Category Archives: Religi-Hindu

Tuhan, Klaim Pepesan Kosong Si Buta Sejak Lahir Yang Menjelaskan Gajah!


Mencampur-adukan sejarah religi kelompok bangsa tertentu dan menempelkan satu nama Tuhan baru sebagai Tuhan utama adalah strategi umum yang digunakan beberapa manusia jenius atau kelompok tertentu, tindakan ini bagai sekumpulan orang buta dari sejak lahir yang mencoba menjelaskan bentuk seekor gajah.

Tiga agama Abrahamik, yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam sama-sama mengklaim Musa sebagai nabi dan mencantumkan kehidupannya di sejarah agama mereka. Pengetahuan tentang Musa adalah berasal dari Taurat, kitab yang diciptakan/disusun Musa sendiri.

Di kitab itu, terdapat kisah Abraham, cikal bakal 3 Agama, yang lahir 640 tahun sebelum Musa. Walaupun tidak dijelaskan kapan Abraham mulai dapat berkomunikasi dengan Tuhan, namun di usia ke-75 [Kej 12.4] Yahwe merintahkan Abraham dan Lot untuk pergi dari Haran ke Mesir [Kej 12.4], menampakan dirinya pada Abraham di Kanaan [Kej 12.7] dan ternyata, Yahwe tersebut berjumlah 3 Pria, yang Abraham sebut mereka “ADONAY/TUAN”, setelah menyembah mereka hingga ke tanah [18.1-2], menawarkan mereka cuci kaki dan makan berupa roti, dadih, susu dan daging anak lembu [Kej 18.4-8]. Setelahnya, 2 di antaranya pergi ke Sodom dan disebut malaikat, yang LOT sembah hingga mukanya ke tanah [Kej 19.1-2], 1 Pria tersisa ini adalah juga yang ditemui Musa dan disebut Malaikat Yahwe, namun berbeda dengan Abraham, Musa tidak pernah melihat rupa dan bentuknya kecuali nyala api di semak duri [Kel 3.1-2] dan suaranya [Kel.34]. Dari suara inilah Musa mendapatkan Taurat yang berisi ajaran dan kisah-kisah tersebut.

Abraham dalam kisah itu, ternyata bukan monoteis, sekurangnya, 3 pria yang disebutnya tuan dan disembahnya, malah, tuan-nya Abraham menjadi bertambah banyak, yaitu di kisah pertemuannya dengan Melkisedek:

    Dan Ia (Melkisedek, raja Salem) memberkati nya (Abram) dan berkata: “Diberkatilah Abram oleh ALLAH (le el), El Yon, QONEH samayim wa eres [Kej 14.19. Melki Sedek = Adoni-Sedek; Melki = Adoni = Tu(h)anku/RajaKu; Malik/Melek = Raja; Salem ; Yerusalem].

    Abram membalas: “Aku mengangkat tanganku pada EL YAHWEH, EL, El YON, QONEH, SAMAYIM WA AERES” [Kej 14.22]

Pada teks Masoretik (abad ke-10 M) di atas, terdapat kata: “EL”, “EL YON”, “Yahweh”, “QONEH”, “SHAMAYIM” dan “ERETS”, semuanya ini adalah NAMA PARA DEWA KUNO.

Hartmut Gese, seorang Teolog Protestan dan juga profesor Perjanjian Lama di Eberhard Karls University Tübingen, berpikir bahwa ini: “Triad dewa yang terdiri dari, ‘El Elyon, El Qone ares dan El Qone Samayim'” [“Dictionary of Deities and Demons in the Bible”, Karel van der Toorn,.., Hal.281]. Sementara Robert M. Kerr, seorang pakar bahasa semit, menyatakan: “Sekarang ini kita tahu bahwa pemberian berkat kepada Abraham oleh Melkisedek (Kejadian 14:19) tidak menunjuk pada 1 Tuhan…Sebaliknya, ayat ini mengacu pada 3 Dewa (terjemahan yang lebih tepatnya adalah: “diberkatilah Abraham oleh Elyon, El, [dan El], Pencipta langit dan bumi.”) Hal yang sama berlaku untuk Musa. Tidak mungkin dia menjadi pendiri Monoteisme Israel..” [“Aramaisms in the Quran and their Significance”, Robert M Ker, hal.151]

1576 tahun setelah Musa Lahir, muncul seorang Yahudi yang disebut Yesus, yang seharusnya familiar dengan malaikat YAHWE, namun dimenjelang akhir hidupnya, bukan nama YAHWE yang dipanggilnya, tidak jelas siapa dan bahkan oleh pengikutnya, Yesus diklaim sebagai Tuhan [KPR 2.32-36, Wahyu 3.21].

Siapa yang panggil Yesus di menjelang akhir hidupnya?

  • Ελωι ελωι λαμμᾶ σαβαχθανι” (Eloi, eloi lammá savachtani) [Markus 15:34] atau
  • Ηλι ηλι λαμὰ σαβαχθανι” (Heli, heli, lamá savachtaní) [Matius 27.46] [semua teks dari TR Scrivener 1894 dan Stephanus 1550].


Siapakah itu HELI? Apakah maksudnya EL/Tuhan? Jika ya, mengapa bukan memanggil YAHWE? malah beberapa mengklaim, itu merupakan bukti pemenuhan Nubuat, yang ada di lagu tentang Daud:

  • “אֵלִי אֵלִי מְטוּל מַה שְׁבַקְתַּנִי” (éli éli m’tul mah sh’vak-tani) [Aramaic Targum, Mazmur 22.1] atau
  • “אלי אלי למה עזבתני” (eli eli lamah azab-tani) = “Tuhanku, tuhanku mengapa (kau) abaikanku” [Ibrani Mazmur 22.1]


Padahal, jika dibaca, di awal kalimat Mazmur 22.1 telah tertera bahwa ini adalah lagu tentang Daud, tentang ketidakberdayaan Daud saat dikelilingi musuh, malah di Taurat juga telah dikatakan bahwa dosa ditanggung sendiri-sendiri, tidak dapat diwakilkan: “Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri” [Ulangan 24.16]

Jika bukan Tuhan, maka yang dipanggil Heli bisa jadi:

  • Kakeknya dari pihak ibu, yaitu Heli bin Matat [Luk 3.23-24], atau
  • Utusan tuhan yang datang dimenjelang kemunculan Mesias untuk memulihkan keadaan [Mat 17.10-13; Mark 9.11-13] namun sayangnya, kedatangan Elia disyaratkan harus datang bersamaan Musa [Maleakhi 4.4-5, Neverim/Ulangan Rabba, 10.1/ Neverim Rabba 3.17], atau
  • Yohanes pembaptis, yang pernah membaptis Yesus [Luk 3.21]. Yesus menganggapnya sebagai Elia yang sudah datang [Mat 17.10-13; Mark 9.11-13], 3 injil menyatakan Yohanes wafat terlebih dahulu dari Yesus [Mat 14.10-12, Markus 6.27-29, Lukas 9.9]. Sejarahwan Josephus, menyatakan Yesus wafat dikisaran waktu keributan pembangunan Aquaduct [Antiquities 18.3.3] dekat keributan Samaritan sekitaran wafatnya Tiberius [Ch 18.4.1-2]. Kematian Yohanes, terjadi setelah tahun ke-20 Tiberius/thn 35 SM, yaitu setelah Philip saudara Herodes wafat, karena tidak ada turunan, Tiberius mengambil daerah itu. [Ch.18.4.6], saat pasukan Aretas dan Herodes saling berhadapan, Ex orang Philip bergabung bersama Aretas mengalahkan Herod. Berang atas kekalahan Herod, Tiberius memerintahkan Vitelius memerangi Aretas [Ch 18.5.1] namun di hari ke-4 sesampainya di Yerusalem, Tiberius wafat [Ch 18.5.3]. Kaum Yahudi berkata kekalahan Herodes, sebagai balasan kematian Yohanes, yang dibunuhnya, karena takut pengaruh Yohanes dapat memicu pemberontakan. [Ch 18.5.2]. Jika catatan Josephus ini akurat, wajar saja dimenjelang wafat, Yesus memanggil orang yang pernah membaptisnya agat tidak meninggalkannya dan tentara Romawi yang berdiri di sekitar Yesus saat di salib [Lukas 23.36, Matius 27.46], tampaknya familiar dengan nama “Elia” jika merujuk ke Yohanes, yang dipenjara dan kemudian dibunuh Herodes.

Malah kalimat Markus dan Matius di atas mengandung kontroversi bahasa, yaitu campuran Aramaik dan Ibrani, yang tampaknya Alkitab juga tidak jelas, apa sebenarnya bahasa keseharian Yesus dan penduduk Yerusalem saat itu, apakah Aramaik (ref: KPR 1.19, “Hakal-Dama”, sebagai bahasa mereka sendiri, yang berasal dari Aramik) ataukah Ibrani dengan merujuk kisah Saulus, seorang Yahudi suku Benyamin (Filipi 3.5 dan KPR 22.3) yang mengaku bertemu roh Yesus dan Ia diajak berbahasa Ibrani (KPR 26.14), juga merujuk pada maklumat yang tertulis dalam 3 bahasa saat Yesus di Salib yaitu Ibrani, Yunani dan Romawi (Yoh 19.20).

Jadi jika menurut Mazmur 22.1 yang berbahasa Ibrani, kata seharusnya adalah “lamah azabtani”, namun jika menurut Targum Aramaik, yang berbahasa Aramaik, kata seharusnya adalah “mtul mah savachtani”, cilakanya, Markus dan Matius menjadikannya sebagai campuran yaitu “lamah savaktani”. Demikianlah, sumbangsih Nasrani dalam memperkaya kebingungan tentang Tuhan.


Sekitar 610 tahun setelah Yesus Lahir, Munculah Muhammad yang menyebut ajarannya sebagai Islam dan mengklaim bahwa yang menurunkan Taurat adalah BUKAN Malaikat Yahwe [Misal AQ 3.2-3, 48, 50; AQ 5.44, 46, 110; AQ 9.111; AQ 62.5], lebih lanjut dikatakan bahwa kaum Yahudi dan Nasrani adalah orang kafir [AQ 98.1,6], BINATANG YANG PALING BURUK [AQ 8.22,25] yang akan menjadi bahan bakar neraka [AQ 3.10].

Quran menyampaikan bahwa “ilah” adalah kata umum untuk sebutan TUHAN, baik ditujukan kepada ALLAH SWT maupun ALLAH LAINNYA (jamak maupun tunggal), sample:


    (“Janganlah kalian ambil/laa tattakhidzuu dua tuhan/ilaahayni itsnayni; hanya Dialah/innamaa huwa Tuhan yang tunggal/ilaahun waahidun”, AQ 16.51); (“Ilahukum ilahun wahidan/Tuhan kalian Tuhan yang satu”, AQ 16.22; 21.108); (Pada para Ahlu Kitab: “ilahuna wa-ilahukum wahidun/Tuhan kami dan Tuhan kalian satu”, AQ 29.46); (“aja’ala/Mengapa ia jadikan tuhan-tuhan itu/al-aalihata Tuhan yang tunggal/ilaahan waahidan?”, AQ 38.5 dan dalam 35 ayat lainnya untuk tuhan-tuhan/aalihat)

    Prof. Hitti, seorang kelahiran Kristen Moronit Libanon, Ulama Islam, Profesor literatur Semitik, Ketua Bahasa Oriental, Peneliti, dan Bidang studi Budaya Arab, menyampaikan,

    “..Bagi masyarakat Hijaz, Allah (Allah, Al-Ilah) adalah yang utama, meski bukan satu-satunya dewa di Makkah. Nama ini berusia sangat tua. Muncul di 2 inkripsi, satu dari Minean ditemukan di al-‘Ula dan satu lagi Sabian. Namun terbentuk dari “HLH” di inkripsi Lihyan abad ke-5 SM. Dewa kaum Lihyan berasal dari Syria yang merupakan sentra pertama pemujaan dewa ini di Arab. Ia disebut HALLAH di inkripsi Safa, 5 abad sebelum kemunculan Islam dan juga di Inkripsi Arab Kristen pra Islam yang ditemukan di Umm al Jimal, Syria yang berasal dari abad ke-6. Nama ayah Muhammad adalah ‘Abd-Allah (‘Abdullah, pelayan atau penyembah Allah). Besarnya penghormatan pada Allah di kalangan kaum Mekkah Pra-Isam sebagai Pencipta dan pemberi nikmat dan yang diseru saat musibah tergambar di AQ 31.24, 31, 6.137, 109; 10.23, tertera bahwa Dia-lah dewanya suku Quraish. [“History of The Arabs”, hal.126-127 atau hal.90]

Tampaknya, ALLAH-nya Muhammad bukan malaikat YAHWE juga bukan ALLAH SWT, sample:

    “dan tuhan kalian (wa-ilaahukum) tuhan yang satu (ilaahun waahidun) tiada tuhan (laa ilaaha) selain dia (illaa huwa) AL-RAHMAN AL-RAHIM (alrrahmaanu alrrahiim)” [AQ 2.163, Al Madaniyah, urutan turun ke-87]


Allah jenis itu, tidak dikenal oleh kaum Arab Mekkah, sample:

    Ibn Sa’d: Riwayat ‘Ali Ibn Muhammad – Abu ‘Ali al-`Abdi – Muhammad Ibn al-Sa’ib – Abu Salih – Ibn `Abbas: “Para Quraish mengutus Al-Nadr Ibn al-Harith Ibn ‘Alqamah dan ‘Uqbah Ibn Abi Mu’ayt dan lainnya kepada kaum YAHUDI Yathrib dan berkata dan bertanya pada mereka: Kamu datang kapadamu karena masalah besar muncul diantara kami. Ada seorang Yatim-Piatu biasa yang membuat klaim besar, menganggap dirinya adalah utusan AL-RAHMAN, sementara itu KAMI TIDAK KENAL AL RAHMAN SELAIN RAHMAN dari AL YAMAMAH …” (Al-Tabaqat Al-Kabir, Ibn Sa’d, vol.1, bagian 1, bab 40.1.37)

    Protes ini mendapat dukungan dari Prof Hitti,

    “..kata Rahman sangat penting karena memiliki padanan pada bahasa Arab Utara, al-Rahman…Meskipun digunakan dalam berbagai tulisan untuk merujuk pada Tuhan orang-orang Kristen, kata itu jelas di pinjam dari nama salah satu dewa tertua di Arab selatan. Al Rahim juga muncul sebagai nama dewa (RHM) dalam tulisan-tulisan pra Islam dan tulisan orang-orang Sabian” [“History of The Arabs”, hal.132]


Demikianlah, Tuhan yang disembah 3 Agama ini, tidak jelas siapa jadinya, yang para pendiri agamanya sendiri (Musa, Yesus dan Muhammad) di masa hidupnya bahkan TIDAK PERNAH melihatnya, juga, para pengikut awal mereka, yang percaya dan menjalani ajarannya, dimasa hidup mereka, 
TIDAK SATUPUN pernah melihatnya.


Walaupun Islam dan Nasrani sama-sama mengakui kenabian Musa namun mereka tidak mengakui Yahwe-nya kaum Yahudi sebagai tuhan dan secara sepihak menyatakan sesembahan baru merekalah sebagai satu-satunya Tuhan yang wajib di sembah. 

Tuhan kaum Yahudi, Nasrani dan Islam jelas berbeda satu sama lainnya namun yang lahir belakangan selalu mengklaim bahwa Tuhan di ajarannyalah sebagai satu-satunya Tuhan asli. Untuk mempertahankan klaim itu, tradisi saling berbaku hantam tampaknya erat terjadi di 3 ajaran ini.

Begitu pula tentang Surga,

para pendiri 3 agama ini, di semasa hidupnya, TIDAK PERNAH pergi ke Surga. Muhammad yang diklaim pernah ke Surga dengan merujuk surat 17 dan 53, ternyata juga tidak. karena AQ 17.1 mengisahkan Ia pergi dari Mesjid Haram ke Mesjid Aqsa/terjauh dan di AQ 53.12-18, Ia disebutkan melihat Jibril turun dekat pohon bidara/Sidratil terujung/Muntahaa yang dekat itu taman/jannatu tempat tinggal/al mawaa. Malah, kisah Muhammad bertemu Jibril ini mirip kisah Abraham ketika bertemu 3 pria juga di dekat pohon tarbantin dekat tempat tinggal Abraham di Mamre. Malah keberadaan muhammad di kisah itu simpang siur tak jelas, misal:

  • Beliau sedang bermalam di rumah Hindun/Ummu Hani, Putri Abu Talib [Sirah Nabawiyah Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 1, Bab 74, Hal. 358-364; Tabaqat Al Kabir, Ibn Sa’d Vol.1, Parts 1.56.1; Tanwir al-Miqbas min Tafsar Ibn ‘Abbas untuk AQ 17.9, Tabari (w.310), Zamakhshalli (w. 538), Razi (w.606 H)], atau
  • Di rumahnya tidur sendiri [Bukhari 1.8.345, 4.54.429, Tabaqat Al-Kabir”, Ibn sa’d vol.1. book 55.1. hal.143], atau
  • Sedang bersama Aisyah [Sirah Nabawiyah, Ibn Ishaq/Hisyham, Guillaume, hal.183], atau
  • Sedang berbaring antara Al-Hatim atau Al-Hijr (Bukhari 5.58.227)

Kisah ke Surga ini jelas meragukan, karena jika benar pernah, pastinya Ia tahu bahwa bumi bukanlah piringan datar di atas punggung ikan paus, Bintang bukanlah alat pelempar setan, karena besarnya, tidaklah lebih kecil dari Matahari kita yang 1.2 juta x dari Bumi.

Para pengikut awal 3 agama ini, yang percaya dan menjalani ajaran mereka, juga semasa hidupnya, TIDAK SATUPUN pernah ke Surga, mereka semua menjalani ajaran berdasarkan keyakinan buta tanpa tahu kebenarannya.


***

Pada system pendidikan di India, mereka yang mencari ilmu selalu tinggal bersama gurunya [catuspathiis/pasraman]. Kehidupan pendidikan mereka ditanggung oleh pemerintah yang berkuasa/kepala daerah dan/atau masyarakat umum. Hampir setiap Brahmana mumpuni mempunyai pasraman sendiri dan kemudian berlanjut turun temurun. Rsi-Rsi/Brahmana terkenal dijaman itu di antaranya adalah Atthaka [Astaka], Vamaka, Vamadeva, Vessamitta [Vishvamitra], Yamataggi [Jamadagni], Anggirara [angiras], Bharadvaja Brihaspati, Vasettha [Vasistha], Kassapa [Kasyapa] dan Bhagu [Bhrigu]

Saat itu tidak ada standarisasai kurikulum, jadi masing-masing dari para Rsi/Brahmana menciptakan kurikulum dan metode pengajarannya sendiri sehingga Murid-murid yang belajar pada brahmana yang berbeda, pengetahuannya-pun berbeda-beda pula. Perbedaan itu kerap menimbulkan pertentangan pendapat antara satu pasraman dengan pasrama lainnya. Perbedaan pendapat tersebut adalah sumbangan keragaman interpretasi pada kupasan-kupasan Veda dari jaman ke jaman.

Hindu mengenal banyak dewa dan dewi yang di puja dan disembah sebagai tuhan utamanya. Dari jaman ke jaman terjadi perubahan peringkat status Dewa utama karena beberapa dewa tiba-tiba menjadi populer, beberapa menjadi tidak populer, beberapa meningkat status dari dewa biasa menjadi dewa utama dan lambat laun mengerucut menjadi 3 Nama Dewa saja sebagai tuhan utama, yaitu Brahma, Vishnu dan Siva.

Sebelum jaman Buddha, Brahma adalah Tuhan tradisi Hindu.

Sedangkan Siva dan Vihnu sebagai tuhan, baru tercipta ratusan tahun setelah Buddha Gautama parinibanna [wafat]. Teks Buddhisme Suta pitaka, Devaputtasamyutta [2:12 dan 2:21] menyebutkan adanya Visnu [Vennu/Venhu] dan Siva namun saat itu, mereka bukanlah Deva yang menonjol [Rhys Davids, Buddhist India, Hal 236]. Deva Putta Samyuta, merupakan teks berbahasa pali mengenai kumpulan para Deva yang baru terlahir di alam Indra/Sakka. Venhu/Vennu dan Siva merupakan prototipe dewa India sebelum mereka menjadi dewa utama dalam Hinduisme bakti yang theistic.

Kisah-kisah avatar memang ada di teks Brahmana-brahmana yang berkaitan dengan Veda, yang disusun tidak berapa lama sebelum jaman Buddha, legenda para avatara itu popular dimasyarakat namun Vishnu sebagai avatar tidak ada di legenda saat itu [The Bhagavad Gita, C. Jinarajadasa, From the Proceedings of the Federation of European Sections of the Theosophical Society, Amsterdam 1904, Theosophical Publishing House, Adyar, Madras. India, November 1915]

Kemudian di beberapa jaman ada upaya mengatakan Brahman dan brahma itu berbeda.

Mengutip Ajaran Pokok dalam Upanisad, Sri Srinivasa menyatakan bahwa: “Brahma berasal dari akar kata kerja brh yang artinya ‘tumbuh’ (brhati) dan menyebabkan tumbuh (brhmayati)“. Dalam Atharvairas Upanisad, “brhati, bhmayati tasmad ucyate parabrahma” artinya “Itu disebut Brahman karena itu bertumbuh dan menyebabkan tumbuh”. Dalam sanskrit, walaupun dibaca Brahman namun yang dituliskan tetap saja Brahma, selain tulisan ‘brahma’ pada Atharvairas Upanisad di atas, contoh lain misalnya: “ayam ātmā brahma” [Brihadaranyaka Upanishad 4.4.5] artinya “Atma adalah Brahma” atau “Atman adalah Brahman“!

DR. FRANK MORALES atau Sri Dharma Pravartaka Acharya mengatakan bahwa Brahman bukanlah tuhan namun merupakan sikap sebagaimana tercantum di Taittariya Upanishad’ II.1: “satyam jnanam anantam brahma”, “Brahman adalah dari kebenaran sejati, pengetahuan dan keabadian

Buddhisme menjelaskan prinsip-prinsip bersatu dengan Brahma[n] melalui pemenuhan kualitas mental tertentu sehingga dari sebab-sebab dan kondisi tersebut memungkinkan seseorang mencapai alam Brahma[n], seperti yang dimaksudkan di Tevijja Sutta:

[..] Ketika sedang berjalan bolak balik di tepi sungai, terjadi percakapan serius antara Vasettha (dari klan Vasettha) dan Bharadvaja (dari klan Bhradvaja) tentang jalan benar dan jalan salah.

Pemuda Vasettha berkata: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Pokkharasadi’.

Sedangkan pemuda Bharadvaja berkata: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Tarukkho’.

Namun pemuda Vasettha tidak dapat meyakinkan pemuda Bharadvaja, begitu pula pemuda Bharadvaja tidak dapat meyakinkan pemuda Vasettha.

Kemudian pemuda Vasettha berkata kepada pemuda Bharadvaja: ‘Bharadvaja, Samana Gotama, putra suku Sakya, telah meninggalkan keluarga Sakya menjadi petapa, sekarang ada di Manasakata, tinggal di taman mangga di tepi sungai Aciravati, tepatnya di utara Manasakata. Sehubungan dengan Samana Gotama telah tersebar berita yang baik yaitu: ‘Demikianlah Bhagava, maha suci, telah mencapai penerangan sempurna, sempurna pengetahuan serta tidak-tanduknya, sempurna menempuh jalan, pengenal segenap alam, pembimbing manusia yang tiada taranya, guru para dewa dan manusia, yang sadar dan patut dimuliakan’. Bharadvaja, marilah kita menemui Samana Gotama, bilamana kita telah menemuinya, kita tanyakan persoalan kita ini kepada beliau. Apa yang Samana Gotama uraikan kepada kita, kita perhatikan dengan baik’.

‘Baiklah, kawan!’ jawab pemuda Bharadvaja menyetujui saran pemuda Vasettha.

‘Selanjutnya, pemuda Vasettha dan pemuda Bharadvaja pergi ke tempat Bhagava berada’. Setelah sampai, mereka memberi hormat kepada Bhagava dan saling menyapa dengan kata-kata santun, lalu duduk di tempat yang telah tersedia. Setelah duduk, pemuda Vasettha berkata kepada Bhagava: ‘Gotama, ketika kami sedang berjalan bolak-balik (di tepi sungai) muncul percakapan tentang jalan benar dan jalan salah. Saya berkata : ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Pokkharasadi’.

Sedangkan pemuda Bharadvaja mengatakan : ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Tarukkho’. Gotama, sehubungan dengan masalah ini terjadi perdebatan, pertentangan dan perbedaan pandangan di antara kami’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Pokkharasadi’. Sedangkan Bharadvaja mengatakan: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Tarukkho’. ‘Vasettha, karena itu terjadi perdebatan, pertanyaan dan perbedaan pandangan di antara anda berdua?’

Pemuda Vasettha: ‘Mengenai jalan benar dan jalan salah, Gotama. Gotama banyak Brahmana mengajar bermacam-macam jalan, seperti para Brahmana Addhariya [Adhavaryu], para Brahmana Tittiriya [Taittiriya], para Brahmana Chandoka [Chandogya], para Brahmana Chandava dan para Brahmana Brahma-cariya. Apakah semua itu jalan-jalan keselamatan? Apakah semua jalan itu membimbing seseorang yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma?’

“Gotama, bagaikan di sekitar desa atau kota banyak dan bermacam-macam jalan, namun semua jalan itu bertemu di desa – demikian pula cara itu bahwa semua macam jalan yang diajarkan oleh para Brahmana, seperti para Brahmana Addhariya, para Brahmana Tittiriya, para Brahmana Chandoka, para Brahmana Chandava dan para Brahmana Brahmacariya. Apakah semua itu jalan-jalan keselamatan? Apakah semua jalan itu membimbing seseorang yang melaksanakan-nya untuk bersatu dengan Brahma?

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan semua jalan ke arah benar’?

Pemuda Vasettha: ‘Ke arah benar, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan semua jalan ke arah benar’?

Pemuda Vasettha: ‘Ke arah benar, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan semua jalan ke arah benar’?

Pemuda Vasettha: ‘Ke arah benar, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Bagaimana Vasettha? Apakah ada seorang Brahmana dari para Brahmana yang menguasai tevijja [Tiga Veda: Rig Veda, Sama Veda dan Yajur Veda] pernah melihat langsung Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak ada, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, atau apakah ada seorang guru dari para Brahmana yang menguasai tevijja pernah melihat langsung Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak ada, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, atau apakah ada seorang guru di antara guru-guru dari para guru Brahmana yang menguasai tevijja pernah melihat langsung Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak ada, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, atau apakah ada seorang Brahmana sampai tujuh generasi yang telah melihat langsung Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak ada, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah, para reshi dari para Brahmana yang lampau, yang telah menguasai tevijja, para penulis mantra-mantra, para pengucap mantra-mantra, yang mantra-mantra kunonya dilafalkan, diucapkan atau disusun, yang olah para Brahmana masa kini dilafalkan kembali atau berulang-ulang kali; diintonasikan atau lafalkan secara tepat seperti yang telah diintonasikan atau dilafalkan – seperti Atthaka, Vamako, Vamadevo, Vessamitto, Yamataggi, Angiraso, Bharadvajo, Vasettho, Kassapa dan Bhagu – mereka mengucapkan itu dengan berkata: ‘Kami mengetahuinya, kami telah melihatnya, di mana Brahma berada, dari mana Brahma atau ke mana Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan bahwa tidak ada dari para Brahmana, atau para guru mereka, atau dari murid-murid mereka, sampai tujuh generasi yang pernah melihat langsung Brahma. Begitu pula dengan para rishi dari para Brahmana yang lampau, yang telah menguasai tevijja, para penulis mantra-mantra, para pengucap mantra-mantra, yang mantra-mantra kuno-nya dilafalkan, diucapkan atau disusun, yang olah para Brahmana masa kini dilafalkan kembali atau berulang-ulang kali; diintonasikan atau lafalkan secara tepat seperti yang telah diintonasikan atau dilafalkan – seperti Atthaka, Vamako, Vamadevo, Vessamitto, Yamataggi, Angiraso, Bharadvajo, Vasettho, Kassapa dan Bhagu. Mereka tidak mengatakan: ‘Kami mengetahuinya, kami telah melihat, di mana Brahma berada, dari mana Brahma atau ke mana Brahma?’ Sehingga para Brahmana yang menguasai tevijja dengan benar berkata: ‘Apa yang kita tidak tahu, apa yang kita tidak lihat, keadaan bersatu yang jalannya kita ajarkan, dengan berkata: Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma’.

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu? Bila begitu, bukankah cerita mengenai para Brahmana yang walaupun mereka menguasai tevijja, ternyata mereka menyatakan hal yang bodoh?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya demikian bahwa para Brahmana yang menguasai tevijja ternyata menyatakan hal yang bodoh.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, sebenarnya para Brahmana yang menguasai tevijja dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu dan mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi. ‘

‘Vasettha, bagaikan beberapa orang buta yang saling berdekatan, yang di depan tidak dapat melihat, yang di tengah tidak dapat melihat, begitu pula yang di belakang tidak dapat melihat – Vasettha, saya berpendapat begitu pula dengan para Brahmana yang menguasai tevijja tetapi menceritakan hal yang buta: yang pertama tidak melihat, yang di tengah tidak melihat, begitu pula yang di belakang tidak melihat. Maka uraian dari para Brahmana yang menguasai tevijja ini, ternyata konyol, hanya kata-kata, hampa dan kosong!.

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu? Dapatkah para Brahmana yang menguasai tevijja – seperti orang-orang lain yang awam dan biasa – melihat bulan dan matahari lalu mereka sembayang, memuja dan memuji, berputar dengan beranjali ke arah bulan dan matahari terbit maupun terbenam?’

Pemuda Vasettha: ‘Tentu mereka dapat, Gotama’.

Sang Bhagava: Vasettha, bagaimana pendapatmu? Para Brahmana yang menguasai tevijja, yang dengan baik – seperti orang-orang lain yang awam dan biasa – melihat bulan dan matahari lalu mereka sembayang, memuja dan memuji, berputar dengan beranjali ke arah bulan dan matahari terbit maupun terbenam – adalah para Brahmana yang menguasai tevijja, dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan bulan dan matahari, dengan berkata: “Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan bulan dan matahari”.

Pemuda Vasettha: ‘Tentu tidak, Gotama!’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda berkata bahwa para Brahmana tidak dapat menunjukkan jalan bersatu dengan hal yang telah mereka lihat; lebih lanjut anda mengatakan tidak ada seorang pun dari mereka, atau siswa mereka, atau para pendahulu mereka hingga tujuh generasi yang telah melihat Brahma. Lagi pula anda mengatakan para rishi yang lampau, yang teguh meyakini ucapan mereka, tidak berpura-pura mengetahui atau telah melihat di mana, dari mana atau ke mana Brahma itu. Namun para Brahmana yang menguasai tevijja ini mengatakan bahwa mereka dapat menunjukkan jalan bersatu, padahal mereka tidak tahu maupun belum melihatnya’. Vasettha, sekarang bagaimana pendapat-mu? Bila demikian, bukankah kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ini adalah omong kosong saja?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ternyata omong kosong’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Vasettha ternyata, para Brahmana yang menguasai tevijja yang dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu maupun mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bagaikan seorang pria berkata: ‘Betapa saya rindu, betapa saya mencintai wanita tercantik di dunia ini!’

‘Orang-orang bertanya kepadanya: ‘Baiklah kawan. Wanita tercantik di dunia ini, yang anda rindukan dan cintai, apakah anda mengetahui bahwa wanita cantik itu bangsawan (khattiya), Brahmana, pedagang (vessa) atau kalangan bawah (sudda)?’

‘Ketika ditanya seperti itu, ia menjawab: ‘Tidak’.

‘Lalu orang-orang berkata kepadanya: ‘Jadi, ia yang anda rindukan dan cintai adalah orang yang belum anda tahu dan lihat?’

‘Setelah ditanya begitu, ia menjawab: ‘Ya’.

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu? Bila demikian, bukankah apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, begitu pula, anda berkata bahwa para Brahmana tidak dapat menunjukkan jalan bersatu dengan hal yang telah mereka lihat; lebih lanjut anda mengatakan tidak ada seorang pun dari mereka, atau siswa mereka, atau para pendahulu mereka hingga tujuh generasi yang telah melihat Brahma. Lagi pula anda mengatakan para rishi yang lampau, yang teguh meyakini ucapan mereka, tidak berpura-pura mengetahui atau telah melihat di mana, dari mana atau ke mana Brahma itu. Namun para Brahmana yang menguasai tevijja ini mengatakan bahwa mereka dapat menunjukkan jalan bersatu, padahal mereka tidak tahu maupun belum melihatnya’.

‘Vasettha, sekarang bagaimana pendapatmu? Bila demikian, bukankah kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ini adalah omong kosong saja?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja adalah omong kosong’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Vasettha ternyata, para Brahmana yang menguasai tevijja yang dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu maupun mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bagaikan seseorang yang membuat sebuah tangga untuk naik ke istana di suatu tempat di persimpangan jalan. Lalu orang-orang bertanya kepadanya: ‘Kawan, baiklah, untuk naik ke istana itu anda buatkan tangga, apakah istana itu di sebelah, timur, selatan, barat atau utara? Apakah istana itu tinggi, rendah atau menengah?’

‘Ketika ditanya seperti itu, ia menjawab: ‘Tidak’.

‘Lalu orang-orang berkata kepadanya: ‘Kawan, jadi anda membuat tangga untuk naik ke sesuatu – apakah itu istana – yang anda tidak tahu dan belum lihat?.

‘Setelah ditanya begitu, ia menjawab: ‘Ya’.

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu?. Bila demikian, bukankah apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong?

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, begitu pula, anda berkata bahwa para Brahmana tidak dapat menunjukkan jalan bersatu dengan hal yang telah mereka lihat; lebih lanjut anda mengatakan tidak ada seorang pun dari mereka, atau siswa mereka, atau para pendahulu mereka hingga tujuh generasi yang telah melihat Brahma. Lagi pula anda mengatakan para rishi yang lampau, yang teguh meyakini ucapan mereka, tidak berpura-pura mengetahui atau telah melihat di mana, dari mana atau ke mana Brahma itu. Namun para Brahmana yang menguasai tevijja ini mengatakan bahwa mereka dapat menunjukkan jalan bersatu, padahal mereka tidak tahu maupun belum melihatnya’.

‘Vasettha, sekarang bagimana pendapatmu?. Bila demikian, bukankah kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ini adalah omong kosong saja?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja adalah omong kosong’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Vasettha ternyata, para Brahmana yang menguasai tevijja yang dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu maupun mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bilamana sungai Aciravati penuh dengan air hingga ke tepi dan meluap, kemudian ada seorang yang mempunyai kegiatan di tepi seberang, mau menyeberang, berusaha ke seberang, datang ke tepi dan ingin menyeberang. Selagi ia berdiri di tepi sini, ia memohon ke tepi sebelah dengan berkata: ‘Wahai tepi seberang sana, datang ke sini!, datanglah ke seberang sini!’

‘Vasettha bagaimana pendapatmu? Apakah tepi seberang sungai Aciravati, karena permohonan, doa, pujian dan harapan orang itu akan datang ke tepi sebelah sini?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, tentu saja tidak’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, begitulah caranya para Brahmana yang menguasai tevijja – dengan meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – berkata: ‘Kami mohon Inda, kami mohon Soma, kami mohon Varuna, kami mohon Isana, kami mohon Pajapati [pragapati], kami mohon Brahma, kami mohon Mahiddhi, kami mohon Yama.

‘Vasettha, para Brahmana yang menguasai tevijja – meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – bahwa mereka, berdasarkan pada permohonan, doa, pujian dan harapan, bila mereka meninggal dunia akan menyatu dengan Brahma – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bagaikan bilamana sungai Aciravati penuh dengan air hingga ke tepi dan meluap, kemudian ada seorang yang mempunyai kegiatan di tepi seberang, mau menyeberang, berusaha ke seberang, datang ke tepi dan ingin menyeberang. Selagi ia di tepi sini, tangannya, punggungnya terikat erat oleh rantai kuat, dan bagaimana pendapatmu, Vasettha, dapatkah orang itu menyeberang ke tepi sana dari sungai Aciravati?

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, tentu saja tidak’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, dengan cara yang sama, ada lima hal yang mengarah pada nafsu, yang disebut dalam vinaya-ariya sebagi rantai atau ikatan’.

‘Apakah lima hal itu?’

‘Pertama adalah benda-benda (rupa) yang dilihat mata, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebab-kan kesenangan.
Kedua adalah Suara-suara yang didengar telinga, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebabkan kesenangan.
Ketiga adalah Bebauan yang dicium oleh hidung, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebabkan kesenangan.
Keempat adalah Rasa-rasa yang dikecap oleh lidah, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai menyebabkan kesenangan.
Kelima adalah Sentuhan-sentuhan yang dirasakan oleh tubuh, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebabkan kesenangan. Lima hal ini berkecenderungan pada nafsu disebut dalam Vinaya ariya sebagai rantai atau ikatan’.

‘Vasettha, lima hal berkecenderungan pada nafsu, apakah para Brahmana yang menguasai tevijja terantai, terangsang, terikat pada hal-hal itu, dan mereka tidak melihat bahaya pada hal-hal itu, tidak mengetahui bahwa hal-hal itu tidak dapat dijadikan tumpuan, namun menikmati hal-hal itu’.

‘Vasettha, sesungguhnya para Brahmana yang menguasai tevijja dengan meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – terikat pada hal-hal itu, dan mereka tdlak melihat bahaya pada hal-hal itu, tidak mengetahui bahwa hal-hal itu tidak dapat dijadikan tumpuan, namun menikmati hal-hal itu – bahwa para Brahmana ini setelah meninggal, akan bersatu dengan Brahma – kondisi seperti ini tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bagaikan bilamana sungai Aciravati penuh dengan air hingga ke tepi dan meluap, kemudian ada seorang yang mempunyai kegiatan di tepi seberang, mau menyeberang, berusaha ke seberang, datang ke tepi dan ingin menyeberang. Selagi ia di tepi sini, ia membungkus dirinya hingga ke kepalanya, ia berbaring untuk tidur. ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, dapatkah orang itu menyeberang ke tepi sana dari sungai Aciravati?

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, tentu saja tidak’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, dengan cara yang sama, ada lima rintangan (nivarana), yang dalam vinaya-ariya disebut perintang, penghalang, pengganggu atau jerat.

‘Apakah lima hal itu?’

Pertama ‘Nafsu indera sebagai perintang’.
Kedua ‘Kebencian sebagai perintang’.
Ketiga ‘Malas dan ngantuk sebagai perintang’.
Keempat ‘Keragu-raguan sebagai perintang’.
Kelima ‘Kegelisahan sebagai perintang’.

‘Vasettha, inilah lima perintang yang dalam vinaya ariya disebut perintang, penghalang, pengganggu atau jerat’.

‘Vasettha, sesungguhnya para Brahmana yang menguasai tevijja – dengan meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – terintang, terhalang, terganggu dan terjerat oleh lima rintangan ini – bahwa para Brahmana ini setelah meninggal, akan bersatu dengan Brahma – kondisi seperti ini tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu dan apakah anda pernah mendengar dari para Brahmana tua dan telah berpengalaman, dan ketika para ahli dan para guru bercakap-cakap bersama?

Apakah Brahma memiliki istri dan kekayaan atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah ia diliputi bahaya atau bebas dari bahaya?’

Pemuda Vasettha: ‘Bebas dari bahaya, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah ia diliputi kebencian atau bebas dari kebencian?

Pemuda Vasettha: ‘Bebas dari kebencian, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah ia ternoda atau suci?’

Pemuda Vasettha: ‘Suci, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Apakah ia menguasai dirinya atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Menguasai dirinya, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, apakah para Brahmana yang menguasai tevijja memiliki istri dan kekayaan atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Memiliki, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah mereka diliputi kemarahan atau bebas dari kemarahan?’

Pemuda Vasettha: ‘Diliputi kemarahan, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah mereka diliputi kebencian atau bebas dari kebencian?’

Pemuda Vasettha: ‘Diliputi kebencian, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah batin mereka suci atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak suci, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah mereka menguasai diri mereka atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak menguasai mereka, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan bahwa para Brahmana memiliki istri dan kekayaan, namun Brahma tidak memiliki. Dapatkah disesuaikan atau disamakan Brahmana yang memiliki istri dan harta dengan Brahma yang tidak memiliki istri dan harta?’

Pemuda Vasettha: ‘Tentu tidak, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Tetapi sesungguhnya para Brahmana yang menguasai tevijja ini, yang hidup dalam perkawinan dan memiliki harta, setelah meninggal dunia akan bersatu dengan Brahma yang tidak memiliki istri dan harta – keadaan seperti ini tidak mungkin terjadi’.

‘Vasettha, anda mengatakan bahwa para Brahmana diliputi kemarahan, kebencian, ternoda, dan tak menguasai diri; sedangkan Brahma tidak diliputi oleh kemarahan, tidak diliputi kebencian, suci dan menguasai diri. Dapatkah disesuaikan atau disamakan para Brahmana dan para Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tentu tidak, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Bahwa para Brahmana yang menguasai tevijja ini yang masih diliputi kemarahan, kebencian, ternoda dan tidak menguasai diri setelah meninggal dunia akan bersatu dengan Brahma yang bebas dari kemarahan dan kebencian, suci dan menguasai diri – keadaan seperti ini tidak mungkin terjadi.

Vasettha, demikianlah, walaupun para Brahmana menguasai tevijja, mereka meyakininya, namun mereka tenggelam (dalam upacara); karena tenggelam mereka tiba hanya pada kepuasaan, sementara mereka mengira bahwa mereka menyeberang ke tanah bahagia’.
Maka tiga kebijaksanaan para Brahmana yang menguasai tevijja disebut padang tanpa berair; tiga kebijaksanaan mereka disebut hutan tanpa jalan; tiga kebijaksanaan mereka disebut kegagalan’.

‘Ketika beliau selesai berkata, pemuda Brahmana Vasettha berkata kepada Bhagava: ‘Gotama, telah dikatakan kepadaku bahwa Samana Gotama mengetahui jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, bukankah Manasakata dekat dan tak jauh dari tempat ini?’

Pemuda Vasettha: ‘Begitulah, Gotama. Manasakata dekat, tidak jauh dari tempat ini’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, misalnya ada seseorang yang lahir di Manasakata dan belum pernah meninggalkan Manasakata, lalu orang-orang bertanya kepadanya tentang jalan yang menuju Manasakata. Apakah orang itu yang lahir dan dibesarkan di Manasakata akan ragu-ragu dan mendapat kesulitan untuk menjawab?’

Pemuda Vasettha: ‘Tentu tidak Gotama. Mengapa? Jika seseorang lahir dan dibesarkan di Manasakata, maka setiap jalan yang mengarah ke Manasakata diketahuinya dengan baik’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, orang yang dilahirkan dan dibesarkan di Manasakata mungkin saja ia akan ragu-ragu dan mendapat kesulitan untuk menjawab bila ditanya jalan yang menuju ke Manasakata; tetapi Tathagata, bila ditanya mengenai jalan yang mengarah ke alam Brahma, ia tidak akan ragu-ragu atau mendapat kesulitan untuk menjawab. Vasettha, karena saya tahu Brahma, alam Brahma, dan jalan yang mengarah ke alam Brahma. Ya, saya mengetahui itu karena saya sebagai seorang yang telah memasuki alam Brahma dan telah terlahir di dalamnya’.

‘Setelah beliau berkata begitu, pemuda Brahmana Vasettha berkata kepada Bhagava: ‘Gotama, begitulah dikatakan kepada saya bahwa samana Gotama mengetahui jalan untuk bersatu dengan Brahma. Itu bagus sekali. Mohon yang mulia Gotama menunjukkan jalan untuk bersatu dengan Brahma, mohon yang mulia Gotama menyelamatkan ras Brahmana’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, perhatikanlah dan dengarkanlah dengan baik, saya akan bicara!’

‘Baiklah,’ jawab pemuda Brahmana Vasettha menyetujuinya’.

‘Kemudian Bhagava berkata: ‘Vasettha, ketahuilah di dunia ini muncul seorang Tathagata, Yang Maha Suci, Yang Telah mencapai Penerangan Sempurna, sempurna pengetahuan serta tindak tanduk-Nya, sempurna menempuh Jalan, Pengenal segenap alam, Pembimbing yang tiada tara bagi mereka yang bersedia untuk dibimbing, Guru para dewa dan manusia, Yang sadar, Yang Patut dimuliakan. Beliau mengajarkan pengetahuan yang telah diperoleh melalui usaha-Nya sendiri kepada orang lain, dalam dunia ini yang meliputi para dewa, dan manusia, Yang Sadar, Yang Patut dimuliakan. Beliau mengajarkan pengetahuan yang telah di peroleh melalui usahanya sendiri kepada orang lain, dalam dunia ini yang meliputi para dewa, mara dan Brahmana; para petapa, Brahmana, raja beserta rakyatnya. Beliau mengajarkan kebenaran (Dhamma) yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan, indah pada akhir dalam isi maupun bahasanya. Beliau mengajarkan penghidupan suci (Brahmacariya) yang sempurna dan suci’.

‘Kemudian, seorang yang berkeluarga atau salah seorang dari anak-anaknya atau seorang dari keturunan keluarga rendah datang mendengarkan Dhamma itu, dan setelah mendengarnya ia memperoleh keyakinan terhadap Sang Tathagata. Setelah ia memiliki keyakinan itu, timbullah perenungan ini dalam dirinya: ‘Sesungguhnya, hidup berkeluarga itu penuh dengan rintangan, jalan yang penuh dengan kekotoran nafsu. Bebas seperti udara bagi seorang yang hidup berkeluarga untuk menempuh hidup Brahmacariya secara sungguh-sungguh, suci serta dalam seluruh kegemilangan kesempurnaannya. Maka, biarlah aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning dan meninggalkan hidup keluarga untuk menempuh hidup tak berkeluarga (pabbajja).

Maka tidak lama kemudian ia meninggalkan hartanya, apakah itu besar atau kecil; meninggalkan lingkungan keluarganya, apakah banyak atau sedikit, ia mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan berkeluarga dan menjadi tak berkeluarga (pabbajja).

‘Setelah menjadi bhikkhu, ia hidup mengendalikan diri sesuai dengan peraturan-peraturan bhikkhu (patimokkha), sempurna kelakuan dan latihannya, dapat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahannya, dapat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahan yang paling kecil sekalipun. Ia menyesuaikan dan melatih dirinya dalam peraturan-peraturan. Menyempurnakan perbuatan-perbuatan dan ucapannya. Suci dalam cara hidupnya, sempurna silanya, terjaga pintu-pintu inderanya. Ia memiliki perhatian-perhatian seksama dan pengertian jelas (sati sampajjana); dan hidup puas’.

‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu yang sempurna silanya?

  • Vasettha, dalam hal ini seorang bhikkhu menjauhi pembunuhan, menahan diri dari pembunuhan mahkluk-makhluk. Setelah membuang alat pemukul dan pedang, malu dengan perbuatan kasar; ia hidup dengan penuh cinta kasih, kasih sayang dan bajik terhadap semua makhluk, semua yang hidup, inilah sila yang dimilikinya.
  • ‘Menjauhi pencurian, menahan diri dari memiliki apa yang tidak diberikan; ia hanya mengambil apa yang tidak diberikan; ia hanya mengambil apa yang diberikan dan tergantung pada pemberian; ia hidup jujur dan suci. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Menjauhi hubungan kelamin, menjalankan penghidupan suci atau selibat (Brahmacariya); ia menahan diri dari perbuatan-perbuatan rendah dan hubungan kelamin. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Menjauhi kedustaan, menahan diri dari dusta, ia berbicara benar, tidak menyimpang dari kebenaran, jujur dan dapat dipercaya, serta tidak mengingkari kata-katanya sendiri di dunia’. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Menjauhi ucapan fitnah, menahan diri dari menfitnah; apa yang ia dengar di sini tidak akan diceritakannya di tempat lain sehingga menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di sini. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • Apa yang ia dengar di tempat lain tidak akan diceritakannya di sini sehingga menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di sana. Ia hidup menyatukan mereka yang terpecah-belah, pemersatu, mencintai persatuan, mendambakan persatuan; persatuan merupakan tujuan pernbicaraannya. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • Menjauhi ucapan kasar, menahan diri dari penggunaan kata-kata kasar, ia hanya mengucapkan kata-kata yang tidak tercela, menyenangkan, menarik, berkenan di hati, sopan, enak didengar dan disenangi orang. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Menjauhi pembicaraan sia-sia, menahan diri dari percakapan yang tidak bermanfaat; ia berbicara pada saat yang tepat, sesuai dengan kenyataan, berguna, tentang dhamma dan vinaya. Pada saat yang tepat, ia mengucapkan kata-kata yang berharga untuk didengar, penuh dengan gambaran yang tepat, memberikan uraian yang jelas dan tidak berbelit-belit. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • Ia menahan diri untuk tidak merusak benih-benih dan tumbuh- tumbuhan. Ia makan sehari sekali, tidak makan setelah tengah hari. Ia menahan diri dari :
    • menonton pertunjukkan-pertunjukkan, tari-tarian, nyanyian dan musik.
    • penggunaan alat-alat kosmetik, karangan-karangan bunga, wangi-wangian dan perhiasan-perhiasan.
    • penggunaan tempat tidur yang besar dan mewah.
    • menerima emas dan perak.
    • menerima gandum (padi) yang belum dimasak.
    • menerima daging yang belum dimasak.
    • menerima wanita dan perempuan-perempuan muda.
    • menerima budak belian lelaki dan budak belian perempuan.
    • menerima biri-biri atau kambing,
    • menerima bagi dan unggas,
    • menerima gajah, sapi dan kuda.
    • menerima tanah-tanah pertanian.
    • menipu dengan timbangan, mata uang maupun ukuran-ukuran.
    • perbuatan menyogok, menipu dan penggelapan.
    • perbuatan melukai, membunuh, memperbudak, merampok, menodong dan menganiaya.

    Inilah sila yang dimilikinya’.

  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih merusak bermacam-macam benih dan tumbuhan, seperti: tumbuhan yang berkembang biak dari akar-akaran, tumbuhan yang berkembang biak dari tetangkaian, tumbuhan yang berkembang biak dari ruas- ruas atau tumbuhan yang berkembang biak dari kecambah-kecambahan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari merusak bermacam-macam benih dan tumbuhan. Inilah sila yang dimilikinya’
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mempergunakan barang-barang yang ditimbun, simpanan, seperti: bahan makanan simpanan, minuman simpanan, jubah simpanan, perkakas-perkakas simpanan, bumbu makanan simpanan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari menggunakan barang-barang yang ditimbun semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih menonton aneka macam pertunjukkan, seperti: tari-tarian, nyanyian-nyanyian musik, pertunjukkan panggung, opera, musik yang diiringi dengan tepuk tangan, pembacaan deklamasi, permainan tambur, drama kesenian, permainan akrobat di atas galah, adu gajah, adu kuda, adu sapi, adu banteng, pertandingan tinju, pertandingan gulat, perang perangan, pawai, inspeksi, parade; namun seorang bhikkhu menahan diri dari menonton aneka macam pertunjukkan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terikat dengan aneka macam permainan dan rekreasi, seperti: permainan catur dengan papan berpetak delapan baris, permainan catur dengan papan berpetak sepuluh baris, permainan dengan membayangkan papan catur tersebut di udara, permainan melangkah satu kali pada diagram yang digariskan di atas tanah, permainan dengan cara memindahkan benda-benda atau orang dari satu tempat ke lain tempat tanpa menggoncangkannya, permainan lempar dadu, permainan memukul kayu pendek dengan menggunakan kayu panjang, permainan mencelup tangan ke dalam air berwarna dan menempelkan telapak tangan ke dinding, permainan bola, permainan meniup sempritan yang dibuat dari daun palem, permainan meluku dengan bajak mainan, permainan jungkir balik (salto), permainan dengan kitiran yang dibuat dari daun palem, bermain dengan timbangan mainan yang dibuat dari daun palem, bermain dengan kereta perang mainan, bermain dengan panah-panah mainan, menebak tulisan-tulisan yang digoreskan di udara atau pada punggung seseorang, menebak pikiran teman bermain, seorang bhikkhu menahan diri dari aneka macam permainan dan rekreasi semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mempergunakan aneka macam tempat tidur yang besar dan mewah, seperti: dipan tinggi yang dapat dipindah-pindahkan yang panjangnya enam kaki, dipan dengan tiang-tiang berukiran gambar binatang-binatang seprei dari bulu kambing atau bulu domba yang tebal, seprei dengan bordiran warna warni, selimut putih, seprei dari wol yang disulam dengan motif bunga-bunga, selimut yang diisi dengan kapas dan wol, seprei yang disulam dengan gambar harimau dan singa, seprei dengan bulu binatang pada kedua tepinya, seprei dengan bulu binatang pada salah satu tepinya, seprei dengan sulaman permata, seprei dari sutra, selimut yang dapat dipergunakan oleh enam belas orang, selimut gajah, selimut kuda atau selimut kereta, selimut kulit kijang yang dijahit, selimut dari kulit sebangsa kijang, permadani dengan tutup kepala dan kaki; namun seorang bhikkhu menahan diri untuk tidak mempergunakan aneka macam tempat tidur yang besar dan mewah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih memakai perhiasan-perhiasan dan alat-alat memperindah diri seperti: melumuri, mencuci dan menggosok tubuhnya dengan bedak wangi; memukuli tubuhnya dengan tongkat perlahan-lahan seperti ahli gulat; memakai kaca, minyak mata (bukan obat), bunga-bunga, pemerah pipi, kosmetika, gelang, kalung, tongkat jalan (untuk bergaya), tabung bambu untuk menyimpan obat, pedang, alat penahan sinar matahari, sandal bersulam, sorban, perhiasan dahi, sikat dari ekor binatang yak, jubah putih panjang yang banyak lipatannya; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari pemakaian perhiasan-perhiasan dan alat-alat memperindah diri semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terlibat dalam percakapan-percakapan yang rendah, seperti: percakapan tentang raja-raja, percakapan tentang mencuri, percakapan tentang menteri-menteri, percakapan tentang angkatan-angkatan perang, percakapan tentang pembunuhan-pembunuhan, percakapan tentang pertempuran-pertempuran, percakapan tentang makanan, percakapan tentang minuman, percakapan tentang pakaian, percakapan tentang tempat tidur, percakapan tentang karangan-karangan bunga, percakapan tentang wangi-wangian, pembicaraan-pembicaraan tentang keluarga, percakapan tentang kendaraan, percakapan tentang desa, percakapan tentang kampung, percakapan tentang kota, percakapan tentang negara, percapakan tentang wanita, percakapan tentang lelaki, percakapan di sudut-sudut jalanan, percakapan tentang hantu-hantu jaman dahulu, percakapan yang tidak ada ujung pangkalnya, spekulasi tentang terciptanya daratan, spekulasi tentang terciptanya lautan, percakapan tentang perwujudan dan bukan perwujudan (eksistensi dan non eksistensi); namun seorang bhikkhu menahan diri dari percakapan-percakapan yang rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
  • ‘Meskipun beberapa petapa Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terlibat dalam kata-kata perdebatan, seperti: ‘Bagaimana seharusnya engkau mengerti Dhamma Vinaya ini? ‘Engkau menganut pandangan-pandangan keliru, tetapi aku menganut pandangan-pandangan benar. ‘Aku berbicara langsung pada pokok persoalan, tetapi engkau berbicara langsung pada pokok persoalan’. Engkau membicarakan di bagian akhir tentang apa yang seharusnya dibicarakan di bagian permulaan; dan membicarakan di bagian permulaan tentang apa yang seharusnya dibicarakan di bagian akhir. Apa yang lama telah engkau persiapkan untuk dibicarakan, semuanya itu telah usang’. Kata-kata bantahanmu itu ditentang, dan engkau ternyata salah’. ‘Berusahalah untuk menjernihkan pandangan-pandanganmu; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari kata-kata perdebatan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih berlaku sebagai pembawa berita, pesuruh dan bertindak sebagai perantara dari raja-raja, menteri-menteri negara, kesatria, Brahmana, orang berkeluarga atau pemuda-pemuda, yang berkata: ‘Pergilah ke sana, pergilah ke situ, bawalah ini, ambilkan itu dari sana’; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari tugas-tugas sebagai pembawa berita, pesuruh dan perantara semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih melakukan tindakan-tindakan penipuan dengan cara: merapalkan kata-kata suci, meramal tanda-tanda dan mengusir dengan tujuan memperoleh keuntungan setelah memperlihatkan sedikit kemampuannya; namun seorang bhikkhu menahan diri dari tindakan-tindakan penipuan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti meramal dengan melihat guratan-guratan tangan, meramal melalui tanda-tanda dan alamat-alamat, menujumkan sesuatu dari halilintar atau keanehan-keanehan benda langit lainnya, meramal dengan mengartikan mimpi-mimpi, meramal dengan melihat tanda-tanda pada bagian tubuh, meramal dari tanda-tanda pada pakaian yang digigit tikus, mengadakan korban pada api, mengadakan selamatan yang dituang dari sendok, memberikan persembahan dengan sekam untuk dewa-dewa, memberikan persembahan dengan bekatul untuk dewa-dewa, memberikan persembahan dengan mentega untuk dewa-dewa, memberikan persembahan dengan minyak untuk dewa, mempersembahkan biji wijen dengan menyemburkannya dari mulut ke api, mengeluarkan darah dari lutut kanan sebagai tanda persembahan kepada dewa-dewa, melihat dan meramalkan apakah orang itu mujur, beruntung atau sial; menentukan apakah letak rumah itu baik atau tidak, menasehati cara-cara pengukuran tanah; mengusir setan-setan di kuburan; mengusir hantu, mantra untuk menempati rumah yang dibuat dari tanah, mantra untuk kelajengking, mantra tikus, mantra burung, mantra burung gagak, meramal umur, mantra melepas panah, keahlian untuk mengerti bahasa binatang; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-limu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: pengetahuan tentang tanda-tanda atau alamat-alamat baik atau buruk dari benda-benda, yang menyatakan kesehatan atau keberuntungan dari pemiliknya, seperti: batu-batu permata, tongkat, pedang, panah, busur, senjata-senjata lainnya; wanita, laki-laki, anak lelaki, anak perempuan, budak lelaki, budak perempuan, gajah, kuda, kerbau, sapi jantan, sapi betina, burung nasar, kura-kura, dan binatang-binatang lainnya; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramal dengan akibat: pemimpin akan maju, pemimpin akan mundur, pemimpin kita akan menyerang dan musuh-musuh akan mundur, pemimpin musuh akan menyerang dan pemimpin kita akan mundur, pemimpin kita akan menang dan pemimpin musuh akan kalah, pemimpin musuh akan menang dan pemimpin kita akan kalah; jadi kemenangan ada di pihak ini dan kekalahan ada di pihak itu; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramalkan adanya gerhana bulan, gerhana matahari, gerhana bintang, matahari atau bulan akan menyimpang dari garis edarnya, matahari atau bulan akan kembali pada garis edarnya, adanya bintang yang menyimpang dari garis edarnya, bintang akan kembali pada garis edarnya, meteor jatuh, hutan terbakar, gempa bumi, halilintar, matahari, bulan dan bintang akan terbit, terbenam, bersinar dan suram; atau meramalkan lima belas gejala tersebut akan terjadi yang akan mengakibatkan sesuatu; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramalkan turun hujan yang berlimpah-limpah, turun hujan yang tidak mencukupi, hasil panen yang baik, masa paceklik (kekurangan bahan makanan), keadaan damai, keadaan kacau, akan terjadi wabah sampar, musim baik; meramal dengan menghitung jari, tanpa menghitung jari; ilmu menghitung jumlah besar, menyusun lagu, sajak, nyanyian rakyat yang popular dan ada kebiasaan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: mengatur hari baik bagi mempelai pria atau wanita untuk dibawa pulang, mengatur hari baik bagi mempelai pria atau wanita untuk dikirim pergi, menentukan saat baik untuk menentukan perjanjian damai (atau mengikat persaudaraan dengan menggunakan mantra), menentukan saat yang baik untuk meletuskan permusuhan, menentukan saat baik untuk menagih hutang, menentukan saat baik untuk memberi pinjaman, menggunakan mantra untuk membuat orang beruntung, menggunakan mantra untuk membuat orang sial, menggunakan mantra untuk menggugurkan kandungan, menggunakan mantra untuk mendiamkan rahang seseorang, menggunakan mantra untuk membuat orang lain mengangkat tangannya, menggunakan mantra untuk menimbulkan ketulian, mencari jawaban dengan melihat-lihat kaca ajaib, mencari jawaban melalui seorang gadis yang kerasukan, mencari jawaban dari dewa, memuja matahari memuja maha ibu (dewa tanah) mengeluarkan api dari mulut, memohon kepada dewi Sri, atau dewi keberuntungan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: berjanji akan memberikan persembahan-persembahan kepada para dewa apabila keinginannya terkabul, melaksanakan janji-janji semacam itu, mengucapkan mantra untuk menempati rumah yang dibuat dari tanah, mengucapkan mantra untuk menimbulkan kejantanan, membuat pria menjadi impotent, menentukan letak yang tepat untuk membangun rumah, mengucapkan mantra untuk membersihkan tempat, melakukan upacara pembersihan mulut, melakukan upacara mandi, mempersembahkan korban, memberikan obat bersin untuk mengobati sakit kepala, meminyaki telinga orang lain, merawat mata orang, memberikan obat melalui hidung, memberi collyrium di mata, memberikan obat tetes pada mata, menjalankan praktek sebagai okultis, menjalankan praktek sebagai dokter anak-anak, meramu obat-obatan dari bahan-bahan akar-akaran, membuat obat-obatan; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.


‘Vasettha, selanjutnya seorang bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat adanya bahaya dari sudut manapun sejauh berkenan dengan pengendalian terhadap sila, Vasettha, sama seperti seorang kesatria yang patut dinobatkan menjadi raja, yang musuh-musuh telah di kalahkan, tidak melihat bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenaan dengan musuh-musuh;

Demikian pula, seorang bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat bahaya dari sudut manapun sejauh berkenaan dengan pengendalian-sila. Dengan memiliki kelompok sila yang mulia ini, dirinya merasakan suatu kebahagiaan murni (anavajja sukkham). Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu yang memiliki sila sempurna’.

‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu memiliki penjagaan atas pintu-pintu inderanya?

  • Vasettha, bilamana seorang bhikkhu melihat suatu obyek dengan matanya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik atau buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera penglihatannya. Ia menjaga indera penglihatannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pengelihatannya.
  • Bilamana ia mendengar suara dengan telinganya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera pendengarnya. Ia menjaga indera pendengarannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pendengarannya.
  • Bilamana ia mencium bau dengan hidungnya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera penciumannya. Ia menjaga indera penciumannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera penciumannya.
  • Bilamana ia mengecap rasa lidahnya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera pengecapannya. Ia menjaga indera pengecapannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pengecapannya.
  • Bilamana ia merasakan suatu sentuhan dengan tubuhnya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian terhadap indera perabanya. Ia menjaga indera perabanya, dan memiliki pengendalian terhadap indera perabanya.
  • Bilamana ia mengetahui sesuatu (dhamma) dengan pikirannya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk; keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian terhadap indera pikirannya. Ia menjaga indera pikirannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pikirannya.


Dengan memiliki pengendalian diri yang mulia ini terhadap indera-inderanya, ia merasakan suatu kebahagiaan yang tidak dapat diterobos oleh noda apapun. ‘

‘Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu yang memiliki pengendalian atas pintu-pintu inderanya’

‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu memiliki perhatian seksama dan pengerti jelas?

  • Vasettha, dalam hal ini seorang bhikkhu mengerti dengan jelas sewaktu ia pergi atau sewaktu kembali;
  • ia mengerti dengan jelas sewaktu melihat ke depan atau melihat ke samping;
  • ia mengerti dengan jelas sewaktu mengenakan jubah atas (sanghati), jubah luar (civara) atau mengambil mangkuk-makan (patta);
  • ia mengerti dengan jelas sewaktu makan, minum, mengunyah atau menelan;
  • ia mengerti dengan jelas sewaktu buang air atau sewaktu kencing;
  • ia mengerti dengan jelas sewaktu dalam keadaan berjalan, berdiri, duduk, tidur, bangun, berbicara atau diam.


Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu yang memiliki perhatian seksama murni dan pengertian jelas’

‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu merasa puas?

Vasettha, dalam hal ini seorang bhikkhu merasa puas dengan jubah-jubah yang cukup untuk menutupi tubuhnya, puas hanya dengan makanan yang cukup untuk menghilangkan rasa lapar perutnya. Dan kemana pun ia akan pergi, ia pergi hanya dengan membawa hal-hal ini.

Vasettha, sama seperti seekor burung dengan sayapnya, ke manapun akan terbang, burung itu terbang hanya dengan membawa sayapnya. Vasettha, demikian pula seorang bhikkhu merasa puas hanya dengan jubah-jubah yang cukup untuk menutupi tubuhnya, puas hanya dengan makanan yang cukup untuk menghilangkan rasa lapar perutnya. Maka, ke mana pun ia akan pergi, ia hanya dengan membawa hal-hal ini.

Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu merasa puas’

‘Setelah memiliki kelompok sila yang mulia ini, memiliki pengendalian terhadap indera-indera yang mulia ini, memiliki perhatian seksama dan pengertian jelas yang mulia ini, memiliki kepuasan yang mulia ini, ia memilih tempat-tempat sunyi di hutan, di bawah pohon, di lereng bukit, di celah gunung, di gua karang, di tanah-kubur, di dalam hutan lebat, di lapangan terbuka, di atas tumpukan jerami untuk berdiam. Setelah pulang dari usahanya mengumpulkan dana makanan dan selesai makan; ia duduk bersila, badan tegak, sambil memusatkan perhatiannya ke depan’.

  • ‘Dengan menyingkirkan kerinduan terhadap dunia, ia berdiam dalam pikiran yang bebas dari kerinduan, membersihkan pikirannya dari nafsu-nafsu.
  • Dengan menyingkirkan itikad jahat, ia berdiam dalam pikiran yang bebas dari itikad jahat, dengan pikiran bersahabat serta penuh kasih sayang terhadap semua makhluk, semua yang hidup, ia membersihkan pilkirannya dari itikad jahat.
  • Dengan menyingkirkan kemalasan dan kelambanan, ia berdiam dalam keadaan bebas dari kemalasan dan kelambanan; dengan memusatkan perhatiannya pada pencerapan terhadap cahaya (alokasanni), ia membersihkan pikirannya dari kemalasan dan kelambanan.
  • Dengan menyingkirkan kegelisahan dan kekhawatiran, ia berdiam bebas dari kekacauan; dengan batin tenang, ia membersihkan pikirannya dari kegelisahan dan kekhawatiran.
  • Dengan menyingkirkan keragu-raguan, ia berdiam mengatasi keragu-raguan; dengan tidak lagi ragu-ragu terhadap apa yang baik, ia membersihkan pikirannya dari keragu-raguan’.


‘Vasettha, sama halnya seperti seseorang, yang setelah berhutang, ia berdagang sampai berhasil, sehingga bukan saja ia mampu membayar kembali pinjaman hutangnya, tetapi masih ada kelebihan untuk merawat seorang istri. Lalu ia berpikir: “Dahulu aku berhutang dan berdagang sampai berhasil, sehingga bukan saja aku dapat membayar kembali pinjaman hutangku, tetapi masih ada kelebihan untuk merawat seorang istri”.

Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

‘Vasettha, sama halnya seperti seorang yang diserang penyakit, berada dalam kesakitan, amat parah keadaannya, tidak dapat mencerna makanannya, sehingga tidak ada lagi kekuatan dalam dirinya; namun setelah beberapa waktu ia sembuh dari penyakit itu, dapat mencerna makanannya sehingga kekuatannya pulih. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu aku diserang penyakit, berada dalam kesakitan, amat parah keadaanku, tidak dapat mencerna makananku, sehingga tidak ada lagi kekuatan dalam diriku; namun, sekarang aku telah sembuh dari penyakit itu, dapat mencerna makanan sehingga kekuatanku pulih’.

Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

‘Vasettha, sama halnya seperti seorang yang ditahan dalam rumah penjara, dan setelah beberapa waktu ia dibebaskan dari tahanannya, aman dan sehat, barang-barangnya tidak ada yang dirampas. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu aku ditahan dalam rumah penjara, dan sekarang aku telah bebas dari tahanan, aman dan sehat, barang-barangku tidak ada yang dirampas’.

Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’

‘Vasettha, sama halnya seperti seseorang yang menjadi budak, bukan tuan bagi dirinya sendiri, tunduk kepada orang lain, tidak dapat pergi ke mana ia suka; dan setelah beberapa waktu ia dibebaskan dari perbudakan itu, menjadi tuan bagi dirinya sendiri, tidak tunduk kepada orang lain, seorang yang bebas pergi ke mana ia suka. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu aku seorang budak, bukan tuan bagi diriku sendiri, tunduk kepada orang lain, tidak dapat pergi ke mana aku suka; dan sekarang aku telah bebas dari perbudakan, menjadi tuan bagi diriku sendiri, tidak tunduk kepada orang lain, seorang yang bebas, bebas ke mana aku suka’.

Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

‘Vasettha, sama halnya seperti seorang yang dengan membawa kekayaan dan barang-barang, melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tidak terdapat makanan melainkan banyak bahaya; dan setelah beberapa waktu ia berhasil keluar dari padang pasir itu, selamat tiba di perbatasan desanya, suatu tempat yang aman, tidak ada bahaya. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu, dengan membawa kekayaan dan barang-barang, aku melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tidak terdapat makanan melainkan banyak bahaya; dan sekarang aku telah berhasil keluar dari padang pasir itu, selamat tiba di perbatasan desaku, suatu tempat yang aman, tidak ada bahaya’.

Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

‘Vasettha, demikianlah selama lima rintangan-batin (panca nivarana) belum disingkirkan, seorang bhikkhu merasakan dirinya seperti orang yang berhutang, terserang penyakit, dipenjara, menjadi budak, melakukan perjalanan di padang pasir. Vasettha, tetapi setelah lima rintangan batin itu disingkirkan, maka seorang bhikkhu merasa dirinya seperti orang yang telah bebas dari hutang, bebas dari penyakit, keluar dari penjara, bebas dari perbudakan, sampai di tempat yang aman.

‘Apabila ia menyadari bahwa lima rintangan batin itu telah disingkirkan dari dalam dirinya, maka timbullah kegembiraan, karena gembira maka timbullah kegiuran (piti), karena batin tergiur, maka seluruh tubuh menjadi nyaman, maka ia merasa bahagia, karena bahagia, maka pikirannya menjadi terpusat.

Kemudian, setelah terpisah dari nafsu-nafsu, jauh dari kecenderungan-kecenderungan tidak baik, maka ia masuk dan berdiam dalam Jhana pertama; suatu keadaan batin yang tergiur dan bahagia (piti sukha), yang timbul dari kebebasan, yang masih disertai dengan pengarahan pikiran pada obyek (vitakka) dan mempertahankan pikiran pada obyek (vicara). Seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaan tergiur dan bahagia, yang timbul dari kebebasan; dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia itu, yang timbul dari kebebasan (viveka).

‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh cinta kasih (metta) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan keseluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan cinta kasihnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.

‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara tanpa kesulitan di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh cinta-kasih’.

‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

  • “Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh cinta kasih (metta) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan cinta kasihnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’
  • ‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh kasih-sayang (karuna) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan kasih-sayangnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.
  • ‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh empati (mudita) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan empatinya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.
  • ‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh keseimbangan batin (upekkha) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan keseimbangan batinnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.


‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara – tanpa kesulitan – di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh kasih sayang’.

‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara – tanpa kesulitan – di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh empati’.

‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara – tanpa kesulitan – di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh keseimbangan batin’.

‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, akankah bhikkhu yang hidup seperti itu memiliki istri dan kekayaan atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Ia tidak akan, Gotama’

Sang Bhagava: ‘Apakah ia akan dipenuhi kemarahan atau bebas dari kemarahan?’

Pemuda Vasettha: ‘Ia akan bebas dari kemarahan, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah ia akan diliputi kebencian atau bebas dari kebencian?’

Pemuda Vasettha: ‘Ia bebas dari kebencian, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah pikirannya akan ternoda atau suci?’

Pemuda Vasettha: ‘Pikirannya akan suci, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah ia akan menguasai dirinya atau tidak akan?’

Pemuda Vasettha: ‘Ia akan menguasai dirinya, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan bahwa bhikkhu itu bebas dari kehidupan berumah tangga dan keduniawian, dan Brahma bebas dari kehidupan berumah tangga dan keduniawian. Apakah ada persesuaian atau persamaan antara bhikkhu dan Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Ya, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Vasettha bila demikian, bhikkhu yang bebas dari kehidupan berumah tangga dan keduniawian bilamana meninggal dunia akan bersatu dengan Brahma, karena ada persamaannya – keadaan seperti mungkin terjadi’.

‘Vasettha, seperti yang anda katakan bahwa bhikkhu adalah bebas dari kemarahan, bebas dari kebencian, pikirannya suci dan menguasai dirinya; dan Brahma adalah bebas dari kemarahan, bebas dari kebencian, suci dan menguasai dirinya.

Vasettha, dengan demikian sesungguhnya bhikkhu yang bebas dari kemarahan. Bebas dari kebencian, pikiran suci dan dapat menguasai dirinya, bila ia meninggal dunia, ia dapat bersatu dengan Brahma, yang ada persamaannya – keadaan seperti ini mungkin terjadi’.

Setelah beliau berkata begitu, kemudian pemuda Brahmana Vasettha dan Bharadvaja berkata kepada Bhagava: ‘Mengagumkan kata-kata yang diucapkan Gotama. Menakjubkan! Bagaikan orang yang menegakkan benda yang tergeletak, atau menemukan apa yang tersembunyi, atau menunjukkan jalan yang benar bagi mereka yang tersesat, atau menerangi tempat yang gelap sehingga orang yang mempunyai mata dapat melihat benda; – begitu pula, Gotama telah membabarkan dhamma kepada kami dalam banyak cara..[..]

    Note:
    Kisah bentuk lain yang hampir serupa dapat dilihat di Canki Sutta

***

Sebagai penutup artikel, berikut adalah kisah sekumpulan orang buta sejak lahir yang berusaha menjelaskan bentuk gajah.

Pada jaman Sang Buddha, terdapat sejumlah pertapa dan brahmana, pengembara dari berbagai macam aliran, yang hidup di sekitar Savatthi [Sravasti, Sekarang Uttar Pradesh, India Utara dengan batas utara adalah Nepal]. Mereka mempunyai berbagai pandangan, berbagai kepercayaan, berbagai pendapat, dan mereka menggantungkan dukungan mereka dari berbagai pandangan mereka itu.

Beberapa brahmana dan pertapa yang memastikan dan berpegang pada pandangan ini: “Dunia ini kekal; hanya ini yang benar, dan (pandangan) lainnya salah.”

Beberapa pertapa dan brahmana yang bersikeras: “Dunia ini tidak kekal; hanya ini yang benar, (pandangan) lainnya salah.”

Beberapa yang bersikeras:

“Dunia ini terbatas;….. Dunia ini tidak terbatas; ….. Jiwa kehidupan dan tubuh itu sama; ….. Jiwa kehidupan dan tubuh itu berbeda; …. Sang Tathagata ada di luar jangkauan kematian; ….. Sang Tathagata ada tetapi tidak berada di luar jangkauan kematian; ….. Sang Tathagata ada dan sekaligus tidak ada di luar jangkauan kematian; ….. Sang Tathagata bukannya ada dan bukannya tidak ada di luar jangkauan kematian; hanya ini yang benar, dan (pandangan) lainnya salah.”

Dan mereka, hidup bertengkar, penuh perselisihan dan penuh percekcokkan, saling menyakiti dengan ucapan-ucapan kasar, dengan mengatakan:

“Dhamma [Dharma = Ajaran, Kebenaran] adalah seperti ini, Dhamma tidak seperti itu! Dhamma tidak seperti ini, Dhamma seperti itu!”

    Note:

    • “tathāgata” adalah julukan lain dari Sang Buddha (selain dari: sang Bhagava, Jina, dll). berasal dari kata: “tathā” (bahkan, juga, kemudian) + “gata” (pergi, sampai) atau juga “tatha” (benar, nyata) + “a” (tidak) + “gata” (pergi, sampai) yang arti literalnya adalah “Ia yang sudah sampai” atau “Ia yang nyata tidak (lagi) pergi/sampai (tumimbal lahir)”
    • Tentang ‘Jiwa’, Mahavira, Tīrthaṇkara ke-24, [Jina, julukan seorang pemenang/yang tercerahkan dalam Jainisme] berpandangan bahwa:

      “Jiwa adalah permanen dan juga tidak permanen. Dari sudut pandang substansinya maka Jiwa adalah permanen. Dari sudut pandang perubahannya bergantung dari kelahiran, lapuk/tua dan kehancuran maka jiwa adalah tidak permanen” [Vyākhyāprajסapti/Bhagvatistra, 7:58–59]

Berkenaan dengan hal tersebut di atas, Sang Buddha yang ketika itu berada di Hutan Jeta, di Vihara Anathapindika, di hadapan para Bikkhu menceritakan satu kisah:

“Dulu, O, bhikkhu, ada seorang raja di Savatthi ini juga memerintahkan seorang pengawal: ‘Pengawal yang baik, bawalah semua orang di Savatthi yang buta dari lahir.’

“Ya, Yang Mulia,” jawab laki-laki itu, dan sesudah menahan semua orang buta di Savatthi, dia mendekati Raja dan berkata, ‘Semua orang buta di Savatthi sudah dikumpulkan, Yang Mulia.'”

“Sekarang, tunjukkanlah pada orang-orang buta itu seekor gajah.”

“Baiklah, Yang Mulia,” laki-laki itu menjawab Sang Raja, dan dia membawa seekor gajah ke hadapan orang-orang buta itu, dengan mengatakan, ‘Hai, orang-orang buta, ini adalah seekor gajah.’

“Pada beberapa orang buta, laki-laki itu memberikan kepala Sang Gajah, dan mengatakan, “Ini adalah seekor gajah.”

Kepada beberapa yang lain dia menghadapkan telinga gajah itu dan mengatakan, “Ini adalah seekor gajah.”

Bagi beberapa dia menghadapkan gadingnya ….. belalainya ….. tubuhnya ….. kakinya …..bagian belakangnya ….. ekornya …… rambut di ujung ekornya, dan mengatakan, “Ini adalah seekor gajah.”

“Kemudian, O, bhikkhu, sesudah menunjukkan gajah kepada orang-orang buta, laki-laki itu menghadap Sang Raja dan berkata, ‘Orang-orang buta itu sudah mengenali gajah, Yang Mulia. Lakukanlah sekarang apa yang Baginda pikir cocok.’

Kemudian Raja mendekati orang-orang buta itu dan berkata, ‘Apakah kalian sudah mengenali gajah?’

“Ya Baginda, kami sudah mengenal gajah.”

“Beritahukan padaku, hai orang-orang buta, seperti apakah gajah itu?”

Orang-orang buta,

  • yang sudah memegang kepala gajah menjawab, ‘Baginda, seekor gajah adalah seperti tempayan air.’
  • yang sudah memegang telinga gajah menjawab, ‘Seekor gajah, baginda, adalah persis seperti keranjang penampi.’
  • yang memegang gading gajah menjawab, ‘Baginda, seekor gajah adalah seperti mata bajak;
  • yang sudah memegang belalainya menjawab, ‘Seekor gajah, baginda, adalah seperti tiang bajak.’
  • yang sudah memegang tubuhnya menjawab,’Seekor gajah, baginda, adalah seperti ruangan penyimpan.’
  • yang sudah memegang kakinya menjawab, ‘Seekor gajah, baginda, seperti sebuah tiang.’
  • yang sudah memegang bagian belakangnya menjawab,’Seekor gajah, baginda, adalah seperti lesung.’
  • yang sudah memegang ekornya menjawab, ‘Baginda, seekor gajah adalah seperti sebuah alat penumbuk.’
  • yang sudah memegang rambut di ujung ekornya menjawab, ‘Seekor gajah, baginda, adalah seperti sebuah sapu.’

“Dengan mengatakan, ‘Seekor gajah adalah seperti ini, seekor gajah tidak seperti itu! Seekor gajah tidak seperti ini, seekor gajah adalah seperti itu!’

Mereka saling berkelahi dengan tinju-tinju mereka. Dan raja itu sangat gembira (melihat pemandangan itu).”

“Demikian pula, O, bhikkhu, para pengembara dari berbagai aliran itu juga buta, tidak melihat ….. dengan mengatakan:

‘Dhamma adalah seperti ini! …. Dhamma adalah seperti itu!’ “

Kemudian, Sang Bhagava mengungkapkan kotbah inspirasi ini:

Beberapa pertapa dan brahmana, demikian mereka disebut, Sangat terikat pada pandangan-pandangan mereka sendiri;
Orang yang hanya melihat hal-hal dari satu sisi Terlibat pertengkaran dan perselisihan

    Note:
    Sumber kisah di atas: Udana 6.4.
    Versi Jainisme, di kitab Tattvarthaslokavatika, Vidyanandi [Abad ke-9 M] dan Kitab Syādvādamanjari, Ācārya Mallisena [Abad ke-13 M], yaitu seorang bijak dengan 6 orang buta, tentang anekāntavāda [variasi kendaraan] dan syādvāda [kendaraan dengan syarat]: Kebenaran dan kenyataan punya banyak sudut pandang, tidak ada satu sudut pandangpun yang benar-benar secara utuh dapat menyatakan kebenaran. Kenyataan adalah sesuatu yang kompleks, tidak dapat dinyatakan dalam satu ekspresi tunggal untuk menggambarkan realitas seutuhnya sehingga terminologi “syāt” [mungkin/bisa jadi] seharusnya dipergunakan mendahului suatu pandangan yang memiliki suatu kondisi tertentu. Seorang semi biarawati Jainisme yaitu [Samani] Charitra Pragya, mengatakan, “Bahkan seorang Tirthaṇkara yang memiliki pengetahuan tak terbatas-pun, tidak dapat secara utuh mengekspresikan realita karena terbatasnya bahasa yang merupakan ciptaan manusia

    Versi Hindu, oleh Ramakrishna Paramahamsa [abad ke-18]. Versi Islam, oleh para sufi Persia abad ke-11/12 M, yaitu Hakim Abul-Majd Majdūd ibn Ādam Sanā’ī Ghaznavi dan di abad ke-13 M oleh Jalāl ad-Dīn Muhammad Rūmī.

Dunia ini dipenuhi orang-orang buta ajaran namun berlagak melek dan menjadikan pengikutnya percaya membuta.


RAHWANA Lebih Patut di-IDOLA-kan Daripada VALMIKI, Sang Pengarang Ramayana!


Jika anda membaca atau menonton kisah Ramayana, maka anda akan temukan sosok Rama, seorang ksatria utama, berbudi, super tampan dan pilih tanding beristrikan wanita setia super cantik bernama Sita yang berhasil diselamatkan dari genggaman Raja raksasa super jahat lagi kejam bernama Rahwana.



Percaya atau tidak, ternyata kata ‘Raksasa’ dari tempat kelahiran epik ini, memiliki arti yang justru sangat berlawanan dengan arti yang umum ketahui!

Raksasa, berasal dari kata “raksha” yang artinya melindungi/menjaga/memelihara [Vishnu Purana, Buku 1 bab V]. Di India, ada satu festival yang bernama ‘Rakshabandhan’ yang dirayakan di bulan Purnama ke-10 setiap tahunnya. Raksha adalah jiwa dari festival ini di mana seorang wanita [bisa sedarah, saudara angkat, Istri] mengikatkan seutas benang [Rakhi] di pergelangan tangan seorang lelaki [bisa sedarah, saudara angkat, teman baik atau suami] dan memintanya untuk melindunginya. Sang lelaki kemudian membalas dengan memberikan hadiah dan memperbaharui kembali sumpahnya untuk melindungi wanita itu.

Tradisi indah ini mempunyai sejarah yang panjang di India. Salah satu kisah menarik yang ada di sejarah adalah kisah Alexander, seorang Raja Yunani yang beristri seorang wanita India bernama Roxana (Roshanak).

Pada tahun 326 SM, ketika Alexander menginvasi India, Ia berperang dengan raja Puru [sekitar Punjab, sekarang] bernama Porus di sungai Hydapes. Porus dikenal sangat menghormati tradisi rakhi dan Roxana-pun mengetahuinya. Sehingga ketika Porus berhadapan dengan Alexander di suatu medan laga, melihat Rakhi terlilit di pergelangan tangannya, ini membuatnya menahan diri untuk tidak berhadapan langsung dengan Alexander.

Walaupun pada akhirnya raja Porus kalah, namun keberaniannya, kepiawaian seni perangnya dan sikapnya membuat kesan sangat mendalam di hati Alexander. Porus yang ketika itu terluka di bahu, ditanya Alexander bagaimana ia ingin diperlakukan, Porus menjawab, “Oh Alexander, perlakukan aku sebagai seorang raja”. Alexander menghormatinya dan mempertahankan Porus untuk tetap memerintah di Hydaspes atas namanya. [Rogers, Guy (2004). Alexander: The Ambiguity of Greatness. New York: Random House.p.200]

Menarik, Bukan?!

Tahan dulu nafas anda! Masih banyak fakta mengejutkan yang akan anda temukan dan membuat anda mulai berpikir ulang mengenai apa sih “kebenaran” itu?!




Percaya atau tidak, ternyata variasi versi kisah Ramayana jumlahnya ratusan bahkan ribuan di seluruh dunianya!

Untuk menggambarkan betapa banyaknya versi Ramayana itu, mari kita ambil hasil penelitian Fr. Camille Bulke. Jumlah suku yang ada di seluruh India adalah 645 Suku, populasi penduduk keseluruhan suku itu hanyalah 8% dari total populasi penduduk India. Fr. Camille Bulke meneliti variasi kisah Ramayana terutama di 2 (dua) suku di India yaitu Birhors [populasi 10.000 orang] dan Mundas [populasi 2 juta orang]. Jumlah variasi Ramayana yang ditemukannya tidak kurang dari 107 versi berbeda! [The Dangi Ramakatha: An Epic acculturated?, Aruna Ravikant Joshi, Indian Folklore Research Journal, Vol.3, No.6, 2006: 13–37], dari ribuan versi epik tersebut, 99%-nya menggambarkan tokoh Rama, Sita dan Rahwana seperti yang saya sebutkan di atas. sample link kisah ramayana yang dikenal luas di masyarakat:






Percaya atau tidak, Ternyata variasi kelahiran Sita pun beragam!

Penelitian yang dilakukan S. SINGARAVELU, untuk 17 versi Ramayana, kelahiran Sita dikisahkan sebagai berikut:

  1. 12 versi menyatakan Sita adalah reinkarnasi dari:
    • Dewi [Laksmi, istri dewa Visnu; Umi, isri dewa Siwa; Istri dewa Indra]
    • Petapa wanita yang bersumpah membalas Rahwana dikelahiran berikutnya karena tapanya diganggu
  2. Beberapa versi Hindu menyatakan Sita lahir di sebuah bajak petani, ada yang mengatakan dari tanah. Ini semua berhubungan dengan legenda dewi Bumi atau dewi Agrikultur jaman Vedic
  3. Sita adalah anak Raja janaka
  4. Sita adalah anak yang diasuh raja Janaka atau seorang pertapa
  5. 13 versi menyatakan Sita adalah anak Rahwana. Dikisahkan bahwa para peramal meramalkan bahwa Sita akan menyebabkan kematian Rahwana sehingga Sita dibuang, Ia ditemukan dan diasuh oleh raja atau pertapa. Variasi tempat/cara Sita dibuang: dikubur di tanah [dalam versi Jainisme] atau dihanyutkan ke sungai/laut [versi ini kebanyakan berasal dari Asia Tenggara]
  6. Sita adalah anak Dasaratha [Sehingga Sita adalah adik dari Rama dan Laksmana]. Versi Laos [Luang Prabang] menyatakan Sita adalah anak Istri ke-4 Dasaratha, Peramal menyatakan bahwa Sita kelak akan membawa bencana sehingga Ia dihanyutkan ke laut, ditemukan dan diangkat anak oleh seorang Rsi/Pertapa.
  7. Dalam hikayat Sri Rama, Sita adalah anak raja Dasaratha setelah meniduri istri Rahwana [Mandodari], Sita kemudian dibuang ke laut dan diangkat anak oleh Raja Maharsi Kali, Jadi di versi ini, Sita adaah adik tiri Rama dan anak tiri Rahvana!


[Sita’s Birth and Parentage in the Rama Story, S. SINGARAVELU, University of Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia]




Percaya atau Tidak, Ternyata Rahwana itu orang yang Berbudi Baik dan Terpelajar?!

Pada literatur aliran Jainism setidaknya terdapat 3 kitab yang menyebutkan kisah Rama, Sita dan Ravana. Kisah Ramayana yang paling tua adalah Paumacariya (dalam bahasa Prakrit, untuk Sanskritnya adalah: Padma Carita) oleh Vimala Suri. Penulisnya menyatakan kisah ini ditulis 530 tahun setelah Mahavira Nirvana. Kitab ini berada di periode tahun yang sama dengan Ramayana versi Valmiki, yaitu di sekitar abad ke-1 SM [beberapa sumber mengatakan di abad ke-1 M s/d 3 M]. Paumacariya dibuat dalam rangka “menanggapi” apa yang tercantum diversi Valmiki. Kitab ini dimulai dengan rangkaian set pertanyaan yang ada dibenak Raja Srenika (dari Magadha):

“Bagaimana mungkin monyet-monyet itu bisa melumatkan ksatriya raksasa maha kuat seperti Rahvana? Bagaimana mungkin masyarakat terhormat pengikut Jaina seperti Ravana digambarkan makan daging dan minum darah? Bagaimana mungkin Kumbakarna tidur selama 6 bulan dalam setahunnya dan tidak terbangun bahkan ketika minyak panas dituangkan pada keretanya, gajah-gajah menginjak-injak tubuhnya dan terompet perang ditiupkan di sekeliling tubuhnya? Mereka jelas telah berdusta dan memutarbalikan alasan”

Dengan pertanyaan tersebut sang Raja kemudian menemui Rsi Gautama (Indrabhuti Gautama, murid utama Tirthankara ke-24, MahaVira) agar beliau berkenan menceritakan kisah sebenarnya. Gautama kemudian mengatakan, “Aku ceritakan padamu apa yang orang bijak Jain katakan. Rahvana itu bukanlah Iblis, Ia juga bukan kanibal dan pemakan daging. Ini adalah pemikiran keliru para penyair yang begitu bodohnya menceritakan sebuah kebohongan”

Sebelum melanjutkan kisah ini, ada beberapa keterangan yang perlu diketahui. Menurut tradisi Jainisme terdapat 63 para terhormat dan terkemuka [Triṣaṣṭi-śalākā-puruṣa], yang terdiri dari: 24 Jina (Tirthankara: Seorang yang sudah padam/mencapai Moksa/Nirvana), 12 Cakravartin (Raja Dunia) dan 27 (9 dari 3 pasang): Bala-Dewa (yang tertua), Narayana/Vasu-deva (Lahir hanya untuk membunuh pratiVasudeva)  dan Prati-narayana/Prati-Vasu-deva (lawannya Vasudeva, selalu terbunuh oleh Vasudeva). Dalam Ramayana, 3 pasang Baladeva-Vasudeva-PratiVasudeva adalah Rama-Laksmana-Ravana. Sedangkan di Mahabharata Jainism: Balarama-Krishna-Jarasanda.

Para Raksa merupakan masyarakat berbudaya tinggi yang berasal dari ras Vidyadhara dan merupakan pemuja Jina. para Vanara dalam tradisi ini merupakan mahluk setengah manusia namun memuja Jina.

Tradisi Hindu menggambarkan para Raksa adalah Iblis dan tidak religius hanya karena menentang tradisi persembahan binatang yang dilakukan oleh para Rsi Hindu. Di saat bersamaan merekapun sudah terkalahkan dalam populeritas cerita, sehingga cap Iblis melekat turun temurun lewat tangan para penyair. F. E. Pargiter juga menyatakan bahwa para pengikut Jain dianggap sebagai asura [Ancient Indian Historical Tradition, P. 291]. 


Dalam versi hindu asura adalah mahluk jahat.

Vimala suri mulai kisah ini tidak dari lahirnya Rama namun mulai dari Rahvana/Ravana. Ravana karena merupakan satu diantara 63 pemimpin besar [salakapurusa] menurut tradisi Jaina maka merupakan seorang terhormat, berpendidikan dan mempunyai kesaktian dan senjata yang berasal dari Tapa yang keras. Ia adalah murid dari seorang guru Jain. Ia pernah bersumpah bahwa ia tidak akan memperdaya/memaksa/menyentuh perempuan manapun.

Pada suatu ketika, Ia berperang dengan satu negara yang ternyata tidak mampu ditaklukannya. Ratu dari kerajaan itu jatuh cinta pada Rahvana dan mengirimkan pelayannya sebagai kurir. Rahvana mengeksploitasi pengetahuan ratu itu tentang negaranya dan mengalahkan Raja kerajaan itu. Segera setelah menaklukan kerajaan itu. Ia kembalikan kerajaan kepada rajanya kembali dan menyarankan pada sang ratu untuk kembali pada suaminya.

Belakangan, Ravana terkejut ketika para peramal memberitahu bahwa ia akan menemui ajal melalui seorang wanita bernama Sita, anak dari raja Janaka. kitab Jainism lainnya yaitu Ramopakhyana (Mahabharatanya Jainism) menyatakan bahwa Sita adalah anak raja Janaka namun di versi Sanghadasa (Pengarang lain Ramayana aliran Jainisme, karya abad ke-5 Masehi), Sita adalah anak Ravana yang kemudian diadopsi raja Janaka. [Kulkarni 1952-1953: 129]

Walaupun mengetahui ramalan itu, setelah Ravana bertemu Sita, Ia jatuh hati [jika kita ambil versi bahwa Sita adalah anak Rahvana, maka karena Ravana tidak tahu Sita adalah anaknya, maka bisa jadi Ia sendiri tidak mampu menyebutkan alasan mengapa Ia jatuh hati], Ravana kemudian menculik Sita, mencoba mengambil hatinya namun sia-sia, Ia pun melihat dirinya jatuh dan akhirnya wafat di medan perang.

Wafatnya Rahvana bukan oleh Rama melainkan oleh Laksmana!

Rama di kitab ini digambarkan sebagai seorang yang mampu menaklukan dirinya sendiri, berpantang membunuh mahluk hidup sebagaimana yang dianjurkan dalam ajaran Jainism. Kehidupan Rama di saat itu merupakan kelahiran terakhirnya di dunia.

Laksmana dan Ravana (Vasudeva dan PratiVasudeva) dalam kisah ini adalah reinkarnasi ke-8 pasangan ini. Rahvana menyadari hal ini sesaat dipertempurannya melawan Laksmana, yaitu ketika senjata cakra yang ditujukan kepada Laksmana tidak dapat melukainya. Rahvana menyadari bahwa hidupnya segera berakhir sehingga ia menyerahkan dirinya pada Laksmana yang kemudian memenggalnya. [Sumber: Antiquity of jain dan Many Ramayana’s atau juga di: The Culture Heritage of India]




Percaya atau tidak, ternyata ada kisah RAHWANA tanpa adanya sosok Rama, sita dan Hanuman?!

Rahwana, di kitab Lankavatara Sutra, bersama dengan para penduduk Lanka [Sri lanka], dikisahkan sebagai pemeluk Buddhis Mahayana yang saleh. Rahwana adalah pengikut Buddha sebelumnya, yaitu Buddha Kassapa. Berikut kutipan sebagian ringkasan bab pertama, Lankavatara Sutra sanskrit versi Daisetz Teitaro Suzuki:

Demikian yang saya dengar.
Yang terberkati [Buddha Gautama] bersama sekumpulan besar Biksu, Raja Dewa Indra [Sakka], Brahma dan sejumlah besar Bodhisatva dari berbagai tanah Buddha, suatu ketika datang dan tinggal di tempat raja naga laut, yang berada di puncak Gunung Malaya.

Buddha dari atas puncak memandang Lanka dan berkata, “Oleh para Buddha sebelumnya, kebenaran ini diujarkan di puncak gunung Malaya. Aku, juga kini demi Rahwana, penguasa para Yaksa menguncarkan kebenaran ini”

[Tergugah] karena kekuatan spiritual Buddha, dari kejauhan, Rahwana, raja para Raksasa mendengarnya. Ketika Sang Buddha berhasil dilihatnya, Rahwana menangis dengan gembira, kemudian berkata, “Aku akan pergi dan meminta Yang diberkati untuk memasuki Srilanka yang akan memberikan berkat keberuntungan bagi banyak Dewa dan juga Manusia”.

Kemudian, Rahwana, raja para Rakshasa, bersama pengiringnya, mengendarai kereta samawi [ajaib]-nya, menuju ke tempat Buddha berada, turun dari kendaraannya, bersama pengiringnya berjalan mengelilingi Sang Buddha 3 [tiga] kali dari arah kiri ke kanan, memainkan instrumen musik, Rahwana mempersembahkan nyanyiannya,

    “Para Buddha masa lalu pernah menetap di Lanka, yang kemudian ditemani oleh ‘anak-anak’ Buddha dari berbagai bentuk. Tuanku, tunjukkanlah kebenaran tertinggi dan para yaksha dari berbagai macam bentuk yang beruntung akan mendengarkan

    ..Ia kemudian memberi salam pada Sang Buddha dan memperkenalkan dirinya, “Aku bernama Rahwana, raja Raksasa berkepala 10, semoga Yang Mulia bermurah hati menerimaku dan seluruh penduduk Lanka..Di lanka ini sebagaimana para Buddha terdahulu, Ia menguncarkan ajaran, semoga Yang Mulia berkenan pula membabarkan Dharma

    ..Lankavatara Sutra yang diujarkan para Buddha sebelumnya..Ku kumpulkan dari para Buddha sebelumnya yang mengujarkan sutra ini..begitupula dari Yang Mulia..

    ..Yang mulia, di sinilah kami para Yaksha yang bebas dari keserakahan, merefleksikan kesadaran diri, memuja para Buddha sebelumnya, mereka adalah penganut Mahayana dan rajin mendisiplikan diri satu sama lainnya..Begitu banyak para Yaksha muda, pria dan wanita yang berkeinginan mendengarkan Mahayana, mohon datanglah, Yang diberkati, Yang menguasai pengajaran, datanglah ke Lanka, di gunung Malaya.

    Para Raksasa, dengan Kumbhakarna sebagai kepala mereka yang tinggal dikota, penganut Mahayana, akan mendengar kebenaran utama ini. Mereka juga memuja Buddha sebelumnya dan melakukannya tiap hari dengan cara yang sama…Aku menyerahkan diriku sepenuhnya melayani Buddha dan para pengikutnya, tidak ada dariku yang tidak kuserahkan, Oh Muni Yang Agung, berbelaskasihlah padaku”


Setelah mendengarkan Rahwana berbicara, Sang Buddha penguasa ke tiga dunia, berkata, “Raja para Yaksha, gunung ini telah dikunjungi para Buddha terdahulu, berbelaskasih padamu, mereka membabarkan Dharma. Buddha di masa depanpun akan berlaku sama di gunung ini. Di sini, para Yogi berdiri menyatakan kebenarannya. Raja para Yakksha, engkau mendapatkan belas kasih para Buddha dan juga Aku”

Sang Buddha menerima permohonan Raja Rahwana dan menuju kota. Sesampainya di kota, lagi Sang Buddha diberi penghormatan oleh sekumpulan Yaksa, dengan berbagai macam cara. Para Buddha bersama pengikutnya menerima persembahan itu dan membabarkan kebenaran tertinggi.[Lankavatara Sutra]

Dari Lankavatara Sutra versi lainnya yaitu Gunabhadra, terdapat catatan menarik, yaitu Buddha Gautama datang ke Lanka 3 (tiga) kali banyaknya:

  • Sembilan bulan setelah mencapai penerangan sempurna, Ia melihat di satu pulau ada beberapa Yaksa yang meresahkan penduduk, Kemudian melalui kekuatan supra naturalnya, Ia menuju pulau tersebut, memantrai beberapa yaksa [arti kata Yaksa adalah sesuatu yang cepat] dan Raksasa [jika Yaksa marah, Ia menjadi mahluk pemakan daging dan penghisap darah  atau raksasa, arti kata raksasa adalah penjaga], memindahkannya ke pulau Giri di lautan yang jauh karena mengkhawatirkan para penduduk yang merana karena gangguan mereka. Tempat di mana Buddha sampai menjejakan kakiNya, kemudian dikenal dengan nama ADAM’S PEAK [Dianggap sebagai tempat suci 3 agama: Buddha Srilanka, sivaisme, Islam]
  • 5 Tahun setelah pencapaian penerangan sempurna, Beliau menempatkan beberapa ular [Naga] dan mendamaikan mereka
  • Tiga tahun kemudian, Raja Naga Maniakkika, mengundang Buddha bersama 500 murid-Nya ke Hutan Maha Megha dan meramalkan bahwa dikemudian hari akan ada yang menanam pohon Bodhi dan para pengikut jalan Buddha di negeri ini


Kisah tersebut di atas adalah berdasarkan versi lainnya, Dipavamsa, yaitu saat penyebaran agama Buddha ke Sri Lanka pada jaman raja Devanmpiya Tissa [241-207 SM]. Sebagai balasan hadiah dari Lanka, raja Asoka mengirim kurir bersama hadiah dan pesan bahwa raja Asoka telah berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha.

Anak raja Asoka, yaitu Mahinda yang telah menjadi seorang Biksu dengan masa vasa lebih dari 20 tahun [Mahatera] datang ke Lanka. Raja Tissa mempunyai komplek Kuil besar [Maha vihara] di pinggiran ibu kota, bernama ANURADHAPURA, yang kemudian menjadi pusat pengajaran di bawah Mahinda. Mahinda mengirim kurir pada raja Asoka dan membawa kembali sebagian kecil relik Buddha [bagian tubuh dari Sang Buddha, setelah Prosesi pembakaran mayat beliau, setelah Parinibana] dan dibuat stupa untuk menghormatinya. Adik perempuan Mahinda, yaitu Sanghamitta datang ke Lanka membawa bibit Pohon Bodhi dan menanamnya di hutan Mahamegha. [Wisdom quartely]




Percaya atau tidak, ternyata Rahwana merupakan idola penduduk Srilanka?!

Lebih dari 300 desa di Srilanka [Sinhale] menamakan desanya yang berhubungan dengan era Raja Rahwana. Di sejarah Sinhala, ditemukan 11 nama Rahwana, diantaranya adalah Nala Ravana, Manu ravana, Punu ravana dan DasaMuka Rahwana. Banyak variasi maksud dari kata ‘DasaMuka’, diantaranya:

  1. Kepalanya memang benar berjumlah sepuluh, seperti disampaikan dalam epik versi Valmiki dan juga di ratusan bahkan ribuan varian versi lainnya.
  2. Karena menguasai 4 Veda dan 6 Upanisad
  3. Karena sewaktu bayi lehernya diberi hiasan permata sehingga tampak seolah-olah berkepala 10
  4. Karena Ia adalah raja dari 10 Negeri
  5. Karena Ia mempunyai 10 talenta, diantaranya, Musik, obat-obatan, Mesin, Pertanian, Arsitek, Bangunan, jagoan bela diri, astrologi, Upacara keagamaan, dan banyak lagi


Orang Sri Lanka percaya bahwa Rahwana lahir ribuan tahun sebelum masehi, jauh sebelum jaman Vedic. Rahwana [Ra+vana], Ra arti bebasnya adalah Surya; Vana = generasi. Jadi Ia berasal dari dinasti Surya dan juga suku Rakshasa Hela [suku kuno di sinhala]. Ia merupakan jagoan bela diri Angampora [Ange=Tubuh, Pora=perang]

Dulu Sri Lanka disebut “Siv Hela” atau “Hela-Dwipa” atau “Hela-Ka”, artinya tanah orang-orang Hela. Suku Hela terdiri dari 4 suku [Siv Hela] yang berkuasa di berbagai belahan tempat itu, yang kemudian dinamakan: Naga, Asura, Yaksha dan Raksha. Siv Hela belakangan menjadi Sinhala. Hela-Ka, lambat laun berubah menjadi Helankan dan akhirnya menjadi Srilanka.

Ratu terakhir kaum Hela [Heladwipa/Heladipa] adalah Kuweni yang kemudian dijadikan istri oleh Vijaya. Keberadan kaum Hela bisa jadi telah ada jutaan tahun yang lalu. Bukti terdekat adanya aktivitas manusia kuno di Lanka adalah berdasarkan Temuan archeologi di Bolangaoda, yang berusia sekurangnya 34.000 BP [Before Present, penyetaraan menjadi tahun sebelum Masehi dengan cara mengurangi angka itu dengan tahun 1950, yaitu tahun di mana era penanggalan radio karbon dimulai].

Kemudian, terdapat sebuah “Jembatan” purbakala sepanjang 30 Km yang menghubungkan antara India dan Srilanka. Nama jembatan itu berubah-ubah tergantung siapa penguasa India saat itu, yaitu pada:

  • Jaman setelah dinasti Maurya [200 SM – 300 M], dinamakan Dhanushkoti [Koti]
  • Jaman Purana India, dinamakan SETUKA
  • Jaman Islam menjajah India [Ghaznavid, Cahmana, kemudian Calukya, dan Cola, [975-1200 M],  dinamakan Setu Bandha; di jaman Khalji and Tughluq [1290- 1390 M], dinamakan Setu Bandha Ramesvaram
  • Peta yang disusun di Belanda pada tahun 1747, menamakan jembatan itu RamarCoil; Di tahun 1788, berdasarkan peta Mr. James Rennel, dinamakan Ramar Bridge, dan kemudian berubah menjadi Adam’s Bridge di tahun 1804 [sumber: Legend of Ram–Retold, Sanujit Ghose atau di Rama Sethu: Historic facts vs political fiction – II]

Dr. S Kalyanaraman, mengatakan bahwa Sethu dalam bahasa tamil adalah Jembatan di atas air yang dibuat manusia, dan dinamakan Setuband. Asiatic Society, 1799, merujuk pada jembatan yang patah di tiga tempat.

Pengacara Senior Fali S Nariman di Pengadilan tinggi, untuk kasus pembangunan kanal di dekatnya, mengatakan bahwa di Ramayana versi Kamban [Abad ke-9 s/d 12 M] dan Padma purana, dinyatakan setelah perang melawan Rahwana, jembatan itu di hancurkan Sri Rama menjadi beberapa bagian.

Dr Badrinarayanan, Seorang Geologist yang juga mantan Director of the Geological Survey of India dan mantan koordinator divisi survey, National Institute of Ocean Technology, di Chennai mengatakan bahwa Jembatan itu bukan jembatan alami, di lapisan atasnya merupakan buatan manusia.

Bukti bahwa jembatan itu dapat dilintasi manusia dengan berjalan kaki, setidaknya dapat dilihat dari:

  • Buku karangan Alexander Hamilton pada tahun 1744, “A New Account of the East Indies” di mana Ia berjalan kaki di atas jembatan menuju “Zeloan”
  • The Madras Presidency Administration Report 1903, merujuk pada jembatan yang pada glossary-nya tertulis: “Jembatan Adam dinamakan juga jembatan Rama. Benar-benar menyatukan Ceylon dan India hingga tahun 1480. Badai besar kemudian memecahkannya dan semakin parah oleh badai-badai lainnya sehingga para pejalan kaki tidak lagi melintasinya”.

Kenaikan ketinggian airlaut-lah yang menyebabkan jembatan ini terendam air secara perlahan.

Di kisah-kisah tradisi India lainnya, Rahvana [Dasamuka, yang juga berarti penguasa 10 Negeri] kerap melintasi dataran India bersama pasukannya. Begitu pula yang dilakukan para leluhur Rahwana [Mali, Sumali, Malyawan] bersama pasukannya memerangi Vishwath manu. Jadi nama jembatan, lebih cocok dinamakan “Jembatan Rahwana“.

Di atas sekali, telah kita singgung arti sebenarnya kata “rakshasa”. Kemudian, jika kita merujuk pada definisi rakshasa dan silsilah Rahwana dari kisah Ramayana versi valmiki dan kitab Hindu lainnya, maka tetaplah tidak pantas, jika Rahwana dinyatakan sebagai keturunan rakshasa. Mengapa? Berbicara tentang garis keturunan, maka:

  • Dari garis Ayah:
    Brahma [Tuhan Hindu] –> Pulastya [Brahmana, salah satu dari Saptaresi yang ada dipermulaan Mavantara ke-1 dari 14 mavantara sebelum Maha Pralaya (satu set umur kehidupan Brahma)] –> Visrava [Brahmana] –> Rahwana

    Berdasarkan silsilah ini, karena India menganut juga aturan garis Ayah, maka Rahwana adalah Brahmana turunan langsung Tuhan Hindu! Sehingga setiap Hindu yang tidak menghormati Rahvana, sama saja menghina tuhannya sendiri.

  • Dari garis Ibu (Valmiki Ramayana, Uttara Kanda, Canto IV, Sloka 28-31):
    Brahma [Tuhan Hindu]–>Heti [Asura/Raksa, yang diciptakan untuk melindungi jagad, penjaga Nehtar] kawin dengan Bhaya [adik dari dewa Yama]–>Vidyutkesa [1/2 Raksasa, 1/2 Dewa] kawin dengan Salakatankata [Ayahnya: dewa Surya, Ibunya: dewi Sandya]–>Sukesha [1/4 raksasa] kawin dengan Devavati [Devi kecantikan/kemudaan, 1/2 Gandarva (Bapaknya: Gramani, Kepala Gandarva, semacam Dewa yang jago musik)]–>Sumali [1/8 Raksasa, 1/4 Gandarva] kawin dengan Ketumati [1/2 Gandarva [Ibunya: Narmada berupa naga dan Ayahnya: Raja Ayodhya Purukutsa]–>Kaikasi [1/16 raksasa, 3/4 Gandarva, 1/4 orang]–>Rahvana [1/32 Raksasa]

    Dari pihak ibu saja, Ravana, lebih kental nuansa para Devanya ketimbang nuansa ke-raksasa-annya, bukan?!

Silsilah Rahwana menurut versi hindu malah telak menyatakan bahwa unsur Raksasa Rahwana sangatlah kecil [1/32-nya atau 3%-nya]. Unsur yang terbesar justru unsur Brahmana, Dewa, dan Gandrarvanya!

Mari kita buktikan bahwa perhitungan tersebut sangatlah cocok.

Dua kisah di bawah ini, akan terlihat kualitas derajat ke-brahmana-an dan juga derajat ke-dewa-an Rahwana. Kisah ini diambil dari legenda yang berkembang di masyarakat Tamil dan Srilanka:

  • Ketika perang akan di mulai, Rama memerlukan seorang pemimpin upacara untuk memberkati kemenangannya, tidak ada Brahmana yang ada saat itu [bahkan Valmikipun tidak ada]. Brahmana terdekat yang tersedia hanyalah Rahvana. Rama kemudian meminta bantuan Rahwana untuk memimpin upacara pemberkatan perang terhadap dirinya dan itupun disanggupi dan dilaksanakan Rahwana!
  • Ketika Rama mencari hari baik untuk memulai perang, Astrolog terdekat dan yang tersedia hanyalah Rahwana. Rama kemudian meminta bantuan Rahwana mencarikan hari baik untuk memerangi Rahwana! Dan, hal inipun diberikan Rahwana!

Rahwana adalah seorang ahli pengobatan Ayuveda! Ia yang menemukan Arka Shastra, yaitu kompilasi dosis tiap jenis herbal untuk pengobatan. Rahvana menemukan 4,444 penyakit dan sejumlah yang sama dari sebuah dedaunan untuk mengobatinya!

Dikisahkan pada suatu medan pertempuran, ketika pangeran dari India dan putera Rahwana, terluka parah. [Versi Valmiki: Yudha Kanda, Ch 19, 50]. Tabib yang ada dan mampu mengobati hanyalah tabib dari Srilanka*). Tabib itu pergi ke medan perang dan mengobati pangeran India tersebut.

Ini merupakan peranan palang merah di jaman sekarang!


Praktek mengobati dan menolong musuh di medan perang, justru diawali tabib Srilanka [Dr. Reghuvir Prasad Trivedi dalam “Ceylon Daily News”, 15 September 1985].

    *) Susena, di versi Tulsidas merupakan jenderal ahli pengobatan dan ahli bedah militer Srilanka yang diculik Hanuman [Lankananda hal 119, Tulasidasa’s Shri Ramacharitamanasa, R.C. Prasad, ed.2004], di versi Valmiki, Susena adalah Mertua Subali dan Sugriwa.

    Susena, berhasil memulihkan Rama [di versi Valmiki, ada juga bantuan dari Garuda], Laksmana dan pasukan kera yang terluka oleh Indrajit di hari pertamanya perang melawan Indrajit [Yudha kanda Valmiki, Ch.50-26].

    Rahvana mengirimkan dua orang ke medan perang untuk mengobati: Trisira [anak Rahvana] dan 5 pahlawan Alengka lainnya. Tubuh mereka dikatakan dilumuri bermacam tumbuhan dan aromatik untuk melindungi luka [Yudha kanda Valmiki, Ch 69-18].

    Karena diculik Hanuman, Susena awalnya enggan mengobati Laksmana. Ia merasa dipaksa dan juga karena itu musuh negaranya namun Rama menasehatinya [versi lainnya Hanuman yang menasehati] bahwa tabib tidak punya kawan maupun lawan.

    Di versi Ramayana Jainism: Paumacariya, bantuan berasal dari Visalya [anak Dronamegha, kakak dari Kaikeyi].


Munidasa Kumaratunga, seorang tokoh ultra nationalis dari pergerakan suku Hela, mengatakan bahwa karya Rahvana dibidang obat-obatan menghasilkan 7 Buku yang kemudian diterjemahkan ke dalam sankskit, yaitu: Nadi Pariksha, Arka Prakashata, Uddisa Chiktsaya, Oddiya Chikitsa, Kumara Tantraya dan Vatina Prakaranaya [The Sri Lankan Ayurvedic Tradition, P.L.N. de Silva – Former Chairman, Sri Lanka Ayurvedic Drugs Corporation; SriLankan Ramayana issue, dan Ayurveda – Ayurveda: Ageless Remedies]

Unsur Gandarva dari Ravana jelas terlihat ketika Ravana menciptakan alat musik gesek. Gandarva adalah mahluk surgawi yang jago memainkan alat musik. Alat yang ditemukannya berbentuk model Biola dan dinamakan Ravana Hatta hingga sekarang banyak digunakan di Rajashtan. Ukuran panjangnya 22 Inch, bisa mencapai 3 oktaf dan menggunakan 1 senar, dimainkan dengan busur. Biola panjangnya 5 1/4 Inch, 4 Senar dan dapat mencapai 3 oktaf. jika 5 1/4 X 4 = 22 Inch!

Ia juga menggubah srota mengenai Shiva yang kemudian dikenal dengan nama Shiva Tandhawa [Tarian Siva]. Tarian dan nyanyian ini diciptakan Ravana, dengan menggunakan beberapa bait dari Sama Veda




Percaya atau tidak, Ternyata ada kisah Ramayana tanpa Ravana, Hanuman, penculikan Sita dan Perang membebaskan Sita?!

Kisah di bawah ini merupakan versi yang sama sekali berbeda, Versi ini berasal dari Dastarata Jataka no. 461 [Jataka Vol.IV, Buku ke-11, EkaDasa Nipata, Disunting dan diterjemahkan oleh V. Fausboll, The Dasaratha Jātaka, Copenhagen, 1871. Asli Jataka dalam kanon pali hanya berupa syair saja. Kisahnya merupakan tambahan belakangan dari sekurangnya abad ke-3 SM]

Kisah ini diceritakan oleh Sang Buddha Gautama ketika berada di Jetavana tentang seorang tuan tanah yang ayahnya meninggal. Di saat ayahnya meninggal, laki-laki ini diliputi oleh kesedihan; tidak melakukan kewajibannya, hanya berpasrah diri dalam kesedihannya. Pada suatu fajar, Sang Guru menerawang keadaan manusia dan mengetahui bahwa laki-laki ini sudah waktunya mencapai tingkat kesucian sotapanna (tingkat kesucian ke-1 dalam Buddhism, yaitu mengenal ketidakkekalan). Keesokan harinya, setelah berpindapata (mengumpulkan dana makanan) di kota Savatthi dan selesai makan, Beliau meminta bhikkhu (petapa, murid Buddha) untuk kembali duluan. Beliau membawa seorang bhikkhu junior, pergi ke rumah laki-laki tersebut, memberikan salam kepadanya, dan menyapanya dengan kata-kata yang manis.

“Anda sedang berada dalam kesedihan, Upasaka [para penganut ajaran]?” kata Beliau.

“Ya, Bhante [guru], saya diliputi kesedihan atas kepergian ayahku.” Sang Guru berkata, “Upasaka, orang bijak di masa lampau yang benar-benar mengetahui tentang delapan kondisi dari dunia ini bersedih di saat kematian ayahnya, tidak sedikitpun.” Kemudian atas permintaannya, beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

[note: Delapan kondisi dunia adalah Perolehan dan kehilangan, ketenaran dan nama buruk, pujian dan celaan, kebahagiaan dan penderitaan]

    Dahulu kala di Benares, seorang raja agung bernama Dasaratha memerintah dengan benar, tidak menggunakan cara-cara yang salah. Dari 16.000 istrinya, yang tertua dan ratunya yang naik tahta saat itu memberikannya dua orang putra dan seorang putri; putra sulungnya diberi nama Rama paṇḍita, atau Rama si bijaksana, putra keduanya diberi nama Pangeran Lakkhaṇa, atau  keberuntungan, dan putrinya bernama adalah Sitā [artinya adalah “Sejuk”].

    Seiring berjalannya waktu, ratu meninggal dunia. Di saat ratu meninggal, raja merasa hancur dalam kesedihan untuk waktu yang lama, tetapi dapat dibujuk para menteri istana untuk segera melakukan upacara pemakaman dan menunjuk istri lainnya untuk menduduki posisi tersebut. Ratu barunya ini sangat disayangi dan dicintai raja. Tidak lama kemudian ratu mengandung dan melahirkan seorang putra, yang diberi nama Bharata. Raja sangat mencintai putranya, dan berkata kepada ratu, “Ratu, saya menawarkan Anda sebuah hadiah, pilihlah.”

    Ratu menerima tawaran itu, tetapi tidak langsung menyebutkan hadiahnya dalam waktu yang lama. Di saat putranya berusia 7 tahun, ia pergi menjumpai raja dan berkata kepadanya, “Paduka, Anda pernah berjanji memberikan hadiah untuk putraku. Bolehkah Anda memberikannya kepadaku sekarang?”

    “Pilihlah, ratu.”

    “Paduka, berikan kerajaan kepada putraku.”

    Raja menderikkan jarinya mendengar permintaan ratu, “Keluar kau, wanita hina!” kata raja dengan marah, “dua putraku yang lainnya berjaya seperti kobaran bara api; apakah kau berniat membunuh mereka dan memberikan kerajaan ini pada putramu saja?”

    Ratu tetap meminta ini kepada raja. Raja menolak untuk memberikannya permintaan hadiah tersebut.

    Raja berpikir dalam dirinya, “Wanita adalah orang yang tidak tahu berterima kasih dan tidak setia. Wanita ini mungkin akan menggunakan surat palsu atau uang suap untuk menyuruh orang membunuh kedua putraku”

    Maka ia memanggil kedua putranya dan memberitahukan segala sesuatu kepada mereka dengan mengatakan, “Putraku, jika kalian tetap tinggal di istana, kemungkinan hal buruk akan menimpa kalian. Pergilah ke kerajaan tetangga atau ke dalam hutan. Di saat jasadku telah dibakar baru kalian kembali dan warisi kerajaan ini yang merupakan kepunyaan kalian”

    Kemudian raja memanggil para peramal dan menanyakan batas usianya. Mereka memberitahunya bahwa ia akan hidup selama 12 tahun lagi. Kemudian ia berkata, “Putraku, setelah 12 tahun kalian harus kembali, dan tegakkan payung kerajaan”

    Mereka pun berjanji dan setelah mendapat izin ayahnya, mereka pergi dari istana sambil menangis sedih. Putri Sitā berkata, “Saya juga akan ikut dengan kedua abangku”, Ia berpamitan pada ayahnya dan ikut pergi dengan mereka sambil menangis.

    Ketiga orang ini pergi ditemani oleh sekumpulan orang. Mereka meminta kerumunan orang itu untuk kembali dan kemudian mereka melanjutkan perjalanan sampai tiba di Gunung Himalaya. Di sana, di sebuah tempat yang memiliki mata air dan mudah untuk mendapatkan buah-buahan liar mereka membuat sebuah tempat tinggal. Mereka tinggal di sana bertahan hidup dengan memakan buah-buahan liar.

    Lakkhaṇa-paṇḍita dan Sitā berkata kepada Rāma-paṇḍita, “Anda sekarang menjadi seperti ayah bagi kami, tetap tinggal di dalam gubuk ini, kami yang akan mencari buah-buahan dan memberikannya kepadamu.” Ia setuju dengan mereka.

    Mulai saat itu Rāma-paṇḍita tetap berada di dalam gubuk, sementara adik-adiknya mencari dan membawakan buah-buahan untuknya. Demikianlah mereka tinggal di sana bertahan hidup dengan memakan buah-buahan.

    Akan tetapi raja Dasaratha sangat bersedih atas kepergian anak-anaknya, dan ia meninggal di tahun ke-9. Setelah upacara pemakamannya dilaksanakan, ratu memerintahkan untuk memberikan tahta kerajaan kepada putranya, pangeran Bharata. Tetapi para menteri berkata, “Ahli waris tahta kerajaan saat ini sedang tinggal di dalam hutan,” dan mereka tidak menyetujui perintah ratu.

    Pangeran Bharata berkata, “Saya akan menjemput kembali abangku, Rāma-paṇḍita dari hutan dan memberikan tahta kerajaan ini kepadanya. Dengan membawa lima lambang kerajaan, ia pergi menuju tempat mereka dengan diikuti empat rombongan

    [Note: Lima lambang kerajaan adalah Gajah, pengawal berkuda, kereta, pasukan pengawal yang berjalan kaki]

    Tidak jauh dari tempat tersebut, mereka mendirikan perkemahan, kemudian pangeran Bharata dengan beberapa pengawal datang ke tempat tersebut di saat Lakkhaṇa-paṇḍita dan Sitā sedang pergi ke dalam hutan.

    Rāma-paṇḍita duduk di depan pintu rumahnya dengan damai dan tenang, seperti sebuah patung emas yang berdiri kokoh. Pangeran mendekatinya dan menyapanya, kemudian dengan berdiri di satu sisi ia memberitahukan semuanya yang terjadi di kerajaan sampai bersujud di bawah kakinya bersama dengan para pengawalnya, sambil menangis tersedu-sedu.

    Rāma-paṇḍita tidak bersedih maupun menangis, tidak ada gejolak emosi yang timbul di dalam dirinya. Setelah Bharata selesai menangis dan duduk, di saat hari menjelang sore, kedua orang adiknya kembali dengan membawa buah-buahan.

    Rāma-paṇḍita berpikir,—”Kedua orang ini masih muda; mereka belum dapat memahami kebijaksanaan seperti diriku. Jika mereka secara tiba-tiba diberitahukan bahwa ayah kami telah meninggal, rasa sedih yang timbul akan menjadi lebih besar dari kemampuan mereka untuk menahannya; mungkin saja hati mereka akan hancur. Saya akan membujuk mereka pergi masuk ke dalam air dan mencari cara untuk memberitahukan kebenarannya.”

    Kemudian dengan menunjuk sebuah tempat di depan yang ada airnya, ia berkata, “Kalian keluar sudah terlalu lama: Ini akan menjadi hukuman bagi kalian—pergi ke tempat air tersebut dan berdiri di sana.”

    Kemudian ia mengucapkan setengah bait kalimat berikut ini: “Biarkan Lakkhaṇa dan Sitā turun ke kolam itu.”

    Hanya dengan satu kata cukup bagi mereka berdua untuk pergi ke tempat air itu dan berdiri di sana.

    Kemudian ia memberitahukan mereka tentang kabar tersebut dengan mengucapkan sisa bait kalimat di atas: “Bharata berkata, Raja Dasaratha telah meninggal dunia.”

    Ketika mereka mendengar berita kematian ayahnya tersebut, mereka jatuh pingsan. Sewaktu diucapkan sekali lagi, mereka juga jatuh pingsan, bahkan untuk ketiga kalinya dikatakan mereka masih tetap pingsan. Para pengawal mengangkat dan mengeluarkan mereka dari tempat air itu dan meletakkan mereka di tanah yang kering. Setelah disadarkan, mereka berdua duduk meratap dan menangis bersama.

    Kemudian pangeran Bharata berpikir: “Abangku, pangeran Lakkhaṇa, adikku, Sitā, tidak dapat menahan rasa sedih mereka sewaktu mendengar kematian ayah kami, sedangkan Rāma-paṇḍita tidak meratap sedih maupun menangis. Saya menjadi ingin tahu apa yang menyebabkannya tidak bersedih? Saya akan menanyakannya.”

    Kemudian ia mengucapkan bait kedua berikut untuk menanyakan pertanyaan tersebut: “Katakan atas kekuatan apa Anda tidak bersedih Rama di saat seharusnya Anda bersedih? Meskipun dikatakan bahwa ayahmu sudah meninggal, rasa sedih tidak meliputi dirimu!”

    Kemudian Rāma-paṇḍita menjelaskan alasan mengapa ia tidak memiliki rasa sedih, dengan mengatakan,

    “Seseorang tidak dapat memiliki sesuatu untuk selamanya walaupun ia menangis dengan sekeras mungkin, Mengapa seorang yang bijak harus menyiksa dirinya dalam hal tersebut?

    Orang muda, orang tua, orang dungu, dan orang bijak, Bagi yang kaya, bagi yang miskin, kematian adalah hal yang pasti: masing-masing orang akan mati.

    Sepasti buah yang telah matang akan jatuh dari pohonnya,Demikian halnya dengan kematian bagi semua benda yang tidak kekal.

    Benda yang terlihat di cahaya pagi hari akan hilang di sore hari, dan yang terlihat di sore hari akan hilang di pagi hari.

    Jika bagi seorang dungu dapat terikat, sesuatu akan dapat semakin mengikat Di saat ia menyiksa dirinya sendiri dengan air mata, maka orang yang bijak pun dapat ikut melakukan hal yang sama.

    Dengan menyiksa dirinya sendiri, ia menjadi kurus dan pucat;Hal ini tidak dapat membuat yang mati hidup kembali, dan air mata tidak akan membantu sama sekali.

    Bahkan sama seperti sebuah rumah yang terbakar yang dipadamkan dengan air, demikian orang kuat, orang bijak, orang pintar yang mengetahui tentang ajaran kitab sucinya dengan baik akan menebarkan kesedihan mereka seperti kapas yang diterpa angin di saat terjadi angin badai.

    Seseorang mati—ikatan kelahiran masih terdapat dalam keluarganya: Kebahagiaan semua makhluk tergantung pada ikatan yang berhubungan dengannya.

    Oleh karena itu, orang yang paham dalam kitab suci, Dapat memahami tentang kehidupan sekarang ini dan kehidupan yang akan datang, Dengan mengetahui sifat-sifat itu, tidak akan bersedih, Betapa beratnya pun suatu masalah dalam hati dan pikiran.

    Maka saya akan memberi, menjaga dan menghidupi sanak keluargaku yang masih hidup, Saya akan menjaga mereka yang masih hidup: demikianlah perbuatan yang dilakukan orang bijak.”

    Ketika orang-orang tersebut mendengar khotbah Rāma-paṇḍita ini, yang menggambarkan tentang ajaran ketidakkekalan, mereka menghilangkan kesedihan mereka. Kemudian pangeran Bharata memberi hormat kepada Rāma-aṇḍita, sambil memohon padanya untuk menerima tahta kerajaan Benares.

    “Saudaraku,” kata Rāma , “bawa Lakkhaṇa dan Sitā pergi bersamamu, dan kalian yang mengurus kerajaan.”

    “Tidak, Tuanku, Andalah yang memerintah kerajaan.”

    “Saudaraku, ayahku memberi perintah kepadaku untuk mewarisi kerajaan pada akhir tahun ke-12. Jika saya menerimanya sekarang, berarti saya tidak melaksanakan permintaannya. Setelah tiga tahun berlalu, saya akan datang.”

    “Siapa yang akan melaksanakan kegiatan pemerintahan dalam tiga tahun ini?”

    “Anda yang melakukannya.”

    “Saya tidak akan melakukannya.”

    “Kalau begitu sampai saatnya saya datang, sandal ini yang akan melakukannya, “kata Rāma, sambil mengangkat sandal jeraminya dan memberikannya kepada saudaranya tersebut.

    Maka ketiga orang itu membawa sandalnya dan pergi ke Benares dengan rombongan pengawal istana setelah berpamitan dengan orang bijak tersebut. Selama tiga tahun, sandal tersebut yang memerintah kerajaan.

    Para menteri istana meletakkan sandal jerami tersebut di atas tahta kerajaan di saat mereka menghadapi sebuah masalah. Jika masalah itu diputuskan dengan keputusan yang salah, sandal tersebut akan saling menimpa, dan kemudian masalah itu akan dikaji ulang; ketika keputusannya sudah benar, sandal tersebut akan tetap tenang terletak di sana.

    [Note: Kejadian tentang sendal ini ada juga di kisah Rāmāyana versi Valmiki namun ini adalah tambahan belakangan  [ii.115], kisah sendal ini tidak ditemukan dalam Ramayana versi TulsiDas]

    Setelah tiga tahun berlalu, orang bijak tersebut keluar dari hutan, datang ke Benares dan masuk ke dalam tamannya. Kedua pangeran yang mendengar tentang kedatangannya ini datang ke taman ditemani dengan rombongan pejabat istana, dan dengan menjadikan Sitā sebagai ratu yang berkuasa, mereka menobatkan mereka dengan upacara kerajaan.

    [Note: Di versi ini Sita adalah adiknya bukan istrinya]

    Setelah upacara dilaksanakan, Sang Mahasatwa dengan berdiri di atas kereta megahnya dan dikelilingi oleh rombongan besar pengawal, masuk ke dalam kota dengan mengitari arah kanan. Kemudian ia naik ke atas tahta luar biasanya di istana Sucandaka, ia memerintah dengan benar selama 16.000 tahun dan akhirnya menjadi penghuni alam Surga.

    Bait dari kebijaksanaan yang sempurna ini menjelaskan akhir cerita tersebut:

    “Dikatakan selama 16.000 tahun lamanya, Rāma yang kuat berkuasa, di lehernya terdapat tiga lipatan keberuntungan.”

    [Note: kambugīvo adalah tiga lipatan di leher, seperti lingkaran kulit kerang, adalah sebuah petanda keberuntungan]

Setelah menyampaikan uraian ini, Sang Guru memaparkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran ini

(Di akhir kebenarannya, tuan tanah [Upasaka] itu mencapai tingkat kesucian sotapanna)

“Pada masa itu raja Suddhodana [Ayah Siddharta Gautama] adalah Dasaratha, Mahamaya [Ibu kandung Sidartha Gautama] adalah ibu, Yasodara [Ibu dari Rahula, istri Sidartha Gautama] adalah Sitā, Ananda [Sekretaris Sang Buddha] adalah Bharata dan saya [Sang Buddha] adalah Rāma-paṇḍita”.


Percaya atau tidak, ternyata Ramayana Valmiki hadir se-umur-an dengan BHAGAVAD GITA [Mahabharata] dan bahkan LEBIH MUDA dari Ramayana versi Buddhis [Theravada]!

Mengenai umur Bhagavad gita dapat anda lihat di artikel “Bhagavad Gita bukan Pancama Veda [Veda Ke-5]!“. Di bawah ini, saya kutipkan bukti-bukti usia Ramayana Versi Valmiki:

  • Seluruh kanda versi Valmiki [dan variantnya, termasuk versi tulsidas], memperkenalkan Rama sebagai Avatar Visnu dan juga adanya pemujaan terhadap Siva sebagai Deva-dewa utama, sampel:
    • [..]Shiva and Vishnu, for the Grandparent is the best adherer of truthfulness [..][Sarga 75, Balakanda Kanda]
    • [..]Let Siva, the lord of all spheres, Brahma, the lord of creation, Vishnu, the nourisher of beings, [..][Sarga25, Ayodhya Kanda]
    • [..]The God and Cosmic-Souled Vishnu and Shambhu or Shiva[..][Sarga 43, Kishkindha Kanda]

    Padahal di SEBELUM dan juga saat Buddhisme ada, pemujaan terhadap Visnu dan Siva BELUM-lah ada:

    • Teks Buddhisme menyinggung keberadaan Visnu dan Siva namun saat itu, mereka bukanlah Deva yang menonjol [Rhys Davids, Buddhist India, Hal 236].

      Visnu [Vennu/Venhu] dan Siva disebutkan di Suta pitaka, Devaputtasamyutta [2:12 dan 2:21], yaitu teks tentang kumpulan para Deva yang baru terlahir di alam Indra [Di bawah kekuasaan Dewa Indra/Sakkha/Sakra], Venhu/Vennu dan Siva merupakan prototipe dewa India sebelum mereka menjadi dewa utama dalam Hinduisme bakti yang theistic.

    • Pada jaman Buddhis ide mengenai avatara-avatara belumlah ada.

      Teks Brahmana-brahmana yang berkaitan dengan Veda, yang disusun tidak berapa lama sebelum jaman Buddha, kisah-kisah avatar telah muncul sebagai legenda yang popular dimasyarakat namun tidak ada Avatar Vishnu di sana [The Bhagavad Gita, C. Jinarajadasa, From the Proceedings of the Federation of European Sections of the Theosophical Society, Amsterdam 1904, Theosophical Publishing House, Adyar, Madras. India, November 1915]

    • Shatapatha Brahmana, memuat kisah tentang ikan, kura-kura dan babi hutan sebagai avatara penyelamat Manu di saat banjir besar namun hanya menyatakannya sebagai bentuk ikan dan bukan tuhan dalam bentuk ikan [I. 8. I. I, tulisan ini dan beberapa referensi mengenai Brahmana di kutip Macdonell dari artikel Jurnal Vedic Mythology, R.A.S. 1895]
    • Kemudian di MahaBharata, disebutkan bahwa ikan, Kura-kura dan Babi hutan bukan sebagai avatara Visnu namun sebagai avatara Brahma atau Prajapati [Vanaparva, Markandeya samasya 7.5.15], Babi hutan di Taittiriya Brahmana adalah Prajapati [Taittiriya Brahmana I.i. 3. 5, ff].

      Shatapatha Brahmana juga mengangkat legenda yang sama dan tidak menyebutnya sebagai Manifestasi tuhan [XIV.i 2. 11] namun Ramayana yang disusun belakangan menjadikan itu sebagai Brahma [II. 110. Monier Williams, Indian Wisdom, page 330].

      Deva dengan bentuk rupa srigala wanita, yang memenangkan dunia untuk para Dewa, yaitu mengelilingi dunia hanya dalam tiga langkah adalah Indra bukan Vishnu [Taittiriya Samhita 7.2.4]

    Fakta-fakta di atas sudah menyajikan gambaran utuh bahwa disekitar wafatnya sang Buddha, pemujaan terhadap Brahma sudah lazim dilakukan masyarakat dan pemujaan terhadap Visnu/Siva baru saja di mulai dan tentu saja pemujaan terhadap Rama dan Krisna belumlah ada.

  • [..]Yang pertama [Balakanda] dan yang terkahir [Uttara Kanda] dari kitab Ramayana adalah tambahan belakangan. Bagian buku ke 2-6, menyajikan gambaran Rama sebagai pahlawan ideal. Di buku 1 dan 7, Rama sebagai avatara atau reinkarnasi Visnu dan lirik epik diubah menjadi teks dari aliran Vaisnawa. Referensi Yunani, Parthian, dan Saka menunjukan bahwa kitab ini ada tidak lebih awal dari abad ke-2 SM[..] – [ValmikiRamayana.net: The cultural Heritage of India, Vol. IV, The Religions, The Ramakrishna Mission, Institute of Culture ]
  • Menurut S. N. Sadasivan, Uttara kanda dan Balakanda baru ada pada abad ke 7-8 Masehi…Menurut H.D. Sankaliya, yang banyak menulis di “Times of India”, “vide Times of India”, New Delhi [November 26, 1967; October 12, 1975; November 6, 1983 dan December 15,1985] memperhatikan gambaran penggunaan perak, mutiara, besi, anggur, unta dan gajah di Ramayana versi Valmiki, maka besar kemungkinan kisah ini di tulis antara abad ke-3 SM s/d 4 M, dan Ia kemudian memodifikasinya menjadi abad ke-2 SM s/d 3 M dan beberapa porsi tertentunya, berhubungan dengan arsitek lanjutan di tulis setelah abad ke 7 M…Apapun bentuk ketidaksepakatan mengenai penentuan waktu aslinya, SEMUA ahli sepakat bahwa ini dibuat setelah jaman Buddhisme yang digunakan Valmiki adalah kisah-kisah di Jataka Buddhis terutama Dasaratha dan Janaka Jataka. Ramayana kemudian tumbuh seiring waktu sesuai dengan kebutuhan para Brahmin-brahmin Hindu. [A social history of India, S. N. Sadasivan, Ch.VI, Brahmin Reaction]
  • [..]Para Ahli sepakat bahwa penyusunannya mulai disekitar abad ke-3 atau ke-2 SM. (Beberapa berpikir di sekitar awal abad ke-4 SM) teks dalam bentuk saat ini. Kemungkinan di sekitar abad ke 6 M, beberapa episodenya terinspirasi dari balada-balada regional yang berasal dari berbagai tempat.

    Sekitar di abad ke 3-2 SM, beberapa dari balada ini muncul bersamaan dalam bentuk struktur terpisah di beberapa bab [kanda] Ramayana valmiki. Sekitar akhir abad ke-2 SM. Baik itu Valmiki atau beberapa penyair besar lainnya memberikan bentuk yang koheren.

    Selama ratusan tahun, yaitu antara abad ke-1 SM -1 M, narasi utama, dari mulai Ayodhya dan Lanka diperkaya deskripsi dan pernik-pernik literal. Belakangan, Brahmanya atau Bhargava pertama ditambahkan. Hasilnya, bagian pertama dari Adikanda dan juga Uttara Kanda selesai di abad ke-2 M;

    Tambahan besar berikutnya ada disekitar abad ke-3 M dan bagian ke 4 dan tambahan final atau interpolarisasinya kemungkinan terjadi di permulaan abad ke-4 SM.[..] – [A Revaluation of Valmiki’s “Rama”, Sukumari Bhattacharji, Former professor of Sanskrit, Jadavpur University, Calcutta., Translated by Tanika Sarkar, Vol. 30, No. 1/2 (Jan-Feb, 2002), pp. 31-49 (article consists of 19 pages), Published by: Social Scientis]

Dari kutipan di atas, jelas terlihat bahwa kehadiran Ramayana karena kebutuhan politik keagamaan yang dilakukan oleh para Brahmin!



Percaya atau tidak, ternyata Valmiki sang pengarang Ramayana dulunya berprofesi sebagai bandit!

Nama asli Valmiki adalah Ratnakara, arti Valmiki adalah bukit semut [atau gundukan tanah liat]. Tidak ada satu kepastian mengenai asal usul Valmiki, ada yang mengatakan ia lahir di:

  • Jaman Satya Yuga, Jaman emas, di Yuga [Jaman] pertama di antara 4 Yuga. Tradisi hindu, mendefinisikan jaman itu sebagai jaman tidak ada kejahatan dan manusia bisa melihat tuhan secara langsung. Panjangnya jaman ini 4.32 Juta tahun, 4 Avatar Vishnu ada di jaman ini, yang terakhir adalah Narasimha.
  • Tetra Yuga, Jaman Perak [lebih banyak legenda yang menyatakan Ia lahir di jaman ini]. Tradisi Hindu menyatakan jaman ini, kehidupan seperti dengan jaman emas, namun mulai ada kejahatan dan jumlahnya sangatlah sedikit. Umur jaman ini 1.7 juta tahun, 3 Avatara Visnu lahir di jaman ini dan yang terakhir adalah Rama

Dikisahkan bahwa Ratnakara dulunya adalah seorang anak raja, namun di Uttara Kanda Ramayana [yang disusun abad ke 7-8 M] bab 87.17, Valmiki mengenalkan dirinya sendiri kepada Rama sebagai anak ke-10 Rsi Prachetasa.

Di waktu kecil, saat bermain di hutan, ia tersesat [ini adalah kesamaan dari semua legenda itu], Ia kemudian ditemukan dan dipelihara seorang pemburu. Setelah dewasa ia menikah dan mempunyai anak. Mata pencahariannya berubah dari pemburu mejadi penjahat dan perampok. Di satu hari ketika hendak melakukan perampokan di siang hari, Ia bertemu dengan Rsi Narada [ada lagi legenda yang menyatakan Ia bertemu dengan Sapta Rsi, Ia berusaha merampoknya namun tidak mendapatkan materi yang dibutuhkan. Rsi Narada [atau 7 Rsi yang lain] memberikan mantra dan agar mantra itu diucapkan berulang-ulang jika ia ingin hidupnya menjadi lebih baik.

Mantra itu hanya 1 kata, yaitu “Mara” [artinya: kematian] ada yang mengatakan mantra itu adalah “Rama”. Ia mempercayainya dan melakukan perapalan matra itu berulang-ulang hingga ia berada di suatu keadaan konsentrasi tingkat tinggi, tidak menyadari tubuhnya telah tertutup tanah liat yang dijadikan sarang semut. Karena itulah ia kemudian dinamakan Valmiki.

Di Uttara kanda bab 7:49, walaupun Ratnakara telah berubah nama menjadi Valmiki dan menjadi Petapa, namun ia tetap hidup bersama dengan sekumpulan wanita di pertapaannya [Encyclopaedia of Hindu gods and goddesses; Yahoo Answer; Valmiki; Encyclopaedic Dictionary of Pali Literature, MADHVACARYA REMEMBERS THE PASTIMES OF THE LORD]

Ada beberapa kesimpulan yang dapat kita tarik:

  • Ratnakara, menjadi perampok/penjahat bertahun-tahun dengan alasan untuk membiayai hidup sekeluarga [juga banyaknya kejahatan yang tersurat di epik Ramayana, serta adanya pemujaan yang dilakukan oleh seorang Sudra bernama Sumbukha], maka dapat dipastikan Valmiki tidak hidup di jaman Tetra Yuga apalagi di jaman Satya Yuga
  • Jika benar bahwa Valmiki adalah anak seorang Raja ataupun anak Rsi Sakti yang konon merupakan keturunan Varuna, maka dengan kemampuan dan sumberdaya ayahnya, jika hanya untuk menemukan seorang anak, maka tidak sulit dilakukan seorang raja/Rsi. Sehingga lebih masuk akal jika Valmiki ini benar sebagai anak seorang pemburu atau merupakan anak orang biasa yang sengaja di buang [bukan Raja/Rsi]

Sekarang, saatnya kita melihat fakta konyol kepatutan para tokoh kebenaran di versi Valmiki:

  • Perkawinan Dasaratha dan ke-tiga Istrinya tidaklah membuahkan putera. Ia kemudian meminta Rsi Shrung untuk melakukan Pinda [Putreshti Yajna] kepada Kausalya, Kaikeyi dan Sumitra. Pinda secara literal berarti telur atau embryo. Jadi, ini adalah bahasa bersayap untuk menutupi fakta sederhana yaitu ayah kandung dari Rama [Kausalya], Bharata [Kaikeyi], laksamana & Satrughana [Sumitra] adalah rsi Shrung dan bukan raja Dasaratha.
  • Dewa-dewapun tidak ketinggalan berprilaku seperti bajingan dikisah ini, untuk membantu Vishnu yang akan menjadi Rama, maka Dewa Brahma bersama dewa-dewa lainnya secara serentak melakukan hubungan seksual, aktivitas seksual ini tidak hanya dilakukan dengan para bidadari, namun juga pada anak-anak Ruksha, Gandarhva, kinara dan Vanara yang kemudian menghasilkan Vanara yang kelak akan menjadi para pembantu Rama. [VR 1.17:3-6; Canto 16.Vanara]

    Kisah lahirnya Hanuman juga berasal dari tetesan mani Deva siva [dikisah lainnya disebutkan bahwa bapak bilogis Hanuman bukanlah Deva Siva tapi Deva Vayu]

  • Insiden yang berkenaan dengan peralihan kekuasaan di kerajaan para Vanara di Kishkenda. Saat Sita telah diculik Ravana, Subali, raja para Vanara. Ketika itu, tengah bertempur melawan pasukan rakshasa pimpinan Mayavi, hingga akhirnya terjadi duel satu lawan satu. Mayavi kewalahan dan sembunyi dalam sebuah goa.

    Subali kemudian meminta Sugriva untuk menunggunya diluar dan berkata bahwa jika darah putih keluar dari goa, maka Subali yang kalah dan jika darah merah keluar maka Subali yang menang. Karena otak Mayavi pecah maka yang keluar adalah cairan putih bukan merah. Dengan tanpa merasa perlu mengecheck, Sugriva menyumbat gua itu dan menyatakan diri sebagai raja baru Kishkinda, mengawini Tara (istri kakaknya) dan mengangkat Hanuman sebagai Perdana mentrinya.

    [Subali dikenal sangat sakti, jika benar Subali kalah, maka menyumbat gua merupakan perbuatan sia-sia untuk mengurung Mayavi, aneh sekali melihat Sugriwa tidak merasa cemas akan kesaktian Mayavi setelah membunuh Subali, bukan?!]

    SuBali yang tidak cedera, keluar dari gua namun tidak menemukan Sugriva, Ia kembali kekerajaannya dan terkejut melihat Sugriva mengambil alih semuanya. Padahal Subali mempunyai anak yang bernama Anggada, sehingga seharusnya pewaris tahta kerajaan adalah Anggada bukan Sugriva. Sewaktu mengambil alih kembali, Subali tidak melakukan tindakan kekerasan pada Sugriva, ia hanya mengusir Sugriva dan Hanuman!

    Di saat itu, Rama dan laksmana, sedang dalam pengembaraan mencari Sita. Sedangkan Hanuman dan Sugriva, bukannya menyesal atas tindakan itu, mereka malah mengembara mencari bala bantuan untuk merebut kembali tahta yang jelas-jelas bukanlah haknya! Kedua pihak akhirnya bertemu dan setelah saling menceritakan kesulitan mereka, mereka berjanji untuk saling membantu.

    Disepakati bahwa Rama akan membantu dulu sugriva untuk membunuh Subali dan menjadikan Sugriva sebagai raja. Sebagai balasannya Sugriva, Hanuman dan pasukan kera akan membantu Rama mencari Sita. Agar rencana mulus berjalan, maka Sugriva harus dapat membujuk Subali keluar dari kerajaan dan jika duel, keadaan memburuk maka untuk dapat membedakan di antara keduanya Sugriva harus memakai karangan bunga di lehernya. Duel di antara keduanya kemudian terjadi, Rama bersembunyi di balik pohon dan bersiap membidik Subali dengan dengan panah untuk membunuhnya.

    Rencana keji pun berjalan mulus Sugriwa akhirnya menduduki tahta yang bukan haknya berkat bantuan Rama, sang avatar. Hal ini mereka lakukan secara pengecut. Padahal, tidak ada kesalahan Subali pada Rama dan juga tidak ada persoalan apapun antara Rama dan Subali. Ketika Rama membokong Subali dari belakang, Subali bahkan tidak sedang bersenjata!

  • Dengan tentara yang terkumpul Rama menginvasi Lanka! Sebelum menyerbu Lanka, ia bertemu dengan Vibisana dan menjanjikan setelah penyerbuan ini berhasil yaitu terbasminya Rahvana dan keturunannya, maka Vibhisana yang akan menjadi raja Lanka!
  • Sita, adalah wanita yang malang sejak dari lahir. Beberapa kisah menyatakan Ia merupakan bayi buangan, setelah besar, mengawini Rama dan mereka tinggal dalam pembuangan di hutan selama 13 tahun, Sita kemudian diculik Rahwana selama 10 bulanan lebih. Ketika Rama dan gerombolannya berhasil menginvasi Lanka, Bukan Rama sendiri yang menemui Sita, namun Hanuman yang diutusnya sebagai kurir untuk memberikan pesan padanya. Ia bahkan tidak meminta Hanuman membawa Sita padanya!

    Tugas Hanuman hanyalah memberitahukan bahwa rama baik-baik saja [Hal inipun telah diketahui Sita, ketika pertempuran di hari pertama dengan Indrajit, di mana Rama dan Laksmana hampir tewas, ia menyaksikan dan mengetahui pulihnya kesehatan Rama]. Kemudian Sita bertemu Rama, setelah bertemu bukannya pelukan hangat suami yang didapat, namun justru pernyataan Rama yang menafikan semua kesengsaraan Sita selama mempertahankan kesuciannya!

    Rama berkata, “Ku dapatkan dirimu sebagai hadiah dari kemenangan perang ini, akibat penculikanmu, Aku telah mengembalikan kehormatanKu dan menghukum musuhku. Rakyat telah menyaksikan kekuatan militerKu dan Aku gembira jerihpayahKu mendapatkan balasan. Ku bunuh Ravana dan mencuci pelecehan ini. Semua kesulitan ini kuambil BUKAN untukmu.

    Aku mencurigai prilakumu, Engkau pasti telah dimanjakan Rahwana, Pandanganmu sangat menjijikan bagiKu. Putri Janaka, Ku ijinkan dirimu pergi kemanapun kau suka. Aku tidak punya urusan dengan mu..Aku tak dapat memikirkan bahwa Rahwana gagal menikmati wanita secantik dirimu”

    Yup! Ini adalah pernyataan Rama, sang Avatar kondang ini..kejam nian, bukan?!

    Ia sampaikan perkataan keji itu pada seorang wanita lemah, korban penculikan yang juga istrinya sendiri! Sita merasa hidupnya hancur tersia-siakan. Sita kemudian menyatakan akan melemparkan dirinya ke api, Ia lakukan itu karena marah dan untuk membuktikan dirinya tidaklah sehina itu.

    Tidak satupun dari para PAHLAWAN KEBENARAN di sana, menengahinya dan/atau mem-protes tindakan Rama dan/atau menghalangi niat sita!

    Tidak satupun para mahluk surgawi yang hadir di sana, tidak juga Hanuman sang perkasa, tidak juga Vibisana, Sang raja baru Lanka, Tidak juga Laksmana.

    Semua diam membisu. Bahkan Laksamana yang menyiapkan tumpukan kayu untuk Sita!

    Saat itu, dihadapan para anak-anak dan semua warga yang berkumpul, Sita melaksanakan tekad sucinya menyuci habis hinaan kejam yang berasal dari suaminya sendiri dan terjun ke dalam Api!

    Keajaiban berpihak pada Sita, ia tidak cacat sedikitpun di dalam api dan keluar dalam keadaan gilang gemilang. Para Deva puas dengan bukti ini dan menyatakan bahwa Sita adalah suci! Saat itulah akhirnya Rama setuju membawa Sita kembali ke Ayodhya. [Versi tulsidas menyatakan Sita sebenarnya tidak pernah diculik namun disembunyikan di Api, sebagai pengganti dibuatkan bentuk sita yang lain yang di culik oleh Rahwana].

    Jika benar para Deva maha tau, tentunya mereka juga tau bahwa Sita berjuang sebisanya mempertahankan kesuciannya!

    Setelah terbukti Sita tidak cedera dan utuh dengan kesuciannya, barulah kemudian para Deva sibuk memprotes tindakan Rama. Dan tentu saja Rama selalu punya alasan untuk berkilah!

    Kalangan hindu meng-amin-kan tindakan Sati [membakar diri ke dalam api] sebagai upaya baik untuk membuktikan kesucian Sita. Ini sungguh bantahan aneh dan dangkal, bukan?! Ya hal ini jelas merupakan rekaan kisah rendah dari otak lelaki dangkal yang berlindung dibalik jubah dan jati diri sebagai Brahmin! [Valmiki Yudha kandha, Ch 115-119]

    Apakah keraguan Rama bisa terhapus? Sama sekali tidak!

    Beberapa hari setelah penobatan Rama dan Sita, Sita hamil. Rama memperhatikan ini kira-kira 1 bulan setelah mereka telah di Ayodhya [Valmiki Uttara kanda, Ch 42]. Beberapa penduduk menggunjingkan Rama dan menyalakan Sita kembali ke Ayodhya. Laporan ini dibawa Bhadra, seorang penghibur kerajaan, yang membuat Rama tersengat panas atas gosip ini [7-43]. Rama kemudian memanggil adik-adiknya untuk rapat mengenai hal ini.[7-44]

    Pertama-tama, Ia nyatakan percaya pada sita yang membuktikan kesuciannya di Lanka dan juga atas jaminan para dewa. Kemudian ia nyatakan bahwa, “Publik tetap memfitnah Sita, menyalahkanKu dan membuat Ku malu. Tidak ada orang yang bisa mentolerir aib ini. Kehormatan adalah asset terbesar, Dewa-dewa dan semua orang besar akan mempertahankan itu. Aku tak sanggup memikul Aib ini. Untuk menghilangkan aib ini Aku tidak akan ragu lagi untuk membuang Sita” [7-45]

    Lihat! Demikianlah cara ia mengambil keputusan!

    Sebagai Raja besar penakluk Iblis super jahat dan juga berkekuasaan sangat besar, masa Iya, hanya untuk sekedar mengkounter dan menyetop gosip tidak mampu?!. Begitu pula, sebagai suami, ia bisa mencoba membersihkan nama istrinya dihadapan khalayak langsung! Tapi ini tidak dilakukannya! Justru cara termudah dan kekanak-kanakan yang ia ambil, yaitu meyelamatkan diri sendiri, nama dan kemasurannya dengan membuang Sita tanpa sedikitpun memikirkan bagaimana kehidupan Sita nanti dan perasaan Sita, istrinya sendiri!

    Selain adik-adiknya, Sita sama sekali tidak tau akan gosip yang beredar dan tidak tahu atas apa yang akan melanda dirinya.

    Rama telah mendapat waktu yang pas, yaitu sebagai wanita hamil, Sita pun seperti wanita hamil lainnya, ngidam dan yang diinginkannya adalah tinggal 1 hari disekitar pasraman seorang Rsi yang berada di sekitar sungai Gangga agar dapat memakan buah dan akar. Rupanya Ia teringat saat menemani Rama dalam pengasingan selama 13 tahunan [1 tahun terakhir bersama Ravana].

    Rama dengan serta merta memberi ijin dan berkata akan mengirimkan Sita dikeesok harinya. Sita menerima janji ini tanpa praduga apapun. Setelah itu, Rama secara rahasia memanggil adik-adiknya dan menjelaskan rencananya untuk membuang sita di hutan dan mengingatkan adik-adiknya untuk tidak menentang tindakannya atau akan dianggap sebagai musuhnya. Kemudian, Ia meminta Laksmana untuk mengantar Sita dan meninggalkannya di sana. Rama sudah meyakinkan Laksmana bahwa Sitalah yang ingin tinggal beberapa hari di sana.

    Sita yang tidak tau apapun, menaiki kereta dengan perasaan senang dan sangat berterima kasih pada Rama, suaminya.

    Sita dan Laksmana tiba di tepi Sungai Gangga. Melihat laksmana menangis, Sita pikir Laksmana kangen pada Rama, Ia malah menghiburnya, “Kamu ngga tahan lama-lama berjauhan dari Rama, ya..kita ngga tinggal lama, besok setelah bertemu Valmiki kita akan kembali ke Ayodhya” [7-46]

    Setelah menyeberang sungai, Laksmana tidak tahan lagi dan menyentuh kaki Sita dengan air mata bercucuran berkata, “Maafkan aku atas apa yang akan aku lakukan, Ibu suriku. Perintah yang diembankan padaku adalah membuangmu di sini karena rakyat menyalahkan Rama menerimamu di sisinya.”[7-47]

    Mendengar itu Sita Shock dan pingsan!

    Setelah siuman, Sita berkata, “Tidak kunjung beban yang ditimpakan kepadaku, sayang aku sedang hamil, jika tidak, aku akan menenggelamkan diri di sungai Gangga. Laksmana tidak berkata apapun dan kemudian meninggalkannya di sana. [7-48]

    Sita kemudian bertemu Rsi Valmiki. Ia diajak tinggal di pertapaannya bersama para wanita lainnya yang telah lebih dahulu ada di sana dan Sitapun menetap di Pertapaan Valmiki. [7:49] Di Pertapaan itu, Sita melahirkan anak kembaryang diberi nama Kusha dan Lava.

    Selama 12 tahun Ia tinggal di Pertapaan itu. Suaminya tidak pernah sekalipun menengoknya, tidak memikirkan bagaimana keadaannya juga tidak pernah memastikan apakah Ia sudah melahirkan, bagaimana keadaan anaknya apakah hidup atau mati.

    Dalam versi lain, disebutkan akibat ulah Rama, Sita kemudian membunuh diri dengan meloncat ke sungai Gangga namun berhasil diselamatkan Valmiki dan diberi perlindungan. [Kisah ini tercantum di beberapa web juga di Wikipedia]. Lava lahir terlebih dahulu, kemudian diikuti Kush. Di versi lain disebutkan, ketika Sita mandi, Valmiki diminta menemani dan menjaga Lava namun anak itu menghilang entah kemana. Agar tidak membuat panik Sita, Valmiki kemudian menciptakan anak lain serupa Lava dari rumput Kusha, karena itulah anak satunya dinamakan Kusha.

    Dua belas tahun kemudian, Rama mengadakan Yajna [kurban] Ashawameda dan mengundang semua Rsi, namun tidak mengundang Valmiki. Entah apa alasannya, kelihatannya hanya Rama dan Valmiki yang tahu mengenai hal ini. Valmiki datang sendiri ke upacara Yajna tersebut bersama Sita, Lava dan Kusha.

    Dalam yajna itu lava Kusha menyanyikan Uttara Kanda, dari sini Rama mulai mengetahui jati diri dua anak kembar itu dan mengirimkan pesan pada Valmiki, “Jika Sita mau, Ia seharusnya dapat datang dihadapan semua penduduk dan para resi, mengambil sumpah tentang kesuciannya. Dengan cara ini aibKu dapat dibersihkan dan ini dapat dilakukannya esok”. Sita menyanggupinya.[7:95-98]

    Valmikipun menegaskan jati diri Lava dan Kusha, “Saya adalah anak ke 10 dari Pracheta [Varuna], Saya ngga pernah berkata bohong. Saya bersumpah atas namaNya bahwa Sita adalah murni dan suci. Ia tidak layak dilecehkan. Lava dan Kusha adalah anak-anakmu”

    Jangankan sumpah seorang mantan bandit yang kemudian menjadi Resi, bahkan kesucian itikad seorang raja besar Rahwana untuk tidak menggangu tubuh Sita tidak Rama percayai, bahkan dengan bukti sumpah suci Sita menyeburkan diri ke api berikut jaminan para Deva-pun tidak Rama hiraukan.

    Sita tahu tidak ada jaminan bahwa setelah sumpah dilaksanakan, ia akan di diterima dan tidak dilecehkan suaminya lagi. Kemudian, di hadapan para penduduk, para resi dan mahluk surgawi, dengan mata tertuju pada tanah dan tangan dilipat, Sita bersumpah “Seperti aku tidak pernah memikirkan siapapun kecuali Rama, biarlah Ibu Bumi terbuka dan menguburku. Seperti aku selalu mencintai Rama dalam pikiran, kata, dan perbuatan, biarlah Ibu Bumi terbuka dan mengubur aku!” Kemudian bumi pun terbuka dan Ibu bumi menggenggam dirinya duduk bersama di singgasanaNya dan tenggelam perlahan memasuki Bumi, bunga surgawi bertaburan di atas kepala Sita menghantarkannya menghilang. [7:97]

    Tampaknya, Sita lebih baik mati daripada kembali kepada suami yang tidak mampu menghargai kesucian sumpah suci yang dulu pernah dilakukannya dihadapan Rama.

    Pada kesempatan itu, rupanya Valmiki sendiri juga berusaha mempromosikan jati diri barunya untuk menutupi masa lalunya, namun ia lupa bahwa Pribudi Rama yang sebenarnya telah dirusaknya dengan menuliskan karangannya ini.

  • Pada satu ketika di pemerintahan Rama, seorang Brahmana menangis meraung-raung dan berkata, “Saya tidak pernah melakukan dosa dan menyakiti orang lain, jelaslah kematian anak saya merupakan dosa dari raja. Dosa raja membuat rakyat menderita, jika anakku tidak pulih maka aku dan istriku akan mengakhiri hidupku di pagar kerajaan ini [7-74]

    Seketika diadakan sidang kerajaan yang dihadiri oleh 8 rsi besar: Markandeya, Maudgalya, Vamdeva, Kashyapa, Katyayana, Jabali, Gautama dan Narada. Melihat kegelisahan raja, Narada berkata, “Yang boleh melakukan tapasya, mensucikan diri dan ritual suci lainnya untuk keselarasan alam di jaman Satya yuga hanyalah Brahmana. Di jaman Tetra Yuga, Ksatria mendapatkan status yang sederajat dengan Brahmana sehingga dapat melakukan itu. Di jaman Dwapara, dapat dilakukan oleh Waisya dan dijaman Kali yuga dapat di lakukan oleh Sudra.

    Aturan ini telah dibakukan di kitab suci. masing-masing Warna menjalankan tugas dan kewajibannya, sehingga setiap pelanggaran akan mengakibatkan hilangnya Dharma. Karena ini jaman Tetrayuga maka selain Ksatria ada yang melakukan ini dan berakibat wafatnya anak brahmin. Tanggung jawab raja adalah melakukan tindakan untuk mencegah insiden ini terjadi lagi.

    Rama kemudian berjalan ke arah Barat, Timur dan Utara, namun Ia tidak menemukan keganjilan. ketika di arah Selatan. Di sekitar pegunungan Shaival di pinggiran danau di bawah sebuah pohon, ia melihat seorang seorang melakukan Yoga Sirasana [kepala di bawah, kaki menjulang ke atas], Rama menghentikan sejenak aktivitas orang itu dan bertanya apa tujuannya melakukan ini, berapa lama telah melakukannya dan apa warnamu?

    Ia menyatakan dirinya bernama Sambhuka, seorang Sudra dan berniat dengan tubuhnya dapat masuk ke surga. Mendengar Ia adalah Sudra, Rama segera mencabut Pedangnya dan memotong kepalanya. Tampaknya Dewa-dewa sangat menghargai upaya Rama dalam menghalangi upaya orang ini mencapai surga dengan tubuh seutuhnya yang dapat mengacaukan hukum kematian dan kelahiran, para Dewa kemudian bertanya apa permintaan Rama, Ia mengatakan agar anak brahmin itu pulih. Para deva mengabulkannya.[7:75-76]

[Valmiki Ramayana, Uttara Kanda Valmiki, Riddle Rama, Riddle in Hinduism]


Sebagai penutup, saya hendak mengcopy-pastekan satu tulisan seseorang yang berasal dari sini:

    [..]I am NOT Ravana Fan but donot want to promote incomplete knowledge.

    I AM NOT AGAINST THE PERSONS WHOSE NAMES ARE WRITTEN HERE BUT I AM SPEAKING THE TRUTH.

    Instead of answering ur question, I wud ask u instead.
    Why is Ravana considered a demon??????????

    He was ambitious. So what?
    No text mentions being ambitious is bad.

    He was arrogant. So what?
    Shiv Puran mentions arrogance of deities
    Linga Puran mentions arrogance of Brahma on his ability to create world.
    Bhagwat Puran mentions ego of Durvasa
    Skand Puran mentions ego of Parikshit (Arjuna’s grandson)
    Mahabharat mentions ego of Arjun and Bheema
    Ramcharitmanas states false ego of Narad defeating lust.
    Why Ravan alone is a demon?

    He was lusty. So what?
    Vishwamitra fell in love with Menka.
    As per Shiv Puran, Brahma sexually abused his daughter Sandhya.
    Why Ravan alone is a demon?

    He was hypocrite and abducted wife of someone else. So what?
    As per Valmiki Ramayana, Indra hypocritically turned into sage Gautam and abused his wife Ahilya.
    Bali was even worse as he abducted wife of his brother Sugriva.
    Even Vishnu hypocritically became a girl to give ambrosia to deities and not to demon. Demons must not get nectar but this is not the way to ensure this. Rahu cheated by taking the nectar. Vishnu chopped off his head but what use? Rahu attacked Sun/moon. Vishnu’s hypocrisy punished Sun/moon for no reason.
    Why Ravan alone is a demon?

    His mother was a demoness. So what? his father was a Brahmin sage.

    Ravana blindly did what his mother demanded even if that was improper. So what?
    Even Ganesha followed blindly what his mother said. He even stopped Shiv from entering his own house.
    Wasn’t it wrong for Parvati to not let Shiv enter inside? Ganesha followed improper wish of his mother.
    Even Rama said, “Mother is heavier than heaven” (Janani Janmabumischa Swargadapi Gariyasi)
    OK, a person is not known by his birth but by his actions but even scriptures say that one must do what his mother demands.
    Why Ravana is a demon?

    He captured Yamraj and many innocents. So what?
    Cruel kings have killed many innocents. Not all are declared demons.
    Moreover, Ravana did not defeated Yamraj/planets to takeover their kingdom but just to teach them a lesson.
    Its Meghnad who defeated Indra but set him free when Brahma told him to do so.
    Ravan killed sages but why? People say that sages did yajna.
    But Ravan was not against yajna. He & meghnad did yajna.
    Ravan hated malpractices and killed only those sages who sacrificed poor animals.
    Rest were not touched by him.
    Why Ravan is a demon?

    He was selfish. So what?
    Indra was selfish who even killed sages fearing they wud demand heaven.
    Selfish Vishnu became his brother-in-law Jalandar to destroy his wife’s chastity.
    Why Ravana alone is a demon.

    He fought with GOD(Ram/Hanuman). So what?
    Ramcharitmanas mentions Ravan did this to liberate his entire clan from sins.
    He knew that kidnapping Sita is the only option to make Ram and his army fight.
    Ravan failed to realize that Hanuman is Lord Shiv.
    But even this doesnot guarantee Ravana’s demon-ness.

    So, the only option which remains is RAVAN WAS UNFORTUNATE who kept on getting cursed.

    This was answer to ur question. Now, coming to what u said.

    Ravan was a fighter. Ram managed to chop off Ravana’s head but no use.
    If Vibhishan wud not have born or Maatli wud have remained silent, u bet Ravan wud have been still alive.

    Ravan was a devotee. He worshipped Shiv heartedly and even cut his heads as offerings to 10 Rudras.
    What if he didnot offered anything to 11th Rudra!
    His devotion was unmatched. Some people say that Ravan became a priest during Rameshwaram lingam.

    Ravan was knowledged. It is famous folklore that Ravan gave knowledge to Laxman.

    Ravan was an austerite whose penance disturbed peace of heavens.

    Now, shedding some light to what others said.
    Hiranyakasipu became demon not due to his ego/misdeeds but because he considered himself GOD.
    He is demon because he killed devotees.
    He was justice lover who attacked even his beloved son who went against his rules
    Shiv’s son Andhak and Vishnu’s son Narka did this. All were declared demon.
    Ravan never did this as he was himself a devotee.
    Aryans may be considering others as inferior. But, why not Sugriva, Shabari etc. were demons?
    Source(s):
    No one is good or bad. Our perception makes the difference.

Sekarang anda telah mengetahui perbedaan dua karakter Rama, yaitu pada kisah versi Buddhis dan versi Valmiki. Anda telah dapat menilai sendiri benarkah pandangan Valmiki mengenai Rahwana. Anda juga telah melihat bagaimana karakter dan pribadi Dewa-dewi Hindu, Rama, dan kesucian Sita telah di rusak secara biadab oleh seorang bandit yang menamakan dirinya sendiri Rsi Valmiki.

Ramayana versi Valmiki, hanyalah alat politik keagamaan para Brahmin masa lalu yang dilandasi motif keserakahan, kebodohan dan kebencian bertindak untuk kepentingan diri sendiri dan kelompok.

Siapapun yang masih mempercayai kisah Ramayana versi Valmiki, tulsidas dan variannya sebagai suatu kisah suci, maka sesungguhnya, Ia telah menghina kecerdasannya sendiri.


Vegetarian, Makanan Religius? Bukan! Ia Cuma Pilihan Selera Makan..Ngga Lebih Dari Itu!


Sayur dan buah jelas bermanfaat bagi kesehatan namun entah mengapa sekelompok orang gemar sekali membonceng issue global warming dan mengkampanyekan vegetarian sebagai cara paling ampuh untuk menyelamatkan Bumi.

Di artikel sebelumnya sudah kita bedah bahwa ternyata global warming sendiri merupakan bagian dari siklus alam.

Disamping issue global warming, kelompok inipun gemar menggunakan pendekatan keagamaan dengan embel-embel vegetarian lebih suci daripada makanan lainnya [daging] namun inipun hanyalah kedok yang menyesatkan berbalut kepentingan bisnis/aliran semata.

Vegetarian mempunyai sejarah panjang dan telah ada sebelum tahun masehi. Sebelum tahun 1847, kata ‘Vegetarian’ tidaklah dikenal. Mereka yang tidak makan daging disebut sebagai ‘Pythagorean’ atau kelompok aliran Pythagoras.

Istilah vegetarian, pertama kali diproklamirkan oleh Joseph Brotherton dan rekan dihadapan Masyarakat Vegetarian Inggris, Northwood Villa, Kent, Inggris, pada tanggal 30 September 1847.

Vegetarian berasal dari bahasa Latin ‘vegetus’ yang artinya keseluruhan, sehat, segar, hidup. Definisi ‘vegetarian’ menurut Vegetarian Society yang masih digunakan hingga kini adalah hidup dengan mengkonsumsi padi, biji, kacang-kacangang, sayuran dan buah dengan/tanpa susu dan telur atau produk olahannya. Kemudian, definisi vegetarian mengalami diversifikasi, sebagai berikut:

  • Pesco/pollo vegetarian (semi-vegetarian), tidak mengkonsumsi daging merah namun masih mengkonsumsi daging tertentu misalnya daging ayam dan ikan [kelompok daging putih]
  • Lacto-ovo vegetarian, tidak mengkonsumsi daging merah dan putih namun masih mengkonsumsi telur dan produk susu. Yang mengkonsumsi susu dan menghindari telur disebut lacto-vegetarian, sedangkan yang mengkonsumsi telur dan menghindari susu disebut ovo-vegetarian.
  • Vegan [Vegetarian murni] hanya mengkonsumsi biji-bijian, kacang-kacangan, sayur-sayuran dan buah-buahan tidak mengkonsumsi produk hewani termasuk gelatin, keju, yogurt. Mereka juga menghindari madu, royal-jeli dan produk turunan serangga.

    Beberapa Vegan bahkan tidak memakan bawang. Aliran Advent masih membolehkan minum anggur. Sebagian dari vegan juga tidak menggunakan produk hewani seperti kulit hewan ataupun kosmetik yang mengandung produk hewani.

    Kata Vegan merupakan pemotongan kata Vegetarian yang diperkenalkan pertamakalinya oleh Donald Watson saat mendirikan Vegan society di Inggris pada tahun 1 November 1944. Tanggal itu kemudian dijadikan tanggal peringatan World Vegan Day

    Definisi Vegan, selain yang telah disebutkan di atas masih memiliki kekhususan, yaitu:

    • Fruitarian, juicetarians, mengkonsunsi buah-buahan tidak termasuk sayuran. Ada yang menolak makan buah2an yang berisi biji, itu termasuk menolak memakan biji/benih lainnya. Ada yang hanya memakan buah yang jatuh ke tanah saja (tidak dipetik/dicabut [misalnya umbi2an]).

      Alasan tidak memakan buah yang bersisi biji, biji2an, termasuk memetik/mencabut karena dianggap melakukan pembunuhan juga. Ajaran ini berasal dari Jainisme. Mahatma Gandhi pernah 5 tahun berpola hidup frutarian namun kemudian berhenti karena diare.

    • Raw Vegetarian, hanya memakan sayuran dan tumbuhannya namun tidak dimasak [walaupun sebagian membolehkan dimasak asal tidak lebih dari 46/48 °C (115/118 °F)]

Asal-Usul Vegetarian
Yunani kuno dan Romawi kuno memuja banyak Dewa-Dewi. Apollo adalah salah satunya [sekitar 1100 SM], Ia merupakan dewa dengan banyak gelar, di samping sebagai dewa cahaya, matahari, kebenaran, ramalan, obat dan pengobatan, kesehatan, puisi dan lainnya ia juga merupakan ksatria penakluk musuh yang hebat. Lambang Apollo adalah panah dan Gendewa.

Pada saat perayaan, kurban binatang dipersembahkan di kuil Dewa Apollo hingga kemudian Phytagoras (570-c. 495 BC) mempersembahkan tumbuhan dan wewangian di kuil itu. Sejak itulah Kuil Dewa Apollo di Delos, melakukan upacara kurban persembahan tanpa daging dan Raja Yunani pun meresmikan ritual vegetarian sebagai bagian dari agama yunani.

Persembahan kepada Dewa Apollo berupa daun salam. persembahan daun itu sebagai tanda peringatan kisah Apollo & Daphne, yaitu kisah kegagalan Apollo mempersunting Bidadari cantik bernama Daphne. Kisah ini bermula karena penghinaan Appolo pada senjata milik Cupid, sang dewa Asmara. Cupid kemudian menembak Daphne dengan panah timbal [untuk membenci] dan menembak Apolo dengan panah emas [untuk mencintai]. Ini kemudian membuat Daphne membenci Apollo. Appolo pernah tidak putus asa, Ia terus mengejar dan memohon Daphne untuk bersedia menjadi istrinya. Kadang pengejaran ini menjadi lomba lari.

Saat ketika Appolo hampir dapat menawan Daphne. Sang Bidadari itu berteriak memohon pertolongan ayahnya, Dewa Pheneus, membukakan tanah agar ia bisa sembunyi atau merubah bentuknya supaya tidak dikenali dan lolos dari Apollo. Permohonan itu rupanya terkabul, tiba-tiba tangan Daphne berubah menjadi bercabang dan berdaun. Ia tidak bisa berlari karena kakinya masuk ke dalam tanah dan menjadi akar. Bahkan ketika menjadi pohonpun ia tetap masih menjauhi Apollo, yang ketika itu tengah berduka atas apa yang terjadi. Apollo kemudian menganugerahinya keabadian dan menyatakan bahwa daun pohonnya kelak akan selalu digunakan sebagai mahkota bagi para pemenang. Hingga kini daun salam dikenal daun yang tidak busuk.

Phytagoras adalah seorang filsuf Yunani. Setelah Cambyses [Kambūjiya, persia lama] menginvasi Mesir, selama 22 tahun Phytagoras belajar bersama para Magi tentang rahasia Chaldean, Ia kemudian ke Persia dan setelah itu ke India, tempat dimana para Jainis dan Buddhis berkembang pesat. Phytagoras datang ke India sebagai murid namun pulang sebagai guru yang dikenal sebagai Yavanacharya, “Guru dari Ionian”. Salah satu ajarannya yaitu pola hidup vegetarian. [NOTE: Yavana juga merujuk pada arti semua bangsa-bangsa non India dan belum tentu berarti Yunani, menurut definisi kitab Gautama Dharmasutra: kaum Yavana adalah semua yang Ayahnya Ksatriya dan Ibunya Sudra]

Namun menurut Voltaire (The Philosophy of History p. 527), Para Yunani kerap bepergian ke India sebelum Pythagoras melakukan itu. Tak heran jika kemudian sekumpulan orang yaitu: Richard Garbe (Philosophy of Ancient India, pp. 39 ff), Colebrooke (Miscellaneous Essays, i. 436 ff.), Sir William Jones (Works, iii. 236), Professor Maurice Winternitz (Visvabharati Quarterly Feb. 1937, p. 8),Hopkins (Religions of India, p. 559 and 560) and Macdonell (Sanskrit Literature, p. 422) menyatakan bahwa ajaran-ajaran dari Thales, Pythagoras, Socrates dan Plato [Ajaran Orphic, Pythagoras, Neo-Platonism, Stoicisme] memiliki banyak kesamaan dengan aliran tradisi India [Samkhya, Upanisad dan Buddhisme]

[Sumber: Professor H. G. Rawlinson, Legacy of India 1937, p. 5; ON HINDUISM Reviews and Reflections, RAM SWARUP, Forward by DAVID FRAWLEY; Apollonius of Tyana, by G.R.S. Mead; Phytagoras; ARCHAIC HISTORY; Eastern Religions and Western Thought, Dr. Sarvepalli Radhakrishnan p. 143; In Search of The Cradle of Civilization: New Light on Ancient India, George Feuerstein, Subhash Kak & David Frawley p. 252]

Jika praktik hidup vegetarian adalah berasal dari india, maka ajaran India manakah yang saat mendukung praktek vegetarian?

Hindu:
Di website ini anda akan temukan eksploitasi paksa sloka-sloka Veda yang dianggap sebagai larangan mengkonsumsi daging dan pembantaian binatang namun ternyata di kitab Veda yang sama, berserakan pula sloka-sloka yang mendukungan aktivitas persembahan dan mengkonsumsi daging. Berikut beberapa sample slokanya:

    Rig Veda:
    [..]Vrsakapayi yang makmur, yang diberkati dengan putra2 dan menantu2, Indra akan menerima [makan] banteng-bantengmu, persembahan mulia dan tulus darimu. Indra adalah yang tertinggi dari semuanya. Lima belas jumlahnya, kemudian, untukku sejumlah sapi mandul telah disajikan mereka, karenanya ku pilih [u/ di telan] yang gemuk daripadanya: mereka telah memenuhi perut ku dengan makanan.[..][RV 10.86.13-14]

    [..]Pujian bagi yg wafat kan ku lantunkan dihadapannya. Tetua yang menyukai ini, semoga ia dengar pujian kita. Semoga menggapai dekat hatinya dan tergerak karena cinta, bagai pemudi yang berhias rapi ketika berada dekat pujaannya. Ia yang padanya kuda-kuda, banteng-banteng, sapi-sapi dan biri-biri, sebagaimana mestinya tersusun, dipersembahkan -pada agni, sari soma, peminum sari buah, pemberi, dengan tulus kubawakan pujian ini [..][RV 10.91.13-14]

    Ritual Veda Gaomeda, atau ritual dengan mempersembahkan sapi, merupakan ritual standar upacara seperti Raja surya dan/atau Ashwameda yang diakhiri dengan pemotongan kuda jantan. Gambaran ritual yang agak berlumur darah itu dapat dilihat di RV 1.162.9-22

    Brahmanas:
    Menyalakan api menyambut kedatangan beberapa raja adalah sebanding dengan memotong banteng atau sapi menyambut seorang raja atau orang terhormat lainnya [Aiteriya Brahmana, 1.15],

    Penghormatan pada Rsi Agastya dilakukan dengan memotong ratusan banteng [Taiteriya Brahmana, II.1.11.1; Panchavinsha Brahmana,XXXI.14.5]

    Yajnavalkaya sang bijaksana menyatakan jikapun sapi adalah pembantu bagi banyak orang, Ia akan memakan dagingnya jika itu lezat. [Satapatha Brahmana,III.1.2.21]

    Sapi dapat dipotong untuk beberapa persembahan, bukan hanya untuk keperluan religi, namun juga jika seorang memotongnya dan memakan dagingnya [Satapatha Brahmana, IV.5-2.1]

    Banteng dan kambing gemuk dapat di korbankan untuk menghormati tamu penting [Satapatha Brahmana, II.4.2 of the same Brahmana]

    Upanisad:
    Pasangan muda dapat makan malam daging sapi atau anak lembu tertentu jika mereka menginginkan anak lelaki sebagaimana yang disebutkan di kitab-kitab veda [Brihadaranyaka Upanishada (VI.4.18), Robert Trumbull, As I see India, London, 1957, p. 241].

    Jika seorang laki-laki berharap bahwa seorang putra terlahir baginya dan kelak menjadi seorang pelajar terkenal, seringlah berkata-kata baik, murid dari semua Veda dan yang menyukai hidup yang baik, Ia seharusnya memasak nasi dengan lauk sepotong daging banteng muda, atau bagi yang berusia lanjut, Ia dan istri seharusnya makan itu dengan mentega yang disaring. kemudian mereka akan mendapatkan anak seperti yang diharapkan [Brhadaranyaka Upanishad 6.4.18]

    Purana:
    Alaminya, buah-buahan dan bunga adalah makanan bagi serangga dan burung; Rumput dan mahluk-mahluk tanpa kaki adalah makanan bagi binatang berkaki emapt seperti sapi dan kerbau; Binatang yang tidak dapat menggunakan kaki depannya sebagai tangan adalah makanan bagi binatang seperti macan yang mempunyai cakar; dan binatang berkaki empat seperti rusa-rusa dan kambing-kambing juga beras adalah makanan bagi manusia [Srimad Bhagavatam/Bhagavata Purana, 6.4.9]

    Beberapa daging seyogyanya selalu dipertimbangkan sebagai dharmic bahkan di jaman kali yuga sekalipun:

      Kemudian, Vikuksi, anak raja Iksvaku pergi ke hutan dan membunuh banyak binatang yang cocok untuk persembahan. Namun ketika lelah dan lapar ia lupa dan memakan seekor kelinci yang telah dibunuhnya. Vikuksi menawarkan sisa-sisa buruannya pada Raja Iksvaku, yang kemudian memberikannya pada Rsi Vasistha untuk diberkati. Namun Vasitha mengetahui bahwa sebagian dari daging itu telah diambil oleh Vikuksi oleh karenanya ia katakan bahwa pemberian ini tidak pantas untuk upacara Sradha [Srimad Bhagavatam/Bhagavata Purana, 9.6.7-8].

      Sehubungan dengan ayat di atas, Pendiri sekte Gaudiya Vaisnawa yang juga merupakan Tuhan dari aliran Hare Krishna, yaitu Sri Caitanya Mahaprabhu [1486 M – 1534 M)mengatakan,

        “[..]Secara keseluruhan memakan daging tidaklah sepenuhnya dilarang; sekelompok kelas manusia diperbolehkan makan daging menurut beberapa kondisi tertentu. Sejauh pertimbangan pada makan daging, makan sapi dilarang, kemudian di Bhagavad Gita, Krishna secara personal menyatakan pada go-raksyam, pelindung sapi. Pemakan daging, menurut keadaan kalian dan juga sastra, di perbolehkan makan daging namun bukan daging sapi. Sapi mesti diberikan perlindungan[..]”

    Jika seseorang [tidak sengaja] makan binatang berkuku lima, TERKECUALI kelinci, landak, iguana (sej.biawak), badak, dan kura-kura darat, ia harus berpuasa tujuh hari lamanya. [Vaisnava dharmasastra from Visnu-smrti 51.6]

    Itihasa:

      Ramayana:
      ‘Hanya lima diantara semua binatang yang bercakar/jari lima dapat di makan oleh para Brahmana dan Ksatriya, Raghava: Landak, sejenis landak, kadal, kelinci dan yang kelima adalah kura-kura [Ramayana 4:17:34]

      Rama, Lakshmana dan Sitha mengunjungi Petapa Suthikshna dipertapaannya. Sang petapa prihatin karena Rama berburu banyak sekali rusa yang ada di pertapaan. Rama berjanji tidak akan membunuh rusa yang menyebabkan sang petapa tersinggung [Aranyakanda Canto VII:13-24]

      Mahabharata:
      Diskusi antata Raja Dharma Yudhishthira dan Bisma mengenai makananan apa yang seharusnya dipersembahkan pada Leluhir selama perayaan kematian agar mereka puas.

      Variasi suguhan yang berasal dari tumbuh2an hanya menyenangkan leluhur 1 bulan lamanya, kemudian suguhan daging bervariasi dari 2 bulan hingga tak terhingga waktunya.

      Suguhan yang terhingga adalah dengan menyuguhkan daging badak dan terlebih lagi bila menyuguhkan daging kambing merah. Berikut kutipan percakapannya:

        Yudhishthira said, “O thou of great puissance, tell me what that object is which, if dedicated to the Pitiris (dead ancestors), become inexhaustible! What Havi, again, (if offered) lasts for all time? What, indeed, is that which (if presented) becomes eternal?”

        “Bhishma said, “Listen to me, O Yudhishthira, what those Havis are which persons conversant with the rituals of the Shraddha (the ceremony of dead) regard as suitable in view of Shraddha and what the fruits are that attach to each.

        • With sesame seeds and rice and barely and Masha and water and roots and fruits, if given at Shraddhas, the pitris, O king, remain gratified for the period of a month.
        • With fishes offered at Shraddhas, the pitris remain gratified for a period of two months.
        • With the mutton they remain gratified for three months and
        • with the hare for four months,
        • with the flesh of the goat for five months,
        • with the bacon (meat of pig) for six months, and
        • with the flesh of birds for seven.
        • With venison obtained from those deer that are called Prishata, they remaingratified for eight months, and
        • with that obtained from the Ruru for nine months, and
        • with the meat of Gavaya for ten months,
        • With the meat of the bufffalo their gratification lasts for eleven months.
        • With beef presented at the Shraddha, their gratification, it is said , lasts for a full year. Payasa mixed with ghee is as much acceptable to the pitris as beef.
        • With the meat of Vadhrinasa (a large bull) the gratification of pitris lasts for twelve years.
        • the flesh of rhinoceros, offered to the pitris on anniversaries of the lunar days on which they died, becomes inexhaustible.
        • The potherb called Kalaska, the petals of kanchana flower, and meat of (red) goat also, thus offered, prove inexhaustible.
        • So but natural if you want to keep your ancestors satisfied forever, you should serve them the meat of red goat.[Anushashan Parva chapter 88]

    Manusmriti
    Yang kesehariannya memakan makanan yang diperuntukkan baginya sebagai makanan, tidak melakukan dosa apapun; Bagi Pencipta, Ia menciptakan keduanya pemakan dan makanan yang mereka makan(5:30)

    Ia yang memakan daging, ketika ia menghormati Para dewa dan..tidak melakukan dosa, apakah ia yang membawanya sendiri, atau membunuhnya sendiri, atau menerimanya dari orang lainnya [5:32]

    Seorang lelaki, yang berada pada kondisi tertentu [sedang memimpin, atau makan malam di satu upacara suci] menolak memakan daging, setelah kematiannya Ia akan terlahir menjadi binatang selama 21 kehidupan [5:35]

    Tumbuh-tumbuhan bumbu, Pohon, Lembu, Burung-Burung, dan binatang lainnya yang dibinasakan sebagai persembahan, dilahirkan di alam yang lebih baik [5:40]

    Seorang Ksatria, yang mengerti Veda dengan sebenarnya, membunuh binatang untuk tujuan ini [upacara], menyebabkan dirinya dan juga binatang itu diberkati [5:42]

    Tidaklah berdosa memakan daging, meminum alkohol, dan melakukan aktivitas seksual, karena itu alami bagi mahluk yang diciptakan, namun juga abstain dari ganjaran besar(5:56)

    Manawa dharmasastra
    Yajnya artham braahmanairwadhyaah
    Prasastaa mrigapaksiinah.
    Bhrityaanaam caiwa writtyartham
    Agastyo hyaacaratpuraa. (V.22).

    Hewan-hewan dan burung-burung yang dianjurkan boleh dimakan, dapat disembelih oleh para brahmana sepanjang untuk upacara yadnya dan juga diberikan kepada mereka yang patut diberikan. Karena Resi Agastia pun melakukan itu pada zaman dulu.

    Komentar Adi Sankaracharya [788 M – 821 M] di Bhagavad Gita, bab 17.7-10, tentang klasifikasi makanan ke dalam Triguna: Satvam, rajas dan tamasika. Bahkan Daging-dagingan-pun TIDAK MASUK ke kategori RAJASA ataupun TAMASIKA!. Berikut di bawah ini adalah cuplikan sloka BhagavadGita-nya:

      17-8
      ayuh-sattva-balarogya-
      sukha-priti-vivardhanah
      rasyah snigdhah sthira hrdya
      aharah sattvika-priyah

      Makanan yang meningkatkan kehidupan, kekuatan, vitalitas, kesehatan, kegembiraan dan kesenangan, yang terasa lezat, lembut, menyegarkan dan enak, disukai oleh para sattvika.

      17-9
      katv-amla-lavanaty-usna-
      tiksna-ruksa-vidahinah
      ahara rajasasyesta
      duhkha-sokamaya-pradah

      Makanan yang pahit, masam, asin, pedas, kebanyakan rempah-rempah (bumbu), keras dan hangus, yang menyebabkan penderitaan dan penyakit serta kesusahan, disukai oleh kaum rajasa.

      17-10
      yata-yamam gata-rasam
      puti paryusitam ca yat
      ucchistam api camedhyam
      bhojanam tamasa-priyam

      Makanan yang basi, kehilangan rasa, busuk, berbau, bekas sisa dan tidak bersih adalah yang disukai para tamasa.


Jadi, mulai dari Ibu semua Veda, yaitu Rig Veda hingga kepada komentar Adi sankaracharya di Bhagavad Gita memberikan satu kesimpulan yaitu mengkonsumsi daging merupakan hal yang wajar dan praktek Vegetarian BUKANLAH suatu keharusan di Hinduisme. [Bacaan lebih lanjut: “Untouchability, The Dead Cow And The Brahmin“]

Srila Prabhupada [Pendiri ISKCON atau gerakan hare krishna, pada tahun 1965, Boston, Amerika Serikat] pernah berkata

“Terkecuali bahwa, sejauh urusan makan daging, semua sapi akan mati, jadi engkau hanya perlu menunggu sebentar, dan akan tersedia begitu banyak bangkai sapi. Kemudian engkau dapat ambil semua bangkai sapi itu dan memakannya.

Jadi, bagaimana mungkin ini merupakan usulan buruk?

Jika engkau katakan, “Engkau melarang kita untuk makan daging”.

Tidak, Kami tidak melarangmu. Kami sederhananya hanya memintamu “Jangan membunuh. Ketika sapi itu telah mati. Engkau dapat memakannya” [Journey of Self Discovery]

Dalam kesempatan lainnya yaitu ketika Prabhupada meminta Harikesh menjalankan misi “menggalang domba” [baca: Dakwah] di Rusia, Harikesh berkata, “Mereka cuma makan daging”.

Prabhupada memjawab, “Ya Makan daginglah”. [di ambil dari, ‘Thirty Five Years In Mayapur’]

    Srila Prabhupahada dan Hare Krishna-nya, walaupun banyak menggunakan atribut-atribut Hindu, Ia menolak di kategorikan Hindu. Dalam suatu kesempatan, Ia pernah mengatakan bahwa Hindu sebagai sumber keruntuhan moral dan mengatakan di ceramah-ceramahnya tahun 1967, di New York dia berkata, “Sekalipun memunculkan para sarjana, sanyasin, grihasta dan swami besar, apa yang disebut pengikut agama Hindu semuanya tidak berguna, cabang-cabang kering dari agama Veda.”

    Dalam satu wawancara yang diberikan untuk Bhavan’s Journal tanggal 28 Juni, 1976, dia berkata, “India, mereka telah membuang sistem agama yang sesungguhnya, Sanatana Dharma. Secara takhyul, mereka menerima satu agama campur aduk (a hodgepodge thing) yang disebut Hinduisme. Karena itulah muncul kekacauan.”

    Namun ketika aliran ini mendapatkan kesulitan di Inggris dan di Rusia misalnya ketika menghadapi perkara atas gedung ‘Bhaktivedanta Manor’ di Inggris atau ketika dituntut oleh orang Kristen di Russia dan Polandia (yang menganggap Hare Krishna hanyalah gerakan ‘cult’ dan meminta agar pemerintah melarang mereka). Dalam permohonan kepada hakim dan pemerintah, kata Hindu dipergunakan secara terbuka.

    Dalam kasus-kasus hukum yang lain, termasuk kasus di Mahkamah Agung Amerika Serikat, Hare Krishna berusaha menangkis label “cult” dengan menyatakan dirinya sebagai satu sampradaya Hindu tradisional, dan meminta orang-orang Hindu yang lain untuk menguatkan hal ini di pengadilan.

    Dibali saja organisasi ini sering mengajukan permohonan kepada masyarakat dan pengusaha Hindu untuk bantuan keuangan bagi program sosial dan politik mereka untuk melidungi Hare Krishna dari pelecehan dan tuntutan. [Sekilas Hare Krishna; Juga lihat ini: Krishna/ISKCON]


Tulisan di atas, menunjukan satu indikasi kuat bahwa bagi aliran Hare Krisna, Vegetarian masih bisa di kompromikan guna keperluan-keperluan tertentu dan bukan sebuah syarat mati.

Buddhisme:
Apakah Buddhisme mendukung Vegetarianisme? Tidak. Dari seluruh jenis praktek dhutaṅga (praktek pemurnian atau praktek membersihkan kekotoran mental) yang diajarkan sang Buddha kepada umat awam dan para bhikkhu/bhikkuni-nya (yang tinggal di bawah pohon/hutan maupun pemukiman), berupa praktek 3 latihan:

  1. Melepas/berderma (kekayaan, makanan, pakaian, tempat tinggal, obat-obatan, dll)
  2. Moralitas berupa latihan dengan 5 sila, 8 sila 10 sila dan untuk bhikkhu 227 sila dan
  3. Meditasi (memusatkan pikiran, memperhatikan yang seharusnya diperhatikan, tidak memperhatikan yang tidak selayaknya diperhatikan). [Detail lainnya lihat: Ringkasan Ajaran Buddha]

Maka vegetarian tidak termasuk dalam faktor dhutaṅga. Ini artinya vegetarian BUKANLAH faktor untuk mengakhiri penderitaan

Di Vinaya Pitaka (aturan kebhikkhuan) akan kita temukan 5 jenis makanan yang dapat didanakan kepada para bhikkhu/ni, yaitu: nasi (odano), bubur beras (kummāso), rebusan makanan terbuat dari terigu (sattu), ikan (maccho), dan daging (maṃsaṃ). Juga 9 jenis makanan yang lebih istimewa, yang terbuat dari: mentega cair, mentega segar, minyak, madu, sirup gula, ikan, daging, susu, dan dadih. Ke-9 jenis makanan tersebut umumnya ditemukan di kalangan keluarga kaya dan mereka juga mendanakannya kepada para bhikkhu. Para Bikkhu dikatakan melanggar vinaya jika dengan sengaja meminta makanan tersebut Diantara makanan yang berdaging yang disebutkan di atas, Sang Buddha menganjurkan untuk tidak makan 10 jenis daging, yaitu: daging manusia, daging gajah, daging kuda, daging anjing, daging ular, daging singa, daging harimau, daging macan tutul, daging beruang, dan daging serigala atau hyena (Mahavagga Pali, Vinaya Pitaka, Vol.III.58)

Alasan seorang Bhikkhu dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi 10 macam daging tersebut dijelaskan dalam kitab komentar Vinaya (Samattpasadika): Daging manusia tidak seharusnya dimakan karena berasal dari spesies yang sama. Daging gajah dan kuda tidak seharusnya dimakan karena mereka adalah peliharaan dari seorang raja. Sedangkan daging anjing dan ular dikarenakan mereka termasuk jenis hewan yang menjijikkan, kelompok terakhir adalah singa, harimau, dan sebagainya, tidak seharusnya dimakan karena mereka tergolong binatang berbahaya dan jika dimakan bau daging binatang tersebut bisa membahayakan para bhikkhu yang bermeditasi di hutan.

Di Seluruh Tipitaka akan kita temukan bahwa Sang Buddha dan para Bikkhu/ni-nya juga makan daging, misalnya di kisah ini:

Pada suatu ketika, di sebuah hutan, segerombolan perampok membunuh seekor sapi untuk dimakan. Pada saat yang sama, di hutan itu seorang bhikkhuni arahat bernama Uppalavamna sedang duduk bermeditasi di bawah pohon. Ketika melihat bhikkhuni tersebut, kepala gerombolan perampok menganjurkan anak buahnya untuk tidak mengganggu. Dia sendiri menggantungkan sepotong daging sapi di cabang pohon, mempersembahkannya kepada bhikkhuni ini, dan berlalu. Bhikkhuni Uppalavamna kemudian mengambil potongan daging tersebut dan mempersembahkannya kepada Sang Buddha (Nissaggiyapacittiya Pali, Vinaya Pitaka, Vol.III.208)

Pada perjalanan menuju Kusinara (di hari terakhir sebelum Sang Buddha Parinibbana). Cunda, perajin emas dari Pava, mempersembahkan makanan sukaramaddava (daging babi yang empuk/muda) [DN 16/Mahaparinibbana Sutta, Ud 8.5/Cunda Sutta]. Walaupun kata sukaramaddava ini ditafsirkan dalam banyak arti, namun di Buddhavamsa: Buddhapakiṇṇakakathā, disampaikan jelas: Sabbabuddhānaṃ samattiṃsavidhā dhammatā (30 hal yang selalu terjadi pada seluruh Buddha) yaitu pada no.29: “parinibbānadivase maṃsarasabhojanaṃ” (Di hari Parinibannanya makan makanan yang mengandung daging). Arti kata “maṃsa” adalah daging.

Kemudian, di AN 5.44/Manāpadāyī sutta, seorang perumah tangga dari Vesali bernama Ugga menyajikan daging babi kepada Sang Buddha,

    “Di hadapan Guru, aku mendengar dan tahu dari Sang Bhagava sendiri bahwa seseorang yang memberikan hal menyenangkan, akan menerima kegembiraan, aku menyenangi masakan daging babi (sūkaramaṃsaṃ) dengan sari buah jujube. Semoga sang Bhagava menerimanya dengan perasaan kasih. Dengan perasaan kasihnya Sang Buddha menerima” (Sammukhā metaṃ, bhante, bhagavato sutaṃ sammukhā paṭiggahitaṃ: ‘manāpadāyī labhate manāpan’ti. Manāpaṃ me, bhante, sampannakolakaṃ sūkaramaṃsaṃ; taṃ me bhagavā paṭiggaṇhātu anukampaṃ upādāyā”ti. Paṭiggahesi bhagavā anukampaṃ upādāya)


Ketika Ugga wafat, Ia terlahir di Alam deva manomaya (Alam deva yang dapat menciptakan sesuai pikirannya), Ia datang memberi hormat dihadapan Sang Buddha di Savatthi, vihara jetavana

Karena Sang Buddha dan para murid-Nya bersikap non-vegetarian, tidak sedikit tokoh keagamaan lainnya yang mencela Sang Buddha. Sebagai contoh, suatu ketika kepala suku Vajji yang bernama Siha mengundang Sang Buddha dan murid-Nya untuk makan siang. Siha mempersembahkan nasi dan lauk, termasuk daging yang dibelinya di pasar. Sekelompok pertapa Jain mendengar bahwa Siha mempersembahkan nasi campur daging kepada Sang Buddha. Mereka mencela Sang Buddha maupun Siha, mereka memfitnah: “Siha, sang kepala suku, telah membunuh binatang besar untuk diambil dagingnya dan dipersembahkan kepada Sang Buddha, dan sekalipun Sang Buddha mengetahuinya, Ia tetap saja memakan daging tersebut (AN 8.12/Siha-senapati Sutta).

Berdasarkan Jainisme, memakan daging adalah hal yang salah. Mereka berpandangan bahwa seseorang yang memakan daging akan mewarisi setengah karma buruk yang dibuat oleh si pembunuh hewan itu. Si pembunuh membunuh hewan karena si pemakan memakan daging. Sebelum menjadi pengikut Sang Buddha, Siha adalah pengikut Mahavira, pendiri Jainisme.

Suatu ketika, seorang tabib bernama Jivaka mengunjungi Sang Buddha dan memberitahukan tentang berita yang didengarnya. “Yang mulia, ada yang mengatakan bahwa beberapa bintang telah dibunuh untuk diambil dagingnya dan dipersembahkan kepada Pertapa Gotama. Pertapa Gotama menerimanya sekalipun mengetahui bahwa binatang itu khusus dibunuh untuk-Nya. Yang Mulia, mohon dijelaskan apakah yang mereka katakan itu benar atau tidak.”

Sang Bhuddha menolak kebenaran berita tersebut dan menjelaskan, ”O Jivaka, barang siapa yang terlibat dalam pemotongan hewan untuk diambil dagingnya dan dipersembahkan kepada-Ku dan para murid-Ku, orang itu akan melakukan banyak kejahatan karena lima hal:

  1. Ketika ia berkata: ‘Pergi dan tangkap makhluk hidup itu,’ ini adalah kasus pertama yang mana ia menimbun banyak keburukan;
  2. Ketika makhluk hidup itu mengalami kesakitan dan kesedihan karena ditarik dengan leher tercekik, ini adalah kasus ke dua yang mana ia menimbun banyak keburukan;
  3. Ketika ia berkata: ‘Pergi dan sembelilah makhluk hidup itu,’ ini adalah kasus ke tiga yang mana ia menimbun banyak keburukan;
  4. Ketika makhluk hidup itu mengalami kesakitan dan kesedihan karena disembelih, ini adalah kasus ke empat yang mana ia menimbun banyak keburukan
  5. Ketika ia mempersembahkan makanan yang tidak diperbolehkan kepada Sang Tathāgata atau siswaNya, ini adalah kasus ke lima yang mana ia menimbun banyak keburukan.”


Siapapun juga yang menyembelih makhluk hidup untuk Sang Tathāgata atau siswaNya, ia menimbun banyak keburukan dalam lima kasus ini….ada tiga kasus yang mana daging boleh dimakan, jika: tidak terlihat (a-diṭṭhaṃ), tidak terdengar (a-sutaṃ), dan tidak dicurigai (a-parisaṅkitaṃ) – bahwa makhluk hidup itu disembelih untuk dirinya-” [MN 55/Jivaka].

Kondisi tiga ini disebut tikoṭiparisuddha (murni dalam tiga aspek) untuk menghindari pembunuhan, melarangnya membunuh demi makanan namun tidak melarang membeli daging dari binatang yang telah mati asalkan sesuai 3 syarat di atas, karena makan daging bukanlah perbuatan buruk, seperti halnya perbuatan membunuh makhluk hidup. Oleh karenanya, Sang Buddha menolak kepercayaan bahwa orang yang makan daging akan ikut mewarisi perbuatan buruk dari orang yang membunuh hewan.

Ajakan vegetarian BUKAN BERASAL dari ajaran sang Buddha namun berasal dari ajaran Devadatta (sepupu Sang Buddha, yang selalu menentang Sang Buddha) yang telah ditolak Sang Buddha:

    Kemudian Devadatta mendatangi Kokālika, Kaṭamorakatissaka, putera Nyonya Khaṇḍā, dan Samuddadatta: “Yang Mulia, Marilah, kita memecah-belah Saṅgha Petapa Gotama dan merusak kerukunan..Kita menghadap pada petapa Gotama dan meminta 5 hal dengan mengatakan: ‘Yang Mulia, dalam berbagai cara Yang Mulia memuji sedikit keinginan, merasa puas, melenyapkan (keburukan), berhati-hati, berbelas kasih, mengurangi (rintangan-rintangan), mengerahkan kegigihan. Yang Mulia, 5 hal ini berperan besar dalam hal sedikit keinginan,…, mengerahkan kegigihan. Baik sekali, Yang Mulia, jika para bhikkhu, seumur hidup mereka harus:

    1. menjadi penghuni-hutan; siapa pun yang bepergian ke dekat desa, maka ia melakukan pelanggaran.
    2. menjadi penerima dana makanan dengan cara berjalan untuk mengumpulkannya; siapa pun yang menerima suatu undangan, maka ia melakukan pelanggaran.
    3. menjadi pemakai jubah kain buangan; siapa pun yang menerima jubah yang diberikan oleh perumah tangga, maka ia melakukan pelanggaran.
    4. berdiam di bawah pohon; siapa pun yang berada di bawah atap, maka ia melakukan pelanggaran.
    5. tidak boleh makan ikan dan daging, siapa pun yang memakan ikan dan daging, maka ia melakukan pelanggaran’..”

    Kemudian Devadatta bersama dengan teman-temannya menghadap Sang Bhagavā dan menyampaikan hal tersebut. Sang Buddha berkata: ”Cukup, Devadatta, Siapa pun yang menghendaki, Ia:

    1. boleh menjadi penghuni-hutan; boleh menetap di dekat desa;
    2. boleh menerima dana makanan dengan cara berjalan untuk mengumpulkannya; boleh menerima undangan;
    3. boleh menjadi pemakai jubah kain buangan; boleh menerima jubah dari para perumah tangga
    4. selama 8 bulan (yaitu selain 3/4 bulan masa vassa/hujan), Devadatta, Aku mengizinkan para bhikkhu menetap di bawah pohon
    5. boleh memakan Ikan dan daging asalkan murni dalam 3 hal: TIDAK melihat secara langsung pada saat binatang tersebut dibunuh, TIDAK Mendengar secara langsung suara binatang tersebut pada saat dibunuh dan Mengetahui bahwa hidangan daging itu, TIDAK KHUSUS dibunuh agar dapat diberikan padanya” [Cullavagga, bab.7, Vinaya Pitaka]


Sehubungan dengan konsumsi daging, SNP 2.2/Amagandha Sutta menyampaikan bahwa pada suatu ketika, seorang pertapa (Brahmin, bernama Amagandha) bersama 500 muridnya yang menjalani praktek vegetarian mendatangi Sang Buddha dan menanyakan apakah Sang Buddha memakan amagandha atau tidak. Amagandha secara harfiah berarti bau daging, berkonotasi sesuatu yang berbau busuk, menjijikkan, dan kotor. Karena itulah pertapa ini memakai istilah amagandha. Selanjutnya Sang Buddha menjelaskan bahwa makan daging bukanlah amagandha, tetapi segala jenis kekotoran mental dan semua bentuk perbuatan jahatlah yang semestinya disebut amagandha. Sang Buddha berkata:

  • Membunuh, menganiaya, memotong, mencuri, berdusta, menipu, kepura-puraan, berzinah, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging.
  • Jika seorang tidak terkendali hawa nafsunya, serakah, melakukan tindakan yang tidak baik, berpandangan salah, tidak jujur, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging.
  • Jika seseorang berlaku kasar dan kejam, suka memfitnah, pengkhianat, tanpa belas kasih, sombong, kikir, dan tidak pernah berdana, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging.
  • Kemarahan, kesombongan, keras kepala, bermusuhan, munafik, dengki, tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, berhubungan dengan hal-hal yang tidak baik, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging.
  • Jika seseorang bermoral buruk, menolak membayar hutang, pengumpat, penuh tipu daya, penuh dengan kepura-puraan, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging.


[Bacaan lain, lihat: Buddhism & Vegetarianism, Sayadaw U Nandamala atau lihat juga: Riwayat Sidhartha Gotama/Buddha Gotama]

Namun demikian, terdapat beberapa aliran Buddhisme yang telah nekad dengan menambah sendiri aturan mengharamkan daging sebagai syarat mencapai kesucian dan ini BUKANLAH sabda otentik Buddha Gautama namun telah dicatutkan sebagai ucapan beliau ratusan tahun setelah wafatnya, diantaranya:

  1. Lankavatara Sutra, Ch.8, Dalam catatan di sutra itu dikatakan Bab ttg makan-daging merupakan tambahan lain yang dilakukan belakangan. Kemudian note dari Binh Anson menyatakan Sutra Lankavatara merupakan produk dari perkembangan aliran Mahayana di kemudian waktu. Menurut H. Nakamura (Buddhisme India, 1987), ada beberapa versi Sutra ini, satu yang cukup berbeda dalam konten dari yang lain. Kebanyakan para sarjana menyimpulkan bahwa sutra ini kemungkinan besar disusun dalam 350-400 M. Selain itu, Master Zen DT Suzuki (Lankavatara Sutra – A Mahayana Text, 1931), bab yang berurusan dengan makan daging merupakan tambahan yang terjadi jauh waktu kemudian di versi berikutnya. Dia juga sepakat bahwa sutra ini bukan merupakan kata-kata otentik oleh Buddha, tetapi disusun jauh hari kemudian oleh penulis anonim yang berasal dari aliran Mahayana
  2. Shurangama sutta, dalam “THE SHURANGAMA-SUTRA (T. 945): A REAPPRAISAL OF ITS AUTHENTICITY, Ronald Epstein, menyatakan sutra ini merupakan hasil editan dan diterbitkan di China pada tahun 705 M [lihat juga “The Śūraṅgama-sūtra with Tripiṭaka Master Hsüan-hua’s Commentary An Elementary Explanation of Its General Meaning: A Preliminary Study and Partial Translation. Ph.D. Dissertation. University of California at Berkeley, 1975]
  3. Mahayana Mahaparinirvana Sutra, dari tiga versi sutra ini yang masih ada adalah berasal dari abad ke-3 s/d 5 Masehi [detail lanjutannya lihat “TEXTUAL HISTORY OF THE MAHÂYÂNA-MAHÂPARINIRVÂNA-SÛTRA, Stephen Hodge]
  4. Detail sutra setelah masehi lainnya lihat di: TO EAT OR NOT TO EAT MEAT, A BUDDHIST REFLECTION, S. DHAMMIKA


Sehingga dapat disimpulkan bahwa di Buddhisme isu makanan tidak relevan dengan urusan kesucian dan tidak dilarang dikonsumsi asal sesuai persyaratan.

Jainisme:
Di atas, telah kita ketahui bahwa dua tradisi India, yaitu Hinduisme dan Buddhisme tidak menganggap praktek vegetarian merupakan suatu keharusan. Lantas di tradisi India manakah yang mempunyai dukungan penuh terhadap praktek vegetarian?

Jawabannya adalah hanya di aliran Jainisme!

Menurut aliran Jain, Jiva/Atman/Roh ada di bumi, air, api, udara, sayur-mayur dan semua mahluk. Jiwa seekor semut dan seekor gajah tidaklah berbeda hanya bentuknya saja yang mengikuti bentuk mahluk tersebut. Karma sebelumnya menjadikan mereka terlahir kembali menjadi bentuk-bentuk seperti tersebut di atas.

Jainisme mengklasifikasikan kelahiran kembali mahluk hidup kedalam 6 kelas. Kelas terendah adalah mahluk yang mempunyai satu indera [ekindriya] termasuk didalamnya bentuk bumi, api, air, sayuran. Mereka hanya memiliki hanya empat ciri vital, yaitu: mempunyai umur, dapat bernafas, mempunyai fisik dan memiliki sentuhan.

Setelah mahluk-mahluk tersebut mati, maka kelahiran kembali mereka akan meningkatkan status kelas mereka.

Jainisme sangat mendukung praktek a-himsa [tidak menyakiti mahluk hidup] sebagaimana tersurat pada text dibawah ini:

    Himsa [menyakiti mahluk] adalah rintangan terbesar bagi penyucian diri, dimana seseorang memuaskan diri dengan menyakiti mahluk tidak akan tercerahkan. [Acharanga Sutra]

    “mengetahui bahwa semua kejahatan dan penderitaan ditimbulkan akibat menyakiti mahluk dan selanjutnya mengarahkannya pada kebencian dan permusuhan tiada ada henti merupakan akar penderitaan, Seorang bijaksana, yang telah disadarkan sepatutnya menahan diri dari semua aktivitas penuh dosa” [Sutrakrtanga Sutra]

    “Tanpa membunuh mahluk hidup, maka tidak tersedia daging. Cedera merupakan hal yang terelakan di kalangan para mahluk pemakan daging. Walaupun benar daging dapat diperoleh dari kematian alami seekor kerbau liar dan sapi, di dalam luka dan juga mayat tersebut sedang berkelanjutan kelahiran makhluk-mahluk hidup..Ia yang makan, bahkan menyentuh, memasak, memakan mentah2 ataupun bentuk lain dari memotongnya, membasmi banyak jenis mahluk berjiwa” [Purusharthsidhyupaya]


Namun demikian, untuk memahami mengapa tetap ada mahluk-mahluk yang terbuhuh/dilukai, maka perlu kita pahami lebih lanjut konsep Himsa menurut aliran jain ini.

Himsa dibedakan antara `Sthula Himsa’ Dan `Sukshma Himsa’. Sthula Himsa, melukai/membunuh mahluk yang mempunyai dua indra atau adalah lebih terlarang bagi semua Jain, sementara ‘Sukshma Himsa’ bahkan mahluk yang memiliki satu indera [ekindriya] termasuk didalamnya jiwa2 yang tidak bergerak [Sthavara-Jivas] terlarang dilukai/dibinasakan oleh Petapa Jaina

Himsa [menyakiti] di kategorikan dalam:

  • Arambhaja or Arambhi Himsa, melukai/membunuh mahluk tersebut terjadi sebagai konsekuensi dari pekerjaan/kejadian yang lakoni seorang jaina. Kondisi ini terbagi menjadi:
    • Udyami Himsa, melukai/pembunuhan yang terjadi sebagai konsekuensi dari pekerjaan yang dilakukan. Terdapat kelompok pekerjaan-pekerjaan tertentu yang mendapatkan “ijin” karena aturan “himsa” ini, yaitu: prajurit, penulis, agriculturist, pedagang, montir/tukang, dan intelektual.
    • Grharambhi Himsa, melukai/pembunuhan yang terjadi sebagai konsekuensi dari pekerjaan rumah tangga seperti: mempersiapkan makanan, memelihara/membersihkan [rumah, badan, pakaian, hal2 lainnya yang memerlukan dibersihkan/dipelihara], konstruksi bangunan, sumur-sumur, kebun, dan infra struktur lainnya, beternak, dll.
    • Virodhi Himsa, melukai/pembunuhan yang terjadi sebagai konsekuensi dari mempertahankan diri/harta milik dengan mengadakan perlawanan terhadap para pencurian/perampokan, penyerbu dan musuh, dalam menghadapi agresi.
  • Anarambhaja or Anarambhi or Samkalpi Himsa, dimana melukai/membunuh mahluk terjadi bukan karena pekerjaan [ada unsur kesengajaan]


[Sumber: A Treatise On Jainism By – Shri Jayatilal S. Sanghvi; AHIMSA(NON-VIOLENCE); Meat; Jainism]

Berdasarkan kutipan teks tersebut di atas, definisi himsa dan kelas mahluk hidup, maka pembunuhan mahluk hidup apapun tetaplah menimbulkan dosa namun kadar dosa yang terendah yang diakibatkannya berasal dari terbunuhnya mahluk-mahluk ekindriya.

Inilah alasan utama mengapa vegetarian sangat dianjurkan di Jainisme.

Namun demikian, menurut saya, setelah melihat lingkup pengertian dari jiwa, praktek a-himsa hingga ke vegetarian, maka alasan vegetarian di aliran ini lebih berfokus kepada pemilahan korban untuk mengisi perut daripada pemenuhan praktek a-himsa, karena pemilahan ini didasarkan pada kadar dosa terendah jika melakukan himsa.

Pengikut Jainisme di seluruh dunia ini tidak lebih dari 4.2 juta jiwa [tahun 2001]. Namun ajaran vegetariannya melampaui benua dan menyebar ke seluruh dunia.

Mengapa ini bisa terjadi?

Dari 3 Aliran tradisi India di atas, Buddhisme merupakan satu-satunya aliran yang tidak mengakui adanya Jiva/Roh/Atman yang menjadi inti mahluk hidup sedangkan dua aliran lainnya mengakui kebaradaan jiwa ada diseluruh mahluk hidup.

Ketika Phytagoras berkunjung ke India, maka dapat dipastikan Philosofis aliran Jainisme tentang jiva, kelahiran kembali dan vegetarian sangat mencocoki seleranya. Ajaran itulah yang kemudian dibawanya ke Yunani dan menyebar ke seluruh dunia serta merambah ke area ajaran Abrahmic berkembang.

Para penulis Yahudi-yunani Alexandrian menyatakan bahwa Pythagoras mengajarkan doktrin Judaisme. Aristobulus dari Alexandria ( sekitar 150 SM), Filsuf religious Yahudi pertama, mengevaluasi ajaran pytagoras dan menggunakan doktrin angka aliran pytagoras itu seluas-luasnya, kemudian filsuf ke-3 Yahudi yaitu Philo [20-15 – 45-50 M] berbasis aliran Pytaghoras, Ia memakai angka 3 sebagai dasar trinity ketuhanan Yahudi untuk pertama kalinya. [Alexandrian Judaism: the Precursor of Christianity]

Nasrani:
Satu Decade yang lalu, sebuah organisasi yang bernama People for the Ethical Treatment of Animals (PETA), meluncurkan satu kampanye bahwa Yesus adalah seorang vegetarian yang berasal dari sekte Essene dan sekte itu juga Sekte vegetarian.

Aliran Yahudi terbagi dalam 3 sekte yaitu, Saduki, Farasi dan Essene. Aliran terakhir tidak pernah disebut di Alkitab dan menjadi populer setelah ditemukan risalah Laut Mati [Dead Scroll]. Di jaman Yesus masih hidup, kaum Essene tinggal di padang pasir Judea yang ada di sebelah barat laut mati.

Klaim itu bermula dari hasil temuan arkeologi di sekitar Oasis Ein Gedi, dekat laut mati. Lokasi Essene di Ein Gedi adalah menurut penulis romawi, seorang tetua bernama Pliny (wafat 79 M), di bukunya “Natural History” (N’H,V,XV).

Dalam penggalian arkelogi tersebut tidak diketemukan adanya tulang belulang binatang.

Kemudian, mereka juga merujuk pada Hari ke-6 Penciptaan, yaitu setelah Manusia di ciptakan Allah menurut Perjanjian lama, Kejadian 1:29-30 sebagai berikut,

    Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian.


Juga merujuk pada kejadian setelah banjir besar Nuh [yang tidak masuk akal itu, lihat detailnya di sini], yaitu di Kejadian 9:4,

    Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan.


Juga berdasarkan ayat di Perjanjian baru, surat Roma 14:21, yaitu surat yang ditulis Paulus melalui pembantunya tertius di menjelang akhir perjalanan misioner yang ketiga, Ketika itu Paulus berada di Korintus di rumah Gayus dan sedang merencanakan kembali ke Yerusalem untuk hari Pentakosta:

    Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu.


Benarkah Yesus, Kaum Essene dan Nasrani mengajarkan Vegetarian?

Tentu tidak dan tidak mendekati sama sekali.

Pertama-tama,
Klaim bahwa tidak ditemukan tulang belulang hewan, tidak lah tepat, karena penggalian arkeologi tersebut akhirnya menemukan 4,000 tulang belulang hewan di Ein Gedi juga.

Bahkan di kitab kaum essene, Covenant of Damascus, The ‘ZADOKITE’ DOCUMENT, mengenai makanan tertulis [lihat di sini dan di sini]:

    Tak seorangpun berlumur dosa dengan makan binatang melata atau binatang kotor manapun. Aturan ini meliputi larva lebah dan mahluk hidup manapun yang keluar dari air. Janganlah memakan ikan kecuali di sayat ketika ia masih hidup dan darahnya dibuang.
    Perihal berbagai macam belalang, taruhlah di api atau air selagi mereka masih hidup; Itulah yang sejatinya mereka alami [xii, 11-15]

Kedua,
Penafsiran dari ayat-ayat kitab kejadian di alkitab tersebut diatas tidaklah tepat. Untuk kejadian 1:29-30, jika mereka mau mundur 1-2 ayat akan ditemukan kata “ternak” pada sekumpulan hewan, yaitu di Kejadian 1:24-25:

    Berfirmanlah Allah: “Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak [be-hay-maw: binatang domestik, ternak] dan binatang melata dan segala jenis binatang liar [chay: liar].” Dan jadilah demikian. Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

Tentunya definisi ternak bukan hanya dimanfaatkan tenaganya namun juga dagingnya.

Di Kejadian 3:21 Tuhan juga mengajarkan pemanfaatan binatang untuk diambil kulitnya sebagai pakaian bagi Adam dan Hawa. Ayat ini bolehlah dianggap sebagai ayat favorit para designer pakaian kulit binatang.

Bagi yang menganggap bahwa vegetarian terjadi sebelum Adam dan Hawa “jatuh dalam dosa”, maka inipun tidaklah tepat karena setelah jatuh dalam dosa, di kejadian 3:18, Allah malah mengutuk mereka agar menjadi vegetarian:

    semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;

Tentu saja hal itu juga tidak benar karena di kejadian 4:2, Anak Adam dan Hawa, yaitu si sulung Habel menjadi gembala kambing dan domba sedangkan si nomor 2, yaitu Kain menjadi petani kemudian di Kejadian 4:3-5, dikisahkan bahwa ternyata Allah lebih menyukai persembahan DAGING daripada tetumbuhan.

Di setelah banjir besarpun, yaitu di kejadian 8:20 Nuh memberikan korban persembahan daging bagi Allah. Kemudian Allah juga menegaskan kembali di kejadian 9:3 bahwa segala yang bergerak dan tumbuhan akan menjadi makanan seluruh keturunan Nuh dengan pengecualian pada darah binatang tidak boleh dimakan [kejadian 9:4]

Kemudian jika dinyatakan bahwa Roma 14:21 sebagai dasar vegetarian, maka itu juga kurang tepat mengingat di Roma 14:2 dan 14:17, dinyatakan sebagai berikut:

    Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja…Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.

Di surat Paulus lainnya yaitu korintus 10:25-26, untuk jemaat di korintus ditegaskan bahwa makan daging itu boleh2 saja selama itu bukan bekas persembahan kepada berhala:

    Kamu boleh makan segala sesuatu yang dijual di pasar daging, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. Karena: “bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan.”. Kalau kamu diundang makan oleh seorang yang tidak percaya, dan undangan itu kamu terima, makanlah apa saja yang dihidangkan kepadamu, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. Tetapi kalau seorang berkata kepadamu: “Itu persembahan berhala!” janganlah engkau memakannya, oleh karena dia yang mengatakan hal itu kepadamu dan karena keberatan-keberatan hati nurani.

Yesus juga ternyata makan ikan sebagaimana tergambar di beberapa perjalanan sebelum kisah penyaliban [Matius 14:19, 15:34-36; Markus 6:41; 8:7; Lukas 9:16]. Setelah periode penyaliban, Yesus juga melakukan demonstrasi makan ikan sebagaimana tercantum di Lukas 24:41-43,

    Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: “Adakah padamu makanan di sini?” Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka.

Juga di Yohanes 21:9-13, yaitu ketika Yesus melakukan “penampakan” yang ketiga kalinya, saat itu, Ia menyempatkan diri untuk sarapan ikan:

    Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti.Kata Yesus kepada mereka: “Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.”..Kata Yesus kepada mereka: “Marilah dan sarapanlah.”..Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu.

Disamping ikan, Yesus dan 12 Muridnya pun makan daging domba, sembelihan untuk upacara paskah [Markus 14:12-18; Lukas 22:7-16] Bahkan alkitab juga mengindikasikan bahwa makan daging domba Paskah sudah kerap dilakukan sebelumnya yaitu pada kalimat “Kata-Nya kepada mereka: “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu..”

Berdasarkan petunjuk diatas, dapat kita simpulkan bahwa makan daging dan kebiasaan mempersembahkan binatang kepada tuhan, baik itu dipersembahkan kepada tuhan orang kafir maupun tuhan yahudi dan kaum Nasrani adalah hal yang lazim dilakukan.

Islam:
Tidak diragukan lagi Islam sangat tidak mendukung praktek vegetarian. Menurut Allah semua makanan dapat dimakan, kecuali binatang tertentu yang diharamkan sebagaimana tersurat dari ayat-ayat dibawah ini:

    AQ 23: 21. Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian daripadanya kamu makan,

    AQ 6:142. Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makanlah dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

    AQ 22:34. Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah),

    AQ 22:30. Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah[989] maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.

    AQ 22:28. supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan[985] atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak[986]. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.

    AQ 5:1. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu[388]. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.

    AQ 16:5. Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan.

    AQ 40:79. Allahlah yang menjadikan binatang ternak untuk kamu, sebagiannya untuk kamu kendarai dan sebagiannya untuk kamu makan.

Dari bukti-bukti tekstual religi di atas, kita melihat bahwa tidak ada satupun agama dengan tanpa kompromi mendukung Vegetarian KECUALI satu aliran saja yaitu Jainisme.

Bahkan Aliran Hare Krishna secara terang-terangan masih berkompromi makan daging selama diperuntukan untuk tujuan tertentu, misalnya berdakwah.

Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah benarkan manusia secara alami adalah vegetarian?

Prof Hiromi, seorang ahli usus dan juga non vegetarian, memang Ia tidak merekomendasikan daging sebagai makanan utama. Dia hanya menganjurkan makan daging itu cukup 15% dari seluruh makanan yang masuk ke perut sesuai dengan perbandingan jumlah gigi manusia, dimana jumlah gigi taring kita, yang tugasnya mengoyak-ngoyak makanan seperti daging, adalah 15% dari seluruh gigi kita.

Manfaat paling nyata dari daging adalah keratin!

Ya! Itulah alasan mengapa daging itu perlu, karena keratin alami hanya ada di HEWANI [kita bisa masukan manusia dengan susunya disini] dan TIDAK di Nabati.

Trus manfaatnya apa sih?

Keratin berguna bagi perkembangan otak pada embrio manusia [baca: bayi], mengoptimalkan fungsi fisiologi pada otak, jaringan saraf, sistem saraf, otot dakn lain-lain [yang butuh banyak energi]. Keratin juga berguna mengobati penyakit2 otot dan saraf misalnya: artritis, gagal jantung, penyakit Parkinson, atrofi, penyakit McArdle, penyakit Huntington!

Berbicara tentang percobaan pada tikus, hasil studi menyatakan keratin dua kali lebih efektif dari obat riluzol dalam memperpanjang usia tikus yang terkena penyakit neuro-degeneratif sklerosis amiotropik lateral (ALS / penyakit Lou Gehrig).

Apa lagi pada manusia, ya..

Efek neuropatif yang muncul mungkin diakibatkan oleh peningkatan ketersediaan energi di dalam sel saraf yang rusak.

Tentu saja cara memasak yang tidak benar DAPAT mengubah keratin menjadi keratinin yang merupakan zat racun dalam darah.

Turunan produk daging yang bermanfaat bagi manusia adalah susu, disamping sebagai sumber kalsium juga hal-hal lain yang ada di susu.

Berikut ini perbandingan kandungan susu Ibu, susu sapi dan sari kedelai per 100 gram dengan kadar air 88.6% [g]:

  • Susu Ibu berisi: 1.4 g protein, 3.1 gram lemak, 7.2 kabohidrat, 62 Kcal energi, 35 mg kalsium, 15 mg fosfor, 0.2 mg besi, 7.0% laktosa (gula)
  • Susu Sapi berisi: 2.9 g protein, 3.3 lemak, 4.5 kabohidrat, 59 Kcal energy, 100 mg kalsium, 36 mg fosfor, 0.1 mg besi, 4.6% laktosa
  • Susu [baca: sari] Kedelai berisi: 4.4 g protein, 2.5 g lemak, 3.8 g kabohidrat, 52 Kcal energy, 18.5 mg kalsium, 2.5 mg fosfor, 1.5 mg besi, 0% laktosa
  • Sumber: Chen S. Sari kedelai: a drink from the great earth. American Soybean Association, 1983

    Note:
    Khusus kandungan laktosa [per 100 gram] di ambil dari wikipedia. Untuk susu kedelai kadar laktosanya nil. Ada yang alergi laktosa namun jika susu sapi di yoghurt, maka laktosanya rusak, sehingga orang yang alergi ini dapat meminumnya. Bacaan lebih lanjut: “Susu Kedelai versus Susu Sapi, Mana Lebih Baik?

Salah satu kebaikan dari susu adalah menghindari kanker usus, seperti yang dirilis oleh European Journal of Clinical Nutrition (2001) 55, 1000-1007 yang di sponsori oleh Swedish Cancer Foundation [lihat di sini, di sini dan di sini]

    “Conclusions: Our results indicate that individuals showing high consumption of milk have a potentially reduced risk of colon cancer; however, the association does not appear to be due to intake of calcium, vitamin D, or to specific effects of fermented milk.”

Namun demikian, jika minum susu berlebihan malah akan mengakibatkan osteoporosis dan juga osteoarchtistic.

    Kadar kalsium dalam darah biasanya 9-10 miligram. Kalau kita minum susu, maka konsentrasi kalsium dalam darah tiba-tiba meningkat. Akibatnya adalah tubuh harus mengembalikan kondisi ke kadar normal dengan jalan membuang kalsium dari ginjal melalui urine.

    Bukti yang diberikan oleh Hiromi Shinya adalah di negara yang tingkat konsumsi susunya tinggi seperti Amerika Serikat, Swedia, Denmark dan Finlandia, kasus retak tulang panggul dan osteoporosis jauh lebih tinggi dibanding negara-negara Asia dan Afrika, yang konsumsi susunya lebih rendah. – [Majalah Tempo, ed 15-22 Nov 2009]

    Iklan susu juga menyesatkan dan mengakibatkan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (POM) melakukan penyitaan: “Kami juga menyita produk susu ‘anlene’ karena label di kemasannya menyalahi izin. Di label itu menyebutkan kegunaannya sebagai nutrisi dan menyempurnakan tulang. Penyebutan ini tidak boleh, dan yang diizinkan dengan penyebutan kegunaannya menjaga kesehatan, bukan untuk mengobati,”

    Padahal cukup banyak minun teh hijau maka dua gejala keluarga besar osteo mana saja dapat di cegah dan di obati! – [Penelitian Dr. Ping Chung Leung dan rekan dari Institute of Chinese Medicine, Chinese University of Hong Kong, dipublikasikan di Journal of Agricultural and Food Chemistry, Agustus 2009]

Di beberapa situs, terutama situs-situs pendukung praktek hidup Vegetarian, terdapat sirkulasi tulisan dari BBC dengan judul: High IQ link to being vegetarian [juga di sciencedaily], yang melansir hasil penelitian British Medical Journal:

    [..]Team dari Universitas Southampton menemukan bahwa mereka [test IQ dilakukan saat subjek berusia 10 tahun], mempunyai hasil test IQ 5 poin lebih tinggi dari rata-ratanya ketika memutuskan menjadi vegetarian di usia 30 tahun

    Peneliti menyatakan bahwa ini dapat menerangkan mengapa mereka yang memiliki IQ lebih cerdas lebih sehat ketika ber diet vegetarian yang berhubungan dengan rendahnya rata-rata jumlah penderita sakit jantung dan kegemukan

    Penelitian pada 8,179 orang dilaporkan di British Medical Journal.
    ..
    Liz O’Neill, dari masyarakan Vegetarian, mengatakan: “Kita selalu tahu bahwa vegetarianisme adalah cerdas, pilihan berbelas kasih yang menguntungkan binatang, masyarakat dan lingkungan

    “Sekarang kita punya pembuktian saintifik untuk membuktikan itu. Mungkin itulah yang menjelaskan mengapa banyak “meat-reducer” dengan cerdas menyebut diri mereka vegetarian yang bahkan mereka juga tahu mesti ngga makan ikan, kalkun atau ikan”[..]

    Note: Vegetarianisme adalah Praktik hidup yang sepenuhnya mengkonsumsi tetumbuhan, dengan atau tanpa produk yang berasal dari susu, madu dan telur

Secara Provokatif, berita itu ingin menyampaikan “pesan” pada khalayak umum bahwa:

“Orang pintar pilih vegetarian”!!

Apa yang salah dengan berita itu?

Jika saja mau membuka link dari British Medical Journal [BMJ] maka segera kita ketahui bahwa jumlahnya bukanlah 8179 namun 8170 orang, namun tentu saja bukan itu yang menjadi fokus pembahasan saya pada tulisan di atas itu.

Pertama-tama,
Mari kita lihat dulu definisi kepintaran dari hasil test IQ sehingga seseorang dapat di kategorikan cerdas atau tidak cerdas:

Range Klasifikasi IQ menurut Terman:

  • > 140 Genius atau mendekati Jenius
  • 120-140 Kecerdasan Sangat Super
  • 110-120 Kecerdasan Super
  • 90-110 Kecerdasan Rata-rata
  • 80-90 Tumpul/bodoh
  • 70-80 Garis Batas Kekurangan
  • < 70 Dipastikan Lemah Pikiran

[Terman wrote the Stanford-Binet test: Berk, L.E. (1997). Child Development, 4th ed. Toronto: Allyn and Bacon]

Dari hasil BMJ journal kita ketahui bahwa skor test IQ mereka saat berusia 10 tahun dan kemudian kelak menjadi Vegetarian atau Non Vegetarian adalah:

  • Pria: 106.1 VS 100.6
  • Wanita: 104 VS 99

Dari data hasil test IQ mereka di atas, semua hasil skor masih berada di kisaran range yang sama yaitu hanyalah rata-rata saja!

Melihat itu, dengan bahasa provokatif yang sama, saya juga boleh menyatakan bahwa kecerdasan anak perempuan berusia 10 tahun, 5 point-an di bawah rata-rata anak lelaki!

Mari kita telusuri lebih lanjut.

Study ini dilakukan pertama kalinya pada tahun 1970, tepatnya tanggal 5-11 April 1970. Study dari British cohort mengumpulkan informasi 17.198 anak yang lahir di Inggris raya pada kisaran tanggal tersebut.

Pada usia 10 tahun, mereka melakukan test IQ. Pada 20 tahun kemudian, dari sekian orang yang terdata di atas, 11.204 orang berpartisipasi pada program ini dan kemudian, yang ternyata punya hasil test IQ saat mereka berusia 10 tahun hanyalah 8170 orang.

Setelah di teliti, ternyata dari 8170 orang ini:

  • Yang vegetarian hanyalah berjumlah 366 orang atau 4.5% dari seluruh partisipan [8170 orang]!
  • Dari yang 366 vegetarian tersebut, yang benar-benar vegetarian murni [Vegan] hanyalah 9 Orang saja atau 0.0003% saja!
  • Bahkan, dari 366 orang yang mengaku vegetarian, 123 orang dilaporkan makan ikan atau ayam juga! sedangkan sisanya, 234 orang melakukan praktek vegetarian dengan mengkonsumsi juga produk olahan dari susu, madu dan telor

Wow! Sekarang, coba bayangkan dengan cara seperti ini:

    Misalkan sample non vegetarian yang di ambil hanyalah saya saja [n=1] dan hasil test saya saat di usia 10 tahun misalkan 69. Di usia 30 saya tetap non vegetarian.

    Hasil test IQ saya kemudian dibandingkan dengan hasil test IQ dari mereka yang memilih menjadi vegetarian di usia 30 tahun, yaitu 106

Jadi, dengan mengabaikan perbedaan sangat signifikan pada besaran jumlah sample antar dua kelompok, kemudian meminjam cara mereka menyimpulkan, maka secara provokatif akan tertulis:

“Penelitian berdasarkan hasil test IQ membuktikan bahwa non vegetarian itu ternyata IDIOT!”

Mari kita lanjutkan.

Kemudian, dari 366 orang vegetarian tersebut, hasil Skor IQ mereka [saat berumur 10 tahun] yang nantinya menjadi Vegan [9 orang] VS non Vegan [357 orang], ternyata tidak terdapat perbedaan!

Namun, di antara mereka yang menjadi vegetarian, yaitu vegan (9 orang) dan vegetarian (makan juga produk olahan dari susu, madu dan telor, 234 orang). Ternyata hasil skor IQ kelompok vegan adalah 95.1! Hasil itu 10 point lebih rendah dari semua golongan vegetarian!

Apa yang saya baca dari hasil di atas?

Skor IQ terendah dari anak-anak yang kemudian tetap memilih jadi Non Vegetarian [99.0 point] terbukti MASIH LEBIH TINGGI dari skor IQ anak-anak yang kemudian memilih jadi Vegan [95.1 point]!

Kesimpulannya:

  • Tetep saja yang bersikeras menjadi vegetarian murni memang lebih bodoh dari Non Vegetarian
  • Memperhatikan cara team Universitas Southampton melakukan pengolahan informasi dan juga menyimpulkan, maka mereka yang masih mau bersekolah di sana dan juga yang masih mau mempekerjakan lulusan dari sana, jelas merupakan keputusan yang kurang cerdas, bukan?!

Yang perlu diwaspadai oleh mereka yang bersikeras untuk Vegetarian terutama karena Praktik hidup Vegetarian dapat menyebabkan PENYUSUTAN OTAK!

    [..]Ilmuwan menemukan bahwa menjadi Veggie berdampak buruk pada otak yaitu mereka yang mengkonsumsi bebas daging 6 x lebih banyak menderita penyusutan otak.

    Vegan dan vegetarian lebih cenderung kekurangan sumber vitamin yang berasal dari daging [hati], susu dan ikan. Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan anemia dan peradangan pada system syaraf. Ekstrak yagi adalah satu dari makanan vegetarian yang menyediakan tingkat vitamin yang baik

    Hubungan ini ditemukan ilmuwan dari Universitas Oxford dengan menggunakan tes-tes memori, check fisik dan scan otak pada 107 orang yang berusia natara 61 – 87 tahun

    Ketika para partisipan itu di test kembali 5 tahun kemudian, hasil medex menemukan bahwa mereka yang rendah tingkat vitamin B12 adalah yang paling utama menderita penyusutan otak.

    Ini mengkonfirmasi penelitian sebelumnya yang menunjukan hubungan antara berhentinya pertumbuhan otak dan tingkatan vitamin B12[..]

Sebagai penutup dari artikel ini, ijinkan saya memperkenalkan tokoh-tokoh terkenal dalam sejarah yang merupakan VEGETARIAN yang saya ambil dari website ini:

  • POLPOT, Pemimpin Khmer Merah, Ia membunuh cuma 2 juta orang kamboja saja selama hidupnya [jumlah korban bervariasi tergantung sumbernya]
  • ADOLF HITLER, vegetarian sejak tahun 1932, Diktaktor Jerman [1934-1945], melakukan pembunuhan massal secara sistimatik dengan korban sekurangnya 17 Juta penduduk sipil, diperkirakan 6 juta adalah Yahudi [Tentu saja karena reputasinya, akan ada yang mati-matian membantah bahwa Adolf Hitler adalah vegetarian]
  • Charles mansion, penjahat dari Amerika Serikat, Pengelola “cult” yang bernama Kehancuran hari kiamat, mengaku reinkarnasi Yesus kristus, keluar-masuk penjara sejak kecil, mulanya karena pencurian mobil, pemalsuan, dan penipuan kartu kredit. Pernah bekerja sebagai mucikari. Pada akhir tahun 1960-an, Menjadi pemimpin kelompok yang dikenal sebagai “The Family”, dan memimpin beberapa pembunuhan sadis, terutama aktris Sharon Tate/La Bianca (istri sutradara Roman Polanski), yang sedang mengandung delapan setengah bulan. Saat ini dipenjara seumur hidup di Corcoran State Prison, California
  • Volkert van der Graaf, aktivis lingkungan, menembak mati Pim Fortuyn pada saat politikus itu keluar dari sebuah stasiun radio disiang hari pada tanggal 6 May 2002. Van der Graaf dijatuhi hukuman penjara 18 tahun untuk perbuatannya itu

So, berhati-hatilah jika anda hendak menjadi vegetarian…anda bisa jadi mencintai binatang dan tidak memakannya…namun menjadi lebih senang membunuh manusia!

—–
Note:
Di FB saya, dengan judul yang sama, terdapat komentar dan tanggapan menarik antara Ngarayana [Gung Ngara] dan Saya


Berikut potongan komentar yang ada di FB saya, silakan di simak.

Komentar Gung Ngara:

Wah tulisan yang luar biasa pak Wirajhana. Sangat panjang dan penuh pro dan kontra…

Saya belum bisa cerna semua, tapi saya punya beberapa opini.

1. Dalam Veda memang terdapat 3 jenis ajaran (menurut Brahma Vaivarta Purana), yaitu yang bersi…fat satvik, rajasik dan tamasik. Dalam kaitannya di sini setiap ajaran memang ditujukan untuk level orang yang berbeda-beda sesuai dengan Guna dan Karma masing-masing orang. Sehingga orang mau hidup vegetarian atau tidak itu adalah pilihan dan Veda tidak pernah memaksa. Berdasarkan pendapat ini saya sangat setuju dengan anda pak… 🙂

2. Kenapa dalam ISKCON diwajibkan vegetarian?
Prabhupada pernah berkata bahwa di dunia ini kekuarangan orang-orang berkarakter Brahmana. Karena itu misi beliau keliling dunia adalah untuk mencetak para Brahmana. Salah satu langkah pertama yang beliau lakukan adalah pengendalian diri terdapat murid-muridnya. Sehingga beliau menetapkan 4 pantangan dasar untuk murid-murid beliau, yaitu; tidak makan daging, ikan, telor, tidak berzinah, tidak mabuk-mabukan dan tidak berjudi. Tidak makan daging memang bukan hal utama dalam kerohanian, tetapi itu adalah hal dasar dalam usaha pengendalian egoisme dan nafsu kita.

3. Kenapa Prabhupada pernah mengatakan bahwa ajarannya bukan Hindu?
Lihatlah kontek tempat dan waktu dimana beliau ceramah. Beliau beradapan dengan orang-orang non Hindu yang sudah terlanjur mencap Hindu buruk. Sehingga beliau bertindak diplomatis. Jika beliau tidak bertindak demikian, mungkin jumlah pengikut Hindu di dunia barat saat ini tidak akan sebanyak sekarang.

4. Mengenai kesehatan orang vegetarian… saya rasa tidak ada bedanya sama yang non veget… jadi benar Vegetarian adalah pilihan..
Saya sendiri sudah veget dari kecil, toh nyatanya (tidak bermaksud sombong) dari SD saya selalu juara umum dan kuliah juga dalam waktu yang relatif singkat karena saya lulus tercepat dibanding temen-temen angkatan saya. Di Ashram tempat saya tinggal juga terdapat banyak anak-anak yang seumur hidupnya tidak makan daging, toh juga mereka sehat-sehat dan cerdas.

Jadi silahkan memilih berdasarkan kata hati anda… Mau mengikuti veget.. ada landasan/alasannya. Mau tidak juga ada di dalam Veda..

Salam,
[18 Mei 2010 jam 10:16]
—-

    Wirajhana:

    Dear Ngarayana,
    Komentar yang cedas! No.1 & 2 ngga ada comment
    utk yg no.3. Anda katakan:
    [..]Lihatlah kontek tempat dan waktu dimana beliau ceramah. Beliau beradapan dengan orang-orang non Hindu yang sudah terlanjur mencap Hindu buruk. Sehing…ga beliau bertindak diplomatis. Jika beliau tidak bertindak demikian, mungkin jumlah pengikut Hindu di dunia barat saat ini tidak akan sebanyak sekarang.[..]

    Saya:
    Argumen anda tidak berdasar..
    Di US, Hindu tidaklah punya cap buruk seperti mereka memandang Islam sekalipun itu ada di tahun2 sila prabu mendirikan ISKON di US.

    Justru yang berusaha memberikan cap buruk hindu adalah Sila prabu sendiri dengan ucapan ini:

      “Sekalipun memunculkan para sarjana, sanyasin, grihasta dan swami besar, apa yang disebut pengikut agama Hindu semuanya tidak berguna, cabang-cabang kering dari agama Veda.”

      “India, mereka telah membuang sistem agama yang sesungguhnya, Sanatana Dharma. Secara takhyul, mereka menerima satu agama campur aduk (a hodgepodge thing) yang disebut Hinduisme. Karena itulah muncul kekacauan.”

    Mengapa pengikut Hindu di dunia barat banyak tidak ada hubungannya dengan Sila Prabu.

    Namun berhubungan dengan ketertarikan mereka dengan India dan ajarannya. Sila prabu cuma satu diantara ratusan guru hindu.Toh hingga saat ini jumlah pengikut hare kresna di Amerika tidak pesat malah cenderung redup.

    Alasannya adalah pemberitaan buruk tentang hare kresna di mana2, silakan lihat ini:

    http://www.rickross.com/groups/krishna.html

    Pelakunya justru berasal dari pengikut aliran Hare Krishna sendiri!

    4. Sepakat bahwa kecerdasan emang tidak tergantung makan daging atau tidak namun Kesucian jelas tidak tergantung dari jenis makanan yang kita makan namun tergantung seberapa banyaki bau busuk kita sendiri, seperti yang Buddha katakan:

    • Membunuh, menganiaya, memotong, mencuri, berdusta, menipu, kepura-puraan, berzinah, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.
    • Jika seorang tidak terkendali hawa nafsunya, serakah, melakukan tindakan yang tidak baik, berpandangan salah, tidak jujur, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.
    • Jika seseorang berlaku kasar dan kejam, suka memfitnah, pengkhianat, tanpa belas kasih, kikir, dan tidak pernah berdana, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.
    • Kemarahan, kesombongan, keras kepala, bermusuhan, munafik, dengki, tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, berhubungan dengan hal-hal yang tidak baik, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.
    • Jika seseorang bermoral buruk, menolak membayar hutang, pengumpat, penuh tipu daya, penuh dengan kepura-puraan, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.
    • [sumber: Amagandha Sutta]

    Well masing2 orang saat ini mempunyai bau busuknya..Sekarang ini tantangannnya adalah seberapa banyak upaya kita membuang bau busuk itu, bukan makan daging.

    Salam.
    [18 Mei 2010 jam 13:46]

—-
Komentar Gung Ngara:

Saya coba berpendapat sedikit lagi ya pak.. 🙂

Hindu yang umum dikenal di dunia barat sangat berbeda dengan prinsip bhakti yang di ajarkan prabhupada. Sebelumnya, para yogi dan guru-guru Hindu datang dengan mengatakan filsafat mayavada yaitu… menyebutkan aham brahman asmi (aku adalah brahman/Tuhan). Semenara menurut filsafat yang Vedanta tidak seperti itu. tetapi Jiva dan Brahman adalah berbeda dan kekal. [http://ngarayana.web.ugm.ac.id/2009/08/filsafat-mayavada/]

nah pernyataan beliau “Sekalipun memunculkan para sarjana, sanyasin, grihasta dan swami besar, apa yang disebut pengikut agama Hindu semuanya tidak berguna, cabang-cabang kering dari agama Veda.” menguatkan hal ini…
Beliau sangat menentang filsafat mayavada sebagaimana dalam link di artikel yang saya copaskan.

Jadi kemungkinan Prabhupada ingin menghindari anggapan buruk dan keliru akan Hindu. Buruk di sini sudah barang tentu bukan buruk dalam artian di benci seperti halnya kaum sparatis. (sayang beliau sudah tidak ada, jadi ga bisa di confirm balik he..he..he..) namun tentunya kita bisa mendapatkan penjelasan dari murid-murid dekat beliau secara langsung tentang hal ini. Kalau murid-murid beliau dan juga kenyataan sekarang memperlihatkan Hare Krishna bukan Hindu maka mungkin apa yang disampaikan Prabhupada benar adanya.

Mengenai naik turunnya pengikut beliau wajar… bahkan beliau pernah berkata “andaikan 1 saja dari kalian bisa menjadi penyembah murni maka misi saya sudah sukses”. Namun beliau meramalkan 10.000 tahun lagi adalah merupakan puncak dari gerakan harinama sankirtana

Siapa yang tahu? ga tahu juga… he..he..he..

(* Membunuh, menganiaya, memotong, mencuri, berdusta, menipu, kepura-puraan, berzinah, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.)

Makan daging tanpa membunuh juga susah lho pak 🙂 secara tidak langsung ada konsumen pemakan daging, maka sudah pasti ada produsen yang akan melakukan pembunuhan.

(* Jika seorang tidak terkendali hawa nafsunya, serakah, melakukan tindakan yang tidak baik, berpandangan salah, tidak jujur, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.
* Jika seseorang berlaku kasar dan kejam, suka memfitnah, pengkhianat, tanpa belas kasih, kikir, dan tidak pernah berdana, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.)

yang ini saya setuju… makanya dalam sloka veda juga pembunuhan dan korban binatang ada aturan ketatnya.. jadi tidak asal bunuh. Namun bagaimana jika pembunuhannya dilakukan seperti pada rumah jagal yang sangat kasar dan kejam? Lalu manusia memakan daging mengikuti nafsu seperti yang banyak terjadi saat ini? Jadi antara nafsu dan makan daging juga harus di jaga dengan aturan yang jelas, sehingga hanya makan daging yang sesuai aturan sastra, tidak berlebih dan tanpa nafsu. Hanya saja kadang susah kalau sudah mengalami kemelekatan (klesia) pada suatu kenikmatan. he..he..

Makanya Veda menetapkan aturan yang ketat dalam membunuh binatang. Sambil mengucapkan mantra yang berisi kata mamsa, seseorang terlebih dahulu haruslah memandikan si binatang, kemudian menyemblihnya di tempat dan pada waktu tertentu. Kata “mamsa” berarti saya (mam) dan dia (sa). Maksudnya, saya bunuh dia sekarang dan nanti dia akan membunuh saya (Manu Smerti 5.55).
Setelah membunuh sang binatang, si pembunuh harus beramal kepada orang-orang brahmana atau fakir miskin. Dikatakan,”Bila seseorang membunuh angsa, merak, babi, balaka, monyet, elang atau burung bhasa, maka dia harus mendermakan seekor sapi kepada seorang brahmana. Bila seseorang membunuh kuda, dia harus mendermakan banyak pakaian. Jika membunuh gajah, dia harus mendermakan lima ekor banteng. Bila membunuh kambing, dermakan seekor sapi penarik pedati. Jika membunuh keledai, dermakan seekor anak sapi umur lima tahun” (Manu Smerti 11.136-137). Inilah contoh-contoh prayascitta, penyucian diri agar bebas dari reaksi dosa membunuh binatang.
mampukah kita menjalankan prinsip ini di jaman sekarang?

itulah yang sulit menurut saya…

mohon bimbingannya pak..

Salam kompak,-
[18 Mei 2010 jam 18:02]
—-

    Wirajhana:

    Dear Ngarayana,
    Wow..tks atas tanggapannya luar biasa sekali!

    Jika Hindu yang dikenal di barat tidaklah seperti ajaran prabupada maka tidak berarti harus membuat statement negatif untuk mencari pengikut, bukan?! Apalagi saat statement itu sep…ihak tanpa bisa dikonfirmasi saat itu juga oleh aliran hindu lainnya.

    Anda katakan:
    kemungkinan Prabhupada ingin menghindari anggapan buruk dan keliru akan Hindu.

    saya:
    well, ketika aliran ini mendapatkan kesulitan di Inggris dan di Rusia misalnya ketika menghadapi perkara atas gedung ‘Bhaktivedanta Manor’ di Inggris atau ketika dituntut oleh orang Kristen di Russia dan Polandia (yang menganggap Hare Krishna hanyalah gerakan ‘cult’ dan meminta agar pemerintah melarang mereka). Dalam permohonan kepada hakim dan pemerintah, kata Hindu dipergunakan secara terbuka.

    Dalam kasus-kasus hukum yang lain, termasuk kasus di Mahkamah Agung Amerika Serikat, Hare Krishna berusaha menangkis label “cult” dengan menyatakan dirinya sebagai satu sampradaya Hindu tradisional, dan meminta orang-orang Hindu yang lain untuk menguatkan hal ini di pengadilan.

    Sungguh ironis, saat dengan lantang berteriak menghindari dan menolak dianggap Hindu, namun ketika terpuruk toh tetep saja diakui hindu?!

    Anda:
    (* Membunuh, menganiaya, memotong, mencuri, berdusta, menipu, kepura-puraan, berzinah, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.)

    Makan daging tanpa membunuh juga susah lho pak 🙂 secara tidak langsung ada konsumen pemakan daging, maka sudah pasti ada produsen yang akan melakukan pembunuhan.

    saya:
    Ketika Prabhupada meminta Harikesh menjalankan misi ke Rusia, Harikesh berkata, “Mereka cuma makan daging”. Prabhupada menmjawab, “Ya Makan daginglah”

    Jika anda percaya tumbuhan juga mempunyai jiwa maka tetep saja anda melakukan pembunuhan, bukan?! lantas apa bedanya?

    Buddhisme sendiri jelas-jelas mengatakan tumbuhan dan atau mahluk TIDAK memiliki Jiwa/roh didalamnya..namun tetap ia memisahkan yang dimaksudkan bau busuk itu apa dan itu bukanlah dari makanan.

    Mengapa aliran hare kresna, sebagai kelompok yang konon strictly vegetarian malah juga menganjurkan makan daging juga?

    karena mereka juga tahu bahwa salah satu produsen pembunuhannya adalah umur, survival di alam, dll sehingga tidak harus produsen itu selalu berarti manusia, bukan?

    Bukankah Prabuphada sendiri juga mengatakan ini:

    “Jangan membunuh. Ketika sapi itu telah mati. Engkau dapat memakannya”

    Jadi, ketika itu telah mati maka 1tu 100% materi yang masih bisa dimakan, jadi jelas bukan bau busuk, bukan?

    Anda katakan:
    Namun bagaimana jika pembunuhannya dilakukan seperti pada rumah jagal yang sangat kasar dan kejam? Lalu manusia memakan daging mengikuti nafsu seperti yang banyak terjadi saat ini?

    Saya:
    Sama saja. toh, setelah mati ia tetep adalah materi.
    Rumah jagal motifnya selalu uang dan kemakmuran untuk diri sendiri. Mereka melakukan pemotongan bukanlah khusus diperuntukan untuk kita namun karena uang.
    Anda bisa saja tidak sepakat namun faktanya sejak ribuan tahun SM hingga 10.000 tahun nanti rumah jagal teteplah ada.

    Contoh bagaimana peluang itu muncul salah satunya adalah karena AGAMA itu sendiri spt contoh anda diatas atau contoh lain dengan cara yang halus adalah seperti excuse utk makan daging yang dilakukan Prabhupada sendiri ketika meminta seseorang melakukan misinya di rusia.

    Anda boycott atau tidak kebutuhan itu akan ada dan tetep merupakan peluang bagi beberapa orang.

    Anda katakan:
    [..]Inilah contoh-contoh prayascitta, penyucian diri agar bebas dari reaksi dosa membunuh binatang. Mampukah kita menjalankan prinsip ini di jaman sekarang?

    Saya:
    Anda membunuh dengan metode apapun baik itu ritual ataupun bak tukang jagal maka 100% anda telah menghilangkan/menyakiti mahluk hidup dan memupuk karma buruk.apapun alasannya.

    Setelah anda membunuh anda kemudian berpikir bahwa dengan mempersembahkan sesuatu kepada mahluk adi daya maka ia akan “senang” sehingga mau diajak berkonspirasi menghilangkan dosa anda.

    Sekarang disamping membunuh, anda juga melakukan kekeliruan tahu dengan mengaggap dua hal bahwa “tuhan” senang, “tuhan” bisa disuap, “tuhan” adalah pelayan kita!

    Setelah anda membunuh dan memberikan persembahan spt di atas, anda juga berpikir bahwa dengan cara mendermakan sesuatu akan mengurangi dosa dan malah mendapat pahala..

    Sekarang disamping membunuh, kekeliruan tahu, anda juga menciptakan KESERAKAHAN dengan mengorbankan nyawa mahluk lain dan mengambil EVEN itu sebagai ajang memupuk PAHALA! Sehingga anda akan mengajak orang lain memupuk dengan model yang sama sehingga anda menjadikan itu sebagai KESERAKAHAN MASAL yang baik.

    Padahal,
    Menjalankan misi berdana tidak memerlukan pemicu kecuali kemauan kita membebaskan diri kemelekatan. Kita pun tidak perlu dipicu dengan alasan ritual. Kita selalu menganggap bahwa kebutuhan kita tidak mencukupi sehingga membuat berat memberi. Itu jelas bahasa lain dari kikir!

    Dulu saya bahkan tidak mau memberikan uang bagi pengemis, tukang parkir liar..sekarang agak berbeda, lumayan konstan utk melepaskan kemelekatan itu..alasan saya: Saya melihat itu terjadi karena karma lampau mereka sebelumnya dan akibat buah kejadian sekarang…Jika saya diposisi mereka, saya juga berharap ada orang yang bersedia memberikan kesempatan sedikit untuk dapat bernafas dan kemudian menjalani karma saya kembali.

    demikian, mohon koreksinya..

    salam kompak juga.
    [19 Mei 2010 jam 14:26]

—-
Komentar Gung Ngara:

Hare Krishna atau Gaudya Vaisnava adalah salah satu dari sekian banyak sampradaya yang ada dalam Hindu, yaitu dari Brahma Sampradaya (disamping 3 sampradaya pokok lainnya, yaitu Sri, Ludra dan Sanaka/catur kumara sampradaya) sebagaimana dit…egaskan dalam Bhagavata Purana 6.3.21. Jadi pernyataan Prabhupada bukanlah pernyataan yang berlaku universal, tetapi memiliki maksud tertentu dengan tujuan “kebaikan” menurut beliau. Karena itulah Hare Krishna tetap dikenal sebagai Modern Hindu saat ini di negara Barat. Masalah statement sepihak mengenai ajaran yang benar memang tidak bisa dihindari. Sama saja dengan kenyataan bahwa Buddha adalah salah satu masab dalam Veda yang tergolong nastika, namun Buddha akhirnya menyatakan bahwa keliru dan Buddha menjadi agama baru.

Harus kita akui bahw filsafat Veda bukanlah filsafat yang 1 warna sebagaimana agama-agama abrahamik. Veda memiliki banyak jalan yang disesuaikan dengan guna dan karma penganutnya. Jadi bisalah semua penganut Veda dikumpulkan, diajak diskusi dan mengikuti satu jalan dan mengakui hanya jalan itu yang benar dan yang lain salah? susah juga kan pak?

Prabhupada bahkan pernah berkata; “Jika memang tidak ada makanan lain selain non-vegetarian, silahkan makan daging, tetapi hindari membunuh sapi”. Memang benar, Prabhupada tidak pernah melarang secara strictly untuk tidak makan daging sama sekali. Masalah bangkai hewan yang dimanfaatkan baik untuk dimakan atau untuk kepentingan lainnya itu juga sangat benar. Alat musik mridangga yang digunakan dalam setiap kirtana dibuat dari kulit sapi yang sudah mati dan itu sangat dibolehkan. Hanya saja yang menjadi masalah sekarang adalah prosesnya.

Mari kita coba berpikir out of the box. Suatu kejadian akan terjadi jika ada pemicunya. Dalam hal ini akan ada 2 jenis pemicu, yaitu pemicu langsung dan pemicu tidak langsung. Dalam kaitannya dengan makan daging. Memakan daging hewan atau memanfaatkan bangkai hewan yang sudah mati sangat wajar. Tetapi lihatlah prosesnya, apakah hewan itu mati secara wajar atau tidak?

Jika kita bersikeras hanya mengatakan diri memanfaatkan bangkai hewan (badan hewan yang sudah mati) tanpa perduli out of the box menganai faktor tidak langsung yang mempengaruhinya saya rasa keliru. Sama dengan teori kejadian terpostulasi dalam sistem keselamatan dimana kejadian itu terjadi secara tidak langsung, tetapi dipicu oleh suatu kejadian lain yang mungkin sebenarnya tidaklah berbahaya.

Analogi seperti kita memberi uang pada pengemis. Memang benar bahwa kita harus mengasihani setiap mahluk termasuk pengemis. Namun kita juga harus berpikir dalam memberikan sedekah pada mereka. Kalau kita memberikan mereka uang, maka hati-hatilah karena mungkin uang itu digunakan untuk merokok, berjudi, mabuk dan kegiatan tidak baik lainnya yang akhirnya menjerumuskan pengemis tersebut. Tetapi akan lebih bijak jika kita memberikan makanan, membantu mereka melalui lembaga yang bisa mendidik mereka atau malah mengangkat mereka menjadi anak angkat untuk di didik dengan baik.

Kembali lagi ke masalah daging. Dengan kita tidak perduli dengan prinsip kejadian terpostulasi ini, maka secara tidak langsung kita akhirnya menyuburkan proses pembantaian yang kejam.

Veda memberikan aturan yang sangat ketat seperti harus memandikan binatang dan membagikannya pada orang suci dan mempersembahkannya bukanlah untuk tujuan menyogok Tuhan…. tetapi aturan tersebut ditetapkan untuk menyulitkan proses pembunuhan yang sia-sia sehingga diharapkan karena sulitnya orang tersebut malahan memilih untuk makan-makanan yang mudah dan murah di dapat saja.

Binatang memiliki jiva, tumbuhan juga memiliki jiva, lalu kenapa malah memilih tumbuhan untuk dimakan? Disini ada prinsip hidup untuk makan dan bukan makan untuk hidup, dimana kita makan untuk melangsungkan kehidupan kita. Pengobatan ayur vedic lebih cenderung menekankan kita menjaga vitalitas tubuh dengan makanan non hewani dan dari sistem pencernaan kita juga sangat nyata lebih menyerupai pencernaan hewan herbivora dan pada kenyataannya makanan veget jauh lebih mudah dicerna oleh tubuh kita.

tetapi tentu saja kembali semuanya adalah pilihan. Semuanya akan kembali ke kita sebagai buah karma kita. Kita mau makan enak dengan daging berlebih, kolesterol akan mmengancam. Dan pada kenyataannya Hewan yang disemblih secara paksa akan memproduksi adrenalin berlebih dan meracuni dagingnya sehingga menghasilkan zat karsiogenik pemicu kanker. Jadi kalau kita mau aman memang sebaiknya makanlah daging secara wajar dan jangan memakan daging dari binatang yang disemblih secara paksa, tetapi carilah bangkai hewan.

Hanya saja, apakah anda mau memakan daging hewan yang mati secara alami dan disebut bangkai? itu pilihan… he..he..he..

Salam,-
[21 Mei 2010 jam 11:44]
—-

    Wirajhana:

    Dear Ngarayana,
    wow! Tanggapan yang menarik!
    Utk paragraph anda yg pertama,
    utk statement dia tentang hindu, jelas ucapan prabuphada tidak berlaku universal. diantara semua cara promosi beretika justru yang di lakukan Prabuphada malah promosi …negatif tak beretika.

    Hindu, dengan Yoga, ayurvedic dan upanisad-nya Hindu tidak pernah dianggap kuno baik itu sebelum prabuphada dan juga setelahnya.

    Jadi terlalu berlebihan dan naif jika kredit itu diberikan pada aliran yang sudah redup ini [baca: hare kresna]. Saat ini hindu bali dengan segala ritualnya pun tidak di anggap kuno seperti seluruh agama asal di mukabumi ini.

    Anda katakan:
    [..]Masalah statement sepihak mengenai ajaran yang benar memang tidak bisa dihindari. Sama saja dengan kenyataan bahwa Buddha adalah salah satu masab dalam Veda yang tergolong nastika, namun Buddha akhirnya menyatakan bahwa keliru dan Buddha menjadi agama baru. [..]

    Saya:
    Anda keliru. Sang Buddha merecord kurang lebih 63 aliran di India saat itu [brahmajala sutta], masing2 aliran berkembang di pasramannya masing2 dan tergantung pengikutnya. Penggolongan itupun masih valid hingga saat ini.

    [lihat Brahmajala sutta:
    http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka_dtl.php?cont_id=167]

    Buddha mempunyai label agama justru terjadi RATUSAN tahun SETELAH wafatnya beliau dan bukan karena ia menolak dianggap nastika.

    ***

    Utk Praragraph anda yg kedua,
    Perlu anda ketahui bahwa: Buddha gautama sendiri adalah Buddha ke-28. Jainisme pun berumur sangat tua. Mahavira pendiri aliran Jainisme adalah Tirthankara ke-24. Sedangkan yg ke-23 saja yaitu Parshva ada di 8-9 SM. Pengikut Buddha pertama2 berasal dari JAIN.

    Kelompok aliran-aliran di India saat jaman Buddha adalah 63 banyaknya sebagaimana sy tuliskan di atas juga menurut Jainisme [Sutrakritangga dan Bhagavati] dimana jumlah aliran lebih banyak lagi dengan perbedaan2 kecil dan mereka hidup independent dari aliran2 lain.

    Di antaranya di dua aliran Buddhisme dan Jainisme adalah para pendirinya adalah Purana kasapa, Mokali Gosala, Ajita dan Sanjaya yang jelas bukan dari aliran Veda.

    Jadi, secara garis besar pembagiannya adalah Sramana dan bramanical sect. Di antara, Veda [mungkin original cuma Yoga saja selebihnya adalah berdasarkan pengaruh para rsi-rsi yang tercatat di upanisad]

    Buddha kesebelum mencapai penerangan sempurna disamping belajar 3 veda [brahmanical sect], ia juga belajar dari 2 Guru non Veda [sramana sect].

    Jelas di jaman Pra-veda sudah ada aliran Buddha non Gautama, aliran Jain Parshva dan aliran dari para pendiri2 lainnya.

    Sehingga lebih tepat jika dikatakan bahwa VEDA dan Hindu saat ini [aliran sivaism dan visnuism, termasuk Advaita] ada karena pengaruh BUDDHA dan JAINISME dan bukan sebaliknya.

    ***

    Untuk Paragraph 3-8 anda,
    Perlu anda ketahui di jaman sebelum Buddha Gautama dan Jain Mahavira, Tumbuh subur dua cara makan yaitu vegetarian dan non vegetarian.

    Non vegetarian [berdasarkan brahmanical teks] benar-benar tumbuh sangat subur.

    Jadi jelas bahwa upacara pembantaian binatang itu telah sukses berkembang dulu dan hingga sekarang..terutama karena di anggap deva2 bisa di sogok dengan upacara persembahan daging.

    Statement prabubpada dan caitanya mahaprabu yang khusus melarang makan sapi jelas tidak berdasar dan kekeliruan total.

    Pemanfaatan tubuh sapi juga terdapat pada kerbau, kambing, domba, keledai, kuda yang juga mengeluarkan susu dan diperah tenaganya.

    Banyak teks brahmanical menyatakan bukan cuma sapi sebagai tunggangan para Dewa, termasuk Tikus [ganesha] dan tumbuhan yang disucikan [diantaranya alang2].

    Perlu saya garis bawahi,
    Bangkai adalah mahluk hidup yang telah mati [apapun caranya baik karena sebab alam ataupun bukan]

    Bagi penganut tumbuhan itu memiliki jiwa..maka tumbuhan yang dicabut atau jatuh, maka itu tetep saja bangkai tumbuhan.

    Itu artinya baik tumbuhan maupun binatang. Jadi sekali lagi tidak ada bedanya..bangkai is bangkai and nothing less.

    Pengobatan ayurvedic juga melibatkan binatang. lihat di sini:
    http://www.hinduismtoday.com/modules/smartsection/item.php?itemid=927
    [untuk animal testing in Ayurveda]

    Juga lihat di sini:
    http://loveandwisdom.typepad.com/ayurveda_love_wisdom_/files/history_of_ayurveda_may07.pdf
    [yang memuat pengorbanan binatang]

    ***

    Terakhir di statement anda yang ini:
    [..]Dan pada kenyataannya Hewan yang disemblih secara paksa akan memproduksi adrenalin berlebih dan meracuni dagingnya sehingga menghasilkan zat karsiogenik pemicu kanker. Jadi kalau kita mau aman memang sebaiknya makanlah daging secara wajar dan jangan memakan daging dari binatang yang disemblih secara paksa, tetapi carilah bangkai hewan.[..]

    Saya:
    karsinogenk juga ada di tumbuhan! toxic terjadi karena proses masak atau digoreng.

    [..]Tumbuh-tumbuhan memproduksi senyawa tertentu..melindungi mereka terhadap jamur, serangga, dan binatang termasuk manusia…karsinogen yang ditemukan pada jamur, basil, seledri, kurma, bumbu, lada, adas, parsnips, dan minyak sitrus. Karsinogen juga dihasilkan selama pemasakan dan sebagai produk dari metabolisme normal.

    ..Beberapa karsinogen yang sangat berbahaya adalah hidrokarbon aromatik, yang paling dikenal adalah 3,4-benzpirena. Hidrokarbon karsinogenik terbentuk selama pembakaran tidak sempurna dari hampir setiap senyawa organik.
    [http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/berita/karsinogen_ancaman_abadi_kehidupan_manusia/]

    [..]April lalu ilmuwan-ilmuwan dari Swedia menambahkan alasan mengapa makanan seperti french fries dan potato chips harus hati-hati dikonsumsi. Ternyata, makanan yang kaya karbohidrat bila dipanaskan dapat mengandung akrilamida, senyawa yang diketahui menyebabkan kanker pada tikus.

    ..majalah Nature-dalam edisi 2 Oktober 2002-menurunkan dua artikel hasil penelitian ilmuwan di Inggris dan Swiss yang mengungkap proses produksi akrilamida.
    ..Makanan lain yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti gandum dan sereal, juga kaya akan asparagin dan mungkin akan bereaksi mirip bila dipanaskan.

    Efek akrilamida pada manusia memang belum jelas, namun untuk tikus dan lalat buah positif menimbulkan kanker bila dikonsumsi dalam jumlah 1.000 kali diet rata-rata. WHO telah mendaftar akrilamida sebagai senyawa yang “mungkin karsinogenik bagi manusia” dan sedang mengoordinasikan riset untuk meneliti lebih jauh.[..]
    [http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/berita/pembentukan_karsinogen_dalam_makanan/]

    [..]Karsinogen alami sangat banyak. Aflatoksin B1, yang
    diproduksi oleh kapang Aspergillus flavus selama penyimpanan biji-bijian, kacang-kacangan dan mentega kacang, adalah sebuah contoh dari karsinogen microbial yang sangat kuat.

    Beberapa virus seperti hepatitis B dan virus papilloma manusia telah diketahui juga menyebabkan kanker pada manusia.

    Setelah karsinogen masuk ke dalam tubuh, maka tubuh akan melakukan upaya-upaya untuk menghilangkannya yang disebut proses biotransformasi. Tujuan dari reaksi ini adalah membuat karsinogen menjadi lebih larut air sehingga bisa dikeluarkan dari tubuh.

    Tetapi, reaksi ini juga bisa merubah suatu senyawa karsinogen yang sebenarnya tidak terlalu toksik menjadi senyawa baru yang lebih toksik.[..]
    [http://id.shvoong.com/medicine-and-health/1804567-komponen-karsinogenik/]

    3 LInk diatas, menyebutkan baik nabati dan hewani juga memicu karsinogenik, bukan?!

    Jadi terbukti tidak benar bahwa hewan harus mati alami dulu baru tidak karsinogenik..

    Salam.
    [21 Mei 2010 jam 15:12]


(untuk membuka/menutupnya silakan di klik)
—–

[foto berasal dari sini, sini, sini, sini, sini, sini, sini, sini dan sini]


Koq..di Purana Hindu bisa muncul Adam, Nuh, Isa, Muhammad sampe Ke Ratu Victoria??!


Coba deh anda pesiar di google, maka dengan sangat mudahnya anda temukan beberapa artikel yang menuliskan tentang manusia-manusia “unggulan” di agama Abrahamic yang biasa disebut Nabi ato bahkan Tuhan ada di dalam atau diramalkan kitab hindu!

Beberapa artikel saya sebelumnya, selalu membawa saduraan dari Bhavishya purana, yaitu kisah-kisah Adam dan Hawa [lihat di sini, di sini dan di sini], Isa Putra [Yesus] dan Muhammad [di sini dan kisah di bhavishya Purananya di sini]

Apa sih arti Purana?

Pada literatur religius Hindu India, kisah-kisah yang ada, digolongkan menjadi:

  • Kavya, (isinya bisa jadi tidak benar namun dituliskan dengan cara yang sungguh Indah),
  • Purana, (Cerita-cerita yang tidak sungguh-sungguh terjadi namun memiliki nilai pendidikan, tujuannya agar orang mengerti bahwa dengan berbuat baik akan mendapat pahala baik),
  • Itikatha, merupakan kejadian-kejadian yang disusun secara kronologis ataupun kejadian-kejadian yang berbeda-beda dan
  • Itihasa, berasal dari kata ‘hasati’ = tertawa, merupakan bagian Itikata yang mempunyai nilai pendidikan

Bhasviya Purana setidaknya mempunyai 4 versi dan menariknya semua versi tersebut baru muncul di 200-an tahun belakangan, yaitu di jaman Inggris menjajah India [abad 18-an].

Dongeng Bhavishya, atau Bhasvisya purana disamping mengisahkan nama2 di atas, juga memuat ramalan mengenai kedatangan Inggris di India, di jaman pemerintahan ratu victoria (24 May 1819 – 22 January 1901), juga ramalan tentang Inggris yang membangun pabrik di kalkuta dan revolusi Industri di jaman Ratu Victoria. Jadi, di antara semua negara yang ada di dunia ini, Inggris tertulis sangat spesial hingga muncul di ramalan tersebut.

Menariknya, kitab ramalan tersebut, entah mengapa..semuanya terhenti di jaman ratu Viktoria!

Setelah jaman Ratu Victoria, “Tuhan Hindu” tiba-tiba saja berubah menjadi pelit untuk memberikan ramalan tentang adanya:

  • Penemuan Listrik [1879,Thomas Alfa Edison [1879], telepon [1876, Alezander Graham bell], Benyamin franklin, Komputer [1882, Charles Babbage; 1941 conrqd zuse], Micro Processor,dll
  • Perang dunia I [1914-1918, yang memakan korban 40 juta nyawa]
  • Lucunya lagi, tidak ada tulisan mengenai Kemerdekaan India [1947]. India, koq bisa-bisanya, dianggap ngga penting banget dimunculkan di kitab asli tanah India sendiri oleh Tuhannya Hindu sendiri!
  • Munculnya Hitler [1889-1945] dengan Nazi-nya yang mengambil korban 11-14 juta nyawa [termasuk 6 juta Yahudi], Perang dunia II [1939-1949], yang memakan korban 50 juta nyawa], jatuhnya bom atom [1945], di Hiroshima dan Nagasaki. Total nyawa yang hilang di 2 kota itu adalah: 9-20% penduduk meninggal dan impact radiasi terasa oleh mereka hingga hari ini, yaitu sekitar 220.000 nyawa, dan krisis ekonomi terburuk di tahun 1929/1930
  • Keganasan Biadab Komunisme [1917-1991]:

      • Vladimir Ilyich Lenin (1917-1923) membantai 500.000 rakyat Rusia yang menentang penerapan komunisme.
      • Joseph Stalin menghabisi 6 juta petani kulak yang rajin dan makmur. Stalin sangat kejam pada oposisi; dalam masa 28 tahun (1925-1953) ia membunuhi 40 juta rakyatnya sendiri.
      • Mao Ze-dong di RRC (1947-1976) membantai 50 juta bangsanya yang antikomunis.
      • Pol Pot, di kamboja (1975-1979) menghabisi hampir separuh rakyatnya sendiri [2,5 juta manusia].
      • Ketika perang Afghanistan (1978-1980-an), Afghan merah membantai sesama bangsanya sebanyak 1,2 juta orang.
      • Di Afrika tercatat angka 1,7 juta yang terbunuh,
      • Amerika Latin, terbunuh 150,000 orang, dan
      • Eropa Timur terdapat 1 juta korban terbunuh

      [sumber: Stephane Courtois, The Black Book of Communism-Crimes, Terror, Repression, Harvard University Press, 2000]

  • Manusia mejejakkan kaki untuk pertama kalinya di Bulan [1969, “satu langkah kecil bagi orang, satu lompatan raksasa bagi umat manusia.”]

Pelitnya “Tuhan Hindu”, baru bisa kita maklumi ketika membaca surat Sir William Jones kepada gubernur jendral India saat itu yaitu Sir Warren Hastings, yang mengupas upaya-upaya sistemik para misionaris dan Pemerintah penjajah Inggris me-murtad-kan penduduk India untuk menjadi Kristen dengan cara mengubah2 terjemahan Sanskrit, memasukan terminologi nasrani, nabi2 ke dalam sanskrit dan kemudian menterjemahkannya lagi [Asiatic Researches Vol. 1. Published 1979, pages 234-235. First published 1788]:

    “As to the general extension [spreading] of our pure faith [Christianity] in Hindoostan [India] there are at present many sad obstacles to it… We may assure ourselves, that Hindoos will never be converted by any mission from the church of Rome, or from any other church; and the only human mode, perhaps, of causing so great a revolution, will be to translate into Sanscrit… such chapters of the Prophets, particularly of ISAIAH, as are indisputably evangelical, together with one of the gospels, and a plain prefatory discourse, containing full evidence of the very distant ages, in which the predictions themselves, and the history of the Divine Person (Jesus) is predicted, were severally made public and then quietly to disperse the work among the well-educated natives.”

“The Life and Letters of Friedrich Max Müller.” First published in 1902 (London and N.Y.). Reprint in 1976 (USA):

    “…I feel convinced, though I shall not live to see it, that this edition of mine and the translation of the Veda will hereafter tell to a great extent on the fate of India, and on the growth of millions of souls in that country. It is the root of their religion, and to show them what that root is, I feel sure, the only way of uprooting all that has sprung from it during the last 3,000 years.” (to his wife, Oxford, December 9, 1867)

    “India has been conquered once, but India must be conquered again, and that second conquest should be a conquest by education. Much has been done for education of late, but if the funds were tripled and quadrupled, that would hardly be enough… A new national literature may spring up, impregnated with western ideas, yet retaining its native spirit and character… A new national literature will bring with it a new national life, and new moral vigour. As to religion, that will take care of itself. The missionaries have done far more than they themselves seem to be aware of.”

    “The ancient religion of India is doomed, and if Christianity does not step in, whose fault will it be?” (to the duke of Argyll. Oxford, December 16, 1868)

“The true histrory and the religion of India”, dinyatakan sebagai berikut:

    So, chapter three discloses such secret evidences (related to the English people) that have never been brought into the light by any of the previous researchers and scholars. For example: the secret suggestion of Sir William Jones to Warren Hastings in 1784 that tells how to confidentially fabricate a false Sanskrit scripture and betray the Hindus (p. 245); the well planned mutilation of the prime Sanskrit dictionary “Vachaspatyam” through Pandit Taranath of Calcutta (this dictionary is still being used in the Sanskrit colleges of India); fabrications in the Bhavishya Puran; the disappearance of Narayana Sastry’s research manuscripts of 20 years’ of hard work; and so on. [The true history and the religion of India: a concise encyclopedia of authentic hinduism, P 39, Prakashanand Saraswati, Edisi: berilustrasi, Diterbitkan oleh Motilal Banarsidass Publ., 2001, ISBN 8120817893, 9788120817890]

Dalam satu tulisan di tahun 1784, Jones berusaha mendangkalkan berbagai bentuk kesucian Tuhan-Tuhan Hindu. Ia berusaha penuh menghancurkan keyakinan religious mereka, seperti pidatonya pada tahun 1786 yang berkaitan mengenai bahasa sansekerta dan pada pidato kesepuluhnya di tahun 1793 yang berkaitan dengan Kitab Purana. [Juga anda dapat pernyataan yang kurang lebih sama, yaitu Purana-purana Hindu banyak yang sudah di ubah keasliannya selama penjajahan Inggris di India, di sini]

Satu contoh hasil gubahan yang dilakukan Inggris dan para missionaris yaitu seperti pada Bhavishya purana [Pratisarga Parva, Chaturyuga Khanda Dvitiyadhyayah, Ch 19, teks 17 s/d 22]: Saat Raja Shalivahana menaklukan saka (Vikramaditya) yang menandakan dimulainya tahun saka [tahun 78 M]. Di kitab itu, dinyatakan bahwa Raja Shalivahana adalah cucu Vikramaditya, padahal Shalivahana bukanlah cucu Vikramaditya melainkan seterunya!

Kita ketahui bahwa Yesus dikatakan lahir antara tahun 8 s/d 4 SM. Jadi, ketika Yesus [Isha] bertemu dan mempersona raja Shalivahana, usianya adalah dikisaran 82 s/d 86 tahun! Bhasvisya Purana ini, entah mengapa, sama sekali tidak menyinggung apakah Yesus (Isha) itu masih muda ataukah sudah lanjut usia saat itu.

Membaca ini, maka anda yang Nasrani, dihadapkan pada dua kerangka pilihan:

  • mengikuti alur klasik, yaitu mempercayai yesus disalib di usia 33 tahun atau
  • mengikuti alur yang baru-baru ini ditemukan, namun justru lebih baik dari sebelumnya, yaitu Yesus selamat dari penyaliban, menikah dan mempunyai anak serta meninggal di usia tua, yang tertuang di Dead sea scroll

Pilihan yang alot, bukan?!

Note:
Melirik data demograpi India untuk tahun 2001, hasil upaya sistemik pengacauan kitab hindu oleh Pemerintahan Inggris dan misionarisnya selama penjajahan Inggris di India, ternyata tidak menunjukkan output yang signifikan. Jumlah penduduk India yang berhasil dimurtadkan hingga tahun 2001, adalah 2.2% [25-27 Juta]

  • Sebagai pembanding, Patut juga kita lihat ketika Muslim menjajah India [Abad ke 8M s/d 17M]: tahun 2007, jumlah penduduk Muslim India adalah 13.4% dari jumlah penduduk
  • Namun, jika cakupan daerah yang kita pakai yaitu berdasarkan abad ke 8 M – 17M, maka yang disebut India adalah gabungan beberapa negara [Bangladesh, Pakistan dan India], maka di tahun 2007:
    • 30.8% dari total penduduk 3 negara itu adalah Muslim
    • 1.9% dari total penduduk tiga negara itu adalah nasrani

Ini adalah suatu yang menarik! mengapa saya sebut menarik? karena pola yang dilakukan selama penjajahan Muslim di India adalah luar biasa:

    Prof. K.S. Lal, Penulis “The Growth of Muslim population in India”, Populasi Hindu berkurang sebanyak 80 Juta jiwa selama 1000 tahun, Tahun Mahmud Ghazni menyerbu India dan tahun 1525 M, 1 tahun sebelum pertempuran di Panipat.

    ..Dari semua catatan sejarah dunia yang di tunjukan Koenard Elst, dalam “the Negationism in India”, musnahnya 100 juta jiwa mungkin ini merupakan holocaust terbesar dalam sejarah dunia. [Dari: Daniel Pipes]

Detail mengenai kejadian ini, anda dapat lihat di:

Apa perlunya saya tuliskan semua kejadian dan bukti2 di atas?

Karena ini adalah sejarah, kita perlu mengetahuinya dan memastikan bahwa tidak akan pernah terulang lagi sampai kapanpun dan di manapun!


Artikel terkait tentang ini:


Bhagavad Gita bukan Pancama Veda [Veda Ke-5]!


Pengantar
Di Campuhan, Ubud Bali, pada tanggal 17-23 November 1961[↓] pernah dilakukan Pesamuan/pertemuan dan menghasilkan piagam Tjampuhan. Dalam pertemuan tersebut, ada disebutkan bahwa Bhagavad Gita adalah Pancama Veda. Untuk tahu seberapa benar pernyataan tersebut, artikel ini kita mulai dengan klasifikasi naskah religi Hindu:

  • Sruti, artinya telinga, didengar, terdiri dari: (1) Samhita dari 4 Veda (Samhita = mantra/doa); (2) Brahmana (teks komentar tentang ritual, upacara dan pengorbanan); (3) Aranyaka (artinya terkait hutan, teks tentang ritual, upacara, pengorbanan dan simboliknya); dan (4) Upanisad (artinya duduk dekat dengan, teks tentang filsafat, dan pengetahuan spiritual)
  • Smrti, artinya diingat, terdiri dari: Dharmasutra dan Dhammasastra, Itihasa dan Purana.

Periode naskah, diawali jaman Rg Veda, kemudian berlanjut ke jaman Veda lainnya beserta teks-teks Brahmana, Aranyaka dan Upanisad, yang masing-masing dari teks-teks tersebut terkait dengan masing-masing Veda dan paling akhir disebut jaman pasca Veda (Sutra dan Sastra yang juga terkait dengan masing-masing Veda; Purana dan Itihasa; juga untuk beberapa Upanisad).

Kemunculan teks Brahmana, Aranyaka, Upanisad dan Sutra walaupun terkait dengan masing-masing dari 4 Veda, bukan berarti muncul di jaman kemunculan Veda tersebut, tapi spesialisasinya saja yang merujuk ke salah satu dari 4 Veda tersebut, misal: Saunaka Sutra yang walaupun terkait Rg Veda, muncul di sekitar jaman purana tertentu dan Itihasa tertentu,


CaturVeda Samhita
Rig (arti: pujian/ayat) Veda disepakati para ahli sebagai yang tertua dari 4 veda, penyusunannya terjadi secara bertahap selama 800-900 tahun [“Class and Religion in Ancient India”, Jayantanuja Bandyopadhyaya, hal.11-12], tahapan ini dapat dilihat dalam banyak sloka, misal: Rsi Kutsa kepada Indra dan Agni bahwa Ia menyusun strota baru untuk mereka yang diujarkan/chant sambil mempersembahkan Soma (minuman memabukan) [RV 1.109.2], Puru anak Raja Divodasa, salah satu raja di masa perang massal 10 Raja (RV 1.130.7) menyatakan ke para Deva bahwa Dadhyac lama, Angrisa, Kanva dan Atri (para Rsi Rig Veda awal) tahu leluhurnya [RV 1.139.9]. Visvamitra berkata pada Agni bahwa Ia mengujarkan Strota lama dan baru [RV 3.1.20]. Rsi Avatsara, anak Rsi Kasyapa kepada para Yajmana (pelaku Yajna): “Para yajmana kuno, para leluhur dan keturunannya, juga para Yajmana sekarang..memenuhi keinginan mereka dengan memuja Indra, maka begitupula denganmu” [RV 5.44.1], Rsi Aruna menyampaikan hymne baru [RV 10.92.13]. Juga para Rri lainnya: “Aku mengujarkan strota baru kepada Agni seperti ayahku Mandhata dan Angira di jaman lalu” [RV 8.40.12], dan banyak lainnya, yang kapan jamannya itu terjadi juga disebut dalam Rig Veda, yaitu jaman kepindahan kaum Arya ke area 7 sungai (sapta sindu), saat penghancuran suku-suku berkulit hitam dan setelahnya [Jayantunaja Bandyopadhayaya, hal 12-20, sample RV 8.24.26-27; 10.49.7-9].

Satapatha Brahmana, kanda ke-10 (10.4.23) menyatakan: Rig Veda berisi 12.000 brihati (4 sloka dengan 36 suku kata, atau total 432.000 suku kata).

Sama (arti: melodi/ritme) Veda, walaupun tidak menyebutkan nama RigVeda, namun 95% slokanya mengulang sloka yang ada di RigVeda. Monier-Williams: Samaveda berisi 1810 sloka, yaitu 261 sloka merupakan pengulangan + 1549 sloka. Dari jumlah tesebut, 78 sloka tidak ditemukan dalam RigVeda [A Sanskṛit-English Dictionary Etymologically and Philologically Arranged: With Special Reference to Greek, Latin, Gothic, German, Anglo-Saxon, and Other Cognate Indo-European Languages, Sir Monier Monier-Williams, 1872, hal 1107, kolom ke-2 dan 3. SamaVeda translasi Inggris dari Ralph T.H Griffith hanya berisi 1781 sloka]. Oleh karenanya, RigVeda sebagai yang tertua dan pengembangannya tedapat dalam Veda-veda berikutnya.

Nama 2 Veda (Rig dan Sama) disebutkan dalam sloka Yajur (arti: memuja/formulasi) Veda:

    Kamu adalah gambar dari Rig dan Sama. Saya menangkap kalian berdua; apakah kamu dua melindungiku sampai selesainya pengorbanan ini. Dahulu pada saat itu semua dewa bersukacita. [YajurVeda Hitam i.2.2] ..Mencapai (ritual) dengan Rig, Sama, dan Yajur [YV Hitam i.2.3] dan Diseberangi oleh Rig, Sâma, dan Yajur, semoga kita bersukacita dalam makanan dan pertumbuhan kekayaan [YajurVeda Putih 4.1]

Satapatha Brahmana, kanda ke-10 (10.4.24-25): Di 2 veda berisi 12.000 brihati, yaitu 8000nya di YajurVeda dan 4000nya di SamaVeda atau di 2 veda berisi 10.800 pankti (5 sloka dengan 40 suku kata, atau total 432.000 suku kata), sehingga ke-3 veda totalnya berisi 864.000 suku kata.

Nama 3 Veda disebutkan dalam sloka Atharva (arti ‘athar’: Api) Veda

    Dia pergi ke wilayah terakhir. sloka-sloka Rig, Sāma, Yajur dan ketaatan mengikutinya…Dia pergi ke daerah besar. Itihāsa, Purāna, Gāthā dan Nārāsansi mengikutinya [Atharva Veda 15.6.3-4]

Sehingga kronologi kemunculan Veda adalah Rig, Sama, Yajur dan terakhir Atharwa. Sementara itu, Moniers, di halaman yang sama menyampaikan bahwa di antara 78 Sloka SamaVeda, “12 stanza dari AtharvaVeda; 4 dari YajurVeda putih”. Pendapat ini kurang tepat, karena SamaVeda telah disebutkan dalam Yajur dan AtharvaVeda, oleh karenanya, lebih tepat dikatakan dari beberapa sloka SamaVeda, 4 sloka diulang dalam YajurVeda Putih dan 12 sloka diulang dalam AtharvaVeda.

Brahmana

  • Aitareya dan Kausitaki → terkait Rgveda.
  • Jaiminiya, Brahmana besar → terkait Samaveda, untuk Brahmana kecil disebut Samavidhana, Devatadhyayi, Vamsa, dan Samhitopanisada
  • Taittiriya → terkait Yajurveda hitam
    Krishna dan Satapatha → terkait Yajurveda putih/Shukla. Beberapa ide di Satapatha Brahmana tidak ada di Veda, banyak legenda penciptaan dunia kuno ada dalam Satapatha Brahmana dan banyak legenda Yunani yang tidak ada di Veda ada di Satapatha Brahmana.
  • Gopatha → terkait Atharva veda.

Aranyaka

  • Aitareya/Sankhyayana → terkait Rgveda,
  • Tavalkara dan Chandogya → terkait Samaveda,
  • Taittiriya dan Maitrayani → terkait Yajurveda hitam
    Brhadranyaka → terkait Yajurveda putih.

Upanisad

  • Aiteriya dan Kausitaki → terkait Rgveda,
  • Chandogya dan Keno → terkait Samaveda
  • Kathpanisad, Taittiriya, Maitri dan Svetsvatara → terkait Yajurveda hitam
    Brhadaranyaka dan Isa → terkait Yajurveda putih
  • Mundaka, Mandukya dan Prasna → terkait Atharvaveda.

Secara umum, baik Brahmana, Aranyaka dan Upanisad, kemunculannya ada di setelah Rg Veda, muncul secara bertahap di jaman yang berbeda yang terkait kemunculan Veda lainnya.

Sutra (muncul lebih belakangan dari Brahmana)

  • Kalpa/Srauta Sutra, menjelaskan ritual terkait yajna:
    • Asvalayana, Sankhyana dan Saunaka → terkait Rgveda,
    • Masaka, Latyayana dan Drahyayana → terkait Samaveda,
    • Katyayana → terkait Yajurveda putih
      Apastamba, Hiranyakesina dan Baudhayana → terkait Yajurveda hitam
    • Vaitana → terkait Atharvaveda
  • Grhyasutra, menjelaskan ritual yang semestinya dijalankan seorang penganut Hindu dari sejak lahir sampai meninggal:
    • Sankhayana dan Asvalayana → terkait Rgveda,
    • Gobhila → terkait Samaveda
    • Paraskara → terkait Yajurveda putih
      Apastamba → terkait Yajurveda hitam
    • Kausika → terkait Atharvaveda.
  • Dharmasutra, tidak secara spesifik berkaitan dengan Veda, isinya menjelaskan prilaku seorang penganut Hindu dalam kehidupan sehari-hari.

Kemudian kisah-kisah, digolongkan menjadi:

  • Kavya (isinya bisa jadi tidak benar namun dituliskan dengan cara yang indah),
  • Purana (Artinya: Dongeng/Lampau/Kuno, cerita-cerita yang tidak sungguh-sungguh terjadi namun memiliki nilai pendidikan, tujuannya agar orang mengerti bahwa dengan berbuat baik akan mendapat pahala baik). Purana adalah naskah yang hadir paling belakang. Ada 18 Purana utama yang disebut Mahapurana dan 18 Purana kecil yang disebut Upapurana. Kebanyakan pemeluk Hindu mendapatkan pengetahuannya dari Purana, sebagai representasi bentuk populer Hinduisme.
  • Itikatha merupakan kejadian-kejadian dengan susunan secara kronologis ataupun berbeda-beda, dan
  • Itihasa (berasal dari kata ‘hasati’ = tertawa), merupakan bagian Itikatha yang mempunyai nilai pendidikan, yaitu MahaBharata dan Ramayana

Bhagavad Gita ada dalam bagian Bhisma Parwa-nya Itihasa Mahabharata yang diyakini disusun oleh Byasa/Vyasa, seorang yang berasal dari keluarga Nelayan yang hidup di suatu tempat antara pertemuan sungai Ganga dan Yamuna (dekat Prayaga). Karena warna tanah tempat Vyasa lahir kehitam-hitaman (Sanskrit = Krsna/Pali = Kanha), maka beliau disebut Krsna Dwipa. Anak yang lahir ditempat itu disebut Krsna Dwipayana [Pali: Kanha Dipayana]. Dalam literatur Buddhis (Jataka/Kehidupan lampau sang Buddha) disebutkan setidaknya ada 2 (dua) Kanha-Dipayana/Krisna-Dwipayana berbeda:

  • Jataka no.444, Kanha-Dipayana Jataka, sang Buddha sebagai Pertapa Kanha-Dipayana dan Sariputta sebagai adiknya, yaitu Pertapa Ani-Mandaviya
  • Jataka no.454, Gatha Jataka, tentang kisah tentang 10 saudara, yang tertua bernama Vasudeva [kesava; Kanha = krisna = hitam] dan adik-adiknya (Baladeva, Candadeva, Suriyadeva, Aggideva, Varuṇadeva, Ajjuna, Pajjuna, Ghata-paṇḍita dan Aṁkura). Sang Buddha saat itu sebagai Gathapandita dan Sariputra sebagai Vasudeva, Raja kerajaan Drawaka yang wafat terkena panah pemburu bernama Jara. Pertapa Kanha-Dipayana yang muncul di jataka ini, bukan kelahiran sebelumnya sang Buddha.

Purana menjelaskan arti dari Vyasa yang merupakan sebuah gelar DAN BUKAN hanya 1 (satu) orang saja:

    Oh para Bramana, Megetahui bahwa Purana secara perlahan akan dilupakan, disetiap Yuga, Aku akan hadir dalam bentuk Vyasa dan menyusunnya” [Matsya Purana 53.8-9]

    Dalam setiap zaman ketiga (Dwapara), Vishnu, dalam diri Vyasa, untuk menjaga kualitas umat manusia, membagi Veda, yang seharusnya satu, menjadi beberapa bagian. Mengamati terbatasnya ketekunan, energi, dan dengan wujud yang tak kekal, Ia membuat Veda empat bagian, sesuai kapasitasnya; dan raga yang dipakainya, dalam menjalankan tugas untuk mengklasifikasi, dikenal dengan nama VedaVyasa. Di Manuantara saat ini, 28 kali Veda akan di susun oleh Resi-resi besar di Vaivasvata Manuantara..dan akan ada 28 Vyasa yang berlalu; Olehnya di periode tertentu Veda akan dibagi menjadi empat. Yang pertama…Pembagian dilakukan oleh Svayambu [Brahma] sendiri, kedua, penyusun Veda adalah Prajapati (dan seterusnya hingga 28) [Visnu Purana 3.3]

Jadi, arti Vyasa adalah Pembagi/Pembelah/Penyusun BUKAN Pengarang.

Kedudukan dan kronologi Veda, Itihasa dan Purana

    Dia pergi ke wilayah terakhir. sloka-sloka Rig, Sāma, Yajur dan ketaatan mengikutinya…Dia pergi ke daerah besar. Itihāsa, Purāna, Gāthā dan Nārāsansi mengikutinya [AtharvaVeda 15.6.3-4]

    O Maitreya, Rg, Yajur, Sama dan AtharvaVeda sama seperti para Itihasa dan Purana semua merupakan manifestasi dari nafas Tuhan” [Madhyandina-sruti, Brhad-aranyaka Upanisad 2.4.10]

    Sebagaimana Rg, Yajur, Sama dan Atharva adalah nama 4 Veda. Para Itihasa dan purana adalah VEDA YANG KE-5” [Kauthumiya Chandogya Upanisad 7.1.4]

    vedān adhyāpayām āsa mahābhārata pañcamān” (veda-veda disampaikan mahabharata ke-5) [Mahabharata 1.57 dan 12.327]

Dikatakan bahwa AtharvaVeda adalah teks India pertama yang menggunakan kata “syama ayas” [besi hitam: AV 11.3.7], sehingga muncullah klaim bahwa Veda ke-4 berada di periode jaman besi India atau abad ke 12-10 SM [“Autochthonous Aryans? The Evidence from Old Indian and Iranian Texts”, Michael Witzel, hal.82].

Sementara itu, walaupun Upanisad ada menyatakan Atharva adalah Veda ke-4, Itihasa-Purana adalah Veda ke-5, namun Atharva Veda sendiri telah menyebutkan tentang keberadaan Itihasa, Purana, Gatha dan Narasamsi, maka seharusnya, kehadiran Atharva terjadi lebih lambat dari kehadiran 4 teks tersebut (yaitu: Itihasa,.., Narasamsi) dan menariknya juga pada itihasa Mahabharata, dalam Bhisma parwa, yaitu Bhagavad Gita sendiri, secara konsisten tidak menyebutkan keberadaan 4 Veda namun hanya 3 Veda.

    ..vedyaṁ pavitram oṁkāra ṛik sāma yajur eva cha.. (Pengetahuan pensuci kata AUM Rig, Sama, dan juga yajur) [BG 9.17]
    ..trai-vidyā māṁ soma-pāḥ pūta-pāpā.. (Tiga Veda-Ku, dengan sari soma membersihkan dosa..) [BG 9.20]

Sementara itu, pada bagian tertentu Itihasa sendiri telah meyebutkan tentang keberadaan AtharvaVeda, misal Ramayana (Balakanda canto 14: “अथर्वशिरसि”/atharvaśirasi atau bagian awal Atharva-Veda) dan Mahabharata (misal: AdiParva 1.70; Sabha Parva 2.11; Vana Parva 3.187: Narayana ke Markandeya bahwa dariNya Rg, Yajur, Sama dan Atharva muncul, juga di 3.303: Para Brahmana ke Kunti “अथर्वशिरसि”/atharvaśirasi atau bagian awal Atharva-Veda/Mb 3.289; Udyoga Parva 5.18, dll).

Ini mengindikasikan bahwa keberadaan Mahabharata dibeberapa bagian, kehadirannya mendahului AtharvaVeda, atau dengan kata lain, Mahabhrata merupakan sebuah produk yang dibuat secara bertahap, sekurangnya, Mahabharata Buku ke-1/Adi Parva sendiri mengakui adanya tahapan itu, yang awalnya 8800 sloka, kemudian menjadi 24.000 sloka dan hingga menjadi 100.000 sloka. [“The Sanskrit Epic”, J.L Brookington, Introduction, hal.21]. Para ahli sejarah [India dan barat], dari uji analisis menemukan adanya perbedaan gaya, bahasa dan tingkat kepelikan di Mahabharata dan menyimpulkan bahwa penyusunan dilakukan pada masa berbeda dan oleh tangan-tangan yang bebeda. Misalnya, Adiparwa bab 1 menunjukan banyak episode yang telah ditambahkan. Mahabharata saat ini adalah edisi ke-3 dan telah memperluas inti dari sejarah tersebut. [C. Jinarajadasa, R.G Bhandarkar, L.Von Schroeder]. Menurut Herman Jacobi, bentuk asli Mahabharata berasal dari sebelum abad ke-6 SM, berkembang dalam 4 tahap sampai masuknya materi didaktik ke bentuk sekarang yang tidak lebih lambat dari abad ke-2/3 SM. Menurut E Washburn Hopkins, di tahun 400an SM, kisah-kisah Bharata dan Pandawa tidak diketahui, kemudian di abad 4-2 SM masuk kisah Krisna dan Pandawa, di abad 3 SM – tahun 100 M, terdapat tambahan episode baru dan interpolasi materi didaktik, penyusunan dilakukan setelah invasi Alexander, Mahabharata menjadi buku keyakinan tentang ketuhanan Krisna di abad ke 1 SM, epik ini hampir lengkap di tahun 200 M. Tidak ada bukti bahwa keseluruhan epik telah ada di abad ke-2 SM. [The Age of Bharata War, Giriwar Charan Agarwala, 1997, hal 95].

Walaupun kehidupan tokoh-tokoh dalam kisah Ramayana beada pada masa sebelum tokoh-tokoh kisah Mahabharata namun Itihasa Ramayana sendiri dibuat lebih belakangan dari Itihaasa Mahabharata yang pembuatannya juga dilakukan secara bertahap:

    [..]Yang pertama [Balakanda] dan yang terkahir [Uttara Kanda] dari kitab Ramayana adalah tambahan belakangan. Bagian buku ke 2-6, menyajikan gambaran Rama sebagai pahlawan ideal. Di buku 1 dan 7, Rama sebagai avatara atau reinkarnasi Visnu dan lirik epik diubah menjadi teks dari aliran Vaisnawa. Referensi Yunani, Parthian, dan Saka menunjukan bahwa kitab ini ada tidak lebih awal dari abad ke-2 SM[..] – [ValmikiRamayana.net: The cultural Heritage of India, Vol. IV, The Religions, The Ramakrishna Mission, Institute of Culture ]

    Menurut S. N. Sadasivan, Uttara kanda dan Balakanda baru ada pada abad ke 7-8 Masehi…Menurut H.D. Sankaliya, yang banyak menulis di “Times of India”, “vide Times of India”, New Delhi [November 26, 1967; October 12, 1975; November 6, 1983 dan December 15,1985] memperhatikan gambaran penggunaan perak, mutiara, besi, anggur, unta dan gajah di Ramayana versi Valmiki, maka besar kemungkinan kisah ini di tulis antara abad ke-3 SM s/d 4 M, dan Ia kemudian memodifikasinya menjadi abad ke-2 SM s/d 3 M dan beberapa porsi tertentunya, berhubungan dengan arsitek lanjutan di tulis setelah abad ke 7 M…Apapun bentuk ketidaksepakatan mengenai penentuan waktu aslinya, SEMUA AHLI sepakat bahwa ini dibuat setelah jaman Buddhisme yang digunakan Valmiki adalah kisah-kisah di Jataka Buddhis terutama Dasaratha dan Janaka Jataka. Ramayana kemudian tumbuh seiring waktu sesuai dengan kebutuhan para Brahmin-brahmin Hindu. [A social history of India, S. N. Sadasivan, Ch.VI, Brahmin Reaction]

Kemudian, literatur Pali Buddhisme, secara konsisten hanya menyebutkan tentang keberadaan 3 Veda [Tevijja/TriVeda/Tiga Veda, misal: DN 13/Tevijja Sutta]. Dalam riwayat kehidupannya, Sidharta Gautama, di usia 8 tahun, berguru pada Brahmana Visvamitra dan pada umur 12 tahun, telah menguasai berbagai ilmu pengetahuan, ilmu taktik perang, sejarah dan Pancavidya, yaitu: sabda (bahasa dan sastra); Silpakarmasthana (ilmu dan matematika); Cikitsa (ramuan obat-obatan); Hatri (logika); Adhyatma (filsafat agama) dan Tevijja [3 Veda: Irubbeda/Iruveda=Rg; yaju & sāma (Miln 178; DA i.247; SnA 447). Dalam riwayatnya, selama 80 tahun kehidupan beliau, yaitu di sekitar abad ke 5/6 SM, yang ada hanyalah keberadaan 3 Veda BUKAN 4 Veda

Apakah tahun kehidupan Buddha yang salah atau klaim tahun AtharvaVeda yang salah?
Pertama, mari kita simak tulisan Stephen Knapp dan Narahari Achar yang menyatakan bahwa abad ke 5-6 SM sebagai tahun kehidupan Sang Buddha adalah tidak tepat:

    P. N Oak [‘Some Blunder of Indian Historical Research, P.189-190, Blunder no.11] menyatakan bahwa Purana-purana menyinggung kronologi para pemimpin Magadha. Pada saat perang Mahabharata terjadi, Somadhi (Marjari) adalah raja Maghada dan bersama 22 raja berikutnya memerintah selama 1006 tahun, dilanjutkan 5 raja dinasti Pradyota selama 138 tahun, dilanjutkan 10 Raja dinasti Shishunaga selama 360 tahun. Kshemajit (memerintah 1892 – 1852 SM) adalah raja ke-4 dinasti Shishunag, saat itu raja kapilavastu adalah Suddodana, ayah Sidharta Gautama dan pada masa itu Sidharta lahir. Pada jaman raja ke-5 dinasti Shishunag, Bimbisara, Sidharta Gautama mencapai penerangan sempurna mencapai Buddha. Pada jaman raja Ajatashatru (1814-1787 SM) Buddha wafat. Jadi ia lahir di 1887 SM, Meninggal di 1807 SM

    Bukti lebih lanjut yang menguatkan ada di “Umur Buddha, Milinda dan raja Amtiyoka dan Yuga Purana” Pandit kota Venkatachalam yaitu Purana-purana terutama Bhagavad Purana dan di Kaliyurajavruttanta, menggambarkan kronologis dinasti Maghada yang dapat dipakai menentukan tanggal kehidupan Buddha. Buddha adalah silsilah ke 23 dari Ikshvaku, dan ada jaman2 raja2 Kshemajita, Bimbisara, and Ajatashatru, seperti tertulis di atas. Buddha berusia 72 tahun di tahun 1814 B.C. ketika raja Ajatashatru di mahkotai. Jadi kelahiran Buddha ada di sekitar 1887 SM. dan wafatnya adalah 80 tahun kemudian yaitu 1807 SM

    Professor K. Srinivasaraghavan juga menghubungkannya di bukunya, “Chronology of Ancient Bharat” (bag ke-4, bab 2), yaitu tahun kehidupan Buddha seharusnya terjadi di 1259 tahun setelah perang Mahabharata, jika perang terjadi di 3138 SM maka Buddha lahir di tahun 1880 SM. Lebih lanjut lagi yaitu berdasarkan Kalkulasi astronomi oleh astronomer, Swami Sakhyananda, Ia nyatakan bahwa jaman Buddha berada di periode Kruttika, yaitu antara 2621-1661 SM. [3 Paragraph di atas dari: “Reestablishing the Date of Lord Buddha“, Stephen Knapp]

    B. N. Narahari Achar, memberikan bukti yang ia ambil di Sammyuta Nikaya, Sagatha Vagga, Devaputta, 9.Candima dan 10.Suriya, yaitu mengenai gerhana Bulan yang diikuti gerhana Matahari. Pada saat itu, Buddha ada di savatthi, 3 bulan menjelang wafat beliau. Berdasarkan petunjuk tersebut menghasilkan perhitungan bahwa Bulan Purnama, saat Wafatnya sang Buddha jatuh pada tanggal 27 Maret 1807 SM. Dalam artikel ini, di sebutkan juga bahwa Professor Sengupta mencoba menghitung hal yang sama, yaitu gerhana bulan dan matahari yang berurutan terjadi di tahun 560 SM. Sehingga dengan memakai perhitungan astronomi berdasarkan petunjuk adanya gerhana maka tahun 483 SM and 544 SM, tidak memenuhi petunjuk yang tercantum di Samyuta Nikaya [Reclaiming the chronology of Bharatam: Narahari Achar (July 2006)]

Masalahnya, tulisan tersebut di atas TIDAK SINGKRON dengan silsilah dinasti dan raja dan dinasti yang ada di literatur Buddhis, Jain maupun Hindu sendiri, yang jika menggunakan urutan kehidupan raja-raja yang ada di jaman Buddha hingga ke masa raja Asoka (268 s.d 232 SM), maka kehidupan Buddha dari 3 literatur agama itu, berada di kisaran abad ke 5/6 SM, BUKAN di ribuan tahun SM:

  1. Buddhis: “Genap 218 tahun setelah wafatnya Tathagata (= tahun ke-219), Seorang raja memerintah seluruh Jambudwipa (Tathaagatassa parinibbaanato dvinnam vassasataanam upari athaarasame vasse sakala-Jambudiipe ekarajjaabhisekam paapuni).” [Dipavamsa, VI, pp. 1, 19-20; Mahavamsa, V, p. 21; kitab komentar Vinaya Pali karya Buddhaghosa abad ke 5 M, Samantapasadika, I, pp. 41-42 (cf. Taisho, Tripitaka edisi china (ringkasan T) vol. 24, No. 1462, p. 679c)]. Menurut Mahavamsa, kronologi Dinasti dan Raja yang memerintah mulai dari wafatnya Sang Buddha sampai dengan pemerintahan raja Asoka (“The Cambridge History of India”, hal.189 “Mahavamsa: Great Chronicle of Ceylon”, Wilhelm Geiger, hal. xlvi) adalah:

    Ajatasattu (32 tahun, Sang Buddha wafat di tahun ke-8 pemerintahannya = 24 tahun) + Udayin-Bhadda (16 tahun) + Anuruddha dan Munda (8 tahun) + Nagadasaka (24 tahun) + Shisunaga (18 tahun) + Kalasoka (28 tahun) + keturunan Kalasoka (22 tahun) + Nanda dan Keturunannya (22 tahun) + Candragupta (24 tahun) + Bindusara (28 Tahun) + Asoka dinobatkan (tahun ke-5 setelah bindusara wafat).

    Jadi 24 + 16 + 8 + 24 + 18 + 28 + 22 + 22 + 24 + 28 + 5 = 219 tahun setelah parinibannanya sang Buddha = Asoka menjadi raja. Jadi Buddha ada di abad ke-5/6 SM

  2. Purana Hindu Bhavisya Purana: Dinasti Shishunaga – Nanda – Maurya, Asoka ada dalam dinasti Maurya:

    (1) Dinasti Shishunaga:
    Shishunaga (40 tahun) + Kakavarna (Geiger dan Jacobi menyatakan kakavarna (warna gagak) dan kalasoka (asoka hitam) orang yang sama tapi beda nama: 36/26 tahun) + Ksemadharman (20/36 tahun) Ksemajit/Ksatraujas (40/24 tahun) + Bimbisara (28 tahun) + Ajatashatru (25/27) + Darsaka (22/24 tahun) + Udayin (33 tahun) + Nandiwardana (40 tahun) + Mahanandin/Mahananda (43 tahun) = 328/321 tahun

    Mulai Ajatasatru (setelah dikurangi 8 tahun saat wafatnya Buddha) sampai akhir dinasti: 155/159 tahun. Versi BUDDHIS dan JAIN, TIDAK ADA raja bernama Darsaka, ada GAP 22 tahun

    (2) Dinasti Nanda:
    Mahapadma Nanda (Vayu Purana: 28 tahun/Matsya dan Bhavishya Purana: 88 Tahun) + ke-3 anaknya selama 12 tahun = 40/100 Tahun. Ada GAP 60 Tahun, Versi Vayu purana dekat sumber Buddhis/Jain.

    (3) Dinassi Maurya:
    Chandragupta (24 tahun) + Bindusara (25 tahun) = 49 Tahun = Mulai Pemerintahan ASOKA

    Jadi, 155/159 Tahun + 40/100 tahun + 49 tahun = 244 s.d 308 tahun dan jika dikoreksi dengan GAP di atas, maka Ajatasatru – Asoka = 222/224 tahun dan jumlah tahun ini, cukup dekat dengan hitungan dari sumber Buddhis dikisaran 219 tahun.

Dari sumber Purana Hindu sendiri, kehidupan Buddha ada dikisaran abad ke 5/6 SM, tapi karena Veda ke-4, yaitu AtharvaVeda, tidak dikenal sang Buddha, maka kemunculannya AtharvaVeda pastinya terjadi di setelah jaman Buddha, juga karena AtharvaVeda maupun Itihasa-Purana, sama-sama menyinggung keberadaan masing-masingnya, maka beberapa bagian Itihasa dan Purana tertentu hadir mendahului AtharvaVeda, yang menurut Klaus K. Klostermaier, “..inti itihasa-purana telah ada mungkin di 7 SM” [A Survey of Hinduism: First Edition, hal.74] dan kebanyakan purana dibuat setelah abad masehi, misalnya: Markandeya (250 M, kecuali “Devi Mahatmya” tahun 550 M), Matsya (250-500 M), Vayu (350 M), Harivamsa dan Visnu (450 M), Brahmanda (350-950 M), Vamana (450-900 M), Kurma (550-850 M), Skanda (700-1100 M), Siva (750-1350 M), Bhagavata (950 M), dll [“On Hinduism”, Wendy Doniger O’Flaherty, hal.xix-xx; “The Iconography and Ritual of Siva at Elephanta:..”, Charles Dillard Collins, hal.36]

Berdasarkan hal tersebut, dapat kita pastikan bahwa kronologi kitab Hinduism pada sebelum jaman Buddha hanya ada 3 Veda dan di setelah jaman Buddha, munculah AtharvaVeda. Begitu pula dengan Brahmana, Aranyaka dan Upanisad, beberapanya telah ada sebelum jaman Buddha, beberapa lainnya (yang juga terkait dengan ke-4 Veda) ada pada setelah jaman Buddha. Untuk Itihasa, beberapa bagian dari ke-2 Itihasa, ada di sebelum jaman Buddha, karena beberapa tokohnya disebutkan di literature Buddhisme (misal tokoh Ramayana sudah di Jataka no.461) dan kemudian ke-2nya dikembangkan lebih lanjut pada setelah jaman Buddha. Untuk Purana, bagian kecilnya telah ada di sebelum jaman Buddha, namun kebanyakannya, baru ada di setelah abad masehi.

Salah satu purana yang menyinggung tentang Buddha di antaranya adalah Bhagavata purana/Srimad Bhagavatam. Walaupun Wendy Doniger menyampaikan bahwa purana ini dibuat tahun 950 M namun ada argumen lain yang menyatakan bahwa purana ini dibuat lebih belakangan lagi, yaitu di abad ke-13 M oleh Bopa/Vopa-deva [pada jaman raja Ramachandra, Raja Yadava dari Devagiri, 1271 M – 1309 M di mana Hemadri adalah Perdana mentrinya]. Vopa adalah juga penulis Muktaphala dan Hari-lila dan di satu bukunya (Hari-lila, syair ke-1), Bopadeva menyinggung nama sang perdana mentri:

    srimad-bhagavata-skandhadhyayarthadi nirupyate
    vidusha bopadevena mantri-hemadri-tushtaye

Para ahli yang mendukung bahwa Bhagavata ditulis Vopadeva di antaranya adalah Colebrooke, Willliam Ward, Wilson, Burnouf dan Lassen.

Menariknya, Durgamohan Bhattacharyya dalam “Muktaphala of Vopadeva and with Kaivalyadipika of Hemadri”, di bagian Introduction hal.xv, menyatakan bahwa Bhavishya Purana menyebutkan nama Vopadeva (tentu saja ada terjemahan lain, bahwa nama yang disebut adalah Jayadeva), namun jika ini benar, maka bisa jadi benar bahwa salah satu komposer Bhagavata Purana adalah Vopadeva.

Al-Beruni (973-1048) yang menterjemahkan Patanjali Yogasutra dan Bhagavad Gita ke bahasa Arab pernah melawat ke India. Di setiap kesempatan ketika Beruni merujuk “Vasudeva Bhagavata”, adalah sebagai bagian dari daftar yang dibacakan kepadanya yang berasal dari Visnu Purana itu sendiri pada tahun 1030 M [“The Date and Provenance of the Bhāgavata Purāna”, Edwin F. Bryant, hal.53], ini disalahpahami bahwa seolah Beruni menyebutkan tentang Bhagavata Purana padahal Ramanuja (1017-1137) sendiri TIDAK menyebutkan keberadaan Bhagavata Purana [“Krsna: Lord or Avatara?: The Relationship Between Krsna and Visnu”, Freda Matchett, hal.19]. Juga, terdapat klaim bahwa VyasaDeva menyelesaikan canto ke 12 Srimad bhagavatam pada tahun 900 M, sehingga, variasi waktu kapan penulisan Srimad Bhagavatam berada di kisaran abad 9 – 13 M.

Mari kita check keakuratan purana ini, sample:

    tatah kalau sampravritte
    sammohaya sura-dvisham
    buddho namnanjana-sutah
    kikateshu bhavishyati

    tataù–sesudah itu; kalau—zaman Kali; sampravåtte—setelah terjadi; sammohäya—dengan maksud untuk mengelabui; sura—orang yang percaya kepada Tuhan; dviñäm—orang yang iri; buddhaù—Sang Buddha; nämnä—yang bernama; aïjana-sutaù—yang ibunya bernama Aïjanä; kékaöeñu—di Propinsi Gayä (Bihar); bhaviñyati—akan terjadi

    Kemudian, pada awal Kaliyuga, Tuhan akan muncul sebagai Sang Buddha, putra Anjana, di Propinsi Gaya, hanya dengan maksud mengelabui orang yang iri kepada orang yang setia dan percaya kepada Tuhan. [Srimad Bhagavatam/Bhagavata Purana, 1.3.24]

Benarkah demikian?

Pertama, Srimad Bhagavatam adalah purana, tidak mempunyai kebenaran sejarah dan kedudukannya di bawah Itihasa/kitab sejarah. Kemudian, secara tradisi arti avatara adalah Tuhan yang menjelma ke dunia untuk menegakan kebenaran, maka sungguhlah aneh jika Tuhan turun ke dunia namun justru menghalangi manusia menyembah TUHAN, bukan? Kata lahir terkait dengan masa kecil dan siapa yang melahirkan, maka, benarkah Ia lahir di Gaya?

Ibu Sidartha Gautama bernama Mahamaya [bukan Anjana/Anjina], putri raja Koliya, Mahasuppabuddha [Therigatha Atthakatha: 141] dari permaisuri Sulakkhana [Apadana, ii.538]. Setelah kematian ibunya [Mahamaya], Sidharta Gautama tidak dibesarkan neneknya [beberapa situs, menyebutkan nama neneknya adalah Anjana, ini tidaklah benar] namun dibesarkan oleh ibu tirinya [juga tidak bernama anjana/anjina namun Maha Prajapati Gotami].

Nama Anjana juga ada di literature Buddhis yaitu Jataka [kisah-kisah kehidupan masa lalu Buddha], no. 454/Gatha Jataka, sebagai adik perempuan Vasudeva/Kesawa dan bersaudara 10 orang. Salah satu adik Vasudeva adalah Gatha Pandita, yang adalah nama Sang Buddha dikehidupan sebelumnya. Sedangkan Vasudeva Krisna [kanha=hitam, Kesawa] adalah Sariputtra [murid utama sang Buddha] dikehidupan lampaunya.

Sidharta Gautama, keturunan Dinasti Sakya [Sakya = Surya, mampu. Artinya bukan ksatria], Ia tidak dilahirkan di Gaya tapi di Devadaha, Taman Lumbini [lokasi Kapilavatthu, entah ada di Tilaurakot, Nepal, ± 28 Km dari Lumbini atau di Piprahwa, Uttar Pradesh, India, ± 14,5 Km dari Lumbini. Kedua lokasi ini di kaki pegunungan Himalaya] dan di tempat itu, telah dibangun pilar oleh raja Asoka, Raja yang lahir sekitar 2 abad setelah Buddha Gotama. Sebagai raja sebuah dinasti besar, negaranya pasti punya catatan riwayat leluhurnya yang hidup di jaman Buddha, juga catatan dari kaum Brahmanism, Jainism dan Buddhisme. Lokasi Buddha mencapai penerangan sempurna adalah di Uruvela, 7 km di Selatan Gaya atau 105 km dari Patna/Bihar dan di tempat itu, juga telah dibangun pilar oleh Asoka.

Kikateshu yang diterjemahkan sebagai Gaya [Bihar] dalam kalimat Bodhi Kikateshu adalah berdasarkan komentar dari Sri Visvanatha Cakravarti Öhakura, seorang yang hidup di abad ke-18/19 M atau ribuan tahun setelah wafatnya baik Asoka maupun Buddha Gautama.

Kapan awal kali yuga?
Secara umum, jaman Kali yuga dihitung setelah meninggalnya Krishna pada 3102 SM atau dihitung saat Pemerintahan Yudistira atau dihitung saat Bima berhasil menumpas raja Duryodana.

Jadi, Srimad Bhagavatam/Bhagavata Purana, telah keliru menyatakan tentang kelahiran sang Buddha dan keliru menyatakan diri sebagai ramalan karena yang diramalkannya itu telah wafat ribuan tahun sebelum kemunculan purana ini.

Bhagavad Gita bukan Pancama Veda
Mereka yang mengklaim, bisa jadi tidak tahu bahwa Mahabharata atau Itihasa-Purana-lah yang disebut Veda ke-5, atau bisa jadi, mereka sudah tahu, namun karena Bhagavad Gita merupakan bagian Mahabharata, lantas menjadikan Bhagavad Gita-lah sebagai Veda ke-5. Tentu saja ini tidak tepat, bahkan dari keseluruhan sloka Mahabharata, porsi sloka Bhagavad Gita-pun sangatlah kecil dan bahkan, pengarang Gita pun bukanlah hanya 1 orang saja melainkan banyak, misal menurut G.S Khair: sekurangnya 3 orang [“The Quest for The Original Gita”, 1957, Introduction hal.xiii, Ch.6, hal 37-46], A.L Basham: sekurangnya 3 penulis Bhagavad Gita dalam 3 stratum, yaitu Ke-1: Bab 1, 2.1-37/38; Ke-2: Bab 2.38/39-72, 3, 5, 6, 8, 13, 14.7-25, 16, 17, dan 18.1-53; Ke-3: Bab 4, 7, 9, 10, 11, 14.1-6, 14.26, 15 dan 18.54-78 [“The Origins and Development of Classical Hinduism”, Arthur Liewellyn Basham, Ch 6, Hal.85-87] atau ditahun 1985, Basham menyampaikan bahwa para ahli melihat sekurangnya lusinan kontributor Gita [“But Not Philosophy: Seven Introductions to Non-Western Thought”, George Anastaplo, Anastaplo/Doren, hal.88] atau Rudolf Otto: tidak kurang dari 18 pengarang berkontribusi dalam Gita [“Class and Religion in Ancient India”, Jayantanuja Bandyopadhyaya, hal.93-96]

Untuk menentukan kapan periode penyusunan Gita, maka perlu juga kita ketahui kapan ide Avatar [Tuhan yang turun ke dunia] mulai ada. Krisna dinyatakan sebagai avatar terakhir Visnu, Gita adalah dialog antara Visnu dalam wujud Krishna dan Arjuna [yang juga diyakini sebagai penjelmaan Visnu]. Semua Narasi Budhisme menunjukan bahwa Deva utama saat itu adalah Brahma, Sementara di Mahabharata, para pemuja Brahma tidaklah dikenal luas. Pemujaan terhadap avatar Visnu belum ada hingga Buddha wafat. Beberapa komentar Veda yaitu Brahmana yang disusun tidak jauh dari kemunculan Buddhisme, menyampaikan kisah-kisah avatar yang popular di masyarakat namun tidak ada kaitannya dengan Avatar Vishnu [“The Bhagavad Gita”, C. Jinarajadasa, From the Proceedings of the Federation of European Sections of the Theosophical Society, Amsterdam 1904, Theosophical Publishing House, Adyar, Madras. India, November 1915]

Pada Brahmajala Sutta buddhisme disebutkan 62 cabang utama teori filsafat yang ada di masyarakat saat itu dan tidak 1 (satu) pun ada doktrin yang meyerupai karasteristik teori fisafat pemujaan terhadap Visnu. Pada literature Buddhisme, tidak ditemukan adanya pemujaan terhadap Krisna sebagai dewa di jaman itu [Burnouf, Introduction à I’histoire du Bouddhisme Indien: hal.121, 2nd Ed.], Teks Buddhism ada menyinggung keberadaan Visnu dan Siva namun bukan sebagai Deva yang menonjol [Rhys Davids, Buddhist India, Hal 236]. Visnu [Vennu/Venhu] dan Siva di sebutkan di Devaputtasamyutta [2:12 dan 2:21], teks tentang kumpulan para Deva yang baru lahir di alam dewa, mungkin inilah prototipe awal dewa India Visnu dan Siva sebelum menjadi dewa utama dalam Hinduisme bakti yang theistik. [“The Bhagavad Gita”, C. Jinarajadasa, 1915]. Keberadaan Vasudeva Kesava Buddhism disebutkan kisahnya dalam Gatha Jataka, Kanhapetavatthuvannana dan Ankurapetavatthuvannana. yaitu seorang raja Dvaraka bersama 9 saudaranya yang menaklukan seluruh India.

Shatapatha Brahmana, yang memuat kisah tentang Ikan, kura-kura dan babi hutan sebagai Avatara yang menyelamatkan Manu saat banjir besar hanya menyatakan bentuk ikan dan bukan tuhan dalam bentuk ikan [I. 8. I. I. This and the following reference to the Brãhmanas are cited by Macdonell in his article on Vedic Mythology, Journal of the R.A.S. 1895]. Di Mahabharata, ikan, Kura-kura dan Babi hutan bukanlah sebagai avatara Visnu namun avatara Brahma atau Prajapati [Vanaparva, Markandeya samasya 7.5.15], Babi hutan di Taittiriya Brahmana adalah Prajapati [Taittiriya Brahmana I.i. 3. 5, ff] dan meski Shatapatha Brahmana mengangkat legenda yang sama, tapi tidak menyebutnya sebagai manifestasi Tuhan [XIV.i 2. 11] sementara itu yang belakangan, Ramayana menjadikan babi hutan adalah Brahma [II. 110. Monier Williams, Indian Wisdom, hal.330]. Deva dengan bentuk rupa srigala wanita, yang memenangkan dunia untuk para Dewa dan mengelilingi dunia hanya dengan tiga langkah adalah Indra bukan Vishnu [Taittiriya Samhita 7.2.4], Purana-purana yang muncul belakangan menyebut kesemuanya ini sebagai reinkarnasi hanya dari Visnu, juga bahkan legenda-legenda tentang Avatara Visnu pun jumlahnya bervariasi dari 9 menjadi 28 [Barth, Religions of India, Hal. 171, dari: “The Bhagavad Gita”, C. Jinarajadasa, 1915]

Jadi hingga wafatnya sang Buddha, pemujaan terhadap Brahma lazim dilakukan masyarakat, pemujaan terhadap Visnu belum mulai dan tentu saja pemujaan terhadap Krisna belumlah ada. Berdasarkan catatan duta besar Yunani, Megasthenes, yang tinggal di India di tahun 311 SM – 302 SM Pada masa itu pemujaan terhadap Krisna sudah popular dan beriringan dengan pemujaan terhadap Siva [Barth, Religions of India, Hal. 163 and168]; Di jaman ahli tatabahasa yaitu Patanjali (abad 2 SM), pemujaan terhadap Krishna sangatlah populer [Macdonell, op cit, Hal. 414, dari: “The Bhagavad Gita”, C. Jinarajadasa, 1915]

Buddhisme Brahma bukanlah Maha Pencipta.
Terdapat klaim bahwa Brahma tidaklah identik dengan brahman, oleh karenanya Brahma di Hindu tidaklah sama dengan Brahma di Buddhisme, juga Visnu/Krisna adalah Brahman dan bukan Brahma.

Benarkah Brahma tidak sama dengan Brahman?
SM Srinivasa Chan meyatakan bahwa: “Akar kata kerja brh yang artinya ‘tumbuh’ (brhati) dan menyebabkan tumbuh (brhmayati)” [Ajaran Pokok Upanisad] atau “yasmãcca brhati brmhayati ca sarvam tasmãducyate parambrahmeti” artinya “Karena dia tumbuh dan menyebabkan semua tumbuh, Ia disebut Brahma tertinggi” [Shandhilya Upanisad 3.2]. Taittiriya Upanisad memberikan pengertian tentang Brahman, yaitu ketika Bhrgu mendatangi ayahnya, Varuna dan berkata: “Bhagava ajari aku Brahma” (“adhīhi bhagavo brahmeti). (Varuna:) “..Itu darimana makhluk-makhluk ini dilahirkan, olehnya ketika lahir, karenanya ketika hidup, menjadinya ketika mati…Itu adalah Brahma (tad brahmeti)..” [TU 3.1-6]. Kata sanskritnya adalah “Brahma” bukan “Brahman”, berikut beberapa sample lainnya:

  • Taittiriya Upanishad 2.1, “Brahmavidāpnoti param..”. Arti: Memahami Brahma mencapai keutamaan
  • Aitareya Upanishad 3.3, “eṣa brahmā…prajnānam brahma“. Arti: Ia adalah brahma…Kesadaran adalah Brahma
  • Brihadaranyaka Upanishad 4.4.5, “ayamātmā brahma“. Arti: Atma adalah Brahma/Atman adalah Brahman. Sample lain di Brihadaranyaka Upanishad 1.4.10, “aham brahmāsmīti”. Arti: Aku adalah Brahma
  • Chhāndogya Upanishad 3.14.1, “sarvam khalvidam brahma, tajjalāniti śānta upāsīta“. Arti: Semuanya adalah Brahman, darinya semesta lahir
  • Mandukya Upanisad 2, “sarvam hyetad brahmāyamātmā brahma soyamātmā chatushpāt” (sarvam – Semua/setiap; hi – sesungguhnya; etad – ini/disini; brahma – Brahma; ayam – ini/disini; ātmā- atma; sah- Ia + ayam; chatus- empat; pāt- langkah/kaki/arah), Arti: Sesungguhnya semua adalah Brahman; Atman adalah Brahma; Ia ini Atma 4 arah

Kata Sanskrit yang digunakan adalah Brahma, karena Atma = Atman, maka Brahma = Brahman dan ini tidak menunjukan arti dan maksud yang berbeda, sehingga seharusnya, Brahma dalam teks-teks Buddhisme = Brahma(n) dalam teks-teks Upanisad. Perbedaannya adalah bahwa Brahma dalam teks buddhisme secara kedudukan berada jauh lebih tinggi dari Vishnu dan Siva yang baru saja menjabat sebagai deva muda di alam 33 deva di bawah kekuasaan Indra/Sakka.

Bhagavad Gita dan Kata Majemuk Sanskrit
Setelah “kematian” bahasa Vaedika, di dataran India [termasuk Afganistan, Pakistan dan selatan Rusia] masyarakat menggunakan satu di antara 7 jenis bahasa prakrta, yaitu Magadhii Prakrta; shaorasenii Prakrta, paeshacii Prakrta, Pashcatya Parakrta; pahlavii Prakta; Maharastrii. Bahasa ibu yang digunakan Krishna adalah Shaorasenii Prakrta. Pada perkembangannya bahasa prakrta kemudian dibentuk kembali dan direformasi. Bentuk reformasinya menjadi bahasa Samskerta [artinya adalah: direformasikan, dibentuk kembali]. Tulisan yang digunakan di India saat itu adalah Brahmii dan Khrosthii. Jadi mereka menulis bahasa Vaedika dengan menggunakan tulisan Brahmii dan Kharosthii, karena tulisan dan Bahasa Vaedika tidak mempunyai huruf-huruf sendiri karena merupakan bahasa lisan. Jaman itu seorang murid mendengarkan dari guru berbicara, menghafalkan yang dikatakan gurunya, mengingat-ingat apa yang diucapkannya. Oleh sebab itu Veda disebut Shruti, artinya telinga, yang berarti mendengarkan.

System pendidikan di India tidak lah berubah dari sebelumnya. Mereka yang mencari ilmu selalu tinggal bersama gurunya [catuspathiis/pasraman]. Kehidupan mereka ditanggung oleh pemerintah yang berkuasa/kepala daerah dan/atau masyarakat umum. Hampir setiap pendeta/brahmana mumpuni mempunyai pasraman sendiri. Saat itu tidak ada standarisasai kurikulum, jadi masing-masing dari mereka menciptakan kurikulumnya sendiri sesuai keinginannya dan pelajaran yang diberikan sehingga pengajaran satu Brahmana berbeda dengan Brahmana lainnya. Murid-murid yang belajar pada pendeta yang berbeda pengetahuannya-pun berbeda-beda pula. Ini menghasilkan keragaman interpretasi dan juga berbegai pertentangan pendapat di antara satu pasraman dengan pasraman lainnya. Inilah yang memberikan sumbangan utama bagi keragaman interpretasi kupasan-kupasan Veda dari jaman ke jaman.

Suku tatabahasa Sanskrit yang kuat disusun oleh Panini, seorang yang berasal dari Pakhtoon dari wilayah Peshawar [ada yang mengatakan wilayah Gandhara, Pakistan sekarang]. Tulisan Brahmmi dan Kharosthuu juga berubah menjadi huruf-huruf Sarada yang ada di Khasmir sekarang. Setelah itu muncul huruf-huruf Guru Mukhii, Nagrii dan Naungala. Tulisan yang ada sekarang ini tercipta kira-kira 10 -12 abad yang lalu. [Kuliah tentang Mahabharata, Shrii Shrii Anandamurti, penerbit Ananda marga, PT Adi Murti,Denpasar, Hal 10-15, 23].

Umumnya yang dikenal sebagai penyusun awal tatabahasa Sanskrit adalah Panini melalui karyanya Aṣṭādhyāyī [arti: Delapan Bab, tapi juga diduga ini disusun sekurangnya oleh 2 orang] dan dikatakan bahwa Ia hidup di kisaran abad ke 5/6 SM, namun tampaknya ini kurang tepat karena beberapa kata yang ada dalam karyanya menunjukan Ia mengenal baik Athava-Veda (misal Prof Thieme merujuk kata “ailayit” di A.3.1.51 dengan AV 6.16.3: “tauvilike avelayAvA ayam ailaba ailayit“, bahwa kata ini tidak ada di 3 Veda lainnya), karena sang Buddha hidup di kisaran abad ke-5 dan tidak mengenal Atharva-Veda, maka Panini harusnya baru ada di setelah jaman Buddha dan juga di setelah kemunculan Atharva-Veda, kemudian, Kamal K. Misra, menyatakan bahwa Pāṇini menyebutkan ahli tatabahasa Sanskrit lain yaitu Yaska, yang hidup di abad ke-4 SM, juga, kitab Brihatkatha dan Mañjuśrī-mūla-kalpa menyebutkan bahwa Pāṇini ada di jaman raja Nanda (abad ke 4 SM) dan Panini di A.5.2.120, menyebutkan tentang koin (“rupya“), yang tampaknya ada dikisaran abad ke-4 SM, sehingga Jan E.M Houben menempatkan kehidupan Panini dikisaran tahun 350 SM.

Setelah jaman Panini, ada ahli tatabahasa Sanskrit lainnya yang sangat terkenal yaitu Patanjali/abad ke-2 SM [Radhakrishnan, and C.A. Moore, (1957). A Source Book in Indian Philosophy. Princeton, New Jersey: Princeton University, ch. XIII, Yoga, p.453]. Patanjali menyatakan Dvandva sebagai paduan kata paling superior di Sanksrit dan menariknya, pernyataannya ini muncul dalam Bhagavad Gita:

..dari paduan kata-kata, Aku adalah kata majemuk [Dvandva]..” [Bhagavad Gita, 10.33].

Dari 6 kelas paduan kata di tatabahasa Sanskrit kelas “Dvandva” memiliki nilai gramatika tertingi, superioritas Dvanda dibadingkan paduan lainnya pertama kali dinyatakan oleh Patanjali [Pat. I. p 392, cited in Speijer, Sanskrit Syntax, page 151, note]. Patanjali, di samping ahli Sanskrit juga ahli Yoga, sementara Bhagavad Gita adalah paduan dari Upanisad/Vedanta, Samkhya, dan Yoga. Maka, karena Panini tidak menyatakan adanya superiotas kelas kata majemuk di Sanskrit, besar kemungkinan, Patanjali-lah sebagai salah satu dari penyusun Bhagavad Gita

Sekarang, tanpa ragu lagi, kita dapat menyatakan bahwa Bhagavad Gita baru ada setelah jaman Buddhisme dan untuk tahun kemunculannya walaupun terdapat banyak variasi pendapat, misal R.C Zaehner menyatakan di kisaran abad ke-5 SM – ke-2 SM [“The Study of Hinduism”, Arvind Sharma, hal.179] atau Garbe menyatakan di kisaran 200 SM – 200 M [“Textual studies in Hinduism”, Arvind Sarma, Hal.95], tapi secara umum dikatakan Gita ada mulai dari abad ke-2 SM (misal: K.T. Telang, Arvind Sharma, W.D.P Hill, Jeaneane Fowler, J.A.B. van Buitenen). Menariknya, Swami Vivekananda pun bahkan sampai menyatakan seperti ini, “Poin lainnya adalah, buku, Gita, belum banyak diketahui orang sebelum Shankarâchârya mebuatnya jadi terkenal lewat tulisan komentar luar biasanya tentang itu…bahkan tidak satu pun salinan Bhasya-nya Bodhayana dapat saya temukan selama bepergian ke seluruh India..tidak ada gunanya mencoba membangun keberadaan Bhashya Bodhayana pada Gita. Beberapa menyimpulkan bahwa Shankaracharya-lah penulis Gita, dan yang memasukannya ke Mahabharata” [Volume 4, Lectures and Discourses, 1897. Note: Shankarâchârya hidup di abad ke-8/9 Masehi].

Bhagavad Gita dan Samkhya
Salah satu filsafat tertua di India adalah Samkhya, yang umumnya dikatakan bahwa filsafat ini disusun oleh Rsi Kapila, arti Kapila adalah “orang pandai pertama”. Pengaruh Upanisad pada Gita adalah Samkhya. [Kuliah tentang Mahabharata, Shrii Shrii Anandamurti, penerbit Ananda marga, PT Adi Murti,Denpasar, Hal 10-15, 23]. Prabhupada, Pendiri aliran Hare Kresna[↓], mengidentifikasi ada 2 Kapila berbeda yang menyusun Samkhya, yang seorang adalah penyusun filsafat Ketuhanan dan lainnya penyusun filsafat Ateisme. Samkhya pada Bhagavad Gita adalah filsafat Ketuhanan.

Prof. Surendranath Das Gupta menyampaikan bahwa Shankara dalam komentarnya di Brahma Sutra menyatakan setidaknya ada 3 Kapila, yaitu Kapila pertama yang ada di Mahabharata, yaitu Kapila yang mengubah anak-anak Sagara menjadi debu dan juga reinkarnasi dari Visnu [Mahabharata: 3, 47,18; 3, 107, 31; BG: 10.26], Kapila kedua adalah reinkarnasi dari api [Mahabharata, 3, 220, 21] yang Nilakantha Chatudhara (abad ke-17, pembuat komentar Mahabharata) duga sebagai pengarang Samkhya Ateisme, dan Kapila ketiga di Upanisad [Upanisad Svetasvatara Upanisad 5.2] penyampai personifikasi Rûdra melalui pemujaan dan Cinta yang hikmat padaNya sebagai “Pribadi Tuhan”. Das Gupta menyatakan banyak penulis telah menggubah filsafat Samkhya dari waktu ke waktu [“A History of Indian Philosophy”, Surendranaht DasGupta, Vol IV, hal.36, 38]:

  • Samkhya karika dari Ishvara Krishna, Das Gupta duga ada di kisaran tahun 200 M
  • Samkhya pravacana sutra, yang memuat nama Kapila ada di setelah abad ke 9 dan kitab komentar pertamanya ada di abad ke 15 M, sedangkan Radhakrishnan menyatakan ajaran itu ada di abad ke 14;
  • Di referensi lebih awal tentang samkhya, yaitu dari Caraka (78 M), tidak menyebutkan tentang Tan-matra (unsur dasar/halus) [Vol.1 hal 214].
  • Di buku 12. Mahabharata, menyinggung tentang pandangan Samkhya, tattva (aspek realitas, beberapa tadisi mengkaitkannya dengan ketuhanan), yaitu yang ke 24 s.d 26. Ia memberikan dugaan bahwa itulah Caraka samkhya, dari teks klasik Samkhya dan samkhya dari tradisi yoga.

Mengapa penting untuk melihat unsur Samkhya di Bhagavad Gita?
Samkhya Yoga di Bhagavad Gita Bab 2.54-64, menyebutkan hasil dari Samkhya, adalah kecerdasan mantap/seimbang, menjadi seorang muni yang teguh iman, berhasil menghayati yang tertinggi, yang memiliki ciri:

  1. telah dapat menyingkirkan segala keinginannya,
  2. pikirannya tak terusik di tengah-tengah kesenangan; yang nafsu, rasa takut dan kemarahannya telah lenyap,tanpa rasa keterikatan lagi,
  3. yang tiada bersenang hati maupun bersedih dalam perolehan yang baik maupun yang buruk,
  4. menarik semua indra dari obyek-obyeknya, seperti kura-kura yang menarik anggota badannya masuk ke dalam cangkangnya

Tentunya kita juga harus mengetahui bagaimana prilaku dan karakter Krisna, sang pembawa ujaran Samkhya ini dengan kisahnya yang ada di Mahabharata:

Di 13/14 tahun sebelum perang kuruksetra [sebelum peluncuran ajaran Gita] yaitu saat upacara Rajasurya di Indraprasta, Sisupala, sepupu Sri Kresna, menghina Sri Kresna di depan umum. Penghinaan itu diterima Sri Kresna bertubi-tubi hingga melewati penghinaan ke-100 maka kemarahan Sri Kresna memuncak, mengeluarkan Cakra Sudarsana dan memenggal kepala Sisupala di depan umum.

Di 13/14 tahun kemudian, pada perang di Kurukhsetra, yaitu setelah ujaran Bhagavad Gita kepada Arjuna di hari pertama, maka di hari ke-3, Arjuna dan saisnya Kresna bertempur melawan Bhishma. Arjuna masih merasa segan untuk melawan kakeknya. Kresna menjadi sangat marah, Ia mengambil senjata cakra-nya dan berlari menuju Bisma sambil berkata “Aku sudah tak bisa bersabar lagi, Aku akan membunuh Bisma dengan tanganKu sendiri”. Arjuna kemudian mengejar dan mencegah Kresna melakukannya sambil memegang kaki Kresna. Pada langkah yang ke-10, Kresna berhenti. Arjuna berkata, “O junjunganku, padamkanlah kemarahan paduka. Paduka adalah tempat kami berlindung. Baiklah, hari ini aku bersumpah, tidak akan menarik diri dari sumpah yang aku ucapkan. O Kesawa, O adik Dewa Indra, atas perintah paduka, baiklah, aku akan musnahkan bangsa Kuru!”. Mendengar sumpah tersebut, Kemarahan Kresna mereda namun Ia masih tetap memegang senjata cakranya dan kemudian, peperangan di hari itu berlanjut.

Pada hari ke-9, Arjuna dan Bisma saling bertempur, Bisma masih tidak terkalahkan sementara Arjuna bertarung setengah hati. Melihat itu, sekali lagi Kresna menjadi marah. Ia ingin mengakhiri riwayat Bisma dengan tangannya sendiri. Dengan mata merah menyala, Ia meloncat turun dari kereta bergerak menghampiri Bisma dengan senjata Cakra di tangan, Kresna membidik Bisma. Melihat ini, Arjuna menyusul Kresna, menarik kaki Kresna untuk menghentikan langkahnya, dengan suara tersendat, Arjuna berkata, “O Kesawa, janganlah paduka memalsukan kata-kata yang telah paduka ucapkan. Paduka telah mengucapkan janji tidak akan ikut berperang. O Madhawa, apabila paduka melanjutkan niat paduka, orang akan mengatakan bahwa paduka pembohong. Semua penderitaan akibat perang ini, hambalah yang harus menanggungnya! Hambalah yang akan membunuh kakek yang terhormat itu!…” Mendengar perkataan Arjuna, Kresna tidak menjawab, dengan menahan kemarahan, Ia kembali ke kereta dan peperangan berlanjut di hari itu.

Di saat perang Kurukhsetra, Krishna berumur 89 tahun, saat menjelang wafatnya di usia 125 tahun, terjadi peristiwa musnahnya wangsa Wresni akibat saling membunuh satu sama lainnya. Krisna dengan senjata cakra ditangan, juga ikut dalam peristiwa itu.

Ketidaksesuaian antara karakter Krisna sebagai seorang Yogi dan ujarannya di Bhagavad Gita hanya menunjukan bahwa bahkan Krisna-pun tidak berhasil menjalankan ajaran Samkya Yoga. Untuk itu sekurangnya ada dua kemungkinan, pertama, ada dua Krisna berbeda [Adolf Holtzman, Arjuna, a contribution to the reconstruction of the Mahãbhãrata, p 61, cited by Muir, op.cit page xxiii. See also Lassen, Indische Altherthumskunde, vol I, page 488] atau Krisna di Mahabharata, bukanlah penyampai Bhagavad Gita kepada Arjuna pada H-1 perang Kuruksetra. Artinya, Bhagavad Gita adalah benar sebagai suntikan belakangan yang dimasukan ke Itihasanya Vyasa. Holtzmann bahkan menyatakan bahwa di susunan Itihasa sebelumnya [artinya sudah mengalami beberapa pengembangan], ujaran ini merupakan diskusi filsafat yang terjadi sebelum perang, mengenai jiwa yang abadi, yaitu antara Drona dan Duryodhana, bukan antara Krishna dan Arjuna [Muir, op.cit, p xxii]

Literatur Buddhis di Gatha Jataka Vol 454, mencatat satu kejadian penting yang tekait penyampaian pengetahuan dari Vasudeva/Kesava:

    Setelah waktu yang lama berlalu, di saat Ia [Vasudewa/Kesava, sulung dan 9 saudara lelakinya] memerintah kerajaannya, putra dari sepuluh saudara tersebut berpikir: “Katanya, Kaṇha-dīpāyana [Kresna Dwipayana/Vyasa] memiliki mata dewa. Mari kita mengujinya.”

    Maka mereka mencari seorang pemuda dan memakaikan pakaian wanita kepadanya dengan mengikat sebuah bantal di perutnya, membuatnya kelihatan seolah-olah seperti ia sedang hamil. Kemudian mereka membawanya ke hadapan Kaṇha dan bertanya kepadanya, “Tuan, kapankah waktunya wanita ini melahirkan?”

    Petapa Itu mengetahui bahwa waktunya telah tiba bagi kehancuran Sepuluh Saudara tersebut; kemudian dengan melihat batas waktu bagi kehidupannya sendiri, ia mengetahui bahwa ia akan meninggal hari itu juga.

    Kemudian ia berkata, “Anak muda, apa hubungan pemuda ini dengan kalian?” “Jawab kami terlebih dahulu,” desak mereka.

    Ia menjawab, “Pemuda ini di hari ketujuh dari sekarang akan mengeluarkan sejenis kayu akasia. Dengan itu, ia akan menghancurkan garis keturunan dari Vāsudeva walaupun kalian mengambil batang kayu itu dan membakarnya serta membuang abunya ke dalam sungai.”

    “Ah, petapa gadungan!” kata mereka, “Seorang laki-laki tidak akan pernah dapat melahirkan anak!” dan mereka melakukan pekerjaan dengan tali dan benang tersebut, mereka membunuhnya dengan segera.

    Raja memanggil keempat pemuda tersebut dan menanyakan mengapa mereka membunuh petapa itu. Ketika mereka mendengar semuanya, mereka menjadi ketakutan. Mereka melakukan penjagaan terhadap pemuda tersebut. Dan di hari ketujuh ketika ia mengeluarkan sejenis kayu akasia dari dalam perutnya, mereka membakarnya dan membuang abunya ke dalam sungai. Abu itu terapung-apung di air sungai dan tersangkut di satu sisi dekat pintu gerbang rahasia; dari sana muncullah tanaman eraka.

    Suatu hari para raja tersebut mengusulkan agar mereka pergi bersenang-senang dan bermain-main dengan air. Maka mereka datang ke pintu gerbang rahasia tersebut, sebelumnya mereka telah menyuruh orang untuk membangun sebuah paviliun yang megah. Di dalam paviliun ini mereka makan dan minum. Kemudian dengan bercanda mereka mulai main tangan dan kaki, dan terbagi menjadi dua kelompok, yang akhirnya menjadi perkelahian.

    Salah satu dari mereka, yang tidak dapat menemukan benda yang lebih baik lagi untuk dijadikan pemukul, mengambil sehelai daun dari tanaman eraka itu, yang sewaktu dicabut langsung berubah menjadi batang kayu akasia di tangannya. Ia kemudian menggunakannya untuk memukul banyak orang. Yang lainnya pun mengikuti tindakan yang satu ini, dan benda itu sewaktu mereka mencabutnya tetap langsung berubah menjadi batang kayu akasia. Dengan kayu itu, mereka saling memukul sampai akhirnya mereka terbunuh.

    Di saat mereka ini sedang menghancurkan satu sama lain, hanya empat yang melarikan diri dengan naik ke dalam kereta kuda—Vāsudeva, Baladeva [adik keduanya], adik perempuan mereka Putri Añjanā, dan pendeta kerajaan [Gatha pandita, adik ke 8], yang lain semuanya hancur.

    Keempat orang tersebut melarikan diri dengan kereta itu ke hutan Kāḷamattikā. Di sana pegulat Muṭṭhika telah mengalami tumimbal lahir menjadi yakkha, seperti yang dimintanya. Ketika mengetahui kedatangan Baladeva, ia menciptakan sebuah desa di tempat itu. Kemudian dengan mengubah wujudnya menjadi seorang pegulat, ia berkeliaran di sekitar sana dan melompat- lompat sambil meneriakan, “Siapa yang mau bertarung denganku?” dan membunyikan jari jemarinya.

    Sewaktu Baladeva melihatnya, ia berkata, “Saudaraku, saya akan mencoba satu pertarungan dengan orang ini.”

    Vāsudeva berusaha dengan segala daya upaya untuk mencegahnya melakukan hal itu, tetapi ia tidak mendengarkannya, turun dari kereta dan mendekati pegulat itu sembari membunyikan jari jemarinya juga. Pegulat itu langsung memiting kepalanya dan kemudian melahapnya seperti memakan lobak. Vāsudeva yang mengetahui bahwa ia telah mati, langsung pergi dengan adik dan pendeta tersebut, sampai matahari terbit mereka tiba di sebuah desa perbatasan. Ia kemudian berbaring di semak-semak pepohonan, sementara ia menyuruh adik dan pendeta masuk ke dalam desa, mencari dan membawa makanan kepadanya.

    Seorang pemburu (namanya adalah Jarā, atau Usia Tua) melihat semak-semak itu bergoyang.

    “Kemungkinan besar itu adalah babi,” pikirnya.

    Ia melempar tombaknya dan itu menusuk kaki Vāsudeva. “Siapa yang telah melukaiku?” teriak Vāsudeva.

    Pemburu tersebut yang baru mengetahui bahwa ia telah melukai seseorang, langsung berusaha untuk lari karena ketakutan. Raja yang mengetahui siapa pelakunya, bangkit dan memanggil pemburu tersebut, “Paman, kemarilah, jangan takut!”

    Ketika ia kembali. “Anda siapa?” tanya Vāsudeva.

    “Namaku adalah Jāra, Tuan.” Raja berpikir, “Ah, Luka yang disebabkan oleh Usia Tua akan mengakibatkan kematian, demikian yang dikatakan pepatah kuno. Tidak diragukan lagi saya akan meninggal hari ini.”

    Kemudian ia berkata, “Jangan takut, Paman. Mari tutup lukaku ini.”

    Luka tersebut kemudian diikat dan ditutup olehnya dan raja membolehkan ia pergi. Rasa sakit yang amat sangat mulai menyerang dirinya. Ia tidak bisa memakan makanan yang dibawakan oleh kedua orang tersebut. Kemudian Vāsudeva berkata kepada mereka: “Hari ini saya akan meninggal. Kalian adalah makhluk yang lembut dan tidak akan pernah dapat mempelajari apapun untuk bertahan hidup; jadi belajar dariku tentang ilmu pengetahuan alam ini.”

    Setelah berkata demikian, ia mengajarkan ilmu pengetahuan alamnya kepada mereka dan menyuruh mereka pergi. Kemudian ia pun menemui ajalnya. Demikianlah satu per satu dari mereka meninggal, kecuali Putri Añjanā.

Pada pendapat kedua di atas, bisa jadi ada satu titik terang bahwa ajaran Vasudeva [Kesava] diturunkan saat menjelang wafatnya beliau, bahwa kesadaran Yoginya mungkin saja muncul di menjelang wafatnya [itupun dengan catatan bahwa pengetahuan alam yang diajarkannya adalah berupa Upanisad dan Samkhya] namun demikian petunjuk tersebut tidak juga memberi bukti tentang adanya: pemujaan Krisna, Ide Avatar Visnu dan pemujaan terhadap Visnu di jaman sebelum Buddha hingga Buddha Wafat.

Alasan lain bahwa Krisna tidak mengajarkan Bhagavad Gita kepada Arjuna di H-1 perang Kurukhsetra adalah terkait waktu penyampaian dan jumlah sloka. Bhagavad Gita yang kita kenal saat ini terdiri dari 700 sloka, namun Mahabharata 6.43 menyampaikan terdapat 745 sloka di BhagavadGita:

    षट्शतानि (Ṣaṭśatāni/600) सविंशानि (savinśāni/tambah 20) श्लोकानां प्राह केशवः। (Ślōkānāṁ prāha kēśavaḥ/sloka dari Kesava)
    अर्जुनः (arjuna:) सप्तपञ्चाशत् (saptapanchaashat/57) सप्तषष्टिं (saptashashtin/67) तु संजयः (tu sanjayah/oleh Sanjaya)
    धृतराष्ट्रः (Dhr̥tarāṣṭraḥ) श्लोकमेकं (ślōkamēkaṁ/1 sloka) गीताया मानमुच्यते (gītāyā mānamucyatē/ukuran tentang gita)
    ” [Mahabharata 6.43, Bhisma Parva, Ini 620+57+67+1 = 745]

Perbedaan jumlah sloka BG di atas (700 vs 745) adalah juga bukti internal bahwa Mahabharata dibuat di waktu berbeda-beda dan/atau Bhagavad Gita adalah tambahan belakangan yang tidak terkait dengan kisah di Itihasa. Yang manapun jumlahnya itu, andai 1 sloka disampaikan 10 s.d 20 detik, maka dengan mengabaikan waktu tempuh pulang-pergi ke tengah lapangan Kurukhsetra juga waktu yang diperlukan oleh Arjuna (dan lainnya) untuk mencerna makna, maka sekurangnya diperlukan waktu penyampaian antara 7000 – 14900 detik atau 2 – 4 jam penyampaian. Waktu sepanjang ini, adalah waktu yang terlalu lama bagi para pihak yang sedang berhadapan, terutama bagi pihak Kurawa yang sudah sangat gatal hendak menghabisi Pandawa. Para pihak di lapangan tidak mendengar percakapan itu namun tidak di HastinaPura, karena Sanjaya, telah menerima “berkah” Vyasa untuk dapat melihat, mendengar dan merasakan apa yang terjadi di situ, menyampaikan seluruh kejadian dan percakapan itu kepada Drestarasta, Gandari dan Kunti. Namun, tidak ada catatan bahwa Sanjaya, Kunti, Drestarasta dan Gandari menyampaikan ujaran itu pada orang lainnya, karena setelah berakhirnya perang, mereka ini pergi ke hutan dan wafat di sana.

Juga tentang tidak konsistennya kaitan antara caturvarna (4 warna: Brahmana, ksatria, vaisya dan sudra) dan triguna (3 kualitas: satvam, rajas, tamas). Di satu sisi, BG 4.13 menyatakan bahwa 4 warna diciptakan Krishna yaitu, terbaginya/vibhāgaśha kewajiban/karma dari/tasya kualitas/guna (guṇa karma vibhāgaśaḥ tasya) namun di sisi lain BG 18.41 menyatakan bahwa kewajiban/karmāṇi terbagi/pravibhaktāni dari bawaan/svabhāva kualitas/guṇaiḥ kelahiran/prabhavaih (karmāṇi pravibhaktāni svabhāva prabhavaiḥ guṇaiḥ) sementara BG 9.32 jelas menyebutkan bahwa perempuan, vaisya dan sudra terlahir dari kandungan pendosa (pāpa-yona-yaḥ). Ketidakjelasan kaitan antara warna dan kualitas di sini bukan saja telah menjadikan “tuhan” sebagai kambing hitam pencipta perempuan, sudra dan vaisya sebagai bawaan kualitas yang terlahir dari kandungan penjahat, namun lebih utamanya, kita telah jelas melihat bahwa Bhagavad Gita bukanlah sabda Tuhan, tapi sabda golongan yang mendapat keuntungan dengan membawa-bawa kata tuhan, yaitu kaum brahmana. Sementara itu, dalam kenyataannya juga ada kaum di luar 4 warna atau kaum paria (dalit, candala, mleecah) yang bahkan keberadaannya tidak disebutkan di Bhagavad Gita (kata “śhva-pāke” di BG 5.18 artinya bukan paria tapi pemakan daging anjing) dan ini menjadikan kaum paria menjadi tidak ber-varna, lantas apa kewajiban mereka? Apa kualitas mereka? Dan apa kelahiran mereka?

Kita mungkin tidak pernah tahu siapa pengarang Gita yang sebenarnya, siapapun mereka, haruslah seorang yang multi talenta dengan kualitas dan kombinasi kapabilitas super: Penyair, Filsuf, Ahli bahasa, Mistiskus, dan Ahli keilmuan lainnya. Dari beberapa yang pantas (menyusun Gita dan Mahabharata), Patanjali dan Shankarâchârya termasuk di antaranya.

HINDU-BALI
Di tahun 1930an, Bhagavad Gītā ditranslasikan ke bahasa Malaysia oleh Penyair Muslim, Amir Hamzah di majalah Poedjangga Baroe (Juli 1933 dan Februari 1935). Ida Bagus Mantra membuat translasi baru dengan komentar dan teks sanskrit, di tahun 1967 [“From Agama Hindu Bali to Agama Hindu: Two styles of argumentation”, Michel Picard, hal.13,16], jadi, sebelum tahun 1967, Bhagavad Gita bukanlah bacaan umum dan hanya segelintir Hindu saja yang tahu tentang itu. Berikut ringkasan perjalanan Hindu Dharma Indonesia, sejak kemerdekaan RI:

  • Tahun 1946, Kementrian Agama RI berdiri dengan 3 departemen (Islam, Kristen dan Protestan). Agama Bali tidak diakui karena definisi “agama” kementrian agama merujuk Islam, bahwa Hindu bali tidak termasuk kaum ahli kitab. Proses pengakuan administratif Agama Hindu mulai tahun 1950 dan baru selesai antara tahun 1964 dan 1967..”para reformis Bali berusaha menahan kecenderungan ritualistik rekan-seagamanya, sambil menafsirkan warisan Hindu-Jawa mereka agar mengacu pada doktrin dan institusi Islam (dan Kristen). Mereka memerintahkan orang Bali agar kembali ke pelukan agama Hindu, sebagai sumber ritual mereka, dengan memperbarui hubungan mereka dengan India, yang baru saja merdeka dan sedang meningkat prestis internasionalnya”. [“Hindu Class and Hindu Education System in Bali: Emergence, Organization, and Conception in the Context of Indonesian Educational and Religious policies“, Dissertation, Alexandra Landmann, MA phil., 2009, Part C, Hal.149]
  • Tahun 1948, Prof Dr Narendra Dev Pandit Shastri, misionaris Hindu untuk Arya Samaj menetap di bali, Ia orang pertama yang: (1) memperkenalkan agama Hindu dalam struktur sistematis dan standard dan (2) mengajari anak-anak sekolah berdoa mantra TRI SANDHYA [hal.146].

    Tri Sandhya tidak sama arti dengan Gayatri. Tri Sandhya = 3 waktu transisi (pagi, sore dan tengah hari); Gayatri = lagu/nyanyian tiga, yaitu 3 baris (per baris ada 8 suku kata, total 24 suku kata, yaitu tentang Savitr). Dulu hanya para Brahmana yang melantunkan mantra Gayatri di 2 waktu atau 3 waktu dengan hanya 1 sloka (3 baris, atau 24 suku kata). Sekarang mantra Tri Sandhya ada 6 Sloka, termasuk mantra Gayatri (sloka ke-1 + 5 sloka lainnya). Komposisi 6 mantra ini buatan abad ke-20, di Bali (Asal-usul sloka, saya ambil dari tulisan Sugi Lanus, “Puja Tri Sandhya: Indian Mantras Recomposed and Standardised in Bali“):

    Ke-1 (Gayatri Mantra, aslinya tanpa Om, tanpa Bhur bhuvah svah, Taitiriya Aranyaka 2.11, menyatakan melantunkannya dengan didahului itu, namun di jaman Buddha, misal SnP 3.4, hanya menyebutkan 3 baris dan 24 suku kata seperti di Rig Veda)

    (oṃ bhūr bhuvaḥ svaḥ)
    tat savitur vareṇyaṃ
    bhargho devasya dhīmahi
    dhiyo yo naḥ pracodayāt
    [Rig Veda 3.62.10]

    ke-2
    (om) nārāyaṇa evedagṁ sarvam
    yadbhūtaṃ yacca bhavyam
    niṣkalo nirañjano nirvikalpo nirākhyātaḥ śuddho deva eko nārāyaṇaḥ
    na dvitīyo’sti kaścit
    [Narayana Upanisad, bukan era teks veda, buatan abad ke-5 – 15 M dianggap ada di Krshna Yajur Veda, namun Pandit Shastri mengatakan di Yajurveda sirah]

    Ke-3
    (om) tvaṃ śivastvaṃ mahādeva īśvaraḥ parameśvaraḥ
    brahmā viṣṇuśca rudraśca puruṣaḥ prakṛti-stathā
    [śivastavaḥ 2]

    Ke-4 dan ke-5 ada dalam buklet “Dasa Sila Agama Bali”-nya Prof. Narendra Dev Pandit Shastri dan dikatakannya itu diambil dari Weda Parikrama. Di bukletnya, sloka ke-6 tidakada. Sloka ke-6 baru muncul lebih belakangan lagi. (Sugi Lanus, hal.250). Di tahun 1953, Pandit mengajarkan 5 sloka ini ke siswa sekolah Dwijendra, Denpasar (hal.251). Versi baru dengan 6 sloka, yaitu dengan tambahan sloka ke-6, dilakukan Sugriwa, di Madjalah Indonesia, April 1953 dan itulah yang menjadi mantra tri-sandhya sebagaimana yang dikenal sampai hari ini.

  • Tanggal 28 December 1950, delegasi Kementrian Agama mendatangi Dewan Pemda BALI bertanya tentang keadaan keagamaan di Bali, kesulitan umat Bali sehubungan urusan agama, mereka menanyakan nama resmi agama, isi filsafat, pandangan tentang Tuhan, gaya ibadah, tempat suci, sekolah agama, dan kitab sucinya. I Gusti Bagus Sugriwa menjawab semua pertanyaan tersebut – “tetapi delegasi tidak yakin bahwa agama Bali pantas diakui”. Diskusi ini menjadi populer di masyarakat Bali dan klaim Sugriwa mendapat dukungan kuat organisasi Hindu Bali. [Landmann, hal.150].
  • Tanggal 10 Juni 1951. Rapat organisasi Hindu di Denpasar, diantaranya Panti Agama Hindu Bali, Majelis Hinduisme, Paruman Para Pandita dan Wiwadha Shastra Sabha mencapai sebuah deklarasi bersama dan mengirimkan petisi ke Menteri Agama Hasyim, anggota Dewan yang Hindu dan gubernur provinsi Sunda Kecil, tentang: “Pendirian lembaga perwakilan Hindu Bali dan struktur organisasi di Depag pada tingkat nasional, provinsi, dan regional; komite khusus dengan anggaran pemerintah pusat untuk menyusun buku agama Hindu Bali di SD dan menengah; Peraturan penggajian untuk pedanda dan pemangku, pemeliharan Kuil; subsidi tahunan dan dana untuk pemeliharan Kuil dan pengembangan kesenian dan budaya bali”. Petisi ini ditolak kementrian agama pada tanggal 23 Agustus 1951. [hal.150]
  • Keputusan Mentri Agama no.40 tahun 1952, Kantor pusat jawatan agama berdiri di Singaraja dengan 3 departemen (Islam, Kristen dan Protestan) dan dibuat pula kreteria tentang agama agar berhak mendapatkan pendanaan negara, yaitu ada 1. kitab suci; 2. monoteistik; 3. sistem hukum agama terkodifikasi; 4. nabi; 5 pengakuan internasional dan 6. umat tidak hanya terbatas pada 1 kelompok etnis dan bukan aspek budaya turun temurun [hal.151]
  • Tanggal 14 Februari 1953, di Singaraja, sekjen Kementrian Agama rapat dengan dewan Pemda Bali dan Gubenur Sunda Kecil (Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, NTB dan Sumba) dan menggunakan regulasi H peninggalan kolonial bahwa kecuali kristen dan Islam, seluruh kepercayaan masuk ke Grup H dan akan menjadi ladang dakwah Islam dan Kristen, kaget akan hal ini, Pemerintah lokal bali secara sepihak memploklamirkan bahwa Bali adalah daerah otonom untuk urusan keagamaan. Pada tanggal 24 Maret 1953, dewan Pemda Bali mengeluarkan ketetapan no.2/SK/DPRDS/1953 tentang berdirinya jawatan agama otonoom daerah bali [hal.151-152]
  • Tanggal 25 Mei, 1953, di Tampak Siring untuk memenuhi kreteria Depag, maka diadakan Pesamuhan Agung ke-1, yaitu terdiri dari pejabat yang ditunjuk untuk Kantor Agama Pusat Provinsi Kepulauan Sunda Kecil, pejabat dari Dewan Pemda BALI dan kalangan organisasi keagamaan dan bersepakat tentang: “(1) nama agama: Hindu Bali, (2) kitab suci: Veda (Shruti) dan Smerti (tradisi), Ucapan yang masuk ke Hindu: Om Tat Sat, Ekam Eva Adwityam Brahman.” (Om adalah esensi dari Yang tak terbagikan atau Sangkan Paraning Sarat).

    Mereka bersepakat merujuk ke India dan berkomunikasi dengan para sarjana India untuk mendefinisikan ulang filosofi dan praktik keagamaan agar sesuai kriteria DePag. Beberapa diantaranya adalah mereka yang mendapat beasiswa pemerintah India di Universitas, Vishva Bharati-nya R. Tagore, yaitu Ida Bagus Mantra (gelar Masternya, 1954; Doktor di 1957. Juga Nyoman S. Pendit, selesai 1958) dan Universitas Hindu Banaras, yaitu Ida Bagus Oka Puniatmaja dan Cokorda Rai Sudharta. Pemikiran dan keputusan mereka ini yang membentuk Hindu Dharma Indonesia seperti hari ini.[hal.152]

  • Tanggal 14 Juni 1954. menghasilkan resolusi ke-2, menyerukan berdirinya departemen Hindu-Bali di Kementrian Agama atas dasar bahwa Hindu Bali tidak bertentangan dengan sila ke-1 Pancasila, karena berakar di mantra sanskrit “Ekam Eva Adwityam Brahman”. Pada 1 November 1954, Dewan Pemda Bali akhirnya mampu melaksanakan keputusan membentuk Kantor Dinas Urusan Agama Otonom untuk warga Bali dan penganut agama Hindu. [Hal.152]

    Istilah bali “satu yang tidak terbagikan” setara Ketuhanan Yang Maha Esa yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Misionaris Protestan menggunalan istilah “Ida Sang Hyang Widhi”, dalam terjemahan “Tuhan” Alkitab mereka di tahun 1930-an [Hal.152]

      Buku-buku Kriten berbahasa Bali & Huruf Bali serta yang merupakan terjemahan Pdt.Mas Darmoadi yang ada pada saya yaitu Tutur seket kali yang di petik dari perjanjian lama (PL) dan dipetik dari perjanjian Baru (PB , Injil Yohanes dan Kisah Rasul, saya mendapati kesimpulan bahwa yang memperkenalkan Pemakaian Ida Sang Hyang Widhi – selanjtunya disingkat Ida SHWH – Kedalam Agama Kristen Di Bali ialah Pendeta tersebut diatas, yang merupakan utusan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW)

      “Dia memakai nama itu, karena…berdasarkan arti itu, maka widhi berarti Pencipta, sedangkan Wasa (kata Sansekerta Pula) berarti Kuasa…

      Pendeta itu MENGAMBIL KEDUA KATA ITU, karena kedua kata tersebut ada dalam budaya Bali. Budaya Jawa dan budaya Bali memang bersaudara yang dimaksud widhi dalam Konteks ini adalah Oknum Dewa, Widhi merupakan pengertian realitas tertinggi atau mutlak pada kesatuan Trimmurti (Brahma,Siwa,Wisnu) pada tahun 1933an – sampai 1950an Agama Orang Bali bukan bernama Agama Hindu Tetapi ”Tirtha”.

      BERDASARKAN PENGERTIAN WIDHI TERSEBUT DIATAS MAKA Pdt TERSEBUT MEMPERKENALKAN NAMA WIDHI DENGAN PREDIKAT WASA ITU KEMUDIAN DICARIKAN KATA-KATA PELENGKAP YAITU IDA HYANG ATAU IDA SANG HYANG, yang berfungsi untuk memuliakan Oknum yang mengacu Widhi Wasa itu. DENGAN DEMIKIAN TERSUSUNLAH NAMA Ida Sang Hyang Widgi Wasa,yang dipakai selaku “terjemahan” dari Allah dan TUHAN. maksud pemakian dari kata -kata yang terdapat dalam budaya Bali itu, ialah agar berita Alkitab dapat diterima oleh orang Bali,khusunya yang telah memeluk Agama Kristen”

      …Setelah Agama Kristen (baik Protestan maupun Katolik Roma) di Bali memakai nama Ida SHWH untuk relaitas tertingginya paling cepat Sejak Hadirnya Mas Darmoadi di bali tahun 1933..[Kompas: Riwayat Penggunaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa Oleh Agama Kristen Di Bali, 10 January 2013]

    Tentu saja ini juga berarti bahwa di sebelum tahun 1930, penggunaan kata widhi dan wasa telah marak dan telah ada dalam literatur lontar kuno yang berasal dari luar dan dalam Bali sendiri.

  • Tanggal 26 Juni 1958, konferensi 8 organisasi Hindu di Denpasar dengan resolusi bahwa seperti agama lainnya, departemen Hindu Bali harus ada di kementrian Agama; agar keputusan Menteri Agama no.9 tahun 1952 di amandemen bahwa Hindu Bali bukan bagian grup H. Resolusi itu dikirim ke Presiden, dan lainnya. [Landmann, Hal 152-153]. Tanggal 29 Juni 1958, 6 orang perwakilan Hindu-Bali bertemu Presiden Soekarno di Tampak Siring, Soekarno menyampaikan kekagumannya tentang Tagore dan Bhagavad Gita. Tanggal 5 September 1958, departemen agama Hindu Bali didirikan di Singaraja [Hal.153]
  • Tanggal 14 August 1958, Propinsi Bali berdiri, karena dewan Raja-Raja dan Dewan Pemda bali telah bubar, maka perlu organisasi agama Hindu untuk menggantikan fungsinya [hal. 153]. Pada tanggal 7 Oktober 1958, disepakati membentuk Dewan Hindu yang membantu divisi Hindu kantor DEPAG, Singaraja dan membentuk Panitia Mahasabha Hindu Bali. Pesamuhan Agung diadakan pada Januari 1959 untuk membentuk Parisada Hindu Dharma Bali dan dilanjutkan konfrensi di tanggal 21-23 Februari 1959 [Hal.171]
  • Parisadha Hindu Dharma Bali, pada sidang Mahasabha ke-1 di 31 Oktober 1959, memutuskan perlu ada buku Dharma Prawerti Sastra (berisi Dharma, Widhi Tatwa, Atma, Samsara, Karmaphala, and Moksa) sebagai panduan teks di sekolah dan yang ingin tahu lebih dalam tentang Hindu. Di sidang ke-2, tanggal 21 Oktober 1961 adalah tentang (1) persiapan Ritual Rudra Eka Dasa yang terjadi di tahun 1963 dan (2) Pesamuan/Dharma Asrama di Ubud-Gianyar dari 17 – 23 1961 yang akan menghasilkan Piagam Campuhan [Hal.153], yaitu tentang (1) Dharma Agama/tugas agama penetapan Weda Sruti dan smrti/Dharma Sastra Smrti sebagai kitab suci dasar, termasuk kitab Jawa Abad Pertengahan dan Bali. Juga pendirian lembaga pendidikan agama, yang terwujud di 3 Oktober 1963 dengan dibukanya Lembaga Hindu Dharma/UNHI, Denpasar. kemudian tentang (2) Dharma Negara/tugas-tugas negara.[Hal.172, 176]

    Sejak didirikan, Parisadha menerbitkan banyak buku dalam bahasa Indonesia. Kemungkinan di tahun 1963, untuk menjalankan hasil putusan Mahasabha ke-1, yaitu kerangka dasar agama Hindu yang sistematis dalam satu buku, Di kompilasilah Upadesa oleh Ida Bagus Mantra, Bagus Oka Punia Atmaja, Pedanda Wayan Sidemen, Ida Bagus Mantra, Ida Bagus Dosther, Ida Bagus Alit, Mertha dari DEPAG, dan Cok Rai Sudharta. Buku ini diselesaikan dalam waktu 1 minggu. Walaupun sebelumnya ada beberapa buku tentang standar referensi Hindu, namun Upadesalah yang pertama memberikan referensi ringkas sistimatis tentang ajaran Hindu Bali [hal.183]. Bulan Oktober 1964, karena alasan politik, yaitu untuk “mengamankan saudara-saudara Hindu di luar Bali”, Parisadha berubah nama menjadi Parisadha Hindu Dharma dan mengploklamirkan Panca Sradha [Hal.172]. Tahun 1986, Parisadha berubah nama lagi menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia [Hal.153][↑]


Sekilas Aliran Hare Kresna [Kutipan dari: iloveblue]

    A.C. Bhaktivedanta Swami Prabupadha, dalam kesempatan lain mengatakan bahwa Hare kresna itu bukan Hindu dan bahkan bukan agama apapun. Dalam ceramah dan wawancaranya Prabupadha bahkan menghujat Hindu sebagai sumber keruntuhan moral. Berikut ini adalah pernyataan Srila Prabupada mengenai Hare Krishna dan hubungannya dengan agama Hindu. Tulisan di bawah ini bersumber dari “Can it Be That the Hare Krishnas Are Not Hindu? ISKCON’s Srila Prabhupada’s edicts on religion are clear” yang dimuat dalam majalah Hinduism Today edisi Oktober 1998.

    “Ada satu salah pengertian,” tulis His Divine Grace A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada tahun 1977 dalam Science of Self Realization, “bahwa gerakan kesadaran Krishna ( the Krishna consciousness movement) mewakili agama Hindu. Sering kali orang-orang India baik di dalam maupun di luar India mengira bahwa kita mengajarkan agama Hindu, tapi sesunguhnya kita tidak mengajarkan agama Hindu.”

    Srila Prabhupada seringkali dengan tegas menolak eksistensi dari satu agama yang disebut “Hinduisme.” Dia mengasalkan nama yang tidak pantas ini kepada “foreign invaders (para penyerbu asing).”

    Pada kesempatan lain ia mengakui keberadaan agama Hindu, tapi menganggapnya sebagai kemerosotan yang tak tertolongkan dari bentuk asli Sanatana Dharma Veda. Pada ceramah-ceramahnya tahun 1967, di New York dia berkata, “Sekalipun memunculkan para sarjana, sanyasin, grihasta dan swami besar, apa yang disebut pengikut agama Hindu semuanya tidak berguna, cabang-cabang kering dari agama Veda.” Hare Krisnha, katanya, adalah satu-satunya eksponen dari agama Veda dewasa ini. Dalam satu wawancara yang diberikan untuk Bhavan’s Journal tanggal 28 Juni, 1976, dia berkata, “India, mereka telah membuang sistem agama yang sesungguhnya, Sanatana Dharma. Secara takhyul, mereka menerima satu agama campur aduk (a hodgepodge thing) yang disebut Hinduisme. Karena itulah muncul kekacauan.”

    Sang Guru sering menjelaskan sikapnya, dan bertindak berdasarkan keyakinannya dalam membangun organisasinya yang dinamis. Pada kuliah 1974 di Mumbai (Bombai), dia menyatakan, “Kita tidak mengkotbahkan agama Hindu. Ketika mendaftarkan assosiasi ini, saya dengan sengaja memakai nama ini, ‘Krishna Consciousness,’ bukan agama Hindu bukan Kristen bukan Buddha.”

    Srila Prabhupada menyadari bahwa masyarakat India memiliki kesan yang keliru mengenai kehinduannya. Dalam satu surat tahun 1970 kepada pengurus sebuah pura di Los Angeles, dia menulis, “Masyarakat Hindu di Barat mendapat perasaan baik untuk saya karena secara dangkal mereka melihat bahwa saya menyebarkan agama Hindu, tapi nyatanya gerakan Kesadaran Krishna ini bukan agama Hindu bukan pula agama apapun.” Hal itu tetap berlaku sampai dewasa ini, karena Srila Prabhupada tidak meninggalkan pengganti dengan wewenang untuk mengubah ‘edict’ atau bhisama spiritual ini.

    Jadi kenapa masyarakat Hindu umumnya secara keliru percaya bahwa Hare Krishna adalah sebuah organisasi Hindu, ketika mereka tidak pernah menyatakan dirinya sebagai Hindu?

    Kadang-kadang mereka sengaja menimbulkan kesan itu. Selama pembukaan temple mereka di New Delhi dan Bangalore, di mana berita-berita surat kabar sering mengidentifikasikan temple-temple besar ini sebagai Hindu, siaran press dari Hare Krishna, seperti yang dikeluarkan pada tanggal 15 April 1998, tidak pernah menggunakan kata Hindu. Namun, ketika para pengikut mereka dari India yang melayani kedua temple ini ditanya oleh wartawan pada akhir bulan Juli untuk tulisan ini, mereka bilang ini adalah pura Hindu.

    Ketimpangan antara persepsi publik dengan kebijakan internal mereka lebih dibingungkan lagi dengan pengecualian resmi dari kelompok ini berkaitan dengan posisi mereka terhadap non-Hindu. Bila menghadapi kesulitan, para pemimpin Hare Krishna memohon kepada masyarakat Hindu untuk membantu mereka, misalnya ketika menghadapi perkara atas gedung ‘Bhaktivedanta Manor’ di Inggris atau ketika dituntut oleh orang Kristen di Russia dan Polandia (yang menganggap Hare Krishna hanyalah gerakan ‘cult’ dan meminta agar pemerintah melarang mereka). Dalam permohonan kepada hakim dan pemerintah, kata Hindu dipergunakan secara terbuka. Dalam kasus-kasus hukum yang lain, termasuk kasus di Mahkamah Agung Amerika Serikat, Hare Krishna berusaha menangkis label “cult” dengan menyatakan dirinya sebagai satu sampradaya Hindu tradisional, dan meminta orang-orang Hindu yang lain untuk menguatkan hal ini di pengadilan. Organisasi-organisasi lain yang berpisah dari agama Hindu, seperti Transcendental Meditation dan Brahma Kumaris, tidak pernah mengkompromikan sikap mereka dalam keadaan apapun.

    Yang juga memisahkan Hare Krishna adalah penolakan dan kritiknya terhadap agama Hindu, khususnya di antara anggota mereka sendiri. Ada banyak laporan mengenai orang-orang Hindu yang bergabung dengan Hare Krishna yang hanya diajarkan untuk menolak agama keluarga mereka. “Sebelumnya kita adalah Hindu. Sekarang kita adalah Hare Krishna,” demikian dikatakan oleh beberapa orang. Pada saat yang sama, organisasi ini sering mengajukan permohonan kepada masyarakat dan pengusaha Hindu untuk bantuan keuangan bagi program sosial dan politik mereka untuk melidungi Hare Krishna dari pelecehan dan tuntutan.

    Melihat pada penampilan Hare Krishna — pakaian para anggota, nama, bhajana, perayaan, pemujaan, kitab suci, ziarah, bentuk bangunan temple dan lain-lain – tidaklah mengherankan banyak orang menganggap mereka adalah Hindu. Bahwa nyata mereka bukan Hindu tentu akan mengagetkan banyak orang — baik Hindu maupun non-Hindu. [↑]


Pustaka: