeskriditkannya dan juga menyiksanya seperti yang telah dilakukan kepada nabi2 sebelumnya (termasuk Muhammad).

Disamping itu, apabila benar tidak ada ‘wahyu’ lagi yang patut disampaikan setelah nabi Muhammad meninggal maka tidak akan ada riwayat seperti dibawah ini (Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir, Durratun Nasihin):

    Diriwayatkan pula, bahwa ketika Ali bin Abi Tholib meletakkan jasad Rasulullah di atas tempat tidurnya, tiba-tiba terdengar suara ghaib dari pojok rumah berseru dengan nada tinggi:

    “Jangan kamu mandikan jenazah Muhammad, karena ia adalah orang yang suci lagi pula membawa kesucian !”

    Ali curiga terhadap suara itu dan bertanya: “Siapa engkau? Padahal Rasulullah menyuruh kami memandikannya”.

    Tiba-tiba terdengar pula suara ghaib yang lain yang berseru sebaliknya:
    “Hai Ali, mandikanlah beliau! Suara yang pertama itu adalah suara iblis yang terkutuk karena dengki terhadap Muhammad s.a.w., dan ia bermaksud agar supaya Nabi Muhammad dimasukkan ke dalam liang kuburnya dalam keadaan tidak dimandikan (suci-bersih)”.

    “Semoga Allah membalasi engkau dengan kebajikan dikala engkau telah memberitahukan, bahwa suara itu adalah suara iblis. Sekarang siapakah pula sebenarnya engkau sendiri ?” tanya Ali.

    “Saya adalah Chidhir”, jawabnya. Saya datang untuk menghadiri jenazah Muhammad s.a.w.”

    Kemudian ali bin abi Tholib r.a. memandikan jenazah Rasulullah sedang Al-Fadhal bin Abbas dan Usamah bin Zaid r.a. menimba air, dan Malaikat Jibrail a.s. datang membawa harum-haruman dari surga.


Kesimpulan

Saat seseorang dan/atau sekelompok orang menyatakan kelompok lainnya adalah sesat perlu kiranya untuk memperhatikan kutipan-kutipan di atas. Arti Islam dalam bahasa arab (aslam, Muslim, salamah, islammu, dll) dapat diartikan sebagai kepatuhan secara total kepada Sang Penciptanya.

Jadi saat ada seseorang dan sekelompok orang yang menyatakan bahwa satu ajaran adalah SESAT dan bukan ISLAM maka yang harus dipastikan terlebih utama adalah apakah yang mereka sembah itu bukan ALLAH yang sama juga yang disembah oleh Nabi Adam, Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad?

Menurut saya, dengan jumlah penduduk muslim 99%-nya adalah mengikuti aliran Sunni, maka statement sesat ini lebih tepatnya dialamatkan bahwa ahmadiyah adalah sesat menurut kreteria sunni, atau bahkan sesat menurut kreteria wahabi dan belum tentu sesat menurut kreteria Islam, karena Nabi pernah bersabda bahwa Islam toh berkembang menjadi 73 golongan dan hanya satu yang diterima.

Mengutip tulisan ulil, yaitu, dalam sejarah Islam, banyak kelompok yang dianggap sesat, bahkan dituduh kafir, tetapi mereka tidak pernah diminta mendirikan agama sendiri. Contohnya bertebaran dalam sejarah Islam. Kelompok Qadariyyah (yang percaya akan kebebasan kehendak), dianggap kafir oleh kelompok Suni ortodoks. Kelompok Syiah


Sekilas tentang Syiah

Saudara-saudara tidak lengkap membicarakan lafal adzan dan iqamah. Saudara-saudara ‘lupa’ menyampaikan lafal adzan dan iqamah sesungguhnya. Yang pasti di zaman Rasulullah SAWW berbunyi sebagai berikut:

Lafal Adzan

Allaahu akbar
(Kalimat diatas, sama dalam kedua mazhab, diucapkan 4x)

Asyhadu an-laa ilaaha illa’llaah
Asyhadu anna Muhammadar’ Rasuulullaah
Hayya ‘ala Shalaah
Hayya ala’l falaah

(Semua kalimat diatas, sama dalam kedua mazhab, diucapkan 2x)

Hayya ‘ala khairi’l amaal
(Kalimat diatas hanya dalam mazhab Syi’ah, diucapkan 2x)

Allaahu akbar, Allaahu akbar
Laa ilaaha illa’llaah

(Kalimat diatas, sama dalam kedua mazhab, diucapkan masing-masing 2x)

Ash-shalaatu khairun min an-naum
(Kalimat yang diucapkan dalam shalat shubuh diatas hanya dalam mazhab Sunnah, diucapkan 2x)

Dalam al-iqamah, semua kalimat diatas diucapkan sekali kecuali Allaahu akbar diucapkan dua kali.

Apakah saudara-saudara sudah mempelajari hadits-hadits dan sejarah adzan ini?

Memang Syi’ah, sesudah membaca “Hayya ‘alaa’l falaah” (Marilah kita mencapai kemenangan) membaca “Hayya ‘alaa khairil ‘amaal” (Marilah membuat amal shalih).

Apakah kalimat Hayya ‘alaa khairil ‘amaal itu buatan Syi’ah?

Kalimat ini dilafalkan dimasa Rasulullah SAWW. Bacalah tulisan ulama Sunni seperti Baihaqi dalam Sunan jilid I, hal, 524, 525; Sirah Halabiyah jilid II, hal. 105; Maqaati’l Ath-Thalibin, hal 297; Adz-Dzahabi dalam Mizaan al-I’tidaal jilid I, hal. 139; Lisaan’l-Mizaan jilid I, hal. 268 dan banyak lagi yang lainnya. Juga terdapat dalam hadits-hadits orang Syi’ah.

Umar bin Khattab meninggalkan kalimat ini untuk lebih ‘memacu semangat’ jihad karena kalimat ini dianggap akan melemahkan semangat jihad tersebut. Umar berkata, “Ada tiga hal yang dijalankan di zaman Rasulullah SAWW dan aku melarangnya dan aku akan menghukum mereka yang melaksanakannya; kawin mut’ah, haji mut’ah, dan Hayya ‘ala khairi’l amaal.”

Kaum Syi’ah tatkala mengucapkan kalimat syahadat sering menambahkan “Asyhadu anna ‘Aliyyan waliiyullaah” Hal ini disebabkan pidato Rasulullah SAWW di Ghadir Khum, sesudah Haji Perpisahan, sekitar 80 hari sebelum beliau wafat. Bukan hadits lemah dikalangan Sunni, yaitu tatkala Rasulullah SAWW bersabda:

“Man kuntu maulaahu fa ‘Aliyyun maulaahu. Allaahumma waali man walaahu wa ‘aadi man ‘aadaahu”
(Barang siapa menganggap aku sebagai walinya, maka ‘Ali juga adalah walinya. Allaahumma, ya Allah, cintailah siapa yang mencintainya dan musuhilah siapa yang memusuhinya).

Dan semua sahabat memberi selamat, termasuk Umar bin Khattab. Para sejarawan mencatat kata-kata yang diucapkan Umar:

“Bakhin, bakhin, laka, ya aba’l hasan, anta maulaaya, wa maulaa kullu mu’minin wa mu’minatin.”
(Selamat ayah Hasan, engkau adalah waliku dan wali kaum mu’minin dan mu’minat).

Dan ada pula dengan lafal “Thuuba laka” atau “hanii’an laka” yang punya arti serupa dan diriwayatkan oleh sekitar 110 sahabat.

Dan tatkala turun ayat:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

“Innallaaha wa malaa’ikatahu yushalluuna ‘ala’n-Nabii, yaa ayyuha’l ladziina aamanuu shalluu ‘alaihi wa sallimu tasliiman”, yang artinya “Sungguh, Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi, Hai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah atasnya, dan berilah salam kepadanya dengan sehormat-hormat salam!” (QS. Al-Ahzab: 56).

Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAWW tentang cara bershalawat kepada Nabi, Rasulullah SAWW menjawab “Ucapkanlah ‘Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘aali Muhammad’, (Ya Allah, shalawatilah Muhammad dan keluarga Muhammad)”

Karena itulah maka para ulama seperti Imam Syafi’i mengatakan tatkala dituduh rafidhah (yang berarti melakukan desersi dari kedua syaikh, Abu Bakar dan Umar atau yang lebih mengutamakan ‘Ali daripada kedua syaikh tersebut), menjawab, “Bila mencintai Ahlu’l Bait aku dituduh rafidhah, orang dulu punya peribahasa, tunjukkan kepadaku seorang rafidhah yang kecil, akan aku tunjuk kepadamu seorang Syi’ah yang besar!. Kalau aku dituduh demikian maka saksikanlah oleh seluruh jin dan manusia bahwa aku memang seorang rafidhi! Sebab shalatku tidak sah bila aku tidak bershalawat kepada Ahlul’l Bait!”

Tapi orang Syi’ah mengetahui betul bahwa kalimat Asyhadu anna ‘Aliyyan waliiyullaah bukan merupakan bagian integral dari adzan dan iqamah. Kalimat ini hanya merupakan kebolehan, optional, seperti kalimat Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘aali Muhammad.


juga dianggap kafir oleh sejumlah kelompok Islam. Tetapi, mereka tidak pernah diminta mendirikan agama yang terpisah dari Islam.

Kaum filsuf juga dikafirkan beberapa kelompok Islam. Imam Ghazali yang hidup pada abad 11 M, mengkafirkan ajaran dua filsuf besar Islam, Al-Farabi dan Ibn Sina dalam tiga isu teologi. Tetapi, Imam Ghazali tidak pernah meminta mereka untuk mendirikan agama sendiri yang terpisah dari Islam. [islamlib.com]

Jadi, Taruhlah kata Ahmadiyah itu berhasil ditelanjangi bulat-bulat dan kemudian dipisah-paksakan menjadi non muslim Apakah lantas kekerasan dan kedzaliman terhadap kelompok ini akan lenyap? Untuk menjawab pertanyaan sepele ini, tidak diperlukan kepandaian meramal dan jawabannya adalah sangat sederhana: KEKERASAN AKAN TETAP ADA.

Pada dinding di sebuah pojokan jalan antara Suryatmajan dan Malioboro, Jogyakarta, terdapat sebuah kalimat pendek yang merupakan jeritan hati seseorang. Kalimat itulah yang saya kutip sebagai kesimpulan akhir tulisan ini:

Agama adalah antara aku dan Dia bukan aku dan mereka“.


Penutup

Sebagai penutup, silakan anda renungkan surat Al Hujurat 49:11 di bawah ini.

    yaa ayyuhaa alladziina aamanuu laa yaskhar qawmun min qawmin ‘asaa an yakuunuu khayran minhum walaa nisaaun min nisaa-in ‘asaa an yakunna khayran minhunna walaa talmizuu anfusakum walaa tanaabazuu bial-alqaabi bi/sa al-ismu alfusuuqu ba’da al-iimaani waman lam yatub faulaa-ika humu alzhzhaalimuuna
    [49:11] Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri1410 dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman1411 dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

    1410: “Jangan mencela dirimu sendiri” maksudnya ialah mencela antara sesama mu’min karana orang-orang mu’min seperti satu tubuh.
    1411: Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: hai fasik, hai kafir dan sebagainya.


Artikel lain yang berhubungan dengan ini adalah: Karena Mubahala maka Mirza Ghulam Ahmad wafat? Di atas Kotorannya Sendiri?..masa seeh?! dan juga di “Catatan Akhir Tentang Ke-Islam-an Ahmadiyah Dan Sisanya Biarkan Takdir Yang Meneruskan..

Lampiran:

  • Latar Belakang Berdirinya Jemaat Ahmadiyah
    [ahmadiyya.or.id]

    Tokoh yang dijanjikan di dalam Alquran
    “Huwallazii arsala rasulahuu bilhudaa wa diinilhaqqi, liyuzh-hirahuu alad-diini kullihi walaw karihal-musyrikuwn”

    Dialah [Allah] yang mengirimkan Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia menyebabkannya menang atas semua agama, betapapun orang-orang musyrik tidak akan menyukai (As-Shaf:10).

    Ayat ini mengisyaratkan pada kemenangan Islam atas seluruh agama lainnya. Dan kemenangan tsb. dipakukan dibawah bendera Tauhid. Sebab Tauhid lah yang dapat mempersatukan seluruh umat manusia. Dan Tauhid itu sendiri merupakan ruh Islam. Kesempurnaan Syariat Islam telah terjadi di masa dan di tangan Rasulullah saw. 14 abad yang silam. Namun kesempurnaan penyebaran Syariat Islam, seperti yang diisyaratkan oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah saw., adalah pada masa dan di tangan tokoh yang dijanjikan sebagai Masih Mau’ud dan Imam Mahdi

    “Huwallazii ba’atsa fil-ummiyyina rasulanm-minhum yatluw alaiihim aayaatihii wayuzakkiihim wayu’allimuhumul-kitaaba wal-hikmah, wain kaanuw min-qoblu lafii dholalinm-mubiin. Wa’aakhoriina minhum lammaa yalhaqquw bihim wahuwal-aziizul hakiim”

    Dialah [Allah] yang telah mengutus di tengah-tengah bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata. Dan Dia akan membangkitkannya di tengah-tengah suatu golongan lain dari antara mereka, yang belum pernah bergabung dengan mereka. Dan, Dia-lah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (Al-Jumu’ah:3-4).

    Ayat ini mengisyaratkan pada kebangkitan rohaniah Rasulullah saw. (the second spiritual advent) dalam wujud seseorang yang menyatu sepenuhnya dengan beliau dan merupakan cerminan rohaniah atau bayangan kamil Rasulullah saw., namun belum pernah tergabung dalam para pengikut semasa beliau hidup. Isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadis Nabi saw. yang termasyhur tertuju kepada pengutusan Rasulullah saw. sendiri untuk kedua kali dalam wujud Masih Mau’ud di akhir zaman.

    Prolog
    Jemaat Ahmadiyah adalah suatu gerakan dalam Islam yang didirikan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as. pada tahun 1889, atas perintah Allah Ta’ala. Ahmadiyah bukanlah suatu agama. Agamanya adalah ISLAM. Jemaat Ahmadiyah menjunjung tinggi Kalimah Syahadat “Laa ilaha Illallah, Muhammadur-rasulullah”. Jemaat Ahmadiyah bersaksi bahwasanya tiada tuhan melainkan Allah dan Muhammad itu adalah rasul Allah.

    Jemaat Ahmadiyah menjunjung tinggi kitab suci Al-Quran sebagai Kitab Syariat terakhir yang paling sempurna, hingga kiamat.

    Jemaat Ahmadiyah menjunjung tinggi Sayyidina Muhammad Mustafa Rasulullah shallallahu alaihi wa’aalihi wassallam sebagai Khataman-nabiyyiyn yang merupakan penghulu dari sekalian nabi dan nabi yang paling mulia. Beliau adalah nabi pembawa syariat terakhir. Penutup pintu kenabian tasyri’i. Tidak ada lagi nabi pembawa syariat baru sesudah Rasulullah saw..

    Nama Ahmadiyah berasal dari nama sifat Rasulullah saw. — Ahmad (yang terpuji). Yakni yang menggambarkan suatu keindahan/kelembutan. Zaman sekarang ini adalah zaman penyebar-luasan amanat yang diemban Rasulullah saw. dan merupakan zaman penyiaran sanjungan pujian terhadap Allah Ta’ala. Era penampakkan sifat Ahmadiyah Rasulullah saw.. (Da’watul Amir, M.Bashiruddin Mahmud Ahmad, edisi terj.Bhs.Indonesia, 1989,h.2)

    Tujuan Jemaat Ahmadiyah adalah Yuhyiddiyna wayuqiymus-syariah. Menghidupkan kembali agama Islam, dan menegakkan kembali Syariat Qur’aniah.

    Dalam arti yang lebih mendalam adalah untuk menghimbau ummat manusia kepada Allah Ta’ala dengan memperkenalkan mereka sosok sejati Rasulullah saw., dan menciptakan perdamaian serta persatuan antar berbagai kalangan manusia. Ahmadiyah berusaha menghapuskan segala kendala yang timbul karena perbedaan ras dan warna kulit sehingga umat manusia dapat bersatu dan mengupayakan perdamaian semesta.

    Kami beriman bahwa Allah itu Mahaesa dan tidak mempunyai sekutu dalam zat-Nya maupun dalam sifat-sifat-Nya, dan tidak dilahirkan maupun melahirkan. Dia bebas dari segala jenis kekurangan dan kelemahan dan sempurna di dalam segala sifat-Nya. Dia mengabulkan doa-doa para hamba-Nya dan membantu mereka dalam memenuhi segala keperluan mereka. Nikmat-nikmat-Nya, baik secara materi ataupun rohani, tidak terbatas, dan tidak hanya dilimpahkan kepada suatu bangsa atau kaum tertentu. Jemaat Ahmadiyah menganggap sebagai kewajibannya untuk mengimbau umat manusia menerima Tauhid Ilahi, sebab, penerimaan Tauhid Ilahi dapat mewujudkan perdamaian dan persatuan diantara umat manusia.

    Kami percaya bahwa semua agama besar pada awalnya mempunyai landasan kebenaran dan masih mengandung banyak nilai keindahan. Kami menolak dan menyangkal sikap yang menyatakan bahwa tidak ada agama selain agamanya sendiri yang mengandung suatu kebenaran atau nilai keindahan. Kendatipun demikian, kami menganggap sebagai kewajiban kami untuk mengumandangkan bahwasanya Islam mengandung tuntunan Samawi dengan bentuknya yang utuh dan sempurna guna membimbing umat manusia mencapai hubungan kedekatan dengan Allah Ta’ala.

    Kami menjunjung tinggi kebebasan suara hati lebih dari segala kemerdekaan dan sebagai hak-hidup setiap makhluk manusia. Kami memandang tidak ada dosa yang begitu keji seperti tindakan paksa atau kekerasan dalam urusan agama. Kami memandang haram untuk berperang atau memerangi pemerintah atau bangsa yang memberi kemerdekaan penuh kepada penyuaraan kata hati dan agama orang-orang yang menghuni wilayah-wilayahnya. Kami memandang orang-orang Islam yang mensahkan perang disebabkan perbedaan dalam urusan agama adalah sebagai kesalahan besar dalam memegang akidah yang sama-sekali tidak sesuai dengan jiwa agama Islam yang hakiki ini.

    Kami menganggap sebagai kewajiban agama yang pokok untuk mentaati sepenuhnya undang-undang dan peraturan pemerintah tempat kami bernaung. Kami memandang pemberontakan dan pembangkangan terhadap pemerintah yang berkuasa sebagai sesuatu yang sama-sekali tidak dibenarkan dan bertentangan dengan ajaran Islam. Kami memegang prinsip ini dengan seteguh-teguhnya dimana pun kami berada.

    Kami percaya bahwa janji Tuhan yang diberikan-Nya kepada umat manusia melalui semua agama besar mengenai turunnya seorang nabi di akhir zaman telah menjadi kenyataan di dalam diri Hz.Mirza Ghulam Ahmad as., pendiri Jemaat Ahmadiyah. Beliau adalah Almasih yang ditunggu-tunggu oleh umat Kristen; Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam; dan Krishna yang dinanti-nantikan oleh umat Hindu. (Dikutip dari: Akidah Dan Tujuan Jemaat Ahmadiyah; Suvenir Peringatan Seabad Gerhana Bulan & Gerhana Matahari 1894-1994, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1994, h.46-47).

    Latar Belakang Keluarga Hz.Mirza Ghulam Ahmad
    Hz.Mirza Ghulam Ahmad berasal dari suatu rumpun keluarga yang merupakan pendatang dari Samarqand, sebuah kota di Asia Tengah. Nenek-moyang beliau hijrah dari Samarqand menuju Punjab, India pada awal abad keenambelas, di masa kekuasaan Emperor Babar dari Dinasti Moghul. Mereka memohon untuk dapat berkhidmat kepada dinasti tsb. dan mendapat kepercayaan di kawasan Punjab. [Lihat karangan-karangan Lepel H. Griffin: The Punjab chiefs (Lahore,1865),h.380-381; The Panjab chiefs (edisi baru, Lahore,1890),vol.2,h.49-50; Chiefs and families in the Panjab…, dikoreksi dan direvisi oleh W.L.Conran dan H.D.Craik (Lahore,1910),vol.2,h.40-41. Tentang silsilah keturunan keluarga tsb. lihat: Revised pedigree tables of the families mentioned in Griffin’s “Punjab chiefs” and Massy’s “Chiefs and families of note in the Punjab” (Lahore,1899),h.76. Sumber:Prophecy Continuous, Yohanan Friedmann, University of California Press, 1989,h.2]

    Beliau adalah keturunan dari Haji Barlas, yang merupakan paman Amir Timur. Timur berasal dari suku Barlas yang terkenal dan yang menguasai kawasan Kish selama 200 tahun. Kawasan ini pada zaman dahulu dikenal dengan nama Sogdiana, yangmana ibukotanya adalah Samarkand. Mereka adalah suku yang berakar dari Persia. Kata Samarkand itu sendiri berasal dari Bhs.Farsi. Barlas juga demikian, artinya: pemuda gagah berani dari kalangan terhormat. Mirza Hadi Beg memimpin hijrah dari Samarkand tsb. menuju Punjab, India, dengan membawa rombongan sekitar 200 orang. Mereka membangun sebuah perkampungan yang tidak begitu jauh dari sungai Bias, dan menamakannya Islampur. Emperor Babar memberikan kepada beliau kawasan yang mencakup ratusan perkampungan. Dan beliau ditunjuk sebagai Qazi disana. Sehingga kampung kediaman beliau itu dikenal dengan nama Islampur Qazi. Akhirnya nama ini tinggal Qazi dan lebih dikenal dengan sebutan Qadi yang kemudian menjadi Qadian. (Lihat: Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.7-8)

    Kelahiran & Pendidikan Awal
    Hz.Mirza Ghulam Ahmad dilahirkan kembar di Qadian pada tahun 1835. Saudara kembar beliau (perempuan) wafat beberapa hari setelah lahir. (Lihat: Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.27)

    Semenjak kecil beliau tidak pernah belajar di sekolah/madrasah ataupun suatu institusi pendidikan formal. Pada usia sekitar 7 tahun (sekitar thn.1841) beliau dididik oleh seorang guru privat yang bernama Fazl Ilahi. Ia seorang penduduk Qadian dan penganut mazhab Hanafiah. Ia mengajarkan Al-Quran dan beberapa dasar buku pelajaran bahasa Farsi. Pada usia 10 tahun Hz.Mirza Ghulam Ahmad dididik oleh guru privat bernama Fazl Muhammad. Ia berasal dari Feroze-wala, Gujran-wala, dan dari kelompok Ahli-Hadis. Ia mengajarkan dasar-dasar tata-bahasa Arab. Dan pada usia 17 atau 18 tahun beliau dididik oleh seorang guru Shiah, bernama Gul Ali Shah. Guru ini mengajarkan lebih lanjut tata-bahasa Arab dan juga mantik/logika. Selain itu ayah beliau adalah seorang tabib yang mahir, maka beliau pun memperoleh pendidikan dalam bidang ilmu ketabiban ini. Dan beliau mempunyai kecenderungan banyak menelaah buku-buku. Terutama dari perpustakaan keluarga yang masih terpelihara sejak turun-temurun. (Lihat: Sirrul-Khilafa, Mirza Ghulam Ahmad, Amritsar,1894,h.7; Life ofAhmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.29; Prophecy Continuous, Yohanan Friedmann, University of California Press, 1989,h.3)

    Zaman Pergolakan & Perubahan Dunia
    Banyak perubahan dan pergolakan sosio-politik dunia pada masa-masa itu. Imperialisme Barat menampakkan warnanya. Inggris Raya sedang jaya-jayanya hampir di seluruh belahan bumi ini. Namun sejauh yang berkaitan dengan masalah agama Kerajaan Inggris memberikan jaminan kebebasan beragama, khususnya dalam toleransi beragama. Yaitu dengan disahkannya rancangan undang-undang Emansipasi Katolik (Catholic Emancipation Bill) pada tahun 1829, yangmana dasarnya adalah penghapusan diskriminasi dalam perkara-perkara sipil dan kesama-rataan dalam hak-hak politis.

    Banyak hal yang merubah pola pikir dan cara hidup dunia. Rancangan pembuatan terusan Suez sudah mulai dijajaki semenjak tahun 1833. Dan Terusan Suez itu selesai dibuat pada tahun 1865. Mesin cetak plat baja sudah ditemukan pada akhir abad ke-18. Dan mesin cetak praktis yang menggunakan tenaga uap pertama kali diproduksi dan digunakan pada tahun 1814. Kenderaan-kenderaan atau alat-alat transportasi praktis yang menggunakan tenaga uap dirancang pada tahun 1802, dan pada tahun 1824 sudah banyak yang beredar dengan sukses. Daimler menemukan internal-combustion-motor pada tahun 1885 yang menggunakan minyak/petroleum spirit. Kapal uap pertama mulai menjelajahi jarak antara Liverpool dan Glasgow pada tahun 1815. Jaringan kereta-api pun mulai dibuka di Inggris pada tahun 1825. Electric telegraphy mulai digunakan pada tahun 1820 sebagai sarana komunikasi antar berbagai tempat di seluruh dunia. Mesin elektro-magnetik mulai digunakan pada tahun 1832. Pada tahun 1846 telah ditemukan sistim anaesthetik. Dan sistim antiseptik dalam perawatan luka mulai diakui pada tahun 1867. Penelitian Pasteur tentang teori kuman pada penyakit-penyakit infeksi dimulai pada tahun 1850. Dan malaria serta tuberculosis ditemukan pada tahun 1880. Penggunaan listrik secara komersial untuk sarana penerangan telah dimulai pada tahun 1879. Dan telephone ditemukan pada tahun 1876. Demikian pula X-ray ditemukan pada tahun 1895. Ringkasnya banyak sekali penemuan-penemuan baru yang mengubah pola pikir dan pola hidup manusia. (Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.20-24)

    Kebangkitan Kristen
    Selain itu di bidang keagamaan, missi-missi Kristen mulai bergerak dengan gencarnya di seluruh dunia semenjak tahun 1804, khususnya ketika British & Foreign Bible Society terbentuk. (Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.20-24)

    Bahkan kurun waktu antara tahun 1815 hingga 1914 telah ditetapkan oleh kelompok Kristen sebagai The Great Century of World Evangelization (Abad Agung Penginjilan Dunia). Dan anak-benua India merupakan sebuah sasaran yang dijadikan sebagai proyek besar bagi gerakan penginjilan/kristenisasi itu. Dan jutaan orang masuk ke dalam agama Kristen melalui gerakan-gerakan missionaris Kristen disana. Misalnya: missi-missi Kristen dari Inggris antara lain Methodists masuk ke India pada tahun 1819; Scottish Presbyterians masuk pada tahun 1823. Sedangkan missi-missi Kristen dari Amerika antara lain: Congregationalist (American Board) masuk ke India pada tahun 1810; Presbyterians pada tahun 1834; Baptists pada tahun 1836; Lutherans pada tahun 1840; dan Methodists pada tahun 1856. Kemudian German Gossner Mission masuk pada tahun 1839. Dan Scandinavian Lutherans pada tahun 1867. Dan uniknya Ratu Victoria memproklamirkan kebebasan beragama serta sikap tidak memihak Kerajaan Inggris Raya pada suatu agama, di India pada tahun 1858. (Lihat: World Christian Encyclopedia, David B.Barrett, Oxford,1982,p.23-30)

    Kebangkitan Gerakan Neo-Hindu
    Bersamaan dengan itu di anak-benua India pun bermunculan kelompok-kelompok Neo-Hindu yang gencar menghadapi perkembangan zaman. Diantaranya yang paling militan dan agressif adalah sekte Arya Samaj(Aryan Society) yang didirikan pertama kali pada tahun 1875 di Bombay oleh Swami Dayananda Saraswati (1824-1883). Ini adalah suatu gerakan yang ingin mengembalikan kemurnian agama Hindu dan menampilkannya sebagai suatu kebanggaan nasional India. Swami Dayananda Saraswati ini mulai mengembangkan ajaran Neo-Hindu-nya sejak tahun 1865. Alirannya banyak menentang pemahaman-pemahaman Hindu Brahma yang ortodox. Selain itu mereka melancarkan serangan besar-besaran terhadap Kristen maupun Islam. Swami Dayananda Saraswati yang digelari “Hindu Luther” oleh penentangnya, juga menulis sebuah ‘Bible’ Arya Samaj yang bernama Satyarth Prakash, yang berisikan penafsiran/terapan-terapan ayat Veda yang menggambarkan sikap Hindu terhadap agama-agama lainnya dan terhadap permasalahan-permasalahan sosial kontemporer. Sekte ini berkembang menjamur di India dengan cepat, khususnya di wilayah Punjab. (Lihat:The Raj, India & the British 1600-1947, C.A.Bayly, National Potrait Gallery Publications, London,1990,p.305-306; Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.61; Arya Dharm: Hindu consciousness in 19th century Punjab, Kenneth W.Jones, Univercity of California Press, Berkeley and Los Angeles, 1976; Prophecy Continuous, Yohanan Friedmann, University of California Press, 1989,foot note p.4)

    Buku Barahiin Ahmadiyyah
    Kondisi Islam pada saat itu benar-benar menyedihkan. Di satu sisi gerakan Kristenisasi sedang gencar-gencarnya berjalan di India dan menarik ratusan ribu orang masuk ke dalam agama Kristen dan di sisi lain serangan-serangan pihak Hindu terhadap Islam, Al-Quran dan terhadap wujud suci Nabi Muhammad Mustafa saw..

    Kondisi inilah yang banyak mewarnai kehidupan awal daripada Hz.Mirza Ghulam Ahmad as.. Beliau banyak menelaah literatur-literatur yang berkaitan dengan agama-agama tersebut. Beliau secara personal banyak terlibat dalam upaya-upaya untuk membela Islam dari serangan-serangan di kedua arah tsb.. Disamping itu beliau sendiri mengalami perkembangan rohaniah.

    Sejak tahun 1872 Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. sudah giat membela Islam membalas serangan-serangan dari kelompok Kristen dan kelompok Hindu khususnya Arya Samaj dan Brahmu Samaj. Beliau banyak menulis artikel-artikel berkenaan dengan itu di berbagai media massa. Antara lain jurnal Manshur Muhammadi yang terbit dari Bangalore, Maysore, India Selatan, setiap 10 hari sekali. Kemudian pada beberapa surat-kabar yang terbit dari Amritsar a.l: Wakil; Safir Hind; Widya Prakash; dan Riaz Hind. Demikian pula pada Brother Hind (Lahore), Aftab Punjab (Lahore), Wazir Hind (Sialkot), Nur Afshan (Ludhiana) dan Isyaatus-Sunnah (Batala). Begitu juga pada Akhbar-e-Aam (Lahore). (Lihat: Ahmadiyyat, The Renaissance of Islam, Muhammad Zafrullah Khan, Tabshir Publications, London,1978,h.16; Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.63)

    Melihat serangan terhadap Islam semakin menjadi-jadi, dan tidak ada upaya berarti yang dilakukan oleh pemuka-pemuka Islam, maka berdasarkan bimbingan dari Allah Ta’ala, Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. mulai menulis buku Barahiin Ahmadiyya. Jilid 1 dan 2 diterbitkan pada tahun 1880; jilid 3 terbit pada tahun 1882; dan jilid 4 pada tahun 1884. Intinya beliau memaparkan bukti-bukti keunggulan dan hidupnya agama Islam serta ketinggian/kemuliaan Kitab Suci Al-Quran dan Rasulullah saw. sebagai perbandingan dengan agama Hindu, Kristen dan agama-agama lainnya.

    Pada jilid pertama beliau lebih memfokuskan pada balasan serangan terhadap ajaran Arya Samaj yang menghina Rasulullah saw., Nabi Isa as., dan Nabi Musa as. serta yang menuduh kitab-kitab suci para nabi tsb. adalah palsu. Disamping itu beliau menyerang akidah Arya Samaj yang menyatakan bahwa ruh tidak diciptakan oleh Tuhan, melainkan telah ada dengan sendirinya sejak awal-permulaan. (Barahiin Ahmadiyyah, Rohani Khazain vol.1,h.72; Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.70)

    Jilid kedua masih berkenaan dengan akidah-akidah Arya Samaj. Kemudian mengenai kedudukan dan perlunya wahyu. Mengenai keunggulan Kitab Suci Al-Quran atas kitab-kitab agama lainnya. Dan juga beliau menekankan kaidah dasar pembuktian kebenaran suatu agama yang harus berdasarkan pada kitab suci yang diakui oleh agama itu sendiri. Pada jilid ketiga beliau merinci keindahan dan kemuliaan Al-Quran. Beliau menjawab serangan-serangan yang ditujukan kepada Al-Quran. Dan beliau menyatakan bahwa beliau menerima wahyu-wahyu dari Allah Ta’ala dan beliau bersedia untuk membuktikan kebenarannya. Pada jilid keempat beliau membahas tentang bentuk asli bahasa umat manusia; tentang kedudukan mukjizat dan pentingnya nubuatan-nubuatan/ khabar-ghaib seorang nabi berkenaan masa mendatang. Beliau memaparkan konsep-konsep agama Budha, Kristen dan Hindu Arya Samaj tentang Tuhan, dan membuktikan keunggulan ajaran Islam. Dan kitab-kitab Yahudi pun beliau paparkan sebagai perbandingan dengan Al-Quran. (Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.70-76)

    Salah satu aspek yang sangat beliau tekankan dan beliau tampilkan sebagai bukti tetap hidupnya agama Islam hingga hari Kiamat adalah adanya hubungan komunikasi yang hidup antara Tuhan dengan hamba-hamba-Nya. Beliau paparkan sendiri pengalaman-pengalaman rohaniah beliau dalam bentuk wahyu, ilham, rukya-rukya, maupun kasyaf.

    Reaksi & Dukungan Ummat Bagi Barahiin Ahmadiyyah
    Sebelumnya, Hz.Mirza Ghulam Ahmad tidak begitu dikenal. Dan beliau berjuang sendirian. Namun setelah penerbitan buku Barahiin Ahmadiyyah, keadaan menjadi berubah dan beliau mulai dikenal dan tampil secara terbuka. Barahiin Ahmadiyyah mendapat sambutan yang sangat besar dari kalangan umat Islam. Buku ini telah menimbulkan suatu kejutan dan gejolak revolusi besar bagi pihak-pihak non-Islam maupun bagi kalangan Islam sendiri. Para pemuka Islam yang tadinya telah kehilangan nyali, seolah-olah mendapatkan seorang pembela Islam yang ulung sehingga mereka serentak berdiri di belakang beliau mendukung, dalam menghadapi serangan-serangan pihak non-Islam. Berikut ini beberapa kutipan sambutan dan dukungan tokoh-tokoh Islam India pada masa itu.

    Mlv.Muhammad Hussein Batalvi, seorang tokoh terkemuka dari kelompok Ahli Hadis di India, banyak memberikan sanjungan terhadap buku Barahiin Ahmadiyyah maupun terhadap penulisnya. Beliau ini adalah seorang tokoh yang sangat mendukung perjuangan Hz.Mirza Ghulam Ahmad a.s. pada mulanya, namun pada akhirnya beliau berubah menjadi penentang keras beliau as.. Di dalam salah satu risalahnya, Mlv.Muhammad Hussein Batalvi menuliskan kesaksian beliau tentang buku Barahin Ahmadiyah:

    “Menurut pendapat saya — pada zaman sekarang dan sesuai kondisi yang berlaku — buku ini adalah sedemikian rupa, yangmana sampai saat ini di dalam Islam tidak ada bandingannya yang telah ditulis, dan tidak pula ada khabar di masa mendatang…. Penulisnya pun — dalam hal memberikan bantuan kepada Islam dari segi harta, jiwa, tulisan maupun lisan — sangat teguh dan kukuh pada langkah-langkahnya. Sehingga sangat sedikit ditemukan contoh yang seperti beliau, walau dari kalangan umat Islam terdahulu sekali pun…” (Risalah Isyaatus-Sunnah jld.7, no.6-11; Swanah Fazl Umar, Jld.I, hal.20)

    Kemudian berikut ini ulasan dari seorang tokoh sufi terkenal di India yang berasal dari Ludhiana. Yaitu Hz.Sufi Ahmad Jaan r.a.. Banyak murid maupun pengikut beliau yang menjadi tokoh-tokoh pemuka agama Islam saat itu. Sang sufi ini menuliskan ulasan tentang buku Barahiin Ahmadiyyah di dalam sebuah selebaran beliau yang berjudul Isytihar Wajibul Izhar:

    “Di zaman abad ke empatbelas telah berkecamuk sebuah tofan kebobrokan di dalam setiap agama. Seperti yang dikatakan orang: orang-orang kafir baru banyak bermunculan, dan orang-orang Islam baru pun banyak bermunculan. Tidak diragukan lagi, diperlukan sebuah buku dan seorang mujaddid seperti Barahiinn Ahmadiyah serta penulisnya Maulana Mirza Ghulam Ahmad Sahib. [Yaitu] yang dengan berbagai cara siap untuk membuktikan da’wah Islam atas para penentang. Beliau bukanlah berasal dari kalangan ulama maupun cendekiawan umum. Melainkan secara khusus [datang] untuk tugas ini sebagai utusan dari Allah; penerima ilham dan yang bercakap-cakap dengan Allah…. Sang penulis adalah mujaddid, mujtahid, muhaddats bagi abad-keempat belas ini, dan merupakan seorang yang kamil dari kalangan umat ini. Hadis Nabawi ini pun mendukung beliau: ‘Ulama ummati kalanbiyaa Bani Israil’… Wahai para penelaah! Dengan niat yang benar serta dengan semangat kebenaran yang sempurna saya menyampaikan hal ini, bahwa tidak diragukan lagi bahwasanya Mirza Sahib adalah mujaddid era ini. [Beliau merupakan] ‘pedoman’ bagi para pencari jalan [kebenaran]; matahari bagi orang-orang yang berhati batu; penunjuk jalan bagi orang-orang yang sesat; pedang nyata bagi para pengingkar Islam; hujjah sempurna bagi para pendengki. Yakinilah bahwa tidak akan datang lagi masa yang seperti ini. Ketahuilah, bahwa masa ujian telah tiba. Dan Hujjah Ilahi telah tegak. Dan bagaikan matahari jagat raya, telah diutus seorang Haadi Kamil (pemberi petunjuk yang sempurna), supaya ia menganugerahkan nur kepada orang-orang yang benar dan mengeluarkan [mereka] dari kegelapan dan kesesatan. Serta akan menghujjat para pendusta”. (Swanah Fazl Umar, jld.I, hal.21-22)

    Reaksi Pendukung & Permintaan Untuk Menerima Baiat
    Banyak dari kalangan umat Islam yang berkeinginan untuk menjadi murid beliau dan meminta agar beliau mau menerima bai’at mereka.

    Pada bulan Maret 1882 pertama kali Hz.Mirza Ghulam Ahmad memperoleh perintah dari Allah Ta’ala bahwasanya beliau dijadikan Ma’mur Minallah (Utusan Allah). Dari itu juga beliau menyatakan diri sebagai Mujaddid. Wahyu ini beliau terbitkan di dalam Barahiin Ahmadiyyah jilid I edisi pertama pada cat.kaki pd.cat.kaki hal.238. (Adapun bunyi wahyu tsb. adalah: “Qul inny umirtu wa’anaa awwalul-mu’miniyn — [Katakanlah, aku telah diutus/diperintahkan, dan akulah yang pertama beriman]”. (Lihat: Tazkirah, Bhs.Urdu, Al-Syirkatul Islamiyah, Rabwah, 1969,h.44; Rohani Khazain jld.1,h.265)

    Semenjak awal tahun 1883 sudah banyak orang yang mengutarakan keinginan mereka untuk bai’at di tangan beliau. Namun beliau belum dapat menerimanya sebab belum ada petunjuk dari Allah Ta’ala.

    Akhirnya setelah ada petunjuk dari Allah Ta’ala pada bulan Februari atau Maret 1888, maka pada akhir tahun 1888 beliau menyebarkan selebaran undangan untuk bai’at, yang beliau tujukan kepada para pencahari kebenaran.

    Dan pengambilan bai’at yang pertama berlangsung di Ludhiana pada tanggal 23 Maret 1889. Pada bai’at pertama ini sebanyak 40 orang menyatakan ikrar bai’at mereka di tangan Hz.Mirza Ghulam Ahmad. Inilah yang dinyatakan sebagai peletakan fondasi pertama dari Jemaat Ahmadiyah (Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.139-140, 151-159)

    Reaksi & Penentangan Dari Pihak Non-Islam
    Sebaliknya, Barahiin Ahmadiyyah telah membangkitkan reaksi keras dari kalangan non-Islam, terutama Hindu Arya Samaj, yang kemudian diikuti oleh kelompok Kristen. Hz.Mirza Ghulam Ahmad mulai menghadapi mereka langsung dengan mengadakan perdebatan-perdebatan.

    Yang pertama berlangsung adalah perdebatan beliau dengan seorang guru dan anggota Arya Samaj, Lala Murli Dhar, pada bulan Maret 1886 di Hosyiarpur. Dhar menyerang pendapat Islam berkenaan dengan mukjizat Syaqqul-Qamar, sedangkan Hz.Mirza Ghulam Ahmad mengecam akidah Arya Samaj yang menyatakan bahwa ruh tidak diciptakan oleh Tuhan melainkan telah ada dari sejak awal. (Lihat: Surmah Chasm Arya & Rohani Khazain jld.2,h.49-308; Arya Dharm: Hindu consciousness in 19th century Punjab, Kenneth W.Jones, Univercity of California Press, Berkeley and Los Angeles, 1976; Prophecy Continuous, Yohanan Friedmann, University of California Press, 1989,p.4-5)

    Kemudian pada tahun 1886 itu juga Pandit Lekh Ram dari Arya Samaj menyerang Hz.Mirza Ghulam Ahmad. Ia menerbitkan buku dan selebaran-selebaran yang mencaci maki Rasulullah saw. dan Islam serta menghina diri Hz.Mirza Ghulam Ahmad as.. Terjadi polemik keras antara keduanya. Pandit Lekh Ram mengalami kematian yang tragis dan misterius pada tahun 1897 setelah adanya nubuatan-nubuatan dari Hz.Mirza Ghulam Ahmad.

    Penda’waan Hz.Mirza Ghulam Ahmad & Gelombang Penentangan
    Pada akhir tahun 1890 Hz.Mirza Ghulam Ahmad menerima wahyu yang menyatakan bahwa Nabi Isa as. telah wafat dan Almasih yang dijanjikan kedatangannya di akhir zaman itu beliau lah orangnya. (Yakni: “Masih Ibnu Maryam Rasulullah faot hocuka he, aor uske rangg me ho kar wa’dah ke muwafiq tu aya he — [Masih ibnu Maryam rasul Allah, telah wafat. Sesuai dengan janji, engkau datang dengan menyandang warnanya.” (Lihat: Tazkirah, Bhs.Urdu, Al-Syirkatul Islamiyah, Rabwah, 1969,h,183; Izalah Auham, Mirza Ghulam Ahmad,jld.2,h.561-562; Rohani Khazain, Add.Nazir Ishaat, London, jld.3,h.402)

    Dan pada awal tahun 1891 beliau menda’wakan diri beliau sebagai Almasih yang dijanjikan atau Masih Mau’ud, dan juga sebagai Imam Mahdi. (Da’watul Amir, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, terj.Bhs.Indonesia, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1989, hal.xii)

    Semenjak itu gelombang penentengan semakin marak. Yakni dari kalangan umat Islam sendiri dan juga dari kalangan Kristen. Semenjak itu banyak terjadi perdebatan-perdebatan seputar hidup matinya Nabi Isa. Beberapa perdebatan penting antaranya adalah sbb..

    Dari kalangan umat Islam yang menentang justru bekas sahabat beliau yang memberikan dukungan sepenuhnya terhadap karya beliau Barahiin Ahmadiyyah, yaitu Muhammad Hussein Batalwi, seorang tokoh Ahli Hadis terkemuka di India pada masa itu. Sebab Muhammad Hussein Batalwi berakidah bahwasanya Nabi Isa as. masih hidup di langit dan akan turun ke bumi. Perdebatan ini berlangsung di Ludhiana pada bulan Juli 1891.

    Kemudian masih mengenai Nabi Isa, berlangsung perdebatan di Delhi pada bulan Oktober 1891 antara Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. dengan Muhammad Nazir Hussein dan Abu Muhammad Abdul Haq.

    Dari kalangan Kristen yang tampil adalah Henry Martin Clark, seorang tokoh Kristen yang mendirikan missi kesehatan dari Church Missionary Society di Amritsar pada tahun 1892. Pada bulan April 1893 Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. menerima tantangannya untuk mengadakan perdebatan. Perdebatan itu sendiri berlangsung selama 15 hari pada bulan Mei 1893. Dalam perdebatan tsb. Clark dibantu oleh Abdullah Atham, seorang tokoh Kristen yang berasal dari Islam. Inti perdebatan adalah tentang ketuhanan Jesus.

    Pada tahun 1891 Hz.Mirza Ghulam Ahmad menulis buku Izalah Auham dimana beliau memaparkan sebanyak 30 dalil Al-Quran berkenaan dengan telah wafatnya Nabi Isa as..

    Pada tahun 1898 diperoleh informasi bahwasanya kuburuan Nabi Isa ada di Srinagar, Kashmir, India. Hz.Mirza Ghulam Ahmad mengirimkan expedisi untuk menyelidiki hal itu. Dan pada tahun 1899 beliau menulis buku Masih Hindustan Me (Almasih di India). Di dalam buku ini beliau memaparkan kesaksian-kesaksian Bible bahwa Nabi Isa itu tidak mati di tiang salib, melainkan selamat dari kematian di tiang salib yang terkutuk itu. Dan dari bukti-bukti sejarah Hz.Mirza Ghulam Ahmad memaparkan bahwasanya setelah peristiwa penyaliban itu Nabi Isa pergi mencari domba-domba Bani Israil yang hilang ke kawasan Asia tengah. Mulai dari Syiria, Iraq, Iran, Afghanistan, sampai ke India. Dan akhirnya wafat dan dikebumikan di Srinagar, Kashmir, India.

    Pada tahun 1901 Hz.Mirza Ghulam Ahmad memperjelas penda’waan beliau sebagai nabi zilli (bayangan) dan ummati (selaku umat Nabi Muahammad saw.) yang merupakan berkat mengikuti dan mematuhi sepenuhnya Syariat dan Sunnah Rasulullah saw.. (Lihat: Da’watul Amir, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, terj.Bhs.Indonesia, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1989, hal.xiii)

    Karya-karya Tulis Hz.Mirza Ghulam Ahmad
    Disamping beliau menghadapi polemik-polemik tsb. dengan berbagai kalangan tokoh agama, Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. sangat giat menulis buku-buku. Tercatat sebanyak 88 judul buku yang beliau tulis di dalam beberapa bahasa, antara lain Bhs.Urdu, Arab, dan Farsi. Kumpulan karya tulis beliau ini kini diterbitkan dalam satu set dengan nama Rohani Khazain yang terdiri dari 23 volume.

    Media-media Massa Yg Diterbitkan Oleh Hz.Mirza Ghulam Ahmad
    Selain itu Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. di masa hidup beliau juga menerbitkan media-media massa untuk menyebar-luaskan misi pertablighan Islam. Mingguan Al-Hakam (Urdu) mulai terbit sejak tahun 1897. Kemudian Al-Badr mulai terbit sejak tahun 1902, juga dalam Bhs.Urdu. Sedangkan The Review of Religions dalam Bhs.Inggris mulai terbit pada tahun 1902.

    Gerakan Al-Wasiyyat & Kewafatan
    Pada tahun 1905, berdasarkan petunjuk Allah Ta’ala, Hz.Mirza Ghulam Ahmad mencanangkan suatu gerakan yang dinamakan Al-Wasiyyat. Yakni suatu gerakan pengorbanan harta dalam bentuk wasiyat, untuk memajukan dan menyebar-luaskan Islam ke seluruh dunia. Beliau membentuk sebuah badan utama yang dinamakan Sadr Anjuman. Yaitu yang akan mengelola segala permasalahan sekular missi tsb.. Dan beliau mewasiatkan tentang akan adanya silsilah khilafat yang akan menggantikan beliau dan akan memimpin missi tsb..

    Dan Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. wafat di Lahore pada tanggal 26 Mei 1908. Jenazah beliau dibawa ke Qadian dan dikebumikan disana.

    Silsilah Khilafat & Perkembangan Ahmadiyah Di Seluruh Dunia
    Setelah Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. wafat, beliau digantikan oleh Khalifatul Masih I, yaitu Hz.Mlv.Hafiz Hakim Nuruddin ra.. Pertablighan Islam dan pengembangan missi Ahmadiyah ke Eropa sudah dimulai pada masa beliau ini.

    Khalifatul Masih I wafat pada tahun 1914 dan digantikan oleh Khalifatul Masih II, yaitu Hz.Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra.. Pertablighan Islam dan pengembangan missi Ahmadiyah ke seluruh dunia lebih terorganisir. Pengorganisiran itu beliau wujudkan pada tahun 1935 dalam bentuk suatu gerakan yang dikenal dengan nama Tahrik Jadid (Gerakan Baru). Di dalam gerakan ini beliau menghimpun dana sukarela dari para anggota dan mengumpulkan tenaga-tenaga sukarela yang mewakafkan diri mereka untuk pengembangan Islam ke seluruh dunia. Pada masa Khalifatul Masih II ini Jemaat Ahmadiyah telah berkembang di Asia, Eropa, Afrika dan Amerika.

    Setelah memimpin selama lebih-kurang 50 tahun, Khalifatul Masih II wafat pada tahun 1965 dan digantikan oleh Khalifatul Masih III, yaitu Hz.Mirza Nasir Ahmad. Beliau wafat pada tahun 1982 dan digantikan oleh Hz.Mirza Tahir Ahmad sebagai Khalifatul Masih IV yang memimpin Jemaat Ahmadiyah di seluruh dunia pada saat sekarang ini.

    Kini Jemaat Ahmadiyah telah tersebar di lebih dari 140 negara di dunia. Program-program penyebaran Islam ke seluruh dunia dan pengkhidmatan kepada umat manusia dalam bentuk penghimbauan kepada Allah Ta’ala (Da’wah Ilallah), dijadikan sebagai prioritas utama. Misalnya pengiriman muballigh-muballigh ke manca-negara; penerjemahan Al-Quran dan tafsirnya ke dalam berbagai bahasa (target:100 bahasa dunia). Pembangunan mesjid-mesjid dan sarana-sarana lainnya. Pengembangan literatur-literatur yang menyinggung berbagai aspek. Pengembangan sarana dakwah Islam melalui satelit dalam program MTA (Muslim Television Ahmadiyya) dsb..

    Ahmadiyah Di Indonesia
    Missi Jemaat Ahmadiyah pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1925. Latar-belakangnya adalah sikap keingin-tahuan beberapa pemuda Indonesia yang berasal dari pesantren/madrasah Thawalib, Padang Panjang, Sumatra Barat.

    Thawalib yang beraliran modern, berbeda dengan institusi-institusi Islam ortodox pada masa itu. Misalnya, para santrinya tidak hanya mendalami Bhs.Arab maupun Arab Melayu tetapi juga sudah diperkenankan membaca tulisan Latin.

    Beberapa santrinya membaca di dalam sebuah surat-kabar tentang orang Inggris yang masuk Islam di London melalui seorang da’i Islam berasal dari India, Khwaja Kamaluddin. Hal ini sangat menarik perhatian mereka. Dan inilah yang mendorong beberapa santri tsb. untuk mencari tokoh itu. Zaini Dahlan, Abu Bakar Ayyub, dan Ahmad Nuruddin adalah tiga orang santri Thawalib yang berangkat untuk tujuan tsb.. Mereka sampai di Lahore (masa itu masih India, kini masuk wilayah Pakistan) pada tahun 1923.

    Dari Lahore mereka lebih dalam masuk ke Qadian dan berdialog dengan pimpinan Jemaat Ahmadiyah pada saat itu, Khalifatul Masih II ra.. Dan akhirnya mereka bai’at dan belajar di Qadian mendalami Ahmadiyah.

    Atas permohonan mereka kepada Khalifatul Masih II, maka dikirimlah utusan pertama Jemaat Ahmadiyah ke Indonesia pada tahun 1925. Yaitu Hz.Mlv.Rahmat Ali ra..

    Pertama-tama beliau masuk dari Aceh ke Tapaktuan. Tahun 1926 beliau menuju Padang. Dan tahun 1929 Jemaat Ahmadiyah sudah berdiri di Padang. Pada tahun 1930 beliau menuju Batavia/Jakarta, dan tahun 1932 Jemaat Ahmadiyah telah berdiri di Batavia/Jakarta. Mulai dari itu banyak jemaat/cabang-cabangnya berdiri di Jawa Barat dan kawasan-kawasan lainnya. Saat ini Jemaat Ahmadiyah Indonesia dengan 181 jemaat-lokalnya (cabang) telah berdiri di seluruh provinsi di Indonesia.

    Pusat Jemaat Ahmadiyah Indonesia sejak tahun 1935 berada di Jakarta. Dan pada tahun 1987 pindah ke Parung, Bogor.

    Penyusun: MI & Ir.Syarif Ahmad Lubis MSc
    Revisi: 1994
    http://www.alislam.org/indonesia/latar.html#Media

  • Membongkar kesesatan dan kedustaan Ahmadiyah
    [Perpustakaan-islam.com]
    Ahmadiyah adalah suatu aliran yang meyakini ada nabi setelah Nabi Muhammad saw, mereka meyakini Mirza Gulam Ahmad sebagai nabi mereka. Selain itu mereka mempunyai kitab suci yang dikenal dengan nama Tadzkirah sebagaimana umat Islam mempunyai Al-Qur`an. Semoga artikel ini dapat sebagai peringatan akan bahaya aliran sesat ini. Artikel ini dikutip dari Buletin LPPI.

    1.Aliran Ahmadiyah-Qadiyani itu berkeyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi dan Rasul, kemudian barangsiapa yang tidak mempercayainya adalah kafir murtad

    2.Ahmadiyah-Qadiyani memang mempunyai Nabi dan Rasul sendiri yaitu Mirza Ghulam Ahmad dari India

    3.Ahmadiyah-Qadiyan mempunyai kitab suci sendiri yaitu kitab suci Tadzkirah

    4.Kitab suci”Tadzkirah” tersebut adalah kumpulan wahyu yang diturunkan “tuhan” kepada Mirza Ghulam Ahmad yang kesuciannya sama dengan kitab suci Al-Qur’an, karena sama-sama wahyu dari Tuhan, tebalnya lebih tebal dari Al-Qur’an, dan kitab suci Ahmadiyah tersebut ada di kantor LPPI

    5.Kalangan Ahmadiyah mempunyai tempat suci tersendiri untuk melakukan ibadah haji yaitu Rabwah dan Qadiyan di India. Mereka mengatakan: “Alangkah celakanya orang yang telah melarang dirinya bersenang-senang dalam haji akbar ke Qadiyan. Haji ke Makkah tanpa haji ke Qadiyan adalah haji yang kering lagi kasar”. Dan selama hidupnya “nabi” Mirza tidak pernah haji ke Makkah

    6.Kalau dalam keyakinan umat Islam para nabi dan rasul yang wajib dipercayai hanya 25 orang, dalam ajaran Ahmadiyah Nabi dan Rasul yang wajib dipercayai harus 26 orang, dan Nabi dan Rasul yang ke-26 tersebut adalah “Nabi Mirza Ghulam Ahmad”

    7.Dalam ajaran Islam, kitab samawi yang dipercayai ada 4 buah yaitu: Zabur, Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Tetapi bagi ajaran Ahmadiyah Qadiyan bahwa kitab suci yang wajib dipercayai harus 5 buah dan kitab suci yang ke-5 adalah kitab suci “Tadzkirah” yang diturunkan kepada “Nabi Mirza Ghulam Ahmad”

    8.Orang Ahmadiyah mempunyai perhitungan tanggal, bulan dan tahun sendiri. Nama bulan Ahmadiyah adalah: 1. Suluh 2. Tabligh 3. Aman 4. Syahadah 5. Hijrah 6. Ihsan 7. Wafa 8. Zuhur 9. Tabuk 10. Ikha’ 11. Nubuwah 12. Fatah. Sedang tahunnya adalah Hijri Syamsi yang biasa mereka singkat dengan H.S. Dan tahun Ahmadiyah saat ini adalah tahun 1373 H.S (1994 M atau 1414 H). Kewajiban menggunakan tanggal, bulan dan tahun Ahmadiyah tersendiri tersebut di atas perintah khalifah Ahmadiyah yang kedua yaitu Basyiruddin Mahmud Ahmad

    9.Berdasarkan firman “tuhan” yang diterima oleh “nabi” dan “rasul” Ahmadiyah yang terdapat dalam kitab suci “Tadzkirah” yang artinya: “Dialah tuhan yang mengutus rasulnya “Mirza Ghulam Ahmad” dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya atas segala agama-agama semuanya.(“kitab suci Tadzkirah” hal. 621)

    Berdasarkan keterangan yang ada dalam kitab suci Ahmadiyah di atas BAHWA AHMADIYAH BUKAN SUATU ALIRAN DALAM ISLAM, TETAPI MERUPAKAN SUATU AGAMA YANG HARUS DIMENANGKAN TERHADAP SEMUA AGAMA-AGAMA LAINNYA TERMASUK AGAMA ISLAM

    10.Ahmadiyah mempunyai nabi dan rasul sendiri, kitab suci sendiri, tanggal, bulan dan tahun sendiri, tempat untuk haji sendiri serta khalifah sendiri yang sekarang khalifah yang ke-4 yang bermarkas di Inggris bernama: Thahir Ahmad. Semua anggota Ahmafiyah di seluruh dunia wajib tunduk dan taat tanpa reserve pada perintah dia. Orang di luar Ahmadiyah adalah kafir dan wanita Ahmadiyah haram kawin dengan laki-laki di luar Ahmadiyah. Jika tidak mau menerima Ahmadiyah tentu mengalami kehancuran

    11.Berdasarkan “ayat” kitab suci Ahmadiyah “Tadzkirah” bahwa tugas dan fungsi Nabi Muhammad saw sebagai nabi dan rasul yang dijelaskan oleh kitab suci umat Islam Al-Qur’an, dibatalkan dan diganti oleh “nabi” orang Ahmadiyah Mirza Ghulam Ahmad

    11.1. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
    Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab suci’Tadzkirah” ini dekat dengan Qadiyan-India. Dan dengan kebenaran Kami menurunkannya dan dengan kebenaran dia turun.” (“kitab suci” Tadzkirah hal.637)
    11.2. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
    Artinya: ”Katakanlah-wahai Mirza Ghulam Ahmad-jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku”
    (“kitab suci” Tadzkirah hal. 630)
    11.3.Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah
    Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau-wahai Mirza Ghulam Ahmad-kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam”. (kitab suci “Tadzkirah” hal. 634)
    11.4. Firman “tuhan” dalam kitab suci “Tadzkirah”:
    Artinya: “Katakan wahai Mirza Ghulam Ahmad-sesungguhnya aku ini manusia biasa seperi kamu, hanya diberi wahyu kepadaku”.(“kitab suci Tadzkirah hal. 633)
    11.5. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
    Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu – wahai Mirza Ghulam Ahmad – kebaikan yang banyak” (“kitab suci” Tadzkirah hal.652)
    11.6. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
    Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan engkau – wahai Mirza Ghulam Ahmad – imam bagi seluruh manusia” (“kitab suci” Tadzkirah hal. 630)
    11.7. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” “Tadzkirah”:
    Artinya: “Oh, pemimpin sempurna, engkau – wahai Mirza Ghulam Ahmad – seorang dari rasul, yang menempuh jalan betul, diutus oleh Yang Maha Kuasa, Yang Rahim” (“kitab suci” Tadzkirah hal. 658-659)
    11.8. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
    Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam lailatul qadr” (kitab suci Tadzkirah hal. 519)
    11.9. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
    Artinya: “Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar tetapi Allah-lah yang melempar. (Tuhan) Yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-Qur’an” (“kitab suci” Tadzkirah hal.620)

    Dan masih banyak lagi ayat-ayat kitab suci Al-Qur’an yang dibajaknya. Ayat-ayat “kitab suci” Ahmadiyah Tadzkirah yang dikutip di atas, adalah penodaan dan bajakan-bajakan dari kitab suci Umat Islam Al-Qur’an.
    Dan Mirza Ghulam Ahmad mengaku pada umatnya -orang Ahmadiyah-bahwa ayat-ayat tersebut adalah wahyu yang dia terima dari “tuhannya” di I N D I A.

    12. PENODAAN AGAMA DAN HUKUMNYA
    12.1 Pada Kitab Undang-undang Hukum Pidana diadakan pasal baru yang berbunyi sbb: PASAL 56 a:
    Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: a. yang pokoknya bersifat permusuhan. Penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama di Indonesia.

    12.2 Surat edaran Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Nomor D/BA.01/3099/84 tanggal 20 September 1984, a.l.:
    2. Pengkajian terhadap aliran Ahmadiyah menghasilkan bahwa Ahmadiyah-Qadiyan dianggap menyimpang dari Islam karena mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi, sehingga mereka percaya bahwa Nabi Muhammad saw bukan nabi terakhir.

    13.1. Malaysia telah melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Malaysia sejak tanggal 18 Juni 1975.

    13.2. Brunei Darussalam juga telah melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Brunei Darussalam.

    13.3. Rabithah `Alam Islami yang berkedudukan di Makkah telah mengeluarkan fatwa bahwa Ahmadiyah adalah KAFIR dan KELUAR DARI ISLAM.

    13.4. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah adalah KAFIR dan TIDAK BOLEH pergi haji ke Makkah.

    13.5. Pemerintah Pakistan telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah adalah golongan MINORITAS NON MUSLIM.

    14. K E S I M P U L A N
    a.Ahmadiyah sebagai perkumpulan atau jemaat didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di Qadiyan – I N D I A (sekarang Pakistan) tahun 1889, yang karena perbedaan pandangan tentang penerus kepemimpinan dalam Ahmadiyah dan ketokohan pendirinya berkembang dua aliran, yaitu Anjuman Ahmadiyah (Ahmadiyah Qadiyan) dan Anjuman Ishaat Islam Lahore (Ahmadiyah Lahore).Kedua aliran tersebut mengakui kepemimpinan dan mengikuti ajaran serta paham yang bersumber pada ajaran Mirza Ghulam Ahmad.

    b.Jemaat Ahmadiyah masuk dan berkembang di Indonesia sejak tahun 1920-an dengan menamakan diri Anjuman Ahmadiyah Qadiyan Departemen Indonesia dan kemudian dinamakan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang dikenal dengan Ahmadiyah Qadiyan, dan Gerakan Ahmadiyah Lahore Indonesia (GIA) yang dikenal dengan Ahmadiyah Lahore.

    c.Mirza Ghulam Ahmad mengaku telah menerima wahyu, dan dengan wahyu itu dia diangkat sebagai nabi, rasul, al-Masih Mau`ud dan Imam Mahdi. Ajaran dan faham yang dikembangkan oleh pengikut Jemaat Ahmadiyah Indonesia khususnya terdapat penyimpangan dari ajaran Islam berdasarkan Al-Qur`an dan Al-Hadits yang menjadi keyakinan umat Islam umumnya, antara lain tentang kenabian dan kerasulan Mirza Ghulam Ahmad sesudah Rasulullah saw.(BALITBANG DEPAG RI, Jakarta, 1995 hal. 19, 20,21)

    P E N U T U P
    Sebagai penutup brosur ini, kami kutip sebuah ayat Al-Qur`an yang mengancam orang yang mengaku menerima wahyu serta menulis kitab dengan tangannya sendiri, kemudian dikatakannya dari Allah swt dengan dusta yang amat keji seperti yang dilakukan oleh nabi Mirza di atas.

    Allah swt berfirman:
    Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri lalu dikataknnya: Ini dari Allah, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaanlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang mereka kerjakan. (Q.S. Al-Baqarah 79)

    Cat: Apabila PB Ahmadiyah berkeberatan dengan isi brosur ini, alangkah baiknya diselesaikan melalui debat terbuka yang disaksikan oleh umat.

    Sumber: Buletin LPPI. Masjid Al-Ihsan Lt.III Proyek Pasar Rumput Jakarta 12970 Telp/Fax. (021)8281606
    [Kontributor : Muslim, 02 Juni 2002 ]

  • Mirza Gulam Ahmad
    [wikipedia: Mirza_Ghulam_Ahmad]

    Mirza Ghulam Ahmad (مرزا غلام احمد) (February 13, 1835; May 26, 1908), seorang tokoh rohaniawan dari Qadian, India, dia adalah pendiri gerakan keagamaan Ahmadiyah. Dia mengaku sebagai “kedatangan Yesus/Isa yang kedua kalinya”, Mesiah yang dijanjikan, Imam Mahdi, begitu juga sebagai Mujaddid diabad ke 14 Islam.[1] bagaimanapun, pengakuannya tidak begitu saja diterima oleh sebagian umat Muslim dan sebagian besar melihatnya sebagai Nabi palsu.

    Masa awal
    Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Nama yang asli hanyalah Ghulam Ahmad. Sedangkan “Hazrat” adalah kata penghormatan kepada beliau oleh para pengikutnya. Kata “Mirza” melambangkan keturunan bangsawan dari Moghul. Adalah merupakan kebiasaan, beliau suka menggunakan nama Ahmad agar lebih ringkas.

    Hazrat Ahmad adalah keturunan Haji Barlas, raja kawasan Qesh, yang merupakan paman Amir Tughlak Temur. Tatkala Amir Temur menyerang Qesh, Haji Barlas sekeluarga terpaksa melarikan diri ke Khorasan dan Samarkand, dan mulai menetap disana. Tetapi pada abad ke 10 Hijriah atau abad ke 16 Masehi, seorang keturunan Haji Barlas bernama Mirza Hadi Beg beserta 200 orang pengikutnya hijrah dari Khorasan ke India karena beberapa hal, dan tinggal di kawasan sungai Bias dengan mendirikan sebuah perkampungan bernama Islampur, 9 km jauhnya dari sungai tersebut.

    Ia lahir di Punjab, India pada February 13, 1835 atau 14 Syawal 1250 H, pada waktu shalat subuh hari Jumat, di rumah Mirza Ghulam Murtaza di desa Qadian. Ia lahir dalam sebuah keluarga yang berkecukupan sebagai bayi kembar, namun kembarannya meninggal saat lahir.

    Dia dikabarkan selalu menghabiskan waktunya di mesjid dengan mempelajari Al Qur’an dan pelajaran agamanya, Islam. Hal itu tidak sesuai dengan kemauan ayahnya yang ingin agar dia menjadi seorang pengacara atau seorang pegawai negri. Dalam mempelajari hal-hal keagamaan, dia selalu berinteraksi dengan banyak orang Islam, orang non Islam, dan dengan misionaris Kristen yang selalu diajaknya berdiskusi.

    Awal Pengakuannya
    Ketika Ahmad berumur 40 tahun, ayahnya wafat. Waktu itu Ahmad mengaku bahwa Tuhan telah berkomunikasi dengannya melalui wahyu. Sejak saat itu Ahmad banyak menulis untuk melawan apa yang menurutnya sebagai tulisan-tulisan anti Islam dari berbagai kelompok misionaris Kristen. Dia juga fokus dalam melawan berbagai dampak yang dilakukan oleh kelompok-kelompok seperti Brahma Samaj. Selama periode ini dia sangat diterima oleh berbagai golongan Islam yang ada saat itu.

    Ahmadiyyah

    Tujuan pendirian
    Menurut pendirinya, Mirza Ghulam Ahmad, misi Ahmadiyah adalah untuk menghidupkan Islam dan menegakkan Syariah Islam. Tujuan didirikan Jemaat Ahmadiyah menurut pendirinya tersebut adalah untuk meremajakan moral Islam dan nilai-nilai spiritual. Ahmadiyah bukanlah sebuah agama baru namun merupakan bagian dari Islam. Para pengikut Ahmadiyah mengamalkan Rukun Iman yang enam dan Rukun Islam yang lima. Gerakan Ahmadiyah mendorong dialog antar agama dan senantiasa membela Islam serta berusaha untuk memperbaiki kesalah-pahaman mengenai Islam di dunia Barat. Gerakan ini menganjurkan perdamaian, toleransi, kasih dan saling pengertian diantara para pengikut agama yang berbeda; dan sebenar-benarnya percaya dan bertindak berdasarkan ajaran al Quran : “Tidak ada paksaan dalam agama” (2:257) serta menolak kekerasan dan teror dalam bentuk apapun untuk alasan apapun. [3]

    Jemaat Muslim Ahmadiyah adalah satu organisasi keagamaan Internasional yang telah tersebar ke lebih dari 185 negara di dunia[4]. Pergerakan Jemaat Ahmadiyah dalam Islam adalah suatu organisasi keagamaan dengan ruang lingkup internasional yang memiliki cabang di 174 negara tersebar di Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, Australia dan Eropa. Saat ini jumlah keanggotaannya di seluruh dunia lebih dari 150 juta orang. [5] Jemaat Ahmadiyah Internasional juga telah menerjemahkan al Quran ke dalam bahasa-bahasa besar di dunia dan sedang merampungkan penerjemahan al Quran ke dalam 100 bahasa di dunia. Sedangkan Jemaat Ahmadiyah di Indonesia telah menerjemahkan al Quran dalam bahasa Indonesia, Sunda, dan Jawa.

    Ahmadiyah Qadian dan Lahore
    Terdapat dua kelompok Ahmadiyah. Keduanya sama-sama mempercayai bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Isa al Masih yang telah dijanjikan Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi dua kelompok tersebut memiliki perbedaan prinsip:

    Ahmadiyah Qadian, di Indonesia dikenal dengan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (berpusat di Bogor [6], yakni kelompok yang mempercayai bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang mujaddid (pembaharu) dan seorang nabi.

    Ahmadiyah Lahore, di Indonesia dikenal dengan Gerakan Ahmadiyah Indonesia (berpusat di Yogyakarta). Secara umum kelompok ini tidak menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, melainkan hanya sekedar mujaddid dari ajaran Islam [7].

    Selengkapnya, Ahmadiyah Lahore mempunyai keyakinan bahwa mereka:

    Percaya pada semua aqidah dan hukum-hukum yang tercantum dalam al Quran dan Hadits, dan percaya pada semua perkara agama yang telah disetujui oleh para ulama salaf dan ahlus-sunnah wal-jama’ah, dan yakin bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir.

    Nabi Muhammad SAW adalah khatamun-nabiyyin. Sesudahnya tidak akan datang nabi lagi, baik nabi lama maupun nabi baru.

    Sesudah Nabi Muhammad SAW, malaikat Jibril tidak akan membawa wahyu nubuwat kepada siapa pun.

    Apabila malaikat Jibril membawa wahyu nubuwwat (wahyu risalat) satu kata saja kepada seseorang, maka akan bertentangan dengan ayat: walâkin rasûlillâhi wa khâtamun-nabiyyîn (QS 33:40), dan berarti membuka pintu khatamun-nubuwwat.

    Sesudah Nabi Muhammad SAW silsilah wahyu nubuwwat telah tertutup, akan tetapi silsilah wahyu walayat tetap terbuka, agar iman dan akhlak umat tetap cerah dan segar.

    Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW, bahwa di dalam umat ini tetap akan datang auliya Allah, para mujaddid dan para muhaddats, akan tetapi tidak akan datang nabi.

    Mirza Ghulam Ahmad adalah mujaddid abad 14 H. Dan menurut Hadits, mujaddid akan tetap ada. Dan kepercayaan kami bahwa Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi, tetapi berkedudukan sebagai mujaddid.

    Percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad bukan bagian dari Rukun Islam dan Rukun Iman, maka dari itu orang yang tidak percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad tidak bisa disebut kafir.

    Seorang muslim, apabila mengucapkan kalimah thayyibah, dia tidak boleh disebut kafir. Mungkin dia bisa salah, akan tetapi seseorang dengan sebab berbuat salah dan maksiat, tidak bisa disebut kafir.

    Ahmadiyah Lahore berpendapat bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah pelayan dan pengemban misi Nabi Muhammad SAW.[8]

  • Unjuk rasa MUI dan ormas Islam tgl 20/4/2008, di MoNas dan Istana Negara
    [http://www.waspada.co.id/Berita/Nusantara/MUI-em-Ahmadiyah-Kafir-em.html]

    “Ahmadiyah kafir! Ahmadiyah murtad! Ahmadiyah kelompok radikal dan ekstrimis. Ahmadiyah menyimpang dari ajaran agama Islam yang sebenarnya.”

    Itulah yang diteriakkan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kholil Ridwan Minggu (20/4) bersama puluhan ribu warga dari berbagai organisasi Islam yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) saat berunjukrasa di seputar Monas dan Istana Merdeka, Jakarta, mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera membubarkan aliran Ahmadiyah.

    Mereka juga mendesak agar Presiden segera menindak lanjuti rekomendasi Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem) dalam bentuk SKB atau Surat Keputusan Bersama tiga menteri untuk membubarkan Ahmadiyah di Indonesia.

    Puluhan ribu warga itu berkumpul di Masjid Istiqlal kemarin pagi pukul 7.00 kemudian long march menuju Istana Merdeka. Gabungan FUI itu terdiri dari sejumlah ormas Islam, di antaranya Persatuan Umat Islam (PUI), Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Majelis Mujahiddin Indonesia dan Tim Pembela Muslim. Beberapa perwakilan partai politik juga datang, antara lain, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Bulan Bintang (PKB) dan Partai Bintang Reformasi (PKB).

    Menanggapi seruan Kholil Ridwan, Wakil Ketua MUI yang juga Ketua Umum Din Syamsuddin mengatakan, kalangan Ahmadiyah tidak meyakini Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir di Islam. Berdasarkan keyakinan itu, maka tidak ada ungkapan lain kecuali keyakinan seperti itu berada di luar Islam.

    Kenabian dan kerasulan SAW, Din melanjutkan, sebagai nabi dan rasul terakhir sangat mendasar dalam Islam dan menjadi bagian fundamental dari syahadat. “Di luar itu, para ulama berkesimpulan bahwa terjadilah penyimpangan dan maka itu, diyakini bahwa mereka adalah kafir,” kepada Waspada Din menerangkan melalui telefon selular, kemarin malam.

    Lebih lanjut dia menjelaskan, persoalannya kalangan JAI mengaku SAW dalam ucapan kalimat syahadatnya tapi sekaligus juga mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi yang terakhir. “Ini yang menjadi dilema pemahaman dan harus segera diperjelas agar umat Islam di Indonesia dan seluruh dunia tidak salah paham.”

    Din juga menjelaskan, sebenarnya masalah Ahmadiyah sudah lama sekali sejak Pemerintah Pakistan menyatakan Ahmadiyah sebagai kelompok di luar agama, maka banyak negara Islam melarang aliran itu. Pada tahun 1979, Liga Islam Sedunia mengeluarkan fatwa sesat Ahmadiyah yang kemudian diikuti oleh MUI tahun 1980 dan memperkuatnya pada tahun 2005.

    Menurut Din, pangkal kesesatan adalah keyakinan Ahmadiyah bahwa pendirinya Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi baru. Itu yang dianggap bertentangan dengan akidah Islam yang dianut umat Islam sedunia. “Persoalannya bukan kebebasan beragama tapi dianggap penodaan karena mengaitkan diri dengan agama yang sudah ada tapi menyelewengkan ajaran paling dasar yaitu keyakinan.”

    Namun, Din melanjutkan penjelesannya, pembubaran sebuah kelompok adalah kewenangan pemerintah, tentu harus berdasarkan hukum. Dan itu hanya pada alasan social yaitu menimbulkan keresahan masyarakat bukan karena alasan teologis, di mana negara tidak boleh intervensi.

    “Yang paling penting adalah dialog persuasive agar pengikut Ahmadiyah kembali ke jalan yang benar. Maka umat Islam perlu merangkul mereka, jangan membenci apalagi melakukan tindakan kekerasan terhadap mereka,” Din mengimbau.

    Said Agil Siradj, Ketua Pengurus Besar Nahdathul Ulama (PBNU) mengaku terlalu melakukan pendekatan dengan JAI untuk memastikan kondisi dalam negeri tetap kondusif dan tidak berkelanjutan anarkis.

    Dia mengaku pihak JAI telah mengeluh kepada Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi karena desakan dan ancaman-ancaman masyarakat terhadap keselamatan anggota JAI di seluruh Indonesia, maka itu JAI minta NU untuk melaporkan kondisi itu kepada Kapolri Jend. Sutanto.

    Kepada Waspada, Said menjelaskan bahwa pendekatan NU dengan JAI ditujukan untuk mengimbau mereka agar dalam setiap tindakan dan langkah yang hendak diambil, sepatutnya dilakukan dengan penuh kebijakan, santun, dan melalui diskusi yang positif dan damai.

    “NU menilai penting adanya pendekatan itu untuk mengingatkan JAI jangan sampai anarkis,” kata Said dan menambahkan bahwa NU menganggap aliran Ahmadiyah ditolak oleh umat Islam internasional. Nada serupa juga datang dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan tindakan anarkis terhadap jemaat Ahmadiyah.

    Presiden PKS Tifatul Sembiring mengatakan PKS setuju dengan rekomendasi Bakor Pakem tentang penghentian aktivitas Ahmadiyah, namun jangan sampai ada elemen bangsa atau masyarakat yang bertindak sendiri. “Serahkan sepenuhnya pada pihak yang berwajib,” kata Tifatul.

    Kata dia, PKS setuju dengan pembubaran Ahmadiyah, karena ini bukan persoalan beda pendapat. Tapi ini merupakan suatu penyalahgunaan amal suatu agama, Namun, dia mengingatkan bahwa PKS tidak setuju apabila penghentian aktivitas Ahmadiyah itu dilakukan dengan cara anarkis.

    “Jangan sampai ada kelompok masyarakat yang menghakimi masyarakat lainnya, terlebih dalam persoalan perbedaan keyakinan. “Maka cara-cara yang digunakan harus persuasive.”

    Sementara itu, Direktur Eksekutif The Indonesian Institute, Anies Baswedan, menilai kini saatnya pemerintah Indonesia membuktikan pada seluruh dunia bahwa Indonesia adalah negara bhineka. Kebhinekaan itu dijamin eksistensinya oleh konstitusi dan ditegakkan oleh Pemerintah.

    “Ini adalah momentum yang pas bagi Pemerintah untuk muncul memberi teladan dalam menghargai kebhinnekaan,” kata Anies kepada Waspada kemarin melalui telefon selular. Dia juga berpendapat bahwa pemerintah tidak perlu ganggu Ahmadiyah karena mereka sudah eksis lama dan “punya hak yang sama dengan WNI lainnya.”

    Informasi tentang aksi demo, Kapolres Jakarta Pusat Kombes Heru Winarko, kepada Waspada mengkonfirmasi bahwa para demonstran itu telah menyampaikan pemberitahuan resmi ke Polda Metro Jaya. Pemberitahuan itu berisikan informasi bahwa 30,000 orang akan melakukan orasi di kawasan tersebut dari pukul 7:00 sampai 13:00. Heru juga mengatakan bahwa aksi demo itu berjalan aman meski seruan-seruannya sangat agresif.

    Puluhan polisi dari Kepolisian Sektor Gambir dibantu puluhan patroli sepeda motor Kepolisian Resort Jakarta Pusat berjaga-jaga di sekitar Masjid Al-Hidayah yang menjadi Kantor Cabang Ahmadiyah di Jakarta. Penjagaan dilakukan menyusul adanya isu penyerangan dari sejumlah ormas Islam, kata Heru.

    Menanggapi informasi bahwa pemerintah Amerika Serikat telah melayangkan surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menginmbau agar Ahmadiyah tidak dibubarkan, Din beranggapan bahwa jika mempelajari sejarah JAI, aliran itu berasal dari jajahan Inggris. Dan Negara Barat termasuk Amerika cenderung akan membela JAI. Ketika diminta konfirmasi, Staf Khusus Kepresidenan Urusan Internasional Dino Patti Djalal dan Staf Kedutaan Besar AS Urusan Politik Stafford Ward mengaku belum melihat surat itu. (Avian E Tumengkol)

  • Habib Assegaf: Darah Jamaah Ahmadiyah Halal
    Suara Merdeka CyberNews, 18/04/2008 07:27 wib – Nasional Aktual:

    Jakarta, CyberNews. Menyusul keputusan Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan (Bakor Pakem) terhadap ajaran Ahmadiyah yang dinyatakan sesat, reaksi keras pun bermunculan.

    Setelah 3 bulan dipantau Bakor Pakem, Ahmadiyah ternyata tidak menjalankan 12 butir kesepakatan secara konsisten. Ahmadiyah ternyata masih mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi terakhir. Surat Keputusan Bersama (SKB) Jaksa Agung, Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri saat ini tengah digodok dan secepatnya akan segera dikeluarkan.Gerakan Umat Islam Indonesia.

    Pelarangan terhadap Ahmadiyah di Indonesia juga mendapat dukungan dari Gerakan Umat Islam Indonesia.

    “Kami juga telah mengirim surat ke Presiden SBY agar segera membuat Keppres pembubaran Ahmadiyah. Jika tak juga dibuat, kami mendesak agar Depdagri mempersilakan Ahmadiyah membuat agama baru, tapi jangan bawa-bawa Islam,” papar Habib Abdurrahman Assegaf, Ketua Umum GUII.

    Ditandaskan, jika ketetapan hukumnya sudah tetap dan Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) tak mau tobat juga maka GUII akan melakukan aksi lebih besar untuk memberangus mereka.

    “Darah mereka halal,” tegas Habib Assegaf.