Category Archives: Religi-Nasrani

Latifayah Sang Perawan Suci VS Maria Sang Perawan Suci: “Anak Yesus” VS “Yesus Anak Malaikat Allah”


Jika anda percaya kebenaran berita di bawah ini, maka seluruh tulisan setelahnya, TIDAK PERLU dibaca lagi, namun jika tidak, maka aplikasikanlah juga pada 2 buku suci (Alkitab dan Quran) yang memberitakan kehamilan Ilahi perawan Maria:

    Cincinati – Remaja Ohio berusia 15 tahun mengklaim mengandung anaknya Yesus Kristus, setelah “dihamili secara ilahi” saat didatangi malaikat
    Latifah Smith-Nabengana mengatakan bahwa dirinya didatangi malaikat Allah di bulan Juli 2015, yang berkata bahwa ia seorang yang terpilih untuk melahirkan anak Kristus..

    “Ia mengatakan padaku bahwa Ia adalah Nephilim, seperti yang tertulis di Alkitab,” kata gadis muda itu. “Ia katakan bahwa Ia membawa pesan dari Yesus, Ia berkata bahwa Aku akan hamil dan bahwa aku akan melahirkan seorang putera, anak Yesus”

    Nephilim adalah benar makhluk mitologi yang ada di Kejadian 6:4: “Pada waktu itu Nefilim ada di bumi, dan juga sesudahnya, ketika anak-anak Allah mendatangi anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; mereka adalah orang perkasa di jaman lalu, orang-orang yang terkenal”

    Jenis makhluk ini tidak terdengar lagi selama ribuan tahun terakhir, sehingga klaim remaja ini mengejutkan semua orang di keluarganya saat ia umumkan. Mereka sendiri adalah para orang yang sangat berkeyakinan, mereka dapat dengan cepat menerima klaimnya dan memberikan dukungan penuh pada remaja 15 tahunan ini.

    Dokter medis yang mengikuti kehamilannya, Dr. William Franklin Murphy, mengatakan ia tahu versi pasiennya, tetapi Ia tidak dapat untuk menerima atau menolak klaimnya.

    “Dari yang aku tahu, kehamilannya normal,” kata dokter kandungan itu. “Klaimnya tentang “kehamilan perawan” secara teknis benar, namun tidak berarti itu ada campur tangan ilahi. Aku dapat sampaikan anaknya laki-laki, tapi tidak ada cara bagiku untuk menentukan apakah itu adalah anak Yesus sampai dia lahir. Jika Ia meminta tes DNA nanti, maka kami dapat memberitahukan kalian siapa bapaknya”.. [Worldnewsdailyreport, “PREGNANT TEENAGER CLAIMS JESUS CHRIST IS THE FATHER OF HER BABY“, 11 Feb 2016]

Deja vu? Wajar, karena klaim yang sama yaitu setelah “didatangi Malaikat” kemudian hamil tercantum dalam Alkitab dan Quran untuk kelahiran Isa/Yesus.

Artikel ini kita bagi dalam 4 topik, yaitu:

  • Bagian ke-1: Klaim kehamilan Perawan Maria dan Siapa bapak biologisnya Yesus,
  • Bagian ke-2: Di mana Yesus Lahir []
  • Bagian ke-3: Kapan Yesus Lahir [] dan
  • Bagian ke-4: Bulan apa Yesus Lahir []

Selamat membaca!

    Mau traktir Wirajhana, kopi? Kirim ke: Bank Mandiri, no. 116 000 1111 591


Hamilnya Maria/Mary/Maryam
Malaikat Allah mendatangi Maria tercantum dalam Alkitab dan AlQuran:

    Alkitab:
    “.. Di bulan ke-6, Allah menyuruh malaikat Gabriel ke Galilea, Nazaret, ke perempuan bujang (parthenos) yang bertunangan dengan pria bernama Yusuf dari rumah Daud, perempuan bujang bernama Maria dan mendatanginya (kai eiser chomai) berkata..bahwa Ia akan mengandung dan akan melahirkan anak bernama Yesus” [Lukas 1.26-31]

    “..Maria, ibu-Nya, tunangan Yusuf, sebelum dengan disetubuhinya (prin e suner chomai autos), ternyata ada hamil oleh roh Kudus (herisko en gaster echo ex Pneuma hagios), Yusuf adalah lelaki jujur yang tidak mau dirinya tercemar (Ioseph de aner autos dikaios eimi kai me thelo autos deigmatizo), bermaksud menyuruh dirinya pergi diam-diam (boulomai lathra apaluo autos), Ketika mempertimbangkan demikian, malaikat Tuhan nampak dalam mimpinya berkata: “Yusuf, anak Daud, jangan engkau kuatir menerima Maria sebagai isteri karena diturunkan oleh yang kudus (gar en gennao ex hegios) lahir anak itu dan disebut dengan nama Yesus (tikto de huios kai kaleo ho onoma autos Iesous) esudah bangun dari tidur, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan kepadanya. Ia mengambil perempuan itu, tetapi tidak bersetubuh/intim dengannya sampai lahir anaknya (au also ginosko autos heos tikto huis dan disebut dengan nama Yesus (kai kaleo onoma Iesous) [Mat 1.19-25]

      Note:
      Ayat terakhir menunjukan SETELAH MARIA MELAHIRKAN, Ia juga disetubuhi Yusuf/Yosep. Ini adalah bukti internal kanonikal bahwa TIDAK BENAR Maria tidak pernah disetubuhi lelaki lainnya lagi. Oleh karenanya, “saudara-saudara Yesus” adalah anak-anak kandung mereka, yaitu (satu atau seluruhnya dari nama-nama ini): Yakobus, Yoses/Yusuf, Simon dan Yudas, ref. Markus 6.3 dan Matius 13.55.

      Dalam Catholic Encyclopedia, yang mengutip dari sumber Apocrypha (Kitab James, arti Apocrypha = rahasia) dan “Yusuf si tukang Kayu” (abad ke-6/7 M): Yusuf/Yosep berusia 90 tahun dan Maria berumur 12-14 saat menikah. Yusuf/Yosep adalah duda, yang dulu di usia 40 tahun mengawini: Melcha/Elcha, mereka punya 6 anak, 4 nama anak laki-lakinya bernama sama dengan nama saudara-saudara Yesus.

      Sampai dengan Konsili Trent (1545 M), gereja hanya memutuskan menerima 9 kitab tambahan ke dalam kanon (termasuk makabe 1 dan 2, namun itu tidak termasuk kitab James). ke-9 kitab ini disebut kanon deutero (arti deutero = muda, kedua)

    AlQuran:
    ..fa-arsalnaa (kemudian kami mengirim) ilayhaa (padanya) ruuhanaa (roh kami) fatamatstsala (kemudian menyerupai) lahaa (baginya) basyaran (manusia) sawiyyaan (proporsional)..qaala innamaa anaa rasuulu rabbiki li-ahaba laki ghulaaman zakiyyaan (berkata (diterjemahan dan tafsir menyatakan ini adalah jibril): “Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”)..[AQ 19.17-21]

    wamaryama ibnata ‘imraana allatii ahsanat (dan Maryam binti Imran yang memelihara) vaginanya (farjahaa: “Farj” AQ 21.91, 23.5, 24.30, 24.31, 33.35, 50.6, 66.12, 70.29), maka Kami tiupkan (fanafakhnaa) ke dalam itu (fiihi) dari (min) ruh kami (ruuhinaa) [AQ 66.12. juga di 21.91: waallatii ahsanat farjahaa fanafakhnaa fiihaa (ke dalamnya) min ruuhinaa]

    Tafsir ibn kathir (1301 M – 1373 M):
    maksudnya “Ia hadir padanya dalam rupa manusia sempurna dan utuh”. Mujahid, Ad-Dahhak, Qatadah, Ibn Jurayj, Wahb bin Munabbih dan As-Suddi mengomentari statement allah bahwa “kami kirimkan ruh kami” maksudnya jibril..Ketika Jibril muncul di hadapannya dalam bentuk manusia, ia ketakutan dan berpikir akan diperkosa [AQ 19.16-21] ..Allah mengirimkan malaikat Jibril kepada Maryam, dan ia datang dalam rupa manusia dalam segala hal. Allah memerintahkannya untuk meniup kedalam celah dari pakaiannya dan nafas itu masuk ke kandungannya melalui bagian pribadinya. ini cara kehamilan Isa. [AQ 66.12]. Allah menyampaikan pada Maryam itu ketika Jibril sampaikan yang Allah sampaikan, Ia menerima ketetapan Allah. Banyak ulama kalangan awal (Salaf) telah menyebutkan bahwa di saat itu Malaikat meniup ke bagian terbuka pakaian yang dipakainya. Kemudian nafas itu turun hingga memasuki vaginanya..[AQ 19.22-23]

    Ibn Arabi (561 AH/1165 M – 638 AH/1240 M)
    :
    “Sesungguhnya seperti ‘Isa di sisi AllAh, adalah seperti Adam. Allah menciptakannya [khalaqahu, orang ke-3, pria tunggal] dari tanah, kemudian Allah berfirman padanya [lahu, orang ke-3, pria, tunggal]: “Jadilah”, maka jadilah ia [fayakuunu, orang ke-3, pria, tunggal]. [AQ 3.59].

    Kata dia/nya/ia merujuk pada “ADAM [Futûhât, ed. Yahya, Vol. 2, pp. 250 and 299. Kitâb al-Alif,in the Rasâ’il, p. 8: Allah berkata “menciptakannya dari tanah” dan tidak “menciptakan mereka”, dan kata ganti merujuk pada yang disebut terakhir]. Isa diciptakan dari cairan Maryam [Maa muhaqqaq] dan cairan tak tampaknya (Maa mutawahham) Jibril [Fusûs al-Hikam, Futûhât al-Makkîya, “The spirit and the son of the spirit, A reading of Jesus according to Ibn ‘Arabi”]. Isa dalam kandungan terjadi secara biologis, kedua orang tua menyumbangkan cairan mereka [Aisha’s Cushion: Religious Art, Perception, and Practice in Islam, Jamal J Elias, hal 233 atau di sini].

      Penggunaan nasab dengan nama perempuan (Isa bin Maryam):
      Dilakukan juga di bangsa Yahudi, misal: 1 SAM 26.6 (Abisai bin Zeruya + 2 saudaranya juga ben Zeruya). Zeruya adalah adik perempuan Raja Nahash dari Amon. Juga oleh bangsa Arab, misal: satu anak laki-laki `Ali bin Abi Talib (w. 661): Muhammad bin al-Hanifiyya atau contoh lain: Marwan bin al-Hakam (w. 684) dikenal sebagai bin al-Zarqa (anak dari perempuan bermata biru)


    Hadis Qudsi Imam Ahmad
    tentang dua Malaikat (Harut dan Marut): mabuk, menyetubuhi perempuan dan membunuh anak kecil:

      Yahya bin Abi Bukair – Zuhair bin MuhammadMusa bin Jubair – Nafi’ (budak Abdullah bin Umar) – Abdullah bin Umar – Nabi SAW:

      “Ketika Nabi Adam SAW diturunkan Allah ke muka bumi, para malaikat berkata: ‘Wahai Rabb, apakah Engkau jadikan disana orang-orang yang suka berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami selalu memuji-mujiMu dan mensucikanMu.’ Dia berkata “Aku Maha Mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.’ Para malaikat: ‘Wahai Rabb, kami adalah para makhluq yang lebih ta’at kepadaMu daripada anak cucu Adam.’ Allah Ta’ala berkata pada para malaikat:

      (note:
      terjemahan dari software kitab 9 hadis lidwa terhenti sampai “..para malaikat:”. Selebihnya yang di bawah ini, saya terjemahkan sekadarnya)

      -> “datangkan dua malaikat yang akan turun ke bumi dan lihat apa yang akan diperbuat keduanya”. (Para malaikat) menjawab: “Tuhan kami, turunkanlah Harut dan Marut ke bumi”. Kemudian diciptakan perawan kembang yang tercantik dari manusia untuk mendatangi keduanya. Keduanya menjadi bernafsu (untuk menggaulinya). Wanita: “Tidak, demi Allah, kecuali kalian menyebutkan syirik pada Allah”. Malaikat: “Demi Allah, kami tidak berbuat syirik pada Allah”. Wanita itu pergi dan kembali dengan seorang bayi. Keduanya menjadi bernafsu (untuk menggaulinya). Wanita: “Tidak, demi Allah, kecuali kalian membunuh bayi ini”. Kedua malaikat: “Demi Allah, kami tidak membunuh”. Wanita itu pergi dan kembali membawa minuman keras (Khamar). Keduanya menjadi bernafsu padanya (untuk menggaulinya). Wanita: “Tidak, demi Allah, kecuali kalian meminum khamar ini”. KEMUDIAN KEDUANYA MEMINUM KHAMAR, MENGGAULI WANITA ITU DAN MEMBUNUH BAYI

      [Hadis Qudsi: Imam Ahmad no.5902/No.6009 (arab). Musnad Bazzar no.1600. Ibn Hibban dalam sahih XIV/63 no.6186. Ibn Abi Ad-Dunya di Al-Uqubat no.222. Abdul ibn Humaid di Al-Muntakhab no.787. Juga di tafsir Ibn Kathir AQ 2.102 (arab).

      Berikut ini adalah penilaian beberapa ulama tentang Zuhair (Yahya bin Ma’in, Ahmad bin Hanbal: Tsiqah (jujur). An Nasa’i: da’if. Ibnu Hibban: disebutkan dalam ‘ats tsiqaat. Adz Dzahabi: Tsiqah Yughrab). Penilaian beberapa ulama tentang Musa (Ibnu Hibban: disebutkan dalam ‘ats tsiqaat, Ibnul Qaththan: karakternya tidak dikenal. Ibnu Hajar al ‘Asqalani: mastuur (adil dan jujur, tapi belum tercapai kebulatan kesepakatan di antara para ulama). Adz Dzahabi: Tsiqah).

      Disebut Qudsi, karena merupakan ucapan ALLAH SWT bukan ucapan Nabi SAW, jadi hadis Qudsi adalah mirip Quran. Baik Quran dan hadis (arti hadis = berita) yang berujung pada nabi/sahabat sama-sama disampaikan melalui rantai perawi. Bedanya rantai perawi Quran lebih pendek, terhenti di Nabi. Para sahabatnya kemudian mengumpulkannya di jaman Khalifah Usman]

    Lebih lanjut tentang Islam: “Tentang Quran, Ayat Setan, Nabi, Kabah, Ibrahim, Qurban, Tradisi Jahiliyah dan Allah..” dan “SURGA di ISLAM: Jumlah Quota Maksimum? Dapat Apa Aja? Kapan?

Yesus jelas bukan anak kandung Yusuf/Yosep dan karena kaum Yahudi menganut “..yalad al mishpachah bayith ‘ab..” (turunan suku rumah bapaknya) (Bilangan 1.18), maka apakah Yesus masih dapat disebut turunan Yahudi?

Seseorang disebut sebagai anggota suku tertentu Yahudi/Ibrani adalah karena:

    (1) Lahir dari: Bapak dan Bbu Yahudi/Ibrani.
    (2) Lahir dari: Ibu NON Yahudi/Ibrani namun BAPAK Yahudi (sample: David anak Rut (perempuan turunan MOAB/non Israel: Ruth 1.22; 2.2) dan Boaz (Lelaki tturunan Yehuda: 1 taw 2).
    (3) Lahir dari: Ibu Yahudi bapak NON Yahudi (sample: Imanat 24.10 ikut Musa keluar dari Mesir) namun harus ikut agama Yahudi, dan
    (4) Merupakan budak milik kaum Yahudi dan/atau melalui adopsi oleh orang Yahudi dan/atau melalui konversi/IKUT agama Yahudi [Lihat juga: Who Is a Jew?]

Pastinya, Yesus adalah turunan Yahudi/Ibrani, NAMUN KEMUDIAN, karena

    “..milik pusaka perempuan itu (lahir dari kandungannya) AKAN DITAMBAHKAN KEPADA milik pusaka SUKU YANG AKAN DIMASUKINYA (berasal dari sperma suaminya) DAN AKAN DIKURANGKAN DARI milik pusaka SUKU NENEK MOYANG KAMI” (Bilangan 36.4)

    Maka berbicaralah Sekhanya bin Yehiel, dari bani Elam, katanya kepada Ezra: “Kami telah melakukan perbuatan tidak setia terhadap Allah kita, oleh karena kami telah memperisteri perempuan asing dari antara penduduk negeri. Marilah kita sekarang.. mengusir semua perempuan itu dengan anak-anak yang dilahirkan mereka, menurut nasihat tuan dan orang-orang yang gemetar karena perintah Allah kita. Dan biarlah orang bertindak menurut hukum Taurat [Ezra 10.2-3: Ini karena diantara 2 hal: Istri + turunan tidak ikut ajaran Yahudi atau pihak suami memuja Allah pihak Istri]

    ”dan dari antara kaum imam (Turunan Harun):..Barzilai itu memperisteri seorang anak perempuan Barzilai, orang Gilead itu (Suku Israel), DAN SEJAK ITU DINAMAI MENURUT NAMA KELUARGA ITU. Mereka itu menyelidiki apakah nama mereka tercatat dalam silsilah, TETAPI KARENA ITU TIDAK DIDAPATI, MAKA MEREKA DINYATAKAN TIDAK TAHIR UNTUK JABATAN IMAM [Ezra 2.61-62]

Walaupun silsilah Yesus di Lukas 3.23-27 dan Matius 1.1-16 merujuk Yusuf sebagai bapaknya namun Ia BUKAN ANAK KANDUNGnya dan penggunaan garis Ibu sebagai dasar klaim adalah TIDAK RELEVAN, pun jika dipaksakan, Maria ternyata turunan DAVID-NATHAN (Lukas 3.31) BUKAN turunan DAVID-SULAIMAN.

Jadi baik melalui garis Ayah dan Ibu, Yesus BUKAN PEWARIS PUSAKA garis DAVID-SULAIMAN dan Efraim/Yusuf. [juga lihat: Persoalan silsilah antara Lukas vs Matius].

Apakah Yesus Nabi (nevi’i) dan/atau Mesiah (mashiach)?
Nabi adalah pembawa berita KEPADA RAKYAT (Bangsa yahudi dan/atau bangsa lain) tentang masa depan dan/atau orang terpilih (Mesiah): di masanya atau penerusnya DAN Nabi bertugas menegakan HUKUM Yahwe DAN menolong/menyelamatkan Israel dari bangsa lain dan atau dari memuja tuhan lain.

Alkitab Yahudi menyatakan jumlah nabi 2x lebih banyak dari jumlah orang Israel yang keluar dari Mesir [Megillah 14a] NAMUN YANG TERCANTUM di Alkitab Yahudi hanya 55 NAMA NABI (laki/perempuan) dan menariknya nama Daniel TIDAK TECANTUM SEBAGAI NABI, ini artinya, Matius 24.15 TELAH KELIRU MENUDUH Daniel sebagai Nabi.

Terdapat 6 Nabi kalangan NON ISRAEL, yaitu: Ayub dan 3 temannya + Bapaknya Balaam (Beor) + Balaam. Untuk urutan kehadiran, Balaam, tampaknya hadir paling akhir, karena setelah balaam, roh kudus meninggalkan (dicabut dari) bangsa NON Israel secara permanen:

    “ונביאי אומות העולם, היו במידת אכזריות, שזה עמד לעקור אומה שלמה חנם על לא דבר. לכך נכתבה פרשת בלעם, להודיע למה סלק הקדוש ברוך הוא רוח הקדש מאומות העולם, שזה עמד מהם, וראה מה עשה” (Para nabi bangsa kafir berprilaku kejam, Itulah Ia (Balaam) yang membasmi seluruh orang tanpa alasan. Oleh karenanya kisah tentang Balaam dituliskan sebagai informasi mengapa Tuhan mencabut roh kudus dari bangsa-bangsa dan hanya melihatnya) [midrash Tanchuma 4.7.1, tentang Balaam]

Bahkan Roh kudus, akhirnya juga meninggalkan kaum Israel untuk jangka waktu tertentu:

    ”Ketika Nabi Haggai,Nabi Zechariah dan Nabi Malachi wafat, Roh kuduspun meninggalkan Israel; namun masih dapat menerima Bath-kol (suara suci, kelas-2 kenabian) [Yoma 9bSotah 48b, Sanhedrin 11a]

Sehingga disetelah wafatnya Haggai, Zacharia dan Malachi, TIDAK ADA LAGI nabi HINGGA KEMUDIAN, “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu” [Malachi 4.5] dan kita tahu bahwa Yohanes pembaptis sendiri MENOLAK DISEBUT ELIA:

    “..orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan Yohanes pembaptis: “.. siapakah engkau? Elia?” Dan Yohanes pembaptis menjawab: “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Dan ia menjawab: “Bukan!” [Yohanes 1.19-21]

Jadi dijaman Yohanes pembaptis, ELIA BELUMLAH MUNCUL, konsekuensinya, Yesus BUKAN yang Malachi maksudkan. Maka wajarlah terjadi inkonsistensi pernyataaan Yohanes Pembaptis yang konon sebagai SAKSI yang MELIHAT dan MENDENGAR tanda Allah dan roh kudus tentang Yesus:

    Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya.. Sesudah dibaptis,..pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan. [Mat 3.13-17; Lukas 3.21-22; juga di Yohanes 1.29-34 DAN 1.35-36]

NAMUN ketika di penjara, Yohanes Pembaptis JELAS SEKALI MERAGUKAN Yesus:

    Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” [Matius 11.2-3. Juga Lukas 7.18-19]

Ini membuat kenabian/kemesiahan Yesus SANGATLAH MERAGUKAN

Mesiah adalah orang yang diurapi atau yang terpilih baik itu berasal dari NON ISRAEL ataupun ISRAEL. Sample Mesiah NON Israel misalnya Koresh (Yesaya 45.1, 13; Ezra 1.2). Sample Mesiah turunan Israel ada banyak. Jadi Mesiah bisa berupa: Nabi, Raja, Imam, Hakim, orang biasa dan bahkan TIDAK HARUS dari ras Yahudi.

Alkitab Yahudi menginformasikan adanya 4 MESIAH MASA DEPAN atau 4 orang tukang (Zachkria-PL: 1.20-21/Zachkaria-Tanakh: 2.3) yang Babilon Talmud, Sukkah 52b katakan mereka itu adalah:

  1. Keturunan DAVID-SULAIMAN (2 Sam 7:12-16, Mazmur 89:28-38, 1 Taw 17:11-14, 22:9-10, 28:6-7),
  2. Keturunan Yusuf/Effrain: Mesiah bin Efaim/Yusuf (juga: Who is the Moshiach ben Yosef?),
  3. Elia, dan
  4. Imam benar

URUSAN MESIAH/NABI SELALU HARUS terkait dengan:

  • Menolong/menyelamatkan bangsa ISRAEL dari bangsa lain atau dari mengikuti tatacara Tuhan lain dan menegakkan Taurat, sample: Musa, Samson (Hak 14-16) dan Balaam (Bilangan 22), atau
  • Urusan tentang Kuil di Yerusalem, harus memerintahkan/membangun kuil (Yehezkiel 37.25-26) atau HARUS memastikan KUIL TIDAK BERALIH FUNGSI untuk menyembah tuhan lain (2 Makabe 4 tampaknya terkait ramalan di Daniel 9.27, yaitu tentang Imam yang diurapi: Onias )

    Sampai dengan hari ini, BARU TERJADI 2x pembangunan Kuil di Yerusalem: Kuil ke-1 adalah kuil Sulaiman, hancur oleh Babilonia. Kuil ke -2, dibangun jaman Koresh oleh Ezra dan Nehemia, kuil ini hancur pada tahun 70 Masehi. Kuil ke-3 belum terjadi (lihat Yehezkiel 40)

Yesus dalam kisah kehidupannya, tidak berurusan dengan menyelamatkan Israel dari tangan bangsa lain, atau dari penyembahan terhadap Tuhan lain. Yesus lahir, besar dan wafat pada masa kuil ke-2 masih ada dan saat itu kuil di Yerusalem JUGA TIDAK BERALIH fungsi untuk menyembah tuhan lainnya. Oleh karenanya, Yesus BUKANLAH Mesiah [Lihat juga: Laws Concerning Kings and the Messiah]

Kemudian,
Jika benar Mary dan Yusuf tahu bahwa Yesus anak Allah dan benar bahwa mereka mengalami sendiri keajaiban seputar kelahiran Yesus, maka:

  • MENGAPA MEREKA HERAN mendengar cerita para gembala yang didatangi para malaikat dan tentara surga yang memberitakan kelahiran bayi mereka? (Luk 2.8-20) atau
  • MENGAPA MEREKA HERAN mendengar pernyataan Simon (dan Hana) tentang bayi mereka dan masa depannya, ketika Yesus di usia 40 hari? (Luk 2.21-40), atau
  • MENGAPA MEREKA HERAN MELIHAT YESUS dan MALAH MENEGURNYA? ketika Yesus di usia 12 tahun, menghilang dan 4 hari kemudian ditemukan di bait Allah sedang mendengarkan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada para alim ulama? (Luk 2.42-51), dan
  • MENGAPA Mary MALAH TIDAK MENGERTI dan Yusuf juga TIDAK MENGERTI dengan jawaban Yesus: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di tahta/urusan bapaKu (en pater mou)?” [Luk 2.42-51]

PADAHAL, bukankah:

  • 10 bulan sebelum kelahirannya, Mary mengklaim dirinya didatangi Malaikat yang menyampaikan bahwa dirinya terpilih melahirkan Yesus?
  • di rumah sanaknya (sugenes), Elizabeth, Ia berkata pada Mary: “..Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Lukas 1: 42-43) dan Mary menjawab: “..Sesungguhnya..Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus” (Lukas 1: 46-49)
  • di saat Yesus lahir, konon ada bintang berhenti di atas tempat bayinya, juga serombongan Magi datang menyembah bayinya dan mepersembahkan emas, kemenyan dan Mur (Mat 2.1-11)
  • Yusuf juga mengkaim didatangi Malaikat dalam mimpi: di 5-6 bulan sebelum kelahiran Yesus bahwa dirinya terpilih menjadi bapak anaknya Roh kudus (Mat 1.18-25) dan saat Yesus lahir agar keluarganya segera ke Mesir sehingga terhindar dari tangan kejam raja Herodes (Mat 2.13-18)

Lantas, mengapa Mary dan Yusuf tetap masih HERAN? masih tidak mengerti jawaban Yesus? dan koq malah nekad berani menegur anak Allah?

Jika benar Yesus anak Allah, seperti klaim Maria dan Yusuf, maka:

  • Mengapa ditempat asal Yesus sendiri, orang-orang MALAH TIDAK TAHU bahwa Yesus itu anak Allah atau bahkan Allah dan MALAH SAMPAI NEKAD BERANI MENOLAKNYA [Mat 13.57]?
  • Mengapa keluarga Yesus sendiri MALAH TIDAK TAHU Yesus itu anak Allah dan NEKAD BERANI menangkapNya dan mengatakan bahwa Yesus SUDAH TIDAK WARAS LAGI (Markus 3.21)
  • Mengapa bahkan “saudara-saudara-Nya sendiripun tidak percaya kepada-Nya” (Yohanes 7.5)?

Mengapa Mary dan Yusuf tega-teganya  tidak memberitahukan keluarga dan para tetangga asal-usul ilahi-Nya?
Mengapa Mary dan Yusuf tega-teganya tidak memberitahukan keluarga dan para tetangga bahwa Yesus adalah Mesiah?
Mengapa Mary dan Yusuf tega-teganya TIDAK MEMBERIKAN KABAR BAIK ITU pada keluarga dan para tetangganya agar juga beroleh kesempatan untuk percaya dan agar juga beroleh KESELAMATAN SURGA yang konon tidak akan didapat JIKA TIDAK melalui Yesus? Benarkah Yesus anak Allah?

Yesus Bin Panthera?
Tampaknya klaim kaum Yahudi bahwa Yesus anak Haram telah ada dari awal kehidupannya, misalnya:

  • Yohanes 8.41, “..Jawab mereka: “Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah” (Ayat ini bisa punya 2 maksud: (1) kami (tidak seperti mu) bukan anak haram atau (2) kami tidak menduakan Allah)
  • Dalam kitab Apocrypha, “Gospel of Nicodemus” (pertengahan abad ke-4 M), Part 1, Act of Pilate, Ch.2, pesidangan Yesus dihadapan Pontius Pilate: “Dan para tetua Yahudi menjawab, berkata pada Yesus: ‘Apa yang kita lihat? Pertama, Kamu lahir dari perzinahan..’.. Annas dan Caiaphas berkata pada Pilate: ‘Kami bersama banyak orang berkata bahwa Ia lahir dari perzinahan..’

Sehingga tidaklah mengherankan, jika kemudian, pria bernama “Panthera”, seorang serdadu kerajaan Romawi, disebut-sebut sebagai bapak biologis Yesus berkembang luas di abad-abad awal kekristenan dan juga diketahui para bapak Gereja, misalnya: Origen (185-254 M) dalam “Origen conta Celcius” dan Santo Epiphanius (Uskup dari Salami, 315 – 403 M) dan bahkan termuat dalam Talmud Babilon (abad ke 3 s.d 5 M)

    Celcus (178 M):
    Tapi mari kita kembali ke tempat yang kaum Yahudi katakan, berbicara tentang Ibunda Yesus: “ketika Ia hamil Ia diusir oleh tukang kayu yang menjadi tunangannya, karena bersalah telah berzinah, dan bahwa ia melahirkan anak dari seorang prajurit tertentu bernama Panthera” [Pernyataan Celcus dikenali, karena Origen mengulangi lagi apa yang dinyatakan Celcus dalam “Origen contra Celcius”, bab.32], Juga Origen: “..Sebagaimana yang Celcus pikirkan, dengan tindakan perzinahan antara Panthera dan sang perawan” [Bab. 33] dan Origen tentang Celcus: “..Ia tdak percaya pembuahan oleh roh kudus dan percaya bahwa Ia dibuahi oleh seorang Panthera, yang merusak sang perawan” [Bab. 69]

    Epiphanius (315 -403 M):
    Mencoba membelokkan ini menjadi suatu cerita bahwa Panther adalah kakeknya Yesus dengan menyatakan, “..Joseph adalah saudara Cleopas anak dari Jacob yang bermarga/nama keluarga Panther. Kedua kakak beradik ini anak-anak dari yang bermarga/nama keluarga Panther” [The Panarion of Epiphanius of Salamis, Book II and III.De Fide 2nd Revise ed., Translated by Frank Williams, “Anachepalaeosis VII: 78 Againts Antidicomarians”, hal.620]

      Note:
      Di Jerman, pada bulan Oktober 1859, ditemukan batu Nisan yang tertulis: Tiberius Iulius Abdes Panthera (22 SM – 40 M) berasal dari Sidonia (sekarang adalah Sidon, sedikit di utara Judea), anggota pasukan pemanah [Lihat juga: James Tabor].

      Menariknya Alkitab menyatakan: Yesus lahir di jaman Pendaftaran ketika Kirenius menjabat sebagai wali Suriah [Luk 2.2], yaitu di 6 M, saat itu umur Panther adalah 28 tahun, walaupun tidak membuktikan apapun, namun ini suatu kebetulan yang menarik.

      Juga di Markus 7.22, “Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus dan Sidon. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan”.[Entah mengapa di terjemahan baru, kata SIDON hilang, padahal dalam bahasa Yunaninya tertulis: horion turos kai sidon], yaitu tahun ke-3nya pelayanan Yesus. walaupun ini tidak membuktikan apapun, namun juga suatu kebetulan yang menarik

    Talmud
    Rabbi Siemon b. Azzai mengatakan: Aku temukan gulungan buku silsilah di Yerusalem; di dalamnya tertulis bahwa bla-bla adalah anak haram.. [Yebamoth Folio 49a, Mishna/Pengulangan, catatan tertulis dari hukum lisan taurat dari generasi ke generasi. Note: “bla-bla” merujuk pada Yesus]

    ..Rabbi Eliezer:, “Tidakkah bin Stada membawa mantra dari Mesir..Mereka berkata kepadanya, “..Bin Stada adalah Bin Pantera. Rabbi Hisda:, “Suaminya adalah Stada, kekasihnya adalah Pantera.” Suaminya adalah “sebenarnya” Pappos bin Yehuda, ibunya adalah Stada. Ibunya adalah Miriam “Mary” penata rambut (penghalusan kata untuk maksud yang sangat miring. dalam bahasa Ibrani: “Miriam m’gaddela nashaia”, ini mungkin asal-usul nama Magdalena). Seperti yang kita katakan di Pumbeditha (nama kota di Babilonia, sekarang dekat Fallujah, Irak), “Ia telah curang “satath da/stada” pada suaminya.” (Talmud Babilon, Abad ke 3-5 SM: Shabbat 104b, Gamara/Komentar cat kaki no.19, Talmud yang tidak di sensor dan di Sanhedrin/Mahkamah Agama 67a, cat kaki no.12)

Karena jelas Yesus bukan bin Daud dan jika Yesus juga bukan bukan bin Gabriel, maka bisa jadi bahwa Yesus memang bin Panthera []

Di mana Yesus Lahir?

    Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem Yudea (en bethleem Ioudaia) pada zaman raja Herodes datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem .. Kami telah melihat bintang-Nya di Timur.. dan kami datang untuk menyembah Dia. Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem [Mat 2.1-4] .. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.[Mat 2.9]

      Note:
      Yang seharusnya mengejutkan adalah TIDAK SATUPUN dari SELURUH warga yang terkejut ini, ada yang menjadi saksi munculnya BINTANG yang mampu BERHENTI?

      Faktanya juga, 3 injil lainnya TIDAK MEMBERIKAN dukungan untuk dongeng yang dibuat Matius. Bahkan Lukas MENENTANG DONGENG ITU dengan menceritakan dongeng lainnya yang berbeda total bahwa yang datang itu BUKANLAH para Magi melainkan para gembala dan sinar itu BUKANLAH BINTANG yang DIAM melainkan kedatangan para malaikat + tentara surga:

        dan para gembala (kai poimen) yang hidupnya di padang terbuka (eimi en ho chora ho autos agrauleo) dan berjaga mengawal ternaknya di malam hari (kai phulasso phulake ho nux epi ho poimne autos) [luk 2.8]. Malaikat Tuhan mendatangi dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka da memberitahukan bahwa christos kurios telah lahir, di kota Daud (en polis dabid), sebagai tanda, mereka akan: dapati (heurisko) bayi (brephos) terbungkus (sparganoo) dan terbaring (kai keimai) di tempat makan ternak (en phatne. Berasal dari Pateomai = makan) [Lukas 2.9-14].

        Setelah Para Malaikat pergi, salah seorangnya mengajak ke Betlehem (bet = tempat/rumah + lechem = makanan hewan/manusia) untuk melihat apa yang terjadi di sana, mereka berangkat dan menjumpai Maria, Yusuf dan bayi yang terbungkus dan terbaring DI TEMPAT MAKAN TERNAK. ketika mereka menceritakan yang mereka alami, SEMUA ORANG HERAN mendengarkan cerita mereka [Lukas 2.15-20]

      Kata “Polis”, 11x juga diterjemahkan secara jamak: “kota-kota” namun, untuk “kota Daud”, dari 49x penggunaannya di Perjanjian Lama (PL), selalu merujuk ke Yerusalem/Sion dan TIDAK PERNAH merujuk ke Betlehem [Flavius Josephus di Antiquities of Jews, buku ke-7, ch.3: “Kota Daud adalah Yerusalem”. Malah Yohanes 7.42 menyatakan bahwa Betlehem itu KAMPUNG (kome), yaitu: “KAMPUNG DAUD”]

      Juga, narasi Lukas di atas ketika para gembala menyatakan bethlehem adalah tentang tempat makan ternak.

      Tampaknya injil-injil ini bingung sendiri membedakan antara Betlehem vs Yerusalem sebagai kota Daud dan juga antara Betlehem sebagai suatu daerah vs Betlehem sebagai Phatne (tempat makan ternak).

    (Herodes) mengumpulkan semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem Yudea (en Bethleem Ioudaia), karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem tanah Yehuda (kai su bethleem ge Iouda), engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel. [Mat 2.4-6]

      note:
      Lukas menyatakan adanya kejadian tertentu yang menyebabkan banyak orang kembali ke-kotanya masing-masing. Yusuf dan Maria, juga beberapa orang, pergi dari Nazareth ke Yudea, ke kota Daud, Bethlehem (di atas, kita tahu bahwa yang dimaksudkan kota Daud seharusnya adalah Yerusalem BUKAN Betlehem).

        Pada waktu Kaisar Agustus (de hemera ekeinos kaisar augoustos) Keluar (exerchomai) perintah (dogma) pendaftaran (apograho) bagi semua (pas) dalam kerajaan (oikoumenên). [Luk 2.1] Ini (houtus) pendaftaran (apegraphe) pertama (protos) terjadi (ginomai) Kirenius (kurenious) wali negeri (hegemoneuo) Siria (Suriah) Maka pergilah semua mendaftarkan, di kotanya sendiri [Luk 2.1-3]

        Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem.. supaya didaftarkan bersama Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. [Luk 2.4-5]

        Terjadi (ginomai) di situ/tempat/peti itu (en ekei) genap (pletho) waktu (hemera) lahir (tikto), dan lahir (kai tiktos) turunannya yang pertama (huios autos protokos) dan dibungkusnya (kai sparganoo autos) dan dibaringkannya (kai anaklino autos) di tempat makan ternak (kai phatne. Berasal dari Pateomai = makan) karena tidak ada tempat (dioti ou topos) di persinggahan (en kataluma) [Luk 2.6-7]

      Alur perjalanan adalah ke Selatan: Nazaret – Jerusalem – Betlehem (total sekitar 175 km). Betlehem dicapai setelah lewat Yerusalem. Narasi Lukas di atas, menunjukan dalam perjalanan menuju Yudea, Yesus keburu lahir, BAHKAN itu terjadi masih sangat jauh dari Yerusalem karena sekelompok orang YANG TAHU lokasi Yesus lahir BERSAKSI bahwa Yesus lahir di area NAZARETH, GALILEA

        Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya sendiri (patris autos) [Mark 6.1, yaitu di Nazareth, Galilea] Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri (patris autos) [Mark 6.4]

        Tetapi yang lain lagi berkata: “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan (sperma) Daud dan dari kampung (kome) Betlehem tempat Daud dahulu [Yohanes 7.41-42]

      Jika saja perjalanan mereka SUDAH LEWAT Yerusalem, tidaklah orang-orang mengatakan demikian. Ke-3 Injil saling mendukung Yesus lahir BAHKAN BELUM KELUAR WILAYAH NAZARET, Galilea

      Kemudian, kitab Mikha sendiri TIDAK MENYATAKAN Betlehem-YUDEA:

        Tetapi engkau, hai Betlehem EFRATA, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda (eleph Yahuwdah), dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel.. Apabila Asyur masuk ke negeri kita dan apabila ia menginjak tanah kita, maka kita akan membangkitkan melawan dia 7 gembala, bahkan 8 pemimpin manusia. Mereka itu akan mencukur negeri Asyur dengan pedang dan negeri Nimrod dengan pedang terhunus; mereka akan melepaskan kita dari Asyur [Mikkah 5.2-7]

      Ada kata “eleph” yang artinya “kaum” atau “pasukan yang dikomandoi oleh 1 orang”. Ini menunjukan bahwa yang diajak bicara adalah manusianya/kaumnya dan BUKAN tentang kota/tempat. Disamping itu, Mikha jelas menyebutkan HARUS ADA syarat lain, yaitu ADANYA penyerangan tentara ASYUR DAN BUKANNYA tentara ROMAWI serta orangnya nanti HARUSLAH bertindak sebagai pempimpin pasukan pembebasan dengan persenjataan pedang, sayangnya, ratusan tahun sebelum Yesus lahir, yaitu 612 SM dan bahkan hingga sekarang, tentara Asyur/Assyrian BELUM PERNAH ADA LAGI, malah kehancuran tentara Asyur telah terjadi JAUH SEBELUM kitab MIKHA pasal 5 ini ada!

      Perlu diketahui, terdapat beberapa Betlehem berbeda:

      1. Nama seorang turunan dari moyang pria bernama ZEBULON (Yosua 19.15). Ini adalah BETLEHEM-ZEBULON. Lokasi suku Zebulon dan Naftali adalah: jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea [Mat 4.15, juga: Yesaya 9.1-2 dan Zebulon Nazaret]. Sehingga Betlehem ini disebut BETLEHEM-GALILEA. Di SETELAH ABAD ke-2 M, yaitu setelah Nazaret ada, maka letak Betlehem-Galilea/Zebulon, dekat Nazaret sekarang (Barat Lautnya)
      2. Nama seorang turunan dari moyang perempuan yang bernama EFRAT. Ini adalah BETLEHEM-EFRAT. Efrat adalah juga nama tempat saat Rahel, istri Yakub, melahirkan Benyamin, wafat dan dikubur di situ, yaitu: tepi jalan Efrat Betlehem (derek ephraath Beyt lechem), jadi Efrat = Betlehem (Kej 35.19; 48.7; Rut 4.11). Kitab 1 Samuel 10.2, DENGAN JELAS menyatakan Efrat ada di DAERAH BENYAMIN (gobul Binyamiyn), di Zelzah, sehingga Efrat = Betlehem = daerah Benyamin, Zelzah! Jadi BETLEHEM ini TIDAK BERADA di daerah Yehuda, letaknya di Selatan Jerusalem.
      3. Kerajaan Israel, setelah kematian Raja Sulaiman bin Daud, pecah menjadi 2, yaitu Kerajaan Israel (terdiri dari 9/10 suku, lokasi di Utara, Ibu kota: Samaria) dan Kerajaan Yehuda (awalnya hanya suku Yehuda dan Benyamin, namun belakangan suku Lewi kembali bergabung. Lokasi di Selatan, Ibukota: Yerusalem/kota Daud. Dari 49 x “Kota Daud” di PL, selalu merujuk pada Yerusalem/Sion TIDAK Betlehem. Josephus, juga menyatakan bahwa kota Daud adalah Yerusalem)

        Sejak itu, untuk membedakan 2 Betlehem yang ada di 2 kerajaan ini, maka BETLEHEM-EFRATA/BENYAMIN = BETLEHEM-YEHUDA

      Perbedaan antar Betlehem dari sisi rantai moyang:

      Abraham –> Ishak –> Esau/Edom dan Yakub/Israel.

        Esau/Edom -> Elifas [Kej 36.1-4) -> Kenas (Kej 36.11) -> Kaleb disebut saudara/kakak Otnil anak Kenas (Yos 15.17; Hakim 1.13) dan juga disebut Kaleb bin Yefune bin Yater, orang Kenas (bil 32.12; Yos 14.6,14), di Jaman Musa, setelah Yosua bin Nun dan Keleb bin Yefune menaklukan Kanaan (Yosua 10), Yosua bin Nun memberikan HEBRON (= kiryat arba = negeri/kota arba, Yos 14.15; 15.13, 54; Kej 23.2; 35.27, Hakim 1.10) kepada Kaleb bin Yefune (Yos 14.13-14, Yos 15.13, Hakim 1.20)

        Turunan Yakub dari istrinya: (1) Lea -> Esau/Edom, Ruben, Simeon, Lewi, YEHUDA, Isakhar, ZEBULON; (2) Dari Rahel -> Yusuf, BENYAMIN; (3) dari Bilha -> Dan, Naftali; (4) dari Zilpa -> Gad dan Asyer/Asher (35.22-26, 1 Taw 2.1-2).

        Dari garis moyang ini, maka ZEBULON YEHUDA

        Garis turunan Lewi -> Kehat (Kej 46.11) -> Amran dan Istrinya Yokhebed (Kel 6.20)-> MUSA, Harun dan Miryam (Kel 6.20).

      Yehuda bin Israel mengawini menantunya Tamar (ex istri anak sulung Yehuda yang mati: Er) (Kej 38; 1 Taw 2:4). Dari Yehuda dan Tamar lahirlah Perez (Kej 38; 1 Taw 2:4) -> Perez bin Yehuda mempunyai anak HEZRON (1 Taw 2.5) -> HEZRON mempunyai 3 anak: Yerameel bin Hezron dan adiknya: kaleb/Kelubai bin Hezron (1 taw 2.42) + Ram bin Hezron (1 Taw 2.9)

      Dari garis moyang ini, maka Kaleb/Kalubai bin Hezron Kaleb bin Yefune

      • Keturunan Ram bin Hezron: Aminadab (1 Taw 2.10) -> Nahason (1 taw 2.10) -> Salma (1 taw 2.11) -> Boaz (1 taddw 2.11) kawin dengan Ruth (Ruth 4) -> Obed (1 taw 2.12)-> Isai (1 taw 2.12) -> David/Daud (1 taw 2.15)

        Dari jalur ini, TIDAK SATUPUN ada yang bernama Bethlehem sehingga tidak mungkin pula mengkaitkan David sebagai Betlehem-YEHUDA dan juga Betlehem-Efrat

      • Kaleb/Kalubai bin Hezron, setelah kematian bapaknya (Hezron), Ia mengawini ibu tirinya sendiri, yaitu Efrat/Ephraath/Ephrathah dan lahirlah Hur bin Kaleb bin Hezron, sebagai anak Sulung Efrat dari Kaleb bin Hezron (1 Taw 2.19, 50, 4.4) -> Keturunan Hur bin Kaleb: Salma (1 taw 2.51) -> turunan Salma adalah Betlehem (1 Taw 2.54)

        Dari jalur ini, maka hanya turunan Betlehem, dari Hur sajalah YANG BERHAK disebut Betlehem-EFRAT dan Betlehem-YEHUDA, karena adanya keterkaitan langsung dengan Betlehem, Efrat dan juga Yehuda

      Namun kemudian ada frase “Daud turunan EFRAT Betlehem-Yehuda” (Daud bin iysh Ephraath Betlehem Yehuda) (1 Sam 17.12). Jika frase ini BUKAN SUATU KESALAHAN DALAM MENGIDENTIFIKASI GARIS MOYANG, maka INI MEMBERIKAN PETUNJUK PASTI bahwa perempuan bernama Efrat ini ternyata dikawini ayah-anak keturunan Peres:

      • Kawin dengan Herzon bin Peras, Efrat melahirkan Ram bin Hezron
      • Setelah Hezron mati, janda yang telah beranak ini, dikawini anak tirinya, anaknya Herzon juga, yaitu Kaleb bin Hezrom bin peres dan dari perkawinan ini, Efrat melahirkan Hur bin Kaleb

      Pun, dengan jalur ini, untuk menyatakan Daud sebagai BETLEHEM-YEHUDA masihlah ½ BENAR, karena walaupun Daud sekarang sudah terkait langsung dengan Efrat melalui garis moyang Herzon->Ram yang juga adalah turunan YEHUDA, namun TIDAK untuk BETLEHEM-nya, karena nama itu, ada di kaki cabang jalur turunan LAINNYA

      Karena Matius TIDAK PERNAH menyatakan moyang langsungnya Yesus adalah Hur, maka walaupun nubuatan Mikha, telah diperkosa paksa dari Betlehem-Efrat menjadi Betlehem-Yehuda, ini tetap saja masih ½ COCOK. Apalagi dengan kesaksian masyarakat jaman itu yang dihimpun Yohanes 7.41-42 dan markus 6.4 bahwa YESUS TIDAK LAHIR DI JERUSALEM ataupun di Betlehem-Yehuda namun di Galilea.

    Malaikat datang dalam mimpi Yusuf/Yosep agar Ia dan keluarga segera ke Mesir menghindar dari raja Herodes yang akan membunuhi para bayi yang berusia di bawah 2 tahun (Mat 2.13-18). Supaya genap firman tuhan: “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku” (Hosea 11.1). Setelah Herodes wafat dan digantikan Arkhelaus menjadi raja Yudea, Yusuf dan keluarga kembali dari Mesir ke daerah Galilea, tinggal di kota bernama Nazaret (eis polis lego Nazareth). supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret [Mat 2.19-23. Atau “yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret” di Yoh 1.45]

      Note:
      Tentang firman “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku” (Hosea 11.1) sebagai klaim nubuatan tentang Yesus, ini justru menjadi aneh, karena Hosea (atau Joshua bin Nun) justru sedang menceritakan DIRINYA sendiri, sebagai salah satu orang Israel yang lahir di Mesir bersama ribuan lainnya, ketika ikut Musa keluar dari Mesir karena dipanggil Tuhan. Jadi ini menceritakan tentang KEJADIAN LAMPAU dan BUKAN PERTANDA

      Bahkan klaim Matius bahwa Yusuf sekeluarga menyingkir ke Mesir, LUKAS JELAS TIDAK SEPAKAT, karena Yesus dan keluarga ada di Yerusalem saat Yesus berusia 40 hari untuk urusan upacara pengkudusannya dan setelah upacara selesai, mereka kembali Ke Nazareth, Galilea. Tiap tahun orang tuanya ke Yerusalem untuk merayakan Paskah dan ketika Yesus berusia 12 tahun, Ia ikut orang tuanya ke Yerusalem untuk merayakan Paskah (Lukas 2.21-42)

      Tentang Nazaret sebagai nama KOTA (Polis Nazareth, juga Lukas 1.26; 2.4,39), MASALAHNYA:

      • Di seluruh PL sendiri, TIDAK SATUPUN ada kata “NAZARET” yang terkait dengan nama tempat atau desa atau kota, bahkan, dari list daerah untuk kaum Zebulon yang tinggal di Galilea (yaitu: 12 kota dan 6 desa. Ref. Yosua 19.10-16) TIDAK SATUPUN adalah Nazaret
      • Dari 63 kota di Galilea yang disebutkan dalam Talmud, TIDAK SATUPUN adalah Nazaret. Juga, dari 45 kota di Galilea yang dituliskan oleh Flavius Josephus (37 M-101 M) TIDAK SATUPUN adalah Nazaret
      • Bahkan TIDAK ADA SATUPUN BUKTI arkeologi yang bisa disimpulkan bahwa pernah ada kota Nazaret pada jaman kehidupan Yesus
      • TIDAK ADA SATUPUN PETA sebelum abad ke-4 yang memuat nama Nazareth sebagi kota (atau bahkan DESA atau wilayah kecil) [Lebih detailnya lihat: BLOG INI atau BLOG INI atau BLOG INI]

      Untuk itu, bagi yang ingin membantah ini, maka cukup bawakan 1 (satu) saja bukti bahwa ada Nazaret sebagai KOTA di kisaran kehidupan YESUS. BUKTI ini harusnya BUKAN BERUPA 1 rumah/bangunan atau 1 TANAH pertanian seluas 400 m2 atau kuburan dan TERLEBIH LAGI harus BUKAN SETELAH tahun WAFATNYA Yesus

      Di PL, ada kata “nazarith” (Hakim 13.5,7; 16.17; Bil 6.2,13,18-21), sayangnya kata ini tidak merujuk pada nama tempat atau kaum, namun merujuk arti karena nazarnya rambutnya tidak dicukur melayani tuhan. Orang Nazarith Allah, juru selamat kaum Israel yang disebutkan PL adalah Samson, berambut panjang, keturunan Dan yang tinggal di Zora (Filistin) [Hak 13.1 – 16.31]

      Jadi, SANGATLAH TIDAK BENAR untuk klaim bahwa Musa dalam Taurat dan juga para nabi ada menyebutkan “akan disebut orang/dari Nazaret”

Kronologi di atas menunjukan lokasi kelahiran Yesus BUKAN di Bethlehem Yudea, MALAH BELUM KELUAR WILAYAH NAZARET, Galilea

Juga, jika konsistem dengan klaim keturunan Daud, maka di jaman kerajaan Yehuda, para Hakim benar dan Nabi benar, ketika wafat, di kubur di Betlehem. Raja Israel yang benar dikubur di kuburan Raja di Yerusalem, Sementara Yesus, ketika wafat pun, tidak dikuburkan di Betlehem juga tidak di kuburan Raja, di Yerusalem, Kenapa? []

Kapan Yesus Lahir?

Kisaran kehidupan Yesus, konon ada pada jaman 2 Kaisar Romawi, yaitu: Agustus (23 September 63 SM – 19 Agustus 14 M) dan Tiberius (18 September 14 M – 16 Maret 37 M). Saat itu, dinasti Herodes ada di bawah kekuasaan ROMAWI.

Josephus mengatakan:
Raja Herodes Yang Agung memerintah selama 34 tahun, sejak dibunuhnya Antigonus II Mattathias (raja terakhir Hasmonean, 37/36 SM), namun jika dihitung sejak dinobatkan menjadi raja oleh Romawi, maka Ia memerintah selama 37 tahun (41 SM) [Antiquities, Buku ke-17, ch.8].

Wilayah Raja Herodes Yang Agung (37 SM – 4 SM) meliputi: Yudea, edom, Samaria, Galilea, Perea, Gaulanitis (Dataran Tinggi Golan), Batanaea (Suriah selatan), Trakhonitis dan Auranitis (Hauran). Setelah Herodes wafat, melalui surat wasiatnya, Kaisar Agustus membagikan wilayah itu pada pada 3 anak Herodes:

  • Herodes Arkhelaus (Lahir: 23 SM, memerintah: 4 SM – 6 M, wafat: 18 M): Edom, Yudea dan Samaria
  • Herodes Antipas: Galilea dan Perea
  • Filipus: menurut Lukas (Iturea dan Trakhonitis), menurut Flavius Yosephus (Batanea, Gaulanitis, Trakhonitis dan Paneas, ref: Antiquities XVII, ch.8)

Baik kitab Matius maupun kitab Lukas ada menyebutkan nama Herodes:

    Matius:
    Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes (de Iesous gennao en bethleem Ioudaia en hemera basileus herodes) [Mat 2.1].. Ketika Herodes tahu, Ia menyuruh membunuh semua anak yang berumur 2 tahun ke bawah [Mat 2.16]. Setelah Herodes mati, Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan ayahnya [Mat 2.19, 22]

Jadi Herodes yang terkait dengan lahirnya Yesus yang Matius maksudkan adalah Herodes Yang Agung

Karena Herodes yang agung wafat 4 SM. Dengan kronologi Matius maka YESUS LAHIR MINIMUM DI TAHUN 6 SM (4 SM wafatnya Herodes yang agung + 2 tahun usia bayi yang diperintahkan Herodes untuk di bunuh + sisa waktu wafatnya Herodes setelah perintah membunuh bayi)

    Lukas:
    Pada zaman Herodes, raja Yudea (en hemera herodes basileus Ioudaia) ada seorang imam (hierus) bernama Zakharia dari kelompok (ephemeria) Abia, Isterinya adalah Elisabet. Suatu ketika, tiba giliran kelompok Zakharia melakukan tugas keimaman, ketika diundi, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan. Waktu itu adalah waktu pembakaran ukupan. Hadir malaikat berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan dan berkata bahwa Elisabet, akan melahirkan seorang anak laki-laki bernama Yohanes. [1.5-13]

    Ketika genap waktunya bertugas, ia pulang ke rumah. Beberapa lama kemudian Elisabet, isterinya, hamil dan selama 5 bulan ia tidak menampakkan diri (1.23-24)

    .. Di bulan ke-6, Allah menyuruh malaikat Gabriel ke Galilea, Nazaret, menemui Maria yang bertunangan dengan Yusuf menyampaikan bahwa Ia akan mengandung dan akan melahirkan anak bernama Yesus dan Elisabet, sanaknya sekarang sedang mengandung anak laki-laki dan ini hamil bulan yang ke-6 (1.26-36) Maria pergi ke Yehuda ke rumah Zakharia tinggal kira-kira 3 bulan bersama Elisabet, lalu pulang kembali ke rumah (1.39-56)

    Pada waktu itu Kaisar Agustus (de hemera ekeinos kaisar augoustos) mengeluarkan (exerchomai) perintah (dogma) mendaftar (apograho) bagi semua orang (pas) dalam kerajaan (oikoumenên). [2.1] Ini/hal ini (houtus) pendaftaran (apegraphe) pertama (protos) terjadi (ginomai) Kirenius (kurenious) wali negeri (hegemoneuo) Suriah (Siria) [Luk 2.1-2] Maka pergilah semua mendaftarkan, di kotanya sendiri. Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem.. supaya didaftarkan bersama Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. [Lukas 2.3-5]

    Terjadi (ginomai) di situ/tempat/peti itu (en ekei) genap (pletho) waktu (hemera) lahir (tikto), dan lahir (kai tiktos) turunannya yang pertama (huios autos protokos) dan dibungkusnya (kai sparganoo autos) dan dibaringkannya (kai anaklino autos) di tempat makan ternak (kai phatne. Phatne berasal dari kata Pateomai = makan) karena tidak ada tempat (dioti ou topos) di persinggahan (en kataluma) [Luk 2.6-7]

    Dalam tahun ke-15 pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi wali negeri (hegemoneuo) Yudea (26 M – 36 M), dan Herodes raja wilayah (tetrarcheo) Galilea (4 SM – 39 M), Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis (4 SM -34 M), dan Lisanias raja wilayah Abilene (3:1). Pada waktu Hanas (Dalam tulisan Yunani untuk Lukas 3.2 dan 2.36, baik itu: Hana dan Hanas dituliskan sama yaitu: anna) dan Kayafas menjadi Imam Besar, Yohanes memulai Misinya.[3.2], setelah menyinggung raja wilayah Herodes, Ia masukkan Yohanes ke Penjara [3:19-20]. Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis [3:21].

    Ketika (Kai) Yesus (Iesous) memulai (archomai) sendiri (autos) kira-kira seperti tiga puluh tahun (hosei triakonta etos hos) [3:23]

Lukas menekankan bahwa kelahiran Yesus TERKAIT nama Herodes DAN PENDAFTARAN yang ada di jaman Kirenius sebagai penguasa Suriah.

Josephus mengatakan:
Tahun ke-10, pada masa jabatan raja wilayah Arkhelaus, Ia dicopot dari jabatanya dan dibuang ke Vienna. Daerahnya digabungkan ke provinsi Suriah. Kirenius dan Koponius dikirim ke Suriah untuk menjadi hakim bagi mereka. Kirenius, untuk urusan penghitungan harta, menjual rumah Arkhaelaus dan melucuti keuangan Arkhelaus. Koponius, ditugaskan untuk membawahi para Yahudi. Kirenius dan Koponius juga ke Judea, yang sekarang menjadi bagian Provinsi Suriah, untuk urusan yang sama. Kejadian Kirenius melucuti keuangan Arkhelaus dan penghitungan pajak terjadi di tahun ke-37 kemenangan Caesar atas Antony di Actium [Josephus, Antiquities of Jews, buku ke-17, ch.13, buku ke-18, ch.1-2]

Jad Herodes yang terkait dengan lahirnya Yesus yang Lukas maksudkan adalah Herodes Arkhelaus!

  • Kemenangan Caesar melawan Antony terjadi di tahun 31 SM, Sehingga tahun ke-37 sebagai tahun terjadinya pendaftaran di jaman Kirenius adalah TAHUN 6 M.

    Apakah Kirenius pernah menjadi penguasa Suriah SEBELUM 6 M? Tidak.

    13 – 10 SM
    Marcus Titius
    7 – 4 SM
    Quintilius Varus
    10 – 7 SM
    Sentius Saturninus
    4 – 1 SM
    Calpurnius Piso

    Apakah ada inskripsi yang mendukung bahwa kirenius pernah menjadi pejabat pendaftaran di Suriah SEBELUM 6 M? Tidak.

    Yang ada malahan Inskripsi yang mendukung pernyataaan Josephus bahwa Kirenius menjalankan pendataan kekayaan pertama kalinya di Judea/Syiria sebagai penguasa Suriah, yaitu Inkripis Lapis Venetus atau Aemilius Secundus. Inskripsi ini dituliskan setelah kematian Kaisar Agustus, karena ada kata Divine/Almarhum

    Juga ditemukan 3 Inskripsi lainnya, yaitu:

    (1) Lapis Tiburtinus (dituliskan setelah kematian Kaisar Agustus, karena ada kata Div/Deified atau Almarhum). Inskripsi ini tidak mengandung material yang merujuk pada Kirenius.

    (2) Inskripsi pada batu di Antioch, Turki yang terdiri dari 2 buah Inkripsi yang menceritakan Gaius Caristanius Sergius anak dari Gaius Sergius Fronto (Gaius Caristanius Sergius masih hidup pada 68/69 M) dan potongan curriculum VItae/sejarah pos-pos dari jabatan yang pernah diraih Gaius Caristanius, yaitu: Pejabat Senat/Office in charge of Work, Komandan Legiun petir ke-12, Pegawai perfektus di Bosporan, Kepala Pendeta/Pontifex, Pendeta, Pegawai perfektus saat Kirenius menjabat sebagai duumvirate atau pejabat bersama dalam satu penugasan (yaitu ketika Agustus mengirim Kirenius dan Koponius ke Suriah), Perfectus masa Marcus Servilius (wafat 3 M). Inkripsi ini mendukung statement Josephus mengenai masa jabatan Kirenius di Suriah.

  • Sejak Tahun 6 M, Yudea BUKAN LAGI di bawah dinasti Herodes manapun, karena telah dilebur menjadi bagian Provinsi Suriah
  • Karena Yusuf pergi untuk mengikuti pendaftaran jaman Kirenius terjadi di tahun 6 M, maka YESUS LAHIR DI TAHUN 6 M dan jelas sudah bahwa Ia lahir BUKAN di jaman pemerintahan Herodes manapun (Herodes yang agng dan Herodes Arkhelaus)
  • Karena dikatakan Herodes Arkhelaus telah memerintah selama 10 tahun sebelum dicopot dan daerahnya dilebur ke dalam provinsi Suriah, yaitu di 6 M, maka wafatnya Herodes yang agung adalah tahun 4 SM

    Kemudian,
    menurut Lukas 3.21, 23, Yesus memulai pekerjaannya, adalah SETELAH Yohanes pembaptis dipenjara. Dikatakan saat itu, Yesus kira-kira seperti 30 tahun.

    • Lukas 1.36 menyatakan selisih kehamilan Elizabeth (Ibu Yohanes Pembaptis) VS Mary (Ibu Yesus) adalah 6 bulan, ini artinya mereka nyaris sebaya. Karena Yesus lahir bertepatan dengan pendaftaran jaman Kirenius wali Suriah, maka, umur Yesus sejak tahun 6 M s.d tahun ke-15 kaisar Tiberius = 23/24 tahun. Saat itu Yohanes pembaptis berumur tidak lebih dari 25 tahun. Yohanes lahir mungkin saja di akhir pemerintahan Herodes Arkhelaus
    • Ketika tahun ke-15 Tiberius, maka Yohanes pembaptis berusia 29 tahun (14 M saat wafatnya Agustus + 15 tahun Tiberius), sedangkan Yesus berusia tidak lebih dari 28 tahun.
    • Saat frase “kira-kira seperti tiga puluh tahun (hosei triakonta etos hos) [3:23]”, maka Yohanes pembaptis berusia hampir 31 tahun dan saat Ia di penjara adalah setelah melayani selama 2 tahunan

Dari kronologi Matius kita dapatkan Yesus lahir di 6 SM, sedangkan dari kronologi Lukas kita dapatkan Yesus lahir di 6 M!

Ini menunjukan beda tahun kelahiran Yesus antara 2 kitab Injil ini adalah Minimum 12 tahun! [Penting: The Date of the Nativity in Luke (6th ed., 2011), Richard Carrier] []

Bulan apa Yesus Lahir?

    ..Namun Lupi telah menunjukan bahwa TAK ADA BULAN dalam tahun yang para otoritas terhormat TIDAK CANTUMKAN sebagai lahirnya Yesus [Catholic Encyclopedia, Christmas, Zaccaria, Dissertazioni ecc. del p. A.M. Lupi, Faenza, 1785, p. 219]

Jadi, setiap bulan dari Januari s.d Desember, ada saja yang pernah diklaim sebagai bulan kelahiran Yesus, berikut samplenya:

    Clement Alexandria (150-215 M):
    “Dari lahirnya Kristus, karenanya, wafatnya Commodus, secara keseluruhan adalah 194 tahun, 1 bulan dan 13 hari . Dan ada juga mereka yang menentukan tidak hanya tahun dari Tuan kita lahir, namun juga harinya; Dan mereka katakana itu terjadi di tahun ke-28 Agustus, dan di hari ke-25 bulan Pachon. Dan para pengikut Basilide (sekitar 130 M) memegang hari baptisanNya sebagai sebuah festival.. Dan mereka katakan bahwa tahun ke-15 Tiberus Caesar adalah hari ke-15 Tubi dan beberapa katakan itu adalah hari ke-11 di bulan yang sama..Lebih lanjut, beberapa berkata bahwa Ia lahir di hari ke-24 atau 25 bulan Pharmuthi”

      Note:
      Commodus wafat: 31 Desember 192 AD (Kalender Julian) / 30 Desember 192 M (Kalender Gregorian). Dengan selisih lahir Yesus vs wafat Commodus sebanyak 194 tahun, 1 bulan, 13 hari (Julian), maka dari kalender conventer Julian – Gregorian , didapat tanggal: 20 November 3 SM (Julian) atau 18 November 2 SM (Gregorian). Jadi Yesus lahir di: 20/18 November

      Untuk tahun ke-28 Kaisar Agustus, yaitu hari ke-25 bulan ke-9 (Pachon) kalender Mesir, maka dari kalender converter Mesir – Julian/Gregorian didapat tanggal: 20 May 2 SM (Julian) atau 18 May 2 SM (Gregorian). Jadi Yesus lahir di: 20/18 May

      Untuk hari ke-24/25 Pharmuthi, dengan kalender converter yang sama seperti di atas, maka didapat tanggal Yesus lahir: 19/20 April (Julian) dan 17/18 April (Gregorian).

      Untuk hari baptisan Basillide, Catholic Ensikopedia menyatakan Basillide merayakan hari Epiphany (hari 3 raja magi, yang datang saat yesus Lahir), maka dari kelender conventer yang sama, tanggal yang clement maksudkan sebagai 11/15 Tubi adalah: 6/12 January (Julian) atau 4/10 January (Gregorian)

    Hippolytus (murid Clement: 170 -235 M), yaitu dari 7 manusriptnya yang ditemukan di abad yang berbeda-beda, namun untuk “komentar untuk Daniel” yang sama dan pada pasal 4.23.3-4 [Lihat gambar], terdapat 3 tanggal rekaan kelahiran Yesus yang berbeda, yaitu Maret, 2 April dan 25 Desember. Tidak jelas mana yang asli diantara ke-7 manuskrip tersebut.

    Desember:
    Pendeta Romawi Dionysius Exiguus di tahun 527 AD (Julian) membuat kalender Julian, dengan menetapkan tahun 754 AUC (ab urbe condita = Sejak berdirinya kota Roma) sebagai inkarnasi Yesus. Tahun 754 AUC = 25 Maret 1 AD dan 9 Bulan kemudian adalah 25 Desember. Namun, penetapan resmi tanggal 25 Desember sebagai tanggal lahir Yesus, tampaknya karena Paus Julius (di 350 M atau di 385 M).

    Dewa-dewa yang lahir di 25 Desember, diantaranya adalah: Apollo (Yunani), Attis (Yunani), Baal (dewa kanaan), Bacchus (romawi)/Dionisus (Yunani, Helios (Yunani), Hercules/Heracles (Yunani), Horus (Mesir), Jupiter (Romawi), Mithra (India), Nimrod (Babilon), Osiris (Mesir), Perseus (Yunani), Tammuz (Summerian)/Adonis (Yunani), Sol Invictus (Romawi: Dewa utama kota roma, penetapan penyembahannya dilakukan oleh Raja Aurelian, 274 M, dirayakan dengan festival Dies Natalis Solis Invicti/lahirnya sang matahari yang tak tertaklukan).

    Karena dianggap terkait perayaan banyak dewa-dewa pagan, maka aliran Advent dan Saksi Yehuwa, berhenti merayakan natal di tanggal itu. Saksi Yehuwa berhenti merayakannya sejak tahun 1926.

    Februari:
    “Hari libur Quirinus: ..Hari libur ini, mempunyai nama yang sama dengan nama Gubernur yang berkontribusi pada masa sensus. Inilah mengapa Lukas 2.2, perlu mengingatkan dalam kisahnya. Ini menyampaikan tanggal Yusuf dan Mary harus ada di Bethlehem. Ini adalah tanggal Yesus Lahir 17 Februari” [Dari: Paleo Institute Project: “Jesus Birth Date Riddle“].

    Pendukung lain bulan Februari: “When Was Jesus Christ REALLY Born?“, dari William F. Dankenbring: “Juga, mereka yang percaya bahwa Ia dilahirkan di musim gugur, sekitar September-Oktober, juga sama salahnya. Bukti baru ini, jelas menunjukan kelahiran di bulan February atau akhir musim dingin, sebelum musim semi di 4 SM”

    Juni:
    Astronom, Dave Reneke menyatakan Yesus lahir tanggal 17 Juni [The Telegraph.co.uk”‘Jesus was born in June’, astronomers claim“, 9 Desember 2008]

    July:

    “Yesus lahir di 25 Juli 7 SM berdasarkan: 3 Magi yang datang dari Timur ke Barat (Kombinasi Jupiter-Saturnus segaris dengan matahari, merkurius dan Matahari yang ada di timur). 3 hadiah yang diberikannya (simbol matahari, bulan dan merkurius) dan Yesus yang lahir di kandang (kumpulan bintang yang ada dikonstelasi cancer) diapit lembu dan bagal (Asellus Borealis & Australis).

    Dari 3 kunci ini, satu-satunya tanggal yang memungkinkan adalah 25 Juli 7 SM: Saat subuh di tanggal itu, bulan “berjalan” menuju Cancer, sementara Matahari berada sedikit dibelakang di Leo. Lebih lanjut, Matahari beralih menjadi yang paling terang di Leo: Regulus (latin: Raja kecil), mengumumkan kelahiran raja kecil yang spesial. Pertemuan di dua busur bulan menyinari kandang bintang dengan dua keledai (Asellus Borealis & Australis) dan seperti yang diramalkan, Merkurius berjalan di antara 2 “induk” yang bersinar (bulan dan matahari)” [Blog ini].

    Pendukung lain bulan Juli: “6 Juli 6 SM: The Decree of Augustus Caesar and the Birth of Christ (Lk 2:1-7)” [Chart – The Life of Jesus in Chronological Order]

    Agustus:
    “..Yesus lahir pada atau dekat tanggal 27 Agustus”.[Old Scholl baptist: “When was Jesus Born?]. Pendukung lain bulan Agustus tercantum dalam buku Urantia 122.8.1: “Siang hari, 21 Agustus 7 SM.. Yesus dari Nazareth lahir” (Urantia: sebuah kelompok 30 orang di Chicago ditahun 1930/1934 yang menerima wahyu dari malaikat).

    September:
    “Jika Yesus lahir ketika Sukkot/hari pondok daun, hari berpuasa untuk Tabernacle/Kemah pertemuan Allah dengan umatnya, (yang mulai pada 29 September) di 5 SM” [It’s About Time: “When was Jesus Born?“, Dr. James Ya’akov Hugg].

    Pendukung lain bulan September: “Faktanya adalah,…di awal malam 11 September. Aku dapat nyatakan dengan yakin bahwa matahari terbenam di 11 September 11 3 SM adalah awal dari tahun baru Yahudi (Rosh ha-Shanah ― Hari Kemenangan)..Jika seseorang sadari bahwa PB menunjukan Yesus lahir di hari kemenangan (Hari ke-1 bulan Tishri ― awal tahun kaum Yahudi” [“The Star of Bethlehem: The Star that Astonished the World, Extended 2nd ed., Ernest L. Martin, Ph.D., ch.6, “The Birth of Jesus and the Day of Trumpets”]

    Oktober:
    “Dalam penanggalan modern Gregorian kita, yang tidak ada di jaman kelahiran Yesus, Ia lahir di 4 Oktober 4 SM” [FAQ: “WHEN WAS CHRIST JESUS BORN ?“].

    Pendukung lain bulan Oktober: “..dan pada permulaan ke-6 kehamilannya, Gabriel muncul dihadapan Mary, Keluarga Elizabeth (1:26). Waktunya adalah minggu pertama bulan January 2SM. Yesus lahir kira-kira 280 hari kemudian, yaitu sekitar tanggal 13 Oktober 2 SM. Ini adalah hari ke-15 bulan Tishri” [“Fixing the Month of Jesus’ Birth]

Variasi pendapat bulan kelahiran Yesus di atas ini wajar terjadi karena memang TIDAK ADA CATATAN tentang hari, bulan dan tahun kelahiran Yesus di Alkitab.

Bagaimana cara mereka mengklaim bulan tersebut?
Selain melalui pendekatan astronomi, cara lainnya misalnya dengan pendekatan ROTASI TUGAS PARA IMAM. Ini merujuk petunjuk: “tiba giliran Zakaria turunan Abia/Abijah untuk memimpin penyelenggaraan Ibadah” [Luk 1.5].

Rotasi Tugas 24 Imam
1 tahun kelender Yahudi, normalnya terdiri dari 12 bulan (jumlah hari antara 353 s.d 355 hari) dan pada tahun-tahun tertentu ada tambahan 1 bulan (30 hari) sebagai bulan ke-13. Tambahan ini terjadi dalam SIKLUS 19 TAHUNAN dan Bulan ke-13 HANYA muncul di tahun ke-3, 6, 8, 11, 14, 17 dan 19 dari siklus 19 tahunan. Jadi di tahun-tahun SPESIAL itu, jumlah bulan = 13 dan jumlah hari = 385.

Tentang penugasan para Imam,
Daud membagi giliran tugas 24 turunan Harun: 16 dari turunan Eleazar dan 8 dari turunan Itamar melalui undian, yaitu ke-1 (Yoyarib) s.d ke-24 (Mazya) (1 Taw 24.1-19) dan Abia/Abijah mendapatkan jatah giliran ke-8 (1 Taw 24.10). Waktu penugasan mulai dari Sabat s.d sebelum Sabat (2 taw 23.8) atau 7 hari lamanya (1 taw 9.25) [Josephus juga memuatnya di Antiquities of Jews, buku ke-7, ch.14]. Selain itu, pada 3 hari raya, ke-24 IMAM HARUS HADIR SELURUHNYA:

  • Roti tidak beragi (atau Paskah: Bulan ke-1/Nisan tanggal 15, selama 7 hari)
  • 7 minggu (panen atau hari raya pentakosta: 1 hari setelah sabat + 7 minggu, yaitu di bulan ke-2/Tamuz, ini hari turunnya taurat dan hari lahir dan wafatnya daud) dan
  • Pondok daun (atau hari kemah pertemuan/tabernakel: Bulan ke-7/Tishri, tanggal 15 selama 7 hari. Ini mirip pengulangan bulan ke-1)

3 hari raya di atas, tidak mempengaruhi jadwal rotasi penugasan, karena di 3 even itu,  jumlah imamnya bukan cuma 1 (yang bertugas) namun ditambah lagi 23. Alkitab tidak memberikan petunjuk mengenai tahun dan bulan apa, pertama kalinya giliran sesuai undian itu dilakukan.

Namun untuk memahami metode ini, kita misalkan saja pada jaman Daud, ditetapkan awal mulainya adalah di bulan ke-1/Nisan, hari ke-1 dan tahun ketika pelaksaannya adalah TAHUN SPESIAL (jumlah bulan 13 atau 385 hari), maka:

Pada tahun ke-1,
Imam Abia (undian ke-8) akan mendapat giliran bekerja pada minggu ke-8 (akhir bulan ke-2/Tamuz) dan minggu ke-32 (akhir bulan ke-8/Shevat) + hari raya paskah di bulan ke-1/Nisan + hari raya pondok daun di bulan ke-7/Tishri = total 4x tugas (karena di hari Pentakosta, Ia bertugas pada gilirannya sendiri).

Saat rotasi berjalan 2 x 24 = 48 minggu = 336 hari dan itu masih selisih 49 hari/7 minggu sampai dengan berakhir tahun spesial (385 hari), oleh karenanya, rotasi berlanjut untuk Imam undian ke-1 s.d Imam undian ke-7 = 49 hari.

Pada tahun ke-2,
bulan ke-1/Nisan, hari ke-1, Imam yang bertugas adalah Abia (undian ke-8) demikian seterusnya.

Sehingga, SELURUH IMAM pada akhirnya AKAN PERNAH BERTUGAS DI SELURUH NAMA BULAN.

Jika saja ini berlangsung TIDAK TERPUTUS (setelah dapat dipastikan dengan jelas kapan tahun dan bulan pertama kali berlakunya giliran tersebut), maka akan cukup mudah untuk menentukan kapan gilirannya Zackharia dari keluarga Abia bertugas di lukas 1.5 namun sayangnya, setelah wafatnya raja Sulaiman bin Daud, kerajaan terpecah dan pada beberapa abad kemudian musnah.

    Rahabean bin Sulaiman menggantikan ayahnya Sulaiman bin Daud menjadi raja Israel. Ketika Rahabean baru 3 hari berkuasa, Ia menolak tuntutan rakyat Israel untuk menurunkan pajak dan malah meningkatkan pajak, oleh karenanya, DARI 12 SUKU ISRAEL, 10 suku memberontak dan hanya 2 suku saja yang setia, yaitu suku YEHUDA dan BENYAMIN (belakangan suku LEWI kembali).

    Kerajaan menudian terpecah dua, yaitu Kerajaan dari 2 atau 3 suku (Yehuda, Benyamin dan Lewi) disebut KERAJAAN YEHUDA dan rajanya adalah Rahabean. Sementara 9/10 suku sisanya, membentuk kerajaan baru yang bernama KERAJAAN ISRAEL (Samaria) dan rajanya adalah: Yerobeam bin Nabat.

    ± 200 tahun kemudian, jaman raja Yehuda-Hizkia (ref. Mikha 5.2) kerajaan Asyur/Assyrian menghancurkan kerajaan Israel (Raja terakhir: Hosea) yang merupakan puncak realisasi nubuatan Yesaya untuk menjawab tanda yang diminta Raja Yehuda Ahaz (Ayah dari Hizkia), sehingga Yesaya 7.14 TIDAKLAH merujuk pada Maria dan Yesus (Mat 1.22-23):

      seorang perempuan muda (almah (istri Yesaya) bukan betulah = Perawan) mengandung dan akan melahirkan anak laki-laki dan menyebutnya “tuhan bersama kita” (Immanu-el: Pujian karena “Tuhan bersama-kerajaan Yehuda”, dengan terbunuhnya raja Rezin dan raja Pekah). Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti (yaitu Pekah, raja Israel dan Rezin raja Suriah, ref 2 raja 16.5) akan ditinggalkan kosong. TUHAN akan mendatangkan atasmu dan atas rakyatmu dan atas kaum keluargamu hari-hari seperti yang belum pernah datang sejak Efraim menjauhkan diri dari Yehuda — yakni raja Asyur. [Yesaya 7.14-17]

    Perempuan muda dan anak laki-laki dinubuatan UNTUK RAJA AHAZ terpenuhi tidak lama setelah YESAYA menyatakannya, karena di Yesaya 8.1-4, perempuan muda itu adalah ISTRI YESAYA dan anak itu adalah ANAK YESAYA “sebab sebelum anak itu tahu memanggil: Bapa! Ibu! maka kekayaan Damsyik dan jarahan Samaria akan diangkut di depan raja Asyur.“, Nubuatan Tuhan bersama kerajaan Yehuda terjadi SEBELUM tahun ke-4, pemerintahan raja Yehuda, Ahaz, ketika kerajaan Asyhur membunuh raja Suriah, Rezin dan di tahun ke-4, ketika Raja Israel, Pekah dibunuh Hosea serta di tahun ke-13, ketika kerajaan Asyhur melumatkan kerajaan Israel-Samaria (raja terakhir: Hosea) dan mengangkut hampir seluruh penduduknya ke Asyhur.

    Setelah kejadian itu, mulailah dongeng tentang 10 suku Israel yang hilang.

    ± 135 tahun setelah hancurnya Kerajaan Israel-Samaria, Kerajaan Babilonia menyerbu kerajaan Yehuda (Raja terakhir: Zedekia), penduduk Yerusalem dipindahkan, sejak itulah Yerusalem tidak berpenghuni lagi.

    Grabbe, Lester L. dalam “A History of the Jews and Judaism in the Second Temple Period”, T&T Clark International. 2004, hal.28: Selama 6 abad Yerusalem tidak berpenghuni. Dalam “Between Myth & Mandate: Geopolitics, Pseudohistory & the Hebrew Bible”, Ch 13, Ezra dan Nehemia, mulai hal.349, Michael Nathanson meragukan isi naratif kitab-kitab tersebut mengenai pembangunan ulang Kuil di Yerusalem pada jaman kerajaan Persia

Ini menghentikan rotasi penugasan para Imam untuk waktu yang lama!

Kitab Ezra dan Kitab Nehemia kemudian memuat kisah kepulangan orang-orang provinsi Yehuda dari Babel. Ezra dan Nehemia konon hidup di jaman raja Persia, Ataxerses 1 (465 SM – 424 SM), Ezra datang di tahun ke-7. Ia adalah ahli Taurat dan menjadi Imam selama 40 tahun. Nehemia datang di tahun ke-20 (pemerintahan Raja persia, atau tahun ke-13-nya Imam Ezra). Kitab Ezra dan Kitab Nehemia memuat nama-nama keluarga Imam yang pulang dari pembuangan:

  • Di Ezra 2.36-39, ada 4 keluarga/Bani Imam: Yedaya, Harim, Imer dan Pasyhur. Bani Pasyhur sendiri keturunan Bani Imer. Nama Yoyarib ada di Ezra 8.16. Keluarga Imam lainnya di Ezra 2.61 adalah: Habaya dan Hakos. Sedangkan bani Abia, leluhur Zackharia TIDAK ADA.
  • Di Nehemia 12.12-21, ada 21 keluarga Imam dan bani Abia ada di no.11 (Yoyarib di no.16)
  • Di Nehemia 12.1-7, ada 22 nama Imam bukan nama keluarga Imam/Bani. nama Abia sebagai Imam ada di no.12 (Yoyarib di no.17)
  • Di Nehemia 11.10-14, ada 6 keluarga/Bani Imam untuk Yerusalem: Yedaya dari keluarga Yoyarib, Yakhin, Seraya, Adaya dari keluarga Malkia dan Amasai dari Keluarga Imer. Sedangkan Keluarga Imam Abia TIDAK ADA. Sedangkan di kota-kota Yehuda lainnya tidak disebutkan.
  • Di Nehemia 10.1-8, ada 22 nama Imam bukan nama keluarga Imam/Bani. Nama Abia sebagai Imam ada di no. 18
  • Di Nehemia 7.39-42, Ada 4 nama keluarga Imam: Yedaya, Harim, Imer dan Pasyhur (= Ezra 2-36-39) dan di Nehemia 7.63 Imam keluarga Habaya dan Hakos (= Ezra 2.61)

Apakah bani Abia punah? Sampai bagian akhir kitab Ezra, TIDAK ADA disebutkan Bani Abia kembali dari pembuangan.

Jika tidak punah, no. berapa giliran penugasannya? Ini sulit karena kitab Nehemia sendiri menyatakan ada 3 no. urutan (semuanya BUKAN di urutan ke-8), yaitu nama Abia sebagai Imam dan nama Abia sebagai keluarga Imam.

    Note:
    Sanhendrin 93b: Derajat Nehemia di bawah Ezra karena Nehemia melakukan beberapa kesalahan sehingga kitab itu tidak disebutkan dengan namanya (Bible versi Yahudi menuliskan Ezra-Nehemia sebagai 1 buku, sementara versi Kristen 2 buku terpisah).

    Oleh karenanya, atas dasar apa versi Nehemia lebih benar dari Ezra berkenaan dengan eksistensi Imam keluarga Abia?

Permasalahan-permasalahan di atas ini saja sudah membuat TIDAK MUNGKIN LAGI meneruskan hitungan berdasarkan METODE ROTASI PARA IMAM.

Permasalahanpun belum selesai,
Yerusalem di abad ke-2 SM, dihancurkan lagi. Kali ini oleh Raja Antiokhus Epifanes, yang juga membuat para penduduk Yerusalem dan Yehuda diangkut pergi. (Lihat di kitab Makabe buku ke-1. Kitab ini bersama 8 kitab lainnya diakui konsili Trent namun tidak diakui Kristen Protestan). Kehancuran Jerusalem ini membuat para Imam juga tidak dapat melaksanakan tugasnya untuk waktu yang lama.

9 kitab kanon deutero (termasuk didalamnya kitab Makabe 1 dan 2) juga tidak mencatat nama-nama keluarga para imam dan urutannya, sehingga permasalahan ada/tidaknya keberadaan keluarga Abia (kitab Ezra vs kitab Nehemia) juga tidak terselesaikan, maka atas dasar apa keluarga Abia punya keturunan bernama Zacharia di beberapa ratus tahun kemudian?

    Note:
    Flavius Yosephus menyatakan metoda partisi 24 Imam (BUKAN 24 nama-nama keluarga Imam) tetap digunakan hingga di jamannya [Antiquities buku ke-7 bab.14.7] dan Uskup Kaisarea, bapak dari sejarah gereja-gereja, Eusebius (263 M – 339 M) dengan mengutip Julis Africanus (140-240 M) menyatakan Herodes TELAH MEMBAKAR SEMUA CATATAN SILSILAH ORANG-ORANG YAHUDI [Ch 7.13].

    Untuk “Zachkaria dari keluarga Abia”, yang mana yang dimaksud: keluarga Imam jaman David atau nama Imam jaman Ezra?

Persoalan terakhir yang menghadang adalah berapa lama selisih waktu antara selesainya penugasan Zachkaria dan hamilnya Elizabet pada frase, “Ketika genap waktunya bertugas, ia pulang ke rumah. Beberapa lama kemudian Elisabet, isterinya, hamil dan selama 5 bulan ia tidak menampakkan diri [Lukas 1.23-24]”?

Dengan kendala-kendala di atas, penggunaan metoda rotasi tugas para Imam untuk menentukan hitungan kapan Yesus lahir, jelas tidak dapat diandalkan.

Adakah cara yang lebih mudah dan kitabiah dalam menentukan kapan Yesus lahir? Ada.

    ..Di bulan ke-6, Allah menyuruh malaikat Gabriel ke Galilea, Nazaret untuk menemui Maria yang bertunangan dengan Yusuf menyampaikan bahwa Ia akan mengandung dan akan melahirkan anak bernama Yesus dan Elisabet, sanaknya sekarang sedang mengandung anak laki-laki dan ini hamil bulan yang ke-6 (1.26-36) Maria pergi ke Yehuda ke rumah Zakharia tinggal kira-kira 3 bulan bersama Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya (Lukas 1.39-56)

Mengapa Maria tinggal 3 bulan lamanya di tempat Elizabeth dan kemudian pulang tanpa menunggu Yohanes pembaptis lahir?

Maria tinggal 3 bulan di tempat Elizabeth karena saat Ia datang adalah musim dingin. Alkitab mempunyai rujukan bahwa orang memang menetap ketika bepergian dan bertemu musim dingin.

    Tiga bulan kemudian kami berangkat dari situ naik sebuah kapal dari Aleksandria yang selama musim dingin berlabuh di pulau itu.[KPR 28.11. Lokasi pulau di Alexandria secara garis lintang adalah lebih jauh dari kutub Utara dibandingkan Jerusalem. Jadi untuk urusan musim dingin, bisa dianggap sama]. Dan di Korintus .. aku akan tinggal selama musim dingin..[1 kor 16.16]. ..karena sudah kuputuskan untuk tinggal di tempat itu selama musim dingin ini. [Tit 3.12]

Jika demikian, mengapa Ia pulang tanpa menunggu kelahiran Yohanes pembaptis? Karena saat itu sudah dekat dengan Paskah (Bulan ke-1/Nisan, tanggal 14), Ia harus segera pulang untuk bersiap merayakannya. Selama 3 bulan di tempat Elizabeth, kandungannya berusia lebih dari 3 bulan

  • Dengan menggunakam kronologi Lukas bahwa Yesus lahir saat pelaksaanan pendataan oleh Kirenius di 6 M, maka 1 Nisan jatuh pada tanggal 18/20 Maret dan 6 bulan kemudian lahirlah Yesus di bulan September 6 M
  • Dengan kronologi Matius bahwa Yesus lahir minimum di 6 SM jaman Herod yang Agung, maka, 1 Nisan-pun jatuh pada 18/20 Maret dan 6 bulan kemudian lahirlah Yesus di bulan September 6 SM.

Di bulan September para gembala menggembalakan ternaknya di padang rumput:

    dan para gembala (kai poimen) yang hidupnya di padang terbuka (eimi en ho chora ho autos agrauleo) dan berjaga mengawal ternaknya di malam hari (kai phulasso phulake ho nux epi ho poimne autos) [luk 2.8].

Namun herannya, bapak-bapak gereja tampaknya lebih suka menumpang hari kelahiran para dewa Pagan untuk menetapkan waktu kelahiran tuhan mereka, Yesus Kristus, Kenapa? [Lihat juga ini] []

[Kembali]


Advertisements

Tuhan, Klaim Pepesan Kosong Si Buta Sejak Lahir Yang Menjelaskan Gajah!


Mencampur-adukan sejarah religi kelompok bangsa tertentu dan menempelkan satu nama tuhan baru sebagai tuhan utama adalah strategi umum yang digunakan oleh beberapa manusia jenius atau kelompok tertentu. Di penghujung artikel, kita lihat padanan tindakan ini dengan kisah sekumpulan orang buta dari sejak lahir yang mencoba menjelaskan bentuk seekor gajah.

Tiga agama abrahamic, yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam sama-sama mengklaim Musa [Nav Mosyeh] sebagai nabi dan mencantumkan kehidupannya sebagai bagian dari sejarah mereka.

Dalam Sefer Syemot di Kitab Torah, Tiga bulanan setelah Musa membebaskan keturunan Israel dari perbudakan bangsa Mesir, Ia menuju Gunung Sinai untuk menghadap Yahweh dan berdiam 40 hari dan 40 malam lamanya. Di sana, Yahweh kemudian menuliskan sendiri 10 Perintah-Nya di dua lempengan batu. Ketika Musa turun dilihatnya Harun membuat patung anak sapi untuk disembah. Musa marah dan membanting 2 batu itu hingga pecah. Dikemudian hari, Musa melakukan ritual yang sama untuk mendapatkan lagi 2 batu itu.

Apa isi 10 perintah Yahweh itu?

Menurut Literatur rabinic yang ada di kitab Tanakh [Di Alkitab adalah perjanjian Lama], yaitu kitab yang berisi Torah [5 Buku, ajaran secara oral/hukum oral, kemudian di bukukan menjadi Talmud [Mishnah dan Gemara]dan Midrash], Nevi’im [8 buku, nabi-nabi] dan Ketuvim [12 buku, tulisan-tulisan] di tuliskan:

  1. Akulah TUHAN [Y@hovah, YHWH, JEHOVAH], Allahmu [Elohim], yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada allah lain di hadapan-Ku..[..]
  2. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi..[..]
  3. Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan..[..]
  4. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat
  5. Hormatilah ayahmu dan ibumu..[..]
  6. Jangan membunuh
  7. Jangan berzinah
  8. Jangan mencuri
  9. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu
  10. Jangan mengingini isteri tetanggamu.

Apa yang dapat kita pelajari dari 10 Perintah Tuhan ini?

Jika kita perhatikan, perintah ke-1 s/d ke-3 memberikan kita beberapa hal penting:

  • kata ‘Isra-El’ artinya adalah Ia yang menang bergulat melawan Allah [El], Israel adalah nama lain dari Yakub [Perjanjian lama, kitab kejadian 32:24-30]. Semua keturunan yakub kemudian dinamakan kaum Israel.

    El adalah dewa utama kaum kuno yang tinggal di Barat laut semit yang berbahasa Ugaritic (sudah punah), Canaanite (termasuk yahudi) Aramaic, Arabic]. El bersitrikan Dewi Aserah. El adalah nama generik dari sebutan tuhan/dewa. El juga berarti ELI, ILAH [arab], ‘alāh/’elāh [Aramaic] dan ‘elōah [Ibrani]

    Bentuk plural El pada bahasa ugaritic adalah ʾilhm, atau ʾelōhîm setara denngan Elohim dalam bahasa ibrani.

    Di Kitab Talmud El adalah: Baal/Hadad, Moloch atau Yahweh [YHWH, Y@hovah, Jehovah]. Biasanya kata YHWH dianggap sakral dan dihindari untuk disebutkan, Para yahudi mengganti sebutannya menjadi Adonai [setara dengan Adonis dalam bahasa yunani yang artinya tuanku.

    Dalam romawi, El adalah Elus/Cronus, anak pasangan ouranous [Dewa Langit] dan Gaia [dewi bumi]. El adalah cucu dari Elioun/Elyon. Dalam bahasa Canaanite, El adalah anak dari Shamayim [dewa Langit] Eretz [dewi Bumi] adalah eretz

  • YHWH atau ELOHIM adalah tuhannya kaum Israel. Karena YHWH/Elohim membebaskan kaum Israel dari orang-orang MESIR artinya juga sangat jelas yaitu YHWH/Elohim bukan tuhannya orang-orang Mesir [dan semua bangsa-bangsa selain kaum Israel]
  • Di Nasrani, dalam Kitab perjanjian lama di Injil [yang juga berisi Torah dan talmud] tercantum dengan jelas bahwa keturunan Yahudi menyebut tuhan mereka dengan nama YHWH dan Elohim.

    Walaupun Yesus adalah keturunan Yahudi namun catatan perjalanan kehidupannya di perjanjian Baru, yang dibuat oleh orang lain, yang ditulis dalam bahasa Yunani [klaim kalangan nasrani: di tuliskan oleh beberapa orang dari 12 murid Yesus] tertulis bahwa tuhannya yesus bukanlah YHWH/ELOHIM namun Theos.

    Theos [Yunani]/Deus [latin] merupakan bentuk maskulin dari Thea [Yunani]/Dea [Latin], yang artinya dewa dan dewi.

    Ketika Yesus masih hidup, 12 orang murid dipilih langsung oleh Yesus. Nama ke-12 murid itu tercantum di pintu gerbang surganya Nasrani dan mereka jugalah yang menjadi Hakimnya.

    Setelah Yesus wafat dan Yudas salah seorang muridnya juga tidak ada, maka untuk menggenapi jumlah 12, Dihadapan 120 orang, diusulkan 2 nama dan setelah dilakukan pengundian, Mathias terpilih menjadi rasul yang ke-12 untuk menggantikan kedudukan Yudas. [Kisah Para Rasul 1:15-26]

    Setelah beberapa waktu berlalu, Di satu tempat dekat Damsyik, seorang peranakan Yunani dan Yahudi bernama Saulus, mengangkat dirinya sendiri sebagai murid yesus. Saulus beralasan bahwa ia bertemu roh Yesus dan setelah beberapa hari kemudian dengan model pengakuan yang sama ia menyatakan bahwa Roh Yesus melantiknya menjadi Rasul Bangsa lain. Saulus kemudian berubah nama menjadi Paulus

    Semua murid Yesus mencantumkan Musa sebagai bagian dari sejarah religi mereka akan tetapi tuhan yang mereka sembah bukanlah YHWH/ELOHIM melainkan Yesus dan juga Theos [bentuk maskulin daripada Thea]

  • Di Islam, Taurat [alttawraat]-nya Musa disebutkan sebanyak 16 X di Alqur’an [AQ 3:3, AQ 3:48, AQ 3:50, AQ 3:65, AQ 3:93, AQ 5:43-44, AQ 5:46, AQ 5:66, AQ 5:68, AQ 5:110, AQ 7:157, AQ 9:111, AQ 48:29, AQ 61:6, AQ 62:5].

    Al Qur’an menyatakan bahwa Taurat-nya Musa diturunkan oleh Allah SWT dan bukan oleh YAHWE/Elohim.

    Selama 11 Tahun masa kenabian Muhammad, dari mulai diangkat sebagai Nabi hingga peristiwa Isra Mira’j tidak dijelaskan bagaimana ritual Menyembah Allah SWT di lakukan oleh Muhammad dan pengikutnya. Setelah Isra Mira’j, perintah Shalat di turunkan dan Kiblat shalat adalah menghadap Yerusalem [Baitul Maqdis]. Ini berlangsung selama 16 bulanan lebih. Ritual menyembah tuhan dilakukan dengan cara yang berbeda dari yang dilakukan selama berabad-abad oleh kaum Yahudi namun kiblat mereka sama.

    Di AQ 2:143-144, 149-150, terdapat peristiwa perpindahan Qiblat, yaitu dari arah Baitul Maqdis ke Masjidil Haram.

    KH.Drs.A. Masduqi Machfudh menjelaskan bahwa tujuan kiblat ke Baitul Maqdis adalah untuk menjinakkan hati orang-orang Yahudi, karena kiblat mereka adalah Baitul Maqdis dan untuk menarik mereka kepada syari’at Al Qur’an dan agama yang baru.

    Namun Orang-orang Yahudi itu berkata: “Muhammad menyalahi agama kita tetapi mengikuti kiblat kita”. Sikap orang-orang Yahudi tersebut membuat Nabi Muhammad saw tidak senang [Khulashatul Kalam fi Arkanil Islam, Sayyid Ali Fikri, KH.Drs.A. Masduqi Machfudh, Ramadlan 1416 H] kemudian lewat perantara malekat jibril, turunlah perintah pindah kiblat Baitul Maqdis ke Ka’bah, yaitu di tempat yang sama di mana kaum Arab selama berabad-abad juga melakukan ritual-ritual pada sesembahannya, Di antara banyak suku arab tersebut, suku Quraish adalah salah satunya. Diantara para sesembahan yang ada saat itu, Allah SWT adalah salah satunya. Allah SWT merupakan tuhannya kaum Quraish.

    Ibn kathir di tafsir AQ 2:114, menjelaskan bahwa setelah penaklukan Mekkah para penyembah berhala [termasuk Yahudi dan Nasrani] yang kedapetan masuk Masjidil Haram akan dijadikan budak atau dibunuh kecuali mereka masuk Islam. Nabi Muhammad menyatakan bahwa dua agama [Nasrani dan Yahudi] tidak boleh ada semenanjung Arab dan harus di usir keluar!


Islam dan Nasrani sama-sama memasukan sejarah religi bangsa Yahudi ke dalam ajaran mereka dengan mengakui kenabian Musa namun demikian mereka menolak mengakui YHWH/ELOHIM-nya kaum yahudi sebagai tuhan dan secara sepihak menyatakan sesembahan baru merekalah yang merupakan satu-satunya Tuhan yang wajib di sembah.

Tuhan kaum Yahudi, Nasrani dan Islam jelas berbeda satu sama lainnya namun yang lahir belakangan selalu mengklaim bahwa tuhan di ajarannyalah sebagai satu-satunya tuhan yang asli. Untuk mempertahankan klaim itu, tradisi saling berbaku hantam tampaknya melekat erat di 3 ajaran ini.

***

Pada system pendidikan di India, mereka yang mencari ilmu selalu tinggal bersama gurunya [catuspathiis/pasraman]. Kehidupan pendidikan mereka ditanggung oleh pemerintah yang berkuasa/kepala daerah dan/atau masyarakat umum. Hampir setiap Brahmana mumpuni mempunyai pasraman sendiri dan kemudian berlanjut turun temurun. Rsi-Rsi/Brahmana terkenal dijaman itu di antaranya adalah Atthaka [Astaka], Vamaka, Vamadeva, Vessamitta [Vishvamitra], Yamataggi [Jamadagni], Anggirara [angiras], Bharadvaja Brihaspati, Vasettha [Vasistha], Kassapa [Kasyapa] dan Bhagu [Bhrigu]

Saat itu tidak ada standarisasai kurikulum, jadi masing-masing dari para Rsi/Brahmana menciptakan kurikulum dan metode pengajarannya sendiri sehingga Murid-murid yang belajar pada brahmana yang berbeda, pengetahuannya-pun berbeda-beda pula. Perbedaan itu kerap menimbulkan pertentangan pendapat antara satu pasraman dengan pasrama lainnya. Perbedaan pendapat tersebut adalah sumbangan keragaman interpretasi pada kupasan-kupasan Veda dari jaman ke jaman.

Hindu mengenal banyak dewa dan dewi yang di puja dan disembah sebagai tuhan utamanya. Dari jaman ke jaman terjadi perubahan peringkat status Dewa utama karena beberapa dewa tiba-tiba menjadi populer, beberapa menjadi tidak populer, beberapa meningkat status dari dewa biasa menjadi dewa utama dan lambat laun mengerucut menjadi 3 Nama Dewa saja sebagai tuhan utama, yaitu Brahma, Vishnu dan Siva.

Sebelum jaman Buddha, Brahma adalah Tuhan tradisi Hindu.

Sedangkan Siva dan Vihnu sebagai tuhan, baru tercipta ratusan tahun setelah Buddha Gautama parinibanna [wafat]. Teks Buddhisme Suta pitaka, Devaputtasamyutta [2:12 dan 2:21] menyebutkan adanya Visnu [Vennu/Venhu] dan Siva namun saat itu, mereka bukanlah Deva yang menonjol [Rhys Davids, Buddhist India, Hal 236]. Deva Putta Samyuta, merupakan teks berbahasa pali mengenai kumpulan para Deva yang baru terlahir di alam Indra/Sakka. Venhu/Vennu dan Siva merupakan prototipe dewa India sebelum mereka menjadi dewa utama dalam Hinduisme bakti yang theistic.

Kisah-kisah avatar memang ada di teks Brahmana-brahmana yang berkaitan dengan Veda, yang disusun tidak berapa lama sebelum jaman Buddha, legenda para avatara itu popular dimasyarakat namun Vishnu sebagai avatar tidak ada di legenda saat itu [The Bhagavad Gita, C. Jinarajadasa, From the Proceedings of the Federation of European Sections of the Theosophical Society, Amsterdam 1904, Theosophical Publishing House, Adyar, Madras. India, November 1915]

Kemudian di beberapa jaman ada upaya mengatakan Brahman dan brahma itu berbeda.

Mengutip Ajaran Pokok dalam Upanisad, Sri Srinivasa menyatakan bahwa: “Brahma berasal dari akar kata kerja brh yang artinya ‘tumbuh’ (brhati) dan menyebabkan tumbuh (brhmayati)“. Dalam Atharvairas Upanisad, “brhati, bhmayati tasmad ucyate parabrahma” artinya “Itu disebut Brahman karena itu bertumbuh dan menyebabkan tumbuh”. Dalam sanskrit, walaupun dibaca Brahman namun yang dituliskan tetap saja Brahma, selain tulisan ‘brahma’ pada Atharvairas Upanisad di atas, contoh lain misalnya: “ayam ātmā brahma” [Brihadaranyaka Upanishad 4.4.5] artinya “Atma adalah Brahma” atau “Atman adalah Brahman“!

DR. FRANK MORALES atau Sri Dharma Pravartaka Acharya mengatakan bahwa Brahman bukanlah tuhan namun merupakan sikap sebagaimana tercantum di Taittariya Upanishad’ II.1: “satyam jnanam anantam brahma”, “Brahman adalah dari kebenaran sejati, pengetahuan dan keabadian

Buddhisme menjelaskan prinsip-prinsip bersatu dengan Brahma[n] melalui pemenuhan kualitas mental tertentu sehingga dari sebab-sebab dan kondisi tersebut memungkinkan seseorang mencapai alam Brahma[n], seperti yang dimaksudkan di Tevijja Sutta:

[..] Ketika sedang berjalan bolak balik di tepi sungai, terjadi percakapan serius antara Vasettha (dari klan Vasettha) dan Bharadvaja (dari klan Bhradvaja) tentang jalan benar dan jalan salah.

Pemuda Vasettha berkata: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Pokkharasadi’.

Sedangkan pemuda Bharadvaja berkata: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Tarukkho’.

Namun pemuda Vasettha tidak dapat meyakinkan pemuda Bharadvaja, begitu pula pemuda Bharadvaja tidak dapat meyakinkan pemuda Vasettha.

Kemudian pemuda Vasettha berkata kepada pemuda Bharadvaja: ‘Bharadvaja, Samana Gotama, putra suku Sakya, telah meninggalkan keluarga Sakya menjadi petapa, sekarang ada di Manasakata, tinggal di taman mangga di tepi sungai Aciravati, tepatnya di utara Manasakata. Sehubungan dengan Samana Gotama telah tersebar berita yang baik yaitu: ‘Demikianlah Bhagava, maha suci, telah mencapai penerangan sempurna, sempurna pengetahuan serta tidak-tanduknya, sempurna menempuh jalan, pengenal segenap alam, pembimbing manusia yang tiada taranya, guru para dewa dan manusia, yang sadar dan patut dimuliakan’. Bharadvaja, marilah kita menemui Samana Gotama, bilamana kita telah menemuinya, kita tanyakan persoalan kita ini kepada beliau. Apa yang Samana Gotama uraikan kepada kita, kita perhatikan dengan baik’.

‘Baiklah, kawan!’ jawab pemuda Bharadvaja menyetujui saran pemuda Vasettha.

‘Selanjutnya, pemuda Vasettha dan pemuda Bharadvaja pergi ke tempat Bhagava berada’. Setelah sampai, mereka memberi hormat kepada Bhagava dan saling menyapa dengan kata-kata santun, lalu duduk di tempat yang telah tersedia. Setelah duduk, pemuda Vasettha berkata kepada Bhagava: ‘Gotama, ketika kami sedang berjalan bolak-balik (di tepi sungai) muncul percakapan tentang jalan benar dan jalan salah. Saya berkata : ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Pokkharasadi’.

Sedangkan pemuda Bharadvaja mengatakan : ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Tarukkho’. Gotama, sehubungan dengan masalah ini terjadi perdebatan, pertentangan dan perbedaan pandangan di antara kami’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma. (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Pokkharasadi’. Sedangkan Bharadvaja mengatakan: ‘Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma (Brahma sahavyataya). Hal ini telah dinyatakan oleh Brahmana Tarukkho’. ‘Vasettha, karena itu terjadi perdebatan, pertanyaan dan perbedaan pandangan di antara anda berdua?’

Pemuda Vasettha: ‘Mengenai jalan benar dan jalan salah, Gotama. Gotama banyak Brahmana mengajar bermacam-macam jalan, seperti para Brahmana Addhariya [Adhavaryu], para Brahmana Tittiriya [Taittiriya], para Brahmana Chandoka [Chandogya], para Brahmana Chandava dan para Brahmana Brahma-cariya. Apakah semua itu jalan-jalan keselamatan? Apakah semua jalan itu membimbing seseorang yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma?’

“Gotama, bagaikan di sekitar desa atau kota banyak dan bermacam-macam jalan, namun semua jalan itu bertemu di desa – demikian pula cara itu bahwa semua macam jalan yang diajarkan oleh para Brahmana, seperti para Brahmana Addhariya, para Brahmana Tittiriya, para Brahmana Chandoka, para Brahmana Chandava dan para Brahmana Brahmacariya. Apakah semua itu jalan-jalan keselamatan? Apakah semua jalan itu membimbing seseorang yang melaksanakan-nya untuk bersatu dengan Brahma?

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan semua jalan ke arah benar’?

Pemuda Vasettha: ‘Ke arah benar, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan semua jalan ke arah benar’?

Pemuda Vasettha: ‘Ke arah benar, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan semua jalan ke arah benar’?

Pemuda Vasettha: ‘Ke arah benar, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Bagaimana Vasettha? Apakah ada seorang Brahmana dari para Brahmana yang menguasai tevijja [Tiga Veda: Rig Veda, Sama Veda dan Yajur Veda] pernah melihat langsung Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak ada, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, atau apakah ada seorang guru dari para Brahmana yang menguasai tevijja pernah melihat langsung Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak ada, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, atau apakah ada seorang guru di antara guru-guru dari para guru Brahmana yang menguasai tevijja pernah melihat langsung Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak ada, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, atau apakah ada seorang Brahmana sampai tujuh generasi yang telah melihat langsung Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak ada, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah, para reshi dari para Brahmana yang lampau, yang telah menguasai tevijja, para penulis mantra-mantra, para pengucap mantra-mantra, yang mantra-mantra kunonya dilafalkan, diucapkan atau disusun, yang olah para Brahmana masa kini dilafalkan kembali atau berulang-ulang kali; diintonasikan atau lafalkan secara tepat seperti yang telah diintonasikan atau dilafalkan – seperti Atthaka, Vamako, Vamadevo, Vessamitto, Yamataggi, Angiraso, Bharadvajo, Vasettho, Kassapa dan Bhagu – mereka mengucapkan itu dengan berkata: ‘Kami mengetahuinya, kami telah melihatnya, di mana Brahma berada, dari mana Brahma atau ke mana Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan bahwa tidak ada dari para Brahmana, atau para guru mereka, atau dari murid-murid mereka, sampai tujuh generasi yang pernah melihat langsung Brahma. Begitu pula dengan para rishi dari para Brahmana yang lampau, yang telah menguasai tevijja, para penulis mantra-mantra, para pengucap mantra-mantra, yang mantra-mantra kuno-nya dilafalkan, diucapkan atau disusun, yang olah para Brahmana masa kini dilafalkan kembali atau berulang-ulang kali; diintonasikan atau lafalkan secara tepat seperti yang telah diintonasikan atau dilafalkan – seperti Atthaka, Vamako, Vamadevo, Vessamitto, Yamataggi, Angiraso, Bharadvajo, Vasettho, Kassapa dan Bhagu. Mereka tidak mengatakan: ‘Kami mengetahuinya, kami telah melihat, di mana Brahma berada, dari mana Brahma atau ke mana Brahma?’ Sehingga para Brahmana yang menguasai tevijja dengan benar berkata: ‘Apa yang kita tidak tahu, apa yang kita tidak lihat, keadaan bersatu yang jalannya kita ajarkan, dengan berkata: Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan Brahma’.

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu? Bila begitu, bukankah cerita mengenai para Brahmana yang walaupun mereka menguasai tevijja, ternyata mereka menyatakan hal yang bodoh?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya demikian bahwa para Brahmana yang menguasai tevijja ternyata menyatakan hal yang bodoh.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, sebenarnya para Brahmana yang menguasai tevijja dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu dan mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi. ‘

‘Vasettha, bagaikan beberapa orang buta yang saling berdekatan, yang di depan tidak dapat melihat, yang di tengah tidak dapat melihat, begitu pula yang di belakang tidak dapat melihat – Vasettha, saya berpendapat begitu pula dengan para Brahmana yang menguasai tevijja tetapi menceritakan hal yang buta: yang pertama tidak melihat, yang di tengah tidak melihat, begitu pula yang di belakang tidak melihat. Maka uraian dari para Brahmana yang menguasai tevijja ini, ternyata konyol, hanya kata-kata, hampa dan kosong!.

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu? Dapatkah para Brahmana yang menguasai tevijja – seperti orang-orang lain yang awam dan biasa – melihat bulan dan matahari lalu mereka sembayang, memuja dan memuji, berputar dengan beranjali ke arah bulan dan matahari terbit maupun terbenam?’

Pemuda Vasettha: ‘Tentu mereka dapat, Gotama’.

Sang Bhagava: Vasettha, bagaimana pendapatmu? Para Brahmana yang menguasai tevijja, yang dengan baik – seperti orang-orang lain yang awam dan biasa – melihat bulan dan matahari lalu mereka sembayang, memuja dan memuji, berputar dengan beranjali ke arah bulan dan matahari terbit maupun terbenam – adalah para Brahmana yang menguasai tevijja, dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan bulan dan matahari, dengan berkata: “Ini jalan lurus, ini jalan langsung untuk keselamatan, dan akan membimbing siapa yang melaksanakannya untuk bersatu dengan bulan dan matahari”.

Pemuda Vasettha: ‘Tentu tidak, Gotama!’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda berkata bahwa para Brahmana tidak dapat menunjukkan jalan bersatu dengan hal yang telah mereka lihat; lebih lanjut anda mengatakan tidak ada seorang pun dari mereka, atau siswa mereka, atau para pendahulu mereka hingga tujuh generasi yang telah melihat Brahma. Lagi pula anda mengatakan para rishi yang lampau, yang teguh meyakini ucapan mereka, tidak berpura-pura mengetahui atau telah melihat di mana, dari mana atau ke mana Brahma itu. Namun para Brahmana yang menguasai tevijja ini mengatakan bahwa mereka dapat menunjukkan jalan bersatu, padahal mereka tidak tahu maupun belum melihatnya’. Vasettha, sekarang bagaimana pendapat-mu? Bila demikian, bukankah kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ini adalah omong kosong saja?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ternyata omong kosong’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Vasettha ternyata, para Brahmana yang menguasai tevijja yang dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu maupun mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bagaikan seorang pria berkata: ‘Betapa saya rindu, betapa saya mencintai wanita tercantik di dunia ini!’

‘Orang-orang bertanya kepadanya: ‘Baiklah kawan. Wanita tercantik di dunia ini, yang anda rindukan dan cintai, apakah anda mengetahui bahwa wanita cantik itu bangsawan (khattiya), Brahmana, pedagang (vessa) atau kalangan bawah (sudda)?’

‘Ketika ditanya seperti itu, ia menjawab: ‘Tidak’.

‘Lalu orang-orang berkata kepadanya: ‘Jadi, ia yang anda rindukan dan cintai adalah orang yang belum anda tahu dan lihat?’

‘Setelah ditanya begitu, ia menjawab: ‘Ya’.

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu? Bila demikian, bukankah apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, begitu pula, anda berkata bahwa para Brahmana tidak dapat menunjukkan jalan bersatu dengan hal yang telah mereka lihat; lebih lanjut anda mengatakan tidak ada seorang pun dari mereka, atau siswa mereka, atau para pendahulu mereka hingga tujuh generasi yang telah melihat Brahma. Lagi pula anda mengatakan para rishi yang lampau, yang teguh meyakini ucapan mereka, tidak berpura-pura mengetahui atau telah melihat di mana, dari mana atau ke mana Brahma itu. Namun para Brahmana yang menguasai tevijja ini mengatakan bahwa mereka dapat menunjukkan jalan bersatu, padahal mereka tidak tahu maupun belum melihatnya’.

‘Vasettha, sekarang bagaimana pendapatmu? Bila demikian, bukankah kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ini adalah omong kosong saja?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja adalah omong kosong’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Vasettha ternyata, para Brahmana yang menguasai tevijja yang dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu maupun mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bagaikan seseorang yang membuat sebuah tangga untuk naik ke istana di suatu tempat di persimpangan jalan. Lalu orang-orang bertanya kepadanya: ‘Kawan, baiklah, untuk naik ke istana itu anda buatkan tangga, apakah istana itu di sebelah, timur, selatan, barat atau utara? Apakah istana itu tinggi, rendah atau menengah?’

‘Ketika ditanya seperti itu, ia menjawab: ‘Tidak’.

‘Lalu orang-orang berkata kepadanya: ‘Kawan, jadi anda membuat tangga untuk naik ke sesuatu – apakah itu istana – yang anda tidak tahu dan belum lihat?.

‘Setelah ditanya begitu, ia menjawab: ‘Ya’.

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu?. Bila demikian, bukankah apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong?

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka apa yang dikatakan orang itu ternyata omong kosong’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, begitu pula, anda berkata bahwa para Brahmana tidak dapat menunjukkan jalan bersatu dengan hal yang telah mereka lihat; lebih lanjut anda mengatakan tidak ada seorang pun dari mereka, atau siswa mereka, atau para pendahulu mereka hingga tujuh generasi yang telah melihat Brahma. Lagi pula anda mengatakan para rishi yang lampau, yang teguh meyakini ucapan mereka, tidak berpura-pura mengetahui atau telah melihat di mana, dari mana atau ke mana Brahma itu. Namun para Brahmana yang menguasai tevijja ini mengatakan bahwa mereka dapat menunjukkan jalan bersatu, padahal mereka tidak tahu maupun belum melihatnya’.

‘Vasettha, sekarang bagimana pendapatmu?. Bila demikian, bukankah kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja ini adalah omong kosong saja?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, sesungguhnya, berdasarkan hal itu maka kata-kata para Brahmana yang menguasai tevijja adalah omong kosong’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Vasettha ternyata, para Brahmana yang menguasai tevijja yang dapat menunjukkan jalan untuk bersatu dengan sesuatu yang mereka tidak tahu maupun mereka tidak lihat – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bilamana sungai Aciravati penuh dengan air hingga ke tepi dan meluap, kemudian ada seorang yang mempunyai kegiatan di tepi seberang, mau menyeberang, berusaha ke seberang, datang ke tepi dan ingin menyeberang. Selagi ia berdiri di tepi sini, ia memohon ke tepi sebelah dengan berkata: ‘Wahai tepi seberang sana, datang ke sini!, datanglah ke seberang sini!’

‘Vasettha bagaimana pendapatmu? Apakah tepi seberang sungai Aciravati, karena permohonan, doa, pujian dan harapan orang itu akan datang ke tepi sebelah sini?’

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, tentu saja tidak’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, begitulah caranya para Brahmana yang menguasai tevijja – dengan meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – berkata: ‘Kami mohon Inda, kami mohon Soma, kami mohon Varuna, kami mohon Isana, kami mohon Pajapati [pragapati], kami mohon Brahma, kami mohon Mahiddhi, kami mohon Yama.

‘Vasettha, para Brahmana yang menguasai tevijja – meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – bahwa mereka, berdasarkan pada permohonan, doa, pujian dan harapan, bila mereka meninggal dunia akan menyatu dengan Brahma – maka keadaan seperti itu tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bagaikan bilamana sungai Aciravati penuh dengan air hingga ke tepi dan meluap, kemudian ada seorang yang mempunyai kegiatan di tepi seberang, mau menyeberang, berusaha ke seberang, datang ke tepi dan ingin menyeberang. Selagi ia di tepi sini, tangannya, punggungnya terikat erat oleh rantai kuat, dan bagaimana pendapatmu, Vasettha, dapatkah orang itu menyeberang ke tepi sana dari sungai Aciravati?

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, tentu saja tidak’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, dengan cara yang sama, ada lima hal yang mengarah pada nafsu, yang disebut dalam vinaya-ariya sebagi rantai atau ikatan’.

‘Apakah lima hal itu?’

‘Pertama adalah benda-benda (rupa) yang dilihat mata, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebab-kan kesenangan.
Kedua adalah Suara-suara yang didengar telinga, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebabkan kesenangan.
Ketiga adalah Bebauan yang dicium oleh hidung, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebabkan kesenangan.
Keempat adalah Rasa-rasa yang dikecap oleh lidah, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai menyebabkan kesenangan.
Kelima adalah Sentuhan-sentuhan yang dirasakan oleh tubuh, diinginkan, sesuai, menyenangkan, menarik yang disertai oleh nafsu dan menyebabkan kesenangan. Lima hal ini berkecenderungan pada nafsu disebut dalam Vinaya ariya sebagai rantai atau ikatan’.

‘Vasettha, lima hal berkecenderungan pada nafsu, apakah para Brahmana yang menguasai tevijja terantai, terangsang, terikat pada hal-hal itu, dan mereka tidak melihat bahaya pada hal-hal itu, tidak mengetahui bahwa hal-hal itu tidak dapat dijadikan tumpuan, namun menikmati hal-hal itu’.

‘Vasettha, sesungguhnya para Brahmana yang menguasai tevijja dengan meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – terikat pada hal-hal itu, dan mereka tdlak melihat bahaya pada hal-hal itu, tidak mengetahui bahwa hal-hal itu tidak dapat dijadikan tumpuan, namun menikmati hal-hal itu – bahwa para Brahmana ini setelah meninggal, akan bersatu dengan Brahma – kondisi seperti ini tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bagaikan bilamana sungai Aciravati penuh dengan air hingga ke tepi dan meluap, kemudian ada seorang yang mempunyai kegiatan di tepi seberang, mau menyeberang, berusaha ke seberang, datang ke tepi dan ingin menyeberang. Selagi ia di tepi sini, ia membungkus dirinya hingga ke kepalanya, ia berbaring untuk tidur. ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, dapatkah orang itu menyeberang ke tepi sana dari sungai Aciravati?

Pemuda Vasettha: ‘Gotama, tentu saja tidak’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, dengan cara yang sama, ada lima rintangan (nivarana), yang dalam vinaya-ariya disebut perintang, penghalang, pengganggu atau jerat.

‘Apakah lima hal itu?’

Pertama ‘Nafsu indera sebagai perintang’.
Kedua ‘Kebencian sebagai perintang’.
Ketiga ‘Malas dan ngantuk sebagai perintang’.
Keempat ‘Keragu-raguan sebagai perintang’.
Kelima ‘Kegelisahan sebagai perintang’.

‘Vasettha, inilah lima perintang yang dalam vinaya ariya disebut perintang, penghalang, pengganggu atau jerat’.

‘Vasettha, sesungguhnya para Brahmana yang menguasai tevijja – dengan meninggalkan pelaksanaan berkualitas yang dapat membuat seseorang menjadi Brahmana, dan melaksanakan hal berkualitas yang dapat membuat orang-orang menjadi non-Brahmana – terintang, terhalang, terganggu dan terjerat oleh lima rintangan ini – bahwa para Brahmana ini setelah meninggal, akan bersatu dengan Brahma – kondisi seperti ini tidak mungkin terjadi!’

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu dan apakah anda pernah mendengar dari para Brahmana tua dan telah berpengalaman, dan ketika para ahli dan para guru bercakap-cakap bersama?

Apakah Brahma memiliki istri dan kekayaan atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah ia diliputi bahaya atau bebas dari bahaya?’

Pemuda Vasettha: ‘Bebas dari bahaya, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah ia diliputi kebencian atau bebas dari kebencian?

Pemuda Vasettha: ‘Bebas dari kebencian, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah ia ternoda atau suci?’

Pemuda Vasettha: ‘Suci, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Apakah ia menguasai dirinya atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Menguasai dirinya, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, apakah para Brahmana yang menguasai tevijja memiliki istri dan kekayaan atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Memiliki, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah mereka diliputi kemarahan atau bebas dari kemarahan?’

Pemuda Vasettha: ‘Diliputi kemarahan, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah mereka diliputi kebencian atau bebas dari kebencian?’

Pemuda Vasettha: ‘Diliputi kebencian, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah batin mereka suci atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak suci, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah mereka menguasai diri mereka atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Tidak menguasai mereka, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan bahwa para Brahmana memiliki istri dan kekayaan, namun Brahma tidak memiliki. Dapatkah disesuaikan atau disamakan Brahmana yang memiliki istri dan harta dengan Brahma yang tidak memiliki istri dan harta?’

Pemuda Vasettha: ‘Tentu tidak, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Tetapi sesungguhnya para Brahmana yang menguasai tevijja ini, yang hidup dalam perkawinan dan memiliki harta, setelah meninggal dunia akan bersatu dengan Brahma yang tidak memiliki istri dan harta – keadaan seperti ini tidak mungkin terjadi’.

‘Vasettha, anda mengatakan bahwa para Brahmana diliputi kemarahan, kebencian, ternoda, dan tak menguasai diri; sedangkan Brahma tidak diliputi oleh kemarahan, tidak diliputi kebencian, suci dan menguasai diri. Dapatkah disesuaikan atau disamakan para Brahmana dan para Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Tentu tidak, Gotama?’

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Bahwa para Brahmana yang menguasai tevijja ini yang masih diliputi kemarahan, kebencian, ternoda dan tidak menguasai diri setelah meninggal dunia akan bersatu dengan Brahma yang bebas dari kemarahan dan kebencian, suci dan menguasai diri – keadaan seperti ini tidak mungkin terjadi.

Vasettha, demikianlah, walaupun para Brahmana menguasai tevijja, mereka meyakininya, namun mereka tenggelam (dalam upacara); karena tenggelam mereka tiba hanya pada kepuasaan, sementara mereka mengira bahwa mereka menyeberang ke tanah bahagia’.
Maka tiga kebijaksanaan para Brahmana yang menguasai tevijja disebut padang tanpa berair; tiga kebijaksanaan mereka disebut hutan tanpa jalan; tiga kebijaksanaan mereka disebut kegagalan’.

‘Ketika beliau selesai berkata, pemuda Brahmana Vasettha berkata kepada Bhagava: ‘Gotama, telah dikatakan kepadaku bahwa Samana Gotama mengetahui jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, bukankah Manasakata dekat dan tak jauh dari tempat ini?’

Pemuda Vasettha: ‘Begitulah, Gotama. Manasakata dekat, tidak jauh dari tempat ini’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, misalnya ada seseorang yang lahir di Manasakata dan belum pernah meninggalkan Manasakata, lalu orang-orang bertanya kepadanya tentang jalan yang menuju Manasakata. Apakah orang itu yang lahir dan dibesarkan di Manasakata akan ragu-ragu dan mendapat kesulitan untuk menjawab?’

Pemuda Vasettha: ‘Tentu tidak Gotama. Mengapa? Jika seseorang lahir dan dibesarkan di Manasakata, maka setiap jalan yang mengarah ke Manasakata diketahuinya dengan baik’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, orang yang dilahirkan dan dibesarkan di Manasakata mungkin saja ia akan ragu-ragu dan mendapat kesulitan untuk menjawab bila ditanya jalan yang menuju ke Manasakata; tetapi Tathagata, bila ditanya mengenai jalan yang mengarah ke alam Brahma, ia tidak akan ragu-ragu atau mendapat kesulitan untuk menjawab. Vasettha, karena saya tahu Brahma, alam Brahma, dan jalan yang mengarah ke alam Brahma. Ya, saya mengetahui itu karena saya sebagai seorang yang telah memasuki alam Brahma dan telah terlahir di dalamnya’.

‘Setelah beliau berkata begitu, pemuda Brahmana Vasettha berkata kepada Bhagava: ‘Gotama, begitulah dikatakan kepada saya bahwa samana Gotama mengetahui jalan untuk bersatu dengan Brahma. Itu bagus sekali. Mohon yang mulia Gotama menunjukkan jalan untuk bersatu dengan Brahma, mohon yang mulia Gotama menyelamatkan ras Brahmana’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, perhatikanlah dan dengarkanlah dengan baik, saya akan bicara!’

‘Baiklah,’ jawab pemuda Brahmana Vasettha menyetujuinya’.

‘Kemudian Bhagava berkata: ‘Vasettha, ketahuilah di dunia ini muncul seorang Tathagata, Yang Maha Suci, Yang Telah mencapai Penerangan Sempurna, sempurna pengetahuan serta tindak tanduk-Nya, sempurna menempuh Jalan, Pengenal segenap alam, Pembimbing yang tiada tara bagi mereka yang bersedia untuk dibimbing, Guru para dewa dan manusia, Yang sadar, Yang Patut dimuliakan. Beliau mengajarkan pengetahuan yang telah diperoleh melalui usaha-Nya sendiri kepada orang lain, dalam dunia ini yang meliputi para dewa, dan manusia, Yang Sadar, Yang Patut dimuliakan. Beliau mengajarkan pengetahuan yang telah di peroleh melalui usahanya sendiri kepada orang lain, dalam dunia ini yang meliputi para dewa, mara dan Brahmana; para petapa, Brahmana, raja beserta rakyatnya. Beliau mengajarkan kebenaran (Dhamma) yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan, indah pada akhir dalam isi maupun bahasanya. Beliau mengajarkan penghidupan suci (Brahmacariya) yang sempurna dan suci’.

‘Kemudian, seorang yang berkeluarga atau salah seorang dari anak-anaknya atau seorang dari keturunan keluarga rendah datang mendengarkan Dhamma itu, dan setelah mendengarnya ia memperoleh keyakinan terhadap Sang Tathagata. Setelah ia memiliki keyakinan itu, timbullah perenungan ini dalam dirinya: ‘Sesungguhnya, hidup berkeluarga itu penuh dengan rintangan, jalan yang penuh dengan kekotoran nafsu. Bebas seperti udara bagi seorang yang hidup berkeluarga untuk menempuh hidup Brahmacariya secara sungguh-sungguh, suci serta dalam seluruh kegemilangan kesempurnaannya. Maka, biarlah aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning dan meninggalkan hidup keluarga untuk menempuh hidup tak berkeluarga (pabbajja).

Maka tidak lama kemudian ia meninggalkan hartanya, apakah itu besar atau kecil; meninggalkan lingkungan keluarganya, apakah banyak atau sedikit, ia mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan berkeluarga dan menjadi tak berkeluarga (pabbajja).

‘Setelah menjadi bhikkhu, ia hidup mengendalikan diri sesuai dengan peraturan-peraturan bhikkhu (patimokkha), sempurna kelakuan dan latihannya, dapat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahannya, dapat melihat bahaya dalam kesalahan-kesalahan yang paling kecil sekalipun. Ia menyesuaikan dan melatih dirinya dalam peraturan-peraturan. Menyempurnakan perbuatan-perbuatan dan ucapannya. Suci dalam cara hidupnya, sempurna silanya, terjaga pintu-pintu inderanya. Ia memiliki perhatian-perhatian seksama dan pengertian jelas (sati sampajjana); dan hidup puas’.

‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu yang sempurna silanya?

  • Vasettha, dalam hal ini seorang bhikkhu menjauhi pembunuhan, menahan diri dari pembunuhan mahkluk-makhluk. Setelah membuang alat pemukul dan pedang, malu dengan perbuatan kasar; ia hidup dengan penuh cinta kasih, kasih sayang dan bajik terhadap semua makhluk, semua yang hidup, inilah sila yang dimilikinya.
  • ‘Menjauhi pencurian, menahan diri dari memiliki apa yang tidak diberikan; ia hanya mengambil apa yang tidak diberikan; ia hanya mengambil apa yang diberikan dan tergantung pada pemberian; ia hidup jujur dan suci. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Menjauhi hubungan kelamin, menjalankan penghidupan suci atau selibat (Brahmacariya); ia menahan diri dari perbuatan-perbuatan rendah dan hubungan kelamin. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Menjauhi kedustaan, menahan diri dari dusta, ia berbicara benar, tidak menyimpang dari kebenaran, jujur dan dapat dipercaya, serta tidak mengingkari kata-katanya sendiri di dunia’. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Menjauhi ucapan fitnah, menahan diri dari menfitnah; apa yang ia dengar di sini tidak akan diceritakannya di tempat lain sehingga menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di sini. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • Apa yang ia dengar di tempat lain tidak akan diceritakannya di sini sehingga menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di sana. Ia hidup menyatukan mereka yang terpecah-belah, pemersatu, mencintai persatuan, mendambakan persatuan; persatuan merupakan tujuan pernbicaraannya. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • Menjauhi ucapan kasar, menahan diri dari penggunaan kata-kata kasar, ia hanya mengucapkan kata-kata yang tidak tercela, menyenangkan, menarik, berkenan di hati, sopan, enak didengar dan disenangi orang. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Menjauhi pembicaraan sia-sia, menahan diri dari percakapan yang tidak bermanfaat; ia berbicara pada saat yang tepat, sesuai dengan kenyataan, berguna, tentang dhamma dan vinaya. Pada saat yang tepat, ia mengucapkan kata-kata yang berharga untuk didengar, penuh dengan gambaran yang tepat, memberikan uraian yang jelas dan tidak berbelit-belit. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • Ia menahan diri untuk tidak merusak benih-benih dan tumbuh- tumbuhan. Ia makan sehari sekali, tidak makan setelah tengah hari. Ia menahan diri dari :
    • menonton pertunjukkan-pertunjukkan, tari-tarian, nyanyian dan musik.
    • penggunaan alat-alat kosmetik, karangan-karangan bunga, wangi-wangian dan perhiasan-perhiasan.
    • penggunaan tempat tidur yang besar dan mewah.
    • menerima emas dan perak.
    • menerima gandum (padi) yang belum dimasak.
    • menerima daging yang belum dimasak.
    • menerima wanita dan perempuan-perempuan muda.
    • menerima budak belian lelaki dan budak belian perempuan.
    • menerima biri-biri atau kambing,
    • menerima bagi dan unggas,
    • menerima gajah, sapi dan kuda.
    • menerima tanah-tanah pertanian.
    • menipu dengan timbangan, mata uang maupun ukuran-ukuran.
    • perbuatan menyogok, menipu dan penggelapan.
    • perbuatan melukai, membunuh, memperbudak, merampok, menodong dan menganiaya.

    Inilah sila yang dimilikinya’.

  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih merusak bermacam-macam benih dan tumbuhan, seperti: tumbuhan yang berkembang biak dari akar-akaran, tumbuhan yang berkembang biak dari tetangkaian, tumbuhan yang berkembang biak dari ruas- ruas atau tumbuhan yang berkembang biak dari kecambah-kecambahan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari merusak bermacam-macam benih dan tumbuhan. Inilah sila yang dimilikinya’
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mempergunakan barang-barang yang ditimbun, simpanan, seperti: bahan makanan simpanan, minuman simpanan, jubah simpanan, perkakas-perkakas simpanan, bumbu makanan simpanan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari menggunakan barang-barang yang ditimbun semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih menonton aneka macam pertunjukkan, seperti: tari-tarian, nyanyian-nyanyian musik, pertunjukkan panggung, opera, musik yang diiringi dengan tepuk tangan, pembacaan deklamasi, permainan tambur, drama kesenian, permainan akrobat di atas galah, adu gajah, adu kuda, adu sapi, adu banteng, pertandingan tinju, pertandingan gulat, perang perangan, pawai, inspeksi, parade; namun seorang bhikkhu menahan diri dari menonton aneka macam pertunjukkan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terikat dengan aneka macam permainan dan rekreasi, seperti: permainan catur dengan papan berpetak delapan baris, permainan catur dengan papan berpetak sepuluh baris, permainan dengan membayangkan papan catur tersebut di udara, permainan melangkah satu kali pada diagram yang digariskan di atas tanah, permainan dengan cara memindahkan benda-benda atau orang dari satu tempat ke lain tempat tanpa menggoncangkannya, permainan lempar dadu, permainan memukul kayu pendek dengan menggunakan kayu panjang, permainan mencelup tangan ke dalam air berwarna dan menempelkan telapak tangan ke dinding, permainan bola, permainan meniup sempritan yang dibuat dari daun palem, permainan meluku dengan bajak mainan, permainan jungkir balik (salto), permainan dengan kitiran yang dibuat dari daun palem, bermain dengan timbangan mainan yang dibuat dari daun palem, bermain dengan kereta perang mainan, bermain dengan panah-panah mainan, menebak tulisan-tulisan yang digoreskan di udara atau pada punggung seseorang, menebak pikiran teman bermain, seorang bhikkhu menahan diri dari aneka macam permainan dan rekreasi semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mempergunakan aneka macam tempat tidur yang besar dan mewah, seperti: dipan tinggi yang dapat dipindah-pindahkan yang panjangnya enam kaki, dipan dengan tiang-tiang berukiran gambar binatang-binatang seprei dari bulu kambing atau bulu domba yang tebal, seprei dengan bordiran warna warni, selimut putih, seprei dari wol yang disulam dengan motif bunga-bunga, selimut yang diisi dengan kapas dan wol, seprei yang disulam dengan gambar harimau dan singa, seprei dengan bulu binatang pada kedua tepinya, seprei dengan bulu binatang pada salah satu tepinya, seprei dengan sulaman permata, seprei dari sutra, selimut yang dapat dipergunakan oleh enam belas orang, selimut gajah, selimut kuda atau selimut kereta, selimut kulit kijang yang dijahit, selimut dari kulit sebangsa kijang, permadani dengan tutup kepala dan kaki; namun seorang bhikkhu menahan diri untuk tidak mempergunakan aneka macam tempat tidur yang besar dan mewah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih memakai perhiasan-perhiasan dan alat-alat memperindah diri seperti: melumuri, mencuci dan menggosok tubuhnya dengan bedak wangi; memukuli tubuhnya dengan tongkat perlahan-lahan seperti ahli gulat; memakai kaca, minyak mata (bukan obat), bunga-bunga, pemerah pipi, kosmetika, gelang, kalung, tongkat jalan (untuk bergaya), tabung bambu untuk menyimpan obat, pedang, alat penahan sinar matahari, sandal bersulam, sorban, perhiasan dahi, sikat dari ekor binatang yak, jubah putih panjang yang banyak lipatannya; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari pemakaian perhiasan-perhiasan dan alat-alat memperindah diri semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terlibat dalam percakapan-percakapan yang rendah, seperti: percakapan tentang raja-raja, percakapan tentang mencuri, percakapan tentang menteri-menteri, percakapan tentang angkatan-angkatan perang, percakapan tentang pembunuhan-pembunuhan, percakapan tentang pertempuran-pertempuran, percakapan tentang makanan, percakapan tentang minuman, percakapan tentang pakaian, percakapan tentang tempat tidur, percakapan tentang karangan-karangan bunga, percakapan tentang wangi-wangian, pembicaraan-pembicaraan tentang keluarga, percakapan tentang kendaraan, percakapan tentang desa, percakapan tentang kampung, percakapan tentang kota, percakapan tentang negara, percapakan tentang wanita, percakapan tentang lelaki, percakapan di sudut-sudut jalanan, percakapan tentang hantu-hantu jaman dahulu, percakapan yang tidak ada ujung pangkalnya, spekulasi tentang terciptanya daratan, spekulasi tentang terciptanya lautan, percakapan tentang perwujudan dan bukan perwujudan (eksistensi dan non eksistensi); namun seorang bhikkhu menahan diri dari percakapan-percakapan yang rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
  • ‘Meskipun beberapa petapa Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih terlibat dalam kata-kata perdebatan, seperti: ‘Bagaimana seharusnya engkau mengerti Dhamma Vinaya ini? ‘Engkau menganut pandangan-pandangan keliru, tetapi aku menganut pandangan-pandangan benar. ‘Aku berbicara langsung pada pokok persoalan, tetapi engkau berbicara langsung pada pokok persoalan’. Engkau membicarakan di bagian akhir tentang apa yang seharusnya dibicarakan di bagian permulaan; dan membicarakan di bagian permulaan tentang apa yang seharusnya dibicarakan di bagian akhir. Apa yang lama telah engkau persiapkan untuk dibicarakan, semuanya itu telah usang’. Kata-kata bantahanmu itu ditentang, dan engkau ternyata salah’. ‘Berusahalah untuk menjernihkan pandangan-pandanganmu; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari kata-kata perdebatan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih berlaku sebagai pembawa berita, pesuruh dan bertindak sebagai perantara dari raja-raja, menteri-menteri negara, kesatria, Brahmana, orang berkeluarga atau pemuda-pemuda, yang berkata: ‘Pergilah ke sana, pergilah ke situ, bawalah ini, ambilkan itu dari sana’; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari tugas-tugas sebagai pembawa berita, pesuruh dan perantara semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih melakukan tindakan-tindakan penipuan dengan cara: merapalkan kata-kata suci, meramal tanda-tanda dan mengusir dengan tujuan memperoleh keuntungan setelah memperlihatkan sedikit kemampuannya; namun seorang bhikkhu menahan diri dari tindakan-tindakan penipuan semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti meramal dengan melihat guratan-guratan tangan, meramal melalui tanda-tanda dan alamat-alamat, menujumkan sesuatu dari halilintar atau keanehan-keanehan benda langit lainnya, meramal dengan mengartikan mimpi-mimpi, meramal dengan melihat tanda-tanda pada bagian tubuh, meramal dari tanda-tanda pada pakaian yang digigit tikus, mengadakan korban pada api, mengadakan selamatan yang dituang dari sendok, memberikan persembahan dengan sekam untuk dewa-dewa, memberikan persembahan dengan bekatul untuk dewa-dewa, memberikan persembahan dengan mentega untuk dewa-dewa, memberikan persembahan dengan minyak untuk dewa, mempersembahkan biji wijen dengan menyemburkannya dari mulut ke api, mengeluarkan darah dari lutut kanan sebagai tanda persembahan kepada dewa-dewa, melihat dan meramalkan apakah orang itu mujur, beruntung atau sial; menentukan apakah letak rumah itu baik atau tidak, menasehati cara-cara pengukuran tanah; mengusir setan-setan di kuburan; mengusir hantu, mantra untuk menempati rumah yang dibuat dari tanah, mantra untuk kelajengking, mantra tikus, mantra burung, mantra burung gagak, meramal umur, mantra melepas panah, keahlian untuk mengerti bahasa binatang; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-limu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: pengetahuan tentang tanda-tanda atau alamat-alamat baik atau buruk dari benda-benda, yang menyatakan kesehatan atau keberuntungan dari pemiliknya, seperti: batu-batu permata, tongkat, pedang, panah, busur, senjata-senjata lainnya; wanita, laki-laki, anak lelaki, anak perempuan, budak lelaki, budak perempuan, gajah, kuda, kerbau, sapi jantan, sapi betina, burung nasar, kura-kura, dan binatang-binatang lainnya; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramal dengan akibat: pemimpin akan maju, pemimpin akan mundur, pemimpin kita akan menyerang dan musuh-musuh akan mundur, pemimpin musuh akan menyerang dan pemimpin kita akan mundur, pemimpin kita akan menang dan pemimpin musuh akan kalah, pemimpin musuh akan menang dan pemimpin kita akan kalah; jadi kemenangan ada di pihak ini dan kekalahan ada di pihak itu; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramalkan adanya gerhana bulan, gerhana matahari, gerhana bintang, matahari atau bulan akan menyimpang dari garis edarnya, matahari atau bulan akan kembali pada garis edarnya, adanya bintang yang menyimpang dari garis edarnya, bintang akan kembali pada garis edarnya, meteor jatuh, hutan terbakar, gempa bumi, halilintar, matahari, bulan dan bintang akan terbit, terbenam, bersinar dan suram; atau meramalkan lima belas gejala tersebut akan terjadi yang akan mengakibatkan sesuatu; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: meramalkan turun hujan yang berlimpah-limpah, turun hujan yang tidak mencukupi, hasil panen yang baik, masa paceklik (kekurangan bahan makanan), keadaan damai, keadaan kacau, akan terjadi wabah sampar, musim baik; meramal dengan menghitung jari, tanpa menghitung jari; ilmu menghitung jumlah besar, menyusun lagu, sajak, nyanyian rakyat yang popular dan ada kebiasaan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: mengatur hari baik bagi mempelai pria atau wanita untuk dibawa pulang, mengatur hari baik bagi mempelai pria atau wanita untuk dikirim pergi, menentukan saat baik untuk menentukan perjanjian damai (atau mengikat persaudaraan dengan menggunakan mantra), menentukan saat yang baik untuk meletuskan permusuhan, menentukan saat baik untuk menagih hutang, menentukan saat baik untuk memberi pinjaman, menggunakan mantra untuk membuat orang beruntung, menggunakan mantra untuk membuat orang sial, menggunakan mantra untuk menggugurkan kandungan, menggunakan mantra untuk mendiamkan rahang seseorang, menggunakan mantra untuk membuat orang lain mengangkat tangannya, menggunakan mantra untuk menimbulkan ketulian, mencari jawaban dengan melihat-lihat kaca ajaib, mencari jawaban melalui seorang gadis yang kerasukan, mencari jawaban dari dewa, memuja matahari memuja maha ibu (dewa tanah) mengeluarkan api dari mulut, memohon kepada dewi Sri, atau dewi keberuntungan; namun, seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.
  • ‘Meskipun beberapa petapa dan Brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, mereka masih mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah, seperti: berjanji akan memberikan persembahan-persembahan kepada para dewa apabila keinginannya terkabul, melaksanakan janji-janji semacam itu, mengucapkan mantra untuk menempati rumah yang dibuat dari tanah, mengucapkan mantra untuk menimbulkan kejantanan, membuat pria menjadi impotent, menentukan letak yang tepat untuk membangun rumah, mengucapkan mantra untuk membersihkan tempat, melakukan upacara pembersihan mulut, melakukan upacara mandi, mempersembahkan korban, memberikan obat bersin untuk mengobati sakit kepala, meminyaki telinga orang lain, merawat mata orang, memberikan obat melalui hidung, memberi collyrium di mata, memberikan obat tetes pada mata, menjalankan praktek sebagai okultis, menjalankan praktek sebagai dokter anak-anak, meramu obat-obatan dari bahan-bahan akar-akaran, membuat obat-obatan; namun seorang bhikkhu menahan diri dari mencari penghidupan dengan cara-cara salah melalui ilmu-ilmu rendah semacam itu. Inilah sila yang dimilikinya’.

‘Vasettha, selanjutnya seorang bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat adanya bahaya dari sudut manapun sejauh berkenan dengan pengendalian terhadap sila, Vasettha, sama seperti seorang kesatria yang patut dinobatkan menjadi raja, yang musuh-musuh telah di kalahkan, tidak melihat bahaya dari sudut mana pun sejauh berkenaan dengan musuh-musuh;

Demikian pula, seorang bhikkhu yang sempurna silanya, tidak melihat bahaya dari sudut manapun sejauh berkenaan dengan pengendalian-sila. Dengan memiliki kelompok sila yang mulia ini, dirinya merasakan suatu kebahagiaan murni (anavajja sukkham). Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu yang memiliki sila sempurna’.

‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu memiliki penjagaan atas pintu-pintu inderanya?

  • Vasettha, bilamana seorang bhikkhu melihat suatu obyek dengan matanya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik atau buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera penglihatannya. Ia menjaga indera penglihatannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pengelihatannya.
  • Bilamana ia mendengar suara dengan telinganya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera pendengarnya. Ia menjaga indera pendengarannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pendengarannya.
  • Bilamana ia mencium bau dengan hidungnya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera penciumannya. Ia menjaga indera penciumannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera penciumannya.
  • Bilamana ia mengecap rasa lidahnya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian diri terhadap indera pengecapannya. Ia menjaga indera pengecapannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pengecapannya.
  • Bilamana ia merasakan suatu sentuhan dengan tubuhnya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya. Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk, keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian terhadap indera perabanya. Ia menjaga indera perabanya, dan memiliki pengendalian terhadap indera perabanya.
  • Bilamana ia mengetahui sesuatu (dhamma) dengan pikirannya, ia tidak terpikat dengan bentuk keseluruhan atau bentuk perinciannya Ia berusaha menahan diri terhadap bentuk-bentuk yang dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya keadaan-keadaan tidak baik dan buruk; keserakahan dan kebencian; yang telah begitu lama menguasai dirinya sewaktu ia berdiam tanpa pengendalian terhadap indera pikirannya. Ia menjaga indera pikirannya, dan memiliki pengendalian terhadap indera pikirannya.

Dengan memiliki pengendalian diri yang mulia ini terhadap indera-inderanya, ia merasakan suatu kebahagiaan yang tidak dapat diterobos oleh noda apapun. ‘

‘Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu yang memiliki pengendalian atas pintu-pintu inderanya’

‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu memiliki perhatian seksama dan pengerti jelas?

  • Vasettha, dalam hal ini seorang bhikkhu mengerti dengan jelas sewaktu ia pergi atau sewaktu kembali;
  • ia mengerti dengan jelas sewaktu melihat ke depan atau melihat ke samping;
  • ia mengerti dengan jelas sewaktu mengenakan jubah atas (sanghati), jubah luar (civara) atau mengambil mangkuk-makan (patta);
  • ia mengerti dengan jelas sewaktu makan, minum, mengunyah atau menelan;
  • ia mengerti dengan jelas sewaktu buang air atau sewaktu kencing;
  • ia mengerti dengan jelas sewaktu dalam keadaan berjalan, berdiri, duduk, tidur, bangun, berbicara atau diam.

Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu yang memiliki perhatian seksama murni dan pengertian jelas’

‘Vasettha, bagaimanakah seorang bhikkhu merasa puas?

Vasettha, dalam hal ini seorang bhikkhu merasa puas dengan jubah-jubah yang cukup untuk menutupi tubuhnya, puas hanya dengan makanan yang cukup untuk menghilangkan rasa lapar perutnya. Dan kemana pun ia akan pergi, ia pergi hanya dengan membawa hal-hal ini.

Vasettha, sama seperti seekor burung dengan sayapnya, ke manapun akan terbang, burung itu terbang hanya dengan membawa sayapnya. Vasettha, demikian pula seorang bhikkhu merasa puas hanya dengan jubah-jubah yang cukup untuk menutupi tubuhnya, puas hanya dengan makanan yang cukup untuk menghilangkan rasa lapar perutnya. Maka, ke mana pun ia akan pergi, ia hanya dengan membawa hal-hal ini.

Vasettha, demikianlah seorang bhikkhu merasa puas’

‘Setelah memiliki kelompok sila yang mulia ini, memiliki pengendalian terhadap indera-indera yang mulia ini, memiliki perhatian seksama dan pengertian jelas yang mulia ini, memiliki kepuasan yang mulia ini, ia memilih tempat-tempat sunyi di hutan, di bawah pohon, di lereng bukit, di celah gunung, di gua karang, di tanah-kubur, di dalam hutan lebat, di lapangan terbuka, di atas tumpukan jerami untuk berdiam. Setelah pulang dari usahanya mengumpulkan dana makanan dan selesai makan; ia duduk bersila, badan tegak, sambil memusatkan perhatiannya ke depan’.

  • ‘Dengan menyingkirkan kerinduan terhadap dunia, ia berdiam dalam pikiran yang bebas dari kerinduan, membersihkan pikirannya dari nafsu-nafsu.
  • Dengan menyingkirkan itikad jahat, ia berdiam dalam pikiran yang bebas dari itikad jahat, dengan pikiran bersahabat serta penuh kasih sayang terhadap semua makhluk, semua yang hidup, ia membersihkan pilkirannya dari itikad jahat.
  • Dengan menyingkirkan kemalasan dan kelambanan, ia berdiam dalam keadaan bebas dari kemalasan dan kelambanan; dengan memusatkan perhatiannya pada pencerapan terhadap cahaya (alokasanni), ia membersihkan pikirannya dari kemalasan dan kelambanan.
  • Dengan menyingkirkan kegelisahan dan kekhawatiran, ia berdiam bebas dari kekacauan; dengan batin tenang, ia membersihkan pikirannya dari kegelisahan dan kekhawatiran.
  • Dengan menyingkirkan keragu-raguan, ia berdiam mengatasi keragu-raguan; dengan tidak lagi ragu-ragu terhadap apa yang baik, ia membersihkan pikirannya dari keragu-raguan’.

‘Vasettha, sama halnya seperti seseorang, yang setelah berhutang, ia berdagang sampai berhasil, sehingga bukan saja ia mampu membayar kembali pinjaman hutangnya, tetapi masih ada kelebihan untuk merawat seorang istri. Lalu ia berpikir: “Dahulu aku berhutang dan berdagang sampai berhasil, sehingga bukan saja aku dapat membayar kembali pinjaman hutangku, tetapi masih ada kelebihan untuk merawat seorang istri”.

Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

‘Vasettha, sama halnya seperti seorang yang diserang penyakit, berada dalam kesakitan, amat parah keadaannya, tidak dapat mencerna makanannya, sehingga tidak ada lagi kekuatan dalam dirinya; namun setelah beberapa waktu ia sembuh dari penyakit itu, dapat mencerna makanannya sehingga kekuatannya pulih. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu aku diserang penyakit, berada dalam kesakitan, amat parah keadaanku, tidak dapat mencerna makananku, sehingga tidak ada lagi kekuatan dalam diriku; namun, sekarang aku telah sembuh dari penyakit itu, dapat mencerna makanan sehingga kekuatanku pulih’.

Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

‘Vasettha, sama halnya seperti seorang yang ditahan dalam rumah penjara, dan setelah beberapa waktu ia dibebaskan dari tahanannya, aman dan sehat, barang-barangnya tidak ada yang dirampas. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu aku ditahan dalam rumah penjara, dan sekarang aku telah bebas dari tahanan, aman dan sehat, barang-barangku tidak ada yang dirampas’.

Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’

‘Vasettha, sama halnya seperti seseorang yang menjadi budak, bukan tuan bagi dirinya sendiri, tunduk kepada orang lain, tidak dapat pergi ke mana ia suka; dan setelah beberapa waktu ia dibebaskan dari perbudakan itu, menjadi tuan bagi dirinya sendiri, tidak tunduk kepada orang lain, seorang yang bebas pergi ke mana ia suka. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu aku seorang budak, bukan tuan bagi diriku sendiri, tunduk kepada orang lain, tidak dapat pergi ke mana aku suka; dan sekarang aku telah bebas dari perbudakan, menjadi tuan bagi diriku sendiri, tidak tunduk kepada orang lain, seorang yang bebas, bebas ke mana aku suka’.

Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

‘Vasettha, sama halnya seperti seorang yang dengan membawa kekayaan dan barang-barang, melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tidak terdapat makanan melainkan banyak bahaya; dan setelah beberapa waktu ia berhasil keluar dari padang pasir itu, selamat tiba di perbatasan desanya, suatu tempat yang aman, tidak ada bahaya. Lalu ia berpikir: ‘Dahulu, dengan membawa kekayaan dan barang-barang, aku melakukan perjalanan di padang pasir, di mana tidak terdapat makanan melainkan banyak bahaya; dan sekarang aku telah berhasil keluar dari padang pasir itu, selamat tiba di perbatasan desaku, suatu tempat yang aman, tidak ada bahaya’.

Dengan demikian ia merasa gembira, bersenang hati atas hal itu’.

‘Vasettha, demikianlah selama lima rintangan-batin (panca nivarana) belum disingkirkan, seorang bhikkhu merasakan dirinya seperti orang yang berhutang, terserang penyakit, dipenjara, menjadi budak, melakukan perjalanan di padang pasir. Vasettha, tetapi setelah lima rintangan batin itu disingkirkan, maka seorang bhikkhu merasa dirinya seperti orang yang telah bebas dari hutang, bebas dari penyakit, keluar dari penjara, bebas dari perbudakan, sampai di tempat yang aman.

‘Apabila ia menyadari bahwa lima rintangan batin itu telah disingkirkan dari dalam dirinya, maka timbullah kegembiraan, karena gembira maka timbullah kegiuran (piti), karena batin tergiur, maka seluruh tubuh menjadi nyaman, maka ia merasa bahagia, karena bahagia, maka pikirannya menjadi terpusat.

Kemudian, setelah terpisah dari nafsu-nafsu, jauh dari kecenderungan-kecenderungan tidak baik, maka ia masuk dan berdiam dalam Jhana pertama; suatu keadaan batin yang tergiur dan bahagia (piti sukha), yang timbul dari kebebasan, yang masih disertai dengan pengarahan pikiran pada obyek (vitakka) dan mempertahankan pikiran pada obyek (vicara). Seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaan tergiur dan bahagia, yang timbul dari kebebasan; dan tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia itu, yang timbul dari kebebasan (viveka).

‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh cinta kasih (metta) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan keseluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan cinta kasihnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.

‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara tanpa kesulitan di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh cinta-kasih’.

‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

  • “Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh cinta kasih (metta) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan cinta kasihnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’
  • ‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh kasih-sayang (karuna) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan kasih-sayangnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.
  • ‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh empati (mudita) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan empatinya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.
  • ‘Kemudian ia mengembangkan batinnya dengan pikirannya yang penuh keseimbangan batin (upekkha) ke seperempat bagian dunia, ke setengah dunia, ke tigaperempat dunia dan ke seluruh dunia. Dengan demikian seluruh dunia, di atas, di bawah, di sekeliling dan di mana saja, ia secara terus menerus mengembangkan keseimbangan batinnya, hingga jauh, bertambah luas dan tak terterbatas’.

‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara – tanpa kesulitan – di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh kasih sayang’.

‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara – tanpa kesulitan – di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh empati’.

‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

‘Vasettha, bagaikan seorang peniup trompet besar memperdengarkan suara – tanpa kesulitan – di semua empat penjuru; begitu pula semua bentuk dan berbagai ukuran makhluk, tanpa salah satunya dikecualikan, namun dengan memperhatikan mereka semua dikembangkannya pikiran yang bebas dan penuh keseimbangan batin’.

‘Vasettha, inilah jalan untuk bersatu dengan Brahma’.

‘Vasettha, bagaimana pendapatmu, akankah bhikkhu yang hidup seperti itu memiliki istri dan kekayaan atau tidak?’

Pemuda Vasettha: ‘Ia tidak akan, Gotama’

Sang Bhagava: ‘Apakah ia akan dipenuhi kemarahan atau bebas dari kemarahan?’

Pemuda Vasettha: ‘Ia akan bebas dari kemarahan, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah ia akan diliputi kebencian atau bebas dari kebencian?’

Pemuda Vasettha: ‘Ia bebas dari kebencian, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah pikirannya akan ternoda atau suci?’

Pemuda Vasettha: ‘Pikirannya akan suci, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Apakah ia akan menguasai dirinya atau tidak akan?’

Pemuda Vasettha: ‘Ia akan menguasai dirinya, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, anda mengatakan bahwa bhikkhu itu bebas dari kehidupan berumah tangga dan keduniawian, dan Brahma bebas dari kehidupan berumah tangga dan keduniawian. Apakah ada persesuaian atau persamaan antara bhikkhu dan Brahma?’

Pemuda Vasettha: ‘Ya, Gotama’.

Sang Bhagava: ‘Vasettha, baiklah. Vasettha bila demikian, bhikkhu yang bebas dari kehidupan berumah tangga dan keduniawian bilamana meninggal dunia akan bersatu dengan Brahma, karena ada persamaannya – keadaan seperti mungkin terjadi’.

‘Vasettha, seperti yang anda katakan bahwa bhikkhu adalah bebas dari kemarahan, bebas dari kebencian, pikirannya suci dan menguasai dirinya; dan Brahma adalah bebas dari kemarahan, bebas dari kebencian, suci dan menguasai dirinya.

Vasettha, dengan demikian sesungguhnya bhikkhu yang bebas dari kemarahan. Bebas dari kebencian, pikiran suci dan dapat menguasai dirinya, bila ia meninggal dunia, ia dapat bersatu dengan Brahma, yang ada persamaannya – keadaan seperti ini mungkin terjadi’.

Setelah beliau berkata begitu, kemudian pemuda Brahmana Vasettha dan Bharadvaja berkata kepada Bhagava: ‘Mengagumkan kata-kata yang diucapkan Gotama. Menakjubkan! Bagaikan orang yang menegakkan benda yang tergeletak, atau menemukan apa yang tersembunyi, atau menunjukkan jalan yang benar bagi mereka yang tersesat, atau menerangi tempat yang gelap sehingga orang yang mempunyai mata dapat melihat benda; – begitu pula, Gotama telah membabarkan dhamma kepada kami dalam banyak cara..[..]

    Note:
    Kisah bentuk lain yang hampir serupa dapat dilihat di Canki Sutta

***

Sebagai penutup artikel, berikut di bawah ini adalah kisah sekumpulan orang buta sejak lahir yang berusaha menjelaskan bentuk gajah.

Pada jaman Sang Buddha, terdapat sejumlah pertapa dan brahmana, pengembara dari berbagai macam aliran, yang hidup di sekitar Savatthi [Sravasti, Sekarang Uttar Pradesh, India Utara dengan batas utara adalah Nepal]. Mereka mempunyai berbagai pandangan, berbagai kepercayaan, berbagai pendapat, dan mereka menggantungkan dukungan mereka dari berbagai pandangan mereka itu.

Beberapa brahmana dan pertapa yang memastikan dan berpegang pada pandangan ini: “Dunia ini kekal; hanya ini yang benar, dan (pandangan) lainnya salah.”

Beberapa pertapa dan brahmana yang bersikeras: “Dunia ini tidak kekal; hanya ini yang benar, (pandangan) lainnya salah.”

Beberapa yang bersikeras:

“Dunia ini terbatas;….. Dunia ini tidak terbatas; ….. Jiwa kehidupan dan tubuh itu sama; ….. Jiwa kehidupan dan tubuh itu berbeda; …. Sang Tathagata ada di luar jangkauan kematian; ….. Sang Tathagata ada tetapi tidak berada di luar jangkauan kematian; ….. Sang Tathagata ada dan sekaligus tidak ada di luar jangkauan kematian; ….. Sang Tathagata bukannya ada dan bukannya tidak ada di luar jangkauan kematian; hanya ini yang benar, dan (pandangan) lainnya salah.”

Dan mereka, hidup bertengkar, penuh perselisihan dan penuh percekcokkan, saling menyakiti dengan ucapan-ucapan kasar, dengan mengatakan:

“Dhamma [Dharma = Ajaran, Kebenaran] adalah seperti ini, Dhamma tidak seperti itu! Dhamma tidak seperti ini, Dhamma seperti itu!”

    Note:

    • “tathāgata” adalah julukan lain dari Sang Buddha (selain dari: sang Bhagava, Jina, dll). berasal dari kata: “tathā” (bahkan, juga, kemudian) + “gata” (pergi, sampai) atau juga “tatha” (benar, nyata) + “a” (tidak) + “gata” (pergi, sampai) yang arti literalnya adalah “Ia yang sudah sampai” atau “Ia yang nyata tidak (lagi) pergi/sampai (tumimbal lahir)”
    • Tentang ‘Jiwa’, Mahavira, Tīrthaṇkara ke-24, [Jina, julukan seorang pemenang/yang tercerahkan dalam Jainisme] berpandangan bahwa:

      “Jiwa adalah permanen dan juga tidak permanen. Dari sudut pandang substansinya maka Jiwa adalah permanen. Dari sudut pandang perubahannya bergantung dari kelahiran, lapuk/tua dan kehancuran maka jiwa adalah tidak permanen” [Vyākhyāprajñapti/Bhagvatisūtra, 7:58–59]

Berkenaan dengan hal tersebut di atas, Sang Buddha yang ketika itu berada di Hutan Jeta, di Vihara Anathapindika, di hadapan para Bikkhu menceritakan satu kisah:

“Dulu, O, bhikkhu, ada seorang raja di Savatthi ini juga memerintahkan seorang pengawal: ‘Pengawal yang baik, bawalah semua orang di Savatthi yang buta dari lahir.’

“Ya, Yang Mulia,” jawab laki-laki itu, dan sesudah menahan semua orang buta di Savatthi, dia mendekati Raja dan berkata, ‘Semua orang buta di Savatthi sudah dikumpulkan, Yang Mulia.'”

“Sekarang, tunjukkanlah pada orang-orang buta itu seekor gajah.”

“Baiklah, Yang Mulia,” laki-laki itu menjawab Sang Raja, dan dia membawa seekor gajah ke hadapan orang-orang buta itu, dengan mengatakan, ‘Hai, orang-orang buta, ini adalah seekor gajah.’

“Pada beberapa orang buta, laki-laki itu memberikan kepala Sang Gajah, dan mengatakan, “Ini adalah seekor gajah.”

Kepada beberapa yang lain dia menghadapkan telinga gajah itu dan mengatakan, “Ini adalah seekor gajah.”

Bagi beberapa dia menghadapkan gadingnya ….. belalainya ….. tubuhnya ….. kakinya …..bagian belakangnya ….. ekornya …… rambut di ujung ekornya, dan mengatakan, “Ini adalah seekor gajah.”

“Kemudian, O, bhikkhu, sesudah menunjukkan gajah kepada orang-orang buta, laki-laki itu menghadap Sang Raja dan berkata, ‘Orang-orang buta itu sudah mengenali gajah, Yang Mulia. Lakukanlah sekarang apa yang Baginda pikir cocok.’

Kemudian Raja mendekati orang-orang buta itu dan berkata, ‘Apakah kalian sudah mengenali gajah?’

“Ya Baginda, kami sudah mengenal gajah.”

“Beritahukan padaku, hai orang-orang buta, seperti apakah gajah itu?”

Orang-orang buta,

  • yang sudah memegang kepala gajah menjawab, ‘Baginda, seekor gajah adalah seperti tempayan air.’
  • yang sudah memegang telinga gajah menjawab, ‘Seekor gajah, baginda, adalah persis seperti keranjang penampi.’
  • yang memegang gading gajah menjawab, ‘Baginda, seekor gajah adalah seperti mata bajak;
  • yang sudah memegang belalainya menjawab, ‘Seekor gajah, baginda, adalah seperti tiang bajak.’
  • yang sudah memegang tubuhnya menjawab,’Seekor gajah, baginda, adalah seperti ruangan penyimpan.’
  • yang sudah memegang kakinya menjawab, ‘Seekor gajah, baginda, seperti sebuah tiang.’
  • yang sudah memegang bagian belakangnya menjawab,’Seekor gajah, baginda, adalah seperti lesung.’
  • yang sudah memegang ekornya menjawab, ‘Baginda, seekor gajah adalah seperti sebuah alat penumbuk.’
  • yang sudah memegang rambut di ujung ekornya menjawab, ‘Seekor gajah, baginda, adalah seperti sebuah sapu.’

“Dengan mengatakan, ‘Seekor gajah adalah seperti ini, seekor gajah tidak seperti itu! Seekor gajah tidak seperti ini, seekor gajah adalah seperti itu!’

Mereka saling berkelahi dengan tinju-tinju mereka. Dan raja itu sangat gembira (melihat pemandangan itu).”

“Demikian pula, O, bhikkhu, para pengembara dari berbagai aliran itu juga buta, tidak melihat ….. dengan mengatakan:

‘Dhamma adalah seperti ini! …. Dhamma adalah seperti itu!’ “

Kemudian, Sang Bhagava mengungkapkan kotbah inspirasi ini:

Beberapa pertapa dan brahmana, demikian mereka disebut, Sangat terikat pada pandangan-pandangan mereka sendiri;
Orang yang hanya melihat hal-hal dari satu sisi Terlibat pertengkaran dan perselisihan

    Note:
    Sumber kisah di atas dari Tipitaka Udana 6.4.
    Dalam versi Jainisme, kisah ini ada dalam kitab Tattvarthaslokavatika, karangan Vidyanandi [Abad ke-9 M] dan Kitab Syādvādamanjari, karangan Ācārya Mallisena [Abad ke-13 M], yang dalam kisahnya bukan seorang raja namun seorang bijak dengan 6 orang buta, tentang Anekāntavāda [Tergantung persepsi] dan Syādvāda [ada persyaratan]: Kebenaran dan kenyataan punya banyak sudut pandang, tidak ada satu sudut pandangpun yang benar-benar secara utuh dapat menyatakan kebenaran. Kenyataan adalah sesuatu yang kompleks, tidak dapat dinyatakan dalam satu ekspresi tunggal untuk menggambarkan realitas seutuhnya sehingga terminologi “syāt” [mungkin/bisa jadi] seharusnya dipergunakan mendahului suatu pandangan yang memiliki suatu kondisi tertentu. Seorang semi biarawati Jainisme yaitu [Samani] Charitra Pragya, mengatakan, “Bahkan seorang Tīrthaṇkara yang memiliki pengetahuan tak terbatas-pun, tidak dapat secara utuh mengekspresikan realita karena terbatasnya bahasa yang merupakan ciptaan manusia

    Dalam versi Hindu, dikisahkan oleh Ramakrishna Paramahamsa [abad ke-18]. Sementara dalam versi Islam, kisah orang buta dan Gajah dikisahkan para sufi Persia abad ke-12 M yang bernama Hakim Abul-Majd Majdūd ibnu Ādam Sanā’ī Ghaznavi dan yang di abad ke-13 M oleh Jalāl ad-Dīn Muḥammad Rūmī.

Dunia ini dipenuhi orang-orang buta asal-usul ajaran namun berlagak melek dan menjadikan pengikutnya percaya membabi-buta.


Vegetarian, Makanan Religius? Bukan! Ia Cuma Pilihan Selera Makan..Ngga Lebih Dari Itu!


Sayur dan buah jelas bermanfaat bagi kesehatan namun entah mengapa sekelompok orang gemar sekali membonceng issue global warming dan mengkampanyekan vegetarian sebagai cara paling ampuh untuk menyelamatkan Bumi.

Di artikel sebelumnya sudah kita bedah bahwa ternyata global warming sendiri merupakan bagian dari siklus alam.

Disamping issue global warming, kelompok inipun gemar menggunakan pendekatan keagamaan dengan embel-embel vegetarian lebih suci daripada makanan lainnya [daging] namun inipun hanyalah kedok yang menyesatkan berbalut kepentingan bisnis/aliran semata.

Vegetarian mempunyai sejarah panjang dan telah ada sebelum tahun masehi. Sebelum tahun 1847, kata ‘Vegetarian’ tidaklah dikenal. Mereka yang tidak makan daging disebut sebagai ‘Pythagorean’ atau kelompok aliran Pythagoras.

Istilah vegetarian, pertama kali diproklamirkan oleh Joseph Brotherton dan rekan dihadapan Masyarakat Vegetarian Inggris, Northwood Villa, Kent, Inggris, pada tanggal 30 September 1847.

Vegetarian berasal dari bahasa Latin ‘vegetus’ yang artinya keseluruhan, sehat, segar, hidup. Definisi ‘vegetarian’ menurut Vegetarian Society yang masih digunakan hingga kini adalah hidup dengan mengkonsumsi padi, biji, kacang-kacangang, sayuran dan buah dengan/tanpa susu dan telur atau produk olahannya. Kemudian, definisi vegetarian mengalami diversifikasi, sebagai berikut:

  • Pesco/pollo vegetarian (semi-vegetarian), tidak mengkonsumsi daging merah namun masih mengkonsumsi daging tertentu misalnya daging ayam dan ikan [kelompok daging putih]
  • Lacto-ovo vegetarian, tidak mengkonsumsi daging merah dan putih namun masih mengkonsumsi telur dan produk susu. Yang mengkonsumsi susu dan menghindari telur disebut lacto-vegetarian, sedangkan yang mengkonsumsi telur dan menghindari susu disebut ovo-vegetarian.
  • Vegan [Vegetarian murni] hanya mengkonsumsi biji-bijian, kacang-kacangan, sayur-sayuran dan buah-buahan tidak mengkonsumsi produk hewani termasuk gelatin, keju, yogurt. Mereka juga menghindari madu, royal-jeli dan produk turunan serangga.

    Beberapa Vegan bahkan tidak memakan bawang. Aliran Advent masih membolehkan minum anggur. Sebagian dari vegan juga tidak menggunakan produk hewani seperti kulit hewan ataupun kosmetik yang mengandung produk hewani.

    Kata Vegan merupakan pemotongan kata Vegetarian yang diperkenalkan pertamakalinya oleh Donald Watson saat mendirikan Vegan society di Inggris pada tahun 1 November 1944. Tanggal itu kemudian dijadikan tanggal peringatan World Vegan Day

    Definisi Vegan, selain yang telah disebutkan di atas masih memiliki kekhususan, yaitu:

    • Fruitarian, juicetarians, mengkonsunsi buah-buahan tidak termasuk sayuran. Ada yang menolak makan buah2an yang berisi biji, itu termasuk menolak memakan biji/benih lainnya. Ada yang hanya memakan buah yang jatuh ke tanah saja (tidak dipetik/dicabut [misalnya umbi2an]).

      Alasan tidak memakan buah yang bersisi biji, biji2an, termasuk memetik/mencabut karena dianggap melakukan pembunuhan juga. Ajaran ini berasal dari Jainisme. Mahatma Gandhi pernah 5 tahun berpola hidup frutarian namun kemudian berhenti karena diare.

    • Raw Vegetarian, hanya memakan sayuran dan tumbuhannya namun tidak dimasak [walaupun sebagian membolehkan dimasak asal tidak lebih dari 46/48 °C (115/118 °F)]

Asal-Usul Vegetarian
Yunani kuno dan Romawi kuno memuja banyak Dewa-Dewi. Apollo adalah salah satunya [sekitar 1100 SM], Ia merupakan dewa dengan banyak gelar, di samping sebagai dewa cahaya, matahari, kebenaran, ramalan, obat dan pengobatan, kesehatan, puisi dan lainnya ia juga merupakan ksatria penakluk musuh yang hebat. Lambang Apollo adalah panah dan Gendewa.

Pada saat perayaan, kurban binatang dipersembahkan di kuil Dewa Apollo hingga kemudian Phytagoras (570-c. 495 BC) mempersembahkan tumbuhan dan wewangian di kuil itu. Sejak itulah Kuil Dewa Apollo di Delos, melakukan upacara kurban persembahan tanpa daging dan Raja Yunani pun meresmikan ritual vegetarian sebagai bagian dari agama yunani.

Persembahan kepada Dewa Apollo berupa daun salam. persembahan daun itu sebagai tanda peringatan kisah Apollo & Daphne, yaitu kisah kegagalan Apollo mempersunting Bidadari cantik bernama Daphne. Kisah ini bermula karena penghinaan Appolo pada senjata milik Cupid, sang dewa Asmara. Cupid kemudian menembak Daphne dengan panah timbal [untuk membenci] dan menembak Apolo dengan panah emas [untuk mencintai]. Ini kemudian membuat Daphne membenci Apollo. Appolo pernah tidak putus asa, Ia terus mengejar dan memohon Daphne untuk bersedia menjadi istrinya. Kadang pengejaran ini menjadi lomba lari.

Saat ketika Appolo hampir dapat menawan Daphne. Sang Bidadari itu berteriak memohon pertolongan ayahnya, Dewa Pheneus, membukakan tanah agar ia bisa sembunyi atau merubah bentuknya supaya tidak dikenali dan lolos dari Apollo. Permohonan itu rupanya terkabul, tiba-tiba tangan Daphne berubah menjadi bercabang dan berdaun. Ia tidak bisa berlari karena kakinya masuk ke dalam tanah dan menjadi akar. Bahkan ketika menjadi pohonpun ia tetap masih menjauhi Apollo, yang ketika itu tengah berduka atas apa yang terjadi. Apollo kemudian menganugerahinya keabadian dan menyatakan bahwa daun pohonnya kelak akan selalu digunakan sebagai mahkota bagi para pemenang. Hingga kini daun salam dikenal daun yang tidak busuk.

Phytagoras adalah seorang filsuf Yunani. Setelah Cambyses [Kambūjiya, persia lama] menginvasi Mesir, selama 22 tahun Phytagoras belajar bersama para Magi tentang rahasia Chaldean, Ia kemudian ke Persia dan setelah itu ke India, tempat dimana para Jainis dan Buddhis berkembang pesat. Phytagoras datang ke India sebagai murid namun pulang sebagai guru yang dikenal sebagai Yavanacharya, “Guru dari Ionian”. Salah satu ajarannya yaitu pola hidup vegetarian. [NOTE: Yavana juga merujuk pada arti semua bangsa-bangsa non India dan belum tentu berarti Yunani, menurut definisi kitab Gautama Dharmasutra: kaum Yavana adalah semua yang Ayahnya Ksatriya dan Ibunya Sudra]

Namun menurut Voltaire (The Philosophy of History p. 527), Para Yunani kerap bepergian ke India sebelum Pythagoras melakukan itu. Tak heran jika kemudian sekumpulan orang yaitu: Richard Garbe (Philosophy of Ancient India, pp. 39 ff), Colebrooke (Miscellaneous Essays, i. 436 ff.), Sir William Jones (Works, iii. 236), Professor Maurice Winternitz (Visvabharati Quarterly Feb. 1937, p. 8),Hopkins (Religions of India, p. 559 and 560) and Macdonell (Sanskrit Literature, p. 422) menyatakan bahwa ajaran-ajaran dari Thales, Pythagoras, Socrates dan Plato [Ajaran Orphic, Pythagoras, Neo-Platonism, Stoicisme] memiliki banyak kesamaan dengan aliran tradisi India [Samkhya, Upanisad dan Buddhisme]

[Sumber: Professor H. G. Rawlinson, Legacy of India 1937, p. 5; ON HINDUISM Reviews and Reflections, RAM SWARUP, Forward by DAVID FRAWLEY; Apollonius of Tyana, by G.R.S. Mead; Phytagoras; ARCHAIC HISTORY; Eastern Religions and Western Thought, Dr. Sarvepalli Radhakrishnan p. 143; In Search of The Cradle of Civilization: New Light on Ancient India, George Feuerstein, Subhash Kak & David Frawley p. 252]

Jika praktik hidup vegetarian adalah berasal dari india, maka ajaran India manakah yang saat mendukung praktek vegetarian?

Hindu:
Di website ini anda akan temukan eksploitasi paksa sloka-sloka Veda yang dianggap sebagai larangan mengkonsumsi daging dan pembantaian binatang namun ternyata di kitab Veda yang sama, berserakan pula sloka-sloka yang mendukungan aktivitas persembahan dan mengkonsumsi daging. Berikut beberapa sample slokanya:

    Rig Veda:
    [..]Vrsakapayi yang makmur, yang diberkati dengan putra2 dan menantu2, Indra akan menerima [makan] banteng-bantengmu, persembahan mulia dan tulus darimu. Indra adalah yang tertinggi dari semuanya. Lima belas jumlahnya, kemudian, untukku sejumlah sapi mandul telah disajikan mereka, karenanya ku pilih [u/ di telan] yang gemuk daripadanya: mereka telah memenuhi perut ku dengan makanan.[..][RV 10.86.13-14]

    [..]Pujian bagi yg wafat kan ku lantunkan dihadapannya. Tetua yang menyukai ini, semoga ia dengar pujian kita. Semoga menggapai dekat hatinya dan tergerak karena cinta, bagai pemudi yang berhias rapi ketika berada dekat pujaannya. Ia yang padanya kuda-kuda, banteng-banteng, sapi-sapi dan biri-biri, sebagaimana mestinya tersusun, dipersembahkan -pada agni, sari soma, peminum sari buah, pemberi, dengan tulus kubawakan pujian ini [..][RV 10.91.13-14]

    Ritual Veda Gaomeda, atau ritual dengan mempersembahkan sapi, merupakan ritual standar upacara seperti Raja surya dan/atau Ashwameda yang diakhiri dengan pemotongan kuda jantan. Gambaran ritual yang agak berlumur darah itu dapat dilihat di RV 1.162.9-22

    Brahmanas:
    Menyalakan api menyambut kedatangan beberapa raja adalah sebanding dengan memotong banteng atau sapi menyambut seorang raja atau orang terhormat lainnya [Aiteriya Brahmana, 1.15],

    Penghormatan pada Rsi Agastya dilakukan dengan memotong ratusan banteng [Taiteriya Brahmana, II.1.11.1; Panchavinsha Brahmana,XXXI.14.5]

    Yajnavalkaya sang bijaksana menyatakan jikapun sapi adalah pembantu bagi banyak orang, Ia akan memakan dagingnya jika itu lezat. [Satapatha Brahmana,III.1.2.21]

    Sapi dapat dipotong untuk beberapa persembahan, bukan hanya untuk keperluan religi, namun juga jika seorang memotongnya dan memakan dagingnya [Satapatha Brahmana, IV.5-2.1]

    Banteng dan kambing gemuk dapat di korbankan untuk menghormati tamu penting [Satapatha Brahmana, II.4.2 of the same Brahmana]

    Upanisad:
    Pasangan muda dapat makan malam daging sapi atau anak lembu tertentu jika mereka menginginkan anak lelaki sebagaimana yang disebutkan di kitab-kitab veda [Brihadaranyaka Upanishada (VI.4.18), Robert Trumbull, As I see India, London, 1957, p. 241].

    Jika seorang laki-laki berharap bahwa seorang putra terlahir baginya dan kelak menjadi seorang pelajar terkenal, seringlah berkata-kata baik, murid dari semua Veda dan yang menyukai hidup yang baik, Ia seharusnya memasak nasi dengan lauk sepotong daging banteng muda, atau bagi yang berusia lanjut, Ia dan istri seharusnya makan itu dengan mentega yang disaring. kemudian mereka akan mendapatkan anak seperti yang diharapkan [Brhadaranyaka Upanishad 6.4.18]

    Purana:
    Alaminya, buah-buahan dan bunga adalah makanan bagi serangga dan burung; Rumput dan mahluk-mahluk tanpa kaki adalah makanan bagi binatang berkaki emapt seperti sapi dan kerbau; Binatang yang tidak dapat menggunakan kaki depannya sebagai tangan adalah makanan bagi binatang seperti macan yang mempunyai cakar; dan binatang berkaki empat seperti rusa-rusa dan kambing-kambing juga beras adalah makanan bagi manusia [Srimad Bhagavatam/Bhagavata Purana, 6.4.9]

    Beberapa daging seyogyanya selalu dipertimbangkan sebagai dharmic bahkan di jaman kali yuga sekalipun:

      Kemudian, Vikuksi, anak raja Iksvaku pergi ke hutan dan membunuh banyak binatang yang cocok untuk persembahan. Namun ketika lelah dan lapar ia lupa dan memakan seekor kelinci yang telah dibunuhnya. Vikuksi menawarkan sisa-sisa buruannya pada Raja Iksvaku, yang kemudian memberikannya pada Rsi Vasistha untuk diberkati. Namun Vasitha mengetahui bahwa sebagian dari daging itu telah diambil oleh Vikuksi oleh karenanya ia katakan bahwa pemberian ini tidak pantas untuk upacara Sradha [Srimad Bhagavatam/Bhagavata Purana, 9.6.7-8].

      Sehubungan dengan ayat di atas, Pendiri sekte Gaudiya Vaisnawa yang juga merupakan Tuhan dari aliran Hare Krishna, yaitu Sri Caitanya Mahaprabhu [1486 M – 1534 M)mengatakan,

        “[..]Secara keseluruhan memakan daging tidaklah sepenuhnya dilarang; sekelompok kelas manusia diperbolehkan makan daging menurut beberapa kondisi tertentu. Sejauh pertimbangan pada makan daging, makan sapi dilarang, kemudian di Bhagavad Gita, Krishna secara personal menyatakan pada go-raksyam, pelindung sapi. Pemakan daging, menurut keadaan kalian dan juga sastra, di perbolehkan makan daging namun bukan daging sapi. Sapi mesti diberikan perlindungan[..]”

    Jika seseorang [tidak sengaja] makan binatang berkuku lima, TERKECUALI kelinci, landak, iguana (sej.biawak), badak, dan kura-kura darat, ia harus berpuasa tujuh hari lamanya. [Vaisnava dharmasastra from Visnu-smrti 51.6]

    Itihasa:

      Ramayana:
      ‘Hanya lima diantara semua binatang yang bercakar/jari lima dapat di makan oleh para Brahmana dan Ksatriya, Raghava: Landak, sejenis landak, kadal, kelinci dan yang kelima adalah kura-kura [Ramayana 4:17:34]

      Rama, Lakshmana dan Sitha mengunjungi Petapa Suthikshna dipertapaannya. Sang petapa prihatin karena Rama berburu banyak sekali rusa yang ada di pertapaan. Rama berjanji tidak akan membunuh rusa yang menyebabkan sang petapa tersinggung [Aranyakanda Canto VII:13-24]

      Mahabharata:
      Diskusi antata Raja Dharma Yudhishthira dan Bisma mengenai makananan apa yang seharusnya dipersembahkan pada Leluhir selama perayaan kematian agar mereka puas.

      Variasi suguhan yang berasal dari tumbuh2an hanya menyenangkan leluhur 1 bulan lamanya, kemudian suguhan daging bervariasi dari 2 bulan hingga tak terhingga waktunya.

      Suguhan yang terhingga adalah dengan menyuguhkan daging badak dan terlebih lagi bila menyuguhkan daging kambing merah. Berikut kutipan percakapannya:

        Yudhishthira said, “O thou of great puissance, tell me what that object is which, if dedicated to the Pitiris (dead ancestors), become inexhaustible! What Havi, again, (if offered) lasts for all time? What, indeed, is that which (if presented) becomes eternal?”

        “Bhishma said, “Listen to me, O Yudhishthira, what those Havis are which persons conversant with the rituals of the Shraddha (the ceremony of dead) regard as suitable in view of Shraddha and what the fruits are that attach to each.

        • With sesame seeds and rice and barely and Masha and water and roots and fruits, if given at Shraddhas, the pitris, O king, remain gratified for the period of a month.
        • With fishes offered at Shraddhas, the pitris remain gratified for a period of two months.
        • With the mutton they remain gratified for three months and
        • with the hare for four months,
        • with the flesh of the goat for five months,
        • with the bacon (meat of pig) for six months, and
        • with the flesh of birds for seven.
        • With venison obtained from those deer that are called Prishata, they remaingratified for eight months, and
        • with that obtained from the Ruru for nine months, and
        • with the meat of Gavaya for ten months,
        • With the meat of the bufffalo their gratification lasts for eleven months.
        • With beef presented at the Shraddha, their gratification, it is said , lasts for a full year. Payasa mixed with ghee is as much acceptable to the pitris as beef.
        • With the meat of Vadhrinasa (a large bull) the gratification of pitris lasts for twelve years.
        • the flesh of rhinoceros, offered to the pitris on anniversaries of the lunar days on which they died, becomes inexhaustible.
        • The potherb called Kalaska, the petals of kanchana flower, and meat of (red) goat also, thus offered, prove inexhaustible.
        • So but natural if you want to keep your ancestors satisfied forever, you should serve them the meat of red goat.[Anushashan Parva chapter 88]

    Manusmriti
    Yang kesehariannya memakan makanan yang diperuntukkan baginya sebagai makanan, tidak melakukan dosa apapun; Bagi Pencipta, Ia menciptakan keduanya pemakan dan makanan yang mereka makan(5:30)

    Ia yang memakan daging, ketika ia menghormati Para dewa dan..tidak melakukan dosa, apakah ia yang membawanya sendiri, atau membunuhnya sendiri, atau menerimanya dari orang lainnya [5:32]

    Seorang lelaki, yang berada pada kondisi tertentu [sedang memimpin, atau makan malam di satu upacara suci] menolak memakan daging, setelah kematiannya Ia akan terlahir menjadi binatang selama 21 kehidupan [5:35]

    Tumbuh-tumbuhan bumbu, Pohon, Lembu, Burung-Burung, dan binatang lainnya yang dibinasakan sebagai persembahan, dilahirkan di alam yang lebih baik [5:40]

    Seorang Ksatria, yang mengerti Veda dengan sebenarnya, membunuh binatang untuk tujuan ini [upacara], menyebabkan dirinya dan juga binatang itu diberkati [5:42]

    Tidaklah berdosa memakan daging, meminum alkohol, dan melakukan aktivitas seksual, karena itu alami bagi mahluk yang diciptakan, namun juga abstain dari ganjaran besar(5:56)

    Manawa dharmasastra
    Yajnya artham braahmanairwadhyaah
    Prasastaa mrigapaksiinah.
    Bhrityaanaam caiwa writtyartham
    Agastyo hyaacaratpuraa. (V.22).

    Hewan-hewan dan burung-burung yang dianjurkan boleh dimakan, dapat disembelih oleh para brahmana sepanjang untuk upacara yadnya dan juga diberikan kepada mereka yang patut diberikan. Karena Resi Agastia pun melakukan itu pada zaman dulu.

    Komentar Adi Sankaracharya [788 M – 821 M] di Bhagavad Gita, bab 17.7-10, tentang klasifikasi makanan ke dalam Triguna: Satvam, rajas dan tamasika. Bahkan Daging-dagingan-pun TIDAK MASUK ke kategori RAJASA ataupun TAMASIKA!. Berikut di bawah ini adalah cuplikan sloka BhagavadGita-nya:

      17-8
      ayuh-sattva-balarogya-
      sukha-priti-vivardhanah
      rasyah snigdhah sthira hrdya
      aharah sattvika-priyah

      Makanan yang meningkatkan kehidupan, kekuatan, vitalitas, kesehatan, kegembiraan dan kesenangan, yang terasa lezat, lembut, menyegarkan dan enak, disukai oleh para sattvika.

      17-9
      katv-amla-lavanaty-usna-
      tiksna-ruksa-vidahinah
      ahara rajasasyesta
      duhkha-sokamaya-pradah

      Makanan yang pahit, masam, asin, pedas, kebanyakan rempah-rempah (bumbu), keras dan hangus, yang menyebabkan penderitaan dan penyakit serta kesusahan, disukai oleh kaum rajasa.

      17-10
      yata-yamam gata-rasam
      puti paryusitam ca yat
      ucchistam api camedhyam
      bhojanam tamasa-priyam

      Makanan yang basi, kehilangan rasa, busuk, berbau, bekas sisa dan tidak bersih adalah yang disukai para tamasa.


Jadi, mulai dari Ibu semua Veda, yaitu Rig Veda hingga kepada komentar Adi sankaracharya di Bhagavad Gita memberikan satu kesimpulan yaitu mengkonsumsi daging merupakan hal yang wajar dan praktek Vegetarian BUKANLAH suatu keharusan di Hinduisme. [Bacaan lebih lanjut: “Untouchability, The Dead Cow And The Brahmin“]

Srila Prabhupada [Pendiri ISKCON atau gerakan hare krishna, pada tahun 1965, Boston, Amerika Serikat] pernah berkata

“Terkecuali bahwa, sejauh urusan makan daging, semua sapi akan mati, jadi engkau hanya perlu menunggu sebentar, dan akan tersedia begitu banyak bangkai sapi. Kemudian engkau dapat ambil semua bangkai sapi itu dan memakannya.

Jadi, bagaimana mungkin ini merupakan usulan buruk?

Jika engkau katakan, “Engkau melarang kita untuk makan daging”.

Tidak, Kami tidak melarangmu. Kami sederhananya hanya memintamu “Jangan membunuh. Ketika sapi itu telah mati. Engkau dapat memakannya” [Journey of Self Discovery]

Dalam kesempatan lainnya yaitu ketika Prabhupada meminta Harikesh menjalankan misi “menggalang domba” [baca: Dakwah] di Rusia, Harikesh berkata, “Mereka cuma makan daging”.

Prabhupada memjawab, “Ya Makan daginglah”. [di ambil dari, ‘Thirty Five Years In Mayapur’]

    Srila Prabhupahada dan Hare Krishna-nya, walaupun banyak menggunakan atribut-atribut Hindu, Ia menolak di kategorikan Hindu. Dalam suatu kesempatan, Ia pernah mengatakan bahwa Hindu sebagai sumber keruntuhan moral dan mengatakan di ceramah-ceramahnya tahun 1967, di New York dia berkata, “Sekalipun memunculkan para sarjana, sanyasin, grihasta dan swami besar, apa yang disebut pengikut agama Hindu semuanya tidak berguna, cabang-cabang kering dari agama Veda.”

    Dalam satu wawancara yang diberikan untuk Bhavan’s Journal tanggal 28 Juni, 1976, dia berkata, “India, mereka telah membuang sistem agama yang sesungguhnya, Sanatana Dharma. Secara takhyul, mereka menerima satu agama campur aduk (a hodgepodge thing) yang disebut Hinduisme. Karena itulah muncul kekacauan.”

    Namun ketika aliran ini mendapatkan kesulitan di Inggris dan di Rusia misalnya ketika menghadapi perkara atas gedung ‘Bhaktivedanta Manor’ di Inggris atau ketika dituntut oleh orang Kristen di Russia dan Polandia (yang menganggap Hare Krishna hanyalah gerakan ‘cult’ dan meminta agar pemerintah melarang mereka). Dalam permohonan kepada hakim dan pemerintah, kata Hindu dipergunakan secara terbuka.

    Dalam kasus-kasus hukum yang lain, termasuk kasus di Mahkamah Agung Amerika Serikat, Hare Krishna berusaha menangkis label “cult” dengan menyatakan dirinya sebagai satu sampradaya Hindu tradisional, dan meminta orang-orang Hindu yang lain untuk menguatkan hal ini di pengadilan.

    Dibali saja organisasi ini sering mengajukan permohonan kepada masyarakat dan pengusaha Hindu untuk bantuan keuangan bagi program sosial dan politik mereka untuk melidungi Hare Krishna dari pelecehan dan tuntutan. [Sekilas Hare Krishna; Juga lihat ini: Krishna/ISKCON]


Tulisan di atas, menunjukan satu indikasi kuat bahwa bagi aliran Hare Krisna, Vegetarian masih bisa di kompromikan guna keperluan-keperluan tertentu dan bukan sebuah syarat mati.

Buddhisme:
Apakah Buddhisme mendukung Vegetarianisme? Tidak. Dari seluruh jenis praktek dhutaṅga (praktek pemurnian atau praktek membersihkan kekotoran mental) yang diajarkan sang Buddha kepada umat awam dan para bhikkhu/bhikkuni-nya (yang tinggal di bawah pohon/hutan maupun pemukiman), berupa praktek 3 latihan:

  1. Melepas/berderma (kekayaan, makanan, pakaian, tempat tinggal, obat-obatan, dll)
  2. Moralitas berupa latihan dengan 5 sila, 8 sila 10 sila dan untuk bhikkhu 227 sila dan
  3. Meditasi (memusatkan pikiran, memperhatikan yang seharusnya diperhatikan, tidak memperhatikan yang tidak selayaknya diperhatikan). [Detail lainnya lihat: Ringkasan Ajaran Buddha]

Maka vegetarian tidak termasuk dalam faktor dhutaṅga. Ini artinya vegetarian BUKANLAH faktor untuk mengakhiri penderitaan

Di Vinaya Pitaka (aturan kebhikkhuan) akan kita temukan 5 jenis makanan yang dapat didanakan kepada para bhikkhu/ni, yaitu: nasi (odano), bubur beras (kummāso), rebusan makanan terbuat dari terigu (sattu), ikan (maccho), dan daging (maṃsaṃ). Juga 9 jenis makanan yang lebih istimewa, yang terbuat dari: mentega cair, mentega segar, minyak, madu, sirup gula, ikan, daging, susu, dan dadih. Ke-9 jenis makanan tersebut umumnya ditemukan di kalangan keluarga kaya dan mereka juga mendanakannya kepada para bhikkhu. Para Bikkhu dikatakan melanggar vinaya jika dengan sengaja meminta makanan tersebut Diantara makanan yang berdaging yang disebutkan di atas, Sang Buddha menganjurkan untuk tidak makan 10 jenis daging, yaitu: daging manusia, daging gajah, daging kuda, daging anjing, daging ular, daging singa, daging harimau, daging macan tutul, daging beruang, dan daging serigala atau hyena (Mahavagga Pali, Vinaya Pitaka, Vol.III.58)

Alasan seorang Bhikkhu dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi 10 macam daging tersebut dijelaskan dalam kitab komentar Vinaya (Samattpasadika): Daging manusia tidak seharusnya dimakan karena berasal dari spesies yang sama. Daging gajah dan kuda tidak seharusnya dimakan karena mereka adalah peliharaan dari seorang raja. Sedangkan daging anjing dan ular dikarenakan mereka termasuk jenis hewan yang menjijikkan, kelompok terakhir adalah singa, harimau, dan sebagainya, tidak seharusnya dimakan karena mereka tergolong binatang berbahaya dan jika dimakan bau daging binatang tersebut bisa membahayakan para bhikkhu yang bermeditasi di hutan.

Di Seluruh Tipitaka akan kita temukan bahwa Sang Buddha dan para Bikkhu/ni-nya juga makan daging, misalnya di kisah ini:

Pada suatu ketika, di sebuah hutan, segerombolan perampok membunuh seekor sapi untuk dimakan. Pada saat yang sama, di hutan itu seorang bhikkhuni arahat bernama Uppalavamna sedang duduk bermeditasi di bawah pohon. Ketika melihat bhikkhuni tersebut, kepala gerombolan perampok menganjurkan anak buahnya untuk tidak mengganggu. Dia sendiri menggantungkan sepotong daging sapi di cabang pohon, mempersembahkannya kepada bhikkhuni ini, dan berlalu. Bhikkhuni Uppalavamna kemudian mengambil potongan daging tersebut dan mempersembahkannya kepada Sang Buddha (Nissaggiyapacittiya Pali, Vinaya Pitaka, Vol.III.208)

Pada perjalanan menuju Kusinara (di hari terakhir sebelum Sang Buddha Parinibbana). Cunda, perajin emas dari Pava, mempersembahkan makanan sukaramaddava (daging babi yang empuk/muda) [DN 16/Mahaparinibbana Sutta, Ud 8.5/Cunda Sutta]. Walaupun kata sukaramaddava ini ditafsirkan dalam banyak arti, namun di Buddhavamsa: Buddhapakiṇṇakakathā, disampaikan jelas: Sabbabuddhānaṃ samattiṃsavidhā dhammatā (30 hal yang selalu terjadi pada seluruh Buddha) yaitu pada no.29: “parinibbānadivase maṃsarasabhojanaṃ” (Di hari Parinibannanya makan makanan yang mengandung daging). Arti kata “maṃsa” adalah daging.

Kemudian, di AN 5.44/Manāpadāyī sutta, seorang perumah tangga dari Vesali bernama Ugga menyajikan daging babi kepada Sang Buddha,

    “Di hadapan Guru, aku mendengar dan tahu dari Sang Bhagava sendiri bahwa seseorang yang memberikan hal menyenangkan, akan menerima kegembiraan, aku menyenangi masakan daging babi (sūkaramaṃsaṃ) dengan sari buah jujube. Semoga sang Bhagava menerimanya dengan perasaan kasih. Dengan perasaan kasihnya Sang Buddha menerima” (Sammukhā metaṃ, bhante, bhagavato sutaṃ sammukhā paṭiggahitaṃ: ‘manāpadāyī labhate manāpan’ti. Manāpaṃ me, bhante, sampannakolakaṃ sūkaramaṃsaṃ; taṃ me bhagavā paṭiggaṇhātu anukampaṃ upādāyā”ti. Paṭiggahesi bhagavā anukampaṃ upādāya)


Ketika Ugga wafat, Ia terlahir di Alam deva manomaya (Alam deva yang dapat menciptakan sesuai pikirannya), Ia datang memberi hormat dihadapan Sang Buddha di Savatthi, vihara jetavana

Karena Sang Buddha dan para murid-Nya bersikap non-vegetarian, tidak sedikit tokoh keagamaan lainnya yang mencela Sang Buddha. Sebagai contoh, suatu ketika kepala suku Vajji yang bernama Siha mengundang Sang Buddha dan murid-Nya untuk makan siang. Siha mempersembahkan nasi dan lauk, termasuk daging yang dibelinya di pasar. Sekelompok pertapa Jain mendengar bahwa Siha mempersembahkan nasi campur daging kepada Sang Buddha. Mereka mencela Sang Buddha maupun Siha, mereka memfitnah: “Siha, sang kepala suku, telah membunuh binatang besar untuk diambil dagingnya dan dipersembahkan kepada Sang Buddha, dan sekalipun Sang Buddha mengetahuinya, Ia tetap saja memakan daging tersebut (AN 8.12/Siha-senapati Sutta).

Berdasarkan Jainisme, memakan daging adalah hal yang salah. Mereka berpandangan bahwa seseorang yang memakan daging akan mewarisi setengah karma buruk yang dibuat oleh si pembunuh hewan itu. Si pembunuh membunuh hewan karena si pemakan memakan daging. Sebelum menjadi pengikut Sang Buddha, Siha adalah pengikut Mahavira, pendiri Jainisme.

Suatu ketika, seorang tabib bernama Jivaka mengunjungi Sang Buddha dan memberitahukan tentang berita yang didengarnya. “Yang mulia, ada yang mengatakan bahwa beberapa bintang telah dibunuh untuk diambil dagingnya dan dipersembahkan kepada Pertapa Gotama. Pertapa Gotama menerimanya sekalipun mengetahui bahwa binatang itu khusus dibunuh untuk-Nya. Yang Mulia, mohon dijelaskan apakah yang mereka katakan itu benar atau tidak.”

Sang Bhuddha menolak kebenaran berita tersebut dan menjelaskan, ”O Jivaka, barang siapa yang terlibat dalam pemotongan hewan untuk diambil dagingnya dan dipersembahkan kepada-Ku dan para murid-Ku, orang itu akan melakukan banyak kejahatan karena lima hal:

  1. Ketika ia berkata: ‘Pergi dan tangkap makhluk hidup itu,’ ini adalah kasus pertama yang mana ia menimbun banyak keburukan;
  2. Ketika makhluk hidup itu mengalami kesakitan dan kesedihan karena ditarik dengan leher tercekik, ini adalah kasus ke dua yang mana ia menimbun banyak keburukan;
  3. Ketika ia berkata: ‘Pergi dan sembelilah makhluk hidup itu,’ ini adalah kasus ke tiga yang mana ia menimbun banyak keburukan;
  4. Ketika makhluk hidup itu mengalami kesakitan dan kesedihan karena disembelih, ini adalah kasus ke empat yang mana ia menimbun banyak keburukan
  5. Ketika ia mempersembahkan makanan yang tidak diperbolehkan kepada Sang Tathāgata atau siswaNya, ini adalah kasus ke lima yang mana ia menimbun banyak keburukan.”


Siapapun juga yang menyembelih makhluk hidup untuk Sang Tathāgata atau siswaNya, ia menimbun banyak keburukan dalam lima kasus ini….ada tiga kasus yang mana daging boleh dimakan, jika: tidak terlihat (a-diṭṭhaṃ), tidak terdengar (a-sutaṃ), dan tidak dicurigai (a-parisaṅkitaṃ) – bahwa makhluk hidup itu disembelih untuk dirinya-” [MN 55/Jivaka].

Kondisi tiga ini disebut tikoṭiparisuddha (murni dalam tiga aspek) untuk menghindari pembunuhan, melarangnya membunuh demi makanan namun tidak melarang membeli daging dari binatang yang telah mati asalkan sesuai 3 syarat di atas, karena makan daging bukanlah perbuatan buruk, seperti halnya perbuatan membunuh makhluk hidup. Oleh karenanya, Sang Buddha menolak kepercayaan bahwa orang yang makan daging akan ikut mewarisi perbuatan buruk dari orang yang membunuh hewan.

Ajakan vegetarian BUKAN BERASAL dari ajaran sang Buddha namun berasal dari ajaran Devadatta (sepupu Sang Buddha, yang selalu menentang Sang Buddha) yang telah ditolak Sang Buddha:

    Kemudian Devadatta mendatangi Kokālika, Kaṭamorakatissaka, putera Nyonya Khaṇḍā, dan Samuddadatta: “Yang Mulia, Marilah, kita memecah-belah Saṅgha Petapa Gotama dan merusak kerukunan..Kita menghadap pada petapa Gotama dan meminta 5 hal dengan mengatakan: ‘Yang Mulia, dalam berbagai cara Yang Mulia memuji sedikit keinginan, merasa puas, melenyapkan (keburukan), berhati-hati, berbelas kasih, mengurangi (rintangan-rintangan), mengerahkan kegigihan. Yang Mulia, 5 hal ini berperan besar dalam hal sedikit keinginan,…, mengerahkan kegigihan. Baik sekali, Yang Mulia, jika para bhikkhu, seumur hidup mereka harus:

    1. menjadi penghuni-hutan; siapa pun yang bepergian ke dekat desa, maka ia melakukan pelanggaran.
    2. menjadi penerima dana makanan dengan cara berjalan untuk mengumpulkannya; siapa pun yang menerima suatu undangan, maka ia melakukan pelanggaran.
    3. menjadi pemakai jubah kain buangan; siapa pun yang menerima jubah yang diberikan oleh perumah tangga, maka ia melakukan pelanggaran.
    4. berdiam di bawah pohon; siapa pun yang berada di bawah atap, maka ia melakukan pelanggaran.
    5. tidak boleh makan ikan dan daging, siapa pun yang memakan ikan dan daging, maka ia melakukan pelanggaran’..”

    Kemudian Devadatta bersama dengan teman-temannya menghadap Sang Bhagavā dan menyampaikan hal tersebut. Sang Buddha berkata: ”Cukup, Devadatta, Siapa pun yang menghendaki, Ia:

    1. boleh menjadi penghuni-hutan; boleh menetap di dekat desa;
    2. boleh menerima dana makanan dengan cara berjalan untuk mengumpulkannya; boleh menerima undangan;
    3. boleh menjadi pemakai jubah kain buangan; boleh menerima jubah dari para perumah tangga
    4. selama 8 bulan (yaitu selain 3/4 bulan masa vassa/hujan), Devadatta, Aku mengizinkan para bhikkhu menetap di bawah pohon
    5. boleh memakan Ikan dan daging asalkan murni dalam 3 hal: TIDAK melihat secara langsung pada saat binatang tersebut dibunuh, TIDAK Mendengar secara langsung suara binatang tersebut pada saat dibunuh dan Mengetahui bahwa hidangan daging itu, TIDAK KHUSUS dibunuh agar dapat diberikan padanya” [Cullavagga, bab.7, Vinaya Pitaka]


Sehubungan dengan konsumsi daging, SNP 2.2/Amagandha Sutta menyampaikan bahwa pada suatu ketika, seorang pertapa (Brahmin, bernama Amagandha) bersama 500 muridnya yang menjalani praktek vegetarian mendatangi Sang Buddha dan menanyakan apakah Sang Buddha memakan amagandha atau tidak. Amagandha secara harfiah berarti bau daging, berkonotasi sesuatu yang berbau busuk, menjijikkan, dan kotor. Karena itulah pertapa ini memakai istilah amagandha. Selanjutnya Sang Buddha menjelaskan bahwa makan daging bukanlah amagandha, tetapi segala jenis kekotoran mental dan semua bentuk perbuatan jahatlah yang semestinya disebut amagandha. Sang Buddha berkata:

  • Membunuh, menganiaya, memotong, mencuri, berdusta, menipu, kepura-puraan, berzinah, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging.
  • Jika seorang tidak terkendali hawa nafsunya, serakah, melakukan tindakan yang tidak baik, berpandangan salah, tidak jujur, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging.
  • Jika seseorang berlaku kasar dan kejam, suka memfitnah, pengkhianat, tanpa belas kasih, sombong, kikir, dan tidak pernah berdana, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging.
  • Kemarahan, kesombongan, keras kepala, bermusuhan, munafik, dengki, tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, berhubungan dengan hal-hal yang tidak baik, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging.
  • Jika seseorang bermoral buruk, menolak membayar hutang, pengumpat, penuh tipu daya, penuh dengan kepura-puraan, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging.


[Bacaan lain, lihat: Buddhism & Vegetarianism, Sayadaw U Nandamala atau lihat juga: Riwayat Sidhartha Gotama/Buddha Gotama]

Namun demikian, terdapat beberapa aliran Buddhisme yang telah nekad dengan menambah sendiri aturan mengharamkan daging sebagai syarat mencapai kesucian dan ini BUKANLAH sabda otentik Buddha Gautama namun telah dicatutkan sebagai ucapan beliau ratusan tahun setelah wafatnya, diantaranya:

  1. Lankavatara Sutra, Ch.8, Dalam catatan di sutra itu dikatakan Bab ttg makan-daging merupakan tambahan lain yang dilakukan belakangan. Kemudian note dari Binh Anson menyatakan Sutra Lankavatara merupakan produk dari perkembangan aliran Mahayana di kemudian waktu. Menurut H. Nakamura (Buddhisme India, 1987), ada beberapa versi Sutra ini, satu yang cukup berbeda dalam konten dari yang lain. Kebanyakan para sarjana menyimpulkan bahwa sutra ini kemungkinan besar disusun dalam 350-400 M. Selain itu, Master Zen DT Suzuki (Lankavatara Sutra – A Mahayana Text, 1931), bab yang berurusan dengan makan daging merupakan tambahan yang terjadi jauh waktu kemudian di versi berikutnya. Dia juga sepakat bahwa sutra ini bukan merupakan kata-kata otentik oleh Buddha, tetapi disusun jauh hari kemudian oleh penulis anonim yang berasal dari aliran Mahayana
  2. Shurangama sutta, dalam “THE SHURANGAMA-SUTRA (T. 945): A REAPPRAISAL OF ITS AUTHENTICITY, Ronald Epstein, menyatakan sutra ini merupakan hasil editan dan diterbitkan di China pada tahun 705 M [lihat juga “The Śūraṅgama-sūtra with Tripiṭaka Master Hsüan-hua’s Commentary An Elementary Explanation of Its General Meaning: A Preliminary Study and Partial Translation. Ph.D. Dissertation. University of California at Berkeley, 1975]
  3. Mahayana Mahaparinirvana Sutra, dari tiga versi sutra ini yang masih ada adalah berasal dari abad ke-3 s/d 5 Masehi [detail lanjutannya lihat “TEXTUAL HISTORY OF THE MAHÂYÂNA-MAHÂPARINIRVÂNA-SÛTRA, Stephen Hodge]
  4. Detail sutra setelah masehi lainnya lihat di: TO EAT OR NOT TO EAT MEAT, A BUDDHIST REFLECTION, S. DHAMMIKA


Sehingga dapat disimpulkan bahwa di Buddhisme isu makanan tidak relevan dengan urusan kesucian dan tidak dilarang dikonsumsi asal sesuai persyaratan.

Jainisme:
Di atas, telah kita ketahui bahwa dua tradisi India, yaitu Hinduisme dan Buddhisme tidak menganggap praktek vegetarian merupakan suatu keharusan. Lantas di tradisi India manakah yang mempunyai dukungan penuh terhadap praktek vegetarian?

Jawabannya adalah hanya di aliran Jainisme!

Menurut aliran Jain, Jiva/Atman/Roh ada di bumi, air, api, udara, sayur-mayur dan semua mahluk. Jiwa seekor semut dan seekor gajah tidaklah berbeda hanya bentuknya saja yang mengikuti bentuk mahluk tersebut. Karma sebelumnya menjadikan mereka terlahir kembali menjadi bentuk-bentuk seperti tersebut di atas.

Jainisme mengklasifikasikan kelahiran kembali mahluk hidup kedalam 6 kelas. Kelas terendah adalah mahluk yang mempunyai satu indera [ekindriya] termasuk didalamnya bentuk bumi, api, air, sayuran. Mereka hanya memiliki hanya empat ciri vital, yaitu: mempunyai umur, dapat bernafas, mempunyai fisik dan memiliki sentuhan.

Setelah mahluk-mahluk tersebut mati, maka kelahiran kembali mereka akan meningkatkan status kelas mereka.

Jainisme sangat mendukung praktek a-himsa [tidak menyakiti mahluk hidup] sebagaimana tersurat pada text dibawah ini:

    Himsa [menyakiti mahluk] adalah rintangan terbesar bagi penyucian diri, dimana seseorang memuaskan diri dengan menyakiti mahluk tidak akan tercerahkan. [Acharanga Sutra]

    “mengetahui bahwa semua kejahatan dan penderitaan ditimbulkan akibat menyakiti mahluk dan selanjutnya mengarahkannya pada kebencian dan permusuhan tiada ada henti merupakan akar penderitaan, Seorang bijaksana, yang telah disadarkan sepatutnya menahan diri dari semua aktivitas penuh dosa” [Sutrakrtanga Sutra]

    “Tanpa membunuh mahluk hidup, maka tidak tersedia daging. Cedera merupakan hal yang terelakan di kalangan para mahluk pemakan daging. Walaupun benar daging dapat diperoleh dari kematian alami seekor kerbau liar dan sapi, di dalam luka dan juga mayat tersebut sedang berkelanjutan kelahiran makhluk-mahluk hidup..Ia yang makan, bahkan menyentuh, memasak, memakan mentah2 ataupun bentuk lain dari memotongnya, membasmi banyak jenis mahluk berjiwa” [Purusharthsidhyupaya]


Namun demikian, untuk memahami mengapa tetap ada mahluk-mahluk yang terbuhuh/dilukai, maka perlu kita pahami lebih lanjut konsep Himsa menurut aliran jain ini.

Himsa dibedakan antara `Sthula Himsa’ Dan `Sukshma Himsa’. Sthula Himsa, melukai/membunuh mahluk yang mempunyai dua indra atau adalah lebih terlarang bagi semua Jain, sementara ‘Sukshma Himsa’ bahkan mahluk yang memiliki satu indera [ekindriya] termasuk didalamnya jiwa2 yang tidak bergerak [Sthavara-Jivas] terlarang dilukai/dibinasakan oleh Petapa Jaina

Himsa [menyakiti] di kategorikan dalam:

  • Arambhaja or Arambhi Himsa, melukai/membunuh mahluk tersebut terjadi sebagai konsekuensi dari pekerjaan/kejadian yang lakoni seorang jaina. Kondisi ini terbagi menjadi:
    • Udyami Himsa, melukai/pembunuhan yang terjadi sebagai konsekuensi dari pekerjaan yang dilakukan. Terdapat kelompok pekerjaan-pekerjaan tertentu yang mendapatkan “ijin” karena aturan “himsa” ini, yaitu: prajurit, penulis, agriculturist, pedagang, montir/tukang, dan intelektual.
    • Grharambhi Himsa, melukai/pembunuhan yang terjadi sebagai konsekuensi dari pekerjaan rumah tangga seperti: mempersiapkan makanan, memelihara/membersihkan [rumah, badan, pakaian, hal2 lainnya yang memerlukan dibersihkan/dipelihara], konstruksi bangunan, sumur-sumur, kebun, dan infra struktur lainnya, beternak, dll.
    • Virodhi Himsa, melukai/pembunuhan yang terjadi sebagai konsekuensi dari mempertahankan diri/harta milik dengan mengadakan perlawanan terhadap para pencurian/perampokan, penyerbu dan musuh, dalam menghadapi agresi.
  • Anarambhaja or Anarambhi or Samkalpi Himsa, dimana melukai/membunuh mahluk terjadi bukan karena pekerjaan [ada unsur kesengajaan]


[Sumber: A Treatise On Jainism By – Shri Jayatilal S. Sanghvi; AHIMSA(NON-VIOLENCE); Meat; Jainism]

Berdasarkan kutipan teks tersebut di atas, definisi himsa dan kelas mahluk hidup, maka pembunuhan mahluk hidup apapun tetaplah menimbulkan dosa namun kadar dosa yang terendah yang diakibatkannya berasal dari terbunuhnya mahluk-mahluk ekindriya.

Inilah alasan utama mengapa vegetarian sangat dianjurkan di Jainisme.

Namun demikian, menurut saya, setelah melihat lingkup pengertian dari jiwa, praktek a-himsa hingga ke vegetarian, maka alasan vegetarian di aliran ini lebih berfokus kepada pemilahan korban untuk mengisi perut daripada pemenuhan praktek a-himsa, karena pemilahan ini didasarkan pada kadar dosa terendah jika melakukan himsa.

Pengikut Jainisme di seluruh dunia ini tidak lebih dari 4.2 juta jiwa [tahun 2001]. Namun ajaran vegetariannya melampaui benua dan menyebar ke seluruh dunia.

Mengapa ini bisa terjadi?

Dari 3 Aliran tradisi India di atas, Buddhisme merupakan satu-satunya aliran yang tidak mengakui adanya Jiva/Roh/Atman yang menjadi inti mahluk hidup sedangkan dua aliran lainnya mengakui kebaradaan jiwa ada diseluruh mahluk hidup.

Ketika Phytagoras berkunjung ke India, maka dapat dipastikan Philosofis aliran Jainisme tentang jiva, kelahiran kembali dan vegetarian sangat mencocoki seleranya. Ajaran itulah yang kemudian dibawanya ke Yunani dan menyebar ke seluruh dunia serta merambah ke area ajaran Abrahmic berkembang.

Para penulis Yahudi-yunani Alexandrian menyatakan bahwa Pythagoras mengajarkan doktrin Judaisme. Aristobulus dari Alexandria ( sekitar 150 SM), Filsuf religious Yahudi pertama, mengevaluasi ajaran pytagoras dan menggunakan doktrin angka aliran pytagoras itu seluas-luasnya, kemudian filsuf ke-3 Yahudi yaitu Philo [20-15 – 45-50 M] berbasis aliran Pytaghoras, Ia memakai angka 3 sebagai dasar trinity ketuhanan Yahudi untuk pertama kalinya. [Alexandrian Judaism: the Precursor of Christianity]

Nasrani:
Satu Decade yang lalu, sebuah organisasi yang bernama People for the Ethical Treatment of Animals (PETA), meluncurkan satu kampanye bahwa Yesus adalah seorang vegetarian yang berasal dari sekte Essene dan sekte itu juga Sekte vegetarian.

Aliran Yahudi terbagi dalam 3 sekte yaitu, Saduki, Farasi dan Essene. Aliran terakhir tidak pernah disebut di Alkitab dan menjadi populer setelah ditemukan risalah Laut Mati [Dead Scroll]. Di jaman Yesus masih hidup, kaum Essene tinggal di padang pasir Judea yang ada di sebelah barat laut mati.

Klaim itu bermula dari hasil temuan arkeologi di sekitar Oasis Ein Gedi, dekat laut mati. Lokasi Essene di Ein Gedi adalah menurut penulis romawi, seorang tetua bernama Pliny (wafat 79 M), di bukunya “Natural History” (N’H,V,XV).

Dalam penggalian arkelogi tersebut tidak diketemukan adanya tulang belulang binatang.

Kemudian, mereka juga merujuk pada Hari ke-6 Penciptaan, yaitu setelah Manusia di ciptakan Allah menurut Perjanjian lama, Kejadian 1:29-30 sebagai berikut,

    Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian.


Juga merujuk pada kejadian setelah banjir besar Nuh [yang tidak masuk akal itu, lihat detailnya di sini], yaitu di Kejadian 9:4,

    Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan.


Juga berdasarkan ayat di Perjanjian baru, surat Roma 14:21, yaitu surat yang ditulis Paulus melalui pembantunya tertius di menjelang akhir perjalanan misioner yang ketiga, Ketika itu Paulus berada di Korintus di rumah Gayus dan sedang merencanakan kembali ke Yerusalem untuk hari Pentakosta:

    Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu.


Benarkah Yesus, Kaum Essene dan Nasrani mengajarkan Vegetarian?

Tentu tidak dan tidak mendekati sama sekali.

Pertama-tama,
Klaim bahwa tidak ditemukan tulang belulang hewan, tidak lah tepat, karena penggalian arkeologi tersebut akhirnya menemukan 4,000 tulang belulang hewan di Ein Gedi juga.

Bahkan di kitab kaum essene, Covenant of Damascus, The ‘ZADOKITE’ DOCUMENT, mengenai makanan tertulis [lihat di sini dan di sini]:

    Tak seorangpun berlumur dosa dengan makan binatang melata atau binatang kotor manapun. Aturan ini meliputi larva lebah dan mahluk hidup manapun yang keluar dari air. Janganlah memakan ikan kecuali di sayat ketika ia masih hidup dan darahnya dibuang.
    Perihal berbagai macam belalang, taruhlah di api atau air selagi mereka masih hidup; Itulah yang sejatinya mereka alami [xii, 11-15]

Kedua,
Penafsiran dari ayat-ayat kitab kejadian di alkitab tersebut diatas tidaklah tepat. Untuk kejadian 1:29-30, jika mereka mau mundur 1-2 ayat akan ditemukan kata “ternak” pada sekumpulan hewan, yaitu di Kejadian 1:24-25:

    Berfirmanlah Allah: “Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak [be-hay-maw: binatang domestik, ternak] dan binatang melata dan segala jenis binatang liar [chay: liar].” Dan jadilah demikian. Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

Tentunya definisi ternak bukan hanya dimanfaatkan tenaganya namun juga dagingnya.

Di Kejadian 3:21 Tuhan juga mengajarkan pemanfaatan binatang untuk diambil kulitnya sebagai pakaian bagi Adam dan Hawa. Ayat ini bolehlah dianggap sebagai ayat favorit para designer pakaian kulit binatang.

Bagi yang menganggap bahwa vegetarian terjadi sebelum Adam dan Hawa “jatuh dalam dosa”, maka inipun tidaklah tepat karena setelah jatuh dalam dosa, di kejadian 3:18, Allah malah mengutuk mereka agar menjadi vegetarian:

    semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;

Tentu saja hal itu juga tidak benar karena di kejadian 4:2, Anak Adam dan Hawa, yaitu si sulung Habel menjadi gembala kambing dan domba sedangkan si nomor 2, yaitu Kain menjadi petani kemudian di Kejadian 4:3-5, dikisahkan bahwa ternyata Allah lebih menyukai persembahan DAGING daripada tetumbuhan.

Di setelah banjir besarpun, yaitu di kejadian 8:20 Nuh memberikan korban persembahan daging bagi Allah. Kemudian Allah juga menegaskan kembali di kejadian 9:3 bahwa segala yang bergerak dan tumbuhan akan menjadi makanan seluruh keturunan Nuh dengan pengecualian pada darah binatang tidak boleh dimakan [kejadian 9:4]

Kemudian jika dinyatakan bahwa Roma 14:21 sebagai dasar vegetarian, maka itu juga kurang tepat mengingat di Roma 14:2 dan 14:17, dinyatakan sebagai berikut:

    Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja…Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.

Di surat Paulus lainnya yaitu korintus 10:25-26, untuk jemaat di korintus ditegaskan bahwa makan daging itu boleh2 saja selama itu bukan bekas persembahan kepada berhala:

    Kamu boleh makan segala sesuatu yang dijual di pasar daging, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. Karena: “bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan.”. Kalau kamu diundang makan oleh seorang yang tidak percaya, dan undangan itu kamu terima, makanlah apa saja yang dihidangkan kepadamu, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. Tetapi kalau seorang berkata kepadamu: “Itu persembahan berhala!” janganlah engkau memakannya, oleh karena dia yang mengatakan hal itu kepadamu dan karena keberatan-keberatan hati nurani.

Yesus juga ternyata makan ikan sebagaimana tergambar di beberapa perjalanan sebelum kisah penyaliban [Matius 14:19, 15:34-36; Markus 6:41; 8:7; Lukas 9:16]. Setelah periode penyaliban, Yesus juga melakukan demonstrasi makan ikan sebagaimana tercantum di Lukas 24:41-43,

    Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: “Adakah padamu makanan di sini?” Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka.

Juga di Yohanes 21:9-13, yaitu ketika Yesus melakukan “penampakan” yang ketiga kalinya, saat itu, Ia menyempatkan diri untuk sarapan ikan:

    Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti.Kata Yesus kepada mereka: “Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.”..Kata Yesus kepada mereka: “Marilah dan sarapanlah.”..Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu.

Disamping ikan, Yesus dan 12 Muridnya pun makan daging domba, sembelihan untuk upacara paskah [Markus 14:12-18; Lukas 22:7-16] Bahkan alkitab juga mengindikasikan bahwa makan daging domba Paskah sudah kerap dilakukan sebelumnya yaitu pada kalimat “Kata-Nya kepada mereka: “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu..”

Berdasarkan petunjuk diatas, dapat kita simpulkan bahwa makan daging dan kebiasaan mempersembahkan binatang kepada tuhan, baik itu dipersembahkan kepada tuhan orang kafir maupun tuhan yahudi dan kaum Nasrani adalah hal yang lazim dilakukan.

Islam:
Tidak diragukan lagi Islam sangat tidak mendukung praktek vegetarian. Menurut Allah semua makanan dapat dimakan, kecuali binatang tertentu yang diharamkan sebagaimana tersurat dari ayat-ayat dibawah ini:

    AQ 23: 21. Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian daripadanya kamu makan,

    AQ 6:142. Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makanlah dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

    AQ 22:34. Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah),

    AQ 22:30. Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah[989] maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.

    AQ 22:28. supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan[985] atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak[986]. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.

    AQ 5:1. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu[388]. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.

    AQ 16:5. Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan.

    AQ 40:79. Allahlah yang menjadikan binatang ternak untuk kamu, sebagiannya untuk kamu kendarai dan sebagiannya untuk kamu makan.

Dari bukti-bukti tekstual religi di atas, kita melihat bahwa tidak ada satupun agama dengan tanpa kompromi mendukung Vegetarian KECUALI satu aliran saja yaitu Jainisme.

Bahkan Aliran Hare Krishna secara terang-terangan masih berkompromi makan daging selama diperuntukan untuk tujuan tertentu, misalnya berdakwah.

Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah benarkan manusia secara alami adalah vegetarian?

Prof Hiromi, seorang ahli usus dan juga non vegetarian, memang Ia tidak merekomendasikan daging sebagai makanan utama. Dia hanya menganjurkan makan daging itu cukup 15% dari seluruh makanan yang masuk ke perut sesuai dengan perbandingan jumlah gigi manusia, dimana jumlah gigi taring kita, yang tugasnya mengoyak-ngoyak makanan seperti daging, adalah 15% dari seluruh gigi kita.

Manfaat paling nyata dari daging adalah keratin!

Ya! Itulah alasan mengapa daging itu perlu, karena keratin alami hanya ada di HEWANI [kita bisa masukan manusia dengan susunya disini] dan TIDAK di Nabati.

Trus manfaatnya apa sih?

Keratin berguna bagi perkembangan otak pada embrio manusia [baca: bayi], mengoptimalkan fungsi fisiologi pada otak, jaringan saraf, sistem saraf, otot dakn lain-lain [yang butuh banyak energi]. Keratin juga berguna mengobati penyakit2 otot dan saraf misalnya: artritis, gagal jantung, penyakit Parkinson, atrofi, penyakit McArdle, penyakit Huntington!

Berbicara tentang percobaan pada tikus, hasil studi menyatakan keratin dua kali lebih efektif dari obat riluzol dalam memperpanjang usia tikus yang terkena penyakit neuro-degeneratif sklerosis amiotropik lateral (ALS / penyakit Lou Gehrig).

Apa lagi pada manusia, ya..

Efek neuropatif yang muncul mungkin diakibatkan oleh peningkatan ketersediaan energi di dalam sel saraf yang rusak.

Tentu saja cara memasak yang tidak benar DAPAT mengubah keratin menjadi keratinin yang merupakan zat racun dalam darah.

Turunan produk daging yang bermanfaat bagi manusia adalah susu, disamping sebagai sumber kalsium juga hal-hal lain yang ada di susu.

Berikut ini perbandingan kandungan susu Ibu, susu sapi dan sari kedelai per 100 gram dengan kadar air 88.6% [g]:

  • Susu Ibu berisi: 1.4 g protein, 3.1 gram lemak, 7.2 kabohidrat, 62 Kcal energi, 35 mg kalsium, 15 mg fosfor, 0.2 mg besi, 7.0% laktosa (gula)
  • Susu Sapi berisi: 2.9 g protein, 3.3 lemak, 4.5 kabohidrat, 59 Kcal energy, 100 mg kalsium, 36 mg fosfor, 0.1 mg besi, 4.6% laktosa
  • Susu [baca: sari] Kedelai berisi: 4.4 g protein, 2.5 g lemak, 3.8 g kabohidrat, 52 Kcal energy, 18.5 mg kalsium, 2.5 mg fosfor, 1.5 mg besi, 0% laktosa
  • Sumber: Chen S. Sari kedelai: a drink from the great earth. American Soybean Association, 1983

    Note:
    Khusus kandungan laktosa [per 100 gram] di ambil dari wikipedia. Untuk susu kedelai kadar laktosanya nil. Ada yang alergi laktosa namun jika susu sapi di yoghurt, maka laktosanya rusak, sehingga orang yang alergi ini dapat meminumnya. Bacaan lebih lanjut: “Susu Kedelai versus Susu Sapi, Mana Lebih Baik?

Salah satu kebaikan dari susu adalah menghindari kanker usus, seperti yang dirilis oleh European Journal of Clinical Nutrition (2001) 55, 1000-1007 yang di sponsori oleh Swedish Cancer Foundation [lihat di sini, di sini dan di sini]

    “Conclusions: Our results indicate that individuals showing high consumption of milk have a potentially reduced risk of colon cancer; however, the association does not appear to be due to intake of calcium, vitamin D, or to specific effects of fermented milk.”

Namun demikian, jika minum susu berlebihan malah akan mengakibatkan osteoporosis dan juga osteoarchtistic.

    Kadar kalsium dalam darah biasanya 9-10 miligram. Kalau kita minum susu, maka konsentrasi kalsium dalam darah tiba-tiba meningkat. Akibatnya adalah tubuh harus mengembalikan kondisi ke kadar normal dengan jalan membuang kalsium dari ginjal melalui urine.

    Bukti yang diberikan oleh Hiromi Shinya adalah di negara yang tingkat konsumsi susunya tinggi seperti Amerika Serikat, Swedia, Denmark dan Finlandia, kasus retak tulang panggul dan osteoporosis jauh lebih tinggi dibanding negara-negara Asia dan Afrika, yang konsumsi susunya lebih rendah. – [Majalah Tempo, ed 15-22 Nov 2009]

    Iklan susu juga menyesatkan dan mengakibatkan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (POM) melakukan penyitaan: “Kami juga menyita produk susu ‘anlene’ karena label di kemasannya menyalahi izin. Di label itu menyebutkan kegunaannya sebagai nutrisi dan menyempurnakan tulang. Penyebutan ini tidak boleh, dan yang diizinkan dengan penyebutan kegunaannya menjaga kesehatan, bukan untuk mengobati,”

    Padahal cukup banyak minun teh hijau maka dua gejala keluarga besar osteo mana saja dapat di cegah dan di obati! – [Penelitian Dr. Ping Chung Leung dan rekan dari Institute of Chinese Medicine, Chinese University of Hong Kong, dipublikasikan di Journal of Agricultural and Food Chemistry, Agustus 2009]

Di beberapa situs, terutama situs-situs pendukung praktek hidup Vegetarian, terdapat sirkulasi tulisan dari BBC dengan judul: High IQ link to being vegetarian [juga di sciencedaily], yang melansir hasil penelitian British Medical Journal:

    [..]Team dari Universitas Southampton menemukan bahwa mereka [test IQ dilakukan saat subjek berusia 10 tahun], mempunyai hasil test IQ 5 poin lebih tinggi dari rata-ratanya ketika memutuskan menjadi vegetarian di usia 30 tahun

    Peneliti menyatakan bahwa ini dapat menerangkan mengapa mereka yang memiliki IQ lebih cerdas lebih sehat ketika ber diet vegetarian yang berhubungan dengan rendahnya rata-rata jumlah penderita sakit jantung dan kegemukan

    Penelitian pada 8,179 orang dilaporkan di British Medical Journal.
    ..
    Liz O’Neill, dari masyarakan Vegetarian, mengatakan: “Kita selalu tahu bahwa vegetarianisme adalah cerdas, pilihan berbelas kasih yang menguntungkan binatang, masyarakat dan lingkungan

    “Sekarang kita punya pembuktian saintifik untuk membuktikan itu. Mungkin itulah yang menjelaskan mengapa banyak “meat-reducer” dengan cerdas menyebut diri mereka vegetarian yang bahkan mereka juga tahu mesti ngga makan ikan, kalkun atau ikan”[..]

    Note: Vegetarianisme adalah Praktik hidup yang sepenuhnya mengkonsumsi tetumbuhan, dengan atau tanpa produk yang berasal dari susu, madu dan telur

Secara Provokatif, berita itu ingin menyampaikan “pesan” pada khalayak umum bahwa:

“Orang pintar pilih vegetarian”!!

Apa yang salah dengan berita itu?

Jika saja mau membuka link dari British Medical Journal [BMJ] maka segera kita ketahui bahwa jumlahnya bukanlah 8179 namun 8170 orang, namun tentu saja bukan itu yang menjadi fokus pembahasan saya pada tulisan di atas itu.

Pertama-tama,
Mari kita lihat dulu definisi kepintaran dari hasil test IQ sehingga seseorang dapat di kategorikan cerdas atau tidak cerdas:

Range Klasifikasi IQ menurut Terman:

  • > 140 Genius atau mendekati Jenius
  • 120-140 Kecerdasan Sangat Super
  • 110-120 Kecerdasan Super
  • 90-110 Kecerdasan Rata-rata
  • 80-90 Tumpul/bodoh
  • 70-80 Garis Batas Kekurangan
  • < 70 Dipastikan Lemah Pikiran

[Terman wrote the Stanford-Binet test: Berk, L.E. (1997). Child Development, 4th ed. Toronto: Allyn and Bacon]

Dari hasil BMJ journal kita ketahui bahwa skor test IQ mereka saat berusia 10 tahun dan kemudian kelak menjadi Vegetarian atau Non Vegetarian adalah:

  • Pria: 106.1 VS 100.6
  • Wanita: 104 VS 99

Dari data hasil test IQ mereka di atas, semua hasil skor masih berada di kisaran range yang sama yaitu hanyalah rata-rata saja!

Melihat itu, dengan bahasa provokatif yang sama, saya juga boleh menyatakan bahwa kecerdasan anak perempuan berusia 10 tahun, 5 point-an di bawah rata-rata anak lelaki!

Mari kita telusuri lebih lanjut.

Study ini dilakukan pertama kalinya pada tahun 1970, tepatnya tanggal 5-11 April 1970. Study dari British cohort mengumpulkan informasi 17.198 anak yang lahir di Inggris raya pada kisaran tanggal tersebut.

Pada usia 10 tahun, mereka melakukan test IQ. Pada 20 tahun kemudian, dari sekian orang yang terdata di atas, 11.204 orang berpartisipasi pada program ini dan kemudian, yang ternyata punya hasil test IQ saat mereka berusia 10 tahun hanyalah 8170 orang.

Setelah di teliti, ternyata dari 8170 orang ini:

  • Yang vegetarian hanyalah berjumlah 366 orang atau 4.5% dari seluruh partisipan [8170 orang]!
  • Dari yang 366 vegetarian tersebut, yang benar-benar vegetarian murni [Vegan] hanyalah 9 Orang saja atau 0.0003% saja!
  • Bahkan, dari 366 orang yang mengaku vegetarian, 123 orang dilaporkan makan ikan atau ayam juga! sedangkan sisanya, 234 orang melakukan praktek vegetarian dengan mengkonsumsi juga produk olahan dari susu, madu dan telor

Wow! Sekarang, coba bayangkan dengan cara seperti ini:

    Misalkan sample non vegetarian yang di ambil hanyalah saya saja [n=1] dan hasil test saya saat di usia 10 tahun misalkan 69. Di usia 30 saya tetap non vegetarian.

    Hasil test IQ saya kemudian dibandingkan dengan hasil test IQ dari mereka yang memilih menjadi vegetarian di usia 30 tahun, yaitu 106

Jadi, dengan mengabaikan perbedaan sangat signifikan pada besaran jumlah sample antar dua kelompok, kemudian meminjam cara mereka menyimpulkan, maka secara provokatif akan tertulis:

“Penelitian berdasarkan hasil test IQ membuktikan bahwa non vegetarian itu ternyata IDIOT!”

Mari kita lanjutkan.

Kemudian, dari 366 orang vegetarian tersebut, hasil Skor IQ mereka [saat berumur 10 tahun] yang nantinya menjadi Vegan [9 orang] VS non Vegan [357 orang], ternyata tidak terdapat perbedaan!

Namun, di antara mereka yang menjadi vegetarian, yaitu vegan (9 orang) dan vegetarian (makan juga produk olahan dari susu, madu dan telor, 234 orang). Ternyata hasil skor IQ kelompok vegan adalah 95.1! Hasil itu 10 point lebih rendah dari semua golongan vegetarian!

Apa yang saya baca dari hasil di atas?

Skor IQ terendah dari anak-anak yang kemudian tetap memilih jadi Non Vegetarian [99.0 point] terbukti MASIH LEBIH TINGGI dari skor IQ anak-anak yang kemudian memilih jadi Vegan [95.1 point]!

Kesimpulannya:

  • Tetep saja yang bersikeras menjadi vegetarian murni memang lebih bodoh dari Non Vegetarian
  • Memperhatikan cara team Universitas Southampton melakukan pengolahan informasi dan juga menyimpulkan, maka mereka yang masih mau bersekolah di sana dan juga yang masih mau mempekerjakan lulusan dari sana, jelas merupakan keputusan yang kurang cerdas, bukan?!

Yang perlu diwaspadai oleh mereka yang bersikeras untuk Vegetarian terutama karena Praktik hidup Vegetarian dapat menyebabkan PENYUSUTAN OTAK!

    [..]Ilmuwan menemukan bahwa menjadi Veggie berdampak buruk pada otak yaitu mereka yang mengkonsumsi bebas daging 6 x lebih banyak menderita penyusutan otak.

    Vegan dan vegetarian lebih cenderung kekurangan sumber vitamin yang berasal dari daging [hati], susu dan ikan. Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan anemia dan peradangan pada system syaraf. Ekstrak yagi adalah satu dari makanan vegetarian yang menyediakan tingkat vitamin yang baik

    Hubungan ini ditemukan ilmuwan dari Universitas Oxford dengan menggunakan tes-tes memori, check fisik dan scan otak pada 107 orang yang berusia natara 61 – 87 tahun

    Ketika para partisipan itu di test kembali 5 tahun kemudian, hasil medex menemukan bahwa mereka yang rendah tingkat vitamin B12 adalah yang paling utama menderita penyusutan otak.

    Ini mengkonfirmasi penelitian sebelumnya yang menunjukan hubungan antara berhentinya pertumbuhan otak dan tingkatan vitamin B12[..]

Sebagai penutup dari artikel ini, ijinkan saya memperkenalkan tokoh-tokoh terkenal dalam sejarah yang merupakan VEGETARIAN yang saya ambil dari website ini:

  • POLPOT, Pemimpin Khmer Merah, Ia membunuh cuma 2 juta orang kamboja saja selama hidupnya [jumlah korban bervariasi tergantung sumbernya]
  • ADOLF HITLER, vegetarian sejak tahun 1932, Diktaktor Jerman [1934-1945], melakukan pembunuhan massal secara sistimatik dengan korban sekurangnya 17 Juta penduduk sipil, diperkirakan 6 juta adalah Yahudi [Tentu saja karena reputasinya, akan ada yang mati-matian membantah bahwa Adolf Hitler adalah vegetarian]
  • Charles mansion, penjahat dari Amerika Serikat, Pengelola “cult” yang bernama Kehancuran hari kiamat, mengaku reinkarnasi Yesus kristus, keluar-masuk penjara sejak kecil, mulanya karena pencurian mobil, pemalsuan, dan penipuan kartu kredit. Pernah bekerja sebagai mucikari. Pada akhir tahun 1960-an, Menjadi pemimpin kelompok yang dikenal sebagai “The Family”, dan memimpin beberapa pembunuhan sadis, terutama aktris Sharon Tate/La Bianca (istri sutradara Roman Polanski), yang sedang mengandung delapan setengah bulan. Saat ini dipenjara seumur hidup di Corcoran State Prison, California
  • Volkert van der Graaf, aktivis lingkungan, menembak mati Pim Fortuyn pada saat politikus itu keluar dari sebuah stasiun radio disiang hari pada tanggal 6 May 2002. Van der Graaf dijatuhi hukuman penjara 18 tahun untuk perbuatannya itu

So, berhati-hatilah jika anda hendak menjadi vegetarian…anda bisa jadi mencintai binatang dan tidak memakannya…namun menjadi lebih senang membunuh manusia!

—–
Note:
Di FB saya, dengan judul yang sama, terdapat komentar dan tanggapan menarik antara Ngarayana [Gung Ngara] dan Saya


Berikut potongan komentar yang ada di FB saya, silakan di simak.

Komentar Gung Ngara:

Wah tulisan yang luar biasa pak Wirajhana. Sangat panjang dan penuh pro dan kontra…

Saya belum bisa cerna semua, tapi saya punya beberapa opini.

1. Dalam Veda memang terdapat 3 jenis ajaran (menurut Brahma Vaivarta Purana), yaitu yang bersi…fat satvik, rajasik dan tamasik. Dalam kaitannya di sini setiap ajaran memang ditujukan untuk level orang yang berbeda-beda sesuai dengan Guna dan Karma masing-masing orang. Sehingga orang mau hidup vegetarian atau tidak itu adalah pilihan dan Veda tidak pernah memaksa. Berdasarkan pendapat ini saya sangat setuju dengan anda pak… 🙂

2. Kenapa dalam ISKCON diwajibkan vegetarian?
Prabhupada pernah berkata bahwa di dunia ini kekuarangan orang-orang berkarakter Brahmana. Karena itu misi beliau keliling dunia adalah untuk mencetak para Brahmana. Salah satu langkah pertama yang beliau lakukan adalah pengendalian diri terdapat murid-muridnya. Sehingga beliau menetapkan 4 pantangan dasar untuk murid-murid beliau, yaitu; tidak makan daging, ikan, telor, tidak berzinah, tidak mabuk-mabukan dan tidak berjudi. Tidak makan daging memang bukan hal utama dalam kerohanian, tetapi itu adalah hal dasar dalam usaha pengendalian egoisme dan nafsu kita.

3. Kenapa Prabhupada pernah mengatakan bahwa ajarannya bukan Hindu?
Lihatlah kontek tempat dan waktu dimana beliau ceramah. Beliau beradapan dengan orang-orang non Hindu yang sudah terlanjur mencap Hindu buruk. Sehingga beliau bertindak diplomatis. Jika beliau tidak bertindak demikian, mungkin jumlah pengikut Hindu di dunia barat saat ini tidak akan sebanyak sekarang.

4. Mengenai kesehatan orang vegetarian… saya rasa tidak ada bedanya sama yang non veget… jadi benar Vegetarian adalah pilihan..
Saya sendiri sudah veget dari kecil, toh nyatanya (tidak bermaksud sombong) dari SD saya selalu juara umum dan kuliah juga dalam waktu yang relatif singkat karena saya lulus tercepat dibanding temen-temen angkatan saya. Di Ashram tempat saya tinggal juga terdapat banyak anak-anak yang seumur hidupnya tidak makan daging, toh juga mereka sehat-sehat dan cerdas.

Jadi silahkan memilih berdasarkan kata hati anda… Mau mengikuti veget.. ada landasan/alasannya. Mau tidak juga ada di dalam Veda..

Salam,
[18 Mei 2010 jam 10:16]
—-

    Wirajhana:

    Dear Ngarayana,
    Komentar yang cedas! No.1 & 2 ngga ada comment
    utk yg no.3. Anda katakan:
    [..]Lihatlah kontek tempat dan waktu dimana beliau ceramah. Beliau beradapan dengan orang-orang non Hindu yang sudah terlanjur mencap Hindu buruk. Sehing…ga beliau bertindak diplomatis. Jika beliau tidak bertindak demikian, mungkin jumlah pengikut Hindu di dunia barat saat ini tidak akan sebanyak sekarang.[..]

    Saya:
    Argumen anda tidak berdasar..
    Di US, Hindu tidaklah punya cap buruk seperti mereka memandang Islam sekalipun itu ada di tahun2 sila prabu mendirikan ISKON di US.

    Justru yang berusaha memberikan cap buruk hindu adalah Sila prabu sendiri dengan ucapan ini:

      “Sekalipun memunculkan para sarjana, sanyasin, grihasta dan swami besar, apa yang disebut pengikut agama Hindu semuanya tidak berguna, cabang-cabang kering dari agama Veda.”

      “India, mereka telah membuang sistem agama yang sesungguhnya, Sanatana Dharma. Secara takhyul, mereka menerima satu agama campur aduk (a hodgepodge thing) yang disebut Hinduisme. Karena itulah muncul kekacauan.”

    Mengapa pengikut Hindu di dunia barat banyak tidak ada hubungannya dengan Sila Prabu.

    Namun berhubungan dengan ketertarikan mereka dengan India dan ajarannya. Sila prabu cuma satu diantara ratusan guru hindu.Toh hingga saat ini jumlah pengikut hare kresna di Amerika tidak pesat malah cenderung redup.

    Alasannya adalah pemberitaan buruk tentang hare kresna di mana2, silakan lihat ini:

    http://www.rickross.com/groups/krishna.html

    Pelakunya justru berasal dari pengikut aliran Hare Krishna sendiri!

    4. Sepakat bahwa kecerdasan emang tidak tergantung makan daging atau tidak namun Kesucian jelas tidak tergantung dari jenis makanan yang kita makan namun tergantung seberapa banyaki bau busuk kita sendiri, seperti yang Buddha katakan:

    • Membunuh, menganiaya, memotong, mencuri, berdusta, menipu, kepura-puraan, berzinah, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.
    • Jika seorang tidak terkendali hawa nafsunya, serakah, melakukan tindakan yang tidak baik, berpandangan salah, tidak jujur, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.
    • Jika seseorang berlaku kasar dan kejam, suka memfitnah, pengkhianat, tanpa belas kasih, kikir, dan tidak pernah berdana, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.
    • Kemarahan, kesombongan, keras kepala, bermusuhan, munafik, dengki, tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, berhubungan dengan hal-hal yang tidak baik, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.
    • Jika seseorang bermoral buruk, menolak membayar hutang, pengumpat, penuh tipu daya, penuh dengan kepura-puraan, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.
    • [sumber: Amagandha Sutta]

    Well masing2 orang saat ini mempunyai bau busuknya..Sekarang ini tantangannnya adalah seberapa banyak upaya kita membuang bau busuk itu, bukan makan daging.

    Salam.
    [18 Mei 2010 jam 13:46]

—-
Komentar Gung Ngara:

Saya coba berpendapat sedikit lagi ya pak.. 🙂

Hindu yang umum dikenal di dunia barat sangat berbeda dengan prinsip bhakti yang di ajarkan prabhupada. Sebelumnya, para yogi dan guru-guru Hindu datang dengan mengatakan filsafat mayavada yaitu… menyebutkan aham brahman asmi (aku adalah brahman/Tuhan). Semenara menurut filsafat yang Vedanta tidak seperti itu. tetapi Jiva dan Brahman adalah berbeda dan kekal. [http://ngarayana.web.ugm.ac.id/2009/08/filsafat-mayavada/]

nah pernyataan beliau “Sekalipun memunculkan para sarjana, sanyasin, grihasta dan swami besar, apa yang disebut pengikut agama Hindu semuanya tidak berguna, cabang-cabang kering dari agama Veda.” menguatkan hal ini…
Beliau sangat menentang filsafat mayavada sebagaimana dalam link di artikel yang saya copaskan.

Jadi kemungkinan Prabhupada ingin menghindari anggapan buruk dan keliru akan Hindu. Buruk di sini sudah barang tentu bukan buruk dalam artian di benci seperti halnya kaum sparatis. (sayang beliau sudah tidak ada, jadi ga bisa di confirm balik he..he..he..) namun tentunya kita bisa mendapatkan penjelasan dari murid-murid dekat beliau secara langsung tentang hal ini. Kalau murid-murid beliau dan juga kenyataan sekarang memperlihatkan Hare Krishna bukan Hindu maka mungkin apa yang disampaikan Prabhupada benar adanya.

Mengenai naik turunnya pengikut beliau wajar… bahkan beliau pernah berkata “andaikan 1 saja dari kalian bisa menjadi penyembah murni maka misi saya sudah sukses”. Namun beliau meramalkan 10.000 tahun lagi adalah merupakan puncak dari gerakan harinama sankirtana

Siapa yang tahu? ga tahu juga… he..he..he..

(* Membunuh, menganiaya, memotong, mencuri, berdusta, menipu, kepura-puraan, berzinah, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.)

Makan daging tanpa membunuh juga susah lho pak 🙂 secara tidak langsung ada konsumen pemakan daging, maka sudah pasti ada produsen yang akan melakukan pembunuhan.

(* Jika seorang tidak terkendali hawa nafsunya, serakah, melakukan tindakan yang tidak baik, berpandangan salah, tidak jujur, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.
* Jika seseorang berlaku kasar dan kejam, suka memfitnah, pengkhianat, tanpa belas kasih, kikir, dan tidak pernah berdana, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.)

yang ini saya setuju… makanya dalam sloka veda juga pembunuhan dan korban binatang ada aturan ketatnya.. jadi tidak asal bunuh. Namun bagaimana jika pembunuhannya dilakukan seperti pada rumah jagal yang sangat kasar dan kejam? Lalu manusia memakan daging mengikuti nafsu seperti yang banyak terjadi saat ini? Jadi antara nafsu dan makan daging juga harus di jaga dengan aturan yang jelas, sehingga hanya makan daging yang sesuai aturan sastra, tidak berlebih dan tanpa nafsu. Hanya saja kadang susah kalau sudah mengalami kemelekatan (klesia) pada suatu kenikmatan. he..he..

Makanya Veda menetapkan aturan yang ketat dalam membunuh binatang. Sambil mengucapkan mantra yang berisi kata mamsa, seseorang terlebih dahulu haruslah memandikan si binatang, kemudian menyemblihnya di tempat dan pada waktu tertentu. Kata “mamsa” berarti saya (mam) dan dia (sa). Maksudnya, saya bunuh dia sekarang dan nanti dia akan membunuh saya (Manu Smerti 5.55).
Setelah membunuh sang binatang, si pembunuh harus beramal kepada orang-orang brahmana atau fakir miskin. Dikatakan,”Bila seseorang membunuh angsa, merak, babi, balaka, monyet, elang atau burung bhasa, maka dia harus mendermakan seekor sapi kepada seorang brahmana. Bila seseorang membunuh kuda, dia harus mendermakan banyak pakaian. Jika membunuh gajah, dia harus mendermakan lima ekor banteng. Bila membunuh kambing, dermakan seekor sapi penarik pedati. Jika membunuh keledai, dermakan seekor anak sapi umur lima tahun” (Manu Smerti 11.136-137). Inilah contoh-contoh prayascitta, penyucian diri agar bebas dari reaksi dosa membunuh binatang.
mampukah kita menjalankan prinsip ini di jaman sekarang?

itulah yang sulit menurut saya…

mohon bimbingannya pak..

Salam kompak,-
[18 Mei 2010 jam 18:02]
—-

    Wirajhana:

    Dear Ngarayana,
    Wow..tks atas tanggapannya luar biasa sekali!

    Jika Hindu yang dikenal di barat tidaklah seperti ajaran prabupada maka tidak berarti harus membuat statement negatif untuk mencari pengikut, bukan?! Apalagi saat statement itu sep…ihak tanpa bisa dikonfirmasi saat itu juga oleh aliran hindu lainnya.

    Anda katakan:
    kemungkinan Prabhupada ingin menghindari anggapan buruk dan keliru akan Hindu.

    saya:
    well, ketika aliran ini mendapatkan kesulitan di Inggris dan di Rusia misalnya ketika menghadapi perkara atas gedung ‘Bhaktivedanta Manor’ di Inggris atau ketika dituntut oleh orang Kristen di Russia dan Polandia (yang menganggap Hare Krishna hanyalah gerakan ‘cult’ dan meminta agar pemerintah melarang mereka). Dalam permohonan kepada hakim dan pemerintah, kata Hindu dipergunakan secara terbuka.

    Dalam kasus-kasus hukum yang lain, termasuk kasus di Mahkamah Agung Amerika Serikat, Hare Krishna berusaha menangkis label “cult” dengan menyatakan dirinya sebagai satu sampradaya Hindu tradisional, dan meminta orang-orang Hindu yang lain untuk menguatkan hal ini di pengadilan.

    Sungguh ironis, saat dengan lantang berteriak menghindari dan menolak dianggap Hindu, namun ketika terpuruk toh tetep saja diakui hindu?!

    Anda:
    (* Membunuh, menganiaya, memotong, mencuri, berdusta, menipu, kepura-puraan, berzinah, inilah yang disebut bau busuk, bukannya memakan daging.)

    Makan daging tanpa membunuh juga susah lho pak 🙂 secara tidak langsung ada konsumen pemakan daging, maka sudah pasti ada produsen yang akan melakukan pembunuhan.

    saya:
    Ketika Prabhupada meminta Harikesh menjalankan misi ke Rusia, Harikesh berkata, “Mereka cuma makan daging”. Prabhupada menmjawab, “Ya Makan daginglah”

    Jika anda percaya tumbuhan juga mempunyai jiwa maka tetep saja anda melakukan pembunuhan, bukan?! lantas apa bedanya?

    Buddhisme sendiri jelas-jelas mengatakan tumbuhan dan atau mahluk TIDAK memiliki Jiwa/roh didalamnya..namun tetap ia memisahkan yang dimaksudkan bau busuk itu apa dan itu bukanlah dari makanan.

    Mengapa aliran hare kresna, sebagai kelompok yang konon strictly vegetarian malah juga menganjurkan makan daging juga?

    karena mereka juga tahu bahwa salah satu produsen pembunuhannya adalah umur, survival di alam, dll sehingga tidak harus produsen itu selalu berarti manusia, bukan?

    Bukankah Prabuphada sendiri juga mengatakan ini:

    “Jangan membunuh. Ketika sapi itu telah mati. Engkau dapat memakannya”

    Jadi, ketika itu telah mati maka 1tu 100% materi yang masih bisa dimakan, jadi jelas bukan bau busuk, bukan?

    Anda katakan:
    Namun bagaimana jika pembunuhannya dilakukan seperti pada rumah jagal yang sangat kasar dan kejam? Lalu manusia memakan daging mengikuti nafsu seperti yang banyak terjadi saat ini?

    Saya:
    Sama saja. toh, setelah mati ia tetep adalah materi.
    Rumah jagal motifnya selalu uang dan kemakmuran untuk diri sendiri. Mereka melakukan pemotongan bukanlah khusus diperuntukan untuk kita namun karena uang.
    Anda bisa saja tidak sepakat namun faktanya sejak ribuan tahun SM hingga 10.000 tahun nanti rumah jagal teteplah ada.

    Contoh bagaimana peluang itu muncul salah satunya adalah karena AGAMA itu sendiri spt contoh anda diatas atau contoh lain dengan cara yang halus adalah seperti excuse utk makan daging yang dilakukan Prabhupada sendiri ketika meminta seseorang melakukan misinya di rusia.

    Anda boycott atau tidak kebutuhan itu akan ada dan tetep merupakan peluang bagi beberapa orang.

    Anda katakan:
    [..]Inilah contoh-contoh prayascitta, penyucian diri agar bebas dari reaksi dosa membunuh binatang. Mampukah kita menjalankan prinsip ini di jaman sekarang?

    Saya:
    Anda membunuh dengan metode apapun baik itu ritual ataupun bak tukang jagal maka 100% anda telah menghilangkan/menyakiti mahluk hidup dan memupuk karma buruk.apapun alasannya.

    Setelah anda membunuh anda kemudian berpikir bahwa dengan mempersembahkan sesuatu kepada mahluk adi daya maka ia akan “senang” sehingga mau diajak berkonspirasi menghilangkan dosa anda.

    Sekarang disamping membunuh, anda juga melakukan kekeliruan tahu dengan mengaggap dua hal bahwa “tuhan” senang, “tuhan” bisa disuap, “tuhan” adalah pelayan kita!

    Setelah anda membunuh dan memberikan persembahan spt di atas, anda juga berpikir bahwa dengan cara mendermakan sesuatu akan mengurangi dosa dan malah mendapat pahala..

    Sekarang disamping membunuh, kekeliruan tahu, anda juga menciptakan KESERAKAHAN dengan mengorbankan nyawa mahluk lain dan mengambil EVEN itu sebagai ajang memupuk PAHALA! Sehingga anda akan mengajak orang lain memupuk dengan model yang sama sehingga anda menjadikan itu sebagai KESERAKAHAN MASAL yang baik.

    Padahal,
    Menjalankan misi berdana tidak memerlukan pemicu kecuali kemauan kita membebaskan diri kemelekatan. Kita pun tidak perlu dipicu dengan alasan ritual. Kita selalu menganggap bahwa kebutuhan kita tidak mencukupi sehingga membuat berat memberi. Itu jelas bahasa lain dari kikir!

    Dulu saya bahkan tidak mau memberikan uang bagi pengemis, tukang parkir liar..sekarang agak berbeda, lumayan konstan utk melepaskan kemelekatan itu..alasan saya: Saya melihat itu terjadi karena karma lampau mereka sebelumnya dan akibat buah kejadian sekarang…Jika saya diposisi mereka, saya juga berharap ada orang yang bersedia memberikan kesempatan sedikit untuk dapat bernafas dan kemudian menjalani karma saya kembali.

    demikian, mohon koreksinya..

    salam kompak juga.
    [19 Mei 2010 jam 14:26]

—-
Komentar Gung Ngara:

Hare Krishna atau Gaudya Vaisnava adalah salah satu dari sekian banyak sampradaya yang ada dalam Hindu, yaitu dari Brahma Sampradaya (disamping 3 sampradaya pokok lainnya, yaitu Sri, Ludra dan Sanaka/catur kumara sampradaya) sebagaimana dit…egaskan dalam Bhagavata Purana 6.3.21. Jadi pernyataan Prabhupada bukanlah pernyataan yang berlaku universal, tetapi memiliki maksud tertentu dengan tujuan “kebaikan” menurut beliau. Karena itulah Hare Krishna tetap dikenal sebagai Modern Hindu saat ini di negara Barat. Masalah statement sepihak mengenai ajaran yang benar memang tidak bisa dihindari. Sama saja dengan kenyataan bahwa Buddha adalah salah satu masab dalam Veda yang tergolong nastika, namun Buddha akhirnya menyatakan bahwa keliru dan Buddha menjadi agama baru.

Harus kita akui bahw filsafat Veda bukanlah filsafat yang 1 warna sebagaimana agama-agama abrahamik. Veda memiliki banyak jalan yang disesuaikan dengan guna dan karma penganutnya. Jadi bisalah semua penganut Veda dikumpulkan, diajak diskusi dan mengikuti satu jalan dan mengakui hanya jalan itu yang benar dan yang lain salah? susah juga kan pak?

Prabhupada bahkan pernah berkata; “Jika memang tidak ada makanan lain selain non-vegetarian, silahkan makan daging, tetapi hindari membunuh sapi”. Memang benar, Prabhupada tidak pernah melarang secara strictly untuk tidak makan daging sama sekali. Masalah bangkai hewan yang dimanfaatkan baik untuk dimakan atau untuk kepentingan lainnya itu juga sangat benar. Alat musik mridangga yang digunakan dalam setiap kirtana dibuat dari kulit sapi yang sudah mati dan itu sangat dibolehkan. Hanya saja yang menjadi masalah sekarang adalah prosesnya.

Mari kita coba berpikir out of the box. Suatu kejadian akan terjadi jika ada pemicunya. Dalam hal ini akan ada 2 jenis pemicu, yaitu pemicu langsung dan pemicu tidak langsung. Dalam kaitannya dengan makan daging. Memakan daging hewan atau memanfaatkan bangkai hewan yang sudah mati sangat wajar. Tetapi lihatlah prosesnya, apakah hewan itu mati secara wajar atau tidak?

Jika kita bersikeras hanya mengatakan diri memanfaatkan bangkai hewan (badan hewan yang sudah mati) tanpa perduli out of the box menganai faktor tidak langsung yang mempengaruhinya saya rasa keliru. Sama dengan teori kejadian terpostulasi dalam sistem keselamatan dimana kejadian itu terjadi secara tidak langsung, tetapi dipicu oleh suatu kejadian lain yang mungkin sebenarnya tidaklah berbahaya.

Analogi seperti kita memberi uang pada pengemis. Memang benar bahwa kita harus mengasihani setiap mahluk termasuk pengemis. Namun kita juga harus berpikir dalam memberikan sedekah pada mereka. Kalau kita memberikan mereka uang, maka hati-hatilah karena mungkin uang itu digunakan untuk merokok, berjudi, mabuk dan kegiatan tidak baik lainnya yang akhirnya menjerumuskan pengemis tersebut. Tetapi akan lebih bijak jika kita memberikan makanan, membantu mereka melalui lembaga yang bisa mendidik mereka atau malah mengangkat mereka menjadi anak angkat untuk di didik dengan baik.

Kembali lagi ke masalah daging. Dengan kita tidak perduli dengan prinsip kejadian terpostulasi ini, maka secara tidak langsung kita akhirnya menyuburkan proses pembantaian yang kejam.

Veda memberikan aturan yang sangat ketat seperti harus memandikan binatang dan membagikannya pada orang suci dan mempersembahkannya bukanlah untuk tujuan menyogok Tuhan…. tetapi aturan tersebut ditetapkan untuk menyulitkan proses pembunuhan yang sia-sia sehingga diharapkan karena sulitnya orang tersebut malahan memilih untuk makan-makanan yang mudah dan murah di dapat saja.

Binatang memiliki jiva, tumbuhan juga memiliki jiva, lalu kenapa malah memilih tumbuhan untuk dimakan? Disini ada prinsip hidup untuk makan dan bukan makan untuk hidup, dimana kita makan untuk melangsungkan kehidupan kita. Pengobatan ayur vedic lebih cenderung menekankan kita menjaga vitalitas tubuh dengan makanan non hewani dan dari sistem pencernaan kita juga sangat nyata lebih menyerupai pencernaan hewan herbivora dan pada kenyataannya makanan veget jauh lebih mudah dicerna oleh tubuh kita.

tetapi tentu saja kembali semuanya adalah pilihan. Semuanya akan kembali ke kita sebagai buah karma kita. Kita mau makan enak dengan daging berlebih, kolesterol akan mmengancam. Dan pada kenyataannya Hewan yang disemblih secara paksa akan memproduksi adrenalin berlebih dan meracuni dagingnya sehingga menghasilkan zat karsiogenik pemicu kanker. Jadi kalau kita mau aman memang sebaiknya makanlah daging secara wajar dan jangan memakan daging dari binatang yang disemblih secara paksa, tetapi carilah bangkai hewan.

Hanya saja, apakah anda mau memakan daging hewan yang mati secara alami dan disebut bangkai? itu pilihan… he..he..he..

Salam,-
[21 Mei 2010 jam 11:44]
—-

    Wirajhana:

    Dear Ngarayana,
    wow! Tanggapan yang menarik!
    Utk paragraph anda yg pertama,
    utk statement dia tentang hindu, jelas ucapan prabuphada tidak berlaku universal. diantara semua cara promosi beretika justru yang di lakukan Prabuphada malah promosi …negatif tak beretika.

    Hindu, dengan Yoga, ayurvedic dan upanisad-nya Hindu tidak pernah dianggap kuno baik itu sebelum prabuphada dan juga setelahnya.

    Jadi terlalu berlebihan dan naif jika kredit itu diberikan pada aliran yang sudah redup ini [baca: hare kresna]. Saat ini hindu bali dengan segala ritualnya pun tidak di anggap kuno seperti seluruh agama asal di mukabumi ini.

    Anda katakan:
    [..]Masalah statement sepihak mengenai ajaran yang benar memang tidak bisa dihindari. Sama saja dengan kenyataan bahwa Buddha adalah salah satu masab dalam Veda yang tergolong nastika, namun Buddha akhirnya menyatakan bahwa keliru dan Buddha menjadi agama baru. [..]

    Saya:
    Anda keliru. Sang Buddha merecord kurang lebih 63 aliran di India saat itu [brahmajala sutta], masing2 aliran berkembang di pasramannya masing2 dan tergantung pengikutnya. Penggolongan itupun masih valid hingga saat ini.

    [lihat Brahmajala sutta:
    http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka_dtl.php?cont_id=167]

    Buddha mempunyai label agama justru terjadi RATUSAN tahun SETELAH wafatnya beliau dan bukan karena ia menolak dianggap nastika.

    ***

    Utk Praragraph anda yg kedua,
    Perlu anda ketahui bahwa: Buddha gautama sendiri adalah Buddha ke-28. Jainisme pun berumur sangat tua. Mahavira pendiri aliran Jainisme adalah Tirthankara ke-24. Sedangkan yg ke-23 saja yaitu Parshva ada di 8-9 SM. Pengikut Buddha pertama2 berasal dari JAIN.

    Kelompok aliran-aliran di India saat jaman Buddha adalah 63 banyaknya sebagaimana sy tuliskan di atas juga menurut Jainisme [Sutrakritangga dan Bhagavati] dimana jumlah aliran lebih banyak lagi dengan perbedaan2 kecil dan mereka hidup independent dari aliran2 lain.

    Di antaranya di dua aliran Buddhisme dan Jainisme adalah para pendirinya adalah Purana kasapa, Mokali Gosala, Ajita dan Sanjaya yang jelas bukan dari aliran Veda.

    Jadi, secara garis besar pembagiannya adalah Sramana dan bramanical sect. Di antara, Veda [mungkin original cuma Yoga saja selebihnya adalah berdasarkan pengaruh para rsi-rsi yang tercatat di upanisad]

    Buddha kesebelum mencapai penerangan sempurna disamping belajar 3 veda [brahmanical sect], ia juga belajar dari 2 Guru non Veda [sramana sect].

    Jelas di jaman Pra-veda sudah ada aliran Buddha non Gautama, aliran Jain Parshva dan aliran dari para pendiri2 lainnya.

    Sehingga lebih tepat jika dikatakan bahwa VEDA dan Hindu saat ini [aliran sivaism dan visnuism, termasuk Advaita] ada karena pengaruh BUDDHA dan JAINISME dan bukan sebaliknya.

    ***

    Untuk Paragraph 3-8 anda,
    Perlu anda ketahui di jaman sebelum Buddha Gautama dan Jain Mahavira, Tumbuh subur dua cara makan yaitu vegetarian dan non vegetarian.

    Non vegetarian [berdasarkan brahmanical teks] benar-benar tumbuh sangat subur.

    Jadi jelas bahwa upacara pembantaian binatang itu telah sukses berkembang dulu dan hingga sekarang..terutama karena di anggap deva2 bisa di sogok dengan upacara persembahan daging.

    Statement prabubpada dan caitanya mahaprabu yang khusus melarang makan sapi jelas tidak berdasar dan kekeliruan total.

    Pemanfaatan tubuh sapi juga terdapat pada kerbau, kambing, domba, keledai, kuda yang juga mengeluarkan susu dan diperah tenaganya.

    Banyak teks brahmanical menyatakan bukan cuma sapi sebagai tunggangan para Dewa, termasuk Tikus [ganesha] dan tumbuhan yang disucikan [diantaranya alang2].

    Perlu saya garis bawahi,
    Bangkai adalah mahluk hidup yang telah mati [apapun caranya baik karena sebab alam ataupun bukan]

    Bagi penganut tumbuhan itu memiliki jiwa..maka tumbuhan yang dicabut atau jatuh, maka itu tetep saja bangkai tumbuhan.

    Itu artinya baik tumbuhan maupun binatang. Jadi sekali lagi tidak ada bedanya..bangkai is bangkai and nothing less.

    Pengobatan ayurvedic juga melibatkan binatang. lihat di sini:
    http://www.hinduismtoday.com/modules/smartsection/item.php?itemid=927
    [untuk animal testing in Ayurveda]

    Juga lihat di sini:
    http://loveandwisdom.typepad.com/ayurveda_love_wisdom_/files/history_of_ayurveda_may07.pdf
    [yang memuat pengorbanan binatang]

    ***

    Terakhir di statement anda yang ini:
    [..]Dan pada kenyataannya Hewan yang disemblih secara paksa akan memproduksi adrenalin berlebih dan meracuni dagingnya sehingga menghasilkan zat karsiogenik pemicu kanker. Jadi kalau kita mau aman memang sebaiknya makanlah daging secara wajar dan jangan memakan daging dari binatang yang disemblih secara paksa, tetapi carilah bangkai hewan.[..]

    Saya:
    karsinogenk juga ada di tumbuhan! toxic terjadi karena proses masak atau digoreng.

    [..]Tumbuh-tumbuhan memproduksi senyawa tertentu..melindungi mereka terhadap jamur, serangga, dan binatang termasuk manusia…karsinogen yang ditemukan pada jamur, basil, seledri, kurma, bumbu, lada, adas, parsnips, dan minyak sitrus. Karsinogen juga dihasilkan selama pemasakan dan sebagai produk dari metabolisme normal.

    ..Beberapa karsinogen yang sangat berbahaya adalah hidrokarbon aromatik, yang paling dikenal adalah 3,4-benzpirena. Hidrokarbon karsinogenik terbentuk selama pembakaran tidak sempurna dari hampir setiap senyawa organik.
    [http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/berita/karsinogen_ancaman_abadi_kehidupan_manusia/]

    [..]April lalu ilmuwan-ilmuwan dari Swedia menambahkan alasan mengapa makanan seperti french fries dan potato chips harus hati-hati dikonsumsi. Ternyata, makanan yang kaya karbohidrat bila dipanaskan dapat mengandung akrilamida, senyawa yang diketahui menyebabkan kanker pada tikus.

    ..majalah Nature-dalam edisi 2 Oktober 2002-menurunkan dua artikel hasil penelitian ilmuwan di Inggris dan Swiss yang mengungkap proses produksi akrilamida.
    ..Makanan lain yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti gandum dan sereal, juga kaya akan asparagin dan mungkin akan bereaksi mirip bila dipanaskan.

    Efek akrilamida pada manusia memang belum jelas, namun untuk tikus dan lalat buah positif menimbulkan kanker bila dikonsumsi dalam jumlah 1.000 kali diet rata-rata. WHO telah mendaftar akrilamida sebagai senyawa yang “mungkin karsinogenik bagi manusia” dan sedang mengoordinasikan riset untuk meneliti lebih jauh.[..]
    [http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/berita/pembentukan_karsinogen_dalam_makanan/]

    [..]Karsinogen alami sangat banyak. Aflatoksin B1, yang
    diproduksi oleh kapang Aspergillus flavus selama penyimpanan biji-bijian, kacang-kacangan dan mentega kacang, adalah sebuah contoh dari karsinogen microbial yang sangat kuat.

    Beberapa virus seperti hepatitis B dan virus papilloma manusia telah diketahui juga menyebabkan kanker pada manusia.

    Setelah karsinogen masuk ke dalam tubuh, maka tubuh akan melakukan upaya-upaya untuk menghilangkannya yang disebut proses biotransformasi. Tujuan dari reaksi ini adalah membuat karsinogen menjadi lebih larut air sehingga bisa dikeluarkan dari tubuh.

    Tetapi, reaksi ini juga bisa merubah suatu senyawa karsinogen yang sebenarnya tidak terlalu toksik menjadi senyawa baru yang lebih toksik.[..]
    [http://id.shvoong.com/medicine-and-health/1804567-komponen-karsinogenik/]

    3 LInk diatas, menyebutkan baik nabati dan hewani juga memicu karsinogenik, bukan?!

    Jadi terbukti tidak benar bahwa hewan harus mati alami dulu baru tidak karsinogenik..

    Salam.
    [21 Mei 2010 jam 15:12]


(untuk membuka/menutupnya silakan di klik)
—–

[foto berasal dari sini, sini, sini, sini, sini, sini, sini, sini dan sini]


Siapa Sih Biang Keladinya..Sehingga Manusia Dikatakan Berasal dari Kera?!


Banyak yang bilang kalo Darwin-lah lewat teori evolusinya, mengatakan bahwa manusia itu keturunan monyet/kera.

Setelah saya baca teori itu, maka bisa saya pastikan bahwa mereka yang menuduh itu ternyata emang TIDAK PERNAH membaca tulisan Darwin dan lebih memilih sibuk membaca dongengan di kitabnya masing-masing serta mempercayai kata si a, b, c atau kata si d.

Belajar Teori Darwin bagusnya sih langsung dengan cara membaca bukunya dan bukan belajar lewat kata orang-orang.

Mmmmmhhhh…sebagai contoh misalnya belajar teori Darwin lewat pemikirannya Harun Yahya.

Ya, cara itu jelas keliru, karena disamping Harun Yahya [alias Adnan Oktar] keliru dalam menafsirkan Qur’an kemudian mencoba mencocok-cocokannya dengan sains dan ternyata juga malah ngga nyambung..[sebagai contoh misalnya lihat di sini]..Ia pun ternyata keliru juga dalam menafsirkan teori Darwin.

Manusia emang kadang-kadang terlalu berlebihan, jika anda surfing di net maka anda akan temukan banyak situs Islam dengan secara sepihak memberitakan bahwa hukuman yang sekarang diterima oleh Harun Yahya, merupakan hasil dari sebuah konspirasi setelah Harun Yahya “berhasil” menghancurkan Darwinisme

Mereka keliru!

Banyak tuntutan yang ditujukan kepada Harun Yahya, diantaranya karena membuat seorang wanita dipaksa untuk melayani 16 orang! Kejadian ini direkam dan wanita itu diperas jika melaporkannya maka akan dipublikasikan!

Contoh lain misalnya Harun Yahya pernah dituntut karena kepemilikan kokain. Namun, batu sandungan sebenarnya yang membuatnya dihukum 3 tahun adalah karena variasi kejahatan yang dilakukan Harun Yahya dalam pengelolaan ilegal organisasi untuk keuntungan pribadi:

    […] Controversial Turkish Islamic author Adnan Oktar was sentenced to three years in prison on Friday for creating an illegal organization for personal gain, state-run Anatolian news agency said. […]

So eniwei, benarkah Darwin pernah mengatakan bahwa Manusia itu berasal dari kera?

Untuk itu, saya bantu anda untuk mengenal selintas apa yang sebenarnya di maui oleh Darwin lewat teori evolusinya. Dibawah ini, ada dua link yang dapat anda baca sebagai pendahuluan/pengantar, cukup ringkas, koq:

Atau kalo ngga mo tanggung-tanggung…ya baca aja buku aslinya Darwin:

Karena Harun Yahya menuduh seperti itu, maka bagusnya sekalian juga baca bantahannya:

Bagaimana?

Sudah jelas, bukan..bahwa pemikiran dan paham yang mengatakan manusia berasal dari monyet/kera bukanlah berasal dari Darwin.

Sekarang, jika masih berkenan, mohon bantu saya untuk mengechek resume yang saya buat di bawah ini. Melalui resume ini, saya bisa pastikan bahwa pemikiran manusia berasal dari Kera justru berasal dari Alkitab:

  • Tertulis bahwa KITA (Allah, dalam bentuk Jamak) menciptakan manusia menurut rupa kita, sehingga MEREKA bisa berkuasa atas……[kejadian 1:30].

    Ada satu hal menarik mengenai hal ini karena menurut Islam pun demikian, yaitu sebagaimana disebutkan di Sahih Muslim book 40 No.6809, Book 32 No.6325 dan Sahih Bukhari book 74 No.246:

    Diriwayatkan Abu Huraira, Nabi mengatakan: “Allah menciptakan Adam menurut gambarNya dengan tinggi 60 kubik dan sesaat setelah adam tercipta Ia menyuruh Adam menyalami para Malaikat yang duduk di sekitar itu..tinggi badan orang-orang makin berkurang hingga saat ini”

    AL-WAHHABI ABDUL AZIZ BIN BAZ dari aliran Wahabi juga menyatakan bahwa ALLAH SERUPA DENGAN NABI ADAM.

    [Penjelasan lebih detail mengenai ‘Adam di ciptakan dari Rupa Allah’ silakan buka situs Islam, Islam Question and Answer, Fatwa No.20652, Commentary on the hadeeth, “Allaah created Adam in His image” When Prophet says “Allah created Adam in his image” what does “his image” refer to and how should we understand it?]

  • Ketika ADAM berumur 130 tahun lahir Set [kejadian 5]. Jadi ketika Adam dibawah 130 tahun lahir Habal, Kain,
  • Saat Kain membunuh Habel umur adam masih DIBAWAH 130 tahun [kejadian 4:2-8] Pembunuhan itu aakibat Kain cemburu pada Habel karena Persembahan daging-dagingannya habel lebih dihargai Allah daripada persembahan hasil buminya Kain.

    Menurut versi Islam, di Tafsir Ibn Kathir surat 5:27-31, Latar belakang Habil dibunuh Qabil cuma permasalahan rebutan syahwat di sekitar selangkangan saja, yaitu rebutan mengawini adik kandung perempuan yang lebih cantik dari satunya lagi. Jadi, Islam berpendapat bahwa Adam dan Hawa selalu melahirkan kembar laki dan perempuan dan kemudian dikawinkan secara inses!!!

  • Saat Kain akan dibuang ke tanah NOD, Tuhan menyatakan bahwa: kain diberkati untuk tidak dapat dibunuh oleh “barangsiapapun yang bertemu dengan dia” dan yang membunuh KAIN maka kepadanya akan dibalas 7 kali lipat [kejadian 4] Berarti ada orang lain yang bukan binatang yang dapat membunuh kain sebelum tahun ke 130-nya Adam
  • Tidak diceritakan bahwa Kain membawa istri ke tanah NOD, namun ditanah Nod:
    • Ia bersetubuh dengan istrinya dan melahirkan Henokh,
    • Ia mendirikan kota dengan nama Henokh (berarti ada penduduk) [kejadian 4]

  • Ketika ADAM berumur 800 tahun lahir laki dan perempuan [kejadian 5], Jelas disebutkan bahwa tidak ada manusia manapun kecuali Adam, Hawa, Kain, dan Set.
  • Setelah Set mempunyai anak di usia 105 tahun, maka hingga ia berusia 807 tahun barulah ada adik bagi Enos

Wow..darimana datangnya wanita-wanita yang mereka kawini itu?

Koq tidak kita temukan adanya satu penjelasan logis terhadap kejangalan ini?
Bukankah Alkitab dan semua Nasrani [juga Yahudi] telah sepakat menyatakan bahwa Adam adalah manusia pertama!

Tunggu!…kita pasti temukan jawabannya di Alkitab!

    Setelah Adam diciptakan dari tanah, Tuhan Allah merasakan bahwa Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Sehingga dijadikannya pula penolong baginya, yang sepadan dengan dia. Dari tanah yang sama, Tuhan Allah menciptakan binatang dan burung-burung sebagai ‘penolong yang sepadan bagi manusia itu [Kej 2:18-19]

Setelah penciptaan Binatang dan Burung barulah diciptakan HAWA sebagai penolong yang sepadan dengan ADAM.

Di antara para binatang-binatang hutan ciptaan Tuhan Allah, maka KERA, sangat tidak diragukan lagi, bentuknya sangatlah menyerupai manusia dan tentunya….spesies ini juga menyerupai rupa dan gambar TUHAN ALLAH!

Berhubung tidak ada lagi wanita yang diciptakan dari rusuk pria setelah Adam dan telah juga di nyatakan bahwa hanya Adam sebagai manusia pertama maka dapatlah kita pastikan bahwa:

  • Wanita misterius yang disetubuhi Kain dan SET itu adalah kera betina!
  • Ibu dari Enos dan Henokh ternyata kera betina!
  • Kaum Yahudi dan Abrahamik dari garis keturunan Kain dan Set ternyata 1/2nya berasal dari kera!

Yup..sama seperti anda..saya pun tercengang!!! Ternyata Alkitab-lah biang keladinya!!!

[note: Gambar di ambil dari: Chrismadden dan Michael Krahn]


From Hero To Zero: Pengakuan Sain, Agama Langit dan Bumi terhadap Kelahiran Kembali/Reinkarnasi!


Pada suatu hari setan berjalan-jalan dengan seorang temannya. Mereka melihat seseorang membungkuk dan memungut sesuatu dari jalan.

“Apa yang ditemukan orang itu?” tanya si teman.
“Sekeping kebenaran,” jawab setan.
“Itu tidak merisaukanmu?” tanya si teman.
“Tidak,” jawab setan.
“Aku akan membiarkan dia menjadikannya kepercayaan agama.”-[Anthony de Mello SJ]

Salah satu ‘Keping Kebenaran’ yang dipungut dan menjadi anggapan umum adalah bahwa doktrin reinkarnasi/Kelahiran kembali hanya ada di tradisi ajaran India dan hanya merupakan dongeng pengantar tidur.

Pernahkah anda mendengar kisah dari Jendral angkatan darat Amerika, Patton? Ia adalah panglima terkenal dari pasukan sekutu ketika terjadi perang dunia kedua, terkenal akan keberanian dan kemahirannya bertempur. Konon Ia mempercayai Reinkarnasi.

Tatkala Patton berusia remaja, Ia beranggapan bahwa pada kehidupan masa lampaunya Ia pernah mengabdi kepada jendral terkenal Hannibal dari Cartago, pernah pula sebagai prajurit Roma kuno, anak buahnya Napoleon, sebagai prajurit kavaleri dari jendral Kerajaan Roma Timur dll. Pendeknya, berbagai peran dalam pertempuran bersejarah sepertinya pernah ia jalani. Jadi, Ia menganggap dirinya kelak sudah pasti menjadi pahlawan perang.

Apabila anda merasa bahwa hal-hal tersebut hanyalah bualan Patton, kisah di bawah ini barangkali akan mengkoreksinya.

    Ketika itu Patton memimpin pasukan di wilayah padang pasir Afrika utara berperang menghadapi tentara Jerman. Suatu kali, seorang perwira Perancis berkendara membawa Patton menuju garis depan memeriksa keadaan medan laga. Di tengah jalan, Patton tiba-tiba memintanya berbelok arah. Perwira Perancis sempat kebingungan, ia mengatakan medan perang bukan di arah tersebut. Sedangkan Patton ngotot bahwa itu adalah medan perang, namun bukan medan perang pada hari ini.

    Akhirnya di bawah arahan Patton mereka tiba pada medan perang kuno 2000 tahun yang lalu. Perwira Perancis menjadi heran bagaimana Patton mengetahui lokasi ini, Patton menjawab bahwa dirinya pernah mengikuti pasukan besar Roma ke tempat tersebut.

    Family clan Patton mempunyai tradisi mahir berperang. Banyak anggota clan termasuk Patton menyatakan pernah secara jelas menyaksikan roh dari leluhur. Kemahiran Patton tentang perang, apakah berkat perlindungan dari leluhur, ataukah berasal dari pengalaman kehidupan masa lalunya? (Sumber: Erabaru News, Rabu 25 juli 2007)

Kalau anda masih memungut dan memegang ‘keping kebenaran’ bahwa Kelahiran kembali hanya dikenal di ajaran India tidak ada di ajaran lain, maka sekali lagi anda keliru! Kelahiran kembali ternyata dikenal baik dalam tradisi ajaran Abrahamic Nasrani dan Islam walaupun para pemuka agama dan pemeluknya masih berada pada taraf malu-malu kucing untuk mengakuinyai, Padahal kajian Ilmu Modern sudah mengakui bahwa doktriin kelahiran Kembali/reinkarnasi tradisi ajaran India adalah Ilmiah dan juga telah menjadi satu disiplin Ilmu.

Artikel ini meng-eksplor keberadaan doktrin reinkarnasi/kelahiran kembali di empat Agama besar dunia, berikut contoh-contoh kejadian nyata yang dialami. Setelah membaca, ujilah diri anda sendiri apakah anda masih pada ‘keping kebenaran’ yang sama atau tidak.

[Kembali]




Nasrani/Kristen: Kelahiran Kembali

Para penganut Yahudi dan Nasrani banyak mendapatkan kejadian nyata seperti di bawah ini namun tidak dapat memberikan penjelasan Kitabiah dan logikal mengapa peristiwa ini dapat terjadi:

    Pada tahun 1971 lewat sebuah plank iklan “Arnall Bloxham katakan rematik merupakan suatu yang psikologis”, Jane Evans [bukan nama sebenarnya], seorang ibu rumah tangga dari Welsh yang berusia 32 tahunan yang menderita reumatik artistik akhirnya melakukan konsultasi dengan Dr Arnall Bloxham [80 tahun]. Bloxham adalah praktisi hipnoterapis bereputasi tinggi dan juga President Ikatan Hypnotherapist Inggris.

    Ketika Jane di rumah Bloxham, atas seijin Jane, Bloxham kemudian menghipnotisnya dan terungkaplah 6 kehidupan masa lalu Jane. Salah satu yang kita ketengahkan saat ini adalah kehidupan ketika ia menjadi seorang Wanita Yahudi berkeluarga bernama Rebecca, yang hidup di kota York, Inggris pada abad ke 12.

    Jane menggambarkan banyak sekali detail kehidupan masyarakat yahudi di jaman itu, bagaimana ia dan juga penduduk Yahudi lokal lainnya dipaksa menggunakan semacam peneng pengenal diri bahwa mereka Yahudi. Ia juga bercerita mengenai satu kejadian mengerikan yaitu pembantaian besar-besaran yang menimpa populasi Yahudi saat itu yang dilakukan para penduduk lokal. Selama kejadian itu, ia juga ingat bagaimana Ia bersama anaknya bersembunyi di sebuah ruang bawah tanah di suatu gereja setempat yang akhirnya ditemukan massa dan kemudian terbunuh.

    Professor Barrie Dobson, Ahli sejarah Yahudi dari York University, diminta untuk mengkaji kebenaran ingatan ini. Ia kemudian menemukan bahwa deskripsi kehidupan Yahudi di abad ke 12 [1189/1190] yang di sampaikan oleh Jane mempunyai tingkat akurasi yang sangat mengagumkan dan bahkan banyak detail informasi tersebut hanya diketahui oleh para ahli sejarah yang sangat profesional.

    beberapa detail awalnya belum tepat, misal otoritas gereja roma menitahkan agar para Yahudi yang ada diseluruh negara kristen harus memakai identifikasi khusus. Dobson mengatakan bahwa titah itu baru dilakukan tahun 1215 M, namun dalam proses investigasi yang lebih mendalam, terungkaplah bahwa pemakaian peneng pengenal diri yang diwajibkan pada para Yahudi ternyata sudah tersebar luas di daerah Ingris selama abad ke 12 bahkan terjadi sebelum titah otoritas gereja. [Perintah pembedaan pakaian terhadap kaum Yahudi, telah dilakukan sejak abad ke 8 di Arab]

    Beberapa detail lainnya keakuratan sangat mengagumkan, misalnya Jane mengatakan bahwa kaum Yahudi saat itu meminjamkan uang pada raja Henry Plantagenet, untuk membiayai perang di Irlandia, sebagai gantinya mereka diperbolehkan berusaha, meskipun juga ditambah dengan membayar retribusi dari ‘sepersepuluh bagian’ atas apapun.

    Kemudian, Jane menceritakan bahwa setelah Henry meninggal di gantikan oleh Richard yang kemudian segera berangkat ke Perang Salib, mereka merasa telah kehilangan perlindungan terakhir mereka dan sedang bersiap melarikan diri kota. Ia memberikan angka tahun yaitu tahun 1189, di mana Henry telah melindungi mereka selama tiga puluh tahun.

    Jane juga mengatakan bagaimana seorang pastor datang ke York merekrut orang untuk yang sekarang disebut Perang Salib Ketiga. Kaum Yahudi dan Muslim dianggap sebagai kafir. Kebencian ini disampaikan oleh Paus sendiri. Kemudian, bagaimana orang-orang Yahudi dari York menjadi khawatir pada peningkatan aksi kekerasan di kota-kota lainnya yang ditujukan pada ras mereka, yang kemudian membuat suaminya segera mengamankan uang mereka untuk dipindahkan ke pamannya di Lincoln. Dobson sendiri memang telah mempunyai dokumentasi hubungan York-Lincoln di kalangan Yahudi ketika itu.

    Juga mengenai seseorang pria muda bernama ‘Mabelise’ yang telah meminjam uang kepada suaminya dan kemudian harus membawanya ke ‘assizes’ [pengadilan setempat] untuk dapat memintanya. Benar tercatat oleh para penulis sejarah, seorang bangsawan lokal bernama Richard Malebisse, yang berutang uang pada orang-orang Yahudi dari York dan kemudian malah memimpin pemberontakan terhadap mereka yang sebagaiannya agar dapat menghindari membayar utang-utangnya.

    Jane kemudian menceritakan bagaimana drama kehidupannya memburuk, yaitu dimulai dari kematian seorang pemimpin Yahudi bernama “Isaac” yang memicu kerusuhan di “coney street” dan ia mengingat bagaimana tetangga mereka, Ayahnya Benjamin yang dibunuh ketika pergi ke London. Dobson sendiri memberikan konfirmasi bahwa Benedict merupakan 1 diantara warga yahudi kaya raya, York yang terbunuh dalam kerusuhan di London ketika pengangkatan Richard dan kemudian dilanjutkan dengan pembantaian terhadap keluarganya.

    Jane mengatakan dirinya bersama keluarganya berlindung di sebuah kastil bersama para yahudi lainnya. para perusuh di hari pertama ada diluar Kastil dan kemudian makin mengganas, sehingga banyak para Yahudi segera membunuh mati anak2 mereka karena saat tertangkap akan mengalami penyiksaan yang sangat mengerikan. Dobson memberikan konfirmasi bahwa ini benar dan para penulis sejarahpun mencatat kejadian ini.

    Kemudian “suami” jane berhasil mengajak anak2nya mencari persembunyian di gereja tepat diluar “big copper gate’. Mereka berhasil mengikat pendeta dan pembantunya kemudian bersembunyi di ruang bawah gereja selama berhari-hari dalam keadaan ketakutan, kedinginan dan kelaparan. Pada beberapa hari kemudian, yaitu disaat Suami dan anak lelakinya mencari makan, Para perusuh mendekat, memasuki gereja, menuju tempat persembunyian mereka, menarik paksa anaknya dan kemudian gelap.

    Dobson, mengatakan bahwa “Gerbang besar Copper [Big Copper Gate)” tidaklah ada, namun pada waktu itu ada jalan yang bernama “CopperGate” memiliki gerbang besar di ujungnya yang mengarah ke Kastil.

    Dari detail cerita jane, Dobson kemudian mengidentifikasi St Mary’s, Castlegate sebagai “tersangka” utama gereja di mana Rebecca [Jane] dan suaminya bersembunyi. Gereja berada dekat dengan coppergate dan kastilpun terlihat. Namun, ada satu masalah, yaitu hampir sama dengan seluruh gereja yang ada di daerah itu, tidak mempunyai ruang bawah tanah atau gudang.

    Namun pada tahun 1975, Dobson bersurat pada Iverson dan menuliskan bahwa di bulan September, ketika dilakukan renovasi pada gereja tersebut, Para pekerja bangunan menemukan di bawah Mimbar Gereja, sebuah ruang bawah tanah dengan lingkaran bebatuan melengkung dan kubah. Suatu fenomena yang jarang terjadi pada gereja-geraja di area tersebut. Deskripsi tersebut, menyerupai keadaan bangunan sebelum periode Norman ataupun roman [sekitar 1190 M] dan bukan setelah itu. Namun tempat itu segera di tutup sebelum para arkeolog, York melakukan penyelidikan sepatutnya.


    Note:
    “The Bloxham Tapes”, tahun 1976, merupakan sebuah Dokumenter milik BBC. Jeff Iverson, seorang produser Televisi diminta untuk membuatnya dan kemudian bertemu dengan Arnall Bloxham serta mendengarkan 400an subjek regresinya Bloxham. Kasus “Jane Evans” [Rebecca], ini telah 2 (dua) x di investigasi, yaitu:

    • Kelompok 1,
      Jeffery Iverson dan Magnus Magnusson; Prof. barrie Dobson, seorang Proffesor sejarah Medieval yang mengajar di York dan Cambridge. Iverson, mendapatkan bahwa JANE pernah 1 sekolah di Newport namun beda tahun kelas dengan dirinya sendiri. Ia memastikan bahwa Jane tidak pernah punya pendidikan lanjutan dan tidak juga pada hal-hal yang relevan berhubungan dengan regresinya dan begitu pula dengan orang tuanya yang tidak banyak membaca atau menunjukan minat besar pada sejarah saat Jane masih muda.
    • Kelompok2,
      Di atas tahun delapan puluhan Melvin Harris dan Ian Wilson (bukan Ian Lawton), melakukan investigasi pada Iverson, Dobson, dan Jane. Harris menemukan bahwa Jane memang tidak membaca buku-buku sejarah dan juga buku-buku fiksi yang memainkan peranan besar dalam regresinya [ingatannya].
      Sementara Wilson melaporkan bahwa 3 (tiga) korespondennya mengingat ada siaran radio di tahun limapuluhan tentang peristiwa pembantaian di York, namun tidak satupun dari korespondennya dapat mengingat nama-nama dan Wilson pun tidak dapat meneruskan penelusuran lebih lanjut lagi

    Pada “The Bloxham Tapes Revisited“, Ian Lawton, mengomentari penyelidikan Melvin Harris, penulis buku “Investigating the Unexplained”. Yaitu ketika tahun 1986, Harris menyurati Dobson mengenai ruang bawah tanah dengan kubahnya bukanlah berasal periode sebelum medival, namun periode sesudahnya [> abad ke-15]. Yang Harris tuliskan, berasal dari temuan komisi survey kerajaan di tahun 1981, yang “kemungkinan besar penyisipan belakangan”.

    Kemudian, berdasarkan British Archaeology, no 24, May 1997: News, dalam suatu penggalian di dekat ruang bawah tanah Katederal Rippon, York [abad ke-7], ditemukan ruang bawah tanah di St Windried]


Apabila melihat isi Alkitab, seharusnya Yahudi dan Kristen mengenal baik konsep reinkarnasi, karena konsep tersebut di adopsi oleh kaum Farisi, Essene (Abad 2 SM – 2 M, essene menghilang di jaman penghancuran Yerusalem, menolak kompromi dengan Penjajah Roma, lelaki dewasa hidup selibat, mempercayai Mesias, memakai pakaian berwarna putih, sangat taat pada hari sabath) dan banyak Yahudi serta kaum semi-yahudi dijaman Yesus. Sejarahwan Yahudi, Yosephus mengatakan bahwa sekte utama Israel percaya pada reinkarnasi, Saduki satu-satunya sekte yang menolak ide ini.

Menurut perjanjian lama, Musa dianggap sebagai reinarnasi dari Abel (anak Adam) dan Adam sendiri di yakini lahir kembali sebagai juru selamat (Mesias). Reinkanasi adalah kepercayaan yang dipegang oleh banyak kristen selama 500 tahunan lebih setelah wafatnya Yesus. Kemudian dianggap sebagai kepercayaan klenik oleh gereja Katolik.

Banyak Bapak-bapak gereja di zaman awal kristen menerima ide reinkarnasi, Santo Jerome mengatakan bahwa Reinkarnasi diajarkan kepada para umat kristen yang terpilih di jaman awal. Bapak Kristen yang sangat berpengaruh di jaman awal kristen, Origen, mengajarkan teori reinkarnasi. Dengan kepercayaan tinggi dari Santo Jerome dan Santo Gregory, Origen menerima filsafat reinkarnasi dalam ajarannya

Beberapa peneliti yakin bahwa mereka dapat mendeteksi ide reinkarnasi dari tulisan-tulisan Santo Agustine, Santo Gregory dan bahkan pada tulisan Santo Francis dari Assisi. Kepercayaan tersebut dilarang pada konsili umum (ecumencal) ke 5 di abad ke 6. Sejak itu, kekristenan eropa, yaitu: Perancis, spanyol, bulgaria dan dimanapun mengadakan proses penyidikan yang sangat biadab. Sekte-sekte yang percaya reinkarnasi seperti Cathar dan Bogomil, di abad pertengahan, mengalami penindasan keji dan biadab oleh gereja. [REINCARNATION – Fact or Fallacy?, Douglas Lockhart]

Firman mengenai konsep reinkarnasi tercantum jelas di Alkitab, seperti misalnya di Kejadian 6:3,

    Berfirmanlah TUHAN: “Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.”


Kitab kejadian ini dipercaya di tulis oleh Musa yang hidup di tahun 1400 SM. Informasi di Kitab kejadian menyatakan bahwa Roh Tuhan menitis atau numadi atau entah apa lagi kalimat yang cocok kalau ber-inkarnasi dianggap tidak pas untuk ini ke setiap manusia. Kemudian di kitab Yehezkiel 37:1-14,

    ..Ia membawa aku melihat tulang-tulang itu berkeliling-keliling dan sungguh, amat banyak bertaburan di lembah itu; lihat, tulang-tulang itu amat kering. Lalu Ia berfirman kepadaku: “Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?”

    Aku menjawab: “Ya Tuhan ALLAH, Engkaulah yang mengetahui!”

    Lalu firman-Nya kepadaku: “Bernubuatlah mengenai tulang-tulang ini dan katakanlah kepadanya: Hai tulang-tulang yang kering, dengarlah firman TUHAN! Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada tulang-tulang ini: Aku memberi nafas hidup di dalammu, supaya kamu hidup kembali. Aku akan memberi urat-urat padamu dan menumbuhkan daging padamu, Aku akan menutupi kamu dengan kulit dan memberikan kamu nafas hidup, supaya kamu hidup kembali. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan kepadaku; dan segera sesudah aku bernubuat, kedengaranlah suara, sungguh, suatu suara berderak-derak, dan tulang-tulang itu bertemu satu sama lain. Sedang aku mengamat-amatinya, lihat, urat-urat ada dan daging tumbuh padanya, kemudian kulit menutupinya, tetapi mereka belum bernafas

    Maka firman-Nya kepadaku: “Bernubuatlah kepada nafas hidup itu, bernubuatlah, hai anak manusia, dan katakanlah kepada nafas hidup itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Hai nafas hidup, datanglah dari keempat penjuru angin, dan berembuslah ke dalam orang-orang yang terbunuh ini, supaya mereka hidup kembali.”

    Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan-Nya kepadaku.

    Dan nafas hidup itu masuk di dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali. Mereka menjejakkan kakinya, suatu tentara yang sangat besar.

    Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, tulang-tulang ini adalah seluruh kaum Israel.

    Sungguh, mereka sendiri mengatakan: Tulang-tulang kami sudah menjadi kering, dan pengharapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang.

    Oleh sebab itu, bernubuatlah dan katakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya, dan Aku akan membawa kamu ke tanah Israel. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada saat Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya. Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan membuatnya, demikianlah firman TUHAN.”


Menurut sarjana Alkitab, Kitab Yehezkiel di tulis di sekitar tahun 500 tahun SM. Beberapa pendapat menyatakan bahwa kejadian di Yehezkiel tersebut diatas BUKAN merupakan kejadian nyata. Apabila pendapat ini diterima, maka implikasinya adalah:

  • Alkitab jelas bukan buku suci dan jelas juga bukan kitab sejarah yang dapat dipercaya akurasi kebenarannya
  • Alkitab tidak ditulis oleh orang-orang yang diilhami roh kudus atau para penyeleksi kitab tidak terinspirasi dari roh kudus.
  • Berita keselamatan dan janji surga merupakan khayalan semata dari para pengarangnya.


Lepas dari itu semua, kalimat pasal 37 di atas mengindikasikan pengarangnya dan/atau masyarakat Yahudi saat itu sangat mengenal konsep reinkarnasi dengan baik. Allah terlihat me lakukan demonstrasi bagaimana reinkarnasi itu ada dan terjadi pada sekelompok orang. Berikutnya adalah di Kitab Maleakhi 4:5 yang dipercaya di tulis di tahun (430-420 SM)

    Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu.


Kemudian di Injil Yohanes 1:6-21 , terdapat percakapan berkenaan dengan ‘Elia akan datang’ yaitu ketika Yohanes pembaptis ditanya masyarakat mengenai siapa dirinya.

    Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes…Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: “Siapakah engkau?”.Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias.” Lalu mereka bertanya kepadanya: “Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?”. Dan ia menjawab: “Bukan!”. “Engkaukah nabi yang akan datang?”. Dan ia menjawab: “Bukan!”


Percakapan di atas, memberikan bukti bahwa kepercayaan reinkarnasi sudah melekat kuat dikalangan yahudi di tahun awal Masehi. Kemudian di Injil Matius 11:13-15 , 17:18, Markus 9:13, Yesus sendiri memberikan konfirmasi bahwa Yohanes Pembaptis adalah reinkarnasi Elia!

    Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes dan–jika kamu mau menerimanya–ialah Elia yang akan datang itu. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!


Di Injil Yohanes 9:1-3, tersurat jelas bahwa Yesus dan murid-muridnya mengenal baik konsep kelahiran kembali saat menyembuhkan orang Buta:

    Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.


Diagnosa yang dilakukan Yesus diatas apakah dapat dianggap bahwa Yesus menolak konsep Kelahiran kembali?

Untuk dapat menjawab ini, kita kutip kitab keluaran 34:7,

    Aku tetap mengasihi beribu-ribu keturunan dan mengampuni kesalahan dan dosa; tetapi orang bersalah sekali-kali tidak Kubebaskan dari hukumannya, dan Kuhukum pula anak-anak dan cucu-cucu sampai keturunan yang ketiga dan keempat karena dosa orang tua mereka


Dengan memperhatikan ayat keluaran di atas, maka apakah ini dapat juga diartikan bahwa diagnosa yang dilakukan yesus juga menyatakan bahwa Yesus menolak konsep Dosa Turunan?

Tidak. Yesus mendiagnosa penyebab orang itu dilahirkan buta adalah karena ada pekerjaan Allah yang harus dinyatakan lewat dia. Ayat tersebut sekaligus memberikan konfirmasi bahwa sang pendiangnosa sangat paham konsep Reinkarnasi dan dosa turunan, sehingga dapat memberikan diagnosa yang tepat dan baik!

Terdapat beberapa spekulasi yang beredar di kalangan masyarakat saat itu mengenai siapa Yesus/Isa sebelum dilahirkan yaitu di lukas 9:18-20,

    Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka: “Kata orang banyak, siapakah Aku ini?”

    Jawab mereka: “Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.”

    Yesus bertanya kepada mereka: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus: “Mesias dari Allah.”


Kalimat yang kurang lebih sama dinyatakan di Matius 16:13-16; Markus 8:27-29. Bayangkan Pengertian Masyarakat saat itu! Bahkan sekaligus memasukan Yohanes pembaptis yang baru saja meninggal sudah dianggap menitis kepada Yesus! Anda tidak akan heran apabila membaca kisah dibawah ini di II Raja-raja 2:9, 13-15,

    Dan sesudah mereka sampai di seberang, berkatalah Elia kepada Elisa: “Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu.” Jawab Elisa: “Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu…Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai..Sesudah itu dipungutnya jubah Elia yang telah terjatuh, lalu ia berjalan hendak pulang dan berdiri di tepi sungai Yordan… Ia mengambil jubah Elia yang telah terjatuh itu, dipukulkannya ke atas air itu sambil berseru: “Di manakah TUHAN, Allah Elia?” Ia memukul air itu, lalu terbagi ke sebelah sini dan ke sebelah sana, maka menyeberanglah Elisa…Ketika rombongan nabi yang dari Yerikho itu melihat dia dari jauh, mereka berkata: “Roh Elia telah hinggap pada Elisa.” Mereka datang menemui dia, lalu sujudlah mereka kepadanya sampai ke tanah.


Konfirmasi spekulasi masyarakat mengenai alternatif reinkarnasi yesus dari beberapa Nabi mendapatkan kepastian jawabnya di Matius 17:1-3; Markus 9:2-4; Lukas 9:28-36. Yesus bersama Petrus, Yohanes dan Yakubus naik ke atas gunung untuk berdoa

    Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Dan tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia….Sementara ia berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Dan ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” Ketika suara itu terdengar, nampaklah Yesus tinggal seorang diri.


Yesus dipastikan bukan reinkarnasi dari Musa atau Elia. Spekulasi masyarakat bahwa Ia reinkarnasi Alm Yohanes Pembaptis atau nabi lainnya tidak mendapat kepastian. Spekulasi Petrus bahwa Ia adalah Mesias dari Allah, juga tidak dapat dipastikan kebenarannya! karena ketika itu mereka semua berada dalam keadaan diselimuti awan dan tiba-tiba ada suara, “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” Pemilik suara tidak memperkenalkan dirinya siapa! suara itu bisa suara siapa saja, dapat saja itu memang suara Allah atau Roh Kudus, roh yang tidak Kudus, Iblis, Orang lain yang dipersiapkan di sekitar daerah itu atau bahkan suara itu adalah suara dari Yesus sendiri! Intinya, tidak ada bukti bahwa itu adalah suara Allah!

Yesus juga menjadi saksi adanya konsep kelahiran kembali seperti yang tercantum di Yohanes 3:3-12,

    Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”

    Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?”

    Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.

    Nikodemus menjawab, katanya: “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?”

    Jawab Yesus: “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?


Kemudian di 1 Korintus 15:32, 35-44 pun menyatakan sebagai berikut:

    Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati”…

    Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: “Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?

    Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu. Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain.

    Tetapi Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri. Bukan semua daging sama: daging manusia lain dari pada daging binatang, lain dari pada daging burung, lain dari pada daging ikan. Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh duniawi…

    Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah….

    Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi. Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa.


Terdapat satu hal menarik yang sering dijadikan landasan menolak paham reinkarnasi yaitu Ibrani 9:27,

    Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.


Dengan mengesampingkan semua bukti mengenai adanya reinkarnasi di Alkitab dan hanya memakai teori dalam artian buta pada kitab ibrani di atas, maka Kristen tidak akan mampu menjawab fenomena yang ada di catatan dokter psikiater dan penulis novel Arthur Guirdham, hasilnya di investigasi oleh Tony Robinson dan sain jurnalis Becky McCall:

    Seorang pasiennya bernama Ny Smith mengaku sejak usia 10 tahun kerap dihantui mimpi bahwa ia pernah hidup sebagai istri pendeta kaum Chatar di abad ke-13.

    Saat dalam perawatan, ia bisa menceritakan detail pembantaian massal terhadap kaum Cathar di Eropa ( Perancis) karena diangap sebagai aliran sesat dari agama Kristen. Ny Smith menyebutkan bahwa banyak pendeta Cathar yang dibunuh dan dibakar. Ia sendiri mengaku diikat massa dan dibakar hidup-hidup di tumpukan kayu bakar. Ia juga menggambarkan detail pakaian, struktur bangunan, dan peradaban di masa itu.

    Sang dokter, Arthur Guirdham, seorang yang benar-benar skeptic pada reinkarnasi dan hal-hal yang berhubungan dengan ini, melakukan penelitian detail dan melakukan kroscek terhadap pengakuan si pasien. Ia terkejut ketika menemukan sebuah fakta sejarah yang sejalan dengan penuturan Ny Smith yang sama sekali tidak paham sejarah kaum Cathar.

    Sejarah mencatat bahwa Paus innocent III meluncurkan perang salib brutal atas pengikut sekte cathars yang mempercayai adanya reinkarnasi. Kejadian tersebut menyebabkan terjadinya pembantaian puluhan ribu pria, wanita dan anak2 yang tidak bersalah.

    Dari manakah para pasien ini mendapatkan informasi detail yang bahkan hanya tertulis di literatur yang nyaris tak pernah dipublikasikan untuk awam?


Untuk dua kisah nyata diatas, Kristen biasanya berpendapat diantara dua, yaitu itu adalah kuasa Tuhan atau itu adalah Kuasa Iblis/roh kegelapan untuk menipu!

Kuasa Tuhan? Bukankah akan lebih baik bagi Tuhan untuk menunjukan Kuasanya dalam menyelamatkan korban yang dibantai daripada hanya menunjukan ingatan kejadian itu pada Jane dan Mrs Smith? atau Tuhan menunjukan Kuasanya untuk membunuh lewat tangan pihak lain?

Kuasa Kegelapan/Iblis dan Doktrin Iblis? Maka contoh diatas justru membuktikan bahwa mereka yang tidak mempercayai reinkarnasi malah bertindak sesuai kehendak iblis!

Iblis jelas tidak memperoleh manfaat dengan diakuinya reinkarnasi oleh masyarakat bahkan kepercayaan pada konsep reinkarnasi banyak merugikan Iblis

Ini memerupakan ‘balas dendam’ yang manis sekaligus pembuktian kebenaran sekte yang mengakui adanya reinkarnasi namun justru dibantai secara brutal karena melawan pendapat mayoritas kristen.

Nah, silahkan anda pilih pendapat mana yang anda hendak tawarkan sebagai solusinya:

  1. Kontradiktif terjadi dalam Alkitab perjanjian baru, sehingga satu diantara mereka tidak dipenuhi Roh Kudus malah Roh Iblis. Maka boleh diduga kitab Ibranilah yang keliru karena kitab Ibrani kelihatannya tidak mengerti maksud Yesus ketika berbicara hal-hal surgawi, atau
  2. Term kata ‘manusia’ adalah Roh dan Daging. Roh kekal selamanya dan Daging tidak. Di hari penghakiman yang dibutuhkan Roh bukan daging, sehingga daging yang tidak akan kembali sebagaimana tercantum dalam Mazmur 78:39, ”Ia ingat bahwa mereka itu daging, angin yang berlalu, yang tidak akan kembali”. Roh kekal adanya dan dapat dilahirkan kembali dengan daging baru. , atau
  3. Kristen ‘mau’ mengakui kebenaran konsep reinkarnasi ‘asal’ berada pada batas-batas: Roh hanya dapat menjadi
    • Daging, contoh:Kejadian 6:3, Yehezkiel 37
    • Roh Allah bereinkarnasi menjadi Nabi, contoh: Yohanes reinkarnasi Elia (Matius 11:13-15)
    • Manusia berubah menjadi Malaikat/roh di surga, contoh: Henokh dan Ellia yang diangkat.
    • Roh yang dapat hinggap ke dalam manusia: contoh elia ke elisa, roh kudus ke manusia, roh daripada tuhan kemanusia, setan kedalam babi, setan kedalam manusia


Informasi di Alkitab sangat jelas memberikan konfirmasi bahwa konsep reinkarnasi telah dikenal luas dan bermasyarakat di kalangan Yahudi dari sebelum hingga ketika Yesus ada.

Kalangan Yahudi pun ternyata sudah berbicara mengenai adanya reinkarnasi dan tidak tanggung-tanggung, yang berbicara itu bukan yahudi kebanyakan ia adalah seorang RABBI!

Rabbi Isaac Luria (1534-1572 yang juga dikenal sebagai ARI atau ARIZAL), dikenal luas sebagai Kabbalist dari jaman modern. Ia menuliskan reinkarnasi tokoh-tokoh terkemuka yang ada di Torah (Perjanjian lamanya Kristen).

Untuk jaman sekarang ini, kaum Yahudi yang berbicarapun bukan yahudi kebanyakan! Ia adalah Rabbi Yonassan Gershom, Ia menuliskan 2 buku mengenai kasus-kasus reinkarnasi dari Holocaust Ia berbicara mengenai kisah-kisah autentik reinkarnasi dari Yahudi

Ia juga memberikan komentar pada kisah dari Jenny Cockell, yang selalui di hantui oleh mimpi seperti ingatan dari kehidupannya dulu sebagai wanita muda Irlandia yang bernama Mary Sutton, yang meninggal 2 dekade sebelum Jenny Cockell dilahirkan, meninggalkan 8 orang anak. Setelah mencari jejak berdasarkan dari petunjuk-petunjuk ingatannya, Jenny akhirnya berhasil melacak anak-anak Marry Sutton dan menulis buku mengenai pengalamannya, Across Time and Death: A Mother’s Search for Her Past Life Children.

Komentar Rabbi Yonassan Gershom:

    ” Ini adalah satu kasus yang paling menyakinkan dari kasus-kasus reinkarnasi yang saya dapatkan selama ini. Jenny Cockell tidak hanya mempunyai ingatan dari kehidupan lalunya, Ia bahkan menemukan anak-anaknya dikehidupan lalunya. Anak-anak di masa lalunya yang saat ini masih hidup adalah penganut katolik roma taat, yang tidak percaya adanya Reinkarnasi, namun dalam rekaman, mereka berkata bahwa entah bagaimana ibunya ‘berbicara melalui’ Jenny dan mereka telah memverifikasi beberapa detail dari ingatannya. Bertemu Jenny Cockell dalam satu konferensi di Oslo, Norwegia tahun 1994 dan melihat bahwa ia seorang yang sangat tulus dan kredibel . Saya sangat merekomendasikan buku ini!”


BELUM CUKUP? Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!

[Kembali]




Islam: Kelahiran Kembali

Sebelum kita mulai, simaklah sejenak kisah Imad Ilawar dibawah ini:

    Imad Elawar lahir pada tanggal 21 Desember 1958 di desa Kornayel Lebanon. anak dari Mohammad dan Nasibeh Elawar. Ketika berusia 1.5 sampai dengan 2 tahun ia mulai membuat referensi atas kehidupannya terdahulu. Ia menyebut sejumlah nama orang dan beberapa peristiwa dalam hidupnya terdahulu, dan juga sejumlah benda-benda yang dinyatakannya dimilikinya. Kadang-kadang ia bicara kepada dirinya sendiri tentang orang-orang yang nama-namanya ia sebut-sebut, bertanya kepada dirinya sendiri dengan suara keras-keras bagaimana keadaaan orang-orang ini sekarang. Disamping berguman terhadap dirinya sendiri, pernyataan pernyataannya tentang hidupnya terdahulu keluar pada saat -saat yang aneh, ketika sesuatu tampaknya merangsang pernyataan demikian. Ia juga berbicara mengenai hal-hal itu dalam tidumya. Imad mengatakan bahwa ia hidup di desa Khirby dalam keluarga Bouhamzy. la meminta kepada orang tuanya untuk membawanya ke Khirby.

    Ayahnya menghardik Imad pembohong karena mengatakan hal-hal mengenai hidupnya terdahulu. Imad tetap membicarakan hal ini.

    Suatu hari Salim el Aschkar, seorang penduduk Khirby datang ke Kornayel. Salim kawin dengan seorang gadis dari Kornayel, karena itu ia sewaktu-waktu mengunjungi desa ini. Ketika Salim lewat Imad sedang berada di jalan bersama neneknya. Ketika Imad melihat Salim, ia berlari menyongsong Salim dan memeluknya. Salim bertanya : “Apakah kamu mengenal saya?” Imad menjawab: “Ya, kamu adalah tetangga saya.” Salim dulu memang tetangga keluarga Bouhamzy, tapi sekarang Salim sudah pindah rumah. Pernyataan yang tak terduga ini menimbulkan kepercayaan pada ayah Imad, tapi keluarganya tidak mengambil tindakan untuk mengecek kebenaran dari pernyataan-pemyatan Imad. Beberapa waktu kemudian, mereka bertemu dengan seorang wanita dari Maaser el Shouf, satu desa dekat Khirby, yang datang ke Kornayel untuk satu kunjungan. Dia menegaskan kepada orang tua Imad bahwa beberapa orang yang nama-namanya disebut-sebut oleh Imad memang ada atau pernah hidup di Khirby.

    Jamileh
    Kata-kata pertama yang diucapkan oleh lmad adalah “Jamileh” dan “Mahmoud”. Imad bercerita tentang suatu peristiwa kecelakaan dimana sebuah truk menabrak seorang laki, mematahkan kedua kakinya dan luka berat lain, yang menyebabkan laki-laki itu meninggal. Imad bercerita tentang pertengkaran antara sopir truk dengan orang yang ditabrak dan yakin bahwa sopir itu sengaja hendak membunuh laki-laki itu dengan mengarahkan truk untuk menabraknya.

    Ayah Imad mencoba menghubung-hubungkan ucapan-ucapan Imad menjadi sebagai berikut. Mahmoud Bouhamzy menikah dengan Jamileh. Kemudian Mahmoud tertabrak truk dan tewas.

    Pada bulan Desember 1963, satu pengumuman dan undangan dari Khirby untuk penguburan Said Bouhamzy, seorang tokoh Druze di Khirby disampaikan ke Kornayel. Paman Imad, seorang tokoh Druze di Komayel dan ayah Imad karena ingin tahu datang ke Khirby. Inilah kunjungan mereka yang pertama ke Khirby. Adalah kebiasaan orang-orang Druze untuk saling mengundang bila ada kematian khususnya bila yang mati itu adalah orang penting. Sebelumnya kedua keluarga ini belum saling mengenal. Dan pada kesempatan itu mereka tidak melakukan pengecekan apapun atas pengakuan Imad.

    Komayel adalah satu desa di pegunungan kira-kira 15 mil di sebelah timur Beirut. Khirby kira-kira 20 mil di sebelah tenggara Beirut. Jarak lurus dari Komayel ke Khirby adalah 15 mil. Tapi bila mengikuti jalan melinakar pegunungan dari Kornayel menuju Khirby jaraknya adalah 25 mil.

    Stevenson ke Lebanon
    Ketika sedang mengadakan penelitian di Brazil Dr. Stevenson mendengar adanya kasus-kasus reinkamasi dari seorang penerjemahnya yang berasal dari Lebanon. Pada bulan Maret 1964 ia datang ke Lebanon. Ketika itu Imad berusia 6 tahun. Dr. Ian Stevenson mengadakan penyelidikan atas kasus ini. Setelah melakukan pengecekan terhadap ucapan-ucapan Imad melalui wawancara dengan 20 orang informan, di Kornayel, Khirby, Baadaran di Lebanon dan Raha di Syria, akhirnya diketahui orang yang dimaksud oleh Imad sebagai hidupnya terdahulu adalah Ibrahim Bouhamzy. Mahmoud adalah paman Ibrahim dari pihak ibu. Sedangkan keluarga Bouhamzy yang meninggal karena tertabrak truk pada bulan Juni 1943 adalah Said Bouhamzy.

    Ibrahim Bouhamzy telah meninggal pada tanggal 18 Desember 1949, dalam usia 26 tahun karena TBC, tujuh tahun sebelum Imad lahir. Ketika masih hidup Ibrahim mempunyai “pacar” (mistress, bhs Bali = mitra) bernama Jamileh. Mereka tidak pernah menikah. Setelah Ibrahim meninggal Jamileh menikah dengan laki-laki lain dan pindah dari Khirby ke desa Aley 8 mil dari Komayel..

    Dari semua orang yang disebut oleh Imad terkalt dengan hidupnya sebelumnya, Jamileh menempati posisi utama. Namanya adalah kata pertama yang diucapkan secara jelas ketika Imad mulai bicara dan sejak itu sering dia ucapkan. Dia mengatakan dia membelikan baju-baju merah untuknya dan membandingkan kecanitkan dan baju Jamileh dengan kecantikan dan baju ibunya, misalnya ia mengatakan ibunya tidak memakai sepatu hak tinggi seperti Jamileh. Kerinduan Imad dengan Jamileh mencapai ekspresi puncaknya ketika suatu hari ia berbarig di tempat tidur dengan ibunya dan ia tiba-tiba meminta ibunya untuk bertingkah seperti Jamileh. Peristiwa ini terjadi ketika Imad berusia sekitar 3 tahun.


[Sumber: di sini, di sini dan di sini. Analisis rinci: di sini dan di sini]

Berikut ini adalah pendapat mengenai Reinkarnasi (tanasukh Al-Arwah dan/atau Raj’ah) dari dua ahli ilmu agama Islam dari Sekolah Pasca sarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta:

Dr. Kautsar(DosenPascasarjana):

    Secara umum para pemikir Islam menolak paham reinkarnasi. Ibnu ‘Arabi yang dikenal liberal itu, dalam penelitian Kautsar, tak punya pandangan semacam itu. Kautsar sendiri menilai pandangan tentang reinkarnasi itu rasional. Menurut Kautsar, bila ada orang yang dari lahir sudah menderita, maka itu bisa dijelaskan sebagai akibat perilakunya pada masa lalu. “Ini rasional sekali. Sehingga kita tidak selalu menjawab misteri keadilan Tuhan dengan kata-kata taqdir Tuhan,” katanya. Penganut reinkarnasi, menurut Kautsar, juga mengakui alam akhirat. “Jadi, pesan dasar paham reinkarnasi itu tak bertentangan dengan Islam,” paparnya. Misalnya, ia mengakui adanya hari akhirat. Bedanya, untuk menuju akhirat, bagi penganut reinkarnasi, jalannya berulang-ulang. Sedangkan bagi yang tidak percaya, jalannya linear. ” Dr Kautsar juga meyakini ada hukum sebab akibat, sehingga mendorong orang berbuat lebih baik,”.


Dr. Nasaruddin Umar(Purek IV)

    Ia Menolak konsep reinkarnasi, bila yang dimaksud sama dalam pengertian agama Hindu. “Misalnya, manusia bisa berinkarnasi menjadi hewan atau tumbuhan. Atau jangan-jangan kita berasal dari ruh babi, atau kelak kita menjadi babi,” katanya. Bila itu diterima, menurut Nasaruddin, berarti buyar semua konsep Islam. “Tapi, kalau dalam pengertian proses, misalnya, manusia diciptakan dari bumi lalu kembali ke bumi, itu bisa,” paparnya.


Pendapat pak Purek IV diatas kelihatannya merujuk pada hadis Muslim dibawah ini:

    Abu Hurairah ra meriwayatkan,
    Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada (kepercayaan) penularan tanpa kehendak Allah, tidak benar kematian karena cacing perut dan tidak benar reinkarnasi menjadi burung. Lalu seorang arab badui bertanya: Ya Rasulullah! Lalu bagaimana dengan unta yang berada di padang penggembalaan yang semula bagaikan kijang kemudian didatangi oleh unta berkudis dan setelah bergabung, maka semua unta menjadi ketularan berkudis? Rasulullah saw. bersabda: Lalu yang manakah yang menularkan pertama kali [Hadis sahih Muslim 1281)


Untuk itu mari kita tinjau Qur’an dan As-Sunnah.

Allah dan Muhammad menyatakan bahwa Al Qur’an adalah sebagai penguji dan membenarkan kitab-kitab sebelumnya sebagaimana di sebutkan di Surat Al maidah yang di turunkan disekitar haji Wada, 10 H [632 M], dekat dengan saat meninggalnya Nabi:

    [5:68] Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.

    [5:46] Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.

    [5:48] Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,


Reinkarnasi (tanasukh Al-Arwah dan/atau Raj’ah) seperti maksud yang tercantum di Alkitab pada kitab Yehezkiel, tampaknya disinggung pula di Alqur’an. Berikut ini beberapa ayat golongan surat Al Makkiya, yang turun sebelum Hijrah yang mengindikasikan Islam mengenal reinkarnasi:

    Surat Ibrahim 14:19-20, “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan sebenar-benarnya? Jika dia menghendaki, niscaya dia membinasakan kamu dan menggantikan kamu dengan makhluk yang baru. Dan yang demikian itu tidak sukar bagi Allah.”

    Surat An Nahl 16:70, Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa

    Surat Al Israa’ 17:48-52, Kami lebih mengetahui dalam keadaan bagaimana mereka mendengarkan sewaktu mereka mendengarkan kamu, dan sewaktu mereka berbisik-bisik (yaitu) ketika orang-orang zalim itu berkata: “Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir.” Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu; karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar). Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?”Katakanlah: “Jadilah kamu sekalian batu atau besi, atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin menurut pikiranmu.” Maka mereka akan bertanya: “Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?” Katakanlah: “Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama.” Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata: “Kapan itu (akan terjadi)?” Katakanlah: “Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat”, yaitu pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira, bahwa kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja.

    Surat Thaahaa 20:128, “Maka apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka, berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, mereka berjalan pada bekas tempat tinggal umat dahulu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah sebagai tanda bagi orang-orang yang mempunyai akal.”

    Surat Al Mu’minun 23:82-89, Mereka berkata: “Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan ? Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman (dengan) ini dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala!.” Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” …Katakanlah:…. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?

    Surat Al ‘Ankabuut 29:18-20, Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebelum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Katakanlah: Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu

    Surat Al Ruum 30:19,27 Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan..Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

    Surat Al Mu’min 40:82, “Apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang dahulu sebelum mereka. Sesungguhnya orang-orang dahulu sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dengan bekas jejak mereka di muka bumi, namun apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka.”

    Surat Qaaf 50:36, Allah menetapkan kehancuran umat dahulu dan terdahulu, walaupun telah memiliki tamadun yang sangat tinggi dan maju, lebih ramai dan lebih kuat: “Berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka? Mereka lebih besar kekuatannya, maka mereka telah menjelajahi negeri-negeri. Adakah tempat lari?”


Yang menarik adalah ternyata Al qur’an juga menyatakan nubuatan bahwa akan ada yang dihidupkan kembali sebelum hari kiamat yaitu:

    Surat an-Naml 27:83, Allah SWT berfirman , “Dan dan pada hari itu kami bangkitkan dari tiap-tiap umat, segolongan orang yang mendustakan ayat Kami, lalu mereka di bentuk menjadi beberapa kelompok”.


Dalam tradisi Islam disamping menguji kitab-kitab terdahulu, terdapat juga metoda ‘Nasikh Mansukh’ yang kurang lebih berarti ‘ayat yang menggantikan/menghapus ayat yang digantikan/dihapus’

    Al Baqarah 2:106, Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?

    An-Nahl 16:101, Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja”. Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui.


Dari reaksi perkataan orang-orang itu jelas bahwa banyak yang berkeberatan atas keputusan Allah dan bisa juga di artikan bahwa mereka yang berkeberatan sudah menikmati beberapa keuntungan sebelumnya dan kemudian Allah mengubahnya! Allah menegaskan bahwa Ia lebih mengetahui apa yang diturunkannya

    Al Ra’d 13:39, Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul kitab (Lohmahfuz).

    Al-Israa’ 17:86, Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan dengan pelenyapan itu, kamu tidak akan mendapatkan seorang pembela pun terhadap Kami,


Setelah Hijrah ke Medinah, reinkarnasi yang tampaknya disinggung di berbagai surat-surat golongan Al Makiyya bukannya di ‘Nasikh Mansukh’ -kan malah dipertegas oleh surat Al Baqarah, yang turun belakangan yaitu pada 2 Hijriah. Surat itu menegaskan dan mengukuhkan keberadaan reinkarnasi:

    Surat Al Baqarah 2:28, Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?

    Surat Al baqarah 2:56, Lalu kami bangkitkan kalian setelah matinya kalian, agar kalian berterimakasih”.


Ayat ini menceritakan tentang dibangkitkannya kembali sekelompok Bani Israil, yang meminta kepada nabi Musa untuk memperlihatkan Allah kepada Mereka. Dan kalimat terakhir Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa mereka di bangkitkan di bumi ini. Karena di akherat, tidak ada lagi kesempatan bagi seseorang yang kufur untuk bersyukur.

    Surat Al baqarah 2:73, Maka Kami berfirman; pukulah dia dengan sebagian itu! Demikianlah Allah menghidupkan orang mati. Dan Dia memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kamu, agar kamu mengerti”.


Ayat ini menceritakan, tentang dihidupkannya kembali seorang dari Bani Israel, yang terbunuh oleh kerabatnya sendiri. Dan ia dihidupkan kembali, supaya memberikan kesaksian akan siapa yang telah membunuhnya.

    Surat Al baqarah 2:243, Tidaklah engkau perhatikan orang-orang yang keluar dari tempat tinggal mereka, dan mereka itu beribu-ribu jumlahnya, karena mereka takut mati. Lalu Allah berfirman kepada mereka; Matilah kalian! Kemudian Ia menghidupkan mereka kembali”.


Ayat ini menceritakan, bahwa Allah swt telah menghidupkan kembali ribuan Bani Israel, yang keluar dari Mesir lantaran takut dari ancaman mati Firaun, setelah Allah mematikan mereka.

    Surat Al Baqarah, 258-260, Apakah kamu tidak memperhatikan orang[163] yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.”[164]Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim

    Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi beubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu ?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah[165] semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

    [163] Yaitu Namrudz dari Babilonia
    [164] Maksudnya raja Namrudz dengan menghidupkan ialah membiarkan hidup, dan yang dimaksudnya dengan mematikan ialah membunuh. Perkataan itu untuk mengejek Nabi Ibrahim a.s.
    [165] Pendapat diatas adalah menurut At-Thabari dan Ibnu Katsir, sedang menurut Abu Muslim Al Ashfahani pengertian ayat diatas bahwa Allah memberi penjelasan kepada Nabi Ibrahim a.s. tentang cara Dia menghidupkan orang-orang yang mati. Disuruh-Nya Nabi Ibrahim a.s. mengambil empat ekor burung lalu memeliharanya dan menjinakkannya hingga burung itu dapat datang seketika, bilamana dipanggil. Kemudian, burung-burung yang sudah pandai itu, diletakkan di atas tiap-tiap bukit seekor, lalu burung-burung itu dipanggil dengan satu tepukan/seruan, niscaya burung-burung itu akan datang dengan segera, walaupun tempatnya terpisah-pisah dan berjauhan. Maka demikian pula Allah menghidupkan orang-orang yang mati yang tersebar di mana-mana, dengan satu kalimat cipta hiduplah kamu semua pastilah mereka itu hidup kembali. Jadi menurut Abu Muslim sighat amr (bentuk kata perintah) dalam ayat ini, pengertiannya khabar (bentuk berita) sebagai cara penjelasan. Pendapat beliau ini dianut pula oleh Ar Razy dan Rasyid Ridha.

Disamping ayat-ayat Al Qur’an di atas, beberapa Hadis dibawah ini juga mengisyaratkan adanya peristiwa reinkarnasi:

    Ketika Rasulallah SAW wafat, Umar bin Khatab, berkata “Demi Allah sungguh Rasulallah akan kembali” [Juga lihat kitab-kitab A qidah Syiah Imamiah. Seperti; Aqaid al-Imamiah,Syekh Muzaffar, hal 109 / Aqidah No 32, juga Al-Ilahiyat milik Syekh Jakfar Subhani, jilid 4, hal 289 dll. Tarikh Thabari, jilid 2, hal 442. Sirah Ibnu Hisyam, jilid 4, hal 305.]

    “Demi Tuhan yang jiwaku dalam genggaman-Nya, seandainya seseorang gugur di jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi lalu gugur lagi, kemudian dihidupkan lagi lalu gugur lagi, niscaya ia tidak dapat masuk surga sebelum melunasi hutangnya. (H.R. Nasai)

    “Orang yang berhutang itu dibelenggu dalam kuburnya, tiada yang dapat melepaskannya selain ia membayar hutangnya.” (H.R. Dailami) [Note: Perhatikan, siapa yang melunasi hutang tersebut? Dirinya sendiri! tidak ada tambahan kata dapat diwakilkan oleh siapapun termasuk keluarganya!]

Semua ayat Qur’an yang dituliskan di atas adalah menurut Mushaf Usman (Qur’an yang kita kenal sekarang), entah berapa banyak lagi ayat yang berkenaan dengan reinkarnasi akan ada jika saja ayat-ayat Al qur’an tersebut tidak hilang/berkurang/terpotong/terkikis terlebih dahulu sebelum di Mushaf-kan.

Ya! Ini bukan isapan jempol. Bukti terkikisnya Al Qur’an juga disebutkan misalnya Muhammad, sang Nabi-pun sebagai penerima wahyu dapat lupa dengan wahyu yang diturunkan padanya:

    Al Baqarah 2:106, Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?

    Di riwayatkan bahwa Nabi lupa ayat-ayat Quran dan Allah membuat Nabi lupa ayat-ayat yang diturunkanNya:

      ‘Nabi mendengar seseorang mengucapkan / melantunkan Quran di mesjid dan berkata, “Semoga Allah melimpahkan rahmatNya padanya, karena dia telah mengingatkan saya ayat-ayat ini-dan itu dalam suatu surat.” Diriwayatkan Aisha dan Hisham (hadisnya sama kecuali kata ‘ayat-ayat’ diganti dengan kata ‘yang saya lupa’ [Sahih Bukhari Volume 6 book 61 number 556, 557, 558, 562; Sahih muslim Book 4 No.1720, 1721, 1724, 1726]

      Sahih Bukhari Volume 6 Book 61 Number 559:
      Dinarasikan oleh Abdullah: Nabi berkata, “Mengapa seseorang dari orang-orang itu berkata, ‘Saya lupa ayat ini-dan-itu (dari Quran)’ Dia, sebenarnya, dibuat (oleh Allah) untuk melupakannya.”

Beberapa kumpulan pendapat dibawah ini sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan bahwa kalimat Allah telah mengalami hilang / berkurang / terpotong / terkikis bahkan sebelum di Mushafkan! Misalnya:

    Anas b. Malik mengingat satu ayat yang turun saat beberapa muslim terbunuh dalam perang, tetapi kemudian hilang [Muhasibi, Fahm al Quran an wa manih , p 399, Tabari, Jami al Bayan, vol 2 p 479]

    Abdullah ibn Umar menyatakan banyak bagian qur’an yang telah hilang.[Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 3 p 81-82]

    dan beberapa pakar yang kemudian menyatakan bahwa banyak bagian qur’an telah hilang sebelum dikumpulkan.[Ibn Abi Dawud, Kitab al Masahif, p 23 (mengutip pendapat Ibn Shihab (al Zuhri); Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 5 p 179, mengutip Sufyan al Thawri; Ibn Qutaybah, Tawil, p 313; Ibn Lubb, Falh al bab, p 92]

Atau ‘dinashkan’ untuk ‘kepentingan’ tertentu setelah meninggalnya Nabi yaitu berdasarkan tanggapan atas Mushaf usman baik itu berupa tidak diketemukan ayat-ayat yang mereka dengar langsung ataupun menjadi berbeda setelah di Mushaf Usman:

    Ubay b. Ka’b, sebagai contoh, menuliskan sura 98 (Al Bayyinah) berbeda dimana Ubay mengklaim versi dia adalah dia dengar langsung dari nabi SAW. Termasuk 2 surah yang tidak dimasukkan dalam mushaf Usman [Ahmad b. Hanbal, vol 5 p 132; Tirmidhi, Sunan, vol 5 p 370; Al Hakim al Naysaburi, al Mustadrak, vol 2 p 224; Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 3 p 83]

    Ubay juga berpendapat bahwa sura 33 (al-Ahzab) seharusnya lebih panjang, dimana yang dia yakin ingat adalah ayat-ayat rajam yang tidak tertulis dalam mushaf Usman.Aisha menyatakan bahwa saat Nabi Muhammad SAW masih hidup surat Al-Ahzab 3 kali lebih panjang dari yang ada di Mushaf Usman [Ahmad b. HAnbal, vol 5 p 132; Muhasibi, Fahm al Quran an wa manih , p 405; Bayhaqi, al Sunan al Kubra, vol 8 p 211; Al Hakim al Naysaburi, al Mustadrak, vol 2 p 415; Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 3 p 82, vol 1 P.226; Al Raghib al Isfahani, Muhadarat al Udaba, vol 4 p 434]

    Kesaksian Hudhayfa b. al-Yaman yang menemukan sekitar 70 ayat tidak tercantum dalam mushaf Usman. Hudhayfa juga meyakini bahwa Sura 9 (al-Bara’a) dalam mushaf Usman hanyalah ¼ dari yang biasa dibacakan saat nabi SAW masih hidup.[Suyuti, al Durre Manthur, vol 5 p 180, mengutip dari Bukhari, Kitab at Tarikh; Al Hakim al Naysaburi, al Mustadrak, vol 2 p 331; Haytami, Majam al Zawaid, vol 7 p 28-29; Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 3 p 84]

    Bahwa Suras 15 (al-Hijr) and 24 (al-Nur) seharusnya lebih panjang dari yang tercantum dalam mushaf Usman. [Sulaym b. Qays al Hilali, Kitab Sulaymn b. Qays, p 108; Abu Mansur al Tabrisi, al Intijaj, vol 1 p 222, 286; Zarkashi, al Burhan fi ulum al Quran, vol 2 p 35]

    Abu Musa al-Ash’ari mengingat keberadaan 2 sura yang panjang dimana hanya satu ayat dari 2 sura itu yang dia masih ingat. Namun 2 sura itu tidak ada dalam mushaf Usman [Muslim, vol 2 p 726; Muhasibi, Fahm al Quran an wa manih , p 405; Abu Nuaym, Hilyat al Awliya, vol 1 p 257; Bayhaqi, Dalai, vol 7 p 156; Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 3 p 83]

Jadi, melihat kumpulan Ayat al makiyya dan Almadaniyya serta kumpulan hadis diatas, maka seharusnya tidak ada satupun dasar dari para kaum-kaum munafikun baik itu kalangan Nasrani maupun kalangan Islam sendiri yang dapat bersikukuh menyangkal kebenaran ucapan Allah tentang adanya reinkarnasi apalagi dengan sangat durhakanya menyatakan bahwa tanasukh Al-Arwah dan/atau Raj’ah (Reinkarnasi) adalah Batil, berasal dari ajaran kafir dan bukan dari Allah! Seperti contoh hadis dan fatwa dibawah ini:

    Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi, Al-Mubarokafuri Abul’ala w 1353H, 10 juz, Darul Kutub Ilmiyyah, Beirut, tt., juz 5, h 222:

      Ketahuilah, tanasukh/reinkarnasi adalah kembalinya roh-roh ke badan-badan di dunia ini tidak di akherat karena mereka mengingkari akherat, surga dan neraka, maka karena itu mereka kafir. Titik. Aku [Al-Mubarokafuri, penulis Tuhfatul Ahwadzi, Syarah Kitab Hadits Jami’ at-Tirmidzi] katakan atas batilnya tanasukh/reinkarnasi itu ada dalil-dali yang banyak lagi jelas di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

      (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan” [AL-Mukmin 23:99-100]

Dengan hanya mengikuti pendapat Al Mubarokafuri, maka Al Qur’an tidak akan pernah dapat menjelaskan dua fenomena di bawah ini:

    Tang Jiangshan, 2002
    Edisi ke 7 tahun 2002 majalah “Femina Dunia Timur” dari propinsi Hai Nan – Tiongkok telah memuat sebuah kisah reinkarnasi yang mengharukan, mengkisahkan pengalaman dari Tang Jiangshan dari kecamatan Gan Cheng, kota Dong Fang di timur pulau/propinsi Hai Nan. Tang Jiangshan lahir pada tahun 1976, sewaktu berumur 3 tahun pada suatu hari ia tiba-tiba mengatakan kepada kedua orangtuanya: “Saya bukan anak kalian, pada kehidupan lampau nama saya adalah Chen Mingdao, ayah kehidupan lampauku bernama San Die. Rumah saya di Dan Zhou, dekat laut.” Omongan ini kalau didengar orang lain bagaikan omong kosong, perlu diketahui, Dan Zhou terletak di utara pulau Hai Nan, berjarak 160 km dari kota Dong Fang.

    Selain itu Tang Jiangshan mengatakan bahwasanya dirinya dibunuh dengan menggunakan golok dan tombak di dalam aksi kekerasan pada masa revolusi kebudayaan, konon di bagian pinggangnya masih terdapat bekas luka bacok peninggalan kehidupan masa lalu. Yang membuat orang merasa takjub ialah Tang Jiangshan mampu berbicara dialek Dan Zhou dengan sangat fasih. Orang Dan Zhou berbicara bahasa Jun, berbeda sekali dengan dialek Hok Kiannya kota Dong Fang, seorang bocah berumur beberapa tahun bagaimana bisa?

    Pada saat Tang Jiangshan berumur 6 tahun, mendesak keluarga membawanya mengunjungi kerabatnya pada kehidupan masa lampau. Keluarganya tidak mau, maka ia mogok makan, akirnya sang ayah menurutinya, dan di bawah pengarahannya berkendaraan menuju tempat dimaksud di desa Huang Yu, kecamatan Xin Ying – kota Dan Zhou. Tang Jiangshan langsung menuju ke hadapan pak tua Chen Zan Ying, menggunakan bahasa Dan Zhou dan memanggilnya “San Die”, mengatakan dirinya bernama Chen Mingdao, adalah putra Chen Zan Ying yang pada masa revolusi besar kebudayaan oleh karena bentrokan fisik sehingga dibinasakan orang. Sesudah meninggal terlahir kembali di kecamatan Gan Cheng – kota Dong Fang, kini datang mencari orang tua kehidupan masa lampaunya. Mendengar penuturan itu, Chen Zan Ying sejenak tertegun tak tahu bagaimana harus bersikap. Kemudian si anak kecil menunjukkan kamar tidur kehidupan masa lampaunya, dan menghitung satu persatu benda-benda pada kehidupan lampaunya. Menyaksikan semuanya ini dengan kenyataan pada masa lalu sama sekali tidak meleset, pak tua Chen Zan Ying saking terharunya berpelukan menangis dengan Tang Jiangshan dan memastikan ia memang adalah kelahiran kembali anaknya yang bernama Chen Mingdao.

    Tang Jiangshan juga telah mengenali kedua kakak perempuan dan kedua adik perempuannya serta para sobat kampung lainnya, bahkan termasuk teman wanita pada kehidupan masa lampaunya: Xie Shuxiang. Semua kejadian ini telah membuat takluk kerabat dan tetangga Chen Mingdao. Sejak saat itu, “Manusia aneh dari 2 masa kehidupan”: Tang Jiangshan memiliki 2 rumah dan 2 pasang orang tua. Ia setiap tahun hilir mudik antara Dong Fang dan Dan Zhou. Si tua Chen Zan Ying beserta keluarga dan orang-orang desa pada menganggap Tang Jiangshan sebagai Chen Mingdao. Oleh karena Chen Zan Ying tidak memiliki putra lainnya, Tang Jiangshan berperan menjadi anaknya dan berbakti hingga tahun 1998 ketika Chen Zan Ying meninggal dunia.

    Para petugas bagian editor dari majalah tersebut pada awalnya juga tidak percaya akan hal tersebut, namun melalui pemeriksaan berulang kali dan pembuktian lapangan, mau tak mau juga mengakui kebenaran tentang kejadian tersebut.

    Cameron Macaulay, 2006
    Pada tanggal 8 September 2006 harian Inggris “The Sun” telah memuat di internet berita tentang seorang anak lelaki yang bisa mengingat masa lampaunya. Anak lelaki berusia 6 tahun yang bernama Cameron Macaulay, satu-satunya yang membedakan ia dengan anak lelaki sebayanya ialah ia selalu membicarakan bahwa ia mempunyai ibu dan keluarga serta menyukai menggambar rumahnya sendiri, sebuah rumah putih yang terletak di tepi pantai. Kesemuanya itu tidak lagi berkaitan dengan kehidupannya kini. Tempat yang diceritakannya, dia sendiri tidak pernah tahu, dan terletak di pulau Bara berjarak 160 mil dari kediamannya sekarang ini.

    Menurut Norma, ibunya Cameron Macaulay sekarang, semenjak kecil Cameron sesudah mulai bisa bicara, ia sudah lantas mengkisahkan kehidupan masa kanak-kanaknya sewaktu berada di pulau Bara. Ia mengkisahkan orang tua masa lampaunya dan bagaimana ayahnya meninggal, juga kakak perempuan maupun kakak laki-lakinya. Ia juga bilang ibu yang ia sebut-sebut ialah ibu masa lampaunya. Ia percaya penuh bahwa ia memiliki kehidupan masa lampau, Cameron sangat kuatir keluarga masa lampaunya merindukannya. Ia berharap keluarganya di pulau Bara mengetahui bahwa ia kini baik-baik saja.

    Cameron bahkan di penitipan anak juga tak hentinya menceritakan rumah masa lampaunya, mereka melakukan apa, bagaimana ia dari jendela kamar tidurnya menonton pendaratan pesawat…., ia mengomel rumahnya sekarang hanya mempunyai 1 kamar mandi, sedangkan rumahnya di pulau Bara mempunyai 3 buah. Ia menangis menginginkan ibu masa lampaunya, bilang bahwa ia merindukannya.

    Oleh karena Cameron terus menerus memohon Norma membawanya ke pulau Bara, akirnya Norma memutuskan membawanya ke pulau tersebut, juga pakar psikiater universitas Virginia: doctor Jim Tucker ikut mengiringi perjalanan mereka, ia adalah seorang pakar penelitian reinkarnasi anak. Cameron sekeluarga pada bulan Februari 2006 pergi ke pulau Bara. Sewaktu pesawat itu benar-benar mendarat, segalanya persis dengan yang diceritakan oleh Cameron. Pihak penginapan memberitahu Norma, pernah ada bernama Robertson menempati rumah putih di tepi pantai. Maka serombongan orang menuju ke rumah tersebut, akan tetapi para orang dewasa tidak memberitahukan Cameron pergi kemana, mereka ingin menyaksikan apa yang akan terjadi.

    Cameron langsung mengenali rumah tersebut, iapun bersuka cita. Namun ketika mereka melewati pintu masuk, mimik gembiranya telah lenyap dari wajah Cameron, ia berubah sangat pendiam. Penyewa sebelumnya telah meninggal, tapi juru kunci mempersilakan mereka memasuki rumah tersebut. Di dalam rumah itu ternyata terdapat 3 buah kamar mandi, dan dari jendela kamar tidurnya bisa terlihat pemandangan laut. Di dalam ruang tersebut masih terdapat sudut-sudut tersembunyi yang kesemuanya diketahui oleh Cameron. Semenjak mereka kembali ke rumahnya di kota Glasgow, Cameron menjadi lebih pendiam. Norma mengatakan pergi ke pulau Bara adalah suatu hal terbaik yang telah mereka lakukan. Picnik kali ini telah membuat suasana hati Cameron menjadi lapang, ia tidak lagi mendambakan pulau Bara. Para orang dewasa pun memahami Cameron bukan sedang mengarang cerita, mereka telah mendapatkan jawaban yang mereka cari. Akan tetapi yang jelas, memori terhadap kehidupan masa lampau seiring dengan bertambahnya usia si empunya cerita akan semakin memudar. Kisah Cameron telah dibuatkan film dokumenter yang berjudul “Anak Lelaki Ini Pernah Hidup Di Masa Lampau”oleh TV 5 Inggris. [Di kutip dari Era baru: Tang dan Cameron]

Lubang besar gugurnya aqidah menjadi terbuka lebar dengan melihat dua contoh diatas. Untuk itu, perhatikan kelanjutan ayatnya di AL-Mukmin 23:101-104,

    Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat

Juga perhatikan lagi, kali ini lebih khusus lagi ayat2 sebelumnya dalam surat yang sama, yaitu AL-Mukmin 23:82-89 diatas!

Sekarang silahkan anda pilih pendapat mana yang anda hendak tawarkan sebagai solusinya:

  1. Kontradiktif terjadi dalam satu surat, atau
  2. Qur’an menyatakan bahwa semua adalah atas kehendak Allah dan batas waktu terjadinya reinkarnasi hanya sampai Kiamat tiba

Kemudian bagaimanakah menilai pendapat dari Dr. Nasaruddin Umar (Purek IV) diatas yang menolak konsep reinkarnasi, bila yang dimaksud sama dalam pengertian agama Hindu. “Misalnya, manusia bisa berinkarnasi menjadi hewan atau tumbuhan. Atau jangan-jangan kita berasal dari ruh babi, atau kelak kita menjadi babi,” katanya. Bila itu diterima, menurut Nasaruddin, berarti buyar semua konsep Islam.

Ah! Ya Sama saja!

Lihat sekali lagi AL-Mukmin 23:82-89 di atas, anda akan lihat bahwa Allah telah mengatakan bahwa semuanya adalah karena kekuasaan Allah..Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?”

Juga dalam surat Al Israa’ 17:48-52 di atas yaitu Katakanlah: “Jadilah kamu sekalian batu atau besi, atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin menurut pikiranmu.”

Benarkah surat Al Israa tersebut? Ya!

Bukti kesinambungan tersebut ada di golongan surat Al makiyya dan dikukuhkan keberadaannya di golongan surat Al Madaniyya yang menyatakan Allah mengubah kaum yahudi yang membangkang hari sabat dijadikan Babi dan kera yaitu di Al Baqarah (2 H, 622M) dan di Al Maa’idah (10 H, 632M):

    Surat Al Maa’idah 5:60, Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?.” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.

    Surat Al Baqarah 2:65, Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina“. Yang merupakan penegasan dari al makiyya, yaitu surat Al A’raaf 7:166:
    Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina“.

Sekarangpun, anda sudah dapat menilai kekeliruan pembawa message itu sendiri sebagaimana dinyatakan di hadis muslim di atas, yaitu tidak benar dapat bereinkarnasi menjadi burung, karena Allah sudah menegaskan di Al Israa’ 17:48-53, yaitu “Jadilah..atau suatu mahluk dari mahluk yang tidak mungkin menurut pikiranmu”

Mudah bukan?! Untuk Menilai durhaka atau tidaknya sebuah fatwa atau pendapat yang ditetapkan?!

Jadi, mulai sekarang jangan lagi mau di bodoh2i dengan potongan2 ayat..Ini sudah bukan lagi jamannya!

Sampai dengan saat ini, tidak ada satupun keterangan dari tradisi Islam mengenai bagaimana detail proses reinkarnasi dapat berjalan kecuali atas kehendak Allah. Entah apa yang ada dalam pikiran Dr. Kautsar (Dosen Pascasarjana IAIN syarif Hidayatullah) sehingga yakin bahwa:

    pandangan tentang reinkarnasi itu rasional. Menurut Kautsar, bila ada orang yang dari lahir sudah menderita, maka itu bisa dijelaskan sebagai akibat perilakunya pada masa lalu. “Ini rasional sekali. Sehingga kita tidak selalu menjawab misteri keadilan Tuhan dengan kata-kata taqdir Tuhan,”..

Dr kautsar tidaklah sendirian dan Iapun bukan orang yang pertama kali yang mengatakan itu.

Sejarahwan Inggris yang terkenal, DR. Arnold J. Toynbee mengatakan keyakinan tentang reinkarnasi dari agama Hindu dan Buddha jauh lebih rasional dibandingkan dengan dogma kebangkitan tubuh dari agama rumpun Yahudi.

David Quigley berkata,

    “Siapa saja yang masih tidak mengakui ini, pada kenyataannya, mereka terperangkap dalam ‘ajaran’ yang tidak irasional, dapat disamakan dengan kepercayaan para “sarjana” gereja di abad ke-16 yang tetap pada kepercayaannya bahwa bumi sebagai pusat sistem tata surya.”

Professor Gustaf Stromberg, ahli astronomi Swedia, ahli fisika yang adalah kawan Einstein, juga menyebutkan paham kelahiran-kembali sebagai paham yang sangat memikat hati.

Thomas Huxley, ilmuwan yang memperkenalkan Sains pada abad ke XIX ke sistim pendidikan di Inggris, yang pula adalah ilmuwan pertama yang mendukung teori Darwin, percaya bahwa kelahiran kembali adalah doktrin yang benar-benar dapat diterima. Dalam bukunya “Evolution and Ethics and other Essays”, dia menulis,

    “Pada doktrin kelahiran-kembali, baik yang berasal dari pandangan kaum Brahmin ataupun Buddhis, telah siap, semua sarana untuk menyusun pertahanan yang beralasan yang menghubungkan kosmos (alam-semesta) dengan manusia ….. Tapi paham yang adil ini belum lebih diterima dibanding yang lainnya; dan para pemikir yang sembrono secara tak berhati-hati menolaknya serta mencampakkannya sebagai sesuatu yang jelas tak masuk akal.

    Sama halnya dengan doktrin evolusi, doktrin kelahiran-kembali berakar pada dunia yang nyata; dan mampu mendapatkan dukungan-dukungan seperti argumentasi yang kuat dari persamaan yang dapat memenuhinya.” [The Soul and the Universe]

Profesor Julian Huxley, ilmuwan terhormat dari Inggeris, bekas Direktur Jendral UNESCO, percaya bahwa paham kelahiran-kembali seirama dengan jalan pikiran ilmu penngetahuan.

    Tidak ada kekuatan yang dapat merintangi terlepasnya ‘roh kehidupan kekal’ makhluk pribadi, pada saat kematiannya, dengan berbagai cara; sama seperti pesan-pesan radio yang terlepas dari pesawat pemancar-radio dengan caranya sendiri pula. Tapi, hendaknya dicamkan bahwa pesan-pesan radio hanya akan berwujud kembali sebagai pesan setelah berkontak dengan struktur materi baru – yakni pesawat penerima-radio.

    Pada roh kita-keluar darinya. Kemudian ….. tak pernah dapat berpikir atau merasakan lagi, bila tidak kembali ‘berwujud’ dengan cara bagaimanapun. Kepribadian kita sangat didasari oleh jasmani kita, yang dengan sendirinya tidak mungkin hidup dalam makna sebenarnya.

    Tanpa adanya ‘semacam badan’ …. Saya dapat memikirkan sesuatu yang terlepas, yang sama keadaannya, pada lelaki dan wanita, seperti pesan-pesan radio pada pesawat pemancar; tapi dalam hal ‘kematian’ semestinya, seperti yang dapat dimaklumi oleh siapa saja, yang terjadi adalah gejolak dalam berbagai bentuk yang mengembara, sampai ….. mereka ……. datang kembali dalam wujud kesadaran yang aktual, setelah berkontak dengan sesuatu yang dapat bekerja sebagai ‘pesawat penerima untuk batin’.

Henry Ford, industrialis Amerika, pula dapat menemukan nilai kebenaran dalam paham kelahiran-kembali. Ford tertarik pada masalah kelahiran-kembali, sebab tidak seperti paham agama lain, kelahiran kembali memberi kesempatan untuk mengembangkan diri sendiri:

    Saya menerima pandangan reinkarnasi sejak saya berumur 26 tahun …. Agama tidak menawarkan apapun dalam satu hal …. Bekerja juga tidak memberi kepuasan yang lengkap. Bekerja adalah hal yang sia-sia, bila kita tidak dapat menerapkan pengalaman yang kita kumpulkan pada satu kehidupan, pada kehidupan berikutnya.

    Sewaktu saya menemukan paham Reinkarnasi, rasanya seakan saya menemukan suatu rencana alam-semesta. Saya sadar bahwa selalu ada kesempatan untuk melaksanakan ide-ide saya. Waktu bukan lagi suatu yang terbatas. Saya bukan lagi budak dari jarum-jarum jam … Genius adalah suatu pengalaman. Ada pendapat yang menganggap, bahwa itu adalah karunia atau bakat, tapi sebenarnya itu adalah buah dari pengalaman-pengalaman yang panjang dalam beberapa kehidupan.

    Jiwa-jiwa ada yang lebih matang dari jiwa-jiwa yang lainnya … Dengan mengetahui adanya Reinkarnasi, membawa ketenangan batiniah bagi saya …. Apabila anda merekam percakapan ini, tulislah demikian, bahwa ini memberi ketenangan batiniah. Saya suka berkomunikasi dengan yang lainnya tentang ketenangan yang diberikan oleh pandangan tentang kehidupan yang panjang.[San Francisco Examiner, 26 Aug 1928]

Namun benarkah pendapat-pendapat mereka diatas tersebut berdasar dan masuk akal?

Untuk itu, di bagian berikutnya sebelum kita lihat bagaimana paham kelahiran kembali ditinjau dari ajaran asalnya sendiri yaitu ajaran India maka alangkah baiknya kita uji pendapat-pendapat itu dari sudut pandang ke-ilmuan terlebih dahulu.

[Pustaka: Al Kitab, Al Qur’an, Hadis, DianWeb, Reinkarnasi, Keyakinan Kafir, AQIDAH SYIAH; Antara Raj’ah dan Reinkarnasi, RISALAH TAFSIR: GATRA No. 18/VI, 18-03-2000]

[Kembali]



Ilmu Modern: Kelahiran Kembali

    “Why should there be the method of science? There is not just one way to build a house, or even to grow tomatoes. We should not expect something as motley as the growth of knowledge to be strapped to one methodology.” -Ian Hacking

Kelahiran kembali/Reinkarnasi berada pada cabang ilmu parapsychology.

Sebuah komite, yaitu Committee for Skeptical Inquiry, yang didirikan oleh Paul Kurts, memasukan parapsychology sebagai Pseudoscience. Pernyataan komite itu ternyata hanya mengutip [dan berasal] dari sebuah hasil polling yang dilakukan oleh satu group tertentu [gallup poll].

Sementara itu, American Association for the Advancement of Science (AAAS), yaitu sebuah komunitas saintific terbesar di dunia, dimana Paul kurts adalah juga sebagai anggotanya, justru mengelompokan parapsychology ke dalam komunitas sain.

Jadi, skeptisme bukanlah sikap apriori dengan bias emosional akan tetapi sikap dengan landasan logika berpikir yang mampu dipertanggungjawabkan.

    Skepticism is a primary tool of science. We’d be hypocrites if we never directed a skeptical eye towards Scientific Skepticism itself. Denied imperfections and errors are free to grow without limit, and Skepticism is not immune to this problem. Unbridled gullibility can destroy science, but unbridled disbelief is no less a threat because it brings both a tolerance for bias and ridicule as well as the supression of untested new ideas. Better to take a middle road between total closed-mindedness and total gullibility. Practice pragmatism, pursue humility, and maintain a clear, honest, and continuing view of ourselves and the less noble of our own behaviors.

    Some ‘Skeptical’ sources are filled with shameless emotional bias and intolerance of dissenting opinion. They adopt a stance of hostile apriori disbelief, they fill their arguments with logical fallacies, and they cultivate an attitude of sneering disgust for their so-called ‘gullible’ opponents. At the same time they hop on the coattails of science by presenting themselves as the voice of “reason.” And despite their constant use of dishonest rhetorical techniques and fallacies of logic, they’re convinced that they support rationality. In a word, they display the behavior which is the very definition of “pseudoscience.”

Apa itu sains? Silakan baca link ini, ini, ini dan mmmhhh..terahir yang ini aja deh..

Sekarang ini ada 5 perguruan tinggi yang mempelajari masalah paranormal yaitu: Princeton University (USA), University of Edinburg (Inggris), University of Amsterdam (Belanda), University of Freiburg (Jerman) dan University of Virginia (USA). Banyak mahasiswa telah mendapatkan gelar Ph.D. melalui penelitian mereka tentang paranormal, dan akademik menghadapi riset fisik yang selalu berubah-ubah.

Para peneliti menemukan sejumlah bukti bahwa reinkarnasi bukanlah sesuatu yang takhayul dan telah dibuktikan secara ilmiah bahwa reinkarnasi ada di kehidupan manusia. Jadi, cara berpikir orang-orang telah berubah dan mulai dapat menerima lebih mudah akan kebenaran-kebenaran itu yang mana tidak dapat dilihat dengan kasat mata atau dirasakan dengan perasaan manusia.

Penelitian sistematik orang barat terhadap reinkarnasi bisa dilacak ke tahun 1882, saat pendirian Society for Psychical Research, yang salah satu sasaran utamanya ialah menyelidiki dan mengungkap atau mengkisahkan secara dokumenter fenomena yang menunjukkan orang sesudah mati masih eksis jiwanya.

Sejak tahun 1882 s/d tahun 1930an, para peneliti dari society tersebut di Perancis dan Italia telah menemukan contoh kasus beberapa kisah pribadi tentang memori kehidupan masa lampaunya, beberapa diantaranya telah mengalami pembuktian penelitian secara jangka panjang, memiliki daya keterandalan yang sangat kuat. Berdasarkan memory pribadi tentang pengalaman pada kehidupan masa lampau semacam ini dan setelah melalui metode penyelidikan dan pembuktian, disebutlah “Metode tradisional”.

Metode penelitian yang lainnya berkaitan dengan penggunaan hypnotherapy. Salah satu peneliti fenomena ganjil paling tersohor di Perancis:Col. Albert de Rochas, pertama kali secara sistematis menggunakan hypnotherapy membawa obyek penelitian ke dalam memori kehidupan masa lampau mereka dan menemukan bahwa si obyek tersebut walau tiada tertarik sedikitpun dengan reinkarnasi, mereka tetap saja dapat mengingat pengalaman kehidupan masa lampaunya. Begitulah ia menyimpulkan penemuan pribadinya di dalam artikel yang ditulisnya pada tahun 1905.

Tahun 1956, “The Search for Bridey Murphy”, hasil karya terkenal dari Morey Bernstein telah terbit. Buku tersebut melalui sang penulis sendiri yang mengikuti suatu kasus hypnotis, menggabungkan konsepsi reinkarnasi dan hypnotherapy menjadi satu, telah mengumandangkan terompet pioneer bagi reset ilmiah untuk reinkarnasi modern barat, juga telah membangun sebuah panggung lapang bagi climax reset reinkarnasi yang kelak bakal tiba.

Semenjak tahun 50-an pada abad yang lalu, hasil karya reset mengenai reinkarnasi dari barat sudah menumpuk sangat banyak. Entah sudah diatur atau memang kebetulan, sewaktu kalangan ilmuwan barat mulai tergugah ketertarikannya dengan reinkarnasi, Tiongkok dengan tanah humus budaya reinkarnasi paling tebal mulai mengkategorikannya sebagi “Tahayul” yang “Anti Iptek” dan telah membuangnya ke dalam tong sampah sejarah.

Ian Stevenson: Tokoh Simbolik Riset Reinkarnasi Reinkarnasi
Membicarakan penelitian reinkarnasi, ada seorang peneliti yang tidak bisa tidak, musti kita sebut, ia adalah tokoh simbolik peneliti reinkarnasi yang menggunakan “metode tradisional” yakni: Ian Stevenson, M.D., seorang profesor peneliti dari University of Virginia, Departemen Kejiwaan, Divisi Bagian Kepribadian (DOPS), ia adalah kepala penelitian masalah reinkarnasi. Penelitian DOPS ini dapat dimungkinkan karena adanya sumbangan dari Eminent Scholars Chair (semacam perkumpulan mahasiswa yang ulung) dan sejumlah besar warisan tanah dari Priscilla Woolfan. DOPS menyatakan

    “tujuan utama penyelidikan secara ilmiah atas fenomena yang disarankan, asumsi dan teori yang dapat diterima oleh ilmu pengetahuan tentang sifat dasar dari pikiran ataupun kesadaran, dan hubungannya dengan materi yang mungkin salah.”

Artikel yang ia publikasikan pada tahun 1960 (Bukti Memory Kehidupan Masa Lampau), dinobatkan sebagai prolog penelitian reinkarnasi barat modern. 40 tahun lebih sesudah tahun itu, ia berkeliling ke seluruh pelosok dunia, untuk menyelidiki, mencatat, mengumpulkan, menguji, dan mencocokkan orang-orang, terutama anak-anak, yang mengingat “kehidupan masa lalu, dan yang mempunyai tanda lahir atau cacat lahir yang dihubungkan dengan luka, biasanya fatal, pada orang yang mengingat kehidupan masa lalunya.” Dr. Stevenson, telah mengumpulkan ribuan rekaman dari anak-anak berumur dari 2-7 tahun yang tinggal di Timur Tengah, Eropa, Asia dan Amerika

Sangat mencengangkan, ditemukan bahwa ingatan akan kehidupan masa lalu akan memudar sekitar umur 7 tahun. Anak-anak akan berbicara secara langsung tentang kehidupan masa lalunya, ingin pulang kembali ke “rumah,” rindu sebagai ibu dan suami dari kehidupan yang lain, dan sering ditunjukkan dengan adanya tanda ketakutan yang tidak biasanya dalam keluarga yang sekarang atau yang tidak dapat dijelaskan oleh kehidupannya sekarang. Sebagai tambahan, mereka mengetahui sesuatu hal di mana mereka tidak dapat belajar atau mendengar dari kehidupannya sekarang. Yang sangat menakjubkan, pernyataan anak-anak dapat dibuktikan dengan kehidupan nyata atau kejadian kematian dalam banyak kasus.

Dr. Stevenson menulis, “Sering, anak-anak ini berbicara tentang orang-orang dan kejadian-kejadian dari kehidupan sebelumnya, bukan kehidupan yang samar-samar dari abad yang lalu, akan tetapi kehidupan yang jelas, individu yang dapat dikenali, yang kadang-kadang tidak seluruhnya diketahui oleh keluarganya dan tinggal di kota yang berbeda atau tempat yang berbeda atau tinggal di Negara yang lain.” Biar pun, beberapa anak juga kelihatannya mengingat kehidupan sebelumnya yang terjadi pada dasawarsa yang lalu, yang paling mencengangkan, ia menemukan anak-anak yang dapat berbicara bahasa asing.

Dr. Stevenson telah mempublikasikan 10 buah karya kusus serta beberapa puluh tesis ilmiah, banyak diantaranya oleh para peneliti dianggap sebagai “kitab suci” mereka, terutama adalah 2 karya buku, “Twenty Cases Suggestive of Reincarnation” dan “Children Who Remember Previous Lives“, yang telah banyak dimanfaatkan oleh peneliti generasi penerus.

Beberapa lainnya misalnya Reincarnation and Biology: A Contribution to the Etiology ofBirthmarks and Birth Defects, Where Reincarnation and Biology Intersect, andCases of the Reincarnation Type; Vol I (India), II (Sri Lanka), III (Lebanon danTurki) dan IV (Thailand dan Birma).

“Twenty Cases Suggestive of Reincarnation” adalah karya Stevenson yang membuatnya menjadi tersohor. 20 contoh kasus reinkarnasi yang tercatat di dalam bukunya, adalah sebagian contoh kasus yang dikoleksi, di-edit dan telah dilakukan verifikasi tatkala ia pada tahun antara 1961 hingga 1965 dari India, Sri Langka, Brazil, Libanon hingga ke Alaska-Amerika. Di dalam buku tersebut ada satu contoh kasus dalam reinkarnasi yang sangat langka dan mengandung contoh yang memiliki nilai penelitian istimewa, professor Stevenson menyebutnya sebagai “exchange incarnation / Pertukaran Inkarnasi”.

    Pada tahun 1954, Jasbir, anak dari Sri Girdhali Lal Jat yang berumur 3 setengah tahun dinyatakan mati karena cacar, belum sempat dikubur, pada malam harinya telah hidup kembali.

    Setelah lewat beberapa hari sudah mulai bisa berbicara lagi, sesudah beberapa minggu ternyata bisa dengan jelas mengekspresikan dirinya sendiri.

    Ia mengatakan dirinya bukan Jasbir sang anak, melainkan bernama Sobha Ram dan berusia 22 tahun, putra dari Sri Shankar Lal Tyagi Kepala Brahmana dari desa Vehedi.

    Ia menjelaskan dengan detail kematiannya: Pada tahun 1954, Ia ada di suatu prosesi perkawinan dari satu desa ke desa lain , Ia memakan sebuah permen yang beracun pemberian seseorang yang meminjam uang darinya, Ia menjadi pening dan terjatuh dari atas kereta kuda yang ditumpanginya dan kepalanya terbentur hingga mati. Ia meninggalkan seorang istri (Sumantra ) dan seorang anak lelaki (Baleshwar ). Dalam kematiannya ia bertemu seorang ‘saddhu’ (orang suci) yang menyarankannya untuk mengambil tubuh lain dan ketika itu hanya ada tubuh jabir yang tersedia.

    Karena ia Brahmana, Ia menolak segala makanan dari rumah, untung saja ada seorang perempuan Brahmana yang setiap hari berbaik hati membuatkan nasi untuknya jika tidak ia kemungkinan bisa sungguh-sungguh mati kelaparan. Kemudian kisahnya telah memperoleh pembuktian, anggota keluarga kehidupan masa lampaunya sering mengajaknya keluar bermain. Ia bermain dengan sukaria di “rumah lama”nya, tidak sudi balik ke rumah lagi, karena ia di situ mengalami kesepian dan kesendirian.

Contoh lainnya dari hasil riset Ian Stevenson ialah

    Seorang anak bernama Ravi Shankar dilahirkan 1951 di kota Kanaiy, India Utara. Ayahnya bernama Ram Gupta; sejak berumur dua tahun si anak berkeras bahwa ayah sebenarnya adalah seorang bankir bernama Jogeshwar.

    Dia juga mengatakan bahwa pada kehidupan lalunya dia dibunuh dengan digorok tenggorokannya oleh dua orang – Chaturi dan Jamahar. Sebagai bukti, si anak menunjuk tanda lahir di lehernya, yang memang bertanda-lahir seperti bekas luka potong. Penyelidikan kemudian membuktikan, bahwa ternyata setengah mil dari kediaman mereka, ada seorang bernama Jogeshwar yang mempunyai anak laki-laki bernama Munna yang telah dibunuh, persis seperti yang digambarkan oleh Ravi Shankar.

    Yang berwajib sejauh ini memang sangat mencurigai dua orang sebagai pembunuhnya, seorang binatu bernama Chaturi dan seorang bankir bernama Jamahar, namun mereka dibebaskan karena kurangnya bukti. Munna dibunuh enam bulan sebelum Ravi lahir.

Karya utama Stevenson termasuk: “Reinkarnasi dan ilmu biologi – perjumpaan disini”, “Bahasa yang bisa sendiri tanpa dipelajari – penelitian baru terhadap kemampuan bahasa asing supra natural”, “Contoh kasus bentuk reinkarnasi (4 jilid)” dll.

Meskipun Stevenson bukannya orang pertama dari barat yang melakukan penelitian reinkarnasi, tetapi ia dengan sikap yang serius, gaya yang teliti dan status/posisi keilmuan yang menonjol telah memperoleh penghargaan dari seluruh masyarakat yang tidak pernah ada sebelumnya bagi reset reinkarnasi.

TERAPI KILAS BALIK
Dalam bukunya berjudul Birthmarks, Dr. Stevenson melaporkan ada lebih dari 200 kasus. Digambarkan dengan detail kematian anak-anak pada kehidupan sebelumnya, seperti terbunuh oleh suatu benda tajam. “Tanda lahir sering dihubungkan dengan luka atau tanda-tanda yang lain pada kematian seseorang yang hidup yang diingat oleh anak-anak.” Ia juga dapat menemukan hubungannya dari laporan visum kedokteran dan dapat juga membuktikan ketelitian dari masing-masing ingatan anak.

Tipe penelitian yang lain, seperti disebutkan sebelumnya adalah berdasarkan atas setiap orang yang dihipnotis oleh seorang psikoterapi, untuk memanggil ingatan pada kehidupan sebelumnya. Sebenarnya, “hipnotis” tidak menggambarkan proses untuk memanggil kehidupan sebelumnya. Pada kenyataannya menggunakan teknik yang lebih maju yang disebut “Terapi Kilas Balik Kehidupan Masa Lalu (PRL).” Di bawah pengaruh PRL pasien tidak tertidur dan gelombang otaknya berbeda dari kondisi tidur. Lebih jauh, berkenaan dengan gelombang otak, beberapa psikoterapi dapat menyebabkan pasien berada pada tingkat kesadaran yang berbeda daripada kondisi hipnotis tradisional. Kondisi ini lebih dapat disamakan pada kondisi hening yang dicapai melalui suatu kultivasi. Telah diketahui bahwa dalam kondisi kesadaran yang terpusat, pasien dapat melakukan kontak dengan kesadaran yang lebih dalam. Mereka kemudian dapat masuk ke masa lalu, sementara kesadaran sekarang ini masih aktif.

Memang PRL masih sangat kontroversial dan mendapat kecaman yang keras dari sejumlah ilmuwan. Namun demikian, David Quigley menemukan di riset ilmiah dan percobaan dengan PRL ada “sejumlah besar data yang akan membuktikan kepada ilmuwan bahwa banyak ingatan “kehidupan masa lalu” berdasarkan dari kisah nyata sejarah. Kemudian dia mengutip hasil riset dari Helen Wambach (Reliving Past Lives), Marge Riedes Mison ke Marlboro dan 30 kasus reinkarnasi milik Ian Stevenson. Dia berkata, “Siapa saja yang masih tidak mengakui ini, pada kenyataannya, mereka terperangkap dalam ‘ajaran’ yang tidak irasional, dapat disamakan dengan kepercayaan para “sarjana” gereja di abad ke-16 yang tetap pada kepercayaannya bahwa bumi sebagai pusat sistem tata surya.

Dr. Brian Weiss, M.D
Seorang psikoterapi tradisional, lulusan Universitas Columbia dan Yale Medical School dan Kepala Psikiatri Emeritus di Mount Sinai Medical Center di Miami, adalah orang yang paling terkenal menggunakan PRL. Setelah lulus dari Yale, dia mengajar di Universitas Pittsburgh dan Universitas Miami. Di umurnya yang ke delapan puluh, saat dia menjadi Kepala Psikiatri Emeritus, ia telah menerbitkan kurang lebih 40-an makalah.

Sebagai seorang yang terpelajar, dia tidak terlalu ambil perhatian terhadap parapsikologi. Awalnya dia tidak mempunyai pengetahuan sama sekali, dan tidak tertarik dengan reinkarnasi. Belakangan Dr. Weiss mulai tertarik masalah tersebut. Buku pertamanya yang membahas masalah reinkarnasi Many Lives, Many Masters terjual sebanyak dua juta kopi, dan telah diterjemahkan ke lebih dua puluh bahasa.

Dalam buku Dr, Weiss yang berjudul: “Cinta Sejati Singgah Selamanya”, diantaranya dikisahkan seorang lelaki dan seorang wanita yang selamanya belum pernah kenal mencari doctor Weiss melakukan therapy Mengenang.

Kedua orang masing-masingnya mengingat kehidupan bersama pada masa lampau yakni 2000 tahun yll di Jerusalem, ketika itu mereka adalah sepasang ayah dan anak, si ayah mengalami siksaan pasukan Roma dan mati di pelukan putrinya. Mereka berdua pernah bertemu satu kali di dalam klinik Weiss, namun karena etika profesi, Weiss tidak boleh saling membocorkan memori mereka. Akan tetapi setelah therapy mereka dinyatakan selesai, jemari takdir telah mengembangkan pengaturannya dengan gaib, kedua orang tersebut secara “kebetulan” bersamaan menumpang pesawat yang sama, kemudian saling berkenalan dan saling mencinta.

Dr. Helen Wambach
Dalam buku Dr. Wambach yang berjudul ‘Reliving Past Lives and Life Before Life’ diterbitkan pada tahun 1978 oleh Bantam paperback books. Buku ini memuat bukti dari reinkarnasi selama proses hypnosis. Dr. Wambach, dengan pengalaman profesionalnya semula di bingungkan dan cenderung sinis mengenai hal ini namun menjadi tertarik pada penomena spritual dan mendapatkan satu kesimpulan pasti mengenainya

Ia lakukan survey Dalam sepuluh tahun mengenai kehidupan sebelumnya melalui metoda hypnosis kepada 1,088 orang. Ia memilih subjeknya adalah kulit putih kelas menengah dari california. Usia subjek rata-rata adalah 30 tahun, lahir di setelah tahun 1945. Dalam Hipnosis, Dr. Wambach tanyakan secara sfesifik mengenai waktu kehidupan mereka, status social, keseharian mereka, ras, jenis kelamin, pakaian, perabotan, uang, rumah dan yang mereka suka di kehidupan sebelumnya.

Perlu dicatat, sebelum hipnosis umumnya mereka berpikir bahwa di kehidupan dulu mereka adalah seorang terkenal, sukses atau orang terhormat dan bukan sebagai orang biasa seperti petani atau di kehidupan suku primitif

Hasil analisis dari data yang tekumpul, Dr. Wambach menyimpulkan bahwa informasi melalui metoda hipnosis dengan rekaman sejarah adalah sesuai dengan fakta dengan pengecualian pada 11 subjek, sebagai contoh seorang subjek mengatakan bahwa ia main piano pada abad ke 15, padahal piano ditemuan baru dua abad sebelumnya, sembilan subjek memberikan deviasi tipis pada frame waktu sejarah, 1 % dari seluruh subjek ternyata tidak memberikan informasi akurat selama hipnosis

Dari status sosial, Dr Wambach menemukan hasil bahwa mereka 10% dari Kelas atas, 20-35% kelas menengah dan 55-70% dari kelas bawah dengan proprosi kelas menengah adalah relatif lebih besar pada tahun kehidupan mereka di 1000 SM, kemudian menurun dan meningkat kembali di taun 1700 M dibandingkan dengan tahun 1000 SM

60-77% hidup dibawah standar kemiskinan, memakai pakaian buatan sendiri, rumah dari atap jerami. Mayoritas adalah petani yag bekerja tiap hari di ladang, tidak ada dari mereka yang dahulunya adalah orang terkenal dalam sejarah. Mereka yang memiliki status sosial tinggi kelihatannya tidak menyukai kehidupan mereka, mempunyai beban untuk bertahan hidup. Mereka yang dulunya hidup sebagai petani atau hidup di suku yang primitif puas dengan kehidupan mereka

Mereka pernah hidup di berbagai area geografi, mempunyai warna rambut yang berbeda-beda. Dr Wambach membagi kehidupan mereka sebelumnya kedalam turunan kaukasus, Asia, Indian, Kulit Hitam dan Timur tengah. Di sekitar kehidupan 2000 SM, 20% subjek adalah ras kaukasus, hidup tersebar di timur tengah, mediterania, eropa dan asia tengah (Kazakhstan, Uzbekistan, dsb yang dulu dinamakan daerah padang rumput).

Antara kehidupan tahun 1900 dan 1945, 1/3 adalah ras asia. Banyak dari mereka meninggal karena penyebab non alami selama tahun 1900-1945, yaitu dua perang dunia, perang sipil di negara2 asia. Mereka segera reinkarnasi setelah meninggal. 69% dari subject meninggal di sekitar tahun 1850-an adalan ras kaukasus. Yang meninggal tahun 1900-1945, 40%-nya ras kaukasus.

Jenis kelamin subjek adalah tidak sama dipelbagai kehidupan, sebagai contoh seorang pria dulunya adalah wanita dan hidup di China pada tahun 480 SM. Pria lainnya dulunya lahir sebagai seorang wanita Indian yang meninggal akibat sulit melahirkan. Pria itu dapat menggambarkan kesakitan yang ia derita. Dari populasi, rasio pria dan wanita di kehidupan dahulunya adalah sama disetiap usianya

mereka yang hidup di tahun 500 SM menyatakan bahwa makanan tidaklah buruk. 20% mengingat bahwa mereka memakan daging unggas dan biri2. Namun di sekitar tahun 25 M s/d 1200 M. Kebiasaan makan masyarakat menjadi lebih buruk, para subjek mengatakan bahwa makanan kurang ada rasanya

Satu orang ingat bahwa ia hidup pada tahun 800 M di daerah yang saat ini dinamakan Indonesia, Ia mengigat bahwa ia makan sejenis kacang2an yang ia tidak pernah lihat dan makan seumur hidup sekarang. Suatu ketika ia melihat jenis kacang itu ada di majalah dan persis dengan yang ia ingat makan selama priode hipnosis, Artikel tersebut mengatakan bahwa kacang2an itu hanya ditemukan di pulau Bali [mungkin yang ia maksud adalah jukut undis]

Kelahiran kembali sebagai binatang
Situs past life memory Bank merekam pengakuan orang-orang yang mengklaim bahwa mereka pernah dilahirkan sebagai binatang misalnya , Merpati, srigala, Anjing, Unta, Ikan, dan lain sebagainya

Pada 17 Juni 2009, Di Vihara Sakyamuni, Padang Sambian, Denpasar, pada sebuah acara talk peluncuran buku “Born Again”-nya Dr Walter Semkiew yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Ia ditemani oleh Brenda Ie-Mc Rae, yang juga seorang Hypnotheraphist, dari International Association for Regression Research and Therapies (IARRT). Di satu sesi tanya jawab, Brenda pernah melakukan penelusuran kehidupan masa lalu Kliennya yang terlahir sebagai Burung, Ikan dan sejenis Ular. Ini diketahui, dari petunjuk misalnya, kliennya menyatakan tidak mempunyai kaki dan tangan, berenang di dalam air, dst.

Brenda Ie-Mc Rae, yang juga terlatih di teknik Meditasi, kemudian melanjutkan bahwa Ia dalam suatu sesi meditasi, pernah mengingat beberapa kehidupan masa lalunya, salah satunya adalah sebagai seekor Kerbau, yang tengah di pukuli oleh sekelompok orang. Ketika menelusuri lebih jauh kebelakang, Ia ternyata juga pernah terlahir sebagai seseorang yang berulang kali membunuhi kerbau. [Untuk keperluan konfirmasi dan theraphy, silakan menghubungi beliau di nomor telepon: 0816 764 510, alamat email: Brenda@hypnosisforhealing.com]

Survey dan polling
Survey tahun 1999-2002
, Yang percaya pada reinkarnasi: Negara-negara Nordic 22%, Negara-negara Baltic, termasuk Lithuania 44%. Jerman timur 12%, Russia 33%, Negara eropa barat 22%

Survey Subday Telegraph di London, tahun 1985: 28% dari orang Inggris percaya akan reinkarnasi.

U.S. surveys
Survey george Gallup:

  • Tahun 1982, 67% dari orang Amerika percaya akan kehidupan sesudah mati dan 23% percaya pada reinkarnasi
  • Tahun 2005, 20 % Orang dewasa Amerika percaya reinkarnasi

Menurut survey Barna Group, NGO riset kristen, 25% Kristen US percaya -[Dr. Joel L. Whitton Ph.D dan Joe Fisher: Life Between Life, penerbit Gafton, 1987, hal 87.]

Apa yang terjadi di MILENIUM KE-2 Masehi?
Pada tahun 1980 sekelompok kecil Psikiatris dan psikolog secara bersama membentuk perkumpulan yang dinamaan Association for Past-Life Research and Therapies (APRT). Pada tahun 2000, direformasi menjadi International Association for Regression Research and Therapies (IARRT). Selama 20 tahun, asosiasi berkembang dengan 1000 anggota di 20 negara yang memiliki lisensi psikotherapist yang menghasilkan konsistensi bukti-bukti dan juga pertukaran informasi melalui konfrensi, newsletter dan jurnal-jurnal professional. [Sekelumit dari: Reincarnation and Past-Life Regression: A Leap through the Looking-Glass, Greg Paxson]

[Pustaka: Erabaru, Parisada.org, Reinkarnasi dari Sudut Pandang Ilmu Kedokteran Barat, Wikipedia, Richard Holmes, Animal Memories, Evidence for Reincarnation from Western Medical Research]

[Kembali]



Ajaran India

Manusia sekarang adalah hasil dari ribuan pengulangan pikiran dan perbuatan. Ia bukan sudah jadi; ia menjelma, dan masih menjelma. Sifatnya telah ditentukan oleh pilihannya sendiri. Pikiran, perbuatan yang ia pilih, yang menjadi kebiasaan membentuknya.

Anak kembar yang berasal dari satu telur memiliki kesamaan keturunan dan kesamaan lingkungan. Namun ahli psikologi telah meneliti bahwa mereka berbeda dalam sifat dan wataknya.

Oleh karena itu, mungkin perbedaan ini disebabkan oleh faktor ketiga (selain dari keturunan dan lingkungan), yaitu “pembawaan“ kepandaian yang lampau, dan tingkah laku dari kehidupan yang sebelumnya.

Adanya anak jenius atau yang luar biasa kepandaiannya tidak dapat diterangkan dengan memuaskan dipandang dari segi keturunan atau lingkungan, hanya kepandaian bawaan dari satu kehidupan ke kehidupan lain yang dapat menjelaskan kasus – kasus khusus seperti itu Ambillah contoh kasus kembar siam Chang dan Eng yang terkenal. Ini adalah kasus dengan kesamaan keturunan dan kesamaan lingkungan.

Para ahli yang telah mempelajari tingkah laku mereka melaporkan bahwa keduanya memiliki watak yang berbeda jauh, Chang kecanduan minuman keras, sedangkan Eng tidak minum minuman keras.

Sebab dari perbedaan dan ketidaksamaan kelahiran di kehidupan ini salah satunya adalah atitakamma (perbuatan baik dan buruk dari setiap individu dalam kehidupan yang lampau). Dengan kata lain, setiap manusia menuai apa yang telah ditaburnya di masa lampau. Dengan cara yang sama, perbuatannya sekarang membentuk masa depannya.

    “Setiap kelahiran kembali dimulai dengan satu set kemungkinan tersembunyi yang unik, kumpulan dari pengalaman di masa lampau. Itulah mengapa terdapat perbedaan sifat, mengapa setiap orang diberkahi dengan apa yang disebut oleh penganut teisme sebagai ‘karunia'(bakat), dan kemungkinan – kemungkinan yang tak terbatas”-[Dr. Cassius A. Pereira (belakangan Thera Kassapa), “What I Believe”, Ceylon Observer, Oktober, 1937]

Di atas, sudah saya sampaikan Col. Albert de Rochas, Dr Stevenson, Dr Brian Weiss dan Dr Helen Wambach dan Dr Arthur Guirdham. Ilmuwan yang saya sebutkan itu JELAS tidak beragama HINDU atau BUDDHA!

Mereka itu skeptic, tidak mendukung adanya reinkarnasi!…itu pada awalnya…namun justru dari penelitian mereka sendiri, mereka malah temukan bukti-bukti kuat yang reliable mengenai adanya Kelahiran Kembali!

Berikut dibawah ini adalah pernyataan dari beberapa Ahli Psikologis dan Psikiatris, yang dulunya super SKEPTIS karena pekerjaan mereka, namun setelah melakukan penelitian, berkesimpulan:

    Dr. Helen Wambach-pun, mengatakan ini:
    ‘I don’t believe in reincarnation — I know it!’ (Wambach 1978)

    Dr Arthur Guirdham, psychiatrist Inggris, mengatakan ini:
    If I didn’t believe in reincarnation on the evidence I’d received I’d be mentally defective’ (cited Fisher 1986: 65)

    Dr Gerald Netherton, dibesarkan di lingkungan Methodist yang fundamentalis, mengatakan ini:
    Many people go away believing in reincarnation as a result of their experience …What is the logical answer? That it actually is happened! (cited Fisher 1986: 65)

    Dr Alexander Cannon mengatakan ini:
    For years the theory of reincarnation was a nightmare to me and I did my best to disprove it… Yet as the years went by one subject after another told me the same story in spite of different and varied conscious beliefs. Now well over a thousand cases have been investigated and I have to admit that there is such a thing as reincarnation ‘ (cited Fisher 1986: 65)

    Dr Edith Fiore dari US, mengatakan ini:
    If someone’s phobia is eliminated instantly and permanently by his remembrance of an event from the past (life), it makes logical sense that the event must have happened (cited Fisher 1986: 65)

Penganut ajaran aliran India tidak akan ragu sedikitpun apabila disuguhi kisah nyata seperti ini:

    Shanti Devi (Lahir di Delhi tahun 1926). Ketika berumur tiga tahun, dia mulai berkata-kata tentang kehidupannya yang lalu. Dia mengatakan bahwa dulu dia tinggal di Mathura (80 mil dari Delhi), dan lahir pada tahun 1902 dari kasta Choban. Dia menikah dengan seorang pedagang kain yang bernama Kedar Nath Chaubey.

    Kendati ia dianggap gila oleh sebagian orang, toh orangtuanya masih menyempatkan diri untuk mencari tahu tentang orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan Kedar Nath Chaubey di Mathura.

    Ketika Shanti Devi berumur 9 tahun, pada tahun 1935, orang tuanya menulis surat ke orang tersebut untuk menanyakan apakah ada orang yang bernama Kedar Nath Chaubey, yang mempunyai pekerjaan sebagai pedagang kain, dan istrinya meninggal sepuluh hari setelah melahirkan seorang anak laki-laki, seperti yang pernah diceritakan oleh anaknya. Kenalan itu menjawab suratnya dengan membenarkan semua hal yang ditanyakannya. Kemudian, keluarga dari suaminya mengirimkan seorang paman (dari kehidupan Shanti Devi yang lalu), Shanti devi segera mengenali & memeluknya ketika dia datang. Selanjutnya tanpa pemberitahuan terlebbih dahulu, suami dan putranya (dari kehidupan yang lalu) datang ke Delhi untuk menemui Shanti Devi. Shanti Devi pun segera mengenali mereka.

    Pada tahun berikutnya, tahun 1936, dibentuk suatu komite untuk mencatat apa yang akan terjadi bila Shanti Devi dibawa ke rumah (yang sering dikatakan oleh gadis cilik ini sebagai rumah di kehidupannya yang lalu) di Mathura. Mereka pergi ke Mathura dengan kereta api.

    Begitu kereta berhenti di stasiun Mathura, Shanti Devi segera mengenali salah seorang kerabatnya, walaupun yang bersangkutan berada di antara kerumunan banyak orang. Dia menggunakan bahasa daerah di tempat tersebut, meskipun dia belum pernah ke sana. Kemudian, dia dinaikan ke sebuah kereta kuda dan kusirnya diinstruksikan untuk untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh Shanti Devi. Dia kelihatan sangat hapal dengan jalan-jalan di kota itu, walaupun itu adalah pertama kalinya dia datang ke Mathura. Diapun memberi petunjuk kepada kusir untuk menuju rumah Kedar Nath Chaubey. Rumah itu telah dicat dengan cat yang baru namun dia, dengan mudah, dapat mengenalinya. Di dekat rumah itu ada seorang Brahmana tua, dan dia mengenalinya sebagai mertuanya.

    Waktu memasuki rumah, Shanti Devi ditanya tentang susunan ruang, kloset, dan lain-lainnya. Semuanya dijawab dengan tepat. Kemudian, dia pergi ke rumah sebelah, yang merupakan rumah dari orangtuanya (dari kehidupan yang lalu), dan mengenali orangtuanya, meskipun waktu itu orangtuanya berada di kerumunan sekitar 50 orang. Setelah itu, dia mengatakan bahwa dia pernah menyimpan uang di salah satu sudut dari rumah kerabatnya di dekat rumah itu. Komite menggali di lokasi yang disebutkan oleh gadis cilik itu, tetapi mereka tidak menemukan apa-apa. Shanti Devi tetap bersikukuh bahwa dia telah menyimpan sejumlah orang di tempat itu. Akhirnya, Kedar Nath Chaubey mengaku bahwa dia telah mengambil dan memindahkan uang tersebut. [San Francisco Examiner, 28/8/1928. Detail kisah dan foto shanti Devi lihat di sini]

Juga pada kisah Swarnlata yang Manis

    Swarnlata Mishra lahir pada keluarga kaya dan intelektual di Pradesh India pada tahun 1948, ketika ia berusia 3 tahun dan bepergian dengan ayahnya melewati kota Katni (lebih dari 100 Mil dari rumahnya), tiba2 ia menunjuk dan meminta supir untuk berbelok arah menuju ‘rumahku’ dan mengajak mereka untuk menikmati secangkir teh disana daripada meneruskan perjalanan

    Beberapa saat kemudian, ia menceritakan lebih detail mengenai hidupnya di Katni (semuanya dituliskan oleh ayahnya). Namanya adalah Biya Pathak, dan ketika itu ia punya 2 anak, ia memberikan detail keadaan rumahnya di Zhurkutia, distrik katni, ada pintu hitam dengan baut besi, empat ruangan di semen namun dibagian lainnya belum selesai, lantai depan dari batu. Dibelakang rumah ada sekolah khusus wanita, di depan jalan ada rel kereta api dan tempat pembakaran kapur yang terlihat dari rumah. Ia menambahkan bahwa keluarga itu punya sepeda motor (barang yang sangat langka di tahun 1950 dan bahkan lebih langka lagi sebelum swarnlata lahir). Swarnlata katakan bahwa Biya wafat karena ‘sakit di tenggorokan’ dan ia dirawat oleh Dr S.C Bhabrat di Jabalpur. Ia juga ingat insiden pada satu perkawinan ketika ia dan temannya sulit menemukan kakus.

    Di musim semi 1959, ketika Swarnlata berusia 10 tahun, berita kasus ini sampai pada Prof Sri H.N.Banerjee, seorang peneliti penomena paranormal keturunan India yang merupakan rekan sekerja Stevenson. Banerjee membawa catatan yang dibuat ayah swarnlata dan mengunjungi Katni untuk memverifikasi ingatan Swarnlata

    Dengan menggunakan deskripsi yang diberikan Swarnalata, Ia menemukan rumah keluarga Pathak yang ketika itu telah diperbesar dan mengalami peningkatan daripada tahun 1939 ketika Biya meninggal. Pathak merupakan keluarga yang makmur, terkemuka, terpelajar dengan banyak keterlibatan bisnis. Mereka tidak mempercayai adanya Reinkarnasi. Pembakaran kapur berada di sekitar tanah milik, sekolah khusus wanita 100 yard dibelakang tanah Patak tapi tidak terlihat dari depan.

    Ia menginterview keluarga dan memverifikasi semuayang dikatakan Swarnlata. Biya Pathak wafat tahun 1939, meninggalkan suami, 2 orang anak lelaki dan banyak adik lelaki. Pathak tidak pernah mendengar tentang keluarga Misra yang tinggal 100 mil jauhnya dan Mishrapun tidak mempunyai pengetahuan apapun tentang keluarga Pathak

    Dari hasil tabulasi stevenson pada kasus Swarnlata. Pada musim panas 1959 Suami Biya, anak dan saudara tertua bepergian ke Chhatarpur, kota tempat tinggal Swarnlata saat itu untuk mencheck ingatan swarnlata. Mereka tidak mengungkapkan identitas dan tujuan mereka pada siapapun di kota, namun terdaftar 9 orang kota menemani mereka kerumah Mishar dengan tidak memberitahukan kedatangan mereka terlebih dahulu

    Swarnlata segera mengenali kakanya dan memanggilnya ‘Babu’ panggilan sayang biya untuknya. Swarnlata yang berusia 10 tahunan berjalan kesekeliling ruangan kepada tiap orang secara bergilir, beberapa ia kenal sebagai penduduk kotanya, beberapa adalah orang asing baginya. Sesampainya Ia didepan Sri Chintamini Pandey, suami Biya. Swarnlata menundukan matanya, tersipu malu seperti layaknya istri Hindu ketika berhadapan dengan suaminya dan menyebutkan namanya.

    Swarnlata juga menyebutkan dengan tepat anak dari kehidupan lampaunya, Murli, yang berusia 13 tahun saat Biya wafat. Murli berencana mengecoh Swarnlata. Selama lebih dari 24 jam bersikeras bahwa ia bukan Murli namun orang lain. Murli juga membawa teman dan juga mencoba mengecoh Swarnlata dengan bersikeras bahwa itu adalah Naresh, anak Biya yang lain, yang seumuran dengan temannya itu. Swarnalata bersikeras bahwa orang itu tidak dikenalnya! Akhirnya Swarnalata mengingatkan Sri Pandey bahwa Pandey pernah nyolong 1200 rupee yang Biya simpan di Box. Sri Pandey mengakui fakta pribadi yang hanya diketahui ia dan istrinya saja!

    Beberapa minggu kemudian, Swarnalata dan ayahnya ke Katni untuk mengunjungi kampung halaman dimana Biya tinggal dan meninggal. Sesampainya disana , Swarnlata segera mengenali perubahan yang terjadi dirumah itu. Ia menanyakan tentang sandaran di belakang rumah, beranda dan pohon neem yang biasa tumbuh di halaman yang semuanya tidak ada lagi setelah kematian Biya. Ia mengenali kamar biya dimana Biya meninggal. Ia mengenali kakak Biya dan menyatakan sebagai kakak ke dua, juga yang ketiga dan yang keempat, istri dari saudara termudanya anak dari kakak keduanya, teman dekat kelurganya (menyebutkan bahwa teman keluarganya itu sekarang memakai kacamata dan dulu tidak) dan istrinya (memanggil namanya ‘Bhoujai’). Ia juga dengan tepat mengidentifikasi pembantu terdahulu, penjual buah pinang tua dan keluarga penggembala sapi, meskipun adik lelakinya berusaha untuk mengetes swarnlata bahwa penggembala itu sudah wafat)

    Kemudian, Swarnalata dihadapkan pada ruangan yang penuh dengan orang dan ditanya ada yang dikenalnya atau tidak. Ia dengan tepat menunjuk sepupu laki2 suaminya, Istri dari ipar Biya, Bidan (yang disapa dengan nama ketika Biya masih hidup, bukan dengan nama saat ini). Anak Biya, Murli dalam satu tes yang lain ia mengenalkan Swarnlata dengan seorang pria yang katakan teman barunya, Bhola. Namun Swarnlata bersikeras bahwa itu adalah anak keduanya, Naresh. Dalam satu tes lain, saudara termuda Biya mengatakan bahwa Biya kehilangan gigi, Swarnlata katakan bahwa Biya mempunyai gigi emas di bagian depan. (Justru si adik lupa bahwa Swarnlata pake gigi emas, namun istrinya si adik menyatakan bahwa yang dikatakan swarnlata itu benar)

    Swarnlata bertindak sangat Pede, berprilaku sebagai kakak tertua di rumah, akrab dengan nama intim dan rahasia keluarga dan mengingat hubungan perkawinan, dll. Swarnlata berprilaku sepantasnya dengan tetua Biyam namun ketika berdua dengan anak2 Biya, Ia begitu relaks dan berprilaku seperti ibu yang jelas janggal bahwa anak 10 tahunan dengan pria2 di usia pertengahan 30

    Saudara2 pria di keluarga Pathak dan Swarnlata mengikuti kebiasaan hindu, Rakhi, di mana kakak dan adik tiap tahun memperbaharui sayang diantara mereka dengan bertukar kado, bahkan keluarga Pathak agak kesal dan kecewa satu tahun ketika Swarnalata lupa upacara itu. Mereka merasa bahwa swarnlata hidup bersama mereka 40 tahun dan hanya 10 tahun dengan keluarga Mishra jadi merasa lebih berhak atasnya. Ini bukti betapa percayanya keluarga itu bahwa Swarnlata adalah Biya. Mereka mengakui mengubah pandangan mereka tentang reinkarnasi sejak bertemu Swanlata dan mengakui bahwa ia adalah kelahiran kembalinya Biya. Beberapa tahun kemudian, ketika waktunya Swarnlata menikah, Ayah Swarnlata berkonsultasi dengan keluarga Pathak mengenai pilihan suaminya.

Tradisi India, dapat dengan cepat menerima kebenaran kisah tersebut diatas. Namun demikian, secara garis besar terdapat perbedaan yang sangat signifikan di antara Tradisi India dalam menyikapinya, yaitu :

  • Pengakuan siapa aktor intelektual di belakang layar yang menyebabkan kelahiran kembali mahluk2 di dunia ini.

    Definisi Tuhan/Brahman:

    • Suatu zat abadi dan supranatural atau sebuah bentuk energi atau kesadaran yang merasuki seluruh alam semesta, di mana keberadaan-Nya membuat alam semesta ada; sumber segala yang ada; kebajikan yang terbaik dan tertinggi dalam semua makhluk hidup; atau apapun yang tak bisa dimengerti atau dijelaskan.
    • Brahman bersifat kekal, imanen, tak terbatas, tak berawal dan tak berakhir juga menguasai segala bentuk, ruang, waktu, energi serta jagat raya dan segala isi yang ada didalamnya.
    • Meskipun kepercayaan akan Tuhan ada di semua agama, kebudayaan dan peradaban, tetapi definisinya lain-lain. Istilah Tuan juga banyak kedekatan makna dengan kata Tuhan, dimana Tuhan juga merupakan majikan atau juragannya alam semesta. Tuhan punya hamba sedangkan Tuan punya sahaya atau budak.
    • Penganut monoteisme di Indonesia biasanya menolak menggunakan kata Dewa, hal ini adalah tidak berdasar sebab di Prasasti Trengganu, prasasti tertua dalam bahasa Melayu, Tahun: 1326 M/1386 M, ditulis dengan Huruf Arab (Huruf Jawi), menuliskan Tuhan tidak hanya dengan asma Allah tetapi juga Dewata Mulia Raya.
    • Untuk definisi Theisme, Atheis, Agnostic, silakan lihat di sini

    Hinduism menyatakan Tuhan/Brahman-lah aktor intelektualnya dalam penciptaan. Sementara, Buddhisme menyatakan Tidak ada Brahman/Tuhan/Maha pencipta dalam urusan ini

  • Ada atau tidaknya Roh/jiwa/Atman/Nyawa sebagai dalam kelahiran kembali

    Definisi roh/jiwa/atman:

    • Sesuatu (unsur) yang ada di jasad yang diciptakan Tuhan sebagai penyebab adanya hidup (kehidupan).
    • Merupakan percikan kecil dari Brahman yang berada di dalam setiap makhluk hidup di alam semesta ini [sarwa prani]. Atman di dalam badan manusia disebut: Jiwatman atau jiwa atau roh yaitu yang menghidupkan manusia. Indria tak dapat bekerja bila tak ada atman.
    • Inti dari mahluk yang membuatnya hidup.

    Hinduisme menegaskan bahwa Atman adalah percikan Brahman. Sementara, Buddhisme menolak semua ide Atman dan Brahman ini

Terlepas dari dua perbedaan di atas, kedua ajaran ini berada pada sisi yang sama dalam menyatakan bahwa Kelahiran kembali itu mutlak ada.

Mengapa saya katakan mahluk hidup bukan manusia saja?

Punarbhawa/Punabbhava berasal dari bahasa Sanskrit dan Pali yang terbentuk dari dua kata yaitu kata ”puna” dan ”bhava”. Kata ”puna” berarti lagi atau kembali, sedangkan ”bhava” berarti proses menjadi ada/eksis atau kelahiran. Jadi, secara harafiah, punabbhava berarti proses menjadi ada/eksis lagi atau kelahiran kembali atau tumimbal lahir.

Pada ajaran India (Hindu dan Buddha), Kelahiran kembali tidak dibatasi hanya dilevel Manusia saja, namun juga dari semua level dan kesemua level. Artinya Binatang, tumbuhan, dewa dan juga manusia bisa lahir kembali ke level yang mana saja.

[Kembali]



Hindu: Kelahiran Kembali

Veda menyampaikan hubungan antara perbuatan dan kelahiran kembali ketika wafatnya seseorang, misalnya:

    Ketika Engkau telah membuatnya siap, Jātavedas (Nama lain Deva Agni. Di literature abad belakangan menjadi nama lain dari Siwa), maka kirimlah ia ke para leluhurnya. Ketika ia menuju pada kehidupan yang menunggunya, Ia akan menjadi dewa pengontrol ‘. matahari menerima matamu, angin menerima rohmu, dan pergi ke bumi, bersama jasa/kebiasaanmu (ca ghachapṛthivīṃ ca dharmaṇā) [RgVeda. 10.6.2-3]

    roh-Mu datang kepadamu lagi untuk kebijaksanaan, energi, dan lira, yang mungkin dapat menahan sang Mentari, O para leluhur, semoga para mahluk surgawi member jiwa kita sekali lagi, yang membuat kita dapat bersama mereka yang hidup [RV.10. 57.4-5]

Kemudian, Upanisad memperjelasnya, misal:

    Tapi dirinya yang lain (ayah), setelah melakukan semua yang Ia lakukan, dan setelah mencapai waktu penuh hidupnya, Ia berangkat. Dan berangkat dari sini ia dilahirkan kembali. Itulah kelahiran ketiga. Dan ini telah dinyatakan oleh Rsi (Rv IV, 27, 1) [Aitareya-Âranyaka, II.5.1]

    “Untuk apapun objek yang melekat di pikiran seseorang, karena itu ia berkecenderungan pergi bersama perbuatannya, dan memperoleh akhir dari apapun perbuatan yang dia lakukan di bumi, ia kembali lagi dari dunia itu ke dunia ini” [Brihadâranyaka Upanishad 4.4.6]

    melalui pikiran-pikiran, sentuhan, penglihatan dan kegemaran menanggung penjelmaan diri berturut-turut di berbagai tempat dan bentuk, sesuai dengan perbuatannya…bahwa penjelmaan diri menurut kualitasnya sendiri menjadi banyak bentuk, kasar atau halus dan membuat dirinya menjadi sebab penyatuan dengan hal tersebut, Ia terlihat lain dan lain melalui kualitas perbuatannya dan kualitas tubuhnya [Svetâsvatara Upanishad 5.11-12]

    Ia yang tidak memiliki pemahaman, yang lengah dan selalu tidak murni, tidak pernah mencapai tempat itu, tapi masuk ke lingkaran kelahiran. Tapi Ia yang berpemahaman, yang sadar dan selalu murni, mencapai tempat itu, dari mana ia tidak dilahirkan kembali.” [Katha Upanisad I.3]

    Dia yang mengetahui tempat tertinggi dari Brahman itu, dimana dasar dari dunia ini bersinar dengan cemerlang. Orang bijaksana, yang, bebas dari keinginan, memuja Dia, lepas dari kelahiran kembali. Dia yang melayani nafsu, memikirkan mereka, akan lahir kembali di sini dan disana sesuai dengan keinginannya. Tapi bagi dia yang keinginannya telah terpenuhi, yang adalah jiwa sempurna, seluruh keinginannya lenyap bahkan disini. [Mundaka Upanisad 3.2.1-2]

    Atau dalam karya yang lebih belakangan lagi:
    Orang yang mengenal sifat rohani, kelahiran dan kegiatanKu, tidak akan lahir lagi di dunia material ini setelah meninggalkan badan, melainkan ia mencapai tempat tinggalKu yang kekal. [Bhagavad Gita 4.9].

Secara prinsip Mahluk hidup tercipta karena Brahman. Brahman (Prajapati) menciptakan dua kekuatan yang disebut Purusa yaitu kekuatan hidup (batin/nama) dan Prakerti (pradana/rupa) yaitu kekuatan kebendaan. Kemudian timbul “cita” yaitu alam pikiran yang dipengaruhi oleh Tri Guna yaitu Satwam (sifat kebenaran/Dharma), Rajah (sifat kenafsuan/dinamis) dan Tamah (Adharma/kebodohan/apatis). Kemudian timbul Budi (naluri pengenal), setelah itu timbul Manah (akal dan perasaan), selanjutnya timbul Ahangkara (rasa keakuan). Setelah ini timbul Dasa indria (sepuluh indria/gerak keinginan) yang terbagi dalam kelompok

  • Panca Budi Indria yaitu lima gerak perbuatan/rangsangan: Caksu indria (penglihatan), Ghrana indria (penciuman), Srota indria (pendengaran), Jihwa indria ( pengecap), Twak indria (sentuhan atau rabaan)
  • Panca Karma Indria yaitu lima gerak perbuatan/penggerak: Wak indria(mulut), Pani (tangan), Pada indria (kaki), Payu indria (pelepasan), Upastha indria (kelamin)

Setelah itu timbulah lima jenis benih benda alam (Panca Tanmatra): Sabda Tanmatra(suara), Sparsa Tanmatra (rasa sentuhan), Rupa Tanmatra(penglihatan), Rasa Tanmatra (rasa), Gandha Tanmatra (penciuman).

Dari Panca Tanmatra lahirlah lima unsur-unsur materi yang dinamakan Panca Maha Bhuta, yaitu Akasa (ruang/ether), Bayu (gerak/angin), Teja (panas/api), Apah (zat cair/perekat) dan Pratiwi (zat padat/tanah)

Perpaduan semua unsur-unsur ini menghasilkan dua unsur benih kehidupan yaitu Sukla (benih laki-laki) dan Swanita (benih perempuan). Pertemuan antara dua benih kehidupan ini adalah pertemuan Purusa dengan Pradana maka terciptalah manusia.

    Dahulu kala Prajapati mencipta manusia bersama bhakti persembahannya dan berkata dengan ini engkau akan berkembangbiak dan biarlah dunia ini jadi sapi perahanmu.-[Bhagavad-Gita 3.10]

    Beberapa jiwa memasuki kandungan untuk ditubuhkan; yang lain memasuki obyek-obyek diam sesuai dengan perbuatan dan pikiran mereka.- [Katha Upanisad 2.2.7]

    Mahluk-mahluk di dunia yang terikat ini adalah bagian percikan yang kekal (Brahman) dari Ku, mereka berjuang keras melawan 6 indria termasuk pikiran. -[Bhagavad Gita 15.7]

Percikan dari Brahman itu dinamakan Atman/jiwatman merupakan percikan. Atman itu tak terlukai oleh senjata, tak terbakar oleh api, tak terkeringkan oleh angin, tak terbasahkan oleh air, abadi, di mana- mana ada, tak berpindah- pindah, tak bergerak, selalu sama, tak dilahirkan, tak terpikirkan, tak berubah dan sempurna tidak laki- laki ataupun perempuan.

Percikan itulah yang menghidupkan/menggerakan manusia. Atman/roh/jiwa menghidupkan sarwa prani (makhluk di alam semesta ini). Indria tak dapat bekerja bila tak ada atman. Misalnya telinga tak dapat mendengar bila tak ada atman, mata tak dapat melihat bila tak ada atman, kulit tak dapat merasakan bila tak ada atman. Badan jasmani bisa berubah, lahir, mati, datang dan pergi, namun Atma tetap langgeng untuk selamanya.

    Setelah memakai badan ini dari masa kecil hingga muda dan tua, demikian jiwa berpindah ke badan lain, ia yang budiman tidak akan tergoyahkan -[Bhagawad Gita 2.13]

    Ibarat orang meninggalkan pakian lama dan menggantinya dengan yang baru, demikian jiwa meninggalkan badan tua dan memasuki jasmani baru. -[Bhagawad Gita 2.22]

Atma/Jiwatman bersifat abadi, namun karena Maya, maka Jiwatma tidak mengetahui asalnya yang sesungguhnya. Keadaan itu disebut “Awidya”. Hal tersebut mengakibatkan Jiwatman mengalami proses kelahiran kembali yang berulang-ulang.

    Dan bagaimanapun keadaan mahluk-mahluk itu, apakah mereka itu selaras (sattvika), penuh nafsu (rajasa), ataupun malas (tamasa), ketahuilah bahwa semuanya itu berasal dari Aku. Aku tak ada di sana, tetapi mereka ada pada-Ku. Dikelabui oleh ketiga macam sifat alam (guna) ini, seluruh dunia tidak mengenal Aku, yang mengatasi mereka dan kekal abadi. Maya ilahi-Ku ini, yang mengandung ketiga sifat alam itu sulit untuk diatasi. Tetapi, mereka yang berlindung pada-Ku sajalah yang mampu untuk mengatasinya.-[Bhagavad Gita 7.12-14]

    Maya tanpa kecerdasan dan Material mempunyai sifat: kebaikan/selaras (satwam), nafsu/kekuatan (rajas) dan kebodohan/kelambaman (tamas)-[Siwa Samhita 1.79]

    Mahluk hidup diikat oleh sifat-sifat tersebut dan sulit dikendalikan..-[Bhagavad Gita 14.5]

    Mahluk hidup pindah dari satu badan ke badan lainnya dengan membawa kesadaran masing-masing, seperti udara yang membawa jenis bau-bauan tertentu. Berdasarkan kesadaran demikian mahluk hidup meninggalkan badan dan menerima badan baru yang lain.-[Bhagavad Gita 15.8]

    Aku memuja Keagungan Govinda [Krisna/Visnu], dengan kuasa anugrahnya memelihara semua yang belum terlahir, semua yang menjadi ada, semua kebaikan, semua keburukan, Veda-Veda, semua yang menerima hasil pencapaian, semua jiwa, dari mulai Brahma hingga ke serangga terlemah-[Sri Brahma-Samhita 53]

Tradisi India menyatakan bahwa terdapat 84 Lakhs atau 8.400.000 jenis spesies [Hindu Teks: Shrimad BhagvatGita 16-19, Maitrayani Upanishad, Brahma-vaivarta Purana, Garuda Purana, Jain teks: Ashta Pahuda 5.120], yang terbagi kedalam 4 cara lahir yaitu: Jarayuj (viviparous), Andaja (oviparous/telur), Swedaja (born of sweat/tempat lembab), and Udbhijya (Sprouting from soil). Mengenai kemungkinan berinkarnasi:

  1. Ada pendapat yang menyatakan bahwa 84 Lakhs jenis, termasuk didalamnya adalah batu dan logam sedangkan manusia tidak termasuk: Batu, Logam, Tumbuhan, [Cacing, serangga dan reptil], Ikan, Burung dan Binatang lainnya masing-masing terbagi menjadi 6 x 1.400.000 jenis.

    Anda tertawa? Sinis dan tidak percaya?

    Untuk contoh kesesuaian dengan pendapat ini, saya tidak ambil contoh kisah yang ada di India, saya ambilkan contoh dari lain tempat:

      Kisah klasik Tiongkok , yaitu kisah Hong Lou Meng / Impian Mezanin Merah/ 紅樓夢 yang pada pembukaannya Diebutkan bahwa Jia Baoyu pada kehidupan lampaunya adalah sebuah batu 7 warna, sedangkan Lin Daiyu adalah rumput dewata mutiara merah-tua, oleh karena membalas kebaikan embun maka telah membentuk jodoh kehidupan masa kini dengan Jia Baoyu [sumber: Erabaru]

    Anda masih tidak percaya? Malah mengatakan: ‘itukan dongeng bukan real’? Oke..saya sampaikan ‘dongeng’ yang tercantum di Ayat Qur’an Al Israa’ 17:50

      [Katakanlah: “Jadilah kamu sekalian Batu atau besi“]
  2. Mainstream tradisi India adalah seperti yang tercantum pada Padma Purana: 8.400.000 [84 lakhs] spesies terbagi kedalam 900 .000 spesies yang hidup di air; 2 .000 .000 spesies tumbuh-tumbuhan; 1 100 000 spesies serangga; 1 .000 .000 spesies burung; 3 .000 .000 spesies binatang buas; dan 400 .000 spesies kehidupan manusia. Untuk pendapat ini:
    • Al’Qur’an menyatakan ada kaum yahudi yang akhirnya menjadi kera [Al baqarah 2:65, Al A’raaf 7:166] dan babi [Al Maa’idah 5:60]
    • Ada satu fakta menarik di Alkitab yaitu di Kitab Titus, mengenai bangsa yahudi. Kitab Titus adalah surat Paulus kepada Titus (saurada Lukas) yang saat itu ada di Kreta yaitu Titus 1:12-14:
        “Seorang dari kalangan mereka, nabi mereka sendiri, pernah berkata: “Dasar orang Kreta pembohong, binatang buas, pelahap yang malas.”

        Kesaksian itu kelihatannya benar. Karena itu tegorlah mereka dengan tegas supaya mereka menjadi sehat dalam iman, dan tidak lagi mengindahkan dongeng-dongeng Yahudi dan hukum-hukum manusia yang berpaling dari kebenaran.

    • Situs past life memory Bank merekam pengakuan orang-orang yang mengklaim bahwa mereka pernah dilahirkan sebagai binatang

Padma Purana di atas, menyebutkan hasil karma perjalanan jiwa. Pencapaian yang benar adalah bersatu dengan Brahman.

Apabila tidak tercapai maka kelahiran kembali disamping bentuk yang tercatum di Padma Purana dapat pula dalam bentuk Deva, Pitara (leluhur), Denawa, Raksasa, Naga, Kinnara, Gandarwa, Asura dan bahkan di neraka.

Lebih lanjut dalam Al Israa’ 17: 51 dikatakan [atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin menurut pikiranmu..].

Menurut Dr Zakir, “seorang Pakar” Muslim, banyak membaca buku-buku Hindu. Ia memaksakan pendapat bahwa Muhammad diramalkan di Bhasvishya Purana dengan merujuk kata ‘Mahamada’ dan ‘Mleecah’. Saya pernah sampaikan di artikel sebelumnya, Bhasvishya Purana menyebutkan tentang MahaMada, Ia adalah pendiri ajaran Mleecah dan merupakan reinkarnasi dari asura/Iblis bernama Tripurasura.

Kalau-pun ada kesadaran untuk mengakui ‘kelahiran kembali dari kalangan Abrahamic, maka pengakuan tersebut belum merupakan pengakuan MAYORITAS. Namun demikian, ada satu persamaan yaitu Ruh/Jiwa berasal dari Allah.

Lho, Bukannya memory itu tersimpan di otak, kalau sudah mati, Bagaimana mungkin memori itu dapat juga di bawa oleh Jiwa/Ruh Lahir Kembali?

Ide dasarnya adalah Atman Kembali ke Brahman. Untuk kembali ternyata ada jarak diantaranya. Jarak itu, ada yang menamakan itu unsur, lapisan, ketidaktahuan/Awidya selubung atma, selubung Maya dan masih banyak lagi [Brhadaranyaka Upanishad IV.4.vi, Brhadaranyaka Upanishad,, IV.iii.9, Chandogya Upanisad, Taittiriya Upanisad, Bhagawad Gita, dll].

Yang menghalangi Atman kembali ke Brahman adalah ketidaktahuan/Awidya sebagai selubung atma/selubung Maya, contoh penjelasannya:

    Zat Padat/Tanah, Zat cairan/perekat, Panas/api, Gerak/angin, angkasa/ruang, pikiran, kecerdasan dan keakuan palsu. Keseluruhan delapan unsur ini merupakan tenaga material yang terpisah dariku.-[Bhagavad Gita 7.4, Lima pertama disebut badan materi/ panca mahaButa/Stula sarira dan tiga terakhir disebut tripremana sebagai badan halus/sukma sarira, yaitu manah/pikiran, budhi/kecerdasan dan ahangkara/keakuan palsu. Tripremana-lah yang menyertai roh mengembara dari satu tubuh ke tubuh yang lain]

    Model penjelasan lain:
    mahluk itu terdiri dari 3 Lapisan: badan Materi disebut Stula Sarira, kemudian badan jiwa disebut sukma Sarira dan bagian di antaranya disebut Antakharana-Çarira (Lapisan badan Penyebab). Lapisan badan penyebab atau Antakharana-Çarira, inilah yang sebagai pembawa dari Karma (Karma-Wasana) makhluk sejak berbagai kelahirannya yang lampau.

    Model penjelasan lain:
    Adanya panca Maya kosa (lima selubung yang membelenggu atman):

    1. Annamaya Kosa = unsur dari sari makanan;
    2. Pranamaya Kosa = unsur dari sari nafas;
    3. Manomaya Kosa = unsur dari sari pikiran;
    4. Wijnanamaya Kosa = unsur dari sari pengetahuan;
    5. Anandamaya Kosa = unsur dari kebahagiaan.

    Nomor 3, 4, dan 5 yang dibawa Atman menuju pada kelahiran kembali. Lapisan belenggu/pembungkus yang paling didalam dan yang paling sulit dibuang adalah yang bernama Anandamaya, sehingga atman yang masih terbungkus oleh Anandamaya disebut sebagai Anandamaya atma. Anandamaya adalah kebahagian atau kesenangan hidup yang dialami ketika atman masih mempunyai stula sarira (tubuh) yakni ketika masih hidup di dunia ini contohnya: ketika masih hidup di dunia. Jadi kebahagian dan kesenangan itu sifatnya keduniawian yang dinikmati dari Panca Indria yaitu: pendengaran, penglihatan, penciuman, rasa lidah, dan rasa kulit (termasuk sex).

    Kelahiran kembali (Punarbhawa/Reinkarnasi) terjadi karena Ia harus menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang terdahulu (karma)

Hal yang pasti adalah: manusia lahir sendirian, mati sendirian, merasakan hasil dari perbuatan baik dan buruk sendirian, jatuh ke dalam neraka sendirian, dan pulang ke dunia rohani juga sendirian.-[Canakya Niti Sastra 5.13]

Sehingga, manusia sendiri yang menentukan nasib baik/buruk yang akan ia jalani sementara Tuhan yang menentukan kapan hasilnya diberikan (baik semasa hidup maupun setelah lahir kembali. Apabila manusia tidak sempat menikmati pada kehidupan saat ini, maka akan dinikmati pada kehidupan selanjutnya.

    Adapun perbuatan orang yang bodoh, senantiasa tetap berlaku menyalahi dharma; setelah ia lepas dari neraka, menitislah ia menjadi binatang, seperti biri-biri, kerbau dan lain sebagainya; bila kelahirannya kemudian meningkat, ia menitis menjadi orang yang hina, sengsara, diombang-ambingkan kesedihan dan kemurungan hati, dan tidak mengalami kesenangan.-[Sarasamuccaya 1.48]

    Alangkah cepat dan pendeknya kehidupan sebagai manusia ini, tak bedanya dengan sinarnya kilat dan sangat susah pula untuk didapat. Oleh karena itu berusaha benar-benarlah untuk berbuat (sadhana) berdasarkan kebenaran (dharma) untuk menghapuskan kesengsaraan hidup guna mencapai sorga -[Sarasamuscaya 2.14]

Untuk menghentikan lingkaran kelahiran, hinduism menasehatkan untuk mensucikan 3 perbuatan/trikayaparisudha:

  • Kayika/perbuatan yang benar: tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzina),
  • Wacika/perkataan yang benar: tidak mencaci, tidak berkata keras, tidak memfitnah, tidak ingkar janji),
  • Manacika/pikiran yang benar: tidak menginginkan sesuatu yang adharma, tidak berpikir buruk pada orang/mahluk lain,)

Perputaran itu tidaklah terputus sampai Ia melepas belenggu Maya dan menghancurkan Awidya/ketidaktahuan dan menghancurkan enam musuh diri /Sadripu: kama (nafsu), lobha (tamak), kroda (marah), mada (mabuk), moha (angkuh), matsarya (dengki irihati) melalui:

    Yamabrata:
    melatih diri untuk anrsamsa (tidak egois), ksama (memaafkan), satya (jujur), ahimsa (tidak menyakiti), dama (sabar), arjawa (tulus), pritih (welas asih), prasada (berpikiran suci), madhurya (bermuka manis), mardawa (lemah lembut).

    Niyamabrata:
    Melakukan: dana (dermawan), ijya (bersembahyang), tapa (mengekang nafsu jasmani), dhyana (sadar pada kebesaran Ida Sanghyang Widhi Wasa), swadhyaya (belajar), upasthanigraha (mengendalikan nafsu sex), brata (mengekang indria), upawasa (mengendalikan makan/minum), mona (mengendalikan kata-kata), snana (menjaga kesucian lahir bathin)

    Sadatatayi:
    Tidak melakukan kekejaman : agnida (membakar), wisuda (meracun), atharwa (menenung), sastragna (merampok), dratikrama (memperkosa), rajapisuna (memfitnah).

    Saptatimira:
    menghindari kebanggaan/keangkuhan karena surupa (cantik/tampan), dana (kaya), guna (pandai), kulina (wangsa), yowana (remaja), kasuran (kemenangan), sura (minuman keras).

Dengan tekad dan latihan tersebut maka terhentilah roda kelahiran kembali dan mencapai penyatuan atman dan Brahman. Penjelasan lain untuk kembali pada brahman adalah melalui empat jalan yang disebut Catur Marga / Catur Yoga dan ke-empat jalan tersebut adalah sama baiknya

    Dengan jalan bagaimanapun ditempuh oleh manusia ke arahku, semuanya aku terima dan memenuhi keinginan mereka, melalui banyak jalan manusia menuju jalanku, Oh Prtha.-[Bhagawad Gita 5.2]

Jnana Marga/Yoga (kebijaksanaan filsafat atau Penetahuan)
Persatuan Atman dan Brahman dicapai melalui Pengetahuan atau kebijaksanaan filsafat kebenaran. Pengetahuan seorang bijaksana dimulai dengan pengetahuan dalam tingkat ajaran-ajaran suci Weda (Apara Widya)

Kemudian berdasarkan itu menuju pada pengetahuan tingkat tinggi tentang hakikat kebenaran Atman dan Brahman (Pari Widya). Untuk mencapai kebenaran yang sempurna melalui Wiweka (logika) membedakan yang kekal dan tidak kekal, sehingga bisa melepaskan yang tidak kekal dan mencapai kekekalan yang sempurna. Jnana bermain di tataran Kebijakan dan Pikiran.

    Ia yang pikirannya tidak digoyahkan dalam keadaan dukacita dan bebas dari keinginan-keinginan ditengah-tengah kesukacitaan, ia yang dapat mengatasi nafsu, kesesatan dan kemarahan, ia disebut seorang yang bijaksana.-[Bhagawad Gita 2.56]

Karma Marga/Yoga (Perbuatan)
Persatuan atman dan Brahman melalui kerja/perbuatan tanpa pamrih, tulus/ ikhlas dengan melepaskan keinginan untuk memperoleh hasil atau buah dari perbuatan/kerjanya targetnya adalah melepas emosi, lepasnya atma dari unsur-unsur maya sehingga tercapailah kesempurnaan. Idenya adalah bekerjalah,lepaskan keinginan akan hasil.

    Bukan dengan jalan tiada bekerja, orang dapat mencapai kebebasan dari perbuatan. Juga tidak hanya melepaskan diri dari pekerjaan, orang akan mencapai kesempurnaannya.-[Bhagawad Gita 3.4]

    Serahkanlah segala pekerjaan kepadaku, dengan memusatkan pikiran kepada atma, melepaskan diri dari pengharapan dan perasaan keakuan, dan berjuanglah kamu, bebas dari pikiranmu yang susah-[Bhagawad Gita 3.30]

    Bekerjalah kamu selalu, yang harus dilakukan dengan tiada terikat olehnya, karena orang mendapat tujuannya yang tertinggi dengan melakukan pekerjaan yang tak terikat olehnya.-[Bhagawad Gita 3.19]

Bakti Marga/Yoga (Sujud/Bakti)
Persatuan atman dan Brahman melalui cinta dan sujud bakti terhadap Tuhan. Idenya adalah apapun adalah oleh, karena dan untuk Tuhan. Penyerahan diri sepenuhnya dan sujud bhakti pada Tuhan. Jalan Bakti Marga Yoga ini adalah jalan yang paling mudah dan banyak dilakukan/ditempuh oleh manusia

    Orang saleh yang menyembah aku adalah empat macam yaitu, orang yang mencari kekayaan, orang yang bijaksana, orang yang mencari pengetahuan dan orang yang dalam keadaan susah, Oh Arjuna.-[Bhagawad Gita 7.16]

    Diantara ini, orang yang bijaksana yang selalu terus menerus bersatu dengan Hyang Suci, kebaktiannya terpusat hanya kesatu arah (Tuhan) adalah yang terbaik. Sebab aku kasih sekali kepadanya dan dia kasih kepadaku.-[Bhagawad Gita 7.17]

    Dengan bentuk apapun juga mereka bakti kepadaku (Bhakta), yang dengan kepercayaan bermaksud menyembah aku (dengan Sraddha), kepercayaan itu aku tegakkan-[Bhagawad Gita 7.21]

Raja Marga/Yoga (Samadhi/Tapa)
Persatuan atman dengan brahman melalui konsentrasi yang benar dengan melakukan Astangga Yoga/delapan pemusatan, yaitu

  1. Yama/Larangan: Menahan diri/Nafsu,
  2. Nyama/Perintah: adat/adab yang baik, melatih dengan kebisaan,
  3. Asana: sikap duduk yang baik, tumpuan lengan dan kaki dapat membantu mengendalikan kemaluan dan perut,
  4. Pranayama: Pengendalian/ nafas (Puraka/menarik, Kumbaka/menahan, Recaka/menghembuskan),
  5. Pratyahara: Kontrol Indria,
  6. Dharana yaitu: upaya menenangkan pikiran,
  7. Dhyana: upaya memikirkan Brahman dan
  8. Semadhi: Menyamakan Gelombang dengan Brahman.

Seorang Yogin harus tetap memusatkan pikirannya kepada atma yang maha besar (Tuhan), tinggal dalam kesunyian dan tersendiri, bebas dari angan-angan dan keinginan untuk memilikinya.-[Bhagawad Gita 6.10]

Karena kebahagiaan tertinggi datang pada Yogin, yang pikirannya tenang, yang nafsunya tidak bergolak, yang keadaannya bersih dan bersatu dengan Tuhan (Moksa).-[Bhagawad Gita 6.27]

[Kembali]



Buddha: Kelahiran Kembali
Ketika Sidharta Gautama hendak mencapai Buddha, beliau menuturkan:

    “[..] Aku mengingat banyak ragam kelahiran dikehidupan lampauKu sebagai berikut: mula-mula 1 kelahiran, 2, 5, 10, 50, 100, 1000, 100.000, banyak Kappa kontraksi kosmis, banyak Kappa kosmis mengembang, banyak Kappa dari kontraksi dan mengembangnya kosmis (anekepi saṃvaṭṭakappe anekepi vivaṭṭakappe anekepi saṃvaṭṭavivaṭṭakappe)[..]

    Pengetahuan pertama ini didapat pada malam hari di waktu jaga ke-1 (rattiyā paṭhame yāme: 18.00 s/d 22.00);

    Pengetahuan ke-2 didapat pada malam hari di waktu jaga ke-2 [rattiyā majjhime yāme: 22.00 s/d 02.00] melalui mata batinnya melihat mahluk-mahluk wafat dan muncul kembali di bermacam alam [baik (misalnya: dewa dan buruk(misalnya neraka)], terhubung dengan karma mereka sendiri hingga dibedakan menjadi inferior/superior, penampilannya baik/buruk, beruntung/sial;

    Pengetahuan ke-3 didapat pada malam hari di waktu jaga ke-3 [rattiyā pacchime yāme: 02.00 s/d 06.00] berupa penyebab, cara penghancuran noda (asavakkhaya ñãna) dan mengakhir kelahiran kembali” [MN 36/Mahasaccaka Sutta]

Dan berikut syair beliau setelah mencapai kebuddhaan:

    Anekajāti samsāraṃ sandhāvissaṃ
    anibbisaṃ ‘Gahakāraṃ‘ gavesanto
    dukkhā jāti punappunaṃ
    Gahakāraka diṭṭhosi
    puna gehaṃ na kāhasi
    Sabbā te phāsukā bhaggā
    gahakūṭaṃ visaṅkhataṃ
    Visaṅ­khā­ra­gataṃ cittaṃ
    taṇhānaṃ khayamajjhagā
    Lari berputar diragam lingkaran kelahiran
    Sia-sia mencari ‘Pembuat Rumah
    Menyakitkan, kelahiran yang tiada akhir
    Pembuat Rumah, telah diketahui
    Tak lagi dapat membuat rumah
    Semua sendi telah dibongkar
    atap telah dirobohkan
    Macam bentukan pikiran telah dicabuti
    Belitan haus/keinginan telah dihancurkan

    [Dhammapada syair 153 & 154]

Siapakah “si pembuat Rumah” yang JATI DIRINYA telah diketahui dan dianggap bertanggung jawab terhadap terjadinya Kelahiran Kembali? Apakah maksudnya adalah Tuhan, Sang MAHA PENCIPTA?

Bukan!

Tuhan dalam pandangan agama samawi dan non samawi, baik itu dipersonifikasi (berbentuk, digambarkan menyerupai manusia) maupun bukan (berbentuk lainnya: tidak menyerupai manusia, berubah bentuk ataupun tidak berbentuk) adalah sebagai sesuatu yang disembah, yang kekal, maha kuasa, maha pencipta (termasuk alam semesta), pemilik Surga dan Neraka yang kekal. Tujuan akhir manusia adalah kembali ke surga yang kekal ciptaan Tuhan yang kekal (atau kembali kepada Tuhan yang kekal). Definisi Tuhan yang seperti ini dalam bahasa pali disebut issara (sanskrit: īśvara).

Pandangan ini ditolak Buddhism dan merupakan pandangan salah.

Mengapa?

Ide tentang adanya sesuatu yang kekal bertentangan dengan tilakkhana (Anicca, Dukkha dan Anatta). Namun demikian, pandangan salah ini masih banyak digenggam oleh kebanyakan pengikut Buddhism Indonesia. Variasi pandangan salah tentang ini diantaranya: Mempercayai bahwa Buddha dan/atau Nibanna adalah Tuhan dan/atau Tuhan-Ketuhanan Buddhism adalah Nibanna dan/atau Buddhism juga punya Tuhan seperti definisi di atas.

Kongres pertama dari Dewan Sangha Buddhis Dunia (WBSC: World Buddhist Sangha Council), Colombo, Sri Lanka, pada 27 Januari 1967 secara bulat menyepakati 9 point. Di point no. 3 adalah tidak meyakini bahwa dunia ini diciptakan dan diatur oleh tuhan. Pendapat ini didukung, sutta-sutta Buddhism, diantaranya:

  • “Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan; Mengapa Brahma itu tidak menciptakan secara baik? Bila kekuatannya demikian tak terbatas, mengapa tangannya begitu jarang memberkati? Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata? Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela? Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal? Saya menganggap Brahma adalah ketidakadilan. Yang membuat dunia yang diatur keliru.” [Bhuridatta Jataka, Jataka 543]
  • Apabila, O para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami penderitaan dan kebahagiaan sebagai hasil atau sebab dari ciptaan Tuhan (Issaranimmanahetu), maka para petapa telanjang ini tentu juga diciptakan oleh satu Tuhan yang jahat/nakal (Papakena Issara), karena mereka kini mengalami penderitaan yang sangat mengerikan. [Devadaha Sutta, Majjhima Nikaya 101]
  • Dalam AN 3.61/Tittha sutta, menolak pandangan bahwa semua perbuatan (baik dan/atau buruk) dan yang dialami seseorang dengan perasaan: menyenangkan, menyakitkan atau perasaan bukan menyenangkan bukan menyakitkan [a-dukkham a-sukhaṁ] adalah karena kuasa/kehendak TUHAN [Issaranimmānahetū]
      Issaranimmānahetū’ ti issaranimmānakāraṇā, issarena nimmitattā paṭisaṁvedetī ti attho” [Disebabkan kuasa Tuhan, Karena kuasa Tuhan, Dirinya mengalami dari kuasa tuhan]
  • “[..] Para bhikkhu, pada suatu masa yang lampau setelah berlangsungnya suatu masa yang lama sekali, ‘bumi ini belum ada’. Ketika itu umumnya makhluk-makhluk hidup di alam dewa Abhassara, di situ mereka hidup ditunjang oleh kekuatan pikiran, diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya dan melayang-layang di angkasa hidup diliputi kemegahan, mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

    Demikianlah, pada suatu waktu yang lampau ketika berakhirnya suatu yang lama sekali, bumi ini mulai berevolusi dalam pembentuk, ketika hal ini terjadi alam Brahma kelihatan dan masih kosong. [siklus semesta]

    Ada makhluk dari alam dewa Abhassara yang ‘masa hidupnya atau ‘pahala kamma baiknya’ untuk hidup di alam itu telah habis, ia meninggal dari alam Abhassara itu dan terlahir kembali di alam Brahma.

    Disini, ia hidup ditunjang pula oleh kekuatan pikirannya diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya-cahaya yang melayang-layang di angkasa, hidup diliputi kemegahan, ia hidup demikian dalam masa yang lama sekali.”

    Karena terlalu lama ia hidup sendirian di situ, maka dalam dirinya muncullah rasa ketidakpuasan, juga muncul suatu keinginan,

      ‘O, semoga ada makhluk lain yang datang dan hidup bersama saya di sini!

    Pada saat itu ada makhluk lain yang disebabkan oleh masa usianya atau pahala kamma baiknya telah habis, mereka meninggal di alam Abhassara dan terlahir kembali di alam Brahma sebagai pengikutnya, tetapi dalam banyak hal sama dengan dia.’

    Para bhikkhu, berdasarkan itu, maka makhluk pertama yang terlahir di alam Brahma berpendapat:

      “Saya Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan Dari Semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada). Semua makhluk ini adalah ciptaanku.

      Mengapa demikian?

      Baru saja saya berpikir, ’semoga mereka datang’, dan berdasarkan pada keinginanku itu maka makhluk-makhluk ini muncul.

    Makhluk-makhluk itu pun berpikir,

      ‘dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. Kita semua adalah ciptaannya.

      Mengapa?

      Sebab, setahu kita, dialah yang lebih dahulu berada di sini, sedangkan kita muncul sesudahnya”.

    “Para bhikkhu, dalam hal ini makhluk pertama yang berada di situ memiliki usia yang lebih panjang, lebih mulia, lebih berkuasa daripada makhluk-makhluk yang datang sesudahnya.”

    “Para bhikkhu, selanjutnya ada beberapa makhluk yang meninggal di alam tersebut dan terlahir kembali di bumi.

    Setelah berada di bumi ia meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjadi pertapa. Karena hidup sebagai pertapa, maka dengan bersemangat, tekad, waspada dan kesungguhan bermeditasi, pikirannya terpusat, batinnya menjadi tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat kembali satu kehidupannya yang lampau, tetapi tidak lebih dari itu.”

    Mereka berkata :

      Dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Masa Kuasa, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. Dialah yang menciptakan kami, ia tetap kekal dan keadaannya tidak berubah, ia akan tetap kekal selamanya, tetapi kami yang diciptakannya dan datang ke sini adalah tidak kekal, berubah dan memiliki usia yang terbatas [..]” [DN1/Brahmajala Sutta]

Sehingga adalah benar bahwa Buddhism tidak mempercayai keberadaan Tuhan seperti yang didefinisi kaum Samawi/bukan Samawi, malah definisi Tuhan dari kaum samawi dan bukan samawi itu, dalam Buddhism, masuk kategori mahluk belaka.

Seorang Brahmin bernama Rādha bertanya tentang apa itu Mahluk, Sang Buddha menjawab:

    yang (yo): Ingin (chanda), tertarik (rāga), gemar (nandī), haus (tanha) akan: Materi (rūpa).. Perasaan (Vedana).. Persepsi/Ingatan (sañña).. Kondisi/Fenomena (saṅkhāra).. Kesadaran (viññāṇa) di situlah mahluk (tatra satta) di situlah terjerat (tatra visatta), maka disebut mahluk (tasmā sattoti vuccati) [SN 23.2/Satta Sutta]

terjerat dalam roda samsara yang tak berkesudahan

    “Tak berkesudahan, Para Bhikkhu, samsara. Titik pertama tak terlihat karena rintangan ketidaktahuan (avijjānīvaraṇa) para makhluk yang terbelenggu kehausan (taṇhāsaṃyojana) terus menerus” [SN 15.1/Tiṇakaṭṭha sutta, SN 22.9: Gaddulabaddha Sutta, SN 56.35/Sattisata Sutta, dll]

Menurut Buddhism,
Makhluk atau “aku” adalah bauran dari panca khandha [DN 33/sanghiti Sutta. khanda = kumpulan, gugus, faktor/unsur pembentuk; agregat, kelompok kehidupan] atau juga bauran dari NamaRupa.

Pañcakkhandha:

  1. Viññāṇakkhandho: Muncul karena pertemuan antara Indriya dan objek-objeknya. Ke-3nya (Indriya+objek-objeknya+Kesadaran) disebut kontak/Phassa.
  2. Vedanākkhandho (Vedanā = perasaan, sensasi): Muncul karena adanya kontak berupa: menyenangkan, menyakitkan dan bukan ke-2nya (dalam bentuk masa lalu, sekarang dan masa depan)
  3. Saññākkhandho (Saññā = Perekaman, pengertian, kesadaran, pencerapan, persepsi, pengenalan, penyadaran; konsepsi, ide, gagasan, pikiran, tanda, isyarat, kesan, ingatan): Muncul bersamaan dengan perasaan.
  4. Saṅkhārakkhandho (San+khara, san = gabungan, khara = bentukan/kondisi; kehendak, sañcetanā, abhisaṅkhara, kamma, sebagai faktor ke-2 dalam 12 mata rantai paṭicca-samuppāda; faktor penggerak; pendorong; kekuatan; faktor pembentuk).
  5. RūpakkhandhoCattāri ca mahābhūtāni catunnañca mahābhūtānaṃ upādāya“, catumaha bhuta/Elemen/Materi adalah no-upada [tidak dapat diuraikan lagi]:
    1. elemen/keadaan Padat/landasan/penyokong [Pathavi dhatu]: memberikan sifat kaku atau mempertahankan posisi;
    2. elemen/keadaan cair/rekatan (Apo-Dhatu): bersifat memberi rekatan;
    3. elemen Gerak/Getar/tekanan (Vayo-Dhatu): bersifat memelihara
    4. elemen umur/habis/gelombang partikel/temperatur (panas/dingin) / energi (Tejo-Dhatu): bersifat menggelembungkan

    4 unsur dasar ini merupakan elemen/materi fundamental yang hadir bersama dan tidak terpisahkan. Setiap substansi, apakah itu Pathavi, Apo, Tejo ato Vayo baik kecil atau besar terbuat dari 4 elemen ini dengan karekteristik spesifik [Abhidhamma ch.6]. Unsur Pathavi bertindak seperti dasar/penyokong uunsur Apo, Tejo dan Vayo; Unsur Apo bertindak seperti perekat bagi 3 unsur lainnya; Unsur Tejo bertindak seperti memelihara/menegakan 3 unsur lainnya. Unsur Vayu bertindak seperti penggelembungan 3 unsur lainnya. [Visudhi magga XI, 109]

    Terdapat turunan (upada) dari CATUMAHABHUTA, sehingga kadang disebutkan bukan cuma 4 elemen/dhatu namun:

    • 5 elemen (Akasa = Ruang, area kosong/hampa diantara objek dan grup/gugus fenomena materi,[..] [Bodhi, Bhikkhu, A Comprehensive Manual of Abhidhamma, p. 241]. Lihat penggunaan akasa di DN 33, MN 140 SN 27.9) atau
    • 6 elemen (viññāṇa + perasaan) atau
    • 10 elemen [+ 6 objek indriya] atau 23 [lihat Dhammasangani. 596], atau bahkan
    • hingga 24 [lihat Visuddhimagga XIV, 36 ff]

    4 unsur utama dan bentuk materi yang diturunkan dari 4 unsur utama—ini disebut jasmani [MN 9/Sammadithi Sutta]. Menurut kamus: upādā adv. bergantung pada sesuatu; bukan asli, turunan, wujud sekunder (dari rūpa). upādāya adv. berdasarkan atas, dibandingkan dengan, dengan mengacu pada, menurut, demi, selaras dengan; karena, disebabkan oleh; bergantung pada, dengan melekat pada, dengan berpegangan pada; turunan, wujud sekunder (dari rūpa).

    Tentang A-RUPA,
    rupa kerap diterjemahkan “form” (inggris) atau dalam bahasa Indonesia : “bentuk”, sehingga a-rupa diartikan tanpa bentuk. Terjemahan ini adalah miskin. Rupa disamping elemen/keadaan/materi mahabhuta, adalah juga termasuk varian dan hasil turunannya, baik itu berbentuk ataupun tidak, misal akasa (ruang yang terdapat diantara elemen) dan juga organ-organ indera (pasada-rupa) beserta objek-objeknya (arammana), yaitu mencakup obyek-obyek dalam maupun luar diri beserta indera-indera yang dapat kontak dengannya.

    • bentuk dan warna sebagai objek penglihatan mata;
    • bunyi dan suara sebagai objek pendengaran telinga;
    • bau-bauan sebagai objek penciuman hidung;
    • cita rasa sebagai objek pengecapan lidah;
    • benda-benda dengan berbagai variasi bentuk, temperatur, permukaan kasar atau licin, keras atau lembut, sebagai objek perabaan kulit; dan
    • objek- objek mental seperti pikiran, ingatan, konsep dan ide-ide sebagai objek pemikiran mental.

    Sehingga terjemahan a-rupa seharusnya: tanpa-catumahabhuta berikut variannya atau tanpa-materi berikut variannya.

Nama lain pancakhanda adalah Nāmarūpa (MentalMateri):

  • Vedanā (Perasaan)
  • Saññā (Persepsi)
  • Phasso (Kontak: Indria dan Objek yang memunculkan Kesadaran, 3 hal ini disebut kontak)
  • Cetanā (Kehendak, Kamma. Cetana terhubung dengan pikiran)
  • Manasikāro (perhatian, pemikiran, membuat pertimbangan, bentukan pikiran)
  • Rūpa

Pada nāmarūpa, kesadaran (Viññāṇa) tidak disebutkan, karena kesadaran ada di kontak. Buddhism memandang bahwa Kesadaran ada karena pertemuan antara Indriya dan objeknya dan Indriya di Buddhism bukan cuma 5 namun 6 karena walaupun mata kita buta dan/atau kita tidak mempunyai mata/telinga/hidung/kelainan kecapan dan setuhan sejak lahir, kesadaran tetaplah ada, karena ada 1 indriya selain itu yaitu pikiran.

NamaRupa menimbulkan 6 landasan Indria/saḷāyatana yaitu: Internal/ajjhattikāni (Mata/Cakkha; Telinga/sota; Hidung/ghāna; Kecap/jivha; Badan/kāya; Pikiran/mana) dan luar diri/bāhirāni (bentuk/materi/Rūpa; Suara/sadda; bebauan/gandha; rasa/rasa; Sentuh/phoṭṭhabba; Objek Pikiran/dhamma).

    Pertemuan 6 Indriya [mata, telinga,.., pikiran] dan objeknya [bentukan, suara,.., ingatan/persepsi] sebagai kondisi, memunculkan kesadaran indriya [mata, telinga,.., pikiran].
    Pertemuan ke-3nya (6 Indriya, Objek-objeknya dan kesadaran) disebut Kontak
    Dengan kontak sebagai kondisi, muncul perasaan;
    Apa yang dirasakan, itulah yang dikenali;
    Apa yang dikenali, itulah yang dipikirkan;
    Apa yang dipikirkan, itulah yang dikembangbiakkan pikiran;
    Dengan apa yang dikembangbiakkan dipikirannya sebagai: sumber, persepsi dan gagasan, melanda seseorang melalui objek-objek [bentukan, suara,..] masa: lalu, sekarang dan depan yang dikenali 6 Indriya [mata, telinga,..]. [MN 18/Madhupiṇḍikasutta]

Karena ini merupakan bauran, konsekuensinya Buddhism juga menolak adanya suatu atma/anatta/roh yang kekal abadi dan/atau sebagai inti mahluk hidup. Untuk jelasnya, misalnya roti:

    Roti adalah paduan: tepung, ragi, gula, garam, mentega, susu, air, api, tenaga kerja dll. Setelah menjadi roti, tidak dapat kita tunjuk satu bagian tertentu dan mengatakan: ini adalah tepungnya dan/atau ini garamnya dan/atau ini menteganya, dan/atau ini airnya dan/atau ini apinya dan/atau ini tenaga kerjanya dst. Karena setelah bahan-bahan diaduk menjadi satu dan dibakar di oven, maka telah berbaur dan telah berubah.

Demikianlah kira-kira, mengapa ini hanyalah bauran dan tidak ada inti/jiwa/roh dalam mahluk hidup, bahkan variasinya saja membuat penamaannya berbeda, contohnya sepeda roda 2:

    Rodanya saja tidak dapat dikatakan sebagai sepeda, begitu pula stang, rem, sadel jerujinya saja tidak dapat dikatakan sepeda roda 2. Untuk dikatakan sebagai sepeda roda 2, harus ada rangka, stang, pedal, sadel, rantai, roda, dll dan secara keseluruhan inilah yang disebut sepeda roda 2.

    Perubahan padanya tidak lagi membuatnya dinamakan sepeda roda 2, misal ada mesinnya, maka ini bukan lagi sepeda roda 2 melainkan motor atau rodanya menjadi 3, maka ini menjadi beca atau disamping rodanya menjadi 3, juga ada mesin, maka ini disebut bemo/bajaj atau roda belakang diganti penyerut, maka ini bukan lagi sepeda roda dua

Demikianlah kira-kira bauran itu kemudian disebut dengan berbagai klasifikasi dan penamaan.

    ..materi/bentuk apa pun juga..perasaan..persepsi..bentukan kehendak/kondisi..kesadaran apapun juga, apakah di masa lalu, di masa depan, atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat: [141] seorang..memeriksanya, merenungkannya, dan dengan saksama menyelidikinya, dan ia akan melihatnya sebagai: hampa, kosong, tanpa inti/tanpa diri [SN 22.95].. ‘ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’[SN 22.49]

Kondisi adalah sebuah kestabilan semu dari rangkaian kemunculan dan kelenyapan. Tidak ada yang abadi dalam rangkaian kemunculan dan kelenyapan, sehingga segala yang berkondisi jelas tidak kekal, tidak memuaskan dan bukan landasan/diri.

Jika kita amati diri kita sekarang VS foto diri sewaktu kecil, misalnya saat berumur 5 tahun. Kita tahu (dari saksi yang melihat dan/atau dari ingatan kita) bahwa yang di foto itu adalah orang yang sama dengan kita sekarang namun kita juga tahu persis bahwa yang di photo itu bukanlah orang yang sama lagi dengan kita sekarang. Kita sudah mengalami perubahan proses dan berubah dari waktu ke waktu sehingga bentuk muka, badan dan lain-lainya sudah sama sekali berbeda.

Anda yang berusia 5 tahun itu sudah tidak ada lagi, yang ada hanyalah anda yang saat ini.

Dimanakah letak Kesadaran?
Karena kesadaran muncul akibat pertemuan Indria dan Objeknya yang ketiga hal itu (Indriya, Objek dan Kesadaran) disebut kontak Indria, maka kesadaran letaknya ada di kontak Indriya. Karena seluruh elemen di semesta ini adalah Catu Mahabhuta (Padat/penyokong/Pathavi; cair/perekat/Apo; Sinar/gelombang partikel/suhu: panas-dingin/Tejo; Tekanan/Gerak/Getar/Vayo), misalnya pada satu tempat tertentu, kita melihat hanya gunung, padang rumput dan beberapa pohon, batuan cadas dekat pantai dan pantai. Selebihnya terlihat kosong melompong. Namun inipun tidaklah kosong, karena walaupun yang terlihat hanya 2 unsur Mahabutha yaitu padat dan cair saja, namun terdapat unsur lainnya di bagian yang berisi dan juga yang kosong, yaitu ada tekanan/getar/gerak/udara dan gelombang materi/suhu/temperatur

Di semesta ini, tidak pernah ada 1 titik ruang/celah kosong dari catumahabhuta, termasuk di angkasa luar sekalipun yang seolah hanya ruang hampa udara, namun terdapat banyak debu/partikel padat kecil dan juga partikel-partikel cahaya [photon: lepton dan quark], temperatur dingin/panas, getar dan gerak.

Jadi bahkan semesta pun terisi penuh unsur CatuMahabhuta!

Demikian dengan tubuh yang terdiri dari catumahabhuha. Indera dan objeknya-pun terdiri dari catumahabhuta, misal: Indera mata + objek yang dikenalinya (padat/cair/partikel warna); telinga (getar/gerak), raba/rasa/penciuman (suhu, gelombang, cair, gerak/getar), dan pikiran (ingatan, formula, putusan yang terekam dalam bentuk padat, cairan, getar/gerak, gelombang/suhu)

Sehingga karena yang memunculkan kesadaran juga merupakan unsur-unsur catumahabhuta dan bahkan hasil putusannyapun juga elemen catumahabhuta. Maka kesadaran berada pada lingkungan yang sama, yaitu pada lingkungan catumahabutha dan tidak kemana-mana.

Untuk jelasnya, misal kita ambil contoh ide film fiksi layar lebar “The matrik”:

    Dikisahkan pada 200 tahun kemudian, dunia telah dikuasai oleh sekumpulan komputer yang memiliki intelgensi tinggi yang dinamakan Matrix. Komputer canggih ini menciptakan semacam program dan terhubung dengan seluruh umat manusia saat itu.

    Suatu ketika, ada seorang hacker yang bernama Neo (Keanu Reeves), Ia dikisahkan hidup normal seperti kebanyakan manusia normal lainnya di dunia kita. Di film itu, Ia beranggapan bahwa kehidupan di planet bumi tak lain dari semacam program komputer yang diciptakan oleh suatu mesin canggih yang berhati dengki. Program komputer Matrix itu ternyata ada cacatnya dan terjadi beberapa kesalahan yang membuat Neo keheranan akan ketidakwajaran itu dan kemudian mencari tau. hasil pencariannya mengakibatkan juga ia mengetahui ke adaan sebenarnya kehidupannya dulu. ketika ia terlepas, iapun terkaget-kaget mengetahui bahwa seluruh ras umat manusia terplug-in dengan semacam mesin

    Mesin-mesin itu mengubah semua informasi tentang abad ke-20 menjadi gelombang/getaran/impuls dan terhubung melalui semacam kabel ke system syaraf manusia sehingga menyebabkan seolah2 mereka sendiri mengalami peristiwa Lahir, besar, bekerja, menikah, mempunyai anak dan juga bepergian kemana2 padahal jelas mereka tidak pergi kemanapun dalam keadaan plug-in dengan komputer di lingkungan yang sama hingga mereka mati.

    Setelah mati, tubuhnya itu didaur ulang untuk sebagai energi bagi kelangsungan hidup para super komputer itu dan para super komputer itupun juga di disain untuk dapat melakukan proses re-produksi manusia dan membesarkan mereka dalam lingkungan itu dengan cara yang sama.

Sinopsis di atas memberikan kita gagasan tentang hal-hal yang dikenali INDRIYA dan diterjemahkan dalam sinyal-sinyal kimiawi dan listrik. Perkembangan neurofisiologi telah berada pada kesimpulan bahwa efek listrik terdapat di dalam dan pada permukaan tubuh manusia, misalnya kekuatan otot adalah akibat daya tarik-tolak muatan listrik, jantung dan system syaraf di otak juga melibatkan aliran arus listrik.

    Prof. Galvani ditahun 1780-1791 melakukan percobaan listrik pada kaki katak yang awalnya Ia hubungkan dengan sumber listrik statis namun kemudian Ia gunakan dua lempeng logam tanpa sumber listrik statis dan hasilnya kaki katak tersebut juga bergerak. Ia menduga bahwa tubuh mahluk hidup terdapat listrik dan magnet. Tidak lama setelahnya, Volta, dengan tujuan untuk menunjukan bahwa potensial (tegangan) listrik adalah berasal karena perbedaan jenis logam, Ia ganti konduktor lembab kaki katak dengan konduktor lain berupa kain lembab berisi cairan garam atau asam cair di antara dua kepingan logam atau karbon sebagai pengganti salah satu logam ternyata juga menghasilkan listrik.

    Temuan mereka ini membuktikan bahwa energi kimia dapat diubah menjadi energi listrik.

Tubuh manusia berisi triliunan sel elektrokimia (cairan elektrolisis, berupa: Na+, K+, CL, protein, asam nukleat, dll), di mana pada bagian dalam sel mempunyai potensial (tegangan) dengan range -50 mv s.d -90 mv (disebut potensial istirahat neuron, rata-rata: -70 milivolts) yang terjadi karena ion negatif lebih pada bagian dalam membran dari bagian luarnya.

Listrik tubuh dari hasil elektrokimia sel berfungsi sebagai kontrol dan operasi syaraf, otot dan organ di mana neuron melalui kontak sinapsis yang terletak di dendrit dengan multi sensornya menerima rangsangan secara fisik maupun kimiawi seperti panas, dingin, cahaya, suara dan bau yang menyebabkan beda potensial (tegangan) antar membran dan kemudian mengubahnya menjadi sinyal listrik di sepanjang serat-serat saraf/Akson menuju otot, kelenjar dan/atau neuron lainnya. Ketika terjadi perpindahan/difusi ion pada membran yang menyebabkan beda potensial yang menuju pada arah positif voltmeter disebut depolarisasi dan yang menuju arah negatif disebut repolarisasi [lihat:Nervous Systems Part-1].

Mengalirnya aliran listrik akan menimbulkan medan magnet dan medan magnet terkuat tubuh adalah jantung yang terjadi akibat depolarisasi dan repolarisasi. Video di bawah ini memberikan sample apa yang dapat dilakukan manusia sehubungan dengan listrik dan medan magnet yang ada padanya. (sanggahan dari yang tidak percaya di sini)

Kemudian, perlu juga kita saksikan sebuah percobaan sadis yang dilakukan di Soviet, yaitu oleh Dr Sergei Brukhonenko yang membangkitkan kembali beberapa organ anjing yang terpisah mandiri (jantung, paru-paru), kepala anjing tanpa tubuh dan anjing utuh yang telah mati. Dokumentasi percobaan ini dilakukan pada tahun 1940 dengan durasi 19:31 menit.

Percobaan pertama:
menghidupkan organ-organ tubuh anjing yang terpisah mandiri, yaitu jantung anjing yang bekerja normal dalam kondisi buatan khusus; Paru-paru yang dihubungkan kipas sedot-tiup, dialiri darah ke dalamnya dan saat keluar paru-paru, darah tersebut telah mengandung oksigen.

Percobaan kedua,
mulai menit 4:27, yaitu menghidupkan kepala anjing utuh tanpa badan yang terhubung dengan 4 selang (sebagai 2 arteri dan 2 vena), menuju/keluar jantung dan dari jantung ada 2 selang yang menuju/keluar tabung (berfungsi sebagai paru-paru buatan yang berisi darah beroksigen). Aliran darah beroksigen ditarik jantung buatan, dialirkan menuju kepala Anjing, kemudian aliran darah keluar dari kepala anjing menuju jantung buatan dan dialirkan menuju tabung. Kepala anjing itu dibuat hidup selama 1 jam dan diperlihatkan bahwa Indera mata, lidah, telinga, penciuman, peraba yang ada diseputaran kepala anjing tersebut berfungsi normal dalam kondisi tersebut.

Percobaan ke-3,
mulai menit 6:50, yaitu menghidupkan kembali anjing utuh. Seekor anjing hidup dalam keadaan telah dianestesi, darahnya dikuras hingga habis hingga mati secara klinis, terlihat dalam plot grafis aktivitas paru-paru dan jantungnya, yaitu detak jantung melemah seiring terkurasnya darah keluar tubuh dan kemudian berhenti. Juga plot grafis nafas normal, melemah, hentakan akhir dan nafas terakhirnya. Anjing itu dibiarkan mati selama 10 MENIT. Kemudian arteri dan vena tubuh anjing, dihubungkan ke mesin jantung-paru (autojektor, cara kerjanya sama seperti percobaan kepala anjing tanpa tubuh). Setelah beberapa saat, aliran darah yang masuk ke tubuh anjing mulai menggerakan detak jantungnya pertama, kedua dan secara perlahan detak jantung kembali normal, kemudian terjadi hentakan nafas pertama, kedua dan secara perlahan pernafasan kembali normal. Setelah pernafasan dan jantung terlihat normal, mesin dimatikan, sambungan selang ke tubuh anjing dicabut, dijahit kembali dalam keadaan teranestesi, diistirahatkan dan pada 10-12 hari kemudian, anjing tersebut berada pada kondisi normal seperti sebelum percobaan dilakukan.

Tidak terdekteksi keberadaan jiwa/roh dipercobaan tersebut kecuali proses kelistrikan dan kimiawi tubuh belaka.

Sample proses kerja beberapa perasaan dalam tubuh manusia:
Rasa sakit datang ke otak melalui neuron, sel-sel khusus yang ada di seluruh tubuh mengiriman pesan ke otak. Pada serangkaian percobaan, Hargreaves dan tim penelitinya menemukan bahwa kulit menghasilkan molekul seperti capsaicin dalam menanggapi rasa sakit. “Kami mengambil jaringan kulit tikus percobaan, dan memanaskannya pada suhu 43 atau 48 derajat Celcius. Kemudian kita mengamati apa yang dikeluarkan oleh kulit pada kondisi panas itu”, kata Hargreaves. Panas biasanya menimbulkan rasa sakit pada sekitar 47 derajat Celcius. Ketika sampel kulit itu dipanaskan sampai 48 derajat Celcius, kulit itu memproduksi molekul seperti capsaicin dalam bentuk cairan. “Kemampuan cairan ini untuk mengaktifkan rasa sakit pada neuron sangat tergantung pada reseptor capsaicin”, jelasnya.

Kecemasan
Salah satu penelitian berhubungan dengan kecemasan di lakukan oleh Madison Universitas Wisconsin, dalam jurnal “Nature”, yang terbit Rabu (11/8). Tim peneliti menguji 238 rhesus monyet muda menggunakan pemindai topografi emisi positron (PET scan) beresolusi tinggi yang menunjukan menunjukkan aktivitas otak tinggi di bagian “amygdala” dan “anterior hippocampus”. Sang Manusia “penyusup” dipakai untuk berperan sebagai potensi ancaman dengan berdiri dekat kandang monyet saat para peneliti memperhatikan reaksi mereka dan mengukur aktivitas otaknya. Semakin gelisah monyet tersebut semakin tinggi aktivitas di pangkal pusat “amygdala” dan “anterior hippocampus”.


Ketakutan
Pada 1920-an, Psikolog Amerika John Watson, melakukan eksperimen yang kelak dinamakan “little Albert“, yaitu mengajari seorang bayi bernama Albert untuk takut tikus putih. Sebelumnya “Little Albert” tidak takut pada laboratorium uji hewan. Dia menunjukkan kegembiraannya saat melihat tikus-tikus, terutama tikus yang berwarna putih dan selalu mengulurkan tangan untuk mereka.

Watson dan asistennya mengajarkan Albert menjadi takut terhadap tikus putih. Mereka menggunakan kondisi Pavlovian (klasik), sepasangan stimulus netral (tikus) diberikan efek negatif yaitu tiap kali Albert meraih salah satu tikus itu, mereka membuat suara keras yang menakutkan tepat di belakang anak berusia 11 bulan.

Albert tidak hanya cepat belajar untuk takut pada tikus putih, menangis dan menjauh setiap kali melihat satu tikus putih, tetapi ia juga mulai menangis jika berhadapan dengan binatang berbulu putih dan sinter klas yang berjanggut putih.

Seperti Albert kecil yang takut pada tikus putih, maka begitupula ketakutan-ketakutan orang pada Tuhan, Setan, neraka yang dikondisikan selama bertahun-tahun pada mereka sendiri. Setelah mereka besar, semua persoalan menjadi terhubung dengan peran tuhan, setan dan neraka.

Ketakutan merupakan reaksi berantai di dalam otak yang dimulai dengan rangsangan stres dan berakhir dengan reaksi kimia yang menyebabkan jantung berdegup, bernafas dengan cepat dan menegangnya otot. Pendorong rangsangan itu bervariasi mulai dari ular, ajaran agama dll. Ada dua jalur di area otak yang konon berjalan bersamaan dalam merespon rasa takut, yaitu Jalan pendek [Hajar dulu, selidiki belakatang] dan jalan panjang [Selidiki dulu baru ambil keputusan].

    Untuk jalan pendek, misalnya pada bunyi di pintu [ini adalah rangsangan awalnya]. Segera setelah mendengar dan melihat gerakan di daerah pintu, indera kemudian menyampaikan ke otak dan mengirimkan data indera ke talamus. Saat ini, thalamus ngga tau apakah sinyal yang diterima itu merupakan tanda bahaya atau bukan. Ini kemudian diteruskan ke amigdala untuk menggali informasi lebih lanjut. Amygdala menerima impuls syaraf dan mengambil tindakan untuk melindungi; Ia mengirimkan sinyal pada hypothalamus untuk menghidupkan respon “Lawan atau lari” yang berguna menyelamatkan diri ketika yang didengar/dilihat ternyata merupakan bahaya

    Masih pada contoh di atas,
    otak juga memakai satu jalur lainnya [yang konon dinyatakan bersamaan] yaitu dengan mempertimbangkan pilihan yang diketahui berupa apakah itu pencuri, HANTU ataukah angin? Proses panjang terlihat seperti ini: Ketika mata dan telinga menerima suara dan gerakan di pintu kemudian disalurkan ke talamus. Talamus mengirimkan informasi ini ke korteks sensorik dan ditafsirkan artinya. Korteks sensorik menentukan bahwa ada lebih dari satu kemungkinan pada interpretasi data yang diterima dan diteruskan ke hipokampus untuk membangun konteks.Pertanyaan yang di ajukan Hippocampus misalnya, “Apakah rangsangan ini pernah terjadi sebelumnya? Jika ya, maka waktu itu rangsangan ini berarti apa, ya?“. Beberapa hal memberikan petunjuk lanjutan misalnya, “ini adalah pencuri atau HANTU atau angin badai?!“. Hippocampus bisa juga mengambil data lainnya di proses ini, seperti sentuhan cabang pohon pada jendela, suara mirip geraman sengau tertahan di luar atau bunyi perabotan di teras yg terpelanting terbang. Mempertimbangkan informasi tadi, hippocampus menentukan bahwa tindakan pintu kemungkinan besar berasal dari angin dan kemudian hasil itu dikirim ke amigdala bahwa itu bukan ancaman/bahaya. Amigdala kemudian mengirim sinyal ke hipotalamus untuk mematikan respon “lawan atau lari”.

Apakah Kelahiran kembali memiliki Jeda atau Tidak?
Kematian adalah ketika Jasmani [kaya] kehilangan [Jahanti] 3 kondisi [tayo dhamma]: kekuatan/ayu, panas/usma dan kesadaran/vinnana [MN 43/Mahavedalla sutta, SN 22.95/Pheṇapiṇḍūpamasutta]. bentukan-bentukan: jasmani, ucapan dan pikiran memudar dan sirna, vitalitas/ayu padam, panas/usma berhamburan, dan indria-indrianya terberai dan Ia akan bertumimbal lahir (kemunculan suatu mahluk hidup di alam kehidupan yang sama atau berbeda) namun arus kesadarannya dikehidupan ini dan di kelahiran berikutnya tak terputus dan tanpa jeda:

    “..arus kesadaran manusia yang tidak terputus yang ada di alam ini maupun di alam berikutnya” [“Purisassa ca viññāṇasotaṃ pajānāti, ubhayato abbocchinnaṃ idha loke appatiṭṭhitañca paraloke appatiṭṭhitañca“, DN 28/Sampasādanīya Sutta].”Kesadaran itu muncul bergantungan, jika tanpa suatu kondisi, maka tidak ada asal-mula kesadaran.” [MN 38, Mahātaṇhāsankhaya Sutta]. “nāmarūpa (MentalMateri) mengondisikan kesadaran dan kesadaran mengondisikan nāmarūpa, nāmarūpa mengondisikan kontak” [DN 15/Mahānidāna Sutta]

      Note:

      • Aliran Theravada, tidak mengenal jeda waktu antara satu kelahiran dengan kelahiran lainnya [antara-bhava] yang berarti tumimbal lahir itu berlangsung segera.
      • Aliran Mahayana, seseorang yang meninggal akan tinggal dalam keadaan alam perantara dalam satu, dua, tiga, lima, enam atau tujuh minggu, sampai hari ke-49. Sehingga dalam Buddhisme Mahayana sering dikenal adanya berbagai praktek ritual upacara kematian yang berlangsung setiap minggu sampai hari ke-49.
      • Aliran Tantrayana, terdapat istilah `bardo’atau alam perantara, yang memiliki enam keadaan, yaitu saat: di kandungan [kye-nay bardo]; bermimpi [mi-lam bardo]; samadhi yang mendalam [tin-ge-zin sam-tam bardo]; sekarat [chi-kai bardo]; meninggal [cho-nyid bardo]; dan saat pencarian kelahiran kembali [sid-pa bardo]. Tiga keadaan bardo yang terakhir adalah ketika wafat-terlahir, sedangkan 2 lainnya dialami semasa masih hidup.

      Karena arus kesadaran dikatakan tidak terputus, maka TIDAK ADA tentang definisi alam Bardo atau antarabhava (jeda waktu di keadaan setelah wafat dan terlahir, yang lamanya menurut Mahāvibhāṣa (150 M) dan Abhidharmakośa (abad 5 M): “7 x 7 hari” = 49 hari) atau menjadi suatu mahluk tertentu sebelum akan dilahirkan, yang Garbhāvakrāntisūtra katakan juga punya gender (“Life in the Womb”, Robert Kritzer, hal.80]. Bahkan di Abhidhamma pitaka, poin kontroversi, Kathavatthu 8.2 mengatakan: TIDAK ADA antarabhava. Perlu diketahui, Bardo/antarabhava BERBEDA dengan antarāparinibbāyī (Pada periode mana di umur kehidupannya, para mahluk anagami alam suddhāvāsa itu menjadi padam)

Ketika jasmani mengalami kematian, indriya pikiran dan objek-objek pikiran tetap mengalami kontak. Walau jantung telah berhenti, masih ada selisih sekitar 7 menit sebelum matinya otak karena kekurangan oksigen. Karena tidak ada aliran darah, maka tidak ada sinyal syaraf dari/ke Indriya. 5 Indria (mata, telinga, penciuman, pencicipan dan rabaan) menjadi tidak berfungsi namun Indria pikiran masih berfungsi. Pikiran tersebut memuat ingatan yang berisi rekaman perasaan (Menyenangkan, menyakitkan, bukan ke-2nya) dan PERSEPSI dari PERBUATAN-PERBUATAN yang: BARU DILAKUKAN, PERNAH DILAKUKAN dan/atau TERBIASA DILAKUKAN melalui pikiran, ucapan, perbuatan sepanjang hidupnya. Oleh karenanya, terdapat Pertemuan antara Indera pikiran dan objeknya yang berupa Ingatan. Kondisi ini memunculkan kesadaran pikiran atau CUTI CITTA (Kesadaran kematian atau moment pikiran menjelang kematian).

Pertemuan ini SANGAT DERAS karena tidak ada HAMBATAN LAGI dari 5 INDRIYA LAINNYA. Akan muncul ingatan yang DOMINAN yang sangat berkesan dan karenanya muncul KEINGINAN [Untuk menjadi/tidak ingin menjadi sesuatu]. Karena ada keinginan, maka ada kemelekatan, Karena ada kemelekatan, muncul nāmarūpa.

    Dengan munculnya kesadaran (dalam hal ini cuticitta) maka muncul pula nāmarūpa… [MN.9 Sammādiṭṭhi Sutta]. Kesadaran, perasaan, persepsi itu tegabung tidak terpisah. tidak dapat memisahkan kondisi-kondisi ini satu sama lainnya untuk menggambarkan perbedaan antaranya. Karena yang dirasakan, itu yang dipersepsikannya; yang dipersepsikan, itu yang dikenalinya. [MN 43] PERASAAN dan PERSEPSI terikat dengan PIKIRAN/CITTA, maka terjadi BENTUKAN-BENTUKAN PIKIRAN (Citta/Manosankhāra) [MN 44]

Berikut petikan beberapa sutta mengenai kelahiran melalui kandungan

    Sang Buddha/petapa Asita Devala:
    Tuan-tuan, tahukah kalian bagaimana kehamilan terjadi [gabbhassa avakkanti]?’

    7 Brahmana:
    “’Tuan, kami mengetahui bagaimana kehamilan terjadi. Di sini, penyatuan ibu dan ayah, dan ibu sedang dalam masa subur, dan gandhabba hadir. Demikianlah kehamilan terjadi terjadi melalui perpaduan ke-3 hal ini.’

      Note:
      Gandhabba di Rig Veda 10.177.2, “Gandhava dalam rahim” (ghandharvo..gharbheantaḥ), arti: embriyo. Gandha+abba/ava: semerbaknya menarik; gam+tabba: Membuatnya menjadi. Arti lain: Penerus “kesadaran”

      atau di kamus Pali-Inggris:
      It is often stated that the Gandhabbas preside over conception [Mendahului penghamilan/pembuahan]; this is due to an erroneous translation of the word gandhabba in passages (E.g., M.i.157, 265f) dealing with the circumstances necessary for conception (mātāpitaro ca sannipatitā honti, mātā ca utunī hoti, gandhabbo ca paccupatthito hoti).

      The Commentaries (E.g., MA.i.481f ) explain that here gandhabba means tatrūpakasatta – tasmim okāse nibbattanako satto – meaning a being fit and ready to be born to the parents concerned.[Pali-English Oleh G.P. Malalasekera]. Juga lihat di sini

    Sang Buddha/petapa Asita Devala:
    “Kalau begitu, Tuan-tuan, apakah kalian mengetahui dengan pasti apakah gandhabba itu seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja?’

    7 Brahmana:
    “Tuan, kami tidak mengetahui dengan pasti apakah gandhabba itu seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja.’

    Sang Buddha/petapa Asita Devala:
    “’Kalau begitu, Tuan-tuan, jadi siapakah kalian?’

    7 Brahmana:
    “’Kalau begitu, Tuan, kami tidak mengetahui siapa kami ini.’[MN 93/assalayana sutta]

    Sang Buddha:
    “Tiga hal, Para bhikkhu, perpaduan kehamilan terjadi [sannipātā gabbhassāvakkanti]. Di sini, ada perpaduan ibu dan ayah, tetapi bukan musim kesuburan ibu, dan tidak ada kehadiran gandhabba – dalam kasus ini Kehamilan tidak terjadi.

    Di sini, ada perpaduan ibu dan ayah, dan musim kesuburan ibu, tetapi tidak ada kehadiran gandhabba – dalam kasus ini Kehamilan tidak terjadi.

    Tetapi jika ada perpaduan ibu dan ayah, dan musim kesuburan ibu, dan ada kehadiran gandhabba, melalui perpaduan ke-3 hal ini maka kehamilan janin terjadi. [MN 38/Mahātaṇhāsankhaya Sutta]

    Sang Buddha pada Ananda:

    “Kesadaran mengondisikan nāmarūpa (mentalmateri)” …jika kesadaran, Ananda [Viññāṇañca hi, ānanda] di dalam rahim ibu [mātukucchismiṃ] tidak muncul berbaur [na okkamissatha], akankah nāmarūpa di rahim ibu berkembang?’

    ‘Tidak, Bhagavā.’

    ‘Atau jika kesadaran, Ananda [Viññāṇañca hi, ānanda] di dalam rahim ibu, setelah muncul [okkamitvā] gagal terbaur [vokkamissatha], akankah nāmarūpa dilahirkan dalam kehidupan ini?’

    ‘Tidak Bhagavā.’

    ‘Dan jika kesadaran, Ananda dari makhluk muda tersebut, laki-laki atau perempuan, dipotong, akankah nāmarūpa tumbuh, berkembang dan dewasa?’

    ‘Tidak, Bhagavā.’ [DN 15/Mahānidānasutta sutta]

    Yakkha Indaka:
    Karena para Buddha berkata bentuk bukanlah roh (Rūpaṃ na jīvanti vadanti buddhā), Bagaimanakah jasmani diperoleh? Darimanakah tulang dan hatinya? Bagaimanakah Ia melekat pada rahim?”

    Sang Bhagavā:
    Pertama-tama kalala; Dari kalala (1) muncul abbuda; Dari abbuda (2) dihasilkan pesī; Dari pesī (3) muncul ghana; Dari ghana (4) muncul pasākhā (5) (organ tubuh); Rambut kepala, bulu-badan, dan kuku. Dan apa pun makanan yang dimakan ibu, makanan dan minuman yang dikonsumsinya, dengannya Ia dipelihara, di dalam rahim ibu.” [SN 10.1/Indaka Sutta, juga di Kv 14.2]

Jadi, terjadi 2 proses berlainan, yaitu:

  1. Proses kesadaran itu sendiri merupakan 1 hal.
  2. Proses awal janin dalam rahim merupakan hal lain lagi.

Yang kemudian menyatu dalam suatu kondisi tertentu

Di manakah Ingatan?
Otak tampaknya hanyalah bagian dari organ pikiran, karena jikapun otak kita tidak berfungsi dan/atau dilahirkan tanpa otak, kita masih bisa hidup normal atau misalnya jantung ikan tetap memompakan darah walaupun otaknya rusak. Di artikel ini, Tanpa Otakpun manusia bisa Pintar dan Hidup Normal!, Prof Lober, meneliti dan membuktikan bahwa terdapat banyak manusia yang terbukti dapat hidup normal, ber IQ tingi dan meraih gelar tanpa memiliki otak. Dalam pertumbuhan janin mingguan [lihat di sini, di sini atau di sini] kita ketahui bahwa jantung mulai berdetak di minggu ke 6 [36-42 hari setelah menstruasi terakhir], Otak mulai terbentuk di minggu ke 7 [Rate pertumbuhan sel otak adalah 100 sel/menit].

Dari perkembangan janin di atas saja, kita-pun sudah dapat melihat bahwa otak bukanlah merupakan pusat kesadaran.

Paul pearsall dari Nexus Magazine, Volume 12, No.3 (April – Mei 2005), “Organ Transplants and Cellular Memories” oleh Paul Pearsall, PhD., Gary E. Schwartz, PhD.,Linda G. Russek, PhD yang meneliti fenomena perubahan kejiwaan dan kepribadian pada lebih dari 100 pasien cangkok jantung. Perubahan itu diantaranya membawa serta “memory” kehidupan sang pendonor pada penerimanya. [beberapa sample kasusnya saya co-pas dan terjemahkan silakan lihat di sini. Untuk informasi lanjutan, silakan klik: Cellular Memory in Heart Transplants]

Kemudian,
Perkembangan Iptek di link ini, memberikan kita satu khazanah referensi bahwa seluruh sel ternyata dapat menjadi tempat letaknya kesadaran.

Karena masing-masing Indriya ketika bersetemu objeknya memunculkan kesadaran, perasaan, persepsi serta bentukan-bentukan pikiran maka TIDAK BENAR bahwa ingatan itu tersimpan di otak atau di jantung saja. Malah karena kesadaran, perasaan, persespi ada di landasan Indriya, maka ingatan pun terbaur di seluruh indriya kita.

Jadi, apapun itu, selama terbukti dapat melakukan kontak Indriya, maka jelas Ia memiliki kesadaran, mengalami perasaan (Suka, benci, marah, biasa-biasa saja) dan mempunyai persepsi, melakukan tindakan atas dasar perasan tersebut. Oleh karenanya ini adalah pancakhanda/namarupa. Ini adalah mahluk.

Konsekuensinya, karena sang Adi kuasa yang disebut Tuhan dikisahkan secara seragam dalam khazanah ajaran ketuhanan, bahwa ini dapat melakukan kontak indriya, maka ia jelas memiliki Indriya dan mengenali objek dari Indriyanya, oleh karenanya ia memiliki kesadaran. Disampaikan pula secara seragam bahwa Ia mengalami perasaan suka, sedih, kecewa marah. Disampaikan secara seragam bahwa ia mempunyai persepsi tertentu dan melakukan tindakan atas dasar perasan dan persepsi tersebut. Maka jelas sekali yang disampaikan seragam tentang tuhan di ajaran yang mengakui ketuhanan ini ternyata tidak lain hanyalah MAHLUK BELAKA dalam definisi Buddhism

Itulah mengapa Buddhism menolak mengakui atau tidak mengenal atau tidak mempercayai adanya mahluk/zat yang disebut sebagai Tuhan/Issara/Brahman/Allah atau apapun yang diidentifikasi sebagai maha pencipta, pengatur dari segala yang ada

Jika TIDAK ADA Zat/Mahluk sang MAHA PENCIPTA, yang disebut sebagai TUHAN/BRAHMA/ALLAH, lantas bagaimana Buddhisme menjawab anggapan umum dibawah ini:

  • Segala sesesuatu ada yang MENCIPTAKAN
  • Harus ada SATU sebab Awal yang menjadikan segala sesuatunya ADA

Sesuatu tercipta jelas ada yang menciptakan dan ada sebab yang menjadikannya tercipta, menurut Buddhisme, sebab ini saling bergantungan dan saling berkaitan dan bukan mahluk adi daya. ‘Si Pembuat Rumah’ yang dimaksudkan adalah Nafsu Keinginan (tanha), seperti dinyatakan Beliau pada khotbah pertamanya tentang dukkhasamudaya (asal mula ketidakpuasan/penderitaan):

    kehausan/nafsu keinginan (taṇhā) mengarahkan kepada kelahiran kembali (ponobbhavikā) yang disertai ketertarikan dan kesenangan (nandirāgasahagatā), mencari kesenangan pada ini dan itu (tatratatrābhinandinī), yaitu haus akan: hasrat sensual, menjadi sesuatu dan tidak menjadi sesuatu (kāmataṇhā, bhavataṇhā, vibhavataṇhā) [SN 56.11/Dhammacakkappavattana]

Namun, Tanha, juga bukan sebab yang pertama.

    Titik awal haus menjadi sesuatu (Bhavatanha), tidak terlihat sedemikian bahwa sebelum ini tidak ada kehausan menjadi sesuatu dan setelahnya menjadi ada.’… Kehausan pada penjelmaan memiliki makanan, yaitu ketidak-tahuan (Avijja). [AN 10.62/TanhaSutta]

    Kemunculan Tanha adalah karena adanya Vedana/perasaan (menyukai/tidak atau bukan keduanya). Kemunculan perasaan terjadi karena adanya Phassa/kontak Indriya. Kontak indriya muncul karena ada landasan/tempat indriya, landasan/tempat Indriya muncul karena ada Nama-rupa (mahluk). Nama-rupa muncul karena adanya Vinanna/kesadaran dan kesadaran muncul karena adanya paduan kondisi/bentuk-bentuk Kamma. Bentuk-bentuk kamma muncul karena adanya ketidaktahuan/avidya/avijja.

Namun apa itu Avijja?

    Titik awal ketidak-tahuan (avijja), tidak terlihat sedemikian bahwa sebelum ini tidak ada ketidak-tahuan dan setelahnya menjadi ada. [AN 10.61/AvijjaSutta]

Ketidaktahuan muncul karena adanya noda-noda (asava, yaitu: kāma/keinginan indriya, bhava/penjelmaan, avijja/ketidaktahuan) sementara noda-nodapun muncul karena ketidaktahuan. [MN 9/ sammādiṭṭhi sutta]. Makanan Tanha adalah Avijja, dan:

    Makanan Avijja adalah lima rintangan/Panca Nivarana (hasrat indriya/kamacchanda, penolakan/byapada, malas-lamban/thina-midha, gelisah-cemas/uddhaca-kukkukcha dan keraguan/vicikicha).
    Makanan 5 rintangan adalah tiga jenis perbuatan salah (pikiran, ucapan dan perbuatan).
    Makanan 3 jenis perbuatan salah adalah ketiadaan pengendalian atas organ-organ indria.
    Makanan Ketiadaan pengendalian atas organ-organ indria adalah kurangnya perhatian dan pemahaman jernih.
    Makanan Kurangnya perhatian dan pemahaman jernih adalah perhatian tidak seksama.
    Makanan Perhatian tidak seksama adalah kurangnya keyakinan. Kurangnya keyakinan disebabkan karena tidak mendengarkan Dhamma sejati. Tidak mendengarkan Dhamma sejati disebabkan karena tidak bergaul dengan orang-orang baik.
    [AN 10.61/Avijja sutta]

Disebut avijja karena tidak mengenali atau bahkan tidak tahu bahwa ciri/corak segala bentukan/yang terkondisi adalah:

  • anicca/tidakkekal,
  • dukkha/tidakmemuaskan dan
  • anatta/bukan diri

Sehingga disebut Avijja karena tidak mengetahui: Dukkha, asal-mulanya, lenyapnya dan jalan menuju lenyapnya dukkha (8 jalan utama).. Karena tidak mengetahui dan tidak melihat 3 hal (anicca, dukkha dan antta), Ia mengalami kebingungan/salah paham dalam memperhatikan dan memunculkan akar tidak bermanfaat (akar kejahatan/akusalamula), yaitu:

  • Moha/avijja: PERHATIAN TIDAK BENAR [atau: MEMPERHATIKAN yang TIDAK LAYAK danTIDAK MEMPERHATIKAN yang LAYAK], maka kekeliruan tahu yang tadinya belum muncul akan muncul dan kekeliruan tahu yang telah muncul akan meningkat.
  • Lobha/raga: PERHATIAN TIDAK BENAR [ayoniso manasikāro] pada OBJEK MENARIK, maka nafsu yang tadinya belum muncul akan muncul dan nafsu yang telah muncul akan meningkat.
  • Dosa/patigha: PERHATIAN TIDAK BENAR terhadap OBJEK TIDAK MENARIK, maka penolakan yang tadinya belum muncul akan muncul dan penolakan yang telah muncul akan meningkat dan [AN 3.65/Kalama Sutta, AN 3.69, It.50]

3 hal yang tidak bermanfaat inilah yang menjadi sumber dari bentukan-bentukan kamma [AN 3.34]. Perhatian ini dilakukan ketika: berbaring (sayano), berdiri (caram/ṭhito), duduk (nissino) atau berjalan (gacchanto atau cankama/AN 5.29) Tindakan berdiam dalam penuh perhatian ini jika dilakukan dengan rajin, tekun, bersungguh-sungguh, maka ingatan-ingatan dan kehendak-kehendak keduniawian menjadi ditinggalkan; dengan ditinggalkannya itu pikirannya menjadi kokoh ke dalam, tenang, manunggal dan terpusat/terkonsentrasi [ajjhattameva cittaṃ santiṭṭhati, sannisīdati, ekodi hoti, samādhiyati]

Dalam DN16/Mahaparinibanna sutta disampaikan dalam memperhatikan..seorang ..berdiam mengetahui sepenuhnya..
mengetahui sepenuhnya (sampajāno)

  • berjalan maju atau mundur (abhikkante paṭikkante), diketahui sepenuhnya (sampajānakārī hoti)
  • Melihat ke depan atau sekitarnya (ālokite vilokite) diketahui sepenuhnya
  • Membungkuk atau menegakkan badan (samiñjite pasārite) diketahui sepenuhnya
  • membawa jubah atau mangkuk (saṅghāṭipattacīvaradhāraṇe) diketahui sepenuhnya
  • makan, minum, mengunyah, atau mengecap/menelan (asite pīte khāyite sāyite) diketahui sepenuhnya
  • membuang air besar (uccārapassāvakamme) diketahui sepenuhnya
  • berjalan, berdiri, duduk, atau berbaring, terjaga, berbicara, atau berdiam diri (gate ṭhite nisinne sutte jāgarite bhāsite tuṇhībhāve) diketahui sepenuhnya

Sehingga tidak ada celah bagi hal-hal tidak bermanfaat masuk menerobos dalam pikirannya yang dapat menjadi sumber bentukan kamma.

Apa itu Kamma?

    O, bhikkhu, kehendak [cetana] untuk berbuat itulah yang Kunamakan Kamma. Sesudah berkehendak orang lantas berbuat dengan badan, perkataan atau pikiran [AN 6.63, Nibbedhika Sutta]

Apa itu Cetana?


    Cetana adalah apa dikehendaki/diniatkan [ceteti], diatur/dipikirkan ulang [pakappeti] dan kecenderungan/dilekati [anuseti] -> menyokong kesadaran -> menjadikan sesuatu di kemudian hari
    [SN 12.38/Cetana Sutta]

Sehingga disebutkan:

    Makhluk-makhluk adalah pemilik perbuatan mereka, pewaris perbuatan mereka, mereka berasal-mula dari perbuatan mereka, terkait dengan perbuatan mereka, memiliki perbuatan mereka sebagai perlindungan mereka. Adalah perbuatan yang membedakan makhluk-makhluk sebagai hina dan mulia.[MN 135/Cula KammaVibhanga Sutta]

    Aku adalah pemilik dari perbuatanku, pewaris dari perbuatanku, berasal dari perbuatanku, terkait dengan perbuatanku, dan memiliki perbuatanku sebagai pelindungku. Apapun yang kulakukan, baik atau buruk, akulah pewarisnya. [AN 5.57/Upajjhatthana Sutta]

Apa yang menjadi penyebab Kamma?
Kontak/Indra [Phassa].

Terdapat 2 tipe Kamma:

    Kamma lama [Purana]:
    Yang telah dilakukan [abhisaṅkhataṃ], dikehendaki [abhisañcetayitaṃ] dan dirasakan [vedayitaṃ] karena/beraal dari Mata atau telinga atau hidung atau lidah atau tubuh atau pikiran

    Kamma Baru [Nava]:
    Perbuatan sekarang yang dilakukan melalui pikiran, ucapan perbuatan

3 cara/bentuk kamma dirasakan, yaitu (1) sekarang ini atau di kehidupan ini atau (2) berikutnya atau (3) lain periode atau beberapa periode berkelanjutan lainnya [MN.136/Maha kamma vibhangga sutta; AN 3.34/NIDANA SUTTA; AN.10.217/Paṭhamasañcetanikasutta; AN 6.63/Nibbe Dihika (pariyaya) sutta]. atau juga kamma dirasakan sekarang ini atau kehidupan ini dan beberapa periode ke depan [MN 101/Devadaha Sutta]

Terdapat 4 “makanan” (ahara) yang menjadi sebab atau kondisi yang harus dipenuhi agar makhluk-makhluk dapat lahir dan berlangsung, yaitu:

  1. makanan biasa (kabalinkarahara)
  2. kontak dari enam indria kita dengan dunia luar (phassahara)
  3. kesadaran (viññanahara)
  4. kehendak atau kemauan [manosañcetanahara: mano: pikiran + san/sam: bersama, tergabung + cetana: kehendak + ahara:makanan]

Siapa yang mengerti makanan dari cetana ia juga akan mengerti tiga bentuk tanha (kehausan akan nafsu indriya, menjadi atau tidak menjadi sesuatu) [SN 12.63 Puttamamsa Sutta]. Apa yang dikehendaki, yang direncanakan dan kecenderungan apa pun yang dimiliki seseorang ini menjadi dasar bagi pemeliharaan kesadaran/vinnana. Jika ada dasar maka ada dukungan bagi terbentuknya kesadaran. Ketika kesadaran terbentuk dan telah berkembang, maka ada produksi penjelmaan kembali/ada kemunculan nama-rupa di masa depan. Jika ada produksi penjelmaan kembali [atau nama-dan-bentuk sebagai kondisi, muncul enam landasan indria-> kontak -> perasaan -> keinginan -> kemelekatan -> penjelmaan -> kelahiran] di masa depan, dengan kelahiran sebagai kondisi, muncul penuaan-dan-kematian, kesedihan, ratapan, kesakitan, kesenangan, dan keputusasaan muncul. Demikianlah asal-mula keseluruhan kumpulan penderitaan ini [SN 12.38-39].

Cara memadamkannya?
8 Jalan mulia/utama, yaitu: Pandangan benar, Pikiran/Kehendak benar, Ucapan benar, Perbuatan benar, Pencaharian benar, Usaha benar, Perhatian benar dan Konsentrasi benar. [SN 35.146/kamanirodha sutta]

Karena lingkaran kelahiran kembali adalah “tanpa awal yang dapat ditemukan” (anamatagga saṃsāra), dan dalam rentang waktu ini kita semua telah mengumpulkan kamma yang sangat tak hingga banyak dan memerlukan waktu yang juga tak terhingga banyaknya untuk menghabiskan kamma demikian dengan mengalami akibatnya. Selama dalam saṃsāra, jika ada potensi kamma yang telah dilakukan terkondisi untuk matang (paṭiladdhavipākārahakamma) maka ‘tidak ada tempat di bumi ini di mana seseorang dapat melarikan diri dari perbuatan jahatnya.’ [Dhammapada syair ke-127].

Pada jaman Buddha orang – orang sektarian seperti Nigantha Nataputta, Makkhali Gosala dan lain – lain, memiliki pandangan bahwa apa pun yang dialami individu, baik kenikmatan atau penderitaan atau bukan keduanya, semuanya timbul dari perbuatan sebelumnya, atau karma di masa lampau. [M.101; D.2. Pandangan ini diuji dalam A. i, 137]. Buddha menolak teori mengenai takdir yang eksklusif ditentukan oleh masa lampau (pubbekatahetu) ini yang dipandangNya tak masuk akal. Tidak semua yang terjadi disebabkan oleh perbuatan di masa lampau. Banyak hal merupakan hasil dari perbuatan kita sendiri yang dilakukan dalam kehidupan sekarang, dan sebab – sebab eksternal. Karena itulah, tidaklah benar untuk mengatakan bahwa segala hal yang terjadi disebabkan oleh karma atau perbuatan lampau, contoh:

    Adalah konyol jika seorang siswa yang gagal dalam ujian karena kelalaiannya, menghubungkan kegagalannya karena kammanya di masa lampau atau karena adanya campur tangan Tuhan. Atau misal seseorang yang sedang terburu – buru dengan ceroboh, terbentur batu, kemudian menganggap kecelakaan itu sebagai akibat perbuatan atau karmanya di masa lalu atau pada percobaan biologi tentang daging yang diletakan dalam botol dan pada beberapa waktu kemudian muncul belatung dan kejadian ini dianggap sebagai kemauan tuhan atau malah sebagai sebuah kebetulan semata.

Contoh di atas menunjukkan bahwa TIDAK BENAR bahwa segalanya terjadi karena perbuatannya yang pernah dilakukannya di masa lampau atau karena kemauan mahluk adi daya atau bahkan karena itu hanyalah sebagai kebetulan belaka. Sang Buddha menegaskan mengenai 3 pandangan yang ditolak dalam Buddhism:

    Para bhikkhu, ada 3 Pandangan (titthāyatanāni) yang, jika sepenuhnya disidik/periksa [samanuyuñjiyamānāni], diteliti [samanugāhiyamānāni] dan dibahas [samanubhāsiyamānāni], akan berakhir pada suatu doktrin tanpa tindakan, SEKALIPUN SUDAH DITERAPKAN KARENA TRADISI.

    Apakah 3 pandangan ini?

    Apapun yang dialami seseorang, apakah itu perasaan: menyenangkan, menyakitkan atau perasaan bukan menyenangkan bukan menyakitkan [a-dukkham a-sukhaṁ], semua itu:

    1. disebabkan oleh tindakan lampau [pubbekatahetū].
    2. disebabkan oleh kuasa TUHAN [Issaranimmānahetū]
      “Issaranimmānahetū’ ti issaranimmānakāraṇā, issarena nimmitattā paṭisaṁvedetī ti attho” (Disebabkan kuasa tuhan, Karena kuasa TUHAN, Dirinya mengalami dari kuasa tuhan)
    3. tanpa penyebab dan tanpa kondisi [ahetu-appaccayā].


    Para bhikkhu, aku telah menemui para petapa dan brahmana ini dan berkata pada mereka:

    PANDANGAN KE-1:
    “Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajar dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh tindakan lampau?”

    Ketika mereka mengatakan “Ya”, aku katakan pada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka yang MEMBUAT orang:

    1. menyakiti mahluk hidup adalah karena tindakan kehidupan/masa lampau;
    2. mengambil yang tidak diberikan adalah karena tindakan kehidupan/masa lampau;
    3. berperilaku salah dalam kenikmatan indriya adalah karena tindakan masa lampau;
    4. berbohong, mengucapkan kata-kata memecah belah, berbicara kasar dan berbicara tak berguna adalah karena tindakan kehidupan/masa lampau;
    5. menginginkan milik orang lain, dengki, dan jahat adalah karena tindakan kehidupan/masa lampau;
    6. berpandangan salah adalah karena tindakan kehidupan/masa lampau.


    Maka mereka yang menganggap tindakan lampau sebagai faktor penentu tidak memiliki semangat dan usaha bahwa ini seharusnya dilakukan, atau seharusnya tidak dilakukan. Karena mereka tidak memiliki kebenaran dan tidak dapat dipercaya bahwa bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Mereka hidup tanpa kewaspadaan dan tanpa pengendalian diri/perlindungan dari (6 indriyanya) dan Mereka ini tidak beralasan dikatakan sebagai ‘petapa’”

    Para bhikkhu, inilah teguran ke-1 – yang diakui kebenarannya – pada para petapa dan brahmana yang mengajarkan dan memegang pandangan seperti itu.

    PANDANGAN KE-2:
    “Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajar dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh kuasa Tuhan?”

    Ketika mereka mengatakan “Ya”, kukatakan pada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka yang MEMBUAT orang:

    1. menyakiti mahluk hidup adalah karena kuasa TUHAN;
    2. mengambil yang tidak diberikan adalah karena kuasa TUHAN;
    3. berperilaku salah dalam kenikmatan indriya adalah karena kuasa TUHAN;
    4. berbohong, mengucapkan kata-kata memecah belah, berbicara kasar dan berbicara tak berguna adalah karena kuasa TUHAN;
    5. menginginkan milik orang lain, dengki, dan jahat adalah karena kuasa TUHAN;
    6. berpandangan salah adalah karena kuasa TUHAN.


    Maka mereka yang menganggap ciptaan Tuhan sebagai faktor penentu tidak memiliki semangat dan usaha bahwa ini seharusnya dilakukan, atau seharusnya tidak dilakukan. Karena mereka tidak memiliki kebenaran dan tidak dapat dipercaya bahwa bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Mereka hidup tanpa kewaspadaan dan tanpa pengendalian diri/perlindungan dari (6 indriyanya) dan Mereka ini tidak beralasan dikatakan sebagai ‘petapa’”

    Para bhikkhu, inilah teguran ke-2ku – yang diakui kebenarannya…

    PANDANGAN KE-3:
    “Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajarkan dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu tidak ada sebabnya dan tidak dikondisikan?”

    Ketika mereka mengatakan “Ya”, kukatakan pada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka yang MEMBUAT orang:

    1. menyakiti mahluk hidup adalah tanpa penyebab dan tanpa kondisi;
    2. mengambil yang tidak diberikan adalah tanpa penyebab dan tanpa kondisi;
    3. berperilaku salah dalam kenikmatan indriya adalah tanpa penyebab dan tanpa kondisi;
    4. berbohong, mengucapkan kata-kata memecah belah, berbicara kasar dan berbicara tak berguna adalah tanpa penyebab dan tanpa kondisi;
    5. menginginkan milik orang lain, dengki, dan jahat adalah tanpa penyebab dan tanpa kondisi;
    6. berpandangan salah adalah tanpa penyebab dan tanpa kondisi.


    Maka mereka yang menganggap bahwa (urutan peristiwa) yang tanpa sebab dan kondisi sebagai faktor penentu tidak memiliki semangat dan usaha bahwa ini seharusnya dilakukan, atau seharusnya tidak dilakukan. Karena mereka tidak memiliki kebenaran dan tidak dapat dipercaya bahwa bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Mereka hidup tanpa kewaspadaan dan tanpa pengendalian diri/perlindungan dari (6 indriyanya) dan Mereka ini tidak beralasan dikatakan sebagai ‘petapa’”

    Para bhikkhu, inilah teguran ke-3ku – yang diakui kebenarannya…

    Demikianlah, para bhikkhu, 3 pendapat sektarian yang, jika sepenuhnya diperiksa, diteliti dan dibahas, akan berakhir pada suatu doktrin tanpa-tindakan, sekalipun JIKA DIPAKAI KARENA TRADISI.[AN 3.61/Titha sutta]

Karena Kamma apa pun juga yang telah dilakukan dan dikumpulkan berpotensi untuk matang selama dalam lingkaran kelahiran kembali. Maka Sang Buddha mengajarkan bahwa kunci menuju kebebasan bukanlah dengan lenyapnya kamma masa lalu (apakah dengan mengalami akibatnya atau melalui pertapaan keras) namun dengan melenyapkan kekotoran-kekotoran/noda (asava). Dengan terhentinya kekotoran-kekotoran, maka potensi matangnya kamma masa lalu yang banyaknya melebihi sisa-sisa yang akan matang pun padam. Ini adalah lenyapnya sebab dan kondisi, karma baru tidak lagi muncul, dan kelahiran kembali pun berhenti.

Apakah tumbuhan mahluk hidup? Punya kesadaran?
Sang Buddha berkata pada Vasettha:

    Akan kujelaskan padamu – ragam tingkatan (anupubbaṃ yathātathaṃ) – klasifikasi keberadaan kehidupan (Jātivibhaṅgaṃ pāṇānaṃ) karena satu sama lainnya punya kekhususan (aññamaññā hi jātiyo).
    perhatikanlah pohon dan rumput (Tiṇa-rukkhepi jānātha), tidak mempunyai kesadaran (na cāpi paṭijānare), bermacam karasteristik kemunculan/kelahiran (Liṅgaṃ jāti-mayaṃ tesaṃ) karena satu sama lainnya punya kekhususan (aññamaññā hi jātiyo)
    Berikutnya serangga, bersayap dan (Tato kīṭe paṭaṅge ca) seterusnya semacam semutrayap (yāva kunthakipillike), bermacam karasteristik kemunculan/kelahiran (Liṅgaṃ jāti-mayaṃ tesaṃ) karena satu sama lainnya punya kekhususan (aññamaññā hi jātiyo)
    Kemudian ketahuilah jenis-jenis binatang kaki baik kecil maupun besar.. Ketahuilah binatang-binatang yang perutnya adalah kakinya, Yaitu, kelompok ular berbadan panjang.. Ketahui juga ikan-ikan yang berdiam di air, Habitatnya adalah alam cair.. Berikutnya ketahuilah burung-burung yang mengepakkan sayapnya, Ketika terbang di angkasa raya..Di antara manusia…… [SNP 3.9/Vasettha Sutta dan MN 98/Vasettha Sutta]

Tumbuhan adalah bentuk kehidupan [pāṇā: kehidupan, nafas, bentuk kehidupan] dan bukan mahluk hidup (Satta). Kelompok pana dan satta ada yang berespirasi ada yang tidak

Apa beda Satta dan Pana?
Bedanya pada berkesadaran atau tidak. Mahluk hidup/Satta/Sattva mempunyai PANCAKHANDA (Kesadaran, perasaan, persepsi, bentukan pikiran dan RUPA) atau nāmarūpa (Perasaan, persepsi, Phassa, cetana, manosikara dan RUPA). Telah disampaikan bahwa kesadaran berkaitan erat dengan kemunculan perasaan, pengenalan, pikiran, bentukan pikiran [MN 18/Madhupiṇḍikasutta], dimana perasaan, persepsi dan kesadaran, kondisi ini tergabung bukan terpisah, tidak dapat memisahkan kondisi-kondisi ini satu sama lainnya untuk menggambarkan perbedaan antaranya, karena yang dirasakan, itu yang dipersepsikannya; yang dipersepsikan, itu yang dikenalinya [MN.43/Mahāvedalla Sutta], juga persepsi dan perasaan menyertai pikiran, kondisi ini terikat dengan pikiran, itulah mengapa persepsi dan perasaan adalah bentukan pikiran [MN.44/Cūḷavedalla Sutta].

Tumbuhan tidak punya: kesadaran, perasaan, persepsi, bentukan pikiran atau tidak punya NAMA (perasaan, persepsi, phassa, cetana dan manosikhara). Tumbuhan hanya punya RUPA (padat/landasan; rekat/cair; tekanan/getar/gerak; umur/habis/panas/gelombang partikel + turunannya), oleh karenanya, tumbuhan bukan mahluk hidup. Sesuatu yang tidak memiliki kesadaran ketika mati tidak terlahir kembali.

Penelitian modern ada yang menyatakan bahwa tumbuhan dapat berkomunikasi terhadap sesamanya namun ternyata ketika gelombang suara itu di test, ternyata hanya pergerakan cairan kimiawi melalui pembuluh, penghantar (tanah) atau daun, bunga dan batang yang beberapa diantaranya berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri (DI SINI, DI SINI, DI SINI).

Sebelum sampai pada rantai sebab yang saling bergantungan dalam memadamkan kelahiran kembali, mari kita simak beberapa kisah kelahiran kembali, misal kisah kelahiran berulang Dalai Lhama

    Ketika Dalai Lhama ke 13 wafat tahun 1933, Para tetua Lhama mencari petunjuk dimana reinkarnasi berikutnya dapat ditemukan. Tradisi ini selalu sama dilakukan selama berabad-abad mulai dari Dalai Lhama pertama tahun 1351 M, setiap dari mereka merupakan reinkarnasi dari yang terakhir, yang memelihara kebijakan spritual dari banyak kehidupan.

    Musim semi 1935, Seorang lama senior, Reting Rinpoche, menempuh perjalan menuju danau suci Lhamoi Lhatso yang berbentuk oval, di sebuah lembah 17.000 kaki yang dikelilingi puncak2 bersalju di selatan Tibet untuk medapatkan wangsit/penglihatan. Ketika ia memandang dikejernihan air, tampak olehnya 3 huruf alfabeth Tibet (Ah, Ka dan Ma) mengambang didepannya. Kemudian, dengan jelas terlihat olehnya sebuah bayangan biara tingkat tiga dengan atap emas dan jade. Sebuah jalan bukit yang menurun dari biara menuju sebuah rumah yang beratapkan semacam genteng berwarna biru hijau dan seekor anjing belang coklat dan putih di halaman. Reting rinpoche juga kemudian bermimpi rumah yang sama, namun kali ini ia melihat sebentuk talang atap unik dan seorang bocah cilik berdiri di halaman. Sekarang Ia tambah yakin bahwa huruf Ah yang ia lihat berkenaan adalah Amdo, yang terletak di timur.

    Satu dari tim pencari, dibawah komando Kewtsang Rinpoche, seorang Lhama senior dari biara Sera, melakukan pendekatan ke biara Kumbum di Amdo. Mereka melihat biara itu beratapkan Emas dan Jade, persis seperti penglihatan yang didapat. Mereka mendengar ada satu anak luar biasa di Takster, dua jam perjalanan dari Amdo

    Di musim dingin tahun 1937 Kewtsang Rinpoche, ditemani oleh pejabat resmi pemerintah bernama Lobsang Tsewant dan dua pembantu, sampai di Takster. Untuk menghindari berbagai kesulitan yang mungkin muncul mereka menyamar sebagai pedagang dengan Lobsang Tsewang sebagai kepala rombongan. Kewsang menyamar menjadi pelayannya. Mereka mendekati rumah Lhamo Dhondrub yang berusia 2 tahun dan disambut gonggongan anjing mastiff belang coklat putih terikat di jalan masuk

    Mereka memperkenal diri sebagai pedagang dan bertanya apalah mereka boleh menggunakan dapur untuk minum teh (adat yang lazim di Tibet), melewati halaman rumah, Kewsang rinpoche melihat atap semacam genteng biru hijau dan talang atap unik yang terbuat dari tumbuhan yang di pilin. Saat di dapur, ia mendekati Lhamo Dhondrub kecil. Anak itu naik kepangkuan Kewtsang Rinphoce dan mulai memainkan manik2 peninggalan Dalai Lhama ke 13 yang tergantung di sekeliling leher Rinphoce. Tiba-tiba anak itu beraksi dan memaksa agar manik-manik itu diserahkan padanya dan menyatakan bahwa itu adalah kepunyaannya. Kewtsang mengatakan pada anak itu, ‘Aku akan berikan ini padamu jika kau dapat menebak siapa aku”. Tak disangka-sangka anak itu menjawab ‘Anda adalah Lhama dari Sera’ Anak itu kemudian menunjuk Lobsang Tsewang juga para anggota rombongan dengan dengan nama yang tepat (Saat itu ada ribuan biara di tibet). Tidak hanya ia menjawab benar, iapun menjawab menggunakan dialek tibet tengah yang tidak dikenal di distrik ini.

    Ketika para tamu bersiap untuk pergi di pagi harinya, Lhamo Dhondrub menangis dan meminta ia agar diajak serta, mereka menenangkan dirinya dan berjanji akan kembali

    Mereka kembali dengan cepat kali ini untuk menguji apakah anak ini benar-benar reinkarnasi Dalai Lhama. Para bikhu memberikan hadiah pada keluarga dan memohon ijin untuk dapat bersama dengan Lhamo Dhondrup. Saat malam tiba, mereka masuk kamar tidur utama yang ada ditengah rumah, Mereka menjejerkan sejumlah barang-barang yaitu Kacamata, pensil perak dan mangkuk makan diatas meja pendek. barang2 tersebut adalah peninggalan Dalai Lhama ke 13, Barang-barang tersebut dibuat imitasinya dengan persis. Termasuk ada juga Manik2 hitam, kuning dua tongkat jalan dan gendang tangan dari gading yang digunakan pada ritual religi. Juga sabda suci Samye yang diperintahkan untuk dibawa tim.

    Lhamo dhondrub di undang keruangan, Kewtsang Rinpoche bersama 3 pejabat resmi duduk di sisi meja satunya. Kewtsang Rinpoche menggengam manik2 hitam yang pernah dilihat oleh Anak itu di kunjugan sebelumnya, di tangan lainnya ia memegang imitasinya, anak itu diminta untuk memilih dan memilih dengan tepat, kemudian tanpa ragu sama sekali mengkalungkannya dilehernya sendiri. Ketepatan yang sama ia tunjukan pada Manik2 kuning. Berikutnya adalah tongkat jalan, Permulaan Lhamo Dhondrub menarik sedikit tongkat yang salah namun ia lepaskan kembali dan mengambil yang benar. Ini dianggap masih signifikan mengingat dulunya tongkat yang ‘salah’ itu pernah dipakai sebentar oleh Dalai Lhama sebelumnya sebelum akhirnya diberikan untuk seorang teman. Barang terakhir adalah gendang. Gendang yang palsu di dekor begitu menarik hatinya dengan kain brakat motif bunga sedangkan yang asli kurang menarik hati. Sekali lagi Lhamo Dhondrub memilih dengan tepat kemudian memutar gendang bolak balik dengan tangan kanannya sesuai irama ritual tantrik!

    Berikutnya, anak itu di check 8 tanda tubuh yang hanya dipunyai oleh Dalai Lhama, Kuping yang besar, mata yang panjang, alis yang membelok di ujung, tanda di kaki, bentuk kulit kerang pada telapak di satu tangan. Setelah mendapatkan 3 tanda tubuh maka dipastikan bahwa Dalai Lhama ke 14 telah ditemukan dalam bentuk tubuh anak berusia 2 setengah tahun. Ramalan terpenuhi

    Namun, Pemimpin pasukan perang Muslim di baratlaut China mendengar mengenai pemilihan anak itu, Ia menuntut uang tebusan yang gila-gilaan besarnya untuk dapat mengambil anak itu keluar dari distrik mereka. Saat si banjingan perang itu telah dibayar, ia malah meminta lebih banyak lagi dan juga beberapa artifak religius. Mereka menjadi tak berdaya, Orang-orang tibet akhirnya meningkatkan jumlah tebusannya. Setelah menunggu berbulan-bulan lamanya, Calon Dalai Lhama dan keluarganya berangkat menuju Lhasa, Ibu kota Tibet dan menghabiskan waktu 3 bulan perjalanan. Lhamo Dhondrub bepergian bersama kakaknya yang berusia 6 tahun dan duduk di atas sebuah tandu yang digantung diantara dua bagal.

    Ketika beberapa mil mendekati lhasa mereka disambut dengan prosesi suluh yang menuntun mereka hingga di perkemahan, ditengahnya ada Tenda satin berwarna kuning yang sangat besar dengan langit-langit biru dan putih. Tenda itu dikenal sebagai Merak agung, yang selama berabad-abad hanya digunakan untuk menyambut setiap reinkarnasi balita Dalai Lhama kembali pulang.

    Selama 2 hari kemudian, Lhamo Dhondrub muda duduk diatas sebuah tahta tinggi di merak agung, memberkati 70.000 biksu dan barisan rakyat yang berkumpul menyambutnya

    Paginya, tanggal 8 Oktober 1939, digelar prosesi dimana seorang anak kecil duduk di tandu emas di iring 16 orang, musik, keluarga Dalai Lhama, anggota kabinet, Pengawas dan perdana mentri menuju Istana

    ketika Lhamo Dhondrub diantar hingga di ruangan pendahulunya, Ia tiba-tiba menunjuk sebuah kotak kecil dan berkata ‘Gigiku ada disitu’. Kemudian kotak di buka dan para pelayan dengan takjub menemukan satu set gigi palsu kepunyaan Dalai Lhama terdahulu.

    Beberapa minggu kemudian, Lhama dhondrub yang berusia 4 tahun atau Tenzin Gyatso sebagaimana dikenal sekarang, dilantik sebagai Penguasa tertinggi sementara dan pemimpin spritual Tibet. [Otobiograpi Dalai Lhama dan Buku ‘Exile in the Land of Snows’, by John F. Avedon]

Juga terdapat kasus di mana selisih antar satu KEMATIAN dan KELAHIAN KEMBALINYA hanya berjarak 10-11 hari saja:

    Hanan lahir di Libanon, di pertengahan 1930an. Ketika ia berusia dua puluh, Hanan menikah dengan Farouk Mansour, anggota sebuah keluarga Libanon yang cukup berada. Pasangan ini mempunyai dua anak perempuan, bernama Leila dan Galareh. Hanan mempunyai saudara laki-laki bernama Nabih, tokoh masyarakat di Libanon, tetapi mati muda dalam kecelakan pesawat.

    Setelah melahirkan putri keduanya itu kedua anaknya, Hanan terkena gangguan jantung dan dokter menyarankannya untuk untuk tidak melahirkan anak lagi. Tidak mengindahkan peringatan itu, Hanan melahirkan anak ketiganya, lelaki, pada tahun 1962.

    Pada tahun 1963, tidak berapa lama setelah kematian saudaranya Nabih, Kesehatan Hanan mulai memburuk. Hanan kemudian mulai berbicara tentang mati. Farouk, suami Hanan menuturkan bahwa Hanan memberitahukannya bahwa, “dia akan ber-reinkarnasi dan akan bercerita banyak mengenai kehidupan sebelumnya”.

    Ini terjadi dua tahun sebelum Hanan meninggal.

    Pada usia tiga puluh enam, Hanan pergi ke Richmond, Virginia, untuk menjalani operasi jantung. Hanan mencoba menelepon Leila, anaknya sebelum operasi, namun tidak tersambung.

    Hanan kemudian meninggal karena komplikasi satu hari setelah operasi.

    Sepuluh hari setelah Hanan meninggal, Suzanne Ghanem dilahirkan.

    Ibu Suzanne mengatakan kepada Dr. Ian Stevenson,
    Beberapa waktu sebelum kelahiran Suzanne, “Aku bermimpi bahwa aku akan melahirkan anak perempuan. Aku bertemu seorang wanita, sekitar 40 tahunan, menciumnya dan memeluknya. Wanita ini berkata, ‘Aku akan datang kepadamu’. Belakangan, ketika melihat foto Hanan, aku merasa ia mirip dengan wanita dalam mimpuku”.

    Dengan kata lain, Ibu dari Suzanne Ghanem telah bermimpi bahwa ia akan memiliki anak perempuan yang mirip dengan Hanan Monsour dan impian ini menjadi kenyataan.

    Pada usia 16 bulan, Suzanne menarik ganggang telepon seakan berusaha berbicara dan berkata berulang-ulang, “Halo, Leila?”. Keluarga itu tidak tahu siapa Leila itu.

    Ketika ia agak besaran, Suzanne menjelaskan bahwa Leila adalah salah satu dari anak-anaknya dan ia bukan Suzanne, melainkan Hanan.

    Keluarga bertanya, “Hanan apa?” Suzanne menjawab, “Kepalaku masih kecil. Tunggu sampai aku lebih besar dan mungkin aku akan ceritakan pada kalian. Ketika Ia berusia dua tahun Ia menyebutkan nama-nama anak-anaknya yang lain, suaminya, Farouk, dan nama-nama orang tuanya serta saudara-saudara lelakinya, semuanya 13 Nama.

    Ketika mereka mendengar tentang kasus tersebut, Keluarga Monsour mengunjungi Suzanne. Pada awalnya keluarga Monsours skeptic dengan klaim gadis cilik itu dan menjadi percaya ketika Suzanne dapat mengenali semua sanak keluarga Hanan, menunjuk dan memanggil mereka dengan akuratnya.

    Suzanne juga tahu ketika Hanan memberikan perhiasan kepada saudara kandungnya, Hercule, di Virginia sebelum operasi Jantung dan meminta kakaknya untuk membagikan perhiasan itu kepada anak-anak perempuannya. Tidak seorangpun di luar keluarga Monsour yang tahu menahu soal perhiasan itu.

    Sebelum Suzanne dapat baca tulis, Ia mencoret-coret sesuatu sebuah nomor telepon di secarik kertas. Belakangan, ketika keluarga itu pergi ke rumah Monsour, mereka menemukan bahwa nomor telepon itu cocok dengan nomor telepon keluarga Monsour, kecuali dua angka terakhirnya terbalik. Sewaktu kecil, Suzanne dapat melafalkan pidato yang diucapkan saat pemakaman kakak Hanan, Nabih. Keluarga Suzanne merekam pelafalan itu, meskipun akhirnya rekaman itu hilang.

    Pada usia lima tahun, Suzanne menelepon Farouk tiga kali sehari. Ketika Suzanne mengunjungi Farouk, Ia duduk dipangkuan Farouk dan menyandarkan kepala didada Farouk. Pada umur 25 tahun, Suzanne masih menelepon Farouk. Karir Farouk adalah seorang Polisi dan Ia telah menerima Suzanne sebagai kelahiran kembali dari Hanan almarhum Istrinya. Mendukung kesimpulan ini, Farouk menunjukan bahwa dari foto, Suzanne secara akurat dapat mengenali orang-orang yang mereka kenal dan mengetahui berbagai informasi yang hanya diketahui oleh Hanan.

Sekarang, mari kita lihat suatu kasus unik, yaitu tentang Nai Leng yang konon wafat 1 hari SETELAH lahirnya Chaokhun Rajsuthajarn (Choate)

    Nail Leng lahir pada tahun 1863 di desa kecil Ban Kraton, yang terletak dekat kota Surin, Thailand. Daerah ini dekat perbatasan Kamboja dan ada area orang Kamboja tinggal di area ini, yang berbicara bahasa Kamboja yang disebut Khmer. Nai Leng anak tertua dari 7 bersaudara. Ayahnya adalah Wa Sawa dan ibunya bernama Ma Chama, dengan panggilan akrabnya, Ee Mah.

    Nai Leng amat dekat dengan adiknya, Nang Rien, yang setahun lebih muda darinya. Ketika ia berusia 15 tahun, Nai Leng memiliki pengalaman tidak biasa. Setelah selesai di ladang, Ia dan Nang Rien berjalan pulang, mereka bertemu dengan seorang wanita di jalan yang baru saja melahirkan bayi. Suami wanita itu berusaha untuk membawa istrinya ke rumah ibunya untuk melahirkan, tetapi tidak berhasil pada waktunya. Wanita itu sedang beristirahat dengan bayinya sebelum melanjutkan perjalanannya, Pemandangan itu membuat kesan kuat pada Nai Leng.

    Ketika berusia 16 tahun, Nai Leng memasuki biara, di mana mereka punya satu set kitab Buddhism dalam bahasa Khmer. Meski bahasa ibu Nai Leng adalah Thai, ia belajar membaca teks dalam bahasa Khmer. Ini tidaklah mudah, karena karakter Khmer sangat berbeda dari karakter Thailand. Choate menjadi mahir yang akhirnya mengajari biarawan lain bagaimana membaca tulisan Khmer. Selain mempelajari teks-teks Buddhisme, mediasi merupakan kegiatan utama dari para biarawan.

    Ketika berusia 25 tahun, Nai Leng memutuskan keluar dari biara untuk menjadi petani. Selain bercocok tanam, Nai Leng mengahsilkan uang dari menjual barang dagangan. Ia menggunakan gerobak sapi dan sangat sering mengunjungi Laos sehingga menjadi fasih berbahasaLaos. Ia menikah dan memiliki tiga anak perempuan, bernama Pa, Poh dan Pi. Meskipun tidak lagi menjadi biksu, Nail Leng tetap seorang Buddhis taat yang bermeditasi tiap malam

    Nang Rien, adik Nai Leng, menikah dan memiliki 3 anak. Ketika berumur 45 tahun, Ia hamil lagi. Saat itu tahun 1908. Selama kehamilan ini, berbeda dari kehamilan sebelumnya, Nang Rien menjadi sangat spiritual dan bahkan memutuskan menjadi biarawati. Ia mencukur rambutnya, mengenakan jubah putih dan pindah ke biara Wat Takien, 9 mil/15 km dari Ban Kraton, desa tempat Nang Rien dan Nai Leng hidup.

    [Note:
    Tentang tradisi kebiarawatian Thailand: Perempuan hamil tidak pernah diperbolehkan untuk ditahbiskan menjadi biarawati. Biarawati terakhir Thailand ada di abad ke-13 setelah itu Thailand tidak mempunyai biarawati lagi, Baru kemudian sejak 28 Februari 2003, yaitu setelah penahbisan Dhammananda, Thailand mempunyai Biarawati kembali. Perempuan berbaju putih di Biara adalah bukan biarawati namun umat awam yang disebut Mae ji]

    Sementara Nang Rien di biara, tepat sebelum kembali ke rumah untuk melahirkan bayi, kakaknya Nai Leng mengalami demam. Nang Rien pulang ke Ban Kraton selama kakaknya sakit, Ia melahirkan anak bernama Chaokhun Rajsuthajarn yang dipanggil Choate pada tanggal 12 Oktober 1908. Nai Leng sakit selama 6 hari sebelum meninggal pada 13 Oktober 1908 di usia 45. Dengan demikian, Choate lahir satu hari sebelum Nai Leng meninggal

    [Note:
    Francis Story, yang mewawancarai Phra Rajsuthajarn mulai pada 1 January 1963, menyatakan bahwa Rajsuthajarn, diautobiographynya menyatakan bahwa Leng wafat pada tanggal 14 Oktober 1908, jadi harusnya 2 hari bukan 1 hari, namun demikian pada bukunya, Francis menuliskan “Anak adiknya lahir sehari sebelum wafatnya”]

    Choate ditakdirkan menjadi seorang biarawan terkenal di Thailand dan di menjelang akhir hidupnya, ia menulis sebuah autobiografi, yang diterbitkan ketika Choate berusia 61 tahun pada tahun 1969. Dalam buku ini, Choate menjelaskan bahwa dalam inkarnasi sebelumnya, ia adalah Nai Leng dan bahwa ia sadar selama kematian dan kelahiran kembali Nai Leng sebagai bayi Choate

    Di autobiographynya, Choate menyatakan ia menyadari peristiwa selama kematian Nai Leng dan kelahiran kembalinya sebagai Choate. Chaote menjelaskan bahwa ia mampu telepati menyadari kegiatan adiknya, Nang Rien, di kuil di mana Ia menjadi biarawati, yang jauhnya 9 mil dari rumah Nai Leng.

    Narasi berikut ini dari otobiografi Choate, karena ia ingat akhir hidupnya sebagai Nai Leng. Latarnya adalah rumah Nai Leng pada bulan Agustus 1908.

      “Pada tahun 1908, ketika saya [sebagai Nai Leng] berusia 45 tahun, memiliki 3 anak, Nang Rien berada di bulan 7 kehamilannya. Ini adalah bulan ke-8 tahun itu. Aku, Nai Leng, sudah sakit dan sembuh berulang selama beberapa bulan. Selama periode itu, kakak beradik ini [Nai Leng dan Nang Rien] berulang saling melihat satu sama lainnya dalam mimpi mereka. Pada bagian Nang Rien itu, sejak konsepsi, ia memiliki keyakinan luar biasa dalam Buddhisme, khususnya yang berkaitan dengan meditasi …. Memang, Ia bahkan ingin menjadi seorang biksuni [biarawati]. Jadi, pada malam perayaan hari raya di tahun itu, masih dalam keadaan hamil tentu saja, Ia meninggalkan ibunya dan suami ke sebuah biara …”

      [Note:
      Menarik sekali membaca pengakuan Choate, di mana seorang biksu Thailand bahkan tidak tau beda antara Mae ji vs Biksuni atau bahkan tidak tahu bahwa di tradisi Thailand saat itu tidak ada Biksuni]

      “Sementara Nang Rien berada di wat (kuil) berdoa dan bermeditasi, Aku, Nai Leng terbaring sakit di rumah. Namun, Aku merasa seolah-olah Aku sangat menyadari kegiatan Nang Rien di wat … sementara Nang Rien berdoa dan bermeditasi, Aku tidak hanya tahu itu, tapi melihatnya.

      Seperti tampak bagi ku, Aku selalu … kira-kira 2 meter di belakangnya . Aku tidak pernah berbicara dengannya …. Mataku tampaknya tidak pernah berkedip sama sekali. Aku hanya menatapnya, terus-menerus bahwa Aku lupa memperhatikan keadaan ku sendiri yatu, bagaimana aku bisa bergerak bersamanya … Bahkan ketika Ia sedang berdoa dihadapan patung Buddha, Aku masih melihatnya dari belakang. Lalu ia menyalakan sepasang lilin dan tiga dupa… Setelah menyalakan semua lilin, Ia berdoa lagi … Lalu ia meletakan tangannya ke bawah, menutup mata, dan terus berdoa sampai semua dupa dan lilin terbakar habis …”

      “Selama ini, Aku tahu dan melihat aktivitasnya. Namun, di harinya Ia pulang [dari wat Ban Kratom], Aku merasa agak bingung dan tidak ingat apa-apa … Aku kemudian ingat bahwa aku sakit. Suatu hari, ada 4 orang di rumah – 3 saudara perempuan dan istri Nai Leng, aku membuka mata dan melihat dan mendengar apa yang mereka bicarakan satu sama lainnya: ‘pada jam 09:00 tadi malam, Nan Rien melahirkan bayi yang lucu’ … Aku berpikir jika aku normal, aku akan mengunjunginya juga. Tapi aku di sini, terbaring sakit. Yang bisa aku lakukan hanya mendengarkan percakapan mereka.

      Saat itu Aku merasa sedih, dan ingin mengubah posisi berbaring yang lebih nyaman. Melihat mereka [orang-orang lain yang hadir] sibuk berbicara satu sama lain, Aku tidak meminta bantuan mereka. Selain itu, aku bahkan tidak bisa membuat suaraku terdengar. Oleh karenanya, Aku mencoba sendiri beralih ke sisi dinding. Aku berhasil, tapi tidak bisa mempertahankan keseimbangan di posisi itu. Jadi sekali lagi, aku berbaring di punggungku. Aku berkata pada diri sendiri harus puas sementara dengan tingkat kenyamanan itu”

      [Note:
      Menarik sekali membaca bahwa Choate ingat jelas apa yang sedang dipikirkannya di puluhan tahun lampau yaitu dipembaringan disaat sakitnya namun tidak ingat kejadian apa saat Nang Rien pulang dan juga tidak ingat apakah tanggal 13 atau tanggal 14 Oktober, Ia wafat]

      “Berpikir bahwa aku akan lebih baik jika tidur, Aku kemudian menghela napas beberapa kali dan memejamkan mata. Pada saat ini, Aku merasa seolah-olah kembali normal lagi. Aku merasa kuat dan bisa bergerak jauh lebih cepat dari satu tempat ke tempat lain. Tubuhku terasa ringan, seolah-olah itu tidak berat. Aku sangat senang dapat segera bergabung bercakap dengan kerabatku. Tapi tidak ada yang melihat ku. Aku meraih tangan seseorang dan menarik lengan orang satunya, untuk menarik perhatian mereka. Namun, tidak ada yang melakukan apa-apa.

      ..”Waktunya makanan lain hari itu. Kerabat ku sedang bersiap-siap pergi. Salah satu dari mereka merasakan kaki Nai Leng. Aku di belakangnya, mencoba meraih tangan dan bahunya. Aku berteriak, ‘Aku di sini. Aku tidak lagi sakit. Aku telah pulih sudah. Jangan khawatir atau takut. Jangan panik, Aku baik-baik saja.’ Namun, Aku tidak bisa membuat mereka mengerti. Mereka menangis dan meraung. Beberapa dari mereka pergi memberitahu kerabat dan teman-teman lain di lingkungan. Yang belakangan kini menuju ke dalam rumah.”

      Ketika itu, Aku merasa jika Aku ada di mana-mana: Aku dapat secara bersamaan melihat orang-orang datang dari 2 atau 3 arah yang berbeda. Selain itu, Aku bisa berada di sana untuk menerima mereka semua pada waktu yang sama. Aku juga dapat mendengar suara mereka serta melihat hal-hal dengan cukup jelas. Tempat yang jauh tampak dekat, karena aku dapat bergerak sangat cepat dari satu tempat ke tempat lain. Aku bisa segera berada di sana untuk mendengar atau melihat. Tampaknya tidak ada hambatan [bergerak atau melihat] dan semuanya. Saat yang bersamaan aku berpikir: ‘Aku pimpinan yang ditunjuk sebagai tuan rumah; Aku senang. Akulah pemimpin upacara yang memiliki perkataan akhir tentang segala hal. Aku memiliki otoritas yang begitu besar, yang tidak ada yang mungkin dapat menghambat atau mengganggunya.’ Namun demikian, sejauh ini, Aku merasa puas atas apa yang saudara-saudaraku lakukan. Aku sangat bersyukur bahwa aku tidak merasa lapar atau haus. Aku begitu terbawa suasana yang mempesona ini sampai aku lupa tidur dan makan juga tidak pernah merasa lelah.

      Selama upacara pemakaman (saya tahu kemudian bahwa itu 3 hari) , saya merasa agak tinggi – di atas sekitar ketinggian rata-rata orang. Dengan kata lain, jika orang lain duduk, aku merasa aku berdiri; jika mereka berdiri atau berjalan, Aku merasa seolah-olah aku sedang berdiri atau berjalan pada sesuatu tingkat yang lebih tinggi dari mereka. Sementara prosesi menuju ke kremasi, Aku sedang duduk di lekukan gerobak, bagian tertinggi dari gerobak. Gerobak itu, untuk diketahui, tidak memiliki lekukan; itu hanya perasaanku bahwa aku ada di bagian itu. [ini mengacu lekukan yang dapat dipasang pada gerobak untuk memanggul material, seperti karung beras yang sedang diangkut di dalamnya, tapi itu akan dihilangkan saat penangkutan peti mati]

      Setelah kremasi, para kerabat mengumpulkan bekas-bekasnya. Mereka kemudian mengundang para bhikkhu untuk ‘upacara relik’ yang merupakan fase terakhir prosesi. Saat itu adalah sekitar jam 08:00 malam ketika para biarawan selesai membacakan nyanyian. Keasyikanku dengan penerimaan tamu entah mengapa agak berkurang saat itu. Para wanita yang datang membantu pergi untuk tidur di rumah, sedangkan para lelaki tidur tak teratur di sebuah bangunan yang dibangun khusus untuk upacara.

      Di teras bangunan ini, 3 laki-laki tua sedang duduk di sekitar kompor. Mereka entah sedang mengunyah permen karet Thailand atau merokok. Mereka mungkin dianggap sebagai semacam penjaga malam. Tiba-tiba, sebuah kilasan pikiran tentang Nang Rien melintas dalam pikiranku. ‘Aku dengar bahwa ia baru saja melahirkan bayi. Aku belum mengunjunginya, karena aku begitu sibuk menerima tamu. Sekarang aku bebas untuk pergi.’

      Ketika itu, Aku ada di tempat dimana para biarawan duduk di kuil (wat) tempat kremasi diadakan. Dengan pikiran itu, aku menoleh ke arah rumah Nang Rien, sekitar 200 meter ke barat. Tidak lama setelah aku putuskan pergi aku telah disana. Anak itu, seperti para saudara saya katakan, benar-benar lucu dan menggemaskan. Aku berpikir: Bagaimana aku bisa punya kesempatan menyentuhnya dan memberinya ciuman sayangku? Nang Rien tidur dengan tangan kanannya di atas anak itu. Tak lama kemudian, Ia membuka matanya melihatku dan berkata: ‘Saudaraku sayang, kamu telah di dunia lain. Silakan pergi ke tempat yang memberikanmu kegembiraan. Tolong jangan buat penampakan lagi pada saudara laki-laki dan perempuanmu, atau merasa khawatir tentang mereka.’ Ini adalah satu-satunya saat dimana orang pernah melihat dan berbicara kepadaku. Aku merasa begitu canggung sehingga aku pergi dan sembunyi. Aku bersandar di dinding depan kamarnya menghadap utara.”

      “Tak lama kemudian, berpikir bahwa ia sudah tidur lagi, aku keluar melihat sekilas anak itu. Ia membuka matanya kembali dan mengatakan hal yang sama padaku. Aku sembunyi lagi. Aku berkata pada diriku sendiri bahwa waktunya telah tiba bagiku untuk mengambil keputusan akhir. Aku berada pada dua perasaan. Meskipun aku ingin tinggal namun aku harus pergi; memang aku harus pergi. Akan tetapi, sebelum berangkat, aku ingin melihat anak itu. Kali ini aku tidak berani mendekat agar tidak menegurku lagi. Jadi, Aku hanya menolehkan kepalaku. Setelah melihatnya dengan baik, aku hendak beranjak pergi. Segera setelah aku berbalik, tubuhku berputar seperti gasing. Aku kehilangan keseimbangan. Aku coba menutupi kepalaku, wajah dan telinga dengan tanganku sebelum aku jatuh pingsan. Saat itu aku pikir matilah aku. Aku tidak tah berapa lama aku sadar kembali. Aku bertanya-tanya di mana aku ini. Konsentrasi dan ingatan menyatakan pada ku bahwa sebelumnya Aku adalah Nai Leng. Aku merasa diriku penuh semangat. Mengingat semua masa lalu, aku bertanya-tanya mengapa Aku berada dikondisi tak berdaya seperti ini. Aku merasa agak frustrasi.”

      “Lama kemudian, aku sangat senang dapat terbaring tengadah. Terlebih lagi ketika aku dapat mengenali semua yang menemuiku. Aku ingat nama mereka. Aku lambaikan tanganku dan mencoba memanggil mereka. Namun, hanya suara tidakjelas, normalnya bayi yang keluar. Beberapa orang mengenali isyaratku dan membantu memegangku. Aku sangat senang dan Aku tertawa besar. Selama masa ini, ada lebih banyak saat-saat menyenangkan daripada menyedihkan”

      Kemudian sampailah di masa aku belajar berjalan dan berbicara. Suatu hari ketika nenekku datang, bukannya memanggilnya seperti itu, aku menggunakan kata ibu. Saya dikendalikan kenangan masa lalu dalam ingatanku sendiri.”

      Nenek Ma Chama terkejut bahwa Choate memanggilnya ibu dan bertanya: “Trus, Namamu siapa jadinya?”. Choate menjawab, ‘Aku Leng”. Dalam otobiografinya, Choate melanjutkan: “Aku bertanya-tanya mengapa mereka tidak bisa mengenaliku. Aku adalah Nai Leng saat itu di sana.”

      “Tiba-tiba, Nang Rien berseru: ‘Pantaslah. Aku kadang-kadang melihat kakak Leng selama setelah periode wafatnya. Ia pasti telah dilahirkan kembali’ Ia kemudian bertanya: ‘Jika demikian, nak, sebutkan lagi siapa namamu? Bagaimana dengan istrimu? Di mana kau tinggal? Dan seterusnya dan sebagainya. Aku berikan jawaban yang benar untuk semua pertanyaan. Mereka semua menyimpulkan bahwa Nai Leng telah dilahirkan kembali.”

    Mari kita tinjau bagian dari peristiwa ini.

      Choate lahir pada tanggal 12 Oktober 1908. Ketika ia belajar bahasa, meskipun ibunya menjelaskan siapa bibi-bibi dan paman-pamanya, Ia bersikeras merujuk para paman dan bibinya sebagai saudara dan saudari, seolah-olah ia masih Nai Leng. Demikian pula, ia memanggil neneknya, Ma Chama, “ibu.” Dia benar-benar ibu Nai Leng.

      Putri Nai Leng, Pa, berusia 24 tahun ketika ia meninggal. Ketika Choate berusia 4 tahun, ia mengenalinya dan berkata, “Aku ayahmu” dan memanggilnya dengan julukan waktu kecilnya. Pada awalnya Pa merasa terganggu dengan pernyataan Choate, tapi seiring berjalannya waktu, Ia menjadi yakin bahwa Choate adalah kelahiran kembali ayahnya.

      Putri kedua Nai Leng, Poh, menyatakan saat kecil, Choate, menyinggung sebuah kejadian dalam kehidupan ayahnya, yang Choate tidaklah mungkin tahu. Ia mengatakan bahwa Choate, saat kecil, mengenali orang-orang yang dikenal ayahnya saat memandang dan memanggilnya dengan nama mereka.

      Putri ketiga Nai Leng, Pi, ingat bahwa Choate menjadi marah saat anak perempuan Nai Leng, yaitu Pa, Poh dan Pi, tidak menyapanya sebagai “ayah.”

      Adik Nai Leng, Nem, mengatakan bahwa Choate mengenalinya dengan nama begitu Ia bisa berbicara. Saat kecil, Choate juga mengenali istri Nai Leng dan memanggil namanya dan juga dengan benar menamai orang-orang lainnya yang Nai Leng kenal.

      Saat kecil, Choate benar bisa memisahkan barang milik Nai Leng dari barang milik orang lain. Kemampuan untuk mengidentifikasi harta kehidupan masa lalu secara tradisi digunakan para biksu Budhis mengidentifikasi kelahiran kembali Dalai Lama.

      Saat remaja, Choate spontan teringat peristiwa yang terjadi ketika Nai Leng berusia 15 tahun, ketika Nai Leng bertemu wanita yang telah melahirkan di jalan. Ibu Choate itu, Nang Rien, yang bersama Nai Leng saat ini terjadi, mengkonfirmasi insiden itu. Dalam otobiografinya, Choate, ia sampaikan ingatan itu.

      “Aku adalah Nai Leng di usia 15. Itu adalah malam awal musim tanam. Setelah selesai kerja, adikku, Nang Rien dan aku berjalan pulang seperti biasanya. Dalam perjalanan, kami berpaspasan dengan seorang wanita yang sedang beristirahat setelah baru saja melahirkan anak di jalan. Suami adalah penduduk asli Ban Nua, tapi istrinya berasal dari Ban Tai. Istrinya sangat ingin melahirkan anaknya di tempat ibunya. Saat dekat waktu kelahiran, ia bersikeras meminta pada suaminya agar membawanya ke sana. Suaminya akhirnya setuju, tapi tidak sampai tujuan, karena anaknya keburu lahir. Saat kereta mencapai tempat tersebut, persalinan mulai. Suaminya menghentikan gerobak, membuka ikatan lembu dan menyiapkan tempat bagi istrinya untuk beristirahat. Ini adalah sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Itu aneh bagiku, dan sebagai akibatnya, itu sangat mengesankanku.”

      Meskipun Choate memiliki ingatan ini dari inkarnasi lalunya sebagai Nai Leng, ia tidak memiliki pemahaman di mana kelahiran ini terjadi. Suatu hari, ia tengah bersama ternak untuk merumput di padang rumput. Di lokasi tertentu, ia mengalami Déjà vu. Ia menyadari bahwa ia ada di tempat di mana wanita itu melahirkan anaknya di jalan, bahwa ia menyaksikan selama hidupnya sebagai Nai Leng.

      Choate menceritakan adegan berikutnya.

      “Segera setelah saya tiba di rumah malamnya, saya bertanya pada ibuku apakah pernah ada seorang wanita melahirkan bayi di tempat itu. Ia berkata: “Ya, tapi itu terjadi ketika aku berumur 14 tahun dan kembali dari lapangan dengan saudaraku yang berusia 15 tahun ‘saudaranya itu adalah aku, yang telah menjadi putra bungsu adik perempuannya”

    Di usia 16, Choate menjadi biksu, mengulang pola hidup Nai Leng. Biara ini memiliki kitab Buddhism dalam bahasa Khmer atau Kamboja. Choate mengetahui biksu-biksu membaca dalam bahasa Khmer ini meskipun ia hanya mendapat pendidikan dalam bahasa Thailand, ia ambil beberapa naskah Khmer ke kamarnya untuk melihat apakah ia bisa membacanya. mengingat bahwa karakter alfabet Khmer sangat berbeda dengan bahasa Thailand. Choate menemukan bahwa ia tidak bisa membaca naskah Khmer pada awalnya, namun pada upaya ketiga, ia bisa memahaminya tanpa kesulitan. Dalam otobiografinya, Choate menceritakan pengalaman ini.

    “Buku itu [dalam tulisan Khmer] berisi 10 lembar. Aku melalui itu dalam satu jam atau lebih. Menjadi takut bahwa di bacaan pertama mungkin tidak benar, Aku mulai lagi. Bacaan ini juga butuh waktu sekitar satu jam. Aku belum cukup puas, jadi aku membacanya untuk ketiga kalinya. Aku sangat senang juga terkejut bahwa aku bisa membacanya tanpa mempelajari sebelumnya. Banyak orang telah melakukan upaya besar untuk itu tahun demi tahun, namun hanya beberapa yang berhasil. Belakangan, aku mulai menulis juga membaca bahasa Khmer … Sejak itu Aku bisa membaca karya kanonik apapun, baik bahasa Thailand ataupun Khmer. Alasannya sederhana: Aku telah fasih mengenai ini karena sebagai Leng aku pernah menjadi biksu. Untuk pastinya, bagian tentang itu telah lupa, namun ini adalah seperti sebuah kewajaran saja.”

    Insiden lainnya yang melibatkan xenoglossy.

    Ketika ia menjadi biksu berusia 19 tahun, Choate melihat bahwa penduduk desa di sekitar biara berbicara bahasa Laos. Choate mendekati desa ini dan menemukan bahwa ia bisa berkomunikasi dengan mereka dengan lancarnya, meskipun ia tidak diajarkan berbahasa Laos. Untuk kemampuan ini, Choate menarik pada pengetahuan masa lalunya mengetahui bahasa laos, yang telah dipelajari Nai Leng

    Saat Choate tumbuh dewasa, kenangan hidupnya sebagai Nai Leng tidak memudar, yang ia dedikasikan pada praktek meditasi selama dua periode kehidupan. Choate wafat pada tahun 1976 di usia 68 tahun sebagai salah satu biarawan yang paling dihormati di Thailand.

    [Tulisan di atas diambil dari artikel Walter Semkiw, MD: “Nai Leng Consciously Experiences Death & Rebirth“. Kisah ini juga dimuat Dr. Ian Stevenson. Juga di Francis Story: “Rebirth as Doctrine and Experience: Essays and Case Studies”, Bab 19, Kelahiran kembali ataukah kerasukan, hal.142-147. Juga oleh Roy Stemman: “Reincarnation: amazing true cases from around the world”, hal 38-39]

Dr. Ian Stevenson melaporkan bahwa komunitas Buddhis menafikan hal ini sebagai suatu kelahiran kembali:

    “Juga ada kasus di Thailand, di mana seorang Biksu, Chaokhun Rajsurhajarn, mengklaim lahir sehari sebelum wafatnya Nai Leng, Kepribadian yang diingatnya. Kasus ini sangat jarang terjadi di Nnegara-negara Buddhis. Buddhis cenderung untuk menganggapnya sebagai tersangka atau bahkan palsu karena tidak sesuai konsep buddhist tentang kelahiran kembali. Aku mempelajari kasus ini dengan penanganan penuh namun tidak menemukan penjelasan atas anomali ini” [Omni Magazine Interview with Dr. Ian Stevenson, By Meryle Secrest, 1988. atau lihat artikel ini di websitenya Carol Bowman M.S]

komunitas Buddhis mempunyai alasan menafikan kisah ini sebagai peristiwa kelahiran kembali Nai Leng sebagai manusia, Jika kita kesampingkan beberapa ketidakkonsistenan pernyataan di otobiography sang biksu sendiri, karena bahkan ia tidak tahu beda antara umat awam yang menjalani sila vs biksuni atau bisa jadi “Ingatan”-nya saat itu tampak tidak mengenali bahwa biksuni tidak ada lagi di jamannya (terakhir di Abad ke-13), maka ini adalah sesuatu yang lain lagi.

Penjelasan tentang hal ini (kasus Choate dan Jasbir), tidak dapat menolak adanya kemungkinan eks-Nai Leng itu terlahir kembali secara spontan dan dalam Sutta Buddhism tercatat bahwa alam dewa tertentu ada yang masih terlibat dengan urusan manusia dan sample cara mereka “melekat” pada manusia, yaitu pada DN.32/Atanatiya sutta yang berkenaan dengan penghuni alam 4 Raja Dewa

    ..Sapi dengan satu sadel terpasang,
    Demikianlah mereka menunggang berkeliling,
    Menggunakan perempuan sebagai tunggangan,
    Demikianlah mereka menunggang berkeliling;
    Menggunakan laki-laki sebagai tunggangan,
    Demikianlah mereka menunggang berkeliling;
    Menggunakan gadis perawan sebagai tunggangan,
    Demikianlah mereka menunggang berkeliling;
    Menggunakan anak-anak laki-laki sebagai tunggangan,
    Demikianlah mereka menunggang berkeliling
    ;..

Kemudian ada juga mahluk tertentu yang menunggangi wadaq lamanya (saat menjadi manusia) untuk berkomunikasi normal (bukan kesurupan), sebagaimana disampaikan di DN.24/Patika Sutta:

    …Petapa telanjang Korakkhattiya ini, yang engkau anggap Arahant sejati, akan meninggal dunia dalam 7 hari karena penyakit pencernaan, dan ketika ia mati, ia akan muncul kembali di antara para asura Kālakañja, yang adalah asura tingkat terendah. Dan setelah ia meninggal dunia, ia akan dibuang di tumpukan rumput-bīraṇa di tanah pekuburan. Jika engkau menginginkan, Sunakkhatta, engkau boleh pergi dan bertanya kepadanya apakah ia mengetahui takdirnya. Dan mungkin ia akan memberitahukan kepadamu: ‘Teman Sunakkhatta, aku tahu takdirku. Aku akan terlahir kembali di antara para asura Kālakañja, asura tingkat terendah.’”

    ‘Kemudian Sunakkhatta mendatangi Korakkhattiya dan memberitahukan apa yang Kuramalkan, menambahkan: “Oleh karena itu, teman Korakkhattiya, berhati-hatilah dengan apa yang engkau makan dan minum, agar kata-kata Petapa Gotama terbukti salah!” Dan Sunakkhatta begitu yakin bahwa kata-kata Tathāgata akan terbukti salah sehingga menghitung hari demi hari hingga 7 hari. Tetapi di hari ke-7, Korakkhattiya meninggal dunia karena penyakit pencernaan, dan ketika meninggal dunia, ia muncul kembali di antara para asura Kālakañja, dan mayatnya dibuang di tumpukan rumput-bīraṇa di tanah pekuburan.’

    ‘Dan Sunakkhatta mendengar hal ini, maka ia pergi ke tumpukan rumput-bīraṇa di tanah pekuburan di mana Korakkhattiya terbaring, memukul tubuhnya 3x dengan tangannya, dan berkata: “Teman Korakkhattiya, apakah engkau mengetahui takdirmu?” Dan Korakkhattiya duduk dan mengusap punggungnya dengan tangannya, dan berkata: “Teman Sunakkhatta, aku tahu takdirku. Aku telah terlahir kembali di antara para asura Kālakañja, asura tingkat terendah.” Dan setelah itu, ia terjatuh kembali.’

Demikianlah kira-kira alasan mengapa mereka menafikan kisah Nai Leng.

Kabar buruknya bagi kita semua adalah karena Buddhism juga menyampaikan bahwa yang terlahir kembali sebagai manusia dan dewa jumlahnya sangat sedikit sekali dibandingkan mereka terlahir kembali di alam-alam bawahnya:

    Sang Bhagavā mengambil sedikit tanah dengan ujung kuku jari-Nya dan berkata kepada para bhikkhu “Para bhikkhu bagaimanakah menurut kalian, mana yang lebih banyak: sedikit tanah yang Kuambil di ujung kuku jari tangan-Ku ini atau bumi ini?”

    “Yang Mulia, bumi ini lebih banyak. Sedikit tanah yang Bhagavā ambil di ujung kuku jari tangan Beliau adalah tidak berarti. Dibandingkan dengan bumi ini, sedikit tanah itu tidak perlu dihitung, tidak dapat dijadikan perbandingan, tidak sebanding bahkan dengan sebagian kecilnya.

    “Demikian pula, para bhikkhu:

    • hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia sebagai manusia, terlahir kembali di antara manusia namun banyak sekali yang meninggal dunia sebagai manusia terlahir kembali di alam: neraka (SN 56.102), binatang (SN 56.103), mahluk halus (SN. 56.104, 105-107)
    • hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia sebagai deva, terlahir kembali di antara deva, hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia sebagai deva terlahir kembali diantara manusia (SN 56.111-113) namun banyak sekali yang meninggal dunia sebagai deva terlahir kembali di alam: neraka, binatang dan mahluk halus” (SN 56.108-100)
    • hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia dari alam neraka, terlahir kembali di antara para deva (SN 56.117-119), hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia dari alam neraka terlahir kembali diantara manusia (SN 114-116) namun banyak sekali yang meninggal dunia dari neraka, terlahir kembali di alam: neraka, binatang dan mahluk halus (SN 56. 114-116)
    • hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia dari alam binatang, terlahir kembali di antara para deva (SN 56.123-125), hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia dari alam binatang terlahir kembali diantara manusia (SN 120-122) namun banyak sekali yang meninggal dunia dari alam binatang terlahir kembali di alam: neraka, binatang dan mahluk halus (SN 56. 120-122)
    • hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia dari alam mahluk halus, terlahir kembali di antara para deva (SN 56.129-131), hanya sedikit sekali mahluk yang meninggal dunia dari alam mahluk halus terlahir kembali diantara manusia (SN 120-122) namun banyak sekali yang meninggal dunia dari alam mahluk halus, terlahir kembali di alam neraka, alam binatang, alam mahluk halus (SN 56. 126-131)

Bagaimana Cara Menghentikan Kelahiran kembali?

Sederhana saja rumusannya:

  • Apapun yang muncul, itu akan berakhir [SN 56.11/Dhammacakkappavattanasutta].
  • Tidak terdapat suatu kondisi yang timbul tanpa adanya suatu sebab, ‘Dengan ada ini, maka muncul itu, Dengan timbul ini, maka timbul itu, Dengan tidak ada ini, maka tidak ada itu, Dengan terhenti ini, maka terhenti itu’ [SN 12.21/DasaBala Sutta; SN 12.37/Natumha; SN 12.41/Pañcabhayavera; SN 12.49-50/Ariyasāvaka; SN.12.61-62/Assutavantu; SA.358, Udana 1].
  • ”munculnya ini” adalah sebagai makanan (Tadāhārasambhavanti), dengan lenyapnya makanan maka apa yang muncul akan lenyap (Tadāhāra-nirodhā yaṃ bhūtaṃ, taṃ nirodhadhammanti) [MN 38/Mahatanhasankhaya Sutta]

Buddhism menjelaskan TERJADINYA serta PADAMNYA peristiwa kelahiran kembali melalui hukum sebab akibat yang saling bergantungan (patticca samuppada):

    i–ii Avijjä Paccayä sankhāra: Ketidaktahuan/avijjā (= moha/ketidaktahuan atau annana/tidak berpengetahuan) memunculkan bentukan/paduan kondisi/bentuk – bentuk karma/sankhāra.

    Note:
    “sankhāra”: segala sesuatu yang merupakan paduan unsur dan terkondisi (paccaya), misal semua makhluk sebagai akibat dari sebab dan kondisi (paccaya) dan apa yang mereka lakukan sebagai sebab dan kondisi yang menghasilkan akibat lain. Di SN 12.2/vibhanga sutta: Bentukan badan/kāyasaṅkhāro, bentukan ucapan/vacīsaṅkhāro, bentukan pikiran/cittasaṅkhāro

    ii–iii Sankhära Paccayä Viññäna: Bentukan/paduan kondisi /bentuk – bentuk karma memunculkan kesadaran/viññāṇa.

    Note:
    Terdapat 6 jenis Kesadaran, yaitu: kesadaran mata dan/atau kesadaran telinga dan/atau..kesadaran pikiran. 6 Kesadaran indriya ini adalah akibat pertemuan antara 6 Indria dan 6 objek-objeknya

    iii–iv Viññäna Paccayä nāmarūpa: Kesadaran memunculkan Mental-Materi/nāma-rūpa.

    Note:
    Namarupa = Vedana + sanna + cetana + phassa + manosikharo + rupa atau juga disebut Pancakhanda = Kesadaran + vedana + sanna + sankhara + rupa.

    Rupa = catumahabhuta dan turunannya, “catunnañca mahābhūtānaṃ upādāyarūpaṃ” – SN 12.2. CatumahaBhuta = Padat/penyokong/Pathavi + cair/perekat/Apo + Sinar/gelombang partikel/suhu: panas-dingin/Tejo + Tekanan/Gerak/Getar/Vayo

    iv–v nāmarūpa Paccayä Saläyatana: Mental-Materi/Pancakhanda memunculkan 6 landasan indra/Salayatana (yaitu: mata, telinga, hidung, lidah, badan dan pikiran)
    v–vi Saläyatana Paccayä Phassa: 6 landasan indra memunculkan kontak/phassa (Pertemuan dari 3 hal, yaitu: 6 Indriya + 6 objek-objeknya memunculkan 6 kesadaran Indriya)
    vi–vii Phassa Paccayä Vedanä: Kontak memunculkan perasaan/Vedana (berupa: Menyenangkan, menyakitkan atau bukan keduanya yang muncul dari kontak Indriya)
    vii–viii Vedanä Paccayä Tanhä: Perasaan memunculkan kehausan/keinginan/Tanha

    Note:
    DN 15/Mahanidana sutta: perasaan muncul dari 6 kontrak Indria. Perasaan mengondisikan kehausan/keinginan, keinginan mengondisikan pencarian [pariyesanā], pencarian mengondisikan perolehan [lābho], perolehan mengondisikan pengambilan keputusan [vinicchayo], pengambilan keputusan mengondisikan nafsu ketagihan [chandarāgo], nafsu ketagihan mengondisikan keterikatan [ajjhosānaṃ], keterikatan mengondisikan kelayakan [pariggaho], kelayakan mengondisikan ketamakan [macchariyaṃ], ketamakan mengondisikan penjagaan atas harta-benda yang dimiliki [ārakkho], dan karena penjagaan harta-benda yang dimiliki, muncullah pengambilan tongkat dan pedang, pertengkaran, perselisihan, perdebatan, percekcokan, caci-maki, kebohongan dan kejahatan tidak terampil lainnya.’

    ‘Aku mengatakan: “Semua hal tak bermanfaat yang tidak terampil ini muncul karena penjagaan harta-benda miliknya.” Karena jika sama sekali tidak ada penjagaan terhadap harta-benda … apakah ada tindakan mengambil tongkat atau pedang …?’ ‘Tidak, Bhagavā.’ ‘Oleh karena itu, Ānanda, menjaga harta-benda adalah akar, penyebab, asal-mula, kondisi bagi semua kondisi kejahatan yang tidak terampil.’….Tanha dan pariyesana bergabung menjadi satu dalam perasaan

    viii–ix Tanhä Paccayä Upädäna: Kehausan/Keinginan memunculkan kemelekatan/upadana.

    Note:
    DN 15/Mahanidana sutta dan SN 12.2: Keinginan terhadap 6 objek indriya: bentuk-bentuk, suara,..fenomena pikiran/dhamma)

    ix–x Upädäna Paccayä Bhavo: Kemelekatan memunculkan penjelmaan/bhava.

    Note:
    DN 15/Mahanidana sutta dan SN 12.2: kemelekatan terhadap: kenikmatan indria (kāmupādānaṃ) dan/atau pandangan-pandangan (diṭṭhupādānaṃ) dan/atau ritual moralitas (sīlabbatupādānaṃ) dan/atau kosep/ajaran tentang diri (attavād pādānaṃ)

    x– xi Bhava Paccayä Jati: Penjelmaan memunculkan kelahiran/jati

    Note:
    DN 15/Mahanidana sutta: Penjelmaan di alam: kenikmatan-indria/kamabhava atau bentuk/rupabhava atau tanpa bentuk/arupabhava

    xi–xii Jati Paccayä jarāmaraṇaṃ sokaparidevadukkhadomanassupāyāsā: Kelahiran memunculkan: Kelapukan/tua/jara, mati/marana, sedih/soka, ratap tangis/parideva, rasa sakit/dukkha, pedih/Domanassa dan putusasa/upāyāsā

Demikianlah kemunculan penderitaan. Dari hukum hubungan sebab akibat yang saling bergantungan di atas, peranan sang maha pencipta jelas tidak relevan.

Bagaimana untuk menghentikan/memusnahkan proses ini?

    i–ii Avijjāya tveva asesavirāga-nirodhā saṅkhāranirodho: Hanya segala ketidaktahuan ketidakpedulian ini berhenti maka bentukan/paduan kondisi/bentuk – bentuk karma berhenti
    ii–iii Bentukan/paduan kondisi/bentuk – bentuk karma berhenti maka kesadaran berhenti.
    iii–iv Kesadaran berhenti maka MentalMateri berhenti.
    iv–v MentalMateri berhenti maka 6 landasan indra berhenti.
    v–vi 6 landasan indra berhenti maka kontak berhenti.
    vi–vii Kontak berhenti maka perasaan berhenti.
    vii–viii Perasaan berhenti maka nafsu keinginan berhenti.
    viii–ix Nafsu keinginan berhenti maka kemelekatan berhenti.
    ix–x Kemelekatan berhenti maka penjelmaan berhenti.
    x–xi penjelmaan berhenti maka kelahiran berhenti.
    xi–xii Kelahiran berhenti maka lapuk/tua, kematian, sedih, rataptangis, rasa sakit, pedih dan putus asa berhenti

    [Lihat: DN 15/Mahanidana sutta, SN 12.2/Paticca-samuppada-vibhanga Sutta, SN 12.23/Upanisa Sutta, MN.9/Samaditthi Sutta, MN 38/Mahātaṇhāsankhaya Sutta]

Demikianlah berhentinya seluruh bentuk Penderitaan…berhentinya kelahiran kembali..padamnya kesadaran

Pustaka: Hukum sebab Akibat; kelahiran kembali/Tumimbal Lahir; SEBAB MUSABAB YANG SALING BERGANTUNGAN; SPEKTRUM AJARAN BUDDHA, Kumpulan Tulisan Mahathera Piyadassi, Penerbit: Yayasan Pendidikan Buddhis TriRatna; KEHIDUPAN TIDAK PASTI, NAMUN KEMATIAN ITU PASTI (LIFE IS UNCERTAIN, DEAD IS CERTAIN), Oleh: Ven. Dr. K. Sri Dhammananda; Samaggi-Phala, Riwayat para Buddha: PELEPASAN AGUNG; Tilakkhana; DUKKHA SAMUDAYA: SUMBER DUKKHA; Kesunyataan Mulia Pertama: Dukkha]

[Kembali]




Artikel Terkait lainnya:

First saved: 10/19/08,4:14 PM


Agama Langit? Agama Bumi? Mmmhh..ato..Agama Kosmis, Aja!


Hampir setiap agama dan kebudayaan memiliki mitos alam semesta. Mesir kuno mempercayai bahwa Dewa Khnumm menciptakan alam-semesta kemudian membuat manusia dari tanah liat, lalu Dewi Hathor meniupkan hidup kepada mereka. Yunani kuno mempercayai, bahwa segala sesuatu dibuat oleh Oceanus, air yang pertama. Cina kuno mempercayai P’an Ku memahat alam-semesta yang sebelumnya berantakan, setelah mati tulangnya berubah menjadi bukit, dagingnya menjadi tanah, giginya menjadi kandungan logam dan seterusnya, keseluruhan kejadian itu berjalan selama 18.000 tahun. ALBERT EINSTEIN menyatakan bahwa:

    ‘Agama Masa Depan adalah Agama Kosmik. Melampaui Tuhan sebagai suatu pribadi serta menghindari Dogma dan Teologi…’

Ilmu pengetahuan memberikan dugaan bahwa semesta ini berumur 13,7 Miliyar tahun ada juga yang mengatakan 15 Milyar tahun. Penemuan-penemuan fosil manusia purba yaitu keberadaan manusia pertama di Asia beserta temuan kapak tangan dan alat-alat potong-memotongnya yang berumur 1.83 Juta tahun ditempat yang sama, di Bukit Bunuh [Lenggong-Perak], serta penemuan peradaban Lemuria, yang berusia tidak kurang dari 400.000 tahun telah memberikan konfirmasi pasti bahwa Manusia tidak mungkin berusia kurang dari 1 juta tahun. Di abad 20 ini setidaknya ada 5 hipotesis yang membicarakan penciptaan tata surya dan 2 Hipotesis yang membicarakan penciptaan semesta, diantaranya:

    Tata surya: Hipotesis kabut, (1724, 1796), oleh Imanuel Kant, disempurnakan Pierre Marquis de Laplace, garis besarnya adalah: Tata surya masih berupa kabut yang terdiri dari debu, es, dan gas yang disebut nebula. Unsur gas sebagian besar berupa hidrogen. Ada gravitasi, kabut menyusut dan berputar. Suhu kabut memanas menjadi bintang raksasa (matahari). Matahari terus menyusut, perputarannya semakin cepat. Sebagian dari gas dan es terlontar. Gaya gravitasi, penurunan suhu, gas-gas memadat membentuk planet dalam. Dengan cara yang sama, planet luar terbentuk.

    Semesta: Pada tahun 1922, bermula pada teori relativitas yang ditemukan Einstein, Alexander Friedman dan beberapa Ilmuwan kemudian menuliskan rumusan dari hipotesis Dentuman, garis besanya adalah: Terjadi kondensasi benda angkasa, menyatu, mengecil kemudian meledak. Debu dan gas membentuk bintang. Bintang meledak dan serpihannya membentuk planet-planet, termasuk bumi. Tahun 1927, Georges Lemaître, seorang biarawan Katoli Romawi Belgia, mengajukan teori dentuman besar mengenai asal usul alam semesta, ia menyebutnya sebagai “hipotesis atom purba”.

    Tahun 1929, Hubble melalui pengamatannya menemukan bahwa galaksi mengembang. Penemuan inilah yang kemudian dianggap sejalan dengan teori Lemaître. Pada siaran radio di tahun 1949, Fred hoyle yang menolak hipotesis dentuman, menyebutkannya sebagai ejekan dengan kata “Big Bang” namun kemudian kata itu malah menjadi sangat populer. Penerimaan secara luas Hipotesis Bing bang terjadi setelah Cosmic microwave background radiation [CMBR] ditemukan oleh Arno Penzias and Robert Wilson di tahun 1964


Artikel edisi Oktober 1994, Scientific American menyatakan: Hipotesis Big Bang adalah satu-satunya yang dapat menjelaskan pengembangan alam semesta yang didukung hasil-hasil pengamatan. Namun, Di bulan April tahun 2002, Steinhardt dari Princeton University dan Turok dari Cambridge University, dalam laporan di jurnal Science dan wawancara telepon dengan Associated Press, menyatakan bahwa:

  • Hipotesis Big bang tidak dapat menerangkan apa yang terjadi sebelum Big Bang dan menjelaskan hasil akhir dari semesta.
  • Big Bang hanyalah salah satu bagian dari pembuatan semesta, tapi bukan pelopor dari kelahiran semesta.
  • Ia hanya bagian kecil dari proses pembentukan semesta yang tidak memiliki awal dan akhir.
  • Sehingga penentuan umur semesta, yang muncul dari teori Big Bang, merupakan kesimpulan mengada-ada.
  • Penambahan dan penyusutan semesta terjadi secara terus-menerus, berlangsung bukan dalam miliar tapi triliunan tahun.


“Waktu tidak mesti memiliki awal,” ujar Steinhardt. Ia mengatakan bahwa teori waktu sebenarnya hanya transisi atau tahap evolusi dari fase sebelum semesta ada ke fase perluasan semesta yang ada saat ini.

Para ilmuwan yang menyokong teori Big Bang melihat ekspansi semesta ditentukan oleh sejumlah energi yang memperlambat dan mempercepat ekspansi. Energi yang memperlambat ekspansi ini kemudian bergerombol dalam galaksi, bintang dan planet. Energi yang mempercepat ekspansi ini diistilahkan sebagai “energi gelap”.

Namun Steinhardt dan Turok melihat bahwa materi semesta tidak sekadar terdiri dari energi biasa dan “energi gelap”, tapi juga “spesies ketiga”. “Kami melihat rasio energi yang membentuk semesta adalah 70 persen materi unik dan 30 persen materi biasa,” ujar Steinhardt.

Materi biasa yang dimaksud Steinhardt adalah materi yang membuat ekspansi semesta lebih pelan, yang mengijinkan gravitasi menciptakan galaksi, bintang dan planet, termasuk bumi.

Sementara percepatan ekspansi didorong oleh “energi gelap” yang menyatukan sejumlah zat dan energi. “Energi ini, sekali mengambil alih semesta, mendorong segala seuatu pada pusat percepatan. Sehingga semesta akan berukuran dua kali lipat setiap 14 hingga 15 miliar tahun sepanjang ada energi gravitasi yang mendominasi semesta,” ujar Steinhardt.

Big Bang muncul ketika “energi gelap” mengubah karakter ini. Dengan alasan inilah, kedua ilmuwan fisika tersebut menolak bahwa Big Bang merupakan penyebab kelahiran alam semesta. Karena semesta sudah ada sebelum dentuman itu terjadi. [Sumber: Fisika Net; Mengapa big bang itu keliru silakan lihat juga di: Is the Big-Bang a Religious Hoax?, Why the Big Bang is Wrong, Big bang or Big Hoax, BIG BANG? Hah!, False vs. True science: Mini Big-bangs in a Fractal Universe, fractal universe, Fractal cosmology]

Keberadaan mahluk hidup dari sudut menurut kacamata Ilmu modern mengikuti dua teori yaitu Abiogenesis dan Biogenesis namun sejak Louis pasteur berhasil dengan percoabaan leher angsanya maka teori yang diakui para Ilmuwan Modern adalah Bio genesis, secara ringkas teori Louis pastur terangkum dengan kalimat:

    omne vivum ex ovo, setiap makhluk hidup berasal dari telur
    omne ovum ex vivo, setiap telur berasal dari makhluk hidup
    omne vivum ex vivo, setiap makhluk hidup berasal dari makhluk hidup


Akhir dari bumi kita ini di jelaskan di dalam jurnal Inggris, Astrophysics atau pada http://uk.arxiv.org/.Robert Smith, korektor naskah emiritus astronomi di University of Sussex, Inggris selatan dan Dr. Klaus-Peter Schroeder di Universitas Guanajuato, Meksiko, menyatakan bahwa Miliaran tahun dari sekarang, Matahari secara perlahan mengembang..ketika Matahari kehabisan bahan bakarnya, Matahari akan berkembang menjadi “raksasa merah” yang berbahaya..merenggangnya atmosfir bagian luar Matahari menyebabkan Bumi mengorbit di lapisan luar atmosfir yang kepadatannya sangat rendah.

Tarikan itu disebabkan oleh gas dengan kepadatan rendah ini cukup untuk mengakibatkan Bumi mengapung di dalamnya dan akhirnya ditangkap dan dipanggang oleh Matahari. lautan akan menguap, dengan memenuhi atmosfir dengan uap air dan memicu pemanasan besar-besaran.

Namun demikian, sekalipun menjadi garing seperti kerupuk, Bumi akan selamat dari kehancuran total, dan itu akan terjadi 7.6 Mliyar tahun lagi (sumber: Antara)

Tulisan di atas merupakan pengantar dari artikel mengenai penciptaan semesta. Untuk itu mari kita lihat Semesta dari kacamata 4 agama terbesar di dunia:


Siapakah pemenang gelar Agama Kosmis menurut Einstein? Samakah itu dengan pilihan anda? Kutipan Einstein tersebut sekaligus merupakan kesimpulan saya mengenai Penciptaan semesta dipandang dari kacamata 4 agama terbesar dunia.

[Kembali]




Abrahamic: Penciptaan Semesta

Yahudi kuno serta kaum Kristen memiliki dua legenda penciptaan, keduanya tercatat di kitab Bible.

Yang pertama,
Allah menciptakan Langit dan Bumi, Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air, Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang” Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.

Allah menjadikan cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air. Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Allah menamai cakrawala itu langit, itulah hari ke dua.

Segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering. Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu laut. Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji di bumi, itulah hari ke tiga.

Matahari dan bulan serta bintang-bintang pada hari ke empat, semua burung dan hewan laut pada hari ke lima, Binatang ternak, melata, liar dan laki-laki dan wanita pertama pada hari ke enam [Kejadian 1, 1-31].

Pada tahun 1951, Paus Pius XII menghubungkan Kata “Jadilah terang” dengan hipotesis Big Bang. Sejak saat itu Big Bang, meledak besar sebagai ‘teori’ asal mula semesta.

Yang kedua,
Tuhan membuat bumi, lalu laki-laki pertama, lalu tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang, lalu terakhir seorang wanita [Kejadian 2, 4-22].

Frase kata “Jadilah..” terdapat dalam setiap kehendak yang Allah lakukan.

Paus Pius XII sangat bersemangat untuk menghubungkan frase “Jadilah terang” di ayat pertama dengan Big Bang, rupanya beliau sangat memahami terdapat kemuskilan logika bahwa

  • Bagaimana mungkin, Terang dinamakan siang dan gelap dinamakan malam terjadi di hari pertama, sementara Matahari dan bulan baru ada di hari ke 4
  • Bagaimana mungkin, tumbuhan yang berbiji dan buah-buahan yang berbiji dapat tumbuh semetara Matahari dan Bulan baru diciptakan keesokan harinya, dimana satu hari Allah setara 1000 tahun di bumi.


Beberapa pendapat kalangan nasrani menghubungkan terang dan gelap sebagai kebaikan dan kejahatan, namun pendapat itu juga tidak relevan mengingat obyek kejahatan belum tercipta.

Diatas telah disebutkan bahwa Frase “Jadilah terang” dilakukan sebelum penciptaan. Semua penggunaan Frase “Jadilah terang” ternyata dilakukan SETELAH ada Air yang menutupi samudera raya! Tidak ada bukti dari Alkitab yang menyatakan bahwa Air yang menutupi samudera raya juga diciptakan oleh ALLAH

Di hari pertama, Tidak diceritakan bagaimana air tercipta karena tidak didahului dengan kata “Jadilah terang”. Air dan Allah sudah ada. Bentuk bumi saat itu hanyalah air yang menutupi seluruh BUMI. Dari atas air tercurah dan dibawah juga ada air, di mana-mana hanyalah Air.

Kejadian
1:1 “pada mulanya [ray-sheeth’] Elohim [Allah yang Jamak] bara [menciptakan, membentuk, memotong, membangun, mengkosntruksikan] langit [shamayim] & bumi [erets]

1:2 Bumi [erets] Tohuw [Confusion, kacau, belum berbentuk, sia-sia] dan bohuw [kosong, tak berpenghuni]; kho shek’ [tidak jelas, gelap] teh-home [lautan, kedalaman] roo’-akh [Roh] Elohim [Allah dalam bentuk jamak] rachap [bergerak, melayang] paw-neem’ [dipermukaan] Mayim [air (banyak, luas), banjir]

Jika kita simak di kejadian 1:3-31, maka sebelum melakukan penciptaan, Allah selalu mulai dengan berfirman [Vayomer] dan kemudian terdapatlah ciptaannya. Event penggunaaan kata Vayomer terjadi lebih dari 8 x dilakukan oleh elohim [Allah dalam bentuk Jamak] ketika hendak menciptakan sesuatu, namun kata vayomer itu tidak pernah ada di kejadian 1:1-2!

Ini mengindikasikan bahwa tidak ada aktivitas penciptaan di kej 1:1-2! artinya ada suatu barang yang sudah ada bahkan sebelum elohim [allah yang jamak] ada, yaitu air!

Resith, bermakna mulai dari satu episode tertentu contoh Yer 26:1, “pada permulaan pemerintahan..” Kata resith bukanlah berarti waktu yang permulaan sekali tapi permulaan dari suatu event tertentu yang terjadi berikutnya, kejadian ini sejalan dengan makna tohuw = kacau balau yang terjadi dan keadaan yang bohuw = kosong kecuali hanya air yang menutupi dalam jumlah banyak

Bara sering diterjemahkan ‘menciptakan’, namun arti ini bukan merupakan arti yg umum digunakan di literatur Ibrani. Bara dapat berarti: membangun, membentuk, menggemukan [setelah tohuw], memotong [sejalan dimulainya episode baru, resith]

Sebagai contoh, berikut ini terdapat kata bara’ yang artinya BUKAN mencipta:

  • Kej 41:4,..Lembu-lembu yang buruk bangunnya dan kurus badannya itu memakan ketujuh ekor lembu yang indah bangunnya dan gemuk [bariy’] itu. Lalu terjagalah Firaun.
  • 1 samuel 2:29…mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan [bara’] dirimu dengan bagian yang terbaik d ari setiap korban sajian umat-Ku Israel?


Sudah? masa artinya mencipta disitu? disini artinya gemuk/menggemukan

    Josua 17:15 …then get thee up to the wood country, and cut down [bara’] for thyself there..


Sudah? masa artinya mencipta disitu? disini artinya memotong/membuka

Namun anda akan temukan beberapa penulis menyatakan bahwa ‘menciptakan’ merupakan bentuk QAL dari kata בָּרָא ‘bārā`’:

1. mencipta/ membentuk (dari ketiadaan)
2. menggemukkan

Benarkah artinya adalah MENCIPTA? dan apakah arti/maksud QAL itu?

Qal, ternyata merupakan bentuk kata kerja utk menyatakan suatu tindakan “sederhana” atau “sebab-musabab.” Contoh: he sat, he ate

Dalam hubungan dengan waktu adlh expresi Perfek [bentuk ke 3 seperti di bahasa Inggris], yaitu suatu tindakan yang rampung. Perfek juga digunakan seperti “kini” (Present Tense, Inggris)

Ternyata QAL hanyalah ekspresi WAKTU!
Ekspresi LAMPAU, SEDANG, AKAN TERJADI tidak akan merubah ARTI, contoh:

TELAH membentuk/menggemukan
SEDANG membentuk/menggemukan
AKAN membentuk/menggemukan

Jadi, dulu/sekarang/nanti..GEMUK ya GEMUK ngga akan berubah menjadi CIPTA

Sehingga Kej 1:1, artinya menjadi “pada awalnya Elohim membentuk langit & bumi..”

Mari kita perhatikan kitab Yesaya, yang tegas menyatakan ‘membentuk bumi’ [hanya ini yang tidak saya ganti dengan kata aslinya dan pilihan artinya]:

    45:18 For thus saith the LORD that bara [menciptakan, membentuk, memotong, membangun, mengkosntruksikan] The heavens; God himself that formed the earth and made it; he hath established it, he bara [menciptakan, membentuk, memotong, membangun, mengkosntruksikan] it not in Tohuw [Confusion, kacau, belum berbentuk, sia-sia], he formed it to be inhabited : I {am} the LORD ; and {there is} none else.

    45:18 Sebab beginilah firman TUHAN, yang bara [menciptakan, membentuk, memotong, membangun, mengkosntruksikan] langit, –Dialah Allah–yang membentuk bumi dan menjadikannya dan yang menegakkannya, –dan Ia bara [menciptakan, membentuk, memotong, membangun, mengkosntruksikan] bukan Tohuw [Confusion, kacau, belum berbentuk, sia-sia], tetapi Ia membentuknya untuk didiami–:”Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain.


Terjemahan Indonesia “mencipta, bukan supaya kosong” saya ganti dalam Ibrani dengan beberapa pilihan kata, demikian juga terjemahan dalam inggrisnya “created; in vain”

bara, telah kita ketahui artinya adalah membentuk
Tohuw, artinya Confusion, kacau, belum berbentuk, sia-sia–> disini kita pakai sia-sia

Sehingga,

  • bukan “created/mencipta”, namun “membentuk”
  • bukan “It not in Vain” dan juga tidak “bukan supaya kosong”, namun lebih tepatnya “tidak untuk kesia-siaan”


Yesaya 45:18 menjadi,
“Sebab beginilah firman TUHAN, yang MEMBENTUK langit, –Dialah Allah–yang membentuk bumi dan menjadikannya dan yang menegakkannya, –dan Ia MEMBENTUK tidak untuk KESIA-SIAAN, tetapi Ia membentuknya untuk didiami–:”Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain.”

Dapatlah kita simpulkan bahwa Alkitab pada Kejadian 1 hanya bercerita mengenai Bumi disaat banjir besar, Ia tidak berbicara mengenai pembentukan Tata surya apalagi Pembentukan Semesta, petunjuk mengenai hal itu, dilihat di hari ke-2 dan ke-3, ketika Banjir itu reda, Langit mulai terang, Air hanya dibawah Langit [rakiah, berbentuk kanopi], beberapa mulai surut, daratan terlihat dan sisanya berupa lautan.

Utk siang dan malam:

1:5 Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.

Terlihat bahwa malam tidak pernah diciptakan, yang diciptakan itu siang!

Hari itu berakhir di peralihan siang ke malam = petang, kemudian utk pertamakalinya ada peralihan malam ke siang = pagi. Jadi, petang-siang itulah 1 hari; itulah hari yg ke-1!

Langit diciptakan setelah siang!

1:8 Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ke-2

Cakrawala [Ibrani = Rakiya] berbentuk canopy; Jewish Encyclopedia: The Hebrews regarded the earth as a plain or a hill figured like a hemisphere, swimming on water. Over this is arched the solid vault of heaven. To this vault are fastened the lights, the stars. So slight is this elevation that birds may rise to it and fly along its expanse

Daratan ternyata tidak diciptakan!

1:9. Berfirmanlah Allah: “Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul [kaw-vaw’] pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah demikian.

Sehingga yang tanpa di Vayomer-kan [firman-kan] namun sudah ada yaitu: Bumi, kegelapan, air, para allah dan daratan [logis sekali karena bumi adalah daratan yang tertutup air]!

Jadi, jelas sudah bahwa Alkitab kej 1:1-31, hanya menceritakan urutan kejadian periode surutnya banjir besar daripada kisah mengenai penciptaan semesta dengan ledakan yang luarbiasa!

Sama sekali tidak ada relevansinya dengan hipotesis Big Bang.

[Catatan: di sini, di sini dan di sini.. anda temukan konfirmasi bahwa Alkitab dan para bapak gereja mendukung GeoCentris juga mengutuk teori Heliocentrisnya Galileo. Di Sini anda akan temukan rekaman Interogasi kepada Giordano Bruno sebelum ia di bakar hidup-hidup Gereja karena teori Heliocentrisnya]

[Kembali ke artikel “bumi itu datar versi alkitab”]

***

Logika Al Qur’an untuk awal terciptanya Langit dan bumi juga menggunakan Frase kata ‘jadilah..’ yang sama!

[note:
innamaa qawlunaa lisyay-in idzaa aradnaahu an naquula lahu kun fayakuunu
[16:40] Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “kun (jadilah)”, maka jadilah ia]

Frase kata yang sama yaitu ‘jadilah, maka jadilah ia’ atau ‘kun fayakoonu’ merupakan frase ke-MahaKuasa-an, Itu tercantum pada 8 ayat [Al Baqarah 2:117, Ali Imran 3: 47, Ali Imran 3: 59, Al Anaam 6: 73, An Nahl 16: 40, Maryam 19: 35 Yasin 36: 82, dan Al Ghafir 40: 68] Yaitu saat penciptaan langit dan Bumi, Penciptaan Adam & Isa, serta penciptaan lainnya yang dikehendaki Allah:

    [2:117] Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.
    [3: 59] Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.
    [36: 82] Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.


Apakah frase kata ‘jadilah, maka jadilah ia’ atau ‘kun fayakoonu’ merupakan Big Bang?

Qur’an ayat 51: 47 menyatakan bahwa “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa”.

Beberapa orang menterjemahkan kata ‘kami benar-benar berkuasa menjadi ‘kami meluaskannya’. Tafsiran ‘kami meluaskan’ dikemukakan oleh Harun Yahya yang muncul hanya baru-baru ini saja, yaitu ketika hipotesis BigBang dan alam semesta yang terus mengembang sedang populer-pupulernya. Namun berdasarkan 3 ayat di atas tentang ‘jadilah!’ maka samasekali tidak menunjukan kecocokan apapun dengan hipotesis Big Bang maupun Alam semesta yang terus mengembang.

Detail penciptaan Langit dan Bumi menurut Al Qur’an terdapat di surat [7:54, 10:3, 11:7, 21:30, 25:59, 32:4, 57:4, 41:9-12 dan 79:27-33].

Surat Al Anbiyaa’ 21:30, menunjukan keadaan Bumi dan langit saat yang awal mula:

    Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya (“سِتَّةِ”, anna) langit-langit (“السَّمَاوَاتِ”, al-samāwāti) dan bumi (“وَالْأَرْضَ”, wal-arḍa) dahulu adalah (“كَانَتَا”, kānatā) suatu yang padu (“رَتْقًا”, ratqan), kemudian (Kami) pisahkan keduanya (“فَفَتَقْنَاهُم”, fafataqnāhumā). Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

      Note:
      Perhatikan dengan baik ayat ini, TIDAK ADA dinyatakan bahwa Allah SWT menciptakan langit dan bumi yang padu itu di sana, malah jelas termaktub bahwa langit bumi itu DITEMUKAN Allah sudah dalam keadaan berpadu. Sama sekali tidak ada penggunaan kata “kami ciptakan” untuk situasi langit-bumi yang padu ini di manapun di Quran!

    Tafsir Ibn Kathir atas ayat 21:30:

      …Tidakah mereka mengetahui bahwa Langit dan bumi dulunya bersatupadu yakni pada awalnya mereka satu kesatuan, terikat satu sama lain. Bertumpuk satu diatas yang lainnya, kemudian Allah memisahkan mereka satu sama lain dan menjadikannya Langit itu tujuh dan Bumi itu tujuh, meletakan udara diantara bumi dan langit yang terendah..

      Said bin Jubayr mengatakan ‘langit dan Bumi dulunya jadi satu sama lain, Kemudian Langit dinaikkan dan bumi menjadi terpisah darinya dan pemisahan ini disebut Allah di Al Qur’an’

      Al hasan dan Qatadah mengatakan,’Mereka Dulunya bersatu padu, kemudian dipisahkan dengan udara ini’

    Darimana datangnya bumi langit yang padu itu? Siapa yang menciptakannya? Tampaknya bahkan Allahpun tidak tahu tentang ini, karena Dirinya pun berada di suatu ruang yang telah ada sebelum Ia ada:

      Abdan – Abu Hamzah – Al A’masy – Jami’ bin Syidad – Shafwan bin Muhriz – ‘Imran bin Hushain:
      …Nabi menjawab: ‘Allah telah ada dan tidak ada sesuatu pun terjadi sebelum-Nya, arsy-Nya berada di atas air, kemudian Allah mencipta langit dan bumi dan Allah menetapkan segala sesuatu dalam alquran’. [Bukhari no. 6868, 2953. Ibn Majah no.178 (Riwayat Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Muhammad bin Ash Shabbah – Yazid bin Harun – Hammad bin Salamah – Ya’la bin ‘Atho` – Waki’ bin Hudus – pamannya Abu Razin ia berkata; Aku bertanya; “Wahai Rasulullah, di manakah Rabb kita sebelum menciptakan makhluk-Nya?” beliau menjawab: “Dia berada di ruang kosong, di bawah dan di atasnya tidak ada udara, dan di sana tidak ada makhluk. Setelah itu Ia menciptakan ‘Arsy-Nya di atas air”). Tirmidhi no.3034 (“Wahai Rasulullah dimanakah Allah sebelum Dia menciptakan makhlukNya? beliau menjawab: “Dia berada di awan yang tinggi, di atas dan di bawahnya tidak ada udara dan Dia menciptakan ‘arsyNya di atas air.” Abu Isa mengatakan ini Hadis Hasan). Ahmad no.15599, 15611].

    Tampaknya persoalan ini telah lama diketahui bahkan sampai ditanyakan oleh para orang badui:

      Riwayat Harun bin Ma’ruf – Sufyan – Hisyam – Bapaknya – Abu Hurairah – Rasulullah SAW:
      “Manusia akan selalu bertanya-tanya hingga dikatakan, ‘Ini makhluk yang Allah telah menciptakannya, lalu siapakan yang menciptakan Allah? ‘ Maka siapa saja yang mengalami hal semacam itu, hendaklah ia mengatakan ‘aku beriman kepada Allah’.”

      [Abu Dawud no.4098, Muslim no. 193 (Riwayat Abdullah bin ar-Rumi – an-Nadlar bin Muhammad – Ikrimah (Ibnu Ammar) – Yahya – Abu Salamah – Abu Hurairah – Rasulullah SAW: ..”Wahai Abu Hurairah, mereka akan senantiasa bertanya kepadamu hingga mereka berkata, ‘Ini Allah, lalu siapa yang menciptakan Allah‘.” Abu Hurairah: “Ketika aku berada di masjid, tiba-tiba orang-orang dari kaum Baduwi mendantangiku, ‘Wahai Abu Hurairah, ini Allah, lalu siapakah yang menciptakan Allah‘. Perawi berkata, ‘Kemudian Abu Hurairah mengambil kerikil dengan telapan tangannya, lalu melempar mereka sambil berkata, ‘Berdirilah, berdirilah, sungguh benar kekasihku'”) Juga di Muslim 190, 192, Muslim no.195 dari riwayat Anas. Di Ahmad no.8666 (orang yg bertanya bukan orang Badui tapi orang Irak). Ahmad no. 20864 (dari riwayat Khuzaimah bin Tsabit) yang bertanya bukan orang tapi setan (juga di riwayat Abu Huraira dan Aisyah)]

    Pertanyaan menarik yang bahkan Nabi besar SAW pun tidak mendapatkan jawabannya dari Jibril dan Allah.


Surat AR RA’D (GURUH)13:2,

    Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.

    Tafsir Ibn kathir untuk ayat [13:2],

    • Allah, mengangkat para langit tanpa pilar & mengangkat para langit tinggi jauh diatas Bumi
    • berkenaan dengan kalimat (menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan) adalah seperti yang Allah maksudkan di surat 36:38 (dan matahari berjalan di tempat peredarannya) [Ada dua pendapat dan keduanya menyatakan Matahari dan bulan yang bergerak terus menerus]. ‘arsy adalah atap dari ciptaan dan tidak berbentuk BULATAN seperti banyak di klaim oleh astronomer. Lebih seperti KUBAH yang di topang oleh pilar. Ditandu oleh para malaikat dan di atas dunia, di atas kepala-kepala orang. Menurut Nabi sebagaimana diriwayatkan Abu Dharr:
      Ketika senja [magrib], Nabi bertanya padaku, “Apakah kau tau kemana Matahari itu pergi (saat Magrib)?! Aku jawab, “Allah dan rasulnya yang lebih tau.” Ia jawab, “Ia berjalan hingga berhenti pada tempatnya di bawah Arsy lalu menyungkur sujud dan mohon ijin untuk terbit kembali, dan diijinkan dan kemudian (waktunya akan tiba) dia minta agar terus saja bersujud namun tidak diperkenankan dan minta izin namun tidak diizinkan dan dikatakan kepadanya: “Kembalilah ke tempat asal kamu datang” dan ia akan terbit dari tempatnya terbenamnya tadi (barat). Itulah penafsiran dari sabda Allah “dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (AQ 36:38) [Bukhari: no.2960/4.54.421, no.4428/6.60.327, no.6874/9.93.520 dan no.6881/9.93.528. Juga Muslim: no.228/1.297]
    • ‘Ada pilar namun tidak dapat kamu lihat’ menurut Ibn `Abbas, Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, dan beberapa lainnya.
    • Iyas bin Mu`awiyah, “Langit itu seperti kubah di atas bumi’, artinya tanpa tiang. Serupa seperti Qatadah katakan
    • Ibn Kathir menyatakan bahwa pendapat terakhir [Iyas bin Mu’awiyah] adalah lebih baik mengingat Allah juga menyatakan di ayat lainnya [22:65] yaitu ‘Dia menahan langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya?’
    • Penjelasan langit berbentuk kubah dan daratan datar ada di Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs untuk surat 65:12, yang mengatakan (Allah-lah yang menciptakan tujuh langit) satu di atas yang lainnya seperti KUBAH, (dan seperti itu pula bumi) tujuh bumi tapi mereka DATAR.


Penjelasan-penjelasan di atas, memberikan kita informasi bahwa menurut tradisi Islam, Bumi diciptakan terlebih dahulu, Langit dinaikkan, langit sebagai atap yang berbentuk Kubah dan allah menahannya agar tidak jatuh ke BUMI serta dibentangkannya BUMI.

Surat Fushshilat 41: 9-12, menyajikan urutan pengerjaan Bagaimana penciptaan yang dilakukan Allah:

  • Pertama, (41:9) Bumi di ciptakan dalam 2 masa
  • Kedua, (41:10) Segala isi BUMI di ciptakan total dalam 4 masa
  • Ketiga, (41:11) Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.”
  • Ayat-ayat di atas jelas merujuk bahwa kedudukan BUMI dan LANGIT adalah SEDERAJAT, yaitu BUMI yang BUKAN merupakan anggauta LANGIT. Dimana, Bumi diciptakan terlebih dahulu, baru kemudian ALLAH menyelesaikan Langit yang dibuktikan pada ayat selanjutnya

  • Keempat, (41:12) Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan pelita-pelita cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
  • TAFSIR Ibn Kathir untuk surat 41:9-11 (atau “Tafsir ibn katsir”, penyusun Dr Abdullah bin Muhammad bin abdurahman bin Ishaq al-shikh, 1994, Juz 24, buku ke-7, hal 198-200), menyampaikan bahwa:

      “DIA (Allah) menyebutkan bahwa PERTAMA KALI DIA menciptakan BUMI, jarena bumi sebagai asas (PONDASI). Persoalan pokok selalu dimulai dengan asas, baru kemudian atap…Adapun diciptakannya Bumi adalah SEBELUM diciptakan Matahari menurut NASH…”

      Ibn Kathir menyampakan dari Al Bukhari, “Dia menciptakan Bumi dalam Dua hari, artinya pada MINGGU dan SENIN
      Yang manusia butuhkan dan tempat tempat untuk bercocoktanam dan diolah pada SELASA dan RABU

      `Ikrimah dan Mujahid menyatakan tentang firman Allah,”dan DIA menentukan padaya kadar makanan-makanan”, yaitu DIA JADIKAN pada setiap bagian tanah (tempat) sesuatu yang tidak cocok untuk yang lain. Contohnya pakaian dari wool di Yaman, pakaian Sauri (tipis di Sabur dan pakaia Thyalisa (berasal dari sutera) di Ray.

      Ibn `Abbas, Qatadah dan As-Suddi menyatakan, “untuk siapapun yang bertanya tentang itu

      Firman Allah “Kemudian dia menuju langit, dan langit itu masih merupakan Asap” YAITU ASAP AIR YANG MENGEPUL KETIKA BUMI DI CIPTAKAN.

      Ats-Tsauri – Ibnu Juraij – Sulaiman bin Musa – Mujahid – Ibn Abbas: Allah berfirman kepada langit, “Munculkanlah matahariku, bulan dan bintang-bintang ku”. Allah berfirman pada Bumi, “Pancarkanlah sungai-sungaimu dan keluarkanlah buah-buahanmu”

      Firman Allah “Maka dia menjadikannya 7 langit dalam 2 hari”. Yaitu dia meyelesaikan kejadian 7 lapis langit pada hari KAMIS dan JUM’AT

      Firman Allah, “dan Kami hiasi langit terdekat dengan bintang-bintang yang cemerlang” yakni bintang-bintang yang bersinar terang diatas penghuni bumi. Firman Allah “Dan Kami memeliharanya” artinya menghalangi syaitan-syaitan dari mendengarkan berita]


Berkenaan dengan penciptaan pelita-pelita (AQ 41.12, “mashaabiiha” = pelita), Qur’an memberikan konfirmasi bahwa bintang-bintang diciptakan sebagai hiasan langit, misil pelempar setan yang mencuri dengar dan untuk keperluan navigasi

    Demi langit [wa+al-samaa-i] dan [wa] YANG BERJALAN [al-ṭāriqi]. [wamā (Dan apa) + adrāka (memberitahukanmu) = dan tahukah kamu] apa [mā] YANG BERJALAN [al-ṭāriqu]? BINTANG [al-najmu] yang cemerlang (al-thāqibu) [AQ 86.2-3, Al Makiyya, turun urutan ke-36. kata “ṭāriqi/u” juga ada di (AQ 4.168,169; 20.63,77,104; 23.17, 46.30, 72.11,16) artinya berjalan/jalan]

    dan kami [wa-annā] menyentuh [lamasnā] langit [al-samāa], kemudian kami dapati [fawajadnāhā] penuh [muli-at] penjagaan [ḥarasan] keras [shadīdan] dan PANAH-PANAH API [syuhubaan], dan kami [wa-annā] pernah [kunna] menduduki [naqʿudu] dari itu [minha] tempat [maqāʿida] untuk mendengarkan [lilssamʿi] kemudian siapa [faman] yang mendengarkan [yastamiʿi] sekarang [l-āna] akan didapati [yajid] baginya [lahu] PANAH API [syihaaban] yang mengintai [AQ 72.8-9, Al Makiyya, turun di urutan ke-40. kata “syuhubaan/Syihaabun juga ada di (AQ 15.18, 27.7, 37.10) artinya panah api]

    Dan pastinya [walaqad] Kami jadikan [jaʿalnā] di [fī] langit [al-samāi] HIASAN-HIASAN [burūjan] dan Kami hiasi [wazayyannāhā] untuk mereka yang memandangnya [lilnnāẓirīna] dan Kami menjaganya [waḥafiẓ’nāhā] dari [min] tiap [kulli] syaitan [shayṭānin] terkutuk [rajīmin], kecuali [illā] Ia [mani] mencuri [is’taraqa] dengar [al-samʿa] maka Ia dikejar [fa-atbaʿahu] PANAH API [syihaabun] yang terang [mubīnun]. [AQ 15.16-18. Al Makiyya, turun urutan ke-54. Kata “burūjan” juga ada di (AQ 4.78, 25.61, 85.1, 33.33, 24.60) artinya benteng/benda-benda langit/hiasan]

      Tafsir Ibn kathir AQ 15.16-18: Mujahid dan Qatadah berkata bahwa Buruj merujuk pada benda-benda langit…`Atiyah Al-`Awfi berkata: “Buruj disini merujuk pada ‘benteng penjaga’. Ia dibuat jadi ‘Bintang jatuh’ untuk melindungi dari Iblis yang mencoba mendengarkan informasi dari langit tertinggi. Jika ada syaitan yang menerobos untuk mencuri dengar, sebuah ‘bintang jatuh’ datang dan menghancurkannya. Ia mungkin lolos dan menyampaikannya pada Syaitan lainnya di bawah[..]”

      Di AQ 25.61, “BerkatNya [tabāraka] yang [alladhī] menjadikan [jaʿala] di [fī] langit [al-samai] hiasan-hiasan [burūjan] dan menjadikan [wajaʿala] di situ [fīhā] sebuah lampu [sirājan] dan bulan [waqamaran] bercahaya [munīran].”.

      “sirajan” adalah matahari:
      “dan menjadikan [waja’ala] padanya [fiihinna] bulan [al-qamara] bercahaya [nūran] dan menjadikan Matahari [al-shamsa] lampu [siraajaan] [AQ 71.16]” + “dan menjadikannya [waja’alna] LAMPU [sirajan] yang amat terang/terik [wahhaajaan] [AQ 78.13]”.

      Di Islam, Bulan dan Matahari, keduanya memancarkan cahaya:
      “Ia-lah (huwa) yang [alladhī] menjadikan [ja’ala] Matahari [al-shamsa] bersinar [ḍiyāan] dan bulan [waqamaran] bercahaya [nūran] [AQ 10.5]”.

      Kata “munir”, “nuur”, “naar” berasal dari akar kata yang sama “nūn wāw rā (ن و ر)” artinya adalah memancarkan cahaya sendiri BUKAN memantulkan cahaya, Untuk jelasnya simak AQ 24.35: “Allah cahaya [nūru] langit dan bumi. Perumpamaan [mathalu] cahayaNya [nūrihi], seperti celah [kamish’katin], di dalamnya [fīhā] ada pelita [miṣ’bāḥun]. Pelita itu [al-miṣ’bāḥu] di [fī] kaca [al-zujājatu] itu seperti [ka-annahā] sebuah bintang [kawkabun] berkilauan [durriyyun], dinyalakan [yūqadu] dari [min] pohon [shajaratin] berkah [mubārakatin], pohon zaitun [zaytūnatin] tidak [lā] di timur [sharqiyyatin] dan tidak [walā] di barat [gharbiyyatin], yang hampir [yakādu] minyaknya [zaytuhā] menerangi [yuḍīu] walau [walaw] tidak [lam] disentuh [tamsashu] api [nārun]. Cahaya [nūrun] di atas [ʿalā] cahaya [nūrin]”

    Sesungguhnya [innā] Kami hiasi [zayyannā] langit [Al-samāa] terdekat/dunia [al-dunyaa] dengan hiasan [bizīnatin] BINTANG-BINTANG [al-kawākibi]. dan menjaganya dari tiap syaitan durhaka [māridin]. Tidak [lā] mereka dapat dengarkan [yassammaʿūna] malaikat [Al-mala-i] yang tinggi [al-a’laa] dan mereka dilempari [wayuq’dhafūna] dari [min] tiap [kulli] sisi [jānibin] terusir [duḥūran] dan bagi mereka [walahum] siksaan [adhābun] terus menerus [wāṣibun], kecuali [illā] Ia [man] mencuri [al-khaṭfata] maka Ia dikejar [fa-atbaʿahu] PANAH API [syihaabun] yang cemerlang (thāqibu). [AQ.37.6-10. Al makiyya, turun di urutan ke-56. Kata “al-kawākibi” juga ada di (AQ 6.76, 12.4, 24.35, 82.2) artinya bintang-bintang]

    Dan pastinya Kami hiasi langit terdekat dengan PELITA-PELITA [mashaabiiha], dan menjadikan mereka [wajaʿalnāhā] rudal/perajam [rujūman] untuk syaitan-syaitan [lilsysyayaathiini],..[AQ 67.5. Al makiyya, turun di urutan ke-77. Kata “mashaabiiha” juga ada di (AQ 41.12, 24.35) artinya pelita]

      AQ 24.35 di atas, menunjukan persamaan pelita dan bintang. Tafsir Ibn kathir 67.1-5: Qatadah berkata: “Bintang-bintang (Ạlnjwm,”النجوم”) diciptakan hanya untuk tiga kegunaan, yaitu: Hiasan di langit, Alat pelempar setan dan petunjuk Navigasi, Jadi siapapun yang mencari interpretasi lain tentang bintang selain ini maka itu jelas merupakan opini pribadi, Ia telah melebihi porsinya dan membebani dirinya dengan hal-hal yang ia sendiri tidak punya pengetahuan tentang ini.” [Ibn Jarir dan Ibn Hatim mencatat riwayat ini]

      note:
      Qatada sfesifik menyatakan Al njwm (bintang-bintang) bukan An-Nayzak (metoroid, “النَيزَك”) dan bukan Al-Mudzannab (komet, “المذنب”)

    Memperhatikan Quran vs Tafsirnya, maka ini tidaklah merujuk pada meteor dan jelas merujuk pada bintang.

    Tampak jelas para pemikir islam, allah dan Muhammad memang tidak berpengetahuan apapun tentang semesta dan bahkan tidak mempunyai kemampuan dalam membedakan antara bintang, matahari, planet, bulan, asteroid, komet, metoroid, meteor dan meteorit:

    • Bintang adalah Semua benda masif yang sedang dan pernah melakukan pembangkitan energi melalui reaksi fusi nuklir. Bintang yang tidak lagi melakukan pembakitan energi disebut bintang katai, panas bintang ini berangsur-angsur padam dan inipun masih luar biasa panas. Bintang katai terdingin (merah) bersuhu permukaan 2000 – 3500 K (matahari: 5000-6000 K).

      Bintang katai terdiri dari: Katai merah (massa rendah); Katai kuning (massa sebanding dengan Matahari); Katai putih (tahap akhir siklus hidup bintang, ia terdiri dari materi elektron terdegenerasi, tidak cukup masif untuk menjadi supernova tipe II-bintang-bintang (memiliki 0,5-10 massa matahari, diameter hampir sama dengan bumi atau sekitar 100 x lebih kecil dari matahari. Suhu permukaannya: 8.000 K); Katai coklat (kurang masif untuk melangsungkan fusi hidrogen menjadi helium – massa < 0,08 massa Matahari) dan Katai gelap (katai putih yang terdinginkan, tidak lagi memancarkan cahaya dalam panjang gelombang tampak). Lama waktu Bintang-bintang kehilangan panasnya secara perlahan seumuran dengan usia semesta

    • Bintang Antares vs Bintang acturus: Bola kaki vs kelereng kecil. Matahari seukuran 1 pixel.
    • Bintang Acturus vs Bintang Matahari: Bola kaki vs kelereng kecil. Yupiter seukuran 1 pixel.
    • Bintang Matahari vs Planet Yupiter: Bola kaki vs kelereng kecil.
    • Planet Yupiter vs Planet bumi: Bola kaki vs kelereng kecil.
    • Matahari adalah bintang dengan jarak terdekat dari bumi. Ia menghasilkan cahaya. Massa matahari kurang lebih 99,86% massa total Tata Surya. Matahari bermassa 333.000 x massa bumi dan bervolume 1.3 juta x volume Bumi.
    • Planet adalah benda angkasa yang mengorbiti sebuah bintang (atau sisa bintang), mempunyai massa yang cukup untuk memiliki gravitasi sendiri dalam mengatasi tekanan rigid body sehingga punya kesetimbangan hidrostatik (berbentuk hampir bulat), tidak terlalu besar yang dapat menyebabkan fusi termonuklir terhadap deuterium intinya dan telah “membersihkan lingkungan” (mengosongkan orbit) dari benda-benda angkasa lain selain satelitnya sendiri. Berdiameter > 800 km
    • Satelit planet adalah benda angkasa bukan buatan manusia yang mengorbiti planet.
    • Asteroid adalah benda angkasa berukuran lebih kecil daripada planet namun lebih besar daripada meteoroid, Asteroid terdiri dari karbon dan metal dan mengorbit matahari.
    • Komet terdiri dari debu dan es yang berasal dari sabuk Kuiper Belt (kabut Oort), mengorbit matahari dengan jarak orbit berbentuk elips dan lebih jauh dari asteroid. Ketika orbitnya mendekati matahari, radiasi matahari menguapkan es disekitarnya dan jejak uap tersebut membuatnya tampak berekor
    • Meteoroid adalah pecahan asteroid (atau benda angkasa lainnya, namun rata-rata berasal dari pecahan asteroid yang saling bertubrukan) ukurannya lebih kecil dari asteroid dan lebih besar dari molekul.
    • Meteor adalah meteorid yang berhasil masuk ke atmospher bumi dengan kecepatan supersonik. Atmospher terdiri dari fluida (gas dan cairan) kecepatan tersebut menimbulkan tekanan yang sangat besar yang terjadi di depan metor. Tekanan ini memanaskan udara dan itu kemudian memanaskan meteor hingga menjadi terbakar. Inilah yang kemudian disebut bintang jatuh.
    • Meteor yang tidak habis terbakar dan jatuh ke bumi disebut Meteorit

Surat An Naazi’ aat 79:27-33, menyajikan urutan pengerjaan penciptaan yang dilakukan Allah!

    Allah menyatakan bahwa penciptaan Manusia itu jauh lebih mudah daripada penciptaan Langit. Ia meninggikan Bangunannya lalu menyempurnakannya (79:28). Kemudian ia Menciptakan siang dan malam. Kemudian bumi dihamparkannya (diisi) Caranya: memancarkan Air dan menumbuhkan tumbuhan, gunung-gunung dipancangkan teguh (79:31-32). Untuk apa? Untuk kesenangan Manusia dan binatang ternak milik manusia (79:33)

    Tafsir Ibn Kathir untuk surat 79:27-33:

      Telah disinggung sebelumnya di surat Ha Mim As-Sajdah bahwa bumi tercipta sebelum langit diciptakan. Kemudian, setelah langit tercipta, bumi di luaskan [dibentuk/di isi].

    Di Tafsir Ibn Kathir untuk surat 41:9-12, terdapat satu riwayat menarik mengenai kebingungan seseorang akan hubungan surat [41:9-12] dan surat [79:27-33] yaitu mana yang diciptakan terlebih dahulu: BUMI atau LANGIT

      Sa’id Bin Jubayr berkata, ‘Seseorang berkata pada Ibn ‘Abbas: Saya menemukan di Qur’an yang membingungkan ku:…Allah berkata (79:27-33):

        Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya, Dia menciptakannya, meninggikannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang.

        Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.

      Jadi Dia menyatakan bahwa Penciptaan Langit dahulu baru kemudian penciptaan Bumi, Namun kemudian Allah berkata (41:9-12):

        Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? demikian itu adalah Rabb semesta alam”. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanannya dalam empat masa. bagi orang-orang yang bertanya.

        Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan pelita-pelita yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

      Di sini Allah menyatakan Penciptaan BUMI dahulu baru kemudian Penciptaan Langit..

      Kemudian Ibn ‘Abbas menjawab:..

      • Allah menciptakan Bumi dalam dua hari (masa),
      • kemudian Dia menciptakan Langit, kemudian Dia (Istawa ila) meninggikan langit dan membentuknya dalam dua hari lagi.
      • Kemudian Dia membentangkan Bumi, ini berarti bahwa Dia membawa, sejak saat itu, air dan makanan. Dan kemudian Dia menciptakan Gunung-gunung, Pasir, benda-benta tak bernyawa, batu-batu dan bukit-bukit dan semuanya dalam waktu dua hari lagi.

      Inilah yang Allah katakan (Ia) menghamparkan (Bumi) (79:30) Dan Allah berkata :Ia ciptakan bumi dalam dua hari, jadi Dia menciptakan Bumi dan segala Isi didalamnya dalam empat hari dan Dia menciptakan Langit dalam dua Hari.

      Ibn Kathir, kemudian mengutip Bukhari:

      • Dia menciptakan Bumi dalam Dua hari, artinya pada Minggu dan Senin
      • [Dia menentukan padanya kadar makanan-makanannya] yang manusia butuhkan dan tempat tempat untuk bercocoktanam dan memanennya pada Selasa dan Rabu
      • Ats-Tsauri – Ibnu Juraij – Sulaiman bin Musa – Mujahid – Ibn Abbas: Allah berfirman kepada langit, “Munculkanlah matahariku, bulan dan bintang-bintang ku”. Allah berfirman pada Bumi, “Pancarkanlah sungai-sungaimu dan keluarkanlah buah-buahanmu” [Lubaabut Tafsir Min Ibni Katsir, Jan 2004, juz 24 hal 199-200]. Kemudian Dia meninggikan (Istawa ila) langit dan dan langit itu masih merupakan asap..melengkapi dan menyelesaikan ciptaannya seperti 7 langit dalam dua hari, artinya Kamis dan Jumat. [Kami hiasi langit terdekat dengan bintang-bintang yang cemerlang. “Dan Kami memeliharanya” artinya menghalangi syaitan-syaitan dari mendengarkan berita]

Surat Al Raaf 7:54,
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, [..]

Frase arab “سِتَّةِ” (sittati, enam) + ayyāmin (“أَيَّامٍ”) tercantum di (AQ 7.54, 10.3, 11.7, 25.59, 32.4, 50.38 dan 57:4), KELIRU jika diterjemahkan paksa menjadi “enam masa”, karena harusnya terjemahannya adalah “enam hari”:

  • “Sesungguhnya sehari (yawman) disisi Tuhanmu adalah seperti 1000 tahun menurut perhitunganmu” [AQ 22.47] dan “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian itu naik kepadaNya dalam satu hari (yawmin) yang kadarnya adalah 1000 tahun menurut perhitunganmu”[AQ 32.5]
      Note:
      Mengapa tidak menggunakan penyetaraan hari dengan AQ 70.4 (“Para malaikat dan Al Ruh (Jibril) naik ke Tuhan dalam 1 hari yang kadarnya 50.000 tahun”)? Karena ayat itu tentang penyetaraan LAMA WAKTU PERJALANAN dari tempat A ke tempat B akibat PERBEDAAN KECEPATAN, jika dilakukan Jibril VS jika dilakukan manusia di jaman Nabi (jalan kaki/kuda/onta). Perbandingannya jika di jaman sekarang, lama waktu yang dibutuhkan dari A ke B, dengan pesawat jet adalah 1 jam, namun jika naik bus perlu waktu 24 jam. Sementara 2 ayat (AQ 22.47 dan 32.5) di atas adalah tentang penyetaraan hitungan hari Allah VS hari Manusia baik untuk waktu penciptaan harian maupun hari di alam lain.
  • Hadis dan tafsir:
    • Riwayat [(Humayd – Hakkam – Anbasah) dan (Ibn Waki – Ayahnya – Isra’il)] – Simak – Ikrimah – Ibn abbas: Tuhan menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari – yang mana tiap harinya adalah seperti 1000 tahun menurut perhitunganmu [Tabari Vol.1 Hal 226-227].
    • Riwayat ‘Abdah – Al Husain bin Al Faraj – Abu Mua’dh – Ubayd – Al Dahhak: 1 hari yang kadarnya 1000 tahun menurut perhitunganmu, Ia maksudkan hari-hari selama 6 hari penciptaan langit bumi dan apa yang ada di dalamnya [Tabari Vol.1 hal.227]
    • Al Muthanna – Al Hajjaj – Abu Awanah – Abu Bishr – Mujahid: 1 hari dari 6 hari adalah seperti 1000 tahun menurut perhitunganmu.[Tabari vol.1 hal.227]
    • Riwayat Al Muthanna – Ali (bin Al Haytam) – Al Musayyab bin Sharik – Abu Rawq – Al Dahhak: Ia yang menciptakan Langit dan bumi dalam 6 hari – dari hari-hari di dunia lain. Ukuran 1 hari adalah 1000 tahun. Ia mulai penciptaan di hari Minggu dan keseluruhan ciptaan hari Jumat (Ijtama’a jum’ah) [Tabari vol.1 hal.227]
    • Riwayat Ibn Humayd – Jarir (bin abd al Hamid) – al A’mash – Abu Salih – Ka’b: Allah mulai menciptakan di hari minggu, senin, selasa, rabu dan kamis. Ia Selesaikan di hari jumat. Ia melanjutkan: Tuhan membuat setiap hari setara 1000 tahun [Tabari vol.1 hal.227]
    • Riwayat Ibn Abiyy – Abu Ishak – Ibrahim b. Abdullah Nabt – Anas ibn Malik – Muhammad SAW: Panjang umur Bumi ini adalah 7 hari di hari-hari kehidupan setelah kematian. Allah berkata “sehari di sisi Allahmu adalah setara dengan 1000 tahun dalam perhitunganmu” [Suyuti sehubungan dengan hadis-hadis sahih tentang umur bumi tersisa 7000 tahun]
    • Tafsir Tabari (tentang umur dunia):..Menurut tradisi ini (Hadis riwayat Abu Huraira – Muhammad SAW), jelas bahwa keseluruhan bumi ini adalah 6000 tahun. Karena, jika 1 hari alam lain sama dengan 1000 tahun dan 1 hari adalah 1/6 bumi ini, kesimpulannya total 6 hari alam lain adalah 6000 tahun [Tabari vol.1 hal.183-184 dan luga lihat di sini]
    • Tafsir ibn Abbas Al Sajdah 1.30:
      [32:4] (Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya) dari penciptaan dan keajaiban-keajaiban, (dalam 6 hari) hari-hari dari permulaan penciptaan yang setara dengan 1000 tahun dari tahun-tahun kehidupan di dunia ini.; hari ke-1 adalah minggu dan hari terakhir adalah Jumat.


Dalam tafsir Ibn kathir untuk surat AQ 7:54:

    Allah menyatakan bahwa Ia menciptakan semesta, Langit dan Bumi dan semua yang ada didalamnya dalam 6 hari. Enam hari yang dimaksud adalah Minggu, Senin, Selasa, rabu, kamis dan Jumat. Di hari Jum’at semua ciptaan telah di susun, Adam diciptakan. Kata “As-Sabt’ artinya Stop.

    Para ahli tafsir berbeda pendapat apakah setiap hari dari ke-6 hari tersebut sama seperti hari-hari yang ada pada kita sekarang ini ATAU SETIAP HARI ITU SAMA DENGAN 1000 TAHUN sebagaimana yang telah dinashkan oleh MUJAHID dan IMAM AHMAD BIN HANBAL. Dan dalam hal itu diriwayatkan dari riwayat adh-Dhahhak dari Ibn Abbas

    (Jadi, para ahli jaman itupun, telah sepakat bahwa 1 hari = 50.000 BUKAN untuk penyetaraan hari tuhan dengan manusia, namun penyetaraan lama waktu menuju langit antara kecepatan perjalanan JIBRIL vs kecepatan manusia di jaman Muhammad)

    Ibn kathir kemudian mengutip Hadis Muslim no.4997/039.6707 (Ahmad no.7991 Riwayat Hajjaj – Ibnu Juraij – Isma’il bin Umayyah – Ayyub bin Khalid – Abdullah bin Rafi (budak Ummu Salamah) – Abu Hurairah – Rasullullah SAW):

      Riwayat (Suraij bin Yunus dan Harun bin ‘Abdullah) – Hajjaj bin Muhammad al-Musaysi (bukan Hajjaj bin Muhammad Al-A’war) – Ibnu Juraij – Isma’il bin Umayyah – Ayyub bin Khalid – ‘Abdullah bin Rafi’ (-budak- Ummu Salamah) – Abu Hurairah: “Rasulullah SAW memegang tangannya, dan berkata:

      ‘Allah Azza wa Jalla menjadikan tanah pada hari Sabtu, menancapkan gunung pada hari Ahad (minggu), menumbuhkan pohon-pohon pada hari Senin, menjadikan bahan-bahan mineral pada hari Selasa, menjadikan cahaya pada hari Rabu, menebarkan binatang pada hari Kamis, dan menjadikan Adam pada hari Jum’at setelah ashar, yang merupakan penciptaan paling akhir yaitu saat-saat terakhir di hari jum’at antara waktu ashar hingga malam.” [Di sahih muslim 4.1856, 4.1857, Abu dawud 3.1041, 3.1042 diriwayatkan Abu Huraira bahwa Adam diciptakan pada hari Jum’at]

      Catatan untuk hadis 039.6707 (dalam nomor berbeda di kumpulan lain, namun merujuk pada hadis di atas):
      Ibn Taimiyyah, Majmu’ Fatawa (37 vols., ed. `Abd al-Rahman b. Qasim & anaknya Muhammad, Riyadh, 1398), 18:18f. Ibn Taimiyyah menyatakan keautentikan hadis Imam muslim didukung oleh Abu Bakr al-Anbari & Ibn al-Jauzi sedangkan al-Baihaqi mendukung yang mengabaikan hadis ini. Al-Albani mengatakan bahwa Ibn al-Madini mengkritik hadis ini, sementara Ibn Ma’in tidak (Ibn Ma’in dikenal sangat ketat, keduanya adalah shaikh Bukhari). Ia menyatakan lebih lanjut bahwa HADIS INI SAHIH, TIDAK KONTRADIKSI dengan Qur’an, bertentangan dengan pandangan yang mungkin dipunyai ahli lainnya yang mengkritik hadis ini, Karena yang dimaksudkan di qur’an adalah penciptaan langit dan bumi dalam 6 hari, yang setiap harinya seperti 1000 tahun, sementara hadis ini merujuk pada penciptaan bumi saja, yang hari-harinya lebih pendek dari yang dirujuk Qur’an (Silsilah al-Ahadith as-Sahihah no.1833).

      Catatan untuk beberapa nama di atas:

      • Al Baihaqi tidak mengabaikan hadis ini dan menyatakannya sebagai hadith Marfu (sampai rasullullah) di Sunan Al Kubra, hadis no.16267.
      • Konon ada yang mengklaim bahwa Ali bin Al-Madini (w. 234 H) mengeritik hadis ini, berita ini sangat meragukan karena Imam Musiim (204 – 261H) baru melakukan perjalanan ke-2nya di tahun 230 H (4 tahun sebelum wafatnya Madini) dan saat itu Ia belum membukukan kitabnya (Koleksi hadis Imam muslim disusun selama 15 tahunan).
      • Konon ada yang mengklaim Imam Bukhari (w. 256 H) mengritik hadis ini. Pertemuan antara Imam Muslim dan Imam Bukhari terjadi di tahun 250H, setelah Imam Bukhari menetap di Nishapur. Jika benar Imam Bukhari (guru Imam Muslim) protes pada riwayat yang dianggapnya tidak marfu (karena ada ada yang mengklaim bahwa Bukhari mengatakan itu berasal dari Ka’ab Al Ahbar), maka terdapat lebih dari cukup waktu bagi Imam Muslim memperbaikinya, namun tidak dilakukannya, sehingga ini menunjukan 2 hal saja, bahwa tidak benar hadis ini berasal dari Ka’ab Al Habar atau tidak benar Bukhari pernah mengkritik hadis imam Muslim ini. Disamping itu, Imam Muslim juga punya hadis dari perawi Ka’b al Ahbar, sehingga pastinya, Imam muslim juga MAMPU membedakan membedakan mana hadis yang berasal dari Al Ahbar dan mana yang bukan.
      • Untuk Ka’b Al Ahbar, Ulama hadis seperti Muslim, Abu Dawud dan Tirmidhi meriwayatkan darinya. Ibn hajar mengatakan: Ka`b Ibn Mati` al-Himyari, Abu Ishaq, yang dikenal sebagai Ka`b adalah jujur, masuk kategori ke-2 [tabaqah]. [Ibn Hajar al-`Asqalani, Taqrib al-Tahdhib, Op Cit., p. 135].
      • Untuk Hajjaj bin Muhammad Al-A’war, Jika orang ini adalah orang yang sama dengan Hajjaj bin Muhammad Al Musaysi (Fakta nama keluarga mereka berbeda, mengindikasikan bahwa mereka BUKAN orang yang sama), maka pendapat para ulama mengenai Hajjaj bin Muhammad Al A’war adalah juga sangat positif, misalnya: Nasa’i, Ibn Madini, Ibn HIbban dan Tabari menyatakan Hajjaj seorang Tsiqah (jujur), sementara Adz Dzahabi menyatakan Hajjaj seorang Hafiz. Hadis yang berasal dari Hajjaj bin Muhammad juga digunakan oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Tirmidhi, Ibn Majjah, Ad Darimi dan pengumpul lainnya.

      Jadi tidak ada alasan mempermasalahkan hadis penciptaan ini


Berikut ini adalah dari The History of al-Tabari, Volume 1 – General Introduction and from the Creation to the Flood (trans. Franz Rosenthal, State University of New York Press, Albany 1989), pp. 187-193:

    “.. kemudian, demikian juga, Terdapat (juga) sebuah tradisi yang berasal dari Rasullulah yang disampaikan oleh Hannad b Al-Sari, yang juga berkata bahwa ia baca semua hadis (Abu Bakar) -. Abu Bakr b ‘Ayyash -Abu Sa’ad al-Baqqal – ‘Ikrimah – IBN ABBAS

      Para Yahudi datang kepada Nabi dan bertanya tentang penciptaan langit dan bumi. Dia mengatakan:

      Allah menciptakan bumi di hari Minggu dan Senin.
      Dia menciptakan pegunungan dan penggunaannya untuk yang mereka miliki di hari Selasa.
      Di hari Rabu, Dia ciptakan pohon, air, kota-kota dan pembudidayaan tanah tandus.

      Ini adalah empat (hari).

      Ia melanjutkan (mengutip quran): ‘”Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? demikian itu adalah Rabb semesta alam”. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanannya (semua) dalam empat masa. bagi orang-orang yang bertanya.

      Di hari Kamis, Ia ciptakan langit.
      Di hari Jumat, Ia ciptakan bintang-bintang, Matahari, bulan dan malaikat, hingga tersisa 3 jam.

      Di bagian awal dari 3 jam ini, Ia ciptakan kondisi (dari manusia) siapa yang akan hidup dan siapa yang akan mati.
      Di bagian ke-2, Ia jauhkan kerusakan pada setiap yang berguna bagi manusia.
      dan di waktu ke-3, (Ia menciptakan) Adam dan memerintahkannya berdiam di Surga, Ia perintahkan iblis bersujud dihadapan Adam dan ia usir adam dari surga di akhir jam.

      Ketika para yahudi bertanya: Kemudian apa, Muhammad?
      Ia berkata: ‘kemudian Ia duduk di tahtanya.’
      Para Yahudi berkata: Kamu benar, jika kau telah selesai, Mereka berkata dengan: Ia kemudian beristirahat

      Mendengar itu Nabi marah besar dan berkata, ‘Kami ciptakan langit-langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya dalam 6 hari, dan kelelahan tidak menyentuh kami. berhati-hatilah dengan ucapan kalian'”


dan:

    “Menurut al-Muthanna – al-Hajjaj – Hammad – ‘Ata’ b. al-Sa’ib – ‘Ikrimah:

      Para Yahudi bertanya pada Nabi: Bagaimana dengan Minggu? Rasullullah menjawab: Di hari itu, Allah menciptakan bumi dan menyebarkannya.
      Mereka bertanya tentang Senin, dan Ia menjawab: Di hari itu, Ia ciptakan Adam.
      Mereka bertanya tentang Selasa, dan Ia menjawab: Di hari itu, Ia ciptakan pegunungan, air dan banyak lagi.
      Mereka bertanya tentang Rabu, dan Ia menjawab: Makanan.
      Mereka bertanya tentang Kamis, dan Ia menjawab: Ia menciptakan para langit.
      Mereka bertanya tentang Jumat, dan Ia menjawab: Allah menciptakan Malam dan Siang.
      Mereka bertanya tentang sabtu dan menyinggung tentang istirahatnya allah (atas hari itu), ia berseru: Terpujilah Allah! Allah kemudian menyampaikan: Kami ciptakan langit-langit dan bumi dan apa yang ada diantaranya dalam 5 hari dan kelelahan tidak menyentuh kami'”


Komentar dari Tabari:

    “Dua riwayat yang disampaikan pada kami dari Rasullullah telah menjelaskan bahwa Matahari dan bulan diciptakan setelah Allah menciptakan banyak hal pada ciptaannya.

    Itu karena hadis dari Ibn Abbas yang bersandar pada Rasullullah mengindikasikan bahwa Allah menciptakan Matahari dan Bulan pada hari JUMAT.

    Jika demikian, bumi dan langit dan apa yang ada didalamnya, kecuali para malaikat dan Adam, diciptakan Allah sebelum menciptakan Matahari dan bulan.

    Semua ini (demikian) terjadi ketika tidak ada cahaya dan tidak ada hari, karena malam dan siang hanyalah benda merujuk jam-jam yang dikenal melalui pergerakan lintasan melingkar matahari dan bulan.

    Sekarang, Jika ini benar bahwa bumi dan matahari dan apa yang ada di dalamnya, kecuali yang telah kami sebutkan, terjadi ketika tidak ada matahari dan bulan, kesimpulannya adalah semua terjadi ketika tidak ada malam ataupun siang.

    Hal yang sama (hasil tersimpul dari) mengikuti hadis dari Abu Hurayrah yang bersandar dari rasullullah:

    Allah menciptakan cahaya pada hari Rabu – arti dari ‘cahaya’ matahari, jika Allah berkehendak.”


Laporan-laporan mengenai penciptaan langit dan bumi di atas, menyimpulkan bahwa Bumi diciptakan terlebih dahulu baru kemudian langit, yang permulaannya dalam keadaan bertumpuk satu diatas yang lain dan kemudian langit di angkat ke atas, yang semuanya tercipta dalam 6 hari, seperti juga yang dilaporkan Mujahid, Imam Ahmad bin Hanbal, dan dari Ibn Abbas menurut Riwayat Ad-Dahhak’s darinya.

Masih mengenai Surat 41:11

    “Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu..”


Dalam Asbabun Nuzul surat Al Iklas 112:1-4,

    Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”


Riwayat Abus Syaikh di dalam kitabul Adhamah dari Aban yang bersumber dari Anas yang meriwayatkan bahwa Yahudi Khaibar menghadap kepada Nabi saw. dan berkata:

    “Hai Abal Qasim! Allah menjadikan malaikat dari cahaya hijab, Adam dari tanah hitam, Iblis dari api yang menjulang, langit dari asap, dan bumi dari buih air. Cobalah terangkan kepada kami tentang Tuhanmu.” Rasulullah saw tidak menjawab, sehingga turunlah Jibril membawa wahyu surat ini (S.112:1-4) yang melukiskan sifat Allah.


Dari hadis di atas, kita ketahui bahwa tidak ada penolakan mengenai asal muasal Langit, Adam, Iblis dan Bumi.

Surat 41, 51, 21 dan 79 termasuk golongan Almakiyah (sebelum Hijrah ke Medinah, 620 M) dan urutan turunnya surat adalah tertera demikian. Ayat 112, ada yang mengganggap sebagai Al Makiyyah, sementara As suyuti menganggap sebagai Al Madaniyya

Penegasan terakhir mengenai penciptaan Bumi dan Langit adalah melalui surat Al Baqarah yang diturunkan Allah di 2 H (624 M). Surat ini termasuk golongan surat Al madaniyya yang turun lebih belakangan dari surat Al Makiyya lainnya yaitu 41, 51, 21 dan surat 79.

Di surat Al Baqarah 2:29,

    Ia yang menjadikan segala sesuatunya untuk mu di Bumi. Kemudian Ia meninggikan (Iswata ila) langit dan dijadikanNya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.


Setelah semuanya siap, di dilanjutkan dengan penciptaan Adam di Al Baqarah 2:30-36, surat itu memperkuat surat-surat penciptaan manusia yang turun sebelumnya yaitu di 7:10-24, 15:26-33 dan 38:71-84. Disebutkan bahwa Adam diciptakan dari tanah kemudian Allah berkata, ‘Jadilah!’ [3:59]

Pernyataan di surat Al Baqarah 2:29-36 sangat jelas, terstruktur dan ada urutannya! yaitu menciptakan Bumi, kemudian langit plus 7 langit dan terakhir Penciptakan Manusia. Jadi, saat manusia diciptakan maka penciptaan langit sudah final, tidak ada pengembangan langit lagi. Bukti itu ada di ayat 2:31

    Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”


Ada juga yang tega-teganya berpendapat bahwa 7 langit adalah 7 lapisan Atmosfir.

Di jaman awal Islam, Mujahid, Qatadah and Ad-Dahhak dalam tafsir Ibn Kathir untuk surat 32:4-6 yang di kutip lagi oleh Ibn kathir untuk tafsir surat 13:2-4, dinyatakan bahwa jarak Bumi dan lapisan langit serta antar lapisan langit adalah 500 tahun [jadi sekitar 3500 tahun] atau berdasarkan hadis nabi dari Abu Dawud no.4100 (4 jalur perawi), Tirmidhi no.3242 (hasan gharib). Ibn Majjah no.189 yang menyatakan:

    “Apakah kalian tahu berapa jarak antara langit dan bumi?” mereka menjawab, “Kami tidak tahu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya jarak antara keduanya adalah bisa 71, atau 72, atau 73 tahun perjalanan -perawi masih ragu-. kemudian langit yang di atasnya juga seperti itu.” Hingga beliau menyebutkan 7 langit. Kemudian setelah langit ke-7 terdapat lautan, jarak antara bawah dan atasnya seperti jarak antara langit dengan langit (yang lain). Kemudian di atasnya terdapat 8 malaikat yang jarak antara telapak kaki dengan lututnya sejauh langit dengan langit yang lainnya. Dan di atas mereka terdapat Arsy, yang antara bagian bawah dengan atasnya sejauh antara langit satu dengan langit yang lainnya. Dan Allah Tabaraka Wa Ta’ala ada di atasnya.”

Jelas sudah bahwa 7 langit BUKAN atmosfir, sesuai dengan bunyi surat di qur’an maka langit yang dimaksudkan adalah ‘surga’:

Surat Al Najm 53:14-15, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal..

Jalaluddin as-Suyuthi (pengarang tafsir Ad-Durr al-Mantsur fi Tafsir bi al-Ma’tsur) menjelaskan berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Wahhab ibnu Munabbih bahwa Allah Swt. menciptakan `arsy dan kursi (kedudukan) dari cahaya-Nya. `Arsy itu melekat pada kursi. Para malaikat berada di tengah-tengah kursi tersebut. `Arsy dikelilingi oleh empat buah sungai, yaitu:

  1. sungai yang berisi cahaya yang berkilauan;
  2. sungai yang bermuatan salju putih berkilauan;
  3. sungai yang penuh dengan air; dan
  4. sungai yang berisi api yang menyala kemerahan.


Para malaikat berdiri di setiap sungai tersebut sambil bertasbih kepada Allah. Hadis yang menyebutkan 7 langit adalah Surga:

  • Bukhari 9.93.608, yang dinarasikan Anas Bin Malik, yaitu saat perjalanan Isra’ Mira’j naik hingga kelangit ke 7 dikatakan oleh Nabi Muhammad bahwa Ia dibawa keliling langit. Pada langit pertama ia bertemu para penghuni Surga dan juga Adam, kemudian ia lihat dua sungai yang disebut sebagai sumber dari sungai Nil dan Eufrat. Ia juga melihat sungai yang lain dan ditepi sungai itu Ia lihat Istana yang dibangun dari Mutiara dan Jamrud..di Surga tingkat ke-2, bertemu para penghuni surga+Idris.. di Tingkat ke-4, bertemu para penghuni surga+Harun..di Tingkat ke-6, Para penghuni surga+Ibrahim..di Tingkat ke-7, para penghuni surga+Musa
  • Bukhari 1.8.345, diriwayatkan Abu Dhar, Muhammad berkata, saat ia mencapai Langit pertama. Ia berjumpa Adam bersama jiwa-jiwa anak cucunya pada sisi kanan dan kiri Adam, dimana yang dikanannya merupakan penghuni Surga dan dikirinya adalah penghuni neraka..Di setia tingkat surga itu ia bertemu, Idris, Musa, Yesus dan Ibrahim..Ia diberikan perintah untuk membawa shalat sebanyak 50 x, kemudian di sarankan Musa untuk naik lagi dan menjadi 25x, ketemu musa, disuruh nawar lagi, balik lagi dan menjadi 12.5x, ketemu musa, disuruh nawar lagi dan terakhir menjadi 5x
  • Bukhari 4.54.429, diriwayatkan Malik Bin Sasaa, Muhammad berkata ia bertemu yesus dan Yahya di langit ke 2, dilangit ke 3 bertemu yusuf, di langit ke 4 bertemu Idris, dilangit ke-5 bertemu Harun, langit ke-6 bertemu Musa, ketika Ia mencapai langit ke 7, Ia bertemu Abraham disana dan melihat Bait-Al-Ma’mur (Rumah Allah) yang didalamnya 70.000 malaikat yang berbeda yang melakukan sholat setiap harinya. Ia lihat pula Sidrat-ul-Muntaha, Buah Nabk, daun seperti telinga gajah, dan EMPAT SUNGAI, dua di Surga [paradise]yang dua tidak terlihat, yang lain adalah: sungai Nil dan Euphrate [Abas Malik meriwayatkan…dan 4 Sungai mengalir, dua terlihat dan dua tidak..yang terlihat adalah Nil dan Euphrates (Bukhari 5.58.227); Abu Huraira meriwayatkan Nabi berkata: Saihan, Jaihan, Euphrates dan Nil adalah nama2 sungai di Firdaus (Muslim 40.6807)]
  • [Kembali kesebelumnya]


Kosmologi Islam: Bumi yang datar ada di atas Ikan Paus [Klik untuk MELIHAT atau MENYEMBUNYIKAN]

    Dahulu, para leluhur kita tidaklah mempunyai kesempatan untuk mengenal lebih dalam lagi mengenai ajaran ini, namun kita sekarang mempunyai kesempatan!. Mari kita kenali lebih dalam lagi ajaran yang menyatakan Bumi berada di atas Punggung Ikan Paus sebagaimana tersirat di Surah 68:1,

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
    ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

    nuun waalqalami wamaa yasthuruuna
    Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,

    Di bawah ini adalah kutipan 6 Tafsir yang sangat di hormati di aliran Sunni dan 1 Hadis yang sangat di hormati aliran Syi’ah untuk surat 68:1,

    AL-TABARI
    Seseorang mungkin berkata: Jika ini seperti yang engkau gambarkan, namakan, bahwa Alah menciptakan Bumi sebelum langit lantas apa arti pernyataan Ibn ‘Abbas yang disampaikan pada kamu semua oleh Wasil b. ‘Abd al-A‘la al-Asadi- Muhammad b. Fudayl- al-A‘mash- Abu Zabyan- Ibn ‘Abbas: “Yang paertama kali Allah ciptakan adalah pulpen.” Allah berkata padanya [pulpen]: “Tuliskan!”, kemudian pulpen bertanya: “Apa yang harus saya tulis, Allahku!” Allah menjawab: “Tuliskan apa yang telah di takdirkan!” Ia kemudian melanjutkan: dan pulpen itu melanjutkan [menulis] apapun yang telah digariskan hingga saat kiamat. Allah kemudian mengangkat uap air dan membagi terpisah para langit dari itu. Kemudian Allah menciptakan IKAN [nun] dan Bumi kemudian dijalarkan/dihamparkan di atas punggungnya [ikan]. Ikan itu menjadi tidak tenang/gelisah yang mengakibatkan bumi menjadi goncang. Yang kemudian dikokohkan dengan gunung-gunung yang menjulang tinggi.

    Aku diberitahu hal yang sama oleh Wasil – Waki’ – al-A‘mash – Abu Zabyan – Ibn ‘Abbas.

    Menurut Ibn al-Muthanna – Ibn Abi ‘Adi – Shu‘bah – Sulayman (al-A‘mash?) – Abu Zabyan – Ibn ‘Abbas: “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen.” Ia meneruskan [menulis] apapun yang akan terjadi. Allah kemudian mengangkat uap air, dan langit tercipta dari itu. Kemudian Ia menciptakan IKAN, dan bumi dijalarkan/dihamparkan di atas punggungnya [Ikan]. Ikan itu bergerak, yang mengakibatkan bumi jadi bergoncang. Kemudian dikokohkan dengan gunung-gunung yang menjulang tingi. Jadi, Ia katakan dan Ia sampaikan:”Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”

    Aku di beritahu hal yang sama oleh Tamim b. al-Muntasir – Ishaq (b. Yusuf) – Sharik (b. ‘Abdallah al-Nakha‘i) – al-A‘mash – Abu Zabyan atau Mujahid – Ibn ‘Abbas, dengan perbedaan, yang Ia katakan: “dan para langit membagi terpisah [sebagai ganti: diciptakan] dari itu”.

    Menurut Ibn Bashshar – Yahya – Sufyan – Sulayman (al-A‘mash?) – Abu Zabyan – Ibn ‘Abbas: “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen”. Allah berkata pada nya [pulpen]: Tuliskan!, kemudian pulpen bertanya: Apa yang harus saya tulis, Allahku! Allah menjawab: Tuliskan apa yang telah di takdirkan! Ia kemudian melanjutkan: dan pulpen itu melanjutkan [menulis] apapun yang telah digariskan hingga saat kiamat. Kemudian Allah menciptakan IKAN [nun]. Ia kemudian mengangkat uap air dan membagi terpisah para langit dari itu, dan Bumi kemudian di jalarkan/dihamparkan diatas punggungnya [ikan]. Ikan itu menjadi tidak tenang/gelisah yang mengakibatkan bumi menjadi goncang. Yang kemudian di dikokohkan dengan gunung-gunung yang menjulang tinggi.

    Menurut Ibn Humayd – Jarir (b. ‘Abd al-Hamid) – ‘Ata’ b. al-Sa’ib – Abu al-Duha Muslim b. Subayh – Ibn ‘Abbas: “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen”. Allah kemudian berkata padanya: “Tuliskan!”, dan ia tuliskan apapun yang akan terjadi hingga kiamat tiba. Kemudian Allah menciptakan IKAN. Kemudian ia tumpukan Bumi padanya.

    Ini dilaporkan sebagai hadis yang disampaikan oleh IBN ‘ABBAS dan yang lainnya dalam maksud mengkomentari dan menjelaskan dan tidak bertentangan dengan yang disampaikan kami darinya untuk masalah ini.

    Seharusnya seseorang bertanya: Apa komentar dari yang Ia sampaikan dan orang2 dengar dari apa yg disampaikan pada kami darinya? Ia seharusnya merujuk seperti yang diceritakan kepada ku oleh Musa b. Harun al-Hamdani – ‘Abdallah b. Mas‘ud dan beberapa sahabat NABI (yang berkomentar): “Ia adalah Yang tunggal yang menciptakan semua bagimu yang ada di muka bumi. Kemudian ia tarik/rentangkan para langit dan dijadikan tujuh langit” Arsy Allah ada di Air. Tidak diciptakan apapun kecuali yang ia ciptakan sebelum Air. Ketika Ia ingin mencipta. Ia ambil uap dari Air. Uap itu terangkat ke atas, air berkumpul di atasnya. Ia kemudian menamakan itu “Langit”. Kemudian ia keringkan air, dan membuatnya menjadi 1 bumi. Ia kemudian memisahkannya dan menjadikannya menjadi 7 Bumi pada Minggu dan Senin. Ia ciptakan bumi di atas Ikan [Hut], Itu adalah Ikan (nun) yang disebutkan di Qur’an: “Ikan. Demi Qalam.” Ikan ada di air. Air ada di atas bebatuan [kecil]. Batuan ada di punggung Malaikat. Malaikat ada di atas Bebatuan [Besar]. Bebatuan besar -Satunya disebutkan di Luqman – ada di angin, tidak dilangit atau di bumi. Ikan bergerak dan menjadi gelisah. Sebagai hasilnya, Bumi menjadi berguncang [gempa]. Kemudian ia kokohkan, pasakan gunung2 di atasnya, dan manjadi stabil. Ini dinyatakan pada kalimat Allah Dan telah Kami jadikan di bumi ini “gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama kalian” [The History of Al-Tabari: General Introduction and From the Creation to the Flood, translated by Franz Rosenthal [State University of New York Press (SUNY), Albany, 1989], Volume 1, pp. 218-220]

    Menurut Muhammad b. Sahl b. ‘Askar-Isma’il b. ‘Abd al-Karim-Wahb, menyebutkan beberapa dari keagungannya (yang digambarkan sebagai berikut): para langit dan Bumi dan Lautan ada didalam Tubuh [Haykal], dan Haykal itu ada di dalam ganjal. Kaki Allah ada di atas ganjal. Ia bawa ganjal itu. Itu kemudian menjadi seperti Sendal pada kakinya. Ketika Wahb di tanya: Apa Haykal itu? Ia menjawab: Sesuatu yang ada di ujung2 dilangit yang mengelilingi bumi dan lautan-lautan seperti tali temali yang digunakan untuk mengencangkan tenda/kemah. Dan ketika Wahb di tanya bagaimana bumi-bumi [disusun], Ia menjawab: Adalah tujuh langit yang Rata/datar dan pulau-pulau. Setiap dua bumi, terdapat lautan. Semua di kelilingi Lautan, dan Haykal ada dibalik lautan [Ibid., pp. 207-208]
    —-

    Tafsir Ibnu Kathir
    وقيل : المراد بقوله : ( ن ) حوت عظيم على تيار الماء العظيم المحيط ، وهو حامل للأرضين السبع ، كما قال الإمام أبو جعفر بن جرير

    terjemahannya kurang lebih:
    Dikatakan bahwa “Nun” merujuk pada IKAN PAUS BESAR yang ada di Air di Lautan yang sangat luas dan di atas punggungnya ia membawa tujuh bumi, sebagaimana di sebutkan oleh Imam Abu Jafar Ibn Jarir:

    حدثنا ابن بشار ، حدثنا يحيى ، حدثنا سفيان – هو الثوري – حدثنا سليمان – هو الأعمش – عن أبي ظبيان ، عن ابن عباس قال : أول ما خلق الله القلم قال : اكتب . قال : وما أكتب ؟ قال : اكتب القدر . فجرى بما يكون من ذلك اليوم إلى يوم قيام الساعة . ثم خلق ” النون ” ورفع بخار الماء ، ففتقت منه السماء ، وبسطت الأرض على ظهر النون ، فاضطرب النون فمادت الأرض ، فأثبتت بالجبال ، فإنها لتفخر على الأرض .

    terjemahannya kurang lebih:
    Ibn Bashar – Yahya – Sufyan Al-Thuri – Sulayman Al-Amash – Abu Thubian – Ibn Abbas yang berkenaan, “Pertama kali yang Allah ciptakan adalah pulpen dan Ia katakan untuk ‘menulis’. Pulpen itu bertanya, “Apa yang mesti saya tulis?” Allah berkata, “Tuliskan takdir [semuanya]” Jadi, pulpen menulis semua yang ada di saat itu hingga hari kiamat. Kemudian Allah menciptakan “nun” dan Ia buat uap terangkat yang mana para langit diciptakan dan bumi diletakan DATAR pada punggung nun. Kemudian Nun menjadi gelisah dan [sebagai hasilnya] numi mulai goyang/goncang, namun (Allah) mengencangkan (bumi) dengan gunung-gunung agar bumi tidak bergerak..

    ثم قال ابن جرير : حدثنا ابن حميد ، حدثنا جرير ، عن عطاء ، عن أبي الضحى ، عن ابن عباس قال : إن أول شيء خلق ربي عز وجل القلم ، ثم قال له : اكتب . فكتب ما هو كائن إلى أن تقوم الساعة . ثم خلق ” النون ” فوق الماء ، ثم كبس الأرض عليه .

    terjemahannya kurang lebih:
    Diriwayatkan oleh Ibn Jarir – Ibn Hamid – Ata’a – Abu Al-Dahee – Ibn Abbas: “Yang pertama kali Allah ciptakan, adalah pulpen dan Ia katakan padanya, “Tuliskan”. Kemudian pulpen menuliskan semua yang akan terjadi hingga hari kiamat. Kemudian Allah menciptakan Nun (IKAN PAUS) di atas air dan Ia tekan/tindih bumi pada punggungnya (paus).

    وقد روى الطبراني ذلك مرفوعا فقال : حدثنا أبو حبيب زيد بن المهتدي المروذي ، حدثنا سعيد بن يعقوب الطالقاني ، حدثنا مؤمل بن إسماعيل ، حدثنا حماد بن زيد ، عن عطاء بن السائب ، عن أبي الضحى مسلم بن صبيح ، عن ابن عباس قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : ” إن أول ما خلق الله القلم والحوت ، قال للقلم : اكتب ، قال : ما أكتب ؟ قال : كل شيء كائن إلى يوم القيامة ” . ثم قرأ : ( ن والقلم وما يسطرون ) فالنون : الحوت .

    terjemahannya kurang lebih:
    Al Tabarani meriwayatkan hadis yang diriwayatkan dari Abu Habib Zaid Al-Mahdi Al Marouzi – Sa’id Ibn Yaqub Al-Talqani – Mu’amal Ibn Ismail – Hamad Ibn Zaid – Ata’a Ibn Al Sa’ib – Abu Al Dahee Muslim Ibn Subaih – Ibn Abbas yang menyatakan bahwa Nabi SAW berkata, “Yang pertama Allah ciptakan adalah pulpen dan Ikan paus dan Ia katakan pada pulpen “tulis”. Kemudian pulpen bertanya, “apa yang mesti saya tulis” Allah membalas, “semua yang akan terjadi hingga hari kiamat” (Kemudia Ia katakan “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”) Jadi, ada dua: Ikan paus dan pulpen

    وقال ابن أبي نجيح : إن إبراهيم بن أبي بكر أخبره عن مجاهد قال : كان يقال : النون : الحوت العظيم الذي تحت الأرض السابعة .

    Terjemahannya kurang lebih:
    Ibn Abu Nujaih: Ibrahim Ibn Abu Bakar berkata Mujahid berkata: “Di katakan bahwa Nun adalah Ikan Paus yang Besar yang ada dibawah tujuh bumi”

    وذكر البغوي وجماعة من المفسرين : إن على ظهر هذا الحوت صخرة سمكها كغلظ السماوات والأرض ، وعلى ظهرها ثور له أرب عون ألف قرن ، وعلى متنه الأرضون السبع وما فيهن وما بينهن فالله أعلم .

    Terjemahannya kurang lebih:
    Al-Baghawy dan sekelompok komentator: di punggung ikan paus ini ada bebatuan yang besar yang memilliki ketebalan lebih besar dari lebarnya para langit dan bumi dan diatas bebatuan ini ada Banteng yang mempunyai 40.000 tanduk. Pada tubuh banteng ini diletakan tujuh bumi dan segala isinya, dan allah maha mengetahui [Source atau di sini atau di sini, Kutipan Ibn Kathir di atas tidak dalam translasi Inggris [hanya Arab] dan translasinya berasal dari sini)
    —-

    AL-QURTUBI
    وروى الوليد بن مسلم قال : حدثنا مالك بن أنس عن سمي مولى أبي بكر عن أبي صالح السمان عن أبي هريرة قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ( أول ما خلق الله القلم ثم خلق النون وهي الدواة وذلك قول تعالى : ” ن والقلم ” ثم قال له اكتب قال : وما أكتب قال : ما كان وما هو كائن إلى يوم القيامة من عمل أو أجل أو رزق أو أثر فجرى القلم بما هو كائن إلى يوم القيامة – قال – ثم ختم فم القلم فلم ينطق ولا ينطق إلى يوم القيامة . ثم خلق العقل فقال الجبار ما خلقت خلقا أعجب إلي منك وعزتي وجلالي لأكملنك فيمن أحببت ولأنقصنك فيمن أبغضت ) قال : ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( أكمل الناس عقلا أطوعهم لله وأعملهم بطاعته ) .

    Terjemahannya kurang lebih:
    Al-Walid Ibn Muslim – Malik Ibn Ans – Sumay anak dari Abu Bakir – Abu Salih Al-Samaan – Abu Hurayrah – NABI mengatakan, “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen, kemudian Ia ciptakan ‘Nun’ yang merupakan sebuah bak tinta. Ini adalah apa yang Allah sampaikan (di surat 68:1) ‘Nun dan pulpen.’ Dan Ia katakan padanya, “tuliskan”.

    [Jadi pulpen tuliskan semua yang akan terjadi hingga hari kiamat. Kemudian alah ciptakan Nun (Ikan Paus) diatas air dan Ia tekan/tindih bumi pada punggungnya [paus]. Alah kemudian berkata pada pulpen “tulis”. Pulpen bertanya “Apa yang saya mesti tulis” Allah.. (note: Kalimat-kalimat yang ada di dalam tanda kurung ini hanya ada di situs ini dan tidak ada dalam situs berbahasa arab, namun jika kita perhatikan kalimat, “..ثم قال له اكتب قال: وما أكتب قال: ما كان..” maka terdapat indikasi jelas bahwa kalimat tersebut telah terpotong/tidak lengkap/SENGAJA dipotong)]

    menjawab, “Tuliskan apa yang telah dan akan terjadi hingga hari kiamat, apakah perbuatan, pahala, konsekuensi dan hukuman hingga hari kiamat”. Kemudian pulpen menuliskan yang akan terjadi hingga hari kiamat. Kemudian Allah menciptakan pikiran…”

    وعن مجاهد قال : ” ن ” الحوت الذي تحت الأرض السابعة .

    Terjemahannya kurang lebih:
    Mujahid menyatakan bahwa ‘Nun’ adalah Ikan Paus yang ada di bawah tujuh bumi. [..]

    وكذا قال مقاتل ومرة الهمداني وعطاء الخراساني والسدي والكلبي : إن النون هو الحوت الذي عليه الأرضون

    Terjemahannya kurang lebih:
    Seperti juga, yang diriwayatkan oleh Mukatil – Murrah Al-Hamdani – Ata’ Al-Kharasani – Al Suddi – Al-Kalbi yang mengatakan, “Nun adalah Ikan paus yang di atasnya para bumi di letakan”

    وَرَوَى أَبُو ظَبْيَان عَنْ اِبْن عَبَّاس قَالَ : أَوَّل مَا خَلَقَ اللَّه الْقَلَم فَجَرَى بِمَا هُوَ كَائِن , ثُمَّ رَفَعَ بُخَار الْمَاء فَخَلَقَ مِنْهُ السَّمَاء , ثُمَّ خَلَقَ النُّون فَبَسَطَ الْأَرْض عَلَى ظَهْره , فَمَادَتْ الْأَرْض فَأُثْبِتَتْ بِالْجِبَالِ , وَإِنَّ الْجِبَال لَتَفْخَر عَلَى الْأَرْض .

    Terjemahannya kurang lebih:
    Di riwayatkan oleh Abu Thabyan, diriwayatkan oleh Ibn Abbas yang berkata, “yang pertama kali Allah ciptakan adalah pulpen yang menulis semua yang akan terjadi. Kemudian uap air mulai terangkat, Berasal dari situ langit tercipta. kemudian (Allah) menciptakan Nun (paus) dan menggepengkan Bumi pada punggungnya. Ketika bumi mulai bergoyang, Ia kemudian diperkuat dengan gunung-gunung, yang ada dipermukaan” Kemudian Ibn Abbas membacakan ayat (68:1) ‘Nun dan Pulpen’

    [Bahasa arab sisanya tidak saya tuliskan dan langsung saya tuliskan terjemahannya]

    Al kalbi dan Mukatil menyatakan bahwa nama (ikan Paus) adalah ‘Al-Bahmout.’ Al-Rajis berkata, “Mengapa aku melihatmu semua terdiam dan Allah menciptakan Al-Bahmout?”

    Abu Yakthan dan Al-Waqidi menyatakan bahwa nama (ikan paus) adalah ‘Leotha’; Dimana Kab menyatakan bahwa namanya adalah ‘Lo-tho-tha’ atau ‘Bil-Ha-motha.’ Kab berkata, “Setan bergerak ke atas Ikan paus, dimana tujuh bumi diletakan dan membisikan pada hatinya, “Kamu sadari apa yang ada di punggungmu, Oh Lo-tho-tha dari binatang dan tetumbuhan dan manusia dan lainnya? Jika engkau merasa terganggu dengan mereka, Engkau dapat melemparkan mereka semua dari punggungmu” Jadi Lo-tho-tha berniat untuk melakukan apa yang disarankan (oleh setan) namun Alah mengirimkan reptil pada Ikan paus yang merangkak melalui lubang tiupnya hingga mencapai otaknya. Ikan paus kemudian menangis pada Allah dan Ia memberikan ijin pada reptil untuk keluar (dari ikan paus).” Kab melanjutkan dan berkatam “Demi Allah, Ikan paus menatap pada reptil dan reptil menatap pada ikan paus dan jika ikan paus berniat melakukan (apa yang disarankan setan) reptil akan balik ke tempat sebelumnya” [Source atau di sini, Kutipan Qurtubi di atas tidak dalam translasi Inggris [hanya Arab] dan translasinya berasal dari sini]
    —-

    TAFSIR IBN ABBAS
    Dan dari riwayatnya yang berasal dari Ibn ‘Abbas yang ia katakan berkenaan dengan intepretasi apa yang allah katakan (Nun): ‘(Nun) Ia katakan: Allah bersumpah demi Nun, yang adalah Ikan paus yang membawa Bumi di punggungnya ketika di air, dan di bawah itu adalah banteng, dibawah banteng adalah bebatuan dan dibahwa bebatuan…Nama Ikan Paus itu adalah Liwash, dan dikatakan bahwa namanya adalah Lutiaya’; nama dari banteng itu adalah Bahamut, dan beberapa mengatakan namanya adalah Talhut atau Liyona. Ikan paus itu ada di laut yang dinamakan ‘Adwad, dan itu bagaikan banteng kecil di lautan yang sangat luas. Lautan itu ada di Bebatuan cekung dengan 4,000 celah, dan dari tiap celah itu air keluar ke bumi.

    Dikatakan juga bahwa Nun adalah satu dari nama-nama Allah; yaitu kepanjangan dari huruf Nun pada nama Allah al-Rahman (Pemurah); dan juga dikatakan bahwa Nun adalah bak tinta. (demi pulpen) Allah bersumpah demi pulpen. Pulpen dibuat dari Cahaya dan tingginya setara jarak Langit dan bumi.

    Adalah dengan pulpen ini perangkat Ingatan, misal. Catatan yang dijaga, dituliskan. Juga dikatakan bahwa pulpen adalah satu dari para malaikat yang mana Allah bersumpah, (dan yang mana mereka tuliskan dan Allah juga bersumpah dengan apa yang para malaikat itu tuliskan pada kegiatan-kegiatan turunan Adam, [Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs]

    Note:
    Al-Bahmout atau Bahamut juga ada di mitologi Arab, yaitu kisah 1001 malam pada hari ke-496. Bahamut dinyatakan sebagai Ikan besar. Bahamut tidak sama dengan Behemoth [Setan/monster dalam legenda Yahudi].
    —-

    Tafsir al-Tustari
    Ibn ‘Abbas’ berkata pada laporan lain, ‘Nun adalah Ikan yang di atasnya seluruh bumi(arḍūn) berada,..'[Source]
    —-

    Tafsir al-baghawi
    اختلفوا فيه فقال ابن عباس : هو الحوت الذي على ظهره الأرض . وهو قول مجاهد ومقاتل والسدي والكلبي

    [..] ibn abbas katakan: Ikan paus ini membawa bumi pada punggungnya dan ini juga merupakan pandangan dari Mujahid, Muqatil, saddi dan kalbi [..] tujuh langit dan tujuh bumi di atas Banteng [..] [Sumber]
    —-

    Dari Hadis Sahih Bukhari dan Muslim
    Dalam kumpulan hadis sahih Bukhari dan Muslim tidak dijelaskan riwayat Bumi ada di atas punggung ikan paus [Ikan besar], namun demikian terdapat riwayat menarik seperti dibawah ini:

    Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – Khalid – Sa’id bin Abu Hilal – Zaid bin Aslam – ‘Atho’ bin yasar – Abu Sa’id Al Khudri – Rasulullah SAW:

    Riwayat ‘Abdul Malik bin Syu’aib bin Al Laits – bapakku – kakekku – Khalid bin Yazid – Sa’id bin Abu Hilal – Zaid bin Aslam – ‘Atha bin Yasar – Abu Sa’id Al Khudri – Rasulullah SAW:

    “Pada hari kiamat bumi bagaikan sekeping roti, Allah Al Jabbar memutar-mutarnya dengan tangan-Nya sebagaimana salah seorang diantara kalian bisa memutar-mutar rotinya dalam perjalanan sebagai kabar gembira penghuni surga.”

    “Pada hari kiamat bumi akan seperti satu potong roti yang akan diratakan oleh Allah dengan tanganNya hingga menjadi seimbang. Sebagaimana roti yang diratakan oleh salah seorang dari kalian diperjalanannya sebagai hidangan bagi penghuni surga.

    Selanjutnya ada seorang yahudi dan berujar;’ Kiranya Allah Arrahman memberkatimu wahai Abul Qasim, maukah kuberitahu kabar gembira penghuni surga dihari kiamat nanti?

    Kemudian seorang lelaki yahudi datang berkata pada beliau; “semoga Allah memberkahimu wahai Abu Qasim, maukah kuberitahu tentang hidangan penghuni surga pada hari kiamat?

    “baik” Jawab Nabi.

    Beliau menjawab: ‘Ya’

    Lanjut si yahudi; ‘Bumi ketika itu bagaikan sekeping roti’ sebagaimana disabdakan Nabi SAW.

    Ia berkata: bumi akan menjadi satu potong roti -sebagaimana sabda Rasulullah SAW tadi.-

    Lantas Nabi SAW memandang kami dan tertawa hingga terlihat gigi serinya.

    Ia berkata: “Maukah kamu
    kuberitahu lauk penghuni surga?

    maka Rasulullah SAW melihat kepada kami dan tertawa hingga terlihat gigi serinya.

    Ia berkata “Maukah kuberitahukan kepadamu tentang lauk pauk mereka.”
    Beliau menjawab: ‘Ya’

    Lanjutnya: “lauk mereka adalah sapi dan ikan paus.”

    Ia berkata: “lauknya adalah balaam dan nun.”

    Mereka bertanya; ‘Apa keistimewaan daging ini?’

    Para sahabat bertanya; apakah itu?

    Nabi menjawab: “sobekan hati [caudate lobe] ikan paus dan sapi itu, bisa disantap untuk 70.000 orang

    [Bukhari no.6039/8.76.527, arab]

    Nabi SAW menjawab: seekor sapi, sedangkan nun adalah daging yang paling baik dari hatinya [caudate lobe] akan dimakan 70.000 orang yang masuk suga tanpa hisab.

    [Muslim no.5000/39.6710, Untuk arab: di sini atau lebih baik di sini karena terdapat penjelasan: “أَمَّا ( النُّون ) فَهُوَ الْحُوت بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاء”, artinya “Nun adalah Ikan paus menurut konsensus para ulama”]

    note:
    “والحوت” di translate ke inggris “and whale”; ke Melayu “ikan paus”; ke spanyol “Y la ballena = dan ikan paus”; ke itali “E la balena= dan ikan paus”; Turki “Ve Balina = dan ikan paus”; ke belanda “walvis= ikan paus”; ke Jerman “und der wal = dan ikan paus”, ke perancis “balein = ikan paus”; Ke rusia “И китов= dan Paus”; ke swahili “Na whale =dan paus”; ke Jepang “とクジラ= ikan paus”, ke korea “그리고 고래 = dan ikan paus”; Hindi “और व्हेल = dan ikan paus”; Mandarin “與鯨魚= dan ikan paus”..dll

    Jika, Bumi adalah Roti maka sebesar apalagi ukuran ikan dan lembu yg bagian berlebih dari hatinya saja dapat mencukupi kebutuhan 70.000 orang sebagai lauk pauk makan roti?

    Walaupun Bukhari dan Muslim tidak menjelaskan detail darimana “ox” dan “fish” itu berasal, namun dapat kita ketahui ukuranya ngga tanggung-tanggung besarnya, bukan?!
    —-

    Dari Aliran Syi’ah
    Ulama Syi’ah Kulayni di “Kafi”nya 8/89 meriwayatkan:

    55 – محمد عن أحمد عن ابن محبوب عن جميل بن صالح عن أبان بن تغلب عن أبي عبد الله (ع) قال: سألته عن الأرض على أي شيء هي؟ قال: هي على حوت قلت: فالحوت على أي شيء هو؟ قال: على الماء قلت: فالماء على أي شيء هو؟ قال: على صخرة قلت: فعلى أي شيء الصخرة؟ قال: على قرن ثور أملس قلت: فعلى أي شيء الثور؟ قال: على الثرى قلت: فعلى أي شيء الثرى؟ فقال: هيهات عند ذلك ضل علم العلما

    Muhammad menyampaikan dari Ahmad – ibn Mahbub – Jamil ibn Salih – Aban ibn Taghlib – Abu ‘Abd Allah, yang berkata, Aku tanya dia mengenai bumi: Ia terletak di atas apa? Ia menjawab: Itu berada di atas seekor Ikan Paus. Aku bertanya: Ikan paus itu di atas apa? Ia menjawab: di atas air. Aku bertanya: Air di atas apa? Ia menjawab: di atas bebatuan. Aku bertanya. bebatuan di atas apa? ia menjawab: Di atas banteng dengan tanduk yang halus. Aku bertanya: Banteng itu diatas apa? Ia menjawab: Di atas tanah. Aku bertanya: Tanah di atas apa? Ia menjawab: Mana tahu? Ini adalah batasan pengetahuan dari yang diketahui manusia.

    Syi’ah lainnya sheikh Al-Majlese dalam “Miratul uqul”menyatakan ini SAHIH.

    (الحديث الخامس و الخمسون) [حديث الحوت على أي شي‏ء هو]
    (2): صحيح.
    —-

    Kisah Para Nabi [Tales of the Prophet]
    4. Penciptaan Bumi, Gunung-Gunung dan Laut-laut [The creation of the Earth, the mountains and the seas]

    Kaab al-Ahbar berkata: Ketika Allah berkehendak untuk menciptakan Tanah yang kering, Ia perintahkan angin untuk mengocok ke atas air. ketika menjadi turbulen dan berbusa, gelombang bertambah besar dan beruap. Kemudian Allah merintahkan busa itu memampat, dan menjadi kering. Dalam hari-hari Ia ciptakan langit yang kering di atas permukaan air adalah seperti yang Ia katakan:”Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua hari?” (AQ Fushshilat 41:9).

    Kemudian Ia perintahkan gelombang-gelombang ini menjadi diam, dan mereka membentuk gunung-gunung, yang kemudian Ia gunakan sebagai pasak untuk menahan bumi, seperti yang Ia katakan: “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka” (AQ Al Anbiyaa’ 21:31). Jika tidak karena gunung-gunung, Bumi tidak akan cukup stabil bagi para penghuninya. Pembuluh dari gunung-gunung ini berhubungan dengan pembuluh dari Gunung Qaf, yang berjajar mengellilngi Bumi.

    Kemudian Allah menciptakan tujuh lautan.
    Yang pertama dinamakan Baytush dan mengelillingi bumi di belakang gunung Qaf, kemudian dibelakangnya berturut-turut bernama Asamm, Qaynas, Sakin, Mughallib, Muannis, dan yang terakhir Baki. Ini adalah tujuh lautan, dan tiap dari mereka mengelilingi lautan yang sebelumnya. Di dalamnya terdapat mahluk-mahluk yang hanya Allah yang tahu jumlahnya. Allah menciptakan makanan bagi para mahluk-mahluk ini dalam hari yang ke-4, seperti yang Ia katakan: “dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. Bagi orang-orang yang bertanya. (AQ Fushshilat 41:10).

    Terdapat tujuh Bumi.
    Yang pertama dinamakan Ramaka, yang kedua dinamakan Khalada,..Arqa, Haraba, Maltham, Sijjin dan Ajiba. Dan bumi bergoyang-goyang dengan penghuni di dalamnya seperti sebuah kapal, jadi Allah mengirimkan se sosok Malaikat yang luar biasa besar dan kuat dan diperintahkan memanggul bumi di bahunya. Satu sisi tangannya di timur dan yang lain di barat memegang Bumi dari ujung ke ujung. Namun, tidak ada pijakan kaki baginya, jadi Allah ciptakan bebatuan persegi dari jamrut yang memiliki 7.000 lubang. Di setiap lubangnya sebuah laut, gambaran ini hanya di ketahui oleh Allah semata. dan Ia perintahkan Bebatuan itu untuk berdiam di bawah kaki malaikat.

    Akan tetapi, bebatuan itu tidak ada yang menyangga, jadi Allah ciptakan banteng besar dengan 40.000 kepala, mata, telinga, cuping hidung, mulut, lidah dan kaki dan diperintahkan memanggul bebatuan di punggungnya dan juga di tanduknya. Nama dari Banteng itu adalah al-Rayyan. Karena Banteng itu ngga punya tempat buat pijakan kakinya, Allah menciptakan Ikan sangat besar..Ikan ini bernama Behemoth.. [Tales of the Prophets (Qisas Al-Anbiya) (Great Books of the Islamic World), Muhammad Ibn Abd Allah Kisai (Author), Wheeler M. Thackston (Author), Al-Kisai (Author, Abad ke 6/13 Masehi) hal 8-10 dan hal 337-338 [Notes to The Text])

    Catatan:
    Bantahan mengenai kosmologi bumi dan Langit di atas punggung ikan paus, Anda akan temukan beberapa, di antaranya dikatakan bahwa ini berasal dari Israiliyat, misal Abu as-Shaykh al-‘Asfahani, al-‘Athamah 4/1400], mengatakan, “Tidak disebutkan di kitab ataupun sunnah otentik tentang paus yang membawa bumi, dan semua yang disebutkan tentang ini adalah berdasarkan riwayat Bani Israail”

    Tuduhan Israiliyat sangatlah absurd:

    1. Kitab-kitab kalangan Ahlul kitab (yahudi/Nasrani) walaupun sama-sama menyatakan bumi itu datar, langit berbentuk kubah dan matahari berjalan mengelilingi bumi serta menyatakan adanya kisah Yunus di telan ikan besar [Dhū al Nūn (Orang dengan Ikan besar)], namun kitab-kitab suci Yahudi dan kristen JUSTRU TIDAK memiliki pandangan bahwa bumi berada di atas ikan besar!
    2. Sekurangnya dari 6 kitab tafsir sunni yang dengan reputasi sangat baik dan juga sekurangnya 1 hadis yang sangat dihormati di aliran Syi’ah, kita ketahui bahwa riwayat itu bersandar pada ucapan Muhammad kepada Abu huraira [Qurtubi]; kepada Wahb; kepada Ibn Abbas hingga sampai ke Al Tabari [Ibn Kathir]; Kepada Ibn Abbas [Al tabarani]; Dari Ibn Abbas [dan beberapa sahabat nabi] hingga sampai ke Ibn Jarir [Al Tabari, Tusturi, Qurtubi]; dari Abu ‘Abd Allah [Kafi]
    3. Ibn kathir juga memuat bahwa pengetahuan Ibn Abbas mengenai Quran dan tafir sangat di hormati bahkan juga oleh Ibn’ Umar
    4. Nūn [ن], dalam penulisan Arab, berarti Ikan besar/Ikan paus. Ibn kathir di surat Al-Anbiya 21:87-88, dalam kisah YUNUS: “Here Nūn refers to the fish;”.

    Kemudian ada yang berupaya mengatakan hadis2 yang tercantum adalah dipalsukan ato juga dhaif (lemah) salah satunya dari Albani [lahir (1914 M) – wafat (1999 M), Silsalat al-‘Ahaadeeth adh-Dha’eefah wal-Mawdhuu’ah, #294], padahal

      Albani sendiri mengakui bahwa sebenarnya ia tidak hafal sepuluh hadits dengan sanad muttashil (bersambung) sampai ke Rasulullah, meskipun begitu dia berani mentashih dan mentadh’iftan hadits sesuai dengan kesimpulannya sendiri dan bertentangan dengan kaidah para ulama hadits yang menegaskan bahwa sesungguhnya mentashih dan mentadh’ifkan hadits adalah tugas para hafidz (ulama ahli hadits yg menghapal sekurang-kurangnya seratus ribu hadits). [lihat: ini dan ini]

      Albani sendiri gampang menjatuhkan vonis hadis dhaif dan mereka yang bertentangan dengan dirinya dikatakan ahli Bid’ah

    Kemudian,
    Mullah `Ali al-Qaari RaHimahullah, dalam Mirqaat:

    ‘Jadi Aku datang untuk tahu’ Itu dalam artian berkat-berkat yang terlimpahkan padaku, semua yang ada di langit (jamak) dan di bumi yaitu sebagai semua yang Allah sampaikan pada kalangan malaikat dan pepohonan dan banyak lainnya. Yang menunjukan keluasan dari pengetahuannya (Rasulullah SAW) yang Allah` Azza Wa Jall beritahukannya. Ibn Hajjar berkata bahwa pengetahuan dari seluruh semesta dan semua yang ada di langit (jamak) dan dibaliknya sebagai bukti dari peristiwa Mi`raj dan bumi, yaitu seluruh tujuh bumi dan yang ada dibawahnya apakah itu seekor sapi atau seekor ikan di atasnya.

    [Fa`Alimtu Ayyi Bisababi WuSuuli dhaalikal FayDi Maa Fis Samaawaati Wal ArDi Ya`ani Maa A`alamahullahu Ta`aalaa Mimma Feehaa Minal Malaayikati Wal Ashjaari Wa Ghayrihimaa `Ibaaratun `An Sa`ati `Ilmihilladhee FataHallahu bihi `Alayhi Wa Qaalabnu Hajar Ayyi Jameeyal Kaayinaatillatee fis Samaawaati Bal Maa Fawqahaa Kamaa Yustafaadu Min QiSSatil Mi`yraaji Wal ArDu Hiya Bi Ma`anaa al-Jinsi Ayyi Wa Jamee`ya Maa Fee ArDeenas Sab`yi Bal wa Maa TaHtahaa Kamaa Afaadahuu Ikhbaaruhuu `Alayhis Salaamu Minath Thawri wal Huutil ladhee `Alayhaa] – [sumber]

    Sebagai pelengkap, perhatikan gambar Bumi [berbentuk FLAT DISK], di panggul banteng dan dibawahnya adalah Ikan:

    Ajaib al-Makhluqat (The wonders of creation), by the Persian author Zakariya Qazwini (d. 1283 or 1284).

    [..]Sebuah kopian risalah dari turki kisaran tahun 1553, polesan peta, menunjuk arah selatan, dengan malaikat memegang mangkok berisi ikan yang diatasnya sapi sedang memanggul globe [..]

    Risalah kegeograpian dan kumpulan legenda menakjubkan sangat populer di pertengahan dan awal masyarakat islam modern. Peta yang ditunjukan di sini adalah menakjubkan padanya terdapat beberapa mahluk yang menyokong bumi di cakrawala. Yang digunakan adalah proyeksi islam tradisional tentang bumi dalam bentuk piringan datar yang dikelilingi laut-laut terpisah terkurung sekeliling pegunungan Qaf..

    Karena kosmologi bumi di atas Ikan paus ini tercantum di kitab-kitab tafsir utama Sunni dan hadis utama Syi’ah, maka klaim bahwa ini Israiliyat adalah mengada-ada.

    Mari saya uraikan cara lain:

    Quran juga menyampaikan bahwa bahwa Malaikat-malaikat menghadap Allah [AQ 70:4]. Lokasi tempat menghadap tampaknya tidak berjauhan dengan area ufuk [AQ 53:7, 81.23] antah berantah

    Mengapa?

      Maka apakah hendak membantahnya/meragukannya (afatumārūnahu) tentang (ʿalā) apa (mā) yang dilihatnya (yarā)? Dan sesungguhnya (walaqad) Ia telah melihatnya (raāhu) waktu turun (nazlatan) lainnya (ukh’rā), dekat (ʿinda) Sidratil Muntaha, Di dekat itu (ʿindahā) taman/surga (jannatu) tempat tinggal (al-mawā).. [AQ 53.12-15]

    Kejadian ini adalah di peristiwa isra’ mira’j, yaitu sebelum tawar menawar shalat dengan Allah, ketika itu Muhammad bersama jibril dan Muhammad diperlihatkan Sidratul muntahal.

      Ufuq (bil/bi + ufuq = di kaki langit/horizon. Bentuk jamak: aafaaq (AQ 41.53) = seluruh penjuru. Jika mengadah ke atas, kita melihat langit (sama) bukan ufuk. Matahari terbit/tenggelam di ufuk timur/barat. Jadi kata ini menunjukan kaki langit). Di setelah kata “ufuq” terdapat kata (al-a’laa, “الْأَعْلَى”, “sangat tinggi, mulia, unggul”) dan juga kata (almubiini, “الْمُبِينِ”, “sangat terang, nyata”). Ini menunjukan sifat dan bukan Lokasi. Ufuk adalah tempat jibril dilihat Muhammad (AQ 53.7, 81.23). Di tempat itulah sidratil muntahal dan di dekatnya ada jannah (surga, taman) (AQ 53.14-17) dan ada sungai-sungai.

      Isi dan keadaan Jannah/Surga di quran, diantaranya terdapat tanah [adam diciptakan dari tanah], pohon, ada sungai-sungai, mata air ada istana, ada dipan, pintu, ada permadani, ada perhiasan emas mutiara, gelang [18:31, 22:23, 25:10, 38:51, 43:71] piring, gelas dari emas, pakaiannya dari sutera [35:33], 2 warna surga adalah hijau tua [55:64], ada bidadari-bidadari yang “siap bekerja” di atas permadani dan disebelahnya ada buah2an [55:54, 55:70], minumannya ada campuran jahenya [76:17]. Juga diinformasikan bahwa kekekalan surgawan/wati serta bidadarinya adalah TIDAK LANGGENG, yaitu selama LANGIT dan BUMI masih ADA [11:107-108].

      Sementara itu,
      lokasi sidratul Muntahal di sebutkan bervariasi, yaitu: di langit ke-6 (Muslim no.252) atau di langit ke-7 (Muslim no.234. Bukhari no.2698, 3598, 6963. Ahmad no.12047, 12212)

      Di bawah Sidratil Muntahal terdapat 4 sungai:

        Jibril berkata; “Ini adalah Sidratul Munahaa” Ternyata di dasarnya ada 4 sungai, 2 sungai tak terlihat dan 2 sungai terlihat..adapun 2 sungai tak terlihat adalah dua sungai yang berada di surga, sedangkan 2 sungai yang terlihat adalah NIL dan EUFRAT” [Bukhari no.3598, 2968, 5179]

      Sungai Nil dan Eufrat bukan cuma ada di Sidratul Muntahal namun juga ada:

      • Di langit ke-1 [Bukhari no.6963]
      • Di langit ke-2 [Bukhari 9.93.608]
      • Di langit ke-7 [Muslim 1.314; dan Bukhari no.4.54.429; 5.58.227]
      • Di langit, namun tidak disebutkan langit keberapa [Muslim 40.6807 dan Bukhari 7.69.514]

    Isi surga dan kondisi macam ini JELAS TIDAK DIMUNGKINKAN dalam kosmologi modern (bulatan bumi yang merupakan anggota tata surya, mengitari matahari. Tata surya ini merupakan himpunan bagian dari galaxy dan Galaxy merupakan bagian kecil dari semesta) NAMUN SANGAT DIMUNGKINKAN dalam kosmologi islami.

    Mengapa?

    Dalam kosmologi Islami, bumi adalah datar, atapnya berupa 7 langit bertumpuk satu diatas yang lain berbentuk kubah! Inilah mengapa langit, surga, bumi dan air dimungkinkan bertemu!

    1. Bahwa bumi ini berada di atas punggung: seekor ikan yang sangat besar dan seekor lembu/sapi. Kelak setelah kiamat: 70.000 surgawan (kelompok pertama) yang masuk surga tanpa dihisab (siksa neraka), akan dijamu Allah dengan lauk “lembu/sapi (balaam) dan hati ikan paus (nun)” [Bukhari no.6039/8.76.527 (arab). Atau di Muslim no.5000/39.6710 (arab: terdapat penjelasan: “أَمَّا ( النُّون ) فَهُوَ الْحُوت بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاء”, artinya “Nun adalah Ikan paus menurut konsensus para ulama”)]
    2. Singgasana Allah di atas air:
      “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, dan adalah singgasana-Nya di atas air[1] (“عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ”, arsyuhu ala al-mai)..” [AQ 11.7]. Allah bersemayam di atas arsy (istawaa ‘alaa al’arsyi) [AQ 7.54, AQ 57.4, AQ 32.4, AQ 25.59, AQ 20.4, AQ 10.3]. Yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya [AQ 40.7]. Hadis meriwayatkan arsy yang berada di atas air:

        Abdan – Abu Hamzah – Al A’masy – Jami’ bin Syidad – Shafwan bin Muhriz – ‘Imran bin Hushain:

        …Nabi menjawab: ‘Allah telah ada dan tidak ada sesuatu pun terjadi sebelum-Nya, arsy-Nya berada di atas air, kemudian Allah mencipta langit dan bumi dan Allah menetapkan segala sesuatu dalam alquran’. [Bukhari no. 6868, 2953. Ibn Majah no.178 (Riwayat Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Muhammad bin Ash Shabbah – Yazid bin Harun – Hammad bin Salamah – Ya’la bin ‘Atho` – Waki’ bin Hudus – pamannya Abu Razin ia berkata; Aku bertanya; “Wahai Rasulullah, di manakah Rabb kita sebelum menciptakan makhluk-Nya?” beliau menjawab: “Dia berada di ruang kosong, di bawah dan di atasnya tidak ada udara, dan di sana tidak ada makhluk. Setelah itu Ia menciptakan Arsy-Nya di atas air“). Tirmidhi no.3034 (“Wahai Rasulullah dimanakah Allah sebelum Dia menciptakan makhlukNya? beliau menjawab: “Dia berada di awan yang tinggi, di atas dan di bawahnya tidak ada udara dan Dia menciptakan ‘arsyNya di atas air.“). Ahmad no.15599, 15611]

      Perlu juga diketahui bahwa: Singgasana Iblis juga di atas air:

        Riwayat Abu Kuraib, Muhammad bin Al Ala` dan Ishaq bin Ibrahim, teks milik Abu Kuraib — Abu Mu’awiyah – Al A’masy – Abu Sufyan – Jabir – Rasulullah SAW:

        “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu mengirim bala tentaranya, (setan) yang kedudukannya paling rendah bagi Iblis adalah yang paling besar godaannya.” [Muslim no. 5032 dan Riwayat Abu Mu’awiyah – Al ‘A’masy – Abu Sufyan – Jabir – Rasulullah SAW: “Iblis meletakkan istananya di atas air kemudian mengutus pasukannya..” [Ahmad no. 13858, 11490, 14632]

      Tentang pengertian ‘arsy (عَرْش), ulama memberikan penjelasan yang berbeda-beda.

      • Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar menjelaskan bahwa ‘arsy (عَرْش) merupakan ”pusat pengendalian segala persoalan makhluk-Nya di alam semesta”. Penjelasan Rasyid Rida di antaranya berdasarkan AQ 10.3, “Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy (عَرْش = singgasana) untuk mengatur segala urusan”.

        Jalaluddin as-Suyuthi (pengarang tafsir Ad-Durr al-Mantsur fi Tafsir bi al-Ma’tsur) mengutip hadis dari Ibnu Abi Hatim – Wahhab ibnu Munabbih bahwa Allah SWT menciptakan `arsy dan kursi dari cahaya-Nya. `Arsy melekat di kursi. Para malaikat berada di tengah-tengah kursi tersebut. `Arsy dikelilingi oleh empat buah sungai dan Para malaikat berdiri di setiap sungai sambil bertasbih/memuliakan Allah.

      • Kursi [kur’siyyuhu (AQ 2.55)/kur’siyyihi (AQ 38.34)] TIDAK SAMA dengan arsy/. Arti kursi adalah BUKAN “pengetahuan allah”, BUKAN arsy, BUKAN “bukan kekuasaan dan kekuatan Allah” NAMUN “pijakan kedua kaki Allah”.

        Ibnu ‘Abbas berkata: “الكرسي موضع قدميه و العرش لا يقدر قدره” [“Al-Kursi adalah pijakan kedua kaki (Allah), dan ‘Arsy tidak ada yang tahu ukurannya kecuali Allah.”] (‘Abdullah Bin Ahmad, as-Sunnah no. 586, isnadnya hasan – Tahqiq Muhammad Sa’id Salim al-Qahthani. Al-Hakim (al-Mustadraknya 2/310: Hadis ini sahih menurut Bukhari dan Muslim walaupun mereka tidak meriwayatkannya. Disepakati adz-Dzahabi). Fathul Bari Ibn Hajjar (8/199 : Dari Ibnu ‘Abbas bahawa al-Kursi adalah pijakan kedua kaki (Allah) sanadnya sahih). Al-Albani, Mukhtasar al-‘Uluw lil ‘aliyyil Ghoffar, Adz-Dzahabi (1/75: Perkataan ibn Abbas Sahih mauquf). Hadis ibn Abbas juga termuat di Musnad Ahmad, lihat Ibn Kathir dan “ask the scholar“]

      Sementara itu,
      terdapat klaim bahwa Quran dan hadis menyatakan ‘Arsy Allah dan Allah ada di langit, misal:

      • Apakah kamu merasa aman (a-amintum) siapa (man) di (fii) langit (tunggal: Al-samāi) bahwa/yang (an) membenamkan (yakhsifa) dengan mu (bikumu) bumi (al-ardha) ketika (fa-idzaa) Ia (hiya, feminim tunggal) bergoncang (tamuuru)? atau (am) apakah kamu merasa aman siapa di langit yang mengirimkan (yursila) padamu (‘alaykum) badai batu (hasiban). Maka kelak kalian tahu (fasata’lamuuna) bagaimana (kayfa) peringatanku [nadziiri]? [AQ 67.16-17 -> Kalimat ini dapat juga mengindikasikan itu adalah malaikat yang di langit]
      • “Tidak tahukah kamu bagaimana Allah itu? Sungguh, Arsy-Nya ada di atas semua langit-Nya seperti ini -lalu isyarat tangannya beliau mengatakan, ‘Seperti Kubah, dan Arsy itu berteriak dan menyeru kepada Allah seperti tunggangan berteriak kepada pengendara karena berat-.” [Abu dawud no.4101, juga statement Ibnu Taimiyah: “Adapun Al Arsy maka dia berupa kubah sebagaimana diriwayatkan dalam As Sunan karya Abu Daud dari jalan periwayatan Jubair bin Muth’im, dia berkata: “Telah datang menemui Rasulullah SAW seorang A’rab dan berkata: “Wahai Rasulullah jiwa-jiwa telah susah dan keluarga telah kelaparan- dan beliau menyebut hadits- sampai Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah diatas ArsyNya dan ArsyNya diatas langit-langit dan bumi, seperti begini dan memberikan isyarat dengan jari-jemarinya seperti kubah” (Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah 1/252)]
      • Termasuk hadis yang merupakan pernyataan seorang budak wanita (di hadis lain, Ia menyatakan tidak dengan ucapan namun dengan isyarat tangan):

        Riwayat Yahya – Al Hajjaj Ash Shawwaf – Yahya bin Abu Katsir – Hilal bin Abu Maimunah – ‘Atha` bin Yasar – Mu’awiyah bin Al Hakam As Sulami:

        Wahai Rasulullah, terdapat seorang budak wanita yang telah aku pukul dengan keras. Kemudian Rasulullah SAW menganggap hal tersebut sesuatu yang besar terhadap diriku, lalu aku katakan; tidakkah saya memerdekakannya? Beliau berkata: “Bawa dia kepadaku!” Kemudian aku membawanya kepada beliau.

        Beliau bertanya: “Dimanakah Allah?” Budak wanita tersebut berkata; di langit. Beliau berkata: “Siapakah aku?” Budak tersebut berkata; engkau adalah Rasulullah.”Beliau berkata; bebaskan dia! Sesungguhnya ia adalah seorang wanita mukmin.” [Abu Dawud no.2856. Muslim no.836. Abu dawud no.2857 (Riwayat Ibrahim bin Ya’qub – Yazid bin Harun – Al Mas’udi – ‘Aun bin Abdullah – Abdullah bin ‘Utbah – Abu Hurairah bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dengan membawa seorang budak wanita hitam, kemudian ia berkata; wahai Rasulullah, sesungguhnya saya berkewajiban membebaskan budak mukmin. Kemudian beliau bersabda: “Di manakah Allah?” kemudian ia mengisyaratkan ke langit dengan jari-jarinya. Kemudian beliau berkata kepadanya: “Siapakah aku?” kemudian ia menunjuk kepada Nabi SAW dan ke langit yang maksudnya adalah engkau adalah Rasulullah. Maka beliau berkata: “Bebaskan dia, sesungguhnya ia adalah wanita mukminah.”)]

      Menyatakan bahwa Allah ada di langit TIDAKLAH TEPAT karena hadis juga telah menginformasikan bahkan malaikatpun duduk di atas kursi yang terbentang diantara langit dan bumi, misal:

        Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – ‘Uqail – Ibnu Syihab (riwayat Abdullah bin Muhammad – Abdurrazzaq – Ma’mar – Az Zuhri – Abu Salamah bin Abdurrahman Jabir bin Abdullah:

        Aku mendengar Nabi SAW bersabda menceritakan peristiwa Fatratul Wahyu (Masa-masa kevakuman wahyu): “Ketika aku tengah berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara yang berasal dari langit, maka aku pun mengangkat pandanganku ke arah langit, ternyata di atas terdapat Malaikat yang sebelumnya mendatangiku di gua Hira tengah duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku merasa ketakutan hingga aku jatuh tersungkur ke tanah. Lalu aku pun segera menemui keluargaku seraya berkata, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku.’ Maka keluargaku pun segera menyelimutiku. Akhirnya Allah Ta’ala menurunkan ayat: [AQ 74.1-5]. Yakni sebelum perintah shalat diwajibkan. Ar Rijz adalah berhala. [Bukhari no.4544, 4545, 4543, 3, 2999, 4572, 5746]

      PETA LENGKAPNYA adalah: di atas 7 langit ada laut – di atas laut ada Arsy – dan allah berada di atas Arsy.

        Riwayat [(Muhammad bin Ash Shabbah – Al Walid bin Abu Tsaur) dan (Ahmad bin Abu Suraij – ‘Abdurrahman bin Abdullah bin Sa’d dan Muhammad bin Sa’id – Amru bin Abu Qais) dan (Ahmad bin Hafsh – Bapaknya – Ibrahim bin Thahman)] – Simak – Abdullah bin Amirah – Al Ahnaf bin Qais – Al Abbas bin Abdul Muthallib:

        ..Beliau (SAW) lalu bertanya: “Apakah kalian tahu berapa jarak antara langit dan bumi?” mereka menjawab, “Kami tidak tahu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya jarak antara keduanya adalah bisa 71, atau 72, atau 73 tahun perjalanan -perawi masih ragu-. kemudian langit yang di atasnya juga seperti itu.” Hingga beliau menyebutkan 7 langit. Kemudian setelah langit ke-7 terdapat lautan, jarak antara bawah dan atasnya seperti jarak antara langit dengan langit (yang lain). Kemudian di atasnya terdapat 8 malaikat yang jarak antara telapak kaki dengan lututnya sejauh langit dengan langit yang lainnya. Dan di atas mereka terdapat Arsy, yang antara bagian bawah dengan atasnya sejauh antara langit satu dengan langit yang lainnya. Dan Allah Tabaraka Wa Ta’ala ada di atasnya.” [Abu Dawud no.4100 (4 jalur perawi), Tirmidhi no.3242 (hasan gharib). Ibn Majjah no.189]

      Walaupun Arsy Allah ada di atas air yang ada di atas langit ke-7,
      Namun Quran memberikan 3x PENEGASAN FINAL lokasi keberadaan Allah, yaitu: TIDAK di langit namun di Mesjidil Haram:

      • Ke-1: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya..” [AQ 2.144].
      • Ke-2: “Dan dari mana saja kamu, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan”[AQ 2.149].
      • Ke-3: “Dan dari mana saja kamu, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka..” [AQ 2.150]

      Nabi berkata:

      Kenapa orang-orang mengarahkan pandangan mereka ke langit ketika mereka sedang shalat?
      Suara beliau SEMAKIN TINGGI beliau bersabda: “Hendaklah mereka menghentikannya atau Allah benar-benar akan menyambar penglihatan mereka.” [Bukhari no. 708 atau di Muslim 4.862 dari riwayat Jabir bin samura. Atau di Muslim 4.863 riwayat dari Abu huraira, “Orang2 diharuskan menghindari memandang langit di saat sedang sembahyang (See: KBBI. “الصَّلاَةِ” = Al sallata = salat], atau mata mereka akan direnggut”]

    3. Bahwa (Allah-lah yang menciptakan tujuh langit) satu di atas yang lainnya seperti KUBAH, (dan seperti itu pula bumi) tujuh bumi tapi mereka DATAR. [Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs untuk AQ 65.12. Dalil bahwa bumi BUKAN bulatan lihat juga: di sini]
    4. “Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap (saqfan) yang terpelihara,[..]” [AQ 21.32] [Tafsir Ibn Kathir: Artinya, menutupi bumi seperti kubah di atasnya.]

      “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit kanopy/kubah/atap (binaa-an) [AQ 2.22, juga di AQ 40.60, tentang “dan langit kanopy/kubah/atap (binaa-an)]. Tafsir Ibn kathir untuk AQ.2.22,29:

        Bahwa Allah mulai dengan menciptakan BUMI dulu baru kemudian membuat LANGIT menjadi 7 langit. Ini adalah bagaimana bangunan biasanya di mulai, lantai dulu baru kemudian bagian atapnya [Ini juga pendapat Mujahid, Ibn Abbas bahwa bumi diciptakan terlebih dahulu.

      “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya)..[AQ 13.2]. Tafsir Ibn kathir untuk AQ 13.2:

        Berkenaan dengan kalimat (menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan) adalah seperti yang Allah maksudkan di surat 36:38 (dan matahari berjalan di tempat peredarannya) [Ada dua pendapat dan keduanya menyatakan Matahari dan bulan yang bergerak terus menerus]. ‘arsy adalah atap dari ciptaan dan tidak berbentuk BULATAN seperti di klaim banyak astronomer. Lebih seperti KUBAH yang di topang oleh pilar. Ditandu oleh para malaikat dan di atas dunia, di atas kepala-kepala orang. Hadis Nabi dari riwayatkan Abu Dharr:

        Ketika senja [magrib], Nabi bertanya padaku, “Apakah kau tau kemana Matahari itu pergi (saat Magrib)?!

        Aku jawab, “Allah dan rasulnya yang lebih tau.”

        Ia jawab, “Ia berjalan hingga berhenti pada tempatnya di bawah Arsy lalu menyungkur sujud dan mohon ijin untuk terbit kembali, dan diijinkan dan kemudian (waktunya akan tiba) dia minta agar terus saja bersujud namun tidak diperkenankan dan minta izin namun tidak diizinkan dan dikatakan kepadanya: “Kembalilah ke tempat asal kamu datang” dan ia akan terbit dari tempatnya terbenamnya tadi (barat).

        Itulah penafsiran dari sabda Allah “dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (AQ 36:38) [Bukhari: no.2960/4.54.421, no.4428/6.60.327, no.6874/9.93.520 dan no.6881/9.93.528. Juga Muslim: no.228/1.297. Juga di Hadis Qudsi Imam Ahmad no.91 (penguatnya di Abu Dawud 3991, 4002]

        ‘Ada pilar namun tidak dapat kamu lihat’ menurut Ibn `Abbas, Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, dan beberapa lainnya.

        Iyas bin Mu`awiyah, “Langit itu seperti kubah di atas bumi’, artinya tanpa tiang. Serupa seperti Qatadah katakan.

        Ibn Kathir menyatakan bahwa pendapat terakhir [Iyas bin Mu’awiyah] adalah lebih baik mengingat Allah juga menyatakan di ayat lainnya [22:65] yaitu ‘Dia menahan langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya?’

    5. Allah menyampaikan, kisah perjalanan Zulkarnaen dari ufuk timur hingga ufuk barat:
        “Mereka menanyaimu [wayas-aluunaka] tentang Dzulkarnain. Katakanlah Aku bacakan [qul sa-atluu] padamu [ʿalaykum] cerita tentangnya. Sesungguhnya telah diberikannya kekuasaan [makkannaa lahu] di bumi, dan Kami telah berikan [waaataynaahu] dari tiap suatu [min kulli shayin] jalan [sababaan].
        Maka iapun berjalan [fa-atba’a sababaan].
        Hingga [ḥattaa] ketika [idhaa] sampai [balagha] di tempat terbenam [maghriba] matahari [al shamsi], MENDAPATI itu [WAJADAHAA] terbenam [taghrubu] di [fii] mata air yang berlumpur hitam [ayyin hamiatin], dan mendapati [wawajada] DI DEKAT ITU/SEKITAR/SISI [indahaa] segolongan umat [qawman]…
        Hingga ketika sampai ke tempat terbit [mathli’a] matahari [al shamsi], MENDAPATI itu [WAJADAHAA] menyinari [tathlu’u] pada [‘alaa] segolongan umat [qawmin]…
        Hingga ketika sampai [balagha] di antara [bayna] dua gunung [alssaddayni], MENDAPATI [WAJADA] di [min] sebelahnya [duunihimaa] suatu kaum [qawman]..” [AQ 18.83-86, 90, 93]

      Karena Allah sendirilah yang menceritakan perjalanan Zulkarnaen: hingga sampai ke ufuk barat, hingga sampai ke ufuk timur dan hingga sampai di antara dua gunung. Di mana, di setiap area itu, Ia bertemu tiga kaum yang berbeda, maka ini bukanlah sebuah kiasan.

      Tafsir ibn kathir AQ 18.86 menyatakan “Ia menemukan matahari terbenam di laut hitam, bukan KIASAN karena ia menyaksikan sendiri. kata “al hami-ah” di ambil dari salah satu dua arti yaitu dari AQ 15.28, “lumpur hitam” (ini pendapat ibn Abbas). Ali bin abi thalhah “zulkarnaen mendapati matahari terbenam di laut yang panas” (juga pendapat Al Hasan Al basri). Ibn Jarir mengatakan keduanya benar yang mana saja boleh.

    Kosmologi bumi dan langit di atas Ikan paus ini benar-benar dapat menjelaskan banyak hal dalam logika berpikir yang islami, diantaranya adalah:

    • Adalah sangat wajar bumi ini didatarkan atau digepengkan seperti martabak dan gunung-gunung dipancang sebagaimana maksud surat:
      • Luqman 31:10, “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu”
      • Al-Anibiya’) 21:31, “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka (tamida bihim**).”
      • Al-Nahl 16:15 “Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu” (tamida bikum**)
      • An Naba’ 6-7, “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? dan gunung-gunung sebagai pasak?”

      Dalam tafsir Ibnu kathir surat 21:30-33,

      (Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh,) artinya, gunung-gunung yang menstabilkan bumi dan menjaganya agar tetap kokoh dan memberikannya berat, jika tidak itu seharusnya goncang bersama orang-orang, misal, bergerak dan bergetar sehingga mereka tidak dapat berdiri tegak di atasnya — karena ini diliputi oleh air, bagian dari 1/4 permukaannya.

      mengapa?

      Adalah demi mencegah daratan ikut-ikutan bergerak-gerak liar dan bahkan dapat berakibat terguling ketika sang ikan bergerak-gerak.

      Ini Sungguh suatu yang sangat cerdas dan brilian, bukan?!

    • Mengapa sangat wajar terjadinya banjir Nuh yang dapat menenggelamkan seluruh dunia hingga puncak tertinggi dunia sebagaimana terekam pada riwayat dibawah ini:

      Ibn Abbas mengatakan, [..]seluruh air menutupi seluruh permukaan bumi hingga akhirnya mengelilingi puncak2 gunung dan bahkan main tinggi melebihnya setinggi 15 hasta. Dikatakan juga bahwa gelombang itu tingginya 80 mil melampaui gunung-gunung. Perahu tersebut terus berlayar dibawah perlindungan Allah…[Tafsir Ibn Kathir untuk surat 11:40-43]

      Mengapa?

      Adalah karena bumi ini ada di atas punggung IKAN! Ikan hidupnya di air sehingga kebutuhan VOLUME AIR yang luarbiasa besar bukanlah menjadi persoalan dan sudah tersedia dengan sangat MELIMPAHnya. Jangankan cuma 80 mil, bahkan 2x dari itupun masih sangat melimpah, bukan?!

      Ini sungguh suatu yang sangat cerdas dan brilian, bukan?!

    Sehingga yang sangat perlu di garis bawahi oleh mereka-mereka yang membantah kosmologi Bumi di atas punggung ikan paus ini adalah Para Penulis Tafsir tersebut adalah orang-orang KOMPETEN dalam QURAN, HADIS, SIRAT, BAHASA ARAB. Mereka berpengetahuan sangat luas dalam ISLAM dan BERKEMAMPUAN LEBIH DARI CUKUP untuk sekedar membedakan mana hadis yang PALSU/tidak, DHAIF/tidak ataupun Israliyiat/tidak. Bahkan para Ahli klasik Islam ini TIDAK ADA yang menyatakan bumi di atas punggung ikan gueedeee sebagai kisah palsu, dhaif dan Israiliyiat


Kesimpulan, Penciptaan semesta versi ABRAHAMIC

  • Penciptaan versi Al Qur’an jangat jelas BUKAN penciptaan semesta! Dan BUKAN PENCIPTAAN TATA SURYA namun hanya penciptaan Bumi dan berada di punggung seekor ikan Paus
  • Waktu penciptaan Bumi adalah lebih panjang dari penciptaan langit dan segala isinya
  • Allah melalui Qur’an menegaskan ALKITAB mengenai bagaimana PENCIPTAAN BUMI, yaitu Bumi diciptakan duluan daripada langit.
  • Bumi BUKANLAH anggota bagian dari langit!
  • Qur’an menyatakan Bumi sederajat dengan langit [namun saya lebih menyukai bahwa derajat Langit lebih rendah dari Bumi, karena ada belakangan].
  • Bahkan Matahari, Bintang dan Bulan diciptakan lebih belakangan daripada Bumi
  • Fungsi Bintang-bintang dan Bintang besar BUKAN-lah seperti Matahari, namun sebagai penghias langit, Pelempar setan dan Petunjuk navigasi.
  • Urutan penciptaannya adalah: Bumi, kemudian langit, kembali untuk menciptakan isi bumi. Penciptaan Manusia dilakukan setelah penciptaan Langit dan segala isinya selesai.


Jelas sudah bahwa penciptaan versi Qur’an tidak ada relevansinya dengan Big Bang. Islam juga medukung bahwa ide Geo sentris dan Bumi itu Datar. Untuk lebih detailnya silakan lihat: Di sini

[Kembali]




Abrahamic: Sejarah Manusia – Adam

Adam adalah manusia pertama versi abrahamic yang disepakati dan dinyatakan dengan suara bulat di kalangan ajaran Abrahamic. Berdasarkan data-data di Alkitab dan Al Qur’an dibawah ini:

Adam diciptakan menurut Rupa Allah
Adam diciptakan Allah menurut gambar rupa-Nya [Kejadian 1:26]. Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya [kejadian 1:27-28 dan Kejadian 5:1-3]. Konfirmasi bahwa Adam diciptakan menurut rupa Allah ada di tradisi Islam, yaitu di hadis Sahih Muslim book 40 Number 6809, Book 32 Number 6325:

    Diriwayatkan Abu Huraira, Nabi mengatakan: Allah menciptakan Adam menurut gambarNya dengan tinggi 60 kubik dan sesaat setelah adam tercipta Ia menyuruh Adam menyalami para Malaikat yang duduk di sekitar itu..tinggi badan orang-orang makin berkurang hingga saat ini”


AL-WAHHABI ABDUL AZIZ BIN BAZ dari aliran Wahabi juga menyatakan bahwa ALLAH SERUPA DENGAN NABI ADAM.

[Penjelasan lebih detail mengenai ‘Adam di ciptakan dari Rupa Allah’ silakan buka situs Islam, Islam Question and Answer, Fatwa No.20652, Commentary on the hadeeth, “Allaah created Adam in His image” When Prophet says “Allah created Adam in his image” what does “his image” refer to and how should we understand it?]

Allah dipastikan mempunyai Tangan

    [38:75] Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”.


Untuk memastikan bahwa ayat di atas bukan perumpamaan lihat tafsir ayat 50:30:

    (Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada jahannam : “Apakah kamu sudah penuh ?” Dia menjawab : ” Masih ada tambahan ?”


Tafsir surat ini ada di hadis sahih Bukhari Volume 6 Book 60 Number 371, 372:

    Diriwayatkan Anas dan Abu huraira, dinyatakan Nabi berkata “Orang yang akan di ceburkan ke Neraka dan akan dikatakan, ‘masih ada yang lain?’ 50:30 hingga Allah menjejakan kakiNya diatas Neraka dan dikatakan ‘Qati! Qati! (cukup..cukup)!’


Berbicara masalah kaki, referensi yang sama, kita dapatkan di tradisi Alkitab yaitu Allah mempunyai kaki yang nyata yang bisa dipakai berjalan-jalan, ‘Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu [eden] pada waktu hari sejuk,..’ [kejadian 3:8]

Apakah hal ini bertentangan dengan As Syuura 42:11, Dia Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.

Tidak. Dengan melihat ayat-ayat sebelumnya pada surat tersebut, yang dimaksudkan adalah agar tidak mencari perlindungan selain daripada Allah semata. Jadi kata ‘tidak ada yang serupa dengan dia’ bukan merujuk pada bentuk tuhan dan penciptaan Adam, namun tidak ada Tuhan lain yang sehebat Allah yang patut di sembah (Lihat juga Ar Ra’d 13:16)

Adam di ciptakan di bumi.

    belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu; tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu– ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang. Yang pertama, namanya Pison, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila, tempat emas ada. Dan emas dari negeri itu baik; di sana ada damar bedolah dan batu krisopras. Nama sungai yang kedua ialah Gihon, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Kush. Nama sungai yang ketiga ialah Tigris, yakni yang mengalir di sebelah timur Asyur. Dan sungai yang keempat ialah Efrat. TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. –[Kejadian 2:5-15]


Adam diciptakan dari debu tanah di saat kabut membasahi bumi [Kejadian 2:6-7]. Di bumi, Air selalu mengalir dari tempat yang tinggi ketempat yang lebih rendah. Pernyataan ini didukung penuh di Alkitab. Dinyatakan bahwa di Taman Eden ada 4 (empat) sungai yang mengalir dari taman itu, 2 diantaranya bernama sungai Efrat dan Tigris [Kejadian 2: 5-115]. itu menyatakan bahwa Taman Eden berada di dataran tinggi. Taman itu ditumbuhi tumbuh-tumbuhan [kejadian 2:9] dan binatang hutan serta burung-burung [Kejadian 2:19].

Al Qur’an juga memberikan konfirmasikan mengenai adanya sungai-sungai di ‘jannah’ dan jumlahnya juga 4 (empat). Tidak kurang 41 ayat di Al Qur’an menyatakan bahwa di bawah Surga mengalir sungai-sungai:

    [66:8], [2:25], [2:266], [3:15], [3:136], [3:195], [3:198], [4:13], [4:57], [4:122], [5:12], [5:85], [5:119], [9:72], [9:89], [9:100], [10:9], [13:35], [14:23], [16:31], [18:31], [18:33], [20:76], [22:14], [22:23], [25:10], [29:58], [39:20], [47:12], [47:15], [48:5], [48:17], [54:54], [57:12], [58:22], [61:12], [64:9], [65:11], [66:8], [85:11], [98:8]


Hadis juga memberikan konfirmasi 4 sungai, dua sungai tidak terlihat dan dua sungai lainnya terlihat, nama sungai yang terlihat adalah Nil dan Eufrat, lihat di sini

Al kitab juga menginformasikan bahwa Adam diciptakan dari tanah yang ada di bumi . Tugasnya adalh mengusahakan dan memelihara taman Eden [Kejadian 2:15]. Saat Adam di usir dari taman Eden, ia pun diperintahkan untuk mengusahakan tanah dari mana ia diambil. Allah menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyala beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan [Kejadian 3:23-24].

Di Qur’an kata ‘Jannah’ selalu diasosiasikan artinya sebagai ‘Surga’ misalnya ‘Jannatul Firdaus’ namun beberapa ayat di bawah ini memberikan informasi bahwa kata “Jannah” dapat bermakna kebun/taman:

    Kebun Tamar (2:266, 13:14, 23:19, 17:9); Kebun Anggur (18:32, 2:266, 6:99, 23:19, 17:91); Kebun di lereng bukit (2:265); Kebun saja (26:134, 6:141, 50:9, 18:35, 39, 40) dan Taman (44:25, 34:15, 16)


Firdaus berasal dari bahasa persia yang berarti ‘tanah yang berpagar’ [arti tersebut sangat sesuai dengan maksud di Kejadian 3:24] sehingga kata Jannatul Firdaus akan menjadi sangat janggal kalau di artikan surga surga, sehingga seharusnya adalah taman firdaus…atau taman yang berpagar.

Terdapat 3 Ayat di Al Qur’an yang TEGAS menyatakan bahwa taman tersebut merupakan sebuah Warisan!

    [43:72-73] Dan itulah ‘surga’ yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan. Di dalam surga itu ada buah-buahan yang banyak untukmu yang sebahagiannya kamu makan.

    [19:63] Itulah ‘syurga’ yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.

    [7:43] Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (‘surga’) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran.” Dan diserukan kepada mereka: “ltulah ‘surga’ yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.


Dan warisan tersebut adalah taman yang sama diwariskan kepada adam

    [23:10-12] Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (ya’ni) yang akan mewarisi ‘syurga’ Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.


Cuma ada satu masalah kecil..Di hadis sahih di atas, dipastikan sudah ada orang-orang yang sudah masuk surga! Jadi, ajaran lama di abrahamic terbukti masih manjur, bukan?!

Adam Bukan manusia Pertama dan Ia Petani
Adam di usia 130 tahun mempunyai anak bernama Set sebagai pengganti Habel yang dibunuh Kain [Kejadian 4:1-2, 4:25, 5:3], Habel adalah penggembala dan Kain adalah Petani [kejadian 4:2-3]. Jadi, saat Set lahir, Habel dan kain(Qabil) sudah cukup dewasa untuk melakukan pekerjaan beternak dan bertani.

Di kejadian 3:22, 24 disebutkan Allah menugaskan Adam untuk mengusahakan dan memelihara Taman Eden. Saat di usir keluar dari taman Eden diperintahkan juga untuk mengusahakan tanah.

Konfirmasi pekerjaan anak-anak adam dinyatakan juga di Al Maidah 5:27:

    Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!.” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.”


Tafsir Ibn “Uyainah, Ibn Abi Hatim, Ibnu Hibban, Ibnu “Athiyah, Al-Samarkandi, Abi Ishaq, At-Thabari, Abi Syaibah, Al Baghawai, Abil-Fidak, Al-Razi dan banyak lainnya untuk ayat tersebut di atas menyatakan bahwa ‘kurban’ yang dipersembahkan Habil adalah hasil terbaik peternakannya, sebaliknya Qabil mempersembahkan ‘kurban’ yang merupakan hasil pertaniannya yang terjelek.

Diriwayatkan Ibn Abbas:

    Ibnu Abbas berkata, “Daud adalah seorang pembuat perisai, Adam seorang petani, Nuh seorang tukang kayu, Idris seorang penjahit dan Musa adalah penggembala.” (dari al-Hakim)


Jadi, jaman Adam diciptakan ternyata telah ada pertanian. Sehingga, Allah menciptakan Adam di setelah jaman Neolitikum, yaitu jaman di mana manusia hidup dengan cara berburu dan bertani.

Bukti terpenting berikutnya adalah berdasarkan kejadian 4:16-17, dinyatakan bahwa Kain di usir ke tanah Nod, kemudian memperistri seorang Wanita dan melahirkan Henokh, kemudian kain mendirikan kota yang juga diberi nama Henokh!

Al Qur’an juga memberikan sumbangan bukti dengan surat yang diturunkan di 3 H(625 M), Al Imran 3: 33.

    Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing),


Kemudian, Al Baqarah 2:30.

    Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”


Kata Khalifah bisa berarti Penguasa/pemimpin, juga bisa berarti Pengganti, dua-duanya tetap saja mengartikan bahwa ada sekelompok orang yang sebelumnya ada dan perlu di atur [lihat Adam yang melebihi segala umat di masanya pada ayat 3:33] dan kata yang berarti pengganti menunjukan ada manusia/umat sebelumnya.

Adam ternyata bukanlah Manusia pertama [silakan lihat juga di sini dan di sini]

Tuhan mengetahui apa yang juga di ketahui iblis, yaitu sejarah (bukan ramalan) mengenai pertumpahan darah di bumi. Adam dipastikan lebih pintar dari iblis, buktinya Allah memerintahkan Adam untuk mengajarkan Malaikat (termasuk Iblis) tentang Benda-benda [2:33]. bukti berikut bahwa pengetahuan Iblis adalah sejarah dengan melihat ayat 7:16-19, 15:36-39, 38:79-85] yaitu saat Iblis di usir dari surga dan sebelum keluar dari surga ada percakapan antara Tuhan dan Iblis bahwa Iblis bertekad untuk menyesatkan manusia di dunia dan Tuhan-pun mengijinkan.

Juga di Alkitab di Kejadian 6:2,4 ‘maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka…Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.

Di hitung berdasarkan umur saat punya anak, maka jarak adam dan Nuh dibawah 1000 tahun (lihat Umur Peradaban manusia, Abrahamic). Jadi, jaman purbakala adalah jaman sebelum jaman Adam.

Reinkarnasi di Islam dan Kristen
Walaupun, agama Abrahamic mayoritas tidak mendukung adanya kelahiran kembali, namun di Alkitab yaitu Yehezkiel 37:1-14 diceritakan bahwa Allah menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati, juga konfirmasi reikarnasi Elia di Injil Matius 11:13-15, 17:18 dan Markus 9:13. Al qur’an juga menegaskan peristiwa yang disebutkan di Yehezkiel melalui ayat Al Baqarah 2:259. Penjelasan lebih rinci mengenai Reinkarnasi, dapat dilihat di artikel ini:

From Hero To Zero: Ini Reinkarnasi, Bro!

[Kembali]




Hindu: Penciptaan Semesta

Dalam kitab dongeng Hindu, yang disebut Purana, yaitu di Matsya Purana 2.25-30, penciptaan diceritakan terjadi setelah Mahapralaya, leburnya alam semesta, kegelapan di mana-mana. Semuanya dalam keadaan tidur. Tidak ada apa-apa, baik yang bergerak maupun tak bergerak. Lalu Svayambhu, self being, menjelma, yang merupakan bentuk diluar indra. Ia menciptakan air/cairan pertama kali, dan menciptakan bibit penciptaan didalamnya. Bibit itu tumbuh menjadi telur emas. Lalu Svayambhu memasuki telur itu, dan disebut Visnu karena memasukinya.

Rgveda tidak menjelaskan sejarah manusia, tapi menjelaskan evolusi semesta. Dongeng tersebut memberikan penjelasan yang padat, efektif dan sederhana atas apa yang dinyatakan RigVeda.

Sebelum, Saat dan Setelah Penciptaan adalah Tuhan
Konsep Hindu menyatakan bahwa sebelum, saat dan setelah Penciptaan adalah Tuhan. Filsafat Hindu dalam Rgveda, menyatakan bahwa Penciptaan merupakan manifestasi dari Yang Maha Kuasa.

    “Semua adalah Purusa, apapun yang telah terjadi dan apapun yang akan terjadi. Ia adalah tuan dari kekekalan, yang tumbuh dari makanan. Ia dinyatakan mempunyai ribuan kepala, ribuan mata dan ribuan kaki. Ia membungkus Bhumi dari segala penjuru, dan ada di luar berbentuk sepuluh jari. Semua hanyalah Purusa, “- Rgveda 10.90.1-2,


Chandogya Upanisad 3.14.1 menyatakan bahwa semuanya adalah Brahman.

Hindu tidak membuat dikotomi antara baik dan buruk, seperti dalam agama non Vedic. Batas alam semesta adalah tempat berlangsungnya pertempuran antara gaya konstraksi dan ekspansi. Pertempuran ini diinterpretasikan menjadi pertempuran baik dan buruk, antara dewa dan raksasa, antara Tuhan dan setan.

Tidak ada neraka abadi karena bahkan neraka pun tidak bisa dipisahkan dengan Tuhan. Bahkan, tidak ada surga atau neraka pada akhir jaman. Semesta hanyalah manifestasi dari Yang Kuasa, dan akhir dari siklus semesta yang sekarang disebut “Mahapralaya” saat semua kembali pada Purusa. Di akhir jaman, tidak ada surga, tidak ada neraka dan tidak ada jiwa.

Dalam Rgveda, kata “Purusa” bisa berarti manusia/laki-laki (man). Secara etimologis, Purusa berarti orang yang menghuni kota (Pura). “Pura” sendiri berarti tempat yang dihuni oleh penjaga/ penghuni.

  • Purusa disebut juga Rahim Emas, Purusa disebut juga Brahmanda, Purusa disebut juga Martanda.
  • Purusa disebut juga Prajapati [Satapatha Brahmana 7.4.1.15, Jaiminya Brahmana 2.47].,
  • Purusa disebut juga Brahmanaspati/Brhaspati, sang penguasa Ekspansi, menciptakan alam semesta seperti seorang seniman [Rigveda 10.72.2].
  • Purusa disebut juga Lopramudra, Purusa disebut juga Agastya, Hasil Agastya dan istrinya Lopamudra adalah Purusa,
  • Purusa disebut juga Indra, Purandara (Pembelah kota), Purusa disebut juga Virata Penutup batas. Apapun yang membesar lebih dari Purusa adalah Purusa.
  • Purusa disebut juga Aditi, Purusa disebut juga daksa yang saling melahirkan, Daksa dan Aditi yang saling melahirkan, yang melahirkan adalah Purusa yang dilahirkan adalah Purusa. Dalam naskah pasca-Veda, Purusa dan Aditi menjadi Visnu-Laksmi atau Siva-Sakti. Dalam Siva Purana, Daksa melakukan pengorbanan sehingga Dewi Sakti bisa lahir sebagai manusia sebagai putrinya Sati. Ini adalah representasi dari Aditi dan Daksa yang saling melahirkan.
  • Penguasa Kontraksi dan Ekspansi disebut juga Brahmanaspati dan Indra, juga disebut juga Indra dan Virata, atau Agastya dan Lopamudra
  • Pertempuran antara Ekspansi dan Kontraksi adalah Pertempuran Purusa. ini diinterpretasikan menjadi pertempuran baik dan buruk, antara dewa dan raksasa, antara Tuhan dan setan.
  • Karena semua alam semesta adalah manifestasi dari Purusa, kita juga adalah bagian dari Yang Maha Kuasa. Kitab-kitab Hindu menyatakan bahwa jika kita menyadari kebenaran sang diri, maka tidak ada lagi perbedaan antara kita dan Tuhan. Realisasi ini dinyatakan dalam Brhadaranyaka Upanisad 1.4.10, yang menyatakan “Aku adalah Brahman”.


Jadi Purusa dalam Veda adalah Tuhan. RigVeda menjelaskan bahwa sebelum penciptaan Sang Pencipta dalam bentuk tak berwujud yang disebut rahim emas, rahim dari semesta atau Hiranyagharba

    “Sebelum penciptaan adalah rahim emas, ia adalah tuan dari segala yang lahir. Ia memegang bumi dan surga ini.” -Rgveda 10.121.1


Emas mempunyai warna khusus. Material menjadi berwarna emas pada temperatur yang sangat tinggi. Untuk rahim dari mana matahari, bintang dan galaksi terbentuk, sangatlah wajar diasosiasikan dengan emas. Emas adalah warna energi dalam naskah Veda. Asosiasi dewa-dewa dengan emas dalam Hindu Dharma adalah simbol representasi dewa-dewa dalam bentuk berbagai energi.

Saat Penciptaan Semesta, Purusa/Prajapati/Brahman menciptakan dua kekuatan yang disebut Purusa yaitu kekuatan hidup (batin/nama) dan Prakerti (pradana/rupa) yaitu kekuatan kebendaan. Kemudian timbul “cita” yaitu alam pikiran yang dipengaruhi oleh Tri Guna yaitu Satwam (sifat kebenaran/Dharma), Rajah (sifat kenafsuan/dinamis) dan Tamah (Adharma/kebodohan/apatis). Kemudian timbul Budi (naluri pengenal), setelah itu timbul Manah (akal dan perasaan), selanjutnya timbul Ahangkara (rasa keakuan). Setelah ini timbul Dasa indria (sepuluh indria/gerak keinginan) yang terbagi dalam kelompok

  • Panca Budi Indria yaitu lima gerak perbuatan/rangsangan: Caksu indria (penglihatan), Ghrana indria (penciuman), Srota indria (pendengaran), Jihwa indria ( pengecap), Twak indria (sentuhan atau rabaan)
  • Panca Karma Indria yaitu lima gerak perbuatan/penggerak: Wak indria(mulut), Pani (tangan), Pada indria (kaki), Payu indria (pelepasan), Upastha indria (kelamin)


Setelah itu timbulah lima jenis benih benda alam (Panca Tanmatra): Sabda Tanmatra(suara), Sparsa Tanmatra (rasa sentuhan), Rupa Tanmatra(penglihatan), Rasa Tanmatra (rasa), Gandha Tanmatra (penciuman). Dari Panca Tanmatra lahirlah lima unsur-unsur materi yang dinamakan Panca Maha Bhuta, yaitu Akasa (ether), Bayu (angin), Teja (sinar), Apah (zat cair) dan Pratiwi (zat padat.)

Keadaan Sebelum Penciptaan
Keadaan sebelum penciptaan disebut dalam Nasadiya sukta yang mengisahkan asal mula alam semesta di Rgveda 10.129:

  1. Tiada yang termanifestasikan atau tak termanifestasikan. Sehingga tiada debu dan tiada langit di luarnya. Apa yang melingkupinya, di mana naungannya? Apa suara yang dalam dan tak-terjelaskan itu?
  2. Tiada kematian atau keabadian. Tiada perbedaan antara siang dan malam. Hanya Ia atas kehendakNya sendiri tanpa udara. Tiada apapun selain itu.
  3. Sebelumnya hanya ada kegelapan, semuanya ditutupi kegelapan. Semuanya hanya cairan yang tak terpisahkan (Salila). Apapun itu, ditutupi dengan kekosongan. Yang satu lahir dari panas.
  4. Sebelum itu (sebelum penciptaan) keinginan (untuk mencipta) bangkit dari diriNya, lalu dari pikiranNya bibit pertama lahir. Manusia yang bijak dalam berpikir menemukan yang termanifestasikan terikat dengan yang tak-termanifestasikan.
  5. Cahayanya menyebar menyamping, ke atas dan bawah. Ia menjadi pencipta. Ia menjadi besar atas kehendaknya sendiri ke bawah dan atas.
  6. Siapa yang tahu, siapa yang akan memberitahu dari mana dan mengapa penciptaan ini lahir, karena dewa-dewa lahir setelah penciptaan ini. Sehingga, siapa yang tahu dari siapa semesta ini dilahirkan.
  7. Dari siapa penciptaan ini dilahirkan, Ia mendukung atau tidak. Ia bertahta di langit tertinggi, mungkin Ia tahu atau mungkin tidak.


Sebelum penciptaan yang ada hanya kosong. Belum ada ruang maupun waktu. Tak ada materi dan energi. Konsep ini sangat penting dalam kosmologi Veda. Fisika modern mengatakan bahwa semua materi dan energi semesta terkonsentrasi dalam satu titik; namun, mantra satu sampai tiga dengan gamblang menyatakan semesta adalah sama sekali kosong pada awalnya. Taittiriya Brahmana menjelaskan:

    “Pada mulanya sama sekali tiada apapun. Tiada surga, tiada bumi dan atmosfer.” -Taittiriya Brahmana 2.2.9.1


Salila (air/cairan ) di mana-mana.
Sebelumnya yang ada hanya kegelapan dan hanya ada Salila (Rgveda 10.129.3 seperti dkutip sebelumnya). Salila berarti air, tapi dalam Rgveda itu berarti fluida asal yang tak terdiferensiasi. Dalam mantranya, Salila didahului oleh “apraketa” yang berarti tak terdiferensiasi, yang tanpa ragu lagi menjelaskan maksudnya. Bahwa Salila merupakan istilah teknis dijelaskan di Satapatha Brahmana.

    “Apah adalah Salila sebelumnya. Keinginan lahir dari itu. Mereka bekerja. Dari sana muncul panas. Dari panas lahirlah telur emas. Telur emas berenang di dalamnya selama satu tahun.” -Satapatha Brahmana 11.1.6.1


Bahwa Apah sebelumnya adalah Salila. Jadi, Apah dan Salila berarti air. Jika maksudnya adalah air, mantra ini menjadi tidak masuk akal sama sekali. Apah dan Salila merupakan istilah teknis dan tidak dapat ditukar pemakaiannya seperti kata “speed” dan “velocity”, dalam percakapan sehari-hari keduanya sama tapi dalam ilmu Fisika keduanya berbeda karena yang satu besaran skalar dan lainnya besaran vektor.

Salila adalah keadaan pertama dari semesta, ketika tak ada apapun. Yang ada adalah kesetimbangan yang sempurna dan keseragaman. Ketika kesetimbangan ini pecah karena gaya fundamental alam, ketidakseragaman tercipta dan ketidakseragaman inilah yang disebut Apah.

Veda menyatakan bahwa pada awalnya semua adalah Salila, yang sepintas tampak berarti air di mana-mana. Konsep air di mana-mana ini tersebar ke seluruh dunia dan kemudian dipinjam oleh agama non Vedic. Injil (Genesis 1.1-2 dan 1.6-7) dan Quran (21.30) menjelaskan bahwa pada mulanya alam hanya terdiri dari air.

Fisika modern menjelaskan pada kita bahwa alam semesta pada awalnya adalah panas, yang kemudian didinginkan secara cepat dengan mengembangnya semesta. Veda menjelaskan sebaliknya. Semesta pada mulanya sangat dingin. Evolusi semesta dimulai dengan naiknya temperatur.

Mantra RigVeda 10.129.3 di atas menyatakan bahwa penyebab semesta adalah tapa. Tapa merupakan konsep yang penting dalam Hinduisme. Pada Hinduisme pos-Veda, Tapa menjadi diartikan laku yang keras di tengah rimba, yang akan menghasilkan kekuatan yang luar biasa. Tapa berarti memanaskan, membuat panas, dan inilah arti yang digunakan dalam Veda. Evolusi semesta dimulai dengan penciptaan materi, energi dan ruang yang efeknya akan memanaskan semesta. Dalam pengertian ini, seluruh semesta bisa dianggap lahir dari Tapa.

Para pembaca yang berpengetahuan akan mengatakan bahwa materi dan energi selalu ada dan semua materi dan energi terkumpul dalam satu titik sebelum Ledakan Besar (Big Bang). Konsep Veda menjelaskan sangat berbeda! Alam semesta tidak dimulai dengan Ledakan Besar. Alam semesta muncul dari kekosongan, dan inilah dasar dari pernyataan “Sunya hi Parameswara hai” yang berarti Kehampaan adalah Tuhan.

Karena alam semesta tidak punya materi, energi dan ruang pada saat pertama, maka penciptaan ketiga hal tersebut sangatlah penting. Karena penciptaan alam semesta adalah melalui Yajna:

    “Dari Yajna didapatkanlah mentega. Lalu binatang (Pasu) Vayavya, Aranya, and Gramya diciptakan.”-Satapatha Brahmana 14.3.2.1

    “Dari Yajna berupa persembahan seluruh Rchas, lahirlah Samas. Dari sini lahirlah Chandas, dari sini lahirlah Yaju.”-Rgveda 10.90.9

    “Tujuh adalah batasnya (Paridhi), tiga kali tujuh adalah kayu bakar (Samidha). Dalam Yajna, dimana dewa-dewa menjadi tumbuh, mereka mengorbankan binatang Purusa.”-Rgveda 10.90.15

    “Tuhan memulai Yajna dari Yajna, itulah Dharma yang pertama. Mereka yang berhasil akan mencapai surga, tempat mahluk-mahluk angkasa dan dewa-dewa sebelumnya berada.” -Rgveda 10.90.16


RigVeda menyebutkan kata pasu (Binatang), hewan peliharaan hidup bersama dan hewan liar hidup lepas. Kitab ini bukanlah cerita tentang hewan sama sekali. Hewan peliharaan adalah simbolisasi dari partikel yang selalu berkumpul, sedangkan hewan liar adalah simbol dari partikel yang terlepas sendiri. Partikel materi diwakili dengan nama binatang dan dibagi menjadi tiga kategori: “Gramya” yang berarti binatang peliharaan, “Aranya” adalah binatang liar, dan “Varavya” adalah jenis burung.

Partikel2 seperti ini, dikenal dengan istilah boson dan fermion, adalah partikel yang sudah sangat dikenal para fisikawan. Ke-tidakhomogen-an inilah yang direpresentasikan dengan mentega. Alam semesta tak lagi sama dengan sebelumnya. Alam terbagi menjadi materi dan energi.

Pengorbanan di sini berarti perubahan wujud, perubahan dari wujud tak termanifestasi menjadi alam semesta dalam wujud bermanifestasi. Dengan berlanjutnya Yajna, berarti berlanjutnya penciptaan materi, energi dan ruang, keadaan yang serba-sama (homogen) lalu berubah menjadi tak-sama (heterogen). Tiga, merujuk kepada Triloka, bumi (Phrtivi), atmosfer(Antariksa) dan Langit (Dyau). Dalam tiap Loka terdapat tujuh Samidha yang berarti total dua puluh satu.

Begitu proses penciptaan dimulai, itu akan berlanjut dengan sendirinya.

Sang Penguasa Expansi
Didalam RigVeda 10.72.2 dikatakan bahawa Brahmanaspati/Brhaspati menciptakan alam semesta seperti seorang seniman. Brahmanspati berarti Sang Penguasa Expansi. Jadi Brahmanaspati bisa diidentifikasikan sebagai berekspansinya alam semesta. Dalam naskah pasca-Veda digambarkan menjadi pendeta para dewa, Mantra dibawah ini mengindikasikan bahwa alam semesta diciptakan dari exspansi.

    “Brahmanaspati, dengan kekuatanNya bisa membengkokkan yang tak terbengkokkan, yang dengan kemarahan membinasakan Sambara, yang mengacaukan yang tak terkacaukan, memasuki gunung Vasumanta…

    Ia membuka pintu air, yang telah ada dan akan terbentuk kemudian, selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun. Kerja yang dilakukan oleh Brahmanaspati, satu dan yang lain, menggunakan air dengan tanpa usaha yang keras…

    Orang bijak sebenarnya melihat ketidakbenaran itu dan berdiri pada jalur yang benar lagi. Mereka menciptakan Agni dari tangan mereka di gunung, yang belum ada sebelumnya…

    Indra yang sentosa dan Brahmanaspati, mengatur yang anda berdua pegang, bahkan air pun tidak bisa melawan hukum anda. Datanglah langsung makanan kita seperti dua kuda yang menarik kereta”-Rigveda 2.24.2,5,7,12


Tidak ada gunung dengan nama Vasumanta. Dalam Rgveda permukaan alam semesta disebut dengan istilah gunung. Exspansi alam semesta tidak terjadi secara spontan. Batas energinya dilambangkan oleh gunung. Vasumanta artinya yang menyimpan kekayaan, jadi gunung ini dianggap sebagai menyimpan kekayaan tersembunyi di dalamnya. Brahmanaspati dikatakan membuka pintu air. Ini bukanlah air biasa.

Pergerakan Indra dan Brahmnaspati merupakan kekuatan-kekuatan ekspansi dan konstraksi.

Brahmanaspati dikatakan membebaskan sapi-sapi yang tersembunyi dalam gunung. Ini bukan cerita perebutan mendapatkan sapi. Sapi-sapi berarti partikel fundamental dari alam yang belum termanifestasikan. Kekayaan ini adalah materi dan energi dari alam semesta, yang akan bermanifestasi pada saat permukaan dari alam semesta didorong lebih jauh.

    “Ketika Brhaspati menemukan tempat dimana sapi-sapi disembunyikan dan membuat suara. Sapi keluar dari gunung seperti burung keluar dari telur”-Rgveda 10.68.7
    “Kemarahan Brahmanaspati, yang selalu melakukan hal-hal yang hebat, menjadi nyata ketika Ia menginginkan. Ia membawa sapi-sapi keluar, membagi mereka dengan prosedur yang hebat untuk surga, dan mereka mulai bergerak terpisah dengan kekuataannya”-Rigveda 2.24.14


Dalam kosmologi Veda, alam semesta mempunyai pusat, dan materi serta energi diciptakan secara terus menerus di permukaan alam semesta selama semesta berekspansi.

Lahirnya Dewa-Dewa dan Kontraksi Alam Semesta
Kosmologi “Ledakan Besar” (Big Bang) memberikan penjelasan yang sangat dramatis tentang saat-saat awal penciptaan. Alam semesta sangat panas lalu melalui tahap ekspansi yang sangat cepat yang disebut inflasi. Pandangan Veda berbeda dengan pandangan Ledakan Besar. Momen awal penciptaan dijelaskan dengan sukta berikut dalam RgVeda:

    Dari delapan Putra yang lahir dari Aditi, hanya tujuh yang dibawanya kepada para dewa, Martanda ditinggalkan. Dengan ketujuh putranya, Aditi pergi ke masa sebelumnya. Untuk kelahiran dan kematian manusia, Aditi menerima Martanda kembali. -RigVeda 10.72.8-9


Martanda berarti telur mati. Telur disini adalah alam semesta, jadi telur mati berarti alam semesta tanpa kehidupan.

Terbentuknya kehidupan bukanlah proses yang spontan. Alam semesta harus berkembang untuk menjadi eksis, tapi gaya ekspansi dan konstraksi telah ada sejak awal dalam keseimbangan yg lemah.

Alam semesta tidak berkembang secara kontinyu adalah sudut pandang Veda. Setelah ekspansi awal, alam semesta mulai mengkerut. Inilah arti dari Aditi pergi ke masa sebelumnya.

Taittiriya Samhita 6.5.6.1 mengatakan bahwa Aditi melahirkan telur yang tidak sempurna. Dalam Mahabharata, Harivamsa Parva 9.5 Kasyapa berkata kepada Aditi tentang penolakannya bahwa putranya tidak mati, tapi ada di dalam telur. Oleh karena itu ia diberi nama Martanda. Inti dari semua cerita tersebut adalah gaya dasar alam tidak bekerja dengan baik pada saat penciptaan.

Setelah ekspansi awal, alam semesta mulai kolaps. Lalu gaya dasar alam berubah, dan semesta mulai berekspansi lagi. Saat semesta telah dalam keadaan setimbang, itu disebut Vivasvana, tempat di mana makhluk bisa hidup.

    “Aditi mempunyai delapan Putra. Hanya tujuh dari mereka yang disebut Aditya. Yang kedelapan, Martanda, tidak punya bagian tubuh yang bisa dibagi. Para Aditya melihat ia (Martanda) tidak sama dengan mereka (Aditya), jadi mereka membagi tubuhnya. Lalu ia menjadi seorang manusia. Ia diberi nama Vivasvana dan semua manusia lahir dari dia.” -Satapatha Brahmana 3.1.3.3-4


Satapatha Brahmana 3.1.3.4 adalah sumber dari mitos dimana manusia diciptakan sejak saat awal oleh Tuhan. Perlu dicatat bahwa Vivasvana adalah alam semesta itu sendiri sehingga tidaklah mungkin melahirkan manusia.

Dalam Rgveda 10.17.1 Yama disebut sebagai Putra Vivasvana, dan dalam Rgveda 10.14.1 Yama disebut sebagai Vaivasvata yang berarti Putra dari Vivasvana. Orang suci dalam sukta 8.27-31 dalam Rgveda adalah Vaivasvata Manu.Vivasvata berarti Putra dari Vivasvana. Dalam naskah India, Vivasvana adalah ayah dari Manu, raja pertama, dan dalam naskah Iran, Vivangahvanta (yaitu Vivasvana) adalah ayah dari Yima (yaitu Yama), yang juga raja pertama.

Sejak adanya naskah pasca Veda, penciptaan manusia pertama diterima sebagai terjadi segera setelah penciptaan semesta, sehingga selanjutnya Veda diasumsikan diterima oleh manusia sejak awal jaman. Veda ditemukan oleh orang-orang suci pada masa kebudayaan Indus-Sarasvati. Alam semesta berumur milyaran tahun, sedangkan sejarah manusia hanya berumur 10.000 tahun saja. Pada saat 10.000 tahun yang lampau pikiran manusia belum mampu untuk mencerna pengetahuan di dalam Veda. Sejarah manusia, dan tentu saja sejarah India juga, baru berumur 10.000 tahun, Dongeng yang tercantum di Purana telah mecampuradukan kosmologi dan sejarah manusia.

Pada abad awal dan pertengahan sejarah, umat Hindu (dan Budha) telah menyebarkan ide mereka ke seluruh penjuru. Sumber dari beberapa ide dalam ajaran Kristen dan Islam adalah berasal dari naskah suci Hindu. Perhatikan keterangan berikut dari Taittiriya Brahmana.

    “Setelah menciptakan alam semesta dan manusia, Prajapati pergi tidur.” -Taittiriya Brahmana 1.2.6.1


Keterangan yang sama bisa ditemukan pada Injil (Genesis 2.2) yang mengatakan bahwa Tuhan beristirahat pada hari ketujuh setelah menyelesaikan pekerjaannya..

Batas Semesta
Menurut Big Bang, alam tidak mempunyai batas. Dalam kosmologi Veda, alam semesta mempunyai batas, diluar alam semesta adalah alam sepuluh dimensi.

    “Semua adalah Purusa, apapun yang telah terjadi dan apapun yang akan terjadi. Ia adalah tuan dari kekekalan, yang tumbuh dari makanan. Ia dinyatakan mempunyai ribuan kepala, ribuan mata dan ribuan kaki. Ia membungkus Bhumi dari segala penjuru, dan ada di luar berbentuk sepuluh jari. Semua hanyalah Purusa,” -Rgveda 10.90.1,

    “Kemudian Virata lahir. Virata lebih besar dari Purusa. Ia mulai terbagi setelah lahir. Lalu menjadi Bhumi dan Pura.” -Rgveda 10.90.5


Kata ribuan digunakan untuk melukiskan arti tak terbatas (banyak sekali). Makna yang paling krusial dalam mantra ini adalah bahwa Purusa berada di luar semesta dalam bentuk sepuluh jari.

Yaska menjelaskan arah ini dalam tangan alam di Nirukta 1.7 Taittiriya Samhita 4.7.9.1 yang mengatakan jari adalah arah. Satapatha Brahmana (6.3.1.2.1 dan 8.4.2.13) menjelaskan bahwa arah (Disa) ada sepuluh. Dalam terminologi sains modern, arah berarti dimensi. Alam semesta dalam kosmologi Veda dipandang sebagai sepuluh dimensi.

Semesta dilukiskan sebagai telur dalam semua naskah pasca-veda.

    “Seluruh semesta termasuk bulan, matahari, galaksi dan planet-planet ada didalam telur. Telur ini dikelilingi oleh sepuluh kualitas dari luar.” -Vayu Purana 4.72-73

    “Di akhir dari ribuan tahun, Telur itu dibagi dua oleh Vayu.” -Vayu Purana 24.73

    “Dari telur emas, bumi dan langit diciptakan.” -Manusmrti 1.13


Ketika alam semesta berekspansi, Ia juga diberi nama Virata yang diturunkan dari akar kata ‘Vr’ yang artinya untuk menutupi yang juga berarti ‘sangat besar.

    “Vrtra menutupi kesemua tri loka.” -Taittiriya Samhita 2.4.12.2
    “Vrtra berada jauh diatas di Antariksa.” -Rgveda 2.30.3


Tri loka melukiskan alam semesta, jadi disini Vrtra menutupi alam semesta. Jika Vrtra ada dibatas alam semesta, ia bisa dikatakan berada ditempat yang jauh sekali.

Kata Sanskrit “Brahmanda,” yang merupakan perpaduan dari dua kata yakni “Brahma” dan “Anda.” Brahma berasal dari kata “Brha” yang berarti berkembang dan “Anda” berarti telur. Telur secara makro adalah Semesta, secara mikro Bumi. Jadi Brahmanda berarti telur yang mengembang yang dapat juga berarti isi semesta yang mengembang dengan “pura” yang merujuk pada batas alam semesta. Pura berarti kota yang terlindung dan juga digunakan biasa dimaknai sebagai benteng yang mengelilingi sebuah kota.

Konsep ini sangat penting karena membantu mengungkap arti dari Indra, yang juga disebut “Purandara”, Ia yang menerobos kota yang terlindung.

Indra juga sering disebut sebagai Purandara yang berarti ia yang membelah kota (Pura). Pura di sini bukanlah kota biasa, tapi seluruh alam semesta, oleh karena itulah sumber utama alam disebut dengan Purusa. Jadi Purandara berarti Ia yang membelah alam semesta. Kalau Vrtra berarti Ia yang menutupi Semesta, maka Indra adalah Ia yang membelah alam semesta.

Dalam Veda, batas alam semesta adalah tempat berlangsungnya pertempuran antara gaya konstraksi dan ekspansi. Dalam Rgveda, dilambangkan dengan pertempuran antara Indra dan Vrtra, dan layar dari pertempuran ini adalah batas alam semesta. Kekuatan utama ekspansi dalam Veda dilukiskan sebagai Indra, dan musuh utamanya, kekuatan utama kontraksi adalah Vrtra. Pertempuran ini diinterpretasikan menjadi pertempuran baik dan buruk, antara dewa dan raksasa, antara Tuhan dan setan.

Dalam Rgveda 1.32 karena inilah titik pusat dalam komsologi Veda. Dilukiskan bahwa Vrtra (sang ular) menahan air, di matra 12 dijelaskan menjelaskan bahwa kekalahan Vrtra dari Indra membebaskan tujuh sungai untuk mengalir. Pembebasan tujuh sungai (sapta sindhu) oleh Indra bukanlah disebutkan hanya satu kali, tapi berulang-ulang kali dalam Rgveda. Ide dimana ular menahan air juga ditemukan dalam mitos yang berbeda-beda diseluruh dunia.

Mitos dari Quiches, suku Indian di Amerika Selatan, bisa ditemukan di Popol Vuh. Suku Quiches percaya bahwa pada mulanya adalah air dan ular berbulu.

Gaya Listrik
Dengan menyadari bahwa pertempuran antara Indra dan Vrtra adalah pertempuran antara gaya ekspansi dan kontraksi, sekarang perlu kita menentukan gaya yang mana direpresentasikan baik oleh Indra maupun Vrtra. Sains moderen mengenal tiga gaya fundamental: gravitasi, nuklir dan listrik.

Gaya gravitasi adalah gaya antara dua massa yang selalu tarik menarik. Ini adalah gaya yang tetap berlaku pada jarak yang panjang dan merupakan gaya yang melingkupi sistem tata surya dan galaksi.

Indra bukanlah menggambarkan gaya gravitasi karena gravitasi adalah gaya tarik. Gaya nuklir adalah gaya yang menjaga inti atom, jadi gaya ini bukanlah gaya yang direpresentasikan oleh Indra, karena gaya yang digambarkan oleh Indra haruslah berlaku untuk jarak yang panjang. Gaya arus lemah terdiri dari gaya nuklir lemah dan gaya elektromagnetis.

Gaya nuklir lemah merupakan gaya yang berlaku pada jarak yang sangat pendek sekitar 10-17 meter, Jadi bukan gaya yang berlaku pada tingkat kosmik. Jadi gaya nuklir masih tidak sesuai. Gaya Elektromagnetik terdiri dari gaya listrik dan gaya magnet. Kedua gaya ini bisa atraktif maupun repulsif, dan bisa menjangkau jarak yang panjang. Indra diidentifikasikan sebagai gaya listrik berdasarkan literatur Veda.

Dalam Rgveda 4.17.13 Indra disebut sebagai Asanimana yang artinya Ia yang menguasai petir. Lebih lanjut dalam Kausitaki Brahmana 6.9, Indra disebut sebagai Asani (petir). Satapatha Brahmana mengatakan:

    “Siapakah Indra dan siapakah Prajapati? Petir adalah Indra dan Yajna adalah Prajapati.” -Satapatha Brahmana 11.6.3.9


Tegangan Permukaan
Vrtra menutupi seluruh semesta dan juga merupakan gaya kontraksi. Ini membawa realisasi langsung bahwa Vrtra tak lain adalah tegangan permukaan dari alam semesta. Setetes fluida cenderung menjadi bentuk spherical untuk mengurangi gaya permukaan.

Terdapat energi yang berhubungan dengan gaya permukaan, dan setiap sistem selalu berusaha mengurangi energinya. Inilah sebabnya mengapa gelembung berbentuk spherical (seperti bola) karena sphere (bola) merupakan konfigurasi dengan luas permukaan terendah. Jika alam semesta berekspansi, permukaannya cenderung meningkat, yang akan menaikkan total energi alam semesta. Tegangan permukaan akan beraksi mengurangi luas permukaan alam semesta, dengan kata lain tegangan permukaan akan berusaha mengkontraksi alam semesta.

Gaya repulsi listrik haruslah lebih besar dari tegangan permukaan pada saat elam semesta berekspansi. Inilah pertempuran besar kosmik antara Indra dan Vrtra, dan mendapat perhatian sangat besar dalam Rgveda karena hasil dari pertempuran ini akan menentukan apakah akan terbentuk alam semesta atau tidak. Rgveda melukiskan pertempuran ini dalam berbagai cerita, salah satunya adalah cerita tentang pembunuhan babi liar.

Pembantaian Varaha
Varaha mempunyai arti langsung yakni babi liar. Kata varaha diturunkan dari akar kata “Vr” yang secara etimologis berarti Ia yang menutupi/melingkupi. Jadi, secara etimologis arti dari Varaha dan Vrtra adalah sama. Bukanlah kebetulan jika Rgveda menjelaskan pembantaian Varaha dan juga Vrtra. Pembantaian Varaha dihubungkan dengan Visnu dan Trita.

    “Visnu membunuh Varaha dan mencuri makanan yang telah dimasak.”–Rgveda 1.61.7

    “Trita, diperkuat oleh Indra, membunuh Varaha menggunakan kuku besi.”- Rgvda 10.99.6


Varaha dan Vrtra dua-duanya merepresentasikan permukaan semesta. Trita dilukiskan sebagai memiliki kuku besi, yang menggambarkan sifat-sifat magnetis dari Trita.

Para pembaca yang mempunyai pengetahuan mendalam tentang teori kosmologi secara detail mungkin menganggap diskusi tentang tegangan permukaan ini sebagai sesuatu yang absurd, karena semesta seharusnya tidak mempunyai permukaan di awal penciptaannya.

Kenyataannya adalah para ilmuwan telah menemukan bukti adanya fenomena permukaan pada skala kosmologi, tapi gagal meng-identifikasi-kan-nya lebih lanjut. Para ilmuwan baru-baru ini menemukan gelembung dan rongga dalam skala kosmik, suatu tanda adanya tegangan permukaan.

Gelembung dan Rongga (Voids) di Angkasa Luar.
Salah satu asumsi penting yang mendasari kosmologi Big Bang adalah alam semesta dimana-mana sama (uniform). Artinya seluruh bagian alam semesta mempunyai massa jenis dan struktur yang sama. Dengan pertimbangan tersebut, pemilihan unit untuk dispersi massa-energi menjadi sangat penting. Kita tahu bahwa planet-planet dan bintang-bintang tidaklah terdistribusi merata. Para ilmuwan memilih skala yang lebih besar, pada awalnya dipercayai galaksi tersebar secara merata diseluruh angkasa luar.

Ketika Hubble melakukan survey pada 44,000 galaksi, Ia tidak menemukan distribusi merata, bahkan Ia menemukan pengelompokan (clustering). Penelitiannya dilanjutkan oleh Fritz Zwicky pada tahun 1938 yang menemukan juga bahwa galaksi mengelompok dan tidak terdistribusi merata. Hal ini yang mendasari bahwa kelompok galaksi (cluster of galaxies) adalah unit yang cocok [untuk model Big Bang-ed] dan kelompok galaksi ini tersebar secara merata di angkasa.

Galaksi kita, Bima Sakti (Milky Way), adalah bagian dari kelompok duapuluh lima galaksi. Astronomer Perancis Gerard de Vaucouleurs melakukan penelitian dalam skala yang lebih besar lagi pada tahun 1950, dan menemukan bahwa kelompok galaksi juga tidak terdistribusi merata.Ia mengelompokkan galaksi dalam supercluster yang mempunyai rentang 200 juta-tahun-cahaya. Para ilmuwan kemudian percaya bahwa supercluster galaksi ini adalah unit yang lebih tepat karena semesta tampak terdistribusi merata. Tapi ada lagi penemuan baru yang mendapatkan bahwa supercluster terletak pada gelembung raksasa. Didalam gelembung adalah rongga besar tanpa ada galaksi hampir tak ada massa dan energi.

Veda mempunyai referensi tentang struktur raksasa ini pada Satapatha Brahmana:

    “Ketika Apah dipanaskan, gelembung (Phena) tercipta” -Satapatha Brahmana 6.1.3.2


Definisi Apah sudah dijelaskan diatas bahwa itu bukan semata-mata air. Ada cukup referensi untuk membuktikan bahwa orang suci Veda menganggap Apah melingkupi seluruh alam semesta. Dengan tanpa mengetahui arti sains dari Apah, semua agama dan mitologi membicarakan alam semesta yang ditutupi oleh air pada awal penciptaan.

Mantram yang dikutip diatas, dengan jelas membuktikan bahwa orang suci Veda berpendapat bahwa tegangan permukaan bekerja sehingga Apah menjadi berbentuk gelembung. Ditemukannya gelembung raksasa dalam skala besar pada struktur alam semesta membuktikan adanya tegangan permukaan dalam evolusi semesta.

Karena ilmu pengetahuan modern gagal memasukkan tegangan permukaan dalam teorinya, tak heran setelah tujuh puluh tahun riset yang terus menerus belum juga mampu memprediksi evolusi alam semesta.

Sebabnya jelas. Seluruh framework Big Bang adalah salah.

[Kembali]




Hindu: Siklus Semesta

Sejarah bumi saat ini berada di jaman Kali yuga ke-28 pada tahun Brahma ke 51. Jaman kali yuga ini di mulai di Februari 3102 SM [Manusmrti 1:64-80; Surya Sidhantha 1:11-23] dan berakhir di 432.000 tahun kemudian.

Semesta merupakan proses yang tiada awal dan akhir. Rangkaian siklus Semesta yang terbagi kedalam 14 mavantara. Di setiap rangkaian tersebut didahului dengan banjir super besar di permukaan bumi, dan disetiap banjir super tersebut Manu menyelamatkan spesies dengan Perahu besar [Manusmrithi 1:64-80, matsya Purana] dan rangkaian diakhiri dengan Pralaya [Manu Smriti, Sacred Books of the East Vol. 25, translated by Georg Bühler, 1886, Chapter I, 79].

Setiap selesai 100 tahun Brahma akan ada MahaPralaya [Studies in Occult Philosophy 358, Occult Glossary 20-1, Secret Doctrine 1:368, 2:179, Fundamentals of the Esoteric Philosophy 145, 184, 468].

Pralaya merupakan sinonim dari Samhara, satu dari 5 fungsi Siwa. Pralaya(Sanskrit) artinya adalah berakhir, menyerap kembali alam di akhir jaman/kalpa; penghancuran dan Mati. Pralaya di Terminologi Hindu:

  1. Nitya pralaya berarti tidur, arti yang lebih luasnya adalah Mati, terjadinya kematian jiwa
  2. Laya atau Yuga Pralaya, di akhir Maha Yuga (4 yuga), terjadinya banyak sekali kematian (mis perang, gempa dll)
  3. Mavantara Pralaya, terjadi di setiap mavantara, jadi sebanyak 14 Mavantara, berupa banjir besar yang mendahului adanya Manu ‘manusia’
  4. Dina (hari) Pralaya atau Naimittik Pralaya atau pralaya, terjadi di akhir kalpa (1 hari penuh Brahma = 1000 Maha yuga), hancurnya semesta, Surga dan Neraka (3 dunia: Bhur, bhuwah, swaha)
  5. Mahapralaya, terjadi di akhir Maha Kalpa (100 Kalpa), atau di akhir usia Brahma, dimana 14 Dunia, 5 elemen(tatwa) 3 sifat (triguna) musnah. Jadi seluruh Brahmanda (telur yang mengembang, semesta dan segala isinya termasuk para deva) di serap kembali oleh Brahman.
  6. Aatyantika Pralaya, ‘tercapainya perjalanan jiwa lepas dari roda samsara’, khusus arti yang ini, maka waktu terjadinya adalah relatif.
  7. Philosophi samkya menyatakan bahwa pralaya berarti ‘kosong, tiada apapun, keadaan yang dicapai ketiga triguna (Satwam, rajas, tamas) berada pada kondisi yang balance, arti no 6 ini merupakan sinonim dari dari no 5, waktu terjadinya adalah relatif


Di ajaran Hindu, terdapat dua pendapat berkenaan dengan Apakah ada pengulangan penciptaan setelah Mahapralaya?

Pendapat pertama menyatkan bahwa siklus penciptaan sudah mencapai final dan tidak ada perulangan.

Pendapat lainya menyatakan bahwa ketika umur Brahma dan kemudian semesta diserap kembali oleh Brahman terjadi pengulangan proses Karena Brahma tercipta oleh Brahman, sebagaimana dikisahkan di Purana Srimad Bhagavatam 3.8.16-33, Brahma lahir di pusar perut Wisnu yang tengah berbaring di semesta yang dipenuhi cairan, Brahma mengalami kebingungan atas keberadaannya kemudian mencari tahu dan menemukan Visnu. Kemudian terdapat juga cerita di Siwa Purana dan Tamasika Purana, yang mengisahkan ketika Brahma menolak untuk memuja Visnu, mereka kemudian bertanding. Ditengah pertandingan muncullah Siva dan menegahi mereka melalui sayembara siapa yang tercepat diantara mereka untuk mencapai bagian terbawah Siva atau bagian teratas Siva maka dialah pemenangnya. Visnu segera merubah wujud sebagai Babi (Varaha) kemudian menuju kebawah, Brahma berubah menjadi Angsa menuju ke atas namun tidak ada dari mereka yang mencapainya.

Siklus umur Brahma di bagi dalam rangkaian Mavantara, di setiap Mavantara ada Manu, jadi terdapat 14 manu dalam 14 Mavantaranya. Manu berasal dari kata Manasa yang berarti mahluk yang memiliki kesadaran/berpikir. Manvantara berasal dari ‘Manu’ dan ‘antara’ yang artinya adalah interval antara dua Manu [Srimad-Bhagavatam 3.13.14-16] Manu bukan merupakan unit individu, Manu merupakan satu set ras manusia. Manu merupakan nama generik dari Pitr atau leluhur/asal muasal manusia [Secret Doctrine 2:308-9].

Jaman kita ini merupakan jaman Manu yang ke 7 dari 14 Manu yang akan ada di bumi ini:

  • Manvantara 1 – interval dari Swayambhu Manu (makhluk berpikir yang menjadikan dirinya sendiri) menurunkan 7 ras generasi di interval ini yaitu Saptarshis, Marichi, Atri, Angiras, Pulaha, Kratu, Pulastya, and Vashishtha [2][6].
  • Manvantara 2 – interval of Swarochisha Manu menurunkan 7 ras generasi di interval ini yaitu Urja, Stambha, Prańa, Dattoli, Rishabha, Nischara, and Arvarívat.
  • Manvantara 3 – interval of Auttami Manu menurunkan 7 ras generasi di interval ini yaitu Sons of Vashishtha: Kaukundihi, Kurundi, Dalaya, Śankha, Praváhita, Mita, and Sammita.
  • Manvantara 4 – interval of Támasa Manu menurunkan 7 ras generasi di interval ini yaitu Jyotirdhama, Prithu, Kavya, Chaitra, Agni, Vanaka, and Pivara.
  • Manvantara 5 – interval of Raivata Manu menurunkan 7 ras generasi di interval ini yaitu Hirannyaroma, Vedasrí, Urddhabahu, Vedabahu, Sudhaman, Parjanya, and Mahámuni.
  • Manvantara 6 – the interval of Chakshusha Manu menurunkan 7 ras generasi di interval ini yaitu Sumedhas, Virajas, Havishmat, Uttama, Madhu, Abhináman, and Sahishnnu.
  • Manvantara 7 (Saat ini) – interval of Vaivasvata Manu menurunkan 7 ras generasi di interval ini yaitu Kashyapa, Atri, Vashishtha, Vishvamitra, Gautama, Jamadagni, Bharadvaja [6].
  • 7 (Tujuh) Manu di Manvantara 8 s/d 14 Manvantara adalah: Arka Savarnika. Daksha Savarnika, Brahma Savarnika, Dharma Savarnika, Rudra Savarnika, Deva Savarnika or the son of clarity: Raucya dan terakhir adalah Indra Savarnika [Vishnu Purana, terjemahan oleh Horace Hayman Wilson, 1840, Book III: Chapter I. p. 259]


[Kembali]




Hindu: Sejarah Manusia – Manu

Setelah tercipta alam semesta, Dewa-Dewa, Gandarwa. Paisacha. Maka Brahman menciptakan tumbuhan, binatang dan manusia.

Brahman (Prajapati) menciptakan dua kekuatan yang disebut Purusa yaitu kekuatan hidup (batin/nama) dan Prakerti (pradana/rupa) yaitu kekuatan kebendaan. Kemudian timbul “cita” yaitu alam pikiran yang dipengaruhi oleh Tri Guna yaitu Satwam (sifat kebenaran/Dharma), Rajah (sifat kenafsuan/dinamis) dan Tamah (Adharma/kebodohan/apatis). Kemudian timbul Budi (naluri pengenal), setelah itu timbul Manah (akal dan perasaan), selanjutnya timbul Ahangkara (rasa keakuan). Setelah ini timbul Dasa indria (sepuluh indria/gerak keinginan) yang terbagi dalam kelompok

  • Panca Budi Indria yaitu lima gerak perbuatan/rangsangan: Caksu indria (penglihatan), Ghrana indria (penciuman), Srota indria (pendengaran), Jihwa indria ( pengecap), Twak indria (sentuhan atau rabaan)
  • Panca Karma Indria yaitu lima gerak perbuatan/penggerak: Wak indria(mulut), Pani (tangan), Pada indria (kaki), Payu indria (pelepasan), Upastha indria (kelamin)


Setelah itu timbulah lima jenis benih benda alam (Panca Tanmatra): Sabda Tanmatra(suara), Sparsa Tanmatra (rasa sentuhan), Rupa Tanmatra(penglihatan), Rasa Tanmatra (rasa), Gandha Tanmatra (penciuman).

Dari Panca Tanmatra lahirlah lima unsur-unsur materi yang dinamakan Panca Maha Bhuta, yaitu Akasa (ether), Bayu (angin), Teja (sinar), Apah (zat cair) dan Pratiwi (zat padat.)

Perpaduan semua unsur-unsur ini menghasilkan dua unsur benih kehidupan yaitu Sukla (benih laki-laki) dan Swanita (benih perempuan). Pertemuan antara dua benih kehidupan ini adalah pertemuan Purusa dengan Pradana maka terciptalah manusia.

    Dahulu kala Prajapati mencipta manusia bersama bhakti persembahannya dan berkata dengan ini engkau akan berkembangbiak dan biarlah dunia ini jadi sapi perahanmu-[Bhagavad-Gita 3.10]

    Beberapa jiwa memasuki kandungan untuk ditubuhkan; yang lain memasuki obyek-obyek diam sesuai dengan perbuatan dan pikiran mereka.-[Katha Upanisad 2.2.7]

    Mahluk-mahluk di dunia yang terikat ini adalah bagian percikan yang kekal (Brahman) dari Ku, mereka berjuang keras melawan 6 indria termasuk pikiran.-[Bagawad Gita 15.7]


Percikan dari Brahman itu dinamakan Atman/jiwatman. Atman itu tak terlukai oleh senjata, tak terbakar oleh api, tak terkeringkan oleh angin, tak terbasahkan oleh air, abadi, di mana- mana ada, tak berpindah- pindah, tak bergerak, selalu sama, tak dilahirkan, tak terpikirkan, tak berubah dan sempurna tidak laki- laki ataupun perempuan.

Percikan itulah yang menghidupkan/menggerakan manusia. Atman/roh/jiwa menghidupkan sarwa prani (makhluk di alam semesta ini). Indria tak dapat bekerja bila tak ada atman. Misalnya telinga tak dapat mendengar bila tak ada atman, mata tak dapat melihat bila tak ada atman, kulit tak dapat merasakan bila tak ada atman. Badan jasmani bisa berubah, lahir, mati, datang dan pergi, namun Atma tetap langgeng untuk selamanya.

    Ibarat orang meninggalkan pakian lama dan menggantinya dengan yang baru, demikian jiwa meninggalkan badan tua dan memasuki jasmani baru.-[Bhagawad Gita II.22]

    Maya tanpa kecerdasan dan Material mempunyai sifat: kebaikan/selaras (satwam), nafsu/kekuatan (rajas) dan kebodohan/kelambaman (tamas)” -[Siwa Samhita 1.79] Mahluk hidup diikat oleh sifat-sifat tersebut dan sulit dikendalikan……-[Bhagawad Gita 14.5]


Atma/Jiwatman bersifat abadi, namun karena Maya, maka Jiwatma tidak mengetahui asalnya yang sesungguhnya. Keadaan itu disebut “Awidya”. Hal tersebut mengakibatkan Jiwatman mengalami proses kelahiran kembali yang berulang-ulang.

Kelahiran kembali (Punarbhawa/Reinkarnasi) terjadi karena Ia harus menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang terdahulu (karma). Dalam ajaran tersebut, bisa dikatakan manusia menentukan nasib baik/buruk yang akan ia jalani sementara Tuhan yang menentukan kapan hasilnya diberikan (baik semasa hidup maupun setelah lahir kembali.

Apabila manusia tidak sempat menikmati pada kehidupan saat ini, maka akan dinikmati pada kehidupan selanjutnya. Karma merupakan hukum sebab akibat. keadaan manusia (baik suka maupun duka) disebabkan karena hasil perbuatan manusia itu sendiri, baik yang ia lakukan pada saat ia menjalani hidup maupun apa yang ia lakukan pada saat ia menjalani kehidupan sebelumnya.

Perputaran itu tidaklah terputus sampai Ia melepas belenggu Maya dan menghancurkan Awidya/ketidaktahuan. Tujuan dari kelahiran kembali adalah proses penyatuan Atman dan Brahman. Moksa adalah tercapainya persatuan tersebut.

Menurut ‘secret doctrine’ karangan H.P. Blavatsky, juga tulisan David Pratt dan G. de Purucker yang mengulas siklus manusia di setiap Mavantara menyatakan bahwa generasi akar pertama 7 akar ras manusia berasal berasal dari dunia lain (Astral). Ras ini muncul disekitar 150 juta tahun. Beranak pinak hingga masing-masing menghasilkan 7 kelompok sub ras [secret doctrine 2:1] Masing-masing dari 7 akar asal itu berbeda secara potensi, kapabilitas mental, bentuk fisiknya dan karakteristiknya sehingga ada yang berbentuk lebih baik dari yang lainnya yang tergantung dari karma dan hasil kelahiran kembali di dunia sebelumnya [Secret doctrine 2:249]

Bumi kita ini di masa generasi pertama ras akar manusia adalah lebih ringan/halus relatif keras dan padat dari bumi saat ini. Mahluk-mahluk tersebut juga lebih halus, tembus cahaya berisi cairan tanpa tulang, rambut kulit dan organ-organ mereka lama kelamaan berubah menjadi lebih padat namun tetap ringan pada hingga akhir jamannya, mereka tidak berjenis kelamin, kelahiran kembali mahluk berikutnya terjadi dengan cara pembelahan. Tinggi tubuh mereka adalah ratusan kaki, indera yang dikembangkan mereka adalah indera pendengaran

Generasi akar ras ke 2 merupakan kelanjutan dari kelompok akar generasi pertama, yang terjadi di sekitar 25-30 Juta tahun yang lalu. Mereka ini berkembang menjadi mahluk semi astral yang lebih berat, lebih padat lebih seperti agar-agar, tulang, rambut, kulit dan organnya tumbuh namun belum sempurna daripada generasi pertama dan mulai nampak gambaran kasar bentuk manusia. Ras generasi kedua ini beranakpinak secara aseksual sedikit menyerupai ras pertama. Tinggi tubuh ratusan kaki. Indra yang dikembangkan pada generasi kedua ini adalah indera perasa

Dua generasi pertama cenderung tidak mempunyai kesadaran pikiran secara mental seperti anak kecil.

Generasi akar ras ke 3 adalah Lemurian, badannya lebih keras lagi dari yang kedua, yang perlahan berkembang menjadi tulang, otot, system syaraf dan pembuluh darah, tubuh memadat seperti organ sekarang, mereka terlepas dari ras astralnya, di awal generasi ketiga masih secara aseksual namun berkembang menjadi hemaprodit, generasi ketiga masih tidak memerlukan makanan seperti kita sekarang Ia mengambil material kedalam tubuhnya mirip seperti berosmosis. Ketika energi vital mereka habis, mereka tertidur dan kemudian menghilang. Itulah kematian bagi mereka. Permulaan tinggi tubuh mereka mecapai 60 kaki namun di generasi berikutnya berkurang menjadi 25 kaki

Pada 320 Juta tahun hingga 4.5 juta tahun, terdapat evolusi juga pada mahluk-mahluk baru yaitu burung-burung, binaang melata, ampibi, ikan dan mahluk invertebrata. Mahluk yang lebih tinggi berasal dari jenis ras manusia sebelumnya, yaitu disetelah ras generasi ke dua dan diawal generasi ke 3, bentuk fisik mamalia terbentuk lebih dahulu dari pada ras manusia terpisah menjadi pria dan wanita dari pada ras manusia generasi ke tiga.

Manusia, Kera dan Monyet mempunyai nenek moyang yang sama yang berasal dari generasi manusia. Dalam Studies in Ocult Phiillosophy hal. 123 dikatakan bahwa perkembangan generasi kera berakhir di generasi ke 5 dan juga semua binatang secara perlahan akan punah di jutaan tahun kedepan. Binatang-binatang ini akan muncul kembali di Mavantara berikutnya.

Perkembangan manusia secara hemaprodit berakhir di akhir jaman generqasi ke 3 ini dan terjadi perbedaan seksual, kesararan berpikirpun perlahan menguat seiring perkembangan keadaan fisik mereka. Perkembangan ini merupakan terminologi manasaputra yang memiliki keinginan dan pilihan. Mereka mulai jatuh lebih dalam kepada materi antara dorongan spritual dan binatang. Dua dari generasi sub ras akhir Lemurian membangun kota dan mengembangkan seni dan pengetahuan. Generasi Lemuria ini berada di pusat Benua PasifiK, yang kemudian hancur di 8 juta tahun lalu.

Generasi lemurian ini memiliki mata ketiga dan dua mata seperti kita berkembang lebih belakangan, mata ini disebut mata siwa/mata spiritual. Seiring dengan berkembangnya alat seksual, maka kecenderungan sikap lemurian makin ke arah materi dan sensualitas, mata ketiga mulai kehilangan kekuatannya dan perlahan menghilang. Indra yang dikembangkan digenerasi ini adalah indera penglihatan

Kebangkitan pikiran yang berawal di generasi ketiga ini menjadi penuh di generasi ke 5 pada sekitar 18.5 juta tahun yang lalu, namun ‘mano/manah’ (prinsip kelima) belum sepenuhnya berkembang hingga generasi ke 5

Generasi ke 4 ras akar manusia adalah Atlantis, terjadi di 10 hingga 12 Juta tahun yang lalu. Tubuh berkembang lebih kasar lagi di sekitar 4.5 juta tahun. Mereka mengembangkan peradaban yang mengagumkan. Generasi ini tenggelam 850.000 tahun yng lalu, kemudian bagian kecilnya hingga 10.5 Ribu tahun yang lalu. Tinggi tubuh sekitar 20-30 kaki dan terus mengecil

Generasi ke 5 yaitu Ras Arya atau indo eropa yang kemudian menjadi ras langka disekitar 1 juta tahun sebelumnya di Central asia, saat ini kita mendekati pertengahan generasi ke 5.

Bibit dari generasi ke 6 akan muncul di benua amerika, di akhir Kaliyuga akan berjumlah besar, Hemaprodit akan muncul kembali anak-anak akan diciptakan melalui Kriyasakti (atas dasar kehendak dan imaginasi) Daging dan tubuh generasi ke 6 akan berkembang lebih lembut dan lunak, generasi ke 6 akan bertahan hingga 1.5 Maha yuga atau lebihd dari 6 Juta tahun dan generasi ke 7 akan lebih pendek lagi [Studies in Occult Philosophy 39, 165-6, 639-40; Dialogues of G. de Purucker 2:215-7; Fountain-Source of Occultism 165-6; Secret Doctrine 2:444-6.]. Di generasi ke 7 ras manusia akan tembus cahaya, secara tubuh akan lebih kecil dari generasi saat ini namun lebih intelek dan lebih spritual

[Kembali]




Buddha: Penciptaan Semesta

Sang Buddha menyebut tentang asal dan perluasan alam semesta hanya sepintas lalu. Beliau tidak menganggap mengetahui hal tersebut secara detail adalah lebih penting dibanding masalah utama manusia yakni mengakhiri penderitaan dan mencapai kebahagiaan Nibbana (Sansekerta: Nirwana). Ketika seorang sekali waktu mendesak Sang Buddha untuk menjawab pertanyaan tentang luasnya alam semesta, Sang Buddha membandingkan keadaan tersebut dengan perumpamaan sebagai berikut: ‘seorang yang terkena panah beracun, namun menolak diobati dan dicabuti anak panah tersebut, sebelum orang tersebut mengetahui secara jelas siapa yang melepaskan anak panah tersebut’. Sang Buddha, lalu bersabda:

    Menjalani hidup yang suci tak dikatakan tergantung apakah alam semesta ini terbatas atau tidak, atau keduanya atau tidak keduanya. Sebab apakah alam semesta ini, terbatas atau tidak; tetaplah ada kelahiran, tetap ada usia-lanjut, tetap ada kematian, kesedihan, penyesalan, penderitaan, keperihan dan keputusasaan; dan untuk mengatasi semua itulah semua yang Saya ajarkan.[Majjhima Nikaya, I: 430; Juga lihat di Cula Malunkyaputta Sutta [MN.063], Kokanuda Sutta [AN 10.096], Ditthi Sutta [An 10.093]]


Pengetahuan tentang bagaimana alam-semesta terjadi, kita tidak akan dapat mengatasi penderitaan, pula tidak akan dapat mengembangkan kemurahan hati, kebajikan dan cinta kasih. Buat Sang Buddha pertanyaan menyangkut hal-hal ini adalah jauh lebih penting dari pada spekulasi tentang asal-mula alam semesta.

Perkembangan dari Ilmu Fisika moderen saat ini telah sampai pada kesimpulan bahwa alam semesta tidak berawal secara serentak. Alam semesta secara berkesinambungan berubah dari suatu keadaan ke keadaan yang lain, terbentuk dan hancur, suatu proses tanpa awal dan akhir. Dengan sendirinya, bila dinyatakan, bahwa bila alam semesta berawal secara serentak, maka Big Bang adalah bagian dari proses tersebut dan diperlukan energi awal yang terjadi dari sesuatu yang tidak ada, dan hal ini jelas bertentangan dengan kaidah ilmu pengetahuan.

Tak Dapat ditentukan Awal, tidak ada Maha Pencipta
Sang Buddha berpendapat, bahwa alam semesta, yang disebut Beliau sebagai Samsara, adalah tanpa awal. Beliau bersabda:

    Tidak dapat ditentukan awal dari alam semesta. Titik terjauh dari kehidupan, berpindah dari kelahiran ke kelahiran, terikat oleh ketidaktahuan dan keinginan, tidaklah dapat diketahui [Samyutta Nikaya, II: 178].


Karena tanpa awal, maka konsekuensinya ‘Mahluk Pencipta Maha Kuasa’-pun merupakan bagian dari perpindahan dari kelahiran ke kelahiran terikat oleh ketidaktahuan dan keinginan sehingga tidak mengawali alam semesta. Sang Buddha pun menjelaskan mengapa konsep ‘Maha Pencipta itu muncul’

    Para bhikkhu, pada suatu masa yang lampau setelah berlangsungnya suatu masa yang lama sekali, ‘bumi ini belum ada’. Ketika itu umumnya makhluk-makhluk hidup di alam dewa Abhassara3), di situ mereka hidup ditunjang oleh kekuatan pikiran, diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya dan melayang-layang di angkasa hidup diliputi kemegahan, mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

    Demikianlah, pada suatu waktu yang lampau ketika berakhirnya suatu yang lama sekali, Alam/dunia ini mulai berevolusi dalam pembentuk, ketika hal ini terjadi alam Brahma1) kelihatan dan masih kosong. Ada makhluk dari alam dewa Abhassara yang ‘masa hidupnya2) atau ‘pahala kamma baiknya’ 3) untuk hidup di alam itu telah habis, ia meninggal dari alam Abhassara itu dan terlahir kembali di alam Brahma. Disini, ia hidup ditunjang pula oleh kekuatan pikirannya diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya-cahaya yang melayang-layang di angkasa, hidup diliputi kemegahan, ia hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

    Karena terlalu lama ia hidup sendirian di situ, maka dalam dirinya muncullah rasa ketidak puasan, juga muncul suatu keinginan, ‘O, semoga ada makhluk lain yang datang dan hidup bersama saya di sini! Pada saat itu ada makhluk lain yang disebabkan oleh masa usianya atau pahala kamma baiknya telah habis, mereka meninggal di alam Abhassara dan terlahir kembali di alam Brahma sebagai pengikutnya, tetapi dalam banyak hal sama dengan dia.

    Para bhikkhu, berdasarkan itu, maka makhluk pertama yang terlahir di alam Brahma berpendapat : “Saya Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan Dari Semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada4). Semua makhluk ini adalah ciptaanku”. Mengapa demikian? Baru saja saya berpikir, ‘semoga mereka datang’, dan berdasarkan pada keinginanku itu maka makhluk-makhluk ini muncul. Makhluk-makhluk itu pun berpikir, ‘dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. Kita semua adalah ciptaannya. Mengapa? Sebab, setahu kita, dialah yang lebih dahulu berada di sini, sedangkan kita muncul sesudahnya”.

    “Para bhikkhu, dalam hal ini makhluk pertama yang berada di situ memiliki usia yang lebih panjang, lebih mulia, lebih berkuasa daripada makhluk-makhluk yang datang sesudahnya.

    Para bhikkhu, selanjutnya ada beberapa makhluk yang meninggal di alam tersebut dan terlahir kembali di dunia/alam ini. Setelah berada di Alam/dunia ini ia meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjadi pertapa. Karena hidup sebagai pertapa, maka dengan bersemangat, tekad, waspada dan kesungguhan bermeditasi, pikirannya terpusat, batinnya menjadi tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat kembali satu kehidupannya yang lampau, tetapi tidak lebih dari itu.

    Mereka berkata : “Dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Masa Kuasa, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. Dialah yang menciptakan kami, ia tetap kekal dan keadaannya tidak berubah, ia akan tetap kekal selamanya, tetapi kami yang diciptakannya dan datang ke sini adalah tidak kekal, berubah dan memiliki usia yang terbatas.”

    “Para bhikkhu, inilah pandangan pertama tentang asal mula dan dasar dari ajaran beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan – Semi-Eternalis pada hal-hal tertentu, yang berpendapat bahwa ‘atta’ dan ‘loka’ sebagian kekal dan sebagian tidak kekal”.[Brahmajala Sutta, Diterbitkan oleh Badan Penerbit Buddhis ARYASURYACANDRA, 1993]

    Catatan:

    1. ekacca-sassatika ekacca-asassatika
    2. ayam loko samvattati (alam ini belum berevolusi untuk terbentuk).
    3. alam dewa brahma yang dicapai sebagai hasil meditasi sampai Jhana II
    4. Aham asmi Brahma Maha-Brahma abhibhu anabhib bhuto annad-atthu-daso vasavatti issaro katta nimmata settho sanjita vasi pita bhuta-bhavyanam..


Menurut yang diyakini oleh para ilmuwan saat ini, Alam semesta merupakan suatu sistim yang berdenyut, yang setelah mengembang secara maksimal, lalu menciut dengan segala energi yang ditekan pada suatu bentukan masa; sedemikan besar sehingga menyebabkan ledakan, yang disebut sebagai “big bang”, yang berakibat pelepasan energi. Pengembangan dan penciutan alam semesta berlangsung dalam kurun waktu milyaran tahun. Sang Buddha telah memaklumi pengembangan dan penciutan alam semesta. Beliau bersabda:

    Lebih awal atau lebih lambat, ada suatu waktu, sesudah masa waktu yang sangat panjang sekali alam semesta menciut …….Tetapi lebih awal atau lebih lambat, sesudah masa yang lama sekali, alam semesta mulai mengembang lagi [Digha Nikaya, III: 84].

    Suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini hancur…setelah selang suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini mulai terbentuk kembali. [AGANNA SUTTA (27), DIGHA NIKAYANGUTTARA NIKAYA]


Penemuan teleskop konvensional dan teleskop radio belakangan kemudian, telah memungkinkan para ahli astronomi untuk mengetahui bahwa alam semesta terdiri dari sekian milyar bintang, planet, asteroid dan komet. Semua benda langit tersebut berkelompok dalam bentuk cakram atau spiral yang disebut galaksi. Planet bumi kita hanya satu titik kecil yang terdapat pada suatu galaksi yang diberi nama Bimasakti (Inggeris: Milky Way). Bimasakti atau Milky Way terdiri atas kurang lebih 100 milyar bintang dengan jarak dari ujung ke ujung 60.000 tahun cahaya. Telah diketahui pula bahwa galaksi-galaksi di alam semesta ini tersusun berkelompok. Kelompok galaksi dimana Bimasakti kita berada terdiri dari dua lusin galaksi; kelompok lain, kelompok Virgo misalnya terdiri dari ribuan galaksi.

Dibalik kenyataan; bahwa tata surya, galaksi, dan kelompok galaksi baru diketahui di dunia Barat setelah penemuan peralatan canggih; kitab suci Agama Buddha telah banyak menyebutkan hal tersebut ribuan tahun sebelumnya. Penganut agama Buddha sejak zaman dahulu telah menggambarkan galaksi sebagai berbentuk spiral. Istilah dalam bahasa Pali untuk galaksi adalah “cakkavala”; yang berasal dari kata “cakka”, yang berarti cakram / roda. Sang Buddha secara sangat jelas dan tepat menggambarkan kelompok-kelompok galaksi, yang oleh para ilmuwan baru ditemukan. Beliau menyebutnya sebagai sistim dunia (lokadhatu) dan menambahkan perbedaan dalam ukurannya: sistim dunia ribuan-lipat, sistim dunia puluhan ribu-lipat, sistim dunia besar, dan seterusnya. Beliau menyebutkan sistim dunia terdiri dari ribuan matahari dan planet, walau sebenarnya oleh para ahli astronomi menyebutnya sebagai jutaan.

    “Ananda, apakah kau pernah mendengar tentang seribu Culanika loka dhatu (tata surya kecil)? … Ananda, sejauh matahari dan bulan berrotasi pada garis orbitnya, dan sejauh pancaran sinar matahari dan bulan di angkasar, sejauh itulah luas seribu tata surya.

    Di dalam seribu tata surya terdapat seribu matahari, seribu bulan, seribu Sineru, seribu Jambudipa (Jambudipa, dapat berarti India dan/atau kontinent/Bumi), seribu Aparayojana, seribu Uttarakuru, seribu Pubbavidehana… Inilah, Ananda, yang dinamakan SERIBU TATA SURYA KECIL. (SAHASSI CULANIKA LOKADHATU ).

    Ananda, seribu kali Sahassa Culanika Lokadhatu dinamakan “DVISAHASSA MAJJHIMANIKA LOKADHATU”. Ananda, seribu kali Dvisahassa Majjhimanika Lokadhatu dinamakan “TISAHASSI MAHASAHASSI LOKADHATU”.

    Ananda, bilamana Sang Tathagata ( sebutan lain bagi Sang Buddha Gotama ) mau, maka ia dapat memperdengarkan suara-Nya sampai terdengar di Tisahassi Mahasahassi Lokadhatu, ataupun melebihinya lagi.”

    tiga Lipat Sistem jagad raya (tri-sahasra-mahasahasra-dhatu):

    1. Sahassi Culanika lokadhatu berisi 1000 x 1000 [matahari, bulan dan tempat tinggal para mahluk (termasuk alam Brahma)],
    2. Dvisahassi Majjhimanika lokadhatu, yang berisi 1000 sahassi culanika lokadhatus
    3. Tisahassi Mahasahassi lokadhatu, yang berisi 1000 dvisahassi majjhimanika lokadhatus or 1000 x (1000)3 tata surya.[Anguttara-nikaya, vol. i, p. 226, P.T.S., London; Samyutta-nikaya Atthakatha, vol. ii, p. 525, P.T.S., London; [1]]

    tri-sahasra-mahasahasra-dhatu (Tiga lipat semesta jagad raya):

      Dalam Terminologi Buddhis tentang semesta jagad besarannya adalah Tri-sahasra-mahasahasra-dhatu yang berisikan sistem jagad raya yang berisikan (1000)3 x 1000 tatasurya. Di setiap arah dari sistem jagad semesta ini meluas/mengembang, beberapa lingkar tidak berpenghuni beberapanya berpenghuni. Tak terhitung banyaknya di lautan langit luas bagai tak bertepi, apa yang kita lihat barulah sebagian kecilnya.

    Di beberapa tempat Kanonikal teks Pali dan kitab komentar terdapat pula pengertian dasasahassi lokadhatu, yang berarti 10 lipat system jagad raya! [Buddhavansa Atthakatha, p. 158, P.T.S., London; [2]] Tidaklah terbayangkan seperti apa;


Kemudian, dalam satu Sutra Mahayana, yaitu Avatamsaka Sutra, bab 4, dinyatakan seperti ini:

    [..] Pada saat itu, Bodhisattva melanjutkan, “Para Murid Buddha, lautan Dunia [system dunia] memiliki aneka bentuk dan karakteristik. Mereka bisa bulat atau persegi, atau tidak bulat atau tidak persegi. Variasinya tak terbatas. Beberapa berbentuk seperti pusaran air, seperti semburan api gunung berapi, seperti pepohonan atau bunga, seperti Istana atau seperti suatu mahluk hidup, seperti Buddha. Variasinya sebanyak partikel debu [..]”

    [Note: Verifikasi sutta-sutta termasuk sutra mahayana ini juga dilakukan di Konsili ke-3 (247 SM), penterjemahan pertama kedalam bahasa China dilakukan secara bertahap mulai di abad ke-2 Masehi]


Dahulu, dalam waktu yang sangat lama, manusia tidak dapat membayangkan luas alam-semesta baik dalam satuan waktu maupun ruang untuk dapat memahami asal dan luas alam-semesta. Pemikiran saat itu terbatas serta terikat ke pemahaman dunia semata. Didalam Bible misalnya, dipahami bahwa seluruh alam-semesta diciptakan dalam enam hari dan penciptaan itu terjadi barulah beberapa ribu tahun lalu.

Saat ini, para ahli astronomi menghitung bintang dalam satuan ribuan-milyar dan mengukur jarak alam semesta dalam satuan tahun cahaya; satu tahun cahaya adalah jarak yang dapat ditempuh oleh cahaya dalam waktu satu tahun. Manusia zaman dulu jelas tidak dapat membayangkan dimensi seperti itu. Sang Buddha memahami konsep dari alam semesta yang tak terbatas menyebut adanya:

    ..daerah gelap, hitam, kelam diantara sistim-sistim dunia, sedemikian rupa hingga cahaya matahari dan bulan sekalipun tak dapat mencapainya …….” [Majjhima Nikaya, III: 120].


[Kembali]




Buddha: Sejarah Manusia

Bagaimana dan kapan kehidupan bermula adalah misteri dan mungkin akan tetap demikian. Kebanyakan agama-agama menyatakan bahwa Tuhan mereka masing-masing yang menciptakan kehidupan. Namun pernyataan demikian belum tentu dapat menjawab bagaimana kehidupan dimulai, sebab bila Tuhan adalah makhluk-hidup, maka dengan demikian harus sejalan dengan pemahaman, bahwa ‘hidup berasal dari hidup’. Dan, dalam hal ini belum dapat diterangkan bagaimana kehidupan Tuhan (sebagai suatu pribadi) dimulai. Terpisah dari legenda-legenda, maka selama ini, ada dua teori ilmiah yang mencoba menerangkan bagaimana kehidupan bermula di dunia ini.

Pertama,
Hipotesa Haldane-Oparin, yang dinamai sesuai nama dua sarjana yang pertama yang mengemukakan bahwa bahan organik berasal dari bahan anorganik [John Reader. The Rise of Life. New York, 1986]. Menurut hipotesa mereka, pada zaman lampau, campuran dari gas anorganik yang sederhana larut dalam laut, lalu dengan energi matahari membentuk molekul prasejarah yang pertama; molekul ini kemudian merupakan prasyarat bermulanya kehidupan. Hipotesa ini adalah yang paling diterima dalam menerangkan asal kehidupan.

Kemudian,
baru–baru ini, Sir Fred Hoyle dan Professor Chandra Wickramasinghe menyajikan hipotesa yang sangat berbeda [Sir Fred Hoyle and Chandra Wickramasinghe. Lifecloud. New York, 1978]. Mereka mengatakan bahwa bentuk kehidupan yang sederhana ber-evolusi di angkasa luar lalu terbawa ke bumi oleh meteor-meteor dan ekor komet yang sedang melintas. Namun, cara bagaimanapun kehidupan dimulai, pada kenyataannya telah pernah ditemukan bukti-bukti berupa fosil berbentuk batang yang menyerupai ganggang dan bakteri primitif kita saat ini, yang telah ada sejak 2,7 milyar tahun lalu.

Hampir semua ahli sependapat bahwa bentuk kehidupan awal berkembang dipermukaan laut.

Sang Buddha memberi gambaran bagaimana kehidupan berawal dibumi, ketika alam-semesta mulai mengembang, alam yang telah ada barulah alam surga (alam-dewa). Beliau menjelaskan kepada seorang yang bernama Vasetha:

    Vasettha, terdapat suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini hancur. Dan bilamana hal ini terjadi, umumnya mahluk-mahluk terlahir kembali di Abbassara (Alam Cahaya); di sana mereka hidup dari ciptaan batin (mano maya), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan. Mereka hidup secara demikian dalam masa yang lama sekali.

    Vasettha, terdapat juga suatu saat, cepat atau lambat, setelah selang suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini mulai terbentuk kembali.

    Dan ketika hal ini terjadi, mahluk ­mahluk yang mati di Abhassara (Alam Cahaya), biasanya terlahir kembali di sini sebagai manusia. Mereka hidup dari ciptaan batin (mano maya), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan. Mereka hidup secara demikian dalam masa yang lama sekali.

    Pada waktu itu semuanya terdiri dari air/cairan, gelap gulita. Tidak ada matahari atau bulan yang nampak, tidak ada bintang-bintang maupun konstelasi-konstelasi yang kelihatan; siang maupun malam belum ada, bulan maupun pertengahan bulan belum ada, tahun-tahun maupun musim-musim belum ada; laki-laki maupun wanita belum ada. Mahluk­mahluk hanya dikenal sebagai mahluk-mahluk saja.

    Vasettha, cepat atau lambat setelah suatu masa yang lama sekali bagi mahluk-mahluk tersebut, tanah dengan sarinya muncul ke luar dari dalam air.

    Sama seperti bentuk-bentuk buih (busa) di permukaan nasi susu masak yang mendingin, demikianlah munculnya tanah itu. Tanah itu memiliki warna, bau dan rasa. Sama seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warnanya tanah itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manisnya tanah itu.

    Kemudian, Vasettha, di antara mahluk mahluk yang memiliki pembawaan sifat serakah (lolajatiko) berkata: O apakah ini? dan mencicipi sari tanah itu dengan jarinya. Dengan mencicipinya, maka ia diliputi oleh sari itu, dan nafsu keinginan masuk dalam dirinya. Dan mahluk-mahluk lainnya mengikuti contoh perbuatannya, mencicipi sari tanah itu dengan jari jarinya. Dengan mencicipinya, maka mereka diliputi oleh sari itu, dan nafsu keinginan masuk ke dalam diri mereka. Maka mahluk-mahluk itu mulai makan sari tanah, memecahkan gumpalan-gumpalan sari tanah tersebut dengan tangan mereka.

    Dan dengan melakukan hal ini, cahaya tubuh mahluk-mahluk itu menjadi lenyap. Dengan lenyapnya cahaya tubuh mereka, maka matahari, bulan, bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi nampak. Demikian pula dengan siang dan malam, bulan dan pertengahan bulan, musim-musim dan tahun-tahun pun terjadi. Demikianlah, Vasettha, sejauh itu dunia terbentuk kembali.

    Vasettha, selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati sari tanah, memakannya, hidup dengannya, dan berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali.

    Berdasarkan atas takaran yang mereka makan itu, maka tubuh mereka menjadi padat, dan terwujudlah berbagai macam bentuk tubuh. Sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang buruk. Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk, dengan berpikir : Kita lebih indah daripada mereka, mereka lebih buruk daripada kita. Sementara mereka bangga akan keindahannya sehingga menjadi sombong dan congkak, maka sari tanah itupun lenyap. Dengan lenyapnya sari tanah itu, mereka berkumpul bersama-sama dan meratapinya: “Sayang, lezatnya! Sayang lezatnya!” Demikian pula sekarang ini, apabila orang menikmati rasa enak, ia akan berkata: “Oh lezatnya! Oh lezatnya!; yang sesungguhnya apa yang mereka ucapkan itu hanyalah mengikuti ucapan masa lampau, tanpa mereka mengetahui makna dari kata-kata itu.

    Kemudian, Vasettha, ketika sari tanah lenyap bagi mahluk mahluk itu, muncullah tumbuh-tumbuhan dari tanah (Bhumi­pappatiko). Cara tumbuhnya adalah seperti tumbuhnya cendawan. Tumbuhan ini memiliki warna, bau dan rasa; lama seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warnanya tumbuhan itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manisnya tumbuhan itu. Kemudian mahluk­mahluk itu mulai makan tumbuh-tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut.

    Mereka menikmati, mendapatkan makanan, hidup dengan tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka berkembang menjadi lebih padat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas; sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk.

    Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk, dengan berpikir: Kita lebih indah daripada mereka; mereka lebih buruk daripada kita. Sementara mereka bangga akan keindahan dirinya sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan yang muncul dari tanah itu pun lenyap. Selanjutnya tumbuhan menjalar (badalata) muncul dan cara tumbuhnya adalah seperti bambu. Tumbuhan ini memiliki warna, bau dan rasa; sama seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warnanya tumbuhan itu; lama seperti madu tawon murni, demikianlah manisnya tumbuhan itu.

    Kemudian, Vasettha, mahluk-mahluk itu mulai makan tumbuhan menjalar tersebut. Mereka menikmati, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan menjalar tersebut, dan hal itu berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali.

    Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat; dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas; sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk. Dan karena keadaan ini; maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk, dengan berpikir : Kita lebih indah daripada mereka; mereka lebih buruk daripada kita. Sementara mereka bangga akan keindahan dirinya sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan menjalar itu pun lenyap. Dengan lenyapnya tumbuhan menjalar itu, mereka berkumpul bersama-sama meratapinya : “Kasihanilah kita, milik kita hilang! Demikian pula sekarang ini, bilamana orang-orang ditanya apa yang menyusahkannya, mereka menjawab : “Kasihanilah kita! Apa yang kita miliki telah hilang; yang sesungguhnya apa yang mereka ucapkan itu hanyalah mengikuti ucapan pada masa lampau, tanpa mengetahui makna daripada kata-kata itu.”

    Kemudian, Vasettha, ketika tumbuhan menjalar lenyap bagi mahluk-mahluk itu, muncullah tumbuhan padi (sali) yang masak dalam alam terbuka (akattha-pako), tanpa dedak dan sekam, harum, dengan bulir-bulir yang bersih. Bilamana pada sore hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan malam, maka keesokan paginya padi itu telah tumbuh den masak kembali. Bilamana pada pagi hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan siang; maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali; demikian terus-menerus padi itu muncul.

    Vasettha, selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati padi (masak) dari alam terbuka, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan padi tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali.

    Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas. Bagi wanita nampak jelas kewanitaannya (itthilinga) dan bagi laki-laki nampak jelas kelaki-lakiannya (purisalinga). Kemudian wanita sangat memperhatikan tentang keadaan laki-laki, dan laki-laki pun sangat memperhatikan tentang keadaan wanita. Karena mereka saling memperhatikan keadaan diri satu sama lain terlalu banyak, maka timbullah nafsu indria yang membakar tubuh mereka. Dan sebagai akibat adanya nafsu indria tersebut, mereka melakukan hubungan kelamin (methuna). [AGANNA SUTTA (27), DIGHA NIKAYANGUTTARA NIKAYA]


Kelahiran Kembali
Punabbhava berasal dari bahasa Pali yang terbentuk dari dua kata yaitu kata ”puna” dan ”bhava”. Kata ”puna” berarti lagi atau kembali, sedangkan ”bhava” berarti proses menjadi ada/eksis atau kelahiran. Jadi, secara harafiah, punabbhava berarti proses menjadi ada/eksis lagi atau kelahiran kembali atau tumimbal lahir.

Dalam proses kelahiran kembali tidak terjadi suatu perpindahan roh/jiwa/kesadaran ke dalam jasmani(rupa)yang baru. Kelahiran kembali adalah adanya proses berkesinambungan dari kesadaran (citta) pada kehidupan lampau dengan kesadaran (citta) kehidupan baru yang merupakan suatu aksi-reaksi. Oleh karena itu proses kelahiran kembali sangatlah berhubungan dengan proses kematian itu sendiri. Dan kedua proses yang berhubungan dengan batin ini sangatlah kompleks.

Sebagai contoh adalah sepeda, kendaraan beroda dua, Rodanya saja tidak dapat dikatakan sebagai sepeda, begitu pula stang, rem dan bahkan orang yang mengendarai. Untuk dikatakan sebagai seped, maka ia harus mempunyai stang, rem, ban, dll. Aksi perubahan dilakukan dengan tambahan mesin, maka ia bukan lagi sepeda, namun motor. Aksi perubahan bentuk apa pun bisa dilakukan misalnya kendaraan tersebut di modifikasi rodanya menjadi tiga, maka ia jadi Beca, dengan mesin maka jadilah ia bemo Dan jelas ia bukanlah lagi sebagai sepeda.

Guru Buddha menjelaskan dalam Satta Sutta; Radha Samyutta; Samyutta Nikaya 23.2 {S 3.189} bahwa makhluk hidup merupakan perpaduan dari lima kelompok (Panca Khandha), yang kelimanya dikelompokkan menjadi dua bagian. Pertama yaitu Rupa (jasmani/fisik/Materi) dan yang kedua adalah Nama(batin/pikiran). Baik fisik maupun batin ini tidak terlepas dari hukum perubahan, suatu saat muncul dan saat kemudian mengalami pemadaman/mati. Batin sendiri terdiri dari perasaan, pencerapan, bentuk-bentuk pikiran, dan kesadaran. Unsur-unsur batin ini disebut dalam bahasa Pali sebagai citta. Citta juga sering disebut dengan kesadaran. Citta/kesadaran ini mengalami kemunculan, pemisahan dan pemadaman/mati.

Pada saat seseorang mengalami kematian, jasmani tidak lagi bisa berfungsi untuk mendukung citta/kesadaran. Citta/kesadarannya pun akan mengalami pemadaman/kematian dan secara otomatis ia meneruskan kesan apapun yang tertanam padanya kepada Citta/kesadaran penerusnya yang tidak lain merupakan Citta/kesadaran pada kehidupan yang baru. Penerusan Kesadaran (Patisandhi Vinnana) ini terjadi dengan adanya peran dari Kamma yang pernah dilakukan.

Ketika jasmani mengalami kematian, dalam pikiran orang yang sekarat muncul kesadaran yang bernama Kesadaran Ajal (Cuti Citta). Ketika Kesadaran Ajal mengalami pemadaman juga, maka orang tersebut dikatakan sudah meninggal. Tetapi pada saat yang bersamaan pula (tanpa selang/jeda waktu) Citta/kesadaran kehidupan baru muncul. Dan saat itulah seseorang telah dilahirkan kembali, sudah berada dalam kandungan dengan jasmani yang baru berupa janin. Keseluruhan proses ini terjadi dalam waktu yang singkat.

[note: Pertumbuhan janin mingguan lihat di sini, di sini atau di sini. Jantung mulai berdetak di minggu ke 6 [36-42 hari setelah menstruasi], Otak mulai terbentuk di minggu ke 7, dengan rate bertumbuhan cel otak adalah 100/menit]

Perumpamaan Lilin
Api pada lilin tidak akan hidup tanpa adanya unsur-unsur pendukung seperti batang lilin, sumbu, dan udara (oksigen). Api yang menyala tersebut ternyata merupakan api yang berbeda karena tiap saat disokong oleh bagian dari batang lilin, sumbu dan molekul-molekuk udara yang berbeda. Meskipun disokong oleh unsur-unsur yang berbeda, tetapi api tersebut tetap menyala tanpa perlu padam kemudian menyala lagi. Dengan kata lain adanya proses yang berkesinambungan.

Api disini tidak lain adalah kesadaran, batang lilin dan sumbu adalah jasmani, dan udara adalah kamma. Jasmani dan kamma adalah penyokong keberlangsungan kesadaran.

Sang Buddha juga menjelaskan bagaimana cara kelahiran mahluk hidup:

    ”Sariputta, ada empat cara kelahiran. Apakah empat cara kelahiran itu? Kelahiran melalui telur (andaja yoni), kandungan (jalabuja yoni), tempat lembab (samsedaja yoni) dan kelahiran secara spontan (opapatika).

    Apakah kelahiran melalui telur? Ada makhluk-makhluk yang lahir dengan memecahkan kulit telur; ini yang disebut kelahiran melalui telur.

    Apakah kelahiran melalui kandungan? Ada makhluk-makhluk yang lahir melalui kandungan; ini yang disebut kelahiran melalui kandungan.

    Apakah kelahiran pada tempat lembab? Ada makhluk-makhluk yang lahir dalam ikan yang membusuk, mayat yang membusuk, adonan yang membusuk, atau dalam jamban atau dalam saluran air kotor; ini yang disebut kelahiran pada tempat lembab.

    Apakah kelahiran secara spontan? Ada dewa-dewa dan penghuni-penghuni neraka dan makhluk manusia tertentu dan para penghuni tertentu dari alam yang tidak menyenangkan, yang lahir (muncul) secara spontan; ini yang disebut kelahiran secara spontan. Inilah empat cara kelahiran.” [Mahasihanda Sutta; Majjhima Nikaya 12]

Dalam Mahatanhasankhaya Sutta; Majjhima Nikaya 38, Guru Buddha menjelaskan tiga tiga kondisi terjadinya kelahiran tertentu:

    “Para bhikkhu, embrio (dalam kandungan) terjadi karena penggabungan tiga hal, yaitu: adanya pertemuan ayah dan ibu, tetapi ibu tidak ada makhluk yang siap terlahir (kembali), dalam hal ini tidak ada pembuahan dalam kandungan; ada pertemuan ayah dan ibu, ibu dalam keadaan masa subur, tetapi tidak ada makhluk yang siap untuk terlahir (kembali), dalam hal ini tidak ada pembuahan dalam kandungan; tetapi ada pertemuan ayah dan ibu, ibu dalam keadaan masa subur dan ada makhluk yang siap terlahir (kembali), maka terjadi pembuahan karena pertemuan tiga hal itu.”

[Kembali]



Buddha: Siklus Semesta
Hukum Sebab-Akibat merupakan inti ajaran Sang Buddha. Dengan memahami Hukum Sebab-Akibat, Sang Buddha mencapai Pencerahan. Beliau bersabda, ‘Kebenaran yang sejati adalah Hukum Sebab Akibat. Tanpa mengerti pokok tersebut, maka seperti bola benang yang kusut, tidak mampu untuk menghentikan penderitaan dan kelahiran kembali.’

Terdapat dua Kebenaran yang harus disadari dalam Ajaran Sang Buddha yaitu Kebenaran Duniawi [Sammati-satya/Sammuti-sacca] dan Kebenaran Tertinggi/Akhir [Paramartha-satya/Paramattha-sacca]. Nagarjuna yang merupakan peletak dasar doktrin Sunyata dalam sekte Madhyamaka pada pertengahan abad kedua, mengatakan, “Ajaran Sang Buddha didasarkan atas dua Kebenaran, yaitu Kebenaran Duniawi (Sammuti-sacca/Sammati-satya) dan Kebenaran Tertinggi/Akhir (Paramattha-sacca/Paramartha-satya). Mereka yang tidak mengerti perbedaan antara dua Kebenaran ini tidak akan memahami arti yang mendalam dari Ajaran Sang Buddha.”

Teori alam semesta ajaran Buddha bersandar pada samvatta-kappa, vivatta-kappa (Anguttara Nikaya, Agganna Sutta) dan paticca-samuppada (hukum sebab akibat). Vivatta-kappa dapat diartikan sebagai ekspansi (pengembangan) waktu dan samvatta- kappa dapat diartikan sebagai kontraksi (pengerutan) waktu. Perputaran waktu samvatta dan vivatta ini disebut kappa (kalpa dalam bahasa Sanskerta) yang secara kasar diartikan sebagai masa waktu yang tidak dapat diperkirakan atau masa waktu yang sangat lama. Siklus evolusi alam semesta terjadi dalam hitungan Maha kalpa dan di bagi kedalam 4 Proses:

  • Vivartakalpa, selama kalpa ini semesta dibentuk dan menjadi ada ditandai dengan adanya kematian di alam Abhasvara dan terlahir kembali di alam Brahma.
  • Vivartasthāyikalpa, selama masa kalpa ini, semesta berada pada kondisi stabil, di tandai dengan adanya kelahiran kembali di alam Neraka
  • Saṃvartakalpa, selama masa kalpa ini, semesta menuju pada proses kehancuran di tandai dengan adanya tidak adanya mahluk yang lahir kembali di alam neraka
  • Saṃvartasthāyikalpa, selama masa kalpa ini semesta berada pada keadaan tiada apapun, ditandai dengan tidak adanya lagi mahluk di alam brahma.

Vivartakalpa
Vivartakalpa dimulai dengan munculnya angin/badai kuno, kemudian membangun struktur semesta yang telah hancur pada akhir MahaKalpa yang terakhir. Mahluk dari Alam yang lebih tinggi lahir kembali di alam yang lebih rendah. Contohnya Mahabrahma lahir kembali dari alam deva Abhasvara, terus ada hingga kelahiran kembali di alam neraka. Di Kalpa ini mahluk-mahluk itu lahir kembali menjadi manusia-manusia, mereka tidak menyerupai manusia saat ini, mereka lebih bersinar dengan cahayanya sendiri, melayang tanpa alat bantu, hidup sangat panjang dan tidak membutuhkan penopang hidup (misalnya makan, baju, dll) mereka itu seperti tipe deva alam deva paling rendah.

Lama kelamaan, mereka mencicipi makanan, tubuhnya menjadi berat dan terbentuk, sinar mereka hilang, muncul perbedaan kendahan diantara mereka, usia hidup berkurang, alat kelamin muncul dan melakukan hubungan seksual, keserakahan, pencurian, kekerasan diantara mereka, membangun peradaban sosial dan pemerintahan, memilih pemimpin, yang dinamakan Mahasammata, ‘Yang mulia yang disepakati’. Beberapa mulai berburu dan makan daging hewan, yang juga sudah terlahir kembali di kalpa ini [Anggana Sutta, Digha Nikaya 27]

Vivartasthāyikalpa,

Antarakalpa Pertama
Vivartasthāyikalpa, dimulai ketika mahluk terlahir kembali di alam neraka. Umur manusia terus berkurang dari beberapa ribuan tahun menjadi 100 tahun. Di awal antarakalpa ini, manusia secara umum berbahagia, mereka hidup di bawah pemerintahan ‘raja putaran roda’ (cakravartin) [Mahāsudassana-sutta, Digha Nikaya17]. Raja cakravartin, Mahāsudassana (Sanskrit: Mahāsudarśana) hidup selama 336,000 tahun. Generasi berikutnya dari cakravartin, Daḷhanemi (Sanskrit: Dṛḍhanemi) dan 5 keturunannya hidup lebih dari 80,000 tahun. Turunan ke 7, memecahkan tradisi dengan turun tahta sebelum waktunya, menyerahkan tahta pada anaknya. kemudian menjadi śramaṇa. Akibatnya adalah kemiskinan meningkat, pencurian dimulai, ada institusi hukuma menjadi ada, pembunuhan dan kejahatan merajalela. [Cakkavatti-sīhanāda-sutta, Digha Nikaya.26]

Umur manusia menjadi semakin berkurang dari 80,000 menjadi 100 tahun. Setiap generasi banyak kejahatan meningkat dan kemerosotan moral, penipuan, pelecehan, aktivitas kotbah penyesatan, keserakahan, kebencian, berpandangan salah, kawin dengan saudara kandung dan kegiatan seksual abnormal lainnya, tidak menghormati orang tua dan tetua. Selama periode ini, Tiga dari empat Buddha di antarakalpa hidup: Krakucchanda Buddha (Pāli: Kakusandha), berumur hingga 40,000 tahun; Kanakamuni Buddha (Pāli: Konāgamana), berumur hingga 30,000 tahun; dan Kāśyapa Buddha (Pāli: Kassapa) berumur hingga 20,000 tahun [Mahāpadāna-sutta, Digha Nikaya.14].

Kita berada di akhir antarakalpa pertama, umur kehidupan kurang dari 100 tahun. Śākyamuni Buddha (Pāli: Sakyamuni), berumur hingga 80 tahun.

Sisa di antarakalpa ini diramalkan menyedihkan: Kejahatan dan kemerosotan moral akan mencapai puncak kerusakannya. umur hidup semakin berkurang tidak akan lebih dari 10 tahun, menikah pada umur 5 tahun; Makanan akan lebih buruk dan kurang lezat; Bentuk moralitas akan tidak dikenali. Orang yang keji dan tidak bermoral akan menjadi pemimpin. Perkawinan antar saudara kandung merajalela. Kebencian antar masyarakat, sesama anggota keluarga tumbuh hingga masing-masing orang saling ‘memangsa’.

Selekasnya perang besar terjadi, semakin beringas, kejam dan biadab. Yang kurang agresif akan bersembunyi di hutan dan beberapa tempat rahasia, Perang ini akan menjadi tanda akhir antarakalpa pertama.

Antarakalpa Kedua
Di akhir peperangan, yang selama keluar dari persembunyiannya dan menyesali perbuatannya, Mereka mulai berkelakuan baik, umur mereka meningkat, kesehatan dan kesejahteraan meningkat. Umur ras manusia juga meningkat. Hingga waktu yang kemudian, keturunan-keturunan mereka yang berumur rata-rata 10 tahunan akan menjadi 80.000 tahun, Saat itulah akan ada raja cakravartin bernama Saṅkha. Di jaman itu pula Bodhisatva yang saat ini ada di Surga Tuṣita terlahir kembali ke alam manusia, Ia bernama Ajita. Ia akan memasuki hidup sebagai seorang śramaṇa, kemudian mencapai penerangan sempurna dan dikenal sebagai Buddha Maitreya (Pāli: Metteyya).

Setelah jaman Maitreya, dunia menjadi buruk kembali dan umur hidup perlahan berkurang dari 80,000 menjadi 10 tahun, perubahan tiap antarakalpa ditandai dengan adanya Perang yang sangat merusak, puncak antarakalpa ditandai dengan Peradaban tinggi dan moralitas. Setelah antarakalpa yang ke 19, Umur kehidupan meningkat menjadi 80.000 tahun dan tidak menurun lagi, Vivartasthāyikalpa akan menuju masa akhirnya.

Saṃvartakalpa
The Saṃvartakalpa dimulai dengan berhentinya kelahiran kembali di alam neraka yang berlanjut juga dengan penghentian kelahiran kembali di alam-alam yang lebih tinggi, misalnya, Preta/peta/mahluk halus/Jin, tidak ada lagi yang dilahirkan, kemudian binatang, kemudian manusia dan seterusnya hingga alam Deva.

Ketika alam-alam hingga Brahmaloka tidak lagi berpenghuni, Terjadilah kebakaran/panas yang dahsyat menghabiskan seluruh struktur pisik alam mulai alam Brahma, namun tidak alam yang diatasnya, Ābhāsvara. Ketika hancur maka mulailah the Saṃvartasthāyikalpa.

Saṃvartasthāyikalpa
Tidak ada apapun di Saṃvartasthāyikalpa, kecuali alam Ābhāsvara worlds keatas. In berkahir ketika Angin purba mulai bertiup dan membangun struktur semesta kembali.
Kehancuran lainnya

Kehancuran akibat panas/api adalah bentuk normal yang terjadi di akhir Saṃvartakalpa. Namun setiap 8 mahākalpa, yaitu setelah 7 kehancuran oleh pembakaran/panas, terdapat kehancuran disebabkan oleh cairan/air. Ini bahkan lebih merusak lagi, bukan hanya menghancurkan alam-alam Brahma namun juga alam-alam Ābhāsvara.

Setiap 64 MahaKalpa, yaitu setelah 56 Kehancuran oleh panas/pembakaran dan 7 kehancuran akibat cairan/air, terdapat kehancuran akibat angin. Ini menghancurkan bukan saja alam-alam Abhasvara namun juga alam Śubhakṛtsna. Alam yang lebih tinggi lagi dari alam Śubhakṛtsna tidak pernah mengalami kehancuran.

Sang Buddha, juga disebut sebagai ‘Pengenal alam semesta (Lokavidu) [Majjhima Nikaya, I:337]

[Kembali]



Abrahamic: Umur Semesta

Penciptaan semesta dan segala isinya tercantum Alkitab [Kejadian 1:1-31] Yaitu dilakukan 6 hari. Pada tradisi Yahudi dimulai pada Malam hari dan berakhir di sore Harinya.(Kejadian 1:19, Ulangan 16:6). Pada tradisi Islam, hari dimulai saat Subuh [Pagi] hingga esok menjelang Pagi. (Al An’nam 6:96, Al Furqon 25:47)

Di Qur’an, masa penciptaan adalah 6 hari, rujukan penyetaraannya telah disebutkan di atas, yaitu setara dengan 6000 tahun. Di tafsir Ibn Kathir mengutip riwayatkan oleh Sa’d ibn Abu Waqqas; AbuSa’id al-Khudri di hadis Abu dawud 37.4336 dan 25.3658, disampaikan ½ hari = 500 tahun.
Alkitab menyampaikan hal senada mengenai konversi perhitungan antara waktu Allah vs waktu Manusia:
Mazmur 90:4, “..di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin..”; II Petrus 3:8,”..satu hari sama seperti seribu tahun..”.


Jadi, penciptaan semesta selama 6 hari setara dengan 6000 tahun.

Kemudian,
kita juga dapat menghitung umur dari peradaban manusia mulai dari adam di bumi hingga saat ini:

  • Dari Adam s/d lahirnya Ibrahim/Abraham adalah sebanyak 19 turunan, [Berdasarkan kitab kejadian 5-16], jika di hitung berdasarkan penjumlahan usia mereka saat mempunyai anak berikutnya maka didapat hasil perhitungan kronologis 2006 tahun [Usia meninggal tidak dapat dijadikan patokan, walaupun Adam s/d turunan ke 7 rata-rata meninggal diatas 900 tahun, namun dari bukti Al kitab kita ketahui bahwa ternyata Adam masih hidup saat keturunan ke 7-nya lahir]
  • Dari mulai Ibrahim s/d Muhammad adalah 29 turunan di asumsikan masing-masing mempunyai keturunan di usia 41 tahun [di hitung berdasarkan rata-rata cucu Nuh mempunyai anak [Arpaksad] s/d Ibrahim], maka 28 keturunan berikutnya mempunyai total panjang waktu di bawah 1148 tahun
  • Muhammad lahir pada tahun 570 s/d tahun 2008 telah berjalan selama 1438 tahun

    Detail hitungan ini lihat di: G.I.G.O = Sampah Masuk Sampah Keluar [Banjir Nuh]


Maka umur peradaban manusia menurut agama Yahudi, Nasrani dan Islam baru berjalan 4592 tahun saja!

Dan umur alam semesta ini ternyata berusia kurang dari 10.592 tahun!

Di Abad ke 9, Abu Ma’shar al-Balkhi menyataan bahwa Banjir besar jaman Nuh terjadi di 17 February 3101 SM. Menurut Alkitab, Nuh adalah turunan adam yang ke 9 dan saat terjadinya banjir, usia Nuh adalah 600 tahun. Artinya Nuh lahir di tahun 3701M. Waktu dari mulai Adam s/d Nuh lahir adalah 1056 tahun [Lihat hitungan di sini]. Sehingga Adam lahir tahun 4757 SM Berdasarkan hal tersebut maka model perhitungan di mulai dari jaman Nuh hingga Adam didapat hasil Manusia pertama menurut ajaran abrahamic diciptakan oleh Allah pada tahun 4968 SM!

Dan semesta baru mulai diciptakan pada 10.968 SM!

Menurut The History of Al-Tabari: The Sasanids, the Lakhmids, and Yemen hal.412 s.d 416 (lihat juga Fatawa: 20907, sebagai pembanding):

  • Tabari: Turunnya Adam dari langit – Muhammad hijrah, yaitu menurut:
    • Kaum yahudi dengan kitab tauratnya (4642 tahun dan beberapa bulan) [hal.412] + 1386 tahun (tahun 2008 M – 622 M/hijrah) + 6000 = 12.028 tahun
    • Kaum kristen dengan kitabnya dalam bahasa latin/septuagint (5992 tahun dan beberapa bulan) [hal.412] + 1386 tahun (tahun 2008 M – 622 M/hijrah) + 6000 = 13.378 tahun
    • Zoroastrian Persia (4182 tahun, 10 bulan, 19 hari) [hal.412] + 1386 tahun (tahun 2008 M – 622 M/hijrah) + 6000 = 11.568 tahun
  • Tabari: Ulama-ulama islam: Adam – Nuh, Nuh – Ibrahim, Ibrahim – Musa, masing-masing 10 qarn (qarn adalah abad, 100 tahun) [hal.413].

    Ibrahim b sa’id a jawhari – Yahya b. Salih – Al Hasan b. Ayyub al hadrami – Abd Allah b. Busr: Nabi SAW bicara padaku: “Kamu akan hidup 1 abad (qarn)!” [hal.415].

    Sehingga pengertian Qarn = abad = 100 tahun. Sejak Adam – Musa: 3000 tahun

    Ibn Bashshar – Abu Dawud – Hammam b. Qatadah – Ikrimah – Ibn Abbas: Adam – Nuh (10 abad).[Hal.413]

    Harith b. Muhammad – Muhammad b. Sa’d – Muhammad b umar b waqid al aslami dari beberapa ulama mengatakan: Adam – Nuh (10 abad). Nuh – Ibrahim (10 Abad). Ibrahim – Musa (10 abad).[hal.413]

    Jadi Adam – Musa: 3000 tahun.

  • Abd Al Rahman b Mahdi – Abu Awanah – Asim Al Ahwal – Abu Uthman – Salman: Interval (Al fatrah): Muhammad – Isa/Yesus (600 tahun).[hal 413].

    Fudayl b. abd al wahhab – Ja’far b. sulayman – Awf: Isa/Yesus – Musa (600 tahun) [hal.413].

    Jadi total dari Muhammad – Musa: 1200 tahun (dari perawi yang berbeda) + 1438 (Tahun 2008 – 570 M/lahir) + 3000 tahun (di atas) + 6000 tahun = 11.638 tahun

  • Al harith – Muhammad b. Sa’d – Hisham – His father – Abu Salih – Ibn Abbas: Musa – Isa (1900 tahun), ada ribuan nabi tanpa interval diantara mereka. Isa – Muhammad (569 tahun) [hal.414]

    Jadi total dari Musa – Muhammad: 2469 tahun + 1438 (Tahun 2008 – 570 M/lahir) + 3000 tahun (di atas) + 6000 tahun = 12.907 tahun

  • Wahb b. Munabbih – Abu Salih – Ibn Abbas: Hingga sampai hidupnya sekarang telah berlalu 5600 tahun, keseluruhan umur dunia adalah 6000 tahun. Wahb b. Munabih wafat 114 H (732 M) sisanya tinggal 215 tahun (dari Wahb wafat s.d Tabari menulis ini) [hal.415-416]
  • Tabari: beberapa otoritas menyatakan sejak Adam diturunkan dari langit – Masa Muhammad adalah 6113 tahun, yaitu:

    Adam – Banjir Nuh (2256 tahun). Banjir Nuh – lahirnya Ibrahim (1079 tahun). Lahirnya Ibrahim – Musa exodus dengan bani Israel (565 tahun). Musa exodus dengan Bani Israel – Pembangunan Bayt Al Maqdis yaitu 4 tahun sejak Sulaiman naik tahta menggantikan Daud (636 tahun). Dari Bayt Al Maqdis – Naik tahtanya Iskandar Zulkarnaen/Dhu Qarnayn (717 tahun). Iskandar Zulkarnaen – lahirnya Isa/Yesus (369 tahun). Lahirnya Isa/Yesus – Muhammad menjadi Nabi (551 tahun). Muhammad menjadi Nabi – Hijrah (13 tahun).[Hal.416].

    Rincian hitungan ini jika di jumlah = 6186 tahun (tidak sama dengan 6113 tahun) + 1386 tahun (tahun 2008 M – 622 M/hirah) + 6000 = 13.572 tahun.

  • Hisham b Muhammad Al Kalbi – Ayahnya – Abu Salih Ibn Abas: Adam – Nuh (2200 years). Nuh – Ibrahim (1143 tahun). Ibrahim – Musa (575 tahun), Musa – Daud/david (179 tahun), Daud/David – Isa/Yesus (1053 tahun), Isa – Muhammad (600 tahun).[hal. 416].

    Jadi dari Adam – Muhammad total: 5750 + 1438 (Tahun 2008 – 570 M/lahir) + 6000 = 13.188 tahun


Berdasarkan seluruh versi di atas, maka umur semesta, kurang dari 14000 tahun.

Kemudian,
berdasarkan [Kejadian 4:1-2] juga riwayat Ibn Abbas, Tafsir Qur’an Al Maidah 5:27, [Tafsir Ibn “Uyainah, Ibn Abi Hatim, Ibnu Hibban, Ibnu “Athiyah, Al-Samarkandi, Abi Ishaq, At-Thabari, Abi Syaibah, Al Baghawai, Abil-Fidak, Al-Razi dan banyak lainnya], mengindikasikan bahwa Adam dan Kain adalah seorang Petani. Kain kemudian di usir ke tanah Nod dan menikahi seorang Wanita dan mendirikan kota [kejadian 4:16-17].

Dari sini kita ketahui, kehidupan pertanian saat itu telah cukup mapan dapat menghidupi sejumlah manusia. Kondisi ini mengindikasikan “penciptaan” Adam terjadi jauh setelah jaman neolithikum.

[Kembali]




Abrahamic: Kiamat/Akhir Semesta

Ajaran Abrahamic menegaskan bahwa akan ada batas akhir yang dinamakan hari kiamat, ciri-ciri nya dinyatakan di Alkitab dan Al Qur’an.

Menurut Tradisi Nasrani:

    ”..matahari akan menjadi gelap, dan bulan tidak lagi bercahaya. Bintang-bintang akan jatuh dari langit, kuasa-kuasa langit akan goncang, dan para penguasa angkasa raya akan menjadi kacau-balau. [Matius 24:29, Markus 13:24-25]

    ”..pada matahari, bulan, dan bintang-bintang akan kelihatan tanda-tanda. Di bumi, bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Manusia akan takut setengah mati menghadapi apa yang akan terjadi di seluruh dunia ini, sebab para penguasa angkasa raya akan menjadi kacau-balau. [Lukas:21:25-26]


Mempelajari dengan seksama kutipan di atas, yang merupakan isi dari Matius 24, Markus 13, Lukas 21, maka saya berada pada satu kesimpulan yaitu ini bukan nubuatan mengenai kiamat namun kisah kehancuran di Yerusalem dijaman kaisar nero [sekitar tahun 70 M], yang menurut alkitab adalah pemburuan Yahudi-Nasrani, rasul-rasul Yesus diadili oleh kaisar Nero. Hal ini, ditandai dengan kata yang mendahului kalimat2 alkitab diatas terutama di Lukas 21:20: ”Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat” kemudian di tiga injil ada perintah waspada akan ada orang yang menyesatkan, mengaku mesias, saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, adanya pembinasa keji dan di menjelang akhir pasal itu terdapat kalimat dengan arti sama di tiga Injil yaitu ‘Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya itu terjadi” [lukas 21:24; Markus13:30; Matius 24:34]

Perhatikan dua Ayat yang saling menerangkan dan melengkapi dibawah ini [yang dalam kurung adalah kamus kode leksikon]:

    Matius 24:36 [yang dalam kurung adalah kamus kode leksikon]

    But [1161] of [4012] that [1565] day [2250] and [2532] hour [5610] knoweth [1492] (5758) no [3762] {man}, no, not [3761] the angels [32] of heaven [3772], but [1508] my [3450] Father [3962] only [3441].
    Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, Tidak malaikat-malaikat di sorga, Melainkan hanya Bapa-Ku sendiri.”

    Markus 13:32
    But [1161] of [4012] that [1565] day [2250] and [2532] {that} hour [5610] knoweth [1492] (5758) no man [3762], no, not [3761] the angels [32] which [3588] are in [1722] heaven [3772], neither [3761] the Son [5207], but [1508] the Father [3962].
    Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja.”


Dua ayat diatas memberikan petunjuk sangat kuat pada kita bahwa jangankan mengetahui waktu kiamat, bahkan untuk peristiwa yang lebih dekat saja, yaitu kehancuran Yerusalem, Yesus-Pun tidak mengetahuinya

Sehingga nubuatan [ramalan] mengenai kiamat hanyalah ada di kitab wahyu, yaitu kitab yang konon ditulis murid Yesus, Yohanes sebagai kesaksiannya sendiri [Wahyu 1:9] ketika di buang di Pulau Patmos [80 km sebelah barat daya Efesus]:

    ..gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah. Dan bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi.. Maka menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung dan tergeserlah gunung-gunung dan pulau-pulau dari tempatnya…[Wahyu 6:12-14]


Isaac Newton, bapak ilmu fisika dan astronomi modern, mendasarkan ramalannya soal hari kiamat dari teks Alkitab, tepatnya ayat-ayat Daniel. Ia berargumen bahwa dunia akan berakhir 1.260 tahun setelah berdirinya Kekaisaran Suci Roma di Eropa Barat pada 800 M, yaitu dunia akan berakhir pada 2060.(sumber: Antara)

[Bahkan orang sepintar itu saja bisa saja keliru, bukan?!]

Menurut Tradisi Islam :
Ciri-ciri kiamat menurut Al Quran adalah sebagai berikut:

    Bulan, matahari, bintang-bintang semua itu akan hancur dan sinarnya menjadi pudar lalu padam. Segala gerak, tatanan dan aturannya menjadi hancur. Matahari bertabrakan dengan bulan. Adapun langit yang kita lihat akan bergoncang, terbelah dan hancur. Gugusan langit akan luluh bagaikan barang-barang tambang yang diluluhkan dan mencair. Alam ini dipenuhi dengan asap tebal dan awan gelap.[Al-Qiyamah: 8-9, Al-Takwir: 1-2, Al-Infithar: 2, Ath-Thur: 1, Al-Haqqah: 16, Ar-Rahman: 37, Al-Mursalat: 9, An-Naba’: 19, Al-Anbiya’: 104, Al-Furqan: 25, Ad-Dukhan: 10]


Hadis sahih Muslim yang mendukung kejadian tersebut, diriwayatkan Al-Miqdad bin al-Aswad,:

    “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, ” Di hari kiamat nanti matahari akan mendekati manusia, sehingga jaraknya hanya satu mil. Manusia akan berada dalam keringatnya masing-masing sesuai dengan amal perbuatanya. Ada yang keringatnya sampai mata kaki, ada yang sampai lutut, ada yang sampai setengah badan dan ada yang tenggelam sampai mulutnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam memberi isyarat dengan tangannya ditunjukan ke mulutnya” [Sahih Muslim 040.6852; Sahih Bukhari 2.24.553, diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Umar]


Di dekat hari kiamat, matahari mendekati manusia? Ini adalah bukti bahwa Islam mendukung Geosentris bukan Heliosentris.

Matahari dengan jarak 1 Mil?

bahkan dengan jarak sedekat jarak bumi-bulan [rata2 jaraknya 238.857 mil atau 384.403 Km] maka dapat dipastikan tidak ada lagi kehidupan di muka bumi dan tentunya tidak mungkin jika manusia bisa hidup dan cuma berkeringat saja, toh!

Di nyatakan pula bahwa matahari akan terbit dari barat sebagai salah satu dari 10 tanda-tanda kiamat [Hadis Muslim 041.6931, diriwayatakan Hudhaifa b. Usaid Ghifari; Sahih Muslim 041.7025, diriwayatkan oleh Abdullah b. ‘Amr], Juga di Sahih Bukhari:

    Diriwayatkan Abu Huraira,
    Nabi berkata, “Waktu tidak akan ditetapkan hingga matahari terbit dari barat, Orang-orang akan melihat itu dan semua akan percaya. Namun itu adalah saat ketika ‘tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu’ (AQ 6.158) [Sahih Bukhari 8.76.513]

    Diriwayatkan Abu Dharr,
    Ketika Matahari hendak terbenan, Aku memasuki mesjid dan Nabi duduk disana. nabi berkata, “O Abu Dharr! Tahukah engkau kemana matahari ini pergi?” Ia berkata, “Allah dan nabinya tahu yang terbaik” Nabi berkata,”Ia pergi dan minta ijin bersujud dan diijinkan dan [suatu hari] ia diperintahkan kembali ketempat ia datang, dan ia akan terbit dari barat” Kemudian Nabi mengutip ayat, “dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”(AQ 36.38), sebagaimana disampaikan oleh ‘Abdullah [Sahih Bukhari 9.93.520]




KAPAN TERJADINYA KIAMAT?

Umur Bumi ini dan sisanya hingga kiamat adalah:Riwayat Ibn Abiyy – Abu Ishak – Ibrahim b. Abdullah Nabt – Anas ibn Malik – Muhammad SAW: Panjang umur Bumi ini adalah 7 hari di hari-hari kehidupan setelah kematian. Allah berkata “sehari di sisi Allahmu adalah setara dengan 1000 tahun dalam perhitunganmu” [Suyuti sehubungan dengan hadis-hadis sahih tentang umur bumi tersisa 7000 tahun]. Kemudian di Tabari Hal. 172 – 175:

  • 7000 tahun. Riwayat Ibn Humayd – Yahya bin Wadih – Yahya bin Ya’qub – Hammad – Sa’id bin Jubair – Ibn Abbas: Dunia ini adalah satu diantara minggu-minggu di alam lain – 7000 tahun. Telah berlalu 6200 tahun. Akan dialami ratusan tahun. Selama waktu itu akan terjadi tidak ada seorang beriman pada ke-tahuid-an Allah.
  • 6000 tahun. Riwayat Abu Hisham – Mu’awiyah bin Hisham – Sufyan – al A’Mash – Abu Salih – Ka’b: Umur bumi 6000 tahun. Riwayat Muhammad bin Sahl bin Askar – Ismail bin Abd al karim – ‘Abd al samad bin Maqil – Wahb: Telah berlalu 5600 tahun..Aku tanya Wahb bin Munabih seberapa lama bumi ini. Ia jawab: 6000 tahun
  • Sisa waktu seperti jarak antara shalat Ashar – Magrib: Hadis Nabi yang di riwayatkan Muhammad bin Bashshar dan Ali bin Sahl – Mu’ammal – Sufyan – Abdallah bin Dinar – Ibn Umar: Nabi berkata: Perbandingan waktu antara mereka yang sebelum kalian, waktu kalian adalah seperti jarak shalat Ashar – Magrib.

    Riwayat Ibn Humayd – Salamah – Muhammad bin Ishaq – Ibn Umar: Nabi berkata: Sebagai pembandingan waktu bangsa-bangsa yang telah berlalu. Waktu kalian seperti Ashar – magrib.

    Riwayat Al Hasan bin Arafah – Abu Al Yaqzan Ammar bin Muhammad (Anak dari adik perempuan Sufyan al Thawri) – Layth bin Abi Sulaym – Mughira bin Hakim – Abdullah bin Umar: Nabi berkata: Hanya sebanyak ini waktu bumi tersisa untuk umatku yaitu matahari ketika shalat Ashar telah dilakukan.

    Riwayat Muhammad bin Awf – Abu Nu’aym – Sharik – Salamah bin Kuhayl – Mujahid – Ibn Umar: Kami duduk bersama Nabi ketika matahari telah melewati Qu’ayqi’aan (nama gunung, 12 mil/24 km, selatan Mekkah, tapi di web ini: di barat) di setelah shalat Ashar. Ia berkata: Sebagai pembanding kehidupan-kehidupan mereka yang telah berlalu. Kehidupan kalian adalah seperti apa yang tersisa di hari ini dibandingkan yang telah berlalu.


Sekarang,
mari kita lihat timeline kapan tepatnya kiamat, yaitu sejak Muhammad, sang pembaharu ajaran Allah mulai diutus hingga wafatnya:


Mulai diutus – Hijrah

Mereka menanyakan kepadamu tentang: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. [AQ 7.187, Al Makiyya, turun urutan ke-39. Juga di surat Al makiyya lainnya: AQ 20.15, urutan ke-36. AQ 41.47, urutan ke-61. AQ.53.57-58, turun urutan ke-23. AQ 31.34, urutan ke-57. AQ 67.25-27, turun urutan ke-77. AQ 79.42-46, urutan ke-81].

Hadis-hadis di bawah ini adalah posisi di saat/setelah turunnya AQ 31.34:

    Riwayat ..Abu Zur’ah – Abu Hurairah/Abu Dzar: “..Ketika kami tengah duduk, sedang Rasulullah SAW berada di tempat duduk beliau, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki…dia berkata; “..Wahai Muhammad, beritahukan kepadaku kapankah Hari Kiamat tiba?”

    Beliau menundukan kepada dan tidak menjawab sedikitpun, kemudian orang tersebut mengulang pertanyaan dan beliau tidak menjawab sedikitpun. Lalu beliau mengangkat kepalanya seraya bersabda: “Orang yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”

    Akan tetapi ia memiliki tanda-tanda yang dengannya Hari Kiamat tersebut diketahui. Yaitu..Itulah 5 tanda yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Sesungguhnya Allah memiliki ilmu mengenai Hari Kiamat hingga firman Allah: Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Kemudian beliau bersabda: “Demi Dzat yang mengutus Muhammad dengan kebenaran sebagai pemberi petunjuk dan kabar gembira, tidaklah aku lebih mengetahui dari salah seorang dari kalian. Sesungguhnya ia adalah Jibril yang turun dalam bentuk Dihyah Al Kalbi.”

    [Nasai no. 4905. Juga di Bukhari no. 48, 4404. Muslim no.10, 11. Ibn Majjah. no.63, 4034. Ahmad no. 9137. Dari jalur perawi Abdullah bin Buraidah – Yahya bin Ya’mar – Ibn Umar/Umar – Nabi SAW dengan sanad yang kurang lebih sama di sampaikan di Muslim no.9. Dawud no.4075. Tirmidhi no.2535. Nasai no.4904. Ibn Majjah no.62. Ahmad no.352. Kemudian, Lamanya Umar diberitahukan bahwa yang datang itu adalah Jibril adalah Setelah 3 hari kemudian ada di: Ahmad no.346, 179. Ibn Majjah no. 62, Nasai no. 4904 dan Abu Dawud no.4075].


Selain 5 tanda kiamat di atas, juga terdapat bentukan variasi lain tanda-tanda kiamat yang disampaikan, di antaranya adalah:

  • 10 tanda kiamat: Riwayat Bundar – Abdurrahman bin Mahdi – Sufyan – Furat Al Qazzar – Abu Ath Thufail – Hudzaifah bin Usaid: Rasulullah SAW bersabda:

    “Kiamat tidaklah terjadi hingga kalian melihat 10 tanda-tanda; terbitnya matahari dari barat, ya’juj dan ma’juj (hancurnya tembok pembantas), binatang (Jasassah), tiga gerhana; gerhana di timur, gerhana di barat dan gerhana di jazirah arab, api muncul dari bawah ‘Aden..”

    Riwayat Mahmud bin Ghailan – Waki’ – Sufyan – Furat menambahkan dalam riwayatnya: Asap. Riwayat Hannad – Abu Al Ahwash – Furat Al Qaffaz, seperti hadits Waki’ – Sufyan.

    Riwayat Mahmud bin Ghailan – Abu Dawud Ath Thayalisi – Syu’bah dan Al Mas’udi – Furat Al Qazzaz seperti hadits Abdurrahman – Sufyan – Furat dan menambahkan dalam riwayatnya: Dajjal atau asap.

    Riwayat Abu Musa Muhammad bin Al Mutsanna – Abu An Nu’man Al Hakam bin Abdullah Al ‘Ijlani – Syu’bah – Furat seperti hadits Abu Dawud – Syu’bah dan menambahkan: Rasulullah SAW bersabda: “Dan yang ke-10 mungkin angin melemparkan mereka ke laut atau turunnya Isa bin Maryam. Berkata Abu Isa: dalam hal ini ada hadits serupa dari ‘Ali, Abu Hurairah, Ummu Salamah, Shafiyyah binti Huyay dan hadits ini hasan shahih.

    [Tirmidhi no.2109. Hadis lainnya tidak menggunakan kata gerhana namun: longsor (Muslim no. 5162, 5163), gempa bumi (Abu Dawud no. 3757), berkobarnya api (Ahmad no.15555) dan kerusakan (Ahmad no.15557, 15558)] ATAU

  • Penggolongan tanda-tanda kiamat versi lain: Riwayat Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Hari kiamat tidak akan terjadi hingga: 2 kelompok besar saling berbunuhan besar-besaran padahal ajakan keduanya satu; muncul para pendusta yang kurang lebihnya 30, kesemuanya mengaku ia utusan Allah; hingga ilmu diangkat; banyak keguncangan; zaman terasa singkat; fitnah muncul dimana-mana; dan banyak alharaj, yaitu pembunuhan; hingga ditengah-tengah kalian harta melimpah ruah dan berlebihan, sehingga pemilik harta mencari-cari orang yang mau menerima sedekahnya, sampai ia menawar-nawarkan sedekahnya, namun orang yang ditawari mengelak seraya mengatakan ‘ Aku tak butuh sedekahmu’, sehingga manusia berlomba-lomba meninggikan bangunan; sehingga seseorang melewati kuburan seseorang dan mengatakan; ‘Aduhai sekiranya aku menggantikannya’; hingga matahari terbit dari sebelah barat, padahal jika matahari telah terbit dari sebelah barat dan manusia melihatnya, mereka semua beriman, pada saat itulah sebagaimana ayat; ‘Ketika itu tidak bermanfaat lagi bagi seseorang keimanannya, yang ia belum beriman sebelumnya atau belum mengerjakan kebaikan dengan keimanannya.” (AQ 6.158); ketika dua orang telah menyerahkan kedua bajunya tetapi keduanya tidak jadi melakukan jual beli, keduanya tidak jadi melipatnya; dan hari kiamat terjadi sedang seseorang telah pulang membawa susu sapinya tetapi tidak jadi ia meminumnya, dan hari kiamat terjadi ketika seseorang memperbaiki kolam (tempat minum) nya tetapi dia tak jadi meminumnya, dan hari kiamat terjadi sedang seseorang telah mengangkat suapannya tetapi dia tidak jadi menyantapnya.” [Bukhari no.6588] ATAU
  • Mencemburui kuburan: Riwayat Abu Hurairah – Nabi SAW: “Hari kiamat tidak akan terjadi sehingga seseorang melewati kuburan seseorang, lantas mengatakan; ‘duhai sekiranya aku menggantikan dia.'” [Bukhari no.6582. Muslim no.5175 . Ahmad no.6929, 10446. Malik no.508] ATAU
  • Binatang dan benda-benda berbicara: Riwayat Abu Sa’id Al Khudri – Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat belum akan terjadi sehingga binatang buas dapat berbicara kepada manusia, pecut serta tali sandal seseorang dapat berbicara kepada pemiliknya, dan pahanya dapat memberitahukannya apa yang telah diperbuat istrinya ketika ia tidak ada di rumah.” [Ahmad no.11365, 11413] ATAU
  • Api Keluar dari Hejaz: Riwayat Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Hari kiamat tidak akan tiba hingga api keluar dari tanah Hejaz yang bisa menyinari tengkuk unta di Bushra.” [Bukhari no.6585. Muslim no.5164] ATAU
  • Wanita berjoget: Riwayat Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Hari kiamat tidak akan tiba sehingga pantat-pantat wanita daus berjoget pada Dzul khulashah, dan Dzul khulashah ialah thaghut suku Daus yang mereka sembah di masa jahiliyah.” [Bukhari no.6583. Muslim no.5173. Ahmad no.7352] ATAU
  • Kabilah Qahthan: Riwayat Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Hari kiamat tidak akan tiba hingga seseorang dari kabilah Qahthan menggiring manusia dengan tongkatnya.” [Bukhari no.6584, 3256. Muslim no.5182. Ahmad no.9037] ATAU
  • Bermegah-megahan Membangun Mesjid: Riwayat Anas bin Malik – Nabi SAW: “Tidak akan tiba Hari Kiamat sampai manusia bermegah-megahan dalam membangun Masjid.” [Abu Dawud no.379, Ahmad no. 10348 (manusia saling berlomba mendirikan bangunan). Ahmad no.11931, 12016, 12079, 12925, 13509. Darimi no.1372. Nasai no.682] ATAU
  • Tidak ada yang menyebut Allah, Allah: Riwayat Anas bin Malik – Rasulullah SAW: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga di muka bumi tidak ada yang menyebut; ‘Allah, Allah.” [Muslim no.211, 212. Bukhari no. 2709. Tirmidhi no. 2133. Ahmad no.11601, 12199, 12609, 13232, 13331] ATAU
  • Memerangi Yahudi: Riwayat Abu Hurairah – Nabi SAW: “kiamat tidak akan terjadi sehingga kalian akan memerangi orang-orang Yahudi, sehingga ada seorang Yahudi yang lari dan bersembunyi di balik batu, lalu batu tersebut berkata; ‘Wahai hamba Allah, wahai muslim, ini ada Yahudi di belakangku.’ kiamat tidak akan terjadi sehingga kalian memerangi kaum yang sandal mereka dari bulu.” [Musim no. 5203. Ahmad no. 9029. Ahmad no.8807 (Sanadnya seperti di atas, namun didahului kalimat: kiamat tidak akan terjadi sehingga matahari terbit dari arah terbenamnya, maka manusia akan beriman semuanya pada hari yang “tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.”)] ATAU
  • Memerangi Turki: Riwayat Abu Hurairah – Nabi SAW: “Tidak akan terjadi hari qiyamat hingga kalian memerangi bangsa Turki yang bermata kecil, wajah kemerahan dan hidungnya pesek. Wajah mereka seakan seperti perisai yang menutupi kulit. Dan tidak akan terjadi hari qiyamat hingga kalian memerangi kaum yang bersandal bulu” [Bukhari no.2711, 2712, 3322. Muslim no.5184-5187. Tirmidhi no.2131. Ibn Majjah no. 4086-4089, Abu Dawud no.3749, Ahmad no.7351, 7892, 6965, 9994, 10440, 10441, 10831] ATAU
  • Banjir ajaib: Riwayat Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Kiamat tidak akan terjadi sampai manusia di hujani oleh air hujan yang tidak akan merendam rumah-rumah yang terbuat dari tanah liat dan tidak akan merendam kecuali rumah-rumah yang terbuat dari serabut.” [Ahmad no.7248] ATAU
  • Hujan setahun, tak menumbuhkan: Riwayat Anas – Rasulullah SAW: : “Tidak akan datang hari kiamat hingga manusia mendapatkan hujan selama setahun, namun bumi tidak menumbuhkan sesuatu pun.” [Ahmad no.11979] ATAU
  • Orang hina bahagia: Riwayat Hudzaifah bin Al Yaman – Nabi SAW: “Kiamat tidak akan terjadi hingga orang yang paling bahagia didunia adalah orang hina putra orang hina.” [Tirmidhi no. 2135, Ahmad no.22214] ATAU
  • Jumlah Wanita jauh melebihi Pria: Riwayat Anas bin Malik – Rasulullah SAW: “Tidak akan datang hari kiamat hingga pada setiap 50 wanita terdapat 1 orang laki-laki, wanita akan semakin banyak dan laki-laki akan semakin sedikit.” [Ahmad no.11764] ATAU
  • Kecuali atas manusia-manusia Buruk: Riwayat Abdullah – nabi SAW: “Kiamat tidak terjadi kecuali atas manusia-manusia buruk.” [Muslim no.5243. Ahmad no.15491 (Riwayat Ilba’ As-Sulamy – Rasulullah SAW: “”…kecuali menimpa manusia-manusia yang buruk”). Ahmad no. 3548 (Riwayat Abdullah bin Mas’ud – Nabi SAW: “..kecuali atas sejahat-jahat manusia.”. Ahmad no. 3930], dan MASIH BANYAK LAGI VARIASINYA


Melihat berubah-ubahnya tanda-tanda kiamat yang diucapkan oleh seorang nabi, utusan kesayangan Allah ini, maka sangatlah wajar jika seseorang menjadi bertanya-tanya: Apakah Muhammad ini memahami apa yang dibicarakannya?

Mengapa?

Karena Quran juga menyampaikan bahwa diantara nabi yang mengetahui tentang kiamat adalah Isa, “Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku” [AQ 43.61, Al Makiyya, turun urutan ke-63] dan tentu saja juga Allah [AQ 43.85, Al Makiyya, turun urutan ke-63]. Yang mengutus Jibril dengan perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan tentang hari pertemuan [AQ 40.15, Al Makiyya, turun urutan ke-60].

Telah dekat datangnya hari kiamat dan tandanya telah terjadi [Al Qamar 54.1-2] (Al makiyya, turun urutan ke-37, yaitu tahun ke-5 setelah Muhammad diutus menjadi pembaharu ajaran Allah, menjadi Nabi):

    Riwayat Ali bin Hujr – Ali bin Mushir – Al A’masy – Ibrahim – Abu Ma’mar – Ibnu Mas’ud:
    ketika kami bersama Rasulullah SAW di Mina, kemudian bulan terbelah menjadi dua belah, sebelah dari balik gunung dan sebelah di depan gunung. Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada kami; saksikanlah! yaitu telah dekat datangnya hari kiamat dan telah terbelah bulan. (AQ 54.1), Abu Isa: hadits ini adalah hasan shahih. [Tirmidhi 1.44.3286/no.3207. Ahmad no. 12227 (Riwayat Abdurrazaq – Ma’mar – Qatadah – Anas bin malik). Di Tirmidhi 1.44.3285/no. 3208 (Riwayat Abdu bin Humaid – Abdur Razzaq – Ma’mar – Qatadah – Anas bin Malik), sebagai telah dekat datangnya hari kiamat, muhammad memperlihatkan terbelahnya bulan sebanyak: 2x. (terbelahnya bulan sebanyak 2x, disampaikan juga di: Muslim 39.6728/no.5013, Ahmad no.12678, 12825)]


Setelah Hijrah Ke Medina
Hadis di bawah ini menginformasikan telah terjadi transfer pengetahuan tentang kiamat, misalnya dari riwayat Anas bin Malik dan juga Abdullah bin Salam menantikan Muhammad di hari hijrahnya Muhammad ke Medina dan kemudian Ia bertanya, “Sesungguhnya saya akan bertanya kepada tuan tentang tiga hal, yang tidak akan ada yang mengetahui jawabannya kecuali seorang Nabi. 1. Apa tanda-tanda pertama hari kiamat, 2. Makanan apa yang pertama-tama dimakan oleh ahli syurga, dan 3. Mengapa si anak menyerupai bapaknya atau kadang-kadang menyerupai ibunya?” Jawab Nabi SAW: “Baru saja Jibril memberitahukan hal ini padaku” Kata Abdullah bin Salam: “Jibril?” Jawab Rasulullah SAW: “Ya.” Kata Abdullah bin Salam: “Dia itu termasuk malaikat yang termasuk musuh kaum Yahudi.” Lalu Nabi membacakan ayat ini (S. 2: 97) sebagai teguran kepada orang-orang yang memusuhi malaikat pesuruh Allah. [Bukhari 4.55.546; 5.58.275; 6.60.7 dan Muslim 3.614]

Setelah ini, terjadi peningkatan pengetahuan Muhammad. Pengetahuan Muhammad, bukan cuma tanda-tandanya saja bahkan ia pun telah diberitahukan Allah SWT bahwa waktunya pun sudah sangat dekat sekali,

Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.” Dan tahukah kamu, boleh jadi (la’alla) hari berbangkit itu sudah dekat waktunya. [AQ 33.63]

    Maududi: Di surah ini terdapat 3 event penting yaitu: perang parit, Penyerbuan Bani Quraiza dan Muhammad mengawini Zaynab bint Jash, yang terjadi di Dhul Qaidha 5 AH


Terdapat beberapa hadis yang memberikan kejelasan bahwa kiamat itu memang sudah dekat karena telah Dajal telah muncul dan adanya perang dua kelompok dalam Islam:

    Riwayat Al Hakam bin Nafi’ – Syu’aib – Az Zuhriy – Abu Salamah – Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Tidak akan terjadi hari qiyamat hingga ada dua kelompok yang saling berperang, yang keduanya mengaku satu agama (Islam)”.

    Riwayat Abdullah bin Muhammad – ‘Abdur Razzaq – Ma’mar – Hammam – Abu Hurairah – Nabi SAW: “Tidak akan terjadi hari qiyamat hingga ada dua kelompok yang saling berperang, ketika itu para korban yang terbunuh sangat banyak padahal keduanya mengaku satu agama dan tidak akan terjadi hari qiyamat hingga timbul para dajjal pendusta yang jumlahnya hampir mendekati 30 orang semuanya mengaku dirinya Rasul Allah”. [Bukhari no.3340, juga di Bukhari no.6423, Muslim no.5142 dan Ahmad no.10444: tanpa menyebutkan adanya Dajjal].


Peperangan dua kelompok sesama Islam terjadi di setelah wafatnya Muhammad.

Mengenai Dajjal,
2 diantaranya disebutkan berada di jaman Muhammad, yaitu: Al Masih Dajjal dan Ibn Shayyad Dajjal (saat di temui Muhammad ia belum baligh):

    Dajjal Ibn Shayyad:

    • Riwayat Hammad bin Humaid – ‘Ubaidullah bin Mu’adz – Ayahku – Syu’bah – Sa’d bin Ibrahim – Muhammad bin Al Munkadir: ‘Pernah aku melihat Jabir bin Abdullah bersumpah dengan nama Allah bahwa Ibnu Shayyad adalah dajjal. Maka saya katakan, ‘Engkau bersumpah atas nama Allah? ‘ ia jawab, ‘Saya mendengar Umar bersumpah atas yang demikian disisi Nabi SAW dan beliau SAW tidak memungkirinya.’ [Bukhari no.6808. Muslim no.5214 Di Ahmad no.22680 disebutkan mata anak kecil itu (Ibn Shayyad) buta sebelah)
    • Riwayat Sufyan bin Waki’ – ‘Abdul A’la – Al Jurairi – Abu Nadlrah – Abu Sa’id: Rasulullah SAW bertemu dengan Ibnu Sha’id (Ibn Shayyad) di suatu jalan Madinah lalu beliau menahannya, ia adalah budak Yahudi dan ia memiliki rambut yang dipintal, saat itu Rasulullah SAW bersama Abu Bakar dan Umar, Rasulullah SAW bertanya padanya: “Apa kau bersaksi bahwa aku utusan Allah?” ia balik bertanya: Apa kau bersaksi bahwa aku utusan Allah? Nabi SAW bersabda: “Aku beriman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul dan hari akhir.” Nabi SAW: “Apa yang kau lihat?” Abu Sha’id menjawab: Aku melihat ‘arsy diatas air. Nabi SAW: “Kau melihat ‘arsynya iblis diatas laut.” Beliau bertanya: “Apa yang kau lihat?” Ibnu Sha’id menjawab: Aku melihat seorang jujur dan dua pendusta atau dua orang jujur dan seorang pendusta. Nabi SAW: “Disamarkan baginya.” Lalu nabi SAW memanggilnya [Tirmidhi no.2173, Hadis ini Hasan]

      Riwayat Abdullah bin Mua’wiyah Al Jumhi – Hammad bin Salamah – ‘Ali bin Zaid – Abdurrahman bin Abu Bakrah – ayahnya: Rasulullah SAW bersabda: “Ayah dan ibu Dajjal tinggal selama 30 tahun, keduanya tidak memiliki anak, setelah itu keduanya melahirkan bayi buta sebelah mata, ia paling berbahaya dan sedikit manfaatnya, matanya tidur tapi hatinya tidak.” Setelah itu Rasulullah SAW menyebutkan ciri-ciri kedua orang tua Dajjal, beliau bersabda: “Ayahnya tinggi, kurus, hidungnya seperti paruh dan ibunya gemuk bertangan panjang.” Berkata Abu Bakrah: Kami mendengar bayi lahir dikalangan yahudi Madinah, lalu aku pergi bersama Zubair bin Awwam hingga kami memasuki kediaman kedua orang tuanya, ternyata ciri-ciri yang disebutkan Rasulullah SAW ada pada keduanya, kami bertanya: Apa kalian punya anak? Keduanya menjawab: Kami tinggal selama 30 tahun tapi tidak punya anak, setelah itu kami punya anak buta sebelah mata, ia membahayakan dan sedikit sekali manfaatnya, matanya tertidur tapi hatinya tidak. Berkata Abu Bakrah: Lalu kami keluar dari kediaman mereka berdua ternyata ia tengah tergeletak di tanah di bawah terik matahari dalam kain beludru dan ia berbicara tapi tidak difahami. Lalu ia membuka penutup kepalanya, ia bertanya: Apa yang kalian berdua katakan? Kami menjawab: Apa kau mendengar ucapan kami? Ia menjawab: Ya, kedua mataku tidur tapi hatiku tidak. Berkata Abu Isa: hadits ini hasan gharib [Tirmidhi no.2174].

      Riwayat ‘Abd bin Humaid – Abdurrazzaq – Ma’mar – Az Zuhri – Salim – Ibnu Umar: Rasulullah SAW melewati Ibnu Shayyad bersama beberapa sahabat, diantara mereka ada Umar bin Al Khaththab, ia bermain bersama anak-anak kecil didekat Uthum bin Maghalah, ia adalah seorang budak, ia tidak merasa hingga Rasulullah SAW memukul punggungnya lalu beliau bertanya: “Apa kau bersaksi bahwa aku utusan Allah?” Ibnu Shayyad memandang beliau, ia menjawab: Aku bersaksi bahwa engkau adalah rasul kaum ummi. Selanjutnya Ibnu Shayyad bertanya: Apa kau bersaksi bahwa aku utusan Allah? Rasulullah SAW: “Aku beriman kepada Allah dan rasulNya.” Setelah itu nabi SAW: “Apa yang mendatangimu?” Ibnu Shayyad menjawab: Seorang jujur dan seorang pendusta mendatangiku. Nabi SAW: “Urusan dicampur adukkan padamu.” Setelah itu Rasulullah SAW: ” aku menyembunyikan sesuatu padamu.” Nabi SAW ketika itu menyembunyikan kutipan ayat yang berbunyi “dan ingatlah ketika langit membawa asap yang nyata (QS. Addukhan 44.10). Ibnu Shayyad menjawab: Itu adalah asap. Rasulullah SAW bersabda: “Hinalah engkau, engkau tidak bakalan melampaui batas kemampuanmu sebagai dukun!.” Umar berkata: Wahai Rasulullah, izinkan aku menebas lehernya. Rasulullah SAW bersabda: “Bila ia benar, kau tidak akan bisa menguasainya dan bila tidak, tidak ada baiknya bagimu untuk membunuhnya.” Berkata ‘Abdur Razza: Maksud beliau Dajjal. Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih. [Tirmidhi no.2175].

    • Juga di Bukhari no.1267, 2827, 5208, 5707, Muslim no.5215. Abu Dawud no.3768, dst.

    Al Masih Dajjal:

      Riwayat An Nufaili – Utsman bin ‘Abdurrahman – Ibnu Abu Dzi`b – Az Zuhri – Abu Salamah – Fatimah binti Qais:, “Pada suatu malam pernah Rasulullah SAW mengakhirkan shalat isya` yang akhir, lalu beliau keluar dan bersabda: “Sesungguhnya yang menghalangiku adalah kisah yang diceritakan Tamim Ad Dari kepadaku dari seorang laki-laki yang berada di sebuah pulau dari gugusan pulau-pulau. Tamim berkata, “Saat itu tiba-tiba ada seorang wanita yang berambut panjang.” Tamim selanjutnya bertanya, “Siapa kamu?” Ia menjawab, “Aku adalah Jasasah. Pergilah kamu ke istana itu.” Tamim berkata, “Aku pun mendatanginya, ternyata di sana ada seorang laki-laki berambut panjang yang terikat dengan sebuah rantai. Tingginya menjulang antara langit dan bumi. Aku lalu bertanya, “Siapa kamu?” Ia menjawab, “Aku adalah Dajjal. Apakah telah ada seorang Nabi buta huruf yang diutus?” Aku menjawab, “Ya.” Ia kembali bertanya, “Apakah orang-orang mentaatinya atau mengingkarinya?” Aku menjawab, “Orang-orang mentaatinya.” Ia berkata, “Itu yang lebih baik bagi mereka.”

      Riwayat Hajjaj bin Abu Ya’qub – Abdu Ash Shamad – Bapakku – Husain Al Mu’allim – Abdullah bin Buraidah – Amir bin Syurahil Asy Sya’bi – Fatimah binti Qais:..Ketika Rasulullah SAW selesai dari shalatnya, beliau duduk sambil tertawa, beliau bersabda: “Hendaklah setiap orang tetap di tempat shalatnya (duduk).”

      Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: “Apakah kalian tahu, kenapa aku kumpulkan kalian di sini?” Para sahabat, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda: “Aku kumpulkan kalian bukan atas sesuatu yang membuat takut atau senang, namun aku kumpulkan kalian adalah karena Tamim Ad Dari, seorang lelaki Nashrani yang datang dan berbaiat masuk Islam, ia menceritakan kepadaku sebuah kisah yang mirip dengan cerita yang pernah aku ceritakan kepada kalian tentang Dajjal.

      Ia ceritakan kepadaku bahwasanya ia pernah menaiki sebuah perahu bersama 30 laki-laki dari kaum Lakhm dan Judzam, mereka kemudian diombang-ambingkan oleh ombak selama 1 bulan di tengah laut, sampai akhirnya mereka menepi ke sebuah pulau saat matahari terbenam. Mereka lantas duduk di sisi kapal mereka, setelah itu mereka bergegas memasuki pulau tersebut hingga akhirnya bertemu dengan binatang melata besar dan berbulu lebat. Mereka berkata, “Celaka engkau, siapa kamu ini!” binatang itu menjawab, “Aku adalah Jasasah. Temuilah laki-laki yang ada dalam sebuah gua, karena ia sangat berkeinginan untuk mendengar berita dari kalian.” Tamim berkata, “Saat ia menyebut laki-laki, maka kami ketakutan jikalau dia adalah setan lalu kami cepat pergi hingga memasuki gua tersebut. Dan ternyata di dalamnya terdapat manusia yang paling besar yang pernah kami lihat, talinya sangat kuat, dan tangannya menyatu dengan leher (terikat dengan rantai).” Lalu perawi menyebutkan hadits tersebut dengan lengkap.

      Manusia besar (Dajjal) itu bertanya kepada mereka tentang Nakhl Baisan (nama tempat dekat Yordania), mata air Zughar (nama tempat di Syam) dan seorang Nabi yang buta huruf. Manusia besar itu berkata, “Aku adalah Al Masih Dajjal, dan hampir-hampir aku mendapat izin untuk segera keluar.”

      Nabi SAW bersabda: “Sesunggunya ia (Dajjal) berada di laut Syam, atau laut Yaman. Bahkan ia akan muncul dari arah timur tempat ia berasal -beliau ucapkan hingga dua kali seraya menunjuk ke arah timur-. Fatimah berkata, “Aku hafal perkataan ini dari Rasulullah SAW, lalu ia menyebutkan hadits selengkapnya.”

      Riwayat Muhammad bin Shadran – kami Al Mu’tamir – Isma’il bin Abu Khalid – Mujalid bin Sa’id – Amir – Fatimah bin Qais: pernah Nabi SAW shalat zhuhur kemudian naik ke atas mimbar, padahal sebelum hari itu beliau tidak penah naik ke atas mimbar tersebut kecuali di hari jum’at. Kemudian beliau menyebutkan kisah ini.” Abu Dawud berkata, “Ibnu Shadran adalah orang Bashrah, ia pernah tenggelam di lautan bersama Ibnu Miswar, dan tidak ada yang selamat dari mereka selain dia.”

      Riwayat Washil bin Abdul A’la – Ibnu Fudhail – Al Walid bin Abdullah bin Jumai’ – Abu Salamah bin ‘Abdurrahman – Jabir:, “Pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda di atas mimbar: “Ketika ada beberapa orang berlayar di lautan, makanan mereka hilang (habis), lalu tampaklah oleh mereka sebuah pulau. Mereka pun menuju pulau tersebut untuk mencari roti, namun mereka dihadang oleh Jasasah.” Aku (Walid bin Abdullah) lantas bertanya kepada Abu Salamah, “apa itu Jassasah?” Ia menjawab, “Seorang wanita yang rambutnya menutupi kulit dan kepalanya. Wanita itu berkata, “Dalam istana ini.” Lalu ia menceritakan haditsnya, dan ia bertanya tentang Nakhl Baisan dan mata air Zughar, ia menjawab; “Dia adalah Al Masih”, maka Abu Salamah berkata kepadaku; Dalam hadits ini ada beberapa lafadz yang tidak aku hafal. Abu Salamah berkata, “Jabir bersaksi bahwa laki-laki itu adalah Ibnu Shayyad.” Aku berkata, “Tapi Ibnu Shayyad telah mati!” Jabir menjawab, “Meskipun ia telah mati.” Aku bertanya lagi, “Ia juga telah masuk Islam.” Jabir berkata, “Meskipun ia telah masuk Islam.” Aku bertanya, “Ia juga telah masuk ke kota Madinah.” Jabir menjawab, “Meskipun ia telah masuk kota Madinah.”

      [Abu Dawud no.3767. Muslim no.5235]


Ya’juj Ma’juj sebagai PERTANDA bahwa KIAMAT SUDAH SANGAT DEKAT dan AKAN SANGAT CEPAT TERJADINYA,

    Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”..Dzulkarnain berkata: “..maka tolonglah aku dengan kekuatan, agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka….berilah aku potongan-potongan besi..Berilah aku tembaga agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu..Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya…Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar.” [AQ 18.94-97, Al Makiyya, turun urutan ke-69]

    Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir..[AQ 21.96, Al Makiyya, turun urutan ke-73]

    Tentang GOG dan MAGOG (Ya’juj dan Ma’juj):

    • GOG adalah turunan dari Nuh – Sem – Arpakhsad – Selah – Eber – Peleg – Rehu – Serug – Nahor – Terah – Abraham – Ishak – Yakub – Yusuf – Efraim – .. – Zuf – Tohu – Elihu – Yeroham – Elkana – Samuel – Yoel – Semaya – GOG [Kej.11, 25, 30, 46, 1 Sam 1.1, 1 tar 5.4]
    • MAGOG adalah turunan dari Nuh – Yapet – MAGOG (keturunan lain Yapet diantaranya: Tubal, Mesekh) [Kejadian 10.2, 1 tar 1.15]
    • Masing-masing dari nama mereka kemudian menjadi nama sebuah bangsa dan sebuah negeri.
    • Kemudian ada pula GOG yang berada di tanah MAGOG, yaitu raja agung negeri Mesekh dan Tubal [Yeh 38.2,3]
    • Di Perjanjian lama, baik itu GOG maupun MAGOG, bukanlah Iblis

    Seluruh referensi Perjanjian lama TIDAK PERNAH menyatakan bahwa GOG dan MAGOG merupakan satu kesatuan dan/atau 2 (dua) nama tersebut TIDAK PERNAH ada dalam satu jaman tertentu. Namun, di kitab Wahyu 20.8, nama GOG dan juga nama MAGOG tiba-tiba saja menjadi satu kesatuan dan berfungsi sebagai “ramalan”.

    Islam yang tidak mempercayai kitab-kitab PASCA Yesus wafat kemudian malah mengadopsi khayalan Yohanes dengan mengaplikasikanYajuj dan Majuj sebagai penanda kiamat.


Kapan tembok/benteng Yajuj dan Majuj terbuka?

    Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – ‘Uqail – Ibnu Syihab – ‘Urwah bin Az Zubair – Zainab binti Abu Salamah – Ummu Habibah binti Abu Sufyan – Zainab binti Jahsy: Nabi SAW datang kepadanya dengan gemetar sambil berkata: “Laa ilaaha illallah, celakalah bangsa Arab karena keburukan yang telah dekat, HARI INI TELAH dibuka benteng Ya’juj dan Ma’juj seperti ini”. Beliau memberi isyarat dengan mendekatkan telunjuknya dengan jari sebelahnya. Zainab binti Jahsy berkata, Aku bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa sedangkan di tengah-tengah kita banyak orang-orang yang shalih?”. Beliau menjawab: “Ya, benar jika keburukan telah merajalela”. [Bukhari no. 3097, 3331]

    Riwayat Malik bin Isma’il – Ibnu ‘Uyainah – Az Zuhri – ‘Urwah – Zainab binti Ummu Salamah – Ummu Habibah – Zainab binti Jahsy: Nabi SAW bangun tidur dalam keadaan wajahnya memerah seraya mengucapkan: “laa-ilaaha-illallah, celaka bangsa arab karena keburukan yang telah dekat, HARI INI TELAH dibuka benteng Ya’juj dan Ma’juj seperti ini” –Sedang Sufyan menyatakan secara pasti jumlahnya yaitu sembilan puluh atau seratus-maka beliau di tanya; ‘Apakah kita juga akan binasa sedang diantara kita masih ada orang-orang yang shalih? ‘ Nabi menjawab; “Iya, jika kejahatan telah mewabah.” [Bukhari no.6535, 3098. Muslim no.5130]


Hadis di atas menyampaikan bahwa Muhammad bangun tidur bercerita kepada Zaynab bint Jashy tentang Yajuj dan Majuj, ini menunjukan mereka telah berada di perkawinan sehingga berita telah bolongnya tembok ini terjadi di setelah turunnya surat AQ 33.63 (5 H)

Maka kiamat, sudah benar-benar luar biasa dekatnya!

Muhammad DIUTUS BERSAMAAN DENGAN KIAMAT!

    Riwayat Sulaiman bin Dawud Al Mahri – Ibnu Wahb berkata, telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Abu Ayyub dari Syarahil bin Yazid Al Mu’arifi dari Abu Alqamah dari Abu Hurairah yang aku tahu hadits itu dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Allah mengirimkan kepada umat ini setiap seratus tahun seorang pembaharu agamaNya” (inna Allaha yab’athu lihadhihi ạl ủmaati ala rasi kuli miayati sanatin MAN YUJADDIDU LAHA DINAHA) Abu Dawud berkata, “Abdurrahman bin Syuraih Al Iskandarani meriwayatkan hadits ini, namun tidak menyebutkan Syarahil.” [Abu Dawud no.3740]


Kalimat “yang aku tahu HADIS ITU dari rasullullah SAW”, menunjukan bahwa si perawi menyampaikan pendapat Abu huraira (abdurahman bin shakr) dan BUKAN pendapat MUHAMMAD karena di “hadis itu”, TIDAK ADA kalimat yang merupakan kebiasaan Abu Huraira dalam menyampaikan hadis Nabi. Bukti ini diperkuat dari statement Abu Dawud sendiri tentang Abdurrahman bin Syuraih Al Iskandarani (w. 167 H) yang tidak menyebutkan dari syarahil bin Yazid padahal tidak bisa hadis ini muncul dari abu alqamah tanpa syarahil.

Kalimat “man yujaddidu”, bukanlah jamak, jadi Allah mengirim “seorang pembaharu” atau seorang utusan. Dari sejak Adam, telah berulang kali Allah mengirimkan pembaharu dan Muhammad merupakan pembaharu “PENUTUP” dari agama Allah. Kalimat “setiap 100 tahun” akan berhenti pada batasan terjadinya KIAMAT dan Muhammad DIUTUS berdekatan dengan terjadinya KIAMAT, dan telah disampaikan bukti di atas bahwa tembok Yajuj dan Majuj telah terbuka dan juga pada hadis di bawah ini:

    Riwayat Mahmud bin Ghailan – Abu Dawud – Syu’bah – Qatadah – Anas bin malik: Rasulullah SAW: “Aku diutus bersamaan dengan hari kiamat seperti dua ini (maksudnya sangat dekat).” Abu Dawud mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah, ia tidak melebihkan salah satunya atas yang lain. berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih. [Tirmidhi no.2140. Bukhari no.4555, 4889, 6022-6024. Muslim no.5244-5247]

    Riwayat Muhammad bin Ubaid- Al A’masy – Ibnu Abu Khalid – Wahb As Su`ali – Rasulullah SAW: “Dan aku diutus, sementara jarak antara aku dan hari kiamat adalah seperti jarak dari sini ke sini, dan hampir saja ia akan mendahuluinya.” Maka Al A’masy menempelkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Dan sekali waktu, Muhammad berkata; “Hampir saja ia mendahuluiku..” [Ahmad no.18021, 21869]


KIAMAT TERJADI DIKISARAN 100 TAHUN!

  • Disampaikan antara SETELAH turunnya AQ 33.63 (5H) hingga 7H:
    Riwayat Hajjaj bin Asy Sya’ir – Sulaiman bin Harb – Hammad bin Zaid – Ma’bad bin Hilal Al Anazi – Anas bin Malik: seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW kapan terjadinya kiamat. Beliau terdiam sejenak lalu melihat anak kecil (gẖulāmi) dari Azd Syanu`ah yang ada didepan beliau, beliau menjawab: “Bila anak ini masih hidup, ia tidak sampai tua hingga kiamat terjadi.” Anas berkata: ANAK ITU (ạl̊gẖulāmu) SEBAYAKU SAAT ITU [Hadis Muslim Bab: Dekatnya kiamat no.41.7452/5250; 41.7451/5249 (Riwayat Abu Bakr bin Abu Syaibah – Yunus bin Muhammad – Hammad bin Salamah – Tsabit – Anas); 41.7453/5251 (Riwayat Harun bin Abdullah – Affan bin Muslim – Hammam – Qatadah – Anas). Juga di Musnad Ahmad no. 12097 (Riwayat Yunus dan Hasan bin Musa – Hammad bin Salamah – Tsabit Al Bunani – Anas bin Malik)]

    Riwayat Shadaqah – ‘Abdah – Hisyam – Ayahnya – ‘Aisyah: ada beberapa laki-laki arab badui yang keras perangainya mendatangi Nabi SAW, mereka bertanya kepada beliau kapan waktu itu? (مَتَى السَّاعَةُ فَكَانَ) Beliau melihat yang termuda diantara mereka sembari mengatakan: “Jika anak ini hidup, belum ia lanjut usia, waktu telah terjadi.” kata Hisham berarti kematian. [Bukhari 8.76.518/6030. Hadis Muslim di Bab: Dekatnya Kiamat 41.7450/5248 (Riwayat Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib – Abu Usamah – Hisyam – ayahnya – Aisyah)]

      Note:
      Ghulam adalah anak yang belum baligh.
      Riwayat Yahya bin Bukair – Al Laits – Uqail – Ibnu Syihab – Anas bin Malik: Saat Rasulullah SAW datang di Madinah, ia (anas) masih anak-anak usia 10 tahun..saat Nabi SAW wafat aku adalah pemuda yang telah berumur 20 tahun. [Bukhari no.4768, 5769. Muslim no.3784. Ahmad no.11634, 12255]. Juga mengatakan di Mekkah 10 tahun, Medina 10 tahun dan wafat 60 tahun. [Muslim no. 4330]. Nabi Muhammad wafat di 11 H.

      Anas bin Malik hampir baligh (dewasa) di menjelang Perang Khaibar (7H):
      Riwayat Qutaibah -Ya’qub – ‘Amru – Anas bin Malik: Nabi SAW berkata pada Abu Thalhah: “Carilah seorang ghulam (anak kecil sebagai pelayan) dari ghulam milikmu untuk melayaniku selama keberangkatan ke Khaibar. Maka Abu Thalhah keluar bersamaku dengan memboncengku. Saat itu aku adalah seorang anak kecil yang hampir baligh. Aku melayani Rasulullah SAW saat Beliau singgah..Kemudian kami sampai di Khaibar. Ketika Allah membukakan kemenangan kepada Beliau pada peperangan itu, diceritakan kepada Beliau tentang kecantikan Shafiyah binti Huyay bin Akhthab yang suaminya telah terbunuh dan dia menjanda. Maka Rasulullah SAW memilihnya untuk diri Beliau sendiri. [Bukhari no.2679, dalam bab: Keutamaan orang yang mengajak anaknya dalam peperangan sebagai pelayan]

      Batasan usia lelaki baligh, menurut Umar adalah 15 tahun:
      Riwayat ‘Ubaidullah bin Sa’id – Abu Usamah – ‘Ubaidullah – Nafi’ – Ibnu’Umar bahwa dia pernah menawarkan diri kepada Rasulullah SAW untuk ikut dalam perang Uhud, saat itu umurnya masih 14 tahun namun Beliau tidak mengijinkannya. Kemudian ia menawarkan lagi pada perang Khandaq saat itu usiaku 15 tahun dan Beliau mengijinkanku”. Nafi’ berkata; “Aku menemui ‘Umar bin ‘Abdul ‘aziz saat itu dia adalah khalifah lalu aku menceritakan hadis ini, dia berkata: “Ini adalah batas antara anak kecil dan orang dewasa”. [Bukhari no.2470]

      Jadi di saat perang Khaibar usia Anas bisa jadi sudah 15 tahun. Maka ketika bertemu suku Badui dan kemudian Anas mengatakan bahwa usianya dan usia anak kecil itu sebaya maka itu ada di kisaran 13-15 tahunan!


      Anas pernah mengatakan panjang umurnya adalah 99 tahun

      Riwayat Mu’tamir bin Sulaiman – Humaid bin humaid (68H – 142H) – Anas bin Malik: “bahwasanya ia diberikan umur 100 tahun kurang 1 tahun.” [Ahmad no. 11802].

      Anas mempercayai bahwa kiamat terjadi bersamaan dengan Muhammad di Utus, sehingga Ia percaya akan terjadi di penghujung 100 tahun, terhitung sejak Muhammad menjadi nabi [Anas lahir = Muhammad menjadi Nabi], maka ketika Muhammad wafat [11H, Anas ketika itu berusia 20 tahun], sisanya sampai kiamat adalah 80 tahun lagi [11H + 80 = 91H]. Ketika perawi Humaid akil balig (15 tahun) maka usia Anas sudah 93 tahun (68H + 15 + 10), sehingga wajar saja Anas kemudian menyampaikan prediksi bahwa umurnya 99 karena akan kiamat! Namun ternyata, meleset, Anas wafat di usia lebih dari 100 tahun, yaitu di usia 102/103 tahun (93 H).

  • Disampaikan lagi pada 2 TAHUN sebelum wafat beliau (9 H):
    Riwayat (Ibnu Numair – Abu Khalid) dan (Abu Bakr bin Abu Syaibah – Sulaiman bin Hayyan) – Dawud – Abu Nadhrah – Abu Sa’id: Tatkala Nabi SAW kembali dari perang Tabuk (Akhir Oktober 630/Rajab 9H), para sahabat bertanya kepada beliau tentang hari kiamat. Lalu beliau bersabda: “Tidak akan ada lagi orang-orang yang hidup pada hari ini, setelah 100 tahun yang akan datang.” [muslim no.4608]
  • Disampaikan lagi pada 1 BULAN sebelum beliau wafat (11 H):
    Riwayat Harun bin ‘Abdullah dan Hajjaj bin Asy Sya’ir – Hajjaj bin Muhammad – Ibnu Juraij – Abu Az Zubair – Jabir bin ‘Abdullah: Rasulullah SAW bersabda sebulan sebelum wafatnya: “Kalian menanyakan kepadaku tentang Hari Kiamat, ketahuilah bahwa ilmunya di sisi Allah. Saya bersumpah demi Allah, tidak akan ada manusia yang hidup pada hari ini di atas bumi, setelah 100 tahun yang akan datang.” Riwayat Muhammad bin Hatim – Muhammad bin Bakr – Ibnu Juraij (tidak menyebutkan perkataan; ‘sebulan sebelum wafatnya.’) [muslim no.4606. Namun di Muslim no.4607 terdapat 2 jalur perawi lain yg menyebutkan kata “sebulan sebelum wafatnya” juga di Ahmad no.13929 ]
  • Disampaikan lagi di HARI-HARI AKHIR sebelum beliau wafat (11 H):
    Riwayat Sa’id bin ‘Ufair – Al Laits – ‘Abdurrahman bin Khalid bin Musafir – Ibnu Syihab – Salim dan Abu Bakar bin Sulaiman bin Abu Hatsmah – ‘Abdullah bin ‘Umar: “Nabi SAW shalat Isya’ bersama kami di hari-hari akhir hayatnya. Setelah selesai memberi salam beliau berdiri dan bersabda: “Tidakkah kalian perhatikan malam kalian ini?. Tidak akan tersisa seorangpun dipermukaan bumi yang ada di malam ini pada penghujung 100 tahun sejak malam ini” [Bukhari 1.3.116/no.113; Bukhari 1.10.539/no.531 dan Ahmad no.5873 (tidak ada kata di hari-hari akhir hayat)].

    Di hadis lainnya, yaitu yang berasal dari perawi yang sama (Salim dan Abu Bakar bin Sulaiman bin Abu Hatsmah – ‘Abdullah bin ‘Umar) namun ujung perawi lanjutannya yang berbeda-beda, disampaikan TAMBAHAN variasi TAFSIR dari Abdullah ibn Umar mengenai maksud Rasullulah tentang 100 tahun, di antaranya:

    • “Sesungguhnya maksud sabda Nabi, ‘Tidak akan ada orang yang tersisa di atas bumi ini’ adalah berakhirnya generasi tersebut’.” [bukhari 1.10.575/no.566. Tirmidhi 33.2471/no.2177].
    • hanyasanya yang beliau inginkan dari sabdanya “Tidak ada lagi disana seorang pun yang hari ini di atas bumi.’ maksudnya, generasi (manusia yang hidup dalam) 100 tahun itu berhenti, dan diganti generasi lain.” [ahmad no.5755]
    • Sebenarnya Rasulullah SAW hanya ingin mengatakan: ‘Di awal abad yang akan datang, orang yang hidup pada masa sekarang ini tak satupun yang masih hidup.’ Maksudnya masa para sahabat itu akan habis. [muslim no.4605]
    • Sebenarnya Rasulullah SAW mengatakan: “Orang-orang yang hidup hari ini, maka 100 tahun ke depan tidak akan ada lagi yang masih hidup di muka bumi.” Maksudnya, beliau menegaskan bahwa masa itu akan terjadi.” [Abu dawud no.3784]
    • yang Rasulullah SAW maksudkan adalah: “‘Pada hari ini tidak ada seorangpun yang berada di hamparan bumi menginginkan untuk melewati abad ini.’ [ahmad no.5360]

    Melihat begitu bervariasinya dan tidak konsistennya pendapat dari Ibn Umar di atas, maka TAMBAHAN PENDAPATNYA ini saja sudah patut diabaikan.

    Disamping itu,
    Apa istimewanya sehingga sedemikian pentingnya perlu memperhatikan malam itu saja, jika ternyata maksud pernyataan muhammad cuma sekedar hendak menyatakan bahwa generasi akan berganti, padahal tanpa perlu “sabda supranatural”nya, tetap saja generasi akan berganti. Pun pada yang berpendapat bahwa maksudnya adalah tidak akan ada orang yang akan berusia sampai 100 tahun, maka pada jaman Muhammad hidup saja, Abu Afak, sudah berusia 120 tahun ketika ia dibunuh atas perintah Muhammad akibat ketajaman syairnya menyindir Muhamad dan juga Anas bin Malik, yang pada kenyataannya wafat di usia 102/103 tahun telah membantah telak spekulasi tersebut!


Sekarang, 1400 tahun TELAH berlalu, seluruh ramalannya sudah meleset dengan sangat tidak tanggung-tanggung. Maka jika ada pertanyaan: Apakah Muhammad dan Allahnya memahami apa yang dibicarakannya?

Jawabannya jelas: Ia dan Allahnya benar-benar tidak tahu apapun.

[Kembali]




Hindu: Umur Semesta

Pada siklus semesta di atas, telah dinyatakan bahwa jaman kali yuga panjangnya 432.000 tahun. Sebelum kita sampai pada hitungan umur semesta menurut hindu, berikut di bawah ini beberapa contoh petunjuk di Veda-Veda sruti yang menyebutkan bulan, tahun, angka 432.000 dan 4 Yuga:

    Rig Veda:
    11. Formed with twelve spokes, by length of time, unweakened, rolls round the heaven this wheel of during Order.Herein established, joined in pairs together, seven hundred Sons and twenty stand, O Agni.

    48. Twelve are the fellies, and the wheel is single; three are the naves. What man hath understood it? Therein are set together spokes three hundred and sixty, which in nowise can be loosened. [RV 1.164.11,48]
    —> 12 bulan, [720 sepasang = 360]

    2. Let us declare aloud the name of Ghṛta, and at this sacrifice hold it up with homage. So let the Brahman hear the praise we utter. This hath the four-horned Buffalo emitted.

    3. Four are his horns, three are the feet that bear him; his heads are two, his hands are seven in number. Bound with a triple bond the Steer roars loudly: the mighty God hath entered in to mortals.[RV 4.58.2-3]
    —> 4,3,2, [0.000.000] = 4.320.000 = 1 MahaYuga

    Atharva Veda, untuk 4 Yuga:
    21. A hundred years, ten thousand years, two, three, four ages (yuga) do we allot to thee; Indra and Agni, and all the gods without anger shall favour thee![AV 8.2.21]

    Sataphata Brahmana 10.4.2:
    17. He made himself twenty-four bodies of thirty bricks each. There he stopped, at the fifteenth; and because he stopped at the fifteenth arrangement there are fifteen forms of the waxing, and fifteen of the waning (moon).

    18. And because he made himself twenty-four bodies, therefore the year consists of twenty-four half-months. With these twenty-four bodies of thirty bricks each he had not developed (sufficiently). He saw the fifteen parts of the day, the muhûrtas 2, as forms for his body, as space-fillers (Lokamprinâs), as well as fifteen of the night; and inasmuch as they straightway (muhu) save (trai), they are (called) ‘muhûrtâh’; and inasmuch as, whilst being small, they fill (pûr) these worlds (or spaces, ‘loka’) they are (called) ‘lokamprinâh.’

    19. That one (the sun) bakes everything here, by means of the days and nights, the half-moons, the months, the seasons, and the year; and this (Agni, the fire) bakes what is baked by that one: ‘A baker of the baked (he is),’ said Bhâradvâga of Agni; ‘for he bakes what has been baked by that (sun).’

    20. In the year these (muhûrtas) amounted to ten thousand and eight hundred: he stopped at the ten thousand and eight hundred.

    23. He arranged the Rik-verses into twelve thousand of Brihatîs, for of that extent are the

    24. He then arranged the two other Vedas into twelve thousand Brihatîs,–eight (thousand) of the Yagus (formulas), and four of the Sâman (hymns)–for of that extent is what was created by Pragâpati in these two Vedas. At the thirtieth arrangement these two came to an end in the Paṅktis; and because it was at the thirtieth arrangement that they came to an end, there are thirty nights in the month; and because it was in the Paṅktis, therefore Pragâpati is ‘pâṅkta.’ There were one hundred-and-eight hundred Paṅktis.

    25. All the three Vedas amounted to ten thousand eight hundred eighties (of syllables); muhûrta by muhûrta he gained a fourscore (of syllables), and muhûrta by muhûrta a fourscore was completed.

    Note:

    • Muhurtas: 1 hari dan 1 malam = 30 Muhurtas; 1 Muhurta = 48 menit; 1 hari dan 1 malam = 1440 menit = 864.000 detik; 1 hari = 432.000 detik
    • Batu Lokamprinâ: berisi sebanyak muhurta dalam 1 tahun [30 x 360= 10800 muhurtas; 10.800 muhurta x 48 menit x 60 detik = 31.104.000 detik x 100 tahun = 3.110.400.000]
    • Brihatî: berisi 36 suku kata, Rig-veda berisi 36 × 12,000= 432,000 suku kata.
    • Paṅkti: berisi 5 padas [kaki], terdiri dari 8 suku kata setiapnya [5 x 8 = 40]; 10,800 Paṅktis [40 x 10800 = 432.000]
    • 3 Vedas [Rig, Yahur dan Samas]: Paragraph 23-24 di atas terdiri dari 2 x 432,000 = 864,000 suku kata


***

Contoh-contoh petunjuk tersebut di atas, kemudian diterjemahkan sebagaimana tercantum di Bab.1 ayat 11–23, Surya Siddhanta dan Visnu Purana book I Chapter III, sebagai berikut:

  • 1 tahun manusia di hitung 360 hari
  • 1 hari Leluhur dan/atau dewa adalah 1 tahun Manusia.
  • Umur Deva/leluhur adalah 100 tahun = 36.000 tahun umur manusia.
  • 1 Maha yuga berisi 4 Yuga:
    • Satya/Krita Yuga, 4.800 tahun Deva, 1.728.000 tahun manusia
    • Treta Yuga, 3.600 tahun Deva, 1.296.00 tahun manusia
    • Dwapara Yuga, 2.400 tahun deva, 864.000 tahun manusia
    • Kali yuga, 1.200 tahun deva, 432.000 tahun manusia
  • 1 Mahayuga = 12.000 tahun deva
  • 1000 Mahayuga =1 Kalpa
  • 1 kalpa = 1 hari brahma (4.32 Milyar tahun Manusia. Ilmuwan menyatakan bahwa umur Matahari adalah sama)
  • (1 hari dan 1 malam) Brahma = 2 Kalpa
  • 1 bulan Brahma adalah 259,2 Milyar tahun.
  • 1 tahun Brahma adalah 3.1104 Triliun tahun
  • Dalam Kitab sejarah Hindu (Mahabharata) 100 tahun Brahma = 1 rangkaian Semesta jagat ini = 1 MAHA KALPA = 311.04 triliun tahun


Menurut Surya Siddhanta, Saat ini kaliyuga ke 28, mulai di Februari 3102 SM dan sudah berlalu 50 tahun brahma, sekarang kita ada di tahun Brahma yang ke 51.

Dalam 1 Kalpa yang setara dengan satu hari Brahma (bukan satu hari satu malam) adalah sama dengan 4.320.000.000. 1 Kalpa tersebut terbagi kedalam 14 Mavantara yang setara dengan 308.571.429 tahun. Dalam setiap Mavantara ada 1 Manu sehingga total dalam 1 kalpa ada 14 Manu yang perkembangannya tidak putus-putusnya mulai dari mahluk tembus pandang, berkembang secara fisik, menjadi mahluk bercahaya kembali dan seterusnya hingga Maha Kalpa yaitu 100 tahun Brahma akan ada MahaPralaya.

Tidak ada manusia pertama kecuali kelompok manusia yang pertama. Sejarah manusia di mulai 150 juta tahun yang lampau. Manusia seperti kita pertama kali muncul di sekitar 18.5 juta tahun yang lalu.

Melihat kebelakang, dari bulan Oktober 2008, maka dunia kita ini menurut Veda adalah:

    6 manvantaras (6 x 306.772.000 = 1,840,320,000) + 7 sandhis (7 x 1.728.000 = 12,096,000) + 27 mahâ-yugas (27 x 4.320.000 = 116,640,000) + 1 krita-yuga (1,728,000) + 1 tretâ-yuga (1,296,000) + 1 dvâpara-yuga (864,000) + the time from the beginning of kali-yuga (3102 + 2008 – 1, karena sebelum masehi ada tahun 0 dan 1) = 1,972,949,109 years.


Melihat kedepan, era Kaliyuga baru berjalan 5109 tahun sehingga masih tersisa 426.891 tahun lagi untuk mencapai akhir kaliyuga ke-28 ini. Untuk sampai di penghujung Mavantara masih 188,341,782 tahun lagi. Untuk mencapai akhir Kalpa ini (satu hari brahma) masih 2,347,050,891 tahun lagi.

Jadi Kiamat menurut perhitungan hindu masih Milayaran tahun lagi.

[Kembali]




Buddha: Umur Semesta

Rangkaian siklus alam semesta terjadi dalam waktu 1 MahaKalpa, yang dibagi menjadi:

  • Vivartakalpa (Masa Pembentukan ditandai dengan adanya kematian mahluk dari Alam Abhasara dan lahir kembali ke alam Brahma),
  • Vivartasthāyikalpa (Masa Pembentukan hingga stabil dan kemudian ditandai dengan adanya Mahluk yang lahir di neraka),
  • Saṃvartakalpa (Masa Kehancuran semesta ditandai dengan habisnya mahluk yang terlahir di neraka),
  • Saṃvartasthāyikalpa (Masa kekosongan tiada apapun, ditandai dengan habisya mahluk dari alam brahma)


note:
Jika kata ‘kappa’ berdiri sendiri maka yang dimaksudkan adalah Maha Kappa

Buddha tidak pernah menyatakan lamanya 1 kappa itu dalam satuan tahun. Beliau memberikan 2 perumpamaan untuk dapat memahami betapa lamanya 1 Kappa itu, yaitu menjawab pertanyaan 2 bikkhu berbeda sebagaimana tercantum di SN 15.5 & 15.6 [lihat juga terjemahan inggrisnya]. Semua jawaban dari Beliau di akhiri dengan kalimat, “bahkan 1 kappa belumlah sampai dan berakhir”, berikut ini saya sampaikan beberapa variasi hitungan mengenai itu:

  • Pabbatasuttaṃ [SN 15.5]: Batu cadas dengan dimensi: 1 yojana³ digosok dengan kāsikena vatthena [kain yg sangat halus] dan setiap seratus tahun dapat terkikis sedikit demi sedikit hingga habis dan bahkan untuk selama itupun 1 kappa belumlah sampai untuk berakhir
    • Hitungannya saya pinjam dari blog ini: Asumsi 1 yojana = 15 km (estimasi), sehingga densitas (d) batu cadas = 3203.7kg/m³, batu cadas tsb terbuat dari silikat, s = ± 100g/mol. Estimasi jumlah molekul dalam kikisan kain adalah 1, hitungannya menjadi

      1 kappa = 100 x (y³)x d/(0.001s x NA )= 6.5 x 1042 tahun. di mana NA= Angka avogrado.

      Terlalu tinggi dalam mengestimasikan molekul?

      Jika dikurangi menjadi 1017, molekul silikat yg terkikis kain menjadi, 1.66 x 10-8kg. Jadi nilai 1 Kappa = adalah hingga 1017….tetapi kappa itu masih belum berakhir

    • variasi lainnya:
      ‘1 yojana’ = 7 mil s/d 14 Mil; 1 mil = 1.6 km, jadi 1 yojana setara antara 11.2 km s/d 22.4 km. Anggap saja per 100 tahun dapat 1 mm³, sehingga:

      1 kappa = (11.2)³ x (106)³ mm x 100 tahun = 1.41 x 1023 s/d 1.1 x 1024….tetapi kappa itu masih belum berakhir

  • Sāsapasuttaṃ [SN 15.6]: Di hadapan seorang bikkhu tertentu, Dinding besi dengan dimensi 1 yojana³ di isi dengan 1 biji mustard setiap seratus tahun bahkan hingga dinding itu penuh masih lebih cepat dari 1 Kappa.
    • Hitungannya saya pinjam dari blog ini: Asumsi 1 yojana = 15 km(estimasi); Diameter sebiji mustard (m) = 0.15875 cm, dengan asumsi berbentuk bulat, dan di isi penuh tanpa ada lagi udara di dalamnya

      1 kappa = 100 x (y³)/(4π x(0.01m/2)³)= 5.37 x 1022 tahun..tetapi kappa itu masih belum berakhir

    • variasi lainnya:
      ‘1 yojana‘ = 7 mil s/d 14 Mil; 1 mil = 1.6 km, jadi 1 yojana setara antara 11.2 km s/d 22.4 km, utk menjadi mm = 1.41 x 1021 mm³ s/d 1.1 x 1022 mm³

      Anggap saja ukuran biji mustard adalah 2mm x 2mm x 2mm = 8mm³, Jadi, 1.41 x 1021 mm³ / 8 mm³ = 1.76 x 1020 butir s/d 1.4 x 1021 butir. Bila diambil satu butir setiap setiap seratus tahun maka

      1 kappa = 1.76 x 1020 butir x 100 tahun = 1.76 x 1022 tahun s/d 1.4 x 1023 tahun..tetapi kappa itu masih belum berakhir

  • Kemudian,
    terdapat juga istilah lagi yaitu: Maha Kappa; asankheyya/asankhya-kappa (asankhya = “tak terhitung banyaknya”) dan Antara kappa [Cakkavati-Sihananda Sutta: Interval meningkat/menurunnya umur kehidupan manusia: 10 thn -> 1 asankhyeyya -> 10 tahun].

    Satu Maha Kappa = 4 Assankhyya Kappa [Samvatta-Kehancuran mulai hingga menjadi elemen dasar/habis; Samvattatthdyi-tidak ada apapun; Vivatta-renovasi hingga komplit; Vivattatthayi-kestabilan] – [Anguttara, II, 142].

    1 Maha Kappa [MK] = 4 Assankheyya Kappa [AK], dimana 1 AK = 20 antara kappa. Jadi 1 Maha Kappa = 80 antara kappa.

    Kappa di Neraka Avici panjangnya 1/80 MK atau 1/20 AK. Jadi, 1 Assankheyya Kappa = 64 antara kappa utk umur manusia atau 20 antara kappa neraka avici.

    Sutta aliran Theravada tidak menerangkan petunjuk matematis penurunan/kenaikan rata-rata. Keterangan mengenai hal ini kita dapat temukan di 1 sutta aliran Mahayana: Avatamsaka Sutra [Sutra Karangan Bunga], yang menyatakan saat kebaikan meningkat umur manusia bisa mencapai rata-rata 84.000 tahun dan kemudian menurun 1 tahun per 100 tahunnya hingga umur manusia mencapai rata-rata 10 tahun dan kemudian meningkat setahun untuk setiap 100 tahun.

    [Note:
    Chakavati Sihananda Sutta, tidak pernah merujuk pada sistimatika penurunan seperti apapun dan juga tidak pernah menganjurkan perhitungan mulai/berakhir di 100.000 tahun atau 84.000 tahun atau 80.000 namun. Sutta itu hanya memberikan petunjuk, kalimat berulang, “Setelah beberapa ratus tahun dan beberapa ribu tahun” yang justu merujuk pada definisi assankhya (“tak terhitung banyaknya”). Baru pada syair ke-14 tertera kata “80.000 tahun” namun tetap tidak terdapat pentunjuk sistimatika bentuk matematis bagaimana penurunan umur hingga ke 40.000 tahun dan seterusnya.

    Hanya di Sutta mahayana Avatamsaka Sutra, sistimatika dan nilai tahun disebutkan. Jika kita perhatikan maka seharusnya terdapat perbedaan perlakuan perubahan penurunan/kenaikan umur sehingga tidak statis di angka per 100 tahun, misalnya utk kenaikan umur yg mulai dari 10 tahun, maka setelah terjadi 9 x usia 10 tahun maka baru 10 tahun berikutnya terdapat kenaikan umur 1 tahun. Untuk penurunan umur yg mulai dari 84.000 tahun, maka setelah terjadi 83.799 x usia 84.000 tahun maka di 84.000 tahun berikutnya terdapat pengurangan umur 1 tahun dan seterusnya]

    Dengan merujuk model perhitungan dari Suta Mahayana maka:

    Dengan mengabaikan perubahan dari 84.000 menjadi 83.7999 memerlukan berapa lama hingga kemudian wajar terjadi pengurangan per 100 tahun berkurang 1 tahun, maka dengan rumus jumlah deret ukur sederhana, S =(F+L)(T)/ 2; di mana S = Jumlah total tahun; F = angka pertama dalam deret angka; L = Angka terakhir dalam deret angka; T = Jumlah unit dalam urutan. Maka:

    1 antara kappa, = 2 x (10 + 84000)x(83991)/2 + (2 x 100 x(83991-1)) = 7,072,881,910 tahun atau 7.1 x 109.
    1 AK = 64 x 7.1 x 109 = 4.52 x 1011.
    1 MK = 4 x 4.52 x 1011 = 1.8 x 1012

    Dengan memperhatikan beberapa hasil dari model perhitungan sebelumnya maka hasil angka tahun dengan model perhitungan ini jelas masih jauh terlalu kecil atau dengan kata lain, nilai ini masih terlalu jauh untuk mendekati lammanya 1 Kappa.

  • Variasi lainnya didapat dari link ini dengan summary sbb:
    • Kalpa biasa adalah sekitar 16 juta tahun.
    • Kalpa kecil adalah 1000 kalpa biasa atau 16 Milyar tahun.
    • Medium kalpa adalah 20 kalpa kecil atau 320 Milyar tahun
    • Kalpa besar adalah 4 medium kalpa atau 1.28 Triliun tahun [1.28 x 1012]. Namun, memperhatikan beberapa hasil dari model perhitungan sebelumnya maka hasil angka tahun dengan model perhitungan ini jelas masih jauh terlalu kecil atau dengan kata lain, nilai ini masih terlalu jauh untuk mendekati lammanya 1 Kappa.


Apa yang dimaksudkan oleh Sang Buddha dengan menggunakan kata “asankheyya” yang artinya tak dapat di hitung lagi?

Di Situs ini dan ini, anda masih akan temukan penamaan bilangan super besar dalam kitab2 suci tradisi India [Veda dan Jainism] yaitu penamaan bilangan hingga pangkat 1053 = Tallakshanaam dan di kitab Jainism, Anuyogadwar Sutra [penulisan 100 SM] terdapat penulisan angka 10140. Apakah ini artinya yang dimaksud dengan tahun kappa yang tak dapat di hitung lagi lamanya adalah melebihi 10140?

Kemudian, seberapa banyak Maha Kappa sebenarnya telah berlalu?

Untuk pertanyaan ini, Sang Buddha menyampaikan perumpamaannya di 2 Sutta lainnya yaitu di 15.7 dan 15.8, Sāvakasuttaṃ dan Gaṅgāsuttaṃ:

  • Sāvakasuttaṃ: Dihadapan sekelompok Bikkhu, misalkan 4 bikkhu dapat hidup dan mencapai umur 100 tahun, disetiap harinya ia dapat mengingat 100.000 Kappa, maka bahkan seluruh kappa yang mereka ingatpun, jumlah kappa yg telah berlalu lebih banyak lagi.

    Jumlah Kappa yg di ingat dan telah berlalu = 4 x 100 tahun x 365 hari x 100.000 Kappa = 14.6 Milyard Maha Kappa dan itupun masih banyak kappa lagi yg telah berlalu

  • Gaṅgāsuttaṃ: Di hadapan seorang Brahmin, menghitung jumlah pasir di sungai Gangga dari hulu hingga mencapai Lautan, walaupun sulit, bahkan jika terkumpulpun hingga habis maka jummlah Kappa yang telah berlalu bahkan lebih banyak daripada itu.

    Dari situs ini, didapat perkiraan panjang sungai gangga yaitu 1557 mil (2506 km), panjang deltanya saja adalah: 200 mil (322 km), luas Delta gangga (A) saja adalah 105000 km2, Estimasi dalamnya pasir d = 1 m pasir, volume (s) = 1/16 mm dalam diameter, sehingga

    Jumlah Maha Kappa yg telah berlalu =(1000)2 x A x d/(4π x (0.001s/2)³)= 2.7 x 1023 Maha Kappa dan tentunya hasilnya bertambah lebih banyak lagi jika di hitung hingga sepanjang 1557 mil namun apapun hasil perhitungannya [karena tertulis harusnya dari hulu ke hilir], maka tetap saja masih lebih banyak kappa lagi yg telah berlalu


Kemudian,
Kehancuran semesta oleh panas setiap 1 Maha Kalpa dan terjadi hanya sampai di alam Brahma. Alam Abhasvara keatas tidak terkena [Lihat: Satta Suriya Sutta].

Kehancuran semesta oleh cairan setiap 8 Maha Kalpa terjadi hanya sampai dengan alam-alam Abhasvara. Alam Śubhakṛtsna keatas tidak terkena.

Kehancuran semesta oleh angin setiap 64 MahaKalpa hanya sampai alam Śubhakṛtsna, alam yang lebih tinggi tidak pernah terkena. Siklus itu kemudian berulang. Saat Mahluk di Subhakrtsna lahir di alam abhasavara dan seterusnya.

Dengan adanya tri-sahasra-mahasahasra-dhatu, maka saat kehancuran semesta, mahluk-mahluk dapat terlahir juga di triliunan tatasurya/semesta lainnya termasuk didalamnya (alam Brahma, Deva, manusia, Binatang, Mahluk halus dan Neraka). Ini menunjukan adanya kontinuitas kelahiran kembali pada kelahiran kembali di alam-alam yang Vertikal maupun Horizontal

Setiap dari masa evolusi semesta dibagi lagi menjadi 20 antarakalpa, dan panjangnya adalah sama. Di masa Saṃvartasthāyikalpa, tidak ada apapun karena itu perbedaannya tidak terlihat namun berbeda dengan 3 kalpa lainnya.

Melihat uraian di atas, gelagatnya, penciptaan manusia di mulai di pertengahan Vivartakalpa atau lewat 1 medium Kalpa. Jaman Buddha Gautama berada di tengah Vivartasthāyikalpa, sehingga umur dunia kita sekarang ini masihlah lebih jauh lagi dari 640 Milyar tahun!

Bisakah anda bayangkan, untuk dunia dimana kita sekarang terlahir saja, yang dikatakan umurnya 1 Maha kappa,maka jumlah tahun untuk mencapai 1 Maha Kappa saja sudah tak terhitung lagi lamanya. Namun ternyata bahkan jumlah Maha kappa yang sebenarnya TELAH BERLALU lebih tak terukur lagi jumlahnya!

Mengerikan sekali, bukan?!

[Kembali]




Kesimpulan

Baik ajaran India dan Ilmu Pengetahuan modern memberikan perhitungan bahwa umur semesta ini adalah milyaran tahun sedangkan ajaran Abrahamic (Yahudi, Nasrani dan Islam) menyatakan bahwa umur semesta tidak sampai 15.000 tahun – 350.000 tahun.

Kiamat disebutkan ada di 4 Agama.

Di ajaran Abrahamic tidak mengenal adanya kesempatan kedua untuk memperbaiki diri setelah manusia meninggal.

Jadi, perbuatan manusia hanya perdasarkan penilaian yang terjadi di waktu yang sangat singkat yaitu di setelah akil baliq hingga meninggal. Penilaian dari Allah tersebutlah yang sangat menentukan apakah seseorang akan mendapatkan ganjaran surga atau neraka yang kekal abadi selamanya! Sehingga kemunculan Tuhan menjadi tidak jelas makna dan tujuannya. Penciptaan dunia, malaikat, setan dan manusia menjadi tidak pernah jelas makna dan tujuannya.

Di ajaran India baik ajaran Hindu maupun Buddha selalu memberikan kesempatan pada mahluk untuk memperbaiki diri. Perbedaannya adalah:

  • Di ajaran Hindu, terdapat dua pendapat: Pertama, Siklus tersebut sudah berakhir dengan terjadinya Maha Pralaya dengan wafatnya Brahma. Kedua, siklus tersebut berulang kembali bersamaan dengan terlahirnya kembali Brahma. Purana mengisahkan Brahma terlahir kembali di pusarnya Visnu sehingga proses penciptaan terjadi kesinambungan.

    Pendapat kedua tersebut menjadikan keberadaan/fungsi Brahma diciptakan menjadi tidak jelas begitupula dengan makna dan tujuan semesta ini diciptakan

  • Di ajaran Buddha, kontinuitas siklus kelahiran kembali adalah tidak ada habis-habisnya. Konsekuensinya adalah tidak ada cara lain untuk keluar dari lingkaran kelahiran kembali kecuali dengan memadamkan nafsu keinginan. Surga dan neraka bukanlah merupakan hal yang permanen. Fungsi kehadiran sosok mahluk pencipta tidak dibutuhkan dalam struktur ini.


Ajaran Abrahamic (Kristen dan Islam), dengan segala daya dan upaya, berlomba-lomba untuk ‘menghamba’kan dirinya pada hipotesis Big Bang. Hindu menyatakan seluruh framework hipotesis Big bang adalah salah. Sementara sang Buddha menyatakan, ‘Kebenaran yang sejati adalah Hukum Sebab Akibat yang saling bergantungan. Tanpa mengerti pokok tersebut, maka seperti bola benang yang kusut, tidak mampu untuk menghentikan penderitaan dan kelahiran kembali.’

Si Pemrakarsa hipotesis bigbang, ALBERT EINSTEIN, menyatakan, “Agama Masa Depan adalah Agama Kosmik. Melampaui Tuhan sebagai suatu pribadi serta menghindari Dogma dan Teologi. Meliputi yang Alamiah maupun yang Spiritual, Agama yang seharusnya berdasarkan pada Pengertian yang timbul dari Pengalaman akan segala sesuatu yang Alamiah dan Perkembangan Rohani, berupa kesatuan yang penuh arti. Buddhism sesuai dengan Pemaparan ini. Jika ada agama yang sejalan dengan kebutuhan Ilmu Pengetahuan Modern, maka itu adalah Ajaran Buddha.”

SINOPSIS BUKU– Ajaran Buddha di Mata Cendekiawan Ungkapan penghargaan Albert Einstein, ilmuwan terbesar abad ke-20:

    1905:“Rasa keagamaan kosmik merupakan dorongan paling kuat dan paling mulia terhadap penelitian ilmiah. Agama Buddha, seperti yang kita pelajari dari tulisan Schopenhauer yang mengagumkan, mengandung unsur tersebut jauh lebih kuat dibanding agama lainnya.”

    1939:“Jika ada suatu agama yang akan memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan modern, agama itu adalah agama Buddha.”


Einstein meninggal 18 April 1955, menjelang wafatnya Ia meninggalkan pesan agar jasadnya di kremasi dan tidak di kubur secara Yahudi.

Bagaimana menurut anda?

[Kembali]




Sumber

  • Al Qur’an, Al Kitab, RigVeda, Tipitaka
  • Tafsir Ibn Kathir, Sahih Bukhari dan Muslim
  • Keajaiban Al Qur’an, Disadur dari HarunYahya oleh Rika Hermawan
  • Wikipedia, fisika.net, Sammagi-Phala, Bhagavant, dll
  • Vedic Physic-Scientific Origin of Hinduism, Oleh: Raja Ram Mohan Roy, Alih bahasa: Gede Manggala, Posted by Ketut Adi on 2003-09-22 di iloveblue.com
  • All about Buddhism, Dasar Pandangan Agama Buddha, Karya Venerable S. Dhammika [Warga Australia yang menjadi Bikkhu], The Buddha Dhamma Mandala Society, Singapore, 1990; Terjemahan Dr. Arya Tjahjadi, DSA, Penerbit Yayasan Dhammadipa Arama Cabang Surabaya
  • KARUNAKAR MARASAKATLA, Evolution in the fourth round, Root-race chronology


[Kembali]



Artikel terkait lainnya:

First save: 10/6/08, 2:50 PM


Agama Langit Bilang Kaya Gini: Matahari Yang Beredar Bukannya Bumi!..Mmmhh Trus, Bumi Itu Datar!


Dunia barat mencatat bahwa orang pertama yang menegaskan BUMI itu BULAT adalah seorang Yunani yang hidup di abad ke 6 SM bernama Phytagoras.

Benarkah orang pertama yang mengatakan bumi itu bulat adalah Phytagoras?

Apa kata 4 Agama besar tentang bentuk Bumi kita dan juga yang manakah pusat tata surya kita, Bumi ataukah Matahari?

Mari kita telusuri bersama:

Setelah membaca uraian-uraian tersebut, anda akan lebih memahami bahwa KEBENARAN dan KEYAKINAN merupakan dua hal yang berbeda, terkadang berjalan seiring namun terkadang berlawanan arah. []



Tradisi Nasrani

Sekarang, marilah kita melihat bagaimana Tuhan di Alkitab berbicara tentang Bentuk Bumi yang datar dan Matahari yang mengelilingi Bumi

[Untuk detail bagaimana proses pembuatan Alkitab dan kontroversinya silakan lihat di sini]

Bumi itu mempunyai 4 (empat penjuru)

    Ia akan menaikkan suatu panji-panji bagi bangsa-bangsa, akan mengumpulkan orang-orang Israel yang terbuang, dan akan menghimpunkan orang-orang Yehuda yang terserak dari ke empat penjuru bumi. [Yesaya 11:12], [Hebrew: ‘arba` = empat; kanaph= sudut, pojok, penjuru]

    Kemudian dari pada itu aku melihat empat malaikat berdiri pada keempat penjuru bumi dan mereka menahan keempat angin bumi, supaya jangan ada angin bertiup di darat, atau di laut atau di pohon-pohon. [Wahyu 7:1]

Melihat seluruh permukaan Bumi dari Ketinggian:

    Ketika aku sedang tidur, kulihat sebuah pohon yang tumbuh di tengah-tengah bumi. Pohon itu sangat tinggi; batangnya besar dan kuat. Puncaknya sampai ke langit, sehingga dapat dilihat oleh semua orang di bumi. [Daniel 4:10-11]

    Pohon yang Tuanku lihat itu begitu tinggi, sehingga puncaknya sampai ke langit, dan dapat dilihat oleh semua orang di bumi. [Daniel 4:20]

    Dan Iblis membawanya ke puncak gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepadanya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya. [Matius 4:8]

    Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. [Lukas 4:5]

    Note: para penginjil akan berargumen bahwa itu bukan mimpi daniel-lah, bukan ucapan Daniel-lah, bukan ucapan tuhan-lah. Mereka lupa bahwa Daniel adalah seorang pakar tafsir Mimpi [karena anugerah yang diberikan padanya]. Kalimat Nebukadnezar, yaitu “seluruh [kol] ujung [sofe] bumi..[Dan 4:11]”, Daniel/Beltsazar kemudian tafsirkan “seluruh [kol] bumi [4:20]” menjadi “[..] sampai ke ujung [sofe] bumi” [4:22] [Message bible menulis ujung itu dengan 4 sudut bumi]. Padahal Daniel bisa saja mengatakan “seluruh” namun Ia justru memilih kata “ujung”.

    Benda bulat mana ada ujungnya?

    Kemudian, di Perjanjian baru: iblis membawa masuk ke alam roh-lah, dst. Perhatikan logika mereka semua saat itu:

    ‘melihat semua’ dari ketinggian tertentu!

    Setinggi2nya suatu tempat tidak mungkin melihat yang ada di bagian bumi di bawahnya [bulat] kecuali tempat itu datar

Bumi memiliki tiang:

    Yang menggeserkan bumi dari tempatnya, sehingga tiangnya bergoyang-goyang. [Ayub 9:6]..Tiang-tiang langit bergoyang-goyang, tercengang-cengang oleh hardik-Nya. [Ayub 26:11]
    Note: Ibrani/hebrew untuk tiang = ammuwd; langit = shamayim, ‘owr = petir, halilintar; penggunaan kata petir bukan tiang ada di Ayub 37:11

Matahari yang beredar mengelilingi Bumi:

    .. Ia memasang kemah di langit untuk matahari, yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya. Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya. [Mazmur 19:4-6]

    [Catatan: di sini, di sini dan di sini.. anda temukan konfirmasi bahwa Alkitab dan para bapak gereja mendukung GeoCentris juga mengutuk teori Heliocentrisnya Galileo]

Bumi memiliki ujung:

    untuk memegang ujung-ujung bumi, sehingga orang fasik dikebaskan dari padanya [Ayub 38:13]…..dan juga kilat petirnya ke ujung-ujung bumi. [Ayub 37:3]..Karena ia memandang sampai ke ujung-ujung bumi. [Ayub 28:24]

    [note: mereka akan berargumen bahwa tidak ada perbedaan antara tanah dan bumi dalam bahasa inggris..namun ayat2 ini berbicara bumi bukan tanah , lihat di Ayub 38:4, ‘…meletakan dasar bumi..’]

    Sebab itu orang-orang yang diam di ujung-ujung bumi takut kepada tanda-tanda mujizat-Mu; tempat terbitnya pagi dan petang Kaubuat bersorak-sorai.[Mazmur 65:8]

    engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu: “Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau”[Yesaya 41:9]

    Ya TUHAN, kekuatanku dan bentengku, tempat pelarianku pada hari kesesakan! Kepada-Mu akan datang bangsa-bangsa dari ujung bumi serta berkata: “Sungguh, nenek moyang kami hanya memiliki dewa penipu, dewa kesia-siaan yang satupun tiada berguna. [Yeremiah 16:19]

Kubah Langit dan Batas langit

    Ketika Ia mempersiapkan langit, aku di sana, ketika Ia menggaris kaki langit pada permukaan air samudera raya [AMSAL 8:27]

    Yang mendirikan anjung-Nya di langit dan mendasarkan kubah-Nya di atas bumi; yang memanggil air laut dan mencurahkannya ke atas permukaan bumi–TUHAN itulah nama-Nya. [Amos 9:6]

    Awan meliputi Dia, sehingga Ia tidak dapat melihat; Ia berjalan-jalan sepanjang lingkaran langit! [Ayub 22:14]

    Penegasan dari kalangan Kristen Awal dan yang tercantum di Ensiklopedia:

      “After this, on the second day, [God] placed the heavens over the whole world, and separated it from the other parts…. He also placed a crystalline [firmament] round it, and put it together in a manner agreeable to the earth, and fitted it for giving moisture and rain, and for affording the advantage of dews.”- Josephus Flavius [37 M – 100 M, yahudi], Antiquities, 1.1.1.

      “For the Spirit being one, and holding the place of light, was between the water and the heaven, in order that the darkness might not in any way communicate with the heaven, which was nearer God, before God said, ‘Let there be light.’ The heaven, therefore, being like a dome-shaped covering, comprehended matter, which was like a clod.”- Theophilus to Autolycus 2:13. Theophilus [disebutkan di lukas1:3 dan Kisah para rasul 1:1]

      Jewish Encyclopedia:
      The Hebrews regarded the earth as a plain or a hill figured like a hemisphere, swimming on water. Over this is arched the solid vault of heaven. To this vault are fastened the lights, the stars. So slight is this elevation that birds may rise to it and fly along its expanse

    Artikel ini, yaitu bagian kubah langit, mendapat tanggapan dari lingkar study dan di tulis di blognya [untuk melihat, klik di sini, di sini, dan di sini. Berikut dibawah ini adalah tanggapan saya di blog tersebut yang saya jadikan bagian dari artikel ini]

    ***

    Di blognya, Lingkar Study melampirkan ayat dibawah ini untuk menggambarkan arah utara tidaklah sejajar permukaan daratan, namun arah utara ada di sebelah atas bumi dan arah selatan ada di bawah bumi:

      Ayub 26:7 He stretcheth out [05186] (8802) the north [06828] over the empty place [08414], {and} hangeth [08518] (8802) the earth [0776] upon nothing [01099].

      26:7 Allah membentangkan utara di atas kekosongan, dan menggantungkan bumi pada kehampaan.

    TIDAK ADA satupun referensi pasal di Perjanjian Lama yang menyatakan bahwa arah UTARA adalah di atas [juga arah selatan di bawah] untuk itu, kita perlu mengetahui bagaimana cara orang Ibrani mengetahui arah mata angin

    Kaum Ibrani menentukan arah mata angin dengan cara badan menghadap arah Matahari terbit dan itu disebut sebagai timur. Konfirmasi arah timur ada pada yehezkiel 8:16,

      “[..] menghadap ke sebelah timur sambil sujud pada matahari di sebelah timur.”

    Dengan demikian arah barat adalah dibelakangnya, Utara di sebelah kiri dan Selatan ada di sebelah kanan [lihat juga kamus theosophy bible di sini, di sini, dan di sini]

    Setelah ini, mari kita temukan TEMPAT KEJADIAN ucapan-ucapan yang ada kitab Ayub berasal:

      Kisah Ayub, sebelum pasal 37:21 menceritakan awal mula kisah dan percakapan antara ayub bersama 3 rekannya [2:11]. Mereka datang ketika Ayub telah kehilangan kekayaan, diantaranya adalah unta2 [1:17]; tempat tinggal dan orang2 di rumahnya [kecuali istri] roboh diterpa angin rebut dari gurun [1:19]. Mereka kemudian duduk menemani ayub selama 7 hari 7 malam [2:13]

      Ayub tinggal di tanah Uz, Timur/tenggara Palestina, dekat syiria dan edom, di suatu tempat di gurun pasir Arabia.

    Dari informasi-informasi di atas, kamus leksikon dan Alkitab, dapat kita pastikan sebagai berikut:

    1. Tidak benar letak arah Utara dan Selatan adalah di atas dan di bawah seperti yg anda tuliskan di gambar 4 dan 5.
    2. Untuk mengetahui arah utara, Ayub dan teman2nya jelas tidak perlu terlentang, namun cukup mengetahui dimana matahari terbit, Jadi arah semua mata angin sejajar permukaan tanah.
    3. Lokasi mereka berbicara adalah di sekitar area gurun pasir, yang kosong [ini sesuai dengan arti kode leksikon 08414, yaitu “over the empty place”]
    4. Kamus Lexicon 05186, mempunyai arti: bow down [menundukan badan], bend [membengkokan, menekuk] turn, in/de cline [naik/turun/lerengan], bow [membungkuk], to stretch out, spread out dan lain-lain.
    5. Sehingga frase “membentangkan utara di atas tempat yang kosong menggantung bumi ditengah kekosongan” merupakan sebuah fakta lapangan yang mereka lihat [ayub dan 3 temannya] yaitu di arah utara hanya padang gurun yang tidak ada apapun. Langit terlihat bertemu dengan daratan [sehingga ini juga bagaikan daratan yang digantungkan di kosongnya langit].
    6. Situasi “langit bertemu dengan daratan” menunjukan posisi langit yang menekuk/menurun, Ini berkeseseuaian dengan kalimat “Ia menekukkan [05816] langit, lalu turun, kekelaman ada di bawah kaki-Nya” [2 samuel 22:10 dan Mazmur 18:9 (18-10)]
    7. Maka dari itu, ucapan Ayub pada 26:7 adalah selaras dengan ucapan Elifas di ayat sebelumnya [22:14], yaitu “[..] berjalan2 di lingkaran langit”. Langit ini bentuknya menyerupai kubah.

    Langit yang berbentuk kubah itu bersandar pada daratan, yang disyairkan dengan sangat pas dan indahmya di kitab Amos 9:6:

      “yang mendirikan anjung-Nya di langit dan mendasarkan kubah-Nya di atas bumi; yang memanggil air laut dan mencurahkannya ke atas permukaan bumi ALLAH, itulah namaNya

    Bagaimana bentuk bumi menurut Allah dan Ayub dapat kita ketahui dari pernyataan Allah dan ayub sendiri, yaitu:

    • Allah, sendiri menyatakan bahwa dinihari atau fajar [arah timur] merupakan tempat dari ujung-ujung bumi, “Pernahkah dalam hidupmu engkau menyuruh datang dinihari atau fajar kautunjukkan tempatnya untuk memegang ujung-ujung bumi, sehingga orang-orang fasik dikebaskan dari padanya? [Ayub 38:12-13]. Bumi memiliki ujung satu dan ujung lainnya sehingga ada frase dari ujung bumi ke ujung bumi [ulangan 13:17, 28:64]. Terakhir, terdapat konfirmasi bahwa ada 4 penjuru Bumi [Yesaya 11:12]. Benda Bundar seperti bola tidak memiliki ujung-ujung.
    • Ayub juga menyatakan bahwa Allah mengetahui jalan ke sana, Ia juga mengenal tempat kediamannya. Karena Ia memandang sampai ke ujung-ujung bumi, dan melihat segala sesuatu yang ada di kolong langit. [28:23-24], kalimat terakhir menunjukan bahwa segala sesuatu dapat terlihat hanya jika bentuknya TIDAK BULAT

    Jelas sudah bahwa Kitab Ayub, sudah dengan jitu menggambarkan bumi itu datar.

    [sisanya silakan lihat di sini. Tanggapan dan jawaban antara saya dan lingkar study, akan dituliskan pada komentar di artikel ini] []

    Beberapa ahli teologis dan para peneliti bible, menyatakan pandangan bangsa babilonia mengenai dunia ditulis setidaknya oleh beberapa penulis Perjanjian lama alkitab, yaitu Bumi itu Datar dan berdiri pada tiang, dan di tutupi sebuah kubah langit dan konsep Bumi itu Datar yang ditutup kubah disebutkan di Yesaya 40:22:

    Yashab al chwug erets yashab chagab natah shamayim doq mathach ohel yashab (Kediaman di dalam kubah bumi kediaman belalang, menekuk langit terjulur terentang tenda kediaman!)

    Frase “al chuwg ‘erets” sering di klaim kalangan nasrani bahwa alkitab menyatakan bumi itu bulat.

    Benarkah demikian?

    Kata ‘Yashab [3427]’ tercantum 3x di ayat ini dan seluruh terjemahan TIDAK KONSISTEN menterjemahkannya, yaitu: (1) Orang ke-3 duduk, (2) kumpulan orang yang menduduki dan (3) tempat yang diduduki.

    Jadi secara umum kata ini berarti kediaman atau sesuatu yang diduduki sehingga patutnya kata ini diterjemahkan: kediaman

    kata ‘al’ [5921], artinya: di atas, pada, di, kepada, karena, sebab, di bawah, di dalam, dst

    Kata ‘chuwg’ [02328 dan 02329], artinya: Circle/lingkaran, circuit/perjalanan keliling, compassed/diliputi, to encircle/Mengelilingi, Melingkari, melingkungi; encompass/Meliputi, Mencakup; describe a circle/berbentuk melingkar. draw round/gambaran melingkar; make a circle [membuat lingkaran] (Qal) to encircle/ encompass

      Noun:

      • vault/Kubah, horizon/kaki langit; of the heavens, sea and earth[Francis Brown, A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament of William Gesenius, p. 295, Clarendon Press, Oxford, 1988]
      • circle/lingkaran; circuit/perjalanan, keliling, horizon/kaki langit[Ernest Klein, A Comprehensive Etymological Dictionary of the Hebrew Language, p. 210, MacMillan Publishing Company, New York, 1987]

      Verb:

      • draw round/gambaran melingar; make a circle/membuat lingkaran[Francis Brown, A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament of William Gesenius, p. 295, Clarendon Press, Oxford, 1988]
      • make a circle/membuat lingkaran; to move in a circle/bergerak melingkar[Ernest Klein, A Comprehensive Etymological Dictionary of the Hebrew Language, p. 210, MacMillan Publishing Company, New York, 1987]

    Kata circle [lingkaran] dimaksudkan dalam bentuk 2 dimensi, sementara bulatan 3 dimensi dalam bahasa Ibrani yang diartikan bola: duwr [1754], definisinya: ball [circle; ball]. Di dalam AV: ball[Bola -> Yes 22:18], round about[berbentuk lingkaran, mengepung -> Yes 29:3], burn[Memasang, menyusun -> Yeh 24:5]. Samplenya misal di Yesaya 22:18:

      dan menggulung[6801 =(Qal) to wrap (Bungkus, gulung), wrap or wind up together, wind around] engkau keras-keras menjadi suatu gulungan[6802 = melilit, menggulung, Bola] dan menggulingkan engkau seperti bola[01754] ke tanah[0776] yang luas; di situlah engkau akan mati, dan di situlah akan tinggal kereta-kereta kemuliaanmu, hai engkau yang memalukan keluarga tuanmu!

    Jika benar Yesaya memang hendak mengartikan bumi itu bulat bukan datar, tentunya ia akan menggunakan kata ‘duwr’ daripada kata ‘chuwg’, toh?!:

      He who sits above the ball/round about[duwr] of the earth [..]

    Namun tidak diterjemahkan seperti itu, karena penulis Alkitab tau persis bahwa bumi tidaklah berbentuk bulatan/bola.

    Kata “‘erets” [0776], artinya: Tanah (1543 x), bumi (712 x), daerah (140 x), permukaan tanah (98 x), dunia (4 x) atau dewa bumi. Kata ‘erets secara statistik lebih banyak diartikan sebagai ‘tanah’ daripada ‘bumi’ dan ini tergantung pada konteks pemakaiannya

    Kata “chagab” [2284], artinya: belalang.

    Kata “naw-taw” [5186], artinya: membentangkan, membengkokan, membungkuk, menekuk. Contoh pemakaian di alkitab:

      “Ia menekukkan [naw-taw] langit, lalu turun, kekelaman ada di bawah kaki-Nya” [2 samuel 22:10 dan Mazmur 18:9 (18-10)]

    di dua ayat itu, diterjemahkan sebagai menekukkan/membengkokan.

    Kata Shamayim [8064], artinya: Surga, langit, udara, cakrawala, angkasa atua Dewa langit.

    Kata “‘doq” [1852], artinya Veil. Dalam Inggris: ‘curtain’, sementara dalam Indonesia: ‘kain’ [versi LAI]. Kata ‘doq: Veil = artinya: ‘kudung, kerudung, tudung, selubung, kabut atau mengerudungi, menyelubungi, diselubugi atau tirai’ dan sama sekali tidak mendekati kata ‘kain’ namun dalam definisinya disampaikan: “sesuatu yang runtuh”.

    Kata ‘Mathach’ [4969], artinya: memasangkan, merentangkan, untuk diregangkan.

    Kata “‘ohel’ [168], artinya: tenda, kemah, rumah.

    So, bagaimana bentuk Kubah?

    Atap melengkung yang menjulur ke bawah terpasang di atas sebuah bidang datar berbentuk lingkaran. Ini persis seperti:

    • Ucapan Elifas, “[..] Ia berjalan-jalan sepanjang lingkaran langit” [Ayub 22:14];
    • “[..] mendasarkan kubah-Nya diatas bumi [..]” [Amos 9:6]

    Proses pembentukan sandaran di bidang datar adalah sebagaimana digambarkan di Amsal 8:27,”Ketika Ia mempersiapkan langit, aku di sana, ketika Ia menggaris kaki langit pada permukaan air samudera raya

    Disamping itu pula,
    di Kitab Yesaya saja dapat kita temukan beberapa indikasi kuat bahwa ada Ujung Bumi [5:26, 24:16, 42:10, 48:20], ujung langit [13:5] tuhan menciptakan Bumi dari ujung ke ujung [40:28], ujung-ujung bumi [41:5, 41:9, 43:6, 45:22], Bumi memiliki 4 Penjuru [11:12, yang tentu saja ini dapat saja berarti 4 arah mata angin dan bukan berarti berberntuk kotak]

    Apa yang dapat kita simpulkan dari semua hal di atas ini?

    Frase ‘al chwug erets’ jelas sekali artinya di bumi berbentuk piringan datar melingkar diselubungi langit yang berbentuk kubah. Disamping itu, jika yang berdiam ini tuhan, maka Alkitab juga merekam bahwa Abraham, Yakob, Iskak dan Musa kerap kali diperintahkan Allah untuk menghadap ketempatNya yang sangat jelas dan spesifik disebut sebagai GUNUNG TUHAN, misal:

    • Lalu berangkatlah mereka dari gunung TUHAN…[Bil: 10:33, Juga Yesaya 2:3; 30:29, zakharia 8:3]
    • Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?” [Mazmur 24:3]
    • dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub [Mikha 4:2]

    Gunung lainnya yang sering disebut-sebut sebagai tempat menghadap diantaranya adalah:

      Gunung Sion (Yesaya [2:2], [24:23]; Mazmur [74:2]), Gunung Horeb gunung Allah, nama lain Gunung Sinai? (1 raja-raja [19: 8]; keluaran [3:1], [3:12], Kel [19:3] dan Ulangan [1:6]), Gunung Ebal (Yos [8:30], 8:33), Gunung Hor, Lebanon (Ulangan 32:50-51), Efron, Pegunungan di Utara Judah, Effraim (Kejadian [49:29]), Gunung Sinai (Kel [19:16-21]), Gunung Moria, sebelah Timur Yerusalem (Kejadian [22:2], [22:11], [22:14]; 2 tawarih [3:1]), Gunung (Wahyu [21:10], 2 petrus [1:18])

Bapak-bapak Gereja, orang-orang suci yang tentunya telah menerima anugerah pemahaman dari roh yang sangat kudus, membela dengan sangat teguhnya bahwa bumi itu datar:

  • Lactantius [245M – 325M), mengatakan yang mempunyai pendapat bahwa bumi itu bulat adalah “tolol” karena manusia bisa berjatuhan
  • Santo Cyril dari Jerusalem [315M–386M], Bumi seperti langit mengambang diatas air
  • Santo John Chrysostom [344M–408M], pendapat bahwa bentuk BUMI itu BULAT bertentangan dengan Kitab
  • Uskup dari Gabala, yaitu Severian [408 M] dan Diodorus dari Tarsus [394M], merupakan pembela Bumi itu datar
  • Cosmas Indicopleustes [547M], Bentuk bumi: “parallelogram, datar, dan dikelilingi 4 laut”
  • St. Augustine [354M-430M], The City of God Book 16 Chapter 9,

    “Tapi adalah dongeng bahwa terdapat sisi berlawanan, dikatakan, manusia dibelahan lainnya, di mana matahari terbit adalah saat terbenam bagi kita, manusia yang berjalan dengan kaki mereka ada dibelahan lainnya, itu tidak memiliki pijakan yang kredible dan tentunya tidak sesuai dengan pengetahuan sejarah yang telah diketahui, namun dari terkaan sain…Mereka tidak menyimak, meskipun didemonstrasikan sain bahwa bumi ini bulat..Kitab, dengan bukti historis..tidak pernah memberikan informasi yang salah. Terlalu Absurd dikatakan bahwa beberapa orang telah berlayar mengarungi samudera luas dan melintas dari sisi satu ke sisi lainnya”

  • Kardinal Robert Bellarmine [1542M-1621M], Letter on Galileo’s Theories, 1615:

    “Tapi yang hendak menyatakan bahwa Matahari benar2 tetap di tengah langit dan hanya berputar pada porosnya sendiri tanpa bergerak dari timur ke barat dan bahwa Bumi berada pada lapisan ke 3 dan berputar dengan kecepatan tinggi mengitari matahari, adalah pikiran yang sangat berbahaya, tidak hanya melecehkan semua pilsuf dan para cendekiawan agama, namun juga melukai keyakinan suci kita dan menyatakan kitab suci salah”

  • Bukan cuma mereka! Para cendekiawan nasrani lainnya tetap teguh dengan kebenaran Alkitab yang tegas menyatakan bahwa bumi itu datar! silakan lihat di sini, di sini dan di sini

Mengapa para orang penting, bapak gereja dan para santo itu benar-benar yakin bahwa bumi itu datar?

Untuk menjelaskan persamaan pikiran diantara mereka yang sama-sama telah mendapatkan bimbingan roh kudus ini, marilah kita lihat beberapa sample kata ibrani yang mempunyai arti dan maksud yang sama dan diaplikasikan pada benda-benda berbeda:

    7097 — qatseh [ujung, batas, sudut, hal-hal yang ekstrim dan banyak lagi]. Perhatikan kata ujung ke ujung pada dua kalimat dibawah ini:

    • Keluaran 26:28 Dan kayu lintang yang di tengah, di tengah-tengah papan-papan itu, haruslah melintang terus dari ujung ke ujung.
    • Ulangan 13:7 salah satu allah bangsa-bangsa sekelilingmu, baik yang dekat kepadamu maupun yang jauh dari padamu, dari ujung bumi ke ujung bumi

    Penerapan kata Qatseh pada kayu dan bumi di atas, menunjukan dengan sangat jelasnya bahwa bentuk benda yang mempunyai ujung dan jelas tidak bulat, bukan?!

    7098 — qatsah, [ujung, batas, sudut, hal-hal yang ekstrim dan banyak lagi]. Perhatikan kata ujung pada dua kalimat di bawah ini:

    • Keluaran 27:4 Haruslah engkau membuat untuk itu kisi-kisi, yakni jala-jala tembaga, dan pada jala-jala itu haruslah kaubuat empat gelang tembaga pada keempat ujungnya.
    • Yesaya 40:28 Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya.

    Penerapan kata Qatsah pada jala dan bumi di atas, menunjukan dengan sangat jelasnya bahwa bentuk benda yang mempunyai ujung dan jelas tidak bulat, bukan?!

    7099 — qetsev [Ujung, akhir, batas, batasan]. Perhatikan kata ujung pada tiga kalimat di bawah ini:

    • Keluaran 37:8 satu kerub pada ujung [7098,qatsah] sebelah sini dan satu kerub pada ujung [7098,qatsah] sebelah sana; seiras dengan tutup pendamaian itu dibuatnya kerub itu pada kedua ujungnya [7099, qetsev]
    • Mazmur 48:10 (48-11) Seperti nama-Mu, ya Allah, demikianlah kemasyhuran-Mu sampai ke ujung bumi; tangan kanan-Mu penuh dengan keadilan.
    • Yesaya 26:15 Thou hast increased [03254] (8804) the nation [01471], O LORD [03068], thou hast increased [03254] (8804) the nation [01471]: thou art glorified [03513] (8738): thou hadst removed {it} far [07368] (8765) {unto} all the ends [07099] of the earth [0776].

      [Dalam Alkitab terjemahan baru, kata bumi [0776] di hilangkan dan bunyinya menjadi seperti ini:

      Yesaya 26:15 Ya TUHAN, Engkau telah membuat bangsa ini bertambah-tambah, ya, membuat bertambah-tambah umat kemuliaan-Mu; Engkau telah sangat memperluas negerinya]

    Penerapan kata Qetsev pada tutup perdamaian dan bumi di atas, menunjukan dengan sangat jelasnya bahwa bentuk benda yang mempunyai ujung dan jelas tidak bulat, bukan?!

Anda akan temukan banyak sekali bentuk-bentuk dan contoh-contoh serupa di alkitab dan saya rasa 3 contoh di atas sudah lebih dari cukup untuk menjelaskannya, bukan?!

Tentunya para orang penting, bapak gereja dan para santo di atas yang sama-sama telah mendapatkan bimbingan penuh roh kudus, disamping sangat fasih dengan alkitab dan juga mengenal baik arti kata dan dalam kondisi apa kata-kata tersebut di gunakan, bukan?!

Kemudian, terdapat martir Pengetahuan yang dibakar-hidup-hidup oleh Geraja karena mempertahankan pendapat bahwa matahari tidak beredar mengelilingi bumi adalah Giordano Bruno [1548M – 1600M], Ia adalah biarawan Dominikan.

Setelah lama disiksa di penjara, ia di bakar hidup-hidup di Campo de’ Fiori pada tanggal 17 February 1600. Ia di bakar hidup-hidup bukan karena tuduhan Heresy [bid’ah/klenik/sihir] namun karena pendapat sain-nya bertentangan dengan Alkitab.

Berikut dibawah ini adalah cuplikan Dokumen vatikan Interogasi terakhir Bruno [sekitar bulan April 1599] sebelum pelaksanaan eksekusi. Ia katakan teori kosmogony-nya didasarkan pada penemuan sain dan tidak ditujukan untuk menentang kitab suci:

    Circa motum terrae, f. 287, sic dicit: Prima generalmente dico ch’il moo et la cosa del moto della terra e della immobilità del firmamento o cielo sono da me prodotte con le sue raggioni et autorità le quali sono certe, e non pregiudicano all’autorità della divina scrittura […]. Quanto al sole dico che niente manco nasce e tramonta, né lo vedemo nascere e tramontare, perché la terra se gira circa il proprio centro, che s’intenda nascere e tramontare […]

    Terjemahan:
    Circa motum terrae, f. 287, sic dicit: Pertama-tama, Saya katakan bahwa teori-teori pergerakan bumi dan diamnya raqiya atau langit adalah dibuat oleh saya yang didasarkan pada alasan yang kuat, yang mana tidak dimaksudkan untuk meruntuhkan kewenangan kitab suci [..] Berkenaan dengan Matahari, Saya katakan bahwa ia tidak terbit maupun tenggelam, tidak juga seperti yang kita lihat, terbit ataupun tenggelam, karena, jika bumi berputar pada porosnya, maka apa yang kita maksudkan dengan terbit dan tenggelam [..]

Kemudian, terdapat satu bukti lagi yang menyatakan bahwa alasan eksekusi bukan karena tuduhan heresy, karena di Universal Declaration of Human Rights: Christianity and its Persecution of Heretics, tidak ditemukan nama Giordano Bruno yang di aniaya/siksa gereja atas tuduhan heresy. [catatan: di Link ini, anda akan temukan satu tanya jawab, dimana Bruno ternyata telah murtad dari Nasrani bertahun-tahun dan memilih menjadi Filsuf/pencari kebenaran (atheis?)]

Kesimpulan

  • Dari suatu tempat atau ketinggian tertentu dapat melihat seluruh permukaan bumi, hanya dimungkinkan jika BUMI itu DATAR
  • Terdapat kata-kata memegang ujung-ujung. Sebuah Benda bulat tidak memiliki Ujung atau ujung yang satu berbeda dengan ujung lain atau berjumlah 4 (empat)
  • Menekuk langit menunjukan satu kondisi bahwa Langit berbentuk Kubah. Amsal [8:27] mendukung hal ini, dimana Bumi sudah ada terlebih dahulu, dan Langit baru hendak dipersiapkan. Ujung langit dan bumi adalah Samudera. Jadi, Bumi itu datar dengan Langit seperti Kubah
  • Yesaya [40:22] dengan frase “al chwug erets” menyatakan bahwa bumi berbentuk piringan datar melingkar diselubungi langit yang berbentuk kubah
  • Bapak-bapak gereja, orang-orang suci dan Cendikiawan Nasrani yang telah mendapatkan anugerah pemahamanpun menyatakan Bumi itu datar
  • Alkitab menjelaskan Mataharilah berjalan dari satu ujung ke ujung yang lain, Bumi diam tidak berputar pada porosnya.
  • Konsistensi penegakan kemurnian ajaran Alkitab, yaitu matahari yang bergerak dari Timur ke Barat, mengakibatkan Giordano Bruno, harus dibakar hidup-hidup []


Tradisi Islam

Terdapat 2 (dua) pendapat, beberapa menyatakan Bumi itu Bulat dan beberapa menyatakan bumi itu datar. Ini akan kita uji mana yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadis dan kita teluri mengapa pendapat nyeleneh tersebut muncul.

Pendapat 1: Bumi itu Bulat

Sekitar tahun 830, Khalifah al-Ma’mun menugaskan sekelompok astronomer untuk mengukur jarak antara Tadmur (Palmyra) ke Al-Raqqh, di Syria modern. Mereka menemukan bahwa kota-kota itu terpisah 1 derajat ketinggian.

Sejak itu banyak peneliti-peneliti Islam berpendapat (Ijma) bahwa BUMI itu BULAT diantaranya adalah Ibnu Hazm (Meninggal 1069), Ibnu Al-Jawzi (meninggal 1200), Ibnu Taymiya (meninggal 1328) dan Ibnu Khaldun (meninggal 1406). [lihat: History, Science and Civilization: Early Muslim Consensus: The Earth is Round]

Imam Ibnu Hazm (7 November 994–15 August 1069, 456 AH), di klaim mengatakan:

    “Pasal penjelasan tentang bulatnya bumi. Tidak ada satu pun dari ulama kaum muslimin, semoga Allah meridhai mereka semua, yang mengingkari bahwa bumi itu bulat dan tidak dijumpai bantahan atau satu kalimat pun dari salah seorang dari mereka.” (Buku “Matahari Mengelilingi Bumi Sebuah Kepastian Al-Qur’an dan As-Sunnah Serta Bantahan Terhadap Teori Bumi
    Mengelilingi Matahri”, Ahmad Sabiq bin AbdulLathif Abu Yusuf, Penerbit Pustaka Al-Furqon, Gresik, Bab 4.1, hal.77-78, yang konon penulisnya mengutip itu dari “al Fishal fil Milal wan Nihal 2/97”)

    Note:
    Klaim bahwa tidak ada satupun dari ulama mengingkari sudah KELIRU BESAR. Di buku, “Ibn Hazm of Cordoba: The Life and Works of Controversial Thinker”, hal 556 disampaikan bahwa banyak ulama dijamannya sendiri menentang idenya tersebut.

    Kemudian, “Al Fishal fil Milal vol.5 hal.34, Ibn Hazm menyatakan orbit Saturnus mengeliling bumi selama 33 tahun (penelitian modern: Saturnus mengeliling Matahari selama 29 tahun). Ini menunjukan bahwa beliau sendiri meyakini bumi sebagai pusat dan bukannya matahari

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (22 Januari 1263 (10 Rabiul Awwal 661 H) – wafat: 1328 (20 Dzulhijjah 728 H)

    Benda-benda angkasa adalah bulat (istidaaratul-aflaak) – yang merupakan statement para astronomer dan para ahli matematika (ahlul-hay’ah wal-hisab) – Ini adalah pernyataan ulama-ulama muslim seperti Abul-Hasan ibn al-Manaadi, Abu Muhammad ibn Hazm, Abul-Faraj ibn al-Jawzi dan lainnya yang di kutip: bahwa ulama-ulama islam bersepakat. Sesungguhnya Allah telah berkata: Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya (falak). Ibn Abbas berkata: falaka adalah seperti putaran roda..Ibn Taimiyah: falak artinya adalah bulatan. Dari pernyataan “Payudara perempuan muda ta-fa-la-ka adalah ketika menjadi berbentuk bundaran” (Vol. 6, hal. 566-567)

    Untuk sisi lainnya dari bumi adalah dikelilingi air. Tidak ada umat manusianya atau serupa ini. Bahkan jika kita berimaginasi bahwa orang-orang ada di sisi lain bumi, masing-masing individu tetap berada di permukaan bumi. Mereka di sisi lain bumi tidak di bawah mereka yang di sisi ini; sama seperti mereka yang di sisi ini tidak dibawah mereka yang disisi itu. Untuk seluruh benda angkasa mengelilingi titik pusat (markaz), tidak ada keberadaan benda angkasa berada di bawah lainnya, tidak juga kutub utara di bawah kutub selatan atau sebaliknya. (vol.6. hal 565-566)

    [Kutipan pernyataan Ibn Taimiyah di atas ini berasal dari tulisan anonim (tak diketahui penulisnya), komentar penulisnya saya abaikan sehingga yang tersisa hanya tulisan Ibn Taymiyah menurut terjemahan penulis tersebut.]

    Note:
    Keterangan Ibn Taimiyah di atas adalah berkenaan dengan perjalanan benda angkasa terhadap bumi dan BUKAN bukti tentang bentuk bumi. Bahkan statement beliau tentang “sisi lain” lebih menunjukan keadaan bumi dalam bentuk piringan bulatan yang datar dengan satu sisi saja mempunyai kehidupan, dimana di sisi ini daratan yang dikelilingi lautan dan di seberangnya dianggap tidak ada manusia lain yang hidup (ini jelas bahwa yang dimaksudkan BUKAN sisi bagian bawah bumi)

Kebanyakan muslim mengkaitkan nama-nama ulama klasik yang kondang seperti di atas ini untuk klaim dan menyelipkan ayat-ayat quran sebagai pembenaran misalnya: 21.33 (dan 36.40), AQ 39.5 dan AQ 81.1

    Dan Dialah [wa+huwa] Ia yang [alladzii] menciptakan [khalaqa] malam dan siang [allayla waalnnahaara] dan matahari dan bulan [waalshamsa waalqamara]. Masing-masing [kullun] dalam [fii] jalurnya [falakin] mengambang/berenang (yasbaḥūna).[AQ 21.33]

    Tidak [Laa] matahari [Al-shamsu] diijinkan [yanbaghī] baginya [lahaa] agar [an] menyusul [tud’rika] bulan [alqamara] dan tidak [walaa] malam [al-layla] saabiqu [melebihi] siang [al-nahaari] dan Masing-masing [wakullun] dalam [fii] jalur [falakin] mengambang/berenang (yasbaḥūna) [AQ 36.40]

    Dia menciptakan (Khalaqa) para langit (alsamaawaati) dan bumi (al ardha) dengan benar (bilhaqi); membungkus (yukawwiru) malam (al-layla) atas (‘alaa) siang (al-nahaari) dan membungkus (wayukawwiru) siang (al-nahaara) atas (‘alaa) malam (al-layli) dan memperjalankan (wasakhkhara) matahari dan bulan (al-shamsa waal-qamara). Masing-masing (kullun) berjalan (yajri) menurut waktu (liajalin) yang ditetapkan (musamman) [AQ 39.5]

    Ketika (idhaa) matahari (al-shamsu) di bungkus/gulung (kuwwirat) dan ketika (Wa-idhaa) bintang-bintang (al-nujuum) berjatuhan (inkadarat) dan ketika gunung (aljibaala) di lenyapkan (suyirrat).. [AQ 81.1-3)

    note:

    • Semua kutipan ayat quran di atas jelas merujuk pada lintasan jalur benda tertentu dan BUKAN menyatakan bentuk bumi. Contoh seonggok tahi kerbau dengan bentuk tak beraturan dikitari kekanan dan kekiri secara teratur oleh lalat, maka jalur lalat mengitari tahi kerbau tersebut tidak lantas menunjukan bentuk tahi kerbau adalah bulat, bukan? dan juga tidak serta merta jalur mengitarinya tersebut adalah lingkaran.

      Kamus lane-lexicon (paling kanan) juga menyatakan arti “falak” bagi imaginasi kaum arab tidak melingkar namun bentuk melengkung seperti kubah.

      Kata “malam/layla” dan “siang/naahari” jelas bukan benda langit sehingga kata falak yang dimaksudkan adalah bukan lintasan berjalan namun sebuah ketetapan waktu tertentu, “dan memperjalankan (wasakhkhara) matahari dan bulan (al-shamsa waal-qamara). Masing-masing (kullun) berjalan (yajri) menurut waktu (liajalin) yang ditetapkan (musamman)” [AQ 13.2, 39.25, 31.29 dan 35.13]

    • Tafsir Ibn Kathir AQ 36:38:(dan matahari berjalan dijalurnya (limustaqarrin)) [Ada dua pendapat dan keduanya menyatakan Matahari dan bulan yang bergerak terus menerus]. ‘arsy adalah atap dari ciptaan dan tidak berbentuk BULATAN seperti banyak di klaim oleh astronomer. Lebih seperti KUBAH yang di topang oleh pilar. Ditandu oleh para malaikat dan di atas dunia, di atas kepala-kepala orang. Menurut Nabi sebagaimana diriwayatkan Abu Dharr:

      Ketika senja [magrib], Nabi bertanya padaku, “Apakah kau tau kemana Matahari itu pergi (saat Magrib)?! Aku jawab, “Allah dan rasulnya yang lebih tau.” Ia jawab, “Ia berjalan hingga berhenti pada tempatnya di bawah Arsy lalu menyungkur sujud dan mohon ijin untuk terbit kembali, dan diijinkan dan kemudian (waktunya akan tiba) dia minta agar terus saja bersujud namun tidak diperkenankan dan minta izin namun tidak diizinkan dan dikatakan kepadanya: “Kembalilah ke tempat asal kamu datang” dan ia akan terbit dari tempatnya terbenamnya tadi (barat). Itulah penafsiran dari sabda Allah “dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (AQ 36:38) [Bukhari: no.2960/4.54.421, no.4428/6.60.327, no.6874/9.93.520 dan no.6881/9.93.528. Juga Muslim: no.228/1.297]

      Lintasan seperti ini dimungkinkan karena langit berbentuk kubah dan tunduk di bawah arsy allah yang ada di atas air.

      Tafsir Ibn Kathir AQ 31.29:(dan memperjalankan matahari dan bulan Masing-masing berjalan menurut waktu yang ditetapkan) terdapat dua pendapat yaitu “hingga batas tertentu” atau “hingga kiamat” keduanya sahih mengikui hadis dari Abu dhar di atas. Kemudian Ibn hatim – bapaknya – Ibn Abbas: Matahari seperti aliran air. Berlarian di jalurnya di langit selama siang hari. ketika ia terbenam , berjalan di jalurnya di bawah bumi hingga terbit di timur. demikian pula dengan bulan.

    • Surat At Takwir 81.1 dari penterjemah lain:

      YUSUFALI: When the sun is folded up;
      PICKTHAL: When the sun is overthrown,
      SHAKIR: When the sun is covered,

      Tafsir Ibn kathir utk AQ 81.1-2:
      (Ketika matahari Kuwwirat.) “Ini berarti akan digulitakan.” Al-`Awfi meriwayatkan dari Ibn `Abbas; “Ini akan menghilang.” Qatadah berkata, “Cahayanya akan menghilang.” Sa`id bin Jubayr berkata, “Kuwwirat berarti itu akan di tenggelamkan.” Abu Salih berkata, “Kuwwirat berarti ini akan diceburkan.” At-Takwir berarti melipat satu bagian dari sesuatu dengan bagian lainnya (i.e., folding). Ini berasal dari melipat turban (`Imamah) dan mengulung kain-kain menjadi satu. kemudian arti dari statement allah (Kuwwirat) adalah bagian dari itu akan melipatnya dengan bagian lainnya. Kemudian itu di gulung dan di buang. Setelah ini selesai, cahayanya menjadi hilang. Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairh – Nabi: (matahari dan bumi akan di gulung pada hari kiamat.)

      Tafsir lainnya:
      [..]Kata kawwara berasal dari Takwir yang merujuk pada matahari yang kehilangan cahayanya. (arti lain dari takwir adalah “membungkus/melipat”. Terjemahan dari teks di dasarkan arti ini. Maksud membungkus matahari adalah bahwa fungsinya menuju akhir dan ia akan kehilangan cahayanya..

      Muhammad Taqi Usmani Sayyidna Hasan Basri (RA) menyandarkan tafsirnya pada ini. Arti lain dari kata ini adalah “menyebabkan jatuh”.
      Rabi’ Ibn Khaitham (RA) menyampaikan tafsir berikut untuk ayat itu: Matahari akan di buang ke lautan, dan sebagai hasil ari panasnya seantero lautan menjadi terbakar. Dua tafsir ini tidak saling bertentangan. Ini dapat dikompromikan menjadi:
      pertama, cahayanya akan dipadamkan dan kemudian dibuang kelautan.
      Bukhari menyampaikan riwayat dari Abu hurairaa (RA) bahwa Nabi SAW berkata bahwa di hari kiamat matahari dan bulan akan di ceburkan di laut.
      Musnad Bazzar menambahkan bahwa mereka ini akan diceburkan di neraka.
      Ibn Abi Hatim, Ibn Abid-Dunya and Abush-Shaikh menyatakan bahwa pada hari kiamat Allah akan menceburkan matahari, bulan dan bintang ke lautan. Dan angin yang sangat keras bertiup kearah mereka, sebagai hasilnya seluruh lautan menjadi terbakar.

      Kemudian, adalah tepat dikatakan bahwa matahari dan bumi akan diletakan di lautan. Ini seperti juga tepat mengatakan bahwa mereka akan diletakan di neraka, karena seluruh lautan pada saat itu berubah menjadi neraka. [Di turunkan dari Mazhari dan Qurtubi] [..] [central-mosque.com]

      Jadi ‘takwir’ yang dimaksudkan malah menegaskan bahwa lintasan mereka ini di langit adalah berbentuk kubah dan bukan bentuk bumi, Ini adalah seperti maksud AQ 2:22,

      YUSUFALI: Who has made the earth your couch, and the heavens your canopy;[..].
      PICKTHAL: Who hath appointed the earth a resting-place for you, and the sky a canopy;[..]
      SHAKIR: Who made the earth a resting place for you and the heaven a canopy[..]

Tampak jelas bahwa tafsir dan ayat quran berbicara mengenai lintasan benda langit bukan tentang bentuk bumi. Mengkaitkan ayat-ayat tersebut dengan bentuk bumi adalah tidak relevan. []



Pendapat 2: Bumi itu Datar
A TRIBUTE TO A MUSLIM GENIUS
by Sujit Das

Salah seorang genius dari Saudi dikenal dengan nama “Shaikh Abd-al-Aziz Ibn Abd-Allah Ibn Baaz” (artinya – abdi Allah yang Maha Besr atau putera abdi Allah). Singkatnya, ‘Ibn Baz’. Sejak kecil ia sangat suka menghafal Quran dan belajar buku2 religius Islam (Saudi Gazette, 1999). Ia percaya bahwa tidak ada pengetahuan diluar Quran dan Ahadith; dan oleh karena itu tidak perlu belajar hal lain selain kitab-kitab suci Islam.

Pada usia 16, mata Ibn Baaz kena infeksi parah. Pada usia 20 ia menjadi buta total. Namun, ia tidak pernah putus asa. Walau buta, ia berketetapan untuk melanjuntukan studinya dalam Islam dibawah pengarahan pemikir Islam paling ternama jamannya, seperti: Sheikh Shanqeeti dan pakar-pakar Islam lainnya. Sebuah artikel yang diterbuntukan dalam ‘Saudi Gazette’ membeberkan pendidikan lelaki jenius ini:

“Subyek-subyek yang dipelajarinya termasuk bahasa Arab dan sains Islam termasuk penafsiran Qur’an, Sunnah Nabi (saw), Yurisprudensi dan Sejarah Islam. Sebagai visionaries Islam, ia mengerti penuh pengaruh sejarah terhadap umat dan bekerja keras agar pengaruh iblis pada rakyat masa lalu tidak terulang dijaman kini.” (Anon, 1999)

Singkatnya, otak kreatifnya di-Islamisi secara total dan tidak ada satupun kitab Islam yang tidak dipelajarinya dengan demikian ia menjadi pakar besar dan dihormati diseluruh Saudi. Tidak ada sains dalam Quran dan hadis yang tidak ia pelajari. Ibn Baz adalah ‘Quran & hadis Berjalan’.

Selama hidupnya, jenius besar Islam ini mengabdi diri untuk mengerti mukjizat-mukjizat sains Quran dan ia mengeluarkan banyak fataawa (kata jamak “fatwa”) bagi perkembangan peradabpan yang dimulai dari thn 1940 (Wikipedia, 2006). Menurut ‘Arab News’ ( surat kabar ternama Saudi) tgl 15 Mei 1999, Ia mengeluarkan ribuan fatwa tentang masalah-masalah ekonomi & sosial berdasarkan Qur’an dan Sunnah. Fatwa pertamanya adalah:

‘pemberian kerja bagi non-Muslim di Teluk Arab dilarang dalam Islam.’

Setelah beberapa decade, ia mengeluarkan fatwa berikutnya:

‘Tentara Non-Muslim harus ditempatkan di tanah Saudi untuk membela Kerajaan Saudi dari tentara Iraq ’ (Kepel, 2004).

Fatwa ini bukan merupakan kebalikan dari fatwa pertama, orang jenius selalu berpikir berbeda dan setiap saat dapat mengembangkan ide-ide kreatif.

Ia menulis sejumlah buku yang berguna bagi umat manusia. Bukunya selalu menjadi best-seller dalam dunia Muslim. Penemuan paling terkenalnya ditulisnya sesuai dengan judul bukunya, “Bukti bahwa Bumi Tidak Bergerak.” Riset sains ini diterbitkan oleh Islamic University of Medina, Saudi, thn 1974. Pada halaman 23, ia berbicara tentang penemuan yang merujuk pada ayat2 Quran dan hadis. Ia dengan yakin menentang kepercayaan kuno bahwa bumi berputar. Ini kutipannya,

“Kalau bumi berputar (rotasi) seperti yang mereka katakan, maka negara-negara, pegunungan, pohon-pohon, sungai-sungai dan samudera-samudera tidak memiliki dasar dan orang akan melihat negara-negara di timur bergerak ke barat dan negara-negara barat bergerak ke timur.”

Parvez Hoodbhoy menggambarkan konklusi ilmiah berguna Ibn Baz diatas tersebut dalam bukunya “Islam and Science: Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality”. Pada halaman 49, ia menulis,

“.. The Sheikh (Abdul Aziz Ibn Baz) menulis … sebuah buku dalam bahasa Arab berjudul Jiryan Al-Shams Wa Al-Qammar Wa-Sukoon Al-Arz. Artinya : Pergerakan Matahari dan Bulan dan Tidak Bergeraknya Bumi … Dalam buku sebelumnya, ia mengancam para penantang dengan fatwa keras atau ‘takfir’ (alias kafir), tetapi tidak mengulanginya dalam versi yang lebih baru.”

Berita tentang penemuan besar Ibn Baz ini tersebar seperti api diseluruh dunia dan Muslim mulai menerima kredibilitas teori ‘tidak bergeraknya bumi’. Namun dunia kafir ragu-ragu menerima pendapatnya ini. Judith Miller, menulis dalam bukunya ‘Tuhan memiliki 99 Nama’, di halaman 114,

“Ketika ia (Sheikh Bin Baz) mengutuk apa yang disebutnya sebagai penghujatan gaya Copernicus dan bersikeras bahwa Quran mengatakan bahwa matahari bergerak, wartawan Mesir, mengolok-olok ulama ternama itu sebagai ‘refleksi primitif Saudi. “

Tahun 1993, pada suatu pagi hari, otak encer sang jenius membuka Qurannya dan menoleh sejumlah mukjizat ilmiah dan sampai pada penemuan baru bahwa ‘bentuk bumi = ceper’. Ini direkam oleh Carl Sagan dalam bukunya “The Demon-haunted World: Science as a Candle in the Dark”. Sagan menulis,

“Tahun 1993, otoritas religius tertinggi Saudi, Sheik Abdel-Aziz ibn Baaz, mengeluarkan fatwa, menyatakan bahwa bumi adalah ceper. Siapapun yang menolak dianggap tidak percaya Allah dan harus dihukum. ” dan ada sebuah fatwa terkenal yang dikeluarkan oleh Sheik Abdel-Aziz ibn Baaz. Statusnya memberikan bobot pada fatwanya namun pendapat2nya sering membuat rakyat Saudi malu.

Seluruh dunia (kecuali kafir) mulai menerima penemuan ilmiah ini. Contoh; tanggal 12 February, 1995, hal A-14 sebuah artikel diterbitkan dibawah judul “Fatwa-fatwa Muslim Mengambil Kekuatan Baru”, dimana Yousef Mohammad Ibrahim menulis “Bumi adalah datar. Barang siapa yang menyebutnya bulat adalah atheis dan patut dihukum. ” Ada banyak ayat-ayat Quran dan Ahadith, yang menunjukkan bahwa bumi = datar” (Sina, n.d).

Namun Ia membantah bahwa ia pernah menyusun teori Bumi Datar (Kepel, 2004), saat teori ini mulai popular diantara Muslim. Tidak diketahui mengapa ia meninggalkan kesimpulan ilmiah yang hebat itu. Mungkin inilah karakteristik jenius. Namun ia menegaskan kepercayaan yang didasarkan pada Quran bahwa

“keadaan tidak bergerak bumi dan matahari berputar keliling bumi (the motionless state of the earth and sun revolves around the earth)”

masih tetap berlaku bahkan setelah dibantai habis-habisan dalam tulisan wartawan2 Mesir (Kepel, 2004).

Seorang pakar Islam lain, Sheikh Muhammad Tantawi mengatakan “ia (Ibn Baz) tidak takut akan kritik manapun sambil mengekspresikan pandangan-pandangan Islaminya” , (Arab News, 1999). Kegigihannya menunjukkan bahwa ia memang jenius asli.

Pakar besar ini memegang posisi Grand Mufti dari Kerajaan Saudi dan Kepala Dewan Ulama 1993-1999. Ini adalah posisi religius tertinggi dalam sebuah negara Muslim Sunni. Sang Grand Mufti mengeluarkan pendapat-pendapat hukum dan fatwa tentang tafsiran Hukum Islam baik untuk membantu hakim memutuskan kasus dan juga bagi klien-klien privat.

Prestasi-prestasi hebat lainnya termasuk (Saudi Gazette, 1999; Riyadh Daily, 1999; Arab News, 1999),

  • Wakil Presiden dan kemudian Presiden the Islamic University in Medina, 1960-1970
  • Ketua departemen Riset Ilmiah dan Ifta (pengarah) dengan jabatan Menteri. 1974-1993
  • Presiden Komite Permanen bagi Riset Islam dan Fataawa.
  • Hakim Kharj selama 14 tahun,
  • Dosen Kehormatan di fakultas Shariah di Riyadh Institute of Science, 1951-1960
  • 1981, ia diberi Hadiah Internasional Raja Faisal bagi Pengabdian kpd Islam.

Sampai kematiannya, ia masih juga menghadiri seminar-seminar dan memberikan ceramah-ceramah dalam berbagai universitas Islam (Riyadh Daily, 1999). Topik paling disukainya adalah ketaatan pada Sunnah Nabi. Kini, hakim-hakim paling top dan ulama, dosen, saintis dan pejabat-pejabat tinggi Saudi adalah siswa-siswanya, termasuk Mendikbud Saudi.

Walau kesuksesannya sangat menakjubkan, ia tidak mendapatkan hadiah apapun dari dunia kafir. Mungkin karena mereka tidak menaruh perhatian serius pada penemuan-penemuannya. Ibn Baz wafat th 1999.

Kematian sang jenius ini bukan saja kehilangan besar bagi Saudi, tetapi bagi seluruh dunia Muslim. “Bobot dan reputasinya” begitu besar sampai pemerintah Saudi dikatakan “sulit menemukan orang yang bisa mengganti posisi Baaz.” (Kepel, 2004). ‘Arab News’ melaporkan (1999), lebih dari 50.000 orang mengantarnya ke pemakamannya di Mekah, sementara jutaan Muslim mendoakannya. Raja Fahd mengatakan bahwa dunia Islam shock atas beri