Category Archives: Religi-Buddha

Samädhi/Meditasi dan Paññā


Sang Buddha pernah berkata bahwa 5 Indriya/Pañcindriyāni (saat mahir tak tergoyahkan/mencapai kesucian disebut 5 Kekuatan/pañca balā), jika dikembangkan dan dilatih (bhāvitāni bahulīkatāni), akan menuntun pada (saṃvattanti): Hancurnya noda-noda (āsavānaṃ khayāya) atau Hancurnya belenggu-belenggu (saṃyojanappahānāya) atau Tercabutnya kecenderungan tersembunyi (anusayasamug-ghātāya) atau Pemahaman penuh pada sang jalan (addhā-napariññāya)” [SN 48.61-64]. 5 Indriya (atau 5 kekuatan, ref SN 48.3), yang dimaksud adalah:

  1. Indria/Kekuatan keyakinan (Saddha), harus terlihat dalam (daṭṭhabba) 4 faktor memasuki-arus (Catūsu sotāpattiyaṅgesu) [SN 48.8] atau CERMIN DHAMMA/dhammādāso (SN 55.8-10), yaitu: Keyakinan kokoh tak tergoyahkan pada (1) Buddha, (2) Dhamma, (3) sangha, dan (4) moralitas yang disenangi para mulia yaitu moralitas yang tidak rusak, tidak robek, tanpa noda, tanpa bercak, membebaskan, tidak digenggam/melekat dan menuntun pada pikiran terpusat [SN 55.1,2].

    Pengelompokan lain 4 faktor pemasuk arus: (1) Pergaulan dengan orang yang Mulia (Sappurisasaṃseva), (2) mengikuti dhamma sejati (saddhammassavana), (3) memperhatikan yang seharusnya (yonisomanasikāra) dan (4) berprilaku sesuai dhamma/ajaran (dhammānudhammappaṭi-patti). Arus adalah 8 jalan mulia (pandangan benar..pemusatan pikiran yang benar). Pemasuk arus adalah yang memiliki 8 jalan mulia [SN 55.5, 50; DN 33]

      Note:
      Karena Sang Buddha juga bersabda: “..Sekarang, Ānanda, prilaku menuju kesucian menjadi tidak bertahan lama. Sekarang, Ānanda, DHAMMA SEJATI hanya bertahan 500 tahun (na dāni, ānanda, brahmacariyaṃ ciraṭṭhitikaṃ bhavissati. Pañceva dāni, ānanda, vassasatāni saddhammo ṭhassati)” [AN 8.51, Vinaya: Cullavagga X.1.6], maka, setelah tahun ke-500nya penahbisan Mahapajapati Gotami, Dhamma sejati lenyap, pencapaian Sotapanna TIDAK DIMUNGKINKAN di alam Manusia. Mereka yang mengaku berkeyakinan terhadap Buddha, Dhamma, seharusnya juga YAKIN pada sabda sang Buddha tentang yang ini. [Detailnya, lihat: BLOG INI]

    Sidharta Gautama dengan usahanya sendiri, menembus pencerahan, pengetahuan ini diajarkanNya pada yang patut dijinakkan. Jadi, seseorang, melihat orang yang dikenalnya, menjalani latihan ajaran ini dan mencapai pencapaian. Ini menginspirasikannya untuk mengikutinya atau untuk membuktikannya, ATAU Seseorang, setelah mendengar/membaca ajaran, Ia merenungkannya dan melihat manfaatnya ada, Ini adalah benih awal keyakinannya, Ia ingin membuktikan kelanjutannya dan Ia mencapai beberapa kemajuan mental seperti yang tertera di ajaran, oleh karenanya, keyakinannya mengokoh dan makin tak goyah.

    Alur maju dari indera Keyakinan:

      “..yang berbakti sepenuhnya kepada Sang Tathāgata dan berkeyakinan penuh pada-Nya tidak memiliki kebingungan atau keraguan terhadapNya atau ajaranNya → akan terbangkitkan kegigihannya untuk meninggalkan kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan mendapatkan kondisi-kondisi yang bermanfaat → akan menjadi penuh perhatian, memiliki perhatian dan kewaspadaan tinggi, mengingat apa yang dilakukan dan katakan di waktu yang telah lama berlalu → akan memperoleh keterpusatan pikiran, akan memperoleh pikiran yang terpusat, setelah melepaskan objek → dan akan memahami..

      Ketika ia, berulang-ulang berusaha dengan cara demikian, berulang-ulang merenungkan demikian, berulang-ulang memusatkan pikiran demikian, berulang-ulang mengetahuinya dengan cara demikian, siswa mulia itu memperoleh keyakinan penuh sebagai berikut: ‘Sehubungan dengan hal-hal ini yang hanya pernah kudengar sebelumnya, Aku, sekarang, setelah menyentuhnya dengan jasmani dan, setelah menembusnya melalui kebijaksanaan, aku melihat.’ Keyakinannya itu adalah indria keyakinan.” [SN 48.50. Juga lihat: MN 68/Nalakapanasutta dan MN 11/Culasihanada Sutta]

    Perumpamaan tentang Kereta Dhamma dari Sang Buddha:

      Adalah keyakinan dan kebijaksanaan (yassa saddhā ca paññā ca)
      pasangan yang terjalin bersama (dhammā yuttā sadā dhuraṃ)
      rasa malu tiangnya, pikiran gandar-ikatnya (Hirī īsā mano yottaṃ)
      perhatian kusir pengarahnya (sati ārakkhasārathi)

      moralitas perlengkapan keretanya (ratho sīlaparikkhāro)
      jhana as-nya kegigihan rodanya (jhānakkho cakkavīriyo)
      keseimbangan terjalin pikiran terpusat (upekkhā dhurasamādhi)
      dan ketiadaan keinginan sebagai penutupnya (anicchā parivāraṇaṃ)

      tanpa niat buruk tanpa kekejaman (Abyāpādo avihiṃsā)
      dan melepaskan adalah persenjataannya (viveko yassa āvudhaṃ)
      kesabaran perisai zirahnya (Titikkhā cammasannāho)
      bebas kemelekatan arahnya (yogakkhemāya vattati)

      berasal dari diri sendiri (tadattani sambhūtaṃ)
      kendaraan brahma yang tiadatara (brahmayānaṃ anuttaraṃ)
      dikendarai para bijak dunia kita (Niyyanti dhīrā lokamhā)
      pasti berjaya dengan kemenangan (aññadatthu jayaṃ jayan”ti) [SN 45.4]

  2. Indria/Kekuatan kegigihan (vīriya), harus terlihat dalam 4 usaha benar (Catūsu sammappadhānesu) [SN 48.8], yaitu: Membangkitkan kegigihan untuk:
    • meninggalkan kondisi-kondisi tak bermanfaat dan mendapatkan kondisi-kondisi bermanfaat; kuat, teguh dalam usaha, tidak melalaikan tanggung jawab untuk melatih kondisi-kondisi bermanfaat. Membangkitkan keinginan untuk tak memunculkan kondisi-kondisi buruk tak bermanfaat yang belum muncul;
    • Mengarahkan pikirannya, berupaya dan membangkitkan keinginan untuk: meninggalkan kondisi-kondisi buruk tak bermanfaat yang telah muncul dan membangkitkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul;
    • Mengarahkan pikirannya, berupaya dan membangkitkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul dan;
    • mengarahkan pikirannya, berupaya dan membangkitkan keinginan untuk mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul, untuk ketidak-rusakannya, meningkatkannya, memperluasnya, dan memenuhinya melalui pengembangan [SN 48.10; DN 16]

    Sang Buddha: Jika 4 Indriya (catunnaṃ indriyānaṃ) yaitu Indria/kekuatan: Kebijaksanaan, Pikiran terpusat, Perhatian dan Kegigihan, telah dikembangkan dan dilatih, ini akan menuntun pada hancurnya noda-noda [SN 48.47]

  3. Indria/Kekuatan perhatian (sati), yaitu daya mengingat terkuat (satimā hoti paramena) disertai kejelian mengenali (satinepakkena samannāgato) ingatan yang telah lama dilakukan dan dikatakannya (cirakatampi cirabhāsitampi saritā anussaritā). Indria perhatian harus terlihat dalam 4 landasan perhatian (Catūsu satipaṭṭhānesu), yaitu setelah meninggalkan kerinduan kegundahan dunia dengan tekun mengetahui sepenuhnya dalam perhatian merenungkan: Jasmani adalah jasmani (kāye kāyānupassī) ..Perasaan adalah perasaan (vedanāsu vedanānupassī) ..Pikiran adalah pikiran (citte cittānupassī) .. HAL (berkondisi, terkondisi, tak terkondisi) adalah HAL (berkondisi, terkondisi, tak terkondisi) (dhammesu dhammānupassī) [SN 48.8, 48.10, AN 5.14]

    Sang Buddha: Mereka yang BELUM meninggalkan 6 hal, TIDAK AKAN MAMPU untuk merenungkan: jasmani adalah jasmani baik secara internal dan eksternal.. perasaan.. pikiran.. dhamma adalah dhamma baik itu secara internal dan eksternal. 6 hal yang dimaksud adalah senang/gemar dalam:

    1. kesibukan/menyibukan diri bekerja (Kammārāmata)
    2. berbicara/ngobrol (tulis dan ucapan) (bhassārāmata)
    3. tidur (niddārāmata)
    4. berkumpul/kumpul-kumpul (saṅgaṇikārāmata)
    5. tidak menjaga pintu-pintu indria (indriyesu aguttadvārata), dan
    6. makan berlebihan/tak membatasi (bhojane amattaññuta) [AN 6.118]

    Sang Buddha: Jika 3 Indriya (tiṇṇannaṃ indriyāna) yaitu Indria/kekuatan: Kebijaksanaan, Pikiran terpusat dan Perhatian, telah dikembangkan dan dilatih, ini akan menuntun pada hancurnya noda-noda. [SN 48.49/Pindola]

  4. Indria/kekuatan pikiran terpusat (samādhi) atau juga disebut Samatha (AN 6.54) yaitu memperoleh samadhi, memperoleh keterpusatan pikiran, setelah melepaskan objek. Indria keterpusatan pikiran harus terlihat dalam 4 Jhana (Catūsu jhānesu): Jhana ke-1 s.d Jhana ke-4 [SN 48.8, 9].

    “Sammā-samādhi” dengan pendukung dan perlengkapan berupa Pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar, usaha benar dan perhatian benar, mengarah pada nibana atau hancurnya kekotoran mental [SN 45.28].

    Sang Buddha: Jika 2 Indriya (dvinnaṃ indriyānaṃ), yaitu Indria/kekuatan: kebijaksanaan/Kebijaksanaan mulia dan Kebebasan mulia/Indria pikiran terpusat, telah dikembangkan dan dilatih, ini akan menuntun pada hancurnya noda-noda [SN 48.46]

  5. Indria/kekuatan kebijaksanaan (pañña) atau Pengetahuan Mulia (Ariyā paññā) atau vipassana (AN 6.54): Mengarah pada muncul-lenyapnya dan dapat menembus, menuntun pada hancurnya penderitaan [SN 48.9], Indria Kebijaksanaan harus terlihat dalam 4 Kesunyataan mulia (Catūsu ariyasaccesu), yaitu: tentang dukkha, asalmulanya, lenyapnya dan jalan menuju lenyapnya dukkha [SN 48.8].

    Sang Buddha: Jika 1 indriya (ekassa indriyassa), yaitu Indra/Kekuatan kebijaksanaan atau pengetahuan Mulia, telah dikembangkan dan dilatihnya, ini akan menuntun pada hancurnya noda-noda. Selama pengetahuan mulia belum muncul, maka selama itu tidak ada: kekokohan (saṇṭhiti) dan kekuatan (avaṭṭhiti) pada 4 indriya/kekuatan lainnya. Dengan memiliki kebijaksanaan, maka 4 Indra/kekuatan lainnya akan menjadi stabil (saṇṭhāti). Oleh karenanya, Indriya/Kekuatan kebijaksanan adalah yang terunggul dari 4 Indriya lainnya dalam kondisi-kondisi yang mendukung pencapaian pencerahan (bodhipakkhiyā dhammā) atau dalam tahap-tahap menuju tercapainya pencerahan (padāni bodhāya saṃvattanti)) [SN 48.45, 51, 52, 54, 67-70]

Kemudian, Sang buddha juga menyampaikan ajarannya tentang: “Yang tak terkondisi” (asaṅkhata = Nibanna, yaitu: hancurnya (kkhayo): Kemelekatan/rāga, Kebencian/dosa dan Kekeliruan tahu/moha) dan jalan-jalan menuju “yang tak terkondisi” (asaṅkhatagāmiñca maggaṃ) [SN 43.12], yaitu:

  • Perhatian pada jasmani (Kāyagatāsati), Setelah mengajarkan itu, beliau menginstruksikan muridnya untuk, “jhāyatha” [SN 43.1], atau juga
  • Ketenangan (samatha: tenang/hening) dan melihat secara khusus (vipassanā: vi = pemisahan/khusus/dalam + “passana/passati” = melihat, mengamati).

    Setelah mengajarkan samatha dan vipassana sebagai jalan menuju yang tak terkondisi, beliau menginstruksikan muridnya untuk, “jhāyatha” [SN 43.1,2]

    Banyak pengajar meditasi menyatakan keunggulan salah satunya, menepis manfaat lainnya, bahkan memisahkan ke-2nya dalam praktek. Ini KELIRU dan TIDAK sejalan 2 sutta di bawah ini:

      Ada 2 hal yang mendukung pada pengetahuan (vijjābhāgiyā), yaitu Samatha dan Vipassanā.

      Ketika samatha dikembangkan, apa tujuannya? Citta/Pikiran dikembangkan. Ketika pikiran dikembangkan, apa tujuannya? Kemelekatan ditinggalkan.

      Ketika vipassana dikembangkan, apa tujuannya? Paññā/Kebijaksanaan dikembangkan. Ketika Paññā dikembangkan, apa tujuannya? Avijjā/ketidaktahuan ditinggalkan.

      Dikotori kemelekatan, pikiran tak terbebaskan. Dikotori ketidaktahuan, Paññā tak berkembang. ketiadaan kemelekatan adalah cetovimutti (Kebebasan pikiran). Ketiadaan ketidaktahuan adalah Paññāvimutti (kebebasan kebijaksanaan) [AN 2.30/Vijja-bhagiya Sutta]

      “Saudara, siapapun dia, baik Bhikkhu atau Bhikkhuni telah menyatakan di hadapan Ku bahwa mereka semua mencapai kearahatan melalui salah satu dari 4 jalan ini:

      1. mengembangkan Vipassana yang didahului Samatha [samathapubbaṅgamaṃ vipassanaṃ bhāveti]
      2. mengembangkan Samatha yang didahului Vipassana [vipassanāpubbaṅgamaṃ samathaṃ bhāveti]
      3. mengembangkan gabungan Samatha dan Vipassana. [samathavipassanaṃ yuganaddhaṃ bhāveti]
      4. kegelisahan pikiran akan Dhamma (hal yang berkondisi maupun bukan) makin terkendali [dhammuddhaccaviggahitaṃ mānasaṃ hoti..]. akan tiba saat pikirannya menjadi kokoh ke dalam, tenang, manunggal dan pikirannya menjadi terpusat.[samayo yaṃ taṃ cittaṃ ajjhattaṃyeva santiṭṭhati sannisīdati ekodi hoti samādhiyati] [AN 4.170/Yuganaddha Sutta]

        note:
        Untuk no.4, karena hasilnya adalah samadhi, maka ini harus terlihat dalam 4 Jhana (SN 48.8,9), variasi/detail mengokohkan pikiran ke dalam, tenang, manunggal dan terpusat dalam 4 jhana, lihat MN 119/kāyagatāsati dan MN 122/Mahasunnata sutta

        Samatha dan vipassana dilakukan dengan pemusatan pikiran, namun diperjalanan sejarah Buddhisme, di setelah abad masehi, Vipassana menjadi sebuah teknik konsentrasi yang bergerak, pegangan awalnya satu objek, namun JIKA MUNCUL objek dominan LAIN, objek tersebut diamati/dicatat dan tidak dinilai, terus demikian, padahal arti samadhi sendiri justru terpusatnya pikiran. Juga, muncul pula jenis samadhi lain, yaitu Khaṇikā samadhi (konsentrasinya bersifat sementara) dan Upacāra samadhi (dekat atau hampir di samadhi), yang tidak pernah diajarkan sang Buddha dan para Arahat lainnya. Entah mengapa Buddhaghosa berani sekali menambahkan hal-hal yang tidak pernah diajarkan Sang Buddha dan para Arahat lainnya

    Samatha-Vipassana disebut sepasang utusan cepat (sīghaṃ dūtayuga) karena dilakukan secara berpasangan (dapat secara beriringan atau dapat satu di depan, satu di belakang namun tetap bersama) berada di jalan 8 mulia, masuk dan keluarnya melalui satu pintu indriya yang sama yang dijaga sati yang bertugas mengawal kesadaran indriya dan menyampaikan secara apa adanya (yathābhūta) sebagai suatu pesan Nibbana. Jadi: Dengan pikiran terpusat pada 1 objek yang sama di 1 pintu indriya yang sama, memperhatikan MENENANGNYA segala bentukan kehendak/sankhara/perubahan/kondisi-kondisi dan melihat itu [perubahan/sankhara/bentukan kehendak/kondisi] secara apa adanya sebagai suatu kemunculan dan kelenyapan. [SN 4.91-94, SN 35.245] → hasilnya adalah suatu kejenuhan/ketidaktertarikan, muncul pengetahuan itu tidak layak dilekati atau dibenci

    Jika mengharapkan (Ākaṅkheyya): ‘dengan hancurnya noda-noda (āsavānaṃ khayā), merealisasikan bagi dirinya pengetahuan langsung di kehidupan ini: kebebasan pikiran tanpa noda dan kebebasan kebijaksanaan (anāsavaṃ cetovimuttiṃ paññāvimuttiṃ diṭṭheva dhamme sayaṃ abhiññā sacchikatvā) dan setelah mencapainya, Ia berada di dalamnya (upasampajja vihareyyan’ti)’, Ia haruslah seorang yang penuh moralitas, menekuni ketenangan pikiran internal, tidak mengabaikan jhāna-jhāna, berpandangan terang (sīlesvevassa paripūrakārī ajjhattaṃ cetosamathamanuyutto anirākatajjhāno vipassanāya samannāgato brūhetā)..”. [AN 10.71, MN 6] → Samatha-Vipasana membutuhkan prasyarat kesempurnaan moralitas dan kepiawaian dalam jhana! [(↑)]

  • Samādhi/Pikiran terpusat, melalui: Savitakkasavicāra (awal (pikiran) menggenggam dan mempertahankan objek, atau Jhana ke-1), avitakkavicāramatta (tanpa awal menggenggam objek dan hanya mempertahankan objek, Jhana ke-1 menjelang jhana ke-2), avitakkaavicāra (dengan tanpa awal menggenggam dan tanpa mempertahankan objek, Jhana ke-2 s.d 9), Suññata (Landasan kekosongan), animitta (landasan tanpa gambaran), appaṇihita (Landasan tanpa tujuan/keinginan). Setelah mengajarkan itu, beliau menginstruksikan muridnya untuk, “jhāyatha” [SN 43.3-4], atau juga
  • 4 landasan perhatian/Cattāro satipaṭṭhānā atau juga disebut gambaran samadhi/samādhi-nimittā (MN 44, AN 8.63, Cattāro satipaṭṭhānā secara eksplisit disebut sebagai pikiran terpusat atau samadhi); 4 Usaha benar/Cattāro sammappadhānā atau juga disebut Perlengkapan Samadhi/samādhi-parikkhārā (MN 44). Setelah mengajarkan ini, beliau menginstruksikan muridnya untuk, “jhāyatha” [SN 43.5, 6], atau juga
  • 4 landasan kemahiran mental/Cattāro iddhipādā: 4 Pengembangan Iddhipada, yaitu samadhi melalui: (1) keinginan dan upaya dalam bentukan-bentukan kehendak (chanda-samādhippadhānasaṅkhārasamannāgata) (2) kegigihan dan upaya dalam bentukan-bentukan kehendak (vīriyasamādhippadhānasaṅkhārasamannāgata) (3) pikiran dan upaya dalam bentukan-bentukan kehendak (cittasamādhippadhānasaṅkhārasamannāgata) (4) penyelidikan dan upaya dalam bentukan-bentukan kehendak (vīmaṃsā samādhippadhānasaṅ-khārasamannāgata) [SN 51.11]. Setelah mengajarkan ini, beliau menginstruksikan muridnya untuk, “jhāyatha” [SN 43.5, 6], atau juga
  • 5 Indrya/Pañcindriyāni atau juga disebut 5 Kekuatan/Pañca balāni; 7 faktor pencerahan/Satta bojjhaṅgā; 8 jalan mulia/aṭṭhaṅgiko magga (Pandangan benar..Pemusatan pikiran yang benar). Setelah mengajarkan ini, beliau menginstruksikan muridnya untuk, “jhāyatha” [SN 43.7- 11]

Setiap telah mengajarkan jalan-jalan menuju “yang tak terkondisi” tersebut, Sang Buddha, selalu menginstruksikan mereka untuk, “Jhāya” [SN 43.12/Asaṅkhatasaṃyutta, dll]

    Note:
    Di SN 48.10 ada kalimat, “Katamañca, bhikkhave, samādhindriyaṃ? ..labhati samādhiṃ, labhati cittassa ekaggataṃ—idaṃ vuccati, bhikkhave, samādhindriyaṃ” (Dan apakah, para bhikkhu, indria samadhi?..memperoleh samādhi, memperoleh keterpusatan pikiran. Ini disebut indria samādhi) dan di MN 44 ada kalimat, “Katamo panāyye, samādhi?..cittassa ekaggatā ayaṃ samādhi” (Sekarang, Yang mulia, apakah samadhi?…keterpusatan pikiran adalah samadhi). “Sammā-samādhi” (sammā = benar; sama = seimbang/tenang/tentram/rata/serupa; adhi = menuju/ke/pada/ke atas). Secara literal Sammā-samādhi = “menuju ketenangan yang benar”, namun, 2 sutta di atas, sfesifik mendefinisikan Samādhi = “Pikiran yang terpusat”, jadi sammā-samādhi = “pikiran terpusat yang benar”.

    Di SN 34.11 ada frase “ekacco jhāyī samādhismiṃ” (seorang jhāyi bersamadhi). Di Sutta SN 43.12, ada kata Jhāyatha dan Samādhi. Di SN 40.8, ada kalimat: “Kattha ca, bhikkhave, samādhindriyaṃ daṭṭhabbaṃ? Catūsu jhānesu” (Dan di manakah, para bhikkhu, indria samādhi harus terlihat? dalam 4 jhāna). Di DN.27/Aggañña Sutta ada kalimat,

      ..araññāyatane paṇṇakuṭīsu jhāyantī’ti. jhāyantīti kho, vāseṭṭha, ‘jhāyakā, jhāyakā’..sattānaṃ ekacce sattā araññāyatane paṇṇakuṭīsu taṃ jhānaṃ anabhisambhuṇamānā (di gubuk-gubuk daun di hutan mereka ber-jhāyanti. Mereka ber-jhāyanti, Vasettha, ‘jhāyakā, jhāyakā’..beberapa yang tinggal di gubuk-gubuk daun di hutan tidak mampu mencapai jhana)

    Di SN 34.11/Sandhasutta:

      “ber-jhāya-lah seperti jhāyi seekor kuda berdarah murni, Sandha/nama orang (jānīyajhāyitaṃ kho, saddha, jhāya), bukan jhāyi sekor anak kuda liar (mā khaḷuṅkajhāyitaṃ). Bagaimanakah jhāyi seekor anak kuda liar? (Kathañca, khaḷuṅkajhāyitaṃ hoti)? Ketika seekor anak kuda liar, Sandha, diikat di tempat makanan, ia ber-jhāyati: ‘rumput, rumput!’ (Assakhaḷuṅko hi, saddha, doṇiyā baddho ‘yavasaṃ yavasan’ti jhāyati)”

    Di SN 4.23 ada kata “jhāyī jhāna-rato sadā” (jhāyī selalu gemar-Jhana) dan di DN 19 ada kata “karuṇaṃ jhānaṃ jhāyati” (jhāyati welas asih jhāna, yaitu meditator mencapai pikiran yang disertai welas asih atau mencapai jhana ke-3)

    “jhāya” (kata kerja orang ke-2 jamak: Jhāyatha, Orang ke-2 tunggal: Jhāyati, Orang ke-3 jamak: jhāyantī) = Memusatkan pikiran, mengarahkan pikiran atau membuat pikiran tercerap, terpesona, terbakar. Pelakunya disebut “jhāyī” atau “jhāyakā”. Hasil jhāya atau samadhi atau “hasil dari kegiatan agar pikiran tercerap/terpesona/terbakar dengan pikiran terpusat” disebut jhāna

    Apakah yang disebut dengan mengembangkan samadhi (samādhi-bhāvanā)? Pengulangan [dhammāna āsevanā], praktek/mengolah [bhavana] hingga mahir [bahulīkammaṃ] adalah mengembangkan Samadhi [MN 44/Mahavedala sutta]

    Pencapaian samadhi jhana ke-1 s.d ke-4 disebut kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini (Diṭṭhadhammasukhavihārā). Pencapaian samadhi jhana ke-5 s.d ke-8 disebut kediaman yang damai (Santā ete vihārā) [MN.8/Sallekha Sutta]

    Untuk mencapai jhana, TIDAKLAH PERLU menjadi bhikkhu dulu, karena di jaman sang Buddha, para umat awampun telah mencapainya, misal: Perumah tangga Pria Citta (SN 48.1, 41.9) dan perumah tangga wanita Nandamātā (AN 7.53)

Jadi, tampak jelas bahwa apapun jalan untuk menghancurkan asava, beliau selalu instruksikan dengan melalui jhana.

Apa tugas pelaku Samadhi?
Tekun dalam menjaga perhatian dan mengetahui sepenuhnya apapun yang terjadi atau dilakukannya.

    Pengendalian Indria-indera Jasmani dan Moralitas → pikiran tak tercemari hal buruk (abyāsittacittassa) dan ketidakmenyesalan (Avippaṭisāro) → timbul sukacita (Pāmojja) → timbul girang (pīti) → muncul ketenangan (passaddhi) → timbul bahagia (Sukhaṃ) → Pikiran terpusat (Samādhi) → mengetahui dan melihat sebagaimana adanya (Yathā bhūta ñāṇa dassana) → timbul kekecewaan (nibbidā) → timbul kebosanan (viraga) → Mengetahui dan melihat kebebasan (vimuttiñāṇadassana) [Gabungan dari AN 11.1 dan SN 35.97]

Ada 4 postur dan sikap dalam bersamadhi
Posisi/sikap/postur (Iriyapatha) 4 posisi (cattaro iriyapatha), yaitu: berbaring (sayano), berdiri (caram/ṭhito), duduk (nissino) atau berjalan (gacchanto atau cankama/AN 5.29). Ketika Ia berbaring.. berdiri.. duduk.. berjalan, Ia mengetahui bahwa dirinya sedang: berbaring.. berdiri.. duduk.. berjalan. Ia mengetahui dengan jelas bagaimanapun tubuhnya berposisi. Ketika hal ini dilakukan dengan rajin, tekun, bersungguh-sungguh, maka ingatan-ingatan dan kehendak-kehendak sehubungan keduniawian menjadi ditinggalkan; dengan ditinggalkannya itu, pikirannya menjadi kokoh ke dalam, tenang, manunggal dan pikirannya menjadi terpusat [ajjhattameva cittaṃ santiṭṭhati, sannisīdati, ekodi hoti, samādhiyati] [MN 119/Kayagati Sutta].

sati apa?
Daya mengingat terkuat disertai kejelian mengenali ingatan yang telah lama dilakukan dan dikatakannya. [SN 48.8, 48.10, AN 5.14]

sampajañña/sampajāna (mengetahui sepenuhnya) apa?
Memahami sepenuhnya dari kemunculan-berlangsung-berakhirnya vedanā/perasan, vitakkā/awal pemikiran dan saññā/persepsi/ingatan (SN 47.35/sati Sutta) saat: bertindak bolak-balik (abhikkante paṭikkante); melihat ke depan, ke samping (ālokite vilokite); menarik atau merentangkan tangan-kaki (samiñjite pasārite); menggunakan jubah atau pakaian, jubah luar dan mangkuk (saṅghāṭi patta cīvara dhāraṇe); makan (asita), minum (pīta), mengunyah makanan (khāyita), dan mengecap (sāyita); buang air besar (uccāra) dan kencing (passāva); berjalan (gata), berdiri (thita), duduk (nisinna), tidur (sutte), terbangun/terjaga (jāgarite), berbicara (bhāsita), dan tidak berbicara (tuṇhībhāva) [AN 47.2/Satisutta]

    Note:
    ‘Sutte’ (keadaan tidur: di kursi, pembaringan, bersender, duduk, berdiri) dalam perhatiannya dengan sepenuhnya mengetahui itu. ‘Jagarite’ (terjaga: selain tidur, termasuk saat berbaring sakit atau keadaan yang tidak memungkinkan bangkit dari posisi berbaring) dalam perhatiannya dengan sepenuhnya mengetahui itu, jadi, ini bahkan di sebelum membuka mata ketika terjaga. Perhatian untuk mengetahui sepenuhnya ini dilakukan terus menerus tanpa putus, seperti sabda sang Buddha, “yang senantiasa waspada, giat berlatih siang-malam, mengarahkan diri ke nibbana, kekotoran mentalnya akan musnah” [Dhammapada syair no.226]’

Sewaktu berada rajin, tekun, bersungguh-sungguh memperhatikan dengan mengetahui sepenuhnya secara demikian, jika muncul perasaan: menyenangkan atau menyakitkan atau bukan keduanya, dalam dirinya,

Ia mengetahui:
Telah muncul perasaan (menyenangkan atau menyakitkan atau bukan keduanya) dalam diriku. Perasaan itu muncul disebabkan jasmani ini dan jasmani ini tidak kekal, terkondisi dan muncul karena sebab sebabnya. Maka perasaan yang muncul adalah juga tidak kekal, terkondisi dan muncul karena sebab-sebabnya

    Ia merenungkan ketidakkekalan jasmani dan perasaan itu,
    Ia merenungkan kelapukannya (awal – akhir dari jasmani dan perasaan itu),
    Ia merenungkan memudarnya (minat / pencarian / mendapatkan / mempertahankan jasmani dan perasaan: menyenangkan atau bukan menyakitkan bukan menyenangkan atau menolak jasmani dan perasaan: menyakitkan),
    Ia merenungkan melenyapnya (minat/pencarian atau penolakan) jasmani dan perasaan itu,
    Ia merenungkan kejenuhan (minat/pencarian atau penolakan) jasmani dan perasaan itu.

Ketika berada secara demikian, kecenderungan tersembunyi (minat/pencarian atau penolakan) sehubungan dengan jasmani dan perasaan itu menjadi ditinggalkannya

Jika merasakan perasaan (menyenangkan atau menyakitkan atau bukan keduanya), Ia mengetahui: ‘ini: tidak kekal, tidak dilekati, tidak diminati’ (anicca, anajjhosita, anabhinandita)
Jika merasakan perasaan (menyenangkan atau menyakitkan atau bukan keduanya), Ia merasakannya dengan tidak terkait/melekat.

Ketika ia merasakan perasaan yang berujung pada berakhirnya jasmani, Ia mengetahui: Aku merasakan perasaan yang berujung pada berakhirnya jasmani’
Ketika ia merasakan perasaan yang berujung pada berakhirnya kehidupan, ia mengetahui: ‘Aku merasakan perasaan yang berujung pada berakhirnya kehidupan’ Ia mengetahui: ‘Dengan hancurnya jasmani, berujung pada berakhirnya kehidupan, semua yang dirasakan, tidak menarik minatnya (untuk tertarik atau menolak) (anabhinanditāni), akan mendingin di sini’.

Seperti halnya, sebuah lampu minyak menyala yang bergantung pada minyak dan sumbu, dengan habisnya minyak dan sumbu maka lampu itu menjadi padam karena kehabisan minyak [SN 36.7]

Objek Meditasi/Samadhi
Objek/Kammatthana dari Samatha jumlahnya lebih dari 40. Buddhaghosa dari abad ke-5 Masehi-lah yang menyatakan objek/Kammathana berjumlah 40[18] namun di abad ke-19, Mahasi Sayadaw, memperkenalkan tambahan 1 objek lagi yaitu kembang kempisnya perut, Objek ini juga menggunakan “badan dan nafas” sebagai landasannya, sehingga dari sisi ini saja, jumlahnya memang lebih dari 40

Oleh Karena itu, pilih dan tekuni cukup satu objek saja karena apapun objeknya, tujuan dan hasil dari penggunaan objek ini adalah untuk menghancurkan kekotoran mental. Dari sekian banyak objek Samadhi, salah satunya adalah bernafas [ānāpāna: āna/menarik nafas + apāna/mengeluarkan nafas]. Nafas adalah kondisi alami yang dimiliki manusia. Juga, ānāpānasati [perhatian pada nafas yang keluar/masuk] merupakan objek samadhi yang digunakan seluruh SammasamBuddha. Buddha Gotama, selama masa vassa berdiam pada objek ini [SN 54.11/Icchānaṅgala].

    Note:
    Objek bernafas, ini artinya: Indriya (perasa) dan objeknya (udara/tekanan) terjadi pesentuhan (di sekitar hidung, perut atau dada). Persentuhan ini memunculkan kesadaran, ke-3nya (Indra perasa, objek: udara/tekanan dan Kesadaran) disebut kontak (Mengetahui, mengalami sepenuhnya). Kontak memuncukan perasaan (menyenangkan, menyakitkan atau bukan ke-2nya). Apa yang dirasakan itu yang dipikirkan. Apa yang dipikirkan itu berkembang biak dalam pikiran berupa: sumber, persepsi, gagasan dalam bentuk masa lalu (ingatan), sekarang dan masa depan (nafas: panjang, pendek, cepat, lambat, halus, kasar, menyenangkan, menyakitkan, biasa-biasa saja, dll) yang dikenali oleh indera perasa → Pertemuan ke-3nya disebut kontak, dst, dikenali polanya (muncul-lenyap), dipahami bahwa ini terkondisi. Dipahami sepenuhnya bahwa semua yang berkondisi adalah tidak memuaskan, bukanlah landasan untuk digenggam atau dilekati dan munculah pengetahuan pembebasan]

    Ketika sedang menggunakan objek bernafas sebagai landasan perhatian, maka:

    • Jika pikiran berkeliaran (Pikiran apa saja: baik, buruk, indah, jahat, erotis, berguna/tidak), maka jangan senang dengan pikiran baik dan jangan murung dengan pikiran buruk, cukup diketahui, tidak melibatkan diri secara emosi, akal; tidak mengomentari, menyalahkan, menilai maupun memuji dan segera kembalikan perhatian pada gerak napas
    • Jika mendengar suara, hanya dikenali dan segera kembalikan perhatian pada gerak napas
    • Begitu pula dengan bau, rasa, sentuhan: menyenangkan, sakit, gatal, maka cukup diketahui, tidak terlibat dengan menolak atau menerima, meditator, bertahan untuk tidak meladeni dan segera kembalikan perhatian pada gerak napas
    • Bisa juga akan muncul bayangan yang dihasilkan dari ingatan dan khayalan, seperti cahaya, warna, bentuk dan sebagainya. Jangan terpengaruh dengan mengira bahwa inilah kehebatan mental. Ini jauh dari itu, semua ini hanyalah rintangan yang menghambat kemajuan. Waspada terhadap semua bayangan ini tanpa terlibat, segera kembalikan perhatian pada gerak napas

    Seiring dengan waktu, pengulangan perhatian pada napas keluar dan masuk , maka nafas akhirnya menjadi tanpa usaha sama sekali, pada temponya napas bisa menjadi amat lembut dan halus hingga tidak terasa atau bahkan tidak dapat dibedakan apakah itu tarikan atau hembusan nafas. Walaupun demikian, perhatian tetap ditujukan pada gerak napas. Perhatian benar berarti mengamati apapun itu secara apa adanya, tanpa menilai baik/buruknya, sekedar mengawasi, mengenali kemunculannya dan membiarkannya berlalu.

    Secara bertahap pemusatan perhatian pada napas akan bertambah kuat, hanya ada napas dan memperhatikannya, keluar dan masuk napas namun tidak ada pelaku di baliknya. Mungkin saja keadaan ini hanya sebentar dan pikiran berkelana kembali, terasa sulit untuk berkonsentrasi, merasa malas atau ingin tidur, bosan dan gelisah, merasa jemu dengan latihan samadhi. Tidak mengapa, yang diperlukan adalah menumbuhkan kembali kemauan, menetapkan ketekunan, siap bertempur.

    Mengembangkan mental seperti ini bukanlah sesuatu yang dapat dicapai dalam satu malam. Keteraturan dan kesinambungan merupakan aturan yang harus ditaati. Seluruh latihan mental harus dilaksanakan secara wajar dan penuh kewaspadaan; sebab ‘berkobar-kobar saja tanpa kewaspadaan bagaikan berlari-lari di malam yang gelap gulita’. [Beberapa paragraph di atas ini, berasal dari: “Buddhis Meditation”, Piyadassi Thera]

    Sangat dianjurkan untuk tidak percaya begitu saja, selidiki secara empiris [KBBI: EMPIRIS = berdasarkan pengalaman] atau EHIPASSIKO [datang dan alamilah sendiri]

Metode Anapanasati (Perhatian pada objek bernafas)
Metode ini tercantum di: SN 54 (Anapana Samyutta), MN10/Satipatthana sutta, DN.22/Mahāsatipaṭṭhāna Sutta, MN62/Mahārāhulovāda Sutta, MN118/ānāpānasati Sutta, MN119/Kayagatasati Sutta, SN 54.7/MahaKampina Sutta, SN 54.10/Kimbila Sutta dan masih banyak lagi

    Ananda:
    Yang Mulia, apakah 1 hal (ekadhammo) yang, jika dikembangkan dan dilatih (bhāvito bahulīkato), memenuhi 4 hal (cattāro dhamme); dan 4 hal yang, jika dikembangkan dan dilatih, memenuhi 7 hal (satta dhamme); dan 7 hal yang, jika dikembangkan dan dilatih, memenuhi 2 hal (dve dhamme)?”

    Sang Buddha:
    “Pikiran terpusat dengan perhatian pada pernafasan (Ānāpānassati samādhi), Ānanda, adalah 1 hal yang jika dikembangkan dan dilatih, memenuhi 4 Landasan Perhatian (cattāro satipaṭṭhāna).
    4 Landasan Perhatian, jika dikembangkan dan dilatih, memenuhi 7 Faktor Pencerahan (satta bojjhaṅga).
    7 Faktor Pencerahan, jika dikembangkan dan dilatih, memenuhi pengetahuan dan kebebasan (vijjā-vimuttiṃ) [SN 54.13]

    Note:
    1 hal yang dikembangkan adalah mengembangkan anapanasati (perhatian pada nafas), terdiri dari 4 x 4 set landasan perhatian. Sedangkan 4 Landasan perhatian dalam objek nafas adalah:

    • Jasmani/tubuh: yaitu nafas itu sendiri: berupa tarikan dan hembusan
    • Perasaan ketika bernafas,
    • Pikiran ketika bernafas dan
    • HAL (berkondisi, terkondisi, tak terkondisi) atau bentukan-bentukan ketika bernafas.

Bagaimana mengembangkan anapanasati: 4 x 4 = 16 perhatian pada nafas?
Duduk dengan bersila (nisīdati pallaṅkaṃ ābhujitvā), tubuh tegak/lurus (ujuṃ kāyaṃ paṇidhāya), Perhatian ditegakkan ke depan (parimukhaṃ satiṃ upaṭṭhapetvā)

    Note:
    Arti kata mukha: “mulut, wajah, di depan/di hadapan”. Walaupun kata hidung dan bibir dalam bahasa Pali bukanlah mukha (hidung = nāsika, lubang hidung = nāsikasota; bibir = ottha), namun kitab Abhidhamma buku ke-2, Vibhanga 12 (buku ke-2, bagian matika ini dibuat jauh lebih belakangan lagi daripada buku ke-4 dan sebagian buku ke-1 Abhidhamma, yaitu s.d tahun 50 SM) dan Ps 1.3 (dibuat jauh lebih belakangan lagi daripada Vibhanga-nya Abhidhamma, salah satu alasannya karena isinya kerap mengutip Vibhanga), menyatakan bahwa kata “parimukha” maksudnya adalah nāsikagge (ujung hidung) dan/atau parimukhanimitta (kata ini sering diterjemahkan = ujung bibir atas, padahal di banyak sutta sendiri, misal AN 5.193, SN 22.83, MN 77: parimukhanimitta = “bayangan/pantulan wajah”). Dukungan 2 text tersebut menyebabkan banyak yang menterjemahkan “parimukha” sebagai ujung hidung/bibir atas.

    Namun, Di MN 62/MahaRahulavada Sutta, saat Rahula duduk menegakkan perhatian adalah untuk MERENUNGKAN Pancakhanda. Perenungannya ini tidak ada kaitannya dengan ujung atas bibir/mulut, wajah atau ujung hidung. Ia duduk dengan menegakkan perhatian ke arah depan. Juga, di vinaya, Cullavagga, KhuddakaVatthu (V.27.3-6), tentang aturan bulu/rambut, terdapat frase “parimukhaṃ kārāpenti dan parimukhaṃ kārāpetabbaṃ” (yang ditulis tanpa ada kata massu/jenggot). Frase ini diartikan: “bulu dada” dan bukan ”bulu wajah/bibir/hidung”

    Beberapa sutta juga membawa frase “..parimukhaṃ satiṃ upaṭṭhapetvā” yang tidak terkait dengan kegiatan samadhi anapanasati/perhatian pada bernafas (misal: SN 7.18, AN 6.28, MN 62). Penegakkan perhatian adalah ke arah depan. Bahkan, jika ini adalah samadhi dengan objek bernafas sekalipun, maka, perhatian TIDAKLAH ditujukan pada hidung/ujung bibir atas, melainkan HANYA pada NAFAS.

    Jadi frase ini tidak terkait dengan urusan hidung, bibir dan wajah, namun menegakkan perhatian ke arah depan

    Postur duduk idealnya dilakukan dengan kaki bersila (dengan sikap teratai sempurna atau tidak, duduk di lantai dengan alas tebal ataupun tidak atau di atas kursi dengan bersila atau tidak). Saat duduk, tulang belakang dan kepala tegak, seimbang dan lurus namun tidak kaku. Posisi kedua tangan diletakkan lemas di atas pangkuan paha (boleh juga tidak, yang penting dalam keadaan lemas dan nyaman). Mata boleh dipejamkan ataupun tidak, selama hal ini menunjang pemusatan pikiran (karena yang aktif adalah Indra perasa, pikiran ketika bersentuhan dengan objeknya). Badan diupayakan tidak bergerak sekecil apapun.

    Kenyamanan duduk adalah upaya diri untuk menerima kondisi. Perubahan apapun untuk memperbaiki kenyamanan ketika duduk, hanya berhasil untuk sementara, namun posisi itupun lambat laun akan menjadi tidak nyaman pula karena Sabbe sankhāra anicca.. dukkha (semua yang berkondisi adalah tidak kekal dan tidak memuaskan) sehingga kesabaran dalam bertahan sangatlah diperlukan, berusaha untuk membiasakan tubuh menerima posisi tersebut, berusaha untuk tidak bergerak atau merubah posisi sekecil apapun selama waktu yang ditetapkannya

      Note:
      Asava/noda-noda ada yang harus ditinggalkan melalui kesabaran..dengan sabar (adhivāsanāya) bertahan terhadap: dingin-panas, lapar-haus; kontak dengan: lalat, nyamuk, angin, panas matahari, ular-ular; ucapan: kasar dan menghina;perasaan jasmani: menyakitkan, menyiksa, tajam, menusuk, mengerikan, tidak menyenangkan, melemahkan vitalitas. Noda-noda, gangguan/yang menyusahkan dan gejolak/menyebabkan demam, dapat saja muncul pada mereka yang tidak dengan sabar bertahan namun tidak muncul pada mereka yang dengan sabar bertahan. [MN 2/Sabbāsavā sutta, AN 6.58/āsavā sutta]

    Ketika lelah duduk (atau karena perasaan menyakitkan yang tak tertahankan lagi), ini harus dalam perhatiannya dengan diketahui sepenuhnya (bahwa ini bukan karena penolakan atau kemalasan atau perasaan baru yang tak bermanfaat/akusala atau meningkatkan perasaan akusala sebelumnya), setelah menimbang demikian, dalam perhatian dengan sepenuhnya mengetahui: dalam berkehendak, merubah posisi: badan, kaki, lengan dan tangan atau menggosok tangan ke bagian yang penat atau melemaskan otot dengan cara berdiri, berjalan, memutar, berhenti bergerak, saat berjalan kaki menyentuh lantai/tanah, atau saat mata memandang sekitar, dll. Ketika melakukan pergerakan, maka objek nafas TIDAK LAGI DIGUNAKANNYA, perhatian dan objeknya saat itu adalah pada gerakan) dan ini semua dilakukan harus dalam perhatian dengan sepenuhnya mengetahui

4 set ke-1: (tubuh/jasmani)
Dengan perhatian menarik nafas [satova assasati], dengan perhatian mengembuskan nafas [satova passasati]:

  1. mengetahui (pajānāti) nafas panjang/dalam (dīgha):

    ‘Aku mengetahui sedang menarik nafas panjang’; atau
    ‘Aku mengetahui sedang mengembuskan nafas panjang’

  2. mengetahui (pajānāti) nafas pendek (rassa):

    ‘Aku mengetahui sedang menarik nafas pendek’; atau
    ‘Aku mengetahui sedang mengembuskan nafas pendek

    note:
    pajānāti: tahu, mengenali, mengerti, memahami, ‘melihat’ jelas

  3. Berlatih (sikkhati] merasakan penuh (paṭisaṃvedī) seluruh tubuh nafas (sabbakāya):

    ‘Dengan merasakan sepenuhnya seluruh tubuh nafas, aku menarik nafas’;
    ‘Dengan merasakan sepenuhnya seluruh tubuh nafas, aku mengembuskan nafas’

  4. note:
    Dalam SN 54.13 dan MN 118/Ānāpānasati Sutta, di akhir 4 set ke-1 ini, sang Buddha mengatakan: “Aku katakan bahwa ini adalah suatu jenis tertentu tubuh (Kāyaññatarāhaṃ), yaitu: nafas-masuk dan nafas-keluar“. Sabbakāya (keseluruhan tubuh nafas): masing-masing terdapat 2 atau 3 fase dalam setiap tarikan atau hembusan nafas, yaitu: (awal – akhir) atau (awal – berlangsungnya – akhir).

    Paṭisaṃvedī: pati (kembali/lagi) + sam (sepenuhnya/kumplit) + vedi/vedeti (menikmati, merasakan, menjalani, melalui, mengalami. Kata “vedi” berhubungan dengan perasaan), jadi patisamvedi: mengalami sepenuhnya perasaan tertentu

    Kata berlatih mengindikasikan ada semacam kesengajaan MENGATUR NAFAS ketika menarik dan menghembuskan nagas. Namun nafas, baik itu sengaja diatur maupun alami, yang diperhatikan tetap seluruh tubuh nafas, diketahui dan dialami sepenuhnya: awal, berlangsung dan berakhirnya

    Kemudian, dalam upaya mencapai 5 faktor Jhana, langkah ke-3 adalah bagian penting untuk mendapatkan cittekaggatā/pemusatan pikiran melalui vitakka (menggenggam objek) dan juga vicara (mempertahankan objek), oleh karenanya, beberapa cara yang sering disampaikan para pengajar untuk menetapkan perhatian pada napas, misalnya dengan cara menghitung:

    • Hitungan ‘satu’ pada saat masuknya napas dan ‘dua’ pada saat napas keluar, mencatat dalam pikiran: ‘satu’ pada akhir masuknya napas dan ‘dua’ pada akhir hembusan dan keluarnya napas dan begitu pula seterusnya. Saat perhatian sudah tertuju pada nafas, hitungan dihentikan, atau
    • dalam satu kesatuan tarikan nafas masuk hingga nafas keluar, ditandai sebagai hitungan: ‘satu’, demikian seterusnya hingga hitungan ke-‘lima’ dan ulangi dari “satu”. Saat perhatian sudah tertuju pada nafas, hitungan dihentikan

    HARUS DIHINDARI

    Cara menghitung akan berakibat membuyarkan lagi perhatian yang akan dan sedang dibentuk melalui latihan merasakan sepenuhnya seluruh tubuh nafas. Cara menghitung MENJADI MENGGANGGU, namun jikapun tetap memaksakan untuk menggunakan hitungan, itu juga tidak mengapa, karena dapat juga dianggap sebagai latihan pembuyaran pikiran-pikiran lain hingga hanya terpusat perhatiannya pada nafas masuk dan nafas keluar saja, yang ketika telah terbiasa, cara menghitung pun dengan sendirinya akan tinggalkan. Namun, cara menghitung, hanya memperpanjang rute atau memperlama proses yang seharusnya dapat ditempuh

  5. Berlatih (sikkhati), menenangnya (Passambhaya) bentukan tubuh nafas (kāyasaṅkhāra):

    ‘dengan menenangnya bentukan tubuh nafas, aku menarik nafas’;
    ‘dengan menenangnya bentukan tubuh nafas, aku menghembuskan nafas’

  6. Bagaikan seorang pekerja bubut yang terampil atau muridnya:

    Ketika melakukan putaran panjang, Ia mengetahui: ‘Aku melakukan putaran panjang’; atau
    ketika melakukan putaran pendek, Ia mengetahui : ‘Aku melakukan putaran pendek’;

    Demikian pula, menarik nafas panjang, Ia mengetahui: ‘Aku sedang menarik nafas panjang’.. aku sedang menghembuskan nafas panjang”.. pendek.. seluruh tubuh nafas.. dengan menenangnya bentukan tubuh nafas, aku menghembuskan nafas’

    note:
    Passambhaya: tenang, reda, hening, diam, berhenti, lenyap.

    Ada 3 bentukan [sankhāra] dalam konteks samädhi:

    1. Bentukan jasmani/kaya sankhāra: tubuh nafas (Nafas masuk dan keluar). Karena nafas keluar dan masuk terikat dengan jasmani, maka disebut kāyasaṅkhāra
    2. Bentukan ucapan/vaci sankhāra: usaha pikiran menggenggam obyek nafas[vitakka] dan mempertahan objek nafas [vicara] dan kemudian terjadi kegiatan mengungkapkannya [membatin]
    3. Bentukan-kehendak pikiran/citta sankhāra: Sanna/Persepsi dan Vedana/Perasaan. Persepsi dan perasaan menyertai pikiran, kondisi ini terikat dengan pikiran (Saññā ca vedanā ca cetasikā ete dhammā cittapaṭibaddhā). Itulah mengapa persepsi dan perasaan adalah bentukan pikiran (Tasmā saññā ca vedanā ca cittasaṅkhāroti) [MN.44]

      Perasaan, persepsi dan kesadaran, kondisi ini tergabung, bukan terpisah (vedanā yā ca saññā yañca viññāṇaṃ – ime dhammā saṃsaṭṭhā, no visaṃsaṭṭhā). tidak dapat memisahkan kondisi-kondisi ini satu sama lainnya untuk menggambarkan perbedaan antaranya (Na ca labbhā imesaṃ dhammānaṃ vinibbhujitvā vinibbhujitvā nānākaraṇaṃ paññāpetuṃ) Karena apa yang seseorang rasakan, itulah yang dipersepsikannya; dan yang dipersepsikan, itulah yang dikenalinya (Yaṃ hāvuso vedeti taṃ sañjānāti, yaṃ sañjānāti taṃ vijānāti) [MN 43]

    Meditator, ketika menarik nafas, akan mengetahui bahwa ketika nafas ditarik secara perlahan dengan perhatian, tidak berbunyi, nafas itu akan menjadi panjang. Demikian pula ketika menghembus nafas secara perlahan dengan perhatian, tidak perbunyi, nafas dihembuskan menjadi panjang. Karena ini bukan hembusan nafas yang biasa dilakukan, maka sejenak terjadi fase kekurangan oksigen, terjadi keinginan untuk cepat menarik nafas berikutnya (keinginan ini salah satu yang timbul dan tidak harus diikuti), ketika kemudian nafas ditarik, maka tarikan itu menjadi pendek dan ketika dihembuskan akan menjadi pendek. Ini adalah kondisi atau bentukan pada jasmani

      ‘mengetahui (Pajānāti), mengetahui (Pajānāti),’ teman (avuso), itulah mengapa (tasmā) disebut ‘memiliki kebijaksanaan” (paññavāti vuccati).’ Dan apakah yang diketahui? Ia mengetahui: “ini tidak memuaskan (dukkha)”, “ini asalmula (samudayo) tidak memuaskan”, “ini lenyapnya (nirodho) tidak memuaskan” dan “ini jalan menuju lenyapnya (nirodhagāminī paṭipadā) tidak memuaskan” [MN.43]

    Ketika telah terbiasa dalam melatih perhatian pada nafas, tidak ada keinginan yang terburu-buru dalam menarik dan menghembuskan nafas, tidak ada perbedaan putaran panjang dan pendek, di suatu saat, bahkan tidak ada perbedaan antara tarikan dan hembuskan nafas, seolah-olah tercampur antara menarik nafas dan mengeluarkan nafas atau bahkan seolah-olah tidak lagi sedang bernafas.

    Kata terampil mengindikasikan ADANYA PENGULANGAN yang cukup. PENGULANGAN tarikan/keluaran nafas panjang kemudian PENDEK yang berulang: dari kasar menjadi halus, mengetahui: dari kasar menjadi halus, merasakan sepenuhnya: dari kasar menjadi halus, dan mereda dalam kehalusan. Seperti seorang yang mulai belajar naik sepeda, permulaan sekali ia akan menggenggam (vitakka) stang dan mempertahankan (vicara) erat sedemikian rupa hingga memahami teknik keseimbangan. Setelah mahir tidak perlu erat menggenggam bahkan dapat melepas stang namun tetap di keseimbangan.

4 set ke-2 (Perasaan):
Memperhatikan perasaan [vedana]:

  1. Berlatih (sikkhati] merasakan penuh (paṭisaṃvedī) gembira (Pīti):

    ’Dengan merasakan sepenuhnya gembira, aku menarik nafas’; atau
    ‘Dengan merasakan sepenuhnya gembira, Aku mengembuskan nafas’

  2. Berlatih (sikkhati] merasakan penuh (paṭisaṃvedī) bahagia (sukha):

    ’Dengan merasakan sepenuhnya bahagia, aku menarik nafas’; atau
    ‘’Dengan merasakan sepenuhnya bahagia, aku mengembuskan nafas’

  3. Berlatih (sikkhati] merasakan penuh (paṭisaṃvedī) bentukan-kehendak pikiran (citta-saṅkhāra):

    ’Dengan merasakan sepenuhnya bentukan-kehendak pikiran, aku menarik nafas’; atau
    ’Dengan merasakan sepenuhnya bentukan-kehendak pikiran, aku mengembuskan nafas’

  4. Berlatih (sikkhati), menenangnya (Passambhaya) bentukan-kehendak pikiran (citta-saṅkhāra):

    ’Dengan menenangnya bentukan-kehendak pikiran, aku menarik nafas’; atau
    ’Dengan menenangnya bentukan-kehendak pikiran, aku mengembuskan nafas

    note:
    Piti = gembira/girang; sukha = bahagia/nikmat; passambhaya = menenangnya. Kemunculan piti dan sukha menunjukan ini telah memasuki jhana ke-1/ke-2.

    Variasi lainnya perenungan perasaan tanpa perhatian pada nafas:

    Seseorang merasakan:

    • perasaan menyenangkan (sukha vedana) atau perasaan jasmani/material yang menyenangkan (sāmisā sukha) atau perasaan non-material yang menyenangkan (nirāmisa sukha) atau
    • perasaan menyakitkan (dukkha vedana) atau perasaan jasmani/material yang menyakitkan (sāmisā dukkha) atau perasaan non-material yang menyakitkan (nirāmisa dukkha) atau
    • perasaan bukan keduanya (adukkhamasukha vedana) atau perasaan jasmani/materi yang bukan keduanya (sāmisā adukkhamasukha) atau perasaan non-material yang bukan keduannya (nirāmisa adukkhamasukha)

    Ia mengetahui sedang merasakan perasaan itu. Ia merenungkan: perasaan adalah perasaan secara internal dan eksternal, munculnya, lenyapnya, muncul-lenyapnya perasaan itu atau memperhatikan “ada perasaan” di dirinya hanya sejauh yang diperlukannya untuk diketahui dan diperhatikannya tanpa bergantung tanpa melekati apapun di dunia ini [DN22 dan MN 10/Satipatthana sutta]

    • Ada 3 jenis perasaan gembira (pīti), dari: tubuh jasmani/material (sāmisā pīti), non-material (nirāmisā pīti), yang melebihi non-material (nirāmisā nirāmisatarā pīti)
    • Ada 3 jenis perasaan bahagia (sukha), dari: tubuh jasmani/material (sāmisaṃ sukha), non-material (nirāmisā sukha), yang melebihi non-material (nirāmisā nirāmisatarā sukha)
    • Ada 3 jenis perasaan tenang-seimbang (upekkhā), dari: tubuh jasmani/material (sāmisaṃ upekkhā), non-material (nirāmisā upekkhā), yang melebihi non-material (nirāmisā nirāmisatarā upekkhā)

    Perasaan Indria/tubuh jasmani/material, baik itu: gembira (sāmisā pīti) atau bahagia (sāmisaṃ sukha) atau tenang-seimbang (sāmisaṃ upekkhā), kemunculannya adalah karena 5 utas kenikmatan indria (pañca kāmaguṇe), yaitu: Bentuk-bentuk yang dapat dikenali mata, … , objek-objek sentuhan yang dapat dikenali badan, yang disukai, indah, menyenangkan, nikmat, memikat indria, menggoda)

    Perasaan gembira non-material (nirāmisā pīti) kemunculannya sehubungan dengan jhana ke-1 dan ke-2; Perasaan bahagia non-material (nirāmisā sukha) kemunculannya sehubungan dengan Jhana ke-1 s.d Jhana ke-3; Perasaan yang tenang-seimbang non-material (nirāmisā upekkhā) kemunculannya sehubungan dengan jhana ke-4

    Perasaan gembira atau bahagia atau tenang-seimbang yang melebihi non material, kemunculannya sehubungan dengan yang noda-nodanya telah dihancurkan, meninjau mentalnya terbebas dari nafsu, kebencian, kekeliruan tahu [SN 36.31]

    Hubungan 5 perasaan (atau juga disebut 5 indriya, ref SN 48.31) dan pencapaian jhana:

    • Indria kesakitan (dukkhindriyaṃ): Kesakitan tubuh (kāyikaṃ dukkhaṃ) dan ketidaknyamanan tubuh (kāyikaṃ asātaṃ). Perasaan sakit tubuh dan tidaknyaman tubuh yang berasal dari kontak jasmani (kāyasamphassajaṃ dukkhaṃ asātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36]

      Di manakah indria kesakitan lenyap tanpa sisa? ..Di Jhana ke-1 [SN 48.39,40]

    • Indria ketidaksenangan (domanassindriyaṃ): Kesakitan mental (cetasikaṃ dukkhaṃ) dan ketidaknyamanan mental (cetasikaṃ asātaṃ). Perasaan sakit mental dan tidak-nyaman mental yang berasal dari kontak pikiran (manosamphassajaṃ dukkhaṃ asātaṃ vedayitaṃ)[SN 48.36]

      Di manakah indria ketidaksenangan lenyap tanpa sisa? ..Di Jhana ke-2 [SN 48.39,40]

      Indria kesakitan dan indria ketidaksenangan harus dilihat sebagai perasaan menyakitkan (dukkhā sā vedanā) [SN 48.37-38]

    • Indria kesenangan (Sukhindriyaṃ): Kesenangan tubuh (kāyikaṃ sukhaṃ) dan kenyamanan tubuh (kāyikaṃ sātaṃ). Perasaan nikmat tubuh dan nyaman tubuh yang berasal dari kontak jasmani (kāyasamphassajaṃ sukhaṃ sātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36]

      Di manakah indria kesenangan lenyap tanpa sisa? ..Di Jhana ke-3 [SN 48.39,40]

    • Indra kegembiraan (somanassindriyaṃ): Kesenangan mental (cetasikaṃ sukhaṃ) dan kenyamanan mental (cetasikaṃ sātaṃ), perasaan senang dan nyaman mental yang berasal dari kontak pikiran (manosamphassajaṃ sukhaṃ sātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36]

      Di manakah indria kegembiraan lenyap tanpa sisa? ..Di Jhana ke-4 [SN 48.39,40]

      Indria kesenangan dan indria kegembiraan harus dilihat sebagai perasaan menyenangkan (sukhā sā vedanā) [SN 48.37-38]

    • Indria keseimbangan (upekkhindriyaṃ): Perasaan tubuh atau mental yang bukan-nyaman juga bukan tidak-nyaman (kāyikaṃ vā cetasikaṃ vā nevasātaṃ nāsātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36]. Indria keseimbangan harus dilihat sebagai perasaan bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan (adukkhamasukhā sā vedanā) [SN 48.37-38]

      Di manakah indria keseimbangan itu lenyap tanpa sisa? ..di pencapaian “lenyapnya persepsi dan perasaan” (saññāvedayitanirodhaṃ). Di sinilah indria keseimbangan yang telah muncul itu lenyap tanpa sisa [SN 48.39, 40]

        Note:
        Terdapat perbedaan untuk perasan upekkha/netral antara sutta vs Abhidhamma. Menurut Abhidhamma, semua perasaan jasmani yang muncul melalui sensitivitas jasmani (kāyappasāda) hanyalah menyenangkan atau menyakitkan. Tidak ada perasaan netral yang muncul melalui sensitivitas Jasmani [Lihat juga: ini dan ini]. SN 36.19 : ada 2 perasaan: sukhā vedanā, dukkhā vedanā(perasaan nikmat, perasaan menyakitkan) dan tentang adukkhamasukhā vedanā, santasmiṃ esā paṇīte sukhe (perasaan bukan menyakitkan bukan menyenangkan adalah kenikmatan yang damai luhur)

4 set ke-3 (Pikiran):
Memperhatikan pikiran [citta: Indera dalam proses berpikir]:

  1. Berlatih (sikkhati] merasakan penuh (paṭisaṃvedī) pikiran (citta):

    ’Dengan merasakan sepenuhnya pikiran, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan merasakan sepenuhnya pikiran, aku menghembuskan nafas’

  2. Berlatih (sikkhati] menggembirakan (abhippamodaya) pikiran (citta):

    ’Dengan bergembiranya pikiran, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan bergembiranya pikiran, aku menghembuskan nafas’

  3. Berlatih (sikkhati] memusatkan (samādaha) pikiran (citta):

    ’Dengan memusatnya pikiran, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan memusatnya pikiran, aku menghembuskan nafas’

  4. Berlatih (sikkhati] mebebaskan/melonggarkan/melepaskan (vimocaya) pikiran (citta):

    ’Dengan melonggarnya pikiran, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan melonggarnya pikiran, aku menghembuskan nafas’

    note:
    abhippamodaya = menggembirakan menyenangkan; samadaha = manunggal, terpusat, terkonsentrasi, menjadi satu; vimocaya = terbebas, terlepas, longgar

    Variasi lain perenungan pikiran tanpa perhatian pada nafas:

    mengetahui (pajānāti):

    • pikiran yang terpengaruh nafsu (sa-rāga) sebagai pikiran yang terpengaruh nafsu dan pikiran yang tidak terpengaruh nafsu (vīta-rāga) sebagai pikiran yang tidak terpengaruh nafsu.
    • pikiran yang terpengaruh kebencian (sa-dosa) sebagai pikiran yang terpengaruh kebencian dan pikiran yang tidak terpengaruh kebencian (vīta-dosa) sebagai pikiran yang tidak terpengaruh kebencian.
    • pikiran yang terpengaruh kebodohan (sa-moha) sebagai pikiran yang terpengaruh kebodohan dan pikiran yang tidak terpengaruh kebodohan (vīta-moha) sebagai pikiran yang tidak terpengaruh kebodohan.
    • pikiran yang tersusun (saṅkhitta) sebagai pikiran yang mengerut dan pikiran yang berserakan/kacau (vikkhitta) sebagai pikiran yang berserakan/kacau
    • pikiran yang luhur (mahaggata) sebagai pikiran yang luhur dan pikiran yang tidak luhur (amahaggata) sebagai pikiran yang tidak luhur
    • pikiran yang melampaui (sauttara) sebagai pikiran yang melampaui dan pikiran yang unggul (anuttaraṃ) sebagai pikiran yang unggul
    • pikiran memperoleh pencapaian (samāhita) sebagai pikiran yang memperoleh pencapaian dan pikiran tidak memperoleh pencapaian (a-samāhita) sebagai pikiran tidak memperoleh pencapaian)
    • pikiran yang terbebaskan (vimutta) sebagai pikiran yang terbebaskan dan pikiran yang tidak terbebaskan (a-vimutta) sebagai pikiran yang tidak terbebaskan

    Demikian ia merenungkan: pikiran adalah pikiran secara internal dan secara eksternal, munculnya, lenyapnya, muncul-lenyapnya di pikiran atau memperhatikan “ada pikiran” dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukannya untuk diketahui dan diperhatikan tanpa bergantung tanpa melekati apapun di dunia ini [DN22 dan MN 10/Satipatthana sutta]

4 set ke-4 (Dhamma):
Memperhatikan Dhamma [hal yang berkondisi/terkondisi, tak terkondisi dan/atau bentukan-bentukan pikiran, ucapan, perbuatan yang muncul melalui kehendak, objek dari Indera pikiran]:

  1. Berlatih (sikkhati] merenungkan (anupassī) ketidakkekalan (anicca: adanya awal dan akhir):

    ’Dengan merenungkan ketidak-kekalan, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan merenungkan ketidak-kekalan, aku menghembuskan nafas’

  2. Berlatih (sikkhati] merenungkan (anupassī) memudarnya (virāga: fase berkurangnya minat/pencarian atau mendapatkan, mempertahankan atau menolak):

    ’Dengan merenungkan pemudaran, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan merenungkan pemudaran, aku menghembuskan nafas’

  3. Berlatih (sikkhati] merenungkan (anupassī) ke-lenyap-an (nirodha: fase meningkatnya pengurangan minat/pencarian atau mendapatkan, mempertahankan atau menolak):

    ’Dengan merenungkan ke-lenyap-an, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan merenungkan ke-lenyap-an, aku menghembuskan nafas’

  4. Berlatih (sikkhati] merenungkan (anupassī) pe-lepas-an/peng-abai-an/ketiadaan minat (paṭinissagga: kejenuhan dalam minat/pencarian atau mendapatkan, mempertahankan atau menolak):

    ’Dengan merenungkan pengabaian, aku menarik nafas; atau
    ’Dengan merenungkan pengabaian, aku menghembuskan nafas’

  5. Dalam MN 62/Maharahulovada Sutta, diakhir set ke-4 terdapat kalimat:
    “Ketika perhatian pada pernafasan dikembangkan dan dilatih dengan cara ini, maka bahkan nafas masuk dan nafas keluar terakhir dapat diketahui pada saat lenyapnya, bukan tidak diketahui”

Bagaimana terpenuhinya 4 landasan perhatian melalui mengembangkan dan melatih anapanasati? Di MN 118 dan SN 54.13, disampaikan:

  1. Setelah meninggalkan kerinduan kegundahan dunia, kapan pun, set ke-1 , yang terdiri dari 4 langkah dilakukan, saat itu, melalui suatu jenis tertentu dari tubuh (Kāyaññatarāhaṃ), yaitu nafas masuk dan keluar, Ia berada tekun memperhatikan dengan mengetahui sepenuhnya merenungkan jasmani adalah jasmani [SN 54.13]

    Sang Buddha: Rāhula, segala jenis materi apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang, masuk atau keluar, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat, semua materi harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar (yathābhūtaṃ sammappaññāya daṭṭhabba):

    Ini bukan milik-KU [Netaṁ mama],
    ini bukan AKU [nesoham-asmi],
    ini bukan diri-KU [na meso attā ti].

    Rahula: Hanya materi [rupa], Sang Bhagavā? Hanya materi, Yang Sempurna?

    Sang Buddha: materi [rupa], perasaan [vedanā], persepsi/ingatan [saññā], bentukan-bentukan [saṅkhārā], dan kesadaran [viññāṇa].” [= Pancakhanda].. [MN 62]

  2. Setelah meninggalkan kerinduan kegundahan dunia, kapan pun, set ke-2 yang terdiri dari 4 langkah dilakukan, saat itu, melalui suatu jenis tertentu dari perasaan (Vedanāññatarāhaṃ), Ia memperhatikan secara seksama nafas masuk dan berakhir keluar (assāsapassāsānaṃ sādhukaṃ manasikāraṃ), Ia berada tekun memperhatikan dengan mengetahui sepenuhnya merenungkan perasaan adalah perasan
  3. Setelah meninggalkan kerinduan kegundahan dunia, kapan pun, set ke-3, yang terdiri dari 4 langkah, dilakukan, maka saat itu, Ia berada tekun memperhatikan dengan mengetahui sepenuhnya merenungkan pikiran adalah pikiran (citte cittānupassī), karena tidak ada pengembangan pikiran terpusat melalui perhatian pada pernafasan bagi seseorang yang pehatiannya kacau dan tidak sepenuhnya mengetahui (muṭṭhassatissa asampajānassa ānāpānassatisamādhibhāvanaṃ)
  4. Setelah meninggalkan kerinduan kegundahan dunia, kapan pun, set ke-4, yang terdiri dari 4 langkah, dilakukan, maka saat itu, Ia dengan kebijaksanaan secara seksama melihat dalam keseimbangan

Ketika pikiran terpusat melalui perhatian pada pernafasan dikembangkan dan dilatih dengan cara ini, maka 4 Landasan Perhatian terpenuhi

Bagaimana terpenuhinya 7 faktor pencerahan melalui mengembangkan dan melatih 4 landasan perhatian? Di MN 118 dan SN 54.13, disampaikan:

  1. Sewaktu, Ia merenungkan jasmani adalalah jasmani, ..perasaan adalah perasaan,.. pikiran adalah pikiran, .. Dhamma adalah Dhamma, maka saat itu, perhatian yang tidak kacau muncul dalam dirinya, saat itu, faktor pencerahan perhatian (satisambojjhaṅga) dibangkitkannya; dikembangkannya; Faktor pencerahan perhatian terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya
  2. Sewaktu, Ia dengan penuh perhatian demikian, melalui kebijaksanaan membedakan Dhamma, memeriksanya, menyelidikinya, maka saat itu, faktor pencerahan pembedaan kondisi-kondisi (dhammavicayasambojjhaṅga) dibangkitkannya; dikembangkanya; Faktor pencerahan pembedaan kondisi-kondisi terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya.
  3. Sewaktu, Ia melalui kebijaksanaan membedakan Dhamma, memeriksanya, menyelidikinya, maka, kegigihannya dibangkitkan tanpa mengendur, Saat itu faktor pencerahan kegigihan (vīriyasambojjhaṅga) dibangkitkannya; dikemabangkan; Faktor pencerahan kegigihan terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya
  4. Sewaktu, Ia membangkitkan kegigihan, muncul perasaan gembira (pīti) yang bebas hasrat sensual (nirāmisā). Maka saat itu faktor pencerahan kegembiraan (pītisambojjhaṅga) dibangkitkannya; dikembangkanya. Faktor pencerahan kegembiraan terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya
  5. Seorang dengan pikiran yang diliputi kegembiraan, tubuh dan pikirannya menjadi tenang (kāyopi passambhati, cittampi passambhati), maka saat itu faktor pencerahan ketenangan (passaddhisambojjhaṅga) dibangkitkannya, dikembangkannya, Faktor pencerahan ketenangan terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya
  6. Seseorang dengan tubuh tenang dan pikiran bahagia, pikirannya menjadi terpusat (Passaddhakāyassa sukhino cittaṃ samādhiyati), maka saat itu faktor pencerahan pikiran terpusat (samādhisambojjhaṅga) dibangkitkannya; dikembangkannya. Faktor pencerahan pikiran terpusat terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya
  7. Seorang dengan pikiran terpusat demikian, secara seksama melihat dalam keseimbangan (So tathāsamāhitaṃ cittaṃ sādhukaṃ ajjhupekkhitā hoti). Maka, saat itu, faktor pencerahan keseimbangan (upekkhāsambojjhaṅga) dibangkitkannya; dikembangkannya. Faktor pencerahan keseimbangan terpenuhi melalui pengembangan dalam dirinya

Bagaimana terpenuhinya pengetahuan dan kebebasan melalui mengembangkan dan melatih 7 faktor pencerahan? Di MN 118 dan SN 54.13, disampaikan:

    Seorang yang mengembangkan 7 faktor pencerahan, maka, saat itu, Ia bersandar pada: keterasingan, kejenuhan, kelenyapan, siap dalam melepas (vivekanissitaṃ virāganissitaṃ nirodhanissitaṃ vossaggapariṇāmiṃ)

5 RINTANGAN (PANCANIVARANA)
Ada 5 rintangan [nivarana] yang muncul ketika berupaya membangun pemusatan pikiran. Berikut ini adalah yang tercantum dalam TEVIJJA SUTTA (dan DN 2/Samanaphala sutta):

    Setelah menjalani kehidupan yang terkendali dengan pengendalian lewat aturan-aturan (pātimokkha saṃvara saṃvuto viharati), mempertahankan perilaku benar (ācāra gocara sampanno), melihat bahaya dalam kesalahan terkecil (aṇumattesu vajjesu bhayadassāvī), melatih diri dalam latihan (samādāya sikkhati sikkhāpadesu) perbuatan jasmani dan ucapan yang penuh manfaat (kāyakamma vacīkammena samannāgato kusalena), berpenghidupan murni (parisuddhājīvo), sempurna dalam moralitas (sīlasampanno), menjaga indria-indriya (indriyesu guttadvāro), dalam perhatian dengan mengetahui sepenuhnya (satisampajaññena samannāgato) berpuas diri (santuṭṭho)

    Ia memilih tempat-tempat sunyi, duduk bersila dengan badan tegak lurus dan perhatian ditegakkan ke depan… Dengan menyingkirkan, rintangan:

    1. keinginan duniawi (abhijjha = kamacchanda = lobha), Pikirannya bebas dari keinginan duniawi, Ia membersihkan pikiran dari keinginan duniawi
    2. permusuhan/kemarahan/penolakan/kebencian (Byāpādapadosa = Byapada), Pikirannya bebas dari permusuhan (abyāpannacitto), dengan pikiran bersahabat penuh kasih pada semua makhluk, semua yang hidup, ia membersihkan pilkiran dari permusuhan
    3. kemalasan (thina) – kelambanan/ngantuk (middha), pikirannya bebas dari malas-lamban; dengan memusatkan perhatian pada āloka-saññi (persepsi penglihatan), Ia membersihkan pikiran dari kemalasan dan kelambanan.

      note:
      āloka = melihat, penglihatan, pandangan, pemandangan, cahaya; anāloka = buta; saññi = persepsi

      Nasehat Sang Buddha kepada Mahamoggalana tentang mengatasi kantuk, “jika engkau tak dapat meninggalkan kantukmu dengan cara demikian, maka engkau harus memperhatikan persepsi penglihatan (ālokasañña); engkau harus mempersepsikan siang hari (divāsañña) sebagai berikut: ‘Seperti halnya siang, demikian pula malam; seperti halnya malam, demikian pula siang.’ Demikianlah, dengan pikiran terbuka dan tidak tertutup, engkau harus mengembangkan pikiran yang dipenuhi dengan kecemerlangan (sappabhāsa: “kecemerlangan pikiran dapat dikotori oleh kotoran dari luar”, AN 1.51-52). Dengan cara demikian, adalah mungkin bahwa kantukmu akan ditinggalkan” [AN 7.61]. Namun rupanya kitab komentar menyampaikan secara literal: Saat mengantuk agar memperhatikan cahaya (bintang/lilin/bulan). Ini pendapat yang bermasalah, karena samadhi di jaman itupun, dilakukan dalam ruangan tertutup yang gelap tanpa cahaya, sehingga maksudnya JELAS BUKANLAH persepsi cahaya, namun persepsi yang jelas dalam hal: materi (4 bhuta), perasaan, persepsi, sankhāra, kesadaran

      Di MN 128/Upakilesa Sutta dan AN 8.64/Gayasisasutta, sang Buddha menyampaikan kepada mereka yang ingin mendapatkan pengetahuan penglihatan (ñāṇadassana) tentang landasan perenungan (anussatiṭṭhānānī): “pencerapan kejelasan penampakan bentuk-bentuk” (obhāsañceva sañjānāmi dassanañca rūpānaṃ).

      Arti kata obhāsa: “cahaya, jelas”. Misalnya untuk arti “jelas”: “telah diberikan isyarat yang nyata oleh Sang Bhagavā, walaupun ia diberikan petunjuk yang jelas (bhagavatā oḷārike nimitte kayiramāne oḷārike obhāse kayiramāne nāsakkhi paṭivijjhituṃ, SN 51.10/Ud 6.1/AN 8.70/DN 16)

      ”Pencerapan kejelasan dan penampakan bentuk” dapat jatuh karena keterpusatan pikiran jatuh. Keterpusatan pikiran jatuh karena: keragu-raguan (vicikicchā), kurang memperhatikan/lengah (amanasikāro), malas-lamban (thinamiddha), ketakutan (chambhitatta), menggelembung/kegirangan (uppila), cabul (duṭṭhulla), gigih yang berlebihan (accāraddhavīriya), kurang gigih (atilīnavīriya), mengharapkan/rindu (abhijappā), persepsi keberagaman (nānattasaññā) dan samadhi berlebihan pada bentuk-bentuk (atinij-jhāyitattaṃ rūpānaṃ)

    4. kegelisahan (Uddhacca) dan kekhawatiran (kukkucca), pikirannya bebas dari kekacauan (anuddhato); pikirannya tenang ke dalam (ajjhattaṃ vūpasantacitto), Ia membersihkan pikiran dari kegelisahan dan kekhawatiran.
    5. keragu-raguan (vicikiccha), pikirannya bebas dari keraguan; tanpa ragu pada hal yang bermanfaat (akathaṅkathī kusalesu dhammesu), Ia membersihkan pikiran dari keragu-raguan’.

    ‘Vasettha, seperti seseorang yang berhutang untuk berdagang, setelah berhasil, bukan saja ia mampu membayar hutangnya, namun masih ada kelebihan untuk merawat istrinya. Ia berpikir: “Dulu aku berhutang dan berdagang sampai berhasil, kini bukan saja aku dapat membayar hutangku, tetapi masih ada kelebihan untuk merawat istriku”.

    Karenanya ia bersukacita, menjadi lega (labhetha pāmojjaṃ, adhigaccheyya somanassaṃ)’.

    ‘Vasettha, seperti seorang yang sakit, menderita, amat parah, tak dapat makan, sehingga badannya lemah; namun setelah sembuh, dapat makan, sehingga badannya pulih. Ia berpikir: ‘Dulu aku sakit, menderita, amat parah, tak dapat makan, badanku lemah, namun kini aku telah sembuh, dapat makan sehingga badanku pulih’.

    Karenanya ia bersukacita, menjadi lega’.

    ‘Vasettha, seperti seorang yang dipenjara, kemudian bebas dari penjara, aman dan sehat, barang-barangnya tak ada yang dirampas. Ia berpikir: ‘Dulu aku dipenjara, kini aku telah bebas dari penjara, aman dan sehat, barang-barangku tak ada yang dirampas’.

    Karenanya ia bersukacita, menjadi lega’

    ‘Vasettha, seperti seseorang yang menjadi budak, bukan tuan dirinya sendiri, tunduk pada orang lain, tak dapat pergi ke mana ia suka; Kemudian ia bebas dari perbudakan, menjadi tuan dirinya sendiri, tak tunduk pada orang lain, bebas pergi ke mana ia suka. Ia berpikir: ‘Dulu aku seorang budak, bukan tuan diriku sendiri, tunduk pada orang lain, tak dapat pergi ke mana aku suka; kini aku telah bebas dari perbudakan, menjadi tuan diriku sendiri, tak tunduk pada orang lain, bebas pergi ke mana aku suka’.

    Karenanya ia bersukacita, menjadi lega’.

    ‘Vasettha, seperti seorang yang membawa kekayaan dan barang, melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tak ada makanan selain banyak bahaya; kemudian Ia berhasil keluar dari padang pasir selamat tiba di perbatasan desanya, suatu tempat yang aman, tak ada bahaya. Ia berpikir: ‘Dulu, dengan membawa kekayaan dan barang, aku melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tak ada makanan selain banyak bahaya; kini aku telah keluar dari padang pasir itu, selamat tiba di perbatasan desaku, suatu tempat yang aman, tak ada bahaya’.

    Karenanya ia bersukacita, menjadi riang’.

    ‘Vasettha, demikianlah selama 5 rintangan (panca nivarana) belum disingkirkan, seorang bhikkhu merasakan seperti seorang yang sedang berhutang, terserang penyakit, dipenjara, menjadi budak, melakukan perjalanan di padang pasir. Vasettha, tetapi setelah 5 rintangan disingkirkan, maka seorang bhikkhu merasakan seperti orang yang telah bebas dari hutang, penyakit, penjara, perbudakan, sampai di tempat yang aman.

    ‘Apabila ia tahu (samanupassato) 5 rintangan telah disingkirkannya:

    1. memperoleh sukacita (pāmojjaṃ jāyati),
    2. lega/sukacita menimbukan girang (pamuditassa pīti jāyati),
    3. pikiran girang membuat tubuh nyaman (pītimanassa kāyo passambhati),
    4. tubuh nyaman nikmat dirasakan (passaddhakāyo sukhaṃ vedeti),
    5. dalam pikiran nikmat pikirannya terpusat (sukhino cittaṃ samādhiyati).

    Kemudian, setelah lepas dari kenikmatan indria yang tak bermanfaat, (melalui pemusatan pikiran) dengan: menggenggam dan mempertahankan (objek tertentu: agar dapat meninggalkan 5 nivarana). Dari meninggalkan/melepas itu merasakan girang-nikmat (pīti-sukha), Keberadaan jhana ke-1 dicapai. Piti-sukha yang muncul dari melepas ini memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya. Tak ada satu bagian tubuhnya yang tak diliputi perasaan girang-nikmat yang muncul dari melepas itu.

      Note:
      samadhinimitta berupa Jhana, tidak serta merta mereda setelah keluar dari keadaan samadhi. Keadaan tersebut masih dirasakannya dibeberapa waktu lamanya: “..Di malam hari, ketika seorang bhikkhu terhormat telah keluar dari keterasingan dan sedang duduk bersila di bawah keteduhan tempat kediamannya, menegakkan tubuh, setelah menegakkan perhatian di depannya, gambaran pikiran terpusat (samadhinimitta) yang ia perhatikan selama siang hari masih ada padanya..” [AN 6.28/dutiyasamaya sutta]

    ‘Kemudian pikiran yang disertai cinta kasih (mettā. Metta = abhyapada = tidak ada permusuhan/penolakan (AN 6.13), karena perasaan tubuh yang menyakitkan dan tidak nyaman yang berasal dari kontak jasmani, lenyap di jhana ke-1) dipancarkan ke satu arah, kemudian ke: 2 arah, 3 arah dan 4 arah, demikian ke: atas, bawah, bulak-balik, ke mana saja, pada mahluk alam apapun, pikirannya yang disertai cinta kasih dipancarkannya: berlimpah, luhur, tak berbatas, lembut, tanpa halangrintang (bebas dengki dan permusuhan)

    ‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara tanpa kesulitan ke semua arah; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa terkecuali, dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh cinta kasih‘.

    ‘Vasettha, inilah jalan bersatu dengan Brahma’.

    “Kemudian dalam pikiran yang diliputi welas asih (karuṇā = avihesā = tidak adanya kekejaman/tidak ada keinginan mencelakakan karena perasaan mental yang menyakitkan dan tidak-nyaman yang berasal dari kontak pikiran, lenyap di jhana ke-2) … dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh welas asih‘ … ‘Vasettha, inilah jalan bersatu dengan Brahma’.

    simpati (muditā = rati = nyaman dan puas, karena di samping sebelumnya, seluruh perasaan tubuh dan mental yang menyakitkan yang berasal dari kontak jasmani dan pikiran telah lenyap, sekarang bahkan perasaan tubuh yang menyenangkan dan nyaman yang berasal dari kontak jasmani pun lenyap di jhana ke-3) … dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh simpati‘ … ‘Vasettha, inilah jalan bersatu dengan Brahma’.

    tenang seimbang (upekkhā = a-raga = tanpa nafsu. karena seluruh perasaan tubuh dan mental yang menyakitkan dan menyenangkan yang berasal dari kontak jasmani dan kontak pikiran, lenyap di jhana ke-4) … dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh tenang seimbang‘ … ‘Vasettha, inilah jalan bersatu dengan Brahma’. [..]

—————

JHANA ke-1 s.d ke-9

Kesempurnaan atau hasil samädhi ditandai dengan tercapainya jhana. Sang Buddha menyamakan pencapaian jhana dalam makna sementara, sebagai: seorang saksi tubuh (AN 9.43) atau terbebaskan melalui kebijaksanaan (AN 9.44) atau terbebaskan dalam kedua aspek (AN 9.45) atau dhamma yang terlihat langsung (AN 9.46) atau nibbāna yang terlihat langsung (AN 9.47) atau nibbāna (AN 9.48) atau parinibbana (AN 9.49) atau nibbāna dalam aspek tertentu (AN 9.50) atau nibbāna dalam kehidupan ini (AN 9.51) dan banyak lagi dalam makna sementara.

Dalam AN 9.35/Gavi Sutta, sang buddha mengingatkan agar MENGUASAI dengan baik setiap pencapaian samadhi SEBELUM berlanjut kepencapaian berikutnya melalui perumpamaan sapi gunung yang bodoh, tidak berpengalaman, tidak terbiasa dengan padang rumputnya, tidak pula terampil menjelajah pegunungan terjal namun pergi ke daerah yang tak dikenal dan tak pernah didatanginya untuk mencoba rumput dan air yang tak pernah ia makan dan minum sebelumnya, sehingga ketika melangkah, Ia tidak dapat meletakan kakinya dengan baik dan membuatnya tak dapat maju maupun kembali.

Pencapaian jhana bukan monopoli ajaran Buddha.
Sebelum mencapai pencerahan, Sidhartha Gotama belajar samadhi pada beberapa guru (Visvamitta/Sabbamitta, Alara Kalama, Uddaka Ramaputta), oleh karenanya, beliau tahu cara mencapai alam rupa dan arupa. Dikehidupan lampunya-pun, beliau melatih Jhana.

    Di jaman lampau yang berbeda, terdapat 7 guru (Sunetta, Mūgapakkha, Aranemi, Kuddālaka, Hatthipala, Jotipāla dan Araka) yang bebas nafsu indriawi dan mengajarkan pada banyak muridnya cara terlahir di alam Brahma. [AN 6.54/Dhammika Sutta, AN 7.66/Satasuriya sutta, AN 7.73/Suneta Sutta, AN 7.74/Araka Sutta]

    Para murid yang memahami ajaran, setelah kematian terlahir di ALAM Brahma. Beberapa yang tidak memahami penuh, terlahir di alam paranimmitavasavattīnaṃ.. nimmānaratīnaṃ.. tusitānaṃ.. yāmānaṃ.. tāvatiṃsānaṃ.. cātumahārājikānaṃ.. sebagai Ksatria, Brahma dan perumah tangga [AN 7.66]. Mereka yang tidak memahami dan tidak menjalankan ajaran dan mempunyai keyakinan pada ajaran gurunya, muncul di keadaan sengsara/merugi menderita menuju kehancuran bahkan neraka [AN 6.54, AN 7.73, AN 7.74].

    Guru-guru ini berpikir tidak pantas jika mereka terlahir di alam yang sama juga dengan para muridnya, oleh karenanya, mereka mengembangkan pikiran penuh metta selama 7 tahun. Setelah wafat, selama 7 kalpa menyusut dan mengembang, tidak pernah kembali ke dunia ini. Bila kappa menyusut, muncul di alam brahma ābhassara. Ketika kappa mengembang, muncul di alam brahma yang kosong [suññaṃ brahmavimānaṃ] menjadi Brahma yang agung/mahābrahmā, 36 x menjadi Sakka, raja para dewa. Ratusan kali terlahir sebagai Raja dunia/cakkavattī dhammiko dhammarājā

    Walaupun guru-guru ini hidup panjang namun tidak terbebas dari kelahiran, pelakukan, kematian, duka, lara, ketidakpuasan dan penderitaan karena mereka tidak menjalankan moralitas, samädhi, kebijaksanaan dan pembebasan yang mulia [AN 7.66]

Jhana ke-1,
Harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian pada sensualitas (kāmasahagatā saññāmanasikārā). Karena pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.1/Paṭhamajhānapañhā sutta]

Deskripsi Jhana ke-1 (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di jhana ke-1):

Ia memilih tempat-tempat sunyi, duduk bersila dengan badan tegak lurus dan perhatian ditegakkan ke depan. Setelah melepaskan 5 rintangan (5 nivarana) dan/atau cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari hal yang tak bermanfaat (vivicceva kāmehi vivicca akusalehi dhammehi ):

    (melalui pemusatan pikiran) dengan: menggenggam dan mempertahankan (objek tertentu: agar 5 nivarana dapat ditinggalkan/dilepaskan) (savitakka savicāra) dari meninggalkan/melepas itu merasakan pīti-sukha (vivekajaṃ pītisukhaṃ), Keberadaan jhana ke-1 dicapai (paṭhamaṃ jhānaṃ upasampajja viharati) [MN 111/Anupadasutta, AN 4.123, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

    atau

    (Dalam dirinya) muncul sukacita (pāmojjaṃ jāyati), sukacita menimbukan kegirangan (pamuditassa pīti jāyati), pikiran girang membuat tubuh nyaman (pītimanassa kāyo passambhati), tubuh nyaman nikmat dirasakannya (passaddhakāyo sukhaṃ vedeti), dalam pikiran yang nikmat, terpusat pikirannya (sukhino cittaṃ samādhiyati: artinya masuk jhana ke-1)

    Pikiran yang disertai cinta kasih (mettāsahagatena cetasā. Metta = abhyapada = tidak ada permusuhan/penolakan (AN 6.13) karena perasaan tubuh yang menyakitkan dan tidaknyaman yang berasal dari kontak jasmani, lenyap (SN 48.36)) dipancarkan ke satu arah (ekaṃ disaṃ pharitvā viharati) kemudian ke: 2 arah, 3 arah dan 4 arah (tathā dutiyaṃ tathā tatiyaṃ tathā catutthiṃ), demikian ke: atas, bawah, bulak-balik, ke mana saja, pada mahluk alam apapun (termasuk dirinya) (iti uddhamadho tiriyaṃ sabbadhi sabbattatāya sabbāvantaṃ lokaṃ) pikirannya yang disertai cinta kasih dipancarkannya: berlimpah, luhur, tak berbatas, lembut, tanpa halangrintang/bebas dengki dan permusuhan (mettāsahagatena cetasā vipulena mahaggatena appamāṇena averena abyāpajjhena pharitvā viharati) [AN 4.125/Metta sutta DN 13/Tevijja sutta, DN13: Kesempurnaan pancaran metta terjadi setelah tercapainya jhana ke-1].

Perasaan piti-sukha memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya. Tak ada satu bagian dari tubuhnya yang tidak diliputi perasaan girang-nikmat yang muncul dari pelepasan itu.

‘Bagaikan seorang petugas pemandian yang terampil atau pembantunya, mengadon bubuk-sabun yang telah dibasahi air, membentuknya dalam sebuah piringan logam, menjadi bongkahan lunak, sehingga bola bubuk-sabun itu menjadi satu bongkahan berminyak, terekat oleh minyak sehingga tak ada yang berserakan—demikian pula piti-sukha meliputi, basah seluruhnya, mengisi dan memenuhi tubuhnya sehingga tak ada bagian tubuhnya yang tak tersentuh..’ [DN 2, 9, 13; MN 39, 77, 119].

    Ilustrasi bedanya pīti vs sukha:
    Seseorang di padang pasir, kehabisan air, dilanda haus, lemah dan pegal. Ketika berjalan tertatih-tatih, dari kejauhan dilihatnya Oasis [sumber mata air]. Sejak melihat hingga yakin itu adalah oasis, perasaan girang yang muncul terus menguat, rasa haus dan payahnya teralihkan, Ia bersemangat ke Oasis. Keadaan ini menyerupai PITI. Ketika Ia minum airnya, muncul rasa nikmat. Keadaan ini menyerupai SUKHA

    Seseorang di kemacetan lalulintas dilanda keinginan buang air yang hebat. Saat itu, Pikirannya terpusat pada kakus. Ketika menemukannya, muncul perasaan girang. Ini menyerupai Piti, Nikmatnya membuang hajat/kencing menyerupai sukha

“Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap didalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva Brahmakayika dengan batasan kehidupan 1 kappa” (So tadassādeti taṃ nikāmeti tena ca vittiṃ āpajjati. Tattha ṭhito tadadhimutto tabbahulavihārī aparihīno kālaṃ kurumāno. brahmakāyikānaṃ devānaṃ sahavyataṃ upapajjati. Brahmakāyikānaṃ bhikkhave devānaṃ kappo āyuppamāṇaṃ) [AN 4.123, 125][alam ↑]

Saat mencapai Jhana ke-1:
Ia meninggalkan 5 rintangan/nivarana dan meraih 5 faktor jhana diraih (MN 43). Keadaan ini disebut berada di luar jangkauan Mara (MN 25, AN 9.39).

    5 rintangan:
    Kamacchanda/keinginan Indriya (Kama: sensualitas Indriya. Chanda: terangsang, kehendak, hasrat untuk);
    byapada (kehendak buruk, penolakan, benci, permusuhan);
    Thina-middha (kelambanan-kemalasan/ngantuk);
    Uddhacca-kukkucca (kegelisahan-kecemasan) dan
    Vicikiccha (keragu-raguan)

    5 Faktor Jhana:
    Vitakka (pikiran menggenggam/mengarahkan pikiran pada objek);
    Vicāra (pikiran mempertahankan objek/mempertahankan pikiran pada objek);
    Pīti (gembira/girang/tergiur) → masuk dalam sankhāra khanda;
    Sukha (bahagia/nikmat) → masuk dalam vedana khanda;
    Pikiran terpusat (cittekaggatā) [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

Lenyap tanpa sisanya dukkhindriyam/Indria kesakitan: Perasaan tubuh yang menyakitkan dan tidak nyaman yang berasal dari kontak jasmani (kāyasamphassajaṃ dukkhaṃ asātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36, 39, 40]

Lenyapnya persepsi Indriya/kamasanna niruddha (DN 9, AN 9.31). Lenyapnya “bicara” [vaca niruddha] (SN 36.11, SN 36.15). Oleh karenanya, kebisingan adalah duri (saddo kaṇṭako) bagi jhāna ke-1 (AN 10.72)

Lenyap tanpa sisanya kehendak-kehendak YANG TIDAK bermanfaat/akusalānaṃ saṅkappānaṃ, yaitu kehendak: keinginan indria, kehendak buruk/permusuhan/penolakan, dan kehendak kekejaman.

    Dan dari manakah kehendak-kehendak YANG TIDAK bermanfaat ini berasal-mula?
    Kehendak-kehendak YANG TIDAK bermanfaat ini harus dikatakan bermula dari persepsi. Persepsi apakah?.. persepsi keinginan indria, persepsi kehendak buruk/permusuhan, dan persepsi kekejaman.

    Dan dimanakah kehendak-kehendak YANG TIDAK bermanfaat ini lenyap tanpa sisa?.. jhana ke-1.. [MN 78]

    Tanpa meninggalkan/melenyapkan 6 Hal, seseorang tidak akan mencapai Jhana ke-1, yaitu: Pikiran indriawi (Kāmavitakka), pikiran buruk (byāpādavitak-ka), pikiran kejam/mencelakai (vihiṃsāvitakka), persepsi indriawi (kāmasañña), persepsi buruk (byāpādasañña), dan persepsi mencelakai (vihiṃsāsañña) [AN 6.74]

Mengapa mettā dikaitkan dengan keadaan Jhana ke-1?

Kesakitan tubuh (kāyikaṃ dukkhaṃ) dan ketidaknyamanan tubuh (kāyikaṃ asātaṃ), perasaan sakit dan tidaknyaman dari kontak jasmani (kāyasamphassajaṃ dukkhaṃ asātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36] lenyap di keadaan itu, sehingga tidak mungkin kehendak buruk/penolakan/permusuhan menguasai pikiran (byāpādo cittaṃ pariyādāya tiṭṭhatī) [AN 6.13/Nissāraṇīyasutta], kehendak-kehendak tak bermanfaat lenyap tanpa sisa (MN 78). Pikirannya dipenuhi perasaan menyenangkan: girang dan nikmat (pīti-sukha) yang ingin dibagikannya ke seluruh dunia, karena “Apa yang dirasakan, itu yang dipikirkan, apa yang dipikirkan berkembang biak dalam pikiran berupa sumber, gagasan, Ide dalam bentuk masa lalu, sekarang atau masa depan yang dikenali oleh Inderanya (pikiran, mata, dll)“.

Terdapat 11 manfaat ketika kebebasan pikiran melalui cinta kasih telah diusahakan, dikembangkan, dan dilatih, dijadikan kendaraan dan landasan, dijalankan, dikokohkan, dan dengan benar dilakukan:

(1) Tidur nyaman (sukham supati); (2) terjaga nyaman (sukham paṭibujjhati); (3) tidak mimpi buruk (na pāpakaṃ supinaṃ passati); (4) disukai orang (manussānaṃ piyo hoti); (5) disukai makhluk bukan orang (amanussānaṃ piyo hoti); (6) dilindungi Devata (devata rakkhanti) (7) lolos/terhindar dari api, racun dan senjata (nassa aggi va visam va satthaṃ va kamati); (8) pikirannya terpusat dengan cepat (tuvaṭaṃ cittam samādhiyati); (9) raut wajahnya tenang (mukhavaṇṇo vippasīdati); (10) ketika tiba waktunya (untuk wafat) tidak dalam kebingungan (asammūḷho kalam karoti); dan (11) jika tidak menembus lebih jauh, terlahir di alam brahmā (uttari appaṭivijjhanto brahmalokūpago hoti) [AN 8.1/AN 11.15/Mettânisaṁsa Sutta]. Agar tidak tiba waktunya (untuk wafat) karena digigit ular [atau digigit tidak menyuntikan bisa: gigitan kering atau ini] (na hi so..ahinā daṭṭho kālaṃ kareyya).. agar mahluk tak berkaki, berkaki 2, 4, banyak tak mencelakai (ma mam apada.. dvi.. catu.. himsi bahuppado) [AN 4.67/Ahina Sutta]

Jhana ke-2,
Harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian pada usaha awal pikiran menggenggam obyek dan mempertahankannya (vitakkasahagatā saññāmanasikārā). Karena pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.2/Dutiyajhānapañhā sutta, SN 21.1/Kolita Sutta].

Deskripsi Jhana ke-2 (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di jhana ke-2):

    Meredanya pemusatan pikiran melalui menggenggam dan mempertahankan objek [vitakkavicārānaṃ vūpasamā], terjadi keheningan di dalam [ajjhattaṃ sampasādo], pikirannya menjadi terpusat tanpa dengan usaha menggenggam dan mempertahankan objek [cetaso ekodibhāvaṃ avitakkaṃ avicāraṃ]. Dari pikiran yang terpusat seperti ini, Ia merasakan girang dan nikmat [samādhijaṃ pītisukhaṃ], keberadaan jhana ke-2 dicapai (dutiyaṃ jhānaṃ upasampajja viharati) [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

    atau

    Pikiran yang disertai welas asih (karuṇāsahagatena cetasā. Karuṇā = avihesā = tidak adanya kekejaman/tidak ada keinginan mencelakakan karena seluruh perasaan tubuh dan mental yang menyakitkan dan tidak nyaman yang berasal dari kontak jasmani dan pikiran, lenyap (SN 48.36)) dipancarkan ke satu arah (ekaṃ disaṃ pharitvā viharati) kemudian ke: 2 arah, 3 arah dan 4 arah (tathā dutiyaṃ tathā tatiyaṃ tathā catutthiṃ), demikian ke: atas, bawah, bulak-balik, ke mana saja, pada mahluk alam apapun (termasuk dirinya), pikirannya yang disertai welas asih dipancarkannya: berlimpah, luhur, tak berbatas, lembut, tanpa halangrintang/bebas dengki dan permusuhan [AN 4.125/Metta sutta; DN 13/Tevijja sutta]

Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva ābhassarā. Deva ābhassarā dengan batasan kehidupan 2 kappa (ābhassarānaṃ devānaṃ sahavyataṃ upapajjati. Ābhassarānaṃ bhikkhave devānaṃ dve kappā āyuppamāṇaṃ)[AN 4.123, 125][alam ↑]

Kondisi/faktor di Jhana ke-2 adalah: hening di dalam (tanpa vitakkavicara), piti, sukha dan pikiran terpusat [cittekaggatā]

Saat mencapai jhana ke-2:
Jika pada sebelumnya pemusatan pikiran dengan vitakka-vicara, untuk melepas memunculkan persepsi girang dan nikmat, maka ketika pemusatan pikiran dapat dilakukannya tanpa melalui vitakka-vicara, dari pikiran terpusat dengan cara itu, persepsi perasaan girang dan nikmat memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya. Tak ada satu bagian dari tubuhnya yang tidak diliputi perasaan girang dan nikmat yang muncul dari keterpusatan pikiran dengan cara itu.

‘Bagaikan sebuah danau yang bersumber dari sebuah mata air, tak ada air yang mengalir dari timur, barat, utara atau selatan, tidak bertambah dengan hujan dari waktu ke waktu, kemudian mata air sejuk memenuhi, mengisi, meliputi seluruh danau itu, sehingga tak ada bagian danau itu yang tidak terliputi air sejuk itu—demikian pula dengan kegirangan dan kenikmatan yang muncul dari pikiran terpusat meliputi seluruh tubuhnya sehingga tak ada bagian yang tidak tersentuh. [DN 2, DN 9, MN 39, MN 77, MN 119]

Jhana ke-2 disebut keheningan ariya/kesunyian ariya/noble Silence (“ariya tuṇhībhāva”, SN 21.1), yaitu lenyapnya (Niruddha): awal pikiran menggenggam dan mempertahankan objek [avitakkavicārā] (SN 36.11, 36.15, AN 9.31) atau berhentinya vacīsaṅkhāra [MN 44, SN 41.6], sekarang ini vitakkavicārā adalah duri di jhāna ke-2 [AN 10.72]

    Note:
    Melatih ariya tuṇhībhāva mulai dari menyempurnakan sila (sila ke-4: tidak musavada, tidak bergosip, hanya berkata benar, dst) mengendalikan indriyanya, sepenuhnya dalam perhatian dan mengetahui, Ia berpuas diri, Ia membatasi pikiran dan dirinya untuk berkata seperlunya. Sang Buddha: Seorang yang melakukan praktek brahmacariya (meninggalkan keduniawian), ketika berkumpul, Ia melakukan salah satu dari 2 hal: berdiskusi Dhamma atau mempertahankan keheningan mulia [MN 26/Ariyapariyesana sutta].

    Sample lain, misalnya cara YM Anuruddha dan 2 teman seperjuangan dalam keseharian mereka: “..Siapapun yang melihat kendi air minum, air untuk mencuci, atau kakus sudah hampir habis atau sudah habis maka ia akan melakukan apa yang harus ia lakukan. Jika terlalu berat baginya, maka ia akan memanggil seseorang lain dengan isyarat tangan dan mereka bersama-sama memindahkannya, tetapi hal ini tidak membuat kami terlibat dalam percakapan. Tetapi setiap 5 hari kami duduk bersama sepanjang malam mendiskusikan Dhamma”. [MN 128/Upakilesa Sutta]

Lenyap tanpa sisanya domanassindriyaṃ/Indria ketidaksenangan: Perasaan mental yang menyakitkan dan tidak nyaman yang berasal dari kontak pikiran (manosamphassajaṃ dukkhaṃ asātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36, 39, 40]

Lenyap tanpa sisanya kehendak-kehendak YANG bermanfaat/kusalā saṅkappā, yaitu kehendak: pelepasan keduniawian (Nekkhammasaṅkappo), tanpa permusuhan/penolakan/kehendak buruk (abyāpādasaṅkappo) dan tanpa-kekejaman (avihiṃsāsaṅkappo)

    dari manakah YANG kehendak-kehendak bermanfaat ini berasal-mula?
    Kehendak-kehendak YANG bermanfaat ini harus dikatakan bermula dari persepsi. Persepsi apakah?..persepsi pelepasan keduniawian (Nekkhammasaññā), persepsi tanpa kehendak buruk (abyāpādasaññā), dan persepsi tanpa-kekejaman (avihiṃsāsaññā)

    Dan di manakah kehendak-kehendak YANG bermanfaat ini lenyap tanpa sisa?.. Jhana ke-2. [MN 78]

Mengapa karuṇā dikaitkan dengan keadaan Jhana ke-2?

Disamping perasaan tubuh menyakitkan dan tidak nyaman yang berasal dari kontak jasmani sudah lenyap di jhana ke-1, sekarang bahkan: perasaan mental menyakitkan (cetasikaṃ dukkhaṃ) dan tidak nyaman (cetasikaṃ asātaṃ) yang berasal dari kontak pikiran [SN 48.36] juga lenyap, sehingga tidak mungkin kehendak buruk, permusuhan, kekejaman atau keinginan mencelakakan menguasai pikirannya [AN 6.13/Nissāraṇīyasutta]. Pikirannya yang hening di dalam dan dipenuhi perasaan menyenangkan: girang dan nikmat (pīti-sukha) ingin dibagikannya ke seluruh dunia

Jhana ke-3,
Harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian pada perasaan gembira/girang (pītisahagatā saññāmanasikārā). Karena pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.3/Tatiyajhānapañhā sutta].

Deskripsi Jhana ke-3 (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di jhana ke-3):

    Perasaaan gembira mereda (piti virāgā), (pikirannya) berada dikenyamanan (upekkhako ca viharati) dalam memperhatikan dengan sepenuhnya mengetahui (sato sampajāna), tubuhnya merasakan nikmat, sebagaimana yang dikatakan para ariya: “berdiam nikmat nyaman dalam memperhatikan” (upekkhako satimā sukhavihārī’ti). Keberadaan jhana ke-3 dicapai] [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

    atau

    Pikiran yang disertai simpati/empati (muditāsahagatena cetasā. Muditā = rati = nyaman dan puas karena disamping sebelumnya seluruh perasaan tubuh dan mental yang menyakitkan dan tidak nyaman yang berasal dari kontak jasmani maupun mental telah lenyap, sekarang bahkan perasaan tubuh menyenangkan dan nyaman yang berasal dari kontak jasmani juga lenyap (SN 48.36)) dipancarkan ke satu arah (ekaṃ disaṃ pharitvā viharati) kemudian ke: 2 arah, 3 arah dan 4 arah (tathā dutiyaṃ tathā tatiyaṃ tathā catutthiṃ), demikian ke: atas, bawah, bulak-balik, ke mana saja, pada mahluk alam apapun (termasuk dirinya), pikirannya yang disertai simpati dipancarkannya: berlimpah, luhur, tak berbatas, lembut, tanpa halangrintang/bebas dengki dan permusuhan [AN 4.125/Metta sutta; DN 13/Tevijja sutta]

Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva subhakiṇhā. Deva subhakiṇhā dengan batasan kehidupan 4 kappa (subhakiṇhānaṃ devānaṃ sahavyataṃ upapajjati. Subhakiṇhānaṃ bhikkhave devānaṃ cattāro kappā āyuppamāṇaṃ) [AN 4.123, 125]. [alam ↑]

Kondisi/faktor di Jhana ke-3 adalah sukha, sati, sampajāna dan cittekaggatā. Sementara itu, perasaan gembira (piti) adalah duri bagi jhana ke-3 [AN 10.72]

Saat mencapai Jhana ke-3:
Jika sebelumnya persepsi kegirangan dan kenikmatan setelah lenyapnya vitakka dan vicara muncul dari pikiran terpusat, maka ketika kegirangan (piti) melenyap, munculah nikmat yang memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya. Tak ada satu bagian dari tubuhnya yang tidak diliputi nikmat yang muncul karena lenyapnya kegirangan itu

‘Bagaikan, di sebuah kolam, teratai biru atau merah atau putih tumbuh dan berkembang dalam air tanpa keluar dari air, dan air sejuk membasahi, merendam, mengisi, dan meliputi teratai-teratai itu dari pucuk hingga ke akarnya; demikian pula, nikmat yang memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya. Tak ada satu bagian dari tubuhnya yang tidak diliputi nikmat yang muncul karena lenyapnya kegirangan itu [DN 2, DN 9, MN 39, MN 77, MN 119]

Lenyap tanpa sisanya sukhindriyaṃ/Indria kesenangan: Perasaan tubuh yang menyenangkan dan nyaman yang berasal dari kontak jasmani (kāyasamphassajaṃ sukhaṃ asātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36, 39, 40]

Mengapa muditā dikaitkan dengan keadaan Jhana ke-3?

Disamping seluruh perasaan tubuh dan mental yang menyakitkan yang berasal dari kontak jasmani dan pikiran telah lenyap di jhana ke-1 dan jhana ke-2, sekarang bahkan perasaan tubuh menyenangkan dan nyaman yang berasal dari kontak jasmani juga lenyap, sehingga tidak mungkin ketidak-puasan masih menguasai pikirannya (arati) [AN 6.13/Nissāraṇīyasutta]. Pikirannya yang sekarang berada dalam keadaan nikmat nyaman dalam memperhatikan, ingin dibagikannya ke seluruh dunia

Jhana ke-4,
Harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian pada perasaan nikmat (sukhasahagatā saññāmanasikārā). Karena pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.4/Catutthajhānapañhā sutta].

Deskripsi Jhana ke-4 (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di jhana ke-4):

    Perasan menyenangkan (jasmani) dan perasaan menyakitkan (jasmani dan mental) telah ditinggalkannya (sukhassa ca pahānā dukkhassa ca pahānā), kegembiraan-kesedihan sebelumnya mereda (pubbeva somanassadomanassānaṃ atthaṅgamā), merasakan perasaan yang tanpa menyakitkan – tanpa menyenangkan (adukkhaṃasukhaṃ) dalam keseimbangan/nyaman dengan perhatian murni (upekkhā-sati-pārisuddhiṃ), keberadaan jhana ke-4 dicapai [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

    atau

    Pikiran yang disertai tenang seimbang (upekkhāsahagatena cetasā. Upekkhā = a-rāgo = tanpa nafsu/tanpa ketidapuasan karena seluruh perasaan tubuh dan mental yang menyakitkan dan menyenangkan yang berasal dari kontak jasmani dan pikiran telah lenyap sepenuhnya (SN 48.36)) dipancarkan ke satu arah (ekaṃ disaṃ pharitvā viharati) kemudian ke: 2 arah, 3 arah dan 4 arah (tathā dutiyaṃ tathā tatiyaṃ tathā catutthiṃ), demikian ke: atas, bawah, bulak-balik, ke mana saja, pada mahluk alam apapun (termasuk dirinya), pikiran yang disertai tenang seimbang dipancarkannya: berlimpah, luhur, tak berbatas, lembut, tanpa halangrintang/bebas dengki dan permusuhan [AN 4.125/Metta sutta; DN 13/Tevijja sutta]

Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva vehapphalā. Deva vehapphalā dengan batasan kehidupan 500 kappa (Vehapphalānaṃ bhikkhave devānaṃ pañcakappasatāni āyuppamāṇaṃ) [AN 4.123, 125][alam ↑]

Kondisi/faktor di Jhana ke-4 adalah keseimbangan (upekkhā), perasaan tanpa menyakitkan tanpa menyenangkan (adukkhamasukhā vedanā), Pikirannya santai tidak berkecondongan, perhatiannya murni dalam keterpusatan pikiran (passaddhattā cetaso anābhogo satipārisuddhi cittekaggatā) [MN 111]

Jika sebelumnya persepsi kenyamanan dan perasaan nikmat muncul dari ketiadaan kegirangan, maka persepsi kenyamanan mereda, muncul kenyamanan/keseimbangan perhatian murni dari persepsi perasaan tanpa menyakitkan tanpa menyenangkan, ini memenuhi, menggenangi, meresapi seluruh tubuhnya dengan pikiran murni bersih

Bagaikan seorang yang duduk dan ditutupi dengan kain putih dari kepala ke bawah, sehingga tak ada bagian dari tubuhnya yang tidak tertutupi oleh kain putih itu; Demikianlah Tak ada satu bagian dari tubuhnya yang tidak diliputi pikiran murni bersih itu.

Ia berdiam bersama dengan para dewa yang telah muncul dalam alam yang sepenuhnya nikmat, berbicara dan berbincang-bincang dengan mereka [Yā tā devatā ekantasukhaṃ lokaṃ upapannā tāhi devatāhi saddhiṃ santiṭṭhati sallapati sākacchaṃ samāpajjati]. Pada titik ini alam yang sungguh-sungguh menyenangkan itu telah tercapai (MN 79)

Lenyap tanpa sisanya somanassindriyaṃ/Indria kegembiraan: Perasaan mental yang menyenangkan dan nyaman yang berasal dari kontak pikiran (manosamphassajaṃ sukhaṃ sātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36, 39, 40]

Berhentinya pernafasan (SN 36.11, 36.15, AN 9.31). Kayasankhāra (semua formasi rupa/kaya [nafas keluar/masuk]) terhenti = ditenangkan sempurna. Sehingga dikatakan bahwa napas-masuk dan napas-keluar adalah duri bagi jhāna ke-4 [AN 10.72]

Keluar dari tahap ini, Ia berjalan, berdiri dan seterusnya dengan kebahagiaan yang muncul dari ketenangan (AN 3.63)

Pikiran kokoh/terpusat (samāhite citte), murni (parisuddhe), bersih (pariyodāte), tidak ternoda (anaṅgaṇe), bebas kekotoran (vigatūpakkilese), lentur (mudubhūte), mudah dibentuk (kammaniye), kokoh (ṭhite), setelah mendapatkan (pāpuṇāti) kondisi tanpa-gangguan/tenang sekali (āneñja/āneñjappatte), diarahkan (abhinīharati) condong (abhininnāmeti) pikirannya untuk merelisasikan berbagai pengetahuan langsung:

  1. pengetahuan melihat (ñāṇadassanāya) badan jasmani adalah materi catumahabutha, tidak kekal, dapat luka dan usang, rusak dan hancur, kesadaran melekat dan bergantung padanya,
  2. menghasilkan tubuh ciptaan-pikiran (manomayaṃ kāyaṃ abhinimmānāya) dari tubuhnya, menghasilkan tubuh lain, berbentuk, ciptaan-pikiran, lengkap dengan semua bagian tubuh dan indrianya,
  3. berbagai macam bentuk kekuatan mental (anekavihitaṃ iddhividhāya),
  4. telinga deva (dibbāya sotadhātuyā) mendengar suara alam dewa dan manusia jauh maupun dekat
  5. pengetahuan atas pikiran makhluk-makhluk lain (cetopariyañāṇāya),
  6. pengetahuan kehidupan lampau (pubbenivāsānussatiñāṇāya),
  7. pengetahuan lenyapnya dan munculnya makhluk-makhluk dengan mata dewa (sattānaṃ cutūpapātañāṇāya),
  8. pengetahuan hancurnya kekotoran (āsavānaṃ khayañāṇāya) [DN2, MN 76-79, dll]

Penting untuk diketahui bahwa di AN 9.35/Gavi sutta, secara eksplisit dinyatakan bahwa 8 pengetahuan langsung di atas (di AN 9.35 hanya tercatat 6 abhinna/pengetahuan langsung), DAPAT MULAI di tiap tingkatan manapun:

    Ketika,.. seorang.. masuk dan keluar dari tiap-tiap pencapaian tersebut (jhana ke-1 s.d jhana ke-9), pikirannya menjadi lunak dan lentur [.. taṁ tad eva samāpattiṁ samāpajjatipi vuṭṭhāti pi]. Dengan pikiran lentur dan mudah dibentuk, tak terbatas pengembangan dari pemusatan pikiran [Tassa muduṁ cittaṁ hoti kammaññaṁ, mudunā citte kammaññena, appamāṇo samādhi hoti subhāvito]. Dengan tak terbatas pengembangan dari pemusatan pikiran, apa pun pengetahuan tinggi yang seharusnya dengan mengarahkan pikirannya ia mendapatkannya [So appamāṇena samādhinā subhāvitena, yassa yassa abhiññā,sacchikaraṇīyassa, dhammassa cittaṁ abhininnāmeti, abhiññā,sacchikiriyāya]. Ia mengalami sendiri aspek di dalamnya, bila kondisinya tepat [Tatra tatr’eva sakkhi,bhabbataṁ pāpuṇāti sati sati āyatane]

Mengapa upekkhā dikaitkan dengan keadaan Jhana ke-4?

Seluruh perasaan tubuh dan mental yang menyenangkan dan menyakitkan yang berasal dari kontak jasmani dan pikiran telah lenyap sepenuhnya, sekarang Ia berada pada perasaan bukan menyakitkan dan bukan menyenangkan, Pikirannya santai tak berkecondongan, perhatiannya murni dalam keterpusatan pikiran [MN 111], sehingga tidak mungkin nafsu masih menguasai pikirannya [AN 6.13/Nissāraṇīyasutta]. Pikirannya yang dalam keseimbangan/nyaman dengan perhatian murni, ingin dibagikannya ke seluruh dunia

Ke-5,
Landasan ruang tak berbatas (ākāsaañancaāyatana: ākāsa = ruang; ananca = tak berbatas, tanpa akhir; āyatana = landasan),

Harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian yang terkait Jasmani atau materi (rūpasahagatā saññāmanasikārā). Karena tiap momen, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.5/Ākāsānañcāyatanapañhā sutta]

Deskripsi landasan ini (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di landasan ini):

    Setelah sepenuhnya (sabbaso) melampaui persepsi materi (rūpasaññā samatikkamā) kejenuhan terhadap persepsi mereda (paṭighasanna atthaṅgamā) beragam persepsi tidak berkembang-biak (nānatta saññānaṃ amanasikara) [mengetahui:] ‘ruang tak berbatas’ (ākāso ananto), Keberadaan landasan ruang tak berbatas dicapai (ākāsaanañcaāyatana upasampajja viharati) [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva ākāsānañcāyatana. Deva ākāsānañcāyatana dengan batasan kehidupan 20.000 kappa (ākāsānañcāyatanūpagānaṃ devānaṃ sahabyataṃ upapajjati. Ākāsānañcāyatanūpagānaṃ, bhikkhave, devānaṃ vīsati kappasahassāni āyuppamāṇaṃ) [AN 3.116/Āneñja sutta][alam ↑]

Kondisi/faktor di landasan ini adalah: Perasaan adukkhamasukhā, Persepsi landasan ruang tak berbatas dan keterpusatan pikiran.

    note:
    Di Brahmajala sutta: Para Brahma itu melayang di ruang antar batasan [antalikkhe], jadi ruang tanpa batas = bebas dari batas-batasan materi/fisikal

Pencapaian arupa di 4 Nikaya disebutkan sebagai pencapaian [samapatti: DN.3, MN.3, AN 1,4,5] atau keadaaan arupa [aruppa: MN1, It 61, Kvu 325] atau alam dengan landasan citta [DN2, MN2, AN4]

Ke-6,
Landasan Kesadaran tak berbatas (viññāṇaañancaāyatana)

Harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian yang terkait landasan ruang tak berbatas (ākāsānañcāyatanasahagatā saññāmanasikārā). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.6/Viññānañcāyatana sutta]

Deskripsi landasan ini (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di landasan ini):

    Setelah sepenuhnya (sabbaso) melampaui landasan ruang tak berbatas (ākāsaanañcaāyatana samatikkamā), [mengetahui:] ‘Kesadaran tak berbatas’ (viññāṇa ananta), Keberadaan landasan kesadaran tak berbatas dicapai (viññāṇaanañcaāyatana upasampajja viharati) [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva viññāṇañcāyatana. Deva viññāṇañcāyatana dengan batasan kehidupan 40.000 kappa (viññāṇañcāyatanūpagānaṃ devānaṃ sahabyataṃ upapajjati. Viññāṇañcāyatanūpagānaṃ, bhikkhave, devānaṃ cattārīsaṃ kappasahassāni āyuppamāṇaṃ) [AN 3.116/Āneñja sutta][alam ↑]

Kondisi/faktor di landasan ini adalah: Perasaaan adukkhamasukhā, Persepsi landasan kesadaran tak berbatas dan keterpusatan pikiran

Ke-7,
Landasan tidak ada apa-apapun (Ākiñcanaañancaāyatana. Ākiñcana = tidak ada sesuatu apapun)

Harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian yang terkait landasan kesadaran tak berbatas (viññāṇañcāyatanasahagatā saññāmanasikārā). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.7/Ākiñcaññāyatana sutta]

Deskripsi landasan ini (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di landasan ini):

    Setelah sepenuhnya (sabbaso) melampaui landasan kesadaran tak berbatas (viññāṇaanañcaāyatana samatikkamā), [mengetahui:] ‘tidak ada sesuatu apapun’ (natthi kinci), Keberadaan landasan tak ada sesuatu apapun dicapai (ākiñcaññāyatanaṃ upasampajja viharati) [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36]

Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva ākiñcaññāyatana. Deva ākiñcaññāyatana dengan batasan kehidupan 60.000 kappa (ākiñcaññāyatanūpagānaṃ devānaṃ sahabyataṃ upapajjati. Ākiñcaññāyatanūpagānaṃ, bhikkhave, devānaṃ saṭṭhi kappasahassāni āyuppamāṇaṃ) [AN 3.116/Āneñja sutta][alam ↑]

Kondisi/faktor di landasan ini adalah: Perasaan adukkhamasukhā, persepsi landasan tidak ada apa-apapun dan keterpusatan pikiran.

Ke-8,
Landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatana. Sanna = Persepsi, sumber, gagasan, ide, cerapan, ingatan)

Harus secara total melepas: Persepsi dan perhatian yang terkait landasan tidak ada ada apa-apapun (ākiñcaññāyatanasahagatā saññāmanasikārā). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.8/Nevasaññānāsaññāyatana sutta]

Deskripsi landasan ini (juga akan menjadi alam kelahiran berikutnya, jika kondisi cuti citta (pikiran menjelang kematian)-nya di landasan ini):

  • Setelah sepenuhnya (sabbaso) melampaui landasan tak ada sesuatu apapun (ākiñcaññāyatanaṃ samatikkamā) [Mengetahui:] Keberadaan landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi dicapai (nevasaññānaasaññaayatanaṃ upasampajja viharati) [MN 111/Anupadasutta, AN 9.31, 32, 33, 35, 36], atau
  • Dengan tidak memperhatikan (amanasikaritvā) Persepsi pada: landasan kesadaran tidak berbatas dan landasan tidak ada apa-apapun (viññāṇañcāyatanasaññaṃ ākiñcaññāyatanasaññaṃ), Perhatian hanya bergantung pada (paṭicca manasi karoti ekattaṃ) landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatanasañña). Di persepsi landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (tassa nevasaññānāsaññāyatanasaññāya) pikirannya (cittaṃ) mendapatkan kepuasan (pakkhandati), kejelasan (pasīdati), kokoh (santiṭṭhati), dan menetap (adhimuccati) [MN 121]

Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva nevasaññānāsaññāyatana (nevasaññānāsaññāyatanūpagānaṃ devānaṃ sahavyataṃ upapajjati) [AN 4.172/Sāriputtapaṭisambhidā/Vibhatti sutta]

Di Sutta (di 5 Nikaya), TIDAK ditemukan berapa panjang umur kehidupan deva alam ini, jika melihat peningkatan dari urutan sebelumnya, maka umur kehidupan deva ini tampaknya atau bisa jadi MELEBIHI dari umur deva ākiñcaññāyatana. Namun demikian, di kitab Abhidhamma pali, yaitu Vibhanga 18 (muncul setelah abad ke-3 SM s.d 50 SM), umur kehidupan deva alam ini disebutkan sepanjang 84.000 Kappa (Caturāsīti kappasahassānīti ) dan informasi tersebut, dikutip ulang di kitab non kanon pali, Patisandhicatukka, Abhidhammattha-sangaha, karya anuruddha, abad ke-10 M, yaitu umur kehidupan deva ini 84.000 Kappa. Walau kelihatannya, ini mengikuti pola, namun jelas bukan sabda sang buddha (Atau para arahat lain yang hidup di jaman sang Buddha di konsili ke-1 atau para Arahat yang merupakan murid para Arahat jaman sang Buddha, yang ikut di konsili ke-2), maka informasi ini bisa saja kita abaikan.[alam ↑]

Kondisi/faktor di landasan ini adalah: perasaan adukkhamasukhā, persepsi landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi dan pikiran terpusat.

***

Sebelum melanjutkan ke pencapaian ke-9,
Perbedaan antara para siswa agung (ariyasāvakassa, murid Sang Buddha), yang berlatih (sutavato) [= para mahluk suci: deva dan manusia, mulai sotapanna ke atas] vs Puthujjana yang tidak terlatih [bukan mahluk suci: deva dan manusia]: Para puthujjana, setelah habis umurnya di alam itu, Ia dapat saja telahir kembali ke alam: Neraka, binatang atau Peta (Mahluk halus). Sedangkan para ariya savaka, setelah habisnya umur di alam itu, Ia mencapai Nibbana akhir [Bhagavato pana sāvako tattha yāvatāyukaṃ ṭhatvā yāvatakaṃ tesaṃ devānaṃ āyuppamāṇaṃ taṃ sabbaṃ khepetvā tasmiṃ yeva bhave parinibbāyati] [AN 4.123/Jhana sutta dan AN 4.125/Metta sutta (1), AN 3.116/Āneñja]

siswa sang Buddha melihat,
apapun yang ada di sana yaitu kondisi: materi, perasaan, persepsi, bentukan-bentukan, dan kesadaran (So yadeva tattha hoti rūpagataṃ vedanāgataṃ saññāgataṃ saṅkhāragataṃ viññāṇagataṃ), Ia melihatnya sebagai: tidak kekal, tidak memuaskan, sebagai: penyakit, tumor, duri, bencana, malapetaka, sesuatu yang asing, kehancuran, kehampaan, bukan diri (te dhamme aniccato dukkhato rogato gaṇḍato sallato aghato ābādhato parato palokato suññato anattato samanupassati). [AN 124, 126, MN 64, AN 9.36]:

  • Ia mengalihkan pikirannya dari kondisi-kondisi tersebut. Ia mengarahkan pikirannya pada unsur tanpa kematian (amatāya), pikirannya terpusat: ‘ini damai, ini luhur, yaitu, tenangnya segala bentukan, lepasnya segala kemelekatan, hancurnya keinginan, kebosanan, lenyapnya, Nibbāna‘ (etaṃ santaṃ etaṃ paṇītaṃ yadidaṃ sabbasaṅkhārasamatho sabbūpadhipaṭinissaggo taṇhākkhayo virāgo nirodho nibbānan’ti)’, Jika ia [MN 64, AN 9.36]:
    • kokoh di dalam itu, maka ia mencapai hancurnya noda-noda.
    • tidak mencapai hancurnya noda-noda karena keinginan akan Dhamma itu, kegembiraan dalam Dhamma itu, maka dengan hancurnya 5 belenggu yang lebih rendah, muncul kembali secara spontan dan di sana mencapai Nibbāna akhir tanpa pernah kembali ke alam ini. [MN 64, AN 9.36]
  • Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, Ia muncul kembali di alam suddhavasa. [AN 124/Jhana Sutta dan AN 4.126/Metta sutta (2)]

——
Note:

  • AN 123, 125: Mereka yang telah menghancurkan 5 belenggu yang lebih rendah dan berada di alam jhana ke-1 s.d ke-4, namun belum mencapai Nibbana saat wafat, Ia akan terlahir di alam Suddhavasa.
  • AN 3.117: Mereka yang telah menghancurkan 5 belenggu yang lebih rendah berada di alam landasan: ruang tak berbatas, kesadaran tak berbatas dan tidak ada apa-apapun, namun belum mencapai Nibbana saat wafat, Ia akan terlahir di alam Suddhavasa.
  • AN 4.172: Tujuan kematian mereka yang belum menghancurkan 5 belenggu lebih rendah vs yang telah menghancurkan 5 belenggu lebih rendah namun saat ada di landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi:
      Mahluk tertentu (ekaccassa puggala) yang tidak menghancurkan (appahīṇā) belenggu (saññojanāni) lebih rendah (orambhāgiyāni), Ia, sekarang dan saat ini (diṭṭheva dhamme) berada di landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi. Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva nevasaññānāsaññāyatana. Ia dari sini [So tato] setelah wafat [cuto] menjadi kembali [āgāmī hoti] kembali ke alam ini [āgantā itthattaṃ, yaitu: selain alam suddhavasa].

      Mahluk tertentu yang menghancurkan (pahīṇā) belenggu lebih rendah yang mengikatnya di alam sensual, Ia, sekarang dan saat ini berada di landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi. Ia menikmati, meminati dan karenanya menemukan kebahagiaan. Kemudian mengakar menjadi kebiasaan kerap di dalamnya tanpa alpa selalu melakukannya hingga tiba waktunya (untuk wafat). Ia terlahir di antara Deva nevasaññānāsaññāyatana. Ketika wafat ia TIDAK kembali lagi (ānagāmī) tidak kembali ke alam ini [anāgantā itthattaṃ: Terlahir di alam Suddhavasa]

    Di sutta MN 106/Āneñjasappāya Sutta[↓] adalah latihan yang dilakukan oleh seorang bhikkhu (manusia) dan tidak tertulis apakah latihan itu dapat dilakukan ketika ia menjadi deva di alam bukan persepsi bukan tanpa persepsi

    Namun, para ariya yang menjadi deva bukan persepsi bukan tanpa persepsi, jika ia sudah menghancurkan 5 belenggu, saat kematian, ia terlahir kembali di alam Suddhavasa, jika Ia telah menghancurkan 3 belenggu namun kurang dari 5 belenggu, ia terlahir kembali ke alam deva lainnya namun tidak di alam manusia (dan di bawahnya), sampai Ia dapat menghancurkan seluruh belenggu dan mencapai nibbana.

***

Ke-9,
Pikiran terpusat tanpa bentukan/ciptaan pikiran (animitta cetosamādhi. Nimitta = ciptaan/buatan; hiasan; membangun; menghasilkan; penetapan ukuran; berencana; gambaran)

Harus secara total melepas: kesadaran mengikuti bentukan (nimittânusāri viññāṇaṁ). Karena tiap momentnya, pikiran akan masih melekat atau teralihkan ketika berusaha untuk mencapainya, maka sang Buddha mengingatkan agar pikiran: dikokohkan, mengarah ke satu hal dan terpusat (Cittham: saṇṭhapehi, ekodiṃ karohi, samādahā) [SN 40.9/Animitta sutta, MN 43, SN 41.7].

Deskripsi samädhi ini:

    Segala gambaran tidak diperhatikan (sabbanimittānaṃ amanasikārā); pikiran dengan pikiran terpusat tanpa gambaran dicapai keberadaannya (animittaṃ cetosamādhiṃ upasampajja viharati) [SN 40.9]

Atau:

    Dengan tidak memperhatikan (amanasikaritvā):

    • Persepsi landasan tidak ada apa-apapun (ākiñcaññāyatanasañña),
    • Persepsi landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatanasañña)

    Perhatian tunggal bergantung pada pikiran dengan pikiran terpusat tanpa gambaran (animittaṃ cetosamādhiṃ paṭicca manasi karoti ekattaṃ). Pada pikiran dengan pikiran terpusat tanpa gambaran (Tassa animitte cetosamādhimhi) pikirannya (cittaṃ) mendapatkan kepuasan (pakkhandati) kejelasan (pasīdati), kokoh (santiṭṭhati), dan menetap (adhimuccati) [MN 121]

Ada 2 kondisi bagi pencapaian kebebasan tanpa gambaran pikiran: (1) tanpa-perhatian pada segala bentukan/ciptaan dan (2) perhatian pada unsur tanpa bentukan/ciptaan.

Ada 3 kondisi bagi pencapaian kebebasan pikiran tanpa gambaran yang terus-menerus, yaitu: (1) tanpa-perhatian pada segala gambaran dan (2) perhatian pada unsur tanpa gambaran dan dan tekad sebelumnya (pubbe ca abhisaṅkhāro) [MN 43]

Di SN 43.44: pikiran terpusat pada kehampaan/kekosongan (Suññato samādhi), Pikiran terpusat pada tanpa gambaran/bentukan/ciptaan pikiran (animitto samādhi) dan Pikiran terpusat pada tanpa tujuan/keinginan (appaṇihito samādhi)

Perasaan adukkhamasukhā, belum lenyap di 3 jenis samadhi di atas ini.

Deskripsi samädhi saññāvedayitanirodhaṃ:

    Setelah sepenuhnya (sabbaso) melampaui landasan bukan persepsi bukan tanpa persepsi (nevasaññānāsaññāyatanaṃ samatikkamma) [mengetahui:] Keberadaan lenyapnya persepsi dan perasaan dicapai (saññāvedayitanirodhaṃ upasampajja viharati) [MN 111]

Lenyap tanpa sisanya upekkhindriyaṃ/Indriya keseimbangan atau perasaan bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan/adukkhamasukhā sā vedanā: Perasaan tubuh dan mental yang bukan-nyaman juga bukan tidak-nyaman (kāyikaṃ vā cetasikaṃ vā nevasātaṃ nāsātaṃ vedayitaṃ) [SN 48.36-38] Di manakah indria keseimbangan lenyap tanpa sisa? ..di pencapaian “lenyapnya persepsi dan perasaan” (saññāvedayitanirodhaṃ) [SN 48.39, 40]

Berikut dari MN.44/Mahavedalla sutta [dan juga SN 41.7]

    Visakha: Yang Mulia, ada berapakah bentukan-bentukan (saṅkhārā) itu?”

    Dhammadinna: “Ada 3 bentukan: bentukan jasmani [kāyasaṅkhāro], bentukan ucapan [vacīsaṅkhāro], dan bentukan pikiran [cittasaṅkhāro]..Nafas masuk dan keluar [Assāsa-passāsā] adalah bentukan jasmani; vitakkavicārā adalah bentukan ucapan; persepsi dan perasaan [saññā ca vedanā] adalah bentukan pikiran”

    Visakha: “..mengapa: nafas-masuk dan nafas-keluar adalah bentukan jasmani? awal pikiran dan kelangsungan pikiran adalah bentukan ucapan? persepsi dan perasaan adalah bentukan pikiran?

    Dhammadinna: “nafas-masuk dan nafas-keluar adalah jasmani, kondisi-kondisi ini terikat dengan jasmani; itulah sebabnya mengapa nafas-masuk dan nafas-keluar adalah bentukan jasmani. Pertama-tama seseorang mulai berpikir dan mempertahankan pikiran, dan selanjutnya ia mengungkapkannya melalui ucapan; itulah sebabnya mengapa awal-pikiran dan kelangsungan pikiran adalah bentukan ucapan. Persepsi dan perasaan adalah pikiran, kondisi-kondisi ini terikat dengan pikiran; itulah sebabnya mengapa persepsi dan perasaan adalah bentukan pikiran.” …

    Visakha: “..ketika..sedang mencapai lenyapnya persepsi dan perasaan [saññāvedayita-nirodha-samāpatti], kondisi manakah yang pertama lenyap dalam dirinya: bentukan jasmani, bentukan ucapan, atau bentukan pikiran?”

    Dhammadina: “.., pertama-tama bentukan ucapan lenyap [ini jhana ke-2], kemudian bentukan jasmani [ini jhana ke-4], kemudian bentukan pikiran [ini pencapaian ke-9].” …

    Visakha: “..ketika..keluar dari pencapaian lenyapnya persepsi dan perasaan, kondisi manakah yang pertama muncul dalam dirinya: bentukan jasmani, bentukan ucapan, atau bentukan pikiran?”

    Dhammadina: “.., pertama-tama bentukan pikiran muncul, kemudian bentukan jasmani, kemudian bentukan ucapan

    Visakha: “..ketika..keluar dari pencapaian lenyapnya persepsi dan perasaan, ada berapakah kontak yang menyentuhnya?”

    Dhammadina: “..3 jenis kontak menyentuhnya: kontak kehampaan/kekosongan [Suññato phasso], kontak tanpa gambaran, bentukan/ciptaan pikiran [animitto phasso], kontak tanpa: mengarahkan, berkeinginan, mengarahkan, menuju [appaṇihito phasso]”

      Note:
      Karena kontak memuncukan perasaan, maka perasaan adukkhamasukhā akan juga muncul di samadhi: sunnato, animitto dan appanihito

    Visakha: “..ketika..keluar (vuṭṭhita) dari pencapaian lenyapnya persepsi dan perasaan, pada apakah pikirannya: condong (ninna)?, bersandar (poṇa)?, mengarah (pabbhāra)?”

    Dhammadina: “.., pikirannya condong, bersandar, dan mengarah pada: pelepasan (viveka).”

Di pencapaian samädhi lenyapnya persepsi dan perasaan, kondisinya mirip orang mati:

    Teman, dalam hal seorang yang mati, yang telah menyelesaikan waktunya, bentukan-bentukan jasmaninya [kaya sankhāra] , bentukan-bentukan ucapannya [vici sankhāra] dan bentukan-bentukan pikirannya [citta sankhāra] telah memudar dan sirna, vitalitasnya [ayu] padam, panasnya [usma] berhamburan, dan indria-indrianya hancur seluruhnya.

    Dalam hal seorang bhikkhu yang memasuki lenyapnya persepsi dan perasaan, bentukan-bentukan jasmaninya dan bentukan-bentukan ucapannya telah memudar dan sirna, tetapi vitalitasnya tidak padam, panasnya tidak berhamburan, dan indria-indrianya menjadi sangat jernih.

    Ini adalah perbedaan antara seseorang yang mati, yang telah menyelesaikan waktunya, dan seorang yang memasuki lenyapnya persepsi dan perasaan [MN 43 dan SN 41.6] [(↑)]

Mau traktir Wirajhana, kopi? Kirim ke: Bank Mandiri, no. 116 000 1111 591


Terbentuknya Tipitaka dan Perpecahan Buddhisme Menjadi Banyak Aliran


Bahasa dan pengertian manusia tidaklah terbentuk dengan sendirinya, ini membutuhkan pengajaran agar dapat membentuk suatu ingatan berbahasa dan pengertian lainnya. Beberapa percobaan telah dilakukan untuk membuktikan hal ini, dengan mengisolasi sejumlah bayi selama jangka waktu tertentu untuk diketahui kata pertama apa yang diucapkannya:

  1. Dalam catatan Sejarah Herodotus. Ia mencatat raja Mesir, Psamtik 1 (664 SM – 610 SM) mengasingkan 2 bayi selama 2 tahun untuk diketahui apa kata pertama yang diucapkannya
  2. Raja frederik II abad ke-13, melakukan percobaan yang sama untuk diketahui bahasa apa yang keluar dari mulut mereka apakah Ibrani, Yunani, Latin, Arab atau bahasa ibu yang melahirkan mereka, namun percobaannya gagal
  3. Di abad ke 14/15, James IV dari Skotland, mengasingkan 2 bayi yang diasuh oleh orang bisu
  4. Di Abad ke-15/16, Akbar, raja mughal melakukan percobaan, dengan asumsi bahwa kemampuan berbicara muncul dari pendengaran, jadi manusia yang dibesarkan tanpa pernah mendengar suara manusia akan tuli. Hasilnya, anak-anak itu tidak tuli, namun tidak satupun dari mereka yang dapat berbicara jelas [Lihat juga: ini dan ini]

Demikian pula, dengan proses terjadinya suatu ajaran, ini memerlukan peran aktif para pengajar, institusi (organisasi/negara) dan juga pengulangan yang dilakukan secara masif, sistimatis dan intensif. Pelestarian Buddhisme, dilakukan dengan menghafal. Tercatat, dalam inskripsi Bharbut dari abad 3-2 SM, beberapa penghafal super pria/wanita yang digelari: Bhanaka atau Dhammakathika (penguncar Dhamma) atau Petakin (penguncar keranjang) atau Suttantika (penguncar sutta) atau Pancanekayika (penguncar 5 nikaya) [misal: “A History of Indian Literature: Buddhist literature and Jaina literature“, Moriz Winternitz, hal.18]. Bahkan sampai sekarang, kegiatan menghafal ini masih dilakukan, Guiness Book of record, tahun 1985, mencatat nama Sayadaw Mingun, seorang Bikkhu dari desa Mingun, Myanmar. Bertempat di Rangoon, Burma pada bulan May 1954, beliau berhasil mengalunkan 16,000 halaman kanon teks Buddhist dan ketika dibandingkan dengan teks tertulis Tipitaka, hasilnya adalah tanpa salah satu huruf-pun. Ia dianugerahi gelar Tipitakadhara Dhammabhandagarika (Pembaca TiPitaka dan penjaga Dhamma). Tercatat 11 Bikkhu saat itu yang berkemampuan sepertinya.

Bagaimana Tipitaka terbentuk?

Konsili ke-1,
Di menjelang Parinibbananya, yaitu di Rajagaha, Sang Buddha menyampaikan 7 faktor kemajuan bukan kemunduran (Aparihāniyā dhammā), yaitu selama para Bhikkhu:

  1. sering mengadakan pertemuan rutin,
  2. bertemu dalam damai, berpisah dalam damai, dan melakukan tugas-tugas mereka dalam damai,
  3. tidak menetapkan apa yang belum ditetapkan sebelumnya, dan tidak meniadakan apa yang telah ditetapkan, melainkan meneruskan apa yang telah ditetapkan,
  4. menghormati para senior yang lebih dulu ditahbiskan, ayah dan pemimpin dari Sangha/kumpulan Bhikkhu,
  5. tidak menjadi mangsa dari keinginan yang muncul dalam diri mereka dan mengarah menuju kelahiran kembali,
  6. setia menjalani kehidupan dalam kesunyian hutan dan
  7. menjaga perhatian mereka masing-masing [DN 16/MahaParinibbana sutta]

Selama hal di atas dilakukan maka yang terjadi adalah kemajuan dan bukan kemunduran. Kemudian, ketika di Bhojanegara, beliau menyampaikan cara menyikapi klaim-klaim bahwa itu adalah ajaran sang Buddha atau bukan, yaitu dengan membandingkan klaim-klaim itu dengan sutta-sutta dan vinaya:

  1. Buddha. ..“Di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar hal ini; di hadapan Beliau aku mempelajari hal ini: inilah Dhamma/Sutta, inilah Vinaya/Patimokha/disiplin, inilah Ajaran Sang Guru (ayaṃ dhammo, ayaṃ vinayo, idaṃ satthusāsana)” maka, kalian tidak boleh menerima atau menolak kata-katanya. Kemudian tanpa menerima atau menolak, kata-kata dan frasenya harus dengan baik dipelajari (padabyañjanāni sādhukaṁ uggahetvā), dibandingkan dengan sutta-sutta dan dilihat di vinaya (sutte otāretabbāni, vinaye sandassetabbāni), Jika telah dibandingkan dengan sutta-sutta dan telah dilihat di vinaya, tidak selaras dengan sutta-sutta dan tidak ada di vinaya (na ceva sutte otaranti na vinaye sandissanti), maka “Pasti ini bukan kata-kata Sang Buddha, hal ini telah keliru dipahami bhikkhu ini,” dan kata-katanya harus ditolak. Jika telah dibandingkan dengan sutta-sutta dan telah dilihat di vinaya, selaras dengan sutta-sutta dan ada di vinaya, maka “Pasti ini adalah kata-kata Sang Buddha, hal ini telah dengan benar dipahami bhikkhu ini.” Ini adalah kriteria ke-1.
  2. Sangha. ..“dihadapan sangha itu, Aku mendengar, mempelajari hal ini: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” maka, kalian tidak boleh menerima atau menolak kata-katanya … (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke-2.’
  3. Para Bhikkhu Senior. ..“di hadapan beberapa bhikkhu senior terpelajar yang menguasai ajaran, ahli dalam Dhamma, vinaya dan kerangka ajaran itu, Aku mendengar, mempelajari hal ini: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” … (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke-3.’
  4. Seorang Bhikkhu Senior. ..“ di hadapan seorang bhikkhu senior terpelajar yang menguasai ajaran, ahli dalam Dhamma, vinaya dan kerangka ajaran, Aku mendengar, mempelajari hal ini: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” … (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke-4′ [DN 16/MahaParinibbana sutta dan AN 4.180/Maha Padesa Sutta]

Kemudian di 1 minggu setelah Sang Buddha Parinibbana:

    duduk dalam kumpulan bhikkhu di sana, Subhadda, seorang yang menempuh kehidupan kesucian di usia tua, berkata kepada para bhikkhu yang menangis: ‘Cukup, teman-teman, jangan menangis dan meratap! Kita telah bebas dari Sang Petapa Agung. Kita selalu disibukkan dengan nasihatnya: “Ini baik untukmu, ini tidak baik bagimu melakukan hal itu!” Sekarang kita dapat melakukan apa yang kita inginkan, dan tidak melakukan apa yang tidak kita inginkan! [DN 16/MahaParinibbana Sutta, Vinaya: Cullavaga XI]

Mengetahui ini, YM Kassapa kemudian mengajak para Bhikkhu untuk mengumpulkan Dhamma dan Vinaya Sang Buddha, berikut ini narasi dari Cullavagga XI:

    Marilah, para Yang Mulia, kita mengulangi dhamma dan disiplin, sebelum APA YANG BUKAN dhamma dan APA YANG BUKAN disiplin menjadi bersinar dan apa yang merupakan Dhamma dan disiplin menjadi tersembunyi, sebelum mereka yang mangatakan APA YANG BUKAN dhamma dan APA YANG BUKAN disiplin menjadi kuat dan mereka yang mengatakan dhamma dan disiplin menjadi lemah

    Kemudian Para Bhikkhu sepuh meminta YM Kassapa untuk memilih para Bhikkhu dan YM Kassapa memilih 500 Arahat namun kurang 1. Para Bhikkhu berkata pada YM Kassapa bahwa YM Ānanda walaupun masih dalam tahap berlatih, tidak mungkin mengikuti jalan salah melalui nafsu, kemarahan, kebodohan, ketakutan; dan Iapun telah menguasai banyak dhamma dan disiplin dari sang Buddha oleh karenanya mereka meminta YM Kassapa untuk memilih YM Ānanda juga.

    YM Kassapa kemudian memilih YM Ānanda.

    Kemudian Para sesepuh berpikir untuk memilih Rājagaha sebagai tempat bervassa/melewati musim hujan, juga sebagai tempat untuk membacakan dhamma dan disiplin dan bahwa TIDAK ADA BHIKKHU LAIN yang akan bervassa di Rājagaha selama musim hujan ini.

    YM Kassapa kemudian menyampaikan kepada Sangha agar menyetujui penunjukan 500 bhikkhu ini untuk membacakan dhamma dan disiplin selagi menjalani masa musim hujan di Rājagaha, dan agar selama musim vassa itu TIDAK ADA BHIKKHU LAINNYA yang bervassa di Rājagaha. Saṅgha menyetujui dengan berdiam diri.

    Kemudian di awal masa vassa (paṭhama māsa), di Rājagaha, para Bhikkhu sepuh memperbaiki bagian-bagian yang rusak dan dipertengahan masa vassa (majjhima māsa) mereka membacakan Dhamma dan Disiplin.

    Sehari sebelum pertemuan, YM Ānanda berpikir: “Besok adalah hari pertemuan, tidak selayaknya bagiku, seorang yang masih berlatih, pergi ke pertemuan itu,”. Setelah melewatkan banyak waktu di malam itu dalam perhatian pada jasmani, ketika malam hampir berlalu, ia berpikir akan berbaring, ketika Ia sedang merebahkan tubuh, yaitu ketika kepala BELUM menyentuh alas tidur dan ketika kaki TELAH terangkat dari tanah. Di interval waktu itulah, pikirannya terbebaskan dari kekotoran mental (anupādāya āsavehi cittaṃ vimucci) dan keesokan harinya, YM Ānanda, pergi kepertemuan itu sebagai Arahat.

    Kemudian YM Kassapa memberitahu Sangha bahwa beliau akan menanyai YM Upāli tentang disiplin. YM Upāli memberitahukan Saṅgha bahwa Beliau akan menjawab pertanyaan tentang disiplin yang diajukan YM Kassapa yaitu dimulai dengan pelanggaran pertama parajika, latar belakangnya, pelakunya, apa yang ditetapkan, apa yang ditetapkan lebih lanjut, apa yang merupakan pelanggaran dan apa yang bukan merupakan pelanggaran.. parajika ke-2.. Parajika ke-3.. Parajika ke-4..

    Dengan cara yang sama, YM Kassapa terus menerus menanyai YM Upali tentang disiplin lainnya dan YM Upāli pun menjawabnya

    Kemudian YM Kassapa memberitahu Sangha bahwa beliau akan menanyai YM Ānanda tentang dhamma. YM Ānanda memberitahukan Saṅgha bahwa Beliau akan menjawab pertanyaan dhamma yang diajukan YM Kassapa yaitu dimulai dengan Brahmajāla, tempat pembabarannya, kepada siapa dan latar belakangnya..

    Dengan cara yang sama, YM Kassapa terus menerus menanyai YM Ananda tentang 5 Nikāya dan YM Ānanda pun menjawabnya

    Kemudian, di hadapan para bhikkhu sepuh, Ānanda menyampaikan pesan Sang Buddha yaitu setelah beliau wafat, jika Saṅgha menghendaki, peraturan-peraturan latihan yang kecil dan minor boleh dihapuskan. Para bhikkhu sepuh bertanya apakah YM Ananda juga menanyakan pada Sang Buddha mengenai peraturan-peraturan latihan yang kecil dan minor mana yang dimaksudkan? YM Ananda menjawab tidak dan bertanya kembali kepada Sangha, mengenai yang mana yang dimaksudkan sebagai peraturan-peraturan latihan yang kecil dan minor itu? Menanggapi ini, munculah ragam pendapat di antara para sepuh:

    • Beberapa sesepuh berkata: Kecuali 4 pārājikā (telah kalah karena melanggar kehidupan kesucian), maka selebihnya adalah peraturan-peraturan latihan yang kecil dan minor
    • Beberapa sesepuh berkata: Kecuali 4 pārājikā + 13 saṃghādisesa (pelanggaran yang keputusannya memerlukan sidang resmi Saṅgha), maka selebihnya adalah peraturan-peraturan latihan yang kecil..
    • Beberapa sesepuh berkata: Kecuali 4 pārājikā + 13 saṃghādisesa + 2 aniyata (memerlukan pengakuan bhikkhu/ni apakah Ia melanggar/tidak berduaan dengan lawan jenis ditempat sunyi/tertutup), maka selebihnya adalah..
    • Beberapa sesepuh berkata: Kecuali 4 pārājikā + 13 saṃghādisesa + 2 aniyata + 30 nissaggiya pācittiya (pelanggaran perolehan yang memerlukan pengakuan dan pelepasan benda yang diterimanya),…
    • Beberapa sesepuh berkata: Kecuali 4 pārājikā + 13 saṃghādisesa + 2 aniyata + 30 nissaggiya pācittiya + 92 pācittiya (pelanggaran moralitas yang memerlukan pengakuan),..
    • Beberapa sesepuh berkata: Kecuali 4 pārājikā + 13 saṃghādisesa + 2 aniyata + 30 nissaggiya pācittiya + 92 pācittiya + 4 pāṭidesanīya (pelanggaran tentang sikap yang harus diketahui dan diakui kesalahannya), selebihnya adalah peraturan-peraturan latihan yang kecil dan minor

    Kemudian YM Kassapa memberitahukan Saṅgha bahwa terdapat peraturan-peraturan latihan yang berpengaruh pada para perumah tangga dan juga pada petapa yang diketahui oleh perumah tangga: ‘Ini pasti tidak diperbolehkan bagi para petapa, ini pasti diperbolehkan.’ Jika hendak menghapuskan maka akan ada di antara mereka yang berkata: ‘Sewaktu Sang Guru masih berada bersama mereka, mereka berlatih dalam peraturan-peraturan itu, namun ketika Sang Guru telah wafat, mereka tidak lagi berlatih dalam peraturan-peraturan itu”

    Untuk itu Saṅgha tidak boleh menetapkan apa yang belum ditetapkan, juga tidak menghapuskan apa yang telah ditetapkan. Sangha menyetujui dengan berdiam diri.

      Note:
      Tempat konsili di Gua Sattapani, Rajagraha tidak disebutkan di Cullavagga XI, namun ada di Mahavamsa 3.19 dan Dipavamsa 4.14. Lama waktu konsili adalah 7 bulan tidak ada di Cullavagga namun ada di Mhv 3.37 dan Dipv 5.5
      Kejadian adanya konsili ke-1, juga disebutkan dalam teks-teks tradisi Utara, misal: Mahavastu dan Dulva vinaya tibet, aliran Sarvastivada, catatan Fa-hian dan Fiuen Thsang, namun untuk jumlah arahatnya, Fiuen Thsang menyatakan 1000 bukan 500 [“Mahavamsa, Geiger, Introduction, hal. liv]

Setelah selesai konsili ke-1, kitab Buddhisme saat itu BUKANLAH Tipitaka/Tripitaka (3 keranjang) melainkan DvePitaka (2 keranjang): Dhamma/sutta-sutta [sebanyak 5 nikaya/agama. Arti Nikaya = Agama = Kumpulan] dan vinaya, sedangkan kitab Abhidhamma [yang sebanyak 7 kitab] BELUMLAH ADA.

Apakah Dhamma itu?

Cakupan artinya sangatlah luas, yaitu: ajaran, bentukan, tradisi, cara menjadi kaya, mengelola: perusahaan, hidup, anak, membuat sepatu, meja, atau bahkan juga bendanya: kotak kayu, game online, rokok dan lainnya. Jadi, apapun dapat disebut dhamma namun dalam konteks ini adalah ajaran.

Ketika berada di Hutan siṃsapā, Kosambi, sang Buddha menyampaikan bahwa daun Siṃsapā yang ada di telapak tanganNya jauh lebih sedikit dari daun yang ada di hutan siṃsapā dan apa yang beliau ajarkan bahkan tidak lebih banyak dari beberapa lembar daun yang ada ditangannya

Perumpamaan daun siṃsapā ini kerap digunakan sebagai dasar argument bahwa bukan hanya ajaran Buddha atau ajaran Theravada saja yang dapat digunakan untuk mencapai kesucian. Argumen ini salah alamat karena dalam sutta tersebut disampaikan juga alasannya, yaitu yang beliau ajarkan HANYALAH Cattari Ariya Saccani [4 kesunyataan mulia], yaitu hal-hal yang berhubungan dengan: (1) Dukkha, (2) asal-muasalnya, (3) lenyapnya dan (4) jalan menuju lenyapnya Dukkha, yaitu: Jalan mulia berunsur 8

Mengapa?

Karena hal-hal tersebut berhubungan dengan tujuan [atthasaṃhitaṃ], prinsip prilaku luhur menuju kesucian [ādibrahmacariyakam], dan membawa pada kejenuhan duniawi [nibbidāya], ketiadaan nafsu [virāgāya], penghentian [nirodhāya], ketenangan [upasamāya], pengetahuan langsung [abhiññā], pencerahan [sambodhāya], pemadaman [nibbānāya]. [SN 56.31/Siṃsapā/Sīsapāvana Sutta]

    “[..]dalam dhamma dan vinaya mana pun, jika tidak terdapat Jalan Mulia Berunsur 8, maka di sana pun takkan terdapat seorang petapa sejati yang telah mencapai tingkat ke-1, ke-2, ke-3 atau ke-4. Tetapi dalam dhamma dan vinaya yang mana pun, jika terdapat Jalan Mulia Berunsur 8, maka di sana pun akan terdapat petapa yang sejati yang telah mencapai tingkat ke-1, ke-2, ke-3 atau ke-4. Kini, dalam dhamma dan vinaya yang kami ajarkan terdapat Jalan Mulia Berunsur 8 itu, maka dengan sendirinya juga terdapat petapa-petapa sejati yang telah mencapai tingkat ke-1, ke-2, ke-3 atau ke-4. Ajaran guru-guru lainnya yang tidak memiliki Jalan Mulia Berunsur 8 adalah kosong dan bukan petapa yang sejati” [DN.16/MahaParinibbana sutta]

Seberapa banyak “daun siṃsapā dhamma” yang dibabarkan sang Buddha?

    Dvāsīti buddhato gaṇhiṃ, dve sahassāni bhikkhuto; Caturāsītisahassāni, ye me dhammā pavattino’.

    Dari semua Dhamma yang Saya hafalkan, 82.000 Dhamma khandha Saya pelajari langsung dari Buddha sendiri; sedangkan 2.000 Dhamma khandha dari para bhikkhu, sehinga seluruhnya berjumlah 84.000 Dhammakhandha” [Thag 17.3/Ananda]

Perumpamaan rakit sering digunakan untuk mengklaim bahwa jika ingin pembebasan, maka sabbe dhamma [SEMUA AJARAN] termasuk AJARAN dari sang BUDDHA [Dhamma] harus dibuang karena itu hanyalah konsep belaka atau dengan kata lain TINGGALKAN SEMUA KONSEP! Klaim ini akan menjadi benar JIKA Ia melekat/menggenggam [gahaṇatthāya] erat Dhamma itu dan BUKAN sebagai sarana untuk mencapai ke-padam-an

Juga, KALAMA SUTTA [AN 3.65/Kesamutti sutta] mengajarkan kita untuk berhati-hati TIDAK SERTA MERTA MENGIKUTI:

  1. Tradisi: lisan/penyampaian berulang [anussavena/itihitihaṃ = tradisi]
  2. Tradisi: turun-temurun [paramparāya]
  3. Tradisi: kabar angin/gossip/kata orang/desas-desus [itikirāya]
  4. Tradisi: kumpulan teks tertulis [piṭakasampadānena]
  5. Penalaran: berdasarkan kesangsian/logika [takkahetu]
  6. Penalaran: berdasarkan makna/tindak-tanduk [nayahetu]
  7. Penalaran: berdasarkan sifatnya atau lewat analogi [kbbi: persamaan/persesuaian 2 hal yang berlainan/ākāraparivitakkena]
  8. Penalaran: berdasarkan spekulasi pandangan yang disetujui/opini yang dianggap beralasan [diṭṭhinijjhānakkhantiyā]
  9. Pembabarnya: tampak meyakinkan [bhabbarūpatāya], atau
  10. Pembabarnya: Petapa yang tidak lain adalah gurunya [samaṇo no garūti]

Perlu disidik agar mengetahui sendiri [attanāva jāneyyātha], apakah dhammā tersebut:

  1. BERMANFAAT/TIDAK? [KUSALA/A-KUSALA];
  2. DICELA/TIDAK? [anavajjā/sāvajjā];
  3. DIPUJI/DIHINDARI para bijaksana? [viññuppasatthā/viññugarahitā];
  4. MENUJU: bahagia sejahtera/penderitaan? [hitāya sukhāya/ahitāya dukkhāya saṃvattantīti]’

yang jika dijalankan, membuat atau TIDAK dirinya: tergairahkan, terbanjiri dan tertaklukkan oleh keserakahan [lobha], kebencian [dosa] dan kekeliruan tahu [moha] melakukan:

  1. penghancuran kehidupan,
  2. pengambilan apa yang tidak diberikan,
  3. perilaku seksual dengan istri orang lain,
  4. pernyataan yang salah, dan
  5. mendorong orang lain ikut melakukan tersebut.

Jika TIDAK menyebabkan hal-hal tersebut, maka agar diikuti.

Apakah ada kemungkinan ujaran-ujaran sang Buddha ada yang luput tidak terhimpun?

Ananda dan 5 Pangeran (Bhaddiya, Anuruddhà, Bhagu, Kimbila, Devadatta) bersama Upali (tukang cukur para pangeran) menjadi Bhikkhu di hutan Anupiya, yaitu sebelum sang Buddha pergi ke Kosambi untuk kemudian menetap di Ghositārāma (Cullavagga, Sanghabheda: Oleh karenanya, ini terjadi sekurangnya di masa vassa ke-8. Lihat: Riwayat Buddha Gotama). Mulai tahun ke-20, Ananda menjadi upatthaka/pendamping Sang Buddha selama 25 tahun hingga parinibbananya sang Buddha. Kitab komentar menyampaikan bahwa Sang Buddha telah menyetujui 8 syarat yang diminta Ananda sebelum mendampingi beliau, utamanya di syarat ke-7 dan ke-8, yang menjamin keutuhan Dhamma yang dibabarkan sang Buddha:

  1. mendatangi beliau untuk bertanya saat muncul keraguan
  2. bersedia mengulangi dhamma yang diajarkanNya saat Ananda tidak hadir – [RAPB buku ke-2, cetakan ke-1, Mei 2008, hal.1642-1644 yang mengutip dari kitab komentar: (1) Jataka no.456/JunhaJataka atau (2) DN 14/Mahapadana Sutta]

Ini membuat TIDAK ADA kemungkinan kotbah Sang Buddha luput terlewatkan. Implementasinya, misal di 2 sutta pertama (Dhammacakkappavattana Sutta dan Anatta-lakkhana Sutta) yang dibabarkan kepada 5 petapa di Taman Rusa Isipatana. Saat itu, Ananda tidak ada di sana dan bahkan belum menjadi Bhikkhu. Di ke-2 sutta tersebut, diawali kalimat, “Hanya sebagaimana yang ku dengar” [evam me Sutam]. Kemudian, Itivuttaka, kumpulan 112 Dhamma yang diperoleh Khujjuttara, seorang pengikut awam wanita yang sangat dipujikan Sang Buddha (SN 17.24, AN 1.258-267, AN 4.176, Ud 7.10, yang tampaknya pencapaian kesucian beliau ini setara Nandamātā, Citta dan Hatthaka). Di kumpulan dhammanya, Khujjuttara, awali dengan kalimat, “vuttañhetaṃ bhagavatā, vuttamarahatāti me sutaṃ” [Ini diucapkan sang Buddha, para arahat dan yang didengar olehku], Kumpulan dhamma ini menjadi bagian dari 5 nikaya. Kekuatan ingatan Ananda akan Dhamma inilah yang juga menjadi alasan mengapa Ananda dijuluki sebagai Bendahara Dhamma

    Note:
    Terdapat satu “sutra”, yaitu: Anagatavamsa, yang menyelipkan kalimat, “evam me suttam”. Sutra ini bukanlah kanon pali, tidak berasal dari sang Buddha, Ananda atau dari arahat lainnya, bahkan inipun tidak ada di konsili ke-1 s.d 4, Para ahli menemukan bahwa kitab ini berasal dari abad 14 Masehi, yang merupakan produk tambal sulam

Terdapat juga pendapat bahwa saat konsili berlangsung tidak semua arahat datang dan/atau tidak diundang dan atau tertinggal datang dan/atau telat datang kemudian menolak hasil konsili dengan merujuk pada Bhikkhu Purana, yang tinggal di Dakkhinagiri.

Ini tidak benar.

Wafatnya Sang Buddha adalah peristiwa penting bagi pengikutnya dan konsilipun baru terjadi di 3 bulan setelahnya. Jadi, tidak ada kemungkinannya ada Arahat yang tidak terundang, tertinggal, telat datang atau tidak mengetahui tentang ini. Apalagi, keputusan mengadakan konsili, memilih 500 arahat dan pengumpulan dhamma dan Vinaya merupakan keputusan Sangha yang lengkap bukan sangha yang tidak lengkap. Juga, merujuk pada kejadian MAGHAPUJA, ketika Sang Buddha di Rajagaha, 1250 Arahat datang berkumpul di Veluvanarama (hutan pohon bambu) memiliki 4 Faktor yang salah satunya adalah mereka berkumpul tanpa ada 1 pemberitahuan terlebih dulu Mereka yang TIDAK ADA di Rajagraha saat itu, tampaknya bukan Arahat. Kemudian, Bhikkhu Purana juga tidak disebutkan apakah sudah mencapai kesucian atau tidak. Vinaya mencatat Bhikkhu Purana menyatakan dhamma-vinaya yang dihimpun para Thera, sama dengan yang beliau ingat, dengar dan terima langsung dari sang Bhagava:

    11. Pada saat itu, Bhikku Purâna sedang berkelana melewati bukit selatan bersama 500 Bhikkhu. Dan ketika para Thera Bhikkhu telah selesai mengulang Dhamma dan Vinaya, Ia tinggal di perbukitan selatan selama waktu yang ia anggap cukup dan pergi ke Rajagaha menuju Veluvana ke Kalandaka Nivâpa, di mana para bhikkhu thera berada dan menyampaikan salam, serta duduk di satu sisi. ketika ia telah duduk, para Thera Bhikkhu berkata padanya, “Teman Purâna, Dhamma dan Vinaya telah selesai diulang bersama para Thera Bhikkhu. Apakah anda siap mengetahui teks yang dilatih mereka? [Saṅgîtim upehi]”

    ‘Dhamma dan Vinaya, telah Para Thera sampaikan dengan baik, kawan. Dan bahkan sama dengan yang seperti aku dengar dan terima langsung dari sang Bhagava, sebagaimana seperti yang aku ingat‘ [Susaṅgītāvuso, therehi dhammo ca vinayo ca. Api ca yatheva mayā bhagavato sammukhā sutaṃ, sammukhā paṭiggahitaṃ, tathevāhaṃ dhāressāmī”ti]

Di samping itu, Sang Buddha juga telah menyatakan bahwa Dhamma dan vinayanya agar TIDAK DISAMPAIKAN dalam bahasa Sanskrit:

    Pada saat itu, dua Bikkhu bersaudara, yaitu Yamelu dan Tekula. Keturunan Brahmana, bersuara merdu dengan pengucapan yang menyenangkan..Mereka bertanya pada Sang Buddha:

    ”Sekarang ini, Guru, Bkhikkhu-Bhikkhu dari berbagai nama, klan, kelompok dan strata sosial telah menempuh kehidupan tanpa keluarga. Mereka dengan “sakāya niruttiyā“ merusak sabda-sabda Buddha (Te sakāya niruttiyā buddhavacanaṃ dūsenti). Marilah, Guru, gunakan ‘chandaso‘ pada sabda-sabda sang Buddha (Handa mayaṃ, bhante, buddhavacanaṃ chandaso āropemā”ti)

    Sang Buddha mencela mereka, “Orang-orang bodoh, bagaimana kalian dapat berkata: ‘Marilah, guru, gunakan ‘chandaso‘ pada sabda-sabda Sang Buddha?’. Ini tidaklah membangkitkan keyakinan yang tidak berkeyakinan dan tidak meningkatkan keyakinan yang telah berkeyakinan; bahkan akan membuat yang tidak berkeyakinan tetap tidak berkeyakinan, merusak sebagian dari yang telah berkeyakinan.”

    Setelah memberikan teguran, Beliau memberikan wejangan pada para Bhikkhu:

    “Para Bhikkhu, janganlah gunakan ‘chandaso‘ pada sabda-sabda Sang Buddha. Siapapun yang melakukannya telah berbuat salah (āpatti dukkaṭa). Aku ijinkan, para bhikkhu, dengan ‘sakāya niruttiyā’ menguasai sepenuhnya sabda-sabda sang Buddha”

    Note:
    sakāya nirutti: sakāya = sendiri; nirutti = penjelasan, bahasa, pengucapan, dialek. Jadi artinya: dengan bahasanya sendiri. Chandaso: matra/ukuran metrik bahasa seperti di Veda dan BUKAN dalam artian irama/intonasi. Jika maksudnya sekedar irama, maka kata yang lebih tepat ada di AN 5.209, yaitu gāyanti/nyanyian, āyatakena gitasara/lantunan nyanyian yang panjang. Jadi chandaso adalah standarisasi aturan berbahasa yang lazim digunakan para brahmana dalam keagamaan, entah itu dalam bahasa prakrit ataupun sanskrit

    Menurut Bimala C. Law: Kata ‘nirutti’ = bahasa, sementara kata “sakāya” bahasa ‘asal’ atau bahasa ‘ibu’ (History of Buddha’s Religion, 1952). Norman: Kebanyakan ahli menyatakan maksudnya adalah bahasa ‘Māgadha’. (Pāli and the Language of Early Buddhism, 2002, hal 135-150) Buddhaghosa: sakaya niruttiya ti ettha saka nirutti nama sammāsambuddhena vuttappakaro māghadhako vohāra (Sakaya nirutti adalah bahasa Māgadha yang digunakan Sammsambuddha) (Komentar vinaya 1214). Rhys Davids dan Oldenberg: maksudnya adalah ‘dialek masing-masing’.

    Kata Âropema = menggunakan, Chandaso = sanskrit atau bentuk awal sanskrit. Alasannya:

    (1) kata “Chandasi” oleh Panini selalu diartikan dialek yang ada di Veda,
    (2) mereka yang meminta ini adalah dari turunan Brahmana,
    (3) maksud kata ini telah disampaikan di antara para Bhikkhu dan
    (4) Buddhaghosa menyatakan, “chandaso âropemâ ti Vedam viya sakkata-bhâsâya vâkanâ-maggam âropema” (Chandaso aropema adalah menggunakan bahasa samkrta/sakkata yang digunakan veda) (Samantapāsādikā 306) dan Buddha mempercayakan sabdanya hanya dalam bahasa Māgadhi (VibA 388).

    Kerajaan Magadha, di jaman Bimbisara, meliputi sebagian besar area masa kebuddhaan dan area sentral aktivitas Buddhisme setelah wafatnya beliau. Di Jaman Asoka, abad ke-3 SM, Mahinda membawa Tipiṭaka dan kitab komentarnya ke Srilanka. Abad ke-5 M, Buddhaghosa, diminta gurunya menterjemahkan kembali sabda Sang Buddha ke bahasa Māgadha.

    Abad ke-12, Magadhi adalah bahasa yang dimengerti 2 negara: Burma dan Srilanka. Di Srilanka, Bhikkhu Dhammakitti (pengarang Duthavamsa) dan Vacissara (pengarang Thupavamsa) menuliskan karyanya dalam bahasa Magadha dan raja Srilanka Vijayabāhu II (1186-87 M) menulis surat dengan bahasa Magadha untuk dikirim ke Burma (Cūlavaṃsa 86.6-7). Di Burma, bhikkhu Aggavaṁsa, mengarang Saddanīti (grammar Pali terlengkap, di mana di bagian ke-3 bukunya berdasarkan tatabahasa pali karya Kaccāyana). Ini artinya Pālibhāsā dan magadhībhāsā adalah sama.

    Francis Mason (“A Pali grammar on the basis of Kachchayano”, tahun 1868, Introduction, hal.i-ii) menyampaikan: “Dr E. Buhler menunjukan sebuah naskah bahwa Panini, “Bapak tatabahasa Sanksrit” mengutip dari Kaccayana, pendahulunya dan banyak meminjam istilah tatabahasa darinya”. Kemudian, di hal. 7, dinyatakan: “bentukan alpabhet Pali telah ada selambatnya SEBELUM abad ke-6 SM

    Sutta/Vinaya menunjukkan bahwa di sebelum jaman Buddha Gotama-pun telah ada angka, aksara dan tulisan:

    • DN 1, 2,3, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 13: “..akkharika..” (bermain menerka huruf yang ditulis di udara atau punggung seseorang)
    • AN 3.65/Kalama Sutta: “..Marilah, para penduduk Kālāma,…, jangan karena kumpulan teks tertulis (mā piṭakasampadānena), ..”
    • Udana 3.39/Sippa Sutta: “..beberapa bhikkhu: “Keahlian naik gajah adalah yang utama”;.. berkuda.. berkereta.. Memanah.. Bermain pedang, .. Berkomunikasi lewat gerak.. Menghitung angka.. menulis (lekhā).. puisi.. berdebat.. Ilmu politik adalah keahlian utama”
    • Vinaya, Mahakhanda: “Sekarang, seorang tertentu, setelah mencuri, setelah melarikan diri, Ia ditahbiskan dalam kehidupan suci. Di pengumuman kerajaan, tertulis, “Dimanapun orang ini terlihat, Ia dihukum mati” Orang melihatnya dan berkata, “Ini dia pencuri dalam tulisan itu. Mari kita hukum mati dia”.. Menyebarlah desas desus, “..mengapa mereka menahbiskan pencuri yang ada dalam tulisan itu?”.. Sang Buddha, berkata, “Para Bhikkhu, seorang pencuri dalam pengumuman tertulis, tidak boleh ditahbiskan, siapapun yang menahbiskannya melakukan pelanggaran dukkata”
    • Vinaya, Parajika ke-3: “..memuji melalui tulisan: Ia menulis (lekhaṃ), “Siapapun yang mati, akan mendapatkan kekayaan, kemashyuran dan menuju surga”. Pelanggaran Dukkata untuk setiap huruf (akkhara) yang ditulisnya. Setelah melihat tulisannya, orang menjadi berpikir, “Aku ingin Mati”, Ia menyakiti dirinya, maka pelanggaran Thullaccaya terjadi, jika Ia mati, maka pelanggaran parajika terjadi”
    • Vinaya, Pacittiya no.49: “..Bukan pelanggaran jika (bhikkhuni) belajar menulis..” (Anāpatti—lekhaṃ pariyāpuṇāti)
    • Vinaya, Pacittiya no.65: “..Jika Upāli belajar menulis (lekha)…jika Upāli belajar menulis, jari-jarinya akan sakit..”
    • Juga dalam kehidupan lampau Sang Buddha, di kitab komentar jataka, misal:

      no.159: “..Raja sangat gusar..Dia memerintahkan agar sebuah pesan ditulis di atas papan emas: ‘Di antara pegunungan Himalaya terdapat sebuah bukit emas di Gunung Daṇḍaka..'”
      no. 181: “..kemudian menggores sebuah pesan di panahnya dengan tulisan: ‘Saya, Asadisa, telah kembali. Saya bertekad untuk membunuh kalian semua dengan satu panah yang akan saya tembakkan kepada kalian. Bagi mereka yang masih mau hidup, silakan pergi.'”
      no.214: “…Maka, dia menulis bait berikut di atas daun: ‘Apakah yang dapat minum ketika sungai banjir;…Teka-teki saya dibaca dengan benar..'”
      no.276: “..Kemudian raja berkata, “..kembalikan kepada rajanya. Tulislah di atas sebuah papan emas norma Kuru yang dijalankannya dan bawalah itu ke sini.”

Jadi, mereka yang menyatakan kotbah-kotbah telah disampaikan/ditulis dalam sanskrit [kemudian diterjemahkan ke berbagai bahasa di antaranya Tibet dan Tiongkok] dan mengklaimnya sebagai sabda sang Buddha NAMUN bertentangan dengan Dhamma dan Vinaya konsili ke-1 dan ke-2, maka itu JELAS BUKAN ajaran sang Buddha

Setelah Konsili ke-1, konflik-konflik aliran Buddhisme makin berkembang.

Konsili ke-2,
Diselenggarakan di Vesali pada tahun ke-10 pemerintahan raja Kalasoka [Dipavamsa 4.44.47; Mahavamsa 4.8] karena dasa vatthuni (10 poin/hal, detailnya ada di bawah) dilakukan oleh para Vajjiputtaka. Terdapat 5 teks tradisi Utara yang mencatat keberadaan konsili ke-2 di Vesali ini, yaitu:

  • Mahisāsaka nikāya pancavarga vinaya 30, (T.E.T.22, P.192a-b), 100 tahun setelah parinirvana.
  • Mahāsangika vinaya 32, (T.E.T.22, P.493a-b), tanpa tahun.
  • Dharmagupta vinaya 54, (T.E.T.22, P.96Sc), 100 tahun setelah Parinirvana
  • Sarvāstivāda Vinaya 60, (T.E.T.23, P.449b-c). 110 tahun setelah parinirvana.
  • Sudarsana Vibhāsā Vinaya I, (T.E.T.24.P677c), 100 tahun setelah parinirvana
  • dari 5 ini, 4 Vinaya menuliskan karena dasa vathuni, sedangkan Vinaya Mahisangika hanya menuliskan karena menerima emas dan perak dan tidak 9 lainnya.

Berikut narasi konsili ke-2, dari Cullavagga, Khandaka 12 (juga dituliskan hampir serupa di kitab sejarah Srilanka: Dipavamsa dan Mahavamsa):

    100 tahun setelah Parinibananya Sang Buddha, Vajjiputtaka (para bhikkhu yang adalah orang-orang Vajji dari Vesālī) mengajarkan dan memperbolehkan praktik: garam disimpan dalam tanduk; masih makan setelah 2 jari; Menolak makan yang telah dipersembahkan, pergi ke lain tempat untuk makan yang belum diserahkan; uposatha terpisah dalam satu batas wilayah yang sama; Melakukan tindakan ketika Saṅgha yang tidak lengkap; Melakukan sesuatu berdasarkan kebiasaan; Minum susu yang hampir menjadi dadih; minum yang difermentasikan tetapi belum terfermentasi; menggunakan kain alas duduk tanpa ada batasan dan menerima emas dan perak

      Note:
      Dalam Cullavagga, Khandakka, Sanghabheda, terdapat 500 murid baru yang berasal dari para orang Vajji dari Vesali/Vajjiputtaka, yang kemudian bergabung dengan kelompok Sangha pimpinan Devadatta. Kokalika adalah murid kepala dari kelompok pria dan Tullananda adalah murid kepala dari kelompok bhikkhuni, masing-masing dari mereka ini membawa juga kelompoknya untuk bergabung. Tidak disebutkan apakah 500 Vajjiputtaka ini punya murid lagi atau tidak, mempunyai simpatisan pandangan atau tidak. Vinaya hanya menyebutkan, setelah sang Buddha mengutus Sariputta dan MahaMoggallana, 500 orang ini mencapai kesucian tertentu dan kembali. Sehingga ada saja kemungkinannya Vajjiputtaka dalam kisah 100 tahun kemudian ini merupakan ex sisa kelompok Devadatta

    Suatu ketika YM Yasa Kākaṇḍakā (Murid YM Ananda) sedang menetap di Vesālī dan pada hari Uposatha, para Vajjiputtaka, meletakan sebuah kendi perunggu berisi air ditengah-tengah para bhikkhu dan berkata kepada para umat awam Vesālī yang datang agar memberikan 1 Kahapana atau 1/2 Pada atau 1 Masaka untuk Sangha karena ada yang harus dilakukan Saṅgha sehubungan dengan barang kebutuhan.

      Note:
      Ananda lahir pada hari yang sama dengan Sidhartha Gautama dan wafat diusia 120 tahun [DhA ii.99] sehingga saat kejadian ini, YM Yasa telah memiliki > 60 tahun masa vassa/tahun menjalani kebhikkhuan
      Kahapana = koin uang jaman itu yang terbuat dari emas atau perak atau perunggu

    Mendengar itu, YM Yasa berkata kepada para umat awam agar tidak memberikannya, karena tidak diperbolehkan bagi para petapa, para bhikkhu putera Sakya tidak menyetujuinya, tidak menerima emas dan perak, tidak menggunakannya dan telah meninggalkannya, walaupun telah diberitahu demikian para umat awam Vesālī tetap memberikan koin uang. Sebelum malam berakhir, para bhikkhu membagi rata uang tersebut diantara mereka dan menyisihkan untuk porsi YM Yasa namun beliau berkata tidak memerlukannya dan tidak menyetujuinya.

    Para Vajjiputtaka berkata bahwa YM Yasa telah mencela dan menghina umat awam yang berkeyakinan dan berkepercayaan penuh oleh karenanya dikenakan tindakan resmi Patisaraniya-kamma (Seorang Bhikkhu secara terbuka harus memohon maaf pada umat awam atas tindakannya yang tidak pantas). Karena ada aturan bahwa Bhikkhu yang dihadapkan pada tindakan tersebut harus diberikan utusan pendamping, maka YM Yasa memintanya.

    Bersama Bhikkhu utusan pendampingnya, YM Yasa pergi ke Vesali dan dihadapan para umat awam Vesali, beliau berkata bahwa Vajjiputtaka katakan beliau telah mencela dan menghina umat awam yang berkeyakinan dan berkepercayaan penuh dengan menyampaikan apa yang bukan-dhamma sebagai bukan-dhamma, apa yang merupakan dhamma sebagai dhamma, apa yang bukan-disiplin sebagai bukan-disiplin dan apa yang merupakan disiplin sebagai disiplin yang dilanjutkan dengan penyampaian sabda sang Buddha, yaitu

    1. AN 4.50/Upakilesa bahwa emas dan perak MERUPAKAN NODA bagi petapa
    2. SN 42.10/Maniculaka Sutta bahwa samana/petapa TIDAK membolehkan, TIDAK menyetujui, telah melepaskan dan meninggalkan emas-perak, TIDAK ADA alasan untuk membenarkan emas dan perak
        Note:
        Di samping itu, Sang Buddha telah menetapkan Nissaggiya no.18 (juga no.19) (yang muncul sehubungan kasus bhikkhu Upananda yang menerima dan tidak meninggalkan kepingan uang kahapana) bahwa seorang bhikkhu yang menerima uang dengan tangannya sendiri atau membuat orang lain menerima uang untuknya, atau menyetujuinya diletakkan di dekatnya atau disimpan untuknya, dia telah melakukan pelanggaran

        Ia hanya dapat berkata, “Kami tidak menerima uang, kami hanya menerima keperluan bhikkhu yang diperbolehkan dan di saat yang tepat.”. Jika pendana bertanya apa yang seharusnya dia lakukan dengan uang tersebut setelah sang bhikkhu menolaknya, bhikkhu tersebut dapat menjelaskan peraturan Vinaya, tetapi dia tidak boleh memberitahu pendana apa yang harus dilakukannya dengan uang tersebut. Jika pendana bertanya apakah ada kappiya yang mengurus keperluannya, sang bhikkhu dapat memberitahukannya. Kemudian, pendana dapat memberikan uang tersebut kepada sang kappiya dan uang itu tetap milik si pendana bukan milik bhikkhu ataupun kapiyya. Jika kappiya itu tidak menyediakan kebutuhan bhikkhu, bhikkhu dapat memberitahu pendana tentang ini, tetapi dia tidak boleh memaksa kappiya untuk membelikan apa yang diinginkannya (atau hal lain selain tujuan itu). Jika bhikkhu tersebut melakukannya, Ia terkena Nissaggiya pacittiya/pelanggaran yang memerlukan pengakuan dan pelepasan benda yang diterimanya (Lihat juga Pacittiya no. 10)

        Kemudian,
        Jika mengutip MN 55/Jivaka sutta: “Yampi so Tathāgataṃ vā tathāgatasāvakaṃ vā akappiyena āsādeti, iminā pañcamena thānena bahuṃ apuññaṃ pasavati” (Ketika Ia memberikan dengan pengharapan sesuatu yang tidak diperbolehkan kepada Sang Tathāgata atau siswaNya,..Ia mendapatkan banyak keburukan). Walaupun sutta ini tentang memberikan daging yang berasal dari pembunuhan, namun ada poin yang berlaku umum yaitu memberikan sesuatu yang merupakan NODA/tidak patut, itu adalah perbuatan AKUSALA/tidak bermanfaat

    Mendengar itu, para umat awam Vesālī berkata bahwa YM Yasa adalah satu-satunya petapa, satu-satunya putera Sakya sedangkan Vajjiputtaka, semuanya bukan petapa, bukan para putera Sakya dan memohon agar YM Yasa berkenan menetap di Vesali agar berkesempatan melayaninya. Setelah YM Yasa meyakinkan para umat awam Vesālī, beliau bersama bhikhu yang menjadi utusan pendampingnya kembali ke vihara

    Para Vajjiputtaka kemudian bertanya kepada bhikkhu yang menjadi utusan pendamping apakah YM Yasa telah meminta maaf pada para umat awam Vesali. Bhikkhu itu menyatakan bahwa para umat awam sekarang malah menyatakan YM Yasa adalah petapa sedangkan mereka semua bukan.

    Para Vajjiputtaka berkata bahwa YM Yasa tidak ditunjuk mereka untuk memberikan Informasi kepada para perumah tangga, oleh karenanya mereka melakukan ukkhepanīyakamma (mengeluarkan seorang bhikkhu dari sangha) kepadaNya dan mereka berkumpul untuk tujuan melaksanakan tindakan tersebut.

      Note:
      Tindakan ini hanya bisa diambil dalam sangha yang lengkap (misal: Jumlah yang hadir lengkap tidak kurangnya, tidak kurang referensi, ada kehadiran para pihak, ada persetujuan kedua pihak, dll)

    YM Yasa kemudian mengirim utusan mengundang kehadiran bhikkhu sepuh di Pāvā dan wilayah selatan Avantī, untuk penyelesaian perkara (Adhikarana) sebelum apa yang bukan-dhamma bersinar dan apa yang merupakan dhamma tersembunyi, sebelum apa yang bukan-disiplin bersinar dan apa yang merupakan disiplin tersembunyi, sebelum mereka yang mengatakan apa yang bukan dhamma menjadi kuat dan mereka yang mengatakan dhamma menjadi lemah, sebelum mereka yang mengatakan apa yang bukan disiplin menjadi kuat dan mereka yang mengatakan disiplin menjadi lemah.

    Beliau kemudian mengunjungi Bhikkhu sepuh Sambhūta Sāṇavāsī (Murid YM Ananda. Sambutha sāṇavāsī = Sambhuta pemakai jubah dari sāṇa/rami kasar) yang menetap di lereng gunung Ahoganga dan menyampaikan 10 hal yang diajarkan oleh Vajjiputtaka.

      Note:
      Kunjungan YM Yasa kepada YM Sambhuta Sanavasin, menunjukan YM Yasa lebih junior

    Beliau sepakat bahwa ini memerlukan penyelesaian perkara dan demikian pula dengan 60 Bhikkhu sepuh dari Pava dan 88 Bhikkhu sepuh dari Avanti.

    Kemudian para Bhikkhu sepuh ini bermaksud mengunjungi Bhikkhu sepuh Revata (murid YM Ananda) yang menetap di Soreyya, seorang yang terpelajar, pewaris ajaran, ahli dalam Dhamma, vinaya dan kerangka ajaran, bijaksana, berpengalaman, cerdas; teliti, seksama, menyukai latihan. Mereka berpikir jika dapat memasukkan Yang Mulia Revata ke dalam kelompok, mereka menjadi lebih kuat sehubungan dengan penyelesaian perkara ini.

    Saat itu Bhikkhu sepuh Revata telah meninggalkan Soreyya dan menuju Saṃkassa dan ketika para bhikkhu sepuh tiba di Soreyya dan bertanya dimana YM Revata, mereka menjawab bahwa YM Revata telah menuju Saṃkassa.. Kaṇṇakujja.. Udumbara.. Aggaḷapura.. Kemudian para bhikkhu sepuh tiba di Aggalapura dan bertanya dimana YM Revata, mereka menjawab bahwa YM Revata telah menuju Sahajāti. Kemudian para bhikkhu sesepuh itu bertemu dengan Yang Mulia Revata di Sahajāti.

    Kemudian Bhikkhu Sepuh Sambhūta Sanavasin meminta kepada Bhikkhu sepuh Yasa, putera Kākaṇḍakā untuk mengajukan pertanyaan kepada Bhikkhu sepuh Revata mengenai 10 hal yang diajarkan oleh para Vajiputtaka apakah diperbolehkan atau tidak. Bhikkhu sepuh Yasa menghadap Bhikkhu sepuh Revata dan menanyakan 10 hal yang diajarkan Vajjputtaka dan Bhikkhu Sepuh Revata mengatakan bahwa 9 Hal yang diajarkan adalah tidak diperbolehkan, sedangkan mengajarkan melakukan praktek dengan alasan itu telah menjadi kebiasaan (atau biasa dilakukan) penahbis/upajjhāya atau guru/ācariya, kadang itu diperbolehkan dan kadang itu tidak diperbolehkan. Setelah mendapatkan jawaban ini Bhikkhu sepuh Yasa mengundang Bhikkhu sepuh Revata untuk hadir menyelesaikan perkara sehubungan dengan ini dan Bhikkhu Sepuh Revata menyanggupinya

    Di lain tempat, Bhikkhu sepuh Sāḷha, ketika sedang bermeditasi, suatu pemikiran muncul dalam pikirannnya mengenai siapa pembabar Dhamma apakah para Bhikkhu dari Timur atau dari Pava, setelah merenungkannya, beliau berkesimpulan bahwa para bhikkhu dari Timur BUKANLAH pembabar dhamma dan para bhikkhu dari Pāvā adalah pembabar dhamma. Seorang Deva dari alam murni Suddhavasa yang muncul di hadapannya mendukung kesimpulannya dan juga memohonnya untuk menegakkan Dhamma, beliau menjawab bahwa dulu maupun sekarang, beliau telah menegakkan Dhamma dan akan menyampaikan pandangannya saat beliau ditunjuk sehubungan dengan penyelesaian masalah.

    Para Vajjiputtaka mendengar bahwa Bhikkhu Yasa, putera Kākaṇḍakā, yang hendak menghadiri pernyelesaian perkara sedang membentuk kelompok dan telah memperoleh kelompok. Kemudian Para Vajjiputtaka berpikir untuk mengumpulkan kelompok agar menjadi lebih kuat sehubungan penyelesaian perkara dan bermasud untuk membujuk Bhikkhu sepuh Revata yang mereka juga kenal pula sebagai seorang terpelajar, pewaris ajaran, ahli dalam Dhamma, vinaya dan kerangka ajaran, bijaksana, berpengalaman, cerdas; teliti, seksama, menyukai latihan agar memihak mereka sehubungan dengan penyelesaian perkara.

    Untuk itu, kemudian Para Vajjiputtaka menuju Sahajati dengan membawa barang-barang kebutuhan para petapa yang berlimpah – mangkuk-mangkuk dan jubah-jubah dan helai-helai kain alas duduk dan kotak jarum dan sabuk pinggang dan saringan-saringan dan kendi-kendi air.

    Dengan barang-barang itu mereka mendatangi bhikkhu sepuh Revata dan memohon atas nama sangha agar beliau sudi menerima persembahan mereka, Namun, Bhikkhu sepuh Revata tidak ingin menerima itu karena telah memiliki cukup. Karena gagal, mereka kemudian pergi menghadap murid dari Bhikkhu sepuh Revata, yaitu Bhikkhu Uttara yang telah 20 tahun (20 masa vassa) menjadi bhikkhu agar sudi menerima persembahan mereka, namun Bhikkhu Uttara juga tidak ingin menerima itu karena telah memiliki cukup, mereka kemudian mendesaknya untuk menerima, karena didesak, bhikkhu Uttara akhirnya mengambil 1 jubah saja dan menanyakan keperluan mereka.

    Para Vajjiputtaka memohon pada Bhikkhu Uttara agar Bhikkhu sepuh Revata di tengah-tengah sangha mengatakan bahwa para bhikkhu dari Timur adalah pembabar-dhamma, para bhikkhu dari Pāvā adalah bukan pembabar-dhamma. Bhikkhu Uttara menyanggupi hal itu dan menyampaikan kepada Bhikkhu sepuh Revata. Setelah mendengar itu, Bhikkhu sepuh Revata berkata bahwa Bhikkhu Uttara sedang membujuknya melakukan yang bukan-dhamma dan mengusir Bhikkhu Uttara. Kemudian Bhikkhu Uttara menyampaikan kepada para Vajjiputaka bahwa gurunya telah mengusirnya karena menyetujui hal yang bukan Dhamma. Berkenaan dengan Bhikkhu Uttara, Para Vajjiputtaka kemudian memintanya menjadi pembimbing mereka (garunissayaṃ gaṇhāmā).

      Note:
      Meminta seseorang dengan masa 20 tahun sebagai pembimbing, mengindikasikan masa vassa yang dimiliki para Vajjiputtaka adalah jauh di bawah 20 tahun

    Kemudian Saṅgha berkumpul untuk penyelesaian Perkara. Agar tidak terjadi para bhikkhu yang memulai pertama kali perkara akan membuka kembali untuk tindakan resmi lainnya lagi, maka YM Revata mengajak sangha untuk menyelesaikan perkara ini di mana perkara ini muncul dan mereka pun pergi ke Vesali

    YM Revata kemudian berkata pada YM Sambhuta bahwa Ia akan mengunjungi Bhikkhu sepuh Sabbakāmi (Murid YM Ananda), yang telah menjalani 120 tahun masa vassa kebhikkuan, bhikkhu dengan masa Vassa tertua di dunia saat itu dan meminta YM Sambhuta untuk mendatangi beliau juga dan menanyakan pendapat beliau mengenai 10 hal yang diajarkan para Vajjiputtaka

    YM Sambhūta Sanavasin sampai ketempat kediaman YM Sabbakāmin ketika beliau sedang berbincang-bincang dengan YM Revata dan kepada dua bhikkhu sepuh itu, YM Sambhūta Sanavasin bertanya mengenai 10 hal yang diajarkan para Vajjiputtaka dan apakah kesimpulan para beliau mengenai siapakah yang pembabar dhamma, apakah para bhikkhu dari Timur atau para bhikkhu dari Pāvā?”

    Kedua Sepuh itu berkata bahwa mereka telah menyimpulkan bahwa para bhikkhu dari Timur BUKANLAH pembabar dhamma dan para bhikkhu dari Pāvā adalah pembabar dhamma, namun demikian mereka tidak akan mengemukakan pandangan mereka hingga mereka ditunjuk sehubungan dengan penyelesaian perkara ini

    Kemudian Saṅgha berkumpul untuk penyelesaian perkara, setelah mengkonfrontasikan secara langsung KEDUA BELAH PIHAK (Para Vajjiputtaka vs YM Yasa) dihadapan sangha namun tidak mendapat hasil penyelesaian, YM Revata kemudian mengusulkan agar dilakukan penyelesaian permasalahan dengan menyerahkan keputusan kepada orang-orang yang dipilih dan disepakati para pihak, Sangha menyetujuinya dengan berdiam diri. YM Revata kemudian memilih 4 Bhikkhu dari Timur (YM Sabbakāmin; YM Sāḷha/murid YM Ananda; YM Khujjasobhita/murid YM Ananda dan YM Vāsabhagāmika/murid YM Anuruddha) dan 4 bhikkhu dari Barat (YM Revata; YM Sambhūta; YM Yasa (semuanya murid YM Ananda) dan YM Sumana/murid YM Anuruddha) dan memberitahukan Sangha mengenai komite yang dibentuknya. Sangha menyetujuinya dengan berdiam diri.

      Note:
      Bhikkhu Anuruddha adalah saudara terkecil dari Mahanama, wafat di area Vajji pada usia 115 tahun (DhA ii.413). Tidak diketahui umur awalnya, namun jika beliau ini wafat sebelum YM Ananda, maka masa Vassa YM Vasabhagamika dan YM Sumana, tampaknya jauh diatas 60 tahun
      Murid Sang Buddha lainnya, misalnya Upali (wafat 30 tahun setelah Sang Buddha Parinibbana), dilanjutkan dengan muridnya, Dasaka (50 tahun setelah Upali) dan dilanjutkan muridnya Sonaka (selama 44 tahun setelah Dasaka), maka ketika konsili ini berjalan, Sonaka baru memiliki 40 massa vassa [Mhv 5.104-153 dan Dipv 5.95-99]

    Sangha kemudian menunjuk Bhikkhu Ajita yang mempunyai 10 masa vassa sebagai pembaca Patimokha (aturan dan/atau disiplin) dan penentu tempat duduk bagi para Bhikkhu sepuh. Kemudian komite yang terdiri dari para bhikkhu sepuh ini pergi ke Vihara Vālika untuk menyelesaikan perkara.

    YM Revata kemudian memberitahu Sangha bahwa Ia akan menanyai YM Sabbakamim sehubungan dengan Vinaya/Patimokha. Sangha menyetujuinya dengan berdiam diri. YM Sabbakamin memberitahu sangha bahwa Ia akan menjawab pertanyaan yang diajukan YM Revata. Sangha menyetujuinya dengan berdiam diri. YM Revata kemudian menanyakan 10 hal yang diajarkan oleh para Vajjiputtaka kepada YM Sabbakamin dan jawaban beliau:

    1. Singilona Kappa menyimpan garam dalam tanduk dengan pikiran untuk ditambahkan pada makanan yang tidak/kurang garam. (Melanggar: Pācittiya ke-38: menyimpan makanan yang telah diserahkan lebih dari 1 hari. Versi Mahasanghika Praktimoksa: Pacattika ke-37)

      Ini dilarang di Sāvatthī, dalam Suttavibhaṅga masuk pelanggaran yang menuntut penebusan

    2. Dvangula Kappa: Masih makan saat bayangan yang terkena sinar matahari lewat tengah hari melebihi dua ruas jari (dvangula) (atau beranggapan boleh makan selama matahari yang melewati tengah hari tertutup awan). (Melanggar: Pācittiya ke-37: Makan di waktu yang salah (lewat tengah hari). Versi Mahasanghika Praktimoksa: Pacattika ke-36)

      Ini dilarang Di Rājagaha, dalam Suttavibhaṅga masuk pelanggaran yang menuntut penebusan

    3. Gāmantara Kappa: Telah selesai makan, menolak persembahan berikutnya tapi pergi ke lain tempat untuk makan yang belum dimakan dan/atau yang belum diserahkan kepadanya. (Melanggar: Pācittiya ke-35. Versi Mahasanghika Praktimoksa: Pacattika ke-33)

      Ini dilarang di Sāvatthī, dalam Suttavibhaṅga masuk pelanggaran yang menuntut penebusan

    4. Avāsa Kappa: Sekelompok Bhikkhu tinggal di batas area yang sama namun melakukan uposatha secara terpisah. (Pelanggaran Dukkaṭa: Maha Vagga 2,8,3. Versi Dharmagupta dan Mahisasaka ada padanannya: “Buddhist Sects in India”. Nalinaksha Dutt, hal.18)

      Ini dilarang di Rājagaha, dalam apa yang berhubungan dengan Uposatha masuk pelanggaran perbuatan-salah karena di luar disiplin

    5. Anumati Kappa: Mengambil putusan terhadap bhikkhu tertentu ketika sangha tidak lengkap dengan pikiran, “Persetujuan akan didapatkan/dimintakan dari bhikkhu yang datang/tiba”. (Pelanggaran Dukkaṭa: Mahavagga IX.3.5. Versi Mahisasaka ada padanannya)

      Ini dilarang dalam materi disiplin tentang hal-hal yang berhubungan dengan para bhikkhu Campa dan masuk pelanggaran perbuatan-salah karena di luar disiplin

    6. Ācīṇṇa Kappa: Melakukan praktek dengan alasan itu telah menjadi kebiasaan (atau biasa dilakukan) oleh penahbis/upajjhāya atau guru/ācariya. (Ini kadang-kadang diperbolehkan dan kadang-kadang tidak diperbolehkan: Lihat di: MahaVagga 1.25-35. Versi Mahisasaka ada padanannya)
    7. Amathita Kappa: Telah selesai makan, menolak persembahan berikutnya, namun minum susu apa pun yang tidak diserahkan yang telah melewati tahap sebagai susu namun belum menjadi dadih (disebut Yoghurt jika berbentuk pasta, dadih jika bertektur lebih padat. Proses fermentasi alami gula susu akan menghasilkan alkohol). (Melanggar: Pācittiya ke-35, juga Pacittiya ke-37, 39. Versi Mahasanghika Praktimoksa: Pacattika ke-36, 39)

      Ini dilarang di Sāvatthī, dalam Suttavibhaṅga masuk pelanggaran yang menuntut penebusan

    8. Jalogiṁ pātuṁ: Minum air tuak yang difermentasikan tetapi belum terfermentasi dan belum sampai pada tahap menjadi minuman keras. (Melanggar: Pācittiya ke-51 (Versi Mahasanghika Praktimoksa: Pacattika ke-76)

      Ini dilarang di Kosambi, dalam Suttavibhaṅga masuk pelanggaran yang menuntut penebusan

    9. Adasakaṁ nisīdanaṁ: Menggunakan kain alas duduk diluar batas yang dibolehkan. (Melanggar: Pācittiya ke-89: ukuran panjang: 2 sugata, lebar: 1.5 sugata dan tinggi: 1 sugata. Versi Mahasanghika Praktimoksa: Pacattika ke-86)

      Ini dilarang di Sāvatthī, dalam Suttavibhaṅga masuk pelanggaran yang menuntut penebusan

    10. Jātarūpa-rajataṁ: Menerima emas, perak dan koin/uang. (Melanggar: Nissaggiya Pācittiya ke-18/19. Versi Mahasanghika Praktimoksa: Nihsarghika Pacattika ke-18)

      Ini dilarang di Rājagaha, dalam Suttavibhaṅga masuk pelanggaran yang menuntut penebusan

    Kepada Sangha, Beliau sampaikan bahwa setelah diselidiki Sangha, 10 hal Ini adalah materi yang bertentangan dengan dhamma, bertentangan dengan disiplin, bukan instruksi Sang Guru. Pertanyaan resmi kemudian ditutup dan YM Sabbakamin juga menawarkan bahwa untuk meyakinkan para bhikkhu, agar menanyainya di tengah-tengah Saṅgha. YM Revatapun menanyai YM Sabbakāmin di tengah-tengah Saṅgha tentang 10 hal ini dan YM Sabbakāmin menjawabnya seperti di atas. 700 Bhikkhu hadir saat pembacaan disiplin

Setelah selesai konsili ke-2, kitab Buddhisme saat itu MASIH BUKAN Tipitaka/Tripitaka (3 keranjang) melainkan DvePitaka (2 keranjang), yaitu: Dhamma/sutta-sutta dan vinaya, sedangkan kitab Abhidhamma [sebanyak 7 kitab] MASIH BELUMLAH ADA.

Memperhatikan 10 pelanggaran di atas, Vinaya “mahasanghika” mempunyai kesamaan di 7 point sedang 3 point sisanya (no.4 – no.6) tidak ada:

    “agar Mahasanghika dapat bersepakat mengutuk point-poin ini, kita harus tunda pemakaian teks chinese, karena tidak ada lagi padanan sanskrit porsi skandhaka vinaya. Ada ringkasan Bhiksu-Prakirnaka (Yang adalah padanan Mahasanghika-lokottaravadin untuk vastu yang memuat skandhaka dari berbagai macam vinaya lainnya), namun itu sedikit membantu”[“Mahasamghika Origins: The Beginnings of Buddhist Sectarianism”, Janice J. Nattier dan Charles S. Prebish, hal.241-245].

    Perbish dan Nattier, tidak menuliskan detail padanannya, namun sudah berani menyimpulkan bahwa vinaya Pali dan vinaya Mahasanghika berkesesuaian penuh pada 10 point ini.

Catatan di Cullavagga (bagian dari kanon pali kelompok vinaya) berhenti sampai KONSILI ke-2. Tidak ada catatan lanjutan mengenai kejadian sesudahnya, misalnya apa yang kemudian dilakukan oleh VAJJIPUTTAKA, tentang Konsili ke-3 di jaman raja Asoka dan narasi di Cullavagga tentang konsili ke-1 dan ke-2, sama sekali tidak memuat kata “tipitaka”/Keranjang, hanya menuliskan dhamma, vinaya saja.

Kejadian lanjutan setelah berakhirnya konsili ke-2, tercantum dalam kitab sejarah Srilanka yaitu: Divapamsa dan Mahavamsa, juga ada di Kathāvatthu-aṭṭhakathā, Nidānakathā, karya Buddhaghosa (Abad ke-5) yang juga mengutip dari Dipavamsa:

    Konsili diadakan 100 tahun setelah Sang Buddha Parinibbana [Mhv 4.8; Dipv 4.47,48] diakhir tahun ke-10 jaman raja Kalasoka [Mhv 5.8]. Jumlah bhikkhu Vajjiputta yang menjalankan 10 hal adalah 10.000 [Mhv. 4.55, namun Dipv 5.18 menyatakan: 12.000 Vajiputtaka berkonsili dulu untuk menetapkan 10 aturan yang akan mereka gunakan di Vesali]. Total bhikkhu yang hadir di Konsili ke-2 pimpinan YM revata adalah 112.000 [Mhv 4.60, Divp 5.20], kemudian beliau memilih 700 bhikkhu yang semuanya adalah Arahat yang membunyai Abhinna [Mhv 4.61; Dipv 4.52, 5.28]. Konsili dilakukan di Valikarama selama 8 bulan di jaman Raja Kalasoka, mengulang kembali pembacaan Dhamma [Mhv 5.62-63. Dipv 4.29]. Kejadian ini disebut Konsili ke-2 [Mhv 4. 66; Dipv 4.29]

    Setelah berakhir konsili ke-2, 10.000 Vajjiputtaka yang dikeluarkan dari Sangha melakukan konsili sendiri. Jumlah yang besar ini menyebabkan ini disebut Mahasangikha/kumpulan dengan jumlah yang besar [Mhv 5.4; Di Dipv 5.31: Dinamakan Mahasanghiti/kumpulan dengan jumlah yang besar].

    Mahasanghika/Mahasanghiti kemudian juga menetap doktrin yang bertentangan; mengubah redaksi asli dan membuat redaksi lain; memindahkan sutta dari satu kumpulan ke kumpulan lain; mereka menghancurkan makna dan keyakinan; Di 5 koleksi dan di Vinaya, Biksu yang mengerti ataupun yang tidak tentang kotbah panjang ataupun kotbah tanpa penjelasan berupa makna literal ataupun tersirat menetapkan maksud yang salah sehubungan dengan kotbah-kotbah sang Buddha. Para biksu menghancurkan banyak makna, menolak kalimat-kalimat tunggal mendalam di sutta dan vinaya, membuat Sutta-sutta dan vinaya-vinaya lainnya, menolak teks berikut: Parivara yang merupakan abstrak dari isi, 6 bagian Abhidhamma, Patisambhida, Niddesa, dan beberapa bagian Jataka. Mereka membuat yang baru. Menjauhkan aturan asli tentang kata benda, jenis kelamin, komposisi, dan gaya ungkapan, mereka mengubah semua itu. [DipV 5.30-38]

      Note:
      Dipavamsa menyatakan “6 bagian” Abhidhamma DAN BUKAN 7 bagian, ini menunjukan, periode waktu ketika hal ini dicatatkan, adalah di SETELAH konsili ke-3 namun SEBELUM 1 bagian Abhidhamma lainnya rampung. Setelah 7 bagian rampung, MAHINDA membawanya ke Srilanka, seperti disebutkan Parivara Vinaya: MAHINDA (Murid Moggaliputta Tissa, pemimpin Konsili ke-3) pergi dari Jambudipa/India menuju Tambapanni/Pantai Utara Srilanka mengajarkan vinaya, 5 nikaya dan satta ceva pakaraṇe (7 kitab). Beberapa paragraph lanjutannya berisi tradisi urutan pengajar di Srilanka s.d Khema Thera yang mengajarkan tipetako/tipitaka. Sehingga disebut Tipitaka adalah setelah tambahan 7 kitab Abhidhamma

    Setelah konsili ke-2 berakhir, mulai abad ke-2 setelah wafatnya sang Buddha [Mhv 5.2-13 ; Dipv 5.39-51] terjadi perpecahan, dimulai dengan kemunculan mahasanghiti dan bertambah menjadi 18 sekte lebih:

    • 6 aliran yang berasal dari (2) Mahasanghika/Vajjiputtaka: (3) -> Ekavyoharika (4), Gokulika (5) -> [Pannatti (6), Bahulika/Bahussutiya (7) -> Cetiya (8)]
    • 12 aliran berasal dari (1) Theravada:
      • Mahimsasaka (9) -> [Sabbathivada (15) -> Kassapiya (17)] dan [Dhammaguttika (16) -> Samkantika (18) -> Suttavada (19]
      • Vajjiputta (10) -> Dhammuttariya (11), Bhaddayanika (12), Channagarika (13) dan Sammitiya (14)

    Disamping sekte-sekte di atas, di Jambudwipa (sebutan tentang India di jaman dulu) terdapat pula 6 sekte lainnya, yaitu: Hemavata, Rajagiriya, Siddhatthaka, Seliya I, Seliya II [Mhv 5.11-13; Divp 5.54] dan dan Vajiriya [Mhv 5.13] atau Apararajagirika [Dipv 5.54]. Untuk di Sri Lanka: Dhammaruci dan Segaliya [Mhv 5.13]. Dua sekte Srilanka ini tidak muncul di Dipavamsa, bisa jadi ketika jurnal ini dituliskan, sekte itu belum muncul

    Tradisi Utara juga memuat daftar sekte-sekte yang muncul setelah konsili ke-2, yaitu menurut versi Vasumitra = 21 Sekte, Bhavya 1 = 25 sekte, Bhavya 2 = 22 sekte dan Bhavya 3 = 18 sekte

Kemudian,
untuk kemunculan aliran Mahayana/kendaraan besar (merujuk pada maksud begitu banyaknya aliran yang bernaung di dalamnya), kitab “Tarkajvala” (pemikiran yang berkobar), karya Bavya (500 M – 578 M) dari aliran Madyamaka, Mahayana, menyampaikan seperti ini:

    “Para pengumpul ajaran Mahayana adalah para Bodhisatva seperti Samantha Bhadra, Manjushri, Vajrapani, Maitreya dan banyak lagi. Aliran hinayana tidak mengumpulkan itu karena mereka tidak mempelajari kitab Mahayana..Setelah Buddha Parinibbana, para pengikut aliran Hinayana, sangat melekat pada ajaran yang mereka terima. Tidak ada yang mengumpulkan ajaran Mahayana. Ajaran Mahayana tersimpan di alam Naga, kemudian Nagarjuna (150 M-250 M, Pendiri aliran Madyamaka) mengumpulkan ajaran Mahayana dari alam Naga dan menyebarkannya di alam Manusia. [“Jewelled Staircase”, Geshe Wangyal, hal. hal.47]
“Buddhism: The early Buddhist schools and doctrinal history; Theravāda doctrine”
Paul Williams, Vol 2, Hal.222

Gambar ini memuat tabulasi jumlah aturan di setiap topik dalam Patimokha di beberapa aliran. Selintas tabulasi ini tidak banyak berbeda dan tidak tampak signifikan berbeda.

Terdapat 20 alasan yang menjadi landasan penyebab perpecahan dalam sangha, yaitu ketika Bhikkhu (satu atau beberapa atau sangha) mengajarkan bhikkhu lainnya mengenai apa

  1. yang BUKAN dhamma sebagai dhamma
  2. yang dhamma sebagai BUKAN Dhamma
  3. yang BUKAN vinaya sebagai vinaya
  4. yang vinaya sebagai bukan vinaya
  5. yang TIDAK diucapkan, TIDAK disampaikan Sang Buddha sebagai ucapannya
  6. yang diucapkan, disampaikan Sang Buddha sebagai TIDAK ucapannya
  7. yang TIDAK dipraktekkan Sang Buddha sebagai yang dipraktekkannya
  8. dipraktekkan Sang Buddha sebagai TIDAK dipraktekkannya
  9. yang BUKAN ditetapkan sang buddha sebagai yang ditetapkan
  10. yang ditetapkan sang buddha sebagai BUKAN yang ditetapkannya [List 1-10 di AN 1.140-149, AN 10.37/38]
  11. yang BUKAN pelanggaran sebagai pelanggaran
  12. yang merupakan pelanggaran (āpatti) sebagai BUKAN pelanggaran (anāpatti āpatti)
  13. yang pelanggaran ringan (lāhuka āpatti) sebagai pelanggaran berat (gārukā)
  14. yang pelanggaran berat sebagai pelanggaran ringan
  15. yang pelanggaran besar (duṭṭhulla āpatti) sebagai BUKAN besar (aduṭṭhulla āpatti)
  16. yang BUKAN pelanggaran besar sebagai besar
  17. yang pelanggaran dapat ditebus (sâvesasa āpatti) sebagai pelanggaran yang tidak dapat ditebus (anavasesā āpatti)
  18. yang pelanggaran tidak dapat ditebus sebagai yang dapat ditebus
  19. pelanggaran yang dapat diperbaiki (sappaṭikamma āpatti) sebagai tidak dapat diperbaiki (appaṭikamma āpatti)
  20. yang pelanggaran tidak dapat diperbaiki sebagai yang dapat diperbaiki [List 11-20 di: AN AN 1.150-169, AN 10.43]

    note:
    Dalam Patimokha/Vinaya Bhikkhu ada pembagian pelanggaran:
    (1) Parajika/Kalah: bisa sukarela diakui tanpa kehadiran sangha atau terpaksa melalui kehadiran sangha yang hasilnya adalah lepas jubah, tidak dapat menjadi bhikkhu seumur hidupnya = 4 item;
    (2) saṅghādisesa/pelanggaran yang memerlukan kehadiran sangha dalam memutuskan yang hasilnya adalah bisa dikeluarkan ataupun tidak = 13 item;
    (3) thullaccaya/detail item hampir serupa dengan parajika dan Sanghadisesa namun hasilnya tidak persis sama/tidak sempurna terjadi dan TIDAK ADA satupun dalam 227 aturan kebhikkuan yang masuk kategori ini, sehingga membutuhkan kehadiran Sangha, sample: parajika: membunuh dan mati, thullaccaya: tidak mati. Sanghadisesa: melakukan martubasi dan ejakulasi, Thullaccaya: martubasi namun tidak ejakulasi
    (4) pācittiya/Pelanggaran ini membutuhkan penebusan dan/atau beserta melepas barang (Nissaggiya) = 92 item (penebusan) + 30 Item (penebusan+pelepasan barang);
    (5) pāṭidesanīya/yang harus disadari dan diakui kesalahannya;
    (6) dukkaṭa/tindakan salah;
    (7) dubbhāsita/ucapan salah

    Ada yang disebut latihan/Sekhiya = 75 item, Ada yang disebut penyelesaian masalah/Adikharana = 7 item

    Kategori Lahuka/ringan adalah no. 3 s.d 7. Garuka adalah no.1 dan 2. Pelanggaran besar adalah Parajika. Sappatikamma/yang dapat diperbaiki adalah no.2 s.d 7, yang tidak dapat diperbaiki adalah no.1

Cullavagga, Khandakha 7 menyatakan PERPECAHAN SANGHA adalah karena Bhikkhu:

    ..Jika, 4 orang di satu pihak dan 4 orang di pihak lain (total = 8) dan jika seorang yang ke-9 berkata dan membagikan kupon suara, dengan mengatakan: ‘Ini adalah aturan, ini adalah disiplin, ini adalah instruksi Sang Guru, ambillah (kupon suara) ini, setujuilah ini’ ini adalah perselisihan dalam Saṅgha yang juga merupakan perpecahan dalam Saṅgha. Perpecahan Saṅgha terjadi karena 9 orang atau lebih.

    Seorang bhikkhunī atau calon samaneri atau samaṇera atau samaṇerī atau umat awam pria atau umat awam wanita TIDAK MEMECAH BELAH Saṅgha bahkan jika ia melakukan tindakan memecah-belah. Hanya seorang bhikkhu, yang berasal dari komunitas yang sama, menetap di tempat yang sama, yang dapat memecah-belah Saṅgha

TIDAK SEMUA PERPECAHAN SANGHA adalah BURUK, misalnya dalam kasus dibawah ini.

    Seorang Bhikkhu yang menjelaskan:

    • apa yang bukan-dhamma sebagai dhamma dan/atau
    • apa yang dhamma sebagai bukan-dhamma … menjelaskan apa yang bukan pelanggaran berat sebagai pelanggaran berat

    jika ia memiliki pandangan bahwa dalam ini terdapat dhamma, jika ia memiliki pandangan bahwa dalam perpecahan terdapat dhamma namun tidak salah menyampaikan pendapat, tidak salah menyampaikan persetujuan, tidak salah menyampaikan kesenangan, tidak salah menyampaikan kehendak, ia berkata dan membagikan kupon suara, dengan mengatakan: ‘Ini adalah aturan, ini adalah disiplin, ini adalah instruksi Sang Guru, ambillah (kupon suara) ini, setujuilah ini’ – bahkan penyebab perpecahan dalam Saṅgha ini, TIDAK MENGALAMI kejatuhan, TIDAK MENUJU neraka, TIDAK MENETAP di sana selama satu kappa, dapat terselamatkan. [Cullavagga, Khandakha 7]

Sang Buddha menyatakan terdapat 4 KEUNTUNGAN yang menjadi MOTIF seorang bhikkhu melakukan perpecahan di dalam sangha dan bersenang dengan hal itu, sabda beliau ini sehubungan dengan Bāhiya, murid YM Anuruddha yang masih saja berniat menciptakan perpecahan di dalam sangha:

  • Seorang bhikkhu jahat tidak bermoral, berkarakter buruk, tidak murni, berperilaku mencurigakan, merahasiakan perbuatannya, bukan seorang petapa walaupun mengaku sebagai petapa, tidak hidup selibat walaupun mengaku hidup selibat, busuk dalam batinnya, jahat, rusak. Ia berpikir: ‘Jika para bhikkhu mengetahui bahwa aku adalah seorang yang tidak bermoral … rusak, dan mereka bersatu, maka mereka akan mengusirku, tetapi jika mereka terpecah dalam kelompok-kelompok maka mereka tidak akan mengusirku.’
  • seorang bhikkhu jahat berpandangan salah; ia menganut pandangan ekstrim. Ia berpikir: ‘Jika para bhikkhu mengetahui bahwa aku menganut pandangan salah, bahwa aku menganut pandangan ekstrim, dan mereka bersatu, maka mereka akan mengusirku, tetapi jika mereka terpecah dalam kelompok-kelompok maka mereka tidak akan mengusirku.’
  • seorang bhikkhu jahat berpenghidupan salah; ia mencari penghidupannya melalui penghidupan salah. Ia berpikir: ‘Jika para bhikkhu mengetahui bahwa aku berpenghidupan salah dan mencari penghidupanku melalui penghidupan salah, dan mereka bersatu, maka mereka akan mengusirku, tetapi jika mereka terpecah dalam kelompok-kelompok maka mereka tidak akan mengusirku.’
  • seorang bhikkhu menginginkan perolehan, kehormatan, dan penghargaan. Ia berpikir: ‘Jika para bhikkhu mengetahui bahwa aku menginginkan perolehan, kehormatan, dan penghargaan, dan mereka bersatu, maka mereka tidak akan menerima, menghormati, menghargai, dan memuliakanku; tetapi jika mereka terpecah dalam kelompok-kelompok maka mereka akan menerima, menghormati, menghargai, dan memuliakanku

Melihat ke-4 keuntungan ini, Ānanda, seorang bhikkhu jahat bersenang dalam perpecahan di dalam Saṅgha [AN 4.243/Sanghabhedaka sutta]

Konsili ke-3,
Penemuan arkeologi di beberapa inskripsi pilar Saranath-Kosambi-Sanchi jaman Asoka, menyampaikan pernah terjadi perpecahan dalam Sangha dan telah dibuat bersatu dijamannya (“Asoka”, D.R. Bhandarkar,R. G. Bhandarkar, hal.91-94; Terjemahan Inskripsi dari “Sects & Sectarianism“, Bhikkhu Sujato)

    Sangha bhikkhu dan bhikkhuni telah dibuat bersatu.
    Sepanjang anak-anak dan cucu-cucuku masih hidup, dan sepanjang matahari dan bulan masih bersinar, siapa pun bhikkhu atau bhikkhuni yang memecah belah Sangha akan memakai jubah putih dan tinggal di luar vihara
    Apakah keinginanku?
    Agar kesatuan Sangha akan bertahan lama.

    ’Raja Aśoka,
    Minor Pillar Edict, Sāñchī

Beberapa teks tradisi Utara menyatakan alasan perpecahan aliran diakibatkan oleh bhikkhu tertentu yang penyampai 5 teori tentang Arahat dan nama Bhikkhu yang dituduhkan ini adalah “Mahadeva”, misal:

  • “San louen hiuan yi” karya Ki-tsang dari aliran Mahayana (berdasarkan karya Paramartha dari aliran mahayana), kitab komentar dari “Samayabhedo paracana cakra”, Visumitra: Pemicu pecahnya Mahasamghika dan Sthaviriya adalah karena aktivitas dari Mahadeva yang menambahkan 5 point dan juga MEMASUKAN sutra MAHAYANA ke dalam TRIPITAKA
  • “Samayabhedo paracana cakra”, Vasumitra, aliran Sarvastivada: Nama Bhikkhu yang menyampaikan 5 point: Mahadeva, yang menerima: Aliran Mahasanghika, yang menolak: aliran Stravira [“Mahasamghika Origins: The Beginnings of Buddhist Sectarianism”, hal.247]

    Terdapat 3 terjemahan china untuk kitab ini, yaitu (i) ‘Shi-pa’ pu’ lun, terjemahan entah oleh kumarajiva (401-413) atau Paramartha (546-569). (ii) Pu’ chi-i-lun, Paramartha dan (iii) I-pu’-tsung-lun, Hiuen Tsang (662) [“Buddhist Sects in India”, Dutt, Introduction]

  • “Abhidharma mahavibhasa sastra”, Katyāyāniputra, aliran Sarvastivada: Nama Bhikkhu yang menyampaikan 5 point: Mahadeva, yang menerima: Mahasanghika, yang menolak: Sarvastivadin [“Mahasamghika Origins: The Beginnings of Buddhist Sectarianism”, hal.247]

Berikut ini adalah narasi versi Mahāvibhāṣā (Vasumitra, T 1545):

    Di masa lalu, tersebutlah seorang pedagang dari Mathura, yang beristri cantik dan mempunyai anak rupawan bernama Mahadeva. Ayahnya kemudian dalam waktu yang lama, pergi keluar daerah untuk berdagang. Mahadevapun beranjak dewasa. Ia kemudian melakukan inses dengan ibunya, Ketika tahu ayahnya akan datang, karena takut perbuatannya diketahui, Ia membuat rencana dangan Ibunya dan kemudian, Ia bunuh ayahnya. Perbuatannya perlahan terungkap hingga Ibu-Anak pindah ke Pāṭaliputta. Di sana Ia bertemu seorang Arahat, yang dulu, di daerah asalnya, Ia pernah berdana padanya, karena takut perbuatannya terungkap, Ia bunuh bhikkhu itu. Belakangan karena ibunya bersetubuh dengan lelaki lain, Ia bunuh ibunya.

    Hidupnya penuh keresahan, kemudian Ia mendengar bahwa ajaran Buddha mengajarkan Dhamma untuk melenyapkan kesalahan masa lalu. Ia kemudian pergi ke vihara Kukkuṭārāma dan saat itu, seorang bhikkhu yang sedang berlatih meditasi jalan sambil melantunkan syair, “Jika seseorang melakukan kesalahan berat, dengan melakukan kebajikan, Ia membuatnya berakhir, Orang ini menyinari dunia bagaikan bulan yang muncul dari awan”. Ia tertarik dan girang mendengar ini, maka Iapun memohon penahbisan dan Bhikkhu itu menahbiskannya tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu akan masa lalunya.

      Note:
      Prosedur STANDAR penahbisan bhikkhu yang telah berjalan RATUSAN TAHUN sebelum konsili ke-3 (dan masih BERJALAN RATUSAN TAHUN kemudian) adalah:

      • Kehadiran MINIMUM 10 bhikkhu [dengan pengecualian di daerah yang kekurangan Bhikkhu, misalnya pada kasus YM Soma di Avanti boleh 4 bhikkhu + 1 Vinayadhara] dan harus mempunyai masa vassa MINIMUM 10 tahun, terpelajar dan Kompeten untuk menahbiskan
      • UPAJJHAYA HARUS menyelidiki calon Bhikkhu, yaitu: harus manusia, tidak pernah membunuh: Ibu, ayah, Arahat, melecehkan Bhikkhuni dan banyak lagi yang jika SALAH SATUNYA SAJA atau malah BEBERAPA dari hal itu dilakukan, maka jika Ia belum ditahbiskan maka ia TIDAK BOLEH ditahbiskan, jika IA SUDAH DITAHBISKAN, maka Ia HARUS DIKELUARKAN dari persekutuan.
      • Setelah ditahbiskan, Ia pun harus tinggal 5 tahun untuk mendapat bimbingan dari Upajjhaya/Achariyanya [Mahavagga, Khandaka ke-1, penahbisan]

      Jadi, bagaimana mungkin dari 10 Bhikkhu yang menahbiskan ini, TIDAK 1 PUN yang menanyakan pertanyaan standar berupa asal-usul calonnya?
      Sutra juga telah menghinformasikan bahwa di tempat lamanya perbuatan kejinya telah menyebar, maka BAGAIMANA MUNGKIN dari seluruh bhikkhu di Vihara itu TIDAK 1 PUN yang mendengar masa lalunya disebelum, disaat atau disesudah penahbisan bahkan hingga bertahun-tahun kemudian?

      Untuk itu, ada beberapa kemungkinan tentang ini:

      (1) Kisah ini bohong dan/atau
      (2) Mahadeva tidak pernah membunuh ayah, ibu, arahat tersebut dan/atau
      (3) Para bhikkhu di Vihara itu bukanlah bhikkhu karena TIDAK TAHU prosedur standar dalam menahbiskan dan/atau
      (4) Pengarang kisah ini memakai kacamata aturan vinaya alirannya sendiri sebagai dasar mengarang dan menganggap dimasa lalupun terjadi seperti itu..

    Karena cerdas, tak lama setelah penahbisan, Mahadeva HAFAL SELURUH TRIPITAKA juga trampil dalam berkata-kata, para penduduk Pataliputta menganggapnya pembimbing dan bahkan dianggap Arahat. Karenanya, Raja kerap mengundangnya ke istana untuk berdana dan memohon dhamma. Kemudian, Ia mengajarkan 5 hal kepada para muridnya:

    (1) Ketika Ia mimpi basah, Ia berkata itu terjadi karena gangguan mara yang iri dan bahwa arahat masih memiliki kotoran.
    (2) Arahat masih memiliki ketidaktahuan.
    (3) Arahat dan Pacekka Buddha masih memiliki keragu-raguan.
    (4) Karena muridnya melihat dirinya tidak ingat jalan ketika memasuki kota, Ia berkata Arahat masih belajar dari orang lain dan tidak dapat mengetahui dengan sendirinya.
    (5) Karena telah melakukan sejumlah besar kejahatan, ketika sendirian di tengah malam, kesalahan membebaninya yang membuatnya tertekan dan takut sehingga seringkali berteriak: “Oh (Aho), betapa menderitanya!”. Ketika ditanya muridnya, Ia berkata bahwa Jalan Mulia dapat dimunculkan dengan meneriakan “Aho betapa menderitanya”

      Note:
      Seluruh Bhikkhu, baik atau buruk, arahat atau bukan yang ditahbiskan sebelum konsili ke-3, TIDAKLAH MENGENAL Tripitaka. SEBELUM konsili ke-3, yang ada hanya Sutta dan Vinaya (dvepitaka/dua keranjang) namun SETELAH konsili ke-3, keranjang bertambah satu lagi dengan Abhidhamma sehingga disebut Ti-Pitaka/Tripitaka. Di Cullavagga, Vinaya dan di banyak sutta hanya menyebutkan kata Dhamma/sutta dan Vinaya (+ matika: ringkasan/topik sutta dan/atau patimokha/227 aturan, terkadang matika adalah sinonim dari patimokkha), TIDAK PERNAH menyatakan kata TIPITAKA,

      Jadi teks-teks yang berasal dari tradisi Utara maupun tradisi Selatan yang menggunakan kata TIPITAKA/TRIPITAKA dalam narasinya, maka ini dibuat paling cepat setelah berakhirnya KONSILI ke-3.

      Tanggapan Theravada untuk klaim pandangan tentang arahat ada di KathaVatthu, KV 2.1 s.d KV 2.6. Kathavatthu adalah 1 bagian/kitab Abhidhamma berupa detail point kontroversi saat pembersihan para bhikkhu berpandangan salah di MENJELANG Konsili ke-3.

      Di Katavatthu, terdapat 2 variasi klaim pandangan untuk topik kata “aho”, yaitu: klaim saat memasuki jhana (KV 2.5) dan “aho betapa menderitanya” untuk klaim saat memasuki sang jalan (KV 2.6).

      Karena Mahadeva dikatakan HAFAL TRIPITAKA, maka 5 pandangan yang Ia sampaikan di kisah ini, bisa jadi bukanlah ide orsinilnya, namun berasal dari daftar yang telah ada,

    Kemudian, para bhikkhu sepuh di Vihara Kukkuṭārāma satu persatu wafat. Pada hari ke-15, tibalah waktu untuk Upasatha. Giliran Mahadeva untuk mengajarkan Sila. Ia kemudian mengajarkan pandangannya. Saat itu di sangha ada beberapa siswa yang sedang dalam latihan dan telah mahir yang sangat terpelajar, kokoh dalam sila dan seorang yang mencapai Jhana. Ketika mereka mendengar ajaran itu tanpa kecuali mereka waspada dan berkeberatan, mereka mengeritik bahwa hanya seorang bodoh yang membuat statement itu dengan berkata “Ini tidak ditemukan dalam TRIPITAKA” dan kemudian terjadi debat berkepanjangan yang memunculkan kelompok-kelompok hingga berita ini menyebar ke kota, sampai kementrian negara dan tidak kunjung berhenti, Raja mendengar tentang ini kemudian datang dan ikut mendengarkan perdebatan dan menjadi ragu mana yang Ia percayai. Ketika Raja bertanya bagaimana menyelesaikannya, Mahadeva berkata bahwa dalam vinaya dikatakan untuk menyelesaikan masalah, seharusnya bergantung pada apa yang dikatakan mayoritas.

    Raja memerintahkan kedua kelompok Sangha untuk berdiri terpisah. Kelompok yang tidak setuju adalah kelompok orang mulia, walau tua, jumlahnya sedikit sedangkan kelompok yang setuju adalah kelompok Mahadeva, muda, dan berjumlah banyak. Karenanya mereka Mayoritas. Yang lebih sedikit disebut Sthavira dan yang lebih banyak disebut Mahāsaṅghika, Para orang mulia kemudian meninggalkan vihara Kukkuṭārāma menuju Kashmir dan tinggal di sana. Raja kemudian membangun vihara di Kashmir.. [“Sects and Sectarianism, Bab.5“, Juga lihat di: di sini, di sini, di sini, di sini dan di sini]

      Note:
      Dari 7 cara penyelesaian perkaran (Adhikarana) di Vinaya, salah satunya melalui suara terbanyak/Yebhuyyasika (lihat di MN 104/samagama untuk aplikasinya) yaitu dengan metoda membisikan di telinga, secara rahasia atau terbuka. Apapun itu, SELALU:

      • TIDAK DIMUNGKINKAN adanya campur tangan umat awam dalam pelaksanaan urusan kebhikkuan dan TIDAK DIMUNGKINKAN menyerahkan keputusan penyelesaian perkara kepada umat awam. Penyelenggara kupon suara tetap HARUS Bhikkhu dengan 5 kualitas, yaitu: TIDAK memihak, TIDAK melalui kebencian, kebodohan, ketakutan dan tahu apa yang diambil/tidak. Bhikkhu itu harus diminta kesediannya terlebih dahulu dan kemudian Sangha pun harus diberitahu oleh seorang Bhikkhu lainnya yang berkompeten dan berpengalaman mengenai kesediannya
      • HARUS MEMENUHI 10 SYARAT SAH, diantaranya: JUMLAH Yang menganut dhamma HARUS lebih banyak dan/atau HARUS PASTI bahwa jika dilakukan maka SANGHA TIDAK AKAN TERPECAH atau TIDAK MUNGKIN TERPECAH dan harus diselenggarakan oleh SANGHA YANG LENGKAP bukan SANGHA YANG TIDAK LENGKAP

      Jadi bagaimana mungkin seorang ahli Tripitaka dan juga kumpulan para bhikkhu terpelajar paham dhamma dan vinaya yang ada dalam kisah ini TIDAK TAHU cara MENYELESAIKAN perkara yang NYATA-NYATA ada di 220 aturan+7 aturan penyelesaian masalah dan juga di MN 104/Samagama?

Menariknya,
teks-teks tradisi Utara sendiri, TIDAK KONSISTEN untuk menetapkan nama Mahadeva sebagai pihak yang bertanggung jawab. TERDAPAT BANYAK VARIASI NAMA LAINNYA yang terkait dengan 5 point tentang arahat, misalnya, Nāga (atau Mahāraṭṭha dalam terjemahan Paramārtha), Pratyantika, Bahuśruta, Mahābhadra dan Bhadra (yang kemudian 5 pandangan ini diadopsi oleh Nāga dan Sāramati/Sthiramati) [“Sects and Schims”, Bhikkhu sujato, Bab 4.1]. Mari kita ambil sebagai sample nama Bhadra dalam 2 teks tradisi Utara:

  • “Nikayabheda vibhanga vyakhyana” karya Bhavya, dari Aliran Sammitiya: Nama Bhikkhu yang menyampaikan 5 point: Bhadra
  • Dari Tarkajvala: “137 tahun setelah wafatnya Yang sempurna, Di masa Raja Nanda dan Mahāpadma diselenggarakan pertemuan para Arya di kota Pataliputra yaitu YM Mahakasyapa, Mahāloma (SPU tchen-po), Mahātyaga (gtang-ha tchen-po), Uttara (bla-ma) & (Di buku: ini dan ini ada tambahan nama YM Revata) lainnya. Ketika mereka berkumpul, Mara mengambil bentuk Biksu Badra memamerkan mukjizat menentang mereka dan menyampaikan 5 pandangan yang menyebabkan perpecahan dalam Sangha. Para Sthavira yang bernama Naga, Sthiramati dan Bahuśrutīya mengadopsi pandangan itu dan mengajarkannya (Di buku lainnya nama bahusrutiya/Bahusastra tidak ada dan kalimatnya menjadi: Para Sthavira yang bahusastra (sangat terpelajar) bernama Naga dan Sthiramati). Mereka katakan itu ajaran Buddha. Kemudian sangha terpecah menjadi dua aliran Sthavira dan Mahāsāṃghika. Selama 63 tahun terjadi pertengkaran.

Teks-teks dari tradisi Utara sendiri mengalami perpecahan ketika mencoba menyampaikan siapakah bhikkhu x, sang penyampai 5 point tentang arahat.

Moggaliputta vs Upagupta, Tradisi garis ajaran dan Konsili ke-3

  • Tradisi Utara [Divyavadana, Asokavadana, Abad ke-4 M]:
    Perpecahan Buddhisme
    Berikut narasi “Śāripūtraparipṛcchā sutra”, buatan anonim, abad ke-4 M, yang meminjam figure sang Buddha yang seolah meramalkan masa depan Buddisme:
      Setelah Aku memasuki Parinibbana, Mahākassapa..meneruskan kepada Ānanda. Ānanda -> Majjhantika -> Śāṇavāsin -> Upagupta.

        Note:
        NAMUN tradisi garis leluhur ajaran di teks-teks Sanskrit di tradisi Utara sendiri TIDAK KONSISTEN, walaupun sama-sama mulai dengan kalimat “100 tahun setelah Parinibbana sang Buddha”, misalnya teks aliran Sarvastivadin:

        “mama varṣaśataparinirvṛtasya mādhyandino nāma bhikṣur bhaviṣyaty ānandasya bhikṣoḥ sārdhaṃvihārī..mādhyandino nāmnā ānandasya bhikṣoḥ sārdhaṃvihārī sa upaguptaṃ pravrājayiṣyati” [mūlasarvāstivāda vinaya, khandhaka, Bhaiṣajyavastu] atau di “A-yu-wang-Chuan”/Asokarajavadana, terjemahan SanghaBadra, 506 M menyatakan: Majjhantika/mādhyandina yang menahbiskan Upagupta [“Buddhist Sects in India”, Dutt, hal.127].

        Di sini: Ananda -> Madhyandino -> Upagupta

        Sementara teks lainnya:
        “eṣa ānanda rurumuṇḍo nāma parvataḥ atra varṣaśataparinirvṛtasya tathāgatasya śāṇakavāsī nāma bhikṣurbhaviṣyati so ’tra rurumuṇḍaparvate vihāraṃ pratiṣṭhāpayiṣyati, upaguptaṃ ca pravrājayiṣyati” [Divyavadana no.26/pāṃśupradānāvadānam].

        Di sini: Ananda -> Sanakavasin -> Upagupta

        Sementara,
        Tradisi garis penahbis yang seharusnya adalah:
        Belatthasisa (dari kelompok Uruvela Kassapa) -> Ananda -> 6 Thera Konsili ke-2. Pembimbing/Achariya Ananda adalah Sang Buddha sedangkan upajjhayanya Ananda BUKANLAH Mahakassapa melainkan Belatthasisa.

        Jadi Ananda bukanlah penerus Mahakasyapa

      Setelah Upagupta terdapat raja Maurya Aśoka.. Cucunya bernama Puṣyamitra. Ia naik tahta…

        Note:
        Konon, Upagupta adalah kepala sangha di Mathura pada jaman Asoka. [“Buddhist Sects and Sectarianism”, Bibhuti Baruah, hal.51] dan Konon dikatakan bahwa Ia adalah pendiri Sarvastivada [“Buddhism: A Modern Perspective”, Charles Prebish, hal.42-43] serta konon juga, Asoka menjadi Buddhis adalah karena biksu Balapandita/Samudra dan kemudian biksu Upagupta menjadi gurunya.

        Semua legenda tentang Upagupta hanya ada dalam tradisi Utara dan berasal dari kitab-kitab yang muncul JAUH SETELAH konsili ke-3.

        Episode Upagupta VS Mara: Di konsili ke-3 atau Bukan?
        Kitab lokadipani/lokappannatti (karya Saddhammaghosa, abad ke-11 Masehi) yang beredar di Burma, Laos dan Thailand yang diterjemahkan oleh Phra Dhammadhiraja mahamuni (Abad ke-20) membuat legenda itu TERKAIT dengan pelaksanaan konsili ke-3 namun hasil penelitian John Strong menyatakan sebaliknya bahwa legenda itu TIDAK TERKAIT dengan konsili ke-3.

        Episode di legenda itu adalah tentang sebuah festival megah yang akan diselenggarakan Raja Asoka sehubungan dengan temuan relik-relik Buddha di dalam stupa-stupa yang dulu dibangun Raja Ajatasatru. Relik-relik itu dijaga sekawanan robot mekanik galak buatan Roma yang akan menyerang siapapun yang mencoba masuk. Oleh karenanya Raja Asoka harus menemukan mekanik ahli yang dapat melumpuhkannya dan untuk mengantisipasi gangguan Mara saat berlangsungnya festival relik, Raja Asoka memohon petunjuk sangha, kemudian seorang samanera sakti menganjurkan Raja agar meminta bantuan Kisanaga Upagupta [“The Legend and Cult of Upagupta: Sanskrit Buddhism in North India and Southeast Asia”, John Strong, Ch 9. Lokapannati].

        Informasi dari John Strong dalam episode UPAGUPTA vs MARA di Lokapannatti ADALAH SELARAS dengan legenda-legenda lain tradisi Utara tentang Upagupta untuk episode yang sama.

        Dinasti Maurya atau Dinasti Shunga?
        Pusyamitra BUKAN cucu Asoka, Ia adalah senapati di jaman dinasti Maurya dan setelah membunuh raja terakhir dinasti Maurya-Asoka (Brihadratha), Ia menjadi raja dan mendirikan dinasti Shunga. Asoka memerintah 37 tahun dan 2 cucunya yang naik tahta adalah: Dasharatha (8 tahun) dan Samprati (9 tahun). Dinasti ini masih berlanjut hingga 4 raja lagi (35 tahun), hingga Pusyamitra menjadi raja mendirikan dinasti Shunga. Ia memerintah 36 tahun dan digantikan Agnimitra (8 tahun). Dari wafatnya Sang Buddha s.d Agnimitra menjadi raja adalah: 343 tahun (218 + 37 + 52 + 36).

        Jadi kronologis kejadian perpecahan dalam sutra ini terjadi pada jaman raja ke-2 dinasti Shunga dan BUKAN di jaman Asoka.

      [berikutnya diceritakan kisah Puṣyamitra menghancurkan dan menindas Buddhisme, seperti yang diterjemahkan Lamotte, “History of Indian Buddhism”, hal.389-390. Yaitu 500 Arahat diperintahkan Sang Buddha untuk tidak memasuki Nibbana, tetapi berdiam di alam manusia untuk melindungi Dharma. Ketika Puṣyamitra hendak membakar teks Sutta-Vinaya, Maitreya menyelamatkannya dan menyembunyikannya di surga Tusita]

      Sifat raja berikutnya sangat baik. Boddhisattva Maitreya.. menciptakan 300 orang pemuda yang turun ke alam manusia untuk mencari jalan Buddha. Mengikuti ajaran Dhamma 500 Arahat, Para pria dan wanita di negeri raja ini berbondong-bondong memohon penahbisan. Demikianlah para bhikkhu dan bhikkhuni kembali ada dan berkembang. Para Arahat pergi ke alam surga dan membawa Sutta dan Vinaya kembali ke alam manusia

      Pada saat itu, ada seorang bhikkhu bernama “Bahuśruta”, memohon pendapat pada para arahat dan raja, bermaksud untuk membangun sebuah paviliun untuk Sutta-Vinaya-Ku, dengan membuat sebuah pusat pendidikan bagi mereka yang bermasalah

        Note:
        Dalam pandangan Mahayana, nibbana dan Parinibbana adalah semacam alam padahal dalam tradisi selatan, seorang disebut Arahat adalah karena Ia padam/Nibanna dan yang diajarkan sang Buddha adalah cara untuk mengakhiri dukkha/nibanna bukan mencapai alam nibanna.

        Maka bagaimana mungkin sang Buddha malah memberikan perintah mereka yang telah padam untuk tidak padam?

        Sutta-Sutta dan Vinaya hingga berakhirnya dinasti Shungga masih diturunkan secara oral dan BELUMLAH DITULISKAN, maka apa yang harus dibakar?

        Juga karena masih ada 500 Arahat, maka apa perlunya mengambil sutta dan vinaya di surga? Bukankah mereka ini juga dapat menahbikan dan mengajarkan pada 300 manusia ciptaan ini agar juga mencapai arahat?

      Pada saat itu ada seorang bhikkhu sepuh yang menginginkan kemashyuran, selalu ingin mempertahankan pandangannya sendiri. Ia mengubah, menambah dan memperluas Vinaya-ku, suatu yang dikembangkan Kassapa yang disebut “Mahāsaṅghikavinaya”. Ia mengambil dari luar dan mencampurkanya dengan yang ada, para pemula menjadi tertipu. Mereka membentuk kelompok berbeda, masing-masing membahas apa yang benar dan salah

      Pada saaat itu, ada seorang bhikkhu yang memohon putusan raja. Raja mengumpulkan dua kelompok itu, menyiapkan potongan kayu berwarna hitam dan putih untuk voting dan mengumumkan kepada mereka: ‘Jika kalian menyukai Vinaya lama, ambillah kayu hitam. Jika kalian menyukai Vinaya baru, ambillah kayu putih’. Yang mengambil kayu hitam berjumlah 10.000, hanya 100 yang mengambil kayu putih. Raja menganggap bahwa itu semuanya kata-kata Sang Buddha, tetapi karena berbeda dalam hal yang disenangi mereka seharusnya tidak berbagi tempat tinggal yang sama.

        Note:
        Selain membuat aturan baru mengajar agar tidak padam, Sutra ini juga membuat aturan vinaya baru yaitu: Penyelesaian masalah kebhikkhuan melalui Voting/Yebhuyyasika dapat dilakukan dengan campur tangan umat awam sebagai wasit pemutus padahal ini adalah kasus kebhikkhuan BUKAN kasus umat awam yang pura-pura menjadi Bhikkhu.

        Lucunya hasil campur tangan umat awam ini malah menghasilkan perpecahan dalam sangha. Dalam MN 104/Samagama, dicontohkan aplikasi pendapat mayoritas:

        “Dan bagaimanakah terjadinya pendapat mayoritas? Jika para bhikkhu itu tidak dapat menyelesaikan perkara itu di dalam tempat kediaman itu, maka mereka harus mendatangi tempat kediaman di mana terdapat lebih banyak bhikkhu. Di sana, mereka semuanya harus berkumpul bersama dalam kerukunan. Kemudian, setelah berkumpul, tuntunan Dhamma harus ditetapkan. Begitu tuntunan Dhamma telah ditetapkan, perkara itu harus diselesaikan sedemikian sesuai dengan tuntunan Dhamma itu. Demikianlah pendapat mayoritas. Dan demikianlah terjadinya penyelesaian perkara-perkara di sini dengan penghapusan perkara melalui pendapat mayoritas”

        Juga dalam Vinaya tradisi selatan ditegaskan bahwa penyelesaian perkara melalui suara mayoritas HANYA BOLEH digunakan jika tidak membuat perpecahan dalam sangha.

      Mayoritas yang melatih diri dengan (vinaya) lama karenanya disebut ‘Mahāsaṅghika’. Minoritas yang melatih diri dengan (Vinaya) baru adalah para Sesepuh, sehingga mereka disebut ‘Sthavira’. Juga, Sthavira dibentuk, aliran Sthavira

        Note:
        Kata “Sthavira” vs “Mahasanghika”
        Pemakaian kata “Sthavira/Thera (= tua/sepuh dalam masa vassa)” dan “Mahasanghika (= kelompok yang besar jumlahnya baik itu sepuh ataupun tidak)” hanyalah penamaan untuk membedakan dan tidak ada hubungannya dengan perbedaan pandangan-pandangan aliran. Di perkembangan selanjutnya, ini kemudian menjadi pembeda aliran, yaitu mereka yang belatih vinaya dan sutta dari konsili ke-1 dan 3 disebut aliran para sepuh atau Sthavira/TheraVada. Sementara yang bukan, yang jumlahnya memang lebih besar disebut aliran Mahayana.

      300 tahun setelah wafat-Ku, dari perselisihan ini muncul:

      • Sarvāstivāda dan Vātsīputrīya [Puggalavādin]
      • Dari Vātsīputrīya muncul aliran Dharmottarīya, aliran Bhadrayānika, aliran Saṁmitīya, dan aliran Ṣaṇṇagarika.
      • Dari aliran Sarvāstivādin memunculkan aliran Mahīśāsaka, Moggaliputtatissa [atau Moggali-upatissa; atau Moggala-upadeśa] memulai aliran Dharmaguptaka, aliran Suvarṣaka, dan aliran Sthavira. Lagi muncul aliran Kaśyapīya dan Sautrantika.

      Dalam 400 tahun muncul aliran Saṁkrāntika.

      Dari aliran Mahāsaṅghika, 200 tahun setelah Nibbana-Ku, karena pendapat lain muncul aliran Vyavahāra, Lokuttara, Kukkulika, Bahuśrutaka, dan Prajñaptivādin

        Note:
        Perpecahan Mahāsaṅghika yang dikatakan terjadi 200 tahun setelah wafatnya Sang Buddha ini membingungkan karena menempatkan Pusyamitra berada dikurun waktu 200 tahun setelah wafatnya sang Buddha!

      Dalam 300 tahun, karena perbedaan dalam pengajaran, dari 5 aliran ini muncul: aliran Mahādeva, aliran Caitaka, aliran Uttara [śaila]

      Demikianlah terdapat banyak [aliran] setelah suatu periode kemunduran yang panjang. Jika tidak seperti ini, akan terdapat hanya 5 aliran, yang masing-masing berkembang.

        Note:
        Sang Buddha yang membolehkan Buddhisme pecah menjadi 5 aliran untuk hidup rukun dalam perbedaan adalah membingungkan, karena TIDAK PERNAH sang Buddha menyetujui adanya SANGHABEDHA (perpecahan dalam sangha) dan menyatakan bahwa sangha harus tetap dalam satu kesatuan

      [Sumber: “Sects and Sectarianism“, Bhikkhu Sujato, bab.4.3]

  • Tradisi Selatan [Dipavamsa/Abad ke-4 M; Mahavamsa dan Samantapasadika/bad ke-5 M]:
    Hubungan antara konsili ke-2 dan konsili ke-3
    Para Thera di konsili ke-2, melihat setelah berlalu 118 tahun, kekisruhan Buddhisme akan terjadi dan seorang anak dari keluarga Bramana Moggali (Mogaliputta) akan menyelesaikannya, maka Siggava dan Candavajji diinstruksikan untuk menemukan dan mendidik anak itu [Mhv 5.95-103].

    Tradisi jalur Vinaya di konsili ke-3:
    Upali (30 tahun) -> Dasaka (50 tahun) -> Sonaka (44 tahun) -> Siggava (55 tahun) dan CandaVajji -> Moggaliputta Tissa (68 Tahun) [Mhv 5.104-153 dan Dipv 5.95-99]

    Upali menahbiskan Dasaka. Upali wafat 30 tahun setelah sang Buddha wafat, yaitu di tahun ke-6 pemerintahan UdayaBhadda (Sang Buddha wafat di tahun ke-8 pemerintahan Ajjatasattu + 24 tahun lagi sebelum UdayaBhadda) [Dipavamsa 4.38].
    Saat masa vassa Dasaka 40 tahun [Dipv 5.78] (Upasampada Dasaka tahun ke-16 Vijaya (dari 37 tahun) + tahun ke-20 Pangluvasudeva, Dipv 4.41; 5.77-78), Ia menahbiskan Sonaka.
    Saat masa vassa Sonaka 40 tahun Ia menahbiskan Siggava dan Candavajji. Saat itu adalah 100 tahun Nibannanya Sang Buddha dan 10 tahun pemerintahan Kalasoka (Dipv 4.44-46; 5.78-80).

    Apakah Sonaka = Sambhuta Sanavasin?
    Ketika Sang Buddha telah wafat selama 100 tahun maka Ananda telah wafat selama 60 tahun, Sehingga ketika konsili ke-2 berjalan, Sambhuta Sanavasin sudah bervassa > dari 60 tahun, sementara Sonaka baru 40 tahun (Ia pertama kali bertemu Dasaka saat berusia 15 tahun). Jadi Sonaka TIDAK PERNAH bertemu Ananda dan SONAKA bukanlah Sambhuta.

    Karena 700 yang dipilih Revata di konsili ke-2 adalah Bhikkhu Arahat dan mereka menugaskan murid Sonaka yaitu Siggava dan Candavajji untuk kelak menerima dan mendidik Moggaliputta, Maka Sonaka jelas ikut terlibat dalam Konsili ke-2.

    Kemudian,
    Tradisi Selatan TIDAK MENYEBUTKAN adanya Upagupta di jaman Asoka atau lebih tepatnya TIDAK ADA Upagupta di Jaman Asoka [Buddhist Saints in India: A Study in Buddhist Values and Orientations, Reginald A. Ray, hal.119]. Oleh karenanya, TIDAK ADA PULA PERTEMUAN Upagupta dengan ASOKA dan TIDAK ADA PULA episode UPAGUPTA vs MARA.

    Asoka dan Konsili ke-3
    Mulai tahun ke-3 pemerintahan Asoka,
    Asoka menjadi Buddhis (berlindung pada Tiratana dan memohon sila) setelah bertemu dan mendengar dhamma dari samanera/Calon bhikkhu bernama Nigrodha (ponakannya, anak dari Sumana/Susima) [Mhv 5.72]. Sejak itu, setiap hari, Asoka berdana pada makin banyak Bhikkhu, hingga nantinya berjumlah puluhan ribu [Mhv 5.73], Ia bertemu Mogaliputta Tissa di VIhara dan menyatakan akan membangun 84.000 Vihara di kerajaannya [Mhv.5.78]

    Di tahun ke-4,
    Saudara tirinya (Tissa) dan mantunya (Agnibrahma) menjadi Bhikkhu. [Mhv 5.171]

    Di tahun ke-6,
    Pembangunan 84.000 Vihara dan Asokaarama, selesai dan pada hari ke-7 diadakan Festifal perayaan di seluruh tempat di mana Vihara-vihara itu dibangun. Di hari perayaan, namanya berubah dari Candasoka menjadi Dharmasoka [Mhv 5.176-189] juga 2 anaknya yaitu: Mahinda (20 tahun) menjadi Bhikkhu dan Sanghamitta (18 tahun) menjadi Bhikkhuni (mungkin setelah suaminya, Agnibrahma, menjadi Bhikkhu, Ia bersiap menjadi calon Bhikkhuni dengan melatih 6 sila selama 2 tahun, makanya di hari itu Ia bisa ditahbiskan). [Mhv 5.200-211; “Asoka”, Mookerji Radhakumud, hal.110]. Ketika Mahinda ditahbiskan:

    (1) Moggaliputta Tissa sebagai Upajjhaya/gurunya,
    (2) Mahadeva sebagai penahbisnya dan
    (3) Majjhantika sebagai Kammavacanya (membacakan aturan-aturannya)

    Di tahun ke-8,
    Di satu waktu, di arama kerajaan, seorang Bhikkhu Arahat bernama Tissa kakinya digigit binatang beracun, Ia tidak ingin meminta obat ketika waktunya makan pagi, karenanya lukanye menjadi parah dan mengakibatkan kematian, Ia kemudian bersiap untuk Parinibbana dengan mengambil objek panas, tubuhnya melayang di udara, api keluar dari dalam tubuhnya membakar kulit dan dagingnya namun tidak tulangnya, Asoka mengetahui kejadian ini mengumpulkan relik tubuhnya untuk diberi penghormatan. dan kemudian memastikan tersedia juga cukup obat-obatan. Kemudian Adiknya yang juga Arahat (Sumitta) Parinibbananya bahkan dengan meditasi jalan. Karena ini, maka begitu banyaknya orang yang kemudian pindah doktrin keyakinan yang mengakibatnya sangat melimpahnya perolehan untuk Sangha [Mhv V.212-227]. Karena makin banyak yang pindah doktrin maka perolehan dan penghormatan yang diterima para petapa doktrin heresy menjadi jauh berkurang, Demi perolehan dan penghormatan, mereka berjubah kuning, menjadi bhikhhu penggelap, tinggal bersama para Bhikkhu di vihara-vihara seluruh negeri, menyampaikan doktrin-doktrin mereka sebagai ajaran Buddha dan mebawa tradisi mereka sebagaimana yang mereka inginkan [Mhv 5.228-230].

    Bhikkhu Moggaliputta Tisa, memperhatikan perkembangan ini, Ia kemudian menyerahkan kumpulan bhikkhu yang bersamanya kepada Mahinda, dan Ia menuju Ahoganga (area atas sungai Gangga, ini tidak sama dengan urumunda yang terletak di Mathura) menyepi 7 tahun lamanya. [Mhv 5.231-233]

    Karena begitu banyaknya para heresy dan kekisruhannya, para bhikkhu tak dapat mengendalikan mereka dengan aturan, akibatnya, para bikkhu seluruh negeri yang menjalankan vinaya tidak mau atau TIDAK DAPAT melakukan pemurnian diri (menyelanggarakan pembacaan Patimokha di hari Uposatha) bersama para biksu pencuri/penggelap ini.hal ini berlangsung 7 tahun lamanya. [Mhv 5.234]

      Note:
      Mengapa tidak bisa melakukan Uposatha bersama dengan para heresy?
      Karena saat Uposatha dibacakanlah Patimokha, jadi, jangankan sedang berada bersama para non bhikkhu ini, bahkan jika bersama kumpulan para bhikkhu yang di kumpulan itu ada bhikkhu yang tidak murni (melakukan pelanggaan) maka bhikkhu itu TIDAK BOLEH mendengarkan pembacaan Patimokha, karena di kumpulan itu banyak umat awam yang menyamar jadi bhikkhu, maka tidak bisa dilakukan pembacaan Patimokha. Berikut dari Cullavagga bab 9, tentang Penangguhan patimokha saat Uposatha:

      “Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Sekarang, Aku, para bhikkhu, untuk seterusnya tidak akan melaksanakan Uposatha, Aku tidak akan membacakan Pātimokkha; sekarang kalian sendiri, para bhikkhu, yang harus melaksanakan Uposatha, harus membacakan Pātimokkha. Tidaklah mungkin, para bhikkhu, tidaklah selayaknya bahwa Sang Penemu-kebenaran harus melaksanakan Uposatha, harus membacakan Pāṭimokkha bersama dengan kelompok yang tidak sepenuhnya murni.

      Juga, para bhikkhu, Pātimokkha tidak boleh didengarkan oleh seseorang yang melakukan pelanggaran. Siapa pun yang mendengarkannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah, aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk menangguhkan Pātimokkha bagi ia yang, setelah melakukan pelanggaran, mendengarkan Pātimokkha.

      Dan beginilah, para bhikkhu, penangguhan itu: Pada hari Uposatha, apakah tanggal empat belas atau lima belas, jika orang itu hadir maka hal ini harus diucapkan di tengah-tengah Saṅgha: ‘Yang Mulia, Mohon Saṅgha mendengarkan saya. orang itu melakukan pelanggaran; saya menangguhkan Pāṭimokkha baginya, Pātimokkha tidak boleh dibacakan jika ia hadir’ – (demikianlah) Pātimokkha ditangguhkan”

      Juga aturan mengenai alasan-alasan untuk menangguhkan pelaksanaan Uposatha lihat di Mahavagga, Khandhaka 2

      Theyyasaṃvāsako, bhikkhave, anupasampanno na upasampādetabbo, upasampanno nāsetabboti. Titthiyapakkantako, bhikkhave, anupasampanno na upasampādetabbo, upasampanno nāsetabbo (Para bhikkhu, Orang yang berada dipersekutuan dengan cara gelap tidak dengan penahbisan, tidak boleh ditahbiskan; jika ditahbiskan, ia harus dikeluarkan. Seorang yang pindah ke lain sekte tidak ditahbiskan, tidak boleh ditahbiskan; jika ditahbiskan, ia harus dikeluarkan) (Syarat ditahbiskan: Mahavagga, Theyyasaṃvāsakavatthu)
      mereka yang tanpa upajaya, grup sebagai upajaya, sangha sebagai upajaya, Theyyasamvasako sebagai upajaya dan Tittiyapkkhantako sebagai upajaya tidak boleh ditahbiskan, yang menahbiskan mereka melakukan pelanggaran perbuatan salah/dukkhata (Syarat Upasampada (tahbiskan): Mahavagga, Anupajjhāya-kādivatthu)
      Pacittiya no. 68/69: Tidak melakukan Uposatha Sanghakamma bersama: penggelap (theyya) atau mereka yang menyampaikan kotbah bertentangan dengan Dhamma Sang Buddha dan walaupun bhikkhu lain melarangnya berbuat demikian tetapi ia tetap tidak memperdulikannya

    Tahun ke-17,
    Ketika Raja Asoka tahu, beliau memerintahkan menterinya mendatangi para Bhikkhu agar melakukan pemurnian diri. Sang Menteri kemudian menemui Para Bhikkhu pemegang teguh vinaya menyampaikan pesan raja, namun mereka TETAP MENOLAK melakukan pemurnian diri bersama para bhikhu palsu. Jengkel dengan jawaban ini, Sang Menteri menghunus pedangnya dan memenggal kepala para Bhikkhu yang menolak beruposatha, satu demi satu, hingga kemudian Tissa, bergegas menghampirinya yang membuat Menteri ini tidak berani meneruskannya dan kembali pada raja memberikan laporan. Mengetahui ini, Asoka diliputi penyesalan dengan pikiran apakah dirinya ikut bertanggung jawab atau tidak atas hal ini [Mhv 5.235-244]

    Raja kemudian mengundang Moggaliputta Tissa untuk kembali dari gunung Ahoganga. Undangan raja 2x ditolaknya dan yang ke-3x, diterimanya, Ia menuju Pataliputra dengan perahu dan menetap 7 hari lamanya. Mogaliputta kemudian meminta Raja mengundang para bhikkhu di Asokarama Pataliputta dan duduk disebelah Moggaliputta Tisa, Pertanyaan diajukan Moggaliputta kepada mereka dan 60.000 yang teridentifikasi berpandangan salah, diusir raja dari kumpulan dan raja bertanya doktrin apa yang diajarkan Sang Buddha, Moggaliputta tissa mengatakan doktrin analisis dan logika. Setelah itu barulah Uposatha diselenggarakan.[Mhv 245-274]

      Note:
      Dalam kasus Devadatta dan kelompoknya, Sang Buddha TIDAK PERNAH menyatakan Devadatta dan kelompoknya TIDAK LAGI di persekutuan. Karena aturan itu, ditetapkan sang Buddha SETELAH KEMUNCULAN kasus Devadatta, oleh karenanya, seluruh bhikkhu yang ditahbiskan kelompok devadatta TETAP SAJA bhikku dan saat mereka kembali pada sangha pimpinan sang Buddha, mereka TIDAK PERLU ditahbisan ke-2 kalinya

      Pengujian pandangan akan menentukan jati diri mereka apakah mereka mengikuti tradisi yang disampaikan sang Buddha (konsili ke-1 dan 2) atau tidak, untuk itu ada 2 kategori kelompok umat awam yang menyamar sebagai bhikkhu di sangha saat itu, yaitu:

      • Garis tradisi leluhur Vajjiputtaka eks konsili ke-2 yang sejak konsili ke-2 tidak lagi tunduk pada aturan vinaya konsili ke-1 dan 2 sehingga mereka yang memisahkan diri ini dan turunan alirannya, BUKAN LAGI BHIKKHU sangha Sang Buddha, Walaupun mereka tetap berjubah dan/atau berjubah dengan penahbisan tradisi Vajjiputtaka grup dan kemudian apakah mereka tetap dengan pandangan dan tradisi kaumnya atau bahkan ikut tradisi dhamma sang buddha konsili ke-1 dan 2 NAMUN tidak ditahbihkan ulang, maka walaupun berjubah, bertindak seperti bhikkhu dan malah menggunakan aturan kebhikkhuan yang bahkan sama, mereka TETAP SAJA BUKAN bhikkhu
      • Yang berinisiatif sendiri untuk berjubah atau yang tidak ditahbiskan secara benar dengan aturan vinaya adalah bukan bhikkhu

      Kedua tipe di atas ini masuk kategori umat awam dan BUKAN BHIKKHU, oleh karenanya aturan vinaya untuk mengeluarkan mereka dari sangha tidak diperlukan. Mereka ini masuk kategori penipuan yang untung saja, mereka ini, tidak dipenjarakan Raja.

    Kemudian, Moggaliputtatissa, dari ribuan Bhikkhu yang telah dimurnikan ini, memilih 1000 Bhikkhu arahat untuk melakukan pertemuan. Inilah yang kemudian disebut sebagai KONSILI KE-3. Pertemuan ini diselenggarakan selama 9 bulan [Mhv 275-281] mengulang pembacaan Dhamma dan vinaya, membuat notulen konsili, menyusun ringkasan dhamma, analisis mendalam tentang berbagai topik dhamma, juga point-point kontroversi atas doktrin berbagai sekte dan sanggahannya sebanyak 7 bagian/kitab, yang disebut kitab Abhidhamma.

    Tahun ke-18/tahun ke-236 sejak parinibbananya sang Buddha,
    Moggaliputta Tisa, mengutus Mahinda (dan sanghamitta, beserta sejumlah bhikkhu dan bhikkhuni) untuk menyebarkan Buddhisme ke-Srilanka dan juga mengutus 8 lainnya (beserta sejumlah bhikkhu) ke beberapa negara sekitarnya [Mhv 12.1-8] yang diantaranya adalah Majjhantika yang diutus ke Gandhara dan Kashmir. Di Kashmir, Majjhantika menaklukan Naga dan menyebarkan Buddhism. Mathura terletak di Utara Kashmir.

      Note:
      Beberapa arti dan definisi dari Naga:

      • Nama suku yang tersebar di beberapa wilayah, missal: Kashmir, Assam, Sri Lanka, dll. (A Social History of India, S. N. Sadasivan, hal.327-329) atau kumpulan orang yang menyembah mahluk supranatural Naga (“RELIGION AND PHILOSOPHY“, Dr. Sunil Chandra Ray)
      • orang yang memiliki kekuatan dan daya tahan luar biasa. Misal: Sang Buddha disebut: nāga karena kekuatan-Nya; singa (sīha) karena tanpa-ketakutan; berdarah murni (ājāniya) karena pemahaman-Nya akan apa yang telah Ia pelajari (byattaparicayaṭṭhena), atau karena Ia mengetahui apa yang benar dan apa yang salah; sapi pemimpin (nisabha) karena Ia tanpa tandingan; binatang pembawa beban (dhorayha) karena Ia membawa beban; jinak (danta) karena ia bebas dari perilaku menyimpang) [SN 1.38/Pecahan batu]. Para Bhikkhu arahat juga disebut Naga (SN 1.37)
      • Pemikiran dan tindakannya yang luar biasa (Udana 4.4 dan 4.5. SN 1.37, 38)
      • Karena UKURANNYA luar biasa (AN 6.43/Naga sutta)
      • Mahluk supranatural yang berbentuk kobra besar, kadang berkepalanya satu, kadang banyak. Beberapa berkemampuan berubah bentuk menjadi Manusia. [Mahavagga I.63].

    Majjhantika dan Upagupta
    Berkenaan mereka berdua, terdapat beberapa kesamaan yang ada antara tradisi Utara dan Selatan:

    • Majjhantika TIDAK DISEBUTKAN KEBERADAANYA di konsili ke-2.
    • Upagupta TIDAK DISEBUTKAN KEBERADAANNYA baik di Konsili ke-2 maupun di konsili ke-3
    • Kedua Tradisi sama-sama menyebutkan bahwa Majjhantika pergi ke Gandhara dan Kashmir, menaklukan Naga dan menyebarkan Buddhism di sana
    • Mathura terletak di Utara Kashmir

    Menurut Tradisi Selatan, di SEBELUM KONSILI ke-3, Aliran-aliran yang berpandangan salah, termasuk Sarvastivada, telah dibersihkan dan Kathavatthu memuat rincian pandangan ajaran aliran yang TELAH TERTOLAK ketika diuji melalui DHAMMA dan VINAYA dan bukan melalui voting, sehingga JIKA BENAR memang ada Upagupta dan JIKA BENAR Ia yang menciptakan aliran Sarvastivadin dan juga JIKA BENAR Ia adalah murid Majjhantika, maka benang merah yang MUNGKIN adalah ketika Majjhantika ke Kashmir dan karena Mathura ada di utara Kashmir, maka di situlah Upagupta menjadi murid Majjhantika, sehingga sangat mungkin bahwa legenda tentang Upagupta baru muncul di setelah berakhirnya konsili ke-3.

    Bukti keberadaan Moggaliputta Tissa
    Walaupun Moggaliputta Tissa TIDAK ADA di sebutkan dalam teks-teks tradisi Utara dan HANYA ADA di teks-teks tradisi selatan, namun NAMANYA dan kegiatannya ditemukan dalam penemuan arkeologi dari Inskripsi pada relik peti pada stupa no.2 di Sanchi dan Sonari tertulis: Sapurisasa Mogaliputasa (Orang suci Moggaliputta), juga untuk nama Majjhima, Kassapagotta dan Dundhubhisara (Yang dikirim ke Himalaya).

Sehingga diakhir konsili ke-3, yaitu ditahun ke-236 sejak parinibbananya sang Buddha, resmilah Buddhisme mempunyai Tipitaka/Tripitaka (3 keranjang), yaitu: Dhamma/sutta-sutta, Vinaya dan Abhidhamma.

Apakah Kitab Abhidhamma Sabda dari Sang Buddha?

Abhidhamma hanya terdapat di 2 aliran saja, yaitu: Theravāda (dalam bahasa Pali) dan Sarvāstivāda (Mahayana, hanya ada dalam bahasa Tionghoa, tidak ada dalam bahasa Prakrit dan Sanskrit). Walaupun sama-sama dikumpulkan menjadi 7 kitab namun penamaannya dan juga isinya berbeda. J. Takakusu menyatakan: “Membandingkan dua set Abhidhamma, sejauh yang bisa saya akses, saya tidak menemukan point apapun, baik dalam bentuk atau materi yang bisa membawa kita untuk berpikir bahwa keduanya sama..” (“The Abhidharma Literature, Pāli and Chinese”, J. Takakusu, hal.160-162).

Kitab komentar menyatakan: Sang Buddha, di tahun ke-7 ke-Buddha-an, pergi ke Tavamtisa mengajarkan Abhidhamma kepada IbuNya (Nama devanya: Santusita, namun di Thag.vss.533f, ThagA.i.502, nama devanya: Māyādevaputta). Saat pembabaran itu, IbundaNya mencapai sotāpanna [Kitab komentar untuk: Jataka no.483 dan Dhammapada no. 181].

Kejadian ke Tavamtisa diawali peristiwa pertunjukan kesaktian dihadapan umat awam yang dilakukan YM Pindola Bhâradvadja pada hari ke-7, setelah 6 hari lamanya, 6 guru terkemuka [Purana Kassapa, Makkhali Gosala, Ajita Kesakambali, Pakudha Kaccayana, Sanjaya Belatthiputta, Nigantha-Nataputta] gagal memberi bukti kepada seorang pedagang kaya Rajagaha yang tidak percaya arahat sejati ada karena dibingungkan begitu banyaknya yang mengaku sebagai Arahat, untuk itu, Ia membuat mangkuk dari cendana dan menggantungkannya di atas rangkaian bambu setinggi 60 lengan dan mengumumkan, “Arahanta sejati boleh mengambil mangkuk ini dengan cara terbang ke angkasa”.

Kejadian YM Pindola menghebohkan penduduk Rajagaha sehingga mereka mengekoriNya. Kegaduhan ini diketahui sang Buddha. YM Ananda menerangkan sebab terjadinya kegaduhan dan Sang Buddha menetapkan larangan, “Para bhikkhu…seorang bhikkhu tidak memperlihatkan kesaktiannya di hadapan umat awam; dan ini adalah pelanggaran, ‘Dukkata âpatti’/Pelanggaran minor”.

Pertunjukan kesaktian dari YM Pindola Bharadvaja, tercantum dalam vinaya: [Theravada Pali V.5.8; Dharmaguptaka ch 51 1916: 235-238 (96-99); Mahīśāsaka ch 26 1916: 238-243 (99-103); Sarvâstivāda ch 37 1916: 243-246 (103-105); Mūla,sarvâstivāda Divy 256.25-257.21], Kitab komentar: [AA 1:196-199; SA 393; DhA 14.2.2/3:199-201; ThaA 2:4-6; UA 252; J 4:263; SnA 570; ApA 197. S] dan hanya kitab komentar yang mencantumkan tahun kejadiannya, yaitu di tahun ke-6 masa Vassa .

Larangan tersebut menggembirakan para pengikut 6 Guru lainnya. Raja Bimbisara bertanya pada sang Buddha tentang pelarangan itu dan sang Buddha menyampaikan bahwa 4 bulan kemudian di Savatthi, beliau akan mempertunjukan keajaiban. [RAPB buku ke-1, hal 1187]. Jarak Rajagaha – Savatthi = 45 Yojana (504 km s.d 648 km).

Kemudian di Savatthi,
Beberapa dari sangha Bhikkhu dan bikkhuni, diantaranya Samaneri Cirra yang berumur 7 tahun dan Bhikkhuni Uppavalavanna memohon ijin untuk menggantikan beliau menunjukan kesaktian, namun tidak diperkenankan. Sang Buddha kemudian mempertunjukan kesaktiannya dan setelah itu ke alam Tavatimsa. Salah satu dari 6 guru, yaitu Purana Kassapa, bunuh diri terjun ke sungai karena malu akan kegagalannya di Rajagaha.

Apa yang dapat kita gali dari informasi di atas?
Di atas disampaikan bahwa YM Ananda memberitahukan kehebohan yang terjadi di Rajagaha kepada Sang Buddha. Sutta menginformasikan bahwa YM Ananda menjadi Buddhopaṭṭhāka (pembantu tetap Sang Buddha) justru mulai di tahun ke-20: “Paṇṇavīsati-vassāni (Selama 25 tahun); bhagavantaṃ upaṭṭhahiṃ (menjadi pendamping Sang Bhagava); Mettena kāya.. vacī.. manokammena (dengan cinta kasih melalui perbuatan, perkataan dan pikiran), chāyāva anapāyinī (bagai bayangan yang tak lepas)” [Thag 17.3/Ananda]. Jadi seharusnya terjadi di atas tahun ke-20.

Di atas ada Samaneri dan Bhikkhuni. Ini seharusnya terjadi di atas tahun ke-20.

Sutta Di DN2/Sāmaññaphala Sutta:
Raja Ajjatasattu pernah berkonsultasi dan kemudian disarankan juga untuk berkonsultasi lagi dengan 6 guru terkemuka, yang salah satunya adalah Purana Kassapa.

Raja Bimbisara wafat ketika Sang Buddha berusia 72 tahun (Sang Buddha wafat di tahun ke-8 masa pemerintahan Ajjatasattu). Dalam waktu 4 bulan, setelah pertunjukan Pindola Bhavadraja, Raja Magadha telah berganti dari Bimbisara menjadi Ajjatasattu. Ketika Purana Kassapa bunuh diri ini terjadi beberapa bulan setelah Ajjatasattu menjadi Raja

Oleh karenanya, perjalanan ke Tavatimsa, yang konon untuk urusan mengajar Abhidhamma, seharusnya terjadi di tahun ke-37

Sementara itu,
hasil konsili ke-1 dan ke-2, sama sekali tidak memuat adanya Abhidhamma sebagai ajaran yang khusus terpisah (atau kelak sebagai 7 kitab yang menjadi 1/3 tipitaka) dan 7 kitab Abhidhamma baru ada di tahun ke-3 SM, setelah konsili ke-3.

Mereka yang Pro: bahwa “Abhidhamma merupakan sabda sang Buddha”, memberikan bukti, misal [Juga ini atau ini]:

  1. Vinaya Pitaka, Mahâvibhanga, Dabbamalaputta Thera-vatthu, “…YE TE BHIKKHÛ ABHIDHAMMIKÂ TESAM EKAJJHAM SENÂSANAM PAÑÑÂPETI TE AÑÑAMAÑÑAM ABHIDHAMMAM SÂKACCHISANTÎTI…” -> Kalimat yang mengandung kata “Abhi” TIDAK ADA di mahavibhanga, namun ada kalimat yang MIRIP dengan itu, yaitu di Mahavibhanga dan cullavagga: “Ye te bhikkhū dhammakathikā tesaṃ ekajjhaṃ senāsanaṃ paññapeti – te aññamaññaṃ dhammaṃ sākacchissantīti” (Para bhikkhu ahli dhamma tergabungkan dalam satu kelompok mengatur tempat duduk dengan berpikir agar mereka dapat saling berbincang dhamma). Tampak jelas BUKAN “abhidhammika dan abhidhamma” namun “Dhammakathika dan dhamma”
  2. ..abhisamācārikāya sikkhāya sikkhāpetuṃ ādibrahmacariyikāya sikkhāya vinetuṃ abhidhamme vinetuṃ abhivinaye vinetuṃ..” (..membimbing latihan bentukan prilaku yang lebih dalam mendisiplinkan dengan latihan awal bentukan kehidupan suci mendisiplinkan dengan dhamma yang lebih dalam mendisiplinkan dengan disiplin yang lebih dalam) [Vinaya: Mahavagga Bodhikatha: Upasampādetabbapañcaka dan juga Parivara pali, bab 17:Upalipancaka]. Jika kata abhisamācārikāya dan abhivinaya di sini bukan sebagai ajaran/kitab tersendiri, maka begitu pula dengan abhidhamma.
  3. Vinaya Pitaka, Bhikkhuni Vibhanga, yaitu pada paragraph YANG BUKAN ucapan sang Buddha namun pada bagian bawah, yaitu bagian kalimat komentar kata-perkatanya atau penjelasan lanjutan kata-perkatanya:

    Pañhaṃ puccheyyāti suttante okāsaṃ kārāpetvā vinayaṃ vā abhidhammaṃ vā pucchati, āpatti pācittiyassa. Vinaye okāsaṃ kārāpetvā suttantaṃ vā abhidhammaṃ vā pucchati, āpatti pācittiyassa. Abhidhamme okāsaṃ kārāpetvā suttantaṃ vā vinayaṃ vā pucchati, āpatti pācittiyassa” (Bertanya tentang Sutta tetapi malah berbalik bertanya Vinaya atau Abhidhamma; melanggar Pâcittiya. Bertanya tentang Vinaya tetapi malah berbalik bertanya Sutta atau Abhidhamma; melanggar Pâcittiya. Bertanya tentang Abhidhamma tetapi malah berbalik bertanya Sutta atau Vinaya; melangar Pâcittiya) [Pacittiya no.95]

    Sabbasattuttamo sīho, piṭake tīṇi desayi; Suttantamabhidhammañca, vinayañca mahāguṇaṃ” (Yang terbaik dari segala mahluk, sang Singa, mengajarkan 3 pitaka: Suttanta, Abhidhamma, dan Vinaya—yang sangat berguna). [Vinaya: Parivara Pali, Samuṭṭhānasīsasaṅkhepa (ringkasan), bab ke-3]

    Thanissaro Bhikkhu:
    “Catatan Horner di Book of Disipline, kalimat komentar dalam aturan ini adalah 1 dari sedikit tempat di vinaya yang tampaknya merujuk pada abhidhamma sebagai sebuah teks (kitab) – ini mengindikasikan bahwa entah aturan atau kalimat komentarnya yang merupakan formulasi belakangan”.

    Tampaknya Horner benar, karena Parivara Vinaya, buku paling akhir yang muncul dalam Vinaya, sebagai penjelasan Vinaya, menyampaikan: MAHINDA (Murid Moggaliputta Tissa, pemimpin Konsili ke-3, abad ke-3 SM) dan beberapa bhikkhu lainnya (Iṭṭiya, Sambala, Bhaddanāma) pergi dari India menuju Srilanka mengajarkan: Vinaya, 5 nikaya dan “satta ceva pakaraṇe (7 kitab)”. Beberapa paragraph lanjutannya berisi tradisi urutan pengajar di Srilanka s.d Khema Thera yang mengajarkan tipetako/tipitaka (tiga keranjang). Kemudian pada bab ke-3nya (Samuṭṭhānasīsasaṅkhepa/ringkasan), kata satta ceva pakaraṇe (7 kitab) yang muncul di bab awal berubah menjadi kata “Abhidhamma”. Inilah Tipitaka yaitu setelah adanya tambahan 7 kitab Abhidhamma

  4. Tena kho pana samayena sambahulā therā bhikkhū pacchābhattaṃ piṇḍapātapaṭikkantā maṇḍalamāḷe sannisinnā sannipatitā abhidhammakathaṃ kathenti. Tatra sudaṃ āyasmā citto hatthisāriputto therānaṃ bhikkhūnaṃ abhidhammakathaṃ kathentānaṃ antarantarā kathaṃ opāteti” (Pada saat itu, setelah makan dana makanan, sejumlah bhikkhu senior berkumpul duduk bersama di paviliun terlibat diskusi lebih dalam tentang Dhamma. Selagi para bhikkhu senior berdiskusi lebih dalam tentang Dhamma, YM Citta Hatthisāriputta berulang-ulang menyela pembicaraan mereka) [AN 6.60/Hatthisāriputta]. Maksud sutta ini BUKANLAH sedang mendiskusikan suatu ajaran khusus yang disebut dengan nama abhidhamma, namun mendiskusikan lebih dalam tentang Dhamma.

    Sample lain klaim:
    ..Idamassa javasmiṃ vadāmi. Abhidhamme kho pana abhivinaye pañhaṃ puṭṭho..” (..Ini, Aku katakan, adalah kecepatannya. Tetapi ketika ditanyai pertanyaan Dhamma yang lebih dalam dan disiplin yang lebih dalam..) [AN 3.141-142, AN 9.22]. Maksud sutta ini BUKANLAH bertanya tentang suatu ajaran khusus yang disebut abhidhamma dan abhivinaya, namun tentang pertanyaan yang lebih mendalam lagi mengenai dhamma dan vinaya.

    ..Puna caparaṃ, bhikkhave, bhikkhu dhammakāmo hoti piyasamudāhāro, abhidhamme abhivinaye uḷārapāmojjo..” (..Kemudian, Para Bhikkhu, seorang bhikkhu pencinta Dhamma dengan kata-taka yang menyenangkan sangat bergembira dengan dhamma yang lebih dalam dan disiplin yang lebih dalam..) [AN 10.17, 18, 50, 98; AN 11.14; DN 33, 34]. Maksud sutta ini BUKANLAH menggemari suatu ajaran khusus yang disebut abhidhamma dan abhivinaya, namun menggemari dhamma dan vinaya yang lebih mendalam lagi

    Āraññikenāvuso, bhikkhunā abhidhamme abhivinaye yogo karaṇīyo. Santāvuso, āraññikaṃ bhikkhuṃ abhidhamme abhivinaye pañhaṃ pucchitāro. Sace, āvuso, āraññiko bhikkhu abhidhamme abhivinaye pañhaṃ puṭṭho na sampāyati, tassa bhavanti vattāro. ‘Kiṃ panimassāyasmato āraññikassa ekassāraññe serivihārena yo ayamāyasmā abhidhamme abhivinaye pañhaṃ puṭṭho na sampāyatī’ti—tassa bhavanti vattāro. Tasmā āraññikena bhikkhunā abhidhamme abhivinaye yogo karaṇīyo” (Seorang bhikkhu penghuni hutan harus menekuni Dhamma yang lebih dalam dan Disiplin yang lebih dalam. Ada di antara mereka yang mengajukan pertanyaan kepada bhikkhu penghuni hutan tentang Dhamma yang lebih dalam dan Disiplin yang lebih dalam. Jika, ketika ditanya demikian, ia tidak mampu menjawab, maka akan ada di antara mereka yang mengatakan tentangnya: ‘Apakah yang telah diperoleh Yang Mulia penghuni hutan ini dengan menetap sendirian di dalam hutan, melakukan apa yang ia sukai, karena ketika ditanya tentang Dhamma yang lebih dalam dan Disiplin yang lebih dalam ia tidak mampu menjawab?’ Karena akan ada di antara mereka yang mengatakan hal ini tentangnya, maka seorang bhikkhu penghuni hutan harus menekuni Dhamma yang lebih dalam dan Disiplin yang lebih dalam) [MN 69/Gullisani Sutta].

    Jika sutta-sutta di atas ini dianggap sebagai bukti adanya ajaran yang khusus diturunkan dengan nama abhidhamma, tentunya harus juga ada ajaran yang khusus diturunkan dengan nama abhivinaya, bukan?. Faktanya, tidak ada ajaran yang khusus diturunkan dengan nama abhivinaya, konsekuensinya, juga tidak ada ajaran yang khusus diturunkan dengan nama abhidhamma.

    Abhidhamma seperti apa yang sang Buddha maksudkan?
    ”…hal-hal ini yang telah Kuajarkan kepada kalian setelah mengetahuinya secara langsung, yaitu:

    • 4 landasan perhatian
    • 4 jenis usaha benar
    • 4 landasan kekuatan mental
    • 5 indria
    • 5 kekuatan
    • 7 faktor pencerahan
    • 8 jalan Mulia [Total sejumlah 37 item ini juga tercantum di DN 16/Mahaparinibanna sutta sebagai 37 hal sisi pencerahan/Sattatiṁsā Bodhipakkhiya dhammā]

    dalam hal-hal ini kalian semuanya harus berlatih dalam kerukunan, dengan saling menghargai, tanpa perselisihan. Tesañca vo, bhikkhave, samaggānaṃ sammodamānānaṃ avivadamānānaṃ sikkhataṃ siyaṃsu dve bhikkhū abhidhamme nānāvādā… (Sewaktu kalian berlatih dalam kerukunan, dengan saling menghargai, tanpa perselisihan, dua bhikkhu mungkin membuat pernyataan berbeda sehubungan dengan Dhamma yang lebih dalam…)” [MN 103/Kinti Sutta]

    Jadi, Abhidhamma yang asli, yang merupakan ajaran sang Buddha ternyata adalah 37 hal sisi pencerahan/Sattatiṁsā Bodhipakkhiya dhammā!

  5. Kusalāhaṃ visuddhīsu, kathāvatthuvisāradā; Abhidhammanayaññū ca, vasippattāmhi sāsane” (Aku menguasai baik, kemahiran kathavatthu, metoda Abhidhamma, di sasana ini) [KN, Thi Apadana 18/Khemātherīapadāna]. J.S Walters dan B.M Barua: “..Apadana dibuat SETELAH jaman raja Asoka”. A.K Warder: “..Apadana dibuat paling awal pada abad ke-1 SM” [“Journal pali text society”, Vol.20, hal.32]

Meminjam logika cara berpikir yang sama, apakah karena kata “asoka” muncul di sutta dan vinaya, maka raja Asoka telah ada di jaman Buddha? atau disebut keberadaannya oleh Sang Buddha? Tentu tidak, bukan?

Bantahan mereka yang kontra, misalnya dari I.B Horner: Kata “ABHIDHAMMA” muncul tidak lebih dari 10x, [3x di vinaya pitaka], Frase tersebut dimaksudkan dalam konteks materi dan cara, dan BUKAN dalam konteks kumpulan kitab, misalnya di vinaya terdapat kata sutta, gatha (syair) dan abhidhamma sekaligus:

    [Berkenaan dengan bhikkhu yang melakukan pelanggaran karena meremehkan pembelajaran vinaya:] “Anāpatti—na vivaṇṇetukāmo, ‘iṅgha tvaṃ suttantegāthāyoabhidhammaṃ vā pariyāpuṇassu, pacchā vinayaṃ pariyāpuṇissasī..’” (Bukanlah pelanggaran, jika, tidak dimaksudkan untuk merendahkan, dia berkata, ‘dengar, apakah Anda mahir sutta, syair (Gatha) atau dhamma yang lebih dalam dan setelahnya mahir disiplin..’) [vinaya, Vol. III p.42 atau Mahavagga, Pacittiyakanda, sahadhammikavagga untuk Pacittiya no.72]”.

Keberadaan kata syair (gatha) di situ, merupakan bukti yang lebih dari cukup untuk menunjukan bahwa “abhidhamma” BUKANLAH ajaran yang terpisah sendiri, karena “gatha” tidak berarti gatha Pitaka maka “abhidhamma” tidaklah berarti Abhidhamma Pitaka.

Klaim bahwa Abhiddhama diturunkan via YM Sariputta
YM Sariputta disebut sang Buddha sebagai “Yang terunggul dalam intuisi kebijaksanaan”, di beberapa sutta, kita temukan beberapa diskusi logika analisis, misal di Mahaghosinga sutta [YM Moggalana dan YM Sariputta] juga Mahavedalla sutta [YM Kotthita dan YM Sariputta] mereka berdiskusi lebih dalam lagi tentang Dhamma. Pembicaraan Dhamma yang dalam lagi ini adalah bagian dari Dhamma itu sendiri.

    YM Sariputta:
    2 minggu setelah ditahbiskan, Aku memahami analisa: [atthapaṭisambhidā/pengertian secara luas dan mendalam; dhammapaṭisambhidā/hubungan kondisi dan sebab; niruttipaṭisambhidā/Tata bahasa asal usul interpretasi pengucapan dialek dan ekspresi; paṭibhānapaṭisambhidā/Penerangan, intelektual dan kefasihan penyampaian] dan dengan rincian ciri dan kekhasannya (sacchikatā odhiso byañjanaso) Itu saya nyatakan, terangkan, perlihatkan dan tunjukan dalam dalam berbagai cara (AN 4.173/Vibhatti sutta).

Pengakuan YM Sariputta ini adalah tentang apa yang dicapainya, tidak pernah disebutkan di manapun dalam sutta dan vinaya bahwa beliau mendapatkan suatu ajaran khusus yang disebut dengan nama Abhiddhama. Hanya kitab-kitab komentar buatan abad-abad belakanganlah yang memuat perluasan imaginasi bahwa Abhidhamma diturunkan via Sariputta yang dikaitkan dengan perjalanan fiksi sang Buddha ke Tavatimsa untuk mengajar Abhiddhama kepada IbuNya. Klaim kitab-kitab komentar ini, seharusnya mengundang beberapa pertanyaan lanjutan, misalnya

  • Mengapa IbuNya tidak ke alam manussa saja untuk mendapatkan pengajaran, karena toh, sutta dan vinaya juga menyampaikan bahwa para devapun kerap berkunjung ke alam manussa untuk mendengarkan dhamma Sang Buddha dan para Arahat lainnya?
  • Mengapa selama 3 bulan (90 hari) musim vassa alam manussa yang setara dengan 3.6 detik di Tavatimsa itu, Sang Buddha perlu turun (atau membuat proyeksi image-Nya) ke alam manussa untuk berpindapatta setiap harinya? Mengapa sang Buddha tidak kuat untuk tidak makan untuk sekedar hanya 3.6 detik saja? Atau mengapa para deva menjadi begitu pelitnya tidak menyuguhkan sesuatu jika memang waktunya pindapatta? Atau tidakkah nimittabuddha/bentukan Buddha palsu (untuk mengajar) membuat sang Buddha menjadi pelanggar sila ke-4, karena diriNya tidak menyampaikannya sendiri? Bagaimana mungkin kitab komentar (Dhammapada: Buddha vagga dan Abhidhamma: Ganthārambhakathā) sudah mengatakan ada 7 kitab (sattapakaraṇika, sattappakaraṇa = 7 kitab) Abhidhamma yang diajarkan Sang Buddha (dan Sariputta) padahal Kathāvatthu (salah satu dari 7 kitab) sendiri baru muncul di abad ke-3 SM, pasca perpecahan aliran?

[Lihat juga: “Abhidhamma Abhivinaya in the first two of the Pāli Canon“, I.B. Horner, The Indian Historical Quarterly, Vol.17:3, Sep.1941 dan “What did the Buddha mean by the word ‘abhidhamma’?“, Bhikkhu Varado] [↑]

Mengenai Khuddaka Nikaya/KN,
Oliver Abeynayake menyatakan ini terbagi dalam dua strata:

  • (1) Sutta Nipata, (2) Itivuttaka, (3) Dhammapada, (4-5) Therigatha dan Theragatha, (6) Udana dan (7) Jataka -> pada strata awal
  • (8) Khuddakapatha, (9) Vimanavatthu, (10) Petavatthu, (11) Niddesa, (12) Patisambhida, (13) Apadana, (14) Buddhavamsa dan (15) Cariyapitaka -> pada strata belakangan [“A textual and Historical Analysis of the Khuddaka Nikaya”, Oliver Abeynayake Ph.D,1984, hal.113]

Menurut J.S Walters dan B.M Barua: Cariyapitaka, Buddhavamsa dan Apadana dibuat SETELAH jaman raja asoka. Sementara A.K Warder: Patisambhidamagga dan Buddhavamsa dibuat paling awal pada akhir abad ke-2 SM dan Apadana dibuat paling awal pada abad ke-1 SM [“Journal pali text society”, Vol.20, hal.32]. Menurut K.R Norman: Di Buddhavamsa 24.6 disebutkan Buddha Konagamana menyampaikan kotbah 7 buah kitab dan kitab komentar Buddhavamsa menyatakan 7 kitab yang dimaksudkan adalah kitab Abhidhamma, sehingga Buddhavamsa dibuat setelah konsili ke-3. [“A History of Indian Literature”, K.R Norman, 1983, hal.97]. APADANA yang merupakan “komentar” Thera/Therigatha memuat 2 syair yang menyebutkan tentang kitab Kathavatthu Abhidhamma:

  • “Saṃkhittenapi desemi, vitthārena tathevahaṃ; Abhidhammanayaññūhaṃ, kathāvatthuvisuddhiyā; Sabbesaṃ viññāpetvāna, viharāmi anāsavo” (Belajar detail metoda Abhidhamma, menguasai kathavatthu, memahaminya semua, Aku bebas dari kebingungan) (Tha Apadana 7/Puṇ-ṇamantāṇiputtattheraapadāna) dan
  • “Kusalāhaṃ visuddhīsu, kathāvatthuvisāradā; Abhidhammanayaññū ca, vasippattāmhi sāsane” (Aku menguasai baik, kemahiran kathavatthu, metoda Abhidhamma, di sasana ini) (Thi Apadana 18/Khemātherīapadāna)

Paul William: Bechert menyatakan Buddhaapadāna baru dibuat pada abad ke-1 atau awal abad ke-2 M [“Mahayana Buddhism: The Doctrinal Foundations“]. K.R Norman: Bechert menyatakan Buddhaapadāna TIDAK ADA di versi ke-1 kitab Apadana dan baru muncul pada abad ke-1 atau ke-2 M bersamaan dengan sukhavativyuhanya kaum Mahayana. [“Journal pali text society” vol.20, hal.31]. Jadi Apadana baru ada jauh abad setelah konsili ke-3 dan terkena pengaruh Mahayana. Petavathu dan Vimanavathu, juga dibuat SETELAH abad 3 SM, sample:

    Rājā piṅgalako nāma,
    Suraṭṭhānaṃ adhipati ahu;
    Moriyānaṃ upaṭṭhānaṃ gantvā,
    Suraṭṭhaṃ punarāgamā. [Petavathu 4.3.1]

T. W. Rhys (Thomas William Rhys) Davids dalam “Dialogues of the Buddha” di bagian pembuka mengatakan: “[..]tentang raja Pingalaka. DHAMMAPALA (abad ke-6 M)….raja ini..hidup 200 tahun setelah Sang Buddha. Oleh karenanya, syair ini, juga cerita PETA VATTHU dan VIMANA VATTHU, selambat-lambatnya ada setelah Pingalaka. Dan tak ada alasan untuk percaya tahun komentator, meskipun jelas hanya angka bulat, sangat jauh salah. Buku-buku ini jelas, dari isinya, komposisinya adalah lebih belakangan dari semua 5 Nikaya. Kemudian, di hal 30-31, Mr Rhys sampaikan bahwa raja itu ada di 300 SM.

    Ahaṃ bhadante petomhi,
    duggato yamalokiko;
    Pāpakammaṃ karitvāna,
    petalokaṃ ito gato. [Petavatthu 4.8]

Sang Buddha di sutta-sutta awal tidak pernah menyatakan Alam Yama sebagai alam menderita [Lihat: MN.129/Balapandita-sutta, syair no.2 – 7 dan syair no.8 -17; MN 130/Devaduta-sutta, syair no.8 – 10 dan syair no.10 – 27]

Konsili ke-4,
Buddhisme di India mengalami kemerosotan tajam pasca runtuhnya dinasti Maurya oleh Pusyamitra (185-149 SM), pendiri dinasti Shunga (185 -75 SM):

  • Perpecahan di internal Buddhisme dan pengubahan kotbah ke dalam sanskrit (sebuah bahasa bagi kalangan eksklusif) menyumbang makin banyaknya doktrin membingungkan bagi pemeluknya, misalnya di Manjushri Mula Kalpa dan juga sejarahwan Taranatha dalam Rgya- gar-chhos-hbyung (Sejarah agama di India), tahun 1608, bab 10 yang menyatakan bahwa Panini, teman raja Nanda, mencapai Sravakabodhi dan ramalan Manjusri Mula Tantra bahwa Panini adalah Avalokitesvara [juga lihat: “Buddhist sects in India, Dutt, hal.7]
  • Kita mungkin bisa abaikan narasi Divyavadana dan Asokhavadana tentang kekejaman Pusyamitra terhadap Buddhism (yang juga dikutip sejarahwan Taranatha dan yang tercantum dalam Śāripūtraparipṛcchā sutra) yang beberapa pakar juga skeptis mengenai hal itu. Namun, penekanan panjang dinasti Buddhist Maurya terhadap Brahmanisme dan bagaimana Raja mendapatkan tahtanya, memberikan cukup alasan bagi raja untuk menekan bangkitnya dinasti sebelumnya. Sebagai reaksinya, para pendukung Buddhism menjadi lebih condong pada raja yang pro-Buddhis, misalnya pada Raja Bactria/Yunani Menander I/Milanda (165/155-130 SM), pemeluk Buddhism, yang menguasai India Utara. Awalnya memang tidak dengan kekerasan namun karena menjadi ancaman territorial, tindakan represif pada basis yang tidak pro kerajaan adalah wajar terjadi

    Arah politik raja berikut dari dinasti ini, tampaknya berubah, dengan mencoba meraih simpati melalui perbaikan beberapa situs Buddhis yang telah dirusak sebelumnya. [Juga lihat: “DECLINE AND FALL OF BUDDHISM, (A tragedy in Ancient India), Ch.2].

Di Srilanka,
ketika Vattagamani, baru 5 bulan menjadi raja, terjadilah 3 peristiwa yang membuatnya kehilangan tahta dan tinggal dalam pengungsian, yaitu pemberontakan Brahmana Tissa (Beminitiye), Pendudukan oleh 7 kelompok suku Tamil [Mhv 33.37-61] dan terjadinya bencana kelaparan besar selama 12 tahun. Setelah 14 tahun dan 7 bulan kemudian, Vattagamini berhasil bertahta kembali.

    Note:
    Ini terjadi di tahun ke-217, bulan ke-5 hari ke-10 setelah berdirinya Vihara Mahavira [Mhv 33.80-81] atau setelah tahun ke-453 dari Parinibananya sang Buddha (tahun ke-236 setelah parinibbananya sang Buddha, Mahinda sampai di Srilanka + 217 tahun) atau ± setelah tahun ke-476 dari ditahbiskannya Mahapajapati Gotami menjadi Bhikkhuni pertama (Tahun ke-453 + 23 tahun sebelum parinibanna sang Buddha) atau ± tahun 33 SM (Asoka wafat ± tahun 232 SM + 18 tahun (37 tahun masa pemerintahannya – tahun ke-19 Mahinda ke Srilanka) – 217 tahun)

Setelah berkuasa, Ia menghancurkan kuil Jainism dan mendirikan Vihara Abhayagiri[Mhv 33.80-82]. Di jaman Vattagamani, terdapat 3 bhikkhu berbeda yang bernama Mahatissa:

  • Mahatisa dari KupikkalaVihara, yang menolong raja dengan memberi makanan, saat mengungsi dan meminta pembantunya, umat awam bernama Tanasiva, untuk memberikan memberikan tempat tinggal dan makanan kepada Raja, namun kemudian raja membunuh Tanasiva yang membuat menterinya berniat meninggalkannya, Mahatissa ini membujuk mereka agar tetap bersama raja. Setelah AbhayagiriVihara selesai dibangun, Raja kemudian memberikan Vihara itu kepadanya [Mhv 33.50-51, 82]
  • Mahatissa dari KambugalakkaVihara, yang mencegah pemberontakan 7 menteri Vattagamani yang tidak suka kekejaman raja membunuh menteri Kapilsla yang sedang duduk setelah mengelap vihara dan tidak menjatuhkan diri ketika bertemu Raja. Ia memperbaiki hubungan mereka [Mhv 33.68-77]
  • Mahatissa dari Mahavihara yang melakukan hubungan yang tidak sepatutnya dengan umat awam (perempuan)/kulasamsattha, Ia kemudian dikeluarkan dari sangha (pabbājaniyakamma). Muridnya, Bahalamassu Tissa (Tissa si Janggut lebat), berkeberatan dengan temuan dan putusan ini dan berpihak pada gurunya dan menyebabkan Ia dikenakan ukkepaniya karena berpihak pada ketidakmurnian. Mereka, bersama dengan sekumpulan bhikkhu, memisahkan diri dari Mahavihara dan pergi ke Abhayagirivihara [Mhv 33.95-97]

Awalnya, Abhayagiri masih menjalankan aturan vinaya yang sama dengan sangha Theravada di Mahavira, namun setelah para petapa Dhammaruci (aliran Mahayana) dari Pallarārāma, India Selatan, yang mengikuti tradisi Vajjiputtaka (ex konsili ke-2) datang menetap di Abhayagiri. Bahalamassu Tissa kemudian menyebut dirinya sebagai Dhammaruci [Lihat: inkripsi Kalyani, Dhammaceti, Burma tahun 1476 M]

Inilah perpecahan pertama Buddhisme di Srilanka dan ini adalah seperti sabda Buddha tentang 20 landasan perpecahan sangha dan 4 MOTIF KEUNTUNGAN yang penyebabnya SELALU seorang bhikkhu, yang berasal dari komunitas yang sama, menetap di tempat yang sama

Penulisan TIPITAKA
Perang dan bencana kelaparan, membuat Tipitaka yang sejak jaman Mahinda diturunkan dengan cara dihafal/Mukhapathena, terancam punah akibat ribuan Bhikkhu wafat kelaparan atau mengungsi ke kawasan Malaya dan ke India. Dikatakan pula bahwa Mahāniddesa hanya dikenal oleh satu bhikkhu dan itupun oleh yang tidak bermoral. Setelah menemukan tempat yang jauh dari jangkauan raja Vattagamani, yang pro sekte Dhammaruci, maka sekitar 500 bhikkhu di bawah pimpinan Rakkhita Mahathera yang berpikiran, “Di masa depan, makhluk-mahluk yang lemah perhatian, kebijaksanaan dan konsentrasi, tidak akan dapat mengingat (teks kanonik) secara lisan” [lihat: “Sacred books of the Buddhists“, Vol. 17, H. Frowde, Oxford University Press, 1952, hal.26 atau “The history of Buddha’s religion” (sasanavamsa), Bimala Churn Law, Sri Satguru Publications, 1986, hal.26], menuliskan 3 Pitaka dan kitab komentar di atas daun Palem.

Pertemuan ini bertempat dan di bawah perlidungan kepala desa Alulena, Mawanella (± 61 km dari Aluvihara, Matale atau ± 140 km dari Anuradhapura) [lihat juga di Mhv 33.100-103. Dipv 20.19-21]

Sidang Agung ke-5 [1871 M] dan ke-6 [1954 M] terjadi jauh setelah 500 tahun sejak ditahbiskannya Bhikkhuni pertama

    Note:
    Tradisi Utara juga mempunyai konsili ke-4 yang diselenggarakan oleh aliran Sarvāstivāda pada jaman dinasti Khushan, Raja Kanishkha, 127 M – 151 M, Kashmir. Dikatakan 500 bhikkhu pimpinan Vasumitra berkumpul menuliskan kitab-kitab mereka termasuk 7 kitab Abhidhamma versi mereka ke bahasa sanskrit. Konsili ini tidak pernah ada di literatur Theravada.

    Selain Vasumitra di atas ini, terdapat juga 3 Vasumitra lain, yaitu:

    Vasumitra dari aliran Sautrantika school,
    Vasumitra yang muncul 1000 tahun setelah parinibbananya sang Buddha dan
    Vasumitra dari aliran Sarvastivada, yang mana Hiuen Tsang belajar doktrin Sarvastivada [“Buddhist Sects in India”, Dutt, Introduction] [(↑)]

Mau traktir Wirajhana, kopi? Kirim ke: Bank Mandiri, no. 116 000 1111 591


Sesama Muslim [ternyata tidak] Bersaudara: Rusuh Di Myanmar 2012!


Sudah berminggu-minggu berita tentang “Derita muslim rohingya”, “Pembantaian Muslim Rohingya” beredar di berbagai media sehubungan dengan kerusuhan di Myanmar pada May-Juni tahun 2012 dan kejadian ini juga memicu Tim Pembela Muslim (TPM) Aceh, melancarkan aksi gak nyambungnya dengan meminta pemerintah untuk menutup wihara. :).

Kenapa gak nyambung? Karena Burma bukanlah negara Buddhis bahkan Pemerintah Burma pun kerap melakukan kekerasan terhadap umat Buddha, misalnya yang terkenal di tahun 2007, dengan melakukan pembataian panjang pada para Bhikkhu Myanmar dan juga kekerasan yang dilakukan pemerintah Myanmar/Burma kepada suku dan komunitas lainnya, misalnya:

Jadi, aksi TPM yang mengkaitkan umat Buddha dengan kejadian ini sungguh sebuah aksi Jaka sembung bawa botol 🙂

Berbicara mengenai komunitas muslim, maka populasi muslim di Burma adalah 4%, yang terdistribusi dalam berbagai suku, misalnya:

  • Burma India (2% dari seluruh populasi, mereka di sebut: bama Musalin dan Zaydabayi yang terkonsentrasi di area Yangon, Mandalay, Mawlamyaing. Di Mandalay terdapat tidak kurang 65 Mesjid);
  • Bengali/India (tidak semua muslim, ada Bengali Hindu dan ada Bengali Muslim. Diantara Bengali Muslim, mayoritasnya adalah aliran Sunni dan minoritasnya Syi’ah. Para muslim Bengali “sunni” ini, sekarang, lebih dikenal dengan sebutan “Rohingya”);
  • Arab;
  • Panthay (China muslim: suku Hui, Uigur yang hidup di area Yangon, Taungyi, Lashio, Tangyang, Kyaington, Pyin-Oo-Lwin, Myitkyina dan Mogok);
  • Pathi (Burma Muslim yang berasal dari Burma, India dan Persia).

Cilakanya, dari sekian banyak suku Burma yang muslim ini, ternyata hanya Bengali muslim sunni ini saja yang selalu bermasalah. Mengapa? Untuk memahaminya, maka artikel ini dibagi menjadi beberapa bagian:

  1. Terminologi Rohingya [↓]
  2. Latar Belakang kerusuhan: Isu Nasionalisme, temuan dinas Imigrasi Denmark; Isu Kewarganegaraan, Pendatang Gelap Bengali dan Undang-Undang Kewarganegaraan; Sejarah Pergolakan; Hubungan kerusuhan dengan para Mujahid Pakistan dan sumber pendanaan aksi; Kerusuhan May yang telah direncanakan 6 bulan sebelumnya [↓]
  3. Perencanaan Genosida pada penganut Buddhism dan Hinduism oleh Jamaah Islamiyah Pakistan berdasarkan isi wawancara dengan Nawabzaada Nabiullah Khan, pengikut IDEOLOGI JAMAAH ISLAMIYAH di PAKISTAN, yang diterbitkan majalah bulanan Baluchi pada edisi “Jamhooria Islamia” Februari 1999 [↓]
  4. Sample foto-Foto Hoax kerusuhan May-Jun 2012 yang dilancarkan komunitas Muslim [↓]
  5. Kronologis Kerusuhan May-Juni 2012 [↓]; karasteristik para “Rohingya”, Imigran gelap Bangladesh, yang ada di Sabang, Aceh dan Pengakuan Muslim Muyanmar, suku NON Bengali tentang prilaku para Muslim Bengali [↓] dan Keganjilan laporan Human Right Watch [↓]
  6. Debat antara SAYA VS LBH BUDDHIS (Pro Rohingya) 🙂 [↓]

Selamat membaca.
—————

Terminologi Rohingya
Apa sih arti dari Rohingya? Percaya atau tidak, tidak ada yang tau pasti tentang artinya!

Adalah Dr Francis Buchanan, seorang dokter bedah asal skotlandia yang bekerja di British East India Company, satu-satunya orang yang menuliskan nama ‘Rooingas’ dan ‘Rossawns’ di buku survei linguistiknya. Nama-nama itu dapat menjadi istilah terdekat untuk nama ‘Rohingya’. akan tetapi ia gambarkan orang-orang itu adalah Hindu dan Muslim dengan dialek bahasa Hundustani. lebih lanjut Francis Buchanan menulis dengan sangat jelas bahwa mereka disebut Kala atau orang asing atau pendatang oleh penduduk asli Arakan, yaitu Rakhaing (Francis Buchanan 1801, lihat: Islamization of Burma Through. Chittagonian Bengalis as. “Rohingya Refugees“, Khin Maung Saw, September 2011). Kutipan dari Buchanan:

    “Sekarang Aku akan tambahkan 3 dialek, yang diucapkan di kerajaan Burma, namun terbukti ini berasal dari bahasa bangsa Hindu. Yang pertama adalah dialek para muhammadan (muslim), yang telah menetap lama di Arakan, dan menyebut diri mereka Rooinga, atau pribumi Arakan. Dialek kedua diucapkan Hindu Arakan. Aku peroleh dari seorang Brahmin dan pembantunya, yang dibawa ke Amarapura oleh putra tertua raja, sekembalinya dari penaklukan Arakan. Mereka menyebut diri mereka Rossawn, dan, untuk alasan yang aku tidak tahu apa, berniat membujuk-ku bahwa dialek mereka adalah bahasa umum di Arakan. Kedua suku ini, oleh penduduk asli Arakan, disebut Kulaw Yakain, atau orang asing Arakan

      Note:
      Kata “kala” (diucapkan: “kalar“, ditulis: kula) tidaklah negatif. salah satu artinya adalah “hitam” [Dalam bahasa Indic seperti: Hindi, Urdu, Bengali, dan lainnya], penggunaannya kalar sendiri sudah lama dilakukan orang Burma misalnya sebagai nama sebagaimana tercantum di buku “Where Reincarnation and Biology Intersect, Ian Stevenson hal.154:

        “U Kalar lahir di desa Soo-dut-gyi dekat Tawngdwingyi di bagian atas Burma di (sekitar) tahun 1942. Namanya berarti “gelap/hitam” dalam bahasa Burma, dan orang tuanya menamainya demikian karena keadaan kulitnya dan juga karena mereka percaya, yang nanti saya jelaskan, bahwa ia pernah menjadi seorang India di kehidupan lampaunya”.

      Di banyak kamus myanmar, arti “kala” adalah orang India, orang Asing. Orang kulit putih (Inggris, bule) disebut kalarphyu (phyu=putih). Penelurusan asal kata “kala” juga ada di bahasa pali yang berarti suku terhormat.

      Sang Buddha, bagi orang myanmar adalah seorang asing dan juga berasal dari India, maka sang Buddha adalah juga “kalar”.

      Kuil yang dibangun dengan gaya India disebut: “Kala kyaung”. Satu dari banyak penulis kitab sejarah Myanmar paling terkenal bernama “U (tuan) Kalar”. Maka jika kata “kalar” adalah negatif, tidaklah mungkin kata itu digunakan dalam penamaan nama anak sendiri dan juga kuil, bukan? [lihat juga: “(Mis)Interpretations of Burmese Words: Part I, In the case of the term Kala (Kula), U Khin Maung Saw].

      Kemudian, dari blog ini, terdapat hal menarik yang perlu saya kutip:

        “Bahkan, para penyumbang non Muslim yang berkontribusi di kuil-kuil Buddhis dan pagoda-pagoda dengan penuh rasa bangga nama-nama mereka diabadikan sebagai “U Kalar”, di seluruh dinding, atau di prasasti marmer atau batu agar generasi baru mengenang mereka sebagai para U Kalar”.

Khin Maung Saw memberikan analisa lanjutan mengapa petugas kolonial Inggris tidak pernah mencatat apa yang disebut ‘Rooinga dan Rosswan’ selama di keseluruhan era kolonialisasi:

    Dr Franscis Buchanan menulis dengan sangat jelas bahwa ia bertemu orang-orang di Amarapura [ibu kota kerajaan Burma dulu] BUKAN di Arakan. Mereka dibawa ke Burma sebagai budak atau tahanan. Semua catatan sejarah dan rentet kejadian (chronicle) bulat menyatakan pangeran putera mahkota Burma membawa sekitar 30.000 Arakan, dan beberapa budak mereka dipaksa bekerja ke Burma. Adalah sangat jelas bahwa Arakan (Rakhaing) menjadi budak kaum Burma dan para bengali ini budak kaum Arakan (dan juga beberapa ras Bengali yang bermukim di Arakan) secara otomatis menjadi “budak dari budak” di bawah kaum Burma.

    Populasi ‘Budak dari budak’ (dan mungkin beberapa pemukim Bengali juga) mungkin sangat sedikit. Kemudian, ‘Budak dari budak’ dan pemukim ras Bengali di Arakan besar kemungkinan berasimilasi dan terserap dalam komunitas Muslim dan Hindu yang tinggal di Burma, yang menjadi subyek dari raja Burma. Itulah mengapa nama-nama ini menghilang ketika Inggris menganeksasi Burma pada 1885. Selain itu Dr. Buchanan sangat jelas menyatakan bahwa mereka adalah orang asing di Arakan dan bukan Pribumi!

Adalah Dr. Aye Chan, Seorang asli Arakan (Rakhaing), Professor di Kanda University, Jepang dalam “The Development of a Muslim Enclave in Arakan (Rakhine) State of Burma (Myanmar)“, Musim gugur tahun 2005, menuliskan,

    “Kata ‘Rohingya’ pertama kali diucapkan oleh Abdul Gaffar, seorang anggota parlemen dari Buthidaung, dalam artikelnya “Sudeten Muslim” diterbitkan dalam harian Guardian pada 20 Agustus 1951.” [Note: Tampaknya kata “Sudeten Muslim” ini comotan paksa dari “Sudeten German” namun dengan konteks yang keliru]

U Khin Maung di September 2011, menyepakati Aye Chan dan menyatakan hal yang sama bahwa Abdul Gaffar, seorang bengali yang berasal dari Chittagong yang tinggal di Arakan Utara, adalah orang pertama menggunakan nama “Rohingya” di harian Guardian di tahun 1951.

Mr Abdul Gaffar adalah seorang Professor sejarah, ia tahu dengan pasti adanya tulisan Buchannan: “Rooinga dan Rasswan” dan kemudian membajak itu menghidupkannya kembali dalam dialek Bengali. Dalam Dialek Chittagong Bengali, Tanah Rakhaing disebut ‘Rohan’ dan Rakyat Rakhaing atau Arakan disebut ‘Rohangya (Rohan = Rakhaing, Gya = manusia).

Karena kata tersebut asal Bengali, beberapa separatis Muslim seperti Abdul Gaffar menggunakan nama untuk mengidentifikasi diri mereka sebagai penduduk asli Arakan dan menamai diri mereka sebagai ‘Rohingya’ dengan ‘membajak’ nama pribumi asli Arakan (Rakhaings) ke bahasa Bengali! Dalam beberapa hari. U Paw Zan membantah semua klaimnya itu di koran yang sama.

Pada artikel The “Rohingyas”, Who Are They? The Origin of the Name “Rohingya”, U Khin Maung Saw, menuliskan 5 versi arti Rohingya, yang setelah ditelusurinya, tidak mempunyai dasar pijakan:

  1. Dari bahasa burma (arakanse: Rwahaung ga kyar), artinya Macan dari desa tua.
  2. Turunan bahasa Burma (Arakanese: Ro wan hnya), artinya seluruh ras yang disukai dan menerima berkat (dari raja).
  3. Keturunan dari pangeran muslim: Mohammed Rahin, yang berlindung di Arakan jaman dinasti Mrauk U. Raja Arakan kemudian memberikan suaka dan keturunannya kemudian disebut Rahingya (keturunan dari Rahin).
  4. Sultan dari Kesultanan Roang yang merupakan bagian dari Kerajaan Mrauk U, mengirim putranya Shah Ali dan 1000 pengikutnya ke kerajaan Mrauk U untuk belajar bahasa, sastra dan budaya Arakan. Setelah studinya selesai, mereka menetap di Arakan. Keturunannya kemudian disebut Roang ane Gya (keturunan Roang)
  5. Di abad ke-7 Masehi, ada sebuah kapal karam dekat pulai Ramree. Beberapa pelaut arab dengan dikawal penjaga pantai dibawa ke istana Mrauk U, tidak disebutkan siapa rajanya. Sang Raja kemudian bertanya pada mereka, “hai kalian orang yang kesusahan, darimanakah asalmu?”. Para pelaut, yang tidak mengerti bahasa burma, menyangka diri mereka akan di bunuh, segera berteriak dalam bahasa mereka, “Ronja!” (ampuni kami). Raja pikir para pelaut itu menjawab bahwa mereka berasal dari Ronja. Kemudian mereka diijinkan tinggal di kerajaannya dan sejak itu keturuannanya disebut “orang Ronja”, kata itu turun temurun berubah: “Ronja – /Ro-n-ja/ – Rohinja – Rohingya”

Karena tidak berdasar (di artikelnya tulis alasan-alasannya), U khin Maung kemudian berusaha mencaritahu lebih lanjut dan dari wartawan veteran Kyemon U thaung ia temukan jejak petunjuk bahwa nama “Rohingya” diciptakan oleh komunis “bendera merah” di tahun 1940an yang merujuk pada para “pemberontak Mujahid”. Ketika itu para “pemberontak Mujahid” dan komunis bendera merah beraliansi melawan pemerintahan U Nu. Namun, U Thaung sendiri akui bahwa ia tidak tahu arti itu dari dulu hingga sekarang dan percaya bahwa tidak ada yang tahu arti dan asal usul nama itu.

Kemudian U khin Maung saw berhipotesa tentang akar nama “Rohingya”. Thakhin Soe dan pemimpin “bendera merah” di Arakan, Kyaw Zan Hrwee, yang merupakan orang Arakan (Rakhine) mungkin telah menemukan istilah (Roang Pree) dan paling mungkin dibuat Hybrid-nya dalam Inggris: “Roangians” yang berarti rakyat Roang. “Roangians” juga bisa diucapkan “Ro-an-gians” = “mujahid”. Kata tersebut diucapkan dengan aksen Bengali mereka “Rohingya” maka turunan kata itu dari “Roangians – / Ro-an-gians / – / Ro-han-gians / – Rohingya”. Tanggapan pihak lain atas artikel dari U khin Maung saw, dapat di baca di sini

Sekarang, saatnya untuk membaca sendiri SIMPULAN TEGAS Dr. Jacques P. Leider, seorang ahli sejarah Arakan dari EFEO (French Institute of Asian Studies):

    “Ketika kita bicara tentang penjelasan ilmiah & etimologi kata tersebut, tidak berbicara apapun mengenai POLITIK. Anda gunakan istilah ini untuk diri anda sendiri sebagai label politik untuk indentitas anda sendiri di abad 20. Sekarang bagaimana istilah ini digunakan sejak tahun 1950-an? SANGAT JELAS bahwa orang-orang memakai itu ingin memberikan identitas pada masyarakat yang tinggal di sana”…..


    Pertanyaan:


    “Apakah Rohingya adalah sebuah grup Etnis Burma?”


    Jawaban Dr Jacques P. Leider:

    “Jawaban saya adalah bahwa Rohingya BUKANLAH KONSEP ETNIK. Oke, mereka dapat berdiri dan mengatakan kami adalah kelompok etnis di Myanmar. Tapi saya pikir itu bukanlah jalan terbaik. Bila Anda berargument kami adalah Muslim dan kami telah tinggal di Rakhine selama beberapa generasi, tidak ada yang bisa menyangkalnya.

    Bagi saya, ROHINGYA adalah istilah, merupakan kata lawas yang TELAH DIKLAIM sebagaimana semua di atas sebagai sebuah label politik SETELAH kemerdekaan Myanmar
    . Untuk saat ini, Saya tidak melihat bahwa seluruh masyarakat di situ bersedia menerima sebuah dan satu label.

    Ketika saya masih di Bangladesh, Orang menunjukan saya para Muslim yang berasal dari Rakhine. Mereka sekarang telah menetap di Bangladesh dan ketika Anda bertanya pada mereka, “Kau Rohingya yang berasal dari Rakhine?”

    Mereka jawab, “Tidak, Kami adalah para muslim yang menetap di Rakhine, Kami TIDAK menyebut diri kami dengan label Rohingya” [Lebih lanjut: History Behind Arakan State Conflict, 09 Juli 2012] [↑]

—————

Latar belakang Kerusuhan
Isu Rohingya yang gencar beredar dan menyudutkan Myanmar ini malah membangkitkan respon nasionalis yang kuat bahkan pada para anggota paling liberal masyarakat Burma. Mr Ko Ko Gyi, yang menghabiskan 18 tahun penjara karena menentang junta militer sebelumnya, mengatakan bahwa Rohingya bukan salah satu dari kebangsaan negara itu dan “masyarakat internasional” harus menemukan solusi untuk masalah statelessness mereka.

“Ini soal kedaulatan nasional,” katanya.

“Siapa saja yang ingin mendapatkan kewarganegaraan Myanmar harus mampu berbahasa salah satu bahasa nasional Myanmar dan belajar tentang budaya kita.”

Statement tersebut beralasan dan berdasar karena selaras dengan temuan Dinas Imigrasi Denmark, tanggal 04-07 February 2011, yang mengungkap fakta bahwa Bengali rohingya itu, baik dari bahasa, budaya, agama, fisik tubuh dan kepentingannya lebih condong ke-Bangladesh ketimbang ke-Burma!

    Ms Ishrat Jahan Ahmed, Direktur, Departemen Luar Negeri (MFA):
    kelompok warga negara Myanmar [Rohingya] terlihat seperti orang Bangladesh daerah sini, mereka berbicara dalam dialek yang sama dan memahami bahasa meskipun ada beberapa perbedaan. Selain itu mereka memiliki budaya yang sama dan agama yang sama. Menurut Direktur MFA, bahkan orang dari Bangladesh bingung dan tidak dapat membedakan kedua kelompok.

    Deputi Komisaris pertolongan dan Repatriasi, Mr Shah Ariar:
    membedakan Rohingya dari penduduk setempat di daerah Chittagong sangat sulit. Masyarakat setempat dapat membedakan bahasa mereka dari Bangla Chittagonian, tetapi mereka memiliki corak yang sama dengan Bangladesh, cari cara yang sama dan bahasa mereka sangat mirip.

    Sebuah sumber diplomatik juga menginformasikan:
    Tidak ada perbedaan etnis dan bahasa antara Rohingya dan penduduk lokal Bangladesh penduduk lokal daerah perbatasan. Di Utara Bangladesh, Rohingya akan “menonjol”, tapi tidak di daerah perbatasan…

    Sumber lain diplomatik:
    Beberapa Rohingya akan “lulus” sebagai orang Bangladesh karena kepentingan mereka untuk melakukannya dan karena sudah terintegrasi ke dalam masyarakat Bangladesh.

    Menurut UNHCR (Bangladesh):
    Bahasa Rohingya sangat mirip dengan dialek Chittagonian Bangla yang digunakan di daerah tersebut. Ada beberapa kata yang mungkin berbeda dalam dua bahasa tergantung seberapa dekat mereka tinggal di perbatasan Bangladesh-Rohingya Mengingat banyak Rohingya telah tinggal di Bangladesh selama bertahun-tahun, menjadi sulit untuk membedakan Rohingya dari Bangladesh dari waktu ke waktu yang pada waktu.

    IOM Bangladesh:
    Tidak ada ciri fisik yang khas antara Rohingya dan Bangladesh di wilayah Cox Bazar. Rohingya berbicara dengan dialek Chittagonian, tetapi mereka tidak memiliki kesulitan dalam memahami bahasa setempat. Beberapa kata dalam bahasa Rohingya berbeda dari dialek Chittagong dan bekerja dengan penerjemah IOM yang berbicara Bangla Chittagonian.

    Mr Andrew Barnard, Sekretaris Pertama, Delegasi Uni Eropa ke Bangladesh:
    Relatif sulit untuk membedakan antara warga Rohingya dan Bangladesh. Faktor utama yang khas adalah bahasa, yang mirip tetapi berbeda. Namun, banyak orang Rohingya telah tinggal di Bangladesh selama 18 tahun dan belajar dialek Bangla Chittagonian untuk mengasimilasi dan untuk menghindari diskriminasi dan stigma menjadi seorang Rohingya.

    Ms Chris Lewa:
    Sangat sulit untuk membedakan bahasa yang digunakan di sisi Bangladesh dari perbatasan di Teknaf (Chittagong Bangla) dan bahasa lisan di sisi Burma di Maungdaw.

    Seorang peneliti yang mempelajari Rohingya Bangladesh:
    Adalah “mustahil” untuk membedakan antara Rohingya dan Bangladesh lokal dari daerah perbatasan. Satu-satunya fitur menonjol adalah perbedaan dalam bahasa lisan dan tidak ada masalah lain yang membedakan kedua kelompok. Peneliti Bangladesh lebih lanjut menunjukkan pada kenyataan bahwa jika Anda hidup Rohingya di Bangladesh, Anda akan mencoba untuk mengasimilasi bahasa Anda karena memiliki nilai tambah muncul Bangladesh. Orang yang lahir di Bangladesh akan memiliki kata-kata Bangla lebih dalam kosa kata mereka, dan orang tua membawa mereka mungkin akan juga mencoba untuk membuat mereka merasa diterima oleh masyarakat setempat.

    Sebuah sumber diplomatik yang bekerja dengan Rohingya di Asia Timur menyatakan Rohingya berbicara dengan dialek Bukit Chittagonian Tracts mirip dengan yang digunakan oleh warga Bangladesh dari Semenanjung Teknaf.

    Profesor Imtiaz Ahmed, Universitas Dhaka, juga menjelaskan bahwa Rohingya berbicara dengan dialek Bengali Chittagonian. Menurutnya bahasa Rohingya bukan bahasa terpisah tapi ada kata-kata yang terpisah. Bahasa Rohingya di kamp-kamp berubah selama bertahun-tahun dalam arti bahwa para pengungsi tidak lagi berbicara persis seperti yang mereka lakukan di negara bagian Rakhine di mana mereka awalnya berasal.

    Profesor Ahmed menyatakan bahwa seseorang tidak dapat menentukan Rohingya hanya dengan menganalisis bahasa.

    Menurut UNHCR:
    Etnis dan budaya Ronghiya sangat mirip dengan Bangladesh lokal di Timur Selatan Bangladesh. Rohingya mengikuti praktek-praktek budaya dan agama yang sama dengan populasi muslim lokal Bangladesh dan tidak ada perbedaan jelas antara dua komunitas budaya atau agama.

    Sebuah sumber diplomatik yang bekerja untuk Rohingya di Asia Timur menyatakan bahwa Rohingya yang telah tinggal di Bangladesh selama bertahun-tahun telah dengan baik terintegrasi. Penampilan mereka sangat mirip dengan Bangladesh dan sulit untuk membedakan mereka.

Rupanya suku Bengali Rohingya ini memang tidak berusaha untuk berbahasa dan berbudaya Nasional mereka!

Sejarah Pergolakan
Lika liku pergolakan di Arakan ini mempunyai sejarah yang panjang, mari kita lihat mulai di kisaran tahun 1947 (karena sebelum tahun itu, mereka yang menetap di Burma memang masuk kategori warga negara sebagaimana disebut di undang-undang kewarganegaraan Burma tahun 1948):

  1. Tahun 1947, Kaum Mujahid Chittagong Arakan menyerukan perang jihad hanya karena pemerintah Inggris menolak mengabulkan permintaan mereka untuk memberikan pemisahan dua kota yang di diami kaum muslim di Arakan [Buthidaung dan MaungDaw].
  2. Kemerdekaan Burma tahun 1948 di isi banyak pemberontakan, misalnya oleh komunis, Karen dan Mujahid. Kaum Mujahid, di area Cox Bazar, di sokong diam-diam oleh para pejabat pemerintahan Pakistan. Walaupun secara resmi pemerintah Pakistan tidak mendukung keberadaan aksi orang-orang Arakan di Cox Bazar
  3. Pada 18 May 1949, Koran “The Hindustan Standard” melaporkan bahwa kebanyakan dari para mujahid yang tinggal di Arakan adalah orang Pakistan yang merupakan warga negara Pakistan. Terdapat kerja sama antara pemerintah Pakistan dan Burma dalam menangani situasi Arakan. Lebih 1 dekade kemudian, yaitu di tahun 1960, para Mujahid ini menyatakan menyerah pada pemerintahan sah Burma. Hingga tahun 1962 saja tidak ada masalah atas status kewarganegaraan orang muslim di Arakan.
  4. Tahun 1950an, sekitar 150.000 imigran gelap Pakistan Timur diberikan kewarganegaraan Burma dan sisanya diberikan toleransi tinggal di Burma sebagai orang asing tanpa ada identitas apapun.

    Bahkan “negara paling demokratis di bumi”, Amerika Serikat tidak memberikan kewarganegaraan otomatis kepada banyak keturunan Meksiko yang lahir di US, krn orangtua mereka datang ke US secara ilegal dan tinggal di sana sebagai imigran ilegal. Mereka biasanya tinggal di California, Arizona dan Texas, dan semua orang tau bhw secara historis daerah ini milik Meksiko.

    Problem yang sama melanda warga anakbenua, Sri Lanka dan Hindia Barat yang tinggal di UK, “Ibu dari Demokrasi” meski mereka termasuk dalam “persemakmuran Inggris”.

    Demikian juga dgn warga Turki di Jerman. Beberapa tinggal di sana lebih dari 40 tahun dan anak-anak mereka lahir di Jerman, namun anak-anak ini tdk diberikan berkewarganegaraan Jerman secara otomatis, kecuali atau jika tidak melalui beberapa prosedur hukum.

    Ada dua distrik Berlin didominasi Muslim, yaitu Kreuzberg dan Neukoelln. Misalkan orang-orang Turki ini mememinta hak-hak ‘Muslim asli Jerman” berupa daerah Otonomi bagi mereka dan menerbitkan sejarah-sejarah buatan seperti misalnya mereka telah menetap di 2 distrik di atas karena muslim ada di Berlin sejak zaman Kaisar Jerman, karena Kekaisaran Ottoman dan Kekaisaran Jerman (Deutsche Reich) adalah Sekutu Militer dan seterusnya, Maka bagaimanakah reaksi dari seluruh rakyat Jerman?

  5. Tahun 1971 akhir, pecah peperangan antara Bangladesh – Pakistan, salah satu area yang menjadi medan perangnya adalah daerah Chittagong dan Cox Bazar. Banyak penduduk kemudian mengungsi dan salah satu daerah tujuannya adalah Burma.
  6. Tahun 1973, Arakan Liberation Party (ALP) and Arakan Liberation Army (ALA) di bentuk di area Karen. Selama tahun 1970an para arakan tersebut ikut berpartisipasi berperang di area Kachin dan juga mendapatkan pelatihan dari Organisasi Kemerdekaan Karen dan juga Karen Nasional Union (KNU).
  7. Tahun 1974, Muhammad Jafar Habib, mendirikan Rohingya Patriotic Front (RPF) dan membangun sebuah kamp perlawanan geriliawan yang beroperasi di perbatasan Bangladesh.
  8. Tahun 1975, Presiden Bangladesh Sheikh Mujibur Rahman dan keluarga terbunuh dan mulai era baru pemerintahan Bangladesh. Selama periode itu Dubabesar Inggris, menyampaikan apa yang dikatakan oleh duta besar Bangladesh untuk Cina bahwa ada lebih dari setengah juta penyusup Bengali di area Arakan. Laporan lain mengatakan selama perang pecah antara Pakistan dan India lebih dari 1.5 juta orang mengungsi ke Arakan.
  9. Tahun 1976, ALA melintas dari area Karen menuju area Arakan [200 mil] mereka berperang dengan pasukan pemerintah Burma dan tahun 1977 mereka menderita kekalahan telak.
  10. Pada 06 Februari 1978, pemerintah Burma menjalankan operasi Naga Min yang bertujuan membasmi para mujahid yang berusaha mendirikan negara Islam Arakan. Selama periode ini 200.000an orang mengungsi ke Bangladesh dan saat itu pula-lah, UNHCR resmi di minta beroperasi.

    2 tahun kemudian [Perjanjian kesepatakan: 9 July 1979], atas tekanan Internasional, pemerintah Burma sendiri, pernah meminta warga negaranya untuk pulang kembali ke Burma.

    Selama krisis tahun 1978, Negara Arab Saudi, melalui “rabitat al Alam al Islami” mengirimkan bantuan kepada para pengungsi namun bantuan tersebut berkamuflse kemanusiaan karena tercakup di dalamnya juga bantuan kegiatan kemiliteran

  11. Bulan Oktober 1979, Vanguard Arakan Revolusi [VAR] terbentuk di kamp raju di Bangladesh. Selama peride tersebut hingga dekade ke depan tercatat hubungan yang erat antara mujahid Burma dan Jihadis negara Islam lain, yaitu berupa bantuan sumbangan dan pelatihan militer.

    Pada awal 1980-an, Unsur-unsur lebih radikal dari RPF memisahkan diri dan mendirikan Organisasi Solidaritas Rohingya (RSO), organisasi ini dipimpin seorang dokter dari Arakan, Muhammad Yunus, dan segera menjadi faksi utama paling militan di Bangladesh dan di perbatasan. RSO segera menikmati dukungan dari kelompok serupa di dunia Muslim.

    Ini termasuk JI di Bangladesh dan Pakistan, Gulbuddin Hekmatyar Hizb-e-Islami (HEI) di Afghanistan, Hizb-ul-Mujahideen (HM) di Negara India Jammu dan Kashmir (J & K) dan Angkatan Belia Islam sa-Malaysia (ABIM ) dan Organisasi Pemuda Islam Malaysia. Instruktur Afghanistan terlihat di beberapa kamp RSO sepanjang perbatasan Bangladesh-Burma, sementara hampir 100 gerilyawan RSO dilaporkan akan menjalani pelatihan di provinsi Khost Afghanistan dengan Hizb-e-Islami Mujahidin.

    Media Bangladesh memberikan pemberitaan yang cukup luas untuk pembangungan RSO di sepanjang perbatasan, tetapi segera menjadi jelas bahwa tidak hanya “Rohingya” yang menjalani pelatihan di kamp ini. Ternyata, banyak pula di dalamnya anggota Jamaat Islamiah dan Organisasi Pemuda militantnya, yaitu: Islami Chhatra Shibir (ICS).

    RSO pada kenyataannya, terlibat dalam sedikit pertempuran di Burma. Rekaman video dari kamp-kamp ini muncul di Afghanistan, yang berasal dari TV CNN ditampilkan di seluruh dunia pada bulan Agustus 2002, ditandai ‘Myanmar’ dalam bahasa Arab, seolah-olah dibuat di dalam negeri BUKAN di seberang perbatasan di tenggara Bangladesh!

  12. Tahun 1982, berlaku Undang-undang kewarganegaraan baru. Dimana status kewarganegaraan di bagi 3, yaitu warga negara (Bab II, pasal 1 s.d pasal 22), Warganegara karena hubungan (Bab III, Pasal 23 s.d pasal 41) dan kewarganegaraan karena naturalisasi (Bab IV, Pasal 42 s.d pasal 66).

    Status sebagai Warga negara merujuk pada konstirusi Burma tahun 1947, yaitu mereka yang merupakan “ras pribumi”, berkakek dari “ras pribumi” atau tinggal di Burma selama jaman penjajahan Inggris sebelum tahun 1942 atau terlahir karena salah satu orang tuanya memiliki status salah satu orang tuanya atau keduanya adalah waganegara atau warganegara karena hubungan atau warga negara karena naturalisasi, dll.

    Ras Pribumi yang dimaksud adalah: Kachin, Kayah, Karen, Chin, Burman, Mon, Rakhine atau Shan dan suku lainnya yang telah ada di teritorial manapun dalam negara Burma sebagai rumah tetap mereka selama periode hingga tahun 1823 Masehi.

    Mereka memiliki NRC (nasional Registration Card, Kartu kewarganegaraan). Untuk Non Warga negara diberi FRC (Foreign Registration Card, kartu registrasi utk orang asing). Warga dengan orang tua yang ber-FRC tidak boleh ikut mencalonkan diri dalam jabatan publik. Undang-undang Burma tahun 1982 memuat hal-hal yang dapat di cabut kewarganegaraan seseorang, diantaranya misalnya syarat bagi yang warga negara karena hubungan dan warga negara karena naturalisasi, di pasal 35 dan pasal 58, yaitu:

    • Melakukan perdagangan dan berkomunikasi dengan MUSUH NEGARA atau NEGARA yang membantu MUSUH NEGARA atau dengan WARGA atau ORGANISASI negara-negara tersebut selama perang atau negara terlibat atau bersekongkol dengan aksi semacam iti;
    • Melakukan perdagangan dan berkomunikasi dengan ORGANISASI atau ANGGOTA dari ORGANISASI yang MEMUSUHI NEGARA, atau bersekongkol dengan aksi semacam itu;
    • Melakukan perbuatan yang dapat membahayakan kedaulatan dan keamanan perdamaian Negara atau Umum dan ketenangan atau terdapat cukup keyakinan yang memadai bahwa ia akan melakukan aksi semacam itu;
    • Menunjukkan ketidakpuasan atau tidak setia kepada Negara melalui setiap tindakan atau pembicaraan atau sebaliknya;
    • Memberikan informasi yang berkaitan dengan rahasia negara kepada orang, atau organisasi apapun, atau untuk negara lain atau negara, atau bersekongkol aksi semacam itu;
    • Melakukan pelanggaran yang melibatkan perbuatan tercela yang ia telah dijatuhi hukuman penjara untuk jangka waktu minimal satu tahun atau denda paling sedikit 1000 kyat

    [Lihat detail lainnya di: sini, sini, sini dan sini]

    Turunan UU kewargannegaran tahun 1982 adalah “Aturan regional 1/2005” yang diberlakukan HANYA pada IMIGRAN BENGALI (Ayah/Ibu Bengali tanpa kewargaannegaraan, KTP atau imigran gelap), hanya boleh punya 2 anak. Ketika akan menikah, wajib mengisi form yang menyatakan bersedia hanya punya 2 anak saja dan menikah hanya dengan 1 wanita saja (diberlakukan tes kehamilan sebelum menikah). Kebijakan ini sangat menguntungkan wanita Bengali karena dilaporkan para wanita bengali area Rakhine punya banyak anak, di beberapa area, 1 keluarga punya 10-12 anak, Keadaan ini tidak baik bagi nutrisi anak, tidak mudah menyekolahkan dan mengurus anak. Kebijakn ini mendorong para wanita bersekolah dan mendidiknya mengatur besaran keluarga [lihat: Irrawaddy, 20 May 2013, Juga reuters, 11 Jun 2013 dan aljazeera, 27 May 2013].

    Jika kebijakan ini tidak diberlakukan maka saat kerusuhan 2012, jumlah korban dan pengungsi akan semakin besar, pemulihan keamanan menjadi semakin lama dan sulit, juga PEMBIAYAAN masalah pengungsian menjadi lebih merepotkan.

    Pada 31 July 2012, Menteri dalam negeri Myanmar, Letjen Ko menyampaikan pada parlemen akan memperketat aturan yang diberlakukan KHUSUS pada IMIGRAN GELAP Bengali berupa hak bepergian, kelahiran, kematian, imigrasi, perpindahan, perkawinan, pembangunan bangunan ibadah, perbaikan, kepemilikan tanah, dan hak mendirikan bangunan [Surat kabar “The new light of Myanmar: “Reforms must be undertaken for financial and legal institutional development during the drafting process of monetary and capital market law: Mps”, 1 Agustus 2012, hal.1,9 dan di sini]

Hubungan antara Mujahid dan Jihadis ini rupanya tidak main-main dan masih berlanjut, sekurangnya terekam ada hubungannya dengan kerusuhan tanggal 8 Jun 2012, sebagaimana di beritakan oleh KORAN BANGLADESH (bengali media) bahwa kerusuhan ini terencana dari 6 BULAN SEBELUMNYA (8 January 2012)!

    রোহিঙ্গা জঙ্গিরা নতুন করে একজোট হচ্ছে
    আবু তাহের, কক্সবাজার
    বিভক্ত রোহিঙ্গা জঙ্গি সংগঠনগুলো নতুন করে সংগঠিত হচ্ছে। অস্ত্র কেনার জন্য তারা ৫০ কোটি টাকার তহবিল সংগ্রহ করছে বলে নির্ভরযোগ্য সূত্র জানিয়েছে।
    সূত্র জানায়, রোহিঙ্গা সলিডারিটি অর্গানাইজেশন (আরএসও), আরাকান মুভমেন্ট, আরাকান পিপলস ফ্রিডম পার্টি, আরাকান রোহিঙ্গা ন্যাশনাল অর্গানাইজেশন (এআরএনও), হরকাতুল জিহাদসহ কয়েকটি সংগঠন এখন একটি গ্রুপে কাজ করার জন্য একজোট হওয়ার চেষ্টা করছে। আরএসও প্রেসিডেন্ট ড. মোহাম্মদ ইউনুছ, রোহিঙ্গা নেতা ড. ওয়াকার উদ্দিন, আবুল ফয়েজ জিলানী, নুরুল ইসলাম, সালামত উল্লাহ, মোহাম্মদ শফি উল্লাহ, নাজমুল আলমসহ শীর্ষ কয়েক নেতা সম্প্রতি সৌদি আরবের রিয়াদে বৈঠক করেছেন। বৈঠকে বিভক্ত রোহিঙ্গা জঙ্গি সংগঠনগুলোকে ঐক্যবদ্ধ করে ‘আরাকান রোহিঙ্গা ইউনিয়ন’ (এআরইউ) নামে একটি সংগঠনের ব্যানারে তৎপরতা চালানোর সিদ্ধান্ত নেওয়া হয়। নতুন সংগঠনটির দায়িত্ব দেওয়া হয়েছে ড. মোহাম্মদ ইউনুছ, আবুল ফয়েজ জিলানী ও নুরুল ইসলামকে। বৈঠকের পরপরই শীর্ষ নেতারা ৫০ কোটি টাকার তহবিল সংগ্রহে নেমেছেন। এ টাকায় অস্ত্র কেনা হবে বলে সংশ্লিষ্ট সূত্র নিশ্চিত করেছে।
    রোহিঙ্গা জঙ্গিদের নতুন করে সংগঠিত করার জন্য শীর্ষ পর্যায়ের নেতা সালামত উল্লাহ গত মাসে সৌদি আরব থেকে বাংলাদেশে ফিরে এসেছেন। তিনি বর্তমানে চট্টগ্রাম জেলার চুনতিতে অবস্থান করছেন বলে সূত্র জানিয়েছে। অন্যদিকে নাজমুল আলম রিয়াদ থেকে চলে গেছেন ব্যাংকক। কক্সবাজার অঞ্চলে
    নতুন করে সমন্বয়কারীর দায়িত্ব দেওয়া হয়েছে আবু সিদ্দিক আরমানকে। এ ছাড়া রোহিঙ্গা জঙ্গিদের শীর্ষ আরও কয়েক নেতা এখন কক্সবাজারে রয়েছেন। রোহিঙ্গা জঙ্গি নুর মোহাম্মদকে ক’দিন আগে কক্সবাজারে দেখা গেছে।
    সূত্র জানায়, রোহিঙ্গা জঙ্গি সংগঠনগুলো কয়েক বছর ধরে আন্তঃকোন্দলে জড়িয়ে বিভিন্ন গ্রুপে বিভক্ত হয়ে পড়ে। এ অবস্থায় নিজেদের অস্তিত্ব টিকিয়ে রাখতে একটি সংগঠনের ব্যানারে এসে তারা তহবিল সংগ্রহে নেমেছে। মাদক চোরাচালান, আদম পাচার, অস্ত্র ব্যবসাসহ বিভিন্ন অবৈধ ব্যবসার সঙ্গেও তারা জড়িত হচ্ছে। গত সপ্তাহে কক্সবাজারের গর্জনিয়া এলাকা থেকে একটি একে-৪৭ রাইফেলসহ র্যাবের হাতে আটক হয়েছে নজরুল ইসলাম নামে এক অস্ত্র ব্যবসায়ী। আটক ব্যক্তি জানিয়েছে, অস্ত্রটি সে রোহিঙ্গা জঙ্গিদের কাছ থেকে সাড়ে ৩ লাখ টাকায় কিনে ৪ লাখ টাকায় বিক্রি করতে এসে র্যাবের ফাঁদে ধরা পড়ে।
    একাধিক সূত্র নিশ্চিত করেছে, রোহিঙ্গা জঙ্গিরা বড় একটি তহবিল সংগ্রহ করছে এনজিও পরিচালনার নামে। কক্সবাজার ও বান্দরবানে ‘মুসলিম এইড’, ‘করুনা’, ‘ইমাম মুসলিম’, ‘দারুল আনসার’, ‘সমন্বিত মানবিক উদ্যোগ’ ইত্যাদি এনজিওর নামে তারা বিভিন্ন দেশ থেকে ২৫ কোটি টাকার তহবিল সংগ্রহ করেছে। হুন্ডির মাধ্যমে আনা এ অর্থের একটি অংশ এসব এনজিওর মাধ্যমে মাদ্রাসাসহ বিভিন্ন ধর্মীয় প্রতিষ্ঠান পরিচালনায় খরচ হয়। অবশিষ্ট টাকা যায় জঙ্গি গোষ্ঠীর পকেটে।
    অনুসন্ধানে জানা গেছে, কক্সবাজার সদরের ঝিলংজার মুহুরিপাড়ার ইমাম মুসলিম ইসলামিক সেন্টার নামে একটি মাদ্রাসা জঙ্গিদের অর্থে পরিচালিত হচ্ছে। প্রতিষ্ঠানটির পরিচালক হাফেজ সালা উল ইসলাম আরএসওর সামরিক বিভাগের সমন্বয়কারী। অনুসন্ধানে জানা গেছে, রোহিঙ্গা শীর্ষ জঙ্গি নেতাদের তৎপরতায় কক্সবাজার, চট্টগ্রাম ও বান্দরবান জেলায় কিছু মাদ্রাসা, ধর্মীয় প্রতিষ্ঠান ও এনজিও সংস্থার মাধ্যমে পরিচালিত হচ্ছে জঙ্গি তৎপরতা।
    আরএসওর কেন্দ্রীয় কার্যনির্বাহী কমিটির সাবেক সেক্রেটারি সালামত উল্লাহ কক্সবাজার শহরের কলাতলী এলাকায় আদর্শ শিক্ষা নিকেতন নামে একটি মাদ্রাসা প্রতিষ্ঠা করেন। এখানে কাজ করছেন মোহাম্মদ জাবের ও নুর মোহাম্মদ নামে আরও দুই জঙ্গি। জাবের আরএসওর নির্বাহী কমিটির ভাইস প্রেসিডেন্ট এবং নুর মোহাম্মদ সদস্য। সালামত উল্লাহ বর্তমানে এ মাদ্রাসার দায়িত্ব ছেড়ে দিয়েছেন বলে সূত্র জানিয়েছে।
    রোহিঙ্গা জঙ্গিরা তাদের নেটওয়ার্ক হিসেবে ব্যবহার করছে কক্সবাজারের দুটি শরণার্থী ক্যাম্পকে। আলী জোহার, হাজি ফজল, রফিক আহমদ, হাফেজ নয়ন, লালু ডাক্তার, শামসু মাঝি, হাফেজ জালাল, মাওলানা শফিউল্লাহ, নুরুল হক মাঝি, নুর মোহাম্মদ, আবদুল রশিদ, মোহাম্মদ সায়েদ, আবু কাদের, আবু ইয়াহিয়া, হামিদ, রুহুল আমিন, আবদুল্লাহ মোহাম্মদসহ অনেক জঙ্গি অবৈধভাবে ক্যাম্পে অবস্থান করে সন্ত্রাসী কর্মকাণ্ড চালিয়ে যাচ্ছেন। সূত্র জানিয়েছে, জঙ্গিদের তিন শতাধিক সদস্য দেশের বিভিন্ন স্থানে মসজিদে ইমাম-মুয়াজ্জিন হিসেবেও কাজ করছেন। তাদের মধ্যে বেশ কিছু আফগান-ফেরত জঙ্গিও রয়েছেন।
    কক্সবাজারের সহকারী পুলিশ সুপার ছত্রধর ত্রিপুরা জানান, সীমিত লোকজন নিয়ে রোহিঙ্গা ক্যাম্পে আইন-শৃঙ্খলা নিয়ন্ত্রণে কাজ করছে পুলিশ। শরণার্থী ক্যাম্প অত্যন্ত স্পর্শকাতর এলাকা। এখানে আন্তর্জাতিক সংস্থাগুলোর নজরদারি রয়েছে। সুনির্দিষ্ট তথ্য ছাড়া পুলিশ ক্যাম্পে অভিযান পরিচালনা করে না। এ সুযোগ হয়তো রোহিঙ্গা সন্ত্রাসীরা নিতে পারে। [samakal, 08 Jan 2012 atau di sini]

    Terjemahan:
    Satuan teroris bersatu yang dipersenjatai: Menurut sumber terpercaya, Rohingya mengumpulkan 500 juta Takas Bangladesh untuk membeli senjata dan amunisi. Menurut berita yang dikutip, Rohingya Solidarity Organization (RSO), yaitu Gerakan Arakan, Partai Kebebasan Rakyat Arakan dan Arakan Rohingya National Organization (ARNO) telah mengorganisir gerakan bersatu padu.

    Presiden RSO Dr Muhammad Yunus dan pemimpin Rohingya lainnya, Dr Wakar Uddin, Abul Fayaz Zilani, Nurul Islam, Salamat Ullah, Muhhammad Shafi Ullah, Nazmul Alam, mengadakan pertemuan di Riyadh di Arab Saudi dan mereka mencapai kesepakatan melangkah ke rencana kerusuhan bersenjata di bawah satu bendera Arakan Rohingya Union (ARU) dan ARU telah memberikan tanggung jawab pergerakan pada Dr Muhammad Yunus dan Abul Fayaz Zilani dan Nurul Islam.

    Hal ini diketahui dari sumber yang sama bahwa setelah pertemuan itu mereka telah melakukan penggalangan dana dan mengumpulkan senjata dan amunisi.

    Salah satu pemimpin tertinggi Rohingya, Salamat Ullah, dari Saudi Saudi, datang ke Bangladesh pada Desember tahun lalu dan memimpin ekstrimis Rohingya di Chunoti, Daerah Chittagon. Pada saat yang sama Nazmul Alam dikirim ke Bangkok dan Abu Siddiq Arman ditunjuk sebagai koordinator daerah Cox Bazar, di mana mereka mendirikan kantor.

    Satu pemimpin Rohingya, Muhammad Nur, terlihat di Cox Bazar beberapa hari terakhir.

    Beberapa tahun yang lalu teroris Rohingya tidak bersatu, sekarang mereka berada di bawah satu bendera dan terkumpul dalam jumlah yang baik, menurut sumber yang sama. Para teroris membuat perdagangan ilegal seperti NARKOBA, MANUSIA dan LALU LINTAS SENJATA. Pekan lalu, juga, satu teroris Rohingya telah di tangkap di Gorzonia dengan AK-47. Ia mengaku untuk di jual kembali seharga 400,000.00 Taka sementara ia membelinya dengan 350,000.00.

    Lebih dari satu sumber dikonfirmasi mengatakan ekstrimis Rohingya mengumpulkan dana dengan nama LSM-LSM. Sekitar 250 juta Taka telah dikumpulkan para ekstrimis melalui LSM sosial seperti Muslim Aid, Karuna, Imam Muslim, Darul Anshar, Sammannito Manabik Uddyog dll, di Cox Bazar dan wilayah Bindarban saja.

    Dana tersebut ditransfer ke organisasi keagamaan dan ekstremis melalui jaringan rumahan. Berdasarkan penyelidikan diketahui bahwa Imam Islam Centre di Zhilongza dijalankan dengan dana para ekstremis. Juga diketahui bahwa Direktur dari centre tersebut, Hafez Sala-ul Islam, adalah Koordinator Kepala RSO. Jelas para ekstremis melakukan aktivitas operasi mereka melalui sekolah, organisasi keagamaan dan sosial.

    Mantan Sekretaris Jenderal RSO, Salamat Ullah, mendirikan Pesantren dengan nama Adarsha Shikha Niketon di Kalatali di Cox Bazar kabupaten. Muhammad Zaber, Wakil presiden RSO, dan Nur Muhammad, anggota RSO, juga bekerja di sekolah tersebut.

    Ekstrimis Rohingya juga menggunakan dua kamp pengungsi sebagai jaringan mereka. Para Rohingya ilegal berencana untuk melakukan kegiatan kekerasan mereka secara sistematis di kamp-kamp ini. Para ekstrimis terkenal di kamp-kamp ini adalah: – Ali Zohar, Haji Fazal, Rafiq Ahmad Hafiz Nayan, Lalu Daktar, Shamsu Majhi, Hafiz Zalal, Moulana Shafiullah, Nurul Haque Mazhi, Nur Muhammad, Abdul Rashid, Muhammad Sayed, Abu Qader, Abu Yahiya, Hamid, Ruhul Amin dan Abdullah Muhammad.

    Sekitar 300 ekstrimis melakukan gerakan bawah tanah dengan kedok para pria religius, kata sumber yang sama. Kebanyakan dari mereka mendapat pelatihan militer di Afghanistan. [Sumber terjemahan: Wontharnu atau di sini]

Dan 4 hari setelah kerusuhan awal di Arakan, terdapat penangkapan beberapa staf senior UNHCR yang dikaitkan dengan kerusuhan dan keterlibatan dengan Al Qaedah.

3 Minggu sebelum kerusuhan 8 Juni 2012, Ketua VHP, Dr Praven Togadia bersurat kepada PM India dan juga PBB mengingatkan para teroris muslim Rohingya dengan berdalih sebagai korban berlindung pada UNHCR menyusup masuk ke India.

Mereka ini adalah teroris yang sama yang melakukan pembantaian; pembersihan etnis Buddha di daerah Arakan, antara BanglaDesh – Myanmar dan menuntut berdirinya negara Islam terpisah. Beberapa umat Buddha dari suku Chakma yang selamat, sekarang ada di Tripura dari India. Rohingya memproyeksikan diri mereka sebagai korban, namun ada peringatan kegiatan jihadis mereka beruhubungan dengan LET, ISI, Al Qaeda, HUJI, IM dan lainnya dengan Agfhan Taliban yang merecoki Rusia dan juga kelompok-kelompok di Kashmir.

Dari Uraian di atas dan membandingkan aksi TPM Aceh,maka aksi itu jelas dilakukan dengan pengetahuan yang sangat minim dan salah menilai keadaan yang terjadi terutamanya karena TPM sendiri terprofokasi berat pemberitaan dan foto-foto hoax dari kalangan mereka sendiri ATAU bisa jadi mereka ini justru merupakan simpatisan para teroris tersebut! [↑]

—————

Rencana MUSLIM MENG-Genosid NON MUSLIM
Ternyata memang ada alasan mendasar berunsur religi yang membuat para Muslim Bangladesh berlaku brutal seperti itu (simak foto kanan bawah).

Silakan simak sendiri isi wawancara Nawabzaada Nabiullah Khan, pengikut JAMAAH ISLAMIYAH PAKISTAN, di majalah bulanan Baluchi pada edisi “Jamhooria Islamia” Februari 1999

    Date: Sun, 01 AUG 1999 23:57:13 GMT
    From: nanafadnavis@my-deja.com
    Newgroups: soc.culture.sri-lanka, soc.culture.burma, soc.culture.nepal
    Subject: Islamic plan for genocide of Hindus and Buddhists

    Wawancara ini diterbitkan dalam edisi “Jamhooria Islamia” Februari 1999, sebuah majalah bulanan Baluchi yang diterbitkan dalam bahasa Panj-gar. Ini diterjemahkan hanya untuk tujuan informasi. Poster tidak berarti mendukung gagasan-gagasan dalam wawancara ini.

    Terima kasih kepada Jamil Baloch dan Omar Nasr-Ullah yang telah menerjemahkan.

    Wawancara dengan Nawabzaada Nabiullah Khan di-wawancara oleh Jalil Amir.
    —————

    Q: Mohon ceritakan tentang kebersamaan anda dengan Qazi Hussain Ahmed

      A: Qazi memiliki dua bungalow di Peshawar. Kami menghabiskan sebagian besar waktu di kedua rumah itu. Rumah pertama adalah tempat tinggal bagi keluarganya dan rumah kedua adalah kantor dan rumah peristirahatannya. Tetapi ia biasanya menjumpai teman-teman dan kerabatnya dan para pekerja politik hanya di rumah keluarganya. Ia memastika bahwa sedikitnya 3 hari dalam seminggu, Qazi dan sahabat-sahabatnya biasanya melewatkan waktu di rumah peristirahatannya. Tidak seperti rumah keluarga, rumah peristirahatan itu dilengkapi dengan segala fasilitas yang dapat dibayangkan, televi 36-inch. 2 piringan satelit untuk menerima segala siaran dari seluruh penjuru dunia. Ia membuat banyak catatan tentang semua siaran itu. Kami biasanya mendiskusikan segala sesuatu di bawah cahaya matahari di dalam rumah peristirahatannya. Saya memiliki kebiasaan meminum sedikit anggur. Qazi tidak minum ataupun merokok. Qazi mengetahui kelemahan saya terhadap anggur. Ia menasihati saya agar berhenti minum dan meminta saya agar mengikuti jejak kaki Nabi Mohammad (SAW). Walaupun saya memiliki kebiasaan meminum hanya sedikit anggur sebelum makan malam, karena desakan Qazi, saya meninggalkan kebiasaan itu. Ketika saya sedang duduk di bangku kuliah, saya telah memulai kebiasaan merokok. Saya meninggalkan kebiasaan itu setelah Qazi menasihati agar berhenti merokok.

      Saya tinggal dengan Qazi selama hampir 6 tahun di Peshawar. Saya tidak menyetujui beberapa startegi yang digunakan oleh JI selama setelah tahun-tahun Zia. Qazi adalah seorang yang praktis sedangkan saya adalah seorang yang lebih idealis pada masa itu. Saya mendesak bahwa JI seharusnya tidak mengandalkan kartu suara sebagai satu-satunya jalan menuju kekuasaan. Qazi memaksakan bahwa kartu suara adalah satu-satunya cara bagi JI untuk berkuasa di Pakistan. Hal ini memicu suatu perselisihan antara Qazi dan saya. Oleh sebab itu ketika saya pergi ke Baluchistan untuk menemui orang tua saya, saya menetap di sana dan tidak kembali ke Peshawar. Walaupun hampir setiap minggu kami berbicara melalui telepon, Qazi tidak pernah meminta saya untuk menetap dengannya dan saya mendapatkan pekerjaan sebagai guru Jemaat di Quetta di mana saya menetap bersama orang tua dan keluarga saya. Akan tetapi, tahun-tahun bersama Qazi di Peshawar dan di seluruh dunia adalah tahun-tahun yang peling memuaskan hidup saya secara intelektual

    Q: Bagaimanakah pandangan Qazi atas Islam dan Nabi Mohammad (SAW)

      A: Qazi adalah seorang pemuja dan murid Nabi Mohammad (SAW), IA MENIRU SELURUH PIKIRAN dan KEHIDUPANNYA dari KEHIDUPAN DAN AJARAN-AJARAN NABI MUHAMMAD (SAW). Saya sering kali terkejut oleh Qazi ketika ia melakukan suatu hal kecil, ia akan segera membandingkan insiden tersebut dengan insiden yang terdapat dalam Al-Hadith dan menjelaskan bahwa ia melakukan apa yang dilakukan Nabi Mohammad (SAW) 10 abad lalu. SAYA BELUM PERNAH BERTEMU DENGAN ORANG YANG MENIRU SELURUH KEHIDUPANNYA DARI UCAPAN DAN AJARAN NABI MUHAMMAD (SAW) seperti Qazi.

    Q: Isu perempuan sangat kontroversial dewasa ini. Taliban dan beberapa organisasi fundamentalis membatasi kebebasan para perempuan. Sementara beberapa intelektual progresif Muslim berpendapat bahwa perempuan adalah setara dengan laki-laki dalam segala bidang. Bagaimanakah pandangan Qazi terhadap perempuan?

      A: Seperti yang saya katakana sebelumnya, Pandangan Qazi terhadap perempuan adalah persis sama dengan Pandangan Nabi Mohammad (SAW). KESETARAAN LAKI-LAKI dan PEREMPUAN ADALAH KEBODOHAN. Apa yang dapat dilakukan oleh laki-laki, perempuan tidak dapat melakukannya dan apa yang dapat dilakukan oleh perempuan, laki-laki tidak dapat melakukannya. Para perempuan lemah secara fisik dan batin dibandingkan dengan laki-laki. Untuk hal ini kita tidak memerlukan bukti apa pun selain hanya dengan melihat laki-laki dan perempyan. Laki-laki harus menjaga perempuan sepanjang waktu. Jika perempuan tidak memiliki saudara laki-laki, maka mereka harus mencari seorang laki-laki dan menikahinya agar ia dapat menjaganya. PEREMPUAN TIDAK BOLEH MEMILIKI KEHIDUPAN DILUAR KELUARGA. Pendidikan boleh diberikan kepada mereka tetapi TIDAK BOLEH MENYAINGI LAKI-LAKI DI DEPAN PUBLIK. Mereka juga TIDAK BOLEH TURUT BERTEMPUR dalam peperangan juga TIDAK BOLEH DIGUNAKAN DALAM POLITIK PADA MASA DAMAI.

      QAZI PERNAH BERKATA BAHWA BEGITU JI BERKUASA DI PAKISTAN, IA AKAN MENGHAPUSKAN HAK PILIH PARA PEREMPUAN dan KAUM MINORITAS. HANYA MUSLILIM YANG BOLEH BERPARTISIPASI DALAM PEMILIHAN UMUM atau DIPILIH.

      Ketika saya meminta bukti dari Hadiths. Ia mengutip banyak Hadith untuk mendukung hal tersebut. Saya bertanya kenapa hal tersebut tidak pernah dibicarakan secara terbuka di depan publik oleh Jamaat. Qazi mengatakan bahwa petunjuk ini terdapat di segala tempat. Tetapi JI tidak mempersoalkan hal ini karena para perempuan yang saat itu memiliki hak pilih akan memilih melawan JI dalam pemilihan jika hal demikian diungkapkan secara terbuka. Dalam hal ini saya tidak sependapat. Saya berpendapat, karena semua pemimpin utama Jamaat meyakini bahwa para perempuan tidak akan memiliki hak pilih setelah mereka berkuasa, maka mereka seharusnya mengatakan hal itu secara terbuka. Jika engkau tidak mengatakannya sekarang dan kelak engkau menghapuskan hal pilih mereka ketika engkau berkuasa, maka hal itu akan menciptakan kemarahan orang banyak. Tetapi Qazi tetap pada pendapat bahwa JI tidak boleh mengatakannya sekarang.

    Q: Hal itu membawa kita pada pertanyaan tentang kaum minoritas. Apakah mereka harus membayar pajak Jizya?

      A: Ya. Mereka harus membayar pajak. Seperti dijelaskan oleh Qazi, gagasan JIZYA BUKALAH MELINDUNGI UANG. MELAINKAN SUATU DORONGAN KEUANGAN PADA NON-MUSLIM UNTUK BERALIH PADA ISLAM. BEGITU JAMAAT BERKUASA, KAUM MINORITAS AKAN DI DORONG (DIPAKSA) UNTUK MENJADI MUSLIM APAKAH MELALUI KEUANGAN ATAUPUN FAKTOR-FAKTOR PSIKOLOGIS.

      JI TELAH MENYAMAKAN INDIA DENGAN HINDU SEHINGGA KAUM HINDU PAKISTAN AKAN DIPAKSA MENJADI MUSLIM. INI ADALAH STRATEGI YANG SANGAT BERHASIL SELAMA KERUSUHAN MASJID BABRI. JI SECARA AKTIF TERLIBAT DALAM MENGHANCURKAN KUIL-KUIL HINDU di PUNJAB dan SINDH. KAMI MEMERINTAHKAN PENGHANCURAN RUMAH-RUMAH MILIK KELUARGA HINDU JUGA.

      TUJUAN UTAMA KAMI ADALAH MENGHANCURKAN KUIL-KUIL HINDU. KAMI MENULISKAN SELEBARAN BAHWA MENGHANCURKAN SETIAP KUIL BERHALA AKAN MEMBUAT SEORANG MUSLIM LEBIH DEKAT PADA SURGA ALLAH. Kami menggunakan Hadith dalam semua selebaran. Babar menghancurkan Kuil Ram di Ayodhya. Karena ia adalah seorang pengikut sejati. CARA YANG SAMA HARUS DILAKUKAN OLEH SETIAP MUSLIM UNTUK MENGHANCURKAN KUIL-KUIL HINDU DI PAKISTAN. GAGASAN KAMU ADALAH UNTUK MENDORONG MUSLIM INDIA AGAR JUGA MENGHANCURKAN KUIL-KUIL HINDU DI INDIA. Tetapi hal ini tidak berhasil karena polisi India mulai menyerang kaum Muslim yang sedang melakukan pekerjaan Allah.

    Q: Pemerintahan seperti apakah yang direncanakan oleh JI untuk Pakistan?

      A: Pemerintahan Sharia. Sharia akan menjadi undang-undang kami sehingga para terpelajar Muslim yang unggul yang telah menyelesaikan pendidikannya di Madrassa akan diangkat menjadi Hakim di setiap persidangan. Qazi ingin membentuk presidium dengan model yang sama seperti Khalifa. Saat ini gagasan kami adalah bahwa keseluruhan pemimpin tinggi JI serta seluruh tiga jenderal militer akan menjadi bagian dari presidium yang mana Qazi akan menjadi Sang Khalifa. Kami menyaksikan kemajuan Taliban dengan seksama dan belajar darinya. Kami terkesan dengan Taliban pada persoalan perempuan, kaum minoritas dan hukum dan persoalan lainnya. Mullah Omar adalah sahabat Qazi. Omar sering mengunjungi rumahnya. Dalam beberapa pembicaraan, kami telah memutuskan untuk membentuk Persatuan Pakistan dan Afghanistan begitu kondisi yang sesuai tercipta di Pakistan (yaitu pemerintahan JI di Pakistan). SEMBOYAN KAMI ADALAH JIHAD TANPA HENTI. GAGASANNYA ADALAH UNTUK MEMPERTAHANKAN PAKISTAN DALAM KONDISI JIHAD TERUS MENERUS SEPANJANG WAKTU.

      Visi Qazi adalah bahwa Pakistan akan menjadi pusat Kerajaan Islam yang baru YANG MERENTANG DARI BURMA HINGGA AFGANISTAN DAN DARI SRILANKA HINGGA TAJIKISTAN TERMASUK KASHMIR. PADA AKHIRNYA, JAMAAT AKAN MENGGUNAKAN SEMUA TAKTIK TERORISME DI WILAYAH-WILAYAH YANG DIKUASAI KAFIR untuk bernegosiasi di wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Muslim. PARA PIMPINAN JAMAAT DARI BANGLADESH DAN INDIA TELAH MENERIMA KEPEMIMPINAN PAKISTAN DALAM HAL INI.

    Q: Apakah mereka datang ke Pakistan?

      A: Ya. Kami telah membuat kesepakatan di Peshawar dan pada waktu lainnya di Multan pada masa Zia. Tetapi pemahamannya masih ada bahkan hingga hari ini.

    Q: BAGAIMANA DENGAN SRILANKA dan BURMA?

      A: Keduanya adalah Negara Buddhis. Untuk urusan ini bahkan Baluchistan dan Afghanistan adalah Buddhis pada zaman dulu sementara Sindh dan Punjab adalah Hindu. Kaum Buddhis umumnya lebih lemah dalam hal keyakinan. OLEH SEBAB ITU, KAMI HARAP MEREKA AKAN MENJADI MUSLIM DENGAN SEDIKIT TEKANAN. Tetapi hal itu akan terjadi hanya setelah Jamaat pertama-tama menaklukkan Pakistan dan kemudian India.

    Q: Bagaimana rencana untuk India? Tampaknya keseluruhan kebijakan Jamaat di India berpusat di sekitar Kashmir.

      A: Ya itu benar. Tetapi untuk alasan yang sangat bagus. Kashmir adalah bagaikan batu landasan yang terletak di puncak lengkungan. Benar bahwa lengkungan itu menahan keseluruhan beban batu landasan itu. Tetapi jika batu landasan itu dipindahkan, maka keseluruhan lengkungan itu akan runtuh. Itulah sebabnya maka disebut batu landasan. Kashir adalah batu landasan bagi India. Begitu engkau memindahkannya, maka India tidak dapat lagi menjadi sekuler dan juga tidak akan menjadi Negara yang bersatu. Bagaikan batu-batu pada lengkungan, semua bata akan runtuh. Qazi mengingatkan gagasan ini pada Zia. Oleh sebab itu Zia memulai operasi Topac. Operasi Topac adalah lebih jauh lagi. Tujuan utama Operasi Topac adalah untuk memecah India menjadi satu juga bagian sehingga memudahkan bagi Pakistan untuk menelan India bagian demi bagian. Itulah sebabnya mengapa Pakistan mendorong gerakan pertempuran di seluruh India. Begitu Kashmir dikuasai, gerakan pertempuran ini akan memecah India dengan menuntut kebebasan yang sama bagi Nagaland, Kerala, Mizoram, Meghalaya, Manipur, Assam, Jharkand, Tamil Nadu, Bengali Barat, dan Khalistan. Tetapi Benazir merusak seluruh rencana kami dengan menyerahkan rincian operasi Topac kepada pemerintahan India yang dipimpin oleh Rajiv Gandhi. Itu adalah kemunduran besar pada visi kami. Akan tetapi kami terus maju.

    Q: Saya mendengar bahwa ia hanya menyerahkan rincian tentang gerakan Khalistan.

      A: Itu benar. Pendapat saya, itulah sebabnya maka saya berpikir bahwa kerusakannya terbatas. India memikirkan dan sibuk dengan gerakan-gerakan separatis di berbagai bagian India seolah-oleh semua itu adalah gerakan sebenarnya bahkan hingga saat ini. Dengan demikian, saya katakan, kerusakannya terbatas.

    Q: Apakah anda berpendapat jika Negara-negara bagian di India menjadi Negara-negara merdeka, maka tidak ada gerakan serupa yang akan timbul di Pakistan sendiri?

      A: Tidak, gerakan Jiye Sindh dan gerakan separatis kecil di Baluchistan dan Peshawar dapat dikendalikan. Kami tidak akan memperlakukan gerakan separatis di Pakistan seperti India memperlakukan kaum separatis. Hal ini akan menjadi gaya Taliban. Sebenarnya kami tidak meramalkan posisi apa pun yang akan menentang kekuasaan JI di Pakistan. Oleh sebab itu para pemimpin BNP dan Pakhtoonkwa akan menjadi tidak relevan.

    Q: Kembali pada titik yang sama. Jika India menjadi banyak Negara bagaimana engkau memperlakukan masing-masing Negara-negara Hindu? Mereka bahkan bisa menjadi musuh besar Pakistan. Atau mungkin mereka akan bersatu kembali untuk melawan Pakistan.

      A: Qazi dan banyak orang lain telah mendiskusikan kemungkinan ini. Kami berpendapat, hal demikian tidak mungkin terjadi karena perbedaan bahasa dan budaya antara Negara-negara di India sangatlah besar. Tidak ada bahasa seperti Urdu yang menyatukan seluruh India. Bahasa Inggris dan bukan Bahasa Hindi adalah bahasa yang umum antara Negara-negara di India.

      Oleh sebab itu kami telah merencanakan untuk memulai kerusuhan di setiap Negara bagian terhadap Negara tetangganya sehingga Negara-negara bagian akan selalu dalam keadaan perang. Misalnya ada banyak kaum Kannadiga di TamilNadu dan kaum Telugu di Madras. Kami akan memulai kerusuhan anti Telugu di Madras, yang akan mempertahankan keadaan perang antara Andhrapradesh dan TamilNadu.

      JIKA KAMI MENEMPATKAN SEBUAH BOM DI BIOSKOP DI TELUGU DI MADRAS DAN SEBUAH BOM DI BIOSKOP TAMIL DI ANDHRA, MAKA PEPERANGAN ANTARA TAMILNADU DAN ANDHRA, MAKA PEPERANGAN ANTARA TAMIL NADU DAN ANDHRA AKAN BERLANGSUNG SELAMANYA.

      Hal-hal serupa dapat dilakukan di pusat budaya Assam di Bengali dan Hindi Prachar Sabha di Orissa. Dengan perbedaan antara kewarganegaraan di India, maka pilihan-pilihan bagi Pakistan tidak terbatas.

      VISI QAZI ADALAH UNTUK MENJADIKAN SELURUH INDIA 100% NEGARA MUSLIM. Suatu India Bersatu, di mana kaum Hindu adalah mayoritas adalah suatu rintangan untuk hal itu. SEPERTI HALNYA NABI MUHAMMAD (SAW) MENGUBAH KAUM BERHALA ARAB MENJADI MUSLIM, QAZI JUGA INGIN MENGUBAH KAUM BERHALA INDIA MENJADI MUSLIM.

    Q: Ini adalah visi besar karena hal ini bahkan tidak mungkin bagi dinasti Muslim dan Mogul yang memerintah India selama 700 tahun terakhir.

      A: Benar. Hal ini karena mereka tidak pernah benar-benar membentuk Kerajaan Muslim. Walaupun raja-raja adalah Muslim, namun mereka memberikan posisi kekuasaan pada kaum Hindu. Jika engkau membuat suatu pernyataan jelas bahwa hanya kaum Muslim yang berhak memilih dan menyatakan bahwa India adalah Republik Islam, maka secara otomatis orang-orang akan menjadi Muslim. Sedikit teror harus dilakukan pada jantung Hindu dan KRISTEN.

      Saya akan memberikan contoh terbaik. PORSI SEKARANG YANG MEMBENTUK PAKISTAN TERDIRI DARI 25% populasi Hindu sebelum kemerdekaan. SETELAH KEMERDEKAAN BANYAK KAUM HINDU YANG PINDAH KE INDIA. NAMUN SETELAH PINDAH, POPULASI HINDU PAKISTAN MENJADI 15%.

      TAHUKAH ENGKAU BERAPA PERSEN SEKARANG? KURANG DARI 1%.

      Bagaimana hal ini mungkin terjadi? Bagaimana kaum Hindu beralih ke Islam dalam waktu sesingkat 20 tahun sementara selama 700 tahun mereka tidak beralih ke Islam? HAL ITU MURNI KARENA TERROR PERBATASAN. TERROR ITU MEMAKSA KAUM HINDU YANG MENETAP DI PAKISTAN UNTUK MENJADI MUSLIM. Murni dan sederhana. JI menggunakan teknik serupa di Punjab dan Sindh setiap kali kerusuhan terjadi di India, kami menggunakan dalih untuk melancarkan teror di antara kaum Hindu, kristen, dan Ahmadiah. Teror serupa akan teringat oleh semua kaum non-Muslim, baik Hindu, maupun kristen, pada tahun-tahun mendatang di seluruh India.

      Qazi adalah seorang analis jenius yang mengetahui setiap strategi yang akan dan seharusnya digunakan Nabi Muhammad (SAW) di India untuk mencapai kepatuhan total pada Allah.

    Q: Apakah engkau melihat kemungkinan bahwa ketika Kashmir menjadi bagian dari Pakistan, maka akan terjadi kerusuhan skala besar di India melawan Muslim India? Oleh sebab itu, Kashmir dapat mengarah pada lebih banyak kematian Muslim India dan kerusakan Umat Islam.

      A: Ya, itu adalah suatu kemungkinan. TETAPI IDEOLOGI KAMI ADALAH BERDASARKAN QUR’AN DAN HADIS. NABI MUHAMMAD (SAW) DALAM BANYAK HADIS DAN ALLAH DALAM QUR’AN MENGATAKAN BAHWA SETIAP MUSLIM YANG BERGAUL DENGAN SEORANG POLYTHEIS ADALAH SEORANG POLYTHEIS. KAUM MUSLIM TIDAK BOLEH BERGAUL DENGAN NON-MUSLIM. INI TERMASUK KRISTEN, YAHUDI dan HINDU.

      Juga Muhammad (SAW) mengatakan bahwa bahkan jika penguasa Muslim tidak baik, kaum Muslim harus tetap pada penguasanya daripada pergi ke negeri non-Muslim. Hadith dan Qur’an sangat eksplisit sehubungan dengan hal ini.

      SEMUA MUSLIM YANG TIDAK PINDAH KE PAKISTAN SELAMA PEMISAHAN, PADA INTINYA ADALAH ORANG HINDU. Mereka boleh menganggap bahwa mereka adalah Muslim. Tetapi tidak di hadapan Allah. Mereka sama khilafnya seperti kaum Ahmadiah yang menganggap mereka adalah Muslim padahal semua orang tahu bahwa mereka bukan Muslim. Oleh sebab itu kaum Muslim India yang telah memutuskan menetap di India selama masa pemisahan adalah bukan Muslim, dan keturunan mereka juga bukan Muslim (karena mereka tidak pindah ke tanah Muslim).

      Hal lain yang saya perhatikan dalam perjalanan saya di India adalah bahwa para petani Hindu umumnya mempersembahkan seluruh panen mereka kepada dewa-dewa mereka di akhir musim panen. Hal ini membuat keseluruhan panen ini haram bagi kaum Muslim. Namun kaum yang mengaku Muslim di India dipaksa untuk memakan makanan ini yang telah dipersembahkan kepada Tuhan lain selain Allah thallah. Hal ini secara eksplisit dilarang dalam Qur’an. Dan ini adalah salah satu persoalan serius hidup dalam Negara-negara non-Muslim. Nabi Muhammad (SAW) mengetahui hal-hal demikian; itulah sebabnya ia memerintahkan kepada Muslim agar tidak menetap di wilayah-wilayah non-Muslim. Walaupun mengetahui hal ini, kaum yang mengaku Muslim ini, tetap tinggal di India. Kemudian semua Muslim yang pindah ke Negara lain dan Amerika adalah non-Muslim. Hanya Muslim yang berkeinginan untuk kembali adalah Muslim, bukan mereka yang memutuskan untuk tinggal di Negara-negara demikian.

      OLEH SEBAB ITU KITA TIDAK PEDULI JIKA KAUM MUSLIM INDIA DEMIKIAN TEWAS DALAM KERUSUHAN.

      TETAPI KARENA ALASAN STRATEGI, kami memiliki hubungan baik dengan kaum Muslim ini. SEMUA MUSLIM YANG BEKERJA DEMI PAKISTAN dan DEMI KEMENANGAN UMAT ADALAH MUSLIM SEJATI. MEREKA ADALAH PRAJURIT GARIS DEPAN DI NEGARA-NEGARA NON-MUSLIM. OLEH SEBAB ITU KAMI HARUS MENGIRIMKAN SENJATA dan AMUNISI KEPADA MUSLIM-MUSLIM SEJATI INI SEANDAINYA KERUSUHAN MENDATANGI MEREKA.

      Sedangkan Muslim Kashmir adalah Muslim sejati yang berjuang di bawah kekuasaan Hindu. Mereka adalah korban konspirasi internasional untuk mempertahankan mereka di bawah kekuasaan Hindu. Persoalan itu adalah bagian dari pemisahan yang tidak lengkap. Sedangkan kaum Muslim India telah menerima pemisahan dan dengan sadar menetap di India.

    Q: Namun pergolakan yang terkenal di Kashmir adalah kegagalan di tahun 1965 dan 1948.

      A: Itu benar. Hal itu mungkin karena keteguhan Sheik Abdullagh dari Kashmir selama perang 1948. Sebenarnya populasi Muslim di Jammu Kashmir hanya sedikit lebih banyak dari Hindu. 58% Muslim dan 42% non-Muslim. Oleh sebab itu operasi Topac ditujukan untuk menghapuskan kaum Pandit Kashmir dari lembah. Kami berpikir bahwa mereka semua akan pergi ke India. Sebaliknya banyak yang pergi ke Jammu dan hanya sangat sedikit yang pergi ke India. Oleh sebab itu kami terpaksa meminta Harkatul untuk mulai meneror kaum Hindu di Jammu. Kami juga mengharapkan perang skala besar melawan di Muslim di Jammu serta di seluruh bagian India karena pembunuhan-pembunuhan itu. Pemerintah India menahan informasi ini. Hal lain yang belum dilakukan adalah pemusnahan total kaum Buddhis dan Hindu dari Jammu dan Kashmir. Kami hanya dapat melakukannya di Lembah dan bukan di Jammu dan Ladakh. Oleh sebab itu populasi Muslim di Kashmir dan Jammu adalah hanya sekitar 65% menurut Harkatul.

    Q: Ceritakan tentang kunjunganmu ke Saudi Arabia.

      A: Kami berangkat dari Umra sebagai sebuah tim pemimpin JI. Tentu saja, Zia telah mengatur segala kenyamanan bagi kami. Kami menetap di Rumah seorang Sheik. Ia adalah seorang kontraktor paling kaya di Saudi Arabia. Ia juga memiliki beberapa toko emas di Qatar. Sheik adalah seorang sahabat Zia Ul Haq. Selama masa Zia, kami tidak aktif secara politis. Karena Zia telah melakukan segala yang diinginkan Qazi, juga kekuatan politis tidak diperlukan. Oleh sebab itu kami memiliki banyak waktu. Itu adalah alasan utama mengapa kami menetap selama tiga bulan penuh di istana Sheik.

      SHEIK INI BERASAL DARI KELUARGA BADUI DI BARAT DAYA ARAB. IA MEMILIKI KEBIASAAN MEMINUM AIR KENCING ONTA dan SUSU ONTA DI PAGI HARI. Saya bertanya kepadanya mengapa ia melakukan hal itu? IA MENJAWAB BAHWA ITU ADALAH TRADISI KELUARGA SERTA PRAKTIK ISLAM YANG DI DUKUNG OLEH NABI MUHAMMAD (SAW). Saya terkejut. Tetapi Qazi menjelaskan bahwa hal itu benar. Ia memberitahukan tiga atau empat Hadith yang mana meminum air kencing onta dan susu Onta disarankan. Maka Qazi ingin meminum air kencing onta dan susu onta bersama Sheik. Karena saya tidak mampu meminum air kencing onta, maka saya hanya meminum susu onta segar, yang pekat dan berbusa. Tetapi Qazi meminum air kencing onta dan susu onta dalam jumlah yang sama seperti yang diminum oleh Sheik. Qazi mengejutkan saya dalam insiden ini. Saya terheran dengan fakta bahwa Qazi siap melakukan apa saja untuk menyesuaikan hidupnya dalam ajaran-ajaran sang nabi.

    Q: Apakah ia terus melakukan hal itu bahkan sampai hari ini?

      A: Tidak. Ia memberli seekor onta setelah kembali ke Pakistan. Tiga tahun kemudian ia memiliki masalah batu ginjal. Atas nasihat dokter ia harus berhenti meminum air kencing itu sementara ia terus meminum susu onta. Dokter menasihatinya untuk berhenti meminum susu onta juga karena susu onta mengandung lebih banyak kalsium daripada susu sapi. Saya pikir ia berhenti meminum segala susu atau produk-produk dari susu. Tetapi ia pernah berkata bahwa begitu JI berkuasa di Pakistan, ia akan mempopulerkan kebiasaan meminum susu onta dan air kencing onta di Pakistan. Tetapi saya ragu ia dapat melakukan hal itu. Saya berpendapat, hanya susu onta yang dapat dipopulerkan.

    Q: Itu baru berita bagi saya. Kalau begitu bagaimanakah kunjunganmu ke Arab?

      A: Pertama-tama saya harus mengatakan bahwa Saudi Arabia, sebagai nama Negara, adalah kesalahan. Seharusnya hanya Arab. Hanya saja keluarga Saudi memerintah beberapa bagian Arab. Anda tidak menempatkan namamu di depan sebuah tanah suci seolah-olah anda memiliki tanah itu. Jika Nawaz memerintah Pakistan, akankah Pakistan disebut Sheriff Pakistan dan besok Bhutto memerintah dan akankah Pakistan disebut Bhutto Pakistan?

      Namun demikian, satu hal yang kami perhatikan adalah bahwa kaum Arab memiliki budak-budak. WALAUPUN ALLAH MENGATAKAN BAHWA PARA BUDAK HARUS DIPERLAKUKAN DENGAN BAIK, NAMUN IA TIDAK MENYARANKAN PENGHAPUSAN PERBUDAKAN. JIKA PERBUDAKAN ADALAH BURUK MENURUT PANDANGAN DUNIA MASA KINI, ALLAH TENTU AKAN MENGATAKAN BAHWA PERBUDAKAN ADALAH SALAH. Nabi Mohammad (SAW) juga mengatakan bahwa para budak harus diperlakukan dengan baik dan para budak harus sering diberi kebebasan. Tetapi jika tidak ada perbudakan bagaimana mungkin seseorang dapat membebaskan para budak? OLEH SEBAB ITU MENGHIDUPKAN KEMBALI PERBUDAKAN DI PAKSITAN ADALAH SALASAH SATU RENCANA MASA DEPAN JEMAAT.

      SEMUA KAUM HINDU INDIA DAN SRILANKA YANG DITANGKAP AKAN DIJADIKAN BUDAK YANG BEKERJA UNTUK KAUM MUSLIM PAKISTAN. Setiap Muslim Pakistan yang kokoh dalam Tuhan akan mendapatkan budak-budak begitu kami menaklukkan India. Semua Budak yang merangkul Islam akan dibebaskan. PERBUDAKAN ADALAH SIFAT ISLAMI. Jamaat hanyalah partai politik, yang tidak menyuarakan pertentangan atas perbudakan Keledai (yang kalah) di Pakistan.

      Kami berkeliling di seluruh Arab. Kami heran mengetahui bahwa ada beberapa kaum Hindu di Yaman. Kaum Hindu Yaman ini bukanlah orang India. Saya berpendapat, orang-orang Hindu ini adalah para pedagang dari India di masa lalu. Saya juga heran mengetahui bahwa mereka memiliki sebuah kuil Siwa di Yaman. Qazi tidak senang akan hal ini. Ketika ia berbicara dengan para pemimpin Yaman, ia mengungkapkan persoalan ini. Tetapi para pemimpin Yaman menolak saran Qazi untuk mengalihkan secara paksa orang-orang ini menjadi Islam. Saya tidak tahu mengapa mereka menolak. Saya pikir mungkin karena populasi Hindu India yang cukup besar yang bekerja di Yaman dan Arab. Ia tidak menyukai kepemimpinan sekarang di Arab karena alasan ini. Ia berpendapat, Arab seharusnya tidak memperbolehkan non-Muslim memasuki tanah suci Arab. Arab seharusnya 100% murni.

      Banyaknya kaum Hindu di Arab merusak Arab. Walaupun mereka hidup sebagai kontraktor, mereka berpotensi merusak pikiran orang-orang Arab. Salah satunya adalah kehadiran orang Arab dalam kuil Hindu Qatar. Pertama-tama raja memperbolehkan kaum Hindu membangun sebuah kuil dan gereja di tanah suci di sana dengan mengotori Tanah Suci. Ke dua adalah bahwa anggota keluarga kerajaan mengunjungi kuil itu untuk meresmikan kuil tersebut. Qazi ketakutan ketika ia mengetahui bahwa salah satu anggota penting keluarga kerajaan Qatar adalah seorang pengikut dewa yang disebut Aavanppan. Berita ini membuat Qazi memutuskan untuk seribu kali memerangi kekuatan jahat.

    Q: Hal demikian terjadi di Pakistan masa kini. Maksud saya seorang teman saya mengunjungi Kuil Hindu. Teman lainnya mengunjungi pertemuan-pertemuan gereja.

      A: Ya. Salah satu kerabat Qazi ingin menjadi seorang Hindu. Ia tidak memiliki anak selama bertahun-tahun dan tampaknya ia telah berdoa pada Dewa Hindu dan memiliki anak. Oleh sebab itu ia bersyukur pada dewa itu dan ingin menjadi seorang Hindu. Qazi mengetahui hal ini dan memanggilnya dan mengancamnya dengan akibat yang mengerikan. Kerabat itu tidak menjadi seorang Hindu. Tetapi insiden itu membuat Qazi membaca lagi tentang kemurtadan. QURAN dan HADIS JELAS MENGATAKAN BAHWA HUKUMAN BAGI MENINGGALKAN ISLAM ADALAH KEMATIAN. Karena Sharia bukanlah hukum di Pakistan, dan undang-undang Pakistan yang sekarang memberi hak untuk mengubah agama, adalah benar secara hukum untuk menyatakan diri sebagai Hindu atau kristen. Tetapi begitu JI mengambil alih pemerintahan, JI akan menjadikan Sharia sebagai undang-undang. Maka Pakistan juga sah secara hukum untuk mengeksekusi setiap orang yang meninggalkan Islam dan bergabung dengan Ahamddiah, kristen atau Hindu dengan cara yang sama seperti Iran dan Taliban memperlakukan orang-orang murtad-nya. IA JUGA BERPENDAPAT BAHWA KEHADIRAN KUIL-KUIL HINDU DIPAKISTAN ADALAH SUMBER MASALAH dan OLEH SEBAB ITU KAMI INGIN MENGHANCURKAN SEMUA KUIL HINDU dan GEREJA DI PAKISTAN.

    Q: Hal ini membawa kita ke wilayah lain. Saat ini internet telah menyebar luas. Bahkan Saudi Arabia terhubung dengan dunia luar. Menghancurkan kuil-kuil mungkin baik tetapi bagaimana kita dapat sepenuhnya melindungi Pakistan dan orang-orang Muslim dari pengetahuan yang merusak?

      A: JI mengambil posisi prinsipil atas persoalan ilmu pengetahuan dan agama. Agama adalah jauh lebih tinggi daripada ilmu pengetahuan. Apa pun yang perlu diketahui ada dalam Quran dan Hadis. Mengetahui lebih banyak akan menciptakan masalah seperti bom atom dan televisi. Quran dan Hadis jelas mencela gambar. Namun godaan Setan dalam bentuk fotografi dan televisi memakan kehidupan kita. Sebelumnya musik hanya terdapat dalam bentuk nyanyian vokal. Sekarang ilmu pengetahuan dan teknologi membuat musik menyebar dengan harga yang murah. Ini adalah godaan Setan. Kita harus waspada terhadap hal-hal haram ini. Oleh sebab itu lebih banyak ilmu pengetahuan dan teknologi adalah buruk bagi peradaban. Saya telah menyelesaikan kuliah teknik sipil. Oleh sebab itu saya menguasai pengetahuan ilmiah. Saya dapat memberitahu anda betapa merusaknya hal itu. Hal itu bahkan membuat anda mempertanyakan keagungan Quran.

      ADA BANYAK HADIS, YANG MENYATAKAN BAHWA BUMI DATAR. Tetapi semua ilmu pengetahuan akan mengatakan bahwa bumi adalah bulat. Tetapi anda tidak dapat menggunakan ilmu pengetahuan yang sama seperti teori relativitas untuk membuktikan bahwa bumi adalah datar. Kasus serupa berlaku pada evolusi. Tetapi intinya adalah bahwa keragu-raguan ditanamkan dalam pikiran orang-orang atas kebenaran Quran sebagai kata-kata Tuhan.

      Semakin banyak kita bekerja keras dalam membuktikan kebenaran ilmiah Quran, maka semakin banyak orang yang akan memahami kebenaran Quran. Ini adalah hal yang tidak disukai. Itulah sebabnya maka ketika kita membicarakan tentang pendidikan, yang kita maksudkan adalah pendidikan agama dan bukan pendidikan ilmiah. Benar bahwa ilmu pengetahuan berkembang setelah revolusi Nabi di Arab. Itu adalah dimulainya ilmu pengetahuan. Sekarang setiap ilmu pengetahuan diisi dengan hal anti-tuhan. Jika anda ingin menjadi dokter, anda harus membaca tentang evolusi. Jika anda harus membaca tentang teknik apa pun maka anda harus mempercayai teori alam semesta yang berusia jutaan tahun yang secara efektif mengatakan bahwa manusia muncul di dunia dalam satu atau dua juta tahun yang lalu.

    Q: Tetapi kita masih memerlukan senjata dan pengetahuan dunia barat, yang mempercayai ilmu pengetahuan. Dan sekali lagi anda merujuk televisi sebagai kejahatan. Jika kita menghapuskan fotografi bagaimana kita dapat memiliki pasport sebagai kartu identitas?

      A: Benar. Itu adalah strategi. Dengan bantuan Allah, kita akan memberikan minyak kepada mereka untuk menjalankan mobil dan kita memperoleh senjata dengan itu. Kita akan menggunakan senjata mereka untuk menghancurkan mereka pada waktunya. Sehubungan dengan foto, hal itu akan dilarang seperti yang dilakukan di Afghanistan. Jika tidak ada keperluan bagi orang-orang untuk keluar dari Pakistan, untuk apa ada pasport? Bagi mereka yang harus melakukan perjalanan ke Negara-negara lain seperti para pemimpin revolusi, maka mereka akan diberikan pasport dengan foto. Untuk itu, kami akan memperbolehkan izin fotografi terbatas hanya kepada pemerintah. Dan kerusakan terbesar dalam Pakistan masa kini adalah TV Satelit India dan film-film India dan lagu-lagu India. Kami akan menghapuskan ini juga.

    Q: Saat ini kita menghadapi banyak pertentangan dari kaum Mohajir sehubungan dengan persyaratan. Kebijakan persyaratan apakah yang diberlakukan JI di Pakistan?

      A: Kami melihat persoalan itu sebagai persoalan bahasa. Kaum Muslim berbahasa Urdu dan Muslim berbahasa Sindhi sedang berperang sekarang. Kami berencana untuk menghapuskan semua bahasa-bahasa daerah seperti Pashto, Sindhi, Baluchi, Urdu, Punjabi dan Brahvi. Kami ingin semua orang Pakistan berbicara dalam Bahasa Arab yang merupakan bahasa surgawi kita. Hal ini akan membuat semua orang setara di hadapan semua orang lainnya dan dengan demikian tidak diperlukan persyaratan bahasa atau kedaerahan. Kami juga berharap bahwa hal ini akan membuat Quran dan Hadith menjadi lebih mudah dimengerti dan akan membuat orang-orang mengikuti Quran dan Hadith hingga ke huruf-hurufnya.

    Q: Akan ada kerusuhan bahasa. Seperti kerusuhan bahasa yang terjadi di Bangladesh.

      A: Bangladesh bukan kerusuhan bahasa. Gagasan bahwa mereka adalah Muslim akan mengubah Bahasa Bangladesh menjadi Bahasa Arab. Kami telah menyediakan anggaran besar untuk memberikan kursus-kursus Bahasa Arab di seluruh India, Bangladesh dan Pakistan. Dari Maroko hingga Irak berbahasa Arab, saya tidak melihat ada alasan mengapa dari Maroko hingga Burma kita tidak dapat membawa Bahasa Arab kepada orang-orangnya. Bahkan Bangladesh akan mulai berbicara dalam Bahasa Arab. Pada saat itu tidak akan ada Bangladesh yang mana nama Negara itu sendiri adalah nama bahasa. Ya. Saat ini tujuan kami hanyalah menyatukan tanpa menyentuh persoalan bahasa Bengali. JI Bangladesh sedang mengupayakan tujuan ini.

    Q: Para jurnalis sekuler Pakistan menentang JI. Misalnya Dawn and News sangat kritis terhadap JI. Bagaimanakah anda melihat peran mereka di masa depan?

      A: Ardheshir cowasjee dapat bekerja hanya karena undang-undang Pakistan sekarang. Ketika Sharia menjadi undang-undang, ia bahkan tidak dapat mendekati pengadilan, karena ia adalah seorang kafir. Kami melihat para jurnalis sekuler adalah musuh utama kami dalam usaha kami memperoleh kekuasaan. Para jurnalis sekuler ini menggali pernyataan-pernyataan kami yang kami nyatakan selama hari-hari sebelum kemerdekaan dan berusaha untuk menyerang kami. Tentu saja kami menentang pembentukan Pakistan pada masa jajahan Inggris. Tetapi itu adalah Jamaat yang berbeda. Sejarah kami dimulai sejak kemerdekaan. Para Jurnalis bukanlah Muslim walaupun beberapa di antara mereka menggunakan nama Muslim. Biarlah mereka mendatangi kami dan bertanya tentang Quran dan Hadith. Kami akan membuktikan bahwa segala yang kami nyatakan adalah bersumber dari Quran dan Hadith. Biarlah mereka membuktikan bahwa apa yang kami nyatakan adalah salah dari sudut pandang Quran. Maka kami akan menerima mereka. Tetapi mereka tidak mampu melakukannya. Mereka tidak dapat menandingi kami dalam setiap debat sehubungan dengan Quran dan Hadith. Kami dapat secara komprehensif membuktikan bahwa mereka sebenarnya bukanlah Muslim. Mereka seperti kaum Quadian yang mengatakan bahwa Muslim tidak perlu melakukan Jihad sebagai suatu kewajiban. Itu sama sekali omong kosong.

    Q: Bagaimana rencanamu di Quetta?

      A: Saya memiliki keluarga di Panj-gur. Saya bekerja di Quetta. Oleh sebab itu saya selalu bepergian. Walaupun saya adalah seorang sahabat Qazi, dan walaupun ia meninta saya untuk melakukan tugas-tugas organisasi, saya menolaknya karena saya tidak mahir dalam pekerjaan organisasi. Ada orang-orang baik yang terampil dalam pekerjaan organisasi di Quetta. Saya puas dengan kedekatan saya dengan Qazi dan dengan menjadi seorang Ideolog JI. Kadang-kadang saya berbicara dalam pertemuan Jamaat. Selebihnya saya menghabiskan waktu saya dengan membaca dan mengirim catatan kepada Qazi.

    Q: Terima kasih atas waktu anda

      A: Semoga Berkat Allah bersama anda.

    —–
    Sumber:
    TheNepalDigest, Islam-Watch dan juga sy post copasannya ini dalam bahasa: Indonesia dan Inggris.
    Foto di bagian atas di ambil pada berita 23 November 2009.
    Foto bagian bawah berasal dari 18 Agustus 2012: Kerusuhan Assam/Lucknow, Uttar Paradesh, yg menghanguskan 500 desa dan 26 mati Serta secara lucunya, para bangladesh ini, merusak patung tanpa tau beda antara patung: BUDDHA VS MAHAVIRA [Pendiri Jainism, atau lihat berita sekaligus foto DI SINI]. Foto gabungannya berasal dari SINI
    [↑]

—————
Sample Foto-Foto Hoax yang diluncurkan kalangan MUSLIM
Foto-foto Hoax korban dibawah ini yang tidak berhubungan dengan Rohingya namun kemudian SENGAJA dilabeli bahwa ini adalah korban pihak Rohingya.


Peringatan:
Foto-foto ini sangat Kejam dan Buas, jika anda TIDAK berusia 18 tahun ke atas dan/atau tidak terbiasa pada ketegangan, jangan DILIHAT!

    Kebanyakan dari Foto-Foto di bawah ini bersumber dari: Farazahmed dan Grevada.com]

    Gambar 1

    Foto di atas bukan foto pembunuhan namun situasi foto ketika umat Buddhist di Tibet membantu evakuasi mayat pasca terjadinya GEMPA DI CHINA. [Sumber: “Tibetan Community” | vriendenvantibet.be]

    Gambar 2

    Foto ini yang paling populer beredar dan banyak yang percaya, bahkan musisi terkenal seperti “Maher Zain” percaya dan ikut-ikutan menyebarkan foto ini. Foto di atas ini adalah perkembangan kasus Pattani di Thailand Selatan pada Oktober 2004. Foto tersebut bukan foto mayat tapi foto para demonstran muslim yang ditangkap karena memperkeruh konflik yang ada di sana setelah sebelumnya memang ada ketegangan antara muslim dengan umat buddhist.

    [Sumber: “The Telegraph” | SMH Portal]

    Gambar 3

    Sama seperti situasi pada gambar 2 di atas, kumpulan foto ini BUKAN foto kumpulan mayat namun foto penangkapan perusuh pada kerusuhan di Thailand Selatan tahun 2004 dan foto ini diplintir menjadi foto mayat korban kejadian di Myanmar. [Sumber: “People’s Daily” | “Frontline“]

    Gambar 4

    Foto di atas diklaim sebagai foto muslim yang dibakar di Burma dengan 3 orang juru kamera mengambil gambar. Namun kenyataannya adalah orang dalam foto ini JUSTRU seorang aktivis Tibet (bernama Jamphel Yesh) yang melakukan demonstrasi saat kedatangan Presiden Cina ke India. Aktivis tersebut adalah imigran yang mencari suaka ke India, dan melakukan aksi bakar diri ketika mengetahui Presiden Cina (saat itu yang menjabat adalah Hu Jintao) akan datang berkunjung. [Sumber: “International Bussines Time” | “The Guardian“]

    Gambar 5

    Foto di atas diklaim pada sebagai foto pertikaian dan pembantaian umat muslim oleh bikkhu di Myanmar. Namun kenyataaanya: Foto ini adalah situasi Masyarakat Burma ketika melakukan demonstrasi terhadap pemerintah Burma atas sulitnya biaya hidup terutama karena kenaikan harga BBM di negara tersebut pada tahun 2007. [Sumber: “Ahrchk” | “My Sinchew“]

    Gambar 6

    Foto di atas ini diklaim sebagai kasus pembantaian muslim di Myanmar tahun 2012. Namun kenyataaanya: Foto ini BUKAN foto korban konflik di Burma baru-baru ini namun foto korban kasus pengeboman pada Februari 2011, di Kota Myawaddy daerah di Burma Timur yang berbatasan dengan Thailand. [Sumber: “Arakan Info“]

    Kemudian,
    Foto-foto berikut di bawah ini hanyalah sample dari penelusuran saya dan juga grup di FB yang berspesialisasi menyembelih berita-berita hoax kerusuhan di Myanmar 2012 sekaligus menunjukan adanya UPAYA SISTEMATIS keterlibatan teroris dan jihadis dalam memperkeruh kerusuhan di Myanmar:

    Sirkulasi foto ini, pada bagian atas foto ditambahi kalimat “Stop the Killing of Muslims ini Burma“. Pada kenyataaanya, Foto ini BUKAN foto pembantaian Muslim di Myanmar! Foto ini berasal dari GUARDIAN dan “The Star” dan tertulis: “A boatload of Rohingya refugees lands on the island of Sabang after being rescued by Indonesian fishermen. Photograph: Taufik Kurahman/AP” atau “Rohingya refugees arrive on dry land after being rescued by fishermen on Sabang island, off the coast of Banda Aceh, Indonesia, Jan. 7, 2009”. Seluruh teks yang ada di Guardian dan the star untuk foto ini telah di basmi paksa para pemalsu foto.

    Hoax berikutnya,

    Sirkulasi foto ini, bukan kejadian Myanmar 2012, Foto ini adalah situasi kerusuhan di pegu/bagu tahun 1997, di mana Junta militer lama menyamar menjadi para bhikkhu dan menduduki mesjid tersebut. [Baca laporan MUSLIM BURMA SENDIRI tentang ini: di sini dan di sini]

    Hoax berikutnya,
    Foto dari hanya ada di Independen.co.uk menyebar luas diplintir sebagai keterlibatan biksu menolak Muslim di Myanmar. Pada Kenyataaanya: Foto ini BUKAN aksi penolakan ROHINGYA. Foto ini terjadi saat komunitas masyarakat Myanmar yang tinggal di Thailand melakukan demonstrasi di kedutaan Myanmar di Bangkok, 24 July, 2012. Mereka menyerukan stop krisis di area Kachin, lakukan pembebasan tahanan politik di Myanmar dan berikan hak untuk kembali ke Myanmar pada pemilihan umum tahun 2015. Surat terbuka juga disampaikan kepada presiden Myanmar Thein Sein oleh Organisasi Burma untuk pelajar yang sedang belajar di luar negeri. Foto aslinya adalah sbb:

    Hoax berikutnya,

    Sirkulasi foto ini diklaim sebagai foto pembantaian muslim di Myanmar. Namun kenyataaanya: Foto ini adalah foto para korban TOPAN NARGIS 03 may 2008 [sumber: Newser, lihat gambar no.4 dari 5 gambar ato lihat di sini, bagian bawah no.1]

    Hoax berikutnya,

    Dalam kumpulan link sirkulasi foto, diklaim sebagai kasus mayat MUSLIM korban pembantaian di Myanmar. Namun Kenyataaannya: mayat yag tergeletak di trotar pada foto ini JUSTRU MAYAT Rakhine Buddhis yang dihajar teroris MUSLIM Bengali pada peristiwa kerusuhan Myanmar 2012 ini [silakan check: di sini, di sini, di sini]

    Hoax berikutnya,

    Dalam kumpulan link sirkulasi foto diklaim sebagai foto para korban kebiadaban Buddhis Myanmar. Pada kenyataannya: Foto ini adalah korban kebakaran di negara lain (foto itu ada di dua negara yaitu pada tahun 2011: di Nigeria atau tahun 2010: di Kongo, biasanya tahun yang lebih tua lebih benar). Yang jelas foto ini BUKAN foto korban kerusuhan Myanmar namun foto ini telah diplintir secara keji oleh kaum muslim untuk menipu.

    Hoax berikutnya,

    Di bawahnya terdapat tulisan:
    عزوووز آل سعيدي

    لسلام عليكم ..
    عاجل ..
    في دولة الميانمار(بورما) قام الكفار بذبح المسلمين بطريقة وحشية يريدون التخلص من المسلمين..
    بلغوا جميع أئمة المساجد للدعاء لإخواننا في أراكان (منغدو) الآن بعد الجمعة مواجهة عنيفة بين المسلمين والبوذيين بسبب المذبحة التي حصلت هذا الأسبوع.
    الآن سقط من المسلمين عدد من القتلى . وتحرق منازل المسلمين.

    Terjemahannya kurang lebih:
    Salam damai untukmu ..
    Urgent ..
    Di Negara Myanmar, Tanah para kafir membantai brutal kaum Muslim ingin menyingkirkan Muslim ..
    Memanggil berdoa semua imam masjid bagi saudara-saudara kita di Arakan (MDO) sekarang setelah konfrontasi kekerasan hari Jumat antara Muslim dan Buddha karena pembantaian sedang berlangsung di pekan ini.
    Sekarang mereka telah menewaskan sejumlah Muslim dan membakar rumah-rumah Muslim.

    Padahal,
    foto yang diklaim mayat muslim Myanmar di kerusuhan Myanmar 2012 pada kenyataaanya BUKAN foto mayat namun foto para tahanan yang sedang tertidur pada kasus HAM tahun 2006 di Maroko di Penjara Carcel Negra (laporan periode tanggal 17 May 2006 s.d 31 Agustus 2006)! LUCUNYA JUGA, foto ini juga digunakan sebagai klaim penderitaan para pencari kerja di Dubai (Misal tanggal 26 maret 2011) 🙂
    Ck..ck..ck..ter..la..lu 🙂

    Hoax berikutnya,

    Foto di atas diklaim sebagai:

    1. Muslim Rohingya di Mutilasi, misalnya dari Rohingyanet.blogsopot
    2. Bayi Muslim Rohingya dibakar, misalnya dari allpakistaninews.com

    Pada kenyataannya foto-foto di atas BUKAN foto korban mutilasi dan juga BUKAN kasus kerusuhan Myanmar 2012!

    1. “korban” mutilasi dalam tanda kutip ini lengkap beredar fotonya di chongter.com, 01 Jun 2009
    2. “bayi yang dibakar” dalam tanda kutip ini muncul juga di chan4chan dan telah beredar sekurangnya di 31 Maret 2012

    Lokasi kedua foto itu di Thailand dan bukanlah korban mutilasi serta semua link foto telah beredar sebelum Bulan May 2012.

    Di Thailand ada toko yang menjual Roti berbentuk MANUSIA yang menjadi salah satu objek wisata. Penemunya dapat di baca di invetorspot.com, May 2008.

    Foto-foto di link ke-1, yang di upload mesra.net, Jun 2009, menyebutkan bahwa yang dimakan ini adalah roti berbentuk manusia dengan merujuk toko roti yang di Thailand tersebut.

    Hoax berikutnya,

    Salah satu situs penyebarnya adalah Arrahmah.com. Juga lihat Sirkulasi di web yang mengklaim ini sebagai korban kerusuhan di Myanmar 2012.

    Terdapat 1 situs yang menyatakan foto di atas ini adalah para pendatang haram dari SOLOMON, namun, sheikyermami.com, 17 Maret 2009, menyatakan foto ini adalah foto para pendatang haram dari AFGANISTAN. Keterangan serupa juga disampaikan annamariacom.

    Sementara itu, ada situs-situs yang menyatakan foto di atas ini diklaim sebagai foto manusia perahu dari Bangladesh dan Rohingya dengan menambahkan keterangan di bawah foto bahwa foto ini adalah hasil karya fotographer “Taufik Kurahman/AP” :). Padahal photographer ini, karyanya, hanya satu yang dimuat, yaitu di star dan Guardian [lihat hoax sebelumnya di atas] dan BUKAN foto di atas ini

    Hoax berikutnya,

    Sirkulasi foto diklaim sebagai kekerasan di Myanmar 2012. Pada kenyataaanya foto ini telah ada pada 26 sept 2007 dan Bikkhu pada foto itu kenyataaanya sedang memegang kayu dan BUKAN pistol 9mm!. Peristiwa ini terjadi ketika 3 bhikkhu di bunuh junta militer. Gambar di atas ini kemudian DI EDIT dan muncul dalam ricuh unocoal yang dituntut EarthRights International.

    Hoax berikutnya,

    Salah satu situs penyebarnya adalah 3mp.blogspot. Lihat: Sirkulasi di web yang mengklaimnya sebagai muslim korban kekerasan di Myanmar 2012. Padahal kenyataannya adalah Foto itu diambil ketika terjadi Demontrasi di Myanmar yang berakibat terbunuhnya para Bhikhu di tahun 2007 oleh Militer Myanmar. Foto di atas ini diambil pada tanggal 30 September 2007 dan tentunya bhikkhu ini bukanlah muslim yang digundul kepalanya, bukan? 🙂

    Hoax berikutnya,

    Sirkulasi foto ini diklaim sebagai mesjid yang dibakar saat kerusuhan. Pada Kenyataaanya, Foto di atas ini adalah foto mesjid Dastgeer Sahib, SriNagar, yang berusia 200 tahunan yang terbakar pada tanggal 25 Jun 2012. Terbakarnya mesjid ini (dan setengah lusin mesjid lainnya) bukan karena kasus konseleting listrik, kaum sufi mencurigai kebakaran ini dilakukan oleh kaum Salafi! Tampak jelas, Bagi kaum Islam, tidak pandang bulu, apakah itu saudara seagamanya atau bukan, selama tidak ikut cara mereka, maka akan dihajar tanpa ampun.

    Hoax berikutnya,

    Hoax berikutnya,

    Hoax berikutnya,

    Hoax berikutnya,

    Keterangan foto ibu yang menjual anaknya untuk pengobatan suaminya lihat di sini, sebagai contoh, di plintir dalam sirkulasi foto ini dan ditambahi keterangan [contoh: di facebook],

    A kid crying after her mom was kill by Buddist for being a MUSLIM in Burma…. :/ Dont scroll,this’nt a fake.
    LIKE & SHARE if you have heart
    show some humanity 😦

    Di samping, KURANG AJAR, SADIS dan KEJI, juga lucu…masa iya, seorang anak kecil SUKU BENGALI (so called Rohingya), berkulit putih dan sipit :). Foto ini, sekurangnya telah ada di tahun 2005, dengan lokasi dan narasi yang sama sekali berbeda, yaitu tentang “menjual anak” untuk pengobatan suaminya.

    Berikutnya adalah foto-foto para korban BENCANA ALAM telah digunakan yang secara BIADAB dan diklaim sebagai KORBAN MUSLIM MYANMAR yang dibantai umat Buddha:

    Hoax berikutnya,

    Gambar tersebut dalam blog ini ditambahi lagi dengan keterangan dusta nan keji,

    “Seorang Muslimah yang Dibunuh dalam Keadaan Telanjang (Sensor garis hitam) dengan Keji! Semoga Allooh Membinasakan Ekstremis Kafir Budha Myanmar!”. Foto ini juga ada di blog ini

    Seluruh foto dalam artikel blog ini dan blog ini adalah hoax.

    Foto wanita telanjang di atas itu adalah korban tsunami (bukan juga korban topan nargis, Myanmar)! Foto-foto tersebut sudah beredar di net sejak tahun 2005, Kumpulan dari foto-foto korban bencana ini dapat di lihat di sini dan di sini!

    Hoax berikutnya,

    Situs penyebar, salah satunya adalah Jamaah Islamiyah KARACHI dan Inilah Info.blogspot

    Sirkulasi di Web, DILABELI sebagai korban dari PEMBANTAIAN Muslim di Myanmar.

    Ini 100% tidak benar.

    Foto dalam penampungan ini merupakan korban tsunami tahun 2004 dan sudah beredar di net sejak tahun 2005 atau juga bisa dilihat di sini!

    Hoax berikutnya,

    Situs penyebar, salah satunya adalah Iranian High Council Human Rights!!!

    Sirkulasi di Web, DILABELI sebagai korban dari PEMBANTAIAN Muslim di Myanmar.

    Ini 100% tidak benar.

    Foto bayi ini merupakan korban tsunami tahun 2004 dan sudah beredar di net sejak tahun 2005 atau juga bisa dilihat di sini!

    Hoax berikutnya,

    Situs penyebar, salah satunya adalah tiwinoo.com.

    Sirkulasi di Web Foto ini secara SADIS dan KEJI MELABELINYA sebagai GENOSID MUSLIM Myanmar.

    Ini 100% HOAX dan tidak Benar.

    Foto kejadian ini setelah gempa 7.0 skala richer pada 12 Jan 2012 yang melanda Haiti. Foto di ambil di rumah sakit umum Port Au Prince, Haiti, January 15, 2010. Foto itu terpilih sebagai pemenang lomba Foto.

    Berikutnya sample dari para Muslim yang saling berbunuhan saja diLABELI sebagai pembantaian Umat Buddha kepada muslim Myanmar 🙂

    Hoax berikutnya,

    Sirkulasi foto ini aslinya merupakan kejadian MUSLIM membantai MUSLIM di Houla tanggal 25 May 2012 dan sesi kedua MUSLIM membantai MUSLIM adalah tanggal 06 Jun 2012 di Hama. Keduanya terjadi di Syria. Visualisasi kejadian pembantaian Syria dapat lihat di Foto dan Video ini.

    Hoax berikutnya,
    Situs penyebar, salah satunya adalah Arrahmah.com.

    Sirkulasi di Web Foto ini secara SADIS dan KEJI MELABELINYA sebagai KORBAN kekerasan umat BUDDHA kepada MUSLIM Myanmar.

    Ini 100% HOAX dan tidak Benar.

    Sekurangnya FOTO ini telah BEREDAR di 9 December 2003, kemudian lagi diberitakan terpenggal kepalanya di 02 Oktober 2005 dan..lagi kepalanya terpenggal di 20 Agustus 2007. Baik korban dan kejadian bukanlah di Myanmar 🙂

    Hoax berikutnya,

    Videonya di upload di Facebook di sini dan kalo mau ada kata2 hotnya lihat di sini

    Jika di lihat dari kulit para pelaku saja, yang hitam kelam ini, maka itu sudah cukup untuk menolak hoax ini 🙂 Bahkan foto ini, ternyata menjadi saksi lagi di “pembakaran saudara muslim kita di Nigeria oleh Salibis la’natullah ‘alaihim“, yang di upload 11 Nov 2011!

    wew…rupanya para muslim yang ini malah kebingungan sendiri 🙂

    Padahal kenyataannya menurut situs tertanggal July 27, 2009, tertulis: “5 orang yg di curigai penyihir di bakar hidup-hidup di Kenya”.

    Berikutnya adalah sample hoax yang pelakunya dituduhkan kepada aparat keamanan Myanmar, padahal terjadi di Bangladesh dan dilakukan oleh aparat Bangladesh 🙂

    Hoax berikutnya,
    Situs penyebar, salah satunya adalah Arrahmah.net

    Sirkulasi di Web, DILABELI sebagai korban dari Muslim Myanmar oleh aparat Myanmar.

    Ini 100% tidak benar.

    Lokasi kejadian Adalah di Bangladesh dan pelakunya adalah aparat Bangladesh. Foto yang di atas beca ini paling telat telah ada di 20 September 2011. Kejadiannya menurut rekam video tanggal 09 September 2011 adalah di Dhaka. Video lainnya lihat di sini dan di sini

    Hoax berikutnya,
    Situs penyebar, salah satunya adalah Arrahmah.net

    Sirkulasi di Web, DILABELI sebagai korban dari Muslim Myanmar oleh aparat Myanmar.

    Ini 100% tidak benar.

    Lokasi kejadian adalah di BANGLADESH bukan di MYANMAR. telegraph.co.uk, 11 Juli 2011, menyatakan kericuhan sebagai buntut aksi protes BNP dan Muslim Garis terhadap perubahan konsitusi Bangladesh.

    Hoax berikutnya,
    Situs penyebar, salah satunya adalah namakuddin

    Sirkulasi di Web, DILABELI sebagai korban dari Muslim Myanmar oleh aparat Myanmar.

    Ini 100% tidak benar.

    Seperti anda lihat,
    LOKASI KEJADIAN dan SERAGAM POLISI adalah BANGLADESH dan bukan Myanmar

    Disamping contoh-contoh di atas, Anda dapat lihat foto corak seragam polisi Bangladesh beserta tameng anti huru-hara mereka di sini, di sini dan di sini

    Sampai sekian banyak sample dari foto hoax di atas, maka seharusnya tanpa perlu lagi membuka sisa artikel ke bawah, sudahlah dapat ditarik kesimpulan betapa busuknya kebohongan keji yang dilansir media-media ini dan juga betapa kejinya kelakuan dari para muslim yang membuat kebohongan keji ini!

    Sungguh percuma mereka-mereka ini mengaku mempunyai pikiran namun moralitas mereka LENYAP dibutakan ajaran agamanya sendiri:

    Rasulullah SAW bersabda: “Perang adalah tipudaya.” (Muttafaq ‘Alaih)

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ بُكَيْرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَرْبُ خَدْعَةٌ

    Riwayat Muhammad bin Abdullah bin Numair – Yunus bin Bukair – Muhammad bin Ishaq – Yazid bin Ruman – ‘Urwah – Aisyah – Nabi SAW bersabda: “Peperangan adalah tipu daya.” [Ibn majah no. 2823 atau jalur perawi lain: Muhammad bin Abdullah bin Numair -> Yunus bin Bukair -> Mathar bin Maimun -> ‘Ikrimah-> Ibnu ‘Abbas di Ibn majjah no.2824]

    Ibnu Hajar berkata:
    “Asal dari tipudaya adalah menampakkan hal yang berbeda dari sebenarnya. Hadits ini berisi peringatan untuk selalu waspada dalam perang dan anjuran untuk menipu orang kafir, siapa yang tidak menyadari tipudaya besar kemungkinan akan terkena dampak negatifnya.

    Ibnul ‘Arabi berkata:

    Tipuan dalam perang bisa berupa mengkelabui atau menyamar atau yang semisal.

    Ibnul Munir berkata:
    “Makna perang adalah tipudaya artinya: Perang yang cantik dan dilakukan oleh pelaku yang handal adalah yang menggunakan tipudaya, bukan semata saling berhadap-hadapan, sebab perang frontal tinggi resikonya sedangkan tipudaya dapat dilakukan tanpa resiko bahaya.” (Fathul Bari [VI/158])

    Ya tipu daya dan kebencian di pikiran mereka [↑]

—————

Kronologi Kerusuhan May-Juni 2012

  1. Tanggal 28 May 2012,
    sore jam 17an, sepulang dari kerja, seorang wanita Buddhis bernama Ma Thidar Htwe, 26 tahun, dari desa Thapraychaung, Rambree. Di rampok, diperkosa, lehernya di gorok, terdapat beberapa luka tusukan di dada, di vagina dan daerah kemaluan. 3 pelakunya di tangkap tanggal 29 May. yang pertama kali ditangkap adalah Htak Htak (23) bersama perhiasan dari tubuh korban, kemudian menyusul di malam yang sama 2 orang lainnya: Rafique (18) dan Luyub (21) dari Desa Kyaukhtaran. 1000 orang dari 11 desa mendatangi kantor polisi di Kyauknimaw meminta polisi menyerahkan pelaku. Namun polisi tidak membiarkannya dan untuk menghindari keadaan yang lebih buruk, maka di tanggal 30 May para pelaku tersbut di pindahkan ke penjara distrik Kyaukpru. [Sumber: New Light of Myanmar, 05 Jun 2012 dan Narinjara, 31 May 2012].

    Pada tanggal 18 Juni 2012, 3 orang pelaku Htet Htet (alias Rawshe), Mahmud Rawphi (alias Hla Win) dan Khochi (alias Myint Swe), dijatuhi hukuman mati. Namun Htet melakukan bunuh diri. Menurut hukum burma, ke dua orang, ini mempunyai hak selama 7 hari untuk melakukan banding atas keputusan tersebut. [Sumber: Democratic Voice of Burma, 18 Jun 2012]


    Peringatan:

    Foto keadaan Korban dan Para Pelaku di bawah ini sangat Kejam dan Buas, jika anda TIDAK berusia 18 tahun ke atas dan/atau tidak terbiasa pada ketegangan, jangan di LIHAT!

  2. Tanggal 03 Juni 2012,
    • Berkaitan dengan kasus Ma Thida Htwe yang dibunuh secara kejam pada tanggal 28 Mei, Perkumpulan Wunthanu Rakkhita, Taunggup, membagi-bagikan selebaran sekitar jam 6 pagi, tanggal 03 Jun, kepada penduduk lokal di tempat-tempat ramai di Taunggup, disertai foto Ma Thida Htwe dan semacam uraian bahwa massa Muslim telah membunuh dengan keji para wanita Rakhine. [Sumber: New light of Myanmar, 05 Jun 2012]

      Di sekitar jam 4 hingga jam 07 malam [MRTV], sekelompok orang Rakkhine menyerang sebuah bus. Banyak berita menyatakan jumlah penyerangnya adalah ratusan orang, namun berita dari National Demokratic Party for Human Right [NDPHR(exile)] tanggal 04 Juni 2012, yang mengklaim dirinya sebagai, “only one of elected Rohingya Party in Burma and won four parliamentary seats” menyatakan jumlahnya penyerangnya adalah 30 (tiga puluh) orang,

      “During their way back to Yangon from Than Twe Mosque by bus-“Roma Thitthar” on 3 June 2012, a group of 30 Rhakhine [..]”

      Jumlah ini adalah klop dengan laporan Democratic Voice of Burma (DVB), tanggal 02 Juli 2012, yang menyatakan polisi menangkap 30 orang pelaku pembunuhan di bus.

      Pada laporan bersama oleh 8 organisasi Rohingya, disampaikan bahwa sekelompok orang dari rakhine membunuh 8 orang pejiarah muslim [non Rohingya] bersama supir dan 1 orang pembantu (ada yang mengatakan suami istri, orang asli rohingya). Sementara Reuters memberitakan 9 orang muslim terbunuh dan mengatakan dilakukan oleh komunitas Buddhis Rakhine.

      Terdapat informasi bahwa dari sekian banyak pelaku penyerangan, ternyata terdapat sejumlah kecil pelaku yang NON BUDDHIS:

      1. ini dinyatakan dalam frase “mostly buddhist” [kebanyakannya Buddhis atau dengan kata lain: terdapat sejumlah kecil pelaku yang non Buddhis]
          “One man from the village where the attack took place said a mob of ethnic Arakanese — who are MOSTLY Buddhist — set upon a bus that they believed was carrying those responsible for the murder-rape.” [sumber: DVB, 04 Jun 2012]

          “The bus attack took place near the town of Taungup in Rakhine province, which borders Bangladesh, on Sunday evening, police and residents said. It was thought to be carried out by MOSTLY Buddhist ethnic Rakhine people.” [sumber: BBC, 04 Jun 2012]

      2. Selain 10 orang Muslim yang terbunuh, seorang Buddhis juga terbunuh [New Mandala, tanggal 10 Juni 2012]

      Dari status agama para penyerang bus dan korban dalam bus yang ternyata juga pemeluk buddhis dan bukan Buddhis, maka kejadian penyerangan bus dan pembunuhan penumpang bus ini tidak lagi bisa dianggap sebagai sentimen keagamaan,hal yang pasti adalah kejadian ini terkait kasus pemerkosaan

      Terdapat laporan kejadian berikut foto korban yang lebih detail mengenai ini, untuk jelasnya silakan baca di “Arrakan Boiling with Anti-Islamic Fever?“.

      Peringatan:
      Foto-foto ini sangat Kejam dan Buas, jika anda TIDAK berusia 18 tahun ke atas dan/atau tidak terbiasa pada ketegangan, jangan di LIHAT!

        Nama-nama yang terbunuh:

        1. Tay Zar Myint (30) from Taung Dwin Gyi Town of Magwe Division.
        2. Aung Myint (40) from Taung Dwin Gyi Town of Magwe Division.
        3. Maung Ni (47) from Taung Dwin Gyi Town of Magwe Division.
        4. Ni Pwe (56) from Taung Dwin Gyi Town of Magwe Division.
        5. Aye Lwin (50) from Taung Dwin Gyi Town of Magwe Division.
        6. Tin Maung Swe (53) from Taung Dwin Gyi Town of Magwe Division.
        7. Zaw Nyi Nyi Htut (36) from Myaung Mya Town of Irrawaddy Division.
        8. Aung Ko Ko Kyaw (27) from Myaung Mya Town of Irrawaddy Division.
        9. Driver Naung Naung (30) from Sandoway Town of Arrakan State.
        10. Conductor Nyi Nyi Htun (25) from Sandoway Town of Arrakan State.

        Pemberitaan awal tidak memberitakan nama muslim Bengali di NRC (National Registration Cards) namun dari bentukan fisik, tampak ke-bengali-an mereka. [Sumber foto dan tulisan ini adalah dari: “Arrakan Boiling with Anti-Islamic Fever?“]

    • Di tempat lain yang berbeda yaitu di sittway,
      di tanggal yang sama (03 Jun 2012), sama sekali tidak berhubungan dengan kasus di atas, terdapat kejadian penyerangan kantor polisi oleh 200an orang karena permasalahan pengumpulan Pajak. Ini menyangkut seorang bernama U Aung Dari Wai, yang jam 17an melarikan diri dari 4 orang. Kemudian di Jam 19an, 50 orang datang menanyakan tentang dirinya karena dianggap hilan dan jumlah itu meningkat secara bertahap hingga menjadi 200 orang. Pada jam 21an menjadi 300 orang. Kepala polisi berjanji mencari U Aung Than Wai, dan sekitar jam 22an Aung Than Wai tiba di bawah kawalan polisi. Oleh polisi, Mereka diminta membubarkan diri, namun bukannya membubarkan diri malah mengamuk dan membakar kantor polisi. Polisi kemudian melakukan tembakan yang mengakibatkan 13 orang terluka. [sumber: MRTV3 dan Radio Free Asia keduanya tanggal 04 Jun 2012].

      B. Raman, yang juga seorang Muslim menyatakan bahwa pelaku penyerang kantor polisi itu adalah para Muslim [Bengali].

      Laporan dari Democratic Voice of Burma (DVB), tanggal 02 Juli 2012, menyatakan bahwa Polisi telah menangkap 19 orang pelakunya.

  3. Tanggal 05-07 Juni 2012,
    Kira-kira 1,5 hari setelah peristiwa pembunuhan di BUS, sekelompok muslim secara terorganisir melakukan protes damai di depan mesjid Bengali Muslim sunni, di Yangon menuntut keadilan terhadap pembunuhan 9 muslim. Kejadian ini sangat menarik karena dalam 1 harian saja mereka telah mampu mendapatkan foto-foto korban dan juga segera mengorganisir aksi protest tersebut padahal menjadi mayat baru terjadi di malam harinya

    Di tanggal 06 Jun, photo-photo 10 orang muslim yang dibunuh sengaja disebarkan di area utara Arakan, yaitu Maungdaw dan Buthidaung. Aksi ini dilakukan oleh sekumpulan anak muda Muslim [sumber: KaladanPress, 07 Jun 2012]

      Padahal, di status agama korban, ADA JUGA YANG BUDDHIS [New Mandala, tanggal 10 Juni 2012], namun informasi sepenting ini tampaknya sengaja untuk tidak tampilkan, tampaknya agar efek kemarahan massal dapat lebih tercapai secara maksimal dan cepat
  4. Tanggal 08 Jun 2012,
    Setelah shalat Jum’at, Pecah kerusuhan di Arakan utara, segerombolan muslim, berkeliaran di jalanan Maung Daw, melempari, membakari rumah-rumah Buddhist Arakan dan juga melakukan pembunuhan. [Sumber: DVB juga lihat blog ini]

    Perhatian:
    Video di bawah ini adalah sangat mengerikan, jika anda TIDAK berusia 18 tahun ke atas dan/atau tidak terbiasa pada ketegangan, jangan di PUTAR.

Jika diperhatikan,terdapat suatu kesamaan pola yang mendahului terjadinya suatu kejadian keji di tanggal 03 Juni 2012 dan 08 Juni 2012.

Apakah itu?

Semua aksi keji tersebut didahului profokasi foto-foto para korban + berita-berita miring!

Ya, inilah alasan mengapa kekejian tersebut berhasil terjadi! [↑]

—————

Menurut berita Kemlu Indonesia tanggal 06 Februari 2009, Indonesia telah kedatangan 391 orang manusia perahu, yaitu di pulau Weh, Sabang, pada tanggal 07 January 2009 [193 orang, 55 orang adalah dari Bangladesh, sisanya Rohingya] dan di Idi Rayeuk, Aceh Timur pada tanggal 03 Feb 2009 [198 orang]. Jumlah ini diluar 40 orang Afganistan yang tertangkap di tanggal 31 Januari 2009 yang hendak menuju Australia.

Bagaimana karasteristik dari orang Rohingya dan Bangladesh?

Silakan buka:”Menyapa Warga Rohingya I (Sabang)“, tertanggal 01 May 2009, anda akan temukan beberapa keterangan menarik yang dapat memberikan gambaran mengenai karasteristik orang rohingya:

    Menurut keterangan mantan penanggung jawab keamanan pengungsi Bapak Rudi Wahono komunitas warga etnis rohingya ini tidak hanya beragama Islam tapi juga terdapat dua orang yang beragama Hindu dan Budha. Identitas mereka baru diketahui ketika penjaga LANAL mulai memberlakukan Shalat Subuh di lapangan dermaga LANAL. Ketika itu dua orang warga tersebut mengaku beragama non muslim, selama ini mereka menyembunyikan identitas karena takut dibunuh oleh temannya ketika berdesakan didalam perahu.

    [..]

    Staff IOM tersebut menceritakan bahwa tidak semua pengungsi berwarga negara Myanmar seperti dugaan awal akan tetapi sebagian juga berasal dari Bangladesh dan sekitarnya, hal itu terungkap ketika salah satu lembaga PBB yang bekerja untuk memulangkan pengungsi mewawancara satu-persatu dari warga Rohingya. Menurutnya warga yang berasal dari Bangladesh mengaku bahwa langkah eksodus ditempuh karena dilatarbelakangi oleh keinginan untuk memperbaiki nasib, berbeda dengan warga yang berasal dari Myanmar mereka mengaku eksodus dilakukan semata-mata karena penindasan pemerintah Junta Militer. Namun hal itu juga masih simpang siur karena setiap kali wawancara diulang keterangan mereka selalu berbelit-belit dan tidak konsisten

    [..]

    Sebagian besar dari mereka adalah kuli dan buruh panggul yang tidak pernah merasakan kesejahteraan hidup, keadaan ini terlihat jelas dari perilaku mereka sehari-hari yang jauh dari kesan masyarakat terpelajar. Dengan mata kepala saya melihat mereka memanggul shak beras kegudang dengan cara berlari sekitar 100 m padahal pada saat yang sama terdapat kendaraan angkut yang sedang melakukan aktifitas serupa, sungguh bagi saya ini merupakan pemandangan tidak biasa.

    Didalam keterangan lanjutan mantan penanggung jawab keamanan pengungsi pak Rudi, beliau berkisah pernah suatu hari mereka disuruh untuk mengaduk semen untuk pembuatan dapur tempat mereka memasak, kemudian olehnya mereka di ajari cara mengaduk semen yang benar akan tetapi anehnya mereka tetap mengaduk dengan tangan tanpa mau menggunakan alat bantu yang disediakan seperti skop atau cangkul. Masih menurutnya, banyak diantara mereka juga tidak mengerti cara berbagi dengan teman atau bahkan sulit diatur, seperti tetap mencuri walaupun itu adalah barang sesama warga pengungsi.

Dengan karasteristik seperti itu, sangat tidak mengherankan jika masyarakat dan Pemerintah bangladesh sendiri di bulan May-Juni 2012 ini, yaitu SEBELUM terjadinya kerusuhan, gencar melakukan operasi menangkapi dan memasukan ke penjara bangladesh dan/atau mengusiri mereka ketika memasuki perbatasan Bangladesh! [sumber: Bangladesh authorities continue arrest Rohingya, 07 June 2012 13:28].

Bahkan ketika kerusuhan meledak, para pengungsi yang pergi lewat jalur perairan menuju Bangladesh malah di usir dan halau kembali ke air!

NYTimes secara eksklusif menyampaikan perlakuan kejam yang dilakukan pemerintah bangladesh pada pengungsi rohingya.Bukan hanya Bangladesh, bahkan para negara Muslim sendiri tidak juga bersimpati dan terecord melakukan penyiksaan juga terhadap mereka, yaitu di: Malaysia, dan bahkan negara kaya Arab Saudi.

Pakistan-pun tidak kalah parahnya, terecord para wanita Bengali atau myanmar diperdagangkan di negara itu dengan bandrol harga berkisar US$1,500 – 2,500, tergantung dari: umur, tampang, kepatuhan dan perawan atau tidaknya mereka. Setiap anak atau wanita yang dijual, para polisi mengutip komisi sebesar 15-20%.

Ya, di samping tidak bersimpati, negara-negara muslim itu bahkan ikut menyiksa dan melecehkan mereka, bahkan menurut Refugee settlement watch, negara-negara muslimpun pelit sumbangan kepada sesama saudara muslimnya, dalam hal ini yang di sorot adalah Arab saudi. Sehingga slogan “semua muslim bersaudara” sungguh kental nuansa hoaxnya di negara-negara muslim tersebut.

Sekarang,
ada baiknya anda saksikan video yang berisi wawancara dengan seorang guru wanita muslim Arakan (Daw Aye Su Thi) dalam menanggapi ulah Muslim sunni Bengali, saudara seimannya sendiri yang tanpa ampun dan ganas membakari desa mereka dan membunuh rekan mereka pada Jum’at 8 Juni 2012, bahkan sempat dikatakannya bahwa para Muslim sunni Bengali ini tidak bisa dijinakan (atau lihat wawancara lain di sini):

[↑]

—————

Mari kita tengok keganjilan laporan dari Human Right Watch

Di atas,
telah kita ketahui dari para manusia perahu yang mendarat di SABANG, ketika para Rohingya itu diwawancara diulang keterangan mereka selalu berbelit-belit dan tidak konsisten dan memiliki kecerdasan yang kurang baik.

HRW menyatakan telah mewawancarai mereka, namun terdapat keganjilan yang mencolok dalam laporan tersebut, misalnya dalam satu laporan disebutkan polisi secara brutal melakukan penembakan sepihak seolah-olah para teroris itu tidak bersenjata [Ini saja sudah bertentangan dengan temuan dari pemerintah burma setelah penangkapan staf UNHCR yang menemukan banyak senjata], terbukti dalam kerusuhan tersebut para teroris memiliki senjata:

    “The first Muslim people [who arrived] used guns. At that time, we heard the shooting and my husband tried to attack the Muslim people. They killed him right there in the village. His arm was cut off and his head was nearly cut off. He was 35 years old.”– Arakan mother of five children, 31, Sittwe, Arakan State, June 2012

Lantas dengan cara apa polisi mengamankan? apakah harus mengamankan dengan senjata jepretan karet gelang? 🙂

    1. A 22-year-old Rohingya man who fled from security forces that entered his village of Kampu on June 26 told Human Rights Watch: “We were running out of the village and wading through the water on the street [from monsoon rains] and they shot at us in the street. I saw 17 people shot and 9 of them were boys and young men.

Hah!, BAGAIMANA mungkin seorang yang sedang KETAKUTAN melarikan diri masih sempat-sempatnya ISENG menghitung jumlah korban sebanyak 17 orang? dan masih pula dapat memisahkan itungan dengan 9 orang anak2 dan anak muda?

Kemudian misalnya lagi,

    Sittwe’s Narzi quarter, the largest and most economically important Muslim neighborhood in the state capital and home to approximately 10,000 Muslims and 300 Arakan, was largely destroyed on June 12.

Lihat pemicunya:

    A GROUP OF RONGHIYA BURN DOWN NARZI’S SMALL ARAKAN SECTION, WHILE a group of Arakan conducted what appeared to be a coordinated attack on the rest of Narzi, burning the entire area to the ground.

Ahhhh, lagi-lagi para Rohingya ini PEMICUNYA :). Laporan mengenai adanya serangan di area lain di Narzi yang terkoodini, jelas hanya DUGAAN BELAKA bukan laporan pandangan mata. Bagaimana mungkin si penulis tahu? Kecuali si penulis ikut keliling BERSAMA mereka maka ini hanyalah karangan saja.

    A Rohingya man, 36, told Human Rights Watch:
    They [Arakan] started torching the houses. When the people tried to put out the fires, the paramilitary shot at us. And the group beat people with big sticks…. We collected 17 bodies with some help from the authorities [army]….I can only identify one person. His name was Mohammad Sharif. He was 28 years old…. We picked up the bodies. We put them on the military trucks. I saw one clearly; the bullet went through the chest on the left.

ORANG INI BILANG MEREKA SENDIRI YG MENGUMPULKAN MAYATNYA BERSAMA TENTARA…LANTAS MENGAPA ORANG INI KENAPA TIDAK SEKALIAN DITEMBAK?

    A 28-year-old Rohingya man from Narzi said:
    In front of my eyes, first the Lon Thein came and said they came to protect us, but when the Arakan came and torched the houses, we tried to put out the fires and they started beating us. A lot of people were shot [by Lon Thein] at a close distance. I saw people get shot at close range. The whole village witnessed it. They were people from my village. They were 15 or 20 feet away from me…. I saw at least 50 people killed… When we tried to go put out the fire, we were not allowed to go. First they shot once in the air, and then at the people.

BAGAIMANA MUNGKIN MEREKA YANG SUDAH MEMBUNUH 50 ORANG MASIH PULA MENINGGALKAN SAKSI MATA?????!!!!! Apa tiba-tiba timbul rasa belas kasihannya 🙂

Sample terakhir yang sangat lucu 🙂

    In the same village another Rohingya, 27, told Human Rights Watch that on June 24 soldiers and Nasaka violently attacked and raped his aunt and two other women: They tried to snatch the gold jewelry she had, her earrings and her nose ring, but she didn’t let them. Then they cut her ear lobe and her nostril with a knife to take it. When she tried to stop them, they tore her blouse open and then raped her. Twelve military and Nasaka entered two houses and they raped the women.[67]

Dimana logikanya para petugas keamanan tersebut bisa tertarik pada wanita yang kedua kuping dan hidungnya sudah tak ada dan mengucurkan darah?…Tidak merasa jijik?Apakah tak ada wanita lain di desa terdekat kalau hanya sekedar ingin memuaskan nafsu bejad….?

Inikah yang disebut Fakta-fakta nan konsisten, itu??!!

Sebagai penutup,
Ada beberapa pertanyaan yang patut dijawab para “pro ronghiya dibantai” /” percaya buddhis bantai muslim” /”percaya Pemerintah myanmar melakukan genosid” / “ada genosid terhadap Muslim”:

  1. Jika ini adalah sentimen agama, mengapa pada kejadian ini, tidak sekalian saja para muslim dari suku lain di burma dibantai? Tidak sekalian saja mesjid-mesjid di area lain di Burma dibakar dan dihancurkan? Mengapa muslim jenis suku lain di Burma tidak serumit keadaan muslim Bengali?
  2. Jika ini adalah sentimen ras, sehingga Bengali ronghiya perlu dibasmi, maka bagaimana mungkin klaim mengenosid mereka namun jumlah yang digenosid malah bertambah bukan berkurang? dan anehnya mengapa Bangladesh yang merupakan asal negara dari para ras bengali tidak marah dan menyerbu myanmar dan malah bersikap seperti Myanmar dengan juga menolak para ras bengali itu kembali ke bangladesh dan malah sering melecehkan para ras Bengali yang pulang ketika kembali di Bangladesh?
  3. Pertanyaan tambahannya adalah jika benar sesama muslim bersaudara, maka mengapa ketika para Muslim Bengali meminta suaka di negara-negara muslim ditolak dan diperlakukan tidak manusiawi? Mengapa negara muslim yang kaya-kaya itu tidak mengucurkan dana mensejahterakan sesama muslimnya yang jumlahnya hanya 2 juta orang saja di negara Myanmar dan malah sibuk menyumbang persenjataan untuk kehancuran mereka? Dan terakhir untuk Indonesia, mengapa memperlakukan IMIGRAN GELAP BENGALI ITU sama seperti Myanmar, yaitu tidak menjadikan mereka warga negara padahal telah tahunan di Indonesia dan mengapa tidak menempatkannya sekalian di Aceh saja?

Jika ini dipahami, maka sudah sewajarnya para Muslim mulai berkaca diri mulai dari sekarang 🙂 [↑]

Mau traktir Wirajhana, kopi? Kirim ke: Bank Mandiri, no. 116 000 1111 591

—————

DEBAT Wirajhana Eka VS LBH Buddhis tentang surat LBH Buddhis no. 014/LBHBI-P/VII/2012, tanggal 27/07/2012 [KLIK!].

Pendahuluan
Surat LBH Buddhis no. 014/LBHBI-P/VII/2012, tanggal 27/07/2012, Subyek: LBH BUDDHIS INDONESIA MENGUTUK KERAS TINDAKAN PEMERINTAH MYANMAR DAN SEBAGIAN UMAT BUDDHA MYANMAR TERHADAP MUSLIM ROHINGYA KARENA TIDAK SESUAI AKIDAH AGAMA BUDDHA YANG PENUH WELAS ASIH DAN CINTA KASIH.

Surat tersebut menimbulkan pertanyaan [dan mungkin komunitas Buddhis lainnya], yaitu: Ketika membuat surat tersebut, apakah benar LBH Buddhis MEMPUNYAI DASAR FAKTA yang jelas siapa yang bersalah, sehingga mampu MENGUTUK dan MENYATAKAN bahwa Pemerintah Myanmar dan Sebagian Umat Buddha telah bertindak keras terhadap Muslim Rohingya.

Debat ini dilakukan di Buddhisme Theravada Group – In Bahasa Indonesia [Grup tertutup, Untuk membaca format aslinya, anda harus menjadi anggota]

Berikut surat LBH Buddhis (halaman ke-1, ke-2 dan tampilan Web):

Pertanyaan Saya:
Wirajhana Eka Dengan hormat kepada Lbh Buddhis,
Merujuk pada surat anda tanggal 27 Juli 2012, yang secara implisit menyatakan bhw benar ada pembantaian muslim di Myanmar oleh umat Buddha dan juga oleh Junta militer. [http://lbhbuddhis.com/?p=1471], maka mohon anda dapat memberikan BUKTI atas isi surat anda itu dengan kisi2 panduan pertanyaan sy bawah ini:

Darimana anda tau bahwa:

1. Ada tindak kekerasan terhadap warga ronghiya muslim?
2. Terdapat umat buddha yang melakukan kekerasan terhadap ronghiya muslim
3. Para ronghiya adalah korban bukan pemicu?
4. Ini murni kebencian terhadap muslim dan bukan intrik utk membersihkan wilayah arakan dari BUDDHIS dan ETNIS non bengali agar memperlancar berdirinya NEGARA ISLAM ARAKAN, yang telah di lakukan sejak dekade 60-70an?

Silakan berikan bukti dan saya tunggu tanggung jawab anda sebagai orang yg memahami hukum dan pembuktian.!
—-

Note:
1. Bukti yg PATUT anda sajikan adalah seluruh data video, foto, tulisan sebelum tgl 27 Jul 2012 yg menjadi dasar dari surat anda tersebut.
2. Jika para member berkenan, mohon tidak BERKOMENTAR di luar KONTEKS ini, tidak ada maki2an dan tidak out of topik [oot]
3. member juga saya berikan hak utk menyampaikan pertanyaan ini lewat email, faks kepada LBH Buddhis dan/ato pihak2 yg mengirimkan surat yang bernada sama.

terima kasih.
3 Agustus pukul 13:00
======

Tanggapan LBH Buddhis:

======

Tanggapan saya:

Wirajhana Eka Baik, mari kita mulai:
LBH (dimana H = HUKUM), memberikan bukti sbb:

1. surat LBH Buddhis adalah tanggal 27 juli, KECUALI LBH buddhis dapat membuktikan dirinya MEMILIKI MESIN WAKTU untuk MENJELAJAH ke MASA SETELAH suratnya di BUAT, maka semua yang ada di bawah ini dapat di pake jadi bukti..JIKA TIDAK, maka SELURUH DATA MULAI TAGAL 27 Jul HARUS DI KESAMPINGKAN dan DIABAIKAN dalam pembuktian ini, yaitu:

a. link Republika, tgl 04/08/2012 [http://www.facebook.com/groups/281886668544413/permalink/390742937658785/?comment_id=392577037475375&offset=0&total_comments=32 http://www.republika.co.id/berita/internasional/tragedi-rohingya/12/08/04/m88o7j-inilah-pengakuan-seorang-muslim-rohingya]

b. News.detik.com, tgl 03/08/2012 [http://www.facebook.com/groups/281886668544413/permalink/390742937658785/?comment_id=392578917475187&offset=0&total_comments=32 http://news.detik.com/read/2012/08/03/170640/1982754/10/kbri-yangoon-kerusuhan-terkait-muslim-rohingya-sudah-bisa-dihentikan]

c. Aceh.tribun.com, tgl 30/07/2012 [http://www.facebook.com/groups/281886668544413/permalink/390742937658785/?comment_id=392579354141810&offset=0&total_comments=32 http://aceh.tribunnews.com/2012/07/30/tpm-aceh-minta-pemerintah-tutup-vihara-budha]

d. Suara-Islam,tgl 01/08/2012 [http://www.facebook.com/groups/281886668544413/permalink/390742937658785/?comment_id=392579707475108&offset=0&total_comments=32 http://www.suara-islam.com/read5064-Biadab,-Tentara-Myanmar-Tembaki-dan-Perkosa-Muslim-Rohingya-.html]

e. tempo.co, tgl 30/07/2012 [http://www.facebook.com/groups/281886668544413/permalink/390742937658785/?comment_id=392580554141690&offset=0&total_comments=32 http://www.tempo.co/read/news/2012/07/30/173420110/Mahasiswa-Buddha-Kecam-Tragedi-Muslim-Rohingya]

f. Voa-Islam, tgl 02/08/2012 [http://www.facebook.com/groups/281886668544413/permalink/390742937658785/?comment_id=392581837474895&offset=0&total_comments=32 http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2012/08/02/20090/umat-budha-harus-angkat-bicara-soal-penindasan-muslim-rohingya/]

g. Demokrasiindonesia.wordpress, tgl 29/07/2012 [http://www.facebook.com/groups/281886668544413/permalink/390742937658785/?comment_id=392582527474826&offset=0&total_comments=32 http://demokrasiindonesia.wordpress.com/2012/07/29/kisah-lengkap-pembantaian-10-orang-etnis-muslim-rohingya/]

h. regional.kompasiana, tgl 01/08/2012 [http://www.facebook.com/groups/281886668544413/permalink/390742937658785/?comment_id=392582837474795&offset=0&total_comments=32 , http://regional.kompasiana.com/2012/08/01/pembantaian-islam-rohingya-dan-ancaman-bagi-umat-budha-indonesia/]

i. bbc.co.uk, tgl 01/08/2012 [http://www.facebook.com/groups/281886668544413/permalink/390742937658785/?comment_id=392584074141338&offset=0&total_comments=32 http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2012/08/120801_burma_hrw_report.shtml]

semua link diatas yg di ajukan adalah TIDAK MUNGKIN DAPAT TERJADI karena melebih dari tanggal yang seharusnya menjadi DASAR surat yang di buat.

SO, masalah sepele ini saja anda tidak tau..aduhhh…sungguh mengerikan sekali orang yang mau2nya buang2 duit meminta pembelaan dari anda:)

….ini adalah pelajaran ke-1, kesalahan murni akibat ketololan anda sendiri.

Bersambung.. 🙂
9 Agustus pukul 3:00

Wirajhana Eka lanjutan..
2. di bawah ini adalah link-link yang valid, karena tanggalnya ada sebelum tanggal surat anda:

a. anda ambil dari kompas, bagian bawah artikel kompas, tertulis sumber tulisan adalah dari BBCindonesia yg merupakan translasi inggris tgl 20 Juli 2012. [http://www.facebook.com/groups/281886668544413/permalink/390742937658785/?comment_id=392575177475561&offset=0&total_comments=38 , http://internasional.kompas.com/read/2012/07/21/14441679/Amnesty.Muslim.Rohingya.Terus.Alami.Kekerasan]

JIKA ANDA MELAKUKAN CROSS CHECK atas SUMBER maka JELAS ADA PENGHILANGAN TULISAN yg dilakukan KOMPAS thd tulisan BBC, yaitu di sini:

BBC INDONESIA [dan englishnya] menuliskan:
Arakan Project juga menyebut adanya sejumlah orang Rakhine yang ditangkap terutama karena membawa senjata. [ -> bagian ini kompas ada]

SANGAT SULIT UNTUK MEMVERIFIKASI BERBAGAI INFORMASI YANG BEREDAR KARENA WARTAWAN TIDAK DIPERBOLEHKAN MASUK KAWASAN. [It is difficult to verify any of the information provided by such sources, as journalists cannot access the area. –> BAGIAN INI YANG DIHILANGKAN DARI TULISAN KOMPAS]

Pemerintah Burma menyebut tuduhan itu bias dan tidak berdasar. [ -> bagian ini kompas ada]

Ini membuktikan bahwa SELURUH BERITA DI ATAS tidak dapat DIPAKAI karena informasinya sendiri tidak diakui oleh pemerintah BURMA dan diakui sendiri oleh BBC bahwa berita itu TIDAK DAPAT verifikasi.

kemudian,
FOTO yang dipajang oleh BBC [indonesia dan english] dan KOMPAS adalah dari REUTER tgl 16 dengan keterangan tulisan adalah, “A man walks through a neighborhood that was burnt in recent violence in Sittwe June 16, 2012. REUTERS” [http://www.thesundaily.my/news/409719]

bahkan berita dimana FOTO di ambil yg digunakan latar oleh kedua media [bbc dan kompas] TIDAK MENYEBUTKAN “Muslim Rohingya Terus Alami Kekerasan” namun “Myanmar vows ‘justice’ for victims of unrest”

Jadi, jelas sekali anda TIDAK TAU MENAHU tentang APAPUN di kejadian itu bahkan dengan BUKTI yg anda ajukan sendiri ANDA-PUN TIDAK TAU ada PE-NYUNAT-AN INFORMASI dan sangat jelas bahwa terkadi penyimpangan INFORMASI yang TIDAK SESUAI FAKTA.

…ini pelajaran ke-2 bagi anda…ketololan anda dalam melakukan verifikasi sangat gamblang terlihat disini.. 🙂

bersambung 🙂
9 Agustus pukul 3:35

Wirajhana Eka lanjutan…


2b. link anda: 23 Jul 2012 [http://www.facebook.com/groups/281886668544413/permalink/390742937658785/?comment_id=392576320808780&offset=0&total_comments=38, http://www.youtube.com/watch?v=aZL8LEmP2YE]

VIDEO tsb telah di modifikasi karena campuran dari 2 berita

– pada bagian pertama wawancara tidak diketahui tempatnya dan tanggalnya..ini saja cukup untuk menyatakan video itu tidak qualified sebagai bukti.

kemudian,
saya mempunyai satu sample karasteristik orang RONGHIYA ketika di wawancara..kejadian ini adalah tahun 2009 dan pewawancara adalah orang Indonesia, yaitu pada kejadian manusia perahu yang mendarat di Sabang dan hasil wawancara LAYAK dijadikan tolak ukur, karena TIDAK ADA KEPENTINGAN KONFLIK disini:

quote>
Staff IOM tersebut menceritakan bahwa tidak semua pengungsi berwarga negara Myanmar seperti dugaan awal akan tetapi sebagian juga berasal dari Bangladesh dan sekitarnya, hal itu terungkap ketika salah satu lembaga PBB yang bekerja untuk memulangkan pengungsi mewawancara satu-persatu dari warga Rohingya. Menurutnya warga yang berasal dari Bangladesh mengaku bahwa langkah eksodus ditempuh karena dilatarbelakangi oleh keinginan untuk memperbaiki nasib, berbeda dengan warga yang berasal dari Myanmar mereka mengaku eksodus dilakukan semata-mata karena penindasan pemerintah Junta Militer. NAMUN HAL ITU JUGA MASIH SIMPANG SIUR KARENA SETIAP KALI WAWANCARA DIULANG KETERANGAN MEREKA SELALUU BERBELIT_BELIT DAN TIDAK KONSISTEN [http://ferza.wordpress.com/2009/05/01/menyapa-warga-rohingya-i-sabang/]

bersambung… 🙂
9 Agustus pukul 3:54


Wirajhana Eka lanjutan…
2c. link anda adalah republika, 22 juni, [http://www.facebook.com/groups/281886668544413/permalink/390742937658785/?comment_id=392579284141817&offset=0&total_comments=38 , http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/12/06/22/m60ohi-derita-pengungsi-muslim-rohingya]

tertulis disana “REPUBLIKA.CO.ID, Nasib pengungsi muslim etnis Rohingya asal Myanmar kian memprihatinkan. Mereka menyeberangi perbatasan menyelamatkan diri ke Bangladesh, setelah menjadi korban kekerasan SEKTARIAN yang menelan korban jiwa.

Kini mereka dipaksa harus kembali ke negeri mereka. Pihak berwenang Bangladesh memulangkan secara paksa sekitar 2000 orang etnis Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar akibat kekerasan sektarian yang terjadi di Myanmar bulan lalu.”

-> Di bagian mana TULISAN dari republika ini MEMBUKTIKAN bahwa pelakunya adalah UMAT BUDDHA? atau JUNTA? disana hanya tertulis SEKTARIAN

arti sektarian menurut KBBI adalah sek•ta•ri•an /séktarian/ a 1 berkaitan dng anggota (pendukung, penganut) suatu sekte atau mazhab; 2 picik, terkungkung pd satu aliran saja.

Anda rupanya tidak melihat ISI dari tulisan..hanya asal main COPAS link saja!!! memalukan!

Apakah anda tau kejadian tgl 08 jun? banyak sekali BHIKKHU2 yang viharanya di hancurkan di pukul dan banyak warga BUDDHIS di hajar, dll?

Jelas korban adalah 2 belah pihan dan yang memulai adalah warga bengali..namun anda MALAH MENYATAKAN UMAT BUDDHA yang menganiaya!

muslim di maungdaw adalah 95% sementara non muslim adalah 5%, dimana LOGIKANYA yg 5% melakukan kekerasan pada yg 95%?

..ini adalah pelajaran ke-4, murni akibat ketololan anda sendiri yang TIDAK MELIHAT ISI BERITA yg anda klaim mendukung surat anda..namun ternyata malah tidak mendukung sama sekali 🙂

bersambung…9 Agustus pukul 4:26


Wirajhana Eka lanjutan..
2d. link ke-1 anda suara islam walaupun tanggal adalah 27 juli [http://www.facebook.com/groups/281886668544413/permalink/390742937658785/?comment_id=392579937475085&offset=0&total_comments=38 , http://www.suara-islam.com/detail.php?page=3&ipp=10&kid=5041]
+
link ke-2 ->voa [http://www.facebook.com/groups/281886668544413/permalink/390742937658785/?comment_id=392585350807877&offset=0&total_comments=38 , http://www.voa-islam.com//photos2/edit-biksu-3.jpg]

link ke-1 seharusnya sudah tidak valid…karena walaupun tanggalnya sama-sama tgl 27 juli, namun tertera jelas jam 22 MALAM [27 Juli 2012 | 22:15:41 WIB] -> Ini saja sudah mendahului jam surat anda [sy tidak mengetahui surat anda dibuat jam berapa..kantor pos tidak buka malam2, logika normal surat anda yg asal-asalan itu di buat siang hari, sementara selisih waktu antara myanmar dan jakarta adalah +6.5 vs +7 alias cuma 0.5 menit, artinya di Jakarta sudah jam 22.45 menit! -> jadi, ini manabisa dijadikan BUKTI?

pun jika anda ingin paksakan, baik saya sampaikan pada anda bahwa FOTO pada link ke-1 dan link ke-2:

hanya dari Independen.co.uk, namun kemudian menyebar luas kemana-mana. Foto ini BUKAN aksi penolakan ROHINGYA, namun justru komunitas biksu myanmar dan masyarakat Myanmar yang tinggal di Thailand demonstrasi di kedutaan Myanmar di Bangkok, 24 July, 2012 menyerukan stopnya krisis di area Kachin, pembebasan tahanan politik di Myanmar dan hak untuk kembali ke Myanmar pada pemilihan umum tahun 2015. Surat terbuka juga disampaikan kepada presiden Myanmar Thein Sein oleh Organisasi Burma untuk pelajar yg sedang belajar di luar negeri. Foto aslinya adalah sbb: http://cache.daylife.com/imageserve/07PoanL7ix6JS/766×575.jpg

jadi jaka sembung bawa botol, lbh sayang…

…ini adalah pelajaran ke-5, yang murni akibat ketololan anda yg TIDAK MENGECHECK isi dan fotonya ttg apa 🙂

bersambung…
9 Agustus pukul 4:45


Wirajhana Eka lanjutan..
2e. link anda dari nahimungkar [http://www.facebook.com/groups/281886668544413/permalink/390742937658785/?comment_id=392581837474895&offset=0&total_comments=38 , http://nahimunkar.com/16525/muslim-rohingya-dibantai-dipaksa-murtad-ke-budha-makan-daging-babi-dan-diperkosa/]
+
link ddhongkong [http://www.facebook.com/groups/281886668544413/permalink/390742937658785/?comment_id=392584357474643&offset=0&total_comments=38, http://m.ddhongkong.org/muslim-rohingya-dibantai-karena-tak-mau-masuk-budha/]

-> INI ADALAH PERNYATAAN SEPIHAK Pimpinan partai Islam utama di Pakistan, Jamaat Islami (JI), sementara JI pakistan TELAH terbukti menyebarkan foto-foto hoax:

https://wirajhana1.files.wordpress.com/2012/08/96143-dirty_bhuddists_jpgmid.jpg

yang ternyata itu adalah foto kejadian tgl 26 sept 2007, yaitu ketika 3 bhikkhu terbunuh oleh junta militer dan gambar itupun sudah di edit ketika unocoal di tuntut EarthRights International. NAMUN DIPUTAR BALIKAN menjadi Bhikkhu2 yg anarkis membunuhi umat islam

Anda telah bersekongkol dengan ORANG YG TELAH BERDUSTA melakukan TUDUHAN KEJI pada PARA BHIKKHU BURMA dan dilakukan oleh anda LBH BUDDHIS + Dewan pendiri dan pengawasnya adalah Bhiksu Mitrasasana Mahasthavira!

ini bener2 PELECEHAN BERAT pada bhikkhu2 dan dilakukan justru oleh BHIKKHU INDONESIA sendiri!

…ini adalah pelajaran ke-6, dan murni KETOLOLAN anda sendiri yang tidak tau APAPUN tidak mau mengecheck terlebih dahulu..asal posting sebagai dasar…sehingga telah MERUSAK NAMA BAIK PARA BHIKKHU yg seharusnya anda hormati

belajarlah menjadi warga buddhis yang baik..dan berhentilah bertindak keji, paham Lbh Buddhis tolol?

btw,
untuk mencegah anda hapus sendiri tulisan anda ..maka ini satu set status ini sy PRINT SCREEN dan saya save dalam komputer saya..setiap perubahan saya akan ketahui..anda tidak bisa semudah itu menghilangkan barang bukti ini.
9 Agustus pukul 5:14

Wirajhana Eka Bagaimana lbh buddhis? Anda lihat sendiri..betapa bodohnya anda terlihat sekarang, bukan…mmmh, apa sda lagi “so-called bukti” yg mampu anda ajukan?

Jika tidak ada..buatlah surat permohonan maaf resmi kepada umat Buddha Indonesia dan Myanmar serta junta militer..katakan bahwa anda secara organisasi (bersama dewan pendiri dan pengawas anda)..telah bodoh dan gegabah melakukan penuduhan tanpa bukti dan/atau berkirim surat ulang ke alamat2 surat anda tgl 27 katakan bhw anda meralat surat tersebut dan mohon surat tersebut di abaikan.

Kemudian, dari donasi yg anda terima (jika ada) atau anda upayakan sendiri donasi utk para pengungsi (karen, kachin, shan, arakan) tidak peduli agamanya apa..

Bagaimana sanggup anda lakukan sebagai perbaikan?

Sanggup/tidak maka berteladlah utk tidak melakukan kebodohan serupa dan lebih mawas diri.
9 Agustus pukul 12:14
=====

Tanggapan LBH BUDDHIS:

  • Lbh Buddhis ‎@Wirajhana Eka, terima kasih atas masukan sauidara tapi betapa kalau anda berbeda pendapat dengan organisai kami silahkan buat organisasi sendiri dan kemukakan pendapat saudara dan maaf anda bukan kelas kami dalam hal ini terima kasih dan bilamana anda tidak senang atau apapun silahkan kunjungi website kami dan disana ada alamat kami dan kami akan tunggu terima kasih
    9 Agustus pukul 12:38
  • Lbh Buddhis ya kan dalam FB agamanya Wirajhana Eka Atheist, Buddhist, Hindu gimana coba sdri lidia Yauw mungkin lebih cerdas untuk menjawabnya
    9 Agustus pukul 12:41
  • Lbh Buddhis mohon maaf kepada teman-teman dan saya tidak akan membahas ini terlalu panjang disini dan masalah organisasi masalah kami dan kalau ada yang keberatan datang saka kee sekretariat kami atau melalui surat dengan identitas yang jelas atau berikan alamatnya akan kami datangi untuk berdiskusi
    9 Agustus pukul 12:59
  • Lbh Buddhis kalau identitas FB LBH Buddhis dapat dilihat di http://www.facebook.com/lbh.buddhis/info

    9 Agustus pukul 13:01

======

Tanggapan Saya:

Wirajhana Eka Bagaimana Lbh Buddhis? seorang yg berpandangan ateis, buddhis dan hindu mampu memberikan argument dgn jelas..sementara anda lebih sibuk berkutat di persoalan yg pun jika sy beritahu KTP sy adalah hindu..maka anda malah terlihat semakin tolol sebagai orang Buddhis di sini.

kira-kira apakah anda masih punya komentar dan bukti lanjutan? jika tidak maka mohon liat koment sy di sini: https://www.facebook.com/groups/281886668544413/permalink/390742937658785/?comment_id=392740657459013&offset=0&total_comments=57

dan lakukan step itu satu persatu..paham?

note:
anda tidak perlu mohon maaf atau menyembah saya di sini..cukup lakukan step spt link yg saya tulis di komentar ini..dengan itu anda terlihat sedikit cerdas..9 Agustus pukul 13:36
======

Tanggapan LBH BUDDHIS:

  • Lbh Buddhis mungkin saudara2 yg lebih pintar restorikanya daripada berbuat dan apa sih hebatnya anda2 dan maaf bukan hak kalian mencampuri urusan LBH Buddhis dan silahkan buat organisasi sendiri hehehe
    9 Agustus pukul 17:04
  • Lbh Buddhis bilamana ada pihak2 yang tidak sependapat silahkan datang ke sekretariat LBH kita berdiskusi dan bilamana ada yang ingin melakukan hal2 yang diluar tersebut kami selalu siap dan terima kasih atas masukannya

    9 Agustus pukul 17:07

  • Lbh Buddhis memang kita umat Buddha yang jelas dan apa salahnya dan kalau ada yang keberatan silahkan buat gugatan saja untuk bubarkan LBH Buddhis, dan maaf bukan hak saudara yang menentukan itu, terima kasih
    9 Agustus pukul 17:17
  • Lbh Buddhis memang kalau data-data di FB ga jelas ya banyak yang ga jelas, makanya perjelas dulu krn bisa jadi gentayangan

    9 Agustus pukul 17:21

Hanya sampai di situ tanggapan antara Saya dan LBH Buddhis. Copyan debat ini di letakan juga di Dhammacitta, namun sama sekali tidak ada tanggapan dari LBH BUDDHIS. Bentuk lain dari pertanyaan disampaikan juga di Buddha School, namun juga tidak ada penjelasan apapun dari LBH Buddhis.

Perlu di ketahui,

  1. Tanggal 02/08/2012, Wakil ketua Walubi-Sangha Mahayana Indonesia, Bhiksu Gunabhadra, datang menghadiri acara “bincang rohingya” di ITB. Beliau datang sebagai Perwakilan dari LBH Budhis. Gunabhadra pada tahun 2004, adalah anggota DPR dari pemilihan BABEL
  2. Tanggal 10/08/2012, FPI (Front Pembela Islam), di makassar menggelar aksi solidaritas Rohingya dan berujung pada pelemparan Vihara, Kelenteng dan penyerangan terhadapa fasilitas pemerintah Myanmar

—-

Tentang LBH Buddhis:
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Buddhis Indonesia – Pusat Buddhist Indonesia Legal Aid – Central 法律援助机构(李秉宪)佛教印尼 – 中环 Jalan Pangeran Tubagus Angke Raya No. 20 Blok A-12 A Jakarta Barat Telp. +62 21 33370647 – Fax. +62 21 6624620 Email. info@lbhbuddhis.com Website : http://www.lbhbuddhis.com/ Donasi /

Dukungan Anda : Bank Mandiri Jakarta Jelambar Rek. No. 117-00-0611296-5 an.
LBH Buddhis Indonesia didirikan di Jakarta pada tanggal 6 Pebruari 2012

Dewan Pendiri :
Bhiksu Mitrasasana Mahasthavira
Salam Surjadi, SH.
Budiman, SH.

Ketua Pengawas :
Bhiksu Mitrasasana Mahasthavira

Ketua Penasehat :
Salam Surjadi, SH. (Advokat/Pengacara)

Ketua LBH Buddhis :
Budiman, SH. (Advokat/Pengacara)

Tinggal di Daerah Khusus Ibukota Jakarta [↑]


Kemusnahan Umat Buddha, Kebangkitan Umat Bhikkhu. Case: Ashin Jinarakkhita (vs LuangTa Maha Bua)


Mungkin sudah terlalu sering anda dengar/baca bahwa ajaran sang Buddha akan lenyap dari muka bumi.

Kalimat itu tidaklah benar!

Yang benar adalah SadDhamma (Dhamma sejati) bertahan hingga 500 tahun[1] saja dari setelah penahbisan ibu tiri yang mengasuh Sidharta Gautama waktu kecil, yaitu: Mahapajapati Gotami menjadi Bhikkhuni. Batasan lamanya Dhamma sejati, disampaikan sang Buddha ketika berada di Vesali, pada tahun ke-5 keBuddhaannya.

So,
Apa sih Dhamma sejati itu?
Bagaimana Dhamma sejati hanya berumur hingga 500 tahun sejak penahbisan Mahapajapati Gotami menjadi Bhikkuni?
Jika Dhamma sejati telah lenyap, mengapa ajaran Buddha masih ada?

Untuk memahami ini,
Maka perlu kita ketahui peristiwa yang terjadi di kota Veranja pada tahun ke-12 masa keBuddhaan Beliau. Ketika itu, YM Sariputta bertanya pada sang Buddha, “Pada Masa Buddha siapakah kehidupan suci bertahan lama dan masa Buddha siapakah tidak bertahan lama?”. Sang Buddha memberikan jawaban sebagai berikut:

  1. Pada masa Buddha Vipassī, Sikhī and Vessabhū tidak membabarkan khotbah Dhamma secara terperinci, peraturan latihan bagi para siswa (vinaya) tidak dipermaklumkan dan kumpulan peraturan tidak dirumuskan (Pàtimokkha, inti peraturan). Setelah Para Buddha, generasi para siswanya parinibanna, ajaran itu lenyap dengan cepat.
  2. Pada masa Buddha Kakusandha, Konāgamana and Kassapa membabarkan khotbah Mereka secara terperinci, menetapkan Vinaya dan Pàtimokkha. Setelah Mereka dan para siswa langsung Parinibanna, generasi-generasi berikutnya menjaga ajaran itu hingga bertahan.

Ketika mendengar itu,
YM Sariputta kemudian memohon kepada sang Buddha agar berkenan menetapkan vinaya dan patimokkha. Sang Buddha berkata padanya bahwa itu belumlah saatnya karena puluhan ribu anggota sangha (kelompok para Bhikku) yang ada saat itu, 500nya saja sudah mencapai sotapanna [Tingkat kesucian ke-1] dan kelak ketika jumlah anggota sangha semakin membesar maka akan terjadi kecenderungan berpikir, berucap dan berbuat yang mengakibatkan menjauh dari jalan kesucian, di saat itulah vinaya dan patimokkha baru dapat ditetapkan[2]. [Tentang apa itu sangha dan kegunaannya bagi pelestarian Dhamma sejati, silakan baca di sini]

Patimokkha pertama yang ditetapkan sang Buddha merujuk pada kasus yang dilakukan oleh Suddina.

Pentahbisan Suddina menjadi Bhikkhu terjadi di setelah berakhirnya masa vassa ke-12 Sang Buddha di kota Veranja. Ketika itu Sang Buddha berada di Vesali. Setelah ditahbishkan, Sudinna menetap di Vajji selama 8 tahun[2]. Pada tahun itu, Vajji mengalami paceklik besar sehingga sulit bagi bhikkhu untuk berpindapatta (mengumpulkan dàna makanan dengan mangkuk di tangan mereka). Oleh karena kejadian itu, Suddina bermaksud untuk menggantungkan hidup pada sanak keluarganya yang hidup makmur di Vesali. Alasan pembenaran untuk keputusannya itu adalah seperti ini, “Karena aku mereka dapat mempersembahkan dàna dan melakukan kebajikan. Dan para bhikkhu akan memperoleh keuntungan secara materi, dan aku tidak akan dipersulit dalam hal makanan”.

Setelah di Vesali, keluarganya berusaha membujuknya dengan harta agar Ia kembali kepada kehidupan umat awam. Namun Ia tidak bergeming. Tidak mempan dengan dengan cara itu, Sang Ibu kemudian memintanya agar dapat memberikan keturunan sebagai pewaris harta keluarga agar kelak tidak direnggut oleh kaum licchavi. Permohonan sang ibu dikabulkannya dan Ia kemudian melakukan hubungan seksual dengan istrinya yang dulu. Atas kejadian itulah, kemudian Sang Buddha menetapkan aturan untuk pertama kalinya bahwa Barang siapa yang melakukan percabulan maka ia sudah kalah (parajika), tidak lagi dalam persekutuan (sangha)[2]

Setelah itu, hingga parinibannanya Sang Buddha, terdapat 227 Kasus (Bhikkhu)[↓] dan 311 kasus (Bhikkhuni) yang kemudian ditetapkan sebagai aturan mendisiplinkan [Vinaya dan Patimokkha].

Terdapat pertanyaan menarik dari YM Maha Kassapa kepada Sang Buddha, “Apa alasan dan bergantung pada kondisi apa ketika sebelumnya sedikit aturan, banyak bhikkhu yang memperoleh pencerahan namun sekarang2 ini, lebih banyak aturan yg ditetapkan namun lebih sedikit bhikkhu yang mencapai pencerahan sempurna?

Sang Buddha menjawab bahwa ketika mahluk-mahluk merosot [sattesu hayamanesu], Dhamma sejati juga akan memudar, aturan ditetapkan semakin banyak, semakin sedikit bhikkhu yang mencapai pencerahan namun itu tidak membuat Dhamma sejati lenyap hingga kemudian dhamma tiruan bermunculan di dunia. Ketika Dhamma tiruan bermunculan di dunia maka dhamma sejati akan lenyap..adalah orang yang kosong melompong spiritualitasnya (mogha purisa) yang bermunculan di sini yang menyebabkan Dhamma sejati melenyap. Terdapat 5 faktor yang menyebabkan menurunnya Dhamma sejati, yaitu Bhikkhu, Bhikkhuni dan umat awam bersikap tidak hormat dan melawan pada: Guru, dhamma, sangha, pelatihan dan meditasi [Saddhamma Patirūpaka Sutta SN 16.13]

Di menjelang Parinibannanya,
bertempat di RajaGaha, Sang Buddha menyampaikan 7 faktor kemajuan bukan kemunduran (Aparihāniyā dhammā), yaitu selama para Bhikkhu:

  1. sering mengadakan pertemuan-pertemuan rutin,
  2. bertemu dalam damai, berpisah dalam damai, dan melakukan tugas-tugas mereka dalam damai,
  3. tidak menetapkan apa yang belum ditetapkan sebelumnya, dan tidak meniadakan apa yang telah ditetapkan, melainkan meneruskan apa yang telah ditetapkan,
  4. menghormati para senior yang lebih dulu ditahbiskan, ayah dan pemimpin dari Sangha,
  5. tidak menjadi mangsa dari keinginan yang muncul dalam diri mereka dan mengarah menuju kelahiran kembali,
  6. setia menjalani kehidupan dalam kesunyian hutan dan
  7. menjaga perhatian mereka masing-masing

kemudian, ketika berada di Bhojanegara, Sang Buddha menyampaikan kreteria/standar (Maha Padesa) untuk menilai klaim suatu Dhamma dan dibandingkan dengan Dhamma sejati:

  1. Buddha. Seandainya seorang bhikkhu mengatakan: “Teman-teman, aku mendengar dan menerima ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: inilah Dhamma, inilah disiplin, inilah Ajaran Sang Guru,” maka, para bhikkhu, kalian tidak boleh menerima atau menolak kata-katanya. Kemudian, tanpa menerima atau menolak, kata-kata dan ungkapannya harus dengan teliti dicatat dan di bandingkan dengan Sutta-sutta dan dipelajari, Jika kata-katanya, dibandingkan terbukti tidak selaras dengan Sutta atau disiplin, maka kesimpulannya adalah: “Pasti ini bukan kata-kata Sang Buddha, hal ini telah keliru dipahami oleh bhikkhu ini,” dan kata-katanya itu harus ditolak. Tetapi jika saat dibandingkan dan dipelajari, terbukti selaras dengan Sutta atau disiplin, berarti kesimpulannya adalah: “Pasti ini adalah kata-kata Sang Buddha, hal ini telah dengan benar dipahami oleh bhikkhu ini.” Ini adalah kriteria pertama.
  2. Sangha. Seandainya seorang bhikkhu mengatakan: “Di tempat-tempat ini terdapat komunitas para bhikkhu dengan bhikkhu-bhikhu senior dan guru-guru terkemuka. Aku telah mendengar dan menerima ini dari komunitas tersebut,” maka, para bhikkhu, kalian tidak boleh menerima atau menolak kata-katanya … (seperti di atas) Ini adalah kriteria ke dua.’
  3. Para Bhikkhu Senior. Seandainya seorang bhikkhu mengatakan: “Di tempat-tempat ini terdapat banyak bhikkhu senior yang terpelajar, pewaris tradisi, yang mengetahui Dhamma, disiplin, peraturan-peraturan …” (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke tiga.’
  4. Seorang Bhikkhu Senior. Seandainya seorang bhikkhu mengatakan: “Di tempat-tempat ini terdapat seorang bhikkhu senior yang terpelajar … aku telah mendengar dan menerima ini dari bhikkhu senior tersebut …” (seperti di atas). Ini adalah kriteria ke empat.'[MahaParinibanna sutta(DN 16) dan Maha Padesa Sutta]

Kemudian, di 3 (tiga) bulan setelah wafatnya beliau, 84.000 pokok Dhamma ajaran beliau di ulang kembali oleh 500 Arahat yang dipimpin oleh Maha Kassapa.

Itulah yang kemudian dikenal sebagai Dhamma dan Vinaya sebagai kelengkapan dari Dhamma sejati agar kehidupan kesucian ke-1 s.d ke-4 (arahat) menjadi memungkinkan hingga 500 tahun dari setelah parinibannanya sang Buddha. [Detail lanjutan ttg Dhamma Sejati berunsur 8, tingkat kesucian dan juga konsili ke-1 s.d ke-4, lihat di sini]

Demikianlah upaya yang dilakukan agar Dhamma sejati berusia hingga 500 tahun lamanya.

Ajaran Buddha menyatakan bahwa segala sesuatu yang berkondisi adalah tidak kekal dan tidak memuaskan dan itu berlaku pada segala hal baik itu Alam, Mahluk dan Ajaran sehingga semua hal tersebut hanya merupakan fenomena ato perubahan yang tidak berinti/berlandaskan. Untuk memperjelas, saya sampaikan contoh lain misalnya tentang semesta:

    Semesta ini telah berulang kali ada, mengembang, menyusut dan hancur. Permulaan 1 Kappa semesta ini dibagi dalam 4 periode. Di periode ke-1, tidak ada apapun. Di periode ke-2 dan ke-3, Mahluk2 dari alam Abhassara muncul kembali di alam bawahnya yaitu alam Brahma dan yang pertama muncul dinamakan maha brahma. Setelah itu alam2 di bawahnya terbentuk dengan ditandai kemunculan mahluk di alam tersebut. Ketika mahluk pertama muncul di neraka maka mulailah periode balik ato penghancuran yang bertahap menghancurkan juga alam-alam berikutnya hingga ke alam Brahma dan di Periode ke-4 kembali tidak ada apapun

    Setelah 7x pengulangan maka yang ke-8, bukan cuma alam Brahma saja yang hancur namun juga alam yang di atasnya, yaitu alam Abhassara. Setelah 7x pengulangan hancurnya alam Abhasara, maka yang ke-8, bukan saja alam brahma dan alam Abhasara yang hancur, namun juga alam di atasnya yaitu alam Śubhakṛtsna. Setelah 7x pengulangan hancurnya alam Śubhakṛtsna, maka yang ke-8, bukan saja alam brahma, alam Abhasara dan alam Śubhakṛtsna yang hancur namun juga alam di atasnya yaitu alam Bṛhatphala. Itulah batasan tertinggi dari alam Rupa yang hancur. Demikianlah putaran bagai lingkaran itu terjadi berulang-ulang. Jika kita melihat lingkaran, maka menentukan titik awalnya adalah tidak relevan dan/atau tidaklah dapat ditentukan kecuali melalui suatu konsensus/kesepakatan tertentu.

Nah, siklus lingkaran: ada-mengembang-menyusut-hancur yang berulangkali itu terjadi pula pada Dhamma sejati.

Rupanya,
Komunitas buddhis di awal milenium pertama abad ini tersadar bahwa kisaran waktu 500 tahun sudah lewat, sehingga maraklah bermunculan tradisi-tradisi baru yang memperpanjang sendiri batasan umur Dhamma sejati tersebut[3] [4], diantaranya:

  1. Di peride SETELAH 500 tahun dari Parinibana-nya Sang Buddha [“paścimāyāṁ pańacaśatyām”, Sūtra Intan, dan Sūtra Teratai]
  2. 700 tahun [Sūtra Mahāparinirvāṇa dan Sūtra 7 mimpi Ananda (Taisho 49, no. 2034, p. 116, c4)]
  3. 1000 tahun [Bhadrakalpika Sūtra dan komentar dari Prajńāpāramitā Sūtra, dibagi per 500 tahun]
  4. 1500 tahun [Candragarbha Sūtra, Mahāsaṃnipata Sūtra, Karunapundarīka Sutra, Mahāmāyā Sūtra]
  5. Setelah 2500 tahun yang dibagi per 500 tahun. [Mahāsaṃnipata Sūtra, dalam Abhidharma Mahāvibhāṣa Śāstra: dibagi per 500 tahun setelah parinibanna Sang Buddha terakhir 3500 tahun.]
  6. 5000 tahun [dengan tabel waktu dalam: Komentar Buddhagosa pada Aṅguttara Nikāya, juga di Maitreya Sūtra(sumber tibet)]
  7. 5104 tahun [Kalacakra tantra, tibetan]
  8. ≥ 10.000 tahun [translasi dari Samantapasadika ch. 18 merubah dari 5000 menjadi 10.000 dengan perincian 1000 tahun Saddharma, 5000 tahun mirip dhamma dan terus hingga batas 10.000 tahun juga di Ju She Lun Bao, ch.29 Shu ; juga ada yg menyatakan 11.500 tahun (Taisho no.1933, 46.786c4-6); kemudian 12000 tahun (Taisho T42, no. 1824,.p. 18, b2-5, T47, no. 1960, p. 48, c7-8 dan T35, no. 1709,p. 520, c10)], dll
  9. Kitab komentar Aliran Theravada abad ke-5 M, melakukan penciptaan sendiri perpanjangan batasan hingga 5000 tahun dengan urutan kelenyapannya: (1) Pencapaian Tingkat Kesucian; (2) Pelaksanaan-Benar (Jhana, pandangan terang, Jalan dan Buah (Magga dan Phala), empat kemurnian perilaku (Catuparisuddhi Sīla: Sila kebhikkhuan, indera, penghidupan dan yang berhubungan dengan empat kebutuhan pokok). Kemudian perlahan hanya menjaga diri dari 4 Parajika/pelanggaran berat, hingga Bhikkhu terakhir wafat dan lenyaplah pelaksanaan benar); (3) Ajaran (dengan urutan: Abhidhamma (dengan urutan: Patthana, Yamaka, Katha-vatthu, Pugala-pannatti, Dhatu-katha, dst), Sutta Pitaka (dengan urutan: AN, SN, MN, DN), Jataka (dengan urutan: Vessantara Jataka, Apannaka Jataka, dst), Vinaya Pitaka dan terakhir lenyap: 4 syair Dhammapada no.183); Simbol/Bentuk Luar (Berjubah, berjubah sepotong, berjubah dan menunjang anak Istri, tidak jubah dan berburu binatang) dan (5) Relik (mulai tahun ke-5000, sampai tidak menghormati relik sang Buddha, tidak ada penghormatan dan pemujaan terhadap relik)

Lengkaplah terjadi…ditambah dengan kemunculan Dhamma tiruan [dari kalangan dalam maupun luar ajaran Buddha sendiri].

Perlahan tapi pasti, Umat Buddha berubah menjadi umat Bhikkhu.

Jika anda google,
akan anda temukan banyak ulasan dan klaim alasan mengapa SadDhamma belum lenyap dan bahwa masih terdapat banyak orang yang mencapai tingkat kesucian tertentu di setelah kurun waktu 500 tahun Parinibannanya sang Buddha dan bahkan hingga jaman sekarang!

Demikianlah sabda dari banyak klaim yang beredar tersebut.

Para pengulas dan pengklaim ini lupa bahwa di literatur awal Buddhism sendiri terdapat satu kisah yang menegaskan bahwa mencapai tingkat kesucian tidaklah mudah dengan merujuk kisah Raja Pukkusàti/Pushracarin, penguasa negeri Gandhara, dengan ibu kotanya Takkasilà [sekarang di Pakistan, 35 km, barat laut Rawalpindi]. Ia menerima hadiah kain emas yang berisi tulisan tentang Buddhisme. Hadia ini kiriman Raja Bimbisàra, Penguasa negeri Maghada [wilayah tengah – Majjhima Desa]. Raja Pukkusati kemudian membacanya, menjadi mengenal Dhamma, mempraktekan meditasi dan mencapai jhana Rupavacara.

Hanya sedemikian saja hasil yang dicapai Pukkusati, Ia tidak mampu mencapai tingkat kesucian apapun ketika itu.

Baru setelah bertemu dengan sang Buddha, yang memberikan penjelasan dan pengertian lanjutan sesuai dengan karakter sang raja, Pukkusati akhirnya dapat mencapai tingkat kesucian ke-3, yaitu Anagami. [detail tentang ini silakan baca di sini]

Anda bisa bayangkan, seorang dengan parami [kesempurnaan/kebajikan yang sangat besar] seperti raja Pukkusati saja, setelah membaca, mengenal Dhamma dan mempraktekannya tanpa mendapatkan bimbingan lanjutan dari seorang Arahat, tingkat kesucianpun TIDAK diperolehnya.

Disamping itu,
Di (Ahitāya) Thera Sutta, sang Buddha juga menyatakan bahwa Bhikkhu (atau guru) yang mempunyai pandangan salah dan visi menyimpang, setelah membuat pengikutnya berpaling dari Dhamma sejati, dia menenggelamkan mereka dalam Dhamma yang palsu.

Sehingga tidaklah mengherankan, 500 tahun setelah parinibanna Sang Buddha, ada saja orang yang NEKAT tidak tahu malu mengaku-ngaku [atau diakui] arahat/orang suci dan itupun masih saja di percaya.

Gilanya lagi,
SETELAH 2500 tahun berlalu, masih ada juga yang NEKAT TOTAL TIDAK TAHU MALU menyematkan label ARAHAT pada orang-orang di jaman ini :).  Berikut saya sampaikan 2 (dua) sampel:

    Sample ke-1: Ashin Jinarakkhita
    Waduh..bhikkhu ini ternyata bandel banget. Masa sudah lama menjadi Bhikkhu masih tidak memahami bahwa berjanggut, berkumis dan berewokan merupakan pelanggaran dukkhata[5]..cilakanya bhikkhu ini melakukannya dengan sengaja berkali2, kali2 dan kali2 lagi.

    Jika masalah seperti ini saja sudah dilanggar tanpa malu-malu maka bagaimana mungkin ia dapat berhasil menapak kehidupan suci dan berhasil MEWARISI DHAMMA?!

      “Sekarang, para bhikkhu, misalkan aku telah makan, menolak makanan tambahan, sudah kenyang, selesai, sudah cukup, telah memakan apa yang Kubutuhkan, dan ada makanan tersisa dan akan dibuang.

      Kemudian dua orang bhikkhu tiba lapar dan lemah, dan Aku berkata kepada mereka: ‘Para bhikkhu, aku telah makan … telah memakan apa yang Kubutuhkan, tetapi masih ada makanan tersisa dan akan dibuang. Makanlah jika kalian menginginkan; jika kalian tidak memakannya maka Aku akan membuangnya ke mana tidak ada tumbuh-tumbuhan atau membuangnya ke air di mana tidak ada kehidupan.’

      [contoh dari sang Buddha membandingkan 2 Bhikkhu]

      Biku ke-1:
      Kemudian seorang bhikkhu berpikir: ‘Sang Bhagavā telah makan … telah memakan apa yang Beliau butuhkan, tetapi masih ada makanan Sang Bhagavā yang tersisa dan akan dibuang; jika kami tidak memakannya maka Sang Bhagavā akan membuangnya … Tetapi hal ini telah dikatakan oleh Sang Bhagavā: “Para bhikkhu, jadilah pewarisKu dalam Dhamma, bukan pewarisKu dalam benda-benda materi.”

      Sekarang, makanan ini adalah salah satu benda materi.

      Bagaimana jika seandainya tanpa memakan makanan ini aku melewatkan malam dan hari ini dalam keadaan lapar dan lemah.’[6]

      Dan tanpa memakan makanan itu ia melewatkan malam dan hari itu dalam keadaan lapar dan lemah.

      Biku ke-2:
      Kemudian bhikkhu ke dua berpikir: ‘Sang Bhagavā telah makan … telah memakan apa yang Beliau butuhkan, tetapi masih ada makanan Sang Bhagavā yang tersisa dan akan dibuang …

      Bagaimana jika seandainya aku memakan makanan ini dan melewatkan malam dan hari ini tanpa merasa lapar dan lemah.

      Dan setelah memakan makanan itu ia melewatkan malam dan hari itu tanpa merasa lapar dan lemah.

      [PENILAIAN SANG BUDDHA ttg 2 Bhikkhu ini]:

      Sekarang walaupun bhikkhu itu dengan memakan makanan itu melewatkan malam dan hari itu tanpa merasa lapar dan lemah, namun bhikkhu ke-1 lebih terhormat dan dipuji olehKu.

      Mengapakah?

      Karena hal itu dalam waktu lama akan berdampak pada keinginannya yang sedikit, kepuasan, pemurnian, kemudahan dalam disokong, dan membangkitkan kegigihannya.

      Oleh karena itu, para bhikkhu, jadilah pewarisKu dalam Dhamma, bukan pewarisKu dalam benda-benda materi. Demi belas kasihKu kepada kalian Aku berpikir: ‘Bagaimanakah agar para siswaKu dapat menjadi pewarisKu dalam Dhamma, bukan pewarisKu dalam benda-benda materi?’” [Dhammadāyāda Sutta]

    Berkumis dan brewokan barulah masalah yang sangat, sangat sepele yang hanya bersangkutan dengan dirinya sendiri, namun ada lagi perbuatan keliru yang sangat mendasar dilakukannya, yaitu mengajarkan pandangan salah pada banyak orang dengan menyatakan adanya tuhan dan paham ketuhanan Sang Hyang Adi Buddha pada Ajaran Buddhisme!

      Bikkhu Jinnarakkhita mengungkapkan kepada TEMPO, “tapi saya memang berpegang kepada prinsip”, katanya,..yaitu “bahwa Buddha di Indonesia adalah Buddha yang ber Ketuhanan Yang Maha Esa. Yang dalam ajaran Buddha disebut Sang-Hyang di Buddha. Saya berpendirian ummat Buddha Indonesia harus berkiblat ke Borobudur. Karena Borobudur — aliran Mahayana adalah Buddis yang mengenal Sang Hyang Adi Buddha..Yang atheis-pun di kalangan Bhikkhu ada”. Mungkin ini mengejutkan. Tapi sang Bikkhu menyatakan “kata-kata saya bukan main-main. Karena seorang Buddhis tidak mengakui Sang Hyang Adi Buddha sama saja dengan atheist.”[Tempo Interaktif]

    Sang Hyang Adi Buddha dan/atau keberadaan tuhan dan ketuhanan dalam Buddhisme, merupakan produk pemikiran setelah Masehi[7] dan BUKAN ajaran sang Buddha.

    Bukan cuma itu!

    Ia pun sudah mempertuhankan manusia yang disebut sebagai Sai Baba. Berikut pengakuan seorang yang bernama Phoa Krishnaputra, ketika bertemu dengan Ashin Jinarakkhita:

      Disekitar Juni 1988, Ketika aku mengunjungi Mahasthavira Ashin Jinarakkhita yang biasa aku panggil Sukong di Vihara Sakya Vanaram, berlokasi di sisi gunung di Pacet, JaBar. Ketika kami berbincang2, Ia menunjukan padaku Poto besar dan cantik dari Bhagavan Sri Sathya Sai Baba yang mengenakan kain putih. Sukong menyatakan padaku bahwa Ia ingin menempatkan poto itu di satu tempat di area Vihara Sakya Vanaram Vihar. Aku terkejut dan berkata pada Sukong, “Engkau kan pemimpin dari para Buddhis Indonesia, Jika engkau tempatkan poto Bhagawan Baba di sini, gak bikin masalah dengan komunitas Buddhisr?” Ia melihatku dengan senyum diwajahnya dan berkata, “Saya sudah biasa menghadapi masalah. Nambah 1 lagi tidak masalah bagiku” [Saibabaofindia]

    Pengakuan Ashin Jinarakhita sendiri sebagai berikut:

      Di bulan Oktober 1989, Aku pergi bertemu Sri Sathya Sai Baba untuk menunjukan ketulusanku atas pertolongan yang dilakukannya…Pengalamanku (bersama dengan 8 Bhikkhu dan 1 orang Bhikkhuni) adalah wahyu kasih seketika…Hubunganku dengan Bhagawan Sathya Sai tidaklah dualistik. Aku terima beliau sebagai Bhagavan dan Baba menerimaku juga.. Interview yang di ikuti tak dapat digambarkan dengan kata. Bhagawan berkata, “Tempatku adalah tempatmu, tempatmu adalah tempatku, dan Aku akan hadir bersamamu setiap Kamis di Ashrammu” [Sathya Sai, The Eternal Charioteer, 1990]

    Di tahun 2000, seorang dengan nama Mrs. P. Padma Sastry, menyampaikan:

      Kami merasa sangat bergembira melihat foto dari Bhagawan Sri Sathya Sai Baba bersamadengan patung Venkateswara dari Tirupati, India di ruang puja Pendeta Su Kong…Ia (Jimmy) bercerita pada kamu bahwa Su Kong mengalamatkan Sai Baba sebagai Jagath Guru (Guru Dunia)…Dan Nasihat terbaik yang disampaikan Pendeta Su Kong pada kamu dan semua orang adalah ini: “Kamu, Imani Sai Baba dan ikuti perintahnya 100%!” [saidevotee]

    Ashin juga berpendapat bahwa Grand Master Lu Sheng Yen adalah titisan Dewa, sebagaimana tercantum dalam buku “Bagaimana aku bertemu dengan Avatara shri Sai Baba” oleh Truth seeker-Joseph Tardjan jilid ke-2, pada halaman ke-26 alinea ke-2:

      “Reputasi Master Lu, ku dengar juga dari Yang mulia pendeta Ashin pernah mengatakan kepadaku bahwa Master Lu adalah titisan dewa dari alam Sukawati.Pendeta Ashin adalah mengikut Satya sai baba.[wihara]

    Bukan Cuma itu!

    Di samping mengajarkan mempertuhankan manusia, Ashin-pun mengajarkan mempertuhankan mahluk halus, berupa petilasan dengan nama Eyang Surya kencana, sebagai objek pemujaan, yang ada di Vihara Mahacetya Dhanagun, Jalan Surya Kencana No.1, Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Timur:

      Vihara Mahacetya Danagun..Dikenal juga dengan nama Hok Tek Bio, nama ini berasal dari kata Hok yang berarti rejeki, Tek berarti kebajikan, yang semuanya berarti ‘rumah ibadah rejeki dan kebaikan’.

      Meskipun saat ini Hok Tek Bio merupakan suatu vihara namun di dalamnya tetap diizinkan praktek-praktek kepercayaan masyarakat Cina, seperti Konfusianisme, dan Taoisme. Dewa utama yang dipuja di vihara ini adalah Hok Tek Cing Sien (Dewa Bumi), namun ditempatkan pula panteon Buddhisme yaitu Maitreya, Buddha Gautama dan Avalokiteswara. Selain itu terdapat pemujaan terhadap Eyang Raden Surya Kencana, yaitu leluhur penguasa wilayah Bogor. [DisParBud Prov. JaBar]

    Juga terdapat kejadian menarik terkait Vihara Dhanagun, yang melibatkan Jinarakhita dalam politik praktis berbau rebutan umat dengan menggunakan pengaruh kekuasaannya di tahun 1978.

      Bhikkhu Surya Karma Chandra Sampai 1976 memimpin upacara di vihara Ceya Dhanagun di Bogor itu. Menurut Bikkhu Surya, vihara tersebut “50% milik Jinarakkhita.”

      Di tahun 1976 diadakan peraturan, kalau mau mengadakan upacara harus ada izin Jinarakkhita.

      Latihan silat (yang menurut sang biksu sebenarnya atas permintaan Yayasan), dihentikan. Sembahyangan dibatasi sampai jam 7 malam, dengan alasan peristiwa Sawito dan Pemilu.

      “Karena pembatasan-pembatasan itu, saya keluar di bulan Oktober,” katanya kepada Bachrun Suwatdi dari TEMPO.

      Setelah itu, menurut Bikkhu Surya pula, yang sembahyang di vihara tersebut makin berkurang.

      Bikkhu Surya, yang lalu tinggal di Jakarta, mengumpulkan sumbangan — dan didapatlah izin baik dari Departemen Agama maupun Walikota Bogor buat mendirikan Vajra Bodhi di kota itu — “sebab pengikut saya kebanyakan di Bogor,” katanya. [Tempo Interaktif]

    Kemudian pada tanggal, 21 juli 1978 vihara Bhikkhu surya ternyata di Bredel, dengan alasan:

      Kepala Kejaksaan Negeri Bogor dalam surat keputusan yang kedua, dituliskan bahwa Sangha Agung Indonesia, majelis tertinggi para biksu berpendapat baha Bikkhu Surya tersebut “tidak menerima doktrin Ketuhanan Yang Maha Esa”.

      Kajari Bogor, Alfian Husin SH, menambahkan kepada Klarawijaya dari TEMPO bahwa di vihara itu ternyata patung Budha diletakkan di bawah patung lain — dan yang dimaksudnya adalah patung Awalokiteshwara alias Kwan Im, yang lebih sepuluh kali lebih besar dari patung Budha sendiri. Menurut yang didengar Kajari, hal seperti itu “bisa menimbulkan keresahan di kalangan umat Budha di Bogor.”

      Secara lisan Kajari menuturkan: di situ terdapat “pemusatan pemuda-pemuda” untuk latihan kungfu. Tetapi yang sebenarnya bisa dianggap paling penting tak lain adanya pernyataan dari Yayasan Dhanagun Bogor, tentang “pernyataan umat Budhis Bogor” — yang keberatan terhadap didirikannya vihara tersebut. [Grup: Dhammacitta atau Tempo Interaktif]

    Tahun berlalu dan di sekitar akhir Maret dan awal April 2002, Ashin Jinarakhita masuk rumah sakit, dan mengalami KOMA hingga wafatnya di 18 April 2002.

    Kemudian oleh pengikutnya, mayatnya dibentuk dalam postur meditasi duduk sebelum dikremasi.

    Perlu di catat,
    Di samping TIDAK ADA pengakuan Jinarakhita bahwa dirinya arahat,  kemudian dari memperhatikan cara wafatnya saja, yaitu dalam keadaan koma, maka TIDAK MUNGKIN ia mencapai tingkat kesucian manapun juga, karena bahkan kesadaran dirinya sendiri pun tidak dapat ia kendalikan.

    Terlepas daripada itu semua,
    Silakan simak syair-syair dari Sang Buddha yang menyatakan bahwa PENGANUT PANDANGAN SALAH akan terlahir di ALAM-ALAM APAYA (Alam sengsara):

      Mereka yang merasa malu terhadap apa yang sebenarnya tidak memalukan, dan sebaliknya tidak merasa malu terhadap apa yang sebenarnya memalukan; maka orang yang menganut pandangan salah seperti itu akan masuk ke alam sengsara.

      Mereka yang merasa takut terhadap apa yang sebenarnya tidak menakutkan, dan sebaliknya tidak merasa takut terhadap apa yang sebenarnya menakutkan; maka orang yang menganut pandangan salah seperti itu akan masuk ke alam sengsara.

      Mereka yang menganggap tercela terhadap apa yang sebenarnya tidak tercela, dan menganggap tidak tercela terhadap apa yang sebenarnya tercela; maka orang yang menganut pandangan salah seperti itu akan masuk ke alam sengsara.

      Mereka yang mengetahui apa yang tercela sebagai tercela, dan apa yang tidak tercela sebagai tidak tercela; maka orang yang menganut pandangan benar seperti itu akan masuk ke alam bahagia. [Dhammapada Bab 22, Neraka, syair 316-319]

    Sekarang,
    Bandingkan Bhikkhu di atas itu dengan sample ke-2:
    Luang Ta Maha Boowa[8] (lahir: 12 Agustus 1913), berasal dari keluarga kaya. Beliau menjadi Bhikkhu di usia 21 dan Wafat di usia 97 (30 Januari 2011).

    Pada paruh ke-2 tahun 1997, krisis ekonomi melanda Asean. Pada bulan Agustus 1997, Thailand mendapat “bantuan” IMF sebesar 16 miliar dolar AS (Posisi tahun 2010: 1.14 trilliun baht).

    Setelah tahun 1997, Luangta Mahaboowa ber-inisiatif membantu negaranya dengan berkampanye mengajak masyarakat bahu membahu menyelamatkan negara.

    Pada tanggal 9 January 2010, Luangta Maha boowa menyerahkan seluruh hasil kampanyenya melalui Bank of Thailand, sebesar 13 ton emas dan uang 10.2 JUTA USD! Kejadian ini, ramai menjadi pembicaraan yang tak putus-putusnya bagi publik Thailand.

    Pada tanggal 7 May 2010, 7 bulanan menjelang wafatnya, Luangta Mahaboowa, menyatakan secara tertulis agar sumbangannya dijadikan sebagai Cadangan Negara.

    Btw,
    Seberapa besar sih, bantuan Maha boowa pada negaranya dalam bentuk emas itu?

      Emas: 13 metrik tons = 458561 oz (di bulatkan ke bawah dari 458561.507)
      Kurs emas Desember tahun 1997: $290/oz.
      Kurs emas Desember tahun 2011: $1600/oz.

      Tahun 1997 = $132,982,690 ato 3,989,480,700 Baht
      Tahun 2011 = $733,697,600 ato 22,010,928,000 Baht

    + Uang Tunai US$10.2 JUTA!

    Bahkan setelah wafatnyapun, masih mengalir uang sumbangan tanda kepercayaan masyarakat pada beliau. Hanya dalam tempo 10 hari, telah terkumpul uang 35 Juta Bath (US$ 1.2 million) dan kesemuanya disumbangkan dan dijadikan Cadangan negara.

    Total sumbangan per Maret 2011, yang berasal dari para donatur SETELAH wafatnya beliau dan ditujukan pada Biaranya adalah 330.5 juta baht (tunai dan check) + 78kg emas yang lagi, lagi dan lagi diserahkan seluruhnya pada negara untuk cadangan negara!

    Namun perlu di ketahui,
    Di Vinaya, para bhikkhu dilarang untuk menerima dan mengumpulkan emas dan uang [Jātarūpa-rajataṁ, Nissaggiya Pācittiya ke-18/19].

    Terlepas dari itu, yang dilakukannya tetap luarbiasa bagi bangsa, negara dan seluruh rakyat Thailand!

    Kalo aja Indonesia punya 1 yang kaya gini..

Sebagai penutup,
Walaupun Dhamma Sejati sudah lenyap dan Dhamma tiruan meraja lela, namun sisa remah-remah ajaran Dhamma sejati yang telah lenyap masihlah terpelihara hingga kini, yaitu sutta dan vinaya yang berasal dari konsili ke-1.

Pukkusati-pun tidak membaca seluruh Dhamma sejati, yaitu hanya yang ditulis dan dikirim oleh Raja bimbisara saja. Dengan membaca itu saja, walaupun belum mencapai tingkat kesucian tertentu, namun sudah membuatnya dapat mengenal Dhamma dan memperoleh hasil pencapaian jhana meditasi.

Pencapaian itu adalah berkat buah dari Paraminya!
Bertemu Buddha dan mendapatkan bimbingan lanjutan sehingga mencapai Anagami adalah juga berkat buah dari Paraminya!
Mengenal Dhamma, Mencapai jhana, mendapat bimbingan dan menjadi suci adalah buah dari Parami.

Parami menghindarkan kita muncul di alam-alam sengsara dan membuat kita mampu menapak tangga-tangga kesucian di suatu saat di masa depan.

Cara mengumpulkan parami pun sangatlah mudah yaitu dengan dimulai dengan menghentikan SEGALA perbuatan tidak baik, perbanyak perbuatan baik (misal: berdana, menjalankan 5 sila [dan 8 sila di waktu tertentu] dan Meditasi) dan sertai itu dengan pikiran yang murni.

Kabar terbaiknya adalah tidak adanya batas waktu maksimum dalam mengumpulkan Parami! Bisa dilakukan setiap saat oleh siapapun tanpa mempedulikan umur, jenis kelamin, suku, agama dan juga golongan darah.

Jadi, selalu masih ada yang dapat dilakukan dari sedikit remah tersisa, bukan?!


Pustaka:

  1. Jika, Ānanda, perempuan tidak memperoleh pelepasan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah dalam dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran, maka pengembaraan-Brahma, Ānanda, akan bertahan lama, dhamma sejati akan bertahanselama 1000 tahun. Tetapi karena, Ānanda, perempuan telah memperoleh pelepasan keduniawian … dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Penemu-kebenaran, maka sekarang, Ānanda, pengembaraan-Brahma ini tidak akan bertahan lama, dhamma sejati hanya akan bertahan selama 500 tahun” [Konsili ke-1, Abad ke-5 SM, Vinaya Pitaka: Culla Vagga x.1.6 dan Sutta: AN 8.51] [↑]
  2. Riwayat Agung Para Buddha (RAPB), buku ke-2, Cetakan I, Mei 2008. hal 1451 s/d. 1489 Juga di Suttavibhanga Vin.I.3, 2-4 [↑]
  3. List sutta dan sutra berasal dari: “An Analytical Study on Buddhist Eschatology” – Prophecy of Decline of Dharma Based on the Sūtra on the Seven Dreams of Ānanda, Shih You Zhi, Graduate School of Buddhist Studies, Fo Guang University, 2008] dan Macmillian- Encylopedia of Buddhism, Vol.1, A-L, Robert E. Buswell, Jr., Editor in Chief, 2004. hal.210-213. [↑]
  4. Tahun penyusunan sutta dan sutra dari list di atas:
    • Vinaya [konsili ke-1, 3 bulan setelah wafatnya Buddha Gautama ± 480 SM [tanggal ini bervariasi karena banyak hal, disamping kepentingan RAMALAN PUNAH yg 500 tahun dan berdampak pada ajaran mereka akan dikategorikan sesat maka banyak aliran mempunyai tanggal wafatnya sang Buddha. Disamping itu banyak sejarahwan menghitung berdasarkan masa pemerintahan raja asokha [268-232 SM],utk jelasnya lihat di sini
    • Menurut Macmillian- Encylopedia of Buddhism, tahun Penyusunan sutra-sutra Mahayana dan Vajrayana:
      • Sutra Intan [Vajracchedika- prajñaparamita-sutra] dan Sutra teratai [SADDHARMAPUNDARIKA-SUTRA], abad ke-2 M s/d 4 M [hal. 227, 332, 442, 471]
      • Sutra Mahāparinirvāṇa, abad ke-3 Masehi dan ekstensinya hinga 421 Masehi [hal.605]
      • Sisa sutra Mahayana lainnya [juga Vajarayana], komentar Angutara Nikaya, berasal dari abad ke- 4 lebih. [↑]
  5. Khuddakakhanda, cullavagga: Di saat itu kelompok enam bikkhu merias jenggot, membuat jenggot tumbuh (panjang), dibentuk seperti jenggot kambing, dibentuk menjadi persegi, ditumbuhkan di wajah, di dada, di perut, menumbuhkan kumis..Tersebar dimasyarakat tentang ini: “Seperti perumah tangga yang menikmati kesenangan indiya”, disampaikan kepada sang Bhagava. Sang Bhagava berkata: “Na, bhikkhave, massu kappāpetabbaṃ (Para bhikkhu, tidak merias jenggot).. na massu vaḍḍhāpetabbaṃ (tidak memanjangkan janggut).. na golomikaṃ kārāpetabbaṃ (tidak membentuknya seperti jenggot kambing).. na caturassakaṃ kārāpetabbaṃ (tidak membentuknya menjadi persegi).. na parimukhaṃ kārāpetabbaṃ (tidak ditumbuhkan di wajah)..di dada.. di perut.. na dāṭhikā ṭhapetabbā (tidak menumbuhkan kumis).. Yo saṃharāpeyya, āpatti dukkaṭassā”ti (Siapa pun harus membuangnya, ini pelanggaran perbuatan salah)” [pelanggaran minor, Vin.ii.134]. Dalam Vinayalankāra vaḍḍhāpetabbaṃ, dikelompokan sebagai dīghaṃ kārenti [“yang dapat memanjang”] [↑]
  6. Bagi Bhikkhu yang tidak sakit, terdapat aturan Makan 1x sehari sebelum tengah hari. Aturan itu, telah berulang kali disampaikan Sang Buddha, dalam beberapa sutta, di antaranya:

    DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” – mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

    “Para bhikkhu, Aku MAKAN SEKALI SEHARI [ekāsanabhojanaṃ]. Dengan melakukan demikian, Aku bebas dari penyakit dan kesengsaraan, dan Aku menikmati kediaman yang ringan, kuat, dan nyaman. Marilah, para bhikkhu, MAKAN SEKALI SEHARI [ekāsanabhojanaṃ]. Dengan melakukan demikian, kalian juga akan bebas dari penyakit dan kesengsaraan, dan kalian akan menikmati kediaman yang ringan, kuat, dan nyaman.”

    Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Bhaddāli berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, Aku tidak mau MAKAN SEKALI SEHARI [ekāsanabhojanaṃ]; karena jika aku melakukan demikian, aku akan merasa cemas dan khawatir akan hal itu.”

    “Kalau begitu, Bhaddāli, makanlah pada satu bagian di sana di mana engkau diundang dan bawalah satu bagian untuk dimakan. Dengan memakan demikian, engkau akan memelihara tubuhmu.”

    “Yang Mulia, Aku tidak mau makan dengan cara itu juga; karena jika aku melakukan demikian, aku akan merasa cemas dan khawatir akan hal itu.”

    Kemudian, ketika aturan latihan ini ditetapkan oleh Sang Bhagavā, ketika Sangha para bhikkhu sedang menjalani latihan, Yang Mulia Bhaddāli menyatakan penolakannya [untuk menuruti peraturan]. Kemudian Yang Mulia Bhaddāli tidak menghadap Sang Bhagavā selama tiga bulan [masa vassa], seperti yang terjadi pada seseorang yang tidak memenuhi latihan dalam Pengajaran Sang Guru.

    [..]

    Kemudian Yang Mulia Bhaddāli mendatangi para bhikkhu itu dan saling bertukar sapa dengan mereka, dan ketika ramah-tamah itu berakhir, ia duduk di satu sisi. Ketika ia telah melakukan hal itu, mereka berkata kepadanya: “Teman Bhaddāli, jubah ini dibuat untuk Sang Bhagavā. Setelah jubah ini selesai, di akhir tiga bulan [masa vassa], Sang Bhagavā akan melakukan pengembaraan. Mohon, teman Bhaddāli, perhatikanlah nasihat ini. Jangan biarkan hal ini mempersulitmu kelak.”

    “Baik, teman-teman,” ia menjawab, dan ia menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan berkata: “Yang Mulia, suatu pelanggaran menguasaiku, seperti seorang dungu, bingung, dan melakukan kesalahan besar, ketika suatu peraturan latihan ditetapkan oleh Sang Bhagavā, ketika Sangha para bhikkhu menjalani latihan, aku menyatakan penolakanku [untuk menuruti peraturan]. Yang Mulia, sudilah Yang Mulia memaafkan pelanggaranku dilihat seperti demikian demi pengendalian di masa depan.”

    “Tentu saja, Bhaddāli, suatu pelanggaran menguasaimu, seperti seorang dungu, bingung, dan melakukan kesalahan besar, ketika suatu peraturan latihan ditetapkan olehKu, ketika Sangha para bhikkhu menjalani latihan, engkau menyatakan penolakanmu [untuk menuruti peraturan][..] [MN65/Bhaddali sutta]

    ***

    Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu, pernah terjadi suatu peristiwa di mana para bhikkhu memuaskan pikiranKu. Di sini Aku berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut:

    ‘Para bhikkhu, Aku MAKAN SEKALI SEHARI [ekāsanabhojanaṃ]. Dengan melakukan hal itu, Aku terbebas dari penyakit dan penderitaan, dan Aku menikmati kesehatan, kekuatan, dan kediaman yang nyaman. Ayo, para bhikkhu, MAKAN SEKALI SEHARI [ekāsanabhojanaṃ]. Dengan melakukan hal itu, kalian akan terbebas dari penyakit dan penderitaan, dan kalian akan menikmati kesehatan, kekuatan, dan kediaman yang nyaman.’

    Dan Aku tidak perlu terus-menerus memberikan instruksi kepada para bhikkhu itu; Aku hanya perlu membangkitkan perhatian dalam diri mereka. Misalkan ada sebuah kereta di tanah yang datar di persimpangan jalan, ditarik oleh kuda-kuda berdarah murni, menunggu dengan tongkat kendali siap untuk digunakan, sehingga seorang pelatih terampil, seorang kusir dari kuda-kuda yang harus dijinakkan, dapat menaikinya, dan memegang tali kekang dengan tangan kirinya dan tongkat kendali di tangan kanannya, dapat menjalankannya maju dan mundur melalui jalan manapun yang ia sukai.

    Demikian pula, Aku tidak perlu terus-menerus memberikan instruksi kepada para bhikkhu itu; Aku hanya perlu membangkitkan perhatian dalam diri mereka.

    “Oleh karena itu, para bhikkhu, tinggalkanlah apa yang tidak bermanfaat dan tekunilah kondisi-kondisi yang bermanfaat, karena itu adalah bagaimana kalian akan mengalami kemajuan, peningkatan dan pemenuhan dalam Dhamma dan Disiplin ini.

    Misalkan terdapat hutan besar pepohonan sāla di dekat sebuah desa atau kota, dan hutan itu terganggu oleh rerumputan jarak, dan seseorang datang menginginkan kebaikan, kesejahteraan, dan perlindungan. Ia akan menebang dan menyingkirkan anak-anak pohon yang bengkok yang merampas getah, dan ia akan membersihkan bagian dalam hutan dan memelihara anak-anak pohon yang lurus dan berbentuk baik, sehingga, hutan pohon-sāla itu akan mengalami kemajuan, peningkatan dan pemenuhan.

    Demikian pula, para bhikkhu, tinggalkanlah apa yang tidak bermanfaat dan tekunilah kondisi-kondisi yang bermanfaat, karena itu adalah bagaimana kalian akan mengalami kemajuan, peningkatan dan pemenuhan dalam Dhamma dan Disiplin ini.[MN21/Kakacūpama Sutta]

    ****

    Bhikkhu, para murid ariya di dalam sasana ini:
    Para Arahat, sepanjang hidup[ Yāvajīvaṃ] makan 1 kali sehari [ekabhattikā], tidak di malam hari [rattūparatā], menahan Diri makan di waktu yang salah [virataṃ vikālabhojanā].
    “Kamu semua makan hanya 1x dan tidak di malam hari, menahan diri makan di waktu yang salah. Selama siang dan malam, aturan ini, telah engkau ketahui di ikuti para arahan dan Uposatha akan dijalankan oleh kalian. Ini adalah sila ke-6 dari Uposatha [AN 8.41/Uposatha Sutta]

    ****

    Para Arahat, sepanjang hidup[ Yāvajīvaṃ] makan 1 kali sehari [ekabhattikā], tidak di malam hari [rattūparatā], menahan Diri makan di waktu yang salah [virataṃ vikālabhojanā].
    Aku pun siang dan malam ini akan makan hanya sekali, tidak makan pada malam hari, menjauhkan Diri dari makan pada waktu yang salah .
    Dengan cara demikianlah Aku mengikuti jejak Para Arahat, dan menjalankan Uposatha. Inilah Sila Ke-6 yang dijalankan. [AN 3.70/Uposatha Sutta]

    ****

    Perumah tangga Gavesin dan 500 Pengikutnya di jaman Kassapa Buddha:
    ‘Mulai sejak saat ini, Aku ingin kalian tau (pada 500 pengikutnya) aku adalah orang yang makan 1 kali sehari [ekabhattikaṃ], tidak di malam hari [rattūparataṃ], menahan diri makan di waktu yang salah [virataṃ vikālabhojanā]’ [AN 3.180/Gavesin Sutta]

    ****

    Mereka para samana dan brahmin yang makan 1 x sehari, tidak di malam hari, menahan diri makan di waktu yang salah [AN 5.228/Ussura-bhatta sutta] [↑]

  7. Kata Sanghyang merupakan gabungan dari kata sang + hyang. KBBI sendiri tidak terdapat arti/persamaan dari “hyang” dan juga “sanghyang”.

    “Sang” dalam KBBI dinyatakan sbg kata yg dipakai di depan nama orang, binatang, atau benda yg dianggap hidup atau dimuliakan dan kata yg dipakai di depan nama benda untuk berolok-olok.

    “Hyang”, berarti divinity [Deva, allah, tuhan], juga di ucapkan “hiang” yang artinya menghilang.[A dictionary of the Sunda language of Java, Jonathan Rigg.hal.147 dan 153]

    Sanghyang menurut Platt artinya adalah deva yg dihormati [plates 23, 24, 25; Dance & drama in Bali, Walter Spies,Beryl De Zoete, hal.70.]

    Adi-buddha (Sanskrit) Ādi-buddha [dari ādi pertama, asli + akar verbal budh sadar, tahu] Buddha yang pertama; Mahluk tertinggi diatas semua Buddha dan boddhisatva dalam Mahayana Buddhism of Tibet, Nepal, Jawa, dan Jepang. Dalam tulisan theosophy, Aspek tertinggi or kesatuan dari mahluk menakjubkan tertinggi dari jagat raya kita, hadir sebagai yang paling agung dalam kondisi dharmakaya.

    Aisvarika (Sanskrit) Aiśvarika [dari īśvara raja/tuan/tuhan, pangeran, pemilik dari akar verbal īś menjadi sah, berkuasa, ahli dalam] Berkenaan dengan arti raja; Hirarkhi dari jiva tertinggi. Dalam aliran ini adi-buddha adalah individu sebagai jiva kosmis dari hirarkhi kita, perhatian mahluk pada terpusat pada pengindividuan ini menjadi tingkat yang luarbisa dalam Buddhim. isvara ato hirarkhi tertenggi dalam hirarkhi kosmis kita sendiri.

    Kitab-kitab yang memuat kata AdiBuddha adalah kitab2 Mahayana dan vajrayana. kitab Mahayana misalnya Karandavyuha Sutra, di buat di atas abad ke-4 Masehi. Kemudian di Indonesia terdapat Sanghyang kahamayanikam yang dibuat di abad ke-10 Masehi di jaman raja Empu Sindok [↑]

  8. LuanTa Maha Boowa: BangkokPost, buddhistchannel, isaan-bog-blog dan wikipedia [↑]

Aturan untuk Calon Bikkhu/Samanera sikkhā
Sepuluh sikkhā samanera
Anuññāsi kho bhagavā (Diperkenankan oleh Sang Bhagava) sāmaṇerānaṃ dasasikkhāpadāni (Sepuluh latihan bagi para samana kecil) tesu ca sāmaṇerehi sikkhituṃ: (sebagai pokok latihan kesamanera yaitu:)

  1. pāṇātipātā veramaṇī, (Menahan diri dari membunuh mahluk hidup)
  2. adinnādānā veramaṇī, (Menahan diri dari mengambil yang tidak diberikan)
  3. abrahmacariyā veramaṇī, (Menahan diri dari prilaku yang tidak murni)
  4. musāvādā veramaṇī, (menahan diri dari menyatakan yang tidak benar)
  5. surāmerayamajjapamādaṭṭhānā veramaṇī, (Menahan diri dari mengkonsumsi yang memabukan dan membuat lengah/sembrono)
  6. vikālabhojanā veramaṇī, (menahan diri makan diwaktu yang tidak tepat: setelah tengah hari, lebih dari 1x)
  7. naccagītavāditavisūkadassanā veramaṇī, (menahan diri dari menari, menyanyi, bermain musik, pergi melihat tontonan)
  8. mālāgandhavilepanadhāraṇamaṇḍanavibhūsanaṭṭhānā veramaṇī, (menahan diri dari memakai bunga, wangi-wangian, kosmetik dengan tujuan menghias/memperindah diri)
  9. uccāsayanamahāsayanā veramaṇī, (Menahan diri dari penggunaan tempat tidur dan tempat duduk yang tinggi dan lebar/besar)
  10. jātarūparajatapaṭiggahaṇā veramaṇī.
    (Menahan diri dari menerima emas, perak dan uang)


Penghancuran sepuluh sikkhā samanera
Anuññāsi kho bhagavā (Diperkenankan oleh Sang Bhagava) dasahaṅgehi samannāgataṃ sāmaṇeraṃ nāsetuṃ (penghancuran kesamanan bagi samanera yang melakukan salah satu dari 10 hal) Katamehi dasahi? (Apakah sepuluh hal itu?)

  1. Pāṇātipātī hoti, (Melakukan pembunuhan mahluk hidup)
  2. adinnādāyī hoti, (mengambil yang tidak diberikan)
  3. abrahmacārī hoti, (berprilaku yang tidak murni)
  4. musāvādī hoti, (menyatakan yang tidak benar)
  5. majjapāyī hoti, (melakukan mabuk)
  6. buddhassa avaṇṇaṃ bhāsati, (mengucapkan celaan terhadap Buddha)
  7. dhammassa avaṇṇaṃ bhāsati, (mengucapkan celaan terhadap Dhamma)
  8. saṅghassa avaṇṇaṃ bhāsati, (mengucapkan celaan terhadap Sangha)
  9. micchādiṭṭhiko hoti, (mempunyai pandangan keliru)
  10. bhikkhunidūsako hoti (mengganggu Bhikkhuni)


Anuññāsi kho bhagavā (Diperkenankan oleh Sang Bhagava) imehi dasahaṅgehi samannāgataṃ sāmaṇeraṃ nāsetunti (penghancuran kesamanan bagi samanera yang melakukan salah satu dari 10 hal)

Dandakamma
Anuññāsi kho bhagavā (Diperkenankan oleh Sang Bhagava) pañcahi aṅgehi samannāgatassa sāmaṇerassa daṇḍakammaṃ kātuṃ. (denda kerja bagi samanera yang melakukan salah satu dari lima hal) Katamehi pañcahi? (apakah lima hal itu?)

  1. Bhikkhūnaṃ alābhāya parisakkati, (berupaya agar para bhikku tidak beruntungan)
  2. bhikkhūnaṃ anatthāya parisakkati, (berupaya agar para bhikku celaka)
  3. bhikkhūnaṃ anāvāsāya parisakkati, (berupaya agar para bhikku tidak betah berdiam)
  4. bhikkhū akkosati paribhāsati, (mengumpat dan mencela para bhikkhu)
  5. bhikkhū bhikkhūhi bhedeti. (menimbulkan perselisihan diantara para bhikkhu)


Anuññāsi kho bhagavā (Diperkenankan oleh Sang Bhagava) imehi pañcahi aṅgehi samannāgatassa sāmaṇerassa daṇḍakammaṃ kātun’ti. (denda kerja bagi samanera yang melakukan salah satu dari lima hal)

Ajjhācāra (perbuatan rendah)

  1. Sengaja mengeluarkan airmani, ini adalah perbuatan kotor
  2. Terangsang birahi, menyentuh tubuh wanita
  3. Terangsang birahi, merayu wanita dengan kata-kata yang mengarah pada persetubuhan
  4. Terangsang birahi, kepada wanita, menyatakan pujian terhadap kegunaan pelayanan persetubuhan untuknya
  5. Menjadi comblang pria atau wanita untuk mendapatkan wanita atau pria sebagai istri/suami, selir, atau hubungan sesekali bagi pria atau wanita itu


Anācāra. (Tingkah Laku Yang Tidak Layak)

  1. Meyuruh wanita yang bukan batih [orang yang hubungan sedarah] untuk mencuci, mewarna, atau memukul (menyeterika) sarung atau jubah bekas pakai,
  2. Meminta sarung atau jubah kepada perumah-tangga yang bukan batih atau yang tidak menawari, kecuali pada masa yang tepat,
  3. Menerima sarung atau jubah yang didanakan melebihi keperluan,
  4. Menyarankan perumah-tangga yang bukan batih atau yang tidak menewari untuk iuran membeli sarung atau jubah yang lebih baik untuk diberikan (kepadanya),
  5. Berbicara menagih sarung atau jubah terhadap veyyāvaccakara melebihi tiga kali atau berdiri menagih melebihi enam kali,
  6. Membeli atau menjual barang dengan uang,
  7. Melakukan barter dengan perumah-tangga,
  8. Mengambil atau menyuruh mengambil balik sarung atau jubah yang telah ia berikan kepada bhikkhu atau sāmaṇera lain,
  9. Mengarahkan keuntungan yang akan disampaikan kepada bhikkhu atau sāmaṇera lain untuk dirinya,
  10. Berbicara kasar terhadap bhikkhu, sāmaṇera, atau perumah-tangga


Pāpasamācāra (Tingkah Laku Buruk)

  1. Bermain gelitis, seperti: berlari-lari, berlomba lari, bermain sembunyian, berdendang ria, memanjat-manjat, berenang bermain-main, bermain air, dsb
  2. Bermain pertandingan, seperti: main catur, main kartu, dsb
  3. Bermain olah-raga, seperti: main bola, tinju, gulat, dsb
  4. Bermain menyiksa binatang, seperti: mengadu ikan gigit, menyabung ayam, memancing ikan, memperangkap binatang, dsb
  5. Bermain gelak tawa, seperti: berjingkrak-jingkrak, main tarik tambang, berteriak menjerit, dsb
  6. Mengendarai kereta atau memacu binatang.


75 Sekkhiya

Chabbiṭsati Sāruppā ( 26 hal tindak tanduk yang pantas)

  1. Parimaṇḍalaṃ nivāsessāmīti sikkhā karaṇīyā. (saya mengenakan jubah dalam dengan rapih, adalah prilaku yang patut)
  2. Parimaṇḍalaṃ pārupissāmīti sikkhā karaṇīyā. (saya mengenakan jubah luar dengan rapih, adalah prilaku yang patut)
  3. Suppaṭicchannā antaraghare gamissāmīti sikkhā karaṇīyā (Saya mengenakan Jubah yang tertutup rapi, pergi rumah penduduk, adalah prilaku yang patut)
  4. Suppaṭicchannā antaraghare nisīdissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Saya mengenakan Jubah yang tertutup rapi, duduk di tempat penduduk, adalah prilaku yang patut)
  5. Susaṃvutā antaraghare gamissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Saya dengan berpengendalian, pergi kerumah penduduk, adalah prilaku yang patut).
  6. Susaṃvutā antaraghare nisīdissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Saya dengan berpengendalian, duduk di tempat penduduk, adalah prilaku yang patut)
  7. Okkhittacakkhunī antaraghare gamissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Saya dengan mata tertuju ke bawah, pergi kerumah penduduk, adalah prilaku yang patut)
  8. Okkhittacakkhunī antaraghare nisīdissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Saya dengan mata tertuju ke bawah, duduk di tempat penduduk, adalah prilaku yang patut)
  9. Na ukkhittakāya antaraghare gamissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Saya dengan jubah tidak disingsingkan, pergi kerumah penduduk, adalah prilaku yang patut)
  10. Na ukkhittakāya antaraghare nisīdissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Saya dengan jubah tidak disingsingkan, duduk di tempat penduduk, adalah prilaku yang patut)
  11. Na ujjagghikāya antaraghare gamissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Saya tidak tertawa keras-keras, pergi kerumah penduduk, adalah prilaku yang patut)
  12. Na ujjagghikāya antaraghare nisīdissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Saya tidak tertawa keras-keras, duduk di tempat penduduk, adalah prilaku yang patut)
  13. Appasaddā antaraghare gamissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Saya berbicara dengan pelan, pergi ke rumah penduduk, adalah prilaku yang patut)
  14. Appasaddā antaraghare nisīdissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Saya berbicara dengan pelan, duduk di tempat penduduk, adalah prilaku yang patut)
  15. Na kāyappacālakaṃ antaraghare gamissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Saya dengan tidak menggoyang-goyangkan badan, pergi ke rumah penduduk, adalah prilaku yang patut)
  16. Na kāyappacālakaṃ antaraghare nisīdissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Saya dengan tidak menggoyang-goyangkan badan, duduk di tempat penduduk, adalah prilaku yang patut)
  17. Na bāhuppacālakaṃ antaraghare gamissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Saya dengan tidak melambai-lambaikan lengan, pergi ke rumah penduduk, adalah prilaku yang patut)
  18. Na bāhuppacālakaṃ antaraghare nisīdissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Saya dengan tidak melambai-lambaikan lengan, duduk di tampat penduduk, adalah prilaku yang patut)
  19. Na sīsappacālakaṃ antaraghare gamissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Saya dengan tidak menggeleng-gelengkan kepala, pergi kerumah penduduk, adalah prilaku yang patut)
  20. Na sīsappacālakaṃ antaraghare nisīdissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Saya dengan tidak menggeleng-gelengkan kepala, duduk di tempat penduduk, adalah prilaku yang patut)
  21. Na khambhakatā antaraghare gamissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Saya dengan tidak bertolak pinggang, pergi kerumah penduduk, adalah prilaku yang patut)
  22. Na khambhakatā antaraghare nisīdissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Saya dengan tidak bertolak pinggang, duduk ditempat penduduk, adalah prilaku yang patut)
  23. Na oguṇṭhitā antaraghare gamissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Saya dengan tidak menutupi kepala, pergi kerumah penduduk, adalah prilaku yang patut)
  24. Na oguṇṭhitā antaraghare nisīdissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Saya dengan tidak menutupi kepala, duduk di tempat penduduk, adalah prilaku yang patut)
  25. Na ukkuṭikāya antaraghare gamissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Saya dengan berjalan tidak dengan berjinkit-jingkit, pergi kerumah penduduk, adalah prilaku yang patut)
  26. Na pallatthikāya antaraghare nisīdissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Saya dengan tidak merangkul lutut, duduk d itempat penduduk, adalah prilaku yang patut)


Samatiṁsa bhojanapaṭisamyuttā (30 hal yang berkaitan dengan makanan)

  1. Sakkaccaṃ piṇḍapātaṃ paṭiggahessāmīti sikkhā karaṇīyā. (saya menerima makanan dengan penghargaan, adalah prilaku yang patut)
  2. Pattasaññinī piṇḍapātaṃ paṭiggahessāmīti sikkhā karaṇīyā. (saya menerima makanan dengan memperhatikan patta, adalah prilaku yang patut)
  3. Samasūpakaṃ piṇḍapātaṃ paṭiggahessāmīti sikkhā karaṇīyā. (saya menerima makanan dengan lauk-pauk sampai sebanding nasi, adalah prilaku yang patut)
  4. Samatittikaṃ piṇḍapātaṃ paṭiggahessāmīti sikkhā karaṇīyā. (saya menerima makanan sampai batas bibir patta, adalah prilaku yang patut)
  5. Sakkaccaṃ piṇḍapātaṃ bhuñjissāmīti sikkhā karaṇīyā. (saya menyantap makanan dengan penghargaan, adalah prilaku yang patut)
  6. Pattasaññinī piṇḍapātaṃ bhuñjissāmīti sikkhā karaṇīyā. (saya menyantap makanan dengan memperhatikan patta, adalah prilaku yang patut)
  7. Sapadānaṃ piṇḍapātaṃ bhuñjissāmīti sikkhā karaṇīyā. (saya menyantap makanan dengan merata (di seluruh sisi), adalah prilaku yang patut)
  8. Samasūpakaṃ piṇḍapātaṃ bhuñjissāmīti sikkhā karaṇīyā. (saya menyantap makanan dengan lauk berbanding dengan nasi (1: 4), adalah prilaku yang patut)
  9. Na thūpakato omadditvā piṇḍapātaṃ bhuñjissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak memuluk nasi (menyuap sejumput) dari arah puncak/tengah-tengah saat bersantap, adalah prilaku yang patut)
  10. Na sūpaṃ vā byañjanaṃ vā odanena paṭicchādessāmi bhiyyokamyataṃ upādāyāti sikkhā karaṇīyā.
  11. (Tidak menyembunyikan lauk dibalik nasi agar mendapat lebih banyak, adalah prilaku yang patut)
  12. Na sūpaṃ vā odanaṃ vā agilānā attano atthāya viññāpetvā bhuñjissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak meminta lauk atau nasi (tidak sedang sakit) bagi diri sendiri untuk dimakan, adalah prilaku yang patut)
  13. Na ujjhānasaññinī paresaṃ pattaṃ olokessāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak memandang patta orang lain untuk mencari kesalahan, adalah prilaku yang patut)
  14. Nātimahantaṃ kabaḷaṃ karissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak membuat suapan besar, adalah prilaku yang patut)
  15. Parimaṇḍalaṃ ālopaṃ karissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak membuat suapan membulat, adalah prilaku yang patut)
  16. Na anāhaṭe kabaḷe mukhadvāraṃ vivarissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak membuka mulut, sebelum suapan nasi datang, adalah prilaku yang patut)
  17. Na bhuñjamānā sabbahatthaṃ mukhe pakkhipissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak memasukan seluruh jari ke mulut ketika menyuap, adalah prilaku yang patut)
  18. Na sakabaḷena mukhena byāharissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak berbicara, saat mulut berisi makanan adalah prilaku yang patut)
  19. Na piṇḍukkhepakaṃ bhuñjissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak melempar bongkahan nasi ke mulut saat bersantap, adalah prilaku yang patut)
  20. Na kabaḷāvacchedakaṃ bhuñjissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak menggigit bongkahan nasi saat bersantap, adalah prilaku yang patut)
  21. Na avagaṇḍakārakaṃ bhuñjissāmīti sikkhā karaṇīyā (Tidak membuat pipi menggembung saat bersantap, adalah prilaku yang patut)
  22. Na hatthaniddhūnakaṃ bhuñjissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak mengibaskan tangan, saat bersantap, adalah prilaku yang patut)
  23. Na sitthāvakārakaṃ bhuñjissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak menjatuhkan butiran nasi saat bersantap, adalah prilaku yang patut)
  24. Na jivhānicchārakaṃ bhuñjissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak mensilap/menjulurkan lidah saat bersantap , adalah prilaku yang patut)
  25. Na capucapukārakaṃ bhuñjissāmīti sikkhā karaṇīyā.(Tidak mengeluarkan suara berdecap saat bersantap, adalah prilaku yang patut)
  26. Na surusurukārakaṃ bhuñjissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak mengeluarkan suara bersruput saat bersantap, adalah prilaku yang patut)
  27. Na hatthanillehakaṃ bhuñjissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak menjilati tangan saat bersantap adalah prilaku yang patut)Na pattanillehakaṃ bhuñjissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak menjilati patta saat bersantap adalah prilaku yang patut)
  28. Na oṭṭhanillehakaṃ bhuñjissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak menjilati bibir saat bersantap adalah prilaku yang patut)
  29. Na sāmisena hatthena pānīyathālakaṃ paṭiggahessāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak menerima cangkir air minuman dengan tangan berisi butiran makanan adalah prilaku yang patut)
  30. Na sasitthakaṃ pattadhovanaṃ antaraghare chaḍḍessāmīti sikkhā karaṇīyā (Tidak membuang air cucian patta yang berisi butiran nasi di tempat penduduk adalah prilaku yang patut)


Soḷasa dhammadesanā paṭisaṁyuttā (16 hal yang berkaitan dengan pembabaran dhamma)

  1. Na chattapāṇissa agilānassa dhammaṃ desessāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak kepada yang memegang payung, kecuali sedang sakit, dhamma dibabarkan adalah prilaku yang patut)
  2. Na daṇḍapāṇissa agilānassa dhammaṃ desessāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak kepada yang memegang tongkat, kecuali sedang sakit, dhamma dibabarkan adalah prilaku yang patut)
  3. Na satthapāṇissa agilānassa dhammaṃ desessāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak kepada yang memegang pisau, kecuali sedang sakit, dhamma dibabarkan adalah prilaku yang patut)
  4. Na āvudhapāṇissa agilānassa dhammaṃ desessāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak kepada yang memegang senjata, kecuali sedang sakit, dhamma dibabarkan adalah prilaku yang patut)
  5. Na pādukārūḷhassa agilānassa dhammaṃ desessāmīti sikkhā karaṇīyā (Tidak kepada yang bersendal, kecuali sedang sakit, dhamma dibabarkan adalah prilaku yang patut)
  6. Na upāhanārūḷhassa agilānassa dhammaṃ desessāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak kepada yang bersepatu, kecuali sedang sakit, dhamma dibabarkan adalah prilaku yang patut)
  7. Na yānagatassa agilānassa dhammaṃ desessāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak kepada yang sedang berada di kendaraan, kecuali sedang sakit, dhamma dibabarkan adalah prilaku yang patut)
  8. Na sayanagatassa agilānassa dhammaṃ desessāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak kepada yang sedang dipembaringan, kecuali sedang sakit, dhamma dibabarkan adalah prilaku yang patut)
  9. Na pallatthikāya nisinnassa agilānassa dhammaṃ desessāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak kepada yang duduk merangkul lutut, kecuali sedang sakit, dhamma dibabarkan adalah prilaku yang patut)
  10. Na veṭhitasīsassa agilānassa dhammaṃ desessāmīti sikkhā karaṇīyā (Tidak kepada yang berserban di kepala, kecuali sedang sakit, dhamma dibabarkan adalah prilaku yang patut)
  11. Na oguṇṭhitasīsassa agilānassa dhammaṃ desessāmīti sikkhā karaṇīyā (Tidak kepada yang berpenutup di kepala, kecuali sedang sakit, dhamma dibabarkan adalah prilaku yang patut)
  12. Na chamāyaṃ nisīditvā āsane nisinnassa agilānassa dhammaṃ desessāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak kepada yang duduk di atas alas duduk, kecuali sedang sakit, dhamma dibabarkan adalah prilaku yang patut)
  13. Na nīce āsane nisīditvā ucce āsane nisinnassa agilānassa dhammaṃ desessāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak ketika saya duduk di alas rendah kepada yang duduk di alas yang besar dan tinggi, kecuali sedang sakit, dhamma dibabarkan adalah prilaku yang patut)
  14. Na ṭhitā nisinnassa agilānassa dhammaṃ desessāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak ketika saya sedang berdiri kepada yang sedang duduk, kecuali sedang sakit, dhamma dibabarkan adalah prilaku yang patut)
  15. Na pacchato gacchantī purato gacchantassa agilānassa dhammaṃ desessāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak ketika saya berjalan dibelakang kepada yang berjalan didepan, kecuali sedang sakit, dhamma dibabarkan adalah prilaku yang patut)
  16. Na uppathena gacchantī pathena gacchantassa agilānassa dhammaṃ desessāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak ketika saya berjalan di sisi luar jalan kepada yang berjalan disisi dalam jalan, kecuali sedang sakit, dhamma dibabarkan, adalah prilaku yang patut)


Tayo pakiṇṇakā (3 hal lainnya).

  1. Na ṭhitā agilānā uccāraṃ vā passāvaṃ vā karissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak dengan berdiri, kecuali sedang sakit, membuang air kecil dan besar adalah prilaku yang patut)
  2. Na harite agilānā uccāraṃ vā passāvaṃ vā kheḷaṃ vā karissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak di tetumbuhan, kecuali sedang sakit, membuang air kecil, besar dan ludah adalah prilaku yang patut)
  3. Na udake agilānā uccāraṃ vā passāvaṃ vā kheḷaṃ vā karissāmīti sikkhā karaṇīyā. (Tidak di air, kecuali sedang sakit, membuang air kecil, besar dan ludah adalah prilaku yang patut) [Kembali ke SEKHIYA ↓]


227 Peraturan tentang KeBhikkuan:

PARAJIKA (4)

  1. Apabila seorang bhikkhu yang telah menerima peraturan latihan dan cara hidup kebhikkhuan dan tidak menyatakan ketidaksanggupan untuk menjalankannya, melakukan hubungan kelamin sekalipun dengan binatang betina, maka bhikkhu itu terkalahkan dan tidak boleh lagi berada dalam Sangha
  2. Apabila seorang bhikkhu dengan maksud untuk mencuri, mengambil apa yang tidak diberikan dari daerah yang berpenduduk atau dari hutan, sedemikian rupa sehingga akan menyebabkan raja akan menangkap dan atau menghukum, memenjarakan atau membuang, dengan kata-kata: “Kamu perampok, kamu bodoh, kamu pencuri”, maka bhikkhu itu terkalahkan dan tidak boleh lagi berada dalam Sangha
  3. Apabila seorang bhikkhu dengan sengaja membunuh seseorang atau memberikannya senjata tajam untuk membunuh diri atau menyatakan bahwa kematian lebih baik atau menganjurkannya membunuh diri, dengan berkata: “Saudara, apa gunanya hidup yang susah ini bagimu? Kematian lebih baik bagimu daripada hidup”, maka bhikkhu itu terkalahkan dan tidak boleh lagi berada dalam Sangha
  4. Apabila seorang bhikkhu yang tidak mempunyai kemampuan apa-apa menyatakan bahwa ia memiliki kesaktian/kesucian yang sebenarnya tidak dimilikinya dengan mengatakan: “Saya tahu ini, saya lihat ini” dan setelah itu pada kesempatan lain baik diperiksa atau tidak, terjatuh dalam kesalahan dan ingin membersihkan diri lalu berkata: “Teman, tidak tahu saya katakan ‘Saya tahu’; tidak melihat, Saya katakan ‘Saya melihat’; apa yang Saya akan katakan adalah berlebihan dan salah, maka kecuali hal itu karena salah perkiraan, maka bhikkhu itu terkalahkan dan tidak boleh lagi berada dalam Sangha


SANGHADISESA (13)

  1. Apabila seorang bhikkhu mengeluarkan air mani dengan sengaja kecuali dalam mimpi, maka ia melanggar peraturan sanghadisesa
  2. Apabila seorang bhikkhu dengan pikiran menyeleweng karena nafsu menyentuh tubuh atau memegang tangan, rambut, atau menyentuh anggota tubuh seorang wanita, maka ia melanggar peraturan sanghadisesa
  3. Apabila seorang bhikkhu dengan pikiran menyeleweng karena nafsu berbicara pada seorang wanita dengan kata-kata mengandung nafsu seperti yang dikatakan oleh seorang pemuda kepada seorang gadis untuk mengajak mengadakan hubungan kelamin, maka ia melanggar peraturan sanghadisesa
  4. Apabila seorang bhikkhu dengan pikiran menyeleweng karena nafsu berbicara di hadapan seorang wanita untuk memuaskan nafsunya dan mengajak mengadakan hubungan kelamin, maka ia melanggar peraturan sanghadisesa
  5. Apabila seorang bhikkhu bertindak sebagai perantara untuk menyampaikan maksud dari seorang pria kepada seorang wanita atau maksud dari seorang wanita kepada seorang pria, baik mengenai perkawinan atau di luar perkawinan, maka ia melanggar peraturan sanghadisesa
  6. Apabila seorang bhikkhu mendirikan pondok (kuti) atas kemauannya sendiri dan tidak ada (orang awam) pemilik (yang membuatkan dan memberikannya) dan diperuntukkan untuk dirinya sendiri, maka harus dibuatnya menurut ukuran yang telah ditentukan. Ukurannya adalah: panjang 12 span (vidatthi) sugata, lebar 7 span sugata dari sebelah dalam. [Ket: 1 sugata span versi hitungan modern Thailand = 13.3 inci. 1 inchi = 2.54 Cm. Panjang: 4.05 M x lebar: 2.4 M atau 1 span = 8.5 – 9 inch, Panjang: 2.6 – 2.74 M x Lebar: 1.51 M – 1.6 M]. Para bhikkhu harus berkumpul untuk menunjukkan letaknya (pondok) dan menunjukkan tempat yang tidak dipergunakan dengan batas daerahnya. Apabila tidak demikian, maka ia melanggar peraturan sanghadisesa.
  7. Apabila seorang bhikkhu membuat tempat tinggal yang luas dengan orang awam sebagai pemilik (yang membuat dan memberikannya) dan diperuntukkan untuk dirinya sendiri, para bhikkhu harus berkumpul untuk menunjukkan letaknya dan menunjukkan daerah yang tidak dipergunakan dengan batas daerahnya. Apabila tidak demikian, maka ia melanggar peraturan sanghadisesa
  8. Apabila seorang bhikkhu karena marah ingin melampiaskan amarahnya dan merasa tidak senang, menuduh bhikkhu lain tanpa dasar akan suatu pelanggaran parajika dengan niat: “Barangkali dengan demikian ia akan gugur dari kebhikkhuan”, dan setelah itu pada kesempatan lain baik diperiksa atau tidak ternyata hal itu tidak beralasan dan bhikkhu itu marah, maka ia melanggar peraturan sanghadisesa.
  9. Apabila seorang bhikkhu karena marah, ingin melampiaskan amarahnya dan merasa tidak senang, menuduh bhikkhu lain melakukan pelanggaran parajika, mempergunakan alasan yang dicari-cari untuk dihubungkan dengan pelanggaran lain, dengan niat: “Barangkali dengan demikian ia akan gugur dari kebhikkhuan”, dan setelah itu pada kesempatan lain baik diperiksa atau tidak ternyata hal tersebut berhubungan dengan pelanggaran lain, maka ia melanggar peraturan sanghadisesa.
  10. Apabila seorang bhikkhu mencoba untuk menyebabkan perpecahan Sangha yang berada dalam keadaan akur dan damai, dan tetap berusaha untuk mencobanya sesudah dinasihati oleh bhikkhu-bhikkhu lain untuk tidak mencoba menyebabkan perpecahan Sangha yang berada dalam keadaan akur dan damai, maka ia melanggar peraturan sanghadisesa.
  11. Apabila bhikkhu-bhikkhu pengikut dari bhikkhu tersebut (No.14) misalnya satu atau dua atau tiga yang membelanya dan berkata : “Janganlah sekali-kali bhante menasihati bhikkhu tersebut, karena bhikkhu tersebut adalah juru bicara Dhamma dan Vinaya, dan perkataannya sesuai dengan keinginan dan pilihan kami, ia mengetahui (pikiran kita) dan berbicara (untuk kita) dan itu adalah keinginan kita”. Bhikkhu-bhikkhu itu harus dinasihati oleh bhikkhu-bhikkhu lain untuk tidak berbuat demikian. Apabila setelah dinasihati sebanyak tiga kali bhikkhu-bhikkhu itu tetap demikian, maka bhikkhu itu melanggar peraturan sanghadisesa
  12. Seorang bhikkhu mungkin sukar untuk diberi nasihat dan bila diberi nasihat oleh bhikkhu-bhikkhu lain secara seharusnya mengenai peraturan latihan, bhikkhu itu membuat dirinya tidak mau menerima nasihat dengan berkata : “Harap bhante tidak memberi nasihat kepada saya mengenai apa yang baik dan apa yang tidak baik, dan saya pun tidak akan memberi nasihat kepada bhante mengenai apa yang baik dan apa yang tidak baik. Harap bhante tidak memberi nasihat lagi kepada Saya”. Maka bhikkhu itu harus diberi nasihat oleh bhikkhu-bhikkhu lain sebagai berikut : “Harap bhante tidak membuat diri bhante tidak mau menerima nasihat, lebih baik bhante membuat diri bhante dapat menerima nasihat. Bhante dapat memberi nasihat kapada bhikkhu-bhikkhu lain secara seharusnya, dan bhikkhu-bhikkhu lain dapat memberi nasihat kepada bhante secara seharusnya, karena Dhamma akan berkembang dengan saling memberi nasihat dan dengan saling memperbaiki diri”. Apabila bhikkhu itu sesudah diberi nasihat sebanyak tiga kali tetap demikian, maka ia melanggar peraturan sanghadisesa.
  13. Apabila seorang bhikkhu penerima suap dan berkelakuan buruk yang hidupnya ditunjang oleh penduduk suatu desa atau kota dan kedua sifat itu terlihat dan terdengar, maka bhikkhu itu harus diberi nasihat: “ Bhante adalah penerima suap dan berkelakuan tidak baik. Kedua perbuatan itu telah terlihat dan terdengar. Harap bhante meninggalkan tempat (vihara) ini. Bhante sudah tinggal di tempat ini terlalu lama”. Apabila bhikkhu itu setelah dinasihati sebanyak tiga kali tetap demikian, maka ia melanggar peraturan sanghadisesa).


ANIYATA (2)

  1. Apabila seorang bhikkhu duduk bersama dengan seorang wanita berdua saja di tempat tertutup sedemikian rupa sehingga seorang Upasika yang kata-katanya dapat dipercaya yang melihat mereka mengatakan bahwa bhikkhu itu melakukan pelanggaran Parajika atau Sanghadisesa atau Pacittiya, maka bhikkhu itu harus diperiksa sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Upasika itu. Ini adalah pelanggaran peraturan aniyata
  2. Apabila seorang bhikkhu duduk bersama dengan seorang wanita berdua saja di tempat yang tidak terdengar pembicaraannya oleh orang lain sedemikian rupa sehingga seorang Upasika yang kata-katanya dapat dipercaya yang melihat mereka mengatakan bahwa bhikkhu itu melakukan pelanggaran Sanghadisesa atau Pacittiya maka bhikkhu itu harus diperiksa sesuai dengan apa yang dikatakan oleh upasika itu. Ini adalah pelanggaran peraturan aniyata

NISSAGIYA PACITTIYA (30)

I. Tentang Civara (Civara Vagga)

  1. Seorang bhikkhu boleh menyimpan jubah ekstra paling lama 10 hari. Apabila lebih dari 10 hari, maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya)
  2. Apabila seorang bhikkhu terpisah dari 1 dari 3 civara (jubah) meskipun hanya satu malam tanpa persetujuan para bhikkhu, maka bhikkhu itu melanggar peraturan nissagiya pacittiya
  3. Apabila seorang bhikkhu mandapat bahan jubah, tetapi bahan ini tidak cukup untuk dibuat satu jubah dan kalau ia mengharapkan untuk mendapatkan lagi, maka ia boleh menyimpan paling lama 1 bulan. Apabila lebih dari satu bulan, maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya
  4. Apabila seorang bhikkhu meminta tolong kepada seorang bhikkhuni yang bukan sanak keluarganya untuk mencuci atau mencelup jubah lamanya (yang pernah dipakai), maka bhikkhu itu melanggar peraturan nissagiya pacittiya
  5. Apabila seorang bhikkhu menerima jubah dari tangan seorang bhikkhuni yang bukan sanak keluarganya kecuali bhikkhu itu memberikan penggantinya, maka bhikkhu itu melanggar peraturan nissagiya pacittiya
  6. Apabila seorang bhikkhu meminta jubah (bahan) dari umat awam yang tidak termasuk sanak keluarganya, kecuali pada kesempatan yang tepat, maka bhikkhu itu melanggar peraturan nissagiya pacitttiya
  7. Apabila ada umat awam yang bukan sanak keluarga seorang bhikkhu menawarkan jubah kepada bhikkhu tersebut, maka bhikkhu itu paling banyak boleh meminta jubah dalam dan jubah atas. Apabila bhikkhu itu menerima lebih, maka ia melanggar peraturan nissagiya
  8. Apabila seorang orang umat awam yang bukan sanak keluarga seorang bhikkhu berniat membeli bahan cita untuk bhikkhu tersebut, dan bhikkhu itu kemudian datang tanpa diundang untuk meminta dibelikan bahan cita ini atau itu dengan keinginan untuk mendapatkan bahan yang bermutu baik, maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya.
  9. Apabila beberapa orang umat yang bukan sanak keluarga seorang bhikkhu berniat membeli bahan cita untuk bhikkhu tersebut dan bhikkhu itu kemudian datang tanpa diundang untuk meminta dibelikan bahan cita ini atau itu dengan keinginan untuk mendapatkan bahan yang bermutu baik, maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya.
  10. Apabila umat awam mengirimkan uang untuk membeli jubah kepada seorang bhikkhu, maka bhikkhu itu harus menunjuk seorang dayaka (pendamping bhikkhu) untuk menerima uang itu. Bilamana bhikkhu tersebut membutuhkan jubah maka ia harus memintanya kepada dayaka itu. Apabila belum didapatnya maka ia dapat memintanya sampai tiga kali. Bila masih belum didapat juga maka bhikkhu itu dapat berdiri diam sampai enam kali untuk maksud tersebut. Apabila ia melakukannya lebih dari itu maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya. Bila jubah tidak didapatkan setelah bhikkhu tersebut melakukan hal-hal di atas maka ia harus memberitahu kepada si pemberi uang bahwa uang tersebut tidak dapat digunakan dan memberitahu untuk meminta kembali uang tersebut kalau uangnya hilang.

Bagian II. Tentang Sutra (Kosiya Vagga)

  1. Apabila seorang bhikkhu menerima permadani yang terbuat dari wool yang dicampur dengan sutra, maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya.
  2. Apabila seorang bhikkhu menerima permadani yang seluruhnya terbuat dari wool hitam, ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya.
  3. Apabila seorang bhikkhu ingin membuat permadani yang baru maka ia harus menggunakan 2 bagian wool hitam dan 1 bagian wool putih dan 1 bagian wool merah. Bilamana digunakan wool hitam lebih dari 2 bagian, maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya.
  4. Apabila seorang bhikkhu telah mendapatkan permadani baru, maka harus digunakan selama 6 tahun. Bilamana tanpa izin para bhikkhu (sangha), bhikkhu itu mendapatkan permadani baru lagi dalam jangka 6 tahun, maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya.
  5. Apabila seorang bhikkhu ingin membuat permadani duduk, maka ia harus mengambil sepotong dari permadani lama 1 sugata span (sugata vidatthi = 8.5 – 9 Inchi atau 13.3 inchi) persegi dan menyatukannya dengan permadani yang baru itu. Bilamana bhikkhu itu tidak melakukan hal ini, maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya.
  6. Apabila seorang bhikkhu sedang bepergian, maka ia boleh menerima pemberian wool bila ia mau. Bila tak ada seorang pembantu yang membawakannya, maka ia boleh membawanya sendiri sejauh 3 Yojana (1 Yojana = 15 km). Bila ia membawanya lebih dari 3 Yojana, maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya.
  7. Apabila seorang bhikkhu meminta tolong kepada seorang bhikkhuni yang bukan sanak keluarga untuk mencucikan atau mewarnai wool, maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya.
  8. Apabila seorang bhikkhu menerima, atau menyebabkan diterimanya, atau merasa senang dengan uang (yang disimpannya), maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya.
  9. Apabila seorang bhikkhu terlibat dalam berbagai macam jual beli dengan uang, maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya.
  10. Apabila seorang bhikkhu terlibat dalam berbagai macam tukar menukar barang (jual beli), maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya.

Bagian III. Tentang Mangkuk (Patta Vagga)

  1. Mangkuk ekstra dapat disimpan untuk paling lama sepuluh hari; bila lebih dari sepuluh hari; maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya.
  2. Apabila seorang bhikkhu mengganti mangkuknya yang kurang dari lima tambalan dengan mangkuk yang baru, maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya.
  3. Apabila seorang bhikkhu menerima obat yaitu mentega, minyak, madu, gula cair, ghee, maka ia dapat menyimpannya dan menggunakannya selama paling lama tujuh hari. Apabila lebih dari waktu itu, maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya.
  4. Seorang bhikkhu boleh mendapatkan pakaian/bahan untuk musim hujan apabila masih ada satu bulan dalam musim panas, dan boleh dipakainya apabila musim panas masih berlangsung setengah bulan. Apabila ia mendapatkan atau memakainya sebelum waktu yang ditentukan, maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya.
  5. Apabila seorang bhikkhu memberikan jubahnya kepada bhikkhu lain dan kemudian bhikkhu itu marah dan merasa tidak senang lalu mengambil kembali atau meminta seseorang untuk mengambil kembali jubah itu, maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya.
  6. Apabila seorang bhikkhu meminta bahan pakaian untuk dibuat menjadi jubah oleh penjahit, maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya.
  7. Apabila seorang umat awam yang bukan sanak keluarga meminta penjahit membuatkan jubah untuk seorang bhikkhu, dan bhikkhu itu tanpa diundang datang ke penjahit itu untuk meminta agar jubah itu dibuat lebih baik lalu setelah itu memberikan sedikit hadiah, maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya.
  8. Apabila suatu jubah diberikan dalam keadaan tergesa-gesa dalam waktu sepuluh hari sebelum hari Kathina, maka seorang bhikkhu dapat menerima jubah itu dan menyimpannya sampai saat tersebut. Apabila ia menyimpannya lebih lama daripada itu, maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya.
  9. Apabila seorang bhikkhu yang telah menjalankan vassa di tempat sedemikian seperti hutan yang berbahaya ingin menyimpan salah satu dari tiga jubahnya di rumah umat, maka ia dapat melakukannya dengan alasan yang cukup untuk paling lama enam malam. Apabila ia menyimpannya lebih dari enam malam hari tanpa izin para bhikkhu, maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya.
  10. Apabila seorang bihikkhu dengan sadar menyebabkan suatu pemberian diberikan kepada dirinya, yang sebenarnya seharusnya diberikan kepada Sangha, maka ia melanggar peraturan nissagiya pacittiya.

PACITTIYA 92
Untuk membedakannya dengan Nissagiya Pacittiya, maka sebenarnya peraturan disiplin itu disebut Sudhika Pacittiya yang artinya pacittiya murni. Namun, dalam bahasa Pali cukup disebut pacittiya saja.

I. Tentang Bicara Bohong (Mussavada Vagga)

  1. Bicara bohong dengan penuh kesadaran menyebabkan melanggar peraturan pacittiya.
  2. Bicara kasar (menyakitkan hati) menyebabkan melanggar peraturan pacittiya. (Catatan : Sumber pembicaraan kasar ini al : tingkat kelahiran, nama pribadi, nama suku, kesenian, penyakit, bentuk tubuh, kotoran batin dan kesalahan-kesalahan).
  3. Memfitnah seorang bhikkhu menyebabkan melanggar peraturan pacittiya.
  4. Apabila seorang bhikkhu menghafalkan Dhamma bersama dengan seorang umat awam, maka ia melanggar peraturan pacitiya.
  5. Apabila seorang bhikkhu tidur lebih dari 3 malam dengan seorang umat awam, maka ia melanggar peraturan pacittiya. (Catatan : yang dimaksudkan dengan orang biasa ialah seorang laki-laki).
  6. Apabila seorang bhikkhu tidur di bawah satu atap dengan seorang wanita, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  7. Apabila seorang bhikkhu mengajar Dhamma lebih dari enam kalimat kepada seorang wanita tanpa hadirnya seorang laki-laki yang mengerti apa yang dikatakan, meka ia melanggar peraturan pacittiya.
  8. Apabila seorang bhikkhu mengatakan kepada seorang umat awam tentang kemampuan gaib yang dimilikinya, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  9. Apabila seorang bhikkhu mengatakan kepada seorang umat awam tentang kesalahan berat dari seorang bhikkhu kecuali mendapat izin dari para bhikkhu, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  10. Apabila seorang bhikkhu menggali tanah atau meminta kepada seseorang untuk menggali tanah, maka ia melanggar peraturan pacittiya.

II. Tentang Tumbuh-tumbuhan (Bhutagama Vagga).

  1. Apabila seorang bhikkhu menyebabkan kerusakan pada tanaman, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  2. Apabila seorang bhikkhu menjawab secara menghindar atau menyebabkan kesulitan dengan berdiam diri, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  3. Apabila seorang bhikkhu menghina dan merendahkan seseorang (secara pribadi), maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  4. Apabila seorang bhikkhu mengambil tempat tidur, bangku, kasur atau kursi milik Sangha dan meletakkannya di tempat terbuka dan kemudian ia terus pergi tanpa mengembalikan barang-barang tersebut atau menyuruh orang lain mengembalikan atau ia pergi tanpa memberitahukan kepada bhikkhu yang bertugas mengurus/bertanggung jawab atas barang-barang tersebut, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  5. Apabila seorang bhikkhu mengambil perlengkapan untuk tidur milik Sangha dan menempatkannya di sebuah bilik (gubuk) milik sangha, kemudian pergi tanpa mengembalikan perlengkapan tersebut, atau menyuruh orang lain mengembalikannya atau ia pergi tanpa memberitahukan kepada bhikkhu yang bertanggung jawab atas perlengkapan tersebut, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  6. Apabila seorang bhikkhu mengetahui bahwa sebuah gubuk milik Sangha telah didiami oleh bhikkhu yang lain yang datang lebih dahulu, lalu secara sengaja berbaring di situ dengan harapan supaya bhikkhu yang lain itu karena melihat tak ada cukup ruangan akan pergi ke tempat lain, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  7. Apabila seorang bhikkhu karena marah tidak senang mengusir keluar bhikkhu lain dari gubuk milik Sangha, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  8. Apabila seorang bhikkhu dengan tak mengindahkan berat tubuhnya (secara tiba-tiba) duduk di atas bangku atau berbaring di atas tempat tidur yang kakinya tidak begitu kokoh, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  9. Apabila seorang bhikkhu bermaksud untuk melapis atap sebuah gubuk yang besar, ia harus melapis atap itu sebanyak/setebal tiga lapis saja. Bila ia melapis lebih dari jumlah tersebut, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  10. Apabila seorang bhikkhu yang mengetahui adanya makhluk-makhluk hidup dalam air menuangkan air tersebut di atas tanah atau rumput, maka ia melanggar peraturan pacittiya.

III. Tentang Cara Mengajar (Ovada Vagga)

  1. Apabila seorang bhikkhu mengajar para bhikkhuni tanpa izin Sangha, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  2. Sekalipun memperoleh izin dari Sangha, apabila seorang bhikkhu mengajar para bhikkhuni setelah matahari terbenam, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  3. Apabila seorang bhikkhu pergi mengunjungi tempat tinggal bhikkhuni dan mengajar mereka kecuali ada seorang bhikkhuni yang sakit, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  4. Apabila seorang bhikkhu berkata demikian : “Bhikkhu mengajar bhikkhuni untuk keuntungan materi”, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  5. Apabila seorang bhikkhu memberikan jubah kepada seorang bhikkhuni yang bukan sanak keluarga, kecuali bila merupakan pertukaran, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  6. Apabila seorang bhikkhu menjahit jubah seorang bhikkhuni yang bukan sanak keluarga, atau menyuruh orang lain untuk menjahitkannya, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  7. Apabila seorang bhikkhu mengajak seorang bhikkhuni berjalan bersama meskipun melalui sebuah desa, kecuali bila jalan yang akan ditempuhnya itu berbahaya, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  8. Apabila seorang bhikkhu mengajak seorang bhikkhuni naik perahu dengannya bepergian ke hulu atau ke hilir sungai, maka ia melanggar peraturan pacittiya. (Kecuali apabila mereka hanya menyeberang ke tepi yang lain saja).
  9. Apabila seorang bhikkhu makan makanan yang diperoleh melalui seorang bhikkhuni yang meminta umat awam untuk memberikannya, kecuali bila umat tersebut telah berniat untuk memberikan makanan kepada bhikkhu tersebut, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  10. Apabila seorang bhikkhu duduk di suatu tempat bersama dengan seorang bhikkhuni tanpa ada orang lain, maka ia melanggar peraturan pacittiya.

IV. Tentang Makanan (Bhojjana Vagga)

  1. Seorang bhikkhu yang tidak sakit diperbolehkan makan sekali di tempat makan umum yang menyediakan makanan kepada siapa saja. Apabila ia makan lebih dari itu, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  2. Makan dalam kelompok (empat atau lebih di antara keluarga) menyebabkan melanggar peraturan pacittiya kecuali sedang sakit, waktu pemberian jubah, waktu pembuatan jubah, waktu menempuh perjalanan jauh, waktu bepergian dengan kapal, pada kesempatan istimewa (dimana seratus atau seribu bhikkhu berkumpul), waktu menerima makanan dari para pertapa.
  3. Apabila seorang bhikkhu telah menerima undangan makan tetapi tidak makan di tempat tersebut melainkan di tempat lain, maka ia melanggar peraturan pacittiya, kecuali sedang sakit, waktu pemberian jubah, waktu pembuatan jubah.
  4. Apabila umat awam mengundang bhikkhu untuk menerima kue atau biskuit, maka bhikkhu itu dapat menerima tiga mangkuk penuh bila ia mau. Apabila ia menerima lebih, maka ia melanggar peraturan pacittiya. Makanan yang diterima itu harus pula dibagi kepada bhikkhu lain.
  5. Apabila seorang bhikkhu yang telah selesai makan dan menolak untuk makan lagi, makan makanan bhikkhu lain yang belum dimakan, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  6. Apabila seorang bhikkhu mengundang bhikkhu lain yang telah selesai makan dan menolak untuk makan lagi, untuk makan makanan bhikkhu lain yang belum dimakan dengan niat mencari kesalahan bhikkhu itu, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  7. Apabila seorang bhikkhu makan di luar jangka waktu yang telah ditentukan, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  8. Apabila seorang bhikkhu makan makanan yang telah diberikan pada hari sebelumnya, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  9. Apabila seorang bhikkhu yang tidak sakit minta salah satu dari makanan berikut: nasi, mentega, minyak, madu, air gula tebu, ikan, daging, susu sapi dari seorang umat awam dan memakannya, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  10. Jika seorang bhikkhu makan makanan yang tidak diserahkan secara langsung ke tangannya/kepada bhikkhu lain, kecuali air murni dan tusuk gigi, maka ia melanggar peraturan pacittiya.

V. Tentang Pertapa Telanjang (Acelaka Vagga).

  1. Apabila seorang bhikkhu memberikan makanan dengan tangannya sendiri kepada pertapa telanjang atau orang yang ditahbiskan menurut agama lain, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  2. Apabila seorang bhikkhu mengajak bhikkhu lain pergi pindapatta dengannya kemudian timbul keinginan untuk berbuat sesuatu yang tidak pantas lalu mengusir bhikkhu lain itu, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  3. Apabila seorang bhikkhu duduk bersama (bercampur) dengan keluarga yang sedang makan, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  4. Apabila seorang bhikkhu duduk bersama dengan seorang wanita di suatu tempat tertutup, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  5. Apabila seorang bhikkhu duduk dengan seorang wanita secara pribadi, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  6. Apabila seorang bhikkhu yang telah mendapat undangan makan pagi (sebelum tengah hari) baik sebelum atau sesudah makan ke tempat lain tanpa memberitahukan kepada seorang bhikkhu yang berada di dalam vihara tempat ia tinggal, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  7. Seorang bhikkhu yang tidak sakit yang menerima paravana mengenai empat kebutuhan pokok bhikkhu dapat menerima kebutuhan tersebut dalam jangka waktu empat bulan. Apabila ia menerima salah satu kebutuhan tersebut lebih dari jangka waktu itu, kecuali tawaran itu diulang atau untuk seumur hidup, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  8. Apabila seorang bhikkhu melihat pasukan tentara berbaris menyiapkan diri untuk berperang, kecuali terdapat alasan yang kuat, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  9. Seandainya ada alasan yang mendesak untuk pergi atau tinggal dengan tentara, seorang bhikkhu diperbolehkan tinggal dengan pasukan itu selama tiga hari. Apabila ia tinggal lebih dari tiga hari, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  10. Apabila sementara tinggal dengan tentara, ia pergi melihat pertempuran, melihat mereka berlatih, melihat persiapan mereka untuk berperang, maka ia melanggar peraturan pacittiya.

VI. Tentang Minuman Keras (Surapana Vagga)

  1. Apabila seorang bhikkhu minum minuman yang disuling dan diragi, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  2. Apabila seorang bhikkhu menggelitik bhikkhu lain dengan jari, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  3. Apabila seorang bhikkhu berenang di air untuk bersenang-senang, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  4. Apabila seorang bhikkhu bersikap keras kepala (tidak menghormat), maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  5. Apabila seorang bhikkhu menakut-nakuti bhikkhu lain, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  6. Apabila seorang bhikkhu tidak sakit menyalakan api atau menyuruh orang lain untuk menyalakan api dengan maksud menghangatkan tubuhnya, maka ia melanggar peraturan pacittiya, kecuali bila terdapat alasan yang tepat.
  7. Apabila seorang bhikkhu (yang tinggal di Majjhima Desa – daerah yang sulit air) mandi dalam jangka waktu kurang dari 15 hari, maka ia melanggar peraturan pacittiya, kecuali pada musim panas, demam, kerja jasmani, dalam perjalanan, waktu badai.
  8. Apabila seorang bhikkhu menerima jubah yang baru, ia harus memberi tanda pada kain tersebut dengan salah satu dari warna-warna yang diizinkan. Warna-warna yang diperbolehkan adalah : hijau, coklat tua atau warna lumpur. Apabila ia tidak memberi tanda sebelum mempergunakannya, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  9. Apabila seorang bhikkhu menggabungkan sebuah jubahnya dengan bhikkhu yang lain, lalu memakainya tanpa bhikkhu lain tersebut melepaskan haknya atau memberi izin, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  10. Apabila seorang bhikkhu menyembunyikan mangkok, jubah, kain untuk duduk, jarum dan ikat pinggang bhikkhu lain, sekalipun hanya untuk bermain-main, maka ia melanggar peraturan pacittiya.

VII. Tentang Makhluk-makhluk Hidup (Sapana Vagga).

  1. Apabila seorang bhikkhu dengan sengaja membunuh makhluk hidup, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  2. Apabila seorang bhikkhu mengetahui ada makhluk-makhluk hidup di dalam air dan ia tetap menggunakan air itu, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  3. Apabila seorang bhikkhu yang telah mengetahui bahwa suatu proses yang sah dalam Sangha telah diselesaikan menurut cara yang benar, membicarakannya lagi dengan maksud agar dirundingkan kembali, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  4. Apabila seorang bhikkhu mengetahui akan suatu apatti yang berat dari bhikkhu lain dan menyembunyikan hal itu, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  5. Apabila seorang bhikkhu secara sadar memberikan upasampada pada seorang pemuda yang belum berusia 20 tahun, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  6. Apabila seorang bhikkhu secara sadar dan dengan perjanjian melakukan perjalanan bersama kafilah pedagang penyelundup/pencuri sekalipun hanya sejauh jarak satu desa, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  7. Apabila seorang bhikkhu dengan perjanjian melakukan perjalanan bersama seorang wanita sekalipun hanya sejauh jarak satu desa, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  8. Apabila seorang bhikkhu mengucapkan kata-kata yang bertentangan dengan khotbah yang diucapkan Sang Buddha dan walaupun bhikkhu lain melarangnya berbuat demikian tetapi ia tetap tidak memperdulikannya, dan bila Sangha mengumumkan kammavaca sebanyak 3 kali, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  9. Apabila seorang bhikkhu bergaul rapat dengan bhikkhu tersebut (no. 117), yaitu makan bersama, menjalankan Uposatha Sanghakamma bersama atau tinggal di tempat tinggal (tidur) yang sama, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  10. Apabila seorang bhikkhu bergaul rapat dengan seorang samanera yang telah dicela dan diusir oleh bhikkhu lain karena samanera tersebut telah membicarakan hal-hal yang bertentangan dengan Dhammadesana Sang Buddha (bergaul rapat di sini berarti bhikkhu tersebut menyuruh samanera melakukan semua tugas-tugasnya (Upathaka) atau mereka makan bersama ataupun tidur bersama), maka ia melanggar peraturan pacittiya.

VIII. Tentang Hal-hal yang sesuai dengan Dhamma (Sahadhamika Vagga).

  1. Apabila seorang bhikkhu yang ditegur oleh bhikkhu lain sesuai dengan Dhamma akan perbuatannya dalam peraturan latihan, mengatakan tidak mau mentaati peraturan latihan sampai ia menanyakan pada bhikkhu lain yang ahli dalam vinaya, maka ia melanggar peraturan pacittiya. Bhikkhu yang masih dalam bimbingan apabila menemukan sesuatu yang tidak diketahuinya harus segera menanyakan hal tersebut kepada bhikkhu lain yang ahli vinaya.
  2. Apabila seorang bhikkhu dalam pembacaan Patimokkha mengatakan bahwa tiada gunanya peraturan latihan itu diulang, maka perbuatan merendahkan peraturan latihan itu menyebabkan bhikkhu melanggar peraturan pacittiya.
  3. Apabila seorang bhikkhu yang telah melakukan apatti pada saat pembacaan Patimokkha pura-pura berkata : “Baru sekarang ini saya ketahui apabila ada peraturan demikian itu dalam Patimokkha”, dan apabila bhikkhu yang lain mengetahui bahwa sesungguhnya ia telah mengetahui peraturan tersebut, maka ia segera mengumumkan Kammavaca untuk menyelesaikan persoalan itu. Bila Sangha telah mengumumkan ini, ternyata masih tetap berpura-pura tidak tahu lagi, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  4. Apabila seorang bhikkhu yang merasa marah memukul bhikkhu lain, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  5. Apabila seorang bhikkhu yang merasa marah mengangkat tangan seolah-olah untuk memukul bhikkhu lain, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  6. Apabila seorang bhikkhu tanpa dasar menuduh bhikkhu lain melanggar sanghadisesa, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  7. Apabila seorang bhikkhu dengan sengaja menimbulkan kekuatiran/kecemasan pada bhikkhu lain, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  8. Apabila seorang bhikkhu mendengarkan secara diam-diam pertengkaran sekelompok bhikkhu dengan maksud mengetahui apa yang dikatakan, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  9. Apabila seorang bhikkhu yang telah memberikan suara persetujuan penuh dalam suatu pengumuman resmi Sangha sesuai dengan Dhamma, kemudian berbalik dan mengeritik/mencela hal tersebut, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  10. Apabila seorang bhikkhu tidak memberikan suara, bangun dari tempat duduknya dan pergi ketika Sangha sedang mengadakan musyawarah untuk meneliti suatu persoalan, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  11. Apabila seorang bhikkhu setelah bersama-sama dengan bhikkhu-bhikkhu yang lain membentuk suatu kelompok yang rukun memberikan sebuah jubah sebagai hadiah kepada seorang bhikkhu dan kemudian ia berbalik mencela dan mengeritik bhikkhu-bhikkhu lain dalam kelompok itu dengan mengatakan : “Mereka memberikan jubah dengan suatu maksud”, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  12. Apabila seorang bhikkhu dengan sengaja mengatur pemberian hadiah kepada seseorang, sedangkan seharusnya diberikan untuk Sangha, maka ia melanggar peraturan pacittiya.

IX. Tentang Kekayaan (Ratana Vagga)

  1. Apabila seorang bhikkhu tanpa izin memasuki suatu ruangan di mana seorang raja dan ratu berada di dalamnya, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  2. Apabila seorang bhikkhu mengambil atau menyuruh seorang mengambil barang berhaga yang tercecer di tanah, kecuali di dalam viharanya atau tempat tinggalnya, maka ia melanggar peraturan pacittiya. Apabila diambilnya di dalam viharanya atau tempat tinggalnya, barang itu harus disimpan untuk dikembalikan kepada pemiliknya, bila tidak maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  3. Apabila seorang bhikkhu tanpa memberitahukan kepada bhikkhu lain yang tinggal di Vihara yang sama, pergi ke suatu desa di luar waktu yang tepat, maka ia melanggar peraturan pacittiya, kecuali ada urusan yang tiba-tiba dan sangat mendesak yang harus segera dilakukan.
  4. Apabila seorang bhikkhu membuat sendiri atau menyuruh untuk dibuatkan sebuah tempat penyimpanan jarum yang terbuat dari tulang, gading atau tanduk binatang, maka ia melanggar peraturan pacittiya.
  5. Apabila seorang bhikkhu akan mempergunakan sebuah tempat tidur atau bangku, maka tingginya tidak boleh lebih dari 8 jari sugata (aṭṭhaṅgulapādakaṃ kāretabbaṃ sugataṅgulena, 1 span/jengkal = 12 jari, utk 1 span = 9 inchi: 8/12 x 2.54 x 9 = 15.2 cm atau 1 span = 13.3 inchi: 8/12 x 2.54 x 13.3 = 22.52 CM); jika tingginya melebihi ini, maka ia melanggar peraturan pacittiya dan kaki barang tersebut harus dipotong sesuai dengan ketentuan.
  6. Apabila seorang bhikkhu memiliki sebuah tempat tidur atau bangku yang dilapisi dengan kapuk, maka ia melanggar peraturan pacittiya dan kapuk tersebut harus dibuang.
  7. Apabila seorang bhikkhu membuat kain tempat duduk/nisidana maka kain itu harus dibuat dengan ukuran sebagai berikut: dīghaso dve vidatthiyo sugatavidatthi (panjang 2 span/jengkal sugata), tiriyaṃ diyaḍḍhaṃ (lebar 1.5), sisi dengan batas 1 span sugata. Apabila ukurannya melebihi dari ukuran tersebut, maka ia melanggar peraturan pacittiya dan kain tersebut harus dipotong sesuai dengan ketentuan.
  8. Apabila seorang bhikkhu membuat kain untuk menutupi luka, maka kain itu harus dibuat dengan ukuran sebagai berikut: dīghaso catasso vidatthiyo sugatadatthiyā (panjang 4 jengkal sugata), tiriyaṃ dve vidatthiyo (lebar 2 jengkal sugata). Apabila dibuat melebihi ukuran tersebut maka ia melanggar peraturan pacittiya dan kain tersebut harus dipotong sesuai dengan ketentuan.
  9. Apabila seorang bhikkhu membuat kain untuk mandi selama musim vasa/hujan, maka kain itu harus dibuat dengan ukuran sebagai berikut: dīghaso cha vidatthiyo sugatavidatthiyā (panjang 6 jengkal sugata), tiriyaṃ aḍḍhayyā (lebar 2,5). Apabila melebihi ukuran yang ditentukan, maka ia melanggar peraturan pacittiya dan kain tersebut harus dipotong sesuai dengan ketentuan.
  10. Apabila seorang bhikkhu membuat jubah yang sama atau lebih besar dari ukuran jubah sugata, maka ia melanggar peraturan pacittiya dan kain tersebut terlebih harus dipotong. Ukuran jubah sugata adalah sebagai berikut: dīghaso nava vidatthiyo sugatavidatthiyā (panjang 9 jengkal Sugata), tiriyaṃ cha vidatthiyo (lebar 6 jengkal Sugata)

PATIDESANIYA 4

  1. Apabila seorang bhikkhu menerima makanan secara langsung dengan tangannya sendiri dari seorang bhikkhuni yang tak mempunyai hubungan keluarga dengannya dan kemudian memakannya, maka ia melanggar peraturan patidesaniya.
  2. Apabila sekelompok bhikkhu sedang makan di suatu tempat atas undangan umat awam, kemudian seorang bhikkhuni muncul dan memerintahkan memindahkan makanan itu dari tempat ini ke tempat yang lain, maka mereka harus memerintahkan bhikkhuni itu menghentikan tindakan itu. Bila mereka tidak melakukan hal ini, maka mereka melanggar peraturan patidesaniya.
  3. Apabila seorang bhikkhu yang tidak sakit menerima makanan tanpa diundang dari suatu keluarga yang dianggap oleh Sangha sebagai Sekha (telah mencapai tingkat kesucian tertentu/ariya tapi masih dalam latihan) dan makan makanan yang diberikan, maka ia melanggar peraturan patidesaniya.
  4. Apabila seorang bhikkhu yang tinggal di suatu hutan berbahaya (oleh perampok dsb.) dalam keadaan tidak sakit menerima makanan dari umat awam dengan tangannya sendiri dan memakannya tanpa memberitahukan terlebih dahulu keadaan tersebut (sehingga dapat membahayakan umat awam yang membawakan makanan itu), maka ia melanggar peraturan patidesaniya.

SEKHIYA 75 (lihat aturan untuk: SAMANERA DI ATAS ↑) [146 – 220]

ADHIKARANA SAMATHA 7

  1. Penyelesaian Adhikarana tersebut di atas di hadapan Sangha, di hadapan seseorang, di hadapan benda yang bersangkutan dan di hadapan Dhamma.
  2. Pembacaan pengumuman resmi oleh Sangha bahwa seseorang yang telah mencapai Arahat, adalah orang yang penuh kesadaran, agar tak seorang pun menuduhnya melakukan apatti.
  3. Pembacaan pengumuman resmi oleh Sangha bagi seorang bhikkhu yang sudah sembuh dari sakit jiwa agar tidak seorang pun menuduhnya melakukan apatti yang mungkin ia lakukan ketika ia masih sakit jiwa.
  4. Penyelesaian suatu apatti sesuai dengan pengakuan yang diberikan oleh si tertuduh yang mengakui secara jujur apa yang telah dilakukannya.
  5. Keputusan dibuat sesuai dengan suara terbanyak.
  6. Pemberian hukuman kepada orang yang melakukan kesalahan.
  7. Pelaksanaan perdamaian antara dua pihak yang berselisih tanpa terlebih dahulu dilakukan penyelidikan tentang perselisihan itu. [↑]



Sangha, Bhikkhu, Friksi dengan UMAT AWAM, Berdana yg CERDAS! dan Kasus pada Ex-Bhikkhu Sudhammacaro!


Sekarang ini mulai banyak tulisan yang berupaya menggiring OPINI bahwa 1 orang Bhikkhu walaupun tidak tergabung dalam sangha manapun maka ia tetaplah BHIKKHU SANGHA dengan merujuk dan MEMIRIP-MIRIPKAN pada kondisi para bhikkhu Hutan namun hal itu TIDAKLAH BENAR. Mereka memiliki motif/tujuan tertentu melakukan hal tersebut dan salah satu motifnya adalah UANG!

Saṅgha
Arti dari sangha adalah KOMUNITAS, dalam terminologi Buddhis di bagi dua kelompok:

  • Savaka Sangha [savaka = murid], artinya kumpulan dari Ariya [dalam konteks ini adalah mereka yang telah mencapai tingkat kesucian 1 s/d 4], baik mereka itu berjubah ato tidak, gundul ato tidak dan manusia ato bukan. Mereka ini disebut para THERA.
  • Sammuti sangha [sammuti = tradisi, ungkapan yg populer] atau sangha konvensional [monastik], artinya kumpulan para Bhikkhu baik Putujhana [Orang biasa] ato bahkan Ariya.

Setelah seseorang dan/atau samanera [sekarang sebelum jadi bhikkhu harus menjadi samanera (calon Bhikku,samana:petapa+nera:anak) dulu] ditahbiskan [Upasampada] menjadi Bhikku maka Ia disebut sebagai NAVAKA. Ia WAJIB tergantung bersama gurunya [Achariya] atau pembimbingnya [Upajjhaya] selama 5 tahun [NISSAYA], setelah melewati tahun ke-5 Ia disebut sebagai NISSAYA-NAVAKA atau bhikku yang mandiri. Tradisi ke-Bhikkhu-an di Thailand, terdapat sebutan bagi mereka yang telah memiliki masa kebhikkhuan >dari 10 tahun, yaitu Thera.

Pengertian thera ada 3, yaitu:

  • Tua [contoh Romo Cunda Thera, artinya Romo Cunda yang sudah sepuh]
  • Para Ariya [yg telah mencapai tingkat kesucian ke-1 s.d 4]
  • Menurut tradisi thailand [> tahun 1300 Masehi atau mungkin istilah ini baru ada di 178 tahunan (>thn 1833), yaitu ketika berkembangnya aliran Dhammayutikka], mereka yang telah melewati masa vassa 10 tahun.

Di Thailand, ada 2 aliran (nikaya) dari Theravada di Thailand, yaitu Dhammayutikka dan Mahanikaya namun demikian, system kemonastikannya [kebiaraannya] TETAP BERSATU di bawah 1 (satu) badan yaitu konsil para tetua. Raja-raja Thailand selalu merupakan dan menjadi Pelindung Sangha. Negara membuat perundangan bahwa Sangha dapat mengatur dirinya sendiri dalam struktur yang sentralisasi [terpusat], Ketuanya di angkat oleh raja dan dinamakan Sangharaja. Perbedaan diantara ke-2 aliran ini sangat kecil, diantaranya adalah penangan disiplin dan cara pemakaian jubah, selain itu mereka menggunakan DOKTRIN, mengikuti 227 aturan vinaya, sebagai Patimomkha vinaya Pitaka.

Pengaruh Dhammayut di Indonesia adalah melalui Sangharaja Thailand, yaitu Somdet Phra Nyanasamvara [Di angkat tahun 1989 s.d sekarang], dari aliran Dhammayuttika, yang di tahun 1970 menahbiskan banyak anak negeri menjadi Bhikkhu. 5 Bhikkhu di antaranya pada tanggal, 23 Oktober 1976, mendirikan Sangha theravada Indonesia.

Bhikkhu sangha selalu bicara dengan kalimat KUMPULAN yang berjumlah > dari 1 orang atau jika Ia mendapat PERINTAH dari KOMUNITAS.

Di permulaan penyebaran ajaran, penerimaan seseorang menjadi seorang Bhikkhu, Sang Buddha lakukan dengan kata, “Ehi Bhikkhu” (artinya: Mari, Bhikkhu), yaitu pada 5 orang petama, Kemudian sangha menjadi terbentuk dan penerimaan dengan cara itu berlanjut hingga jumlah Bhikkhu menjadi 61 orang. Setelah itu, sang Buddha meminta mereka untuk menyebarkan Dhamma ke segala penjuru [Vin.I.11.1] sehingga berdasarkan kejadian ini, SEMUA BHIKKHU yang sedang dalam penugasan komunitas walaupun hanya 1 (satu) orang BHIKKHUpun maka Ia tetap seorang BHIKKHU SANGHA.

Menyebarkan 61 orang Bhikkhu ini, menyebabkan makin banyak orang berniat menjadi Pabhajja [meninggalkan keduniawian] dan ingin di upasampada [tahbiskan] oleh sang Buddha. kejadian ini melelahkan para Bhikkhu dan calon Bhikkhu, sehingga Sang Buddha memperkenankan para Bhikkhu untuk menerima calon Bhikkhu dengan cara “Tisaranagamanupasampada” sebanyak 3x pengucapan [Vin.I.12]

Semakin lama kemudian, banyak orang yang menjadi Bhikkhu. Sang Buddha, dalam pandangannya untuk meneguhkan fondasi Buddha sasana [ajaran Buddha] agar memberikan manfaat pada masyarakat yang berminat dan berniat pada Buddha, memperkenankan Sangha mengontrol komunitasnya, misalnya dalam penunjukan individu Bhikkhu tertentu sebagai upajjaya [vin.1.25], membuat pengaturan lanjutan penerimaan calon bhikkhu dengan cara natti [mengumumkan], oleh beberapa Bhikkhu yang dianggap kompeten [Ñatti-catutthakamma-upasampada]. Dengan demikian, Sangha tidak saja berarti kumpulan Bhikkhu seperti yang kebanyakan orang maksudkan namun juga bhikkhu-bhikkhu yang mendapat tugas tertentu berdasarkan quorum diantara anggota-anggotanya.

Sangha biasanya beranggota 5 orang [merujuk pada 2 hal, yaitu 5 petapa sebagai sangha pertama dan jumlah minimum utk keperluan upasampada], namun demikian banyak fungsi kebhikkuan memerlukan cukup dengan 4 Bhikkhu.

So, Ketika Ia mendapat penugasan komunitas maka Ia adalah BHIKKHU SANGHA namun jika tidak maka Ia hanyalah seorang bhikkhu partikelir.

Jaman ini, terdapat juga Bhikkhu-Bhikkhu yang tidak bergabung dalam komunitas sangha. Terdapat beberapa alasan mengapa seorang Bhikkhu tidak tergabung, diantaranya adalah:

  • Bhikkhu tersebut TERLALU TINGGI HATI, sehingga TIDAK MAMPU merendahkan dirinya sendiri bergabung bersama sangha.
  • Tempat dia saat ini TIDAK ADA persaudaraan atau komunitas para Bhikku
  • Aliran yg dianutnya memiliki corak aturan [vinaya], vatta [penugasan] yang lain sehingga tidak sesuai dengan patimokha,VINAYA dan vatta yang sedang dijalankannya.
  • Bhikkhu ini mempunyai watak dan kebiasaan melanggar Vinaya sehingga dengan tidak bergabung, maka tidak akan ada hukuman lunak dan keras atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya

Perlu khalayak pikirkan, bahwa sejak dari jaman Sang Buddha hingga sekarang, mereka-mereka yang tergabung dalam ke-sangha-an masih banyak yang tidak mematuhi Vinaya dan bahkan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji, maka apalagi dengan mereka yang tidak tergabung!

Uposatha
Sang Buddha telah memberikan izin kepada sangha untuk melakukan uposatha sendiri. Uposatha artinya kepatuhan kepada Sila.

Dalam pertemuan suatu kelompok bhikkhu [sangha, > 4 bhikkhu], seorang bhikkhu akan membacakan peraturan latihan [Patimokkha]. Jika 2 – 3 orang Bhikkhu mereka disebut gana (grup). Mereka dibolehkan memberitahukan satu sama lain tentang “kemurnian”. jika hanya 1 Bhikkhu ia disebut puggala (seorang) dan harus membuat addhitthana (tekad) sendiri.

Vassa
Masa Vassa adalah saat para bhikkhu berdiam di suatu tempat tertentu sampai hari Pavarana (3 bulanan, Pavarana adalah upacara pengakhiran vassa, gantinya uposatha bulan purnama Katthika,bisanya dilakukan sangha pd tanggal 15 [atau dapat ditunda dua minggu atau satu bulan, atau di hari2i lainnya]. Jumlah bhikkhu yang menghadiri pertemuan ≥ 4 Bhikkhu. Selama masa Vassa, dengan keadaan-keadaan tertentu, Bhikkhu boleh bepergian namun tidak boleh > dari 7 hari, jika tidak masa Vassanya dianggap GAGAL.

Penting untuk mengetahui seorang BHIKKHU bervassa atau tidak karena jika tidak maka apa haknya ber-Khatina?

Permberian Persembahan[DANA]
Ketika melakukan Berdana, maka Pemberian Dana dapat dilakukan kepada pribadi-pribadi atau kepada Sangha. Ringkasan Dakkhiṇāvibhanga Sutta, MN 142, Sutta Penjelasan tentang Persembahan, di bawah ini, menyajikan keuntungan dan perbedaan manfaat diantara keduanya.

Pemberian secara Pribadi kepada:

  1. Seorang SammaSamBuddha (Sudah ngga bisa)
  2. Seorang Paccekabuddha (Sudah ngga bisa)
  3. Seorang Arahat (Sudah ngga bisa)
  4. Seorang yang sedang berusaha menjadi Arahat (mungkin sudah ngga bisa)
  5. Seorang Anagami (mungkin sudah ngga bisa)
  6. Seorang yang sedang berusaha menjadi Anagami (mungkin sudah ngga bisa)
  7. Seorang Sakadagami (mungkin sudah ngga bisa)
  8. Seorang yang sedang berusaha menjadi Sakadagami (mungkin sudah ngga bisa)
  9. Seorang enterer-stream (Sotapanna) (mungkin sudah ngga bisa)
  10. Seorang yang sedang berusaha menjadi Sotapanna, diberikan dengan pikiran murni, dapat berbuah tidak terukur x lipat
  11. Seorang yang di luar ajaran Buddha namun bebas dari nafsu akan kenikmatan indria, diberikan dengan pikiran murni, dapat berbuah 100.000 x 100.000 lipat
  12. Seorang biasa yang bermoral, diberikan dengan pikiran murni, dapat berbuah 100.000x lipat
  13. Seorang biasa yang tidak bermoral,diberikan dengan pikiran murni, dapat berbuah 1000x lipat
  14. Kepada hewan, diberikan dengan pikiran murni, dapat berbuah 100x lipat

Tujuh Jenis Pemberian kepada Sangha (SanghikaDāna):

  1. Kepada Sangha Bhikkhu dan Bhikkhuni dipimpin oleh Buddha (sudah ngga bisa)
  2. Kepada Sangha Bhikkhu dan Bhikkhuni setelah Buddha mencapai Parinibnibbāna (sudah ngga bisa)
  3. Kepada Sangha bhikkhu
  4. Kepada Sangha dari bhikkhuni
  5. Seseorang memberikan dana dan mengatakan: “Tunjuklah untukku sejumlah tertentu para bhikkhu dan bhikkhunī dari Sangha”
  6. Seseorang memberikan dana dan mengatakan: “Tunjuklah untukku sejumlah tertentu para bhikkhu dari Sangha”
  7. Seseorang memberikan dana dan mengatakan: “Tunjuklah untukku sejumlah tertentu para bhikkhunī dari Sangha”.

Patut di ingat:
“Di masa depan, Ānanda, akan ada anggota-anggota kelompok yang, ‘berleher-kuning,’ tidak bermoral, dan berkarakter jahat. Orang-orang akan memberikan pemberian kepada orang-orang tidak bermoral itu demi Sangha. Bahkan meskipun begitu, Aku katakan, suatu persembahan yang diberikan kepada Sangha adalahTIDAK TERHITUNG dan TIDAK TERUKUR.

Dan Aku katakan bahwa TIDAK MUNGKIN suatu persembahan yang diberikan kepada seorang individu AKAN LEBIH berbuah daripada persembahan yang diberikan kepada Sangha.

    note:
    Bhikkhu leher kuning [kāsāva kaṇṭha] “Anggota-anggota kelompok” (gotrabhuno) adalah mereka yang menjadi bhikkhu hanya secara nama. Mereka bepergian dengan sehelai kain kuning yang diikatkan di leher atau di lengan mereka, dan masih menyokong anak dan istri mereka dengan melibatkan diri dalam perdagangan dan pertanian, dan sebagainya [Papañca Sūdanī, Majjhima Commentar(MA) 5:74 f]

Empat jenis pemurnian persembahan:

  1. Dimurnikan oleh si pemberi, bukan oleh si penerima.
  2. Dimurnikan oleh si penerima, bukan oleh si pemberi.
  3. Dimurnikan bukan oleh si pemberi juga bukan oleh si penerima.
  4. Dimurnikan si pemberi & si penerima akan berbuah sepenuhnya

Pemurnian adalah oleh orang yg bermoral, berkarakter baik.

    “Ketika seorang bermoral memberi kepada seorang yang tidak bermoral Suatu pemberian yang diperoleh dengan benar dengan penuh keyakinan, Meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Moralitas si pemberi memurnikan persembahan itu.

    Ketika seorang tidak bermoral memberi kepada seorang yang bermoral Suatu pemberian yang diperoleh dengan tidak benar dengan tanpa keyakinan, Juga tidak meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Moralitas si penerima memurnikan persembahan itu.

    Ketika seorang tidak bermoral memberi kepada seorang yang tidak bermoral Suatu pemberian yang diperoleh dengan tidak benar dengan tanpa keyakinan, Juga tidak meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Moralitas keduanya tidak memurnikan persembahan itu.

    Ketika seorang bermoral memberi kepada seorang yang bermoral Suatu pemberian yang diperoleh dengan benar dengan penuh keyakinan, Meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Pemberian itu, akan berbuah sepenuhnya.

    Ketika seorang yang tanpa nafsu memberi kepada seorang yang tanpa nafsu. Suatu pemberian yang diperoleh dengan benar dengan penuh keyakinan, Meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Pemberian itu, yang terbaik di antara pemberian-pemberian duniawi.”

Nah,
Sekarang anda bisa memutuskan sendiri SEMURNI APA, SEPENUH APA dan bagaimana MEMURNIKANNYA atau MEMANAGE PEMURNIAN ketika anda TIDAK SEPENUHNYA YAKIN bermoral dan berkarakter baik dan yang terpenting KEPADA SANGHA SELALU lebih BESAR daripada KEPADA individu.

Ada satu kisah menarik tentang lingkup hubungan antara tentang niat baik seorang Penderma,Sangha dan Bhikkhu yang tidak bermoral, sebagai berikut:

    Niat Baik Penderma
    Suatu ketika ada seorang bhikkhu yang tidak disukai oleh kebanyakan umat dan penderma karena kelakuannya yang tidak bermoral. Suatu ketika seorang penderma mengundang Sangha untuk menerima dana, Sangha mengutus bhikkhu tersebut untuk menghadiri undangan penderma itu.

    Bagaimanapun juga, penderma itu tidak merasa kecewa; dia memusatkan perhatiannya kepada Sangha,dengan penuh hormat dia mempersembahkan makanan dan kebutuhan pokok lainnya kepada bhikkhu itu adalah Buddha sendiri, mencuci kakinya ketika datang,

    mempersilakan duduk di tempat harum di bawah kanopi. Karena pikiran penderma itu tertuju penuh kepada seluruh pesamuan, dana yang dibuatnya tergolong sanghika-dana yang mulia, sekalipun penerimanya adalah bhikkhu yang tidak baik.

    Mari kita simak kelanjutannya. Menyaksikan penghormatan yang diterimanya dari sang penderma, seperti disebutkan diatas, bhikkhu itu merasa mendapatkan dermawan yang berbakti kepadanya. Pada sore harinya, bhikkhu itu ingin melakukan suatu perbaikan di viharanya, lalu dia pergi ke pendermanya untuk meminjam sebuah cangkul. Kali ini sang penderma memperlakukannya dengan tidak hormat. Dia menyorongkan cangkul dengan kakinya dan berkata dengan kasar , ” Nih!”

    Tetangganya menanyakan kepadanya mengenal dua perlakuan yang berbeda yang telah dilakukannya kepada bhikkhu tersebut. Penderma itu menjawab bahwa pada pagi hari hormatnya tertuju kepada seluruh Sangha dan bukan untuk salah satu bhikkhu tertentu.

    Dia bersikap kasar pada sore hari karena, katanya secara individu bhikkhu tersebut tidak layak menerima penghormatan. Pelajaran yang dapat dipetik, Anda harus memproyeksikan pikiran kepada Sangha secara keseluruhan agar derma Anda dapat digolongkan sebagai sanghika-dana. [“Abhidhamma Sehari-hari“; Ashin Janakabhivamsa; Penerbit Karaniya]

Mulai di bawah ini, berisi beberapa lika-liku hubungan antara Sangha, umat awam, Bhikkhu-bhiku tertentu dan kejadian nyata antara GW VS “Bhante Sudhamaccaro”

Perselisihan antara Bhikkhu dan umat awam
Bhikkhu adalah manusia juga, ia pun masih membuat kesalahan-kesalahan, untuk itu jangan ragu untuk menegurnya namun lakukanlah dengan cara yang patut. Sebagai referensi kejadian inipun terjadi di jaman sang Buddha, dimana umat awam mempunyai persoalan yang tidak enak dan melakukan peneguran serta melaporkan kekeliruan Bhikkhu-bhikku, misalnya:

    Kasus YM UDAYIN vs VISAKHA:
    Suatu saat YM Udayin mendekati seorang wanita muda (anak perempuan dari seorang penyokong YM Udayin yang baru menikah), dan setelah dekat, beliau duduk bersama dengan wanita muda tersebut, seorang pria dan seorang wanita, di suatu tempat tersembunyi, di tempat duduk yang nyaman dan tersendiri, berbicara pada waktu yang tempat, membicarakan Dhamma pada waktu yang tepat pula … Visakha melihat YM Udayin duduk bersama dengan wanita muda itu, seorang pria dan seorang wanita, di suatu tempat tersembunyi, diatas tempat duduk yang nyaman dan tersendiri. Melihat hal ini, Visakha berkata kepada YM Udayin: “Hal ini tidak patut, yang mulia, hal ini tidak pantas, bahwa seorang guru duduk bersama seorang wanita, seorang pria dan seorang wanita, di tempat tersembunyi, diatas tempat duduk yang nyaman dan tersendiri. Meskipun yang mulia tidak memiliki hasrat untuk hal tersebut (hubungan seksual), orang yang tidak percaya akan sulit untuk diyakinkan.”

    Namun YM Udayin tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Visakha sehingga Visakha pun menceritakan hal tersebut kepada para bhikkhu. Para bhikkhu menjadi terganggu dan marah dan kemudian meneruskannya kepada Sang Buddha. Sang Buddha menegur YM Udayin: “Bagaimana mungkin kamu, orang bodoh, duduk bersama dengan wanita, seorang pria dan seorang wanita, di suatu tempat tersembunyi di atas tempat duduk yang nyaman dan tersendiri?…..”

Atau contoh yang ada di Dhammapada, CITTA vs BHIKKHU SUDHAMMA:

    Ketika Citta,Perumah tangga mengundang Dana Makan, Bhikkhu Sudhamma, menolak dengan marah dan berkata, “Kamu mengundangku setelah mengundang dua bhikkhu tersebut [Sariputta dan Monggalana]”

    Citta mengulang kembali undangannya, tetapi undangan tersebut ditolak. Walaupun demikian bhikkhu Sudhamma pergi ke rumah Citta pagi-pagi keesokan harinya. Ketika dipersilahkan masuk, Sudhamma menolak dan berkata bahwa dia tidak akan duduk karena dia sedang berpindapatta.

    Ketika dia melihat makanan yang didanakan kepada dua orang murid utama Sang Buddha, dia sangat iri dan tidak dapat menahan kemarahannya. Dia mencaci Citta dan berkata, “Aku tidak ingin tinggal lebih lama di viharamu!” dan meninggalkan rumah tersebut dengan penuh kemarahan.

    Dari sana, dia mengunjungi Sang Buddha dan melaporkan segala yang telah terjadi. Kepadanya, Sang Buddha berkata, “Kamu telah menghina seorang umat awam yang berdana dengan penuh keyakinan dan kemurahan hati. Kamu lebih baik kembali ke sana dan mengakui kesalahanmu.”

    Sudhamma melakukan apa yang telah dikatakan oleh Sang Buddha, tetapi Citta tidak menghiraukan; maka dia kembali menghadap Sang Buddha untuk ke dua kalinya. Sang Buddha, mengetahui bahwa kesombongan Sudhamma telah berkurang pada waktu itu. Kemudian Beliau berkata, “Anakku, seorang bhikkhu yang baik seharusnya tidak terikat dengan berkata, “ini adalah viharaku, ini tempatku, dan ini adalah muridku,” dan sebagainya, dengan berpikir demikian keterikatan dan kesombongan akan bertambah.”

Tentu saja ketidaksetujuan dan ketidaksepakatan SEYOGYANYA dilakukan dengan cara-cara yg lembut. Juga jika melanggar PIDANA,maka andapun dapat melaporkan pada yang berwajib.

Gw punya pengalaman menarik dengan satu oknum yang menyamar jadi Bhikkhu, orang ini di fb pake nick name, “bhante sudhammacaro” (klik!)

    Berikut ini adalah tulisan dari sudhammacaro [seseorang, yg gemar berkostum bhikkhu, namun ternyata bukan bhikku], yaitu setelah ketauan secara konyol mengartikan maksud Atthasila:

    1. DARIPADA YOU KERJA DI BALI JD GAET BUL2 E, SAMA JUGA DI-SURUH2 MIRIP JONGOS BEDANYA KL DI BALI PASTI DI PANTAI, YG PANAS SMP KULIT SPT ARANG, TP KL DI JKT ADEM KRN DLM WIHARA SAMBIL MINUM KOPI I…STILAHNYA NUHIGA-NUMPANG HIDUP GRATISAN SAMA BOS.. JD KL DI BALI SEPI JOB LARI KE JKT…[Rabu pukul 12:18]
    2. SE-BODOH2NYA ORANG TDK LBH BODOH DG ANJING TAU AYAM YG TDK SUKA UANG KALI.. JNG SOK BERSIH LAH.. MANA ADA ORANG KERJA TDK DI LEMPAR UANG TIP SIH.. GA APA2 LAH KITA2 JUGA TDK AKAN NYOAL YOU PUNYA KERJA DAN TIP DARI KUNCEN VJDJ BHANTE KADANG KASIHAN SAMA YOU ORANG MAU DIANGKAT SELEVEL BOS KUNCEN TP BANDELNYA TDK KETULUNGAN ..[Rabu pukul 12:24]
    3. MAAF MAKAN DULU LAH TAR LAPAR SAKIT BHAYA..[Rabu pukul 12:25]

    Perhatikan point 3. masa seh seorang Bhikkhu [tidak sakit],makan setelah TENGAH HARI?[1]

    Perhatikan maki2an [1 dan 2] yg dilontarkan seseorang yg mengaku2 bhikhu [Sumber: di sini]

    Ternyata setelah menulis itu ybs mengatakan spt ini:

      “Teman2 bhante menulis Postingan dengan kalimat kasar itu sengaja justru untuk memancing anda komen. jadi rame dan biar anda berpikir. Sekaligus untuk menguji anda yg suka teori Dharmanya tinggi2, ingin tahu isinya ternyata tdk bisa mengendalikan batinnnya.” [Sumber: di sini]

    Hehehehe…kesian ya..tulisan di atas malah menyajikan BUKTI PENTING,yaitu setelah konco2nya berdalih ini adalah di hack, tulisan di atas merupakan bukti ke-2, bhw account ybs 100% tidak di hack!

    Bukti ke-1 nya sbb:

      Teman2 postingan itu pertnyaan dri umat, ada yg sdh lama ada yg baru, krn dlm Diskusi Dharma bhante kdang bnyak umat yg tnya tdk fokus ke Topik Diskusi, bhante simpan, spt sdr.Stephan Halim tnya di luar topik, maaf yg delete, kdang dayaka/ kappiya maaf bukan Jongos, yah. [Sumber: di sini]

    Perhatikan kalimat, “maaf yg delete, kdang dayaka/ kappiya maaf bukan Jongos, yah

    Kemudian,
    Bagaimana ybs memulai dengan ucapan JONGOS, maka anda PERLU baca INI (klik!)

      [Bhante Sudhammacaro:]
      Diskusi Dharma; Tanya: Bhante, di Indo bnyak umat Buddha hingga ribuan msh muda2, tp yg mau jd bhikkhu sangat minim. Padahal mereka sdh tahu jd bhikkhu bs membantu anggota Sanggha dg tugas yg bnyak d berat. Juga berkahnya amat mulia. Apa karena Mereka ada Kelainan Gen/DNA atau Penakut? Mereka malah lbh suka Memilih jd JONGOS nya para bhkkhu. Padahal Mereka tdk Kerja (LL), Nikah tdk mau krn BOKE, malah milih jd Bandot Tua, senengnya Cuma jd NUHIGA. Jadi Menurut Pandangan Dharma sang Buddha apa Sebabnya? Gimana menurut Temen2. Teman2 tlg ks koment yg benar dan berguna, sadhu.

      Tlg yg suka komen di wall ini agar jujur menuliskan Pekerjaannya apa, trims sadhu.

      Catatan (Maaf Jangan Marah):
      Kelainan Gen/DNA: Gen artinya Genetik/ DNA ialah spt BENCONG/ BANCI, kalau bahasa Pali PANDAKA.
      JONGOS: dari bahasa Sunda/Jawa yg artinya bisa Pembantu, Pegawai, atau Pesuruh.
      LL: artinya luntang-lantung alias nganggur.
      Boke: artinya tdk punya Uang yg cukup untuk Nikah.
      Bandot Tua: artinya Bujang Lapuk, Jejaka tdk Laku.
      NUHIGA: Istilah Plesetan yg artinya NUMPANG HIDUP GRATIS.

      INGAT! Diskusi Dharma inipun termasuk Latihan Pengendalian Batin, cb Perhatikan bagaimana Gejolak Batin anda waktu membaca ini. Lalu wkt memberi komen hrs bagaimana yg kira2 sesuai Dharma, demi manfaat orang banyak. Apakah Emosi, Benci, Dendam, Sok Pinter, Munafik dan Kebodohan msh DERAS KELUAR, atau sdh agak berkurang, dst…

      Latihan Pengendalian Batin jng hnya wkt enak2, enjoy, dipuji, disanjung, tdk ada guncingan. Namun, Latihan Pengendalian Batin yg sebenarnya saat2 spt ini, yg amat menguntungkan demi Kemajuan Batin anda, sebagai Ujian Batin.

      Silahkan komen temen2 sebelumnya trims atas perhatian anda semua.[Baca tanggapan tentang itu: di sini]

    dan ini (klik!)

      [Wirajhana Eka:]
      Bhante Sudhammacaro,
      Setelah sy pikir2, maka status bhante yang ini:

        Tanya: Bhante, di Indo bnyak umat Buddha hingga ribuan msh muda2, tp yg mau jd bhikkhu sangat minim. Padahal mereka sdh tahu jd bhikkhu bs membantu anggota Sanggha dg tugas yg bnyak d berat. Juga berkahnya amat mulia. Apa karena Mereka ada Kelainan Gen/DNA atau Penakut? Mereka malah lbh suka Memilih jd JONGOS nya para bhkkhu. Padahal Mereka tdk Kerja (LL), Nikah tdk mau krn BOKE, malah milih jd Bandot Tua, senengnya Cuma jd NUHIGA.[..], [Detail lengkapnya: di sini]

      menjadi semakin sangat menarik buat saya, karena:

      a. Alur kejadian yg berkesinambungan dengan fakta historikal atas kejadian yg telah dialami Bhante sebelumnya yang MUNGKIN SAJA telah menimbulkan efek psikologis traumatis pada diri bhante

      b. Tulisan tersebut membutuhkan penyitaan waktu pemikiran khusus di sebelum, saat, membaca ulang dan koreksi sebelum mengirimkan serta membaca lagi feedback tulisan dalam beberapa kurun waktu sebelum mereda dengan sendirinya. Ini menunjukan pikiran bhante sangat melekat pada pemikiran ini.

      c. Penggunaan HURUF BESAR pada beberapa kata sebagai efek penarik perhatian pembaca pada kata itu, menunjukan ada indikasi bahwa pertanyaan itu bukanlah pernyataan real namun pertanyaan imaginer.

      Saya tidak mampu menetapkan 1 arti/maksud yg pasti pada status bhante di atas, karena terdapat banyak kemungkinan maksud pada status itu, diantaranya:

      1. “gw adalah bhikku sehingga ngga masuk di definisi tsb”.

      2. “Apapun yg gw lakukan, gw kan Bhikkhu..sementara anda masih mengais jasa kebaikan dari kami”.

      3. “apapun tingkah kami, kalian itu tidak selevel dengan kami”.

      4. “Apapun lo omongin, toh faktanya kalian cuma bisa omdo [omong doang], sementara kami jelas tidak. Sekurangnya kami terjun langsung di posisi praktek tidak melekat. Ttg Dhamma, kami bukan sekedar tau tapi sudah mempraktekan, ketika kami menyatakan dengan kata meminta pendapat, maka itu cuma basa-basi, karena apapun yg kalian sampaikan toh cuma omdo dan tidak seperti kami yaitu dengan praktek”

      5. “kalo saya saja mampu jadi bhikkhu…maka kenapa anda masih saja ragu2”

      6. Kemungkinan motif agar tertanam persepsi NEGATIF dari para pembaca mengenai para bhikkhu.

      Point 1-4, menunjukan pikiran yg tidak positif.
      Poin ke-5, menunjukan ada sikap batin metta, karuna dan muddita.
      Point ke-6 menunjukan adanya satu indikasi motif yg tentu saja belum tentu benar

      Untuk itu bhante,
      Dari 6 (enam) kemungkinan tersebut diatas, maka bhante berada di posisi no. berapa?

      Koment dan arahan dari bhante sangatlah berharga untuk saya nantikan, silakan bhante berkenan menjawab.

      Anumodana.

      [note:
      Kepada para Moderator, jika pertanyaan dan pernyataan di atas dianggap tidak mencerminkan semangat grup ini, maka mohon jangan ragu-ragu untuk menghapusnya. Tks] [Baca tanggapan tentang itu: di sini]

    O ya, manusia berkostum bhikkhu ini ternyata doyan angpapo!

      ” Tapi, ada saja pengurus wihara yg tahu bhante dan mau undang bhante untuk terima Angpao Kathina. Nanti terakhir di Binus tg 13, total cuma tiga kali Panen dalam bulan Kathina ini. ” [Di ambil oleh Sonie halim dari grup “Bebas berdialog agama Buddha”, kepunyaan MUDITA DEWI, lihat: di sini]

    Perhatikan tulisan di atas!

    Sungguh tidak ada rasa MALU…Ybs beranggapan pelanggarannya [dukkhata] tidak masalah karena “cukup baca Ajja me uposatha 3x..lunas.”

    LUNAS?….

    PENGERTIAN aliran mana yg mengartikan PERBUATAN BURUK adalah LUNAS dengan mengucapkan hal ini?

    Telak2 disini, aliran theravada tidak pernah menyatakan kamma buruk akan lunas dengan mengucapkan ajja me uposatha!

    Orang ini jelas2 BUKAN THERAVADA!

    Satu set prilaku buruk dengan menyamar memakai jubah dan melakukan perbuatan buruk menghina Bhikkhu2 lain, memfitnah bhikkhu2 lain dan terutama MELAKUKAN KAMMA BURUK dengan menghina dan memburuk2an sangha…mengindikasikan bhw ada motif tertentu yang MELATARBELAKANGI HAL INI!

    Ybs dan KRONINYA gw duga berasal dari aliran NON theravada!

    Motifnya gw duga cuma sekedar uang..uang..dan uang!

    Kelihatannya para umat alirannya udah mulai pada cerdas…mereka mulai tau bahwa aliran mereka TIDAK BERSANDARKAN SUTTA…Sehingga makin ditinggalkan dan penghasilan pengurusnya menurun…cilakanya tindakan recovery yg dilakukan hanyalah memupuk kamma buruk…dan ketauan pula BELANGNYA!

    Nah,
    Untuk bahan verifikasi asal muasal dan tulisan2 yang membuat terbukanya kedok sang srigala berbulu domba yg doyan angpau ini silakan lihat sendiri detailnya pada status Facebook: ke-1, ke-2, ke-3, ke-4,ke-5, ke-6, ke-7 dan ke-8

    Selamat membaca:)

    note:
    Pada tanggal, 18 Maret 2006, pada RaPim Sangha Theravada Indonesia, ybs membuat surat pengunduran diri tulis tangan, yang isinya antara lain menyatakan, “Dengan demikian segala tindak tanduk atau kesalahan yang dilakukan oleh saya mulai hari ini diluar tanggung jawab Sangha Theravada Indonesia. Mohon maaf bilamana ada kesalahan melalui ucapan perbuatan yang saya lakukan selama ini, semoga dikemudian hari saya akan menjadi lebih baik.

    Pada tanggal, 19 Maret 2006, Pengunduran dirinya di terima, dan terdapat kalimat diantaranya, “selanjutnya apapun yang dilakukan oleh Bhikkhu Sudhammacaro tidak mempunyai keterkaitan dengan Sangha Theravada Indonesia.

    Tindaklanjut Sangha Theravada Indonesia berikutnya adalah mengirimkan surat pemberitahuan kepada semua pihak, baik masyarakat buddhis maupun non buddhis, majelis atau lembaga keagamaan yang isi antara lain mengumumkan bahwa ybs, “BUKAN SEBAGAI ANGGOTA SANGHA THERAVADA INDONESIA, dan segala apapun yang dilakukan oleh Bhikkhu Sudhammacaro tidak lagi mempunyai keterkaitan dengan Sangha Theravada Indonesia.

    Perlu diketahui,
    ADALAH ANEH jika seseorang Bhikkhu mengundurkan diri hanya karena persoalan pribadi, sehingga tentunya terdapat persoalan besar yang melatarbelakangi hal ini dan diantaranya adalah pelanggaran Vinaya kebhikkhuan, yaitu tidak mengajarkan hal-hal yang berbau klenik dan tidak mendukung itu baik secara langsung maupun tidak misalnya dalam menterjemahkan yang berisi ajaran-ajaran tersebut, mencetak dan juga mendapat keuntungan daripadanya serta aktif menerima/mengumpulkan uang, mengatur uang masuk kedalam rekeningnya sendiri dengan menggunakan nama premannya sendiri sebelum ia menjadi bhikkhu:

      Goey Tek Jong-BCA-407019xxxx-Jakarta.
      Laporan Dana dan minta dikirim buku email: b_sudhammacaro@yahoo.com
      website Fenomena Dhamma: http/www.sudhammacaro.blogspot.com.
      facebook: Bhante Sudhammacaro.
      [sumber: sudhammacaro.blogspot.com]

    Apa Implikasi dari hal ini?

    Ini merupakan PELANGGARAN VINAYA Nissaggiya Pacittiya 18, 19 dan 20, tentang tidak boleh menerima/menyimpan uang [barang berharga] [lihat di sini]. Dalam AN.4.62 [2.53],Sang Buddha mengatakan noda bagi para brahmana adalah sebagai berikut:

      Demikian pula, para bhikkhu, ada empat kekotoran bagi para petapa dan brahmana. Karena dikotori olehnya, beberapa petapa dan brahmana tidak bersinar, menyala dan memancarkan sinarnya. Apakah yang empat itu?
      [..]
      Kemudian ada beberapa petapa dan brahmana yang menerima emas dan perak, yang tidak menjauhkan diri dari menerima emas dan perak. Inilah kekotoran ketiga bagi para petapa dan brahmana. Karena dikotori olehnya, beberapa petapa dan brahmana tidak bersinar, menyala dan memancarkan sinarnya.
      [..]
      Para bhikkhu, inilah empat kekotoran batin bagi para petapa dan brahmana. Karena dikotori olehnya, beberapa petapa dan brahmana tidak bersinar, menyala dan memancarkan sinarnya.36

      Catatan Kaki:
      36 Dari empat kekotoran batin bagi para petapa, ..menerima emas dan perak (termasuk juga apa pun yang berfungsi sebagai alat penukar moneter) di bawah Nissaggiya-pacittiya 18.

    Juga dalam sutta Maniculaka Sutta [SN 42.10]:

      Pada satu kesempatan yang Terberkahi tinggal di Räjagaha di mana tupai-tupai dan burung-burung diberi makan bernama Veluvana. Saat itu di Istana Räja, anggota kerajaan sedang mengadakan pertemuan dan di dalam pertemuan tersebut muncul perbincangan di antara mereka sebagai berikut;

      Emas, perak, dan uang adalah layak bagi para bhikkhu yang merupakan putra-putra dari Pangeran Sakya (Buddha). Bhikkhu-bhikkhu tersebut yang merupakan putra-putra dari Pangeran Sakya menyetujui emas, perak, dan uang. Para bhikkhu yang merupakan putra-putra Pangeran Sakya menerima emas, perak, dan uang.

      Namun pada saat itu Maniculaka sang kepala desa juga turut hadir dalam pertemuan itu dan ia mengatakan dalam pertemuan itu sebagai berikut;

      O tuanku, janganlah berkata demikian. Emas, perak, dan uang tidaklah layak bagi para bhikkhu yang merupakan putra-putra Pangeran Sakya. Putra-putra Pangeran Sakya tidaklah menyetujui juga tidak menerima emas, perak, dan uang. Mereka telah melepaskan keterikatan pada emas,peermata, dan tanpa uang.

      Tetapi Maniculaka Sang kepala desa tidak mampu meyakinkan pertemuan tersebut. Maka Maniculaka menjumpai Sang Buddha setelah menghampirinya, bersujud, dan duduk di satu sisi. Selagi duduk di satu sisi Maniculaka sang kepala desa berkata kepada Yang Terberkahi;

      ‘Bhante, di Istana Räja para anggota kerajaan sedang berkumpul (dan ia mengulangi semua yang ia ucapkan seperti di atas) tetapi bhante, saya tak mampu untuk meyakinkan pertemuan tersebut.

      ‘Bhante, dengan menjelaskan seperti itu apakah saya telah berbicara sesuai dengan apa yang Bhante katakan ataukah saya telah salah dalam menggambarkan apa yang Bhante katakan? Apakah jawaban yang saya berikan sesuai dengan ajaran atau akankan seseorang yang berbicara sesuai dengan ajaran ini menemukan alasan untuk mengecam saya?

      ‘Anda benar, kepala desa, dengan menjelaskan secara demikian, dia adalah orang yang berbicara sesuai dengan kata-kataKu dan tidak salah dalam menggambarkannya. Anda telah menjawab sesuai dengan ajaran ini dan seseorang yang berbicara sesuai dengan ajaran ini tidak akan menemukan alasan untuk mengecam anda.

      Untuk itulah, kepala desa, emas, perak, dan uang tidaklah layak bagi para bhikkhu keturunan putra-putra Pangeran Sakya. Merekapun tidak menyetujui emas, perak atau uang, juga tidak menerima emas, perak dan uang. Mereka semua telah melepaskan kepemilikan terhadap emas dan permata dan juga tanpa uang

      ‘Kepala desa, untuk siapapun emas, perak dan uang jika diperbolehkan maka baginya kelima kenikmatan indria dapat diperolehnya. Bagi siapapun kelima kenikmatan indria diperbolehkannya maka anda dapat memastikan’, Dia tidak memiliki sifat bawaan seorang bhikkhu, dia tidak memiliki sifat bawaan dari putra seorang Pangeran Sakya.

      ‘Kepala desa, inilah yang benar-benar Kukatakan, ‘Seorang bhikkhu yang membutuhkan rumput, rumput dapat dicarinya. Bagi bhikkhu yang membutuhkan kayu, kayu dapat dicarinya. Bagi bhikkhu yang membutuhkan kereta, kereta dapat dicarinya. Tetapi kepala desa, saya juga katakan. Tidak dalam cara apapun emas, perak atau uang dapat diterima atau dicari.

    Dan Ia langgar itu!

    Sudhamacaro alias Goey Tek Jong juga mengaku di Upasampada [tahbiskan] oleh SanghaRaja Somdet Phra Nyanasamvara seperti juga para pendiri dari Sangha Theravada Indonesia. Sehingga, mereka semua [Somdet Phra Nyanasamvara, Ia dan Sangha Theravada Indonesia] mengikuti vinaya dan vatta (tugas-tugas) sesuai aliran Dhammayutika.

    Di atas disampaikan bahwa ke-2 Aliran Theravada Thailand tetap bermonastik pada 1 Badan yang diketuai oleh sangharaja. Jadi, ketika Ia mengundurkan diri, maka ia tidak hanya mengundurkan diri dari organisasi sangha Theravada Indonesia, namun sekaligus bukan lagi Bhikkhu anggota Sangha dari Theravada!

    5 (Lima) tahun lebih telah berlalu dari peristiwa itu, namun tidak kurang banyak statement ngawur tak berdasar yang dihujankannya ke mana-mana. Rupanya kebiasaan buruk sudah merupakan bagian dari wataknya sendiri sehingga kelakuannya tak kunjung berubah.

    Misalnya saja pada kejadian di Facebook,
    Admin dan anggota di grup Dhammacitta, bertanya banyak hal, di antaranya apakah ybs tidak pernah terima uang dan juga meminta klarifiksi darinya atas beberapa pernyataan darinya yang tidak benar.

    Mau tau apa jawabannya?

    BUNGKAM, BUNGKAM, BUNGKAM dan BUNGKAM..hingga akhirnya Ia ditendang dari situ 🙂

    Dengan kekacauan sikap dan prilakunya, Ia sama sekali tidak menyerupai orang yang pernah bertahun-tahun menjadi Bhikkhu, dan bahkan tingkahnya itu telah membuatnya, BUKAN SAJA di tendang dari Sangha Theravada, namun juga ditendang dari berbagai grup Buddhis yang ada di FACEBOOK!

    Rupanya, bagi SEKTE NON THERAVADA, kelakuan-kelakuan yang melanggar DHAMMA dan VINAYA ke-Bhikkuan adalah hal yang wajar-wajar saja dan Ia malah dielu-elukan..

    Sungguh..sesuatu banget, bukan?!

    [sumber: dari tulisan di sini dan di sini, yang merupakan hasil komentar dan tanggapan dari buanyak orang]

Akhir kata sebagai pengingat,
BERJUBAH dan GUNDUL belum tentu BHIKKU, Waspadai BHIKKU pelanggar VINAYA yg sudah di tendang dari KEANGGOTAAN SANGHA namun masih menyamar menjadi BHIKKHU.


Gambar berasal dari sini di sini, di sini, di sini dan di sini


Catatan:

[1] Bagi Bhikkhu yang tidak sakit, terdapat aturan Makan 1x sehari sebelum tengah hari. Aturan itu, telah berulang kali disampaikan Sang Buddha, dalam beberapa sutta, di antaranya:

    DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” – mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

    “Para bhikkhu, Aku MAKAN SEKALI SEHARI [ekāsanabhojanaṃ]. Dengan melakukan demikian, Aku bebas dari penyakit dan kesengsaraan, dan Aku menikmati kediaman yang ringan, kuat, dan nyaman. Marilah, para bhikkhu, MAKAN SEKALI SEHARI [ekāsanabhojanaṃ]. Dengan melakukan demikian, kalian juga akan bebas dari penyakit dan kesengsaraan, dan kalian akan menikmati kediaman yang ringan, kuat, dan nyaman.”

    Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Bhaddāli berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, Aku tidak mau MAKAN SEKALI SEHARI [ekāsanabhojanaṃ]; karena jika aku melakukan demikian, aku akan merasa cemas dan khawatir akan hal itu.”

    “Kalau begitu, Bhaddāli, makanlah pada satu bagian di sana di mana engkau diundang dan bawalah satu bagian untuk dimakan. Dengan memakan demikian, engkau akan memelihara tubuhmu.”

    “Yang Mulia, Aku tidak mau makan dengan cara itu juga; karena jika aku melakukan demikian, aku akan merasa cemas dan khawatir akan hal itu.”

    Kemudian, ketika aturan latihan ini ditetapkan oleh Sang Bhagavā, ketika Sangha para bhikkhu sedang menjalani latihan, Yang Mulia Bhaddāli menyatakan penolakannya [untuk menuruti peraturan]. Kemudian Yang Mulia Bhaddāli tidak menghadap Sang Bhagavā selama tiga bulan [masa vassa], seperti yang terjadi pada seseorang yang tidak memenuhi latihan dalam Pengajaran Sang Guru.

    [..]

    Kemudian Yang Mulia Bhaddāli mendatangi para bhikkhu itu dan saling bertukar sapa dengan mereka, dan ketika ramah-tamah itu berakhir, ia duduk di satu sisi. Ketika ia telah melakukan hal itu, mereka berkata kepadanya: “Teman Bhaddāli, jubah ini dibuat untuk Sang Bhagavā. Setelah jubah ini selesai, di akhir tiga bulan [masa vassa], Sang Bhagavā akan melakukan pengembaraan. Mohon, teman Bhaddāli, perhatikanlah nasihat ini. Jangan biarkan hal ini mempersulitmu kelak.”

    “Baik, teman-teman,” ia menjawab, dan ia menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan berkata: “Yang Mulia, suatu pelanggaran menguasaiku, seperti seorang dungu, bingung, dan melakukan kesalahan besar, ketika suatu peraturan latihan ditetapkan oleh Sang Bhagavā, ketika Sangha para bhikkhu menjalani latihan, aku menyatakan penolakanku [untuk menuruti peraturan]. Yang Mulia, sudilah Yang Mulia memaafkan pelanggaranku dilihat seperti demikian demi pengendalian di masa depan.”

    “Tentu saja, Bhaddāli, suatu pelanggaran menguasaimu, seperti seorang dungu, bingung, dan melakukan kesalahan besar, ketika suatu peraturan latihan ditetapkan olehKu, ketika Sangha para bhikkhu menjalani latihan, engkau menyatakan penolakanmu [untuk menuruti peraturan][..] [MN65/Bhaddali sutta]

    ***

    Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu, pernah terjadi suatu peristiwa di mana para bhikkhu memuaskan pikiranKu. Di sini Aku berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut:

    ‘Para bhikkhu, Aku MAKAN SEKALI SEHARI [ekāsanabhojanaṃ]. Dengan melakukan hal itu, Aku terbebas dari penyakit dan penderitaan, dan Aku menikmati kesehatan, kekuatan, dan kediaman yang nyaman. Ayo, para bhikkhu, MAKAN SEKALI SEHARI [ekāsanabhojanaṃ]. Dengan melakukan hal itu, kalian akan terbebas dari penyakit dan penderitaan, dan kalian akan menikmati kesehatan, kekuatan, dan kediaman yang nyaman.’

    Dan Aku tidak perlu terus-menerus memberikan instruksi kepada para bhikkhu itu; Aku hanya perlu membangkitkan perhatian dalam diri mereka. Misalkan ada sebuah kereta di tanah yang datar di persimpangan jalan, ditarik oleh kuda-kuda berdarah murni, menunggu dengan tongkat kendali siap untuk digunakan, sehingga seorang pelatih terampil, seorang kusir dari kuda-kuda yang harus dijinakkan, dapat menaikinya, dan memegang tali kekang dengan tangan kirinya dan tongkat kendali di tangan kanannya, dapat menjalankannya maju dan mundur melalui jalan manapun yang ia sukai.

    Demikian pula, Aku tidak perlu terus-menerus memberikan instruksi kepada para bhikkhu itu; Aku hanya perlu membangkitkan perhatian dalam diri mereka.

    “Oleh karena itu, para bhikkhu, tinggalkanlah apa yang tidak bermanfaat dan tekunilah kondisi-kondisi yang bermanfaat, karena itu adalah bagaimana kalian akan mengalami kemajuan, peningkatan dan pemenuhan dalam Dhamma dan Disiplin ini.

    Misalkan terdapat hutan besar pepohonan sāla di dekat sebuah desa atau kota, dan hutan itu terganggu oleh rerumputan jarak, dan seseorang datang menginginkan kebaikan, kesejahteraan, dan perlindungan. Ia akan menebang dan menyingkirkan anak-anak pohon yang bengkok yang merampas getah, dan ia akan membersihkan bagian dalam hutan dan memelihara anak-anak pohon yang lurus dan berbentuk baik, sehingga, hutan pohon-sāla itu akan mengalami kemajuan, peningkatan dan pemenuhan.

    Demikian pula, para bhikkhu, tinggalkanlah apa yang tidak bermanfaat dan tekunilah kondisi-kondisi yang bermanfaat, karena itu adalah bagaimana kalian akan mengalami kemajuan, peningkatan dan pemenuhan dalam Dhamma dan Disiplin ini.[MN21/Kakacūpama Sutta]

    ****

    Bhikkhu, para murid ariya di dalam sasana ini:
    Para Arahat, sepanjang hidup[ Yāvajīvaṃ] makan 1 kali sehari [ekabhattikā], tidak di malam hari [rattūparatā], menahan Diri makan di waktu yang salah [virataṃ vikālabhojanā].
    “Kamu semua makan hanya 1x dan tidak di malam hari, menahan diri makan di waktu yang salah. Selama siang dan malam, aturan ini, telah engkau ketahui di ikuti para arahan dan Uposatha akan dijalankan oleh kalian. Ini adalah sila ke-6 dari Uposatha [AN 8.41/Uposatha Sutta]

    ****

    Para Arahat, sepanjang hidup[ Yāvajīvaṃ] makan 1 kali sehari [ekabhattikā], tidak di malam hari [rattūparatā], menahan Diri makan di waktu yang salah [virataṃ vikālabhojanā].
    Aku pun siang dan malam ini akan makan hanya sekali, tidak makan pada malam hari, menjauhkan Diri dari makan pada waktu yang salah .
    Dengan cara demikianlah Aku mengikuti jejak Para Arahat, dan menjalankan Uposatha. Inilah Sila Ke-6 yang dijalankan. [AN 3.70/Uposatha Sutta]

    ****

    Perumah tangga Gavesin dan 500 Pengikutnya di jaman Kassapa Buddha: ‘Mulai sejak saat ini, Aku ingin kalian tau (pada 500 pengikutnya) aku adalah orang yang makan 1 kali sehari [ekabhattikaṃ], tidak di malam hari [rattūparataṃ], menahan diri makan di waktu yang salah [virataṃ vikālabhojanā]’ [AN 3.180/Gavesin Sutta]

    ****

    Mereka para samana dan brahmin yang makan 1 x sehari, tidak di malam hari, menahan diri makan di waktu yang salah [AN 5.228/Ussura-bhatta sutta]


No Jobs, No Hope and No Cash? Fine! No Mobile Dick? Never!


Republika bilang bahwa sepupu Steve Jobs, Bassma Al Jandali, menegaskan trah Jandali punya garis keturunan langsung dengan Nabi Muhammad SAW!

“Ayah Steve, Paman saya, Abdul Fattah John Jandali datang dari Homs. Keluarga Jandali adalah keluarga yang punya hubungan darah dengan keluarga Nabi Muhammad SAW,” kata Bassma, seperti dikutip dari Gulf News. Basma adalah seorang jurnalis di Timur Tengah.

Sangat sedikit orang tau tentang keluarganya Steve Jobs. Abdul fattah Jandali, seorang Muslim Suriah, mengadopsi bayi laki-laki dan ya itu adalah Steve Jobs. Ayahnya adalah seorang profesor ilmu politik. Ibunya adalah salah satu murid ayahnya. Mereka mengadopsinya, setelah kelulusan mereka, kemudian menikah dan punya anak lagi.

Selain itu, banyak orang berpikir bahwa ia adalah seorang Yahudi atau Kristen, tetapi kenyataannya, walaupun secara biologis adalah setengah Muslim, namun Jobs adalah penganut Buddha aliran Zen dan bahkan Ia pernah terpikir untuk menjadi biksu.

Well, ternyata di antara keturunan Nabi SAW, ada yg tidak berhasrat menjadi seorang jihadis kawakan, yang surganya didapat dengan cara menewaskan para musuh Allah dan agama + ikut tewas bersama mereka, seperti amanat AQ 3:169-173 (klik!)

    Tafsir Ibn Kathir (klik!)

    AQ 3:169-173

    Allah berkata meskipun para martir terbunuh, bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki tinggal dalam keabadian. Di Sahih Muslim, Masruq berkata, “Kami bertanya ‘Abdullah tentang hal Ayah,

    (Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.)

    Dia mengatakan, `Kami bertanya kepada Rasulullah saw pertanyaan yang sama dan dia berkata,
    Jiwa mereka ada di dalam burung hijau yang memiliki lampu, menggantung di bawah Arsy (Allah), dan mengembara ke surga mana pun mereka mau, Kemudian kembali ke lampu. Allah melihat mereka dan berkata, `Ada yang kalian inginkan’ Mereka berkata, `Apa lagi yang kami inginkan, ketika kami dapat pergi ketempat manapun yang kami inginkan di surga ini” Allah bertanya kepada mereka tiga kali, dan mereka menyadari bahwa Ia akan terus bertanya hingga mereka memberikan jawaban, mereka kemudian berkata, ` Ya Tuhan Kami berharap bahwa jiwa kami dapat dikembalikan ke tubuh kami lagi sehingga kami dapat tewas untuk mu lagi!’. Allah tau bahwa mereka ngga punya keinginan lain, dan Alah kemudian berlalu”.

    Ada beberapa riwayat lain yang serupa dari Anas dan Abu Sa `id.

    Imam Ahmad mencatat bahwa Anas berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,
    Tidak ada jiwa yang baik dimata Allah ketika mati ingin kembali ke dunia ini, kecuali untuk menjadi martir Dia ingin dikembalikan ke dunia ini agar bisa jadi martir lagi,. Karena rasa kehormatannya di capai dari kemartiran.

    Muslim juga mengumpulkan hadis ini

    Selain itu, Imam Ahmad mencatat bahwa, Ibnu `Abbas berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,
    Ketika saudara-saudaramu terbunuh di Uhud, Allah menempatkan jiwa mereka di dalam burung hijau yang menuju pada sungai-sungai surga makan dari buah-buahnya Mereka kemudian kembali ke lampu emas yang tergantung di bawah Arsy. Ketika mereka merasakan kenikmatan makanan, minuman dan tempat tinggal, mereka berkatan, `Kami berharap bahwa saudara-saudara kita tahu apa yang Allah berikan kita sehingga mereka tidak akan meninggalkan jihad atau peperangan ‘Allah berkata,` Aku akan menyampaikan berita ini bagimu”.

    Allah menyampaikan dan Ayat berikut ini,
    (Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup[248] disisi Tuhannya dengan mendapat rezki)

    Qatadah, Rabi `Ar-dan ad-Dhahhak berkata bahwa ayat ini turunn berkenaan dengan martir Uhud.

    [..]

    Ahmad dan Ibnu Jarir dikumpulkan hadis ini, yang memiliki rantai yang baik narasi. Tampak bahwa para martir adalah dari jenis yang berbeda, beberapa berkeliaran di surga, dan beberapa lainnya berada dekat sungai dengan pintu surga. Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadis yang berisi kabar baik bagi setiap orang yg percaya bahwa jiwanya akan mengembara di surga, makan dari buah-buahnya, menikmati kelezatan dan kebahagiaan dan mencicipi kehormatan yang Allah siapkan baginya. Hadis ini memiliki rantai, unik otentik narasi yang mencakup tiga dari Empat Imam. Imam Ahmad meriwayatkan hadits ini dari Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i yang diriwayatkan oleh Malik bin Anas Al-Asbuhi, dari Az-Zuhri, dari `Abdurrahman bin Ka` b bin Malik bahwa ayahnya berkata bahwa Rasulullah mengatakan,

    Jiwa orang2 percaya menjadi burung memakan pohon-pohon surga, hingga Allah mengembalikannya kembali ke tubuhnya ketika Ia membangkitkan kembali mereka

    [..]

    Dua Sahihs merekam dari Anas, kisah para sahabat Anshar tujuh puluh yang dibunuh di Bir Ma `unah dalam satu malam. Dalam hadis ini, Anas melaporkan bahwa Nabi digunakan untuk berdoa kepada Allah di dalam doa Qunut terhadap mereka yang membunuh mereka. Anas berkata, “Sebuah bagian dari Al Qur’an diturunkan tentang mereka, namun kemudian dibatalkan [Tabari, vol. vii, p.156] dan Mubarakpuri [p.354] “Beritahu orang2 kami bahwa kami telah bertemu Tuhan. Dia sangat senang akan kami dan Dia telah membuat kami bahagia.”
    —-

    Jika anda perhatikan tafsir di atas, disamping terdapat informasi bahwa ada ayat Qur’an yang dibatalkan! Maka terdapat 2 (dua) kelompok hadis yang menyuarakan hal yang tidak singkron:

    • Tafsir di bagian atas mengutip hadis yang menyatakan bahwa mereka TELAH di SURGA dan hidup selamanya di surga.

      Bahwa SURGA dan NERAKA telah berpenghuni sebelum hari kiamat juga tercatat di hadis sahih Bukhari dan Muslim, yaitu ketika NABI melakukan perjalanan ke langit ke-7 pada Peristiwa Isra’ Miraj:

      Diriwayatkan Abu Dhar, Muhammad berkata, saat ia mencapai Langit pertama. Ia berjumpa Adam bersama jiwa-jiwa anak cucunya pada sisi kanan dan kiri Adam, dimana yang dikanannya merupakan penghuni Surga dan dikirinya adalah penghuni neraka [Bukhari 1.8.345, juga ada di hadis Muslim 1.313]

    • Tafsir di bagian bawah mengutip hadis yang menyatakan bahwa pada suatu saat, mereka (yang saat itu ada di surga), akan dikembalikan ke tubuhnya ketika akan dibangkitkan kembali.

      Padahal Quran menginformasikan bahwa SURGA dan NERAKA baru akan berpenghuni ketika kiamat tiba!

      Sebelum itu, semua manusia yang mati ditempatkan di alam kubur/Barzakh [AQ 6:93, 9:101, 18:99, 22:7, 23:101-104, 27:82-90, 39:67-75, 40:46, 56:1-56, 75:1-14, 79:34-41, 101:1-11]

      Tafsir Ibn kathir tentang ALAM BARZAH [AQ 23:100],

        Mujahid mengatakan, Al-Barzakh adalah penghalang antara dunia dan akhirat. Muhammad bin Ka `b berkata,”Al-Barzakh adalah apa antara dunia dan akhirat, Bukan orang-orang di dunia ini, makan dan minum, atau orang-orang di akhirat, yang mendapatkan pahala atau hukuman karena perbuatan.”Abu Sakhr berkata, “Al-Barzakh mengacu pada kuburan. Mereka tidak di dunia ini maupun akhirat, dan mereka akan tinggal di sana sampai hari kiamat.’

      Isi Tafsir itu adalah selaras dengan bunyi dari:

      • AQ 22:7, “dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur
      • AQ 23:16, “Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.” atau di
      • AQ 16:84. Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (rasul), kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir (untuk membela diri) dan tidak (pula) mereka dibolehkan meminta ma’af.
      • Juga di AQ 7:14, 15:36, 30:56, 40:51!

    O ya,
    Terdapat hal menarik ketika Jibril menenemani nabi ke langit ke-7 dalam Peristiwa Isra’ Miraj:

    • Di SURGA, ternyata ada sungai Nil dan Efrat!! 🙂
      • Di langit ke-2 [Bukhari Vol.9 Book 93 No.608]
      • Di langit ke-7 [Muslim book 1 no.314 dan Bukhari Vol.4 Book 54 No.429, Vol.5 Book 58 No.227]
      • Di langit, namun tidak disebutkan langit keberapa [Muslim Book 040 no.6807 dan Bukhari Vol.7 Book 69 No.514]
    • Jibril tercatat mampu mengenali Nabi-nabi yang telah wafat luamaaa sekali, namun KOCAKNYA, JIBRIL koq malah NGGA MAMPU mengenali Ayah dan Ibu Nabi, kakek nabi ato bahkan BAHKAN paman Nabi Abu Thalib yang wafat dengan jarak berdekatan dgn Khadijah yaitu < 1 tahunan dari peristiwa Isra' Mira'j ini?

      Mereka semua ada di neraka! Jadi, seharusnya ada terlihat di barisan sebelah kiri Adam 🙂

      …dan entah kenapa, Jibril dan Nabi, tiba-tiba saja mengalami amnesia berat..tidak mampu mengenali 1 pun di antara mereka yang saat itu tentunya ada di jajaran kiri Adam 🙂

      Mereka semua masuk neraka ya karena disesatkan oleh Allah! “Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya” [AQ 35.8; 14.4; 16.93; 13.27; 47.1,8]

      Lhhoo??!! Di ayat lainnya malah dibilang yang bertugas menyesatkan itu kan iblis! [misal di AQ 15:39, 36:26, 38:82]

    Hehehehe…di dalam 1 kitab yang sama..telah terjadi saling pertentangan dan pembunuhan..:)

Jobs, rupanya lebih memilih jalan yang kafir dan menjadi Buddhis :).


Berlawanan dengan cara-cara yang di jual di ajaran Abrahamik bahwa selama sebelum wafat udah menyembah tuhan dan/atau mengakuinya sebagai nabi ato menjadi martir maka jatah surga dah digenggaman :). Menjadi seorang Buddhis tidaklah serta merta dapat jaminan jatah surga karena tercatat dalam ajaran Buddhisme sendiri bahwa banyak juga yang bahkan telah menjadi biksu lebih dari 10 tahun dan hidup di jaman Buddha Gautama, Ehh..malah terlahir kembali di alam neraka (misal: Devadatta) atau di alam binatang (Tissa). Tidak kurang, bahkan sang Buddha sendiri aja pernah terlahir di alam binatang dan alam hantu pada kehidupan-kehidupan beliau sebelumnya.


Namun demikian, untuk masuk surga itu mudah, koq!

Ngga pake nyembah si anu, mengakui si anu jadi nabi, mati konyol ala teroris setelah membunuhi orang-orang yang tak seiman, ato setelah ngacak2 di tempat ibadat lain dan bahkan ngga perlu juga harus menjadi Buddhis kalo cuma sekedar mo masuk surga aja sih. Mmmh, pasti ngga percaya, kan?! Ya baca dan coba renungkan sendiri link tersebut

Balik ke jobs lagi..

Jobs, sang almarhum ini ternyata bukanlah seorang vegetarian sebagaimana ramai di klaim para penjual fanatik vegeratarian.

Jobs adalah seorang pecestarian. Kata “Pesce” berasal dari bahasa Itali yang artinya adalah “ikan”. Jadi selain ikan (dan mukin telor), mereka berpantangan makan daging lainnya.

Jobs, sang almarhum dah kadung di cap PELIT!

Bisa jadi karena pemberitaan ketika ia menyetop aktivitas sosial Apple hingga perusahaan itu menghasilkan untung dan cilakanya lagi sebagai seleb maha kaya, Ia ngga terlihat TAMPIL di media cetak dan elektronik manapun dalam memberikan sumbangan kayak para MULTI MILIONER lainnya.

Rupanya, diam-diam, Ia telah terlibat perang besar memerangi penyakit mematikan di Afrika dengan merogoh kocek sebesar 10 juta dolar bagi Global Fund to Fight AIDS, TBC, Malaria, yang berasal dari hasil penjualan produk Apple kemasan warna merahnya, juga di yayasan kanker pankreas, seperti yang dialaminya. Bahkan ternyata, sang istrinya pun pendiri yayasan yang berkecimpung dalam penyediaan mentor bagi anak2 yang kurang beruntung agar dapat menyelesaikan gelar kesarjanaan!

Ya, menyumbang emang ngga perlu gembar-gembor dan tepuk-tepuk dada, toh? Dan setelah kematiannya barulah orang-orang tau bahwa ia tidaklah pelit!


Speaking of wafat,
ramailah kemudian beredar sirkulasi lelucon yang membuat senyum, misalnya seperti yang dilansir ArabNews: “When America woke up yesterday morning it suddenly realized: 10 years ago they had Steve Jobs, Johnny Cash and Bob Hope. Today they have no Jobs, no Cash and no Hope!”

Penasaran karena pernah baca lelucon itu namun tanpa Steve Jobs, ternyata humor itu emang telah berusia tua! ngga tanggung2 lebih dari 40-an tahun lamanya!

  • 31 January 1973, The Star-Journal, surat kabar dari Saskatoon, Saskatchewan, Canada. dalam editorial, Jim Greenblat bilang, Ia dengar di sebuah station radio ketika seorang perempuan berkata, “The United States have Nixon, Johnny Cash and no hope. Canada has Trudeau, no cash and no hope.”
  • November 1980, United Press International (UPI), menerbitkan sebuah artikel setelah Michael Manley kalah ttg orang amerika dan Jamaika, orang Amerika bilang, “my country has a great political leader, Jimmy Carter, and great entertainers like Johnny Cash and Bob Hope”. Orang jamaika ngga mo kalah bilang, “We also have a great statesman, Michael Manley; but we have no cash and no hope.”
  • Juni 1986, Newsday, menceritakan seorang Nicaragua yang bilang, “The people in the United States have Johnny Cash, Bob Hope and Ronald Reagan. The people in Nicaragua have no cash, no hope and only Ortega.”
  • 1 Agustus 1986, di Atlanta Journal & Constitution, yang menyinggung tentang stiker mobil di London, “The U.S. Has Ron Reagan, Johnny Cash, Bob Hope and Stevie Wonder. We Have Margaret Thatcher, No Cash, No Hope And It’s No Wonder”. Dengan tambahan Stevie Wonder, pada porsi “no wonder” lelucon ini manteng ada hingga akhir tahun 90-an.

So, Mr. Steve Jobs, met jalan aja deh..It’s Okay whether no more Jobs, Hope and Cash as long as not a mobile Dick..


Sumber tulisan dan gambar berasal dari: sini, sini, sini, TribunNews, sini, sini, sini dan sini


Tabib Jivaka, Para Pelacur, Kathina dan Ayur-Veda!


Di Vesali, hiduplah seorang wanita penghibur bernama Ambapäli. Wanita ini begitu indah, enak dilihat mata, pandai menari, menyanyi dan mahir memetik kecapi. Ambapali menjadi minat terbesar masyarakat Vesali saat itu. Mereka yang rindu bersamanya, haruslah puas untuk merogoh kocek 50 kahapana/malamnya. Vesali menjadi semakin bersinar bersama kehadirannya.

[(klik!) Kisah Ambhapali]

    Ediso ahu ayaṃ samussayo, Jajjaro bahu­duk­khā­namālayo; Sopalepapatito jarāgharo, sacca­vādi­vacanaṃ anaññathā
    Demikianlah tubuh ini. dipenuhi keriput, sarang berbagai penyakit; rumah tua dengan dinding mengelupas, ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

    Di jaman Buddha Phussa, Buddha ke-21, Buddha di 91 Maha Kappa sebelum Buddha Gautama, ia terlahir dari keluarga ksatriya dan melakukan banyak kebajikan berdana yang menyebabkan ia kelak terlahir selalu cantik. [Ap.ii.613ff; ThigA.213f]

    Di jaman Buddha Buddha Sikhī, Buddha ke-23, Buddha di 31 Maha Kappa sebelum Buddha Gautama, ia terlahir menjadi Bhikkuni. Ketika ia masih menjadi Samaneri (calon Bhikkhuni), Ia ikut bagian pada sebuah upacara penasbihan Bhikkhuni. Ketika ia hendak memberikan penghormatan di tempat suci, seorang Bhikkhuni arahat di depannya membuang ludah di halaman tempat suci tersebut dan tanpa mengetahui siapa yang meludah ia mencela, “pelacur macam mana yang meludah disini?”[ThigA.206-7]

    Sebagai hasil dari pelecehannya pada Bhikhhuni arahat tersebut, Ia terlahir di neraka dan kemudian selama 10.000 kehidupan kemudian terlahir menjadi seorang pelacur.

    Di jaman Buddha Kassapa Buddha ke-27, di Maha Kappa yang sama dengan Buddha Gautama, Ia terlahir dan menjadi Bhikkhuni.(Ap.ii.613ff; ThigA.213f)

    Di jaman Buddha Gautama, di Maha Kappa ini, di suatu pagi, seorang tukang kebun dari Kerajaan Licchavi di Vaseli, menemukan seorang bayi perempuan terbaring di bawah pohon mangga dan memberikannya nama Ambapali, yang berasal dari kata amba (mangga) dan pali (garis atau batang).

    Kemudian Ambapali tumbuh dan berkembang menjadi seorang gadis yang cantik dan anggun.

    Banyak pangeran dari Licchavi ingin menikahinya. Mereka saling bertengkar ingin menjadikan Ambapali sebagai isteri. Untuk menyelesaikan pertengkaran tersebut, mereka berdiskusi dan sepakat memutuskan, “Biarlah Ambapali menjadi milik semua orang.”

    Dengan demikian, Ambapali menjadi wanita penghibur. Dengan sifatnya yang baik, dia melatih ketenangan dan kemuliaan. Ambapali sering memberikan dana dalam jumlah besar dalam setiap kegiatan amal. Walaupun Ambapali seorang wanita penghibur, namun dia terlihat seperti ratu yang tak bermahkota di Kerajaan Licchavi itu.

    Ketenaran Ambapali menyebar dan terdengar oleh raja Bimbisara dari Magadha. Kemudian Raja Bimbisara menemuinya, Beliau sangat terpesona akan kecantikannya. Terjalinlah hubungan diantara Raja Bimbisara dengan Ambapali, dari hubungan tersebut lahirlah seorang anak laki-laki bernama Vimala.

    Di satu waktu ketika Buddha berkunjung ke Vesali, Vimala sangat terkesan pada beliau kemudian memutuskan menjadi Bhikkhu dan bernama Vimala Kondanna. Taklama setelah menjadi Bhikku, Vimala Kondanna mencapai tingkat kesucian Arahat.

    Pada masa vasa ke-45 atau terakhir dari Sang Buddha, setelah tinggal beberapa saat di desa Nàtika, beliau kemudian mengajak Ananda dan 500 Bhikkhu muda yang baru bergabung dengan sangha untuk menuju Vesali kemudian menetap di hutan mangga milik Ambapàli.

    Ketika Ambapàli, mengetahui sang Bhagavà menetap di hutan mangga miliknya, dengan mengendarai kereta terbaiknya, Ia pergi dari vesali dan menuju hutan mangga miliknya. Setelah mengendarai kereta sejauh yang dapat dicapai kereta itu, ia turun dari keretanya dan mendekati Bhagavà berjalan kaki. Ia bersujud kepada Bhagavà dan duduk di tempat yang semestinya.

    Setelah Bhagavà membabarkan manfaat-manfaat ajaran, Ambapàli berkata kepada Bhagavà, “Yang Mulia, sudilah Bhagavà menerima persembahan makanan dariku besok, bersama dengan para bhikkhu.”

    Bhagavà menerimanya dengan berdiam diri.

    Setelah mengetahui bahwa Bhagavà telah menerima undangannya, Ia bangkit dari duduknya, bersujud kepada Bhagavà dan pergi dari sana dengan penuh hormat.

    Ketika itu para pangeran Licchavi dari Vesali mengetahui pula akan kehadiran Sang Buddha dan mereka lalu berkata: “Sang Bhagava, katanya telah tiba di Vesali dan tinggal di kebun Ambapali.”

    Mereka pun menyediakan sejumlah kereta yang indah dan setiap orang mengendarai sebuah kereta, keluar dari Vesali. Di antara orang-orang Licchavi itu ada beberapa yang berpakaian biru dengan hiasan-hiasan yang biru pula, sedangkan yang lainnya memakai pakaian kuning, merah dan putih.

    Demikianlah di tengah jalan kereta-kereta Ambapali berpapasan dengan kereta-kereta pemuda Licchavi itu. Kereta-kereta itu saling bergeseran antara poros dengan poros, roda dengan roda dan gandar dengan gandar. Oleh karena itu orang-orang Licchavi bertanya: “Mengapa kamu berkendaraan menentang kami Ambapali?”

    “O pangeranku! Itu karena aku baru saja mengundang Bhagavà beserta para bhikkhu untuk menerima persembahan makanan dariku besok.”

    “Sekarang, Ambapàli, berikanlah kepada kami (dengan menukar) dengan seratus ribu (kesempatan untuk mempersembahkan)makanan itu (kepada Bhagavà)!”

    “O pangeranku, bahkan jika kalian memberikan kepadaku Vesàli bersama seluruh wilayah jajahannya, aku tidak akan menyerahkan (kesempatan untuk mempersembahkan) makanan ini.”

    Mendengar kata-kata tegas dari Ambapàli itu, para pengaran Licchavi melambaikan tangannya penuh kekaguman, mereka berseru, “Oh teman, kita telah dikalahkan oleh perempuan itu! Kita telah dikalahkan oleh perempuan itu!”

    Tetapi meski pun demikian mereka meneruskan perjalanan ke kebun mangga.

    Dari kejauhan Sang Bhagava melihat orang-orang Licchavi yang sedang mengendarai kereta mereka. Kemudian beliau berkata kepada para bhikkhu: “Siapa di antara para bhikkhu yang belum pernah melihat para dewa (surga) Tavatimsa? Sekarang kamu sekalian dapat melihat para Licchavi ini dan dapat memandangi mereka sebab mereka itu nampak seperti para dewa dari alam surga Tavatimsa.”

    [Kata-kata itu disampaikan Bhagava adalah untuk membangkitkan semangat dan juga kepentingan para bhikkhu muda tersebut agar lebih giat lagi berlatih seperti paparan khotbah-khotbah yang telah mereka terima selama ini, yaitu manfaat memberikan persembahan, dàna kathà, manfaat menjalani moralitas, sila kathà, yang dapat mengakibatkan terlahir di alam deva dan juga sagga kathà] seperti yang dilakukan kepada Bhikkhu Nanda dengan pancingan indriya namun juga ada alasan lainnya yaitu tentang ketidak kekalan, karena beberapa tahun kedepan para Licchavi itu akhirnya jugaakan mengalami kehancuran di tangan Raja Ajàtasattu. Saat itu banyak dari mereka akan memperoleh Pandangan Cerah dalam hal ketidakkekalan makhluk-makhluk hidup, yang menghasilkan Kearahattaan yang lengkap dengan Empat Pengetahuan Analitis].

    Kemudian para pangeran Licchavi mengendarai kereta mereka sejauh yang dapat dicapai oleh kereta, kemudian mereka turun dari kereta dan berjalan kaki ke arah Bhagavà. Mereka bersujud kepada Bhagavà dan duduk di tempat yang semestinya.

    Setelah Bhagavà membabarkan manfaat-manfaat ajaran, para pangeran Licchavi berkata kepada Bhagavà, “Yang Mulia, sudilah Bhagavà bersama para bhikkhu menerima persembahan makanan dari kami besok.” Kemudian Bhagavà menjawab, “O Pangeran Licchavi, Aku sudah menerima persembahan makanan dari Ambapàli besok.” Selanjutnya para pangeran Licchavi, melambaikan tangan mereka (ungkapan kagum), berseru, “Oh teman, kita telah dikalahkan oleh perempuan itu! Kita telah dikalahkan oleh perempuan itu!”

    Kemudian para pangeran Licchavi mengungkapkan penghargaan dan kegembiraan mereka atas khotbah yang dibabarkan oleh Bhagavà, mereka bangkit dari duduknya, bersujud kepada Bhagavà dan dengan hormat meninggalkan tempat itu.

    Keesokan harinya, setelah Ambapali menyiapkan makanan terpilih, lunak dan keras, di tamannya, ia memberitahukan kepada Sang Bhagava: “Bhante, telah waktunya untuk makan, makanan telah siap.” Sang Bhagava mempersiapkan diri, sambil membawa patta dan jubah, pergi bersama para bhikkhu ke tempat Ambapali. Sang Bhagava duduk di tempat yang telah disediakan. Ambapali sendiri yang melayani Sang Bhagava dan para bhikkhu, menyuguhi mereka dengan makanan terpilih, lunak dan keras.

    Setelah selesai makan, Sang Bhagava meletakkan patta, Ambapali duduk di tempat yang lebih rendah dan menempatkan dirinya pada salah satu sisi, lalu berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, taman ini saya persembahkan kepada bhikkhu sangha yang dipimpin oleh Sang Bhagava.”

    Sang Bhagava menerima taman itu, kemudian beliau membabarkan dhamma kepada Ambapali, menyadarkan, menyenangkan dan menggembirakan hatinya. Sesudah itu Sang Bhagava bangkit dari duduknya dan meninggalkan tempat itu.

    (Bhesajjakkhandhaka dari Vinaya Mahà Vagga juga menyebutkan hal ini; tertulis ‘bahwa Ambapàli, mempersembahkan makanan kepada Bhagavà beserta para bhikkhu di rumah peristirahatannya di hutannya, dan mempersembahkan hutan mangga miliknya kepada Sangha yang dipimpin oleh Bhagavà.’)

    Pada suatu hari, Bhikkhu Vimana Kondanna, memberikan khotbah Dhamma. Setelah mendengar khotbah dari anaknya tersebut, Ambapali meninggalkan kehidupan duniawi, menjadi anggota Sangha Bhikkhuni. Beliau menggunakan tubuhnya sebagai obyek meditasi, merefleksikan sifat-sifat ketidakkekalan, dengan melatih meditasi dengan giat, Beliau akhirnya mencapai Tingkat Kesucian Arahat.

    Dalam versi Therighata, disaat Beliau tua, Beliau membandingkan kecantikannya dahulu dengan keadaan sekarang :

    Rambutku hitam, bagai warna kumbang,
    dengan ujung berikal
    karena usia tua, kini bagai serat kayu rami
    ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

    Ditutupi bunga, rambutku,
    wangi bagai kotak parfum,
    karena usia tua, kini baunya bagai bulu anjing
    ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

    alisku nampak demikian indah,
    bagai indahnya lukisan bulan sabit,
    karena usia tua, kini tergantung ke bawah oleh kerutan.
    ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

    Mataku berbinar, bercahaya bak permata,
    Berwarna biru gelap berbentuk panjang,
    karena usia tua, kini tak lagi tampak cantik
    ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

    gigiku nampak demikian indah,
    bagai warna kuncup tanaman muda.
    karena usia tua, kini hancur menghitam.
    ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

    kedua dadaku nampak demikian indah,
    menggembung bundar, berdekatan, menjulang,
    kini keduanya turun bagai kantung air kosong
    ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

    tubuhku nampak demikian indah,
    bagai lembaran emas yang digosok.
    kini dipenuhi kerutan halus
    ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

    kedua kakiku nampak demikian indah,
    bagai dilingkupi kapas,
    karena usia tua, kini menjadi retak berkeriput.
    ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

    Demikianlah tubuh ini,
    dipenuhi keriput, sarang berbagai penyakit,
    rumah tua dengan dinding yang mengelupas.
    ucapan pembabar kebenaran tidaklah salah.

    [Samagi-phala, Ambapali, Therigatha 13.1, RAPB buku ke-2, hal 2089-2092, Maha Parinibanna Sutta]

Sejumlah pedagang yang tergabung dalam serikat pedagang Rajagaha dan juga Dewan kota Rajagraha (Bihar, ± 100km dari Tenggara Patna) melakukan sebuah kunjungan bisnis ke Vesali. Mereka sangat terkesan dengan kesemarakan Vesali karena kehadiran Ambhapali sehingga mereka putuskan melakukan yang sama di kota mereka. Sekembalinya dari Vesali, mereka menghadap Raja Bimbisara dan membicarakan hal ini. Raja-pun menyetujuinya.

[(klik!) Wanita Penghibur dalam kebudayaan India kuno]

    Wanita penghibur dalam bahasa pali dibedakan dalam 3 konteks terminologi,yaitu:

    1. Ganika dan/atau Sobhina ato nagarasobhini (misal: Gundik, Geisha, dll), merupakan kelas tinggi dan dihormati
    2. Vesiya/vestya [kata umum yang digunakan yang berarti pelacur]
    3. Rupajiva [lebih tinggi dari kumbadasis]
    4. Kumbadasis/Bandhaki (pelacur jalanan)

    Ya tentu saja, model bhandhaka lebih banyak apesnya daripada dihormati.

    Di jaman dinasti Maurya (321 SM – 185 SM). Para Ganika berada di bawah kontrol Kementrian Prostitusi, Mereka dikenai pajak pendapatan dan merupakan milik negara. Para Ganika [hingga ke kumbadasis] diberikan perlindungan hukum oleh negara. Jika ada yang memaksa melakukan hubungan seksual pada ganika maka itu adalah pelanggaran hukum. Demikian pula sebaliknya, jika Ganika menolak melayani tamu raja/negara, maka, di samping terkena hukuman denda 5x penghasilan juga dihukum cambuk. Pasca dinasti Maurya, para wanita dengan berpendidikan tinggi dan serbabisa diijinkan memasuki dunia ini [Persepsi India di jaman itu tentang wanita penghibur lihat: di sini dan disini. Pandangan Buddhisme tentang wanita penghibur, salah satunya lihat: di sini]

Saat itu di Rajagraha, hiduplah seorang perempuan bernama Sālavati, Ia amatlah cantik, menawan, enak dilihat mata dan memiliki semua kecantikan yang diperlukan seorang wanita. Dewan kota, kemudian menetapkan Sālavati sebagai wanita penghibur di Rajagaha. Sālavati dengan cepat mahir menari, menyanyi dan memetik kecapi. Ia segera menjadi minat terbesar masyarakat Rajagaha. Mereka yang merindukannya harus puas untuk merogoh kocek 100 kahapana/malamnya.

[(klik!) Arti Kahapana]

    Pembayaran 100 Kahapana, kepada Sālavati adalah sebanding dengan 50 Kahapana kepada Ambhapali [Vinaya II 172, VA.1114].

    10 Kahapana/karshapana = 1 ons Emas/Perak (31 gram), sebagai perbandingan, DD Kosambi mengutip Arthasastra [Periode Chadragupta, 321 SM -297 SM] bahwa bayaran normal/tahun:

    • Pendeta kepala, Permaisuri, Ibu suri, Putera Mahkota dan Kepala angkata bersenjata adalah 48,000 Kahapana/tahun (360 hari) = 133.3 kahapana/hari
    • Penambang ahli/Insinyur/Mata2 dll 1,000 kahapana/tahun = 2.7 kahapana/hari
    • Serdadu terlatih/akuntan 500 Kahapana/tahun
    • Carpenters and Craftsmen 120 Kahapana/tahun
    • Buruh biasa 60 Kahapana/tahun
    • Kepala Arsitek dari Mahaseya di bayar 12,000/tahun atau 33 kahapana seharinya [Mahavansa-Chap XXX]

Pada suatu hari, Sālavati hamil. Ia kemudian berpikir, “Para lelaki, tidak menyukai wanita hamil, jika mereka mengetahui bahwa ‘Salavati, si wanita penghibur ini hamil’, maka semua penghormatan dan kekaguman orang padaku akan menurun. Apakah sekarang saatnya mereka tahu aku tengah kurang sehat badan?”. Kemudian, iapun berpesan pada penjaga tempat tinggalnya, “Penjaga yang baik, Jangan biarkan siapapun masuk dan jika mereka bertanya tentang aku, katakanlah bahwa aku sedang sakit”

Laki-laki penjaga pintu pun menjawab: “Baiklah, Nona”,

Akhirnya, Salavati, melahirkan seorang bayi lelaki. Ia kemudian meminta pelayan wanitanya untuk menaruh bayi lelakinya tersebut pada sebuah keranjang dan membuangnya ke tempat pembuangan sampah.

Di suatu Pagi, salah seorang anak raja Bimbisara, yaitu pangeran Abhaya, ketika itu tengah berjalan-jalan, Ia tertarik pada segerombolan orang yang mengerumuni sesuatu. Iapun menghampirinya dan melihat sebuah keranjang yang dikerumuni burung-burung gagak. Pangeran pun berkata pada mereka, “Tuan-tuan yang baik, apakah yang dikerumuni burung2 gagak itu?”

“Seorang anak lelaki, tuan”?

“Masih hidupkah dia, tuan-tuan?”

“Masih hidup, tuan”

“Jika demikian, tuan-tuan yang baik, bawalah bayi itu ke kediaman pangeran Abhaya, berikan pada ibu pengasuh dan katakan, “rawatlah dia”. Karena mereka menyebutkan kata “Masih hidup”, maka anak itu diberi nama, “Jīvaka” (berasal dari kata, “Jivati”); karena pangeran (kumara) yang merawatnya, maka diberi nama belakang Komārabhacca (di asuh oleh pangeran).

Pada jaman Buddha Padumuttara (Buddha ke-11, untuk list daftar nama Buddha lainnya lihat: di sini), bakal Jivaka ini, terlahir di sebuah keluarga kaya di Kota Hamsàvati. Ketika mendengarkan khotbah Buddha, Ia menyaksikan seorang siswa awam dinyatakan sebagai yang terbaik di antara mereka yang penuh pengabdian terhadap Buddha. Ia terkesan dan bercita-cita untuk mencapai posisi tersebut di masa depan. Setelah memberikan sebuah persembahan besar pada Buddha Padumuttara, ia mengungkapkan cita-citanya di hadapan Buddha dan Buddha meramalkan pencapaiannya. Setelah wafat, selama seratus ribu siklus dunia, Ia terlahir di alam dewa dan alam manusia. Di Jaman Buddha Gotama, ia terlahir kemballi dengan nama Jivaka.

[(klik!) Ayah kandung Jivaka]

    Vinaya, ii. 174: Nama belakang, Komarabhacca juga berarti “ahli ilmu bayi” (kaumarabhrtya); AA.i.398 f, DA.133: Ia dinamakan juga Komarabhanda; Di.vy.506B: KumBrabhüta. A.i.26 dan M.Sta.55: Pemimpin para Upasika yang sangat disukai orang.

    Di RAPB buku ke-3, hal. 2996 dan di komentar untuk Anguttara (i.216), dikatakan ayah biologis Jivaka adalah pangeran Abhaya. [juga di Taiso Tripitaka(T. 1428 (851a22–23)]

    Sebuah buku Tibet yang bersumber dari India, menyatakan kisah seperti ini:

      Raja Bimbisara pernah ke Vesali, Pada suatu kejadian berbahaya, Ia diberikan perlindungan di rumah seorang wanita penghibur dari Vesali yang bernama Amravali. Ia tinggal di rumah itu selama 7 hari. Ia menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang dengan Amravali. Kejadian ini, membuat Amravali hamil dan kemudian melahirkan seorang Putera. Karena takut, puteranya dibunuh para pangeran Licciavi, kota Vesali, maka ia titipkan anaknya pada para pedagang yang hendak ke Rajagaha untuk dipertemukan dengan ayahnya, raja Bimbisara. Raja menaamakan anak itu dengan nama Abhaya (tanpa takut).

      Di buku itu, Raja Bimbisara, di kisahkan sebagai Raja yang gatelan dan suka iseng berkeliaran.

      Suatu ketika, Raja berjalan-jalan diputaran Rajagaha, lewat di kediaman seorang pedagang yang amat kaya yang tengah bepergian untuk urusan bisnis. Sepeninggalan suaminya, Istri pedagang itu merasa kesepian. Ketika itu, raja Bimbisara lewat depan rumahnya dan ia undang sang raja masuk. Mereka kemudian bersenang-senang yang mengakibatkan Istri pedagang ini hamil.

      Suatu hari, suami wanita ini mengirim pesan bahwa urusannya telah selesai dan ia hendak pulang kerumah.

      Takut diketahui atas perbuatan yang telah dilakukannya, Ia kemudian bersiasat dengan cara meminta dicarikan suatu permata tertentu. Permintaan ini dikabulkan sang suami yang mengakibatkan kepulangannya tertunda lama.

      Beberapa bulan kemudian lahirlah seorang bayi lelaki. Bayi itu kemudian diletakan dalam satu keranjang, diselimuti dan diberikan tanda pengenal tertentu. Kemudian, Ia minta pembantunya mengirimkan anak itu ke istana Raja. Pembantunya melaksanakan perintah itu dan meletakan di depan pagar istana dengan memasangkan lampu-lampu di sekeliling keranjang.

      Raja dan pangeran Abhaya kebetulan ada di sekitar itu, mereka tertarik pada kerlipan lampu, Raja kemudian meminta untuk mencari tahu. Pangeran Abhaya kemudian menuju pagar istana, mengambil keranjang tersebut dan meletakannya di hadapan raja, ketika keranjang tersebut disingkap, isinya ternyata seorang bayi lelaki. Raja mengenali tanda pengenal itu dan kemudian bertanya, “Apakah bayi itu masih hidup?”

      “Masih Hidup, Yang mulia”

      Anak itu kemudian dinamakan Jivaka Komarabhanda [Tibetan Tales Derived from Indian Sources,F von Schiefner, hal.75-92]

    Pangeran Abhaya adalah pengikut Nigantha Nataputta. Ia kemudian beralih menjadi pengikut Sang Buddha setelah pembabaran Abhayarājakumāra Sutta (M.i.392ff ).

    Sutta ini dibabarkan berkenaan dengan Devadatta wafat di telan bumi. Pangeran Abhaya, diminta gurunya, Nigaṇṭha Nātaputta, untuk berdebat dengan sang Buddha dengan menyiapkan pertanyaan “bertanduk ganda”. Untuk isinya, silakan lihat: Abhayarājakumāra Sutta

    Di kemudian hari, pangeran itu menjadi bhikku. Ketika, pembabaran kotbah Tālacchiggalūpama Sutta (mungkin juga sama dengan di S.v.455 dan M.iii.169), Ia mencapai Sotapanna dan kemudian mencapai arahat (Thag.26; ThagA.i.83-4 juga di ThagA.39)

Salavati, di kemudian hari juga melahirkan seorang bayi, kali ini adalah perempuan dan dinamakan Sirima [SNA.i.244f, 253f]. Ia merupakan adik bungsu Jivaka. Buddhaghosa memberikan keterangan mengapa Sirima tidak mengalami nasib di buang oleh ibunya seperti ini, “nagarasobhiniyo (kira) hi dhitaram patijagganti na puttam, dhitara hi tasam paveni ghatiyati

artinya:
“Wanita penghibur merawat putri dan bukan putera mereka karena anak perempuan mereka dapat mewarisi profesi mereka”. [kitab komentar Silakkhandhavagga-abhinavatika: jaliyasuttavannana, Dvapabhajitavatthuvannana, no. 378]

Setelah Sàlavati, wafat, Sirima mewarisi pekerjaan ibunya dan diakui raja sebagai wanita penghibur kota Rajagaha. Mereka yang merindukan Sirima, harus merogoh kocek tidak kurang dari 1000 Kahapana/malamnya.

Pada suatu ketika, sorang wanita dari keluarga kaya raya bernama Uttara datang dan menyewa jasa pelayanan Sirima. Tugas yang harus diemabankan Sirima adalah menjadi istri pengganti dirinya selama 2 Minggu penuh!

Suami Uttara, tentunya bagai dapat durian runtuh, bukan?!

[(klik!) Kisah Sirima mengembankan tugas]

    Bakal Uttara di jaman Buddha Padumuttara (Buddha ke-11), ia mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Buddha dan menyaksikan seorang siswi awam yang dinyatakan sebagai yang terbaik di antara mereka yang berdiam di dalam jhànà.Ia berkeinginan kuat untuk menjadi seperti siswa tersebut pada masa depan, dan setelah memberikan persembahan besar ia mengungkapkan cita-citanya. Buddha meramalkan bahwa cita-citanya akan tercapai.

    Di jaman sang Buddha, Uttara terlahir sebagai putri dari Punna, seorang buruh tani yang bekerja pada pria kaya bernama Sumana di Rajagaha. Suatu hari, Punna dan istrinya berdana makanan kepada Sariputta Thera di saat beliau baru saja mencapai keadaan pencerapan mental yang dalam (nirodha samapatti). Sebagai akibat dari perbuatan baik itu mereka mendadak menjadi kaya. Punna menemukan emas di tanah yang ia bajak, dan secara resmi raja menyatakan Punna sebagai seorang bankir yang besar.

    Pada suatu kesempatan, Punna sekeluarga berdana makanan kepada Sang Buddha dan para bhikkhu selama tujuh hari, dan pada hari ke tujuh, setelah mendengarkan khotbah Sang Buddha, mereka sekeluarga mencapai tingkat kesucian sotapatti.

    Kemudian Uttara, putri Punna, menikah dengan anak dari Sumana. Keluarga Sumana bukan keluarga Buddhis, sehingga Uttara tidak merasa bahagia di rumah suaminya. Ia pun bercerita kepada ayahnya, Punna, “Ayah, mengapa ayah mengurung saya di kandang ini? Di sini saya tidak melihat para bhikkhu dan saya tidak memiliki kesempatan berdana kepada para bhikkhu.”

    Punna menjadi menyesal dan ia segera memberi uang sebesar 15.000 kepada Uttara. Setelah mendapat izin dari suaminya, Uttara menggunakan uangnya untuk menyewa seorang wanita untuk menggantikan dirinya memenuhi kebutuhan suaminya. Akhirnya ditetapkan bahwa Sirima, seorang pelacur yang sangat cantik dan terkenal, menggantikannya sebagai seorang istri selama 15 hari.

    [Saat ini adalah tahun ke-17 Sang Buddha mencapai penerangan Sempurna dan beliau bervassa [musim hujan] di Vihara Veluvana dekat Rajagaha] Selama waktu itu, Uttara memberikan dana makanan kepada Sang Buddha dan para bhikkhu. Pada hari kelima belas saat ia sibuk menyiapkan makanan di dapur, suaminya melihat dari balik jendela kamar dan tersenyum seraya bergumam pada dirinya sendiri, “Betapa bodohnya ia. Dia tak tahu cara bersenang-senang. Dia selalu menyibukkan diri dengan upacara pemberian dana.”

    Sirima melihat suami Uttara tersenyum pada Uttara, ia menjadi sangat cemburu pada Uttara, ia lupa bahwa dirinya hanya sebagai istri pengganti yang dibayar. Menjadi tak terkendali, segera Sirima pegi ke dapur dan mengambil sesendok besar mentega panas dengan maksud mengguyurkannya di kepala Uttara. Uttara melihatnya datang, namun ia tidak memiliki maksud buruk pada Sirima. Ia menyadari, berkat Sirima lah ia dapat mendengarkan Dhamma, berdana makanan, dan berbuat kebaikan lainnya, sehingga ia merasa berterima kasih pada Sirima.

    Tiba-tiba ia menyadari bahwa Sirima datang mendekat dan hendak menuangkan mentega panas ke arahnya, ia pun berseru, “Bila aku memiliki maksud buruk terhadap Sirima, biarlah mentega panas ini melukaiku, tapi bila aku tidak memiliki maksud buruk padanya, mentega panas ini tak akan melukaiku.”

    Karena Uttara tidak memiliki maksud buruk terhadap Sirima, mentega panas yang dituang di kepalanya hanya terasa bagai air dingin. Sirima berpikir pasti mentega itu telah menjadi dingin saat dituangkan, maka ia bermaksud mengambil mentega panas yang lain. Saat hendak menuangkan mentega panas tersebut, pelayan-pelayan Uttara menyerang dan memukulnya keras-keras. Uttara menghentikan para pelayannya dan menyuruh mereka mengobati luka Sirima dengan balsam.

    Akhirnya Sirima teringat akan kedudukannya yang sebenarnya, dan ia menyesal bahwa ia telah melakukan kesalahan terhadap Uttara, dan meminta Uttara mengampuninya. Uttara pun menjawab, “Aku memiliki seorang ayah. Aku harus bertanya kepadanya apakah aku harus menerima permintaan maafmu.” Sirima berkata bahwa ia siap pergi memohon pengampunan pada Punna, ayah Uttara.

    Uttara menjelaskan padanya, “Sirima, saat aku mengatakan ‘ayahku’, maksud saya bukan ayahku yang sebenarnya, yang membawaku pada rantai kelahiran kembali ini. Yang kumaksud ‘ayahku’ adalah Sang Buddha, yang telah menolongku memotong rantai kelahiran kembali, yang telah mengajariku Dhamma, Kebenaran Sejati.”

    Sirima pun memohon untuk bertemu dengan Sang Buddha. Sehingga pada hari berikutnya direncanakan Sirima akan menyerahkan dana makanan kepada Sang Buddha dan para bhikkhu.

    Setelah bersantap, Sang Buddha diberitahu perihal Sirima dan Uttara. Kemudian Sirima mengakui bahwa ia telah berbuat kesalahan terhadap Uttara dan memohon Sang Buddha apakah ia dapat dimaafkan, karena jika tidak, Uttara tidak akan memaafkannya. Kemudian Sang Buddha bertanya kepada Uttara bagaimana perasaannya saat Sirima menyiramkan mentega panas ke arahnya.

    Uttara pun menjawab, “Bhante, karena saya telah berhutang budi pada Sirima, saya tetap tidak naik darah, tidak memiliki maksud buruk padanya. Saya selalu memancarkan cinta saya kepadanya.”

    Lalu Sang Buddha berkata, “Bagus, bagus, Uttara ! Dengan tidak memiliki maksud jahat, kau telah mengatasi mereka yang berbuat kesalahan padamu. Dengan tidak melukai, kau dapat mengatasi mereka yang melukaimu. Dengan bermurah hati kau dapat mengatasi orang kikir, dengan berbicara benar kau dapat mengatasi mereka yang berbohong.”

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 223 berikut :

    Kalahkan kemarahan dengan cinta kasih dan kalahkan kejahatan dengan kebajikan. Kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati, dan kalahkan kebohongan dengan kejujuran.

    Sirima dan lima ratus wanita mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir. Dalam komentar Vimānavatthu (pp.631ff; Vv.11f) and komentar Dhammapada (iii.302ff; iii.104) Selain Sirimā mencapai sotapanna, Uttara-pun menjadi Sakadāgāmī, Suaminya dan ayah mertuanya menjadi Sotapanna. Setelah wafat Uttara terlahir di surga Tavatimsa (tempatnya sakka) [Kisah Uttara, terdapat juga di RAPB buku ke-3, hal 3057 – 3061]

    Setelah Sirima menjadi Sottapatti, Ia dan Uttara menjadi penderma utama di rajagaha. Seorang Bhikku muda sampai jatuh cinta tak bisa maka melihat sirima, berikut kisahnya:

    Saat itu di Rajagaha tinggal seorang pelacur yang sangat cantik bernama Sirima. Setiap hari Sirima berdana makanan kepada delapan bhikkhu. Suatu ketika, salah seorang dari bhikkhu-bhikkhu itu mengatakan kepada bhikkhu-bhikkhu lain betapa cantiknya Sirima dan setiap hari ia mempersembahkan dana makanan kepada para bhikkhu.

    Mendengar hal ini, seorang bhikkhu muda langsung jatuh cinta pada Sirima meskipun belum pernah melihat Sirima. Hari berikutnya bhikkhu muda itu bersama dengan para bhikkhu yang lain pergi ke rumah Sirima untuk menerima dana makanan, pada hari itu Sirima sedang sakit. Tetapi karena Sirima ingin berdana makanan maka ia menerima kehadiran para bhikkhu. Begitu bhikkhu muda tersebut melihat Sirima lalu bhikkhu muda berpikir,

    “Meskipun ia sedang sakit, ia sangat cantik!”

    Bhikkhu muda tersebut memiliki hawa nafsu yang kuat terhadapnya.

    Larut malam itu, Sirima meninggal dunia.

    Raja Bimbisara pergi menghadap Sang Buddha dan memberitahukan bahwa Sirima, saudara perempuan Jivaka, telah meninggal dunia. Sang Buddha menyuruh Raja Bimbisara membawa jenazah Sirima ke kuburan dan menyimpannya di sana selama 3 hari tanpa dikubur, tetapi hendaknya dilindungi dari burung gagak dan burung hering.

    Raja melakukan perintah Sang Buddha. Pada hari ke empat jenazah Sirima yang cantik sudah tidak lagi cantik dan menarik. Jenazah itu mulai membengkak dan mengeluarkan cairan dari enam lubang.

    Hari itu Sang Buddha bersama para bhikkhu pergi ke kuburan untuk melihat jenazah Sirima. Raja Bimbisara dan pengawal kerajaan juga pergi ke kuburan untuk melihat jenazah Sirima. Bhikkhu muda yang telah tergila-gila kepada Sirima tidak mengetahui bahwa Sirima telah meninggal dunia.

    Ketika ia mengetahui perihal itu dari Sang Buddha dan para bhikkhu yang pergi melihat jenazah Sirima, maka iapun turut serta bersama mereka. Setelah mereka tiba di makam, Sang Buddha, para bhikkhu, raja, dan pengawalnya mengelilingi jenazah Sirima.

    Kemudian Sang Buddha meminta kepada Raja Bimbisara untuk mengumumkan kepada penduduk yang hadir, siapa yang menginginkan tubuh Sirima satu malam boleh membayar 1.000 tail, akan tetapi tak seorang pun yang bersedia mengambilnya dengan membayar seharga 1.000 tail, atau 500, atau 250, ataupun cuma-cuma. Kemudian Sang Buddha berkata,

    “Para bhikkhu, lihat Sirima! Ketika ia masih hidup, banyak sekali orang yang ingin membayar seribu tail untuk menghabiskan satu malam bersamanya, tetapi sekarang tak seorangpun yang ingin mengambil tubuhnya walaupun dengan cuma-cuma. Tubuh manusia sesungguhnya subyek dari kelapukan dan kehancuran.”

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 147 berikut :

    Pandanglah tubuh yang indah ini, penuh luka, terdiri dari rangkaian tulang, berpenyakit serta memerlukan banyak perawatan. Ia tidak kekal serta tidak tetap keadaannya.

    Bhikkhu muda itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma berakhir.

    [Buddhagosha: Setelah wafat, Sirimā terlahir kembali di alam Yāma sebagai istri dari Suyāma. Sirima hadir mendengarkan kotbah itu di pemakamannya sendiri!. Pembabaran itu ada di Sutta Kāyavicchandanika (klik !)

      Selagi berjalan, berdiri; duduk maupun berbaring, siapa pun juga akan mengerutkan atau meregangkan tubuhnya. Demikianlah gerakan tubuh.

      Tubuh disatukan dengan tulang dan otot, direkat dengan kulit dan daging, sehingga sifatnya yang sejati tidak dipahami.

      Tubuh berisi usus di rongga perut, gumpalan hati di dalam perut, kandung kencing, jantung, paru-paru, ginjal dan limpa;

      Dengan lendir, air liur, keringat, getah bening, darah, cairan selaput, empedu dan lemak.

      Lewat sembilan aliran, kekotoran terus menerus mendesak keluar –dari mata keluar kotoran mata, dari telinga keluar kotoran telinga;

      Dari hidung keluar ingus; kadang-kadang tubuh mengeluarkan muntahan lewat mulut dan mengeluarkan cairan empedu serta lendir; dari tubuh keluar keringat dan kotoran.

      Rongga di kepala dipenuhi otak; tetapi orang tolol –karena ketidaktahuannya– menganggapnya sebagai benda yang bagus;

      Ketika tubuh terbaring mati –dalam keadaan bengkak dan pucat kebiru-biruan– lalu disingkirkan ke tanah pekuburan, tidak lagi ada sanak saudara yang menginginkannya.

      Anjing, serigala, cacing, gagak dan burung nasar, serta makhluk-makhluk lain memakan bangkainya.

      Di dunia ini, bhikkhu yang bijaksana, yang mendengarkan kata-kata Sang Buddha, akan memahami tubuh ini sepenuhnya serta melihatnya dengan pandangan benar.

      Dia membandingkan tubuhnya dengan mayat, dan karena berpikir bahwa tubuh ini sama seperti mayat dan mayat sama dengan tubuh ini, dia menghapus nafsu terhadap tubuhnya sendiri.

      Di dunia ini, bhikkhu yang bijaksana seperti itu, yang terbebas dari nafsu keinginan dan kemelekatan, akan mencapai keadaan Nibbana yang kekal, yang hening dan tanpa kematian.

      Tubuh ini bersifat tidak murni, berbau busuk dan penuh dengan berbagai kebusukan yang menetes di sana sini.

      Jika orang yang memiliki tubuh seperti ini menyombongkan dirinya sendiri dan merendahkan yang lain — hal itu semata-mata disebabkan karena kurangnya pandangan terang pada dirinya. [Snp 1.11 Vijaya Sutta (nama lainnya)]

    . Ia mencapai Anagami setelahnya. di Vimānavatthu, Sirima terlahir di Nimmānarati, di ketika itu Sirima juga hadir dengan di kelilingi lima ratus putri-dewa dengan lima ratus kereta, Sirima tiba dalam bentuknya yang dapat dilihat, Ia kemudian di tanya oleh YM Vangisa asalnya dari mana dan bagaimana masa lalunya setelah dijawab, Ia kemudian menjalankan penghormatan pada Buddha dan kembali kembali alamnya. Sang Buddha kemudian memberikan kotbah lanjutan dan bhikku yg telah sotapanna itu akhirnya mencapai araha di akhir kotbah namun di sini tidak dinyatakan Sirima mencapai Anagami]

    [Dhammapada, RAPB buku ke-2 hal. 1583-1607, Pali canon, name: Sirima dan Vimanavatthu]

Mari Kita kembali pada Jivaka.

Ketika Jivaka berumur 16 tahun, Ia tahu bahwa Ia hanyalah seorang anak angkat dan kemudian bertanya pada Pangeran Abhaya, “Siapakah Ayah dan Ibuku, Ayahanda?”. Pangeran menjawab, “Bahkan aku pun tak tahu siapa Ibumu, Jivaka yang baik, Namun aku adalah ayah yang merawatmu”

Muncul di pikiran Jivaka seperti ini, “Tanpa kepandaian, tidak mudah aku bergantung pada keluarga kerajaan ini. Haruskah, aku belajar kepandaian?. Aku hanyalah anak angkat. Tak selayaknya aku hanya menggantungkan hidupku pada keluarga ini. Aku ingin membalas budi beliau. Karenanya, aku harus belajar ilmu pengobatan agar segera bisa membalas budi.”

[(klik!) Catatan]

    RAPB buku ke-3, hal 2996 dikatakan usianya saat belajar adalah 16 tahun, ia tidak melarikan diri namun dikirim oleh pangeran Abhaya.

    V A. II 14: Ia berpikir bahwa pengetahuan pengobatan barguna untuk masyarakat dan juga kesejahteraan mereka, dimana termasuk pengetahuan tentang Gajah, kuda dan cedera dan sakit yang terkait dengannya

Pada suatu hari, dengan tanpa sepengetahuan Pangeran Abhaya, pergilah Jivaka ke Taxila.

[(klik!) Taxila]

    Terdapat 105 rujukan di Jataka tentang Taxila, sekarang di Pakistan, 35 km, barat laut Rawalpindi. Kota ini dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi bahkan universitas tertua di dunia. Mereka mempelajari Vedic, mantra, pengobatan, militer, hukum, musik, tari, drama, gulat pedang dll.

    Dari mulai jaman sebelum Sang Buddha s/d Abad 460-470, Taxila merupakan pusat study Veda [dan juga Buddhis]. Suku Huna (suku nomaden dari asia tengah) kemudian membumi hanguskan Vihara, Stupa dan sejarah Taxila pun berakhir.

    Tahun 1980, UNESCO menyatakan Taxila sebagai warisan dunia.[komik bodhi ke-4, “Pukkusati pelepas Takhta”, hal.31-34, cetakan ke-1 April 2009, Ehipassiko Foundation]. Silakan lihat juga: raja Pukkusati

    [Bacaan lanjutan Taxila]

Pada masa itu, di Taxila hiduplah seorang ahli pengobatan yang sangattermasyur di dunia (kata pali: “Disāpāmokkha” artinya: Termasyur di dunia]. Jivaka berhasil menemui Tabib termashyur di dunia itu. Walaupun tanpa sponsor, Ia diterima untuk belajar disana.

[(klik!) Siapakah Guru Disapamokha?]

    Menurut sumber Sanskrit-Tibet, Guru Disapamokkha yang mengajari Jivaka bernama Atreya [Stürner (2001)Nuad. Die traditionelle Thai Massage. München 2001., p. 26].

    Ilmu pengobatan di India menunjuk pada frase ‘Tradisi Atreya’ (Atreya-sampradaya). Ada ketika, semua ahli pengobatan dinamakan sebagai Atreya. Ahli bedah disebut Dhanvantaris. Dalam literatur India yang berhubungan dengan pengobatan, sekurangnya terdapat 3 nama Atreya:

    1. Atreya-Punarvasu. Arti Punarvasu adalah karena Ia dilahirkan di bulan Gemini. Atreya dikatakan sebagai manusia pertama yang diajari ilmu pengobatan oleh Deva Indra dan Asvin [Rg Veda I.139.9, Silakan dicheck, karena ternyata tidak ada hubungan langsung yang terlihat di link itu]
    2. Kresna-Atreya, berasal dari perguruan Kresna YajurVeda
    3. Bhikshu-Atreya

    Mereka ini kemungkinannya adalah orang yang berbeda.

    Versi lain adalah sebagai berikut:

    Sakkha/Indra -> Guru Disapamok -> Jivaka.

    Dikatakan ketika Sakka (Indra), Raja dewa Alam 33 Dewa, tengah mengobservasi dunia dan menyadari bahwa sekarang merupakan masa waktu bagi Jivaka yang dikehidupan lalunya pernah beraspirasi untuk menjadi tabib bagi Buddha. Sakka ingin memastikan bahwa Jivaka akan mendapatkan lebih dari sekedar pendidikan obat2an terbaik. Ia kemudian turut campur dengan merasuki badan guru disapamok dan mengajarkan ilmu pengetahuan deva tentang pengobatan.

    Namun Disapamok mengetahui bahwa pendidikan yang diberikannya dipengaruhi mahluk deva. Pengetahuan yang ia sampaikan jauh melebih dari apa yang ia sendiri tahu. Jivaka menyelesaikan pendidikan itu hanya 7 tahun yang seharusnya diselesaikan secara normal selama 11 tahun 🙂

    [Kecuali tidak ada di Canon Pali, maka kisah di atas ini ada di versi Sanskrit-Tibetan dan juga versi “Taiso Tripitaka” (abad ke-5 M, T.553 (898a05), T.1428 (851b01), yang memberikan identifikasi dalam bahasa china, “Atili Binjialuo”, sebagai Atreya. Lihat: Zysk, “Asceticism and Healing“, 55, of the text also names Jivaka’s teacher as Atreya]

    Versi canon pali hanya menyebutkan dengan sebutan Guru Disapamokha “Tabib termasyhur di dunia” [Horner, “Book of the Discipline“, 4:381).

    Atreya, biasanya dianggap sebagai pengarang dari “CarakaSamhita”, (Abad 3 SM) dan di kutip secara meluas di literatur Sanksrit lain hingga abad ke 4/5 Masehi [Detail: Dominik Wujastyk, “The Roots of Ayurveda” (London: Penguin, 2003), 3ff.; G. Jan Meulenbeld, “A History of Indian Medical Literature” (Groningen: Egbert Forsten, 1999–2001)].

    [“THE BUDDHIST MEDICINE KING, “Encyclopaedia of Indian medicine: historical perspective“, Vol.1, Ramachandra S.K. Rao, hal 29-31, usamyanmar: Jivaka kaumara dan Relatives_and_Disciples_of_the_Buddha, no.34, Radhika Abeysekera]

Jivaka kemudian belajar banyak di sana. Ia seorang yang cerdas, cepat dalam belajar dan apa yang telah dipelajarinya tidak lagi Ia lupakan.

Kisah di bawah ini ada di versi Sanskrit-Tibet namun tidak ada di Canon Pali:

    Kemanapun Atreya pergi mengunjungi pasiennya, Ia membawa Jivaka bersamanya. Di suatu hari, Ia memberikan arahan resep obat. Jivaka menerima resep ini, ketika membacanya, Ia lihat ada yang kurang tepat pada resep tersebut dan dapat mengakibatkan sang pasien tewas.

    Sebuah pikiran muncul di dirinya, Kemudian Ia keluar dari rumah dan kembali tidak berapa lama kemudian.

    Ia katakan pada pasiennya bahwa ia tadi sudah bertemu lagi dengan gurunya dan menyarankan untuk mengganti resep tersebut dengan yang lainnya. Pasien tersebut dirawat dengan memakai resep ke-2 dan hasilnya membaik.

    Kapan waktu kemudian, Atreya mampir ke rumah sang pasien, menanyakan keadaannya dan di jawab bahwa ia telah membaik. Atreya menyarankan dirinya agar meneruskan obatnya. Pasien itu bertanya, “Memakai resep yang mana, guru? resep yang ke-1 atau yang ke-2?”

    Kebingunan dengan pertanyaan itu, atreya balik bertanya, “Apa yang aku resepkan sebelumnya dan apa yang aku resepkan kemudian?”.

    “Engkau resepkan yg pertama ketika engkau ada di sini, dan yang kedua kau lakukan dengan memerintahkan pada muridmu, Jivaka”.

    Atreya kemudian melihat kedua resep itu dan kemudian memeriksanya.

    Atreya menyadari bahwa Ia telah melakukan kekeliruan dan Jivaka telah memperbaiknya. Ia meminta sang pasien untuk melanjutkan apa yang telah diresepkan oleh jivaka. Atreya merasa senang pada Jivaka dan sejak itu, kemanapun atreya pergi, Ia mengajak jivaka.

    Para anak Brahmin lain menjadi iri karenanya. Mereka mendekati gurunya dan berkata, ” Guru, anda merasa senang dengannya apakah karena ia merupakan anak raja dan memberikan limpahan perintah padanya namun tidak satupun pada kami”

    Guru mereka menjawab, “bukan karena itu, Jivaka mempunyai kecerdasan bagus dan Ia mampu memahami serta berintuisi atas apapun yang telah ku tunjukan padanya”

    “Bagaimana engkau bisa tahu, guru?”

    Aku akan memberikan contoh pada kalian. Ia menuliskan beberapa barang, kemudian meminta para anak brahmin untuk ke pasar dan mencari tahu harganya masing-masing barang tersebut. Ia juga memanggil jivaka dan memberikan perintah yang sama yaitu pergi ke pasar untuk menanyakan harga, namun untuk 1 macam barang saja.

    Mereka semua melakukan tugasnya.

    Ketika di pasar, Jivaka berpikir, alangkah baiknya Ia mencari tau juga harga barang-barang lain, kalau-kalau ditanyakan gurunya.

    Ketika mereka semua telah pulang, Atreya bertanya pada para anak brahmin itu berbagai macam harga barang yang ia telah tuliskan pada mereka dan juga beberapa barang yang tidak ia tuliskan dan tidak ia perintahkan untuk mencari tahu. Para anak Brahmin itu tidak dapat menjawabnya. Namun ketika pertanyaan yang sama di tanyakan kepada Jivaka, Ia mampu menjawabnya.

    Atreya kemudian berkata pada para anak Brahmin itu, “Apakah engkau telah dengar, anak2 brahmin? Inilah yang saya katakan bahwa Jivaka mempunyai kecerdasan dan intuisi..”[Di ambil dari buku: “Encyclopedia of Professional Education“, Vol.7, B.R. Sinha, hal 7-8. dan Tibetan Tales Derived from Indian Sources,F von Schiefner, hal.93-95]

Di akhir tahun ke-7 masa belajarnya, Jivaka berpikir bahwa ia telah mempelajari semuanya dan belum terlihat kapan dapat dinyatakan tamat belajar. Ia Kemudian menghampiri gurunya dan berkata, “Saya belajar dan menguasai mata pelajaran dengan cepatnya serta tidak melupakan lagi, Kini sudah 7 tahun berlalu kapankah akhir dari pembelajaran ini dapat dinyatakan selesai, Guru?”

Gurunya berkata, “Jivaka yg baik, ambilah sebuah skop, jelajahi sekeliling Taxila sejauh 1 yojana, bawalah kemari yang engkau anggap tidak dapat dijadikan obat.”

“Baiklah, guru”.

Dengan membawa sekop, Jivaka komarabhacca menjelajah sekeliling taxila sejauh 1 Yojana, setelah lama berselang, Ia tidak menemukan sesuatupun yang tidak dapat dijadikan obat. Ia kemudian kembali dan berkata pada gurunya, “Guru, Sekeliling Taxilla sejauh 1 Yojana telah kujelajahi namun tidak berhasil kutemukan yang tidak dapat dijadikan obat”

Gurunya menjawab, “Engkau telah berhasil, Jivaka yang baik”.

Kemudian gurunya memberikan alakadarnya sebagai bekal dalam perjalanan kembali. Jivaka menerima pemberian itu untuk kembali ke Rajagaha.

[(klik!) AyurVeda BUKAN bagian dari AtharvaVeda atau Veda manapun]

    Pengobatan India dinamakan Ayurveda, kata ini tidak ditemukan di Veda, Upanisad, epos Mahabharata & Ramayana maupun di Canon Pali[4]. Ayur Veda, berasal dari kata: Ayuh/Ayus -Umur / kehidupan / panjang umur dan kata: Veda – Pengetahuan. Jadi, Ayurvedic artinya adalah pengetahuan tentang kesehatan dan umur panjang. Masing-masing aliran spritual di India dalam banyak abad berkontribusi aktif memperkaya khazanah ayur vedic India.

    Tibet:
    Buddha kasyapha (budha ke-27 di kappa ini) -> Brahma -> Asvin -> Atreya -> Murid-muridnya termasuk Jivaka. [Tibetan Buddhist Medicine and Psychiatry: The diamond healing, Terry Clifford,hal 47-48].

    Hinduism:
    Brahma -> Prajapati (Daksa) -> Aswin -> Indra dan dari sini pecah dua:

    1. Garis Caraka samhita [Sutrasthana 1.2-40]: [Bradvadja ->] atreya punarvasu -> 6 muridnya (Agnivesa, Bheda/bhela, Jatukarna, Parasara, Harita, dan Ksarapani/Ksirapani)

      Atreya dikatakan murid lain dari Bharadvaja yg belajar dari Indra. [Caraka Samhita I.19-31]. Di Caraka samhita, tidak dijelaskan apakah Atreya mendapatkan langsung dari Indra atau via Bharadvaja, namun di nyatakan bahwa Indra mengajarkan pada:

      • Beberapa Rsi, diantaranya adalah Bharadvaja dan Atri, kemudian Atri mengajarkan pada anaknya yaitu Atreya [Astangahrdaya Samhita disusun Vagbhata, Abad ke-7 Masehi]
      • Beberapa Rsi, diantaranya adalah Dhanvantari, Bharadvaja, Nimi, Kasyapa, dan Kasyapa. Mereka kemudian menunjuk Atreya punarvasu menjadi pemimpin mereka. mereka menghadap Indra dan di resitalkan pengetahuan yg diketahui sebagai Upaveda dari Atharvaveda. Kemudian mereka menyusunnya kepada dunia dan mengajarkan pada murid2 mereka termasuk diantranya adalah Agnivesa, Harita, Bheda, Mandavya, dan Susruta. [Astangasamgraha, di susun oleh Vagbhata (yang tua-an), Abad ke-7 Masehi, namun kitab ini dianggap lebih muda sedikit dari Astangahrdaya Samhita] [1]

      Bharadvaja dan Atreya adalah nama keluarga [panini, GANA-PATHA, 15,61 dan 62]

      Bhava-Prakasa, di tulis oleh Bhavamishra, thn 1596 Masehi, menyatakan Bharadvaja dan Atreya sama-sama belajar dari Indra [Cakrapanidatta (11 Masehi), komentator dari caraka samhita] dan juga dikatakan bahwa Bharadvaja murid dari Atreya.

    2. garis Susruta Samhita [Sutrasthana 1.1-21]: Divodasa Dhanvantari -> Sushtruta -> dan yang lainnya[1]

      Asvin mengajarkan ilmu pengobatan pada Khakshivan [RV.I.116.7]. Dhanvantari dikatakan anak dari Dirgatamas [Visnu Purana IV 8.2]. Konon, Rg Veda menyebutkan bahwa Khaksivan adalah salah satu anak Dirgatamas (yg berasal dari seorang budaknya Ratu Angga)[2], yang mengindikasikan adanya kesamaan individu antara Khakshivan dan Dhanvantari. Namun keterangan hubungan itu belum mampu saya temukan buktinya di Rg Veda. Kecuali jika diidentifikasi sama, maka walaupun berasal dari ayah yg sama namun bisa saja individu yang berbeda.

      Bhagavata purana 9.17.4-5: Divodasa adalah turunan dari Dhanvantari [Reinkarnasi Visnu/Vasudeva]. Dhanvantari dikenal juga sebagai tabib para deva. Jadi ternyata deva juga bisa sakit menurut mitos ini:). Tabib para Deva di Rig veda banyak misalnya Asvin [Rv.1.116-119], juga Rudra [RV.II.33.4. Rudra dikatakan sebagai Prototipe Siva di tradisibelakangan][3]

      Komentator Sushruta Samhita, yaitu Dalhana (abad ke 12 M,pengarang kitab pengobatan:Nibandha-Sangraha) menyatakan bahwa Ayurvedic merupakan bagian dari Atharvaveda, yaitu veda ke-4 yang ternyata baru ada di abad ke-4 Masehi. Proses Brahmanisasi ayurvedic dilakukan selama masa Gupta (4-7M), yaitu periode yang sama ketika Atharva veda pertama kali dikenal dan di ungkap serta dikaitkan paksa menjadi bagian dari 4 veda [+ Rg, Sama dan Yajur]. Juga periode yg sama dengan banyak purana2 utama di susun.[1]

    Bukti lain bahwa Ayurveda BUKAN bagian dari ATHARVA VEDA, saya ambil dari buku “Studies in the medicine of ancient India: Part I. Osteology, Or The Bones of the Human Body”, August Friedrich Rudolf Hoernle. Buku itu membahas tentang tulang dengan mengutip dari 4 kitab yaitu Caraka Samhita, Sustruta Samhita, Satapatha Brahmana dan Atharva Veda.

    Secara ringkas, Susruta mengatakan banyaknya tulang manusia itu adalah 300, sementara Caraka Samhita [CM] mengatakan 360. Hubungan antara ke-4 kitab tersebut adalah sebagai berikut:

    1. Susruta Samhita, menjelaskan perbedaan antara system Atreya-Caraka dan miliknya[5]. Ini mengindikasikan bahwa Sustruta Samhita LEBIH MUDA dari CARAKA SAMHITA.
    2. SATAPATHA brahmana [Khanda 10-12], mengenal doktrin SUSRUTA[6]. Ini mengindikasikan bahwa Satapahta Brahmana LEBIH MUDA dari SUSRUTHA SAMHITA.
    3. Atharvaveda, pd buku ke-10, sloka tentang “penciptaan manusia”, familiar dengan system Atreya-Caraka dan Susruta[7]. Ini mengindikasikan bahwa Atharva Veda lebih Muda dari SUSRUTA SAMHITA
    4. Sang Buddha selalu mengatakan tevija [3 veda, Rg, Sama, Yajur]. Jadi jelas Atharveda MUNCUL SETELAH jaman Buddha Gautama [lihat di sini].

    Sekarang kita bisa membuat kronologisnya:

    AyurVeda -> Disapamokha/Jivaka -> Caraka -> Susruta -> Satapatha Brahmana/Atharveda.

    Beberapa lainnya yang belum disebutkan di atas dan memperkaya sejarah panjang Ayur Vedic India diantaranya adalah:

    1. Rahvana, tokoh yang sering digambarkan keji dalam “epos” ramayana NAMUN TIDAKLAH BENAR!, Ia menghasilkan 7 Buku yang kemudian diterjemahkan ke bahasa sankskit, yaitu: Nadi Pariksha, Arka Prakashata, Uddisa Chiktsaya, Oddiya Chikitsa, Kumara Tantraya dan Vatina Prakaranaya [The Sri Lankan Ayurvedic Tradition, P.L.N. de Silva – Former Chairman, Sri Lanka Ayurvedic Drugs Corporation; SriLankan Ramayana issue, dan Ayurveda – Ayurveda: Ageless Remedies]
    2. Jainisme dengan tegas melarang penggunaan alkohol, madu dan daging. Sehingga eksplorasi herbal dan mineral di gunakan dalam pengobatan. Buku Jainism yang memuat itu diantaranya: Acarangasutra [Salah satu buku tertua Jainm, +/- abad ke-5 SM], Uttaradhyayana Sutra [Abad ke-3 SM], Sustra-krtanga, Kalyanakaraka [815-877 Masehi][8]

    ——
    Sumber:
    [1] Mythology and the brahmanization of Indian medicine: transforming heterodoxy into orthodoxy, Kenneth Zysk
    [2] Gods, sages and kings: Vedic secrets of ancient civilization, David Frawley, hal 336-337
    [3] Utk detail lainnya: di sini dan di sini
    [4] Encyclopaedia of Indian medicine: historical perspective, Vol.1, Ramachandra S.K. Rao, hal 29-31
    [5] Studies in the medicine of ancient India:, hal 70
    [6] Studies in the medicine of ancient India:, hal 107
    [7] Studies in the medicine of ancient India:, hal 111
    [8] Medicine in Buddhist and Jaina Traditions

Di tengah perjalanan, sesampainya di Saketa (dekat Faizabad, Uttar Paradsh), Jivaka telah kehabisan bekalnya. Ia kemudian berpikir, “Belantara jalanan ini memiliki sedikit air dan makanan, tidak mudah untuk meneruskan perjalanan tanpa perbekalan. Baiknya aku mencari perbekalan di kota ini agar dapat meneruskan perjalanan pulang”

Di Saketa ketika itu ada seorang istri Pedagang yang telah menderita sakit kepala selama 7 tahun. Ttelah banyak tabib terkenal seluruh dunia diundang datang untuk mengobati dirinya, telah menghabiskan banyak emas, mereka pergi begitu saja tanpa bisa menyembukannya.

Ketika Jivaka memasuki Saketa, Ia bertanya pada masyarakat, “Adakah di sini yang sakit? dan kemana saya mesti datang?”

Penduduk menyampaikan bahwa seorang Istri pedagang telah menderita sakit kepala selama 7 tahun. Mereka menyarankannya untuk datang ke sana. Sesampainya di rumah pedagang tersebut, Ia meminta penjaga pintu untuk menyampaikan kepada nyonya rumah bahwa seorang tabib hendak menemuinya. Penjaga pintu itu kemudian menyampaikan pada nyonya rumah bahwa ada tabib yang hendak menemuinya.

Istri pedagang itu bertanya, “Bagaimana kelihatannya tabib itu, penjaga pintu?”

“Seorang yang masih Muda, Nyonya”

“Cukuplah, penjaga pintu, Apalagi yang dapat diperbuat oleh seorang tabib muda, ketika telah banyak tabib terkenal di dunia ini saja setelah menghabiskan banyak emas, namun tetap saja tidak mampu menyembuhkanku”

Kemudian penjaga pintu itu menemui Jivaka dan berkata, “Guru, Nyonya berkata seperti ini, ‘Cukuplah, penjaga pintu, Apalagi yang dapat diperbuat oleh seorang tabib muda, ketika telah banyak tabib terkenal di dunia ini saja setelah menghabiskan banyak emas, namun tetap saja tidak mampu menyembuhkanku'”

Jivaka kemudian berkata, “Mohon pergi dan katakan pada Nyonyamu seperti ini, “Jangan berikan apapun dulu padaku, Ketika engkau telah sembuh, maka engkau boleh berikan apapun yang engkau ingin berikan'”

“Baiklah, guru,” Dan penjaga itupun kembali menghadap nyonyanya dan menyampaikan kembali apa yang Jivaka katakan.

“Baguslah jika demikian, Penjaga, biarkan tabib itu masuk” kata nyonya rumah itu.

Penjaga mempersilakan Jivaka masuk dan menemui istri pedangang tersebut. Setelah memeriksa keadaannya, Ia sampaikan padanya bahwa ia memerlukan segenggenggam penuh ghee (keju). Ghee itu kemudian dipanaskannya dan diberi campuran berbagai ramuan obat. Ia meminta nyonya itu berbaring di kursi dipan dan menuangkan ghee campuran itu melalui hidungnya. Kemudian ghee itu mengalir masuk ke hidung dan keluar melalui mulut. [Pengobatan melalui hidung itu dinamakan nutthukamma. Kelak juga digunakan untuk para Bhikkhu [Vin. i.204, Cf.Vi*.iii.83 dan B.D.i.143, n.2]

Kemudian, sang nyonya rumah meminta pelayan wanitanya menampung keju cair yang telah dipakai mengobatinya tersebut dengan segumpal kapas. Melihat kelakuan si nyonya pedagang itu, Jīvaka berpikir, “Sunguh mengherankan! Betapa kikirnya nyonya rumah ini. Ghee bekas ini seharusnya di buang namun malah ditampung dengan kapas padahal banyak obat2an berhargaku juga tercampur di situ. Bagaimana nantinya ketika ia membayarku?”.

Kemudian, nyonya rumah itu melihat perubahan muka Jivaka dan berkata, “Apa yang mengganggu pikiranmu, guru?”

Jivaka kemudian menyampaikan apa yang dipikirkannya tadi.

“Guru, kami para ibu rumah tangga harus tau cara berhemat, Ghee ini masih sangat baik untuk dipakai oleh para pelayan2 dan pekerja menggosok kaki mereka atau sebagai bahan buat lampu. Janganlah engkau khawatir, guru, bayaran padamu tidaklah kurang”.

Jivaka berhasil menyembuhkan penyakit kepala yang telah 7 tahun di derita nyonya pedagang itu hanya dengan 1 kali pengobatan melalui hidung.

Istri pedagang itu kemudian memberikan 4 ribu [mungkin maksudnya dalam satuan kahapana] kepada Jivaka. Anak lelaki dan menantu perempuannya berpikir, “Ibuku/mertua sembuh”, mereka masing-masing memberikan 4000. Tuan rumah, si Pedagang itu berpikir, “Istriku sembuh” Ia memberikan 4000 Kahapana, budak laki dan perempuan serta kereta kuda.

Jivaka kemudian berpamitan dan berangkat ke rajagaha. Sesampainya di Rajagaha, Ia menghadap Pangeran Abhaya dan berkata, “Mohon yang mulia berkenan menerima uang hasil kerja pertamaku sebesar 16.000 kahapana, sepasang budak dan kereta kuda yang kupersembahkan sebagai persembahan karena telah merawatku.”

“Janganlah demikian, Jīvaka yang baik, biarlah itu tetap menjadi milikmu dan bangunlah tempat tinggal bagi dirimu di lingkungan istana ini”

“baiklah Ayahanda.” dan Jivakapun membangun tempat tinggalnya di lingkungan Istana.

Saat itu, Rāja Bimbisāra, menderita wasir (fistula) sehingga pakaian luarnya sering basah karena bercak darah. Para selir sering menjadikannya sebagai bahan olok-olok, “Wah sekarang Bagindapun mengalami datang bulan. kelak Baginda akan melahirkan bayi.”. Karena itu Raja menjadi malu dan berkeluh kesah pada pangeran Abhaya mengenai keadaan itu dan meminta ia mencarikan tabib untuk menyembuhkan penyakitnya

“Baginda, ada Jivaka kita, tabib muda yang bereputasi tinggi, biar Ia menghadap pada baginda”

“Baguslah jika demikian, suruh ia menghadapku”

Kemudian Pangeran Abhaya memerintahkan Jivaka menghadap Raja. Jivaka kemudian datang menghadap dengan obat yg diletakan di bawah kukunya dan berkata, “Yang mulia, mari kita lihat penyakitnya” dan kemudian dengan satu olesan salepnya ia sembuhkan penyakit wasir sang Raja. Setelah sembuh, Raja Seniya Bimbisara memberikan Jivaka 500 wanita yang didandani lengkap dengan segala perhiasannya, namun Jivaka menolaknya dan memohon raja menerimanya sebagai tabib Istana. Raja menerima permohonanannya dan meminta Jivaka untuk merawat Raja, permaisuri, selir dan Sangha dimana sang Buddha sebagai pemimpinnya.

Saat itu di Rajagaha ada seorang hartawan yang telah menderita sakit di kepalanya selama 7 tahun. telah banyak Tabib terkenal diundang untuk mengobati sakitnya, telah banyak emasnya habis, namun mereka pergi begitu saja tanpa bisa menyembukannya dan lebih jauh lagi mereka angkat tangan. Beberapa meramalkan bahwa umur sang hartawan ini tinggal 5 hari lagi, beberapa lagi meramalkan umurnya tinggal 7 hari lagi.

Para dewan kota berpikir seperti ini, “Hartawan ini sangat berarti bagi Raja dan Dewan kota, namun Ia telah di buat putus asa oleh para tabib itu, karena beberapa mengatakan umurnya tinggal 5 hari lagi, beberapa lainnya mengatakan bahwa umurnya tinggal 7 hari lagi. Sekarang, kerajaan kita telah punya tabib, Jivaka, yang muda dan bereputasi tinggi. Sebaiknya kita mohon, Jivaka untuk mengunjungi sang hartawan”

Mereka kemudian menghadap raja Bimbisara dan menceritakan hal tersebut, kemudian mereka memohon Raja agar dapat memerintahkan Jivaka datang ke rumah hartawan tersebut. Raja mengabulkan dan memerintahkan Jivaka ke tempat hartawan tersebut. Sesampainya Jivaka di rumah sang hartawan, ia berkata pada sang hartawan, “Jika aku berhasil menyembuhkanmu, apa yang akan engkau berikan sebagai pembayaran, tuan?”

“Seluruh hartaku akan menjadi milikmu dan aku akan menjadi budakmu, Guru”

“Sekarang, tuan, apakah engkau mampu berbaring miring pada satu sisi selama 7 bulan?”

“Dapat, guru”

“Sekarang, tuan, apakah engkau mampu berbaring miring di satu sisi lainnya selama 7 bulan?”

“Dapat, guru”

“Sekarang, tuan, apakah engkau mampu tidur bersandar punggung selama 7 bulan?”

“Dapat, guru”

Kemudian Jivaka meminta sang hartawan untuk berbaring di dipannya, Ia mengikat erat sang hartawan di dipannya, Ia kemudian membuat irisan untuk membuka kepala [vinametva, VI.117 menerangkan dengan vivaritva], membuka sambungan tempurung [subbini,cf Ja. Vi.339, Sibbni (jamak), craniotomy(?)], menarik keluar dua mahluk hidup [panaka], memperlihatkannya pada mereka dan berkata, “Anda lihat, tuan, dua mahluk hidup ini, yang satu kecil dan yang satunya lagi besar? Yang besaran inilah yang dilihat para tabib yang berkata, ‘hartawan ini akan wafat pada hari ke-5, di hari ke-5 ia telah melumat habis otak sang hartawan, dan ketika otaknya telah rusak maka hartawan itu akan wafat. Itulah yang sebenarnya dilihat para tabib tersebut, Kemudian yang kecilan, itu yang dilihat oleh para tabib yang mengatakan yang berkata,’hartawan ini akan wafat pada hari ke-7, di hari ke-7 ia telah melumat habis otak sang hartawan, dan ketika otaknya telah rusak maka hartawan itu akan wafat. Itu yg sebenernya dilihat para tabib tersebut” Setelah itu, Ia menyambungkan lagi tempurung, menjahitnya dan kemudian membubuhkan salep.

Setelah tujuh hari berlalu, sang hartawan berkata pada Jivaka, “saya ngga mampu berbaring di satu sisi selama 7 bulan, Guru”

“Bukankah engkau mengatakan, ‘saya mampu berbaring di satu sisi selama 7 bulanan?”

“Benar, Guru, tapi rasanya saya akan mati bila terus berbaring di satu sisi selama 7 bulanan” keluh hartawan lagi.

“Jika demikian, berbaringlah dengan punggungmu selama 7 bulan”

Kemudian, setelah tujuh hari berlalu lagi, sang hartawan berkata pada Jivaka, “saya ngga mampu berbaring dengan punggung selama 7 bulan, Guru”

“Bukankah engkau mengatakan, ‘saya mampu berbaring dengan punggung selama 7 bulanan?”

“Benar, Guru, tapi rasanya saya akan mati bila terus berbaring dengan punggung selama 7 bulanan” keluh hartawan lagi.

“Jika aku tidak mengatakan demikian, maka engkau tidak akan berbaring selama ini, namun aku tau sebelumnya bahwa engkau akan telah menjadi sehat dalam 3 x 7 hari. bangunlah, tuan, engkau telah sembuh, bayarkan saja apa yang menjadi upahku”

“Semua hartaku menjadi milikmu, Guru. Dan aku menjadi budakmu”

“Jangan demikian, tuan, jangan berikan seluruh hartamu dan janganlah menjadi budakku, berikanlah 100 ribu kahapana pada raja dan 100 ribu padaku”. Demikianlah sang hartawan yang telah sehat itu melakukan yang diminta.

Ketika itu, seorang anak hartawan dari benares [kasi], ketika bermain jungkir balik [mokkhacikaya kilantassa] isi perutnya terpelintir, sehingga ia tidak dapat mencerna makanan dan minuman dengan wajar atau buang air besar dengan teratur. Ini mengakibatkan ia menjadi kurus, menggenaskan, kulitnya buruk, menguning, urat-uratnya terlihat diseluruh tubuhnya. Sang Hartawan memikirkan keadaan anaknya dan berpikir sebaiknya Ia menemui Raja Bimbisara dan memohon agar Jivaka dapat datang ke rumahnya.

Ia kemudian menghadap raja Bimbisara dan menceritakan kesusahannya, memohon Raja agar dapat mengijinkan Jivaka datang ke rumahnya untuk memeriksa keadaan anaknya. Raja mengabulkan dan memerintahkan Jivaka ketempat hartawan tersebut.

Sesampainya Jivaka di rumah sang hartawan, Ia kemudian memeriksa keadaannya dan memutuskan akan melakukan operasi abdominal, Ia kemudian mengusir keluar orang-orang yang tidak berkepentingan, mengelilingi anak itu dengan tirai [Tirokarani, Vin II.152], mengikatnya di satu tonggak dan meminta istri dari anak muda itu agar berada di depannya. Ia kemudian membuat irisan untuk membuka perut [laparotomy(?)], menarik keluar isi perut yang terbelit-belit tersebut, memperlihatkan pada istri anak hartawan itu dan berkata, “lihat inilah yang menyebabkan penderitaannya yang menyebabkan dirinya tidak bisa mencerna makanan dan minuman serta tidak mampu buang air seperti seharusnya yang menyebabkan Ia menjadi kurus mengenaskan, warna kulitnya memburuk kekuning-kuningan dan urat nadinya terlihat di seluruh tubuh”

Setelah meluruskan kembali isiperut yang berbelit2 tersebut, mengembalikannya ketempatnya, menjahitnya dan memberikannya salep. Kemudian anak hartawan itupun menjadi makin membaik. Sang Hartawan kemudian berkata, “anakku telah sembuh” Ia memberikan Jivaka 16.000 Kahapana dan Jivakapun kembali ke Rajagaha.

Ketika itu Raja Pajjota dari Avanti dengan ibukotanya Ujjeni [Dha.i.192] menderita penyakit kuning [jaundice, Pandurogabhada Cf. Vin 1.206, Satu bhikku juga menderita penyakit ini, pengobatan berbeda dengan yang diresepkan pada Pajjota]. Telah banyak Tabib terkenal diundang untuk menyembuhkannya, telah banyak uang emas dihabiskan namun mereka pergi begitu saja tanpa bisa menyembuhkannya.

Kemudian raja Pajotta mengirim utusan kepada raja Seniya Bimbisara, yang berkata: “Saya mengidap semacam penyakit, alangkah baiknya bila yang mulia berkenan mengijinkan Jivaka memeriksaku” Raja kemudian memerintahkan Jivaka untuk ke Ujjeni (Madhya Paradesh) memeriksa penyakit raja Pajjota”.

Jivaka mematuhinya dan pergi ke Ujjeni dan setelah memeriksa keadaanya ia berkata pada raja Pajjota, “Yang mulia, Aku akan memasakan ghee, dan yang mulia akan meminumnya”

“O, Tidak bisa, jivaka yang baik, lakukan apapun yang dapat menyembuhkanku namun jangan dengan ghee karena ghee menjijikkan bagiku dan membuatku mual”

Kemudian Jivaka berpikir, “Penyakit raja ini adalah jenis yang tidak mungkin disembuhkan tanpa ghee. Aku sebaiknya tetap memasak ghee yg diberikan ramuan untuk menyamarkan warna, bau dan rasanya”

Ia kemudian melakukan itu dan juga membubuhkan berbagai macam obat-obatan kedalamnya.

Kemudian Jivaka berpikir, “Ketika raja kemudian meminum dan mencernanya ini akan membuatnya mual, Ia akan marah besar [canda = bengis; kasar. Nama lengkap raja Avanti adalah CandaPajjota]. Ia akan membunuhku. Sebaiknya aku bersiap dengan mendapatkan ijin meninggalkan tempat dari raja.”

Kemudian Ia menghadap raja dan berkata, “Yang mulia, kami para tabib di waktu-waktu seperti ini terkadang mesti mengumpulkan akar-akaran dan obat-obatan. Alangkah baiknya jika yang mulia dapat memerintahkan parapenjaga kuda dan juga pintu gerbang, “biarkan Jivaka pergi kemanapun dan kapanpun waktu yang ia inginkan untuk datang dan pergi”

Raja mengabulkan dan memerintahkan pada para penjaga kandang dan gerbang kota. Ketika itu raja Pajjota memiliki gajah betina bernama Bhaddavatika, yang dapat menempuh 50 Yojana dalam sehari.

Kemudian Jivaka memberikan ghee itu pada raja pajjota dan berkata, “ayo minumlah ramuan obat ini, yang mulia” Setelah itu, Jivaka bergegas ke kandang gajah dan secepatnya keluar dari kota bersama gajah betina Bhaddavatika.

Ketika raja Pajjota, meminum dan mencerna ghee itu ia kemudian menjadi mual. Raja kemudian berkata pada para pengawalnya, “Pengawal, Jivaka yang keji ini membuatku meminum ghee. Sekarang cepat cari, Jivaka”

“Yang mulia, Ia telah keluar kota dengan menunggangi gajah betina, Bhaddavatika”

Di samping Gajah, Raja pajjota juga mempunyai seorang budak bernama Kaka, yang dapat menempuh jarak 60 Yojana dalam sehari, Ia dikatakan merupakan hasil peranakan campuran dengan makhuk bukan manusia. Kaka, diperintahkan untuk membuat Jivaka kembali dengan mengatakan, “Raja memintamu kembali, Guru” dan berpesan padanya, “Kaka yang baik, para tabib ini penuh kelicikan, jadi jangan terima apapun darinya”

Kaka, kemudian memergoki Jivaka sedang sarapan di jalanan pada arah menuju Kosambi. Ia kemudian berkata, “Yang mulia raja memerintahkanmu kembali, Guru”

“Sabarlah sebentar, kaka yang baik, biarkan aku selesaikan sarapanku. Mari, kaka yang baik, kita sarapan bersama”

“Tidak, Guru, Aku telah dipesankan raja dengan berkata, “Kaka yang baik para tabib ini penuh kelicikan, jangan terima apapun darinya”

Ketika itu Jivaka telah melepaskan kotak obatnya, memakan emblica myrobalan [Phyllanthus emblica L.: buah persik, amalaka, kimalaka, kemloko] dan minum air. Kemudian Jivaka berkata pada Kaka, “Kemari, Kaka yang baik, makanlah buah amalaka ini dan minumlah air”

Kemudian kaka berpikir, “Ttabib ini makan buah amalaka dan minum air, seharusnya tidak ada bahaya apapun padaku”. Iapun mau dan memakannya. Setelah makan setengah dari buah itu dan minum air, Ia merasakan yang tidak enak dan segara membuang apapun yang tengah dimakannya dan berkata pada Jivaka, “Apakah aku akan hidup, Guru?”.

“Jangan takut, Kaka yang baik, engkau akan segera membaik, namun Raja pajjota bengis, Aku mungkin akan dibunuhnya, jadi aku tidak akan kembali” Setelah menyerahkan bhaddavatika kepada Kaka, ia kemudian menuju Rajagaha dan segera menemui raja menceritakan apa yang terjadi. Raja kemudian mengatakan, “Engkau berlaku tepat untuk tidak kembali, Jivaka yang baik, Raja itu bengis, Ia mungkin akan membunuhmu”

Raja Pajjota kemudian sembuh dari sakitnya, ia mengirim kurir kepada Jivaka, “Kemarilah Jivaka, aku akan memberimu hadiah”

“Tidak, tuanku, biarlah yang mulia mengingat tempatku saja”

Pajjota memiliki sepasang kain [Siveyyaka dussaywga] yang merupakan kain terbaik dari semua kain yang pernah ada dan memberikannya pada Jivaka. Jivaka kemudian berpikir tidak ada yang lebih tepat mendapatkan kain sebagus ini selain dari Sang Buddha dan juga Raja bimbisara.

Saat itu adalah tahun ke-20, setelah Buddha mencapai penerangan sempurna. Sang Bhagavà sedang menetap di vihàra gunung di lerang Bukit Gijjhakuta di dekat Ràjagaha. Ketika itu, beliau mengalami gangguan tubuh pada cairan dasar [sembelit kronis], Ia kemudian meminta kepada Ananda untuk mencarikan obat pencahar. Ananda kemudian pergi menemui Jivaka. Jivaka meminta Ananda untuk meminyaki tubuh Sang Buddha selama beberapa hari.

Setelah beberapa hari, Ananda bertanya apakah sudah saatnya untuk memberikan pencahar pada sang Buddha, Jivaka menjawab, “tidak tepat untuk memberikan pencahar pada beliau di kondisinya seperti ini”.

Dalam perjalanan kembali, Jivaka bertanya banyak mengenai Buddha Gautama kepada Ananda. [Kalimat ini tidak ada di Maha Vagga]

Kemudian Ia membawakan 3 tangkai lotus yang telah campur dengan obat2an Ia mendekati sang Buddha dan meminta beliau untuk menghirup sebanyak 10x masing-masing. Setelah itu ia berpamitan, namun di tengah jalan terpikir dalam benaknya bahwa karena ada gangguan cairan tubuh dasar, maka hanya akan terjadi 29x pembersihan usus yg hebat, namun jika dilakukan ketika mandi, sang Buddha akan muntah 1x dan di ikuti buang air yang hebat sebanyak 29x. Untuk itu ia kembali. Sang Buddha mengetahui apa yang dipikirkannya, Ia meminta Ananda untuk menyiapkan air panas dan melakukan yang dipikirkan Jivaka. Jivaka datang dan mengemukakan hal tersebut dan terjadi seperti yang Jivaka pikirkan. Jivaka menyatakan agar Sang Buddha sebaiknya melakukan diet jus hingga kesehatan pulih kembali.

Kemudian kesehatan sang Buddhapun membaik.

Setelah itu Jivaka datang untuk mempersembahkan kain terbaik yang ia dapatkan dari Raja pajjota, Ia pun mengajukan permohonan pada sang buddha yaitu agar umat awam diperbolehkan mempersembahkan kain/jubah kepada Sangha. Buddha mengabulkannya. Kemudian dalam satu kotbah, Sang Buddha menyatakan membolehkan para Bhikkhu menerima jubah dari umat awam.

kabar ini menggembirakan penduduk Rajagaha, dalam 1 hari, ribuan jubah dihasilkan di Rajagaha dan dipersembahkan pada Sangha. Ketika penduduk negeri juga mendengar hal ini, maka seharinya ribuan jubah diproduksi dan dipersembahkan kepada Sangha.

[(klik!) Catatan]

    Dalam: “The Buddhist Monastic Code II“, The Khandhaka Rules Translated and Explained, oleh Thanissaro Bhikkhu, dinyatakan bahwa Jivaka merupakan umat awam pertama yang memberikan jubah pada sang Buddha. Saya berpendapat:

    • Saat itu merupakan tonggak awal yang sebenarnya dari asal-usul perayaan KATHINA,
    • Saat itu, Jivaka belum lah menjadi umat awam namun ia masih pengikut Jainsm (seperti ayahnya Pangeran Abhaya). Namun demikian, ada kemungkinan ia telah menjadi umat awam sewaktu Sang Buddha sakit di Rajagaha, yaitu sehubungan dengan 2(dua) Sutta bernama sama “Jivaka Sutta” yang dibabarkan sehubungan dengan Jivaka:
      1. Jivaka sutta [M.II.55]. Sutta ini penting dan mempunyai alasan kepindahan kepercayaan dari Jivaka, karena pengikut Jainism tidak diperkenankan makan daging dan madu sama sekali. Profesi dirinya sebagai tabib membuatnya memahami bahwa apapun dapat digunakan sebagai obat. Puas dengan jawaban itu, Jivaka kemudian menyatakan dirinya sebagai umat awam dengan berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha
      2. Jvaka sutta [AN 8.26], Ia mempertanyakan sejauh mana yang disebut umat awam, umat awam yang baik, umat awam yang berbuat bagi kepentingan diri sendiri namun tidak bagi orang lain dan umat awam yang berbuat bagi diri sendiri dan orang lain. Ada kemungkinan setelah pembabaran sutta ini, ia mengajukan permohonan agar umat awam diperkenankan untuk menerima persembahan jubah.

Dalam Jivaka Sutta [M.II.55], disampaikan pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha di Hutan Mangga milik Jivāka Komārabhacca. Jivaka mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā:

“Yang Mulia, aku telah mendengar ini: ‘Mereka menyembelih makhluk-makhluk hidup untuk Petapa Gotama; Petapa Gotama dengan sadar memakan daging yang dipersiapkan untukNya dari binatang-binatang yang dibunuh demi Beliau.’ Yang Mulia, apakah mereka yang mengatakan sebagaimana sesuai dengan yang sampaikan Sang Bhagavā; tidak salah memahami dan berlawanan dengan fakta? Apakah mereka menjelaskan sesuai dengan Dhamma?”

Sang Buddha menjelaskan, “Jivaka, ada tiga kasus daging seharusnya tidak dimakan; jika melihat (Adittha) seseorang menyembelihnya, mendengar (Asuta) jeritannya ketika ia di bunuh sebagai konsumsinya, atau ada keraguan dalam pikirannya (Aparisamkita) bahwa makhluk hidup itu disembelih untuk dirinya. Aku katakan bahwa daging seharusnya tidak dimakan dalam ketiga kasus ini. Aku katakan bahwa ada tiga kasus yang mana daging boleh dimakan; jika tidak terlihat, tidak terdengar, dan tidak dicurigai [bahwa makhluk hidup itu disembelih untuk dirinya]. Aku katakan bahwa daging boleh dimakan dalam ketiga kasus ini”

Sang Buddha juga menyatakan bahwa para Bhikku menerima makanan dan memakan makanan itu tanpa terikat pada makanan itu, tanpa tergila-gila pada makanan itu, dan tanpa menyerah pada makanan itu, melihat bahaya di dalam makanan itu dan memahami jalan membebaskan diri dari makanan itu.

Sang Buddha menyatakan bahwa nafsu apapun juga, kebencian apapun juga, kebodohan apapun juga dapat menimbulkan niat buruk.

“Jika siapapun juga menyembelih makhluk hidup untuk Sang Tathāgata atau siswaNya, ia menimbun banyak keburukan dalam lima kasus.

  1. Ketika ia berkata: ‘Pergi dan tangkap makhluk hidup itu,’ ini adalah kasus pertama yang mana ia menimbun banyak keburukan.
  2. Ketika makhluk hidup itu mengalami kesakitan dan kesedihan karena ditarik dengan leher tercekik, ini adalah kasus ke dua yang mana ia menimbun banyak keburukan.
  3. Ketika ia berkata: ‘Pergi dan sembelilah makhluk hidup itu,’ ini adalah kasus ke tiga yang mana ia menimbun banyak keburukan.
  4. Ketika makhluk hidup itu mengalami kesakitan dan kesedihan karena disembelih, ini adalah kasus ke empat yang mana ia menimbun banyak keburukan.
  5. Ketika ia mempersembahkan makanan yang tidak diperbolehkan kepada Sang Tathāgata atau siswaNya, ini adalah kasus ke lima yang mana ia menimbun banyak keburukan.

Siapapun juga yang menyembelih makhluk hidup untuk Sang Tathāgata atau siswaNya, ia menimbun banyak keburukan dalam lima kasus ini.

Ketika hal ini dikatakan, Jivaka Komārabhacca berkata kepada Sang Bhagavā: “Sungguh mengagumkan, Yang Mulia, sungguh menakjubkan! Para bhikkhu memelihara diri mereka dengan makanan-makanan yang diperbolehkan. Para bhikkhu memelihara diri mereka dengan makanan-makanan yang tanpa cacat. Sungguh mengagumkan, Yang Mulia, sungguh menakjubkan!..Sjak hari ini sudilah Sang Bhagavā mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”

Sejak saat itulah, Jivaka menjadi tabib bagi Sang Buddha dan sangha sepanjang hidupnya.

[(klik!) Catatan]

    • Peraturan untuk umat awam Buddhis menghindari pembunuhan juga melarangnya membunuh demi makanan. Tetapi tidak melarang membeli daging yang berasal dari binatang yang telah mati. Untuk lebih jelas mengenai hal ini baca Vin Mv Kh 6/i.237-38, dan I.B. Horner, Early Buddhism and the Taking of Life, pp.20-26.
    • Terdapat komentar penterjemah di sutta ini, bahwa sebelum pembabaran sutta ini Jivaka telah sotapanna sehingga dianggap mengherankan mengapa baru saat itu berlindung pada Buddha dhamma dan sangha. Komentar itu jelas tidak benar, karena seorang yang telah mencapai Sotapanna, Ia telah menghancurkan 3 belenggu terendah:
      1. Sakkaya Ditthi = [Sa/santa- Keberadaan] + kaya- [nama & Rupa]
      2. Vicikiccha = keragu2an pada Buddha, Dhamma dan sangha
      3. Silabbataparamasa = Meyakini bahwa ada hal lain (upacara, bersembahyang, mengikuti kehendak mahluk tertentu, pantang makanan tertentu, dll) dapat membuat diri menjadi suci

      Point ke-1 adalah kunci.
      Seseorang yang telah hancur belenggu ke-1, Ia memahami [nama dan rupa] bukan sebagai diri dan tidak kekal, sehingga tidak lagi melihat ada sesuatu yang kekal (juga setelah mati), tidak melihat bahaw semua lenyap hilang setelah mati.

      Ia paham bahwa fenomena itu adalah muncul – bertahan – lenyap.

      untuk itu,
      Ia tidak akan pelit karena “punya ku” adalah tidak nyata.
      Ia tidak akan melanggar sila dengan sengaja.
      Tidak ada itikad dirinya untuk menyakiti, tidak ada itikad dirinya mengambil kepunyaan orang, berdusta dan memasukan makanan/minuman yg menghilangkan kesadaran.
      Tidak ada keragu2an bhw tidak ada tuhan dan roh. sehingga tidak ada keragguan akan Buddha.

      Tidak ada keraguan akan Buddha mengakibatkan dan karena tidak ada keraguan akan Dhamma [semua adalah fenomena tanpa adanya inti yg dapat di pegang dan tentu saja konseskuensinya ia menjalankan sila dan tidak pelit]

      Tidak ada keraguan akan Dhamma krn ia tau bahwa ini hanyalah FENOMENA gabungan/campuran, sehingga ia akan menghormat orang yg menempuh kesucian, berusaha mengingatkan mereka yg menempuh kesucian, menyokong mereka yang menempuh kesucian.

      Memahami hakekat fenomena, maka ia akan tau tanpa keraguan bahwa tidak ada hal lain/benda lain yang dapat membuat dirinya suci, tidak juga dengan upacara-upacara apapun selain dengan memperbaiki PRILAKU SENDIRI artinya Ia tau dan paham ada kegiatan yang benar/salah, Ia mengingatkan oranglain dan dirinya, ketika ada bagian dari kegiatan itu berpotensi melanggar 4 sila maka tidak lakukan sama sekali.

      Kenapa?

      Ia tidak pelit tidak lagi dan tertarik pada materi dan juga kebanggan/ketakutan akan ditingggal dan seterusnya

      Bacaan lebih lanjut: Samanupassana Sutta, Vina sutta dan vajra sutta.

Dalam Jivaka sutta [AN 8.26], Sang Buddha ketika itu ada di Rajagaha di hutan mangga milik jivaka. Jivaka bertanya, “Yang mulia, sampai sejauh manakah seseorang dinamakan sebagai pengikut awam?”

Sang Buddha menjawab, “Jivaka, ketika seseorang telah berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha”

Jivaka bertanya, “Yang mulia, sampai sejauh manakah seseorang dinyatakan sebagai pengikut yang baik?”

Sang Buddha menjawab, “Jivaka, ketika seseorang tidak menyakiti mahluk hidup, tidak mengambil yang bukan hak-nya, menjaga indera-inderanya dari perbuatan tidak patut, tidak menyatakan yang tidak benar dan tidak memasukan sesuatu kedalam tubuh yang membuat lemah kesadarannya sehingga mengakibatkan kelalaian, sampai sejauh itulah seseorang dinyatakan sebagai umat awam yang baik”

Jivaka bertanya, “Yang mulia, sampai sejauh manakah seseorang dinyatakan sebagai umat awam yang melaksanakan praktek yang bermanfaat bagi dirinya sendiri namun tidak bagi yang lainnya?.”

Sang Buddha menjawab, “Jivaka, ketika seorang pengikut awam sendiri:

  1. sempurna dalam keyakinan, namun tidak mendorong orang lain untuk menyempurnakan keyakinan
  2. sempurna dalam kebajikan tetapi tidak mendorong orang menyempurnakan kebajikan
  3. sempurna dalam kemurahan hati, tetapi tidak tidak mendorong orang lain menyempurnakan kemurahan hati
  4. keinginan untuk menemui bhikkhu tetapi tidak mendorong orang lain menemui bhikkhu
  5. ingin mendengar Dhamma yang benar tetapi tidak mendorong orang lain untuk mendengarkan Dhamma yang benar
  6. mempunyai kebiasaan mengingat Dhamma yang telah didengarnya namun tidak tidak mendorong orang lain berkebiasaan untuk mengingat Dhamma yang telah mereka dengar
  7. menggali makna Dhamma yang telah didengarnya namun ia tidak mendorong orang lain menggali makna Dhamma yang telah mereka dengar
  8. mengetahui Dhamma & artinya, melakukan praktek yang selaras namun tidak mendorong orang lain berlatih esuai dengan Dhamma

Sampai sejauh itulah disebut pengikut awam melaksanakan praktek yang bermanfaat bagi dirinya sendiri namun tidak bagi orang lain.

Jivaka kemudian bertanya, “Yang mulia, sampai sejauh manakah seseorang dinyatakan sebagai umat awam yang melaksanakan praktek yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain?”

Sang Buddha menjawab seperti di atas dan ditambahkan keterangan “mendorong orang lain”

Setelah itu, Ia merasakan bahwa jarak antara beliau tinggal dan dirinya terlalu jauh, sehingga ia mendirikan vihara di kebun mangganya kemudian menyerahkan Viharanya pada Sang Buddha dan sangha, Saat pembabaran Dhamma pada peresmian viharanya Ia mencapai sotapanna.

[(klik!) Catatan]

    • Ada yang mengatakan bahwa Ia mencapai sotapanna setelah kotbah yaitu ketika Ia memberikan jubah di hadapan sang Buddha [Misal: di sini dan di sini]
    • Ada yang mengatakan bahwa setelah beberapa kotbah ia mencapai sotapanna, baru kemudian ia membuat Vihara di kebun mangganya [Misal: di sini dan di sini]
    • sumber dari tulisan saya di atas adalah dari sini. Vihara Jivakarama, merupakan 1 dari 3 Vihara [Jivakarama, Jetavanarama (penyumbang: Anathapindika dari savathi Sang Buddha menghabiskan 19 Masa Vassa di sini) dan Ghositarama (penyumbang: Ghosita dari Kosambi)] yang ditemukan jejaknya oleh Arkeologis. Seluruhnya ada 8 Vihara yang disumbangkan oleh umat awam dan dinamakan sesuai nama penyumbangnya. Sisa 5 nama, lokasi dan penyumbang lainnya adalah:
      1. Veluvanarama, Rajagaha. Merupakan Vihara pertama yg dipersembahkan pada Buddha dan Sangha. Penyumbang: Raja Bimbisara. Sang Buddha menghabiskan 6 Masa Vassa disini
      2. Pubbarama. Penyumbang Visakha dari savatti. Sang Buddha menghabiskan 6 Masa Vassa disini
      3. Ambapali-vana, Penyumbang: Ambapali, seorang wanita penghibur kota Vesali
      4. Nigrodharama, Kapilavatthu.
      5. Kukkutarama, Pavarikambavana dan Badarikarama dari Kosambi

Di Vihara di hutan mangga, ada satu kejadian menarik ketika Jivaka mengundang Sang Buddha dan Sangha untuk berdana makan. Kisah ini dimulai seperti ini.

Bendahara Kerajaan di Rajagaha mempunyai dua orang cucu laki-laki bernama Mahapanthaka dan Culapanthaka. Mahapanthaka, yang tertua, selalu menemani kakeknya mendengarkan khotbah Dhamma. Kemudian Mahapanthaka bergabung menjadi murid Sang Buddha.

Ketika Culapanthaka berusia 18 tahun(Apadana i. 58f), Ia mengikuti jejak kakaknya menjadi bhikkhu pula. Saat itu, Mahapanthaka Thera telah menjadi seorang arahat ketika adiknya Culapanthaka masuk dalam pasamuan bhikkhu.

Pada masa Buddha Padumuttara (Buddha ke-11), Cūlapanthaka adalah seorang perumah tangga. Ketika itu, ia melihat seorang Bhikkhu dinobatkan sebagai yang terunggul dalam menciptakan bentuk atau adhiññhàna iddhi, adalah kekuatan tekad untuk memproyeksikan citra diri sendiri menjadi seratus atau seribu. Teraspirasi dengan kejadian itu ia berharap akan dapat seperti itu.

Tetapi, karena pada kehidupannya yang lampau pada masa keberadaan Buddha Kassapa, Culapanthaka adalah juga seorang bhikkhu dan melaksanakan praktek odātakasina selama 20.000 tahun (AA.i.119) Ia ketika itu telah menggoda seorang bhikkhu yang sangat bodoh, maka dia dilahirkan sebagai orang dungu pada kehidupannya saat ini. Dia tidak mampu mengingat meskipun hanya satu syair dalam empat bulan. Mahapanthaka menjadi kecewa dengan adiknya dan menyuruhnya untuk meninggalkan vihara karena ia tidak ada gunanya berada dalam pasamuan bhikkhu.

Berkaitan dengan hal tersebut, pada suatu kesempatan, para bhikkhu bertanya kepada Sang Buddha, mengapa meskipun ia seorang arahat, mengusir adik laki-lakinya dari vihara. Mereka juga menambahkan, “Apakah para arahat masih kehilangan kesabarannya ? Apakah mereka masih mempunyai kekotoran batin seperti keinginan jahat dalam diri mereka ?”

Kepada mereka Sang Buddha menjawab, “Para bhikkhu! Para arahat tidak mempunyai keinginan jahat seperti nafsu dan kebencian dalam diri mereka. Murid-Ku Mahapanthaka melakukan hal seperti itu dengan pengertian demi keuntungan saudaranya dan bukan karena keinginan jahat.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 407 berikut :
Seseorang yang nafsunya, kebenciannya, kesombongannya dan kemunafikannya telah gugur, seperti biji lada yang jatuh dari ujung jarum, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’

Suatu waktu, Jivaka datang ke vihara mengundang Sang Buddha dan para bhikkhu yang ada, untuk berkunjung makan siang di rumahnya. Mahapanthaka, yang diberi tugas untuk memberitahu para bhikkhu tentang undangan akan siang tersebut, mencoret Culapanthaka dari daftar undangan. Ketika Culapanthaka mengetahui hal itu dia merasa sangat kecewa dan memutuskan untuk kembali hidup sebagai seorang perumah tangga.

Mengetahui keinginan tersebut, Sang Buddha membawanya dan menyuruhnya duduk di depan Gandhakuti. Kemudian Beliau memberikan selembar kain bersih kepada Culapanthaka dan menyuruhnya untuk duduk menghadap ke timur dan menggosok-gosok kain itu. Pada waktu bersamaan dia harus mengulang kata “Rajoharanam”, yang berarti “kotor”. Sang Buddha kemudian pergi ke tempat kediaman Jivaka, menemani para bhikkhu.

Culapanthaka mulai menggosok selembar kain tersebut, sambil mengucapkan “Rajoharanam”. Berulang kali kain itu digosok dan berulang kali pula kata-kata rajoharanam meluncur dari mulutnya.

Berulang dan berulang kali.

Karena terus menerus digosok, kain tersebut menjadi kotor. Melihat perubahan yang terjadi pada kain tersebut, Culapanthaka tercenung. Ia segera menyadari ketidakkekalan segala sesuatu yang berkondisi.

Dari rumah Jivaka, Sang Buddha dengan kekuatan supranaturalnya mengetahui kemajuan Culapanthaka. Beliau dengan kekuatan supranaturalnya menemui Culapanthaka, sehingga seolah-olah Beliau tampak duduk di depan Culapanthaka, dan berkata :

“Tidak hanya selembar kain yang dikotori oleh debu; dalam diri seseorang ada debu hawa nafsu (raga), debu keinginan jahat (dosa), dan debu ketidaktahuan (moha), seperti ketidaktahuan akan empat kesunyataan mulia. Hanya dengan menghapuskan hal-hal tersebut seseorang dapat mencapai tujuannya dan mencapai arahat.”

Culapanthaka mendengarkan pesan tersebut dan meneruskan bermeditasi. Dalam waktu yang singkat mata batinnya tebuka dan ia mencapai tingkat kesucian arahat, bersamaan dengan memiliki ‘Pandangan Terang Analitis? Maka Culapanthaka tidak lagi menjadi orang dungu.

Di rumah Jivaka, para umat akan menuang air sebagai tanda telah melakukan perbuatan dana; tetapi Sang Buddha menutup mangkoknya dengan tangan dan berkata bahwa masih ada bhikkhu yang ada di vihara. Semuanya mengatakan bahwa tidak ada bhikkhu yang tertinggal. Sang Buddha menjawab bahwa masih ada satu orang bhikkhu yang tertinggal dan memerintahkan untuk menjemput Culapanthaka di vihara.

Ketika pembawa pesan dari rumah Jivaka tiba di vihara, dia menemukan tidak hanya satu orang, tetapi ada seribu orang bhikkhu yang serupa. Mereka semua diciptakan oleh Culapanthaka, yang sekarang telah memiliki kekuatan supranatural. Utusan tersebut kagum dan dia pulang kembali dan melaporkan hal ini kepada Jivaka.

Utusan itu kembali diutus ke vihara untuk kedua kalinya dan diperintahkan untuk mengatakan bahwa Sang Buddha mengundang bhikkhu yang bernama Culapanthaka. Tetapi ketika dia menyampaikan pesan tersebut, seribu suara menjawab, ” Saya adalah Culapanthaka.” Dengan bingung, dia kembali ke rumah Jivaka untuk kedua kalinya.

Untuk ketiga kalinya dia disuruh kembali ke vihara. Kali ini, dia diperintahkan untuk menarik bhikkhu yang dilihatnya pertama kali mengatakan bahwa dia adalah Culapanthaka. Dengan cepat dia memegangnya dan semua bhikkhu yang lain menghilang, dan Culapanthaka menemani utusan tersebut ke rumah Jivaka.

Cūlapanthaka adalah seorang yang mahir rūpajjhāna dan samādhi, sementara kakaknya seorang yang mahir arūpajjhāna dan vipassanā. Ketika menciptakan bentukan, para bhikkhu lain hanya mampu menghasilkan 2 atau 3 bentuk, namun Cūlapanthaka mampu membuat ribuan banyaknya dalam waktu yang sama dan juga tidak sama satu dengan yang lainnya serta prilakunya(ThagA.ii.490; PsA.276).

Setelah makan siang, seperti yang diperintahkan oleh Sang Buddha, Culapanthaka menyampaikan khotbah Dhamma, khotbah tentang keyakinan dan keberanian, mengaum bagaikan raungan seekor singa muda. Ketika masalah Culapanthaka dibicarakan di antara para bhikkhu, Sang Buddha berkata bahwa seseorang yang rajin dan tetap pada perjuangannya akan mencapai tingkat kesucian arahat.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 25 berikut ini :

Dengan usaha yang tekun, semangat, disiplin, dan pengendalian diri, hendaklah orang bijaksana membuat pulau bagi dirinya sendiri yang tidak dapat ditenggelamkan oleh banjir.

Di katakan (Vin.iv.54f) suatu ketika adalah gilirannya untuk mengajari para Bhikkhuni di Sāvatthi, para Bhikkhuni tidak berharap banyak atas ceramahnya karena ia selalu mengulang-ulang syair yang sama. Suatu hari, di akhir pengajaran yang diberikannya, Ia mendengar bisik-bisik mengenai itu dan dengan tanpa menunda waktu lagi ia perlihatkan kebolehannya yang telah melegenda itu. Para Bhikkhuni berubah menjadi sangat perhatiannya pada pembabarannya hingga lewat senja. Sang Buddha mendengar hal ini dan mengingatkan Cūlapanthaka agar tidak lagi mengajarkan para Bhikkhuni hingga lewat senja.

Kisah lain yang berhubungan dengan Jivaka adalah jyotishka (Jotika), Kisah ini berada di kisaran waktu setelah Jivaka menjadi pengikut Buddha s/d Raja Bimbisara wafat [Di atas tahun ke-20 s/d tahun ke-38, Buddha Gautama mencapai penerangan sempurnanya].

    Seorang hartawan super kaya dari Rajagaha mempunyai istri yang tengah hamil. Kemudian, Kshapanaka [seorang dari aliran Titthiya] meramalkan bahwa anaknya adalah perempuan. Sang Buddha mengatakan bayinya adalah lelaki, akan bergabung dengan buddhisme, menjadi sangat termasyhur dan kemudian mencapai Arahat. Hartawan ini ternyata lebih condong pada kaum Titthiya, Ia membubuh istrinya dan membawanya ke kuburan untuk dikremasi. Ketika baru mulai di kremasi, sang Buddha kemudian meminta Jivaka untuk menuju ke api yang tengah membakar mayat tersebut dan menyelamatkan sang jabang bayi. Ternyata anak itu masihlah hidup!. Oleh karena sang ayah menolak mengakui anak itu, maka atas permintaan sang Buddha, anak itu kemudian di adopsi oleh raja Bimbisara. Sang Buddha memberikan nama anak itu Jyotishka, karena lolos dari api [Jyotis]. Di perjalanan waktu, anak tersebut di klaim oleh pihak keluarga ibunya dan dibesarkan menjadi seorang anak dan menjadi sangat kaya. Di kisahkan ketika Ajatasattu telah menjadi raja, Ia iri dengan kekayaan Jyotishka. Untuk menghindari bencana lebih lanjut Jyotishka kemudian menyumbangkan kekayaannya, menjadi Bhikkhu dan tak lama kemudian, Ia menjadi arahat

[Kisah yang di atas tidak ada di kanon pali namun ada di catatan perjalanan Yuan Chwang ke India [629 – 645 M],Thomas Watters, Vol.2, 1905, hal.163-164, untuk Jivaka di hal.151 atau juga artikel Jeevaka’s surgical feats in Buddhist India, yang merujuk pada “Encyclopedia of Buddhism”, II, plate XLI.].

Dalam versi Canon Pali, sama sekali tidak ada keterlibatan Jivaka.

Dalam versi Pali ini Jotika (bahasa Pali dari Jyotishka) juga merupakan anak seorang hartawan. Ketika dewasa, Jotika diberikan lahan untuk membangun rumahnya. Deva Sakka memberikan bantuan yang menyebabkan ia mempunyai kekayaan yang tidak pernah habis-habisnya dan juga tidak pula dapat di ambil secara menggelap tanpa se-izinnya.

Pada suatu ketika, Raja Bimbisara dan pangeran Ajatasattu datang berkunjung ke rumah Jotika, mereka sangat terpesona pada kekayaan dan rumahnya. Kekayaannya bahkan jauh melebih yang raja miliki. Saat itulah itikad jahat Ajatasattu muncul.

Ketika Ajatasattu menjadi Raja, Ia berusaha mencuri dan merampoknya rumah Jotika, namun tidak berhasil, Ia kemudian mencari Jotika hingga ke Vihara. Jotika tahu bahwa bencana akan menghampirinya. Setelah menjelaskan dengan mendemonstrasikan pada raja bahwa kekayaannya tidak akan bisa diambil tanpa izin dirinya. Maka, untuk menghindari bencana, Ia kemudian menjadi Bhikkhu. Segera setelah Ia menjadi Bhikkhu maka di saat itu pulalah seluruh kekayaannya lenyap menghilang [Kisah Jotika, “Riwayat Agung Para Buddha” (RAPB) buku ke-3, hal 3071-3090]

Di antara tahun ke-37 dan tahun ke-38 setelah Buddha mencapai penerangan sempurna, Devadatta di suatu kesempatan, mencoba untuk membunuh Sang Buddha dengan mendorong batu besar dari puncak bukit Gijjhakuta (Puncak Burung Nasar). Sewaktu batu itu bergulir turun, dua gundukan tanah muncul dengan sendirinya menahan laju batu itu. Serpihan batu itu melesat dan mengenai kaki Buddha hingga berdarah.

Para bhikkhu membawa Buddha ke vihàra di Taman Maddakucchi. Di sana Buddha mengungkapkan keinginan-Nya untuk pergi ke vihàra di hutan mangga Jivaka dan meminta para bhikkhu membawa Beliau ke sana. Para bhikkhu membawa Beliau ke sana sesuai instruksi-Nya.

Mendengar berita itu, Jivaka, si Tabib ahli mendatangi Buddha dan memberikan obat yang manjur untuk mengobati luka-Nya. Setelah membalut luka-Nya, ia memberitahu Buddha untuk tidak melepas perbannya hingga ia kembali dari kunjungannya ke pasien lainnya di kota. Setelah mengunjungi pasien lainnya dan melakukan apa yang perlu dilakukan atas pasiennya, Tabib tidak sempat kembali sebelum pintu gerbang kota ditutup.

Kemudian Tabib Jivaka berpikir, “Aku telah memberikan obat yang manjur kepada kaki Buddha dan membalut luka-Nya, memperlakukan-Nya seperti pasien biasa. Aku telah melakukan kesalahan besar. Sekarang waktunya untuk melepas perbannya. Jika perbannya tidak dilepas, Beliau akan menderita kesakitan sepanjang malam.” Dengan pikiran demikian, Jivaka menjadi sangat cemas. Pada waktu itu Buddha memanggil Ananda dan berkata, “Ananda, Tabib Jivaka kembali setelah gelap dan tidak sempat sampai di pintu gerbang kota sebelum ditutup. Ia merasa cemas karena sekarang adalah saatnya untuk melepas perban. Engkau lepaskanlah perban ini segera.” Yang Mulia Ananda melepas perban itu dan luka itu telah lenyap bagaikan kulit kayu yang dikelupas dari pohon.

Segera setelah pintu gerbang kota dibuka, Jivaka bergegas mendatangi Buddha bahkan sebelum fajar menyingsing dan menanyakan apakah Beliau menderita kesakitan. Buddha berkata, “Jivaka, Aku telah mengatasi semua rasa sakit sejak Aku mencapai Pencerahan Sempurna di bawah pohon Bodhi.” Dan kemudian Beliau mengucapkan syair berikut.

Gataddhino visokassa, vippamuttassa sabbadhi
Sabbagantha-pahinassa, parilàho na vijjati.

Orang yang telah menyelesaikan perjalanannya,
yang telah terbebas dari segala hal,
yang telah menghancurkan semua ikatan;
maka dalam dirinya tidak ada lagi demam nafsu.

“Jivaka! Sama sekali tidak ada dukacita, tidak ada penderitaan (batin) dalam diri seorang Arahanta yang telah terbebas dari samsàra yang telah mencapai pantai seberang dari samsàra, yang bebas dari segala kesedihan, yang tidak memiliki kemelekatan terhadap apa pun termasuk badan jasmani, dan lain-lain, yang telah menghancurkan semua belenggu.”

Pada akhir khotbah itu, banyak makhluk-makhluk yang mencapai Buah Sotàpatti dan seterusnya.

Sebelum peristiwa menjatuhkan batu, telah banyak upaya percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh Devadatta. Semua Upaya pembunuhan itu dengan persetujuan dan sepengetahuan raja Ajatasattu. Raja Ajatasattu menjadi raja setelah melakukan percobaan pembunuhan pada Bimbisara, memenjarakannya, menyiksanya hingga Tewas.

Tindakan Durhaka itupun berawal dari hasutan Devadatta.

“Pangeran, orang-orang pada masa lampau berumur sangat panjang tetapi sekarang orang-orang berumur pendek. Ada kemungkinan engkau akan mati bahkan selagi masih menjadi seorang pangeran. Oleh karena itu, bunuhlah ayahmu dan jadilah raja. Aku akan membunuh Buddha dan menjadi seorang Buddha.”

Dengan membawa pisau ia kemudian hendak membunuh Ayahnya, namun gagal. Kemudian raja Bimbisara kemudian bertanya mengapa ia ingin membunuh ayahnya. Pangeran menjawab bahwa ia ingin menjadi raja. Raja Bimbisàra kemudian berkata, “Pangeran, jika engkau ingin menjadi seorang raja, maka kerajaan ini adalah milikmu,”.

Ia-pun menyerahkan secara penuh kerajaannya pada Pangeran Ajàtasattu.

Karena keinginannya telah terpenuhi, Pangeran Ajàtasattu merasa gembira dan memberitahu Devadatta mengenai hal itu. Tetapi Devadatta berkata, “Bagaikan seorang yang menutupi genderangnya yang berisi seekor rubah, engkau berpikir bahwa engkau telah mencapai tujuanmu. Setelah dua atau tiga hari, ayahmu akan berubah pikiran mengenai kelancanganmu dan akan kembali menjadi raja.”

Sang pangeran bertanya kepada gurunya apa yang harus ia lakukan. Devadatta dengan jahat memberikan nasihat agar ia membunuh ayahnya. Pangeran berkata bahwa ia tidak ingin membunuh ayahnya dengan senjata apa pun karena ia berdarah bangsawan. Kemudian Devadatta sekali lagi memberikan nasihat jahat bahwa pangeran dapat membiarkan ayahnya mati kelaparan.

Raja Ajàtasattu memerintahkan agar ayahnya, Raja Bimbisàra ditahan di dalam sebuah sel besi yang sangat panas. Ia tidak mengizinkan siapa pun untuk mengunjunginya kecuali ibunya.

  1. Ratu Vedehi membawa makanan di dalam mangkuk emas ke dalam sel besi. Raja memakan makanan itu untuk bertahan hidup. Raja Ajàtasattu bertanya bagaimana ayahnya dapat bertahan hidup dan ketika mendengar apa yang dilakukan oleh ibunya, ia memerintahkan para menteri agar jangan mengizinkan ibunya membawa makanan.
  2. Kemudian ratu menyembunyikan makanan di dalam gulungan rambutnya dan memasuki sel. Raja memakan makanan itu dan bertahan hidup. Ketika Raja Ajàtasattu mendengar tentang hal ini, ia melarang ratu memasuki sel dengan rambut tergelung.
  3. Kemudian ratu membawa makanan di dalam sepatu emas yang ia pakai. Raja bertahan hidup dengan memakan makanan yang dibawa oleh ratu di dalam sepatunya itu. Ketika Ajàtasattu mengetahui bagaimana ayahnya bertahan hidup, ia melarang ibunya mengunjungi raja dengan mengenakan sepatu.
  4. Sejak saat itu Ratu Vedehi mandi dengan air harum, melumuri badannya dengan makanan (yang terdiri dari minyak, madu, dan mentega) dan mengenakan jubah luarnya, kemudian ia memasuki sel. Raja bertahan hidup dengan menjilati badannya. Ketika si jahat Ajàtasattu mengetahui hal ini, ia dengan angkuh memerintahkan agar para menterinya jangan mengizinkan ibunya memasuki sel.

Dilarang memasuki sel, ratu berdiri di dekat pintu sel dan mengeluh, “O raja besar! Engkau sendiri yang tidak mengizinkan putra jahat Ajàtasattu dibunuh ketika ia masih muda. Engkau sendiri yang membesarkan musuhmu. Sekarang adalah terakhir kalinya aku melihatmu. Mulai saat ini aku tidak lagi berkesempatan melihatmu. Maafkan aku jika aku pernah berbuat salah terhadapmu.” Demikianlah ia mengeluh dan menangis, kemudian ia pulang ke tempat tinggalnya.

Sejak saat itu, raja tidak makan apa-apa. Berjalan mondar-mandir, ia bertahan hidup hanya dengan menikmati kebahagiaan Buah Sotàpatti yang telah ia capai. Pikirannya selalu tenggelam di dalam Buah itu, tubuh raja menjadi sangat anggun.

Si jahat Ajàtasattu bertanya kepada orang-orangnya bagaimana ayahnya dapat bertahan hidup. Orang-orangnya berkata bahwa raja bertahan hidup dengan cara berjalan mondar-mandir dan bahwa ia menjadi lebih anggun daripada sebelumnya dalam hal penampilan fisik. Kemudian Raja Ajàtasattu memutuskan untuk mengakhiri olahraga berjalan ayahnya. Ia memerintahkan para tukang cukur untuk melukai telapak kaki ayahnya, melumuri lukanya dengan minyak dan garam dan membakarnya di atas bara api yang menyala.

Ketika ia melihat para tukang cukur, Raja Bimbisàra berpikir bahwa seseorang telah menyadarkan putranya dan bahwa tukang cukur itu datang untuk mencukur janggutnya. Para tukang cukur itu mendekati raja dan berdiri memberi hormat kepadanya. Raja menanyakan tujuan dari kedatangan mereka, dan diberitahukan mengenai tujuan kedatangan mereka. Kemudian raja memberitahu mereka agar melakukan tugas mereka sesuai instruksi majikan mereka. Para tukang cukur meminta agar raja duduk dan setelah memberi hormat, mereka berkata, “O raja besar! Kami terpaksa melakukan perintah Raja Ajàtasattu. Jangan marah kepada kami. Apa yang harus kami lakukan sangat tidak tepat untuk seorang raja yang baik sepertimu.”

Kemudian dengan memegang telapak kaki dengan tangan kiri dan pisau cukur yang tajam di tangan kanan, mereka melukai telapak kaki, melumurinya dengan minyak dan garam dan kemudian membakarnya di atas bara api yang menyala.

Raja Bimbisàra harus menahan siksaan luar biasa itu. Tanpa merasa marah dan benci, ia merenungkan kemuliaan Buddha, Dhamma, dan Sangha. Kemudian ia menjadi lemah bagaikan sekuntum bunga yang dibuang di atap pagoda. Ia wafat dan terlahir sebagai seorang pelayan dari Raja Dewa Vessavana di Alam Dewa Catumahàràjika, dan menjadi jenderal tertinggi dari para dewa bernama Janavasabha.

Pada hari kematian Raja Bimbisàra, istri si dungu Raja Ajàtasattu melahirkan seorang putra, yang diberi nama Udayabhadda. Dua berita itu, satu melaporkan kelahiran putra dan yang lain melaporkan kematian Raja Bimbisàra sampai di istana pada waktu yang bersamaan.

Para menteri mempertimbangkan bahwa sebaiknya melaporkan kelahiran putranya terlebih dahulu. Segera setelah membaca pesan pertama tersebut, muncul dalam dirinya rasa cinta yang mendalam terhadap putranya yang membangkitkan gairah di seluruh tubuhnya hingga ke tulang sumsum. Pada waktu yang sama, ia menyadari rasa terima kasih terhadap ayahnya, ia berpikir bahwa pada saat kelahirannya, ayahnya pasti juga mengalami rasa cinta yang mendalam terhadap putranya.

Raja Ajàtasattu kemudian memerintahkan para menterinya untuk membebaskan ayahnya segera. Tetapi para menterinya mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin dilaksanakan dan mereka menyampaikan berita kematian Raja Bimbisàra. Mendengar berita itu, Raja Ajàtasattu menangis sedih, mendatangi ibunya, dan bertanya kepadanya apakah ayahnya merasakan cinta yang mendalam pada saat kelahirannya.

Ratu Vedehi menjawab, “Engkau putra bodoh! Apa yang engkau katakan? Sewaktu engkau masih kanak-kanak, ada bisul di jarimu. Perawat istana tidak mampu membujukmu dan membuatmu berhenti menangis. Akhirnya mereka membawa engkau kepada ayahmu yang sedang duduk di tengah-tengah sidang. Ayahmu mengulum jarimu yang berbisul dan karena kehangatan mulutnya, bisul itu pecah. Karena cintanya kepadamu, ayahmu tidak meludahkan darah kotor bercampur nanah karena dapat membangunkan engkau, maka ia menelannya. Ayahmu sangat mencintaimu.”

Sang ratu memberitahukan secara panjang lebar tentang bagaimana ayahnya begitu melekat kepadanya. Raja Ajàtasattu menangis sedih dan melakukan upacara pemakaman ayahnya.

Kemudian Devadatta mendatangi Raja Ajàtasattu dan memintanya mengirimkan beberapa orang untuk membunuh Buddha. Raja mengirimkan beberapa orang pembunuh kepada Devadatta dengan pesan agar mematuhi instruksi gurunya.

  1. Devadatta memerintahkan orang pertama, “Orangku, pergilah ke tempat kediaman Bhikkhu Gotama. Bunuhlah Gotama dan kembalilah melalui jalan ini.”
  2. Kemudian ia memerintahkan dua orang lainnya untuk membunuh orang pertama dan kembali melalui jalan lain.
  3. Kemudian ia memerintahkan kelompok empat orang lainnya untuk membunuh dua orang (dari kelompok kedua) dan kembali melalui jalan lain.
  4. Kemudian ia memerintahkan kelompok delapan orang lainnya untuk membunuh empat orang (dari kelompok ketiga) dan kembali melalui jalan lain.
  5. Kemudian ia memerintahkan kelompok enam belas orang lainnya (kelompok kelima) untuk membunuh delapan orang (dari kelompok keempat) dan kembali melalui jalan lain.

Bersenjatakan pedang dan perisai, busur dan sarung anak panah, orang pertama mendatangi Buddha dan berdiri dengan tubuh kaku di dekat Beliau, gemetar ketakutan.

Melihatnya, Buddha berkata, “Sahabat, datanglah. Jangan takut.”

Kemudian orang itu menyingkirkan perasaan takutnya, menyimpan pedang dan perisai serta busur dan anak panahnya. Kemudian ia mendekati Buddha, membungkukkan kepalanya menyentuh kaki Buddha, ia mengakui kesalahannya dan meminta ampun kepada Buddha. Buddha memaafkannya dan memberikan serangkaian khotbah tentang kedermawanan, moralitas, dan perbuatan baik lainnya yang mengarahkannya menuju pencapaian Jalan dan Buahnya. Akibatnya, orang itu menjadi seorang Sotàpanna Ariya dan pada saat yang sama ia berlindung secara spiritual di dalam Tiga Permata.

Kemudian Buddha mempersilakan orang itu pergi dengan memberitahunya agar tidak melalui jalan yang diperintahkan oleh Devadatta tetapi melalui jalan lainnya.

Dua orang (dari kelompok kedua) menunggu orang pertama yang tak kunjung tiba. Kemudian mereka pergi ke arah yang berlawanan dan melihat Buddha duduk di bawah sebatang pohon. Mereka mendekati Buddha, memberi hormat dan duduk di tempat yang semestinya. Buddha membabarkan serangkaian khotbah Dhamma dan, menjelaskan Empat Kebenaran hingga mereka berhasil mencapai Buah Sotàpatti. Seperti halnya orang pertama, mereka juga menjadi Sotàpanna Ariya dan berlindung secara spiritual di dalam Tiga Permata.

Kemudian, Buddha mempersilakan mereka pergi, dan memberitahu mereka agar melalui jalan lain.

Kemudian empat orang (dari kelompok ketiga)…
Kemudian delapan orang (dari kelompok keempat)…
Enam belas orang (dari kelompok kelima) menunggu delapan orang dari kelompok sebelumnya yang tak kunjung tiba. Kemudian mereka pergi ke arah yang berlawanan dan melihat Guru seperti halnya orang sebelum mereka. Mereka memberi hormat kepada Buddha dan duduk di tempat yang semestinya. Buddha membabarkan serangkaian khotbah Dhamma yang menjelaskan Empat Kebenaran hingga mereka berhasil mencapai Buah Sotàpatti. Setelah mereka berlindung secara spiritual di dalam Tiga Permata, Buddha mempersilakan mereka pergi, dan memberitahu mereka agar melalui jalan lain.

Kemudian orang pertama mendatangi Devadatta dan berkata, “Tuan, aku tidak dapat membunuh Buddha Yang Agung, Beliau sangat sakti.” Devadatta berkata, “Cukup! Jangan membunuh Bhikkhu Gotama. Aku sendiri yang akan membunuh-Nya.” [RAPB buku ke-2 hal. 1790 – 1798]

Demikianlah Devadatta, akhirnya melakukan pekerjaan itu sendirian dengan menjatuhkan batu namun itupun gagal.

Namun itu belumlah selesai!

Karena pengobatan yang diberikan oleh Tabib Jivaka, Buddha pulih kembali dan seperti sebelumnya Buddha bepergian dalam keagungan seorang Buddha Mulia dikelilingi oleh para bhikkhu. Melihat Buddha, Devadatta berpikir, “Adalah mustahil bagi siapa pun untuk mendekati dan membunuh Bhikkhu Gotama saat mereka melihat Beliau dalam keagungan fisik-Nya. Tetapi Gajah Nalagiri milik Raja Ajàtasattu sangat ganas, liar, dan buas. Ia tidak mengetahui apa pun hal baik mengenai Buddha, Dhamma, dan Sangha. Hanya Nalagiri buas itu yang dapat membunuh Bhikkhu Gotama.”

Maka ia menghadap raja dan mengutarakan rencananya.

Raja Ajàtasattu menyetujui rencananya. Ia memanggil pengasuh gajah dan memerintahkannya untuk membuat Nalagiri, si gajah menjadi mabuk dan mengirimnya keesokan paginya ke jalan yang akan dilalui oleh Buddha. Devadatta menanyakan kepada si pengasuh gajah berapa banyak minuman keras yang diminum gajah itu setiap harinya, dan ketika ia mengetahui bahwa gajah itu meminum delapan kendi minuman keras, ia menginstruksikan agar memberikan enam belas kendi minuman keras kepada gajah itu keesokan paginya dan mengirimnya ke jalan yang akan dilalui Bhikkhu Gotama. Si pengasuh gajah berjanji akan melakukan instruksinya itu.

Raja Ajàtasattu membuat pengumuman diiringi tabuhan genderang di seluruh kota bahwa seluruh penduduk harus melakukan kegiatan mereka keesokan paginya dengan menghindari jalan-jalan, karena Nalagiri akan dibuat mabuk dan akan dikirim ke dalam kota.

Devadatta meninggalkan istana, mendatangi kandang gajah dan memberitahu di pengasuh gajah, “Teman, kami adalah guru raja yang dapat menaikkan dan menurunkan jabatan para pelayan raja. Jika engkau ingin jabatanmu dinaikkan, berilah gajah itu enam belas kendi minuman yang sangat keras besok pagi dan saat Bhikkhu Gotama memasuki kota, engkau harus membuat gajah itu marah dengan menusuknya menggunakan tongkat pengendali dan tombak. Biarkan gajah itu menghancurkan kandangnya, berlari ke arah Bhikkhu Gotama dan membunuh-Nya.” Si pengasuh gajah setuju untuk melaksanakan instruksinya.

Berita ini menyebar ke seluruh kota. Para umat yang memuja Tiga Permata mendatangi Buddha dan berkata, “Buddha Yang Mulia, dengan bersekongkol dengan raja, Devadatta akan mengirim gajah liar Nalagiri besok ke arah dari mana Engkau akan datang. Oleh karena itu, jangan datang ke kota untuk mengumpulkan dàna makanan, tetaplah tinggal di Vihàra Veluvana. Kami akan mempersembahkan makanan untuk-Mu dan para bhikkhu di vihàra.”

Buddha tidak mengatakan bahwa Beliau tidak akan pergi ke kota untuk mengumpulkan dàna makanan. Tetapi Beliau akan mengajar gajah liar itu besok, melakukan keajaiban (Pàtihàriya) dengan mengajar, menaklukkan para penganut pandangan salah, dan tanpa mengumpulkan dàna makanan di Ràjagaha, kemudian kembali ke Veluvana dari kota bersama para bhikkhu. Buddha mengetahui bahwa para umat awam di Ràjagaha akan membawa banyak makanan dan bahwa Beliau akan makan di vihàra. Untuk alasan itu, Buddha menerima undangan para umat awam itu.

[(klik!) Catatan]

    Pàtihàriya berarti melenyapkan perbuatan jahat. Ada tiga cara melenyapkan:

    1. melenyapkan dengan mengetahui kondisi batin batin pendengar (àdesanà pàtihàriya)
    2. melenyapkan dengan mendemonstrasikan kesaktian seperti menciptakan wujud-wujud yang berbeda (iddhi pàtihàriya)
    3. melenyapkan dengan membabarkan khotbah (anusàsani pàtihàriya).

    Dari ketiga cara ini, yang dimaksudkan di sini adalah yang ketiga. Yang kedua adalah yang dilakukan oleh Thera Moggallàna dan yang pertama dilakukan oleh Thera Sàriputta. Walaupun Buddha menggunakan cara ketiga, namun bisanya selalu diawali dengan dua cara yang pertama sesuai kecenderungan batin pendengar.

Mengetahui bahwa Buddha menerima undangan mereka, para umat awam itu memutuskan untuk membawa dan mempersembahkan makanan di vihàra, kemudian mereka pulang.

Buddha membabarkan khotbah kepada para bhikkhu selama jaga pertama malam itu [jam 18.00 – 22.00] dan menjawab pertanyaan para dewa dan brahmà selama jaga kedua [22.00 – 02.00]. Jaga ketiga [02.00-04.00]dibagi menjadi tiga periode. Periode pertama, Buddha berbaring di sisi kanan bagaikan seekor raja singa. Periode kedua, Beliau tenggelam dalam Buah Kearahattaan. Dan di periode ketiga, Beliau dipenuhi dengan welas asih tanpa batas dan setelah keluar dari sana, Beliau mengamati makhluk-makhluk, dan melihat Nalagiri.

Buddha melihat dengan jelas bahwa saat Beliau membabarkan khotbah kepada gajah itu, delapan puluh empat ribu makhluk akan menembus Empat Kebenaran dan mencapai kebebasan. Oleh karena itu, setelah mandi pagi Buddha memanggil Thera Ananda dan berkata, “Ananda, beritahu semua bhikkhu yang menetap di delapan belas vihàra di sekitar Ràjagaha untuk datang dan memasuki kota bersama-Ku.”

Yang Mulia Ananda melakukan perintah Buddha. Semua bhikkhu berkumpul di Vihàra Veluvana. Buddha memasuki Ràjagaha dikelilingi oleh banyak bhikkhu.

Kemudian si pengasuh gajah melaksanakan perintah Raja Ajàtasattu dan Devadatta. Banyak orang berkumpul di sana. Dalam kerumunan itu, mereka yang berkeyakinan terhadap Buddha berkata:

“Hari ini akan terjadi pertempuran antara dua ‘gajah’, Buddha dan Nalagiri. Kita akan menyaksikan ‘Gajah’ Buddha menjinakkan Gajah Nalagiri.” Sambil berkata demikian, mereka memanjat atap dan menara istana untuk menyaksikan pertempuran itu.

Tetapi, para penganut pandangan salah yang tidak berkeyakinan terhadap Buddha, berkata, “Gajah Nalagiri ini sangat ganas, liar, dan buas. Ia tidak mengetahui hal apa pun hal baik mengenai Buddha, Dhamma, dan Sangha. Hari ini ia akan menghancurkan tubuh Bhikkhu Gotama yang kuning keemasan dan mengakhiri hidup-Nya. Hari ini kita akan melihat dengan jelas kehancuran lawan kita.” Sambil berkata demikian, mereka memanjat atap dan menara istana untuk menyaksikan pertempuran itu.

Ketika Gajah Nalagiri melihat Buddha mendekat, ia berlari ke arah Buddha bagaikan gunung yang bergerak dengan belalai terangkat, kuping dan ekornya tegak, menakutkan orang-orang, menghancurkan rumah-rumah dan kereta menjadi berkeping-keping.

Pada saat itu seorang ibu melihat gajah itu dan karena takut mati, ia melarikan diri, melepaskan anaknya dari pangkuannya dan meletakkan anaknya di atas tanah di antara Buddha dan gajah itu.

Nalagiri mengejar perempuan itu tetapi karena tidak mampu mendapatkannya, ia berbalik dan mendekati si anak. Anak itu menggapai dan menangis keras-keras. Buddha memusatkan cinta kasih-Nya kepada gajah itu dan dengan suara merdu bagaikan raja brahmà, Beliau berkata:

“O Nalagiri, mereka memberikan enam belas kendi minuman keras kepadamu dan membuatmu mabuk bukan untuk menangkap makhluk lain tetapi untuk membunuh-Ku. Oleh karena itu, janganlah engkau mengganggu orang lain. Datanglah langsung kepada-Ku.”

Demikianlah Guru mengundang gajah itu.

Mendengar suara merdu Buddha, Nalagiri yang liar itu membuka kedua matanya dan melihat tubuh agung Buddha. Ia terkesima dan karena pengaruh kekuatan Buddha, ia menjadi tenang dan menurunkan belalainya dan mengepakkan telinganya, ia mendekati Guru dan menekuk kakinya berlutut.

Kemudian Buddha berkata, “Nalagiri, engkau adalah seekor binatang dan Aku adalah seorang Buddha. Mulai saat ini, janganlah ganas, liar, dan buas. Berusahalah mengembangkan cinta kasih kepada semua makhluk.” Buddha merentangkan lengan kanan-Nya, dan menepuk kepala gajah itu, Beliau mengucapkan dua bait syair berikut:

Mà kunjara nàgamàsado
dukkham hi kunjara nàgamàsado.
Na hi nàgahatassa kunjara
sugati hoti ito param yato.
Mà ca mado mà ca pamàdo
na hi pamattà sugatim vajanti te.
Tvann’eva tathà karissasi
yena tvam sugatim gamissasi.

O! Gajah Nalagiri, jangan datang dengan niat membunuh, dengan keinginan untuk membunuh Buddha yang tidak pernah melakukan kejahatan. Mendekati Buddha dengan niat membunuh adalah kejahatan yang akan membawa menuju penderitaan. Tidak mungkin dapat memperoleh kelahiran yang baik di alam manusia atau dewa setelah meninggal dunia bagi mereka yang berniat melukai atau membunuh Buddha.

O! Gajah Nàlagiri, jangan sombong. Jangan lengah akan Sepuluh Perbuatan Baik. Mereka yang lengah akan Sepuluh Perbuatan Baik tidak akan dapat memperoleh kelahiran yang baik di alam manusia dan dewa. Engkau harus melakukan perbuatan-perbuatan baik untuk memastikan kelahiran kembali yang baik. (Dengan kata lain, engkau hanya dapat memperoleh kelahiran kembali yang baik dengan berlandaskan perbuatan-perbuatan baik.)

Gajah Nalagiri diliputi oleh kegembiraan. Jika ia bukan seekor gajah, ia pasti sudah mencapai Buah Sotàpatti di tempat itu juga.

Melihat keajaiban itu, orang-orang bersorak. Mereka bertepuk tangan dan dengan gembira melempar-lemparkan berbagai perhiasan mereka ke arah gajah itu sebagai hadiah. Perhiasan-perhiasan itu menutupi hampir seluruh tubuh gajah itu dan sejak saat itu ia dikenal dengan nama Dhanapàla. Pada saat gajah Dhanapàla dijinakkan oleh Buddha, delapan puluh empat ribu makhluk berkesempatan mencicipi Dhamma, sari keabadian.

Buddha membuat gajah itu mematuhi Lima Sila (Panca Sila). Gajah itu dengan lembut mengumpulkan debu di kaki Guru, dan menebarkannya di atas kepalanya kemudian mundur sambil berlutut. Ia melangkah mundur hingga lenyap dari pandangan Buddha dan setelah memberi hormat, ia masuk ke kandangnya. Sejak saat itu, ia menjadi gajah yang jinak dan baik serta tidak pernah menyakiti makhluk lain hingga akhir hidupnya.

Setelah menaklukkan para penganut pandangan salah, ia keluar dari Kota Ràjagaha dan kembali ke Vihàra Veluvana, dikelilingi oleh para bhikkhu bagaikan seorang raja yang menang (pulang dari peperangan). Para penduduk mendatangi vihàra dengan membawa banyak makanan dan persembahan yang berlimpah. Mereka menyanyikan lagu berikut dengan gembira:

Dandeneke damayanti,
ankusehi kasàhi ca.
Adandena asatthena,
nàgo danto Mahesinà

“Para pelatih binatang melatih gajah-gajah, kuda dan sapi dengan memukul mereka keras-keras dengan menggunakan tongkat, tombak, gancu, dan rotan. Tetapi Buddha, menjinakkan Gajah Nalagiri tanpa menggunakan senjata yang menyakitkan dan melenyapkan kebuasannya dengan cinta kasih.” [RAPB buku ke-2, hal.1801-1808]

Usaha Devadatta dalam membunuh Buddha menuai kecaman dari banyak orang. Mereka menyalahkan Raja Ajàtasattu, dengan berkata, “Devadatta yang menyebabkan kematian Raja Bimbisàra kita. Devadatta yang mengirim para pembunuh. Dialah yang menjatuhkan batu; dan sekarang ia mengirim Gajah Nalagiri untuk membunuh Guru. Namun penjahat begitu diangkat sebagai guru oleh Raja Ajàtasattu yang selalu bepergian bersamanya.”

Ketika Raja Ajàtasattu mendengar kecaman banyak orang itu, ia memerintahkan untuk menarik persembahan rutin lima ratus kendi makanan kepada Devadatta dan ia berhenti mengunjungi mantan gurunya itu. Para penduduk juga, berhenti mempersembahkan makanan kepada Devadatta yang mengunjungi rumah mereka untuk mengumpulkan makanan.

Kemudian Devadatta mencoba taktik lain. Kali ini ia datang ke hadapan Sang Buddha dan mengajukan lima peraturan untuk para bhikkhu untuk dilakukan sepanjang hidupnya. Ia mengajukan :

  1. Semua bhikkhu harus menetap di pertapaan di dalam hutan seumur hidup. Seorang bhikkhu yang menetap di vihàra di dekat sebuah desa adalah pelanggaran.
  2. Semua bhikkhu hanya boleh memakan makanan yang diperoleh dari berkeliling mengumpulkan dàna makanan. Seorang bhikkhu yang menerima makanan yang dipersembahkan oleh umat awam setelah diundang adalah pelanggaran.
  3. Semua bhikkhu hanya mengenakan jubah yang terbuat dari kain rombeng. Seorang bhikkhu yang menerima jubah yang dipersembahkan oleh umat awam adalah pelanggaran.
  4. Semua bhikkhu harus berdiam di bawah pohon. Seorang bhikkhu yang berdiam di dalam vihàra yang beratap adalah pelanggaran.
  5. Semua bhikkhu harus menghindari memakan daging dan ikan. Seorang bhikkhu yang memakan daging atau ikan adalah pelanggaran.

Kemudian Buddha berkata, “Devadatta, permohonanmu tidaklah tepat (tidak beralasan),

  1. Para bhikkhu boleh menetap di pertapaan di dalam hutan atau di vihàra di dekat desa
  2. Para bhikkhu boleh memakan makanan yang diperoleh dari berkeliling mengumpulkan dàna makanan atau makanan yang dipersembahkan oleh umat awam setelah diundang. Mereka boleh makan dengan kedua cara tersebut
  3. Para bhikkhu boleh memakai jubah yang terbuat dari kain rombeng atau jubah yang dipersembahkan oleh umat awam
  4. Devadatta, Aku mengizinkan para bhikkhu berdiam di bawah pohon selama delapan bulan. [Note: mungkin, sisa bulan lainnya berhubungan dengan menjalankan Vassa. Untuk masa Vassa, lihat: di sini]
  5. Aku mengizinkan para bhikkhu memakan daging atau ikan selama mereka tidak melihat atau mendengar atau mencurigai bahwa makhluk itu dibunuh untuk dijadikan makanan buat mereka.”

Sang Buddha tidak menolak terhadap peraturan tersebut dan tidak keberatan terhadap siapa yang sanggup melakukannya, tetapi dengan berbagai pertimbangan yang benar, Beliau tidak menetapkan peraturan itu untuk para bhikkhu secara keseluruhan.

Devadatta gembira ketika Buddha menolak lima permohonannya.

Bersama pengikutnya Kokàlika, Katamodaka Tissaka, putra Ratu Khanda, dan Samuddadatta, ia bangkit dan setelah memberi hormat kepada Buddha, mereka pergi. (Bhikkhu Kokàlika, putra Ratu Khanda Katamodaka Tissaka dan Bhikkhu Samuddadatta adalah kepercayaan Devadatta.)

Kemudian Devadatta pergi bersama para pengikutnya ke Ràjagaha menyebarkan ajarannya. Mereka mengatakan kepada para penduduk bahwa Guru telah menolak apa yang menurut mereka adalah permohonan yang sangat beralasan karena Lima Sila itu mengarah kepada ketidakmelekatan, dan seterusnya, dan mereka sebaliknya akan hidup dengan mematuhi Lima Sila itu.

Para penduduk yang tidak berkeyakinan dan kurang cerdas memuji Devadatta dan mencela Buddha. Mereka yang berkeyakinan dan cerdas mengkritik Devadatta karena berusaha menciptakan perpecahan di dalam Sangha dan melangkahi kekuasaan Guru. Para bhikkhu yang mendengar kata-kata para penduduk itu juga mengkritik Devadatta dan melaporkan hal itu kepada Buddha.

Kemudian Buddha melakukan sidang Sangha sehubungan dengan persoalan yang dilaporkan oleh para bhikkhu itu dan di hadapan para bhikkhu, Beliau bertanya, “Devadatta, benarkah bahwa engkau berusaha menciptakan perpecahan di dalam Sangha dan merusak kekuasaan Sangha?” Devadatta menjawab, “Benar, Yang Mulia!”

Kemudian Buddha menjawab: “Devadatta, apa yang engkau lakukan adalah tidak pantas. Jangan mengharapkan perselisihan di dalam Sangha. Seseorang yang menciptakan perpecahan di dalam Sangha memikul tanggung jawab yang serius. Seseorang yang menyebabkan perpecahan di dalam Sangha yang bersatu melakukan kejahatan yang akan berakibat selama satu kappa penuh. Ia akan menderita di neraka selama satu kappa penuh.”

“Devadatta, seseorang yang memulihkan persatuan Sangha yang terpecah melakukan perbuatan baik dan menikmati kehidupan di alam dewa selama satu kappa penuh. Devadatta, apa yang engkau lakukan adalah tidak pantas. Jangan mengharapkan perselisihan di dalam Sangha. Seseorang yang menciptakan perpecahan di dalam Sangha memikul tanggung jawab yang serius.”

Walaupun Buddha memperingatkannya demikian. Devadatta masih tidak menyerah dalam usahanya menciptakan perpecahan. Keesokan harinya ia memutuskan untuk melakukan upacara uposatha dan Tindakan Sangha (Sangha Kamma) secara terpisah. Pagi harinya ia mendekati Yang Mulia Ananda yang datang ke Ràjagaha untuk mengumpulkan dàna makanan, dan berkata, “Ananda, mulai hari ini, aku akan melakukan upacara uposatha dan Tindakan Sangha tanpa Buddha dan para bhikkhu-Nya.”

Ketika Yang Mulia Ananda melaporkan hal ini kepada Buddha, Buddha mengucapkan syair berikut:

Sukaram sàdhunà sàdhu
sàdhu pàpena dukkaram.
Pàpam pàpena sukaram
pàpa mariyehi dukkaram

”Adalah mudah bagi orang baik untuk melakukan kebajikan. Adalah sulit bagi orang jahat untuk melakukan kebajikan. Adalah mudah bagi orang jahat untuk melakukan kejahatan. Adalah sulit bagi orang baik untuk melakukan kejahatan.”

Kemudian pada hari uposatha, Devadatta bangkit dari tempat duduknya di antara para bhikkhu dan berkata bahwa Bhikkhu Gotama telah menolak lima permohonannya yang mengarah kepada ketidakmelekatan, dan seterusnya, bahwa mereka akan tetap menjalani Lima Sila itu dan bahwa mereka yang menyukai sila itu harus memihak kepada mereka. Pemungutan suara dilakukan dan lima ratus muda dari Negeri Vajji yang menetap di Vesàli, yang tidak memahami ajaran Vinaya memilih untuk menjalani sila itu karena mereka berpikir bahwa sila itu sesuai dengan Dhamma, Vinaya, dan ajaran Buddha. Devadatta membawa lima ratus bhikkhu itu dan pergi ke Gayàsisa.

Sariputta dan Maha Moggallana pergi menemui para bhikkhu pengikut Devadatta dan pada saat itu Devadatta sedang duduk membabarkan khotbah di tengah-tengah banyak pengikutnya. Ketika ia melihat kedua Thera mendekat dari jauh, ia berkata kepada para bhikkhu muda, “Para bhikkhu, lihatlah ke sana! Aku telah mengajarkan ajaranku dengan baik. Bahkan Siswa Utama Bhikkhu Gotama, Sàriputta dan Moggallàna lebih menyukai ajaranku dan mereka sekarang datang untuk bergabung denganku.”

Kemudian Bhikkhu Kokàlika (salah satu pemimpin kelompoknya) menperingatkan Devadatta, “Temanku Devadatta, jangan bergaul dengan Sàriputta dan Moggallàna. Mereka memiliki keinginan jahat dan mereka menuruti keinginan jahat mereka.” Tetapi Devadatta berkata, “Temanku, engkau tidak boleh berkata begitu. Kedatangan mereka adalah baik karena terdorong oleh penghargaan mereka atas ajaranku.”

Ketika kedua Thera itu sampai, Devadatta berkata, “Marilah Sàriputta, duduk di sini,” dan memberikan tempat duduknya kepada Thera itu. Tetapi Thera menolaknya dan duduk di tempat yang layak. Demikian pula dengan Thera Moggallàna.

Setelah membabarkan khotbah kepada para bhikkhu semalam suntuk, Devadatta berkata kepada Thera Sàriputta, “Temanku Sàriputta, para bhikkhu bebas dari kemalasan dan kelambanan. Engkau lanjutkanlah dengan khotbahmu tentang Dhamma. Leherku kaku dan kejang. Izinkan aku meluruskan punggungku.” (Di sini ia meniru Buddha dalam hal menyuruh Thera Sàriputta.) Thera Sàriputta menyetujui dan setelah menghamparkan jubah luarnya yang lebar dan berlapis empat, Devadatta berbaring di sisi kanan.

Karena ia kelelahan, tidak waspada dan tidak cerdas, ia segera terlelap.

Kemudian Thera Sàriputta mengajar lima ratus bhikkhu muda itu pertama-tama dengan membuat mereka menyadari keadaan batin mereka sendiri (âdesanàpàtihàriya). Kemudian dilanjutkan dengan menunjukkan Dhamma yang harus mereka hindari dan Dhamma yang harus mereka latih (Anusàsani-pàtihàriya). Kemudian Thera Moggallàna mengajarkan pertama dengan memperlihatkan kesaktian (Iddhipàtihàriya) dan kemudian memberitahukan kepada mereka apa yang harus dihindari dan apa yang harus diikuti. Lima ratus bhikkhu muda itu akhirnya berhasil mencapai Buah Sotàpatti di tempat itu juga dan menjadi Sotàpanna Ariya.

Setelah lima ratus bhikkhu muda itu menjadi Ariya dalam Jalan Sotàpatti, Yang Mulia Sàriputta memberitahu mereka agar mereka kembali kepada Buddha dan mereka yang menyukai ajaran Guru boleh kembali bersama kedua Thera itu. Semua bhikkhu mengikuti kedua Thera dan melakukan perjalanan melalui angkasa, mereka sampai di Veluvana.

Setelah kedua Siswa Utama itu pergi bersama lima ratus bhikkhu muda, Kokàlika, guru salah satu aliran, membangunkan Devadatta dengan cara menendang dadanya dengan lututnya dan berkata, “Bangunlah Devadatta! Sàriputta dan Moggallàna telah mengambil alih para bhikkhu muda. Bukankah aku telah mengatakan kepadamu untuk tidak bergaul dengan Sàriputta dan Moggallàna, bahwa mereka memiliki keinginan jahat dan bahwa mereka menuruti keinginan jahat mereka?” Devadatta memuntahkan darah panas di tempat itu juga.

Setelah menderita sakit selama sembilan bulan, Devadatta berkeinginan menjumpai Buddha di saat-saat terakhir. Ia meminta murid-muridnya membawanya menjumpai Buddha. Tetapi murid-muridnya berkata, “Engkau memusuhi Buddha saat engkau masih sehat. Kami tidak berani membawamu menjumpai-Nya sekarang.” Kemudian Devadatta berkata, “Murid-muridku, jangan menghancurkan aku. Sebenarnya, akulah yang benci dan dendam kepada Buddha. Beliau tidak sedikit pun membenciku.”

Vadhake Devadattamhi,
core Angulimàlake.
Dhanapàle Ràhule ca,
sabbattha samamànaso.

Saudara (sepupu)-ku Buddha selalu baik terhadap saudara ipar-Nya Devadatta yang berniat membunuh-Nya, terhadap Aïgulimàla, si perampok yang menghias dirinya dengan seribu jari tangan, terhadap Nalagiri, si gajah buas, yang kemudian bernama Dhanapàla, terhadap putranya sendiri Ràhula, dan terhadap semua makhluk.

“Bawalah aku sekarang ke saudaraku, Buddha Yang Mulia.”

Demikianlah Devadatta terus-menerus memohon kepada mereka agar dibawa menjumpai Guru. Kemudian murid-muridnya membaringkannya di atas sebuah dipan dan membawanya ke Sàvatthã tempat Buddha menetap.

Ketika para bhikkhu mendengar berita kedatangan Devadatta, mereka melaporkannya kepada Buddha. Buddha berkata, “Para bhikkhu, Devadatta tidak akan berkesempatan menjumpai-Ku dalam kehidupan ini.”

Di mata para bhikkhu biasa, Devadatta sedang dalam perjalanan menuju Sàvatthi untuk menjumpai Buddha. Buddha berkata, “Devadatta tidak akan dapat menjumpai-Ku dalam kehidupan ini dalam keadaan apa pun walaupun Aku tetap di sini.” Para bhikkhu terheran dan mereka tidak mengetahui apa yang mendasari kata-kata Buddha itu. Oleh karena itu mereka terus-menerus memberitahukan kepada Buddha mengenai kedatangan Devadatta pada setiap tempat. Tetapi Buddha tetap menegaskan bahwa apa pun yang dilakukan oleh Devadatta, “Bagaimanapun juga ia tidak akan dapat menjumpai-Ku.”

Tetapi dari waktu ke waktu para bhikkhu melaporkan perkembangan perjalanan Devadatta dengan mengatakan bahwa Devadatta sekarang berada satu yojanà jauhnya dari Sàvatthi. Bahwa ia sekarang berada satu gàvuta jauhnya, bahwa ia berada di dekat kolam di dekat Vihàra Jetavana. Akhirnya Buddha berkata, “Devadatta tidak akan dapat menjumpai-Ku bahkan jika ia masuk ke dalam Vihàra Jetavana.”

Murid-murid yang membawa Devadatta meletakkan dipan itu di tepi kolam di dekat Vihàra Jetavana dan masuk ke dalam kolam untuk mandi. Devadatta duduk di atas dipan dan meletakkan kakinya di atas tanah. Kemudian kakinya terbenam tanpa dapat dicegah. Ia terus terbenam, bagian-bagian tubuhnya terbenam satu demi satu, mata kaki, lutut, pinggang, dada, dan leher, dan bumi ini menelannya dengan rakus hingga ke rahangnya saat ia mengucapkan syair berikut:

Imehi atthihi tamaggapuggalam
devàtidevam naradammasàrathim.
Samantacakkhum satapunnalakkhanam
pànehi Buddham saranam upemi.

“Aku, Devadatta, di atas dipan kematianku berlindung di dalam Buddha Yang Mulia dengan tulang-belulang dan daya hidup ini yang hampir habis. Dengan kesadaran, batin yang gembira dan mulia yang terdorong oleh tiga kondisi akar mulia (aku berlindung di dalam Buddha Yang Mahatahu, makhluk teragung di dunia, Guru Yang Maha Melihat yang mampu menertibkan makhluk-makhluk dan yang memiliki tiga puluh dua tanda-tanda mulia seorang manusia luar biasa karena kebajikannya yang tidak terhitung.”)[RAPB buku ke-2 hal. 1809-1820]

[(klik!) Catatan]

    Buddha mengetahui setelah di tasbihkan menjadi Bhikkhu, Devadatta akan melakukan dua kejahatan besar, yaitu menyebabkan tumpahnya darah Buddha dan menciptakan perpecahan di dalam Sangha namun terakhirnya Ia akan melakukan kebajikan yang akan membebaskannya dari samsàra. Maka Buddha menahbiskannya. Sesungguhnya karena kebajikannya ini, Devadatta akan menjadi seorang Pacceka Buddha bernama Atthissara setelah seratus ribu kappa.

Sejak hari ia memerintahkan agar ayahnya dibunuh, Raja Ajàtasattu tidak dapat tidur lelap. Segera setelah ia memejamkan matanya, ia merasa seakan-akan ditusuk oleh ratusan tombak dan mengalami halusinasi tentang nasibnya yang membuatnya selalu gemetar dan mengigau. (Hal ini menunjukkan bahwa mereka yang melakukan kejahatan akan melihat gambaran kelahiran berikut mereka di alam rendah tidak hanya di saat-saat berada di ranjang kematian mereka, tetapi juga jauh sebelum kematian mereka.) Para pengawal bertanya kepada raja, penyakit apa yang ia derita tetapi ia hanya berkata, “Tidak apa-apa.” Halusinasi dan mimpi buruk ini sangat mengganggu raja dan menyebabkannya enggan pergi tidur. Oleh karena itu setiap malam ia memberikan audisi hingga larut malam agar ia tetap terjaga. (Digha Nikàya, Vol. 1)

Raja Ajàtasattu memuja Devadatta yang merupakan duri bagi Buddha dan ia memberikan persembahan yang berlimpah dan membangun sebuah vihàra di Gayàsisa untuk Devadatta, dan atas bujukan gurunya, ia membunuh ayahnya yang adalah seorang Sotàpanna. Dengan demikian ia telah menghilangkan kesempatan untuk menanam kebajikan yang dapat membantunya mencapai Jalan Sotàpatti, ia menghancurkan dirinya sendiri.

Mendengar bahwa Devadatta ditelan bumi, Raja Ajàtasattu menjadi ketakutan kalau-kalau ia juga akan bernasib sama dengan mantan gurunya itu. Ia tidak lagi dapat menikmati kemewahan istana, bahkan tidak dapat tidur dengan damai. Ia menjadi gemetar, gelisah dan gugup bagaikan seekor anak gajah yang ditusuk dengan tongkat besi yang tajam. Ia melihat gambaran bumi yang terbelah, api dari Neraka Avici yang berkobar, bumi mengancam akan menelannya dan penjaga neraka membaringkannya di atas lantai besi yang panas menyala dan menusuknya dengan tongkat besi. Gemetar bagaikan burung yang dipukul, Raja Ajàtasattu tidak memperoleh dukungan dari mana pun, bahkan ia tidak dapat berdiri tegak dan kokoh meski untuk sesaat pun.

Ia ingin menjumpai Buddha, memberi hormat dan menanyakan mengenai persoalannya tetapi karena perbuatan jahatnya, ia tidak berani menjumpai Buddha.

Kemudian ketika festival Kattikà sedang berlangsung di Ràjagaha pada malam purnama di bulan Kattikà (November), seluruh kota dihias bagaikan kota surgawi dan diterangi oleh nyala api dan obor. Sewaktu duduk di tengah-tengah para menterinya di atas singgasana emas di dalam aula, Raja Ajàtasattu melihat Tabib Jivaka dan berpikir, “Aku akan mengajak Jivaka sebagai pemanduku dan mengunjungi Buddha. Tetapi aku tidak boleh berterus terang bahwa aku tidak berani menjumpai Buddha dan meminta ia (Jivaka) untuk mengantarkan aku ke sana. Aku akan berpura-pura mengagumi malam ini dan kemudian bertanya kepada para menteri mengenai samaõa atau bràhmana mana yang membangkitkan keyakinan dan semangat kita. Saat para menteri mendengar kata-kataku, mereka akan mengagungkan gurunya masing-masing dan Tabib Jivaka akan mengagungkan gurunya, Buddha. Kemudian aku akan pergi menjumpai Buddha dengan Jivaka sebagai pemanduku.”

Setelah menyusun rencana, Raja Ajàtasattu berkata: “(a)Para menteriku, malam ini sungguh indah, bebas dari salju, embun, awan, Asurinda (makhluk raksasa yang dianggap sebagai penyebab gerhana bulan) dan asap, lima hal yang mengganggu keindahan malam terang bulan, mengotori udara; (b) Para menteriku, malam ini sungguh indah, bebas dari lima unsur; (c) Para menteriku, malam ini sungguh indah, bebas dari lima unsur pengganggu; (d) Para menteriku, malam ini pikiran kita tenang dan damai karena malam ini bebas dari lima unsur pengganggu; (e) Para menteriku, malam ini patut dikenang karena bebas dari lima unsur pengganggu.”

Setelah mengagumi malam terang bulan, raja menambahkan, “Samana dan bràhmana mana yang harus kita jumpai malam ini, yang dapat membangkitkan keyakinan dan semangat kita?”

Dengan berkata demikian, raja memberikan isyarat kepada Tabib Jivaka. (a) Raja telah melakukan kejahatan berat yaitu membunuh ayahnya, seorang penyokong Buddha dan seorang Sotàpanna Ariya, dan (b) menyokong Devadatta yang telah melakukan banyak kesalahan terhadap Buddha. Oleh karena itu ia sendirian tidak berani menjumpai Buddha. Ia menyadari bahwa keinginannya untuk menjumpai Buddha bergantung pada Jivaka yang telah membangun sebuah vihàra untuk Buddha dan yang melayani kebutuhan fisik Buddha.

Jivaka dapat menangkap isyarat dari Raja. Ia mengetahuinya, tetapi karena di sana ada banyak pengikut para guru berpandangan salah. Jivaka berpikir, “Sebagai pengikut para guru yang bodoh, mereka sendiri juga pasti bodoh, dan mereka tidak memahami peraturan yang harus dipatuhi dalam suatu pertemuan. Jika aku memulai menjelaskan sifat-sifat mulia Buddha, mereka, satu demi satu akan memuji guru mereka dan aku tidak akan dapat menjelaskan kemuliaan Buddha sampai selesai. Karena ajaran enam guru berpandangan salah itu tidak memiliki pokok atau sesuatu yang berharga, raja tidak akan senang dengan apa yang mereka katakan dan ia akan bertanya secara langsung kepadaku. Kemudian tanpa disela, aku akan memberitahukan kepada raja tentang kemuliaan Buddha dan mengajaknya untuk menjumpai Guru.” Dengan pikiran demikian, Jivaka tidak berkata apa-apa walaupun raja memberikan isyarat dan hanya duduk diam.

Para menteri yang merupakan murid dari enam guru berpandangan salah itu berpikir, “Hari ini raja mengagumi keindahan malam purnama bulan Kattikà. Ia pasti berkeinginan untuk menjumpai salah satu samana atau bràhmana, untuk mengajukan pertanyaan atau mendengarkan khotbah. Raja akan sangat menghormati guru yang ia kagumi, yang khotbahnya ia dengarkan. Hal ini akan memberikan keuntungan bagi menteri yang memiliki guru yang juga menjadi guru raja.” Maka masing-masing dari mereka memuji guru mereka dan mengajak raja untuk bertemu dengan guru mereka. Dengan niat demikian, para menteri yang merupakan murid Purana Kassapa, Makkhali Gosàla, Ajita Nàtaputta, Pakudha Kaccàyana, Sanjaya, dan Nigantha Nàtaputta memuji guru mereka masing-masing. (Baca Sàmanna-phala Sutta untuk mengetahui kata-kata pujian mereka.)

Raja Ajàtasattu telah bertemu dengan guru-guru berpandangan salah sebelumnya. Saat pertama berjumpa dengan mereka, ia tidak sedikit pun terkesan dengan penampilan fisik mereka. Sebaliknya, ia merasa sangat kecewa. Sekarang, ketika ia mendengar kata-kata para menterinya, ia merasa seperti seorang yang melihat buah yang sangat asam yang diserahkan kepadanya saat ia ingin memakan buah mangga yang matang, manis, lezat berwarna keemasan. Ia ingin mendengarkan Dhamma yang indah sehubungan dengan Jhàna, kekuatan adialami, tiga corak kehidupan, dan lain-lain, dan oleh karena itu ketika ia (yang telah kecewa dengan penampilan fisik para guru berpandangan salah tersebut) mendengar kata-kata pujian para pengikut mereka, ia menjadi semakin kecewa dan tidak berkata apa-apa.

Walaupun ia tidak senang dengan kata-kata mereka, Raja Ajàtasattu berpikir, “Jika aku menunjukkan kemarahanku dan mencengkeram leher para menteri ini dan melempar mereka keluar aula istana ini, orang-orang lain akan menjadi tidak berani berbicara, takut jika raja akan memperlakukan mereka dengan cara yang sama.” Maka meskipun ia tidak menyukai kata-kata mereka, raja tidak memarahi mereka dan tetap diam.

Raja Ajàtasattu berpikir, “Hanya para menteri yang tidak ingin kudengarkan yang berbicara. Tabib Jivaka yang ingin kudengarkan justru berdiam diri bagaikan burung garuda yang menelan otak nàga. Aku sungguh tidak beruntung!” Kemudian ia berpikir lebih lanjut, “Jivaka adalah seorang siswa, seorang pelayan Buddha yang tenang. Maka ia sendiri juga tenang dan hidup dalam kesunyian bagaikan seorang petapa yang disiplin. Ia tidak akan berbicara jika aku tidak bertanya kepadanya. Oleh karena itu aku harus bersikap seperti seorang yang terinjak oleh seekor gajah yang harus menangkap kaki binatang itu.”

Dengan pikiran demikian, raja berkata secara langsung, “Teman Jivaka, mengapa engkau hanya berdiam diri? Para menteri ini tidak bosan-bosannya mengagung-agungkan guru mereka. Apakah engkau tidak memiliki guru seperti para menteri ini? Apakah engkau tidak memiliki guru karena engkau hanyalah seorang biasa tanpa jabatan atau wewenang yang diberikan oleh ayahku? Atau apakah engkau tidak memiliki guru karena tidak memiliki keyakinan?”

Demikianlah raja bertanya kepada Jivaka mengenai alasannya berdiam diri.

Jivaka berpikir, “Sang raja ingin agar aku membicarakan kemuliaan guruku. Sekarang bukanlah saatnya bagiku untuk berdiam diri. Tetapi tidaklah tepat jika aku menjelaskan kemuliaan Buddha seperti halnya para menteri ini memuji guru-guru mereka dalam posisi menghormat kepada raja.” Oleh karena itu Jivaka bangkit, bersujud ke arah kediaman gurunya di hutan mangga Jivaka, merangkapkan tangannya di atas kepala dan berkata.

“Raja besar! Jangan menganggapku sebagai seorang murid dari seorang yang mengaku sebagai samana dengan ciri-ciri yang meragukan. Pada saat guruku masuk ke dalam rahim ibunya, pada saat kelahirannya, pada saat ia pergi melepaskan keduniawian, saat mencapai Pencerahan Sempurna dan saat membabarkan Dhammacakka Sutta, sepuluh ribu alam semesta berguncang. Dengan salah satu cara Buddha melakukan keajaiban air dan api. Dengan salah satu cara Beliau turun dari Alam Dewa Tàvatimsa. Aku akan memberitahukan kepadamu semampuku tentang kemuliaan Buddha. Dengarkanlah aku.”

Dengan kata-kata pembuka ini Jivaka kemudian melanjutkan penjelasannya tentang Buddha.

“Raja besar, dewa di antara manusia! Guruku, pemilik ciri-ciri seperti Araham, dan Sammàsambuddha sekarang menetap bersama seribu dua ratus lima puluh bhikkhu di vihàra hutan mangga yang telah kami sumbangkan kepadanya.”

“Guru kami, Buddha, adalah seorang Arahaÿ karena Beliau memiliki ciri-ciri kemuliaan moral (Sila-guna), konsentrasi pikiran (Samàdhi-guna), kebijaksanaan (Pannà-guna), kebebasan (Vimutti-guna), dan Pengetahuan Pandangan Cerah atas kebebasan (Vimutti nàna Dassana-guna) yang membuat-Nya layak menerima penghormatan dari umat manusia, dewa dan brahmà…. Beliau adalah Yang Teragung (Bhagavà) karena Ia memiliki enam keagungan. Demikianlah reputasi baik guru kami, Yang Teragung telah dikenal hingga ke alam tertinggi Bhavagga (alam Arupa atau tanpa materi).

“Aku ingin agar engkau, Raja besar, bertemu dengan guru kami, Buddha. Jika engkau bertemu dengan Beliau, batinmu akan menjadi tenang dan damai.”

Bahkan pada saat ia mendengar ciri-ciri mulia Buddha, Raja Ajàtasattu diliputi oleh lima jenis kegembiraan. Oleh karena itu ia seketika ingin pergi menjumpai Buddha dan mengetahui bahwa tak seorang pun selain Jivaka yang dapat mengatur transportasi baginya untuk mengunjungi Buddha pada saat itu, ia menyuruh Jivaka untuk mempersiapkan transportasi gajah.

Setelah melakukan semua hal-hal yang diperlukan, Jivaka melaporkan kepada raja bahwa gajah-gajah telah siap dan terserah raja menentukan waktu keberangkatan.

Kemudian Raja Ajàtasattu naik ke atas gajah istana dan dengan para pengawal perempuan yang berpakaian seperti laki-laki dan duduk di atas lima ratus gajah betina, dan dengan nyala obor, ia berangkat dari Kota Ràjagaha dengan penuh kemegahan dan keagungan menuju hutan mangga Jivaka yang merupakan kediaman Buddha.

Raja Ajàtasattu keluar dari kota dan saat ia mendekati hutan mangga, ia menjadi ketakutan. Ia gemetar ketakutan dan bulu badannya berdiri.

Ia ketakutan karena kesunyian vihàra itu menimbulkan keraguan atas ketulusan Jivaka. Jivaka telah memberitahunya bahwa ia harus mendekati Buddha dengan tenang. Oleh karena itu raja telah memerintahkan agar musik dihentikan dan para musisi hanya memainkan alat musik mereka selama perjalanan. Mereka tidak berbicara dalam suara keras dan mereka hanya berkomunikasi melalui isyarat tangan jika diperlukan.

Sekarang di hutan itu bahkan tidak terdengar suara bhikkhu yang sedang bersin, dan raja-raja biasanya menyukai tempat yang ramai.

Raja Ajàtasattu menjadi letih dan bosan dengan kesunyian itu dan curiga terhadap Jivaka. Ia berpikir, “Jivaka berkata bahwa terdapat seribu dua ratus lima puluh bhikkhu di hutan ini. Tetapi aku bahkan tidak mendengar suara bersin dari seorang pun di tempat ini. Jivaka mungkin berkata bohong. Mungkin ia menipuku agar dapat membawaku keluar dari kota. Mungkin ia mau menangkapku dan merampas tahtaku dengan bantuan para pasukan. Jivaka tentu cukup kuat untuk melawan lima ekor gajah. Ia juga berada di dekatku dan tidak ada pengawal bersenjata di dekatku. Oh! Tamatlah aku!”

Demikianlah ia merasa ketakutan, Raja Ajàtasattu tidak dapat menyembunyikan ketakutannya dan dengan jujur ia mengungkapkannya kepada Jivaka dengan bertanya, “Jivaka! Engkau tidak menipuku, kan? Engkau tidak menyerahkan aku kepada musuhku, kan? Mengapa di antara begitu banyak bhikkhu yang berjumlah seribu dua ratus lima puluh orang, tidak terdengar suara bersin, batuk, dan suara orang yang sedang berbicara?”

Kemudian Tabib Jivaka berkata, “Raja besar, jangan takut. Aku tidak menipu engkau. Aku tidak akan menyerahkan engkau kepada musuhmu. Raja besar, berjalanlah terus. Di dalam aula bundar di sana ada lampu yang menyala terang.”

Kemudian Raja Ajàtasattu pergi sejauh mungkin dengan menunggangi gajah dan sesampainya di pintu gerbang vihàra, ia turun. Begitu ia menginjakkan kakinya di atas tanah, kekuatan dan kemuliaan Buddha meliputi seluruh tubuhnya. Keringatnya mengucur deras hingga ia nyaris mengganti pakaiannya. Ia teringat akan pembunuhan yang ia lakukan terhadap ayahnya dan menjadi ketakutan. Dan ia tidak berani mendatangi Buddha secara langsung.

Ia menarik tangan Jivaka dan bagaikan seorang pengunjung yang datang melihat-lihat vihàra itu, ia memuji Jivaka dengan berkata, “Engkau telah membangun sebuah vihàra yang indah! Engkau telah membangun sebuah vihàra yang indah!” ketika mereka tiba di pintu aula pertemuan bundar, raja bertanya kepada Jivaka mengenai keberadaan Buddha. Sebenarnya, itu hanyalah kebiasaan raja-raja untuk bersikap seolah-olah bodoh meskipun mereka mengetahui.

Kemudian Jivaka berpikir, “Raja ini seperti seorang yang menginjak bumi dan bertanya di manakah bumi itu, bagaikan seorang yang menatap langit dan bertanya di manakah matahari dan bulan berada, bagaikan seorang yang berdiri di kaki Gunung Meru dan bertanya di manakah Gunung Meru itu. Aku akan menunjukkan Buddha kepadanya.”

Kemudian Jivaka mengangkat kedua tangannya ke arah Guru dan berkata, “Raja besar, orang itu yang duduk di depan para bhikkhu, bersandar pada tiang tengah dan menghadap ke arah timur adalah Buddha.”

Kemudian Raja Ajàtasattu mendekati Buddha dan memberi hormat. Berdiri di satu tempat, ia menatap lagi dan lagi ke arah para bhikkhu yang tenang dan agung bagaikan danau yang jernih, sunyi senyap tanpa suara batuk atau bersin, mata mereka tenang terpusat pada Buddha tanpa melirik ke arah rombongan besar raja dan pengikutnya.

Sang raja terpesona dan berseru, “Sekarang para bhikkhu begitu tenteram. Semoga putraku, Pangeran Udayabhadda, memiliki ketenteraman ini!”

[(klik!) Catatan]

    Seruannya itu adalah akibat kekhawatirannya terhadap putranya dan keinginannya atas ketenteraman pangeran. Karena ia berpikir, “Suatu hari akan tiba saatnya putraku, melihat diriku yang masih muda, menanyakan tentang kakeknya. Jika ia mengetahui bahwa kakeknya dibunuh oleh ayahnya, ia akan mengingatnya dan membunuhku untuk menjadi raja.”

    Terlepas dari kekhawatirannya terhadap putranya dan keinginannya untuk memberikan ketenteraman kepada putranya, raja memang ditakdirkan untuk dibunuh oleh putranya sendiri. Dalam silsilah Raja Ajàtasattu terdapat lima kasus pembunuhan terhadap ayah:

    (1) Pangeran Ajàtasattu membunuh ayahnya Raja Bimbisàra;
    (2) Pangeran Udaya membunuh ayahnya Raja Ajàtasattu;
    (3) Pangeran Mahàmuõóika membunuh ayahnya Raja Udaya;
    (4) Pangeran Anuruddha membunuh ayahnya Mahàmundika; dan
    (5) Pangeran Nàgadàsa membunuh ayahnya Raja Anuruddha.

    Kemudian para penduduk kerajaan itu sepakat untuk memutuskan hubungan dengan raja yang telah menodai silsilah mereka dan meninggalkan Raja Nàgadàsa.

Sebelum raja mengucapkan seruannya, Buddha telah membaca pikiran Raja Ajàtasattu saat ia berdiri diam di depan Buddha. Buddha mengetahui bahwa raja tidak berani berbicara kepada-Nya, bahwa ia teringat kepada putranya saat ia melihat para bhikkhu dan jika Buddha tidak memecah es, ia tidak akan berani mengucapkan sepatah kata pun. Maka Beliau memutuskan untuk berbicara lebih dulu, Buddha berbicara setelah seruan sang raja.

“O Raja! Pikiranmu sekarang terarah kepada putra kesayanganmu.”

Kemudian Raja Ajàtasattu berpikir, “Oh! Sungguh menakjubkan kemuliaan Buddha! Tidak ada seorang pun yang dapat menyamaiku dalam berbuat kejahatan terhadap Buddha. Aku membunuh (ayahku) seorang penyokong utama yang juga adalah seorang Ariya, penyumbang Buddha. Bukan hanya itu. Terpengaruh oleh Devadatta, aku mengirimkan para pembunuh untuk membunuh Buddha. Mungkin Devadatta berpikir bahwa aku mendukungnya saat ia menjatuhkan batu besar dari Bukit Gijjhakåña untuk membunuh Buddha. Aku telah melakukan banyak kejahatan dan sekarang Buddha justru memulai percakapan denganku. Buddha sungguh memiliki sifat Tàdi sehubungan dengan lima ciri. Oleh karena itu kami seharusnya tidak mengabaikan orang mulia seperti Buddha dan tidak lagi mencari perlindungan (atau guru) di tempat lain.”

[(klik!) Catatan]

    Lima ciri Tàdi adalah:

    1. Keseimbangan, tanpa rasa cinta atau benci terhadap segala perubahan (Lokàdhamma) apakah yang disukai (ittha) ataupun tidak disukai (anittha).
    2. Penolakan atas kotoran batin.
    3. Telah menyeberangi lautan samsàra.
    4. Bebas dari nafsu, dan lain-lain.
    5. Memiliki moralitas, keyakinan, dan lain-lain yang membuatnya layak dianggap sebagai seorang yang memiliki integritas moral, keyakinan, dan lain-lain. (Penjelasan ini terdapat dalam Mahàniddesa)

    Penjelasan lain adalah:

    1. Kemampuan memiliki persepsi yang diinginkan (itthasannà) kapan saja dikehendaki sehubungan dengan makhluk-makhluk atau fenomena yang tidak diinginkan (anittha).
    2. Kemampuan memiliki persepsi yang tidak diinginkan (anitthasa¤¤à) kapan saja dikehendaki sehubungan dengan makhluk-makhluk atau fenomena yang diinginkan (ittha)
    3. Kemampuan memiliki persepsi yang diinginkan kapan saja dikehendaki sehubungan dengan makhluk-makhluk atau fenomena yang diinginkan maupun tidak diinginkan.
    4. Kemampuan memiliki persepsi yang tidak diinginkan kapan saja dikehendaki sehubungan dengan makhluk-makhluk atau fenomena yang diinginkan maupun tidak diinginkan.
    5. Kemampuan memiliki keseimbangan kapan saja dikehendaki sehubungan dengan makhluk-makhluk dan fenomena yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Lima kekuatan mulia (Ariyiddha) adalah lima ciri Tàdi. (Dari Silakkhandha Abhinava Tikà, Vol. II)

Dengan pikiran demikian, ia merasa sangat gembira dan untuk menjawab kata-kata Buddha, ia berkata, “Buddha Yang Agung, aku mencintai putraku Pangeran Udayabhadda. Semoga putraku Pangeran Udayabhadda memiliki ketenteraman yang sama seperti yang dimiliki oleh para bhikkhu sekarang.”

Raja Ajàtasattu merenungkan, “Jika setelah memberi hormat kepada Buddha aku mendatangi para bhikkhu satu per satu untuk memberi hormat kepada mereka, aku selanjutnya harus kembali lagi kepada Buddha dan hal itu akan berarti tidak menghormati Beliau. Seperti halnya, seorang yang setelah memberi hormat kepada raja kemudian mendatangi pangeran mahkota untuk memberi hormat akan terkesan kurang menghormati raja.” Maka setelah memberi hormat kepada Buddha, ia kemudian memberi hormat kepada para bhikkhu dengan merangkapkan kedua tangannya dari tempatnya berdiri kemudian duduk di tempat yang semestinya.

Kemudian Raja Ajàtasattu berkata, “Buddha Yang Agung, jika Engkau mengizinkan aku mengajukan pertanyaan, aku ingin menanyakan beberapa pertanyaan mengenai suatu hal.”

Buddha berkata, “Raja Besar, engkau boleh menanyakan kepada-Ku mengenai apa saja yang engkau suka,” dengan demikian Beliau menyampaikan kepada raja undangan para Buddha Yang Mahatahu.

Setelah diundang oleh Buddha sesuai tradisi para Buddha Yang Mahatahu, Raja Ajàtasattu merasa gembira dan bersemangat, dan ia menanyakan pertanyaan berikut.

“Buddha Yang Agung, terdapat banyak jenis pekerjaan keterampilan bagi para ahli. Mereka adalah para prajurit penunggang gajah, prajurit penunggang kuda, prajurit pengendara kereta, pemanah, pengibar bendera, perencana militer, para komando yang menyusup ke belakang barisan lawan dan membunuh prajurit lawan, para pangeran yang ahli dalam bertempur, pasukan berani mati yang menyerang musuh secara cepat, para serdadu yang bersemangat bagaikan gajah perang, para pejuang yang gagah berani, para serdadu yang mengenakan baju besi, para pelayan yang dapat dipercaya, para koki, tukang cukur, pencuci baju, penenun, pembuat dinding anyaman, pembuat tembikar, ahli berhitung, dan mereka yang berhitung menggunakan jari-jemarinya, selain semua ini, masih ada banyak lagi orang-orang ahli. Dengan keahlian mereka, mereka berusaha dengan penuh semangat membuat agar mereka, orangtua mereka, istri dan anak mereka, teman-teman mereka dapat hidup dengan nyaman. Lebih jauh lagi, mereka memberikan persembahan kepada para bhikkhu dan brahmana agar dapat terlahir kembali di alam dewa setelah meninggal dunia.”

“Buddha Yang Agung, dapatkah seseorang menunjukkan manfaat hidup suci dibandingkan dengan pekerjaan keterampilan tadi, manfaat yang dapat diperoleh dalam kehidupan sekarang?”

Kemudian Buddha berpikir, “Sekarang di tempat ini banyak terdapat para pangeran dan menteri yang adalah pengikut para guru berpandangan salah, mereka yang berada di luar ajaran-Ku. Jika Aku membabarkan khotbah dalam dua bagian, yang menunjukkan noda-noda ajaran guru mereka (kanha-pakkha) di bagian pertama dan kemurnian ajaran-Ku (sukka-pakkha) di bagian kedua, orang-orang ini akan mencela-Ku, mengatakan bahwa Aku hanya membicarakan mengenai perbedaan ajaran sejak kedatangan raja mereka yang datang dengan susah payah untuk mendengarkan Dhamma. Mereka tidak akan mendengarkan Dhamma dengan penuh hormat. Jika raja yang membicarakan tentang ajaran para guru berpandangan salah, orang-orang ini tidak akan menyalahkan Aku. Mereka akan membiarkan Aku mengatakan apa pun. Adalah wajar jika rakyat mengikuti rajanya (issarànuvattako hi loko). Sekarang Aku akan memancing agar raja menjelaskan ajaran para guru berpandangan salah.” Kemudian Buddha bertanya apakah raja pernah mengajukan pertanyaan itu kepada bhikkhu atau brahmana lain.

Sang raja berkata bahwa ia pernah mengajukan pertanyaan itu kepada brahmana lain dan Buddha bertanya bagaimana jawaban mereka dan memintanya untuk menyebutkan jawaban mereka jika ia tidak keberatan. Raja berkata, “Yang Mulia! Aku tidak keberatan untuk menyebutkan jawaban mereka kepada Buddha atau seorang seperti Buddha.”

Kemudian Buddha membabarkan khotbah terperinci mengenai manfaat kebhikkhuan dalam kehidupan sekarang. Misalnya,

  1. Seorang budak akan dihormati oleh raja setelah ia ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu,
  2. Seorang petani yang membayar pajak kepada raja akan dihormati oleh raja setelah ia menjadi bhikkhu.
  3. Untuk menjelaskan manfaat yang lebih tinggi dari kebhikkhuan, Buddha memberi contoh tentang seorang yang berasal dari kasta yang rendah ataupun tinggi yang mendengarkan ajaran-Nya, terdorong oleh keyakinan, ia menjadi bhikkhu dan melatih:

    (a) moralitas rendah,
    (b) moralitas menengah, dan
    (c) moralitas tinggi.

    Kemudian ia menjaga indrianya, mengembangkan perhatian, mudah puas, mematahkan rintangan, ia mencapai Jhàna Pertama,

  4. Jhàna Kedua,
  5. Jhàna Ketiga,
  6. Jhàna Keempat,
  7. – 14 kemudian ia mengembangkan lebih jauh lagi, ia mencapai Pengetahuan Pandangan Cerah (Vipassanà nàna), kekuatan batin (Manomayidhi nàna), kekuatan adialami (Iddhividha nàna), telinga dewa (Dibbasota nàna), pengetahuan penembusan atas pikiran makhluk lain (Cetopariya nàna), mengingat kehidupan masa lampau (Pubbenivàsànussati nàna), pengetahuan atas kematian dan kelahiran kembali makhluk-makhluk lain (Cutåpapàta nàna) dan pemadaman semua kotoran batin (âsavakkhaya nàna atau Arahatta-Magga nàna). Demikianlah seorang bhikkhu memperoleh manfaat dalam kehidupan sekarang dari kehidupan sucinya, delapan jenis kemajuan yang lebih tinggi, pengetahuan luar biasa hingga Kearahattaan. (Untuk penjelasan lengkap, baca Sàmanna-phala Sutta)

Ketika Buddha menjelaskan secara terperinci mengenai manfaat kebhikkhuan dengan Kearahattaan sebagai puncaknya, Raja Ajàtasattu mengikuti seluruh khotbah itu dengan penuh perhatian sambil terus-menerus mengungkapkan kekagumannya. Ia berpikir, “Pada masa lalu, aku bertanya kepada banyak petapa dan brahmana mengenai persoalan ini tetapi bagaikan seorang yang menumbuk kulit padi, aku tidak mendapatkan apa pun yang berguna. Sungguh menakjubkan kemuliaan Buddha! Beliau telah menjawab pertanyaan ini, mencerahkan aku seperti terangnya seribu lampu minyak. Sekian lama kebodohan menipuku, membutakanku akan kemuliaan dan kekuasaan Buddha.”

Diliputi oleh kegembiraan yang muncul dari merenungkan kemuliaan Buddha, raja dengan jelas memperlihatkan keyakinannya terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha dalam kata-kata berikut, “Yang Mulia, sungguh indah ajaran ini! Bagaikan membalikkan apa yang terbalik, bagaikan membuka apa yang tertutup, bagaikan seorang tersesat yang ditunjukkan arah yang benar, bagaikan obor dinyalakan agar mereka yang memiliki mata dapat melihat benda-benda di dalam gelap, demikian pula Engkau telah menjelaskan Dhamma dalam berbagai cara kepadaku. Yang Mulia! Aku berlindung di dalam Buddha, Dhamma, dan Sangha. Sudilah Buddha menganggapku sejak hari ini sebagai seorang umat awam di dalam Saraõàgamana seumur hidupku.”

“Yang Mulia! Aku diliputi oleh perasaan bersalah yang muncul dari kebodohan dan kebingungan. Demi kemewahan seorang raja aku membunuh ayahku, seorang raja besar yang mempraktikkan keadilan dan memerintah dengan baik. Sudilah Buddha memaafkanku atas kesalahan yang telah kulakukan, kesalahan yang akan mengingatkanku agar selalu penuh perhatian dan waspada pada masa mendatang.”

Demikianlah raja mencari perlindungan di dalam Buddha, Dhamma, dan Sangha, dan meminta maaf atas kesalahannya. Kemudian Buddha berkata, “O Raja! Engkau sungguh diliputi oleh kesalahan yang muncul akibat kebodohan dan kebingunganmu. Engkau telah membunuh ayahmu, seorang raja besar yang mempraktikkan keadilan dan memerintah dengan baik. Namun kami memaafkan engkau atas kesalahan itu karena engkau mengakuinya dan memperbaiknya. Jika seorang mengakui kesalahan yang ia lakukan, menebusnya dengan setimpal dan mengendalikan dirinya pada masa depan, maka penebusan dan pengendalian diri demikian merupakan kemajuan spiritual di dalam pengajaran-Ku.”

Kemudian Raja Ajàtasattu berkata, “Baiklah, Yang Mulia! Kami akan pergi sekarang. Kami harus melakukan banyak hal.” Buddha menjawab, “O Raja! Engkau boleh pergi jika engkau menginginkannya.”

Raja menerima ajaran Buddha dengan penuh kegembiraan, memujinya, kemudian ia bangkit dari duduknya, memberi hormat dan pergi.

Tak lama setelah Raja Ajàtasattu pergi, Buddha berkata kepada para bhikkhu, “Para bhikkhu, raja telah menghancurkan posisinya sendiri. Para bhikkhu, jika Raja Ajàtasattu tidak membunuh ayahnya, Raja Bimbisàra, seorang penguasa yang bajik, yang memerintah kerajaannya dengan adil, Kebijaksanaan Jalan Sotàpatti akan dapat dicapainya di tempat ini juga. (Ia akan menjadi seorang Sotàpanna Ariya.)”

Buddha menambahkan, “Para bhikkhu, jika ia tidak membunuh ayahnya, ia akan mencapai Jalan Sotàpatti selagi duduk di sini mendengarkan Sàmanna-phala Sutta. Tetapi karena ia bergaul dengan teman yang jahat, kesempatannya untuk mencapai Jalan menjadi rusak. Namun demikian, karena ia telah berlindung di dalam Tiga Permata dan karena perlindungannya yaitu tiga ajaran-Ku adalah yang tertinggi, ia dapat diumpamakan seperti seseorang yang divonis hukuman mati karena kasus pembunuhan tetapi dapat terhindar dari kematian karena mendapat dukungan dan dengan membayarkan segenggam bunga (sebagai denda ringan.) Meskipun ia seharusnya menderita di Neraka Avici karena kejahatan kejamnya membunuh ayah, ia hanya akan menderita di Neraka Lohakumbhi setelah meninggal dunia, karena ia memiliki pendukung di dalam ajaran-Ku. Ia akan terlahir kembali di neraka itu dan akan berada di sana selama tiga puluh ribu tahun kemudian keluar dan menetap di permukaan selama tiga puluh ribu tahun. Kemudian (setelah enam puluh ribu tahun) ia akan terbebas dari Lohakumbhi” [salah satu nama Neraka][RAPB buku ke-2 hal 1825-1857]

[(klik!) Catatan]

    Di sini, keuntungan yang diperoleh Ajàtasattu akan dijelaskan menurut Komentar. Pertanyaan, “Apakah ia mendapat keuntungan dari mendengarkan Sàmanna-phala Sutta?”

    Jawabannya adalah ya, dan keuntungannya sangat besar. Karena sejak saat ia membunuh ayahnya ia tidak dapat tidur, siang atau malam, karena ia selalu melihat gambaran kelahiran kembali yang menderita. Hanya setelah mendengarkan Sàmanna-phala Sutta yang lembut dan menyenangkan, ia dapat tidur nyenyak siang dan malam. Dan ia sangat menghormati Tiga Permata. Tidak ada umat awam lain yang memiliki keyakinan (puthujjanika-saddhà) yang menyamai Ajàtasattu. (Tidur nyenyak, kebajikan yang dihasilkan dari penghormatan kepada Tiga Permata, memiliki keyakinan istimewa sebagai seorang umat awam, dan lain-lain adalah keuntungan yang ia peroleh dalam kehidupan sekarang. Keuntungan dalam kehidupan selanjutnya adalah pencapaian Parinibbàna setelah menjadi seorang Pacceka Buddha, bernama Vijitàvi.

Demikianlah,
Dengan ketenarannya sebagai tabib, Jivaka sangat disibukkan oleh pekerjaannya, namun demikian, sesibuk apapun Jivaka, Ia tidaklah pernah mengabaikan “kewajibannya” pada Sangha. Banyak penderita penyakit tidak mampu membayar perawatan kesehatan yang dilakukan olehnya, mereka kemudian bergabung dengan sangha dengan tujuan agar dapat pengobatan gratis. Menemukan bahwa sangha kemudian digunakan sebagai sarana tersebut, Ia memohon Sang Buddha untuk menetapkan aturan bahwa laki-laki menderita penyakit tertentu tidak cocok untuk menjadi anggota sangha (Vin.i.71ff). Jivaka pula yang mengusulkan agar para bhikkhu diijinkan melakukan “olah raga” untuk kesehatan mereka:

    Pada saat itu di Vesālī sedang diadakan pengaturan iring-iringan persembahan makanan mewah. Para bhikkhu, setelah memakan makanan mewah menjadi sakit dengan tubuh penuh dengan cairan. Tabib Jīvaka Komārabaccha mengunjungi Vesālī..melihat para bhikkhu yang sakit dengan tubuh penuh dengan cairan;..ia mendekati Sang Bhagavā..berkata kepada Sang Bhagavā: “Saat ini, Bhagavā, para bhikkhu sakit dengan tubuh penuh dengan cairan. Baik sekali, Bhagavā, jika Bhagavā memperbolehkan suatu tempat untuk para bhikkhu berjalan mondar-mandir dan sebuah kamar mandi. Dengan demikian akan mengurangi penderitaan para bhikkhu”..Kemudian Sang Bhagavā..setelah membabarkan khotbah..berkata kepada para bhikkhu:”Aku mengizinkan, para bhikkhu, tempat untuk berjalan mondar-mandir, dan kamar mandi” [Cullavagga V/Khuddakavatthūni, Vin.ii.119)

Di suatu hari, ketika Buddha sedang berada di Vihàra Jetavana dan menganugerahkan gelar siswa awam terbaik, sang Bhagavà menyatakan: “Para bhikkhu, di antara para siswa awam-Ku yang penuh pengabdian, Jivaka, anak angkat Pangeran Abhaya adalah yang terbaik.”
—-

Daftar Pustaka:

Mahavaga VIII, hal. 379-398, Riwayat Agung Para Buddha [RAPB] Buku ke-3, 2995-2997. Daftar nama di Pali canon.com: Devadatta, Jivaka, Sirima, Salavati, Ambhapali, Bimbisara, Ajàtasattu, dll